P. 1
Makalah Struktur Geologi

Makalah Struktur Geologi

|Views: 2,621|Likes:
Published by Anggit Purwoto

More info:

Published by: Anggit Purwoto on Jul 06, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/20/2015

pdf

text

original

”STRUKTUR GEOLOGI”

MAKALAH
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Geologi Umum

OLEH : Anggit Purwoto 1201010019

Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Geografi Universitas Muhammadiyah Purwokerto
Universitas Muhammadiyah Purwokerto Page 1

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum wr wb Dengan mengucap rasa syukur kehadirat Allah SWT, Atas segala rahmat dan ridhoNya kepada kami sehingga makalah ini dapat kami selesaikan tepat waktu. Penyusunan makalah yang berjudul “Struktur Geologi” dilakukan untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh Dosen Pembimbing Mata Kuliah Geologi. Selain itu juga bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa melalui usaha tugas kelompok / tidak semata-mata diperoleh dari dosen pembimbing. Makalah ini disusun atas bantuan Dosen Pembimbing Mata Kuliah Geologi, serta teman-teman yang pada akhirnya penyusunan makalah ini dapat diselesaikan. Untuk itu kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu demi terselesaikannya makalah ini. Dalam penulisan makalah ini kami menyadari masih terdapat banyak kekurangan, oleh karena itu saran dan kritik yang bersifat membangun dari berbagai pihak sangat kami harapkan untuk memperbaiki makalah ini dan makalah-makalah yang akan datang. Walaikumsalam wr wb Purbalingga, 5 juni 2013 Penulis

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Page 2

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR......................................................................................................... 1 DAFTAR ISI....................................................................................................................... 2 BAB I PENDAHULUAN.................................................................................................... 3 1.1 Latar Belakang Masalah.................................................................................... 3 1.2 Rumusan Masalah.............................................................................................. 4 1.3 Tujuan Penulisan Makalah................................................................................. 4 BAB II PEMBAHASAN..................................................................................................... 6 A. B. C. D. E. F. G. Pengertian Struktur Geologi............................................................................... 5 Perlapisan Miring / bidang miring...................................................................... 7 Hukum “V”......................................................................................................... 7 Kekar (“Joint”).................................................................................................... 8 Lipatan (“Fold”)................................................................................................. 12 Sesar (“Fault”).................................................................................................... 15 Ketidakselarasan (“Unconformity”)................................................................... 22

BAB III PENUTUP............................................................................................................. 24 4.1 Kesimpulan........................................................................................................ 24

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................... 25

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Page 3

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Waktu dan juga sejarah mengajarkan kepada kita, bahwa perkembangan suatu bangsa, kemajuan kulturnya, sebagian besar tergantung dari kekayaan bumi yang terdapat dinegaranya. Sebagian besar dari sumber-sumber kekayaan ini terdapat didalam bumi. Lapisan-lapisan batuan yang ada dalam bumi mengandung bahan-bahan yang berguna untuk kehidupan manusia. Kerak bumi terdiri dari bermacam-macam batuan yang sangat dibutuhkan dalam industri. Diantara lapisan-lapisan batuan mengalir air tanah, bahan yang diperlukan manusia untuk kehidupan sehari-hari. Pengetahuan yang mempelajari sesuatu yang berkenaan dengan gejala-gejala diatas ini disebut Geologi (geo=bumi dan logos=pengertian). Geologi adalah pengetahuan bumi yang menyelidiki lapisan-lapisan batuan yang ada dalam kerak bumi, atau lebih jelas lagi geologi adalah pengetahuan tentang susunan zat serta bentuk dari bumi. Geologi pun merupakan pengetahuan yang mempelajari sejarah perkembangan dari bumi serta mahluk-mahluk yang pernah hidup didalam dan diatas bumi. Dengan demikian dapatlah kita katakan bahwa geologi adalah pengetahuan yang mempelajari evolusi anorganik (tak asal jasad) serta evolusi organik (asal jasad) dari bumi kita. Cabang-cabang ilmu geologi : a. Mineralogi ialah pengetahuan yang mempelajari mineral yaitu bahan utama yang membentuk kerak bumi. b. Petrologi, berasal dari bahasa yunani (petros=batuan, logos=pengertian) mempelajari cara terjadinya berbagai macam batuan. c. Paleontologi, berasal dari bahasa yunani (palaios=purba, ontos=mahluk) ialah ilmu yang mempelajari pembatuan dari sisa-sisa binatang purba ataupun tumbuhantumbuhan purba. d. Geologi sejarah mempelajari urutan dari satuan-satuan waktu serta kejadian-kejadian dan perubahan-perubahan selama sejarah dibumi. e. Geologi struktur ilmu mempelajari proses tektonik beserta hasilnya ( struktur lipatan, kekar, sesar dll ) f. Stratigrafi adalah ilmu yang membahas tentang batuan berlapis, terutama batuan sedimen. Pembahasan menyangkut tentang: penyatuan, penamaan, hubungan antar satuan baik secara lateral maupun secara vertikal. g. Geomorfologi adalah ilmu yang mempelajari bentuk-bentuk muka bumi yang terjadi karena kekuatan-kekuatan yang bekerja diatas dan didalam bumi. Salah satu dari cabang ilmu yang akan kita bahas adalah Geologi Struktur, yang meliputi Lipatan (Folds), Patahan (Faults), Kekar (Joint) dan Ketidakselarasan (Unconformity).
Universitas Muhammadiyah Purwokerto Page 4

1.2 Rumusan Masalah Bentuk-bentuk geometri yang terdapat pada kulit bumi yang terbentuk oleh pengaruh gaya-gaya endogen, baik berupa tekanan maupun tarikan. Para ahli geologi menyebutnya Struktur Geologi, dan dikenal dengan Kekar ,Sesar ,Lipatan serta Ketidakselarasan. 1. Apa yang dimaksud Geologi Struktur? 2. Apa saja jenis Geologi Struktur?

1.3 Tujuan Penulisan Makalah Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas Geologi Umum mengenai struktur geologi serta jenis-jenis dari struktur geologi.

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Page 5

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Struktur Geologi Struktur geologi adalah segala unsur dari bentuk arsitektur kulit bumi yang diakibatkan oleh gejala-gejala gaya endogen bumi. Bentuk arsitektur susunan batuan di suatu wilayah pada umumnya merupakan batuan-batuan yang telah mengalami deformasi sebagai akibat gaya yang bekerja pada batuan tersebut. Deformasi adalah perubahan dalam tempat dan/atau orientasi dari tubuh batuan. Deformasi secara definisi dapat dibagi menjadi : Distortion, yaitu perubahan bentuk. Dilatation, yaitu perubahan volume. Rotation, yaitu perubahan orientasi. Translation, yaitu perubahan posisi.

Proses yang menyebabkan batuan mengalami deformasi adalah gaya yang bekerja pada batuan tersebut. Sebagaimana diketahui dalam teori “Tektonik Lempeng” dinyatakan bahwa kulit bumi tersusun dari lempeng-lempeng yang saling bergerak satu dengan lainnya. Pergerakan lempeng-lempeng tersebut dapat berupa pergerakan yang saling mendekat (konvergen), saling menjauh (divergen), dan atau saling berpapasan (transform).

Divergen Plate

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Page 6

Konvergen Plate

Transform Plate Pergerakan lempeng-lempeng inilah yang merupakan sumber asal dari gaya yang bekerja pada batuan kerak bumi. Sehingga secara umum pengertian geologi struktur adalah ilmu yang mempelajari tentang bentuk arsitektur batuan sebagai bagian dari kerak bumi serta menjelaskan proses pembentukannya. Beberapa kalangan berpendapat bahwa geologi struktur lebih ditekankan pada studi mengenai unsurunsur struktur geologi, seperti perlipatan (fold), rekahan (fracture), patahan (fault), dan sebagainya yang merupakan bagian dari satuan tektonik (tectonic unit), sedangkan tektonik dan geotektonik dianggap sebagai suatu studi dengan skala yang lebih besar, yang mempelajari obyek-obyek geologi seperti cekungan sedimentasi, rangkaian pegunungan, lantai samudera, dan sebagainya.

.
Universitas Muhammadiyah Purwokerto Page 7

B. Perlapisan Miring / Bidang Miring Beberapa unsure struktur geologi secara geometri dapat dianggap sebagai struktur bidang. Struktur geologi tersebut diantaranya adalah bidang perlapisan, bidang kekar, bidang belahan, bidang foliasi dan sejenisnya.  Jurus / strike : arah dari garis horizontal yang merupakan perpotongan antara bidang yang bersangkutan dengan bidang horizontal, dimana besarnya jurus / strike di ukur dari arah utara.  Kemiringan / Dip : Sudut kemiringan terbesar yang di bentuk oleh bidang miring yang bersangkutan dengan bidang horizontal dan diukur tegak lurus terhadap jurus / strike.  Kemiringan Semu / Apprent Dip : sudut kemiringan suatu bidang yang bersangkutan dengan bidang horizontal dari pengukuran dengan arak tidak tegak lurus jurus / strike.  Arah kemiringan / Dip direction : Arah tegak lurus yang sesuai dengan arah miringnya bidang yang bersangkutan da diukur dari arah utara.

C. Hukum “V” Pola penyebaran singkapan batuan dipengaruhi oleh kemiringan lapisan batuan dan topografi daerah. Hubungan antara kemiringan lairan batuan dan topografi daerah dirumuskan dengan Hukum “V”. Ada beberapa macam pola penyebaran singkapan : 1. Bidang horisontal. Pola penyebaran singkapan seluruhnya mengikuti pola garis kontur. Pola singkapan membentuk “V” dengan ujung ke arah hulu. 2. Bidang miring ke arah hulu. Pola penyebaran singkapan membentuk “V” dengan ujung ke arah hulu. Makin besar kemiringan bidang, pola “V” makin membuka. 3. Bidang vertikal. Pola penyebaran singkapan tidak membentuk “V’, tetapi garis lurus yang sejajar dengan jurus lapisan, dan memotong lembah. 4. Bidang miring ke arah hilir a. Kemiringan bidang lebih besar daripada gradien lembah. Pola penyebaran singkapan membentuk “V” dengan ujung ke arah hilir. b. Kemiringan bidang sama dengan gradien lembah pola penyebaran singkapan tidak memotong lembah dan tidak ada “V” c. Kemiringan bidang lebih kecil daripada gradien lembah. Pola penyebaran singkapan membentuk “V” dengan ujung ke arah hulu.

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Page 8

Pola penyebaran singkapan batuan berdasarkan topografi dan kemiringan lapisan batuan (hukum V) (Ragan, 1973). (a) lapisan horisontal, (b) lapisan miring ke arah hulu lembah, (c) lapisan tegak, (d) lapisan miring ke arah hilir lembah, (e) lapisan dan lembah memiliki kemiringan yang sama, (f) lapisan miring ke arah hilir lembah dengan sudut yang lebih kecil daripada kemiringan lembah (kemiringan lapisan < kemiringan lembah). D. Kekar (“joint”) Kekar adalah struktur rekahan pada batuan dimana tidak ada atau relative tanpa mengalami pergeseran pada bidang rekahannya. Kekar dapat terjadi pada semua jenis batuan, dengan ukuran yang hanya beberapa millimeter (kekar mikro) hingga ratusan kilometer ( kekar mayor ) sedangkan yang berukuran beberapa meter disebut dengan kekar minor. Kekar dapat terjadi akibat proses tektonik maupun perlapukan juga perubahan temperature yang signifikan. Kekar merupakan jenis struktur batuan dalam bentuk bidang pecah. Karena sifat bidang ini memisahkan batuan menjadi bagian-bagian terpisah maka struktur kekar merupakan jalan atau rongga kesarangan batuan untuk dilalui cairan dari luar beserta materi lain seperti air, gas dan unsurunsur lain yang menyertainya.

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Page 9

1. Jenis-jenis Kekar a. Kekar pengerutan (srinkage joint) yaitu kekar yang disebabkan karena gaya pengerutan yang timbul karena pendinginan (pada batuan beku = kekar tiang / kolom) atau pengeringan (pada batuan sedimen) biasanya berbentuk polygonal yang memanjang. Kekar kolom yang terjadi pada batuan beku, pada umumnya terjadi akibat adanya intrusi dangkal (intrusi batuan yang letaknya relative dekat dengan permukaan bumi) bentuknya adalah seperti pilar-pilar berbentuk segi 4 atau segi 6.

b. Kekar lembar (sheet joint ) yaitu sekumpulan kekar yang kira-kira sejajar dengan permukaan tanah, terutama pada batuan beku. Terbentuknya kekar ini akibat penghilangan beban batuan yang tererosi. Penghilangan beban pada kekar ini terjadi akibat : 1) Batuan beku belum benar-benar membeku secara menyeluruh. 2) Tiba-tiba diatasnya terjadi erosi yang dipercepat. 3) Sering terjadi pada sebuah intrusi konkordan (sill) dangkal.

Sheet joint di sekitar Half Dome di California

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Page 10

Sheet Joint granit pada Enchanted Rock di Texas, AS c. Kekar akibat tektonik, yaitu kekar yang terbentuk karena proses endogen, yang berupa pasangan garis yang lurus. Kekar karena tektonik ini dibedakan atas : 1. Gaya Pembentukannya a) Gaya Tekan (kompresi), dimana gaya-gaya yang bekerja menuju ke satu titik, yaitu gaya menekan daerah tersebut, akan menghasilkan shear joint (kekar gerus)

Gaya Kompresi b) Gaya Tarik (tension)

Gaya Tarik

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Page 11

2. Pola Kekar Berdasarkan pola kekarnya, kekar tektonik dibedakan atas : a. Kekar sistematik yaitu kekar dalam bentuk berpasangan arahnya sejajar satu dengan yang lainnya. b. Kekar non sistematik yaitu kekar yang tidak teratur biasanya melengkung dapat saling bertemu atau bersilangan di antara kekar lainnya atau tidak memotong kekar lainnya dan berakhir pada bidang perlapisan. 3. Dimensi (ukurannya) Berdasarkan pada ukuran/besarnya, kekar tektonik dibedakan atas : a. Master joint : kekar yang memotong melalui sejumlah lapisan batuan atau bahkan satuan batuan dan mempunyai ukuran ratusan meter. b. Mayor joint : kekar yang ukurannya lebih kecil dari master joint, kekar ini masih bisa dipakai untuk analisis struktur (sangat relatif) c. Minor joint : kekar-kekar yang ukurannya lebih kecil dari mayor joint, ukurannya bisa beberapa meter sampai satu inchi. Kekar ini tidak bisa dipakai dalam analisis tektonik. d. Mikro joint : kekar-kekar yang ukurannya lebih kecil dari minor joint, ukurannya dari 1 inchi sampai sekitar 0,5 mm.

2. Kedudukan kekar terhadap Perlapisan Batuan Secara geometris, kekar dibedakan menjadi : 1. Dip joint, Jurusnya relatif sejajar dengan arah kemiringan lapisan batuan. 2. Strike joint, Jurusnya sejajar dengan arah kemiringan lapisan batuan. 3. Bedding joint, Bidangnya sejajar dengan bidang perlapisan batuan di sekitarnya. 4. Diagonal joint, Jurusnya memotong miring bidang perlapisan batuan sekitarnya.

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Page 12

E. Lipatan (“Fold”) Ragan (1973), menyatakan bahwa lipatan adalah hasil perubahan bentuk atau volume dari suatu bahan yang ditunjukkan sebagai lengkungan atau kumpulan lengkungan pada unsur garis atau bidang dari bahan tersebut. Sementara itu, Hobbs et al (1973) menyatakan bahwa lipatan adalah lengkungan yang dihasilkan oleh proses deformasi dari suatu permukaan batuan yang relatif datar. Lipatan dapat merupakan pelengkungan lemah yang luas, bisa lebih dari ratusan kilometer sampai yang sangat kecil yang berskala mikroskopis. Lipatan sangat mudah dilihat pada batuan yang berlapis dan merupakan hasil deformasi ductile akibat kompresi dan shear stress. Pada strain rate sangat rendah dan di atas brittleductile transition, batuan dapat terlipat meskipun dekat permukaan. Lipatan merupakan salah satu gejala struktur geologi yang amat penting. Struktur lipatan sangat menentukan distribusi batuan dan strujtur bawah permukaan, selain itu lipatan berhubungan erat dengan pola tegasan atau gaya yang berpengaruh di daerah tersebut dan gejaIa struktur yang lain, misalnya sesar. Antiklinal merupakan puncak dari lipatan, sedangkan sinklinal merupakan lembah dari lipatan.

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Page 13

1. Bagian-bagian Lipatan

a. b. c. d. e.

“Crest”, yaitu titik tertinggi dar lipatan. “Hige point”, yaitu titik perlengkungan maksimum lipatan. “Crestal plane”, yaitu suatu bidang yang melewati titik tertinggi. “axial plane”, yaitu suatu bidang yang membagi lipatan menjadi dua yang sama. “Crestal line”, yaitu garis yang merupakan hasil perpotongan antara crestal plane dan permukaan. f. “Axial plane”, yaitu garis yang merupakan hasil perpotongan antara axial plane dan permukaan. g. “Troungh”, yaitu titik sayap lipatan. h. “Limb”, yaitu sayap lipatan. i. “Inflection point”, yaitu titik dimana lengkungan berubah dari cekung ke cembung atau sebaliknya. 1. Klasifikasi Lipatan a. Berdasarkan Bentuk Penampang Tegak Billings (1986), menggolongkan lipatan berdasarkan bentuk penampang tegak menjadi :

1) Lipatan simetri :lipatan dimana axial plane-nya vertikal. 2) Lipatan asimetri :lipatan dimana axial plane-nya condong. 3) Overturned fold :lipatan dimana axial plane-nya condong dan kedua sayapnya miring ke arah yang sama dan biasanya pada sudut yang berbeda.
Universitas Muhammadiyah Purwokerto Page 14

4) Recumbent fold :lipatan dimana axial plane-nya horizontal. 5) Vertical isoclinal fold :lipatan dimana axial plane-nya vertical. 6) Isoclined isoclinal fold :lipatan dimana axial plane-nya condong. 7) Recumbent isoclinal fold :lipatan dimana axial plane-nya horizontal. 8) Chevron fold :lipatan dimana hinge-nya tajam dan menyudut. 9) Box fold :lipatan dimana crest-nya luas dan datar. 10) Fan fold :lipatan dimana sayapnya membalik. 11) Monocline :lipatan dimana kemiringan lapisan secara lokal terjal. 12) Structure terrace :lipatan dimana kemiringan lapisan secara lokal dianggap horizontal. 13) Homocline :lapisan yang miring dalam satu arah pada sudut yang relatif sama. b. Berdasar Intensitas Lipatan Billings (1986) menggolongkan lipatan berdasarkan intensitas lipatan menjadi : 1) Open fold :lipatan yang lapisannya tidak mengalami penebalan atau penipisan karena deformasi yang lemah. 2) Closed fold :lipatan yang lapisannya mengalami penebalan atau penipisan karena deformasi yang kuat. 3) Drag fold :lipatan-lipatan kecil yang terbentuk pada sayap-sayap lipatan yang besar akibat terjadinya pergeseran antara lapisan kompeten dengan lapisan tak kompeten.

c. Berdasarkan Pola Sumbu Lipatan Billings (1986) menggolongkan lipatan berdasarkan pola sumbu lipatan menjadi : 1) En enchelon fold :beberapa lipatan yang sifatnya lokal dan saling overlap satu dengan yang lain. 2) Culmination dan depression :lipatan-lipatan yang menunjam pada arah yang berbeda, sehingga terjadi pembubungan dan penurunan. 3) Anticlinorium :yaitu antiklin mayor yang tersusun oleh beberapa lipatan yang lebih kecil. 4) Synclinorium :yaitu sinklin mayor yang tersusun oleh beberapa lipatan yang lebih kecil. d. Berdasarkan Sifat Lipatan dengan Kedalaman Billings (1986) menggolongkan lipatan berdasarkan sifat lipatan dengan kedalaman menjadi : 1) Similar fold :lipatan yang tiap lapisannya lebih tipis pada sayapnya dan lebih tebal pada hinge-nya. 2) Paralel/concentric fold :lipatan dengan anggapan bahwa ketebalan lapisan tidak berubah selama perlipatan.

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Page 15

3) Pierching/diaphiric fold :lipatan dimana intinya yang aktif telah menerobos melalui batuan diatasnya yang lebih rapuh. 4) Supratenuous fold :lipatan yang terbentuk karena adanya perbedaan kompaksi sedimen pada saat pengendapan terjadi di punggung bukit. 5) Disharmonic fold :lipatan yang bentuknya tak seragam dari lapisan ke lapisan. e. Berdasarkan Kedudukan Axial Surface dan Hinge Line Turnes dan Weiss, 1963 (vide Hobbs et al, 1973) menggolongkan lipatan berdasarkan kedudukan “axial surface” dan “hinge line” menjadi : 1) Horizontal normal :lipatan dimana kedudukan axial surface vertikal dan hinge line horizontal. 2) Plunging normal :lipatan dimana kedudukan axial surface vertikal dan hinge line menunjam. 3) Horizontal inclined :lipatan dimana kedudukan axial surface miring dan hinge line horizontal. 4) Plunging inclined :lipatan dimana kedudukan axial surface miring dan hinge line menunjam, tetapi jurus axial plane miring terhadap sumbu lipatan. 5) Reclined :lipatan dimana kedudukan axial surface miring dan hinge line menunjam, tetapi jurus axial plane tegak lurus terhadap sumbu lipatan. 6) Vertical :lipatan dimana kedudukan axial surface dan hinge line vertical. 7) Recumbent :lipatan dimana kedudukan axial surface dan hinge line horizontal.

F. Sesar (“Fault”) Struktur sesar adalah rekahan yang mengalami geser-geseran yang jelas (Tjia, 1977). Pergerakan dapat berkisar dari beberapa milimeter sampai ratusan meter dan panjangnya dapat mencapai beberapa desimeter hingga ribuan meter. Sesar dapat terjadi pada segala jenis batuan. Akibat terjadinya pergeseran itu, sesar akan mengubah perkembangan topografi, mengontrol air permukaan dan bawah permukaan, merusak stratigrafi batuan, dan sebagainya. 1. Bagian-bagian Sesar Struktur sesar mempunyai bagian bagian yang nampak seperti gambar di bawah ini :

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Page 16

Keterangan gambar tersebut : α = dip β = rake of net slip θ = hade = 90o – dip ab = net slip ac = strike slip cb = ad = dip slip ae = vertical slip = throw de = horizontal slip = heave Dalam penjelasan sesar, digunakan istilah hanging wall dan foot wall sebagai penunjuk bagian blok badan sesar. Hanging wall merupakan bagian tubuh batuan yang relatif berada di atas bidang sesar. Foot wall merupakan bagian batuan yang relatif berada di bawah bidang sesar.

Gambar. Hanging wall dan foot wall. 2. Klasifikasi Sesar a. Berdasarkan gerak relatif hanging wall dan foot wall 1) Sesar turun/normal yaitu bila hanging wall posisinya turun terhadap fott wall atau patahan yang terjadi pada batuan yang salah satu bagiannya mengalami pergerakan ke bawah terhadap keadaan asalnya. Gerakan patahan ini adalah disebabkan oleh kekuatan tegang dan mengakibatkan perluasan (ada bidang fault plane). Nama lain adalah normal-slip fault, patahan gaya berat atau patahan tegang.

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Page 17

2) Sesar Naik (reverse fault) yaitu bila hanging wall possisinya naik terhadap foot wall. Pada reserve fault adalah kebalikan dari normal fault. Yaitu arah patahan bagian batuan adalah naik terhadap keadaan awal batuan. Gerakan patahhan ini disebabkan oleh kekuatan compresional (tekanan) yang mengakibatkan pemendekan atau penyempitan.

b. Berdasarkan ada tidaknya gerakan rotasi :  Sesar translasi, merupakan sesar dimana tidak ada gerak rotasi dari masing-masing blok dan garis-garis sejajar dari blok yang berlawanan tetap sejajar.  Sesar rotasi, yaitu sesar dimana ada gerak rotasi dari blok yang satu terhadap yang lain dan garis-garis sejajar dari blok yang berlawanan menjadi tidak sejajar. c. Berdasarkan besar rake dari net slip (Billinge 1977)., sesar terbagi menjadi:  Strike Slip Fault, yaitu bila rake 0o dan arah gerakan sejajar terhadap jurus bidang sesar.  Dip Slip Fault, yaitu bila rake 90o dan arah gerakan tegak lurus dengan jurus bidang sesar.  Diagonal Fault, yaitu bila rake tidak sama dengan 0o dan 90o.

d. Berdasarkan Keaktifan Sesar
Universitas Muhammadiyah Purwokerto Page 18

1. Menurut Tjia (1976), tingkat keaktifan sesar dibedakan atas : a. Sesar Aktif, yaitu pergeseran sesar terjadi pada waktu Holosen atau selama sejarah geologi. b. Sesar berkeaktifan potensial, yaitu sesar terjadi pada batuan berumur kwarter dan terjadi pada daerah gempa bumi / gunungapi. c. Sesar berkeaktifan tidak pasti, yaitu pergeseran sesar yang terjadi lebih tua daripada kwarter, sesar ini terjadi pada batu gamping dan pada lereng yang curam. d. Sesar tidak aktif : terjadi pada batuan pra Kwarter dengan tektonik stabil. 2. Menurut Lensen (1980), tingkat keaktifan sesar dibedakan atas: a. Sesar aktif kelas I, yaitu sesar yang menunjukkan pengulangan gerakan terakhir pada waktu 5.000 tahun atau gerakan tunggal terjadi selama zaman dan pengulangan gerakan pada 5.000 tahun terakhir. b. Sesar aktif kelas II, yaitu sesar kurang aktif dengan pengulangan terakhir dalam waktu 50.000 tahun atau gerakan tunggal dalam waktu 5.000 tahun, pengulangan gerakan antara 5.000 - 50.000 tahun. c. Sesar aktif kelas III, yaitu sesar yang paling kurang aktif dengan gerakan tunggal terakhir dalam waktu 50.000 tahun atau pengulangan gerakan 50.000 – 500.000 tahun. Faedah penggolongan sesar aktif adalah kita dapat menaksir gerakan yang akan datang karena dimungkinkan akan bergerak lagi.

e. Berdasarkan Kumpulan Sesar Berdasarkan kumpulan sesar dengan kekhasan yang dimilkinya, sesar dibagi menjadi: 1. Concentric Fault, yaitu kumpulan sesar yang konsentris terhadap satu pusat. 2. Radial Fault, merupakan kumpulan sesar yang arahnya membentuk pola. 3. Rectilinier Fault, yaitu kumpulan sesar yang membentuk pola garis hampir tegak lurus. 4. Paralel Fault, merupakan kumpulan sesar yang membentuk pola sejajar satu dengan lainnya.

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Page 19

Berdasarkan orientasi pola tegasan utama yang menyebabkannya (Anderson, 1951) : 1. Thrust fault, jika pola tegasan utama maksimum dan intermediet adalah horizontal. 2. Normal fault, jika pola tegasan utama maksimum adalah vertikal. 3. Wrench fault (strike slip fault), jika suatu pola tegasan utama maksimum dan minimum adalah Horizontal. 3. Tanda-tanda Sesar Mengetahui tanda sesar sangat perlu, karena dengan itu dapat kita pergunakan untuk menentukan luas, besar jarak perpindahan, jenis dan aktif tidaknya gerakan itu. Tanda sesar umumnya sangat sukar dijumpai karena tertutup oleh soil atau letaknya pada bidang sesar. Sesar yang terjadi masa kini lebih jelas yakni dengan ditandai bidang sesar yang berkemiringan besar karena belum tererosi lebih lanjut. Sesar dapat dikenali melalui peta topografi atau data fisiografi antara lain triangular facet, gawirt, mata air, pola aliran sungai. Dalam peta geologi dapat dikenal seperti struktur diskontinyu, perulangan atau hilangnya lapisan batuan. Dengan bantuan interpretasi foto udara sesar ini akan lebih mudah dikenal walaupun sesar tertutup soil atau tanaman seperti gejala pelurusan sungai, liniasi, patahan topografi. Pengamatan tanda sesar dapat pula dilakukan dengan melihat tanda-tanda dilapangan pada bidang sesar, seperti cermin sesar, milionit, breksi sesar, mineralisasi. Tanda-tanda Sesar Normal 1. Kemiringan sesar bidang curam, yaitu sekitar 60 derajat. Cermin sesar arahnya juga curam. 2. Ada beberapa sesar sejajar; dapat menimbulkan sesar-sesar jenjang.
Universitas Muhammadiyah Purwokerto Page 20

3. Kemungkinan ada sesar sintetik dan antitetik. 4. Ada jalur sesar tetapi pembreksian serta pemilonitan kurang dari gejala-gejala serupa pada jalur sesar mendatar atau jalur sesar sungkup. Tebal jalur sesar normal juga lebih tipis dibanding dengan jalur sesar yang lain. 5. Nilai gerak sesar tegak (fault throw) dapaat mencapai ratusan meter, akan tetapi tiap-tiap satu pergerakan biasanya tidak melebihi 10 meter dan rata-rata berkisar antara 2 hingga 5 meter. 6. Sesar normal dapat berpola sejajar dengan struktur daerah (yaitu sejajar dengan sumbu perlipatan), tegak terhadap struktur, radial atau tangential terhadap struktur kubah dan gunungapi. Ada kalanya struktur tidak memperlihatkan hubungan dengan sesar. Dalam hal demukian barangkali sesar mengikuti bidang lemah yang ada pada kerak bumi. 7. Sesar menunjukan tegangan tarik. 8. Sesar normal dapat bersumber pada sebab-sebab dangkal (seperti akibat ‘undermining’, ‘collapse’ daripada ruangan di bawah permukaan bumi, pengambilan air tanah atau minyak tanah yang berlebihan), atau akibat kejadian yang lebih dalam seperti pengosongan dapur magma di bawah gunungapi, pelongsoran bawah anah sepanjang lapisan plastik (lempung, anhidrit, garam batu), penggelembungan muka bumi (oleh intrusi batuan beku, penyesaran sungkup). 9. Efek sekunder dari penyesaran normal adalah susutan darat (mass wastage) berupa tanah logsor pada tebing-tebing yang curam

Tanda Sesar Naik dan Sungkup 1. Bidang sesar membuat sudut 30 derajat atau lebih dengan muka bumi (sesar naik) atau membuat sudut lebih kecil daripada 30 derajat (sesar sungkup). Slickenside pada bidang sesar adalah tegak hingga serong terhasap jurus sesar. 2. Batuan yang lebih tua menindih batuan yang lebih muda. 3. Pembreksian dan pemilonitan membentuk jalur sesar yang jelas. 4. Jalur sesar tersingkap berliku-liku di permukaan bumi, terutama pada sesar sungkup. 5. Sesar naik hingga sungkup dapat berubah jadi lipatan pada ujung sesar. 6. Jurus sesar sekunder dapat sejajar dengan sesar utama. 7. Suatu sistem sesar naik hingga sungkup selalu disertai sesar-sesar turun yang berukuran lebih kecil. Sesar normal tersebut dianggap sebagai akibat gaya berat yang memulihkan keseimbangan isostasi setelah ini terganggu oleh penyesalan naik hingga sungkup itu. 8. Arah pergeseran sesar naik hingga sungkup hanya dapat diketahui dengan penyelidikan terperinci, seperti memperhatiakan gejala seretan, tanda-tanda kecil pada bidang sesar. Kerap kali pergeseran adalah searah dengan slickenside dan mendaki bidang sesar.

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Page 21

9. Sesar naik dan sesar sungkup dapat disebabkan oleh longsoran atau oleh daya tektonik. Dengan lain perkataan kompresi penyebab sesar naik / sungkup bekerja pada bidang horizontal atau hampir horizontal. Tanda-tanda Sesar Mendatar 1. Kemiringan bidang sesar sangat curam dan umumnya tegak. Slickenside pada bidang sesar adalah mendatar atau hampir mendatar. 2. Sesar mendatar nampak di permukaan sebagai garis-garis berjalur lurus lagi panjang. Panjang jalur sesar mencapai puluhan hinggan ratusan meter pada sesar yang sejajar atau hampir sejajar dengan struktur regional. 3. Di dalam jalur sesar garis-garis sesar memperlihatkan pola anyaman. 4. Pembreksian dan permilonitan jelas dan dapat meliputi jalur batuan yang remuk sampai seratus meter lebih. Seluruh jalur sesar mencapai lebar sampai sepuluh kilometer (termasuk flaser-flaser). 5. Jalur sesar mendatar sering ditandai oleh deretan kolam (sag ponds). 6. Tebing tebing curam sepanjang sesar dapat menghadap ke arah yang berlawanan pada jarak dekat. 7. Batuan berdampingan yang dibatasi sesar dapat berbeda jenis dan usia geologi. 8. Arah pergeseran horizontal dapat ditunjukkan oleh alihan batas batuan, retakan sekunder seperti rencong (en echelon fractures), gejala seretan, serta pada sesar mendatar hidup ada tanda seperti alihan terhadap bangunan, jembatan, jalan kereta api, lembah sungai, dan endapan berusia muda (endapan sungai dan gunung api yang masih hidup), pola tanaman yang teganggu dan suatu morfologi yang dikenal sebagai ‘shutter ridges’. 9. Jumlah pergerakan mendatar meliputi ratusan kilometer tetapi tiap kali terjadi pergeseran jumlah pergerakan tidak melebihi 5 meter, bahkan umumnya hanya beberapa desimeter saja. 10. Sesar mendatar hampir selalu disebabkan oleh daya tektonik dan disertai gempa berfokus dangkal (kurang dari 35 kilometer). 11. Efek sekunder dari penyesaran mendatar adalah tanah longsor pada tebing curam, sesar normal sepanjang bidang lemah dalam kerak bumi, penggelembungan permukaan tanah sampai beberapa desimeter dekat jalur sesar.

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Page 22

G. Ketidakselarasan (unconformity) Ketidakselarasan adalah suatu konsep dalam stratigarafi yang membahas tentang hubungan yang tidak normal antara lapisan batuan satu dengan yang lain. Ketidakselarasan identik dengan sedimentasi, dimana konsep ini bisa menjelaskan tentang proses sedimentasi, endogen dan eksogen yang terjadi sebelumnya melalui jenis ketidakselarasan yang terbentuk. Untuk memahami konsep ketidakselarasan, kita harus memahami dahulu konsep yang sebaliknya yaitu keselarasan. Selaras dalam stratigrafi artinya teratur, beururutan, menerus. Lapisan dikatakan selaras jika lapisan tersebut diendapkan secara teratur, belum mengalami deformasi, mengikuti hukum superposisi (lapisandibawah lebih tua dari lapisan diatasnya) dan umurnya menerus/tidak terjadi gap umur antar lapisan. Ketidakselarasan adalah permukaan erosi atau non-deposisi yang memisahkan lapisan yang lebih muda dari yang lebih tua dan menggambarkan suatu rumpang waktu yang signifikan. Ketidakselarasan digolongkan berdasarkan hubungan struktur antar batuan yang ditumpangi dan yang menumpangi. Ia menjelaskan rumpang pada sikuen stratigrafi, yang merekam periode waktu yang tidak terlukiskan di kolom stratigrafi. Ketidakselarasan juga merekam perubahan penting pada satu lingkungan, mulai dari proses pengendapan menjadi non-deposisi dan/atau erosi, yang umumnya menggambarkan satu kejadian tektonik yang penting. 1. Macam-macam Ketidakselarasan a. Angular unconformity (ketidakselarasan menyudut) Ketidakselarasan dimana lapisan yang lebih tua memiliki kemiringan yang berbeda (umumnya lebih curam) dibandingkan dengan lapisan yang lebih muda. Hubungan ini merupakan tanda yang paling jelas dari sebuah rumpang, karena ia mengimplikasikan lapisan yang lebih tua terdeformasi dan terpancung oleh erosi sebelum lapisan yang lebih muda diendapkan.

b. Disconformity (ketidakselarasan sejajar) Disconformity adalah permukaan yang menghubungkan dua lapisan sedimen yang sejajar. Lapisan yang terbentuk lebih dahulu mengalami erosi, kemudian lapisan erosi baru terbentuk di atasnya. Kedua lapisan ini dapat berupa lapisan dengan komposisi yang berbeda. Dengan kata lain, ciri khas ketidakselarasan jenis disconformity adalah adanya bidang erosi.

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Page 23

c. Nonconformity Nonconformity adalah adanya lapisan batuan sedimen yang menumpang diatas batuan beku atau metamorf. Proses terbentuknya sebagai berikut: ada sebuah perlapisan batuan sedimen yang mengandung batuan metamorf/intrusi batuan beku. Pada suatu hari, proses sedimentasi berhenti untuk waktu yang lama. Perlapisan batuan sedimen ini pun tererosi sampai-sampai batuan beku/metamorf muncul ke permukaan. Beberapa saat kemudian, proses sedimentasi berjalan lagi. hasil akhirnya adalah batuan beku/metamorf dengan bagian atas tampak tererosi dan ditumpangi suatu lapisan batuan sedimen.

d. Paraconformity Adalah hubungan antara dua lapisan sedimen yang bidang ketidakselarasannya sejajar dengan perlapisan sedimen. Pada kasus ini sangat sulit sekali melihat batas ketidakselarasannya karena tidak ada batas bidang erosi. Cara yang digunakan untuk melihat keganjilan antara lapisan tersebut adalah dengan melihat fosil di tiap lapisan. Karena setiap sedimen memiliki umur yang berbeda dan fosil yang terkubur di dalamnya pasti berbeda jenis.

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Page 24

BAB III PENUTUP
1.4 Kesimpulan Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa struktur geologi adalah segala unsur dari bentuk arsitektur kulit bumi yang diakibatkan oleh gejala-gejala gaya endogen bumi. Bentuk arsitektur susunan batuan di suatu wilayah pada umumnya merupakan batuan-batuan yang telah mengalami deformasi sebagai akibat gaya yang bekerja pada batuan tersebut. Deformasi adalah perubahan dalam tempat dan/atau orientasi dari tubuh batuan. Geologi Struktur meliputi Lipatan (Folds), Patahan (Faults), Kekar (Joint) dan Ketidakselarasan (Unconformity).

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Page 25

DAFTAR PUSTAKA
Katili, J.A dan Marks, P. 1964 Geologi. Jakarta : Departemen Urusan Research Nasional. Pengantar Geologi Dasar- Danang Endarto. Cetakan 1. Surakarta LPP UNS dan UNS Press.2005. http://geologiunpad2010kel3.blogspot.com/2011/10/geologi-struktur_7232.html http://zonegeologi.blogspot.com http://geologiinter.blogspot.com/2011/04/geologi-struktur.html http://penambang007.blogspot.com/2011/05/v-behaviorurldefaultvmlo.html http://homepage.usask.ca/~mjr347/prog/geoe118/geoe118.048.html http://faridhatake.blogspot.com/search/label/Geologi http://eksplosive08-fajrinuh.blogspot.com/2012/04/sesar.html http://medlinkup.wordpress.com/2011/09/25/ketidakselarasan-unconformity http://geograph88.blogspot.com/2013/03/jenis-ketidakselarasan-unconformity.html http://ensiklopediseismik.blogspot.com/2008/01/ketidakselarasan.html http://www.toiki.or.id/2010/07/ketidakselarasan-unconformity.html

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Page 26

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->