P. 1
METODE ISTINBAT

METODE ISTINBAT

|Views: 453|Likes:
Published by Suharto Putra

More info:

Published by: Suharto Putra on Jul 09, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/15/2015

pdf

text

original

MAKALAH Ushul fiqh

Metode istinbat

DI SUSUN OLEH : Murtadlo Baedlowi

Jakarta, 4 Juni 2013 PRODI ILMU HUKUM

FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
Jl.Ir.H.juanda no.95 ciputat 15412 jakarta, Indonesia

BAB I PENDAHULUAN Kata thuruq berasal dari bahasa arab bentuk jamak (plural) dari kata thariqun yang artinya jalan, metode, atau cara. Adapun kata istinbat secara istilah sebagaimana didefinisikan oleh Muhammad bin Ali Al Fayumi (w.770 H) seorang ahli bahasa arab dan fiqh yaitu “upaya menarik hokum dari Al qur’an dan sunnah dengan jalan ijtihad ”. Dengan demikian, thuruq al istinbath berarti cara menarik (menetapkan) hukum dengan cara ijtihad. Al Qur‘an dan sunnah sebagai suber hukum islam dalam mengungkap pesan hukumnya menggunakan berbagai macam cara, adakalanya dengan tegas dan adakalanya tidak tegas, ada yang melalui arti bahasanya da nada juga dengan mengedepankan maqhasid ahkamnya (tujuan hukum). Dan disatu kondisi juga terdapat pertentangan antara satu dalil dan dalil lainnya yang memerlukan penyelesaiannya. Ushul fiqh menampilkan berbagai macam cara dengan berbagai aspeknya untuk menangkap pesan-pesan hokum yang ditampilkan oleh Al Qur’an maupun sunnah.

BAB II PEMBAHASAN Metode istinbat dapat dilakukan dengan tiga cara. Pertama, melihat aspek kebahasaan; kedua, mengkaji maqhasid syari’ah (tujuan hukum); dan ketiga, penyelesaian beberapa dalil yang secara lahiriah bertentangan.

A. Metode Istinbat Melalui Aspek Kebahasaan

Untuk memahami pesan hukum yang terkandung dalam Al Qur’an dan sunnah para ulama ushul telah menyusun semacan semantic yang kemudian digunakan dalam praktek penalaran fiqh. Al Qur’an telah menyampaikan pesan hukumnya melalui gaya bahasa dengan berbagai tingkat kejelasannya. Para ulama ushul fiqh telah mampu menciptakan kaidah-kaidah kebahasaan (ushuliyah) yang terpenting untuk memahami pesan hokum Al Qur’an dan sunnah dari aspek kebahasaan sebgai berikut:

1. ‘Am dan Khas a. ‘Am secara bahasa ‘am berarti yang umum, merata, dan menyeluruh. Adapun ‘am menurut istilah sebagaimana dikemukakan oleh Abdul Khamid Hakim ialah:

ُ ‫ظ‬ ُ ‫فع‬ ‫ه‬ ْ‫و الل ّ ُظ‬ َ ِ‫س عت َغ ُظْر‬ ِ ‫ج‬ ُ ُ ‫ص عل‬ َ ِ‫ق ل‬ ُ ‫العَععما‬ ْ‫الم ُظ‬ ُ ‫ح ل َع‬ َ ‫ع‬ ْ‫مععما ي َ ُظ‬ َ ‫م هُ ع‬ ِ ‫مي ُظْع‬ ‫ة‬ ً َ‫حدٍ د َف ُظْع‬ ِ ‫وا‬ ْ‫ب وَ ُظ‬ َ ِ‫ب‬ ْ‫ح ُظ‬ ِ ‫س‬ َ ‫ع‬ ِ ‫ض‬

Artinya: “’am adalah lafad yang menunjukan pengertian umum yang mencakup satuan-satuan (afrad) yang ada pada lafad itu tanpa pembatasan jumlah tertentu”. Contohnya kata “al-insaanu” artinya manusia (mencakup segala jenis manusia).

b. Khas secara bahasa khas berarti tertentu. Adapun khas dalam istilah ushul fiqh ialah lafad yang menunjukan arti satu yanmg telah tertentu . Makna satu yang tertentu ini biasa menunjukan perorangan seperti Ibrahim atau menunjukkan satu jenis seperti laki-laki atau menunjukkan bilangan seperti dua belas, lima belas, sebuah masyarakat, sekumpulam, dan sekelompok. 2. Amr dan Nahi a. Amr Secara bahasa amr berarti perintah. Adapun menurut istilah amr berarti:

ْ‫ل ى ا ُظ‬ َ ِ ‫ل ى إ‬ َ ْ‫م ن ال َع ُظ‬ ‫ن ى‬ ِ ْ‫ب ا ُظ‬ َ ْ‫ل َد ُظ‬ ِ ‫ل‬ ُ َ ‫ط َل‬ ِ ْ‫لفع ُظ‬
Artinya: “ menuntut pekerjaan untuk dilakukan dari orang yang derajatnya lebih tinggi kepada orang yang derajatnya lebih rendah”. Contohnya Allah memerintahkan hambanya untuk berdzikir, dosen memerintah kepada mahasiswanya untuk membuat tugas makalah diskusi. b. Nahi Secara bahasa nahi bisa berarti larangan atau mencegah. Adapun dalam istilah ushul, nahi berarti;

‫النهي هو طلب الكف ع ن الفعل‬

“tuntutan untuk meninggalkan perbuatan”. Jumhur ulama sepakat bahwa pada

asalnya nahi itu mengandung hokum haram karena semua bentuk larangan akan mendatangkan kerusakan. Contohnya larangan merusak alam, larangan berzina, larangan berlaku riba, dan sebagainya. c. Takhyir Menurut Abd. Karim Zaidan sebagaimana dikutip oleh Satria Efendi:

‫مما خير الشما رع المكلف بي ن فعله وتركه‬
Artinya: “ alternatif pilihan yang ditawarkan oleh syari’ (Allah dan RasulNya) kepada mukallaf untuk mengerjakan sesuatu atau meninggalkannya”.

Contoh:

َ ِ‫ث إ‬ ّ ‫ح‬ ...‫م‬ ِ ‫سما‬ ُ َ‫رف‬ َ َ ‫م ل َي ُظْل‬ ِ ُ‫أ‬ ِ ‫ة ال‬ َ ‫ص‬ َ ِ ‫ل ى ن‬ ْ‫ءك ُ ُظ‬ ْ‫ل ل َك ُ ُظ‬ ّ ‫يمام ِ ال‬
Artinya: dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu... (QS. Al-Baqarah/2:187) Kandungan diatas menunjukkan hukum boleh bagi suami mencampuri istri-istrinya pada malam puasa bulan ramadhan. 3. Mutlaq dan Muqayyad a. Mutlaq ialah lafad yang menunjukan sesuatu yang tidak dibatasi oleh sesuatu batasan yang akan mengurangi jangkauan maknanya secara keseluruhan. Contohnya “‫ة‬ ٍ َ ‫رقَب‬ َ

‫ر‬ ْ‫ "فَت َ ُظ‬kata yang digaris bawahi adalah kata mutlak. ُ ْ‫حرِي ُظ‬

Artinya mencakup budak secara mutlak. Tidak terbatas satu atau lebih dan tidak dibatasi apakah budak mukmin ataupun bukan mukmin. b. Muqayyad

Ialah lafad yang menunjukkan sesuatu yang sudah dibatasi baik oleh sifat, syarat, dan ghayah. Contohnya: mukmin. 4. Mujmal dan Mubayyan a. Mujmal Mujmal adalah lafad yang mencakup kemungkinan segala keadaan dan hokum yang terkandung didalamnya. Lafad mujmal tidak dapat dikaetahui secara jelas tanpa adanya mubayyan (penjelas). Abdul wahab khalaf mendefinisikan mujmal adalah “lafad yang pengertiannya tidak dapat dimengerti oleh lafad itu sendiri apa bila tidak ada qarinah yang menjelaskannya”. Dengan kata lain mujmal adalah kalimat yang belum jelas. Seperti perintah shalat, perintah zakat, perintah haji, dan keharaman riba. Empat contoh yang tersebut terakhir ini adalah makna ayat-ayat Al Qur’an yang mujmal (global) yang membutuhkan penjelasan syariat tetapi tidak ada penjelasan dari ayat-ayat lain. Maka datang hadist-hadist nabi berupa perkataan dan perbuatan beliau yang menjelaskan perkara-perkara mujmal sehingga hukumnya menjadi jelas dan dapat diamalkan. Perintah shalat dijelaskan oleh hadis nabi melalui hadisnya: Yang artinya: “shalatlah kamu semua sebagaimana kamu melihatku shalat”. (HR. Bukhari) Tentang haji dijelaskan oleh hadis nabi: Yang artinya: “ambillah dariku tentang cara-caraku dalam beribadah haji”. Bentuk kedua inilah yang disebut dalam istilah hadis dengan tafsir tasyri’I, karena bersumber kepada syariat yaitu rasul dan rasul diberikan kemampuan untuk menafsirkan dan menjelaskan firman-Nya.

ٍ‫من َة‬ ِ ْ‫مؤ ُظ‬ ْ‫فَت َ ُظ‬ ُ ٍ‫رقَب َة‬ َ ‫ر‬ ُ ْ‫حرِي ُظ‬

kata

budak pada ayat tadi tidak lagi bersifat mutlak karena sudah dibatasi oleh kata

b. Mubayyan

Mubayyan secara bahasa (etimologi) berarti yang ditampakkan dan yang dijelaskan. Sedangkan secara terminology mubayyan adalah seperti yang didefinisikan oleh al-Asnawi sebagai berikut: “Mubayyan adalah lafadz yang jelas (maknanya) dengan sendirinya atau dengan lafadz lainnya”. Contoh yang dapat dipahami maksudnya dengan asal peletakannya: Lafadz langit (samaaun), gunung (jabalun), bumi (ardun). Maka kata-kata ini dan yang semisalnya dapat dipahami dengan asal peletakannya, dan tidak membutuhkan dalil yang lain dalam menjelaskan maknanya. Contoh yang dapat dipahami maksudnya setelah ada penjelasan: dalam surat al-Baqarah ayat 43 yang artinya: “Dan dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat”. Maka mendirikan sholat dan menunaikan zakat, keduanya adalah mujmal tetapi pembuat syari’at (Allah) telah menjelaskannya, maka lafadz keduanya menjadi jelas. Dalam hubungannya dengan mubayyan, maka dapat kita pahami ada tiga hal di sini. Pertama, adanya lafadz yang mujmal yang memerlukan penjelasan atau disebut mubayyan (yang dijelaskan). Kedua, ada lafadz lain yang menjelaskan lafadz yang mujmal tadi atau disebut mubayyin (yang menjelaskan). Ketiga, adanya penjelasan atau yang disebut bayaan.

5. Mantuq dan Mafhum a. Mantuq Mantuq adalah lafad yang kandungan hukumnya dipahami dari apa yang diucapkan. Dengan kata lain bahwa mantuk ialah makna yang tersurat

(terbaca). Contohnya: “diharamkan bagi kamu bangkai”. Mantuq dari ayat ini adalah bangkai itu hukumnya haram. b. Mafhum Mafhum adalah lafad yang kandungan hukumnya dipahami dari apa yang terdapat dari arti mantuq-nya. Dengan kata lain manfhum itu disebut dengan makna yang tersirat. Contoh:

َ َ‫ف‬... ْ‫ق ُظ‬ ...‫ف‬ ُ َ‫ل ت‬ ّ ُ ‫مما أ‬ َ ُ‫ل ل َه‬
Artinya: ...maka janganlah kamu sekali-kali mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”...(QS. As-Isra/17:23). Mafhum dari ayat diatas adalah haram berkata “ah” kepada kedua orang tua, mencaci, menghina, dan lain sebagainya apa lagi memukulnya. 6. Lafad dilihat dari kejelasan maknanya Kalangan hanafiyah sebagaimana dijelaskan oleh Adib Shalih yang dikutip oleh Satria Effendi mengelompokkan lafad dari segi kejelasan maknanya (dalalahnya) menjadi dua macam, pertama lafad yang artinya jelas yang meliputi empat tingkatan yaitu: zahir, Nas, Muffasar, dan Mukhkam. Kedua lafad yang maknanya tidak jelas yang meliputi empat tingkatan juga yaitu: khafi, Musykil, dan Mutasyabih. Berikut ini akan dibahas satu persatu dari kedua macam bentuk lafad dilihat dari maknanya tersebut. a. Lafad yang jelas dalalahnya 1. Zahir Zahir secara bahasa berate al-wuduh (jelas) secara istilah sebagaimana dikemukakan oleh Abdul Wahab Khallaf ialah lafad yang menunjkkan arti secara lagsung dari nas itu tanpa memerlukan penyerta lain yang datang dari luar untuk memahami maksud nas itu, akan tetapi bukan pengertian itu yang menjadi maksud utama dari pengucapannya.

Contohnya:

ّ ‫ح‬ ...‫بوا‬ َ‫ر‬ َ َ‫ع و‬ َ ْ‫ه ال ُظْب َي ُظ‬ َ َ ‫وَا‬... َ ‫ر‬ ُ ‫ل الل‬ ّ ‫م ال‬ ّ ‫ح‬
Artinya: … Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba… (QS. Al-baqarah/2:275). Makna zahir dari ayat diatas yang secara cepat dapat ditangkap pemahamannya adalah kehalalan jual beli dan keharaman riba. Kata haal dan haram telah jelas arti dan maksudnya tanpa membutuhkan qarinah dari luar. Tetapi bukan itu yang menjadi tujuan utama ari kontek ayat diatas. Tujuan utamanya atau makna nasnya adalah perbeaan antara jual beli dan riba, karena ayat ini turun sebagai bantahan bagi orang musyrik yang mengatakan bahwa jual beli itu sama dengan riba. 2. Nas Secara bahasa nas berarti al-zuhur (jelas). Secara istilah, nas bisa memiliki dua pengertian yaitu pengertian umum dan pengertian khusus. Pengertia pertama (umum) sebagaimana dikemukakan oleh imam syafi’i, nas adalah teks Al Qur’an dan hadis Rasulullah baik yang tegas maupun yang tidak tegas. Berdasarkan pengertian ini, maka istilah nas diperuntukkan untuk Al Qur’an dan hadis. Nas dalam pengertian kedua (khusus), dan pengertian kedua inilah yang akan menjadi pokok pembahasa, yaitu lafad yang menunjukkan makna asli yang muncul dari lafad itu secara jelas, tidak mungkin mengandung makna lain, pengertiannya cepat ditangkap ketika mendengar lafa itu. Seperti kata sepuluh (asyaratun) dari ayat berikut ini:

َ ‫م‬ ...‫ة‬ ٍ َ‫سععب ُظْع‬ ِ ٍ ‫يمام‬ ِ َ ‫ثلث‬ ِ َ‫جد ُظْ ف‬ ّ ‫ح‬ َ ْ‫في ال ُظ‬ ّ َ‫ة ا‬ َ ‫ص‬ ُ ‫يما‬ َ ‫و‬ ِ َ‫م ي‬ ْ‫ ن ل َ ُظ‬ َ َ‫ف‬ َ ‫ج‬ ْ‫م ُظ‬ َ ٌ‫رة‬ َ ‫ة ذ َل ِع‬ َ ْ‫م ت ِل ُظ‬ ْ‫ك عَ ُظ‬ َ ِ‫ا‬ ‫ ن‬ ِ ‫ك‬ ٌ ‫مل َع‬ ِ ‫كما‬ َ ‫ر‬ ْ‫ ن ل َع ُظ‬ ْ‫جع ُظْت ُ ُظ‬ ْ‫م ي َك ُع ُظ‬ ْ‫لمع ُظ‬ َ ‫شع‬ َ ‫ذا‬ ْ‫ر ى ُظ‬ ِ ‫حما‬ َ ْ‫جدِ ال ُظ‬ َ ‫ه‬ ْ‫الم ُظ‬ ِ ‫س‬ ُ ُ ‫ا َه ُظْل‬... َ ‫ح‬ ِ ‫ض‬ ِ ‫رام‬

Artinya: …tetapi jika tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari lagi apabila kamu kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (disekitar) masjidil haram (orang-orang yang bukan penduduk kota mekkah)… (QS. 3. Mufassar Menurut ulama ushul fiqh berarti lafad yang menunjukkan kepada maknanya secara jelas dan terperinci yang tidak mungkin menerima ta’wil ( dipalingkan maknanya). Contoh:

َ ْ‫ ُظ‬ ُ ‫ة‬ ِ ‫دا‬ ‫ء‬ ِ َ‫رب َع‬ ِ َ ‫صن‬ َ َ ‫شه‬ ْ‫م ُظ‬ َ ْ‫مو ُظ‬ ْ‫م ل َ ُظ‬ ّ ُ‫ت ث‬ ُ ْ‫ن ال ُظ‬ ُ ‫ر‬ َ ‫ح‬ ْ‫وا ب ِأ ُظ‬ ْ‫م ي َأت ُ ُظ‬ ْ‫ ن ي َ ُظ‬ َ ْ‫وال ّذِي ُظ‬ َ َ َ َ‫جل ُظْعد َةً و‬ َ َ ‫م‬ ‫دا‬ ‫قب َل ُع‬ ْ‫لت َ ُظ‬ ً ‫شعهَد َةً أب َع‬ َ ‫ ن‬ ْ‫فما ُظ‬ ْ‫عوا ل َهُع ُظ‬ َ َ‫م ث‬ ْ‫جل ِد ُو ُظْهُ ُظ‬ َ ْ‫من ِي ُظ‬ ُ‫و‬ ْ‫م ُظ‬ َ ِ ‫أول َى‬ ‫ن‬ َ ‫ال‬ ِ ‫س‬ َ ْ‫قو ُظ‬ َ ‫فما‬ ُ ُ‫ك ه‬ َ
Artinya: dan prang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik ( berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka ( yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya dan mereka itulah orangorang yang fasik (QS. An-nuur/24:4). Jumlaha delapan puluh kali dera adalah mufassar karena maknanya sudah jelas tanpa perlu ada penambahan dan pengurangan dan tidak perlu ta’wil. Hukuman delapan puluh kali dera ini diperuntukkan bagi pelaku qazaf, yaitu seseorang yang menuduh orang baik berzina tanpa saksi. 4. Muhkam Sebagaimana didefinisikan oleh Abu Zahra adalah kalimat yang menunjukkan maknanya dengan jelas yang tidak menerima kemunkinan ta’wil (dipalingkan kepada makna lain) dan tidak menerima takhsis. Abdul Wahab Khallaf menegaskan bahwa lafad muhkam tidak bias dibatalkan hukumnya, tidak dapat diganti karena maknannya yang sudah

jelas dan juga tidak dapat menerima nasakh karena lafad muhkam berisi antara lain: a. Tentang ajaran-ajaran pokok agama yang tidak menerima nasakh (penggantian) seperti ibadah kepada Allah dan beriman kepada kitabkitab dan Rasul. b. Perbuatan-perbuatan utama yang tidak diperselisihkan seperti berbuat baik kepada kedua orang tua, berbuat adil dan sebagainya. c. Hokum cabang (fiqh) yang diabadikan oleh syariat seperti status orang yang menuduh orang baik denga berzinah (qazhif), maka kesaksiannya tidak dapat diterima selama-lamanya dan hokum jihad yang abadi sebgaimana sabda nabi: “jihad itu berlaku hukumnya sejak dahulu sampai hari kiamat”. b. Lafad Yang Tidak Jelas Dalalahnya 1. Khafi Yaitu lafad yang maknanya jelas akan tetapi ketika diterapkan kepada kasus tertentu menimbulkan ketidak jelasan. Untuk menghilangkan ketidak jelasan itu dibutuhkan pemikiran dan analisis. Ketidakjelasan itu dapat dimungkinkan karena bentuk kasus-kasus itu tidak persis sama dengan kasus yang ditunjukkan oleh satu dalil. Contoh: lafad “saariq” dalam QS. Al-Maidah/5: 38

َ ‫عما‬ ‫مع‬ ‫ة فَع‬ ‫سع‬ ‫سع‬ ُ َ‫عمارِق‬ َ ِ‫عمار‬ َ ‫جع‬ َ ‫مما‬ ّ ‫وال‬ ّ ‫وال‬ َ ِ ‫زاءً ب‬ َ ُ‫وا أي ُظْعدِي َه‬ ْ‫عماق ُظْط َعُ ُظ‬ َ ‫ق‬ َ ً ‫كما‬ َ َ ‫بما ن‬ ‫م‬ َ ‫ز‬ ٌ ْ‫ه عَزِي ُظ‬ ً ‫س‬ َ َ‫ك‬ ٌ ْ‫حك ِي ُظ‬ ُ ‫والل‬ ّ ‫ل‬ َ ِ‫ ن الله‬ َ ‫م‬
Artinya: laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai)pembalasan bagia apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah maha perkasa lagi maha bijaksana.

Makna “saariq” pada ayat diatas sudah jelas adalah pencuri yang mengambil harta orang lain denga cara sembunyi ditempat yang layak. Nmun ketika kata “saariq” diterapkan kepada pencopet maka mumcullah ketidak jelasan, apakah pecopet yang denga keterampilannya mampu melalaikan orang lain sehingga ia mampu mengambil hartanya, maka apakah pencopet yang seperti itu dapat dimasukkan kedalam istilah pencuri dan harus dipotong tangannya atau tidak, atau hanya di ta’zir untuk memecahkan masalah ini, maka dibutuhkan ijtihad. Menurut Abdul Wahab Khallaf, berdasarkan ijtihad yang didasari oleh dalalah nas disepakati bahwa hokum pencopet harus dipotong tangannya seperti pencuri karena illat untuk memotong tangan pencopet sudah terpenuhi sebagaimana pencuri.

2. Musykil Adalah lafad yang tidak menunjukkan makna yang jelas maka diperlukan qarinah (indicator)dari luar untuk menjelaskan maksudnya.

Contoh: kata quru’ dalam surat al-baqarah

َ ‫قمات يتربص ن بأ‬ َ ْ‫وَ ُظ‬ ُ َ َ ...‫ء‬ ٍ ْ‫رو ُظ‬ ‫ق‬ ‫ة‬ ‫ث‬ ‫ل‬ ‫ث‬ ‫ ن‬ ‫ه‬ ‫س‬ ‫ف‬ ُ ‫ن‬ َ ِ ْ‫ ُظ‬ ِ َ ْ‫المط َل ّ َ ُ َ َ َ ّ ُظ‬ ُ ّ ِ
Artinya: wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri ( menunggu) tiga kali quru’ Kata “quru” pada ayat diatas memiliki dua makna yang berbeda yaitu suci dan khaid. Imam Khanafi dan Khambali mengartikannya dengan khaid. Adapun Imam Syafi’I dan Maliki mengartikannya dengan suci. Imam Khanafi dan Khambali mendasari pendapatnya diantaranya dengan hadis nabi, Artinya: “bahwa iddahnya seorang hamba sahaya perempuan itu dua kali khaid “. Menurutnya tidak ada perbedaan antara perempuan hamba sahaya dan merdeka tentang iddah. Artinya pada hadis tersebut

nabi menyebut masa idah hamba sahaya itu dengan dua kali khaid bukan dengan dua kali sucian, ketentuan ini juga berlaku untuk perempuan merdeka. Dengan demikian, quru pada ayat diatas artinya khaid bukan suci. Adapun Imam Syafi’I dan Maliki mendasarkan pendapatnya lebih kepada argumentasi kebahasaan, yaitu keharusan memuannaskan adat (bilangan) yang berbentuk mudzakar. Maka setelah kata “tsalatsatu” (muannas) mengharuskan kata setelahnya adalah muzakar, sesuai kaidah bahasa. Maka atas dasar itu menurut keduanya yang tepat, kata “quru” diposisikan dengan kata mudzakar dan kata mudzakar itu adalah kata “tuhrun” bukan kata “ haidatun”. Dengan demikian, maka iddah perempuan yang dicerai oleh suaminya dalam tiga kali suci. 3. Mujmal (keterangan dihalaman tiga) 4. Mutasyabbih Adalah lafad yang tidak jelas maknanya dan tidak ada indikator dari luar yang menjelaskan maknanya. Yang mengetahui hakikatnya hanyalah pembuat syariat yaitu Allah SWT.

Para ulama sepakat bahwa dalam AlQur’an terdapat ayat mutasyabbih, hal ini didasari oleh firman Allah SWT:

َ َ ْ‫ل عَل َي ُظ‬ َ ‫ز‬ ‫ ن‬ َ ‫ه‬ ِ ‫ب‬ َ ِ ‫ك ال ُظْك‬ ْ‫م ُظ‬ َ ‫تما‬ َ ْ‫ ى أن ُظ‬ ٌ ‫م‬ َ َ ‫حك‬ ّ ‫ت‬ ٌ َ ‫ءاي‬ ُ ْ‫من ُظ‬ ّ ُ‫ت ه‬ ْ‫و ال ّذِ ُظ‬ َ ُ‫ه‬ ُ ْ‫م ُظ‬ َ َ ‫مت‬ ...‫ت‬ َ ُ ‫ب وَأ‬ َ ِ ‫الك‬ ّ ‫أ‬ ٌ َ‫شب ِه‬ َ ‫ر‬ ِ ‫تما‬ ُ ‫خ‬

Artinya: dia-lah yang menurunkan Alkitab (Al Qur’an) kepadamu. Diantara isi(nya) ada ayat-ayat yang muhkamat itulah pokok-pokok isi Al Qur’andan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat...(QS. Ali Imran/3:7) Menurut Ibnu Hazm sebagaimana dikutip oleh Imam Abu Zahra bahwa tidak ada lafad mutasyabbih dalam Alqur’an kecuali hurur-huruf tertentu seperti “ Alif Laam Miim”, sumpah (qasam) Allah seperti kata “wa al syamsi” (demi matahari), dan sebagainya. Sebagian ulama berpendapat bahwa mereka sepakat dengan apa yang diuangkapkan oleh Ibnu Hanm namun menurut mereka bukan hanya itu saja lafad mutasyabbih, tetapi juga terdapat pada ayat-ayat yang mengandung pengertian “keserupaan”antara Allah dengan makhluknya seperti kata “yadun” dan “ainun” pada masing-masing dua ayat berikut ini.

َ َ ‫يدالله فَو‬... ...‫م‬ ْ‫ق أي ُظْدِي ُظْهِ ُظ‬ ْ‫َ ُ ِ ُظ‬
Artinya: ... tangan Allah diatas tangan mereka...(QS. Al-Fath/ 48:10)

َ ‫ت ع َل َي ُظْع‬ ‫ص عن َعَ ع َل َعع ى‬ َ ْ‫وَأ َل ُظ‬... ً ‫حب ّع‬ َ ‫م‬ ّ ‫ة‬ َ ‫ك‬ ُ ‫قي ُظْع‬ ْ‫من ّعع ى وَل ِت ُ ُظ‬ ‫ن ى‬ ِ ْ‫ع َي ُظ‬
Artinya: ... dan aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-ku dan supaya kamu diasuh dibawah pengawasan-ku...(QS. Thaha/20:39) Pendapat kduanya sebagaimana yang sudah dijelaskan diatas secara subtantif adalah saling melengkapi. Namun para ulama usul fiqh lebih menegaskan lagi bahwa lafad mutasyabbih sebagaimana yang telah didefinisikan diatas tidak ditemukan oleh ayat-ayat ahkam dan hadist ahkam, karena untuk kedua macam nas yang disebut terakir ini dianggap telah jelas. Lafad mutasyabbih terdapat dalam Al Qur’an hanya pada huruf-huruf diawal surat-surat tertentu seperti “alif laam”, “miim”, dan sebagainya.

Dalam penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa ayat mutasyabbih terdapat pada huruf-huruf pada awal surat dalam Al Qur’an, sumpah Allah dalam Al Qur’an dan ayat-ayat yanmg artinya secara zahir mengandung keserupaan antara makhluk dan tuhan. Adapun dalam ayat ahkam tidak terdapat mutasyabbih. 7. Lafad dilihat dari penggunaannya a. Makna Hakiki dan Majazi Yang disebut dengan hakiki yaitu lafad yang menunjukkan makna aslinya sesuai dengan bentuk lafad tersebut. Contohnya ketika nabi tiba dikota madinah beliau disambut dengan kalimat “taala al-badru alaina...”kata “albadru”, arti hakikinya adalah bulan purnama. Contoh lain adalah kata “alasad” memiliki arti hakiki hewan buas yaitu singa. Adapun majaz yaitu lafad yang digunakan untuk makna selain makna aslinya karena ada hubungnan antara keduanya (makna asli dan buka asli) dan terdapat indikator yang tidak mungkin lafad itu dimaknai secara hakiki. contohnya kata “al-badru”sebagaimana contoh diatas memiliki makna majazi “ orang yang berwajah berseri-seri” yaitu Nabi Muhammad SAW, karena ada hubungannya dengan bulan purnama sebagai makna hakiki yaitu sama-sama bercahaya dan ditambah daada indikator yang kuat bahwa tidak mungkin yang datang ketika itu bulan purnama. Contoh lain “ saya melihat macan dimimbar”. Kata macan pada kalimat terakir ini makna majazinya adalah orator pemberani (singa podium) karena ada hubungannya dengan macan yaitu sama-sama memiliki sifat pemberani dan terdapat qarinah (indikator) yang kuat bahwa tidak mungkin macan sebenarnya berada diatas mimbar. b. Muradf dan Musytarak Khalid Ramadhan Hasan memasukkan lafad muradif dan musytarak kedalam lafad dilihat dari penggunaanya. a. Muradif

ُ ‫ف‬ ْ‫و الل ّ ُظ‬ ِ ‫وا‬ ٍ ‫حد‬ ً ْ‫مع ُظ‬ َ ِ ‫مت َعَد ّد ُ ل‬ ُ ْ‫ظ ال ُظ‬ َ ‫ن ى‬ َ ُ‫ه‬

Artinya: “dua kata atau lebih untuk arti yang satu” Dalam bahasa indonesia diebut juga dengan sinonim. Contoh:

‫ السد‬,‫الليث‬ ‫ المؤدب‬,‫ المعلم‬,‫ المدرس‬,‫الستماذ‬
: pendidik (guru)

: Singa

‫ القط‬,‫الهر‬
b. Musytarak

: kucing

َ َ ‫ل ى معنيي ن أ‬ َ َ‫ل ع‬ ُ ‫ف‬ ّ ُ ‫ذ ى ي َد‬ ‫ر‬ ْ‫و الل ّ ُظ‬ ِ ّ ‫ظ ال‬ َ َ ‫و أك ُظْث‬ ْ‫َ ُظْ َ َ ُظْ ِ ُظ‬ َ ُ‫ه‬
Artinya: “satu lafad menunjukkan dua arti atau lebih”. Contoh:

‫قروء‬ ‫يد‬

: suci, haid

: tangan secara keseluruhan, telapak tangan, dan lengan tangan

‫ذهب‬

: pergi, hilang

‫ عي ن‬: mata, sumber mata air, mata-mata.

8. Ta’wil Menurut bahsa berarti al-Tafsir (penjelasan atau uraian). Sedangkan secara istilah sebagaimana didefinisikan oleh Abdul Wahab khallaf:

َ ‫ ن‬ ‫ل‬ ْ‫ف الل ّ ُظ‬ ُ ‫ر‬ ِ ‫ف‬ َ ٍ ْ‫ر ب ِد َل ِي ُظ‬ ْ‫ظ ع َ ُظ‬ ْ‫ص ُظ‬ ٍ ِ‫ظما ه‬
Artinya: “memalingkan lafad dari zahir-nya karena ada dalil ( indikator)”.

Imam al Ghazali menjelaskan bahwa makna lain yang ditunjukkan oleh dalil itu memiliki kedudukan yangh lebih kuat dibanding makna zahirnya. Dengan demikian, al-Ghazali mendefinisikan ta’wil adalah “ungkapan tentang pengalihan makna dari lafad zahir yang didukung oleh dalil dan menjadikan arti itu lebih kuat dibanding makna yang ditunjukkan oleh makna zahir”.

Contoh:

َ َ ‫يدالله فَو‬... ...‫م‬ ْ‫ق أي ُظْدِي ُظْهِ ُظ‬ ْ‫َ ُ ِ ُظ‬
Artinya: ... tangan Allah diatas tangan mereka ...(QS. Al-Fath/ 48:10) Kata “yadullah” ( tangan Allah) dalam surat al-fath ayat 10 sebagaimana tersebut diatas di-ta’wil dengan “al-qudratu” artinya “kekuasaan Allah”. B. Metode Istinbat Melalui Maqasid Syariah Ulama ushul fiqh menyimpulkan bahwa nas Al Qur’an dan hadis nabi selain menunjukkan hukum melalui bunyi bahasanya juga melalui tasyri’ atau maqasid syariah (tujuan hukum), maka istinbat hukum dapat dikembangkan untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang tidak terjawab oleh kandungan kebahasaan dalam Al Qur’an dan hadis melalui qias, istihsan, maslahah mursalah, dan urf yang juga dapat disebut sebagai dalil. Secara bahasa, maqasid al-syariat berarti tujuan hukum syariat. Syariat islam yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW merupakan rahmat untuk sekalian manusia. Firman Allah yang memperkuat tentang kesempurnaan islam diantaranya:

َ ّ ِ‫ك إ‬ َ َ ‫سل ُظْن‬ ‫ ن‬ ً ‫م‬ ِ َ ‫ة ل ّل ُظْعَل‬ ْ‫ر ُظ‬ َ ‫ر‬ َ ‫ح‬ َ َ‫و‬ َ ْ‫مي ُظ‬ َ ‫ل‬ ْ‫مما أ ُظ‬
Artinya: dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. (QS. Al-Anbiya/21:107) Atas dasar penegasan ayat diatas, syekh Muhammad Abu Zahra dalam kitabnya ushul fiqh merumuskan tiga tujuan kehadiran hukum islam:

a. Membina setiap individu agar menjadi sumber kebaikan bagi orang lain, tidak menjadi sumber keburukan bagi orang lain. b. Menegakkan keadilan dalam masyarakat baik sesama muslim maupun nonmuslim. c. Merealisasikan kemaslahatan. Tujuan ketiga ini merupaka tujuan puncak yang melekat pada hukum islam secara keseluruhan. Maka tidak ada syariat yang berdasarkan Al Qur’an dan hadis kecuali didalamnya terdapat kemaslahatan yang hakiki dan berlaku secara umum.

C. Ata’arud Adillah 1. Ata’arud Adillah Taarud secara bahasa berarti bertentangan antara dua perkara. Secara istilah sebagaimana yang dikemukakan oleh Wahab Zuhaili: “terdapat dua dalil, salah satunya menunjukkan hukum yang bernbeda dengan hukum yang dikehendaki oleh nas lainnya”. Menurut Abdul Wahab Khallaf yang perlu diperhatikan dalam memahami taarud al-adillah, bahwasannya tidak terdapat kontradiksi yang sebenarnya antara dua ayat atau antara dua hadis yang sahih atau antara ayat dan hadis sahih.jika kelihatannya ada kontradiksi antara dua nas sebenarnya yang kontradiksi itu hanya lahirnya saja sesuai yang tampak pada akal. Bukan kontradiksi yang sebenarnya. Alasannya karena Allah tidak mungkin mengeluarkan dua hukum yang bertentangan untuk satu peristiwa dalam satu waktu. Tetapi jika kontradiksi itu terjadi pada qiyas maka hal ini merupakan kontradiksi yang sebenarnya, oleh karena itu boleh jadi dari dua qiyas itu ada kesalahan. Contoh dari dua ayat yang secara lahiriyah bertentangan: Al Qur’an surat an-Nahl ayat 8

ْ‫ل وَ ُظ‬ َ ‫غععما‬ َ ‫يعع‬ ‫ة‬ َ ِ ‫الب‬ َ ْ‫وال ُظ‬ ً ‫نعع‬ َ ْ‫رك َب ُو ُظ‬ َ ْ‫هععما وَزِي ُظ‬ ِ ‫ح‬ ْ‫م ُظ‬ َ ْ‫وال ُظ‬ ْ‫خ ُظ‬ ْ‫ر ل ِت َ ُظ‬ َ ‫يعع‬ َ ‫ل‬ َ َ ‫مما‬ ‫ن‬ ْ‫وَي َ ُظ‬ َ ْ‫مو ُظ‬ ُ َ ‫ل ت َع ُظْل‬ َ ‫ق‬ ُ ُ ‫خل‬
Artinya: dan (Dia telah menciptaka kuda)kuda, bagal, dan keledai, agarkamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui. (QS. An-Nahl/ 16:8) Tampak perbedaan antara ayat diatas dengan surat al-Mukmin ayat 79

َ َ َ‫جع‬ ‫هععما‬ ِ َ‫هما و‬ ِ ‫بوا‬ ِ ّ ‫ه ال‬ ُ َ ‫رك‬ َ ‫ذ ى‬ َ َ‫م ا ُظْلن ُظْع‬ ُ ُ ‫ل ل َك‬ ُ ‫الل‬ َ ْ‫من ُظ‬ َ ْ‫من ُظ‬ ْ‫م ل ِت َ ُظ‬ ْ‫ ُظ‬ ‫ن‬ َ ْ‫ت َأك ُل ُو ُظ‬
Artinya: Allah-lah yang menciptakan binatang ternak untuk kamu, sebagiannya untuk kamu kendarai dan sebagiannya untuk kamu makan.(QS. Al-Mukmin / 40:79). Pada ayat pertamasebagaimana yang disebut diatas bahwa kuda dan keledai digunakan sebagai kendaraan dan perhiasan, sedangkan pada ayat kedua kata alan’am berarti binatang yang berfungsi antara lainsebagai kendaraan dan sebagai daging yang dapat dikonsumsi. Maka kedua ayat tersebut dapat dikompromikan bahwa “binatang dapat berfungsi sebagai daging yang apat dimakan, sebagai kendaraan dan sebagai perhiasan seperti binatang kuda dan keledai”. 2. Nasakh Nasakh merupakan salah satu cara untuk menyelesaikan taarud adillah. Secara bahasa nasakh bererti menghapus. Menurut istilah sebagaimana didefinisikan oleh Muhammad Abu Zahra:

َ ‫مما‬ ّ ‫رف ُظْعُ ال‬ ‫خ‬ ِ ‫ر‬ ّ ‫ع‬ ُ ‫ع‬ ُ ‫ل‬ ً ْ‫حك ُظ‬ َ ‫مت‬ ٍ ْ‫يما ب ِد َل ِي ُظ‬ ْ‫ش ُظ‬ َ ِ ِ‫شمار‬ ٍ ‫را‬
Artinya: “membatalkan pelaksanaan hukum dengan hukum yang datang kemudian”. Ada beberapa istilah dalam pembahasan nasakh. Nasikh artinya menghapus (hukum yang datang kemudian), dan mansukh artinya terhapus ( hukum lama).

Dalam nasakh sebenarnya hukum lama masih berlaku seandainya tidak ada hukum baru yang menghapusnya. Dan orang pertama kali membahas masalah nasakh adalah Imam Syafi’i. Beliau memasukkan nasakh sebagai penjelas hukum bukan mengosongkan atau menghapus nas dari hukum. Contoh hjadis tentang ziarah kubur. Dalam hadis ini pertama nabi melarang ziarah kubur tetapi kemudian dinasakh oleh hadis beliau juga yang menghapus hukum hadis pertama, sehingga kesimpulannya ziaroh kubur itu hukumnya boleh. 3. Tarjikh Tarjih secara bahasa berarti mengalahkan, secara istilah berarti: “usaha menguatkan salah satu dari dua dalil yang taarud (bertentangan), sampai diketahui dalil yang palimng kuat sehingga dapat diamalkan dan digugurkan dalil lain yang lemah. Berdasarkan definisi diatas dapat diketahui bahwa tujuan tarjih adalah mendapatkan dalul yang kuat untuk diamalkan dan meninggalkan dalil yang lemah.

4. Al-Jam’u wa al- Taufiq dan Twaquf Adalah dua bentuk cara untuk menyelesaikan dalil-dalil yang bertentangan selain nasakh dan tarjikh yang sudah dijelaskan keatas. a. Al-Jam’u wa al-taufiq Adalah mengumpulkan dalil-dalil yang terlihat kontradiksi, kemudian mengkompromikannya, hasil kompromi inilah yang menjadi hasil hukum. “Al-jam’u” adalah usaha untuk mengumpulkan atau menggabungkanantara dalil-dalil yang kontradiksi. Sedangkan “taufik” adalah usaha mengompromikan hal-hal yang telah ditemukan melalui proses sebelumnya yaitu “al-jam’u” tersebut. b. Tawaquf

Secara bahasa berarti behenti atau sikap untuk tidak mengamalkan terhadap dalil-dalil yang terlihat kontradiksi. Ketika mencari jalan keluar terhadap dalil-dalil yang terlihat saling bertentangan telah dilalui semua (dari al-jam’u wa taufiq, tarjikh, nasakh), tetapi masih saja menemui jalan buntu maka tidak ada jalan lain kecuali tawaquf.

BAB III PENUTUP 1. KESIMPULAN Imam al-Ghazali dalam kitab Al-Mustasyfa menjelaskan bahwa tawaquf sama sekali tidak boleh , beliau berkata: “jika dalam suatu dalil sulit diambil mana yang rajih, diambillah langkah aljam’u, kalau tidak dapat, takhyir (memilih) diantara dua. Seperti orang-orng yang bertanya kepada dua orang mufti yang sama-sama hebat, maka ia memilih salah satu dari dua pendapat. Akan tetapi tidak boleh tawaquf. Sebab menurutnya sampai kapan masa tawaqufnya. Bisa jadi hukum yang ditetapkan tidak menerima pengakhiran atau tidak ada mufti lain yang akan melakukan tarjikh atas dalil tersebut. Atau mungkin ada namun sekedar perkiraanperkiraan dan itu tidak dibenarkan dan juga tawaquf tanpa batas dianggap tidak adanya hukum akhir disebut dengan ta’lil (dead lock) solusinya adalah harus memilih salah satunya”.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->