P. 1
Penilaian Sikap Ilmiah

Penilaian Sikap Ilmiah

|Views: 508|Likes:
Published by masharmaster
Cara Menilai Sikap Ilmiah
Cara Menilai Sikap Ilmiah

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: masharmaster on Jul 05, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/11/2014

pdf

text

original

Penilaian Sikap Ilmiah

BAB II PENDAHULUAN
RAFIUDDIN, ABY DASTA SYAM

A.

Latar Belakang

Penilaian sikap ilmiah dalam pembelajaran sains, penting dilaksanakan oleh kerana dalam pembelajaran sains berkaitan dengan kemampuan, sehingga menjadi acuan siswa mampu atau tidak mampu pada pembelajaran. Sikap mengandung tiga dimensi yakni kepercayaan kognitif, perasaan akfektif atau evaluatif dan perilaku seseorang terhadap obyek sikap. Penilaian hasil belajar Sains dianggap lengkap jika mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Sikap merupakan tingkah laku yang bersifat umum yang menyebar tipis diseluruh hal yang dilakukan siswa. Tetapi sikap juga merupakan salah satu yang berpengaruh pada hasil belajar siswa. Sikap ilmiah dapat dibedakan dari sekedar sikap terhadap Sains, karena sikap terhadap Sains hanya terfokus pada apakah siswa suka atau tidak suka terhadap pembelajaran Sains. Tentu saja sikap positif terhadap pembelajaran Sains akan memberikan kontribusi tinggi dalam pembentukan sikap ilmiah siswa. B. Rumusan Masalah Adapun perumusan masalah yang kami bahas dalam makalah ini adalah 1. Bagaimana Pengertian dimensi Sikap? 2. Bagaimana Sikap Sains (Sikap Ilmiah)? 3. Bagaimana Menyusun Instrumen Penilaian Sikap Ilmiah? C. Tujuan Penulisan Tujuan penulisan makalah ini adalah 1. Untuk mengetahui bagaimana Pengertian dimensi Sikap 2. Untuk mengetahui bagaimana Sikap Sains (Sikap Ilmiah)? 3. Untuk mengetahui bagaimana Menyusun Instrumen Penilaian Sikap Ilmiah 4. Sebagai sarana untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang bagi mahasiswa yang membacanya D. Metode Penulisan Metode penulisan yang kami pergunakan dalam pembuatan makalah ini yaitu dengan menggunakan “ library research” yaitu metode yang menggunakan bukubuku perpustakaan yang berhubungan dengan tema makalah yang kami buat sebagai bahan utama maupun penunjang dalam pembuatan makalah ini BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian dan Dimensi Sikap

Chaplin (1975) menyatakan bahwa sikap atau pendirian adalah satu predisposisi atau kecenderungan yang relative stabil dan berlangsung terus menerus untuk bertingkah laku atau untuk mereaksi dengan cara tertentu. Sikap bukan hanya rekaman masa lalu tetapi juga pilihan seseorang untuk menentukan apa yang disukai dan menghindari apa yang tidak diinginkan. situasi. . atau nilai. situasi. Secara Iebih terperinci. Sikap timbul melalui pengalaman. berpikir. positif atau negatif. Thurstone dalam Kartawijaya (1992) mendefiniskan sikap sebagai seluruh kecenderungan dan perasaan. Sikap dapat diidentifikasi dalam lima dimensi sikap yaitu arah. Ada empat dimensi sikap dari Thurstone. (3) suka atau tidak suka. 2. 3. atau kelompok. sehingga sikap dapat diperteguh atau diubah melalui proses belajar. dan kecendrungan bertindak. mendukung atau tidak mendukung. Mueller (1986) menganggap bahwa Thurstone adalah yang pertama mempopulerkan metodologi pengukuran sikap. konsistensi. Ketika satu sikap telah terbentuk pada diri seseorang maka hal itu akan menetap dalam waktu relative lama karena hal itu didasari pilihan yang menguntungkan dirinya 4. tetapi kapan obyek sikap dinilainya negatif maka sikap akan berubah. Sikap mempunyai daya pendorong. rasa takut. Sikap bukan perilaku tetapi merupakan kecenderungan berperilaku dengan cara tertentu terhadap obyek sikap.Dalam Dictionary of Psychology. Setelah sikap terbentuk akan mempengaruhi perilaku secara langsung. Obyek sikap dapat berupa benda. orang. Melaui proses kognisi dari integrasi dan konsistensi sikap dibentuk menjadi komponen kognisi. dan perubahan-perubahan yang terjadi akan menuntun pada perubahan sikap yang dimiliki. Perilaku akan memmpengaruhi perubahan lingkungan yang ada. Rahmat (1998) menyimpulkan beberapa pendapat ahli dan menetapkan lima ciri yang menjadi karakteristik sikap seseorang: 1. artinya sikap terbagi pada dua arah. ide. Cassio (1991) dan Gibson (1996) justru mendukung pendapat Ruch dengan menggmbarkan hubungan antara sikap dan perilaku sebagai berikut : Sikap berkembang dari interaksi antara individu dengan lingkungan masa lalu dan masa kini. Reber (1985) menyatakan bahwa istilah sikap (attitude) berasal dari bahasa Latin. intensitas. tempat. emosi. (2) penilaian. a. Sikap mengandung aspek evaluatif. Sikap relatif lebih menetap. Sikap adalah kecenderungan bertindak. yaitu: (1) pengaruh atau penolakan. "aptitudo" yang berarti kemampuan. ancaman dan keyakinan tentang suatu hal. tidak dibawa sejak tahir. prapemahaman yang mendetail. dan merasa dalam menghadapi obyek. kecurigaan dan prasangka. dan (4) kepositifan atau kenegatifan terhadap obyek psikologis. berpresepsi. kedalaman sikap terhadap obyek tertentu belum tentu sama meskipun arahnya sama. keluasan. Sikap memiliki arah. ide-ide. gagasan. dan spontanitas. sehingga sikap dijadikan acuan apakah seseorang mampu atau tidak mampu pada pekerjaan tertentu. Sikap memiliki intensitas. Sikap akan bertahan selama obyek sikap masih menyenangkan seseorang. artinya. 5. setuju atau tidak setuju. b.

Menurut Harlen (1996) paling kurang ada empat jenis sikap yang perlu mendapat perhatian dalam pengembangan sikap ilmiah siswa sekolah dasar: (1) sikap terhadap pekerjaan di sekolah. “(a) curiosity. Sikap memiliki keluasan artinya ketidak setujuan terhadap obyek sikap dapat spesifik hanya pada aspek tertentu. Sikap memiliki spontanitas.c. Keduanya saling berbubungan dan keduanya mempengaruhi perbuatan. Sikap ingin tahu (curiosity) mendorong akan penemuan sesuatu yang baru (inventiveness) yang dengan berpikir kritis (critical thinking) akan meneguhkan pendirian (persistence) dan berani untuk berbeda . Variasi muncul hanya dalam penempatan dan penamaan sikap ilmiah yang ditonjolkan. dan kesediaan membedakan fakta dengan pendapat (Kartiasa. karena sikap terhadap Sains hanya terfokus pada apakah siswa suka atau tidak suka terhadap pembelajaran Sains. Spontanitas akan nampak dari pengamatan indikator sikap pada seseorang mengemukakan sikapnya. Keempat sikap ini akan membentuk sikap ilmiah yang mempengaruhi keinginan seseorang untuk ikut serta dalam kegiatan tertentu. Sikap Sains (Sikap Ilmiah) Sikap ilmiah dalam pembelajaran Sains sering dikaitkan dengan sikap terhadap Sains. Tentu saja sikap positif terhadap pembelajaran Sains akan memberikan kontribusi tinggi dalam pembentukan sikap ilmiah siswa tetapi masih ada faktor lain yang memberikan kontribusi yang cukup berarti. keterbukaan. meskipun kalau ditelaah lebih jauh hampir tidak ada perbedaan yang berarti. Penilaian hasil belajar Sains dianggap lengkap jika mencakup aspek kognitif. obyek. Keempat sikap ini sebenarnya tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya karena saling melengkapi. Sikap memiliki konsistensi yaitu kesesuaian antara peryataan sikap yang dikemukakan dengan tanggapan terhadap obyek sikap. e. artinya sejauh mana kesiapan seseorang menyatakan sikapnya secara spontan. atau peristiwa. Sikap merupakan tingkah laku yang bersifat umum yang menyebar tipis diseluruh hal yang dilakukan siswa. Gega (1977) mengemukakan empat sikap pokok yang harus dikembangkan dalam Sains yaitu. and (d) persistence”. d. sedangkan AAAS (1993) tidak menyebut inventiveness tetapi memasukkan open minded (sikap terbuka) sebagai salah satu sikap ilmiah utama. 1980). tetapi sebaliknya dapat pula mencakup banyak aspek. dan cara seseorang merespon tkepada orang lain. Sikap yang bertahan lama (stabil) disebut sikap yang konsisten. (2) sikap terhadap diri mereka sebagai siswa. Misalnya. (c) critical thinking. kesediaan mempertimbangkan bukti. (3) sikap terhadap ilmu pengetahuan. khususnya Sains. sebaliknya sikap yang cepat berubah (Iabil) disebut sikap inkonsisten. Pengelompokan sikap ilmiah oleh para ahli cukup bervariasi. Sikap ilmiah dibedakan dari sekedar sikap terhadap Sains. Gega (1977) memasukkan inventiveness (sikap penemuan) sebagai salah satu sikap ilmiah utama. B. Tetapi sikap juga merupakan salah satu yang berpengaruh pada hasil belajar siswa. dan psikomotor. (b) inventiveness. dan (4) sikap terhadap obyek dan kejadian di lingkungan sekitar. afektif. Pada tingkat sekolah dasar sikap ilmiah difokuskan pada ketekunan.

Untuk lebih memudahkan dapat digunakan pengelompokkan/ dimensi sikap yang dikembangkan oleh Harlen (1996) sebagai berikut: Tabel 2 DEMENSI DAN INDlKATOR SlKAP ILMIAH Dimensi Indikator Sikap ingin tahu Antusias mencari jawaban. Secara singkat pengelompokkan tersebut dapat dilihat pada table berikut : Tabel 1 : Pengelompokkan Sikap Ilmiah Siswa Gegga (1977) Harlen (1996) AAAS (1993) Curiosity. curiosity (keingintahuan). dan skepticism (ketidakpercayaan). open minded (keterbukaan). Sedangkan.pendapat. oleh American Association for Advancement of Science (AAAS: 1993) memberikan penekanan pada empat sikap yang perlu untuk tingkat sekolah dasar yakni honesty (kejujuran). . (sikap Curiosity (sikap ingin tahu) Honesty (sikap jujur) ingin tahu) Inventiveness (sikap Respect for evidence (sikap Curiosity (sikap ingin penemuan) respek terhadap data) tahu) Critical thinking Critial reflection (sikap Open minded (sikap (sikap berpikir refleksi kritis) berpikiran terbuka) kritis) Persistence (sikap Perseverance (sikap Skepticism (sikap teguh pendirian) ketekunan) keragu-raguan) Cretivity and inventiveness (sikap kreatif dan penemuan) Open mindedness (sikap berpikiran terbuka) Cretivity and inventiveness (sikap kreatif dan penemuan) Open mindedness (sikappikiran terbuka) Co-operation with others (sikap bekerjasama dengan orang lain) Willingness to tolerate uncertainty (sikap keinginan menerima ketidakpastian) Sensitivity to environment (sikap sensitive terhadap lingkungan) Pengukuran sikap ilmiah siswa sekolah dasar dapat didasarkan pada pengelompokkan sikap sebagai dimensi sikap selanjutnya dikembangkan indicator-indikator sikap untuk setiap dimensi sehingga memudahkan menyusun butir instrumen sikap ilmiah. Harlen (1996) membuat pengelompokkan yang lebih lengkap dan hampir mencakup kedua pengelompokkkan yang telah dikemukakan.

dan dokumen (dokumentasi). Pengamatan (Observasi) Pengamatan adalah cara mengumpulkan data dengan mengadakan pencatatan terhadap apa yang menjadi sasaran pengamatan. melakukan wawancara (interview). Menanyakan setiap perubahan/haI baru. Catatan: lndikator-indikator tersebut di atas hanya contoh dan masih dapat dikembangkan agar lebih lengkap dan tepat mendukung dimensi sikap yang akan diukur. Tidak merasa selalu benar. Menghargai pendapat/temuan orang lain. Menguraikan konklusi baru hasil pengamatan. Teknik penilaian non-tes yang sering digunakan adaIah pengamatan (observasi). Menganggap setiap kesimpulan adalah tentatif. Perhatian terhadap peristiwa sekitar. Menunjukkan laporan berbeda dengan teman kelas. Melengkapi satu kegiatan meskipun teman. sebenarnya siswa tersebut sedang mengadakan pengamatan. Menyusun Instrumen Penilaian Sikap Ilmiah Sikap ilmiah diukur dengan bentuk penilaian non tes. Pada waktu siswa mencatat ciriciri tanaman jagung (misalnya keadaan akar. Kelasnya selesai lebih awal. 1. Tidak mengabaikan data meskipun kecil.Sikap respek terhadap data/fakta Sikap berpikir kritis Sikap penemuan dan kreativitas Sikap berpikiran terbuka dan kerjasama Sikap ketekunan Sikap peka terhadap lingkungan sekitar Perhatian pada obyek yang diamati. Menggunakan fakta-fakta untuk dasar konklusi. Antusias pada proses Sains. Mau merubah pendapat jika data kurang. dan daun). menyebarkan angket (kuesioner). Tidak mencampur fakta dengan pendapat. Menggunakan alat tidak seperti biasanya Menyarankan pereobaan-percobaan baru. Tidak memanipulasi data. Menerima saran dari ternan. Merubah pendapat dalam merespon terhadap fakta. Menjaga kebersihan lingkungan sekolah. C. Guru dapat melakukan penilaian sikap ilmiah siswa pada waktu siswa melakukan pengamatan. Meragukan temuan teman. Pengamatan sebagai alat evaluasi disamping digunakan untuk menilai sikap dan tingkah laku siswa juga . Obyektif/jujur. Tidak purbasangka. Mengulangi kegiatan yang dilakukan. Mengambil keputusan sesuai fakta. batang. Berpartisipasi aktif dalam kelompok. Melanjuttkan meneliti sesudah "kebaruannya" hilang. Mengulangi percobaan meskipun berakibat kegagalan. Menanyakan setiap Iangkah kegiatan. Partisipasi pada kegiatan sosial.

Tabel 3 Skala Rating Sikap Berpikir Kritis Siswa Dimensi Indikator Nomor Butir Sikap berpikir kritis Meragukan temuan teman. Misalnya. sedangkan contah kedua (tabel 4) menggunakan daftar cek (check list). Contoh pertama (tabel 3) menggunakan skala rating. 4 Mengulangi kegiatan yang dilakukan. 3. 4.2 baru.7 Menanyakan setiap perubahan/haI 1. 8. Aspek-aspek sikap yang dinilai Menanyakan tujuan percobaan yang dilakukan Menanyakan pengg alat dn bahan yg digunakan Mencatat hasil pengamatan yang dilakukan Mencoba mengulangi percobaan yg dilakukan Mempertanyakan hasil pengamatan orang lain Melaporkan hasil pengamatan yang dilakukan Menguji kembali hasil temuan yang berbeda Dan seyterusnya………………………………. 6.digunakan dalam menilai keterampilan siswa melakukan praktikum/percobaan sederhana. Berikut ini contoh instrumen dengan teknik observasi/pengamatan. Setiap butir perIu ditetapkan indikatornya sehingga dapat dilakukan peniiaian dengan baik dan benar. 3. 1. Rentangan 1 2 3 4 Teknik pemberian skor perIu diperjelas untuk menentukan kriterian rentang skor. dalam keadaan bagaimana pengamat memberi . 7. No. lnstrumen ini sangat memudahkan peengamat dengan hanya memberi tanda cek (√) pada sikap/prilaku yang diamati. Instrumen pengamatan paling banyak digunakan dalam bentuk "skala rating'" dan "daftar cek". guru (pengamat) ikut melibatkan diri di tengah-tengah siswa/peserta didik yang sedang diamati.6 Tidak mengabaikan data meskipun kecil. 5. 2. 5. Pengamatan dapat dilakukan secara partispatif dan non-partisipatif Pengamatan partisipatif artinya dalam melakukan pengamatan atau penilaian. Pengamatan non-partisipatif yakni pengamat berada di luar kelompok yang diamati.

tidak mengulangi percobaan b. 1. a. menguji kembali tidak lengkap c. Mempertanyakan hasil penemuan orang lain. Mencoba mengulangi percobaan yang dilakukan a. mengulangi secara sukarela. menguji kembali dengan lengkap d. membaca semua. Menanyakan penggunaan alat dan bahan yang digunakan a. membaca semua temuan teman d. jika bertanya lebih tiga kali No. membuat laporan lengkap. 3. Menguji kembali hasil temuan yang berbeda a. BAB III PENUTUP A. a. tidak menghiraukan temuan teman b. mencatat hasil pengamatan tetapi tidak Iengkap c. Melaporkan hasil pengamatan yang dilakukan a. lengkap No. jika tidak bertanya b. 4.skor 4 dan dalam keadaan bagaimana pengamat memberi skor 1. membuat laporan lengkap d. jika bertanya dua atau tiga kali d. tidak mencatat data hasil pengamatan b. bemturan No. mencatat hasil pengamatan lengkap d. membuat laporan kurang lengkap c. jelas. 2. tidak membuat laporan b. jika bertanya lebih tiga kali No. mencatat hasil pengarnatan lengkap. jika bertanya satu kali c. menguji kembali. 7. member komentar No. 6. lengkap. Pada contoh di atas. mengulangi secara sukarela. jika bertanya satu kali c. teknik pemberian skor dapat dilakukan sebagai berikut: No. mengulangi karena terpaksa c. beraturan No. membiarkan saja hasil temuan yang berbeda b. jika bertanya dua atau tiga kali d. membaca sepintas temuan teman c. jika tidak bertanya b. jelas. jelas beraturan Catatan: Skor mentah total diperoleh dengan menjumlahkan skor dari setiap aspek yang menunjang komponen yang bersangkutan. Skor baku diperoleh (jika diperlukan) untuk setiap komponen berdasarkan ekuvalensi skor mentah masingmasing komponen. 5. Menanyakan tujuan percobaan yang dilakukan. Kesimpulan . Mencatat hasil pengamatan yang dilakukan a. tidak lengkap d.

Natawidjaja. Belajar dan Pembelajaran. Sikap objektif ini terlihat pada kebiasaan menyatakan apa adanya. argumentasi. . Subagyo. Oleh karena itu. kritik. Jakarta : Arief Jaya. seminar. Anom. B. kritik. Yogyakarta : BPFE.Psikologi Pendidikan. Pangestu.Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. 3. Catharina Tri. dan keterangan orang lain. Sikap rela menghargai karya orang lain. Sikap ini dibuktikan dengan selalu ingin membuktikan hipotesis yang disusunnya demi pengembangan bidang ilmunya. Jakarta: Bumi Aksara. 1979. walaupun pada akhirnya pendapat. Sikap kritis. dan penulisan karya ilmiah Sikap-sikap ilmiah yang dimaksud adalah sebagai berikut. misalnya dalam diskusi. 7.2003. tanpa diikuti perasaan pribadi. Sikap terbuka ini terlihat pada kebiasaan mau mendengarkan pendapat. argumentasi. Sikap kritis ini terlihat pada kebiasaan mencari informasi sebanyak mungkin berkaitan dengan bidang kajiannya untuk dibanding-banding kelebihan-kekurangannya. kecocokan-tidaknya. Mengapa demikian? Bagaimana caranya? Apa saja unsur-unsurnya? Dan seterusnya. dan sebagainya. DAFTAR PUSTAKA Anni. Psikologi Pendidikan. 1989. Forecasting Konsep dan Aplikasi. Sikap berani mempertahankan kebenaran. Semarang : UPT MKK UNNES. Sikap terbuka. Mudzakar. Dimyati. Jakarta : Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. kami mengharapkan saran dan kritikan teman-teman demi kesempurnaan makalah selanjutnya. Psikologi belajar. Sikap menghargai karya orang lain ini terlihat pada kebiasaan menyebutkan sumber secara jelas sekiranya pernyataan atau pendapat yang disampaikan memang berasal dari pernyataan atau pendapat orang lain. Mudjiono. 1994. 6.Sikap ilmiah merupakan sikap yang harus ada pada diri seorang ilmuwan atau akademisi ketika menghadapi persoalan-persoalan ilmiah. Sikap objektif. Sikap menjangkau ke depan. 2. 5. 1. loka karya. Sikap ilmiah ini perlu dibiasakan dalam berbagai forum ilmiah. Rochman. Semarang : IKIP Semarang Press. Sikap ini menampak pada ketegaran membela fakta dan hasil temuan lapangan atau pengembangan walapun bertentangan atau tidak sesuai dengan teori atau dalil yang ada. 1995. ----------------. 2005. Jakarta: Pustaka Setia. Sikap ingin tahu ini terlihat pada kebiasaan bertanya tentang berbagai hal yang berkaitan dengan bidang kajiannya. dan keterangan orang lain tersebut tidak diterima karena tidak sepaham atau tidak sesuai. 4. 1986. Psikologi Pendidikan. Sikap ingin tahu. Ahmad dan Joko Sutrisno. Saran Kami memahami bahwa dalam makalah ini masih banyak kekurangan. kebenaran-tidaknya.

Bakat. Jakarta : Balai Pustaka.go. Minat.id/jurnal/32/pemberdayaan_mata_pembelajaran_ipa.2002. Yul. 2004.id/jurnal/27/Sikap_ilmiah_sebagai wahana_peng.depdiknas. Pengukuran Skala Sikap Seseorang Terhadap Mata Pelajaran Matematika. Semarang: FMIPA IKIP Semarang. Kamus Besar Bahasa Indonesia.htm www. www. --------------. 1997. Sikap dan Personality MMPI-DG.go.depdiknas.htm . Amin. Iskandar.Suyitno. Tes. Jakarta: Yayasan Darma Graha.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->