Upacara Panca Yadnya Dalam Kehidupan Beragama

Oleh Ahmad Prajoko

S

ejarah menyatakan, bahwa pada jaman dahulu kala di wilayah Nusantara Indonesia telah berdiri

Kerajaan-Kerajaan Besar seperti salah satu di antaranya adalah Kerajaan Majapahit yaitu sebuah Kerajaan penganut Agama Hindu yang merupakan Kerajaan terbesar yang bisa menyatukan seluruh wilayahnya sampai ke Madagaskar.

negara

Luar

Negeri

terutama

dengan

Pada jaman itu sudah ada hubungan dagang dengan Negeri Campa, yang saat ini Negara Cina.

Kerajaan ini bertempat di Jawa Timur, yang pada jaman keemasannya dipimpin oleh seorang Raja yang bernama Hayam Wuruk dengan Patihnya bernama Gajah Mada. Pada jaman itu perkembangan budaya yang berlandaskan Agama Hindu sangat pesat termasuk di Daerah Bali dan perkembangan terakhir menunjukkan bahwa para Arya dari Kerajaan Majapahit sebagian besar hijrah ke Bali dan di Daerah ini para Arya-Arya tersebut lebih memantapkan ajaranajaran Agama Hindu sampai sekarang. Masyarakat Hindu di Bali dalam kehidupan sehari-harinya selalu berpedoman pada ajaran Agama Hindu warisan para lelulur Hindu di Bali terutama dalam pelaksanaan upacara ritual dalam Falsafah Tri Hita Karana. Arti kata Tri Hita Karana :  Tri artinya tiga  Hita artinya kehidupan  Karana artinya penyebab

Tri Hita Karana artinya : Tiga keharmonisan yang menyebabkan adanya kehidupan yaitu hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, hubungan yang harmonis antara manusia dengan manusia dan hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam. Dalam pelaksanaannya tetap berlandaskan ajaran-ajaran Agama Hindu dan dalam kegiatan Upacara Keagamaan berpatokan pada Panca Yadnya.

Yang dimaksud dengan Panca Yadnya adalah : Panca artinya lima dan Yadnya artinya upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kehadapan Tuhan yang dalam istilah Bali masyarakat Hindu menyebutkan Ida Sanghyang Widi Wasa. Adapun pelaksanaan Panca Yadnya terdiri dari : 1. Dewa Yadnya, yaitu upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kehadapan para dewa-dewa. 2. Butha Yadnya, yaitu upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kehadapan unsur-unsur alam. 3. Manusa Yadnya, yaitu upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kepada manusia. 4. Pitra Yadnya, yaitu upacara persembahan suci yang tulus ikhlas bagi manusia yang telah meninggal. 5. Rsi Yadnya, yaitu upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kehadapan para orang suci umat Hindu.

Untuk lebih jelasnya mengenai pelaksanaan Panca Yadnya secara simpel dapat diuraikan sebagai berikut : 1. Upacara Dewa Yadnya Dewa asal kata dalam bahasa Sanskrit “Div” yang artinya sinar suci, jadi pengertian Dewa adalah sinar suci yang merupakan manifestasi dari Tuhan yang oleh umat Hindu di Bali menyebutnya Ida Sanghyang Widhi Wasa. Yadnya artinya upacara persembahan suci yang tulus ikhlas. Upacara Dewa Yadnya adalah pemujaan serta persembahan suci yang tulus ikhlas kehadapan Tuhan dan sinar-sinar suciNYA yang disebut dewa-dewi. Adanya pemujaan kehadapan dewa-dewi atau para dewa karena beliau yang dianggap mempengaruhi dan mengatur gerak kehidupan di dunia ini. Salah satu dari Upacara Dewa Yadnya seperti Upacara Hari Raya Saraswati yaitu upacara suci yang dilaksanakan oleh umat Hindu untuk memperingati turunnya Ilmu Pengetahuan yang dilaksanakan setiap 210 hari yaitu pada hari Sabtu, yang dalam kalender Bali disebut Saniscara Umanis uku Watugunung, pemujaan ditujukan kehadapan Tuhan sebagai sumber Ilmu Pengetahuan dan dipersonifikasikan sebagai Wanita Cantik bertangan empat memegang wina (sejenis alat musik), genitri (semacam tasbih), pustaka lontar bertuliskan sastra ilmu pengetahuan di dalam kotak kecil, serta bunga teratai yang melambangkan kesucian. 2. Upacara Bhuta Yadnya Bhuta artinya unsur-unsur alam, sedangkan Yadnya artinya upacara persembahan suci yang tulus ikhlas. Kata “Bhuta” sering dirangkaikan dengan kata “Kala” yang artinya “waktu” atau “energi” Bhuta Kala artinya unsur alam semesta dan kekuatannya. Bhuta Yadnya adalah pemujaan serta persembahan suci yang tulus ikhlas ditujukan kehadapan Bhuta Kala yang tujuannya untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan Bhuta Kala dan memanfaatkan daya gunanya. Salah satu dari upacara Bhuta Yadnya adalah Upacara Tawur ke Sanga (Sembilan) menjelang Hari Raya Nyepi (Tahun Baru / Çaka / Kalender Bali).

c. walaupun disadari bahwa hal tersebut akan menambah beban baginya. Tutug Sambutan dan Upacara Mepetik. Upacara Tutug Kambuhan (Upacara setelah bayi berumur 42 hari). Upacara Mepetik merupakan upacara suci yang bertujuan untuk penyucian terhadap si bayi dengan acara pengguntingan / pemotongan rambut untuk pertama kalinya. Upacara Manusa Yadnya adalah upacara persembahan suci yang tulus ikhlas dalam rangka pemeliharaan. kalung/badong dan giwang/subeng. Apabila keadaan ubun-ubun si bayi belum baik. di sumur/tempat mengambil air dan di Merajan/Sanggah Kemulan (Tempat Suci Keluarga). Upacara Mepetik ini adalah merupakan rangkaian dari upacara Tutug Sambutan yang pelaksanaannya berupa 1 (satu) paket upacara dengan upacara Tutug Sambutan. Upacara Manusa Yadnya Manusa artinya manusia Yadnya artinya upacara persembahan suci yang tulus ikhlas. Upacara Tutug Sambutan (Upacara setelah bayi berumur 105 hari). maka rambut di bagian ubun-ubun tersebut dibiarkan menjadi jambot (jambul) dan akan digunting pada waktu upacara peringatan hari lahir yang pertama atau sesuai dengan keadaan. • Hutang kepada orang tua terutama berupa kelahiran telah dapat dibayar. b. merupakan upacara suci yang bertujuan untuk penyucian terhadap si bayi dan kedua orang tuanya. Kebahagiaannya terutama disebabkan beberapa hal antara lain : • Adanya keturunan yang diharapkan akan dapat melanjutkan tugas-tugasnya terhadap leluhur dan masyarakat. Upacara Perkawinan . Penyucian kepada si Bayi dimohonkan di dapur. pendidikan serta penyucian secara spiritual terhadap seseorang sejak terwujudnya jasmani di dalam kandungan sampai akhir kehidupan. Upacara Bayi Lahir Upacara ini merupakan cetusan rasa bahagia dan terima kasih dari kedua orang tua atas kelahiran anaknya. 3.Upacara Tawur ke Sanga (Sembilan) adalah upacara suci yang merupakan persembahan suci yang tulus ikhlas kepada Bhuta-Kala agar terjalin hubungan yang harmonis dan bisa memberikan kekuatan kepada manusia dalam kehidupan. adalah upacara suci yang tujuannya untuk penyucian Jiwatman dan penyucian badan si Bayi seperti yang dialami pada waktu acara Tutug Kambuhan. Upacara Tutug Kambuhan. Adapun beberapa upacara Manusa Yadnya adalah : a. melobangi telinga. Pada upacara ini nama si bayi disyahkan disertai dengan pemberian perhiasan terutama gelang.

. Upacara Pitra Yadnya (Ngaben ) Pitra artinya arwah manusia yang sudah meninggal. Upacara Pitra Yadnya adalah upacara persembahan suci yang tulus ikhlas dilaksanakan dengan tujuan untuk penyucian dan meralina ( kremasi) serta penghormatan terhadap orang yang telah meninggal menurut ajaran Agama Hindu. menanam pohon kunir. Yadnya artinya upacara persembahan suci yang tulus ikhlas. . . walaupun pada dasarnya Umat Hindu menganut sistim patriahat (garis Bapak) tetapi dibolehkan pula untuk mengikuti sistim patrilinier (garis Ibu). Upacara Pernikahan ini dapat dilakukan di halaman Merajan/Sanggah Kemulan ( Tempat Suci Keluarga) dengan tata upacara yaitu kedua mempelai mengelilingi Sanggah Kemulan ( Tempat Suci Keluarga ) sampai tiga kali dan dalam perjalanan mempelai perempuan membawa sok pedagangan ( keranjang tempat dagangan) yang laki memikul tegen-tegenan(barang-barang yang dipikul) dan setiap kali melewati “Kala Sepetan”(upakara sesajen yang ditaruh di tanah) kedua mempelai menyentuhkan kakinya pada serabut kelapa belah tiga. Setelah tiga kali berkeliling.Sebagai upacara suci yang tujuannya untuk penyucian diri kedua calon mempelai agar mendapatkan tuntunan dalam membina rumah tangga dan nantinya agar bisa mendapatkan keturunan yang baik dapat menolong meringankan derita orang tua/leluhur. pohon keladi (pohon talas) serta pohon endong dibelakang sanggar pesaksi/sanggar Kemulan (Tempat Suci Keluarga) dan diakhiri dengan melewati "Pepegatan" ( Sarana Pemutusan ) yang biasanya digunakan benang didorong dengan kaki kedua mempelai sampai benang tersebut putus. lalu berhenti kemudian mempelai laki berbelanja sedangkan mempelai perempuan menjual segala isinya yang ada pada sok pedagangan (keranjang tempat dagangan). d.Bagi Umat Hindu upacara perkawinan mempunyai tiga arti penting yaitu : .Sebagai persaksian secara lahir bathin dari seorang pria dan seorang wanita bahwa keduanya mengikatkan diri menjadi suami-istri dan segala perbuatannya menjadi tanggung jawab bersama. dilanjutkan dengan merobek tikeh dadakan (tikar yang ditaruh di atas tanah). Di Bali apabila kawin mengikuti sistem patrilinier (garis Ibu) disebut kawin nyeburin atau nyentana yaitu mengikuti wanita karena wanita nantinya sebagai Kepala Keluarga.Penentuan status kedua mempelai.

keamanan dan industri semua berpedoman pada ajaran-ajaran Agama Hindu yang merupakan warisan dari para leluhur Hindu di Bali. budaya. tanah. Upacara Resi Yadnya adalah upacara persembahan suci yang tulus ikhlas sebagai penghormatan serta pemujaan kepada para Resi yang telah memberi tuntunan hidup untuk menuju kebahagiaan lahirbathin di dunia dan akhirat. .Yang dimaksud dengan meralina (kremasi menurut Ajaran Agama Hindu) adalah merubah suatu wujud demikian rupa sehingga unsur-unsurnya kembali kepada asal semula. Demikian Upacara Panca Yadnya yang dilaksanakan oleh Umat Hindu di Bali sampai sekarang yang mana semua aktifitas kehidupan sehari-hari masyakat Hindu di Bali selalu didasari atas Yadnya baik kegiatan dibidang sosial. Sebagai sarana penyucian digunakan air dan tirtha (air suci) sedangkan untuk pralina digunakan api pralina (api alat kremasi). Yang dimaksud dengan asal semula adalah asal manusia dari unsur pokok alam yang terdiri dari air. api. e. angin dan akasa. ekonomi. pertanian. Upacara Rsi Yadnya Rsi artinya orang suci sebagai rokhaniawan bagi masyarakat Umat Hindu di Bali. Yadnya artinya upacara persembahan suci yang tulus ikhlas. pendidikan.

Ada beberapa tugas seorang Rsi. Menyebarkan ajaran Weda. c. karena rsi tersebut merupakan perantara ilmu pengetahuan Weda kepada para siswanya dan beliau jug sebagai pendidik karena beliau harus dapat mengembangkan pribadi siswanya serta mendekatkan mereka kepada pengaruh-pengaruh yang baik. membangun tempat pemujaan untuk orang-orang suci atau sulinggih. Adapun tujuannya adalah sebagai tanda terima kasih kepada para pendeta karena beliau telah menyelesaikan upacara yadnya. Di sini seorang rsi mempunyai kewajiban sebagai pengajar dan sebagai pendidik. Sedekah atau persembahan ini dapat dilakukan pada waktu-waktu tertentu. Sedekah atau punia yang dipersembahkan kepada para pendeta disebut dengan daksina. misalnya penentuan hari-hari baik untuk melakukan yadnya. Karena itu kita sebagai umat beragama hendaknya menghormati orang-orang suci kita dengan melakukan Rsi Yadnya. turut memajukan pendidikan terutama dibidang keagamaan. Menyelesaikan yadnya yang di minta oleh orang yang mempunyai atau melaksanakan upacara yadnya ( yajamana ). Dan selanjutnya sampai sekarang bahwa yang memimpin upacara-upacara keagamaan adalah orang-orang suci atau pendeta atau sulinggih. .RSI YADNYA Rsi Yadnya adalah sedekah atau punia atau juga persembahan kepada para pendeta atau para pemimpin upacara keagamaan. Sejak dahulu sampai sekarang kedudukan ornag-orang suci atau Rsi. b. Sebagai seorang rsi. membantu segala usaha para Sulinggih. atau Sulinggih memegang peranan penting dalam hubungannya dengan agama Hindu. Para Rsilah yang menerima wahyu Weda. beliau mempunyai kewajiban untuk berperan secara aktif dalam memecahkan masalah-masalah yang ada hubungannya dengan keagamaan. atau memberikan diksa kepada sisyanya. kemudian menyebarkan ajaran-ajaran Weda tersebut. Di samping itu mentaati dan mengamalkan ajaran orang-orang suci. semuanya itu juga termasuk pelaksanaan Rsi Yadnya. yaitu : a. Pendeta. memulai suatu pekerjaan-pekerjaan penting dan lain sebagainya. yaitu pada saat Beliau menyelesaikan suatu upacara.

Yadnya berasal dari Bahasa Sansekerta dari akar kata “Yaj” yang artinya memuja. Selanjutnya semua alam diciptakan secara evolusi melalui Yadnya. . anena prasawiûyadham eûa wo ‘stw iûþa-kàma-dhuk artinya : Dahulu kala Prajapati ( Hyang Widhi ) menciptakan manusia dengan yajnya dan bersabda. Secara etimologi pengertian Yadnya adalah korban suci secara tulus ikhlas dalam rangka memuja Hyang Widhi. Pada dasarnya Yadnya adalah penyangga dunia dan alam semesta. Pada dasarnya Yadnya bukanlah sekedar upacara keagamaan. Dalam Bhagawadgita Bab III. Dari satu sloka di atas jelas bahwa manusia saja diciptakan melalui yadnya maka untuk kepentingan hidup dan berkembang serta memenuhi segala keinginannya semestinya dengan yadnya. Contoh sederhana bila kita memiliki secarik kain dan berniat untuk menjadikannya sepotong baju. Kesempurnaan dan kebahagiaan tak mungkin akan tercapai tanpa ada pengorbanan. PENGERTIAN DAN HAKEKAT YADNYA Pada awalnya banyak orang mengartikan bahwa yadnya semata upacara ritual keagamaan. Sedangkan potongan yang tidak diperlukan tentu harus dibuang. Jika kita bersikukuh tidak rela kainnya dipotong dan dibuang sebagian maka sangat mustahil akan memperoleh sepotong baju. Pemahaman ini tentu tidak salah karena upacara ritual keagamaan adalah bagian dari yadnya. maka kain yang utuh tersebut harus direlakan untuk dipotong sesuai dengan pola yang selanjutnya potongan-potongan tersebut dijahit kembali sehingga berwujud baju. sloka 10 disebutkan : saha-yajòàá prajàh såûþwà purowàca prajàpatih.YADNYA 1. Dari proses awal ini jelas bahwa awal penciptaan awal dilakukan Yadnya yaitu pengorbanan diri Hyang Widhi dari Nirguna Brahma menjadi Saguna Brahma . Pada masa srsti yaitu penciptaan alam Hyang Hidhi dalam kondisi Nirguna Brahma ( Tuhan dalam wujud tanpa sifat ) melakukan Tapa menjadikan diri beliau Saguna Brahma ( Tuhan dalam wujud sifat Purusha dan Pradhana ). lebih dari itu segala aktivitas manusia dalam rangka sujud bhakti kepada hyang Widhi adalah Yadnya. Manusia harus berkorban untuk mencapai tujuan dan keinginannya. dengan ini engkau akan berkembang dan akan menjadi kamadhuk keinginanmu. karena alam dan manusia diciptakan oleh Hyang Widhi melalui Yadnya.

dan lain-lain termasuk nyawa sendiri dapat digunakan sebagai korban. tulus dan ikhlas. Hyang Widhi akan merajut potongan-potongan pengorbanan kita dan menjadikannya sesuai dengan keinginan kita. ucapan. sembahyang. korban pikiran.Dari gambaran sederhana di atas dapat diambil kesimpulan bahwa demi mencapai kebahagiaan dan kesempurnaan hidup maka kita harus rela mengorbankan sebagian dari milik kita. Empat hal di atas semuanya dapat dicapai melalui Yadnya. Untuk Penyucian Untuk mencapai kebahagiaan maka hidup ini harus suci. pengetahuan. Paling tidak empat hal yang harus dilakukan manusia yaitu. rajas. Untuk mencapai kebahagiaan maka manusia harus memiliki imbangan Guna Satwam yang tinggi. 1. Oleh karena itu tujuan Yadnya adalah : 1. Pribadi dan jiwa manusia harus dibersihkan dari guna rajas dan guna tamas. Segala aspek yang dimiliki manusia dapat dikorbankan sebagai yadnya. Kitab Manawa Dharmasastra V. diciptakan . Dalam rangka mencapai tujuan tertinggi tersebut manusia harus melakukan aktivitas dan berkarma. dan senantiasa bersyukur dan berterima kasih kepada Sang Pencipta. Pengorbanan dalam hal ini bukan saja dalam bentuk materi. peningkatan kualitas diri. dan tamas ) orang akan saling mempengaruhi. TUJUAN YADNYA Dalam banyak sloka dari berbagai kitab menyatakan bahwa alam semesta beserta segala isinya termasuk manusia. Tentu saja pengorbanan ini harus dilandasi rasa cinta. Jika manusia dan alam memiliki tingkatan guna satwam yang lebih banyak maka keharmonisan alam akan terjadi. Oleh karena itu maka yadnya yang dilakukan oleh manusia tentu bertujuan untuk mencapai tujuan hidup manusia menurut konsep Hindu yakni Moksartham jagat hita ( Kebahagiaan sekala dan niskala ). Guna ( sifat satwam. sifat. dipelihara dan dikembangkan melalui yadnya. Tanpa dasar tersebut maka suatu pengorbanan bukanlah yadnya. demikian juga “guna” alam akan mempengaruhi manusia. penyucian diri. Tanpa kesucian sangat mustahil keharmonisan dan kebahagiaan itu dapat tercapai.109 menyatakan : . Pribadi dan jiwa manusia dalam aktivitasnya setiap hari berinteraksi dengan sesama manusia dan alam lingkungan akan saling berpengaruh. Melalui Yadnya kita dapat menyucikan diri dan juga menyucikan lingkungan alam sekitar. seperti. tindakan .

iking janma wwang juga wénang gumawayakén ikang çubhàçubhakarma. Lingkungan yang suci akan memberikan kehidupan yang suci juga bagi manusia. Demikian juga untuk kesucian alam dan lingkungan lakukan upacara/ ritual sesuai dengan sastra agama sehingga kita akan senantiasa berada pada lingkungan yang suci. Demikian pula setiap kelahiran bertujuan untuk meningkatkan kualitas jiwatman sehingga tujuan tertinggi yaitu bersatunya atman dengan brahman ( brahman atman aikyam ) dapat tercapai. pikiran disucikan dengan kebenaran. demikianlah gunanya menjadi manusia. Artinya : Diantara semua mahluk hidup . oleh karena itu leburlah ke dalam perbuatan baik . Dengan demikian setiap yadnya yang kita lakukan hasilnya adalah terjadinya peningkatan kualitas jiwatman. kunéng panéntasakéna ring çubhakarma juga ikangaçubhakarma. hanya yang dilahirkan sebagai manusia saja yang dapat melaksanakan perbuatan baik atau perbuatan buruk. Sebagai sarana menghubungkan diri dengan Tuhan . phalaning dadi wwang. bayu . Laksanakan kewajiban diri sendiri dengan penuh kesadaran dan keihlasan sehingga masuk dalam kelompok yadnya. 1. Dari sloka di atas jelas kewajiban hidup manusia adalah untuk selalu meningkatkan kualitas diri melalui perbuatan baik. Perbuatan baik yang paling utama adalah melalui Yadnya. dan idep dapat melakukan perbuatan baik sebagai cara untuk meningkatkan kualitas jiwatman. 1. segala perbuatan yang buruk itu. jiwa manusia dibersihkan dengan pelajaran suci dan tapa brata. Untuk meningkatkan kualitas diri Setiap kelahiran manusia selalu disertai oleh karma wasana. Dengan demikian maka setiap kegiatan yang kita lakukan selalu memberikan kesucian pada diri pribadi. kecerdasan dibersihkan dengan pengetahuan yang benar. sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Sarasamuscaya sloka 2 sebagai berikut : Ri sakwehning sarwa bhùta.“ Adbhirgatrani suddhayanti mana satyena suddhayanti. Widyatapobhyam bhutatma buddhir jnanena suddhayanti” Artinya : Tubuh dibersihkan dengan air. Oleh karena itu jadikanlah aktivitas sehari-hari kita sebagai yadnya. Hanya dilahirkan sebagai manusia memiliki sabda.

Cara paling sederhana menghubungkan diri dengan Tuhan adalah sembahyang. memahami dan melaksanakan Yadnya. dan dengan mendisiplinkan dirimu serta menjadikan-Ku sebagai tujuan. Dengan olah rasa yang baik maka rasa syukur merupakan salah satu motivasi utama untuk selalu berbuat kebajikan. Kita diberikan hidup sebagai manusia. menolong orang yang kesusahan. Manusia memiliki rasa dan pikiran dan dalam tatanan kehidupan sosial terikat pada aturan susila dan moral. belajar giat. Satu-satunya cara agar kita selalu dapat menghubungkan diri dengan Maha Pencipta adalah dengan mempelajari. Yadnya dalam kegiatan karma keseharian adalah sarana untuk menghubungkan diri dengan Tuhan. engkau akan sampai kepadaKu. adalah suatu yang luar biasa. Oleh karena itu tidak ada alasan bagi manusia bijak untuk tidak bersyukur dan tidak berterima kasih kepada Sang Pencipta. odalan.Alam semesta dengan segala isinya termasuk manusia adalah ciptaan Hyang Widhi. Untuk senantiasa dapat memusatkan pikiran dan memuja Hyang Widhi tidaklah mudah. sebagaimana dalam ajaran Tri Hita Karana. Ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Hyang Widhi itulah dilakukan dengan Yadnya Bekerja dengan benar dan giat. dilahirkan pada keluarga yang satwam. maturan sehari-hari dsb ). keselamatan diri. . 1. berada pada lingkungan sosial yang baik . Oleh karena itu hidup manusia dalam rangka mencapai tujuannya tidak akan lepas dari tuntunan dan kekuasaan Tuhan. dan tunduklah pada-Ku. dan diciptakan bersama bumi yang penuh keindahan dan kedamaian. Jika dalam kehidupan kita senantiasa dapat memusatkan pikiran. Sembahyang artinya menyembah Hyang Widhi. serta kehidupan yang kita terima. Sebagai ungkapan rasa terima kasih. maupun berkala ( rahinan. memuja Hyang widhi maka tujuan tertinggi pasti akan tercapai sebagaimana sabda Tuhan dalam Bhagawad Gita Bab IX sloka 34 : Pusatkan pikiranmu pada-Ku. Untuk menjaga agar senantiasa jalan kehidupan kita pada arah yang benar dan selalu mendapat sinar suci serta tuntunan Hyang Widhi maka haruslah kita selalu menjalin hubungan yang harmonis dengan Tuhan. berbaktilah pada-Ku. Perlu kedisiplinan dan keihlasan dalam menjalaninya. Terlebih Yadnya dalam bentuk Upacara/ritual jelas merupakan wujud nyata usaha menghubungkan manusia dengan Sang Penciptanya. Upacara/ritual yang dilakukan Umat Hindu baik yang bersifat rutin (contohnya ngejot. serta hari suci lainnya ) salah satu tujuan utamanya sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Hyang Widhi atas semua anugrah Beliau. dan kegiatan lain yang didasari pengabdian dan rasa ikhlas adalah salah satu contoh ungkapan rasa syukur dan ucapan terima kasih atas anugrah Tuhan untuk kesehatan. rejeki.

yaitu hutang kepada para Rsi yang mengorbankan kehidupannya sehingga dapat memberikan pencerahan kepada manusia melalui ajaran-ajarannya sehingga manusia dapat menjalani hidup dengan lebih baik. tumbuhan. Pitra Rna. wahai Agar perputaran roda kehidupan ini berjalan dengan harmonsi maka peranan manusia sangat penting. pada dasarnya bersifat jahat. Dewa. Dalam Bhagawad Gita . bulan. bintang. Tri Rna ini dibayar dengan pelaksanaan Panca Yadnya. mereka yang tidak ikut memutar roda kehidupan ini. 2.1. binatang. Dewa Yadnya dalam bentuk pemujaan kepada Hyang Widhi serta melaksanakan Dharma. 3. Tri Rna terdiri dari : 1. Rsi Rna dilunasi dengan melaksanakan Rsi Yadnya. Paling tidak kelahiran kita di dunia karena adanya leluhur dan orang tua. Oleh karena itu manusia sebagai bagian alam semesta mempunyai kewajiban untuk menjalankan tugas dan fungsinya untuk ikut menciptakan keharmonisan kehidupan. bahkan bakteri dan kumanpun semuanya memiliki tugas dan fungsi tersendiri dalam memutar kehidupan ini. Rsi Rna. Hanya dengan Yadnya keharmonisan alam dapat tercipta. manusia dengan sesamanya dan keharmonisan hubungan manusia dengan alam. Karma leluhur dan orang tua berpengaruh terhadap keberadaan setiap orang. Asura.16 dijelaskan : Pàrtha Di dunia ini. manusia. III. Oleh karena itu maka sudah menjadi . Untuk menciptakan kehidupan yang harmonis Hyang Widhi menciptakan alam dengan segala isinya untuk memutar kehidupan. yaitu hutang kepada orang tua dan leluhur. Leluhur dan orang tua sangat memiliki peranan besar atas kehidupan kita saat ini. Alam dengan segala isinya memiliki keterkaitan dan ketergantungan satu sama lain. Yadnya menciptakan hubungan yang harmonis antara manusia dengan Hyang Widhi. yaitu hutang hidup kepada Hyang Widhi yang telah menciptakan alam semesta termasuk diri kita. memperturutkan nafsu semata dan mengalami penderitaan. Dewa Rna. Untuk semua ini wajib kita bayar dengan Dewa Yanya dan Bhuta Yadnya. Sekecil apapun ciptaan-Nya memiliki fungsi tersendiri dalam kehidupan ini. Dalam melaksanakan Yadnya ada tiga kewajiban utama yang harus dilunasi manusia atas keberadaannya di dunia ini yang disebut Tri Rna ( tiga hutang hidup). Butha Yadnya dilakukan untuk memelihara alam lingkungan sebagai tempat kehidupan semua mahluk. Jika manusia dalam melakoni hidup penuh keserakahan dan mengabaikan prinsip-prinsip Dharma maka kehancuran pasti terjadi. Perlu diingat bahwa Yadnya tidak semata-mata dilaksanakan dengan upakara/ritual.

Jenis-jenis Yadnya Secara garis besar yadnya dapat kelompokkan sebagai berikut : a. Hindu memberikan keluasan kepada pemeluknya dalam beryadnya sesuai dengan kondisi dan kemampuan yang ada dengan peluang kesempatan hasil yang sama. Sangat sedikit Umat Hindu di Indonesia yang memberikan proporsional untuk melaksanakan bentuk-bentuk yadnya yang lainnya. Bagi seorang siswa kewajiban sehari-hari adalah belajar . BENTUK DAN JENIS YADNYA 1. Padahal upakara/ritual itu adalah salah satu bagian dari bentuk-bentuk yadnya. Sedangkan bagi sulinggih melakukan Surya Sewana. 4. 3. 2. Yadnya dalam bentuk yang lain dapat dilaksanakan melalui aktivitas sehari-hari. Membayar hutang kepada orang tua dan leluhur dilakukan dengan Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya 1.kewajiban untuk membalas hutang tersebut. Yadnya dalam bentuk persembahan/Upakara Yadnya dalam bentuk pengendalian diri/tapa Yadnya dalam bentuk aktivitas/karma Yadnya dalam bentuk harta benda / kekayaan/punia Yadnya dalam bentuk ilmu pengetahuan/jnana Sampai saat ini di Indonesia khususnya di Bali hampir sebagian besar umat Hindu masih mengartikan dan mengutamakan bahwa yadnya adalah upacara/ritual. Yadnya ini antara lain. pegawai dan sebagainya yang . Bentuk – bentuk Yadnya Kitab Bhagawad Gita dalam berbagai sloka menjelaskan bahwa bentuk-bentuk yadnya terdiri dari : 1. 5. Dengan demikian apapun bentuk yadnya yang kita lakukan sepanjang sesuai dengan konsep Dharma maka akan memperoleh hasil yang maksimal. atau persembahyangan sehari-hari. Nitya Yadnya Yaitu yadnya yang dilakukan secara rutin setiap hari. 2. Bagi seorang petani. dalam bentuk persembahan yang berupa yadnya sesa. Dari segi waktu pelaksanaan Yadnya dapat dibedakan : 1. bila dilakukan dengan penuh ikhlas merupakan yadnya. tukang.

3. Disamping itu ada juga bentuk yadnya yang dilaksanakan secara insidental sesuai kebutuhan dengan waktu yang tidak tetap/ tidak rutin. yaitu yandnya tingkatan sedang yang dapat dibagi lagi menjadi : 1. b. tirtayatra. adalah tingkatan terbesar dari yang besar. nangluk merana. adalah tingkatan terkecil dari yang besar 2. orang tidak mampu dan sebagainya. Madya. Ada pula yang pada waktu tertentu setiap tahun atau setiap bulan melakukan dana punia baik dihaturkan kepada sulinggih. Contohnya upacara ngaben. Madyaning Utama. Madyaning nista. Sembahyang Purnama dan Tilem. artinya yadnya tingkatan kecil yang dapat di bagi lagi menjadi : 1. Utamaning Nista. Utamaning madya. Hari Raya baik menurut wewaran maupun sasih. Nistaning nista. 3. maka sebagian dipuniakan untuk pura atau untuk panti asuhan. Madyaning madya. Nista. Ada orang pada setiap hari raya tertentu melaksanakan tapa brata sebagai wujud yadnya pengendalian diri. adalah terkecil dari yang kecil 2. adalah tingkatan terbesar dari yang sedang. Berdasarkan nilai materi / jenis bebantenan suatu yadnya digolongkan menjadi : 1). 3). 1.melaksanakan tugas sehari-hari dengan konsentrasi persembahan kepada Tuhan disertai keikhlasan juga merupakan Nitya Yadnya. Utamaning Utama. adalah tingkatan sedang dari yang besar. Ada orang yang tanpa diduga memperoleh rejeki yang lebih . . adalah tingkatan terkecil dari yang sedang. Naimitika Yadnya Yaitu Yadnya yang dilaksanakan secara berkala/ waktu-waktu tertentu. Misalkan jika ada ujian sekolah ada siswa / mahasiswa yang puasa. Khusus untuk yadnya ini terutama yadnya dalam bentuk persembahan /upakara yaitu Upacara Piodalan. 2. adalah tingkatan sedang dari yang sedang. Bagi bentuk yadnya yang lain tergantung kebiasaan pribadi perorangan/kelompok orang. 3. adalah tingkatan terbesar dari yang kecil 2). adalah tingkatan sedang dari yang kecil. Nistaning utama. Utama. yaitu yadnya tingkatan besar yang dapat dibagi menjadi : 1. Demikian juga bentuk yadnya yang lain adakalanya dilakukan tidak dengan jadwal waktu tertentu. Nistaning Madya.

Ini adalah kelompok orang yang beryadnya tanpa arah tujuan yang jelas. Terpaksa . Termasuk dalam katagori ini adalah orang yang beryadnya karena terpaksa. Manusa Yadnya 5). tanpa mantra dan tanpa keyakinan. Seorang guru/pendarmawacana memberikan ceramah panjang lebar dan berapi-api dengan maksud agar dianggap pintar. maupun jnana jika dilandasi bakti dan tanpa pamrih maka tergolong Satwika Yadnya. 3). Yadnya dalam bentuk persembahan / upakara akan sangat mulia dan termasuk satwika jika sesuai dengan sastra agama. Rajasika Yadnya yaitu yadnya dilakukan dengan motif pamrih serta pamer kemewahan. Sedangkan apabila ditinjau dari tujuan pelaksanaan atau kepada siapa yadnya tersebut dilaksanakan. Terpaksa memberikan punia karena semua orang melakukan punia. Uraian mengenai Panca Yadnya akan dibahas tersendiri setelah bagian ini. tanpa punia. Dari segi kualitas yadnya dapat dibedakan atas: 1). Terpaksa maturan karena semua orang maturan. bagi yang melakukan punia berharap agar dirinya dianggap dermawan. Tamasika Yadnya yaitu yadnya yang dilaksanakan tanpa sastra. lascarya. persembahan. Pitra Yadnya 4). Rsi Yadnya 3). 2).hanya ikut-ikutan. mantra. dan semata melaksanakan sebagai kewajiban. Bhuta Yadnya Kelima jenis yadnya di atas dikenal dengan istilah Panca Yadnya. puasa tetapi dengan tujuan untuk memperoleh kekayaan. dapat digolongkan menjadi : 1).c. malu tidak ke pura karena semua tetangga pergi ke pura. punia. Annasewa. Contoh orang-orang yang tegolong melaksanakan tamasikan yadnya antara lain orang yang pergi sembahyang ke pura hanya ikut-ikutan. pengendalian diri. Satwika Yadnya yaitu yadnya yang dilaksanakan dasar utama sradha bakti. atau agar dianggap sebagai orang suci juga tergolong yadnya rajasik. Seorang yang melakukan tapa. orang gotong royong di pura atau di tempat umum juga hanya ikut-ikutan tanpa menyadari manfaatnya. Apapun bentuk yadnya yang dilakukan seperti. Dewa Yadnya 2). daksina. d. semua bentuk yadnya dengan motif di atas tergolong rajasika yadnya. kesaktian fisik. pamer harga diri. dan nasmita.

menjelaskan panca yadnya sebagai berikut : 1. Sastra. yaitu yadnya dilaksanakan dengan tulus ikhlas tanpa pamrih sedikitpun. 7. Kitab Sathapata Brahmana. 5. 1. Pelaksanaan Panca yadnya adalah sebagai realisasi dalam melunasi kewajiban manusia yang hakiki yaitu Tri Rna ( tiga hutang hidup ). namun pada intinya memiliki kesatuan tujuan yang sama. Nasmita. Annasewa. Sedangkan kualitas yadnya yang harus dicapai setiap pelaksanaan yadnya adalah Satwika Yadnya. artinya yadnya dilaksanakan dengan penuh keyakinan 2. Dalam beberapa kitab dan pustaka memberikan penjelasan tentang Panca Yadnya yang berbeda. Dengan jamuan maka karma dari doa para tamu undangan menjadi milik sang yajamana. Untuk Yadnya yang berbentuk persembahan/upakara akan tergolong kualitas Satwika bila yadnya dilaksanakan berdasarkan : 1. Penjelasan-penjelasan tersebut antara lain : 1. Jamuan ini penting karena setiap tamu yang datang ikut berdoa agar pelaksanaan yadnya berhasil. Daksina. 6. Jenis-jenis yadnya di atas diuraikan dalam Kitab Bhagawad Gita dalam beberapa sloka. Mantra dan gita. tiada manfaat bagi peningkatan karmanya. Lascarya. Jadi apapun yang dilaksanakannya adalah sia-sia. yaitu dengan melantunkan doa-doa serta kidung suci sebagai pemujaan.puasa karena orang-orang berpuasa. 3. PANCA YADNYA Panca Yadnya adalah lima macam korban suci dengan tulus ikhlas yang wajib dilakukan oleh umat Hindu. bahwa pelaksanaan yadnya sesuai dengan sumber-sumber sastra yang benar. bahwa yadnya yang dilaksanakan bukan untuk memamerkan kekayaan dan kemewahan Apapun jenis yadnya yang kita lakukan seharusnya yang menjadi tolok ukur adalah kualitas yadnya. 4. yaitu yadnya dilaksanakan dengan sarana upacara serta punia kepada pemuput yadnya/manggala yadnya. Tidak ada gunanya yadnya yang besar tetapi bersifat rajas atau tamas. yaitu yadnya untuk para bhuta . artinya memberikan jamuan kepada tamu yang menghadiri upacara. Sradha. Bhuta Yadnya. Kitab ini merupakan bagian dari Reg Weda.

Lontar Korawa Srama  Dalam lontar Korawa Srama terdapat penjelasan Panca yadnya sebagai berikut:  Dewa Yadnya.  Manusa Yadnya adalah persembahan makanan kepada masyarakat. 4. . Manusa Yadnya.  Bhuta Yadnya. Dewa yadnya. 2. 3. adalah persembahan yang dilaksanakan dengan belajar dan mengajar secara tulus ikhlas. yaitu persembahan makanan untuk sesama manusia. 5. Brahma Yadnya. Pitra Yadnya. adalah persembahan minyak dan susu kepada para dewa. dan barang yang tidak mudah rusak kepada para Maha Rsi. 3.  Rsi Yadnya. Pitra Yadnya. Pitra Yadnya. yaitu yang dilaksanakan dengan mempelajari pengucapan mantram cusi weda. Nara Yadnya . adalah pelaksanaan upacara bali untuk butha. adalah mempersembahkan puja dan banten kepada bhuta. adalah persembahan tarpana dan air kepada leluhur. yaitu persembahan yang ditujukan untuk leluhur ( disebut swadha). 1. 4. Menurut lontar ini Panca yadnya adalah : 1. Dewa Yadnya. yaitu persembahan dengan menghormati pendeta dan membaca kitab suci. 4. yaitu upacara kematian agar roh yang meninggal mencapai alam Siwa. adalah persembahan dengan sesajen dan mengucapkan Sruti dan Stawa pada waktu bulan purnama. Rsi Yadnya. 2. Bhuta Yadnya. Bhuta Yadnya. adalah penerimaan tamu dengan ramah-tamah. Lontar Agastya Parwa Penjelasan tentang Panca Yadnya dari lontar Agastya Parwa adalah yang menjadi acuan utama pelaksanaan yadnya di Indonesia. Dewa Yadnya. 1.  Pitra Yadnya adalah mempersembahkan puja dan banetn kepada leluhur. 1. Kitab Manawa Dharmasastra Kitab Manawa Dharmasastra memberikan penjelasan tentang Panca Yadnya sebagai berikut : 1. 5. buah-buahan. Brahma yadnya. makanan.2. yaitu persembahan dengan minyak dan biji-bijian kehadapan Dewa Siwa dan Dewa Agni di tempat pemujaan dewa. adalah persembahan punia. yaitu persembahan dengan mensejahterakan tumbuhan dan menyelenggarakan upacara tawur serta upacara panca wali krama. yaitu persembahan kepada para dewa ( disebut swaha ). 3.

Aktivitas kehidupan sehari-hari dapat diwujudkan menjadi yadnya dengan cara melaksanakan semua aktivitas yang didasari oleh kesadaran.9 ) Artinya: Kecuali kerja yang dilakukan sebagai dan untuk tujuan pengorbanan. lakukanlah kegiatanmu sebagai pengorbanan dan jangan terikat dengan hasilnya. Dewa Yadya. Tad-artham karma kaunteya mukta-saògaá samàcara ( Bhagawad Gita. tanpa keterikatan. penuh tanggung jawab dan menjadikan aktivitas tersebut sebagai persembahan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagaimana sabda Tuhan melalui Bahagawad Gita dalam beberapa sloka seperti : Yajòàathàt karmano ‘nyatra loko ‘yaý karma-bandhanah. Dewa Yadnya dilaksanakan terutama dalam rangka memenuhi kewajiban Dewa Rna. Saktàá karmaóy awidwàmso yathà kurwanti bhæata. . lakukanlah selalu kegiatan kerja yang harus dilakukan. dunia ini terbelenggu oleh kegiatan kerja.5. yakni hutang hidup kepada Ida Sang Hyang Widhi. adalah persembahan yang tulus iklhas kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya.19 ) Artinya: Oleh karena itu. III. karena dengan melakukan kerja tanpa pamrih seperti itu membuat manusia mencapai tingkatan tertinggi. yaitu persembahan dengan memberi makanan kepada masyarakat. Dari beberapa sumber di atas yang lebih tepat digunakan sebagai dasar pelaksanaan yadnya di Indonesia adalah Lontas Agastya Parwa. Manusa Yadnya. keikhlasan. Oleh karena itu. Asakto hy àcaran karma param àpnoti pùrsaá ( Bhagawad Gita. Tasmàd asaktaá satataý kàryaý karmasamàcara. Pelaksanaan Dewa Yadnya dapat dilakukan dengan berbagai bentuk. wahai putra Kunti ( Arjuna). III. Tetapi dalam konteks pengertian dan pelaksanaannya mengacu pada penjelasan-penjelasan Kitab Weda sehingga di Indonesia Panca Yadnya dapat dijelaskan sebagai berikut : 1.

Menurut Hindu atas jasa para rsi dan orang suci ini menyebabkan kita memiliki hutang yang disebut Rsi Rna. yakni upacara perawatan dan penyelesaian jenasah seperti dikubur ( mekingsan ring pertiwi ). hormat dan bakti serta melayani para sulinggih/ orang suci secara tulus ikhlas. tetapi tanpa pamrih dan semata-mata dengan keinginan untuk memelihara kesejahteraan tatanan dunia ini saja. Selanjutnya jika kita beryadnya dalam bentuk dana/harta . Jika semua yadnya yang dilaksanakan dengan tujuan sebagai persembahan kepada Tuhan maka jadilah yadnya tersebut Satwika. Dalam melaksanakan upacara seharusnya sang yajamana menghaturkan punia daksina pada sulinggih/ pemuput karya yang sesuai. Di Bali Upacara Pitra Yadnya dikenal memiliki beberapa tingkatan seperti : a. Rsi Yadnya. 1. Contoh Rsi Yadnya yang berbentuk Upakara adalah Rsi Bojana. Pitra Yadnya. Asti Wedana yaitu tingkatan upacara pitra yadnya yang lebih tinggi yang umumnya disebut NGABEN. atau beryadnya dalam bentuk jnana (pengetahuan). adalah pengorbanan yang tulus ikhlas untuk para leluhur dan orang tua. b. demikian pula hendaknya orang terpelajar bekerja. Bentuk asti wedana adalah : . adalah persembahan yang tulus ikhlas kepada para rsi dan orang suci. sebab jika tidak maka karma baik atas upacara yadnya yang dilaksanakan akan menjadi milik sang pemuput karya. atau yadnya dalam bentuk tapa serta yadnya dalam bentuk persembahan/upakara haruslah dilakukan dengan ikhlas dan tanpa pamrih. 1. Sedangkan bentuk lain Rsi Yadnya adalah dengan melaksanakan ajaran-ajaran suci para rsi. Pitra yadnya wajib dilakukan untuk membayar hutang hidup kepada orang tua dan leluhur yang disebut Pitra Rna.25 ) Artinya: Bhàrata Seperti orang bodoh yang bekerja karena pamrih dari kegiatannya. III. Sawa Prateka. wahai ( Arjuna ). Pelaksanaan yadnya ini sebagai wujud terima kasih atas segala jasa yang telah diberikan oleh para rsi dan orang suci pada kita . Oleh karena itu hutang hidup ini harus dibayar dengan bentuk Upacara Pitra Yadnya.Tanpa ada leluhur dan orang tua sangat mustahil kita akan lahir di dunia ini. dibakar ( mekingsan ring geni) dsb.Kuryàd widwàýs tathàsaktaú cikìrûur loka-saògraham ( Bhagawad Gita. Dalam Kitab Suci Bhagawad Gita banyak dijelaskan berbagai bentuk yadnya yang Satwika.

Selama ini pemahaman sebagian umat Hindu bahwa manusa yadnya semata-mata upacara yang dilaksanakan oleh orang tua bagi anak-anaknya. Butha Yadnya. Sesuai dengan pengertian tersebut maka segala bentuk pengobanan yang bertujuan untuk kebahagiaan hidup manusia adalah tergolong manusa yadnya. upacara. Upacara ini dikenal juga dengan nama SWASTA. maligia. ngeroras. serta peruntukannya bukan hanya untuk anak ( keturunan sendiri). atau juga jenasah yang dikubur tetapi tulangnya tidak ditemukan. Melayani orang tua semasih hidup dengan ikhlas serta tidak mengecewakan dan menyakiti hati orang tua adalah merupakan pitra yadnya utama. yaitu upacara tingkat berikutnya yang bertujuan lebih menyempurnakan jiwatman yang telah diabenkan dari alam surga menuju alam dewa/moksa. Bentuk manusa yadnya bisa bermacam-macam seperti yadnya dalam bentuk dana. dan karma sepanjang tujuan yadnya tersebut adalah untuk kebahagiaan hidup manusia. adalah pengorbanan yang tulus ikhlas untuk kebahagiaan hidup manusia. Bentuk atma wedana antara lain.1. . Demikian pula memberikan dana punia untuk pendidikan anak bagi keluarga tidak mampu atau melaksanakan bhakti sosial pengobatan bagi masayarakat kurang mampu juga termasuk manusa yadnya. Upacara ini biasanya dilakukan untuk orang yang waktu meninggal telah mekingsan ring geni. 1. c. Asti Wedana yaitu upacara pengabenan dengan membakar jenasah yang sudah berbentuk tulang ( sudah dikubur terlebih dahulu). sejak dalam kandungan sampai menuju grahasta ( perkawinan). Jadi pitra yadnya dalam kaitan kewajiban sebagai siswa adalah dengan belajar sebaik-baiknya sebagaimana harapan orang tua. Dengan demikian maka sasaran manusa yadnya bukan hanya untuk anak/ keturunan sendiri. Manusa Yadnya. jnana. Artinya jika kita memberikan nasehat atau ilmu kepada orang lain yang menyebabkan orang tersebut memperoleh kebahagiaan hidup maka itu tergolong juga manusa yadnya. agama maupun golongan. adalah pengorbanan yang tulus iklhas untuk para butha agar tercipta kedamaian dan keharmonisan hidup di dunia. Sawa Wedana yaitu upacara ngaben bila yang dibakar adalah jenasah. 2. mukur. Ngerca Wedana yaitu upaca ngaben dengan membakar simbol sebagai pengganti tulang/jenasah orang yang sudah meninggal. Disamping bentuk upacara pitra yadnya sebagaimana dijelaskan di atas yang lebih penting dilakukan masa kini adalah bagaimana usaha kita untuk menjunjung nama baik dan kehormatan leluhur dan orang tua. 1. maka bentuknya tidak selalu upacara. Jika memahami pengertian manusa yadnya. 3. Atma Wedana. atau meninggal tetapi jenasahnya tidak ditemukan ( misalnya meninggal di laut atau di hutan ). tetapi bagi semua manusia tanpa memandang suku.

Untuk itu kita perlu secara jujur menjawab beberapa pertanyaan untuk dianalisa kemudian menilai atas yadnya yang kita laksanakan. 1. madya. Jadi semua mahluk termasuk para bhuta memiliki hak hidup. Hidup ini adalah untuk meningkatkan kwalitas karma jiwatman sebagaimana yang disampaikan dalam kitab Sarasamuscaya . Manusia sebagai mahluk yang memiliki sabda. serta tindakan-tindakan lain yang dapat menjadi penyebab bencana alam. Pitra. tidak merusak mata air. bayu dan idep memiliki peranan penting dalam menciptakan keharmonisan kehidupan. ataukah Bhuta? Terakhir sebagai tolok ukur karma yang paling penting harus kita nilai apakah yadnya yang kita lakukan bersifat Satwam. Oleh karena itu manusia melaksanakan bhuta yadnya agar keseimbangan hidup tercipta. maka kita dapat berharap bahwa hidup ini tidak akan sia-sia. . PENILAIAN YADNYA Dari uraian di atas maka kita akan dapat menilai diri sendiri tentang yadnya yang kita lakukan. sempurna kembali menuju alamnya sendiri dan tidak mengganggu kehidupan manusia. Rsi. ataukah nista? Selanjutnya kita harus menggoongkan lagi kepada siapakah yadnya tersebut ditujukan? Apakah kepada Ida Sang Hyang Widhi. Tujuan bhuta yadnya adalah agar para bhuta kala “somya”. apakah tergolong utma. Rajas ataukah Tamas? Dengan melakukan penilaian diri terhadap setiap tindakan karma.Menurut konsep Hindu bahwa semua yang ada di dunia ini adalah ciptaan Hyang Widhi yang memiliki fungsi tersendiri dalam memutar roda kehidupan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah : Bentuk apakah yadnya yang kita lakukan? Selanjutnya kita dapat bertanya apakah yandya yang kita lakukan tergoong Nitya Yadnya ataukah Naimitika Yadnya? Jika Yadnya tersebut berkaitan dengan materi. Manusia. Secara sekala wujud bhuta yadnya adalah usaha kita agar menjaga kelestarian alam. hutan lindung. sloka 2.