P. 1
Contoh Format Laporan Posisi Keuangan

Contoh Format Laporan Posisi Keuangan

|Views: 186|Likes:

More info:

Published by: Aditya Iqbal Maulana on Jul 06, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/03/2015

pdf

text

original

Contoh Format Laporan Posisi Keuangan (Neraca

)

46

mailShare Untuk yang sudah lama tidak update, seperti saya, harap diketahui bahwa laporan keuangan yang dalam PSAK lama disebut “Neraca”, sekarang namanya berubah menjadi “Laporan Posisi Keuangan”. *Mikir: jangan-jangan cuma saya neh yang tidak update? Hahaha. Pertanyaannya: Apakah format Laporan Posisi Keuangan (baru) berbeda jika dibandingkan dengan format Neraca (lama)? Lewat tulisan ini saya ingin share contoh format laporan posisi keuangan alias Neraca. Seperti judul tulisan ini, saya akan tampilkan contoh formatnya—dari yang paling ringkas sampai yang sepanjang gerbong kereta api. Saya yakin sebagian besar pembaca, termasuk anda, pasti sudah pernah melihat format Neraca (yang sekarang disebut ‘Laporan Posisi Keuangan’). Yang kerap meragukan adalah bentuknya yang bervariasi—ada yang sangat ringkas nan pendek, ada juga yang begitu detail mencantumkan akun-demi-akun sehingga mirip rangkaian gerbong kereta api Argo Bromo Surabaya – Jakarta. Ada yang beralur horizontal (ke samping), ada juga yang alurnya vertical (menurun), mengikuti panjang halaman kertas. [quote]Dengan tulisan ini, saya berharap pembaca mendapat gambaran yang jelas (kalau bisa pasti) mengenai format Neraca (Laporan Posisi Keuangan). SEKALIGUS bisa melihat AKUN APA masuk ke kelompok APA.[/quote] Standar Akuntansi manapun (termasuk PSAK yang baru) TIDAK pernah menyatakan suatu format Neraca tertentu sebagai standar yang harus digunakan oleh semua akuntan dalam menyusun laporan keuangan. Pun demikian, ada hal-hal penting yang ditekankan dalam PSAK, sehubungan dengan penyajian laporan keuangan, yang akan saya ikut sertakan juga (dalam tulisan ini). Tetapi sebelum itu, ada hal penting yang tak kalah pentingnya untuk diketahui, sehubungan dengan neraca, yaitu: kelemahan informasi keuangan yang diperoleh dari sebuah Neraca (maaf, saya masih sering menggunakan kata Neraca.)

Kelemahan Neraca (Di Masa Lalu) Sebagai Penyaji Laporan Posisi Keuangan

Sebenarnya, sudah sejak lama, nama lainnya “Neraca” (Balance Sheet) adalah “Laporan Posisi Keuangan”, tetapi entah mengapa publik (termasuk pengatur standar) lebih suka menggunakan istilah “Neraca”. Bisa jadi karena lebih mudah disebutkan (singkat) dan tidak membingungkan ketika bersandingan dengan istilah “Laporan Keuangan”—yang terdiri dari: Neraca, Laporan Laba/Rugi, Laporan Perubahan Modal, dan Laporan Arus Kas. Nah, apa kelemahan Neraca sebagai penyaji laporan posisi keuangan? Kelemahannya yang paling mencolok adalah: tidak mewakili nilai aset dan liabilitas yang sesungguhnya, pada saat dilaporkan. Mengapa demikian? Karena nilai aset (aktiva) dan liabilitas (kewajiban) yang digunakan dalam Neraca (di masa lalu) menggunakan pendekatan cost histories (historical cost approach). Dengan kata lain, di masa lalu, nilai yang dicantumkan dalam Neraca adalah nilai aset dan liabilitas pada saat transaksi terjadi, sedangkan pelaporan baru dilakukan di akhir tahun. Nah, selama kurun waktu antara transaksi dan pelaporan, jika terjadi kenaikan atau penurunan nilai pasar, TIDAK diperhitungkan. Terutama aset tidak lancar, termasuk Goodwil dan aset tak berwujud lainnya. Misalnya: Di tahun tahun 2010, PT. JAK membeli bangunan tempat usaha seharga Rp 2 milyar, lalu disusutkan selama 15 tahun dengan menggunakan metode garis lurus, tanpa nilai sisa (no residual value). Di Neraca PT. JAK per 2012, maka nilai buku bangunan tersebut menjadi (perhitungan saya sederhanakan): = Nilai Perolehan – Akumulasi penyusutan = Rp 2 milyar – [2 x (Rp 2 milyar/15) = Rp 2 milyar – [2 x Rp 133,333,333) = Rp 2 milyar – 266,666,667 = Rp 1,733.333,333 Nilai Rp 1,733.333,333 itulah yang terlihat di Neraca sebagai nilai aset bangunan, meskipun pada kenyataannya harga bangunan naik (Note: ada kecenderungan harga bangunan selalu naik). Itu artinya, nilai aset bangunan yg di Neraca lebih rendah dari kenyataannya. Sebaliknya, aset mesin, peralatan dan kendaraan, pada kenyataannya cenderung menurun lebih cepat jika dibandingkan dengan penyusutan yang dibebankan tiap periodenya— sehingga nilai aset jenis ini, pada Neraca cenderung lebih besar dibandingkan kenyataannya (bila dijual misalnya). Kenyataan-kenyataan itu membuat investor (baik yang sudah berstatus pemegang saham maupun calon pembeli saham) merasa bahwa: [quote]Neraca (di masa lalu) belum menyajikan posisi keuangan (nilai aset, liabilitas dan ekuitas pemilik) yang sesuai dengan kondisi sebenarnya.[/quote]

dibuatkan jurnal koteksi “Laba revaluasi’.Regulator (IASB untuk IFRS dan FASB untuk GAAP) merespon keluhan tersebut dengan membuat perombakan standar akuntansi yang nantinya bisa membuat Neraca mampu menyajikan laporan posisi keuangan yang lebih representative. masih banyak wilayah lain (selain aset tak lancar) yang belum mewakili nilai yang sebenarnya. adalah: penentuan nilai aset—terutama aset tak lancar (aktiva tetap) termasuk goodwill dan aset tak berwujud lainnya. Oke ada banyak metode penentuan nilai persediaan yang diijinkan (kecuali LIFO). IFRS mencoba untuk membuat semua elemen aset dan liabilitas menggunakan nilai wajar (fair value). Tetapi pada prakteknya. IASB mengeluarkan IFRS (yang sekarang telah diimplementasikan sepenuhnya dalam PSAK yang baru). Pertanyaan selanjutnya: Sampai kapan kelemahan Neraca (Laporan Posisi Keuangan) ini bisa diperbaiki? Entahlah. Hasil revaluasi bisa jadi lebih kecil atau lebih besar jika dibandingkan dengan nilai buku di Neraca: • • Jika hasil revaluasi (nilai terpulihkan/recoverable amount) lebih kecil dari nilai buku (carrying amount). khususnya untuk instrument-instrumen investasi dan derivative bank. sedang. Note: Khusus Goodwill. sampai saat ini belum bisa diperbaiki sepenuhnya. Dengan penggunaan nilai wajar (fair value).” Jika sebaliknya. menggunakan impairment (penurunan nilai) sebagai pendekatan untuk menentukan nilai wajar. Kecuali untuk barang kembali—entah itu karena cacat (ringan. masih menjadi pro-dan-kontra. kini IFRS telah menggunakan “nilai wajar” (Fair value) (nilai wajar) sebagai acuan. yang sedikit-banyaknya bisa membuat nilai inflasi tercover. oleh IFRS. sehubungan dengan hal ini. Jika dahulu menggunakan “nilai perolehan” (historical cost) (seperti kasus aset bangunan di atas). Perubahan standar akuntansi yang paling mencolok. Bersama dengan perlakuanperlakuan akuntansi yg lain (selain aset dan liabilitas). Misalnya: Nilai persediaan. Kita lanjut ke Penyajian “Laporan Posisi Keuangan”… . Sehingga meskipun sudah ditetapkan. HANYA SAJA. diharapkan nilai aset tak lancar perusahaan yang tersaji di Neraca menjadi lebih representative. berat) atau karena tak laku dijual. kalangan bank masih enggan mengikuti standar yang baru (IFRS). Semoga saja suatu saat nanti ditemukan pendekatan yang lebih pas (dan bisa diterima oleh semua pihak). diwujudkan dengan cara: mewajibkan perusahaan (terutama yang berstatus publik) untuk melakukan revaluasi berkala terhadap aset tak lancar mereka. Pada dasarnya. maka dibuatkan jurnal koreksi “rugi revaluasi. Penerapan nilai wajar (fair value). melalui IAS 17 telah ditentukan agar barang yang kembali direvaluasi. Tetapi sampai saat ini belum boleh mengakui nilai persediaan sesuai dengan harga pasar—tetap menggunakan historical cost (cost yang timbul saat barang dibuat).

dan setiap perubahan informasi dari akhir periode laporan sebelumnya. Dalam sebuah Laporan Keuangan (dan Penjelelasan Rinci-nya). (h) dan (i)). Properti investasi. Tanggal akhir periode pelaporan atau periode yang dicakup oleh laporan keuangan atau catatan atas laporan keuangan. perusahaan diminta untuk menyajikan informasi ini secara jelas (paragraph 49): • • • • • Nama entitas pembuat laporan keuangan atau identitas lain. Apakah merupakan laporan keuangan satu entitas atau suatu kelompok entitas. Apa saja ketentuan-ketentuan dasar penyajian Laporan Posisi Keuangan sesuai PSAK baru? Berikut adalah kutipan beberapa bagian PSAK 1 yang penting-penting saja (untuk detailnya silahkan baca PSAK). Aset tidak berwujud. Bukan hanya di PSAK atau IFRS yang berlaku di Indonesia.Penyajian Laporan Posisi Keuangan Sesuai PSAK Baru (Konvergen IFRS) Seperti sudah saya singgung di awal tulisan. Mata uang pelaporan sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 52. dan Pembulatan yang digunakan dalam penyajian jumlah dalam laporan keuangan Mengenai pos-pos (akun-akun) yang disajikan dalam Laporan Posisi Keuangan (Neraca). paragraph 52 menyebutkan agar “minimal mencakup penyajian jumlah pos-pos berikut” (jika ada): • • • • • • • • Aset tetap. Aset keuangan (tidak termasuk jumlah yang disajikan pada (e). . sepanjang ketentuan-ketentuan dasar tersebut dipatuhi. tidak ada ketentuan pasti mengenai “Format Laporan Posisi Keuangan (Neraca)” di dalam standar Akuntansi manapun. diserahkan ke perusahaan. Yang ada adalah beberapa ketentuan dasar—yang (mungkin) diharapkan bisa menjamin isi Neraca menjadi tidak bias atau menyesatkan pembacanya. Investasi dengan menggunakan metode ekuitas. Persediaan. logis dan mudah dipahami. Piutang dagang dan piutang lainnya. Sedangkan format pastinya. di US-GAAP yang direformasipun tidak ada. Aset biolojik.

Entitas mengharapkan akan merealisasi aset dalam jangka waktu 12 bulan setelah periode pelaporan. Utang dagang dan terutang lainnya. Liabilitas keuangan (tidak termasuk jumlah yang disajikan dalam (k) dan (l)). dalam siklus operasi normal. sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 46. Liabilitas dan aset untuk pajak kini sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 46. Entitas memiliki aset untuk tujuan diperdagangkan. judul dan subtotal dalam laporan posisi keuangan BOLEH DISAJIKAN. jika penyajian tersebut relevan untuk pemahaman posisi keuangan perusahaan. Kewajiban diestimasi. Liabilitas dan aset pajak tangguhan.• • Kas dan setara kas. PSAK 1 paragraph 64 dan 67 memberikan panduan khusus sebagai berikut: 1. Total aset yang diklasifikasikan sebagai aset yang dimiliki untuk dijual dan aset yang termasuk dalam kelompok lepasan yang diklasifikasikan sebagai yang dimiliki untuk dijual sesuai dengan PSAK 58. akan tetapi “Pajak Tangguhan” TIDAK BOLEH diklasifikasikan sebagai “aset lancar” atau “liabilitas jangka pendek”. Aset Lancar dan Tak Lancar – Perusahaan mengklasifikasikan aset sebagai aset lancar. Lebih jauh mengenai “Aset Lancar dan Tak lancar” dan “Liabilitas Jangka Pendek dan Jangka Panjang”. atau Kas atau setara kas (seperti yang dinyatakan dalam PSAK 2: Laporan Arus Kas) kecuali aset tersebut dibatasi pertukarannya atau penggunaannya untuk menyelesaikan laibilitas sekurang-kurangnya 12 bulan setelah periode pelaporan. Pengklasifikasian “aset lancar dan tidak lancar” dan “liabilitas jangka pendek dan jangka panjang” juga DIBOLEHKAN. atau bermaksud untuk menjual atau menggunakannya. • • • • • • • • Pos-pos tambahan. jika: • • • • Entitas mengharapkan akan merealisasikan aset. dan Modal saham dan cadangan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk. disajikan sebagai bagian dari ekuitas. Kepentingan non-pengendali. Liabilitas yang termasuk dalam kelompok yang dilepaskan yang diklasifikasikan sebagai yang dimiliki untuk dijual sesuai dengan PSAK 58. Liabilitas Jangka Pendek dan Jangka Panjang – Suatu liabilitas diklasifikasikan sebagai laibilitas jangka pendek jika: . Note: Aset yang TIDAK masuk kategori di atas diklasifikasikan sebagai “Aset Tidak Lancar” 2.

Bentuk yang menyerupai Ledger (Buku Besar): Kelompok “Aset” diletakan di bagian atas laporan. untul lebih jelasnya silahkan baca PSAK 1. sehingga pembaca laporan posisi keungan bisa melihat bahwa: aset = liabilitas + ekuitas pemegang saham. Liabilitas tersebut jatuh tempo untuk diselesaikan dalam jangka waktu 12 bulan setelah periode pelaporan. saya hanya menggunakan bentuk yang kedua. sementara kelompok “Liabilitas dan Ekuitas Pemegang Saham” di sisi kanan laporan. Ini adalah contoh format Laporan Posisi Keuangan (Neraca) yang ringkas: . yaitu: • • Bentuk yang menyerupai T-Account: Kelompok “Aset” diletakkan di sisi kiri. Adapun format yang selama ini lumrah dipakai. Dalam contoh berikut ini. kebiasaan yang lama-lama menjadi semacam kesepakatan tak tertulis antara para pembuat dan pengguna laporan keuangan. adalah tradisi. baik oleh perusahaan yang sudah berstatus publik maupun yang belum.• • • • Entitas mengharapkan akan menyelesaikan liabilitas tersebut dalam siklus operasi normalnya. dalam dua versi: ringkas dan detail. Contoh Format “Laporan Posisi Keuangan” alias “Neraca” Bisa dikatakan bahwa. diikuti oleh kelompok “Liabilitas dan Ekuitas Pemegang Saham” di bawahnya. Penyajian yang paling lumrah digunakan adalah format bersaldo seimbang (seperti yang saya gunakan dalam contoh dibawah). liabilitas dan ekuitas pemegang saham) disertai jumlah saldo saat pelaporan. ada 2 macam yang lumrah digunakan. Dalam format ini. di tempatkan di satu halaman. Entitas memiliki liabilitas tersebut untuk tujuan diperdagangkan. tidak ada format Laporan Posisi Keuangan (Neraca) standar yang dikeluarkan oleh badan pengatur standar akuntansi manapaun. Wujud atau bentuk Laporan Posisi Keuangan (Neraca) itu sendiri. masing-masing elemen (aset. Itu saja point-point yang yang penting. atau Entitas tidak memiliki hak tanpa syarat untuk menunda penyelesaian liabilitas selama sekurangkurangnya 12 bulan setelah periode pelaporan. Sekalilagi. Note: Liabilitas yang TIDAK masuk kategori di atas diklasifikasikan sebagai “Liabilitas Jangka Panjang”.

ini adalah contoh format Laporan Posisi Keuangan (Neraca) yang agak detail: .Dan.

dan selamat beraktivitas untuk yang tidak libur. penjelasan dari masing-masing akun dalam format Laporan Posisi Keuangan (Neraca) ini akan saya bahas di tulisan berikutnya.Karena keterbatasan ruang.dpuf Perencanaan Audit dan Prosedur Analitis 11.See more at: http://jurnalakuntansikeuangan.oOcFokQx. Agus Sudrajat .05 M. . Untuk sementara saya ucapkan selamat berlibur bagi yang libur.com/2012/05/contoh-format-laporan-posisikeuangan-neraca/#sthash.

Mengevaluasi Kebutuhan terhadap Spesialis dari Luar .Inherent Risk/IR (risiko inheren/risiko bawaan): ukuran penilaian auditor atas kemungkinan adanya kesalahan penyajian yang material atas account sebelum mempertimbangkan efektivitas pengendalian intern . Memahami Bisnis dan Industri Klien III.PERENCANAAN AUDIT Standar Pekerjaan Lapangan dalam Standar Auditing mengharuskan bahwa audit harus direncanakan dengan sebaik-baiknya .Acceptable audit risk/AAR (risiko akseptibilitas audit): ukuran untuk menilai seberapa besar kesediaan auditor untuk menerima bahwa laporan keuangan mungkin saja disajikan dengan kesalahan penyajian yang material setelah proses audit dilaksanakan dan pendapat wajar tanpa pengecualian dinyatakan . Menerima Klien dan Melakukan Perencanaan Audit Awal A. (3) menghindari kesalahpahaman dengan klien . Indentifikasi Alasan Klien Meminta Penugasan Audit C.Tiga alasan utama auditor merencanakan audit dengan baik: (1) memperoleh bukti kompeten yang memadai. Client Acceptance and Continuance B.Penilaian terhadap AAR dan IR merupakan bagian penting dari perencanaan karena penilaian tersebut mempengaruhi jumlah bukti audit yang harus dikumpulkan dan penugasan staf yang lebih berpengalaman dan pelaksanaan audit Presentation Outline Perencanaan Audit I. Memilih Staf untuk Melaksanakan Penugasan E.Melakukan Prosedur Analitik Awal I. Menerima Klien dan Melakukan Perencaan Audit Awal II. Membuat Kesepahaman dengan Klien D.Menilai Risiko Bisnis Klien IV. (2) membantu menjaga biaya audit dikeluarkan dalam jumlah wajar.

Contoh: kompetitor. Alasan utama untuk Memahami Industri dan Lingkungan Eksternal B. Rasio Profitabilitas (Profitability Ratios) Standar Pekerjaa Lapangan menharuskan Akuntan Publik untuk merencanakan audit sebaik mungkin. Melakukan Prosedur Analitik Awal A. kondisi industri. Understand the Clent’s Business and Industry (memahami karakteristik bisnis dan industri klien) 3. Oleh sebab itu tahap perencanaan audit merupakan tahap yang mau tidak mau harus mendapat perhatian yang serius dari auditor. Kemampuan Membayar Hutang Jangka Panjang (Meet Long-term Debt Obligation) E. Assess Client Business Risk (Menilai Risiko Bisnis Klien) 4.II. Operasi dan Bisnis Proses C. Tujuan dan Strategi Klien E. Hal ini tentu tidak dapat dipungkiri karena . Perform Preliminary Analytical Procedures (Melakukan Prosedur Analitik Awal) A. Accept client and perform initial audit planning (menerima klien dan melakukan perencanaan audit awal) 2. Risiko ini dapat timbul dari berbagai faktor yang mempengaruhi klien dan lingkungannnya. sehingga auditor harus memperhatikan nilai persediaan ini agar tidak disajikan secara tidak wajar dalam LK IV. Tetapi penurunan kondisi ekonomi mengakibatkan penurunan penjualan yang signifikan. Definisi Prosedur Analitik B. Manajemen dan Governance D. Menilai Risiko Bisnis Klien Risiko bisnis klien adalah risiko dimana klien gagal dalam mencapai tujuan bisnisnya. Pengukuran dan Kinerja III. Memahami Bisnis dan Industri Klien A. teknologi baru. Perusahaan IT biasanya memiliki siklus yang pendek. Tahap awal dari perencanaan audit (audit planning) terdiri dari 4 hal . Kemampuan Membayar Hutang Jangka Pendek (Short-term Debt) C. dan regulatory environment Perhatian utama terletak pada kemungkinan salah saji material dalam LK klien Contoh: sebuah perusahaan supplier peralatan IT memiliki persediaan peralatan komputer dalam jumlah besar karena memprediksi tingkat penjualan yang akan meningkat pesat. Rasio Likuiditas (Liquidity Activity Ratios) D. AUDIT PLAN (PERENCANAAN PEMERIKSAAN) Standar pelaksanaan pekerjaan lapangan mengharuskan perencanaan yang sebaik-baiknya dalam setiap penugasan audit. yaitu: 1.

laporan khusus untuk menggambarkan kepatuhan klien terhadap kontrak/perjanjian Langkah-langkah yang dilakukan dalam perencanaan audit : Menghimpun pemahaman bisnis klien dan industri klien. sesuai dengan pertimbangan professional Menetapkan pertimbangan awal mengenai tingkat matealitas Untuk audit plan. Pengertian dan Tujuan Audit Plan Audit Plan adalah pengembangan strategi menyeluruh pelaksanaan dan lingkup audit yang diharapkan disusun segera setelah MANAGEMENT LETTER (surat perikatan) disetujui klien. baik secara individual mapun secara keseluruhan. yang secara kuantitatif berdampak material terhadap laporan keuangan. Penghimpunan pemahaman bisnis dan industri klien dilakukan dengan tujuan untuk mendukung perencanaan audit yang dilakukan auditor. Tujuan Audit Plan adalah untukmencapai keyakinan yang memadai guna mendeteksi salah saji yang diyakini jumlahnya besar.” 1. termasuk penggunaan organisasi jasa dari luar untuk mengolah informasi akuntansi pokok perusahaan Penetapan tingkat resiko pengendalian yang direncanakan Pertimbangan awal tingkat materialitas untuk tujuan audit Pos laporan keuangan yang memerlukan penyesuaian (adjustment) Kondisi yang mungkin memerlukn perluasan atau pengubahan pengujian audit. dengan syarat memperhatikan pengaruh perubahan besar dalam perusahaan klien dan perubahan lain yang relevan dalam perekonomian secara keseluruhan Dalam perencanaan audit. namun perlu dimodifikasi Untuk kedua keadaan tersebut didasarkan atas laporan keuangan intern klien yang disetahunkan atau laporan keuangan tahunan satu / lebih periode sebelumnya. . seperti risiko kekeliuran dan ketidakberesanyang material atau adanya transaksi antar pihak yang mempunyai hubungan istimewa Sifat laporan audit yang diharapkan akan diserahkan kepada pemberi tugas sebagai contoh: laporan audit tentang laporan keuangan konsolidasi. Dalam merencanakan audit : Risiko audit dapat dibatasi pada tingkat yang rendah. auditor dapat mempertimbangkan materialitas : Sebelum laporan keuangan yang akan diaudit selesai dususun Setelah laporan keuangan yang akan diaudit selesai diaudit. auditor harus mempertimbangkan antara lain : Pahami bisnis dan industri klien Kebijakan dan prosedur akuntansi klien Metode pengolahan informasi akuntansi yang digunakan klien. Standar pekerjaan lapangan pertama berbunyi sebagai berikut : “Pekerjaan harus direncanakan dengan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi dengan semestinya.pekerjaan apapun tentu akan lebih baik bila terencana dengan baik.

Melakuka penilaian awal terhadap materialitas Materialitas merupakan suatu konsep yang sangat penting dalam audit laporan keuangan karena materialitas mendasari penerapan standar auditing. yaitu ♣ Risiko bawaan Risiko bawaab adlak kerentanan atau mudah tidaknya suatu akun mengalami salah saji material dengan asumsi tidak ada kebijakan dan prodedur struktur pengendalain intern yang tekait. penentuan waktu. Prosedur analitis dilakukan dalam tiga tahap audit yaitu tahap perencanan. ♣ jenis dan karakteristik ondustri. ♣ Eksistensi ada tidaknya pihak terkait yang mempunyai hubungan erat dengan klien misalnya sama-sama anak perusahaan dari suatu holding company. Keberadaan aktiva tetap lebih mudah dibuktikan daripada keberadaan piutang dagang. prosedur analitis berguna sebagai alat untuk penelaahan akhir tentang rasionalitas laporan keuangan auditan.prosedur analitis dilakukan sebagai salah satu pengujian substansif untuk menghimpun bahan bukti tentang asersi tettentu yang terkait dengan saldo rekening. Kebijakan dan praktik industri sangat berdampak kepada kelangsungan usaha klien. khususnya pengerjaan lapangan. Hal ini menentukan sensitivitas bisnis klien terhadap perubahan kondisi ekonomi. Dalam tahap pengerjaan lapangan. prosedur analitis merupakan prosedur audit yang optimal. . dan stndar pelaporan. dan tahap penyimpulan hasil audit. tahap pengujian atau tahap pengerjaan lapangan. dan luas prosedur audit. ♣ Regulasi pemerintah yang mempengaruhi bisnis dan industri klien ♣ Karekteristik laporan yang harus diberikan kepada badan regulasi.materialitas adalah besarnya kelalaian atau pernyataan yang salah pada informasi akuntansi yang dapat menimbulkan kesalahan dalam pengambilan keputusan. Melakukan prosedur analitis Prosedur analitis adalh pengevaluasian informasi keuangan yang dibuat dengan mempelajari hubungan-hubungan yang masuk akal antara data keuangan dan data non keuangan.Hal-hal yang berkaitan dengan bisnis dan industri klien yang perlu dipahami auditor adalah ♣ jenis bisnis dan produk klien ♣ lokasi dan karekteristik operasi klien seperti metode produksi dan pemasaran . Contoh : asersi keberadaan atau keterjadian akun piutang dagang mempunyai risiko bawaan yang lebih tinggi daripada aktiva tetap. Dalan tahap perencanaan. prosedur analitis berguna untuk membantu auditor merencanakan sifat. Risiko audit adlah risiko tidak diketahuinya kesalahan yang dapat mengubah pendapat auditor atas suatu laporan keuangan yang diaudit: Risiko audit terdiri dari atas tiga komponen. Menilai risiko audit Audit harus mempertimbangkan risiko audit dalam melakukan perencanaan audit. Dalam tahap pengambilan kesimpulan hsil audit.

Risiko deteksi dapat ditekan atau diturunkan auditor dengan cara melakukan perencaaan yang memadai. buku teks. majalah dan perorangan yang memiliki pengetahuan industri klien Pengetahuan bisnis klien membantu auditor mengidentifikasikan bidang yang memerlukan pertimbangan khusus. . dan jenis usaha klien. struktur permodalan. auditor tetap melakukan pengujian substantive meskipun tidak seekstensufb pada primarily substantive approach Menghimpun pemhaman sruktur pengendalian intern klien Standar pengerjaan lapangan kedua menyatakan bahwa pemahaman yang memadai atas struktur pengendalian intern harus diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat. struktur organisasi dan karekteristik opersi serta transaksi yang memerlukan pertimbangan khusus). metode produksi. kertas kerja audit dari tahun sebelumnya (yang berisi informasi mengenai sifat bisnis. pengajuan pertanyaan kepada pengawai perusahaan klien.♣ Risiko pengendalian Risiko pengendalian adalh risiko bahwa suatu salah saji material yang dapat terjadi dalam suatu asersi yang tidak dapat didetksi ataupun dicegah secara tepat pada waktunya oleh berbagai kebijakan dan prosedur struktur pengendalian intern satuan usaha. Strategi audi. distribisi dan lain-lain. yaitu : ♣ Primarily substantive approach Pada strategi ini auditor lebih mengutamakan pengujian substantive daripada pengujian pengendalian. saat dan lingkup pengujian yang akan dilakukan. auditor harus memahami bisnis klien dengan sebik-baiknya. termasuk sifat. Untuk memperoleh pengetahuan tentang bisnis kliem melalui pengalaman dengan klien dan industrinya. Mengembangkan strategi audit pendahuluan untuk asersi yang signifikan Tujuan auditor dalam perencanaan dan pelaksanaan audit adalah untuk menurunkan risiko audit pada tingkat serendah mungkin untuk mendukung pendapat auditor mengenai kewajaran laporan keuangan. diolah. serta penerapan standar pengendalian mutu. struktur organisasinya. direview dan dikumpulkan dalam organisasi. publikasi yang diperlukan industri lapoaran keuangan. Semakin efektif struktur pengendalian intern maka senakin kecil risiko pengendalian . ♣ Risiko deteksi Risiko deteksi merupakan risiko bahwa auditor tidak dapat mendeteksi salah saji matrial yang terdapat dalam suatu asersi. pemasaran. ♣ Lower assessed level of control risk approach Pada strategi ini. Agar dapat membuat perencanaan audit dengan sebaik-baiknya. auditor lebih mengutamakan pengujian pengendalian dripada pengujian substantive. menila kondisi yang didalamnya data akuntansi yang dihasilkan. Hal ini bukan berarti auditor sama sekali tidak melakukan pengujiam substanti. dan supervisis atau pengawasan yang tepat.

buku memorial . buku kas/bank. ekonomi keuangan Indonesia) Rencana kerja auditor: a.menilai kewajaran estimasi. revaluasifixed asset. no. Luasnya supervise yang memadai bagi suatu keadaan tergantung atas banyak factor. memahami tanggung jawabnya dan tujuan prosedur audit mengetahui hal yang kemungkinan berpengaruh terhadap sifat. auditing dan tax problem . penasihat hukum Accounting. Staffing b. Supervisi mencakup pengarahan usaha asisten yang terkait dalam pencapaian tujuan audit dan menentukan apakah tujuan tersebut tercapai. luas dan saat prosedur yang harus dilaksanakan seperti sifat bisnis satuan usaha yang bersangkutan dengan penugasan dan masalh-masalh akuntansi dan audit 2.Buku yang digunakan : buku penjualan. penyisihan piutang ragu-ragu dan lain-lain. depresi. computer. Hal-hal yang mempengaruhi klien .Tax problem : masalah restitusi. Waktu pemeriksaan c. tetap menjaga penyampaian informasi masalah-masalah yang penting yang dijumpai dalam audit. Client contact : presiden direktur. kekurangan penyetoran. Jenis jasa yang diberikan Hal-hal Tambahan . alamt. laba/rugi tahun lalu dan sekarang. perubahan metode atau tariff penyusutan .Meode pembukuan : manual. mesin pembukuan Neraca komparatif dan perbandingan penjualan.yang mereka laksanakan. Status hukum perusahaan (berdasarkan akte pendirian) Kebijakan akuntansi . termasuk kompleksitas masalah dan kualifikasi orang yang melaksanakan audit. telepon.Auditing problem : hasil konfirmasi tahun lalu tidak memuaskan. serta penilaian atas persediaan.Majalah ekonomi/surat kabar (bissiness news. Isi Audit Plan Isi dari audit plan mencakup : ¬ Hal-hal mengenai klien Bidang usaha klien. buku pembelian. fax. dan menyelesaikan perbedaan pendapat diantara staf audit kantor akuntan. perubahan accounting policy . luas dan saat prosedur tersebut dilaksanakan (sifat bisnis klien. mereview pekerjaan dilaksanakan. Unsur supervisi adalah memberikan instruksi kepada asisten. controller. Mereka harus diberitahu halhal yang kemungkinan berpengaruh terhadap sifat. adanya dua pembukuan dan perusahaan. masalah akuntansi dan audit) Para asisten harus diberitahu tanggung jawab mereka dan tujuan prosedur audit yang mereka laksanakan.Accounting problem : perubahan metode pencatatan dan manual kekomputer.

pengawasan dan pengendalian pemeriksaan. Dibuat oleh b. penilaian atau alokasi serta panyjian dan pengungkapan dapat dipercaya. Time schedule Pada akhir Audit Plan. Approved oleh: B. Review oleh: c. mencantumkan: a. hak dan kewajiban. Sebagai dasar penilaian kerja yang dilakukan klien Disusun setelah Audit Plan ( tetapi sebelum pemeriksaan lapangan dimulai ) Disusun secara stndarisasi untuk semua klien Disusun sesuai dengan kondisi dan situasi klien Audit Program yamg baik mencamtumkan : Tujuan pemeriksaan (audit objective) Prosedur audit yang akan dijalankan Kesimpulan pemeriksaan Prosedur audit program : Prosedur audit program untuk compliance test Prosedur audit program untuk substantive test Prosedur audit program untuk keduanya SA Seksi 329 PROSEDUR ANALITIK Sumber: PSA No. Manfaat Audit Program Manfaat audit program yaitu: Sebagai petunjuk kerja yang harus dilakukan asisten dan instruksi bagaimana harus menyelesaikan Sebagai dasar untuk koordinasi. AUDIT PROGRAM 1.a. Bantuan yang dapat diberikan klien b. 02 Prosedur analitik merupakan bagian penting dalam proses audit dan terdiri . Pengertian dan Tujuan Audit Program Audit program merupakan kumpulan prosedur audit (dibuat tertulis ) yang rinci dan dijalankan untuk mencapai tujuan audit ( akan lebih baik jika audit program dibuat terpisah untuk compliance test dan substantive test. wajar dan tidak menyesatkan terhadap pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan tersebut 2. Tujuan audit program :untuk mengetahui apakah penyajian laporan keuangan oleh manajemen dari sisieksistensi atau keterjadian. 22 PENDAHULUAN 01 Seksi ini memberikan panduan bagi auditor dalam menggunakan prosedur analitik dan mengharuskan penggunaan prosedur analitik dalam tahap perencanaan dan tahap review menyeluruh semua audit. kelengkapan.

Asumsi dasar penerapan prosedur analitik adalah bahwa hubungan yang masuk akal di antara data dapat diharapkan tetap ada dan berlanjut.dari evaluasi terhadap informasi keuangan yang dibuat dengan mempelajari hubungan yang masuk akal antara data keuangan yang satu dengan data keuangan lainnya. Kondisi tertentu yang dapat menimbulkan penyimpangan dalam hubungan ini mencakup antara lain. fluktuasi acak. Sebagai tambahan. identifikasi hubungan dan jenis data yang digunakan. perubahan akuntansi. 03 Pemahaman hubungan keuangan adalah penting dalam merencanakan dan mengevaluasi hasil prosedur analitik. Sebagai pengujian substantif untuk memperoleh bukti tentang asersi tertentu yang berhubungan dengan saldo akun atau jenis transaksi. dan lingkup prosedur audit lainnya. b. Prosedur analitik harus diterapkan untuk tujuan yang disebutkan pada butir a dan c di atas untuk semua audit laporan keuangan yang dilakukan berdasarkan standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia. Membantu auditor dalam merencanakan sifat. 04 Prosedur analitik digunakan dengan tujuan sebagai berikut: a. kecuali jika timbul kondisi yang sebaliknya. dalam beberapa hal. Pemahaman atas tujuan prosedur analitik dan keterbatasannya juga penting. serta kesimpulan yang diambil apabila membandingkan jumlah yang tercatat dengan yang diharapkan. c. peristiwa atau transaksi yang tidak biasa. atau antara data keuangan dengan data nonkeuangan. prosedur analitik lebih efektif atau efisien daripada pengujian rinci untuk mencapai tujuan pengujian substantif. Oleh karena itu. atau salah saji. . membutuhkan pertimbangan auditor. Sebagai review menyeluruh informasi keuangan pada tahap review akhir audit. dan secara umum juga menuntut dimilikinya pengetahuan tentang klien dan industri yang menjadi tempat usaha klien. perubahan usaha. Prosedur analitik mencakup perbandingan yang paling sederhana hingga model yang rumit yang mengaitkan berbagai hubungan dan unsur data. saat.

ratio serta trend yang dapat menunjukkan masalah yang berhubungan dengan laporan keuangan dan perencanaan audit. misalnya informasi laba bruto. dan saat audit. PROSEDUR ANALITIK DALAM PERENCANAAN AUDIT 06 Tujuan prosedur analitik dalam perencanaan audit adalah untuk membantu dalam perencanaan sifat. misalnya anggaran atau prakiraan termasuk ekstrapolasi dari data interim atau tahunan. b. d. Lebih lanjut kecanggihan. lingkup. Informasi keuangan periode sebelumnya yang dapat diperbandingkan dengan memperhatikan perubahan yang diketahui. Meningkatkan pemahaman auditor atas bisnis klien dan transaksi atau peristiwa yang terjadi sejak tanggal audit terakhir dan.05 Prosedur analitik meliputi perbandingan jumlah-jumlah yang tercatat atau ratio yang dihitung dari jumlah-jumlah yang tercatat. saat. Untuk maksud ini. yang didasarkan atas pertimbangan auditor dapat berbeda tergantung atas ukuran dan kerumitan klien. dibandingkan dengan harapan yang dikembangkan oleh auditor. tujuan prosedur ini adalah untuk mengidentifikasikan hal seperti adanya transaksi dan peristiwa yang tidak biasa. b. Mengidentifikasi bidang yang kemungkinan mencerminkan risiko tertentu yang bersangkutan dengan audit. Hubungan antara unsur-unsur informasi keuangan dalam satu periode. Untuk beberapa entitas. Jadi. 07 Prosedur analitik yang diterapkan dalam perencanaan audit umumnya menggunakan data gabungan yang digunakan untuk pengambilan keputusan di tingkat atas. Auditor mengembangkan harapan tersebut dengan mengidentifikasi dan menggunakan hubungan yang masuk akal. Hasil yang diantisipasikan. Informasi industri bidang usaha Mien. c. prosedur analitik dapat terdiri dari review atas perubahan saldo akun tahun . Berikut ini adalah contoh sumber informasi yang digunakan dalam mengembangkan harapan: a. dan lingkup prosedur audit yang akan digunakan untuk memperoleh bukti saldo akun atau golongan transaksi tertentu. Hubungan informasi keuangan dengan informasi nonkeuangan yang relevan. yang secara pantas diharapkan terjadi berdasarkan pemahaman auditor mengenai klien dan industrinya. dan jumlah. prosedur analitik perencanaan audit harus ditujukan untuk: a. e.

jika ada. Ketersediaan dan keandalan data yang digunakan untuk mengembangkan harapan.sebelumnya dengan tahun berjalan. antara lain prosedur yang mana. dari prosedur analitik. dengan menggunakan buku besar atau daftar saldo (trial balance) tahap awal yang belum disesuaikan. menjadi dasar dalam menentukan permintaan keterangan tambahan dan perencanaan yang efektif. PROSEDUR ANALITIK YANG DIGUNAKAN SEBAGAI PENGUJIAN SUBSTANTIF 09 Kepercayaan auditor terhadap pengujian substantif untuk mencapai tujuan audit yang berhubungan dengan suatu asersi1 dapat berasal dari pengujian rinci. yang dapat memberikan tingkat keyakinan tersebut. 08 Walaupun prosedur analitik yang diterapkan dalam perencanaan audit seringkali hanya menggunakan data keuangan. Pada kedua keadaan tersebut. Ketepatan harapan. atau dari kombinasi keduanya. yang diinginkannya dari pengujian substantif untuk suatu tujuan audit dan memutuskan. Misalnya jumlah karyawan. . Untuk asersi tertentu. jumlah barang yang diproduksi dan informasi serupa lainnya mungkin membantu dalam mencapai tujuan prosedur. b. luas ruang penjualan. Keputusan mengenai prosedur yang digunakan untuk mencapai tujuan audit tertentu didasarkan pada pertimbangan auditor terhadap efektivitas dan efisiensi yang diharapkan dari prosedur audit yang ada. untuk entitas yang lain.prosedur analitik mungkin meliputi analisis lapotan keuangan triwulan yang ekstensif. Kelayakan dan kemampuan untuk memprediksikan suatu hubungan. atau kombinasi prosedur mana. pada asersi lain. c. prosedur analitik mungkin tidak seefektif atau seefisien pengujian rinci dalam memberikan tingkat keyakinan yang diinginkan. prosedur analitik yang dikombinasikan dengan pengetahuan auditor tentang bisnis. tetapi kadangkala informasi nonkeuangan yang relevan juga dipertimbangkan. Namun. antara lain: a. 10 Auditor mempertimbangkan tingkat keyakinan. prosedur analitik cukup efektif dalam memberikan tingkat keyakinan memadai. 11 Efektivitas dan efisiensi yang diharapkan dari suatu prosedur analitik dalam mengidentifikasikan kemungkinan salah saji tergantung atas. d. Sebaliknya. Sifat asersi.

penjualan yang ditaksir bagi jenis usaha tertentu mungkin dapat dikembangkan dari . KELAYAKAN DAN KEMAMPUAN UNTUK MEMPREDIKSIKAN SUATU HUBUNGAN 13 Penting bagi auditor untuk memahami alasan yang membuat hubungan menjadi masuk akal sebab data kadang-kadang seperti berkaitan padahal kenyataannya tidak demikian. 14 Karena tingkat keyakinan yang lebih tinggi diharapkan dari prosedur analitik dibutuhkan lebih banyak hubungan untuk mengembangkan harapan. karena akun laba-rugi mencerminkan transaksi selama satu periode waktu. sementara akun neraca mencerminkan saldo pada satu titik waktu.SIFAT ASERSI 12 Prosedur analitik mungkin merupakan pengujian efektif dan efisien atas asersi yang kemungkinan salah sajinya tidak akan tampak dari pemeriksaan bukti rinci atau bila bukti yang rinci tidak langsung tersedia. sehingga dapat mengarahkan auditor ke pengambilan kesimpulan yang salah. Hubungan yang melibatkan akun laba-rugi cenderung lebih dapat diduga dari pada hubungan yang melibatkan hanya akun neraca. manajemen mungkin memilih untuk mengeluarkan biaya pemeliharaan dari pada mengganti aktiva tetap atau mereka mungkin menunda suatu pengeluaran klien. untuk menguji asersi kelengkapan. Sebagai contoh. Sebagai contoh. KETERSEDIAAN DAN KEANDALAN DATA 15 Data mungkin atau tidak mungkin langsung tersedia untuk mengembangkan taksiran bagi beberapa asersi. perbandingan dari kumpulan gaji yang dibayar dengan jumlah karyawan mungkin menunjukkan pembayaran yang tidak sah yang mungkin tidak tampak dari pengujian transaksi individual. Sebagai contoh. adanya satu hubungan yang tidak diharapkan dapat memberikan bukti yang penting jika diteliti secara memadai. Perbedaan dari hubungan yang diharapkan dapat juga menunjukkan kemungkinan penghilangan dari catatan akuntansi bilamana bukti transaksi individual dari pihak yang independen yang seharusnya dibukukan tidak langsung tersedia. Di samping itu. Hubungan dalam satu lingkungan yang stabil biasanya lebih dapat diduga daripada hubungan dalam satu lingkungan yang dinamis atau tidak stabil. Hubungan yang menyangkut transaksi yang tergantung pada keputusan manajemen kadang-kadang kurang dapat diduga.

Ketepatan harapan tergantung pada. data yang relevan untuk asersi kelengkapan penjualan mungkin tidak langsung tersedia dan mungkin akan lebih efektif clan efisien untuk menggunakan catatan pengiriman yang rinci dalam menguji asersi tersebut. d. Bagi jenis usaha lain. Apakah data dikembangkan dari sistem yang dapat diandalkan dengan pengendalian memadai. KETEPATAN HARAPAN 17 Harapan auditor harus cukup tepat untuk memberikan tingkat keyakinan yang diinginkan sehingga perbedaan yang mungkin merupakan salah saji yang material. c. Apakah harapan dikembangkan dengan memakai data dari berbagai sumber. 16 Auditor memperoleh keyakinan dari prosedur analitik berdasarkan atas konsistensi jumlah yang tercatat dengan harapan yang dikembangkan dari data yang diperoleh dari sumber lainnya. Keandalan data yang digunakan untuk mengembangkan harapan harus sesuai dengan tingkat keyakinan yang diinginkan dari prosedur analitik. baik secara individu atau secara kelompok. identifikasi dan pertimbangan auditor terhadap faktor-faktor yang secara signifikan mempengaruhi jumlah yang diaudit dan tingkat kerincian data yang digunakan untuk mengembangkan harapan. dengan salah saji lainnya. e. . perbedaan tersebut kemungkinan besar karena salah saji. sehingga jika terjadi perbedaan yang signifikan antara hasil prosedur analitik dengan angka sesungguhnya. Apakah diperoleh dari sumber yang independen di luar entitas atau dari sumber di dalam entitas. Apakah data menjadi sasaran pengujian dalam tahun berjalan atau tahun sebelumnya.statistik produksi atau ukuran tempat penjualan. b. akan teridentifikasi untuk diaudit oleh auditor (paragraf 20). antara lain. toleransi perbedaan yang diharapkan menjadi lebih sempit. Ketika harapan menjadi lebih tepat. Auditor harus menilai keandalan data dengan mempertimbangkan sumber data dan kondisi yang melingkupi pengumpulan data serta pengetahuan lain yang mungkin dimiliki auditor mengenai data itu. Faktor berikut ini mempengaruhi pertimbangan auditor terhadap keandalan data untuk mencapai tujuan audit: a. Apakah sumber dari dalam entitas independen dari mereka yang bertanggung jawab atas jumlah yang diaudit.

Jumlah bulanan biasanya akan lebih efektif dari pada jumlah tahunan dan perbandingan berdasarkan lokasi atau jalur usaha biasanya akan lebih efektif dari pada membandingkan perusahaan secara keseluruhan. Tingkat kerincian yang cocok akan dipengaruhi oleh sifat klien. Identifikasi yang lebih efektif terhadap faktor yang secara signifikan mempengaruhi hubungan umumnya dibutuhkan sejalan dengan meningkatnya keyakinan yang diinginkan dari prosedur analitik. Umumnya risiko salah saji yang material menjadi kabur akibat meningkatnya faktor yang bertentangan karena operasi klien menjadi lebih rumit dan lebih beragam. Sebaliknya. dapat terhimpun menjadi suatu jumlah yang tidak dapat diterima.18 Banyak faktor yang dapat mempengaruhi hubungan keuangan. atau golongan transaksi tertentu. besarnya dan kerumitannya. atau saldo atau golongan transaksi lainnya. masing-masing hal itu dipengaruhi oleh sejumlah faktor dan faktor yang bertentangan dapat menutupi salah saji. Penguraian masalah akan membantu mengurangi risiko ini. Sebagai contoh. bila penjelasan tentang perbedaan tidak dapat diperoleh. Penentuan jumlah ini melibatkan pertimbangan kemungkinan bahwa kombinasi dari salah saji dalam saldo akun tertentu.2 21 Auditor harus mengevaluasi perbedaan material yang tidak diharapkan. tanggapan manajemen biasanya harus didukung dengan bukti lain. Pertimbangan ini dipengaruhi terutama oleh materialitas dan harus konsisten dengan tingkat keyakinan yang diinginkan dari prosedur ini. Dengan mempertimbangkan kembali metode dan faktor yang digunakan dalam mengembangkan harapan dan permintaan keterangan dari manajemen dapat membantu auditor dalam hal ini Namun. penjualan dipengaruhi oleh harga. 19 Harapan yang dikembangkan pada tingkat yang rinci biasanya mempunyai kemungkinan yang lebih besar dalam mendeteksi salah saji jumlah tertentu dari pada perbandingan secara luas. auditor harus mendapatkan bukti yang cukup mengenai asersi yang bersangkutan dengan melakukan prosedur audit lainnya untuk meyakinkan dirinya apakah perbedaan tersebut kemungkinan merupakan salah saji ³Dalam . auditor harus mempertimbangkan jumlah perbedaan yang diharapkan yang dapat diterima tanpa penyelidikan lebih lanjut. Dalam keadaan tersebut. volume dan campuran produk. PENYELIDIKAN DAN EVALUASI PERBEDAAN YANG SIGNIFIKAN 20 Dalam merencanakan prosedur analitik sebagai pengujian substantif.

dan b. yang mungkin menunjukkan risiko yang meningkat dari salah saji yang material.) PROSEDUR ANALITIK YANG DIGUNAKAN DALAM REVIEW YANG MENYELURUH 22 Tujuan prosedur analitik yang diterapkan dalam tahap review menyeluruh adalah untuk membantu auditor dalam menilai kesimpulan yang diperoleh dan dalam mengevaluasi penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. Setelah tanggal 31 Desember 2001. auditor harus mempertimbangkan perbedaan yang tidak dapat dijelaskan. (Lihat SA Seksi 316 [PSA No. Review menyeluruh umumnya meliputi pembacaan laporan keuangan dan catatannya serta mempertimbangkan: a. TANGGAL BERLAKU EFEKTIF 23 Seksi ini berlaku efektif tanggal 1 Agustus 2001.mendesain prosedur audit lainnya itu. . Hasil review menyeluruh dapat menunjukkan bahwa bukti tambahan mungkin diperlukan. Berbagai macam prosedur analitik mungkin bermanfaat untuk tujuan ini. yang diidentifikasi pada waktu perencanaan audit atau dalam pelaksanaan audit. Saldo atau hubungan yang tidak biasa atau tidak diharapkan yang sebelumnya tidak diidentifikasi. Dalam masa transisi tersebut berlaku standar yang terdapat dalam Standar Profesional Akuntan Publik per 1 Agustus 1994 dan Standar Profesional Akuntan Publik per 1 Januari 2001. hanya ketentuan dalam Seksi ini yang berlaku. Kecukupan bukti yang terkumpul sebagai respon terhadap saldo yang tidak biasa atau yang tidak diharapkan. Masa transisi ditetapkan mulai dari 1 Agustus 2001 sampai dengan 31 Desember 2001. 70] Pertimbangan atas Kecurangan dalam Audit Laporan Keuangan. Penerapan lebih awal dari tanggal efektif berlakunya aturan dalam Seksi ini diizinkan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->