DEPARTEMEN KESEHATAN RI JAKARTA, 2009

BENTUK DAN CARA PENYELENGGARAAN PEMBANGUNAN KESEHATAN

DEPARTEMEN KESEHATAN RI JAKARTA, 2009

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ....................................................... DAFTAR ISI ..................................................................... I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG .......................................... B. PENGERTIAN SKN .......................................... C. MAKSUD DAN KEGUNAAN SKN .................... D. LANDASAN SKN .............................................. PERKEMBANGAN DAN TANTANGAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. PERKEMBANGAN DAN MASALAH SISTEM KESEHATAN NASIONAL …………………….... B. PERUBAHAN LINGKUNGAN STRATEGIS ..... ASAS SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. DASAR PEMBANGUNAN KESEHATAN ......... B. DASAR SKN ..................................................... BENTUK POKOK SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. TUJUAN SKN ................................................ B. KEDUDUKAN SKN ....................................... C. SUBSISTEM SKN ......................................... D. TATA HUBUNGAN ANTAR SUBSISTEM DAN LINGKUNGANNYA .......................................... CARA PENYELENGGARAAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. SUBSISTEM UPAYA KESEHATAN ................. B. SUBSISTEM PEMBIAYAAN KESEHATAN ...... C. SUBSISTEM SUMBERDAYA MANUSIA KESEHATAN .................................................... D. SEDIAAN FARMASI, ALAT KESEHATAN, DAN MAKANAN ............................................... ii i ii 1 1 2 3 4

II.

6 6 12 15 15 17

III.

IV.

21 21 21 23 26

V.

30 30 45 50 59

E....... D.... SUBSISTEM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT ..... DUKUNGAN PENYELENGGARAAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A... VI................. SUMBER DAYA PENYELENGGARAAN SKN E. KERJA SAMA INTERNASIONAL …………… 68 73 81 81 85 86 87 90 92 VII.. KONTRIBUTOR 96 iii . B. PENYELENGGARA SKN ……………………. PENUTUP LAMPIRAN Gambar-1: Alur Pikir Rencana Pembangunan Kesehatan dan Sistem Kesehatan Nasional Gambar-2: Gambaran Unsur-unsur Pembangunan Kesehatan dan Subsistem SKN serta Tata Hubungannya dan Lingkungan Strategis yang Mempengaruhi SKN 94 95 DAFTAR SINGKATAN ……………………………………........... PROSES PENYELENGGARAAN SKN ……...... TATA PENYELENGGARAAN SKN ………… C................ SUBSISTEM MANAJEMEN DAN INFORMASI KESEHATAN …………………………………… F.

berkesinambungan dan realistis sesuai pentahapannya. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat mencapai yang tujuan setinggi-tingginya. Dalam Undang-Undang tersebut antara lain ditetapkan bahwa pembangunan berdasarkan kesehatan diselenggarakan pemberdayaan dengan dan perikemanusiaan. tentang Nasional Rencana (RPJPN) Pembangunan Panjang memberikan arah pembangunan ke depan bagi bangsa Indonesia. tersebut. kemauan. UndangUndang Nomor 17 Jangka tahun 2007.KATA PENGANTAR Pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran. Kesinambungan dan keberhasilan pembangunan kesehatan ditentukan oleh tersedianya pedoman penyelenggaraan pembangunan kesehatan baik berupa dokumen perencanaan maupun metode dan cara penyelenggaraannya. Dalam kerangka kesehatan pembangunan dilaksanakan secara terarah. Di dalamnya juga telah tercantum arah pembangunan kesehatan dalam 20 tahun ke depan sampai dengan tahun 2025. .

antara lain ibu. serta pengutamaan dan manfaat dengan perhatian khusus pada penduduk rentan. desentralisasi. sering tidak menentu.kemandirian. . Adanya SKN yang disempurnakan tersebut menjadi sangat penting kedudukannya mengingat penyelenggaraan pembangunan kesehatan pada saat ini semakin kompleks sejalan dengan kompleksitas perkembangan demokrasi. cepat berubah dan. manusia usia lanjut (manula). dan keluarga miskin. anak. Sistim Kesehatan Nasional (SKN) 2009 yang disempurnakan ini diharapkan mampu menjawab dan merespon berbagai tantangan pembangunan kesehatan di masa kini maupun di masa yang akan datang. dan globalisasi serta tantangan lainnya yang juga semakin berat. adil dan merata. Sistim Kesehatan Nasional (SKN) 2009 sebagai penyempurnaan dari SKN sebelumnya merupakan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah bersama seluruh elemen bangsa dalam rangka untuk meningkatkan tercapainya pembangunan kesehatan dalam mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.

Siti Fadilah Supari.JP(K) . Jakarta. bantuan dan masukan serta kontribusinya dalam penyusunan dan perumusan SKN tersebut. April 2009 MENTERI KESEHATAN RI.Diharapkan SKN 2009 ini terkait dan mengacu pada arah dan tahapan pembangunan kesehatan yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJPK) Tahun 2005-2025. pelaksanaan pembangunan kesehatan di Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak atas perhatian.dr. Sp. Dr. Dalam kaitan ini penyelenggaraan SKN 2009 tersebut perlu sesuai dengan tahap-tahap lapangan. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu melimpahkan Rachmat dan Hidayah serta memberikan petunjuk dan kekuatan bagi kita sekalian dalam melaksanakan pembangunan kesehatan di Indonesia dengan berpedoman pada Sistem Kesehatan Nasional yang baru ini.

seperti: Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Undangundang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. maka pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran. serta Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K). Jaminan Kesehatan Masyarakat. Perubahan lingkungan strategis ditandai dengan berlakunya berbagai regulasi penyelenggaraan kepemerintahan. kemauan. seperti: pengembangan Desa Siaga.BAB I PENDAHULUAN A. mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk itu diperlukan pemantapan dan percepatan melalui Sistem Kesehatan Nasional sebagai bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang disertai berbagai terobosan penting. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. LATAR BELAKANG Dalam mencapai tujuan nasional bangsa Indonesia sesuai Pembukaan UUD 1945. yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. Pembangunan kesehatan yang dilaksanakan dalam dasawarsa terakhir masih menghadapi berbagai masalah yang belum sepenuhnya dapat diatasi. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang 1 . perdamaian abadi dan keadilan sosial. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dapat terwujud.

Pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran. penting untuk dimutakhirkan menjadi SKN 2009 agar dapat mengantisipasi berbagai tantangan perubahan pembangunan kesehatan dewasa ini dan di masa depan. PENGERTIAN SKN Sistem Kesehatan Nasional (SKN) adalah bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang memadukan berbagai upaya bangsa Indonesia dalam satu derap langkah guna menjamin tercapainya tujuan pembangunan kesehatan dalam kerangka mewujudkan kesejahteraan rakyat sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Dasar 1945. Dalam mengantisipasi ini. Disamping itu secara global terjadi perubahan iklim dan upaya percepatan pencapaian MDGs. perlu mengacu terutama pada arah. B. dan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025. sehingga diperlukan penyempurnaan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. kemauan.Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang 2 . dan strategi pembangunan kesehatan yang ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025 dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025. dasar. SKN 2004 sebagai pengganti SKN 1982. pada hakekatnya merupakan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan.

3) Adil dan merata. baik oleh masyarakat. memantapkan kemitraan dan kepemimpinan yang transformatif. 3 . melaksanakan pemerataan upaya kesehatan yang terjangkau dan bermutu. serta kemampuan tenaga kesehatan dalam mengatasi masalah-masalah tersebut. keamanan. serta meningkatkan investasi kesehatan untuk keberhasilan pembangunan nasional. agar dapat dipergunakan sebagai pedoman tentang bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Tersusunnya SKN 2009 mempertegas makna pembangunan kesehatan dalam rangka pemenuhan hak asasi manusia. kesadaran masyarakat. 2) Pemberdayaan dan kemandirian. Sistem Kesehatan Nasional perlu dilaksanakan dalam konteks Pembangunan Kesehatan secara keseluruhan dengan mempertimbangkan determinan sosial. MAKSUD DAN KEGUNAAN SKN Penyusunan SKN 2009 ini dimaksudkan untuk menyesuaikan SKN 2004 dengan berbagai perubahan dan tantangan eksternal dan internal. serta 4) Pengutamaan dan manfaat. sumber daya. memperjelas penyelenggaraan pembangunan kesehatan sesuai dengan visi dan misi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025. pendapatan keluarga. maupun oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah serta pihak terkait lainnya. tingkat pendidikan. Pembangunan kesehatan diselenggarakan berdasarkan pada: 1) Perikemanusiaan. distribusi kewenangan.setinggi-tingginya dapat terwujud. C. swasta. seperti: kondisi kehidupan sehari-hari.

bertempat tinggal. Sistem Kesehatan Nasional disusun dengan memperhatikan pendekatan revitalisasi pelayanan kesehatan dasar (primary health care) yang meliputi: 1) Cakupan pelayanan kesehatan yang adil dan merata. dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan 4 . dan 4) Kepemimpinan. setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya. Landasan Konstitusional. LANDASAN SKN Landasan SKN meliputi: 1. Landasan Idiil. Pasal 28 H ayat (1). khususnya: Pasal 28 A. yaitu UUD 1945. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan Tahun 2005-2025 dan SKN merupakan dokumen kebijakan pembangunan kesehatan sebagai acuan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan.Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan Tahun 2005-2025 merupakan arah pembangunan kesehatan yang berkesinambungan. 2) Pemberian pelayanan kesehatan yang berpihak kepada rakyat. setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin. 3) Kebijakan pembangunan kesehatan. 2. yaitu Pancasila. D. termasuk penguatan sistem rujukan. Sistem Kesehatan Nasional juga disusun dengan memperhatikan inovasi/terobosan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan secara luas. Pendekatan pelayanan kesehatan dasar secara global telah diakui sebagai pendekatan yang tepat dalam mencapai kesehatan bagi semua dengan mempertimbangkan kebijakan kesehatan yang responsif gender.

Pasal 28 B ayat (2). seni dan budaya. Landasan Operasional meliputi seluruh ketentuan peraturan perundangan yang berkaitan dengan penyelenggaraan SKN dan pembangunan kesehatan. dan berkembang.kesehatan dan ayat (3). setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya. setiap anak berhak atas kelangsungan hidup. setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat. 5 . Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan dan ayat (3). tumbuh. berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi. 3. Pasal 28 C ayat (1). serta Pasal 34 ayat (2). Beberapa peraturan perundangan tersebut terdapat dalam Lampiran-1 dari RPJP-K Tahun 2005-2025. demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia. Negara bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.

dalam kaitan ini akses rumah tangga yang dapat menjangkau sarana kesehatan ≤ 30 menit sebesar 90. Upaya Kesehatan Akses pada pelayanan kesehatan secara nasional mengalami peningkatan. Umur Harapan Hidup (UHH) meningkat dari 68. yaitu: penurunan Angka Kematian Bayi (AKB) dari 46 per 1. 2007).4% pada tahun 2007 (Riskesdas. Sejalan dengan penurunan angka kematian bayi.6 tahun pada tahun 2004 menjadi 70. 1. 2007). PERKEMBANGAN DAN KESEHATAN NASIONAL MASALAH SISTEM Pembangunan kesehatan yang dilaksanakan secara berkesinambungan telah berhasil meningkatkan status kesehatan masyarakat.7% dan akses rumah tangga 6 .BAB II PERKEMBANGAN DAN TANTANGAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. Angka Kematian Ibu (AKI) juga mengalami penurunan dari 318 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1997 menjadi 228 per 100.5 tahun pada tahun 2007.000 kelahiran hidup pada tahun 1997 menjadi 34 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (SDKI 2007).5% pada akhir tahun 1997 menjadi sebesar 18. Kinerja sistem kesehatan telah menunjukkan peningkatan. antara lain ditunjukkan dengan peningkatan status kesehatan. harus terus diupayakan dengan perbaikan Sistem Kesehatan Nasional. Upaya percepatan pencapaian indikator kesehatan dalam lingkungan strategis baru. Demikian pula telah terjadi penurunan prevalensi kekurangan gizi pada balita dari 29. Namun penurunan indikator kesehatan masyarakat tersebut masih belum seperti yang diharapkan.000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (SDKI.

yang berada ≤ 5 km dari sarana kesehatan sebesar 94.1% (Riskesdas. kesehatan ibu membaik dengan turunnya AKI. Namun pada daerah terpencil. Peningkatan jumlah Puskesmas ditandai dengan peningkatan rasio Puskesmas dari 3.000 pada tahun 2007 (Profil Kesehatan. Disamping itu. 2007). Namun masih ditemui disparitas Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan cakupan imunisasi antar wilayah masih tinggi.000 penduduk pada tahun 2003 menjadi 3.4% pada tahun 2005 menjadi 41.3% pada tahun 1997 menjadi 46% pada tahun 2007. perbatasan. peningkatan yang besar terutama di daerah perdesaan. 2007). Cakupan pemeriksaan kehamilan tertinggi 97.1% pada tahun 1996 menjadi 33. Secara keseluruhan. 7 . tertinggal.7% pada tahun 2006.3% (Riskesdas. pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan meningkat 20% dalam kurun 10 tahun.8% pada tahun 2007.65 per 100.46 per 100. serta pulau-pulau kecil terdepan dan terluar masih rendah. sementara persalinan di fasilitas kesehatan meningkat dari 24.1% dan terendah 67%. jumlah masyarakat yang mencari pengobatan sendiri sebesar 45% dan yang tidak berobat sama sekali sebesar 13. Jarak fasilitas pelayanan yang jauh disertai distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata dan pelayanan kesehatan yang mahal menyebabkan rendahnya aksesibilitas masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Begitupula kunjungan baru (contact rate) ke fasilitas pelayanan kesehatan meningkat dari 34.3% (2007). 2007). sementara itu cakupan imunisasi lengkap tertinggi sebesar 73. Pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan oleh penduduk meningkat dari 15.9% dan cakupan terendah 17.

HIV/AIDS. pada tahun 2004 jumlah APBN kesehatan adalah sebesar Rp 5. DBD dan Diare. meskipun belum mencapai 5% dari PDB seperti dianjurkan WHO. Kusta.Akses terhadap air bersih sebesar 57. Demikian pula dengan anggaran kesehatan.5%. Pada tahun 2007. Demikian pula penyakit Pes masih terdapat di berbagai daerah. Hasil Riskesdas Tahun 2007 menunjukkan adanya peningkatan kasus penyakit tidak menular (seperti penyakit kardiovaskuler dan kanker) secara cukup bermakna.5% rumah tangga mempunyai akses pada sanitasi yang baik (Riskesdas.6–2.8% dan yang tidak memiliki saluran pembuangan air limbah sebesar 32. menjadikan Indonesia mempunyai beban ganda (double burden). rumah tangga yang tidak menggunakan fasilitas buang air besar sebesar 24. 2007). 2.7% rumah tangga dan sebesar 63. Selain itu penyakit yang kurang mendapat perhatian (neglected diseases). Namun demikian kontribusi penyakit menular terhadap kesakitan dan kematian semakin menurun.81% dari Produk Domestik Bruto (PDB) meningkat pada tahun 2007 menjadi 1. Malaria. Persentase pengeluaran nasional sektor kesehatan pada tahun 2005 adalah sebesar 0.75 Triliun pada tahun 2007. seperti Filariasis. Pembiayaan Kesehatan Pembiayaan kesehatan sudah semakin meningkat dari tahun ke tahun.54 Triliun meningkat menjadi sebesar 18. namun persentase terhadap seluruh APBN belum meningkat dan masih berkisar 2. Framboesia cenderung meningkat kembali. Penyakit infeksi menular masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menonjol. terutama: TB Paru.09 % dari PDB.8%. Pengeluaran pemerintah untuk 8 .

yaitu 19 per 100. Masalah strategis SDM Kesehatan yang dihadapi dewasa ini dan di masa depan adalah: a) Pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan belum dapat memenuhi kebutuhan SDM untuk pembangunan kesehatan. baik jumlah. 9 . jenis.2%. Selain itu. b) Perencanaan kebijakan dan program SDM Kesehatan masih lemah dan belum didukung sistem informasi SDM Kesehatan yang memadai. Sumber Daya Manusia Kesehatan Upaya pemenuhan kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan belum memadai.4 juta jiwa atau 34. yaitu 38% dari total pembiayaan kesehatan.000 penduduk bila dibandingkan dengan negara lain di ASEAN. maupun kualitas tenaga kesehatan yang dibutuhkan. Jumlah dokter Indonesia masih termasuk rendah.5% dari keseluruhan penduduk pada tahun 2008 yang sebagian besar berasal dari bantuan sosial untuk program jaminan kesehatan masyarakat miskin sebesar 76. Namun kontribusi pengeluaran pemerintah untuk kesehatan masih kecil. 3. Proporsi pembiayaan kesehatan yang bersumber dari pemerintah belum mengutamakan upaya pencegahan dan promosi kesehatan. seperti Filipina 58 per 100. c) Masih kurang serasinya antara kebutuhan dan pengadaan berbagai jenis SDM Kesehatan.000 penduduk dan Malaysia 70 per 100. d) Dalam pendayagunaan SDM Kesehatan. distribusi tenaga kesehatan masih belum merata. Cakupan jaminan pemeliharaan kesehatan sekitar 46. Kualitas hasil pendidikan SDM Kesehatan dan pelatihan kesehatan pada umumnya masih belum memadai.000 pada tahun 2007.kesehatan terus meningkat.

sementara itu bahan baku impor mencapai 85% dari kebutuhan. Alat Kesehatan.pemerataan SDM Kesehatan berkualitas masih kurang. Penggunaan obat rasional belum dilaksanakan di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan.600 jenis tanaman berpotensi mempunyai efek pengobatan. Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) digunakan sebagai dasar penyediaan obat di pelayanan kesehatan publik. Sediaan Farmasi. Daftar Obat Esensial Nasional tersebut telah disusun sejak tahun 1980 dan direvisi secara berkala sampai tahun 2008. alat kesehatan. Pengembangan karier. sistem penghargaan. Lebih dari 90% obat yang diresepkan di Puskesmas merupakan obat esensial generik. dan sanksi belum sebagaimana mestinya. Namun tidak diikuti 10 . 4. Upaya perlindungan masyarakat terhadap penggunaan sediaan farmasi. namun masih banyak kendala yang dihadapi. Di Indonesia terdapat 9. dan makanan telah dilakukan secara komprehensif. dan baru 300 jenis tanaman yang telah digunakan sebagai bahan baku. Regulasi untuk mendukung SDM Kesehatan masih terbatas. Sementara itu pemerintah telah berusaha untuk menurunkan harga obat. masih banyak pengobatan yang dilakukan tidak sesuai dengan formularium. dan Makanan Pasar sediaan farmasi masih didominasi oleh produksi domestik. serta e) Pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan serta dukungan sumber daya SDM Kesehatan masih kurang.

oleh sarana pelayanan kesehatan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa konsep obat esensial generik belum sepenuhnya diterapkan. Pemerintah belum sepenuhnya dapat menyelenggarakan pembangunan kesehatan yang efektif. Begitu pula dengan perencanaan jangka panjang/menengah masih belum menjadi acuan dalam menyusun perencanaan jangka pendek. Surveilans belum dilaksanakan secara menyeluruh. Sistem informasi kesehatan menjadi lemah setelah menerapkan kebijakan desentralisasi. jenis. Hasil penelitian kesehatan belum banyak dimanfaatkan sebagai dasar perumusan kebijakan dan perencanaan program. dan apotek kurang dari 47%. maupun efektifitasnya. 11 . seperti: di rumah sakit pemerintah kurang dari 76%. Manajemen dan Informasi Kesehatan Perencanaan pembangunan kesehatan antara Pusat dan Daerah belum sinkron. baik jumlah. dan bermutu sesuai dengan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance). Regulasi bidang kesehatan pada saat ini belum cukup. rumah sakit swasta 49%. Demikian juga dengan banyak kebijakan yang belum disusun berbasis bukti dan belum bersinergi baik perencanaan di tingkat Pusat dan atau di tingkat Daerah. Data dan informasi kesehatan untuk perencanaan tidak tersedia tepat waktu. Hukum kesehatan belum tertata secara sistematis dan belum mendukung pembangunan kesehatan secara utuh. efisien. Sistem Informasi Kesehatan Nasional (Siknas) yang berbasis fasilitas sudah mencapai tingkat kabupaten/kota namun belum dimanfaatkan. 5.

PERUBAHAN LINGKUNGAN STRATEGIS Perkembangan global. regional. Di samping itu. Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat lainnya yang terus berkembang pada tahun 2008 adalah Posyandu yang telah berjumlah 269.111 Desa Siaga dimana terdapat 47. tetapi pemanfaatan dan kualitasnya masih rendah. yakni dengan target 60%.6%). Hingga tahun 2008 sudah terbentuk 47. Pemerintah telah memberikan pula bantuan stimulan untuk pengembangan 229 Musholla Sehat. Jumlah UKBM. Pemberdayaan Masyarakat Rumah tangga yang telah melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat meningkat dari 27% pada tahun 2005 menjadi 36. lokasinya jauh (26%). Hal ini merupakan faktor eksternal utama yang mempengaruhi proses pembangunan kesehatan. 12 . namun masih jauh dari sasaran yang harus dicapai pada tahun 2009.111 buah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes). dan nasional yang dinamis akan mempengaruhi pembangunan suatu negara. seperti Posyandu dan Poskesdes semakin meningkat. B.3% pada tahun 2007. termasuk pembangunan kesehatannya.202 buah dan 967 Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren). Sampai dewasa ini dirasakan bahwa masyarakat masih lebih banyak sebagai objek dari pada sebagai subjek pembangunan kesehatan. dan tidak ada Posyandu/Poskesdes (24%).6. Hasil Riskesdas tahun 2007 menunjukkan bahwa alasan utama rumah tangga tidak memanfaatkan Posyandu/Poskesdes walaupun sebenarnya memerlukan adalah karena: pelayanannya tidak lengkap (49.

Komitmen Internasional. seperti: MDGs. demokratisasi. sebagai contoh: banyaknya peserta Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang menggunakan isu kesehatan sebagai janji politik. teknologi. informasi. Era globalisasi dapat menjadi peluang sekaligus tantangan pembangunan kesehatan. ASEAN Charter. dan lingkungan. seperti desentralisasi. yang sampai saat ini belum sepenuhnya dilakukan persiapan dan langkah-langkah yang menjadikan peluang dan mengurangi dampak yang merugikan. serta komitmen Nasional. seperti revitalisasi pelayanan kesehatan dasar dan pengarus-utamaan gender. politik. sosial. dan lokal. yang mencakup ekonomi. Proses ini dipicu dan dipercepat dengan berkembangnya teknologi. serta dapat dijadikan peluang atau kendala bagi sistem kesehatan di Indonesia. budaya.Faktor lingkungan strategis dapat dibedakan atas tatanan global. Tingkat Nasional dan Lokal Pada tingkat nasional terjadi proses politik. regional. perlu menjadi perhatian dalam pembangunan kesehatan. 1. dan transportasi yang mempunyai konsekuensi pada fungsi suatu negara dalam sistem pengelolaannya. 2. 13 . Tingkat Global dan Regional Globalisasi merupakan suatu perubahan interaksi manusia secara luas. adaptasi perubahan iklim (climate change). dan politik kesehatan yang berdampak pada pembangunan kesehatan. sehingga mengharuskan adanya suatu sistem kesehatan yang responsif. jejaring riset Asia Pasifik. nasional.

namun dalam kenyataannya belum sepenuhnya berjalan dan bahkan memunculkan euforia di daerah yang mengakibatkan pembangunan kesehatan terkendala. di sisi lain situasi sosial politik yang berkembang sering menimbulkan konflik sosial yang pada akhirnya memunculkan berbagai masalah kesehatan. 14 . dan masih lemahnya penegakan hukum menyebabkan berbagai hambatan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Di bidang lingkungan. sementara itu kesadaran hukum masyarakat masih rendah.Proses desentralisasi yang semula diharapkan mampu memberdayakan daerah dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. sebagian besar wilayah Indonesia rawan bencana. diantaranya melalui pengembangan Desa Siaga. Oleh karena itu perlu dilakukan berbagai terobosan/ pendekatan terutama pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan kesehatan yang memberikan penguatan kapasitas dan surveilans berbasis masyarakat. Secara geografis. mekanisme mitigasi serta adaptasi dan pengenalan resiko akan perubahan iklim menuntut kegiatan kerjasama antara pihak lingkungan dengan pihak kesehatan dan seluruh sektor terkait. termasuk akibat pembangunan yang tidak berwawasan kesehatan yang memerlukan upaya pemecahan melalui berbagai terobosan dan pendekatan. Perangkat regulasi dan hukum yang terkait dengan kesehatan masih belum memadai.

dan selalu menerapkan prinsip perikemanusiaan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. maka setiap pelaku pembangunan kesehatan harus taat pada asas yang menjadi landasan bagi setiap program dan kegiatan pembangunan kesehatan. Dalam Undang-undang tersebut. 15 . DASAR PEMBANGUNAN KESEHATAN Sesuai dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Jangka Panjang Pembangunan Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025.BAB III ASAS SISTEM KESEHATAN NASIONAL Sebagaimana dinyatakan dalam Bab I bahwa Sistem Kesehatan Nasional (SKN) adalah bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan. digerakan dan dikendalikan oleh keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dapat terwujud. Perikemanusian Pembangunan kesehatan harus berlandaskan pada prinsip perikemanusiaan yang dijiwai. Tenaga kesehatan perlu berbudi luhur. dinyatakan bahwa pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan mendasarkan pada: 1. kemauan. A. Dengan demikian untuk menjamin efektifitas SKN. pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran. memegang teguh etika profesi.

golongan. Setiap orang berhak memperoleh pelayanan kesehatan. keluarga. Adil dan Merata Dalam pembangunan kesehatan setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. dan status sosial ekonominya. Pemberdayaan dan Kemandirian Setiap orang dan masyarakat bersama dengan pemerintah berperan. 4. masyarakat. dan bertanggungjawab untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan perorangan. tumbuh dan kembang. Pengutamaan dan Manfaat Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan perorangan atau golongan. 3. dan lingkungannya. Pembangunan kesehatan dilaksanakan dengan berlandaskan pada kepercayaan atas kemampuan dan kekuatan sendiri serta kepribadian bangsa dan semangat solidaritas sosial serta gotongroyong. berkewajiban. Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup. Upaya kesehatan yang bermutu diselenggarakan dengan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta harus lebih mengutamakan pendekatan peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit. agama. sehingga secara berhasil guna dan bertahap dapat 16 . Pembangunan kesehatan harus mampu membangkitkan dan mendorong peran aktif masyarakat. serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.2. tanpa memandang suku. Pembangunan kesehatan diselenggarakan berlandaskan pada dasar kemitraan atau sinergisme yang dinamis dan tata penyelenggaraan yang baik.

anak. SKN perlu mengacu pada dasardasar sebagai berikut: 1. 17 . B. dan masyarakat miskin. golongan. b) Bertindak Cepat dan Tepat. agama. yaitu: a) Berpihak pada Rakyat. antara lain: ibu. c) Kerjasama Tim. beserta lingkungannya. d) Integritas yang Tinggi. Undangundang Dasar 1945 pasal 28 H ayat 1 antara lain menggariskan bahwa setiap rakyat berhak atas pelayanan kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya tanpa membedakan suku. bayi. Hak Asasi Manusia (HAM) Sesuai dengan tujuan pembangunan nasional dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945. dan e) Transparansi serta Akuntabilitas. maka setiap penyelenggaraan SKN berdasarkan pada prinsip hak asasi manusia. jenis kelamin. yaitu untuk meningkatkan kecerdasan bangsa dan kesejahteraan rakyat. Perlu diupayakan pembangunan kesehatan secara terintegrasi antara Pusat dan Daerah dengan mengedepankan nilai-nilai pembangunan kesehatan. dan status sosial ekonomi.memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat. DASAR SKN Dalam penyelenggaraan. manusia usia lanjut. Setiap anak dan perempuan berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Pembangunan kesehatan diarahkan agar memberikan perhatian khusus pada penduduk rentan.

Integrasi. dan Sinergisme (KISS). agar diperoleh sinergisme yang lebih mantap dalam rangka mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. 3. terbuka (transparan). Sinergisme dan Kemitraan yang Dinamis Sistem Kesehatan Nasional akan berfungsi baik untuk mencapai tujuannya apabila terjadi Koordinasi.2. Komitmen dan Tata Pemerintahan yang Baik (Good Governance) Agar SKN berfungsi baik. berkepastian hukum. dukungan. seperti pembangunan prasarana. 18 . serta bertanggung-jawab dan bertanggung-gugat (akuntabel). Kemitraan tersebut diwujudkan dengan mengembangkan jejaring yang berhasil guna dan berdaya guna. Sinkronisasi. maupun dengan sistem serta subsistem lain di luar SKN. rasional. termasuk swasta dengan mendayagunakan potensi yang dimiliki masing-masing. Pembangunan kesehatan diselenggarakan secara demokratis. diperlukan komitmen yang tinggi. keuangan dan pendidikan perlu berperan bersama dengan sektor kesehatan untuk mencapai tujuan nasional. Dengan tatanan ini. dan kerjasama yang baik dari para pelaku untuk menghasilkan tata penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang baik (good governance). antar subsistem SKN. Pembangunan kesehatan harus diselenggarakan dengan menggalang kemitraan yang dinamis dan harmonis antara pemerintah dan masyarakat. profesional. maka sistem atau seluruh sektor terkait. baik antar pelaku.

agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan kesehatan serta kesamaan dalam memperoleh manfaat pembangunan kesehatan. Responsif Gender Dalam penyelenggaraan SKN. Dukungan Regulasi Dalam menyelenggarakan SKN. 5. diperlukan dukungan regulasi berupa adanya berbagai peraturan perundangan yang mendukung penyelenggaraan SKN dan penerapannya (law enforcement). 19 . Kesetaraan gender dalam pembangunan kesehatan adalah kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan dan hak-haknya sebagai manusia. yang di dasarkan pada pengalaman masa lalu atau pengalaman yang terjadi di negara lain. Antisipatif dan Pro Aktif Setiap pelaku pembangunan kesehatan harus mampu melakukan antisipasi atas perubahan yang akan terjadi. setiap penyusunan rencana kebijakan dan program serta dalam pelaksanaan program kesehatan harus menerapkan kesetaraan dan keadilan gender. pelaku pembangunan kesehatan perlu lebih proaktif terhadap perubahan lingkungan strategis baik yang bersifat internal maupun eksternal. Keadilan gender adalah suatu proses untuk menjadi adil terhadap laki-laki dan perempuan dalam pembangunan kesehatan. Dengan mengacu pada antisipasi tersebut.4. 6.

20 . walaupun dalam prakteknya. Dengan demikian kebijakan pembangunan daerah di bidang kesehatan harus sejalan dengan SKN. Kearifan Lokal Penyelenggaraan SKN di daerah harus memperhatikan dan menggunakan potensi daerah yang secara positif dapat meningkatkan hasil guna dan daya guna pembangunan kesehatan. yang dapat diukur secara kuantitatif dari meningkatnya peran serta masyarakat dan secara kualitatif dari meningkatnya kualitas hidup jasmani dan rohani. dapat disesuaikan dengan potensi dan kondisi serta kebutuhan masyarakat di daerah terutama dalam penyediaan pelayanan kesehatan dasar bagi rakyat.7.

swasta. melainkan juga tanggung-jawab berbagai sektor terkait. maupun pemerintah secara sinergis. Dalam penyelenggaraan pembangunan 21 . mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. sehingga terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. baik masyarakat. SKN bersama dengan berbagai sistem nasional lainnya diarahkan untuk mencapai Tujuan Bangsa Indonesia seperti yang tercantum dalam Pembukaan Undangundang Dasar 1945. B. 2. undangundang yang berkaitan dengan kesehatan merupakan kebijakan strategis dalam pembangunan kesehatan. Kedudukan SKN dalam Sistem Nasional Lainnya Terwujudnya keadaan sehat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang tidak hanya menjadi tanggung-jawab sektor kesehatan. abadi dan keadilan sosial.BAB IV BENTUK POKOK SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. KEDUDUKAN SKN 1. perdamaian. yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. berhasil guna dan berdaya guna. Suprasistem SKN Suprasistem SKN adalah Ketahanan Nasional. Dalam kaitan ini. TUJUAN SKN Tujuan SKN adalah terselenggaranya pembangunan kesehatan oleh semua potensi bangsa.

seperti: Sistem Pendidikan Nasional. Di lain pihak. Sistem Ketahanan Pangan Nasional. Sistem Hankamnas. SKN dapat bersinergis secara dinamis dengan berbagai sistem nasional lainnya. Kedudukan SKN terhadap berbagai Kemasyarakatan. SKN perlu menjadi acuan bagi sektor lain. Dengan demikian pelaksanaan pembangunan nasional harus berwawasan kesehatan dengan mengikutsertakan seluruh sektor terkait kesehatan sejak awal perencanaan agar dampak pembangunan yang dilakukan tidak merugikan derajat kesehatan masyarakat secara langsung maupun tidak langsung dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam penyelenggaraan pembangunan nasional. sebagai sistem kemasyarakatan yang ada. 3. Dalam kaitan ini SKN dipergunakan sebagai acuan bagi masyarakat dalam berbagai upaya kesehatan. 4. termasuk Swasta Sistem Keberhasilan pembangunan kesehatan sangat ditentukan oleh dukungan sistem nilai dan budaya masyarakat yang secara bersama terhimpun dalam berbagai sistem kemasyarakatan. 22 . SKN merupakan acuan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan di daerah. Kedudukan SKN terhadap Penyelenggaraan Pembangunan Kesehatan di Daerah Dalam pembangunan kesehatan. Sistem Perekonomian Nasional. dan Sistem nasional lainnya.kesehatan. termasuk potensi swasta berperan aktif sebagai mitra dalam pembangunan kesehatan yang dilaksanakan sesuai SKN.

dan 3) Sinergi yang dinamis. Mengacu pada substansi perkembangan penyelenggaraan pembangunan kesehatan dewasa ini serta pendekatan manajemen kesehatan tersebut diatas. C. dalam Gambar-1 dikemukakan alur pikir dari Rencana Pembangunan Kesehatan dan SKN termaksud. terbuka. dan saling menguntungkan dengan berbagai potensi swasta. 23 .Keberhasilan pembangunan kesehatan juga ditentukan oleh peran aktif swasta. Untuk keberhasilan pembangunan kesehatan perlu digalang kemitraan yang setara. SUBSISTEM SKN Pendekatan manajemen kesehatan dewasa ini dan kecenderungannya di masa depan adalah kombinasi dari pendekatan: 1) Sistem. maka subsistem SKN meliputi: 1. Dalam kaitan ini potensi swasta merupakan bagian integral dari SKN. pencegahan. 2) Kontingensi. dan pemulihan. sehingga sejalan dengan tujuan pembangunan nasional yang berwawasan kesehatan. Dengan mengacu terutama pada kedudukan SKN diatas dan pencapaian tujuan nasional. pengobatan. Subsistem Upaya Kesehatan Untuk dapat mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya perlu diselenggarakan berbagai upaya kesehatan dengan menghimpun seluruh potensi bangsa Indonesia. Upaya kesehatan diselenggarakan dengan upaya peningkatan. Sistem Kesehatan Nasional dapat mewarnai potensi swasta.

stabil. Pembiayaan pelayanan kesehatan perorangan diselenggarakan melalui jaminan pemeliharaan kesehatan dengan mekanisme asuransi sosial yang pada waktunya diharapkan akan mencapai universal coverage sesuai dengan Undang-undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). 3. Subsistem Sumber Daya Manusia Kesehatan Sebagai pelaksana upaya kesehatan. Oleh karena itu. pembiayaan kesehatan yang adekuat. dan berkesinambungan memegang peran yang amat vital untuk penyelenggaraan pelayanan kesehatan dalam rangka mencapai berbagai tujuan pembangunan kesehatan. diperlukan sumber daya manusia kesehatan yang mencukupi dalam jumlah. kecuali pembiayaan untuk masyarakat miskin dan tidak mampu menjadi tanggung-jawab pemerintah. Pemerintah Daerah. SKN juga memberikan fokus penting pada pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan guna menjamin ketersediaan dan pendistribusian sumber daya manusia kesehatan. organisasi masyarakat. Pembiayaan pelayanan kesehatan masyarakat merupakan public good yang menjadi tanggung-jawab pemerintah. sesuai tututan kebutuhan pembangunan kesehatan. Oleh karena itu. swasta. sedangkan untuk pelayanan kesehatan perorangan pembiayaannya bersifat private. Pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan meliputi: 1) 24 . terintegrasi. dan masyarakat itu sendiri.2. jenis dan kualitasnya. serta terdistribusi secara adil dan merata. Subsistem Pembiayaan Kesehatan Pembiayaan kesehatan bersumber dari berbagai sumber. yakni: Pemerintah.

penggunaan obat yang rasional. Untuk menggerakkan pembangunan kesehatan secara berhasil guna dan berdaya guna. 5.perencanaan kebutuhan sumber daya manusia yang diperlukan. 3) pendayagunaan SDM Kesehatan. analisa. serta transparansi dari penyelenggaraan SKN tersebut. 2) Manajemen sistem informasi. serta penyerasian berbagai subsistem SKN dan efektif. Subsistem Sediaan Farmasi. ketersediaan. 4. hukum kesehatan. dan Makanan Subsistem kesehatan ini meliputi berbagai kegiatan untuk menjamin: aspek keamanan. 2) pengadaan yang meliputi pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan SDM Kesehatan. dan makanan yang beredar. validasi. pemerataan. perlindungan masyarakat dari penggunaan yang salah dan penyalahgunaan obat. dan diseminasi data dan informasi. terutama obat esensial. alat kesehatan. administrasi kesehatan. integrasi. Subsistem Manajemen dan Informasi Kesehatan Subsistem ini meliputi: kebijakan kesehatan. diperlukan manajemen kesehatan. dan 4) pembinaan serta pengawasan SDM Kesehatan. Peranan manajemen kesehatan adalah koordinasi. termasuk peningkatan kesejahteraannya. serta upaya kemandirian di bidang kefarmasian melalui pemanfaatan sumber daya dalam negeri. Dalam kaitan ini peranan informasi kesehatan sangat penting. efisien. Dari segi pengadaan data dan informasi dapat dikelompokkan kegiatannya sebagai berikut: 1) Pengumpulan. Alat Kesehatan. khasiat/ kemanfaatan dan mutu sediaan farmasi. sinkronisasi. dan informasi kesehatan. dan keterjangkauan obat. 3) 25 .

Pemberdayaan masyarakat dan upaya kesehatan pada hakekatnya merupakan fokus dari pembangunan kesehatan. ketersediaan sediaan 26 . Oleh karenanya pemberdayaan masyarakat menjadi sangat penting. Berbagai upaya tersebut memerlukan dukungan pembiayaan. Subsistem Pemberdayaan Masyarakat Sistem Kesehatan Nasional akan berfungsi optimal apabila ditunjang oleh pemberdayaan masyarakat. Subsistem Upaya Kesehatan diselenggarakan untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. 6. melainkan juga sebagai subjek atau penyelenggara dan pelaku pembangunan kesehatan. agar masyarakat termasuk swasta dapat mampu dan mau berperan sebagai pelaku pembangunan kesehatan. Masyarakat termasuk swasta bukan semata-mata sebagai sasaran pembangunan kesehatan. TATA HUBUNGAN LINGKUNGANNYA ANTAR SUBSISTEM DAN Penyelenggaraan SKN memerlukan keterkaitan antar unsur-unsur SKN sebagai suatu tata hubungan yang efektif. dan 4) Pengembangan untuk peningkatan mutu sistem informasi kesehatan.Dukungan kegiatan dan sumber daya untuk unit-unit yang memerlukan. Untuk penyelenggaraan subsistem tersebut diperlukan berbagai upaya dengan menghimpun seluruh potensi bangsa Indonesia. Upaya pemberdayaan masyarakat akan berhasil pada hakekatnya bila kebutuhan dasar masyarakat sudah terpenuhi. SDM Kesehatan. Keterkaitan tersebut adalah sebagai berikut: 1. D. Dalam pemberdayaan masyarakat meliputi pula upaya peningkatan lingkungan sehat oleh masyarakat sendiri.

farmasi. dan makanan. dan makanan yang beredar. teralokasi secara adil. subsistem sediaan farmasi. Subsistem sumber daya manusia kesehatan diselenggarakan guna menghasilkan tenaga kesehatan yang bermutu dalam jumlah yang mencukupi. 2. khasiat. terdistribusi secara adil. Tersedianya tenaga kesehatan yang mencukupi dan berkualitas juga akan menunjang terselenggaranya subsistem pembiayaan kesehatan. dan makanan diselenggarakan guna menjamin keamanan. Tersedianya pembiayaan yang memadai juga akan menunjang terselenggaranya subsistem sumber daya manusia kesehatan. subsistem manajemen dan informasi kesehatan. pemerataan. 3. serta pemberdayaan masyarakat. dan makanan. sehingga upaya kesehatan dapat diselenggarakan sesuai dengan kebutuhan seluruh lapisan masyarakat. subsistem manajemen dan informasi kesehatan. serta subsistem pemberdayaan masyarakat. alat kesehatan. dan termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna untuk terselenggaranya upaya kesehatan secara merata. dan bermutu bagi seluruh masyarakat. serta subsistem pemberdayaan masyarakat. alat kesehatan dan makanan. manajemen dan informasi kesehatan. terutama obat esensial. Subsistem sediaan farmasi. 4. alat kesehatan. manfaat. dan mutu semua produk sediaan farmasi. Subsistem pembiayaan kesehatan diselenggarakan guna menghasilkan ketersediaan pembiayaan kesehatan dengan jumlah yang mencukupi. 27 . serta termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna. subsistem sediaan farmasi. menjamin ketersediaan. terjangkau. alat kesehatan. dan keterjangkauan obat. alat kesehatan.

dan hukum kesehatan yang memadai dan mampu menunjang penyelenggaraan upaya kesehatan secara berhasil guna dan berdaya guna. subsistem sumber daya manusia kesehatan. 6. manajemen dan informasi kesehatan. sehingga upaya kesehatan dapat diselenggarakan dengan berhasil guna dan berdaya guna. subsistem sediaan farmasi. serta pemberdayaan masyarakat. dan masyarakat umum yang mampu berperan aktif dalam penyelenggaraan upaya kesehatan. sumber daya kesehatan. serta penggunaan obat yang rasional. 5. informasi kesehatan. Masyarakat yang berdaya akan berperan aktif dalam penyelenggaraan subsistem pembiayaan kesehatan. alat kesehatan. subsistem pembiayaan kesehatan. Dengan manajemen kesehatan yang berhasil guna dan berdaya guna dapat diselenggarakan subsistem upaya kesehatan. administrasi kesehatan. dan makanan. pembiayaan kesehatan. dan makanan saling terkait dengan subsistem upaya kesehatan. alat kesehatan. dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. alat kesehatan. sebagai suatu kesatuan yang terpadu dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. serta subsistem pemberdayaan masyarakat. Subsistem sediaan farmasi. Subsistem manajemen dan informasi kesehatan diselenggarakan guna menghasilkan fungsi-fungsi kebijakan kesehatan. subsistem sediaan farmasi. Subsistem pemberdayaan masyarakat diselenggarakan guna menghasilkan individu. kelompok. subsistem sumber daya manusia kesehatan. 28 .perlindungan masyarakat dari penggunaan yang salah dan penyalahgunaan obat.

regional. sosial budaya. nasional. serta subsistem manajemen dan informasi kesehatan. mengingat pembangunan kesehatan tidak dapat mencapai tujuannya tanpa memperhatikan dengan seksama interaksi dengan lingkungan strategis tersebut. politik.dan makanan. dan pertahanan keamanan. yang meliputi: ideologi. Dalam kaitan ini. maupun global. ekonomi. 29 . lingkungan termaksud dapat sebagai peluang maupun kendala. hubungan SKN dengan lingkungan strategisnya sangat penting artinya. Selain itu. Lingkungan tersebut terdapat di tingkat lokal. Untuk memperoleh kejelasan secara umum substansi berbagai unsur-unsur pembangunan kesehatan dan subsistem SKN serta tata hubungannya dengan lingkungan strategis yang lebih spesifik dan penting yang mempengaruhi SKN dapat dilihat pada skema di Gambar-2.

Upaya Kesehatan Pelayanan kesehatan meliputi peningkatan. dan pemulihan. meliputi upaya peningkatan. pengobatan. SUBSISTEM UPAYA KESEHATAN 1. Tujuan Tujuan dari penyelenggaraan subsistem upaya kesehatan adalah terselenggaranya upaya kesehatan yang adil. yang diselenggarakan guna menjamin tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. 3. merata. pencegahan. baik pelayanan kesehatan konvensional maupun pelayanan kesehatan yang terdiri dari pengobatan tradisional dan komplementer melalui pendidikan dan pelatihan dengan selalu mengutamakan keamanan dan efektifitas yang tinggi. terpadu. 2. Unsur-unsur a. Pengertian Subsistem Upaya Kesehatan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan upaya kesehatan yang paripurna. 30 . pencegahan. terjangkau. dan pemulihan. dan bermutu untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. dan berkualitas.BAB V CARA PENYELENGGARAAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. pengobatan.

termasuk swasta. sarana dan prasarana. lisensi. dan masyarakat miskin. 31 . b. Fasilitas pelayanan kesehatan merupakan alat dan atau tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan. maupun pemulihan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat. anak. akreditasi. Sumber Daya Upaya Kesehatan Sumber daya upaya kesehatan terdiri dari SDM kesehatan. biaya. manusia usia lanjut. sediaan farmasi dan alat kesehatan. pencegahan. pengobatan. bayi. dan penegakan hukum yang dilakukan oleh pemerintah bersama dengan organisasi profesi dan masyarakat. Pembinaan dan pengawasan upaya kesehatan dilakukan secara berjenjang melalui standarisasi. serta manajemen dan sistem informasi kesehatan yang memadai guna terselenggaranya upaya kesehatan. Pembinaan dan Pengawasan Upaya Kesehatan Pelayanan kesehatan harus diberikan berdasarkan standar pelayanan yang telah ditetapkan oleh pemerintah dengan mempertimbangkan masukan dari organisasi profesi. c. antara lain: ibu. termasuk fasilitas pelayanan kesehatan. sertifikasi. baik peningkatan.Upaya kesehatan diutamakan pada berbagai upaya yang mempunyai daya ungkit tinggi dalam pencapaian sasaran pembangunan kesehatan utamanya penduduk rentan.

serta mampu menghadapi tantangan global dan regional. serta aspek terkait lainnya dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai. pencegahan. terjamin keamanannya bagi penerima dan pemberi upaya. Pelaksanaan penelitian dan pengembangan didasarkan pada masalah kesehatan prioritas. dapat diterima masyarakat. dan Sesuai Kebutuhan Pelayanan kesehatan bagi masyarakat harus berkualitas. Penelitian dan Pengembangan Upaya Kesehatan Penelitian dan pengembangan dilakukan utamanya untuk mendukung peningkatan mutu upaya kesehatan yang berhasil guna dan berdaya guna. 4.d. Berkesinambungan dan Paripurna Upaya kesehatan bagi masyarakat diselenggarakan secara berkesinambungan dan paripurna meliputi upaya peningkatan. efektif dan sesuai. Adil dan Merata Pemerintah wajib menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan yang berkeadilan dan merata untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di bidang kesehatan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan di luar negeri dalam kondisi tertentu. Bermutu. Aman. c. Prinsip a. serta rujukan antar tingkatan upaya. pengobatan hingga pemulihan. sumber daya kesehatan. 32 . b.

Non diskriminatif Setiap penduduk harus mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan medis. Terjangkau Ketersediaan dan pembiayaan pelayanan kesehatan yang bermutu harus terjangkau oleh seluruh masyarakat. moral. Teknologi tepat guna berasas pada kesesuaian kebutuhan dan tidak bertentangan dengan etika. dan 33 . e. f. Penyelenggaraan a. dengan tetap memperhatikan pengarus-utamaan gender. dilakukan secara cepat dengan ketepatan/presisi yang tinggi. g. Upaya Kesehatan Upaya kesehatan mencakup kesehatan fisik. termasuk intelegensia dan sosial. mental. 5. yaitu upaya kesehatan primer. melibatkan semua pihak yang kompeten. dan nilai agama. upaya kesehatan sekunder. budaya dan agama. Terdapat tiga tingkatan upaya. Bekerja dalam Tim secara Cepat dan Tepat Upaya kesehatan dilakukan secara kerjasama tim. Upaya kesehatan dilaksanakan dalam tingkatan upaya sesuai dengan kebutuhan medik dan kesehatan.d. bukan status sosial ekonomi dan tidak membeda-bedakan suku/ras. Teknologi Tepat Guna Upaya kesehatan menggunakan teknologi tepat guna yang berbasis bukti.

dan pengetahuan tentang penyakit. dan operasional. Upaya kesehatan diselenggarakan secara berkesinambungan. termasuk penanggulangan bencana dan pelayanan gawat darurat. Rujukan dibagi dalam rujukan medik yang berkaitan dengan pengobatan dan pemulihan berupa pengiriman pasien (kasus). teknologi.upaya kesehatan tersier. spesimen. Rujukan upaya kesehatan adalah pelimpahan wewenang dan tanggung-jawab secara timbal balik. 1) Upaya Kesehatan Primer Upaya Kesehatan Primer terdiri dari pelayanan kesehatan perorangan primer dan pelayanan kesehatan masyarakat primer. dan paripurna melalui sistem rujukan. Upaya kesehatan primer adalah upaya kesehatan dimana terjadi kontak pertama secara perorangan atau masyarakat dengan pelayanan kesehatan melalui mekanisme rujukan timbal-balik. baik horisontal dan vertikal maupun struktural dan fungsional terhadap kasus penyakit atau masalah penyakit atau permasalahan kesehatan. Upaya kesehatan sekunder dan tersier adalah upaya kesehatan tingkat rujukan maupun rujukan tingkat lanjut. terpadu. sedang rujukan kesehatan dikaitkan dengan upaya pencegahan dan peningkatan kesehatan berupa sarana. 34 .

a) Pelayanan Kesehatan Perorangan Primer (PKPP) Pelayanan kesehatan perorangan primer adalah pelayanan kesehatan dimana terjadi kontak pertama secara perorangan sebagai proses awal pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan perorangan primer diselenggarakan oleh tenaga kesehatan yang dibutuhkan dan mempunyai kompetensi seperti yang ditetapkan sesuai ketentuan berlaku serta dapat dilaksanakan di rumah. pemulihan tanpa mengabaikan upaya peningkatan dan pencegahan. termasuk di dalamnya pelayanan kebugaran dan gaya hidup sehat (healthy life style). Prosedur dan Kriteria (NSPK) pelayanan yang ditetapkan oleh Pemerintah dengan memperhatikan masukan dari organisasi profesi dan masyarakat. masyarakat. maupun swasta. maupun fasilitas kesehatan perorangan primer baik Puskesmas dan jaringannya. Sstandar. tempat kerja. Pelayanan kesehatan perorangan primer diselenggarakan berdasarkan Norma. serta fasilitas kesehatan lainnya milik pemerintah. Dilaksanakan dengan dukungan pelayanan kesehatan perorangan sekunder dalam sistem rujukan yang timbal balik. Pelayanan kesehatan perorangan primer memberikan penekanan pada pelayanan pengobatan. Pelayanan kesehatan perorangan primer dapat diselenggarakan sebagai pelayanan 35 .

yang bergerak (ambulatory) atau menetap; dapat dikaitkan dengan tempat kerja, seperti klinik perusahaan; dan dapat disesuaikan dengan lingkungan atau kondisi tertentu (kesehatan matra, seperti: kesehatan haji, kesehatan kelautan, kesehatan penerbangan, kesehatan wisata). Pemerintah wajib menyediakan pelayanan kesehatan perorangan primer di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai kebutuhan, terutama bagi masyarakat miskin, daerah terpencil, perbatasan, pulau-pulau terluar dan terdepan, serta yang tidak diminati swasta. Pembiayaan pelayanan kesehatan perorangan primer untuk penduduk miskin dibiayai oleh pemerintah, sedangkan golongan ekonomi lainnya dibiayai dalam sistem pembiayaan yang diatur oleh pemerintah. Dalam pelayanan kesehatan perorangan termasuk pula pelayanan kesehatan berbasis masyarakat dalam bentuk seperti Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) dan pengobatan tradisional serta pengobatan alternatif yang secara ilmiah telah terbukti terjamin keamanan dan khasiatnya. b) Pelayanan Kesehatan Masyarakat Primer (PKMP) Pelayanan kesehatan masyarakat primer adalah pelayanan peningkatan dan pencegahan tanpa mengabaikan 36

pengobatan dan pemulihan dengan sasaran keluarga, kelompok, dan masyarakat. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat primer menjadi tanggung-jawab Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang pelaksanaan operasionalnya dapat didelegasikan kepada Puskesmas. Masyarakat termasuk swasta dapat menyelenggarakan pelayanan kesehatan masyarakat primer sesuai peraturan yang berlaku dan berkerjasama dengan pemerintah. Pembiayaan pelayanan kesehatan masyarakat primer ditanggung oleh pemerintah bersama masyarakat, termasuk swasta. Pemerintah wajib melaksanakan dan membiayai pelayanan kesehatan masyarakat primer yang berhubungan dengan prioritas pembangunan kesehatan melalui kegiatan perbaikan lingkungan, peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit dan kematian serta paliatif. Pelaksanaan pelayanan kesehatan masyarakat primer didukung kegiatan lainnya, seperti surveilans, pencatatan, dan pelaporan. Pemerintah dapat membentuk fasilitas kesehatan yang secara khusus ditugaskan untuk melaksanakan upaya kesehatan masyarakat sesuai keperluan. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat primer mendukung upaya 37

kesehatan berbasis masyarakat dan didukung oleh pelayanan kesehatan masyarakat sekunder. 2) Upaya Kesehatan Sekunder Upaya kesehatan sekunder adalah upaya kesehatan rujukan lanjutan, yang terdiri dari pelayanan kesehatan perorangan sekunder dan pelayanan kesehatan masyarakat sekunder. a) Pelayanan Kesehatan Sekunder (PKPS) Perorangan

Pelayanan kesehatan perorangan sekunder adalah pelayanan kesehatan spesialistik yang menerima rujukan dari pelayanan kesehatan perorangan primer, yang meliputi rujukan kasus, spesimen, dan ilmu pengetahuan serta wajib merujuk kembali ke fasilitas kesehatan yang merujuk. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder dilaksanakan oleh dokter spesialis atau dokter yang sudah mendapatkan pendidikan khusus dan mempunyai ijin praktik serta didukung tenaga kesehatan lainnya yang diperlukan. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder dilaksanakan di tempat kerja maupun fasilitas kesehatan perorangan sekunder baik Rumah Sakit setara kelas C serta fasilitas kesehatan lainnya milik pemerintah, masyarakat, maupun swasta. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder harus memberikan pelayanan kesehatan 38

Pelayanan kesehatan perorangan sekunder yang bersifat tradisional dan komplementer dilaksanakan dengan berafiliasi dengan atau di rumah sakit pendidikan. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat sekunder menjadi tanggungjawab Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan atau Provinsi sebagai fungsi teknisnya. b) Pelayanan Kesehatan Sekunder (PKMS) Masyarakat Pelayanan kesehatan masyarakat sekunder menerima rujukan kesehatan dari pelayanan kesehatan masyarakat primer dan memberikan fasilitasi dalam bentuk sarana. efisien dan berbasis bukti (evidence based medicine) serta didukung pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan.yang aman. efektif. dan sumber daya manusia kesehatan serta didukung oleh pelayanan kesehatan masyarakat tersier. yakni melaksanakan pelayanan kesehatan masyarakat yang tidak sanggup atau tidak memadai dilakukan pada pelayanan kesehatan masyarakat primer. teknologi. Dalam penanggulangan penyakit menular yang tidak terbatas pada suatu batas 39 . sesuai. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder dapat dijadikan sebagai wahana pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan pendidikan dan pelatihan.

40 . maka tingkat yang lebih tinggi (provinsi) yang harus menanganinya. dan wajib merujuk kembali ke fasilitas kesehatan yang merujuk. 3) Upaya Kesehatan Tersier Upaya kesehatan tersier adalah upaya kesehatan rujukan unggulan yang terdiri dari pelayanan kesehatan perorangan tersier dan pelayanan kesehatan masyarakat tersier. Fasilitas kesehatan penyelenggara pelayanan kesehatan masyarakat sekunder dibangun sesuai dengan standar. Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK). a) Pelayanan Kesehatan Perorangan Tersier (PKPT) Pelayanan kesehatan perorangan tersier menerima rujukan sub-spesialistik dari pelayanan kesehatan di bawahnya.administrasi pemerintahan (lintas kabupaten/ kota). Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL). seperti laboratorium kesehatan. Bagi fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat milik swasta harus mempunyai izin sesuai peraturan yang berlaku serta dapat bekerjasama dengan unit kerja Pemerintah Daerah. dan lain-lain. Pelaksana pelayanan kesehatan perorangan tersier adalah dokter sub-spesialis atau dokter spesialis yang telah mendapatkan pendidikan khusus atau pelatihan dan mempunyai izin praktik dan didukung oleh tenaga kesehatan lainnya yang diperlukan.

Pemerintah mengembangkan berbagai pusat pelayanan unggulan nasional yang berstandar internasional untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan dan menghadapi persaingan global dan regional. dan rujukan operasional. Fasilitas pelayanan kesehatan perorangan tersier dapat didirikan melalui modal patungan dengan pihak asing sesuai dengan peraturan dan kebijakan yang berlaku. b) Pelayanan Kesehatan Masyarakat Tersier (PKMT) Pelayanan kesehatan masyarakat tersier menerima rujukan kesehatan dari pelayanan kesehatan masyarakat sekunder dan memberikan fasilitasi dalam bentuk sarana. seperti pusat radioterapi. Pelaksana pelayanan kesehatan masyarakat tersier adalah Dinas Kesehatan Provinsi. teknologi. sumber daya manusia kesehatan. Pelayanan kesehatan perorangan tersier wajib melaksanakan penelitian dan pengembangan dasar maupun terapan dan dapat dijadikan sebagai pusat pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan.Pelayanan kesehatan perorangan tersier dilaksanakan di Rumah Sakit Umum. Rumah Sakit Khusus setara kelas A dan B. Unit 41 . baik milik pemerintah maupun swasta yang mampu memberikan pelayanan kesehatan subspesialistik dan juga termasuk klinik khusus.

harus didukung dengan standar pelayanan yang selalu dikaji dalam periode tertentu sesuai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebutuhan. Departemen Kesehatan. Pembinaan dan Pengawasan 1) Pembinaan Upaya Kesehatan Pembinaan upaya kesehatan ditujukan untuk menjamin mutu pelayanan kesehatan. dan masyarakat. b. Pemerintah Provinsi melakukan bimbingan dan pengendalian terhadap pelaksanaan kebijakan dan NSPK upaya kesehatan. Organisasi Profesi. Pemerintah menetapkan kebijakan dan NSPK upaya kesehatan dengan memperhatikan masukan dari Pemerintah Daerah.kerja terkait di tingkat Provinsi. dan Unit kerja terkait di tingkat nasional. 42 . Institut pelayanan kesehatan masyarakat tertentu secara nasional dapat dikembangkan untuk menampung kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat. Pelaksanaan pelayanan kesehatan masyarakat tersier menjadi tanggung-jawab Dinas Kesehatan Provinsi dan Departemen Kesehatan yang didukung dengan kerja sama lintas sektor.

Pemerintah Kabupaten/Kota melaksanakan kebijakan dan NSPK upaya kesehatan. Pemerintah. 2) Pengawasan Upaya Kesehatan Pengawasan ditujukan untuk menjamin konsistensi penyelenggaraan upaya kesehatan dan dilakukan secara intensif. 43 . sehingga semua fasilitas pelayanan kesehatan wajib memberikan laporan kegiatannya. Perizinan fasilitas upaya kesehatan menurut tingkatannya ditetapkan oleh Pemerintah. Pembinaan upaya kesehatan dilakukan oleh pemerintah bersama dengan organisasi profesi dan masyarakat termasuk swasta. Pemerintah Provinsi. berkewajiban melakukan pembinaan terhadap semua fasilitas pelayanan kesehatan termasuk swasta. dan Pemerintah Kabupaten/Kota sebagai penanggung-jawab pelaksanaan pembangunan kesehatan di wilayahnya. dan Pemerintah Kabupaten/Kota sesuai dengan kewenangannya yang diatur dalam peraturan perundangan. baik internal maupun eksternal dan juga dapat melibatkan masyarakat dan swasta. Pemerintah Provinsi. Hasil pengawasan digunakan untuk perlindungan terhadap masyarakat dan tenaga kesehatan selaku penyelenggara upaya kesehatan.

swasta. meliputi: 1) Ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan dihasilkan dari penelitian dan pengembangan kesehatan yang diselenggarakan oleh pusatpusat penelitian dan pengembangan milik masyarakat. dan pemerintah. seperti Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) secara berkala dan penelitian pengembangan upaya kesehatan. dan dokumentasi Iptek kesehatan. pengembangan dan pemanfaatan Iptek perlu diperluas untuk mendukung pembangunan kesehatan secara keseluruhan. Penelitian dan Pengembangan Pengembangan dan pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) yang memadai ditujukan untuk meningkatkan mutu upaya kesehatan. Pengembangan dan pemanfaatan Iptek. Sesuai dengan perkembangan dan keperluannya. 44 . Pemerintah melaksanakan penelitian data dasar kesehatan. jaringan informasi.c. Penelitian yang dilaksanakan oleh badan asing dan atau individu Warga Negara Asing (WNA) harus atas izin dan diawasi Pemerintah. 2) Pemanfaatan dan penyebarluasan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan diatur oleh Pemerintah dengan dukungan organisasi profesi. dilakukan dengan membentuk pusatpusat penelitian dan pengembangan unggulan.

2. 45 . Pengertian Subsistem pembiayaan kesehatan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan berbagai upaya penggalian. pengalokasian. tersalurkan sesuai peruntukannya untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. maupun swasta serta sumber lainnya yang digunakan untuk mendukung pelaksanaan pembangunan kesehatan. teralokasi secara adil. Dana yang tersedia harus mencukupi dan dapat dipertanggungjawabkan serta dipertanggung-gugatkan.B. Dana Dana digali dari sumber pemerintah baik dari sektor kesehatan dan sektor lain terkait. dari masyarakat. dan pembelanjaan dana kesehatan untuk mendukung penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Tujuan Tujuan dari penyelenggaraan subsistem pembiayaan kesehatan adalah tersedianya dana kesehatan dalam jumlah yang mencukupi. Unsur-unsur a. 3. SUBSISTEM PEMBIAYAAN KESEHATAN 1. merata dan termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna.

baik pusat maupun daerah. 46 . 4. baik oleh pemerintah secara lintas sektor. Pengelolaan Dana Kesehatan Prosedur/mekanisme pengelolaan dana kesehatan adalah seperangkat aturan yang disepakati dan secara konsisten dijalankan oleh para pelaku subsistem pembiayaan kesehatan.b. regulasi. dan pembelanjaan dana kesehatan. dan pembelanjaan dana kesehatan untuk mendukung terselenggaranya pembangunan kesehatan. pengalokasian. standar. dan kelembagaan yang digunakan secara berhasil guna dan berdaya guna dalam upaya penggalian. terus diupayakan peningkatan dan kecukupannya sesuai kebutuhan menuju sekurang-kurangnya 5% dari PDB atau 15% dari total anggaran pendapatan dan belanja setiap tahunnya. maupun masyarakat yang mencakup mekanisme penggalian. Kecukupan Pembiayaan kesehatan pada dasarnya merupakan tanggung-jawab bersama pemerintah. masyarakat. Prinsip a. Alokasi dana yang berasal dari pemerintah untuk upaya kesehatan dilakukan melalui penyusunan anggaran pendapatan dan belanja. c. pengalokasian. meliputi: SDM pengelola. sarana. dan swasta. Sumber Daya Sumber daya dari subsistem pembiayaan kesehatan. swasta.

berkelanjutan. Dana kesehatan diperoleh dari berbagai sumber.Pembiayaan kesehatan untuk masyarakat miskin dan tidak mampu merupakan tanggung-jawab pemerintah. berhasil guna dan berdaya guna. Efektif dan Efisien Dalam menjamin efektifitas dan efisiensi penggunaan dana kesehatan. Dana kesehatan digunakan secara bertanggungjawab dan bertanggung-gugat berdasarkan prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance). masyarakat. 47 . akuntabel. baik dari pemerintah. b. c. maka pembelanjaannya dilakukan melalui kesesuaian antara perencanaan pembiayaan kesehatan. tersalurkan secara tepat memperhatikan subsidiaritas dan fleksibilitas. dikelola secara adil. maupun swasta yang harus digali dan dikumpulkan serta terus ditingkatkan untuk menjamin kecukupan agar jumlahnya dapat sesuai dengan kebutuhan. Adil dan Transparan Dana kesehatan yang terhimpun baik dari pemerintah maupun masyarakat dimanfaatkan secara adil dalam rangka menjamin terpeliharanya dan terlindunginya masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan. transparan. sistem pembayaran pada fasilitas kesehatan perlu dikembangkan menuju bentuk pembayaran prospektif. serta menjamin terpenuhinya ekuitas. penguatan kapasitas manajemen perencanaan anggaran dan kompetensi pemberi pelayanan kesehatan.

bantuan atau pinjaman yang tidak mengikat. Dalam hal pengaturan penggalian dan pengumpulan serta pemanfaatan dana yang bersumber dari iuran wajib. dan sumber lainnya. Perencanaan dan pengaturan pembiayaan kesehatan dilakukan melalui penggalian dan pengumpulan berbagai sumber dana yang dapat menjamin kesinambungan pembiayaan pembangunan kesehatan. serta menggunakannya secara efisien dan efektif. Penggalian Dana Penggalian dana untuk pembangunan kesehatan yang bersumber dari pemerintah dilakukan melalui pajak umum. pemerintah harus melakukan sinkronisasi dan sinergisme antara sumber dana dari iuran wajib. 5. dana dari masyarakat. agar tersedia dana kesehatan yang mencukupi dan berkesinambungan. Penggalian dana yang bersumber dari masyarakat dihimpun secara aktif oleh masyarakat sendiri atau dilakukan secara pasif 48 . mengalokasikannya secara rasional. Dana yang bersumber dari swasta dihimpun dengan menerapkan prinsip kemitraan antara pemerintah dan masyarakat yang didukung dengan pemberian insentif. dana APBN/APBD. masyarakat. dan mengacu perundangan yang berlaku.transparan. Penyelenggaraan pada peraturan Subsistem pembiayaan kesehatan merupakan suatu proses yang terus-menerus dan terkendali. serta berbagai sumber lainnya. a. swasta. bersumber dari pemerintah. pajak khusus. dan sumber lainnya.

dan tersier dengan mengutamakan masyarakat rentan dan miskin. b. termasuk program-program kesehatan yang mempunyai daya ungkit tinggi terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat. perbatasan. Hal ini termasuk program bantuan sosial dari pemerintah untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin dan tidak mampu (Jamkesmas). Pengalokasian Dana Pengalokasian dana pemerintah dilakukan melalui perencanaan anggaran dengan mengutamakan upaya kesehatan prioritas secara bertahap dan terus ditingkatkan jumlah pengalokasiannya sehingga sesuai dengan kebutuhan. serta yang tidak diminati swasta. Pengalokasian dana untuk pelayanan kesehatan perorangan dilakukan melalui kepesertaan dalam jaminan pemeliharaan kesehatan yang diatur oleh pemerintah. sekunder. Penggalian dana untuk pelayanan kesehatan perorangan dilakukan dengan cara penggalian dan pengumpulan dana masyarakat dan didorong pada bentuk jaminan pemeliharaan kesehatan.dengan memanfaatkan berbagai dana yang sudah terkumpul di masyarakat. pulau-pulau terluar dan terdepan. 49 . Pengalokasian dana yang dihimpun dari masyarakat dilaksanakan berdasarkan asas gotong-royong sesuai dengan potensi dan kebutuhannya. Dana pemerintah untuk pembangunan kesehatan diarahkan untuk membiayai upaya kesehatan primer. daerah terpencil.

yang meliputi: upaya perencanaan. Sumber Daya Manusia Kesehatan adalah tenaga kesehatan profesi termasuk tenaga kesehatan strategis dan tenaga kesehatan non profesi serta tenaga pendukung/penunjang kesehatan yang terlibat dan bekerja serta mengabdikan dirinya seperti dalam upaya dan manajemen kesehatan. Pembelanjaan Pemanfaatan dana kesehatan dilakukan dengan memperhatikan aspek teknis maupun alokatif sesuai peruntukannya secara efisien dan efektif untuk terwujudnya pengelolaan pembiayaan kesehatan yang transparan. Pembelanjaan dana kesehatan diarahkan terutama melalui jaminan pemeliharaan kesehatan. SUBSISTEM SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN 1. pengadaan. 50 . serta menerapkan prinsip penyelenggaraan tata pemerintahan yang baik (good governance). C. Pengertian Subsistem SDM Kesehatan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan upaya pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan. baik yang bersifat wajib maupun sukarela serta dalam upaya peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan. pendayagunaan. akuntabel.c. serta pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan untuk mendukung penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.

Dalam sumber daya ini juga termasuk sumber daya manusia. Unsur-unsur a. cara 51 . yang meliputi: berbagai standar kompetensi. dan berdedikasi tinggi dalam melakukan tugasnya. dana. serta institusi/fasilitas pendidikan dan pelatihan yang menyediakan sarana dan prasarana pendidikan dan pelatihan. sumber daya manusia pendidikan dan pelatihan. berakhlak luhur. Sumber Daya Kesehatan) Manusia Kesehatan (SDM Sumber daya manusia Kesehatan. b. serta mempunyai etika. baik tenaga kesehatan maupun tenaga pendukung/penunjang kesehatan. mempunyai hak untuk memenuhi kebutuhan dasarnya (hak asasi) dan sebagai makhluk sosial. Tujuan Tujuan dari penyelenggaraan subsistem SDM Kesehatan adalah tersedianya SDM Kesehatan yang kompeten sesuai kebutuhan yang terdistribusi secara adil dan merata serta didayagunakan secara optimal dalam mendukung penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. modul dan kurikulum serta metode pendidikan dan latihan. 3.2. Sumber Daya Pengembangan Pemberdayaan SDM Kesehatan dan Sumber daya pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan adalah sumber daya pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan SDM Kesehatan. dan wajib memiliki kompetensi untuk mengabdikan dirinya di bidang kesehatan.

Penyelenggaraan Pengembangan Pemberdayaan SDM Kesehatan dan Penyelenggaraan pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan meliputi upaya perencanaan. Pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan adalah upaya untuk mengarahkan. pendayagunaan. dan distribusi tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan pembangunan kesehatan. Pengadaan SDM Kesehatan adalah upaya yang meliputi pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan SDM Kesehatan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan kesehatan. Perencanaan SDM Kesehatan adalah upaya penetapan jenis.atau metode. c. Adil dan Merata serta Demokratis Pemenuhan ketersediaan SDM Kesehatan ke seluruh wilayah Indonesia harus berdasarkan 52 . Prinsip a. 4. kualifikasi. memberikan dukungan. pendayagunaan. Pendayagunaan SDM Kesehatan adalah upaya pemerataan dan pemanfaatan serta pengembangan SDM Kesehatan. serta pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan. serta mengawasi pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan. serta pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan. serta peralatan dan perlengkapan untuk melakukan perencanaan. pengadaan. jumlah.

bertanggung-jawab. d. bertaqwa. dan berdaya saing tinggi. beriman. profesional. b.pemerataan dan keadilan sesuai dengan potensi dan kebutuhan pembangunan kesehatan serta dilaksanakan secara demokratis. mandiri. tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Hierarki dalam SDM Kesehatan Pengembangan dan pemberdayan SDM Kesehatan dalam mendukung pembangunan kesehatan perlu memperhatikan adanya susunan hierarki SDM Kesehatan yang ditetapkan berdasarkan jenis dan tingkat tanggung-jawab. 53 . nilai keagamaan. serta keterampilan masing-masing SDM Kesehatan. nilai budaya. kompetensi. Kompeten dan Berintegritas Pengadaan SDM Kesehatan melalui pendidikan dan pelatihan yang sesuai standar pelayanan dan standar kompetensi serta menghasilkan SDM yang menguasai Iptek. c. dan kemajemukan bangsa. Objektif dan Transparan Pembinaan dan pengawasan serta pendayagunaan (termasuk pengembangan karir) SDM Kesehatan dilakukan secara objektif dan transparan berdasarkan prestasi kerja dan disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan kesehatan.

Perencanaan SDM Kesehatan yang meliputi jenis.5. Pengadaan SDM Kesehatan Standar pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan SDM Kesehatan mengacu kepada standar pelayanan dan standar kompetensi SDM Kesehatan dan perlu didukung oleh etika profesi SDM Kesehatan tersebut. Pemerintah dengan melibatkan organisasi profesi dan masyarakat menetapkan standar kompetensi dan standar pendidikan yang berlaku secara nasional. Perencanaan SDM Kesehatan Penyusunan rencana kebutuhan SDM Kesehatan dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan SDM Kesehatan yang diutamakan. Penyelenggaraan a. Pemerintah bertanggung-jawab mengatur pendirian institusi pendidikan dan pembukaan program 54 . dan kualifikasinya dilakukan dengan meningkatkan dan memantapkan keterkaitannya dengan unsur lainnya dalam manajemen pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan dengan memperhatikan tujuan pembangunan kesehatan dan kecenderungan permasalahan kesehatan di masa depan. jumlah. b. Perencanaan SDM Kesehatan dilakukan dengan mendasarkan pada fakta (berbasis bukti) melalui peningkatan sistem informasi SDM Kesehatan. baik dalam upaya kesehatan primer maupun upaya kesehatan sekunder serta tersier.

serta menentukan sertifikasi institusi pendidikan dan pelatihan profesi. Institusi/fasilitas pelayanan kesehatan yang terakreditasi wajib mendukung penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan. prosedur penetapan kompetensi khusus tenaga kesehatan.pendidikan tenaga kesehatan yang dibutuhkan dalam pembangunan kesehatan. sehingga registrasi tenaga kesehatan lulusan dalam negeri dapat diakui di dunia internasional. dinamika pasar baik di dalam maupun di luar negeri. Pemerintah dengan melibatkan organisasi profesi membentuk badan regulator profesi yang bertugas menyusun berbagai peraturan persyaratan. Penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan harus memenuhi akreditasi sesuai dengan peraturan perundangan. dan kemampuan produksi tenaga kesehatan dengan yang sudah ada. Kompetensi tenaga kesehatan harus setara dengan kompetensi tenaga kesehatan di dunia internasional. 55 . Pendirian institusi pendidikan dan pembukaan program pendidikan ditekankan untuk menghasilkan lulusan tenaga kesehatan yang bermutu dan dapat bersaing secara global dengan memperhatikan keseimbangan antara kebutuhan. Penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan harus responsif gender yang berorientasi kepada kepentingan peserta didik (“student centered”). menentukan kompetensi umum.

terbuka. Dalam rangka penempatan tenaga kesehatan untuk kepentingan pelayanan publik dan pemerataan. dan lintas institusi melalui jenjang jabatan struktural dan jabatan fungsional. Pemerintah dan swasta mengembangkan dan menerapkan pola karir tenaga kesehatan yang dilakukan secara transparan. Pemerintah Daerah bersama UPT-nya dan masyarakat melakukan rekrutmen dan penempatan tenaga penunjang (tenaga masyarakat) yang diperlukan untuk mendukung UKBM sesuai dengan kebutuhan pembangunan kesehatan. Pemerintah. daerah perbatasan. Pemerintah bersama organisasi profesi dan swasta mengupayakan penyelenggaraan pendidikan 56 . seperti: daerah terpencil. Pendayagunaan SDM Kesehatan Pemerintah Pusat bekerjasama dengan Pemerintah Daerah melakukan upaya penempatan tenaga kesehatan yang ditujukan untuk mencapai pemerataan yang berkeadilan dalam pembangunan kesehatan. serta daerah bencana dan rawan konflik. pulau-pulau terluar dan terdepan. daerah tertinggal. baik Pusat maupun Daerah dan Swasta melakukan rekrutmen dan penempatan tenaga kesehatan dan tenaga pendukung kesehatan yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan pembangunan kesehatan dan atau menjalankan tugas dan fungsi institusinya. pemerintah melakukan berbagai pengaturan untuk memberikan imbalan material atau non material kepada tenaga kesehatan untuk bekerja di bidang tugas atau daerah yang tidak diminati.c.

Pendayagunaan tenaga kesehatan warga negara asing hanya dilakukan pada tingkat konsultan pada bidang tertentu.berkelanjutan dalam rangka peningkatan karir dan profesionalisme tenaga kesehatan. dan pengalaman yang mereka punyai tidak merugikan SDM Kesehatan Indonesia. Tenaga kesehatan Warga Negara Indonesia lulusan institusi luar negeri yang telah memperoleh pengakuan dari Departemen yang bertanggungjawab atas pendidikan nasional. dalam rangka alih teknologi dan ditetapkan melalui persyaratan sesuai peraturan perundangan yang berlaku. modal. 57 . diantaranya melalui pelatihan yang terakreditasi yang dilaksanakan oleh institusi penyelenggara pelatihan yang terakreditasi. Dalam rangka mengantisipasi globalisasi perlu dilakukan pengaturan agar masuknya SDM Kesehatan warga negara asing dengan teknologi. Pendayagunaan tenaga kesehatan untuk keperluan luar negeri diatur oleh lembaga pemerintah dalam rangka menjamin keseimbangan antara kemampuan pengadaan tenaga kesehatan di Indonesia dan kebutuhan tenaga kesehatan Indonesia di luar negeri serta melindungi hak-hak dan hak asasi manusia tenaga kesehatan Indonesia di luar negeri. Dalam rangka pendayagunaan SDM Kesehatan yang sesuai kebutuhan pembangunan kesehatan. mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan tenaga kesehatan lulusan dalam negeri. perlu dilakukan peningkatan kualitas SDM Kesehatan secara terus menerus (pra-jabatan/”preservice” dan “in-service”).

yang dalam pelaksanaannya dapat dilimpahkan kepada Pemerintah Daerah Provinsi. penggajian. Pembinaan dan Pengawasan SDM Kesehatan Pembinaan penyelenggaraan pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan di berbagai tingkatan dan atau organisasi memerlukan komitmen yang kuat dari pemerintah dan dukungan peraturan perundang-undangan mengenai pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan tersebut. Pembinaan dan pengawasan praktik profesi bagi tenaga kesehatan profesi dilakukan melalui sertifikasi. dan pemberian lisensi bagi tenaga kesehatan yang memenuhi syarat. dan insentif untuk hidup layak sesuai dengan tata nilai di 58 . Registrasi tenaga kesehatan untuk dapat melakukan praktik profesi di seluruh wilayah Indonesia diberikan oleh Departemen Kesehatan. Sertifikasi tenaga kesehatan dalam bentuk ijazah dan sertifikat kompetensi diberikan Departemen Kesehatan setelah melalui uji kompetensi yang dilaksanakan organisasi profesi terkait. Perizinan/lisensi tenaga kesehatan profesi untuk melakukan praktik dalam rangka memperoleh penghasilan secara mandiri dari profesinya diberikan oleh instansi kesehatan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota setelah mendapatkan rekomendasi dari organisasi profesi terkait. uji kompetensi. Pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan dilakukan melalui sistem karier.d. registrasi.

DAN MAKANAN 1. dan makanan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan berbagai upaya yang menjamin keamanan. 2. dan makanan yang terjamin aman. alat kesehatan. maka sanksi administrasi maupun pidana harus dilakukan dalam rangka melindungi masyarakat maupun tenaga yang bersangkutan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pengawasan SDM Kesehatan dilakukan untuk mencegah terjadinya pelanggaran disiplin melalui pengawasan melekat dan pengawasan profesi.masyarakat dan beban tugasnya agar dapat bekerja secara profesional. alat kesehatan. Pengertian Subsistem sediaan farmasi. khasiat/manfaat. D. ALAT KESEHATAN. mutu sediaan farmasi. alat kesehatan. Tujuan Tujuan penyelenggaraan subsistem sediaan farmasi. Sediaan farmasi adalah obat. dan khusus untuk obat dijamin ketersediaan dan 59 . SUBSISTEM SEDIAAN FARMASI. alat kesehatan. dan makanan. dan kosmetika. bahan obat. Dalam hal terjadi pelanggaran disiplin oleh tenaga kesehatan maupun tenaga pendukung/penunjang kesehatan yang bekerja dalam bidang kesehatan dan menyebabkan kerugian pada pihak lain. dan makanan adalah tersedianya sediaan farmasi. berkhasiat/bermanfaat dan bermutu. obat tradisional.

jumlah. Fasilitas sediaan farmasi. Sediaan farmasi harus tersedia dalam jenis. terutama obat dan alat kesehatan esensial bagi masyarakat miskin. Sumber Daya Sumber Daya Manusia sediaan farmasi. makanan adalah komoditi yang mempengaruhi kesehatan masyarakat. Komoditi Sediaan farmasi dan alat kesehatan adalah komoditi untuk penyelenggaraan upaya kesehatan. dan khasiat yang tepat. Unsur-unsur a. 3. Standar. dan tersier. dan makanan harus dengan jumlah yang cukup serta mempunyai standar kompetensi yang sesuai dengan etika profesi. distribusi maupun fasilitas pelayanan kesehatan primer. Prosedur. bentuk. serta makanan meliputi jenis dan manfaat. alat kesehatan. Pembiayaan yang cukup dari pemerintah diperlukan untuk menjamin ketersediaan dan keterjangkauan obat. sekunder. jumlah.keterjangkauannya guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. alat kesehatan tersedia dalam jenis. 60 . bentuk. baik di fasilitas produksi. dan Kriteria yang telah ditetapkan. dosis. b. dan makanan adalah peralatan atau tempat yang harus memenuhi Norma. dan fungsinya. alat kesehatan.

61 . dan bermutu di semua sarana pelayanan kesehatan dengan mengikuti norma. Penyediaan unit pelayanan publik bidang kesehatan untuk menangani berbagai masalah yang mudah diakses oleh masyarakat dan menerima keluhan atau pertanyaan terkait dengan sediaan farmasi. prosedur. dan makanan serta terhindar dari penggunaan yang salah dan penyalahgunaan. dan kriteria yang ditetapkan.c. alat kesehatan. e. standar. alat kesehatan. khasiat/manfaat. aman. Pengawasan Pengawasan yang komprehensif dengan melaksanakan regulasi yang baik (Good Regulatory Practices). Pelayanan Kefarmasian Pelayanan kefarmasian ditujukan untuk dapat menjamin penggunaan sediaan farmasi dan alat kesehatan. Pemberdayaan Masyarakat Masyarakat senantiasa dilibatkan secara aktif agar sadar dan dapat lebih berperan dalam penyediaan dan penggunaan sediaan farmasi. secara rasional. alat kesehatan dan makanan. ditujukan untuk menjamin setiap sediaan farmasi. dan mutu yang ditetapkan yang didukung oleh Laboratorium Pengujian yang handal. d. dan makanan yang beredar memenuhi standar dan persyaratan keamanan.

Berkhasiat. dan pengendalian secara profesional. Transparan dan Bertanggung-jawab Masyarakat berhak untuk mendapatkan informasi yang benar. dan mutu sediaan farmasi. alat kesehatan. dan Terjangkau Obat merupakan kebutuhan dasar manusia yang tidak tergantikan dalam pelayanan kesehatan. Sedangkan pelaku usaha bertanggungjawab atas keamanan. dan makanan melalui pembinaan. manfaat. 62 . khasiat/manfaat. distributor. Rasional Setiap pelaku pelayanan kesehatan harus selalu bertindak berdasarkan bukti ilmiah terbaik dan prinsip tepat biaya (cost-effective) serta tepat manfaat (cost-benefit) dalam pemanfaatan obat agar memberikan hasil yang optimal. sehingga obat tidak boleh diperlakukan sebagai komoditas ekonomi semata. c. Tersedia. transparan. independen. dan Bermutu Pemerintah menjamin keamanan. Prinsip a. dan mutu produk sesuai dengan fungsi usahanya dan peraturan yang berlaku.4. dan berbasis bukti ilmiah. dan pelaku pelayanan kesehatan. bertanggungjawab. Bermanfaat. d. lengkap. Merata. b. dan tidak menyesatkan tentang sediaan farmasi. pengawasan. dan makanan dari produsen. alat kesehatan. khasiat. Aman.

sistematis. Pemerintah mengatur harga obat dan alat kesehatan. Pemerataan. Pemerintah melakukan pengendalian dan pengawasan terhadap pengadaan serta penyaluran untuk menjamin ketersediaan dan pemerataan obat serta alat kesehatan. 63 . Keterjangkauan Obat dan Alat Kesehatan dan Penyediaan dan pelayanan obat berpedoman pada DOEN untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan. dan berkesinambungan sehingga memiliki daya saing tinggi dan mengurangi ketergantungan dari sumber daya luar negeri serta menjadi sumber ekonomi masyarakat dan devisa negara. Pemerintah dengan pengaturan khusus menjamin tersedianya obat bagi masyarakat di daerah terpencil. serta daerah bencana. 5. daerah tertinggal dan perbatasan. utamanya bahan baku obat dan obat tradisional harus dikelola secara profesional. Kemandirian Potensi sumber daya dalam negeri. Upaya Ketersediaan.e. Penyelenggaraan a. daerah rawan konflik dan obat yang tidak mempunyai nilai ekonomis (orphan drug).

dan Mutu Sediaan Farmasi. prosedur. dan mutu sediaan farmasi. khasiat/manfaat. dan masyarakat secara terpadu dan bertanggung-jawab. dan kriteria mengenai produk dan fasilitas produksi dan distribusi sediaan farmasi. dan Makanan serta Perlindungan Masyarakat dari Penggunaan yang Salah dan Penyalahgunaan Obat dan Alat Kesehatan Upaya jaminan keamanan. Upaya Jaminan Keamanan. Pengembangan dan penyempurnaan norma. pengawasan. khasiat/manfaat. iklan dan promosi. pengambilan dan pengujian sampel. standar. Pelaksanaan regulasi yang baik (Good Regulatory Practices) didukung oleh sumber daya yang memadai secara kuantitas maupun kualitas. yaitu pemerintah. dan makanan merupakan suatu kesatuan yang utuh. alat kesehatan. dan makanan sesuai dengan perkembangan Iptek dan standar internasional. akses terhadap ahli dan referensi ilmiah. dan pengendalian impor.b. Pembinaan. Khasiat/manfaat. dan mutu produk melalui proses pendaftaran dan evaluasi. Alat Kesehatan. produksi dan distribusi sediaan farmasi. sistem manajemen mutu. inspeksi fasilitas produksi dan distribusi. alat kesehatan. pelaku usaha. dan makanan merupakan tugas bersama yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. dan transparan. independen. ekspor. survailan dan vijilan setelah pemasaran. laboratorium pengujian mutu yang kompeten. kerjasama internasional. 64 . alat kesehatan. dilakukan melalui penilaian keamanan. serta pemantauan label atau penandaan.

serta manusia usia lanjut untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi tinggi dan memenuhi persyaratan keamanan. dan Zat Adiktif (Napza) harus merupakan upaya yang terpadu antara upaya represif. Peningkatan kesadaran/kemandirian masyarakat melalui penyediaan dan penyebaran informasi terpercaya termasuk informasi harga obat. Psikotropika. serta lingkungannya. termasuk pemberantasan produk palsu dan ilegal. dan makanan. preventif. c. mutu dan gizi.Dalam rangka menghindarkan dampak buruk dari penggunaan alat kesehatan. Perlindungan masyarakat dari penyalahgunaan Narkotika. Mendorong masyarakat rentan terutama anak dan ibu hamil. atau penggunaan bahan tambahan makanan yang tidak sesuai persyaratan. dan tidak menyesatkan mengenai penggunaan sediaan farmasi. Upaya Penyelenggaraan Pelayanan Kefarmasian Penyelengaraan pelayanan kefarmasian di semua sarana pelayanan kesehatan dilakukan dengan: 65 . transparan. kuratif. Perlindungan masyarakat terhadap pencemaran sediaan farmasi dari bahan-bahan yang dilarang. sehingga masyarakat memperoleh informasi yang benar. Penegakan hukum yang konsisten dengan efek jera yang tinggi untuk setiap pelanggaran. alat kesehatan. menyeluruh. dan rehabilitatif. maka upaya jaminan perlindungan keamanan diberikan kepada pengguna dan operator alat kesehatan. masyarakat.

d. Upaya Penggunaan Obat yang Rasional Penggunaan obat yang rasional merupakan salah satu langkah untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik dan mengefisienkan biaya pengobatan. objektif dan lengkap melalui penyusunan Informasi Obat Nasional Indonesia 66 . 3) Memberikan kontribusi dalam peningkatan peresepan yang rasional dan ekonomis serta penggunaan yang tepat.1) Mengutamakan kesejahteraan pasien dalam segala situasi dan kondisi. melalui pemanfaatan pedoman terapi dan formularium berbasis bukti ilmiah terbaik. dan 4) Memberikan pelayanan kefarmasian yang sesuai untuk setiap individu. 5) Penerapan pendekatan farmako ekonomi melalui analisis biaya efektif dan biaya manfaat pada seleksi obat yang digunakan di semua tingkat pelayanan kesehatan. sekunder. 6) Penyediaan informasi obat yang benar. 3) Pengembangan mekanisme pemantauan ketersediaan obat esensial dan langkah-langkah perbaikan di setiap fasilitas pelayanan kesehatan. dan tersier. 2) Audit dan umpan balik dalam penggunaan obat rasional. memberikan informasi dan saran serta memonitor penggunaan obat oleh pasien. Penyelenggaraan upaya penggunaan obat yang rasional dilakukan antara lain melalui kegiatan berikut: 1) Penerapan DOEN dalam upaya pelayanan kesehatan tingkat primer. 2) Melaksanakan kegiatan inti farmasi yang meliputi pengelolaan obat dan produk kesehatan lainnya. 4) Pemberdayaan Komite Farmasi dan Terapi (KFT) untuk meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian melalui penggunaan obat secara rasional. menjamin mutu.

serta 8) Pemberdayaan SDM Kesehatan dalam melaksanakan penggunaan obat rasional di semua fasilitas pelayanan kesehatan. 7) Pemberdayaan masyarakat melalui Komunikasi. dan lain-lain. antara lain promosi penggunaan obat generik dan pengelolaan berbagai penyakit secara tepat. e. 2) Pemerintah menciptakan iklim yang kondusif bagi investasi di bidang farmasi melalui persaingan usaha yang adil. Upaya Kemandirian Sediaan Farmasi melalui Pemanfaatan Sumber Daya Dalam Negeri Pengembangan dan pemanfaatan sumber daya alam Indonesia perlu didorong secara berkelanjutan untuk digunakan sebagai obat tradisional demi peningkatan pelayanan kesehatan dan ekonomi. serta kepastian proses perijinan.(IONI) akan sangat mendukung para profesi kesehatan seperti: dokter. pemberian insentif kebijakan perpajakan dan perbankan. Informasi dan Edukasi (KIE). perawat dan tenaga kesehatan lainnya dalam memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat sehingga dapat meningkatkan kemanfaatan dan keamanan penggunaan obat termasuk penggunaan obat yang rasional. Informasi kepada masyarakat. 4) Komitmen semua 67 . 3) Pembinaan industri farmasi dalam negeri agar mampu melakukan produksi sesuai dengan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dan dapat melakukan usahanya dengan efektif dan efisien sehingga mempunyai daya saing yang tinggi. seperti penyakit diare. apoteker. Langkah-langkah yang perlu diselenggarakan meliputi: 1) Pemilihan produk yang tepat untuk pengembangan produksi dalam negeri dengan mempertimbangkan potensi sumber daya dalam negeri.

alat kesehatan. 5) Peningkatan penelitian dan pengembangan bahan baku obat. 6) Pengembangan pemanfaatan obat tradisional yang aman.pemangku kepentingan. administrasi kesehatan. E. para pelayan kesehatan dan konsumen. obat. dan dimanfaatkan secara luas baik untuk pengobatan sendiri oleh masyarakat maupun digunakan dalam pelayanan kesehatan formal. Pengertian MANAJEMEN DAN INFORMASI Subsistem manajemen dan informasi kesehatan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan yang menghimpun berbagai upaya kebijakan kesehatan. Penyelenggaraan subsistem sediaan farmasi. seperti kemauan industri farmasi domestik untuk memprioritaskan penggunaan bahan baku produksi dalam negeri. dan masyarakat. SUBSISTEM KESEHATAN 1. pengaturan hukum kesehatan. 68 . memiliki khasiat nyata yang teruji secara ilmiah. penerimaan fasilitas pelayanan kesehatan. bermutu tinggi. pengelolaan data dan informasi kesehatan yang mendukung subsistem lainnya dari SKN guna menjamin tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. swasta/dunia usaha. dan makanan harus melibatkan seluruh pelaku baik secara perorangan maupun bersama dan terpadu antara pemerintah. dan obat tradisional untuk menunjang pembangunan kesehatan.

baik pemerintah. Administrasi Kesehatan Administrasi kesehatan merupakan kegiatan perencanaan. dan akuntabel. berbasis bukti dan operasional. dan masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan dengan memperhatikan kerangka desentralisasi dan otonomi daerah. terutama kepada individu dan masyarakat dan sebagai sarana untuk 69 . dan pengendalian serta pengawasan dan pertanggung-jawaban penyelenggaraan pembangunan kesehatan. serta didukung oleh hukum kesehatan dan sistem informasi kesehatan untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. dan penegakan aturan tersebut dalam rangka memberikan perlindungan. penerapan. Hukum Kesehatan Hukum kesehatan merupakan keseluruhan peraturan perundangan di bidang kesehatan dan segala tindakan penyebarluasan. pelaksanaan. terselenggaranya fungsi-fungsi administrasi kesehatan yang berhasil guna. berdaya guna. swasta. 3. b. c.2. Unsur-unsur a. Kebijakan Kesehatan Kebijakan kesehatan merupakan pedoman yang menjadi acuan bagi semua pelaku pembangunan kesehatan. Tujuan Tujuan subsistem manajemen dan informasi kesehatan adalah terwujudnya kebijakan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan.

standar. sarana prasarana. Prinsip a. dan kelembagaan yang digunakan secara berhasil guna dan berdaya guna dalam upaya mendukung terselenggaranya pembangunan kesehatan. dana. 70 . 4. meliputi: SDM. e. Sumber daya Manajemen Informasi Kesehatan Kesehatan dan Sumber daya manajemen kesehatan dan informasi kesehatan. keteladanan. Kepemimpinan yang Visioner Bidang Kesehatan Kepemimpinan yang visioner bidang kesehatan adalah kepemimpinan yang mempunyai visi. Inovasi atau Kreativitas Penyelenggaraan manajemen dan informasi kesehatan harus mampu menciptakan daya tahan dan kesinambungan kinerja sistem melalui inovasi/kreatifitas dalam menghadapi perubahan dan tantangan pembangunan kesehatan dengan lebih baik. Informasi Kesehatan Informasi kesehatan merupakan hasil pengumpulan dan pengolahan data sebagai masukan bagi pengambilan keputusan di bidang kesehatan. b. penyelenggaraan pembangunan d.memfasilitasi kesehatan. dan bertekad dalam pembangunan kesehatan.

dan anggaran perlu disusun secara terpadu. dan informasi kesehatan. program. administrasi. kontingensi. 5. Perencanaan kebijakan. Kesesuaian dengan Sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia Manajemen dan informasi kesehatan menjadi pendukung utama dalam pelaksanaan desentralisasi dengan mempertimbangkan komitmen global dalam pembangunan kesehatan. dan sinergi yang dinamis. dan transparansi sangat penting. d. dan Kriteria (NSPK) kebijakan pembangunan kesehatan nasional. Untuk itu. efektifitas. Standar. hukum. a. Penyelenggaraan Dalam rangka mencapai Tujuan Nasional. Prosedur. Sinergisme yang Dinamis Pendekatan manajemen kesehatan merupakan kombinasi dari pendekatan sistem. transparansi. penetapan skala prioritas berbasis bukti dari 71 . subsistem manajemen dan informasi kesehatan diselenggarakan dengan mensinergikan unsur kebijakan. Kebijakan Kesehatan Penyelenggaraan proses kebijakan kesehatan dilakukan secara optimal dengan mengacu kepada Norma. interelasi dan interdependensi yang dinamis di antara para pelaku pembangunan kesehatan.c. Dalam manajemen ini penting adanya interaksi. Dalam manajemen kesehatan ini prinsip efisiensi. pembangunan kesehatan menjadi salah satu dari arus utama pembangunan nasional.

berbagai sumber yang tersedia. memanfaatkan teknologi informasi. didukung dengan SDM yang kompeten. terpadu berlandaskan pada arah kebijakan pembangunan nasional dengan memperhatikan NSPK dan prioritas pembangunan kesehatan. pelaksanaan dan pengendalian. serta pengawasan dan pertanggung-jawaban didasarkan atas urusan wajib bidang kesehatan yang dilaksanakan secara berdaya guna dan berhasil guna. dilaksanakan secara sinergi yang dinamis antara sektor kesehatan dengan sektor lain. berorientasi pada kepentingan masyarakat. Administrasi Kesehatan Penyelenggaraan administrasi kesehatan meliputi perencanaan. peningkatan kesadaran hukum bagi aparatur kesehatan dan masyarakat. dan pembiayaan yang mencukupi. responsif gender. b. c. didukung SDM yang kompeten. Hukum Kesehatan Penyelenggaraan hukum kesehatan meliputi penyusunan peraturan/regulasi dan harmonisasi di tingkat pusat dan daerah. pelayanan advokasi hukum. untuk dilaksanakan secara bersama oleh seluruh pelaku pembangunan kesehatan secara sinergi dan dinamis. Pusat dan Daerah dengan mempertimbangkan desentralisasi dan memperhatikan peraturan perundangan yang berlaku. dilaksanakan dengan menjunjung tinggi penyelenggaraan tata pemerintahan yang baik (good governance). melalui proses pengkajian dan perumusan kebijakan yang melibatkan masyarakat dan berbagai stakeholder terkait. berorientasi pada kepentingan masyarakat. serta 72 .

pengembangan dan penelitian kesehatan. integrasi. peraturan. keadilan. data dari fasilitas kesehatan dan masyarakat (seperti Riset Kesehatan Dasar dan surveilans). Informasi Kesehatan Penyelenggaraan informasi kesehatan meliputi pengumpulan. penerapan. pengolahan dan analisis data. dilakukan melalui koordinasi. serta aspek kerahasiaan yang berlaku di bidang kesehatan. dan penegakan hukum perlu dilengkapi dan ditata dengan memperhatikan perkembangan dan perubahan lingkungan internal dan eksternal. serta sesuai dengan kebutuhan. transparan. F. 73 . sosialisasi. kesetaraan. serta berhasil guna dan berdaya guna sebagai bahan pengambilan keputusan dengan mempertimbangkan desentralisasi. dan sinkronisasi informasi kesehatan secara sinergi yang dinamis dalam rangka penyediaan data dan informasi terkini. cepat. dengan memperhatikan kecukupan data termasuk data terpilah yang responsif gender. valid. akurat.pembinaan dan pengawasan. d. serta penerapan pengetahuan dan teknologi kesehatan. dilaksanakan dengan mempertimbangkan perlindungan bagi masyarakat dan pemberi pelayanan. Pengertian Subsistem pemberdayaan masyarakat adalah bentuk dan cara penyelenggaraan berbagai upaya kesehatan. manajemen informasi kesehatan. termasuk regulasi kesehatan internasional. dengan dukungan pendayagunaan teknologi. serta pengembangan sistem informasi kesehatan terpadu. SUBSISTEM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT 1.

dan fasilitator yang mempunyai kompetensi memadai dan dapat membangun komitmen dengan dukungan para pemimpin. motivator. terpadu. politisi. dan swasta menjadi inisiator. kelompok masyarakat). b. kelompok (organisasi kemasyarakatan. mampu mengatasi masalah kesehatan secara mandiri.baik perorangan. figur masyarakat. Sasaran Pemberdayaan Perorangan (tokoh masyarakat. dan sebagainya). berperan aktif dalam setiap pembangunan kesehatan. Unsur-unsur a. serta dapat menjadi penggerak dalam mewujudkan pembangunan berwawasan kesehatan. baik formal maupun non formal. 3. 2. kelompok. Tujuan Tujuan subsistem pemberdayaan masyarakat adalah meningkatnya kemampuan masyarakat untuk berperilaku hidup sehat. organisasi profesi. dan masyarakat luas serta pemerintah yang berperan sebagai agen perubahan untuk penerapan perilaku hidup sehat (subjek pembangunan kesehatan). maupun masyarakat secara terencana. dan berkesinambungan guna tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. 74 . Penggerak Pemberdayaan Pemerintah. masyarakat. tokoh agama.

oleh. b. d. serta potensi masyarakat (modal sosial). sehingga membentuk kebiasaan dan pola hidup. serta melembaga dan membudaya dalam kehidupan bermasyarakat. dan kemampuan. serta menjadi penggerak dalam pembangunan kesehatan.c. 4. dan media untuk terselenggaranya proses pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan. Berbasis Masyarakat Pembangunan kesehatan berbasis pada tata nilai perorangan. dan untuk masyarakat sehingga mampu untuk mengoptimalkan dan menggerakkan segala 75 . keluarga. permasalahan. tumbuh dan berkembang. Kegiatan Hidup Sehat Kegiatan hidup sehat yang dilakukan sehari-hari oleh masyarakat. budaya. kemauan. Sumber Daya Potensi yang dimiliki oleh masyarakat. dan pemerintah yang meliputi: dana. pedoman. Kemandirian bermakna sebagai upaya kesehatan dari. Prinsip a. swasta. kebutuhan. sarana dan prasarana. dan masyarakat sesuai dengan keragaman sosial budaya. metode. Edukatif dan Kemandirian Pemberdayaan masyarakat dilakukan atas dasar untuk menumbuhkan kesadaran.

masyarakat. c. Kesempatan Mengemukakan Memilih Pelayanan Kesehatan Pendapat dan Masyarakat mempunyai kesempatan untuk menerima pembaharuan. 5. tenggang rasa. Kemitraan dan Gotong-royong Semua pelaku pembangunan kesehatan baik sebagai penyelenggara maupun sebagai pengguna jasa kesehatan dengan masyarakat yang dilayani berinteraksi dalam semangat kebersamaan. tanggap terhadap aspirasi masyarakat dan bertanggung-jawab. keluarga.sumber daya setempat serta tidak bergantung kepada pihak lain. solidaritas. Tumbuhnya rasa kepedulian. mengemukakan pendapat dan terlibat dalam proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kesehatan diri. Penyelenggaraan a. dan lingkungannya. Kesemuanya itu dapat dilaksanakan bila kebutuhan masyarakat telah dipenuhi secara wajar. empati. Penggerakan Masyarakat Pembangunan kesehatan perlu digerakkan oleh masyarakat dan masyarakat mempunyai peluang yang penting dan luas dalam pembangunan 76 . dan kepekaan masyarakat dalam menghadapi potensi dan masalah kesehatan yang akhirnya bermuara dalam semangat gotongroyong sesuai dengan nilai luhur bangsa. d. kesetaraan. dan saling memperoleh manfaat. serta kemudahan akses informasi.

penyusunan rencana termasuk dalam penentuan prioritas kesehatan. Pengorganisasian dalam Pemberdayaan Pelaksanaan pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan melalui perorangan. Dalam kaitan ini pelibatan aktif masyarakat dalam proses pembangunan kesehatan dilakukan mulai dari penelaahan situasi masalah kesehatan.kesehatan. Pada hakekatnya pembangunan kesehatan diselenggarakan oleh. Perencanaan pemberdayaan masyarakat didasarkan pada fakta dan masalah kesehatan yang menjadi perhatian masyarakat setempat maupun masyarakat luas serta dengan mempertimbangkan potensi sumber daya dan nilainilai sosial budaya masyarakat. 77 . kelompok. merupakan hal yang penting dalam pembangunan kesehatan. dan masyarakat luas sesuai dengan kepentingannya dan yang berhasil guna dan berdaya guna. Pemberdayaan masyarakat ditujukan guna terwujudnya penguatan upaya peningkatan. b. dan evaluasi upaya kesehatan sehingga dapat terwujud kemandirian dan kesinambungan pembangunan kesehatan. pemantauan. maupun pemulihan secara tersendiri atau terpadu. termasuk penggerakan masyarakat. dan untuk masyarakat. Pemberdayaan masyarakat. pelaksanaan. dari. pencegahan. penyembuhan. hal ini mengingat penekanan atau fokus pembangunan kesehatan diberikan pada peningkatan perilaku dan kemandirian masyarakat serta upaya promotif dan preventif.

serta dengan memperhatikan nilai-nilai agama dan sosial budaya yang ada. memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang. Desa Siaga. dan kemampuan masyarakat dalam berperilaku sehat dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung melalui berbagai saluran media dan teknik promosi kesehatan. dan kemandirian dalam upaya kesehatan. tempat kerja. dan fasilitas kesehatan agar terwujud pemberdayaan masyarakat yang berhasil guna dan berdaya guna serta terjamin kesinambungannya. Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan metoda yang tepat. dukungan sumber daya untuk membangun kemandirian dalam upaya kesehatan dan mendorong terbentuknya Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM). Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan memperhatikan karakteristik dan kekhususan masyarakat. tempat umum. 78 . menyiapkan regulasi. kemauan. daerah pesisir. Upaya untuk meningkatkan pengetahuan. dan aliran sungai. menyiapkan masyarakat dengan membekali pengetahuan dan keterampilan bagi masyarakat. Musholla Sehat.Pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan pula melalui pendekatan ketatanan. seperti: rumah tangga. kota. Peranan Pemerintah membuka akses informasi dan dialog. kesadaran. seperti: Poskestren. seperti masyarakat di desa. daerah pegunungan. Pemuda Siaga Peduli Bencana (Dasipena). institusi pendidikan.

Masyarakat juga dapat berpartisipasi dengan memberikan kritik yang membangun bagi kepentingan seluruh masyarakat. dunia usaha. Pelaksanaan advokasi dilakukan dengan dukungan informasi yang memadai serta metode yang berhasil guna dan berdaya guna. d. perguruan tinggi. Pembinaan dilakukan untuk kesinambungan pemberdayaan masyarakat yang telah dilakukan 79 . Kemitraan Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan kemitraan berbagai pihak.Peran masyarakat dalam pembangunan kesehatan dapat dengan cara mendirikan sarana pelayanan kesehatan maupun memberikan informasi kesehatan (promosi kesehatan) kepada masyarakat. organisasi kemasyarakatan. seperti seluruh sektor terkait. dan masyarakat agar terwujud dukungan sumber daya dan kebijakan dalam pembangunan kesehatan. lembaga legislatif. Advokasi Masyarakat dapat berperan dalam melakukan advokasi kepada pemerintah dan lembaga pemerintahan lainnya. c. Dalam kaitan ini termasuk pengembangan Desa Siaga atau bentuk-bentuk lain pada masyarakat desa/kelurahan. seperti legislatif untuk memperoleh dukungan kebijakan dan sumber daya bagi terwujudnya pembangunan berwawasan kesehatan.

dan kompetisi. komunikator.melalui berbagai cara. 80 . seperti di Puskesmas dan Rumah Sakit yang mempunyai kompetensi dan integritas tinggi. termasuk pentingnya ketersediaan tenaga penggerak/promosi kesehatan. e. Peningkatan Sumber Daya Dalam pemberdayaan masyarakat perlu didukung oleh pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan yang kuat. pendampingan. dan dinamisator dalam proses pemberdayaan masyarakat. Dalam pemberdayaan masyarakat secara lebih spesifik dapat didampingi penggerak yang berperan sebagai fasilitator. Ketersediaan sumber daya tersebut sangat penting agar dapat tercapai masyarakat berperilaku hidup sehat dan mandiri. pembiayaan yang memadai. dan dukungan berbagai sarana lain yang berkaitan. lomba. antara lain pemberian insentif.

dan berkeadilan. A. luaran. Bila terjadi perubahan paradigma dan lingkungan strategis. pertahanan dan keamanan baik nasional. bermutu. Sistem Kesehatan Nasional dapat disesuaikan dan disempurnakan dengan kondisi dan situasi yang berkembang. dan subsistem sediaan farmasi. regional maupun global. 3. dan subsistem manajemen dan informasi kesehatan. sebagai berikut: 1. subsistem pemberdayaan masyarakat. merata.BAB VI DUKUNGAN PENYELENGGARAAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL Sistem Kesehatan Nasional diupayakan agar mampu menyesuaikan dengan perkembangan dan dinamika pembangunan kesehatan yang dihadapi dalam penyelenggaraannya yang dilaksanakan secara berkesinambungan. dan tingkat fisik/alam yang berdampak terhadap 81 . dan makanan. Luaran dari SKN adalah terselenggaranya pembangunan kesehatan yang berhasil guna dan berdaya guna. Lingkungan SKN meliputi berbagai keadaan yang menyangkut ideologi. budaya. ekonomi. PROSES PENYELENGGARAAN SKN Penyelenggaraan SKN menerapkan pendekatan kesisteman yang meliputi masukan. Masukan dalam SKN meliputi subsistem sumber daya manusia. dan lingkungan serta keterkaitannya satu sama lain. politik. proses. Proses dalam SKN meliputi subsistem upaya kesehatan. sosial. 4. subsistem pembiayaan kesehatan. 2. ilmu pengetahuan dan teknologi. alat kesehatan.

antar subsistem SKN. akuntabel. Penetapan SKN Untuk memperoleh kepastian hukum yang mengikat semua pihak. 2. Pancasila. dan sinergisme yang dinamis. dan kebijakan teknis operasional. Penyelenggaraan SKN dilakukan melalui siklus perencanaan. maupun dengan sistem serta subsistem lain diluar SKN. dan Ketahanan Nasional merupakan landasan bagi penyelenggaraan SKN. SKN perlu ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. transparan. integrasi. kebijakan manajerial. dan berkelanjutan dengan memperhatikan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025. sinkronisasi. serta pengawasan dan pertanggung-jawaban secara sistematis. 82 . baik antar pelaku.pembangunan kesehatan. Wawasan Nusantara. Sosialisasi dan Advokasi SKN Sistem Kesehatan Nasional perlu disosialisasikan dan diadvokasikan ke seluruh pelaku pembangunan kesehatan dan seluruh pemangku kepentingan kesehatan untuk memperoleh komitmen dan dukungan dari semua pihak. Penyelenggaraan SKN dilaksanakan secara bertahap. berjenjang. Berbagai materi SKN yang terpilih dapat digunakan untuk penyusunan dan penetapan peraturan perundangan pada tingkat kebijakan strategis. sebagai berikut: 1. pelaksanaan dan pengendalian. Penyelenggaraan SKN memerlukan penerapan prinsip koordinasi. Undang-undang Dasar 1945.

sistematis. Fasilitasi Pengembangan Kebijakan Kesehatan di Daerah Dalam pembangunan kesehatan di daerah perlu dikembangkan kebijakan kesehatan. 3. termasuk pengembangan kebijakan di daerah diselenggarakan melalui penataan ulang keenam subsistemnya secara bertahap. baik di pusat maupun daerah. dan berkelanjutan. terpadu. Pemerintah Pusat memfasilitasi pengembangan kebijakan kesehatan di daerah. dan masalah spesifik daerah dalam kerangka SKN. serta memfasilitasi sosialisasi dan advokasi penyelenggaraan pembangunan kesehatan di daerah sesuai kebutuhan. seperti: Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJP-D). baik di sektor publik maupun di sektor swasta. baik secara nasional maupun dalam lingkup daerah. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJM-D). 2. Penyelenggaraan SKN. 3. Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra SKPD) yang penyelenggaraannya disesuaikan dengan kondisi. Penyelenggaraan SKN dalam kaitannya dengan pengembangan kebijakan kesehatan di daerah dilakukan dengan berbagai kegiatan. dinamika.Sasaran sosialisasi dan advokasi SKN adalah semua penentu kebijakan. Penyelenggaraan SKN. Penyelenggaraan SKN. memfasilitasi pengukuhannya dalam bentuk peraturan perundangundangan daerah. termasuk pengembangan kebijakan di daerah didukung dengan penyusunan 83 . yaitu: 1. termasuk pengembangan kebijakan di daerah diwujudkan dalam kerangka penyelenggaraan pembangunan kesehatan.

termasuk pengembangan kebijakan kesehatan di daerah diselenggarakan sesuai dengan asas desentralisasi yang bertanggung-jawab. dan good governance dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pengendalian dan penilaian SKN termasuk kebijakan kesehatan di daerah perlu didukung dengan pengembangan sistem monitoring dan evaluasi di tingkat nasional dan daerah secara terpadu. baik tingkat nasional maupun tingkat daerah. Penyelenggaraan SKN. dan lokal yang dinamis dan cepat berubah. 4. Pengendalian dan penilaian SKN termasuk kebijakan kesehatan di daerah diselenggarakan secara berjenjang dan berkelanjutan dengan menggunakan tolok ukur keberhasilan pembangunan kesehatan. standar.kebijakan. Indikator kinerja SKN menjadi rekomendasi untuk upaya perbaikan yang harus didokumentasikan dan disebarluaskan. dan pedoman dalam bentuk berbagai peraturan perundang-undangan. 2. regional. nasional. Dalam rangka menyesuaikan dengan perkembangan global. dan kabupaten/kota sampai 84 . Indikator tersebut menjadi acuan segenap pelaku pembangunan kesehatan di tingkat nasional. 3. maka dilakukan pengendalian dan penilaian SKN sebagai berikut: 1. demokratisasi. provinsi. Pengendalian dan penilaian SKN termasuk kebijakan kesehatan di daerah bertujuan untuk memantau dan menilai keberhasilan penyelenggaraan pembangunan kesehatan berdasarkan sistem kesehatan yang ada. Setiap tahun seluruh pelaku pembangunan kesehatan dengan koordinasi pemerintah melakukan pengukuran pencapaian/kinerja SKN dengan beberapa indikator yang akurat dan terpercaya.

swasta. Selain tata pemerintahan yang baik. pemerintah juga harus secara konsisten dan konsekuen mengawasi kepatuhan hukum masyarakat. Dalam penyelenggaraan SKN perlu kejelasan dan ketegasan tentang pelimpahan urusan pemerintahan di bidang kesehatan yang luas sampai kabupaten/kota. dan Kriteria dari Departemen Kesehatan perlu dikoordinasikan dengan Departemen Dalam Negeri. efisien. transparan. Pelaku pelanggaran peraturan harus ditindak secara tegas. Masyarakat madani dan seluruh sektor terkait perlu secara jelas dan tegas diberi 85 . penyelenggaraan SKN memerlukan peran regulasi dari pemerintah sesuai dengan tingkatannya (Pusat. Kabupaten/Kota). penyelenggaraan pembangunan kesehatan di perlu memperhatikan SKN dan peraturan setempat. TATA PENYELENGGARAAN SKN Penyelenggaraan SKN harus memperhatikan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Prosedur. Untuk menjaga kepentingan rakyat. efektif.ke tingkat desa. dan organisasi bukan pemerintah lainnya. Pedoman tentang Norma. semua Dalam daerah daerah Secara operasional. B. meliputi: partisipatif. semua peraturan perundangan yang berkaitan harus dilaksanakan secara konsisten dengan tata pemerintahan yang baik (good governance). Adapun unsur dari tata pemerintahan yang baik. Tata pemerintahan yang baik disertai regulasi pada keenam subsistem SKN merupakan langkah menuju kesinambungan pelaksanaan sistem kesehatan. guna penyesuaian penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang berbasis fakta. dan mengikuti kaidah hukum yang berlaku. termasuk SDM nasional yang melaksanakannya. Standar. inklusif. Provinsi. berorientasi pada konsensus.

lembaga swadaya masyarakat. termasuk swasta yang berperan dalam advokasi. SKN tidak bisa dijalankan hanya oleh Departemen Kesehatan atau Dinas yang mengurus kesehatan di daerah. sektor keuangan. organisasi profesi. Pelaku adalah: penyelenggaraan pembangunan kesehatan 1. C. pengawasan sosial. Untuk Pemerintah. akademisi. dan penyelenggaraan berbagai pelayanan kesehatan sesuai dengan bidang keahlian dan kemampuan masing-masing. sektor keamanan. sektor perdagangan. sektor pertanian. Di sektor publik. Pemerintah. Penyelenggaraan SKN dapat berjalan dengan baik apabila melibatkan. pelaksana. dan masyarakat yang meliputi tokoh masyarakat. dalam konteks desentralisasi perlu jelas dan tegas dalam memberikan arahan untuk pembangunan kesehatan di daerahnya. 2. media massa. dan sektor terkait lainnya. Individu. keluarga. serta masyarakat luas. PENYELENGGARA SKN Pemerintah dan masyarakat termasuk swasta bertanggung-jawab atas penyelenggaraan pembangunan kesehatan sesuai peran dan fungsinya masing-masing. antara lain: sektor pendidikan. praktisi. sektor perikanan dan kelautan. pembangunan fasilitas umum. peranan tersebut ditambah dengan menetapkan 86 . baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah berperan sebagai penanggungjawab.peran dalam pelaksanaan berbagai subsistem SKN. penggerak. dan pembina pembangunan kesehatan dalam lingkup wilayah kerja dan kewenangan masing-masing. Pemerintah daerah.

Kebijakan, Standar, Prosedur, dan Kriteria yang digunakan sebagai acuan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan di daerah. 3. Badan Legislatif, baik di pusat maupun di daerah, yang berperan melakukan persetujuan anggaran dan pengawasan terhadap penyelenggaraan pembangunan kesehatan, melalui penyusunan produk-produk hukum dan mekanisme kemitraan antara eksekutif dan legislatif. 4. Badan Yudikatif, termasuk kepolisian, kejaksaan dan kehakiman berperan menegakan pelaksanaan hukum dan peraturan perundangan yang berlaku di bidang kesehatan. 5. Sektor swasta yang memiliki atau mengembangkan industri kesehatan, seperti: industri farmasi, alat-alat kesehatan, jamu, makanan sehat, asuransi kesehatan, dan industri pada umumnya. Industri pada umumnya berperan besar dalam memungut iuran dari para pekerja dan menambah iuran yang menjadi kewajibannya. 6. Lembaga pendidikan, baik pada tingkat sekolah dasar sampai tingkat perguruan tinggi, baik milik publik maupun swasta. Sebagian besar masalah kesehatan berhubungan dengan perilaku dan pemahaman. Pendidikan memegang kunci untuk menyadarkan masyarakat akan berbagai risiko kesehatan dan peran masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

D. SUMBER DAYA PENYELENGGARAAN SKN Sistem Kesehatan Nasional merupakan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang bekerja secara sinergis, harmonis, dan menuju satu tujuan. 87

Pemerintah wajib melakukan koordinasi agar semua subsistem dan semua pelaku berfungsi dan bekerja secara sinergis. Kepincangan pada salah satu subsistem atau pelaku akan mengganggu kerja SKN. Pemerintah harus menjamin tersedianya dana, sumber daya manusia yang memadai dan profesional, sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan yang dikelola dengan manajemen kesehatan yang baik, terutama yang berkaitan dengan administrasi kesehatan dan pengaturan hukum kesehatan serta didukung dengan informasi yang akurat, valid, tepat waktu, dan tepat kebutuhan. Pelaku sistem informasi kesehatan sesuai perannya harus mampu secara cepat merespon dan menggunakan perkembangan teknologi informasi, baik untuk mengolah, menyampaikan ke pelaku lain, maupun kepada masyarakat nasional dan internasional. Pemerintah juga mengembangkan sistem insentif/reward dan sistem sanksi bagi setiap pelaku yang tidak menggunakan informasi yang akurat, tepat waktu, dan tepat kebutuhan (relevan). Selain itu, Pemerintah juga mengharuskan fasilitas kesehatan publik maupun swasta untuk menyediakan informasi melalui situs yang mudah diakses dan terbuka, sebagai cara untuk mendidik masyarakat. Tersedianya pembiayaan kesehatan dalam jumlah yang memadai teralokasi secara adil, merata, dan termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna, sangat penting dalam pembangunan kesehatan. Pemerintah juga menjamin tersedianya dana untuk penelitian dan pengembangan bidang kesehatan. Sumber daya manusia merupakan komponen kunci keberhasilan SKN. Pemerintah harus melakukan upaya agar semua SDM Kesehatan memenuhi standar kompetensi tertentu sesuai bidangnya sebagai prasyarat bagi penyediaan pelayanan kesehatan yang bermutu dan 88

diterima oleh masyarakat. Namun, Pemerintah juga menjamin agar setiap SDM di bidang kesehatan mendapat remunerasi yang wajar, layak, dan sesuai dengan tanggung-jawab, pengalaman, dan kompetensinya. Keseimbangan profesionalitas, tanggung-jawab, pengalaman, dan besaran renumerasi merupakan kunci kesinambungan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Penyelenggaraan subsistem sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan harus dilakukan secara terbuka dengan keseimbangan antara produksi dan pemanfaatan dengan dukungan dana yang memadai. Keterbukaan ini adalah kemampuan mengakomodasikan perkembangan teknologi dan produk teknologi kefarmasian dan teknologi peralatan kedokteran dan kesehatan serta memperhatikan keterjangkauan harga bagi masyarakat. Indonesia harus mampu menjadi pengekspor berbagai sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan. Keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif dalam bidang ini harus terus dikembangkan. Untuk menjamin kesinambungan subsistem upaya kesehatan, maka dukungan masukan informasi kesehatan, sumber daya manusia kesehatan, sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan, serta pendanaan harus selalu tersedia dalam jumlah yang memadai. Kualitas pelayanan harus selalu memenuhi standar yang ditetapkan agar setiap pengguna pelayanan kesehatan merasa puas dan memperoleh manfaat pelayanan kesehatan. Dengan kualitas dan kepuasan pengguna yang tinggi, maka akan timbul kemauan masyarakat sebagai pengguna untuk berkontribusi dalam bentuk dana, pemikiran, maupun tenaga. Pemerintah perlu menjamin adanya kepastian hukum dalam setiap penyelenggaraan subsistem SKN. Peraturan perundangan yang dalam pelaksanaannya mengalami 89

maupun instansi kesehatan di daerah untuk mendukung. maupun bantuan teknis lainnya) bagi fasilitas kesehatan. Pemerintah mendorong terwujudnya kontrol sosial yang kuat dari masyarakat terhadap kualitas pelayanan kesehatan. Pemerintah daerah perlu diberikan kewenangan untuk penegakan hukum terhadap berbagai aspek yang memungkinkan terselenggaranya SKN dengan baik. Peraturan yang dibuat harus melalui sinkronisasi dengan berbagai peraturan di bidang kesehatan dan di luar bidang kesehatan serta membuka kesempatan luas kepada pemangku kepentingan dalam perumusan peraturan.hambatan besar di daerah harus diatur lebih lanjut dengan Peraturan Daerah. serta sistem pengelolaan yang lebih baik dan bermutu. E. KERJASAMA INTERNASIONAL Sistem Kesehatan Nasional merupakan bagian dari sistem nasional. pemenuhan 90 . memberikan insentif. lembaga penelitian dan pengembangan lainnya. atau industri dalam melakukan penelitian dan pengembangan pelayanan kesehatan guna memacu perkembangan SKN. Pemerintah mengatur dan memberdayakan masyarakat agar mampu melakukan kontrol sosial yang memadai guna menjamin kesinambungan dan akuntabilitas SKN. pembelian hasil produksi. Pemerintah memfasilitasi dan memberikan insentif (baik berupa pembebasan pajak. Kewajiban berbagai sektor mencakup pemenuhan logistik yang diperlukan sebagai masukan dalam SKN. Departemen Kesehatan melakukan koordinasi dengan lintas sektor. perguruan tinggi. maka wajib berperan aktif sesuai dengan bidangnya guna mewujudkan tujuan SKN. dan memfasilitasi berbagai penelitian di dalam negeri guna tersedianya sediaan farmasi dan alat kesehatan.

Peran Indonesia dalam upaya mereformasi WHO perlu terus dilakukan agar transparansi dan keadilan dari organisasi internasional tersebut dapat tercapai. koordinasi penyelenggaraan. UNICEF. dan ASEAN. 91 . Para pelaku SKN juga wajib mencermati dan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada di dunia internasional guna memperkuat SKN. Sebaliknya. penyediaan insentif finansial dan non finansial. Para pelaku SKN berkewajiban mengembangkan diri agar mampu berperan di tingkat internasional dalam rangka menjaga agar SKN dapat berjalan dengan baik. peniadaan atau pengurangan bahan-bahan ataupun kondisi yang dapat menimbulkan risiko kesehatan. UNFPA. Perubahan lingkungan strategis regional maupun global dapat mengancam keberhasilan SKN. dan peran lainnya yang berkembang sesuai perubahan lingkungan strategis.SDM dengan kompetensi yang sesuai. seperti UNDP. setiap intervensi internasional yang dalam jangka pendek atau jangka panjang yang dapat merugikan SKN wajib dicegah oleh setiap pemangku kepentingan. Kerja sama dalam bidang kesehatan dengan berbagai lembaga internasional dan regional lain yang terkait perlu ditingkatkan. Dana internasional yang tersedia yang tidak mengikat dan dapat secara sinergis meningkatkan kinerja SKN perlu dimanfaatkan dengan baik. Para pelaku SKN wajib berperan aktif di lingkungan internasional untuk mewujudkan kepemimpinan Indonesia di dunia internasional guna menghasilkan kebijakan yang kondusif bagi pengembangan SKN.

termasuk swasta. tetapi juga harus realistis dengan kemampuan sumber daya manusia dan ketersediaan dana dan sumber daya lainnya. Untuk dapat melaksanakan SKN yang memenuhi prinsip umum dan prinsip dasar dari masing-masing subsistemnya yang disesuaikan dengan kemampuan diri dan lingkungan. serta masyarakat. Dengan demikian. pemerintah pusat dan daerah. baik pemerintah secara lintas sektor. Dalam pelaksanaannya. meskipun nantinya diharapkan terwujud pelayanan kesehatan yang adil dan merata. Prinsip adil dan merata secara bertahap diupayakan sesuai kemampuan yang dimiliki. interelasi.BAB VII PENUTUP Tujuan pembangunan kesehatan hanya dapat dicapai bila didukung oleh kerjasama dengan semangat kemitraan antar semua pelaku pembangunan. badan legislatif dan yudikatif. termasuk swasta. serta kondisi lingkungannya. penyelenggaraan pembangunan kesehatan dengan dukungan SKN dapat dilaksanakan dengan berhasil guna dan berdaya guna dengan interaksi. seluruh pelaku harus memegang teguh prinsip-prinsip umum SKN dan prinsip dasar masing-masing subsistemnya. serta keterpaduan berbagai upaya yang dilakukan oleh semua pelaku SKN. Dengan demikian. tidak berarti seluruh pelayanan kesehatan harus menyediakan pelayanan non diskriminatif bagi seluruh rakyat untuk seluruh jenis pelayanan. Manajer tersebut harus mempunyai kompetensi khusus dan mempunyai komitmen kuat dalam upaya mencapai tujuan pembangunan kesehatan. dibutuhkan manajer-manajer di sektor publik maupun di masyarakat. 92 . Penetapan SKN dimaksudkan untuk memberikan arah bagi setiap pelaku upaya atau pelayanan kesehatan sesuai dengan kondisi lingkungan masing-masing instansi dan institusi.

maupun global. semua pemangku kepentingan wajib memantau kinerja dan kendala yang dihadapi SKN. dan perubahan lingkungan strategis nasional. SKN perlu disesuaikan atau diubah secara berkala sesuai dengan perubahan lingkungan strategis. Oleh karenanya. Sistem Kesehatan Nasional harus selalu mampu menjawab peluang. tantangan. regional. baik nasional. dan dalam pelaksanaannya selalu mengikuti perkembangan. regional. maupun internasional. 93 . bersifat dinamis. Oleh karenanya.Sistem Kesehatan Nasional merupakan sistem terbuka yang berinteraksi dengan berbagai sistem nasionalnya sebagai subsistem dari Ketahanan Nasional.

KETIDAKPASTIAN HUKUM . UUD 1945. bentuk dan cara penyelenggaraan Bangkes) MASALAH MENDASAR BANGKES: .AKSES PELAYANAN PUBLIK BURUK .ALUR PIKIR RENCANA PEMBANGUNAN KESEHATAN DAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL PARADIGMA NASIONAL (PANCASILA.) (UU 23/1992 Kesehatan. TANNAS.WASANTARA. UU 17/2007 RPJPN) KONDISI SAAT INI Derajat Kesehatan Masyarakat Rendah Gambar-1 RPJP-K DAN SKN (Arah.PERILAKU MASYARAKAT BURUK . Politik.RAWAN PANGAN DAN RAWAN GIZI . NASIONAL. Ekonomi Sosial Budaya dan Pertahanan Keamanan) GLOBAL.LINGKUNGAN BURUK . dasar.SUMBER DAYA KESEHATAN TERBATAS DERAJAT KESMAS YG SETINGGITINGGINYA RAKYAT SEHAT PRODUKTIF TUJUAN NASIONAL LINGKUNGAN STRATEGIS: (Ideologi. LOKAL PELUANG/KENDALA 94 . REGIONAL.

AGAMA DAN BUDAYA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN FUNDAMEN MORAL: KEMANUSIAAN LINGKUNGAN EKONOMI 2) SUMBER DAYA KESEHATAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT UPAYA KESEHATAN 1) DERAJAT KESEHATAN MASYARAKAT LINGKUNGAN SEHAT 3) MANAJEMEN KESEHATAN PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA LINGKUNGAN POLITIK DAN HUKUM LINGKUNGAN FISIK DAN BIOLOGI Catatan: 1) Meliputi pula: Penelitian dan Pengembangan Kesehatan 2) Meliputi: Pembiayaan Kesehatan. Alat Kesehatan. serta Sediaan Farmasi. dan Makanan 3) Meliputi : Manajemen dan Informasi Kesehatan 95 .GAMBARAN UNSUR-UNSUR PEMBANGUNAN KESEHATAN DAN SUBSISTEM SKN SERTA TATA HUBUNGANNYA Gambar-2 DAN LINGKUNGAN STRATEGIS YANG MEMPENGARUHI SKN LINGKUNGAN ILMU DAN TEKNOLOGI LINGKUNGAN SOSIAL. SDM Kesehatan.

Standar. Sinkronisasi. dan Kriteria Produk Domestik Bruto Pelayanan Kesehatan Masyarakat Primer Pelayanan Kesehatan Masyarakat Sekunder Pelayanan Kesehatan Masyarakat Tersier Pelayanan Kesehatan Perorangan Primer Pelayanan Kesehatan Perorangan Sekunder Pelayanan Kesehatan Perorangan Tersier Pemilihan Kepala Daerah 96 .DAFTAR SINGKATAN AKB AKI APBD APBN ASEAN BPFK BTKL CPOB DBD DOEN Dasipena HAM HIV/AIDS Iptek Jamkesmas KFT KIA KIE KISS MDGs NKRI NSPK PDB PKMP PKMS PKMT PKPP PKPS PKPT Pilkada : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : Angka Kematian Bayi Angka Kematian Ibu Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Association South East Asian Nation Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan Balai Tehnik Kesehatan Lingkungan Cara Pembuatan Obat yang Baik Demam Berdarah Dengue Daftar Obat Esensial Nasional Pemuda Siaga Peduli Bencana Hak Asasi Manusia Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Jaminan Kesehatan Masyarakat Komite Farmasi dan Terapi Kesehatan Ibu dan Anak Komunikasi. Prosedur. Integrasi. Informasi dan Edukasi Koordinasi. dan Sinergisme Millenium Development Goals Negara Kesatuan Republik Indonesia Norma.

Poskesdes Poskestren Posyandu Puskesmas P4K RPJM-D RPJP-K RPJP-D RPJP-N Renstra SKPD Riskesdas SDKI SDM SJSN SKN Siknas TB Paru UHH UKBM UNDP UNFPA UNICEF UPT UUD WHO WNA WNI : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : Pos Kesehatan Desa Pos Kesehatan Pesantren Pos Kesehatan Terpadu Pusat Kesehatan Masyarakat Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah Riset Kesehatan Dasar Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Sumber Daya Manusia Sistem Jaminan Sosial Nasional Sistem Kesehatan Nasional Sistem Informasi Kesehatan Nasional Tuberculosis Paru Umur Harapan Hidup Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat United Nations Development Programme United Nations Population Fund United Nations Emergency Children’s Fund Unit Pelaksana Teknis Undang-undang Dasar World Health Organization Warga Negara Asing Warga Negara Indonesia 97 .

Ruslidjah. Dr. Apt.Syihab. dr.Kom.Kes. Dr. M. Jemfy Naswil. Yuniar S. Faisal Barabas. Zulkarnain Kasim. MSi. SKM . Mulya A Hasymi. Ina Hernawati. Drg. H. SS . Fresly. MPH. Suamsul Bahri. Louventus P . MBA.DTM&H. Richard Panjaitan. Sutoto. SKM. MSc. M. Dr. Trisa Wahjuni Putri. Faiq Bahfen. Marius W.Meinarwati. MS. Herma Trillas Purba. M. Sp. MSi. Dr. Ph. Dr. Gemala Hatta. Sardikin Giriputro. M.Kes. Bambang Hartono. Widyawati.Sukowidodo.D. Bambang Sardjono. Dr. T.SKM. S. Dr. M. SKM.Epid . R. Dr. MM. MSc. Dr. MSc. Yoserizal. Sulistyowati. SKM. Apt. Suhardjono. Drs.Kes. SKM . Dr. Krissna Tirtawidjaja. Marwan Nusri.JP(K).M.KONTRIBUTOR Sistem Kesehatan Nasional ini berhasil disusun atas partisipasi aktif dan kontribusi positif dari berbagai pihak. SKM. Dr. Agus Iriawan. Bambang Giatno Rahardjo. SKM. Indariwati. Agus Sunario. Setiawan Soeparan. SKM. Riza Sultoni. SKM. DR. Sontang Tambunan. MPH. Dr. Dr. Toto Heryanto . Dr. Madiono. SKM. Dr. MSc. Dr. . PhD. Dr.Kes. DCN. Drg.Kes. Ph. DHSM. Kustantinah.Kes. Purwadi.Kes .B(K). MSc. MPH. DR.PH. Soenarjo Soejoso. Geral Mario S. Indah Yuningprapti.A. M.Sc. MPH . Mary S Maryam. Tjipto Rahardjo. MSc.Kes. Drs. Dr. MSc. MM. Prof. Rahbudi Helmi. dr. DR. Dr. Msi. Iswandi Mourbas. Dr. SKM. Dr. Nagiot CT. SE. MKKK . M. Ratna Rosita Hendardji. SKM. M. Ir. Yusharmen D Comm. MPH. Dra. Drg. Harmein Harun. MKM. dr. Farid Wadjdi Husain. SKM. M. Dr. Sonny P. Ida Bagus Indra Gotama.DR. Zulkarnain. Donald Pardede.Kes. Jajang Subagya. Nasirah Bahaudin.Kes.Tugijono. Krishnajaya. Dr. MSc. MPH. M. Dr. Dr. Dr. Gatot Soetomo. DR. I Nyoman Kandun. Ida Bagus Indra Gotama. Peter Andreas.Appt. Iis Sin Sin. Untung Suseno Sutarjo. Dr. . Abidinsyah Siregar. Dr. Dr. Taufik Izwan. H. Dra. Drg. MS. Rustam S. Dra. Dr. Rusmiati. dr. SK Amdani. Hapsara Habib Rahmat.Kes. M. MKM. Drs. dr. Naydial Roesdal. MPH). MPH. Prof. Siti Fadilah Supari.Sos. SE. Rahmat Kurniadi.Chalik Masulili. Lovita T. Bambang Hartono. SpF(K). Sri Suhariningsih. SKM. Dr. MPH. Hardini Kusumadewi. Chirul R Nasution. DPH. Dr. Dra. Mulyadi.JP. Dr. Drs. Prof. Budhihardja. Triono Soendoro.Rita Ratna Puri. MM. MPH. MPH.Sos. MPH. Taufik. Pakkaya. Dr. Charles Suryadi. MPH. Adang Bachtiar. MPH. M. SKM.Kes. Suginarti . Dr. MPH. Bambang Hartono. SH.Epid. Ruhayati . M. S. M. Drs.J. Achmad Soebagio T. Agus Purwadianto.W. Sp. MPH. Dr.Kes. Msi. SH.H. Hasbullah Thabrani. . Drg. dr. Bambang Sardjono. Dr.Kes. Mulya A Hasjmy. M. Mustikowati. Abidinsyah Siregar.KO. SKM .B. SKM. DR. SH. Apt. Lenny Evanita. Sp. DR. H. Imran Agus Nurali. MSc. Drg. Emiliya Roza. Kodrat Pramudho. MPH. MPH. Liliana.Kes. Royan. M. Apt.Kes. Firman Lubis. DR. Dr. antara lain: Tingkat Pusat: Dr. Sjafii Achmad. DR. M. Apt. dr. drg. M. Sp. MSc. SKM. Rachmi Untoro. Titte Kabul Adimidjaja. MA. MPH. Bambang Widodo. MPH. MPH. MPH. Prof. M. Yaslis Ilyas. DR. Dr. MBA. Edi Suranto. dr. Sri Muljati. Dr. M. . Sri Hermiyanti. Slamet Sudi Santoso. DM Wismarini. Widjaja Lukito. Rustam S Pakkaya. Sp. Lily S. dr. Syamsul Bahri. dr. Wandaningsih. Rita Djupuri. Sp. Drs.D. MPP. Dr. Dr.B. MPH. dr.MSc(PH). SKM. Delnalis. Drs. Diah Puspitasari. Indriyono Tantoro. Arum Atmawikarta. R. Ahmad Nizar S. Dr. Ruhayati . Drs. Dr. Bambang Widodo. DR. MM. M. Dr. Dr. Apt. DR. Dr. Bambang W. DHSM. M. Abdurachman. Dr. SKM. S. MPPM. Andi Saguni. MPH. Hary Purwanto.Kes. SE.

Abd. Choirul Anwar. Jauhari. Prijono. Dr. SpOG. Dr.Kes. Ratna Dewi Umar. Andreas Meliala. Drs. Nina Kurnia. A. Dr. Dedi Supratman. Djayusmantoko. Dian Damairini. Bambang Agus Legowo. Sugeng LA. Jorizal Jannis. Kodrat Pramudho. MKes. Drg. Drg. Fauzi Ali Amin. Lukman HL. Vita. Pius Weraman. Dr. Amin Yohannis. Syafrudin Rasyid. Kuwat S Hudoyo. Dr.Kes. Drs. M.A. Rosihan Adhani. Dr. Widyawati. Drs. Kartini Rustandi. Syahrani Djedi. Poedjo Praseptio. SH. Guntur DW. Oslinda Martony. Tingkat Daerah: Drg. dr. Slamet Soesilo. Drs. Drg. Herry Tjahjono. Irwan. Risma Julius.Ahmad Said. Dr. Peter Andreas). Kiswanto.Kes . Julistio TB Djais. Agussalim Mooduto. Dr. Drs. RE. Broto Wasisto. MPH. SKM. I Wayan A. T. Endro Buono. Ninin S . Dr. Pande Putujaraga. Arbiansyah Alam. M. Harif Fadhillah. Andi M. Drs.SKM. Benny Patiasina. Zaura Rini Anggraini. M. MKes. Syafri. Tri Martiana. Tjipto Rahardjo. MPH. SKM. Sri Rachmani. HJ. Muninjaya. Eryta W. M. Isti Ratnaningsih.Kes.Kes. Bondan Agus Susyanto.Sos. Drg. Dr. MKes. Agung Indarto. rapat. Emmilya Rosa. Dr. DESS. SpA (K). M. Noto Basuki. MPAM. SpACKI. Bairizal. S. MPH. Nizwardi Azkha. E. DESS. Rais Lamangkona. Dr. Dr. Dr. SKM. One Widyawati. M. Lovita T . MPH. Drs. H. Sasli Adis. Dr. Drg.GDE Agung Wiadnya P. Apt. MPH. Sardikin Giriputro. SKM. Dien Emawati. Dr. Rita Kusriastuti. MKes. Jeni Haju. Drg. Razak Thaha. Indro Darmadji. Sutrisno. M. Didi Suswanto. M. Entos Z.S. SKM. S. Dr. Wirabrata. Sugito. Sudono. Yanti Nurbayanti.Kes. MARS.Kes. Dr. Dr. Dr. Lily Mulyasari. Dr. SKM. Ibnu Alferbaly. Yanti. Eny Setiowati. Adi Wirachjanto. SE. DR. SKM. Ishak. MPPM. Poedjo Prasetyo. Bachtiar Oesman.Kes . Bambang Sugeng W. Jimmy Lee. MKes. Ni Wayan Mariani. SKM.Kes. Entos Rusna. Dan semua individu/pihak yang telah membantu penyusunan SKN yang tidak bisa disebutkan satu per-satu Mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan nama dan gelar Daftar nama dan gelar disusun berdasarkan absensi lokakarya. M. Mkes. Munzir Purba. Adnan Mahmud. Eny Susilowati. Jeane Pangemanan. Suteja.Kes. M. MKes. Drg. MSCPH. Tri Martiana. Drg.M. Kuswati Ningsih. Lita R Siampar. Dr. Durachman. Ridwan Thaha. Ridarson.Sos . Shermina Oruh. Emi Nurjasmi. Prof. Abdul Gani Sitepu. Tukijan. Dr. Dr. Kamaruzaman. Dr. Ade Erma. M. MPH. Drg. Dr. H. Sofia Wirda. MM. Okti Palupi . Munzelly Husivevi. atau pertemuan lainnya . Suharto. SKM. Apt. Tin tin F.SKM. Sultan Akbar Torutju . Drg.Sp. Siti Aisyah. Melzan Dharmayuli. M. SKM. Nurbaiti. Mahmud Fauzi. Hanni Rono S. SKM. SE.Kes. Dr.Kes. Rudi Arif. Prof.P. Syahrul A.Kes. SKM. Ockti Palupi.Kes. Dr. M. Dr. MSc. Dyah RB. Julistio Djais. Hasnawati.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful