P. 1
Sosiologi Pendidikan

Sosiologi Pendidikan

|Views: 47|Likes:
Published by nmiftan

More info:

Published by: nmiftan on Jul 05, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/16/2013

pdf

text

original

Semester 2 IAIN Sunan Ampel Surabaya

BAB II PEMBAHASAN a Pengertian Sosiology Kata sosiologi berasal dari kata latin socius yang berarti teman, dan kata bahasa yunani logos yang berarti Eberjudul ‘’ cours de philosophie positive’’ karangan Auguste Comte ( 1798-1857)1. Sosiologi juga bisa dibatasi sebagai study ilmiah tentang kehidupan manusia2. Sebagai suatu disiplin, jelas sosiologi bukanlah merupakan filosofi social tapi sebagai suatu sistem tata nilai yang ditunjukan kepada masyarakat tentang bagaimana seharusnya mereka berkelakuan dan mengatur diri mereka, sedangkan sosiologi berusaha menguraikan atau menerangkan secermat dan seobjektif mungkin bagaimana dan mengapa dalam sebuah kelompok masyarakat harus saling bergaul dan mempengaruhi satu sama lain.

b

Perkembangan Sosiology Sebagai suatu disiplin akademis yang mandiri, sosiologi masih berumur relatif muda

yaitu kurang dari 200 tahun. Istilah sosiologi untuk pertama kali diciptakan oleh Auguste Comte dan oleh karenanya Comte sering disebut sebagai bapak sosiologi. Istilah sosiologi ia tuliskan dalam karya utamanya yang pertama, berjudul The Course of Positive Philosophy, yang diterbitkan dalam tahun 1838. Karyanya mencerminkan suatu komitmen yang kuat terhadap metode ilmiah. Menurut Comte ilmu sosiologi harus didasarkan pada observasi dan klasifikasi yang sistematis bukan pada kekuasaan dan spekulasi. Di Inggris Herbert Spencer menerbitkan bukunya Principle of Sociology dalam tahun 1876. Ia menerapkan teeori evolusi organik pada masyarakat manusia dan mengembangkan teori besar tentang “evolusi sosial” yang diterima secara luas. Seorang Amerika Lester F. Ward yang menerbitkan bukunya “Dynamic Sociology” dalam tahun 1883, menghimbau kemajuan sosial melalui tindakantindakan sosial. Hal ini mendorong para sosiolog Amerika untuk mencari solusinya. Mereka melihat sosiologi sebagai pedoman ilmiah untuk kemajuan sosial. Sehingga kemudian ketika 1 Elly M. setiadi , Usman Kolip . Pengantar sosiologi. Kencana. Jakarta : 2011. Hal 2 2 Bruce J Cohen. Psikologi. Rineka Cipta. Jakarta:1992. Hal 1
SOSIOLOGY PENDIDIKAN, Fakultas Tarbiyah-Kependidikan IslamPage 1

Semester 2 IAIN Sunan Ampel Surabaya

terbitnya edisi awal American Journal of Sociology isinya hanya sedikit yang mengandung artikel atau riset ilmiah, tetapi banyak berisi tentang peringatan dan nasihat akibat urbanisasi dan industrialisasi. Sebagai contoh suatu artikel yang terbit di tahun 1903 berjudul “The Social Effect of The Eight Hour Day” tidak mengandung data faktual atau eksperimental. Tetapi lebih berisi pada manfaat sosial dari hari kerja yang lebih pendek. Namun pada tahun 1930-an beberapa jurnal sosiologi yang ada lebih berisi artikel riset dan deskripsi ilmiah. Sosilogi kemudian menjadi suatu pengetahuan ilmiah dengan teorinya yang didasarkan pada obeservasi ilmiah, bukan pada spekulasi-spekulasi. Para sosiolog tersebut pada dasarnya merupakan ahli filsafat sosial. Mereka mengajak agar para sosiolog yang lain mengumpulkan, menyusun, dan mengklasifikasikan data yang nyata, dan dari kenyataan itu disusun teori sosial yang baik.

c

Tokoh Sosiology dan Pemikirannya Terkadang kita hanya tertarik untuk membanca referensi tempat-tempat unik, hal-hal

yang aneh, dan lain-lainnya. Tetapi jika kita terlintas intuk membaca beberapa referensi tokohtokoh berpengaruh dalam sosiologi? pernah kah kita menyadari? mereka- mereka inilah yang memahami kegitan manusia, mereka inilah yang mempelajari kehidupan masyarakat dan semua gejalanya. sehingga seuatu penyelesaian dan jalan keluar dalam masyarakat dalam terpecahi.dan inilah bebrapa tokoh yang berpengaruh dalam mempelajari masyarakat (sosiologi) : 1.Florian Witold Znaniecki Florian Witold Znaniecki lahir di Swietniki, Prussia (sekarang Polandia) dan wafat di Champaign,Amerika Serikat. Ia adalah sosiolog Amerika-Polish yang teori dan metodologi kerjanya menjadikan sosiologi sebagai disiplin ilmu. Ia mempelopori bidang penyelidikan empiris dan sebagai penulis Kebudayaan Polish. 2. Peter Ludwig Berger Peter Ludwig Berger lahir pada tanggal 17 Maert 1929. Ia adalah seorang sosiolog dan teolog Amerika yang terkenal berkat karyanya Th s .. Be Social Contruction Of Reality: A treatise in the socilogy of knowledge yang di tulisnya bersama
SOSIOLOGY PENDIDIKAN, Fakultas Tarbiyah-Kependidikan IslamPage 2

Semester 2 IAIN Sunan Ampel Surabaya

Thomas Luckmann. Masalah yang dikaji Peter L. Berger adalah hubungan antara masyarakat dengan Individu. Di dalam bukunya, ia mengembangkan sebuah teori sosiologis : Masyarakat sebagai Realitas Objektif dan Subjektif. Analisanya masyarakat sebagai realitas subjektif mempelajari bagaimana realitas telah menghasilkan dan terus menghasilkan individu. Ia menulis tentang bagaimana konsep-konsep atau penemuanpenemuan baru manusia menjadi bagian dari realitas kita. Proses ini disebutnya reifikasi. 3. Karl Max Karl Heinrich Marx lahir di Trier, Jerman pada tanggal 5 mei 1818. Ia adalah seorang filsuf, pakar ekonomi politik, dan teori kemsyarakatan dari Prusia. Walaupun Karl Marx menulis tentang banayak hal semasa hidupnya, ia paling terkenal atas analisanya terhadap sejarah, terutama mengenai pertentangan kelas, yang dapat diringkas sebagai “sejarah dari berbagai mesyarakat hingga saat ini pada dasarnya adalah sejarah tentang pertentangan kelas”, sebagaimana yang tertulis dalam kalimat pembuka dari karya “Communist Manifesto” pada tahun 1848. 4. Aguste Comte Comte lahir di Montpellier, sebuah kota kecil di bagian barat daya dari negara Perancis. Setelah bersekolah disana, ia melanjutkan pendidikannya di Politeknik École di Paris. Politeknik École saat itu terkenal dengan kesetiaannya kepada idealis republikanisme dan filosofi proses. Pada tahun 1818, politeknik tersebut ditutup untuk re-organisasi. Comte pun meninggalkan École dan melanjutkan pendidikannya di sekolah kedokteran di Montpellier. Comte biasanya dihormati ketika lebih dulu Sarjana sosiologi barat ( Ibn Khaldun setelah didahului dia di (dalam) Timur dengan hampir empat berabad-abad). Penekanan Comte’s pada saling behubungan tentang unsur-unsur sosial adalah suatu pertanda modern functionalism, unsur-unsur tertentu dari pekerjaan nya kini dipandang sebagai tak ilmiah dan eksentrik, dan visi agung sosiologi nya sebagai benda hiasan di tengah meja dari semua ilmu pengetahuan belum mengakar. Penekanan nya pada suatu kwantitatif, mathematical basis untuk pengambilan keputusan tinggal dengan kita hari ini. ini merupakan suatu pondasi bagi

SOSIOLOGY PENDIDIKAN, Fakultas Tarbiyah-Kependidikan IslamPage 3

Semester 2 IAIN Sunan Ampel Surabaya

dugaan Paham positifisme yang modern, analisa statistik kwantitatif modern, dan pengambilan keputusan bisnis. Uraian nya hubungan siklis yang berlanjut antar teori dan praktik dilihat di sistem bisnis modern Total Manajemen Berkwalitas dan Peningkatan Mutu Berlanjut di mana advokat menguraikan suatu siklus teori [yang] berlanjut dan praktik melalui/sampai four-part siklus rencana,, cek, dan bertindak. Di samping pembelaan analisis kuantitatif nya, Comte lihat suatu batas dalam kemampuan nya untuk membantu menjelaskan gejala sosial. Nah untuk teman-teman ketahui Aguste Comte ini sering juga di sebut Bapak Sosiologi Dunia. 5. Ibnu Kaldun Ibnu Khaldun lahir di Tunisia, Afrika Utara, 27 Mei 1332 (Faghirzaedah 1982). Lahir dari keluarga terpelajar, Ibnu Khaldun dimasukkan ke sekolah Al-Quran, kemudian mempelajari matematika dan sejarah. Semasa hidupnya ia membantu berbagai sultan di Tunisia, Maroko, Spanyol, dan Aljazair sebagai data besar, bendaharawan dan anggota dengan dewan penasehat sultan. Ia pun pernah dipenjarakan selama 2 tahun di Maroko karena keyakinannya bahwa penguasa negara bukanlah pemimpin yang mendapatkan kekuasaan dari Tuhan. Setelah kurang lebih dua dekade aktif di bidang politik, Ibnu Khaldun kembali ke Afrika Utara. Ia melakukan studi ilmiah tentang masyarakat, riset empiris, dan meneliti sebab-sebab fenomena sosial. Ia memusatkan perhatian pada berbagai lembaga sosial (misalnya lembaga politik dan ekonomi) dan hubungan antara lembaga sosial itu. Ia juga tertarik untuk melakukan studi perbandingan antara masyarakat primitif dan masyarakat modern. Ibnu Khaldun tak berpengaruh secara dramatis terhadap sosiologi klasik, tetapi setelah sarjana pada umumnya dan sarjana muslim khususnya meneliti ulang karyanya, ia mulai diakui sebagai sejarawan yang mempunyai signifikansi historis. 6. Selo Soemardjan ini special saya persembahkan untuk pembaca semua, yah. Selo Soemardjan merupakan salah satu sosok paling berpengaruh dalam perkembangan ilmu yang mempelajari masyarakat dan sekitarnya. Penerima Bintang Mahaputra Utama dari

SOSIOLOGY PENDIDIKAN, Fakultas Tarbiyah-Kependidikan IslamPage 4

Semester 2 IAIN Sunan Ampel Surabaya

pemerintah ini adalah pendiri sekaligus dekan pertama Fakultas Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan (kini FISIP-UI) dan sampai akhir hayatnya dengan setia menjadi dosen sosiologi di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI). Ia dikenal sangat disiplin dan selalu memberi teladan konkret. Ia ilmuwan yang meninggalkan banyak bekal ilmu pengetahuan. Sebetulnya ia sudah purnatugas di Universitas Indonesia (UI). Tapi, karena masih dibutuhkan, ia tetap mengajar dengan semangat tinggi. Ia memang seorang sosok berintegritas, punya komitmen sosial yang tinggi dan sulit untuk diam. Ia seorang dari sedikit orang yang sangat pantas menyerukan hentikan praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Pantas karena ia bukan tipe maling teriak maling. Ia orang orang bersih yang dengan perangkat ilmu dan keteladanannya bisa menunjukkan bahwa praktik KKN itu merusak tatanan sosial. Ia pantas menjadi teladan kaum birokrat karena etos kerjanya Selo yang pernah tinggi dalam mengabdi sebagai kepada pegawai masyarakat. Selama hidupnya, berkarier

Kesultanan/Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, Kepala Staf Sipil Gubernur Militer Jakarta Raya, dan Kepala Sekretariat Staf Keamanan Kabinet Perdana Menteri, Kepala Biro III Sekretariat Negara merangkap Sekretaris Umum Badan Pemeriksa Keuangan, Sekretaris Wakil Presiden RI Sultan Hamengku Buwono IX (1973-1978), Asisten Wakil Presiden Urusan Kesejahteraan Rakyat (1978-1983) dan staf ahli Presiden HM Soeharto. Ia dikenal sebagai Bapak Sosiologi Indonesia setelah tahun 1959 — seusai meraih gelar doktornya di Cornell University, AS — mengajar sosiologi di Universitas Indonesia (UI). Dialah pendiri sekaligus dekan pertama (10 tahun) Fakultas Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan (sekarang FISIP) UI. Kemudian tanggal 17 Agustus 1994, ia menerima Bintang Mahaputra Utama dari pemerintah dan pada tanggal 30 Agustus menerima gelar ilmuwan utama sosiologi. Menurut putra sulungnya, Hastjarjo, Selo suka main. “Setiap hari selalu memainkan tubuhnya berolahraga senam. Karena terkesan lucu, cucu-cucu menganggap bapak sedang bermain-main dengan tubuhnya,” tambahnya. Sebagai ilmuwan, karya Selo yang sudah dipublikasikan adalah Social Changes in Yogyakarta (1962) dan Gerakan 10 Mei 1963 di Sukabumi (1963). Penelitian terakhir Selo berjudul Desentralisasi Pemerintahan. Terakhir ia menerima Anugerah Hamengku Buwono (HB) IX dari Universitas Gadjah Mada (UGM) pada puncak peringatan Dies

SOSIOLOGY PENDIDIKAN, Fakultas Tarbiyah-Kependidikan IslamPage 5

Semester 2 IAIN Sunan Ampel Surabaya

Natalis Ke-52 UGM tanggal 19 Januari 2002 diwujudkan dalam bentuk piagam, lencana, dan sejumlah uang. 7. Pierre Guillaurne Frederic Le Play seorang Perancis, adalah salah seorang ahli ilmu pengetahuan kemasyarakatan terkemuka abad ke-19. Dia berhasil mengenalkan suatu metode tertentu di dalam meneliti dan menganalis gejala-gejala sosial yaitu dengan jalan mengadakan observasi terhadap fakta-fakta sosial dan analisis induktif. Kemudian dia juga menggunakan metode case study dalam penelitian-penelitian sosial. Penelitian-penelitiannya terhadap masyarakat menghasilkan dalil bahwa lingkungan geografis menentukan jenis pekerjaan, dan hal ini mempengaruhi organisasi ekonomi, keluarga serta lembaga-lembaga lainnya. Keluarga merupakan objek utama dalam penyelidikan. Dia berkeyakinan bahwa anggaran belanja suatu keluarga merupakan ukuran kuantitatif bagi kehidupan keluarga sekaligus menunjukkan kepentingan keluarga tersebut. Akhirnya dikatakan bahwa organisasi sosial keluarga sepenuhnya terikat pada anggaran keluarga tersebut. Karya-karyanya yang telah diterbitkan antara lain European Workers (1855), Social Reform in France (1864), The Organization of the Family (1871), dan The Organization of Labor (1872). Itulah beberapa para sosiolog dan teriolog yang sangat berkompeten dalam permasalahan mayrakat dan saya berharap akan ada para sosiolog dan teriolog baru yang lebih berkompeten demi menjaga kehormatan dan kearifan hidup manusia. d Pranata Sosial dan Fungsinya Dalam kehidupan sehari-hari istilah institution (menurut ilmu sosiologi berarti pranata) sering dipadankan dengan istilah institute (terjemahan dalam bahasa indonesia adalah lembaga). Berangkat dari kekeliruan inilah, maka penggunaan istilah-istilah ini dalam Bahasa Indonesia harus dibedakan secara tegas. Institution (pranata) adalah sistem norma atau aturan yang menyangkut suatu aktivitas masyarakat yang bersifat khusus. Sedangkan institute (lembaga) adalah badan atau organisasi yang melaksanakannya. Menurut Horton dan Hunt (1987), yang dimaksud dengan pranata sosial adalah suatu sistem norma untuk mencapai suatu tujuan atau kegiatan yang oleh masyarakat

SOSIOLOGY PENDIDIKAN, Fakultas Tarbiyah-Kependidikan IslamPage 6

Semester 2 IAIN Sunan Ampel Surabaya

dipandang penting. Dengan kata lain, pranata sosial adalah sistem hubungan sosial yang terorganisir yang mengejawantahkan nilai-nilai serta prosedur umum yang mengatur dan memenuhi kegiatan pokok warga masyarakat. Oleh karena itu, ada tiga kata kunci di dalam setiap pembahasan mengenai pranata sosial yaitu” a. Nilai dan norma b. Pola perilaku yang dibakukan atau yang disebut prosedur umum c. Sistem hubungan, yakni jaringan peran serta status yang menjadi wahana untuk melaksanakan perilaku sesuai dengan prosedur umum yang berlaku.

Menurut Koentjaraningrat (1979) yang dimaksud dengan pranata-pranata sosial adalah sistem-sistem yang menjadi wahana yang memungkinkan warga masyarakat itu untuk memenuhi kompleks-kompleks kebutuhan khusus dalam kehidupan masyarakat. Pranata sosial pada hakikatnya bukan merupakan sesuatu yang bersifat empirik, karena sesuatu yang empirik unsur-unsur yang terdapat di dalamnya selalu dapat dilihat dan diamati. Sedangkan pada pranata sosial unsur-unsur yang ada tidak semuanya mempunyai perwujudan fisik. Pranata sosial adalah sesuatu yang bersifat konsepsional, artinya bahwa eksistensinya hanya dapat ditangkap dan dipahami melalui sarana pikir, dan hanya dapat dibayangkan dalam imajinasi sebagai suatu konsep atau konstruksi pikir. Unsur-unsur dalam pranata sosial bukanlah individu-individu manusianya itu, akan tetapi kedudukan-kedudukan yang ditempati oleh para individu itu beserta aturan tingkah lakunya. Dengan demikian pranata sosial merupakan bangunan atau konstruksi dari seperangkat peranan-peranan dan aturan-aturan tingkah laku yang terorganisir. Aturan tingkah laku tersebut dalam kajian sosiologi sering disebut dengan istilah “norma-norma sosial”. Adapula diciptakan pranata sosial pada dasarnya mempunyai maksud serta tujuan yang secara prinsipil tidak berbeda dengan norma-norma sosial, karena pranata sosial

SOSIOLOGY PENDIDIKAN, Fakultas Tarbiyah-Kependidikan IslamPage 7

Semester 2 IAIN Sunan Ampel Surabaya

sebenarnya memang produk dari norma sosial. Secara umum, tujuan utama diciptakannya pranata sosial, selain untuk mengatur agar kebutuhan hidup manusia dapat terpenuhi secara memadai, juga sekaligus untuk mengatur agar kehidupan sosial warga masyarakat bisa berjalan dengan tertib dan lancar sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku. Sebagai contoh, pranata keluarga mengatur bagaimana keluarga harus memelihara anak. Sementara itu, pranata pendidikan mengatur bagaimana sekolah harus mendidik anakanak hingga menghasilkan lulusan yang handal. Tanpa adanya pranata sosial, kehidupan manusia nyaris bisa dipastikan bakal porak-poranda karena jumlah prasarana dan sarana untuk memenuhi kebutuhan manusia relatif terbatas, sementara jumlah warga masyarakat yang membutuhkan justru semakin lama semakin banyak (hal ini menunjukkan adanya sebuah pertambahan atau pemekaran). Untuk mewujudkan tujuannya, menurut Soerjana Soekanto (1970), pranata sosial di dalam masyarakat harus dilaksanakan dengan fungsifungsi berikut: 1 Memberi pedoman pada anggota masyarakat tentang bagaimana bertingkah laku atau bersikap di dalam usaha untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya. 2 Menjaga keutuhan masyarakat dari ancaman perpecahan atau disintegrasi masyarakat. 3 Berfungsi untuk memberikan pegangan dalam mengadakan sistem pengendalian sosial (social control).

SOSIOLOGY PENDIDIKAN, Fakultas Tarbiyah-Kependidikan IslamPage 8

Semester 2 IAIN Sunan Ampel Surabaya

DAFTAR PUSTAKA

(Soetandyo,2002:448), internet, blog

Assiddiqy, Jimly. Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara. Jakarta: Konstitusi Press, 2006.

Kusnadi, M. Harmaily Ibrahim. Pengantar Hukum Tatanegara Indonesia. Jakarta: CV Sinar Bakti, 1995.

Thoib, Dahlan Jazim Hamidi Nikmatul Huda. Teori dan Hukum Konstitusi. Jakarta: Rajawali Press, 2005.

journal.umi.ac.id/pdfs/Supremasi_Hukum_dan_Penegakan_Hukum.pdf

SOSIOLOGY PENDIDIKAN, Fakultas Tarbiyah-Kependidikan IslamPage 9

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->