HUBUNGAN ANTARA MINAT DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA DALAM BIDAN STUDI SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM (Studi Kasus

Di Madrasah Tsanawiyah Nurussalam Pondok Pinang Jakarta Selatan)

Oleh: Nurhidayati 202011000966

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1427 H / 2006 M

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur dilimpahkan hanya kepada Allah SWT, Tuhan pemelihara semesta alam yang dengan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyusun skripsi yang berjudul “Hubungan Antara Minat dengan Prestasi Belajar Siswa dalam Bidang Studi Sejarah Kebudayaan Islam di MTs Nurussalam Pondok Pinang”. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam memperoleh gelar Sarjana Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Penulisan skripsi ini terdapat hambatan dan rintangan tetapi atas bantuan beberapa pihak, maka hambatan dan rintangan tersebut dapat diatasi. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada: 1. Bapak Prof. Dr. Dede Rosyada, Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Bapak Drs. Abdul Fatah Wibisono, M.Ag, Ketua Jurusan PAI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 3. Bapak Drs. Sapiudin Shidiq, M.Ag, Sekretaris Jurusan PAI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 4. Dosen Pembimbing Skripsi Ibu Dra. Hj. Djunaidatul Munawarah, M.Ag, yang telah banyak meluangkan waktu, pikiran dan tenaga dengan sabar dan ikhlas membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

i

5. Ayahanda H. Muslih dan Ibunda Hj. Hiluyah yang telah banyak memberikan cinta dan kasih sayang serta dukungan baik moril maupun materil kepada penulis. 6. Para Dosen di Jurusan PAI yang telah banyak memberikan ilmunya kepada penulis selama masa perkuliahan. 7. Pimpinan dan Staf Perpustakaan Utama dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Yang dalam penulisan skripsi ini memberikan andil besar dalam hal penyediaan bahan pustakaan dan sumbersumber bacaan untuk kelancaran penulisan skripsi ini. 8. Keluarga H. Sanusi yang telah memberikan semangat untuk dapat menyelesaikan skripsi ini. 9. Sahabat-sahabatku Ezha, Ela, Erna, Hana, Ma’rifah, Zalfah, Tita, Rini dan masih banyak lagi yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah membantu dan selalu memberikan dorongan untuk terselesainya skripsi ini. Khususnya angkatan 2002 Program Ekstensi, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Jurusan PAI. Untuk semua itu penulis tidak dapat membalas jasa dan memberi penghargaan sebagaimana mestinya selain memohon kehadirat Allah SWT semoga amal dan jasa yang penulis terima dari mereka diterima oleh Allah SWT sebagai amal saleh disisiNya. Akhirnya dengan ketulusan hati penulis juga mengharapkan kritik dan saran yang baik dari para pembaca guna menyempurnakan skripsi ini. Jakarta, November 2006

Penulis

ii

Karena keberhasilan belajar sangat dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain. siswa dan orang tua bahwa dalam belajar di sekolah. inteligensi (kemampuan intelektual) memerankan peranan yang penting. h. 1997). keluarga. khususnya berpengaruh kuat terhadap tinggi rendahnya prestasi belajar siswa.1 Meskipun peranan inteligensi sedemikian besar namun perlu diingat Muhibin Syah. sarana dan prasarana belajar. Faktor internal. Faktor itu berwujud juga sebagai kebutuhan dari anak. media. guru. maka semakin besar peluangnya untuk berprestasi. Sudah disadari baik oleh guru. ialah faktor yang timbul dari dalam diri anak itu sendiri. tingkat kecerdasan. semakin tinggi kemampuan inteligensi seorang siswa. ialah faktor yang datang dari luar diri anak. Namun untuk mencapai hal itu bukanlah suatu hal yang mudah. maka semakin kecil peluangnya untuk memperoleh prestasi. teman. (Bandung: Remaja Rosdakarya. udara. seperti kesehatan. masyarakat. lingkungan. minat dan sebagainya. Ini bermakna. mental.BAB I PENDAHULUAN A. Faktor eksternal. semakin rendah kemampuan inteligensi seorang siswa. 57 1 . Latar Belakang Masalah Setiap orang tua yang menyekolahkan anaknya menginginkan anaknya berprestasi yang baik. Sebaliknya. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. seperti kebersihan rumah.

dapat dijelaskan bahwa siswa yang memiliki minat dengan siswa yang tidak memiliki minat dalam belajar akan terdapat perbedaan. Dalam hal ini minat merupakan landasan penting bagi seseorang untuk melakukan kegiatan dengan baik. Bila seorang siswa tidak memiliki minat dan perhatian yang besar terhadap objek yang dipelajari maka sulit diharapkan siswa tersebut akan tekun dan memperoleh hasil yang baik dari belajarnya. gagal karena tidak ada minat. Anak-anak malas. 58 Usman Efendi dan Juhaya S Praja. Siswa yang memiliki minat maka ia akan terus tekun ketika belajar 2 3 S. Hal itu sejalan dengan yang dikatakan oleh S. Jemmars. 122 . apabila siswa tersebut belajar dengan minat dan perhatian besar terhadap objek yang dipelajari. tidak belajar. Sebagai suatu aspek kejiwaan minat bukan saja dapat mempengaruhi tingkah laku seseorang. tapi juga dapat mendorong orang untuk tetap melakukan dan memperoleh sesuatu. Perbedaan tersebut tampak jelas dengan ketekunan yang terus menerus. Nasution. 1998) h. maka hasil yang diperoleh lebih baik.3 Dari keterangan di atas. Seperti yang diungkapkan oleh Usman Efendi dan Juhaya S Praja bahwa “belajar dengan minat akan lebih baik daripada belajar tanpa minat”. Didaktik Azas-Azas Mengajar. Nasution bahwa pelajaran akan berjalan lancar apabila ada minat.2 bahwa faktor-faktor lain pun tetap berpengaruh. minat mempunyai peranan yang sangat penting. (Bandung: Angkasa. 1993) h. Sebaliknya. Pengantar Psikologi. Di antara faktor tersebut adalah “Minat”.2 Dalam kegiatan belajar. (Bandung.

. Karena itu jika terjadi kebosanan pada siswa maka akan berpengaruh kepada minat siswa untuk mengikuti proses belajar. sehingga mereka dapat meraih prestasi yang lebih optimal ketika siswa tidak lagi merasa berminat untuk mengikuti pelajaran ini. tentunya hal ini akan memberikan dampak pada tinggi rendahnya prestasi pembelajaran siswa di bidang mata pelajaran SKI. sehingga di sekolah guru sering terjebak menggunakan metode pengajaran yang digunakan lebih mengarah kepada metode ceramah atau bercerita saja. Demikian juga pembelajaran SKI yang seperti ini cukup kontektual dari sisi kebutuhan siswa untuk belajar mengembangkan dirinya sementara belajar berangkat dari kebutuhan siswa akan mudah membangkitkan minat siswa terhadap mata pelajaran tersebut. Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) merupakan mata pelajaran yang materinya berisikan peristiwa sejarah masa lalu. Tinggi rendahnya minat belajar siswa dalam mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam tentunya akan memberikan pengaruh terhadap prestasi belajar yang akan dicapai oleh siswa.3 sedangkan siswa yang tidak memiliki minat walau pun ia mau untuk belajar akan tetapi ia tidak terus untuk tekun dalam belajar. Padahal kedua metode tersebut dapat mendatangkan kebosanan siswa apabila guru yang memberikan materi tersebut tidak dapat menyesuaikan dengan kondisi atau keadaan siswa selain itu metode tersebut membuat siswa kurang kreatif menggunakan semua aspek kecerdasannya. Begitu pula dalam proses belajar mengajar dalam mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam.

Identifikasi. B. Peran guru dalam membangkitkan minat belajar SKI c. melihat luasnya ruang lingkup permasalahan yang akan dibahas dalam skripsi ini. Minat belajar siswa terhadap mata pelajaran SKI b. Langkah-langkah strategis membangkitkan minat belajar SKI d. penulis membatasi permasalahan sebagai berikut: . Pembatasan Masalah Berdasarkan identifikasi masalah dalam skripsi ini. membutuhkan spesifikasi kajian hal-hal yang dilakukan agar pembahasan lebih terfokus. Macam-macam penilaian terhadap prestasi belajar SKI 2. Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. Aspek-aspek kompetensi yang perlu dicapai dalam pembelajaran SKI e. Identifikasi Masalah Kajian tentang minat belajar dan prestasi belajar Sejarah Kebudayaan Islam terkait dengan aspek atau variabel yang akan diteliti sebagai berikut: a.4 Sehubungan dengan masalah tersebut dalam kesempatan ini penulis bermaksud mengkajinya dalam skripsi dengan judul : “HUBUNGAN ANTARA MINAT DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA DALAM BIDANG STUDI SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM DI MADRASAH TSANAWIYAH NURUSSALAM PONDOK PINANG JAKARTA SELATAN”.

Prestasi belajar yang dimaksud adalah prestasi belajar Sejarah Kebudayaan Islam siswa Madrasah Tsanawiyah kelas II semester II.5 a. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian 1. untuk mempelajari SKI timbul karena dorongan rasa ingin tahu akan apa yang terkandung dalam mata pelajaran tersebut. Perumusan Masalah Dari pembatasan masalah di atas. Tujuan Penelitian Dari perumusan masalah di atas. C. 2. maka penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut: apakah terdapat hubungan secara signifikan antara minat belajar Sejarah Kebudayaan Islam dengan prestasi belajar siswa Madrasah Tsanawiyah Nurussalam Pondok Pinang. Minat belajar yang dimaksud adalah arahan perhatian. maka tujuan yang hendak dicapai melalui penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan minat belajar Sejarah Kebudayaan islam dengan prestasi siswa Madrasah Tsanawiyah Nurussalam Pondok Pinang. yang dibuktikan nilai raport. perasaan senang. Dari hasil penelitian nantinya akan diketahui . Manfaat Penelitian Dalam penelitian ini penulis berharap ada manfaat yang dapat diambil oleh pihak terkait seperti penulis sendiri. orang tua dan bagi para pendidik dalam hal ini khususnya guru. 3. perasaan tertarik. b.

dan bagi sekolah sendiri berusaha melengkapi sarana dan prasarana yang ada karena hal ini dapat menimbulkan minat siswa untuk belajar. aspek minat belajar.6 apakah ada hubungan antar minat dan prestasi belajar. Sedangkan bagi orang tua hendaknya mengetahui dan mengarahkan minat anaknya. . D. jenis mata pelajaran. strategi pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam secara efektif. maka bagi penulis sebagai calon guru dan guru harus berusaha menumbuh kembangkan minat yang ada pada siswa. juga membahas tentang Sejarah Kebudayaan Islam sebagai mata pelajaran yang terdiri dari pengertian Sejarah kebudayaan Islam. Sistematika penulisan Dalam penulisan karya tulis ini. pembatasan dan perumusan masalah. faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar. Bab II Kajian teoritis yang membahas tentang pengertian minat belajar. indikator minat belajar dan faktor yang mempengaruhi minat. dan hakekat prestasi belajar yang terdiri dari pengertian prestasi belajar. selanjutnya tentang kerangka berfikir dan terakhir tentang pengajuan hipotesis. dan sistematika penulisan. kompetensi. penyusun menggunakan sistematika penulisan sebagai berikut: Bab I Pendahuluan : menguraikan tentang latar belakang masalah.

hasil belajar Sejarah Kebudayaan Islam. Bab V Penutup yang berisi kesimpulan dan saran-saran. metode penelitian. teknik pengolahan data serta teknik anlisis data. gambaran umum responden. Bab IV Hasil penelitian yang menguraikan mengenai gambaran umum lokasi sekolah madrasah Tsanawiyah Nurussalam Pondok pinang. minat belajar siswa pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam. tempat dan waktu penelitian. analisis korelasional. instrumen pengumpulan data.7 Bab III Metodologi penelitian yang meliputi tujuan penelitian. populasi dan sampel. desain penelitian. . interprestasi dan alternatif strategi pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam secara efektif untuk meningkatkan minat belajar siswa.

seluruh faktor-fakor yang berhubungan dengan guru dan murid harus dapat diperhatikan. KERANGKA BERFIKIR. Minat Belajar Siswa a. Kajian teoritis 1. DAN PENGAJUAN HIPOTESIS A. ia merasa tidak tertarik dengan pelajaran tersebut. Pengertian Minat Belajar Untuk dapat melihat keberhasilan proses kegiatan belajar mengajar. Ketertarikan siswa inilah yang merupakan salah satu tanda-tanda minat. minat ini erat kaitannya dengan perasaan senang. Lebih lanjut terdapat beberapa pengertian minat diantaranya adalah: Menurut M. karena itu dapat dikatakan 8 . Alisuf Sabri Minat adalah “kecenderungan untuk selalu memperhatikan dan mengingat sesuatu secara terus menerus. Mulai dari perilaku guru dalam mengajar sampai dengan tingkah laku siswa sebagai timabal balik dari hasil sebuah pengajaran. Tingkah laku siswa ketika mengikuti proses belajar mengajar dapat mengindikasikan akan ketertarikan siswa tersebut terhadap pelajaran itu atau sebaliknya.BAB II KAJIAN TEORITIS.

h. benda. h. Ke-11.minat itu terjadi karena sikap senang kepada sesuatu. 84 Muhibbin Syah. Tiara Wacana. h. Cet. (Surabaya: Bina Ilmu. sangat menentukan sikap yang menyebabkan seseorang aktif dalam suatu pekerjaan. h. 1993). Cet. Ke1. karena kita merasa ada kepentingan dengan sesuatu itu. 95 5 Abd.3 Menurut Drs.1 Menurut Muhibbin Syah Minat adalah “kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu”. Alma’arif.5 M. 1995). kegiatan.4 Menurut Crow dan Crow bahwa “minat atau interest bisa berhubungan dengan daya gerak yang mendorong kita untuk cendrung atau merasa tertarik pada orang. minat dapat menjadi sebab dari suatu kegiatan. Pengantar Psikologi Pendidikan. Ke-6. Cet. Psikologi Pendidikan. (Bandung: PT. (Yogyakarta: PT. pada umumnya disertai dengan perasaan senang akan sesuatu itu”. Cet. Alisuf Sabri. Marimba Minat adalah “kecenderungan jiwa kepada sesuatu. 1980). Ke-4. 79 4 Mahfudh Shahuddin. 136 3 Ahmad D. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Dengan begitu minat. 2001). (Bandung: PT. ataupun bisa berupa pengalaman yang efektif yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri”. Cet. 1990). Rachman Abror.2 Menurut Ahmad D. Marimba. Ke4. Psykologi Pendidikan. atau dengan kata lain. (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya. Psikologi Pendidikan dengan pendekatan Baru. Remaja Rosdakarya. tambah Mahfudh. orang yang berminat kepada sesuatu berarti ia sikapnya senang kepada sesuatu”. h. 112 2 1 . Mahfudh Shalahuddin Minat adalah “perhatian yang mengandung unsur-unsur perasaan”.

Dari kelima pengertian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa minat akan timbul apabila mendapatkan rangsangan dari luar. Dan kecenderungan untuk merasa tertarik pada suatu bidang bersifat menetap dan merasakan perasaan yang senang apabila ia terlibat aktif didalamnya. b. Minat yang diperoleh melalui adanya suatu proses belajar dikembangkan melalui proses menilai suatu objek yang kemudian menghasilkan suatu penilaian – penilaian tertentu terhadap objek yang menimbulkan minat seseorang . . Aspek-aspek Minat Belajar Seperti yang telah di kemukakan bahwa minat dapat diartikan sebagai suatu ketertarikan terhadap suatu objek yang kemudian mendorong individu untuk mempelajari dan menekuni segala hal yang berkaitan dengan minatnya tersebut. maka ia akan dapat mengerti dengan mudah dan sebaliknya apabila murid merasakan tidak berminat dalam melakukan proses pembelajaran ia akan merasa tersiksa mengikuti pelajaran tersebut. Apabila murid sudah merasa berminat mengikuti pelajaran. Dengan penjelasan ini. apabila seorang guru ingin berhasil dalam melakukan kegiatan belajar mengajar harus dapat memberikan rangsangan kepada murid agar ia berminat dalam mengikuti proses belajar mengajar tersebut. Dan perasaan senang ini timbul dari lingkungan atau berasal dari objek yang menarik.

Aspek afektif Aspek afektif ini adalah konsep yang membangun konsep kognitif dan dinyatakan dalam sikap terhadap kegiatan atau objek yang menimbulkan minat. 422 . 2. Hurlock (1978) mengatakan “minat merupakan hasil dari pengalaman atau proses belajar”. Psikologi Perkembangan. Konsep yang membangun aspek kognitif di dasarkan atas pengalaman dan apa yang dipelajari dari lingkungan. Aspek ini mempunyai peranan yang besar dalam memotivasikan tindakan seseorang. 1990). Aspek kognitif Aspek ini didasarkan atas konsep yang dikembangkan seseorang mengenai bidang yang berkaitan dengan minat. maka mint terhadap mata pelajaran SKI yang dimiliki seseorang bukan bawaan sejak lahir.Penilaian-penilaian terhadap objek yang diperoleh melalui proses belajar itulah yang kemudian menghasilkan suatu keputusan mengenal adanya ketertarikan atau ketidaktertarikan seseorang terhadap objek yang dihadapinya. (Jakarta: Erlangga. Dengan kata lain.6 Lebih jauh ia mengemukakan bahwa minat memiliki dua aspek yaitu: 1. Berdasarkan uraian tersebut. h. jika proses penilaian kognitif 6 Hurlock. tetapi dipelajari melalui proses penilaian kognitif dan penilaian afektif seseorang yang dinyatakan dalam sikap.

Sama sekali tidak ada perasaan terpaksa untuk mempelajari bidang tersebut. b. Indikator Minat Belajar Dalam kamus besar Bahasa Indonesia indikator adalah “Alat pemantau (sesuatu) yang dapat memberikan petunjuk / keterangan”. 1991).7 Kaitannya dengan minat siswa maka indikator adalah sebagai alat pemantau yang dapat memberikan petunjuk ke arah minat. Seseorang yang memiliki minat pada objek tertentu maka dengan sendirinya dia akan memperhatikan objek 7 Depdikbud. c.dan afektif seseorang terhadap objek minat adalah positif maka akan menghasilkan sikap yang positif dan dapat menimbulkan minat. h. maka ia harus terus mempelajari ilmu yang berhubungan dengan SKI. a. Perhatian merupakan konsentrasi atau aktifitas jiwa kita terhadap pengamatan. 329 . Cet. Perasaan Senang Seorang siswa yang memiliki perasaan senang atau suka terhadap pelajaran SKI misalnya. Kamus Besar Bahasa Indonesia. pengertian. Perhatian dalam Belajar Adanya perhatian juga menjadi salah satu indikator minat. Ada beberapa indikator siswa yang memiliki minat belajar yang tinggi hal ini dapat dikenali melalui proses belajar dikelas maupun dirumah. (Jakarta: Balai Pustaka. dan sebagainya dengan mengesampingkan yang lain dari pada itu. Ke-10.

Adanya manfaat 8 Ali Imran. bahan pelajaran yang menarik. Sebagaimana dikemukakan oleh Brown yang dikutip oleh Ali Imran sebagai berikut: “Tertarik kepada guru. tindakan kebiasaan dan moralnya selalu dalam kontroldiri. c. (Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya. selalu mengingat pelajaran dan mempelajarinya kembali. Ke-1. 88 . Cet. teman sekelas. Bahan Pelajaran dan Sikap Guru yang Menarik Tidak semua siswa menyukai suatu bidang studi pelajaran karena faktor minatnya sendiri. ingin identitas dirinya diketahui oleh orng lain. tertarik kepada mata pelajaran yang diajarkan. Ada yang mengembangkan minatnya terhadap bidang pelajaran tersebut karena pengaruh dari gurunya. Belajar dan Pembelajaran. 1996).8 d. perhatian dalam belajar dan juga bahan pelajaran serta sikap guru yang menarik. mempunyai antusias yang tinggi serta mengendalikan perhatiannya terutama kepada gur. artinya tidak membenci atau bersikap acuh tak acuh.tersebut. seorang siswa menaruh minat terhadap pelajaran SKI. Manfaat dan Fungsi Mata Pelajaran Selain adanya perasaan senang. maka ia berusaha untuk memperhatikan penjelasan dari gurunya. ingin selalu bergabung dalam kelompok kelas. Misalnya. h. dan selalu terkontrol oleh lingkungannya”. Walaupun demikian lama-kelamaan jika siswa mampu mengembangkan minatnya yang kuat terhadap mata pelajaran niscaya ia bisa memperoleh prestasi yang berhasil sekalipun ia tergolong siswa yang berkemampuan rata-rata.

P.P. d.dan fungsi pelajaran (dalam hal ini pelajaran SKI) juga merupakan salah satu indikator minat. Tampubolon minat merupakan “perpaduan antara keinginan dan kemampuan yang dapat berkembang jika ada motivasi”. Ke-1. h. Menurut D. baik yang bersifat internal ataupun eksternal. Minat itu tidak muncul dengan sendirinya akan tetapi banyak faktor yang dapat mempengaruhi munculnya minat.9 seorang siswa yang ingin memperdalam Ilmu Pengetahuan tentang tafsir D. Tampubolon. Mengembangkan Minat Membaca Pada Anak. (Bandung: Angkasa. Seperti contoh misalnya pelajaran SKI banyak memberikan manfaat kepada siswa bila SKI tidak hanya dipelajari di sekolah tetapi juga dipelajari sebaliknya bila siswa tidak membaca pelajaran SKI maka siswa tidak dapat merasakan manfaat yang terdapat dalam pelajaran SKI tersebut. Karena setiap pelajaran mempunyai manfaat dan fungsinya. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi minat belajar siswa antara lain: 1) Motivasi Minat seseorang akan semakin tinggi bila disertai motivasi. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Minat Belajar Salah satu pendorong dalam keberhasilan belajar adalah minat terutama minat yang tinggi. Cet. 1993).41 9 .

lama kelamaan lantaran bertambahnya pengetahuan mengenai pelajaran tersebut. minat pun tumbuh sehingga ia akan lebih giat lagi mempelajari pelajaran tersebut. Gunarsa dan Ny.10 3) Bahan Pelajaran dan Sikap Guru Faktor yang dapat membangkitkan dan merangsang minat adalah faktor bahan pelajaran yang akan diajarkan kepada siswa.misalnya. Dan sebaliknya bahan pelajaran yang tidak menarik minat siswa tentu akan dikesampingkan oleh siswa. tentu akan terarah minatnya untuk membaca buku-buku tentang tafsir. Bahan pelajaran yang menarik minat siswa. 2) Belajar Minat dapat diperoleh melalui belajar. Ke-3. sebagaimana telah disinyalir oleh Slameto bahwa “Minat mempunyai Singgih D. akan sering dipelajari oleh siswa yang bersangkutan. SDG. Cet. mendiskusikannya.G bahwa “minat akan timbul dari sesuatu yang diketahui dan kita dapat mengetahui sesuatu dengan belajar.G. karena itu semakin banyak belajar semakin luas pula bidang minat”. (Jakarta: BPK Gunung Mulia. karena dengan belajar siswa yang semula tidak menyenangi suatu pelajaran tertentu. dan sebagainya. h 68 10 . 1989). Singgih D. Psikologi Perawatan. dan Ny. Hal ini sesuai dengan pendapatnya Singgih D.

Slameto. Cet. disiplin. h. karena tidak ada daya tarik baginya”. baik.pengaruh yang sangat besar terhadap belajar. (Bandung: Remaja Rosda Karya. maka siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya.cit. h.12 Guru yang pandai. op. (Terj. Menurut Kurt Singer bahwa “Guru yang berhasil membina kesediaan belajar murid-muridnya. artinya guru harus memahami kebutuhan dan perkembangan jiwa siswanya. (Jakarta: Rineka Cipta.187 Kurt Singer. 1987). akan sukar dapat merangsang timbulnya minat dan perhatian murid. Sebaliknya guru yang memiliki sikap buruk dan tidak disukai oleh murid. Bentuk-bentuk kepribadian gurulah yang dapat mempengaruhi timbulnya minat siswa. Oleh karena itu dalam proses belajar mengajar guru harus peka terhadap situasi kelas.11 Guru juga salah satu obyek yang dapat merangsang dan membangkitkan minat belajar siswa. karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa. 1991). berarti telah melakukan hal-hal yang terpenting yang dapat dilakukan demi kepentingan murid-muridnya”. Membina Hasrat Belajar di Sekolah. Bergman Sitorus). ramah . Ke-2. serta disenangi murid sangat besar pengaruhnya dalam membangkitkan minat murid. Ia harus mengetahui dan memperhatikan akan metode-metode mengajar yang cocok dan sesuai denga tingkatan kecerdasan para siswanya. 93 12 11 .

6) Lingkungan Melalui pergaulan seseorang akan terpengaruh minatnya.4) Keluarga Orang tua adalah orang yang terdekat dalam keluarga. Dalam proses perkembangan minat diperlukan dukungan perhatian dan bimbingan dari keluarga khususnya orang tua. oleh karenanya keluarga sangat berpengaruh dalam menentukan minat seorang siswa terhadap pelajaran. pengaruh teman ini sangat besar karena dalam pergaulan itulah mereka memupuk pribadi dan melakukan aktifitas bersamasama untuk mengurangi ketegangan dan kegoncangan yang mereka alami. 5) Teman Pergaulan Melalui pergaulan seseorang akan dapat terpengaruh arah minatnya oleh teman-temannya. Apa yang diberikan oleh keluarga sangat berpengaruhnya bagi perkembangan jiwa anak. Hal ini ditegaskan oleh pendapat yang dikemukakan oleh Crow& Crow . khususnya teman akrabnya. Khusus bagi remaja.

13 14 L. 352 M. Psikologi Pendidikan. Citacita ini senantiasa dikejar dan diperjuangkan. Crow. bahkan tidak jarang meskipun mendapat rintangan.cit. flora serta faunanya Besar kecilnya pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan dan perkembangan bergantung kepada keadaan lingkungan anak itu sendiri serta jasmani dan rohaninya. Dalyono. juga tempat bermain sehari-hari dengan keadaan alam dan iklimnya. (Surabaya: Bina Ilmu. masyarakat tempat bergaul. Lingkungan adalah keluarga yang mengasuh dan membesarkan anak.14 7) Cita-cita Setiap manusia memiliki cita-cita di dalam hidupnya. (Jakarta: Rineka Cipta. bahkan cita-cita juga dapat dikatakan sebagai perwujudan dari minat seseorang dalam prospek kehidupan di masa yang akan datang. termasuk para siswa. seseorang tetap beruaha untuk mencapainya.bahwa “minat dapat diperoleh dari kemudian sebagai dari pengalaman mereka dari lingkungan di mana mereka tinggal”.. op. h. Cita-cita juga mempengaruhi minat belajar siswa.13 Lingkungan sangat berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. 1988). 1997). 130 . Crow dan A. h. sekolah tempat mendidik.

8) Bakat Melalui bakat seseorang akan memiliki minat. Ini dapat dibuktikan dengan contoh: bila seseorang sejak kecil memiliki bakat menyanyi, secara tidak langsung ia akan memiliki minat dalam hal menyanyi. Jika ia dipaksakan untuk menyukai sesuatu yang lain, kemungkinan ia akan membencinya atau merupakan suatu beban bagi dirinya. Oleh karena itu, dalam memberikan pilihan baik sekolah maupun aktivitas lainnya sebaiknya disesuaikan dengan bakat dimiliki. 9) Hobi Bagi setiap orang hobi merupakan salah satu hal yang menyebabkan timbulnya minat. Sebagai contoh, seseorang yang memiliki hobi terhadap matematika maka secara tidak langsung dalam dirinya timbul minat untuk menekuni ilmu matematika, begitupun dengan hobi yang lainnya. Dengan demikian, faktor hobi tidak bisa dipisahkan dari faktor minat. 10) Media Massa Apa yang ditampilkan di media massa, baik media cetak atau pun media elektronik, dapat menarik dan merangsang khalayak untuk memperhatikan dan menirunya. Pengaruh tersebut menyangkut istilah, gaya hidup, nilai-nilai, dan juga perilaku sehari-hari. Minat khalayak dapat terarah pada apa yang dilihat, didengar, atau diperoleh dari media massa.

11) Fasilitas Berbagai fasilitas berupa sarana dan prasarana, baik yang berada di rumah, di sekolah, dan di masyarakat memberikan pengaruh yang positif dan negatif. Sebagai contoh, bila fasilitas yang mendukung upaya pendidikan lengkap tersedia, maka timbul minat anak untuk menambah wawasannya. Tetapi apabila fasilitas yang ada justru mengikis minat pendidikannya, seperti merebaknya tempattempat hiburan yang ada di kota-kota besar, tentu hal ini berdampak negatif bagi pertumbuhan minat tersebut.

2. Prestasi Belajar a. Pengertian Prestasi Belajar Prestasi belajar merupakan istilah yang tidak asing lagi dalam dunia pendidikan. Istilah tersebut lazim digunakan sebagai sebutan dari penilaian dari hasil belajar. Dimana penilaian tersebut bertujuan melihat kemajuan belajar peserta didik dalam hal penguasaan materi pengajaran yang telah dipelajarinya sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Prestasi belajar terdiri dari dua kata, yakni prestasi dan belajar. Prestasi belajar digunakan untuk menunjukkan hasil yang optimal dari suatu aktivitas belajar sehingga artinya pun tidak dapat dipisahkan dari pengertian belajar .

“Prestasi merupakan hasil yang telah dicapai dari usaha yang telah dilakukan dan dikerjakan”.15 atau dalam definisi yang lebih singkat bahwa prestasi adalah “hasil yang telah di capai (dilakukan dan dikerjakan)”.16 Senada dengan pengertian di atas, prestasi adalah “hasil yang telah di capai dari apa yang dikerjakan/ yang sudah diusahakan”.17 Menurut Mas’ud Khasan Abdul Qahar, prestasi adalah “apa yang telah dapat diciptakan, hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja”.18 Tidak jauh dari pengertian yang dikemukakan oleh Mas’ud, Syaiful Bahri Djamarah menyatakan bahwa prestasi adalah “hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan, yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan keuletan kerja, baik secara individual maupun kelompok dalam bidang kegiatan tertentu”.19 Dengan demikian, dapat dinyatakan beberapa rumusan dari pengertian prestasi belajar, diantaranya bahwa “prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau materi yang dikembangkan oleh mata

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1997), Edisi II, Cet. Ke-10, h. 787 16 W.J.S. Purdamimta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1987), Cet. Ke-10, h. 768 17 J.S. Badudu dan Sultan M. Zein, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1994), Cet. Ke-2, h. 1088 18 Syaiful Bahri Djamarah, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru, (Surabaya: Usaha Nasional, 1994), h. 20 19 Ibid., h. 21

15

siswa yang berhasil secara gemilang dalam belajar. 100 21 20 . Jadi. tidak lulus ujian akhir dan sebagainya. (Jakarta: Centre. Cet. 1974). setelah ia menerima pengalaman belajarnya”.pelajaran”. 139 Nana Sudjana. Prestasi belajar yang didapatkan oleh seorang siswa bersifat sementara kadang kala dalam suatu tahapan belajar. Kamus Populer. Penilaian Hasil Belajar Mengajar. 1992).21 Sedangkan menurut Hadari Nawawi prestasi belajar adalah “tingkat keberhasilan murid untuk mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi”. Remaja Rosdakarya.22 Dalam dunia pendidikan. Ke-4. Pengaruh Hubungan Manusia dikalangan Murid terhadap Prestasi Belajar di SD. Seperti angka raport rendah. sering pula dijumpai adanya siswa yang gagal. 1981). 22 22 Hadari Nawawi. tidak naik kelas. bentuk penilaian dari suatu prestasi biasanya dapat dilihat atau dinyatakan dalam bentuk simbol huruf atau angka-angka. h. (Jakarta: Analisa Pendidikan. h.20 Hasil belajar menurut Nana Sudjana adalah “kemampuan yang dimiliki siswa. prestasi belajar adalah hasil yang diraih oleh peserta didik dari aktivitas belajarnya yang ditempuh untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang dapat diwujudkan dengan adanya perubahan sikap dan tingkah laku dan pada umumnya dinyatakan dalam bentuk simbol huruf atau angka-angka. (Bandung: PT. h. Habeyh.

Faktor ini meliputi 2 aspek. b) Aspek psikologis (yang bersifat rohaniah) Banyak faktor yang termasuk aspek psikologis yang dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas perolehan pembelajaran 23 Muhibbin Syah. cacat tubuh. yakni keadaan / kondisi jasmani dan rohani siswa. khususnya yang disajikan di kelas. Kondisi jasmani yang tidak mendukung kegiatan belajar. faktor eksternal dan faktor pendekatan belajar”. secara global faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa dapat dibedakan menjadi tiga macam. gangguan pendengaran dan lain sebagainya sangat mempengaruhi kemampuan siswa dalam menyerap informasi dan pengetahuan. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Menurut Muhibbin Syah. gangguan penglihatan.23 1) Faktor Internal Faktor internal (faktor dari dalam siswa). seperti gangguan kesehatan. dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran. yaitu “Faktor internal. op. yakni : a) Aspek fisiologis (yang bersifat jasmaniah) Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendisendinya. h 132 .cit..b.

24 Hlen.24 Sehingga tidak diragukan lagi bahwa tingkat kecerdasan siswa sangat menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. Intelegensi Siswa Tingkat kecerdasan merupakan wadah bagi kemungkinan tercapainya hasil belajar yang diharapkan. minat siswa dan motivasi siswa. maka hasil belajar yang dicapai akan rendah pula. Sikap siswa yang positif terutama kepada guru dan mata pelajaran yang diterima merupakan tanda yang baik bagi proses belajar siswa. bakat siswa. Jika tingkat kecerdasan rendah. Clark mengemukakan bahwa “hasil belajar siswa di sekolah 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi oleh lingkungan”. Diantaranya adalah tingkat intelegensi siswa. (Jakarta: Ciputat Pers. sehingga prestasi belajar yang di capai siswa akan kurang memuaskan. Ke-1. baik secara positif maupun negatif. h. sikap negatif yang diiringi dengan kebencian terhadap guru dan mata pelajarannya menimbulkan kesulitan belajar siswa tersebut. Sebaliknya. 2002). sikap siswa. Sikap Siswa Sikap merupakan gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi dengan cara relatif tetap terhadap objek. Bimbingan dan Konseling.siswa. 130 . Cet.

Minat Siswa Minat berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Secara umum bakat merupakan kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang.Bakat Siswa Sebagaimana halnya intelegensi. Bakat juga diartikan sebagai kemampuan individu untuk melakukan tugas tertentu tanpa banyak bergantung pada upaya pendidikan dan latihan. Minat dapat mempengaruhi kualitas pencapaian hasil belajar siswa. yaitu motivasi intrinsik dan motivasi . sehingga memungkinkan siswa tersebut untuk belajar lebih giat dan pada akhirnya mencapai prestasi yang diinginkan. Motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam. Siswa yang menaruh minat besar terhadap bidang studi tertentu akan memusatkan perhatiannya lebih banyak dari pada siswa lain. Peserta didik yang kurang atau tidak berbakat untuk suatu kegiatan belajar tertentu akan mengalami kesulitan dalam belajar. Motivasi Siswa Tanpa motivasi yang besar. karena motivasi merupakan faktor pendorong kegiatan belajar. peserta didik akan banyak mengalami kesulitan dalam belajar. bakat juga merupakan wadah untuk mencapai hasil belajar tertentu.

ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar. Sifat-sifat orang tua. ketegangan keluarga dan letak rumah. 2) Faktor Eksternal Faktor eksternal (faktor dari luar siswa). Adapun motivasi ekstrinsik adalah hal keadaan yang datang dari luar individu siswa yang mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar. Masyarakat. yanf dapat mempengaruhi semangat belajar siswa. Namun lingkungan social yang lebih banyak mempengaruhi kegiatan belajar sisa ialah orang tua dan keluarga siswa itu sendiri. Motivasi yang dipandang lebih esensial adalah motivasi intrinsik karena lebih murni dan langgeng serta tidak bergantung pada dorongan atau pengaruh orang lain. Adapun faktor eksteren yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa adalah : a) Lingkungan sosial Lingkungan sosial siswa di sekolah adalah para guru. . tetangga dan teman-teman sepermainan di sekitar perkmpungan siswa juga termasuk lingkungan sosial bagi siswa. praktik pengelolaan keluarga. yakni kondisi/keadaan lingkungan di sekitar siswa. semuanya dapat memberi dampak baik dan buruk terhadap kegiatan belajar dan hasil yang di capai siswa. staf administrasi dan teman-teman sekelasnya.

Faktor pendekata belajar sangat mempengaruhi hasil belajar siswa. yang kemudian menjadi dasar . 3. 3) Faktor Pendekatan Belajar Tercapainya hasil belajar yang baik dipengaruhi oleh bagaimana aktivitas siswa dalam belajar. memahami. Sejarah Kebudayaan Islam sebagai Mata Pelajaran a. rumah tempat tinggal keluarga siswa dan letaknya. menghayati Sejarah Kebudayaan Islam. keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan siswa. sehingga smakin mendalam cara belajar siswa maka semakin baik hasilnya.b) Lingkungan non sosial Lingkungan non social ialah gedung sekolah dan letaknya. alat alat belajar. Faktor pendekatan belajar adalah jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materimateri pelajaran. Pengertian Sejarah Kebudayaan Islam Pengertian Sejarah kebudayaan Islam yang terdapat di dalam kurikulum Madrasah Tsanawiyah adalah: “Salah satu bagian mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang diarahkan untuk menyiapkan peserta didik untuk mengenal.

68 26 Departemen Pendidikan Agama RI. 2004). (Jakarta: Departemen Pendidikan nasional. h 2 25 .25 Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam mempunyai fungsi yang dapat menjelaskan ketercapaian yang tercantum dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi yang diterapkan di madrasah. sikap hidup yang luhur dan islami dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. 3) Fungsi transformasi Sejarah merupakan salah satu sumber yang sangat penting dalam merancang transformasi masyarakat. penggunaan pengalaman dan pembiasaan”. 2) Fungsi keilmuan Melalui sejarah peserta didik memperoleh pengetahuan yang memadai tentang masa lalu Islam dan kebudayaannya. Pedoman Khusus Sejarah Kebudayaan Islam.pandangan hidupnya (way of life) melalui kegiatan bimbingan. Kurikulum 2004 Kerangka Dasar.26 Mata pelajaran Sejarah kebudayaan Islam di Madrasah Tsanawiyah memiliki tujuan sebagai berikut: Departemen Pendidikan Nasional. (Jakarta: Departemen Pendidikan Agama RI. h. prinsip. latihan. 2004). pengajaran. Fungsi dasar mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam meliputi: 1) Fungsi edukatif Sejarah menegaskan kepada peserta didik tentang keharusan menegakkan nilai.

2) Mengambil hikmah. nilai dan makna yang terdapat dalam sejarah.27 b. h 3 . Standar Kompetensi mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam MTs berisi mata pelajaran yang harus dikuasai peserta didik selama menempuh Sejarah Kebudayaan Islam di MTs.1) Memberikan pengetahuan tentang Sejarah Agama Islam dan Kebudayaan Islam pada masa Nabi Muhammad saw. dan sikap yang harus dikuasai peserta didik serta tingkat penguasaan yang diharapkan dicapai dalam mempelajari suatu mata pelajaran. Kompetensi Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Acuan yang diperlukan untuk melaksanakan pembelajaran dan memantau perkembangan mutu pendidikan adalah standar kompetensi. Dan khulafaur Rasyidin kepada peserta didik. 3) Menanamkan penghayatan dan kemauan yang kuat untuk mengamalkan akhlak yang baik dan menjauhi akhlak yang buruk. keterampilan. berdasarkan cermatnya atas fakta sejarah yang ada. Standar kompetensi dapat didefinisikan sebagai seperangkat pengetahuan. 4) Membekali peserta didik untuk membentuk kepribadiannya berdasarkan tokoh-tokoh teladan sehingga terbentuk kepribadian yang luhur. Kemampuan ini 27 Ibid. agar ia memiliki konsep yang obyektif dan sistematis dalam perspektif histories.

Berkenaan dengan aspek kognitif. Berdasarkan pokok-pokok pikiran tersebut. maupun global.berorientasi pada perilaku aspek afektif . menyerap. mampu beradaptasi dengan perkembangan lingkungan sosial. budaya dan lingkungan alam baik lokal. kecakapan hidup. menyampaikan. . memiliki kesehatan jasmani dan rohani yang bermanfaat untuk melaksanakan tugas / kegiatan sehari-hari. peserta didik memiliki: keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWt. Sesuai ajaran Agama Islam yang tercermin dalam perilaku sehari-hari memiliki nilai-nilai demokrasi. dan bernegara baik lingkup nasional maupun global. Umar bin Abdul Azis dan Hisyam bin Abdul Malik). serta menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat. berbangsa. Berkenaan dengan aspek psikomotorik. Standar kompetensi mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam juga mengacu pada struktur keilmuan mata pelajaran Sejarah kebudayaan Islam. dan menggunakan informasi tentang sjarah pembentukan dinasti Umayah. memiliki keterampilan berkomunikasi. menguasai ilmu. dan humaniora. standar kompetensi mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam MTs adalah sebagai berikut: 1) Kemampuan membiasakan untuk mencari. toleransi. regional. dan kemampuan akademik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. biografi dan kebijakan khalifah-khalifah dinasti Umayah (Muawiyah bin Abi Sofyan. kemajuan dinasti Umayah (bidang politik dan militer). Abdul Malik bin Marwan. teknologi. Walid bin Abdul Malik.

3-4 . sejarah terbentuknya dinasti Abbasiyah. dan menggunakan informasi tentang kemajuan dinasti Umayah bidang (ilmu agama islam) dan mengkaji sebab-sebab keruntuhannya. 3) Kemampuan membiasakan diri untuk mencari. menyampaikan. op. menyerap. dan mengkaji sebab-sebab keruntuhannya serta kemajuan-kemajuan dinasti Al Ayubiyah.cit. menyerap.28 c. yakni menuntut 28 pemantapan pengetahuan hingga terbentuk watak dan Departemen Agama RI. pendidikan Sejarah Kebudayaan Islam menghadapi beberapa kendala.2) Kemampuan membiasakan untuk mencari. antara lain: waktu yang disediakan terbatas sedangkan materi begitu padat dan memang penting. menyampaikan dan menggunakan informasi tentang kemajuankemajuan dinasti Abbasiyah (bidang ilmu pengetahuan dan bidang ilmu agama islam).. politik dan militer). Kenyataannya. kemajuan dinasti Abbasiyah (bidang sosial budaya. geografi dan kebijakan khalifah-khalifah Abbasiyah yang terkenal (Abu Ja’far al Mansur. h. geografi dan kebijakan khalifahkhalifah Abbasiyah. Harun al Rasyid dan Abdullah al Makmun). Strategi Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Secara Efektif Sejarah Kebudayaan Islam secara substansial memberikan motivasi kepada peserta didik untuk memperaktekan nilai-nilai keyakinan keagamaan (tauhid) dan akhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari. setelah ditelusuri.

jika Guru harus dapat mengetahui keadaan yang tepat untuk memulai proses belajar mengajar. kurang mengakomodasikan kebutuhan afektif. Strategi pembelajaran baru dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Kendala lain adalah lemahnya sumber daya guru Sejarah Kebudayaan Islam dalam pengembangan pendekatan. metode yang lebih variatif serta dalam mengusahakan media yang digunakan untuk mengefektifkan kegiatan belajar mengajar (KBM) dan minimnya berbagai sarana pelatihan dan pengembangan bagi guru Sejarah Kebudayaan Islam. Kelemahan lain. guru Sejarah Kebudayaan Islam harus senantiasa meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya agar dapat mengelola kegiatan pembelajaran secar efektif dan efisien.kepribadian yang berbeda jauh dengan tuntunan terhadap mata pelajaran lainnya. Dalam implementasinya juga lebih didominasi pencapaian kemampuan kognitif. Keadaan siswa yang memiliki konsentrasi atau perhatian yang penuh tentu akan dapat dengan mudah menerima pelajaran yang diberikan kepadanya. Untuk itu. lebih terfokus pada pengayaan pengetahuan (kognitif) dan minim dalam pembentukan sikap (afektif). Padahal guru Sejarah Kebudayaan Islam merupakan tenaga kependidikan dan salah satu komponen dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) yang mempunyai kedudukan strategis dan menentukan keberhasilan pembelajaran di sekolah. materi Sejarah Kebudayaan Islam. Siswa yang memiliki .

konsentrasi penuh akan belajar lebih cepat dan lebih mudah. Selain itu, mereka mengingat informasi lebih lama.

B. Kerangka Berfikir Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus menerus yang disertai dengan rasa senang. Minat besar pengaruhnya terhadap belajar, karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat, siswa tidak akan belajar dengan sebaikbaiknya, karena tidak ada daya tarik baginya. Ia segan-segan untuk belajar, ia tidak memperoleh kepuasan dari pelajaran itu. Bahan pelajaran yang menarik minat siswa, lebih mudah dihafalkan dan disimpan, karena minat menambah kegiatan belajar. Minat merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi belajar dan hasilnya maka minat dapat mempengaruhi kwalitas pencapaian hasil belajar siswa dalam bidang-bidang tertentu. Minat belajar yang besar cenderung menghasilkan prestasi yang tinggi, sebaliknya minat belajar yang kurang akan menghasilkan prestasi yang rendah. Maka apabila seorang siswa mempunyai minat yang besar terhadap suatu bidang studi ia akan memusatkan perhatian lebih banyak dari temannya, kemudian karena pemusatan perhatian yang intensif terhadap materi itulah yang memungkinkan siswa tadi untuk belajar lebih giat, dan akhirnya mencapai prestasi yang tinggi dalam bidang studi tersebut. Demikian pula halnya

dengan minat siswa terhadap bidang studi SKI, apabila seorang siswa mempunyai minat yang besar terhadap bidang studi SKI maka siswa tersebut akan memusatkan perhatiannya terhadap bidang studi SKI dan lebih giat dalam mempelajari bidang studi ini dan prestasinya pun akan memuaskan. Tujuan mempelajari sejarah Kebudayaan Islam adalah agar siswa siswi – siswi mengetahui Sejarah Islam lalu mencontoh keteladanan sifat-sifat dari tokoh Islam masa lalu itu dengan mengambil hikmah dari nilai dan makna sejarah, menanamkan penghayatan dan kemauan yang kuat untuk mengamalkan akhlak yang baik dan menjauhi akhlak yang buruk berdasarkan pengetahuannya atas fakta sejarah yang ada, dan juga untuk menggugah semangat untuk mendalami Islam yang lebih baik.

C. Pengajuan Hipotesis Untuk memudahkan jalan bagi penelitian ini, Penulis mengajukan hipotesa yang nantinya akan diuji kebenarannya. Hipotesa terebut adalah sebagai berikut: Ho : Tidak ada hubungan antara minat dengan prestasi belajar siswa kelas II dalam bidang studi SKI Ha : Ada hubungan antara minat dengan prestasi belajar siswa kelas II dalam bidang studi SKI

BAB II KAJIAN TEORITIS, KERANGKA BERFIKIR, DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

A. Kajian teoritis 1. Minat Belajar Siswa a. Pengertian Minat Belajar Untuk dapat melihat keberhasilan proses kegiatan belajar mengajar, seluruh faktor-fakor yang berhubungan dengan guru dan murid harus dapat diperhatikan. Mulai dari perilaku guru dalam mengajar sampai dengan tingkah laku siswa sebagai timabal balik dari hasil sebuah pengajaran. Tingkah laku siswa ketika mengikuti proses belajar mengajar dapat mengindikasikan akan ketertarikan siswa tersebut terhadap pelajaran itu atau sebaliknya, ia merasa tidak tertarik dengan pelajaran tersebut. Ketertarikan siswa inilah yang merupakan salah satu tanda-tanda minat. Lebih lanjut terdapat beberapa pengertian minat diantaranya adalah: Menurut M. Alisuf Sabri Minat adalah “kecenderungan untuk selalu memperhatikan dan mengingat sesuatu secara terus menerus, minat ini erat kaitannya dengan perasaan senang, karena itu dapat dikatakan

8

karena kita merasa ada kepentingan dengan sesuatu itu. (Bandung: PT. (Yogyakarta: PT. (Surabaya: Bina Ilmu. 1990). Alma’arif. kegiatan. Cet. h. Cet. Ke-11. (Bandung: PT. Ke4. Ke-6.2 Menurut Ahmad D. Dengan begitu minat.3 Menurut Drs. Marimba. 1993). h. Rachman Abror. 1995). 136 3 Ahmad D. 84 Muhibbin Syah. 95 5 Abd. Cet. sangat menentukan sikap yang menyebabkan seseorang aktif dalam suatu pekerjaan. h.4 Menurut Crow dan Crow bahwa “minat atau interest bisa berhubungan dengan daya gerak yang mendorong kita untuk cendrung atau merasa tertarik pada orang. 2001). pada umumnya disertai dengan perasaan senang akan sesuatu itu”. Pengantar Psikologi Pendidikan. Tiara Wacana. Cet. Mahfudh Shalahuddin Minat adalah “perhatian yang mengandung unsur-unsur perasaan”. h. benda. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. atau dengan kata lain. orang yang berminat kepada sesuatu berarti ia sikapnya senang kepada sesuatu”. Remaja Rosdakarya. Alisuf Sabri. minat dapat menjadi sebab dari suatu kegiatan.1 Menurut Muhibbin Syah Minat adalah “kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu”. (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya.5 M. Cet. Ke-4. Ke1.minat itu terjadi karena sikap senang kepada sesuatu. tambah Mahfudh. ataupun bisa berupa pengalaman yang efektif yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri”. 79 4 Mahfudh Shahuddin. h. Psykologi Pendidikan. 1980). 112 2 1 . Marimba Minat adalah “kecenderungan jiwa kepada sesuatu. Psikologi Pendidikan. Psikologi Pendidikan dengan pendekatan Baru.

Apabila murid sudah merasa berminat mengikuti pelajaran. . Minat yang diperoleh melalui adanya suatu proses belajar dikembangkan melalui proses menilai suatu objek yang kemudian menghasilkan suatu penilaian – penilaian tertentu terhadap objek yang menimbulkan minat seseorang . apabila seorang guru ingin berhasil dalam melakukan kegiatan belajar mengajar harus dapat memberikan rangsangan kepada murid agar ia berminat dalam mengikuti proses belajar mengajar tersebut. b. Dan kecenderungan untuk merasa tertarik pada suatu bidang bersifat menetap dan merasakan perasaan yang senang apabila ia terlibat aktif didalamnya. Dengan penjelasan ini. maka ia akan dapat mengerti dengan mudah dan sebaliknya apabila murid merasakan tidak berminat dalam melakukan proses pembelajaran ia akan merasa tersiksa mengikuti pelajaran tersebut. Dan perasaan senang ini timbul dari lingkungan atau berasal dari objek yang menarik. Aspek-aspek Minat Belajar Seperti yang telah di kemukakan bahwa minat dapat diartikan sebagai suatu ketertarikan terhadap suatu objek yang kemudian mendorong individu untuk mempelajari dan menekuni segala hal yang berkaitan dengan minatnya tersebut.Dari kelima pengertian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa minat akan timbul apabila mendapatkan rangsangan dari luar.

h. tetapi dipelajari melalui proses penilaian kognitif dan penilaian afektif seseorang yang dinyatakan dalam sikap. 422 . Berdasarkan uraian tersebut. Psikologi Perkembangan. maka mint terhadap mata pelajaran SKI yang dimiliki seseorang bukan bawaan sejak lahir. Aspek ini mempunyai peranan yang besar dalam memotivasikan tindakan seseorang. Konsep yang membangun aspek kognitif di dasarkan atas pengalaman dan apa yang dipelajari dari lingkungan. 1990). (Jakarta: Erlangga.6 Lebih jauh ia mengemukakan bahwa minat memiliki dua aspek yaitu: 1.Penilaian-penilaian terhadap objek yang diperoleh melalui proses belajar itulah yang kemudian menghasilkan suatu keputusan mengenal adanya ketertarikan atau ketidaktertarikan seseorang terhadap objek yang dihadapinya. Aspek afektif Aspek afektif ini adalah konsep yang membangun konsep kognitif dan dinyatakan dalam sikap terhadap kegiatan atau objek yang menimbulkan minat. jika proses penilaian kognitif 6 Hurlock. Aspek kognitif Aspek ini didasarkan atas konsep yang dikembangkan seseorang mengenai bidang yang berkaitan dengan minat. Hurlock (1978) mengatakan “minat merupakan hasil dari pengalaman atau proses belajar”. Dengan kata lain. 2.

7 Kaitannya dengan minat siswa maka indikator adalah sebagai alat pemantau yang dapat memberikan petunjuk ke arah minat. Ke-10.dan afektif seseorang terhadap objek minat adalah positif maka akan menghasilkan sikap yang positif dan dapat menimbulkan minat. a. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Sama sekali tidak ada perasaan terpaksa untuk mempelajari bidang tersebut. 1991). h. maka ia harus terus mempelajari ilmu yang berhubungan dengan SKI. Seseorang yang memiliki minat pada objek tertentu maka dengan sendirinya dia akan memperhatikan objek 7 Depdikbud. Perhatian merupakan konsentrasi atau aktifitas jiwa kita terhadap pengamatan. Cet. pengertian. (Jakarta: Balai Pustaka. dan sebagainya dengan mengesampingkan yang lain dari pada itu. Ada beberapa indikator siswa yang memiliki minat belajar yang tinggi hal ini dapat dikenali melalui proses belajar dikelas maupun dirumah. Perasaan Senang Seorang siswa yang memiliki perasaan senang atau suka terhadap pelajaran SKI misalnya. b. 329 . c. Perhatian dalam Belajar Adanya perhatian juga menjadi salah satu indikator minat. Indikator Minat Belajar Dalam kamus besar Bahasa Indonesia indikator adalah “Alat pemantau (sesuatu) yang dapat memberikan petunjuk / keterangan”.

tindakan kebiasaan dan moralnya selalu dalam kontroldiri. ingin selalu bergabung dalam kelompok kelas. Walaupun demikian lama-kelamaan jika siswa mampu mengembangkan minatnya yang kuat terhadap mata pelajaran niscaya ia bisa memperoleh prestasi yang berhasil sekalipun ia tergolong siswa yang berkemampuan rata-rata. selalu mengingat pelajaran dan mempelajarinya kembali. mempunyai antusias yang tinggi serta mengendalikan perhatiannya terutama kepada gur.8 d. Misalnya. bahan pelajaran yang menarik. Ke-1. artinya tidak membenci atau bersikap acuh tak acuh. Cet. ingin identitas dirinya diketahui oleh orng lain. dan selalu terkontrol oleh lingkungannya”. seorang siswa menaruh minat terhadap pelajaran SKI. Sebagaimana dikemukakan oleh Brown yang dikutip oleh Ali Imran sebagai berikut: “Tertarik kepada guru. 88 . tertarik kepada mata pelajaran yang diajarkan. Bahan Pelajaran dan Sikap Guru yang Menarik Tidak semua siswa menyukai suatu bidang studi pelajaran karena faktor minatnya sendiri. maka ia berusaha untuk memperhatikan penjelasan dari gurunya. teman sekelas.tersebut. Ada yang mengembangkan minatnya terhadap bidang pelajaran tersebut karena pengaruh dari gurunya. perhatian dalam belajar dan juga bahan pelajaran serta sikap guru yang menarik. Adanya manfaat 8 Ali Imran. Manfaat dan Fungsi Mata Pelajaran Selain adanya perasaan senang. 1996). (Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya. h. Belajar dan Pembelajaran. c.

dan fungsi pelajaran (dalam hal ini pelajaran SKI) juga merupakan salah satu indikator minat.P. baik yang bersifat internal ataupun eksternal. Tampubolon minat merupakan “perpaduan antara keinginan dan kemampuan yang dapat berkembang jika ada motivasi”. Cet. Karena setiap pelajaran mempunyai manfaat dan fungsinya. Mengembangkan Minat Membaca Pada Anak. h.41 9 . (Bandung: Angkasa. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi minat belajar siswa antara lain: 1) Motivasi Minat seseorang akan semakin tinggi bila disertai motivasi. Ke-1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Minat Belajar Salah satu pendorong dalam keberhasilan belajar adalah minat terutama minat yang tinggi. Minat itu tidak muncul dengan sendirinya akan tetapi banyak faktor yang dapat mempengaruhi munculnya minat.9 seorang siswa yang ingin memperdalam Ilmu Pengetahuan tentang tafsir D. d.P. 1993). Seperti contoh misalnya pelajaran SKI banyak memberikan manfaat kepada siswa bila SKI tidak hanya dipelajari di sekolah tetapi juga dipelajari sebaliknya bila siswa tidak membaca pelajaran SKI maka siswa tidak dapat merasakan manfaat yang terdapat dalam pelajaran SKI tersebut. Menurut D. Tampubolon.

karena itu semakin banyak belajar semakin luas pula bidang minat”. 2) Belajar Minat dapat diperoleh melalui belajar. akan sering dipelajari oleh siswa yang bersangkutan.G. mendiskusikannya. Psikologi Perawatan. dan Ny. karena dengan belajar siswa yang semula tidak menyenangi suatu pelajaran tertentu.10 3) Bahan Pelajaran dan Sikap Guru Faktor yang dapat membangkitkan dan merangsang minat adalah faktor bahan pelajaran yang akan diajarkan kepada siswa.misalnya. minat pun tumbuh sehingga ia akan lebih giat lagi mempelajari pelajaran tersebut. 1989). Bahan pelajaran yang menarik minat siswa. SDG. Cet. Singgih D. (Jakarta: BPK Gunung Mulia. Ke-3. Hal ini sesuai dengan pendapatnya Singgih D.G bahwa “minat akan timbul dari sesuatu yang diketahui dan kita dapat mengetahui sesuatu dengan belajar. tentu akan terarah minatnya untuk membaca buku-buku tentang tafsir. h 68 10 . Gunarsa dan Ny. sebagaimana telah disinyalir oleh Slameto bahwa “Minat mempunyai Singgih D. lama kelamaan lantaran bertambahnya pengetahuan mengenai pelajaran tersebut. dan sebagainya. Dan sebaliknya bahan pelajaran yang tidak menarik minat siswa tentu akan dikesampingkan oleh siswa.

op. artinya guru harus memahami kebutuhan dan perkembangan jiwa siswanya. Menurut Kurt Singer bahwa “Guru yang berhasil membina kesediaan belajar murid-muridnya. ramah . Ke-2.12 Guru yang pandai. baik. 1991). h. 1987).187 Kurt Singer. Sebaliknya guru yang memiliki sikap buruk dan tidak disukai oleh murid. (Terj. Membina Hasrat Belajar di Sekolah. serta disenangi murid sangat besar pengaruhnya dalam membangkitkan minat murid.cit. maka siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya.11 Guru juga salah satu obyek yang dapat merangsang dan membangkitkan minat belajar siswa. (Jakarta: Rineka Cipta.pengaruh yang sangat besar terhadap belajar. h. Slameto. Bergman Sitorus). Oleh karena itu dalam proses belajar mengajar guru harus peka terhadap situasi kelas. karena tidak ada daya tarik baginya”. (Bandung: Remaja Rosda Karya. disiplin. karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa. 93 12 11 . Ia harus mengetahui dan memperhatikan akan metode-metode mengajar yang cocok dan sesuai denga tingkatan kecerdasan para siswanya. akan sukar dapat merangsang timbulnya minat dan perhatian murid. Cet. berarti telah melakukan hal-hal yang terpenting yang dapat dilakukan demi kepentingan murid-muridnya”. Bentuk-bentuk kepribadian gurulah yang dapat mempengaruhi timbulnya minat siswa.

Apa yang diberikan oleh keluarga sangat berpengaruhnya bagi perkembangan jiwa anak. oleh karenanya keluarga sangat berpengaruh dalam menentukan minat seorang siswa terhadap pelajaran. Hal ini ditegaskan oleh pendapat yang dikemukakan oleh Crow& Crow . Dalam proses perkembangan minat diperlukan dukungan perhatian dan bimbingan dari keluarga khususnya orang tua.4) Keluarga Orang tua adalah orang yang terdekat dalam keluarga. khususnya teman akrabnya. pengaruh teman ini sangat besar karena dalam pergaulan itulah mereka memupuk pribadi dan melakukan aktifitas bersamasama untuk mengurangi ketegangan dan kegoncangan yang mereka alami. Khusus bagi remaja. 6) Lingkungan Melalui pergaulan seseorang akan terpengaruh minatnya. 5) Teman Pergaulan Melalui pergaulan seseorang akan dapat terpengaruh arah minatnya oleh teman-temannya.

13 14 L. Psikologi Pendidikan.cit. Dalyono. Crow dan A. 352 M. h. Citacita ini senantiasa dikejar dan diperjuangkan. Cita-cita juga mempengaruhi minat belajar siswa. bahkan cita-cita juga dapat dikatakan sebagai perwujudan dari minat seseorang dalam prospek kehidupan di masa yang akan datang.bahwa “minat dapat diperoleh dari kemudian sebagai dari pengalaman mereka dari lingkungan di mana mereka tinggal”. juga tempat bermain sehari-hari dengan keadaan alam dan iklimnya. sekolah tempat mendidik. flora serta faunanya Besar kecilnya pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan dan perkembangan bergantung kepada keadaan lingkungan anak itu sendiri serta jasmani dan rohaninya. masyarakat tempat bergaul. bahkan tidak jarang meskipun mendapat rintangan.14 7) Cita-cita Setiap manusia memiliki cita-cita di dalam hidupnya. (Surabaya: Bina Ilmu. 130 . h. op. (Jakarta: Rineka Cipta.. Crow. 1988).13 Lingkungan sangat berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. seseorang tetap beruaha untuk mencapainya. Lingkungan adalah keluarga yang mengasuh dan membesarkan anak. 1997). termasuk para siswa.

nilai-nilai. Oleh karena itu. faktor hobi tidak bisa dipisahkan dari faktor minat. atau diperoleh dari media massa. kemungkinan ia akan membencinya atau merupakan suatu beban bagi dirinya. seseorang yang memiliki hobi terhadap matematika maka secara tidak langsung dalam dirinya timbul minat untuk menekuni ilmu matematika. gaya hidup. baik media cetak atau pun media elektronik. 9) Hobi Bagi setiap orang hobi merupakan salah satu hal yang menyebabkan timbulnya minat. secara tidak langsung ia akan memiliki minat dalam hal menyanyi. dalam memberikan pilihan baik sekolah maupun aktivitas lainnya sebaiknya disesuaikan dengan bakat dimiliki. Ini dapat dibuktikan dengan contoh: bila seseorang sejak kecil memiliki bakat menyanyi. dan juga perilaku sehari-hari. Sebagai contoh.8) Bakat Melalui bakat seseorang akan memiliki minat. Minat khalayak dapat terarah pada apa yang dilihat. 10) Media Massa Apa yang ditampilkan di media massa. . didengar. Jika ia dipaksakan untuk menyukai sesuatu yang lain. begitupun dengan hobi yang lainnya. Dengan demikian. dapat menarik dan merangsang khalayak untuk memperhatikan dan menirunya. Pengaruh tersebut menyangkut istilah.

Dimana penilaian tersebut bertujuan melihat kemajuan belajar peserta didik dalam hal penguasaan materi pengajaran yang telah dipelajarinya sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. bila fasilitas yang mendukung upaya pendidikan lengkap tersedia. dan di masyarakat memberikan pengaruh yang positif dan negatif. Tetapi apabila fasilitas yang ada justru mengikis minat pendidikannya. Prestasi belajar digunakan untuk menunjukkan hasil yang optimal dari suatu aktivitas belajar sehingga artinya pun tidak dapat dipisahkan dari pengertian belajar . Istilah tersebut lazim digunakan sebagai sebutan dari penilaian dari hasil belajar. maka timbul minat anak untuk menambah wawasannya. yakni prestasi dan belajar. Prestasi belajar terdiri dari dua kata. baik yang berada di rumah.11) Fasilitas Berbagai fasilitas berupa sarana dan prasarana. . di sekolah. tentu hal ini berdampak negatif bagi pertumbuhan minat tersebut. 2. Pengertian Prestasi Belajar Prestasi belajar merupakan istilah yang tidak asing lagi dalam dunia pendidikan. Prestasi Belajar a. seperti merebaknya tempattempat hiburan yang ada di kota-kota besar. Sebagai contoh.

1088 18 Syaiful Bahri Djamarah. hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja”. Zein. Kamus Umum Bahasa Indonesia. 787 16 W. (Jakarta: Balai Pustaka. yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan keuletan kerja. 768 17 J. h. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Badudu dan Sultan M.16 Senada dengan pengertian di atas. dapat dinyatakan beberapa rumusan dari pengertian prestasi belajar. diantaranya bahwa “prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau materi yang dikembangkan oleh mata Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1997). Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. h. Purdamimta. (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.15 atau dalam definisi yang lebih singkat bahwa prestasi adalah “hasil yang telah di capai (dilakukan dan dikerjakan)”.S. Cet. h. diciptakan. Kamus Umum Bahasa Indonesia.S. 21 15 . Cet. Ke-10. (Surabaya: Usaha Nasional. h. h.19 Dengan demikian. Cet. baik secara individual maupun kelompok dalam bidang kegiatan tertentu”. 1994). prestasi adalah “hasil yang telah di capai dari apa yang dikerjakan/ yang sudah diusahakan”. hasil pekerjaan. Ke-10. 1994). 20 19 Ibid. Syaiful Bahri Djamarah menyatakan bahwa prestasi adalah “hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan.17 Menurut Mas’ud Khasan Abdul Qahar. Ke-2. (Jakarta: Balai Pustaka. Edisi II. 1987). prestasi adalah “apa yang telah dapat diciptakan.J.“Prestasi merupakan hasil yang telah dicapai dari usaha yang telah dilakukan dan dikerjakan”..18 Tidak jauh dari pengertian yang dikemukakan oleh Mas’ud.

siswa yang berhasil secara gemilang dalam belajar. (Jakarta: Analisa Pendidikan. 1974). tidak lulus ujian akhir dan sebagainya. sering pula dijumpai adanya siswa yang gagal. Pengaruh Hubungan Manusia dikalangan Murid terhadap Prestasi Belajar di SD. 1992). Ke-4. Prestasi belajar yang didapatkan oleh seorang siswa bersifat sementara kadang kala dalam suatu tahapan belajar. (Bandung: PT. Seperti angka raport rendah.pelajaran”.22 Dalam dunia pendidikan. Cet. h. 22 22 Hadari Nawawi. Jadi. Habeyh. setelah ia menerima pengalaman belajarnya”. h. 139 Nana Sudjana. bentuk penilaian dari suatu prestasi biasanya dapat dilihat atau dinyatakan dalam bentuk simbol huruf atau angka-angka. 100 21 20 . Penilaian Hasil Belajar Mengajar. h. prestasi belajar adalah hasil yang diraih oleh peserta didik dari aktivitas belajarnya yang ditempuh untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang dapat diwujudkan dengan adanya perubahan sikap dan tingkah laku dan pada umumnya dinyatakan dalam bentuk simbol huruf atau angka-angka. (Jakarta: Centre. 1981). Remaja Rosdakarya. tidak naik kelas.21 Sedangkan menurut Hadari Nawawi prestasi belajar adalah “tingkat keberhasilan murid untuk mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi”. Kamus Populer.20 Hasil belajar menurut Nana Sudjana adalah “kemampuan yang dimiliki siswa.

Faktor ini meliputi 2 aspek. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Menurut Muhibbin Syah. h 132 .23 1) Faktor Internal Faktor internal (faktor dari dalam siswa).b.cit. yaitu “Faktor internal. b) Aspek psikologis (yang bersifat rohaniah) Banyak faktor yang termasuk aspek psikologis yang dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas perolehan pembelajaran 23 Muhibbin Syah. seperti gangguan kesehatan. yakni : a) Aspek fisiologis (yang bersifat jasmaniah) Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendisendinya. faktor eksternal dan faktor pendekatan belajar”. secara global faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa dapat dibedakan menjadi tiga macam. khususnya yang disajikan di kelas. Kondisi jasmani yang tidak mendukung kegiatan belajar. cacat tubuh.. gangguan pendengaran dan lain sebagainya sangat mempengaruhi kemampuan siswa dalam menyerap informasi dan pengetahuan. gangguan penglihatan. dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran. op. yakni keadaan / kondisi jasmani dan rohani siswa.

24 Hlen. bakat siswa. minat siswa dan motivasi siswa. 130 . sikap siswa. sehingga prestasi belajar yang di capai siswa akan kurang memuaskan. (Jakarta: Ciputat Pers.24 Sehingga tidak diragukan lagi bahwa tingkat kecerdasan siswa sangat menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. 2002).siswa. Jika tingkat kecerdasan rendah. Sebaliknya. sikap negatif yang diiringi dengan kebencian terhadap guru dan mata pelajarannya menimbulkan kesulitan belajar siswa tersebut. Clark mengemukakan bahwa “hasil belajar siswa di sekolah 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi oleh lingkungan”. maka hasil belajar yang dicapai akan rendah pula. Sikap Siswa Sikap merupakan gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi dengan cara relatif tetap terhadap objek. Sikap siswa yang positif terutama kepada guru dan mata pelajaran yang diterima merupakan tanda yang baik bagi proses belajar siswa. Cet. Ke-1. h. Bimbingan dan Konseling. Intelegensi Siswa Tingkat kecerdasan merupakan wadah bagi kemungkinan tercapainya hasil belajar yang diharapkan. Diantaranya adalah tingkat intelegensi siswa. baik secara positif maupun negatif.

Siswa yang menaruh minat besar terhadap bidang studi tertentu akan memusatkan perhatiannya lebih banyak dari pada siswa lain. Secara umum bakat merupakan kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang. bakat juga merupakan wadah untuk mencapai hasil belajar tertentu. Motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam. Bakat juga diartikan sebagai kemampuan individu untuk melakukan tugas tertentu tanpa banyak bergantung pada upaya pendidikan dan latihan. Minat Siswa Minat berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. karena motivasi merupakan faktor pendorong kegiatan belajar. yaitu motivasi intrinsik dan motivasi . Peserta didik yang kurang atau tidak berbakat untuk suatu kegiatan belajar tertentu akan mengalami kesulitan dalam belajar. Motivasi Siswa Tanpa motivasi yang besar. peserta didik akan banyak mengalami kesulitan dalam belajar. Minat dapat mempengaruhi kualitas pencapaian hasil belajar siswa.Bakat Siswa Sebagaimana halnya intelegensi. sehingga memungkinkan siswa tersebut untuk belajar lebih giat dan pada akhirnya mencapai prestasi yang diinginkan.

yanf dapat mempengaruhi semangat belajar siswa. . Adapun faktor eksteren yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa adalah : a) Lingkungan sosial Lingkungan sosial siswa di sekolah adalah para guru. Motivasi yang dipandang lebih esensial adalah motivasi intrinsik karena lebih murni dan langgeng serta tidak bergantung pada dorongan atau pengaruh orang lain. Namun lingkungan social yang lebih banyak mempengaruhi kegiatan belajar sisa ialah orang tua dan keluarga siswa itu sendiri. staf administrasi dan teman-teman sekelasnya. tetangga dan teman-teman sepermainan di sekitar perkmpungan siswa juga termasuk lingkungan sosial bagi siswa.ekstrinsik. semuanya dapat memberi dampak baik dan buruk terhadap kegiatan belajar dan hasil yang di capai siswa. Motivasi intrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar. Sifat-sifat orang tua. ketegangan keluarga dan letak rumah. Adapun motivasi ekstrinsik adalah hal keadaan yang datang dari luar individu siswa yang mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar. Masyarakat. praktik pengelolaan keluarga. 2) Faktor Eksternal Faktor eksternal (faktor dari luar siswa). yakni kondisi/keadaan lingkungan di sekitar siswa.

rumah tempat tinggal keluarga siswa dan letaknya. sehingga smakin mendalam cara belajar siswa maka semakin baik hasilnya. 3. menghayati Sejarah Kebudayaan Islam. yang kemudian menjadi dasar . Sejarah Kebudayaan Islam sebagai Mata Pelajaran a.b) Lingkungan non sosial Lingkungan non social ialah gedung sekolah dan letaknya. keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan siswa. 3) Faktor Pendekatan Belajar Tercapainya hasil belajar yang baik dipengaruhi oleh bagaimana aktivitas siswa dalam belajar. Faktor pendekata belajar sangat mempengaruhi hasil belajar siswa. alat alat belajar. Faktor pendekatan belajar adalah jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materimateri pelajaran. memahami. Pengertian Sejarah Kebudayaan Islam Pengertian Sejarah kebudayaan Islam yang terdapat di dalam kurikulum Madrasah Tsanawiyah adalah: “Salah satu bagian mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang diarahkan untuk menyiapkan peserta didik untuk mengenal.

25 Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam mempunyai fungsi yang dapat menjelaskan ketercapaian yang tercantum dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi yang diterapkan di madrasah. 2004). h 2 25 . Fungsi dasar mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam meliputi: 1) Fungsi edukatif Sejarah menegaskan kepada peserta didik tentang keharusan menegakkan nilai. sikap hidup yang luhur dan islami dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.pandangan hidupnya (way of life) melalui kegiatan bimbingan. prinsip. latihan. 3) Fungsi transformasi Sejarah merupakan salah satu sumber yang sangat penting dalam merancang transformasi masyarakat. Pedoman Khusus Sejarah Kebudayaan Islam. pengajaran. h. Kurikulum 2004 Kerangka Dasar. 2004). (Jakarta: Departemen Pendidikan nasional. penggunaan pengalaman dan pembiasaan”.26 Mata pelajaran Sejarah kebudayaan Islam di Madrasah Tsanawiyah memiliki tujuan sebagai berikut: Departemen Pendidikan Nasional. (Jakarta: Departemen Pendidikan Agama RI. 2) Fungsi keilmuan Melalui sejarah peserta didik memperoleh pengetahuan yang memadai tentang masa lalu Islam dan kebudayaannya. 68 26 Departemen Pendidikan Agama RI.

agar ia memiliki konsep yang obyektif dan sistematis dalam perspektif histories. nilai dan makna yang terdapat dalam sejarah. 3) Menanamkan penghayatan dan kemauan yang kuat untuk mengamalkan akhlak yang baik dan menjauhi akhlak yang buruk.27 b. 4) Membekali peserta didik untuk membentuk kepribadiannya berdasarkan tokoh-tokoh teladan sehingga terbentuk kepribadian yang luhur. h 3 . Dan khulafaur Rasyidin kepada peserta didik. 2) Mengambil hikmah. Standar kompetensi dapat didefinisikan sebagai seperangkat pengetahuan. Standar Kompetensi mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam MTs berisi mata pelajaran yang harus dikuasai peserta didik selama menempuh Sejarah Kebudayaan Islam di MTs. dan sikap yang harus dikuasai peserta didik serta tingkat penguasaan yang diharapkan dicapai dalam mempelajari suatu mata pelajaran. Kompetensi Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Acuan yang diperlukan untuk melaksanakan pembelajaran dan memantau perkembangan mutu pendidikan adalah standar kompetensi. Kemampuan ini 27 Ibid.1) Memberikan pengetahuan tentang Sejarah Agama Islam dan Kebudayaan Islam pada masa Nabi Muhammad saw. berdasarkan cermatnya atas fakta sejarah yang ada. keterampilan.

mampu beradaptasi dengan perkembangan lingkungan sosial. Berkenaan dengan aspek psikomotorik. standar kompetensi mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam MTs adalah sebagai berikut: 1) Kemampuan membiasakan untuk mencari. regional. dan kemampuan akademik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. budaya dan lingkungan alam baik lokal. Umar bin Abdul Azis dan Hisyam bin Abdul Malik). memiliki kesehatan jasmani dan rohani yang bermanfaat untuk melaksanakan tugas / kegiatan sehari-hari. dan bernegara baik lingkup nasional maupun global. Berkenaan dengan aspek kognitif. dan humaniora. Standar kompetensi mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam juga mengacu pada struktur keilmuan mata pelajaran Sejarah kebudayaan Islam. memiliki keterampilan berkomunikasi. kecakapan hidup. peserta didik memiliki: keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWt. Walid bin Abdul Malik. Sesuai ajaran Agama Islam yang tercermin dalam perilaku sehari-hari memiliki nilai-nilai demokrasi. teknologi. biografi dan kebijakan khalifah-khalifah dinasti Umayah (Muawiyah bin Abi Sofyan. toleransi. serta menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat. maupun global. menyampaikan. Berdasarkan pokok-pokok pikiran tersebut.berorientasi pada perilaku aspek afektif . dan menggunakan informasi tentang sjarah pembentukan dinasti Umayah. Abdul Malik bin Marwan. menyerap. berbangsa. menguasai ilmu. kemajuan dinasti Umayah (bidang politik dan militer). .

geografi dan kebijakan khalifahkhalifah Abbasiyah. menyerap. op. kemajuan dinasti Abbasiyah (bidang sosial budaya. dan menggunakan informasi tentang kemajuan dinasti Umayah bidang (ilmu agama islam) dan mengkaji sebab-sebab keruntuhannya.2) Kemampuan membiasakan untuk mencari. 3) Kemampuan membiasakan diri untuk mencari. h. menyerap. Harun al Rasyid dan Abdullah al Makmun). setelah ditelusuri. menyampaikan dan menggunakan informasi tentang kemajuankemajuan dinasti Abbasiyah (bidang ilmu pengetahuan dan bidang ilmu agama islam). sejarah terbentuknya dinasti Abbasiyah. menyampaikan.cit.28 c. pendidikan Sejarah Kebudayaan Islam menghadapi beberapa kendala. politik dan militer). geografi dan kebijakan khalifah-khalifah Abbasiyah yang terkenal (Abu Ja’far al Mansur. dan mengkaji sebab-sebab keruntuhannya serta kemajuan-kemajuan dinasti Al Ayubiyah. 3-4 . Strategi Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Secara Efektif Sejarah Kebudayaan Islam secara substansial memberikan motivasi kepada peserta didik untuk memperaktekan nilai-nilai keyakinan keagamaan (tauhid) dan akhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari. yakni menuntut 28 pemantapan pengetahuan hingga terbentuk watak dan Departemen Agama RI. Kenyataannya.. antara lain: waktu yang disediakan terbatas sedangkan materi begitu padat dan memang penting.

Strategi pembelajaran baru dapat berlangsung secara efektif dan efisien.kepribadian yang berbeda jauh dengan tuntunan terhadap mata pelajaran lainnya. guru Sejarah Kebudayaan Islam harus senantiasa meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya agar dapat mengelola kegiatan pembelajaran secar efektif dan efisien. Keadaan siswa yang memiliki konsentrasi atau perhatian yang penuh tentu akan dapat dengan mudah menerima pelajaran yang diberikan kepadanya. metode yang lebih variatif serta dalam mengusahakan media yang digunakan untuk mengefektifkan kegiatan belajar mengajar (KBM) dan minimnya berbagai sarana pelatihan dan pengembangan bagi guru Sejarah Kebudayaan Islam. Siswa yang memiliki . Kelemahan lain. Dalam implementasinya juga lebih didominasi pencapaian kemampuan kognitif. jika Guru harus dapat mengetahui keadaan yang tepat untuk memulai proses belajar mengajar. materi Sejarah Kebudayaan Islam. kurang mengakomodasikan kebutuhan afektif. lebih terfokus pada pengayaan pengetahuan (kognitif) dan minim dalam pembentukan sikap (afektif). Untuk itu. Kendala lain adalah lemahnya sumber daya guru Sejarah Kebudayaan Islam dalam pengembangan pendekatan. Padahal guru Sejarah Kebudayaan Islam merupakan tenaga kependidikan dan salah satu komponen dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) yang mempunyai kedudukan strategis dan menentukan keberhasilan pembelajaran di sekolah.

lebih mudah dihafalkan dan disimpan. Selain itu. Minat belajar yang besar cenderung menghasilkan prestasi yang tinggi. diperhatikan terus menerus yang disertai dengan rasa senang. Kegiatan yang diminati seseorang. siswa tidak akan belajar dengan sebaikbaiknya. Demikian pula halnya . karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat. karena tidak ada daya tarik baginya. Minat besar pengaruhnya terhadap belajar. sebaliknya minat belajar yang kurang akan menghasilkan prestasi yang rendah. mereka mengingat informasi lebih lama. Maka apabila seorang siswa mempunyai minat yang besar terhadap suatu bidang studi ia akan memusatkan perhatian lebih banyak dari temannya. Ia segan-segan untuk belajar. dan akhirnya mencapai prestasi yang tinggi dalam bidang studi tersebut.konsentrasi penuh akan belajar lebih cepat dan lebih mudah. B. Minat merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi belajar dan hasilnya maka minat dapat mempengaruhi kwalitas pencapaian hasil belajar siswa dalam bidang-bidang tertentu. Bahan pelajaran yang menarik minat siswa. karena minat menambah kegiatan belajar. kemudian karena pemusatan perhatian yang intensif terhadap materi itulah yang memungkinkan siswa tadi untuk belajar lebih giat. ia tidak memperoleh kepuasan dari pelajaran itu. Kerangka Berfikir Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan.

menanamkan penghayatan dan kemauan yang kuat untuk mengamalkan akhlak yang baik dan menjauhi akhlak yang buruk berdasarkan pengetahuannya atas fakta sejarah yang ada. Hipotesa terebut adalah sebagai berikut: Ho : Tidak ada hubungan antara minat dengan prestasi belajar siswa kelas II dalam bidang studi SKI Ha : Ada hubungan antara minat dengan prestasi belajar siswa kelas II dalam bidang studi SKI . Penulis mengajukan hipotesa yang nantinya akan diuji kebenarannya. Tujuan mempelajari sejarah Kebudayaan Islam adalah agar siswa siswi – siswi mengetahui Sejarah Islam lalu mencontoh keteladanan sifat-sifat dari tokoh Islam masa lalu itu dengan mengambil hikmah dari nilai dan makna sejarah. dan juga untuk menggugah semangat untuk mendalami Islam yang lebih baik.dengan minat siswa terhadap bidang studi SKI. Pengajuan Hipotesis Untuk memudahkan jalan bagi penelitian ini. apabila seorang siswa mempunyai minat yang besar terhadap bidang studi SKI maka siswa tersebut akan memusatkan perhatiannya terhadap bidang studi SKI dan lebih giat dalam mempelajari bidang studi ini dan prestasinya pun akan memuaskan. C.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. desain ini digunakan untuk mendapatkan deskriptif tentang suatu kenyataan yaitu tentang minat belajar siswa terhadap mata pelajaran SKI. Tujuan Penelitian Dalam penulisan skripsi ini tujuan yang ingin penulis capai adalah ingin mengetahui apakah ada hubungan antara minat belajar SKI dengan prestasi belajar siswa. Desain Penelitian Desain penelitian adalah semua proses yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian. dan bagaimana prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran SKI ditinjau dari nilai raport dan hasil tes penelitian. Metode Penelitian. 99 34 . 1 Mohammad Nasiri. h. (Jakarta: Ghalia Indonesia. C. B. Waktu penelitian dilakukan pada bulan Mei sampai Juni 2006. 1998). Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian yang dilakukan penulis bertempat di MTS Nurussalam Pondok Pinang Jakarta Selatan.1 Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif.

peristiwa sebagai sumber data yang menilai karakteristik tertentu dalam sebuah penelitian”. Selanjutnya jika jumlah subyeknya lebih besar. h. 107 2 . Yaitu mengambil sampel sebanyak lebih kurang 50% dari seluruh jumlah populasi.2 Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah siswa kelas II Madrasah Tsanawiyah Nurussalam Pondok Pinang Jakarta Selatan yang berjumlah 40. 1992). Pengantar Metodologi Penelitian. Populasi dan Sampel Populasi Yang dimaksud dengan populasi adalah “Keseluruhan objek penelitian yang terdiri dari manusia. dapat diambil 10-15%. 1993). maka penulis mengambil teknik sampling. PT. Pengambilan sampel penelitian ini berdasarkan pendapat Suharsimi Arikunto.3 Berikut ini adalah banyak sampel yang diambil dari jumlah populasi yang ada: Herman wasito. hewan. (Jakarta. 49 3 Suharsimi Arikunto. tumbuh-tumbuhan. yaitu: “Apabila subyeknya kurang dari 100. atau 20-25%. (Jakarta: Rineka Cipta. h. atau lebih”. benda. lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Prosedur Penelitian.35 D. Sampel Untuk menyederhanakan proses pengumpulan data dan pengolaahan data. Gramedia Pustaka Utama.

Tesis dan Disertai UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2003. 2.36 TABEL I SAMPEL PENELITIAN NO 1 2 KELAS II A II B JUMLAH RESPONDEN 20 20 KETERANGAN Riset pada Madrasah Tsanawiyah Nurussalam E. membaca dan menganalisa buku yang ada relevansinya dengan masalah yang dibahas di dalam skripsi ini. Adapun teknik penulisan skripsi ini. Penelitian lapangan (Field Research) yaitu penelitian untuk memperoleh datadata lapangan. Metode Penelitian Metode penelitian yang penulis gunakan adalah metode deskriptif yaitu penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan keadaan atau status fenomena. untuk memperoleh data yang obyektif maka digunakan beberapa penelitian: 1. Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian Adapun dalam pengumpulan data. Penelitian kepustakaan (Library Research) yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara mengumpulkan. F. digunakan alat pengumpulan data sebagai berikut: . penulis berpegang pada buku “Pedoman Penulisan Skripsi.

1991). 3.37 1. d. Siswa (sebagai objek) meliputi jenis kelamin dan jumlah siswa. Yogyakarta. Wawancara Wawancara dilakukan dalam bentuk dialog langsung dengan Kepala Madrasah Tsanawiyah untuk melengkapi data-data yang diperlukan dalam penelitian dan dialog dengan guru mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam untuk mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan blajar mengajar Sejarah Kebudayaan Islam yang dihadapi. Struktur organisasi. Observasi Observasi yaitu pengamatan dan pencatatan secara langsung ke objek penelitian dengan sistematika fenomena-fenomena yang diselidiki. Guru (sebagai pendidik sekaligus motivator) meliputi jenis kelamin. dalam arti luas observasi sebenarnya merupakan pengamatan yang dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung. c. (Andi Offit. b. 136 . X. Metodologi Research. Dokumentasi Yaitu dengan cara mengambil data nilai raport semester II yang diambil dari ujian umum semester II tahun pelajaran 2005-2006 4 Sutrisno Hadi. 2. Sarana dan prasarana yang meliputi jumlah dan kondisi. h. pendidikan dan jabatan serta guru bidang studi.4 Teknik ini dilakukan untuk memperoleh data tentang kondisi objektif sebagai berikut: a. Cet.

Dengan teknik tersebut. penulis mempersiapkan pertanyaan sejumlah 25 item pertanyaan dan kemudian disebarkan kepada 40 responden. Angket Angket yaitu daftar pertanyaan yang diberikan kepada responden dalam hal ini adalah siswa-siswi kelas II semester II yang berjumlah 40 responden mengenai masalah yang diteliti.38 4. yang tertera pada tabel berikut: TABEL 2 KISI-KISI INSTRUMEN VARIABEL MINAT NO 1 Variabel Minat Belajar Sejarah Kebudayaan Islam Dimensi  Perasaan Senang Indikator  Menerima pelajaran senang  Terus-menerus belajar  Tidak  Tidak bosan  Perhatian  Memberikan 6 1 terpaksa 3. Angket yang akan disebarkan untuk variabel minat terdiri dari 25 item. 4 merasa 5 1 2 1 dengan 1 No Item 1 Jumlah Item dengan belajar 1 . yaitu siswa-siswi kelas II semester II untuk memperoleh jawaban yang diperlukan secara langsung.

12 8 1 7 1  Ketertarikan pada Materi dan Guru  Isi pelajaran 13 menantang untuk di kaji 1  Pelajaran contoh dengan sekarang  Pelajaran sesuai  Materi Sejarah berisi 14 sesuai keadaan 1 berisi 15 dengan 1 kebutuhan siswa pelajaran 16. 3 21 Mengambil 22. 3 18 Kebudayaan Islam kurang menarik  Penjelasan mudah diikuti  Kesadaran akan adanya Manfaat  Bisa guru 19. 23 2 Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam .39 dalam Belajar perhatian lebih  Mau berkonsentrasi  Mengikuti penjelasan guru  Mengerjakan tugas dari guru 9. 20. 4 11. 10. 17.

Skoring. Teknik Pengolahan Data Dalam pengolahan data penulis menggunakan teknik-teknik sebagai berikut: a.40 Pelajaran SKI dari Peristiwa masa lalu  Tahu akan adanya 24 contoh-contoh keteladanan pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam  Membuang-buang waktu 2 Prestasi Belajar Siswa  Nilai Raport  Dokumentasi Data 1 nilai raport kelas II semester II tahun pelajaran 2006 20051 25 1 1 G. yaitu memeriksa kelengkapan dan kejelasan angket/ kuisioner yang berhasil dikumpulkan. b. yaitu memberikan nilai pada setiap jawaban angket. Editing. yaitu sebagai berikut: Skor Alternatif Jawaban Positif Sangat Setuju 4 Negatif 1 .

H.41 Setuju Tidak setuju Sangat Tidak Setuju 3 2 1 2 3 4 c. Teknik Analisa Data 1. 5 Anas Sudijono. Tabulating. Untuk menganalisa data-data yang berhasil dikumpulkan. penulis menggunakan rumus persentase sebagai berikut: P F x 100 % N Keterangan: P = Presentase F = Frekuensi Jawaban Responden N = Jumlah Responden 2. Pengantar Statistik pendidikan. Teknik analisa korelasional adalah teknik analisa statistik mengenai hubungan antara dua variable. 1995) h.5 Adapun rumus yang digunakan untuk mengolah data tersebut adalah rumus “Product Moment”. 179 . (Jakarta: Rajawali Press. yaitu mentabulasi data jawaban yang berhasil dikumpulkan ke dalam tabel-tabel yang telah disediakan.

 Y 2 .  XY . X  . Y  2 N . X .  X N 2 . N .42 Rumus tersebut adalah: Rxy   N . Y  2  5 Keterangan: rxy : Angka Indeks Korelasi “r” product moment : Number of Cases xy : Jumlah hasil perkalian antara skor x dan y x y : Jumlah keseluruhan skor x : Jumlah keseluruhan skor y .

setelah itu barulah didirikannya Madrasah Tsanawiyah Nurussalam yang dipelopori oleh remaja masjid An-Nur yang dipimpin oleh Ust. Gambaran Umum Madrasah Tsanawiyah Nurussalam 1. Hasan Basri dengan donatur tetap H. Tujuan didirikannya Madrasah Tsanawiyah Nurussalam pondok- pinang ini selain sebagai amanah perserikatan. Yang pertama kali didirikan Yayasan Nurussalam adalah taman kanakkanak yang didirikan pada tahun 1983. Awal berdirinya sekolah Madrasah Tsanawiyah Nurussalam yaitu bermula dengan tiga kelas untuk Madrasah Tsanawiyah Nurussalam kecamatan kebayoran lama pondok-pinang ini didirikan pada tahun 1986 sesuai dengan akte notaris pada tahun 1986. alumni perdana Madrasah Tsanawiyah Nurussalam adalah pada tahun 1989. juga didasari oleh kepedulian 43 .Baihaqi. Sejarah Berdirinya Sekolah Madrasah Tsanawiyah Nurussalam Pondok Pinang Jakarta Selatan merupakan sebuah lembaga pendidikan swasta yang bernaung di bawah sebuah yayasan. Tirmidzi.BAB IV HASIL PENELITIAN A. berjalan dengan waktu ada penambahan tiga kelas lagi sampai saat ini. Mian yang bertempat dirumah guru bedus kemudian dibeli oleh H. Dalam yayasan tersebut terdapat sekolah-sekolah lain yaitu Taman kanak-kanak dan Madrasah Ibtidaiyah.Mian.

Mengupayakan terbentuknya sumber daya manusia yang islami. insan yang komunikatif. Mengantarkan anak didik lulus dan masuk ke sekolah yang lebih tinggi 4. Sedangkan Misi Madrasah Tsanawiyah Nurussalam Pondok-Pinang yaitu : 1. Mengupayakan pembelajaran bahasa asing (Arabic dan English) ke arah kemampuan bahasa aktif. Meningkatkan generasi bangsa yang siap terjun ke masyarakat 2. Hal ini terlihat pada salah satu tujuan didirikannya Madrasah Tsanawiyah Nurussalam pondok-pinang. Menanamkan dan menumbuhkan sikap cinta tanah air dan peduli sosial . dan intelek yang baik. Adapun Visi Madrasah Tsanawiyah Nurussalam Pondok-Pinang yaitu : 1. 5.44 remaja masjid An-Nur dan tokoh masyarakat sekitar terhadap pendidikan Islam dan juga terhadap masyarakat ekonomi lemah dalam hal berkesinambungan pendidikan terhadap putra-putrinya. Menciptakan sebuah bimbingan pendidikan keislaman yang berkualitas 2. sholeh dan sholehah. Mengembangkan pembelajaran dan bimbingan yang mampu mengembangkan bakat dan potensi yang ada pada diri anak 3. berperilaku sopan. yaitu: menolong masyarakat kecil (yang berkehidupan ekonominya lemah) agar dapat melanjutkan pendidikan putra-putrinya ke sekolah lanjutan tingkat pertama. Menyiapkan generasi cendekiawan muslim 3.

45 2. Syatiri Hasan Basri SI Amd Kepala Sekolah Wakil Sekolah - Kepala Geografi 3. 2. Fauzani Ahmad Darda Hamzah SI MA SI Guru Guru Guru SKI Qur’an Hadits Bahasa Arab dan Fiqh 8. Nurussalam pondok-pinang memiliki guru dan tenaga kependidikan yang bervariatif dilihat dari jenis kelamin. 4. 7. Hanafi Tirmidzi SI PGA Guru Guru Bahasa Arab Qur’an dan Imla Hadits 5. 6. Tajudin Hasan SI Guru Matematika dan Fisika . jabatan maupun pendidikan seperti pada tabel berikut: Tabel 3 Keadaan Guru dan Tenaga Kependidikan dilihat dari Jenjang Pendidikan. Jabatan dan Bidang Studi No Nama guru Jenjang Jabatan Bidang Studi 1. Keadaan Guru dan Siswa Madrasah Tsanawiyah. H.

11. Muhammad Munir SI Guru Bahasa Inggris 10. 20. 21.46 9. 16. 13. Sanif Sri Utami SMA SMA Karyawan Karyawan - . Dudun Ubaidilah Rusli Rosyada H. 23. Yusnelly SI Guru Bahasa Indonesia 18. 12. 19. Fahrurrozi Saidil Hudri Muhammad Nur Mulyati Fadliyah Sri Sulitiawati Sofiah SI SI SI SI SI SI SI Guru Guru Guru Guru Guru Guru Guru Bahasa Inggris Matematika Ekonomi KTK Biologi Fisika Bahasa Indonesia 17. 14. Hamzah SI PGA SMA SI Guru Guru Kepala TU Administrasi Kesiswaan Komputer Olah Raga - 22. 15.

seperti terlihat pada tabel berikut: Tabel 4 Keadaan siswa-siswi MTS Nurussalam Pondok Pinang Kelas Kelas I Kelas II Kelas III Jumlah L 28 17 27 72 P 17 23 25 65 Jumlah 45 40 52 137 3. kelas II a dan II b. dan kelas III a dan III b. Keadaan Sarana dan Prasarana Sekolah Madrasah Tsanawiyah Nurussalam Pondok-Pinang memiliki sarana dan prasarana yang dapat menunjang kegiatan belajar mengajar mulai dari ruang sekolah yang memadai maupun sarana yang lain seperti pada tabel berikut ini: .47 Keadaan siswa-siswi yang ada di Madrasah Tsanawiyah Nurussalam PondokPinang sangat bervariatif artinya sekolah tersebut memiliki beberapa kelas yang cukup dari kelas I a dan I b.

48 Tabel 5 Keadaan Sarana dan Prasarana MTS Nurussalam Pondok Pinang No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Sarana / Prasarana Ruang Kepala Sekolah Ruang Guru Ruang TU Ruang Yayasan Ruang Belajar Ruang Kamar mandi Guru Ruang Kamar mandi siswa Ruang Komputer Ruang Perpustakaan Ruang BP Ruang UKS Ruang Koperasi Kantin Musholla Lapangan Upacara Jumlah 1 1 1 1 6 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 Kondisi Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik 4. Struktur Organisasi Dalam setiap organisasi diperlukan adanya suatu struktur yang menggambarkan suatu kejelasan garis intruksi dan koordinsi antar pemimpin dan .

KESISWAAN WL. BID. BID. berikut ini adalah struktur organisasi Madrasah Tsanawiyah Nurussalam: Tabel 6 STRUKTUR ORGANISASI MTS NURUSSALAM YAYASAN KEPALA MADRASAH TATA USAHA WKL. Begitu pula dengan Madrasah Tsanawiyah Nurussalam. KURIKULUM WKL.49 anggota. KELAS DAN DEWAN GURU PEMBINA OSIS SISWA .

Deskripsi Data Data utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. dianggap telah memiliki konstruksi validitas yang memadai. ternyata hasilnya memuaskan dan dianggap tidak perlu diadakan revisi. Angket yang disebarkan kepada siswa MTs Nurussalam. Minat belajar Sejarah Kebudayaan Islam Untuk memperoleh data minat belajar Sejarah Kebudayaan Islam penulis membuat angket yang terdiri dari 25 Pernyataan yang harus dijawab oleh siswa. Yang berisi mengenai indikator-indikator minat. Perasaan Senang Ada atau tidaknya minat siswa dalam mempelajari mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam dapat dilihat dari indikator-indikator minat. “S” untuk pertanyaan setuju.50 B. Kemudian diuji cobakan kepada 40 orang siswa. Data-data tersebut diolah dalam bentuk tabel dan kemudian dianalisis sebagai berikut: a. “TS” untuk pertanyaan tidak setuju dan “STS” untuk pertanyaan sangat tidak setuju. Selanjutnya penelitian dilakukan pada sample sebanyak 40 orang siswa yang terdiri dari siswa kelas IIa dan kelas IIb MTs Nurussalam pondok-pinang sebagai responden dalam waktu 45 menit responden dapat mengisi angket tersebut dengan baik. Petunjuk yang . Mengingat tugas responden hanya memberikan tanda silang pada tanda “SS” untuk pertanyaan sangat setuju.

Setuju (S) d. Perasaan senang merupakan ekspresi dari adanya minat maka sebaliknya perasaan tidak senang menandakan tidak ada minat. Sangat Tidak Setuju (STS) JUMLAH PORSENTASE 4 6 19 11 10% 15% 47. Tabel 7 Senang Mengikuti Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam NO ALTERNATIF JAWABAN 1 b. Sangat Setuju (SS) JUMLAH 6 PORSENTASE 15% . Dengan porsentase sebagian besar siswa tidak senang mengikuti mata pelajaran ini sebanyak (75%) dan sebagian kecil siswa merasa senang dengan mata pelajaran ini (25%).5% 27. Tidak Setuju (TS) e.51 pertama adalah perasaan yang timbul dari diri siswa ketika mempelajari mata pelajaran ini. Sangat Setuju (SS) c. Tabel 8 Tetap Belajar Walaupun Tidak Ada Guru NO ALTERNATIF JAWABAN 2 a.5% Dapat dilihat bahwa jumlah porsentase siswa yang menyatakan tidak senang terhadap mata pelajaran ini lebih banyak dari pada siswa yang menyatakan senang mengikuti mata pelajaran ini.

ternyata lebih banyak siswa tidak melakukan belajar walau tidak ada guru (65%). Setuju (S) c.52 b.5% Sikap siswa yang menyatakan masih belajar walaupun tidak ada guru yang mengajar. tidak pula mendapatkan hasil yang baik. Sangat Tidak Setuju (STS) 8 15 11 20% 37. Tabel 9 Mengikuti Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Dengan Kemauan Sendiri No 3 ALTERNATIF JAWABAN a. Sebagian besar siswa menyatakan tidak setuju mengikuti mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam atas kemauan sendiri dengan porsentase sebesar (70%).5% 42. Sangat Tidak Setuju (STS) JUMLAH PORSENTASE 3 9 17 11 7.5% 27. Sangat Setuju (SS) b.5% 22. Tabel 10 . Sedangkan sebagian kecil siswa menyatakan setuju (30%). Tidak Setuju (TS) d.5% Dalam mengikuti mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam. Setuju (S) c. Sedangkan sebagian kecil siswa menyatakan tetap belajar walau pun tidak ada guru (35%). Tidak Setuju (TS) d.5% 27.

Sedangkan sebagian kecil siswa menyatakan tidak setuju (25%). Setuju (S) c. Tidak Setuju (TS) d.5% . Tidak Setuju (TS) d. Sangat Setuju (SS) b.5% 15% 10% Pendapat siswa mengenai alas an mengikuti mata pelajaran ini hanya karena diwajibkan yang ditentukan oleh sekolah. Sangat Setuju (SS) b. Tabel 11 Selalu Hadir Mengikuti Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam NO 5 ALTERNATIF JAWABAN a. Setuju (S) c. Sangat Tidak Setuju (STS) JUMLAH PORSENTASE 3 21 9 7 7.5% 17.53 Terpaksa Mengikuti Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Karena Diwajibkan Oleh Sekolah No 4 ALTERNATIF JAWABAN JUMLAH a.5% 52.5% 42.5% 22. Sangat Tidak Setuju (STS) 13 17 6 4 PORSENTASE 32. sebagian besar responden menyatakan setuju dengan pendapat ini (75%).

ketika ditanya mengenai kehadiran dalam mengikuti pelajaran.5% 17. Tabel 12 Mengikuti Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Dengan Penuh Perhatian NO ALTERNATIF JAWABAN 1 a. Dan sebagian kecil siswa menyatakan tidak setuju (40%).5% 42. Ini menunjukkan bahwa siswa memiliki kehadiran yang baik dalam mengikuti mata pelajaran ini. Siswa yang memiliki minat yang tinggi tentu saja akan memiliki perhatian yang tinggi ketika pelajaran sedang berlangsung.5% . Setuju (S) c.54 Akan tetapi. Tidak Setuju (TS) d. begitu pula sebaliknya siswa yang memiliki minat yang rendah tidak akan memiliki perhatian yang tinggi. Sangat Setuju (SS) b. Sangat Tidak Setuju (STS) JUMLAH 5 7 17 11 PORSENTASE 12.5% 27. lebih dari setengah siswa menyatakan setuju dalam menghadiri pelajaran tersebut (60%). Perhatian dalam Belajar Perhatian siswa dalam belajar tentu saja dapat dijadikan sebagai indikator akan ada atau tidaknya minat. b.

Hal ini ditunjukkan dengan lebih dari setengah siswa menjawab tidak setuju (80%). Dan sebagian kecil siswa menyatakan setuju (30%). Setuju (S) c. Sangat Setuju (SS) b.5% Pernyataan mengenai keaktifan siswa ketika berlangsungnya pelajaran. Sangat Setuju (SS) b. Tabel 14 Mengikuti Penjelasan Guru Dalam Setiap Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam NO ALTERNATIF JAWABAN 3 a.5% 22. Sangat Tidak Setuju (STS) JUMLAH 2 6 23 9 PORSENTASE 5% 15% 57. tidak menunjukkan adanya respon positif. Dan sebagian kecil siswa menyatakan setuju (20%). Tabel 13 Aktif Bila Ada Kesempatan Bertanya NO ALTERNATIF JAWABAN 2 a. Tidak Setuju (TS) d.55 Sikap siswa dalam mengikuti pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam sebagian besar tidak setuju memiliki penuh perhatian yang tinggi dengan porsentase sebesar (70%). Setuju (S) JUMLAH PORSENTASE 4 17 10% 42.5% .

Dan sebagian kecil siswa menyatakan tidak setuju (40%). lebih dari setengah siswa menyatakan setuju dalam mengikuti penjelasan guru dalam pembelajaran tersebut (52. Dengan demikian ketika pernyataan ini disampaikan. Setuju (S) c. Sangat Tidak Setuju (STS) 13 6 32.5% 22.5% 17.5% Karena metode ceramah yang digunakan oleh guru maka banyak siswa hanya ikut berpartisipasi dengan mencatat pelajaran yang disampaikan oleh guru. Tidak Setuju (TS) d.56 c. ketika ditanya mengenai sikap mengikuti penjelasan guru dalam setiap pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam. lebih dari setengan siswa menjawab setuju (60%). Dan sebagian kecil siswa menyatakan tidak setuju (47. .5% 15% Akan tetapi. Sangat Setuju (SS) b. Tabel 15 Sering Mencatat Materi-materi Yang Diberikan Guru NO ALTERNATIF JAWABAN 4 a.5%). Sangat Tidak Setuju (STS) JUMLAH PORSENTASE 5 19 9 7 12.5% 47.5%). Tidak Setuju (TS) d.

Setuju (S) c. masih banyak siswa yang mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru. Tidak Setuju (TS) d.5% 20% 15% Akan tetapi dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru.5 52. Sangat Tidak Setuju (STS) JUMLAH 5 21 8 6 PORSENTASE 12.57 Tabel 16 Selalu Mengerjakan Tugas-tugas NO ALTERNATIF JAWABAN 5 a.5% Kerajinan siswa dalam mencatat pelajaran yang diberikan guru ketika berhalangan hadir.5% 27. Sangat Setuju (SS) b. Tidak Setuju (TS) d.5%). Sangat Tidak Setuju (STS) JUMLAH PORSENTASE 2 8 19 11 5% 20% 47. Sangat Setuju (SS) b. tidak pula mendapatkan hasil yang baik. Dan sebagian kecil siswa menyatakan tidak setuju dengan pernyataan tersebut (35%). Tabel 17 Mencatat Pelajaran Dari Teman Bila Saya Berhalangan Hadir NO ALTERNATIF JAWABAN 6 a. Setuju (S) c. Sebagian besar siswa mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru (67. Sebagian besar siswa .

Sangat Setuju (SS) b.5% 12. Sangat Tidak Setuju (STS) JUMLAH PORSENTASE 11 21 5 3 27.5% 52. Ada yang mengembangkan minatnya terhadap bidang pelajaran tersebut karena pengaruh dari gurunya. Sedangkan sebagian kecil siswa menyatakan tetap mengerjakan tugas walaupun tidak diperiksa oleh guru (20%). bahan pelajaran yang menarik.58 menyatakan tidak pernah mencatat materi pelajaran yang terlewat karena berhalangan hadir dengan porsentase sebesar (75%). ternyata lebih banyak siswa tidak melakukannya dari pada siswa yang mengerjakan tugas jika tidak diperiksa oleh guru (80%). Tidak Setuju (TS) d.5% 7. Setuju (S) c. Ketertarikan pada Materi dan Guru Tidak semua siswa menyukai suatu bidang studi pelajaran karena faktor minatnya sendiri. Tabel 18 Tidak Akan Mengerjakan Tugas Yang Diberikan Guru Jika Tidak Diperiksa NO ALTERNATIF JAWABAN 7 a. 6.5% Sikap siswa yang menyatakan mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru jika tidak diperiksa. Hanya (25%) Siswa yang menyatakan tetap mencatat materi pelajaran apabila berhalangan hadir. teman sekelas. .

5% 32. Sangat Setuju (SS) b. Tabel 20 Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Berisi Kisah-kisah Para Tokoh Yang Dapat Saya Contoh Dan Saya Terapkan Pada Zaman Sekarang NO ALTERNATIF JAWABAN 2 a. Tidak Setuju (TS) d.5% 27. Sangat Setuju (SS) b. Setuju (S) c.5% 52. Tidak Setuju (TS) d. Sangat Tidak Setuju (STS) JUMLAH PORSENTASE 2 6 19 13 5% 15% 47.5% Ternyata alasan sebagian siswa mengenai bahan pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam tidak menantang untuk dikaji karena materi pelajaran ini kurang menarik. Sangat Tidak Setuju (STS) JUMLAH 5 21 11 3 PORSENTASE 12. Setuju (S) c. sehingga sebagian besar menyatakan materi pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam tidak menantang untu dikaji ( 80%).5% .5% 7. Dan sebagian kecil siswa menyatakan bahan pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam menantang untuk dikaji (20%).59 Tabel 19 Bahan Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Menantang Untuk Dikaji NO ALTERNATIF JAWABAN 1 a.

Sangat Setuju (SS) b.5% . Sedangkan siswa yang berpendapat setuju (40%).5% 42.60 Akan tetapi masih banyak diantara siswa yang meneladani sikap para tokoh – tokoh yang baik dan menerapkan pada zaman sekarang sebanyak (65%). Tabel 21 Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Yang Disampaikan Oleh Guru Sesuai Dengan Kebutuhan Siswa Sehingga Tertarik Dengan Mempelajarinya NO ALTERNATIF JAWABAN 3 a. Setuju (S) c. Sebagian besar siswa menyatakan tidak setuju berjumlah (60%). Setuju (S) JUMLAH PORSENTASE 4 9 10% 22.5% Akan tetapi banyak siswa yang tidak menyadari pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam akan manfaat yang mereka dapatkan sesuai dengan kebutuhan siswa. Siswa menyatakan tidak setuju berjumlah (35%). Sangat Setuju (SS) b. Sangat Tidak Setuju (STS) JUMLAH 3 13 17 7 PORSENTASE 7. Tidak Setuju (TS) d.5% 32.5% 17. Tabel 22 Materi Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Yang Disampaikan Oleh Guru Sangat Menarik NO ALTERNATIF JAWABAN 4 a.

Sangat Setuju (SS) b. Tabel 23 Materi Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Bisa Dipelajari Dari Buku.5% 20% Kurangnya metode yang digunakan oleh guru. Hal ini tampak dalam tabel 20 mengenai menarik atau tidaknya penyampaian mata pelajaran ini. Sangat Tidak Setuju (STS) JUMLAH PORSENTASE 11 19 6 4 27.5% 15% 10% Sebagian besar siswa berpendapat materi Sejarah Kebuyaan Islam sangat mudah. dan bisa mempelajari dari buku hal ini siswa lebih banyak mengobrol dari pada . Tidak Setuju (TS) d. membuat materi pelajaran yang diberikan oleh guru kurang menarik. Karena Itu Siswa Boleh Mengobrol Dikelas NO ALTERNATIF JAWABAN 5 a.sebagian besar siswa menyatakan bahwa penyampaian materi pelajaran ini kurang menarik ( 67.5% 47.5%) dan sebagian kecil siswa menyatakan bahwa penyampaian mata pelajaran ini menarik (32.61 c. Setuju (S) c. Sangat Tidak Setuju (STS) 19 8 47. Tidak Setuju (TS) d.5%).

Sedangkan sebagian kecil siswa berpendapat tidak setuju (25%). sebagian besar siswa menyatakan bosan dengan pelajaran ini yakni sebanyak (70%). Dan sebagian kecil siswa menyatakan tidak bosan mengikuti pelajaran ini (30%).62 ikut mendengarkan materi Sejarah Kebudayaan Islam yang disampaikan oleh guru (75%). Setuju (S) c. Sangat Setuju (SS) b. Faktor kebosanan siswa dalam mengikuti mata pelajaran ini bisa saja sebagai akibat dari kurang variatifnya metode yang digunakan oleh guru sewaktu mengajar. Tidak Setuju (TS) d.5% 42. Setuju (S) JUMLAH PORSENTASE 9 17 22.5% . Tabel 25 Penjelasan Guru Mudah Diikuti NO ALTERNATIF JAWABAN 7 a.5% 20% 10% Begitu pula ketika ditanya perasaan siswa mengenai bosan atau tidak. Sangat Setuju (SS) b.5% 42. Sangat Tidak Setuju (STS) JUMLAH PORSENTASE 11 17 8 4 27. Tabel 24 Materi Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Sangat Membosankan NO ALTERNATIF JAWABAN 6 a.

Sangat Setuju (SS) b. Jadi ternyata walaupun mereka merasa bosan mengikuti pelajaran ini. (30%) menyatakan setuju dan sebagian besar siswa tidak setuju dengan porsentase sebesar (70%).5% Akan tetapi.5% 22. mereka tidak mengantuk dalam menerima materi pelajaran tersebut.5% 17. Tabel 26 Sering Mengantuk Waktu Guru Menerangkan NO ALTERNATIF JAWABAN 8 a. Tidak Setuju (TS) d.5% 52. Sangat Tidak Setuju (STS) JUMLAH PORSENTASE 3 9 21 7 7. Setuju (S) c. ketika ditanya apakah mereka setuju kalau mereka sering mengantuk karena kebosanan belajar mata pelajaran ini. .5% 7.5% Alasan yang dikemukakan oleh siswa mengenai penyampaian guru dalam memberikan materi pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam mudah diikuti sebanyak (65%). Sedangkan sebagian kecil siswa berpendapat tidak setuju (35%). Tidak Setuju (TS) d. Sangat Tidak Setuju (STS) 11 3 27.63 c.

d.5% 12. Sangat Tidak Setuju (STS) JUMLAH PORSENTASE 3 11 21 5 7. Pada table 25 ditanyakan mengenai apakah guru mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam adalah guru favorit siswa? Ternyata sebagian besar siswa berpendapat tidak setuju (65%) sedangkan sebagian kecil siswa menyatakan bahwa guru mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam adalah guru favorit mereka (35%). .5% 52. Tidak Setuju (TS) d.5% 27. kesadaran akan adanya Manfaat Indikator minat yang terakhir adalah adanya manfaat dan fungsi pelajaran dalam hal ini pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam. Setuju (S) c.64 Tabel 27 Guru Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Guru Favorit Saya NO ALTERNATIF JAWABAN 9 a.5% Indikator minat yang lainnya adalah sikap dan perilaku guru ketika mengajar. Sangat Setuju (SS) b. Salah satu manfaat yang diambil siswa dari mata pelajaran ini adalah banyaknya contoh baik yang dapat diambil dari kisah yang lalu.

Setuju (S) c. Tidak Setuju (TS) d. Setuju (S) c.65 Tabel 28 Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Memberikan Manfaat Mengenai Perkembangan Ilmu Pengetahuan Pada Masa Lalu NO ALTERNATIF JAWABAN 1 a.5% 17.5% 15% 10% .5% 47. Sangat Setuju (SS) b.5% Pertanyaan ini diperoleh berdasarkan tabel 26 dengan porsentase siswa yang menjawab setuju sebesar (70%). Sangat Tidak Setuju (STS) JUMLAH PORSENTASE 11 17 7 5 27. Tidak Setuju (TS) d. Tabel 29 Mempelajari Sejarah Kebudayaan Islam Bisa Saya Bisa Mengambil Peristiwa Dari Masa Lalu Dan Saya Terapkan Dalam Kehidupan Sehari-hari NO ALTERNATIF JAWABAN 2 a. Sedangkan siswa yang berpendapat tidak setuju sebesar (30%).5% 42. Sangat Setuju (SS) b.5% 12. Sangat Tidak Setuju (STS) JUMLAH PORSENTASE 11 19 6 4 27.

Sedangkan siswa yang berpendapat tidak setuju berjumlah (25%). Tabel 30 Setelah Mempelajari Sejarah Kebudayaan Islam Saya Meneladani Kisah Para Tokoh Yang Mempunyai Sifat Yang Baik NO ALTERNATIF JAWABAN 3 a. Setuju (S) c. Sedangkan siswa yang berpendapat tidak setuju (25%).66 Pernyataan ini diperoleh berdasarkan tabel 27 dengan porsentase siswa yang menjawab setuju sebesar (75%). Tabel 31 Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Banyak Membuang Waktu NO ALTERNATIF JAWABAN 4 a. Sangat Setuju (SS) b.5% 52.5% . Sangat Setuju (SS) b.5% 15% 10% Salah satu manfaat yang diambil siswa dari mata pelajaran ini adalah banyaknya contoh baik yang dapat diambil dari kisah para tokoh yang baik tabel 28 sebanyak (75%) siswa menyatakn setuju. Sangat Tidak Setuju (STS) JUMLAH PORSENTASE 11 19 6 4 27. Tidak Setuju (TS) d. Setuju (S) JUMLAH PORSENTASE 5 21 12.5% 47.

masing-masing jawaban diberi skor. kemudian skor-skor tersebut dijumlahkan. sebagian besar siswa menyatakan pelajaran ini membuang waktu (65%) dan sebagian kecil siswa menyatakan tidak setuju (35%). Pelajaran ini dirasakan membuang waktu karena siswa sendiri tidak menyukai mata pelajaran ini. Selanjutnya tabel mengenai perhitungan analisis butir soal yang diperoleh melalui hasil perhitungan angket. Tidak Setuju (TS) d. Adapun skornya sebagai berikut: Untuk jawaban yang pernyataannya cenderung positif skornya Sangat setuju Setuju Tidak setuju (SS) : 4 (S) : 3 (TS) : 2 Sangat tidak setuju (STS) : 1 Untuk jawaban yang pernyataannya cenderung negatif skornya Sangat setuju Setuju Tidak setuju (SS) (S) :1 : 2 (TS) : 3 Sangat tidak setuju (STS) : 4 Setelah melakukan tabulasi data angket minat maka perlu dilakukan analisa item untuk skor angket minat (X) yaitu: . apakah siswa setuju bahwa mata pelajaran ini banyak membuang waktu. Sangat Tidak Setuju (STS) 8 6 20% 15% Ketika ditanya lebih lanjut.67 c.

TABEL 32 Analisa Item Untuk Skor Angket Minat Siswa Terhadap Bidang Studi SKI Nomor Res Nomor Item 1 3 2 1 2 2 3 4 2 2 2 2 3 2 4 2 2 1 3 2 2 1 1 1 1 3 4 2 2 2 3 2 3 4 2 2 1 4 3 3 2 2 2 1 3 4 2 2 2 3 2 3 4 3 2 1 3 4 2 1 2 2 2 3 3 2 2 2 2 2 3 4 2 2 2 4 5 3 2 3 2 3 3 4 2 3 2 3 3 3 4 3 2 1 3 6 3 2 2 1 2 3 4 3 2 3 3 2 2 4 2 2 1 4 7 1 1 1 1 2 1 3 2 2 2 2 3 2 4 2 2 1 3 8 3 3 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 2 1 4 9 3 2 3 3 2 3 4 3 3 3 3 3 3 4 3 3 2 4 10 3 1 3 3 2 3 4 3 3 3 3 3 3 4 3 3 1 4 11 1 1 2 1 2 3 4 2 2 2 3 3 3 3 3 3 1 4 12 2 1 3 1 2 3 4 2 2 2 3 2 2 3 2 2 1 4 13 2 2 2 2 2 3 4 2 2 2 3 3 2 4 2 2 1 3 14 3 2 2 2 2 3 4 3 3 3 3 3 3 4 3 3 1 4 15 3 2 2 2 2 3 4 3 3 2 3 3 3 4 3 3 1 3 16 2 2 2 2 2 2 4 2 2 2 3 3 3 4 2 2 1 3 17 2 1 1 1 1 2 4 3 2 2 3 3 3 4 3 3 1 4 18 2 2 2 2 1 3 3 3 2 2 3 3 3 4 2 2 1 4 19 2 3 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 1 3 20 3 3 3 2 2 3 4 2 3 3 3 3 3 4 3 3 1 3 21 2 2 2 2 2 3 4 2 2 2 3 3 3 4 3 2 1 3 22 3 3 2 2 2 3 4 3 3 3 3 4 3 4 3 3 2 4 23 2 3 3 2 2 3 4 3 3 3 3 4 3 4 3 3 2 4 24 3 1 3 3 2 3 4 3 3 3 3 4 3 4 3 3 2 4 25 2 1 2 2 2 2 4 2 2 2 3 2 2 4 2 2 2 4 Skor 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 60 46 53 47 47 70 95 62 61 60 72 72 69 98 65 61 31 90 19 20 2 2 2 3 2 3 2 2 2 3 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 4 3 3 65 68 43 .

21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 2 2 2 1 1 1 1 1 1 2 3 1 4 1 1 2 2 4 3 2 3 2 3 2 2 1 3 1 1 1 1 2 4 2 1 3 2 4 4 2 3 3 2 2 1 1 2 1 2 1 1 2 4 1 2 1 1 2 2 1 3 3 2 2 1 1 1 2 1 1 1 3 4 1 1 1 1 4 1 1 3 3 2 3 1 3 2 3 2 3 4 1 1 3 3 1 1 3 3 1 3 2 2 1 2 1 2 1 2 2 3 1 4 1 1 2 1 4 1 1 3 2 2 2 2 3 2 2 3 2 2 2 4 1 2 1 1 2 2 1 3 3 2 2 1 1 2 1 1 3 3 2 4 2 1 2 2 4 2 2 3 3 3 2 2 1 2 1 1 1 1 3 4 2 2 1 1 4 3 2 3 3 3 3 1 2 1 2 2 2 3 1 4 2 1 2 3 4 3 2 3 2 2 1 2 2 1 2 1 1 1 2 3 2 2 1 2 2 2 2 3 2 2 2 1 1 2 2 2 1 1 1 4 2 2 2 2 1 1 1 3 2 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 2 1 3 2 1 3 3 3 1 2 2 3 2 3 2 3 1 4 2 2 3 3 4 3 2 2 3 2 2 1 1 1 1 1 1 2 2 4 2 2 2 2 2 2 2 3 2 1 1 2 2 1 1 1 1 4 3 3 2 1 3 2 4 3 2 2 2 1 2 2 2 1 1 2 1 2 1 2 2 2 1 2 4 2 2 3 2 2 1 2 1 1 2 2 1 1 2 4 1 1 3 1 4 1 2 4 3 4 3 2 2 2 1 2 2 4 1 4 2 2 4 3 4 4 4 3 3 3 3 2 2 3 2 2 1 3 2 4 2 1 4 3 4 4 4 3 2 2 2 2 1 2 1 2 1 2 2 4 2 1 3 2 3 2 2 4 3 3 2 2 1 3 1 1 1 4 3 4 2 1 3 3 4 4 3 4 3 1 3 3 1 3 1 3 3 4 1 4 2 2 3 3 4 4 3 4 3 3 2 2 4 2 4 1 1 3 4 4 2 3 3 1 3 3 3 4 2 3 2 2 1 2 1 2 2 4 3 1 2 2 3 1 4 3 3 77 63 56 48 42 39 46 38 42 39 62 47 88 44 40 56 46 85 64 51 43 .

Dengan melakukan penjumlahan skor jawaban terhadap beberapa pertanyaan yang diajukan kepada siswa kelas dua tersebut. Mencari nilai tertinggi (Highest Score=H) dan nilai terendah (Lowest Score=L) dari nilai yang diperoleh dapat dilihat bahwa H=98 dan L=31. Hal ini dilakukan karena penyebaran skor atau nilai yang akan penulis sajikan tidak terlalu luas. Adapun langkah yang perlu ditempuh adalah sebagai berikut: 1. maka diperoleh nilai yang paling rendah adalah 31 dan nilai yang paling tinggi adalah 98. 2. kemudian hasilnya dimasukkan dalam kolom 2 dari tabel distribusi frekuensi yang telah kita persiapkan. Untuk membuat tabel distribusi frekuensi. penulis menggunakan tabel distribusi frekuensi data tunggal yang sebagian atau seluruh skornya berfrekuensi lebih dari satu. setelah diketahui H dan L. mulai dari nilai yang tertinggi 98 berturut-turut ke bawah sampai nilai yang terendah 31 pada kolom 1 dari tabel distribusi frekuensi. Tabel distribusi frekuensi tentang skor minat siswa terhadap bidang studi Sejarah Kebudayaan Islam dengan cara membuat tabel distribusi data tunggal. maka kita dapat menyusun nilai atau skor tentang minat siswa tersebut dari atas ke bawah. kemudian nilai yang diperoleh dijumlahkan. 43 . Menghitung frekuensimasing-masing nilai atau skor yang diperoleh. sehingga diperoleh jumlah frekuensi ( ∑F) atau (N).

5% 5% 2.5% 2.5% 2.5% 2.5% 5% 2.5% 2.5% 2.5% 2.44 Untuk lebih jelasnya penyebaran data minat siswa kelas II dapat dilihat melalui tabel berikut ini: Tabel 33 Distribusi Frekuensi Tentang Minat Siswa Kelas II dari Sejumlah 40 Orang Siswa Terhadap Bidang Studi SKI Skor 98 95 90 88 85 77 72 70 69 68 65 64 63 62 61 Frekuensi 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 2 1 1 2 2 Porsentase 2.5% 2.5% 2.5% 5% 5% .

40.5% 2.5% 2.5% 2.5% dan yang memperoleh nilai terendah 31 juga sama yaitu hanya 1 orang atau 2. 88. 51. 65. yang mendapat nilai 72. 85. 62. 69.5% 2. 63. 70. 38.45 60 56 53 51 48 47 46 44 42 40 39 38 31 2 2 1 1 1 3 3 1 2 1 2 1 1 5% 5% 2. 42. 64. 53. 39 masing-masing berjumlah 2 orang atau 5%. 61.5% 7. 56. sedangkan selebihnya yang memperoleh nilai 95. 48.5%. 46 masing-masing sebanyak 3 orang atau 7. 77.5%.5% 5% 2.5%.5% 7. 44. .5% ∑= 1722 N=40 100% Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa siswa kelas II MTs Nurusalam Pondok-pinang yang memperoleh nilai tertinggi 98 hanya 1 orang atau 2. yang memperoleh nilai 47. 31 berjumlah 1 orang atau 2. 90.5% 5% 2. 60. 68.

Adapun nilai raport yang dicapai siswa kelas II semester II dalam hal belajarnya pada bidang studi Sejarah Kebudayaan Islam berada antara 50-90. Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Sedangkan untuk mengetahui data mengenai prestasi belajar siswa. distribusi frekuensinya.5 % 5% 37.5 % 45 % 10 % 100 % Persentase Berikut ini adalah tabel Dari tabel diatas kita lihat yang terbanyak siswa kelas II pada semester II memperoleh nilai prestasi belajar 60 (18 orang atau 45%). diperoleh nilai terendah 50 sampai nilai tertinggi 90.46 2. penulis mengambil nilai raport kelas II a dan II b semester II tahun pelajaran 2005-2006. Tabel 34 Distribusi Frekuensi Tentang Hasil Belajar yang Dicapai oleh 40 Orang Siswa Kelas II Semester II Nilai Prestasi Frekuensi Belajar 90 80 70 60 50 Jumlah 1 2 15 18 4 40 2. dan nilai 70 sebanyak 15 .

Nilai 90 diperoleh 1 orang (2. C.47 orang (37. Analisis Korelasional Data statistik yang akan dianalisa adalah nilai-nilai dari penyebaran angket mengenai minat siswa kelas II terhadap bidang studi Sejarah Kebudayaan Islam di MTs. Untuk itu dibawah ini akan dijelaskan perhitungan untuk memperoleh koefisien korelasi antara minat siswa pada bidang studi Sejarah Kebudayaan Islam dengan nilai hasil belajar siswa kelas II semester II. 2 orang memperoleh nilai 80 (5%). Nurussalam Pondok-pinang dan terhadap nilai hasil belajar siswa kelas II semester II.5%). sehingga dapat diambil interpretasi data. Serta nilai 50 diperoleh 4 orang (10%). Tabel 35 Analisis Korelasi antara Variabel X (minat terhadap bidang studi SKI) dengan variabel Y (nilai hasil belajar SKI) Subjek 1 2 3 4 5 X 60 46 53 47 47 Y 70 60 50 50 50 X2 3600 2116 2809 2209 2209 Y2 4900 3600 2500 2500 2500 XY 4200 2760 2650 2350 2350 .5%).

48 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 70 95 62 61 60 72 72 69 98 65 61 31 90 65 68 77 63 56 48 42 39 70 80 70 60 60 60 70 70 80 70 70 50 70 70 70 70 60 60 60 60 60 4900 9025 3844 3721 3600 5184 5184 4761 9604 4225 3721 961 8100 4225 4624 5929 3969 3136 2304 1764 1521 4900 6400 4900 3600 3600 3600 4900 4900 6400 4900 4900 2500 4900 4900 4900 4900 3600 3600 3600 3600 3600 4900 7600 4340 3660 3600 4320 5040 4830 7840 4550 4270 1550 6300 4550 4760 5390 3780 3360 2880 2520 2340 .

49 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 ∑ 46 38 42 39 62 47 88 44 40 56 46 85 64 51 2365 60 60 60 60 70 60 90 60 60 70 60 70 70 60 2580 2116 1444 1764 1521 3844 2209 7744 1936 1600 3136 2116 7225 4096 2601 150597 3600 3600 3600 3600 4900 3600 8100 3600 3600 4900 3600 4900 4900 3600 169200 2760 2280 2520 2340 4340 2820 7920 2640 2400 3920 2760 5950 4480 3060 156880 Dari hasil perhitungan diperoleh nilai ∑ X =2365 ∑ Y = 2580 ∑ X2 = 150597 ∑ Y2 = 169200 .

penulis menginterpretasikan hasil perhitungan diatas dengan menggunakan dua cara yang akan ditempuh sebagai berikut: 1. ∑xy – (∑x). Adapun pedoman yang umumnya digunakan dalam memberikan interpretasi secara sederhana terhadap angka koefisien Korelasi Product Moment adalah sebagai berikut: . (∑y) D. Interpretasi Secara Kasar / Sederhana Dari hasil perhitungan di atas diperoleh nilai koefisien korelasi r xy yaitu 0. Interpretasi Data Berdasarkan hasil dari data perhitungan dan analisia data yang telah dilakukan. dengan istilah lain terdapat korelasi yang positif.50 ∑ XY = 156880 Nilai-nilai tersebut kemudian dimasukkan kedalam rumus korelasi product moment “r” person : R xy = N. ini berarti korelasi antara variabel X (minat dalam bidang studi SKI) dan variabel Y (prestasi belajar SKI) terdapat hubungan yang searah.252. Kemudian nilai tersebut diinterpretasikan dengan cara sederhana yaitu dengan memberikan interpretasi terhadap angka koefisien Korelasi Product Moment. Jika diperhatikan maka angka indeks korelasi yang diperoleh tidak bertanda negatif.

akan tetapi korelasi yang lemah.70 Antara variabel X dan variabel Y terdapat korelasi yang sedang atau cukup 0.252) ternyata terletak antara 0. . 2.90 Antara variabel X dan variabel Y terdapat korelasi yang kuat atau tinggi 0.90-1. akan tetapi korelasi itu sangat lemah atau sangat rendah sehingga korelasi itu diabaikan (dianggap tidak ada korelasi antara variabel X dan variabel Y).20-0.40.20-0.40-0.51 Besarnya “r” Product (rxy) 0. berarti antara variabel X dan variabel Y terdapat korelasi. Interpretasi dengan menggunakan tabel nilai “r” Product Moment Pertama : merumuskan hipotesa alternatif (Ha) dengan hipotesa nihil (Ho) Ha= Ada atau terdapat korelasi positif atau terdapat korelasi negatif yang signifikan atau meyakinkan antara variabel X dan variabel Y. 0.40 Antara variabel X dan variabel Y terdapat korelasi yang lemah atau rendah 0.00 Antara variabel X dan variabel Y terdapat korelasi yang sanat kuat atau sangat tinggi Apabila diperhatikan besarnya r xy yang telah diperoleh (0.00-0.70-0.20 Moment Interpretasi Antara variabel X dan variable Y memang terdapat korelasi.

Ketiga : berkonsultasi pada tabel “r” Product Moment pada taraf signifikansi. Apabila rxy sama besar atau lebih besar dari pada rtabel atau rt.252 lebih . maka dapat diketahui bahwa bahwa dengan df sebesar 38 diperoleh “r” Product Moment pada taraf signifikansi 5%= 0. Jadi nr=2 dengan rumus diatas.393. Dengan melihat table “r” Product Moment. karena teruji kebenarannya.304 dan pada taraf signifikansi 1%= 0. ternyata nilai r hasil perhitungan 0.393. Keempat : membandingkan besarnya rxy dengan rt. sedangkan nilai rt masing-masing pada taraf signifikansi 5%= 0. maka diperoleh nilai df= 40-2=38.252.52 Ho= Tidak ada atau tidak terdapat korelasi positif atau korelasi negatif yang signifikan antara variable X dan variable Y. Namun apabila rxy lebih kecil dari pada rtabel atau rt. karena teruji kebenarannya dan hipotesa nihil (Ho) ditolak. Nilai rxy yang diperoleh adalah 0. Variabel yang dikorelasikan sebanyak dua buah yaitu minat siswa mempelajari bidang studi SKI dengan hasil belajar SKI.304 dan pada taraf signifikansi 1%= 0. maka hipotesa alternatif (Ha) ditolak dan hipotesa nihil (Ho) diterima. maka hipotesa alternatif (Ha) diterima. Kedua : mencari degree of freedom (df) atau derajat bebas (db) adapun rumusnya sebagai berikut: df=N-nr keterangan : df : degree of freedom N : Number of cases nr : Banyaknya variable yang dikorelasikan penelitian ini mengambil sample 40 orang siswa kelas II.

Kesimpulan yang dapat kita tarik ialah tinggi rendahnya prestasi belajar siswa dalam bidang studi SKI tidak ada hubungannya / tidak dipengaruhi oleh tinggi rendahnya minat siswa dalam bidang studi SKI tersebut. karena terbukti hubungan itu berada pada hubungan yang sangat lemah. baik pada taraf signifikansi 5% maupun pada taraf signifikansi 1%. Maka hipotesa alternatif (Ha) ditolak dan hipotesa nihil (Ho) diterima.53 kecil daripada nilai rt. .

Kesimpulan Berdasarkan dari hasil penelitian dan analisa yang telah penulis uraikan dalam bab IV mengenai hubungan antara minat dengan prestasi belajar siswa dalam bidang studi SKI.252 ini berada pada kisaran 0. Berdasarkan hasil perhitungan penelitian yang penulis lakukan yaitu melakukan interpretasi sederhana dan melakukan interpretasi dengan membandingkan nilai rxy dengan r tabel ternyata tidak terdapat korelasi antara minat dengan prestasi belajar siswa dalam bidang studi SKI yaitu korelasi yang tidak signifikan. prestasi belajar siswa dalam bidang studi SKI yaitu berkisar antara 50-90 tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan dengan minat belajar siswa.393. sedangkan hasil perhitungan rxy dibandingkan dengan r tabel ternyata rxy adalah lebih kecil daripada r tabel. Dari sini dapat diketahui terdapat korelasi . Sebagaimana ditunjukkan oleh nilai raport. Karena perolehan rxy 0. Itu berarti prestasi belajar siswa yang tinggi berkisar 50-90 pada bidang studi SKI tidak menentukan siswa untuk rajin dalam minat belajar SKI. baik pada taraf signifikan 5% maupun 1%. sifat hubungan antara variabel X dan variabel Y terdapat korelasi lemah atau rendah. Pada interpretasi sederhana hasil perhitungan dari sebesar 0.252 sedangkan r tabel pada taraf signifikan 5%= 0.BAB V PENUTUP A. 2. maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1.20-0.40.304 dan pada taraf signifikan 1%=0.

Bagi orang tua harus menyadari bahwa anak membutuhkan perhatian dan support dalam belajar.lemah atau rendah dalam hubungan minat dengan prestasi belajar siswa dalam bidang studi SKI. Bagi para orang tua disarankan mau mendengarkan apa yang diminati anak dan apa yang tidak. menggunakan metode yang menarik seperti metode bervariasi ceramah-tanya jawab. sehingga orang tua bisa memberikan arahan positif bagi kemajuan anak dalam belajar. Mengemas materi SKI dengan sebaik-baiknya agar tidak membosankan karena materi SKI hanya berisi tentang cerita-cerita sejarah saja. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa tinggi rendahnya prestasi belajar siswa dalam bidang studi SKI tidak mempengaruhi minat belajar siswa . 2. dan membuat kliping. selanjutnya dapat mengajak siswa melihat film-film Sejarah Islam. metode bermain peran dan sosiodrama. maka hipotesis alternatif ditolak. Karena rxy lebih kecil daripada r table baik pada taraf signifikan 5% maupun signifikan 1%. Saran-saran Saran-saran ini penulis tujukan kepada : Guru Bidang Studi SKI khususnya dan para guru umumnya untuk lebih menumbuhkan dan meningkatkan minat belajar kepada siswa dengan cara : 1. . sedang hipotesis nihil diterima atau disetujui. diskusi-tanya jawab. B.

Jakarta: Balai Pustaka. Depdikbud. Pengantar Statistik Pendidikan. 2004... Psikologi Pendidikan. 1994. Drs. Prosedur Penelitian. Arikunto. Syaiful Bahri Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Tiara Wacana.S. 1995. Gramedia Pustaka Utama. Zein. M. 1991 Djamarah. D. Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya. 1988. 2004. 1997 Departemen Pendidikan Agama RI. Jakarta: PT. Surabaya: Usaha Nasional. Dr. dan Ny. Pengantar Metodologi Penelitian. Anas Sudijono. 1993. dan Sultan M. 2002. Jakarta: Ciputat Pers. .. Alisuf Sabri.G. 1989 Dalyono. 1992..G. Abd. Jakarta: Rineka Cipta. Jakarta: BPK Gunung Mulia.DAFTAR PUSTAKA Abror. Bimbingan dan Konseling. Surabaya: Bina Ilmu. Kamus Umum Bahasa Indonesia. & A. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Crow. Jakarta: Rajawali Press. Hallen A. Badudu. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Kurikulum 2004 Kerangka Dasar. Psikologi Pendidikan. Yulia Singgih. Jakarta: Rineka Cipta.. Psikologi Pendidikan. Dra. Jakarta: Departemen Pendidikan Agama RI. L. 1994. Suharsimi. Herman Wasito. Pedoman Khusus Sejarah Kebudayaan Islam. Psikologi Pendidikan. Crow. 1995. Rachman. Singgih. 1993. Departemen Pendidikan Nasional.. J. Psikologi Perawatan. D. Yogyakarta: Pt. M.

Pd. Usman Effendi dan Juhaya S. Poerwadarminta. Tulus.D. Muhibin. . D. Bandung: Remaja Rosdakarya.S. Peran Disiplin pada Perilaku dan Prestasi Siswa. Bandung: Remaja Rosda Karya. Tampubolon. 1998. 2001. Gramedia Widiasarana Indonesia. Bandung: PT. Metodologi Research. Belajar dan Pembelajaran. D.Hurlock. Elizabeth. Syah. Jakarta: Ghalia Indonesia. W. 2004. Jakarta: Balai Pustaka. Nasution. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Dunia Pustaka Jaya. Drs. Ahmad. Jakarta: PT.J. Bergman Sitorus).. Drs. Didaktik Azas-Azas Mengajar. 1990.P. Mengembangkan Minat Membaca Pada Anak. S. Pengantar Psikologi. 1993. Psikologi Perkembangan. Alma’arif. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Metode Penelitian. Naziri. Bandung: Jemmars. Praja. 1991. Membina Hasrat Belajar di Sekolah. Surabaya: Bina Ilmu. Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.. Ali. MM. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Ph. 1997 Tu’u. 1980. Bandung: Angkasa. 1993. Bandung: Angkasa. Shalahuddin.. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.. 1987. 1987 Sutrisno Hadi. Kurt. Mohamad. Yogyakarta: Andi Offset. 1990. Jakarta: Balai Pustaka. Pengantar Psikologi Pendidikan. 1998. 1996. Marimba. (Terj. Jakarta: PT. Singer. Imran. Mahfudh.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful