Sistem Kesehatan Nasional 2009 (Terbaru)

DEPARTEMEN KESEHATAN RI JAKARTA, 2009

BENTUK DAN CARA PENYELENGGARAAN PEMBANGUNAN KESEHATAN

DEPARTEMEN KESEHATAN RI JAKARTA, 2009

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ....................................................... DAFTAR ISI ..................................................................... I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG .......................................... B. PENGERTIAN SKN .......................................... C. MAKSUD DAN KEGUNAAN SKN .................... D. LANDASAN SKN .............................................. PERKEMBANGAN DAN TANTANGAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. PERKEMBANGAN DAN MASALAH SISTEM KESEHATAN NASIONAL …………………….... B. PERUBAHAN LINGKUNGAN STRATEGIS ..... ASAS SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. DASAR PEMBANGUNAN KESEHATAN ......... B. DASAR SKN ..................................................... BENTUK POKOK SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. TUJUAN SKN ................................................ B. KEDUDUKAN SKN ....................................... C. SUBSISTEM SKN ......................................... D. TATA HUBUNGAN ANTAR SUBSISTEM DAN LINGKUNGANNYA .......................................... CARA PENYELENGGARAAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. SUBSISTEM UPAYA KESEHATAN ................. B. SUBSISTEM PEMBIAYAAN KESEHATAN ...... C. SUBSISTEM SUMBERDAYA MANUSIA KESEHATAN .................................................... D. SEDIAAN FARMASI, ALAT KESEHATAN, DAN MAKANAN ............................................... ii i ii 1 1 2 3 4

II.

6 6 12 15 15 17

III.

IV.

21 21 21 23 26

V.

30 30 45 50 59

...... VI... B..... KONTRIBUTOR 96 iii ............... PROSES PENYELENGGARAAN SKN …….. DUKUNGAN PENYELENGGARAAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A.. PENUTUP LAMPIRAN Gambar-1: Alur Pikir Rencana Pembangunan Kesehatan dan Sistem Kesehatan Nasional Gambar-2: Gambaran Unsur-unsur Pembangunan Kesehatan dan Subsistem SKN serta Tata Hubungannya dan Lingkungan Strategis yang Mempengaruhi SKN 94 95 DAFTAR SINGKATAN …………………………………….. TATA PENYELENGGARAAN SKN ………… C.......E... SUMBER DAYA PENYELENGGARAAN SKN E.................. KERJA SAMA INTERNASIONAL …………… 68 73 81 81 85 86 87 90 92 VII... D. SUBSISTEM MANAJEMEN DAN INFORMASI KESEHATAN …………………………………… F... SUBSISTEM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT ..... PENYELENGGARA SKN …………………….

Kesinambungan dan keberhasilan pembangunan kesehatan ditentukan oleh tersedianya pedoman penyelenggaraan pembangunan kesehatan baik berupa dokumen perencanaan maupun metode dan cara penyelenggaraannya. Dalam kerangka kesehatan pembangunan dilaksanakan secara terarah.KATA PENGANTAR Pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran. . berkesinambungan dan realistis sesuai pentahapannya. tersebut. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat mencapai yang tujuan setinggi-tingginya. UndangUndang Nomor 17 Jangka tahun 2007. tentang Nasional Rencana (RPJPN) Pembangunan Panjang memberikan arah pembangunan ke depan bagi bangsa Indonesia. kemauan. Dalam Undang-Undang tersebut antara lain ditetapkan bahwa pembangunan berdasarkan kesehatan diselenggarakan pemberdayaan dengan dan perikemanusiaan. Di dalamnya juga telah tercantum arah pembangunan kesehatan dalam 20 tahun ke depan sampai dengan tahun 2025.

desentralisasi. antara lain ibu. sering tidak menentu. Adanya SKN yang disempurnakan tersebut menjadi sangat penting kedudukannya mengingat penyelenggaraan pembangunan kesehatan pada saat ini semakin kompleks sejalan dengan kompleksitas perkembangan demokrasi. dan keluarga miskin. dan globalisasi serta tantangan lainnya yang juga semakin berat. manusia usia lanjut (manula). cepat berubah dan. .kemandirian. adil dan merata. serta pengutamaan dan manfaat dengan perhatian khusus pada penduduk rentan. Sistim Kesehatan Nasional (SKN) 2009 sebagai penyempurnaan dari SKN sebelumnya merupakan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah bersama seluruh elemen bangsa dalam rangka untuk meningkatkan tercapainya pembangunan kesehatan dalam mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Sistim Kesehatan Nasional (SKN) 2009 yang disempurnakan ini diharapkan mampu menjawab dan merespon berbagai tantangan pembangunan kesehatan di masa kini maupun di masa yang akan datang. anak.

April 2009 MENTERI KESEHATAN RI.dr. Siti Fadilah Supari. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu melimpahkan Rachmat dan Hidayah serta memberikan petunjuk dan kekuatan bagi kita sekalian dalam melaksanakan pembangunan kesehatan di Indonesia dengan berpedoman pada Sistem Kesehatan Nasional yang baru ini. bantuan dan masukan serta kontribusinya dalam penyusunan dan perumusan SKN tersebut. Sp. Jakarta. Dalam kaitan ini penyelenggaraan SKN 2009 tersebut perlu sesuai dengan tahap-tahap lapangan.Diharapkan SKN 2009 ini terkait dan mengacu pada arah dan tahapan pembangunan kesehatan yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJPK) Tahun 2005-2025.JP(K) . Dr. pelaksanaan pembangunan kesehatan di Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak atas perhatian.

LATAR BELAKANG Dalam mencapai tujuan nasional bangsa Indonesia sesuai Pembukaan UUD 1945. Perubahan lingkungan strategis ditandai dengan berlakunya berbagai regulasi penyelenggaraan kepemerintahan. Jaminan Kesehatan Masyarakat. perdamaian abadi dan keadilan sosial. kemauan. Untuk itu diperlukan pemantapan dan percepatan melalui Sistem Kesehatan Nasional sebagai bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang disertai berbagai terobosan penting.BAB I PENDAHULUAN A. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dapat terwujud. seperti: Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Undangundang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. seperti: pengembangan Desa Siaga. yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. maka pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran. serta Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K). Pembangunan kesehatan yang dilaksanakan dalam dasawarsa terakhir masih menghadapi berbagai masalah yang belum sepenuhnya dapat diatasi. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang 1 . mencerdaskan kehidupan bangsa. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan.

dan strategi pembangunan kesehatan yang ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025 dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025. Pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran. penting untuk dimutakhirkan menjadi SKN 2009 agar dapat mengantisipasi berbagai tantangan perubahan pembangunan kesehatan dewasa ini dan di masa depan. sehingga diperlukan penyempurnaan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan.Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. PENGERTIAN SKN Sistem Kesehatan Nasional (SKN) adalah bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang memadukan berbagai upaya bangsa Indonesia dalam satu derap langkah guna menjamin tercapainya tujuan pembangunan kesehatan dalam kerangka mewujudkan kesejahteraan rakyat sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Dasar 1945. dasar. kemauan. Disamping itu secara global terjadi perubahan iklim dan upaya percepatan pencapaian MDGs. perlu mengacu terutama pada arah. SKN 2004 sebagai pengganti SKN 1982. Dalam mengantisipasi ini. dan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025. pada hakekatnya merupakan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang 2 . B.

kesadaran masyarakat. memantapkan kemitraan dan kepemimpinan yang transformatif. pendapatan keluarga. serta 4) Pengutamaan dan manfaat. melaksanakan pemerataan upaya kesehatan yang terjangkau dan bermutu. Pembangunan kesehatan diselenggarakan berdasarkan pada: 1) Perikemanusiaan. serta meningkatkan investasi kesehatan untuk keberhasilan pembangunan nasional. distribusi kewenangan. Tersusunnya SKN 2009 mempertegas makna pembangunan kesehatan dalam rangka pemenuhan hak asasi manusia. seperti: kondisi kehidupan sehari-hari. baik oleh masyarakat. keamanan.setinggi-tingginya dapat terwujud. swasta. MAKSUD DAN KEGUNAAN SKN Penyusunan SKN 2009 ini dimaksudkan untuk menyesuaikan SKN 2004 dengan berbagai perubahan dan tantangan eksternal dan internal. C. serta kemampuan tenaga kesehatan dalam mengatasi masalah-masalah tersebut. 2) Pemberdayaan dan kemandirian. Sistem Kesehatan Nasional perlu dilaksanakan dalam konteks Pembangunan Kesehatan secara keseluruhan dengan mempertimbangkan determinan sosial. agar dapat dipergunakan sebagai pedoman tentang bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan. 3) Adil dan merata. sumber daya. 3 . tingkat pendidikan. maupun oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah serta pihak terkait lainnya. memperjelas penyelenggaraan pembangunan kesehatan sesuai dengan visi dan misi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025.

bertempat tinggal. 2. Landasan Konstitusional. Sistem Kesehatan Nasional disusun dengan memperhatikan pendekatan revitalisasi pelayanan kesehatan dasar (primary health care) yang meliputi: 1) Cakupan pelayanan kesehatan yang adil dan merata. dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan 4 . dan 4) Kepemimpinan. Sistem Kesehatan Nasional juga disusun dengan memperhatikan inovasi/terobosan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan secara luas. D. termasuk penguatan sistem rujukan. setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin. setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya. Landasan Idiil. yaitu UUD 1945. Pasal 28 H ayat (1). khususnya: Pasal 28 A. 3) Kebijakan pembangunan kesehatan. LANDASAN SKN Landasan SKN meliputi: 1. yaitu Pancasila. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan Tahun 2005-2025 dan SKN merupakan dokumen kebijakan pembangunan kesehatan sebagai acuan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Pendekatan pelayanan kesehatan dasar secara global telah diakui sebagai pendekatan yang tepat dalam mencapai kesehatan bagi semua dengan mempertimbangkan kebijakan kesehatan yang responsif gender. 2) Pemberian pelayanan kesehatan yang berpihak kepada rakyat.Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan Tahun 2005-2025 merupakan arah pembangunan kesehatan yang berkesinambungan.

berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi. setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat. serta Pasal 34 ayat (2). Landasan Operasional meliputi seluruh ketentuan peraturan perundangan yang berkaitan dengan penyelenggaraan SKN dan pembangunan kesehatan. 3. Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan dan ayat (3). tumbuh.kesehatan dan ayat (3). Pasal 28 C ayat (1). demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia. seni dan budaya. Negara bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. Pasal 28 B ayat (2). setiap anak berhak atas kelangsungan hidup. Beberapa peraturan perundangan tersebut terdapat dalam Lampiran-1 dari RPJP-K Tahun 2005-2025. 5 . dan berkembang. setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya.

2007). Kinerja sistem kesehatan telah menunjukkan peningkatan.BAB II PERKEMBANGAN DAN TANTANGAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A.000 kelahiran hidup pada tahun 1997 menjadi 228 per 100. 1. Demikian pula telah terjadi penurunan prevalensi kekurangan gizi pada balita dari 29.5% pada akhir tahun 1997 menjadi sebesar 18. Angka Kematian Ibu (AKI) juga mengalami penurunan dari 318 per 100.4% pada tahun 2007 (Riskesdas.000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (SDKI. PERKEMBANGAN DAN KESEHATAN NASIONAL MASALAH SISTEM Pembangunan kesehatan yang dilaksanakan secara berkesinambungan telah berhasil meningkatkan status kesehatan masyarakat. yaitu: penurunan Angka Kematian Bayi (AKB) dari 46 per 1. Namun penurunan indikator kesehatan masyarakat tersebut masih belum seperti yang diharapkan. Upaya percepatan pencapaian indikator kesehatan dalam lingkungan strategis baru. antara lain ditunjukkan dengan peningkatan status kesehatan.5 tahun pada tahun 2007. 2007). Umur Harapan Hidup (UHH) meningkat dari 68.6 tahun pada tahun 2004 menjadi 70. Upaya Kesehatan Akses pada pelayanan kesehatan secara nasional mengalami peningkatan.000 kelahiran hidup pada tahun 1997 menjadi 34 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (SDKI 2007). harus terus diupayakan dengan perbaikan Sistem Kesehatan Nasional. Sejalan dengan penurunan angka kematian bayi. dalam kaitan ini akses rumah tangga yang dapat menjangkau sarana kesehatan ≤ 30 menit sebesar 90.7% dan akses rumah tangga 6 .

pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan meningkat 20% dalam kurun 10 tahun. 2007).000 pada tahun 2007 (Profil Kesehatan. kesehatan ibu membaik dengan turunnya AKI.1% dan terendah 67%. Namun pada daerah terpencil.65 per 100.9% dan cakupan terendah 17.3% (Riskesdas. sementara persalinan di fasilitas kesehatan meningkat dari 24. 2007).7% pada tahun 2006.000 penduduk pada tahun 2003 menjadi 3.46 per 100. Peningkatan jumlah Puskesmas ditandai dengan peningkatan rasio Puskesmas dari 3. Begitupula kunjungan baru (contact rate) ke fasilitas pelayanan kesehatan meningkat dari 34. perbatasan.1% (Riskesdas. Jarak fasilitas pelayanan yang jauh disertai distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata dan pelayanan kesehatan yang mahal menyebabkan rendahnya aksesibilitas masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Secara keseluruhan. tertinggal.1% pada tahun 1996 menjadi 33. 2007). Cakupan pemeriksaan kehamilan tertinggi 97. jumlah masyarakat yang mencari pengobatan sendiri sebesar 45% dan yang tidak berobat sama sekali sebesar 13.3% (2007). Disamping itu.4% pada tahun 2005 menjadi 41.yang berada ≤ 5 km dari sarana kesehatan sebesar 94. Namun masih ditemui disparitas Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan cakupan imunisasi antar wilayah masih tinggi. peningkatan yang besar terutama di daerah perdesaan.3% pada tahun 1997 menjadi 46% pada tahun 2007.8% pada tahun 2007. 7 . serta pulau-pulau kecil terdepan dan terluar masih rendah. sementara itu cakupan imunisasi lengkap tertinggi sebesar 73. Pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan oleh penduduk meningkat dari 15.

Penyakit infeksi menular masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menonjol. menjadikan Indonesia mempunyai beban ganda (double burden). 2. Demikian pula dengan anggaran kesehatan.6–2. terutama: TB Paru. Pengeluaran pemerintah untuk 8 .54 Triliun meningkat menjadi sebesar 18.09 % dari PDB. 2007). Persentase pengeluaran nasional sektor kesehatan pada tahun 2005 adalah sebesar 0.7% rumah tangga dan sebesar 63. Malaria.Akses terhadap air bersih sebesar 57. Framboesia cenderung meningkat kembali.75 Triliun pada tahun 2007.8%. seperti Filariasis. Hasil Riskesdas Tahun 2007 menunjukkan adanya peningkatan kasus penyakit tidak menular (seperti penyakit kardiovaskuler dan kanker) secara cukup bermakna. rumah tangga yang tidak menggunakan fasilitas buang air besar sebesar 24.81% dari Produk Domestik Bruto (PDB) meningkat pada tahun 2007 menjadi 1.8% dan yang tidak memiliki saluran pembuangan air limbah sebesar 32. Pada tahun 2007.5%. Selain itu penyakit yang kurang mendapat perhatian (neglected diseases). Pembiayaan Kesehatan Pembiayaan kesehatan sudah semakin meningkat dari tahun ke tahun. HIV/AIDS. Kusta. Namun demikian kontribusi penyakit menular terhadap kesakitan dan kematian semakin menurun. DBD dan Diare. meskipun belum mencapai 5% dari PDB seperti dianjurkan WHO. pada tahun 2004 jumlah APBN kesehatan adalah sebesar Rp 5. namun persentase terhadap seluruh APBN belum meningkat dan masih berkisar 2. Demikian pula penyakit Pes masih terdapat di berbagai daerah.5% rumah tangga mempunyai akses pada sanitasi yang baik (Riskesdas.

2%. baik jumlah.000 pada tahun 2007. d) Dalam pendayagunaan SDM Kesehatan. Jumlah dokter Indonesia masih termasuk rendah. c) Masih kurang serasinya antara kebutuhan dan pengadaan berbagai jenis SDM Kesehatan. Selain itu.5% dari keseluruhan penduduk pada tahun 2008 yang sebagian besar berasal dari bantuan sosial untuk program jaminan kesehatan masyarakat miskin sebesar 76.kesehatan terus meningkat. Cakupan jaminan pemeliharaan kesehatan sekitar 46. Proporsi pembiayaan kesehatan yang bersumber dari pemerintah belum mengutamakan upaya pencegahan dan promosi kesehatan. distribusi tenaga kesehatan masih belum merata. seperti Filipina 58 per 100. b) Perencanaan kebijakan dan program SDM Kesehatan masih lemah dan belum didukung sistem informasi SDM Kesehatan yang memadai. jenis.4 juta jiwa atau 34. Kualitas hasil pendidikan SDM Kesehatan dan pelatihan kesehatan pada umumnya masih belum memadai.000 penduduk dan Malaysia 70 per 100.000 penduduk bila dibandingkan dengan negara lain di ASEAN. Namun kontribusi pengeluaran pemerintah untuk kesehatan masih kecil. Masalah strategis SDM Kesehatan yang dihadapi dewasa ini dan di masa depan adalah: a) Pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan belum dapat memenuhi kebutuhan SDM untuk pembangunan kesehatan. 3. yaitu 19 per 100. Sumber Daya Manusia Kesehatan Upaya pemenuhan kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan belum memadai. yaitu 38% dari total pembiayaan kesehatan. maupun kualitas tenaga kesehatan yang dibutuhkan. 9 .

dan baru 300 jenis tanaman yang telah digunakan sebagai bahan baku.600 jenis tanaman berpotensi mempunyai efek pengobatan. Sediaan Farmasi. alat kesehatan.pemerataan SDM Kesehatan berkualitas masih kurang. Sementara itu pemerintah telah berusaha untuk menurunkan harga obat. Regulasi untuk mendukung SDM Kesehatan masih terbatas. serta e) Pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan serta dukungan sumber daya SDM Kesehatan masih kurang. Penggunaan obat rasional belum dilaksanakan di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan. sementara itu bahan baku impor mencapai 85% dari kebutuhan. sistem penghargaan. dan sanksi belum sebagaimana mestinya. Daftar Obat Esensial Nasional tersebut telah disusun sejak tahun 1980 dan direvisi secara berkala sampai tahun 2008. namun masih banyak kendala yang dihadapi. dan makanan telah dilakukan secara komprehensif. masih banyak pengobatan yang dilakukan tidak sesuai dengan formularium. Namun tidak diikuti 10 . Pengembangan karier. 4. Di Indonesia terdapat 9. Lebih dari 90% obat yang diresepkan di Puskesmas merupakan obat esensial generik. Alat Kesehatan. Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) digunakan sebagai dasar penyediaan obat di pelayanan kesehatan publik. dan Makanan Pasar sediaan farmasi masih didominasi oleh produksi domestik. Upaya perlindungan masyarakat terhadap penggunaan sediaan farmasi.

Data dan informasi kesehatan untuk perencanaan tidak tersedia tepat waktu. seperti: di rumah sakit pemerintah kurang dari 76%. maupun efektifitasnya. Manajemen dan Informasi Kesehatan Perencanaan pembangunan kesehatan antara Pusat dan Daerah belum sinkron. Hal ini menunjukkan bahwa konsep obat esensial generik belum sepenuhnya diterapkan. Hasil penelitian kesehatan belum banyak dimanfaatkan sebagai dasar perumusan kebijakan dan perencanaan program. 11 . rumah sakit swasta 49%. Begitu pula dengan perencanaan jangka panjang/menengah masih belum menjadi acuan dalam menyusun perencanaan jangka pendek.oleh sarana pelayanan kesehatan lainnya. 5. Surveilans belum dilaksanakan secara menyeluruh. dan bermutu sesuai dengan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance). jenis. Hukum kesehatan belum tertata secara sistematis dan belum mendukung pembangunan kesehatan secara utuh. efisien. Demikian juga dengan banyak kebijakan yang belum disusun berbasis bukti dan belum bersinergi baik perencanaan di tingkat Pusat dan atau di tingkat Daerah. dan apotek kurang dari 47%. Pemerintah belum sepenuhnya dapat menyelenggarakan pembangunan kesehatan yang efektif. baik jumlah. Sistem Informasi Kesehatan Nasional (Siknas) yang berbasis fasilitas sudah mencapai tingkat kabupaten/kota namun belum dimanfaatkan. Regulasi bidang kesehatan pada saat ini belum cukup. Sistem informasi kesehatan menjadi lemah setelah menerapkan kebijakan desentralisasi.

3% pada tahun 2007. Pemerintah telah memberikan pula bantuan stimulan untuk pengembangan 229 Musholla Sehat. 12 . Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat lainnya yang terus berkembang pada tahun 2008 adalah Posyandu yang telah berjumlah 269. seperti Posyandu dan Poskesdes semakin meningkat. Sampai dewasa ini dirasakan bahwa masyarakat masih lebih banyak sebagai objek dari pada sebagai subjek pembangunan kesehatan.6%).202 buah dan 967 Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren).111 Desa Siaga dimana terdapat 47. Hal ini merupakan faktor eksternal utama yang mempengaruhi proses pembangunan kesehatan. B. Jumlah UKBM. dan tidak ada Posyandu/Poskesdes (24%).6.111 buah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes). namun masih jauh dari sasaran yang harus dicapai pada tahun 2009. PERUBAHAN LINGKUNGAN STRATEGIS Perkembangan global. regional. Hingga tahun 2008 sudah terbentuk 47. yakni dengan target 60%. Hasil Riskesdas tahun 2007 menunjukkan bahwa alasan utama rumah tangga tidak memanfaatkan Posyandu/Poskesdes walaupun sebenarnya memerlukan adalah karena: pelayanannya tidak lengkap (49. termasuk pembangunan kesehatannya. Pemberdayaan Masyarakat Rumah tangga yang telah melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat meningkat dari 27% pada tahun 2005 menjadi 36. dan nasional yang dinamis akan mempengaruhi pembangunan suatu negara. Di samping itu. lokasinya jauh (26%). tetapi pemanfaatan dan kualitasnya masih rendah.

dan lokal. seperti desentralisasi. seperti revitalisasi pelayanan kesehatan dasar dan pengarus-utamaan gender. demokratisasi. perlu menjadi perhatian dalam pembangunan kesehatan. 2. Tingkat Nasional dan Lokal Pada tingkat nasional terjadi proses politik. yang mencakup ekonomi. Komitmen Internasional. dan transportasi yang mempunyai konsekuensi pada fungsi suatu negara dalam sistem pengelolaannya. budaya. dan politik kesehatan yang berdampak pada pembangunan kesehatan. nasional. Proses ini dipicu dan dipercepat dengan berkembangnya teknologi. ASEAN Charter. teknologi. 1. dan lingkungan. yang sampai saat ini belum sepenuhnya dilakukan persiapan dan langkah-langkah yang menjadikan peluang dan mengurangi dampak yang merugikan. adaptasi perubahan iklim (climate change). 13 . jejaring riset Asia Pasifik. sebagai contoh: banyaknya peserta Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang menggunakan isu kesehatan sebagai janji politik. Tingkat Global dan Regional Globalisasi merupakan suatu perubahan interaksi manusia secara luas. sosial. regional. Era globalisasi dapat menjadi peluang sekaligus tantangan pembangunan kesehatan. politik. serta dapat dijadikan peluang atau kendala bagi sistem kesehatan di Indonesia. sehingga mengharuskan adanya suatu sistem kesehatan yang responsif. serta komitmen Nasional.Faktor lingkungan strategis dapat dibedakan atas tatanan global. informasi. seperti: MDGs.

Secara geografis. namun dalam kenyataannya belum sepenuhnya berjalan dan bahkan memunculkan euforia di daerah yang mengakibatkan pembangunan kesehatan terkendala. Oleh karena itu perlu dilakukan berbagai terobosan/ pendekatan terutama pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan kesehatan yang memberikan penguatan kapasitas dan surveilans berbasis masyarakat. termasuk akibat pembangunan yang tidak berwawasan kesehatan yang memerlukan upaya pemecahan melalui berbagai terobosan dan pendekatan.Proses desentralisasi yang semula diharapkan mampu memberdayakan daerah dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. mekanisme mitigasi serta adaptasi dan pengenalan resiko akan perubahan iklim menuntut kegiatan kerjasama antara pihak lingkungan dengan pihak kesehatan dan seluruh sektor terkait. 14 . sementara itu kesadaran hukum masyarakat masih rendah. dan masih lemahnya penegakan hukum menyebabkan berbagai hambatan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Di bidang lingkungan. di sisi lain situasi sosial politik yang berkembang sering menimbulkan konflik sosial yang pada akhirnya memunculkan berbagai masalah kesehatan. diantaranya melalui pengembangan Desa Siaga. Perangkat regulasi dan hukum yang terkait dengan kesehatan masih belum memadai. sebagian besar wilayah Indonesia rawan bencana.

15 . dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dapat terwujud. DASAR PEMBANGUNAN KESEHATAN Sesuai dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Jangka Panjang Pembangunan Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025. digerakan dan dikendalikan oleh keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Perikemanusian Pembangunan kesehatan harus berlandaskan pada prinsip perikemanusiaan yang dijiwai.BAB III ASAS SISTEM KESEHATAN NASIONAL Sebagaimana dinyatakan dalam Bab I bahwa Sistem Kesehatan Nasional (SKN) adalah bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan. dinyatakan bahwa pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan mendasarkan pada: 1. Dengan demikian untuk menjamin efektifitas SKN. memegang teguh etika profesi. Tenaga kesehatan perlu berbudi luhur. Dalam Undang-undang tersebut. kemauan. pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran. dan selalu menerapkan prinsip perikemanusiaan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. A. maka setiap pelaku pembangunan kesehatan harus taat pada asas yang menjadi landasan bagi setiap program dan kegiatan pembangunan kesehatan.

tumbuh dan kembang. serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.2. keluarga. berkewajiban. Pembangunan kesehatan harus mampu membangkitkan dan mendorong peran aktif masyarakat. Pembangunan kesehatan diselenggarakan berlandaskan pada dasar kemitraan atau sinergisme yang dinamis dan tata penyelenggaraan yang baik. agama. dan lingkungannya. golongan. 4. Adil dan Merata Dalam pembangunan kesehatan setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Setiap orang berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Pembangunan kesehatan dilaksanakan dengan berlandaskan pada kepercayaan atas kemampuan dan kekuatan sendiri serta kepribadian bangsa dan semangat solidaritas sosial serta gotongroyong. dan status sosial ekonominya. sehingga secara berhasil guna dan bertahap dapat 16 . Upaya kesehatan yang bermutu diselenggarakan dengan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta harus lebih mengutamakan pendekatan peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit. Pemberdayaan dan Kemandirian Setiap orang dan masyarakat bersama dengan pemerintah berperan. Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup. dan bertanggungjawab untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan perorangan. Pengutamaan dan Manfaat Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan perorangan atau golongan. masyarakat. tanpa memandang suku. 3.

Undangundang Dasar 1945 pasal 28 H ayat 1 antara lain menggariskan bahwa setiap rakyat berhak atas pelayanan kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya tanpa membedakan suku. d) Integritas yang Tinggi. dan status sosial ekonomi. Hak Asasi Manusia (HAM) Sesuai dengan tujuan pembangunan nasional dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945. dan masyarakat miskin. Perlu diupayakan pembangunan kesehatan secara terintegrasi antara Pusat dan Daerah dengan mengedepankan nilai-nilai pembangunan kesehatan. maka setiap penyelenggaraan SKN berdasarkan pada prinsip hak asasi manusia. dan e) Transparansi serta Akuntabilitas. c) Kerjasama Tim.memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat. SKN perlu mengacu pada dasardasar sebagai berikut: 1. antara lain: ibu. B. golongan. agama. Pembangunan kesehatan diarahkan agar memberikan perhatian khusus pada penduduk rentan. DASAR SKN Dalam penyelenggaraan. bayi. b) Bertindak Cepat dan Tepat. yaitu untuk meningkatkan kecerdasan bangsa dan kesejahteraan rakyat. yaitu: a) Berpihak pada Rakyat. beserta lingkungannya. jenis kelamin. anak. Setiap anak dan perempuan berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. 17 . manusia usia lanjut.

baik antar pelaku. Sinkronisasi. Kemitraan tersebut diwujudkan dengan mengembangkan jejaring yang berhasil guna dan berdaya guna. Dengan tatanan ini. diperlukan komitmen yang tinggi. dukungan. 18 . profesional. agar diperoleh sinergisme yang lebih mantap dalam rangka mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.2. Pembangunan kesehatan diselenggarakan secara demokratis. Komitmen dan Tata Pemerintahan yang Baik (Good Governance) Agar SKN berfungsi baik. keuangan dan pendidikan perlu berperan bersama dengan sektor kesehatan untuk mencapai tujuan nasional. dan Sinergisme (KISS). dan kerjasama yang baik dari para pelaku untuk menghasilkan tata penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang baik (good governance). seperti pembangunan prasarana. Pembangunan kesehatan harus diselenggarakan dengan menggalang kemitraan yang dinamis dan harmonis antara pemerintah dan masyarakat. berkepastian hukum. Sinergisme dan Kemitraan yang Dinamis Sistem Kesehatan Nasional akan berfungsi baik untuk mencapai tujuannya apabila terjadi Koordinasi. maupun dengan sistem serta subsistem lain di luar SKN. rasional. maka sistem atau seluruh sektor terkait. antar subsistem SKN. serta bertanggung-jawab dan bertanggung-gugat (akuntabel). termasuk swasta dengan mendayagunakan potensi yang dimiliki masing-masing. 3. Integrasi. terbuka (transparan).

Antisipatif dan Pro Aktif Setiap pelaku pembangunan kesehatan harus mampu melakukan antisipasi atas perubahan yang akan terjadi. agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan kesehatan serta kesamaan dalam memperoleh manfaat pembangunan kesehatan. Keadilan gender adalah suatu proses untuk menjadi adil terhadap laki-laki dan perempuan dalam pembangunan kesehatan. Responsif Gender Dalam penyelenggaraan SKN. Dukungan Regulasi Dalam menyelenggarakan SKN. pelaku pembangunan kesehatan perlu lebih proaktif terhadap perubahan lingkungan strategis baik yang bersifat internal maupun eksternal. 19 . 6.4. setiap penyusunan rencana kebijakan dan program serta dalam pelaksanaan program kesehatan harus menerapkan kesetaraan dan keadilan gender. diperlukan dukungan regulasi berupa adanya berbagai peraturan perundangan yang mendukung penyelenggaraan SKN dan penerapannya (law enforcement). Kesetaraan gender dalam pembangunan kesehatan adalah kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan dan hak-haknya sebagai manusia. 5. Dengan mengacu pada antisipasi tersebut. yang di dasarkan pada pengalaman masa lalu atau pengalaman yang terjadi di negara lain.

yang dapat diukur secara kuantitatif dari meningkatnya peran serta masyarakat dan secara kualitatif dari meningkatnya kualitas hidup jasmani dan rohani. Kearifan Lokal Penyelenggaraan SKN di daerah harus memperhatikan dan menggunakan potensi daerah yang secara positif dapat meningkatkan hasil guna dan daya guna pembangunan kesehatan. dapat disesuaikan dengan potensi dan kondisi serta kebutuhan masyarakat di daerah terutama dalam penyediaan pelayanan kesehatan dasar bagi rakyat. walaupun dalam prakteknya. Dengan demikian kebijakan pembangunan daerah di bidang kesehatan harus sejalan dengan SKN. 20 .7.

swasta. perdamaian. TUJUAN SKN Tujuan SKN adalah terselenggaranya pembangunan kesehatan oleh semua potensi bangsa. KEDUDUKAN SKN 1. melainkan juga tanggung-jawab berbagai sektor terkait. sehingga terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Dalam kaitan ini. Suprasistem SKN Suprasistem SKN adalah Ketahanan Nasional. berhasil guna dan berdaya guna. baik masyarakat. mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. Dalam penyelenggaraan pembangunan 21 . B. undangundang yang berkaitan dengan kesehatan merupakan kebijakan strategis dalam pembangunan kesehatan. Kedudukan SKN dalam Sistem Nasional Lainnya Terwujudnya keadaan sehat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang tidak hanya menjadi tanggung-jawab sektor kesehatan.BAB IV BENTUK POKOK SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. SKN bersama dengan berbagai sistem nasional lainnya diarahkan untuk mencapai Tujuan Bangsa Indonesia seperti yang tercantum dalam Pembukaan Undangundang Dasar 1945. maupun pemerintah secara sinergis. abadi dan keadilan sosial. 2.

Dalam penyelenggaraan pembangunan nasional. Kedudukan SKN terhadap berbagai Kemasyarakatan. 3. 22 . termasuk potensi swasta berperan aktif sebagai mitra dalam pembangunan kesehatan yang dilaksanakan sesuai SKN.kesehatan. SKN dapat bersinergis secara dinamis dengan berbagai sistem nasional lainnya. 4. Dengan demikian pelaksanaan pembangunan nasional harus berwawasan kesehatan dengan mengikutsertakan seluruh sektor terkait kesehatan sejak awal perencanaan agar dampak pembangunan yang dilakukan tidak merugikan derajat kesehatan masyarakat secara langsung maupun tidak langsung dalam jangka pendek maupun jangka panjang. SKN perlu menjadi acuan bagi sektor lain. Di lain pihak. sebagai sistem kemasyarakatan yang ada. termasuk Swasta Sistem Keberhasilan pembangunan kesehatan sangat ditentukan oleh dukungan sistem nilai dan budaya masyarakat yang secara bersama terhimpun dalam berbagai sistem kemasyarakatan. Dalam kaitan ini SKN dipergunakan sebagai acuan bagi masyarakat dalam berbagai upaya kesehatan. seperti: Sistem Pendidikan Nasional. Sistem Ketahanan Pangan Nasional. Sistem Perekonomian Nasional. Sistem Hankamnas. Kedudukan SKN terhadap Penyelenggaraan Pembangunan Kesehatan di Daerah Dalam pembangunan kesehatan. SKN merupakan acuan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan di daerah. dan Sistem nasional lainnya.

Untuk keberhasilan pembangunan kesehatan perlu digalang kemitraan yang setara. SUBSISTEM SKN Pendekatan manajemen kesehatan dewasa ini dan kecenderungannya di masa depan adalah kombinasi dari pendekatan: 1) Sistem. pengobatan.Keberhasilan pembangunan kesehatan juga ditentukan oleh peran aktif swasta. 23 . Mengacu pada substansi perkembangan penyelenggaraan pembangunan kesehatan dewasa ini serta pendekatan manajemen kesehatan tersebut diatas. Dengan mengacu terutama pada kedudukan SKN diatas dan pencapaian tujuan nasional. Sistem Kesehatan Nasional dapat mewarnai potensi swasta. dalam Gambar-1 dikemukakan alur pikir dari Rencana Pembangunan Kesehatan dan SKN termaksud. terbuka. dan pemulihan. dan 3) Sinergi yang dinamis. dan saling menguntungkan dengan berbagai potensi swasta. sehingga sejalan dengan tujuan pembangunan nasional yang berwawasan kesehatan. 2) Kontingensi. Subsistem Upaya Kesehatan Untuk dapat mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya perlu diselenggarakan berbagai upaya kesehatan dengan menghimpun seluruh potensi bangsa Indonesia. Dalam kaitan ini potensi swasta merupakan bagian integral dari SKN. C. maka subsistem SKN meliputi: 1. Upaya kesehatan diselenggarakan dengan upaya peningkatan. pencegahan.

pembiayaan kesehatan yang adekuat. sedangkan untuk pelayanan kesehatan perorangan pembiayaannya bersifat private. organisasi masyarakat. jenis dan kualitasnya. Oleh karena itu.2. dan berkesinambungan memegang peran yang amat vital untuk penyelenggaraan pelayanan kesehatan dalam rangka mencapai berbagai tujuan pembangunan kesehatan. diperlukan sumber daya manusia kesehatan yang mencukupi dalam jumlah. Oleh karena itu. stabil. terintegrasi. SKN juga memberikan fokus penting pada pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan guna menjamin ketersediaan dan pendistribusian sumber daya manusia kesehatan. kecuali pembiayaan untuk masyarakat miskin dan tidak mampu menjadi tanggung-jawab pemerintah. Pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan meliputi: 1) 24 . 3. serta terdistribusi secara adil dan merata. Subsistem Sumber Daya Manusia Kesehatan Sebagai pelaksana upaya kesehatan. Pemerintah Daerah. Pembiayaan pelayanan kesehatan masyarakat merupakan public good yang menjadi tanggung-jawab pemerintah. Subsistem Pembiayaan Kesehatan Pembiayaan kesehatan bersumber dari berbagai sumber. Pembiayaan pelayanan kesehatan perorangan diselenggarakan melalui jaminan pemeliharaan kesehatan dengan mekanisme asuransi sosial yang pada waktunya diharapkan akan mencapai universal coverage sesuai dengan Undang-undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). swasta. dan masyarakat itu sendiri. sesuai tututan kebutuhan pembangunan kesehatan. yakni: Pemerintah.

3) pendayagunaan SDM Kesehatan. 2) Manajemen sistem informasi. dan Makanan Subsistem kesehatan ini meliputi berbagai kegiatan untuk menjamin: aspek keamanan. sinkronisasi. ketersediaan. perlindungan masyarakat dari penggunaan yang salah dan penyalahgunaan obat. Untuk menggerakkan pembangunan kesehatan secara berhasil guna dan berdaya guna. alat kesehatan. 5. Dalam kaitan ini peranan informasi kesehatan sangat penting. Alat Kesehatan. serta penyerasian berbagai subsistem SKN dan efektif. Dari segi pengadaan data dan informasi dapat dikelompokkan kegiatannya sebagai berikut: 1) Pengumpulan. dan keterjangkauan obat. terutama obat esensial. dan informasi kesehatan. Subsistem Manajemen dan Informasi Kesehatan Subsistem ini meliputi: kebijakan kesehatan. 3) 25 . validasi. serta upaya kemandirian di bidang kefarmasian melalui pemanfaatan sumber daya dalam negeri. penggunaan obat yang rasional. administrasi kesehatan. Subsistem Sediaan Farmasi. khasiat/ kemanfaatan dan mutu sediaan farmasi. termasuk peningkatan kesejahteraannya. pemerataan. dan 4) pembinaan serta pengawasan SDM Kesehatan. dan makanan yang beredar. 4. dan diseminasi data dan informasi. diperlukan manajemen kesehatan. Peranan manajemen kesehatan adalah koordinasi. analisa. hukum kesehatan.perencanaan kebutuhan sumber daya manusia yang diperlukan. efisien. 2) pengadaan yang meliputi pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan SDM Kesehatan. serta transparansi dari penyelenggaraan SKN tersebut. integrasi.

melainkan juga sebagai subjek atau penyelenggara dan pelaku pembangunan kesehatan. Subsistem Upaya Kesehatan diselenggarakan untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Dalam pemberdayaan masyarakat meliputi pula upaya peningkatan lingkungan sehat oleh masyarakat sendiri. ketersediaan sediaan 26 . Berbagai upaya tersebut memerlukan dukungan pembiayaan. agar masyarakat termasuk swasta dapat mampu dan mau berperan sebagai pelaku pembangunan kesehatan. Subsistem Pemberdayaan Masyarakat Sistem Kesehatan Nasional akan berfungsi optimal apabila ditunjang oleh pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat dan upaya kesehatan pada hakekatnya merupakan fokus dari pembangunan kesehatan. D.Dukungan kegiatan dan sumber daya untuk unit-unit yang memerlukan. TATA HUBUNGAN LINGKUNGANNYA ANTAR SUBSISTEM DAN Penyelenggaraan SKN memerlukan keterkaitan antar unsur-unsur SKN sebagai suatu tata hubungan yang efektif. SDM Kesehatan. Keterkaitan tersebut adalah sebagai berikut: 1. Untuk penyelenggaraan subsistem tersebut diperlukan berbagai upaya dengan menghimpun seluruh potensi bangsa Indonesia. Upaya pemberdayaan masyarakat akan berhasil pada hakekatnya bila kebutuhan dasar masyarakat sudah terpenuhi. Oleh karenanya pemberdayaan masyarakat menjadi sangat penting. 6. Masyarakat termasuk swasta bukan semata-mata sebagai sasaran pembangunan kesehatan. dan 4) Pengembangan untuk peningkatan mutu sistem informasi kesehatan.

alat kesehatan. Tersedianya tenaga kesehatan yang mencukupi dan berkualitas juga akan menunjang terselenggaranya subsistem pembiayaan kesehatan. alat kesehatan. dan bermutu bagi seluruh masyarakat. manfaat. subsistem manajemen dan informasi kesehatan. serta termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna. dan makanan. dan makanan. dan makanan yang beredar. dan termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna untuk terselenggaranya upaya kesehatan secara merata. alat kesehatan. 3. Subsistem sumber daya manusia kesehatan diselenggarakan guna menghasilkan tenaga kesehatan yang bermutu dalam jumlah yang mencukupi. subsistem sediaan farmasi. terutama obat esensial. Subsistem pembiayaan kesehatan diselenggarakan guna menghasilkan ketersediaan pembiayaan kesehatan dengan jumlah yang mencukupi. dan makanan diselenggarakan guna menjamin keamanan. teralokasi secara adil. menjamin ketersediaan. alat kesehatan. pemerataan. subsistem sediaan farmasi. khasiat. terjangkau. Tersedianya pembiayaan yang memadai juga akan menunjang terselenggaranya subsistem sumber daya manusia kesehatan. serta subsistem pemberdayaan masyarakat. 4. 27 . dan keterjangkauan obat. sehingga upaya kesehatan dapat diselenggarakan sesuai dengan kebutuhan seluruh lapisan masyarakat.farmasi. Subsistem sediaan farmasi. dan mutu semua produk sediaan farmasi. subsistem manajemen dan informasi kesehatan. serta subsistem pemberdayaan masyarakat. serta pemberdayaan masyarakat. manajemen dan informasi kesehatan. terdistribusi secara adil. 2. alat kesehatan dan makanan.

subsistem sediaan farmasi. 28 . 6. subsistem sediaan farmasi. sumber daya kesehatan. sebagai suatu kesatuan yang terpadu dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. serta penggunaan obat yang rasional. Subsistem manajemen dan informasi kesehatan diselenggarakan guna menghasilkan fungsi-fungsi kebijakan kesehatan. Subsistem sediaan farmasi. alat kesehatan. Dengan manajemen kesehatan yang berhasil guna dan berdaya guna dapat diselenggarakan subsistem upaya kesehatan. subsistem sumber daya manusia kesehatan. dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. subsistem sumber daya manusia kesehatan. Subsistem pemberdayaan masyarakat diselenggarakan guna menghasilkan individu. informasi kesehatan.perlindungan masyarakat dari penggunaan yang salah dan penyalahgunaan obat. kelompok. dan masyarakat umum yang mampu berperan aktif dalam penyelenggaraan upaya kesehatan. alat kesehatan. 5. administrasi kesehatan. alat kesehatan. dan hukum kesehatan yang memadai dan mampu menunjang penyelenggaraan upaya kesehatan secara berhasil guna dan berdaya guna. pembiayaan kesehatan. dan makanan. Masyarakat yang berdaya akan berperan aktif dalam penyelenggaraan subsistem pembiayaan kesehatan. dan makanan saling terkait dengan subsistem upaya kesehatan. serta subsistem pemberdayaan masyarakat. manajemen dan informasi kesehatan. serta pemberdayaan masyarakat. subsistem pembiayaan kesehatan. sehingga upaya kesehatan dapat diselenggarakan dengan berhasil guna dan berdaya guna.

serta subsistem manajemen dan informasi kesehatan. hubungan SKN dengan lingkungan strategisnya sangat penting artinya. mengingat pembangunan kesehatan tidak dapat mencapai tujuannya tanpa memperhatikan dengan seksama interaksi dengan lingkungan strategis tersebut. Lingkungan tersebut terdapat di tingkat lokal. sosial budaya. Selain itu. maupun global. Untuk memperoleh kejelasan secara umum substansi berbagai unsur-unsur pembangunan kesehatan dan subsistem SKN serta tata hubungannya dengan lingkungan strategis yang lebih spesifik dan penting yang mempengaruhi SKN dapat dilihat pada skema di Gambar-2. regional. dan pertahanan keamanan. politik. 29 . nasional. Dalam kaitan ini.dan makanan. lingkungan termaksud dapat sebagai peluang maupun kendala. ekonomi. yang meliputi: ideologi.

dan bermutu untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. dan pemulihan. Tujuan Tujuan dari penyelenggaraan subsistem upaya kesehatan adalah terselenggaranya upaya kesehatan yang adil. pencegahan. pengobatan. terjangkau. pengobatan. 2. Unsur-unsur a. 3. dan pemulihan. Upaya Kesehatan Pelayanan kesehatan meliputi peningkatan. pencegahan. meliputi upaya peningkatan.BAB V CARA PENYELENGGARAAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. Pengertian Subsistem Upaya Kesehatan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan upaya kesehatan yang paripurna. 30 . terpadu. yang diselenggarakan guna menjamin tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. dan berkualitas. merata. SUBSISTEM UPAYA KESEHATAN 1. baik pelayanan kesehatan konvensional maupun pelayanan kesehatan yang terdiri dari pengobatan tradisional dan komplementer melalui pendidikan dan pelatihan dengan selalu mengutamakan keamanan dan efektifitas yang tinggi.

31 . termasuk swasta. dan penegakan hukum yang dilakukan oleh pemerintah bersama dengan organisasi profesi dan masyarakat. b. lisensi. sediaan farmasi dan alat kesehatan. maupun pemulihan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat.Upaya kesehatan diutamakan pada berbagai upaya yang mempunyai daya ungkit tinggi dalam pencapaian sasaran pembangunan kesehatan utamanya penduduk rentan. Pembinaan dan Pengawasan Upaya Kesehatan Pelayanan kesehatan harus diberikan berdasarkan standar pelayanan yang telah ditetapkan oleh pemerintah dengan mempertimbangkan masukan dari organisasi profesi. dan masyarakat miskin. baik peningkatan. akreditasi. anak. Pembinaan dan pengawasan upaya kesehatan dilakukan secara berjenjang melalui standarisasi. pengobatan. Sumber Daya Upaya Kesehatan Sumber daya upaya kesehatan terdiri dari SDM kesehatan. Fasilitas pelayanan kesehatan merupakan alat dan atau tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan. manusia usia lanjut. sarana dan prasarana. pencegahan. antara lain: ibu. serta manajemen dan sistem informasi kesehatan yang memadai guna terselenggaranya upaya kesehatan. c. termasuk fasilitas pelayanan kesehatan. biaya. bayi. sertifikasi.

Adil dan Merata Pemerintah wajib menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan yang berkeadilan dan merata untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di bidang kesehatan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan di luar negeri dalam kondisi tertentu. pengobatan hingga pemulihan. c. 4. b. Pelaksanaan penelitian dan pengembangan didasarkan pada masalah kesehatan prioritas. Prinsip a. sumber daya kesehatan. efektif dan sesuai. terjamin keamanannya bagi penerima dan pemberi upaya. pencegahan. dapat diterima masyarakat. Aman. serta mampu menghadapi tantangan global dan regional.d. Penelitian dan Pengembangan Upaya Kesehatan Penelitian dan pengembangan dilakukan utamanya untuk mendukung peningkatan mutu upaya kesehatan yang berhasil guna dan berdaya guna. dan Sesuai Kebutuhan Pelayanan kesehatan bagi masyarakat harus berkualitas. 32 . Bermutu. serta rujukan antar tingkatan upaya. Berkesinambungan dan Paripurna Upaya kesehatan bagi masyarakat diselenggarakan secara berkesinambungan dan paripurna meliputi upaya peningkatan. serta aspek terkait lainnya dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai.

Teknologi tepat guna berasas pada kesesuaian kebutuhan dan tidak bertentangan dengan etika. mental. Penyelenggaraan a. melibatkan semua pihak yang kompeten. 5. dan nilai agama. e. dengan tetap memperhatikan pengarus-utamaan gender. yaitu upaya kesehatan primer. Upaya kesehatan dilaksanakan dalam tingkatan upaya sesuai dengan kebutuhan medik dan kesehatan. Non diskriminatif Setiap penduduk harus mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan medis. dan 33 . upaya kesehatan sekunder. Teknologi Tepat Guna Upaya kesehatan menggunakan teknologi tepat guna yang berbasis bukti. Bekerja dalam Tim secara Cepat dan Tepat Upaya kesehatan dilakukan secara kerjasama tim. g. termasuk intelegensia dan sosial. budaya dan agama. Upaya Kesehatan Upaya kesehatan mencakup kesehatan fisik. bukan status sosial ekonomi dan tidak membeda-bedakan suku/ras. moral. Terdapat tiga tingkatan upaya. f. dilakukan secara cepat dengan ketepatan/presisi yang tinggi.d. Terjangkau Ketersediaan dan pembiayaan pelayanan kesehatan yang bermutu harus terjangkau oleh seluruh masyarakat.

sedang rujukan kesehatan dikaitkan dengan upaya pencegahan dan peningkatan kesehatan berupa sarana. Upaya kesehatan sekunder dan tersier adalah upaya kesehatan tingkat rujukan maupun rujukan tingkat lanjut. Upaya kesehatan primer adalah upaya kesehatan dimana terjadi kontak pertama secara perorangan atau masyarakat dengan pelayanan kesehatan melalui mekanisme rujukan timbal-balik. baik horisontal dan vertikal maupun struktural dan fungsional terhadap kasus penyakit atau masalah penyakit atau permasalahan kesehatan. dan operasional. terpadu.upaya kesehatan tersier. Rujukan upaya kesehatan adalah pelimpahan wewenang dan tanggung-jawab secara timbal balik. Upaya kesehatan diselenggarakan secara berkesinambungan. termasuk penanggulangan bencana dan pelayanan gawat darurat. spesimen. teknologi. Rujukan dibagi dalam rujukan medik yang berkaitan dengan pengobatan dan pemulihan berupa pengiriman pasien (kasus). 1) Upaya Kesehatan Primer Upaya Kesehatan Primer terdiri dari pelayanan kesehatan perorangan primer dan pelayanan kesehatan masyarakat primer. dan paripurna melalui sistem rujukan. 34 . dan pengetahuan tentang penyakit.

termasuk di dalamnya pelayanan kebugaran dan gaya hidup sehat (healthy life style).a) Pelayanan Kesehatan Perorangan Primer (PKPP) Pelayanan kesehatan perorangan primer adalah pelayanan kesehatan dimana terjadi kontak pertama secara perorangan sebagai proses awal pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan perorangan primer diselenggarakan oleh tenaga kesehatan yang dibutuhkan dan mempunyai kompetensi seperti yang ditetapkan sesuai ketentuan berlaku serta dapat dilaksanakan di rumah. tempat kerja. Pelayanan kesehatan perorangan primer memberikan penekanan pada pelayanan pengobatan. serta fasilitas kesehatan lainnya milik pemerintah. maupun swasta. masyarakat. Prosedur dan Kriteria (NSPK) pelayanan yang ditetapkan oleh Pemerintah dengan memperhatikan masukan dari organisasi profesi dan masyarakat. pemulihan tanpa mengabaikan upaya peningkatan dan pencegahan. maupun fasilitas kesehatan perorangan primer baik Puskesmas dan jaringannya. Sstandar. Pelayanan kesehatan perorangan primer diselenggarakan berdasarkan Norma. Pelayanan kesehatan perorangan primer dapat diselenggarakan sebagai pelayanan 35 . Dilaksanakan dengan dukungan pelayanan kesehatan perorangan sekunder dalam sistem rujukan yang timbal balik.

yang bergerak (ambulatory) atau menetap; dapat dikaitkan dengan tempat kerja, seperti klinik perusahaan; dan dapat disesuaikan dengan lingkungan atau kondisi tertentu (kesehatan matra, seperti: kesehatan haji, kesehatan kelautan, kesehatan penerbangan, kesehatan wisata). Pemerintah wajib menyediakan pelayanan kesehatan perorangan primer di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai kebutuhan, terutama bagi masyarakat miskin, daerah terpencil, perbatasan, pulau-pulau terluar dan terdepan, serta yang tidak diminati swasta. Pembiayaan pelayanan kesehatan perorangan primer untuk penduduk miskin dibiayai oleh pemerintah, sedangkan golongan ekonomi lainnya dibiayai dalam sistem pembiayaan yang diatur oleh pemerintah. Dalam pelayanan kesehatan perorangan termasuk pula pelayanan kesehatan berbasis masyarakat dalam bentuk seperti Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) dan pengobatan tradisional serta pengobatan alternatif yang secara ilmiah telah terbukti terjamin keamanan dan khasiatnya. b) Pelayanan Kesehatan Masyarakat Primer (PKMP) Pelayanan kesehatan masyarakat primer adalah pelayanan peningkatan dan pencegahan tanpa mengabaikan 36

pengobatan dan pemulihan dengan sasaran keluarga, kelompok, dan masyarakat. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat primer menjadi tanggung-jawab Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang pelaksanaan operasionalnya dapat didelegasikan kepada Puskesmas. Masyarakat termasuk swasta dapat menyelenggarakan pelayanan kesehatan masyarakat primer sesuai peraturan yang berlaku dan berkerjasama dengan pemerintah. Pembiayaan pelayanan kesehatan masyarakat primer ditanggung oleh pemerintah bersama masyarakat, termasuk swasta. Pemerintah wajib melaksanakan dan membiayai pelayanan kesehatan masyarakat primer yang berhubungan dengan prioritas pembangunan kesehatan melalui kegiatan perbaikan lingkungan, peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit dan kematian serta paliatif. Pelaksanaan pelayanan kesehatan masyarakat primer didukung kegiatan lainnya, seperti surveilans, pencatatan, dan pelaporan. Pemerintah dapat membentuk fasilitas kesehatan yang secara khusus ditugaskan untuk melaksanakan upaya kesehatan masyarakat sesuai keperluan. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat primer mendukung upaya 37

kesehatan berbasis masyarakat dan didukung oleh pelayanan kesehatan masyarakat sekunder. 2) Upaya Kesehatan Sekunder Upaya kesehatan sekunder adalah upaya kesehatan rujukan lanjutan, yang terdiri dari pelayanan kesehatan perorangan sekunder dan pelayanan kesehatan masyarakat sekunder. a) Pelayanan Kesehatan Sekunder (PKPS) Perorangan

Pelayanan kesehatan perorangan sekunder adalah pelayanan kesehatan spesialistik yang menerima rujukan dari pelayanan kesehatan perorangan primer, yang meliputi rujukan kasus, spesimen, dan ilmu pengetahuan serta wajib merujuk kembali ke fasilitas kesehatan yang merujuk. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder dilaksanakan oleh dokter spesialis atau dokter yang sudah mendapatkan pendidikan khusus dan mempunyai ijin praktik serta didukung tenaga kesehatan lainnya yang diperlukan. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder dilaksanakan di tempat kerja maupun fasilitas kesehatan perorangan sekunder baik Rumah Sakit setara kelas C serta fasilitas kesehatan lainnya milik pemerintah, masyarakat, maupun swasta. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder harus memberikan pelayanan kesehatan 38

dan sumber daya manusia kesehatan serta didukung oleh pelayanan kesehatan masyarakat tersier. teknologi. Dalam penanggulangan penyakit menular yang tidak terbatas pada suatu batas 39 . efektif. yakni melaksanakan pelayanan kesehatan masyarakat yang tidak sanggup atau tidak memadai dilakukan pada pelayanan kesehatan masyarakat primer.yang aman. efisien dan berbasis bukti (evidence based medicine) serta didukung pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan. sesuai. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder dapat dijadikan sebagai wahana pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan pendidikan dan pelatihan. b) Pelayanan Kesehatan Sekunder (PKMS) Masyarakat Pelayanan kesehatan masyarakat sekunder menerima rujukan kesehatan dari pelayanan kesehatan masyarakat primer dan memberikan fasilitasi dalam bentuk sarana. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat sekunder menjadi tanggungjawab Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan atau Provinsi sebagai fungsi teknisnya. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder yang bersifat tradisional dan komplementer dilaksanakan dengan berafiliasi dengan atau di rumah sakit pendidikan.

a) Pelayanan Kesehatan Perorangan Tersier (PKPT) Pelayanan kesehatan perorangan tersier menerima rujukan sub-spesialistik dari pelayanan kesehatan di bawahnya. seperti laboratorium kesehatan. Bagi fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat milik swasta harus mempunyai izin sesuai peraturan yang berlaku serta dapat bekerjasama dengan unit kerja Pemerintah Daerah.administrasi pemerintahan (lintas kabupaten/ kota). dan wajib merujuk kembali ke fasilitas kesehatan yang merujuk. dan lain-lain. maka tingkat yang lebih tinggi (provinsi) yang harus menanganinya. 40 . Fasilitas kesehatan penyelenggara pelayanan kesehatan masyarakat sekunder dibangun sesuai dengan standar. Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL). 3) Upaya Kesehatan Tersier Upaya kesehatan tersier adalah upaya kesehatan rujukan unggulan yang terdiri dari pelayanan kesehatan perorangan tersier dan pelayanan kesehatan masyarakat tersier. Pelaksana pelayanan kesehatan perorangan tersier adalah dokter sub-spesialis atau dokter spesialis yang telah mendapatkan pendidikan khusus atau pelatihan dan mempunyai izin praktik dan didukung oleh tenaga kesehatan lainnya yang diperlukan. Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK).

dan rujukan operasional. Pelaksana pelayanan kesehatan masyarakat tersier adalah Dinas Kesehatan Provinsi. Pemerintah mengembangkan berbagai pusat pelayanan unggulan nasional yang berstandar internasional untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan dan menghadapi persaingan global dan regional. Fasilitas pelayanan kesehatan perorangan tersier dapat didirikan melalui modal patungan dengan pihak asing sesuai dengan peraturan dan kebijakan yang berlaku.Pelayanan kesehatan perorangan tersier dilaksanakan di Rumah Sakit Umum. Rumah Sakit Khusus setara kelas A dan B. Pelayanan kesehatan perorangan tersier wajib melaksanakan penelitian dan pengembangan dasar maupun terapan dan dapat dijadikan sebagai pusat pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan. teknologi. seperti pusat radioterapi. Unit 41 . baik milik pemerintah maupun swasta yang mampu memberikan pelayanan kesehatan subspesialistik dan juga termasuk klinik khusus. b) Pelayanan Kesehatan Masyarakat Tersier (PKMT) Pelayanan kesehatan masyarakat tersier menerima rujukan kesehatan dari pelayanan kesehatan masyarakat sekunder dan memberikan fasilitasi dalam bentuk sarana. sumber daya manusia kesehatan.

kerja terkait di tingkat Provinsi. harus didukung dengan standar pelayanan yang selalu dikaji dalam periode tertentu sesuai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebutuhan. Departemen Kesehatan. 42 . b. dan masyarakat. Pemerintah menetapkan kebijakan dan NSPK upaya kesehatan dengan memperhatikan masukan dari Pemerintah Daerah. dan Unit kerja terkait di tingkat nasional. Organisasi Profesi. Pelaksanaan pelayanan kesehatan masyarakat tersier menjadi tanggung-jawab Dinas Kesehatan Provinsi dan Departemen Kesehatan yang didukung dengan kerja sama lintas sektor. Institut pelayanan kesehatan masyarakat tertentu secara nasional dapat dikembangkan untuk menampung kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat. Pemerintah Provinsi melakukan bimbingan dan pengendalian terhadap pelaksanaan kebijakan dan NSPK upaya kesehatan. Pembinaan dan Pengawasan 1) Pembinaan Upaya Kesehatan Pembinaan upaya kesehatan ditujukan untuk menjamin mutu pelayanan kesehatan.

dan Pemerintah Kabupaten/Kota sesuai dengan kewenangannya yang diatur dalam peraturan perundangan. berkewajiban melakukan pembinaan terhadap semua fasilitas pelayanan kesehatan termasuk swasta. Pembinaan upaya kesehatan dilakukan oleh pemerintah bersama dengan organisasi profesi dan masyarakat termasuk swasta. sehingga semua fasilitas pelayanan kesehatan wajib memberikan laporan kegiatannya. Hasil pengawasan digunakan untuk perlindungan terhadap masyarakat dan tenaga kesehatan selaku penyelenggara upaya kesehatan. Perizinan fasilitas upaya kesehatan menurut tingkatannya ditetapkan oleh Pemerintah. 43 . 2) Pengawasan Upaya Kesehatan Pengawasan ditujukan untuk menjamin konsistensi penyelenggaraan upaya kesehatan dan dilakukan secara intensif.Pemerintah Kabupaten/Kota melaksanakan kebijakan dan NSPK upaya kesehatan. Pemerintah. baik internal maupun eksternal dan juga dapat melibatkan masyarakat dan swasta. Pemerintah Provinsi. Pemerintah Provinsi. dan Pemerintah Kabupaten/Kota sebagai penanggung-jawab pelaksanaan pembangunan kesehatan di wilayahnya.

pengembangan dan pemanfaatan Iptek perlu diperluas untuk mendukung pembangunan kesehatan secara keseluruhan.c. 44 . dilakukan dengan membentuk pusatpusat penelitian dan pengembangan unggulan. dan pemerintah. meliputi: 1) Ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan dihasilkan dari penelitian dan pengembangan kesehatan yang diselenggarakan oleh pusatpusat penelitian dan pengembangan milik masyarakat. swasta. jaringan informasi. Pengembangan dan pemanfaatan Iptek. Sesuai dengan perkembangan dan keperluannya. Pemerintah melaksanakan penelitian data dasar kesehatan. Penelitian yang dilaksanakan oleh badan asing dan atau individu Warga Negara Asing (WNA) harus atas izin dan diawasi Pemerintah. dan dokumentasi Iptek kesehatan. Penelitian dan Pengembangan Pengembangan dan pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) yang memadai ditujukan untuk meningkatkan mutu upaya kesehatan. 2) Pemanfaatan dan penyebarluasan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan diatur oleh Pemerintah dengan dukungan organisasi profesi. seperti Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) secara berkala dan penelitian pengembangan upaya kesehatan.

SUBSISTEM PEMBIAYAAN KESEHATAN 1. teralokasi secara adil. Dana Dana digali dari sumber pemerintah baik dari sektor kesehatan dan sektor lain terkait. Unsur-unsur a. tersalurkan sesuai peruntukannya untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. dari masyarakat.B. Dana yang tersedia harus mencukupi dan dapat dipertanggungjawabkan serta dipertanggung-gugatkan. 2. merata dan termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna. dan pembelanjaan dana kesehatan untuk mendukung penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. 3. Pengertian Subsistem pembiayaan kesehatan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan berbagai upaya penggalian. maupun swasta serta sumber lainnya yang digunakan untuk mendukung pelaksanaan pembangunan kesehatan. Tujuan Tujuan dari penyelenggaraan subsistem pembiayaan kesehatan adalah tersedianya dana kesehatan dalam jumlah yang mencukupi. 45 . pengalokasian.

terus diupayakan peningkatan dan kecukupannya sesuai kebutuhan menuju sekurang-kurangnya 5% dari PDB atau 15% dari total anggaran pendapatan dan belanja setiap tahunnya. baik oleh pemerintah secara lintas sektor. dan pembelanjaan dana kesehatan untuk mendukung terselenggaranya pembangunan kesehatan. Alokasi dana yang berasal dari pemerintah untuk upaya kesehatan dilakukan melalui penyusunan anggaran pendapatan dan belanja. 46 . regulasi. swasta. maupun masyarakat yang mencakup mekanisme penggalian. Sumber Daya Sumber daya dari subsistem pembiayaan kesehatan. baik pusat maupun daerah. masyarakat. pengalokasian. standar. dan kelembagaan yang digunakan secara berhasil guna dan berdaya guna dalam upaya penggalian. Pengelolaan Dana Kesehatan Prosedur/mekanisme pengelolaan dana kesehatan adalah seperangkat aturan yang disepakati dan secara konsisten dijalankan oleh para pelaku subsistem pembiayaan kesehatan. Kecukupan Pembiayaan kesehatan pada dasarnya merupakan tanggung-jawab bersama pemerintah. sarana. dan pembelanjaan dana kesehatan. dan swasta.b. pengalokasian. meliputi: SDM pengelola. Prinsip a. c. 4.

dikelola secara adil. baik dari pemerintah. transparan. serta menjamin terpenuhinya ekuitas. berkelanjutan. penguatan kapasitas manajemen perencanaan anggaran dan kompetensi pemberi pelayanan kesehatan. Efektif dan Efisien Dalam menjamin efektifitas dan efisiensi penggunaan dana kesehatan.Pembiayaan kesehatan untuk masyarakat miskin dan tidak mampu merupakan tanggung-jawab pemerintah. c. berhasil guna dan berdaya guna. sistem pembayaran pada fasilitas kesehatan perlu dikembangkan menuju bentuk pembayaran prospektif. Dana kesehatan diperoleh dari berbagai sumber. maka pembelanjaannya dilakukan melalui kesesuaian antara perencanaan pembiayaan kesehatan. akuntabel. masyarakat. Adil dan Transparan Dana kesehatan yang terhimpun baik dari pemerintah maupun masyarakat dimanfaatkan secara adil dalam rangka menjamin terpeliharanya dan terlindunginya masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan. maupun swasta yang harus digali dan dikumpulkan serta terus ditingkatkan untuk menjamin kecukupan agar jumlahnya dapat sesuai dengan kebutuhan. b. Dana kesehatan digunakan secara bertanggungjawab dan bertanggung-gugat berdasarkan prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance). tersalurkan secara tepat memperhatikan subsidiaritas dan fleksibilitas. 47 .

mengalokasikannya secara rasional. swasta. pajak khusus. Perencanaan dan pengaturan pembiayaan kesehatan dilakukan melalui penggalian dan pengumpulan berbagai sumber dana yang dapat menjamin kesinambungan pembiayaan pembangunan kesehatan. serta berbagai sumber lainnya. Dalam hal pengaturan penggalian dan pengumpulan serta pemanfaatan dana yang bersumber dari iuran wajib. serta menggunakannya secara efisien dan efektif. dana APBN/APBD. Penggalian Dana Penggalian dana untuk pembangunan kesehatan yang bersumber dari pemerintah dilakukan melalui pajak umum. 5. a. dan sumber lainnya. dana dari masyarakat. Penggalian dana yang bersumber dari masyarakat dihimpun secara aktif oleh masyarakat sendiri atau dilakukan secara pasif 48 .transparan. Penyelenggaraan pada peraturan Subsistem pembiayaan kesehatan merupakan suatu proses yang terus-menerus dan terkendali. Dana yang bersumber dari swasta dihimpun dengan menerapkan prinsip kemitraan antara pemerintah dan masyarakat yang didukung dengan pemberian insentif. dan mengacu perundangan yang berlaku. bersumber dari pemerintah. pemerintah harus melakukan sinkronisasi dan sinergisme antara sumber dana dari iuran wajib. bantuan atau pinjaman yang tidak mengikat. masyarakat. dan sumber lainnya. agar tersedia dana kesehatan yang mencukupi dan berkesinambungan.

pulau-pulau terluar dan terdepan. sekunder. Penggalian dana untuk pelayanan kesehatan perorangan dilakukan dengan cara penggalian dan pengumpulan dana masyarakat dan didorong pada bentuk jaminan pemeliharaan kesehatan. daerah terpencil. termasuk program-program kesehatan yang mempunyai daya ungkit tinggi terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Dana pemerintah untuk pembangunan kesehatan diarahkan untuk membiayai upaya kesehatan primer. 49 .dengan memanfaatkan berbagai dana yang sudah terkumpul di masyarakat. perbatasan. Hal ini termasuk program bantuan sosial dari pemerintah untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin dan tidak mampu (Jamkesmas). Pengalokasian dana yang dihimpun dari masyarakat dilaksanakan berdasarkan asas gotong-royong sesuai dengan potensi dan kebutuhannya. dan tersier dengan mengutamakan masyarakat rentan dan miskin. Pengalokasian Dana Pengalokasian dana pemerintah dilakukan melalui perencanaan anggaran dengan mengutamakan upaya kesehatan prioritas secara bertahap dan terus ditingkatkan jumlah pengalokasiannya sehingga sesuai dengan kebutuhan. b. serta yang tidak diminati swasta. Pengalokasian dana untuk pelayanan kesehatan perorangan dilakukan melalui kepesertaan dalam jaminan pemeliharaan kesehatan yang diatur oleh pemerintah.

Pengertian Subsistem SDM Kesehatan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan upaya pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan. Pembelanjaan dana kesehatan diarahkan terutama melalui jaminan pemeliharaan kesehatan. serta menerapkan prinsip penyelenggaraan tata pemerintahan yang baik (good governance). serta pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan untuk mendukung penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. pendayagunaan. yang meliputi: upaya perencanaan. baik yang bersifat wajib maupun sukarela serta dalam upaya peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan. Pembelanjaan Pemanfaatan dana kesehatan dilakukan dengan memperhatikan aspek teknis maupun alokatif sesuai peruntukannya secara efisien dan efektif untuk terwujudnya pengelolaan pembiayaan kesehatan yang transparan. SUBSISTEM SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN 1. pengadaan. C.c. 50 . akuntabel. Sumber Daya Manusia Kesehatan adalah tenaga kesehatan profesi termasuk tenaga kesehatan strategis dan tenaga kesehatan non profesi serta tenaga pendukung/penunjang kesehatan yang terlibat dan bekerja serta mengabdikan dirinya seperti dalam upaya dan manajemen kesehatan.

Unsur-unsur a. dana. baik tenaga kesehatan maupun tenaga pendukung/penunjang kesehatan. dan berdedikasi tinggi dalam melakukan tugasnya. dan wajib memiliki kompetensi untuk mengabdikan dirinya di bidang kesehatan.2. Dalam sumber daya ini juga termasuk sumber daya manusia. b. Tujuan Tujuan dari penyelenggaraan subsistem SDM Kesehatan adalah tersedianya SDM Kesehatan yang kompeten sesuai kebutuhan yang terdistribusi secara adil dan merata serta didayagunakan secara optimal dalam mendukung penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Sumber Daya Pengembangan Pemberdayaan SDM Kesehatan dan Sumber daya pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan adalah sumber daya pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan SDM Kesehatan. berakhlak luhur. serta mempunyai etika. cara 51 . 3. Sumber Daya Kesehatan) Manusia Kesehatan (SDM Sumber daya manusia Kesehatan. modul dan kurikulum serta metode pendidikan dan latihan. yang meliputi: berbagai standar kompetensi. mempunyai hak untuk memenuhi kebutuhan dasarnya (hak asasi) dan sebagai makhluk sosial. serta institusi/fasilitas pendidikan dan pelatihan yang menyediakan sarana dan prasarana pendidikan dan pelatihan. sumber daya manusia pendidikan dan pelatihan.

Prinsip a. c. pendayagunaan. pengadaan. serta pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan. memberikan dukungan. 4. Perencanaan SDM Kesehatan adalah upaya penetapan jenis. Penyelenggaraan Pengembangan Pemberdayaan SDM Kesehatan dan Penyelenggaraan pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan meliputi upaya perencanaan. jumlah. Pendayagunaan SDM Kesehatan adalah upaya pemerataan dan pemanfaatan serta pengembangan SDM Kesehatan. serta pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan. Adil dan Merata serta Demokratis Pemenuhan ketersediaan SDM Kesehatan ke seluruh wilayah Indonesia harus berdasarkan 52 . pendayagunaan. Pengadaan SDM Kesehatan adalah upaya yang meliputi pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan SDM Kesehatan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan kesehatan. Pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan adalah upaya untuk mengarahkan. dan distribusi tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan pembangunan kesehatan.atau metode. serta peralatan dan perlengkapan untuk melakukan perencanaan. kualifikasi. serta mengawasi pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan.

tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia. d.pemerataan dan keadilan sesuai dengan potensi dan kebutuhan pembangunan kesehatan serta dilaksanakan secara demokratis. Objektif dan Transparan Pembinaan dan pengawasan serta pendayagunaan (termasuk pengembangan karir) SDM Kesehatan dilakukan secara objektif dan transparan berdasarkan prestasi kerja dan disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan kesehatan. dan kemajemukan bangsa. c. Hierarki dalam SDM Kesehatan Pengembangan dan pemberdayan SDM Kesehatan dalam mendukung pembangunan kesehatan perlu memperhatikan adanya susunan hierarki SDM Kesehatan yang ditetapkan berdasarkan jenis dan tingkat tanggung-jawab. dan berdaya saing tinggi. serta keterampilan masing-masing SDM Kesehatan. kompetensi. Kompeten dan Berintegritas Pengadaan SDM Kesehatan melalui pendidikan dan pelatihan yang sesuai standar pelayanan dan standar kompetensi serta menghasilkan SDM yang menguasai Iptek. mandiri. 53 . nilai budaya. bertanggung-jawab. profesional. beriman. nilai keagamaan. b. bertaqwa.

Perencanaan SDM Kesehatan dilakukan dengan mendasarkan pada fakta (berbasis bukti) melalui peningkatan sistem informasi SDM Kesehatan. Perencanaan SDM Kesehatan Penyusunan rencana kebutuhan SDM Kesehatan dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan SDM Kesehatan yang diutamakan. Pemerintah dengan melibatkan organisasi profesi dan masyarakat menetapkan standar kompetensi dan standar pendidikan yang berlaku secara nasional.5. baik dalam upaya kesehatan primer maupun upaya kesehatan sekunder serta tersier. b. Perencanaan SDM Kesehatan yang meliputi jenis. dan kualifikasinya dilakukan dengan meningkatkan dan memantapkan keterkaitannya dengan unsur lainnya dalam manajemen pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan dengan memperhatikan tujuan pembangunan kesehatan dan kecenderungan permasalahan kesehatan di masa depan. Penyelenggaraan a. Pengadaan SDM Kesehatan Standar pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan SDM Kesehatan mengacu kepada standar pelayanan dan standar kompetensi SDM Kesehatan dan perlu didukung oleh etika profesi SDM Kesehatan tersebut. Pemerintah bertanggung-jawab mengatur pendirian institusi pendidikan dan pembukaan program 54 . jumlah.

Penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan harus responsif gender yang berorientasi kepada kepentingan peserta didik (“student centered”). menentukan kompetensi umum. serta menentukan sertifikasi institusi pendidikan dan pelatihan profesi. Kompetensi tenaga kesehatan harus setara dengan kompetensi tenaga kesehatan di dunia internasional. prosedur penetapan kompetensi khusus tenaga kesehatan. sehingga registrasi tenaga kesehatan lulusan dalam negeri dapat diakui di dunia internasional.pendidikan tenaga kesehatan yang dibutuhkan dalam pembangunan kesehatan. Penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan harus memenuhi akreditasi sesuai dengan peraturan perundangan. dinamika pasar baik di dalam maupun di luar negeri. dan kemampuan produksi tenaga kesehatan dengan yang sudah ada. Pemerintah dengan melibatkan organisasi profesi membentuk badan regulator profesi yang bertugas menyusun berbagai peraturan persyaratan. Institusi/fasilitas pelayanan kesehatan yang terakreditasi wajib mendukung penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan. 55 . Pendirian institusi pendidikan dan pembukaan program pendidikan ditekankan untuk menghasilkan lulusan tenaga kesehatan yang bermutu dan dapat bersaing secara global dengan memperhatikan keseimbangan antara kebutuhan.

Dalam rangka penempatan tenaga kesehatan untuk kepentingan pelayanan publik dan pemerataan. daerah tertinggal.c. terbuka. pemerintah melakukan berbagai pengaturan untuk memberikan imbalan material atau non material kepada tenaga kesehatan untuk bekerja di bidang tugas atau daerah yang tidak diminati. Pemerintah. serta daerah bencana dan rawan konflik. Pemerintah dan swasta mengembangkan dan menerapkan pola karir tenaga kesehatan yang dilakukan secara transparan. seperti: daerah terpencil. Pemerintah bersama organisasi profesi dan swasta mengupayakan penyelenggaraan pendidikan 56 . pulau-pulau terluar dan terdepan. Pendayagunaan SDM Kesehatan Pemerintah Pusat bekerjasama dengan Pemerintah Daerah melakukan upaya penempatan tenaga kesehatan yang ditujukan untuk mencapai pemerataan yang berkeadilan dalam pembangunan kesehatan. daerah perbatasan. baik Pusat maupun Daerah dan Swasta melakukan rekrutmen dan penempatan tenaga kesehatan dan tenaga pendukung kesehatan yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan pembangunan kesehatan dan atau menjalankan tugas dan fungsi institusinya. dan lintas institusi melalui jenjang jabatan struktural dan jabatan fungsional. Pemerintah Daerah bersama UPT-nya dan masyarakat melakukan rekrutmen dan penempatan tenaga penunjang (tenaga masyarakat) yang diperlukan untuk mendukung UKBM sesuai dengan kebutuhan pembangunan kesehatan.

Dalam rangka pendayagunaan SDM Kesehatan yang sesuai kebutuhan pembangunan kesehatan. modal. dan pengalaman yang mereka punyai tidak merugikan SDM Kesehatan Indonesia. mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan tenaga kesehatan lulusan dalam negeri.berkelanjutan dalam rangka peningkatan karir dan profesionalisme tenaga kesehatan. 57 . dalam rangka alih teknologi dan ditetapkan melalui persyaratan sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Pendayagunaan tenaga kesehatan untuk keperluan luar negeri diatur oleh lembaga pemerintah dalam rangka menjamin keseimbangan antara kemampuan pengadaan tenaga kesehatan di Indonesia dan kebutuhan tenaga kesehatan Indonesia di luar negeri serta melindungi hak-hak dan hak asasi manusia tenaga kesehatan Indonesia di luar negeri. Dalam rangka mengantisipasi globalisasi perlu dilakukan pengaturan agar masuknya SDM Kesehatan warga negara asing dengan teknologi. diantaranya melalui pelatihan yang terakreditasi yang dilaksanakan oleh institusi penyelenggara pelatihan yang terakreditasi. Tenaga kesehatan Warga Negara Indonesia lulusan institusi luar negeri yang telah memperoleh pengakuan dari Departemen yang bertanggungjawab atas pendidikan nasional. perlu dilakukan peningkatan kualitas SDM Kesehatan secara terus menerus (pra-jabatan/”preservice” dan “in-service”). Pendayagunaan tenaga kesehatan warga negara asing hanya dilakukan pada tingkat konsultan pada bidang tertentu.

d. Pembinaan dan pengawasan praktik profesi bagi tenaga kesehatan profesi dilakukan melalui sertifikasi. uji kompetensi. Pembinaan dan Pengawasan SDM Kesehatan Pembinaan penyelenggaraan pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan di berbagai tingkatan dan atau organisasi memerlukan komitmen yang kuat dari pemerintah dan dukungan peraturan perundang-undangan mengenai pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan tersebut. dan pemberian lisensi bagi tenaga kesehatan yang memenuhi syarat. Perizinan/lisensi tenaga kesehatan profesi untuk melakukan praktik dalam rangka memperoleh penghasilan secara mandiri dari profesinya diberikan oleh instansi kesehatan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota setelah mendapatkan rekomendasi dari organisasi profesi terkait. Sertifikasi tenaga kesehatan dalam bentuk ijazah dan sertifikat kompetensi diberikan Departemen Kesehatan setelah melalui uji kompetensi yang dilaksanakan organisasi profesi terkait. Pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan dilakukan melalui sistem karier. Registrasi tenaga kesehatan untuk dapat melakukan praktik profesi di seluruh wilayah Indonesia diberikan oleh Departemen Kesehatan. dan insentif untuk hidup layak sesuai dengan tata nilai di 58 . yang dalam pelaksanaannya dapat dilimpahkan kepada Pemerintah Daerah Provinsi. registrasi. penggajian.

dan makanan yang terjamin aman. mutu sediaan farmasi. obat tradisional. ALAT KESEHATAN. dan kosmetika. khasiat/manfaat. D. Tujuan Tujuan penyelenggaraan subsistem sediaan farmasi. DAN MAKANAN 1. alat kesehatan. Dalam hal terjadi pelanggaran disiplin oleh tenaga kesehatan maupun tenaga pendukung/penunjang kesehatan yang bekerja dalam bidang kesehatan dan menyebabkan kerugian pada pihak lain.masyarakat dan beban tugasnya agar dapat bekerja secara profesional. maka sanksi administrasi maupun pidana harus dilakukan dalam rangka melindungi masyarakat maupun tenaga yang bersangkutan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. bahan obat. Pengertian Subsistem sediaan farmasi. dan khusus untuk obat dijamin ketersediaan dan 59 . alat kesehatan. Sediaan farmasi adalah obat. berkhasiat/bermanfaat dan bermutu. alat kesehatan. dan makanan. dan makanan adalah tersedianya sediaan farmasi. Pengawasan SDM Kesehatan dilakukan untuk mencegah terjadinya pelanggaran disiplin melalui pengawasan melekat dan pengawasan profesi. 2. alat kesehatan. SUBSISTEM SEDIAAN FARMASI. dan makanan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan berbagai upaya yang menjamin keamanan.

makanan adalah komoditi yang mempengaruhi kesehatan masyarakat. dan makanan harus dengan jumlah yang cukup serta mempunyai standar kompetensi yang sesuai dengan etika profesi. dan makanan adalah peralatan atau tempat yang harus memenuhi Norma. bentuk. baik di fasilitas produksi. dan Kriteria yang telah ditetapkan. Fasilitas sediaan farmasi. 3. dan fungsinya. jumlah. alat kesehatan. serta makanan meliputi jenis dan manfaat. sekunder. b.keterjangkauannya guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. jumlah. Komoditi Sediaan farmasi dan alat kesehatan adalah komoditi untuk penyelenggaraan upaya kesehatan. Unsur-unsur a. alat kesehatan tersedia dalam jenis. Pembiayaan yang cukup dari pemerintah diperlukan untuk menjamin ketersediaan dan keterjangkauan obat. Sediaan farmasi harus tersedia dalam jenis. Standar. Prosedur. dan tersier. distribusi maupun fasilitas pelayanan kesehatan primer. alat kesehatan. bentuk. Sumber Daya Sumber Daya Manusia sediaan farmasi. dan khasiat yang tepat. 60 . terutama obat dan alat kesehatan esensial bagi masyarakat miskin. dosis.

aman. ditujukan untuk menjamin setiap sediaan farmasi. dan mutu yang ditetapkan yang didukung oleh Laboratorium Pengujian yang handal.c. 61 . Pemberdayaan Masyarakat Masyarakat senantiasa dilibatkan secara aktif agar sadar dan dapat lebih berperan dalam penyediaan dan penggunaan sediaan farmasi. alat kesehatan dan makanan. alat kesehatan. dan kriteria yang ditetapkan. dan bermutu di semua sarana pelayanan kesehatan dengan mengikuti norma. prosedur. dan makanan yang beredar memenuhi standar dan persyaratan keamanan. standar. dan makanan serta terhindar dari penggunaan yang salah dan penyalahgunaan. Pengawasan Pengawasan yang komprehensif dengan melaksanakan regulasi yang baik (Good Regulatory Practices). secara rasional. khasiat/manfaat. alat kesehatan. e. d. Pelayanan Kefarmasian Pelayanan kefarmasian ditujukan untuk dapat menjamin penggunaan sediaan farmasi dan alat kesehatan. Penyediaan unit pelayanan publik bidang kesehatan untuk menangani berbagai masalah yang mudah diakses oleh masyarakat dan menerima keluhan atau pertanyaan terkait dengan sediaan farmasi.

dan mutu produk sesuai dengan fungsi usahanya dan peraturan yang berlaku. alat kesehatan.4. Rasional Setiap pelaku pelayanan kesehatan harus selalu bertindak berdasarkan bukti ilmiah terbaik dan prinsip tepat biaya (cost-effective) serta tepat manfaat (cost-benefit) dalam pemanfaatan obat agar memberikan hasil yang optimal. dan Terjangkau Obat merupakan kebutuhan dasar manusia yang tidak tergantikan dalam pelayanan kesehatan. Merata. alat kesehatan. dan berbasis bukti ilmiah. sehingga obat tidak boleh diperlakukan sebagai komoditas ekonomi semata. Berkhasiat. Transparan dan Bertanggung-jawab Masyarakat berhak untuk mendapatkan informasi yang benar. b. Bermanfaat. dan pengendalian secara profesional. Sedangkan pelaku usaha bertanggungjawab atas keamanan. dan pelaku pelayanan kesehatan. bertanggungjawab. dan Bermutu Pemerintah menjamin keamanan. Tersedia. khasiat/manfaat. c. dan makanan dari produsen. dan mutu sediaan farmasi. Prinsip a. distributor. dan tidak menyesatkan tentang sediaan farmasi. Aman. 62 . dan makanan melalui pembinaan. transparan. lengkap. independen. pengawasan. manfaat. khasiat. d.

utamanya bahan baku obat dan obat tradisional harus dikelola secara profesional. Pemerintah dengan pengaturan khusus menjamin tersedianya obat bagi masyarakat di daerah terpencil. serta daerah bencana.e. Kemandirian Potensi sumber daya dalam negeri. Keterjangkauan Obat dan Alat Kesehatan dan Penyediaan dan pelayanan obat berpedoman pada DOEN untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan. daerah rawan konflik dan obat yang tidak mempunyai nilai ekonomis (orphan drug). daerah tertinggal dan perbatasan. Pemerintah mengatur harga obat dan alat kesehatan. sistematis. 5. Pemerataan. dan berkesinambungan sehingga memiliki daya saing tinggi dan mengurangi ketergantungan dari sumber daya luar negeri serta menjadi sumber ekonomi masyarakat dan devisa negara. Penyelenggaraan a. 63 . Upaya Ketersediaan. Pemerintah melakukan pengendalian dan pengawasan terhadap pengadaan serta penyaluran untuk menjamin ketersediaan dan pemerataan obat serta alat kesehatan.

khasiat/manfaat.b. standar. survailan dan vijilan setelah pemasaran. dan Mutu Sediaan Farmasi. inspeksi fasilitas produksi dan distribusi. dan Makanan serta Perlindungan Masyarakat dari Penggunaan yang Salah dan Penyalahgunaan Obat dan Alat Kesehatan Upaya jaminan keamanan. dan kriteria mengenai produk dan fasilitas produksi dan distribusi sediaan farmasi. dilakukan melalui penilaian keamanan. khasiat/manfaat. produksi dan distribusi sediaan farmasi. dan makanan merupakan tugas bersama yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. pelaku usaha. 64 . alat kesehatan. dan mutu produk melalui proses pendaftaran dan evaluasi. ekspor. Upaya Jaminan Keamanan. dan pengendalian impor. dan makanan sesuai dengan perkembangan Iptek dan standar internasional. pengawasan. serta pemantauan label atau penandaan. dan makanan merupakan suatu kesatuan yang utuh. dan mutu sediaan farmasi. Pelaksanaan regulasi yang baik (Good Regulatory Practices) didukung oleh sumber daya yang memadai secara kuantitas maupun kualitas. pengambilan dan pengujian sampel. alat kesehatan. independen. laboratorium pengujian mutu yang kompeten. Pengembangan dan penyempurnaan norma. iklan dan promosi. sistem manajemen mutu. kerjasama internasional. prosedur. Pembinaan. yaitu pemerintah. akses terhadap ahli dan referensi ilmiah. Khasiat/manfaat. Alat Kesehatan. dan masyarakat secara terpadu dan bertanggung-jawab. dan transparan. alat kesehatan.

Mendorong masyarakat rentan terutama anak dan ibu hamil. sehingga masyarakat memperoleh informasi yang benar. Perlindungan masyarakat terhadap pencemaran sediaan farmasi dari bahan-bahan yang dilarang. transparan. atau penggunaan bahan tambahan makanan yang tidak sesuai persyaratan. Perlindungan masyarakat dari penyalahgunaan Narkotika. dan tidak menyesatkan mengenai penggunaan sediaan farmasi.Dalam rangka menghindarkan dampak buruk dari penggunaan alat kesehatan. dan Zat Adiktif (Napza) harus merupakan upaya yang terpadu antara upaya represif. serta manusia usia lanjut untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi tinggi dan memenuhi persyaratan keamanan. Upaya Penyelenggaraan Pelayanan Kefarmasian Penyelengaraan pelayanan kefarmasian di semua sarana pelayanan kesehatan dilakukan dengan: 65 . c. Psikotropika. mutu dan gizi. dan makanan. serta lingkungannya. kuratif. menyeluruh. termasuk pemberantasan produk palsu dan ilegal. maka upaya jaminan perlindungan keamanan diberikan kepada pengguna dan operator alat kesehatan. dan rehabilitatif. masyarakat. Penegakan hukum yang konsisten dengan efek jera yang tinggi untuk setiap pelanggaran. alat kesehatan. Peningkatan kesadaran/kemandirian masyarakat melalui penyediaan dan penyebaran informasi terpercaya termasuk informasi harga obat. preventif.

6) Penyediaan informasi obat yang benar. sekunder. 5) Penerapan pendekatan farmako ekonomi melalui analisis biaya efektif dan biaya manfaat pada seleksi obat yang digunakan di semua tingkat pelayanan kesehatan. 3) Pengembangan mekanisme pemantauan ketersediaan obat esensial dan langkah-langkah perbaikan di setiap fasilitas pelayanan kesehatan. 4) Pemberdayaan Komite Farmasi dan Terapi (KFT) untuk meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian melalui penggunaan obat secara rasional. memberikan informasi dan saran serta memonitor penggunaan obat oleh pasien. Penyelenggaraan upaya penggunaan obat yang rasional dilakukan antara lain melalui kegiatan berikut: 1) Penerapan DOEN dalam upaya pelayanan kesehatan tingkat primer. 3) Memberikan kontribusi dalam peningkatan peresepan yang rasional dan ekonomis serta penggunaan yang tepat. Upaya Penggunaan Obat yang Rasional Penggunaan obat yang rasional merupakan salah satu langkah untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik dan mengefisienkan biaya pengobatan. dan tersier. menjamin mutu. melalui pemanfaatan pedoman terapi dan formularium berbasis bukti ilmiah terbaik. dan 4) Memberikan pelayanan kefarmasian yang sesuai untuk setiap individu.1) Mengutamakan kesejahteraan pasien dalam segala situasi dan kondisi. objektif dan lengkap melalui penyusunan Informasi Obat Nasional Indonesia 66 . d. 2) Audit dan umpan balik dalam penggunaan obat rasional. 2) Melaksanakan kegiatan inti farmasi yang meliputi pengelolaan obat dan produk kesehatan lainnya.

Langkah-langkah yang perlu diselenggarakan meliputi: 1) Pemilihan produk yang tepat untuk pengembangan produksi dalam negeri dengan mempertimbangkan potensi sumber daya dalam negeri. antara lain promosi penggunaan obat generik dan pengelolaan berbagai penyakit secara tepat. perawat dan tenaga kesehatan lainnya dalam memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat sehingga dapat meningkatkan kemanfaatan dan keamanan penggunaan obat termasuk penggunaan obat yang rasional. Informasi dan Edukasi (KIE). seperti penyakit diare. 3) Pembinaan industri farmasi dalam negeri agar mampu melakukan produksi sesuai dengan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dan dapat melakukan usahanya dengan efektif dan efisien sehingga mempunyai daya saing yang tinggi. Upaya Kemandirian Sediaan Farmasi melalui Pemanfaatan Sumber Daya Dalam Negeri Pengembangan dan pemanfaatan sumber daya alam Indonesia perlu didorong secara berkelanjutan untuk digunakan sebagai obat tradisional demi peningkatan pelayanan kesehatan dan ekonomi. 2) Pemerintah menciptakan iklim yang kondusif bagi investasi di bidang farmasi melalui persaingan usaha yang adil. e. pemberian insentif kebijakan perpajakan dan perbankan. Informasi kepada masyarakat. apoteker. serta 8) Pemberdayaan SDM Kesehatan dalam melaksanakan penggunaan obat rasional di semua fasilitas pelayanan kesehatan. dan lain-lain. serta kepastian proses perijinan. 7) Pemberdayaan masyarakat melalui Komunikasi.(IONI) akan sangat mendukung para profesi kesehatan seperti: dokter. 4) Komitmen semua 67 .

bermutu tinggi. E. pengaturan hukum kesehatan. Penyelenggaraan subsistem sediaan farmasi. Pengertian MANAJEMEN DAN INFORMASI Subsistem manajemen dan informasi kesehatan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan yang menghimpun berbagai upaya kebijakan kesehatan. seperti kemauan industri farmasi domestik untuk memprioritaskan penggunaan bahan baku produksi dalam negeri. pengelolaan data dan informasi kesehatan yang mendukung subsistem lainnya dari SKN guna menjamin tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. dan makanan harus melibatkan seluruh pelaku baik secara perorangan maupun bersama dan terpadu antara pemerintah. administrasi kesehatan. alat kesehatan. 68 . 5) Peningkatan penelitian dan pengembangan bahan baku obat. 6) Pengembangan pemanfaatan obat tradisional yang aman. dan masyarakat. dan obat tradisional untuk menunjang pembangunan kesehatan. swasta/dunia usaha. para pelayan kesehatan dan konsumen. penerimaan fasilitas pelayanan kesehatan. obat. dan dimanfaatkan secara luas baik untuk pengobatan sendiri oleh masyarakat maupun digunakan dalam pelayanan kesehatan formal.pemangku kepentingan. memiliki khasiat nyata yang teruji secara ilmiah. SUBSISTEM KESEHATAN 1.

Unsur-unsur a. dan masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan dengan memperhatikan kerangka desentralisasi dan otonomi daerah. penerapan.2. c. dan penegakan aturan tersebut dalam rangka memberikan perlindungan. berbasis bukti dan operasional. berdaya guna. dan pengendalian serta pengawasan dan pertanggung-jawaban penyelenggaraan pembangunan kesehatan. terselenggaranya fungsi-fungsi administrasi kesehatan yang berhasil guna. Administrasi Kesehatan Administrasi kesehatan merupakan kegiatan perencanaan. terutama kepada individu dan masyarakat dan sebagai sarana untuk 69 . serta didukung oleh hukum kesehatan dan sistem informasi kesehatan untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. swasta. Tujuan Tujuan subsistem manajemen dan informasi kesehatan adalah terwujudnya kebijakan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan. baik pemerintah. 3. dan akuntabel. Kebijakan Kesehatan Kebijakan kesehatan merupakan pedoman yang menjadi acuan bagi semua pelaku pembangunan kesehatan. b. pelaksanaan. Hukum Kesehatan Hukum kesehatan merupakan keseluruhan peraturan perundangan di bidang kesehatan dan segala tindakan penyebarluasan.

e. Inovasi atau Kreativitas Penyelenggaraan manajemen dan informasi kesehatan harus mampu menciptakan daya tahan dan kesinambungan kinerja sistem melalui inovasi/kreatifitas dalam menghadapi perubahan dan tantangan pembangunan kesehatan dengan lebih baik. penyelenggaraan pembangunan d. b. Prinsip a. Kepemimpinan yang Visioner Bidang Kesehatan Kepemimpinan yang visioner bidang kesehatan adalah kepemimpinan yang mempunyai visi. Informasi Kesehatan Informasi kesehatan merupakan hasil pengumpulan dan pengolahan data sebagai masukan bagi pengambilan keputusan di bidang kesehatan. dana. sarana prasarana. Sumber daya Manajemen Informasi Kesehatan Kesehatan dan Sumber daya manajemen kesehatan dan informasi kesehatan. standar. meliputi: SDM. keteladanan. 70 . dan kelembagaan yang digunakan secara berhasil guna dan berdaya guna dalam upaya mendukung terselenggaranya pembangunan kesehatan. dan bertekad dalam pembangunan kesehatan. 4.memfasilitasi kesehatan.

Perencanaan kebijakan. a. Sinergisme yang Dinamis Pendekatan manajemen kesehatan merupakan kombinasi dari pendekatan sistem. hukum. dan transparansi sangat penting.c. dan anggaran perlu disusun secara terpadu. interelasi dan interdependensi yang dinamis di antara para pelaku pembangunan kesehatan. Dalam manajemen ini penting adanya interaksi. 5. pembangunan kesehatan menjadi salah satu dari arus utama pembangunan nasional. program. Dalam manajemen kesehatan ini prinsip efisiensi. Standar. Untuk itu. administrasi. dan informasi kesehatan. Prosedur. Penyelenggaraan Dalam rangka mencapai Tujuan Nasional. kontingensi. subsistem manajemen dan informasi kesehatan diselenggarakan dengan mensinergikan unsur kebijakan. efektifitas. dan sinergi yang dinamis. dan Kriteria (NSPK) kebijakan pembangunan kesehatan nasional. d. Kesesuaian dengan Sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia Manajemen dan informasi kesehatan menjadi pendukung utama dalam pelaksanaan desentralisasi dengan mempertimbangkan komitmen global dalam pembangunan kesehatan. Kebijakan Kesehatan Penyelenggaraan proses kebijakan kesehatan dilakukan secara optimal dengan mengacu kepada Norma. penetapan skala prioritas berbasis bukti dari 71 . transparansi.

berorientasi pada kepentingan masyarakat. b. Administrasi Kesehatan Penyelenggaraan administrasi kesehatan meliputi perencanaan. dan pembiayaan yang mencukupi. Pusat dan Daerah dengan mempertimbangkan desentralisasi dan memperhatikan peraturan perundangan yang berlaku. Hukum Kesehatan Penyelenggaraan hukum kesehatan meliputi penyusunan peraturan/regulasi dan harmonisasi di tingkat pusat dan daerah. terpadu berlandaskan pada arah kebijakan pembangunan nasional dengan memperhatikan NSPK dan prioritas pembangunan kesehatan. serta pengawasan dan pertanggung-jawaban didasarkan atas urusan wajib bidang kesehatan yang dilaksanakan secara berdaya guna dan berhasil guna. didukung dengan SDM yang kompeten. responsif gender. pelaksanaan dan pengendalian.berbagai sumber yang tersedia. melalui proses pengkajian dan perumusan kebijakan yang melibatkan masyarakat dan berbagai stakeholder terkait. didukung SDM yang kompeten. untuk dilaksanakan secara bersama oleh seluruh pelaku pembangunan kesehatan secara sinergi dan dinamis. peningkatan kesadaran hukum bagi aparatur kesehatan dan masyarakat. berorientasi pada kepentingan masyarakat. pelayanan advokasi hukum. dilaksanakan secara sinergi yang dinamis antara sektor kesehatan dengan sektor lain. c. dilaksanakan dengan menjunjung tinggi penyelenggaraan tata pemerintahan yang baik (good governance). serta 72 . memanfaatkan teknologi informasi.

sosialisasi. dilakukan melalui koordinasi. dan sinkronisasi informasi kesehatan secara sinergi yang dinamis dalam rangka penyediaan data dan informasi terkini. valid. 73 . keadilan. akurat. serta penerapan pengetahuan dan teknologi kesehatan. cepat.pembinaan dan pengawasan. dilaksanakan dengan mempertimbangkan perlindungan bagi masyarakat dan pemberi pelayanan. SUBSISTEM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT 1. serta pengembangan sistem informasi kesehatan terpadu. transparan. F. integrasi. kesetaraan. termasuk regulasi kesehatan internasional. pengolahan dan analisis data. dengan memperhatikan kecukupan data termasuk data terpilah yang responsif gender. Pengertian Subsistem pemberdayaan masyarakat adalah bentuk dan cara penyelenggaraan berbagai upaya kesehatan. pengembangan dan penelitian kesehatan. penerapan. d. peraturan. dengan dukungan pendayagunaan teknologi. serta aspek kerahasiaan yang berlaku di bidang kesehatan. dan penegakan hukum perlu dilengkapi dan ditata dengan memperhatikan perkembangan dan perubahan lingkungan internal dan eksternal. data dari fasilitas kesehatan dan masyarakat (seperti Riset Kesehatan Dasar dan surveilans). manajemen informasi kesehatan. Informasi Kesehatan Penyelenggaraan informasi kesehatan meliputi pengumpulan. serta sesuai dengan kebutuhan. serta berhasil guna dan berdaya guna sebagai bahan pengambilan keputusan dengan mempertimbangkan desentralisasi.

organisasi profesi. b. dan berkesinambungan guna tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. mampu mengatasi masalah kesehatan secara mandiri. Tujuan Tujuan subsistem pemberdayaan masyarakat adalah meningkatnya kemampuan masyarakat untuk berperilaku hidup sehat. dan sebagainya). tokoh agama. berperan aktif dalam setiap pembangunan kesehatan. figur masyarakat. 3. serta dapat menjadi penggerak dalam mewujudkan pembangunan berwawasan kesehatan. maupun masyarakat secara terencana. kelompok masyarakat).baik perorangan. terpadu. Sasaran Pemberdayaan Perorangan (tokoh masyarakat. masyarakat. dan swasta menjadi inisiator. dan masyarakat luas serta pemerintah yang berperan sebagai agen perubahan untuk penerapan perilaku hidup sehat (subjek pembangunan kesehatan). 2. kelompok (organisasi kemasyarakatan. dan fasilitator yang mempunyai kompetensi memadai dan dapat membangun komitmen dengan dukungan para pemimpin. 74 . politisi. Unsur-unsur a. baik formal maupun non formal. kelompok. motivator. Penggerak Pemberdayaan Pemerintah.

metode. kemauan. dan kemampuan. dan masyarakat sesuai dengan keragaman sosial budaya. swasta.c. oleh. serta potensi masyarakat (modal sosial). dan media untuk terselenggaranya proses pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan. serta menjadi penggerak dalam pembangunan kesehatan. Kemandirian bermakna sebagai upaya kesehatan dari. Kegiatan Hidup Sehat Kegiatan hidup sehat yang dilakukan sehari-hari oleh masyarakat. Berbasis Masyarakat Pembangunan kesehatan berbasis pada tata nilai perorangan. serta melembaga dan membudaya dalam kehidupan bermasyarakat. tumbuh dan berkembang. permasalahan. Edukatif dan Kemandirian Pemberdayaan masyarakat dilakukan atas dasar untuk menumbuhkan kesadaran. sehingga membentuk kebiasaan dan pola hidup. budaya. dan untuk masyarakat sehingga mampu untuk mengoptimalkan dan menggerakkan segala 75 . sarana dan prasarana. Prinsip a. b. dan pemerintah yang meliputi: dana. keluarga. pedoman. d. Sumber Daya Potensi yang dimiliki oleh masyarakat. 4. kebutuhan.

tenggang rasa. kesetaraan. solidaritas. dan lingkungannya. Tumbuhnya rasa kepedulian. c. Penggerakan Masyarakat Pembangunan kesehatan perlu digerakkan oleh masyarakat dan masyarakat mempunyai peluang yang penting dan luas dalam pembangunan 76 . keluarga. tanggap terhadap aspirasi masyarakat dan bertanggung-jawab. masyarakat.sumber daya setempat serta tidak bergantung kepada pihak lain. dan saling memperoleh manfaat. Kemitraan dan Gotong-royong Semua pelaku pembangunan kesehatan baik sebagai penyelenggara maupun sebagai pengguna jasa kesehatan dengan masyarakat yang dilayani berinteraksi dalam semangat kebersamaan. Kesemuanya itu dapat dilaksanakan bila kebutuhan masyarakat telah dipenuhi secara wajar. Penyelenggaraan a. mengemukakan pendapat dan terlibat dalam proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kesehatan diri. d. dan kepekaan masyarakat dalam menghadapi potensi dan masalah kesehatan yang akhirnya bermuara dalam semangat gotongroyong sesuai dengan nilai luhur bangsa. 5. Kesempatan Mengemukakan Memilih Pelayanan Kesehatan Pendapat dan Masyarakat mempunyai kesempatan untuk menerima pembaharuan. empati. serta kemudahan akses informasi.

kesehatan. 77 . hal ini mengingat penekanan atau fokus pembangunan kesehatan diberikan pada peningkatan perilaku dan kemandirian masyarakat serta upaya promotif dan preventif. b. maupun pemulihan secara tersendiri atau terpadu. kelompok. dari. dan untuk masyarakat. Pemberdayaan masyarakat ditujukan guna terwujudnya penguatan upaya peningkatan. pelaksanaan. penyembuhan. termasuk penggerakan masyarakat. merupakan hal yang penting dalam pembangunan kesehatan. Perencanaan pemberdayaan masyarakat didasarkan pada fakta dan masalah kesehatan yang menjadi perhatian masyarakat setempat maupun masyarakat luas serta dengan mempertimbangkan potensi sumber daya dan nilainilai sosial budaya masyarakat. Dalam kaitan ini pelibatan aktif masyarakat dalam proses pembangunan kesehatan dilakukan mulai dari penelaahan situasi masalah kesehatan. Pemberdayaan masyarakat. Pada hakekatnya pembangunan kesehatan diselenggarakan oleh. dan masyarakat luas sesuai dengan kepentingannya dan yang berhasil guna dan berdaya guna. pemantauan. Pengorganisasian dalam Pemberdayaan Pelaksanaan pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan melalui perorangan. dan evaluasi upaya kesehatan sehingga dapat terwujud kemandirian dan kesinambungan pembangunan kesehatan. penyusunan rencana termasuk dalam penentuan prioritas kesehatan. pencegahan.

menyiapkan masyarakat dengan membekali pengetahuan dan keterampilan bagi masyarakat. Desa Siaga. dan kemampuan masyarakat dalam berperilaku sehat dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung melalui berbagai saluran media dan teknik promosi kesehatan. tempat umum. kemauan. Musholla Sehat. Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan memperhatikan karakteristik dan kekhususan masyarakat. Peranan Pemerintah membuka akses informasi dan dialog. dukungan sumber daya untuk membangun kemandirian dalam upaya kesehatan dan mendorong terbentuknya Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM). seperti: Poskestren. serta dengan memperhatikan nilai-nilai agama dan sosial budaya yang ada. dan fasilitas kesehatan agar terwujud pemberdayaan masyarakat yang berhasil guna dan berdaya guna serta terjamin kesinambungannya. Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan metoda yang tepat. daerah pegunungan. dan kemandirian dalam upaya kesehatan.Pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan pula melalui pendekatan ketatanan. Upaya untuk meningkatkan pengetahuan. kesadaran. tempat kerja. kota. daerah pesisir. dan aliran sungai. institusi pendidikan. Pemuda Siaga Peduli Bencana (Dasipena). seperti: rumah tangga. seperti masyarakat di desa. menyiapkan regulasi. memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang. 78 .

lembaga legislatif. Kemitraan Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan kemitraan berbagai pihak. Advokasi Masyarakat dapat berperan dalam melakukan advokasi kepada pemerintah dan lembaga pemerintahan lainnya. d. Pelaksanaan advokasi dilakukan dengan dukungan informasi yang memadai serta metode yang berhasil guna dan berdaya guna. Dalam kaitan ini termasuk pengembangan Desa Siaga atau bentuk-bentuk lain pada masyarakat desa/kelurahan. dan masyarakat agar terwujud dukungan sumber daya dan kebijakan dalam pembangunan kesehatan. organisasi kemasyarakatan. perguruan tinggi. c. dunia usaha. seperti seluruh sektor terkait.Peran masyarakat dalam pembangunan kesehatan dapat dengan cara mendirikan sarana pelayanan kesehatan maupun memberikan informasi kesehatan (promosi kesehatan) kepada masyarakat. seperti legislatif untuk memperoleh dukungan kebijakan dan sumber daya bagi terwujudnya pembangunan berwawasan kesehatan. Pembinaan dilakukan untuk kesinambungan pemberdayaan masyarakat yang telah dilakukan 79 . Masyarakat juga dapat berpartisipasi dengan memberikan kritik yang membangun bagi kepentingan seluruh masyarakat.

dan kompetisi.melalui berbagai cara. dan dukungan berbagai sarana lain yang berkaitan. Dalam pemberdayaan masyarakat secara lebih spesifik dapat didampingi penggerak yang berperan sebagai fasilitator. komunikator. antara lain pemberian insentif. Peningkatan Sumber Daya Dalam pemberdayaan masyarakat perlu didukung oleh pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan yang kuat. 80 . pendampingan. pembiayaan yang memadai. termasuk pentingnya ketersediaan tenaga penggerak/promosi kesehatan. lomba. e. dan dinamisator dalam proses pemberdayaan masyarakat. Ketersediaan sumber daya tersebut sangat penting agar dapat tercapai masyarakat berperilaku hidup sehat dan mandiri. seperti di Puskesmas dan Rumah Sakit yang mempunyai kompetensi dan integritas tinggi.

proses. ilmu pengetahuan dan teknologi. politik. 4. Masukan dalam SKN meliputi subsistem sumber daya manusia. sosial. dan subsistem sediaan farmasi. Luaran dari SKN adalah terselenggaranya pembangunan kesehatan yang berhasil guna dan berdaya guna. 2. 3. sebagai berikut: 1. dan lingkungan serta keterkaitannya satu sama lain. Lingkungan SKN meliputi berbagai keadaan yang menyangkut ideologi. budaya.BAB VI DUKUNGAN PENYELENGGARAAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL Sistem Kesehatan Nasional diupayakan agar mampu menyesuaikan dengan perkembangan dan dinamika pembangunan kesehatan yang dihadapi dalam penyelenggaraannya yang dilaksanakan secara berkesinambungan. dan makanan. alat kesehatan. ekonomi. Sistem Kesehatan Nasional dapat disesuaikan dan disempurnakan dengan kondisi dan situasi yang berkembang. subsistem pemberdayaan masyarakat. merata. regional maupun global. luaran. bermutu. pertahanan dan keamanan baik nasional. subsistem pembiayaan kesehatan. dan subsistem manajemen dan informasi kesehatan. PROSES PENYELENGGARAAN SKN Penyelenggaraan SKN menerapkan pendekatan kesisteman yang meliputi masukan. Bila terjadi perubahan paradigma dan lingkungan strategis. Proses dalam SKN meliputi subsistem upaya kesehatan. dan berkeadilan. A. dan tingkat fisik/alam yang berdampak terhadap 81 .

sebagai berikut: 1. 82 . Berbagai materi SKN yang terpilih dapat digunakan untuk penyusunan dan penetapan peraturan perundangan pada tingkat kebijakan strategis. akuntabel. sinkronisasi. kebijakan manajerial. serta pengawasan dan pertanggung-jawaban secara sistematis. dan sinergisme yang dinamis. Wawasan Nusantara. dan Ketahanan Nasional merupakan landasan bagi penyelenggaraan SKN. Pancasila. dan berkelanjutan dengan memperhatikan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025. baik antar pelaku. dan kebijakan teknis operasional. berjenjang. transparan. maupun dengan sistem serta subsistem lain diluar SKN. Sosialisasi dan Advokasi SKN Sistem Kesehatan Nasional perlu disosialisasikan dan diadvokasikan ke seluruh pelaku pembangunan kesehatan dan seluruh pemangku kepentingan kesehatan untuk memperoleh komitmen dan dukungan dari semua pihak. Penyelenggaraan SKN dilaksanakan secara bertahap. SKN perlu ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penyelenggaraan SKN memerlukan penerapan prinsip koordinasi. Penetapan SKN Untuk memperoleh kepastian hukum yang mengikat semua pihak. antar subsistem SKN. 2. pelaksanaan dan pengendalian. Penyelenggaraan SKN dilakukan melalui siklus perencanaan. Undang-undang Dasar 1945.pembangunan kesehatan. integrasi.

Penyelenggaraan SKN.Sasaran sosialisasi dan advokasi SKN adalah semua penentu kebijakan. serta memfasilitasi sosialisasi dan advokasi penyelenggaraan pembangunan kesehatan di daerah sesuai kebutuhan. dinamika. 3. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJM-D). Penyelenggaraan SKN dalam kaitannya dengan pengembangan kebijakan kesehatan di daerah dilakukan dengan berbagai kegiatan. dan masalah spesifik daerah dalam kerangka SKN. Penyelenggaraan SKN. Penyelenggaraan SKN. baik di pusat maupun daerah. terpadu. dan berkelanjutan. 2. termasuk pengembangan kebijakan di daerah didukung dengan penyusunan 83 . sistematis. 3. Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra SKPD) yang penyelenggaraannya disesuaikan dengan kondisi. memfasilitasi pengukuhannya dalam bentuk peraturan perundangundangan daerah. Fasilitasi Pengembangan Kebijakan Kesehatan di Daerah Dalam pembangunan kesehatan di daerah perlu dikembangkan kebijakan kesehatan. termasuk pengembangan kebijakan di daerah diwujudkan dalam kerangka penyelenggaraan pembangunan kesehatan. seperti: Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJP-D). baik di sektor publik maupun di sektor swasta. yaitu: 1. Pemerintah Pusat memfasilitasi pengembangan kebijakan kesehatan di daerah. baik secara nasional maupun dalam lingkup daerah. termasuk pengembangan kebijakan di daerah diselenggarakan melalui penataan ulang keenam subsistemnya secara bertahap.

dan pedoman dalam bentuk berbagai peraturan perundang-undangan. Setiap tahun seluruh pelaku pembangunan kesehatan dengan koordinasi pemerintah melakukan pengukuran pencapaian/kinerja SKN dengan beberapa indikator yang akurat dan terpercaya. Dalam rangka menyesuaikan dengan perkembangan global. dan good governance dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 3. dan kabupaten/kota sampai 84 . maka dilakukan pengendalian dan penilaian SKN sebagai berikut: 1.kebijakan. provinsi. demokratisasi. Indikator kinerja SKN menjadi rekomendasi untuk upaya perbaikan yang harus didokumentasikan dan disebarluaskan. termasuk pengembangan kebijakan kesehatan di daerah diselenggarakan sesuai dengan asas desentralisasi yang bertanggung-jawab. Pengendalian dan penilaian SKN termasuk kebijakan kesehatan di daerah perlu didukung dengan pengembangan sistem monitoring dan evaluasi di tingkat nasional dan daerah secara terpadu. Pengendalian dan penilaian SKN termasuk kebijakan kesehatan di daerah bertujuan untuk memantau dan menilai keberhasilan penyelenggaraan pembangunan kesehatan berdasarkan sistem kesehatan yang ada. 4. Pengendalian dan penilaian SKN termasuk kebijakan kesehatan di daerah diselenggarakan secara berjenjang dan berkelanjutan dengan menggunakan tolok ukur keberhasilan pembangunan kesehatan. nasional. baik tingkat nasional maupun tingkat daerah. 2. Penyelenggaraan SKN. regional. dan lokal yang dinamis dan cepat berubah. Indikator tersebut menjadi acuan segenap pelaku pembangunan kesehatan di tingkat nasional. standar.

ke tingkat desa. meliputi: partisipatif. Selain tata pemerintahan yang baik. B. Pelaku pelanggaran peraturan harus ditindak secara tegas. Untuk menjaga kepentingan rakyat. penyelenggaraan pembangunan kesehatan di perlu memperhatikan SKN dan peraturan setempat. dan organisasi bukan pemerintah lainnya. dan mengikuti kaidah hukum yang berlaku. Dalam penyelenggaraan SKN perlu kejelasan dan ketegasan tentang pelimpahan urusan pemerintahan di bidang kesehatan yang luas sampai kabupaten/kota. Kabupaten/Kota). penyelenggaraan SKN memerlukan peran regulasi dari pemerintah sesuai dengan tingkatannya (Pusat. dan Kriteria dari Departemen Kesehatan perlu dikoordinasikan dengan Departemen Dalam Negeri. Masyarakat madani dan seluruh sektor terkait perlu secara jelas dan tegas diberi 85 . inklusif. Prosedur. efektif. Adapun unsur dari tata pemerintahan yang baik. guna penyesuaian penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang berbasis fakta. pemerintah juga harus secara konsisten dan konsekuen mengawasi kepatuhan hukum masyarakat. semua peraturan perundangan yang berkaitan harus dilaksanakan secara konsisten dengan tata pemerintahan yang baik (good governance). Standar. termasuk SDM nasional yang melaksanakannya. TATA PENYELENGGARAAN SKN Penyelenggaraan SKN harus memperhatikan peraturan perundang-undangan yang berlaku. efisien. swasta. Tata pemerintahan yang baik disertai regulasi pada keenam subsistem SKN merupakan langkah menuju kesinambungan pelaksanaan sistem kesehatan. Provinsi. semua Dalam daerah daerah Secara operasional. transparan. berorientasi pada konsensus. Pedoman tentang Norma.

peran dalam pelaksanaan berbagai subsistem SKN. organisasi profesi. Individu. lembaga swadaya masyarakat. PENYELENGGARA SKN Pemerintah dan masyarakat termasuk swasta bertanggung-jawab atas penyelenggaraan pembangunan kesehatan sesuai peran dan fungsinya masing-masing. Pemerintah daerah. 2. C. sektor pertanian. serta masyarakat luas. Di sektor publik. dan masyarakat yang meliputi tokoh masyarakat. SKN tidak bisa dijalankan hanya oleh Departemen Kesehatan atau Dinas yang mengurus kesehatan di daerah. antara lain: sektor pendidikan. pembangunan fasilitas umum. sektor keuangan. Pemerintah. praktisi. sektor keamanan. dalam konteks desentralisasi perlu jelas dan tegas dalam memberikan arahan untuk pembangunan kesehatan di daerahnya. peranan tersebut ditambah dengan menetapkan 86 . sektor perikanan dan kelautan. Untuk Pemerintah. sektor perdagangan. Pelaku adalah: penyelenggaraan pembangunan kesehatan 1. pelaksana. dan sektor terkait lainnya. Penyelenggaraan SKN dapat berjalan dengan baik apabila melibatkan. keluarga. akademisi. dan penyelenggaraan berbagai pelayanan kesehatan sesuai dengan bidang keahlian dan kemampuan masing-masing. penggerak. pengawasan sosial. media massa. dan pembina pembangunan kesehatan dalam lingkup wilayah kerja dan kewenangan masing-masing. termasuk swasta yang berperan dalam advokasi. baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah berperan sebagai penanggungjawab.

Kebijakan, Standar, Prosedur, dan Kriteria yang digunakan sebagai acuan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan di daerah. 3. Badan Legislatif, baik di pusat maupun di daerah, yang berperan melakukan persetujuan anggaran dan pengawasan terhadap penyelenggaraan pembangunan kesehatan, melalui penyusunan produk-produk hukum dan mekanisme kemitraan antara eksekutif dan legislatif. 4. Badan Yudikatif, termasuk kepolisian, kejaksaan dan kehakiman berperan menegakan pelaksanaan hukum dan peraturan perundangan yang berlaku di bidang kesehatan. 5. Sektor swasta yang memiliki atau mengembangkan industri kesehatan, seperti: industri farmasi, alat-alat kesehatan, jamu, makanan sehat, asuransi kesehatan, dan industri pada umumnya. Industri pada umumnya berperan besar dalam memungut iuran dari para pekerja dan menambah iuran yang menjadi kewajibannya. 6. Lembaga pendidikan, baik pada tingkat sekolah dasar sampai tingkat perguruan tinggi, baik milik publik maupun swasta. Sebagian besar masalah kesehatan berhubungan dengan perilaku dan pemahaman. Pendidikan memegang kunci untuk menyadarkan masyarakat akan berbagai risiko kesehatan dan peran masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

D. SUMBER DAYA PENYELENGGARAAN SKN Sistem Kesehatan Nasional merupakan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang bekerja secara sinergis, harmonis, dan menuju satu tujuan. 87

Pemerintah wajib melakukan koordinasi agar semua subsistem dan semua pelaku berfungsi dan bekerja secara sinergis. Kepincangan pada salah satu subsistem atau pelaku akan mengganggu kerja SKN. Pemerintah harus menjamin tersedianya dana, sumber daya manusia yang memadai dan profesional, sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan yang dikelola dengan manajemen kesehatan yang baik, terutama yang berkaitan dengan administrasi kesehatan dan pengaturan hukum kesehatan serta didukung dengan informasi yang akurat, valid, tepat waktu, dan tepat kebutuhan. Pelaku sistem informasi kesehatan sesuai perannya harus mampu secara cepat merespon dan menggunakan perkembangan teknologi informasi, baik untuk mengolah, menyampaikan ke pelaku lain, maupun kepada masyarakat nasional dan internasional. Pemerintah juga mengembangkan sistem insentif/reward dan sistem sanksi bagi setiap pelaku yang tidak menggunakan informasi yang akurat, tepat waktu, dan tepat kebutuhan (relevan). Selain itu, Pemerintah juga mengharuskan fasilitas kesehatan publik maupun swasta untuk menyediakan informasi melalui situs yang mudah diakses dan terbuka, sebagai cara untuk mendidik masyarakat. Tersedianya pembiayaan kesehatan dalam jumlah yang memadai teralokasi secara adil, merata, dan termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna, sangat penting dalam pembangunan kesehatan. Pemerintah juga menjamin tersedianya dana untuk penelitian dan pengembangan bidang kesehatan. Sumber daya manusia merupakan komponen kunci keberhasilan SKN. Pemerintah harus melakukan upaya agar semua SDM Kesehatan memenuhi standar kompetensi tertentu sesuai bidangnya sebagai prasyarat bagi penyediaan pelayanan kesehatan yang bermutu dan 88

diterima oleh masyarakat. Namun, Pemerintah juga menjamin agar setiap SDM di bidang kesehatan mendapat remunerasi yang wajar, layak, dan sesuai dengan tanggung-jawab, pengalaman, dan kompetensinya. Keseimbangan profesionalitas, tanggung-jawab, pengalaman, dan besaran renumerasi merupakan kunci kesinambungan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Penyelenggaraan subsistem sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan harus dilakukan secara terbuka dengan keseimbangan antara produksi dan pemanfaatan dengan dukungan dana yang memadai. Keterbukaan ini adalah kemampuan mengakomodasikan perkembangan teknologi dan produk teknologi kefarmasian dan teknologi peralatan kedokteran dan kesehatan serta memperhatikan keterjangkauan harga bagi masyarakat. Indonesia harus mampu menjadi pengekspor berbagai sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan. Keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif dalam bidang ini harus terus dikembangkan. Untuk menjamin kesinambungan subsistem upaya kesehatan, maka dukungan masukan informasi kesehatan, sumber daya manusia kesehatan, sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan, serta pendanaan harus selalu tersedia dalam jumlah yang memadai. Kualitas pelayanan harus selalu memenuhi standar yang ditetapkan agar setiap pengguna pelayanan kesehatan merasa puas dan memperoleh manfaat pelayanan kesehatan. Dengan kualitas dan kepuasan pengguna yang tinggi, maka akan timbul kemauan masyarakat sebagai pengguna untuk berkontribusi dalam bentuk dana, pemikiran, maupun tenaga. Pemerintah perlu menjamin adanya kepastian hukum dalam setiap penyelenggaraan subsistem SKN. Peraturan perundangan yang dalam pelaksanaannya mengalami 89

Pemerintah memfasilitasi dan memberikan insentif (baik berupa pembebasan pajak. Pemerintah mendorong terwujudnya kontrol sosial yang kuat dari masyarakat terhadap kualitas pelayanan kesehatan. Kewajiban berbagai sektor mencakup pemenuhan logistik yang diperlukan sebagai masukan dalam SKN. dan memfasilitasi berbagai penelitian di dalam negeri guna tersedianya sediaan farmasi dan alat kesehatan. pemenuhan 90 . KERJASAMA INTERNASIONAL Sistem Kesehatan Nasional merupakan bagian dari sistem nasional. pembelian hasil produksi. E. Peraturan yang dibuat harus melalui sinkronisasi dengan berbagai peraturan di bidang kesehatan dan di luar bidang kesehatan serta membuka kesempatan luas kepada pemangku kepentingan dalam perumusan peraturan. atau industri dalam melakukan penelitian dan pengembangan pelayanan kesehatan guna memacu perkembangan SKN. lembaga penelitian dan pengembangan lainnya. memberikan insentif. Pemerintah mengatur dan memberdayakan masyarakat agar mampu melakukan kontrol sosial yang memadai guna menjamin kesinambungan dan akuntabilitas SKN. Pemerintah daerah perlu diberikan kewenangan untuk penegakan hukum terhadap berbagai aspek yang memungkinkan terselenggaranya SKN dengan baik. Departemen Kesehatan melakukan koordinasi dengan lintas sektor. maupun bantuan teknis lainnya) bagi fasilitas kesehatan. serta sistem pengelolaan yang lebih baik dan bermutu.hambatan besar di daerah harus diatur lebih lanjut dengan Peraturan Daerah. maupun instansi kesehatan di daerah untuk mendukung. perguruan tinggi. maka wajib berperan aktif sesuai dengan bidangnya guna mewujudkan tujuan SKN.

Para pelaku SKN berkewajiban mengembangkan diri agar mampu berperan di tingkat internasional dalam rangka menjaga agar SKN dapat berjalan dengan baik. Para pelaku SKN juga wajib mencermati dan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada di dunia internasional guna memperkuat SKN. Para pelaku SKN wajib berperan aktif di lingkungan internasional untuk mewujudkan kepemimpinan Indonesia di dunia internasional guna menghasilkan kebijakan yang kondusif bagi pengembangan SKN. Dana internasional yang tersedia yang tidak mengikat dan dapat secara sinergis meningkatkan kinerja SKN perlu dimanfaatkan dengan baik. UNICEF. Kerja sama dalam bidang kesehatan dengan berbagai lembaga internasional dan regional lain yang terkait perlu ditingkatkan. Sebaliknya. Perubahan lingkungan strategis regional maupun global dapat mengancam keberhasilan SKN. koordinasi penyelenggaraan. peniadaan atau pengurangan bahan-bahan ataupun kondisi yang dapat menimbulkan risiko kesehatan.SDM dengan kompetensi yang sesuai. 91 . dan ASEAN. dan peran lainnya yang berkembang sesuai perubahan lingkungan strategis. Peran Indonesia dalam upaya mereformasi WHO perlu terus dilakukan agar transparansi dan keadilan dari organisasi internasional tersebut dapat tercapai. UNFPA. penyediaan insentif finansial dan non finansial. setiap intervensi internasional yang dalam jangka pendek atau jangka panjang yang dapat merugikan SKN wajib dicegah oleh setiap pemangku kepentingan. seperti UNDP.

serta masyarakat. tidak berarti seluruh pelayanan kesehatan harus menyediakan pelayanan non diskriminatif bagi seluruh rakyat untuk seluruh jenis pelayanan. Manajer tersebut harus mempunyai kompetensi khusus dan mempunyai komitmen kuat dalam upaya mencapai tujuan pembangunan kesehatan. interelasi.BAB VII PENUTUP Tujuan pembangunan kesehatan hanya dapat dicapai bila didukung oleh kerjasama dengan semangat kemitraan antar semua pelaku pembangunan. serta kondisi lingkungannya. termasuk swasta. seluruh pelaku harus memegang teguh prinsip-prinsip umum SKN dan prinsip dasar masing-masing subsistemnya. serta keterpaduan berbagai upaya yang dilakukan oleh semua pelaku SKN. dibutuhkan manajer-manajer di sektor publik maupun di masyarakat. tetapi juga harus realistis dengan kemampuan sumber daya manusia dan ketersediaan dana dan sumber daya lainnya. Dengan demikian. Untuk dapat melaksanakan SKN yang memenuhi prinsip umum dan prinsip dasar dari masing-masing subsistemnya yang disesuaikan dengan kemampuan diri dan lingkungan. Dengan demikian. Prinsip adil dan merata secara bertahap diupayakan sesuai kemampuan yang dimiliki. Dalam pelaksanaannya. 92 . meskipun nantinya diharapkan terwujud pelayanan kesehatan yang adil dan merata. Penetapan SKN dimaksudkan untuk memberikan arah bagi setiap pelaku upaya atau pelayanan kesehatan sesuai dengan kondisi lingkungan masing-masing instansi dan institusi. termasuk swasta. pemerintah pusat dan daerah. penyelenggaraan pembangunan kesehatan dengan dukungan SKN dapat dilaksanakan dengan berhasil guna dan berdaya guna dengan interaksi. baik pemerintah secara lintas sektor. badan legislatif dan yudikatif.

dan perubahan lingkungan strategis nasional. regional. dan dalam pelaksanaannya selalu mengikuti perkembangan. SKN perlu disesuaikan atau diubah secara berkala sesuai dengan perubahan lingkungan strategis. regional. Sistem Kesehatan Nasional harus selalu mampu menjawab peluang. Oleh karenanya. bersifat dinamis. Oleh karenanya. baik nasional. semua pemangku kepentingan wajib memantau kinerja dan kendala yang dihadapi SKN. tantangan. maupun internasional. 93 . maupun global.Sistem Kesehatan Nasional merupakan sistem terbuka yang berinteraksi dengan berbagai sistem nasionalnya sebagai subsistem dari Ketahanan Nasional.

RAWAN PANGAN DAN RAWAN GIZI . dasar.) (UU 23/1992 Kesehatan. LOKAL PELUANG/KENDALA 94 . bentuk dan cara penyelenggaraan Bangkes) MASALAH MENDASAR BANGKES: . Politik.ALUR PIKIR RENCANA PEMBANGUNAN KESEHATAN DAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL PARADIGMA NASIONAL (PANCASILA. REGIONAL.SUMBER DAYA KESEHATAN TERBATAS DERAJAT KESMAS YG SETINGGITINGGINYA RAKYAT SEHAT PRODUKTIF TUJUAN NASIONAL LINGKUNGAN STRATEGIS: (Ideologi.WASANTARA. NASIONAL.AKSES PELAYANAN PUBLIK BURUK . TANNAS. UU 17/2007 RPJPN) KONDISI SAAT INI Derajat Kesehatan Masyarakat Rendah Gambar-1 RPJP-K DAN SKN (Arah. Ekonomi Sosial Budaya dan Pertahanan Keamanan) GLOBAL.LINGKUNGAN BURUK . UUD 1945.PERILAKU MASYARAKAT BURUK .KETIDAKPASTIAN HUKUM .

AGAMA DAN BUDAYA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN FUNDAMEN MORAL: KEMANUSIAAN LINGKUNGAN EKONOMI 2) SUMBER DAYA KESEHATAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT UPAYA KESEHATAN 1) DERAJAT KESEHATAN MASYARAKAT LINGKUNGAN SEHAT 3) MANAJEMEN KESEHATAN PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA LINGKUNGAN POLITIK DAN HUKUM LINGKUNGAN FISIK DAN BIOLOGI Catatan: 1) Meliputi pula: Penelitian dan Pengembangan Kesehatan 2) Meliputi: Pembiayaan Kesehatan. serta Sediaan Farmasi. Alat Kesehatan. dan Makanan 3) Meliputi : Manajemen dan Informasi Kesehatan 95 .GAMBARAN UNSUR-UNSUR PEMBANGUNAN KESEHATAN DAN SUBSISTEM SKN SERTA TATA HUBUNGANNYA Gambar-2 DAN LINGKUNGAN STRATEGIS YANG MEMPENGARUHI SKN LINGKUNGAN ILMU DAN TEKNOLOGI LINGKUNGAN SOSIAL. SDM Kesehatan.

Standar. Integrasi. dan Kriteria Produk Domestik Bruto Pelayanan Kesehatan Masyarakat Primer Pelayanan Kesehatan Masyarakat Sekunder Pelayanan Kesehatan Masyarakat Tersier Pelayanan Kesehatan Perorangan Primer Pelayanan Kesehatan Perorangan Sekunder Pelayanan Kesehatan Perorangan Tersier Pemilihan Kepala Daerah 96 . Informasi dan Edukasi Koordinasi. Prosedur. Sinkronisasi. dan Sinergisme Millenium Development Goals Negara Kesatuan Republik Indonesia Norma.DAFTAR SINGKATAN AKB AKI APBD APBN ASEAN BPFK BTKL CPOB DBD DOEN Dasipena HAM HIV/AIDS Iptek Jamkesmas KFT KIA KIE KISS MDGs NKRI NSPK PDB PKMP PKMS PKMT PKPP PKPS PKPT Pilkada : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : Angka Kematian Bayi Angka Kematian Ibu Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Association South East Asian Nation Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan Balai Tehnik Kesehatan Lingkungan Cara Pembuatan Obat yang Baik Demam Berdarah Dengue Daftar Obat Esensial Nasional Pemuda Siaga Peduli Bencana Hak Asasi Manusia Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Jaminan Kesehatan Masyarakat Komite Farmasi dan Terapi Kesehatan Ibu dan Anak Komunikasi.

Poskesdes Poskestren Posyandu Puskesmas P4K RPJM-D RPJP-K RPJP-D RPJP-N Renstra SKPD Riskesdas SDKI SDM SJSN SKN Siknas TB Paru UHH UKBM UNDP UNFPA UNICEF UPT UUD WHO WNA WNI : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : Pos Kesehatan Desa Pos Kesehatan Pesantren Pos Kesehatan Terpadu Pusat Kesehatan Masyarakat Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah Riset Kesehatan Dasar Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Sumber Daya Manusia Sistem Jaminan Sosial Nasional Sistem Kesehatan Nasional Sistem Informasi Kesehatan Nasional Tuberculosis Paru Umur Harapan Hidup Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat United Nations Development Programme United Nations Population Fund United Nations Emergency Children’s Fund Unit Pelaksana Teknis Undang-undang Dasar World Health Organization Warga Negara Asing Warga Negara Indonesia 97 .

Mary S Maryam. Bambang Widodo. Dr.Kes. Apt. Hapsara Habib Rahmat. . Ina Hernawati. Madiono.Kes. Drs. MSc. Trisa Wahjuni Putri. Richard Panjaitan. Dr. MSc. Drg. Dr. MPH. Dr.Kes. SKM. Agus Purwadianto. Drs. Ahmad Nizar S. M. Dr. Liliana. Dr. Dra. Drg. DR. DR. M. Fresly. Kodrat Pramudho. MSc. Drs.Sukowidodo.Kes. MPH. MPH. drg. Dr. DR. SKM. Hary Purwanto. M. Rahbudi Helmi. Hardini Kusumadewi. Toto Heryanto . DR. Apt.Chalik Masulili. SKM. Riza Sultoni.D.Kes. H. Tjipto Rahardjo. Diah Puspitasari. Firman Lubis. Indriyono Tantoro. DR. Bambang Hartono. Ir. Dr. SpF(K). DHSM. SKM. MPH. Rustam S. SH. Bambang Sardjono. Nasirah Bahaudin. MM. Apt. Ruhayati . Dr. M. Iis Sin Sin. . MPH. Dr. Dr. Lovita T. Prof. MM. dr.PH. Abdurachman. Gatot Soetomo. DHSM. R. Sp. M. Zulkarnain. Bambang Hartono. Dr. DR. Dra. SKM .Kes. SS . Ruslidjah.B(K). DPH.Syihab. Arum Atmawikarta. Imran Agus Nurali. Farid Wadjdi Husain. MPH. Dr. Abidinsyah Siregar. SKM. Iswandi Mourbas.W. Dr. Rusmiati. Kustantinah. PhD. Abidinsyah Siregar.Kes. MPH.Kes. Dr. MSi. Ida Bagus Indra Gotama.H. Indariwati. SKM. Drs. SKM. SKM. MPH.Sc. SKM. Faisal Barabas. SKM . Donald Pardede. M. Rachmi Untoro. Emiliya Roza. Dr. M. Hasbullah Thabrani. Dr. SKM. Faiq Bahfen. M.Kes . Krissna Tirtawidjaja. T. MPH . Dr.Appt. M. Dr. Dr. SKM. dr. MPPM. Apt. Soenarjo Soejoso.JP.Meinarwati. Delnalis. SE. SKM. Jajang Subagya. Yoserizal. Dr.KO. DM Wismarini. M.Kes. Bambang W. MKM. MSc. Rustam S Pakkaya.Rita Ratna Puri. Yusharmen D Comm. Budhihardja. Dr. MKKK . MA. MSc. Edi Suranto. Mulya A Hasymi. SKM. MPH. M. Syamsul Bahri. Purwadi. Achmad Soebagio T.Kes. Mulya A Hasjmy. SKM. Taufik.D. MPH. Dr. Bambang Widodo. MSc. SKM . MSc. MPH. R.B. Mulyadi. SKM. SH. MPH. Mustikowati. Drs. Sp. Suamsul Bahri. Krishnajaya. dr. Drs. Sardikin Giriputro. M. Dr. Yaslis Ilyas. Prof. M. S. Drs. Dr. Drg. Sri Muljati. MPH. M.JP(K). Dr. Pakkaya. Nagiot CT. Rita Djupuri. MSi. SKM. MS. Sri Suhariningsih. Drg. Drg. Dr. Dr. H.Epid . MPH. Marwan Nusri. M.Kes. Sp. Zulkarnain Kasim. Sutoto. S. Bambang Sardjono. Rahmat Kurniadi. Sp. Dr. DCN.M. Ph. Dr. MM.J. dr. dr. Untung Suseno Sutarjo. Dr. Dr. MM. MPH.Tugijono. Bambang Giatno Rahardjo. Msi. Peter Andreas. Dr. Dr. MBA.DR. Jemfy Naswil.Epid. Charles Suryadi. dr. DR.A. Andi Saguni. DR. SE. Marius W. Slamet Sudi Santoso. Lenny Evanita. Sp. Indah Yuningprapti. Sri Hermiyanti. Dr. Prof.MSc(PH). MKM. Setiawan Soeparan. DR. Widjaja Lukito. MSc. Suhardjono. Dr. M. dr. MPH). DR.Kes. Ida Bagus Indra Gotama. Drs.B. S. Widyawati. Prof. MPH. Dra. Dr. Dr.KONTRIBUTOR Sistem Kesehatan Nasional ini berhasil disusun atas partisipasi aktif dan kontribusi positif dari berbagai pihak. SH. Geral Mario S. dr. M. Royan. H.Kes. M. Sonny P. Harmein Harun. Dr. Yuniar S. Agus Iriawan. .Kes. Taufik Izwan. Dr. Apt. Louventus P . Ph. Dr. Msi. Dra. Ratna Rosita Hendardji. Bambang Hartono. Dr. Suginarti . MSc. Sulistyowati. Sp. MPH. dr.Sos. MPH. Ruhayati .SKM. Dr. Lily S. SK Amdani. Siti Fadilah Supari. Wandaningsih. Dr. SKM. MPH. DR. Herma Trillas Purba. SE. M. Chirul R Nasution. Gemala Hatta. Dr. M. MPH. dr.Sos. MBA. dr. Agus Sunario. Triono Soendoro. Apt.DTM&H. Dr. M. M. Titte Kabul Adimidjaja. Adang Bachtiar. MPH. Dr. Dr. MPP. .Kes. MPH. Drg. Sjafii Achmad.Kes. MS. I Nyoman Kandun. antara lain: Tingkat Pusat: Dr. Naydial Roesdal. MSc. Sontang Tambunan.Kom.

S. Shermina Oruh.Kes. Endro Buono. Dr. Poedjo Praseptio. Entos Z.SKM. Nizwardi Azkha. T.Ahmad Said. Syafrudin Rasyid. Choirul Anwar. Agung Indarto. Dian Damairini. MARS. Tin tin F. Isti Ratnaningsih. Lily Mulyasari. Prof. M. Drs. Poedjo Prasetyo.Kes. Syahrul A. Abdul Gani Sitepu. Vita. M. Sudono. Suharto. SpA (K). Okti Palupi . Jeni Haju. Sofia Wirda. Drs.Kes. Apt. Julistio TB Djais.Kes . Dr. Lovita T . SKM. Jorizal Jannis. MSCPH. Arbiansyah Alam. Dr. Dr. Rais Lamangkona. Ni Wayan Mariani. Yanti. Jimmy Lee. Bambang Agus Legowo. S. Drg. HJ. Muninjaya. Dien Emawati. A. Bondan Agus Susyanto. Sri Rachmani. Siti Aisyah. DR. Prijono. Sardikin Giriputro. Dr. Jeane Pangemanan. SKM. Mahmud Fauzi. Dr. Dr. Syahrani Djedi. Tingkat Daerah: Drg. Dr. Dr. Sasli Adis. Herry Tjahjono.SKM. M. SpACKI. Razak Thaha. Emmilya Rosa. SE. Durachman. Dr. DESS. Tukijan. SKM. Kuswati Ningsih. MKes. Irwan. Ockti Palupi. M. Dr. Kuwat S Hudoyo. Agussalim Mooduto. H. SKM. SH. Harif Fadhillah. Drg. M. MKes. Yanti Nurbayanti. Oslinda Martony. SKM. SKM. Ridwan Thaha. MPH. MKes. Kodrat Pramudho. SKM.Kes . MPH. Dyah RB. Dr. Djayusmantoko. Indro Darmadji. Noto Basuki. M. Tri Martiana. Dan semua individu/pihak yang telah membantu penyusunan SKN yang tidak bisa disebutkan satu per-satu Mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan nama dan gelar Daftar nama dan gelar disusun berdasarkan absensi lokakarya. Ratna Dewi Umar. MPAM. Andi M. atau pertemuan lainnya . MM. Ade Erma.Kes. Nurbaiti. Prof. Dr. RE. Dr. Andreas Meliala. I Wayan A. Kartini Rustandi.S. M. M.Kes. Drg. Emi Nurjasmi. Eny Setiowati. Apt. Broto Wasisto.Kes.GDE Agung Wiadnya P. SKM. Drg. Didi Suswanto. Sugito. Dr. Ninin S . Dr. rapat.Sos. Dr.Sp. M. Bambang Sugeng W. M. Rosihan Adhani. Sutrisno. MPH. Rita Kusriastuti. Suteja. Drg. Drs. H. Melzan Dharmayuli. Mkes. Syafri. MKes. Dr.M. Risma Julius. Pande Putujaraga. Ibnu Alferbaly. Adi Wirachjanto. Tjipto Rahardjo. Slamet Soesilo. Drg. Drg. Lukman HL. Wirabrata. Fauzi Ali Amin. MPH. Peter Andreas).Kes. Drs. Drs. Bairizal.Kes. MPH. Eny Susilowati. Bachtiar Oesman. SKM. Dr. Dr. M. Julistio Djais. MKes. Rudi Arif. Kamaruzaman. Dr. Lita R Siampar. Tri Martiana.Kes. Munzelly Husivevi. Drg. Hanni Rono S. Pius Weraman. Dr. Ishak.Sos . M. Sultan Akbar Torutju . Dr. dr. Abd. Drg. Dr. Adnan Mahmud. Guntur DW. E. Dr. Zaura Rini Anggraini. Ridarson. Widyawati. Benny Patiasina.Kes.Kes. SE. SKM. Munzir Purba. Dr. Dr.A. Dedi Supratman. M. Sugeng LA. Hasnawati.Kes. Drg. DESS. Entos Rusna. Amin Yohannis. Dr. MKes. Eryta W. SKM. Kiswanto. MSc. MPH. One Widyawati. Drs. Jauhari. MPPM. Dr. SKM. Drs. Nina Kurnia. SpOG.P.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful