7 - ETIKA Pns-Awangumelar

ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL (PNS) SUDAHKAH DIPAHAMI

Oleh: Awan Gumelar

udah maklum bahwa setiap profesi dari suatu kegiatan pada umumnya mempunyai kode etik, seperti halnya dunia kedokteran, kenotariatan, kewartawanan, kepengacaraan dan seterusnya. Hal itu, sudah barang tentu dimaksudkan untuk kesinambungan kegiatan profesi dan adanya rasa akuntabilitas dan pada akhirnya untuk menjamin kesenangan, kebahagiaan, kepuasan pelanggan (customer). Setiap profesi sudah pasti berlomba memelihara, menjaga bahkan mengembangkan kepercayaan (trust) pelanggan ke arah yang lebih luas apalagi saat ini dan ke depan sudah tidak lepas dari kondisi yang sifatnya global, katanya tidak lepas juga dari TI (Tekonologi Informasi) atau dunia maya.

S

Apa itu etika? secara etimologi dalam buku Kamus Umum Bahasa Indonesia (Badudu-Zain.1996) berasal dari bahasa latin yang mengandung arti ilmu tentang apa yang baik dan apa yang tidak baik, sesuai dengan ukuran moral atau akhlak yang dianut oleh masyarakat luas dan berarti pula ukuran nilai mengenai yang salah dan yang benar sesuai dengan anggapan umum (anutan) masyarakat. Guru saya Bapak Drs.Soemarsaid Moertono,MA pada tahun 80-an mengemukakan bahwa etika berasal dari bahasa Greek yaitu: ethos, artinya “character” adalah suatu studi yang sistematis mengenai sifat dari konsep-konsep nilai mengenai baik, buruk, harus, benar, salah dan sebagainya, dan mengenai prinsip-prinsip umum yang merupakan dasar pertimbangan kita di dalam kehidupan yang senyatanya. Tata aturan dalam beretika dinamakan norma atau kaidah. Kata norma mengandung arti ukuran yang berlaku, dan peraturan. Dengan demikian, baik dan tidak baik merupakan etika dalam kehidupan berorganisasi, bermasyarakat, bernegara, termasuk bagi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Etika PNS Beretika dalam kehidupan yang dimiliki oleh seseorang selaku PNS baik dalam kehidupan berorganisasi maupun bermasyarakat dan bernegara. Apalagi secara normatif telah diatur dalam peraturan perundanganundangan tentang kepegawaian.

28 | B u l e t i n D i k l a t

yaitu: manusia. Patuh dan taat terhadap standar operasional oleh setiap PNS. Memberikan pelayanan dengan empati. Apalagi secara spesifik nilai. Nilaic. 2) Kesetiaan dan ketaatan kepada h. yang meliputi: e. nilai hidup itu merupakan pula etika PNS. jujur dan akurat serta tepat Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 Tentang waktu dalam melaksanakan setiap kebijakan Pokok-pokok Kepegawaian sebagaimana telah didan program pemerintah. ketulusan.Pengaturan kepegawaian itu tertuang dalam f. informasi yang tidak benar. 6) Penghormatan terhadap hak asasi 3. ubah dengan Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999 g. tepat. Etika dalam bermasyarakat. c. annya sudah barang tentu kembali pada para PNS itu f. dengan sumpah jabatan.2. Tanggap. Melaksanakan tugas dan wewenang sesuai Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 Tentang Pemketentuan yang berlaku. Nilai-nilai dasar ini merupakan nilai-nilai yang hormat dan santun. menghayati dan melaksanakan oleh pejabat yang berwenang. netralitas dan bermoral tinggi. Menjalin kerja sama secara kooperatif dengan setiap lembaga negara. 1. terbuka. a. dimana PNS itu bekerja? PNS berada dan bekerja di e. Etika terhadap diri sendiri. Mewujudkan pola hidup sederhana. Membangun etos kerja untuk meningkatkan tingkah laku dan perbuatan dengan tidak membedakan kinerja organisasi. sikap. yaitu: b. pemerintah pusat dan peunit kerja lain yang terkait dalam rangka penmerintah daerah (provinsi dan kabupaten/kota). d. Melaksanakan sepenuhnya Pancasila dan an masyarakat dalam melaksanakan tugas. kemampuan. terbuka dan adil serta tidak diskriminatif. bahkan pada setiap PNS yang diangkat h. yaitu: 1) Ketaqwaan kepada Tuhan dan tata kerja. Nilai-nilai dasar tersebut yang harus dijunjung tinggi g. 5) i. tugas. Etika PNS yang telah diatur dalam PP No. Menggunakan atau memanfaatkan semua diantaranya mengatur bahwa bagi setiap calon PNS sumber daya negara secara efisien dan (CPNS) yang sudah diangkat PNS wajib mengucapkan efektif. rakat. Berorientasi kepada peningkatan kesejahteraa. keterampilan dan berwibawa. Menjaga informasi yang bersifat rahasia. Berinisiatif untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan ngetahuan. Tanggap terhadap keadaan lingkungan Tahun 2004 yang terdiri dari: masyarakat. 3) Sedan inovatif dalam rangka peningkatan kinerja mangat nasionalisme. Jawabcapaian tujuan. dan 9) Semangat jiwa b. Berorientasi pada upaya peningkatan kualitas Ketaatan terhadap hukum dan peraturan perundangkerja. sumpah/janji. Etika dalam berorganisasi. Mengangkat harkat dan martabat bangsa dan a. Etika dalam bernegara. Undang-undang Dasar 1945. Yang Maha Esa. Mengembangkan pemikiran secara kreatif Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. binaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. Jujur dan terbuka serta tidak memberikan negara. bernegara dan berbangsa. 7) Tidak diskriminatif. 8) Profesionalisme. e. d. Tidak memberikan kesaksian palsu atau kedalam jabatan struktural maupun fungsional diawali terangan yang tidak benar. tanpa pamrih dan tanpa hidup dan berkembang dalam kehidupan bermasyaunsur pemaksaan. korps. Menghindari konflik kepentingan pribadi. kan nilai-nilai dasar yang merupakan pedoman sikap. berpemerintah. 4) Mengutamakan kepentingan organisasi. Sekarang yang menjadi pertanyaan apakah setiap c. Negara di atas kepentingan pribadi atau golongan. kean yang berlaku dalam melaksanakan tugas. lompok maupun golongan. 4. Memiliki kompetensi dalam pelaksanaan sendiri. Memberikan pelayanan secara cepat. Melaksanakan setiap kebijakan yang ditetapPNS itu telah memahami. b. Akuntabel dalam melaksanakan tugas ped. B u l e t i n D i k l a t | 29 . Bertindak dengan penuh kesungguhan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. undangan. Menjadi perekat dan pemersatu bangsa dan b. yaitu: nilai dasar dan etika PNS telah diatur dalam Peraturan a. Menaati semua peraturan perundang-undangc. 42 d.

dapat pula dikenakan sanksi tindakan administratif atau hukuman disiplin PNS sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku (misal PP No. Oleh karena itulah jabatan dan pangkat anggota Majelis Kode Etik tidak boleh lebih rendah dari jabatan dan pangkat PNS yang diperiksa karena disangka melanggar kode etik. Sedangkan organisasi profesi di lingkungan PNS menetapkan pula kode etiknya masing-masing atas dasar karakteristik organisasi profesi itu sendiri umpamanya kode etik jaksa. timbul pertanyaan. Majelis Kode Etik. 42 Tahun 2004. auditor/pemeriksa. Menghargai perbedaan pendapat. kemungkinan melakukan pelanggaran dari kode etik di instansi yang bersangkutan (diharapkan tidak ada pelanggaran). e. 5. Menghimpun dalam satu wadah Korps Pegawai Republik Indonesia yang menjamin terwujudnya solidaritas dan soliditas semua PNS dalam memperjuangkan hak-haknya. apakah setiap PNS telah memahami. atas rekomendasi Majelis Kehormatan Kode Etik yang selanjutnya disingkat Majelis Kode Etik. Saling menghormati sesama warga negara yang memeluk agama/kepercayaan yang berlainan. f. b. maka keputusan diambil dengan suara terbanyak (voting). namun demikian jika belum memahami karena belum membaca dan menerima penjelasan dari Pejabat Pembina Kepegawaiannya. Setiap instansi membentuk Majelis ini yang ditetapkan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian yang bersangkutan. rapi. g. dan sopan. guru/dosen/widyaiswara dan sebagainya. yaitu: a. PNS yang disangka melanggar kode etik. Etika terhadap sesama PNS. Pelaksanaan tugas dan kehidupan sehari-hari setiap PNS harus atau wajib bersikap. Memelihara kesehatan jasmani dan rohani. Selanjutnya Majelis tersebut berkewajiban menyampaikan keputusan hasil sidang 30 | B u l e t i n D i k l a t . artinya hanya dibentuk apabila terdapat PNS yang disangka melakukan pelanggaran kode etik. f. Manakala anggotanya lebih dari lima orang. maka jumlahnya harus ganjil. maupun antar instansi. instansi. Selain itu. Memelihara rasa persatuan dan kesatuan sesama PNS. Berpenampilan sederhana. Menjaga dan menjalin kerja sama yang kooperatif sesama PNS. yang dibuat secara tertulis dan dinyatakan oleh Pejabat Pembina kepegawaian dan dapat didelegasikan kepada pejabat lain di lingkungan sendiri sekurang-kurangnya pejabat struktural eselon IV. Seandainya terjadi pelanggaran dapat dikenakan sanksi moral. Dari uraian tersebut. Keputusan majelis diambil bersifat final.e. Keputusan Majelis Kode Etik diambil secara musyawarah mufakat setelah mendengar PNS yang diperiksa membela diri. menghayati dan melaksanakan kode etik PNS dimaksud? Jawabannya kembali kepada PNS itu sendiri. PNS dalam pelaksanaan tugas sehari-hari. (2) Satu orang Sekretaris merangkap anggota dan (3) Sekurangkurangnya tiga orang anggota. Saling menghormati antara teman sejawat baik secara vertikal maupun horizontal dalam suatu unit kerja. Majelis kode etik sifatnya temporer. Penetapan kode etik instansi dilakukan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian pada instansi yang bersangkutan atas dasar karakteristik setiap instansi. hal itu kembali kepada komitmen dan konsistensi Pejabat yang bersangkutan. g. artinya bahwa keputusan Majelis Kode Etik tidak dapat diajukan keberatan.42 Tahun 2004). Kedua macam sanksi tersebut merupakan kegiatan “Penegak kan Kode Etik”. pemeriksa bea dan cukai. Keduanya itu tidak bertentangan dengan kode etik sebagaimana PP No. Majelis ini terdiri dari: (1) Satu orang Ketua merangkap anggota. Hal ini dengan maksud untuk menjamin atau mendapatkan objektivitas dalam pemeriksaan Majelis atas sangkaan pelanggaran kode etik tersebut. perawat. h. c. peneliti. diperiksa oleh Majelis Kode Etik dengan memanggil PNS yang bersangkutan dan dapat mendengar pejabat lain atau pihak lain yang dipandang perlu. Menjungjung tinggi harkat dan martabat PNS. 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin PNS). jika musyawarah mufakat tidak tercapai. dokter. Memiliki daya juang yang tinggi. Majelis kode etik adalah lembaga non struktural pada instansi pemerintah yang bertugas melakukan penegakan pelaksanaan serta menyelesaikan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh PNS (PP No. Menjaga keutuhan dan keharmonisan keluarga. berpedoman pada etika atau kode etik PNS sebagaimana dimaksud di atas. d.

Akhirnya diharapkan pelanggaran-pelanggaran PNS atau patologi birokrasi akan berkurang atau sama sekali tidak ada (zero). -HR. kuat dan berwibawa diperlukan: (1) Adanya komitmen dan konsistensi yang kuat dari Pejabat Pembina Kepegawaian. Ar-Rabi- B u l e t i n D i k l a t |31 . Berkenaan dengan hal-hal itu. ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi pemiliknya di dunia dan di akhirat. diantaranya Kejaksaan Agung (informasi dari media cetak diantaranya Koran Kompas/Pikiran Rakyat/Tribun. Namun demikian. tetapi ada juga yang belum. saat berbincang-bincang dengan para peserta Diklat (Diklat PIM) ataupun sesama teman PNS ternyata belum terbentuk Majelis Kode Etik tersebut. dan seterusnya). Sesungguhnya ilmu pengetahuan menempatkan pemiliknya dalam kedudukan terhormat dan mulia (tinggi). Pejabat yang berwenang itu adalah Pejabat Pembina Kepegawaian atau pejabat yang berwenang menghukum atau pejabat lain yang ditunjuk. maka dalam rangka mewujudkan PNS yang bersih. (2) Optimalisasi pemahamanan dan pelaksanaan kode etik PNS. bahkan belum membaca.majelis kepada pejabat yang berwenang sebagai bahan dalam memberikan sanksi moral dan/atau sanksi lainnya kepada PNS yang bersangkutan. Hal ini. secara empiris diperoleh informasi ada yang sudah melaksanakan. ada yang sudah membentuk dan eksis. menunjukan komitmen Pejabat Pembina Kepegawaian belum kuat. sehingga tata pemerintahan yang baik (good governance) dan pemerintahan yang bersih (clean government) secara bertahap terwujud di Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini. Timbul pertanyaan lagi sudahkah pembentukan Majelis Kode Etik dilakukan pada setiap instansi baik di lingkungan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah? Jawaban terpulang pada instansi yang bersangkutan. Namun demikian. memahami dari peraturan pemerintah dimaksud. (4) Optimalisasi peran Majelis Kode Etik PNS. (5) Melakukan organisasi pembelajar (learning organizations) yang konsisten dan berkelanjutan. (3) Optimalisasi penegakan kode etik PNS.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful