P. 1
Sistem Kesehatan Nasional 2009 (Terbaru)

Sistem Kesehatan Nasional 2009 (Terbaru)

|Views: 32|Likes:
Published by Al Azizul Hakim

More info:

Published by: Al Azizul Hakim on Jul 09, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/05/2013

pdf

text

original

Sections

  • A. LATAR BELAKANG
  • B. PENGERTIAN SKN
  • C. MAKSUD DAN KEGUNAAN SKN
  • D. LANDASAN SKN
  • B. PERUBAHAN LINGKUNGAN STRATEGIS
  • BAB III ASAS SISTEM KESEHATAN NASIONAL
  • A. DASAR PEMBANGUNAN KESEHATAN
  • B. DASAR SKN
  • A. TUJUAN SKN
  • B. KEDUDUKAN SKN
  • C. SUBSISTEM SKN
  • A. SUBSISTEM UPAYA KESEHATAN
  • B. SUBSISTEM PEMBIAYAAN KESEHATAN
  • A. PROSES PENYELENGGARAAN SKN
  • B. TATA PENYELENGGARAAN SKN
  • C. PENYELENGGARA SKN
  • D. SUMBER DAYA PENYELENGGARAAN SKN
  • E. KERJASAMA INTERNASIONAL
  • DAFTAR SINGKATAN

DEPARTEMEN KESEHATAN RI JAKARTA, 2009

BENTUK DAN CARA PENYELENGGARAAN PEMBANGUNAN KESEHATAN

DEPARTEMEN KESEHATAN RI JAKARTA, 2009

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ....................................................... DAFTAR ISI ..................................................................... I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG .......................................... B. PENGERTIAN SKN .......................................... C. MAKSUD DAN KEGUNAAN SKN .................... D. LANDASAN SKN .............................................. PERKEMBANGAN DAN TANTANGAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. PERKEMBANGAN DAN MASALAH SISTEM KESEHATAN NASIONAL …………………….... B. PERUBAHAN LINGKUNGAN STRATEGIS ..... ASAS SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. DASAR PEMBANGUNAN KESEHATAN ......... B. DASAR SKN ..................................................... BENTUK POKOK SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. TUJUAN SKN ................................................ B. KEDUDUKAN SKN ....................................... C. SUBSISTEM SKN ......................................... D. TATA HUBUNGAN ANTAR SUBSISTEM DAN LINGKUNGANNYA .......................................... CARA PENYELENGGARAAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. SUBSISTEM UPAYA KESEHATAN ................. B. SUBSISTEM PEMBIAYAAN KESEHATAN ...... C. SUBSISTEM SUMBERDAYA MANUSIA KESEHATAN .................................................... D. SEDIAAN FARMASI, ALAT KESEHATAN, DAN MAKANAN ............................................... ii i ii 1 1 2 3 4

II.

6 6 12 15 15 17

III.

IV.

21 21 21 23 26

V.

30 30 45 50 59

......... TATA PENYELENGGARAAN SKN ………… C... DUKUNGAN PENYELENGGARAAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. SUBSISTEM MANAJEMEN DAN INFORMASI KESEHATAN …………………………………… F..... KERJA SAMA INTERNASIONAL …………… 68 73 81 81 85 86 87 90 92 VII................... SUBSISTEM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT ... PROSES PENYELENGGARAAN SKN ……....... VI. PENUTUP LAMPIRAN Gambar-1: Alur Pikir Rencana Pembangunan Kesehatan dan Sistem Kesehatan Nasional Gambar-2: Gambaran Unsur-unsur Pembangunan Kesehatan dan Subsistem SKN serta Tata Hubungannya dan Lingkungan Strategis yang Mempengaruhi SKN 94 95 DAFTAR SINGKATAN ……………………………………...............E... SUMBER DAYA PENYELENGGARAAN SKN E.... KONTRIBUTOR 96 iii . D... B. PENYELENGGARA SKN …………………….

Di dalamnya juga telah tercantum arah pembangunan kesehatan dalam 20 tahun ke depan sampai dengan tahun 2025. . UndangUndang Nomor 17 Jangka tahun 2007.KATA PENGANTAR Pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran. Dalam kerangka kesehatan pembangunan dilaksanakan secara terarah. kemauan. tersebut. Dalam Undang-Undang tersebut antara lain ditetapkan bahwa pembangunan berdasarkan kesehatan diselenggarakan pemberdayaan dengan dan perikemanusiaan. tentang Nasional Rencana (RPJPN) Pembangunan Panjang memberikan arah pembangunan ke depan bagi bangsa Indonesia. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat mencapai yang tujuan setinggi-tingginya. Kesinambungan dan keberhasilan pembangunan kesehatan ditentukan oleh tersedianya pedoman penyelenggaraan pembangunan kesehatan baik berupa dokumen perencanaan maupun metode dan cara penyelenggaraannya. berkesinambungan dan realistis sesuai pentahapannya.

adil dan merata. sering tidak menentu. Adanya SKN yang disempurnakan tersebut menjadi sangat penting kedudukannya mengingat penyelenggaraan pembangunan kesehatan pada saat ini semakin kompleks sejalan dengan kompleksitas perkembangan demokrasi. .kemandirian. serta pengutamaan dan manfaat dengan perhatian khusus pada penduduk rentan. desentralisasi. anak. manusia usia lanjut (manula). antara lain ibu. Sistim Kesehatan Nasional (SKN) 2009 yang disempurnakan ini diharapkan mampu menjawab dan merespon berbagai tantangan pembangunan kesehatan di masa kini maupun di masa yang akan datang. Sistim Kesehatan Nasional (SKN) 2009 sebagai penyempurnaan dari SKN sebelumnya merupakan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah bersama seluruh elemen bangsa dalam rangka untuk meningkatkan tercapainya pembangunan kesehatan dalam mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. dan keluarga miskin. cepat berubah dan. dan globalisasi serta tantangan lainnya yang juga semakin berat.

Siti Fadilah Supari. Dr.dr.Diharapkan SKN 2009 ini terkait dan mengacu pada arah dan tahapan pembangunan kesehatan yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJPK) Tahun 2005-2025. April 2009 MENTERI KESEHATAN RI. Sp. Dalam kaitan ini penyelenggaraan SKN 2009 tersebut perlu sesuai dengan tahap-tahap lapangan. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu melimpahkan Rachmat dan Hidayah serta memberikan petunjuk dan kekuatan bagi kita sekalian dalam melaksanakan pembangunan kesehatan di Indonesia dengan berpedoman pada Sistem Kesehatan Nasional yang baru ini. pelaksanaan pembangunan kesehatan di Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak atas perhatian. bantuan dan masukan serta kontribusinya dalam penyusunan dan perumusan SKN tersebut. Jakarta.JP(K) .

dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. mencerdaskan kehidupan bangsa. maka pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran. Jaminan Kesehatan Masyarakat.BAB I PENDAHULUAN A. Pembangunan kesehatan yang dilaksanakan dalam dasawarsa terakhir masih menghadapi berbagai masalah yang belum sepenuhnya dapat diatasi. seperti: Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. LATAR BELAKANG Dalam mencapai tujuan nasional bangsa Indonesia sesuai Pembukaan UUD 1945. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang 1 . dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dapat terwujud. Perubahan lingkungan strategis ditandai dengan berlakunya berbagai regulasi penyelenggaraan kepemerintahan. perdamaian abadi dan keadilan sosial. seperti: pengembangan Desa Siaga. yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. Undangundang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. kemauan. serta Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K). Untuk itu diperlukan pemantapan dan percepatan melalui Sistem Kesehatan Nasional sebagai bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang disertai berbagai terobosan penting.

dan strategi pembangunan kesehatan yang ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025 dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025. dasar. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang 2 . SKN 2004 sebagai pengganti SKN 1982.Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. kemauan. Pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran. PENGERTIAN SKN Sistem Kesehatan Nasional (SKN) adalah bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang memadukan berbagai upaya bangsa Indonesia dalam satu derap langkah guna menjamin tercapainya tujuan pembangunan kesehatan dalam kerangka mewujudkan kesejahteraan rakyat sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Dasar 1945. B. penting untuk dimutakhirkan menjadi SKN 2009 agar dapat mengantisipasi berbagai tantangan perubahan pembangunan kesehatan dewasa ini dan di masa depan. Dalam mengantisipasi ini. Disamping itu secara global terjadi perubahan iklim dan upaya percepatan pencapaian MDGs. dan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025. perlu mengacu terutama pada arah. sehingga diperlukan penyempurnaan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. pada hakekatnya merupakan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan.

serta 4) Pengutamaan dan manfaat. MAKSUD DAN KEGUNAAN SKN Penyusunan SKN 2009 ini dimaksudkan untuk menyesuaikan SKN 2004 dengan berbagai perubahan dan tantangan eksternal dan internal. pendapatan keluarga. serta meningkatkan investasi kesehatan untuk keberhasilan pembangunan nasional. serta kemampuan tenaga kesehatan dalam mengatasi masalah-masalah tersebut. 2) Pemberdayaan dan kemandirian. melaksanakan pemerataan upaya kesehatan yang terjangkau dan bermutu. Tersusunnya SKN 2009 mempertegas makna pembangunan kesehatan dalam rangka pemenuhan hak asasi manusia. baik oleh masyarakat. sumber daya. Pembangunan kesehatan diselenggarakan berdasarkan pada: 1) Perikemanusiaan. 3 .setinggi-tingginya dapat terwujud. memperjelas penyelenggaraan pembangunan kesehatan sesuai dengan visi dan misi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025. keamanan. 3) Adil dan merata. swasta. tingkat pendidikan. maupun oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah serta pihak terkait lainnya. C. memantapkan kemitraan dan kepemimpinan yang transformatif. distribusi kewenangan. seperti: kondisi kehidupan sehari-hari. agar dapat dipergunakan sebagai pedoman tentang bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan. kesadaran masyarakat. Sistem Kesehatan Nasional perlu dilaksanakan dalam konteks Pembangunan Kesehatan secara keseluruhan dengan mempertimbangkan determinan sosial.

2) Pemberian pelayanan kesehatan yang berpihak kepada rakyat. yaitu Pancasila. Sistem Kesehatan Nasional disusun dengan memperhatikan pendekatan revitalisasi pelayanan kesehatan dasar (primary health care) yang meliputi: 1) Cakupan pelayanan kesehatan yang adil dan merata. setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan Tahun 2005-2025 dan SKN merupakan dokumen kebijakan pembangunan kesehatan sebagai acuan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Landasan Konstitusional. termasuk penguatan sistem rujukan. 3) Kebijakan pembangunan kesehatan. 2. bertempat tinggal. dan 4) Kepemimpinan. Pasal 28 H ayat (1). Landasan Idiil. yaitu UUD 1945.Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan Tahun 2005-2025 merupakan arah pembangunan kesehatan yang berkesinambungan. Pendekatan pelayanan kesehatan dasar secara global telah diakui sebagai pendekatan yang tepat dalam mencapai kesehatan bagi semua dengan mempertimbangkan kebijakan kesehatan yang responsif gender. setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya. dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan 4 . LANDASAN SKN Landasan SKN meliputi: 1. D. Sistem Kesehatan Nasional juga disusun dengan memperhatikan inovasi/terobosan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan secara luas. khususnya: Pasal 28 A.

tumbuh. setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat. demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia. 3. Beberapa peraturan perundangan tersebut terdapat dalam Lampiran-1 dari RPJP-K Tahun 2005-2025. Negara bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan dan ayat (3). serta Pasal 34 ayat (2). Pasal 28 C ayat (1). seni dan budaya. setiap anak berhak atas kelangsungan hidup. dan berkembang.kesehatan dan ayat (3). setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya. Pasal 28 B ayat (2). Landasan Operasional meliputi seluruh ketentuan peraturan perundangan yang berkaitan dengan penyelenggaraan SKN dan pembangunan kesehatan. 5 . berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi.

2007). Demikian pula telah terjadi penurunan prevalensi kekurangan gizi pada balita dari 29. PERKEMBANGAN DAN KESEHATAN NASIONAL MASALAH SISTEM Pembangunan kesehatan yang dilaksanakan secara berkesinambungan telah berhasil meningkatkan status kesehatan masyarakat. 2007). 1. Angka Kematian Ibu (AKI) juga mengalami penurunan dari 318 per 100. harus terus diupayakan dengan perbaikan Sistem Kesehatan Nasional.7% dan akses rumah tangga 6 .5 tahun pada tahun 2007. dalam kaitan ini akses rumah tangga yang dapat menjangkau sarana kesehatan ≤ 30 menit sebesar 90.000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (SDKI.000 kelahiran hidup pada tahun 1997 menjadi 228 per 100. antara lain ditunjukkan dengan peningkatan status kesehatan.BAB II PERKEMBANGAN DAN TANTANGAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A.4% pada tahun 2007 (Riskesdas. Upaya percepatan pencapaian indikator kesehatan dalam lingkungan strategis baru. Umur Harapan Hidup (UHH) meningkat dari 68.5% pada akhir tahun 1997 menjadi sebesar 18. yaitu: penurunan Angka Kematian Bayi (AKB) dari 46 per 1. Upaya Kesehatan Akses pada pelayanan kesehatan secara nasional mengalami peningkatan. Sejalan dengan penurunan angka kematian bayi.000 kelahiran hidup pada tahun 1997 menjadi 34 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (SDKI 2007). Kinerja sistem kesehatan telah menunjukkan peningkatan. Namun penurunan indikator kesehatan masyarakat tersebut masih belum seperti yang diharapkan.6 tahun pada tahun 2004 menjadi 70.

000 pada tahun 2007 (Profil Kesehatan.4% pada tahun 2005 menjadi 41. 2007). Jarak fasilitas pelayanan yang jauh disertai distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata dan pelayanan kesehatan yang mahal menyebabkan rendahnya aksesibilitas masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.7% pada tahun 2006. 2007). 7 . Secara keseluruhan.46 per 100.1% dan terendah 67%.3% pada tahun 1997 menjadi 46% pada tahun 2007. Namun pada daerah terpencil.yang berada ≤ 5 km dari sarana kesehatan sebesar 94. serta pulau-pulau kecil terdepan dan terluar masih rendah.1% (Riskesdas. Namun masih ditemui disparitas Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan cakupan imunisasi antar wilayah masih tinggi. pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan meningkat 20% dalam kurun 10 tahun. Peningkatan jumlah Puskesmas ditandai dengan peningkatan rasio Puskesmas dari 3. Cakupan pemeriksaan kehamilan tertinggi 97. kesehatan ibu membaik dengan turunnya AKI.9% dan cakupan terendah 17. jumlah masyarakat yang mencari pengobatan sendiri sebesar 45% dan yang tidak berobat sama sekali sebesar 13. tertinggal.000 penduduk pada tahun 2003 menjadi 3.3% (2007). sementara itu cakupan imunisasi lengkap tertinggi sebesar 73.8% pada tahun 2007.1% pada tahun 1996 menjadi 33.3% (Riskesdas. 2007). perbatasan. Begitupula kunjungan baru (contact rate) ke fasilitas pelayanan kesehatan meningkat dari 34. sementara persalinan di fasilitas kesehatan meningkat dari 24. Pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan oleh penduduk meningkat dari 15.65 per 100. peningkatan yang besar terutama di daerah perdesaan. Disamping itu.

Namun demikian kontribusi penyakit menular terhadap kesakitan dan kematian semakin menurun. Framboesia cenderung meningkat kembali.6–2.8%. pada tahun 2004 jumlah APBN kesehatan adalah sebesar Rp 5. Pada tahun 2007. menjadikan Indonesia mempunyai beban ganda (double burden).81% dari Produk Domestik Bruto (PDB) meningkat pada tahun 2007 menjadi 1. Pengeluaran pemerintah untuk 8 . meskipun belum mencapai 5% dari PDB seperti dianjurkan WHO. 2007). Selain itu penyakit yang kurang mendapat perhatian (neglected diseases). Hasil Riskesdas Tahun 2007 menunjukkan adanya peningkatan kasus penyakit tidak menular (seperti penyakit kardiovaskuler dan kanker) secara cukup bermakna. HIV/AIDS.54 Triliun meningkat menjadi sebesar 18.8% dan yang tidak memiliki saluran pembuangan air limbah sebesar 32. namun persentase terhadap seluruh APBN belum meningkat dan masih berkisar 2. Demikian pula penyakit Pes masih terdapat di berbagai daerah. Malaria.75 Triliun pada tahun 2007.5% rumah tangga mempunyai akses pada sanitasi yang baik (Riskesdas. Persentase pengeluaran nasional sektor kesehatan pada tahun 2005 adalah sebesar 0. Pembiayaan Kesehatan Pembiayaan kesehatan sudah semakin meningkat dari tahun ke tahun. Kusta. terutama: TB Paru.Akses terhadap air bersih sebesar 57. Demikian pula dengan anggaran kesehatan.7% rumah tangga dan sebesar 63.09 % dari PDB. seperti Filariasis.5%. Penyakit infeksi menular masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menonjol. DBD dan Diare. 2. rumah tangga yang tidak menggunakan fasilitas buang air besar sebesar 24.

000 pada tahun 2007. 3.4 juta jiwa atau 34. distribusi tenaga kesehatan masih belum merata. d) Dalam pendayagunaan SDM Kesehatan.5% dari keseluruhan penduduk pada tahun 2008 yang sebagian besar berasal dari bantuan sosial untuk program jaminan kesehatan masyarakat miskin sebesar 76. Kualitas hasil pendidikan SDM Kesehatan dan pelatihan kesehatan pada umumnya masih belum memadai. Selain itu. maupun kualitas tenaga kesehatan yang dibutuhkan. Proporsi pembiayaan kesehatan yang bersumber dari pemerintah belum mengutamakan upaya pencegahan dan promosi kesehatan. Cakupan jaminan pemeliharaan kesehatan sekitar 46. seperti Filipina 58 per 100.000 penduduk dan Malaysia 70 per 100. Sumber Daya Manusia Kesehatan Upaya pemenuhan kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan belum memadai. c) Masih kurang serasinya antara kebutuhan dan pengadaan berbagai jenis SDM Kesehatan.kesehatan terus meningkat. baik jumlah. b) Perencanaan kebijakan dan program SDM Kesehatan masih lemah dan belum didukung sistem informasi SDM Kesehatan yang memadai. yaitu 19 per 100.2%. Namun kontribusi pengeluaran pemerintah untuk kesehatan masih kecil. yaitu 38% dari total pembiayaan kesehatan.000 penduduk bila dibandingkan dengan negara lain di ASEAN. 9 . Masalah strategis SDM Kesehatan yang dihadapi dewasa ini dan di masa depan adalah: a) Pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan belum dapat memenuhi kebutuhan SDM untuk pembangunan kesehatan. Jumlah dokter Indonesia masih termasuk rendah. jenis.

4. dan sanksi belum sebagaimana mestinya. namun masih banyak kendala yang dihadapi. Di Indonesia terdapat 9. dan Makanan Pasar sediaan farmasi masih didominasi oleh produksi domestik. Upaya perlindungan masyarakat terhadap penggunaan sediaan farmasi. Sediaan Farmasi. Alat Kesehatan. Namun tidak diikuti 10 . Regulasi untuk mendukung SDM Kesehatan masih terbatas. Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) digunakan sebagai dasar penyediaan obat di pelayanan kesehatan publik. sementara itu bahan baku impor mencapai 85% dari kebutuhan. Pengembangan karier.600 jenis tanaman berpotensi mempunyai efek pengobatan. serta e) Pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan serta dukungan sumber daya SDM Kesehatan masih kurang. Sementara itu pemerintah telah berusaha untuk menurunkan harga obat. masih banyak pengobatan yang dilakukan tidak sesuai dengan formularium. dan makanan telah dilakukan secara komprehensif. Lebih dari 90% obat yang diresepkan di Puskesmas merupakan obat esensial generik. sistem penghargaan. Penggunaan obat rasional belum dilaksanakan di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan. Daftar Obat Esensial Nasional tersebut telah disusun sejak tahun 1980 dan direvisi secara berkala sampai tahun 2008. dan baru 300 jenis tanaman yang telah digunakan sebagai bahan baku. alat kesehatan.pemerataan SDM Kesehatan berkualitas masih kurang.

rumah sakit swasta 49%. Sistem informasi kesehatan menjadi lemah setelah menerapkan kebijakan desentralisasi. dan bermutu sesuai dengan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance). Regulasi bidang kesehatan pada saat ini belum cukup. Demikian juga dengan banyak kebijakan yang belum disusun berbasis bukti dan belum bersinergi baik perencanaan di tingkat Pusat dan atau di tingkat Daerah. 5. Hal ini menunjukkan bahwa konsep obat esensial generik belum sepenuhnya diterapkan. Sistem Informasi Kesehatan Nasional (Siknas) yang berbasis fasilitas sudah mencapai tingkat kabupaten/kota namun belum dimanfaatkan. efisien. seperti: di rumah sakit pemerintah kurang dari 76%. Hukum kesehatan belum tertata secara sistematis dan belum mendukung pembangunan kesehatan secara utuh. Surveilans belum dilaksanakan secara menyeluruh.oleh sarana pelayanan kesehatan lainnya. Pemerintah belum sepenuhnya dapat menyelenggarakan pembangunan kesehatan yang efektif. Begitu pula dengan perencanaan jangka panjang/menengah masih belum menjadi acuan dalam menyusun perencanaan jangka pendek. jenis. baik jumlah. dan apotek kurang dari 47%. Manajemen dan Informasi Kesehatan Perencanaan pembangunan kesehatan antara Pusat dan Daerah belum sinkron. 11 . Hasil penelitian kesehatan belum banyak dimanfaatkan sebagai dasar perumusan kebijakan dan perencanaan program. Data dan informasi kesehatan untuk perencanaan tidak tersedia tepat waktu. maupun efektifitasnya.

Jumlah UKBM. yakni dengan target 60%. Pemerintah telah memberikan pula bantuan stimulan untuk pengembangan 229 Musholla Sehat.111 buah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes). Di samping itu. lokasinya jauh (26%).111 Desa Siaga dimana terdapat 47. PERUBAHAN LINGKUNGAN STRATEGIS Perkembangan global. seperti Posyandu dan Poskesdes semakin meningkat. Hasil Riskesdas tahun 2007 menunjukkan bahwa alasan utama rumah tangga tidak memanfaatkan Posyandu/Poskesdes walaupun sebenarnya memerlukan adalah karena: pelayanannya tidak lengkap (49. namun masih jauh dari sasaran yang harus dicapai pada tahun 2009. Hal ini merupakan faktor eksternal utama yang mempengaruhi proses pembangunan kesehatan. Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat lainnya yang terus berkembang pada tahun 2008 adalah Posyandu yang telah berjumlah 269.6%). dan nasional yang dinamis akan mempengaruhi pembangunan suatu negara. Hingga tahun 2008 sudah terbentuk 47. termasuk pembangunan kesehatannya. regional. B. Sampai dewasa ini dirasakan bahwa masyarakat masih lebih banyak sebagai objek dari pada sebagai subjek pembangunan kesehatan. Pemberdayaan Masyarakat Rumah tangga yang telah melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat meningkat dari 27% pada tahun 2005 menjadi 36.202 buah dan 967 Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren).6.3% pada tahun 2007. 12 . tetapi pemanfaatan dan kualitasnya masih rendah. dan tidak ada Posyandu/Poskesdes (24%).

nasional. adaptasi perubahan iklim (climate change). demokratisasi. 2. seperti revitalisasi pelayanan kesehatan dasar dan pengarus-utamaan gender. yang mencakup ekonomi. seperti: MDGs. serta dapat dijadikan peluang atau kendala bagi sistem kesehatan di Indonesia. sebagai contoh: banyaknya peserta Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang menggunakan isu kesehatan sebagai janji politik. 1. budaya. 13 . Tingkat Global dan Regional Globalisasi merupakan suatu perubahan interaksi manusia secara luas. Proses ini dipicu dan dipercepat dengan berkembangnya teknologi. dan lokal. serta komitmen Nasional. jejaring riset Asia Pasifik. regional. sehingga mengharuskan adanya suatu sistem kesehatan yang responsif. dan transportasi yang mempunyai konsekuensi pada fungsi suatu negara dalam sistem pengelolaannya. Era globalisasi dapat menjadi peluang sekaligus tantangan pembangunan kesehatan. teknologi. Komitmen Internasional. dan lingkungan. yang sampai saat ini belum sepenuhnya dilakukan persiapan dan langkah-langkah yang menjadikan peluang dan mengurangi dampak yang merugikan. ASEAN Charter.Faktor lingkungan strategis dapat dibedakan atas tatanan global. seperti desentralisasi. Tingkat Nasional dan Lokal Pada tingkat nasional terjadi proses politik. informasi. perlu menjadi perhatian dalam pembangunan kesehatan. dan politik kesehatan yang berdampak pada pembangunan kesehatan. politik. sosial.

termasuk akibat pembangunan yang tidak berwawasan kesehatan yang memerlukan upaya pemecahan melalui berbagai terobosan dan pendekatan. mekanisme mitigasi serta adaptasi dan pengenalan resiko akan perubahan iklim menuntut kegiatan kerjasama antara pihak lingkungan dengan pihak kesehatan dan seluruh sektor terkait. dan masih lemahnya penegakan hukum menyebabkan berbagai hambatan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan.Proses desentralisasi yang semula diharapkan mampu memberdayakan daerah dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. sementara itu kesadaran hukum masyarakat masih rendah. 14 . Di bidang lingkungan. namun dalam kenyataannya belum sepenuhnya berjalan dan bahkan memunculkan euforia di daerah yang mengakibatkan pembangunan kesehatan terkendala. Oleh karena itu perlu dilakukan berbagai terobosan/ pendekatan terutama pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan kesehatan yang memberikan penguatan kapasitas dan surveilans berbasis masyarakat. Secara geografis. diantaranya melalui pengembangan Desa Siaga. di sisi lain situasi sosial politik yang berkembang sering menimbulkan konflik sosial yang pada akhirnya memunculkan berbagai masalah kesehatan. Perangkat regulasi dan hukum yang terkait dengan kesehatan masih belum memadai. sebagian besar wilayah Indonesia rawan bencana.

maka setiap pelaku pembangunan kesehatan harus taat pada asas yang menjadi landasan bagi setiap program dan kegiatan pembangunan kesehatan. Dalam Undang-undang tersebut. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dapat terwujud. dan selalu menerapkan prinsip perikemanusiaan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. A. kemauan. memegang teguh etika profesi. pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran. Dengan demikian untuk menjamin efektifitas SKN. Perikemanusian Pembangunan kesehatan harus berlandaskan pada prinsip perikemanusiaan yang dijiwai. dinyatakan bahwa pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan mendasarkan pada: 1. 15 .BAB III ASAS SISTEM KESEHATAN NASIONAL Sebagaimana dinyatakan dalam Bab I bahwa Sistem Kesehatan Nasional (SKN) adalah bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan. digerakan dan dikendalikan oleh keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. DASAR PEMBANGUNAN KESEHATAN Sesuai dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Jangka Panjang Pembangunan Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025. Tenaga kesehatan perlu berbudi luhur.

Pembangunan kesehatan dilaksanakan dengan berlandaskan pada kepercayaan atas kemampuan dan kekuatan sendiri serta kepribadian bangsa dan semangat solidaritas sosial serta gotongroyong. dan bertanggungjawab untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan perorangan. Setiap orang berhak memperoleh pelayanan kesehatan. berkewajiban. dan lingkungannya. Pembangunan kesehatan harus mampu membangkitkan dan mendorong peran aktif masyarakat. golongan. serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Upaya kesehatan yang bermutu diselenggarakan dengan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta harus lebih mengutamakan pendekatan peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit. sehingga secara berhasil guna dan bertahap dapat 16 . Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup. Pengutamaan dan Manfaat Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan perorangan atau golongan.2. Pembangunan kesehatan diselenggarakan berlandaskan pada dasar kemitraan atau sinergisme yang dinamis dan tata penyelenggaraan yang baik. masyarakat. agama. Adil dan Merata Dalam pembangunan kesehatan setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. tumbuh dan kembang. 4. Pemberdayaan dan Kemandirian Setiap orang dan masyarakat bersama dengan pemerintah berperan. keluarga. 3. tanpa memandang suku. dan status sosial ekonominya.

yaitu untuk meningkatkan kecerdasan bangsa dan kesejahteraan rakyat. bayi. SKN perlu mengacu pada dasardasar sebagai berikut: 1. Perlu diupayakan pembangunan kesehatan secara terintegrasi antara Pusat dan Daerah dengan mengedepankan nilai-nilai pembangunan kesehatan. 17 . Pembangunan kesehatan diarahkan agar memberikan perhatian khusus pada penduduk rentan. c) Kerjasama Tim. agama. b) Bertindak Cepat dan Tepat. golongan. DASAR SKN Dalam penyelenggaraan. dan status sosial ekonomi. jenis kelamin. Setiap anak dan perempuan berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. yaitu: a) Berpihak pada Rakyat. dan e) Transparansi serta Akuntabilitas. B. beserta lingkungannya. maka setiap penyelenggaraan SKN berdasarkan pada prinsip hak asasi manusia. manusia usia lanjut. anak. dan masyarakat miskin. Undangundang Dasar 1945 pasal 28 H ayat 1 antara lain menggariskan bahwa setiap rakyat berhak atas pelayanan kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya tanpa membedakan suku. Hak Asasi Manusia (HAM) Sesuai dengan tujuan pembangunan nasional dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945. d) Integritas yang Tinggi.memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat. antara lain: ibu.

Pembangunan kesehatan harus diselenggarakan dengan menggalang kemitraan yang dinamis dan harmonis antara pemerintah dan masyarakat. agar diperoleh sinergisme yang lebih mantap dalam rangka mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. termasuk swasta dengan mendayagunakan potensi yang dimiliki masing-masing. dan kerjasama yang baik dari para pelaku untuk menghasilkan tata penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang baik (good governance). baik antar pelaku. Kemitraan tersebut diwujudkan dengan mengembangkan jejaring yang berhasil guna dan berdaya guna. dan Sinergisme (KISS). 3. diperlukan komitmen yang tinggi. Dengan tatanan ini. berkepastian hukum. Sinergisme dan Kemitraan yang Dinamis Sistem Kesehatan Nasional akan berfungsi baik untuk mencapai tujuannya apabila terjadi Koordinasi. antar subsistem SKN.2. Sinkronisasi. dukungan. terbuka (transparan). Komitmen dan Tata Pemerintahan yang Baik (Good Governance) Agar SKN berfungsi baik. keuangan dan pendidikan perlu berperan bersama dengan sektor kesehatan untuk mencapai tujuan nasional. profesional. 18 . seperti pembangunan prasarana. rasional. maka sistem atau seluruh sektor terkait. serta bertanggung-jawab dan bertanggung-gugat (akuntabel). maupun dengan sistem serta subsistem lain di luar SKN. Pembangunan kesehatan diselenggarakan secara demokratis. Integrasi.

Kesetaraan gender dalam pembangunan kesehatan adalah kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan dan hak-haknya sebagai manusia. agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan kesehatan serta kesamaan dalam memperoleh manfaat pembangunan kesehatan. Dengan mengacu pada antisipasi tersebut. Dukungan Regulasi Dalam menyelenggarakan SKN. 19 . yang di dasarkan pada pengalaman masa lalu atau pengalaman yang terjadi di negara lain. pelaku pembangunan kesehatan perlu lebih proaktif terhadap perubahan lingkungan strategis baik yang bersifat internal maupun eksternal. Responsif Gender Dalam penyelenggaraan SKN. 6. Antisipatif dan Pro Aktif Setiap pelaku pembangunan kesehatan harus mampu melakukan antisipasi atas perubahan yang akan terjadi.4. 5. setiap penyusunan rencana kebijakan dan program serta dalam pelaksanaan program kesehatan harus menerapkan kesetaraan dan keadilan gender. diperlukan dukungan regulasi berupa adanya berbagai peraturan perundangan yang mendukung penyelenggaraan SKN dan penerapannya (law enforcement). Keadilan gender adalah suatu proses untuk menjadi adil terhadap laki-laki dan perempuan dalam pembangunan kesehatan.

dapat disesuaikan dengan potensi dan kondisi serta kebutuhan masyarakat di daerah terutama dalam penyediaan pelayanan kesehatan dasar bagi rakyat. walaupun dalam prakteknya.7. yang dapat diukur secara kuantitatif dari meningkatnya peran serta masyarakat dan secara kualitatif dari meningkatnya kualitas hidup jasmani dan rohani. Kearifan Lokal Penyelenggaraan SKN di daerah harus memperhatikan dan menggunakan potensi daerah yang secara positif dapat meningkatkan hasil guna dan daya guna pembangunan kesehatan. 20 . Dengan demikian kebijakan pembangunan daerah di bidang kesehatan harus sejalan dengan SKN.

maupun pemerintah secara sinergis. swasta. Dalam kaitan ini. Kedudukan SKN dalam Sistem Nasional Lainnya Terwujudnya keadaan sehat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang tidak hanya menjadi tanggung-jawab sektor kesehatan. perdamaian. Suprasistem SKN Suprasistem SKN adalah Ketahanan Nasional. KEDUDUKAN SKN 1. berhasil guna dan berdaya guna. mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. abadi dan keadilan sosial. 2. undangundang yang berkaitan dengan kesehatan merupakan kebijakan strategis dalam pembangunan kesehatan. SKN bersama dengan berbagai sistem nasional lainnya diarahkan untuk mencapai Tujuan Bangsa Indonesia seperti yang tercantum dalam Pembukaan Undangundang Dasar 1945.BAB IV BENTUK POKOK SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. baik masyarakat. sehingga terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. B. melainkan juga tanggung-jawab berbagai sektor terkait. TUJUAN SKN Tujuan SKN adalah terselenggaranya pembangunan kesehatan oleh semua potensi bangsa. Dalam penyelenggaraan pembangunan 21 . yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum.

seperti: Sistem Pendidikan Nasional. Sistem Perekonomian Nasional. 3. dan Sistem nasional lainnya. Sistem Hankamnas. sebagai sistem kemasyarakatan yang ada. Dalam penyelenggaraan pembangunan nasional. SKN perlu menjadi acuan bagi sektor lain. SKN dapat bersinergis secara dinamis dengan berbagai sistem nasional lainnya. Sistem Ketahanan Pangan Nasional. Dengan demikian pelaksanaan pembangunan nasional harus berwawasan kesehatan dengan mengikutsertakan seluruh sektor terkait kesehatan sejak awal perencanaan agar dampak pembangunan yang dilakukan tidak merugikan derajat kesehatan masyarakat secara langsung maupun tidak langsung dalam jangka pendek maupun jangka panjang.kesehatan. Kedudukan SKN terhadap berbagai Kemasyarakatan. 4. SKN merupakan acuan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan di daerah. Di lain pihak. Kedudukan SKN terhadap Penyelenggaraan Pembangunan Kesehatan di Daerah Dalam pembangunan kesehatan. termasuk Swasta Sistem Keberhasilan pembangunan kesehatan sangat ditentukan oleh dukungan sistem nilai dan budaya masyarakat yang secara bersama terhimpun dalam berbagai sistem kemasyarakatan. termasuk potensi swasta berperan aktif sebagai mitra dalam pembangunan kesehatan yang dilaksanakan sesuai SKN. Dalam kaitan ini SKN dipergunakan sebagai acuan bagi masyarakat dalam berbagai upaya kesehatan. 22 .

sehingga sejalan dengan tujuan pembangunan nasional yang berwawasan kesehatan. pencegahan.Keberhasilan pembangunan kesehatan juga ditentukan oleh peran aktif swasta. dan saling menguntungkan dengan berbagai potensi swasta. terbuka. 23 . Sistem Kesehatan Nasional dapat mewarnai potensi swasta. Upaya kesehatan diselenggarakan dengan upaya peningkatan. dan pemulihan. C. pengobatan. Untuk keberhasilan pembangunan kesehatan perlu digalang kemitraan yang setara. SUBSISTEM SKN Pendekatan manajemen kesehatan dewasa ini dan kecenderungannya di masa depan adalah kombinasi dari pendekatan: 1) Sistem. 2) Kontingensi. Dalam kaitan ini potensi swasta merupakan bagian integral dari SKN. maka subsistem SKN meliputi: 1. Dengan mengacu terutama pada kedudukan SKN diatas dan pencapaian tujuan nasional. dalam Gambar-1 dikemukakan alur pikir dari Rencana Pembangunan Kesehatan dan SKN termaksud. Subsistem Upaya Kesehatan Untuk dapat mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya perlu diselenggarakan berbagai upaya kesehatan dengan menghimpun seluruh potensi bangsa Indonesia. Mengacu pada substansi perkembangan penyelenggaraan pembangunan kesehatan dewasa ini serta pendekatan manajemen kesehatan tersebut diatas. dan 3) Sinergi yang dinamis.

swasta. sesuai tututan kebutuhan pembangunan kesehatan. sedangkan untuk pelayanan kesehatan perorangan pembiayaannya bersifat private. terintegrasi. Subsistem Pembiayaan Kesehatan Pembiayaan kesehatan bersumber dari berbagai sumber. Pemerintah Daerah.2. dan berkesinambungan memegang peran yang amat vital untuk penyelenggaraan pelayanan kesehatan dalam rangka mencapai berbagai tujuan pembangunan kesehatan. Pembiayaan pelayanan kesehatan perorangan diselenggarakan melalui jaminan pemeliharaan kesehatan dengan mekanisme asuransi sosial yang pada waktunya diharapkan akan mencapai universal coverage sesuai dengan Undang-undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). yakni: Pemerintah. organisasi masyarakat. SKN juga memberikan fokus penting pada pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan guna menjamin ketersediaan dan pendistribusian sumber daya manusia kesehatan. dan masyarakat itu sendiri. serta terdistribusi secara adil dan merata. Pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan meliputi: 1) 24 . kecuali pembiayaan untuk masyarakat miskin dan tidak mampu menjadi tanggung-jawab pemerintah. diperlukan sumber daya manusia kesehatan yang mencukupi dalam jumlah. Oleh karena itu. 3. pembiayaan kesehatan yang adekuat. stabil. Subsistem Sumber Daya Manusia Kesehatan Sebagai pelaksana upaya kesehatan. Pembiayaan pelayanan kesehatan masyarakat merupakan public good yang menjadi tanggung-jawab pemerintah. jenis dan kualitasnya. Oleh karena itu.

5. 3) pendayagunaan SDM Kesehatan. diperlukan manajemen kesehatan. ketersediaan. analisa. Alat Kesehatan. administrasi kesehatan. efisien. pemerataan. dan diseminasi data dan informasi. dan keterjangkauan obat. penggunaan obat yang rasional. serta penyerasian berbagai subsistem SKN dan efektif. Subsistem Sediaan Farmasi. integrasi. alat kesehatan. 2) Manajemen sistem informasi. hukum kesehatan. 4. dan informasi kesehatan. Dalam kaitan ini peranan informasi kesehatan sangat penting. dan Makanan Subsistem kesehatan ini meliputi berbagai kegiatan untuk menjamin: aspek keamanan. dan makanan yang beredar. 2) pengadaan yang meliputi pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan SDM Kesehatan. serta upaya kemandirian di bidang kefarmasian melalui pemanfaatan sumber daya dalam negeri. 3) 25 .perencanaan kebutuhan sumber daya manusia yang diperlukan. terutama obat esensial. perlindungan masyarakat dari penggunaan yang salah dan penyalahgunaan obat. serta transparansi dari penyelenggaraan SKN tersebut. Subsistem Manajemen dan Informasi Kesehatan Subsistem ini meliputi: kebijakan kesehatan. dan 4) pembinaan serta pengawasan SDM Kesehatan. khasiat/ kemanfaatan dan mutu sediaan farmasi. Peranan manajemen kesehatan adalah koordinasi. validasi. Untuk menggerakkan pembangunan kesehatan secara berhasil guna dan berdaya guna. Dari segi pengadaan data dan informasi dapat dikelompokkan kegiatannya sebagai berikut: 1) Pengumpulan. sinkronisasi. termasuk peningkatan kesejahteraannya.

Subsistem Upaya Kesehatan diselenggarakan untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. dan 4) Pengembangan untuk peningkatan mutu sistem informasi kesehatan.Dukungan kegiatan dan sumber daya untuk unit-unit yang memerlukan. D. Pemberdayaan masyarakat dan upaya kesehatan pada hakekatnya merupakan fokus dari pembangunan kesehatan. Subsistem Pemberdayaan Masyarakat Sistem Kesehatan Nasional akan berfungsi optimal apabila ditunjang oleh pemberdayaan masyarakat. ketersediaan sediaan 26 . melainkan juga sebagai subjek atau penyelenggara dan pelaku pembangunan kesehatan. SDM Kesehatan. 6. Upaya pemberdayaan masyarakat akan berhasil pada hakekatnya bila kebutuhan dasar masyarakat sudah terpenuhi. Oleh karenanya pemberdayaan masyarakat menjadi sangat penting. Masyarakat termasuk swasta bukan semata-mata sebagai sasaran pembangunan kesehatan. agar masyarakat termasuk swasta dapat mampu dan mau berperan sebagai pelaku pembangunan kesehatan. Keterkaitan tersebut adalah sebagai berikut: 1. Dalam pemberdayaan masyarakat meliputi pula upaya peningkatan lingkungan sehat oleh masyarakat sendiri. TATA HUBUNGAN LINGKUNGANNYA ANTAR SUBSISTEM DAN Penyelenggaraan SKN memerlukan keterkaitan antar unsur-unsur SKN sebagai suatu tata hubungan yang efektif. Berbagai upaya tersebut memerlukan dukungan pembiayaan. Untuk penyelenggaraan subsistem tersebut diperlukan berbagai upaya dengan menghimpun seluruh potensi bangsa Indonesia.

dan makanan. Tersedianya pembiayaan yang memadai juga akan menunjang terselenggaranya subsistem sumber daya manusia kesehatan. Subsistem sumber daya manusia kesehatan diselenggarakan guna menghasilkan tenaga kesehatan yang bermutu dalam jumlah yang mencukupi.farmasi. Subsistem sediaan farmasi. 4. teralokasi secara adil. dan makanan diselenggarakan guna menjamin keamanan. manajemen dan informasi kesehatan. subsistem manajemen dan informasi kesehatan. 3. menjamin ketersediaan. alat kesehatan. manfaat. dan makanan. alat kesehatan. Tersedianya tenaga kesehatan yang mencukupi dan berkualitas juga akan menunjang terselenggaranya subsistem pembiayaan kesehatan. subsistem sediaan farmasi. terjangkau. terdistribusi secara adil. serta subsistem pemberdayaan masyarakat. serta pemberdayaan masyarakat. serta termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna. subsistem sediaan farmasi. khasiat. dan bermutu bagi seluruh masyarakat. alat kesehatan dan makanan. dan keterjangkauan obat. sehingga upaya kesehatan dapat diselenggarakan sesuai dengan kebutuhan seluruh lapisan masyarakat. 2. serta subsistem pemberdayaan masyarakat. dan makanan yang beredar. dan termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna untuk terselenggaranya upaya kesehatan secara merata. alat kesehatan. pemerataan. alat kesehatan. subsistem manajemen dan informasi kesehatan. dan mutu semua produk sediaan farmasi. terutama obat esensial. Subsistem pembiayaan kesehatan diselenggarakan guna menghasilkan ketersediaan pembiayaan kesehatan dengan jumlah yang mencukupi. 27 .

Subsistem manajemen dan informasi kesehatan diselenggarakan guna menghasilkan fungsi-fungsi kebijakan kesehatan. serta penggunaan obat yang rasional. 5. 28 . subsistem sediaan farmasi. Subsistem sediaan farmasi. subsistem pembiayaan kesehatan. alat kesehatan. pembiayaan kesehatan. Masyarakat yang berdaya akan berperan aktif dalam penyelenggaraan subsistem pembiayaan kesehatan. Subsistem pemberdayaan masyarakat diselenggarakan guna menghasilkan individu. alat kesehatan. informasi kesehatan. sebagai suatu kesatuan yang terpadu dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. dan makanan saling terkait dengan subsistem upaya kesehatan. dan masyarakat umum yang mampu berperan aktif dalam penyelenggaraan upaya kesehatan. dan makanan. manajemen dan informasi kesehatan. subsistem sumber daya manusia kesehatan.perlindungan masyarakat dari penggunaan yang salah dan penyalahgunaan obat. dan hukum kesehatan yang memadai dan mampu menunjang penyelenggaraan upaya kesehatan secara berhasil guna dan berdaya guna. serta subsistem pemberdayaan masyarakat. sehingga upaya kesehatan dapat diselenggarakan dengan berhasil guna dan berdaya guna. administrasi kesehatan. subsistem sumber daya manusia kesehatan. sumber daya kesehatan. Dengan manajemen kesehatan yang berhasil guna dan berdaya guna dapat diselenggarakan subsistem upaya kesehatan. 6. dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. subsistem sediaan farmasi. serta pemberdayaan masyarakat. alat kesehatan. kelompok.

29 . yang meliputi: ideologi. hubungan SKN dengan lingkungan strategisnya sangat penting artinya. sosial budaya. regional. Lingkungan tersebut terdapat di tingkat lokal. dan pertahanan keamanan. ekonomi. Selain itu. nasional. lingkungan termaksud dapat sebagai peluang maupun kendala. politik. serta subsistem manajemen dan informasi kesehatan. Untuk memperoleh kejelasan secara umum substansi berbagai unsur-unsur pembangunan kesehatan dan subsistem SKN serta tata hubungannya dengan lingkungan strategis yang lebih spesifik dan penting yang mempengaruhi SKN dapat dilihat pada skema di Gambar-2. Dalam kaitan ini. mengingat pembangunan kesehatan tidak dapat mencapai tujuannya tanpa memperhatikan dengan seksama interaksi dengan lingkungan strategis tersebut. maupun global.dan makanan.

dan berkualitas. dan pemulihan. pencegahan. 2. dan pemulihan. Upaya Kesehatan Pelayanan kesehatan meliputi peningkatan. Pengertian Subsistem Upaya Kesehatan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan upaya kesehatan yang paripurna. meliputi upaya peningkatan. 30 . merata. pengobatan. baik pelayanan kesehatan konvensional maupun pelayanan kesehatan yang terdiri dari pengobatan tradisional dan komplementer melalui pendidikan dan pelatihan dengan selalu mengutamakan keamanan dan efektifitas yang tinggi. Unsur-unsur a. terjangkau. terpadu. SUBSISTEM UPAYA KESEHATAN 1. pencegahan. 3. Tujuan Tujuan dari penyelenggaraan subsistem upaya kesehatan adalah terselenggaranya upaya kesehatan yang adil.BAB V CARA PENYELENGGARAAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. dan bermutu untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. yang diselenggarakan guna menjamin tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. pengobatan.

akreditasi. dan penegakan hukum yang dilakukan oleh pemerintah bersama dengan organisasi profesi dan masyarakat. sertifikasi. pengobatan. 31 . c. dan masyarakat miskin. Pembinaan dan Pengawasan Upaya Kesehatan Pelayanan kesehatan harus diberikan berdasarkan standar pelayanan yang telah ditetapkan oleh pemerintah dengan mempertimbangkan masukan dari organisasi profesi. maupun pemulihan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat. b. manusia usia lanjut. sediaan farmasi dan alat kesehatan. Sumber Daya Upaya Kesehatan Sumber daya upaya kesehatan terdiri dari SDM kesehatan. baik peningkatan. bayi. serta manajemen dan sistem informasi kesehatan yang memadai guna terselenggaranya upaya kesehatan. termasuk swasta. antara lain: ibu. pencegahan. termasuk fasilitas pelayanan kesehatan. lisensi. sarana dan prasarana. biaya. anak.Upaya kesehatan diutamakan pada berbagai upaya yang mempunyai daya ungkit tinggi dalam pencapaian sasaran pembangunan kesehatan utamanya penduduk rentan. Pembinaan dan pengawasan upaya kesehatan dilakukan secara berjenjang melalui standarisasi. Fasilitas pelayanan kesehatan merupakan alat dan atau tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan.

Berkesinambungan dan Paripurna Upaya kesehatan bagi masyarakat diselenggarakan secara berkesinambungan dan paripurna meliputi upaya peningkatan. Aman. terjamin keamanannya bagi penerima dan pemberi upaya. serta rujukan antar tingkatan upaya. dan Sesuai Kebutuhan Pelayanan kesehatan bagi masyarakat harus berkualitas. serta aspek terkait lainnya dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai. pengobatan hingga pemulihan. sumber daya kesehatan. dapat diterima masyarakat. Prinsip a.d. 32 . b. Penelitian dan Pengembangan Upaya Kesehatan Penelitian dan pengembangan dilakukan utamanya untuk mendukung peningkatan mutu upaya kesehatan yang berhasil guna dan berdaya guna. Bermutu. serta mampu menghadapi tantangan global dan regional. c. 4. efektif dan sesuai. pencegahan. Adil dan Merata Pemerintah wajib menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan yang berkeadilan dan merata untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di bidang kesehatan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan di luar negeri dalam kondisi tertentu. Pelaksanaan penelitian dan pengembangan didasarkan pada masalah kesehatan prioritas.

dengan tetap memperhatikan pengarus-utamaan gender. Teknologi Tepat Guna Upaya kesehatan menggunakan teknologi tepat guna yang berbasis bukti.d. Terdapat tiga tingkatan upaya. Upaya Kesehatan Upaya kesehatan mencakup kesehatan fisik. moral. melibatkan semua pihak yang kompeten. Terjangkau Ketersediaan dan pembiayaan pelayanan kesehatan yang bermutu harus terjangkau oleh seluruh masyarakat. bukan status sosial ekonomi dan tidak membeda-bedakan suku/ras. termasuk intelegensia dan sosial. Upaya kesehatan dilaksanakan dalam tingkatan upaya sesuai dengan kebutuhan medik dan kesehatan. dan nilai agama. Teknologi tepat guna berasas pada kesesuaian kebutuhan dan tidak bertentangan dengan etika. Penyelenggaraan a. e. g. budaya dan agama. Bekerja dalam Tim secara Cepat dan Tepat Upaya kesehatan dilakukan secara kerjasama tim. yaitu upaya kesehatan primer. mental. f. 5. upaya kesehatan sekunder. Non diskriminatif Setiap penduduk harus mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan medis. dilakukan secara cepat dengan ketepatan/presisi yang tinggi. dan 33 .

termasuk penanggulangan bencana dan pelayanan gawat darurat. terpadu.upaya kesehatan tersier. sedang rujukan kesehatan dikaitkan dengan upaya pencegahan dan peningkatan kesehatan berupa sarana. Rujukan upaya kesehatan adalah pelimpahan wewenang dan tanggung-jawab secara timbal balik. Upaya kesehatan diselenggarakan secara berkesinambungan. teknologi. Upaya kesehatan sekunder dan tersier adalah upaya kesehatan tingkat rujukan maupun rujukan tingkat lanjut. dan pengetahuan tentang penyakit. dan paripurna melalui sistem rujukan. 1) Upaya Kesehatan Primer Upaya Kesehatan Primer terdiri dari pelayanan kesehatan perorangan primer dan pelayanan kesehatan masyarakat primer. Rujukan dibagi dalam rujukan medik yang berkaitan dengan pengobatan dan pemulihan berupa pengiriman pasien (kasus). baik horisontal dan vertikal maupun struktural dan fungsional terhadap kasus penyakit atau masalah penyakit atau permasalahan kesehatan. 34 . Upaya kesehatan primer adalah upaya kesehatan dimana terjadi kontak pertama secara perorangan atau masyarakat dengan pelayanan kesehatan melalui mekanisme rujukan timbal-balik. dan operasional. spesimen.

Prosedur dan Kriteria (NSPK) pelayanan yang ditetapkan oleh Pemerintah dengan memperhatikan masukan dari organisasi profesi dan masyarakat. Pelayanan kesehatan perorangan primer diselenggarakan berdasarkan Norma. termasuk di dalamnya pelayanan kebugaran dan gaya hidup sehat (healthy life style). maupun swasta. Pelayanan kesehatan perorangan primer dapat diselenggarakan sebagai pelayanan 35 . maupun fasilitas kesehatan perorangan primer baik Puskesmas dan jaringannya. Dilaksanakan dengan dukungan pelayanan kesehatan perorangan sekunder dalam sistem rujukan yang timbal balik. pemulihan tanpa mengabaikan upaya peningkatan dan pencegahan. serta fasilitas kesehatan lainnya milik pemerintah. tempat kerja.a) Pelayanan Kesehatan Perorangan Primer (PKPP) Pelayanan kesehatan perorangan primer adalah pelayanan kesehatan dimana terjadi kontak pertama secara perorangan sebagai proses awal pelayanan kesehatan. masyarakat. Pelayanan kesehatan perorangan primer memberikan penekanan pada pelayanan pengobatan. Pelayanan kesehatan perorangan primer diselenggarakan oleh tenaga kesehatan yang dibutuhkan dan mempunyai kompetensi seperti yang ditetapkan sesuai ketentuan berlaku serta dapat dilaksanakan di rumah. Sstandar.

yang bergerak (ambulatory) atau menetap; dapat dikaitkan dengan tempat kerja, seperti klinik perusahaan; dan dapat disesuaikan dengan lingkungan atau kondisi tertentu (kesehatan matra, seperti: kesehatan haji, kesehatan kelautan, kesehatan penerbangan, kesehatan wisata). Pemerintah wajib menyediakan pelayanan kesehatan perorangan primer di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai kebutuhan, terutama bagi masyarakat miskin, daerah terpencil, perbatasan, pulau-pulau terluar dan terdepan, serta yang tidak diminati swasta. Pembiayaan pelayanan kesehatan perorangan primer untuk penduduk miskin dibiayai oleh pemerintah, sedangkan golongan ekonomi lainnya dibiayai dalam sistem pembiayaan yang diatur oleh pemerintah. Dalam pelayanan kesehatan perorangan termasuk pula pelayanan kesehatan berbasis masyarakat dalam bentuk seperti Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) dan pengobatan tradisional serta pengobatan alternatif yang secara ilmiah telah terbukti terjamin keamanan dan khasiatnya. b) Pelayanan Kesehatan Masyarakat Primer (PKMP) Pelayanan kesehatan masyarakat primer adalah pelayanan peningkatan dan pencegahan tanpa mengabaikan 36

pengobatan dan pemulihan dengan sasaran keluarga, kelompok, dan masyarakat. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat primer menjadi tanggung-jawab Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang pelaksanaan operasionalnya dapat didelegasikan kepada Puskesmas. Masyarakat termasuk swasta dapat menyelenggarakan pelayanan kesehatan masyarakat primer sesuai peraturan yang berlaku dan berkerjasama dengan pemerintah. Pembiayaan pelayanan kesehatan masyarakat primer ditanggung oleh pemerintah bersama masyarakat, termasuk swasta. Pemerintah wajib melaksanakan dan membiayai pelayanan kesehatan masyarakat primer yang berhubungan dengan prioritas pembangunan kesehatan melalui kegiatan perbaikan lingkungan, peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit dan kematian serta paliatif. Pelaksanaan pelayanan kesehatan masyarakat primer didukung kegiatan lainnya, seperti surveilans, pencatatan, dan pelaporan. Pemerintah dapat membentuk fasilitas kesehatan yang secara khusus ditugaskan untuk melaksanakan upaya kesehatan masyarakat sesuai keperluan. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat primer mendukung upaya 37

kesehatan berbasis masyarakat dan didukung oleh pelayanan kesehatan masyarakat sekunder. 2) Upaya Kesehatan Sekunder Upaya kesehatan sekunder adalah upaya kesehatan rujukan lanjutan, yang terdiri dari pelayanan kesehatan perorangan sekunder dan pelayanan kesehatan masyarakat sekunder. a) Pelayanan Kesehatan Sekunder (PKPS) Perorangan

Pelayanan kesehatan perorangan sekunder adalah pelayanan kesehatan spesialistik yang menerima rujukan dari pelayanan kesehatan perorangan primer, yang meliputi rujukan kasus, spesimen, dan ilmu pengetahuan serta wajib merujuk kembali ke fasilitas kesehatan yang merujuk. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder dilaksanakan oleh dokter spesialis atau dokter yang sudah mendapatkan pendidikan khusus dan mempunyai ijin praktik serta didukung tenaga kesehatan lainnya yang diperlukan. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder dilaksanakan di tempat kerja maupun fasilitas kesehatan perorangan sekunder baik Rumah Sakit setara kelas C serta fasilitas kesehatan lainnya milik pemerintah, masyarakat, maupun swasta. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder harus memberikan pelayanan kesehatan 38

dan sumber daya manusia kesehatan serta didukung oleh pelayanan kesehatan masyarakat tersier. efisien dan berbasis bukti (evidence based medicine) serta didukung pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan. b) Pelayanan Kesehatan Sekunder (PKMS) Masyarakat Pelayanan kesehatan masyarakat sekunder menerima rujukan kesehatan dari pelayanan kesehatan masyarakat primer dan memberikan fasilitasi dalam bentuk sarana. sesuai. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat sekunder menjadi tanggungjawab Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan atau Provinsi sebagai fungsi teknisnya. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder dapat dijadikan sebagai wahana pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan pendidikan dan pelatihan. yakni melaksanakan pelayanan kesehatan masyarakat yang tidak sanggup atau tidak memadai dilakukan pada pelayanan kesehatan masyarakat primer. teknologi. efektif. Dalam penanggulangan penyakit menular yang tidak terbatas pada suatu batas 39 .yang aman. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder yang bersifat tradisional dan komplementer dilaksanakan dengan berafiliasi dengan atau di rumah sakit pendidikan.

Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL). dan lain-lain. a) Pelayanan Kesehatan Perorangan Tersier (PKPT) Pelayanan kesehatan perorangan tersier menerima rujukan sub-spesialistik dari pelayanan kesehatan di bawahnya. Fasilitas kesehatan penyelenggara pelayanan kesehatan masyarakat sekunder dibangun sesuai dengan standar. Pelaksana pelayanan kesehatan perorangan tersier adalah dokter sub-spesialis atau dokter spesialis yang telah mendapatkan pendidikan khusus atau pelatihan dan mempunyai izin praktik dan didukung oleh tenaga kesehatan lainnya yang diperlukan. maka tingkat yang lebih tinggi (provinsi) yang harus menanganinya. 40 . 3) Upaya Kesehatan Tersier Upaya kesehatan tersier adalah upaya kesehatan rujukan unggulan yang terdiri dari pelayanan kesehatan perorangan tersier dan pelayanan kesehatan masyarakat tersier.administrasi pemerintahan (lintas kabupaten/ kota). Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK). dan wajib merujuk kembali ke fasilitas kesehatan yang merujuk. seperti laboratorium kesehatan. Bagi fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat milik swasta harus mempunyai izin sesuai peraturan yang berlaku serta dapat bekerjasama dengan unit kerja Pemerintah Daerah.

Pelaksana pelayanan kesehatan masyarakat tersier adalah Dinas Kesehatan Provinsi. Fasilitas pelayanan kesehatan perorangan tersier dapat didirikan melalui modal patungan dengan pihak asing sesuai dengan peraturan dan kebijakan yang berlaku. baik milik pemerintah maupun swasta yang mampu memberikan pelayanan kesehatan subspesialistik dan juga termasuk klinik khusus. teknologi.Pelayanan kesehatan perorangan tersier dilaksanakan di Rumah Sakit Umum. Unit 41 . dan rujukan operasional. seperti pusat radioterapi. Rumah Sakit Khusus setara kelas A dan B. b) Pelayanan Kesehatan Masyarakat Tersier (PKMT) Pelayanan kesehatan masyarakat tersier menerima rujukan kesehatan dari pelayanan kesehatan masyarakat sekunder dan memberikan fasilitasi dalam bentuk sarana. Pelayanan kesehatan perorangan tersier wajib melaksanakan penelitian dan pengembangan dasar maupun terapan dan dapat dijadikan sebagai pusat pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan. Pemerintah mengembangkan berbagai pusat pelayanan unggulan nasional yang berstandar internasional untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan dan menghadapi persaingan global dan regional. sumber daya manusia kesehatan.

kerja terkait di tingkat Provinsi. Pemerintah Provinsi melakukan bimbingan dan pengendalian terhadap pelaksanaan kebijakan dan NSPK upaya kesehatan. 42 . Pelaksanaan pelayanan kesehatan masyarakat tersier menjadi tanggung-jawab Dinas Kesehatan Provinsi dan Departemen Kesehatan yang didukung dengan kerja sama lintas sektor. Pembinaan dan Pengawasan 1) Pembinaan Upaya Kesehatan Pembinaan upaya kesehatan ditujukan untuk menjamin mutu pelayanan kesehatan. harus didukung dengan standar pelayanan yang selalu dikaji dalam periode tertentu sesuai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebutuhan. b. dan masyarakat. Institut pelayanan kesehatan masyarakat tertentu secara nasional dapat dikembangkan untuk menampung kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat. dan Unit kerja terkait di tingkat nasional. Pemerintah menetapkan kebijakan dan NSPK upaya kesehatan dengan memperhatikan masukan dari Pemerintah Daerah. Organisasi Profesi. Departemen Kesehatan.

sehingga semua fasilitas pelayanan kesehatan wajib memberikan laporan kegiatannya. dan Pemerintah Kabupaten/Kota sesuai dengan kewenangannya yang diatur dalam peraturan perundangan. Pembinaan upaya kesehatan dilakukan oleh pemerintah bersama dengan organisasi profesi dan masyarakat termasuk swasta. Pemerintah. dan Pemerintah Kabupaten/Kota sebagai penanggung-jawab pelaksanaan pembangunan kesehatan di wilayahnya.Pemerintah Kabupaten/Kota melaksanakan kebijakan dan NSPK upaya kesehatan. Pemerintah Provinsi. berkewajiban melakukan pembinaan terhadap semua fasilitas pelayanan kesehatan termasuk swasta. 2) Pengawasan Upaya Kesehatan Pengawasan ditujukan untuk menjamin konsistensi penyelenggaraan upaya kesehatan dan dilakukan secara intensif. 43 . Pemerintah Provinsi. baik internal maupun eksternal dan juga dapat melibatkan masyarakat dan swasta. Perizinan fasilitas upaya kesehatan menurut tingkatannya ditetapkan oleh Pemerintah. Hasil pengawasan digunakan untuk perlindungan terhadap masyarakat dan tenaga kesehatan selaku penyelenggara upaya kesehatan.

swasta. 44 . Pemerintah melaksanakan penelitian data dasar kesehatan.c. jaringan informasi. 2) Pemanfaatan dan penyebarluasan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan diatur oleh Pemerintah dengan dukungan organisasi profesi. Sesuai dengan perkembangan dan keperluannya. seperti Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) secara berkala dan penelitian pengembangan upaya kesehatan. Pengembangan dan pemanfaatan Iptek. dan dokumentasi Iptek kesehatan. Penelitian yang dilaksanakan oleh badan asing dan atau individu Warga Negara Asing (WNA) harus atas izin dan diawasi Pemerintah. pengembangan dan pemanfaatan Iptek perlu diperluas untuk mendukung pembangunan kesehatan secara keseluruhan. dan pemerintah. dilakukan dengan membentuk pusatpusat penelitian dan pengembangan unggulan. Penelitian dan Pengembangan Pengembangan dan pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) yang memadai ditujukan untuk meningkatkan mutu upaya kesehatan. meliputi: 1) Ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan dihasilkan dari penelitian dan pengembangan kesehatan yang diselenggarakan oleh pusatpusat penelitian dan pengembangan milik masyarakat.

merata dan termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna. Dana yang tersedia harus mencukupi dan dapat dipertanggungjawabkan serta dipertanggung-gugatkan. 45 . maupun swasta serta sumber lainnya yang digunakan untuk mendukung pelaksanaan pembangunan kesehatan.B. 2. Unsur-unsur a. SUBSISTEM PEMBIAYAAN KESEHATAN 1. 3. Pengertian Subsistem pembiayaan kesehatan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan berbagai upaya penggalian. tersalurkan sesuai peruntukannya untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. dan pembelanjaan dana kesehatan untuk mendukung penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. teralokasi secara adil. Dana Dana digali dari sumber pemerintah baik dari sektor kesehatan dan sektor lain terkait. pengalokasian. dari masyarakat. Tujuan Tujuan dari penyelenggaraan subsistem pembiayaan kesehatan adalah tersedianya dana kesehatan dalam jumlah yang mencukupi.

pengalokasian. regulasi. 4. Sumber Daya Sumber daya dari subsistem pembiayaan kesehatan. pengalokasian. sarana. Pengelolaan Dana Kesehatan Prosedur/mekanisme pengelolaan dana kesehatan adalah seperangkat aturan yang disepakati dan secara konsisten dijalankan oleh para pelaku subsistem pembiayaan kesehatan. dan pembelanjaan dana kesehatan. Prinsip a. c.b. Alokasi dana yang berasal dari pemerintah untuk upaya kesehatan dilakukan melalui penyusunan anggaran pendapatan dan belanja. baik pusat maupun daerah. dan swasta. baik oleh pemerintah secara lintas sektor. maupun masyarakat yang mencakup mekanisme penggalian. swasta. dan pembelanjaan dana kesehatan untuk mendukung terselenggaranya pembangunan kesehatan. 46 . dan kelembagaan yang digunakan secara berhasil guna dan berdaya guna dalam upaya penggalian. terus diupayakan peningkatan dan kecukupannya sesuai kebutuhan menuju sekurang-kurangnya 5% dari PDB atau 15% dari total anggaran pendapatan dan belanja setiap tahunnya. masyarakat. meliputi: SDM pengelola. Kecukupan Pembiayaan kesehatan pada dasarnya merupakan tanggung-jawab bersama pemerintah. standar.

tersalurkan secara tepat memperhatikan subsidiaritas dan fleksibilitas. maka pembelanjaannya dilakukan melalui kesesuaian antara perencanaan pembiayaan kesehatan. berhasil guna dan berdaya guna. dikelola secara adil. masyarakat. transparan. Dana kesehatan digunakan secara bertanggungjawab dan bertanggung-gugat berdasarkan prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance). baik dari pemerintah. Adil dan Transparan Dana kesehatan yang terhimpun baik dari pemerintah maupun masyarakat dimanfaatkan secara adil dalam rangka menjamin terpeliharanya dan terlindunginya masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan. serta menjamin terpenuhinya ekuitas. sistem pembayaran pada fasilitas kesehatan perlu dikembangkan menuju bentuk pembayaran prospektif. akuntabel. b.Pembiayaan kesehatan untuk masyarakat miskin dan tidak mampu merupakan tanggung-jawab pemerintah. maupun swasta yang harus digali dan dikumpulkan serta terus ditingkatkan untuk menjamin kecukupan agar jumlahnya dapat sesuai dengan kebutuhan. penguatan kapasitas manajemen perencanaan anggaran dan kompetensi pemberi pelayanan kesehatan. Dana kesehatan diperoleh dari berbagai sumber. 47 . c. Efektif dan Efisien Dalam menjamin efektifitas dan efisiensi penggunaan dana kesehatan. berkelanjutan.

dan sumber lainnya. dana dari masyarakat. 5. Penyelenggaraan pada peraturan Subsistem pembiayaan kesehatan merupakan suatu proses yang terus-menerus dan terkendali. Perencanaan dan pengaturan pembiayaan kesehatan dilakukan melalui penggalian dan pengumpulan berbagai sumber dana yang dapat menjamin kesinambungan pembiayaan pembangunan kesehatan. a. serta menggunakannya secara efisien dan efektif. swasta. Dana yang bersumber dari swasta dihimpun dengan menerapkan prinsip kemitraan antara pemerintah dan masyarakat yang didukung dengan pemberian insentif. pemerintah harus melakukan sinkronisasi dan sinergisme antara sumber dana dari iuran wajib. pajak khusus. mengalokasikannya secara rasional. Penggalian Dana Penggalian dana untuk pembangunan kesehatan yang bersumber dari pemerintah dilakukan melalui pajak umum. dan mengacu perundangan yang berlaku.transparan. dan sumber lainnya. agar tersedia dana kesehatan yang mencukupi dan berkesinambungan. masyarakat. bersumber dari pemerintah. Penggalian dana yang bersumber dari masyarakat dihimpun secara aktif oleh masyarakat sendiri atau dilakukan secara pasif 48 . serta berbagai sumber lainnya. dana APBN/APBD. bantuan atau pinjaman yang tidak mengikat. Dalam hal pengaturan penggalian dan pengumpulan serta pemanfaatan dana yang bersumber dari iuran wajib.

dan tersier dengan mengutamakan masyarakat rentan dan miskin. sekunder. Dana pemerintah untuk pembangunan kesehatan diarahkan untuk membiayai upaya kesehatan primer. serta yang tidak diminati swasta. perbatasan. Pengalokasian Dana Pengalokasian dana pemerintah dilakukan melalui perencanaan anggaran dengan mengutamakan upaya kesehatan prioritas secara bertahap dan terus ditingkatkan jumlah pengalokasiannya sehingga sesuai dengan kebutuhan. daerah terpencil. Pengalokasian dana yang dihimpun dari masyarakat dilaksanakan berdasarkan asas gotong-royong sesuai dengan potensi dan kebutuhannya. Hal ini termasuk program bantuan sosial dari pemerintah untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin dan tidak mampu (Jamkesmas).dengan memanfaatkan berbagai dana yang sudah terkumpul di masyarakat. Pengalokasian dana untuk pelayanan kesehatan perorangan dilakukan melalui kepesertaan dalam jaminan pemeliharaan kesehatan yang diatur oleh pemerintah. termasuk program-program kesehatan yang mempunyai daya ungkit tinggi terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat. b. pulau-pulau terluar dan terdepan. Penggalian dana untuk pelayanan kesehatan perorangan dilakukan dengan cara penggalian dan pengumpulan dana masyarakat dan didorong pada bentuk jaminan pemeliharaan kesehatan. 49 .

yang meliputi: upaya perencanaan. pendayagunaan. serta menerapkan prinsip penyelenggaraan tata pemerintahan yang baik (good governance). C. SUBSISTEM SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN 1. 50 . akuntabel. Pembelanjaan Pemanfaatan dana kesehatan dilakukan dengan memperhatikan aspek teknis maupun alokatif sesuai peruntukannya secara efisien dan efektif untuk terwujudnya pengelolaan pembiayaan kesehatan yang transparan. Pembelanjaan dana kesehatan diarahkan terutama melalui jaminan pemeliharaan kesehatan. serta pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan untuk mendukung penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. pengadaan. Sumber Daya Manusia Kesehatan adalah tenaga kesehatan profesi termasuk tenaga kesehatan strategis dan tenaga kesehatan non profesi serta tenaga pendukung/penunjang kesehatan yang terlibat dan bekerja serta mengabdikan dirinya seperti dalam upaya dan manajemen kesehatan.c. baik yang bersifat wajib maupun sukarela serta dalam upaya peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan. Pengertian Subsistem SDM Kesehatan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan upaya pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan.

dan wajib memiliki kompetensi untuk mengabdikan dirinya di bidang kesehatan.2. Tujuan Tujuan dari penyelenggaraan subsistem SDM Kesehatan adalah tersedianya SDM Kesehatan yang kompeten sesuai kebutuhan yang terdistribusi secara adil dan merata serta didayagunakan secara optimal dalam mendukung penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Unsur-unsur a. mempunyai hak untuk memenuhi kebutuhan dasarnya (hak asasi) dan sebagai makhluk sosial. Sumber Daya Pengembangan Pemberdayaan SDM Kesehatan dan Sumber daya pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan adalah sumber daya pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan SDM Kesehatan. serta institusi/fasilitas pendidikan dan pelatihan yang menyediakan sarana dan prasarana pendidikan dan pelatihan. modul dan kurikulum serta metode pendidikan dan latihan. berakhlak luhur. Sumber Daya Kesehatan) Manusia Kesehatan (SDM Sumber daya manusia Kesehatan. cara 51 . b. serta mempunyai etika. Dalam sumber daya ini juga termasuk sumber daya manusia. sumber daya manusia pendidikan dan pelatihan. dan berdedikasi tinggi dalam melakukan tugasnya. 3. dana. yang meliputi: berbagai standar kompetensi. baik tenaga kesehatan maupun tenaga pendukung/penunjang kesehatan.

atau metode. Prinsip a. serta mengawasi pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan. 4. Pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan adalah upaya untuk mengarahkan. pendayagunaan. serta pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan. Penyelenggaraan Pengembangan Pemberdayaan SDM Kesehatan dan Penyelenggaraan pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan meliputi upaya perencanaan. serta pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan. c. memberikan dukungan. Adil dan Merata serta Demokratis Pemenuhan ketersediaan SDM Kesehatan ke seluruh wilayah Indonesia harus berdasarkan 52 . dan distribusi tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan pembangunan kesehatan. kualifikasi. Perencanaan SDM Kesehatan adalah upaya penetapan jenis. pendayagunaan. pengadaan. Pendayagunaan SDM Kesehatan adalah upaya pemerataan dan pemanfaatan serta pengembangan SDM Kesehatan. Pengadaan SDM Kesehatan adalah upaya yang meliputi pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan SDM Kesehatan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan kesehatan. serta peralatan dan perlengkapan untuk melakukan perencanaan. jumlah.

dan berdaya saing tinggi. Objektif dan Transparan Pembinaan dan pengawasan serta pendayagunaan (termasuk pengembangan karir) SDM Kesehatan dilakukan secara objektif dan transparan berdasarkan prestasi kerja dan disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan kesehatan. beriman. d. 53 . nilai budaya. profesional. c. nilai keagamaan. Hierarki dalam SDM Kesehatan Pengembangan dan pemberdayan SDM Kesehatan dalam mendukung pembangunan kesehatan perlu memperhatikan adanya susunan hierarki SDM Kesehatan yang ditetapkan berdasarkan jenis dan tingkat tanggung-jawab. bertanggung-jawab. mandiri. dan kemajemukan bangsa.pemerataan dan keadilan sesuai dengan potensi dan kebutuhan pembangunan kesehatan serta dilaksanakan secara demokratis. kompetensi. bertaqwa. tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia. serta keterampilan masing-masing SDM Kesehatan. b. Kompeten dan Berintegritas Pengadaan SDM Kesehatan melalui pendidikan dan pelatihan yang sesuai standar pelayanan dan standar kompetensi serta menghasilkan SDM yang menguasai Iptek.

Penyelenggaraan a. Pemerintah bertanggung-jawab mengatur pendirian institusi pendidikan dan pembukaan program 54 . Pengadaan SDM Kesehatan Standar pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan SDM Kesehatan mengacu kepada standar pelayanan dan standar kompetensi SDM Kesehatan dan perlu didukung oleh etika profesi SDM Kesehatan tersebut. dan kualifikasinya dilakukan dengan meningkatkan dan memantapkan keterkaitannya dengan unsur lainnya dalam manajemen pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan dengan memperhatikan tujuan pembangunan kesehatan dan kecenderungan permasalahan kesehatan di masa depan. b. jumlah.5. Perencanaan SDM Kesehatan dilakukan dengan mendasarkan pada fakta (berbasis bukti) melalui peningkatan sistem informasi SDM Kesehatan. Perencanaan SDM Kesehatan yang meliputi jenis. Perencanaan SDM Kesehatan Penyusunan rencana kebutuhan SDM Kesehatan dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan SDM Kesehatan yang diutamakan. baik dalam upaya kesehatan primer maupun upaya kesehatan sekunder serta tersier. Pemerintah dengan melibatkan organisasi profesi dan masyarakat menetapkan standar kompetensi dan standar pendidikan yang berlaku secara nasional.

Penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan harus memenuhi akreditasi sesuai dengan peraturan perundangan. Pemerintah dengan melibatkan organisasi profesi membentuk badan regulator profesi yang bertugas menyusun berbagai peraturan persyaratan. Pendirian institusi pendidikan dan pembukaan program pendidikan ditekankan untuk menghasilkan lulusan tenaga kesehatan yang bermutu dan dapat bersaing secara global dengan memperhatikan keseimbangan antara kebutuhan. dinamika pasar baik di dalam maupun di luar negeri. Penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan harus responsif gender yang berorientasi kepada kepentingan peserta didik (“student centered”). Institusi/fasilitas pelayanan kesehatan yang terakreditasi wajib mendukung penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan.pendidikan tenaga kesehatan yang dibutuhkan dalam pembangunan kesehatan. sehingga registrasi tenaga kesehatan lulusan dalam negeri dapat diakui di dunia internasional. menentukan kompetensi umum. 55 . dan kemampuan produksi tenaga kesehatan dengan yang sudah ada. Kompetensi tenaga kesehatan harus setara dengan kompetensi tenaga kesehatan di dunia internasional. prosedur penetapan kompetensi khusus tenaga kesehatan. serta menentukan sertifikasi institusi pendidikan dan pelatihan profesi.

c. dan lintas institusi melalui jenjang jabatan struktural dan jabatan fungsional. pulau-pulau terluar dan terdepan. Pemerintah dan swasta mengembangkan dan menerapkan pola karir tenaga kesehatan yang dilakukan secara transparan. pemerintah melakukan berbagai pengaturan untuk memberikan imbalan material atau non material kepada tenaga kesehatan untuk bekerja di bidang tugas atau daerah yang tidak diminati. terbuka. baik Pusat maupun Daerah dan Swasta melakukan rekrutmen dan penempatan tenaga kesehatan dan tenaga pendukung kesehatan yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan pembangunan kesehatan dan atau menjalankan tugas dan fungsi institusinya. Pemerintah bersama organisasi profesi dan swasta mengupayakan penyelenggaraan pendidikan 56 . Pemerintah Daerah bersama UPT-nya dan masyarakat melakukan rekrutmen dan penempatan tenaga penunjang (tenaga masyarakat) yang diperlukan untuk mendukung UKBM sesuai dengan kebutuhan pembangunan kesehatan. daerah tertinggal. seperti: daerah terpencil. Pemerintah. Dalam rangka penempatan tenaga kesehatan untuk kepentingan pelayanan publik dan pemerataan. Pendayagunaan SDM Kesehatan Pemerintah Pusat bekerjasama dengan Pemerintah Daerah melakukan upaya penempatan tenaga kesehatan yang ditujukan untuk mencapai pemerataan yang berkeadilan dalam pembangunan kesehatan. serta daerah bencana dan rawan konflik. daerah perbatasan.

dalam rangka alih teknologi dan ditetapkan melalui persyaratan sesuai peraturan perundangan yang berlaku. 57 . mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan tenaga kesehatan lulusan dalam negeri. perlu dilakukan peningkatan kualitas SDM Kesehatan secara terus menerus (pra-jabatan/”preservice” dan “in-service”). modal.berkelanjutan dalam rangka peningkatan karir dan profesionalisme tenaga kesehatan. Pendayagunaan tenaga kesehatan untuk keperluan luar negeri diatur oleh lembaga pemerintah dalam rangka menjamin keseimbangan antara kemampuan pengadaan tenaga kesehatan di Indonesia dan kebutuhan tenaga kesehatan Indonesia di luar negeri serta melindungi hak-hak dan hak asasi manusia tenaga kesehatan Indonesia di luar negeri. Dalam rangka pendayagunaan SDM Kesehatan yang sesuai kebutuhan pembangunan kesehatan. diantaranya melalui pelatihan yang terakreditasi yang dilaksanakan oleh institusi penyelenggara pelatihan yang terakreditasi. Tenaga kesehatan Warga Negara Indonesia lulusan institusi luar negeri yang telah memperoleh pengakuan dari Departemen yang bertanggungjawab atas pendidikan nasional. Dalam rangka mengantisipasi globalisasi perlu dilakukan pengaturan agar masuknya SDM Kesehatan warga negara asing dengan teknologi. dan pengalaman yang mereka punyai tidak merugikan SDM Kesehatan Indonesia. Pendayagunaan tenaga kesehatan warga negara asing hanya dilakukan pada tingkat konsultan pada bidang tertentu.

yang dalam pelaksanaannya dapat dilimpahkan kepada Pemerintah Daerah Provinsi. penggajian. dan pemberian lisensi bagi tenaga kesehatan yang memenuhi syarat. dan insentif untuk hidup layak sesuai dengan tata nilai di 58 . Pembinaan dan pengawasan praktik profesi bagi tenaga kesehatan profesi dilakukan melalui sertifikasi. Pembinaan dan Pengawasan SDM Kesehatan Pembinaan penyelenggaraan pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan di berbagai tingkatan dan atau organisasi memerlukan komitmen yang kuat dari pemerintah dan dukungan peraturan perundang-undangan mengenai pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan tersebut.d. Registrasi tenaga kesehatan untuk dapat melakukan praktik profesi di seluruh wilayah Indonesia diberikan oleh Departemen Kesehatan. Sertifikasi tenaga kesehatan dalam bentuk ijazah dan sertifikat kompetensi diberikan Departemen Kesehatan setelah melalui uji kompetensi yang dilaksanakan organisasi profesi terkait. Pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan dilakukan melalui sistem karier. uji kompetensi. Perizinan/lisensi tenaga kesehatan profesi untuk melakukan praktik dalam rangka memperoleh penghasilan secara mandiri dari profesinya diberikan oleh instansi kesehatan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota setelah mendapatkan rekomendasi dari organisasi profesi terkait. registrasi.

alat kesehatan. SUBSISTEM SEDIAAN FARMASI. Tujuan Tujuan penyelenggaraan subsistem sediaan farmasi. dan makanan. Pengertian Subsistem sediaan farmasi. dan khusus untuk obat dijamin ketersediaan dan 59 . D. bahan obat. dan makanan adalah tersedianya sediaan farmasi. obat tradisional. DAN MAKANAN 1. Sediaan farmasi adalah obat. alat kesehatan. mutu sediaan farmasi.masyarakat dan beban tugasnya agar dapat bekerja secara profesional. alat kesehatan. khasiat/manfaat. dan makanan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan berbagai upaya yang menjamin keamanan. ALAT KESEHATAN. 2. maka sanksi administrasi maupun pidana harus dilakukan dalam rangka melindungi masyarakat maupun tenaga yang bersangkutan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam hal terjadi pelanggaran disiplin oleh tenaga kesehatan maupun tenaga pendukung/penunjang kesehatan yang bekerja dalam bidang kesehatan dan menyebabkan kerugian pada pihak lain. berkhasiat/bermanfaat dan bermutu. alat kesehatan. Pengawasan SDM Kesehatan dilakukan untuk mencegah terjadinya pelanggaran disiplin melalui pengawasan melekat dan pengawasan profesi. dan makanan yang terjamin aman. dan kosmetika.

alat kesehatan.keterjangkauannya guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. 3. dan fungsinya. dan makanan harus dengan jumlah yang cukup serta mempunyai standar kompetensi yang sesuai dengan etika profesi. makanan adalah komoditi yang mempengaruhi kesehatan masyarakat. distribusi maupun fasilitas pelayanan kesehatan primer. Fasilitas sediaan farmasi. jumlah. sekunder. Sumber Daya Sumber Daya Manusia sediaan farmasi. dan Kriteria yang telah ditetapkan. Standar. 60 . bentuk. dan tersier. Unsur-unsur a. Komoditi Sediaan farmasi dan alat kesehatan adalah komoditi untuk penyelenggaraan upaya kesehatan. terutama obat dan alat kesehatan esensial bagi masyarakat miskin. dan khasiat yang tepat. alat kesehatan. dosis. Sediaan farmasi harus tersedia dalam jenis. jumlah. Prosedur. dan makanan adalah peralatan atau tempat yang harus memenuhi Norma. alat kesehatan tersedia dalam jenis. Pembiayaan yang cukup dari pemerintah diperlukan untuk menjamin ketersediaan dan keterjangkauan obat. bentuk. serta makanan meliputi jenis dan manfaat. b. baik di fasilitas produksi.

dan kriteria yang ditetapkan. Pemberdayaan Masyarakat Masyarakat senantiasa dilibatkan secara aktif agar sadar dan dapat lebih berperan dalam penyediaan dan penggunaan sediaan farmasi. dan makanan serta terhindar dari penggunaan yang salah dan penyalahgunaan. prosedur. alat kesehatan. standar. ditujukan untuk menjamin setiap sediaan farmasi. alat kesehatan dan makanan. khasiat/manfaat. dan mutu yang ditetapkan yang didukung oleh Laboratorium Pengujian yang handal. aman. Pelayanan Kefarmasian Pelayanan kefarmasian ditujukan untuk dapat menjamin penggunaan sediaan farmasi dan alat kesehatan. e. dan makanan yang beredar memenuhi standar dan persyaratan keamanan. secara rasional. dan bermutu di semua sarana pelayanan kesehatan dengan mengikuti norma. alat kesehatan. Pengawasan Pengawasan yang komprehensif dengan melaksanakan regulasi yang baik (Good Regulatory Practices). d. Penyediaan unit pelayanan publik bidang kesehatan untuk menangani berbagai masalah yang mudah diakses oleh masyarakat dan menerima keluhan atau pertanyaan terkait dengan sediaan farmasi. 61 .c.

dan Terjangkau Obat merupakan kebutuhan dasar manusia yang tidak tergantikan dalam pelayanan kesehatan. dan berbasis bukti ilmiah. alat kesehatan. Transparan dan Bertanggung-jawab Masyarakat berhak untuk mendapatkan informasi yang benar. Prinsip a. b. bertanggungjawab. transparan. dan tidak menyesatkan tentang sediaan farmasi. c. khasiat/manfaat. Sedangkan pelaku usaha bertanggungjawab atas keamanan. Rasional Setiap pelaku pelayanan kesehatan harus selalu bertindak berdasarkan bukti ilmiah terbaik dan prinsip tepat biaya (cost-effective) serta tepat manfaat (cost-benefit) dalam pemanfaatan obat agar memberikan hasil yang optimal. pengawasan. Bermanfaat. Tersedia. distributor. dan mutu produk sesuai dengan fungsi usahanya dan peraturan yang berlaku. Merata. lengkap. dan mutu sediaan farmasi. independen. manfaat. alat kesehatan. dan makanan melalui pembinaan. sehingga obat tidak boleh diperlakukan sebagai komoditas ekonomi semata.4. Berkhasiat. khasiat. d. dan Bermutu Pemerintah menjamin keamanan. 62 . dan pengendalian secara profesional. Aman. dan pelaku pelayanan kesehatan. dan makanan dari produsen.

Upaya Ketersediaan. sistematis. utamanya bahan baku obat dan obat tradisional harus dikelola secara profesional. 5. serta daerah bencana.e. dan berkesinambungan sehingga memiliki daya saing tinggi dan mengurangi ketergantungan dari sumber daya luar negeri serta menjadi sumber ekonomi masyarakat dan devisa negara. Kemandirian Potensi sumber daya dalam negeri. Pemerintah melakukan pengendalian dan pengawasan terhadap pengadaan serta penyaluran untuk menjamin ketersediaan dan pemerataan obat serta alat kesehatan. daerah rawan konflik dan obat yang tidak mempunyai nilai ekonomis (orphan drug). daerah tertinggal dan perbatasan. Penyelenggaraan a. Pemerintah mengatur harga obat dan alat kesehatan. 63 . Keterjangkauan Obat dan Alat Kesehatan dan Penyediaan dan pelayanan obat berpedoman pada DOEN untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan. Pemerintah dengan pengaturan khusus menjamin tersedianya obat bagi masyarakat di daerah terpencil. Pemerataan.

dan pengendalian impor. yaitu pemerintah. dan makanan sesuai dengan perkembangan Iptek dan standar internasional. prosedur. alat kesehatan. dan mutu sediaan farmasi. pelaku usaha. dan makanan merupakan tugas bersama yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Pelaksanaan regulasi yang baik (Good Regulatory Practices) didukung oleh sumber daya yang memadai secara kuantitas maupun kualitas. Alat Kesehatan. dan transparan. dilakukan melalui penilaian keamanan. dan Makanan serta Perlindungan Masyarakat dari Penggunaan yang Salah dan Penyalahgunaan Obat dan Alat Kesehatan Upaya jaminan keamanan. standar. ekspor. dan mutu produk melalui proses pendaftaran dan evaluasi. iklan dan promosi. khasiat/manfaat. Pengembangan dan penyempurnaan norma. Upaya Jaminan Keamanan. khasiat/manfaat. dan kriteria mengenai produk dan fasilitas produksi dan distribusi sediaan farmasi. Khasiat/manfaat. dan makanan merupakan suatu kesatuan yang utuh. produksi dan distribusi sediaan farmasi. laboratorium pengujian mutu yang kompeten. akses terhadap ahli dan referensi ilmiah. Pembinaan. alat kesehatan. sistem manajemen mutu. dan Mutu Sediaan Farmasi. alat kesehatan. pengambilan dan pengujian sampel. serta pemantauan label atau penandaan. pengawasan. survailan dan vijilan setelah pemasaran.b. independen. kerjasama internasional. inspeksi fasilitas produksi dan distribusi. 64 . dan masyarakat secara terpadu dan bertanggung-jawab.

alat kesehatan. kuratif. Perlindungan masyarakat dari penyalahgunaan Narkotika. dan rehabilitatif. Perlindungan masyarakat terhadap pencemaran sediaan farmasi dari bahan-bahan yang dilarang. c. Upaya Penyelenggaraan Pelayanan Kefarmasian Penyelengaraan pelayanan kefarmasian di semua sarana pelayanan kesehatan dilakukan dengan: 65 . sehingga masyarakat memperoleh informasi yang benar. dan tidak menyesatkan mengenai penggunaan sediaan farmasi. serta lingkungannya. serta manusia usia lanjut untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi tinggi dan memenuhi persyaratan keamanan. mutu dan gizi. dan makanan.Dalam rangka menghindarkan dampak buruk dari penggunaan alat kesehatan. Penegakan hukum yang konsisten dengan efek jera yang tinggi untuk setiap pelanggaran. termasuk pemberantasan produk palsu dan ilegal. maka upaya jaminan perlindungan keamanan diberikan kepada pengguna dan operator alat kesehatan. menyeluruh. Peningkatan kesadaran/kemandirian masyarakat melalui penyediaan dan penyebaran informasi terpercaya termasuk informasi harga obat. atau penggunaan bahan tambahan makanan yang tidak sesuai persyaratan. transparan. masyarakat. dan Zat Adiktif (Napza) harus merupakan upaya yang terpadu antara upaya represif. Mendorong masyarakat rentan terutama anak dan ibu hamil. Psikotropika. preventif.

2) Audit dan umpan balik dalam penggunaan obat rasional. 6) Penyediaan informasi obat yang benar. melalui pemanfaatan pedoman terapi dan formularium berbasis bukti ilmiah terbaik. memberikan informasi dan saran serta memonitor penggunaan obat oleh pasien. 4) Pemberdayaan Komite Farmasi dan Terapi (KFT) untuk meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian melalui penggunaan obat secara rasional. sekunder. Upaya Penggunaan Obat yang Rasional Penggunaan obat yang rasional merupakan salah satu langkah untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik dan mengefisienkan biaya pengobatan. 3) Pengembangan mekanisme pemantauan ketersediaan obat esensial dan langkah-langkah perbaikan di setiap fasilitas pelayanan kesehatan.1) Mengutamakan kesejahteraan pasien dalam segala situasi dan kondisi. menjamin mutu. dan 4) Memberikan pelayanan kefarmasian yang sesuai untuk setiap individu. dan tersier. objektif dan lengkap melalui penyusunan Informasi Obat Nasional Indonesia 66 . Penyelenggaraan upaya penggunaan obat yang rasional dilakukan antara lain melalui kegiatan berikut: 1) Penerapan DOEN dalam upaya pelayanan kesehatan tingkat primer. d. 3) Memberikan kontribusi dalam peningkatan peresepan yang rasional dan ekonomis serta penggunaan yang tepat. 5) Penerapan pendekatan farmako ekonomi melalui analisis biaya efektif dan biaya manfaat pada seleksi obat yang digunakan di semua tingkat pelayanan kesehatan. 2) Melaksanakan kegiatan inti farmasi yang meliputi pengelolaan obat dan produk kesehatan lainnya.

7) Pemberdayaan masyarakat melalui Komunikasi.(IONI) akan sangat mendukung para profesi kesehatan seperti: dokter. apoteker. 4) Komitmen semua 67 . Upaya Kemandirian Sediaan Farmasi melalui Pemanfaatan Sumber Daya Dalam Negeri Pengembangan dan pemanfaatan sumber daya alam Indonesia perlu didorong secara berkelanjutan untuk digunakan sebagai obat tradisional demi peningkatan pelayanan kesehatan dan ekonomi. seperti penyakit diare. serta 8) Pemberdayaan SDM Kesehatan dalam melaksanakan penggunaan obat rasional di semua fasilitas pelayanan kesehatan. dan lain-lain. 2) Pemerintah menciptakan iklim yang kondusif bagi investasi di bidang farmasi melalui persaingan usaha yang adil. antara lain promosi penggunaan obat generik dan pengelolaan berbagai penyakit secara tepat. 3) Pembinaan industri farmasi dalam negeri agar mampu melakukan produksi sesuai dengan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dan dapat melakukan usahanya dengan efektif dan efisien sehingga mempunyai daya saing yang tinggi. e. serta kepastian proses perijinan. perawat dan tenaga kesehatan lainnya dalam memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat sehingga dapat meningkatkan kemanfaatan dan keamanan penggunaan obat termasuk penggunaan obat yang rasional. pemberian insentif kebijakan perpajakan dan perbankan. Informasi dan Edukasi (KIE). Langkah-langkah yang perlu diselenggarakan meliputi: 1) Pemilihan produk yang tepat untuk pengembangan produksi dalam negeri dengan mempertimbangkan potensi sumber daya dalam negeri. Informasi kepada masyarakat.

SUBSISTEM KESEHATAN 1. swasta/dunia usaha. pengaturan hukum kesehatan. dan makanan harus melibatkan seluruh pelaku baik secara perorangan maupun bersama dan terpadu antara pemerintah. penerimaan fasilitas pelayanan kesehatan. 6) Pengembangan pemanfaatan obat tradisional yang aman. administrasi kesehatan. E. pengelolaan data dan informasi kesehatan yang mendukung subsistem lainnya dari SKN guna menjamin tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. dan obat tradisional untuk menunjang pembangunan kesehatan.pemangku kepentingan. memiliki khasiat nyata yang teruji secara ilmiah. alat kesehatan. seperti kemauan industri farmasi domestik untuk memprioritaskan penggunaan bahan baku produksi dalam negeri. dan masyarakat. 68 . obat. Penyelenggaraan subsistem sediaan farmasi. dan dimanfaatkan secara luas baik untuk pengobatan sendiri oleh masyarakat maupun digunakan dalam pelayanan kesehatan formal. 5) Peningkatan penelitian dan pengembangan bahan baku obat. para pelayan kesehatan dan konsumen. bermutu tinggi. Pengertian MANAJEMEN DAN INFORMASI Subsistem manajemen dan informasi kesehatan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan yang menghimpun berbagai upaya kebijakan kesehatan.

Hukum Kesehatan Hukum kesehatan merupakan keseluruhan peraturan perundangan di bidang kesehatan dan segala tindakan penyebarluasan.2. serta didukung oleh hukum kesehatan dan sistem informasi kesehatan untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. berbasis bukti dan operasional. Administrasi Kesehatan Administrasi kesehatan merupakan kegiatan perencanaan. swasta. pelaksanaan. penerapan. dan akuntabel. dan pengendalian serta pengawasan dan pertanggung-jawaban penyelenggaraan pembangunan kesehatan. c. baik pemerintah. dan masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan dengan memperhatikan kerangka desentralisasi dan otonomi daerah. Kebijakan Kesehatan Kebijakan kesehatan merupakan pedoman yang menjadi acuan bagi semua pelaku pembangunan kesehatan. Tujuan Tujuan subsistem manajemen dan informasi kesehatan adalah terwujudnya kebijakan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan. dan penegakan aturan tersebut dalam rangka memberikan perlindungan. terselenggaranya fungsi-fungsi administrasi kesehatan yang berhasil guna. Unsur-unsur a. 3. berdaya guna. b. terutama kepada individu dan masyarakat dan sebagai sarana untuk 69 .

Sumber daya Manajemen Informasi Kesehatan Kesehatan dan Sumber daya manajemen kesehatan dan informasi kesehatan. meliputi: SDM. Informasi Kesehatan Informasi kesehatan merupakan hasil pengumpulan dan pengolahan data sebagai masukan bagi pengambilan keputusan di bidang kesehatan. sarana prasarana. 70 . standar. dan kelembagaan yang digunakan secara berhasil guna dan berdaya guna dalam upaya mendukung terselenggaranya pembangunan kesehatan. Inovasi atau Kreativitas Penyelenggaraan manajemen dan informasi kesehatan harus mampu menciptakan daya tahan dan kesinambungan kinerja sistem melalui inovasi/kreatifitas dalam menghadapi perubahan dan tantangan pembangunan kesehatan dengan lebih baik. e. b. penyelenggaraan pembangunan d. Prinsip a. Kepemimpinan yang Visioner Bidang Kesehatan Kepemimpinan yang visioner bidang kesehatan adalah kepemimpinan yang mempunyai visi. dana. dan bertekad dalam pembangunan kesehatan.memfasilitasi kesehatan. 4. keteladanan.

Prosedur. dan transparansi sangat penting. pembangunan kesehatan menjadi salah satu dari arus utama pembangunan nasional. Dalam manajemen kesehatan ini prinsip efisiensi. Untuk itu. dan sinergi yang dinamis. 5. administrasi.c. Standar. Kebijakan Kesehatan Penyelenggaraan proses kebijakan kesehatan dilakukan secara optimal dengan mengacu kepada Norma. efektifitas. Sinergisme yang Dinamis Pendekatan manajemen kesehatan merupakan kombinasi dari pendekatan sistem. d. penetapan skala prioritas berbasis bukti dari 71 . kontingensi. Perencanaan kebijakan. program. dan anggaran perlu disusun secara terpadu. a. hukum. Penyelenggaraan Dalam rangka mencapai Tujuan Nasional. dan informasi kesehatan. transparansi. dan Kriteria (NSPK) kebijakan pembangunan kesehatan nasional. subsistem manajemen dan informasi kesehatan diselenggarakan dengan mensinergikan unsur kebijakan. interelasi dan interdependensi yang dinamis di antara para pelaku pembangunan kesehatan. Kesesuaian dengan Sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia Manajemen dan informasi kesehatan menjadi pendukung utama dalam pelaksanaan desentralisasi dengan mempertimbangkan komitmen global dalam pembangunan kesehatan. Dalam manajemen ini penting adanya interaksi.

berorientasi pada kepentingan masyarakat. dilaksanakan secara sinergi yang dinamis antara sektor kesehatan dengan sektor lain. dan pembiayaan yang mencukupi. serta pengawasan dan pertanggung-jawaban didasarkan atas urusan wajib bidang kesehatan yang dilaksanakan secara berdaya guna dan berhasil guna. berorientasi pada kepentingan masyarakat.berbagai sumber yang tersedia. terpadu berlandaskan pada arah kebijakan pembangunan nasional dengan memperhatikan NSPK dan prioritas pembangunan kesehatan. Administrasi Kesehatan Penyelenggaraan administrasi kesehatan meliputi perencanaan. pelaksanaan dan pengendalian. responsif gender. c. pelayanan advokasi hukum. melalui proses pengkajian dan perumusan kebijakan yang melibatkan masyarakat dan berbagai stakeholder terkait. b. Pusat dan Daerah dengan mempertimbangkan desentralisasi dan memperhatikan peraturan perundangan yang berlaku. memanfaatkan teknologi informasi. dilaksanakan dengan menjunjung tinggi penyelenggaraan tata pemerintahan yang baik (good governance). didukung dengan SDM yang kompeten. serta 72 . didukung SDM yang kompeten. peningkatan kesadaran hukum bagi aparatur kesehatan dan masyarakat. Hukum Kesehatan Penyelenggaraan hukum kesehatan meliputi penyusunan peraturan/regulasi dan harmonisasi di tingkat pusat dan daerah. untuk dilaksanakan secara bersama oleh seluruh pelaku pembangunan kesehatan secara sinergi dan dinamis.

penerapan. kesetaraan. akurat. peraturan. integrasi. SUBSISTEM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT 1. serta aspek kerahasiaan yang berlaku di bidang kesehatan. serta pengembangan sistem informasi kesehatan terpadu. dan sinkronisasi informasi kesehatan secara sinergi yang dinamis dalam rangka penyediaan data dan informasi terkini. dan penegakan hukum perlu dilengkapi dan ditata dengan memperhatikan perkembangan dan perubahan lingkungan internal dan eksternal. 73 . serta penerapan pengetahuan dan teknologi kesehatan. serta berhasil guna dan berdaya guna sebagai bahan pengambilan keputusan dengan mempertimbangkan desentralisasi. data dari fasilitas kesehatan dan masyarakat (seperti Riset Kesehatan Dasar dan surveilans). d. Informasi Kesehatan Penyelenggaraan informasi kesehatan meliputi pengumpulan. pengembangan dan penelitian kesehatan. termasuk regulasi kesehatan internasional. cepat.pembinaan dan pengawasan. dengan memperhatikan kecukupan data termasuk data terpilah yang responsif gender. pengolahan dan analisis data. F. sosialisasi. dengan dukungan pendayagunaan teknologi. valid. dilakukan melalui koordinasi. dilaksanakan dengan mempertimbangkan perlindungan bagi masyarakat dan pemberi pelayanan. manajemen informasi kesehatan. Pengertian Subsistem pemberdayaan masyarakat adalah bentuk dan cara penyelenggaraan berbagai upaya kesehatan. keadilan. serta sesuai dengan kebutuhan. transparan.

dan fasilitator yang mempunyai kompetensi memadai dan dapat membangun komitmen dengan dukungan para pemimpin. kelompok (organisasi kemasyarakatan. Penggerak Pemberdayaan Pemerintah.baik perorangan. dan sebagainya). tokoh agama. masyarakat. 2. motivator. berperan aktif dalam setiap pembangunan kesehatan. maupun masyarakat secara terencana. figur masyarakat. Unsur-unsur a. dan masyarakat luas serta pemerintah yang berperan sebagai agen perubahan untuk penerapan perilaku hidup sehat (subjek pembangunan kesehatan). kelompok. organisasi profesi. b. serta dapat menjadi penggerak dalam mewujudkan pembangunan berwawasan kesehatan. Sasaran Pemberdayaan Perorangan (tokoh masyarakat. baik formal maupun non formal. terpadu. dan swasta menjadi inisiator. Tujuan Tujuan subsistem pemberdayaan masyarakat adalah meningkatnya kemampuan masyarakat untuk berperilaku hidup sehat. politisi. dan berkesinambungan guna tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. kelompok masyarakat). mampu mengatasi masalah kesehatan secara mandiri. 74 . 3.

metode. Kegiatan Hidup Sehat Kegiatan hidup sehat yang dilakukan sehari-hari oleh masyarakat. Sumber Daya Potensi yang dimiliki oleh masyarakat. permasalahan. kebutuhan. kemauan. oleh. Edukatif dan Kemandirian Pemberdayaan masyarakat dilakukan atas dasar untuk menumbuhkan kesadaran. pedoman.c. Berbasis Masyarakat Pembangunan kesehatan berbasis pada tata nilai perorangan. dan kemampuan. d. dan media untuk terselenggaranya proses pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan. Kemandirian bermakna sebagai upaya kesehatan dari. 4. serta menjadi penggerak dalam pembangunan kesehatan. dan pemerintah yang meliputi: dana. serta melembaga dan membudaya dalam kehidupan bermasyarakat. keluarga. tumbuh dan berkembang. dan untuk masyarakat sehingga mampu untuk mengoptimalkan dan menggerakkan segala 75 . serta potensi masyarakat (modal sosial). dan masyarakat sesuai dengan keragaman sosial budaya. sehingga membentuk kebiasaan dan pola hidup. budaya. swasta. sarana dan prasarana. Prinsip a. b.

masyarakat. c. keluarga. Penggerakan Masyarakat Pembangunan kesehatan perlu digerakkan oleh masyarakat dan masyarakat mempunyai peluang yang penting dan luas dalam pembangunan 76 . tanggap terhadap aspirasi masyarakat dan bertanggung-jawab.sumber daya setempat serta tidak bergantung kepada pihak lain. Kesemuanya itu dapat dilaksanakan bila kebutuhan masyarakat telah dipenuhi secara wajar. dan saling memperoleh manfaat. Penyelenggaraan a. tenggang rasa. dan kepekaan masyarakat dalam menghadapi potensi dan masalah kesehatan yang akhirnya bermuara dalam semangat gotongroyong sesuai dengan nilai luhur bangsa. 5. solidaritas. serta kemudahan akses informasi. dan lingkungannya. Tumbuhnya rasa kepedulian. kesetaraan. Kesempatan Mengemukakan Memilih Pelayanan Kesehatan Pendapat dan Masyarakat mempunyai kesempatan untuk menerima pembaharuan. mengemukakan pendapat dan terlibat dalam proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kesehatan diri. empati. d. Kemitraan dan Gotong-royong Semua pelaku pembangunan kesehatan baik sebagai penyelenggara maupun sebagai pengguna jasa kesehatan dengan masyarakat yang dilayani berinteraksi dalam semangat kebersamaan.

Pengorganisasian dalam Pemberdayaan Pelaksanaan pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan melalui perorangan. 77 . Perencanaan pemberdayaan masyarakat didasarkan pada fakta dan masalah kesehatan yang menjadi perhatian masyarakat setempat maupun masyarakat luas serta dengan mempertimbangkan potensi sumber daya dan nilainilai sosial budaya masyarakat.kesehatan. dan masyarakat luas sesuai dengan kepentingannya dan yang berhasil guna dan berdaya guna. penyembuhan. dari. Dalam kaitan ini pelibatan aktif masyarakat dalam proses pembangunan kesehatan dilakukan mulai dari penelaahan situasi masalah kesehatan. dan untuk masyarakat. Pemberdayaan masyarakat. pemantauan. pelaksanaan. hal ini mengingat penekanan atau fokus pembangunan kesehatan diberikan pada peningkatan perilaku dan kemandirian masyarakat serta upaya promotif dan preventif. pencegahan. b. penyusunan rencana termasuk dalam penentuan prioritas kesehatan. Pemberdayaan masyarakat ditujukan guna terwujudnya penguatan upaya peningkatan. merupakan hal yang penting dalam pembangunan kesehatan. maupun pemulihan secara tersendiri atau terpadu. dan evaluasi upaya kesehatan sehingga dapat terwujud kemandirian dan kesinambungan pembangunan kesehatan. kelompok. termasuk penggerakan masyarakat. Pada hakekatnya pembangunan kesehatan diselenggarakan oleh.

dukungan sumber daya untuk membangun kemandirian dalam upaya kesehatan dan mendorong terbentuknya Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM). dan aliran sungai. dan kemandirian dalam upaya kesehatan. institusi pendidikan. Pemuda Siaga Peduli Bencana (Dasipena). dan fasilitas kesehatan agar terwujud pemberdayaan masyarakat yang berhasil guna dan berdaya guna serta terjamin kesinambungannya. kesadaran.Pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan pula melalui pendekatan ketatanan. Peranan Pemerintah membuka akses informasi dan dialog. seperti: Poskestren. Desa Siaga. tempat umum. daerah pegunungan. Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan memperhatikan karakteristik dan kekhususan masyarakat. tempat kerja. Upaya untuk meningkatkan pengetahuan. menyiapkan masyarakat dengan membekali pengetahuan dan keterampilan bagi masyarakat. kota. Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan metoda yang tepat. 78 . Musholla Sehat. serta dengan memperhatikan nilai-nilai agama dan sosial budaya yang ada. menyiapkan regulasi. dan kemampuan masyarakat dalam berperilaku sehat dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung melalui berbagai saluran media dan teknik promosi kesehatan. seperti masyarakat di desa. memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang. seperti: rumah tangga. daerah pesisir. kemauan.

seperti legislatif untuk memperoleh dukungan kebijakan dan sumber daya bagi terwujudnya pembangunan berwawasan kesehatan. dan masyarakat agar terwujud dukungan sumber daya dan kebijakan dalam pembangunan kesehatan. Dalam kaitan ini termasuk pengembangan Desa Siaga atau bentuk-bentuk lain pada masyarakat desa/kelurahan. organisasi kemasyarakatan. Kemitraan Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan kemitraan berbagai pihak. lembaga legislatif. Pelaksanaan advokasi dilakukan dengan dukungan informasi yang memadai serta metode yang berhasil guna dan berdaya guna. Advokasi Masyarakat dapat berperan dalam melakukan advokasi kepada pemerintah dan lembaga pemerintahan lainnya. Masyarakat juga dapat berpartisipasi dengan memberikan kritik yang membangun bagi kepentingan seluruh masyarakat. perguruan tinggi. dunia usaha. d. Pembinaan dilakukan untuk kesinambungan pemberdayaan masyarakat yang telah dilakukan 79 . seperti seluruh sektor terkait.Peran masyarakat dalam pembangunan kesehatan dapat dengan cara mendirikan sarana pelayanan kesehatan maupun memberikan informasi kesehatan (promosi kesehatan) kepada masyarakat. c.

seperti di Puskesmas dan Rumah Sakit yang mempunyai kompetensi dan integritas tinggi. komunikator. pembiayaan yang memadai. Ketersediaan sumber daya tersebut sangat penting agar dapat tercapai masyarakat berperilaku hidup sehat dan mandiri. dan kompetisi.melalui berbagai cara. Peningkatan Sumber Daya Dalam pemberdayaan masyarakat perlu didukung oleh pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan yang kuat. Dalam pemberdayaan masyarakat secara lebih spesifik dapat didampingi penggerak yang berperan sebagai fasilitator. lomba. termasuk pentingnya ketersediaan tenaga penggerak/promosi kesehatan. 80 . antara lain pemberian insentif. pendampingan. dan dukungan berbagai sarana lain yang berkaitan. e. dan dinamisator dalam proses pemberdayaan masyarakat.

Luaran dari SKN adalah terselenggaranya pembangunan kesehatan yang berhasil guna dan berdaya guna. proses. dan lingkungan serta keterkaitannya satu sama lain. pertahanan dan keamanan baik nasional. 2. budaya. politik. 4. bermutu. merata. dan tingkat fisik/alam yang berdampak terhadap 81 . 3. Lingkungan SKN meliputi berbagai keadaan yang menyangkut ideologi. alat kesehatan. Masukan dalam SKN meliputi subsistem sumber daya manusia. Sistem Kesehatan Nasional dapat disesuaikan dan disempurnakan dengan kondisi dan situasi yang berkembang. dan subsistem sediaan farmasi. A. PROSES PENYELENGGARAAN SKN Penyelenggaraan SKN menerapkan pendekatan kesisteman yang meliputi masukan. subsistem pemberdayaan masyarakat. sosial. regional maupun global. ekonomi. dan berkeadilan. luaran. ilmu pengetahuan dan teknologi. dan subsistem manajemen dan informasi kesehatan. subsistem pembiayaan kesehatan. dan makanan. Bila terjadi perubahan paradigma dan lingkungan strategis. sebagai berikut: 1. Proses dalam SKN meliputi subsistem upaya kesehatan.BAB VI DUKUNGAN PENYELENGGARAAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL Sistem Kesehatan Nasional diupayakan agar mampu menyesuaikan dengan perkembangan dan dinamika pembangunan kesehatan yang dihadapi dalam penyelenggaraannya yang dilaksanakan secara berkesinambungan.

dan kebijakan teknis operasional. berjenjang.pembangunan kesehatan. antar subsistem SKN. transparan. serta pengawasan dan pertanggung-jawaban secara sistematis. Penyelenggaraan SKN dilakukan melalui siklus perencanaan. 2. akuntabel. pelaksanaan dan pengendalian. dan berkelanjutan dengan memperhatikan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025. integrasi. baik antar pelaku. Penyelenggaraan SKN memerlukan penerapan prinsip koordinasi. Penetapan SKN Untuk memperoleh kepastian hukum yang mengikat semua pihak. SKN perlu ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 82 . sebagai berikut: 1. Pancasila. Penyelenggaraan SKN dilaksanakan secara bertahap. Berbagai materi SKN yang terpilih dapat digunakan untuk penyusunan dan penetapan peraturan perundangan pada tingkat kebijakan strategis. Undang-undang Dasar 1945. dan sinergisme yang dinamis. Sosialisasi dan Advokasi SKN Sistem Kesehatan Nasional perlu disosialisasikan dan diadvokasikan ke seluruh pelaku pembangunan kesehatan dan seluruh pemangku kepentingan kesehatan untuk memperoleh komitmen dan dukungan dari semua pihak. sinkronisasi. kebijakan manajerial. dan Ketahanan Nasional merupakan landasan bagi penyelenggaraan SKN. maupun dengan sistem serta subsistem lain diluar SKN. Wawasan Nusantara.

baik di pusat maupun daerah. Penyelenggaraan SKN.Sasaran sosialisasi dan advokasi SKN adalah semua penentu kebijakan. Penyelenggaraan SKN. 2. Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra SKPD) yang penyelenggaraannya disesuaikan dengan kondisi. Pemerintah Pusat memfasilitasi pengembangan kebijakan kesehatan di daerah. seperti: Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJP-D). dan berkelanjutan. termasuk pengembangan kebijakan di daerah diwujudkan dalam kerangka penyelenggaraan pembangunan kesehatan. sistematis. yaitu: 1. 3. Penyelenggaraan SKN dalam kaitannya dengan pengembangan kebijakan kesehatan di daerah dilakukan dengan berbagai kegiatan. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJM-D). baik secara nasional maupun dalam lingkup daerah. termasuk pengembangan kebijakan di daerah diselenggarakan melalui penataan ulang keenam subsistemnya secara bertahap. 3. serta memfasilitasi sosialisasi dan advokasi penyelenggaraan pembangunan kesehatan di daerah sesuai kebutuhan. dan masalah spesifik daerah dalam kerangka SKN. Fasilitasi Pengembangan Kebijakan Kesehatan di Daerah Dalam pembangunan kesehatan di daerah perlu dikembangkan kebijakan kesehatan. baik di sektor publik maupun di sektor swasta. termasuk pengembangan kebijakan di daerah didukung dengan penyusunan 83 . dinamika. Penyelenggaraan SKN. memfasilitasi pengukuhannya dalam bentuk peraturan perundangundangan daerah. terpadu.

Pengendalian dan penilaian SKN termasuk kebijakan kesehatan di daerah perlu didukung dengan pengembangan sistem monitoring dan evaluasi di tingkat nasional dan daerah secara terpadu. standar. dan good governance dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Setiap tahun seluruh pelaku pembangunan kesehatan dengan koordinasi pemerintah melakukan pengukuran pencapaian/kinerja SKN dengan beberapa indikator yang akurat dan terpercaya. 4. maka dilakukan pengendalian dan penilaian SKN sebagai berikut: 1. regional. dan lokal yang dinamis dan cepat berubah. provinsi. termasuk pengembangan kebijakan kesehatan di daerah diselenggarakan sesuai dengan asas desentralisasi yang bertanggung-jawab. Pengendalian dan penilaian SKN termasuk kebijakan kesehatan di daerah diselenggarakan secara berjenjang dan berkelanjutan dengan menggunakan tolok ukur keberhasilan pembangunan kesehatan. baik tingkat nasional maupun tingkat daerah. Pengendalian dan penilaian SKN termasuk kebijakan kesehatan di daerah bertujuan untuk memantau dan menilai keberhasilan penyelenggaraan pembangunan kesehatan berdasarkan sistem kesehatan yang ada. Indikator tersebut menjadi acuan segenap pelaku pembangunan kesehatan di tingkat nasional. nasional. dan kabupaten/kota sampai 84 . Dalam rangka menyesuaikan dengan perkembangan global. 3. 2.kebijakan. dan pedoman dalam bentuk berbagai peraturan perundang-undangan. Penyelenggaraan SKN. demokratisasi. Indikator kinerja SKN menjadi rekomendasi untuk upaya perbaikan yang harus didokumentasikan dan disebarluaskan.

TATA PENYELENGGARAAN SKN Penyelenggaraan SKN harus memperhatikan peraturan perundang-undangan yang berlaku. termasuk SDM nasional yang melaksanakannya. Dalam penyelenggaraan SKN perlu kejelasan dan ketegasan tentang pelimpahan urusan pemerintahan di bidang kesehatan yang luas sampai kabupaten/kota. meliputi: partisipatif. Pelaku pelanggaran peraturan harus ditindak secara tegas. swasta. dan mengikuti kaidah hukum yang berlaku. Adapun unsur dari tata pemerintahan yang baik. Masyarakat madani dan seluruh sektor terkait perlu secara jelas dan tegas diberi 85 . Prosedur. Selain tata pemerintahan yang baik. penyelenggaraan pembangunan kesehatan di perlu memperhatikan SKN dan peraturan setempat. pemerintah juga harus secara konsisten dan konsekuen mengawasi kepatuhan hukum masyarakat. transparan. B. efisien. Untuk menjaga kepentingan rakyat. Tata pemerintahan yang baik disertai regulasi pada keenam subsistem SKN merupakan langkah menuju kesinambungan pelaksanaan sistem kesehatan. berorientasi pada konsensus. dan Kriteria dari Departemen Kesehatan perlu dikoordinasikan dengan Departemen Dalam Negeri. Kabupaten/Kota). Pedoman tentang Norma. efektif. Provinsi. semua Dalam daerah daerah Secara operasional. guna penyesuaian penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang berbasis fakta. penyelenggaraan SKN memerlukan peran regulasi dari pemerintah sesuai dengan tingkatannya (Pusat.ke tingkat desa. inklusif. dan organisasi bukan pemerintah lainnya. semua peraturan perundangan yang berkaitan harus dilaksanakan secara konsisten dengan tata pemerintahan yang baik (good governance). Standar.

sektor keamanan. termasuk swasta yang berperan dalam advokasi. Di sektor publik. serta masyarakat luas. pelaksana. dan sektor terkait lainnya. Untuk Pemerintah. dan pembina pembangunan kesehatan dalam lingkup wilayah kerja dan kewenangan masing-masing. peranan tersebut ditambah dengan menetapkan 86 . lembaga swadaya masyarakat. Individu. pengawasan sosial. media massa. Pemerintah daerah. praktisi. 2. PENYELENGGARA SKN Pemerintah dan masyarakat termasuk swasta bertanggung-jawab atas penyelenggaraan pembangunan kesehatan sesuai peran dan fungsinya masing-masing. C. akademisi. dan masyarakat yang meliputi tokoh masyarakat. Pelaku adalah: penyelenggaraan pembangunan kesehatan 1. baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah berperan sebagai penanggungjawab. sektor perikanan dan kelautan. antara lain: sektor pendidikan. penggerak. sektor pertanian. SKN tidak bisa dijalankan hanya oleh Departemen Kesehatan atau Dinas yang mengurus kesehatan di daerah.peran dalam pelaksanaan berbagai subsistem SKN. sektor keuangan. Pemerintah. keluarga. Penyelenggaraan SKN dapat berjalan dengan baik apabila melibatkan. dan penyelenggaraan berbagai pelayanan kesehatan sesuai dengan bidang keahlian dan kemampuan masing-masing. sektor perdagangan. organisasi profesi. dalam konteks desentralisasi perlu jelas dan tegas dalam memberikan arahan untuk pembangunan kesehatan di daerahnya. pembangunan fasilitas umum.

Kebijakan, Standar, Prosedur, dan Kriteria yang digunakan sebagai acuan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan di daerah. 3. Badan Legislatif, baik di pusat maupun di daerah, yang berperan melakukan persetujuan anggaran dan pengawasan terhadap penyelenggaraan pembangunan kesehatan, melalui penyusunan produk-produk hukum dan mekanisme kemitraan antara eksekutif dan legislatif. 4. Badan Yudikatif, termasuk kepolisian, kejaksaan dan kehakiman berperan menegakan pelaksanaan hukum dan peraturan perundangan yang berlaku di bidang kesehatan. 5. Sektor swasta yang memiliki atau mengembangkan industri kesehatan, seperti: industri farmasi, alat-alat kesehatan, jamu, makanan sehat, asuransi kesehatan, dan industri pada umumnya. Industri pada umumnya berperan besar dalam memungut iuran dari para pekerja dan menambah iuran yang menjadi kewajibannya. 6. Lembaga pendidikan, baik pada tingkat sekolah dasar sampai tingkat perguruan tinggi, baik milik publik maupun swasta. Sebagian besar masalah kesehatan berhubungan dengan perilaku dan pemahaman. Pendidikan memegang kunci untuk menyadarkan masyarakat akan berbagai risiko kesehatan dan peran masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

D. SUMBER DAYA PENYELENGGARAAN SKN Sistem Kesehatan Nasional merupakan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang bekerja secara sinergis, harmonis, dan menuju satu tujuan. 87

Pemerintah wajib melakukan koordinasi agar semua subsistem dan semua pelaku berfungsi dan bekerja secara sinergis. Kepincangan pada salah satu subsistem atau pelaku akan mengganggu kerja SKN. Pemerintah harus menjamin tersedianya dana, sumber daya manusia yang memadai dan profesional, sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan yang dikelola dengan manajemen kesehatan yang baik, terutama yang berkaitan dengan administrasi kesehatan dan pengaturan hukum kesehatan serta didukung dengan informasi yang akurat, valid, tepat waktu, dan tepat kebutuhan. Pelaku sistem informasi kesehatan sesuai perannya harus mampu secara cepat merespon dan menggunakan perkembangan teknologi informasi, baik untuk mengolah, menyampaikan ke pelaku lain, maupun kepada masyarakat nasional dan internasional. Pemerintah juga mengembangkan sistem insentif/reward dan sistem sanksi bagi setiap pelaku yang tidak menggunakan informasi yang akurat, tepat waktu, dan tepat kebutuhan (relevan). Selain itu, Pemerintah juga mengharuskan fasilitas kesehatan publik maupun swasta untuk menyediakan informasi melalui situs yang mudah diakses dan terbuka, sebagai cara untuk mendidik masyarakat. Tersedianya pembiayaan kesehatan dalam jumlah yang memadai teralokasi secara adil, merata, dan termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna, sangat penting dalam pembangunan kesehatan. Pemerintah juga menjamin tersedianya dana untuk penelitian dan pengembangan bidang kesehatan. Sumber daya manusia merupakan komponen kunci keberhasilan SKN. Pemerintah harus melakukan upaya agar semua SDM Kesehatan memenuhi standar kompetensi tertentu sesuai bidangnya sebagai prasyarat bagi penyediaan pelayanan kesehatan yang bermutu dan 88

diterima oleh masyarakat. Namun, Pemerintah juga menjamin agar setiap SDM di bidang kesehatan mendapat remunerasi yang wajar, layak, dan sesuai dengan tanggung-jawab, pengalaman, dan kompetensinya. Keseimbangan profesionalitas, tanggung-jawab, pengalaman, dan besaran renumerasi merupakan kunci kesinambungan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Penyelenggaraan subsistem sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan harus dilakukan secara terbuka dengan keseimbangan antara produksi dan pemanfaatan dengan dukungan dana yang memadai. Keterbukaan ini adalah kemampuan mengakomodasikan perkembangan teknologi dan produk teknologi kefarmasian dan teknologi peralatan kedokteran dan kesehatan serta memperhatikan keterjangkauan harga bagi masyarakat. Indonesia harus mampu menjadi pengekspor berbagai sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan. Keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif dalam bidang ini harus terus dikembangkan. Untuk menjamin kesinambungan subsistem upaya kesehatan, maka dukungan masukan informasi kesehatan, sumber daya manusia kesehatan, sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan, serta pendanaan harus selalu tersedia dalam jumlah yang memadai. Kualitas pelayanan harus selalu memenuhi standar yang ditetapkan agar setiap pengguna pelayanan kesehatan merasa puas dan memperoleh manfaat pelayanan kesehatan. Dengan kualitas dan kepuasan pengguna yang tinggi, maka akan timbul kemauan masyarakat sebagai pengguna untuk berkontribusi dalam bentuk dana, pemikiran, maupun tenaga. Pemerintah perlu menjamin adanya kepastian hukum dalam setiap penyelenggaraan subsistem SKN. Peraturan perundangan yang dalam pelaksanaannya mengalami 89

E. Peraturan yang dibuat harus melalui sinkronisasi dengan berbagai peraturan di bidang kesehatan dan di luar bidang kesehatan serta membuka kesempatan luas kepada pemangku kepentingan dalam perumusan peraturan. dan memfasilitasi berbagai penelitian di dalam negeri guna tersedianya sediaan farmasi dan alat kesehatan. pembelian hasil produksi. pemenuhan 90 . Pemerintah mengatur dan memberdayakan masyarakat agar mampu melakukan kontrol sosial yang memadai guna menjamin kesinambungan dan akuntabilitas SKN. KERJASAMA INTERNASIONAL Sistem Kesehatan Nasional merupakan bagian dari sistem nasional.hambatan besar di daerah harus diatur lebih lanjut dengan Peraturan Daerah. Kewajiban berbagai sektor mencakup pemenuhan logistik yang diperlukan sebagai masukan dalam SKN. maka wajib berperan aktif sesuai dengan bidangnya guna mewujudkan tujuan SKN. Pemerintah mendorong terwujudnya kontrol sosial yang kuat dari masyarakat terhadap kualitas pelayanan kesehatan. atau industri dalam melakukan penelitian dan pengembangan pelayanan kesehatan guna memacu perkembangan SKN. perguruan tinggi. serta sistem pengelolaan yang lebih baik dan bermutu. Departemen Kesehatan melakukan koordinasi dengan lintas sektor. maupun bantuan teknis lainnya) bagi fasilitas kesehatan. lembaga penelitian dan pengembangan lainnya. memberikan insentif. Pemerintah memfasilitasi dan memberikan insentif (baik berupa pembebasan pajak. maupun instansi kesehatan di daerah untuk mendukung. Pemerintah daerah perlu diberikan kewenangan untuk penegakan hukum terhadap berbagai aspek yang memungkinkan terselenggaranya SKN dengan baik.

Dana internasional yang tersedia yang tidak mengikat dan dapat secara sinergis meningkatkan kinerja SKN perlu dimanfaatkan dengan baik. koordinasi penyelenggaraan. peniadaan atau pengurangan bahan-bahan ataupun kondisi yang dapat menimbulkan risiko kesehatan. dan peran lainnya yang berkembang sesuai perubahan lingkungan strategis. UNFPA. Peran Indonesia dalam upaya mereformasi WHO perlu terus dilakukan agar transparansi dan keadilan dari organisasi internasional tersebut dapat tercapai. penyediaan insentif finansial dan non finansial. seperti UNDP. Para pelaku SKN berkewajiban mengembangkan diri agar mampu berperan di tingkat internasional dalam rangka menjaga agar SKN dapat berjalan dengan baik. Sebaliknya. Perubahan lingkungan strategis regional maupun global dapat mengancam keberhasilan SKN.SDM dengan kompetensi yang sesuai. dan ASEAN. UNICEF. Para pelaku SKN wajib berperan aktif di lingkungan internasional untuk mewujudkan kepemimpinan Indonesia di dunia internasional guna menghasilkan kebijakan yang kondusif bagi pengembangan SKN. 91 . Kerja sama dalam bidang kesehatan dengan berbagai lembaga internasional dan regional lain yang terkait perlu ditingkatkan. setiap intervensi internasional yang dalam jangka pendek atau jangka panjang yang dapat merugikan SKN wajib dicegah oleh setiap pemangku kepentingan. Para pelaku SKN juga wajib mencermati dan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada di dunia internasional guna memperkuat SKN.

Penetapan SKN dimaksudkan untuk memberikan arah bagi setiap pelaku upaya atau pelayanan kesehatan sesuai dengan kondisi lingkungan masing-masing instansi dan institusi. Manajer tersebut harus mempunyai kompetensi khusus dan mempunyai komitmen kuat dalam upaya mencapai tujuan pembangunan kesehatan. interelasi. serta masyarakat. penyelenggaraan pembangunan kesehatan dengan dukungan SKN dapat dilaksanakan dengan berhasil guna dan berdaya guna dengan interaksi. meskipun nantinya diharapkan terwujud pelayanan kesehatan yang adil dan merata. Prinsip adil dan merata secara bertahap diupayakan sesuai kemampuan yang dimiliki.BAB VII PENUTUP Tujuan pembangunan kesehatan hanya dapat dicapai bila didukung oleh kerjasama dengan semangat kemitraan antar semua pelaku pembangunan. badan legislatif dan yudikatif. pemerintah pusat dan daerah. Untuk dapat melaksanakan SKN yang memenuhi prinsip umum dan prinsip dasar dari masing-masing subsistemnya yang disesuaikan dengan kemampuan diri dan lingkungan. termasuk swasta. seluruh pelaku harus memegang teguh prinsip-prinsip umum SKN dan prinsip dasar masing-masing subsistemnya. termasuk swasta. dibutuhkan manajer-manajer di sektor publik maupun di masyarakat. Dalam pelaksanaannya. Dengan demikian. baik pemerintah secara lintas sektor. serta keterpaduan berbagai upaya yang dilakukan oleh semua pelaku SKN. serta kondisi lingkungannya. tetapi juga harus realistis dengan kemampuan sumber daya manusia dan ketersediaan dana dan sumber daya lainnya. 92 . Dengan demikian. tidak berarti seluruh pelayanan kesehatan harus menyediakan pelayanan non diskriminatif bagi seluruh rakyat untuk seluruh jenis pelayanan.

tantangan. Oleh karenanya. Oleh karenanya. Sistem Kesehatan Nasional harus selalu mampu menjawab peluang. semua pemangku kepentingan wajib memantau kinerja dan kendala yang dihadapi SKN.Sistem Kesehatan Nasional merupakan sistem terbuka yang berinteraksi dengan berbagai sistem nasionalnya sebagai subsistem dari Ketahanan Nasional. dan perubahan lingkungan strategis nasional. bersifat dinamis. SKN perlu disesuaikan atau diubah secara berkala sesuai dengan perubahan lingkungan strategis. 93 . maupun internasional. regional. maupun global. baik nasional. regional. dan dalam pelaksanaannya selalu mengikuti perkembangan.

UUD 1945.SUMBER DAYA KESEHATAN TERBATAS DERAJAT KESMAS YG SETINGGITINGGINYA RAKYAT SEHAT PRODUKTIF TUJUAN NASIONAL LINGKUNGAN STRATEGIS: (Ideologi. LOKAL PELUANG/KENDALA 94 .ALUR PIKIR RENCANA PEMBANGUNAN KESEHATAN DAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL PARADIGMA NASIONAL (PANCASILA.RAWAN PANGAN DAN RAWAN GIZI . bentuk dan cara penyelenggaraan Bangkes) MASALAH MENDASAR BANGKES: . NASIONAL.LINGKUNGAN BURUK . REGIONAL.) (UU 23/1992 Kesehatan. Politik. TANNAS.KETIDAKPASTIAN HUKUM .PERILAKU MASYARAKAT BURUK . UU 17/2007 RPJPN) KONDISI SAAT INI Derajat Kesehatan Masyarakat Rendah Gambar-1 RPJP-K DAN SKN (Arah. dasar.WASANTARA.AKSES PELAYANAN PUBLIK BURUK . Ekonomi Sosial Budaya dan Pertahanan Keamanan) GLOBAL.

dan Makanan 3) Meliputi : Manajemen dan Informasi Kesehatan 95 .GAMBARAN UNSUR-UNSUR PEMBANGUNAN KESEHATAN DAN SUBSISTEM SKN SERTA TATA HUBUNGANNYA Gambar-2 DAN LINGKUNGAN STRATEGIS YANG MEMPENGARUHI SKN LINGKUNGAN ILMU DAN TEKNOLOGI LINGKUNGAN SOSIAL. Alat Kesehatan. SDM Kesehatan. AGAMA DAN BUDAYA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN FUNDAMEN MORAL: KEMANUSIAAN LINGKUNGAN EKONOMI 2) SUMBER DAYA KESEHATAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT UPAYA KESEHATAN 1) DERAJAT KESEHATAN MASYARAKAT LINGKUNGAN SEHAT 3) MANAJEMEN KESEHATAN PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA LINGKUNGAN POLITIK DAN HUKUM LINGKUNGAN FISIK DAN BIOLOGI Catatan: 1) Meliputi pula: Penelitian dan Pengembangan Kesehatan 2) Meliputi: Pembiayaan Kesehatan. serta Sediaan Farmasi.

Standar. Integrasi. dan Sinergisme Millenium Development Goals Negara Kesatuan Republik Indonesia Norma. dan Kriteria Produk Domestik Bruto Pelayanan Kesehatan Masyarakat Primer Pelayanan Kesehatan Masyarakat Sekunder Pelayanan Kesehatan Masyarakat Tersier Pelayanan Kesehatan Perorangan Primer Pelayanan Kesehatan Perorangan Sekunder Pelayanan Kesehatan Perorangan Tersier Pemilihan Kepala Daerah 96 .DAFTAR SINGKATAN AKB AKI APBD APBN ASEAN BPFK BTKL CPOB DBD DOEN Dasipena HAM HIV/AIDS Iptek Jamkesmas KFT KIA KIE KISS MDGs NKRI NSPK PDB PKMP PKMS PKMT PKPP PKPS PKPT Pilkada : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : Angka Kematian Bayi Angka Kematian Ibu Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Association South East Asian Nation Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan Balai Tehnik Kesehatan Lingkungan Cara Pembuatan Obat yang Baik Demam Berdarah Dengue Daftar Obat Esensial Nasional Pemuda Siaga Peduli Bencana Hak Asasi Manusia Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Jaminan Kesehatan Masyarakat Komite Farmasi dan Terapi Kesehatan Ibu dan Anak Komunikasi. Prosedur. Informasi dan Edukasi Koordinasi. Sinkronisasi.

Poskesdes Poskestren Posyandu Puskesmas P4K RPJM-D RPJP-K RPJP-D RPJP-N Renstra SKPD Riskesdas SDKI SDM SJSN SKN Siknas TB Paru UHH UKBM UNDP UNFPA UNICEF UPT UUD WHO WNA WNI : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : Pos Kesehatan Desa Pos Kesehatan Pesantren Pos Kesehatan Terpadu Pusat Kesehatan Masyarakat Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah Riset Kesehatan Dasar Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Sumber Daya Manusia Sistem Jaminan Sosial Nasional Sistem Kesehatan Nasional Sistem Informasi Kesehatan Nasional Tuberculosis Paru Umur Harapan Hidup Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat United Nations Development Programme United Nations Population Fund United Nations Emergency Children’s Fund Unit Pelaksana Teknis Undang-undang Dasar World Health Organization Warga Negara Asing Warga Negara Indonesia 97 .

D. Drg. Dr. SKM. Iswandi Mourbas. M. Dra. MPH. Rustam S.Kes. SH. DR. Dr. M. Titte Kabul Adimidjaja. dr. Apt. . M. Apt. Bambang Widodo. Indah Yuningprapti. MBA. Sjafii Achmad. Bambang Giatno Rahardjo. Dr.Kes.M. Dr. Bambang Widodo. M. Royan. MSc. Dr. MS. M. S. Triono Soendoro. Edi Suranto. Dr. Sutoto. Drg. SKM . Dra. Dr. SE. SKM. Drs. MM. Dr. Dr. Sp. dr. H. Emiliya Roza. Bambang Sardjono. Dr.Kes. Dr. SKM . SKM. Mary S Maryam. Dr. Nasirah Bahaudin. Ahmad Nizar S. Msi. MPP. Gemala Hatta. Faisal Barabas. Drs. Dr. M.Kes. Dr. Ruhayati . Dr. Andi Saguni. M. Drg. SKM. Sulistyowati. Dr.DR.D. Bambang Hartono. MA. Sp.PH. PhD. Faiq Bahfen. SH. SE. Bambang W. Jajang Subagya. Sri Suhariningsih.Sc.Kes.Meinarwati. Dr.KONTRIBUTOR Sistem Kesehatan Nasional ini berhasil disusun atas partisipasi aktif dan kontribusi positif dari berbagai pihak. Taufik. DR. Drs. DR. Krishnajaya. SKM. Dr. MPH. Dr. H. Rustam S Pakkaya. M. Dr. Dr. MBA. Drg. Mulya A Hasjmy. Dr. Chirul R Nasution. SpF(K). MSc. Apt. MPH. Farid Wadjdi Husain. Dra. Bambang Sardjono. M. Taufik Izwan.B(K). Abidinsyah Siregar. MPH. Fresly. Drs. I Nyoman Kandun. Apt. Tjipto Rahardjo. SH. Dr. Drg. MPH. MKM. Prof. Dr. SE.Kes. Dr. Rahbudi Helmi. Ir. Dr. Suginarti . R. Dr. Achmad Soebagio T. dr.B. Dr. Toto Heryanto . Wandaningsih. SKM. dr. Untung Suseno Sutarjo. Syamsul Bahri. Dr. Yusharmen D Comm. DR. SKM. Sp.A. Drs. M.JP. Mulyadi. Dr. Donald Pardede. SKM . Zulkarnain Kasim. Charles Suryadi. MM. SKM. Hasbullah Thabrani. Yaslis Ilyas. Sri Hermiyanti. Delnalis. . dr. Ruhayati . DR. MPH. MSc. Drs. MPH. Abidinsyah Siregar.Kes. Bambang Hartono.Kes. Abdurachman. Dra. Naydial Roesdal. Agus Purwadianto.Kes. Bambang Hartono. MKM. M.Kes. Lovita T. Sp. MPH).DTM&H. Apt. Prof. Dr. Sp. M. Dr. DPH.JP(K). MSi. Harmein Harun. MPH. Agus Iriawan. Siti Fadilah Supari. dr. Dr. MPH. Marius W. R. Suamsul Bahri. Imran Agus Nurali. Sardikin Giriputro.Sos. MPH.Kes. Ruslidjah. Diah Puspitasari.Sos. MPH .KO. M. Ida Bagus Indra Gotama. Ida Bagus Indra Gotama. M.Tugijono. Pakkaya. M. SKM. Widyawati. DR. Drg. Gatot Soetomo.Epid. DCN. Ph. Adang Bachtiar. dr. MSc. M. Herma Trillas Purba. MPH. SKM. MSc.B. MSi.Kes. DR. Sp. Purwadi.H.Rita Ratna Puri.J. MSc. Nagiot CT. DHSM. Madiono. MSc. MS. Kustantinah. Dr. Widjaja Lukito. Prof. Kodrat Pramudho.Syihab. Hapsara Habib Rahmat. Jemfy Naswil. Yoserizal. Dr. dr. DHSM. dr. SS . DR.Kes. Indriyono Tantoro. Dr. . MKKK . MPH. Marwan Nusri. SKM. dr. MPH. MM. MPH. Krissna Tirtawidjaja.Kes. MPH. Ph. MPH. Dr.SKM. Iis Sin Sin. M. Dr. M.Epid . Drs. MPH. Dr. SK Amdani. DR. Liliana. Mulya A Hasymi. Dr. MPPM. Lenny Evanita. Dr. Hary Purwanto. Ratna Rosita Hendardji. Hardini Kusumadewi. Geral Mario S. MPH. Peter Andreas. Prof. S. Rahmat Kurniadi. dr. M. MSc. MSc. Zulkarnain. Setiawan Soeparan. Rita Djupuri. T. . MPH. M. Dr.Kom. SKM. S. SKM. Yuniar S. Arum Atmawikarta. drg. SKM. Rachmi Untoro.Sukowidodo. H. Dr. Richard Panjaitan. Dr. MPH. DM Wismarini. MPH. Riza Sultoni. Rusmiati. Louventus P . SKM. Dr. Firman Lubis. Dr. Sontang Tambunan.Kes. Drs. MSc. SKM. Indariwati.Chalik Masulili. Soenarjo Soejoso. antara lain: Tingkat Pusat: Dr. Sri Muljati.MSc(PH).Appt. Msi. Sonny P. Agus Sunario. DR. MPH. Dr. Suhardjono. M. Ina Hernawati. M.W. Apt. Trisa Wahjuni Putri. MM. SKM. DR. Mustikowati.Kes . Slamet Sudi Santoso.Kes. Lily S. Budhihardja. Dr.

SH. Drs.GDE Agung Wiadnya P. Lita R Siampar. Dr. SKM. MKes. Syahrani Djedi. One Widyawati. Dr. Durachman. SKM. Sasli Adis. MKes. Slamet Soesilo. Dr. Dr. Dr. Emmilya Rosa. Nurbaiti. Syahrul A. Okti Palupi . Suteja.P.Kes . Rosihan Adhani. Kodrat Pramudho. atau pertemuan lainnya . Dr. Drg. Dr. M. A. DR. Yanti Nurbayanti. MKes. Drs. Tingkat Daerah: Drg. Yanti. Hasnawati. Dr. Rudi Arif. MKes. M. Didi Suswanto.Kes.SKM. Widyawati. Ratna Dewi Umar. Razak Thaha. M. SE. H.Kes.Kes. Muninjaya. Eny Setiowati. Munzelly Husivevi. DESS. Risma Julius. RE. Wirabrata.Sos. Dr. Arbiansyah Alam. SKM. SKM. Sri Rachmani. MPPM. Ishak. Julistio TB Djais. MPAM. Isti Ratnaningsih. Pius Weraman. Prof. Shermina Oruh. Entos Z. Dr. I Wayan A. SpA (K). Herry Tjahjono. Mahmud Fauzi. M. SE. Poedjo Prasetyo. SKM. MPH. Dr. Syafrudin Rasyid. SKM. Bachtiar Oesman. MPH. Drs. Siti Aisyah. SKM. Fauzi Ali Amin. Hanni Rono S. Tri Martiana. Drg. SKM. Jorizal Jannis. M. M. Oslinda Martony. Dyah RB. Dr. M. Irwan. Suharto. Broto Wasisto. Noto Basuki. Drs. Choirul Anwar.Kes. Zaura Rini Anggraini. Lukman HL. Drg. Sugito. Sugeng LA. Ni Wayan Mariani. Kuswati Ningsih. Kuwat S Hudoyo. Indro Darmadji. Dr.A. Sutrisno. Drg. Jeni Haju. Kiswanto. Bondan Agus Susyanto.Kes. Adi Wirachjanto. Dr. Apt. Ridwan Thaha.Kes . T. SKM. MARS. Ibnu Alferbaly. Dien Emawati. Abdul Gani Sitepu. Ridarson. Prof. Dr. Ninin S . MPH.Kes. Jauhari. Dr. Drs. Tukijan. Adnan Mahmud. Bambang Agus Legowo. DESS. H. Dr. rapat.Sp. SKM. Tin tin F. Andreas Meliala. Drs. Dr.S. M. Dr. SpACKI. Guntur DW. MPH. Dan semua individu/pihak yang telah membantu penyusunan SKN yang tidak bisa disebutkan satu per-satu Mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan nama dan gelar Daftar nama dan gelar disusun berdasarkan absensi lokakarya. Rais Lamangkona.Kes. Drg. MSCPH. Tri Martiana. MPH. M. Abd. Drg. MM. Eny Susilowati. MKes. Benny Patiasina. Lily Mulyasari. Agung Indarto.M. HJ. Kartini Rustandi. Nina Kurnia. M. Poedjo Praseptio. Julistio Djais.Kes. Dr. MSc. Pande Putujaraga. Dr. Mkes.Kes. Dr. Eryta W. Rita Kusriastuti. E. Djayusmantoko. Dr. Bambang Sugeng W. Ockti Palupi. Andi M. Vita. Endro Buono. Entos Rusna. SpOG. Tjipto Rahardjo. SKM. Ade Erma. Prijono. Nizwardi Azkha. Sultan Akbar Torutju . Jeane Pangemanan. Dedi Supratman. Melzan Dharmayuli. Syafri. Peter Andreas).Kes. Drg. Sardikin Giriputro.Ahmad Said. Agussalim Mooduto. Dr. Drg. S. Kamaruzaman. Bairizal. M. Dr. M.Kes. M. Dr. SKM.Sos . Emi Nurjasmi. Drg. Harif Fadhillah. Drg. Apt. MKes. Sudono. Drs. Sofia Wirda.SKM. Dr. Munzir Purba. Jimmy Lee. dr. S. Amin Yohannis. Dian Damairini.Kes. Lovita T . MPH. Dr. Dr.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->