KATA PENGANTAR Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah swt.

karena atas berkat limpahan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Penulis memhami bahwa dalam penulisan makalah ini tidak luput dari kesalahan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan berbagai masukan yang dapat membangun agar penulisan makalah-makalah selanjutnya dapat lebih baik lagi. Akhir kata, penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Semoga dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Mataram, 3 Juli 2013

Penulis

i

..................................... 9 DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 1 BAB II............. 10 ii ..............................................................DAFTAR ISI KATA PENGANTAR........................................................................ i DAFTAR ISI............................................................................................................................................................................................. 3 BAB III.................................................................................................................... ii BAB I................

dengan angka kematian ibu sebelum dikoreksi 17 0/00.sel marginal atau garis tepi.509 kasus seksio sesarea. peningkatan usia ibu. incoordinate uterine action 9%. Alasan terpenting untuk perkembangan ini adalah: peningkatan prevalensi primigravida. Seksio sesarea telah menjadi tindakan bedah kebidanan kedua tersering yang digunakan di Indonesia dan di luar negeri. sel epitel regenerasi diatas jaringan granulasi. jaringan otot ditoreh. Infeksi setelah oprasi persalinan masih tetap mengancam sehingga perawatan setelah operasi memerlukan perhatian untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian. Bila otot cidera. indikasi untuk seksio sesarea adalah disproporsi janin panggul 21 %. Menurut statistik tentang 3. akan terjadi hipertropi sel . terjadi degenerasi akson sebagian dan disusul dengan regenerasi. pernah seksio sesarea 11 %. peningkatan keengganan melakukan tindakan persalinan pervaginam yang sukar.BAB I PENDAHULUAN Seksio sesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus. Luka sembuh karena degenerasi jaringan atau oleh pembentukan granulasi. Ia mengikuti ekstraksi vakum dengan frenkuensi yang dilaporkan 6 % sampai 15%. Pada sistem saraf perifer tidak terjadi regenerasi bila badan sel rusak. Sel-sel yang cidera mempunyai kapasitas regenerasi yang akan berlangsung bila struktur sel yang melatar belakangi tidak rusak. peningkatan insiden insufisiensi plasenta. plasenta previa 11 %. Sayatan pada dinding uterus dan dinding depan abdomen menimbulkan luka bekas operasi seksio sesarea. Pada torehan bedah yang biasa. kelainan letak 10 %. pre-eklampsia dan hipertensi 7 %. dan sesudah 1 . gawat janin 14 %. perbaikan pengamatan kesejahteraan fetus. Pertolongan operasi persalinan merupakan tindakan dengan tujuan untuk menyelamatkan ibu maupun bayi. namun bila akson rusak. Hal ini menyebabkan terputusnya jaringan dan kerusakan sel.

Memberi kesempatan pada pasien atau anggota keluarganya untuk mencoba tekniknya di bawah pengawasan sebelum keluar rumah sakit akan berguna sekali. 2 .58 0/00. Menunjukkan 8 (61. Dari data tersebut dapat penulis simpulkan bahwa terjadi penurunan kejadian infeksi pada bekas luka seksio sesarea dari tahun 2006 ke tahun 2007. terdapat 1. Dalam hal ini diperlukan pengetahuan tentang perawatan luka post seksio sesarea. Sedangkan tahun terdapat kejadian infeksi pada bekas luka seksio sesarea 1 dari 70 pasien post seksio sesare. Komplikasi tindakan anestesi sekitar 10 % dari seluruh angka kematian ibu. 1999 Mahasiswa program Studi Kebidanan Sutomo di Ruang Bersalin RSUD Dr. Untuk lebih menurunkan angka kejadian infeksi tersebut perlu peran serta dari pasien dalam perawatan luka post seksio sesarea. Berdasarkan data laporan tahunan RS. pada 774 persalinan yang kemudian terjadi. Kota pada tahun terdapat kejadian infeksi pada bekas luka seksio sesarea 3 dari 67 pasien yang mengalami seksio sesarea. 5 (3 8.03 0/00 ruptura uteri. Malahan untuk kasus karena infeksi mempunyai angka 80 kali lebih tinggi dibandingkan dengan persalinan pervaginam. Dari hasil Penelitian yang dilakukan oleh Hetik Kuswanti. angka kamatian pada operasi sesar adalah 40 – 80 tiap 100.000 kelahiran hidup.46 %) terkategorikan berpengetahuan cukup.54 %) termasuk kategori berpengetahuan baik.5 0/00. Pasien yang telah melakukan operasi akan merasakan cemas bila melihat lukanya dan akan takut untuk merawat lukanya itu. sedang kematian janin 14. Angka ini menunjukkan resiko 25 kali lebih besar dibanding persalinan pervaginam. Sutomo mengenai Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Perawatan Luka. Menurut Bensons dan Pernolls.langkah dasar dari cara perawatan luka yang ditutupi.dikoreksi 0. Oleh sebab itu pasien dan keluarganya harus mengerti langkah .

dan perpindahan pengobatan nyeri dari parenteral ke oral. pasien akan mendapatkan diet teratur. Periode ini meliputi pemulihan dari anesthesia dan stabilisasi homeostasis. utamanya sistem respirasi. Periode postoperatif meliputi waktu dari akhir prosedur pada ruang operasi sampai pasien melanjutkan rutinitas normal dan gaya hidupnya. Fase kedua. Sebagian besar komplikasi tradisional postoperasi bersifat sementara pada masa ini. dan saraf. kardiovaskuler. Selama fase ini. biasanya berakhir 1-4 hari. Secara klasik. Aturan dan perhatian para ginekolog secara gradual berkembang sejalan dengan pergerakan pasien dari satu fase ke fase lainnya. serta periode waktu pemulihan yang lebih panjang. stabilisasi perioperatif. pemulihan postoperatif. dengan permulaan intake oral. 3 . Fase terakhir dikenal dengan istilah “kembali ke normal”. fase ini dapat terjadi di rumah sakit dan di rumah. Biasanya periode pemulihan 24-28 jam. Selama masa ini. Fase pertama. akan memiliki komplikasi yang lebih banyak.BAB II ISI 2. menggambarkan perhatian para ahli bedah terhadap permulaan fungsi fisiologi normal. pasien secara gradual meningkatkan kekuatan dan beralih dari masa sakit ke aktivitas normal.1 Tujuan Perawatan Post Operasi Tujuan perawatan pasca operasi adalah pemulihan kesehatan fisiologi dan psikologi wanita kembali normal. Pada pasien yang berumur lanjut. Perawatan selama masa ini muncul secara primer dalam keadaan rawat jalan. dan prosedur pembedahan yang lebih kompleks. ambulasi. kelanjutan ini dibagi dalam tiga fase yang tumpang tindih pada status fungsional pasien. yang berlangsung pada 1-6 minggu terakhir.

Ia tidak boleh minum. Di kamar operasi (atau sesudah keluar dari situ) ia. air yang dikeluarkan dari badan dihitung dalam 24 jam berupa air kencing dan cairan yang keluar dengan muntah harus ditambah dengan evaporasi dari kulit dan pernapasan. sehingga perlu pengawasan keseimbangan antara cairan yang masuk dengan infus. Pengeluaran flatus dapat dibantu dengan pemberian dosis kecil prostigmin. Pada waktu operasi penderita kehilangan sejumlah cairan. hendaknya diberi makanan cair. Sebagai akibat anestesi. sehingga ia meninggalkan kamar operasi dengan defisit cairan. jika perlu. Dalam 24 sampai 48 jam pascaoperasi. dengan gejala mules. sesudah itu. Harus dijaga supaya jalan napas tetap bebas. kadang sampai muntah. Penderita yang menjalani operasi kecuali operasi kecil. dan cairan yang keluar. biasanya pascaoperasi minum air dibatasi. kadang-kadang disertai dengan perut kembung sedikit. Oleh karena itu. sampai rasa enek hilang sama sekali. Untuk diketahui. keluar dari kamar operasi dengan infus intravena yang terdiri atas larutan NaCl 0. ia boleh minum sedikit-sedikit. penderita tidak boleh ditinggalkan sampai ia sadar. dapat diberi makanan lunak bergizi untuk lambat-laun menjadi makanan biasa. Pemberian antibiotik pada pascaoperasi tergantung 4 . diberi pula transfusi darah.2 Pedoman Perawatan Post Operasi Setelah operasi selesai. Dapat diperkirakan bahwa dalam 24 jam sedikitnya 3 liter cairan harus dimasukkan untuk mengganti cairan yang keluar. Pada pascaoperasi peristalik usus mengurang dan baru lambat laun pulih kembali.9% atau glukosa 5% yang diberikan berganti-ganti menurut rencana tertentu.2. apalagi jika sudah keluar flatus. kemudian. dengan teropong angin dimasukkan ke dalam rektum. dan kadang-kadang perlu diberikan klisma kecil terdiri atas 150 cc. campuran minyak dan gliserin. penderita pascaoperasi biasanya enek. untuk lambat laun ditingkatkan. Pada hari kedua pascaoperasi biasanya usus bergerak lagi. tetapi sebaliknya juga jangan terjadi kelebihan dengan akibat edema paru-paru. Perlu dijaga jangan sampai terjadi dehidrasi. Periode postoperatif meliputi waktu dari akhir prosedur pada ruang operasi sampai pasien melanjutkan rutinitas normal dan gaya hidupnya.

akan tetapi sesudah histerektomi total dengan pembukaan vagina. obesitas.Idealnya. Anjurkan pernapasan dalam setiap jam pada 12 jam pertama dan setiap 2-3 jam pada 12 jam berikutnya. tidak perlu diberi antibiotik. Pada luka yang nekrosis.dari jenis operasi yang dilakukan. jika perdarahan berlanjut. Ketika pasien diserahterimakan kepada perawat harus disertai dengan laporan verbal mengenai kondisi pasien tersebut berupa kesimpulan operasi dan intruksi pasca operatif. atau sebaliknya pada pasien lainnya yang bersedia atau yang tidak bisa berjalan. Intruksi pasca operatif harus sesuai dengan elemen berikut: 1) Tanda Tanda Vital Evaluasi tekanan darah. dan laju pernapasan dilakukan setiap 15-30 menit sampai pasien stabil kemudian setiap jam setelah itu paling tidak untuk 4-6 jam. setelah kista ovarium kecil diangkat. Pemeriksaan spirometri dan pemeriksaan respirasi oleh terapis menjadi pilihan terbaik. Perhatikan perdarahan yang terlalu banyak (inspeksi lapisan dinding abdomen atau perineal). nadi. balutan luka diganti setiap hari dan diganti menggunakan bahan hidrasi yang baik. sebaiknya obat tersebut diberikan. utamanya pada pasien yang berumur tua. Pasien dengan masalah kesehatan membutuhkan perawatan postoperatif dalam ICU untuk mendapatkan ventilasi jangka panjang dan monitoring sentral. diindikasikan untuk pemeriksaan ulang. termasuk temperatur oral. Umumnya luka jahitan pada kulit dilepaskan 3-5 hari postoperasi dan digantikan dengan SterilStrips. yang harus direkam 4 kali sehari untuk rangkaian sisa pasca operatif. Lakukan pemeriksaan hematokrit sehari setelah pembedahan mayor dan. Misalnya. Pengukuran ini. digunakan balutan tipis untuk 5 . 2) Perawatan Luka Fokus penanganan luka adalah mempercepat penyembuhan luka dan meminimalkan komplikasi dan biaya perawatan. Luka abdomen harus diinspeksi setiap hari. Fokus utama dalam penanganan luka adalah dengan evakuasi semua hematoma dan seroma dan mengobati infeksi yang menjadi penyebabnya. Beberapa perubahan signifikan harus dilaporkan sesegera mungkin.

2 cirurgis) − Gunting hatting up. − Kom 2 buah. − Kasa steril. Bengkok 2 buah e. Gunting perban d. Persiapan 1. Kapas bulat dan sarung tangan bersih 6 . Mempercepat proses penyembuhan luka. b. Plester c. Set perawatan luka dan angkat jahitan dalam bak instrumen steril : − Sarung tangan steril. Pembersihan yang sering harus dihindari karena hal tersebut menyebabkan jaringan vital terganggu dan memperlambat penyembuhan luka. 3. Tujuan 1. menutup dan membalut luka sehinga dapat membantu proses penyembuhan luka. b. Perlak dan alas g. 2. Alkohol 70% j. − Pinset 4 (2 anatomis. c. Larutan NaCl f. mengangkat jahitan. Meningkatkan kenyamanan fisik dan psikologis. − Lidi waten. Mencegah terjadinya infeksi. Alat a. a. Betadin h. Pengertian Suatu penanganan luka yang terdiri dari membersihkan luka. Korentang i.mengeringkan dan mengikat jaringan sekitarnya ke balutan dalam setiap penggantian balutan.

Cuci tangan secara menyeluruh. Dekatkan semua peralatan yang diperlukan. Jelaskan prosedur pada klien dengan menggambarkan langkah-langkah perawatan luka. 7. 4. siapkan betadin dan larutan NaCl pada kom. Observasi karakter dan jumlah drainase. lepaskan sarung tangan dan buang pada bengkok yang berisi Clorin 5%. 10. Dengan sarung tangan/pinset. Tutup ruangan / tirai di sekitar tempat tidur. siapkan plester. 3. Pelaksanaan − Mengatur posisi sesuai dengan kenyamanan pasien. 13. Pasang perlak dan alas. 2. Buang balutan kotor pada bengkok. lepaskan dengan memberikan larutan NaCl. Bantu klien pada posisi nyaman. sejajar pada kulit dan mengarah pada balutan. 8.2. 14. 12. − Merapikan tempat tidur. Lingkungan − Menutup tirai / jendela. 3. Letakkan bengkok dekat pasien. − Inform Consent. 7 . Angkat balutan dengan pinset. 9. 5. Bila balutan lengket pada luka. angkat balutan. siapkan depres. 6. Gunakan sarung tangan bersih sekali pakai dan lepaskan plester. 11. − Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan yang akan dilakukan. 15. Prosedur Pelaksanaan 1. d. Kenakan sarung tangan steril. Lepaskan plester dengan melepaskan ujung dan menariknya dengan perlahan. Buka bak instrumen.

Bersihkan luka dengan larutan NaCl dan betadin dengan menggunkan pinset. Hal – hal yang perlu diperhatikan 1. Melepaskan sarung tangan. perhatikan kondisinya. Perawat mencuci tangan. integritas jahitan dan karakter drainase serta palpasi luka (kalau perlu). 25. Gunakan dalam tekanan progresif menjauh dari insisi/tepi luka. 19. 20. Cermat dalam menjaga kesterilan. Olesi luka dengan betadin. Membersihkan alat-alat dan mengembalikan pada tempatnya. letak drain.16. 3. Teknik pengangkatan jahitan di sesuaikan dengan tipe jahitan. Usap dengan cara seperti pada langkah 17. 5. 2. Merapikan pasien. Menutup luka dengan kasa steril dan di plester. Inspeksi luka. 24. Gunakan satu kasa untuk setiap kali usapan. 23. Mengangkat jahitan sampai bersih tidak ada yang ketinggalan. Peka terhadap privasi klien. e. 4. 17. 18. 22. Pengangkatan balutan dan pemasangan kembali balutan dapat menyebabkan pasien terasa nyeri. Melepaskan jahitan satu persatu selang seling dengan cara : menjepit simpul jahitan dengan pinset cirurgis dan ditarik sedikit ke atas kemudian menggunting benang tepat dibawah simpul yang berdekatan dengan kulit/pada sisi lain yang tidak ada simpul. 8 . 21. Bersihkan dari area yang kurang terkontaminasi ke area yang terkontaminasi. Gunakan kasa baru untuk mengeringkan luka/insisi.

9 . dibutuhkan tenaga medis profesional yang mampu memahami dan menerapkan perawatan luka pasca operasi seksio sesarea dengan baik dan benar. Hal tersebut berguna untuk mencegah terjadinya komplikasi pada ibu-ibu yang harus menjalani atau memilih operasi seksio sesarea sebagai jalan untuk melahirkan bayi mereka. baik dilihat dari segi kesehatan maupun dari segi kosmetiknya. Untuk itu.BAB III PENUTUP Perawatan luka post SC merupakan tindakan yang sangat bermanfaat.

com/2012/10/23/pengetahuan-ibu-post-sctentang-perawatan-luka-sectio-sesarea-di-ruang-nifas-rs/>. 2012. dilihat: 3 Juli 2013.html>. 10 . Perawatan Luka Post Op SC.com/2013/05/bab-ii-perawatan-luka-post-opsc. Pengetahuan Ibu Post SC Tentang Perawatan Luka Sectio Sesarea di Ruang Nifas RS.wordpress.blogspot. dilihat: 3 Juli 2013. <http://piteasha. <http://skripsipedia.DAFTAR PUSTAKA Anonim. Shafitri A. 2013.