P. 1
Informed Consent

Informed Consent

|Views: 47|Likes:
Published by Anita Tri Kusuma
informed consent
informed consent

More info:

Published by: Anita Tri Kusuma on Jul 08, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/28/2013

pdf

text

original

DEFINISI INFORMED CONSENT
PERMENKES : Persetujuan yang diberikan oleh pasien atau keluarganya atas dasar penjelasan mengenai tindakan medik yang akan dilakukan terhadap pasien tersebut. DEFINISI LAIN : Pernyataan oleh PASIEN, atau dalam keadaan tertentu oleh ORANG YANG BERHAK MEWAKILI PASIEN, yang isinya merupakan persetujuan kepada dokter untuk melakukan tindakan medik sesudah pasien atau orang yang berhak tersebut diberi informasi secukupnya mengenai tindakan medik yang akan dilakukan.

MAKNA KATA “KEADAAN TERTENTU” Yaitu keadaan dimana pasien belum dewasa (belum 21 th atau belum pernah nikah) atau tidak sehat akal. keadaan seperti itu dianggap belum dapat melakukan perbuatan hukum karena dinilai belum atau tidak cakap (onbekwaamheid). Dalam bahasa hukum. . MAKNA KATA “DIBERI INFORMASI SECUKUPNYA” Yaitu pemberian informasi yang kualitas & kuantitasnya telah cukup bagi pasien (yang memang awam di bidang medis) untuk dijadikan dasar dalam menentukan sikapnya (decision). yaitu berupa CONSENT atau REFUSAL terhadap tindakan medik yang ditawarkan oleh dokter.

APA LATAR BELAKANG PERLUNYA INFORMED CONSENT .

5. Semua risiko (jika benar-benar terjadi) atau semua akibat ikutan (yang tak menyenangkan itu) akan dirasakan sendiri oleh pasien. Munculnya pola hidup konsumerisme yang mengandalkan pada prinsip “He who pays the piper calls the tune” (siapa membayar pengamen suling.LATAR BELAKANG INFORMED CONSENT 1. . dialah yang menentukan lagunya). 4. Tindakan medik penuh ketidak pastian (uncertainty) dan hasilnyapun tidak dapat diperhitungkan secara matematik. Hampir semua tindakan medik memiliki risiko. 3. 6. Tindakan medik tertentu bahkan punya akibat ikutan yang tak menyenangkan pasien. 2. bukan oleh orang lain. Risiko maupun akibat ikutan tersebut biasanya sulit atau bahkan mustahil untuk dapat dipulihkan kembali.

Berdasarkan doktrin tersebut maka tindakan apapun yang bersifat offensive touching terhadap tubuh seseorang (termasuk tindakan medik). meskipun tujuannya baik dan demi kepentingan pasien. harus mendapat persetujuan lebih dahulu dari pemilik tubuh tersebut. yang bersumber pada Hak Azasi Manusia. yaitu “the right to self determination” (hak menentukan nasibnya sendiri). tindakan medik yang dilakukan tanpa persetujuan pasien secara filosofis dianggap melanggar hak.LANDASAN FILOSOFIS Doktrin “A man is the master of his own body”. Konsekuensinya. .

not harm). Fidelity (menunjukkan kejujuran dan kesetiaan terhadap terhadap tanggung jawab yang diemban). Jadi informed consent bukan hanya merupakan masalah hukum belaka. Beneficence & non malfeasance (to do good. .LANDASAN ETIKA Prinsip-prinsip etika (moral principles) menghendaki agar dokter memperhatikan 4 hal. 3. Justice (as a fairness or as distributive justice). tetapi juga masalah etika sebab sesuai dengan prinsip autonomy. 4. yaitu : 1. Autonomy (menghormati hak pasien untuk membuat keputusan). 2.

1992. Psl 53. . UU No. 512 / Menkes / PER / 2005 tentang Penyelenggaraan Praktik Dokter dan Dokter Gigi. 585 tentang Persetujuan Tindakan Medik serta Surat Keputusan Dirjen Yanmed. 29 Th. 5. Dengan jelas dikatakan bahwa hak health care receiver antara lain : Hak atas informasi. 2. Hak memberikan persetujuan tindakan medik. Permenkes No. UU Kesehatan Th. Permenkes No.LANDASAN HUKUM 1. 3. 4. Jadi informed consent merupakan implementasi dari kedua hak pasien tersebut. 2004 Tentang Praktik Kedokteran. Peraturan Pemerintah Tentang Tenaga Kesehatan.

All procedures that involve more than slight risk of harm. 3. Electro-convulsive therapy. 2. (Roach. All procedures for which consent forms are required by statute or regulation. All forms of radiological therapy. 6. 5. 2000) .TINDAKAN MEDIK YANG PERLU INFORMED CONSENT 1. 4. Major or minor invasive surgery. Chernoff dan Esley. All experimental procedures.

BAGAIMANA JIKA KONDISI PASIEN DALAM KEADAAN EMERGENSI ??? APAKAH INFORMED CONSENT MASIH TETAP PERLU ??? BAGAIMANA JIKA PASIEN TIDAK LAGI BISA DIAJAK KOMUNIKASI ??? .

4. Berbagai yurisprudensi di negara-negara maju menunjukkan kesamaan prinsip. Oleh karena itu pelaksanaan informed consent pada kondisi emergensi tidak boleh menjadi penghambat atau penghalang dilakukannya emergency care.JAWABNYA ADALAH: 1. Permenkes no. hakim membenarkan tindakan dokter mencopot mata pasien yang sakit guna menyelamatkan mata yang sehat berdasarkan teori sympatico optalmia. 3. . Informed consent tetap penting. tetapi bukan prioritas sebab prioritas pertama adalah menyelamatkan jiwa. bahwa tindakan emergency care dapat dilakukan tanpa informed consent. 2. Dalam kasus Nurdin (Sukabumi). 585 menyatakan bahwa dalam keadaan emergensi tidak diperlukan informed consent.

BAGAIMANA JIKA TINDAKAN MEDIK PADA ANAK TIDAK DISETUJUI ORANG TUA Jika orang tua tidak setuju. Tindakan medik tersebut memberikan harapan atau peluang pada anak untuk hidup normal. Freud dan Solnit) . 2. Tindakan medik yang hendak dilakukan dokter haruslah merupakan tindakan medik terapetik (bukan tindakan medik eksperimental). 3. (Goldstein. Tanpa tindakan medik terapetik tersebut anak akan mati. tindakan medik pada anak dapat dilakukan dengan syarat: 1. sehat dan bermanfaat.

. Ada tidaknya tindakan medik alternatif. doctor” dapat dianggap setuju jika pasien tersebut kemudian menyerahkan sepenuhnya kepada kebijakan dokter. tetapi boleh ditambah / dilengkapi information sheets. Tujuan tindakan medik. Risiko tindakan medik. persetujuan tersebut tidak syah.MATERI INFORMASI YANG PERLU DISAMPAIKAN 1. Informasi cukup lisan agar terjalin komunikasi dua arah. 7. 5. Akibat ikutan yang bakal tidak menyenangkan. Jika informasi tidak cukup atau tidak sama sekali maka berdasarkan teori domino. 2. 6. Sifat tindakan medik (eksperimen atau non eksperimen). 4. Pada pasien dengan sindroma “Don’t tell me. Alasan perlunya tindakan medik (diagnosa penyakit). Akibat yang bisa terjadi jika menolak tindakan medik. 3.

.KEWAJIBAN MEMBERIKAN INFORMASI 1. Kewajiban memberikan informasi berada di tangan dokter yang hendak melakukan tindakan medik karena ia yang tahu persis kondisi pasien serta hal-hal yang berkaitan dengan tindakan medik yang akan dilakukan. perawat atau bidan. 2. Kewajiban tersebut dapat didelegasikan kepada dokter asisten. tanggungjawab memberikan informasi merupakan tanggungjawab yang tidak boleh didelegasikan (non-delegated duty). Di beberapa negara maju. tetapi bila terjadi kesalahan dalam memberikan informasi oleh orang yang diberi delegasi maka tanggungjawabnya tetap pada dokter yang melakukan tindakan medik. 3.

2. . Pasien tak sehat akal Keluarga / wali / kurator. Tindakan Medik yang punya pengaruh kepada pasien serta pasangannya sebagai satu kesatuan.HAK MEMBERIKAN CONSENT 1. 4. Pasien minor (anak-anak) Keluarga / walinya. Pasien dewasa dan sehat akal Pasien ybs. Tindakan Medik tersebut bersifat non terapetik. Pengaruh dari Tindakan Medik tersebut irreversible. CONTOH: Sterilisasi KB. tidak perlu. 3. Sterilisasi terapetik (karena kanker). kecuali untuk tindakan medik tertentu harus disertai pula pasangannya (suami atau isterinya). 2. harus ada persetujuan isteri. Tindakan medik tertentu pada pasien nikah yang juga memerlukan persetujuan dari pasangannya ialah: 1. 3. Pasien nikah Pasien yang bersangkutan.

Perlu ada saksi (perawat) yang melihat proses pemberian informed consent untuk jaga-jaga bila dipungkiri nanti. 3. 3. tetapi demi keamanannya perlu: 1.CARA MEMBERIKAN CONSENT 1. . Secara tersirat (implied consent). Secara terucap (oral consent). Jika diberikan secara terucap atau tersirat sebenarnya tidak ada masalah hukum. Yang paling aman tentunya adalah written consent (meski tidak praktis) sebab ada dokumen tertulis yang tidak dapat dipungkiri oleh pasien. 2. 2. Dicatat di dalam rekam medik bahwa pasien memberikan persetujuan secara terucap atau tersirat. Secara tertulis (written consent). Dibatasi hanya pada tindakan medik yang risikonya kecil.

Bagi dokter. 3. Bagi pasien. 2. . merupakan media untuk menentukan sikap atas tindakan medik yang mengandung risiko atau akibat ikutan yang bakal tidak menyenangkan pasien.HAKEKAT INFORMED CONSENT 1. 4. merupakan sarana untuk memperoleh legitimasimasi (pengesahan) atas tindakan medik yang bersifat offensive touching. Merupakan syarat agar dokter bebas dari tanggung jawab hukum atas terjadinya risiko atau akibat ikutan saja (transfer of liability). sebab masalah malpraktek merupakan masalah lain yg erat kaitannya dengan mutu tindakan medik yang tidak benar atau tidak sesuai standard of care. Bukan merupakan sarana yang dapat membebaskan dokter dari tanggung jawab hukum atas terjadinya malpraktek.

Informasi diberikan sejelas-jelasnya.MASALAH Persetujuan yang diberikan dengan tidak didahului informasi atau didahului informasi tetapi tidak cukup maka persetujuan tersebut dianggap tidak pernah ada (tidak syah demi hukum). tetapi jika pada akhirnya pasien menolak memberikan persetujuannya berarti dokter telah gagal dalam melakukan komunikasi. Jadi keberhasilan mendapatkan informed consent amat ditentukan oleh kemampuan dokter dalam hal KOMUNIKASI .

KESULITANNYA Proses mendapatkan informed consent memerlukan penjelasan detail dan waktu yang cukup. Kesediaan & kemampuan pasien dlm menyerap informasi dan membuat keputusan berbeda-beda. Communication skill dokter sangat beragam. . Faktor kultur juga bisa ikut menambah kesulitan.

Pasien harus diberi kebebasan untuk menyetujui atau tidak menyetujui tindakan medik yang dianjurkan dokter. Pasien perlu didorong untuk membuat keputusan. Dokter harus mengambil posisi sebagai pemberi advis.GUIDELINE Informasi harus diberikan dalam bentuk dan cara yang dapat membantu pasien untuk memahami masalah kesehatannya serta alternatif-alternatif terapi yang mungkin dapat diberikan. Dokter dan pasien harus bersikap jujur dan beriktikat baik. . Tidak boleh ada paksaan-paksaan.

Dokter wajib membantu pasien dalam mencari second opinion (jika hal itu dikehendaki) walaupun pendapat dari second opinion mungkin dapat menyulitkan. Dokter tidak boleh tergesa-gesa dan harus memberikan waktu yang cukup kepada pasien untuk membuat decision. teman atau penasehatnya.HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN Dokter harus meluangkan waktu untuk menemui pasien guna memberikan penjelasan. Dokter harus memberikan kesempatan kepada pasien untuk bertanya ataupun bahkan berkonsultasi lebih dulu dengan keluarga. Dalam keadaan tertentu perlu dilakukan diskusi yang kemudian ditutup dengan mengajuka pertanyaan: “Masih ada yang perlu ditanyakan lagi sebelum anda membuat keputusan final?” .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->