P. 1
otonomi daerah

otonomi daerah

|Views: 192|Likes:
Published by Echo 'Tovi'
ufhfjfhjhj
ufhfjfhjhj

More info:

Published by: Echo 'Tovi' on Jul 09, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/27/2015

pdf

text

original

A.

PENDAHULUAN Pembicaraan mengenai otonomi daerah sebenarnya menyentuh perdebatan tentang bangun besar (bentuk) negara yang masih menjadi perdebatan sepanjang sejarah kekuasaan di Indonesia (Dwipayana, 2000: x). Meskipun diketahui bahwa ketika The Founding Fathers bersidang dalam sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia untuk merumuskan Undang-Undang Dasar, mereka mempunyai suatu tekad yang sama bahwa negara baru yang bereksistensi di dunia internasional adalah dalam bentuk suatu negara kesatuan (Amrusyi, 1987: 59). Namun kesepakatan yang telah dirancang dari awal ini kelihatannya belum mampu memberikan suatu solusi dalam rangka penerapan otonomi daerah. Sebagai bukti bahwa sejak Indonesia merdeka pada tahun 1945 sampai saat ini, penerapan otonomi daerah selalu mengalami perubahan. Perubahan yang selalu terjadi dalam penerapan otonomi daerah menimbulkan problematika tersendiri, apalagi jika dikaitkan dengan eksistensi Negara Indonesia yang berbentuk kesatuan. Perubahan yang selalu terjadi dalam penerapan otonomi daerah mengindikasikan bahwa bangsa Indonesia belum mampu mencetuskan bagaimana konsepsi terbaik otonomi daerah dalam kaitannya dengan menjaga eksistensi negara kesatuan. Otonomi daerah selama ini baru mampu merefleksikan berbagai problema yang tidak kunjung usai. Hal ini terbukti berdasarkan fakta sejarah bahwa undang-undang yang paling sering diganti adalah undang-undang yang mengatur tentang pemerintahan daerah. Sebagai upaya mengkritisi permasalahan yang ada, perlu dipahami bagaimana sebenarnya konsepsi otonomi daerah menurut Undang-Undang Dasar 1945? Konsepsi secara sederhana dimaksudkan sebagai rumusan. Konsepsi otonomi daerah dipahami dengan rumusan otonomi daerah. Terkait dengan hal ini, untuk mengetahui konsepsi otonomi daerah di Negara Kesatuan Republik Indonesia harus beranjak dari pemahaman tentang rumusan otonomi daerah itu sendiri. Kajian terhadap konsepsi otonomi daerah menjadi lebih menarik ketika diketahui bahwa dalam Undang-Undang Dasar 1945 tidak merincinya. Walaupun demikian, keberadaan Undang-Undang Dasar 1945 perlu dikritisi dalam kaitannya dengan konsepsi otonomi daerah. Hal ini diperlukan karena Undang-Undang Dasar 1945 merupakan hukum dasar yang menjadi panduan dalam menjalankan roda pemerintahan. B. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder belaka. Penelitian terhadap data sekunder dimungkinkan untuk menarik generalisasi yang lebih luas dari hasil-hasil penelitian, tidak terikat oleh suatu waktu dan tempat, penghematan ternaga dan biaya, dan punya ruang lingkup yang seluas-luasnya. Sifat penelitian adalah deskriptif-analitis dengan menggunakan pendekatan yuridis dan historis. Pengumpulan bahan hukum dilakukan dengan metode dokumentasi. Bahan hukum yang dikumpulkan terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tertier. Analisis menggunakan teknik analisis kualitatif. Penelitian ini difokuskan untuk membahas konsepsi otonomi daerah dalam UUD 1945 sebelum amandemen, dengan pertimbangan bahwa UUD tersebut dirumuskan dengan perdebatan yang cukup alot dan telah berlaku dalam waktu yang relative panjang, perubahan terhadap UUD tersebut baru dilaksanakan setelah era reformasi bergulir di Indonesia. C. PEMBAHASAN 1. Landasan Teori a. Pengertian Konsepsi Menurut John M. Echols dan Hassan Shadily (1990: 306), konsepsi dalam bahasa Inggris diartikan dengan concept, notion, idea. Hal ini berbeda dengan pengertian yang dikemukakan dalam kamus Oxford. Di dalamnya dinyatakan bahwa konsepsi itu dalam bahasa Inggris diistilahkan dengan conception yang berarti idea, plan or intension. Dengan pengertian ini konsepsi tidak disamakan dengan konsep.DalamWebster’s Word University Dictionary dinyatakan bahwa conception berarti the act of forming an idea, understanding (Edward N. Teall (ed), 1965:215). Untuk itu dapat dipahami bahwa konsepsi dalam bahasa Inggris disebut dengan istilah conceptionyang dapat diartikan dengan ide, gagasan, pengertian, pendapat, dan cara membentuk sebuah ide. Dalam penelitian ini, konsepsi diartikan dengan cara membentuk sebuah ide. Ketika dirangkaikan dengan kata otonomi daerah,dimaksudkan sebagai cara membentuk sebuah rancangan atau rumusan tentang otonomi daerah. b. Desentralisasi dan Otonomi Daerah Istilah desentralisasi dan otonomi daerah dalam konteks bahasan sistem penyelenggaraan pemerintahan sering digunakan secara campur aduk. Kedua istilah tersebut secara akademik bisa dibedakan, namun secara praktis dalam penyelenggaraan pemerintahan tidak dapat dipisahkan. Karena itu tidak mungkin masalah otonomi daerah dibahas tanpa mempersandingkannya dengan konsep desentralisasi. Bahkan menurut banyak kalangan otonomi daerah adalah desentralisasi itu sendiri. Tidak heran misalnya dalam buku-buku referensi, pembahasan otonomi daerah diulas dengan memakai istilah desentralisasi. Kedua istilah tersebut bagaikan mata koin yang saling menyatu namun dapat dibedakan. Di mana desentralisasi pada dasarnya mempersoalkan pembagian kewenangan kepada organ-organ penyelenggara negara, sedangkan otonomi menyangkut hak yang mengikuti pembagian wewenang tersebut. Diponolo mengemukakan bahwa otonomi merupakan wewenang mengatur rumah tangga di daerah-daerah. Otonomi juga mengandung pengertian hak untuk membuat undang-undang sendiri, hak untuk mengatur rumah tangga sendiri. Sebagaimana kedaulatan bagi suatu negara, begitulah otonomi bagi suatu daerah di dalam sistim desentralisasi. Sedangkan Vera Jasini Putri (2003:45) dalam Kamus dan Glosarium Otonomi Daerah mengartikan desentralisasi sebagai penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah pusat kepada daerah otonom dalam kerangka negara Kesatuan Republik Indonesia. Sedangkan otonomi daerah dipakaikan dalam dua pengertian: pertama, kewenangan daerah untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Kedua, Kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dapatlah dipahami bahwa otonomi adalah derivat dari desentralisasi. Daerah-daerah otonom adalah daerah mandiri. Tingkat kemandirian diturunkan dari tingkat desentralisasi yang diselenggarakan. Semakin tinggi derajat desentralisasi, semakin tinggi tingkat otonomi daerah.

2. Hasil Penelitian Dalam UUD 1945 sebelum amandemen, baik pembukaan maupun batang tubuh tidak terdapat dan tidak ditemukan kata otonomi daerah. Undang-Undang Dasar 1945 hanya memuat tentang daerah yang bersifat otonom. Ketentuan tentang daerah otonom ini tercantum dalam persoalan yang berkaitan dengan pemerintah daerah. Ketentuan tentang pemerintah daerah itupun satu pasal saja. Maka dalam upaya melihat konsepsi otonomi daerah perlu dijabarkan bagaimana kandungan pasal tentang pemerintah daerah dimaksud. Pasal tentang pemerintah daerah dalam Undang-Undang Dasar 1945 sebelum amandemen (pasal 18) dimuat dalam bab VI. Pasal ini mengatur bahwa “Pembagian daerah Indonesia atas daerah besar dan kecil, dengan bentuk susunan pemerintahannya ditetapkan dengan undang-undang, dengan memandang dan mengingati dasar permusyawaratan dalam sistem pemerintahan negara, dan hak-hak asal usul dalam daerah-daerah yang bersifat istimewa.” Penjelasan Pasal 18 menyebutkan bahwa (1) oleh karena negara Indonesia itu suatu “eenheidsstaat” maka Indonesia tak akan mempunyai daerah di dalam lingkungannya yang juga bersifat staat. Daerah Indonesia akan dibagi dalam daerah popinsi, dan daerah propinsi akan dibagi pula dalam daerah yang lebih kecil. Di daerah-daerah yang bersifat autonoom (streek dan locale rechtsgemeenschappen) atau bersifat daerah administrasi belaka, semuanya menurut aturan yang akan ditetapkan dengan undang-undang. Di daerah-daerah yang bersifat autonom akan diadakan badan perwakilan daerah oleh karena di daerahpun, pemerintahan akan bersendi atas dasar permusyawaratan; (2) Dalam territoir negara Indonesia terdapat lebih kurang 250 “zelfbesturende landschappen dan volksgemeenschappen” seperti desa di Ja wa dan Bali, nagari di Minangkabau, dusun dan marga di Palembang dan sebagainya. Daerah-daerah itu mempunyai susunan asli dan oleh karena dapat dianggap sebagai daerah yang bersifat istimewa. Negara Republik Indonesia menghormati kedudukan daerahdaerah istimewa tersebut dan segala peraturan negara yang mengenai daerah itu akan mengingati hak-hak asal-usul daerah tersebut. Berdasarkan kandungan isi Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945 dapat diketahui hal-hal seperti dibawah ini:

1. 2. 3.

bahwa daerah Indonesia dibagi atas daerah besar dan kecil; Bentuk susunan pemerintahan daerah yang dibagi tersebut ditetapkan dengan undang-undang; Dalam menetapkan bentuk susunan pemerintahan itu adalah dengan memandang dan mengingati dasar

permusyawaratan dalam sistem pemerintahan negara, dan hak-hak asal usul dalam daerah-daerah yang bersifat istimewa. Sedangkan dari penjelasan pasal 18 dapat dipahami hal-hal seperti di bawah ini:

1.

Negara Indonesia merupakan “eenheidsstaat” yang artinya bahwa Indonesia tidak boleh mempunyai daerah d i dalam lingkungannya yang juga bersifatstaat;

2. 3.

Pembagian daerah Indonesia adalah kepada daerah propinsi, dan daerah propinsi dibagi dalam daerah yang lebih kecil; Daerah yang dibagi itu ada yang bersifat autonoom (streek dan locale rechtsgemeenschappen) atau bersifat daerah administrasi belaka yang ketentuannya diatur sesuai ketetapan undang-undang;

4.

Di daerah-daerah yang bersifat autonom akan diadakan badan perwakilan daerah oleh karena di daerah pun, pemerintahan akan bersendi atas dasar permusyawaratan;

5.

Dalam territoir negara Indonesia terdapat lebih kurang 250 “zelfbesturende landschappen” dan “volksgemeenschappen” seperti desa di Jawa dan Bali, negeri di Minangkabau, dusun dan marga di Palembang dan sebagainya. Daerah-daerah itu mempunyai susunan asli dan oleh karena dapat dianggap sebagai daerah yang bersifat istimewa.

6.

Negara Republik Indonesia menghormati kedudukan daerah-daerah istimewa tersebut dan segala peraturan negara yang

mengenai daerah itu akan mengingati hak-hak asal-usul daerah tersebut. Perumus Undang-Undang Dasar 1945 menghendaki adanya otonomi daerah. Hal ini terlihat melalui rancangan Muhammad Yamin, rancangan Panitia Perancang Undang-Undang Dasar, dan rancangan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Dari riwayat terjadinya Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945 tersebut ternyata bahwa desentralisasi dapat diterima oleh para tokoh rakyat Indonesia sebagai suatu keharusan. Pasal 18 merupakan pasal desentralisasi yang mengatur pembentukan daerah otonom. Pemerintahan daerah yang dimaksud oleh Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945 adalah dalam rangka desentralisasi tidak diragukan lagi apabila diperhatikan anak kalimat “dengan memandang dan mengingati dasar permusyawaratan dalam sistem pemerintahan negara (Soehino,1983: 120). Di dalam menyusun undang-undang tentang pembagian daerah otonom tersebut, oleh pasal 18 diberikan beberapa syarat yaitu dengan memandang dan mengingat dasar permusyawaratan dalam sistem pemerintahan negara dan hak asal usul dalam daerah yang bersifat istimewa. Syarat yang ditentukan oleh pasal 18 itu adalah merupakan konsekuensi dari apa yang ditentukan di dalam pembukaan yang menyebutkan “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam

permusyawaratan perwakilan.” Realisasi dari dasar permusyawaratan itu ialah diadakanny a badan perwakilan daerah di dalam daerah otonom yang bersangkutan. Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945 walaupun memberi dasar otonomi dan desentralisasi, hampir tidak kelihatan di dalamnya bayang-bayang distribusi kekuasaan antara pemerintah pusat dan daerah. Menurut analisis Bagir Manan Undang-Undang Dasar 1945 di satu sisi menghendaki dilaksanakannya desentralisasi dengan pemberian otonomi yang seluas-luasnya dengan tujuan untuk menumbuhkan prakarsa daerah dan menfasilitasi keanekaragaman, sementara di saat yang sama harus ada tempat bagi pusat untuk melakukan sentralisasi atas hal-hal yang tidak dapat dilaksanakan oleh daerah, yaitu fungsi untuk menuju pemerataan keadilan dan kesejahteraan. Ada beberapa hal yang dapat dipahami dari Pasal 18 dan penjelasan angka I pasal tersebut sebagai berikut: a. Indonesia adalah negara kesatuan dan tidak mungkin dapat dibentuk negara lagi dalam negara Indonesia. Hal ini lebih dipertegas dengan ketentuan Pasal 1 UUD 1945 yang menyatakan “(1) Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan yang berbentuk Republik”. Oleh karena itu dalam membicarakan desentralisasi di Indonesia, maka desentralisasi yang tercipta adalah yang berkaitan langsung dengan prinsip negara kesatuan dan pada akhirnya juga akan berkaitan dengan prinsip sentralisasi. b. Daerah-daerah akan bersifat autonoom (otonomi) atau bersifat administratif belaka. Daerah yang bersifat otonom adalah atas dasar desentralisasi, sedangkan daerah administrasi belaka adalah atas dasar dekonsentralisasi. Dengan demikian prinsip desentralisasi dan juga prinsip dekonsentrasi dilaksanakan baik secara bersamaan maupun sendiri-sendiri di masing-masing daerah tersebut. c. Akan ada aturan yang ditetapkan dengan undang-undang mengenai pembagian daerah tersebut, dengan memperhatikan bahwa untuk daerah otonom, pemerintahannya akan bersendi atas dasar permusyawaratan. Dasar bagi otonomi pemerintah daerah adalah Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945 yang tiang-tiangnya tersebut dengan nyata dalam pasal itu, yaitu: a. b. c. Pembagian daerah Indonesia atas daerah besar dan kecil. Dasar permusyawaratan dan dasar itu harus diacuhkan dan diingati. Dasar perwakilan yang tersebut di atas harus dalam pemerintahan negara berdasarkan ajaran Pancasila.

d. Hak-hak asal usul dalam daerah-daerah yang bersifat istimewa: daerah kira-kira 250 zelfbesturende landschappen dahulu dan volksgemeenschappen, seperti juga marga, nagari dan dusun masuk kepada bagian daerah yang mempunyai susunan asli menurut hukum adat. e. Sifat susunan otonomi daerah besar dan kecil yang dimaksud pada angka satu diatur dengan undang-undang.

f. Selainnya dari pada susunan otonomi, maka daerah besar dan kecil itu dapat diserahi kekuasaan dan pekerjaan oleh pihak atasan supaya membantu pemerintah pusat dan pihak atasan (M. Solly Lubis, 1982:163).. Pemberian otonomi kepada daerah esensinya terakomodasi dalam Pasal 18 UUD 1945 yang intinya sistem ketatanegaraan Indonesia tidak menganut faham sentralisme, tetapi membagi daerah Indonesia atas dasar provinsi dan Daerah Propinsi akan dibagi dalam daerah yang lebih kecil. Daerah itu bersifat „otonom‟ ( streek en locale rechtsgemeenschappen ) dengan dibentuk badan perwakilan rakyat, atau hanya berupa “daerah administrasi” saja. Daerah besar dan kecil yang diberikan kewenangan otonomi seberapa luas apapun bukan merupakan Negara Bagian (state), melainkan daerah yang tidak terpisahkan dari dan dibentuk dalam kerangka Negara Kesatuan. Corak daerah besar dan kecil tersebut diatur dalam Undang-undang. Menurut Kuntara Magnar dengan mengutip pendapat Bagir Manan mengatakan bahwa kalau semata-mata berpegang kepada apa yang tercantum dalam Pasal 18 UUD 1945 tersebut sebenarnya agak sulit untuk menentukan corak pemerintahan daerah yang benar-benar dikehendaki oleh UUD, tetapi dari penjelasannya dapat dipahami bahwa UUD menghendaki diberikannya otonomi kepada daerah-daerah sebagai sistem dalam menyelenggarakan pemerintahan Negara (Kuntara Magnar, 1984: 20-21). Dengan adanya pasal 18, maka Negara Kesatuan Republik Indonesia bukanlah negara yang mempunyai pemusatan atau sentralisasi kekuasaan, karena susunan pemerintah Republik Indonesia mengenal pembagian kekuasaan antara pusat dan daerah sehingga Negara Kesatuan Republik Indonesia ialah negara unitaristis dengan mengenal dekonsentralisasi (desentralisasi) sampai pemerintah daerah itu mempunyai otonomi kekuasaan. Besarnya kekuasaan otonomi atau keswatanteraan itu ditetapkan dengan undang-undang. Konsepsi otonomi daerah menurut UUD 1945 sebelum amandemen sejalan dengan persoalan-persoalan yang terkait dengan berbagai aspek pendirian negara. Undang-Undang Dasar 1945 sebelum amandemen merupakan perwujudan dari hasrat untuk membentuk suatu Negara Kesatuan Republik Indonesia, suatu negara yang bebas dari belenggu dan jajahan bangsa asing. Kecenderungan memilih bentuk negara kesatuan pada saat awal berdirinya negara Indonesia adalah didorong oleh kekhawatiran politikdevide et impera yang selalu dipergunakan oleh kolonial Belanda untuk memecah belah negara Indonesia. Meskipun secara

kultural geografis bentuk negara serikat memungkinkan. Unsur kebhinnekaan yang ada akhirnya ditampung dengan baik dalam bentuk negara kesatuan dengan sistem desentralisasi. Dibentuknya daerah-daerah otonom di seluruh wilayah negara Indonesia, memiliki keterkaitan erat dengan ketentuan Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang dasar 1945 yang menyatakan bahwa ”Kedaulatan Rakyat ada di tangan rakyat.” Pencerminan demokrasi dalam pemerintahan daerah adalah merelisasikan politik desentralisasi untuk satuan-satuan wilayah di negara Indonesia. Sehingga dasar dan isi otonomi hendaknya didasarkan pada keadaan dan faktor-faktor riil dalam masyarakat, serta untuk mewujudkan keinginan masyarakat. D. PENUTUP 1. Kesimpulan Konsepsi otonomi daerah dalam Undang-Undang Dasar 1945 sebelum amandemen menganut asas desentralisasi dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ketentuan otonomi daerah dimaksud dapat diketahui melalui aturan tentang pemerintahan daerah yang sangat umum sehingga membuka peluang untuk terjadinya multi interpretasi dalam pelaksanaannya. 2. Saran Diharapkan supaya aturan hukum tentang otonomi daerah yang dimuat dalam Undang-Undang Dasar supaya lebih dirinci dan diperjelas agar memudahkan untuk dinterpretasi dan dalam upaya menyamakan persepsi. Untuk itu penting adanya penelitian lanjutan dalam upaya melihat konsepsi otonomi daerah menurut Undang-Undang Dasar 1945 setelah amandemen. Daftar Kepustakaan Abdurrahman. 1987. Beberapa Pemikiran Tentang Otonomi Daerah. Jakarta: PT. Media Sarana Press. Amin, S. M. 1976. Demokrasi Selayang Pandang. Jakarta: Pradnya Paramita. Amrusyi, Fahmi. 1987. Otonomi Dalam Negara Kesatuan, dalam Abdurrahman (ed), Beberapa Pemikiran Tentang Otonomi Daerah . Jakarta: PT. Media Sarana Press. Echols, John M. dan Hassan Shadily. 1990. Kamus Inggris Indonesia, Jakarta: PT. Gramedia. Kaloh, J. 2002. Mencari Bentuk Otonomi Daerah Suatu Solusi Dalam Menjawab Kebutuhan Lokal dan Tantangan Global . Jakarta: Rineka Cipta. Kusnardi, Moh. dan Harmailly Ibrahim. 1983. Hukum Tata Negara Indonesia. Jakarta: PSHTN FH-UI. Magnar, Kuntana. 1984. Pokok-pokok Pemerintah Daerah Otonom dan Wilayah Administratif. Bandung: Armico. Manan, Bagir. 2001. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. Yogyakarta: Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII. MD, Moh. Mahfud. 1999. Pergulatan Politik dan Hukum di Indonesia. Yogyakarta: Gama Media. M.S., Burhani, dan Hasbi Lawrens. t.th. Referensi Ilmiah-Politik Kamus Ilmiah Populer. Jombang: Lintas Media. Putri, Vera Jasini. 2003. Kamus dan Glosarium Otonomi Daerah. Jakarta: Friedrich Naumann Stiftung. Sekretariat Negara Republik Indonesia. 1998. Risalah Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, Jakarta: Setneg RI. Teall, Edward N. (ed). 1965. Webster’s Word University Dictionary. Washington D.c.: Publishers Company. Inc. Wiyono. 1976. Garis-garis Besar Pembahasan dan Komentar UUD 1945. Bandung: Alumni. Yamin, Muhammad. t.th. Pembahasan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia.t.p.: t.tp.
About these ads

OTONOMI DAERAH SEBELUM AMANDEMEN UUD 1945
By igunn

OTONOMI DAERAH SEBELUM AMANDEMEN UUD 1945 1. 1. Otonomi Daerah Menurut UUD 1945 dan UUDS 1950

Gagasan untuk menerapkan sistem otonomi daerah dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dibicarakan oleh PPKI disetujui antara lain oleh Supomo bahwa pengaturan lebih lanjut mengenai desentralisasi akan di atur di dalam undang-undang. Gagasan-gagasan ini yang kemudian dituangkan di dalam Pasal 18 UUD 1945 yang memuat :

1.

Seluruh daerah Indonesia akan dibagi atas daerah besar dan kecil yang akan diatur dengan undang-undang. 2. Pengaturan tersebut harus : 1. Memperhatikan dasar-dasar permusyawaratan dalam sistem pemerintahan negara 2. Memperhatikan hak-hak asal-usul dalam daerah-daerah yang bersifat istimewa Dalam penjelasan Pasal 18 UUD 1945 ditambahkan empat hal pokok lagi, yaitu : 1. daerah besar dan kecil bukanlah A negara bagian karena daerah tersebut dibentuk dalam kerangkan negara kesatuan (eenheidsstaat). 2. Daerah besar dan kecil ada yang bersifat otonom dan ada yang bersifat administratif 3. Daerah yang mempunyai hak asal-usul yang bersifat istimewa adakah Swapraja dan desa atau nama lain semacam itu yang disebut Volksgemeenschappen. 4. Republik Indonesia akan menghormati kedudukan daerah yg mempunyai hak asal-usul yg bersifat istimewa itu. UUDS 1950 mengatur otonomi daerah di dalam Pasal 131, 132, dan 133. Pasal 131 memuat empat hal sebagai berikut : 1. Pembagian daerah Indonesia aras daerah besar dan kecil akan merupakan daerah-daerah yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangga sendiri (otonom). 2. Bentuk susunan pemerintahan daerah otonom akan diatur dengan undang-undang. Bentuk dan susunan itu ditetapkan dengan memperhatikan dasar permusyawaratan dan dasar perwakilan. 3. Kepada daerah-daerah akan diberikan otonomi seluas-luasnya untuk mengatur rumah tangganya. 4. Dengan undang-undang dapat diserahkan penyelenggaraan tugas-tugas kepada daerahdaerah yang tidak termasuk dalam urusan rumah tangganya Jika dibandingkan pengaturan otonomi di dalam UUD 1945 dan UUDS 1950, tampak bahwa pengaturan di dalam UUDS 1950 lebih jelas dan tegas daripada di dalam UUD 1945. UUD 1945 tidak jelas menegaskan bentuk susunan pemerintahan di daerah, demikian juga sifat otonom. Penjelasan UUD 1945 menjelaskan bahwa di daerah akan dikenal susunan pemerintahan administratif disamping yang bersifat otonom hal ini merupakan ketidakjelasan. Susunan pemerintahan administrartif merupakan ciri susunan pemerintahan menurut sendi konstentrasi dan dekonsentrasi, sedangkan peemrintahan yang bersifat otonom merupakan ciri susunan pemerintahan menurut sendi sentralisasi dan desentralisasi. 1. 1. Otonomi Daerah Menurut UU No.1 Tahun 1945

UU No.1 Tahun 1945 yang ditetapkan pada 23 November 1945, tiga bulan setelah proklamasi adalah undang-undang tentang Kedudukan Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID). KNID merupakan mata rantai dari Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Pada saat UUD 1945 disahkan oleh PPKI tanggal 18 Agustus 1945, PPKI juga menetapkan bahwa pekerjaan Presiden untuk sementara waktu dibantu oleh sebuah Komite Nasional, tanpa dibatasi pada tingkat nasional saja atau tingkat daerah.

Dalam sidangnya tanggal 19 Agustus 1945, PPKI menetapkan pembagian daerah Indonesia, bahwa Daerah Provinsi yang dikepalai oleh seorang Gubernur, dibagi dalam Karedidenan yang dikenpalai oleh seorang Residen. Gubernur dan Residen dibantu oleh Komite Nasional Daerah. Pasal IV Aturan Peralihan UUD 1945 menetapkan bahwa sebelum MPR, DPR, dan DPA dibentuk menurut UUD 1945, segala kekuasaannya dijalankan oleh Presiden dengan bantuan sebuah Komite Nasional. Dalam sidangnya pada tanggal 19 Agustus 1945, PPKI menetapkan pembagian daerah Indonesia, antara lain bahwa Daerah Provinsi yang dikepalai oleh seorang Gubernur, dibagi dalam keresidenan yang dikepalai oleh seorang Residen. Tentang KNIP diatur pula mengenai KNID, antara lain bahwa KNID dibentuk di seluruh Indonesia dengan pusatnya di Jakarta. Usaha Komite Nasional adalah membantu pemimpin dalam membantu Pemerintah Daerah untuk kesejahteraan umum. Adapun beberapa alasan yang menjadi latar belakang pembentukan UU No.1 Tahun 1945 adalah : 1. 2. 3. 4. Secara umum untuk menertibkan KNID Untuk memberikan jalan kepada Pemerintah Pusat mengawasi KNID Untuk menjamin keserasian (keharmonisan) kegiatan KNID dengan Pemerintah Pusat. Untuk mengurangi unsur-unsur kekuatan KNID yang menentang Pemerintah Pusat

1.1.Tata Susunan Teritorial Pemerintah Daerah Pada 19 Agustus 1945, PPKI menetapkan pembagian wilayah pemerintahan Republik Indonesia di daerah dalam susunan teritorial : Provinsi, Keresidenan, Kooti (Swapraja) dan Kota (Gemeente). Pembagian daerah-daerah tersebut belum dilakukan dalam rangka desentralisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 UUD 1945. Pemerintah daerah dibentuk dengan tujuan mengisi kekosongan pemerintahan yang ditinggalkan pendudukan tentara Jepang, artinya pemerintahan tentara Jepang sudah tidak dipatuhi lagi oleh Rakyat Indonesia yang merdeka dan berdaulat, selain itu juga bertujuan untuk sesegera mungkin melengkapi susunan pemerintahan RI sampai ke daerahdaerah, sehingga kehadiran Republik Indonesia yang merdeka dan berdaulat menjadi tampak nyata sampai ke daerah-daerah. Kenyataannya pemerintahan tingkat daerah tidak terbatas pada Provinsi, Karesidenan, Kota dan Kooti (Swapraja) saja yang ada, melainkan juga Kawedanaan, Kecamatan, dan Desa. Susunan baru ini diatur kembali di dalam UU No.1 Tahun 1945. Akibat perubahan kedudukan KNID, maka dihidupkan kembali pemerintahan daerah otonom yang terhapus selama pendudukan tentara Jepang. Provinsi, Kawedanaan, dan Kecamatan tidak dilengkapi dengan KNID, karena itu tetap semata-mata sebagai unsur dekonsetrasi yang menjalankan pemerintahan umum atau kepamongprajaan di daerah, sebagai wakil pemerintah pusat atau aparat pemerintah daerah atasannya. 1.2.Tata Susunan Kekuasaan Pemerintahan di Daerah

Ada tiga alat kelengkapan pemerintahan daerah yang dapat disimak dari UU No.1 Tahun 1945, yaitu : 1. KNID sebagai DPRDS (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sementara) yang bersama-sama di bawah pimpinan Kepala Daerah menjalankan funsgi legislatif. 2. Badan (maksimal terdiri atas 5 orang) yang dipilih dari dan oleh KNID sebagai badan eksekutif bersama-sama di bawah pimpinan Kepala Daerah menjalankan fungsi pemerintahan sehari-hari termasuk dalam bidang otonomi dan tugas pembantuan 1. Kepala Daerah yang diangkat oleh Pemerintah Pusat menjalankan urusan Pemerintah Pusat di daerah, kecuali urusan-urusan yang dijalankan oleh Kantorkantor Departemen di daerah. Akibat dari dualisme kekuasaan pemerintahan daerah tersebut, maka UU No.1 Tahun 1945 diganti dengan UU No.22 Tahun 1948. Otonomi Daerah Menurut UU No. 22 Tahun 1948 Sejak semula Badan pekerja KNIP dan Pemerintah Pusat menyadari bahwa UU No.1 tahun 1945 belum memadai sebagai dasar pengaturan dan pelaksanaan pemerintahan. Oleh karena itu hasrat untuk menetapkan undang-undang baru guna memperbaiki kekurangan-kekurangan itu kemudian dituangkan dalam UU No.22 tahun 1948. Hal ini dapat dibaca pada penjelasan umum UU N0.22 Tahun 1948 sebagai berikut: “Baik pemerintah, maupun badan pekerja komite nasional indonesia pusat merasa akan pentingnya untuk dengan segera memperbaiki pemerintahan daerah yang dapat memenuhi harapan rakyat, ialah Pemerintahan Daerah yang kolegial berdasarkan kedaulatan rakyat (demokrasi) dengan ditentukan batas-batas kekuasaanya” Hasrat Pemberian Otonomi yang luas Dasar kebijakan baru yang diatur di dalam UU No.22 Tahun 1948 adalah hasrat Pemerintah pusat untuk memberikan otonomi yang luas kepada daerah. Undang-undang ini tidak menggunakan istilah “Luas” atau “Seluas-luasnya” melainkan istilah “Sebanyak-banyaknya”. Adapun tiga cara yang dapat digunakan untuk mewujudkan Otonomi daerah yang sebanyakbanyaknya berdasarkan UU No.22 Tahun1948 adalah: 1. Melalui Pasal 23 ayat (2) yang menentukan bahwa urusan rumah tangga ditetapkan dalam undang-undang pembentukan bagi tiap-tiap daerah. Ketentuan ini berartti UU No.22 Tahun 1948 mengatur segala wewenang otonomi daerah berdasarkan prinsip zakelik taakafbakening. 2. Melalui Pasal 28 yang memberikan peluang kepada daerah untuk mengambil inisiatif sendiri dalam mengatur dan mengurus urusan Pemerintah sebagai urusan rumah tangga daerah, dengan ketentuan: (a) tidak mengatur dan mengurus segala sesuatu yang telah diatur dalam UU, Peraturan Pemerintah (PP), atau Peraturan Daerah (Perda) yang lebih tinggi tingkatannya; (b) tidak mengatur dan mengurus hal-hal yang menjadi urusan rumah tangga daerah yang lebih rendah tingkatannya; (c) tidak bertentangan dengan UU, PP, Perda yang

lebih tingkatannya; (d) hak mengatur dan mengurus tersebut menjadi tidak berlaku jika dikemudian hari ha;-hal tersebut diatur dan diurus dengan peraturan yang lebih tinggi tingkatannya. 3. Melalui tugas pembantuan (medebewind) yang meskipun tidak sepenuh prinsip otonomi yang luas, tetapi di dalam tugas pembantuan terdapat otonomi untuk menerjemahkan kebijakan Pusat/Pemda yang lebih tinggi tingkatannya di dalam daerah otonom yang bersangkutan. Berdasarkan penjelasan UU No.22 Tahun 1948, tidak dibedakan secara tegas antara otonomi dan tugas pembantuan, bahkan tugas pembantuan dipandang sebagai dati otonomi. Titik Berat Otonomi Suatu daerah otonom dapat terselenggara dengan baik, membutuhkan persyaratan-persyaratan tertentu antara lain: 1. Sumber daya alam seperti luas wilayah yang memadai untuk mendukung berbagai kegiatan perekonomian dan kegiatan lain yang dapat menunjang pertumbuhan daerah dan masyarakatnya. 2. Sumber daya manusia, baik kuantitas maupun kualitas yang mampu berpartisipasi untuk menyelenggarakan pemerintahan desa yang berkedaulatan rakyat dan modern. 3. Sumber keuangan untuk menunjang pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan. Susunan Pemerintahan Daerah Hal lain yang menunjukan perbedaan antara UU No.22 Tahun 1948 dengan UU No.1 Tahun 1945 adalah mengenai susunan pemerintahan daerah. UU No.1 Tahun1945 membedakan dua macam satuan pemerintahan tingkat daerah, yaitu satuan pemerintahan otonom dan satuan pemerintahan administratif. Sementara UU No.22 Tahun 1948 hanya mengatur satu macam satuan pemerintahan tingkat daerah, yaitu otonom. Otonomi Daerah Menurut UU NIT No. 44 Tahun 1950 UU NIT (Undang-undang Negara Indonesia Timur) No.44 Tahun 1950 tentang pemerintah daerah timur ditetapkan pada 15 Mei 1950, yaitu pada masa susunan Negara Republik Indonesia sebagai negara federal dibawah konstitusi RIS sejak 27 Desember 1949. Sebagai hasil dari Konferensi Meja Bundar (KMB) antara Belanda dan Indonesia di Den Haag tanggal 23 Agustus – 2 November 1949, Kerajaan Belanda terpaksa memulihkan kedaulatan atas wilayah Indonesia kepada Pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS). Pada 14 Desember 1949 wakil Pemerintah Republik Indonesia dan Wakil Pemerintah Daerah Bagian dalam Bijeenkomst Federal Overleg menandatangani persetujuan Undang-undang Dasar Sementara, yang kemudian dinamakan Konstitusi Republik Indonesia Serikat, mulai berlaku pada 27 Desember 1949. Dengan berlakunya konstitusi RIS maka Negara Kesatuan Republik Indonesia berubah menjadi Negara Republik Indonesia Serikat, yang terdiri atas 16 negara bagian yang disebut “Daerah Bagian”. Semua “Daerah Bagian” dikategorikan dalam dua

kelompok, yaitu kelompok yang disebut “Negara” dan kelompok yang disebut “satuan-satuan kenegaraan yang tegak sendiri”. Berdasarkan Pasal 127 Konstitusi RIS, pembuatab Undang-undang diserahkan kepada: 1. Pemerintaha bersama-sama dengan DPR dan Senat, dalam hal peraturan-peraturan mengenai satu atau lebih daerah-daerah bagian, atau mengenai hubungan Republik Indonesia Serikat dan daerah-daerah yang tersebut pada Pasal . 2. Pemerintah bersama-sama DPR dalam seluruh lapangan pengaturan selebihnya. UU NIT (Undang-undang Negara Indonesia Timur) No.44 Tahun 1950 tentang Pemerintah Daerah Indonesia Timur ditetapkan pada 15 Mei 1950. Secara sengaja UU NIT No. 44 Tahun 1950 ditetapkan dalam rangka menyongsong pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan maksud menyesuaikan susunan ketatatnegaraan pemerintahan daerah dalam lingkungan wilayah Indonesia Timur dengan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan latar belakang tujuan tersebut, pwmbwntukN UU NIT NO. 44 Tahun 1950 dengan segala materi muatannya hanya mengambil oper dari UU. No 22 tahun 1948 dengan segala penyesuainnya. Praktis bahwa isi UU NIT tersebut sama dengan UU No. 22 Tahun 1948, kecuali hal-hal seperti: 1. susunan dan penamaan daerah. UU NIT No. 44 Tahun 1950 memungkinkan susunan terdiri atas 2 atau 3 tingkatan (tidak harus 3 tingkatan) dengan nama-nama: Daerah, Daerah Bagian, dan Daerah Anak Bagian. 2. Sebutan resmi untuk DPD adalah Dewan Pemerintahan dan keanggotaanya diambil dari bukan anggota DPRD, demi memperoleh tenaga-tenaga ahli. 3. Jumlah anggota DPRD tidak semata-mata berdasarkan jumlah penduduk (UU No. 22 Tahun 1948), tetapi juga mempertimbangkan luasnya otonomi kekuatan keuangan, dan suasana politik. Masa jabatan anggota DPRD 3 Tahun (UU No. 22 Tahun 1948 menetapkan 5 Tahun). Memperhatikan prinsip-prinsp yang terkandung di dalam UU No. 22 Tahun 1948, yang diambil oper ke dalam UU NIT No. 44 Tahun 1950, beberapa prinsip dapat dicatat sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. upaya menghilangkan sifat dualistik di dalam UU No. 1 Tahun 1945 hanya ada satu pemerintahan di daerah, yaitu daerah otonom titik berat otonomi pada desa keinginan menghaouskan lembaga dan fungsi pamongpraja penyerahan urusan pemerintahan sebanyak-banyaknya kepada daerah

Otonomi Daerah Menurut UU No. 1 Tahun 1957 Sebagai pelaksanaan lebih lanjut dari pasal 131-133 UUDS 1950, pada hakikatnya UU No. 1 Tahun 1957 memuat hal pokok, yaitu: 1. di daerah-daerah (besar dan kecil) hanya akan ada satu bentuk susunan pemerintahan, yaitu yang berhak mengatur dan megurus rumah tangga daerah sendiri sebagai daerah otonom

2. kepada daerah-daerah akan diberikan otonomi seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. UUDS 1950 sebagamana juga UUD 1945, telah meletakan suatu prinp bahwa Pemerintah Daerah harus disusun dengan memperhatikan dasar permusyawaratan dan perwakilan dalam sistem pemerintahan negara. Pemerintah Daerah harus harus disusun dengan memperhatikan demokrasi, artinya membuka kemungkinan seluas mungkin bagi partisipasi rakyat daerah dalam membangun daerahnya. Mengenai pemberian otonomi seluas-luasnya adalah tetap dalam kerangka kesatuan republik Indonesia, maka walaupun seluas-luasnya tetap dalam pembatasan-pembatasan yang dilakukan oleh pusat demi keutuhan Negara Kesatuan. Dari sudut pandang hukum, pembatasan otonomi seluas-luasnya akan menjelma dalam rumusan peraturab yang: 1. Memberikan wewenang kepada Pusat untuk setiao saat menentukan urusan-urusan Pemerintah yang menjadi wewenangnya. 2. Memberikan wewenang kepada Pusat untuk menarik kembali atau mengalihkan urusan rumah tangga daerah menjadi urusan Pusat. 3. Memberikan wewenang untuk menolak hasrat suatu Pemerintah Daerah Otonom untuk mengatur dan mengurus urusan Pemerintahan tertentu 4. Memberikan wewenang kepada pusat untuk melakukan pengawasan terhadap jalnnya pemerintahan daerah baik preventif, represif, maupun dalam bentuk-bentuk pengawasan lainnya. Keempat hal itu adalah pembatasan eksterb yang datang dari pemerinath pusat, sedangkan pembatasan intern yang datang dari Pemerintah Otonom itu sendiri (self restraint) sekurangkurangnya ada dua macam, yaitu: 1. Kemampuan ekonomi daerah, khusunya keuangan daerah. 2. Kemampuan sumber daya manusia (tenaga) baik Pemerintah Daerah maupun rakyat di daerah yang bersangkutan. Semua pembatasan otonomi seluas-luasnya itu tentu saja mempunyai nilai spiritual dibaliknya sebagai makna pemberian otonomi seluas-luasnya. Sekurang-kurangnya ada tiga nilai spiritual (makna) yang terkandung di balik pemberian otonomi seluas-luasnya adalah: 1. Dari aspek historis pemerintahan Indonesia, dasar dan kebijakan pemberian otonomi seluasluasnya kepada daerah dipandang sebagai reaksi terhadap otonomi yang sangat sempit pada masa penjajahan. 2. Dari aspek paham kerakyatan, otonomi seluas-luasnya adalah cara untuk memberi kesempatan seluang mungkin bagi rakyat setampat mengatur dan mengurus kepentingankepentingannya, yang sudah dapat diduga bahwa kepentingan yang bercorak lokal cukup luas, sehingga harus diberi otonomi yang luas, atau bahkan seluas-luasnya. 3. Dari aspek kebhinekaan, bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia bersifat pluralistik dalam berbagai segi (keyakinan, budaya, kemasyarakatan) yang menampilkan perbedaan

kepentingan, kebutuhan, dan cara pemuasannya. Perbedaan-perbedaan itu hanya dapat dilayani melalui otonomi yang luas atau seluas-luasnya. Sistem Rumah Tangga Daerah UU No. 1 Tahun 1945 menggunakan sistem rumah tangga formal, UU No. 22 Tahun 1948 menggunakan sistem rumah tangga materiil, maka UU No. 1 Tahun 1957 menggunakan sistem rumah tangga nyata. Sistem ini dipandang lebih sesuai untuk mewujudan ketentua-ketentuan UUDS 1950. Dalam hal ini pembentukan Undang-undang meberikan beberapa pertimbangan sebagai berikut: 1. Sebagai perbaikan terhadap sistem rumah tangga yang pernah dipergunakan oleh Undangundang yang lalu. 2. Sistem rumah tangga nyata meberikan peluang pelaksanaan otonomi luas untuk Negara Indonesia yang majemuk karena isi otonomi daerah didasarkan pad kenyataan yang ada. 3. Sistem rumah tangga nyata mengandung di dalamnya “kelenturan terkendali”. Daerahdaerah dapat mengembangkan otonomi seluas-luasnya tanpa mengurangi pengendalian baik dalam rangka bimbingan maupun untuk menjaga keutuhan Negara kesatuan. Otonomi Daerah Menurut Penpres No. 6 Tahun 1959 dan Penpres No. 5 Tahun 1960 Akibat dekrit Presiden 5 Juli 1959 untuk kembali ke UUD 1945, maka diadakan pula penyesuain susunan pemerintahan daerah dengan susunan menrut UUD 1945. Dalam rangka itu, sekaligus dilakukan pula penyempurnaan terhadap UU No. 1 Tahun 1957, melaluia Penetapan Presiden No. 6 Tahun 1959 tamggal 7 November 1959 tentang Pemerintahan Daerah. Berdasarkan Penpres tersebut, penyempurnaan dilakukan sekurang-kurangnya dalam dua hal, yaitu: 1. Menghilangkan dualisme pemerintahan di daerah antara aparatur dan fungsi otonomi serta aparatur dan fungsi kepamongprajaan. 2. Memperbesar pengendalian Pusat terhadap Daerah Mengenai pengendalian, atau campur tangan pusat terhadap Daerah, dilakukan melalui hal-hal berikut: 1. Melakukan pengawasan atas jalannya Pemerintahan Daerah. 2. Kepala Daerah sebagai alat pusat diberi wewenang untuk menangguhkan keputusan DPRD jika dipandang bertentangan dengan GBHN, kepentingan umum, dan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi tingkatbya. 3. Kepala daerah diangkat oleh Presiden untuk Daerah Tingkat I dan Menteri Tingkat II. Presiden atau Menteri Dalam Negeri atas persetujuan Presiden dapat juga mengangkat Kepala Daerah diluar calon-calon yang diajukan oleh DPRD. Otonomi Daerah Menurut UU No. 18 Tahun 1965

UU No. 18 Tahun 1965 hampir seluruhnya meneruskan ketentuan-ketentuan yang terdapat didalam Penpres No. ^ Tahun 1959 dan Penpres No. 5 Tahun 1960. Kepala Daerah menurut UU No. 18 Tahun 1965 tidak lagi karena jabatannya adalah ketua DPRD. Sebgai gantinya ditentukan bahwa “Pimpinan DPRD dalam menjalankan tugas mempertanggung jawabkannya kepada Kepala Negara” (Pasal 8). Kepala Daerah dalam hal ini adalah sebagai alat pusat. Dengan demikian Pusat sepenuhnya mengendalikan Daerah. Selain itu, terdapat juga persamaan antara UU No. 1 Tahun 1957 dengan UU No. 18 Tahun 1965, antara lain: 1. Pemberian otonomi seluas-luasnya kepada Daerah 2. Sistem rumah tangga nyata. UU No. 18 Tahun 1965 tetap menghendaki otonomi Daerah dilaksankan dengan sistem rumah tangga nyata, oleh karena itu hampir seluruh penjelasan UU No. 1 Tahun1957 tentang otonomi nyata dipindahkan menjadi penjelasan UU No. 18 Tahun 1965. 3. Hanya ada satu macam susunan pemerintahan di daerah, yaitu daerah otonom. Bahkan ditegaskan pula bahwa sebutan provinsi, kabupaten, kecamatan, kotapraja, kotaraja, kotamdya bukan merupakan perwujudan suatu wilayah administratif. Ini berart UU No. 18 Tahun 1965 hanya menghendaki satu susunan pemerintah daerah, yaitu hanya daerah otonom, tidak ada wilayah adminitratif, Otonomi Daerah Menuru UU No. 5 Tahun 1974 Gagasan Melaksankan UUD 1945 Secara Murni dan Konsekuen UU No. 5 Tahun 1974 adalah undang-undang tentang pemerintahan Daerah yang pertama lahir setelah ada konsensus nasional untuk melaksanakan UUD secara murni dan konsekuen. Pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen yang bertalian dengan Pemerintahan daerah adalah pelaksanaan Pasal 18 Uud 1945. Dari rumusan Pasal 18 UUD 1945 mengandung tiga prinsip dasar, yaitu: 1. Prinsip desentralisai teritorial, yaitu wilayah Negara Republik Indonesia akan dibagi-bagi dalam satuan-satuan pemerintahan yang tersusun dalam daerah besar dan kecil (grondgebied). Dengan demikian UUD 1945 tidak mengatur mengenai desentralisai fungsional. 2. Perintah kepada pembentuk undang-undang (Presiden dan DPR) untuk mengatur desentralisasi teritorial tersebut dalam bentuk undang-undang (undang-undang organik) 3. Perintah kepad pembentuk undang-undang dalam menyusun undang-undang tentang desentralisasi teritorial tersebut, harus: 1. memandang dan mengingati dasar permusyawaratan dalam sistem pemerintahan negara 2. memandang dan mengingati hak-hak asal-usul dalam daerah-daerah yang bersifat istimewa. Ruang Lingkup UU No. 5 Tahun 1974

Secara resmi UU No. 5 Tahun 1974 bernama “Undang-undang tentang pokok-pokok Pemerintahan di Daerah”. Penambahan kata penghubung “di” pada nama undang-undang ini mempunyai makna terhadap ruang lingkupnya, yaitu mencakup semua Pemerintahan di Daerah. Ada dua Pemerintahan di daerah, yaitu Pemerintahan Daerah itu sendiri dan Pemerintahan Pusat yang ada di daerah yang bersangkutan. Pemerintahan dilaksanakan menurut asa desentralisasi yang disebut daerah “otonom”, sedangkan pemerintahan Pusat di Daerah dilaksankan menurut asa dekonsentrasi yang disebut “Wilayah Administratif”. Pemerintahan wilayah administratif, tidak mempunyai dasar konstitusional, melainkan dasar extra-konstitusional. Sistem Rumah Tangga Daerah Berdasarkan penjelasan umum butir 1.e UU No. 5 Tahun 1974, sistem rumah tangga daerah yang digunakan adalah “otonomi yang nyata” tentu sama saja dengan sistem “otonomi riil” yaang dipergunakan pada UU No. 1 Tahun 1957 dan UU No. 18 Tahun 1965. Ada pertimbangan utama utama untuk meninggalkan prinsip otonomi seluas-luasnya, yaitu: 1. pertimbangan demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia 2. pertimbangan “otonomi seluas-luasnya tidak sesuai dengan tujuan pemberian otonomi dan prinsip-prinsip yang digariskan di dalam GBHN. Otonomi daerah menurut UU No. 22 Tahun 1999 Pengaruh Perkembangan Keadaan Globalisasi UU No. 5 Tahun 1974 tentang pokok-pokok Pemerintahan di Daerah yang hanya mengatur mengenai Daerah Otonom dan Wilayah Administratif dipandang tidak dapat menampung perkembangan keadaan. Oleh karena itu, di dalam menghapadi perkembangan keadaan, baik di dalam maupun diluar negeri serta tantangan persaingan Global yang semakin ketat, dipandang perlu menyelenggarakan Otonomi Daerah dengan memberikan kewenangan yang luas, nyata, danbertanggung jawab kepada Daerah. Ruang Lingkup UU No. 22 Tahun 1999 Di dalam penjelsan umum 1.c UU No. 22 Tahun1999 diterangkan bahwa Undang-undang ini disebut “Udang-undang tentang Pemerintahan Daerah” karena Undang-undang ini pada prinsipnya mengatur penyelenggaraan pemerintahan Daerah yang lebih mengutamakan pelaksanaan atas Desentralisai. Penjelasan ini berarti bahwa pembagian kewenangan secara vertikal yang bertalian dengan sendi negara sentralisasi dan desentralisasi, khususnya desentralisasi. Sistem Rumah Tangga Daerah Pada daerah kabupaten dan daerah kota didasarkan hanya pada asa desentralisasi, dalam wujud otonomi yang luas, nyata, dan bertanggung jawab:

1.

Otonomi yang luas maksudnya adalah keleluasaan Daerah untuk menyelenggarakan pemerintahan, kecuali kewenangan di bidang politik. 2. 2. Otonomi yang nyata maksudnya adalah keleluasaan Daerah untuk menyelenggarakan kewenangan pemerintahan dibidang tertentu yang secara nyata ada dan diperlukan serta tumbuh, hidup, dan berkembang di Daerah. 3. 3. Otonomi yang bertanggung jawab maksudnya adalah perwujudan pertanggung jawaban sebagai konsekuensi pemberian hak dan wewenang kepada Daerah dalam wujud tugas dan kewajiban.

Pengaturan Otonomi Seluas luasnya Berdasarkan UUD 1945
Pengaturan Otonomi Seluas-luasnya Berdasarkan UUD 1945 Oleh : Dr. Iis Krisnandar, SH.CN . Pelaksanaan Otonomi daerah di Negara Kesatuan Republik Indonesia mengalami pasang surut sejak kemerdekaan sampai dengan sekarang. Setelah adanya amandemen kedua UUD 1945 telah ditentukan bentuk otonomi yang dianut yaitu otonomi yang seluasluasnya. Namun demikian dalam UU No. 32 Tahun 2004 masih terdapat inkosistensi dari makna otonomi seluas-luasnya dan ketidak jelasan pembagian urusan tiap-tiap susunan pemerintahan A. Pendahuluan Sejak kemerdekaan Indonesia, pengaturan otonomi daerah selalu berubah-ubah mulai diatur dalam UU No. 1 Tahun 1945 dan lebih tegas dalam UU No. 22 Tahun 1948 sampai dengan saat ini dengan berlakunya UU No. 32 Tahun 2004. Sering terjadinya perubahan UU pemerintahan daerah dipengaruhi oleh dua keadaan, pertama : Konstitusi (UUD 1945 sebelum amademen) memberikan kebebasan kepada pembuat undang-undang untuk menentukan bentuk otonomi, kedua : pengaturan otonomi diwarnai konfigurasi politik yang berkembang saat itu dan adanya spanning kepentingan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Terlepas dari kepentingan politik terhadap pengaturan otonomi daerah, dimulai dengan adanya amandemen kedua UUD 1945 terutama Pasal 18 terdapat ketentuan yang jelas bentuk otonomi apa yang akan diberikan kepada daerah. Pengaturan otonomi daerah dalam UUD 1945 ini merupakan tonggak sejarah bagi pelaksanaan pemerintahan daerah, oleh karena itu undang-undang pemerintahan daerah harus dijiwai oleh semangat otonomi seluas-luasnya akan tetapi tetap dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. B. Identifikasi Masalah Bagaimana implementasi otonomi seluas-luasnya berdasarkan UUD 1945 dalam pengaturan undang-undang pemerintah daerah saat ini?

C. Kerangka Teori Bentuk negara di dunia pada dewasa ini terdapat 2 (dua) bentuk yaitu bentuk negara federal (serikat) dan negara kesatuan, sedangkan satu lagi bentuk negara konfederasi sudah ditinggalkan menjadi bentuk Negara federal atau kesatuan . Bentuk negara yang dianut oleh Negara Republik Indonesia adalah bentuk negara kesatuan sebagaimana tercantum dalam Pasal 1 ayat (1) UUD 1945 yang menyatakan : Negara Indonesia adalah Negara Kesatuan yang berbentuk Republik. Pengertian Negara kesatuan adalah the habitual exercise of supreme authority by one control, lebih lanjut C.F. Strong menyatakan bahwa the essential qualities of a unitary state may therefore be said to be : 1) the supremacy of the control parliament 2) the absence of subsiadary soverign bodies Pendapat tersebut dapat dirumuskan bahwa Negara Kesatuan adalah suatu Negara yang merdeka dan berdaulat yang berkuasa hanya satu pemerintahan yaitu pemerintah pusat yang mengatur seluruh daerah sebagai bagian dari negara. Pemerintah pusat dalam menjalankan pemerintahannya terdapat dua subsistem pemerintahan yaitu : Pertama : Negara Kesatuan dengan sistem sentralisasi, berarti seluruh kewenangan pemerintahan baik di pusat maupun di daerah diatur dan diurus oleh pemerintah pusat disebut dengan sistem konsentrasi. Dalam sistem konsentrasi ini tidak ada daerah atau wilayah bawahan. Kemudian dalam sistem sentralisasi ini ada pula yang memakai sistem pemencaran kewenangan yaitu yang melaksanakan kewenangan pusat didelegasikan kepada pejabat-pejabat yang ada di daerah untuk melaksanakan kehendak dari

pemerintah pusat, hal ini disebut dengan sistem dekonsentrasi. Kedua : Negara kesatuan dengan sistem desentralisasi, berarti sebagian kewenangan pemerintah pusat dilimpahkan kepada daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Salah satu latar belakang Negara Kesatuan yang menganut sistem desentralisasi seperti halnya Negara Indonesia adalah luas wilayah, makin banyaknya tugas yang harus diurus oleh pemerintah pusat adanya perbedaan daerah yang satu dengan yang lain yang sukar diatur dan diurus secara sama (uniform) oleh pemerintah pusat. Pengetian etimologis desentralisasi berasal dari bahasa latin yang berarti lepas dari pusat, kemudian dalam kamus wesber memberikan perumusan : to dezentralize means to devide and distribute, as governmental administration to withdraw from the center or place of concentration (desentralisasi berarti membagi dan mendistribusikan, misalnya administrasi pemerintahan, mengeluarkan dari pusat atau tempat konsentrasi). Pengertian Desentralisasi terdapat pendapat yang berlainan diantara para ahli, diantaranya Hans Kelsen membahas desentrralisasi diimplemantsikan dalam tatanan hukum (legal order) yang berlaku untuk wilayah tertentu atau bagian-bagian wilayah yang berbeda (decentral or local norm) yang membagi dalam dua macam desentralisasi yaitu desentralisasi statis dan dinamis Rondinelli dan cheema mengartikan decentralization decentralization is the transfer of planning, decision-making, or administrative authority from the central government to its field organizations, local administrative units, semi-autonomous and parastatal organizations, local government, or nongovernmental organizations, (desentralisasi adalah perpindahan perencanaan, pegambilan keputusan, atau otoritas administratif dari pemerintah pusat pusat ke organisasi bidangnya, unit administratif local, semiautonomous dan parastatal organisasi, pemerintah local, atau organisasi non pemerintah). Kemudian Bayu Surianingrat dan R. Tresna dalam Bukunya Bertamsja Ke- Taman Ketatanegaraan mengemukakan desentralisasi dikenal dalam 2 macam, yaitu desentralisasi jabatan (ambtelijke desentralisatie) dapat juga disebut dengan dekonsentrasi dan desentralisasi kenegaraan (staatskundige desentralisatie), desentralisasi kenegaraan ini dibagi dua yaitu desentralisasi territorial (territoriale decentralisatie) dan desentralisasi fungsional (functionele decentralisatie), kemudian Van der Pot yang membagi desentralisasi dalam dua bagian yaitu desentralisasi territorial ( teritorriale decentralisatie ) dan desentralisasi fungsional ( fungctioneele decentralisatie). Dari uraian berbagai pendapat tersebut pengertian desentralisasi dapat digolongkan kedalam kelompok sebagai berikut : Pertama : Desentralisasi dilihat dari segi berlakunya tatanan hukum (legal order), pendapat ini dikemukakan oleh Hans Kelsen, dan Kedua : Desentralisasi dilihat dari pemencaran kewenangan, kebanyakan para sarjana yang telah disebutkan diatas, terbagi lagi dalam kelompok : 1). Pengertian desentralisasi mencakup dekonsentrasi, yaitu Bayu Surianingrat, Tresna, Bulthuis, Rondinelli dan cheema, Riggs dan Ateng Syarifudin. Walaupun sama-sama memasukkan dekonsentrasi dalam pengertian desentralisasi namun terdapat beberapa perbedaan bentuk-bentuk desentralisasi yang seperti tersebut yang dikemukakan diatas. 2). Pengertian desentralisasi tidak mencakup dekonsentrasi, yaitu Van Der Pot yang membagi desentralisasi territorial dan desentralisasi fungsional demikian juga Amrah Muslimin, walaupun pengertian desentralisasi dan dekonsentrasi masing-masing mengandung pengertian sendiri tapi keduanya merupakan termasuk dalam asas kedaerahan. Dari pelbagai rumusan desentralisasi pendapat para ahli tersebut dalam perundang-undangan di Indonesia umumnya menggunakan desentralisasi territorial dan desentralisasi fungsional yang berwujud dalam bentuk otonomi dan tugas pembantuan (medebewind). Menurut Logeman dalam tulisannya Het Staatsrecht der zelfregende gemeenschappen yang dikutip dan diterjemahkan Ateng Syafrudin menerangkan bahwa otonomi daerah adalah kebebasan bergerak yang diberikan kepada daerah otonom berarti memberikan kesempatan kepadanya untuk mempergunakan prakasanya sendiri dari segala macam kekuasaannya, untuk mengurus kepentingan umum (penduduk). Ateng Syafrudin lebih lanjut menerangkan bahwa istilah otonomi mempunyai makna kebebasan atau kemandirian (zelfstandigheid) tetapi bukan kemerdekaan (onafhankelijkheid). Mengatur dan mengurus rumah tangga daerah dalam teori pada umumnya dikenal ada tiga ajaran, yaitu : Pertama : ajaran rumah tangga materiil (materiele huishoundingleer), menurut ajaran ini pembagian tugas, antara pemerintah pusat dan daerah ada pembagian tugas, kewenangan, dan tanggung jawab yang dirinci secara pasti atau limitatif di dalam peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar pembentukan daerah, ada materiale taakverdeling. Artinya rumah tangga daerah itu hanya meliputi tugas-tugas yang ditentukan satu per satu, jadi secara limitatif diatur didalam undang-undang pembentukan daerah itu. Kedua : ajaran rumah tangga formal (formale huishoundingleer), ajaran ini merupakan kebalikan dari ajaran rumah tangga materiil. Dalam ajaran rumah tangga formal kewenangan daerah tidak dirumuskan secara terperinci dalam UU pembentukan daerah melainkan dirumuskan asas-asasnya saja. Batasan kewenangan daerah ditentukan apa yang menjadi kewenangan pemerintah pusat yang diatur dalam peraturan perundang-undangan sedangkan sisanya merupakan urusan rumah tangga daerah. Ketiga : ajaran rumah tangga riil (reele huis houndingsleer), pengertian ajaran ini adalah suatu sistem yang didasarkan kepada keadaan dan faktor-faktor yang nyata, sehingga tercapai harmoni antara tugas dengan kemampuan dan kekuatan, baik dalam daerah itu sendiri, maupun dengan pemerintah pusat.

Pengertian Otonomi Daerah Makalah, Tujuan, Prinsip, Undang Undang

Pengertian Otonomi Daerah - Dalam Undang-Undang No. 32 tahun 2004 pasal 1 ayat 5, pengertian otonomi derah adalah hak ,wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintah dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Sedangkan menurut Suparmoko (2002:61) mengartikan otonomi daerah adalah kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat. Judul Artikel ini Adalah (Pengertian Otonomi Daerah Makalah, Tujuan, Prinsip, Undang Undang Otonomi Daerah) Sesuai dengan penjelasan Undang-Undang No. 32 tahun 2004, bahwa pemberian kewenangan otonomi daerah dan kabupaten / kota didasarkan kepada desentralisasi dalam wujud otonomi yang luas, nyata dan bertanggung jawab. a. Kewenangan Otonomi Luas Yang dimaksud dengan kewenangan otonomi luas adalah keleluasaan daerah untuk menyelenggarakan pemerintahan yang mencakup semua bidang pemerintahan kecuali bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter dan fiscal agama serta kewenangan dibidang lainnya ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. Disamping itu keleluasaan otonomi mencakup pula kewenangan yang utuh dan bulat dalam penyelenggaraan mulai dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, pengendalian dan evaluasi. b. Otonomi Nyata Otonomi nyata adalah keleluasaan daerah untuk menyelenggarakan kewenangan pemerintah di bidang tertentu yang secara nyata ada dan diperlukan serta tumbuh hidup dan berkembang di daerah. c. Otonomi Yang Bertanggung Jawab Otonomi yang bertanggung jawab adalah berupa perwujudan pertanggung jawaban sebagai konsekuensi pemberian hak dan kewenangan kepada daerah dalam mencapai tujuan pemberian otonomi berupa peningkatan dan kesejahteraan masyarakat yang semakin baik, pengembangan kehidupan demokrasi, keadilan dan pemerataan serta pemeliharaan hubungan yang sehat antara pusat dan daerah serta antar daerah dalam rangka menjaga Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berdasarkan UU No. 32 tahun 2004 pasal 1 ayat 7, 8, 9 tentang Pemerintah Daerah, ada 3 dasar sistem hubungan antara pusat dan daerah yaitu :  Desentralisasi yaitu penyerahan wewenang pemerintah pusat kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.  Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah dan atau kepada instansi vertikal di wilayah tertentu  Tugas perbantuan adalah penugasan dari pemerintah kepada daerah dan atau desa atau sebutan lain dengan kewajiban melaporkan dan mempertanggung jawabkan pelaksanaannya kepada yang menugaskan.

Daerah Otonom Dalam Undang-Undang No. 32 tahun 2004 pasl 1 ayat 6 menyebutkan bahwa daerah otonomi selanjutnya disebut daerah adalah kesatuan masyarakat yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara kesatuan Republik Indonesia. Menurut Profesor Oppenhein (dalam Mohammad Jimmi Ibrahim, 1991:50) bahwa daerah otonom adalah bagian organis daripada negara, maka daerah otonom mempunyai kehidupan sendiri yang bersifat mandiri dengan kata lain tetap terikat dengan negara kesatuan. Daerah otonom ini merupakan masyarakat hukum yaitu berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Hakekat, Tujuan dan Prinsip Otonomi Daerah a. Hakekat Otonomi Daerah Pelaksanaan otonomi daerah pada hakekatnya adalah upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan melaksanakan kegiatan-kegiatan pembangunan sesuai dengan kehendak dan kepentingan masyarakat. Berkaiatan dengan hakekat otonomi daerah tersebut yang berkenaan dengan pelimpahan wewenang pengambilan keputusan kebijakan, pengelolaan dana publik dan pengaturan kegiatan dalam penyelenggaraan pemerintah dan pelayanan masyarakat maka peranan data keuangan daerah sangat dibututuhkan untuk mengidentifikasi sumber-sumber pembiayaan daerah serta jenis dan besar belanja yang harus dikeluarkan agar perencanaan keuangan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. Data keuangan daerah yang memberikan gambaran statistik perkembangan anggaran dan realisasi, baik penerimaan maupun pengeluaran dan analisa terhadapnya merupakan informasi yang penting terutama untuk membuat kebijakan dalam pengelolaan keuangan daerah untuk meliahat kemampuan/ kemandirian daerah (Yuliati, 2001:22) b. Tujuan Otonomi Daerah Menurut Mardiasmo (Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah) adalah: Untuk meningkatkan pelayanan publik (public service) dam memajukan perekonomian daerah. Pada dasarnya terkandung tiga misi utama pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal, yaitu:  Meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat.  Menciptakan efisiensi dan efektivitas pengelolaan sumber daya daerah.

Memberdayakan dan menciptakan ruang bagi masyarakat (publik) untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan.

Selanjutnya tujuan otonomi daerah menurut penjelasan Undang-undang No 32 tahun 2004 pada dasarnya adalah sama yaitu otonomi daerah diarahkan untuk memacu pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya, meningkatkan kesejahteraan rakyat, menggalakkan prakarsa dan peran serta aktif masyarakat secara nyata, dinamis, dan bertanggung jawab sehingga memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa, mengurangi beban pemerintah pusat dan campur tangan di daerah yang akan memberikan peluang untuk koordinasi tingkat lokal.

c. Prinsip Otonomi Daerah Menurut penjelasan Undang-Undang No. 32 tahun 2004, prinsip penyelenggaraan otonomi daerah adalah : 1. penyelenggaraan otonomi daerah dilaksanakan dengan aspek demokrasi, keadilan, pemerataan serta potensi dan keaneka ragaman daerah. 2. Pelaksanaan otonomi daerah didasarkan pada otonomi luas, nyata dan bertanggung jawab. 3. pelaksanaan otonomi daerah yang luas dan utuh diletakkan pada daerah dan daerah kota, sedangkan otonomi provinsi adalah otonomi yang terbatas. 4. Pelaksanaan otonomi harus sesuai dengan konstitusi negara sehingga tetap terjamin hubungan yang serasi antara pusat dan daerah. 5. Pelaksanaan otonomi daerah harus lebih meningkatkan kemandirian daerah kabupaten dan derah kota tidak lagi wilayah administrasi. Demikian pula di kawasan-kawasan khusus yang dibina oleh pemerintah. 6. Pelaksanaan otonomi daerah harus lebih meningkatkan peranan dan fungsi badan legislatif daerah baik sebagai fungsi legislatif, fungsi pengawasan, mempunyai fungsi anggaran atas penyelenggaraan otonomi daerah. 7. Pelaksanaan dekonsentrasi diletakkan pada daerah propinsi dalam kedudukan sebagai wilayah administrasi untuk melaksanakan kewenangan pemerintah tertentu dilimpahkan kepada gubernur sebagai wakil pemerintah. 8. Pelaksanaan asas tugas pembantuan dimungkinkan tidak hanya di pemerintah daerah dan daerah kepada desa yang disertai pembiayaan, sarana dan pra sarana serta sumber daya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanaan dan mempertanggung jawabkan kepada yang menugaskan. Daftar Pustaka - Pengertian Otonomi Daerah Makalah, Tujuan, Prinsip, Undang Undang UU RI. 2004. Undang-UndangRipublikIndonesia 2002. Jimmi Ibrahiin. 1991. Ekonomi Prospek Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. ANDI. Dahara Prize.

Suparmoko. Mohammad

Publik. Otonomi Daerah.

Yogyakarta: Semarang :

Yuliati. 2001. Analisis Kemampuan Keuangan Daerah dalam menghadapai Otonomi Daerah, Manajemen Keuangan Daerah. Yogyakarta: UPP YKPN.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->