BIOEKOLOGI BERBAGAI JENIS SERANGGA PENGGANGGU PADA HEWAN TERNAK DI INDONESIA DAN PENGENDALIANNYA

Upik Kesumawati Hadi Bagian Parasitologi dan Entomologi Kesehatan Dept Ilmu Penyakit Hewan dan Kesmavet Fakultas Kedokteran Hewan IPB Bogor Jl. Agatis Kampus Darmaga Bogor 16880 email upikke@gmail.com

Perjuangan manusia melawan gangguan hama (Artropoda pengganggu) sudah dimulai semenjak ia tercipta di muka bumi ini. Sebagian hama menyerang manusia dan hewan ternak baik secara langsung dengan menghisap darahnya, maupun tidak langsung sebagai penular berbagai jenis penyakit atau sebagai pengganggu dengan caranya “nimbrung” di tempat peternakan sehingga menimbulkan gangguan fisik maupun psikis pada ternak dan orang yang di sekitarnya. Lingkungan peternakan yang umumnya berupa suatu kompleks bangunan kandang yang sering berdekatan dengan tempat tinggal manusia berikut berbagai fasilitas yang berhubungan dengan pelbagai hajat hidupnya, termasuk juga jalan, selokan, berikut tanaman pekarangan dan hewan-hewan peliharaan lainnya, merupakan sebuah ekosistem tersendiri yang unik. Lingkungan itu seringkali pada kenyataannya banyak dimanfaatkan oleh hama pengganggu sebagai habitat, tempat istirahat serta tempat mencari makan. Berbagai jenis hama tersebut hidup atau berada di lingkungan peternakan, yang keberadaannya dapat merupakan gangguan atau bahkan bahaya bagi para hewan ternak dan juga orang-orang di sekitarnya. Hama pengganggu peternakan yang berasal dari kelompok Arthropoda dikenal dengan istilah Ektoparasit, karena hidupnya di luar tubuh inangnya (hewan atau manusia). Ektoparasit ini ada yang bersifat obligat dan fakultatif. Yang bersifat obligat artinya seluruh stadiumnya, contohnya, kutu penghisap (Anoplura), menghabiskan seluruh waktunya pada bulu dan rambut. Kelompok yang bersifat fakultatif artinya ektoparasit itu menghabiskan waktunya sebagian besar di luar inangnya. Mereka datang mengganggu inang hanya pada saat makan atau menghisap darah ketika diperlukannya. Contohnya, kutu busuk (Hemiptera: Cimicidae), datang pada saat membutuhkan darah, setelah itu bersembunyi di tempat-tempat gelap atau celah-celah yang terlindung, jauh dari inangnya. Demikian juga yang dilakukan oleh berbagai jenis serangga penghisap darah dari Ordo Diptera, khususnya famili Culicidae (nyamuk, agas, mrutu, lalat punuk), Tabanidae (lalat pitak, lalat menjangan), lalat kandang (Stomoxys calcitrans), dan lalat kerbau (Haematobia exigua). Ektoparasit yang banyak dijumpai di peternakan Indonesia antara lain adalah berbagai jenis kutu (Phthiraptera), kutu busuk (Hemiptera), kutu franki (Coleoptera), lalat (Muscidae), nyamuk (Culicidae), kecoa (Dyctioptera), pinjal (Siphonaptera). tungau (Parasitiformes), dan caplak (Acariformes), Peranan ektoparasit dalam kehidupan hewan maupun manusia sangat merugikan karena dengan adanya kegelisahan itu dapat membuatnya lupa makan, sehingga dapat menurunkan status gizi, produksi daging atau telur secara drastis.

1

larva. Larva seringkali makan dengan rakus. Di Indonesia. Konsep pengendalian hama pada hewan ternak juga diberikan pada akhir tulisan ini. Larva lalat amat rentan terhadap kelembaban udara. meskipun demikian Culicoides adalah yang paling mendapat perhatian utama. Kebanyakan larva yang bersifat terestrial ini cenderung meninggalkan medium larva menuju tempat yang lebih kering untuk pupasi. dan tersedianya tempat perindukan yang cocok. Lalat kandang Stomoxys calsitrans siklus hidup berkisar 3-5 minggu pada kondisi optimal. Lalat ini menghisap darah hewan dan cenderung tetap di luar rumah di tempat yang terpapar sinar matahari. nyamuk. Semua lalat mengalami metamorfosis sempurna dalam perkembangannya. dan yang betina setelah itu akan bertelur. minggu atau bulan. Setelah itu berubah menjadi pupa. Forcipomyia (subgenus Lasiohelea). Suhu lingkungan. kualitas makan. dan di kandang sapi umumnya lalat kandang Stomoxys calcitrans. Stadium pupa bisa beberapa hari. kelembaban udara dan curah hujan adalah komponen cuaca yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas makhluk hidup di alam. dan jenis lalat hijau di ternak yang digembalakan di padang rumput adalah Chrysomyia bezziana. dari telur. mencari pasangan untuk kawin. Austroconops dan Leptoconops. Lalat dewasa muncul. Umumnya larva lalat mengalami empat kali molting selama hidupnya. dengan 4 genus di antaranya menyerang hewan berdarah panas lainnya dan manusia. Keempat genus tersebut adalah Culicoides. Telurnya diletakkan dalam medium yang dapat menjadi tempat perindukan larva. Di Indonesia tercatat sebanyak 100 spesies Culicoides tersebar di 19 daerah propinsi di 2 . Populasi lalat meningkat tergantung musim dan kondisi iklim. lalat rumah membutuhkan waktu 8-10 hari pada suhu 30 0C dalam satu siklus hidupnya. Agas atau Mrutu (biting midges) Agas termasuk Famili Ceratopogonidae. pupa dan dewasa. Populasi lalat yang tinggi atau melimpah dapat mengganggu ketentraman hewan dan manusia karena menimbulakn ketidak nyamanan sekitar dan dapat menularkan berbagai jenis penyakit gangguan pencernaan akibat berbagai jenis bakteri yang ditularkannya. lalat hijau yang umum di daerah peternakan dan permukiman adalah Chrysomyia megacephala. Periode makan ini bisa berlangsung beberapa hari atau minggu. suhu udara yang menyimpang dan curah hujan yang berlebihan. Lalat Lalat yang berada di sekitar kandang ayam adalah lalat rumah Musca domestica dan lalat hijau Chrysomya megacephala. sampah yang telah membusuk dan penuh dengan bakteri dan organisme patogen lainnya. caplak dan tungau. tergantung suhu. pinjal. Di daerah tropika. kutu.Berikut ini disebutkan beberapa jenis hama yang umum dijumpai pada lingkungan peternakan antara lain berbagai jenis lalat.. kemudian terbang. jenis lalat dan faktor lain. Lalat ini berkembang biak pada habitat di tumpukan kotoran.

Larvanya berbentuk seperti cacing berwarna putih. sedang yang jantan menghisap cairan tumbuh-tumbuhan. Antenanya panjang terdiri atas 14 segmen sedangkan palpi terdiri atas 5 segmen. Bagian dorsal toraks terdapat liang humerus (humeral pits). tanpa angin. yaitu dari telur. tempat ia makan sisa tumbuhan dengan mandibulanya yang bergerigi.. Mallophaga (kutu penggigit) dan Rhynchophthirina (kutu gajah). Culicoides betina mengigit dan menyerang hewan pada waktu senja hari dan malam hari yang tenang. Pupanya berukuran 2-4 mm.Indonesia. C. 3 . panjang dan berputar berbelit masuk ke dalam dasar lumpur. serta tanah yang lembab tempat berkembang biak yang disukainya. dan memiliki enam tungkai atau kaki yang kokoh dengan kuku yang besar pada ujung tarsus yang bersama dengan tonjolan tibia berguna untuk merayap dan memegangi bulu atau rambut inangnya. oxystoma. dan C. bagian mulut disesuaikan untuk menusuk-isap atau untuk mengunyah. Dalam waktu kira-kira tiga hari kemudian telur menetas menjadi larva yang halus. huffi. C. dan toraks yang terdiri dari tiga ruas. C. serta abdomen dengan 9 ruas. Culicoides mengalami metamorfosis sempurna. bentuk tubuh yang pipih dorsoventral. toraks sedikit bongkok dan menonjol ke atas kepala. dan bahkan pada lubang tempat kotoran sapi. bahan-bahan yang telah membusuk seperti batang pepaya. lonjong dengan sepasang corong pernafasan di daerah toraks.5-5. Ketika istirahat sayap terlipat di atas abdomen. guttifer. Kebanyakan ahli Amerika menempatkan kutu dalam dua ordo yaitu Anoplura dan Mallophaga. parahumeralis (Hadi et al. Telur diletakkan pada tanaman atau bahan tumbuh-tumbuhan dalam air dangkal misalnya tepi kolam dan lubang-lubang pohon. 2000).139-0. Kutu (Lice) Kutu merupakan serangga ektoparasit obligat karena seluruh hidupnya berada pada dan tergantung pada tubuh inangnya. mempunyai kepala. C. Lalat dewasa keluar dari pupa dalam waktu 3 sampai 5 hari. orientalis. C. pada beberapa spesies berbintik-bintik (bertotol-totol). Telurnya berukuran 350-450 um.0 mm). C. Spesies yang umum dijumpai antara lain adalah Culicoides fulvus. setelah itu berubah menjadi pupa. Habitat telur dan larva bersifat akuatik atau semiakuatik.410 mikroliter). bening dan berambut halus. peregrinus. sumatrae. C. Jerman dan Australia menempatkan dalam satu ordo tunggal yaitu Phthiraptera dengan sub ordo Anoplura (kutu penghisap). pupa dan dewasa. Oleh karena itu secara morfologi kutu ini sudah beradaptasi dengan cara hidupnya. sedangkan ahli-ahli dari Inggris. Hanya lalat betina yang mengisap darah (0. Culicoides dewasa berukuran sangat kecil (1. Peranan Culicoides dalam dunia kesehatan adalah sebagai penghisap darah yang sangat mengganggu dan juga sebagai vektor penular Leucocytozoonosis pada ternak unggas. Pada siang hari lalat berkerumun di dekat kolam dan rawa-rawa. Sayapnya sempit dengan sedikit venasi tanpa sisik-sisik sayap (scales). misalnya dengan tidak memiliki sayap. berbentuk lonjong diletakkan satu persatu. Periode larva ini berlangsung selama 1-12 bulan. palpifer. sebagian besar tidak bermata. pangkal batang pisang. larva. berbentuk khas.

Heterodoxus longitarsus dan Trichodectes canis pada anjing. gudang pakan. dan Lipeurus caponis pada ayam. Seluruh tahap perkembangannya secara umum berada pada inangnya. Damalinia ovis. panel. Columbicola columbae pada burung merpati dang unggas liar lainnya. Felicola subrostratus pada anjing. Kutu Alphitobius diaperinus meletakkan telurnya di litter pada alas atau kolong kandang. 4 .5 mm berwarna krem keputihan. dan kacang-kacangan yang lembab dan telah berjamur yang banyak terdapat di sekitar peternakan ayam. Jawa). Setelah itu larva berubah menjadi pupa. mulai dari telur. D.. Adapun jenis-jenis kutu yang menyerang manusia terdiri atas tiga subspesies yaitu Pediculus humanus capitis (kutu kepala). yang direkatkan pada bulu (rambut) inangnya dengan semacam zat semen pada bagian ujung dasar telur. dan dilipat di bawah elitra. Telur menetas menjadi nimfa (kutu muda)setelah 5–18 hari tergantung jenis kutu. bertemu pada satu garis lurus ke mediodorsal.Secara umum jenis-jenis kutu yang banyak menyerang hewan di Indonesia adalah Menopon gallinae. Warna nimfa dan kutu dewasa keputih-putihan. larva banyak menimbulkan kerusakan-kerusakan. Goniocotes dissimilis. Pasangan sayap belakang bening. diletakkan pada celah dan retakan di dalam manure atau litter dan akan menetas dalam waktu 3 sampai 6 hari menjadi larva. Linognathus ovillus. Serangga ini mengalami metamorfosis sempurna. P. Cuclotogaster heterographus. gudang pakan. Larva beruas-ruas dan mempunyai tiga pasang kaki. Jumlah telur yang dihasilkan oleh seekor induk kutu mencapai 10–300 butir selama hidupnya. dan Haematomyzus elephantis pada gajah. Kutu kepala dan badan ternyata merupakan varietas dari satu spesies. makanan ayam secara berkelompok dalam jumlah banyak. Telurnya berukuran 1–2 mm. Haematopinus eurysternus dan H. keturunannya fertil dan perbedaan morfologinya juga sedikit. dinding dan bahkan selubung kabel. Kutu dewasa bisa hidup 10 hari hingga beberapa bulan. Menacanthus stramineus. nimfa instar pertama sampai ketiga lalu dewasa. Secara umum daur hidup ini sangat tergantung pada suhu. Larva akan menembus kayu-kayu kandang. Bagian-bagian mulutnya disesuaikan untuk menggigit. beras. Frengki dewasa bisa hidup selama 3 bulan sampai satu tahun. stenopsis pada domba dan kambing. caprae. tuberculatus pada sapi dan kerbau. Stadium pupa berlangsung 3-10 hari dan berubah menjadi dewasa. bahkan bisa berpindah ke bangunan yang ada di sekitarnya. berwarna putih dan pada beberapa jenis permukaan telur bercorak-corak dan dilengkapi dengan operkulum. Goniodes gigas. Kutu ini dapat mejadi hama pada peternakan ayam. dan L. Frengki ini memakan tepung. kedelai. humanus corporis (kutu badan) dan Phthirus pubis (kutu kemaluan). Kutu mengalami metamorfosis tidak sempurna. Telur kutu disebut nits (lingsa. Kutu Frengki (lesser mealworms) Alphitobius diaperinus atau lebih dikenal oleh praktisi sebagai kutu frenki tergolong ordo Coleoptera dengan ciri umum sayap depan tebal sebagai pelindung sayap belakang (elitron). Larva ini berwarna kuning sampai coklat. Ketika berada di dalam kerangka kayu ini. banyak ditemukan di manure.Telur berukuran 1. dan dalam keadaan istirahat. Keduanya dapat melakukan perkawinan (interbreeding). dan makin tua umurnya makin berwarna gelap. berbentuk oval.

Dari jumlah ini 94% di antaranya menyerang mamalia sedangkan sisanya merupakan parasit pada burung. Larvanya terdiri atas 3-4 instar (mengalami 2–3 kali pergantian kulit instar) dengan waktu berkisar antara 10–21 hari. Pinjal betina akan meninggalkan inangnya untuk meletakkan telurnya pada tempat-tempat yang dekat dengan inangnya. Selain itu dalam dunia kesehatan. Ctenocephalides (pinjal kucing dan anjing). Tubuhnya berbentuk pipih bilateral dan mempunyai kakikaki yang panjang terutama kaki belakang. canis dan C. Ctenocephalides canis dan C. Echidnophaga (pinjal ayam). pinjal tikus Xenopsylla cheopis berperan sebagai vektor penyakit pes (sampar). pada pakaian atau tempat tidur manusia. Frengki tidak akan terlihat dalam jumlah banyak sampai manure mulai menumpuk paling tida 20-24 minggu. atau kadang-kadang di antara bulu-bulu inangnya. karena tidak seluruh siklus hidupnya berada pada tubuh inangnya. Lamanya siklus hidup pinjal dari telur hingga dewasa berkisar antara 2–3 minggu pada kondisi lingkungan yang baik. Kondisi pupa yang berada dalam kokon seperti itu merupakan upaya perlindungan terhadap sekelilingnya. Larva instar terakhir bisa mencapai panjang 4–10 mm. Ctenocephalides felis. Pulex (pinjal manusia) dan Xenopsylla (pinjal tikus). terutama pada ujung-ujung jari kaki atau di 5 . Dari famili ini. yang disebabkan oleh Yersinia pestis dan Ricketssia typhi. yang didahului dengan telur. terdapat beberapa genus yang penting yaitu Tunga (pinjal chigoe). Pinjal dewasa akan menghindari cahaya. Larva pinjal sangat aktif. Sampai saat ini diketahui terdapat sekitar 2500 jenis pinjal dari 239 genera. setelah itu berubah menjadi pupa yang terbungkus kokon. celahcelah lantai atau karpet. di antara debu dan kotoran organik. C. felis berperan sebagai inang antara cacing pita Dipylidium caninum dan Hymenolepis diminuta. seperti sarang tikus. makan berbagai jenis bahan organik di sekitarnya termasuk feses inangnya. oleh karena itu sering dikatakan sebagai ektoparasit penghisap darah yang eksklusif. Ordo Siphonaptera terdiri atas beberapa famili. canis. Hanya tahap dewasa yang menghisap darah. pupa kemudian dewasa. Telurnya menetas dalam waktu 2–24 hari tergantung jenis pinjal dan kondisi lingkungan.waktu yang diperlukan untuk perkembangan dari telur hingga menjadi dewasa menjadi singkat dengan meningkatnya suhu. Adapun pinjal chigoe. dan Xenopsylla cheopis. Tahap dewasa akan keluar 7–14 hari setelah terbentunya pupa. Baik pinjal betina maupun yang jantan keduanya menghisap darah beberapa kali pada siang atau malam hari. Pinjal C. Adapun jenis-jenis yang sering dijumpai sebagai ektoparasit utama dan menimbulkan masalah di Indonesia adalah Pulex irritans. Gangguan utama yang ditimbulkan oleh pinjal adalah gigitannya yang mengiritasi kulit dan cukup mengganggu. larva. Pinjal mengalami metamorfosis sempurna. Tunga penetrans betina dapat bersarang pada kulit manusia atau babi. hal ini merupakan bentuk adaptasi untuk tinggal dan menghisap darah di antara bulu-bulu inangnya. dan akan tinggal di antara rambut-rambut inang. felis juga merupakan inang antara cacing filaria Dipetalonema reconditum. tetapi yang terpenting sebagai ektoparasit adalah famili Pulicidae. Pinjal (Flea) Serangga ektoparasit ini bersifat semiobligat atau temporer. Pinjal tidak memiliki sayap. Pinjal anjing dan kucing.

Perkembangan sejak dari tahap telur hingga dewasa membutuhkan waktu sekitar enam minggu hingga beberapa bulan tergantung temperatur dan ketersediaan bahan makanan. gigitan kepinding menimbulkan reaksi gatal dan diikuti peradangan lokal. selalu berkeliaran mencari makan kesana kemari pada malam hari (nokturnal) baik di rumah maupun di tempat-tempat kotor di luar rumah. sedangkan sayap belakang menghilang. kepinding dewasa dapat menghisap darah selama 10–15 menit. Cara mencari makan demikian juga menyebarkan 6 . Pada siang hari. sehingga kepinding dikenal tidak memiliki sayap. Berwarna merah kecoklatan dan mengkilat. Kepinding memiliki tubuh yang berbentuk oval dan pipih dorso-ventral dengan panjang sekitar 4-7 cm. Sebaliknya pada orang yang belum pernah. Pasangan sayap depan kepinding telah bermodifikasi menjadi tonjolan hemelitra. gigitan kepinding tidak menunjukkan gejala apapun. Pada keadaan ini aktifitas tidur dan lainnya menjadi terganggu. kepinding bersembunyi pada tempat-tempat yang gelap seperti celah-celah kandang atau alas kandang yang juga menjadi tempat bertelur dan menetap kutu busuk. Pada ternak dan beberapa orang. Famili Cimicidae dan jenis yang terdapat di Indonesia adalah Cimex hemipterus . Selain itu sifatnya yang lincah. Kepinding jantan dan betina menghisap darah sejak dari tahap nimfa hingga dewasa. Gangguan kepinding terhadap inang terutama akibat gigitannya untuk memperoleh darah. Tanpa gangguan. Gigitan kepinding biasanya ditandai dengan benjolan kecil keputihan dikulit yang apabila digaruk berulang-ulang akan berdarah. sehingga biasanya akan digaruk berulangulang. Lipas tergolong serangga yang tidak disukai kehadirannya oleh penghuni daerah peternakan. dan berakibat timbulnya infeksi sekunder. terutama pada infestasi kepinding dalam waktu yang panjang. Dalam perkembangannya. dan akan berubah menjadi coklat tua dan membengkak setelah menghisap darah. di malam hari saat ternak atau orang sedang tidur. Kutu Busuk (Bed bug) Kepinding atau kutu busuk termasuk serangga ektoparasit dari ordo Hemiptera. kepinding mengalami metamorfosis yang tidak sempurna yang diawali dengan tahap telur.bawah kukunya dan menyebabkan pembengkakan berupa nodul-nodul abses yang menyakitkan . dan akan kembali menghisap darah setelah tiga hari. permukiman dan perusahaan yang berkaitan dengan industri makanan. Lipas atau Kecoa Jenis-jenis lipas yang paling banyak terdapat di lingkungan peternakan dan permukiman di Indonesia adalah Periplaneta americana dan Blatella germanica. nimfa dan kemudian dewasa.

berwarna keputih-putihan dan belum bersayap. seperti tempat sampah. bakteri. dan Anophelinae (Anopheles). kemudian nimfa dan dewasa. cacing dan fungi (cendawan). manusia dan umumnya berkembang biak dan mencari makan di daerah yang kotor. Nyamuk di 7 . Dalam stadium ini seekor betina dapat menghasilkan 4-90 ooteka. Jumlah instar sangat spesifik untuk setiap jenis lipas. germanica umumnya hidup di dalam gedung hunian manusia yaitu pada celah-celah dinding dan plafon. Lipas tumbuh dan berkembang dengan cara metamorfosis sederhana. setiap instar diakhiri dengan proses menyilih (ganti kulit) dan berukuran semakin membesar. saluran pembuangan. bergerombol. dapat dijumpai pada ketinggian 5. tertutup dan gelap. ootheca menempel di bagian abdomen atau dibawa kemana mana samapai saatnya menetas. americana umumnya merupakan penghuni dinding bak septik dan saluran air limbah peternakan dan akan berkelana mencari makan padamalam hari. dan septik teng. yaitu berupa ruang atau rongga yang lembab. Agen penyakit yang dapat ditularkan oleh lipas adalah berbagi jenis virus. Ooteka ini diletakkan pada sudut barang/perabotan yang gelap dan lembab. Ooteka ini bentuknya seperti dompet. Kehidupan lipas berawal dari telur.000 meter di atas permukaan laut sampai pada kedalaman 1. Nyamuk termasuk ke dalam odo Diptera. tidak senang berkelana. P. kelembaban lingkungan. protozoa. sehingga semua stadium dapat ditemukan pada setiap saat dalam satu tahun. mereka mudah menularkan penyakit pada manusia. Stadium ini berlangsung 6 bulan sampai dengan 3 tahun tergantung pada jenis lipas. piring atau barang-barang lain yang dilaluinya. Lipas dianggap sebagai pengganggu kesehatan karena kedekatannya dengan hewan. dengan 3 subfamili yaitu Toxorhynchitinae (Toxorhynchites). Pada beberapa jenis. Di daerah tropis telur menetas dalam periode 42-81 hari tergantung pada suhu. Makanan serangga ini dari makanan yang masih dimakan manusia sampai dengan kotoran manusia. jumlahnya bervariasi 5-13 instar sebelum menjadi lipas dewasa. Mansonia. famili Culicidae. Telur menetas menjadi nimfa yang kecil. Betina meletakkan telurnya tidak satu persatu di alam akan tetapi sekumpulan telur (16-50 butir) secara teratur di dalam satu kantung yang disebut dengan ooteka. Generasinya tumpang tindih. Ooteka pada setiap jenis berbeda dan bisa digunakan sebagai alat bantu dalam menentukan spesies apa dalam suatu tempat. suhu dan kelembaban lingkungan. Culicinae (Aedes). tumbuh menjadi beberapa instar. Karena sifat inilah. Kehidupan bergerombol pada lipas hanya berkait dengan habitat atau tempat huninya. Armigeres. Nimfa berkembang agak lambat. Disamping itu lipas mempunyai perilaku mengeluarkan makanan yang baru dikunyah atau memuntahkan makanan dari lambungnya. Lipas dewasa berumur beberapa bulan bahkan sampai dengan dua tahun. Nyamuk Nyamuk tersebar luas di seluruh dunia mulai dari daerah kutub sampai ke daerah tropika. Celah dan retakan merupakan tempat persembunyian dan perkembangbiakan yang disukainya. Culex. warnanya coklat sampai hitam kecoklatan. Adapun B.penyakit manusia dengan meletakkan agen penyakit pada makanan.500 meter di bawah permukaan tanah di daerah pertambangan.

albopictus. tumbuh dan berkembang dalam genangan air di sekitar kediaman kita. sundaicus. dan lain-lain. air bebatuan. aegypti dan Ae. Bentuk pupa yaitu fase tanpa makan dan sangat sensitif terhadap pergerakan air. di bawah suhu 10 OC tidak ada perkembangan. spesies dan faktor lain. kolam. kulit pupa tersobek oleh gelembung udara dan oleh kegiatan bentuk dewasa yang melepaskan diri. tergantung spesies dan faktor lain. diantaranya 80 spesies Anopheles. pupa dan dewasa. vagus. Ae. nyamuk kebun. Siklus hidup bisa lengkap dalam waktu satu mingggu atau lebih tergantung suhu. Nyamuk yang berada di sekeliling rumah seperti Culex quinquefasciatus. tetapi dapat diperpanjang sampai 10 hari pada suhu rendah. sedangkan sisanya tidak termasuk begitu mengganggu (O’Connor dan Sopa. Telur yang diletakkan di dalam air akan menetas dalam waktu satu sampai tiga hari pada suhu 30OC. An. sangat aktif jungkir balik di air. Beberapa contoh jenis nyamuk yang terdapat di Indonesia adalah nyamuk malaria seperti Anopheles aconitus. kaleng bekas dan lain lain dapat berperan sebagai tempat bertelur dan tempat perkembangan larva nyamuk. An. sedangkan telur pada beberapa spesies seperti Aedes aegypti dapat tahan hidup dalam waktu lama tanpa air. sangat singkat hidupnya dan makanannya adalah cairan tumbuhan atau nektar. An. makanan. bendungan. Nyamuk merupakan serangga yang sangat sukses memanfaatkan air lingkungan. tapi bisa juga terbang beberapa kilometer. 82 Culex. termasuk air alami dan air sumber buatan yang sifatnya permanen maupun temporer. Nyamuk ini selain menjadi pengganggu karena gigitannya yang menimbulkan kegatalan pada hewan dan menularkan penyakit malaria unggas yang disebabkan oleh Plasmodium gallinaceum. Waktu menetas (ekslosi). 8 Mansonia. nyamuk demam berdarah seperti Aedes aegypti dan Ae. sedangkan pada yang betina skutum hanya menutupi sepertiga bagian tubuh anterior tubuh. Larva mengalami 4 kali pergantian kulit (instar) dan segera berubah menjadi pupa. Stadium ini hanya berlangsung dalam waktu 2-3 hari. Armigeres subalbatus dan nyamuk gajah seperti Toxorhynchites amboinensis.Indonesia terdiri atas 457 spesies. Larva dan pupa memerlukan air untuk kehidupannya. septik teng. tetapi membutuhkan 7 hari pada 16 OC. nyamuk rumah seperti Culex quinquefasciatus. dan An. larva (jentik). Oleh karena 8 . Bagian dorsal caplak ini mempunyai skutum atau perisai yang menutupi seluruh bidang dorsal tubuh pada caplak jantan. Danau. Di dalam siklus hidupnya. 125 Aedes. maculatus. air payau.. nyamuk rawa-rawa seperti Mansonia uniformes. albopictus. nyamuk mengalami metamorfosis sempurna (holometabola) yaitu telur. Tubuh caplak keras bentuknya bulat telur dan mempunyai kulit (integumen) yang liat dan mempunyai 4 pasang kaki. selokan. bovine ephemeral virus. Nyamuk dewasa jantan umumnya hanya tahan hidup selama 6 sampai 7 hari. aliran air. 1981). Famili Ixodidae. Pupa menjadi dewasa di atas permukaan air yang tenang. saluran irigasi. Nyamuk dewasa bisa tinggal di sekitar tempat perindukannya. barbirostris. cacing jantung anjing (Dirofilaria immitis). An kochi. Caplak Keras (Hard Tick) Caplak Keras termasuk Kelas Arachnida. meskipun harus tetap dalam lingkungan yang lembab. sedangkan yang betina dapat mencapai 2 minggu lebih di alam dan bisa menghisap darah berbagai jenis hewan atau manusia.

sanguineus. Caplak dewasa makan dan kawin pada inang ketiga. Jenis-jenis tersebut adalah Amblyomma testudinarium. kucing. kambing. 9 . Caplak berumah tiga yaitu setiap stadium larva. Rhipicephalus haemaphysaloides. Daur hidupnya diawali dari telur yang diletakkan induknya di tanah. kekeringan atau ketidakadaan makanan dalam waktu berbulan-bulan. Haemaphysalis bispinosa. sedangkan secara transovarial artinya caplak dewasa betina yang terinfeksi patogen akan dapat menularkannya pada generasi berikutnya melalui sel-sel telur. nimfa dan dewasa) tinggal dalam satu inang yang sama. Caplak berumah dua yaitu larva dan nimfa tinggal dalam satu inang sedangkan dewasa tinggal dalam inang yang lain. anjing. nimfa dan dewasa masingmasing memerlukan inang yang berbeda. Nimfa menghisap darah kembali. ia akan menghisap darah inang hingga kenyang (enggorged) lalu akan jatuh ke tanah atau tetap tinggal pada tubuh inang tersebut dan segera berganti kulit (molting) menjadi nimfa. setelah kenyang akan jatuh ke tanah dan molting menjadi caplak dewasa. H. nimfa maupun dewasa mampu menjadi penular patogen. Boophilus microplus. Larva berada pada inang pertama sampai kenyang menghisap darah. dan Dermacentor auratus. Beberapa jenis caplak keras berperan sebagai vektor berbagai penyakit.18. setelah jatuh dan berganti kulit menjadi nimfa segera mencari inang kedua. lalu jatuh ke tanah dan disinilah ia bertelur. kuda. wellingtoni. Nimfa yang kenyang darah akan menjatuhkan diri dan berkembang menjadi caplak dewasa. Selain sebagai pengganggu. Satu siklus daur hidup berkisar antara 6 minggu sampai tiga tahun. beberapa jenis caplak ini juga menghasilkan toksin (ixovotoxin) yang mempengaruhi susunan syaraf pusat dan neuromuscular junction sehingga menimbulkan kelumpuhan (tick paralysis). hystricis. Secara transtadial artinya setiap stadium caplak baik larva. Setelah mendapatkan inangnya. domba. Yang dewasa dapat bertelur sekitar 100 . contohnya caplak sapi Boophilus microplus. cornigera. H. Caplak dapat menularkan penyakit melalui dua cara yaitu secara transtadial dan trasovarial. Caplak berumah satu yaitu semua stadiumnya (larva. Contohnya Amblyomma. Caplak keras sering ditemukan pada hewan-hewan domestik seperti sapi. dan unggas di berbagai wilayah di Indonesia.000 butir/caplak. begitu pula proses pergantian kulit (molting) dan perkawinan. berumah dua dan berumah tiga. Garukan yang hebat dapat menimbulkan infeksi sekunder oleh bakteri. H. Matanya baik pada yang jantan maupun betina terletak pada sisi lateral skutum. papuana. Contohnya Haemaphysalis. caplak juga merupakan penghisap darah yang ganas sehingga inang yang terserang menjadi anemia dan teriritasi. Berdasarkan jumlah inang yang diperlukan caplak dalam melengkapi satu siklus daur hidupnya dikenal istilah caplak berumah satu. Caplak sangat tahan terhadap perubahan fisik misalnya terendam air. Setelah caplak dewasa kenyang darah barulah ia menjatuhkan diri dan bertelur di tanah. Caplak dewasa setelah kawin akan menghisap darah sampai kenyang. kerbau. Larva yang baru menetas segera akan mencari inangnya dengan pertolongan benda-benda sekitarnya serta bantuan alat olfaktoriusnya.itu tubuh caplak betina dapat berkembang lebih besar dari pada yang jantan setelah menghisap darah. jadi dalam melengkapi siklus hidupnya caplak memerlukan dua inang. H. R.

Nimfa dan dewasa bersembunyi di tempat terlindung dan akan menyerang inangnya pada malam hari. Bagian pinggiran tubuhnya tajam. Knemidocoptes mutans pada unggas. Larva akan mencari inangnya sendiri. sedang yang belum makan darah berwarna coklat kekuningan dan saluran usus yang berwarna hitam tampak dari luar. Famili Argasidae Jenis yang paling banyak dijumpai adalah Argas persicus dan A. Yang dewasa makan sebulan sekali atau lebih. Otodectes cynotis penyebab otitis pada anjing. Berbeda dengan Ixodidae. Larva caplak lunak ini bentuknya bulat dan akan menjadi gendut bila kenyang darah. Seperti halnya Argasidae yang lain. burung merpati. Caplak ini sangat mengganggu inangnya sehingga ia tidak dapat tidur atau istirahat sepanjang malam. seringkali menempel pada sayap dan kenyang darah dalam waktu 7 hari.5-6 mm dan bentuknya oval. liang-liang tanah. dan yang betina akan bertelur setiap setelah makan. Demodex canis pada 10 . Perbedaan kelamin hanya bisa dilihat pada bentuk lubang genital yang letaknya di bagian anterior permukaan ventral yaitu yang jantan lebih besar daripada yang betina. Argas robertsi adalah jenis caplak lunak yang banyak dijumpai pada ayam di Indonesia. Argasidae adalah caplak yang senang hidup di sarang inangnya. kalkun. Kebanyakan tungau hidup bebas di alam (free living) sedangkan yang hidup sebagai ektoparasit hanya beberapa jenis saja. merupakan ektoparasit yang kecil (kurang dari 1 mm) dan hampir tidak kasat mata. Jenis-jenis yang paling banyak dijumpai di Indonesia antara lain adalah Sarcoptes scabiei penyebab kudis pada manusia dan hewan Psoroptes ovis pada domba. Asia dan beberapa negara di Afrika. Caplak kenyang darah mempunyai warna kebiru-biruan. bulat. coklat dan diletakkan dalam kelompok yang terdiri atas 20-200 butir. retakan-retakan bangunan atau di bawah celah-celah pohon yang terlindung. angsa. Tungau (Mites) Tungau termasuk ke dalam Ordo Acariformes. Caplak ini yang dewasa berukuran 4-10 x 2. caplak lunak hanya menyerang inangnya bila menghisap darah. Bentuk telurnya kecil. burung kenari. Argas persicus dan A. Caplak lunak ini yang betina bertelur di celah-celah kandang ayam. burung unta dan juga dapat menggigit manusia. penurunan produksi telur dan daging. Infestasi caplak yang tinggi dapat menimbulkan anemia. Caplak lunak ini tersebar di Eropa. makan darah selama kira-kira dua jam. Stadia nimfa pada Argasidae berganti kulit beberapa kali.Caplak Lunak (Soft tick) Caplak lunak termasuk kedalam Ordo Parasitiformes. Larva menetas setelah 3 minggu atau lebih. robertsi merupakan ektoparasit ayam. Argas robertsi memiliki dua tahap nimfa yang masing-masing perlu waktu dua minggu dan kenyang darah. robertsi. demikian pula halnya nimfa dan yang dewasanya. perbedaan jantan dan betina caplak ini sedikit sekali. Larva dapat hidup tanpa makan selama kira-kira tiga bulan. Nimfa dan dewasa dapat bertahan tanpa makan selama kira-kira lima tahun. bagian depan lebih sempit daripada posterior. bisa 8 kali maksimal.

Tindakan sanitasi lingkungan 11 . kimia (insektisida). unggas lainnya. aman bagi manusia maupun makhluk bukan sasaran. Tungau ini tidak hanya mengganggu unggas tetapi dapat juga menyerang manusia yang berada di sekitarnya. agen biotik (musuh alami) dan paduan dari cara-cara tersebut (pengendalian terpadu). Telur akan berubah menjadi larva yang mempunyai tiga pasang tungkai. Untuk lokasi lainnya. Setelah satu sampai dua hari berganti kulit lagi menjadi deutonimfa yang menghisap darah dan kemudian menjadi dewasa. Pengendalian Hama pada Hewan Ternak Pada prinsipnya hama tidak dapat diberantas habis. Cara-cara tersebut dapat dilakukan sepanjang hasilnya dapat efektif dan efisien tertuju kepada stadium hama yang paling rawan (terhadap tindakan itu). Pada tahap ini tungau tidak makan. deutonimfa dan tritonimfa. Tahap ini dikenal dengan hypopus dan sangat tahan terhadap perubahan lingkungan. Pemilihan cara pengendalian harus disesuaikan dengan spesies hama yang akan ditindak serta dengan situasi dan kondisi setempat. Periode larva dapat bertindak sebagai ektoparasit. Ia mempunyai alat pelekat untuk menempelkan tubuhnya pada serangga lain atau benda-benda di sekitar kandang. Tahap nimfanya sangat panjang dan dapat dibagi menjadi protonimfa. Bentuk deutonimfa tungau Astigmata bentuknya berbeda dengan tungau yang lain dan juga perilakunya. dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Tungau ini terutama tersebar pada bulu-bulu sayap dan juga bagian tubuh lainnya. mudah dilaksanakan. Jadi selama lapangan atau areal yang kita hadapi masih berupa lingkungan yang mempunyai hubungan bebas secara fisik. Selain itu perlu diingat bahwa bahwa tindakan ini tidak mengganggu kelestarian dan keseimbangan alam lingkungan yang bersangkutan. kecuali di dalam suatu lokasi yang amat terbatas dan benar-benar terisolasi dari populasi-populasi lainnya. Cara-cara pengendalian hama pada hewan ternak dapt dilakukan secara fisik/ mekanik (pengelolaan lingkungan). tidak merugikan atau tidak merupakan gangguan bagi manusia. Tungau yang banyak menyerang ayam kampung di Indonesia adalah Ornithonyssus bursa Tahap awal kehidupan tungau dimulai dari telur. Telurnya akan menetas dalam waktu tiga hari. dan Ornitonyssus bursa pada unggas. Setelah kenyang menghisap darah segera berganti kulit (molting) menjadi nimfa. biologis serta sosial-ekonomis dengan lingkungan di sekitarnya. mungkin hanya dewasanya saja atau keduaduanya dapat ditindak sekaligus ataupun bergantian. Sebagai contoh untuk suatu kandang ternak di lokasi lokasi tertentu akan lebih mudah dan efektif apabila yang dijadikan sasaran adalah stadium pradewasanya.anjing. terutama saat mengeram. serta dapat diterima oleh kalangan masyarakat. Ornithonyssus bursa banyak ditemukan pada ayam. tidak memerlukan biaya terlalu besar. Stadium larva ini tidak menghisap darah tetapi berganti kulit dalam waktu sekitar 17 jam menjadi protonimfa yang mulai menghisap darah unggas. Bentuk nimfa sudah mirip dengan yang dewasa tetapi alat kelaminnya belum berkembang. Seekor tungau mampu menghasilkan beberapa ratus sampai ribuan telur. dan menyebar menjadi larva dengan tiga pasang tungkai. maka prinsip pengendalian adalah hanya menekan populasi hama sampai ke tingkat yang tidak membahayakan. Oleh karena itu tidak digunakan istilah pemberantasan melainkan pengendalian hama. misalnya jentik nyamuk atau belatung lalat.

Contoh insektisida yang saat ini banyak digunakan adalah golongan piretroid sintetik seperti sipermetrin. diselang-seling dengan penggunaan pestisida dapat dilakukan? Untuk menjawab hal ini perlu monitoring populasi hama secara terus menerus. sampah. kalau melihat pertimbangan-pertimbangan di atas maka pengendalian hama itu sebenarnya memerlukan latar belakang pengetahuan yang luas. Mengetahui identitas hama sasaran. baiting (pengumpanan) atau fumigasi. sehingga dapat dipilih apakah perlu menggunakan pestisida ataukah cukup dengan pengelolaan lingkungan atau keduanya. Memilih pestisida. Apakah hama yang akan dikendalikan. maka penyemprotan harus dilakukan pada saat serangga sasaran dalam keadaan aktif. Oleh karena itu. dengan cara apa. Menentukan cara aplikasinya. Di mana dilakukannya. Masalah hama di lingkungan peternakan dan permukiman sesungguhnya merupakan hasil rekayasa manusia pemukimnya sendiri. Karena bersifat nonresidual. permetrin dll. 5. waktu dan perilaku makan. Sebagai contoh pada aplikasi space spray . maka yang harus diingat adalah kemungkinan terjadinya berbagai akibat samping seperti kemungkinan keracunan langsung pada ternak dan makhluk bukan-sasaran lainnya. Sebagai contoh habitat lalat pradewasa adalah tumpukan kotoran hewan. Apabila urutan langkah ini dijalankan maka pengendalian hama akan terlaksana secara konsepsional sesuai dengan program integrated pest management. tungau. cara pengendalian hama peternakan dan 12 . maka sasaran pengendaliannya adalah dengan menghilangkan habitat yang disukai lalat. Golongan pestisida bermacam-macam dan masing-masing mempunyai target kerja terhadap serangga yang berbeda. 3. kapan waktunya. habitat. Apabila keadaan mengharuskan penggunaan pestisida. serta siapa yang akan melakukannya. formulasi mana yang paling tepat. jarak terbang atau pemencarannya? Informasi ini penting untuk bahan penyusunan strategi pengendalian. Cara-cara aplikasi yang dapat dilakukan untuk hama penggannggu di peternakan dan permukiman adalah space spraying (penyemrotan ruang). mencari makan dan untuk berisitirahat dan berlindung. Urutan langkah pengendalian yang ideal adalah sebagai berikut: 1.serta pemasangan barier fisik seperti kawat kasa mungkin lebih tepat bagi peternakan tertentu. Beberapa jenis serangga tertentu seperti lalat dan kecoa telah mengadaptasikan diri dengan kehidupan hean ternak dan manusia di lingkungan permukimannya. lalat. dengan menyediakan tempattempat untuk perkembang-biakan. atau kutu dari jenis apa? 2. Penggunaan yang terus menerus tidak terkendali dapat menimbulkan resistensi dan mengganngu ekosistem alam. waktu dan perilaku beristirahat. Mengetahui sifat dan cara hidup (bioekologi) hama sasaran. tidak sekedar menyemprot tanpa tanggung jawab. Jadi. Memilih alternatif cara pengendalian. 4. Bagaimana daur hidup. dan tempat-tempat pembusukan lainnya. pencemaran dan timbulnya resistensi pada populasi hama serangga sasaran setelah beberapa generasi. Apakah cara-cara selain penggunaan pestisida bisa dilakukan? Ataukan harus digunakan pestisida? Andaikan ada cara lain diterapkan lalu. bifentrin. residual spraying (penyemprotan permukaan). Bagaimana cara aplikasi juga merupakan satu persoalan yang krusial. waktu merupakan hal yang sangat penting.

The scutate ticks. (Dalam) K. 2nd Ed.K. British Museum of Natural History. Sydney: 658 hlm. Entomol. 1978. 1950. tempat mencari makan atau tempat berlindung dan bersembunyi. New York. Bailliere Tindall. Materi Kursus Reguler Pengenalan dan Pengendalian Hama Permukiman Peringkat Instar 1.V. J. 12(1-2): 24-38. U.T.W. of Indonesia. The C. The family classification of the Anoplura. agar tidak dapat digunakan sebagai tempat berkembang biak. Co. Corvallis. Sigit. Medical Parasitology. Ketika populasi hama sudah mencapai tingkat mengganggu. 1979. London: xi + 809 hlm. & J. Book Stores Inc. arthropods and protozoa of domesticated animal. 1973b. F. P.W. J. 7th Ed. E. L. punkies). 30: 1-144. A manual of acarology. maka perlu ditindak dengan menggunakan pestisida tapi dengan penuh kehati-hatian. 1982. Sigit. Entomologica Americana. In. S. 13 . U. Daftar Pustaka Anastos. Cromm Helm Ltd. Freeman. Kim. Masalah Hama Permukiman dan falsafah dasar pengendaliannya. Krantz. Hadi.C. Syst. 7th Ed. Insects and other arthropods of medical importance. & M. 1978. London. W. Mosby Company. S. James. or Ixodidae. sand flies. Beck..E. Entomology in human and animal health. Oregon State University. Louis. Helminths. Medical and veterinary entomology. Telaah nyamuk dalam hubungannya sebagai vektor potensial Dirofilariasis pada anjing di Bogor.). Singgih H. Smith (ed.K. Kettle. 2000. St. Ludwig.H. K. The English Language Book Society. G. USA: vi + 548 hlm. 1981. Maj. Davies. Institut Pertanian Bogor : viii + 71 hlm.permukiman yang paling tepat adalah menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungannya.G. London: 181-187. Macmillan Publ. D.2005. G. Soviana. 1999b. Harwood. Telaah taksonomi dan penyebaran geografik Culicoides (Diptera: Ceratopogonidae) di Indonesia. & S. Ind. 1984. merugikan atau bahkan membahayakan terhadap ternak dan orang yang tinggal di sekitarnya. Bogor 8-10 Maret 2005 Soulsby. Laporan Akhir Penelitian Dasar Perguruan Tinggi.V. R. Oregon: 509 hlm.. Ceratopogonidae (biting midges. Parasitol. London: viii + 355 hlm. Hadi. 3: 249-284. & H. Toronto.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful