PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR MATEMATIKA MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL PADA BANGUN RUANG DI SMP NEGERI 2 KARTASURA KELAS

VIII SEMESTER II TAHUN AJARAN 2011/ 2012

A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah Matematika sebagai salah satu mata pelajaran dasar pada setiap jenjang pendidikan formal yang memegang peran penting. Matematika merupakan alat yang dapat memperjelas dan menyederhanakan suatu keadaan atau situasi melalui abstrak, idealisasi, atau generalisasi untuk menjadi suatu studi ataupun pemecahan masalah. Dalam pelaksanaan pembelajaran disekolah usaha untuk meningkatkan motivasi belajar siswa banyak mengalami kendala dan hambatan. Lebih- lebih pada mata pelajaran matematika yang menuntut begitu banyak pencapaian konsep sehingga mengakibatkan motivasi belajar kurang baik. Motivasi belajar dapat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal yaitu kemampuan yang berasal dari siswa, meliputi kecerdasan, bakat, minat, motivasi dan emosi. Sedangkan faktor eksternal berasal dari luar, meliputi lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Diantara ketiga lingkungan itu yang paling berpengaruh adalah lingkungan sekolah seperti guru, sarana belajar dan teman- teman sekelas. Guru merupakan pihak yang berhubungan langsung dengan siswa. Sehingga dalam memberikan evaluasi diharapkan lebih akurat, objektif, dan mengoptimalkan pembelajaran. Masalah yang dihadapi misalnya masalah kepribadian guru dan kompetensi, kecakapan mengajar, yang antara lain mencakup ketepatan pemilihan metode pendekatan, motivasi, improvisasi, serta evaluasi. Sampai saat ini banyak kesulitan yang dihadapi siswa dalam belajar matematika. Hal ini disebabkan karena banyaknya anggapan bahwa matematika sulit. Dengan anggapan itu akhirnya berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa. Orang tua juga merupakan pihak yang berperan utama dalam penanganan anak. Sebab interaksi anak dengan orang tua tetap lebih besar porsinya dibanding dengan interaksi guru dengan anak di sekolah. Orang tua harus mampu menciptakan kondisi dan menyediakan sarana yang menunjang proses belajar anak. Dengan demikian dapat diungkapkan bahwa guru menentukan keberhasilan belajar siswa. Kemampuan guru dalam melaksanakan poses belajar mengajar sangat bepengaruh terhadap tingkat pemahaman siswa. Biasanya guru menggunakan model pembelajaran konvensional dan metode ceramah sebagai cara untuk menyampaikan materi pelajaran. Melalui model

guru harus memiki strategi agar siswa dapat belajar secara efektif dan efisien serta mengena pada tujuan yang diharapkan. Melalui pendekatan kontekstual tersebut diharapkan siswa mengerti apa makna belajar. Proses pembelajaran akan berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami. guru harus menguasi teknik. yaitu hanya sekitar 60 % siswa yang dapat mencapai ketuntasan klasikal. Hal ini terjadi karena beberapa faktor. siswa akan lebih banyak pengetahuan. apa manfaatnya. Diharapkan yang dipelajari siswa berguna bagi hidupnya.Si selaku guru mata pelajaran matematika di kelas VIII SMP Negeri 1 Pajar Bulan. Dari konsepsi ini diharapkan hasil belajar akan bermakna. Berdasarkan hasil wawancara pada tanggal 17 Mei 2013 dengan Bapak Renaldi. bukan sekedar transfer pengetahuan dari guru ke siswa. dan bagaiman mencapai.Pd. siswa kurang termotivasi untuk belajar matematika. Dari uraian di atas maka salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan motivasi balajar siswa adalah dengan pendekatan kontekstual. karena dengan metode belajar yang berbeda akan mempengaruhi siswa dalam menerima pelajaran. antara lain siswa merasa kesulitan dalam memahami konsep matematika. masih banyak siswa yang mendapat nilai rendah pada ulangan matematika. Didalam proses belajar mengajar. akibatnya pembelajaran menjadi kurang bermakna karena ilmu pengetahuan yang didapat oleh siswa mudah terlupakan. atau biasanya disebut metode mengajar. . Salah satu langkah untuk memiliki strategi itu. Setiap materi yang akan disampaikan harus menggunakan metode yang tepat. Dengan demikian siswa akan memposisikan dirinya sebagai pihak yang memerlukan bekal untuk hidupnya nanti.teknik penyajian. yang mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dipelajari dengan penerapannya dalam kehidupan para siswa sebagai anggota keluarga dan masyarakat.pembelajaran konvesioanal dan metode ceramah. namun pengetahuan itu hanya diterima dari informasi guru. khususnya pada materi pokok bangun ruang. terutama pelajaran matematika. dan siswa cenderung bersifat pasif dan kurang bisa bekerja dalam kelompok. Pendekatan kontekstual dalam pembelajaran dikenal dengan sebutan Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep pembelajaran yang membantu guru untuk mengaitkan antara materi ajar dengan situasi dunia nyata siswa. S.

komputer telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam proses pembelajaran di kelas. Aplikasi teknologi adalah salah satu solusi untuk meningkatkan keaktifan dan kreativitas siswa. karena transformasi teknologi berkembang sangat pesat. Matematika harus dipelajari dalam konteks yang bermakna yang mengaitkannya dengan subyek lain dan dengan minat dan pengalaman siswa. pemanfaatan komputer untuk pembelajaran masih jarang atau bahkan tidak pernah dilakukan. aplikasi teknologi ini dapat membimbing siswa melalui pengembangan topik-topik matematika contohnya melalui software komputer yang semakin beragam. matematika telah memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan. 1995). mathematics should be taught in contexts that are meaningful and relevant to learners”. Para pembaharu pendidikan matematika sepakat bahwa matematika harus dibuat accessible bagi seluruh siswa (House. dan bukan sebagai sekumpulan topik yang terpisah-pisah. Lebih jauh House menyatakan bahwa “…mathematics is not an isolated body of knowledge. Sifatnya sebagai suplemen atau pelengkap. Meskipun tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran dan posisi guru. sehingga dapat difungsikan sebagai suatu strategi atau pendekatan pembelajaran alternatif. penelitian terhadap efektivitas penggunaan komputer dalam pembelajaran perlu dilakukan agar pemanfaatan komputer untuk kepentingan pendidikan. To be useful. Namun tidak demikian halnya di Indonesia. tetapi juga sebagai media pembelajaran yang membantu pengajar dalam menjelaskan suatu konsep di kelas. Matematika telah memberikan kontribusi mulai dari hal yang sederhana seperti perhitungan dasar (basic calculation) dalam kehidupan sehari-hari sampai hal yang kompleks dan abstrak seperti penerapan analisis numerik dalam bidang teknik dan sebagainya. Artinya. Kampus seharusnya menerapkan teknologi dalam setiap kegiatan pendidikan. Sesuai dengan pendapat Balacheff dan Kaput (2001: 467) yang mengingatkan bahwa penelitian terhadap berbagai aspek pembelajaran yang menggunakan teknologi harus dilakukan. matematika hendaknya ditampilkan sebagai disiplin ilmu yang berkaitan (connected). tidak hanya sebagai alat perhitungan matematik saja. . Meskipun semakin banyak sekolah yang dilengkapi laboratorium komputer. Oleh karena itu. Di negara-negara maju. khususnya pendidikan matematika dapat lebih ditingkatkan.PEMBELAJARAN MATHEMATICA MATEMATIKA UNTUK DENGAN BANTUAN HASIL SOFTWARE BELAJAR MENINGKATKAN MATEMATIK SISWA KELAS VIII SMP NEGERI `1 PAJAR BULAN Latar Belakang Disadari atau tidak.

Belum maksimalnya pembelajaran matematika yang memanfaatkan komputer sebagai media pembelajaran. diperlukan kemampuan dalam menguasai perkembangan teknologi pembelajarn.Banyak pendidik matematika (dosen. antara lain pemanfaatan software-software komputer sebagai media pembelajaran matematika. Dalam penelitian ini. peneliti terlebih dahulu mengembangkan media pembelajaran matematika berbasis komputer berbantuan software mathematica dengan mengambil topik Mencari Nilai Ekstrim dari Fungsi Kuadrat dan Polinom. guru) yang belum mengembangkan media pembelajaran dengan memanfaatkan software yang ada pada komputer seperti software Mathematica. Padahal dalam menghadapi era globalisasi dan menyongsong era pasar bebas. . Topik ini dipilih karena memiliki keterkaitan yang luas dengan topik matematika lain. dengan disiplin ilmu lain dan dengan kehidupan sehari-hari. mendorong peneliti sebagai praktisi pendidikan untuk melakukan penelitian terhadap pembelajaran berbantuan komputer yang difokuskan untuk peningkatan hasil belajar matematik mahasiswa calon guru matematika.

baik berasal dari dalam diri siswa (internal) maupun berasal dari luar siswa (eksternal).6} = {0. dimana siswa dibina untuk mengembangkan suatu kemampuan. Karena salah satu faktor utama penentu kemajuan di suatu bangsa adalah pendidikan. guru tidak terlepas dari masalah-masalah yang dialami siswa. Hal ini tidak luput dari peranan guru di dalam proses pembelajaran di kelas. 2. Pembinaan dan pengembangan pendidikan diawali di bangku sekolahan. Usman dalam Harfin (2006: 2) mengemukakan bahwa peningkatan prestasi belajar matematika didukung oleh berbagai faktor. 3. Dari rata-rata hasil yang dicapai siswa tersebut masih tergolong sangat rendah bila dibandingkan dengan standar minimal ketuntasan belajar sebesar 6. khususnya dalam menentukan irisan dan gabungan sebagai contoh. kritis. (3) rata-rata hasil ulangan umun kelas VII4 semester II tahun 2006 yang diberikan oleh guru tersebut hanya mencapai 5. keahlian dan keterampilan yang dimilikinya. 6. (2) siswa sangat jarang diberi kesempatan untuk bekerjasama dengan teman dalam kelompok. untuk menguasai suatu konsep dari mata pelajaran yang ditekuninya di sekolah atau lebih khususnya lagi mata pelajaran matematika. 7. 3. Oleh karena itu diperlukan pembinaan dan pengembangan pendidikan khususnya pendidikan di sekolah. B = {2. 4. ini dapat disebabkan karena strategi dan model pembelajaran yang diterapkan sehingga siswa memandang matematika itu membosankan dan sukar untuk dipahami. Strategi dan model pembelajaran yang dilakukan oleh guru kepada siswa di dalam kelas merupakan salah satu faktor peningkatan prestasi belajar yang berasal dari luar siswa (eksternal). 2.5. (4) guru tersebut mengemukakan bahwa salah satu kesulitan siswa dalam mata pelajaran matematika yaitu mengenai materi himpunan. .89. Fenomena di atas juga dialami di SMP Negeri 1 Wundulako Kolaka. Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang sangat penting dalam keberhasilan program pendidikan. 8} masih ada siswa yang menjawab AÇB = {1. 3. maka siswa dituntut untuk dapat menguasai materi sedini mungkin secara tuntas. 8} dan = {2} È {0. kritis dan sistematis. 1. 4. Berdasarkan observasi awal yang dilakukan tanggal 22 Februari tahun 2007 yang berupa pengamatan langsung di dalam kelas serta informasi dari guru mata pelajaran matematika di kelas VII4 bahwa : (1) metode yang digunakan guru masih menggunakan metode konvensional sehingga keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran sangat kurang dan guru sangat jarang memberikan waktu atau meminta siswa untuk menyelesaikan/mendiskusikan suatu masalah sehingga siswa kurang termotivasi untuk belajar dan berpikir secara mandiri. Dalam proses pembelajaran di dalam kelas. 2. Oleh karena peranan matematika yang begitu penting. 6.MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA PADA POKOK BAHASAN HIMPUNAN DI KELAS VII4 SMP NEGERI 1 WUNDULAKO KOLAKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK-PAIR-SHARE (TPS) Latar Belakang Program pendidikan di Indonesia tidak terlepas dari upaya pengembangan sumber daya manusia yang berpotensi. 4}. berkualitas dan mampu bersaing dalam era teknologi yang akan datang khususnya dalam pendidikan. 5. Karena matematika sebagai bagian dari pendidikan akademis dan merupakan ilmu dasar bagi disiplin ilmu yang lain sekaligus sebagai sarana bagi siswa agar mampu berpikir logis. A = {1. 8}. Akibatnya rendahnya prestasi belajar matematika siswa. 6}. jika diketahui S = {0. 6. Oleh sebab itu diperlukan upaya untuk pemecahan masalah tersebut.

menjawab. maka penulis tertarik ingin mengetahui apakah model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share (TPS) dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa dengan melakukan penelitian dalam bentuk tindakan kelas dengan judul “Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Pada Pokok Bahasan Himpunan di Kelas VII4 SMP Negeri 1 Wundulako Kolaka Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe ThinkPair-Share (TPS)”. dan Pendekatan Struktural. Selain itu pula pembelajaran kooperatif ini. Jigsaw. dan saling membantu satu sama lain (Ibrahim dkk. 200: 20). pada siswa dituntut untuk lebih mengutamakan keaktifan serta mengutamakan kerjasama antar siswa yang satu dengan siswa yang lainnya. . Model pembelajaran yang dimaksud yaitu model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share (TPS) dimana model pembelajaran ini memberikan waktu lebih banyak untuk siswa berpikir. Berdasarkan hal-hal di atas. (2000: 20) mengemukakan bahwa model pembelajaran kooperatif terdiri beberapa pendekatan yakni pendekatan Student-Teams-Achievement-Division (STAD).Dari uraian di atas penulis merasa tertarik untuk menerapkan salah satu model pembelajaran sebagai alternatif pemecahannya. Investigasi Kelompok (IK). Pendekatan Struktural terbagi atas dua macam tipe yaitu Think-Pair-Share ( Berfikir-Berpasangan-Berbagi) dan NumberedHead-Together (NHT). Ibrahim ddk.

diagram. dan (5) memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan. guru berperan sebagai faktor penentu keberhasilan siswa dalam belajar. membimbing dan mengembangkan kemampuan peserta didik (siswa) agar menjadi manusia yang cerdas. merancang model matematika. Salah satu tolak ukur yang menggambarkan tinggi rendahnya keberhasilan siswa dalam belajar adalah hasil belajar. yang bertujuan agar siswa memiliki hasil yang terbaik sesuai kemampuannya. Sesuai yang di kemukakan oleh Sardiman (1986:98). Sukirman. Muchidin. Pendidikan senantiasa berkenaan dengan manusia. Disini tugas guru menyediakan bahan pelajaran tetapi yang mengolah dan mencerna adalah para siswa sesuai dengan bakat. Hasil belajar dapat di lihat dari tiga aspek. dan minat dalam mempelajari matematika. akurat. Russefendi (Yusuf. “Matematika penting sebagai pembentuk sikap. Fathoni. tabel. secara luwes. (4) mengomunikasikan gagasan dengan simbol. maka inisiatif belajar harus muncul dari dirinya. dan tepat. menyusun bukti. karena guru secara langsung mempengaruhi. Darmawan. Matematika perlu dipahami dan dikuasai semua lapisan masyarakat terutama siswa disekolah. Latar Belakang Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Salah satu disiplinn ilmu pengetahuan yang memegang peranan penting dalam kehidupan dan kehadirannya sangat terkait erat dengan dunia pendidikan adalah Matematika. belajar adalah berbuat dan sekaligus merupakan proses yang membuat anak didik harus aktif. Sulityo. Wahyudin. efisien. Judul “Perbandingan hasil belajar matematika antara siswa yang menggunakan model pembelajaran cooperative learning type numbered heads together dengan menggunakan model biasa” B. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang mengatakan bahwa kunci utama dalam memajukan pendidikan adalah guru. menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh. terampil dan bermoral tinggi. Djajuri. 2003:1) mengemukakan. dalam pengertian sebagai upaya sadar untuk membina dan mengembangkan kemampuan dasar manusia seoptimal mungkin sesuai dengan kapasitasnya. Sanjaya. kemampuan dan latar belakang masingmasing. 2006:346). Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jhon Dewey (Ibrahim. dalam pemecahan masalah. menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma. (2) menggunakan penalaran pada pola dan sifat. yaitu aspek kognitif. oleh karena itu salah satu tugas guru adalah mendorong siswa agar dapat belajar dengan baik”. Proses pendidikan yang dilaksanakan di sekolah pada dasarnya adalah kegiatan belajar mengajar. atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika. Berdasarkan tujuan tersebut tampak bahwa arah . 2002:76) mengemukakan bahwa belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa oleh dirinya sendiri. Rusman. tujuan yang ingin dicapai melalui pembelajaran matematika di jenjang SMP adalah: (1) memahami konsep matematika. atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah. (3) memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah. yaitu memiliki rasa ingin tahu. perhatian. Hernawan.A. melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi. aspek afektif. Di samping itu. serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah (Depdiknas. Susilana. Hal ini di tegaskan dalam Undang-undang No. aspek psikomotor.

sedangkan guru aktif dan segala inisiatif datang dari guru. Pembelajaran Kooperatif yaitu semua metode pembelajaran yang melibatkan para siswa pembelajar untuk bekerja sama dalam belajar. Selain itu keberhasilan belajar dapat dipengaruhi oleh guru sendiri. Ini menunjukan keberhasilan itu dapat meningkatkan motivasi belajar matematika. Siswa selalu pasif. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Sardiman (1986:85) hasil belajar akan optimal kalau ada motivasi dan motivasi dapat berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi. Reaksi siswa terhadap belajar yang terbuka cukup baik Pertisipasi aktif siswa lebih mudah dikembangkan c. Namun kenyataan di lapangan. 2006:2). sehingga yang dikehendaki oleh subyek belajar itu dapat di tercapai. Menurut Robert Slarin (Munjiali. Kelebihan dari model pembelajaran kooperatif menurut Looning (Suhena.atau orientasi pembelajaran matematika adalah kemampuan pemecahan masalah matematika. dalam Nurardiyati. dimana semua anggota kelompok bertanggung jawab bagi diri pembelajar sendiri. b. Maka akan timbul motivasi bersama dengan proses untuk mencapai keberhasilan belajar matematika. Langkah-langkah yang ditempuh dalam kegiatan belajar mengajar sangat sistematis dan lebih mudah ditetapkan . keberhasilan belajar matematika tidak hanya karena dapat memahami konsep dan teorema serta kemudian dapat mengaplikasikannya. dimana guru masih menerapkan system yang menuntut guru sendiri yang aktif dibandingkan dengan siswa. Seperti yang di kemukakan Ruseffendi (Yusuf. Bila pemahaman terhadap materi-materi matematika yang dipelajari dapat tercapai. 2001:6) pembelajaran kooperatif mempunyai beberapa kelebihan di antaranya : a. maka motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar. ia akan belajar dengan sungguh-sungguh sehingga ia mempunyai pengertian yang lebih dalam. yang berarti motivasinya turun. bukan saja bagi mereka yang mendalami matematika. Dengan kata lain. melainkan juga karena kehendak. Kemampuan ini sangat berguna bagi siswa pada saat mendalami matematika maupun dalam kehidupan sehari-hari. Dari hasil kegiatan penulis model pembelajaran kooperatif memiliki peluang untuk mengatasi hal tersebut. sikap dan macam-macam motivasi yang lain. proses kegiatan belajar mengajar di kelas. Sebaliknya. Matematika (ilmu pasti) bagi anak-anak pada umumnya merupakan mata pelajaran yang tidak di senangi kalau bukan pelajaran yang di benci. 1986:1997). yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar. Begitu juga dalam belajar matematika menurut Hudojo (1988:100). pembelajaran mata pelajaran eksak tertutama Matematika responnya kurang baik. suatu kegagalan dapat menghasilkan harga diri turun. apabila seorang peserta didik mempunyai motivasi belajar matematika. Ia dengan mudah dapat mencapai tujuan. Untuk mengatasi hal tersebut perlu dicari suatu model pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Sebagaimana yang diungkapkan pleh John Locke dan Herbert (Sardiman. dalam proses belajar mengajar guru akan senantiasa mendominasi kegiatan. 2004:6). tetapi juga yang akan menerapkannya baik dalam bidang lain (Ruseffendi. Dalam kegiatan belajar. 2003:2).

.Ada beberapa pembelajaran kooperatid. salah satunya pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together. Dengan melibatkan siswa dalam suatu pelajaran dengan mengecek pemahaman mereka terhadap isi dari pelajaran itu. berfikir bersama dan menjawab. mengajukan pertanyaan. Menurut Ibrahim (2002) ada empat tahap dalam pelaksanaan Numbered Head Together yaitu : penomoran. Pembelajaran ini di kembangkan oleh Spenser Kagen (1993).

.

.

padahal guru selalu memberikan kesempatan bertanya yang seluas – luasnya kepada siswa. Hal ini menimbulkan siswa kurang memiliki kreatifitas dalam belajar matematika. walaupun setelah itu juga diadakan ujian perbaikan. wawancara dengan guru. untuk menguatkan permasalahan maka dilakukan juga wawancara dengan siswa kelas IV yang diambil secara acak. Kesulitan siswa yang dialami siswa dalam belajar matematika terutama dalam materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat.Selain. maka dilakukan Pre Tes yaitu materi pra syarat konsep bilangan bulat. Siswa enggan dan bahkan takut bertanya atau menjawab pertanyaan dikarenakan bingung terhadap materi yang dijelaskan guru. model dan metode pembelajaran yang dilakukan guru belum memberikan pemahaman konsep yang lebih baikserta dapat mengaktifkan siswa baik fisik maupun mental dalam pembelajaran matematika dan tidak adanya media . Hasil Pos Tes menunjukkan bahwa memang prestasi belajar matematika siswa kelas IV tidak baik karena tidak ada siswa yang nilainya mencapai 60 dari KKM yang ditentukan yaitu 60. karena sulit dan pembelajaran kurang menyenangkan. Latar Belakang Masalah Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas IV SD tersebut dapat diperoleh data bahwa secara umum proses belajar mengajar masih teacher centered.PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SISWA PADA MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN BILANGAN BULAT MELALUI METODE DEMONSTRASI DENGAN ALAT PERAGA KARTU PINUS BAB I PENDAHULUAN A. Untuk membuktikan bahwa prestasi matematika siswa kelas IV tidak baik. Bahkan guru kelas mengungkapkan bahwa selama ulangan harian matematika siswa sekitar 50 % tidak mencapai nilai 60 yaitu batas tuntas KKM . Diperoleh hasil bahwa siswa tidak senang belajar matematika. Proses belajar yang cenderung siswa pasif hanya membuat siswa merasa tidak senang terhadap matematika dan bosan terhadap pelajaran matematika. dikarenakan masih merasa kesulitan dalam penggunaan dan penerapannya. penyebabnya adalah materi pelajaran yang lumayan sulit. Kondisi ini cukup memperihatinkan dan perlu dicari pemecahan masalahnya. Materi pra syarat ini adalah materi pada kelas III yang telah diajarkan. Guru jarang menggunakan media atau alat pembelajaran yang juga seharusnya melibatkan siswa dalam penggunaanya. Proses belajar matematika yang dirasa siswa kurang menyenangkan ini dikuatkan dengan pernyataan guru bahwa memang selama ini belum menggunakan model pembelajaran yang bersifat PAKEM.

pembelajaran sebagai daya dukungnya. Berdasarkan permasalahan diatas. Mengingat banyak sekali aplikasi bilangan bulat yang langsung dipakai dalam kehidupan sehari-hari.Dengan menggunakan metode demonstrasi menggunakan alat peraga pinus diharapkan siswa dapat memecahkan masalah yang berkaitan dengan materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. peneliti tertarik untuk melakukan penelitian. Penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti yaitu penelitian tindakan kelas dengan judul “Peningkatan prestasi belajar siswa pada materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat melalui metode demonstrasi dengan alat peraga pinus” . siswa juga dapat menimbulkan sikap saling menghormati dan menimbulkan kreativitas siswa. Kegiatan belajar metode demostrasi menggunakan alat peraga kartu pinus mempunyai nilai salur yang tinggi selain siswa bisa belajar tentang operasi bilangan bulat dengan mudah. salah satu metode yang dianggap paling tepat dalam meningkatkan hasil belajar siswa dalam materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat bagi siswa Sekolah Dasar adalah dengan menggunakan metode demonstrasi menggunakan alat peraga kartu pinus. Dari sejumlah metode yang ada. maka penguasaan penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat oleh siswa harus mendapat perhatian.

Cornelius mengatakan bahwa ada banyak alasan tentang perlunya siswa belajar matematika. 3) sarana mengenal pola-pola hubungan dan . 2005). siswa perlu memiliki kemampuan memperoleh. memilih dan mengolah informasi membutuhkan pemikiran kritis. kalimat matematika. diagram. dan lebih-lebih lagi pakar pendidikan. masalah pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga. Kemampuan untuk memperoleh. Oleh karena itu. Hal ini merupakan hal yang wajar karena semua orang berkepentingan dan ikut terlibat dalam proses pendidikan.Pengaruh Pembelajaran Kontekstual dan Gaya Berfikir terhadap Prestasi Belajar Matematika LATAR BELAKANG MASALAH Perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memungkinkan semua pihak dapat memperoleh informasi dengan melimpah. yaitu: 1) merupakan sarana berpikir yang jelas dan logis. Indonesia sebagai negara berkembang sangat membutuhkan tenaga-tenaga kreatif yang mampu memberi sumbangan bermakna kepada ilmu pengetahuan. mengukur dan menggunakan rumus matematika yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari melalui materi pengukuran dan geometri. Selain itu. sistematis. teknologi dan kebudayaan termasuk kesenian. memilih dan mengolah informasi untuk bertahan pada keadaan yang selalu berubah dan penuh dengan persaingan. Matematika sebagai salah satu ilmu dasar merupakan mata pelajaran yang wajib diajarkan pada semua jenjang pendidikan. Dengan demikian. 2) sarana memecahkan masalah kehidupan sehari-hari. grafik atau tabel (Depdiknas. Sementara itu. berbangsa dan bernegara tidak terlepas dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni dan budaya. dan pendidikan merupakan bagian hakiki dari kehidupan masyarakat. Matematika juga berfungsi mengembangkan kemampuan mengkomunikasikan gagasan dengan bahasa yang dapat berupa model matematika. karena matematika memiliki struktur dan keterkaitan yang kuat dan jelas antar konsepnya sehingga memungkinkan siswa terampil berpikir rasional (Depdiknas. baik sekolah dasar. logis. kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi pada saat ini tidak lepas dari peran pendidikan. di kalangan masyarakat luas. Masalah pendidikan seringkali menjadi topik perbincangan yang menarik dan hangat. serta aljabar dan trigonometri. 2005). masyarakat dan pemerintah. Cara berpikir seperti ini dapat dikembangkan dengan belajar matematika. kreatif dan kemauan bekerja sama yang efektif. Matematika berfungsi mengembangkan kemampuan menghitung. sekolah menengah mupun perguruan tinggi. cepat dan mudah melalui berbagai sumber dan tempat di dunia ini.

Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah dalam rangka membangun pemahaman siswa yang nantinya diharapkan bermuara pada peningkatan mutu pendidikan. tidak dapat dipungkiri lagi bahwa mata pelajaran matematika masih merupakan pelajaran yang dianggap sulit. Namun demikian. serta peningkatan kualifikasi pendidikan mereka. semua usaha tersebut nampaknya belum membuahkan hasil yang optimal. Disebutkan bahwa mata pelajaran matematika merupakan mata pelajaran yang tidak menarik bagi para siswa SD sampai SMA serta bagi mahasiswa di perguruan tinggi. Sikap antipati ini disebabkan karena siswa menganggap matematika merupakan pelajaran yang sulit dan hanya merupakan ilmu murni yang kerjanya bergulat dengan angka-angka saja.generalisasi pengalaman. sekolah menengah sampai kepada perguruan tinggi masih belum meningkat secara signifikan. peningkatan mutu guru dan tenaga kependidikan lainnya baik melalui pelatihan. seharusnya membuat matematika menjadi salah satu mata pelajaran yang menyenangkan dan digemari oleh siswa. Hal ini tentunya menimbulkan kesenjangan yang cukup besar antara apa yang diharapkan dari belajar matematika dengan kenyataan yang terjadi di lapangan. pengadaan buku ajar atau bahan ajar atau buku referensi lainnya. 4) sarana mengembangkan kreativitas. Kondisi ini mengakibatkan mata pelajaran matematika tidak disenangi. meningkatkan daya nalar. . berpikir logis. Selain itu. 1999). sehingga siswa atau masyarakat umum beranggapan bah wa mata pelajaran matematika itu adalah mata pelajaran yang hanya berkutat pada angka-angka saja. Berbagai indikator menunjukkan bahwa mutu pendidikan. 2) sering terdengar nada-nada miring yang tersebar di masyarakat terkait dengan diberikannya pelajaran matematika di sekolah. sistematis dan kreatif. Upaya-upaya yang dimaksud di antaranya penyempurnaan kurikulum. khususnya pendidikan matematika. seperti termuat pada harian Kompas edisi 28 Maret 2002 dapat diperoleh gambaran sikap siswa terhadap mata pelajaran ini. membosankan dan sering menimbulkan masalah dalam belajar. Namun demikian. Upaya meningkatkan prestasi belajar matematika rupanya harus dilakukan dengan kerja keras serta harus menghadapi berbagai hambatan. Di satu sisi matematika mempunyai peranan penting dalam kehidupan sehari-hari. tidak diperdulikan dan bahkan diabaikan. Di sisi lain banyak siswa yang tidak menyenangi mata pelajaran matematika. Begitu pentingnya peranan matematika seperti yang diuraikan di atas. melaksanakan program academic staff deployment (ASD) yaitu menerjunkan dosen ke sekolah sebagai guru. di mana mereka beranggapan bahwa mata pelajaran matematika tidak ada manfaatnya bagi kehidupan sehari-hari. antara lain: 1) pelajaran matematika masih menjadi mata pelajaran yang “menakutkan” bagi siswa. dan 5) sarana untuk meningkatkan kesadaran terhadap perkembangan budaya (dalam Abdurrahman. terlebih lagi pendidikan matematika yang secara otomatis menyentuh prestasi belajar matematika siswa mulai dari sekolah dasar. seminar dan kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).

Sementara itu. yang nantinya bisa digunakan oleh siswa dalam menjawab soal ulangan harian.00 sampai 5. Pola pembelajaran atau urutan sajian materi dalam pembelajaran matematika yang biasa dilakukan selama ini adalah (1) pembelajaran diawali penjelasan singkat materi oleh guru. Tabel 1. siswa selalu diarahkan untuk menjawab “benar” untuk setiap jawaban benar. abstrak dan sulit dipahami. khususnya pendidikan matematika. Dalam proses pembelajaran matematika selama ini. rata-rata NUAM untuk mata pelajaran matematika masih sulit beranjak dari urutan terbawah dan bahkan diklasifikasikan C.1 Rata-rata NUAM Siswa SMP DHARMA LAKSANA Dua Tahun Terakhir (Sumber Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP DHARMA LAKSANA) Hasil observasi di SMP DHARMA LAKSANA menunjukkan bahwa dalam pembelajaran matematika di kelas proses belajar-mengajar masih didominasi oleh guru. Dalam latihan soal. 2004). ulangan umum atau pun UAN tanpa melihat secara nyata manfaat materi yang diajarkan dalam kehidupan sehari-hari. Guru juga lebih menekankan pada siswa untuk menghapal konsep-konsep. khusus di SMP DHARMA LAKSANA. Semua itu pada akhirnya akan bermuara pada rendahnya prestasi belajar yang diperoleh siswa dalam pelajaran matematika. Kenyataan menunjukkan bahwa secara nasional rata-rata NUAN matematika siswa SMP pada lima tahun terakhir ini berkisar antara 4.Salah satu patokan yang sering digunakan untuk menggambarkan kurang berhasilnya pendidikan matematika di semua jenjang pendidikan adalah nilai hasil ujian akhir nasional (NUAN). Akibatnya siswa selalu memandang matematika sebagai pelajaran yang “menakutkan” bahkan yang lebih ekstrim lagi siswa mengangap matematika itu sebagai “musuh”. terutama rumus-rumus praktis. siswa akan semakin beranggapan belajar matematika itu tidak ada artinya bagi kehidupan mereka. 1988). di mana guru sebagai sumber utama pengetahuan. teorema yang harus dihafal.1 di bawah ini. Hal ini dilakukan oleh guru karena guru mengejar target kurikulum untuk menghabiskan materi pembelajaran atau bahan ajar dalam kurun waktu tertentu. (2) pemberian contoh soal dan (3) diakhiri dengan latihan soal. karena NUAN merupakan indikator yang mudah dilihat oleh masyarakat luas untuk digunakan sebagai acuan tentang keberhasilan pendidikan. guru menerapkan strategi klasikal dengan metode ceramah menjadi pilihan utama sebagai metode pembelajaran. Dengan demikian. defenisi. Pola pembelajaran konvensional seperti di atas . siswa diajarkan teori.50 (Sumadi dkk. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 1. kemampuan berpikir konvergen siswa lebih ditekankan tanpa memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir divergen (Ichrom.

termasuk kualitas pembelajaran matematika. Boleh dibilang siswa memiliki “senjata canggih” tetapi tidak mengetahui cara menggunakannya. Prambudi (2004) menyebutkan bahwa salah satu alasan diberlakukannya kurikulum terbaru (kurikulum berbasis kompetensi) adalah karena rendahnya kualitas pembelajaran. maka guru perlu merancang suatu pembelajaran yang menunjang rencana tersebut. Sebagai salah satu komponen penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan. 2002).dilakukan secara monoton dari waktu ke waktu. Pembelajaran kontekstual tidak mengharuskan siswa menghafal faktafakta. Pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang dapat mengaitkan konten kurikulum yang dipelajari siswa dengan konteks kehidupan nyata. bila siswa diberikan soal yang berbeda dengan soal latihan. Pada saat guru menjelaskan materi. Pengetahuan yang dimiliki siswa hanya bersifat prosedural yaitu siswa cenderung menghafal contoh-contoh yang diberikan oleh guru tanpa terjadi pembentukan konsepsi yang benar dalam struktur kognitif siswa. tetapi mendorong siswa mengkontruksi pengetahuan di benak siswa sendiri (Depdiknas. siswa cenderung diam serta mendengarkan apa yang dijelaskan oleh guru. Dengan demikian pembelajaran yang sesuai dengan nafas KBK adalah pembelajaran kontekstual. Pembelajaran kontekstual adalah suatu pembelajaran yang berupaya mengaitkan materi yang dipelajari dengan pengalaman siswa. maka siswa cenderung membuat kesalahan. Dalam pembelajaran ini konsep yang diterima siswa hampir semuanya berasal dari “apa kata guru”. Konsekwensinya. tetapi melalui penerapan beberapa rumus atau konsep. . Dalam rangka menyongsong KBK. kegiatan belajar mengajar (KBM) perlu diubah atau direvisi agar mampu meningkatkan prestasi belajar matematika siswa. serta jarang mengaitkan materi yang dibahas dengan masalah-masalah nyata yang ada dalam kehidupan sehari-hari. apalagi pemerintah dalam hal ini Depdiknas merencanakan menerapkan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) pada tahun ajaran 2004/2005 secara nasional. Pelajaran akan bermakna bila dikaitkan dengan konteks kehidupan nyata. Landasan berpikir KBK adalah konstruktivis yang esensinya adalah siswa harus menemukan dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan di benak mereka sendiri dan memberi makna melalui pengalaman nyata. siswa tidak bisa berargumentasi jika ada hal-hal yang ingin ditanyakan terkait dengan materi yang ada di buku. Keadaan seperti ini membuat siswa mengalami kesulitan memahami konsep matematika sehingga sangat mudah terjadi miskonsepsi yang nantinya akan menyebabkan siswa mengalami kesulitan memahami konsep lebih lanjut. Guru harus mampu mengupayakan membuat penyajian materi pelajaran matematika yang menarik dan menyenangkan. Siswa akan menemui hambatan jika diberikan soal yang tidak bisa diselesaikan dengan rumus secara langsung. Dominasi metode ceramah dalam pembelajaran matematika cenderung berorientasi pada materi yang tercantum dalam kurikulum dan buku teks.

penulis tertarik untuk mencoba menerapkan pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran matematika dengan melaksanakan penelitian berjudul “Pengaruh Pendekatan Kontekstual dan Gaya Berfikir terhadap Prestasi Belajar Matematika”.Dalam pembelajaran ini siswa didorong membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Pembelajaran matematika dengan pembelajaran kontekstual memberikan kebebasan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasan-gagasannya. Selain itu. sehingga siswa SMP yaitu pada usia 12-16 tahun proses berpikirnya belum sepenuhnya bersifat abstrak. 2005). yaitu berpikir divergen (kreatif) (Depdiknas. perolehan informasi dan merespon permasalahan yang diberikan. Sedangkan pembelajaran matematika yang menggunakan pembelajaran konvensional cenderung mengarahkan siswa untuk memberi respon yang tunggal terhadap permasalahan yang diberikan. Pembelajaran kontekstual menekankan pada tingkat berpikir yang tinggi. yaitu gaya berpikir konvergen dan gaya berpikir divergen. sedangkan gaya berpikir divergen adalah respon individu mencakup berbagai alternatif yang merupakan variasi ide yang tidak bisa tentang hal-hal yang terkait dengan pembicaraan atau informasi yang diberikan. namun perubahan dari tahap operasional konkrit ke tahap operasional formal tidak berlangsung secara mendadak tetapi secara bertahap. menurut Piaget walaupun siswa SMP sudah berada pada tahap operasional formal. khususnya dalam meningkatkan prestasi belajar matematika siswa. sehingga masih membutuhkan bendabenda nyata dalam pembelajarannya (Depdiknas. penerapan pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran matematika dimungkinkan karena topik-topik matematika yang diajarkan di SMP umumnya sebagian besar masih dapat dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Siswa diharuskan menjawab “benar” untuk setiap jawaban benar. Klasifikasi gaya berpikir siswa dibagi menjadi dua. Gaya berpikir adalah perbedaan-perbedaan individu dalam merespon suatu permasalahan tentang halhal yang terkait dengan pembicaraan atau informasi yang diberikan. 2005). Penerapan pembelajaran kontekstual diduga dapat memberikan sumbangan alternatif pemecahan masalah pembelajaran matematika. Berdasarkan uraian di atas. . kemampuan berpikir konvergen siswa lebih ditekankan. Pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang menekankan pada tingkat berpikir yang tinggi. Di SMP. bukan trasfer pengetahuan dari guru ke siswa. Gaya berpikir divergen adalah respon individu yang tunggal dan konvensional tentang hal-hal yang terkait dengan pembicaraan atau informasi yang diberikan. Proses pembelajaran kontekstual berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami. yaitu berpikir divergen (kreatif).