P. 1
Multikulturalisme Di Indonesia

Multikulturalisme Di Indonesia

|Views: 45|Likes:
Published by Indo Canova
Law
Law

More info:

Categories:Types, Business/Law
Published by: Indo Canova on Jul 08, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/10/2013

pdf

text

original

MULTIKULTURALISME DI INDONESIA

Peran Kebudayaan dalam mendorong Pengembangan Masyarakat Multikultural 1. Pendahuluan Dalam perjalanannya, seiring dengan perjalanan bangsa-bangsa lain di dunia, Indonesia, dalam batas-batas tertentu, telah menunjukkan kemajuan yang berarti. Tetapi ketika dilihat dari potenti-potensi alamiah seperti sumber daya alam yang melimpah yang dimiliki Indonesia, yang terbentang luas mulai dari Sabang sampai Merauke, dibanding dengan sebagian kekayaan sumber-sumber daya alam bangsa-bangsa lain di dunia yang tidak semelimpah kekayaan Indonesia, Indonesia semestinya sudah lebih baik kondisinya. Jepang dan Korea Selatan[2] misalnya, negara ini telah mampu mensejahterakan rakyatnya jauh di atas bangsa-bangsa lain terutama di Asia, termasuk Indonesia. Begitu pula dengan penduduk Indonesia yang secara idiil termasuk warga bangsa yang disebut sebagai ―religious people‖, seharusnya modal religiositas itu, tidak saja mengantarkan kepada warga bangsanya menjadi warga bangsa yang disiplin, jujur, toleran, dan beretos kerja tinggi untuk berperan dan menjalankan peran sebagai ―khalifah fil ardli‖ atau memayu hayuning bawana, untuk mengantarkan kejayaan Indonesia sendiri. Apalagi dengan pilihan model tatakelola pemerintahan dan kemasyarakatan (system politik) yaitu system demokrasi. Semestinya, setelah 66 tahun merdeka, modal dasar tadi: kekayaan alam, keberagamaan, dan demokrasi, Indonesia sudah menjadi Negara yang makmur dan maju. Tetapi fakta-fakta menunjukkan hal-hal yang sebaliknya (paradoksal), atau setidaknya jauh dan nampaknya menjauh dari idealisasi ini[3]. Melihat keadaan seperti ini, kita mesti berani bertanya dan mempertanyakan ―apa yang salah di negeri ini‖. Ada banyak teori untuk menjelaskan dan memberikan jalan keluarnya, tetapi dalam konteks seminar kali ini, saya mencoba memperbincangkan dari perspektif sosial budaya. Perspektif sosial-budaya dapat diartikan sebagai sudut pandang atau cara melihat dan memperlakukan sesuatu gejala yang menjadi perhatian dengan menggunakan kebudayaan[4]. Dengan demikian, konsep kebudayaan di sini dilihat dalam dua sisi. Dalam satu sisi, keadaan Indonesia dilihat sebagai subyek dari gejala yang dikaji yang di dalam keseluruhannya itu terdapat masyarakat manusia dengan kebudayaannya. Untuk melihat itu, pada bagian awal tulisan ini akan saya sajikan paradoks-paradoks kebudayaan yang tercermin (sebagai kasus) pada

1

kehidupan politik, pendidikan, tayangan mediatik, dan potret keberagamaan masyarakat Indonesia. Sedang dalam sisi yang lain, ia (budaya) adalah alat untuk acuan atau kacamata dalam melihat, memperlakukan, dan memahami fenomena tersebut. Dari dialektika antara fakta dan idealisasi, berikutnya ditawarkan suatu alternative pendekatan holistic yang berlabel multikulturalisme.

2. Paradoks-paradoks Kebudayaan a. Politik Kesantunan Pada tataran worldview, feodalisme adalah isme atau faham dan pandangan yang secara diametral berlawanan dengan demokrasi. Sementara demokrasi dalam siklus sejarah kehidupan social politik masyarakat bangsabangsa, sejatinya bukanlah evolusi dari feodalisme, melainkan suatu (hasil) perlawanan pada feodalisme itu sendiri. Sedang dalam fakta kultural, yakni dalam kehidupan masyarakat – yang dalam sejarahnya dilalui oleh kolonialisme – terbelah ke dalam dua ―panutan‖ besar. Pertama, kelompok yang sudah mapan dalam posisi (status, senioritas), dan kedua, kelompok ―bawah tanah‖ yang ―merdeka‖ dan ingin memerdekakan umat, seperti para penggiat sosial. Kelompok pertama, sadar betul bahwa di balik faham feodalistik itu, mereka merasa diuntungkan dan selalu ingin memperoleh keuntungan dalam situasi yang ―sudah mapan‖: kedudukan, penghormatan, kenikmatan, dan ketaatan dan kepatuhan pihak-pihak lain (bawahan, yunior) pada dirinya. Kelompok kedua, justru melihat penjelasan, proses, dan fakta-fakta dalam memperoleh berbagai kenikmatan dan kemudahan (kelompok pertama) berada dalam ketidakadilan. Adagium yang hampir selalu memenuhi ruang-ruang publik yang dikumandangkan ialah: kesamaan hak hidup (equality), keadilan hukum, dan semisalnya. Dalam perjalanan waktu yang mengglobal (globalization), system politik yang feodalistik itu terpinggirkan, tetapi dalam ―peradaban‖ personal atau kelompok pemegang kekuasaan dalam berbagai bidang dan lapangan sosial, ―politik feodalistik‖ itu, justru dijadikan ―pakem tersembunyi‖ dalam mengatur siklus kehidupan bersama. Lalu di mana ―politik demokratik‖ nya? Ia ada dalam ―pakem terbuka‖-nya, sehingga yang terjadi dan yang sejatinya, ialah ―demokrasi formal‖ atau formalisme demokrasi atau demokrasi semu (quasi democracy) atau demokrasi seolah-olah. Karena itu, saya memberi definisi atas keadaan demikian dengan istilah demokrasi yang feodalistik.

2

secara umum dilandasi oleh etika ―system komando‖.Ciri-ciri dari demokrasi yang feodalistik ini ialah pertama. belum banyak makan asam garam kehidupan‖. Bawahan yang berani menunjukkan kesalahan atasan (apalagi kalau dilakukan secara terbuka). ekonomi. dalam kepemimpinan yang berproses (dalam pemilihan) seperti ini. Figure ―harus dia‖ secara umum didasarkan atas WARISAN. Harus ―dia‖ bukan ―yang lain‖. Seorang santri yang terlalu kritis dan mengkritisi kiainya. termasuk di dalam berbagai lembaga-lembaga Negara. Strata sosial dan bangunan peradaban (cultural) – sebagaimana di Indonesia. Seorang anak yang cerdas yang mengusulkan jalan arternatif lain tetapi berbeda (apalagi berlawanan diametric) dengan orangtuanya. tetapi ―kami yang memimpin kalian‖. belum ada ceriteranya mendapat reward (baca: penghargaan) tetapi yang umum justru di-marginalized (baca: disingkirkan). b. Aturan dan undang-undang. sistem (proses pemilihan) kepemimpinan (formal maupun nonformal) dilakukan secara demokratis. memiliki hak-hak ―otokratif‖ untuk menentukan keputusan. pemimpin. kepatuhan yunior kepada senior. atau rois am[5] itu. tetapi figure yang nantinya dibaptis sebagai pemimpin – Individunya – sudah dipersiapkan. baik warisan biologis. Yang menjadi ketua. saya bisa memindahkan atau menurunkan (jabatan) kalian‖. silakan dibuat dan dirumuskan. Bidang Edukasi Kata kunci dari semua persoalan kebudayaan adalah pendidikan. Pertanyaannya: apa dan bagaimana menginternalisasikan nilai-nilai kehidupan. dan seterusnya. Internalization and socialization. politik. Kepatuhan bawahan kepada atasan. atau kepala suku. bukan ―Individu yang terbuka‖ yang memiliki keunggulan (achievement) terbaiknya sesuai dengan lapangan kehidupan kelembagaan itu. dengan ―kekuasaan di tangan‖ seorang pemimpin (baca: penguasa) – yang karena itu memiliki hak-hak otokratik demikian. maka (memaksa) etika dalam kehidupan bersama (di dalam lembaga atau komunitas) itu. Jadi kalau saya tidak suka. ―Keputusan saya adalah keputusan yang mengikat. saya atau kalian?. dijawab dengan ketus: ―Kowe kan cah wingi sore. dan seterusnya). maupun warisan sosiologis atau ―aristokratis‖. apakah sekedar untuk bisa bertahan 3 . Ketiga. oleh lingkungannya dilabelling sebagai su’ul adab. Kedua. hampir sepenuhnya didasarkan pada KEPATUHAN. dan lembaga kerumahtanggaan (keluarga) hampir sepenuhnya didasarkan atas ―landasan etik‖ semacam ini. lembagalembaga social (agama.

Mengapa? Karena kebudayaan kita (hingga sekarang). dan peradaban Islam yang masuk ke Indonesia yang bercorak sufistik (baca: akomodatif). menekankan dan ditekankan kepada konsep status diri. Dalam konteks seperti inilah relasi pendidikan dan kekuasaan. bukan kepada karya dan produk (prestasi). keselarasan bermakna kepada penerimaan (terima ing pandum). Mensosialisasikan cara hidup yang kompetitif atau mencegah untuk berkompetisi? Rasanya. sebagai model pertahanan diri: masih untung. atau mentalitas) dan karena itu ―harus dipelihara sepenuh hati‖ sebagai internal defend mechanism oleh mereka yang berkategori: wong cilik. untuk dan atas nama keserasian hidup yang adaptif. Anak yang baik ialah anak yang patuh kepada orangtuanya. Keduanya itu. Konsep patuh dalam tradisi petani ini rupanya dikukuhkan ke dalam peradaban kraton yang bercorak feudalistic. sesungguhnya prototype dari peradaban petani. pemikiran Sutan Takdir Alisyahbana sekitar 70 tahun yang lalu (lihat dalam Polemik Kebudayaan. Orang yang baik ialah orang yang tahu empan papan dan angon mangsa dalam konteks asimetrikal: bawahan—atasan. Kebudayaan (internalisasi dan sosialisasi) yang tercermin dalam orientasi pendidikan di dalam lembaga-lembaga pendidikan. tahun 1935-an) perlu dibuka kembali. sehingga kepatuhan merupakan kata kunci dari kebaikan itu sendiri. Hubungan asimetrik itu. dan yunior – senior. anak – orangtua. Dalam peradaban petani. Jika cara seperti itu melahirkan ketidaknyamanan atau penderitaan. dan kesanggupan untuk menghadapi resiko demi perbaikan diri. diproses dan memproses dalam kehidupan masyarakat Indonesia. dengan sikap pasrah. Ucapan: masih ―untung‖ adalah ―kekayaan‖ (rohaniah. melainkan untuk bisa diterima dan dihayati sebagai sebuah keprihatinan. bermakna sebagai melawan. atau penguasa. tidak ditempatkan sebagai kondisi yang harus segera diselesaikan secara rasional bertolak dari pengetahuan. wong gedhe. tidak mengajarkan dua hal itu: menguasai kehidupan dan memenangkan kompetisi. Karena itu. ketrampilan. sehingga sikap kritis apalagi diekspresikan secara lugas. rakyat – atas perlakuan raja. dan melawan diartikan sebagai pertanda permusuhan. nampaknya lebih diarahkan kepada upaya mencapai keselarasan kepada alam dan keselarasan dalam kehidupan sosial.hidup atau menguasai kehidupan?. ‖tidak dikenal‖ bahkan di 4 . kendatipun orangtua memperlakukan dirinya secara tidak adil. Konsep patuh lantas dimistifikasi sedemikian rupa. dalam budaya masyarakat Indonesia.

Lantas. pejabat. Dengan demikian. maka reaksi yang dilakukan tidaklah dengan cara melawan. guru. sudah menjadi ―senior‖ (baru). yang ada adalah perubahan bertahap. ayah. desain yang digunakan adalah pendidikan bukan sarana untuk mengembangkan gagasangagasan dan pikiran-pikiran besar tetapi ia adalah kepanjangan atau bermula dari sistem pendidikan keluarga yang bipolaristik. Paternalisme dalam kebudayaan Indonesia. orangtua. apalagi menantang. Begitu pula kalau pejabat atau penguasa membuat atau melaksanakan aturan. Membalas dendam tetapi tidak kepada mereka yang memperlakukan tidak adil atau berbuat kekerasan kepada kita. adalah faham yang menggambarkan bahwa senioritas: kakak. Apabila kita tidak setuju atau kurang berbakat untuk menerima berbagai perlakuan dari atas(an). melainkan harus merangkak secara pelan untuk (dalam siklus waktu atau tahapan berkat keprihatinan) berubah diri menjadi senior. dosen dan sebagainya. orangtua. dosen. tidak mempunyai waktu lagi untuk mendidik anak-anaknya sendiri. melawan. lembaga pendidikan itu juga didesain berdasarkan suatu model pembudayaan yang bersifat paternalistik. tetapi pada sisi yang lain. ayah. guru. Tidak ada perubahan cepat. dosen dan seterusnya mendidik. Pada saat seperti inilah kita hidup dalam dua kepribadian. bagaimana pendidikan dan kekuasaan itu diproses dan memproses dalam kehidupan masyarakat Indonesia? Ternyata. baik itu bernama kakak (senior). khususnya Jawa. Karena itu jika kakak. sehingga muncul gagasan melahirkan lembaga-lembaga pendidikan. membalas perlakuan tidak adil. Orangtua yang ‖sudah nyaman‖ sebagai ‖priyayi‖ itu. masih ada pihak-pihak yang lebih senior. satu selera bahkan sebagai peneguh atas ungkapan khas Jawa: alon-alon asal kelakon[6]. atau kekerasan seniornya itu dengan cara melakukan ketidakadilan dan kekerasan kepada yuniornya (bawahan)[7]. Prinsip menyikapi hidup (yang serba kompetitif) ini. ayah. maka aturan-aturan itu sepenuhnya adalah untuk kebaikan rakyat sendiri. Apa yang berasal dari atas(an) adalah anugerah. melainkan kepada yunior atau bawahan. atau dosen. orangtua. maka pendidikan itu dimaksudkan sebagai bukti kebaikan (memberi ilmu dan kearifan) dan karena itu tidak sepatutnya kalau justru dibalas dengan sikap berani.Indonesia istilah ‖revolusi‖. yang ada dan yang didukung adalah istilah ‖evolusi‖. guru. Karena itu. Dalam satu sisi. Analog dengan seorang ibu (isteri) yang melakukan tindak kekerasan kepada anak-anaknya karena kekerasan yang dilakukan suami kepada 5 . orangtua. Inilah dictum yang dikembangkan oleh budaya kita. penguasa adalah sosok yang bijak.

Mengapa? Karena implikasi dari frekuensi penyampaian yang intensif. c. Kecenderungan menjunjung (sendiko dawuh) kepada yang atas. Media massa bisa mempengaruhi bangunan budaya masyarakat. tetapi masyarakat itu memiliki pilihan-pilihan rasional tersendiri ketika jumlah media massa yang tersedia relatif banyak. Meskipun demikian. Dengan kata lain. Mentalitas seperti ini akan membentuk kecenderungan umum yaitu: belah bambu. Bidang Edukasi Mediatik Media. lembaga penyiaran itu sendiri – umumnya bisa bertahan eksis ketika memiliki penonton/pendengar yang jelas. simbol realitas telah menggantikan realitas itu sendiri. Padahal. menguatnya pengaruh media terhadap masyarakat adalah karena masyarakat itu sendiri berkepentingan untuk mereproduksi informasi yang dirujuk dari media. sekaligus menginjak-injak yang bawah. ketergantungan bukan berarti memiliki kesamaan dalam mengakses semua media. kendati media massa memiliki peran penting untuk dan terhadap perubahan kebudayaan. Tidak semua yang ditawarkan/tayangkan memperoleh respon yang signifikan. dapat dipengaruhi oleh tayangan-tayangan televisi. di samping oleh kebiasaan yang diciptakan situasi sosial atau lingkungan khalayak. suara dan gambar (audio visual). Di balik itu. dalam bentuk penyampaian yang konstan melalui wahana cetak. dan perasaan penontonnya. Sumber ketergantungan itu terutama dipicu oleh aspek kelengkapan atau akurasi dan komprehensivitas anasir informasi yang disajikan. lembaga penyiaran bisa menghidupi lembaga termasuk pegawainya. Kejelasan penonton/pendengar akan berpengaruh kepada banyak masuknya iklan. Lewat dana iklan itu pula. secara menyeluruh mampu menstimulasi segenap panca Indra penonton secara emosional hingga mampu mempengaruhi sikap. Realitas terwujud dalam berbagai bentuk sesuai dengan banyaknya media dan gambar. Apa yang kita anggap sebagai realitas. persepsi. Aspek kognitif. Masyarakat atau khalayak mengalami ketergantungan terhadap media karena hendak memenuhi kebutuhan akan informasi serta mencapai tujuan tertentu dari proses mengkonsumsi media. Pada kasus media audio visual dari televisi misalnya. 6 . yakni dalam rentang waktu harian atau mingguan atau bulanan secara repetitif.dirinya. seringkali adalah produk dari pandangan media terhadap isu tersebut. mempunyai peran sangat besar untuk mengkonstruksi budaya masyarakat manusia. afektif (perasaan) dan konatif (perilaku) penonton. Ini artinya. pandangan. terutama TV.

Misalnya. harus mengikuti (mengiyakan) perintah juragannya sekalipun menurut akal yang tidak waras sekalipun. Padahal. bodoh. kendati Sumanto sempat memakan daging mayat manusia. Sementara tayangan/siaran yang lebih edukatif dan mengangkat kualitas peradaban. Jika ―terjadi demikian adanya‖. Sementara yang namanya pembantu itu. yang namanya manusia itu memiliki potensi id dan superego. lalu pada saat membersihkan kamar mandi sambil bernyanyi. manager – staf. umumnya dinilai memiliki rating tinggi. Dalam teori Segmund Freudnya. jahat. ditayangkan pada prime time. juragan itu kerjanya ya memerintah. menyiksa dan tidak manusiawi lagi. lalu menjadi penyanyi tenar dan kaya raya. angkuh. seseorang yang berperan sebagai tokoh antagonis digambarkan mulai dari A – Z. apakah lembaga penyiaran itu mengikuti selera penonton/pendengarnya agar rating dan pemasukan menaik? Atau sebaliknya. suruhan juragan itu tidak masuk akal. tidak dibangun secara resiprositas manusiawi melainkan hubungan hirarkis rimbawi. mereduksi realitas – yaitu menjelaskan ―keberhasilan perjuangan hidup‖ ditempuh dengan jalan SERBA KEBETULAN. hubungan juragan-kuli dan seterusnya itu adalah hubungan ―balas-jasa‖ sesuai dengan peran dan tugas yang dimainkannya. Eksistensi diukur oleh ukuran ekonomi. yakni secara sepihak menentukan jenis dan bentuk tayangan/siaran yang dianggap ―bermutu‖ dalam kerangka meningkatkan kualitas ―budaya‖ penikmatnya? Di sinilah dilemanya.Kalau begitu. atau dari bangun tidur sampai mau tidur kembali tetap berwajah iblis: marah-marah. umumnya berciri. Misalnya. tidak cerdas. terpinggirkan. Padahal sejatinya. 7 . Sejumlah sinetron yang ditayangkan berbagai televisi. lalu menjadi pembantu rumahtangga. Ketiga. sehingga oleh banyak stasiun televisi/radio. menyuruh. orangtua – anak. Woyla. dia juga memiliki kasih sayang kepada sesama. pertama. Alasan klasik pun muncul: demi eksistensi stasiun televisi/radio itu sendiri. lalu ybs disuruh rekaman. interakasi dibangun secara asimetris. pemuda kampung mengadu nasib di kota. Tayangan/siaran yang sering bercorak low taste journalism itu. dan berkata kasar. Hubungan juragan – kuli. lagu juragannya mendengarkan dan tertarik. maka kejadian itu hanya terjadi satu untuk/ dari satu juta atau lebih manusia. Ciri kedua. hubungan antarmanusia digambarkan lewat karakter hitam putih dan interaksi manusia dibangun secara asimetris. Inilah ciri-ciri paradigmatik yang merusak peradaban manusia Indonesia. Misalnya.

bermimpi. Penggunaan agama sebagai alat justifikasi bagi negara.‖ diukur lewat entitas atau kuantitas jumlah anak dalam keluarga. aparat-aparat pemerintah. pantang menyerah. kemaksiatan. maka dalam aplikasi di lapangan hampir selalu terjadi distorsidistorsi karena hampir semua program pemerintah itu dievalusi keberhasilannya berdasarkan target pencapaian. d. Celakanya lagi. Ketika agama dipakai sebagai alat sosialisasi. Pada sayap ini. Bangunan Keagamaan Ada setidaknya tiga penjelasan bagaimana kekerasan dibawa ke ranah agama. terjadi pengerahan secara besar-besaran para tokoh agama untuk menjelaskan ‖kemauan yang baik‖ pemerintah. atau partai-partai yang mendasarkan diri pada azas keagamaan itu sendiri. Terlalu jarang iklan-iklan yang bisa menginspirasi penontonnya untuk mulai bekerja keras. pihak-pihak yang memanfaatkan dan mengatasnamakan lembaga-lembaga agama yang mengembangkan sayap kekuatan untuk merespons keputusan politik dan praktik-praktik pemerintahan. Ketiga. dan berbagai keburukan lainnya menurut tafsiran-tafsiran sesuai selera yang merasa terabsahkan bagaimana menyelesaikan persoalan dimaksud dengan menggunakan kekerasan. agama dibawa-bawa oleh negara dan penguasa untuk menjustifikasi dan melegitimasi keputusan-keputusan politik kekuasaan. Dalam konteks seperti ini. kelompokkelompok keagamaan. seperti program Keluarga Berencana. Sayap pertama berupa pemanfaatan agama untuk memudahkan program dan proyek-proyek pemerintah itu bisa diterima rakyatnya. disiplin. Kedua. bagaimana media bisa ikut membangun peradaban manusia kalau di dalam kognisi stakeholdernya rendah peradabannya. tidak hanya tidak 8 . Para aparat pemerintah. seringkali memiliki dua sayap. organisasi-organisasi. dengan cara-cara yang menyuruh orang menjadi ler. dan menina-bobokkan.Dalam filosofi (Jawa) dikatakan: ―dihormati karena bisa menghormati‖. atau memanfaatkan ideologi keagamaan untuk kepentingan-kepentingan lembaga-lembaga. Indonesiaividu-Indonesiaividu yang merasa terpanggil untuk menghentikan kekerasan. serta human(itis). tidak lagi bicara soal proses dan kondisi-kondisi yang menjadi persyaratan yang menjadikan ‖pencegahan kehamilan dan kelahiran‖ itu diperbolehkan menurut syariat agama. juga dibumbui dengan iklan-iklan (copywriting) yang menjadi ―sponsorship‖ atas tayangan/siaran tersebut. Jadi. bangunan tayangan penyiarannya sudah sedemikian rendah peradabannya. Wacana keagamaan dalam konteks ‖keluarga baik. Pertama.

sehingga dengan mudah menyelesaikan persoalan perbedaan pandangan tadi dengan tIndonesiaak kekerasan atas nama menjaga kebesaran Tuhan. Di sinilah lalu ―permusuhan‖ dan ―kekerasan‖ adalah disahkan atas nama (agama) Tuhan. dan perbedaan berarti ancaman bagi yang lain sehingga negara tampil sebagai hakim‖[8]. melainkan sebagai identitas. Negara mensahkan suatu agama tertentu sama artinya kekuasaan negara melampaui kekuasaan Tuhan itu sendiri. bisa dan mudah timbul ketika ia dibawa ke dalam ranah politik kekuasaan. Ketika agama sebagai identitas. Tuhan dibayangkan sebagai ‖pecandu perang‖ sehingga kekerasan dan perang dimaknai sebagai ‖persembahan‖ kepada Sang Tuhan.tahu mengenai bagaimana landasan syar‘i dalam konteks seperti ini. ‖atas nama Negara. Bahaya itu muncul ketika penggunaan agama. melakukan dua hal sekaligus yaitu (1) kepentingan disakralisasi dengan mengatasnamakan Tuhan. Penggunaan agama oleh lembaga-lembaga atau kelompok-kelompok keagamaan dalam bentuk-bentuk kekerasan. adalah memperlakukan hak negara untuk menentukan mana agama yang disahkan dan karena itu ada agama yang tidak sah. sehingga kecenderungan umum manusia adalah menyuguhkan gejala-gejala atau fakta-fakta yang diikuti dengan interpretasi secara ethnocentric. dan tidak dalam apresiasi. Di sinilah pemaksaan kehendak bahkan kekerasan sepertinya ‖disahkan‖ kehadirannya dengan mengatasnamakan agama. 9 . agama lebih dilihat sebagai institusi. Kekerasan dilakukan oleh suatu kelompok agama kepada kelompok agama lainnya. sebuah rezim bisa memberangus agama karena beranggapan. dan (2) menghakimi pihak lain yang berbeda pandangan sebagai pandangan yang menyesatkan. Dalam bahasa Komarudin Hidayat. Dengan proposisi ―atas nama Tuhan‖. Agama hanya dipanggil ketika ada kebutuhan legitimasi dan dicampakkan ketika menagih tanggung jawab moral[9]. sehingga memunculkan kondisi seperti berlangsungnya kekerasan agama. tidak dalam konteks landasaan etik. Pada sayap kedua. Di sinilah ―ada‖ bahayanya jika agama dibawa ke dalam ranah politik. tetapi juga karena kemauan pragmatis negara yang harus dijalankan. maka muncul kencenderungan bagi ―pemilik‖ lembaga ataupun partai politik. maka logika yang dimainkan oleh penganut yang sekaligus merasa sebagai ―pemilik‖ agama itu adalah ―pembenaran‖. Dalam konteks ini. berbeda agama berarti berbeda Tuhan. Di sinilah perilaku ambevalensi negara dalam kaitannya dengan agama. dalam hal mana mereka menjalankan tugas atas nama negara dan evaluasi kinerja aparat itu sendiri.

dan perang. internal dan eksternal. ditafsirkan sudah mengedepan. maka perang dan memerangi orang-orang kafir (karena melakukan 10 . baik keragaman dalam tataran nurture maupun culture. dan masyarakat. munculnya ketidakpuasan dalam berbagai lapangan kehidupan seperti dalam kehidupan politik. juga memiliki hak untuk menyatakan yang sama terhadap agamanya.Hadirnya berbagai kekerasan yang dialamatkan atau yang dilakukan oleh mereka yang secara luaran menggunakan atribut-atribut agama. Ketika ―peneguhan iman‖ dalam satu segi sudah menguat. Pada sisi internal. akarnya bisa dilihat dari dua sisi. ―pelecehan agama‖. dan sebagainya. Karena kelupaan untuk menjelaskan hal ini. seperti ―waspada‖. Apalagi kalau fenomena seperti itu ditarik secara melebar ke ranah politik atau ekonomi. hukum. cenderung dinilai sebagai ancaman bagi kelompok pemeluk agama yang berbeda. hingga dewasa ini masih sering terjadi. ditarik langsung sebagai akibat negara. maka tIndonesiaakan pihakpihak yang berbeda agama. Keresahan kolektif atas kondisi yang ―sangat tidak ideal‖ seperti rusaknya tatanan hukum. dan kecurigaan atas perlakukan atau tIndonesiaakan umat lain. kekerasan itu bisa lahir karena pertama. ―kemungkaran‖. dan sebagainya. Kecintaan yang terlalu mendalam (fanatisme-sempit) terhadap agama yang dipeluk. kendatipun tIndonesiaakan itu berlabel ―ibadah‖ atas nama agamanya masing-masing. sosial. rusaknya tatanan sosial. tidak menggunakan landasan agama ―yang dipeluknya‖. masih sering muncul dari para penyiar agama-agama itu sendiri. merebaknya pornografi. Ketika pemeluk agama ini sudah tumbuh keyakinan bahwa ―agama yang dipeluknya‖-lah yang benar. Karena melihat pihak lain sebagai ―ancaman‖. atau memang sengaja diabaikan. Nalar keagamaan seperti ini. Dari sinilah skala konflik-keagamaan mulai memperoleh tempat persemaian. diakui atau tidak. dan tidak ada penjelasan lain bahwa mereka yang berada di luar. Kedua. kekafiran. lemahnya penegakan hukum terhadap pengianatan bangsa seperti yang dilakukan oleh para koruptor. merupakan pertanda dari ―gagalnya‖ para tokoh agama bagaimana ―membumikan‖ agama dalam kehidupan sosial yang beranekaragam. ekonomi. kecintaan yang terlalu mendalam (fanatisme-sempit) terhadap agama yang dipeluk sehingga menafikan adanya agama-agama lain di luar sana. Budaya kekerasan yang berlaku dan dilakukan oleh ―umat‖ beragama dalam kehidupan sosial yang majemuk seperti Indonesia ini. pemerintah. maka bahasa yang digunakan dan disosialisasikan adalah bahasa-bahasa yang mengandung cita rasa ―kekerasan‖.

kekerasan itu bisa lahir karena pertama. atau memang sengaja diabaikan. sosial. dan tidak ada penjelasan lain bahwa mereka yang berada di luar. kecintaan yang terlalu mendalam (fanatisme-sempit) terhadap agama yang dipeluk sehingga menafikan adanya agama-agama lain di luar sana. ―kemungkaran‖. dan sebagainya. masih sering muncul dari para penyiar agama-agama itu sendiri. Melakukan kekerasan lantas tidak ditempatkan sebagai ―kekeliruan‖ di dalam menerapkan ajaran agama. cenderung dinilai sebagai ancaman bagi kelompok pemeluk agama yang berbeda. hukum. tidak menggunakan landasan agama ―yang dipeluknya‖. Kedua. munculnya ketidakpuasan dalam berbagai lapangan kehidupan seperti dalam kehidupan politik. merupakan pertanda dari ―gagalnya‖ para tokoh agama bagaimana ―membumikan‖ agama dalam kehidupan sosial yang beranekaragam. internal dan eksternal. kekafiran. rusaknya tatanan sosial. ekonomi. merebaknya pornografi. seperti ―waspada‖. menjadi adagium keagamaan itu sendiri. maka tIndonesiaakan pihakpihak yang berbeda agama. Karena kelupaan untuk menjelaskan hal ini. Keresahan kolektif atas kondisi yang ―sangat tidak ideal‖ seperti rusaknya tatanan hukum. ―pelecehan agama‖. tetapi justru ditempatkan sebagai tanda oleh pelakunya masih adanya spirit (ghirrah) keimanan diri. dan masyarakat. hingga dewasa ini masih sering terjadi. juga memiliki hak untuk menyatakan yang sama terhadap agamanya. diakui atau tidak. Hadirnya berbagai kekerasan yang dialamatkan atau yang dilakukan oleh mereka yang secara luaran menggunakan atribut-atribut agama. Pada sisi internal. baik keragaman dalam tataran nurture maupun culture. 11 . akarnya bisa dilihat dari dua sisi. lemahnya penegakan hukum terhadap pengianatan bangsa seperti yang dilakukan oleh para koruptor. ditarik langsung sebagai akibat negara. dan sebagainya. pemerintah. Ketika pemeluk agama ini sudah tumbuh keyakinan bahwa ―agama yang dipeluknya‖-lah yang benar. Budaya kekerasan yang berlaku dan dilakukan oleh ―umat‖ beragama dalam kehidupan sosial yang majemuk seperti Indonesia ini. Apalagi kalau fenomena seperti itu ditarik secara melebar ke ranah politik atau ekonomi.secara sengaja berbagai kemungkaran) di bumi ini. Nalar keagamaan seperti ini. Kecintaan yang terlalu mendalam (fanatisme-sempit) terhadap agama yang dipeluk. maka bahasa yang digunakan dan disosialisasikan adalah bahasa-bahasa yang mengandung cita rasa ―kekerasan‖. kendatipun tIndonesiaakan itu berlabel ―ibadah‖ atas nama agamanya masing-masing. Karena melihat pihak lain sebagai ―ancaman‖.

maka akan mudah diramalkan bahwa ke-beragam-an agama yang ada itu akan tetap menjadi lahan subur untuk lahirnya konflik sosial. Islam sebagai agama dan negara (innal al Islam Din wa Daulah). Melakukan kekerasan lantas tidak ditempatkan sebagai ―kekeliruan‖ di dalam menerapkan ajaran agama. Dari sinilah skala konflik-keagamaan mulai memperoleh tempat persemaian. Tindakan seperti itu. Akan bisa menjadi konflik manifest kalau ketidak-adilan. Dari fenomena tersebut itulah lalu menghadirkan kepada sejumlah orang untuk melihat keadaan tadi sebagai tantangan bagi umat yang masih punya iman. Dari sinilah lalu memunculkan kebutuhan spiritualitas keagamaan yaitu merindukan Tuhan melalui caranya sendiri. dan kecurigaan atas perlakukan atau tIndonesiaakan umat lain.dan perang. sekalipun cara-cara yang ditempuhnya. yaitu mengembalikan agama. Dalam pandangan kelompok ini. tetapi justru ditempatkan sebagai tanda oleh pelakunya masih adanya spirit (ghirrah) keimanan diri. tetapi lebih dilihat secara agregat sebagai tanda (1) tumbuhnya sikap masa bodoh negara terhadap keadaan yang dinilai sudah jauh meninggalkan nilai moral. menjadi adagium keagamaan itu sendiri. tumbuh kebutuhan mereka untuk menjadikan dua hal. Konflik latensial akan mudah berubah menjadi konflik manifest ketika ruang untuk itu memungkinkan. maka perang dan memerangi orang-orang kafir (karena melakukan secara sengaja berbagai kemungkaran) di bumi ini. dan (2) banyaknya tokoh agama yang mulai lebih tertarik kepada kepentingan pragmatis seperti kekuasan dan materi. Karena itu. bisa saja timbul dan hidup dalam persemaian selama mereka melihat berbagai kebobrokan moral aparat pemerintah maupun rakyat sebagai akibat langsung dari ‘berpaling dari agama‘. kendatipun bersifat latensial. tetapi juga memuat ajaran tentang hubungan antar 12 . lemahnya penegakan hukum. adalah cara kekerasan. ditanggapi sebagai tidak semata-mata karena ukuran kualitas keimanan Individu-Individu. ditafsirkan sudah mengedepan. Ketika ―peneguhan iman‖ dalam satu segi sudah menguat. dan merosotnya moral masyarakat secara kolektif. Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan semata. Membiarkan mind-set atau cara berfikir dan cara menanggapi the self dan the others demikian. dan setiap umat Islam berkewajiban memurnikan bukan saja ajaran tetapi juga dalam praktik-praktik keagamaan menurut teks agama. tidak saja menjadi landasan ideal tetapi juga landasan hukum (syar’i) dalam kehidupan bersama.

Islam merupakan tipikal sosio-politik. Dalam format demikian. atau mempertahankan diri sesuai apa yang mereka ketahui dan yakini mengenai ajaran agama yang dipeluknya. karena dalam pandangan mereka. 13 . Ia merupakan kata lain dari ekstremisme. baik dalam aspek sosial maupun politik kenegaraan. di mana fungsi agama dan politik tidak dapat dipisahkan melainkan harus terbentuk secara formalistiklegalistik dalam satu wadah yang bernama ―Negara Islam‖. Keduanya bergerak dengan dilandasi teologi politik yang kuat dan mengakar dalam ide dan sikapnya sebagai penganjur gerakan Islam fundamentalis atau radikalis. tetapi bisa juga mengarah dan diarahkan kepada ―strategi‖ (baca: strategi adaptasi atau strategi merespons) yang berkembang dan yang dikembangkan oleh suatu kelompok masyarakat dalam kerangka meneguhkan. Pengertian radikalisme[10] itu sendiri adalah ―prinsip-prinsip atau praktik-praktik yang dilakukan secara radikal[11]. bukan sebaliknya‖[15]. Jika yang akhir ini dimaknai sebagai ―kekuatan dan penguatan politik dalam kehidupan sosial‖.sesama manusia. mengembangkan. (c) penolakan terhadap hermenitika karena pemahaman alquran sepenuhnya adalah skriptualistik. termasuk juga tidak terbatas pada kegiatan agama. (b) memiliki prinsip yang mengarah pada paham perlawanan (oppotionalisme). Kata ―politik‖ di samping bisa mengacu pada ―kegiatan berpolitik‖. Gagasan politik Islam demikian itu. tetapi yang jelas.[13] Istilah-istilah itu digunakan dalam banyak pengertian yang berbeda-beda. atau fundamentalisme. istilahistilah tersebut tidak terbatas tertuju pada Islam. maka ―religio-politik‖ bisa dimaknai sebagai ―kekuatan dan penguatan politik dalam kehidupan keagamaan‖. bergerak ke arah penguatan basis umat Islam sebagai modal politiknya dan menempatkan Islam sebagai ideologi gerakannya.[12] militanisme. dalam wilayah gerakan sosial-politik menolak pluralisme dan relativisme. Sementara konsep ―religio politik‖ di sini analog dengan ―sosio-politik‖. ―umat manusia yang tengah melakukan aktivisme sejarah di dunia harus menyesuaikan teks al Qur‘an. serta (e) penolakan perkembangan historis dan sosiologis. Ciri-ciri umum dari fundamentalisme Islam ialah: (a) gerakan-gerakan Islam yang secara politik menjadikan Islam sebagai ideologi dan secara budaya menjadikan Barat sebagai the others. karena banyak contoh tentang fundamentalisme dalam beberapa gerakan politik yang mempunyai ideologi-ideologi sekuler. dan (d) secara epistemologis. jika bukan ateis[14] yang memiliki watak radikal.

sikap-sikap. Sikap radikal dan tidak-tolerant demikian itu. mengembangkan. sehingga untuk beberapa hal membenarkan penggunaan istilah ―militan‖.[18] Militansi di sini. akarnya bisa dilihat dalam dua sisi kepentingan yang bertabrakan dan ditabrakkan. sering mengalami ketegangan bahkan terkadang konflik[20] dengan lingkungan mereka. TIndonesiaakan radikal dipilih bisa karena dipahaminya sebagai ajaran. diberi arti sebagai suatu pendirian yang tegas dan tidak ragu-ragu bahwa keyakinan-keyakinan tertentu tentang suatu kebenaran – biasanya diambil dari teks-teks suci – merupakan kewajiban orang-orang beriman untuk menggiatkan kehidupan mereka dan mengarahkan aktivitas-aktivitas mereka sesuai dengan keyakinan-keyakinannya itu. Pilihan kepada sikap radikal demikian itu. gemar atau siap ―berjuang‖. ―radikalisme religio politik‖. atau ―berperang‖. pandangan. dan strategi-strategi termasuk praktik-praktik (tIndonesiaakan) yang berjalan dan dijalankan oleh kelompok-kelompok masyarakat (keagamaan) dalam kerangka meneguhkan. Apalagi kalau cara-cara ―memperjuangkan tegaknya Islam‖ dengan klaim jihad[22] untuk menegakkan amar ma‘ruf nahi mungkar tetapi dengan cara-cara kekerasan. Sikap militan itu ditunjukkan dari gerakan-gerakannya yang bersifat agresif. seperti halnya dalam bidang agama[16]. kesan Islam yang ―rahmatan lil ‗alamin―. umumnya terkait pada ciri usaha merombak secara total suatu tatanan politik atau tatanan sosial yang ada dengan menggunakan kekerasan dan dengan semangat militan. bertempur. Bertabrakan terjadi sebagai akibat ―undesigned 14 . adalah karena ―mereka menyederhanakan persoalan yang ada dalam suatu masyarakat secara berlebih-lebihan. atau mempertahankan ajaran agama yang diikuti dengan cara-cara radikal‖. berkelahi. sering dipertanyakan oleh warga masyarakat luar yang sudah terbiasa hidup di dalam kehidupan yang multi-kultural[21] dan multi-etnik. Dalam suasana ketegangan itu pula. radikalisme atau terkadang disebut fundamentalisme[17]. Mereka melakukan oversimplikasi terhadap persoalan yang ada‖[19]. Fenomena dari terjadinya terorisme sebagaimana yang akhir-akhir ini ―terjadi‖ di Indonesia. Dalam bidang politik. terutama untuk memperlihatkan pengabdian mereka yang total terhadap suatu cita-cita. atau pensikapan yang terkait langsung atau tidak langsung dengan kepentingan agama maupun kepentingan warga komunitas keagamaan itu sendiri.Dengan demikian. secara spesifik berarti ―paham2. atau karena adanya tekanan-tekanan dari luar.

Target di balik pengembangan prejudice seperti itu ialah agar kebangkitan Islam akan ditolak oleh peradaban kemanusiaan‖. Sedang ditabrakkan atau actions by design adalah strategi memenangkan kompetisi peradaban global yang berporos kepada kepentingan kekuasaan dan ekonomi kapitalistik pada tataran negara-negara. karena didasarkan pada argumen keagamaan yang kuat[25]. Dalam pandangan mereka. yaitu ―undesigned actions‖ adalah karena peristiwa-peristiwa radikalitas keagamaan itu muncul sebagai bentuk atau respons ―umat beriman‖ yang dengannya merasa terpanggil untuk melakukan perubahan-perubahan secara radikal. sekalipun harus menyerahkan jiwa sendiri. atau terrorisme yang berkategori baik. hanyalah denominasi agama dan kepercayaan yang menghasilkan fanatisme[24]‖. kemunculan terorisme bisa dijelaskan ke dalam dua sisi juga. Mengapa? Karena mereka berpandangan bahwa Amerikalah yang lebih dahulu mengajarkan dan mempraktikkan terrorisme yaitu dengan membumihanguskan Afganistan dan Irak.[23] Ketika sebagian umat Islam terjebak masuk ke dalam perangkap itu. Tentu pilihannya itu – berdasarkan atas tafsir sepihaknya. menjadi bisa dijelaskan bahwa terorisme terjadi dalam tiga kemungkinan. dan yang gemar membunuh orang seenaknya. Barat sengaja memberi ruang dan menciptakan ruang untuk timbulnya banyak radikalisme di kalangan umat Islam sendiri. Islam. Melawan Amerika dan sekutunya yang telah berbuat teror. ekslusifisme. ‖kaum teroris itu berdalih bahwa mereka melakukan untuk melawan Amerika dan sekutunya‖. Untuk itu. adalah didefinisikan sebagai terrorisme hasanah. Kedua. Berdasarkan pada pendekatan actions by design.actions‖. sedang ditabrakkan terjadi oleh adanya ―actions by design‖. Yang pertama. khususnya Amerika dan sekutunya. ‖kebangkitan umat Islam akan membahayakan eksistensi kejayaan mereka. Dari paham ini pula. Agar Islam tidak bangkit. lantas masyarakat Barat mudah membuat stigma. yang tidak berkemanusiaan. yakni sisi eksternal dan sisi internal. Sedang dari sisi internal. Dari akar pandangan inilah maka mereka berdalih bahwa apa yang dikerjakan adalah sebagai imbangan dan perlawanan. dan terrorisme. yaitu: pertama. Desain itu bertolak pada prejudice Barat secara berlebihan. terdapat konsprirasi besar dari luar yang ingin menghancurkan Islam dari dalam. Pada sisi eksternal. terdapat 15 . yaitu Islam harus dicitrakan sebagai sebuah agama yang kejam. munculnya terorisme – dalam batas-batas tertentu bisa dilihat sebagai desain alias kepentingan negara-negara Barat. Islam dan umat Islam distigma dengan stigma: fundamentalisme. perlu dilakukan strategi.

Model pendekatan sosial-budaya pada dasarnya adalah suatu model berfikir. bukan saja akan mengurangi beban pemerintah tetapi juga akan melahirkan pemahaman baru bahwa rakyat dan pemerintah perlu bersatu dan menyatu. tetapi mengapa di antara manusia itu sendiri membunuh di antara sesama. Tuhan menciptakan dan menghidupkan manusia. e. dan pengawasan. pelaksanaan. agama-agama dan peradaban-peradaban manusia. maka respons dalam bentuk sikap dan tIndonesiaakan yang diekspresikan juga akan positif. baik dalam arti material seperti tumbuh inisiatif untuk menggalang dana-dana yang dikumpulkan dari masyarakat sendiri maupun dalam arti immaterial berupa sumbangan pemikiran dan keikutsertaan untuk bertanggungjawab.teks-teks dalam Alquran dan Hadits yang dijadikan sandaran untuk melakukan kekerasan. dan dipilih 16 .[26] Namun demikian. dan ketiga. melaksanakan. tumbuhnya persepsi masyarakat bahwa pemerintah dan pejabat pemerintah akan dinilai sangat positif. Kalau kondisi demikian sudah tumbuh. Kedua. digunakan. ada yang salah dalam proses pendidikan kita sehingga berpeluang melahirkan agen-agen teroris‖. ketika persepsi positif itu sudah tumbuh. dan tidak kekerasan. apapun istilah dan penyebabnya. Nilai penting dari tumbuhnya partisipasi masyarakat demikian adalah pertama. dan mengontrol suatu aktivitas dengan menggunakan paradigma yang secara umum dimengerti. sehingga di dalam diri rakyat itu sendiri timbul kebutuhan untuk ikut terlibat secara positif dalam perencanaan. apalagi kalau sasaran dari kesemuanya itu adalah mereka yang tidak tersangkut-paut ke dalamnya. Desain Pembangunan Membangun partisipasi rakyat terhadap program-program pembangunan fisik maupun nonfisik adalah suatu perencanaan sosial (social planning) yang mengarahkan kepada pembentukan pemahaman bersama secara simpatik. cara-cara terorisme dengan dalih apapun. tidak lagi menjadi tupangan hidup dalam kedamaian tetapi menjadi penyalur dan saluran kebencian. maka apa yang selama ini kita inginkan yaitu kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah daerah akan tumbuh dengan sendirinya. Tumbuhnya respons yang positif demikian ini. dan inilah sebetulnya modal dasar pembangunan yang sangat menentukan terhadap berhasil atau tidaknya program-program pembangunan dilihat dari perspektif sosial-budaya. Dengan teror. adalah suatu kebiadaban. Keterlibatan yang dimaknai oleh mereka berdasarkan atas konsekuensi-konsekuensi logis yakni ikut membantu. kedendaman. merencanakan.

atau bagaimana menjelaskan arah pembangunan yang ditempuh itu agar tidak bertabrakan. Pertanyaannya ialah bagaimana merencanakan suatu program pembangunan yang selaras dengan nilai-nilai. Pentingnya merencanakan. Makna di sini meliputi dua hal penting yaitu dari sudut kekinian dan dari sudut masa depan. 17 . dan norma-norma yang ada. Kejelasan itu perlu dilihat dalam konteks peningkatan kesejahteraan warga masyarakat secara umum dan bukan hanya untuk segelintir orang. dan melakukan pemeliharaan hasil-hasil pembangunan beserta dengan pengawasanpengawasannya berdasarkan atas perspektif sosial-budaya adalah pembangunan dan hasil-hasil pembangunan itu adalah milik dan tanggungjawab bersama. Dengan demikian. kebiasaan-kebiasaan. harapan-harapan macam apa yang bisa diperoleh untuk masa-masa mendatang haruslah jelas. maka jika hal itu dikerjakan. program-program pembangunan yang dipilih sepatutnya didasarkan atas kebutuhan-kebutuhan yang dianggap paling mendasar bagi kebutuhan warga masyarakatnya sendiri. Dengan kata lain. kita harus mengetahui secara tepat nilai-nilai. melaksanakan. Jadi.atau disepakati oleh warga masyarakat umum sebagai model yang paling dikuasai. dan norma-norma yang dijadikan acuan warga masyarakat. pendekatan sosial-budaya merupakan the insidemodel. Yang kedua. kebiasaankebiasaan. membangun partisipasi masyarakat terhadap program pembangunan hanya bisa dilakukan kalau kita telah melakukan beberapa pentahapan: Pertama. ketika jenis pembangunan itu dianggap familiar dengan persoalan dan pengalaman warga masyarakat itu. Pada sudut kekinian penjabarannya adalah bahwa program pembangunan yang ditawarkannya itu haruslah bukan persoalan yang sangat asing di dalam pengalaman empirik warga masyarakat yang bersangkutan. Dengan kata lain. Pentingnya menggunakan the inside-model adalah pertama. yakni model dari dalam. bahwa warga masyarakat akan mau berpartisipasi terhadap suatu pembangunan kalau mereka memahami dengan sangat baik mengenai apa makna pembangunan itu bagi dirinya. dan bukan milik dan tanggungjawab pemerintah sebagaimana kesan umum yang terjadi pada pemerintahan era orde-baru. Kesulitan untuk menjawab pertanyaan ini ialah jikalau kita sendiri belum memiliki pengetahuan mendasar mengenai sistem nilai dan sistem norma termasuk kebiasaan-kebiasaan warga masyarakat itu sendiri. program pembangunan itu sebetulnya bisa mengukuhkan nilai-nilai tersebut.

atau orang lain misalnya investor. Ini berarti bahwa setiap rancangan pembangunan harus bisa dijelaskan secara tepat nilai kegunaannya bagi warga masyarakat dalam konteks pemenuhan kebutuhankebutuhan tadi – jika kita menginginkan mereka ikut berpartisipasi. padaenganang. seperti pengembangan di dalam kegiatan ekonomi. siapa yang paling diuntungkan kalau suatu program pembangunan dijalankan? Apakah pemerintah daerah. 18 . apakah rakyat. maka pertanyaan berikutnya yang perlu diajukan ialah bagaimana warga masyarakat itu merespond dan ikut bertanggungjawab untuk memberikan sumbangan. Untuk dapat terciptanya kondisi ideal demikian itu. dsb? Perlu pertanyaan kritis: pada sisi mana rakyat memperoleh keuntungan terhadap program pembangunan tersebut? Rakyat yang memperoleh keuntungan itu. dan kebutuhan tertier seperti kebutuhan akan rasa aman. maupun kegiatan sosial-budaya. keagamaan. menjadi sangat mendesak untuk dilakukan penelitian sosial budaya masyarakat dengan pendekatan-pendekatan sosial-budaya. Ketiga. maka pemerintah daerah akan relatif mudah menjalankan roda pemerintahan terutama dalam kaitannya dengan masalah pembangunan daerah. dan aktualisasi diri. apabila sistem nilai. apabila kita sudah bisa merancang suatu program pembangunan yang sesuai dengan sistem nilai dan sistem norma masyarakat. kebutuhan sekunder. Untuk itu.Kedua. rakyat pada kategori-kategori apa? Pertanyaan demikian ini tentu tidak mudah dijawab kalau kita sendiri tidak memiliki informasi yang cukup mengenai problem-problem yang umum dihadapi dan dirasakan warga masyarakat dalam kaitannya dengan pengembangan diri. kegiatan sosial. pemeliharaan. bagaimana menumbuhkan sikap sense of belonging (sikap ikut handerbeni) masyarakat. dan mengontrol segala hal yang terkait dengan pembangunan tersebut? Dengan kata lain. Mengapa? Sebab manusia memiliki kebutuhan-kebutuhan pokok yang harus- kebutuhandapat terpenuhi yaitu kebutuhan-primer. lalu bagaimana persepsi masyarakat terhadap jenis-jenis program pembangunan yang ditawarkan. serta program pembangunan itu diyakini dapat memberi keuntungan bagi warga masyarakat oleh karena pembangunan itu ada kaitannya dengan fasilitasi pemenuhan kebutuhan. Dengan kata lain. dibutuhkan informasi yang cukup sehingga perencanaan dan pelaksanaan program pembangunan tidak salah alamat. dan sistem norma masyarakat sudah kita pahami. Kalau sense of belonging masyarakat sudah terbentuk.

masyarakat manusia membutuhkan pemenuhan kebutuhan sosial yaitu melakukan interaksi-interaksi sosial dan membentuk kelompok-kelompok sosial berdasarkan atas kepentingan yang lebih luas seperti kelompok petani. berwirausaha. makna hubungan antarsesama. Apabila hidup di dunia ini pendek sedang hidup di akhirat adalah abadi. Untuk dapat terpenuhinya kebutuhan biologis tersebut. dan beradab. dan partai politik. penelitian sosial-budaya meliputi masalahmasalah yang dianggap terpenting dalam kehidupan mereka sebagai makhluk sosial dalam kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan biologis. dan makna alam. dalam perwujudannya terkait dengan persepsi mereka tentang hakekat atau makna hidup (di dunia ini). Pendekatan Sosial Budaya Penelitian sosial budaya meliputi dua hal penting yaitu substansi dan metodologi. Keseluruhan dari pola-pola tIndonesiaakan yang dijalankan dalam kerangka pemenuhan kebutuhan-kebutuhan biologis. kebutuhan sosial. kebiasaankebiasaan. teratur. berdagang. Pekerjaan-pekerjaan itu dilakukan atas dasar pengetahuan. minum. Kebutuhan-kebutuhan biologis sebagai kebutuhan primer manusia adalah kebutuhan-kebutuhan untuk makan. dsb. maka apakah masyarakat yang bersangkutan kemudian menganggap bahwa hidup di dunia ini tidak terlalu penting tetapi yang lebih penting adalah hidup di akhirat nanti? Jika demikian sikap umumnya warga masyarakat. sistem-sistem norma. makna kerja. sosial. masyarakat manusia melakukan serangkaian tIndonesiaakan ekonomi seperti bertani. dsb. ormas sosial keagamaan. masyarakat manusia membutuhkan aturan-aturan. dan kebutuhan adab tadi. apakah tidak mungkin justru karena hidup di dunia ini 19 . makna waktu. Kalau kebutuhan biologis itu terpenuhi atau untuk mencapai pemenuhan kebutuhan biologis itu. tempat tinggal. lalu apakah semangat kerja di dunia untuk memaksimalisasi potensi diri guna mencapai hasil optimal di dunia ini menjadi rendah? Atau sebaliknya. kelompok pedagang. Dari segi substansi. dan adab. dan nilai-nilai yang dipandang baik dan benar agar dapat terpenuhinya harapan-harapan pemenuhan akan kebutuhan tersebut dan keseluruhan dari tIndonesiaakan-tIndonesiaakan itu dapat diterima secara sosial. Kemudian untuk dapat berjalannya serangkaian tIndonesiaakan dalam kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan biologis dan kebutuhan sosial.f. norma-norma. dan sistem-sistem nilai (kebutuhan adab) yang kegunaannya fungsional yaitu agar keseluruhan hidup masyarakat manusia itu dapat berjalan secara aman.

peningkatan hubungan yang harmonis antara rakyat dengan pemerintah daerah. dan kebutuhan adab itu bagaimana. dan teknik-teknik untuk memahami berbagai aspek tadi.pendek maka mereka justru ingin berprestasi dan meningkatkan etos kerjanya. berarti strategi-strategi macam apa yang bisa digunakan untuk menggali informasi dan pengetahuan-pengetahuan budaya (social-knowledengane) masyarakat dalam bentuknya sebagai sistem-sistem nilai dan sistem-sistem norma yang digunakan sebagai acuan bagi warga masyarakat untuk memahami. dan bagaimana mengubah hambatan-hambatan itu menjadi potensi-potensi dan peluang-peluang yang bisa dikembangkan? Dari segi metodologi. Seberapa jauh sikap-sikap seperti menghambat dalam keikutsertaannya dalam program-program pembangunan. Dilihat dari perspektif sejarahnya itu globalisasi merupakan cerminan manusia modern sendiri. Goethe memberi gambaran bahwa man modern adalah pribadi ambisius yang 20 . memaknai. termasuk sikap dan respond mereka terhadap program-program pembangunan itu sendiri. dan kebutuhan-kebutuhan jangka pendek dan jangka panjang dalam kerangka peningkatan perbaikan kesejahteraan hidup. sosial. penelitian sosial budaya di sini berupa strategi-strategi. Pendekatan ini ditandai oleh model penelitian kualitatif yang berciri lebih mementingkan makna (pengertian) daripada sekedar angkaangka. dengan ciri-ciri: menggunakan ukuran-ukuran penilaian masyarakat setempat (inside looking) bukan ukuran-ukuran masyarakat luar (outside looking). Diangkat dari legenda akhir abad pertengahan tentang seorang tabib yang juga tukang sihir yang amat ditakuti di Eropa ketika itu. Pertanyaan yang kemudian perlu dijawab kemudian adalah sistem-sistem nilai. dan menentukan pilihan-pilihan mengenai jenis2 program pembangunan yang dianggap cocok. atau malahan mereka mementingkan ―persiapan‖ hidup di akhirat dan mengabaikan kepentingan duniawi oleh karena kedua hal itu (duniawi dan ukhrawi) tidak ditempatkan sebagai suatu proses kesinambungan kehidupan melainkan dua kehidupan yang bertolak-belakang? Proses berfikir demikian ini seringkali mewarnai keadaan riil masyarakat kita. Ini berarti bahwa secara metodologis. model-model partisipasi rakyat yang bisa dikembangkan. sebagaimana digambarkan dengan bagus oleh Goethe (wafat 1832) dalam tragedi Faust. dan peningkatan kualitas hidup itu sendiri. dan sistem-sistem norma termasuk kebiasaan-kebiasaan yang umum berlaku dalam kehidupan masyarakat dalam rangka memenuhi kebutuhankebutuhan biologis.

1. dan cukup untuk 100 keturunan. PARADOKS GLOBALISASI: MEMIKIRKAN KEMBALI ARAH KEBUDAYA KITA Oleh Abdul Hadi W. dan utilitarianisme. Ia telah menguasai falsafah. sastra. Tetapi masih belum merasa memiliki apa-apa. Kekuatannya jauh lebih dahsyat dari ilmu sihirnya tukang-tukang sihir Firaun dan Harry Potter. dan minta ampun kepada Tuhan. Karena ilmu yang mampu membuat seseorang menguasai dua alam itu berada di tangan Setan (Mephistopeheles). Ia merasa perlu bertobat . dicapainya kemajuan ilmu penget dan teknologi. materialisme. untuk apa lagi tergantung pada Setan. Faust berrsedia menggadaikan jiwanya kepada Setan selama 25 tahun demi cita2 yang . toh ilmu Setan . ingin digapainya. Di pengujung usianya Faust memutuskan kontraknya dengan Setan. Jika corak masyarakat majemuk Indonesia yang ditandai penekanannya pada kesukubangsaan dan kelompok-kelompok sukubangsa yang beranekaragam kebudayaannya ini tidak dikelola secara tepat. universitas. serta mendirikan . . dan teologi.tidak pernah puas pada penget yang dikuasainya (Dilthey 1957). hadirnya falsafah positivisme. yaitu sebuah masyarakat negara yang terdiri atas lebih dari 500 sukubangsa (ethnik) yang dipersatukan oleh sistem nasional dalam wadah sebuah negara kesatuan Indonesia. yaitu kerajaan dunia dan alam spiritual. kedokteran. ilmu hukum. sekolah. Khan.. Itulah ilmunya Faust. rumah sakit. museum seni. Dalam hatinya ia berkata. Hasrat itu menemukan bentuknya yang sesuai stlh bangkitnya kapitalisme. dan berkembangnya ideologi keduniaan serta teori-teori ilmiah yang kesemuanya itu dapat menopang kokohnya globalisasi. juga sebegitu luasnya tidak kalah dari wil kemaharajaan Romawi dan Jengis . dan tempattempat ibadah. Namun sang penakluk itu akhirnya sadar juga. Melalui tragedi Faust ini kita memperoleh banyak iktibar. melampaui kekayaan Nabi Sulaiman. maka akan 21 . Kerajaan benda2 dan kerajaan ilmu penget. M. Masyarakat Majemuk Indonesia Indonesia adalah sebuah masyarakat majemuk (plural society). Sejak itu dia mulai banyak berderma. yayasan-yayasan kemanusiaan . Sejak awal kelahirannya globalisasi modern itu didorong oleh hasrat untuk menguasai dunia secara material dan sekaligus secara kultural dan spiritual. Kini dia menyaksikan betapa kekayaannya begitu melimpah ruah . telah dia kuasai. Wil kerajaannya . Dia ingin memiliki segala-galanya dan itu hanya dapat dicapai dengan menguasai dua alam sekaligus.

tidak hanya kebijakan pelarangan penggunaan sukubangsa sebagai acuan kepentingan politik. di antaranya: (a) masyarakat majemuk yang menghasilkan batas-batas sukubangsa yang didasari oleh stereotipe dan prasangka negatif. Pada era pemerintahan Presiden Sukarno misalnya. fenomena seperti di atas dicoba diselesaikan dengan melarang kesukubangsaan sebagai potensi kekuatan politik. Ambon. misalnya kepentingan politik kekuasaan dan perebutan sumber-sumber daya alam. tetapi juga pelarangan potensi politik dari agama dan ras sebagaimana konsep SARA. ternyata hanya meredam berbagai gejolak sosial yang bersifat semu. Kemudian pada era pemerintahan Suharto. Jika ini dibiarkan tanpa arah bangunan keIndonesia-an yang jelas. (b) Pada gilirannya. dsb. Cara pandang diskriminatif ini tercermin antara lain pada pembedaan warga (suku) asli versus pendatang disertai dengan sikap merendahkan dan kebencian. bisa memicu munculnya stigma sosial dan pengambinghitaman antarsukubangsa. 22 . justru berakibat kepada lemah dan melemahnya kekuatan kearifan lokal (local wisdom) sebagai acuan masyarakat untuk dapat mengatur lingkungan sosialnya. dan (c) kondisi yang demikian itu akan semakin dikukuhkan ketika ada kepentingan yang lebih luas. dimanfaatkan untuk kepentingan Indonesiaividu atau kelompok dengan mengabaikan kepentingan yang lebih luas yaitu kesatuan dan persatuan Indonesia. kondisi seperti itu akan dengan mudah melahirkan cara pandang perbedaan secara diskriminatif antarsukubangsa itu sendiri. pelarangan yang dilakukan secara represif dengan menggunakan kekuatan militer secara otoriter. guna keutuhan bangsa Indonesia dan memenangkan semangat nasionalisme.mudah melahirkan potensi-potensi destruktif. seperti kasus konflik Sambas. Begitu pula kebijakan ‖penyeragaman‖ corak pemerintahan pada tingkat pedesaan yang secara tradisional bercorak semiotonomi menjadi bercorak seperti pemerintahan desa Jawa yang dikuasai dan dikendalikan oleh pemerintah yang dilakukan oleh Ditjen PUOD. Kebijakan politik kesukubangsaan waktu itu – adalah politik amalgasi atau peleburan sukubangsa-sukubangsa menjadi sebuah bangsa yaitu Indonesia. perbedaan dan sikap serta tIndonesiaakan membeda-bedakan. melalui perkawinan antarwarga sukubangsa yang berbeda-beda. Ini berarti bahwa desain untuk membangun masyarakat madani (bercorak demokratis dan multikulturalistik) telah mengalami kegagalan. Kalimantan Tengah. Rupanya. Dalam hal ini.

Dilihat dari isi (substansi: pengetahuan dan keyakinan) maupun ekspresi (tIndonesiaakan dan keputusan). karenanya menjadi tuntutan yang mendesak. Dalam konteks Indonesia. Makna culture fertililization sebagai pendekatan di sini ialah mendesain perbedaan-perbedaan budaya (sebagaimana masyarakat Indonesia) sebagai potensi (anugerah/maslahat) bukan sebagai kerugian (madharat). baik dalam level masyarakat Indonesia sendiri maupun dalam kaitannya dengan pergaulan dan persinggungan dengan kebudayaan-kebudayaan global. Karena itu. salahsatunya ialah dengan pendekatan culture fertilization. yang keseluruhannya itu menjadi dan dijadikan model tIndonesiaakan dan hasil tIndonesiaakan. setiap kebudayaan itu dinamik. kebudayaan-kebudayaan sukubangsa yang sudah membentuk itu. dan karena itu ia memiliki potensipotensi yang bisa bercorak negatif. dengan cara memadukan. dan (3) kebudayaan yang direncanakan untuk dibentuk. tetapi juga masyarakat dalam arti luas sepertu masyarakat bangsa. Cara hidup tadi terinternalisasi dan tersosialisasi secara berkelanjutan sehingga membentuk pandangan dan pengetahuan. baik masyarakat dalam artian sempit seperti masyarakat-masyarakat tertentu yang dibatasi oleh kesatuan wilayah atau etnisitas. Upaya-upaya untuk mencapai idealitas yang tak terjerabut dari akar-akar kebudayaan kesukubangsaan.Mendesain ulang masyarakat plural yang monokultural ke dalam masyarakat multikultural yang berpandangan multikulturalisme. yaitu (1) kebudayaan yang sudah terbentuk/membentuk. Pendekatan Culture Fertilization Inti dari apa yang disebut kebudayaan ialah ‖cara hidup masyarakat. g. dilihat dari dimensi ruang dan waktu. Pada masing-masing masyarakat tadi. keyakinan dan anggapan-anggapan. dalam batas-batas tertentu memiliki perbedaan sekaligus persamaan dengan masyarakat di luarnya. Perbedaan-perbedaan yang menjadi khas dari masing-masing masyarakat yang bersangkutan – jika diakumulasikan – menjadi masyarakat yang multikultural. seharusnya dijadikan ‖acuan awal‖ untuk memahami potensipotensi yang bisa menyumbangkan kepada konsep kebudayaan dewasa ini (sedang membentuk) dan kebudayaan Indonesia dalam rancangan ke depan. tetapi juga sebaliknya menjadi potensi positif. (2) kebudayaan yang sedang membentuk. dan mengembangkannya sesuai dengan tuntutan dan 23 . kebudayaan-kebudayaan masyarakat itu dapat dipilah ke dalam tiga corak. meramu.

Jadi melalui hukum inilah kebudayaan dan peradaban seperti halnya perikemanusiaan. tetapi konflik yang terjadi dalam proses menurut prinsip demokrasi harus mengikuti hukum atau aturan main yang adil dan beradab. yaitu kompetensi kebudaya. Dalam masyarakat multikultural seperti Indonesia. Kompetensi kepribadian adalah kompetensi yang memungkinkan seorang subjek dapat berbicara dan bertIndonesiaak dan karenanya mampu berpartisipasi dalam proses 24 . termasuk terwujudnya kesetaraan derajat Indonesiaividu demi kesejahteraan bersama. dan sebagainya. di mana masing-masing pihak atau kekuatan berlaku semena-mena. paradigma hubungan dialogal atau pemahaman timbal balik sangat dibutuhkan. Paradigma hubungan timbal balik dalam masyarakat multikultural mensyaratkan tiga kompetensi normatif. sehingga menjadikan kekuatan dan penguatan ke-Indonesia-an. Kedua hal itu. Dengan kata lain. dapat ditegakkan. Ketaatan atau kepatuhan pada hukum yang berlaku. Kompetensi kemasyarakatan mrp tatanan2 sah yang memungkinkan mereka yang terlibat dalam tIndonesiaakan komunikatif membentuk solidaritas sejati. Kesadaran dan penghargaan atas perbedaan demikian. Tanpa adanya ketaatan pada hukum.perubahan sosial. keadilan sosial ekonomi dan politik. Masyarakat demokratis adalah masyarakat yang dalam ciri-ciri kulturalnya menunjukkan bahwa warganya memiliki kesadaran terhadap keberagaman dan karena itu cara hidup yang dinilai beradab ialah menghargai perbedaan itu sendiri sekaligus mengupayakan mencari titik temu yang memungkinkan guna kepentingan yang lebih luas. baru memungkinkan kalau didukung oleh faktor-faktor lain seperti keteraturan hukum. untuk mengatasi eksesekses negatif dari suatu problem disintegrasi bangsa. dan mencari titik temu kesamaan sebagai identitas keIndonesiaonesiaan dalam sisi yang lain. Cara yang bisa ditempuh ialah melalui penerimaaan dan penghormatan perbedaan itu sendiri dalam satu sisi. adalah salah satu syarat mutlak bagi berlakunya demokrasi dalam kehidupan masyarakat. kemasyarakatan dan kepribadian. menjadi prasyarat dari suatu wujud masyarakat madani yang ciri-cirinya antara lain demokratisasi. maka yang ada adalah kerumunan dan kekacauan. proses-proses menuju ke sana tidak lalu berarti tanpa memunculkan konflik. Kompetensi kebudaya adalah kumpulan pengetahuan yang memungkinkan mereka yang terlibat dalam tIndonesiaakan komunikatif membuat interpretasi-interpretasi yang dapat mengkondisikan tercapainya konsesus mengenai sesuatu.

tetapi juga mendesain bangunan persaudaraan itu sendiri. Jika dmk halnya. Tidak selalu niat baik menghasilkan tujuan baik. Pengetahuan dan niat baik saja ternyata tidak cukup. Inilah esensial dari mempersatukan dan menyatukan kebudayaankebudayaan masyarakat Indonesia. Penutup APA yang bisa kita petik dari kajian di atas adalah pelajaran mengenai sikap manusia yang sering paradoksal. h. kita menjadi sadar bahwa ketika orang atau suatu kelompok melihat kelompok lain sebagai ―lawan‖ dan oleh karena itu. Sebagian dari mereka cenderung menggunakan jalan kekerasan. karena dalam perjalanannya manusia tergoda dan terbius kepentingan jangka pendek. Untuk itu. adalah wajar untuk dimusuhi bahkan dilawan – ternyata adalah hasil konstruksi manusia sendiri. maka tugas kita adalah ―membongkar‖ konstruksi sosial itu. Begitu pula. kita masih perlu belajar bgmn menumbuhkan kesanggupan bukan saja untuk melihat dan memperlakukan orang lain sebagai saudara. niat damai tak selalu dipahami orang agar dicapai dengan jalan damai pula. sejauh mana jalan kekerasan bisa mewujudkan kedamaian? Dalam kasus masyarakat manakah jalan kekerasan bisa menghasilkan kedamaian? Itulah sebabnya. Pertanyaannya. sebagaimana yang diarah dari pendekatan culture fertilization.pemahaman timbal balik sesuai konteks tertentu dan mampu memelihara jati dirinya sendiri dalam berbagai perubahan interaksi. lalu membangun kembali menjadi bangunan di mana setiap manusia merasa nyaman memasuki bangunan tadi. 25 .

Achmad Fedyani 2007 ―Kesukubangsaan. Gary E 2001 Voices of Wisdom – a Multicultural Philosophy Reader. 7 -19. USA: Wadsworth. Kessler. paper untuk Simposium Internasional. Saifuddin. Mei – Agustus. di Bali (16-21 Juli 2002). dalam Antropologi Indonesia. Tahun. Parsudi 1999 ―Konflik Sosial dan Alternatif Pemecahannya‖. XXIII. dan Multikulturalisme‖. dalam Hak Minoritas. Azyumardi 2008 ―Pendidikan di Tengah Peradaban Dunia: Perspektif Multikulturalisme dan Pendidikan Multikultural‖. Multikulturalisme dan Dilema Negara Bangsa. No. Jakarta: The Interseksi Foundation. Mudjahirin 2007 Kekerasan Sosial dalam Kehidupan Masyarakat Indonesia – Suatu Pendekatan Sosial Budaya.DAFTAR PUSTAKA Azra. 26 . Hlm. (Pidato Pengukuhan Guru Besar Undip). Nasionalisme. Thohir. 59. 2001 ―Menuju Masyarakat Indonesia yang Multikultural‖. Suparlan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->