P. 1
Peningkatan Kemampuan Menulis Karangan Eksposisi Dengan Menggunakan Media Teks Artikel

Peningkatan Kemampuan Menulis Karangan Eksposisi Dengan Menggunakan Media Teks Artikel

|Views: 2,734|Likes:

More info:

Published by: Yusnita Susila Astuti on Jul 07, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/08/2014

pdf

text

original

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN EKSPOSISI DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA TEKS ARTIKEL PADA KELAS XI LOGAM A SEMESTER II SMK

N 5 YOGYAKARTA TAHUN PELAJARAN 2010/2011 Titik Tri Hartini Guru SMK N 5 Yogyakarta

Abstrak Keterampilan menulis karangan eksposisi merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang perlu diajarkan pada siswa secara terpadu dengan keterampilan berbahasa yang lain. Pada kenyataannya banyak siswa yang beranggapan bahwa keterampilan berbahasa yang paling sulit ialah keterampilan menulis. Hal ini disebabkan, karena sebagian besar siswa kurang memperhatikan konsep menulis yang baik. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMK N 5 Yogyakarta khususnya menulis karangan eksposisi mengalami masalah, hal ini ditunjukkan hasil menulis banyak siswa yang belum memenuhi standar nilai KKM yaitu 7,00 Oleh karena terdapat permasalahan siswa dalam menulis karangan eksposisi tersebut, maka saya sebagai guru pengajar di Kelas XI tertarik untuk menggadakan penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana meningkatkan kemampuan karangan eksposisi dengan media artikel. Metode penelitian ini adalah eksperimen semu, oleh karena tidak adanya kelas kontrol. Adapun jenis penelitian PTK (Penelitian Tindakan Kelas). Penelitian ini dilaksanakan dengan dua siklus, tiap siklus terdiri atas 1) perencanaan (planning), 2) tindakan (acting), 3) pengamatan (observing), dan 4) refleksi (reflecting). Hasil penelitian menunjukkan terdapat peningkatan nilai rata-rata dan ketuntasan belajar tiap-tiap siklus. Pada siklus I nilai rata-rata 7,20, ini berarti sudah mengalami peningkatan nilai 0,76 (dari prasiklus yang rata-rata nilainya hanya 6,44%). Nilai rata-rata siklus II adalah 7,70, menggalami kenaikan 0,50 dari siklus I. Ketuntasan belajar siswa juga menggalami peningkatan pada tiap siklus, pra siklus 23,33%, siklus I 80,00% dan pada siklus II mencapai 100%. Simpulan pembelajaran dengan menggunakan teks artikel dapat meningkatkan kemampuan menulis siswa. Kata kunci : kemampuan menulis, karangan ekposisi, media teks berita.

PENDAHULUAN Menulis adalah sebuah keterampilan berbahasa yang terpadu, yang ditunjukan untuk menghasilkan sesuatu yang disebut tulisan. Sekurang-kurangnya, ada tiga komponen yang tergabung dalam perbuatan menulis, yaitu : 1) penguasaan bahasa tulis, yang akan berfungsi sebagai media tulisan, meliputi kosakata, struktur kalimat, paragraf, ejaan, pragmatik dan sebagainya; 2) penguasaan isi karangan sesuai dengan topik yang akan ditulis; dan 3) penguasaan tentang jenis-jenis tulisan, yaitu bagaimana merangkai isi tulisan dengan menggunakan bahasa tulis sehingga membentuk sebuah komposisi yang diinginkan, seperti esai, artikel, cerita pendek, makalah, dan sebagainya. Dalam dunia pendidikan kegiatan menulis menjadi momok bagi para siswa. Hal itu dapat dilihat disaat sang guru menyuruh siswa menulis, mereka selalu mengeluh. Oleh karena itu, dalam dunia pendidikan kegiatan menulis membutuhkan proses sehingga para siswa membutuhkan peran dan sarana yang memadahi dalam pembelajaran menulis untuk merangsang pikiran dan kreativitas mereka. Pada kegiatan menulis, seseorang menulis berdasarkan apa yang didengar, dibaca dan dibicarakan, terlepas dari apa yang dipikirkan dan dirasakan. Oleh karena itu, penulis yang baik harus dapat menguasai semua keterampilan berbahasa yaitu menulis, berbicara, membaca dan mendengarkan. Menulis dalam berbagai bentuk wacana yaitu eksposisi, deskripsi, narasi, dan argumentasi merupakan salah satu keterampilan yang harus dikuasai oleh siswa dalam mata pelajaran bahasa Indonesia di SMK. Namun berdasarkan pengamatan saat pembelajaran, menulis karangan eksposisi hasil nilai yang diperoleh siswa belum maksimal. Dari data nilai rata-rata kelas baru mencapai 6,44 sedangkan siswa yang belum tuntas mencapai 73,00% (jumlah 30 siswa yang tuntas hanya 7 orang). Dari hasil studi pendahuluan dengan guru bahasa Indonesia kelas XI yang lain sepakat bahwa ketidakberhasilan siswa menulis karangan eksposisi karena 1) pembelajaran menulis karangan eksposisi dilaksanakan secara tradisional, 2) guru tidak menggunakan media pembelajaran, 3) guru tidak memberikan rubrik penilaian, tidak memberikan panduan yang jelas. Oleh karena itu, sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan menulis karangan eksposisi pada siswa, maka dilaksanakan PTK (Penelitian Tindakan Kelas), dengan judul Peningkatan Kemampuan Menulis Karangan Eksposisi Dengan Menggunakan Teks Artikel Pada Siswa Kelas XI Logam A SMK N 5 Yogyakarta Tahun Pelajaran 2010/2011. Tujuan dalam penelitian tindakanan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan menulis karangan eksposisi dan mendiskripsikan peningkatan hasil belajar siswa kelas XI Logam A SMK N 5 Yogyakarta. Manfaat penelitian ini antara lain meningkatkan kualitas pembelajaran guru, mengembangkan profesionalisme guru, dan bagi sekolah dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan yang berhubungan dengan pengembangan profesionalisme guru.

LANDASAN TEORITIS Pengertian Menulis Mengarang atau menulis merupakan kegiatan berkomunikasi melalui bahasa yang tingkatannya paling tinggi karena di dalam menulis harus benar-benar menguasai struktur dan tata bahasa. Menulis merupakan suatu proses kreatif yang banyak melibatkan cara berpikir divergen (menyebar) daripada konvergen (memusat). Menulis adalah melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan (KBBI, 1990:968). Bloom (dalam Ahmadi, 1988:22) menyatakan bahwa tulisan atau karangan (komposisi tulis) termasuk dalam kategori “sintesis” yaitu sebagai suatu “produksi komunikasi yang unik” di mana penulis

mencoba dan berupaya untuk menyampaikan gagasan, ide, dan atau perasaan kepada orang lain (pembaca). Pada dasarnya, tulisan seseorang itu bisa menunjukkan cara berpikir orang tersebut. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana ia menghasilkan tulisan. Sehubungan dengan hal tersebut, setiap orang yang akan menulis selalu memerlukan kondisi lingkungan yang kondusif. Kondisi demikian tentu saja akan menimbulkan proses menulis yang logis dan sistematis. Berpikir logis artinya kemampuan berpikir dengan mengoptimalkan kemampuan otak untuk menghasilkan pemikiran yang sehat dan dapat diterima oleh orang lain. Berpikir sistematis adalah adanya keteraturan dalam berpikir dengan langkah-langkah yang sistematis. Oleh karena itu, menulis harus melalui tahapan prakarsa (pratulis), tahap pelanjutan (tahap penulisan), tahap revisi (tahap perbaikan) dan tahap pengakhiran (tahap penyelesaian). Asas Menulis Efektif Gie (2002:33) menuturkan bahwa ada tiga asas utama yang perlu diperhatikan dalam menulis karangan yang efektif. Dalam bahasa Inggris, ketiga asas utama tersebut dikenal dengan singkatan 3C yaitu clarity (kejelasan), conciseness (keringkasan), dan correctness (ketepatan). Ketiga asas tersebut yaitu sebagai berikut: 1. Kejelasan Asas mengarang yang pertama dan utama dalam kegiatan menulis ialah kejelasan. Hasil perwujudan gagasan seseorang dalam bahasa tulis harus dapat dibaca dan dimengerti oleh pembaca. 2. Keringkasan Asas keringkasan tidaklah berarti bahwa setiap karangan harus pendek. Keringkasan berarti bahwa suatu karangan tidak menghamburkan kata-kata, tidak mengulang-ulang butir ide yang dikemukakan, dan tidak berputar-putar dalam menyampaikan suatu gagasan dengan berbagai kalimat yang berkepanjangan. 3. Ketepatan Asas ketepatan mengandung ketentuan bahwa sesuatu penulisan harus dapat menyampaikan butir-butir gagasan kepada pembaca dengan kecocokan sepenuhnya seperti yang dimaksud oleh penulisnya. Oleh karena itu, agar karangannya tepat, setiap penulis harus menaati sepenuhnya berbagai aturan dan ketentuan tata bahasa, ejaan, tanda baca, dan kelaziman pemakaian bahasa tulis yang ada. Tiga asas tersebut merupakan asas-asas utama yang harus diperhatikan dan dilaksanakan dalam kegiatan menulis, sehingga dapat menghasilkan suatu tulisan yang baik dan dapat dibaca dan dimengerti oleh pembaca. Selain ketiga asas utama tersebut, menurut Gie (2002:36–37), masih terdapat tiga asas menulis lainnya yang perlu diperhatikan oleh penulis agar dapat menghasilkan tulisan yang baik. Ketiga asas itu antara lain unity (kesatupaduan), coherence (pertautan), emphasis (penegasan). Hakikat Pembelajaran Menulis Berhasil atau tidaknya pengajaran menulis, salah satunya disebabkan oleh cara yang ditempuh guru dalam mengajarkan menulis. Menurut Nurhasanah dan Widodo (1993:70–72), ada empat hal yang perlu diperhatikan dalam mengajarkan kemampuan menulis adalah sebagai berikut. 1. Prinsip Menulis adalah ketrampilan berbahasa. Ketrampilan akan dapat dicapai kalau banyak berlatih. Oleh karena itu, untuk mencapai ketrampilan itu, siswa harus diberi banyak latihan atau tugas-tugas. Sebelum guru memberikan tugas-tugas kepada siswa, guru harus

menjelaskan tugas-tugas apa yang diberikan kepada siswa dan apa yang harus dilakukan dan diperhatikan siswa. 2. Pembimbingan Bimbingan perlu diberikan secara intensif sejak siswa mulai belajar menulis sampai menghasilkan tulisan. Setelah siswa menghasilkan karangan, pengoreksian terhadap karangan perlu dilakukan dan hasilnya perlu diinformasikan kepada siswa. Guru bersamasama siswa bisa mendiskusikan bagaimana pembetulan karangan itu karena yang diperlukan dalam karangan ini adalah siswa mengetahui bagaimana seharusnya mereka mengarang. 3. Sifat pengajaran Pengajaran menulis bisa dilakukan dengan memulai latihan dengan aspek kemampuan menulis kemudian dilanjutkan dengan latihan menulis karangan secara utuh, memulai teori tentang menulis kemudian dilanjutkan ke praktek menulis atau dimulai dengan hal-hal yang dikenal siswa atau berada di lingkungan siswa ke hal-hal yang belum dikenal siswa. 4. Media Media pengajaran menulis bisa diambil dari contoh-contoh karangan yang sudah ada, bisa diambil dari surat kabar atau majalah. Tujuan Pembelajaran Menulis Menurut Nurchasanah dan Widodo (1993:62–66), tujuan pembelajaran menulis dapat ditentukan berdasarkan aspek yang diinginkan dicapai oleh siswa. Tujuan tersebut antara lain sebagai berikut. 1. Tujuan yang bersifat teoretis dan praktis, biasanya diwujudkan dalam pengajaran menulis secara serentak, maksudnya dalam pertemuan pengajaran tertentu siswa diharapkan dapat mencapai tujuan yang bersifat teoretis sekaligus dapat mencapai tujuan yang bersifat praktis. Tujuan yang bersifat teoretis menitikberatkan pembelajaran pada aspek teori menulis sedangkan tujuan yang bersifat praktis menitikberatkan pada aspek praktek menulis. 2. Tujuan berdasarkan wujud tulisan/karangan, maksudnya tujuan pengajaran menulis dapat didasarkan atas wujud tulisan yang diharapkan dikuasai oleh siswa. Wujud karangan yang dimaksud misalnya siswa diharapkan mampu menulis karangan ilmiah, karangan nonilmiah, karangan yang bersifat pengetahuan, karangan yang bersifat kesusastraan, dll. 3. Tujuan berdasarkan tingkat kognisi yang dicapai, yaitu tujuan yang bersifat ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesia, dan evaluasi. Dalam praktek di kelas, diharapkan tujuan tersebut dapat tercapai dalam pembelajar di kelas. Siswa (kelas tinggi) sebaiknya mampu hingga tahap evaluasi karena jika seseorang pandai menilai sesuatu itu artinya dia telah memahami apa yang dia nilai. 4. Tujuan langsung dan tidak langsung, di mana tujuan langsungnya adalah agar siswa dapat menulis secara langsung tanpa melalui tahapan kegiatan prasyarat, sedangkan tujuan tidak langsungnya adalah siswa dapat menulis dengan melalui tahapan-tahapan kegiatan prasyarat. 5. Tujuan yang bersifat diskrit dan pragmatik, yakni pengajaran menulis yang bersifat diskrit bertujuan ingin melihat aspek-aspek kemampuan menulis secara terpisah-pisah, sedangkan pengajaran menulis yang bersifat pragmatik bertujuan ingin melihat kemampuan menulis secara utuh, bukan melihat aspek-peraspek.

Pembelajaran Menulis Karangan Eksposisi Eksposisi atau ekspositori juga bisa disebut paparan yaitu suatu paragraf yang menampilkan suatu objek yang peninjauannya tertuju pada satu unsur saja dengan cara penyampaiaan yang menggunakan perkembangan analisis kronologis atau keruangan (Arifin dan Tansai, 2002:129). Dengan demikian tujuan utama karangan eksposisi adalah untuk memberitahu, mengupas, menguraikan, atau menerangkan sesuatu. Adapaun langkah menyusun karangan eksposisi adalah menentukan topik atau tema, menetapkan tujuan, mengumpulkan data dari berbagai sumber, menyusun kerangka karangan sesuai dengan topik yang dipilih, dan menggembangkan kerangka menjadi karangan eksposisi. Pada karangan eksposisi penulis berniat untuk memberikan informasi kepada pembaca, sehingga pada karangan eksposisi mengandalkan strategi pengembangan alinea seperti melalui pemberian contoh, proses, sebab akibat, klasifikasi, definisi, analisis, komparasi dan kontras. Agar dapat menulis karangan eksposisi dengan baik, penulis perlu memiliki metode atau strategi dalam mengembengkan paragraf. Menurut Alwasilah dan Alwasilah (2007:112-113) ada tujuh metode atau strategi yang dapat digunakan untuk mengembangkan paragraf eksposisi yaitu: 1. Metode contoh Pengembangan paragraf menggunakan metode contoh adalah cara yang paling sederhana tapi efektif bagi penulis untuk menyampaikan gagasan kepada pembaca. Contoh bisa berupa kata, kalimat, atau alinea. Metode ini biasanya dimulai dengan ungkapan misalnya, sebagai contoh, sebut saja, dan sebagainya. 2. Metode proses Pengembangan paragraf dengan metode proses, penulis mendeskripsikan urutan langkahlangkah bagaimana mengerjakan sesuatu atau bagaimana sesuatu bekerja. Biasanya secara kronologis sebuah langkah diikuti langkah berikutnya. Oleh karena itu maka dalam sebuah proses terkandung narasi dan sebab akibat. 3. Metode sebab akibat Metode sebab-akibat dalam pengembangan paragraf menjabarkan bahwa sebab selalu mengarah pada satu akibat atau lebih, dan akibat satu sebab atau lebih. Dengan metode ini penulis mengeskplorasi kaitan sebab akibat. 4. Metode klasifikasi Paragraf yang dikembangkan dengan metode klasifikasi pada intinya mengenalkan karakteristik yang sama dari sejumlah butir yang ada. Dalam menentukan klasifikasi penulis melakukan strategi komparasi-kontras. 5. Metode definisi Metode definisi secara formal terdiri tiga hal, yaitu konsep yang diberi definisi, kelas atau kelompoknya dan hal-hal atau karakteristik. Definisi ini bisa berupa definisi pendek sari kamus atau keseluruhan esay menjelaskan sesuatu. 6. Metode analisis Metode pengembangan paragraf dengan analisis yakni sebagai cara berpikir dan menulis dengan memecahkan atau membagi sesuatu menjadi bagian dengan tujuan agar lebih dimengerti. Esay analitis lazim dilakukan peneliti untuk mempelajari sesuatu. 7. Definisi komparasi kontras Metode pengembangan komparasi-kontras penulis harus menjaga keseimbangan antara keduanya. Komparasi berfokus pada persamaan sedang kontras berfokus pada perbedaan.

Jenis-jenis Media Pembelajaran Dalam salah satu artikel Yusuf Hadi Miarso memberikan batasan media pelajaran sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian, serta kemampuan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada siswa. Batasan yang sederhana ini sangat luas maknanya karena mencakup pengertian, sumber, lingkungan manusia, dan metode yang dimanfaatkan untuk tujuan pengajaran. Jenis-jenis dan sumber bahan ajar pengajaran bahasa Indonesia dapat berupa: 1. Buku teks utama bahasa dan sastra, biasanya sudah ditentukan oleh sekolah. 2. Media ajar non buku teks, seperti: majalah, koran, junk mail, brosur, dan leaflet, baliho, formulir aplikasi, iklan, kemasan berbagai produk, kumpulan karya sastra, kliping, kumpulan skripsi, teks drama, cerpen, dan sebagainya. 3. Media elektronik seperti audio visual, kaset rekaman, siaran televisi, film, video, dan sebagainya. 4. Media dan bahan ajar berbasis komputer: CD,VCD, dan internet. Fungsi Media Pembelajaran Media merupakan salah satu wadah penyalur pesan atau informasi dalam belajar. Media merupakan wadah pesan, yang oleh sumber atau penyalurnya ingin diteruskan kepada sasaran atau penerima pesan tersebut. Materi yang ingin disampaikan merupakan pesan pendidikan, dan tujuan yang ingin dicapai adalah terjadinya proses belajar mengajar. Menurut Hamalik (dalam Arsyad, 2002:15), pemakaian media pengajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsang kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis tehadap siswa. Arsyad (2002:26–27) menyimpulkan beberapa manfaat praktis dari penggunaan media pengajaran dalam proses belajar mengajar yaitu: 1. Media pengajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar. 2. Media pengajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar. 3. Media pengajaran dapat mengatasi keterbatasan indera, ruang, dan waktu. 4. Media pengajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa di lingkungan siswa, serta memugkinkan terjadinya interaksi langsung, antara siswa guru, masyarakat, dan lingkungan.

Penggunaan Media Teks Artikel dalam Pembelajaran Menulis Karangan Eksposisi Penggunaan suatu metode dalam pembelajaran akan mempengaruhi jenis media pengajaran meskipun sebenarnya masih ada berbagai aspek lain yang perlu diperhatikan dalam memilih media. Tujuan penggunaan media dalam proses pembelajaran agar kegiatan pembelajaran dapat berlangsung secara efisien dan efektif sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditentukan dapat tercapai. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990:569), media (alat) adalah sarana komunikasi seperti koran, radio televisi, film, poster, dan spanduk. Seperti halnya pandangan E. De Corte (dalam Winkel, 1996:285), media pengajaran diartikan sebagai sarana nonpersonal (bukan manusia) yang digunakan atau disediakan oleh tenaga pengajar, yang memegang peranan dalam proses belajar mengajar, untuk mencapai tujuan intruksional. Sedamgkan artikel dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah karya tulis lengkap, misal laporan berita atau esai dalam majalah, surat kabar, dsb.

Kerangka Berpikir Keberhasilan pembelajaran pada satuan pendidikan ditentukan banyak faktor. Mulai dari kesiapan guru, respon siswa, proses pembelajaran, materi atau bahan ajar, media belajar, dan faktor penunjang lainnya. Apabila salah satu diantara faktor di atas tidak terpenuhi, keberhasilan pembelajaran kemungkinan akan terkendala. Kesiapan guru merupakan dasar utama dan pertama berhasil tidaknya proses pembelajaran. Guru diharapkan mampu memotivasi siswa, memberikan bahan ajar berupa artikel yang up date dan menarik, mampu memilih media yang tepat, serta mampu memanfaatkannya. Seorang guru dalam menunjang keberhasilan proses belajar harus dapat menentukan media pembelajaran yang tepat. Upaya peningkatan kualitas hasil proses pembelajaran, terutama menulis karangan eksposisi dapat diwujudkan dengan memanfaatkan media pembelajaran. Salah satunya adalah media teks artikel. Kerangka berpikir dalam penelitian ini dapat digambarkan dalam skema berikut: Kondisi Awal Siswa Prasiklus atau Belum ada Tindakan Prestasi Belajar Rendah

Tindakan PTK

Pembelajaran Dengan Media

Siklus I

Kondisi Akhir

Prestasi Belajar Meningkat

Siklus II

Bagan 1. Skema Kerangka Berpikir

METODOLOGI PENELITIAN Setting Penelitian Penelitian tindakan dilakukan di SMK N 5 Yogyakarta kelas XI Logam A tahun pelajaran 2010/2011. Penelitian dilakukan selama 3 bulan mulai dari April 2011 sampai dengan Juni 2011. Subjek penelitian tindakan kelas adalah siswa kelas XI Logam SMK N 5 Yogyakarta dengan jumlah sebanyak 30 yang terdiri dari 26 siswa laki-laki dan 4 siswa perempuan. Latar belakang dipilihnya kelas ini diantaranya ialah minimnya kemampuan siswa dalam menulis terutama menulis karangan eksposisi. Sumber Data Data dalam penelitian dikumpulkan dari berbagai sumber yaitu lembar pengamatan, dokumen pembelajaran, dan nilai.

Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan dokumentasi, observasi, dan penilaian hasil tes tertulis. Validasi Data Untuk memperoleh data yang valid, peneliti dibantu dengan rekan kolabolator dalam penyusunan sumber data. Trianggulasi dilakukan bersama rekan mata pelajaran yang sejenis. Analisis Data Semua data yang terkumpul dianalisis dengan analisis deskriptif kualitatif. Kriteria Keberhasilan Tindakan Implementasi keberhasilan penelitian ini adalah hasil belajar siswa dalam menulis eksposisi dengan menggunakan media teks dapat mencapai nilai KKM 7,00. Nilai rata-rata kelas naik dan dapat mencapai ketuntasan 90%. Prosedur Penelitian Penelitian menerapkan dua siklus, tiap siklus dilaksanakan satu kali pertemuan 90 menit (2x45 menit). Setiap siklus memuat planning, acting, observing, dan reflecting. Tabel 1 Siklus 1 Planning Acting Observing Menyiapkan: Penerapan RPP: 1.Melakukan 1.Rencana RPP. 1. Menerangkan cara observasi 2.Skenario menulis karangan dengan format pembelajaran eksposisi yang observasi. dengan baik. 2.Menilai hasil menyiapkan 2. Memberi contoh tindakan media yang tulisan eksposisi. menggunakan sesuai. 3. Guru membagi format 3. Instrumen teks artikel sebagai penilaian observasi. media (dibaca (lihat tabel 1) 4. Instrumen sebelum menulis penelitian (LKS). karangan eksposisi). 4. Siswa menulis karangan eksposisi . 5. Evaluasi.

Reflecting 1. Untuk mengukur semua yang direncanakan, dilakukan dan dinilai. 2. Dicari sudut keberhasilan dan kekurangannya. 3. Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai dengan hasil observasi dan evaluasi untuk digunakan tindakan pada siklus II.

Planning Planing sama dengan siklus I.

Tabel 2 Siklus II Acting Observing Acting sama dengan Observing sama siklus I dengan dengan siklus I. penambahan treatment kekurangberhasilan dari siklus I.

Reflecting 1. Untuk mengukur semua yang direncanakan, dilakukan dan dinilai. 2. Dicari sudut keberhasilan dan kekurangannya. Bila sudah berhasil sesuai dengan kriteria yang ditentukan maka tidak diteruskan ke siklus selanjutnya.

No 1. 2. 3. 4. 5.

Tabel 3 Pedoman penilaian menulis karangan eksposisi Aspek yang dinilai Skor Kesesuaian isi dengan judul Pemaparan informasi jelas dan kosa kata bervariasi Koherensi Ketegasan Ejaan dan tanda baca Jumlah 1-10 1-10 1-10 1-10 1-10 5-50

Perhitungan nilai akhir dalam skala 0-100, sebagai berikut:

Perolehan Skor Nilai Akhir = Skor maksimal (50) X skor ideal (100)

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Kondisi Prasiklus Hasil observasi pada prasiklus, membuktikan kecenderungan siswa „asal mengerjakan‟ tugas yang diberikan oleh guru. Realitas ini dapat dilihat dalam deskripsi nilai tabel 2. Banyak siswa yang belum bisa mencapai KKM 7,00 yaitu sebanyak 23 siswa dari jumlah siswa 30 siswa (siswa yang tuntas hanya 7). Sehingga presentase siswa yang tidak tuntas tersebut mencapai 76,67%. Rata-rata nilai hanya mencapai 6,44 (Lihat tabel 4 dan grafik 1) maka memerlukan tindakan lebih lanjut. Tabel 4 : Tabel Nilai Prasiklus Menulis Karangan Eksposisi Sebelum Menggunakan Media Teks Berita Siswa Kelas XI Logam A SMKN 5 Tahun Pelajaran 2010/2011 No Unit Nilai ∑ Siswa Prasiklus Persen (%) Kerja 1. 6.00-6.99 23 76.67 % 2. 7.00-7.99 7 23.33 % 3. 8.00-8.99 0 0 4. SMK N 5 9.00-9.99 0 0 5. 6.44 0 Rata-Rata 6. 7.00 0 KKM 7. 23.33 % Persentase 8. Ketuntasan

Grafik 1 : Grafik Nilai Prasiklus Menulis Eksposisi Sebelum Menggunakan Media Teks Berita Siswa Kelas XI Logam A SMKN 5 Tahun Pelajaran 2010/2011

25
Jumlah Siswa

20 15 10
Prasiklus

5
0 6.00-6.99 7.00-7.99 8.00-8.99 9.00-9.99
Rentang Nilai

Siklus I Hasil tindakan dan observasi siklus I ternyata kemampuan menulis karangan eksposisi mengalami peningkatan nilai yang signifikan dibandingkan sebelum mendapatkan tindakan atau prasiklus. Peningkatan hasil ketuntasan belajar dan kemampuan siswa meningkat sebanyak 24 siswa tuntas, dan yang belum tuntas sebanyak 6 siswa. Pada tabel 5, grafik 2 dapat dilihat presentase ketuntasan siswa dalam siklus I sudah mencapai 80,00%, ada kenaikan 56,67% (dari prasiklus yang hanya 23,33%). Nilai rata-rata kelas siklus I mencapai 7,20, ini berarti sudah mengalami peningkatan nilai 0,76 (dari prasiklus yang rata-rata nilainya hanya 6,44%). Berdasarkan hasil observasi dan evaluasi dapat diambil kesimpulan adanya kelebihan dan kekurangan selama tindakan kelas pada siklus I. Kelebihan setelah guru menggunakan media pembelajaran menulis karangan eksposisi dengan teks, siswa dalam menulis tampak lebih aktif, serius dan tenang. Kekurangannya yaitu banyaknya siswa yang masih belum menguasai ejaan dengan benar. Yang nanti akan dijadikan acuan pada tindakan siklus II.

Tabel 5 : Tabel Nilai Siklus I Menulis Eksposisi Menggunakan Media Teks Berita Siswa Kelas XI Logam A SMKN 5 Tahun Pelajaran 2010/2011 No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Unit Kerja Nilai 6.00-6.99 7.00-7.99 8.00-8.99 9.00-9.99 Rata-Rata KKM Persentase Ketuntasan ∑ Siswa Siklus I 6 20 4 0 7.20 7.00 Persen (%) 20 % 66.67 % 13.33 % 0 0 0 80 %

SMK N 5

Grafik 2 : Grafik Nilai Siklus I Menulis Eksposisi Menggunakan Media Teks Berita Siswa Kelas XI Logam A SMKN 5 Tahun Pelajaran 2010/2011

25 20 15 10 5 0 6.00-6.99 7.00-7.99 8.00-8.99 9.00-9.99
Rentang Nilai

Jumlah Siswa

Siklus I

Siklus II Pada siklus ini semua siswa telah tuntas, dengan nilai yang memuaskan (8,00-8,99) sebanyak 12 siswa, dan selebihnya 18 siswa telah tuntas dengan nilai 7,00-7,99. Nilai rata-rata siklus II 7,70, sedangkan siklus I nilai rata-rata 7,20 berarti terdapat peningkatan nilai 0,50. Peningkatan nilai rata-rata berpengaruh pada ketuntasan belajar siswa. Ketuntasan pada siklus II mencapai 100% (tidak ada siswa yang nilai nya kurang dari 7,00). Kenaikan nilai ketuntasan belajar siswa dari prasiklus sampai siklus II 76,67%, ini merupakan peningkatan yang sangat signifikan. Berdasarkan hasil pengamatan dan evaluasi disimpulkan bahwa kemampuan menulis karangan eksposisi pada tindakan siklus ke dua ini sudah berhasil. Tabel 6 : Tabel Nilai Siklus II Menulis Eksposisi Menggunakan Media Teks Berita Siswa Kelas XI Logam A SMKN 5 Tahun Pelajaran 2010/2011 No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Unit Kerja Nilai 6.00-6.99 7.00-7.99 8.00-8.99 9.00-9.99 Rata-Rata KKM Persentase Ketuntasan ∑ Siswa Siklus II 18 12 0 7.70 7.00 Persen (%) 60 % 40 % 0 0 0 100 %

SMK N 5

Grafik 3 : Grafik Nilai Siklus II Menulis Eksposisi Menggunakan Media Teks Berita Siswa Kelas XI Logam A SMKN 5 Tahun Pelajaran 2010/2011

20
Jumlah Siswa

15 10 5 0
6.00-6.99 7.00-7.99 8.00-8.99 9.00-9.99
Rentang Nilai

Siklus II

Tabel 7 : Tabel Nilai Prasiklus, Siklus I, Siklus II Menulis Eksposisi Menggunakan Media Teks Berita Siswa Kelas XI Logam A SMKN 5 Tahun Pelajaran 2010/2011 No. Unit Kerja Nilai ∑ Siswa Prasiklus Persen Persen ∑ ∑ (%) (%) Siswa Siswa Siklus Siklus I II 76.67 % 6 20 % 23.33 % 20 66.67 % 18 60 % 0 4 13.33 % 12 40 % 0 0 0 0 0 0 7.20 0 7.70 0 0 7.00 0 7.00 0 23.33 % 80 % 100 % Persen (%)

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

6.00-6.99 7.00-7.99 SMK N 5 8.00-8.99 YOGYAKARTA 9.00-9.99 Rata-Rata KKM Persentase Ketuntasan

23 7 0 0 6.44 7.00 -

Grafik 4 : Grafik Nilai Prasiklus, Siklus I, Siklus II Menulis Eksposisi Menggunakan Media Teks Berita Siswa Kelas XI Logam A SMKN 5 Tahun Pelajaran 2010/2011

25 20 15 10 5 0 6.00-6.99 7.00-7.99 8.00-8.99 9.00-9.99
Rentang Nilai

Jumlah Siswa

Prasiklus Siklus I Siklus II

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan Berdasarkan pemaparan data dan pembahasan, dapat diambil simpulan sebagai berikut: 1. Pembelajaran menulis karangan eksposisi dengan menggunakan teks artikel dapat meningkatkan kemampuan hasil belajar siswa. Hal ini terlihat dari peningkatan yang signifikan pada hasil belajar siswa dalam menulis karangan eksposisi. Peningkatan kemampuan menulis karangan eksposisi dapat dilihat dari nilai rata-rata dan ketuntasan belajar siswa. Rata-rata nilai prasiklus 6,44 sedangkan rata-rata nilai siklus I 7,20 sehingga ada peningkatan 0,76. Siklus II nilai rata-rata kelas 7,70 ada peningkatan 0,50. Peningkatan nilai rata-rata dari prasiklus sampai dengan siklus II sebesar 1,26 (prasiklus 6,44 dan siklus II 7,70). 2. Pencapaian tingkat ketuntasan/keberhasilan menulis karangan eksposisi dengan media teks artikel juga mengalami peningkatan yang signifikan. Hal ini ditunjukkan ketuntasan belajar siswa pada siklus I 80% meningkat 56,67% (dari prasiklus yang hanya 23,33%). Sedangkan ketuntasan belajar siswa pada siklus II mencapai 100% (tidak ada siswa yang nilainya dibawah 7,00). Kenaikan nilai ketuntasan belajar siswa dari prasiklus sampai siklus II 76,67%, ini merupakan peningkatan yang sangat signifikan. Jadi pembelajaran menulis karangan eksposisi dengan menggunakan teks artikel dapat meningkatkan nilai rata-rata dan ketuntasan belajar siswa.

SARAN Berdarsarkan simpulan di atas penulis menyampaikan saran: 1. Para guru bahasa Indonesia SMK untuk meningkatkan kemampuan menulis karangan eksposisi sebaiknya menggunakan media pembelajaran artikel. 2. Penelitian ini perlu dikembangkan lagi dengan materi, media dan strategi yang berbeda. Hendaklah guru dapat memilih media, materi dan strategi yang sesuai dengan kebutuhan siswa agar dapat meningkatkan kompetensi berbahasa. 3. Sebaiknya guru mengevalusi hasil tulisan atau karangan siswa sesuai dengan kriteria penilaian, jangan menilai karangan hanya dari tulisan yang banyak dan tulisannya yang baik tetapi kaidah, koherensi, dan ejaan kurang diperhatikan.

DAFTAR PUSTAKA

Alwasilah, A. Chaedar dan Senny Suzanna Alwasilah. 2008. Pokonya Menulis: Cara Baru Menulis dengan Metode Kolaborasi. Bandung: PT Kiblat Buku Utama. Arikunto, Suharsimi. Suhardjono & Supardi. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara. Arsyad, Azhar. 2002. Media Pengajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Arifin, Zaenal & Tasai, Amran. 2002. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: Akademika Pressindo. Debdikbud. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Ismawati, Esti. 2009. Metode Penelitian Pendidikan Bahasa & Sastra. Cetakan kedua, Yogyakarta: Cawanmas. Gie, The Liang. 2002. Terampil Mengarang. Yogyakarta: Andi. Hamalik, Oemar. 1997. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumu Aksara. Nurchasanah & Widodo. 1993. Keterampilan Menulis dan Pengajarannya. Malang: FS UM. Rahor, Petrus P. 2006. Upaya Peningkatan Kemampuan Menulis Eksposisi melalu STAD dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas V SDN Sumbersari II Malang. Tesis tidak diterbitkan. Malang: Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang. Sudjana, Nana. 2005. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya. Suyitno, Imam. 1997. Pemanfaatan Media dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA). Sumber Pelajar.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->