P. 1
Linguistik Bahasa Jepang

Linguistik Bahasa Jepang

5.0

|Views: 1,847|Likes:
Published by Alex Candra
japanese
japanese

More info:

Published by: Alex Candra on Jul 03, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/04/2014

pdf

text

original

LINGUISTIK BAHASA JEPANG

Sekilas Tentang Linguistik Bahasa Jepang Linguistik atau tata bahasa adalah ilmu yang mempelajari tentang seluk-beluk bahasa. Ada tiga hal penting yang sangat mendasar yang menjadi pokok pembahasan dalam linguistik. Fonologi, yang mengupas bahasa dari sisi bagaimana bunyi bahasa dihasilkan, alat ucap yang digunakan serta bagimana cara pengucapan suatu bahasa ditinjau dari sudut pemakai aslinya (native speaker). Gramatika, yang membahas bahasa dari segi urutan atau susunan bahasanya. Seperti menurut pendapat Iwabuchi Tadasu yang menyatakan bahwa “gramatika adalah aturan-aturan mengenai bagaimana menggunakan dan menyusun katakata hingga menjadi suatu kalimat.” Sintaksis, sisi bidang linguistik yang membahas bahasa dari sudut maknanya. Sintaksis memiliki ikatan yang sangat erat dengan Antropologi, karena analisis makna sebuah bahasa dapat menyajikan klasifikasi praktis tentang kehidupan budaya pemakainya, selain itu untuk menganalisis atau memahami suatu bahasa tidaklah cukup hanya dengan memandang bahasa dari sudut gramatika dan fonologinya saja. Banyak hal-hal lain yang bisa menjadi penentu makna yang terkandung dalam suatu bahasa. Seperti, makna secara denotatif, konotatif, idiomatik, sinonimi, hiponimi, antonimi dan sebaginya. Dari uraian di atas jelas bahwa Linguistik atau dalam hal ini Linguistik Bahasa Jepang tentunya sangatlah penting untuk mereka yang bergulat dalam bidang bahasa Jepang, khususnya bagi mereka yang sedang mempelajari bahasa Jepang. Karena dengan memahami Linguistik Bahasa Jepang, siapa pun akan mampu memahami bahasa yang sedang dipelajarinya jauh lebih dalam. Selain itu juga akan mampu memahami bagaimana bahasa Jepang digunakan. Baik dari segi cara pengucapannya, istilah-istilah bahasa Jepang dalam alat ucap yang digunakannya, cara penyusunan kata dan satauan-satuan gramatikanya sampai pencarian makna yang tepat yang terkandung dalam sebuah wacana ditinjau dari sisi lain seperti dari sisi kebiasaan (budaya) si pengguna aslinya (native speaker) dalam memahami suatu wacana atau kalimat dan cara-cara lainnya seperti telah dijelaskan di atas.

· · · · · · ·

1. 2. 3. 4. 5. · · ·

Linguistik sebagai ilmu yang spesifik ialah ilmu yang mempelajari bahasa secara lisan/ tulisan dan termasuk dalam kebudayaan berdasarkan struktur dan bahasa yang dikaji secara metode ilmiah, Istilah linguistik dalam bahasa jepang disebut dengan gengogaku. Sedangkan Linguistik bahasa Jepang disebut dengan Nihongo-gaku. Kata nihonggo-gaku bisa diterjemahkan dengan Ilmu Bahasa Jepang. Dalam linguistik, yang dikaji bisa berupa kalimat, kosakata, atau bunyi ujaran bahkan sampai pada bagaimana bahasa diperoleh, serta bagaimana sosio-kultural yang mempengaruhi masyarakat pengguna bahasa tersebut. Ada beberapa cabang ilmu linguistik yang bisa dipelajari sebagai ilmu, ialah sebagai berikut: Fonetik (onseigaku), yaitu ilmu yang mengkaji tentang bagaimana bunyi bahasa dihasilkan, bagaimana bunyi tersebut bisa sampai pada telinga seseorang serta bagaimana orang tersebut memahaminya. Fonologi (oninron), yaitu ilmu yang mengkaji tentang fonem-fonem dan aksen suatu bahasa. Morfologi (keitairon), yaitu ilmu yang mengkaji tentang jenis-jenis dan proses pembentukan kata dalam suatu bahasa. Sintaksis (tougoron/ sintakusu), yaitu ilmu yang mengkaji tentang struktur kalimat atau kaidah-kaidah yang mengatur suatu kalimat dalam suatu bahasa. Semantic (imiron), yaitu ilmu yang mengkaji tentang makna kata, frasa, dan klausa dalam suatu kalimat. Pragmatic (goyouron), yaitu ilmu yang mengkaji makna bahasa dihubungkan dengan situasi dan kondisi pada saat bahasa tersebut digunakan. Sosiolinguistik (shakaigengogaku), yaitu salah satu cabang linguistik yang mengkaji hubungan antara bahasa dan masyarakat pemakai bahasa tersebut. Selain cabang-cabang di atas ada juga linguistik kognitif (ninchi gengogaku), psikolinguistik (shinri gengogaku) dan sebagainya. Untuk menyampaikan bunyi bahasa jepang yang jumlahnya terbatas, digunakan 4 macam huruf, yaitu: huruf hiragana, huruf katakana, huruf kanji dan huruf romaji. Huruf hiragana dan katakana sering disebut dengan huruf kana. Hiragana digunakan untuk menulis kosakata bahasa jepang asli, apakah secara utuh atau digabungkan dengan huruf kanji. Huruf katakana digunakan untuk menulis kata serapan dari bahasa asing (selain bahasa cina) dalam telegram, atau ketika ingin menegaskan suatu kata dalam kalimat. Jumlah huruf hiragana dan katakana masing-masing 46 huruf. Huruf kanji yaitu huruf yang merupakan lambing, ada yang berdiri sendiri ada juga yang harus digabung dengan huruf hiragana ketika digunakan untuk menunjukkan suatu kata. Bunyi bahasa timbul karena ada tiga hal, yaitu: aliran udara, articulator dan titik articulator. Alat ucap manusia terdiri dari bibir, gigi, gusi, lidah, langit-langit, tenggorokan, pita suara dan lain-lain. Bunyi vocal terjadi karena aliran udara yang keluar dari paru-paru terus naik, sehingga menggetarkan pita suara. Jenis bunyi vocal dalam bahasa jepang ditentukan oleh lima hal berikut: tinggi rendahnya posisi lidah. posisi lidah bulat tidaknya bentuk bibir berhubungan tidaknya dengan rongga hidung bergetarnya pita suara Jenis konsonan ada 6, yaitu: konsonan letupan; yaitu t, d, z konsonan kontinen; m, b konsonan gesekan; s, z

· konsonan sengau; ng · konsonan sampingan · konsonan kembar Menurut kualitas dan kuantitas jenis vocal terbagi 4 yaitu: vocal tinggi, vocal rendah, vocal tengah, vokal belakang. Istilah morfologi dalam bahasa jepang dikenal dengan sebutan keitaron, objek yang dipelajari yaitu tentang kata (go/ tango), dan morfem (ketaiso). Morfem (ketaiso) merupakan satuan bahasa terkecil yang memiliki makna dan tidak bisa dipecahkan lagi ke dalam satuan makna yang lebih kecil lagi. Secara garis besar pembagian jenis kata (hinshi bunrui) dalam bahasa jepang ada enam macam seperti berikut: 1. Nomina (meishi), yaitu kata benda yang bisa berfungsi sebagai subjek atau objek dalam kalimat. 2. Verba (doushi) yaitu kata kerja yang bisa berfungsi menjadi prediket dalam suatu kalimat, mengalami perubahan bentuk (katsyou) dan bisa berdiri sendiri. 3. Adjektiva (keiyoushi) yaitu kata sifat, mengalami perubahan bentuk dan bisa berdiri sendiri. 4. Adverbia (fukushi) yaitu kata keterangan, tidak mengalami perubahan bentuk. 5. kopula (jodoshi), yaitu kata kerja bantu, mengalami perubahan bentukdan tidak bisa berdiri sendiri. 6. partikel (joshi) yaitu kata bantu, tidak bisa berdiri sendiri dan tidak mengalami perubahan bentuk. Morfem isi (Naiyou keitaisho) adalah morfem yang menunjukkan makna aslinya, seperti nomina, adverbial dan gokan dari verba atau adjektiva, sedangkan morfem fungsi (kinou keitaisho) adalah morfem yang menunjukkan fungsi gramatikalnya, yakni partikel, gobi dari verba, adjektiva dan kopula. Proses pembentukan kata dalam bahasa jepang disebut dengan istilah gokeisei. Hasil pembentukkan kata dalam bahasa jepang sekurang-kurangnya ada empat macam yaitu: 1. haseigo, 2. fukugougo/ goseigo 3. karikomi/ shouryaku dan 4. toujigo. Kata yang terbentuk dari penggabungan naiyou-keitaiso dengan setsuji disebut haseigo (kata kajian). Proses pembentukkannya: settouji (awalan) + morfem isi atau morfem isi + setsubiji (akhiran). Awalan o, go, su, ma, ka bisa digolongkan ke dalam settouji, sedangkan akhiran sa, mi, teki, suru termasuk ke dalam setsubiji. Contoh: O + nomina = o kuruma Go + nomina = go kazoku Su + nomina = su de Ma + nomina = ma mizu Ka + adjektiva = ka bosoi Ku + adjektiva = ko urusai Fungsi settouji O dan Go yaitu sebagai penghalus dan digunakan hanya untuk orang lain. Fungsi settouji Su untuk menyatakan arti asli/ polos, sehingga pada kosakata Sude dari kata Te berubah makna menjadi tangan kosong. Settouji Ma untuk menyatakan kemurnian atau ketulusan; settouji Ka untuk menyatakan arti sangat; dan Ko menyatakan arti agak/ sedikit. Contoh perpaduan morfem isi + setsubiji: Gokan dari adjektiva + sa = samusa Gokan dari adjektiva + mi = amami Nomina verba + suru = benkyousuru Nomina + teki = keizaiteki Kata yang terbentuk sebagai hasil penggabungan beberapa morfem isi disebut dengan fukugougo atau gouseigo (kata majemuk).

Contoh:

nomina + nomina = ama gasa Nomina + verba = higaeri Verba + nomina = tabemono Verba + verba = verba = toridasu Verba + verba = nomina = ikikaeru Karikomi merupakan akronim yang berupa suku kata ( silabis) dari kosakata aslinya, sedangkan settouji merupakan singkatan huruf pertama yang dituangkan dalam huruf romaji. Contoh karakomi/ shouryaku: テレビヒオン Terebishon = テレビ terebi Contoh Tojigo Water Closet = WC Dalam bahasa jepang, kata yang mengalalami perumbahan bentuk disebut yougen, sedangkan kata yang tidak mengalami perubahan bentuk disebut taigen. Yougen terdiri dari doushi (verba), jodoushi (kopula) dan keiyoushi (adjektiva). Kata kerja dalam bahasa jepang mempunyai perubahan (konjugasi) menurut pemakaiannya dalam kalimat. Konjugasi ini disebut katsuyo. Berdasarkan perbedaan aturan katsuyonya, doushi dibagi menjadi tiga macam, yaitu: a. gogan katsuyo doshi, adalah kata kerja yang berakhiran u, tsu, ru, bu, mu, ku, su, gu. Contoh: kaku, yomu, asobu, au, hanasi dan lain-lain. b. Ichidan katsuyo doshi, dibagi menjadi 2 macam yaitu: · kami ichidan katsuyo (kata-kata yang berakhira iru) contoh: miru, okiru, dll. Dan · shimo ichidan katsuyo (kata-kata yang berakhiran eru). Contoh: taberu, deru, oboeru dll. c. Henkaku katsuyo doshi, adalah kata kerja yang perubahannya tidak tetap. Golongan ini terbagi 2 yaitu · · · · · · · ka-henkaku katsuyo, hanya terdapat satu kata kerja, yaitu kuru (datang). sa henkaku katsuyo, hanya terdapat satu kata kerja yaitu suru (melakukan). Perubahan bentuk kata disebut konjugasi,, kaojugasi dalam bahasa jepang: Mizenkei, yaitu perubahan bentuk verba yang didalamnya bentuk maksud, bentuk pasif, bentuk menyuruh. Renyokei, yaitu perubahan bentuk verba yang menyangkut bentuk formal bentuk masu, bentuk –te, bentuk –ta. Shusikei, yaitu verba bentuk kamus yang digunakan di akhir kalimat. Rentaikei, yaitu verba bentuk kamus yang digunakan sebagai modifikator. Kateikei, yaitu perubahan verba ke dalam bentuk pengandaian. · Meireikei, yaitu perubahan kata kerja dalam bentuk menyuruh.

Fonologi adalah salah suatu ilmu pengetahuan dari cabang ilmu linguistik (ilmu yang mempelajari tentang suatu bahasa) yang mengulas mengenai suatu bunyi dalam bahasa, dalam konteks ini khususnya adalah bunyi bahasa dalam bahasa Jepang. Fonologi selalu didasari oleh linguistik. Dalam makalah ini, secara khusus akan membahas masalah fonologi dalam bahasa Jepang. Secara umum, bidang linguistik dibedakan atas linguistik murni dan linguistik terapan. Bidang linguistik murni mencakup fonetik dan fonologi 音韻論 oninron, morfologi 形態論 keitairon, sintaksis 統合論 tougouron, dan semantik 意味論 imiron. Sedangkan bidang linguistik terapan mencakup pengajaran bahasa 教授法 kyoujuuho, penerjemahan 翻訳法 honyakuho, leksikografi, dan lain-lain.

Fonetik dan Fonologi 音韻論 Fonetik mengacu pada artikulasi bunyi bahasa. Para ahli fonetik telah berhasil menentukan cara artikulasi dari berbagai bunyi bahasa dan membuat abjad fonetik internasional sehingga memudahkan seseorang untuk mempelajari dan mengucapkan bunyi yang tidak ada dalam bahasa ibunya. Misalnya dalam bahasa Jepang tidak ada perbedaan yang nyata antara bunyi n dan ng, dalam kata nihongo , nippongo, sedangkan dalam bahasa Indonesia jelas berbeda. Dengan mempelajari fonetik, orang Indonesia akan dapat mengucapkan kedua bunyi tersebut dengan tepat. Fonologi mengacu pada sistem bunyi bahasa. Misalnya dalam bahasa Inggris, ada gugus konsonan yang secara alami sulit diucapkan oleh penutur asli bahasa Inggris karena tidak sesuai dengan sistem fonologis bahasa Inggris, namun gugus konsonan tersebut mungkin dapat dengan mudah diucapkan oleh penutur asli bahasa lain yang sistem fonologisnya terdapat gugus konsonan tersebut. Contoh sederhana adalah pengucapan gugus „ng‟ pada awal kata, hanya berterima dalam sistem fonologis bahasa Indonesia, namun tidak berterima dalam sistem fonologis bahasa Inggris. Dalam bahasa Jepang, bahasa Jepang dikenal dengan istilah ”nihongo”, tetapi ada juga yang menyebutnya ” kokugo ”. Walaupun bahasa yang dimaksud sama namun diantara kedua istilah tersebut terdapat perbedaan yang mendasar. Nihongo adalah bahasa bangsa Jepang, bahasa nasional negara Jepang (Shinmura, 1998 : 2039). Sedangkan kokugo adalah bahasa resmi warga negara Jepang (Shinmura, 1998 : 936). Nihongo dan kokugo muncul istilah nihongogaku dan kokugogaku yang merupakan bidang kajian yang sama yaitu kajian linguistik bahasa Jepang. Kokugogaku dibagi menjadi dua bagian besar yakni kyooji kokugogaku (linguistik bahasa Jepang sinkronis) yang mengambil objek penelitiannya pada aspek sinkronis bahasa Jepang dan tsuji kokugogaku (linguistik bahasa Jepang diakronis) yang mengambil objek penelitiannya pada aspek diakronis (Nomura, 1992 : 81). Sedangkan konsep linguistik diakronis mengacu pada konsep linguistik historis komparatif yaitu bidang linguistik yang menyelidiki perkembangan bahasa dari satu masa ke masa yang lain, serta menyelidiki perbandingan satu bahasa dengan bahasa lain (Kridalaksana, 1983 : 100). Silabel adalah salah satu satuan bunyi bahasa, dalam bahasa Jepang disebut onsetsu.

Fonem ada yang berbentuk konsonan, vokal, dan ada juga yang berbentuk semi vokal, seperti halnya sebagai berikut: • V (satu vokal), yaitu vokal-vokal /a/, /i/, /u/,/e/, dan /o/.

• KV (satu konsonan dan satu vokal), misalnya silabel-silabel /ka/, /ki/, /ku/, /ke/, ko/, /sa/, /shi/, dan seterusnya. • KSV (satu konsonan, satu semi vokal, dan satu vokal), misalnya silabel-silabel /kya/, /kyu/, /kyo/, /sha/, /shu/, /sho/, dan sebagainya. • SV (satu semi vokal dan satu vokal), yaitu silabel-silabel /ya/, /yu/, /yo/, dan /wa/. Sebagian besar silabel dalam bahasa Jepang adalah diakhiri dengan vokal yang disebut dengan kaionsetsu (silabel buka) dan silabel yang diakhiri dengan konsonan disebut heionsetsu (silabel tutup). Oleh karena silabel-silabel didalam bahasa Jepang berupa silabel buka, maka semua kata asing yang dijadikan bahasa Jepang (kata pungut)harus mengikuti aturan silabel bahasa Jepang (Kawarazaki, 1979 : 64) .

Tabel 1.1 Daftar Silabel dalam Bahasa Jepang あ (a) い (i) う (u) え (e) お (o) か(ka) き (ki) く(ku) け (ke) こ (ko) きゃ (kya) きゅ (kyu) きょ (kyo) さ (sa) し (shi) す (su) せ (se) そ (so) しゃ (sha) しゅ (shu) しょ (sho) た (ta) ち (chi) つ (tsu) て (te) と (to) ちゃ (cha) ちゅ (chu) ちょ (cho) な (na) に (ni) ぬ (nu) ね (ne) の (no) にゃ (nya) にゅ (nyu) にょ (nyo) は (ha) ひ (hi) ふ (fu) へ (he) ほ h o ひゃ (hya) ひゅ (hyu) ひょ (hyo) ま (ma) み (mi) む (mu) め (me) も (mo) みゃ (mya) みゅ (myu) みょ (myo) や (ya) ゆ (yu) よ (yo) ら (ra) り (ri) る (ru) れ (re) ろ (ro)

りゃ (rya) りゅ (ryu) りょ (ryo) わ (wa) を (wo) ん (n) が (ga) ぎ (gi) ぐ (gu) げ (ge) ご (go) ぎゃ (gya) ぎゅ (gyu) ぎょ (gyo) ざ (za) じ (ji) ず (zu) ぜ (ze) ぞ (zo) じゃ (ja) じゅ (ju) じょ (jo) だ (da) ぢ (ji) づ (zu) で (de) ど (do) ぢゃ (ja) ぢゅ (ju) ぢょ (jo) ば (ba) び (bi) ぶ (bu) べ (be) ぼ (bo) びゃ (bya) びゅ (byu) びょ (byo) ぱ *(pa) ぴ (pi) ぷ (pu) ぺ (pe) ぽ (po) ぴゃ (pya) ぴゅ (pyu) ぴょ (pyo)

Catatan : 1. Lambang bunyi を diucapkan sama dengan お yakni [o], namun lambang bunyi を hanya dipakai untuk pengucapan pada partikel bagi objek-objek tertentu. 2. Lambang bunyi hatsuon ん [n] dan lambang bunyi sokuon つ [Q] hanya terbentuk dari sebuah konsonan tidak mengandug bunyi vokal, dengan sendirinya hanya membentuk sebuah moora/ haku (mora), tidak berdiri sendiri sebagai sebual silabel . 3. Bunyi hidup pada ki, ku, shi, su, chi, tsu, hi, dan fu tidak disuarakan apabila kata-kata itu ditempatkan didepan ka, ki, ku, ke, ko, sa, shi, su, se, so, ta, chi, tsu, te, to, ha, hi, fu, he, dan ho ; misalnya kutsu (sepatu) diucapkan sebagai ”ktsu”. Klasifikasi Bunyi Bunyi bahasa dibedakan atas vokal dan konsonan. Bunyi vokal dihasilkan dengan pita suara terbuka sedikit. Bunyi konsonan terjadi, setelah arus udara melewati pita suara yang terbuka sedikit atau agak lebar, diteruskan ke rongga mulut atau rongga hidung dengan mendapat hambatan di tempattempat artikulasi tertentu. Klasifikasi Konsonan Bunyi-bunyi konsonan dibedakan berdasarkan tiga patokan atau kriteria.

1. Berdasarkan posisi pita suara, ada bunyi bersuara dan bunyi tak bersuara. Bunyi bersuara antara lain, bunyi [b], [d], [g] dan [c]. Bunyi tak bersuara antara lain, bunyi [s], [k], [p], dan [t]. 2. Berdasarkan tempat artikulasi kita mengenal : a) Bilabial : konsonan yang terjadi pada kedua belah bibir. Bibir bawah merapat pada bibit atas. Contoh [p] dan [b] adalah bunyi oral, yang dikeluarkan melalui rongga mulut, bunyi [m] bunyi nasal, bunyi yang dikeluarkan melalui rongga hidung b) Labiodental : Konsonan yang terjadi pada gigi bawah dan bibir atas gigi bawah merapat pada bibir atas. Contoh bunyi [f] dan [v] c) Laminoalveolar : Konsonan yang terjadi pada daun lidah dan gusi, daun lidah menempel pada gusi. Contoh bunyi [t] dan [d] d) Dorsovelar : Konsonan yang terjadi pada pangkal lidah dan velum atau langit-langit lunah. Contoh bunyi [k] dan [g] 3. Berdasarkan cara artikulasinya, dibedakan adanya konsonan: a) Hambat (letupan, plosif, stop). Contoh konsonan letupan antara lain bunyi [p], [b], [t], [d], [k] dan [g] b) Geseran atau frikatif. Contoh bunyi [f], [s] dan [z] c) Paduan atau frikatif. Merupakan gabungan antara hambatan dan frikatif. Contoh bunyi [c] dan [j] d) Sengauan atau ] e) Getaran ataunasal. Contoh konsonan nasal, bunyi [m], [n] dan [ trill, getaran bunyi terjadi berulang-ulang. Contoh konsonan [r] f) Sampingan atau literal. Contoh konsonan [i] g) Hampiran atau aproksimah. Bunyi yang dihasilkan sering disebut semi vokal, yaitu bunyi [w] dan [y]. Di dalam bahasa Jepang juga terdapat huruf-huruf vokal yakni lima macam bunyi vokal (Boin) yaitu [a], [i], [u], [e], dan [o]. Bunyi vokal adalah suatu bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap dengan tidak mengalami suatu hambatan yang memungkinkan diucapkan menjadi bunyi panjang. Selain itu terdapat pula bunyi konsonan (Shi‟in) yang tidak diucapkan menjadi bunyi panjang dan mengalami suatu hambatan saat membunyikan suara. Menurut Katoo Akihito menjelaskan bahwa konsonan (shi‟in) ialah bunyi suara yang dibentuk dengan arus udara pernapasan yang keluar melewati pita suara yang mengalami rintangan, hambatan, halangan, atau gangguan seperti dengan oenutupan atau penyempitan alat ucap manusia (Katoo, 1991 : 26).

Ada dua macam klasifikasi konsonan dalam bahasa Jepang. 1. Klasifikasi konsonan berdasarkan jenis hambatan 2. Klasifikasi konsonan berdasarkan cara keluarnya arus udara pernapasan (Iwabuchi, 1989 : 129) Pada konsonan bunyi huruf /hi/, termasuk dalam klasifikasi konsonan berdasarkan jenis hambatan (Katoo, 1991 : 28) dalam kategori Kookoogaion (palatal), yaitu bunyi-bunyi yang dikeluarkan dengan menggunakan langit-langit keras (palatum) dengan lidah bagian tengah. Bunyi konsonan yang termasuk kelompok ini ialah konsonan-konsonan pada silabel hi dan ni. Namun, terdapat juga pada klasifikasi konsonan berdasarkan cara-cara keluar arus udara pernapasan (Iwabuchi, 1989 : 129-130) dalam kategori Masatsuon (konsonan frikatif). Konsonan frikatif akan terjadi apabila arus udara pernapasan keluar melewati celah-celah jalannya pernapasan (pada alat ucap) yang menyempit sehingga menibulkan suara desis. Yang termasuk kelompok ini ialah konsonan-konsonan pada silabel sa, shi, su, se so, ha,, hi, fu, he, ho dan konsonan-konsonan pada silabel za, ji, zu, ze, zo yang dipakai pada bagian tengah kata. Konsonan-konsonan pasa silabel hi, hya, hyu, dan hyo termasuk dalam jenis kategori [c] : musei kookoogai masatsuon (bunyi konsonan frikatif palatal yang tidak

bersuara). Bunyi konsonan frikatif palatal [c] memiliki kemiripan dengan semi vokal [j]. Namun, perbedaannya adalah jika konsonan [c] termasuk bunyi yang tidak bersuara (museion) sedangkan semi vokal [j] termasuk bunyi yang bersuara (yuuseion). Posisi lidah saat mengucapkan semi vokal [j] sama dengan posisi lidah pada waktu mengucapkan vokal [i]. Fonem /h/ adalah konsonan frikatif glotal tak bersuara. Alofon [h] hadir secara wajar di depan vokal /a/, /e/, /o/ membentuk suku kata [ha], [he], dan [ho]. Fonem /h/ di depan vokal /i/ muncul sebagai alofon [h] menjadi suku kata [hi] atau alofon bunyi frikatif uvular tak bersuara [c] menjadi suku kata [ci]. Alofon uvular [c] bercirikan bunyi gesek yang lebih keras dari pada alofon glotal [h]. Alofon [c] pada suku kata [ci] berdistribusi komplementer yaitu selalu hadir di dalam vokal /i/. Pada posisi ini [c] bervariasi bebas dengan alofon [h]. Contoh alofon [h], [c] : Haha [haha] ”ibu” Hi [c]/ [hi] ”hari” Mahi [maci]/ [mahi] ”lumpuh” Hei [he:] ”pagar” Hoohoo [ho:ho:] “cara”. Alofon [c] pada suku kata [ci] lebih tepat diinterpretasikan sebagai alofon [hi] pada posisi di depan vokal /i/.

SEJARAH FONOLOGI Sejarah fonologi dapat dilacak melalui riwayat pemakaian istilah fonem dari waktu ke waktu. Pada sidang Masyarakat Linguistik Paris, 24 mei 1873, Dufriche Desgenettes mengusulkan nama fonem, sebagai padanan kata Bjm Sprachault. Ferdinand De Saussure dalam bukunya “ Memorie Sur Le Systeme Primitif Des Voyelles Dan Les Langues IndoEuropeennes” „memoir tentang sistem awal vokal bahasa – bahasa Indo eropa „ yang terbit pada tahun 1878, mendefinisikan fonem sebagai prototip unik dan hipotetik yang berasal dari bermacam bunyi dalam bahasa –bahasa anggotanya. Sejarah fonologi dalam makalah ini akan lebih mengkhususkan membahas mengenai istilah fonem. Gambaran mengenai perkembangan fonologi dari waktu ke waktu dapat dilihat lewat berbagai aliran dalam fonologi. a. Aliran Kazan Dengan tokohnya Mikolaj Kreszewski, aliran ini mendefinisikan fonem sebagai satuan fonetis tak terbagi yang tidak sama dengan antropofonik yang merupakan kekhasan tiap individu. Tokoh utama aliran kazan adalah Baudoin de Courtenay (1895). Menurut linguis ini, bunyi – bunyi yang secara fonetis berlainan disebut alternan, yang berkerabat secara histiris dan etimologis. Jadi, meskipun dilafalkan berbeda, bunyi – bunyi itu berasal dari satu bentuk yang sama. Pada 1880, Courtenay melancarkan kritiknya terhadap presisi atas beberapa fona yang dianggapnya tidak bermanfaat. Pada 1925, paul passy mempertegas kritik tersebut. Ferdinand De Saussure. Dalam bukunya “Cours de Linguistique Generale” „ Kuliah Linguistik umum‟, Saussure mendefinisikan fonologi sebagai studi tentang bunyi – bunyi bahasa manusia.dari definisi tersebut tercermin bahwa bunyi bahasa yang dimaksud olehnya hanyalah unsure – unsure yang terdengar berbeda oleh telinga dan yang mampu menghasilkan satuan – satuan akustik yang tidak terbatas dalam rangkaian ujaran. Jadi dapat dikatakan bahwa Saussure menggunaklan criteria yang semata – mata fonetis untuk menggambarkan fonem dan memempatkannya hanya pada poros sintagmatik. Lalu Saussure mengoreksinya dan mengatakan bahwa pada sebuah kata yang penting bukanlah bunyi melainkan perbedaan fonisnya yang mampu membedakan kata itu dengan yang lain. Dengan konsep – konsepnya, meskipun tidak pernah mencantumkan istilah struktur maupun fungsi, Saussure dianggap telah membuka jalan terhadap studi fonologi yang kemudian diadaptasi oleh aliran Praha. b. Aliran Praha Kelahiran fonologi ditandai dengan “Proposition 22” „Usulan 22‟ yang diajukan oleh R. Jakobson, S. Karczewski dan N. Trubetzkoy pada konggres Internasional I para linguisdi La Haye, april 1928. Pada 1932 jakobson mendefinisikan fonem sebagai sejumlah ciri fonis

yang mampu membedakan bunyi bahasa tertentu dari yang lain, sebagai cara untuk membedakan makna kata. Jadi konsep fonem merupakan sejumlah ciri pembeda (ciri distingtif). c. Aliran Amerika Tokoh aliran ini adalah Edward Sapir (1925), seorang etnolog dan linguis yang terutama memeliti bahasa – bahasa Indian Amerika. Menurutnya, sistem fonologi bersifat bersifat fungsional. Kiprah Sapir diteruskan oleh penerusnya dari Yale, Leonard Bloomfield , yang karyanya “Language” menjadikan dirinya bapak linguistik Amerika selama 25 tahun. Pada buku itu Bloomfield menjelaskan banyak hal tentang definisi – definisi mutakhir tentang fonem, istilah ciri pembeda, zona penyebaran fonem, kriteria dasar dalam menentukan oposisi fonologis dan lain – lain. Sifat behaviouris dan antimentalis Bloomfield mengantarkannya pada konsepsi tentang komunikasi sebagai perilaku dimana sebuah stimulus (ujaran penutur) memunculkan reaksi mitra tutur. Menurutnya, yang penting dalam bahasa adalah fungsinya untuk menghubungkan stimulus penutur dengan reaksi mitra tutur. Agar fungsi itu terpenuhi, pada tataran bunyi cukuplah kiranya jika setiap fonem berbeda dengan yang lainnya. Sehingga zona penyebaran fonem dan sifat akustiknya bukanlah sesuatu yang penting. Pada tataran fonologi umum, pionir fonologi Amerika lainnya, W.F Twaddell pada 1935 menerbitkan monografi. Di dalamnya Twaddell menegaskan bahwa satuan – satuan fonologis bersifat relasional. Daniel Jones dan Aliran Fonetik Inggris Sejak 1907 Daniel Jones mengajar fonetik di University of London. Setelah itu ia kemudian lebih banyak menggelti praktek fonologi di Inggris. Kegiatannya di jurusan fonetik di University of college lebih difokuskan pada transkripsi fonetis dan pengajaran pelafalan bahasa – bahasa dunia. Perhatiannya pada dua hal itu membuat dirinya memiliki konsep tersendiri tentang fonem. Pada 1919, dalam “ Colloquial Sinhalese Reader” yang diterbitkannya bersama H.S Parera, Jones memberikan definisi fonem yang berciri distribusional. Terinspirasi oleh Baudoin de Courtenay, yang memakai fonem sebagai realitas psikofonetis, Jones menggambarkan fonem sebagai realitas mental. Maksudnya, dalam studi tentang sifat alamiah fonem, kita juga dapat menggunakan baik intuisi, rasa bahasa maupun cara – cara lain yang bersifat psikologis. Hal ini menunjukkan bahwa Jones lebih suka pada sifat fonem, alih – alih fungsinya. Dengan sudut pandang seperti itu sebenarnya Jones sudah memasuki daerah kerja fonologi, dalam analisisnya ia memasukkan data fonologi tertentu, namun dengan menyingkirkan sudutpandangfonologis. B. Perkembangan Fonologi Tahun 1960-an sampai 1970-an menandai dimulainya kajian – kajian empiris tentang bahasa Indonesia maupun bahasa – bahasa lain. Contoh karya – karya yang muncul antara lain : a. Artikel tentang fonologi bahasa jawa dan sistem fonem dan ejaan (1960) oleh samsuri. Ciri – ciri penelitian pada saat itu adalah dipengaruhi oleh gerakan deskriptivisme, menganut aliran neo Bloomfieldian dan bersifat behaviouristik, ketat dalam metodologi dan bahasa lisan menjadi objek utama.

b. Lalu pada tahun 1970an masuk konsep fonem dan wawasan tentang unsur suprasegmental oleh amran halim, dan Hans Lapoliwa dengan fonologi generatifnya. Namun, untuk mengetahui perkembangan mutakhir linguistic Indonesia saat ini diperlukan survey lagi yang lebih mendalam.

C. Pengertian Fonologi Menurut Kridalaksana (2002) dalam kamus linguistik, fonologi adalah bidang dalam linguistik yang menyelidiki bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya. fonologi adalah bagian tata bahasa atau bidang ilmu bahasa yang menganalisis bunyi bahasa secara umum. Istilah fonologi ini berasal dari gabungan dua kata Yunani yaitu phone yang berarti bunyi dan logos yang berarti tatanan, kata, atau ilmu disebut juga tata bunyi. Akan tetapi, bunyi yang dipelajari dalam Fonologi bukan bunyi sembarang bunyi, melainkan bunyi bahasa yang dapat membedakan arti dalam bahasa lisan ataupun tulis yang digunakan oleh manusia. Bunyi yang dipelajari dalam Fonologi kita sebut dengan istilah fonem. Fonem tidak memiliki makna, tapi peranannya dalam bahasa sangat penting karena fonem dapat membedakan makna. Misalnya saja fonem [l] dengan [r]. Jika kedua fonem tersebut berdiri sendiri, pastilah kita tidak akan menangkap makna. Akan tetapi lain halnya jika kedua fonem tersebut kita gabungkan dengan fonem lainnya seperti [m], [a], dan [h], maka fonem [l] dan [r] bisa membentuk makna /marah/ dan /malah/. Bagi orang Jepang kata marah dan malah mungkin mereka anggap sama karena dalam bahasa mereka tidak ada fonem [l]. Oleh karena itulah sangat penting bagi kita untuk mempelajari Fonologi. Sekarang coba Anda perhatikan bunyi gebrakan tangan di atas meja. Apakah bunyi tersebut termasuk ke dalam kategori fonem? jika Anda menjawab Iya, Anda harus membaca kembali kalimat sebelumnya. Tapi, jika jawaban Anda Bukan..Selamat! Anda telah berhasil memahami tentang fonem. Bunyi gebrakan tangan di atas meja mungkin bisa memiliki makna atau pun membedakan makna, tapi apakah bunyi tersebut termasuk ke dalam bunyi bahasa..silahkan Anda perhatikan dengan baik. Fonem dalam bahasa Indonesia terdiri atas empat macam. Ada fonem yang benarbenar asli dari bahasa Indonesia, namun ada pula fonem yang berasal dari berbagai bahasa lain namun penggunaannya sudah dibakukan. Dalam pembahasan berikut, saya tidak akan membedakan antara fonem yang asli dengan fonem yang serapan. Menurut Hierarki satuan bunyi yang menjadi objek studinya, fonologi dibedakan menjadi fonetik dan fonemik. Secara umum fonetik biasanya dijelaskan sebagai cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Sedangkan fonemik adalah cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi tersebut sebagai pembeda makna. Marilh kita lihat percakapan ini : Orang I : apakah tugasmu hari ini? Orang II : membuat resensi buku

Orang I : resensi buku? buku siapa? Orang II : ah, buku dalam bahasa arab Orang I: dalam bahasa arab? Orang II: ya,kita kan mahasiswa bahasa arab. Dari percakapan sependek ini kita hanya mendengar deretan bunyi baik yang dikeluarkan oleh orang I maupun orang II. Bunyi-bunyi ini disebut, bunyi bahasa yang kebetulan kita mengerti, karena kita adalah penutur bahasa Indonesia. Seandainya ada orang jerman yang kebetulan mendengar percakapan ini, pasti dia tidak mengerti bahasa Indonesia. Ilmu yang mempelajari bunyi-bunyi bahasa tertentu menurut fungsinya, untuk membedakan makna leksikal disebut fonologi ( phonology). Di Amerika istilah fonologi disebut fonemik (phonemics) sedangkan di eropa disamping fonemik terdapat pula fonetik. Jadi, bagi sarjana di eropa, misalnya Belanda dan Inggris terdapat fonetik dan fonologi, sedangkan di Amerika Serikat, baik fonetik maupun fonemik dibicarakan dalam satu tataran yang disebut fonologi.

D. BIDANG PEMBAHASAN FONOLOGI
Fonologi mempunyai dua cabang kajian, Pertama, fonetik yaitu cabang kajian yang mengkaji bagaimana bunyi-bunyi fonem sebuah bahasa direalisasikan atau dilafalkan. Fonetik adalah bagian fonologi yang mempelajari cara menghasilkan bunyi bahasa atau bagaimana suatu bunyi bahasa diproduksi oleh alat ucap manusia. Fonetik juga mempelajari cara kerja organ tubuh manusia terutama yang berhubungan dengan penggunaan bahasa. Chaer membagi urutan proses terjadinya bunyi bahasa itu, menjadi tiga jenis fonetik, yaitu: a) fonetik artikulatoris atau fonetik organis atau fonetik fisiologi, mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa serta bagaimana bunyi-bunyi itu diklasifikasikan. b) fonetik akustik mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau fenomena alam (bunyibunyi itu diselidiki frekuensi getaranya, aplitudonya ,dan intensitasnya. c) fonetik auditoris mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita. Dari ketiga jenis fonetik tersebut yang paling berurusan dengan dunia lingusitik adalah fonetik artikulatoris, sebab fonetik inilah yang berkenaan dengan masalah bagaimana bunyi-bunyi bahasa itu dihasilkan atau diucapkan manusia. Sedangkan fonetik akustik lebih berkenaan dengan bidang fisika, dan fonetik auditoris berkenaan dengan bidang kedokteran. Kedua, fonemik yaitu kesatuan bunyi terkecil suatu bahasa yang berfungsi membedakan makna. Chaer mengatakan bahwa fonemik mengkaji bunyi bahasa yang dapat atau berfungsi membedakan makna kata. Misalnya bunyi [l], [a], [b] dan [u]; dan [r], [a], [b] dan [u] jika dibandingkan perbedaannya hanya pada bunyi yang pertama, yaitu bunyi [l] dan bunyi[r]. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kedua bunyi tersebut adalah fonem yang berbeda dalam bahasa Indonesia, yaitu fonem /l/ dan fonem /r/.

Fonemik adalah bagian fonologi yang mempelajari bunyi ujaran menurut fungsinya sebagai pembeda arti.

istilah lain yang berkaitan dengan Fonologi antara lain fona, fonem, konsonan, dan vokal.

fona adalah bunyi ujaran yang bersifat netral, atau masih belum terbukti membedakan arti, sedang fonem ialah satuan bunyi ujaran terkecil yang membedakan arti. Variasi fonem karena pengaruh lingkungan yang dimasuki disebut alofon. Gambar atau lambang fonem dinamakan huruf. Jadi fonem berbeda dengan huruf. Unluk menghasilkan suatu bunyi atau fonem, ada tiga unsur yang penting yaitu :
1. udara, 2. artikulator atau bagian alat ucap yang bergerak, dan 3. titik artikulasi atau bagian alat ucap yang menjadi titik sentuh artikulator.

Vokal adalah fonem yang dihasilkan dengan menggerakkan udara keluar tanpa rintangan. Konsonan adalah fonem yang dihasilkan dengan menggerakkan udara keluar dengan rintangan, dalam hal ini yang dimaksud dengan rintangan dalam hal ini adalah terhambatnya udara keluar oleh adanya gerakan atau perubahan posisi artikulator .

E. KEDUDUKAN FONOLOGI DALAM CABANG-CABANG LINGUISTIK
Sebagai bidang yang berkosentrasi dalam deskripsi dan analisis bunyi-bunyi, hasil kerja fonologi berguna bahkan sering dimanfaatkan oleh cabang-cabang linguitik yang lain, misalnya morfologi, sintaksis, dan semantik. 1. Fonologi dalam cabang Morfologi Bidang morfologi yang kosentrasinya pada tataran struktur internal kata sering memanfaatkan hasil studi fonologi, misalnya ketika menjelaskan morfem dasar {butuh} diucapkan secara bervariasi antara [butUh] dan [bUtUh] serta diucapkan [butuhkan] setelah mendapat proses morfologis dengan penambahan morfem sufiks {-kan}. 2. Fonologi dalam cabang Sintaksis Bidang sintaksis yang berkosentrasi pada tataran kalimat, ketika berhadapan dengan kalimat kamu berdiri. (kalimat berita), kamu berdiri? (kalimat tanya), dan kamu berdiri! (kalimat perintah) ketiga kalimat tersebut masing-masing terdiri dari dua kata yang sama tetapi mempunyai maksud yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat dijelaskan dengan memanfaatkan hasil analisis fonologis, yaitu tentang intonasi, jedah dan tekanan pada kalimat yang ternyata dapat membedakan maksud kalimat, terutama dalam bahasa Indonesia. 3. Fonologi dalam cabang Semantik Bidang semantik, yang berkosentrasi pada persoalan makna kata pun memanfaatkan hasil telaah fonologi. Misalnya dalam mengucapkan sebuah kata dapat divariasikan, dan tidak. Contoh kata [tahu], [tau], [teras] dan [t∂ras] akan bermakna lain. Sedangkan kata duduk dan didik ketika diucapkan secara bervariasi [dudU?], [dUdU?], [didī?], [dīdī?] tidak membedakan makna. Hasil analisis fonologislah yang membantunya.

F. Hal- hal terkait fonologi

a.

Fonem

Fonem adalah kesatuan bunyi yang terkecil dan sistem bunyi-bunyi bahasa yang dapat berfungsi sebagai pembeda makna. Dan fonem juga adalah merupakan objek kajian dalam ilmu fonemik. b. Identifikasi Fonem

Untuk mengetahui apakah sebuah bunyi fonem atau bukan, kita harus mencari sebuah satuan bahasa biasanya sebuah kata, yang mengandung bunyi, lalu membandingkannya dengan satuan kata yang lain yang mirip dengan satuan bahasa yang pertama. kalau ternyata kedua satuan bahasa itu mempunyai makna yang berbeda maka dapat kita simpulkan bahwasanya bunyi tersebut adalah fonem, karena dia bisa atau berfungsi membedakan makna kedua satuan bahasa tersebut. Misalnya, dalam bahasa Indonesia, kata “tajam” dengan ”talam”. Keduanya memiliki kemiripan bunyi bahkan jumlah bunyinya sama (lima bunyi). “Ternyata perbedaannya hanya pada bunyi “J” dan “l”. Maka dengan demikian,dapat disimpulkan bahwa bunyi “j” dan “l” dalam bahasa Indonesia adalah fonem, karena berfungsi dalam membedakan makna. Dalam bahasa arab juga ditemukan adanya fonem, misalnya pada kata “ ‫ “ذنوب‬dengan “ ‫ “زنوب‬yang mempunyai arti yang berbeda yaitu “dosa-dosa” dan “bulu ketiak”. c. Klasifikasi Fonem

Dalam kajian fonologi, fonem dapat diklasifikasikan atas dua bagian, yaitu : fonem segmental dan fonem suprasegmental. Adapun yang dimaksud dengan fonem segmental adalah vokal dan konsonan dalam fonologi ataupun fonem-fonem yang berupa bunyi yang didapat sebagai hasil segmentasi terhadap arus ujaran. Dan yang dimaksud dengan suprasegmental adalah jalinan atau susunan bunyi yang dapat membedakan arti suatu kata dengan kata yang lain. Sedangkan yang dimaksud dengan segmen adalah satuan bahasa yang diabstraksikan dari suatu teks, misalnya fon atau fonem sebagai suatu bunyi, morf atau morfem sebagai satuan gramatikal.

A. Pendahuluan Kajian nihongogaku ‘linguistik bahasa Jepang’ secara umum meliputi kajian-kajian onseigaku ‘fonetik ‘,oninron ‘fonologi’, keitairon ‘ morfologi’, toogoron ‘sintaksis’, imiron ‘semantik’, goyooron ‘pragmatik’, shakai gengogaku ‘sosiolinguistik’ dan ruikeiron ‘tipologi’. Dari kajian-kajian ilmu linguistik tersebut, penulis mencoba membahas yang ada hubungannya dengan ilmu bunyi fonetik dan fonologi. B. Ilmu Bunyi 1. Bahasa Dalam kehidupan sehari-hari bahasa yang digunakan oleh manusia paling sedikit terdiri dari dua bentuk. Yang pertama adalah moji gengo ‘bahasa tulisan dan yang kedua adalah onsei gengo ‘bahasa lisan’ (Tanaka, 1984:37). Menurut Sugimoto (1990:164) moji gengo adalah keseluruhan bahasa yang ditunjukkan oleh huruf. Misalnya, seperti yang ditunjukkan pada surat kabar, novel, majalah, buku harian, memo, formulir, laporan, dan lain-lain. Selanjutnya, onsei gengo menurut Sugimoto (1990:19) adalah keseluruhan bahasa yang diungkapkan lewat bunyi seperti pada percakapan sehari-hari, siaran radio, acara televisi, dan lain-lain. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa bahasa adalah alat komunikasi manusia dengan manusia lainnya yang diungkapkan paling sedikit dalam dua bentuk yaitu bahasa lisan dan bahasa tulisan. Kedua bentuk bahasa ini juga lazim disebut dengan hanashi kotoba dan kakikotoba. hanashi kotoba dan kakikotoba yang dimaksud di sini jangan jangan disamaartikan dengan istilah yang sama yang sering digunakan dalam tata bahasa Jepang. Dalam tata bahasa Jepang hanashi kotoba adalah bahasa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari untuk berkomunikasi dengan orang lain. Dalah hanashi kotoba ini, kita atau orang Jepang kalau berbicara sering tidak mengindahkan kaidah-kaidah kalimat baku seperti pada contoh kalimat (1), dan kakikotoba adalah bahasa tulisan yang sering digunakan dalam tulisan-tulisan resmi seperti sotsuron (skripsi, tesis dll). Contoh kakikotoba dapat dilihat pada kalimat (2). (1) あ ら 、 そ れ も い い わ ね 。 (2) 学 校 は 子 供 た ち の 豊 か 人 格 を 形 成 し て い く 場 で あ る 。 Seperti halnya telur dengan ayam, kita sering mempermasalahkan yang manakah yang lebih dulu muncul di antara keduanya. Begitu pula halnya dengan onsei gengo dan moji gengo, di antara kedua bentuk bahasa ini yang mana yang lebih dulu muncul? Tanaka (1984:37) menjelaskan bahwa di dunia ini ada beberapa suku atau ras manusia yang dalam budayanya tidak memiliki huruf. Kemudian manusia yang baru lahir atau anak kecil yang belum bisa membaca dan menulis berkomunikasi dengan manusia sekitarnya dengan menggunakan onsei gengo. Dari kenyataan ini dapat dibenarkan kalau kita beranggapan onsei gengolah yang lebih dulu muncul. Kemudian. Untuk mencatat ujaran-ujaran yang diungkapkan, manusia menyimpannya dalam bentuk tulisan atau moji gengo.

2. Onsei kigo Onsei kigo ‘phonetics symbol’ adalah simbol-simbol yang digunakan untuk melambangkan bunyi dalam kajian pendidikan bahasa dan fonetik (Sugimoto, 1990:19). Jadi, bunyi-bunyi ujaran manusia ketika dituangkan ke dalam bentuk tulisan dilambangkan dengan huruf-huruf yang telah disepakati dalam sebuah komunitas budaya atau bahkan antar komunitas budaya yang memiliki huruf dan bahasa yang berbeda. Tetapi Tanaka (1984:40) menyatakan bahwa banyak terdapat huruf yang tidak mewakili bunyi yang diucapkan oleh manusia. Misalnya, pelafalan gh dalam bahsa Inggris bisa berbeda-beda. Gh ini bias dibaca [f] seperti pada kata enough, dibaca [g] seperti pada kata ghost, atau bahkan tidak dibaca

sama sekali seperti pada kata ought. Untuk mengatasi masalah-masalah dalam pennyimbolan ini, dibuatlah suatu aturan yang dinamakan kokusaionseijibo atau IPA (International Phonetic Alphabet). Penetapan IPA ini supaya bisa digunakan untuk menyatakan bunyi-bunyi pelafalan dari bahasa apapun agar mudah dimengerti sekalipun oleh orang yang bukan pemakai atau pemilik bahasa tersebut. C. Onseigaku dan On’inron “fonetik fonologi’ Bunyi ujaran manusia dalam ilmu linguistic dibagi menjadi dua bidang bahasa yaitu onseigaku ‘fonetik’ dan oninron ‘fonologi’. Meskipun kedua istilah ini berbeda, dapat dikatakan bahwa kedua ilmu ini sama-sama membahas ilmu bunyi. Perbedaannya, onseigaku adalah bidang ilmu yang membahas bunyi secara fisik bagaimana bunyi itu dikeluarkan dari dalam perut melalui alat-alat artikulasi, sedangkan oninron adalah ilmu yang membahas bunyi dalam fungsinya sebagai pembeda arti. Perbedaan antara keduanya dijelaskan dalam Tanaka (1984:46) mencontohkan ungkapan「アーア ッ」(いやになっちゃったなぁ). Pada kata 「アーアッ」tersebut terdapat dua bunyi ア. Ketika dibahas dalam ilmu fonetik, kedua bunyi tersebut diperlakukan sebagai dua bunyi yang berbeda. Karena dalam pengucapan ア ada yang diucapkan dengan membuka mulut lebar ada juga yang tidak. Sedangkan bila kata tersebut dibahas secara fonologi, kedua ア tersebut bila didengarkan secara cermat akan terdengar sebagai dua bunyi yang berbeda. Tetapi, meskipun kedua ア tersebut berbeda dianggap sebagai dua ア yang sama. Karena bunyi yang terdengar berbeda tersebut dianggap masih dalam lingkup toleransi bunyi ア yang sama. 1. Onseigaku ‘fonetik’ Menurut Tanaka (1984:13) onseigaku adalah bagian ilmu yang hanya membahas bunyi bahasa dari segi ilmu alam yang di dalamnya dibahas ilmu-ilmu mengenai onkyoo onseigaku ‘acoustic phonetics’, choo’on onseigaku ‘articulatory phonetics’, dan chookaku onseigaku ‘auditory phonetics’. Onkyoo onseigaku adalah bidang kajian onseigaku yang membahas bunyi/ ujaran sebagai gelombang bunyi yang disampaikan pembicara kepada yang diajak bicara. Bidang ini banyak berkaitan dengan ilmu fisika. Untuk menganalisa gelombang bunyi ini digunakan sebuah alat yang bernama spectrograph. Begitu bunyi ini keuar dari sipembicara, alat tersebut akan mencatat tahap-tahap sehingga gelombang bunyi tersebut sampai ditelinga yang diajak bicara. Choo’on onseigaku dan chookaku onseigaku adalah kajian onseigaku yang membahas struktur dan fungsi alat ucap dan alat dengar manusia untuk mengetahui proses terjadinya sebuah bunyi bahasa. Bidang ini sangat berkaitan erat dengan fisiologi dan anatomi. Jadi, dalam Choo’on onseigaku diteliti bagaimana alat ucap bekerja untuk menghasilkan bunyi., dan dalam chookaku onseigaku diteliti bagaimana suatu bunyi itu terdengar di telinga Onseigaku secara sederhana dapat dikatakan sebagai sebuah ilmu yang meneliti bunyi bahasa manusia secara umum. Apabila membahas bunyi bahasa tertentu seperti dalam bahasa Indonesia, maka istilah khusus yang cocok dengan kajian ini adalah Indonesiago onseigaku atau fonetik bahasa Indonesia. 2. On’inron On’inron adalah bidang linguistic yang meneliti bunyi bahasa berdasarkan artinya (Sutedi, 2004:35). Kajian fonologi meliputi onso ‘fonem’, aksen dan tinggi nada (Kashima dalam Sutedi, 2004:35). Kesimpulan dari beberapa pendapat, fonem merupakan satuan bunyi terkecil yang berfungsi untuk membedakan arti. Richard et al (1992:279) memberi contoh misalnya kata pan dan ban dalam bahasa Inggris. Kedua kata tersebut meiliki perbedaan yaitu kata yang pertama diawali dengan /p/ dan kata yang kedua diawali dengan /b/. Kemudian pada kata ban dan bin yang memiliki perbedaan vocal /æ/ dan /ı/. Perbedaan-perbedaan tersebut menyebabkan perbedaan pula pada arti.

Aksen merupakan perubahan tinggi rendah pengucapan setiap mora. Misalnya pada kata ame (雨) dan ame (飴), ame (雨) diucapkan tinggi rendah sedangkan ame (飴) diucapkan rendah tinggi (Iori, 2001:2006). Ame (雨) dan ame (飴) apabila dilihat dari hurufnya jelas berbeda dan berbeda pula artinya. Tapi apabila diucapkan, kita akan bisa membedakan arti dari aksennya. Pada bahasa Indonesia tidak dikenal sistem aksen. Misalnya kata bisa yang berarti racun dan bisa yang berarti dapat, keduanya diucapkan dengan aksen yang sama (Sudjianto, 2004:50). Kita dapat membedakan artinya berdasarkan konteksnya dalam kalimat. Selain fonem dan aksen, unsur lain yang dapat membedakan arti dalam kajian fonologi adalah intonasi. Contohnya seperti berikut ini. (1) 帰 り ま す 。 ↗ (2) 帰 り ま す 。 ↘ Pada kalimat (1) kalimat diakhiri dengan intonasi naik yang menunjukkan kalimat Tanya, sedangkan pada contoh (2) diakhiri dengan intonasi menurun yang menunjukkan kalimat berita (Sutedi, 2004:29). D. Kesimpulan Manusia berkomunikasi dengan manusia lainnya dengan menggunakan bahasa baik secara lisan maupun tulisan. Kajian ilmu linguistik yang membahas bahasa dari segi bunyi ujaran adalah bidang fonetik dan fonologi. Fonetik mengkaji bagaimana bunyi itu dihasilkan oleh alat ucap atau articulator, dan fonologi mengkaji bunyi bahasa berdasarkan arti.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->