P. 1
Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Hiv

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Hiv

|Views: 7|Likes:
Published by Febrian Abdullah

More info:

Published by: Febrian Abdullah on Jul 07, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/13/2014

pdf

text

original

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN HIV/AIDS

I. PENDAHULUAN HIV merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus yang artinya adalah virus yang menyerang daya tahan tubuh manusia, sehingga system kekebalan tubuh manusia dapat menurun tajam bahkan hingga tidak berfungsi sama sekali. AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immunodeficiency Syndrome yang berarti sekumpulan gejala dan penyakit infeksi yang timbul karena menurunnya atau rusaknya system kekebalan tubuh seseorang. Rata-rata perkembangan infeksi HIV menjadi AIDS adalah 2 – 10 tahun. Dan rata-rata waktu hidup setelah mengalami AIDS hanya sekitar 9,2 bulan. Namun demikian, laju perkembangan penyakit ini pada setiap orang bervariasi. Faktor yang mempengaruhinya adalah daya tahan tubuh untuk melawan HIV (seperti fungsi kekebalan tubuh) dari orang yang terinfeksi. II. KONSEP DASAR A. Pengertian 1. AIDS adalah sindrom yang menunjukkan defisiensi imun seluler pada seseorang tanpa adanya penyebab yang diketahui (Rampengan, 1993). 2. AIDS merupakan kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh oleh virus yang disebut HIV (Human Immunodeficiency Virus). (Aziz Alimul Hidayat, 2006). 3. AIDS adalah suatu kumpulan kondisi klinis tertentu yang merupakan hasil akhir dari infeksi HIV (Price, 2000 : 224) 4. AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh virus HIV (Human Immodeficiency Virus) ditandai dengan sindrom menurunnya sistem kekebalan tubuh. (Depkes RI, 1992) 5. AIDS adalah suatu penyakit retrovirus yang ditandai oleh imunosupresi berat yang menyebabkan terjadinya infeksi oportunistik, neoplasma sekunder dan kelainan imunolegik. (Price, 2000 : 241) 6. AIDS adalah suatu syndrome atau kumpulan gejala penyakit dengan karakteristik defisiensi imune yang berat dan merupakan manifestasi stadium akhir infeksi Human Immunedeficiency Virus (Syaefulloh, 1998)

7. AIDS merupakan syndrome defisiensi immune yang didapat, rute satu-satunya teridentifikasi dari transmisi melalui darah dan semen yang terkontaminasi oleh HIV (Engram, 1998) Dari semua pengertian di atas dapat disimpulkan, AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh virus HIV yang ditandai dengan syndrome menurunnya sistem kekebalan tubuh, sehingga pasien AIDS mudah diserang oleh infeksi oportunistik dan kanker. B. Etiologi Menurut Hudak dan Gallo (1996), penyebab dari AIDS adalah suatu agen viral (HIV) dari kelompok virus yang dikenal dengan retrovirus yang ditularkan oleh darah melalui hubungan seksual dan mempunyai aktivitas yang kuat terhadap limfosit T yang berperan dalam mekanisme pertahanan tubuh manusia. HIV merupakan Retrovirus yang menggunakan RNA sebagai genom. HIV mempunyai kemampuan mengcopy cetakan materi genetic dirinya ke dalam materi genetic sel-sel yang ditumpanginya. Sedangkan menurut Long (1996) penyebab AIDS adalah Retrovirus yang telah terisolasi cairan tubuh orang yang sudah terinfeksi yaitu darah semen, sekresi vagina, ludah, air mata, air susu ibu (ASI), cairan otak (cerebrospinal fluid), cairan amnion, dan urin. Darah, semen, sekresi vagina dan ASI merupakan sarana transmisi HIV yang menimbulkan AIDS. Cairan transmisi HIV yaitu melalui hubungan darah (transfusi darah/komponen darah jarum suntik yang di pakai bersama sama tusuk jarum) seksual (homo bisek/heteroseksual) perinatal (intra plasenta dan dari ASI). Empat populasi utama pada kelompok usia pediatrik yang terkena HIV : 1. Bayi yang terinfeksi melalui penularan perinatal dari ibu yang terinfeksi (disebut juga transmisi vertikal); hal ini menimbulkan lebih dari 85% kasus AIDS pada anak-anak yang berusia kurang dari 13 tahun. 2. Anak-anak yang telah menerima produk darah (terutama anak dengan hemofilia). 3. Remaja yang terinfeksi setelah terlibat dalam perilaku risiko tinggi. 4. Bayi yang mendapat ASI (terutama di negara-negara berkembang) C. Patofisiologi Penyebab dari AIDS adalah Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang termasuk dalam famili retrovirus. Virus HIV melekat dan memasuki limfosit T helper CD4+. Virus tersebut menginfeksi limfosit CD4+ dan sel-sel imunologik lain dan akan mengalami destruksi sel secara bertahap. Sel-sel ini, yang memperkuat dan mengulang respons imunologik, dan bila sel-sel tersebut berkurang dan rusak, maka fungsi imunologik lain terganggu. HIV merupakan retrovirus

2. terjadi refleksi lambat pada sel-sel tertentu dan laten pada sel-sel lainnya. Sel CD4+ (Sel T pembantu / helper T cell) sangat berperan penting dalam fungsi system immune normal. Hal itu menyebabkan kematian pada orang yang terjangkit HIV/AIDS. 3. Organ yang paling sering terkena adalah otak dan susunan saraf lainnya. Infeksi Akut Terjadi infeksi imun yang aktif terhadap masuknya HIV ke dalam darah. batuk. Khususnya sel otak dan susunan saraf pusat dan tepi lainnya yang dapat mengakibatkan kematian sel otak. Hal ini terjadi berulang-ulang kemudian terjadi sebagai berikut : 1. Gejala lainnya seperti demam. Sekali virus masuk ke dalam sel. Pembengkakan kelenjar limfe . jamur atau parasit). Pada saat virus HIV masuk dalam tubuh virus akan menginfeksi sel yang mempunyai antigen CD4+ (Sel T pembantu. Juga dalam aktivitas langsung pada cellmediated cell immune (immune sel bermedia) dan mempengaruhi aktivitas langsung pada sel kongetitis duplikasi. Menurut Long (1996) retrovirus /HIV dibawa oleh hubungan seksual. mengenai antigen dan sel yang terinfeksi. virus memaksa limfosit T4 untuk memperbanyak dirinya sehingga akhirnya menyebabkan kematian limfosit T4. muntah. tranfusi darah dan oleh ibu yang terkena infeksi ke fetus. bakteri. berkeringat malam. HIV baru menempel kepada sel T4 dan menghancurkannya. virus akan membuka lapisan protein sel dan menggunakan enzim Reserve transcriptase untuk mengubah RNA. nyeri saat menelan dan faringgitis. kematian limfosit T4 membuat daya tahan tubuh berkurang sehingga mudah terserang infeksi dari luar (baik virus lain. Pada saat virus HIV masuk ke dalam aliran darha maka HIV mencari sel T4 dan pembantu sel virus melekat pada isyarat dari T4 dan masuk ke dalam sel dan mengarahkan metabolisme agar mengabaikan fungsi normal (kematian sel T4) dan memperbanyak dari HIV. Virus AIDS diliputi oleh suatu protein pembungkus yang sifatnya toksik (racun) terhadap sel. dan mengaktifkan sel B untuk memproduksi antibody. Infeksi kronik Terjadi bertahun-tahun dan tidak ada gejala (asimtomatik). helper T cell). Dengan memasuki limfosit T4. mual. Selain menyerang limfosit T4. virus AIDS juga memasuki sel tubuh yang lain. HIV masih negatif.yang membawa informasi genetic RANA. DNA virus akan terintergrasi dalam sel DNA host dan akan mengadakan duplikasi selama proses normal pembelahan.

dan isoporiasis (coccodiosis). HIV banyak berkonsentrasi pada liquor serebrospinal. Demensia penuh dengan adanya gangguan kognitif.Gejala menunjukkan hiperaktivitas sel limfosit B dalam kelenjar limfe dapat persisten selama bertahun-tahun dan pasien tetap merasa sehat. herpes simplek) dan fungus (candidiasis pada oral. Penyakit lain Infeksi sekunder atau neoplasma lain yang berakibat pada kematian dimana sistem imunitas tubuh sudah pada batas minimal atau mugkin habis sehingga HIV menguasai tubuh. bakteri (infeksi mikrobakteri. bingung. Penyakit lain akan timbul antara lain : a. toxoplasmosis (CNS dissemminated desease). demam lebih dari 1 bulan. verbalisasi. Kanker sekunder Muncul penyakit seperti sarcoma kaposi. virus sitomegelovirus : hati. Penyakit kontitusional Gejala dengan keluhan yang disebakan oleh hal-hal yang tidak langsung berhubungan dengan HIV seperti diare. retinaparu-paru. Pada masa ini terjadi progresi terhadap dari adanya hiperplasia folikel dalam kelenjar limfe sampai dengan timbulnya involusi dengan tubuh untuk menghancurkan sel dendritik pada otak juga sering terjadi. cryptosporidictis (etero colitis). esofagus. neuropati perifer. bakteriemi. kesulitan konsentrasi. kolon. . intestinum) d. kemampuan motorik. terasa lelah yang berlebih. berat badan yang menurun sampe dengan 10% yang mengindikasikan AIDS (slim disease) b. kehilangan memori secara fluktoatik. berkeringat malam. Gejala langsung akibat HIV/Kompleks Demensia AIDS (AIDS demensia complex) Muncul penyakit-penyakit yang menyerang sistem syaraf antara lain mielopati. apatis dan terbatasnya kecepatan motorik. Infeksi akibat penyakit yang di sebabkan parasit Pneumonia carinii protozoa (PCP). penyakit susunan syaraf otak. c. 4. salmonella. tubercullosis). penyakit kontitusional. e. pembesaran kelenjar limfa sampai dua tahun atau lebih dari nodus limfa pada daerah inguinal selama tiga bulan atau lebih.

batuk kering. luka bertukak. gangguan penglihatan. meningitis. Manifesasi Klinis Masa antara terinfeksi HIV dan timbul gejala-gejala penyakit adalah 6 bulan-10 tahun. disertai dengan timbulnya bercak kemerahan pada kulit. Manifestasi klinisnya antara lain : 1. penurunan berat badan sampai kurang 5 kg setiap bulan. Parotitis 8. orang-orang yang sistem kekebalan tubuhnya rusak akan menderita AIDS. Rata-rata masa inkubasi 21 bulan pada anak-anak dan 60 bulan/5tahun pada orang dewasa. Gejala ini di indikasi adanya kerusakan sistem kekebalan tubuh. Infeksi saluran pernapasan atas berulang 7. Gejala dan tanda yang muncul setelah 6 bulan sampai 5 tahun setelah infeksi. kanker kulit. anak-anak dengan infeksi HIV yang didapat pada masa perinatal tampak normal pada saat lahir dan mulai timbul gejala pada 2 tahun pertama kehidupan. Menurut Cecily L Betz. Pada tahap akhir. 2. perdarahan. Hepatosplenomegali 5. diare. ketiak dan lipat paha. Tanda-tanda yang di temui pada penderita AIDS antara lain: 1. Pada tahap ini penderita sering di serang penyakit berbahaya seperti kelainan otak.D. infeksi yang menyebar. dapat muncul gejala-gejala kronis : sindrom limfodenopati kronis yaitu pembesaran getah bening yang terus membesar lebih luas misalnya di leher. bercak-bercak di kulit. Limfadenopati umum 4. Sinusitis 6. candidiasis mulut dan pnemonia. 3. Infeksi bakteri dan virus kambuhan . sesak nafas. Selanjutnya timbul rasa lemas. Berat badan lahir rendah 2. diare kronik. Gejala yang muncul setelah 2 sampai 6 minggu sesudah virus masuk ke dalam tubuh: sindrom mononukleosida yaitu demam dengan suhu badan 38 C sampai 40 C dengan pembesaran kelenjar getah benih di leher dan di ketiak. kejiwaan terganggu. kelumpuhan. Kemudian sering keluar keringat malam tanpa penyebab yang jelas. timbul tukak (ulceration). tuberkulosis paru (TBC). Gagal tumbuh 3. Diare kronik atau kambuhan 9.

sensitivitas tinggi (98. Pneumonia interstisial kronik Lima puluh persen anak-anak dengan infeksi HIV terkena sarafnya yang memanifestasikan dirinya sebagai ensefalopati progresif. perkembangan yang terhambat. Virus sinsitial pernapasan 5. Umumnya dengan menggunakan microskop elektron dan deteksi antigen virus. Tuberkulosis (TB) 4. E. Infeksi bakteri seperti meningitis 14. Cara tidak langsung yaitu dengan melihat respon zat anti spesifik tes. b. Salah satu cara deteksi antigen virus adalah dengan polymase chain reaction (PCR). Komplikasi 1. Infeksi virus Epstein-Barr persisten 11. Pemeriksaan Penunjang 1. atau hilangnya perkembangan motoris. Limfadenopati (pembesaran kelenjar getah bening) 7. Sariawan orofarings 12.10. 1) Tes HIV pada bayi karena zat anti dari ibu masih ada pada bayi sehingga menghambat pemeriksaan serologis. Pemeriksaan laboratorium menurut Mansjoer (2000). Candidiasis esophagus 6. Pneumonia interstitial limfoid 3. 2) Menetapkan status infeksi pada individu seronegatif 3) Tes pada kelompok rasio tinggi sebelum terjadi sero konversi 4) Tes konfirmasi untuk HIV-2 sebab sensitivitas ELISA untuk rendah. Cara langsung yaitu isolasi virus dari sampel. dapat dilakukan dengan dua cara: a. Trombositopenia 13. Hasil positif harus di konfirmasi dengan pemeriksaan Western Blot. Penggunaan PCR antara lain untuk . misalnya : 1) ELISA.1-100%). Diare kronik F. biasanya memberikan hasil positif 2-3 buah sesudah infeksi. . Pneumonia Pneumocystis carinii (PPC) 2.

7. pemeriksaan ini cukup sulit. Pemeriksaan laboratorium untuk mendiagnosa dan melacak virus HIV Status imun 1) Tes fungsi sel CD4 2) Sel T4 mengalami penurunan kemampuan untuk reaksi terhadap antigen 3) Kadar imunoglobutin meningkat 4) Hitung sel darah putih normal hingga menurun 5) Rasio CD4 : CD8 menurun 3. Namun. 4. 3) Imonofivoresceni assay (IFA) 4) Radio Imuno praecipitation assay (RIPA) 2. leukopenia dan thrombocytopenia yang sering muncul pada HIV. CD4 cellcount Tes yang paling banyak digunakan untuk memonitor perkembangan penyakit dan terapi yang akan dilakukan. Tuberkulin skin testing : Mendeteksi kemungkinan adanya infeksi TBC. 5.6-100%). Tes lain yang biasa dilakukan sesuai dengan manifestasi klinik baik yang general atau spesifik antara lain : a. mahal dan membutuhkan waktu sekitar 24 jam. Mendiagnosisi infeksi HIV pada bayi dari ibu yang terinfeksi HIV tidak mudah. diagnosis dapat ditetapkan pada kebanyakan anak yang terinfeksi sebelum berusia 6 bulan. Dengan menggunakan gabungan dari tes-tes di atas. . Blood Culture 6. Complete Blood Covnt (CBC) Dilakukan untuk mendeteks adanya anemia. spsifitas tinggi (99. Mutlak diperlukan untuk konfirmasi hasil pemeriksaan ELISA positif.2) Western Blot. 1) Magnetik resonance imaging (MRI) Mendeteksi adanya lymphoma pada otak 2) Spesifik culture dan serology examination (uji kultur spesifik dan scrologi) 3) Pap smear setiap 6 bulan Mendeteksi dini adanya kanker rahim.Immune Complek Dissociaced P24 Assay Untuk memonitor perkembangan penyakit dan aktivitas medikasi antivirus.

status infeksi. dan tidak positif terhadap ketiga uji tersebut dikatakan “terpajan pada masa perinatal”. Kategori Anak Infeksi HIV dan AIDS Kategori imun Kategori Klinis (N) Tanpa Tanda (A) Tanda dan (B) Tanda dan (C) Tanda dan dan Gejala Gejala Ringan Gejala Sedang Gejala Hebat (1) Tanpa tanda Supresi N1 A1 B1 C1 (2) Tanda Supresi Sedang N2 A2 B2 C2 (3) Tanda Supresi Berat N3 A3 B3 C3 . IgA. Bayi yang lahir dari ibu HIV-positif. reaksi rantai polimerase-HIV. Penatalaksanaan Hingga kini belum ada penyembuhan untuk infeksi HIV dan AIDS. status imun didasarkan pada jumlah CD4 atau persentase CD4. Respons buruk terhadap vaksin yang didapat (difteria. maka ia dapat dikatakan “terinfeksi HIV”. Bayi yang lahir dari ibu terinfeksi HIV.Temuan laboratorium ini umumnya terdapat pada bayi dan anak-anak yang terinfeksi HIV : a) Penurunan jumlah limfosit CD4+ absolute b) Penurunan persentase CD4 c) Penurunan rasio CD4 terhadap CD3 d) Limfopenia e) Anemia. Penatalaksanaan AIDS dimulai dengan evaluasis t a g i n g untuk menentukan perkembangan penyakit dan pengobatan yang sesuai. Seorang anak dengan tanda dan gejala ringan tetapi tanpa bukti adanya supresi imun dikategorikan sebagai A2. yang berusia kurang dari 18 bulan dan yang menunjukkan uji positif untuk sekurang-kurangnya dua determinasi terpisah dari kultur HIV. tetanus) 8. yang tergantung usia anak. Haemophilus influenzae tipe B) Bayi yang lahir dari ibu HIV-positif. dan status klinik. tetanus. atau antigen HIV. IgM) g) Penurunan respons terhadap tes kulit (Candida albicans. yang ternyata antibodi-HIV negatif dan tidak ada bukti laboratorium lain yang menunjukkan bahwa ia terinfeksi HIV maka ia dikatakan “seroreverter” G. berusia kurang dari 18bulan. morbilli. Anak dikategorikan menggunakan tiga parameter: status kekebalan. trombositopenia f) Hipergammaglobulinemia (IgG.

sinusitis. Leiosarkoma l. atau sepsis c. Dermatitis e. kambuhan i. Anemia. Stomatitis herpes. dua atau lebih episode k. Limfadenopati b. Toksoplasmosis awitan sebelum berusia 1 bulan p. Kategori B: Gejala sedang Anak-anak dengan kondisi simtomatik karena infeksi HIV atau menunjukkan kekurangan kekebalan karena infeksi HIV: contoh dari kondisi-kondisi tersebut adalah sebagai berikut : a. 3. kambuhan atau kronik g. pneumonitis. j. Diare. Infeksi sitomegalovirus dengan awitans e b e l u m berusia 1 bulan f. Infeksi saluran pernapasan atas yang kambuhan/persisten. Meningitis bakterial. Kategori N : Tidak bergejala Anak-anak tanpa tanda atau gejala infeksi HIV 2.1. atau otitis media. Sariawan persisten selama lebih dari 2 bulan pada anak di atas 6 bulan d. Kategori A: Gejala ringan Anak-anak mengalami dua atau lebih gejala berikut ini: a. trombositopenia selama > 30 hari b. Herpes zoster. Hepatomegali c. Hepatitis h. Parotitis f. Penumonia interstisial limfoid atau kompleks hiperplasia limfoid pulmoner (LIP/PLH) m. atau esofagitis HSV dengan awitans e b e lu m berusia 1 bulan. Varisela zoster persisten n. Bronkitis. Splenomegali d. Demam persisten > 1 bulan o. Kardiomiopati e. pneumonia. diseminata (cacar air berkomplikasi) . neutropenia. Varisela.

s. diseminata atau ekstrapulmoner. Retinitis sitomegalovirus (dengan kehilangan penglihatan) g. intestinal kronik (durasi > 1 bulan) k. dimulai pada umur > 1 bulan. Kriptosporodisis. Kompleks Mycobacterium ovium atau mycobacterium kansasii. atau esophagus c. Kandidiasis pada trakea. limpa. Infeksi bakterial multipel atau kambuhan b. . interleukin 2. paru. awitan saat berumur >1 bulan. Penyakit. Obat-obat yang telah dicoba dipakai adalah imunomodulator.4. Koksidioidomikosis. Memulihkan sistem imun. Ensefalopati HIV h. f. primer di otak m. Histoplasmosis diseminata atau ekstrapulmoner j. Limfoma (sarkoma Burkitt atau sarkoma imunoblastik) n. intestinal kronik e. Isosporiasis. o. Limfoma. sampai sekarang belum memberikan hasil seperti yang diharapkan. interferon (alfa dan gamma). Penumonia Pneumocystis carinii p. Toksoplasmosis pada otak. diseminata atau ekstrapulinoner d. Namun. Wasting syndrome karena HIV Imunisasi disarankan untuk anak-anak dengan infeksi HIV. awitan saat berusia > 1 bulan. bronki. kambuhan r. Septikemia salmonela. sitomegalovirus (selain hati. seperti isoprenosino. Sebagai ganti vaksin poliovirus oral (OPV). i. Kategori C : Gejala Hebat Anak dengan kondisi berikut ini: a. 1. Sarkoma Kaposi l. Ulkus herpes simpleks kronik (durasi > 1 bulan) atau pneumonitis atau esofatis. nodus). Leukoensefalopati multifokal progresif q. anak-anak diberi vaksin virus polio yang tidak aktif (IPV).

Menurut Long (1996) perawatan diri pasien dengan AIDS adalah : Upaya preventif meliputi : a. H. Penyuluhan kesehatan pada kelompok yang beresiko terkena AIDS. c. Skrining darah donor terhadap adanya antibody HIV Edukasi yang bertujuan : 1) Mendidik pasien dan keluarganya tentang bagaimana menghadapi kenyataan hidup bersama AIDS. 2) Pendidikan bagaimana cara hidup sehat. dengan mengatur diet. Oleh karena itu seorang anak yang terinfeksi HIV belum memberikan gejala AIDS tidak perlu dikucilkan dari sekolah atau pergaulan. bagaimana tanggung jawab keluarga. Memmbantu mereka agar bisa merubah perilaku resiko tinggi menjadi perilaku yang beresiko atau yang kurang beresiko dengan mengubah kebiasaan seksual guna mencegah terjadinya penularan. Pada bayi dan anak penularan HIV dapat terjadi melalui ibu hamil yang sedang mengandung dengan HIV. namun obat ini sangat toksik. Salah satu cara untuk memutuskan rantai pembiakan virus AIDS adalah dengan “inhibiton reserve transcriptace” dengan obat suramin untuk menghambat efek sitopatis virus terhadap sel limposit-T helper.2. Transfusi limfosit dan transplantasi sumsum tulang. sehingga bisa mempertahankan tubuh dengan baik yaitu dengan asupan nutrisi dan vitamin yang cukup 3). kemungkinan didiskriminasikan dari masyarakat sekitar. Modifikasi tingkah laku dengan: 1). asupan nutrisi dan vitamin yang cukup. 2). teman dekat atau masyarakat lain. Pandangan hidup yang positif 4). namun ciuman. organ atau cairan semen. Mengingatkan kembali tentang cara hidup sehat. menghindari kebiasaan. Memberikan dukungan psikologis dan social d. Memberantas virusnya. b. Anjuran bagi yang telah terinfeksi virus ini untuk tidak menyumbangkan darah. Cara Penularan Meskipun HIV dapat ditemukan pada cairan tubuh pengidap HIV seperti air ludah (saliva) dan air mata serta urin. transfuse darah yang mengandung HIV atau produksi darah yang berasal dari donor yang . kolam renang atau kontak social seperti berjabat tangan bukanlah merupakan cara untuk penularan.

melahirkan maupun postpartum. Dengan sudah dilakukan skrining darah donor terhadap HIV maka transmisi melalui cara ini akan menjadi jauh berkurang. Mencegah hubungan seksual dengan partner banyak atau dengan orang yang mempunyai banyak partner 3.mengandung HIV. yaitu pada waktu bayi lahir terpapar dengan darah ibu atau secret genetalia yang mengandung HIV. adalah : 1. Transfusi Penularan dapat terjadi melalui transfuse darah yang mengandung HIV atau produk darah yang berasal dari donor yang mengandung HIV. . Pemberian transfusi darah hanya untuk pasien-pasien yang benar. Ibu hamil dengan HIV (+) Ibu hamil yang mengandung HIV di dalam tubuhnya dapat menularkan ke bayi yang dikandunfnya. 5. maka sebaiknya wanita dengan resiko tinggi AIDS jangan hamil dan jangan melahirkan.benar perlu 6. Ibu sendiri biasanya belum menunjukan gejala klinis AIDS. Pencegahan Langkah-langkah untuk mencegah penyebaran penyakit AIDS. HIV dapat diisolasi dari ASI pada ibu yang mengandung HIV di dalam tubuhnya. 3. 4. Transmisi dapat terjadi melalui plasenta (intrauterine) atau inpartum. 4. 2. Jarum suntik Penularan melalui cara ini terutama ditemukan pada anak remaja penyalahgunaan obat IV yang menggunakan jarum suntik bersama. Orang-orang dari kelompok resiko tinggi dicegah menjadi donor darah. Menghindari hubungan seksual dengan pecandu narkotik yang menggunakan obat suntik. Pada setiap suntikan harus terjamin sterilitas atau suntiknya 7. I. dan hubungan seksual dengan penderita HIV. 1. Menghindari hubungan seksual dengan penderita AIDS 2. jarum suntuk yang tercemar HIV. Hubungan seksual dengan pengidap HIV Penularan cara ini ditemukan pada anak remaja yang berganti-ganti pasangan. Penularan pada bayi dan anak dapat terjadi pada waktu hamil. Cara transmisi ini juga disebut dengan transmisi vertical.

faringitis. Pengetahuan klien tentang AIDS b. delirium. enselofati. selaput lender kering. candidisiasis mulut. Kondisi mulut dan genetalia d. Pengkajian Neurologik g. candidisiasis esophagus. Pemeriksaan Fisik a. integritas terganggu b. gangguan psikomotor. Data nutrisi. muntah. somnolen. Gagal jantung kongestif sekunder akibat kardiomiopati karena HIV. anoreksia. Batuk lama dengan atau tanpa sputum. takipnea. KONSEP KEPERAWATAN A. Pengkajian Gastrointestinal i. h. BB turun c. Berat badan menurun. Sakit kepala. f. kesulitan menelan. napas pendek waktu istirahat. colitis akibat diare kronis. BAB (frekuensi dan karakternya) e. Data Subjektif. j. mual. mencakup: a. pembesaran hati. d. Suhu tubuh meningkat. karakteristik. meliputi: a. sesak napas. gagal napas. nyeri otot. lesi. Dispneu (serangan) d. nadi cepat. bercak putih kekuningan pada mukosa mulut. perubahan perilaku. sukar konsentrasi. Kulit. kejangkejang. Pengkajian Respiratori e. Data Objektif. Ketidaknyamanan (lokasi. meningitis. nyeri menelan. Bunyi nafas c. lamanya) 2. seperti masalah cara makan. Pengkajian 1. penurunan kesadaran. Pengukuran TTV b. Pengkajian Kardiovaskuler c. hipoksia. keterlambatan perkembangan. nyeri dada. tekanan darah meningkat. Pengkajain Renal . Gejala cemas 3.III. pembesaran limfa.

gangguan gerak (ataksia) m. Uji antigen HIV untuk mendeteksi antigen HIV. tetanus. tetanus) h. Pengkajian Endokrin 4. IgA. Kultur HIV untuk memastikan diagnosis pada bayi. Limfopenia e. Pengkajaian Muskuloskeletal l. Penurunan respons terhadap tes kulit (Candida albicans. IgM untuk mendeteksi antibodi HIV yang diproduksi bayi (secara eksperimental dipakai untuk mendiagnosis HIV pada bayi). Kaji status nutrisi 5. . Kaji adanya infeksi oportunistik 6. IgA. 5. Kaji adanya pengetahuan tentang penularan Uji Laboratorium dan Diagnostik 1. HIV. morbili. Reaksi rantai polimerase (Polymerase chain reaction)/PCR untuk mendeteksi asam deoksiribonukleat (DNA) HIV (uji langsung ini bermanfaat untuk mendiagnosis HIV pada bayi dan anak). letih. Temuan laboratorium yang terdapat pada bayi dan anak yang terinfeksi HIV : a. trombositopenia f. Penurunan rasio CD4 terhadap CD8 d. 6. nyeri persendian. 4.k. Hipergammaglobulinemia (IgG. haemophilus influenzae tipe B). 3. Anemia. 2. Nyeri otot. Western blot (uji konfirmasi yang umum) untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap beberapa protein spesifik HIV. IgM) g. Respons buruk terhadap vaksin yang didapat (difteria. Penurunan jumlah limfosit CD4+ absolute b. ELISA : Enzyme-linked immunosorbent assay (uji awal yang umum) untuk mendeteksi antibody terhadap antigen HIV(umumnya dipakai untuk skrining HIV pada individu yang berusia lebih dari 2 tahun). Pengkajian Hematologik n. Penurunan persentase CD4 c.

Kurang volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif (diare) 4. Diagnosa Keperawatan 1. Risiko infeksi berhubungan dengan penurunan imun Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan tidak terjadi infeksi NOC : immune status Kriterias hasil : • Status gastrointestinal normal • Status respirasi normal • Status BB normal • Status integritas kulit normal • Tidak menunjukan kelemahan • Menunjukan kekebalan tubuh Skala penilaian : 1 = Extreme 2 = Berat 3 = Sedang 4 = Ringan 5 = Tidak kompromi . Cemas berhubungan dengan perubahan staus kesehatan 10. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan anak yang menderita penyakit serius 11.B. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan fisik 9. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi 8. Masalah Keperawatan 1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan dispneu 5. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan frekuensi buang air besar sering (diare) 7. Resiko infeksi berhubungan dengan penurunan imun 2. muntah 6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi C. Keterlambatan tumbuh kembang berhubungan dengan penurunan imun 3.

demam typoid. typus. Keterlambatan tumbuh kembang berhubungan dengan penurunan imun Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan klien menunjukan tanda pertumbuhan yang normal NOC : pertumbuhan Kriteria hasil: • Berat badan sesuai dengan umur dan tinggi badan • Turgor kulit baik • Tanda-tanda vital baik Skala penilaian: 1 = Tidak ada penyimpangan dari yang diharapkan 2 = Penyimpangan ringan 3 = Penyimpangan sedang 4 = Penyimpangan berat 5 = Extrim NIC Peningkatan pertumbuhan • Lakukan pemeriksaan kesehatan dengan saksama ( tanda-tanda vital dan pemeriksaan fisik ) • Tentukan makanan yang disukai klien • Pantu kecenderungan peningkatandan penurunan berat badan • Kaji keadekuatan asupan nutrisi • Demonstrasikan aktivitas yang meningkatkan perkembangan : . 2. rabies. influenza.NIC : Imunisation / vaccination administration • Ajarkan orang tua untuk mengikuti jadwal administerasi • Ajarkan individu keluarga untuk melakukan vaksinasi seperti kolera. TBC • Sediakan informasi mengenai imunisasi • Pantau pasien setelah mendapat imunisasi • Identifikasi kontraindikasi dari imunisasi seperi panas.

Kurang volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif (diare) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan terjadi keseimbangan cairan NOC : fluid balance Kriteria hasil : • Tekanan darah normal • Keseimbangan masukan dan haluaran selama 24 jam • Tidak ada distensi vena jugularis • Hidrasi kulit • Membran mukosa normal • Turgor kulit baik Skala penilaian : 1 = Tidak pernah menunjaukan 2 = Jarang menunjukan 3 = Kadang menunjukan 4 = Sering menu 5 = Selalu menunjukan NIC Fluid management • Timbang popok jika diperlukan • Pertahankan intake dan output • Monitor status hidrasi • Monitor vital sign • Dorong keluarga untuk membantu pasien makan 4.3. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan dispneu Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pola nafas efektif NOC : Respitarory status • RR alam batas normal • Irama nafas normal • Ekspansi dada simetris • Tidak ada dispneu • Tidak ada traktil fremitus : .

hidung. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual.• Auskultasi bunyi nafas normal Skala penilaian : 1 = Extreme 2 = Berat 3 = Sedang 4 = Ringan 5 = Tidak kompromi NIC Oxygen terapy • Bersihkan mulut. muntah Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kebutuhan nutrisi terpenuhi NOC : Nutritional status • Adanya peningkatan berat badan sesuai tujuan • Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan • Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi • Tidak ada tanda-tanda malnutrisi Skala penilaian : 1= Tidak pernah menunjukan 2 = Jarang menunjukan 3 = Kadang menunjukan 4 = Sering menunjukan : . suhu dan dan RR • Monitor frekuensi dan irama pernafasan • Monitor suhu warna dan kelembaban kulit 5. nadi. dan secret trakea • Pertahankan jalan nafas yang paten • Atur peralatan oxygenasi • Monitor aliran oxygennjukan • Petahankan posisi pasien Vital Sign Monitoring • Monitor TD.

elastisitas. vitamin. temperature dan . dan protein • Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori Nutrition Monitoring • Monitor adanya penurunan berat badan • Monitor interaksi anak / orang tua selama makan • Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi • Monitor turgor kulit • Monitor mual dan muntah • Monitor pertumbuhan dan perkembangan 6.5 = Selalu menunjukan NIC Nutrition Management • Kaji adanya alergi makanan • Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake seperti Fe. utuh dan NOC pigmentasi • • • • Skala 1 2 3 4 5 NIC Exercise = : Therapy = = Tidak Mampu Tidak ada Perfusi Mampu mempertahankan penilaian = = luka atau lesi jaringan melindungi kelembaban pada : bebas Tissue iritasi integrity ) kulit baik kulit kulit : Selalu Sering Kadang-kadang Jarang pernah : • Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan (sensasi. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan frekuensi buang air besar sering (diare) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kulit anak tetap bersih.

seperti NOC Kriteria : Penghematan hasil Intoleransi Berikan aktifitas berhubungan cairan dengan kelemahan intravena fisik biasa energi : Pantau suhu Pantau minimal setiap warna 2 jam. NOC • • • • Skala 1 2 3 4 5 NIC Fever • • hipertermia • Lepaskan pakaian yang berlebihan dan tutupi klien dengan hanya selembar pakaian • 8.• Inspeksi permukaan kulit secara teratur untuk adanya tanda-tanda iritasi kemerahan • • 7. kulit sesuai dengan dan = = = = = : management kebutuhan suhu Tidak Jarang Kadang Selalu Sering Nadi Suhu Suhu dan Perubahan kulit tubuh pernapasan warna penilaian pernah Lindungi Masase kulit dengan permukaan lembut kulit lotion yang di area proses bergesekan yang iritasi infeksi menggunakan Hipertermi berhubungan : dalam dalam dengan Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan suhu tubuh normal Thermoregulation rentang dalam rentang kulit yang batas yang tidak diharapkan normal diharapkan ada : menunjukan menunjukan menunjukan menunjukan menunjukan • Ajarkan keluarga dalam mengukur suhu untuk mencegah dan mengenali secara dini Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan klien dapat beraktifitas .

NOC Kriteria • • • • • • Skala 1 2 3 4 = Bantu Cemas Pantau = Tingkat Menyadari Menyeimbangkan daya tahan Tidak = = = = : kjeterbatasan aktifitas adekuat penilaian sama dan untuk energi energi beraktifitas : sekali Jarang Kadang Sering Selalu enegi Tentukan asupan Batasi dengan berhubungan : hasil Monitor Mengurangi Penurunan Memberikan rangsang informasi Melaporkan Melaporkan dengan untuk mamastikan penyebab keadekuatan sumber fisik staus rangsangan aktifitas perubahan Anxiety intensitas penyebab lingkungan untuk penurunan keadekuaan penilaian Tidak pernah Jarang Kadang Sering ketika mengurangi keletihan energi teratur kesehatan control : cemas cemas cemas cemas cemas tidur : menunjukan menunjukan menunjukan menunjukan lingkungan Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan dapar berkurang = = = .• • • Skala 1 2 3 4 5 NIC Pengelolaan • • • • 9.

5 NIC Penurunan • • • • • • Dorong Temani Jelaskan Gunakan semua pasien = : Selalu menunjukan cemas pendekatan prosedur dan apa yang pasien keamanan tingkat mengungkapkan persepsi yang dirasakan dan selama terhadap mengurangi perasaan. menangkan prosedur stress keemasan kecemasan ketakutan Pahami untuk memberikan Identifikasi untuk 10. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan anak yang menderita penyakit serius Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan orang tua dan anak menunjukan NOC Kriteria • • • • Skala 1 2 3 4 5 NIC Support • • • • Yakinkan Hargai Berikan Berikan informasi keluarga reaksi timbal tentang bahwa pasien pasien balik perkembangan akan atas pasien diberi perawatan kondisi koping sesuai dengan terhadap = = = = = : keluarga terbaik pasien keluarga kondisi Tidak Jarang Kadang Selalu Sering Pedui terhadap Saling percaya dan Mengatasi kebutuhan Tetapkan penilaian pernah seluruh anggota : hasil dapat manghadapi perilaku Koping kedekatan keluarga : masalah masalah keluarga prioritas : menunjukan menunjukan menunjukan menunjukan menujukan • Terangkan menhenai rencana medis dan perawatan pasien terhadap keluarga .

11. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi bertambah Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pasien dan keluarga pengetahuannya NOC Kriteria • • • • • Skala 1 2 3 4 5 NIC Pembelajaran • • Jelaskan Identifikasi = = = = = : proses tanda penyebab dan penyakit gejala penyakit Tidak Jarang Kadang Sering Selalu Deskripsi Mengenal Deskripsi Deskripsi Deskripsi cara tanda meminimalkan penilaian pernah : hasil nama proses factor dan perkembangan Proses penyakit : penyakit penyakit penyebab gejala penyakit : menunjukan menunjukan menunjukan menunjukan menunjukan • Beri informasi tentang hasil pemeriksaan diagnostik .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->