BAB 1

I. THAHARAH 1. WUDHU’ 1.1 Pengertian dan Rukun Wudhu Wudhu secara bahasa: dari asal kata “al wadaa‟ah”, yaitu kebersihan dan kesegaran. Secara istilah: Memakai air untuk anggota tertentu (wajah, kedua tangan, kepala dan kedua kaki) menghilangkan apa yang menghalangi untuk sholat dan selainnya. Dalil dari Qur’an dan Sunnah: Al-Qur‟an surat Al-Maidah ayat 6 َ ِ‫َ إ‬ ُْ ُ َ‫دي‬ ُ َ‫جه‬ ُ‫س‬ َ ‫ان‬ ‫ٓا يَا‬ ‫يُُٕا‬ ‫ة إِنَٗ قًُتُى‬ َ ‫سهُٕا‬ ‫كى‬ ‫كى‬ َ ‫حٕا‬ ‫كى‬ َ َِ َ‫كعب‬ َ ٕ‫ج‬ ُّ َ‫ريٍََ أ‬ َّ ‫َ ان‬ ُ ٔ ُ ‫س‬ ُ ‫ٕأَز‬ ُ ِ‫يٍ إِنَٗ ب‬ َ ‫ي‬ ًَ َ ‫ٔاي‬ ِ َّ‫َ ان‬ ِ ‫صال‬ ِ ‫َ فاغ‬ ِ ‫ٔأَي‬ ِ ُٔ‫سؤ‬ ُ َ َ َٗ‫ق إِن‬ َ َ َ ً‫ك‬ َ ‫ذا آ‬ َ ‫َ ان‬ ِ ِ‫ساف‬ “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki” Shahih Bukhari : 135 dan Shahih Muslim : 225 َ ِ‫َث إ‬ َ‫ص‬ ُ‫د‬ ‫ل‬ َ َ ََّ َّٗ‫صه‬ ََّ ّ َ ََ َّ‫سه‬ ََ ‫م‬ َ َ ‫ال‬ ‫كى‬ ََ ‫حتَّٗ أَحد‬ َ‫ض‬ َ ‫ى‬ َّ ٕ ُ ‫ز‬ َ ِ‫ّللا‬ َ ُ‫ّللا‬ َ ٔ َ َ َ َ‫ذا أ‬ َ َ‫أ‬ ِ ‫عهَي‬ ِ‫ح‬ َ ‫ل‬ َ ‫ل‬ َ َ‫يَت‬ ُ ٕ‫س‬ ُ َ‫ةُ تُقب‬ َ ‫ٔقَا‬ “Tidak akan diterima shalat seseorang yang berhadas sehingga dia berwudhu”. Keutamaan Wudhu: Bersuci adalah setengah dari iman. (Shahih Muslim : 223) Menghapus dosa-dosa kecil. (Shahih Muslim : 244) Mengangkat derjad seorang hamba. (Shahih Muslim : 251) Jalan ke sorga. (Shahih Bukhari : 1149 dan Sahih Muslim : 2458) Tanda keistimewaan ummat ini ketika mereka mendatangi telaga. (Shahih Muslim : 234) Cahaya bagi seorang hamba di hari kiamat. (Shahih Muslim : 250) Untuk pembuka ikatan syetan. (Shahih Bukhari : 1142 dan Shahih Muslim : 776) Sifat wudhu yang lengkap atau sempurna :

َ َ‫ّ ف‬ َ َ‫ى ث‬ َ َ ٌَََّ‫ساٌََ أ‬ َ‫س‬ ََ ‫ض‬ ََّ ُّ َ َُ‫دعَا ع‬ ‫ضٕء‬ َ‫ض‬ ََ ‫س‬ َ ‫سات‬ ََّ ُ‫ض ث‬ ََ ً َ ‫ي‬ َ َ َّ ٕ َّ ً ُ َٗ‫يٕن‬ ُ ٕ َ ً‫ح‬ َ َ‫ًاٌََ أٌَََّ أَخب‬ َ ُ‫ّللا‬ َ ‫غ‬ ِ ‫ز‬ ِ ‫كفَّي‬ َ ِ‫أ َ ب‬ َ َ‫م فَت‬ َ ٌََ‫ًا‬ َ ‫ُِ عُث‬ َ ‫عفَّاٌََ بٍََ عُث‬ َ َ‫الث‬ َ ‫يض‬ َ َ ُ ُ ُ ُ َ َ َ َ َ َ َ َ َ َ َ َ ََ َ‫ٔاستَُث‬ ‫س‬ َ ‫ى‬ ‫ث‬ َ ‫م‬ ‫س‬ ‫غ‬ َ ّ ٓ ‫ج‬ ٔ َ ‫ث‬ ‫ال‬ ‫ث‬ ‫ات‬ َ ‫س‬ ‫ي‬ َ ‫ى‬ ‫ث‬ َ ‫م‬ ‫س‬ ‫غ‬ َ ِ ‫د‬ ‫ي‬ ٗ ُ ً ‫ي‬ ‫ان‬ ٗ ‫ن‬ ‫إ‬ َ ‫ق‬ ‫ف‬ ‫س‬ ً ‫ان‬ َ ‫ث‬ ‫ال‬ ‫ث‬ ‫ات‬ َ ‫س‬ ‫ي‬ َ ‫م‬ ‫س‬ ‫غ‬ ً ‫ث‬ َ ِ ‫د‬ ‫ي‬ ٖ ‫س‬ ‫س‬ ‫ي‬ ‫ان‬ َ ‫م‬ ‫ث‬ ‫ي‬ ََ‫ك‬ ‫ن‬ ‫ذ‬ َ ‫ى‬ ‫ث‬ َ ‫ح‬ ‫س‬ ‫ي‬ َ ّ َ َ َّ َّ ُ ُ ُ ُ ُ ُ َ َ َ َ َ َ َ َ َ َ ‫زأ‬ َ َ َّ َ َ ِ ِ ِ َ َّ َ َ َ َّ َ ِ ِ َّ َ ‫س‬ َ ‫ى‬ َ ُّ َ ‫م‬ َ َ‫َ ث‬ َ‫س‬ َ ‫ث ان‬ ََّ ُ‫م ث‬ ‫ى‬ َ َ َ‫زجه‬ َِ ‫كعبَي‬ ََ ‫ال‬ ‫سات‬ ََّ ُ‫سٖ ث‬ ََ ‫يث‬ ََّ ُ‫ل ث‬ ََ ‫زأَيتَُ قَا‬ ََ ٕ‫س‬ ََّ َّٗ‫صه‬ ََّ ّ َ ََ َّ‫سه‬ َ‫ض‬ ََ ‫ََح‬ َ ‫ى‬ َّ ‫ي‬ َّ َٕ ُ ‫ز‬ َ ‫غ‬ َ ‫النيُس‬ َ ‫غ‬ َ ‫ل‬ َ ِ‫ّللا‬ َ ُ‫ّللا‬ َ ٔ ِ ََ‫ذنِك‬ ِ ‫عهَي‬ َ َ‫أ‬ َ ‫ٕت‬ ِ ًَُُٗ‫ٍ إِنَٗ اني‬ َ ‫س‬ َ ‫ى‬ َْ َْ َ‫س‬ ‫ضٕئِي‬ ََّ ُ‫ل ث‬ ََ ‫ل قَا‬ َ ََّ ّ َ ََ َّ‫سه‬ ٍ‫ي‬ َ‫ض‬ ََ ‫ضٕئِي ََح‬ ََّ ُ‫و ث‬ ََ ‫ع قَا‬ ََ ‫ك‬ َِ ‫عتَي‬ َ َ ‫ِّث‬ َُ ‫حد‬ َ‫س‬ َ ‫ى‬ َ ‫ى‬ َ ‫ى‬ َّ ٕ ُ ٔ ُ ‫ز‬ ُ ٔ َ َّٗ‫صه‬ َ ٓ َ ٔ َ َ‫ٍ ف‬ َ ‫زك‬ َ ‫ل‬ َ ُ ‫ًا ي‬ َ ‫ََف‬ ِ ‫عهَي‬ ُ ‫را‬ ُ ‫را‬ َ َ َ َ‫ٕ ت‬ ُ ٕ‫س‬ ِ َّ‫ّللاُ انه‬ ِ ‫ّ ُ فِي‬ َ َ‫أ‬ َٓ َ ‫ل‬ َْ ُ ُّ ُ َ‫يا أَسب‬ َ‫ص‬ َٔ ُ ‫ًا‬ ََ ِ‫غف‬ ‫س‬ َ َ‫يا ن‬ ًٍ َ ََ ‫َ ابٍَُ قَا‬ ‫ٓاب‬ ََ ‫ؤََا‬ َُ ٕ‫ض‬ َ َ‫ض‬ َ ‫حد‬ َ َّ َ‫ّ تَق‬ ُ ٌََُٕ‫را يَقُٕن‬ َ ‫ء‬ َّ ٕ َّ ‫نِه‬ ُ ٕ َ ‫ش‬ َ َ‫ة أ‬ ِ‫ي‬ ِ ِ‫ذَب‬ ِ ٌََ‫كا‬ ِ ِ‫َ ب‬ ِ ‫ال‬ ُ ‫غ ان‬ َ َ‫ّ يَت‬ َ َ َ‫د‬ َ َ‫عه‬ َ ُ‫أ‬ “Humran budak Utsman, telah menceritakan kepadanya, bahwa Utsman bin Affan meminta air untuk berwudlu, kemudian dia membasuh dua tangan sebanyak tiga kali, kemudian berkumurkumur serta memasuk dan mengeluarkan air dari hidung. Kemudian ia membasuh muka sebanyak tiga kali dan membasuh tangan kanannya hingga ke siku sebanyak tiga kali. Selepas itu, ia membasuh tangan kirinya sama seperti beliau membasuh tangan kanan, kemudian mengusap kepalanya dan membasuh kaki kanan hingga ke mata kaki sebanyak tiga kali. Selepas itu, ia membasuh kaki kiri, sama seperti membasuh kaki kanannya. Kemudian Utsman berkata, „Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam berwudlu seperti cara aku berwudlu.‟ Kemudian dia berkata lagi, „Aku juga telah mendengar beliau shallallahu „alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengambil wudlu seperti cara aku berwudlu kemudian dia menunaikan shalat dua rakaat dan tidak berkata-kata antara wudlu dan shalat, maka Allah akan mengampunkan dosa-dosanya yang telah lalu‟.” Ibnu Syihab berkata, “Ulama -ulama kami berkata, „Wudlu ini adalah wudlu yang paling sempurnya yang dilakukan oleh seseorang untuk melakukan shalat.” (Shahih Bukhari 158 dan Shahih Muslim 226) Sifat-sifat wudhu': Berniat (karena merupakan syarat sah ibadah termasuk wudhu‟) menghilangkan hadas (dalam hati). ‫ بانُيات األعًال إًَا‬, ‫َٕٖ يا ايسئ نكم ٔإًَا‬ “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya”. (Riwayat Bukhari : 1 dan Shahih Muslim : 1907)

2. Membaca Bismillah. 3. Mencuci telapak tangan sampai pergelangan 3 kali. 4. Mengambil air dengan tangan kanan untuk berkumur-kumur sambil menghirup air dengan hidung lalu mengeluarkannya kembali dengan tangan kiri 3 kali. 5. Mencuci wajah seluruhnya 3 kali. 6. Mencuci kedua tangan sampai siku (kanan-kiri). 7. Menyapu keseluruhan kepala kebelakang lalu ke depan terus ke telinga bagian luar dan dalam.

(alMaidah ayat 6) Wajib menyapu semua kepala baik laki-laki maupun perempuan. namun berbeda pada ukurannya. (al-Maidah ayat 6) Membasuh kedua tangan sampai siku. (Shahih Muslim : 232) Sunnah-sunnah Wudhu’ : Bersiwak. Rukun-rukun Wudhu’ Apabila satu diantara rukun ini tinggal. Menyapu hanya sebagian kepala. telah disepakati oleh para ulama. dll) Beriringan atau tidak terpisah antara satu rukun dengan rukun lainnya.8. (Shahih Bukhari : 161 dan Shahih Muslim : 241) Teratur. (al-Maidah ayat 6) Menyapu kepala kewajibannya disepakati oleh ulama. (daaruqutni : 1/97. (Shahih Muslim : 235) . Syaikh Ibnu Taimiyah berkata: Niat tempatnya di hati bukan di lidah. Memulai dengan Bismillah. (Majmu‟ : 1/433. Dan wajib berkumur-kumur dan mencuci hidung. Menyapu telinga. Membasuh kedua tangan. (Shahih Bukhari : 159 dan Shahih Muslim : 226) Berkumur-kumur dan mencuci hidung dari satu cidukan air sebanyak 3 kali. (Majmu‟ arrosail al kubro : 1/243) Faidahnya: Jikalau dia melafazkan berbeda dengan yang dihatinya maka yang dinilai adalah yang di hatinya. Diantara rukun-rukun tersebut adalah: Mencuci seluruh wajah dari tempat tumbuhnya rambut sampai dibawah dagu dan dari telinga kanan sampai telinga kiri. Wajib menyapu semua kepala hanya untuk laki-laki. maka batallah wudhu‟nya. hasan) Mencuci kedua kaki sampai mata kaki serta sela-sela jari kaki. Mencuci kedua kaki sampai mata kaki serta sela-sela jari kaki (kanan-kiri).

(Shahih Muslim : 360) . (al-muhalla : 1/222-231). (Shahih Bukhari : 269 dan Shahih Muslim : 303) Tidur lelap. shahih) Membersihkan sela-sela jari tangan dan kaki. sanad Pembatal wudhu’ : Buang air kecil atau buang air besar serta keluar angin dari 2 tempat. pingsan. (Shahih Bukhari : 270) Tidak sah wudhu bagi wanita yang memakai kutek. shahih) Mendahulukan yang kanan dari pada yang kiri. (al-Ausath ibnu al Mundzir : 1/155) Menyentuh kemaluan tanpa pembatas. Memakan daging onta. (Shahih) Melebihkan membasuh pada tempat yang diwajibkan seperti kedepan kepala. (Shahih Bukhari : 156) Perhatian: Menyapu kepala hanya sekali saja. (al-Maidah ayat 6. (Ibnu Hiban : 1082. (an-Nasa‟i : 1/88. Ada 8 pendapat ulama. ibnu abdilbaar : 20/117) Menggosok-gosok anggota wudhu. (Shahih Muslim : 234) Sholat 2 rakaat setelah wudhu. al ijmaa‟ hal. (Shahih Bukhari : 6433 dan Shahih Muslim : 226) Catatan: shahih) Boleh mengeringkan bekas wudhu. atas siku dan atas mata kaki. (at-Tamhiid. shahih) Makruh lebih dari 3 kali bagi orang yang menyempurnakan wudhunya. silahkan lihat di hal. 129-132) Hilang akal atau gila. baik dengan syahwat atau tidak. (Abu Daud : 142. (Shahih Bukhari : 198) Berdoa setelah wudhu. (Shahih Bukhari : 140) Mencuci sebanyak 3 kali. mabuk. wadi atau madzi. 17) Keluar mani. (Shahih Bukhari : 36 dan Shahih Muslim : 246) Hemat dalam penggunaan air. (Ibnu Abi Syaibah : 1/120.Melebihkan berkumur-kumur dan mencuci hidung selain orang yang berpuasa.

daaruqutni : 1/162) Memandikan dan membawa mayat. shahih) Ketika akan tidur. (Shahih Bukhari : 288 dan Shahih Muslim : 305) Sebelum mandi junub. (Tirmidzi : 3689. Syarat menyapu khuffain yaitu memakainya dalam keadaan suci. (Shahih Bukhari : 248 dan Shahih Muslim : 316) Setelah makan makanan yang di bakar atau di panggang.Hal-hal yang tidak membatalkan wudhu’ : Saling bersentuhan laki-laki dengan wanita tanpa pembatas. membaca al-Qur‟an. dll) Ragu dengan telah batalnya wudhu atau belum. (al-Umm : 1/15) Keluar darah dari selain tempat yang biasa keluar seperti karena luka atau bekam. (Shahih) Hal-hal yang dianjurkan untuk berwudhu’ : Ketika berdzikir: keumuman berdzikir. (Shahih Bukhari : 1/80) Koi atau pengobatan dengan menggunakan besi panas. (Tirmidzi : 87. (Abu Daud : 3162. Masanya 3 hari 3 malam untuk yang musafir dan sehari semalam bagi yang bermukim. (Shahih Muslim : 351) Memperbaharui wudhu ketika akan sholat. shahih) Setelah berobat dengan besi panas. tawaf di ka‟bah dan lain-lain. (Shahih Bukhari : 247 dan Shahih Muslim : 2710) Bagi orang yang junub ketika akan makan. shahih) Menyapu pembatas : Menyapu Khuffain (sandal dari kulit yang menutup dua mata kaki) hukumnya boleh tapi mencucinya lebih utama. tidur atau ingin mengulanginya kembali. (Tirmidzi : 87. (Abu Daud : 17. (Shahih Muslim : 277) Ketika terjadi hal yang membatalkan wudhu. (dalil yang mengatakan mengulang wudhu adalah dhaif. . shahih) Tertawa terbahak-bahak dalam sholat atau diluar sholat.

Abu Daud dan Ibnu Majah) Shalat kalian tidak akan diterima tanpa kesucian (berwudhu`) `(HR..` (QS. Dan tidak ada wudhu` bagi yang tidak menyebut nama Allah. Menyapu penutup kepala seperti imamah atau sorban dan kerudung bagi wanita ketika berwudhu apabila takut dingin. 1. (HR. dan sapulah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki.. Melakukan Shalat Baik shalat wajib maupun shalat sunnah. Fardhu / Wajib Hukum wudhu` menjadi fardhu atau wajib manakala seseorang akan melakukan hal-hal berikut ini : a. Untuk Menyentuh Mushaf Al-Quran Al-Kariem . Sedangkan membukanya bukan berarti membatalkan wudhu."Tidak ada shalat kecuali dengan wudhu`. 2. Termasuk juga di dalamnya sujud tilawah. ٔٞ‫زمش اسٌ هللا عي‬ٝ ‫ ال صالة ىَِ ال ٗض٘ء ىٔ ٗال ٗض٘ء ىَِ ال‬: ‫ٔ ٗسيٌ قاه‬ٞ‫ هللا عي‬ٚ‫ صي‬ٜ‫شة عِ اىْب‬ٝ‫ ٕش‬ٜ‫عِ أب‬ ٔ‫أحَذ ٗأب٘ داٗد ٗابِ ٍاج‬ Dari Abi Hurairah ra bahwa Nabi SAW bersabda. Ahmad. Dalilnya adalah ayat Al-Quran Al-Kariem berikut ini : ِٞ‫ اىنعب‬ٚ‫ اىَشافق ٗاٍسح٘ا بشؤٗسنٌ ٗأسجينٌ ئى‬ٚ‫نٌ ئى‬ٝ‫ذ‬ٝ‫ اىصالة فاغسي٘ا ٗجٕ٘نَ٘أ‬ٚ‫ئرا قَخٌ ئى‬ Hai orang-orang yang beriman. tergantung konteks untuk apa kita berwudhu`.Yang membatalkannya yaitu berakhirnya masa menyapu. maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku. Al-Maidah : 6) Juga hadits Rasulullah SAW berikut ini : ٓ‫ سٗا‬. Pembungkus tulang yang patah seperti gips.2 Dasar Hukum Wudhu’ HUKUM WUDHU Wudhu` itu hukumnya bisa wajib dan bisa sunnah. Bukhari dan Muslim) b. apabila kamu hendak mengerjakan shalat. Menyapu kaus kaki dan sandal ada 3 pendapat. membukanya dan berhadats sebelum memakainya.

Ini merupakan pendapat jumhur ulama yang didasarkan kepada ayat Al-Quran Al-Kariem. Al-Hakim dan Tirmizy) 2. Ibnu Hibban. Siapa yang mau bicara saat tawaf.` (QS. Kecuali Al-Hanafiyah. ُٗ‫َسٔ ئال اىَطٖش‬ٝ ‫ال‬ Tidak ada yang menyentuhnya kecuali orang-orang yang suci. pastilah aku akan perintahkan untuk berwudhu pada tiap mau shalat. maka bicaralah yang baik-baik.`Seandainya tidak memberatkan ummatku. ٍِ‫ اى٘ض٘ء ئال اىَإ‬ٚ‫حافظ عي‬ٝ ِ‫ٗى‬ Sunnah .‫ء‬ َٗ َ َ‫ أل‬ِٜ‫ٍخ‬ َُ ْ ِ‫ذ بِا‬ ‫ح‬ٞ ٍ ‫سَْا‬ ٍ ٘ َ ‫د‬ َ ‫اك‬ ِ ‫ص‬ ِ ِ‫ب‬ َ‫س‬ َ‫س‬ َ ْ‫ٗآُ أَح‬ ٍ ‫ح‬ Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda.Meskipun tulisan ayat Al-Quran Al-Kariem itu hanya ditulis di atas kertas biasa atau di dinding atau ditulis di pada uang kertas. Ini bukan keharusan melainkah sunnah yang baik untuk diamalkan. Tawaf Di Ka`bah Jumhur ulama mengatakan bahwa hukum berwudhu` untuk tawaf di ka`bah adalah fardhu. Hal itu didasari oleh hadits Rasulullah SAW yang berbunyi : Dari Ibnu Abbas ra bahwa Rasulullah SAW bersabda.`Tawaf di Ka`bah itu adalah shalat. Dan wudhu itu dengan bersiwak.` (HR. kecuali Allah telah membolehkannya untuk berbicara saat tawaf.`(HR. bila memungkinkan. Sedangkan yang bersifat sunnah adalah bila akan mengerjakan hal-hal berikut ini : a. Dalilnya adalah hadits berikut ini : ُ ‫ع‬ ُ ‫ذ‬ ْ‫ع‬ ُ َ‫ُ أ‬ ْ َ‫ ىَْ٘ ال أ‬: ‫ه‬ ْ ‫شةَ ع‬ ْ‫ع‬ َّ ‫ش‬ ْ‫ش‬ ‫ء‬ ِّ ‫م‬ َْ َ ‫ق‬ ُ ِّ‫مو‬ ُ ِ‫ة ب‬ ٍ ُ٘‫ٗض‬ ٍ ُ٘‫٘ض‬ ٍ ‫صال‬ ٍَ َ ‫و‬ ْ ٖ‫ٍشْ ح‬ َ ‫ٔ ٗسيٌ قَا‬ٞ‫ هللا عي‬ٚ‫ صي‬ٜ َٝ َ ُٕ ِٜ‫َِ أَب‬ َّ ُ‫ أ‬َٚ‫عي‬ ِ ٌ ِّ ِ‫َِ اىَّْب‬ َ . Al-Waqi`ah : 79) Serta hadits Rasulullah SAW berikut ini : Tidaklah menyentuh Al-Quran Al-Kariem kecuali orang yang suci. Ahmad dengan isnad yang shahih) Selain itu disunnah bagi tiap muslim untuk selalu tampil dalam keadaan berwudhu` pada setiap kondisinya. Ad-Daruquhtny : hadits dhaif namun Ibnu Hajar mengatakan: Laa ba`sa bihi) c.`(HR. Mengulangi wudhu` untuk tiap shalat Hal itu didasarkan atas hadits Rasulullah SAW yang menyunnahkan setiap akan shalat untuk memperbaharui wudhu` meskipun belum batal wudhu`nya.

maka berwudhu`lah sebagaimana kamu berwudhu` untuk shalat. hendaklah kamu berwudhu`. `(HR. (lihat Wahbah Az-Zuhaili jilid 1 hal 362). beliau berwudhu` terlebih dahulu. Jamaah) Dan dasar tentang sunnahnya berwuhdu bagi suami istri yang ingin mengulangi hubungan seksual adalah hadits berikut ini : Dari Abi Said al-Khudhri bahwa Rasulullah SAW bersabda. Bukhari dan Tirmizy). `(HR. `(HR. Al-Hakim. Ketika Marah Untuk meredakan marah. sehingga seorang muslim tidur dalam keadaan suci. beliau mencuci kemaluannya dan berwudhu` terlebih dahulu seperti wudhu` untuk shalat. aqidah. `(HR. Ketika Akan Tidur Disunnahkan untuk berwuhu ketika akan tidur. fiqih dan lainnya. Dasarnya adalah sabda Rasulullah SAW : Dari Aisyah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bila dalam keadaan junub dan ingin makan atau tidur.`Bila kamu naik ranjang untuk tidur.Dari Tsauban bahwa Rasulullah SAW bersabda. Bila kamu marah. . maka hendaklah berwuhdu terlebih dahulu. Jamaah kecuali Bukhari) e. Ibnu Majah. Ahmad dan Al-Baihaqi) b. Ahmad dalam musnadnya) f. Namun bila di dalamnya lebih dominan ayat Al-Quran Al-Kariem. hadits. tidur atau mengulangi berjimak lagi. etika Membaca Al-Quran . Sebelum Mandi Janabah Sebelum mandi janabat disunnahkan untuk berwudhu` terlebih dahulu. d.`Bila kamu berhubungan seksual dengan istrimu dan ingin mengulanginya lagi. Ahmad dan Muslim) Dari Aisyah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bila ingin tidur dalam keadaan junub. Menyentuh Kitab-kitab Syar`iyah Seperti kitab tafsir. Demikian juga disunnahkan berwudhu` bila seorang yang dalam keaaan junub mau makan. minum. `(HR.`(HR. Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW : Dari Al-Barra` bin Azib bahwa Rasulullah SAW bersabda. Dan tidurlah dengan posisi di atas sisi kananmu . maka hukumnya menjadi wajib.`Tidaklah menjaga wudhu` kecuali orang yang beriman`. ada dalil perintah dari Rasulullah SAW untuk meredakannya dengan membasuh muka dan berwudhu`. c.

Demikian juga hukumnya sunnah bila akan membaca hadits Rasulullah SAW serta membaca kitab-kitab syariah. Iqamat Khutbah dan Ziarah Ke Makam Nabi & Rasul Allah 1. kemudian membasuh tangan kanan sampai siku-siku tiga kali.[3] Imam Muslim dalam riwayat hadits ini menambahkan pendapat Imam Ibnu Syihab yang termasuk salah satu ulama besar pada masa Imam Muslim (ada yang berpendapat beliau adalah . jawa) maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. Diriwayatkan bahwa Imam Malik ketika mengimla`kan pelajaran hadits kepada murid-muridnya. Ketika Melantunkan Azan. CARA WUDHU’ RASULULLAH SAW Seluruh ummat Islam wajib mengetahui tata cara wudhu yang baik dan benar karena wudhu adalah hal yang dominan dan menentukan dalam beberapa ibadah. lalu membasuh kaki kiri seperti halnya kaki kanan. lalu membasuh tangan kiri sama halnya dengan tangan kanan. Setelah itu beliau berkata: “Seperti inilah aku melihat Rasulullah ‫ﷺ‬berwudhu.3. beliau selalu berwudhu` terlebih dahulu sebagai takzim kepada hadits Rasulullah SAW. lantas mengusap kepala. ْ‫ُ ع‬ ْ ‫ ع‬َٚ‫ٍْ٘ ى‬ ْ‫خ‬ ْ َ‫َاَُ أ‬ َ ‫ال‬ َ َ‫ٔ ث‬ َ ‫و‬ َّ َ‫ش أ‬ َّ َ‫أ‬ َ ٌ َ‫س‬ َ َ‫٘ضَّأ َ ف‬ ْ ‫ٗا‬ ْ َّ‫مف‬ ْ َُ‫َا‬ ‫و‬ ُ ُ َ َُ‫عفَّا‬ َ َِ‫ب‬ ٍ ‫ٍشَّا‬ ٍ ُ٘‫٘ض‬ َ ‫س‬ َ ‫غ‬ َ َ‫ْث‬ َ َ َ ‫س‬ َ ‫غ‬ َ َ‫خب‬ ََ ْ‫ح‬ َّ ُ‫ش ث‬ َّ ُ‫ث ث‬ ِٞ َ ‫ض‬ َ َ‫ء فَخ‬ َ ِ‫دعَا ب‬ َ ْ‫ٍض‬ َ ٌ َ ‫د‬ َ ‫ُث‬ َ ‫ُث‬ َ َُ‫شا‬ ٍْ ْ ُٓ‫ذ‬ ْ َٚ‫ ئِى‬ََْٚ ْ ُٓ‫ذ‬ ٰ ‫ُس‬ٞ‫اى‬ َ ‫ال‬ َ ‫ال‬ َ َ‫ق ث‬ َ َ‫ٗجْ َُٖٔ ث‬ َ ٌ َ ٌ َ ٌ َُٔ‫سجْ ي‬ َ ِ‫و ٰرى‬ َ َٝ ‫و‬ َ َٝ ‫و‬ ٍ ‫ٍشَّا‬ ٍ ‫ٍشَّا‬ َ ‫س‬ َ ‫غ‬ َ ‫س ْأ‬ َ ‫ح‬ َ ‫س‬ َ ٍ َ ‫ث‬ َ ‫س‬ َ ‫غ‬ ْ ُٞ‫اى‬ َ ‫س‬ َ ‫غ‬ َّ ُ‫سُٔ ث‬ َّ ُ‫ل ث‬ َّ ُ‫ث ث‬ َّ ُ‫ث ث‬ ِ ٙ‫ْش‬ ِ ‫اى‬ َ َ ٌ َ ‫د‬ َ ‫د‬ ِ َ‫َشْ ف‬ ِ ‫و‬ ٍْ ْ ‫و‬ ْ َٚ‫ ئِى‬ََْٚ ْ ‫ه ﷺ‬ ٰ ٜ ُ َٝ‫سأ‬ َٕ ٰ ‫ُس‬ٞ‫اى‬ َ ‫ال‬ َ َ‫ِ ث‬ َ ‫اى‬ َ ٌ ْ َ‫عب‬ ْ‫ن‬ ُ ُْ٘‫سس‬ َ ِ‫و ٰرى‬ ُ ٘ ٍ ‫ٍشَّا‬ َ ُْ٘‫سس‬ َ ‫ْج‬ َ ‫اه‬ َ َ‫ٌ ق‬ َ ‫ث‬ َ ‫س‬ َ ‫غ‬ ْ ُٞ‫اى‬ َ ‫ه‬ َ ‫ٌ قَا‬ ْ ِ‫ٗضُ٘ئ‬ َّ ُ‫ل ث‬ َّ ُ‫ث ث‬ َّ ُ‫زا ث‬ ِ‫ه هللا‬ ِ ٙ‫ْش‬ َ ْ‫َ٘ضَّأَ َّح‬ َ‫ح‬ َ ‫د‬ ِ ٞ ْ َّ ‫َا‬ ُ ‫ُحذ‬ ْ‫س‬ ْ‫ر‬ ٰ ٜ َ ِ ُ ُ ٔ‫س‬ َٕ ٍْ َ ِ ٍْ َّ َ‫ٍا حَق‬ َ‫ش‬ ْ ِ‫ِّد ف‬ ْ َ‫عخ‬ ُ ٘ َ ِ‫غف‬ َ ‫ف‬ َ ٝ ‫ال‬ َ‫م‬ َ ‫ع‬ َ ‫م‬ َ َ‫ً ف‬ ْ ِ‫ٗضُ٘ئ‬ َّ ُ‫زا ث‬ ِ‫ٔ ﷺ هللا‬ٞ‫ٔ ﴿ٍخفق عي‬ ِ ِ‫ّب‬ ِ ً َ ْ‫٘ضَّأ َ َّح‬ َ َ‫ِ ح‬ ِٞ َ‫ذ‬ َ َُٔ‫ش ى‬ َٖ َ ‫ٌ قَا‬ َ ِ ٞ “Hamran budak yang dimerdekakan oleh sahabat Ustman memberitahukan bahwa sahabat Utsman bin „Affan t pernah melakukan wudhu dengan membasuh dua telapak tangannya tiga kali. Oleh karen itu kita harus mempelajari gerakan wudhu yang baik dan benar melalui sabda-sabda Nabi yang akan diterangkan di bawah. lantas membasuh wajahnya tiga kali. karena dalam beberapa riwayat Rasulullah ‫ ﷺ‬sangat menekankan sempurnanya wudhu. lantas Rasulullah ‫ ﷺ‬bersabda: “Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini lalu dia melakukan shalat dua rakaat dengan tanpa berbicara dalam dirinya (menggerutu/gruneng. karena tidak mungkin wudhu yang menjadi penentu suatu amal ibadah tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah ‫ﷺ‬. bahkan menjadi tolok ukur sah dan tidaknya suatu shalat yang dikerjakan oleh seseorang.[2] Hadits yang kami cantumkan adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim yang menjadi barometer tertinggi dalam tataran hadits-hadits yang ada karena memiliki keakuratan riwayat yang tidak perlu diragukan menurut para pakar-pakar hadits.Hukum berwudhu ketika membaca Al-Quran Al-Kariem adalah sunnah. lalu berkumur dan membasuh hidung. g. kemudian membasuh kaki kanan sampai mata kaki tiga kali.[1] Wudhu yang baik dan benar sudah barang tentu pernah dicontohkan oleh Rasulullah ‫ﷺ‬. bukan wajib. Berbeda dengan menyentuh mushaf menurut jumhur.

kemudian mengambil air lagi dengan kedua tangannya dan membasuh wajahnya.[4] ْ َ‫سخ‬ َ‫ن‬ َ‫خ‬ َ‫خ‬ ٍْ ٍْ ْ‫ع‬ َ َٕ ‫و بَِٖا‬ َ ْ َ َ‫ٌ أ‬ َ َ‫ٗجْ َُٖٔ أ‬ َ َ‫٘ضَّأ َ ف‬ ْ ‫ٗا‬ ْ ‫َِ ا‬ ‫ضافََٖا‬ َ ‫ش‬ َ ِ ٍ ‫ٍا‬ ٍ ‫ٍا‬ َ َ ‫زا أ‬ َ ‫ع‬ ََ َ َ‫ء ف‬ َ َ َ ‫س‬ َ ‫غ‬ َّ ُ‫ق ث‬ ِ ً‫ز غَشْ فَت‬ ِ ً‫ز غَشْ فَت‬ َ ‫ض بَِٖا‬ َ ‫و‬ َ َ‫س أََُّّٔ ح‬ َ ِ َ ْ‫َض‬ َ َ‫ء ف‬ َ ِ ٍ ‫عبَّا‬ ِ ‫ب‬ ْ ُٓ‫ذ‬ ْ ُٓ‫ذ‬ ْ ٓ ْ ُ‫األ‬ َ َ‫ٌ أَخ‬ َ‫خ‬ ٰ ‫ُس‬ٞ‫اى‬ ٰ‫خ‬ ٍْ ٍْ َ َ‫ء ف‬ َ َ‫ء ف‬ َ َ‫ٌ أ‬ َ َ‫ ف‬ٙ‫ش‬ ‫ح‬ َ َٝ ‫و بَِٖا‬ َ َٝ ‫و بَِٖا‬ ٍ ‫ٍا‬ ٍ ‫ٍا‬ َ ‫س‬ َ ٍ َ ‫س‬ َ ‫غ‬ ْ ُٞ‫اى‬ َ ‫س‬ َ ‫غ‬ َ ‫س‬ َ ‫غ‬ َّ ُ‫ ث‬ٙ‫ْش‬ َّ ُ‫ ث‬ََْٚ َّ ُ‫ٗجْ َُٖٔ ث‬ ِ ً‫ز غَشْ فَت‬ ِ ً‫ز غَشْ فَت‬ ِ‫ذ‬ ِ َٝ ٚ‫ئِ ٰى‬ َ ‫َا‬ ِ ِ‫و ب‬ َ ٌ َ ِ َ ِ َٖ ٰ ٰ ْ ِْٜ‫ع‬ ْ ٔ ْ ُ‫ز غَشْ فَتً أ‬ َ‫ن‬ َ‫خ‬ َ‫خ‬ ٰ ‫ُس‬ٞ‫اى‬ ٰ‫خ‬ ٍْ َ َٕ ‫ه‬ َ َ‫ ف‬ٙ‫ش‬ َ َ‫ٌ أ‬ َ ّٚ‫حخ‬ َ َ‫ٌ أ‬ ْ َٝ َُٔ‫سجْ ي‬ ‫زا‬ ٍ ‫ٍا‬ َ ‫ٌ قَا‬ َ ‫س‬ َ ‫غ‬ َ ‫غ‬ َ ْٰٚ َ ْ ُٞ‫اى‬ َ َ‫ء ف‬ َ ِ‫ب‬ َّ ُ‫ ث‬ٙ‫ْش‬ َّ ُ‫سيََٖا ث‬ َّ ُ‫ٔ ث‬ ِ ِ‫سجْ ي‬ ِ ً‫ز غَشْ فَت‬ ِ‫س‬ ِ ‫ش ْأ‬ َ ِ ِ ‫و بَِٖا‬ ِ ٚ‫ششَّ عَي‬ ُ َ ُ ٝ‫سأ‬ َ ُْ٘‫سس‬ َ ‫ْج‬ َ ‫ ﷺ‬ٛ‫٘ضَّأ ﴿سٗآ اىبخاس‬ ِ‫ه هللا‬ َ َ‫َخ‬ٝ “Dari sahabat Ibnu „Abbas bahwa beliau pernah berwudhu membasuh wajah dengan mengambil air. setelah itu dia memasukkan tangannya lagi ke air dan mengeluarkannya lalu membasuh wajahnya tiga kali. jawa) air sebanyak tiga kali.salah satu guru dari Imam Muslim) menyatakan wudhu yang di terangkan dalam hadits di atas adalah wudhu yang paling sempurna jika dilakukan oleh seseorang yang akan melakukan shalat. Beliau memiliki seorang teman akrab yang berkata kepadanya: “Berwudhulah seperti wudhunya Rasulullah ‫ ”ﷺ‬setelah permintaan itu Abdullah lantas mengambil air dengan membasuh dua tangannya tiga kali lalu memasukkan tangannya ke air lantas mengeluarkannya lagi kemudian dia berkumur dan membasuh hidungnya dengan satu pengambilan (cawukan. lalu membasuh dua kakinya sampai dua mata kaki. Setelah itu beliau berkata: “Demikianlah apa saya lihat ketika Rasulullah ‫ ﷺ‬berwudhu”. kemudian membasuh kakinya yang kiri. setelah itu beliau berkata: “Beginilah wudhu yang dilakukan oleh Rasulullah ‫”ﷺ‬. lantas mengusap kepalanya. lalu berkumur dan membasuh hidung. setelah itu memasukkan tangannya ke air dan mengeluarkannya lantas mengusap kepala dari depan dan dari belakang.[6] ْ َٝ ٜ ُ‫ز‬ ْ َ‫سخ‬ َ َ‫ٗجْ َُٖٔ ث‬ َّ َ‫ذُٓ ﷺ أ‬ َ َِ‫ب‬ َ ٌ ْ‫ص‬ ْ ِ‫ذ هللا‬ ْ‫ع‬ ْ ‫ٌا‬ ُ‫م‬ َ‫ب‬ َ ُ َ َٝٗ َ ُْ٘‫سس‬ َ ٙ‫س ٰا‬ َ ََُّّٔ‫ش أ‬ َ ‫س‬ َ ‫غ‬ َ َ‫ْث‬ َ َ َّ ِّ‫اص‬ َّ ُ‫ش ث‬ َّ ُ‫ض ث‬ ِ‫ه هللا‬ ِ ‫ِْ عَا‬ ِٝ ٍ‫ص‬ َ ‫الثًا‬ َ ‫و‬ َ َ‫ح‬ َ ْ‫ٌ اى‬ َ ْ‫َض‬ َ َ‫٘ضَّأ َ ف‬ ِ ‫ذب‬ ِ َ ٰ ْ ُ ْ ْ ٗ ْ َ‫ أ‬ّٚ‫حخ‬ ْ ‫األ‬ ٰ‫خ‬ َ َ ‫ ث‬ٙ‫ش‬ َ َ‫ ث‬ْٰٚ َ َ ٗ َ ‫ء‬ ْ َ‫سجْ ي‬ ٌ‫َا ﴿سٗآ ٍسي‬ ٍ ‫َا‬ َ ٔ َ ‫س‬ َ ‫غ‬ َ ِ‫ح ب‬ َ ‫س‬ َ ٍ ْ ُٞ‫اى‬ ِٞ ِ‫ذ‬ ِ َٝ ‫و‬ ِ‫س‬ ِ ‫شأ‬ َ ٓ َ ‫الثًا‬ َ ‫الثًا‬ ِ ْ‫ْش فَض‬ َ ُٕ‫ّقَا‬ َ ِ‫ٔ ب‬ َٗ ِ ‫و‬ ِ ٞ‫غ‬ “Sesunggunya Abdullah bin Zaid bin „Ashim Al Mazini menyebutkan bahwa dia pernah melihat Rasulullah ‫ ﷺ‬berwudhu dengan cara berkumur lantas membasuh hidung lalu membasuh .[5] ْ ٌ ْ َ‫ء فَأ‬ ْ ّ‫ما‬ ْ َ‫األ‬ ٍْ ْ ‫َْٖا ﷺ ع‬ َٗ َ ِ ْ ‫ذ‬ ْ‫ص‬ ْ ِ‫ذ هللا‬ ْ‫ع‬ َ َِ َ َ‫ف‬ ُ ‫٘ضَّأْ ىََْا‬ ٍ ‫ذعَا بِاَِّا‬ َ ‫ء‬ َ ِٞ‫ه ق‬ َ ‫َج ىَُٔ صُحْ بَتٌ قَا‬ َ ّ ِ‫ه هللا‬ ِ ‫ِ عَا‬ ِٝ ِ‫ب‬ ِ َ‫مفَأ‬ ٍ‫ص‬ َ ُْ٘‫ٗض‬ َ َ‫ْو ىَُٔ ح‬ َ ِّٛ‫اس‬ ِ ُْ٘‫سس‬ ِ ‫ب‬ ِ ‫ب‬ ِ ‫ص‬ ٰ ٰ ْ ‫سخ‬ ْ َ‫سخ‬ ْ ‫سخ‬ ْ َ‫ٌ أ‬ َ َ‫ل ث‬ ٍْ َ َ ‫َا ث‬ َ ْ َ ‫د‬ َ َ‫ٔ ف‬ ْ ‫ذُٓ فَا‬ ْ ‫ٗا‬ ْ ‫ذُٓ فَا‬ ْ‫ذ‬ ‫جَٖا‬ َ َٝ ‫و‬ َ ِ ‫و رى‬ َ‫ح‬ َ ‫ش‬ َ َٝ ‫و‬ َ َٝ ٚ‫عَي‬ ٍ‫ذ‬ َ ‫ش‬ َ ‫َخ‬ َ ‫خ‬ َ ‫ع‬ َ َ‫ة فَف‬ َ َ َ ‫ش‬ َ ‫َخ‬ َ َ‫ٌ أَدْخ‬ َ ‫غ‬ َّ ُ‫الثًا ث‬ َّ ُ‫الثًا ث‬ ِ ‫ٗا‬ ِ ‫ق‬ ِٝ َ ٍّ‫ِ مَف‬ َ ‫ض‬ َ ْ‫َض‬ َ َ‫جَٖا ف‬ َ َُٖ‫سي‬ ْ ْ َٚ‫ٔ ئِى‬ ْ َ‫ٔ فَأ‬ ْ ‫سخ‬ ْ ‫سخ‬ ْ َ‫ٌ أ‬ ْ َ‫ٌ أ‬ َ َ‫ٗجْ َُٖٔ ث‬ َ ‫د‬ َ َ‫جَٖا ف‬ َ ‫د‬ َ َ‫ف‬ ْ ‫ذُٓ فَا‬ ْ َ‫ٍشَّ ح‬ ْ َ‫شح‬ ْ َ‫َشْ فَق‬ ْ‫ذ‬ ْ ‫ذُٓ فَا‬ َّ ٍ ‫و‬ َ َٝ ‫و‬ َ َٝ ‫و‬ َ َٝ ‫و‬ َ َ‫قب‬ َ ِ‫ح ب‬ َ ‫س‬ َ َ َ ‫ش‬ َ ‫َخ‬ َ ‫خ‬ َ ‫س‬ َ ‫غ‬ َ ‫ش‬ َ ‫َخ‬ َ ‫خ‬ َ ‫س‬ َ ‫غ‬ َّ ُ‫ِ ث‬ َّ ُ‫الثًا ث‬ ِ‫س‬ ِ ‫شأ‬ ِ ‫اى‬ ِٝ َ ‫و‬ َ َ‫جَٖا ف‬ َ ِ َ ِ ِ ٞ ِ ٞ ِ ٞ َ‫ن‬ ْ َ ‫ٗأ‬ َ ‫زا‬ َ َٕ ‫اه‬ َ ْ‫ اى‬َٚ‫ٔ ئِى‬ َ ٌ ْ َ‫عب‬ ْ‫ن‬ ْ َ‫سجْ ي‬ ْ‫ذ‬ َ َِٞ‫﴿سٗآ ٍسيٌ ﷺ ب‬ ُ ُْ٘‫ٗض‬ ُ َُ‫ما‬ َ ‫ء‬ َ َ‫ٌ ق‬ َ ‫س‬ َ ‫غ‬ َ َ‫دب‬ َّ ُ‫ِ ث‬ َّ ُ‫ش ث‬ ِ‫ه هللا‬ ِٞ ِٝ َ ٔ ِ ُْ٘‫سس‬ ِ ٞ ِ ‫و‬ “Dari Abdullah bin Zaid bin „Ashim Al Anshari. lalu mengambil air lagi dengan menyiramkannya pada kaki kanan sampai benar-benar membasuhnya. Lantas memasukkan tangannya lagi ke air dan mengeluarkannya kemudian membasuh dua tangan sampai dua siku dua kali-dua kali.

berupa wudhu. (Al-Baqarah : 122).[2] Bersuci dari najis berlaku pada badan. Cara menghilangkannya harus dicuci dengan airsuci dan mensucikan. tangan kiri tiga kali. yaitu: )211 : ‫ (اىبقشة‬. DALIL-DALIL THAHARAN Dalil-dalil tentang thaharah.wajah sebanyak tiga kali. ْ ‫ "اىطٖ٘س‬ٙ‫ذ اىخذس‬ٞ‫ سع‬ٜ‫عِ اب‬ ْ ‫ش اإل‬ )ٌ‫َاُ" (سٗآ اىَسي‬ ُ ‫شط‬ َٝ Artinya: Kebersihan itu sebagian dari iman .[1] Atau thaharah juga dapat diartikan melaksanakan pekerjaan dimana tidak sah melaksanakan shalat kecuali dengannya yaitu menghilangkan atau mensucikan diri dari hadas dan najis dengan air. B. ِٝ‫حب اىَخطٖش‬ٝٗ ِٞ‫حب اىخ٘اب‬ٝ ‫اُ هللا‬ Artinya : sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang bersuci. lantas membasuh dua kaki beliau sampai membersihkan keduanya”. mandi.[7] BAB II PEMBAHASAN A. PENGERTIAN THAHARAH Thaharah menurut bahasa artinya “bersih” Sedangkan menurut istilah syara‟ thaharah adalah bersih dari hadas dan najis. Selain itu thaharah dapat juga diartikan mengerjakan pekerjaan yang membolehkan shalat. tayamum dan menghilangkan najis. kemudian mengusap kepala tidak dengan sisa air basuhan tangan (dengan mengambil air yang baru). pakaian dan tempat. tangan kanan tiga kali.

Guna menyucikan diri dari kotoran berupa hadats dan najis.ٜ‫ اال حذع٘ هللا ى‬:‫ض فقاه‬ٝ‫ ابِ سع٘دٓ ٕٗ٘ ٍش‬ٚ‫ دخو عبذ هللا بِ عَش عي‬:‫ قاه‬. bahwasanya Allah SWT memuji orang-orang yang bersuci : firman-Nya. Pengertian serta Macam-macam Thaharah Pengertian Thaharah . Seorang hamba yang seanantiasa gemar bersuci ia akan memiliki keutamaan-keutamaan yang dianugerahkan oleh Alloh di akhirat nanti. Ibnu amir berkata: “Apakah kamu tidak mau mendo‟akan aku. karena termasuk yang disukari Allah. yang artinya : “sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan dirinya”. Bersabda: “Shalat yang tanpa bersuci tidak diterima begitu pula sedekah dari hasil korupsi”. Sedang kamu adalah penguasa bashrah”. Thaharah juga membantu seorang hamba untuk mempersiapakan diri sebelum melakukan ibadah-ibadah kepada Alloh.ْ‫س‬ ّّٜ‫ ئ‬:‫ا ابِ عَش؟ قاه‬ٝ .ٌّ‫ٔ ٗسي‬ٞ‫ هللا عي‬ٚ‫سَعج سس٘ه هللا صي‬ . 1. III.‫طٖ٘س‬ ‫ اىبصشة‬ٚ‫ه ٗمْج عي‬ ‫ش‬ٞ‫ ال حقبو اىصالة بغ‬:‫ق٘ه‬ٝ . hai ibnu umar?”.(Al-Baqarah:122) Thaharah memiliki hikmah tersendiri. yakni sebagai pemelihara serta pembersih diri dari berbagai kotoran maupun hal-hal yang mengganggu dalam aktifitas ibadah seorang hamba. Sebagai contoh seorang yang shalat sesungguhnya ia sedang menghadap kepada Alloh. 2. Sebagai syarat sahnya shalat dan ibadah seorang hamba. karenanya wudhu membuat agar fikiran hamba bisa siap untuk beribadah dan bisa terlepas dari kesibukan-kesibukan duniawi.‫ذ‬ ٍ‫ع‬ َ ِ‫عب ب‬ َ ْ‫ٍص‬ ُ ِ‫ع‬ ُ ْ ‫ ٗال صذقت‬. diantaranya: 1.id berkata: Abdullah bin umar pernah menjenguk ibnu amir yang sedang sakit. maka diwajibkanlah wudhu sebelum sholat karena wudhu adalah sarana untuk menenangkan dan meredakan fikiran dari kesibukan-kesibukan duniawi untuk siap melaksanakan sholat. Ibnu umar berkata: “saya pernah mendengar Rasulullah SAW. TUJUAN THAHARAH Ada beberapa hal yang menjadi tujuan disyariatkannya thaharah.[3] C. ٍ ٘‫ٍِ غي‬ ٍ Artinya: dari mus”ab bin sa. Nabi Saw bersabda: “Allah tidak menerima shalat seorang diantara kalian jika ia berhadas. PEMBAHASAN A. sampai ia wudhu”.

dan cara melakukannya tepat pada waktu membasuh muka. Bahkan manusia sejak lahir hingga wafatnya juga tidak bisa lepas dari masalah kesucian. yakni membersihkan najis ( istinja‟ ) dan membersihkan hadas. Sedangkan maknanya secara syariat adalah “mengangkat hadats dan menghilangkan najis”. dan sebagainya. dapat digantikan dengan praktek penyucian lainnya yaitu ketika tidak didapatkan air. Yaitu di seluruh tubuh juka ia adalah hadats besar atau si anggota tubuh yang empat jika ia adalah hadats kecil. [4] Adapun rukun wudlu adalah sebagai berikut : a) Niat. al-Baqarah/2: 222) Dalam sebuah hadis dijelaskan pula: ْ ‫سش‬ ُّ ُ ُ ‫َط‬ ُ ُْٖ٘‫اىط‬ ْ ٝ‫إل‬ ِ َ ‫َا‬ ِ ‫ش ْا‬ “ Kesucian itu sebagian dari iman.Pengertian thaharah secara bahasa adalah ”bersuci dan bebersih dari kotoran material dan immaterial”. Macam-macam Thaharah Wudlu Dalam perkembangannya. b) Membasuh seluruh muka ( mulai dari tumbuhnya rambut kepala hingga bawah dagu. thawaf. Bersuci bisa menggunakan apa yang menggantikan air ketika tidak ada air atau tidak mampu menggunakannya. Mengangkat hadats itu terjadi dengan menggunakan air bersama niat. seperti shalat. dan dari telinga kanan hingga telinga kiri ) .[3] 2. Oleh karena itu para ulama bersepakat bahwa berthaharah adalah sebuah kewajiban. sesuai dengan pengertian niat itu sendiri : “Qhasdus Syai‟in. Sehingga Allah sangat menyukai orang yang mensucikan diri sebagaimana firman berikut ini: ْ ُّ‫ُحب‬ َّ ُ َّ ِ‫ئ‬ ْ ‫ِّش‬ ْ ِ‫حبُّ اىخََّّ٘اب‬ َِٝ ُ ‫اى‬ ِ ٝٗ ِ ُٝ َ‫هللا‬ َ َِٞ ِ َٖ‫َخَط‬ “ Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang bersuci “ (QS.[1] Kesucian dalam ajaran Islam dijadikan syarat sahnya sebuah ibadah. yaitu dengan cara tayamum.”[2] Secara umum ruang lingkup thaharah ada dua. Yang artinya : meniatkan sesuatu secara beriringan dengan perbuatan. wudlu sebagai wahana mensuciakan diri dari hadas kecil. Dari masing-masing ruang lingkup akan diperinci lagi. Dalam istinja‟ akan dibahas mengenai benda najis. muqtarinan bi fi‟lihi”. a. dan cara membersihkan najis. hendaknya berniat menghilangkan hadast kecil. bahan untuk membersihkan najis.

Membasuh kedua tangan sampai siku-siku Mengusap sebagian rambut kepala Membasuh kedua belah kaki sampai mata kaki Tertib ( berturut-turut ).[6] Adapun rukun dan tata cara tayamum adalah sebagai berikut : a) Niat Para ulama berbeda pendapat tentang bagaimana niat tayamum seharusnya. niat tayamum yang dianggap sah adalah niat tayamum untuk diperbolehkan melaksanakan sholat atau niat melaksanakan kewajiban tayamum. Ulama Malikiyah dan Syafi‟iah berpendapat hampir sama.[7] b) Mengusap wajah dan kedua tangan dengan debu. tayamum berarti menuju ke pasir untuk mengusap wajah dan sepasang tangan dengan niat agar diperbolehkan melakukan shalat. c) Tartib Syafi‟iah dan Hanabilah berpendapat bahwa tartib menjadi rukun tayamum untuk menghilangkan hadats kecil. Batasan dalam mengusap wajah tidak diharuskan debu merata sampai kulit dasar jenggot meskipun tidak lebat. bukan wajib. sedangkan untuk menghilangkan hadats tidak sah. yang pertama untuk diusapkan ke tangan dan yang kedua ke wajah.[5] Tayamum Menurut pengertian bahasa. Sedang menurut pengertian syariat. Menurut Malikiyah dan Hanabillah orang yang akan bertayamum harus menepukkan tanganya ke tanah yang suci satu kali kemudian mengusapkanya ke tangan dan wajah. Sedangkan ulama Hanafiah berpendapat bahwa niat hanya merupakan syarat sah tayamum. sedangkan untuk menghilangkan hadats besar tidak menjadi rukun. sedangkan menurut Hanafiyah dan Syafi‟iyah harus menepukkan tangan dua kali. bukan rukun. tayammum berarti maksud atau tujuan. yang penting niat disertai tujuan tayamum. namun sebagian mengqiyaskan dengan wudhu yaitu membasuh sampai siku-siku. Menurut kelompok ini. d) Muwalah .c) d) e) f) b. Malikiyah dan Hanafiyah berpendapat bahwa tartib hanya sunah. Sedangkan bagian tangan sebagian ulama berpendapat hanya mengusap sampai pergelangan tangan saja dan menganggap sampai ke siku sebagai sunnah.

walau tidak sampai keluar air mani. Hubungan kelamin.[10] Rukun ( Fardhu ) dan Tata Cara Mandi Besar.[11] Tata Cara Mandi Wajib. Mandi itu disyariatkan berdasarkan Firman Allah SWT : ‫ٗ اُ مْخٌ جْبا فا طٖشٗا‬ “Dan jika kamu junub hendaklah bersuci!” (Q. melainkan sunah. Tujuan mandi wajib adalah untuk menghilangkan hadast besar yang harus dihilangkan sebelum melakukan ibadah sholat. Rukun mandi besar ada dua antara lain : 1) Niat ( bersamaan dengan membasuh permulaan anggota tubuh ). Sedangkan mandi besar atau junub atau wajib adalah mandi dengan menggunakan air suci dan bersih ( air mutlak ) yang mensucikan dengan mengalirkan air tersebut keseluruh tubuh mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. baik diwaktu tidur maupun bangun. d. b. 2) Membasuh air dengan tata keseluruhan tubuh. Mandi itu diwajibkan atas lima perkara : a.Shafi‟iyah dan Hanafiyah berpendapat bahwa muwalah atau berurutan tidak termasuk rukun tayamum. Orang kafir bila masuk islam. dari laki-laki atau wanita. bila seorang menemui ajal wajiblah memandikannya berdasarkan ijma‟. Keluar air mani disertai syahwat. yaitu memasukan alat kelamin pria kedalam alat kelamin wanita. Sedangkan Malikiyah dan Hanabilah berpendapat untuk memasukkanya ke dalam rukun tayamum. f.[9] Hal-hal yang mewajibkan mandi wajib.[8] c. Firman Allah Ta‟ala : “ jika kamu junub. e. c. Yaitu “ Nawaitul ghusla lirof‟il hadatsil fardlol ilaahita‟ala ”. Mandi besar Mandi adalah meratakan atau mengalirkan air keseluruh tubuh. hendaklah kamu bersuci ”. . yakni dari ujung rambut sampai ujung kaki. Mati. Hal-hal yang perlu diperhatikan selama mandi ialah sebagai berikut : a) Membaca Niat.S Al-Maidah : 6). Terhentinya haid dan nifas.

c. rasa. Mislanya. b. Tanah . namun makruh digunakan.[12] Istinja‟ ( cebok ) Bersuci setelah buang air kecil atau air besar disebut istinja‟. Air mutanajis yaitu air yang terkena najis. c) d. Sebab belum berubah sifat ( bau. dan keluar menggunakan kaki kanan Hendaklah memakai alas kaki atau sandal Selama dikamar mandi jangan bicara kecuali terpaksa d. Masuk kamar mandi mendahulukan kaki kiri. dan warnanya ). dan baunya. Hukum Istinja‟ adalah wajib. Air mutlak yaitu air suci yang dapat dipakai mensucikan. Hilangkan najis yang lain bila ada. Karenanya air tersebut tidak suci dan tidak dapat dipakai mensucikan. Alat –alat untuk bersuci 1. Air musta‟mal yaitu air suci tetapi tidak dapat dipakai untuk mensucikan karena sudah dipakai untuk bersuci. bagi yang tidak melakukannya terhitung dosa. c. d. Air Ditinjau dari hukumnya air dibagi menjadi empat : a. dan terkana panas matahari. b. dan jumlahnya kurang dari dua kullah. Tiga buah batu yang dimaksud adalah bisa berupa tiga buah batu atau juga satu batu yang memiliki tiga sisi ( segitga ). dalam ajaran Islam : a. Hendaklah jauh dari orang agar baunya tidak menggangu e. rasa.b) Membilas atau membasuh seluruh badan dengan air ( air mutlak yang menyucikan ) dari ujung kaki ke ujung rambut secara merata. f. dan jika tidak mendapati air maka boleh memakai tiga buah batu kering. meskipun air itu tidak berubah warna. air bertempat dilogam yang bukan emas. Air musyammas yaitu air suci yang dapat dipakai untuk mensucikan. 2. Dalam hal ini boleh memakai air. Menjauhi diri dari pandangan orang lain Jangan buang air di air yang tenang ( tidak mengalir ) B. Etika saat buang air.

macam najis yaitu sebagai berikut : 1. “ Sesungguhnya pakaian dicuci jika terkena air kencing anak perempuan. kecuali bangkai manusia. Cara mensucikan hadas besar adalah dengan mandi wajib. 2. 4. Najis Ringan ( mukhofafah ). dan belum makan sesutu kecuali air susu ibunya. Hadas dibagi dua : 1. 3. dan cukup diperciki air jika terkena kencing anak laki .Dapat mensucikan telapak kaki dan sandal yang dipergunakan berjalan diatas tanah. 6. Hadas kecil penyebabnya keluar sesuatu dari dubur dan kubul. C. dan nanah Bangkai. Hadas Besar penyebabnya keluar air mani. ( HR. Macam . 5. seperti arak Bagian atau anggota tubuh binatang yang terpotong dan sebagainya sewaktu masih hidup Adapun macam . Darah. Abu Dawud. Ahmad. Rasulullah SAW bersabda. menurut imamiyah dan hanafi. Menghilangkannya cukup diperceki air pada tempat yang terkena najis tersebut. 2. Benda – benda najis itu meliputi : 1. dan tidur nyenyak dalam keadaan tidak tetap.macam Najis dan cara menghilangkannya Najis adalah suatu benda kotor menurut syara‟ ( hukum agama ). ikan laut. tetapi wajib disucikan demi sahnya ibadah.macan Hadas Hadas adalah suatu keadaan tidak suci dan tidak dapat dilihat. Jika air kencing itu dari bayi perempuan maka wajib dicuci bersih. dan belalang Anjing dan babi Segala sesuatu yang dari dubur dan qubul Minuman keras. menyentuh lawan jenis yang bukan muhrimnya. dan lain sebagainya. dan Hakim ) . yaitu air kencing bayi lelaki yang berumur dua tahun. dengan syarat bahan najis itu dapat hilang. Cara mensucikan hadas kecil ini adalah dengan wudhu atau tayamum. atau dapat dipergunkan untuk menggosok sesuatu yang melekat diatas sandal. D. Macam .laki “. menstruasi atau nifas ( keluar darah karena melahirkan ). bersetubuh ( baik keluar mani atau tidak ).

Cara membersihkan najis mutawashitho ini. ( HR Ash-habus Sunan dari Abu Qotadah ra.tentang wudhu yaitu menghilangkan najis dari badan. dan bangkai ( kecuali bangkai manusia. Cara menghilangkannyaharus dibasuh sebanyak tujuh kali dan salah satu air yang bercampur tanah. Dalam hukum Islam juga disebutkan.tempat kotor seperti comberan dan tempat sampah sekaligus mencari makanan disana. cucilah tujuh kali dan salah satunya hendaklah dicampur dengan tanah ”. ( HR. 3. karena tikus hidup di tempat .sifat najisnya( yakni warna. ikan laut. Kedua. Najis berat ( mugholladhoh ) adalah najis anjing dan babi.macam hadas juga terbagi menjadi dua ialah hadas kecil yaitu yang disebabkan oleh keluar sesuatu dari dubur dan kubul. Rasulullah SAW telah bersabda. yaitu najis ma‟fu ( najis yang dimaafkan ). seperti bekas air kencing. Sedangkan kucing tidak najis. Muhammad Rasulullah SAW bersabda : “ Jika bejana salah seorang diantara kalian dijilat anjing.) Najis mutawasitoh dibagi dua : a) Najis I. yaitu segala sesuatu yang keluar dari dubur dan qubul manusia atau binatang. yaitu najis yang tidak berwujud ( tidak tampak dan tidak terlihat ). KESIMPULAN Bersuci dari hadas maupun najis termasuk dalam perihal thaharah atau bersuci. dan bulu hewan yang haram dimakan.alat bantu yang dianjurkan oleh Rasullullah SAW yaitu Air. IV. debu. Misalnya. Keempat. sedangkan hadas besar yaitu yang disebabkan oleh keluarnya air mani dan bersetubuh. dan arak yang sudah mongering.lorong ynag memercik sedikit yang sulit dihindarkan. Antara lain nanah dan darah yang cuma sedikit. Istinja‟ yaitu membersihkan kotoran yang keluar dari salah satu dua pintu keluarnya kotoran itu. dan baunya ) hilang. tanah. karena ia termasuk binatang yang jinak kepada kalian “. Bersuci bisa juga menggunakan alat .Muslim ). . dan belalang ) serta susu. cukupalah dibasuh tiga kali agar sifat . tulang. dan masih banyak lagi yang bisa digunakan. tentang bertanyamum yaitu pengganti air wudhu disaat kekeringan. mandi besar yaitu menyiram air keseluruh tubuh disertai niat.2. barang cair yang memabukkan. Macam . yaitu yang berwujud ( tampak dan tidak dilihat ). Ketiga. ada satu lagi. air dari lorong . rasa. “ Sungguh kucing itu tidak najis. Najis Sedang ( mutawasitoh ). bahwa segala seluk beluknya termasuk bagian ilmu dan amalan yang penting.macam Thaharah ada empat yaitu pertama. Macam . Selain tiga jenis kotoran diatas. b) Najis hukmiyah. Dalam hal ini tikus termasuk golongan najis. kotoran manusia atau binatang.

Maka mensucikannya adalah dengan berwudhu. Kendala tersebut ada yang sifat atau bendanya. 1996:18) Perintah berwudhu ditunjukkan pada orang yang akan melaksanakan shalat. tidaklah sah. Najis Mutawashitho. (Baihaqi. orang yang tidak suci dikatakan berhadast yang menyebabkan tidak boleh shalat. 1966 : 17) Adapun yang dimaksud hadast adalah keadaan tidak suci dengan kata lain.(Baihaqi. maka setiap . pakaian dan tempat dari najis. Seseorang muslim yang bathal wudhunya maka ia telah suci kembali dan oleh karenanya ia boleh shalat. Latar Belakang Dalam Hukum Islam Thaharah (bersuci) dengan segala seluk beluknya adalah sangat penting. pintu tersebut tidak akan terbuka. artinya ibadah shalat baik fardhu maupun yang sunat. thawaf dan amalnya yang mensyaratkan wudhu. haid atau sebab lainnya yang mewajibkan mandi dan hadast kecil terjadi karena tidak berwudhu atau wudhu batal. . Wudhu adalah salah satu dari syarat sahnya shalat artinya shalat yang didirikan tidak akan menjadi sah tanpa didahului dengan wudhu yang sah. tetapi ada juga yang sifat atau bendanya tidak nyata (abstrak) seperti hadast-hadast.Dan macam . dan Najis Mogholladhoh. Hadast terbagi dua : hadast besar terjadi karena sesuatu yang menyebabkan misalnya bersetubuh. PENDAHULUAN A. Thaharah (bersuci) merupakan alat pembuka pintu (miftah) untuk memasukkan ibadah shalat. seperti benda-benda najis. Bila kita perhatikan pengertian thaharah secara lughawi (bahasa) berarti “Suci” menurut istilah ahli fiqh (terminologi) thaharah adalah menghilagkan sesuatu yang menjadi kendala bagi sahnya ibadah tertentu.muslim yang bermaksud akan mendirikan shalat tidak saja harus mengerti thaharah melainkan juga harus mengetahui dan tahu melaksanakannya sehingga thaharahnya terhitung sah menurut ajaran ibdah syari‟ahnya. thawaf atau ibadah lain yang mensyaratkan suci.macam Najis terbagi menjadi tiga yaitu Najis Mukhofafah. Sehingga dapat diketahui melalui indra. Tanpa thaharah. terutama karena syarat sah shalat wajjib suci dari hadast besar dan hadast kecil serta suci badan. Karena fungsinya sebagai alat pembuka (pintu) shalat.