MAKALAH SOCIAL AND POLITICAL MARKETING “EFEKTIFITAS PEMASARAN POLITIK TERHADAP PENINGKATAN ELEKTABILITAS CALON PEMIMPIN DAERAH”

DISUSUN OLEH : RINI NURHASANAH NPM. A1B. 10. 0015

JURUSAN ADMINISTRASI BISNIS FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI UNIVERSITAS SUBANG 2013

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat limpahan rahmat dan hidayah-Nya maka tugas ini dapat diselesaikan. Atas semua bantuan yang telah diberikan, baik secara langsung maupun tidak langsung selama penyusunan tugas ini hingga selesai, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak. Penulis menyadari bahwa tugas akhir ini belum sempurna, baik dari segi materi meupun penyajiannya. Untuk itu saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan dalam penyempurnaan tugas ni. Terakhir penulis berharap, semoga tugas akhir ini dapat memberikan hal yang bermanfaat dan menambah wawasan bagi pembaca dan khususnya bagi penulis juga.

Subang, Juni 2013

Penyusun

i

................................................................................................... 11 ii .... ii BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................................................DAFTAR ISI DAFTAR ISI ................................................................. 1 BAB II PEMBAHASAN..................................................................................... 3 BAB III PENUTUP .................

Kinerja partai atau calon kontestan biasanya termanivestasikan pada reputasi dan ‘citra’ ([I]image[/I]) yang berkembang di masyarakat. tetapi juga menganalisis apa saja yang telah dilakukan oleh partai tersebut di masa lampau. Ini kalau mereka tidak ingin suaranya tergerus atau melorot posisinya pada pemilu. Pemilih tidak hanya melihat program kerja atau ‘platform’ partai yang berorientasi ke masa depan. dan (2) tawaran program untuk menyelesaikan permasalahan nasional yang ada. Pemilih dalam hal ini lebih mengutamakan kemampuan partai politik atau calon kontestan dalam program kerjanya. marketing politik menjadi kebutuhan yang tidak terelakkan. Bukan hanya partai-partai baru dan relatif kecil pendukungnya yang memerlukan marketing politik guna mengontrol citra dan popularitasnya agar dapat menangguk suara yang memadai. Dalam konteks ini yang lebih utama bagi partai politik dan kontestan adalah mencari cara agar mereka bisa membangun reputasi di depan publik dengan mengedepankan kebijakan untuk mengatasi permasalahan nasional. Aktivfitas marketing politik pun sudah merambah ke media massa. Selain itu. tetapi juga partai-partai besar yang telah eksis dan mapan pun tidak bisa meremehkan kehadiran instrumen yang satu ini. dan pengamat politik. Program kerja atau ‘platform’ partai bisa dianalisis dalam dua hal: (1) kinerja partai di masa lampau .BAB I PENDAHULUAN Di era multipartai seperti sekarang ini. informasi teoritis yang berkaitan dengan [I]Marketing Politik[/I] kurang populer di kalangan paraktisi politik. baik di daerah maupun di perguruan tinggi. baik cetak. Akhir-akhir ini marketing sudah banyak diterapkan dalam politik. online maupun elektronik. institusi politik pun 3 .

koran dan majalah (Firmanzah. Sedangkan di Amerika Serikat pertama kali digunakan pada tahun 1926 ketika pesan politik dilakukan melalui media cetak seperti poster pamflet. yaitu pertama kali pada tahun 1917 ketika Partai Buruh di Inggris meresmikan Departemen Publikasi dibantu oleh agen publikasi Egerton Wake. Tapi di dunia. dalam hal ini marketing sebagai disiplin ilmu yang berkembang dalam dunia bisnis yang di asumsikan berguna bagi institusi politik. 4 . marketing politik digunakan sejak sebelumnya Perang Dunia II. konstituen dan masyarakat luas. Di Indonesia marketing politik disinyalir mulai digunakan sejak tahun 1990-an. 2007).membutuhkan pendekatan alternatif untuk membangun hubungan dengan.

Inilah kemudian yang menjadi dasar pemikiran dikawinkannya marketing dengan politik. Sebaliknya rasionalitas politik bergerak pada tataran proses menciptakan tatanan masyarakat yang ideal melalui sistematisasi perebutan kekuasaan. Makna politis inilah yang menjadi output penting [I]political marketing[/I] yang menentukan pihak mana yang akan dicoblos oleh para pemilih. Ini kalau mereka tidak ingin suaranya tergerus atau melorot posisinya pada pemilu mendatang. Pada titik ini marketing menjadi media untuk meraih keuntungan semaksimal mungkin. kepada 5 . tetapi juga partai-partai besar yang telah eksis dan mapan pun tidak bisa meremehkan kehadiran instrumen yang satu ini. marketing politik menjadi kebutuhan yang tidak terhindarkan. distribusi produk politik. Sejatinya marketing dan politik adalah dua disiplin ilmu yang bertolak-belakang. Di era multipartai seperti sekarang ini. Serangkain makna politis yang terbentuk dalam pikiran para pemilih menjadi oreantasi perilaku yang akan mengarahkan pemilih untuk memilih kontestan tertentu.BAB II PEMBAHASAN Konsep Marketing Politik Pada dasarnya political marketing adalah strategi kampanye politik untuk membentuk serangkaian makna politis tertentu dalam pikiran para pemilih. Rasionalitas marketing mengacu pada persaingan dengan tujuan memenangkannya secara efektif. Bukan hanya partai-partai baru dan relatif kecil pendukungnya yang memerlukan marketing politik guna mengontrol citra dan popularitasnya agar dapat menangguk suara yang memadai. metode dan pendekatan yang terdapat dalam ilmu marketing dapat membantu institusi politik untuk membawa produk politik.

Untuk riset politik. 6 . Tidak hanya itu. sudah lama dimanfaatkan oleh elit parpol atau kandidat parpol yang maju dalam Pilkada. beberapa figur anggota calon legislatif secara diamdiam menjalin kerjasama dengan lembaga riset tertentu untuk mengukur kansnya lolos sebagai anggota legislatif. Jika dipetakan. Beberapa parpol pasang iklan di koran-koran serta tokoh-tokohnya mulai media mengkampanyekan kelebihan dan keunggulan partainya di elektronik. tidak hanya dalam ilmu politik. Bahkan. politik terkait erat dengan pernyataan sebuah nilai. aktivitas marketing politik yang dilakukan oleh partai politik dan para tokohnya itu rata-rata baru sebatas pemanfaatan peran media massa (publikasi) dan riset pasar/politik. dari kontak fisik selama periode kampanye sampai dengan komonikasi tidak langsung melalui pemberitaan di media massa. dalam marketing politik yang ditekankan adalah pengunaaan pendekatan dan metode marketing untuk membantu politikus dan partai politik agar lebih efesien dan lebih efektif membangun dua arah dengan konstituen dan masyarakat.publik dan menyakinkan bahwa produk politiknya lebih unggul dibandingkan dengan pesaing. Marketing politik telah menjadi suatu fenomena. Tentunya terdapat beberapa asumsi yng mesti dilihat untuk tidak memahami marketing politik. Pengunaaan metode marketing dalam bidang politik dikenal sebagai marketing politik ([I]political marketing[/I]). baik cetak. dan riset untuk para caleg baru menjelang Pemilu 2009 saat ini. karena konteks dunia politik memang banyak politik berbeda dengan mengandung perbedaan dengan dunia usaha. produk retail. aktivitas marketing politik pun sudah merambah ke media massa. sehinga akan berbeda pula muatanya yang ada diantara keduanya. hubungan ini diaartikan secara luas. online maupun elektronik. tetapi juga memunculkan beragam pertanyaan para marketer yang selama ini sudah terbiasa dalam konteks dunia usaha.

Bupati. pemahaman awal terhadap Marketing Politik yang diberikan ketika perkuliahan disosialisasikan ke kalangan masyarakat level menengah ke bawah dapat memberikan informasi dan stimulus berupa dukungan seluruh kalangan masyarakat untuk terlibat dalam memotivasi masyarakat dan pengurus Partai politik untuk meningkatkan pemahaman pemilu. Marketing kata O’Cass secara filosofis menjadi suatu untuk mengetahui apa yang diinginkan dan dibutuhkan masyarakat (baca: pemilih). maka partai politik akan mampu merumuskan ”Citra Target” yang diinginkan dan mempunyai fokus dalam membidik targetnya. Agar marketing politik dapat efektif. kebutuhan yang dimaksud tentu kebutuhan politik. partai harus memuaskan kebutuhan masyarakat luas. maka partai politik atau politisi harus mampu merumuskan satu fokus atas sasaran yang akan dituju. Gubernur. entitas yang melakukan persaingan harus mengahadapi kenyataan bahwa mereka bersaing untuk memperebutkan konsumen. Dengan demikian. 1. masyarakat membutuhkan produk politik 7 . Marketing Politik dengan Judul buku.Kekhawatiran akan rusaknya sistem sosial akibat perkawinan ini tampaknya ingin disanggah oleh Firmanzah dengan mengutip statement A. Karena itu. Marketing Politik: Antara Pemahaman Dan Ralita. simpatisannya dan terus menerus mengamati apa yang dilakukan oleh para pesaingnya. Partai politik harus mampu mengenali konstituennya. untuk memenangkan persaingan dalam politik. Melalui penelitian ini. O’Cass yang berkisar pada kontekstualitas marketing. diharapkan dapat membuka wacana baru mengenai Marketing Politik dalam sebuah pendekatan baru dalam memenangkan baik dalam pemilihan presiden. Adapun konsep Marketing politik dalam domain politik buku Firmansyah. dan lain-lain. Oreantasi Pasar Dalam iklim persaingan. DPD.

masyarakat bahwa inilah cara yang dapat menyelesaikan masalah pada masa kini. tidak hanya itu. Persaingan sangat dibutuhkan oleh partai politik karena beberapa hal. 8 . idiologi. Pertama melalui persangan partai dapat mengevaluasi secara objektif apakah yang mereka lakukan sudah benar atau tidak. benar atau tidaknya dilihat melalui perolehan suara sendiri jika dibandingkan dengan rival utama mereka. apabila perolehan suara mereka lebih tinggi dibandingkan dengan rival. harapan dan figur pemimpin yang dapat memberikan rasa pasti untuk menghadapi masa depan. bebas kolosi dan intervensi pemerintah terbukti telah membuat partai partai politik mengahadapi kenyataan bahwa mereka harus bersaing langsung dengan para lawan atau pesaing. masyarakat adalah inspirasi dan ide untuk mengetahui apa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Orentasi Persaingan Kondisi multi partai semakin meningkatkan kesadaran akan persaingan yang sehat. 2. 3.seperti program kerja. Partai atau kandidat harus memiliki hubungan erat terkait aktivitas dengan masyarakat. Pemilih menurut popkin (1994) akan memilih partai atau kandidit yang memiliki kedekatan idiologi dan kebijakan. Oreantasi Konsumen Hal penting yang harus dimiliki oleh partai adalah kemampuan alam menilai dan mengevaluasi siapa konsumen mereka . apabila perolehan suara lebih tinggi di bandingkan dengan pesaing utama. berarti pemilih partai tersebut memiliki nilai dibandingan dengan yang lain. politik juga harus mampu menyakinkan. persaingan dibutuhkan untuk terus memotivasi partai politik agar berusaha lebih bagus dan tidak mudah puas dengan apa yang telah di raih. konsumen dalam hal ini masyarakat harus ditampung aspirasinya dan diterjemahkan dalam bentuk program kerja.

Dalam konteks era informasi sekarang ini.Kemenangan partai politik dalam setiap pemilu dan terpilihnya kepala daerah dan menang dalam pemilukada tidak terlepas dari marketing politik (Firmanzah. heterogen. situasi dapat menunjang persuasi yang efektif. Serangkaian simbol yang memberikan makna tentang realitas ada dan pengalaman dalam kehidupan. dan anonim sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat. Sehingga bisa 9 . bisa ditransformasikan media massa dalam lingkungan publik. institusi media massa seperti televisi dan surat kabar dipercaya memiliki kemampuan dalam menyelenggarakan produksi. Inilah kemudian yang menyebabkan mereka berhasil membentuk citra yang baik dibanding para kompetitornya atau para kontestan yang lain. bila arus komunikasi massa ini hanya dikendalikan oleh komunikator. situasi komunikasi akan mendorong belajar yang efektif. Sebaliknya bila khalayak dapat mengatur arus informasi. Perkataan dapat menjadi sangat rasional karena seperti dikatakan Alexis S. Dengan daya jangkau yang relatif luas dan dalam waktu yang serentak. reproduksi dan distribusi pengetahuan secara signifikan. Media Massa Sebagai Saluran Marketing Politik Media massa merupakan jenis media yang ditunjukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar. mampu memainkan peran dalam propaganda.Tan. 2009: 120). Relevan dengan pendapat Cassata dan Asante. seperti dikutip Jalaluddin Rakhmat. komunikator dalam media massa ini merupakan suatu organisasi sosial yang mampu memproduksi pesan dan mengirimkannya secara simultan kepada sejumlah besar masyarakat yang secara spasial terpisah. Hal ini terlihat dalam kutipan pada bab kata pengantar oleh firmanzahdalam buku Marketing Politik Antara Pemahaman dan Realitas.

ketika kampanye sedang berjalan dimana masing-masing kontestan sudah menjalankan strateginya. banyak pihak yang terlibat dalam pemanfaatan media massa. Riset dilakukan dengan membentuk empat sampai lima group diskusi yang masing-masing terdiri dari 8 sampai 12 orang. trend survey yang dilakukan beberapa bulan setelah benchmark poll. Supaya hasil marketing politik lebih maksimal. maka kandidat sebaiknya di samping berkutat pada pemanfaatan akses media massa dan riset politik belaka. Pada survei ini diketahui juga peluang-peluang yang dapat dimanfaatkan dan tantangan atau ancaman yang mesti diantisipasi. focus group analysis. focus group analysis after benchmark. Tentu saja dalam perkembangnnya. Survei ini melibatkan 500 sampai 1. Kedua. Idealnya 12-14 bulan sebelum pemilihan. dilakukan beberapa bulan sebelum pemilihan. [I]dial meter[/I] atau tes pasar tentang iklan kontestan dan iklan pesaing berdasarkan hipotesis kandidat sebelum iklan disiarkan.200 pemilih. tetapi perlu ditambah dengan pola atau strategi lain yang lebih kreatif dan inovatif.200 responden. Keempat. Hal ini dilakukan beberapa bula setelah benchmark poll. Ada 6 (enam) jenis riset berikutnya yang penting dilakukan adalah riset marketing politik untuk memantau perkembangan opini publik. untuk mengetahui perincian kekuatan dan kelemahan kontestan-kontestan yang bersaing. Ketiga. Karena sejatinya aktivitas marketing[/I] politik tidak hanya terpaku pada 2 hal itu saja tapi masih banyak yang lain. benchmark survey.diakses anggota masyarakat secara luas. Tes ini biasanya melibatkan 30 sampai 40 orang partisipan untuk melihat bagaimana respons partisipan terhadap iklan yang akan disiarkan. 10 . Kelima. Pertama. untuk mendiskusikan secara mendalam hasil benchmark survey. dengan melibatkan beberapa grup yang terdiri dari 8 sampai 12 partisipan. Idealnya banchmark survey ini dilakukan 10 hingga 12 bulan sebelum pilkada dengan melibatkan 500 sampai 1.

jika masing-maisng kandidat peserta pilkada ingin mendulang sukses dan meraih dukungan sebanyak-banyak dari rakyat dan masyarakat. ia mesti diaplikasikan pada seluruh roses organisasi partai politik. Pilkada sebagai suatu proses transaksi political trading dalam jangka panjang dapat dikategorikan sebagai political investment. Tidak hanya pada momentum menjelang pilkada atau tahapan pemilu saja ia diejawantahkan. menawarkan ide dan program. image. Kedua. Justru di situlah efektivitas marketing politik dipertaruhkan. menurut Lees-Marshmant (2001). sosiologi. penerapan konsep marketing politik jangan hanya berhenti hingga pemilihan umum tapi juga harus terus berlanjut setelah itu. Agar tidak terjadi kolaborasi kohesif-negatif antara pemilih dengan kandidat setelah 11 . tetapi harus sedini mungkin. Kalau tidak. serta desain produk hingga ke market intelligent dan pemrosesan informasi. misalnya pada tahap bagaimana memformulasikan produk politik lewat penciptaan simbol. dalam menerapkan marketing politik hendaknya juga melibatkan disiplin ilmu komunikasi. sedangkan faktor psikologisnya adalah kedekatan emosional dan karakter seorang pemimpin hingga pada aspek rasionalitas platform partai. Ketiga. dan psikologi. Hal ini karena produk politik merupakan fungsi dari pemahaman komunikasi dan sosiologis mengenai simbol dan identitas. Anda komunitas politik siap-siap gigit jari. tidak hanya pada teknik marketing. Keempat. yaitu proses lobi politik di parlemen. isu politik hingga program kerja. dalam menerapkan marketing politik seyogianya menggunakan konsep marketing secara luas.Pertama. penggunaan marketing politik (political marketing) yang efektif dan komprehensif sejak dini menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. tetapi juga sampai pada strategi marketing mulai dari teknik publikasi. karena marketing politik lebih daripada sekadar komunikasi politik. platform. Yang pasti.

kemenangan dicapai yang akan syarat dengan politik balas budi (rewarding politics) dan berpotensi KKN. Hal tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor kepentingan. Kandidat terpilih diharapkan mampu membangun hubungan dengan konstituen dalam jangka panjang dengan jaringan berskala translokal. tingkat kecerdasan. seperti idealisme. Dalam perspektif sosiologis. termasuk dalam percaturan dunia politik. yakni etika politik yang diinstitusionalisasikan dengan kekuatan hukum positif bersanksi (law enforcement). dan mengelola administrasi dengan benar). keinginan. Sangat memungkinkan apabila sukses (memimpin dengan baik. menurut Newcomb (1985: 119). dibutuhkan adanya accountable politic. sukses pilkada hanya dalam pelaksanaan pilkada (3 bulan) akan tetapi tidak menghasilkan pemimpin yang sukses membangung pascapilkada (5 tahun). dan kehendak hatinya. Semua usaha yang mereka lakukan mempunyai dasar dan alasan yang berbeda-beda. Kedua faktor tersebut dapat dilihat dari orientasi dan tujuan seseorang dalam memilih calon walikota. kehidupan beragama. setiap masyarakat memiliki tujuan dan orientasi yang berbeda-beda dalam hidupnya. Juga dipengaruhi oleh suasana lingkungan-kebudayaan. akan mempermudah membangun political marketing. Jika tidak terbangun moral politik yang baik dan benar. faktor biologis. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Eletabilitas Figur Calon Kepala Daerah Secara garis besar faktor tersebut dapat diakatagorikan menjadi dua bagian yaitu pengaruh faktor internal dan pengaruh faktor eksternal. Sebab. Sikap dan tingkah laku politik seseorang ditentukan oleh apa yang terkandung di dalam dirinya sendiri. perubahan sikap suatu masyarakat pada umumnya dipengaruhi oleh adanya 12 . politik. sosial dan ekonomi.

tetapi. kampanye terselubung memanfaatkan jabatan atau praktik politik dagang sapi serta bentuk-bentuk pembodohan lainnya yang berdampak terhadap rakyat masih sering terjadi. dapat mengakibatkan pemilihan berada dalam kegalauan. proses tersebut terkadang tidak berjalan secara baik dan elegan. mengatakan bahwa salah satu faktor yang menjadi dasar ukuran seseorang dalam pengambilan keputusan seseorang adalah nilai-nilai (ideological values) yang diyakini oleh suatu kebutuhan masyarakat tertentu. 13 . Karena hal-hal tersebut merupakan penggerak utama (frame mover) bagi setiap individu untuk menentukan pilihan. bahwa para pemilih yang dungu atau bodoh dianggap sebagai ancaman buat demokrasi. sehingga selanjutnya akan memperendah tingkat kepercayaan publik. Misalnya seseorang yang beragama Islam.informasi baru yang dipandang relevan dengan tuntutan kondisional. Perhelatan demokrasi menjadi ajang pertarungan elit politik dalam mencari kekuasaan. Berbeda dengan Apter pandangan James Anderson (1984 :13-15). Seharusnya nilainilai dan norma tersebut menjadi bingkai dalam menentukan pilihan seseorang. penelitian ini menunjukan bahwa publik yang tolol. Hal tersebut sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh David E. Namun dalam prakteknya ada kesenjangan yang cukup tajam antara nilai-nilai yang diyakini oleh suatu masyarakat dengan pilihannya itu. tentu idealnya akan menjatuhkan pilihannya kepada individu atau partai yang dinilai memiliki kesamaan ideologi. kapan dan dimana informasi baru itu diterima. praktik politik uang. Misalnya. serta ekstrimisme yang menyertainya. Apter.

Dalam kasus Jokowi. Dengan cara demikian Jokowi. yang berpasangan dengan Ahok. pihak lainlah yang akan bekerja dengan memublikasikan kelebihan si objek. para sopir taksi tersebut. Bahasa yang digunakan sederhana: menempatkan para supir taksi itu sebagai teman.tampak Jokowi tak canggung menyapa rakyat jelata. semua 14 . Para supir taksi pun. Pola Klasik Merujuk pada definisi klasik. sebagai pihak yang ditengarai sering dibuat kesal oleh kondisi lalu lintas Jakarta. Ia menemui teman-temannya.BAB III PEMBAHASAN Kasus : Analisis Pemasaran Politik Jokowi-Ahok dalam Pilkada DKI 2013 Semendaratnya di Jakarta dalam rangka memboyong keluarga pindah. tentu akan menjadi teman baik bagi Jokowi yang menjanjikan akan mengurai macet Jakarta apabila ia terpilih sebagai gubernur. Dalam salah satu suasana kampanye yang ditayangkan televisi. Ia luwes masuk keluar gang sempit dan kumuh.secara psikologis sudah menang merebut hati kaum bawah. aksi public relations (PR) dianggap sukses bekerja dengan baik apabila atas objek yang dipublikasikan tersebut si objek tidak perlu melakukan aksi sendiri. setelah “mengambil” mayoritas suara pemilih dalam Pilkada DKI. Jokowi cenderung dekat dengan berbagai kalangan di level menengah bawah. Sebagai gantinya.Selanjutnya para kaum bawah ini yang lalu bertindak sebagai juru kampanye secara tidak langsung. definisi ini terbukti mumpuni. Jokowi segera menyapa kerumunan sopir taksi di Bandara SoekarnoHatta. Bila iseng menengok Youtube. Dia juga makan dengan santai di salah satu warteg yang dijumpainya.terlepas dari juru kampanye resmi yang dibentuk oleh tim suksesnya.

Muncul pula dalam beragam versi. Militansi yang terbentuk bermuara pada satu semangat. Gangnam Style. Baik marketing klasik maupun multi level marketing. 15 . kaum muda.Masyarakat marginal. yang sejak awal diubah liriknya untuk mendukung Foke-Nara. sudah tentu hal ini sangat tidak menarik. Jahilnya lagi. Uji petik kelompok marketing kubu ini adalah melalui statement sejak awal bahwa tidak akan ada honor atau pamrih bagi mereka. Demam. Materi yang mereka jajakan pun cukup menggiurkan.aksi mendukung Jokowi-Ahok mudah dijumpai. Kubu ini pun tidak berkeberatan bila tenaga marketing-nya melepaskan diri dari kelompok karena tidak teruji. Dari versi serius ala talkshow hingga gubahan aneka lagu populer berbagai versi. tidak dapat lagi dielakkan . Okelah Kalau Begitu. atau memang dukungan sesungguhnya. kaum urban. sedemikian kentalnya. dibuatkan cover versionnya oleh pihak lain untuk mendukung Jokowi-Ahok. lagu Warteg Boys. Prinsip Marketing Selain melakukan aksi PR. dalam dan luar negeri. tugas yang dibebankan kepada mereka adalah tantangan luar biasa menarik. kubu Jokowi-Ahok juga menerapkan dengan baik prinsip marketing. Bagi tenaga marketing dengan harapan tinggi pada upah. yang diadopsi dan diubah liriknya menjadi lagu dukungan bagi Jokowi-Ahok. euforia. Adrenalin pun tertantang naik. tarian kuda dari Korea yang sedang in juga tampil di Youtube dengan kemeja kotak-kotak. Jokowi-Ahok harus menang dengan kesadaran bahwa merekalah yang akan menjadi roda gulir menuju kemenangan tersebut. menjadi tenaga PR sukarela bagi Jokowi-Ahok. Sebaliknya bagi tenaga marketing yang memang terobsesi pada upaya “memasarkan” produk secara baik dan tepat sasaran.

Hasilnya adalah efektivitas 16 . Dan ajaibnya. hanya saja mind set dan keberpihakan masyarakat tentang pekerja keras adalah pada kelompok yang berpeluh dan berdebu. Masih bisa dijumpai satu hal lagi yang memudahkan Jokowi-Ahok dipasarkan. Para koboi sendiri adalah kelas pekerja keras. Mediasosialinimemaksa generasi non-digital untuk juga melakukan migrasi kemari. Hanya saja kostum yang diambil cenderung beraroma priyayi. Warna kuat. Yakni simbol yang diambil melalui kemeja kotak-kotak merah hitam. Secara tidak langsung kemeja kotak-kotak menyiratkan kesiapan Jokowi-Ahok untuk bekerja keras.Segudang prestasi Jokowi-Ahok layak jual dan seksi diperbincangkan dalam setiap kesempatan berjualan. laku! Kemeja kotak-kotak dengan lengan digulung selain memberikan kesan trendi secara simbolis berbicara lebih jauh tentang makna kerja keras. Kemeja ini juga menjadi “merchandise” yang dijual para relawan untuk mencari dana atau membiayai langkah mereka. Kekuatan Komunikasi Sudah beberapa kali media sosial yang sekitar satu dekade ini menyeruak ke permukaan sebagai wacana gaul generasi digital membuktikan keandalannya. Pasangan lain ada juga yang mengambil simbol pakaian sebagai “seragam” mereka. Bukan berarti priyayi tak siap bekerja keras. Kemeja yang mereka kenakan tidak memberikan gambaran keberpihakan terhadap satu golongan atau satu kelompok secara spesifik. dengan mudah diterima pasar. Coba sedikit kita ingat bagaimana kemeja kotak-kotak ini pada sekitar beberapa abad lalu di tanah Amerika Utara identik dengan kostum para koboi. model simpel dan merespons keseharian serta kekinian. Perpaduan antara tenaga marketing yang terseleksi oleh alam dan materi yang layak jual inilah yang kemudian mengantarkan “dagangan” diserap pasar dengan baik.

Jakarta itu kompleks. Sebagaimana diketahui Twitter amat efektif bekerja sebagai media komunikasi dan ekspresi kaum muda. pemasaran dan media yang dipilih. terutama rakyat yang termarginalkan 17 . Euforia kini masih tersisa. Telaah sederhana dari sisi komunikasi dan pemasaran ini menemukan dengan jelas sinergi kekuatan komunikasi. Solusinya pun multisektoral dengan beragam faktor yang harus dipertimbangkan. Efeknya banyak hal bisa dilakukan dengan kerja ujung jari di atas keyboard komputer. menjadi kabur. akan tetapi peran Twitter di kalangan generasi muda berhasil menjadi corong komunikasi kelompok ini. Dan dalam versi terkini. bergulir demi kesejahteraan semua kalangan. Belum ada pernyataan resmi. Batas wilayah. Di Mesir. Kisah spektakuler kekuatan dunia digital ini di Indonesia diawali oleh kasus Prita dengan RS Omni. Akan tetapi pekerja keras hendaknya tidak berlama-lama larut di dalamnya. Hilang sama sekali. bahkan batas negara. ya kita lihat sendiri pada kemenangan Jokowi-Ahok. Pilihan yang diambil mengantarkan Jokowi-Ahok ke kemenangan. kejatuhan Presiden Hosni Mubarak juga karena kekuatan media sosial di dunia digital. Pastikan kekuatan komunikasi itu terus bekerja.komunikasi digital kelas tinggi.

yang merupakan syarat utama adanya kebebasan dalam berkompetisi yang cukup sportif diantara para kandidat. Sehingga dalam memenangkan persaingan dalam pilkada. Diantaranya adalah dengan melakukan analisis perilaku pemilih/ voter. Dunia politik sudah tidak lagi menjadi merupakan dominasi dari para ahli politik tetapi juga para ahli pemasaran semakin menunjukkan relevansi dan eksistensinya. Hermawan Kertajaya (1996) menjelaskan bahwa pada saat belum ada persaingan tidak keras. dan kontrol terhadap program politik dan pemilihan umum. ada hal yang menarik dalam proses pilkada. ketika dunia politik dituntut untuk lebih terbuka. Sehingga political marketing semakin menunjukkan urgensi dan relevansinya. Pada saat persaingan sudah sangat keras. Dalam hal demikian pemilihpun diperlakukan sebagai seorang calon konsumen. Pada situasi yang semakin keras. Yang bertumpu pada lahan demokrasi. dan kacau maka pemasaran harus menjadi jiwa setiap orang di suatu perusahaan/kandidat. membangun. maka pemasaran menjadi suatu fungsi yang semakin penting. transparan. segmentasi pemilih. dan pencitraan seorang kandidat. positioning.BAB IV KESIMPULAN Dalam perspektif marketing. implementasi. maka pemasaran belum terlalu dibutuhkan suatu perusahaan/kandidat. Kondisi ini menyebabkan para kandidat menghabiskan dana yang tidak sedikit untuk mempromosikan dirinya dengan tujuan untuk menarik simpati dan dukungan dalam pilkada. tidak dapat diprediksi. yaitu berlakunya logika pemasaran dalam dunia politik. yang didesain untuk menciptakan. dan mampu berkompetisi secara sehat. perencanaan. dan membina hubungan yang saling menguntungkan antara 18 . seorang kandidat membutuhkan ilmu dan logika pemasaran. Political marketing bisa didefinisikan sebagai proses analisis.

Di saat yang sama para kandidat ditawarkan sebagai konstituen. Tetapi bukan berarti ilmu pemasaran tidak mampu menjawabtantangan dunia politik. Karena memang ilmu pemasaran ditujukan untuk memasarkan produk. agar bisa diterima konsumen. 1999). Memang terdapat perbedaan antara political marketing dengan teori-teori pemasaran produk konsumsi (Egan.partai (institusi politik) dengan pemilih (O’Cass. 1996). 19 .

php/opini/95-efektivitas-publikasi-danpemasaran-ala-jokowi-ahok http://studiperadaban.com/2012/04/penerapankonsep-political-marketing.pangisyarwi.com/index.php?option=com_content&v iew=article&id=127:marketing-politik&catid=8&Itemid=103 http://ispei.blogspot.blogspot.html http://www.org/index.html 20 .com/2012/05/mengukurelektabilitas-calon-walikota.Daftar Pustaka http://tarakanbergerak.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful