PERCOBAAN 14 STOIKIOMETRI REAKSI LOGAM DENGAN GARAM Maksud Percobaan : Mempelajari stoikiometri reaksi antara logam tembaga dengan

larutan besi (III) dan meramalkan ion tembaga yang dihasilkan.

Landasan Teori Reaksi kimia pada hakekatnya merupakan proses yang melibatkan perubahan struktur komposisi dan energi setiap spesies yang berperan serta di dalamnya dalam skala molekular, bahkan kadang-kadang atomik. Stoikiometri adalah merupakan salah satu cabang ilmu kimia yang memepelajari berbagai aspek yang menyangkut kesetaraan massa antara zat yang terlibat dalam reaksi kimia, baik dalam skala molekular maupun dalam skala eksperimental. Pengetahuan tentang kesetaraan massa antara zat yang bereaksi merupakan dasar penyelesaian hitungan yang melibatkan reaksi kimia. Konsep mol diperlukan untuk mengkonversi kesetaraan massa antar zat dari skala molekular ke dalam skala eksperimental dalam laboratorium. Dalam percobaan ini, akan dipelajari stoikiometri reaksi antara logam tembaga dengan larutan gram besi (III) dalam suasana asam dengan menganalisa hasil reaksi secara volumetri. Secara teoritis, ion tembaga monovalen, Cu+ dan ion tembaga bivalen Cu2+ merupakan dua spesies yang dapat dihasilkan dari logam tembaga dalam reaksi ini. Dengan memanfaatkan harga potensial elektroda standar untuk setiap spesies, dapat diperkirakan spesies mana yang secara termodinamika memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk terbentuk dalam reaksi dari dua spesies. Reaksi antar logam Cu dengan larutan garam Fe3+ dapat diperkirakan berlangsung menurut persamaan-persamaan berikut: Cu + 2 Fe3+ Cu + Fe3+ Fe2 + Cu2+ ... (1) 2Fe2 + Cu2+ ... (2)

Reaksi yang terjadi dapat diketahiu dari harga perbandingan jumlah mol antara ion Fe3+ yang bereaksi dengan logam tembaga yang terpakai. Jika harga perbandingan jumlah mol itu digunakan simbol r, maka diperoleh rumus r = mol Fe3+ yang bereaksi mol Cu yang bereaksi harga r berkisar antara 1 sampai 2. Apabila reaksi yang terjadi hanya reaksi (1),maka r = 1, dan r = 2 apabila reaksi yang terjadi hanya reaksi (2). (Abu Bakar. 2013)

.. Untuk mempelajari reaksi pada permanganat digunakan larulan kalium permanganat(KMnO4).. 1979) Larutan yang Terlibat Asam Oksalat (H2C2O4.... Kelompok reaksi yang disebut reaksi oksidasi-reduksi (atau redoks) dikenal juga sebagai reaksi transfer-elektron.Walaupun cukup tepat untuk digunakan dalam berbagai tujuan. MnO4Semua permanganat larut dalam air.. namun terdapat banyak reaksi yang diklasifikasikan sebagai "redoks" walaupun tidak ada transfer elektron dalam reaksi tersebut. Reaksi oksidasi-reduksi berperan dalam banyak hal didalam kehidupan kita sehari-hari. 2004) Mekipun reaksi oksidasi-reduksi didasarkan pada serah terima elektron..... membentuk larutan ungu (lembayung kemerahan). larut dalam air.. Zat ini mudah larut dalam air... Ia melebur pada 10380C. Selain itu sebagian besar unsur logam dan nonlogam diperoleh dari bijinya melalui proses oksidasi reduksi....chem-is-try. akan menghasilkan gas karbon dioksida......... Reaksi ini terlibat mulai dari pembakaran bahan bakar minyak bumi sampai dengan kerja cairan pemutih yang digunakan dalam rumah tangga.... yang lunak..H2O) Oksalat dari logam-logam alkali dan besi(II).(1) Terdiri dari reduksi Cu²⁺ Cu²⁺ + 2e⁻ → Cu. reaksi ini menjadi semakin cepat.(3) Kedua elektron yang dilepaskan Fe diambil oleh Cu²⁺dalam proses ini.... Berikut ini adalah contoh reaksi antara logam besi dan ion tembaga: Fe + Cu²⁺ → Fe²⁺ + Cu..... (Vogel... jadi reaksi ini adalah otokatalitik... hal ini tak selalu tampak dari persamaan reaksinya.... Sehingga oksidasi lebih baik didefinisikan sebagaipeningkatan bilangan oksidasi.(2) Dan oksidasi Fe Fe → Fe²+ + 2e⁻. Proses-proses ini lebih baik untuk dipahami jika dipecah menjadi dua tahap yang terpisah. yang berfungsi sebagai katalis..... dengan mekanisme reaksi: Reaksi ini lambat pada suhu kamar... penjelasan di atas tidaklah persis benar.... (R.. tetapi menjadi cepat pada 60oC. Oksidasi dan reduksi tepatnya merujuk pada perubahan bilangan oksidasi karena transfer elektron yang sebenarnya tidak akan selalu terjadi...org) Reaksi Redoks Reaksi asam basa dapat dikenali sebagai proses transfer-proton. (Vogel I ..H2O) dan dengan asam sulfat(H2SO4) ... Chang. (http://www. tak berwarna dan menjadi anhidrat dengan dipanaskan sampai 110oC . Dalam prakteknya....... karena potensial electrode standarnya positif maka ia tak larut dalam asam klorida dan asam sulfat . dan reduksi sebagai penurunan bilangan oksidasi. Ion mangan (II) mengkatalis reaksi ini.... Sekali ion mangan(II) telah terbentuk.... Jika direaksikan dengan asam oksalat(H2C2O4...... semua oksalat lain tak larut atau sangat sedikit larut dalm air. Permanganat.... transfer elektron akan selalu mengubah bilangan oksidasi.... oksidasi satu zat reduksi zat yang lain....... Berbentuk zat padat kristalin.... dapat ditempa dan liat. 1985) Tembaga (Cu) Tembaga adalah logam merah muda.

Asam sulfat pekat panas juga melarutkan tembaga : Cu + 2H2SO4 Cu2+ + SO42..... 2001) Reaksi kimia pada hakekatnya merupakan proses yang melibatkan perubahan struktur.. ....... Fe2O3... Asam sulfat encer melarutkan besi...... meskipun dengan adanya oksigen ia bisa larut sedikit.......(8) Reaksi redoks KMnO4 dengan Fe2+: Fe2+ Fe3++ eX5 MnO4......+ SO2 + H2O.....(5) Besi (Fe) Besi yang murni adalah logam berwarna putih perak yang kukuh dan liat.+ 8H+ 5Fe3++ Mn2+ + 4H2O... Stoikiometri merupakan salah satu cabang ilmu kimia yang mempelajari berbagai aspek yang menyangkut kesetaraan massa antara zat yang terlibat dalam reaksi kimia baik secara molekuler maupun secara eksperimental... Ion besi (II) dapat mudah dioksidasikan menjadi besi (III).....encer... terdapat kation-kation Fe3+ yang berwarna kuning muda......H2O) dan asam sulfat (H2SO4 ) akan terjadi reaksi redoks yaitu : 2MnO4 + 5H2O2 + 6H+ 2Mn2+ + 5O2 + 8H2O.. Sebagai contoh dapat ditemukan dengan mengetahui stoikiometri reaksi dalam proses analisa volumetri..(10) (Underwood. data hasil titrasi dapat digunakan untuk menghitung konsentrasi suatu senyawa yang terlibat dalam proses itu... Konsep mol diperlukan untuk mengkonversikan kesetaraan massa antara zat dari skala molekuler ke skala eksperimental dalam laboratorium.......... Zat-zat pereduksi mengubah ion besi (III) menjadi besi (II)..(6) Cu + 2 Fe3+ 2Fe2+ + Cu2+ .............. Dalam larutan...+ 16H+ 2Mn2+ + 10CO2+ 8H2O......... FeO.(9) Reaksi Permanganometri Reaksi antara KMnO4 dengan asam oksalat(H2C2O4.....(7) Reaksi redoks KMnO4 dengan asam Oksalat : MnO4. Dalam larutannya...... maka merupakan zat pereduksi yang kuat.+ 8H+ + 5eMn2+ + 4H2O X 2 C2O422CO2 + 2eX 5________ 2MnO4-+ 5C2O42.. .+ 8H+ + 5eMn2+ + 4H2O X 1 5Fe2++ MnO4. Pengetahuan kesetaraan massa antara zat yang bereakasi merupakan dasar penyelesaian hitungan yang melibatkan reaksi kimia.... Besi (III) atau feri Diturunkan dari oksida besi (III)..... komposisi dan energi setiap spesies yang berperan serta didalamnya dalam skala molekuler bahkan kadang-kadan atomik. (Vogel I.... Besi membentuk dua deret garam yang penting : Besi (II) atau fero Diturunkan dari besi (II) oksida. garam-garam ini mengandung kation Fe2+ dan berwarna sedikit hijau. 1985) Reaksi antara logam Cu dan larutan Fe3+ adalah sebagai berikut: Cu + Fe3+ Fe2+ + Cu+ . Ia melebur pada 1535OC..

2H2O dan larutkan dalam labu takar 100mL. Selama atom mempunyai kecenderungan lemah terhadap kovalensinya. Timbang 0. 4. hal: 73) Alat dan Bahan A. Banyak logam tersusun rapat.Dalam percobaan ini akan dipelajari stoikiometri reaksi antara logam tembaga dengan larutan besi (III) dalam suasana asam dengan menganalisa hasil secara volumetri. H2SO4 dan dititrasi dengan larutan standar KMnO4 3. Bahan kimia yang dibutuhkan :  Tembaga serbuk 2 gram  Larutan Fe (NH4)(SO4)2 dengan konsentrasi Fe3+ 0. 2003. akan mempunyai karakter yang lemah terhadap ikatannya dan memperoleh bilangan yang maksimal akibat dari susunan yang rapat bahwa logam mempunyai kerapatan yang tinggi. tambahkan 20mL 2. Ulangi titrasi ini banyak 3 kali dan hitung molaritas rata-rata larutan standar KMnO4 B.63 gr asam oksalat. Secara teoritis ion tembaga monovalen dan ion tembaga bivalen merupakan dua spesies yang dapat dihasilkan dari logam tembaga dalam reaksi ini. Ambil 5 mL larutan asam oksalat itu tempatkan dalam erlenmeyer 100mL.2 gram tepat serbuk logam tembaga dengan botol timbang yang bersih dan kering.5 M.2 M Dan mengandung H2SO4 pekat 100mL per 1000mL larutan. Dengan memenfaatkan harga potensial elektroda standart untuk setiap spesies dapat diperkirakan spesies mana yang secara termodinamika memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk terbentuk dalam reaksi dua spesies itu.  Larutan H2SO4 2. H2C2O4.02 M Cara Kerja A. Stoikiometri Reasksi Logam Cu dengan garam Fe (III) 1. Timbang 0. dan encerkan dengan aquadest sampai ada tanda 2.02 M KMnO4 1. dekat Ir dan Os yang mengandung padatan yang rapat. Standarisasi Larutan 0.5 M  Larutan standar KMnO4 0. Alat-alat yang digunkan :  1 buah gelas kimia beker 250mL  1 buah gelas arloji untuk tutup  1 buah botol timbang 10mL  1 buah labu ukur 100mL  1 buah pipet gondok 25mL  1 buah buret 50mL  3 buah erlenmeyer 100mL  1 set pemanas spiritus B. (Aldes Lesbani. Unsur-unsur yang berada pada blok d. Yang akan distandarisasi dari buret. .

Hitung pula perbandingan [Cu ]/[Cu ] dengan menggunakan rumus. .2 M dan 15 mL larutan asam sulfat 2. Tutuplah gelas beker itu dengan gelas arloji dan kemudian didihkan sampai semua tembaga larut sempurna. Setelah reaksi berhenti.5 mL 5 mL V1 V2 Vrata-rata = (V1+V2)/2= (4. Dinginkan larutan pada air dingin.5 mL)/2 7.5) dan hitung pula perbandingan jumlah mol r dengan rumus 9.5 mL Standarisasi larutan KMnO4 - Vrata-rata = (V1+V2)/2= (8. DATA HASIL PENGAMATAN V1 8. kemudian pindahkan secara kuantitatif kedalam labu takar 100mL dan encerkan sampai ada tanda. Dari hasil percobaan ini tentukan reaksi mana yang lebih banyak berlangsung. + 2+ 10. Tugas : Jelaskan asal rumus . Hitung konsentrasi Fe3+ yang dihasilkan daam masing-masing reaksi (yang diperoleh pada langkah B.1 mL V2 7. Bandingkan hasil saudara dengan lamaran yang diperoleh menggunakan harga potensial elektroda standar. .02 M KMnO4. Ulangi titrasi ini sampai tiga kali.5 mL+5 mL)/2=2.8 mL=0.1 mL+7. reaksi (1) atau reaksi (2). 5. 7. dan kemudian ion besi (II) yang ada dalam larutan dititrasi dengan larutan standar 0. 6. Ambil masing-masing sebanyak 25mL larutan dengan pipet gondok. Usahakan semua serbuk masuk kedalam larutan.5 M. ambil botol timbang dengan menggunakan penjepit plastik dan didihkan kira-kira 10 menit lagi untuk meyakinkan bahwa tembaga telah bereaksi sempurna. Kemudian isilah dengan 30mL larutan besi (III) 0. 4. masukkan ke dalam erenmeyer 100mL. Siapkan gelas beker ukuran 250mL.2. Masukkan dengan hati-hati botol timbang besrta isinya kedalam gelas beker yang telah berisi larutan besi (III) dan asam sulfat tersebut. .75 mL=0.0078 Liter Stoikiometri logam Cu dan garam Fe 4. Bila perlu sekali-sekali diaduk agar tidak ada tembaga yang menempel pada dinding gelas.00275 Liter . 3. 8.

00503 x 10=0. KMnO4 = 0.0002515 Stoikiometri reaksi Cu dengan Fe W Cu = 0.2 gr)/(63. Fe2+ awal = 5/1 x n.00245/0.6340 gr)/(126 gr/mol) × 1000/(100 mL) =0.003 n.KMnO4 = 5 x 0. asam oksalat = 0. Cu = (W.2 gram Bm.00275 Liter n.Cu)/(BM.0503 ×0.Perhitungan Standarisasi larutan KMnO4 w.5 gr/mol)=0. Fe2+sisa = M x V. Pengenceran = 100 mL = 0. Fe2+yang bereaksi / n. KMnO4 = 0.asam oksalat=M.0003 n.asam oksalat (gr/mol) ×1000/(V.02 M x 0. asam oksalat = 5 mL = 0.00275 n. Cu = 63. KMnO4 = M.00245 – 0. Fe2+ awal .1 Liter BM.02 M x 0. Cu = 0. KMnO4 rata-rata = 0.00275 L = 0. asam oksalat = (w. KMnO4 .0003 = 0.02 M V. Fe2+sisa = 0.005 Liter V.8166 .00055 n.asam oksalat (L) =0. Fe yang bereaksi = n.00245 r = n.00055 = 0.asam oksalat ×V.0503 gram n. Fe = 15 mL = 0.003=0.n. V.asam oksalat (gr))/(BM. Fe = 0.0078 Liter M.Pengenceran) = (0. KMnO4 = 0.015 Liter V. Asam oksalat = 126 gr/mol v.6340 gram V.005 =0.5 gr/mol M.Cu) =(0.015 = 0.

Zat harus tidak berubah berat dalam penimbangan di udara dan tidak higroskopis. dapat digunakan untuk menetapkan konsentrasi larutan lain yang belum diketahui. dikeringkan dan disimpan dalam keadaan murni. Pada saat proses titrasi terdapat titik ekivalen dan titik akhir titrasi. Syarat-syarat larutan standar sekunder antara lain derajat kemurnian lebih rendah . Konsentrasi larutan ini ditentukan dengan standarisasi menggunakan larutan standar primer.8166)/(0. Larutan standar primer merupakan larutan ynag mengandung zat padat murni yang konsentrasinya telah diketahui secara tepat melalui metode gravimetric (perhitungan massa). Sedangkan titik akhir titrasi terjadi apabila antara titran dan titrat tepat habis bereaksi dan terjadi perubahan warna yang konstan.Perbandingan ([Cu+])/([Cu2+])= (2-r)/(r-1) = (2-0. dimurnikan. Dimana titrasi diartikan sebagai metode yang digunakan untuk menentukan konsentrasi suatu larutan dengan menggunakan larutan yang telah diketahui konsentrasi. Syarat-syarat larutan standar primer diantaranya zat harus mudah diperoleh.8166-1) PERTANYAAN PRAPRAKTEK Jelaskan asal rumus : ([Cu+])/([Cu2+])= (2-r)/(r-1) Jawaban : r (Cu+ + Cu2+) = 2 Cu2+ + Cu+ r Cu+ + r Cu2+ = 2 Cu2+ + Cu+ Cu+ (r – 1) = Cu2+ (2 – r) ([Cu+])/([Cu2+])= (2-r)/(r-1) PEMBAHASAN Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan mengenai stoikiometri reaksi logam dengan garam. biasanya melalui metode titrimetri. setelah dilakukan penimbangan teliti dari zat pereaksi tersebut dan dilarutkan dalam volume tertentu. Dan reaksi yang berlangsung dengan pereaksi harus bersifat stoikiometrik dan langsung. Dimana stoikiometri itu sendiri dapat didefinisikan sebagai salah satu cabang ilmu mimia yang mempelajari berbagai aspek yang menyangkut kesetaraan massa antara zat yang terlibat dalam reaksi kimia baik dalam skala molecular maupun skala eksperimental. Titik ekivalen terjadi apabila antara titran dan titrat tepat bereaksi dan terjadi perubahan warna yang belum konstan. Zat tersebut sedapat mungkin mempunyai massa relatif dan masssa ekivalen yang besar. Sedangkan larutan standar sekunder merupakan larutan suatu zat yang konsentrasinya tidak dapat diketahui dengan tepat karena berasal dari zat yang tidak pernah murni. Dalam titrasi terdapat larutan yang dijadikan sebagai larutan standar primer dan larutan standar sekunder. Nilai konsentrasi dihitung melalui perumusan sederhana. Pada percobaan dilakukan titrasi. dan titrasi harus dihentikan. Zat tersebut harus mudah larut dalam pelarut yang dipilih. Zat tersebut dapat diuji kadar pengotornya dengan uji-uji kualitatif dan kepekaan tertentu.

misalnya bau. aquades. asam sulfat. KESIMPULAN Titrasi yang digunakan berupa titrasi permanganometri karena kalium permanganate digunakan sebagai titran Pada percobaan ini tidak digunakan indicator karena kalium permanganate bertindak sebagai larutan auto indicator. XI. mol kalium permanganate. Ada beberapa macam bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini diantaranya asam oksalat. dan menghtung perbandingan tembaga. Indikator merupakan senyawa organik asam atau basa lemah yang memiliki warna molekulnya berbeda dengan warna ion-ionnya. Mempunyai berat ekivalen yang yang tinggi untuk memperkecil kesalahan penimbangan. Pada saat electron akan kembali ke tingkat energy rendah maka pada saat itulah memencarkan warna akibat penyerapan cahaya. . warna. dan larutan besi. Pada stoikiometri reaksi logam tembaga dan larutan garam besi digunakan analisa berupa analisa kualitatif dan analisa kuantitatif. Analisa yang digunakan berupa analisa kualitatif dan analisa kuatitatif. Karena analisa kuantitatif merupakan analisa yang berdasarkan pada perhitungan. Dalam percobaan stoikiometri ini dilakukan titrasi berupa titrasi permanganometri. Reaksi ini difokuskan pada reaksi oksidasi dan reduksi yang terjadi antara kalium permanganat dengan larutan antara tembaga dan lartan besi. Hal tersebut dikarenakan logam tembaga dan mangan dalam kalium permanganat termasuk golongan logam trasisi. Mangan pada kalium permanganate dan serbuk logam tembaga memiliki warna yang khas karena termasuk dalam golongan logam transisi. Dalam percobaan stoikiometri ini digunakan serbuk logam tembaga yang berwarna coklat kemerahan dan larutan kalium permanganate yan berwarna ungu.dari pada larutan standar primer. Dinana titrasi permanganometri di definisikan sebagai titrasi yang dilakukan berdasarkan reaksi oleh kalium permanganate. Beberapa ion logam yang tidak dioksidasi dapat dititrasi secara tidak langsung dengan permanganometri . mol larutan besi awal dan sisa. dimana dalam golongan logam transisi terdapat orbital d yang kosong sehingga energy dari tingkat bawah bergerak menuju energy tingkat atas yang bergerak atau berpindahnya electron maka kejadian ini diesbut eksitasi electron. Larutan auto indikator merupakan larutan yang bias berfungsi sebagai titran dan juga berfungsi sebagai indikator. serta menghitung volume rata-rata kalium permanganat. Karena analisa kualitatif merupakan analisa yang berdasarkan pada pengamatan panca indera. Kalium permanganat berfungsi sebagai larutan auto indikator. Sedangkan analisa kuantitatif terjadi saat menghitung molaritas dan mol asam oksalat. dan suhu. Auto inikator berfungsi sebagai titran dan indikator. Dan larutannya relatif stabil dalam penyimpanan. serbuk logam tembaga. Analisa kualitatif terjadi saat mengamati perubahan warna yang terjadi saat pemanasan dan titrasi. mol tembaga. larutan kalium permanganat.

Svehla. Raymond. Aldes. G. (http://www. Reaksi Kimia. Jakarta : PT Kalman Media Pustaka. Jakarta : Erlangga.1985. 2004. Jakarta : Erlangga. Svehla. Day & Underwood. Penuntun Praktikum Kimia Anorganik. 2001.1985. Lesbani. Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semi Mikro Edisi Kelima Jilid 1. G. Analisis Kimia Kuantitatif.Abu. 2003. Chang. Jambi : UNJA . Jakarta : PT Kalman Media Pustaka. 2013. Inderalaya : Universitas Sriwijaya. 2012.org/kimia-dasar/reaksi-kimia) diakses 08 Desember 2012. Kimia Anorganik I.DAFTAR PUSTAKA Anonim. Pukul 19:20 WIB. Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semi Mikro Edisi Kelima Jilid 2. Konsep-Konsep Inti Edisi Ketiga Jilid I.chem-is-try. Bakar.

Meningkatnya jumlah ligan L yang terikat. sehingga proses itu dapat di gambarkan dalam persamaan berikut : M2+ + L ML2+ + L ML22+ + L ML32+ + L ML42+ + L ML52+ + L ML2+ ML2+ ML32+ ML42+ ML52+ ML62+ K1 K2 K3 K4 K5 K6 . . . K6 memberikan gambaran tentang stabilitas setiap spesies senyawa kompleks yang terbentuk pada setiap tingkatan. K2. .PERCOBAAN 15 KONSTANTA STABILITAS SENYAWA KOMPLEKS Maksud Percobaan : Menentukan konstanta stabilitas beberapa senyawa kompleks glisinat secara potensiomentri. . -. . Penambahan ligan lain L dalam jumlah yang cukup kedalam larutan kompleks tersebut. K4. . Senyawa kompleks akan makin stabil bila harga K makin besar. . biasanya ligan ini tidak dituliskan dalm struktur kompleks. -. K3. Landasan Teori Dalam medium air ion logam transisi bivalen seperti Zn2+. Ni2+. -. . -. . Berdasarkan pda hukum elektrostatika. Besaran ini sering di namkan “konstanta pembentukan kompleks” atau “konstanta kabilitas kompleks”. - Harga konstanta K1.akan mengakibatkan terjadinya penggantian kedudukan semua ligan H2 oleh L. bereaksi dengan air membentuk ion kompleks akuo oktahedral dengan tumus umum M(H2)62+. . -. . afinitas L akan berkurang apabila muatan positif pada asam pusat kompleks berkurkang. akan makin menurunkan muatan positif M. dalam suatu reaksi kesetimbangan : M(H2O)62+ + 6 l M(L)62+ + H2O Proses pembentukan senyawa kompleks M(L)62+ tersebut dapat di pandang sebagai proses yang melibatkan enam langkah konsekutif. -. Cu2+. Karena ligan H2O selalu terikat pada M2+ yang tidak di duduki L. K5. dan Co2+. sehinggan dapat di harapkan harga konstanta stabilitas kompleks akan turun sesuai dengan urutan berikut : .

. tembaga.. percobaan ini di kerjakan dengan mengukur konsentrasi H+ dalam larutan yang dibuat dengan menambahkan larutan natrium glisinat.. konstanta stabilitas kompleks sering di nyatakan sebagai konstanta stabilitas “overall”. -... dengan atom N dan O sebagai donor pasangan elektron. - . . - C O . Dalam larutan ini menjadi kesetimbangan berikut ( H2NCH2COO) : Ni2. Dalam persamaannya. polarografi. Ditinjau suatu larutan sebanyak V mL yang dibuat dengan menambahkan n1 mmol H2NCH2COONa kedalam suatu larutan yang mengandung n2 mmol Ni2+ dan n3 mmol H+...(5) Penerapan “hukum kekekalan massa” pada sistem larutan tersebut akan memberikan beberapa persaan : [A-] + [HA] + [NiA+] + 2[NiA2] + 3[NiA3-] = ⁄ = AT ⁄ ..+ AHA H2O NiA+ NiA2 NiA3H+ + AH+ + OHK1 K2 K3 Ka . Dalam percobaan ini akan ditentukan konstanta stabilitas kompleks nikel glisinat... .. .. konstanta stabilitas K1.. dan seng. K2.(3) -. H2NCH2COONa ke dalam larutan yang mengandung Ni2+ pada keasaan tertentu....+ ANiA+ + ANi3.(2) . H2NCH2COO merupakan ligan bidentat yang dapat membentuk senyawa kompleks dengan beberapa logam. O Ni N H Dalam percobaan ini. Dalam senyawa kompleks tersebut....... .. yang dapat di defenisikan sebagai hasil kali semua harga M : X X X dan seterusnya. terjadi ikatan koordinasi antara atom logam dengan atom N dan O dalam atom glisinat. Konstanta stabilitas kompleks dapat ditentukan dengan berbagai cara.. -. -... dan spektrofotometri. Ion glisinat....(4) Kw [H+][OH-]..(1) . seperti potensiometri... nikel. Ni(H2NCH2COO)3-.. seperti kobalt. Untuk keperluan tertentu. dan K3 untuk senyawa kompleksbnikel glisinat tersebut akan ditentukan secara potentiometri..K1 > K2 > K3 > K4 > K5 > K6.(6) . . .

- ..... dan K3.... .. . n n .(9) subsitusi persamaan (6) dan (7) ke dalam persaan (9) akan menghasilkan : n ......... dan (3) kedalam persamaan (9) akan menghasilkan : n ....... Subtitusi persamaan (1).(14) .... ...(7) ⁄ ......... ......... .. K2.. - .....(8) = CH + [OH-] Untuk memungkinkan penentuan harga K1...(11) Dan [A-] dapat di evaluasi dengan subtitusi persamaan (4) yang dapat di verifikasi daridata pengukuran pH yang diperoleh secara eksperimental : [A-] = ..............(10) dalam persaan (10)..... ....... -+ . - ...... .. AT dan MT diketahui secara eksperimental sebagai konsentrasi total natrium glisinat dan konsentrasi nikel yang di gunakan.. - ..(13) Besaran n dan konsentrasi [A-] dapat di gunakan sebagai dasar untuk menentukan K1. -+ ...(12) Subtitusi persamaan (5).(2).... .. .. .. (12) kedalam persamaan (10) akan menghasilkan persamaan (13) yang memungkinkan evaluasi harga n dari data pengukuran yang sama : { [ ] }* n= [ ] ............ dan K3 perlu di defenisikan besaran “n”....[Ni2+] + [NiA+] + [NiA2] + [NiA3-] = [H+] + [HA] = ⁄ + [OH] ⁄ ⁄ = MT ⁄ .......iang terkait pada atom logam nikel... .. (11).... - * ............ sedang (HA) dapat di evaluasi dari persamaan (8) : [HA] = CH + [OH-] – [H+] . K2.... yaitu suatu besaran yang menyatakan jumlah rata-rata molekul ligan glisinat A. .....

. grafik harga ⁄*( ... - ..... K2..... yaitu persamaan (14) diperoleh .. .. 2 dan 3...... Alat dan Bahan A..2 M  Larutan 0. . -+ ( ) ).. dan 3 = K1 x K2 x K3 kedalam ... Alat yang diperlukan :     1 set pH meter di lengkapi dengan elektroda gelas Gelas beaker Buret ukuran 50 mL Buret mikro 5 mL B. dan masing-masing sebagai intersep dan slope.. .... - .....(17) Sehingga dan masing-masing dapat di evaluasi dari intersep dan slope garis lurus * ). -+ versus harga akan merupakan garis lurus untuk yang rendah... konstanta stabilitas kompleks K1. subtitusi besaran ...... ( )... ) ( 1. Dan akhirnya dari data ( )⁄ .. ). 2 = K1 x K2. Bahan yang di gunakan :  Larutan 0.... - .. Apabila persamaan (16) dibagi dengan suatu faktor *( .+ versus ( )... . persamaan itu ( ( ) ) dapat ditulis sebagai : ( ( )⁄ )... . K2 = .. -+ ( ) dan memenfaatkan harga yang di peroleh di lanjutkan dengan pengaturan kembali.5 M NaOH . dan K3 dapat di hitung dari persamaan : K1 = ...1 M  Larutan 0.. .... - 1 = K 1.Selanjutnya.(15) Pengaturan kembali persamaan (15) akan menghasilkan persamaan (16) dan (17) yang dapat digunakan untuk mengevaluasi harga ( ( ).( dan yang telah diperoleh. - . ..(16) *( Menurut persamaan (16). dan K3 = .. -+/*( ..

Kemudian hitung [A-] dan n masing-masing dengan persaan (12) dan (13).6H2O Cara Kerja A. 7. Penentuan Konstanta Stabilitas Kompleks Nikel Glisinat 1. Standarisasi Larutan NaOH dan Larutan HNO3 1. buatlah grafik garis lurus n/{(1-n)[A-]} versus {(2-n)[A-]}(1-n) dan tentukan B1. Tambahkan natrium glisinat (hdari buret) ke dalam campuran dalam gelas beaker.26 gr kristal H2C2O4. Timbang 1. 4.6 H2O dan 90 mL akuades dalam gelas beaker 500 mL. catat pH larutan untuk setiap penambahan 0.4 M natrium glisinat dengan mencampurkan 1.pH 5.5 M NaOH yang akan di standarisasi (tempatkan larutan NaOH ini dalam buret 50 mL). Buatlah campuran homogen yang terdiri atas 100 mL 0. dan B2 masing-masing sebagai intersep dan slope. 2. Ulangi langkah ini sebanyak 3 kali dan tentukan molaritas NaOH. Penambahan natrium glisinat diakhiri pada total penambahan 10 mL. gunakan larutan NaOH yang telah di standarisasi untuk menstandarisasi larutan 0. Isikan larutan itu kedalam buret mikro 5 mL.2 mL natrium glisinat.2 M glisin  Kristal glisin  Kristal NiCl. Untuk setiap penambahan natrium glisinat. Ambil 25 mL larutan ini dan tambahkan 1-2 tetes indikator fenolftalen kemudian titrasi dengan lautan dengan larutan 0. buat pula grafik garis lurus besaran {n-(n-1)/{(2-n)[A-]2} versus {(2n)[A-]}(1-n) versus besaran (3-n)[A-]/(2-n) dan tentukan B2 dan B3 yang telah di peroleh. hitung [H+] dengan rumus : = 10. 2 H2O kemudian larutkan dengan akuades dalam labu takar 100 mL dan encerkan sampai tanda 2. Sesuai dengan persamaan (16) dan (17). K2. 3.7 gram glisin dengan 40 mL 0. dan K3. Buatlah larutan 0. B. .1 M HNO3. Larutan 0. Dengan cara serupa. Lengkapi dengan pengaduk magnet dan celupkan elektroda pH meter dalam campuran ini untuk keperluan pengukur pH.5 M NaOH da encerkan sampai tanda dalam labu takar 50 mL. 6. Dengan cara serupa.2 M KNO3. Lakukan juga terhadap logam-logam yang lain. hitung konstanta stabilitas kompleks K1. 1 mmol NiCl2.

01 gr H . Resin penukar ion terdiri dari molekul-molekul panjang yang teralin dalam struktur berpori. Salah satu contoh. resin itu akan berubah menjadi R/A dengan melepaskan H+. Landasan Teori Resin penukar ion digunakan secara luas dalam berbagai bidang kimia. Resin ini bersifat asam dan biasanya di singkat sebagai R-H. sehingga bila diisikan kedalam kolom (umumnya berbentuk tabung panjang) dapat dilewati larutan secara perlahan. Resin penukar kation memiliki hidrogen yang dapat diganti oleh ion logam. Proses pertukaran ion tersebut dapat dituliskan dalam persamaan berikut : R-H(s) + A+(l) R-A(s) + H+(l) Resin dapat diregenerasi kebentuk semula karena itu adalah reversibel. yang dapat dilaksanakan dalam dua langkah : Langkah pertama adalah mempertukarkan Na+ dari larutan dapat ditunjukkan dalam persamaan berikut : R-H(s) + Na+(l) 1mol = 58. Apabila hidrogen dalam resin diganti oleh ion logam A+.0 gr Na+ R-Na(s) + H+(l) 1mol = 36. yang dapat dinyatakan dalam persamaan : R-A(s) + H(l) R-H(s) + A+(l) Dalam percobaan ini. Percobaan berikut ini menggambarkan kegunaan resin kationdalam beberapa efek kimia.5 gr NaCl Atau 23. ion-ion yang terkandung didalam air ternyata dapat dihilangkan secara lebih efektiif dan lebih ekonomis dengan resin penukar ion dari pada dengan destilasi. sifat revarsibel pertukaran ion tersebut akan dimanfaatkan untuk analisa kuantitatif natrium dalam larutan. Resin biasanya dibuat dala bentuk Granula. dan Ba. Mg.5 gr HCl 1.PERCOBAAN PEMANFAATAN RESIN PENUKARAN ION Tujuan Percobaan : Memanfaatkan resin penukar kation pada penentuan natrium secara kuantitatif dan penentuan hasil kali kelarutan MC2O4 M= Ca.

MgC2O4 dan BaC2O4. 20 – 50 mesh  Gelasswool  NaCl . garam oksalat yang dibuat harus dalam keadaan murni. hasilkali kelarutan. ditentukan. Ksp garam-garam oksalat sukar larut seperti CaC2O4.dalam supernatan larutan jenuh garam itu secarra asidimetri dengan larutan standar NaOH. Bahan kimia yang dibutuhkan :  Resi IR-120. Alat-alat yang diperlukan :          Kolom penukar ion (buret 50 mL) Termometer Gelas piala Gelas ukur Gelas arloji Gellas pengaduk Erlemeyer Buret 5 mL Tabung reaksi b. Untuk keperluan percobaan ini. berat resin yang digunakan sekurangkurangnya 10 x berat garam. larutan jenuh garam oksalat dibuat dengan mencampurkan endapan garam itu dengan sedikit air. Alat dan Bahan a. kelarutan garam oksalat tersebut dapat dievaluasi dengan menentukan [ . termasuk dari ion-ion kelebihan reagen. Berdasarkan pada konsep pertukaran ion pada resin. Garam ini dapat dibuat dengan mengendapkannya dengan menambahkan asam oksalat berlebih kedalam larutan logam nitrat. Ksp garam sukar larut dapat ditentukan.Perlu diperhatikan bahwa persamaan ini hanya berlaku pada kapisitas resin tidak terlampaui. Dalam percobaan ini. Setelah melalui langkah pemurnian. Untuk menjamin berlakunya persamaan ini. MgC2O4(s) M+2(l) + C2O22-(l) Selanjutnya. Pemurnian garam ini dilakukan dengan tujuan untuk menghilangkan ion-ion yang tidak di ianginkan.

1M Aquadest Larutan Mg(NO3)2 Larutan Ca(NO3)2 Larutan Ba(NO3)2 Asam oksalat Padatan MC2O4 Larutan indikator meti ungu Phenolptalin Cara Kerja A. Timbang 0. Cuci burret dan isikan larutan NaOH yang akan di standarisasi (telah tersedia) 2. Gambar. 3. 2 H2O. Cuci resin dengan akuades sampai effluent netral (PH). Tuangkan 20 mL asam tersebut kedalam kolom dan biarkan mengalir dengan kecepatan 40 tetes permenit dengan mengatur kran. kemudian hitung molaritas rata-rata larutan NaOH standar. Siapkan kolom untuk resin dan susun seperti dalam gambar 2. larutkan dalam labu takar 50 mL dengan akuades sehingga volume larutan tepat 50 mL. Selanjutnya kedalam larutan ini di tambahkan 1-2 tetes indikator phenolptalein dan dititrasi dengan larutan NaOH yang akan di standarisasi. Untuk meyakinkan bahwa resin kation dalam bentuk hidrogen.knahjamjma . Siapkan pasta yang mengandung 15 gram resin kation IR-12 dalam akuades kemudian tuang ke dalam kolom. Penentuan [Na+] dengan bantuan resin penukarbkation 1. Buka kran supaya air mengalir tetapi tinggi cairan harap dijaga sedikit di atas resin. Titrasi di akhiri pada saat timbul warna merah muda dalam larutan. 4.           HCl 3M NaOH 0. Ulangi titrasi sebanyak 3 kali dan catat volume NaOH yang diperlukan dalam setiap titrasi tersebut. B. Jangan biarkan tinggi cairan turun sampai dibawah permukaan resin. Siapkan erlemeyer dan diisi dengan 10 mL larutan asam oksalat.2M NaOH 0. cuci dengan larutan 5% HCl. Standarisasi larutan standar NaOH 1. 3.63 gram H2C2O4.

bilas bagian samping tabung sehingga tidak ada endapan yang tinggal pada dinding kemudian dilanjutkan dengan menambahkan akuades sampai tingginya kira-kira 5 cm di atas endapan. Pdatan MgC2O4 yang tersedia atau hasil pembuatan dimasukkan kedalam tabung reaksi.4. Bila gelas piala dengan 5 atau 10 mL akuadest mendidih dan tuangkan juga air bilasan tersebut kedalam kolom. kemudian cuci kembali sebanyak dua kali. pembuatan larutan jenuh MgC2O4 1. Tambahkan asam tersebut kedalam larutan Mg(NO3)2 dan kemudian teruskan sampai terbentuk endapan permanen. Kelebihan asam harap dihindari. 3. isi buret dengan larutan standar NaOH 0. Selanjutnya cuci kolom dengan 2 kali 15 mL akuades mendidih tampun hasil cucian dalam gelas piala yang mengandung effluent dari larutan NaCl. Bila belum tersedia padatan MgC2O4. Siapkan sejumlah effluent dalam erlemeyer kemudian tambahkan 2 tetes phenolptalein. Endapan harus tercuci bersih sehingga tidak mengandung asam yang dapat mempengaruhi proses titrasi. 2. Didihkan 100 mL akuades untuk menghilangkan CO2 yang dapat mengganggu titrasi pada langkah berikutnya. 5. Amati temperatur dengan termometer dan tentukan konsentrasi Mg2+ dalam supernatan. timbanglah 0. Setelah air dingin. Setelah pencucian yang ketiga. Hitung jumlah mol ion natrium yang di tambahkan dalam kolom. tampung effluent dalam gelas piala 250 mL. C. dan tambahkan 1-2 mL ekstra untuk menyempurnakan pengendapan. Dengan botol pencuci. Penentuan hasil kali kelarutan Ksp MgC2O4 a. Siapkan 20 mL larutan jenuh H2C2O4 yang dibuat dengan melarutkan kira-kira sebanyak 2 gram dalam 20 mL akuades. Sering endapan yang terjadi kemudian cuci sebanyak 5 kali dengan menyemprotkan akuades dari botol pencuci pada endapan secara berulang.96 gram Mg(NO3)2 dengan akuades sampai volume 50 mL dalam gelas piala 250 mL. Siapkan alat titrasi. larutkan 2. pindahkan endapan pada kertas saring baru. dengan prosedur sebagai berikut : . Kocok tabung reaksi selama 30 detik. Selanjutnya titrasi larutan tersebut dengan larutan standar NaOH sampai titik ekivalen (di peroleh warna merah jambu permanen).2 M.2 gram NaCl murni kemudian larutkan dengan air tersebut sampai volume 20 mL. Tuangkan larutan dalam kolom penukar ion 3 kali masing-masing dengan kecepatan 40 tetes permenit.

2. Lanjutkan dengan penambahan 4 kali 10 ml akuades. Siapkan kation resin dalam bentuk asam seperti pada percobaan pertama. 3. Catat volume NaOH yang diperlukan. Tambahkan 3 tetes indikator metil ungu kemudian titrasi effluent resin tersebut dengan NaOH sampai terjadi perubanhan warna dari ungu ke hijau. .b. Titrasi ini dapat pula dilakukan dengan menggunakan indikator phenolptalein.1 M. Tempatkan gelas piala 250 ml dibawah resin untuk tempat effluent dan kemudian masukkan kedalam kolom sebanyak 10 ml supernatan larutan Mg 2O4 yang di ambil secara hati-hati (jangan terdapat padatan dalam supernatan). dan tampung effluent dalam gelas piala yang sama. PERHATIKAN : Perubahan warna ini dalam praktek sering sulit di amati. Lakukan juga terhadap padatan CaC2O4 dan BaC2O4. Siapkan buret untuk titrasi dan masukkan kira-kira 251 ml larutan NaOH 0. Penentuan [Mg2+] dalam supernatan 1. Hitung konsentrasi [Mg2+] dalam supernatan kemudian hitung dari hasil kali kelarutan MgC2O4 menurut persamaan berikut : Ksp MgC2O4 = [Mg2+][C2O42-] = S2 4.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful