P. 1
Bioekologi Berbagai Jenis Serangga Pengganggu Peternakan Di Indonesia Dan Pengendaliannya

Bioekologi Berbagai Jenis Serangga Pengganggu Peternakan Di Indonesia Dan Pengendaliannya

|Views: 250|Likes:
Published by Nda Farida
bioekologi berbagai serangga pengganggu atau hama peternakan di indonesia
bioekologi berbagai serangga pengganggu atau hama peternakan di indonesia

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Nda Farida on Jul 04, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/10/2015

pdf

text

original

BIOEKOLOGI BERBAGAI JENIS SERANGGA PENGGANGGU PADA HEWAN TERNAK DI INDONESIA DAN PENGENDALIANNYA

Upik Kesumawati Hadi Bagian Parasitologi dan Entomologi Kesehatan Dept Ilmu Penyakit Hewan dan Kesmavet Fakultas Kedokteran Hewan IPB Bogor Jl. Agatis Kampus Darmaga Bogor 16880 email upikke@gmail.com

Perjuangan manusia melawan gangguan hama (Artropoda pengganggu) sudah dimulai semenjak ia tercipta di muka bumi ini. Sebagian hama menyerang manusia dan hewan ternak baik secara langsung dengan menghisap darahnya, maupun tidak langsung sebagai penular berbagai jenis penyakit atau sebagai pengganggu dengan caranya “nimbrung” di tempat peternakan sehingga menimbulkan gangguan fisik maupun psikis pada ternak dan orang yang di sekitarnya. Lingkungan peternakan yang umumnya berupa suatu kompleks bangunan kandang yang sering berdekatan dengan tempat tinggal manusia berikut berbagai fasilitas yang berhubungan dengan pelbagai hajat hidupnya, termasuk juga jalan, selokan, berikut tanaman pekarangan dan hewan-hewan peliharaan lainnya, merupakan sebuah ekosistem tersendiri yang unik. Lingkungan itu seringkali pada kenyataannya banyak dimanfaatkan oleh hama pengganggu sebagai habitat, tempat istirahat serta tempat mencari makan. Berbagai jenis hama tersebut hidup atau berada di lingkungan peternakan, yang keberadaannya dapat merupakan gangguan atau bahkan bahaya bagi para hewan ternak dan juga orang-orang di sekitarnya. Hama pengganggu peternakan yang berasal dari kelompok Arthropoda dikenal dengan istilah Ektoparasit, karena hidupnya di luar tubuh inangnya (hewan atau manusia). Ektoparasit ini ada yang bersifat obligat dan fakultatif. Yang bersifat obligat artinya seluruh stadiumnya, contohnya, kutu penghisap (Anoplura), menghabiskan seluruh waktunya pada bulu dan rambut. Kelompok yang bersifat fakultatif artinya ektoparasit itu menghabiskan waktunya sebagian besar di luar inangnya. Mereka datang mengganggu inang hanya pada saat makan atau menghisap darah ketika diperlukannya. Contohnya, kutu busuk (Hemiptera: Cimicidae), datang pada saat membutuhkan darah, setelah itu bersembunyi di tempat-tempat gelap atau celah-celah yang terlindung, jauh dari inangnya. Demikian juga yang dilakukan oleh berbagai jenis serangga penghisap darah dari Ordo Diptera, khususnya famili Culicidae (nyamuk, agas, mrutu, lalat punuk), Tabanidae (lalat pitak, lalat menjangan), lalat kandang (Stomoxys calcitrans), dan lalat kerbau (Haematobia exigua). Ektoparasit yang banyak dijumpai di peternakan Indonesia antara lain adalah berbagai jenis kutu (Phthiraptera), kutu busuk (Hemiptera), kutu franki (Coleoptera), lalat (Muscidae), nyamuk (Culicidae), kecoa (Dyctioptera), pinjal (Siphonaptera). tungau (Parasitiformes), dan caplak (Acariformes), Peranan ektoparasit dalam kehidupan hewan maupun manusia sangat merugikan karena dengan adanya kegelisahan itu dapat membuatnya lupa makan, sehingga dapat menurunkan status gizi, produksi daging atau telur secara drastis.

1

Forcipomyia (subgenus Lasiohelea). lalat rumah membutuhkan waktu 8-10 hari pada suhu 30 0C dalam satu siklus hidupnya. larva. dan jenis lalat hijau di ternak yang digembalakan di padang rumput adalah Chrysomyia bezziana. kemudian terbang. Di Indonesia. suhu udara yang menyimpang dan curah hujan yang berlebihan. Lalat dewasa muncul. dari telur. pupa dan dewasa. Di daerah tropika. Konsep pengendalian hama pada hewan ternak juga diberikan pada akhir tulisan ini. tergantung suhu. Umumnya larva lalat mengalami empat kali molting selama hidupnya. nyamuk. Populasi lalat yang tinggi atau melimpah dapat mengganggu ketentraman hewan dan manusia karena menimbulakn ketidak nyamanan sekitar dan dapat menularkan berbagai jenis penyakit gangguan pencernaan akibat berbagai jenis bakteri yang ditularkannya. kutu. kualitas makan. caplak dan tungau. Stadium pupa bisa beberapa hari. kelembaban udara dan curah hujan adalah komponen cuaca yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas makhluk hidup di alam. sampah yang telah membusuk dan penuh dengan bakteri dan organisme patogen lainnya. Lalat ini berkembang biak pada habitat di tumpukan kotoran. Setelah itu berubah menjadi pupa. dengan 4 genus di antaranya menyerang hewan berdarah panas lainnya dan manusia. Suhu lingkungan. lalat hijau yang umum di daerah peternakan dan permukiman adalah Chrysomyia megacephala. minggu atau bulan. Agas atau Mrutu (biting midges) Agas termasuk Famili Ceratopogonidae.Berikut ini disebutkan beberapa jenis hama yang umum dijumpai pada lingkungan peternakan antara lain berbagai jenis lalat. Lalat Lalat yang berada di sekitar kandang ayam adalah lalat rumah Musca domestica dan lalat hijau Chrysomya megacephala. Keempat genus tersebut adalah Culicoides. Lalat ini menghisap darah hewan dan cenderung tetap di luar rumah di tempat yang terpapar sinar matahari. pinjal. Austroconops dan Leptoconops. Lalat kandang Stomoxys calsitrans siklus hidup berkisar 3-5 minggu pada kondisi optimal. dan yang betina setelah itu akan bertelur. meskipun demikian Culicoides adalah yang paling mendapat perhatian utama. Kebanyakan larva yang bersifat terestrial ini cenderung meninggalkan medium larva menuju tempat yang lebih kering untuk pupasi. Periode makan ini bisa berlangsung beberapa hari atau minggu. Larva lalat amat rentan terhadap kelembaban udara.. Populasi lalat meningkat tergantung musim dan kondisi iklim. Telurnya diletakkan dalam medium yang dapat menjadi tempat perindukan larva. mencari pasangan untuk kawin. Larva seringkali makan dengan rakus. Di Indonesia tercatat sebanyak 100 spesies Culicoides tersebar di 19 daerah propinsi di 2 . jenis lalat dan faktor lain. dan di kandang sapi umumnya lalat kandang Stomoxys calcitrans. dan tersedianya tempat perindukan yang cocok. Semua lalat mengalami metamorfosis sempurna dalam perkembangannya.

Bagian dorsal toraks terdapat liang humerus (humeral pits). sedang yang jantan menghisap cairan tumbuh-tumbuhan. panjang dan berputar berbelit masuk ke dalam dasar lumpur. huffi. 3 . sumatrae. berbentuk khas. Pupanya berukuran 2-4 mm. sedangkan ahli-ahli dari Inggris.410 mikroliter). serta tanah yang lembab tempat berkembang biak yang disukainya. yaitu dari telur. Culicoides betina mengigit dan menyerang hewan pada waktu senja hari dan malam hari yang tenang. dan C. pangkal batang pisang. peregrinus. pada beberapa spesies berbintik-bintik (bertotol-totol). pupa dan dewasa. Spesies yang umum dijumpai antara lain adalah Culicoides fulvus. C. oxystoma. Peranan Culicoides dalam dunia kesehatan adalah sebagai penghisap darah yang sangat mengganggu dan juga sebagai vektor penular Leucocytozoonosis pada ternak unggas. sebagian besar tidak bermata. larva. C. Hanya lalat betina yang mengisap darah (0. Jerman dan Australia menempatkan dalam satu ordo tunggal yaitu Phthiraptera dengan sub ordo Anoplura (kutu penghisap). lonjong dengan sepasang corong pernafasan di daerah toraks.Indonesia. bening dan berambut halus. toraks sedikit bongkok dan menonjol ke atas kepala. bentuk tubuh yang pipih dorsoventral. C. C. guttifer. Pada siang hari lalat berkerumun di dekat kolam dan rawa-rawa. Sayapnya sempit dengan sedikit venasi tanpa sisik-sisik sayap (scales). berbentuk lonjong diletakkan satu persatu. Oleh karena itu secara morfologi kutu ini sudah beradaptasi dengan cara hidupnya. Mallophaga (kutu penggigit) dan Rhynchophthirina (kutu gajah).. dan toraks yang terdiri dari tiga ruas. Lalat dewasa keluar dari pupa dalam waktu 3 sampai 5 hari. Ketika istirahat sayap terlipat di atas abdomen. Telurnya berukuran 350-450 um. Telur diletakkan pada tanaman atau bahan tumbuh-tumbuhan dalam air dangkal misalnya tepi kolam dan lubang-lubang pohon. Antenanya panjang terdiri atas 14 segmen sedangkan palpi terdiri atas 5 segmen.5-5. Periode larva ini berlangsung selama 1-12 bulan. tanpa angin. dan memiliki enam tungkai atau kaki yang kokoh dengan kuku yang besar pada ujung tarsus yang bersama dengan tonjolan tibia berguna untuk merayap dan memegangi bulu atau rambut inangnya. bagian mulut disesuaikan untuk menusuk-isap atau untuk mengunyah. Habitat telur dan larva bersifat akuatik atau semiakuatik. misalnya dengan tidak memiliki sayap. Culicoides dewasa berukuran sangat kecil (1. palpifer.139-0. Kebanyakan ahli Amerika menempatkan kutu dalam dua ordo yaitu Anoplura dan Mallophaga. 2000). parahumeralis (Hadi et al. setelah itu berubah menjadi pupa. Kutu (Lice) Kutu merupakan serangga ektoparasit obligat karena seluruh hidupnya berada pada dan tergantung pada tubuh inangnya. C. tempat ia makan sisa tumbuhan dengan mandibulanya yang bergerigi. C.0 mm). bahan-bahan yang telah membusuk seperti batang pepaya. Culicoides mengalami metamorfosis sempurna. mempunyai kepala. Larvanya berbentuk seperti cacing berwarna putih. Dalam waktu kira-kira tiga hari kemudian telur menetas menjadi larva yang halus. dan bahkan pada lubang tempat kotoran sapi. orientalis. serta abdomen dengan 9 ruas. C.

dan makin tua umurnya makin berwarna gelap. Linognathus ovillus. dan L. Columbicola columbae pada burung merpati dang unggas liar lainnya. diletakkan pada celah dan retakan di dalam manure atau litter dan akan menetas dalam waktu 3 sampai 6 hari menjadi larva. Larva akan menembus kayu-kayu kandang. tuberculatus pada sapi dan kerbau. Kutu ini dapat mejadi hama pada peternakan ayam. Kutu Alphitobius diaperinus meletakkan telurnya di litter pada alas atau kolong kandang. Secara umum daur hidup ini sangat tergantung pada suhu. Telur kutu disebut nits (lingsa. dan Haematomyzus elephantis pada gajah. nimfa instar pertama sampai ketiga lalu dewasa. Goniodes gigas. dinding dan bahkan selubung kabel. Ketika berada di dalam kerangka kayu ini. banyak ditemukan di manure. Jumlah telur yang dihasilkan oleh seekor induk kutu mencapai 10–300 butir selama hidupnya. stenopsis pada domba dan kambing. Setelah itu larva berubah menjadi pupa. Goniocotes dissimilis.Telur berukuran 1. Telurnya berukuran 1–2 mm. Haematopinus eurysternus dan H. Kutu kepala dan badan ternyata merupakan varietas dari satu spesies. dan Lipeurus caponis pada ayam. Kutu Frengki (lesser mealworms) Alphitobius diaperinus atau lebih dikenal oleh praktisi sebagai kutu frenki tergolong ordo Coleoptera dengan ciri umum sayap depan tebal sebagai pelindung sayap belakang (elitron).5 mm berwarna krem keputihan. Keduanya dapat melakukan perkawinan (interbreeding). 4 . Warna nimfa dan kutu dewasa keputih-putihan. Cuclotogaster heterographus. yang direkatkan pada bulu (rambut) inangnya dengan semacam zat semen pada bagian ujung dasar telur. panel. Frengki ini memakan tepung. Adapun jenis-jenis kutu yang menyerang manusia terdiri atas tiga subspesies yaitu Pediculus humanus capitis (kutu kepala). Kutu mengalami metamorfosis tidak sempurna. larva banyak menimbulkan kerusakan-kerusakan. Stadium pupa berlangsung 3-10 hari dan berubah menjadi dewasa. Damalinia ovis. Heterodoxus longitarsus dan Trichodectes canis pada anjing.Secara umum jenis-jenis kutu yang banyak menyerang hewan di Indonesia adalah Menopon gallinae. Felicola subrostratus pada anjing. bahkan bisa berpindah ke bangunan yang ada di sekitarnya. Jawa). Larva beruas-ruas dan mempunyai tiga pasang kaki.. dan dilipat di bawah elitra. dan kacang-kacangan yang lembab dan telah berjamur yang banyak terdapat di sekitar peternakan ayam. berwarna putih dan pada beberapa jenis permukaan telur bercorak-corak dan dilengkapi dengan operkulum. berbentuk oval. kedelai. Frengki dewasa bisa hidup selama 3 bulan sampai satu tahun. humanus corporis (kutu badan) dan Phthirus pubis (kutu kemaluan). Pasangan sayap belakang bening. gudang pakan. P. Serangga ini mengalami metamorfosis sempurna. beras. mulai dari telur. Seluruh tahap perkembangannya secara umum berada pada inangnya. gudang pakan. makanan ayam secara berkelompok dalam jumlah banyak. bertemu pada satu garis lurus ke mediodorsal. Telur menetas menjadi nimfa (kutu muda)setelah 5–18 hari tergantung jenis kutu. Kutu dewasa bisa hidup 10 hari hingga beberapa bulan. dan dalam keadaan istirahat. Menacanthus stramineus. keturunannya fertil dan perbedaan morfologinya juga sedikit. caprae. Bagian-bagian mulutnya disesuaikan untuk menggigit. Larva ini berwarna kuning sampai coklat. D.

yang disebabkan oleh Yersinia pestis dan Ricketssia typhi. felis juga merupakan inang antara cacing filaria Dipetalonema reconditum. Tunga penetrans betina dapat bersarang pada kulit manusia atau babi. Pinjal betina akan meninggalkan inangnya untuk meletakkan telurnya pada tempat-tempat yang dekat dengan inangnya. larva. atau kadang-kadang di antara bulu-bulu inangnya. Ctenocephalides canis dan C. Lamanya siklus hidup pinjal dari telur hingga dewasa berkisar antara 2–3 minggu pada kondisi lingkungan yang baik. Pinjal C. Echidnophaga (pinjal ayam). Hanya tahap dewasa yang menghisap darah. Ordo Siphonaptera terdiri atas beberapa famili. Kondisi pupa yang berada dalam kokon seperti itu merupakan upaya perlindungan terhadap sekelilingnya. setelah itu berubah menjadi pupa yang terbungkus kokon. terutama pada ujung-ujung jari kaki atau di 5 . felis berperan sebagai inang antara cacing pita Dipylidium caninum dan Hymenolepis diminuta. Dari famili ini. oleh karena itu sering dikatakan sebagai ektoparasit penghisap darah yang eksklusif. di antara debu dan kotoran organik. Larva pinjal sangat aktif. pada pakaian atau tempat tidur manusia. yang didahului dengan telur. Pinjal anjing dan kucing. Selain itu dalam dunia kesehatan. canis. Adapun pinjal chigoe. seperti sarang tikus. terdapat beberapa genus yang penting yaitu Tunga (pinjal chigoe). Pulex (pinjal manusia) dan Xenopsylla (pinjal tikus). Sampai saat ini diketahui terdapat sekitar 2500 jenis pinjal dari 239 genera. Pinjal mengalami metamorfosis sempurna. Pinjal dewasa akan menghindari cahaya. Baik pinjal betina maupun yang jantan keduanya menghisap darah beberapa kali pada siang atau malam hari. canis dan C. tetapi yang terpenting sebagai ektoparasit adalah famili Pulicidae. pupa kemudian dewasa. Pinjal tidak memiliki sayap. celahcelah lantai atau karpet. Tubuhnya berbentuk pipih bilateral dan mempunyai kakikaki yang panjang terutama kaki belakang. Ctenocephalides (pinjal kucing dan anjing). Tahap dewasa akan keluar 7–14 hari setelah terbentunya pupa. dan akan tinggal di antara rambut-rambut inang. hal ini merupakan bentuk adaptasi untuk tinggal dan menghisap darah di antara bulu-bulu inangnya. Larva instar terakhir bisa mencapai panjang 4–10 mm. Telurnya menetas dalam waktu 2–24 hari tergantung jenis pinjal dan kondisi lingkungan. Ctenocephalides felis. Larvanya terdiri atas 3-4 instar (mengalami 2–3 kali pergantian kulit instar) dengan waktu berkisar antara 10–21 hari. Frengki tidak akan terlihat dalam jumlah banyak sampai manure mulai menumpuk paling tida 20-24 minggu. C. makan berbagai jenis bahan organik di sekitarnya termasuk feses inangnya. Adapun jenis-jenis yang sering dijumpai sebagai ektoparasit utama dan menimbulkan masalah di Indonesia adalah Pulex irritans. Pinjal (Flea) Serangga ektoparasit ini bersifat semiobligat atau temporer. dan Xenopsylla cheopis. karena tidak seluruh siklus hidupnya berada pada tubuh inangnya. pinjal tikus Xenopsylla cheopis berperan sebagai vektor penyakit pes (sampar).waktu yang diperlukan untuk perkembangan dari telur hingga menjadi dewasa menjadi singkat dengan meningkatnya suhu. Dari jumlah ini 94% di antaranya menyerang mamalia sedangkan sisanya merupakan parasit pada burung. Gangguan utama yang ditimbulkan oleh pinjal adalah gigitannya yang mengiritasi kulit dan cukup mengganggu.

Lipas atau Kecoa Jenis-jenis lipas yang paling banyak terdapat di lingkungan peternakan dan permukiman di Indonesia adalah Periplaneta americana dan Blatella germanica. Kepinding jantan dan betina menghisap darah sejak dari tahap nimfa hingga dewasa. Tanpa gangguan. kepinding bersembunyi pada tempat-tempat yang gelap seperti celah-celah kandang atau alas kandang yang juga menjadi tempat bertelur dan menetap kutu busuk. Kutu Busuk (Bed bug) Kepinding atau kutu busuk termasuk serangga ektoparasit dari ordo Hemiptera. Famili Cimicidae dan jenis yang terdapat di Indonesia adalah Cimex hemipterus . Perkembangan sejak dari tahap telur hingga dewasa membutuhkan waktu sekitar enam minggu hingga beberapa bulan tergantung temperatur dan ketersediaan bahan makanan. Pada siang hari. Gangguan kepinding terhadap inang terutama akibat gigitannya untuk memperoleh darah. sehingga kepinding dikenal tidak memiliki sayap. Selain itu sifatnya yang lincah. Pada ternak dan beberapa orang. Cara mencari makan demikian juga menyebarkan 6 . sehingga biasanya akan digaruk berulangulang. kepinding dewasa dapat menghisap darah selama 10–15 menit. selalu berkeliaran mencari makan kesana kemari pada malam hari (nokturnal) baik di rumah maupun di tempat-tempat kotor di luar rumah. permukiman dan perusahaan yang berkaitan dengan industri makanan. dan akan berubah menjadi coklat tua dan membengkak setelah menghisap darah. terutama pada infestasi kepinding dalam waktu yang panjang. gigitan kepinding menimbulkan reaksi gatal dan diikuti peradangan lokal. Kepinding memiliki tubuh yang berbentuk oval dan pipih dorso-ventral dengan panjang sekitar 4-7 cm. Berwarna merah kecoklatan dan mengkilat. dan akan kembali menghisap darah setelah tiga hari. nimfa dan kemudian dewasa. gigitan kepinding tidak menunjukkan gejala apapun. kepinding mengalami metamorfosis yang tidak sempurna yang diawali dengan tahap telur.bawah kukunya dan menyebabkan pembengkakan berupa nodul-nodul abses yang menyakitkan . sedangkan sayap belakang menghilang. Dalam perkembangannya. Lipas tergolong serangga yang tidak disukai kehadirannya oleh penghuni daerah peternakan. Gigitan kepinding biasanya ditandai dengan benjolan kecil keputihan dikulit yang apabila digaruk berulang-ulang akan berdarah. Pada keadaan ini aktifitas tidur dan lainnya menjadi terganggu. dan berakibat timbulnya infeksi sekunder. Pasangan sayap depan kepinding telah bermodifikasi menjadi tonjolan hemelitra. di malam hari saat ternak atau orang sedang tidur. Sebaliknya pada orang yang belum pernah.

Nyamuk Nyamuk tersebar luas di seluruh dunia mulai dari daerah kutub sampai ke daerah tropika. Kehidupan lipas berawal dari telur.500 meter di bawah permukaan tanah di daerah pertambangan. Ooteka ini diletakkan pada sudut barang/perabotan yang gelap dan lembab. jumlahnya bervariasi 5-13 instar sebelum menjadi lipas dewasa. Ooteka ini bentuknya seperti dompet. Nyamuk termasuk ke dalam odo Diptera. Lipas tumbuh dan berkembang dengan cara metamorfosis sederhana. setiap instar diakhiri dengan proses menyilih (ganti kulit) dan berukuran semakin membesar. Disamping itu lipas mempunyai perilaku mengeluarkan makanan yang baru dikunyah atau memuntahkan makanan dari lambungnya. dan Anophelinae (Anopheles). americana umumnya merupakan penghuni dinding bak septik dan saluran air limbah peternakan dan akan berkelana mencari makan padamalam hari. ootheca menempel di bagian abdomen atau dibawa kemana mana samapai saatnya menetas. Ooteka pada setiap jenis berbeda dan bisa digunakan sebagai alat bantu dalam menentukan spesies apa dalam suatu tempat. Mansonia. bakteri. Dalam stadium ini seekor betina dapat menghasilkan 4-90 ooteka. Culicinae (Aedes). Celah dan retakan merupakan tempat persembunyian dan perkembangbiakan yang disukainya. Di daerah tropis telur menetas dalam periode 42-81 hari tergantung pada suhu. tumbuh menjadi beberapa instar. Nyamuk di 7 . Lipas dianggap sebagai pengganggu kesehatan karena kedekatannya dengan hewan. Armigeres. cacing dan fungi (cendawan). manusia dan umumnya berkembang biak dan mencari makan di daerah yang kotor. dengan 3 subfamili yaitu Toxorhynchitinae (Toxorhynchites). piring atau barang-barang lain yang dilaluinya. kemudian nimfa dan dewasa. seperti tempat sampah. Adapun B.000 meter di atas permukaan laut sampai pada kedalaman 1. warnanya coklat sampai hitam kecoklatan. saluran pembuangan. tidak senang berkelana. kelembaban lingkungan. suhu dan kelembaban lingkungan. berwarna keputih-putihan dan belum bersayap. Stadium ini berlangsung 6 bulan sampai dengan 3 tahun tergantung pada jenis lipas. Telur menetas menjadi nimfa yang kecil. Pada beberapa jenis. protozoa.penyakit manusia dengan meletakkan agen penyakit pada makanan. sehingga semua stadium dapat ditemukan pada setiap saat dalam satu tahun. Culex. Kehidupan bergerombol pada lipas hanya berkait dengan habitat atau tempat huninya. bergerombol. Makanan serangga ini dari makanan yang masih dimakan manusia sampai dengan kotoran manusia. Karena sifat inilah. Agen penyakit yang dapat ditularkan oleh lipas adalah berbagi jenis virus. famili Culicidae. tertutup dan gelap. Generasinya tumpang tindih. Lipas dewasa berumur beberapa bulan bahkan sampai dengan dua tahun. Nimfa berkembang agak lambat. yaitu berupa ruang atau rongga yang lembab. dan septik teng. germanica umumnya hidup di dalam gedung hunian manusia yaitu pada celah-celah dinding dan plafon. dapat dijumpai pada ketinggian 5. Jumlah instar sangat spesifik untuk setiap jenis lipas. mereka mudah menularkan penyakit pada manusia. P. Betina meletakkan telurnya tidak satu persatu di alam akan tetapi sekumpulan telur (16-50 butir) secara teratur di dalam satu kantung yang disebut dengan ooteka.

Nyamuk ini selain menjadi pengganggu karena gigitannya yang menimbulkan kegatalan pada hewan dan menularkan penyakit malaria unggas yang disebabkan oleh Plasmodium gallinaceum. sedangkan yang betina dapat mencapai 2 minggu lebih di alam dan bisa menghisap darah berbagai jenis hewan atau manusia. sangat singkat hidupnya dan makanannya adalah cairan tumbuhan atau nektar. An. kolam. Nyamuk dewasa bisa tinggal di sekitar tempat perindukannya. selokan. Nyamuk merupakan serangga yang sangat sukses memanfaatkan air lingkungan. kulit pupa tersobek oleh gelembung udara dan oleh kegiatan bentuk dewasa yang melepaskan diri. Nyamuk yang berada di sekeliling rumah seperti Culex quinquefasciatus. Siklus hidup bisa lengkap dalam waktu satu mingggu atau lebih tergantung suhu. sedangkan pada yang betina skutum hanya menutupi sepertiga bagian tubuh anterior tubuh. di bawah suhu 10 OC tidak ada perkembangan. saluran irigasi. albopictus. Famili Ixodidae. An. aegypti dan Ae. pupa dan dewasa. sedangkan sisanya tidak termasuk begitu mengganggu (O’Connor dan Sopa. Ae. dan An. dan lain-lain. nyamuk rawa-rawa seperti Mansonia uniformes. termasuk air alami dan air sumber buatan yang sifatnya permanen maupun temporer.Indonesia terdiri atas 457 spesies. tetapi dapat diperpanjang sampai 10 hari pada suhu rendah. bovine ephemeral virus. diantaranya 80 spesies Anopheles. Bentuk pupa yaitu fase tanpa makan dan sangat sensitif terhadap pergerakan air. air payau. Pupa menjadi dewasa di atas permukaan air yang tenang. tetapi membutuhkan 7 hari pada 16 OC. meskipun harus tetap dalam lingkungan yang lembab. Tubuh caplak keras bentuknya bulat telur dan mempunyai kulit (integumen) yang liat dan mempunyai 4 pasang kaki. makanan. maculatus. spesies dan faktor lain. 125 Aedes. air bebatuan. Larva dan pupa memerlukan air untuk kehidupannya. Oleh karena 8 . Stadium ini hanya berlangsung dalam waktu 2-3 hari. An.albopictus. nyamuk demam berdarah seperti Aedes aegypti dan Ae. vagus. An kochi.. kaleng bekas dan lain lain dapat berperan sebagai tempat bertelur dan tempat perkembangan larva nyamuk. sundaicus. nyamuk kebun. Nyamuk dewasa jantan umumnya hanya tahan hidup selama 6 sampai 7 hari. sedangkan telur pada beberapa spesies seperti Aedes aegypti dapat tahan hidup dalam waktu lama tanpa air. Larva mengalami 4 kali pergantian kulit (instar) dan segera berubah menjadi pupa. 82 Culex. Telur yang diletakkan di dalam air akan menetas dalam waktu satu sampai tiga hari pada suhu 30OC. nyamuk rumah seperti Culex quinquefasciatus. Armigeres subalbatus dan nyamuk gajah seperti Toxorhynchites amboinensis. tapi bisa juga terbang beberapa kilometer. Di dalam siklus hidupnya. aliran air. barbirostris. Bagian dorsal caplak ini mempunyai skutum atau perisai yang menutupi seluruh bidang dorsal tubuh pada caplak jantan. bendungan. Caplak Keras (Hard Tick) Caplak Keras termasuk Kelas Arachnida. tumbuh dan berkembang dalam genangan air di sekitar kediaman kita. nyamuk mengalami metamorfosis sempurna (holometabola) yaitu telur. septik teng. 1981). larva (jentik). Danau. tergantung spesies dan faktor lain. Waktu menetas (ekslosi). Beberapa contoh jenis nyamuk yang terdapat di Indonesia adalah nyamuk malaria seperti Anopheles aconitus. cacing jantung anjing (Dirofilaria immitis). sangat aktif jungkir balik di air. 8 Mansonia.

R. setelah kenyang akan jatuh ke tanah dan molting menjadi caplak dewasa. Caplak berumah dua yaitu larva dan nimfa tinggal dalam satu inang sedangkan dewasa tinggal dalam inang yang lain. Satu siklus daur hidup berkisar antara 6 minggu sampai tiga tahun. H. kucing. hystricis. beberapa jenis caplak ini juga menghasilkan toksin (ixovotoxin) yang mempengaruhi susunan syaraf pusat dan neuromuscular junction sehingga menimbulkan kelumpuhan (tick paralysis). setelah jatuh dan berganti kulit menjadi nimfa segera mencari inang kedua. Contohnya Haemaphysalis. H. Caplak dapat menularkan penyakit melalui dua cara yaitu secara transtadial dan trasovarial. sedangkan secara transovarial artinya caplak dewasa betina yang terinfeksi patogen akan dapat menularkannya pada generasi berikutnya melalui sel-sel telur. kuda. Setelah mendapatkan inangnya. Daur hidupnya diawali dari telur yang diletakkan induknya di tanah. dan Dermacentor auratus. Jenis-jenis tersebut adalah Amblyomma testudinarium. nimfa maupun dewasa mampu menjadi penular patogen. berumah dua dan berumah tiga. H. Secara transtadial artinya setiap stadium caplak baik larva. Contohnya Amblyomma. nimfa dan dewasa) tinggal dalam satu inang yang sama. kambing. cornigera. ia akan menghisap darah inang hingga kenyang (enggorged) lalu akan jatuh ke tanah atau tetap tinggal pada tubuh inang tersebut dan segera berganti kulit (molting) menjadi nimfa. Caplak sangat tahan terhadap perubahan fisik misalnya terendam air. Caplak keras sering ditemukan pada hewan-hewan domestik seperti sapi. Boophilus microplus. kerbau. contohnya caplak sapi Boophilus microplus.18. Caplak berumah satu yaitu semua stadiumnya (larva. Yang dewasa dapat bertelur sekitar 100 . 9 . lalu jatuh ke tanah dan disinilah ia bertelur. Nimfa yang kenyang darah akan menjatuhkan diri dan berkembang menjadi caplak dewasa. Garukan yang hebat dapat menimbulkan infeksi sekunder oleh bakteri. begitu pula proses pergantian kulit (molting) dan perkawinan. Caplak dewasa setelah kawin akan menghisap darah sampai kenyang. H. nimfa dan dewasa masingmasing memerlukan inang yang berbeda. Caplak dewasa makan dan kawin pada inang ketiga. dan unggas di berbagai wilayah di Indonesia. Setelah caplak dewasa kenyang darah barulah ia menjatuhkan diri dan bertelur di tanah. Selain sebagai pengganggu.itu tubuh caplak betina dapat berkembang lebih besar dari pada yang jantan setelah menghisap darah. jadi dalam melengkapi siklus hidupnya caplak memerlukan dua inang. Larva berada pada inang pertama sampai kenyang menghisap darah. anjing. Rhipicephalus haemaphysaloides. Larva yang baru menetas segera akan mencari inangnya dengan pertolongan benda-benda sekitarnya serta bantuan alat olfaktoriusnya. domba. sanguineus. kekeringan atau ketidakadaan makanan dalam waktu berbulan-bulan.000 butir/caplak. Berdasarkan jumlah inang yang diperlukan caplak dalam melengkapi satu siklus daur hidupnya dikenal istilah caplak berumah satu. Beberapa jenis caplak keras berperan sebagai vektor berbagai penyakit. Matanya baik pada yang jantan maupun betina terletak pada sisi lateral skutum. papuana. Nimfa menghisap darah kembali. Caplak berumah tiga yaitu setiap stadium larva. wellingtoni. caplak juga merupakan penghisap darah yang ganas sehingga inang yang terserang menjadi anemia dan teriritasi. Haemaphysalis bispinosa.

Bentuk telurnya kecil. Larva dapat hidup tanpa makan selama kira-kira tiga bulan. Asia dan beberapa negara di Afrika. Larva menetas setelah 3 minggu atau lebih. seringkali menempel pada sayap dan kenyang darah dalam waktu 7 hari. Larva caplak lunak ini bentuknya bulat dan akan menjadi gendut bila kenyang darah. Famili Argasidae Jenis yang paling banyak dijumpai adalah Argas persicus dan A. Seperti halnya Argasidae yang lain. Caplak ini sangat mengganggu inangnya sehingga ia tidak dapat tidur atau istirahat sepanjang malam.5-6 mm dan bentuknya oval. Argas robertsi memiliki dua tahap nimfa yang masing-masing perlu waktu dua minggu dan kenyang darah.Caplak Lunak (Soft tick) Caplak lunak termasuk kedalam Ordo Parasitiformes. Tungau (Mites) Tungau termasuk ke dalam Ordo Acariformes. Kebanyakan tungau hidup bebas di alam (free living) sedangkan yang hidup sebagai ektoparasit hanya beberapa jenis saja. penurunan produksi telur dan daging. Demodex canis pada 10 . perbedaan jantan dan betina caplak ini sedikit sekali. robertsi merupakan ektoparasit ayam. bisa 8 kali maksimal. kalkun. Caplak lunak ini yang betina bertelur di celah-celah kandang ayam. Knemidocoptes mutans pada unggas. Caplak kenyang darah mempunyai warna kebiru-biruan. Jenis-jenis yang paling banyak dijumpai di Indonesia antara lain adalah Sarcoptes scabiei penyebab kudis pada manusia dan hewan Psoroptes ovis pada domba. caplak lunak hanya menyerang inangnya bila menghisap darah. liang-liang tanah. Yang dewasa makan sebulan sekali atau lebih. robertsi. Caplak lunak ini tersebar di Eropa. retakan-retakan bangunan atau di bawah celah-celah pohon yang terlindung. Nimfa dan dewasa dapat bertahan tanpa makan selama kira-kira lima tahun. makan darah selama kira-kira dua jam. Nimfa dan dewasa bersembunyi di tempat terlindung dan akan menyerang inangnya pada malam hari. demikian pula halnya nimfa dan yang dewasanya. Larva akan mencari inangnya sendiri. angsa. burung unta dan juga dapat menggigit manusia. Stadia nimfa pada Argasidae berganti kulit beberapa kali. bulat. Bagian pinggiran tubuhnya tajam. Argas robertsi adalah jenis caplak lunak yang banyak dijumpai pada ayam di Indonesia. burung kenari. bagian depan lebih sempit daripada posterior. Caplak ini yang dewasa berukuran 4-10 x 2. merupakan ektoparasit yang kecil (kurang dari 1 mm) dan hampir tidak kasat mata. Perbedaan kelamin hanya bisa dilihat pada bentuk lubang genital yang letaknya di bagian anterior permukaan ventral yaitu yang jantan lebih besar daripada yang betina. burung merpati. Otodectes cynotis penyebab otitis pada anjing. Infestasi caplak yang tinggi dapat menimbulkan anemia. dan yang betina akan bertelur setiap setelah makan. Argas persicus dan A. Berbeda dengan Ixodidae. coklat dan diletakkan dalam kelompok yang terdiri atas 20-200 butir. sedang yang belum makan darah berwarna coklat kekuningan dan saluran usus yang berwarna hitam tampak dari luar. Argasidae adalah caplak yang senang hidup di sarang inangnya.

Cara-cara pengendalian hama pada hewan ternak dapt dilakukan secara fisik/ mekanik (pengelolaan lingkungan). misalnya jentik nyamuk atau belatung lalat. Stadium larva ini tidak menghisap darah tetapi berganti kulit dalam waktu sekitar 17 jam menjadi protonimfa yang mulai menghisap darah unggas. Bentuk deutonimfa tungau Astigmata bentuknya berbeda dengan tungau yang lain dan juga perilakunya. Bentuk nimfa sudah mirip dengan yang dewasa tetapi alat kelaminnya belum berkembang. Telur akan berubah menjadi larva yang mempunyai tiga pasang tungkai. Tungau yang banyak menyerang ayam kampung di Indonesia adalah Ornithonyssus bursa Tahap awal kehidupan tungau dimulai dari telur. Cara-cara tersebut dapat dilakukan sepanjang hasilnya dapat efektif dan efisien tertuju kepada stadium hama yang paling rawan (terhadap tindakan itu). Telurnya akan menetas dalam waktu tiga hari. Tindakan sanitasi lingkungan 11 . mudah dilaksanakan. agen biotik (musuh alami) dan paduan dari cara-cara tersebut (pengendalian terpadu). Oleh karena itu tidak digunakan istilah pemberantasan melainkan pengendalian hama. tidak memerlukan biaya terlalu besar. biologis serta sosial-ekonomis dengan lingkungan di sekitarnya. unggas lainnya. dan Ornitonyssus bursa pada unggas. Jadi selama lapangan atau areal yang kita hadapi masih berupa lingkungan yang mempunyai hubungan bebas secara fisik. kecuali di dalam suatu lokasi yang amat terbatas dan benar-benar terisolasi dari populasi-populasi lainnya. dan menyebar menjadi larva dengan tiga pasang tungkai. dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Pengendalian Hama pada Hewan Ternak Pada prinsipnya hama tidak dapat diberantas habis. aman bagi manusia maupun makhluk bukan sasaran. Tahap nimfanya sangat panjang dan dapat dibagi menjadi protonimfa. Seekor tungau mampu menghasilkan beberapa ratus sampai ribuan telur. Pemilihan cara pengendalian harus disesuaikan dengan spesies hama yang akan ditindak serta dengan situasi dan kondisi setempat. Tungau ini terutama tersebar pada bulu-bulu sayap dan juga bagian tubuh lainnya. terutama saat mengeram. serta dapat diterima oleh kalangan masyarakat. maka prinsip pengendalian adalah hanya menekan populasi hama sampai ke tingkat yang tidak membahayakan. Tahap ini dikenal dengan hypopus dan sangat tahan terhadap perubahan lingkungan. mungkin hanya dewasanya saja atau keduaduanya dapat ditindak sekaligus ataupun bergantian. Sebagai contoh untuk suatu kandang ternak di lokasi lokasi tertentu akan lebih mudah dan efektif apabila yang dijadikan sasaran adalah stadium pradewasanya. Untuk lokasi lainnya. Pada tahap ini tungau tidak makan. Tungau ini tidak hanya mengganggu unggas tetapi dapat juga menyerang manusia yang berada di sekitarnya.anjing. Ornithonyssus bursa banyak ditemukan pada ayam. kimia (insektisida). tidak merugikan atau tidak merupakan gangguan bagi manusia. Setelah kenyang menghisap darah segera berganti kulit (molting) menjadi nimfa. deutonimfa dan tritonimfa. Setelah satu sampai dua hari berganti kulit lagi menjadi deutonimfa yang menghisap darah dan kemudian menjadi dewasa. Selain itu perlu diingat bahwa bahwa tindakan ini tidak mengganggu kelestarian dan keseimbangan alam lingkungan yang bersangkutan. Periode larva dapat bertindak sebagai ektoparasit. Ia mempunyai alat pelekat untuk menempelkan tubuhnya pada serangga lain atau benda-benda di sekitar kandang.

formulasi mana yang paling tepat. Memilih alternatif cara pengendalian. tidak sekedar menyemprot tanpa tanggung jawab. maka sasaran pengendaliannya adalah dengan menghilangkan habitat yang disukai lalat. Apabila urutan langkah ini dijalankan maka pengendalian hama akan terlaksana secara konsepsional sesuai dengan program integrated pest management. diselang-seling dengan penggunaan pestisida dapat dilakukan? Untuk menjawab hal ini perlu monitoring populasi hama secara terus menerus. Apabila keadaan mengharuskan penggunaan pestisida. Oleh karena itu. Bagaimana daur hidup. Menentukan cara aplikasinya. waktu dan perilaku makan. kapan waktunya. mencari makan dan untuk berisitirahat dan berlindung. sehingga dapat dipilih apakah perlu menggunakan pestisida ataukah cukup dengan pengelolaan lingkungan atau keduanya. 3. residual spraying (penyemprotan permukaan). pencemaran dan timbulnya resistensi pada populasi hama serangga sasaran setelah beberapa generasi. Sebagai contoh pada aplikasi space spray . Mengetahui sifat dan cara hidup (bioekologi) hama sasaran. Mengetahui identitas hama sasaran. habitat. Masalah hama di lingkungan peternakan dan permukiman sesungguhnya merupakan hasil rekayasa manusia pemukimnya sendiri. bifentrin. Bagaimana cara aplikasi juga merupakan satu persoalan yang krusial. dan tempat-tempat pembusukan lainnya. Contoh insektisida yang saat ini banyak digunakan adalah golongan piretroid sintetik seperti sipermetrin.serta pemasangan barier fisik seperti kawat kasa mungkin lebih tepat bagi peternakan tertentu. Cara-cara aplikasi yang dapat dilakukan untuk hama penggannggu di peternakan dan permukiman adalah space spraying (penyemrotan ruang). 4. Urutan langkah pengendalian yang ideal adalah sebagai berikut: 1. Apakah cara-cara selain penggunaan pestisida bisa dilakukan? Ataukan harus digunakan pestisida? Andaikan ada cara lain diterapkan lalu. waktu merupakan hal yang sangat penting. Beberapa jenis serangga tertentu seperti lalat dan kecoa telah mengadaptasikan diri dengan kehidupan hean ternak dan manusia di lingkungan permukimannya. Jadi. tungau. waktu dan perilaku beristirahat. maka yang harus diingat adalah kemungkinan terjadinya berbagai akibat samping seperti kemungkinan keracunan langsung pada ternak dan makhluk bukan-sasaran lainnya. Sebagai contoh habitat lalat pradewasa adalah tumpukan kotoran hewan. dengan cara apa. jarak terbang atau pemencarannya? Informasi ini penting untuk bahan penyusunan strategi pengendalian. cara pengendalian hama peternakan dan 12 . baiting (pengumpanan) atau fumigasi. maka penyemprotan harus dilakukan pada saat serangga sasaran dalam keadaan aktif. Karena bersifat nonresidual. Golongan pestisida bermacam-macam dan masing-masing mempunyai target kerja terhadap serangga yang berbeda. Penggunaan yang terus menerus tidak terkendali dapat menimbulkan resistensi dan mengganngu ekosistem alam. serta siapa yang akan melakukannya. Di mana dilakukannya. lalat. sampah. Apakah hama yang akan dikendalikan. dengan menyediakan tempattempat untuk perkembang-biakan. 5. kalau melihat pertimbangan-pertimbangan di atas maka pengendalian hama itu sebenarnya memerlukan latar belakang pengetahuan yang luas. atau kutu dari jenis apa? 2. Memilih pestisida. permetrin dll.

Bogor 8-10 Maret 2005 Soulsby. Helminths. 12(1-2): 24-38. 7th Ed. Oregon: 509 hlm. 1978.W. or Ixodidae. Ketika populasi hama sudah mencapai tingkat mengganggu. S.V. Insects and other arthropods of medical importance. (Dalam) K. Beck. Syst. Parasitol. Entomology in human and animal health. Co. Freeman. 3: 249-284. New York. Laporan Akhir Penelitian Dasar Perguruan Tinggi. The scutate ticks. F. Oregon State University.H. Sigit. tempat mencari makan atau tempat berlindung dan bersembunyi. G. K.E. The English Language Book Society. 1950.. A manual of acarology. R. 13 . arthropods and protozoa of domesticated animal. S. 1981.W. Entomol. 1973b. Telaah nyamuk dalam hubungannya sebagai vektor potensial Dirofilariasis pada anjing di Bogor. Book Stores Inc. Smith (ed. maka perlu ditindak dengan menggunakan pestisida tapi dengan penuh kehati-hatian. G. The C. 2nd Ed. Medical and veterinary entomology. In.). Institut Pertanian Bogor : viii + 71 hlm. Telaah taksonomi dan penyebaran geografik Culicoides (Diptera: Ceratopogonidae) di Indonesia. 1999b. Krantz. agar tidak dapat digunakan sebagai tempat berkembang biak. & M. E.permukiman yang paling tepat adalah menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungannya. London: 181-187. 30: 1-144. Macmillan Publ. Davies. James. USA: vi + 548 hlm. 7th Ed.K. 1982.K. Toronto. Soviana. Sigit. 1979. British Museum of Natural History. Ind. Mosby Company. W. Kim. Ceratopogonidae (biting midges.2005. Entomologica Americana. Harwood. St. Hadi. U. J. London: viii + 355 hlm. & H. Bailliere Tindall.. L. London. Medical Parasitology. J. Sydney: 658 hlm. merugikan atau bahkan membahayakan terhadap ternak dan orang yang tinggal di sekitarnya. 1984.V. 2000. Hadi. Maj. Singgih H. of Indonesia. punkies). Ludwig.G. Kettle. & S. & J. The family classification of the Anoplura.C. 1978. P. Louis. sand flies.T. Cromm Helm Ltd. London: xi + 809 hlm. Masalah Hama Permukiman dan falsafah dasar pengendaliannya. Corvallis. Daftar Pustaka Anastos. Materi Kursus Reguler Pengenalan dan Pengendalian Hama Permukiman Peringkat Instar 1. D. U.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->