D.

Fungsi Komunikasi Dengan Pasien Tidak Sadar Menurut Pastakyu (2010), Komunikasi dengan klien dalam proses keperawatan memiliki beberapa fungsi, yaitu: 1. Mengandalikan Prilaku Pada klien yang tidak sadar, karakteristik pasien ini adalah tidak memiliki respon dan klien tidak ada prilaku, jadi komunikasi dengan pasien ini tidak berfungsi sebagai pengendali prilaku. Secara tepatnya pasien hanya memiliki satu prilaku yaitu pasien hanya berbaring, imobilitas dan tidak melakukan suatu gerakan yang berarti. Walaupun dengan berbaring ini pasien tetap memiliki prilaku negatif yaitu tidak bisa mandiri. 2. Perkembangan Motivasi Pasien tidak sadar terganggu pada fungsi utama mempertahankan kesadaran, tetapi klien masih dapat merasakan rangsangan pada pendengarannya. Perawat dapat menggunakan kesempatan ini untuk berkomunikasi yang berfungsi untuk pengembangan motivasi pada klien. Motivasi adalah pendorong pada setiap klien, kekuatan dari diri klien untuk menjadi lebih maju dari keadaan yang sedang ia alami. Fungsi ini akan terlihat pada akhir, karena kemajuan pasien tidak lepas dari motivasi kita sebagai perawat, perawat yang selalu ada di dekatnya selama 24 jam. Mengkomunikasikan motivasi tidak lain halnya dengan pasien yang sadar, karena klien masih dapat mendengar apa yang dikatakan oleh perawat. 3. Pengungkapan Emosional Pada pasien tidak sadar, pengungkapan emosional klien tidak ada, sebaliknya perawat dapat melakukannya terhadap klien. Perawat dapat berinteraksi dengan klien. Perawat dapat mengungkapan kegembiraan, kepuasan terhadap peningkatan yang terjadi dan semua hal positif yang dapat perawat katakan pada klien. Pada setiap fase kita dituntut untuk tidak bersikap negatif terhadap klien, karena itu akan berpengaruh secara tidak langsung/langsung terhadap klien. Sebaliknya perawat tidak akan mendapatkan pengungkapan positif maupun negatif dari klien. Perawat juga tidak boleh mengungkapkan kekecewaan atau kesan negatif terhadap klien. Pasien ini berkarakteristik tidak sadar, perawat tidak dapat menyimpulkan situasi yang sedang terjadi, apa yang dirasakan pada klien pada saat itu. Kita dapat menyimpulkan apa yang dirasakan klien terhadap apa yang selama ini kita komunikasikan pada klien bila klien telah sadar kembali dan mengingat memori tentang apa yang telah kita lakukan terhadapnya. 4. Informasi Fungsi ini sangat lekat dengan asuhan keperawatan pada proses keperawatan yang akan kita lakukan. Setiap prosedur tindakan keperawatan harus dikomunikasikan untuk menginformasikan pada klien karena itu merupakan hak klien. Klien memiliki hak penuh untuk menerima dan menolak terhadap tindakan yang akan kita berikan. Pada pasien tidak sadar ini, kita dapat meminta persetujuan terhadap keluarga, dan selanjutnya pada klien sendiri. Pasien berhak mengetahui apa saja yang akan perawat lakukan pada klien. Perawat dapat memberitahu maksud tujuan dari tindakan tersebut, dan apa yang akan terjadi jika kita tidak melakukan tindakan tersebut kepadanya. Hampir dari semua interaksi komunikasi dalam proses keperawatan menjalankan satu atau lebih dari ke empat fungsi di atas. Dengan kata lain, tujuan perawat berkomunikasi dengan klien yaitu untuk menjalankan fungsi tersebut. Dengan pasien tidak sadar sekalipun, komunikasi penting adanya. Walau, fungsi yang dijalankan hanya salah satu dari fungsi di atas. Dibawah ini akan diuraikan fungsifungsi berkomunikasi dengan klien, terhadap klien tidak sadar.

3. Dalam interaksi berkomunikasi dengan klien. Perawat itu adalah manusia pilihan Tuhan. bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan klien. Teknik terapeutik. Perawat memfokuskan informasi yang akan diberikan pada klien untuk menghilangkan ketidakjelasan dalam komunikasi. Ketenagan perawat dapat ditunjukan kepada klien yang tidak sadar dengan komunikasi non verbal. Komunikasi non verbal dapat berupa sentuhan yang hangat. Mempertahankan ketenangan Mempertahankan ketengan pada pasien tidak sadar. Pada komunikasi dengan pasien tidak sadar kita tetap melakukan komunikasi untuk meningkatkan dimensi ini sebagai hubungan membantu dalam komunikasi terapeutik. Ketenagan yang perawat berikan dapat membantu atau mendorong klien menjadi lebih baik. Pada klien tidak sadar perawat juga menggunakan komunikasi terapeutik. memiliki rasa bahwa kita sesama saudara yang harus saling membantu. Dengan tetap memperhatikan hak-haknya sebagai klien. perawat tetap dapat terapkan. yaitu pada point ini pasien tidak sadar. Informasi itu dapat berupa intervensi yang akan dilakukan maupun kemajuan dari status kesehatannya. empati. Pada dasarnya komunikasi yang akan dilakukan pada pasien tidak sadar adalah komunikasi satu arah. perawat dapat menujukkan dengan kesabaran dalam merawat klien. Penjelasan itu dapat berupa intervensi yang akan dilakukan kepada klien. Adapun teknik yang dapat terapkan. . 4. Cara Berkomunikasi Dengan Pasien Tak Sadar Menurut Pastakyu (2010). Dengan menjelaskan pesan secara spesifik. Sentuhan adalah transmisi pesan tanpa kata-kata. Memfokuskan Memfokuskan berarti memusatkan informasi pada elemen atau konsep kunci dari pesan yang dikirimkan. Komunikasi yang hanya dilakukan oleh salah seorang sebagai pengirim dan diterima oleh penerima dengan adanya saluran untuk komunikasi serta tanpa feed back pada penerima yang dikarenakan karakteristik dari penerima sendiri. Perawat akan membantu siapapun walaupun ia seorang yang tidak sadar sekalipun. Memberikan Informasi Fungsi berkomunikasi dengan klien salah satunya adalah memberikan informasi. E. Dalam berkomunikasi kita dapat menggunakan teknik-teknik terapeutik. merupakan salah satu cara yang terkuat bagi seseorang untuk mengirimkan pasan kepada orang lain. meliputi: 1. walau seorang pasien tidak sadar sekali pun. yang telah terpilih untuk membantu sesama. perawat dapat memberi informasi kepada klien. Komunikasi yang dilakukan perawat bertujuan untuk membentuk hubungan saling percaya. Menjelaskan Dalam berkomunikasi perawat dapat menjelaskan apa yang akan perawat lakukan terhadap klien. ia merupakan seorang pasien yang memiliki hak-hak sebagai pasien yang harus tetap kita penuhi. Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar. Cara berkomunikasi dengan klien dalam proses keperawatan adalah berkomunikasi terapeutik.Untuk dipertegas. walaupun pada pasien tidak sadar ini kita tidak menggunakan keseluruhan teknik. kemungkinan untuk dipahami menjadi lebih besar oleh klien. 2. karena dengan keterbukaan yang dilakukan oleh perawat dapat menumbuhkan kepercayaan klien dan pendorongnya untuk menjadi lebih baik. Sentuhan adalah bagian yang penting dari hubungan antara perawat dan klien. perhatian. autonomi dan mutualitas.

F. 3. yaitu fase pra interaksi. 2. 4. Fase kerja / lanjutan Pada fase kerja ini petugas perlu meningkatkan interaksi dan mengembangkan faktor fungsional dari komunikasi terapeutik yang dilakukan. hal-hal berikut perlu diperhatikan. persetujuan komunikasi atau kontrak komunikasi dengan pasien. serta mengkaji apa yang diharapkan dari komunikasi yang akan dilakukan bersama antara petugas dan klien. Tahap komunikasi dengan pasien tidak sadar Komunikasi terapeutik terdiri atas 4 fase. dan merencanakan pertemuan pertama dengan pasien. Berhati-hati melakukan pembicaraan verbal di dekat klien. 3.Tugas petugas pada fase ini adalah menentukan alasan klien minta pertolongan. atau dengan menggunakan teknik komunikasi terapeutik sebagai cara pemecahan dan dalam mengembangkan hubungan kerja sama. Pada saat berkomunikasi dengan klien yang tidak sadar. serta penentuan program orientasi. Setiap fase atau tahapan komunikasi terapeutik mencerminkan uraian tugas dari petugas. karena perawat lah yang melakukan komunikasi satu arah tersebut. pengidentifikasian masalah. Mengembangkan atau meningkatkan faktor fungsional komunikasi terapeutik dengan melanjutkan pengkajian dan evaluasi masalah yang ada. Dengan demikian petugas dapat mengidentifikasi masalah klien. mengakaji tingkat kecemasan diri sendiri dan pasien. rangsangan pada klien yang tidak sadar. fase orientasi. mengeksplorasi pikiran. perasaan dan perbuatan klien sangat penting dilakukan petugas pada tahap orientasi ini. yaitu: 1. Fase Prainteraksi Pada fase prainteraksi ini. yaitu 1. Petugas juga perlu menganalisa kekuatan kelemahan profesional diri. Meningkatkan interaksi sosial dengan cara meningkatkan sikap penerimaan satu sama lain untuk mengatasi kecemasan. keefektifan komunikasi lebih diutamakan kepada perawat sendiri.Tugas petugas pada fase kerja ini adalah . petugas harus mengeksplorasi perasaan. Ambil asumsi bahwa klien dapat mendengar pembicaraan perawat. Usahakan mengucapkan kata dan menggunakan nada normal dan memperhatikan materi ucapan yang perawat sampaikan dekat klien. 2. Selanjutnya mencari data tentang klien jika mungkin. G. fantasi dan ketakutan sendiri. fase kerja dan fase terminasi. dan selanjutnya merumuskan tujuan dengan klien. kemudian membina rasa percaya. penerimaan dan komunikasi terbuka. Prinsip-Prinsip Berkomunikasi Dengan Pasien Yang Tidak Sadar Menurut Pastakyu (2010). Merumuskan kontrak bersama klien. dan mempertahankan tujuan yang telah disepakati dan mengambil tindakan berdasarkan masalah yang ada.Untuk komunikasi yang efektif dengan kasus seperti ini. Upayakan mempertahankan lingkungan setenang mungkin untuk membantu klien fokus terhadap komunikasi yang perawat lakukan. Fase Orientasi Fase ini meliputi pengenalan dengan pasien. meningkatkan komunikasi pasien dan mengurangi ketergantungan pasien pada petugas. Ucapkan kata-kata sebelum menyentuh klien. Program orientasi tersebut meliputi penentuan batas hubungan. Klien yang tidak sadar seringkali dapat mendengar suara dari lingkungan walaupun klien tidak mampu meresponnya sama sekali. Sentuhan diyakini dapat menjadi salah satu bentuk komunikasi yang sangat efektif pada klien dengan penurunan kesadaran. karena ada keyakinan bahwa organ pendengaran merupakan organ terkhir yang mengalami penurunan penerimaan.

Bab III Hal. dan Praktik. Komunikasi Terapeutik. Fase terminasi Fase terminasi ini merupakan fase persiapan mental untuk membuat perencanaan tentang kesimpulan pengobatan yang telah didapatkan dan mempertahankan batas hubungan yang telah ditentukan. Pada fase ini memungkinkan ingatan pasien pada pengalaman perpisahan sebelumnya. sehingga pasien merasa sunyi. Saling mengeksplorasi perasaan bersama klien tentang penolakan dan kehilangan. Daftar Pustaka Riswandi (2009). dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat. 4. 57 Suryani. Jakarta. Edisi 4. Jakarta: EGC Pendi (2009). Petugas juga perlu mendorong perkembangan kesadaran diri klien dan pemakaian mekanisme koping yang konstruktif. Bab I Hal. http://pastakyu.wordpress.(2005). Jakarta: EGC Potter. Edisi Pertama. Petugas harus mengantisipasi masalah yang akan timbul pada fase ini karena pasien mungkin menjadi tergantung pada petugas. Hal 28 Mungin.wordpress. Diskusikan perasaan-perasaan tentang terminasi. marah dan perilaku lain. Petugas juga dapat membicarakan proses terapi dan pencapaian tujuan. Sosiologi Komunikasi : Teori.mengeksplorasi stressor yang terjadi pada klien dengan tepat. Gramedia Widiasarana Indonesia. Komunikasi Terapeutik. Proses. PT. 1 Wiryanto (2004). Ilmu Komunikasi. Paradigma.com/ 2009/04/29/komunikasiterapeutik/diakses pada tanggal 22 Februari 2011 Pastakyu (2010). yang mungkin terjadi pada fase ini. (2005). Yogyakarta.com/2010/01/22/komunikasi-dengan-pasien-tak-sadar/ diakses pada tanggal 22 Februari 2011 . Jakarta. PT. Universitas Mercu Buana. Fundamental Keperawatan Konsep. Pengantar Ilmu Komunikasi. dan mengarahkan atau mengatasi penolakan perilaku adaptif. Patricia A. http://pendi007. Komunikasi Dengan Pasien Tidak Sadar. B (2008). Graha Ilmu. Bab II. Teori dan Praktik. sedih. Pada fase terminasi tugas petugas adalah menciptakan realitas perpisahan. Kencana. menolak dan depresi.

com Penanganan Pertama Pasien Stroke Pada kesempatan ini saya akan sedikit berbagi mengenai kuliah yang saya dapatkan tadi siang. dan hitung denyut nadi serta Respiratory Rate. Biasanya dokter akan meminta pasien untuk mengangkat tangan dan kakinya satu-persatu dan ditahan oleh tangan sang dokter. hiperkolesterolemia. diabetes. 4. Cek adanya cedera sekunder untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan 3. Namun justru karena keterbatasan inilah maka kita harus mampu melakukan apa yang bisa dilakukan secara maksimal demi kebaikan pasien. mual muntah. Periksa Vital Sign lengkap Ukur tekanan darah. meliputi darah tinggi. Pastikan anda bertanya pada orang yang serumah dan orang yang ada pada saat kejadian. dan refleks patologis. Breathing.www. Dalam hal ini kita harus bertanya pada keluarga pasien. 6. Tonus. dan Circulation) 2. 5. Lateralisasi Lateralisasi sebenarnya merupakan bagian dari Pemeriksaan Neurologis. Seringkali pada pasien stroke pasien sudah tidak sadar atau sulit menjawab pertanyaan. Timbul pada saat beraktivitas atau pada saat beristirahat. Bila Respiratory rate tinggi (>28) berikan oksigen. Sejujurnya tidak banyak yang dapat kita lalukan dengan keterbatasan peralatan dan obat-obatan di praktek pribadi. Inilah rambu-rambu penanganan pasien stroke di praktek pribadi: 1. Langsung saja. Tapi terjadi kelemahan pada satu sisi. Tanyakan apakah kelumpuhan timbul mendadak atau bertahap. Periksa Status Kesadaran Periksa status kesadaran dengan standar Glasgow Coma Scale. Begitu pula untuk kasus stroke ini. Periksa adanya cedera sekunder Kadang pasien stroke terjatuh dan timbul luka akibat jatuh ini. 7. Selain itu tanyakan riwayat penyakit dahulu yang dapat menjadi faktor penyebab stroke. Pemeriksaan dengan cara ini sering meleset karena subjektivitas pemeriksa. Bisa saja skornya sama-sama 5.medicalera indonesia. Pemeriksaan Neurologis lengkap Meliputi Kekuatan. dan juga periksa suhu tubuh. dan bicara pelo sebelumnya atau tidak. Kuliah tadi siang menceritakan tentang penanganan pertama pasien stroke di praktek pribadi. Namun kadang pemeriksaan ini dilakukan dengan cara yang kurang lege artis. Cek ABC (Airway. dan penyakit katub jantung. Ada sakit kepala.GCS = 3 . Pemeriksaan yang benar adalah: . Anamnesis Lengkap 70% diagnosis berada pada anamnesis. Refleks Fisiologis. Serta Refleks cahaya dan lateralisasi.

. Jika kita menekan pada satu sisi dan malah justru sisi lain yang bereaksi. Terkecuali tekanan darahnya lebih dari 180/110. Edukasi Berikan pengertian singkat tentang stroke dan prognosisnya. Rawat jalan baru boleh dilakukan setelah fase akut terlewati. aspilet.GCS sekitar 7 dan respon motorik masih ada Rangsang dengan rangsang nyeri. .Jangan memberikan obat-obat seperti warfarin.Pastikan semua pasien stroke mendapatkan perwatan inap. Tekan kuku penderita dengan benda yang keras. Sisi yang tertinggal adalah sisi yang mengalami kelemahan. Untuk itu jangan pernah merawat jalan pasien stroke seringan apapun gejalanya. maupun heparin sebelum tegak bahwa stroke yang terjadi adalah stroke infark. 8. Pastikan pasien mendapat perawatan yang memadai di RS yang mempunyai pelayanan stroke yang memadai. maka sisi yang kita tekan itulah yang mengalami kelumpuhan .Jangan pernah menurunkan tensi penderita stroke. Sisi di mana kaki jatuh terlebih dahulu adalah sisi yang menderita kelumpuhan . Suruh penderita mengangkat kakinya secara bersamaan. Dan lepaskan secara bersamaan. Tp setelah diobati malah lumpuh total”.Angkat kedua tangan penderita bersamaan dan lepaskan secara bersamaan. Point-Point penting . Obat-obatan ini dapat memperparah stroke Hemorrhagic. Rujuk ke RS yang memiliki fasilitas stroke yang memadai Stroke adalah serius dan progresif. Lakukan juga untuk memeriksa kaki. 9. Sisi yang jatuh terlebih dahulu adalah sisi yang mengalami kelumpuhan. Tentu saja anda tidak mau ada cerita di masyarakat seperti: “Sebelum bapak dibawa ke praktek dokter A dia masih bisa berjalan. Begitu juga pada kaki.GCS mendekati 15 Suruh penderita mengangkat tangannya secara bersamaan. Fleksikan dan tekuk lutut penderita. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful