P. 1
makalah akhlakul karimah

makalah akhlakul karimah

|Views: 1,262|Likes:
Published by Mhd Mhd
akhlakul karimah
akhlakul karimah

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Mhd Mhd on Jul 05, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/16/2014

pdf

text

original

KATA PENGANTAR Segala puji bagi ALLAH SWT yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan Makalah ini

dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan Dia mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik. Makalah disusun agar pembaca dapat mengetahui tentang STRUKTUR DAN PENAMAAN SENYAWA KETON / ALKANON Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya Makalah ini dapat terselesaikan. ” dan sengaja dipilih karena menarik perhatian penulis untuk dicermati. Semoga Makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun Makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.

Penulis, 04 Februari 2012

Penulis

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah “Barangsiapa yang ingin dicintai Allah dan Rasul-Nya, hendaknya dia jujur dalam berbicara, menunaikan amanat, dan jangan menyakiti tetangganya.” (HR. AlBaihaqi). Akhlakul karimah merupakan indicator kebaikan seseorang, sebagai ukuran baik atau tidaknya manusia yang hanyalah penilaian secara relative dapat diukur dengan akhlak yang ia miliki, cara bersantun kata serta cara ia berbuat. Baik pada tetangga, jujur dan menghormati orang yang lebih tua. Penting dibahas tentang akhlakul karimah, dengan harapan terciptanya mahasiswa yang berilmu, karena dengan ilmu lah maka orang dapat melakukan perbuatan secara cerdas, dengan mengetahui akan dirinya dan Tuhanya maka ia dapat menjadi manusia yang berakhlakul karimah. Oleh karena itulah pentingya dikaji mengenai masalah akhlakul karimah secara umum dan studi kasus yang dibatasi pada silabus Mata Kuliah Hadis ini. Untuk lebih jelas mengenai masalah ini akan dibahasas pada bab selanjutnya. B. Tujuan Penulisan Untuk mengetahui : 1. Makna akhlakul karimah 2. Contoh penerapan Akhlakul Karimah 3. Manfaat berakhlakul karimah C. Rumusan Masalah 1. Seberapa penting peran kejujuran dalam bermasyarat? 2. Mengapa akhlak dapat dijadikan indicator kebaikan seseorang? D. Metode Penulisan Metode penulisan pada makalah ini adalah kajian kepustakaan atau library research.

BAB II AKHLAKUL KARIMAH Moral adalah prinsip-prinsip yang berhubungan dengan benar atau salah, pengertian tentang perbedaan antara salah dan benar. Sedangkan akhlak ialah seperangkat tata nilai yang bersifat samawi dan azali, yang mewarnai cara berfikir, bersikap dan bertindak seorang muslim terhadap alam lingkungannya. Menurut Al-Ghazali Akhlak ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang daripadanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran lebih dahulu. Akhlak umumnya disama artikan dengan arti kata budi pekerti, kesusilaan atau sopan santun dalam bahasa Indonesia, atau tidak berbeda pula dengan arti kata ethic (etika). A. Orang yang baik adalah orang yang baik akhlaknya Kebaikan selalu dinilai relative oleh manusia, artinya relative adalah setiap manusia menilai sisi kebaikan itu dari berbagai aspek, akhlak adalah salah satu indicator baik atau tidaknya seseorang. Orang yang beraklhak mulia sudahlah tentu menjadi orang yang baik. Jika kita membahas mengenai akhlak, Apabila kita berbicara tentang etika ini, maka akan kita temukan beberapa pengertian antara lain : a. Etika, yaitu : Sistem daripada prinsip-prinsip moral, dapat juga berarti rules of conduct, kode sosial (social code), etika kehidupan. Dapat juga berarti ilmu pengetahuan tentang moral atau cabang filsafat. b. Ethos (jiwa), yaitu karakteristik dari masyarakat tertentu atau kebudayaan tertentu. c. Esprit (semangat) : semangat d’corps, loyalitas dan cinta pada kesatuan, kelompok, masyarakat, pemerintah dan lain-lain. d. Rule (ketentuan, peraturan), yaitu ketentuan-ketentuan dalam kebiasaan pergaulan masyarakat yang memberi pedoman atau pengawasan atau kegiatan tentang benar dan salah. e. Norma, Merupakan standar, pola, patokan, ukuran, kriteria yang mantap dari masyarakat atau pemerintah. f. Moral, Prinsip-prinsip yang berhubungan dengan benar atau salah, pengertian tentang perbedaan antara salah dan benar.

B. Kejujuran membawa kepada kebajikan Jujur adalah sikap yang sesuai antar perkataan dan perbuatan dengan yang sebenarnya. Jujur merupakan sifat yang terpuji. Allah dan Rasul-Nya memuji orangorang yang mempunyai sifat jujur dan menjanjikan balasan yang berlimpah untuk mereka. Sebagaimana yang terdapat dalam hadits yang shahih bahwa Nabi bersabda :

ُ ‫جج ي‬ ‫ل‬ ُ ‫ر ي‬ َّ ‫ل ال‬ ُ ‫زا ي‬ َ‫يج لا‬ َ‫مجج ا لا‬ َ‫و لا‬ َ‫ة لا‬ ِ ‫نج َو‬ َّ ‫ج‬ َ‫ل لا‬ ْ‫ل ى ا ج‬ َ‫إلا‬ ِ ‫د ي َو‬ ِ ‫ه َو‬ ْ‫ي ج‬ َ‫ر لا‬ َّ ‫ب‬ ِ ‫ل َو‬ ْ‫ن ا ج‬ َّ ‫إ‬ ِ ‫وَو‬ َ‫ر لا‬ ِّ ‫ب‬ ِ ‫ل َو‬ ْ‫ل ى ا ج‬ َ‫إلا‬ ِ ‫د ي َو‬ ِ ‫ه َو‬ ْ‫ي ج‬ َ‫ق لا‬ َ‫د لا‬ ْ‫ص ج‬ ِّ ‫ن ال‬ َّ ‫إ‬ ِ ‫فَو‬ َ‫ق لا‬ ِ ‫د َو‬ ْ‫ص ج‬ ِّ ‫ب ال‬ ِ ‫م َو‬ ْ‫ك ج‬ ُ ‫ي ي‬ ْ‫ل ج‬ َ‫علا‬ َ‫لا‬ ‫د ي‬ ِ ‫هج َو‬ ْ‫ي ج‬ َ‫ب لا‬ َ‫ذ لا‬ ِ ‫كج َو‬ َ‫ل لا‬ ْ‫ن ا ج‬ َّ ‫إ‬ ِ ‫فجَو‬ َ‫ب لا‬ َ‫ذ لا‬ ِ ‫كج َو‬ َ‫ل لا‬ ْ‫وا ج‬ َ‫م لا‬ ْ‫ك ج‬ ُ ‫يج ا ي‬ َّ ‫إ‬ ِ ‫وَو‬ َ‫ق ا لا‬ ً‫دي ا‬ ِّ ‫صج‬ ِ ‫لل َو‬ ِ ‫د ا َو‬ َّ َ‫ن لا‬ ْ‫ع ج‬ ِ ‫ب َو‬ َ‫ت لا‬ َ‫ك لا‬ ْ‫ي ج‬ ُ ‫ت ى ي‬ َّ ‫ح‬ َ‫ق لا‬ َ‫د لا‬ ْ‫ص ج‬ ِّ ‫را ى ال‬ َّ ‫ح‬ َ‫ت لا‬ َ‫ي لا‬ َ‫و لا‬ َ‫ق لا‬ ُ ‫د ي‬ ُ ‫ص ي‬ ْ‫ي ج‬ َ‫لا‬ ‫ج ى‬ ‫تج‬ َّ‫ح‬ َ‫ب لا‬ َ‫ذ لا‬ ِ ‫كج َو‬ َ‫ل لا‬ ْ‫را ى ا ج‬ َّ ‫حج‬ َ‫ت لا‬ َ‫ي لا‬ َ‫و لا‬ َ‫ب لا‬ ُ ‫ذ ي‬ ِ ‫كج َو‬ ْ‫ي ج‬ َ‫ل لا‬ ُ ‫ج ي‬ ُ ‫ر ي‬ َّ ‫ل ال‬ ُ ‫زا ي‬ َ‫ي لا‬ َ‫م ا لا‬ َ‫و لا‬ َ‫ر لا‬ ِ ‫ن ا َو‬ َّ ‫ل ى ال‬ َ‫إلا‬ ِ ‫د ي َو‬ ِ ‫ه َو‬ ْ‫ي ج‬ َ‫ر لا‬ َ‫جرو لا‬ ُ ‫ف ي‬ ُ ‫ل ي‬ ْ‫ن ا ج‬ َّ ‫إ‬ ِ ‫وَو‬ َ‫ر لا‬ ِ ‫جرو َو‬ ُ ‫ف ي‬ ُ ‫ل ي‬ ْ‫ل ى ا ج‬ َ‫إلا‬ ِ ‫َو‬ ‫ب ا‬ ً‫ذا ا‬ َّ ‫ك‬ َ‫لل لا‬ ِ ‫د ا َو‬ َّ َ‫ن لا‬ ْ‫ع ج‬ ِ ‫ب َو‬ َ‫ت لا‬ َ‫ك لا‬ ْ‫ي ج‬ ُ ‫ي‬
“Senantiasalah kalian jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebajikan, dan kebajikan membawa kepada surga. Seseorang yang senantiasa jujur dan berusaha untuk selalu jujur, akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang yang selalu jujur. Dan jauhilah kedustaan karena kedustaan itu membawa kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan membawa ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan selalu berdusta, hingga akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR Al-Bukhari dan Muslim, teks hadis mengikuti versi Muslim) Jujur artinya keselarasan antara yang terucap dengan kenyataannya. Jadi, kalau suatu berita sesuai dengan keadaan yang ada, maka dikatakan benar/jujur, tetapi kalau tidak, maka dikatakan dusta. Kejujuran itu ada pada ucapan, juga ada pada perbuatan, sebagaimana seorang yang melakukan suatu perbuatan, tentu sesuai dengan yang ada pada batinnya. Seorang yang berbuat riya’ tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia telah menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang dia sembunyikan (di dalam batinnya). Demikian juga seorang munafik tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia menampakkan dirinya sebagai seorang yang bertauhid, padahal sebaliknya. Hal yang sama berlaku juga pada pelaku bid’ah; secara lahiriah tampak sebagai seorang pengikut Nabi, tetapi hakikatnya dia menyelisihi beliau. Yang jelas, kejujuran merupakan sifat seorang yang beriman, sedangkan lawannya, dusta, merupakan sifat orang yang munafik.

Imam Ibnul Qayyim berkata, “Iman asasnya adalah kejujuran (kebenaran) dan nifaq asasnya adalah kedustaan. Maka, tidak akan pernah bertemu antara kedustaan dan keimanan melainkan akan saling bertentangan satu sama lain. Allah mengabarkan bahwa tidak ada yang bermanfaat bagi seorang hamba dan yang mampu menyelamatkannya dari azab, kecuali kejujurannya (kebenarannya). Allah berfirman Artinya : “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka.” (QS al-Maidah:119) Artinya : “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. az-Zumar:33). Kejujuran akan membawa seseorang untuk selalu berbuat baik dan sudah barang tentu kebaikan adaklah jalan untuk masuk surga. Dan menjelaskan keharusan untuk meninggalkan perbuatan dusta dan menelaskan pula dampaknya. Yaitu perbuatana dusta akan selalu membawa kejahatan dan kejahatan itu mengantarkan ke neraka. Kejujuran dan kedustaan, kedua-duanya dapat diusahakan oleh seseorang. Bila seseorang selalu berbuat jujur dan berusaha untuk jujur maka akan dicatat disisi Allah sebagai orang yang paling jujur. Bila seseorang selalu berbuat dusta dan selalu berkeinginan untuk dusta maka akan dicatat oleh Allah sebagai pendusta (Drs. H. Moh. Matsna, MA.Qur’an Hadits. Hal:121). Hadits itu juga mengisyaratkan betapa besar potensi sikap jujur dalam kehidupan manusia, baik dalam kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di dunia karena sikap jujur itu membawa kebaikan, dan kebaikan itu membawa ke surga yang merupakan kesempurnaan Nikmat Allah (H.M. Ashaf Shaleh. Taqwa. Hal: 97) Jujur dan menepati janji memiliki kesamaan dan perbedaan. Kesamaannya yaitu kalau orang suka menepati janji maka akan melahirkan kejujuran. Perbedaannya yaitu kalau orang selalu berprilaku jujur belum tentu bisa dikatakan orang yang menepati janji. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah bersamasama orang yang jujur” (At-Taubah:119)

Ayat ini menunjukkan bahwa sikap jujur merupakan sikap orang yang bertakwa. Allah berfirman: Moh. Abduh menjelaskan maksud dari potongan ayat tersebut yaitu orang yang benar Perbuatan, Amal dan Sifatnya. Sifat benar itulah sebagai puncak kesempurnaan bagi segala sesuatu Al-Nasaiburi menjelaskan dari potongan ayat tersebut orang-orang yang benar pekataannya, perbuatannya, dan niatnya (hatinya) dengan melaksanakan azam untuk berbuat baik (H.M.Ashaf Shaleh.Taqwa.hal:96) Mohammad abduh, Janji adalah sesuatu yang harus ditepati oleh setiap orang terhadap yang lain, baik kepaada Allah, dan menyimak dan mentaati semua ajaranajarannya maupun kepada manusia. Janji itu wajib ditepati selama bukan maksiat. Rasulullah bersabda: Artinya:”Berjanjilah kepadaku bahwa kamu akan mengerjakan enam perkara ini niscaya kamu masuk surga. Berkata benar, tepatilah apabila berjanji, kerjakanlah apabila diamanati orang, jagalah kehormatan, tundukkanlah pandanganmu dan jangan suka memukul orang”. (Hentikan lancang tanganmu).(HR. Ahmad, 101 hadits.hal:24-25) Menepati janji ialah condongnya hati pada kebenaran, sehingga berkata benar dan menepati janji, seseorang bisa dikatakan sudah menepati janji apabila berjanji orang tersebut selalu menepatinya, sekalipun dengan musuh atau anak kecil dan orang yang tidak menepati janji digolongkan orang-orang yang munafik. Sebagaimana hadits nabi: Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga macam. Apabila berkata ia dusta, Apabila berjanji ia ingkar, Apabila di percaya ia khianat ”. (Shahih Bukhori. Hal : 65, juz : 4) Berkata benar, menepati janji dan apabila dipercaya tidak khianat adalah merupakan wasiat nabi Muhammad SAW. Sebagaimana sabda nabi: Artinya; Muadz berkata, Rasulullah bersabda kepadaku: “Saya berwasiat kepadamu supaya bertaqwa kepada Allah, jujur dalam bicara, melaksanakan (menjaga) amanah, menepati janji, memberi salam, dan merendahkan diri (tawadlu’). (Ihya’ Ulumuddin. juz:3. hal:135.) Tidak ingkar janji itu akan melahirkan sikap jujur dan orang tersebut akan disenangi oleh semua orang bahkan Allah itu senang kepada orang tersebut. Sebagai umat islam seharusnya sikap jujur dan menepati janji diamalkan dalam perbuatan, tingkah laku, tatakrama, baik dalam lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat.

C. Orang yang paling berhak untuk dihormati Orang yang paling berhak untuk dihormati adalah orang tua, Menghormati orang yang tua bukan hanya budaya, namun bagian dari akhlak mulia dan terpuji yang diseru oleh Islam. Hal ini dilakukan dengan cara memuliakannya dan memerhatikan hakhaknya. Terlebih, bila disamping tua umurnya, juga lemah fisik, mental, dan status sosialnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‫نْا‬ َّ‫م ا‬ ِ‫س ن‬ َ ‫ي م‬ ْ‫ل َس‬ َ ‫ف م‬ َ ‫نْا م‬ َ ‫ر م‬ َ ‫بي م‬ ِ‫ك ن‬ َ ‫ق م‬ َّ‫ح ا‬ َ ‫رفَسْ م‬ ِ‫ع ن‬ ْ‫ي َس‬ َ ‫و م‬ َ ‫نْا م‬ َ ‫ر م‬ َ ‫ي م‬ ْ‫غ َس‬ ِ‫ص ن‬ َ ‫م م‬ ْ‫ح َس‬ َ ‫ر م‬ ْ‫ي َس‬ َ ‫م م‬ ْ‫ل َس‬ َ ‫ن م‬ ْ‫م َس‬ َ ‫م‬
“Barangsiapa tidak menyayangi anak kecil kami dan tidak mengenal hak orang tua kami maka bukan termasuk golongan kami.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab, lihat Shahih Al-Adab Al-Mufrad no. 271) Hadits ini merupakan ancaman bagi orang yang menyia-nyiakan dan meremehkan hak orang yang sudah tua, di mana orang tersebut tidak di atas petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak menepati jalannya. Menghormati mereka termasuk mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

‫ف ي‬ ِ‫ججْا ن‬ َ ‫ل م‬ ْ‫ولا َس‬ َ ‫ه م‬ ِ‫يج ن‬ ْ‫ف َس‬ ِ‫ل ي ن‬ ِ‫غجْان‬ َ ‫ل م‬ ْ‫ر لا َس‬ َ ‫يج م‬ ْ‫غ َس‬ َ ‫ن م‬ ِ‫رنآ ن‬ ْ‫قج َس‬ ُ‫ل ْر‬ ْ‫ل لا َس‬ ِ‫مج ن‬ ِ‫حْا ن‬ َ ‫و م‬ َ ‫م م‬ ِ‫ل ن‬ ِ‫س ن‬ ْ‫م َس‬ ُ‫ل ْر‬ ْ‫ة لا َس‬ ِ‫ب ن‬ َ ‫ي م‬ ْ‫ش َس‬ َّ‫ذ ي لال ا‬ ِ‫م ن‬ َ ‫رلا م‬ َ ‫ك م‬ ْ‫إ َس‬ ِ‫هلل ن‬ ِ‫ل لا ن‬ ِ‫ل ن‬ َ ‫ج م‬ ْ‫إ َس‬ ِ‫ن ن‬ ْ‫م َس‬ ِ‫ن ن‬ َّ‫إ ا‬ ِ‫ن‬ ِ‫س ن‬ ‫ط‬ ِ‫ق ن‬ ْ‫م َس‬ ُ‫ل ْر‬ ْ‫ن لا َس‬ ِ‫طْا ن‬ َ ‫ل م‬ ْ‫س َس‬ ُّ ‫ذ ي لال‬ ِ‫م ن‬ َ ‫رلا م‬ َ ‫ك م‬ ْ‫إ َس‬ ِ‫ون‬ َ ‫ه م‬ ُ‫ن ْر‬ ْ‫ع َس‬ َ ‫م‬
“Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah adalah menghormati seorang muslim yang beruban (sudah tua), pembawa Al-Qur’an yang tidak berlebih-lebihan padanya (dengan melampaui batas) dan tidak menjauh (dari mengamalkan) AlQur’an tersebut, serta memuliakan penguasa yang adil.” (HR. Abu Dawud dan dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih At-Tarhib no. 92) Orang tua tentunya telah melewati berbagai macam tahapan hidup di dunia ini sehingga setumpuk pengalaman dimilikinya. Orang yang telah mencapai kondisi ini biasanya ketika hendak melakukan sesuatu telah dipikirkan matang-matang. Terlebih lagi, disamping banyak pengalamannya, juga mendalam ilmu dan ibadahnya. Ini berbeda dengan kebanyakan anak muda yang umumnya masih minim ilmunya, dangkal pengalamannya, dan sering memperturutkan hawa nafsunya

Mendahulukan orang yang lebih tua Ada beberapa keadaan yang disyariatkan untuk mengutamakan orang yang lebih tua, di antaranya: 1. Dalam mengimami shalat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Malik bin Al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu:

ْ‫ك َس‬ ‫م‬ ُ‫ر ْر‬ ُ‫ب ْر‬ َ ‫أكَسْ م‬ َ ‫م م‬ ْ‫ك َس‬ ُ‫م ْر‬ ُّ ‫ؤ‬ ُ‫ي ْر‬ َ ‫ل م‬ ْ‫و َس‬ َ ‫م م‬ ْ‫ك َس‬ ُ‫د ْر‬ ُ‫ح ْر‬ َ ‫أ م‬ َ ‫م م‬ ْ‫ك َس‬ ُ‫ل ْر‬ َ ‫ن م‬ ْ‫ذ َس‬ ّ‫م َ ْن‬ ‫يؤ‬ ُ‫ل ْر‬ ِ‫ة ن‬ ُ‫ل ْر‬ َ ‫ص م‬ َّ‫ت لال ا‬ ِ‫ر ن‬ َ ‫ض م‬ َ ‫ح م‬ َ ‫ذلا م‬ َ ‫إ م‬ ِ‫ن‬
“Bila waktu shalat telah tiba maka hendaklah salah seorang kalian mengumandangkan adzan dan orang yang paling tua mengimami shalat kalian .” (HR. Al-Bukhari no. 628) Disebutkan dalam hadits lain, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang) artinya: “Yang mengimami manusia adalah orang yang pandai membaca (memahami) Al-Qur’an. Bila dari sisi bacaan Al-Qur’an mereka sama maka yang paling tahu tentang sunnah. Bila pengetahuan mereka tentang sunnah sama maka yang paling dahulu berhijrah. Bila dalam hijrah mereka sama maka yang paling tua umurnya.” (HR. Muslim). 2. Kecuali yang kecil lebih tahu dan lebih mampu berbicara. Disebutkan oleh Sahl bin Abi Hatsmah bahwa Abdullah bin Sahl dan Muhayyishah bertolak pergi menuju Khaibar yang pada saat itu ada ikatan perdamaian. Sesampainya di sana keduanya berada di tempat yang berbeda. Setelah itu Muhayyishah datang (menemui temannya), Abdullah bin Sahl, dan ternyata didapati dalam keadaan bersimbah darah, terbunuh. Muhayyishah lalu mengubur temannya kemudian pulang ke Madinah. Setelah itu Abdurrahman bin Sahl (saudara Abdullah yang terbunuh tersebut), Muhayyishah, dan Huwayyishah putra Mas’ud datang menghadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abdurrahman yang waktu itu adalah orang paling kecil yang menghadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin berbicara, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Hendaknya yang paling tua yang berbicara.” Maka kedua temannya yang berbicara dan Abdurrahman diam .” (HR. Al-Bukhari no. 3173)

3. Dalam pemberian Sebagaimana hadits yang diceritakan oleh Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa ia melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersiwak (membersihkan gigi dan lisan dengan batang siwak), lalu beliau memberikan siwak tadi kepada orang yang paling tua. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

َ ‫ب م‬ ‫ر‬ ّ‫ك ْن‬ َ ‫أ م‬ ُ‫ن ْر‬ ْ‫أ َس‬ َ ‫ن ي م‬ ِ‫ر ن‬ َ ‫م م‬ َ ‫أ م‬ َ ‫ل م‬ َ ‫ري م‬ ِ‫ب ن‬ ْ‫ج َس‬ ِ‫ن ن‬ َّ‫إ ا‬ ِ‫ن‬
“Sesungguhnya Jibril memerintahkan aku untuk memberikan kepada yang paling tua.” (lihat Ash-Shahihah no. 1555, dan hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad) Ibnu Baththal rahimahullahu mengatakan: “Dalam hadits ini ada faedah yaitu mengutamakan orang yang sudah berusia lanjut dalam pemberian siwak. Masuk pula dalam hal ini mendahulukan dalam hal diberi makanan dan minuman, berjalan dan berbicara. Al-Muhallab berkata: ‘Hal ini dilakukan apabila manusia tidak duduk dengan berurutan, bila mereka duduk berurutan maka yang sunnah ketika itu mendahulukan yang kanan’.” (Ash-Shahihah vol. IV/76) Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi susu yang dicampur dengan air. Di sebelah kanan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ada seorang badui sedangkan di sebelah kirinya ada Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu. Nabi meminum susu tadi lalu memberikannya kepada badui itu. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

َ ‫م م‬ ‫ن‬ َ ‫ي م‬ ْ‫ل َس‬ ْ‫فْا م ََس‬ َ ‫ن م‬ َ ‫م م‬ َ ‫ي م‬ ْ‫ل َس‬ ْ‫لا م ََس‬
“(Dahulukan) yang kanan lalu yang kanan.” (HR. Al-Bukhari no. 5619), Demikian besarnya hak-hak orang yang sudah tua dan penghormatan kepada mereka sangat ditekankan bila dia itu adalah orangtuanya, kakeknya, pamannya, kerabat atau tetangganya. Karena mereka memiliki hak yang besar sebagai karib kerabat dan tetangga. Orang yang menghormati/memuliakan mereka maka dia akan dihormati saat tuanya. Balasan setimpal dengan perbuatan. Seperti apa kamu berbuat, maka seperti itu pula kamu dibalas. Disebutkan dari Yahya bin Sa’id Al-Madani, ia berkata, “ Telah sampai berita kepada kami bahwa siapa saja yang menghinakan orang yang sudah tua maka ia tidak akan mati sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus seorang

yang menghinakannya di saat dia telah tua.” (lihat Al-Fawaid Al-Mantsurah hal. 84 karya Dr. Abdurrazzaq Al-Badr) 4. Orang yang sudah beruban Termasuk tanda-tanda orang yang telah menginjak usia lanjut adalah uban yang menghiasi kepalanya, kekuatan fisik yang mengendur, pandangan dan penglihatan yang mulai berkurang ketajamannya. Seorang muslim yang telah mencapai kondisi seperti ini tentunya telah melewati masa-masa yang panjang dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Berbagai manis dan getirnya kehidupan telah dilakoninya. Dia pun merasa ajal telah dekat sehingga pendekatan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semakin bertambah. Orang yang panjang umurnya dan baik amalannya adalah sebaik-baik orang, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

‫ه‬ ُ‫ل ْر‬ ُ‫مْر‬ َ ‫ع م‬ َ ‫ن م‬ َ ‫س م‬ ُ‫ح ْر‬ َ ‫و م‬ َ ‫ه م‬ ُ‫ر ْر‬ ُ‫م ْر‬ ْ‫ع َس‬ ُ‫ل ْر‬ َ ‫طْا م‬ َ ‫ن م‬ ْ‫م َس‬ َ ‫س م‬ ِ‫نْا ن‬ َّ‫ر لال ا‬ ُ‫ي ْر‬ ْ‫خ َس‬ َ ‫م‬
“Sebaik-baik orang ialah yang panjang umurnya dan baik amalannya .” (HR. AtTirmidzi dan dia menghasankannya) Orang yang beruban rambutnya karena menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dia memiliki keutamaan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ِ‫م ن‬ ‫ة‬ َ ‫يْا م‬ َ ‫ق م‬ ِ‫ل ن‬ ْ‫م لا َس‬ َ ‫و م‬ ْ‫ي َس‬ َ ‫رلا م‬ ً‫و ا‬ ْ‫ن َس‬ ُ‫ه ْر‬ ُ‫ل ْر‬ َ ‫نتَسْ م‬ َ ‫كْا م‬ َ ‫م م‬ ِ‫ل ن‬ َ ‫س م‬ ْ‫ل َس‬ ْ‫ف ي لا نَِس‬ ِ‫ة ن‬ ً‫ب ا‬ َ ‫ي م‬ ْ‫ش َس‬ َ ‫ب م‬ َ ‫شْا م‬ َ ‫ن م‬ ْ‫م َس‬ َ ‫م‬
“Barangsiapa beruban dengan suatu uban di dalam Islam maka uban itu akan menjadi cahaya baginya di hari kiamat .” (HR. At-Tirmidzi dan An-Nasa’i. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam kitab Shahihul Jami’ no. 6307) Maksudnya, uban tersebut akan menjadi cahaya, sehingga pemiliknya menjadikannya sebagai penunjuk jalan. Cahaya itu akan berjalan di hadapannya di kegelapan padang mahsyar, sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala memasukkannya ke dalam jannah (surga). Uban, meski bukan rekayasa hamba, namun bila muncul karena suatu sebab, seperti jihad atau takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka ditempatkan pada usaha (amalan) hamba. Oleh karena itu, dimakruhkan – bahkan tidak keliru bila dikatakan haram– mencabut uban yang ada di jenggot atau semisalnya. (lihat Faidhul Qadir karya Al-Munawi, 6/202)

Tentang larangan mencabut uban, telah diriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ِ‫م ن‬ ‫ة‬ َ ‫يْا م‬ َ ‫ق م‬ ِ‫ل ن‬ ْ‫م لا َس‬ َ ‫و م‬ ْ‫ي َس‬ َ ‫م م‬ ِ‫ل ن‬ ِ‫س ن‬ ْ‫م َس‬ ُ‫ل ْر‬ ْ‫ر لا َس‬ ُ‫نو ْر‬ ُ‫ه ْر‬ ُ‫ن ْر‬ َّ‫إ ا‬ ِ‫ف ن‬ َ ‫ب م‬ َ ‫ي م‬ ْ‫ش َس‬ َّ‫فولا لال ا‬ ُ‫ت ْر‬ َ ‫ن م‬ ْ‫ت َس‬ َ ‫ل م‬ َ ‫م‬
“Janganlah kalian mencabut uban, karena ia merupakan cahaya seorang muslim di hari kiamat.” (HR. Abu Dawud, dll. Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu dalam Riyadush Shalihin menghasankannya). 4. Berbuat baik dengan tetangga Di dalam kehidupan, manusia tidak dapat melepaskan diri dari dinamika kehidupan bermasyarakat dan bertetangga. Interaksi sosial yang terjadi di dalamnya akan memengaruhi kenyamanan, kebahagiaan atau tidaknya seseorang dalam melangsungkan kehidupannya. Jika di dalam kehidupan bertetangga satu sama lain tidak saling peduli, tidak saling memperhatikan, bersikap arogan, bahkan saling menyakiti, akan mengakibatkan ketidaknyamanan, kesusahan, bahkan akan menyebabkan kehancuran sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, membina hubungan harmonis dengan tetangga merupakan hal yang harus diperhatikan. Karena ketika terjadi suatu musibah yang menimpa satu keluarga, maka tetanggalah yang pertama kali akan membantu dan menolongnya dibandingkan dengan saudaranya yang jauh dari tempat tinggalnya. Sebagai seorang Muslim, sudah selayaknya kita senantiasa memperhatikan, menjaga, memelihara, dan membina hubungan antar tetangga, yakni dengan senantiasa berbuat baik kepadanya. Sebab, semua itu diperintahkan oleh Allah SWT. Hal ini dapat dilihat dari firmanfirman Allah SWT. dan hadis Nabi Muhammad SAW. 1. Allah SWT. memerintahkan berbuat baik terhadap tetangga disandingkan dengan perintah ibadah kepada-Nya. Firman Allah SWT. dalam surat An Nisa ayat 36 : "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri."

2. Malaikat Jibril AS. selalu berpesan kepada Nabi SAW. untuk berbuat baik dengan tetangga. Diriwayatkan dari Ibnu Umar dan A'isyah Radhiyallahu'anhuma; keduanya berkata bahwa Rasulullah SAW. bersabda : "Malaikat Jibril selalu berpesan kepadaku (agar berbuat baik) dengan tetangga sehingga aku menyangka bahwa ia akan memberikan hak waris kepadanya." (Muttafaqun'alaih) 3. Berbuat baik kepada tetangga merupakan barometer keimanan seseorang. Rasulullah SAW. bersabda : "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya." (HR. Bukhori) 4. Keengganan untuk berbuat baik terhadap tetangga menghalanginya untuk masuk surga Rasulullah SAW. bersabda : "Tidaklah masuk surga orang yang tetangganya tidak aman dari berbagai gangguannya." (HR. Muslim) 5. Berbuat buruk terhadap tetangga akan menyeret manusia mendapat siksa neraka. Suatu hari datang seseorang kepada Rasulullah Muhammad SAW. la menanyakan tentang seorang wanita yang selalu puasa di siang harinya dan qiyaumul lail di malam harinya, tetapi wanita itu menyakiti tetangganya. Mendengar pertanyaan tersebut, Rasulullah SAW. bersabda : "Wanita tersebut masuk neraka. Cukup kiranya hal ini menjadi dasar bagi setiap Muslim untuk menyadari bahwa tetangga mempunyai hakhak atas dirinya, dan menjadikannya untuk selalu berbuat baik kepada tetangganya. Kebaikan adalah sesuatu yang mendatangkan kebaikan, keselamatan, keuntungan, kemakmuran dan kebahagiaan. Allah SWT. memerintahkan kita untuk berbuat baik dan akan membalas setiap kebaikan yang dikerjakan. Ini sebagaimana firman-Nya,

َ‫حرو لا‬ ‫ن‬ ُ ‫ل ي‬ ِ ‫فَو‬ ْ‫ت ج‬ ُ ‫م ي‬ ْ‫ك ج‬ ُ ‫ل ي‬ َّ‫ع‬ َ‫ل لا‬ َ‫ر لا‬ َ‫ي لا‬ ْ‫خ ج‬ َ‫ل لا‬ ْ‫لروا ا ج‬ ُ ‫عي‬ َ‫ف لا‬ ْ‫وا ج‬ َ‫م لا‬ ْ‫ك ج‬ ُ ‫ب ي‬ َّ ‫ر‬ َ‫دوا لا‬ ُ ‫ب ي‬ ُ ‫ع ي‬ ْ‫وا ج‬ َ‫دوا لا‬ ُ ‫ج ي‬ ُ ‫س ي‬ ْ‫وا ج‬ َ‫عروا لا‬ ُ ‫ك ي‬ َ‫ر لا‬ ْ‫نروا ا ج‬ ُ ‫م ي‬ َ‫ن آ لا‬ َ‫ذي لا‬ ِ ‫ل َو‬ َّ‫ه ا ا‬ َ‫ي لا‬ ّ‫أ اَه‬ َ‫ي ا لا‬ َ‫لا‬
"Hai orang-orang yang beriman. Rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu, dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan." (QS. Al-Hajj :77) Tetangga sebagai orang lain yang paling dekat hubungannya mempunyai tempat khusus dalam agama Islam sehingga baik buruknya bertetangga, sebagai barometer dan ukuran tebal tipisnya iman seseorang. Bagaimanakah bentuk berbuat baik kepada tetangga ? Allah SWT. melalui RasulNya memberikan bimbingan kepada kita tentang hal ini, diantaranya sebagai berikut :

1. Pertama, senantiasa menolongnya jika ia minta pertolongan, membantunya jika ia meminta bantuan, menjenguknya jika ia sakit, mengucapkan selamat kepadanya jika ia bahagia, menghiburnya jika ia mendapatkan musibah, memulai mengucapkan salam kepadanya, berkata kepadanya dengan lemah lembut dan penuh kesantunan, membimbingnya kepada apa yang di dalamnya terdapat kebaikan agama dan dunianya, melindungi area tanahnya, memaafkan kesalahannya, tidak mengintip auratnya, tidak menyusahkannya dengan bangunan rumah atau jalannya, dan tidak menyakiti dengan air yang mengenainya atau kotoran yang dibuang di depan rumahnya. Ini semua merupakan perbuatan yang baik terhadap tetangga yang diperintahkan Allah SWT. dalam surat An-nisa ayat 36. 2. Kedua, berderma kepada tetangga. Sebagaimana sabda-sabda Rasulullah SAW. : "Wahai wanita-wanita Muslimah, janganlah seorang tetangga meremehkan (pemberian) tetangga yang lain, kendati hanya dengan ujung kuku kambing." (HR. Bukhori) Hai Abu Dzar, jika engkau memasak kuah, maka perbanyaklah airnya, kemudian berikan kepada tetanggamu." (HR. Bukori) Aisyah Radhiyallahu anha bertanya kepada Rasulullah SAW. : "Aku mempunyai dua tetangga, maka yang manakah yang berhak aku beri hadiah ?" Rasulullah SAW. bersabda : "Kepada orang yang pintu rumahnya lebih dekat kepadamu." (Muttafaqun 'alaih) 3. Ketiga, tidak menyakitinya dengan ucapan ataupun perbuatan. Rasulullah SAW. bersabda : "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan menyakiti tetangganya." (Muttafaqun 'alaih) 4. Keempat, menghormati dan menghargainya dengan tidak melarangnya meletakkan kayu atau sejenisnya di temboknya, tidak menjual atau menyewakan apa saja yang menyatu dengan temboknya hingga ia bermusyawarah dengan tetangganya. Sabda Rasulullah SAW. : "Salah seorang dari kalian jangan sekali-kali melarang tetangganya meletakan kayu di dinding rumahnya." (Muttafaqun 'alaih)3

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan 1. Akhlakul karimah sangatlah diharapkan oleh islam, salah satu akhlakul karimah adalah kejujuran, kejujuran merupakan perbuatan baik sebagai pengontrol perbuatan baik lainya, jika jujur sudah menjadi kebiasaan baik seseorang maka ia akan enggan melakukan akhlak tercela yang lain. 2. Akhlak dapat dijadikan indicator kebaikan seseorang, karena dengan akhlak yang tercermin dari perkataan, perbuatan dan segala gerak gerik dalam kehidupan seharihari. Orang yang berakhlakul karimah akan jujur dalam hidupnya, meghormati orang lain, serta memuliakan tetangga dalam bermasyarakat. B. Saran Diharapkan setelah mempelajari akhlakul karimah ini, dapat di aplikasikan di kehidupan sehari-hari.

DAFTAR PUSTAKA http://www.anneahira.com/akhlak-yang-baik.htm http://arrahmah.com/read/2007/09/17/1003-jujur-membawa-selamat.htmlv http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/item/68?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal %2Fitem http://umustlucky.blogspot.com/2010/04/berbuat-baik-terhadap-tetangga.html http://alfiyah90.wordpress.com/2010/03/25/hadist-jujur-dan-menepati-janji/ http://ustadzkholid.com/akhlaq/memuliakan-tetangga/ http://samsulhadi.blogspot.com/akhlak-terpuji-dan-akhlak-tercela-dalam.html http://alfiyah90.wordpress.com/2010/03/25/hadist-jujur-dan-menepati-janji/

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->