MAKALAH REPRODUKSI DAN KEBIDANAN

Judul : KUALITAS SEMEN SAPI DAN DOMBA

Oleh Kelompok 1 1. Irena Titin K (B94124119) 2. Jasmine S.A.Imam (B94124121) 3. Joni Putra (B94124122) 4. Leo Sepaleni (B94124125) 5. Rice Septiyani (B94124142) 6. Rida Tiffarent (B94124143) 7. Siti Astuti (B94124149) 8. Susi Susilawati (B94124151) 9. Sutan P Nasution (B94124152)

BAGIAN REPRODUKSI DAN KEBIDANAN FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012

Kedua. inguinal. pemeriksaan tersebut anataralain pengamatan Body Condition Score (BCS). Pemilihan pejantan yang berkualitas merupakan salah satu faktor yang harus diperhatikan untuk meningkatkan produksi ternak dari pejantan unggul. Proses identifikasi dalam BSE terdiri dari beberapa bagian utama.PENDAHULUAN Peningkatan produksi ternak di Indonesia dipengaruhi berbagai faktor. persendian. Pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan status kesehatan hewan secara umum. yaitu: prostat. Ketiga. faktor individu betina dan manajemen reproduksi. mempunyai riwayat produksi yang jelas. sehingga bisa didapatkan pejantan fertile yang unggul dan mempunyai kemampuan sebagai ’pemacek’ (Garner 2005). Pemeriksaan dilakukan pada skrotum. physical exam (PE). dan kecacatan. yaitu faktor individu jantan. pemeriksaan organ reproduksi bagian dalam. dan keenam adalah pemeriksaan libido dan kemampuan kawin dari pejantan unggul yang akan digunakan untuk breeding (Rae 1999). Pejantan yang berkualitas merupakan jantan-jantan yang terpilih dari berbagai hal. Saluran Reproduksi Sapi (Sumber: Sproott et all. Data tetua dari pejantan yang bersangkutan dapat menjadi rujukan sifat unggul dari ternak. Saat ini. Pertama. pemilihan pejantan sebagai ternak bibit yang ditempatkan di berbagai balai pembibitan menggunakan parameter seleksi Breeding Soundness Examination (BSE) atau Bull Breeding Soundness Evaluation (BBSE). kaki. Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan ukuran. Breeding soundness examination (BSE) merupakan suatu metode yang digunakan untuk mengidentifikasi pejantan yang memiliki kemampuan untuk breeding. Kelima. berasal dari turunan yang telah diketahui tetuanya. BSE melibatkan proses identifikasi yang sangat akurat. ampulla. testis. Selain itu. catatan sejarah genetik individu ternak. Gambar 1. pemeriksaan mata. maupun penis. dan vesikularis. dan konsistensi dari kelenjar asesoris. sehat. Data sperma dari pejantan menentukan kelayakan hewan untuk breeding. Keempat. bentuk. evaluasi semen. 1998) . Lingkar skrotum merupakan salah satu indikator yang penting dalam BSE. tidak memiliki cacat tubuh serta mempunyai penampilan tubuh yang seimbang dalam breednya. pemeriksaan organ kelamin bagian luar.

Pewarnaan yang digunakan untuk evaluasi persen spermatozoa hidup dan normal menggunakan pewarnaan Eosin-Nigrosin dan dibuat preparat . tanpa ditutup gelas objek dan dievaluasi di bawah mikroskop dengan perbesaran 10x10. konformasi tubuh. kemudian dievaluasi secara makroskopis dan mikroskopis. konsistensi. estimasi konsentrasi. Setelah dihitung dari 5 lapang pandang. perhitungan konsentrasi. yang diperoleh dari pengukuran suhu tubuh. pH dan bau ejakulat. warna. kemudian ditutup cover glass. dan dievaluasi menggunakan mikroskop dengan perbesaran 10x10. Evaluasi makroskopis meliputi pemeriksaan volume. Estimasi konsentrasi spermatozoa diperksa dengan meneteskan semen diatas objek glass. Perhitungan konsetrasi spermatozoa secara akurat dilakukan dengan menggunakan New Bauer Chamber. Gerakan masa sperma dievaluasi dengan memeriksa satu tetes semen. METODE Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan status kesehatan pejantan dilakukan dengan memeriksa keadaan fisik hewan tersebut. Pemeriksaan organ reproduksi luar dilakukan dengan melihat keadaan praeputium. Pemeriksaan Organ Reproduksi Pemeriksaan organ reproduksi bagian dalam dilakukan melalui palpasi perektal dan seluruh organ aksesoris diperiksa kelengkapan. konsentrasi spermatozoa dihitung menggunakan rumus: Jumlah spermatozoa/ml = Jumlah spermatozoa hitung x faktor pengenceran x faktor perhitungan. Motilitas dievaluasi dari 10 lapang pandang dan diinterpretasi dalam nilai persen. frekuensi nafas. skrotum. Perlu diketahui juga usia ternak dan pemeriksaan fisik lainnya jika hewan diindikasikan mengalami gangguan kesehatan lainnya. motilitas. Pemeriksaan motilitas sperma dilakukan dengan mencampur 1 tetes semen dan 3-4 tetes (sapi) atau 8-10 tetes (domba) NaCl fisiologis. system lokomosi pejantan dan pengukuran Body Condition Score (BCS). Pemeriksaan Ejakulat Semen dikoleksi menggunakan vagina buatan. frekuensi denyut jantung. kemudian diambil sedikit pada gelas objek lainnya. konsistensi dan ukurannya. palpasi dan pengukuran lingkar skrotum. dengan pengenceran semen sapi 1:200 dan semen domba 1:500. Evaluasi mikroskopis ejakulat antara lain.TUJUAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tahapan seleksi bibit pejantan dan meningkatkan kompetensi calon dokter hewan dalam melaksanakan evaluasi pemilihan pejantan. pemeriksaan gerakan masa. mukosa penis. perhitungan persentase sperma hidup dan persentase sperma normal. Bahan pengencer yang digunakan adalah formal saline. kemudian ditutup cover glass dan dievaluasi secara menyeluruh di bawah mikroskop dengan perbesaran 10x10 atau 40x10.

Rekam catatan genetic dapat diketahui untuk menentukan status reproduksi tetua ternak. Pemeriksaan organ reproduksi dalam dilakukan dengan metode palpasi perektal.ulas.78 Domba 2 0. Sapi Friesian Holstein (FH) di Unit Reproduksi dan Rehabilitasi (URR) FKH-IPB yang diperiksa berusia <2 tahun. Setelah itu dihitung menggunakan perbesaran 40x10 di 10 lapang pandang atau keseluruhan sel yang dihitung telah mencapai jumlah 200 spermatozoa. Suhu tubuh dan pulsus berada dalam kisaran normal sapi.62 90.1 x 108 87. Suhu tubuh 39 0C. pemeriksaan fisik.20 98. Pemeriksaan organ reproduksi luar dilakukan dengan melihat keutuhan skrotum. palpasi testis. Bahan Pengencer Pengencer yang digunakan dalam evaluasi ejakulat sapid an domba pada penelitian ini adalah pengencer Na Sitrat-Kuning Telur dan Tris-Kuning Telur. mukosa penis. Sapi jantan FH yang dimiliki URR memiliki libido tinggi dan memiliki hasil evaluasi semen yang baik.4 Normal 80 +++ 3 Densum 1. pemeriksaan organ reproduksi luar. hal lain yang menandakan kondisi sapi yang bagus adalah kondisi skrotum yang utuh.4 Krem Kental 6. Hal ini menunjukan bahwa secara umum sapi yang diperiksa berada dalam keadaan sehat.66 . dan memastikan seluruh organ luar tidak mengalami perlukaan. HASIL Breeding Soundness Examination (BSE) Indikator Breeding Soundness Examination (BSE) antara lain adalah catatan sejarah genetic individu.78 87.4 x 109 89.26 Domba 1 0.4 Normal 75 – 80 +++ 4 Densum x 109 71. preputium. Pemeriksaan fisik (PE) yang dievaluasi antara lain: suhu tubuh. Evaluasi Kualitas Semen Segar Domba dan Sapi Volume Warna Konsistensi pH Bau Motilitas (%) Gerakan massa Gerakan individu Estimasi konsentrasi Konsentrasi % hidup % normal Sapi 1 5.95 x 109 67. dan frekuensi nafas. mengukur lingkar skrotum. yaitu ±32 cm (Garner 2005).52 Sapi 2 5 Krem susu Kental 6. denyut nadi 36x/ menit.43 Domba 3 0.5 Semidensum 2.4 Normal 75 +++ 4 Densum 4 x 109 84.6 Kuning Encer 6.33 93.65 Putih susu Kental 6.89 90.7 Normal 80 ++ 3. Lingkar skrotum pejantan di URR berukuran 39 cm berada diatas kisaran minimum skrotum sapi berumur <2 tahun. pulsus. Selain itu. teraba dan kenyal. pemeriksaan ejakulat dan pemeriksaan libido. seluruh organ reproduksi dipastikan memiliki konsistensi dan ukuran normal. pemeriksaan organ reproduksi dalam.4 Normal 75 +++ 4 Densum 5.4 Krem Kental 6.

Evaluasi makroskopik yang paling mudah didapatkan adalah volume ejakulat.4 ml (Pratiwi et al.43% dan domba tiga 93. konsistensi dan estimasi konsentrasi ejakulat pertama sapi. 2006). sedangkan warna semen domba yang kedua dan ketiga tidak terlalu berbeda dengan warna yang normal yaitu putih susu. Warna semen sapi pada ejakulat kedua tidak terlalu berbeda dengan warna yang normal yaitu putih susu. pH semen sapi ejakulat pertama yaitu 6. Gerakan individu dari ejakulat pertama sapi yaitu 3. gerakan massa. pH 6.89 ± 0. gerakan individu. 2005). Persentase spermatozoa yang memiliki morfologi normal dari domba satu adalah 87. dan putih krem. .8 x 109 (Pratiwi et al. 2006).2 ml.78%. domba kedua sebanyak 0. domba dua 90.5% (Pratiwi et al.6 ± 2. gerakan massa +++.24 %.2 ± 0. hal ini sesuai dengan kualitas semen sapi normal yaitu 86 ± 6. motilitas. hal ini disebabkan karena ada pencampuran semen dengan urin pada saat penampungan menggunakan vagina buatan. dan konsentrasinya yaitu 4. ejakulat pertama semen sapi diperoleh sebanyak 5. volume semen domba pertama sebanyak 0. hasil yang diperoleh tidak berbeda jauh dibandingkan dengan volume semen sapi yang normal yaitu 5. 2005). Berdasarkan evaluasi. bau normal. Ejakulat pertama sapi memiliki gerakan massa bernilai ++. warna dan konsistensi semen sapi pada ejakulat kedua ini tidak sesuai dengan ejakulat semen sapi normal yaitu berwarna putih susu dan kental.11. 2006).33%.65 ml. Bau dan motilitas semen ejakulat pertama dan kedua yaitu normal dan memiliki motilitas 80 %.62% dan domba ketiga sebesar 84. motilitas 86. lebih sedikit dibandingkan konsentrasi semen sapi normal yaitu 1. hal ini berbeda dengan gerakan massa semen sapi normal yaitu +++. Sedangkan Konsistensi.4. Persentase morfologi spermatozoa normal pada ejakulat pertama semen sapi sebesar 90.26%. Tingginya persentase spermatozoa hidup dan spermatozoa merupakan gambaran persentase fertilitas spermatozoa.24 x 109. hal ini disebabkan karena warna semen yang kuning dan konsistensinya yang encer. hal ini dapat terlihat dari warna. Sedangkan konsentrasi ejakulat kedua yaitu 1.52% dan ejakulat kedua 98. hasil yang diperoleh tidak berbedah jauh dibandingkan volume semen domba normal yaitu 0. ejakulat kedua 3.89% dan ejakulat kedua 89. sedangkan pada ejakulat pertama berwarna kuning dan memiliki konsistensi encer.4 x 109. pH. hal ini tidak berbeda jauh dengan pH semen sapi normal yaitu ± 7.82 ± 0.20%.5. Konsentrasi semen pada ejakulat sapi pertama yaitu 2. hal ini sesuai dengan literatur yaitu konsentrasi semen sapi normal yaitu 1.78%. Persentase spermatozoa hidup pada ejakulat pertama memiliki nilai 87. Warna semen domba pertama sesuai dengan warna semen domba yang normal yaitu krem. Persentase spermatozoa hidup pada domba satu adalah 67. dan domba yang ketiga sebanyak 0. domba dua sebesar 71. bau.66%. dan estimasi konsentrasi semen sapi pertama yaitu semidensum dan sapi kedua densum.1 x 108. estimasi konsentrasi dan konsentrasi semen domba sesuai dengan literatur yaitu konsistensinya kental.16 ml (Herdis et al.4 ml.7 dan ejakulat kedua yaitu 6.6 ml dan sapi ejakulat kedua memiliki volume 5 ml. estimasi konsentrasi densum.3 x 109 (Herdis et al.3 ± 1.

yang mengandung lipid sebesar 89% dan sisanya adalah protein yang secara bersama-sama aktif dalam pembekuan semen (Walson & Martin 1975). agen protektif dan dapat memberikan efek sebagai penyangga terhadap sperma. Oksidasi sorbitol menjadi fruktosa dilakukan oleh enzim sorbitol dihydrogenase dan hanya terjadi pada keadaan aerob. Toelihere 1985).Evaluasi Semen Sapi Data Motilitas Semen Cair Sapi dengan pengencer Na Sitrat Perlakuan Sebelum Pengenceran Sesudah Pengenceran Hari ke-1 Hari ke-2 Hari ke-3 Hari ke-4 Motilitas (%) 70 70 20 10 3 0 (Mati) Natrium sitrat merupakan penyangga yang mampu mempertahankan kestabilan pH pengencer. salah satunya adalah fruktosa yang dapat dibentuk oleh sorbitol yang terdapat di dalam plasma semen melalui oksidasi. Natrium sitrat (C6H5Na3O7. 1991). Keunggulan kuning telur ini terletak pada lipoprotein dan lesitin yang terkandung di dalamnya (Salisbury & VanDemark 1985. Fruktosa yang terbentuk akan dimetabolisir melalui jalur Embden-Meyerhof dan pada keadaan . Perkiraan motilitas adalah prosedur visual. Natrium sitrat akan mengikat kalsium dan logam-logam berat lain sehingga menyebabkan butir-butir lemak dalam kuning telur akan berikatan. Pengencer yang menggunakan natrium sitrat lebih mudah untuk diobservasi di bawah mikroskop. Kuning telur umumnya ditambahkan ke dalam pengencer semen sebagai sumber energi. Menurut Garner dan Hafez (2000). Bearden dan Fuquay (2000) diketahui bahwa semen mengandung asam sitrat yang berguna bagi spermatozoa. Motilitas spermatozoa di dalam suatu contoh semen ditentukan secara keseluruhan atau sebagai rata-rata dari suatu populasi spermatozoa. Bagian yang berperan sebagai protektif adalah lipoprotein berkepekatan rendah (low density lipoprotein). sehingga menguntungkan untuk memelihara kelangsungan hidup spermatozoa. Hasil pengamatan pada Tabel 1 diatas menunjukkan bahwa motilitas spermatozoa mengalami penurunan kira-kira 50% setiap harinya hingga motilitas dapat dikatakan mati atau 0% motilitas pada hari ke-4. 2000). dinyatakan secara komparatif dan tidak mutlak. Motilitas atau daya gerak spermatozoa digunakan sebagai parameter kesanggupan untuk membuahi sel telur (Ax et al.2H2O) berfungsi sebagai larutan penyangga dalam pengencer kuning telur untuk preservasi daya tahan hidup dan fertilitas spermatozoa sapi (Nath et al. Motilitas spermatozoa ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. sedangkan kuning telur sendiri berfungsi sebagai pelindung dan dapat mempertahankan integritas selubung lipoprotein dan sel spermatozoa.

koagulasi dari protein. PH pengencer tris yang dibuat <6. . PH rendah pada dasarnya mampu menghambat aktivitas metabolisme sperma. disosiasi ion dan kehilangan sifat-sifat absorpsi atau sifat-sifat pengikatan air (Supriatna & Pasaribu 1992). Hal tersebut diduga terjadi akibat kesalahan teknis dalam penimbangan bahan pengencer.4). sebab seiring dengan penyimpanan sperma akan terjadi penurunan pH menjadi asam akibat terbentuknya asam laktat yang akan menurunkan metabolisme dan masa penyimpanan sperma (Siregar & Hamdan 2004). (2) konsentrasi larutan menjadi toksik dan letal akibat adanya dehidrasi dari suspensi media baik intra maupun ekstraseluler. Sperma masih toleran terhadap penurunan pH hingga 5. Pada proses penyimpanan semen di dalam lemari es dapat memengaruhi viabilitas spermatozoa.5. Oleh karena itu.76-7. tetapi di bawah 5.4 (dengan pengukuran skala kertas pH >6. Kerusakan umumnya terjadi pada sel spermatozoa selama proses pembekuan akibat adanya fenomena tersebut adalah (1) kerusakan mekanik yang ditandai dengan kerusakan organel sitoplasma atau pecah karena ekspansi es.anaerob. Beberapa penelitian juga mengungkapkan bahwa pengencer tris kuning telur memiliki kualitas yang hampir sama seperti pengencer semen yang beredar di pasaran seperti Andromed®(Arfiantini & Yusuf 2010).45. dan (3) perubahan fisik-kimiawi diantaranya presipitasi. Pengencer Tris pada Semen Sapi yang Mati Sperma sapi yang yang ditambahkan pada pengencer tris kuning telur mengalami kematian 100%. aktivitas sperma bisa meningkat dengan mengatur pH pada rentang 5. Namun. Jadi sorbitol dapat berfungsu sebagai cadangan makanan bagi spermatozoa untuk daya tahan hidup spermatozoa (Henric 1993). Kematian ditunjukan dengan tidak adanya motilitas pada semen yang telah dicairkan. Buffer seharusnya dibuat pada pH optimal bagi sperma. yaitu pembentukan kristal-kristal es dan perubahan tekanan osmotik dari hipotonis ke hipertonis. denaturasi. Kuning telur mengandung karbohidrat yang dibutuhkan untuk tambahan energi bagi sperma dan mengandung fofsolipid yang mampu melindungi sperma selama proses pembekuan.5 sperma akan mati akibat terdapatnya enzim denaturasi yang bersifat ireversibel (Vishwanath & Shannon 2000). penambahan kuning telur pada buffer tris dapat menghasilkan pengencer yang baik bagi sperma sapi.

0%. Oleh karena itu kapasitasi yang ideal terjadi di dalam oviduk agar mampu membuahi sel telur dengan baik (Ismaya 2006). dan spesies hewan (Hafez & Hafez 2000). dan 40%. dan menimbulkan efek negatif terhadap antibiotik dalam pengencer semen (Toelihere 1993). Penggunaan gliserol dalam pengencer untuk pembekuan harus memperhatikan sifat toksiknya yang berkaitan dengan tingkat pendinginan. Gliserol dapat menjadi pelindung spermatozoa. sedangkan dengan penambahan gliserol 6% . Jumlah dan cara penambahan gliserol pada bahan pengencer bervariasi tergantung dari jenis pengencer. Untuk meminimalkan kerusakan sel dapat dilakukan dengan menambahkan zat tertentu kedalam pengencer semen. Spermatozoa yang sudah mengalami kapasitasi bergerak hiperaktif. Spermatozoa yang telah dibekukan kemudian dicairkan kembali (thawing) akan menghasilkan spermatozoa yang sebagian sudah mengalami kapasitasi sehingga daya hidupnya rendah serta terdapat spermatozoa yang mengalami kerusakan. namun gerakannya kurang progresif. Salah satu jenis krioprotektan yang sering digunakan pada mamalia adalah gliserol. pembekuan. Gliserol mempunyai efek pengikatan membran plasma yang secara langsung mengikat fosfolipid pada kelompok kepala yang menurunkan fluiditas membran berinteraksi dengan protein dan glikoprotein membran yang menyebabkan penumpukan partikel intra membran. Pengencer natrium sitrat telah banyak digunakan untuk pengenceran pada ruminansia. dan gliserolisasi.Kuning Telur dengan penambahan gliserol 5% dan 6% Bahan pengencer berupa natrium sitrat untuk pembuatan semen beku secara umum harus mengandung larutan penyangga (buffer) yang mampu menjaga pH sperma. Hasil dari pemeriksaan motilitas semen beku dengan pengencer Na sitrat-KT yang di thawing pada suhu 370C selama 30 detik dengan penambahan gliserol 5% menunjukkan hasil 0%. menyebabkan cekaman osmotik. komposisi pengencer. namun dapat juga merusak struktur spermatozoa selama proses pembekuan semen. namun kemampuannya diragukan untuk dapat membuahi ovum (Salamon & Maxwell 2000). Spermatozoa yang mengalami kerusakan kemungkinan masih motil. dan dapat mencegah kerusakan spermatozoa akibat pembekuan. Zat tersebut dikenal dengan nama krioprotektan. metode pembekuan. mempertahankan osmolalitas.Semen Beku Sapi menggunakan pengencer Na Sitrat KT Pemeriksaan Motilitas semen beku dengan pengencer Na sitrat-KT Gliserol 5% (%) Gliserol 6%(%) 80 70 60 55 0 40 0 40 40 0 10 5 45 40 3 Segar Setelah ditambah pengencer Thawing 370C (30’) Thawing 270C (45’) Hasil pengamatan motilitas semen beku dengan pengencer Na sitrat .

dan 40%. yaitu melebihi dari sumbat pabrik. masalah yang sering timbul biasanya rusaknya membran plasma spermatozoa akibat terbentuknya peroksidasi lipida. (2002) konsentrasi gliserol yang berlebihan akan menimbulkan efek toksik pada spermatozoa. (1992).sebesar 40% dan 40%. 5%. Setelah semen dicampur dengan bahan pengencer Natrium Sitrat maupun Tris Sitrat. Kesalahan ini berupa saat memasukkan semen. Pada semen beku yang di thawing pada suhu 270C selama 40 detik dengan penambahan gliserol 5% adalah 0%. (2000) menyatakan bila konsentrasi gliserol tidak optimal akan menimbulkan gangguan pada sperma berupa penurunan kualitas spermatozoa. Menurut Rizal et al. Kebocoran pada pengemasan straw ini menyebabkan cold shock sehingga menimbulkan kerusakan semen dan akhirnya mengakibatkan kematian. sedangkan dengan penambahan gliserol 6% sebesar 10%. yaitu proses sealer yang tidak rapat atau terlalu panas sehingga menimbulkan kebocoran. Trisaminomethane bersama asam sitrat berperan sebagai penyangga untuk mempertahankan perubahan pH akibat terbentuknya asam laktat hasil metabolisme spermatozoa juga berperan untuk mempertahankan tekanan . 45%. Menurut Mulyono (2000) pada proses pengolahan semen. semen domba dikatakan normal apabila motilitasnya lebih dari 50%. gliserol tidak akan memberikan efek yang optimal. Selain itu. dan 3%. Konsentrasi gliserol yang tidak berbeda jauh ini tidak mempengaruhi motilitas spermatozoa. Evaluasi Semen Domba Tabel Motilitas semen cair domba menggunakan pengencer Natrium Sitrat dan Trisaminomethane sitrat Lama pengamatan Sebelum diencerkan Sesudah diencerkan Hari ke-1 Hari ke-2 Hari ke-3 Hari ke-4 Hari ke-5 Motilitas (%) Na Sitrat Tris Sitrat 80 80 60 60 50 40 30 30 25 25 10 20 0 0 Hasil pengamatan menunjukkan bahwa motilitas semen sebelum diencerkan dalam keadaan normal yaitu 80%. Hasil penelitian ini menunjukkan beberapa penyimpangan. Hal ini dapat terjadi karena kesalahan pada saat proses pengemasan semen beku. penyedotan semen melampaui batas. motilitas semen turun menjadi 60%. dapat pula pada saat proses sealer yang tidak sempurna. karena dosis dari gliserol yang diberikan pada penelitian ini adalah dosis gliserol yang normal digunakan sebagai krioprotektan. Rusaknya membran plasma akan menyebabkan penurunan motilitas spermatozoa dan akhirnya dapat ber pengaruh terhadap daya hidup spermatozoa. yaitu terdapat semen yang motilitasnya 0%. Tambing et al. Menurut Perkins et al. sebaliknya apabila kurang.

Pengencer Na Sitrat memperlihatkan motilitas yang lebih tinggi dari pada pengencer Tris Sitrat. Sedangkan Natrium Sitrat merupakan penyangga yang mampu mempertahankan kestabilan pH pengencer. motilitas semen cair domba memperlihatkan penurunan. Bertambahnya lama penyimpanan setiap satu hari nyata menurunkan motilitas sperma di dalam seluruh pengencer yang diuji. bahwa lama penyimpanan berpengaruh nyata (P < 0. Evaluasi Semen Beku Domba Semen Beku Domba menggunakan Pengencer Na Sitrat dan Gliserol 5% Tabel Pengenceran Na sitrat + KT dengan Gliserol 5% Semen Beku Domba Perlakuan Segera Sesudah diencerkan Post Thawing 37 ⁰C (30′) Post Thawing 27 ⁰C (45′) Persentase Motilitas 80 60 0 0 0 0 Grafik Persentase motilitas semen beku domba menggunkan pengencer Na sitrat + KT dengan gliserol 5% Penggunaan natrium sitrat dalam medium pengencer semen beku domba berfungsi sebagai penyangga yang mampu mempertahankan kesetabilan pH . Menurut Solihati (2008). motilitas kedua pengencer sudah tidak mampu mempertahankan motilitas layak IB karena sudah dibawah 40%. Setelah dua hari penyimpanan. Namun demikian seluruh pengencer masih mampu mempertahankan motilitas yang memenuhi syarat untuk IB karena motilitas masih diatas 40%. begitu pula dengan penyimpanan hari ketiga dan keempat. Standar motilitas yang banyak digunakan dalam program IB harus memiliki persentase motilitas paling sedikit 40% (Toelihere 1993). Setelah satu hari penyimpanan. sehingga menguntungkan untuk memelihara kelangsungan hidup spermatozoa. semua jenis pengencer sudah tidak memiliki motilitas atau mati yaitu 0%.05) terhadap motilitas. Setelah lama penyimpanan lima hari.osmolaritas dan keseimbangan elektrolit karena mengandung garam dan asam amino.

2002). Selain itu. Terlihat sewaktu dilakukan kriopreservasi dengan memasukan straw ke dalam nitrogen cair straw tersebut mengapung. . masing-masing mempunyai manfaat bagi kelangsungan spermatozoa. Penambahan gliserol dalam medium pengencer diharapkan dapat mengurangi pengaruh mematikan selama proses kriopreservasi semen (Gazali & Tambing 2002). sehingga menguntungkan bagi kelangsungan hidup spermatozoa.pengencer. sehingga dari hasil yang diperoleh tidak bisa menentukan waktu suhu thawing yang baik dalam medium pengencer natrium sitrat yang ditambahkan dengan kuning telur dan gliserol 5 %. Hasil yang diperoleh setelah dilakukan post thawing dalam suhu 37 ⁰C dan 27 ⁰C masing-masing adalah 0%. Selain itu pengguaan kuning telur dan gliserol dalam medium pengencer semen beku domba. Semen Beku Domba menggunakan pengencer Tris KT Gliserol 5% Tabel Motilitas semen beku domba pengencer tris kuning telur gliserol 5% Kondisi Semen Sebelum pengenceran Sesudah pengenceran Sesudah thawing 37°C (30detik) Sesudah thawing 27°C (45detik) Motilitas (%) Ulangan 1 Ulangan 2 80 60 5 5 10 2 Rataan Motilitas 80 60 5 6 Motilitas Semen Domba (%) 100 80 60 40 20 0 Sebelum pengenceran Sesudah pengenceran Sesudah thawing Sesudah thawing 37°C (30 dtk) 27°C (45 dtk) Grafik 1 Motilitas semen beku domba pengencer tris kuning telur gliserol 5%. Persentase motilitas spermatozoa segera atau sebelum diencerkan dan sesudah diencerkan masing-masing yaitu 80 % dan 60 %. Kuning telur umumnya ditambahkan dalam medium pengencer semen sebagai sumber energi dan agen protektif. kuning telur dapat memberikan perlindungan bagi spermatozoa saat semen diencerkan dan dalam proses pendinginan (Paulenza et al. Hal ini dikarenakan kesalahan dalam proses pengisian straw (packing) yang melewati batas dari penutup straw dan penutupan bagian ujung dari straw yang kurang baik.

Tris merupakan buffer yang kuat karena mengandung garam yang mampu menyanggah pH larutan dengan sangat baik (Hafez 2000). Hasil evaluasi terhadap motilitas semen segar domba ditunjukan pada Tabel 1 yaitu sebesar 80%. Pengencer yang digunakan dalam praktikum dalam pembuatan semen beku adalah tris kuning telur gliserol 5% (TKT). asam sitrat. tris (hidroxymethyl aminomethan). Penisilin dan streptomisin merupakan antibiotik yang ditambahkan untuk mencegah pertumbuhan bakteri. meningkatkan volume semen sehingga dapat digunakan untuk banyak inseminasi. Asam sitrat bersama tris dapat mempertahankan derajat keasaman (pH) dan osmolaritas pengencer karena mengandung garam dan asam amino (Solihati et al. Hafez (2000) menyatakan bahwa pengencer yang baik memiliki fungsi untuk menyediakan nutrisi sebagai sumber energi. Kuning telur dan gliserol 5% berfungsi sebagai krioprotektan. Penisilin efektif melawan bakteri gram positif sedangkan streptomisin efektif melawan bakteri gram negatif.Motilitas adalah gerak maju atau progresif sel spermatozoa untuk menuju ovum. tidak membatasi gerakan sel spermatozoa dan memudahkan dalam penilaian (Herdiawan 2004). Asam sitrat dapat berfungsi sebagaimana fungsi tris. dan melindungi sel-sel spermatozoa selama pembekuan. menyediakan buffer untuk mencegah menurunnya pH. Kuning telur dalam pengencer tris dapat melindungi dan mempertahankan motilitas sel spermatozoa secara lebih baik pada saat terjadinya perubahan penurunan suhu dari 5 . Kualitas semen dapat disimpulkan melalui kualitas motilitas sel-sel spermatozoa. penisilin dan streptomisin. Nilai ini sesuai dengan kisaran nilai motilitas semen domba yang baik yaitu sebesar 60-80% (Herdiawan 2004). pH semen dapat menurun akibat perubahan suasana pH semen menjadi asam sebagai akibat dihasilkannya asam laktat. Pengencer TKT terdiri atas fruktosa. Motilitas dapat dijadikan patokan sederhana dalam menentukan kualitas semen untuk inseminasi buatan. Nilai tersebut menunjukah bahwa semen domba tersebut memiliki tingkat fertilitas yang tinggi dan semen dapat diproses lebih lanjut menjadi semen beku. Media pengencer semen memiliki banyak sumber nutrisi bagi pertumbuhan mikroorganisme. Oleh karena itu pengencer membutuhkan antibiotic untuk menjaga kelangsungan hidup spermatozoa. Selain sebagai buffer yang menjaga pH mendekati netral. Asam laktat merupakan hasil metabolisme sel spermatozoa. mencegah munculnya petumbuhan bakteri. menjaga tekanan osmotic dan keseimbangan elektrolit. Fruktosa merupakan karbohidrat sederhana yang ditambahkan sebagai sumber energi sel-sel spermatozoa. Penurunan pH dapat menyebabkan percepatan proses kematian spermatozoa sehingga menurunkan nilai motililitas. Tris yang ditambahkan berfungsi sebagai buffer basa untuk menjaga pH tetap optimal karena pH merupakan faktor penting yang mempengaruhi kualitas semen. serta gliserol 5%. 2008). plasma darah dan susu (Hafez 2000). Pengencer tris memiliki kelebihan dari pengencer lainnya karea konsistensinya encer dan trasparan sehingga mampu melindungi spermatozoa dari kerusakan akibat pembekuan. tris juga dapat berfungsi untuk menjaga keseimbangan elektrolit dan menjaga tekanan osmotik mendekati 300mMol yang ekuivalen dengan tekanan osmotic semen. melindungi sel-sel spermatozoa dari kerusakan akibat adanya pendinginan yang cepat (rapid cooling). kuning telur.

sehingga konsentrasi elektrolit intra dan ekstraselular tetap terjaga.°C hingga -196 °C (Herdiawan 2004). dan jenis sperma. Keduanya menunjukan nilai motilitas sperma yang tidak layak untuk digunakan dalam Inseminasi Buatan (IB). Namun. Keutuhan membrane ini akan memberikan efek yang baik terhadap motilitas dan daya hidup sperma. komposisi pengencer. Motilitas sperma yang dithawing pada 37°C (30 dtk) memiliki nilai yang lebih rendah dibandingkan motilitas sperma yang dithawing pada 27°C (45 dtk). 2002). Hal ini tidak sesuai dengan Surmalin (2003) yang menyatakan bahwa thawing dengan . Konsentrasi gliserol yang dimasukan ke dalam pengencer untuk pembekun semen domba dibatasi oleh sifat toksiknya yang bergantung pada tingkat pendinginan dan pembekuan. Dengan demikian kelenturan dan keutuhan membrane sel dapat dipertahankan selama proses pembekuan. Gliserol akan menggantikan air yang keluar dari dalam sel saat pembekuan berlangsung. Konsentrasi gliserol 5% memiliki kemampuan yang baik untuk memperbaiki kualitas sperma yang telah dibekukan. Oleh karena itu. Hasil pengamatan menunjukan bahwa nilai motilitas sperma domba setelah dicampurkan dengan pengencer adalah 60%. Selain sebagai krioprotektan. Gliserol berfungsi memodifikasi pembentukan kristal es melalui pencegahan peningkatan konsentrasi elektrolit dan mencegah pengumpulan molekul H2O dan kristalisasi es pada daerah titik beku larutan. Konsentrasi gliserol yang kurang dapat mengurangi optimalisasi daya protektif bagi sperma. Gliserol juga menurunkan titik beku larutan untuk memberikan kesempatan kepada sel untuk mengeluarkan air dan memperpanjang aklimatisasi sel terhadap perubahan suhu yang drastis sehingga memperkecil jumlah air yang membeku intraselular. Kualitas semen beku layak IB yang diakui secara internasional memiliki motilitas sebesar 40%. Penggunaan gliserol harus dilakukan dalam konsentrasi yang tepat agar dapat berfungsi dengan baik. gliserol juga menjadi salah satu senyawa sumber energy bagi sperma karena dapat dimetabolisme oleh sperma domba. Proses pembuatan semen beku dengan perlakuan suhu yang sangat rendah (-196 °C) akan mengakibatkan terbentuknya kristal-kristal es dan perubahan konsentrasi elektrolit yang akan menyebabkan kerusakan pada sel. nilai motilitas sperma 60% masih tergolong dalam motilitas sperma domba yang baik dan layak untuk diproses lebih lanjut karena berada dalam kisaran 60%-80% sebagai kisaran motilitas sperma domba yang baik (Herdiawan 2004). Gliserol memiliki peranan dalam mebran plasma sel spermatozoa berupa pengikatan gugus pusat fosfolipid sehingga menurunkan ketidakstabilan membran dan juga mengikat protein dan glikoprotein sehingga partikel-partikel intramembran berkumpul. Data menunjukan bahwa motilitas sperma setelah thawing pada suhu 37°C (30 dtk) dan suhu 27°C (45 dtk) secara berturut-turut adalah 5% dan 6%. sebaiknya semen domba diencerkan dengan pengencer yang diberi gliserol 5% untuk mendapatkan semen beku kualitas baik (Rizal et al. sedangkan konsentrasi gliserol yang berlebih dapat meracuni sperma. Gliserol dapat mengubah secara fisik kristal-kristal es yang terbentuk menjadi lebih lembut dan ikut melindungi membran plasma sel. Oleh karena itu dalam pembuatan semen beku dibutuhkan krioprotektan seperti gliserol yang dikenal sebagai krioprotektan yang baik dan sangat lazim digunakan. Nilai ini lebih rendah dibandingkan dengan motilitas sperma semen segar yang mencapai 80%. metode penambahan.

Ed. Ke-5. 2005. Kriopreservasi sel spermatozoa. Hafez B. USA. 2000. Ed. Germany. Ismaya. Ke-7. Hafez B. Varner DD. editor. Spermatozoa and Seminal Plasma. dalam Hafez ESE. Gazali M. Lenz RW. J indon. Transport and Survival of Gamets. Dally MR. Salah satu penyebab terjadinya kematian sperma selama proses pembekuan dan thawing adalah terjadinya peroksidasi lipid yang menyebabkan terjadinya perubahan atau kerusakan pada struktur spermatozoa seperti membrane plasma dan tudung akrosom (Tambing et al. 1993. Garner DL. Aku AS dan Yulnawati. 30 (4) Desember 2005. Pengaruh laju penurunan suhu dan jenis pengencer terhadap kualitas semen beku domba priangan. Herdis. Sperm capacitation in female reproductive tract and in vitro capacitation. Hafez B. 2004. editor Reproduction in Farm Animals. Ketidaksesuaian ini diduga dapat disebabkan oleh adanya prosedur pembuatan semen beku dan proses thawing semen yang kurang tepat. Reno Nevada October 27 and 28. Hafez ESE.S. 2006. B Hafez. Semen Evaluation. 2000. Agiic. hlm 365-375 Bearden HJ dan Fuquay JW. Missisipi State University. Bellin ME. Love CC. Rizal M.E. Tierarzt Liche Hochschle. Breeding Soundness Exams. Hafez ESE. Garner DL. Hafez dan B Hafez. 2000). Ed. Lippincott Williams and Wilkins. 2002. Proceedings. Applied Animal Reproduction. Lippincott Williams and Wilkins. 2000. dalam E. Opimasi Kualitas Semen Beku Domba Garut Melalui Penambahan Trettosa Kedalam Pengencer Kuning Telur. Ke-7. Baltimore: Lippincott Williams and Wilkins. Didion BA. Di dalam: Reprodution in Farm Animals 7th ed. Klinik fur Pferde. 2000. JIVT 9(2): 98-107. Reproduction in Farm Animals. Apllied Reproductive Strategies in Beef Cattle. Henric PU. Hlm 24-143. hlm 173-184.. USA. University Of Nevada. Kongres PATRI: Advanced Biomolecular Practice in ART. 2005. 128 PP. Effect of Three Methods of Treatment on The Sperm Motility and Morphology of Stallion Semen After Different Periods of Storage. Herdiawan. Trop. Arifiantini RI. Saili T. Hannover. 2005. USA. Tambing SN. Boediono A. Hayati 9 (1): 27-32. . Editor. Hlm 96-109. Daftar Pustaka Ax RL. Anim. Yogyakarta 23-26 Februari. Kerusakan ini dapat menurunkan motilitas dan daya pembuahan spermatozoa. Hafez ESE.menggunakan air pada suhu 37°C selama 30 detik merupakan metode thawing yang paling optimum.

2006. http:// animalscience. Breeding Soundness of Bulls. Siregar TN. Kualitas spermatozoa cauda epididimis sapi peranakan ongol (po) dalam pengencer susu. Evaluasi daya tahan hidup spermatozoa kambing peranakan etawah dalam beberapa pengencer sederhana. 2002. 2002. J Biol Reprod 67:1250.ifas.[terhubung berkala]. VanDemark NL. Reprod. 68:135-138. Carpenter BB.ufl. J. Jakarta: Penerbit penebar Swadaya.Manjunath P. Sprott LR. http://www./beef-breedingsoundness-bulls. Ménard M. J. Nath R. 2000. Major proteins of bovine seminal plasmabind to the low-density lipoprotein fraction of hen’s egg yolk. Djanuar.tamu. Situmorang. Salamon S. Salisbury GW.pdf [2 Desember 2012]. Kualitas semen beku domba Garut dalam berbagai dosis gliserol. 1998. Theriogenology 57 (2): 823-836. Gadjah Mada University Press.pdf [12 Desember 2012]. JITV 7(3): 194-199. . Affandhy L. Purwantara B. Pamungkas D. Rizal et al. Indian J. Observasi kualitas Spermatozoa Pejantan Simmental dan PO Straw Dingin Setelah Penyimpanan 7 Hari pada Suhu 5 0 C. Rizal M. Bergeron A. 62: 77111. Effect of different extenders and storage temperatures on sperm viability of liquid ram semen. of Vet. Rae DW. Loka Penelitian Sapi Potong. Soderquist L.edu/. 2000. Anim Product 10(1): 22-29.1258.animal. Saxena VB. Solihati et al.. 2008. Tripathi RP. Maxwell WMC. Berg KA. Thrift TA. Studi terhadap kualitas dan daya tahan hidup spermatozoa Cauda Epididimis Domba Garut menggunakan berbagai jenis pengencer. 2002. Bull Breeding Soundness Evaluation and Venereal Disease Testing [terhubung berkala]. Sci. Yusuf TL. Storage of ram semen. Terjemahan dari: Physiology of Reproduction and Artificial Insemination of Cattle. Anim.. Solihati N. tris dan sitrat kuning telur pada penyimpanan 45°C. 1999. Paulenza H. Penerjemah: R. Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran: Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. 2008. Grati. Tripathi SS. Kualitas semen beku domba garut dalam berbagai konsentrasi gliserol. 2003. Vet. 2004. 7 (3): 194-199. Sain Vet. Pratiwi WC. Yogyakarta. Hlm 1-788.edu/ extension/beef/shortcourse / 1999/ RAE. 1991. Perez-Pe R. Toelihere MR. Teknik Pembibitan Kambing dan Domba Ed ke-3. Fisiologi Reproduksi dan Inseminasi Buatan pada Sapi. 1985. XXII(2): 60-66. Tris Diluent and Freezability of Buffalo Semen. Mulyono S. Nauc V. Hamdan.

Bandung: Penerbit Angkasa. 1993. Surmalin T. Perbedaan kualitas spermatozoa dari semen beku sapi po setelah thawing dengan metode yang berbeda. 5 (2): 1-8. . 62:23-53 Walson PF. 2000. 2003. Reprod. Pengaruh gliserol dalam pengencer tris terhadap kualitas semen beku kambing Peranakan Etawah. Inseminasi Buatan pada Ternak. Toelihere MR. Vishwanath R. Hayati 10(4): 146-150.Supriatna I. Matin CA. Tambing S et al. In Vitro Fertilisasi. Bogor: Pusat Antar Unuversitas Bioteknologi. Institut Pertanian Bogor. Sutama IK. Pasaribu FH. Fertil Dev. J. Shannon P. Ilmu Ternak dan Vet. Yusuf TL. The Influence of Same Fraction of Egg Yolk on The Survival of Ram Spermatozoa at 5°C. Bogor. 2000. 2000. [skirpsi]. 1992. 1975. Animal Reproduction Science. Toelihere MR. Transfer Embrio dan Pembekuan Embrio. 69:856-857. Tambing SN. Storage of bovine semen in liquid and frozen state. Program Sarjana FKH IPB. Kualitas semen beku kambing saanen pada berbagai jenis pengencer semen.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful