P. 1
Lp Imunisasi

Lp Imunisasi

|Views: 87|Likes:
Imunisasi
Imunisasi

More info:

Published by: Alisan Ridha Mushthafa on Jul 06, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/12/2013

pdf

text

original

IMUNISASI 1.

Reaksi antigen dan antibody Dalam bidang imunologi kuman atau racun kuman (toksin) disebut sebagai antigen. Secara khusus antigen tersebut merupakan bagian protein kuman atau protein racunnya. Bila antigen untuk pertama kali masuk ke dalam tubuh manusia, maka sebagai reaksinya tubuh akan membentuk zat anti. Bila antigen itu kuman, zat anti yang dibuat tubuh disebut antibodi. Zat anti terhadap racun kuman disebut antioksidan. Berhasil tidaknya tubuh memusnahkan antigen atau kuman itu bergantung kepada jumlah zat anti yang dibentuk. Pada umumnya tubuh anak tidak akan mampu melawan antigen yang kuat. Antigen yang kuat ialah jenis kuman ganas. Virulen yang baru untuk pertama kali dikenal oleh tubuh. Karena itu anak anda akan menjadi sakit bila terjangkit kuman ganas. Jadi pada dasarnya reaksi pertama tubuh anak untuk membentuk antibodi/antitoksin terhadap antigen, tidaklah terlalu kuat. Tubuh belum mempunyai “pengalaman” untuk mengatasinya. Tetapi pada reaksi yang ke-2, ke-3 dan berikutnya, tubuh anak sudah pandai membuat zat anti yang cukup tinggi. Dengan cara reaksi antigen-antibodi, tubuh anak dengan kekuatan zat antinya dapat menghancurkan antigen atau kuman; berarti bahwa anak telah menjadi kebal (imun) terhadap penyakit tersebut. Dari uraian ini, yang terpenting ialah bahwa dengan imunisasi, anak anda terhindar dari ancaman penyakit yang ganas tanpa bantuan pengobatan. Dengan dasar reaksi antigen-antibodi ini tubuh anak memberikan reaksi perlawanan terhadap benda-benda asing dari luar (kuman, virus, racun, bahan kimia) yang mungkin akan merusak tubuh. Dengan demikian anak terhindar dari ancaman luar. Akan tetapi, setelah beberapa bulan/tahun, jumlah zat anti dalam tubuh akan berkurang, sehingga imunitas tubuh pun menurun. Agar tubuh tetap kebal diperlukan perangsangan kembali oleh antigen, artinya anak terseut harus mendapat suntikan/imunisasi ulangan. Sebagai ringkasan mengenai pengertian dasar Imunologi ialah: (1) Bila ada antigen (kuman, bakteri, virus, parasit, racun kuman) memasuki tubuh, maka tubuh akan berusaha untuk menolaknya. Tubuh membuat zat anti yang berupa antibodi atau antitoksin. (2) Reaksi tubuh pertama kali terhadap antigen, berlangsung lambat dan lemah, sehingga tidak cukup banyak antibodi terbentuk.

(3) Pada reaksi atau respons yang kedua, ketiga dan seterusnya tubuh sudah lebih mengenal jenis antigen tersebut. Tubuh sudah lebih pandai membuat zat anti, sehingga dalam waktu yang lebih singkat akan dibentuk zat anti cukup banyak. (4) Setelah beberapa waktu, jumlah zat anti dalam tubuh akan berkurang. Untuk mempertahankan agar tubuh tetap kebal, perlu diberikan antigen/suntikan/imunisasi ulang. Ini merupakan rangsangan bagi tubuh untuk membuat zat anti kembali. • • • • Reaksi antigen-antibodi merupakan mekanisme perlawanan tubuh terhadap penyakit. Kadar antibodi yang tinggi dalam darah menjamin anak anda terhindar dari penyakit. Kadar antibodi yang tinggi diperoleh dengan cara pemberian imunisasi. Untuk mempertahankan kadar antibodi yang tinggi, diperlukan imunisasi ulang dalam waktu-waktu tertentu. Zat anti tersebut dibentuk pada tempat-tempat yang strategis terdapat alat tubuh yang dapat memproduksi zat anti. Tempat itu adalah hati, limpa, kelenjar timus dan kelenjar getah bening. Kelenjar getah bening misalnya, tersebar luas di seluruh jaringan tubuh, seperti di sekitar rongga hidung dan mulut, leher, ketiak, selangkangan, rongga perut. “Amandel” atau tonsil merupakan kelenjar getah bening yang terdapat pada rongga mulut sebelah dalam. Berbagai alat tubuh yang disebutkan tadi merupakan pusat jaringan terbentuknya kekebalan pada manusia. Kerusakan pada alat ini akan menyebabkan seringnya anak terserang berbagai jenis infeksi: lazimnya dikatakan “daya tahan tubuh anak merendah”. 2. Definisi Imunisasi Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak ia terpajan pada antigen yang serupa tidak terjadi penyakit. Imunisasi adalah usaha untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit infeksi pada bayi, anak dan juga orang dewasa. Imunisasi menjaga bayi dan anak dari penyakit tertentu sesuai dengan jenis Tujuan imunisasi adalah untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada

Contoh vaksin yang terbuat dari kuman hidup yang dilemahkan: vaksin BCG. vaksin polio jenis salk.seseorang dan menghilangkan penyakit tertentu pada sekelompok masyarakat (populasi) atau bahkan menghilangkan penyakit tertentu dari dunia seperti pada imunisasi cacar.Imunisasi pasif • Merupakan suatu proses peningkatan kekebalan tubuh dengan cara memberikan zat imunoglobulin. yaitu: 1.Imunisasi aktif • Merupakan pemberian suatu bibit penyakit yang telah dilemahkan (vaksin) agar nantinya sistem imun tubuh berespon spesifik dan memberikan suatu ingatan terhadap antigen ini. • • • • Contoh vaksin yang terbuat dari kuman yang dimatikan: vaksin batuk rejan. Contoh Imunisasi pasif adalah penyuntikkan ATS (Anti Tetanus Serum) pada orang yang mengalami luka kecelakaan. Contoh vaksin yang terbuat dari protein khusus kuman: vaksin hepatitis B. Imunisasi Aktif dan Pasif Menurut Proverawati A dan Andhini CSD (2010) imunisasi ada 2 macam. (3) bagian kuman tertentu yang biasanya berupa protein khusus. (2) zat racun kuman (toksin) yang telah dilemahkan. vaksin polio jenis sabin. sehingga ketika terpapar lagi tubuh dapat mengenali dan meresponnya. vaksin campak. Contoh vaksin yang terbuat dari racun/toksin kuman yang dilemahkan (disebut pula toksoid): toksoid tetanus dan toksoid difteri. 2. Contoh imunisasi aktif adalah iminisasi polio atau campak. Vaksinasi Pada dasarnya vaksin dibuat dari: (1) kuman yang telah dilemahkan atau dimatikan. Contoh lain adalah terdapat pada bayi yang baru lahir diman bayi . yaitu zat yang dihasilkan melalui suatu proses infeksi yang dapat berasal dari plasma manusia (kekebalan yang didapat bayi dari ibu melalui plasenta ) atau binantang (bisa ular) yang digunakan untuk mengatasi mikroba yang sudah masuk dalam tubuh yang terinfeksi.

Imunisasi BCG (Bacillus Calmette Guerin) Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit TBC yang berat sebab terjadinya penyakit TBC yang primer atau yang ringan dapat terjadi walaupun sudah dilakukan imunisasi BCG. Kuman TB cepat mati dengan sinar matahari langsung tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di temapat gelap dan lembab (RSPI. Vaksin BCG berbentuk bubuk kering harus dilarutkn dengan 4 cc NaCl 0. Imunisasi ini cukup diberikan satu kali saja. suntikan sebaiknya dilakukan di paha kanan atas.tersebut menerima berbagai jenis antibodi dari ibunya melalui darah plasenta selama kandungan. TBC Milier (pada seluruh lapangan paru) atau TBC tulang. maka pada bayi perempuan. Penyakit Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan kuman Micobacterium Tuberculosis yang mempunyai sifat tahan terhadap asam pada pewarnaan sehingga disebut Basil Tahan Asam (BTA). Tuberkulosis (TB) di Indonesia menduduki urutan ketiga sebagai penyebab kematian setelah jantung dan saluran pernafasan (Bambang Supriatno.9%. Kuman ini dapat menyerang berbagai organ tubuh. bayi tidak menderita demam (Theophilus. ginjal. seperti paru-paru (paling sering terjadi). misalnya antibodi terhadap campak. Imunisasi BCG ini merupakan vaksin yang mengandung kuman TBC yang telah dilemahkan. 2002). 3. dkk. 2000). kelenjar getah bening. Setelah dilarutkan harus segera diapakai dalam waktu 3 jam. . sendi. sisanya dibuang. Imunisasi Dasar 1. hati. atau selaput otak (yang terberat) (Theophilus. pencegahan imunisasi BCG untuk TBC yang berat seperti TBC selaput otak . tulang. Biasanya setelah suntikan BCG diberikan. Bila pemberian imunisasi ini “berhasil. Penyimpana pada suhu < 5ºC terhidar dari sinar matahari. efek samping pada BCG dapat terjadi ulkus pada daerah suntikan dan dapat terjadi limfadenitis regional. 2000). Frekuensi pemberian imunisasi BCG adalah satu kali dan pemberian imunisasi BCG pada umur 0-11 bulan. Pemberian imunisasi BCG sebaiknya dilakukan pada bayi yang baru lahir sampai usia 12 bulan. tetapi imunisasi ini sebaiknya dilakukan sebelum bayi berumur 2 bulan. kemudian cara pemberian imunisasi BCG melalui intrdermal. akan tetapi pada umumnya diberikan pada bayi umur 2 atau 3 bulan.” maka setelah beberapa minggu di tempat suntikan akan timbul benjolan kecil. Penularan penyakit TBC terhadap seorang anak dapat terjadi karena terhirupnya percikan udara yang mengandung kuman TBC. dan reaksi panas. Karena luka suntikan meninggalkan bekas. 2003).

• Indikasi Kontra: Cara penyuntikan BCG Bersihkan lengan dengan kapas air Tak dapat diberikan pada anak yang berpenyakit TB atau menunjukkan Mantoux positif. Vaksinasi dilakukan bila hasil tesnya negatif. Jumlah Pemberian: Cukup 1 kali saja. infeksi alamiah akan selalu ada. Meski ada juga petugas medis yang melakukan penyuntikan di paha. hingga memerlukan pengulangan.a. Biasanya akan sembuh sendiri. d. antibodi tetap terbentuk. Sebab. segera setelah lahir si kecil diimunisasi BCG c. Tanda Keberhasilan: Muncul bisul kecil dan bernanah di daerah bekas suntikan setelah 4-6 minggu. sesuai anjuran WHO. anak akan mendapat vaksinasi alamiah. Bisa saja dikarenakan cara penyuntikan yang salah. . Apalagi bila dilakukan di paha. g. Jikapun bisul tak muncul. Jadi. disarankan tes Mantoux (tuberkulin) dahulu untuk mengetahui apakah si bayi sudah kemasukan kuman Mycobacterium tuberculosis atau belum. hanya saja dalam kadar rendah. vaksin BCG berisi kuman hidup sehingga antibodi yang dihasilkannya tinggi terus. tak perlu diulang (booster). tak usah cemas. Efek Samping: Umumnya tidak ada. meski bisul tak muncul. mengingat cara menyuntikkannya perlu keahlian khusus karena vaksin harus masuk ke dalam kulit. Imunisasi pun tak perlu diulang. e. Namun pada beberapa anak timbul pembengkakan kelenjar getah bening di ketiak atau leher bagian bawah (atau di selangkangan bila penyuntikan dilakukan di paha). Jika baru diberikan setelah usia 2 bulan. Tidak menimbulkan nyeri dan tak diiringi panas. karena di daerah endemis TB. Jika ada penderita TB yang tinggal serumah atau sering bertandang ke rumah. proses menyuntikkannya lebih sulit karena lapisan lemak di bawah kulit paha umumnya lebih tebal. f. b. Usia Pemberian: Di bawah 2 bulan. Lokasi Penyuntikan: Lengan kanan atas. Dengan kata lain. Berbeda dengan vaksin berisi kuman mati. Bisul akan sembuh sendiri dan meninggalkan luka parut.

dan beberapa serabut saraf (Theophilus. RSPI. Sedangkan efek berat dapat menangis hebat kesakitan kurang lebih 4 jam. Pertusis juga dapat menimbulkan komplikasi serius. pertusis. ginjal. dan 2. Penyakit ini mudah menular melalui batuk atau bersin. Dosis 0. Vaksin ini diberikan 5 kali pada usia 2. ensefalopati. Tetanus adalah infeksi bakteri yang bisa menyebabkan kekakuan pada rahang serta kejang. dan terdapat endapan putih di dasarnya. bulan dan 5 tahun. dan shock. jika didiamkan sdikit berkabut. seperti peneumonia. kejang dan kerusakan otak.pori yang khas diameter 4-6 mm Imunisasi DPT adalah suatu vaksin yang melindungi terhadap difteri. Pertusis (batuk rejan) adalah infeksi bakteri pada saluran udara yang ditandai dengan batuk hebat yang menetap serta bunyi pernafasan yang melengking.4. Difteri disebabkan bakteri yang menyerang temggorokan dan dapat menyebabkan komplikasi yang serius atau fatal.18. Gejalanya adalah demam tinggi dan tampak adanya selaput putih kotor pada tonsil (amandel) yang dengan cepat meluas dan menutupi jalan napas.• • a) b) Letakkan jarum hampir sejajar dengan lengan anak dengan ujung jarum yang berluban menghadap keatas. Selain itu racun yang dihasilkan kuman difteri dapat menyerang otot jantung. demam. Toxoid difteri raccun yang dilemahkan Bordittela pertusis bakteri yang dilemahkan Toxoid tetanus racun yang lemahkan (+) aluminium fosfat dan mertiolat Merupaka vaksin cair. Efek samping pada DPT mempunyai efek ringan dan efek berat.6. .05 ml intra kutan merasakan tahan benjolan kulit yang pucat dengan pori. Kuman difteri sangat ganas dan mudah menular. terjadi kejang. Pertusis. dan Tetanus) tetanus. Vaksin mengandung Alumunium fosfat. 2. Terdiri dari : 1. Penyakit DTP yang BERBAHAYA a) Difteri Penyakit Difteri disebabkan oleh Corynebacterium Diphtheriae yaitu bakteri grampositif yang mengeluarkan toksin (racun) yang bisa menimbulkan gejala lokal maupun umum. jika diberika subkutan menimbulkan peradangan dan nekrosis setempat. kesadaran menurun. Suntikan 0. Imunisasi DPT (Dipteri. Cara pemberian imunisasi DPT melalui intramuscular. efek ringan seperti pembengkakan dan nyeri pada tempat penyuntikan.5 ml secara intramuscular di bagian luar paha. 2003). 2002.

b) Pertusis Pertusis adalah radang pernafasan (paru) disebut juga batuk rejan atau batuk 100 hari karena lamanya sakit bisa mencapai 3 bulan lebih atau 100 hari. bakteri akan mengeluarkan toksin yang menyebabkan nekrosis (kematian sel) pada jaringan sekitar (Gloria Cyber Ministries.Penyakit difteri terdapat di seluruh dunia dan masih menjadi endemik di sejumlah negara berkembang termasuk Indonesia. kendati jumlahnya makin berkurang. Sebelum hal itu terjadi. laringotrakea. tetapi di beberapa daerah kadang-kadang juga oleh Bordetella Parapertusis (Gloria Cyber Ministries. DR. karena mata dapat bengkak dan berdarah atau bahkan dapat menyebabkan kematian karena kesulitan bernafas(RSUD. sistem syaraf dan ginjal. Komplikasi biasanya juga merusak jantung. pertusis dan tetanus secara bersamaan. Penyakit ini sangat menular (melalui kontak langsung) pada populasi yang tidak diimunisasi. panjang dan lama. maka bakteri akan diisolasi di selaput lendir saluran nafas atas. Selain itu. Bakteri disebarkan melalui batuk. Jika sudah masuk ke hidung atau mulut. Masa inkubasi penyakit ini tergolong cepat yaitu antara 1-6 hari. Pencegahan paling efektif adalah dengan imunisasi bersamaan dengan tetanus dan pertusis sebanyak tiga kali sejak bayi berumur dua bulan dengan selang penyuntikan satu – dua bulan. penyakit ini menimbulkan komplikasi radang paru (pneumonia) yang menjadi penyebab sekitar 90% kematian anak usia di bawah tiga tahun. Masa inkubasi penyakit ini antara 6-20 hari. Imunisasi ini akan memberikan kekebalan aktif terhadap difteri. Saiful Anwar. Gejala penyakit ini sangat khas. dan bicara. tonsil. perlu diberikan pengobatan suportif dengan istirahat total 2-3 minggu. (2) fase serangan (batuk berat disertai nafas berbunyi) serta (3) fase penyembuhan (batuk berkurang dan nafas membaik). Risiko tertinggi menyerang pada bayi usia enam bulan ke bawah. Jika sudah parah. Penyakit ini cukup berbahaya bila menyerang anak balita. batuk yang bertahap. 2001). Gejala umumnya dibagi dalam tiga fase yaitu (1) fase kataral (gejala infeksi saluran nafas). Gejala klinisnya tergantung dari tempat terjadinya infeksi. status imun dan penyebaran toksin. Dilihat secara klinis. laring. konjungtiva. kulit. disertai bunyi dan diakhiri dengan muntah. 2002). Infeksi difteri bisa menimbulkan kematian jika sudah komplikasi pada laring dan trakea. bersin. faring. 2001). Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Bordetella Pertussis. . difteri bisa terjadi di hidung. Dalam masa inkubasi (2 – 4 hari). bahkan dikatakan penularannya mencapai 100%. dan genital. pasien harus segera mendapatkan obat antitoksin difteri dan antibiotika penisilin dan eritromisin.

Walaupun tetanus merupakan penyakit yang berbahaya. di anjurkan setiap interval 5 tahun: 25. Sebagai pencegahan. bentuk kombinasi DT. memberikan antibiotika penisilin atau tetrasiklin dan memperkuat nutrisi. Pertusis. Untuk mencegah timbulnya penyakit. c) Tetanus Penyakit ini disebabkan oleh baksil Clostridium Tetani yaitu bakteri gram-positif dan bersifat anaerob (bisa berbiak di dalam lingkungan tanpa oksigen). 30. Penyembuhan umum terjadi selama 4-6 minggu. Di Indonesia vaksin terhadap Difteri. Masa inkubasi penyakit ini antara 3-14 hari dengan gejala yang timbul di ahri ke tujuh. cairan serta kalori. Tetanus dapat dicegah dengan pemberian imunisasi sebgai bagian dari imunisasi DPT. 35 dst. Sedangkan imunisasi pasif diberikan dalam bentuk serum antitetanus (ATS profilaksis) pada penderita luka yang berisiko terinfeksi tetanus. Untuk wanita hamil sebaiknya diimmunisasi juga dan melahirkan di tempat yang terjaga kebersihannya. Imunisasi dasar DPT diberikan 3 kali. Imunisasi aktif merupakan vaksinasi dasar dalam bentuk toksoid yang diberikan bersama vaksin pertusis dan difteri. Setelah lewat masa kanak-kanak imunisasi dapat terus dilanjutkan walaupun telah dewsa.. anak perlu mendapat imunisasi aktif dan pasif. Mungkin terjadi prolapsus recti dan hernia karena meningginya tekanan intraabdominal. ulserasi frenulum. Tetanospasmin menempel pada urat saraf disekitar area luka dan dibawa ke system saraf otak serta saraf tulng belakang. Dapat juga timbul komplikasi akibat batuk yang hebat. Ketiga vaksin itu akhirnya disatukan menjadi vaksin DPT. sejak bayi berumur 2 bulan dengan selang waktu . enfisema dan bronkiektas. Vaksin ini dikembangkan sejak 60 tahun lalu dan mulai dipakai efektif di dunia tahun 1960-an bersama dengan vaksin tetanus dan difteri. sehingga terjadi gangguan pada aktivitas normal urat saraf.Selain pneumonia. membersihkan luka. seperti: epistaksis. yaitu: kemasan tunggal khusus untuk tetanus. Pengobatan tetanus dilakukan dengan jalan menetralisasi toksin. dan kombinasi DPT. anak perlu mendapat vaksinasi pertusis. jika dapat didiagnosa dan mendapatkan perawatan yang benar maka penderita dapat disembuhkan. pendarahan sub konjungtiva. dan Tetanus terdapat dalam 3 jenis kemasan. Clostridium Tetani yang memproduksi toksin yang yang disebut dengan tetanospamin. Muntah-muntah yang hebat menimbulkan emasiasi (kurus) dan gangguan keseimbangan elektrolit. komplikasi juga menimbulkan kejang dan turunnya kesadaran akibat berkurangnya oksigen yang masuk ke otak. Dalam neonatal tetanus gejla mulai pada 2 minggu pertama kehidupan seorang bayi.

segera bawa si kecil ke dokter.penyuntikan minimal selama 4 minggu sampai 5 minggu (DPT1. kemudian dibuat tidak aktif (inactivated) dengan pemanasan atau bahan kimia. yakni :  Inactived Poliomyelitis Vaccine (IPV) Di Indonesia. Usia & Jumlah Pemberian: Sebanyak 5 kali. imunisasi DTP tetap aman. 3 kali di usia bayi (2. Selanjutnya di usia 12 tahun. Penykit ini disebabkan virus. Mereka hanya boleh menerima vaksin DT tanpa P karena antigen P inilah yang menyebabkan panas. menyebar melalui tinja/kotoran orang yang terinfeksi. 1. Efek Samping: Umumnya muncul demam yang dapat diatasi dengan obat penurun panas. dan yang alergi terhadap DTP. misal. si kecil dapat diberikan vaksin DTP asesular yang tak menimbulkan demam. Indikasi Kontra: Tak dapat diberikan kepada mereka yang kejangnya disebabkan suatu penyakit seperti epilepsi. meskipun sudah tersedia tetapi Vaksin Polio Inactivated atau Inactived Poliomyelitis Vaccine (IPV) belum banyak digunakan. DPT2. Imunisasi ulang pertama dilakukan pada usia 1 – 2 tahun atau kurang lebih 1 tahun setelah suntikan imunisasi dasar ke-3. dan 1 kali di usia 5 tahun. bukan berarti imunisasinya gagal. umumnya sangat ringan. menderita kelainan saraf yang betul-betul berat atau habis dirawat karena infeksi otak. Imunisasi ulang berikutnya dilakukan pada usia 6 tahun atau kelas 1 SD. Anak yang terkena polio dapat menjadi lumpuh layu. Karena IPV tidak hidup dan tidak dapat replikasi maka vaksin ini tidak dapat menyebabkan penyakit polio walaupun diberikan pada anak dengan . Kalaupun terjadi demam. 3. sebabnya suntikan ini harus diberikan sebanyak 3 kali. dan DPT3). Suntikan pertama tidak memberikan perlindungan apa-apa. Pada saat kelas 6 SD diberikan lagi imunisasi ulang dengan vaksin DT (tanpa P) (Theophilus. 2000). 4. Kejang demam tak membahayakan. Untuk anak yang memiliki riwayat kejang demam. diberikan imunisasi TT 2. bisa saja karena kualitas vaksinnya jelek. hanya sekadar sumeng. Vaksin polio ada dua jenis. POLIO Imunisasi polio memberikan kekebalan terhadap penyakit polio. 1 kali di usia 18 bulan. Jikapun orangtua tetap khawatir. Namun jika demam tak muncul. Jika demamnya tinggi dan tak kunjung reda setelah 2 hari. 3. IPV dihasilkan dengan cara membiakkan virus dalam media pembiakkan. 6 bulan). karena si kecil mengalami kejang hanya ketika demam dan tak akan mengalami kejang lagi setelah demamnya hilang.

vaksin hepatitis B. Virus dalam vaksin ini setelah diberikan 2 tetes akan menempatkan diri di usus dan memacu pembentukan antibodi baik dalam darah maupun dalam dinding luar lapisan usus yang mengakibatkan pertahan lokal terhadap virus polio liar yang akan masuk. 2 dan 3 adalah suku Sabin yang masih hidup tetapi sudah dilemahkan (attenuated).4. Gejala yang umum terjadi akibat serangan virus polio adalah anak mendadak lumpuh pada salah satu anggota geraknya setelah demam selama 2-5 hari.18.5 ml diberikan dalam 4 kali berturut-turut dalam jarak 2 bulan. dan DPT. 2. Imunisasi ulang diberikan bersamaan dengan imunisasi ulang DPT. Imunisasi dasar diberika sejak anak baru lahir atau berumur beberapa hari atau selanjutnya diberikan setiap 4-6 minggu. dan 5 tahun. Dibeberapa Negara dikenal pula Tetravaccine. Pemberian Air susu ibu tidak berpengaruh pada respon antibodi terhadap OPV dan imunisasi tidak bioleh ditunda karena hal ini. dan tipe 3 serta antibiotika eritromisin tidak lebih dari 2 mcg dan kanamisin tidak lebih dari 10 mcg. sedangkan pada dosis berikutnya akan memberikan perlindungan jangka panjang. Pemberian vaksin tersebut dengan cara suntikan subkutan dengan dosis 0. yaitu kombinasi DPT dan polio. Vaksin ini dibuat dalam biakan jaringan ginjal kera dan distabilkan dalam sucrosa. Untuk orang yang mempunyai kontraindikasi atau tidak diperbolehkan mendapatkan OPV maka dapat menggunakan IPV.  Oral Polio Vaccine (OPV) Jenis vaksin Virus Polio Oral atau Oral Polio Vaccine (OPV) ini paling sering dipakai di Indonesia. Setelah diberikan dosis pertama dapat terlindungi secara cepat. pmberian imunisasi polio dapat menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit poliomyelitis. Komposisi vaksin tersebut terdiri dari virus Polio tipe 1. OPV di Indonesia dibuat oleh PT Biofarma Bandung. Vaksin ini terbuat dari virus liar (wild) hidup yang dilemahkan. Imunisasi polio . Cara pemberiannya melalui mulut.3 dibiakkan pada sel-sel VERO ginjal kera dan dibuat tidak aktif dengan formadehid. dan di Indonesia yang umum diberikan adalah vaksin sabin (kuman yang dilemahkan). streptomisin dan polimiksin B. Vaksin OPV pemberiannya dengan cara meneteskan cairan melalui mulut. Terdapat 2 jenis vaksin yang yang beredar. Tiap dosis sebanyak 2 tetes mengandung virus tipe 1. Pemberian vaksin polio dapat dilakukan bersamaan dengan BCG. Selain itu dalam jumlah sedikit terdapat neomisin. tipe 2. IPV harus disimpan pada suhu 2 – 8 C dan tidak boleh dibekukan.6. Vaksin ini diberikan pada bayi baru lahir.2. Vaksin yang dibuat oleh Aventis Pasteur ini berisi tipe 1. bulan.daya tahan tubuh yang lemah. Demikian pula bila ada seorang kontak yang mempunyai daya tahan tubuh yang lemah maka bayi dianjurkan untuk menggunakan IPV.

dan 3) Virus polio terdiri atas tiga strain. Cara memberikan imunisasi polio adalah dengan meneteskan vaksin polio sebanyak dua tetes langsung ke dalam mulut anak. Pemberian secara oral sebanyak 2 tetes (0. dan sakit otot. 4. 3. yang digunakan adalah OPV. Cara Pemberian: Bisa lewat suntikan (Inactivated Poliomyelitis Vaccine/IPV). Vaksin yang berbentuk cairan dengan kemasan 1 cc atau 2 cc dalam flacon.2. antibiotic. Imunisasi ini jangan diberika pada anak yang sedang diare berat. dan fenol merah. diare ringan. • • • • • • • 1. 5. 6 bulan. Tingkat Kekebalan: Indikasi Kontra: Dapat mencekal hingga 90%. 4. interval 4 minggu Ada dua jenis vaksin : IPV OPV sabin IgA local Penyimpanan pada suhu 2-8ºC Jumlah Pemberian: Bisa lebih dari jadwal yang telah ditentukan. strain 2 (lanzig). yaitu strain 1 (brunhilde). Hanya sebagian kecil saja yang mengalami pusing. calf serum dalam magnesium clorida. dan strain 3 (leon). . Dilanjutkan pada usia 18 bulan dan 5 tahun. dibuat dalam biakkan sel-vero : asam amino.Imunnisasi ulang dapt diberikan sebelum anak masuk sekolah (5-6 tahun) dan saat meninggalkan sekolah dasar (12 thun). pemberian vaksin polio selalu dibarengi dengan vaksin DTP.1 ml) Vaksin polio diberikan 4 kali. • Vaksin dari virus polio (tipe 1. Di tanah air. Namun jumlah yang berlebihan ini tak akan berdampak buruk. Usia Pemberian: Saat lahir (0 bulan).yang dilemahkan. mengingat adanya imunisasi polio massal. atau lewat mulut (Oral Poliomyelitis Vaccine/OPV). 6. efek samping yng terjai sangat minimal dapat berupa kejang. pipet. Efek Samping: Hampir tak ada. Kecuali saat lahir. Kasusnya pun sangat jarang. dan berikutnya di usia 2. tak ada istilah overdosis dalam imunisasi! 2. Ingat.

Frekuensi pemberian imunisasi campak adalah satu kali. Biasanya tidak terdapat reaksi akibat imunisasi. Imunisasi campak hanya diberikan satu kali suntikan. Dianjurkan. Selain karena antibodi dari ibu sudah menurun di usia 9 bulan. defisiensi gizi. pemberian campak ke-1 sesuai jadwal. 1 kali di usia 9 bulan. . Imunisasi Campak Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit campak pada anak karena penyakit ini sangat menular. serta anak dengan mekanisme kekebalan terganggu. penyakit gangguan kekebalan. Efek samping imunisasi campak diantaranya adalah demam tinggi (suhu lebih dari 39. Usia & Jumlah Pemberian: Sebanyak 2 kali. 1 kali di usia 6 tahun. 2002). 2002).4ºC) yang terjadi delapan sampai sepuluh hari setelah vaksinasi dan berlangsung selama sekitar 24 48 jam (insidens sekitar dua persen). Waktu pemberian imunisasi campak pada umur 9 – 11 bulan. HIV/AIDS. Imunisasi campak diberikan untuk mendapat kekebalan terhadap penyakit campak secara aktif. penyakit kanker atau keganasan. muntah atau diare. Kontra indikasi pemberian imunisasi campak adalah anak yang sakit parah. riwayat kejang demam.5 ml subkutan dalam (IDAI. mungkin terjadi demam ringan dan tampak sedikit bercak merah pada pipi dibawah telinga pada hari ke tujuh sampai hari ke delapan setelah penyuntikan. dimana tubuh anak dirangsang untuk membuat antibody yang menimbulkan kekebalan (Dirjen PPM dan PL.Tak dapat diberikan pada anak yang menderita penyakit akut atau demam tinggi (di atas 380C). pada suhu yang sesuai (dua sampai delapan derajat celcius) karena sinar matahari atau panas dapat membunuh virus vaksin campak. sedang menjalani pengobatan steroid dan pengobatan radiasi umum. a. Vaksin campak mengandung virus campak hidup yang telah dilemahkan. menderita TBC tanpa pengobatan. Mungkin pula terdapat pembengkakan pada tempat suntikan. 4. Vaksin campak diberikan pada umur sembilan bulan. Kandungan vaksin ini adalah virus yang dilemahkan. 2002). Bila virus vaksin mati sebelum disuntikkan. dan ruam selama sekitar satu sampai dua hari (insidens sekitar dua persen) (Wahab dan Julia. 2001) Vaksin campak harus didinginkan. dalam satu dosis 0. 2000). vaksin tersebut tidak akan mampu menginduksi respon imun (Wahab dan Julia. Cara pemberian imunisasi campak melalui subkutan kemudian efek sampingnya adalah dapat terjadi ruam pada tempat suntikan dan panas. panas lebih dari 38ºC (Markum.

bisa sampai 20ºC Vaksin yang telah dilarutkan hanya tahan 8 jam pada suhu 2-8 ºC Jika ada wabah. . Kadang juga terdapat efek kemerahan mirip campak selama 3 hari. Vaksinasi dimaksudkan untuk mendapat kekebalan aktif terhadap penyakit Hepatitis B. Jika sampai 12 bulan belum mendapatkan imunisasi campak. diberikan dengan suntikan intramusculer pada paha bagian luar dengan dosis 0. bisa menyebabkan demam dan diare. Disamping pada suhu 2-8ºC. 2000). Biasanya demam berlangsung seminggu. immunisasi bisa diberikan pada usia 6 bulan. maka pada usia 12 bulan harus diimunisasi MMR ( Measles Mumps Rubella). di ulang 6 bulan kemudian. HBsAg (hepatitis B surface antigen) adalah protein yang dilepaskan oleh virus hepatitis B yang sedang menginfeksi tubuh. dengan jarak antar suntikan empat minggu. yang dapat menimbulkan kekebalan tetapi tidak menimbulkan penyakit (Markum. Pada beberapa anak. Imunisasi hepatitis B diberikan sebanyak tiga kali. 2002) Vaksin hepatitis akan rusak karena pembekuan. juga karena pemanasan. dilarutkan dalam 5cc pelarut aquades. namun kasusnya sangat kecil. Karena itu. waktu pemberian hepatitis B pada umur 0-11 bulan. Cara pemberian imunisasi hepatitis ini adalah intra muskular. • • • • Diberikan pada bayi umur 9 bulan oleh karena masih ada antibody yang diperolah dari ibu. Imunisasi Hepatitis B Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinyha penyakit hepatitis yang kandungannya adalah HbsAg dalam bentuk cair. Efek Samping: Umumnya tidak ada. b. 5. Vaksin hepatitis paling baik di simpan pada temperatur dua sampai delapan derajat celcius. • Vaksin dari virus hidup (CAM-70 chicchorioallantonik membrane) yang dilemahkan – kanamisin sulfat dan eritromisin berbentuk bekuan kering.5 ml (Dirjen PPM dan PL. protein ini dapat digunakan sebagai penanda atau marker terjadinya infeksi hepatitis B Frekuensi pemberian imunisasi hepatitis 3 kali.penyakit campak umumnya menyerang anak usia balita. vaksin terbuat dari bagian virus bepatitis B yang dinamakan HbsAg.

tak ada gangguan pada paru-paru dan jantung. Tingkat Kekebalan: Cukup tinggi. Khusus bayi yang lahir dari ibu pengidap VHB. Namun dapat dilakukan pengukuran keberhasilan melalui pemeriksaan darah dengan mengecek kadar hepatitis B-nya setelah anak berusia setahun. juga diberikan imunisasi tambahan dengan imunoglobulin antihepatitis B dalam waktu sebelum berusia 24 jam. lebih dari 95% bayi mengalami respons imun yang cukup. Jumlah Pemberian: Sebanyak 3 kali. di atas 500. • • • • Indikasi Kontra: Tak dapat diberikan pada anak yang menderita sakit berat. lateral = otot bagian luar). demam ringan dan reaksi alergi yang serius termasuk ruam (Cave & Mitchell. b. Tanda Keberhasilan: Tak ada tanda klinis yang dapat dijadikan patokan. g. Bila kadarnya di atas 1000. Sementara bila angkanya nol berarti si bayi harus disuntik ulang 3 kali lagi. Vaksin berisi HBsAg murni Diberikn sedini mungkin setelah lahir Suntikan secara intramuscular di daerah deltoid. setelah 3 kali suntikan. selain imunisasi yang dilakukan kurang dari 12 jam setelah lahir. dengan interval 1 bulan antara suntikan pertama dan kedua. Dengan syarat. . dan usia antara 3-6 bulan. tahan 5 tahun. f. a. kondisi bayi stabil. Sedangkan pada bayi di paha lewat anterolateral (antero = otot-otot di bagian depan. 2003). antara 94-96%. d. berarti daya tahannya 8 tahun. yang disusul demam ringan dan pembengkakan. Lokasi Penyuntikan: Pada anak di lengan dengan cara intramuskuler. dosis 0. Namun reaksi ini akan menghilang dalam waktu dua hari. Umumnya.Efek samping pemberian imunisasi Hepatitis B diantaranya rasa sakit pada area suntikan yang berlangsung satu atau dua hari. kemudian 5 bulan antara suntikan kedua dan ketiga. maka dalam setahun akan hilang. Dilanjutkan pada usia 1 bulan. e. tahan 3 tahun. Usia Pemberian: Sekurang-kurangnya 12 jam setelah lahir.5 ml. Penyuntikan di bokong tak dianjurkan karena bisa mengurangi efektivitas vaksin. di atas 200. c. Tetapi kalau angkanya cuma 100. Efek Samping: berupa keluhan nyeri pada bekas suntikan.

(Aminah MS. menyebabkan radang pada tempat-tempat tersebut. tetanus. Jenis-jenis penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi.Imunisasi HIB a. Imunisasi diberikan agar tubuh mempunyai kekebalan terhadap bakteri Haemophilus Influenza Type B. Bila bakteri ini menginfeksi paru-paru menyebabkan radang paru-paru (pnemonia). Macam2 imunisasi anjuran • Imunisasi anjuran merupakan imunisasi non program seperti MMR (Mumps Measles Rubella). tifoid dan hepatitis A (Sostroasmoro. Hib (Hemophilus Influenzae tipe B). Imunisasi anjuran Tujuan imunisasi anjuran • Kebanyakan imunisasi bertujuan untuk memberi perlindungan menyeluruh terhadap penyakit-penyakit yang berbahaya dan sering terjadi pada tahun-tahun awal kehidupan seorang anak. 2007). seperti meningitis (radang selaput otak).Fungsi • Imunisasi HIB. tapi rasa sakit yang sementara akibat suntikan ini demi untuk kesehatan anak dalam jangka waktu panjang. Bakteri ini dapat menyebabkan penyakit yang tergolong berat. 2009). IPD (Invasive Pneumococcal Disease).• • Penyimpanan vaksin pada suhu 2-8ºC Bayi lahir dari ibu HBsAg (+) diberikan immunoglobulin hepatitis B 12 jam setelah lahir + hepatitis B 3. difteri. yang diwajibkan ada 6 macam penyakit: tuberkolosis (TBC). Pada menginitis bakteri tersebut menginfeksi selaput pelindung otak dan saraf otak. dan campak. penyakit gondongn (mums). influenza. Walaupun pengalaman sewaktu mendapatkan vaksinasi tidak menyenangkan untuk bayi (karena biasanya disuntik). penyakit campak jerman (rubella). penyakit kolera (Aminah MS. pertusis (batuk rejan atau batuk 100 hari). penyakit tifes paratifes. tergolong imunisasi yang dianjurkan. menginitis. poliomielitis. 2009) • Tujuan imunisasi anjuran sama dengan tujuan imunisasi pada umumnya yaitu untuk melindungi dan mencegah terhadap penyakit-penyakit menular yang sangat berbahaya bagi bayi dan anak. Sedangkan imunisasi yang di anjurkan seperti penyakit radang hati (hepatitis). 1. Bakteri .

Cellulitis.Haemophilus Influenza Type B dapat menyebabkan septisemia (keracunan darah dan merupakan infeksi yang lebih tersebar luas keseluruh tubuh).Penularan • Penyakit HIB menular melalui bersin atau batuk dari penderita secara langsung. Penularan juga dapat disebabkan. Cara pemberian dan dosis • Imunisasi HIB diberikan pada bayi berumur 2. infeksi pada sendi 4. bengkaknya tenggorokan yang dapat menghambat pernafasan. Yang pertama ketika berumur 2 bulan. 5. Radang paru-paru • Gejala tersebut dapat berkembang cepat dan bila dibiarkan tanpa perawatan. akan tetapi lebih baik jika diberikan imunisasi. Septic arthritis. • Penyakit HIB adalah penyebab paling umum infeksi mematikan pada anak berusia di bawah 5 tahun sebelum ditemukannya vaksinasi HIB rutin pada tahun 1993. Anak-anak mempunyai resiko lebih tinggi. Epiglotitis. Kasus infeksi HIB sebelum tersedianya vaksin paling sering terjadi pada anak berusia di bawah 5 tahun dan jarang terjadi setelah usia 5 tahun. dapat cepat menyebabkan kematian. Imunisasi ini diberikan 3 kali. penyakit ini tidak ada hubungannya dengan influenza. karena penggunaan barang-barang yang terkontaminasi oleh bakteri Haemophilus Influenza Type B dan secara tidak sengaja menjangkit tubuh kita melalui mulut. • Haemophilus Influenzae adalah bakteri yang biasa hidup dijalur pernafasan bagian atas. Meningitis. infeksi pada jaringan dibawah kulit biasanya dimuka. 2. Imunisasi Hib diberikan secara suntikan dibagian otot paha. infeksi pada selaput yang melindungi otak. b. yang kedua 3 bulan dan yang ke tiga berumur 5 bulan. c. 3. Anak-anak yang minum ASI masih bisa terlindungi. Penyakit HIB dapat menyebabkan: 1. Meskipun kemiripan namanya.3 dan 5 bulan. .

dan kemerahan dikulit. d. Pemberian imunisasi ini juga boleh diberikan bagi ibu hamil yang akan berpergian ke daerah yang epidemik dan endemik meningitis seperti afrika. Kadang demam juga bisa terjadi. kaku kuduk. yang disebabkan bakteri. Pencegahan dapat dilakukan dengan imunisasi dan kemoprofilaksis untuk orang-orang yang kontak dengan menginitis dan karier. Penyakit ini disebabkan oleh kuman Nesseria meningitidis. Pada keadaan lanjut. Efek samping • Setelah pemberian imunisasi ini. 2. nyeri kepala. muntah. Efek samping ini tergolong ringan.Imunisasi ini diberikan dalam satu suntikan bersama DPT. biasanya sakit. Meningitis penyebab kematian dan kesakitan diseluruh dunia. bengkak dan kemerahan berlaku ditempat suntikan. mual. jika dibandingkan dengan penyakit Hepatitis B. ibu hamil yang akan pergi haji boleh mendapatkan imunisasi ini dari pada terkena meningitis. • Meningitis meningokokus adalah penyakit radang selaput otak dan selaput sumsum tulang yang terjadi secara akut dan cepat menular. b. tetapi dengan diagnosis dini. CFR melebihi 50%. c. Berkumpulnya populasi dalam jumlah besar dari berbagai negara. Fungsi • Menginitis merupakan penyakit akut radang selaput otak yang disebabkan oleh bakteri Nesseria meningitidis. Juga boleh diberikan bersama imunisasi hepatitis B. Biasanya berlaku sampai 3 hari. Imunisasi meningitis a. Jadi. sebaiknya imunisasi meningitis diberikan setelah trimester pertama. Manfaat • Mencegah infeksi meningitis atau radang selaput otak. kesadaran menurun sampai koma serta terjadi perdarahan echimosis. ketahanan fisik melemah. Pemberian • Pada ibu hamil. . seperti pada musim haji. gejala klinis penyakit ini adalah demam (panas tinggi) mendadak. berpotensi terhadap penyebaran kuman dan penyakit meningitis. terapi modern dan suportif CFR menjadi 5-15%. Jemaah haji dan umroh maupun yang akan berpergian ke arab saudi juga mendapatkan imunisasi sejenis meningitis tersebut.

. Organisasi kesehatan dunia (WHO) telah merekomendasikan pencantuman prioritas vaksin konjugat radang paru 7-valent (PCV7) dalam program imunisasi pada masa kanak-kanak nasional di seluruh dunia sejak tahun 2007. dikenal sebagai pneumonia 4. Fungsi • Imunisasi pneumokokus sangat penting dalam melindungi anak-anak dari penyakit radang paru. Misalnya: 1. yang juga dikenal sebagai pneumokokus. yang disambung secara individual dengan protein toksoid difteri yang tidak aktif. garam dan air. batuk. dikenal sebagai meningitis 3. dikenal sebagai otitis media b. Bagian otak tertentu yang terserang. Penularan • Pneumokokus sangat mudah menular. Vaksin yang dikenal sebagai prevenar. Vaksin ini juga berisi konsentrasi kecil bahan tambahan yaitu aluminium fosfat. orang berisiko tertular jika ada kontak langsung dengan penderita. Bakteri pneumokokus menyerang paru-paru. telah terbukti hampir 100% efektif terhadap penyakit pneumokokus. dikenal sebagai bakteremia 2. 6. seperti bersin. Vaksin ini berisi gula dari tujuh jenis bakteri pneumokokus yang berlainan. Meskipun PCV7 tidak termasuk dalam program imunisasi pada masa kanakkanak. Bakteri pneumokokus masuk kealiran darah. Oleh karena itu. Telinga tengah terinfeksi. Pemberian imunisasi • Imunisasi diberikan pada usia 2. Imunisasi pneumokokus a. vaksin ini sangat mudah diperoleh dari dokter. c.3. Bakteri pneumokokus biasanya terdapat di dalam hidung dan tenggorokan. yang mengacu pada berbagai penyakit yang disebabkan oleh infeksi dengan bakteri streptokokus pneumonia. 4. Bakteri ini menular melalui tetesan lendir atau ludah. Infeksi pneumokokus merupakan infeksi bakteri yang menyerang berbagai bagian tubuh. 12 bulan.

dan Rubella (campak Jerman). 2010) 4. Sementara pada anak lelaki. Terutama buat anak perempuan. 2. dan di bawah telinga (parotitis). nantinya vaksin MMR mencegah agar tak terserang rubela dan menulari sang istri yang mungkin sedang hamil. Imunisasi MMR • Memberikan kekebalan terhadap serangan penyakit Mumps (gondongan/parotitis). rubela dapat menyebabkan kecacatan pada janin. di bawah rahang. 2. terutama usia 2 tahun ke atas sampai kurang lebih 15 tahun. (Proferawati A dan Andhini CSD. Masa inkubasi sekitar 14-24 hari setelah penularan yang terjadi lewat droplet. disertai pusing. merah dan sakit ditempat suntikan. Demam rendah 3. diare 4. kurang nafsu makan. Measles (campak). Awalnya muncul demam (bisa sampai 39.d. Reaksi parah jarang terjadi e. Penanganan efek samping • Jika reaksi yang ditimbulkan setelah imunisasi ringan. mual. Efek samping 1.50C). nyeri otot atau pegal . maka dapat dilakukan beberapa penanganan. Memberi parasetamol untuk mengurangi demam (perhatian dosis yang dianjurkan menurut usia anak). Penting diketahui. vaksinasi MMR sangat penting untuk mengantisipasi terjadinya rubela pada saat hamil. 4. Memberi anak lebih banyak minuman. seperti: 1. 3. Ada beberapa lokasi yang diserang seperti kelenjar ludah di bawah lidah. Anak jangan berpakaian terlalu hangat. Reaksi yang kurang biasa mungkin termasuk muntah. Sedikit bengkak. a. Membubuhkan kain basah yang dingin di tempat suntikan yang sakit. Gondongan • Penyakit infeksi akut akibat virus mumps ini sering menyerang anak-anak.

sekali terkena campak. pemberian imunisasi MMR dapat ditunda hingga anak berusia 3 . Catatan: • Bila orangtua khawatir atau anak menunjukkan keterlambatan bicara dan perkembangan lainnya. Kalaupun ada biasanya terjadi pada anak yang lebih besar. Biasanya dokter juga akan memberi antibiotik untuk mencegah terjadi infeksi kuman lain. Campak Jerman • Campak Jerman atau rubella berbeda dari campak biasa. • Karena gondongan bersifat self-limiting disease (sembuh sendiri tanpa diobati). c. Disamping meningkatkan daya tahan tubuh dengan asupan makanan bergizi dan cukup istirahat. Sehari kemudian tampak bengkak di bawah telinga sebelah kanan dan kemudian menjalar ke sebelahnya. campak Jerman jarang terjadi dan dampaknya tak sampai fatal. Namun. dan diulangi pada umur 6 tahun. jika daya tahan tubuh bagus. Nafsu makan penderita juga biasanya menurun karena terjadi pembengkakan limpa. Sebenarnya. Dan jika sudah sekali terkena. Namun seiring bertambahnya usia. b. pengobatan dilakukan sesuai gejala simptomatik. bayi sudah mendapat kekebalan campak dari ibunya. Untungnya. yaitu pada usia 15 bulan dan 6 tahun. Campak • Sebenarnya. campak hanya diderita sekali seumur hidup. maka MMR dapat diberikan di usia 12 bulan. Pada anak. antibodi dari ibunya semakin menurun sehingga butuh antibodi tambahan lewat pemberian vaksin campak. lesu dan lemah. Hanya gejalanya yang hampir sama seperti flu. 1).terutama di daerah leher. Jika belum mendapat imunisasi campak di usia 9 bulan. batuk. gondongan tak akan berulang. Apalagi penyakit campak mudah menular. Pemberian imunisasi MMR • Diberikan 2 kali. dan mereka yang daya tahan tubuhnya lemah gampang sekali terserang penyakit yang disebabkan virus Morbili ini. setelah itu biasanya tak akan terkena lagi. pilek dan demam tinggi. sekitar usia 5-14 tahun. bercak merah yang timbul tak sampai parah dan cepat menghilang dalam waktu 3 hari. Jadi. anak tak akan tertular.

baik ringan maupun berat. Pemberian imunisasi • Vaksin suntikan diberikan satu kali kepada anak umur 2 tahun dan diulang setiap 3 tahun. dan makanan-minuman yang tidak higienis. Bila semua proses tumbuh kembangnya tak ada masalah alias normal. lalu menyerang tubuh. Demamnya pun dapat diatasi dengan obat penurun panas yang dosis pemakaiannya sesuai anjuran dokter. bisa sampai 400c. Namun tak perlu khawatir karena gejala tersebut berlangsung sementara saja. terutama saluran cerna.tahun. lidah kotor. • Gejala khas terinfeksi bakteri tifus adalah suhu tubuh yang berangsur-angsur meningkat setiap hari. dan sakit perut. Biasanya di pagi hari demam akan menurun tapi lalu meningkat di waktu sore/malam. • Namun pencegahan tetaplah yang terbaik. vaksin MMR dapat diberikan kepada anak. timbul ruam atau bercak merah. harus dirawat di rumah sakit. yaitu infeksi akut yang disebabkan bakteri Salmonella typhi. banyak minum. mual berat. Pada tingkat ringan atau disebut paratifus (gejala tifus). 1). terlebih Indonesia merupakan negara endemik penyakit tifus. 2). Pengulangan ini perlu mengingat serangan penyakit tifus bisa . mengonsumsi makanan bergizi. dan minum antibiotik yang diresepkan dokter. Imunisasi tipoid • Ada 2 jenis vaksin tifoid yang bisa diberikan ke anak. Efek samping • Beberapa hari setelah diimunisasi. cukup dirawat di rumah. dan tidur pasif (tak banyak gerak). serta terjadi pembengkakan di lokasi penyuntikan. Dia masuk melalui mulut. muntah. Penyakit ini. harus diobati hingga tuntas untuk mencegah kekambuhan. Selain juga untuk menghindari terjadi komplikasi karena dapat berakibat fatal. yakni vaksin oral (Vivotif) dan vaksin suntikan (TyphimVi). Keduanya efektif mencekal demam tifoid alias penyakit tifus. biasanya anak mengalami demam. Tapi kalau berat. Gejala lainnya adalah mencret. Anak harus banyak istirahat. terkesan acuh tak acuh bahkan bengong. lemas. pusing. Bakteri ini hidup di sanitasi yang buruk seperti lingkungan kumuh. 5.

Bila virus ini menempel di makanan. Biasanya kuning ini menghilang. • Masa inkubasi berlangsung 18-50 hari dengan rata-rata kurang lebih 28 hari. Imunisasi hepatitis A • Penyebaran virus hepatitis A (VHA) sangat mudah. Efek samping • Kemerahan di tempat suntikan. atau peralatan makan. urine mulai berwarna lebih gelap seperti teh. • Meski tak separah hepatitis B. Efek tersebut akan hilang dengan sendirinya. termasuk kebersihan makanan dan minuman. Jadi. sakit tenggorokan. kehilangan nafsu makan. ruam kulit. bersin. harus dilakukan tes darah. a. demam. • Tak ada pengobatan khusus untuk hepatitis A. Pengobatan dilakukan hanya untuk mengatasi gejala seperti demam dan mual. Selanjutnya. mual. merasa dingin. Pemberian imunisasi . anak harus banyak istirahat dan mengonsumsi makanan bergizi. pencegahan tetap diperlukan. Selebihnya. Biasanya berlangsung 4-7 hari. minuman. nyeri kepala/pusing. ditambah banyaknya lingkungan yang tidak higienis dan kurang terjaminnya makanan yang dikonsumsi anak. penyakit yang kerap disebut penyakit kuning ini. Juga bisa muncul demam. atau batuk. Disamping. muntah. karena sesungguhnya penyakit ini dapat sembuh sendiri. 6. bukan berarti kita boleh menganggap remeh hepatitis A. dan batuk. dan (jarang dijumpai). Namun. dan nyeri perut Umumnya berupa bengkak. kemudian dimakan atau digunakan oleh anak lain maka dia akan tertular. rasa tak enak di bagian kanan atas perut. sakit kepala. nyeri.berulang. lelah. Setelah itu barulah muncul gejala seperti lesu. 2). bisa menjadi berat bila terjadi komplikasi. Penderita akan mengeluarkan virus ini saat meludah. nyeri otot. nausea (mual). untuk memastikan apakah anak mengidap VHA atau tidak. menjaga lingkungan agar selalu bersih dan sehat. nyeri sendi. yakni dengan pemberian imunisasi hepatitis A. Pasalnya. • Sementara vaksin oral diberikan kepada anak umur 6 tahun atau lebih.

Imunisasi varicella • Memberikan kekebalan terhadap cacar air atau chicken pox. gatal. dapat muncul rasa sakit pada bekas suntikan. yang ditandai dengan vesikel (lesi/bintik berisi air) pada kulit maupun selaput lendir. juga agar tak terjadi komplikasi yang bisa berakibat fatal. Atasi rasa gatalnya dengan bedak yang mengandung kalamin. disertai demam ringan. Efek samping • Umumnya tak terjadi reaksi. bersin. c. penyakit yang disebabkan virus varicella zooster. b. yaitu ketika mulai muncul bintik dengan cairan yang jernih. sebanyak 2 kali dengan interval pemberian 6-12 bulan. Sebaiknya penderita dipisahkan dari anggota keluarga lainnya untuk mencegah penularan. tak menimbulkan reaksi. a. Efek samping • Umumnya. Minta anak untuk tidak menggaruk agar tak menimbulkan bekas luka. Namun. Tingkat kekebalan • Efektif mencekal hingga 90%. . Penularannya sangat mudah karena virusnya bisa menyebar lewat udara yang keluar saat penderita meludah. Hanya sekitar 1% yang mengalami demam. b. atau batuk. 7. Termasuk penyakit akut dan menular. Barulah kemudian muncul bintik-bintik.• Dapat diberikan saat anak berusia 2 tahun. Setelah bintik-bintik itu berubah jadi hitam. anak mengalami demam sekitar 3-7 hari tapi tidak tinggi. Selain untuk mencegah bintik-bintik tidak meluas ke seluruh tubuh. Tingkatkan daya tahan tubuhnya dengan asupan makanan bergizi. maka tidak menular lagi. dan merah. meski sangat jarang. • Awalnya. Meski dapat sembuh sendiri. Namun yang paling potensial menularkan adalah kontak langsung dengan vesikel. anak tetap perlu dibawa ke dokter. Pemberian imunisasi • Diberikan sebanyak 1 kali yakni pada usia antara 10-12 tahun. Reaksi ini akan menghilang dalam waktu 2 hari.

Hib-3 pada umur 6 bulan tidak perlu diberikan Polio-3 Polio-3 diberikan bersamaan dengan DTP-3 Hepatitis B-3 HB-3 diberikan umur 6 bulan. Hib-1 dapat diberikan secara terpisah atau dikombinasikan dengan DTP-1. Hib-2 dapat diberikan terpisah atau dikombinasikan dengan DTP-2 Polio-2 diberikan bersamaan dengan DTP-2 DTP-3 dapat diberikan terpisah atau dikombinasikan dengan Hib-3 (PRP-T). (Khasanah N. BCG dapat diberikan sejak lahir. Apabila mempergunakan Hib-OMP. Apabila BCG akan diberikan pada umur > 3 bulan sebaiknya dilakukan uji tuberkulin terlebih dahulu dan BCG diberikan apabila uji tuberkulin negatif. Untuk mendapatkan respons imun . DTP-1 diberikan secara kombinasi dengan Hib-1 Hib-1 Polio-1 4 bulan DTP-2 Hib-2 Polio-2 6 bulan DTP-3 Hib-3 (PRP-T) Hib-1 diberikan mulai umur 2 bulan dengan interval 2 bulan. 2008) 4. dilanjutkan pada umur 1 dan 6 bulan. Untuk bayi yang lahir di RB/RS polio oral diberikan saat bayi dipulangkan (untuk menghindari 1 bulan Hepatitis B-2 0-2 bulan 2 bulan DTP-1 BCG transmisi virus vaksin kepada bayi lain) Hb-2 diberikan pada umur 1 bulan. dapat dipergunakan DTwp atau DTap. Dari penelitian terhadap 100 anak yang diimunisasi varisela.5 ml bersamaan dengan vaksin HB-1.5 ml sebelum bayi berumur Polio-0 7 hari. Tingkat kekebalan • Efektivitasnya bisa mencapai 97%. itu pun tergolong ringan. interval HB-1 dan HB-2 adalah 1 bulan. dalam waktu 12 jam setelah lahir diberikan HBlg 0. Apabila semula status HbsAg ibu tidak diketahui dan ternyata dalam perjalanan selanjutnya diketahui bahwa ibu HbsAg positif maka masih dapat diberikan HBlg 0. hanya 3 di antaranya yang tetap terkena cacar air. Jadwal Imunisasi dasar dan imunisasi anjuran Umur Saat lahir vaksin Hepatitis B-1 Keterangan HB-1 harus diberikan dalam waktu 12 jam setelah lahir.c. Polio-0 diberikan saat kunjungan pertama. Polio-1 dapat diberikan bersamaan dengan DTP-1 DTP-2 (DTwp atau DTap) dapat diberikan secara terpisah atau dikombinasikan dengan Hib-2 (PRP-T). Apabila status HbsAg-B ibu positif. DTP-1 diberikan pada umur lebih dari 6 minggu.

campak-2 merupakan program BIAS pada SD kelas 1. Jika orang tua sangat berkeberatan terhadap pemberian imunisasi kepada bayi yang sakit. Imunisasi tifoid polisakarida injeksi perlu diulang setiap 3 tahun. Menjelang pubertas. Apabila sampai umur 12 bulan belum mendapatkan imunisasi campak. Vaksin tifoid polisakarida injeksi direkomendasikan untuk umur > 2 tahun. Riwayat kejang demam dan panas lebih dari 380C merupakan kontraindikasi pemberian DPT atau HB1 dan campak. Analvilaksis atau reaksi hipersensitiva (reaksi tubuh yang terlalu sensitif) yang hebat merupakan kontraindikasi mutlak terhadap dosis vaksin berikutnya. b. Jangan berikan vaksin BCG kepada bayi yang menunjukkan tanda-tanda dan gejala AIDS. lebih baik jangan diberikan vaksin. 15-18 bulan 18 MMR Hib-4 DTP-4 Polio-4 bulan 2 tahun Hepatitis A 2-3 tahun 5 tahun DTP-5 Polio-5 6 MMR tahun. diberikan dua kali dengan interval 6-12 bulan. tetapi mintalah ibu kembali lagi ketika bayi sudah sehat. Vaksin varisela diberikan pada umur 10 tahun. vaksin tetanus ke-5 (dT atau TT) diberikan untuk mendapatkan imunitas selama 25 tahun. c. interval HB-2 dan HB-3 minimal 2 bulan. Polio-4 diberikan bersamaan dengan DTP-4. DTP-5 diberikan pada umur 5 tahun (DTwp/DTap) Polio-5 diberikan bersamaan dengan DTP-5. sedangkan vaksin yang lainnya sebaiknya diberikan. Hib-4 diberikan pada 15 bulan (PRP-T atau PRP-OMP). yaitu: a. Diberikan untuk catch-up immunization pada anak yang belum mendapatkan MMR-1. Vaksin HepA direkomendasikan pada umur > 2 tahun. umur 6 tahun. DTP-4 (DTwp atau DTap) diberikan 1 tahun setelah DTP-3. terbaik 5 bulan. MMR dapat diberikan pada umur 12 bulan. . campak-2 tidak perlu diberikan.9 bulan Campak-1 optimal. 10 tahun Varisela 5. Apabila telah mendapatkan MMR pada umur 15 bulan. Campak-1 diberikan pada umur 9 bulan. Kontraindikasi dT/TT Tifoid Kontra indikasi pemberian imunisasi Kontra indikasi dalam pemberian ada 3.

Pengkajian Pra Imunisasi : 1. akan tetapi hal ini bukan masalah besar. A. Sakit ringan seperti infeksi saluran pernafasan atau diare dengan suhu dibawah 38. bukan masalah pemberian ASi jika disertai pemberian imunisasi. Riwayat yang belum tentu benar ini membuat keengganan bagi ibu untuk memberikan imunisasi pada anaknya. . • Pada penderita down’s syndrome atau pada anak dengan kondisi saraf yang stabil seperti kelumpuhan otak yang disebabkan karena luka. imunisasi boleh saja diberikan. Tulis biodata klien secara lengkap. • Dugaan infeksi HIV atau positif terinfeksi HIV dengan tidak menunjukkan tandatanda dan gejala AIDS. Kurang gizi. • Riwayat keluarga tentang peristiwa yang membahayakan setelah imunisasi. Sebelum atau pasca operasi. • • • • Bayi yang lahir sebelum waktunya (prematur) atau berat bayi saat lahir rendah. seperti penyakit jantung kronis. ginjal atau liver. jadi imunisasi masih tetap diberikan. sebaiknya tetap diberikan imunisasi: • • Pada bayi yang mengalami alergi atau asma imunisasi masih bisa diberikan. Kecuali jika alergi pada komponen khusus dari vaksin yang diberikan. • Pengobatan antibiotik.Penanganan bagi bayi yang mengalami kondisi sakit. imunisasi yang lain tetap berlaku. Riwayat sakit kuning pada kelahiran.50C. • • Anak diberi ASI. jika menunjukkan tanda-tanda dan gejala AIDS kecuali imunisasi BCG. paru-paru. masih biasa diberikan bersamaan dengan pemberian munisasi. Pemberian imunisasi juga dapat dilakukan pada bayi yang sakit kronis.

dan catat hal. Periksa status imunisasi anggota klg lainnya. Dokumentasikan kestatus klien 3.hal istimewa. Intervensi Keperawatan Saat akan melakukan penyuntikan vaksin 1. B. Riwayat kejang 7. Riwayat alergi terhadap obat tertentu. Tinjau kembali apakah ada indikasi kontra thd vaksin yang akan diberikan. seperti ada perubahan warna. Kanker ) 8. 6. Informasi tentang efek samping vaksin dan resiko apabila tdk imunisasi.obatan 9. Berikan vaksin dgn tehnik yang benar. Riwayat penyakit yang oernah diderita 4. Riwayat penyakit keluarga ( Disfungsi imunologi.multiply. periksa tanggal kadaluawarsa. Setelah selesai pemberian vaksin 1. 3. dan tawarkan tawarkan vaksin lain untuk mengejar imunisasi yang tertinggal.com/journal/item/161 http://dr-suparyanto. Riwayat obat.com/2010/09/imunisasi-anjuran.blogspot. 4. Laporan imunisasi secara rinci hrs dilaporkan ke Puskesmas induk è Dinas kesehatan ( Bag P2M ) 5. Penyuluhan tentang imunisasi 6. Periksa kembali persiapan u/ imunisasi untuk mengantisipasi hal. Periksa vaksin yang akan diberikan. 8. 3. C.com/2010/04/imunisasi-adalah-suatu-cara-untuk.blogspot. 2. Periksa jenis vaksin dan yakinkan kalau vaksin disimpan dgn baik 7. Pengkajian secara umum mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. 4. Berikan petunjuk. Riwayat imunisasi yang pernah didapatkan o/ anak 5.html http://sulisetiya. Yakinkan bahwa vaksin yang akan diberikan sesuai jadwal.misalnya pemberian parasetamol bila anak demam.html .HIV/ AIDS. sebaiknya tertulus kepada ortu/ klg atau pengasuh apa yg harus dikerjakan dalam kejadian biasa atau kejadian yg lebih berat. Memberitahu ulang tentang efek samping vaksin dan resiko apabila tdk imunisasi.tanda perubahan pada vaksin tersebut. 9. DAFTAR PUSTAKA http://subhanallahu. apakah ada tanda.hal yg tdk diinginkan. Baca dgn teliti informasi tentang produk 5. Komunikasi teraupeutik dengan ortu/klg 2. Riwayat prenatal 6.2.

wordpress.html .com/2011/01/imunisasi-pada-anak.blogspot.http://yanuarariefudin.com/2012/06/17/5-imunisasi-dasar-lengkap/ http://rismawati-maulani.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->