P. 1
Profil komoditas buncis

Profil komoditas buncis

4.0

|Views: 6,321|Likes:
Published by vicianti1482

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: vicianti1482 on May 12, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/22/2013

pdf

text

original

Sections

LAPORAN AKHIR

PROFIL KOMODITAS BUNCIS

(2004)

Witono Adiyoga
Rachman Suherman
T. Agoes Soetiarso
Budi Jaya
Bagus Kukuh Udiarto
Rini Rosliani
Darkam Mussadad

Proyek/Bagian Proyek Pengkajian Teknologi Pertanian Partisipatif
The Participatory Development of Agricultural Technology Project
(PAATP)

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN
DEPARTEMEN PERTANIAN

2004

1

I. Pendahuluan

Nama latin untuk tanaman buncis adalah Phaseolus vulgaris dan termasuk ke dalam
famili Leguminoseae. Berdasarkan sistematika tumbuhan maka klasifikasi dari
tanaman buncis adalah sebagai berikut :

a. Divisi : Spermatophyta
b. Subdivisi : Angiospermae
c. Kelas : Dicotyledonae
d. Ordo : Leguminales
e. Famili : Leguminoseae
f. Genus : Phaseolus
g. Species : Phaseolus vulgaris.

Tanaman buncis dapat dikelompokkan ke dalam kelompok kacang-kacangan
(beans), yang berumur pendek dan berbentuk semak atau perdu. Berdasarkan tipe
pertumbuhannya, ada dua macam tanaman buncis yaitu buncis tipe tegak dan tipe
merambat. Tanaman tipe merambat banyak dikonsumsi dalam bentuk polong buncis
yang masih muda, sedangkan untuk tipe tegak umumnya yang dikonsumsi adalah
bijinya. Tanaman buncis tipe tegak biasa dikenal dengan “kacang jogo” yang
berwarna merah, hitam, kuning, cokelat tergantung dari varietasnya.

Tanaman buncis bukan tanaman asli Indonesia tetapi merupakan hasil introduksi
(Rukmana, 1995). Berdasarkan berbagai informasi tanaman buncis berasal dari
benua Amerika tepatnya Amerika Utara dan Amerika Selatan. Secara lebih spesifik
diperoleh informasi, bahwa kacang buncis tipe tegak (kacang jogo) merupakan
tanaman asli di lembah Tahuacan (Meksiko). Penyebaran ke benua Eropa
berlangsung sejak abad ke-16 oleh orang-orang Spanyol dan Portugis. Daerah pusat
penyebarannya mula-mula adalah Inggris (tahun 1594), kemudian menyebar ke
negara-negara lainnya di kawasan Eropa, Afrika, sampai ke Asia. Di Amerika daerah
penyebaran tanaman buncis terdapat di New York (tahun 1836), kemudian meluas
ke Wisconsin, Maryland, dan Florida. Tanaman ini mulai dibudidayakan secara
komersil sejak Tahun 1968 dan menempati urutan ke tujuh diantara sayuran yang
dipasarkan di Amerika pada tahun tersebut. Adapun “kapan” masuknya tanaman
buncis ke Indonesia belum diperoleh informasi yang jelas, tetapi daerah penanaman
buncis pertama kali adalah di daerah Kotabatu (Bogor), kemudian menyebar ke
daerah-daerah sentra sayuran di Pulau Jawa.

II. Area, produksi dan produktivitas

Walaupun tanaman buncis bukan tanaman asli Indonesia, tetapi penyebarannya
cukup meluas di wilayah Indonesia. Tabel 1 berikut ini menggambarkan
perkembangan luas panen, produksi dan produktivitas buncis di Indonesia selama
periode tahun 1999 – 2003. Dilihat dari luas panen dari tahun 1999 sampai dengan
Tahun 2001 terjadi penurunan, tetapi di tahun 2002 luas panen kembali meningkat,
bahkan di tahun 2003 peningkatannya mencapai 22,38 %. Produksi nasional
tertinggi terjadi di tahun 2000 yang mencapai 302 624 hektar. Hal tersebut

2

disebabkan oleh tingginya produktivitas di tahun tersebut. Namun demikian, setelah
tahun 2000 produktivitas mengalami penurunan dari tahun ke tahun, sehingga pada
tahun 2003 hanya mencapai 7,59 ton per hektar. Hal tersebut mengindikasikan
kurang optimalnya teknologi budidaya yang digunakan oleh petani buncis.

Ada beberapa faktor penyebab belum baiknya teknologi yang digunakan oleh petani,
diantaranya: 1) teknologi yang direkomendasikan tidak dapat memecahkan
permasalahan petani, 2) proses transfer teknologi tidak berjalan dengan baik, atau
3) teknologi yang direkomendasikan belum tersedia (Lionberger dan Gwin, 1991).
Adapun untuk budidaya buncis, kemungkinan disebabkan oleh belum tersedianya
teknologi yang direkomendasikan. Hal tersebut berkaitan erat dengan skala prioritas
program penelitian sayuran. Selama ini buncis tidak dimasukkan sebagai sayuran
yang mendapat prioritas untuk diteliti, sehingga penelitian-penelitian untuk
komoditas tersebut sangat terbatas (lihat sub bab hasil-hasil penelitian).

Tabel 21 Produksi buncis di Indonesia, 1999-2003

Persentase perubahan (%)

Tahun

Luas panen
(ha)

Produksi
(t)

Produktivi-
tas (t/ha)

Luas panen

Produksi

Produkti-
Vitas

1999

28 546

282 198

9,88

-

-

-

2000

28 257

302 624

10,71

- 1,01

+ 7,24

8,40

2001

25 651

227 862

8,88

- 9,22

- 24,70

- 17,08

2002

26 660

230 020

8,62

+ 3,78

+ 0,95

- 2,93

2003

32 626

247 782

7,59

22,38

+ 7,72

- 11,95

Sumber: Survei Pertanian, BPS (berbagai tahun)

Berkaitan erat dengan tingkat adaptabilitasnya, pertanaman buncis di Indonesia
tersebar terutama di daerah dataran tinggi. Tabel 22 menunjukkan perkembangan
areal tanam dan produksi di beberapa propinsi penting penghasil buncis, serta data
agregatnya. Berdasarkan data tersebut Propinsi Jawa Barat merupakan sentra
produksi terbesar di Indonesia dengan kontribusi sebesar 29,84 – 38,13% terhadap
produksi nasional selama periode 1999–2003. Propinsi lainnya sebagai sentra
produksi terbesar setelah Jawa Barat, tercatat Sumatera Utara, Jawa Timur,
Bengkulu dan Jawa Tengah.

Ditinjau dari produktivitasnya, hasil yang dicapai Jawa Barat jauh di atas propinsi-
propinsi lainnya. Sebagai contoh pada tahun 2003 produktivitas buncis di Jawa Barat
mencapai 13,53 ton per hektar, sementara propinsi lainnya berkisar antara 2,13-
10,08 ton per hektar. Produktuvitas buncis di Jawa Barat tersebut masih di atas
produktivitas rata-rata Indonesia yang hanya mencapai 7,59 ton per hektar. Hal
tersebut secara tidak langsung mengindikasikan bahwa penggunaan teknologi di
sentra produksi Jawa Barat sudah lebih baik dibandingkan dengan propinsi lainnya.

3

Tabel 22

Areal panen (ha), produksi (ton) dan produktivitas (ton/ha) buncis di beberapa
propinsi penting penghasil buncis di Indonesia, 1998-2002.

Propinsi

1999

2000

2001

2002

2003

Sumatera Utara

Area (ha)

3 808

4 440

4 885

3 414

5 875

Prod (t)

85 200

92 464

53 184

46 533

57 816

Prvt (t/ha)

22,37

20,83

10,89

13,63

9,84

Bengkulu

Area (ha)

1 434

1 546

637

1 579

2 702

Prod (t)

6 474

5 955

2 179

6 278

8 889

Prvt (t/ha)

4,51

3,85

3,42

3,98

3,29

Jawa Barat

Area (ha)

7 361

7 836

6 698

6 589

6 640

Prod (t)

84 208

101 919

86 886

78 049

89 823

Prvt (t/ha)

11,44

13,01

12,97

11,85

13,53

Jawa Tengah

Area (ha)

4 726

4 008

3 254

3 611

3 946

Prod (t)

29 823

28 698

22 118

27 149

17 494

Prvt (t/ha)

6,31

7,16

6,80

7,52

4,43

Jawa Timur

Area (ha)

2 657

2 465

2 311

1 819

1 950

Prod (t)

15 421

17 246

20 633

12 330

11 951

Prvt (t/ha)

5,80

7,00

8,93

6,78

6,13

Bali

Area (ha)

914

802

911

734

803

Prod (t)

14 530

14 907

13 050

7 652

8 092

Prvt (t/ha)

15,90

18,59

14,32

10,43

10,08

Kalimantan Timur Area (ha)

917

772

667

737

489

Prod (t)

5 236

4 295

3 333

3 842

4 590

Prvt (t/ha)

5,71

5,56

5,00

5,21

9,39

Sulawesi Selatan Area (ha)

1 387

1 936

1 369

2 084

3 337

Prod (t)

16 859

13 198

2 874

15 679

7 094

Prvt (t/ha)

12,16

6,82

2,10

7,52

2,13

Total

Area (ha)

23 204

23 805

20 732

20 567

25 742

Prod (t)

257 761

278 682

204 257

197 512

205 749

Prvt (t/ha)

Lainnya

Area (ha)

5 342

4 452

4 919

6 093

6 884

Prod (t)

24 437

23 942

25 763

32 508

42 033

Prvt (t/ha)

Indonesia

Area (ha)

28 546

28 257

25 651

26 660

32 626

Prod (t)

282 198

302 624

227 862

230 020

247 782

Prvt (t/ha)

9,89

10,71

8,88

8,63

7,59

Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Hortikultura

Analisis data tahunan produksi dan areal tanam buncis mencakup periode waktu
1970-2003 menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan rata-rata produksi buncis di
Indonesia adalah sekitar 5,4%. Kontribusi produktivitas sebesar 4,6%, sedangkan

4

kontribusi pertumbuhan areal panen hanya sekitar 0,8%. Selanjutnya berdasarkan
analisis data tahun 1970-2003 pertumbuhan produksi pada tanaman buncis tersebut
terutama disebabkan oleh kontribusi peningkatan dari komponen produktivitas. Hal
ini mengimplikasikan bahwa strategi dan kegiatan/usaha yang berhubungan dengan
inovasi teknologi/penelitian dapat memacu pola pertumbuhan produksi berbasis
peningkatan produktivitas, atau program penyuluhan mulai berjalan baik, terutama
dikaitkan dengan proses alih teknologi di tingkat petani (Bisaliah, 1986).

III. Konsumsi dan jenis pemanfaatan

Tanaman buncis merupakan sayuran polong yang memilki banyak kegunaan.
Umumnya konsumen rumah tangga mengkonsumsi buncis dalam keadaan muda
atau dikonsumsi bijinya (Cahyono, 2003). Polong buncis (jenis merambat) yang
masih muda rasanya manis dan biasa diolah menjadi berbagai menu makanan
sehari-hari. Sementara itu, polong buncis yang sudah tua bijinya keras dan kurang
cocok untuk diolah sebagai menu makanan sehari-hari. Beberapa varietas dari
tanaman buncis jenis tegak sering dikonsumsi bijinya, contohnya kacang merah, dan
diolah menjadi berbagai jenis sayur atau sambal goreng. Di beberapa daerah
kadang-kadang daun buncis dikonsumsi sebagai lalab atau diolah menjadi sayur.

Tabel 23 berikut menyajikan kandungan gizi yang terkandung pada 100 gram
kacang buncis yang dapat dimakan.

Tabel 23 Kandungan dan komposisi gizi kacang buncis per 100 gram bahan.

Komposisi gizi

Kandungan gizi

I

II

Kalori

34,00 kal

35,00 kal

Protein

2,00 gr

2,40 gr

Lemak

0,10 gr

0,20 gr

Karbohidrat

6,80 gr

7,70 gr

Serat

1,00 mgr

-

Abu

0,60 mgr

-

Kalsium

72,00 mgr

65,00 mgr

Fosfor

38,00 mgr

48,00 mgr

Zat besi

0,80 mgr

1,00 mgr

Natrium

2,00 mgr

-

Kalium

182,00 mgr

-

Vitamin A

525 S.I

630,00 S.I

Vitamin B1

0,07 mgr

0,08 mgr

Vitamin B2

0,10 mgr

-

Niacin

0,70 mgr

-

Vitamin C

15,00 mgr

19,00 mgr

Air

-

88,90 gr

Sumber (dalam Rukmana, 1995) :
I : Food and Nutrition Research Center (1964) Handbook No 1. Manila
II : Direktorat Gizi Dep Kes R.I (1981).

Selain dikonsumsi sebagai makanan, tanaman buncis juga memiliki berbagai khasiat
untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Kandungan gum dan pektin dapat

5

menurunkan kadar gula darah, kandungan lignin berkhasiat untuk mencegah kanker
usus besar dan kanker payudara. Di samping itu polong buncis juga berkhasiat
untuk menurunkan kolesterol darah, mencegah penyebaran sel kanker, menurunkan
tekanan darah, mengontrol insilin dan gula darah, mengatur fungsi pencernaan,
mencegah konstipasi, sebagai antibiotik, mencegah hemorrhoid dan masalah
pencernaan lannya.

Serat kasar dalam polong buncis sangat berguna untuk melancarkan pencernaan
sehingga dapat mengeluarkan zat-zat racun dari tubuh. Kandungan glicemia yang
rendah pada polong buncis dapat memperlambat kenaikan gula darah dan menjaga
kadar glukosa agar tetap normal, karena kandungan gum dan pektin menyebabkan
pembentukan reseptor insulin lebih banyak sehingga dapat menghambat
pembentukan gula darah. Di sisi lain berkurangnya insulin dapat menahan lapar dan
melalui suatu mekanisme tertentu dapat mengeluarkan sodium untuk menurunkan
tekanan darah. Bagian buncis yang tidak dapat dicerna akan tertinggal di dalam usus
dan akan diurai oleh bakteri. Pada saat proses penguraian tersebut terjadi pelepasan
asam lemak rantai pendek yang menguap. Selanjutnya zat tersebut akan bereaksi
sebagai obat untuk menurunkan produksi kolesterol dan mempercepat pembersihan
darah dari LDL kolesterol yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Dengan demikian
bagian buncis yang tidak dapat dicerna dapat berkhasiat menurunkan kolesterol
darah.

Suatu hasil penelitian menunjukkan, bahwa buncis dapat mencegah dan mengobati
penyakit diabetis melitus. Di dalam buncis terkandung zat yang dinamakan B-
sitosterol dan stigmasterol. Kedua zat ini mampu meningkatkan produksi insulin.
Insulin adalah suatu hormon yang dihasilkan secara alamiah oleh tubuh kita dari
organ tubuh yang dinamakan pankreas. Insulin berfungsi untuk menurunkan kadar
gula dalam darah. Seseorang mengalami diabetis melitus bila pankreas hanya sedikit
menghasilkan insulin atau tidak mampu memproduksi sama sekali. Ternyata dua zat
tadi mampu merangsang pankreas untuk meningkatkan produksi insulinnya.

Tanaman buncis selain memberikan manfaat yang cukup banyak bagi kesehatan,
juga memiliki kelemahan yaitu dapat menimbulkan gas di dalam perut (perut
kembung) karena kurang enzim untuk mencerna gula kompleks (alpha galactiside).
Namun rasa tidak nyaman tersebut akan hilang dengan sendirinya setelah beberapa
jam kemudian. Sedangkan bagi lingkungan tanaman buncis dapat menyuburkan
tanah, karena akar-akarnya dapat bersimbiosis dengan bakteri Rhizobium sp. untuk
mengikat nitrogen bebas (N2) dari udara, sehingga unsur nitrogen tersedia dalam
tanah.

Konsumsi buncis di Indonesia dapat dibedakan menjadi konsumsi di daerah
perkotaan dan pedesaan. Tabel 24 memberikan informasi, bahwa konsumsi rata-rata
buncis per kapita per tahun bagi penduduk perkotaan cenderung lebih tinggi dari
penduduk pedesaan. Konsumsi buncis baik di daerah perkotaan maupun pedesaan
mengalami kenaikan dan penurunan dari tahun ke tahun secara tidak konsisten,
tetapi konsumsi terendah terjadi di tahun 1999 sedangkan konsumsi tertinggi terjadi
pada tahun 1996.

6

Tabel 24 Konsumsi buncis perkotaan dan pedesaan Indonesia (kg/kapita/tahun)

Tahun

Perkotaan

Pedesaan

Indonesia

1993

1,04

0,99

0,99

1996

1,14

0,99

1,04

1999

0,78

0,68

0,68

2002

0,94

0,88

0,88

2004

1,04

0,83

0,94

IV. Pemasaran, perdagangan dan standardisasi

Seperti halnya pada komoditas sayuran lainnya, kegiatan pemasaran buncis
bertujuan untuk memindahkan produk dari tangan produsen ke tangan konsumen.
Pada umumnya kegiatan produksi berlangsung di daerah pedesaan, sementara
daerah konsumen terletak di perkotaan. Hal ini mengakibatkan kontribusi dari
lembaga-lembaga pemasaran cukup besar. Hampir seluruh sektor pemasaran buncis
ditangani oleh pihak swasta dan intervensi pemerintah relatif minimal, khusus
terbatas pada penyediaan infrastruktur. Oleh karena itu, pasar buncis seringkali
dianggap beroperasi berdasarkan kekuatan penawaran dan permintaan.

Pasar dapat diartikan sebagai tempat terjadinya transaksi antara penjual dan pembeli.
Pengertian pasar di sini tidak selalu pasar tersebut berwujud bangunan fisik, tetapi
cukup dicirikan dengan adanya kontak antara penjual dan pembeli. Jenis pasar buncis
mengikuti pasar sayuran pada umumnya yang ada dapat dibedakan menjadi a) pasar
pengumpul, b) pasar grosir/pasar besar, dan c) pasar eceran (Soetiarso, 1997). Pasar
pengumpul buncis di beberapa sentra produksi seperti Pangalengan dan Lembang
tidak mempunyai bangunan fisik sebagai tempat transaksi. Umumnya transaksi antara
pedagang pengumpul dan petani dilakukan di kebun. Pasar besar/grosir biasanya
terletak di berbagai daerah konsumsi di kota-kota besar, para pembeli di pasar grosir
tersebut sebagian besar terdiri dari para pedagang pengecer. Pasar pengecer banyak
terdapat di daerah konsumsi baik di kota besar maupun kota kecil. Dalam
perkembangannya, pasar-pasar pengecer di kota-kota besar dapat dibedakan menjadi
pasar eceran tradisional dan pasar eceran moderen (super market). Hasil penelitian
menunjukkan, bahwa kelas sosial konsumen di pasar eceran secara nyata berbeda
dengan konsumen di pasar eceran moderen (Ameriana, 1994).

Sebelum menjual hasil panennya, petani biasa melakukan sortasi (memisahkan/
memilih buncis yang marketable dan non-marketable) dan grading (pada umumnya
berdasarkan ukuran). Sortasi dilakukan untuk memisahkan antara polong buncis
yang cacat dan polong buncis yang baik (utuh). Sortasi ini juga bertujuan untuk
mencegah penularan serangan hama dan penyakit ke polong buncis yang sehat

7

selama dalam proses pengangkutan/penyimpanan, sedangkan grading bertujuan
untuk menyeragamkan mutu/kualitas. Grading atau pengkelasan ternyata banyak
memberikan keuntungan baik bagi produsen maupun konsumen buncis, antara lain :
1) memudahkan konsumen untuk memperoleh kualitas buncis yang diinginkan, 2)
memudahkan pemasaran menurut standar mutu, 3) memberikan keuntungan yang
lebih baik bagi petani, dan 4) memberikan kepuasan dan peningkatan kepercayaan
konsumen.

Pada praktek pemasaran, buah buncis dikelompokkan ke dalam kelas-kelas mutu
yaitu kelas mutu I, kelas mutu II dan kelas mutu III, dengan kriteria:

Kelas mutu I, yaitu polong buncis yang berukuran besar atau panjang dan
berukuran kecil atau pendek (baby buncis), utuh dan sehat (tidak terserang
hama dan penyakit), warna buah masih agak muda, dam biji polong belum
tampak menonjol.

Kelas mutu II, yaitu polong buncis berukuran kecil atau pendek (tetapi bukan
baby buncis), utuh dan sehat (tidak terserang hama dan penyakit), warna
buah masih agak muda, dan biji polong belum tampak menonjol.

Kelas mutu III, yaitu polong buncis yang berukuran besar ataupun kecil,
tetapi terdapat cacat yang tidak parah.

Secara umum harga buncis untuk masing-masing kelas berbeda, semakin tinggi kelas
grading harga akan semakin mahal. Namun demikian, generalisasi hubungan harga
antar kelas, sukar untuk ditetapkan, karena terlalu banyaknya kemungkinan kombinasi
perubahan penawaran dan permintaan berdasarkan pengkelasan ini. Terlepas dari hal
tersebut, sebagian besar petani dan pedagang mengindikasikan bahwa perbedaan
harga antar kelas secara proporsional meningkat/menurun sejalan dengan
peningkatan/penurunan harga buncis.

Untuk menggerakkan buncis dari sentra produksi ke daerah konsumen akan
melibatkan berbagai lembaga pemasaran. Lembaga pemasaran tersebut dapat
berupa badan hukum atau perorangan yang bertindak sebagai sebagai perantara.
Pemasaran buncis dikatakan efisien jika semua pihak (petani, pedagang dan
konsumen) memperoleh kepuasan baik secara finansial maupun non finansial.
Biasanya pemasaran yang efisien tidak melibatkan terlalu banyak lembaga
pemasaran, dan setiap lembaga pemasaran tidak mengambil keuntungan terlalu
besar. Pemasaran yang tidak efisien, biasanya diindikasikan rendahnya keuntungan
yang diperoleh petani, sementara konsumen harus membayar dengan harga yang
tinggi.

Secara skematis, lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran kubis mulai
dari tingkat petani sampai ke tangan konsumen dapat digambarkan pada Gambar 1.

8

I

V

IV

II

III

VI

Gambar 1 Bagan kemungkinan pemasaran buncis.

Bagan di atas memperlihatkan beberapa kemungkinan dari rantai pemasaran yang
dapat ditempuh yaitu :

I. Rantai I, untuk sampai ke tangan konsumen baik konsumen lembaga maupun
konsumen rumah tangga, buncis dari tangan petani harus melalui empat
lembaga pemasaran (tengkulak, pedagang pengumpul, pedagang besar dan
pengecer). Di lihat dari jumlah lembaga pemasaran yang terlibat, kemungkinan
besar rantai tersebut tidak efisien.

II. Rantai II, petani menjual hasil panennya langsung ke eksportir. Walaupun rantai
ini terlihatnya sangat efisien, tetapi sangat sulit untuk ditempuh. Kualitas yang

Petani produsen

Tengkulak

Pedagang pengumpul

Tingkat desa/kecamatan

Pedagang besar

(grosir)

Pedagang pengecer

(pasar, supermarket)

Konsumen lembaga

(rumah makan, katering)

Konsumen

Rumah tangga

Importir

di luar negeri

Eksportir

9

dituntut untuk ekspor sangat tinggi, sehingga petani pun dituntut untuk
mempunyai pengetahuan yang baik mengenai segala sesuatu yang berkaitan
dengan ekspor.

III. Rantai III, petani menjualnya ke pedagang pengecer. Selanjutnya pedagang
pengecer mendistribusikannya ke konsumen lembaga atau konsumen rumah
tangga. Rantai ini tampaknya sangat efisien karena hanya melibatkan satu
lembaga pemasaran.

IV. Rantai IV, sebelum sampai ke tangan konsumen, petani produsen menjual hasil
panen buncisnya melalui pedagang besar dan pedagang pengecer. Rantai
pemasaran ini dinilai cukup efisien.

V. Rantai V, petani menjual hasil panennya melalui pedagang pengumpul,
pedagang besar dan pedagang pengecer.

VI. Rantai VI, petani menjual hasil panennya ke tengkulak, selanjutnya tngkulak
langsung menjualnya ke konsumen lembaga. Dalam hal ini tengkulak bertindak
sebagai supplier yang memasok bahan-bahan yang dibutuhkan konsumen
lembaga, termasuk buncis. Biasanya para supplier tersebut sudah mempunyai
langganan konsumen lembaga yang tetap.

Dari ke enam rantai pemasaran tersebut, yang paling sering dipilih oleh petani
sayuran, trmasuk petani buncis, adalah rantai pemasaran I dan V. Walaupun kedua
rantai pemasaran tersebut kurang efisien, tetapi petani memperoleh berbagai
kemudahan dalam memasarkan hasil panennya. Beberapa alasan yang dikemukakan
petani antara lain: waktu penjualan yang relatif cepat, keringanan biaya panen dan
kemudahan memperoleh pinjaman modal.

Selanjutnya Tabel 25 memperlihatkan data ekspor kacang-kacangan ke Indonesia.
Di dalam data tersebut komoditas buncis dimasukkan dalam kelompok kacang-
kacangan di mana dalam kelompok tersebut, termasuk diantaranya kacang merah
(kacang jogo). Dari catatan data ekspor tahun 1999 – 2003, Indonesia telah
mengekspor komoditas kacang-kacangan (termasuk buncis) ke berbagai negara,
dengan kuantitas yang bervariasi dari tahun ke tahun. Namun dalam kurun waktu
tersebut ekspor tertinggi dicapai pada tahun 2002, yaitu sebesar 1 372,74 ton.
Ekspor tersebut terdiri dari kacang-kacangan dalam keadaan segar, beku dan kering.
Selama periode tahun 1999 – 2003, ekspor kacang-kacangan kering paling banyak
diekspor, sementara kacang-kacangan beku hanya diekspor pada tahun 1999 dan
tahun 2000. Adapun negara-negara yang secara tetap mengimpor kacang-kacangan
dari Indonesia adalah Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam dan Saudi Arabia.
Sementara itu, negara-negara yang juga mengimpor kacang-kacangan/buncis
Indonesia secara insidental diantaranya adalah Taiwan, Perancis, Philipina dan Timor
Timur.

10

Tabel 25 Ekspor Kacang-kacangan dan buncis Indonesia, 1999-2003

Kuantitas (ton)

Tahun

Total

Kacang-kacangan
Segar

Kacang-kacangan
Beku

Kacang-kacangan
Kering

1999

62,81

1,8

27,27

33,74

2000

11,76

2,1

88,00

28,66

2001

42,37

10,31

-

32,06

2002

1 372,74

3,06

-

1 369,68

2003

203,08

122,99

-

80,09

Nilai (juta US$)

Tahun

Total

Kacang-kacangan
Segar

Kacang-kacangan
Beku

Kacang-kacangan
Kering

1999

11 068

2 555

-

2000

77 516

3 421

30 360

43 735

2001

38 744

10 622

-

28 122

2002 342 071

1 407

-

340 664

2003

68 503

61 220

-

7 283

Harga (US$/t)

Tahun

Total

Kacang-kacangan
Segar

Kacangt-kacangan
Beku

Kacang-kacangan
Kering

1999

6 148,88

93,69

2000

652,71

1 629,05

345,00

1 525,99

2001

914,42

1 030,26

-

877,17

2002

249,18

459,80

-

248,72

2003 337,32

497,76

-

90,93

Sumber: Biro Pusat Statistik (a), berbagai tahun. Ekspor sampai September 2002. Ekspor termasuk:
Kode SITC 05457200 untuk kacang-kacangan dalam bentuk segar
05469220 untuk kacang-kacangan dalam bentuk beku
05423100 untuk kacang-kacangan dalam bentuk kering

Berdasarkan data impor yang tercantum pada Tabel 26, ternyata kuantitas kacang-
kacangan yang diimpor oleh Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan dengan
ekspor. Selama periode tahun 1999 – 2003 impor kacang-kacangan segar dan beku
cenderung menurun dari tahun ke tahun, sedangkan kacang-kacangan kering
memperlihatkan kenaikan yang cukup tinggi. Di lihat dari volume total kacang-
kacangan yang diimpor, walaupun terjadi penurunan pada tahun 2000 tetapi pada
tahun-tahun berikutnya volume impor terus meningkat bahkan pada tahun 2003
volume impor mencapai 8 kali lipat dibandingkan tahun 2000. Hal tersebut
mengindikasikan bahwa kebutuhan kacang-kacangan di dalam negeri terus
meningkat dan tidak dapat dicukupi oleh produksi kacang-kacangan dalam negeri.
Adapun negara-negara yang mengekspor kacang-kacangan ke Indonesia
diantaranya China, Myanmar, Perancis, India, Perancis, Australia, Hongkong dan
Jepang. China dan Australia tercatat sebagai negara-negara pengekspor kacang-
kacangan terbesar ke Indonesia.

11

Tabel 26 Impor Kacang-kacangan Indonesia, 1999-2003

Kuantitas (ton)

Tahun

Total

Kacang-kacangan
Segar

Kacang-kacangan
Beku

Kacang-kacangan
Kering

1999 1 799,29 1 636,02

-

163,27

2000 726,78 307,52

367,64

51,64

2001 868,96 388,47

61,14

419,35

2002 3 814,83 72,89

9,97

3 731,97

2003 6 569,64 46,93

2,77

6 519,94

Nilai (juta US$)

Tahun

Total

Kacang-kacangan
Segar

Kacang-kacangan
Beku

Kacang-kacangan
Kering

1999

444 875

340 296

-

104 579

2000

308 874

91 782

131 032

86 060

2001

317 546

85 721

31 926

199 899

2002 1 281 084

26 090

13 192

1 241 802

2003 1 663 659

19 152

5 511

1 638 996

Harga (US$/t)

Tahun

Total

Segar

Beku

Kering

1999

247,25

208,00

-

640,53

2000

424,99

298,46

356,43

1 666,54

2001

365,43

220,66

522,18

476,68

2002

335,82

357,94

1 323,17

332,74

2003 253,23

408,09

1 989,53

251,38

Sumber: Biro Pusat Statistik (a), berbagai tahun. Ekspor sampai September 2002. Ekspor termasuk:
Kode SITC 05457200 untuk kacang-kacangan dalam bentuk segar
05469220 untuk kacang-kacangan dalam bentuk beku
05423100 untuk kacang-kacangan dalam bentuk kering

Salah satu kebijaksanaan operasional pengembangan pengolahan dan pemasaran
hasil pertanian adalah pembinaan mutu dan standardisasi pertanian. Keberhasilan
pengembangan pembinaan mutu dan standardisasi pertanian diharapkan akan
mampu untuk menunjang peningkatan daya saing serta keberhasilan menembus
pasar. Program pemerintah dalam pembinaan mutu hasil pertanian melalui program
standardisasi dan akreditasi sejalan dengan tuntutan konsumen baik di dalam
maupun di luar negeri. Untuk dapat bersaing di pasar yang bebas dan kompetitif
saat ini, komoditas pertanian yang dipasarkan harus benar-benar dapat menarik
minat pembeli. Hal ini perlu ditanamkan terhadap pelaku agribisnis bahwa di dalam
produk yang akan dipasarkan haruslah terdapat unsur jaminan kepastian mutu.
Kepastian mutu ini hanya dapat diperoleh melalui penerapan standar. Pada awalnya
standar ini hanya merupakan suatu tuntutan pasar, namun dalam perkem-
bangannya, ternyata standar memberikan banyak sekali nilai tambah bagi petani
yang menerapkannya, sehingga mulai dirasakan sebagai kebutuhan bagi petani.

12

Dari aspek pertumbuhan dan pengembangan kegiatan/usaha agribisnis, penerapan
SNI dapat memberikan manfaat: (a) mewujudkan tercapainya persaingan yang
sehat dalam perdagangan, (b) menunjang pelestarian lingkungan hidup, (c)
meningkatkan kepercayaan dan kepuasan pelanggan melalui sistematika dan
pendekatan yang terorganisir pada pemastian mutu, (d) meningkatkan citra dan
daya saing petani/pelaku agribisnis, (e) meningkatkan efisiensi di dalam berproduksi,
dan (f) mengantisipasi tuntutan konsumen atas mutu produk dan tingkat persaingan
usaha yang telah mengalami perubahan sehingga pelaku agribisnis dapat
menanggapinya melalui pendekatan mutu, pengendalian mutu, pemastian mutu,
manajemen mutu dan manajemen mutu terpadu.

Sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor : 12 tahun 1991, standar yang berlaku di
seluruh wilayah Indonesia adalah Standar Nasional Indonesia, yang mulai
diberlakukan sejak tanggal 1 April 1994. Sebagai tindak lanjut penetapan Standar
Nasional Indonesia, melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor:
303/Kpts/OT.210/4/1994 tanggal 27 April 1994, Standar Nasional Indonesia sektor
pertanian adalah standar yang ditetapkan oleh Menteri Pertanian setelah
mendapatkan persetujuan dari Dewan Standardisasi Nasional (yang sekarang
menjadi Badan Standardisasi Nasional, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor: 13
tahun 1997) dan berlaku secara nasional di seluruh wilayah Indonesia.

Badan Standardisasi Nasional telah membuat standar mutu untuk tujuh komoditas
sayuran yaitu bawang putih, bawang merah, tomat segar, petsai segar, kentang
segar, kubis dan wortel segar. Dalam hal ini buncis belum termasuk komoditas yang
telah memiliki nomor SNI. Adapun pengkelasan yang terdapat selama proses
pemasaran, sifatnya tidak baku dan dapat berubah menurut tempat dan waktu. Hal
ini merupakan salah satu kelemahan terutama jika dikaitkan dengan perdagangan
internasional. Disamping lebih sulit untuk memenuhi standar kualitas ekspor, belum
adanya SNI tersebut dapat mengakibatkan Indonesia berpeluang sebagai tempat
pembuangan komoditas buncis yang berkualitas di bawah standar yang berasal dari
negara-negara lain.

V. Perkembangan harga dan indeks harga musiman

Harga berfungsi sebagai pengendali arah aktivitas ekonomi sayuran dan berperan
sebagai rationing mechanism untuk suatu produk yang diproduksi pada suatu
periode waktu serta menjadi barometer yang mengukur dimensi perilaku bekerjanya
pasar sayuran. Berbagai faktor yang mempengaruhi penawaran dan permintaan
akan selalu berubah, sehingga jalur waktu harga sayuran akan selalu menunjukkan
variasi. Pada kondisi persaingan, fluktuasi harga dapat disebabkan oleh pergeseran
penawaran dan permintaan. Salah satu kunci sukses pemasaran sayuran adalah
pemahaman utuh menyangkut pergerakan harga musiman suatu komoditas.
Perkiraan pola harga musiman dari suatu komoditas dapat diduga dengan
menghilangkan pengaruh trend dan menghitung harga rata-rata bulanan. Perkiraan
pola harga musiman dapat terlihat dengan mengekspresikan rata-rata harga setiap
bulan sebagai persentase dari rata-rata total harga dalam periode waktu tertentu.
Tabel 27 menunjukkan pola harga musiman buncis di sentra produksi Ciwidey dan

13

Lembang selama periode tahun 2002. Untuk harga buncis di sentra produksi
Ciwidey, pada tahun 2002 harga buncis terendah terjadi pada bulan April yaitu 33 %
dibawah harga rata-rata bulanan, sedangkan harga tertinggi terjadi pada bulan
Januari, di mana harga berada 78 % di atas harga rata-rata bulanan. Untuk sentra
produksi Lembang harga terendah terjadi pada bulan April (40 % di bawah harga
rata-rata bulanan) dan harga tertinggi tertinggi pada bulan Pebruari (47 % di atas
harga rata-rata bulanan).

Tabel 27

Pola musiman harga buncis tahun 2002 di tingkat sentra produksi Ciwidey dan
Lembang .

Bulan

J

P

M

A

M

J

J

A

S

O

N

D

Lokasi

Rata-rata harga bulanan (Rp/kg)

Ciwidey

1988

1576

1470

370

660

828

1353

1203

1185

1406

1295

1305

Lembang

579

1752 1108

476

707

1062

1502

1141

1354

1674

1526

1383

Rata-rata bulanan sebagai % dari rata-rata total a

Ciwidey

1,78 1,42

1,32

0,33

0,59

0,74

1,22

1,08

1,06

1,26

1,16

1,17

Lembang

0,49

1,47

0,93

0,40

0,59

0,89

1,26

0,96

1,14

1,41

1,28

1,16

a

Dihitung dengan membagi setiap harga rata-rata bulanan dengan harga rata-rata bulanan total
selama periode tahun 2002 (Rp. 1188,96 untuk sentra produksi Lembang dan Rp. 1 111,42 untuk
sentra produksi Ciwidey)

VI. Karakteristik tanaman, syarat tumbuh, dan sistem pengelolaan (budidaya)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->