KONSEP DASAR PEMENUHAN KEBUTUHAN ELIMINASI FECAL Posted on Maret 14, 2008 by harnawatiaj

KONSEP DASAR PEMENUHAN KEBUTUHAN ELIMINASI FECAL

Anatomi Fisiologi Saluran Pencernaan

Secara normal, makanan & cairan masuk kedalam mulut, dikunyah (jika padat) didorong ke faring oleh lidah dan ditelan dengan adanya refleks otomatis, dari esofagus kedalam lambung. Pencernaan berawal dimulut dan berakhir diusus kecil walaupun cairan akan melanjutkannya sampai direabsorpsi di kolon.

Anatomi fisiologi saluran pencernaan terdiri dari :

1. Mulut Gigi berfungsi untuk menghancurkan makanan pada awal proses pencernaan. Mengunyah dengan baik dapat mencegah terjadinya luka parut pada permukaan saluran pencernaan. Setelah dikunyah lidah mendorong gumpalan makanan ke dalam faring, dimana makanan bergerak ke esofagus bagian atas dan kemudian kebawah ke dalam lambung.

2. Esofagus Esofagus adalah sebuah tube yang panjang. Sepertiga bagian atas adalah terdiri dari otot yang bertulang dan sisanya adalah otot yang licin. Permukaannya diliputi selaput mukosa yang mengeluarkan sekret mukoid yang berguna untuk perlindungan.

3. Lambung Gumpalan makanan memasuki lambung, dengan bagian porsi terbesar dari saluran pencernaan. Pergerakan makanan melalui lambung dan usus dimungkinkan dengan adanya peristaltik, yaitu gerakan konstraksi dan relaksasi secara bergantian dari otot yang mendorong substansi makanan dalam gerakan menyerupai gelombang. Pada saat makanan bergerak ke arah spingter pylorus pada ujung distla lambung, gelombang peristaltik meningkat. Kini gumpalan lembek makanan telah menjadi substansi yang disebut chyme. Chyme ini dipompa melalui spingter pylorus kedalam duodenum. Ratarata waktu yang diperlukan untuk mengosongkan kembali lambung setelah makan adalah 2 sampai 6 jam.

Fungsi utama usus besar (kolon) adalah : Menerima chyme dari lambung dan mengantarkannya ke arah bagian selanjutnya untuk mengadakan absorpsi / penyerapan baik air. 10 – 15 cm / 4 – 6 inch. Fisiologi usus besar yaitu bahwa usus besar tidak ikut serta dalam pencernaan/absorpsi makanan. maka semua zat makanan telah diabsorpsi dan sampai isinya cair (disebut chyme).5 – 5 cm atau 1 – 2 inch. desenden dan sigmoid. panjangnya ± 125 – 150 cm atau 50 –60 inch. Usus besar (kolon) Kolon orang dewasa. Sebagai tempat penyimpanan sebelum feses dibuang. yang berhubungan langsung dengan lambung o Jejenum atau bagian tengah dan o Ileum 5.4. 6. terdiri dari kolon asenden. yang berhubungan langsung dengan usus kecil Þ Kolon. Bila isi usus halus mencapai sekum. elektrolit dan garam empedu. mempunyai dua spinkter yaitu internal (involunter) dan eksternal (volunter) Fisiologi Defekasi Defekasi adalah pengeluaran feses dari anus dan rektum. Selama perjalanan didalam kolon (16 – 20 jam) isinya menjadi makin padat karena air diabsorpsi dan sampai di rektum feses bersifat padat – lunak. Hal ini juga disebut bowel movement. Þ Rektum. Anus / anal / orifisium eksternal Panjangnya ± 2. Frekwensi defekasi pada setiap orang sangat bervariasi dari beberapa kali . terdir dari : Þ Sekum. Usus kecil Usus kecil (halus) mempunyai tiga bagian : o Duodenum. Mengeluarkan mukus yang berfungsi sebagai protektif sehingga akan melindungi dinding usus dari aktifitas bakteri dan trauma asam yang dihasilkan feses. nutrien. transversum.

Ketika gelombang peristaltik mendorong feses kedalam kolon sigmoid dan rektum. Spingter anus individu duduk ditoilet atau bedpan. Jika refleks defekasi diabaikan atau jika defekasi dihambat secara sengaja dengan mengkontraksikan muskulus spingter eksternal. Refleks defekasi parasimpatis Ketika serat saraf dalam rektum dirangsang. signal diteruskan ke spinal cord (sakral 2 – 4) dan kemudian kembali ke kolon desenden. Refleks defekasi instrinsik Ketika feses masuk kedalam rektum. kolon sigmoid. kolon sigmoid dan rektum. Defekasi normal dipermudah dengan refleksi paha yang meningkatkan tekanan di dalam perut dan posisi duduk yang meningkatkan tekanan kebawah kearah rektum. Garam terutama kalsium fosfat 5. Sejumlah kecil zat nitrogen terutama musin (mucus) 4. saraf sensoris dalam rektum dirangsang dan individu menjadi sadar terhadap kebutuhan untuk defekasi. Begitu gelombang peristaltik mendekati anus. pengembangan dinding rektum memberi suatu signal yang menyebar melalui pleksus mesentrikus untuk memulai gelombang peristaltik pada kolon desenden. Gelombang ini menekan feses kearah anus. Sedikit zat besi dari selulosa . Lepasan epitelium dari usus 3. spingter anal interna tidak menutup dan bila spingter eksternal tenang maka feses keluar. Banyaknya feses juga bervariasi setiap orang. Susunan feses terdiri dari : 1. melemaskan spingter anus internal dan meningkatkan refleks defekasi instrinsik. Defekasi biasanya dimulai oleh dua refleks defekasi yaitu : 7. Bakteri yang umumnya sudah mati 2. Sinyal – sinyal parasimpatis ini meningkatkan gelombang peristaltik. maka rasa terdesak untuk defekasi secara berulang dapat menghasilkan rektum meluas untuk menampung kumpulan feses. dan didalam rektum. 8. spingter anus eksternal tenang dengan sendirinya.perhari sampai 2 atau 3 kali perminggu. Pengeluaran feses dibantu oleh kontraksi otot-otot perut dan diaphragma yang akan meningkatkan tekanan abdominal dan oleh kontraksi muskulus levator ani pada dasar panggul yang menggerakkan feses melalui saluran anus.

Posisi 16. bukan penyakit yaitu menurunnya frekuensi BAB disertai dengan pengeluaran feses yang sulit. sehingga peristaltik usus meningkat. pindah tempat. Pemasukan cairan. bermain. sehingga banyak air diserap. tidak ada gigi.6. Nyeri 17. Usia dan perkembangan : mempengaruhi karakter feses. kontrol 10. Sisa zat makanan yang tidak dicerna dan air (100 ml) Faktor-faktor yang mempengaruhi Eliminasi fecal 9. Operasi & anestesi 19. Aktifitas fisik : Merangsang peristaltik usus. morfin. Konstipasi Konstipasi merupakan gejala. anti kolinergik. Penggunaan obat pencahar/laksatif menyebabkan tonus otot intestinal kurang sehingga refleks BAB hilang. zat besi. Faktor psikologik 14. Test diagnostik : Barium enema dapat menyebabkan konstipasi 21. Diet 11. makanan lemak dan cairan kurang Meningkatnya stress psikologik Kurang olahraga / aktifitas : berbaring lama. . keras. Obat-obatan : kodein. 13. dan lain-lain Diet tidak sempurna/adekuat : kurang serat (daging. Kebiasaan 15. Normalnya : 2000 – 3000 ml/hari 12. Kehamilan : menekan rektum 18. seperti sibuk. Iritans Masalah eliminasi fecal 23. Penyebabnya : Kebiasaan BAB tidak teratur. Kondisi patologis 22. Obat-obatan 20. telur). BAB yang keras dapat menyebabkan nyeri rektum. Kondisi ini terjadi karena feses berada di intestinal lebih lama. dan mengejan.

24. 26. Umumnya disertai dengan gangguan fungsi spingter anal. kembung/kram dan nyeri rektum. Akibatnya feses menjadi encer sehingga pasien tidak dapat mengontrol dan menahan BAB. tumpukan feses sampai pada kolon sigmoid. 27. Penyakit-penyakit : Obstruksi usus. Makanan penghasil gas seperti bawang dan kembang kol. peristaltik menurun dan otot-otot elastisitas perut menurun sehingga menimbulkan konstipasi. 25. Penyebabnya pasien dalam keadaan lemah. Flatulens Yaitu menumpuknya gas pada lumen intestinal. merasa penuh. trauma spinal cord dan tumor spingter anal eksternal. bingung. Tandanya : tidak BAB. kecelakaan pada spinal cord dan tumor. konstipasi berulang dan pemeriksaan yang dapat menimbulkan konstipasi. Impaction berat. Impaction Impaction merupakan akibat konstipasi yang tidak teratur. penyakit neuromuskuler. anoreksia. Pada situasi tertentu secara mental pasien sadar akan kebutuhan BAB tapi tidak sadar secara fisik. pembusukan di usus yang menghasilkan CO2. paralitik ileus. Inkontinensia fecal Yaitu suatu keadaan tidak mampu mengontrol BAB dan udara dari anus. Hal-hal yang menyebabkan peningkatan gas di usus adalah pemecahan makanan oleh bakteri yang menghasilkan gas metan. Diare Diare merupakan BAB sering dengan cairan dan feses yang tidak berbentuk. Biasanya gas keluar melalui mulut (sendawa) atau anus (flatus). nyeri dan kram. Iritasi di dalam kolon merupakan faktor tambahan yang menyebabkan meningkatkan sekresi mukosa. Isi intestinal melewati usus halus dan kolon sangat cepat. Kebutuhan dasar pasien tergantung pada perawat. tidak sadar. BAB encer dan jumlahnya banyak. .Usia. sehingga tumpukan feses yang keras di rektum tidak bisa dikeluarkan. dinding usus meregang dan distended.

Akibatnya pasien mengalami konstipasi. Hal ini terjadi pada defekasi yang keras. . Kadang-kadang BAB dilupakan oleh pasien. maka pasien merasa panas dan gatal. Jika terjadi infla-masi dan pengerasan. gagal jantung dan penyakit hati menahun. karena saat BAB menimbulkan nyeri. Hemoroid Yaitu dilatasi pembengkakan vena pada dinding rektum (bisa internal atau eksternal). Perdarahan dapat terjadi dengan mudah jika dinding pembuluh darah teregang.28. kehamilan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful