DEPARTEMEN KESEHATAN RI JAKARTA, 2009

BENTUK DAN CARA PENYELENGGARAAN PEMBANGUNAN KESEHATAN

DEPARTEMEN KESEHATAN RI JAKARTA, 2009

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ....................................................... DAFTAR ISI ..................................................................... I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG .......................................... B. PENGERTIAN SKN .......................................... C. MAKSUD DAN KEGUNAAN SKN .................... D. LANDASAN SKN .............................................. PERKEMBANGAN DAN TANTANGAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. PERKEMBANGAN DAN MASALAH SISTEM KESEHATAN NASIONAL …………………….... B. PERUBAHAN LINGKUNGAN STRATEGIS ..... ASAS SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. DASAR PEMBANGUNAN KESEHATAN ......... B. DASAR SKN ..................................................... BENTUK POKOK SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. TUJUAN SKN ................................................ B. KEDUDUKAN SKN ....................................... C. SUBSISTEM SKN ......................................... D. TATA HUBUNGAN ANTAR SUBSISTEM DAN LINGKUNGANNYA .......................................... CARA PENYELENGGARAAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. SUBSISTEM UPAYA KESEHATAN ................. B. SUBSISTEM PEMBIAYAAN KESEHATAN ...... C. SUBSISTEM SUMBERDAYA MANUSIA KESEHATAN .................................................... D. SEDIAAN FARMASI, ALAT KESEHATAN, DAN MAKANAN ............................................... ii i ii 1 1 2 3 4

II.

6 6 12 15 15 17

III.

IV.

21 21 21 23 26

V.

30 30 45 50 59

....E...... D..... SUMBER DAYA PENYELENGGARAAN SKN E....... VI... TATA PENYELENGGARAAN SKN ………… C. SUBSISTEM MANAJEMEN DAN INFORMASI KESEHATAN …………………………………… F.... PROSES PENYELENGGARAAN SKN ……. PENYELENGGARA SKN ……………………...... KERJA SAMA INTERNASIONAL …………… 68 73 81 81 85 86 87 90 92 VII.... PENUTUP LAMPIRAN Gambar-1: Alur Pikir Rencana Pembangunan Kesehatan dan Sistem Kesehatan Nasional Gambar-2: Gambaran Unsur-unsur Pembangunan Kesehatan dan Subsistem SKN serta Tata Hubungannya dan Lingkungan Strategis yang Mempengaruhi SKN 94 95 DAFTAR SINGKATAN …………………………………….... DUKUNGAN PENYELENGGARAAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A........ B............ SUBSISTEM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT ........ KONTRIBUTOR 96 iii ...

dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat mencapai yang tujuan setinggi-tingginya. Dalam Undang-Undang tersebut antara lain ditetapkan bahwa pembangunan berdasarkan kesehatan diselenggarakan pemberdayaan dengan dan perikemanusiaan. tentang Nasional Rencana (RPJPN) Pembangunan Panjang memberikan arah pembangunan ke depan bagi bangsa Indonesia. berkesinambungan dan realistis sesuai pentahapannya. . kemauan. UndangUndang Nomor 17 Jangka tahun 2007.KATA PENGANTAR Pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran. Di dalamnya juga telah tercantum arah pembangunan kesehatan dalam 20 tahun ke depan sampai dengan tahun 2025. Dalam kerangka kesehatan pembangunan dilaksanakan secara terarah. tersebut. Kesinambungan dan keberhasilan pembangunan kesehatan ditentukan oleh tersedianya pedoman penyelenggaraan pembangunan kesehatan baik berupa dokumen perencanaan maupun metode dan cara penyelenggaraannya.

. cepat berubah dan. manusia usia lanjut (manula). antara lain ibu. anak. Adanya SKN yang disempurnakan tersebut menjadi sangat penting kedudukannya mengingat penyelenggaraan pembangunan kesehatan pada saat ini semakin kompleks sejalan dengan kompleksitas perkembangan demokrasi. Sistim Kesehatan Nasional (SKN) 2009 yang disempurnakan ini diharapkan mampu menjawab dan merespon berbagai tantangan pembangunan kesehatan di masa kini maupun di masa yang akan datang. Sistim Kesehatan Nasional (SKN) 2009 sebagai penyempurnaan dari SKN sebelumnya merupakan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah bersama seluruh elemen bangsa dalam rangka untuk meningkatkan tercapainya pembangunan kesehatan dalam mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. dan keluarga miskin.kemandirian. sering tidak menentu. adil dan merata. dan globalisasi serta tantangan lainnya yang juga semakin berat. serta pengutamaan dan manfaat dengan perhatian khusus pada penduduk rentan. desentralisasi.

dr. Jakarta. bantuan dan masukan serta kontribusinya dalam penyusunan dan perumusan SKN tersebut.Diharapkan SKN 2009 ini terkait dan mengacu pada arah dan tahapan pembangunan kesehatan yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJPK) Tahun 2005-2025. Dr. Dalam kaitan ini penyelenggaraan SKN 2009 tersebut perlu sesuai dengan tahap-tahap lapangan. Siti Fadilah Supari. pelaksanaan pembangunan kesehatan di Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak atas perhatian. April 2009 MENTERI KESEHATAN RI.JP(K) . Sp. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu melimpahkan Rachmat dan Hidayah serta memberikan petunjuk dan kekuatan bagi kita sekalian dalam melaksanakan pembangunan kesehatan di Indonesia dengan berpedoman pada Sistem Kesehatan Nasional yang baru ini.

LATAR BELAKANG Dalam mencapai tujuan nasional bangsa Indonesia sesuai Pembukaan UUD 1945. seperti: pengembangan Desa Siaga. Perubahan lingkungan strategis ditandai dengan berlakunya berbagai regulasi penyelenggaraan kepemerintahan. maka pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran. Untuk itu diperlukan pemantapan dan percepatan melalui Sistem Kesehatan Nasional sebagai bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang disertai berbagai terobosan penting. serta Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K). seperti: Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.BAB I PENDAHULUAN A. kemauan. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dapat terwujud. Undangundang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. mencerdaskan kehidupan bangsa. perdamaian abadi dan keadilan sosial. Jaminan Kesehatan Masyarakat. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang 1 . Pembangunan kesehatan yang dilaksanakan dalam dasawarsa terakhir masih menghadapi berbagai masalah yang belum sepenuhnya dapat diatasi. yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan.

Dalam mengantisipasi ini. Pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran. kemauan. PENGERTIAN SKN Sistem Kesehatan Nasional (SKN) adalah bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang memadukan berbagai upaya bangsa Indonesia dalam satu derap langkah guna menjamin tercapainya tujuan pembangunan kesehatan dalam kerangka mewujudkan kesejahteraan rakyat sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Dasar 1945. SKN 2004 sebagai pengganti SKN 1982. dasar. perlu mengacu terutama pada arah. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang 2 . penting untuk dimutakhirkan menjadi SKN 2009 agar dapat mengantisipasi berbagai tantangan perubahan pembangunan kesehatan dewasa ini dan di masa depan. dan strategi pembangunan kesehatan yang ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025 dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025. sehingga diperlukan penyempurnaan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. B. dan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025. Disamping itu secara global terjadi perubahan iklim dan upaya percepatan pencapaian MDGs.Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. pada hakekatnya merupakan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan.

C. keamanan.setinggi-tingginya dapat terwujud. Sistem Kesehatan Nasional perlu dilaksanakan dalam konteks Pembangunan Kesehatan secara keseluruhan dengan mempertimbangkan determinan sosial. tingkat pendidikan. memperjelas penyelenggaraan pembangunan kesehatan sesuai dengan visi dan misi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025. MAKSUD DAN KEGUNAAN SKN Penyusunan SKN 2009 ini dimaksudkan untuk menyesuaikan SKN 2004 dengan berbagai perubahan dan tantangan eksternal dan internal. 3) Adil dan merata. serta meningkatkan investasi kesehatan untuk keberhasilan pembangunan nasional. melaksanakan pemerataan upaya kesehatan yang terjangkau dan bermutu. memantapkan kemitraan dan kepemimpinan yang transformatif. Tersusunnya SKN 2009 mempertegas makna pembangunan kesehatan dalam rangka pemenuhan hak asasi manusia. pendapatan keluarga. swasta. 3 . serta 4) Pengutamaan dan manfaat. baik oleh masyarakat. seperti: kondisi kehidupan sehari-hari. maupun oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah serta pihak terkait lainnya. distribusi kewenangan. Pembangunan kesehatan diselenggarakan berdasarkan pada: 1) Perikemanusiaan. 2) Pemberdayaan dan kemandirian. serta kemampuan tenaga kesehatan dalam mengatasi masalah-masalah tersebut. kesadaran masyarakat. sumber daya. agar dapat dipergunakan sebagai pedoman tentang bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan.

Sistem Kesehatan Nasional juga disusun dengan memperhatikan inovasi/terobosan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan secara luas. 2. Sistem Kesehatan Nasional disusun dengan memperhatikan pendekatan revitalisasi pelayanan kesehatan dasar (primary health care) yang meliputi: 1) Cakupan pelayanan kesehatan yang adil dan merata. yaitu UUD 1945. 2) Pemberian pelayanan kesehatan yang berpihak kepada rakyat.Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan Tahun 2005-2025 merupakan arah pembangunan kesehatan yang berkesinambungan. setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya. setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin. D. Landasan Konstitusional. yaitu Pancasila. 3) Kebijakan pembangunan kesehatan. bertempat tinggal. khususnya: Pasal 28 A. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan Tahun 2005-2025 dan SKN merupakan dokumen kebijakan pembangunan kesehatan sebagai acuan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Pendekatan pelayanan kesehatan dasar secara global telah diakui sebagai pendekatan yang tepat dalam mencapai kesehatan bagi semua dengan mempertimbangkan kebijakan kesehatan yang responsif gender. dan 4) Kepemimpinan. LANDASAN SKN Landasan SKN meliputi: 1. Landasan Idiil. Pasal 28 H ayat (1). dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan 4 . termasuk penguatan sistem rujukan.

Negara bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. Pasal 28 B ayat (2). Beberapa peraturan perundangan tersebut terdapat dalam Lampiran-1 dari RPJP-K Tahun 2005-2025. serta Pasal 34 ayat (2). Landasan Operasional meliputi seluruh ketentuan peraturan perundangan yang berkaitan dengan penyelenggaraan SKN dan pembangunan kesehatan. demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia. Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan dan ayat (3). 5 . tumbuh. setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya. setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat. seni dan budaya. setiap anak berhak atas kelangsungan hidup. 3. Pasal 28 C ayat (1). berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi.kesehatan dan ayat (3). dan berkembang.

Angka Kematian Ibu (AKI) juga mengalami penurunan dari 318 per 100. 2007).000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (SDKI. antara lain ditunjukkan dengan peningkatan status kesehatan. Upaya percepatan pencapaian indikator kesehatan dalam lingkungan strategis baru.5% pada akhir tahun 1997 menjadi sebesar 18.BAB II PERKEMBANGAN DAN TANTANGAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. Umur Harapan Hidup (UHH) meningkat dari 68. Demikian pula telah terjadi penurunan prevalensi kekurangan gizi pada balita dari 29. dalam kaitan ini akses rumah tangga yang dapat menjangkau sarana kesehatan ≤ 30 menit sebesar 90.000 kelahiran hidup pada tahun 1997 menjadi 228 per 100. Upaya Kesehatan Akses pada pelayanan kesehatan secara nasional mengalami peningkatan.7% dan akses rumah tangga 6 . 2007). PERKEMBANGAN DAN KESEHATAN NASIONAL MASALAH SISTEM Pembangunan kesehatan yang dilaksanakan secara berkesinambungan telah berhasil meningkatkan status kesehatan masyarakat. Sejalan dengan penurunan angka kematian bayi.4% pada tahun 2007 (Riskesdas. 1. harus terus diupayakan dengan perbaikan Sistem Kesehatan Nasional.000 kelahiran hidup pada tahun 1997 menjadi 34 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (SDKI 2007). yaitu: penurunan Angka Kematian Bayi (AKB) dari 46 per 1.6 tahun pada tahun 2004 menjadi 70. Namun penurunan indikator kesehatan masyarakat tersebut masih belum seperti yang diharapkan. Kinerja sistem kesehatan telah menunjukkan peningkatan.5 tahun pada tahun 2007.

8% pada tahun 2007. Secara keseluruhan. perbatasan. serta pulau-pulau kecil terdepan dan terluar masih rendah. Pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan oleh penduduk meningkat dari 15. Namun pada daerah terpencil.7% pada tahun 2006.9% dan cakupan terendah 17. Namun masih ditemui disparitas Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan cakupan imunisasi antar wilayah masih tinggi. Disamping itu. 2007).3% pada tahun 1997 menjadi 46% pada tahun 2007.000 penduduk pada tahun 2003 menjadi 3.3% (Riskesdas. 7 .1% (Riskesdas. pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan meningkat 20% dalam kurun 10 tahun.1% pada tahun 1996 menjadi 33. tertinggal.4% pada tahun 2005 menjadi 41. Cakupan pemeriksaan kehamilan tertinggi 97. kesehatan ibu membaik dengan turunnya AKI. 2007). sementara persalinan di fasilitas kesehatan meningkat dari 24.46 per 100. Jarak fasilitas pelayanan yang jauh disertai distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata dan pelayanan kesehatan yang mahal menyebabkan rendahnya aksesibilitas masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.1% dan terendah 67%. peningkatan yang besar terutama di daerah perdesaan. sementara itu cakupan imunisasi lengkap tertinggi sebesar 73.yang berada ≤ 5 km dari sarana kesehatan sebesar 94. 2007).3% (2007). Begitupula kunjungan baru (contact rate) ke fasilitas pelayanan kesehatan meningkat dari 34.65 per 100. jumlah masyarakat yang mencari pengobatan sendiri sebesar 45% dan yang tidak berobat sama sekali sebesar 13. Peningkatan jumlah Puskesmas ditandai dengan peningkatan rasio Puskesmas dari 3.000 pada tahun 2007 (Profil Kesehatan.

Pada tahun 2007. Persentase pengeluaran nasional sektor kesehatan pada tahun 2005 adalah sebesar 0. HIV/AIDS.54 Triliun meningkat menjadi sebesar 18. Pengeluaran pemerintah untuk 8 . Selain itu penyakit yang kurang mendapat perhatian (neglected diseases). Penyakit infeksi menular masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menonjol.Akses terhadap air bersih sebesar 57. meskipun belum mencapai 5% dari PDB seperti dianjurkan WHO.75 Triliun pada tahun 2007. pada tahun 2004 jumlah APBN kesehatan adalah sebesar Rp 5. Pembiayaan Kesehatan Pembiayaan kesehatan sudah semakin meningkat dari tahun ke tahun.7% rumah tangga dan sebesar 63. menjadikan Indonesia mempunyai beban ganda (double burden). terutama: TB Paru.09 % dari PDB. DBD dan Diare. Malaria. Namun demikian kontribusi penyakit menular terhadap kesakitan dan kematian semakin menurun. Framboesia cenderung meningkat kembali.8% dan yang tidak memiliki saluran pembuangan air limbah sebesar 32. seperti Filariasis. Hasil Riskesdas Tahun 2007 menunjukkan adanya peningkatan kasus penyakit tidak menular (seperti penyakit kardiovaskuler dan kanker) secara cukup bermakna. Demikian pula penyakit Pes masih terdapat di berbagai daerah. 2007). Demikian pula dengan anggaran kesehatan. Kusta.5%.5% rumah tangga mempunyai akses pada sanitasi yang baik (Riskesdas. namun persentase terhadap seluruh APBN belum meningkat dan masih berkisar 2.8%.81% dari Produk Domestik Bruto (PDB) meningkat pada tahun 2007 menjadi 1. 2. rumah tangga yang tidak menggunakan fasilitas buang air besar sebesar 24.6–2.

Cakupan jaminan pemeliharaan kesehatan sekitar 46. b) Perencanaan kebijakan dan program SDM Kesehatan masih lemah dan belum didukung sistem informasi SDM Kesehatan yang memadai.000 pada tahun 2007. yaitu 19 per 100. Selain itu.4 juta jiwa atau 34. distribusi tenaga kesehatan masih belum merata. Masalah strategis SDM Kesehatan yang dihadapi dewasa ini dan di masa depan adalah: a) Pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan belum dapat memenuhi kebutuhan SDM untuk pembangunan kesehatan. Sumber Daya Manusia Kesehatan Upaya pemenuhan kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan belum memadai.2%.5% dari keseluruhan penduduk pada tahun 2008 yang sebagian besar berasal dari bantuan sosial untuk program jaminan kesehatan masyarakat miskin sebesar 76. 9 . d) Dalam pendayagunaan SDM Kesehatan.000 penduduk bila dibandingkan dengan negara lain di ASEAN. Kualitas hasil pendidikan SDM Kesehatan dan pelatihan kesehatan pada umumnya masih belum memadai. baik jumlah. seperti Filipina 58 per 100.000 penduduk dan Malaysia 70 per 100. jenis. 3. maupun kualitas tenaga kesehatan yang dibutuhkan. yaitu 38% dari total pembiayaan kesehatan.kesehatan terus meningkat. Namun kontribusi pengeluaran pemerintah untuk kesehatan masih kecil. c) Masih kurang serasinya antara kebutuhan dan pengadaan berbagai jenis SDM Kesehatan. Jumlah dokter Indonesia masih termasuk rendah. Proporsi pembiayaan kesehatan yang bersumber dari pemerintah belum mengutamakan upaya pencegahan dan promosi kesehatan.

dan Makanan Pasar sediaan farmasi masih didominasi oleh produksi domestik. 4. Regulasi untuk mendukung SDM Kesehatan masih terbatas.600 jenis tanaman berpotensi mempunyai efek pengobatan. Daftar Obat Esensial Nasional tersebut telah disusun sejak tahun 1980 dan direvisi secara berkala sampai tahun 2008. namun masih banyak kendala yang dihadapi.pemerataan SDM Kesehatan berkualitas masih kurang. serta e) Pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan serta dukungan sumber daya SDM Kesehatan masih kurang. Sementara itu pemerintah telah berusaha untuk menurunkan harga obat. Penggunaan obat rasional belum dilaksanakan di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan. Pengembangan karier. dan sanksi belum sebagaimana mestinya. Di Indonesia terdapat 9. dan makanan telah dilakukan secara komprehensif. Sediaan Farmasi. sistem penghargaan. Namun tidak diikuti 10 . masih banyak pengobatan yang dilakukan tidak sesuai dengan formularium. sementara itu bahan baku impor mencapai 85% dari kebutuhan. Alat Kesehatan. alat kesehatan. Upaya perlindungan masyarakat terhadap penggunaan sediaan farmasi. Lebih dari 90% obat yang diresepkan di Puskesmas merupakan obat esensial generik. dan baru 300 jenis tanaman yang telah digunakan sebagai bahan baku. Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) digunakan sebagai dasar penyediaan obat di pelayanan kesehatan publik.

Surveilans belum dilaksanakan secara menyeluruh. Hukum kesehatan belum tertata secara sistematis dan belum mendukung pembangunan kesehatan secara utuh. 11 . Regulasi bidang kesehatan pada saat ini belum cukup. Data dan informasi kesehatan untuk perencanaan tidak tersedia tepat waktu. Pemerintah belum sepenuhnya dapat menyelenggarakan pembangunan kesehatan yang efektif. 5. Hal ini menunjukkan bahwa konsep obat esensial generik belum sepenuhnya diterapkan. Sistem informasi kesehatan menjadi lemah setelah menerapkan kebijakan desentralisasi. dan apotek kurang dari 47%. Demikian juga dengan banyak kebijakan yang belum disusun berbasis bukti dan belum bersinergi baik perencanaan di tingkat Pusat dan atau di tingkat Daerah.oleh sarana pelayanan kesehatan lainnya. Hasil penelitian kesehatan belum banyak dimanfaatkan sebagai dasar perumusan kebijakan dan perencanaan program. efisien. baik jumlah. seperti: di rumah sakit pemerintah kurang dari 76%. Begitu pula dengan perencanaan jangka panjang/menengah masih belum menjadi acuan dalam menyusun perencanaan jangka pendek. dan bermutu sesuai dengan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance). jenis. Manajemen dan Informasi Kesehatan Perencanaan pembangunan kesehatan antara Pusat dan Daerah belum sinkron. Sistem Informasi Kesehatan Nasional (Siknas) yang berbasis fasilitas sudah mencapai tingkat kabupaten/kota namun belum dimanfaatkan. maupun efektifitasnya. rumah sakit swasta 49%.

6. regional. termasuk pembangunan kesehatannya. tetapi pemanfaatan dan kualitasnya masih rendah. lokasinya jauh (26%). Hal ini merupakan faktor eksternal utama yang mempengaruhi proses pembangunan kesehatan. dan nasional yang dinamis akan mempengaruhi pembangunan suatu negara. Jumlah UKBM. Pemberdayaan Masyarakat Rumah tangga yang telah melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat meningkat dari 27% pada tahun 2005 menjadi 36. 12 . yakni dengan target 60%.111 buah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes). B. Hingga tahun 2008 sudah terbentuk 47.3% pada tahun 2007.111 Desa Siaga dimana terdapat 47. Hasil Riskesdas tahun 2007 menunjukkan bahwa alasan utama rumah tangga tidak memanfaatkan Posyandu/Poskesdes walaupun sebenarnya memerlukan adalah karena: pelayanannya tidak lengkap (49.6%). namun masih jauh dari sasaran yang harus dicapai pada tahun 2009. Pemerintah telah memberikan pula bantuan stimulan untuk pengembangan 229 Musholla Sehat. Di samping itu. seperti Posyandu dan Poskesdes semakin meningkat. dan tidak ada Posyandu/Poskesdes (24%). Sampai dewasa ini dirasakan bahwa masyarakat masih lebih banyak sebagai objek dari pada sebagai subjek pembangunan kesehatan.202 buah dan 967 Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren). Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat lainnya yang terus berkembang pada tahun 2008 adalah Posyandu yang telah berjumlah 269. PERUBAHAN LINGKUNGAN STRATEGIS Perkembangan global.

sehingga mengharuskan adanya suatu sistem kesehatan yang responsif. Tingkat Global dan Regional Globalisasi merupakan suatu perubahan interaksi manusia secara luas. dan lokal. yang mencakup ekonomi. dan lingkungan. demokratisasi. nasional. 2. sebagai contoh: banyaknya peserta Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang menggunakan isu kesehatan sebagai janji politik. serta dapat dijadikan peluang atau kendala bagi sistem kesehatan di Indonesia. seperti desentralisasi. Era globalisasi dapat menjadi peluang sekaligus tantangan pembangunan kesehatan. 13 . yang sampai saat ini belum sepenuhnya dilakukan persiapan dan langkah-langkah yang menjadikan peluang dan mengurangi dampak yang merugikan. dan transportasi yang mempunyai konsekuensi pada fungsi suatu negara dalam sistem pengelolaannya. jejaring riset Asia Pasifik. serta komitmen Nasional. regional. Komitmen Internasional.Faktor lingkungan strategis dapat dibedakan atas tatanan global. perlu menjadi perhatian dalam pembangunan kesehatan. informasi. Tingkat Nasional dan Lokal Pada tingkat nasional terjadi proses politik. budaya. dan politik kesehatan yang berdampak pada pembangunan kesehatan. 1. politik. sosial. adaptasi perubahan iklim (climate change). teknologi. seperti revitalisasi pelayanan kesehatan dasar dan pengarus-utamaan gender. ASEAN Charter. seperti: MDGs. Proses ini dipicu dan dipercepat dengan berkembangnya teknologi.

14 . sementara itu kesadaran hukum masyarakat masih rendah. Perangkat regulasi dan hukum yang terkait dengan kesehatan masih belum memadai. Oleh karena itu perlu dilakukan berbagai terobosan/ pendekatan terutama pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan kesehatan yang memberikan penguatan kapasitas dan surveilans berbasis masyarakat. di sisi lain situasi sosial politik yang berkembang sering menimbulkan konflik sosial yang pada akhirnya memunculkan berbagai masalah kesehatan.Proses desentralisasi yang semula diharapkan mampu memberdayakan daerah dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. termasuk akibat pembangunan yang tidak berwawasan kesehatan yang memerlukan upaya pemecahan melalui berbagai terobosan dan pendekatan. Secara geografis. namun dalam kenyataannya belum sepenuhnya berjalan dan bahkan memunculkan euforia di daerah yang mengakibatkan pembangunan kesehatan terkendala. dan masih lemahnya penegakan hukum menyebabkan berbagai hambatan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. mekanisme mitigasi serta adaptasi dan pengenalan resiko akan perubahan iklim menuntut kegiatan kerjasama antara pihak lingkungan dengan pihak kesehatan dan seluruh sektor terkait. diantaranya melalui pengembangan Desa Siaga. Di bidang lingkungan. sebagian besar wilayah Indonesia rawan bencana.

dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dapat terwujud. memegang teguh etika profesi. pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran.BAB III ASAS SISTEM KESEHATAN NASIONAL Sebagaimana dinyatakan dalam Bab I bahwa Sistem Kesehatan Nasional (SKN) adalah bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan. A. Tenaga kesehatan perlu berbudi luhur. Dengan demikian untuk menjamin efektifitas SKN. Perikemanusian Pembangunan kesehatan harus berlandaskan pada prinsip perikemanusiaan yang dijiwai. Dalam Undang-undang tersebut. 15 . DASAR PEMBANGUNAN KESEHATAN Sesuai dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Jangka Panjang Pembangunan Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025. maka setiap pelaku pembangunan kesehatan harus taat pada asas yang menjadi landasan bagi setiap program dan kegiatan pembangunan kesehatan. digerakan dan dikendalikan oleh keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. dan selalu menerapkan prinsip perikemanusiaan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. dinyatakan bahwa pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan mendasarkan pada: 1. kemauan.

Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup. Adil dan Merata Dalam pembangunan kesehatan setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Pembangunan kesehatan harus mampu membangkitkan dan mendorong peran aktif masyarakat. agama. tumbuh dan kembang. dan bertanggungjawab untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan perorangan. Pengutamaan dan Manfaat Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan perorangan atau golongan. dan status sosial ekonominya. masyarakat. keluarga. Upaya kesehatan yang bermutu diselenggarakan dengan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta harus lebih mengutamakan pendekatan peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit.2. Pembangunan kesehatan dilaksanakan dengan berlandaskan pada kepercayaan atas kemampuan dan kekuatan sendiri serta kepribadian bangsa dan semangat solidaritas sosial serta gotongroyong. Pembangunan kesehatan diselenggarakan berlandaskan pada dasar kemitraan atau sinergisme yang dinamis dan tata penyelenggaraan yang baik. dan lingkungannya. Pemberdayaan dan Kemandirian Setiap orang dan masyarakat bersama dengan pemerintah berperan. sehingga secara berhasil guna dan bertahap dapat 16 . serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. golongan. 3. berkewajiban. 4. tanpa memandang suku. Setiap orang berhak memperoleh pelayanan kesehatan.

memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat. anak. Undangundang Dasar 1945 pasal 28 H ayat 1 antara lain menggariskan bahwa setiap rakyat berhak atas pelayanan kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya tanpa membedakan suku. yaitu untuk meningkatkan kecerdasan bangsa dan kesejahteraan rakyat. Perlu diupayakan pembangunan kesehatan secara terintegrasi antara Pusat dan Daerah dengan mengedepankan nilai-nilai pembangunan kesehatan. bayi. dan status sosial ekonomi. maka setiap penyelenggaraan SKN berdasarkan pada prinsip hak asasi manusia. Hak Asasi Manusia (HAM) Sesuai dengan tujuan pembangunan nasional dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945. jenis kelamin. antara lain: ibu. Setiap anak dan perempuan berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. dan e) Transparansi serta Akuntabilitas. d) Integritas yang Tinggi. B. beserta lingkungannya. SKN perlu mengacu pada dasardasar sebagai berikut: 1. 17 . yaitu: a) Berpihak pada Rakyat. golongan. b) Bertindak Cepat dan Tepat. c) Kerjasama Tim. agama. DASAR SKN Dalam penyelenggaraan. manusia usia lanjut. Pembangunan kesehatan diarahkan agar memberikan perhatian khusus pada penduduk rentan. dan masyarakat miskin.

baik antar pelaku. profesional. maka sistem atau seluruh sektor terkait. berkepastian hukum. dan Sinergisme (KISS). serta bertanggung-jawab dan bertanggung-gugat (akuntabel). dan kerjasama yang baik dari para pelaku untuk menghasilkan tata penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang baik (good governance).2. antar subsistem SKN. termasuk swasta dengan mendayagunakan potensi yang dimiliki masing-masing. maupun dengan sistem serta subsistem lain di luar SKN. Komitmen dan Tata Pemerintahan yang Baik (Good Governance) Agar SKN berfungsi baik. rasional. terbuka (transparan). Sinkronisasi. dukungan. 3. keuangan dan pendidikan perlu berperan bersama dengan sektor kesehatan untuk mencapai tujuan nasional. diperlukan komitmen yang tinggi. agar diperoleh sinergisme yang lebih mantap dalam rangka mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. 18 . Integrasi. Kemitraan tersebut diwujudkan dengan mengembangkan jejaring yang berhasil guna dan berdaya guna. seperti pembangunan prasarana. Pembangunan kesehatan harus diselenggarakan dengan menggalang kemitraan yang dinamis dan harmonis antara pemerintah dan masyarakat. Dengan tatanan ini. Pembangunan kesehatan diselenggarakan secara demokratis. Sinergisme dan Kemitraan yang Dinamis Sistem Kesehatan Nasional akan berfungsi baik untuk mencapai tujuannya apabila terjadi Koordinasi.

setiap penyusunan rencana kebijakan dan program serta dalam pelaksanaan program kesehatan harus menerapkan kesetaraan dan keadilan gender. yang di dasarkan pada pengalaman masa lalu atau pengalaman yang terjadi di negara lain. 19 . Kesetaraan gender dalam pembangunan kesehatan adalah kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan dan hak-haknya sebagai manusia. 5. Keadilan gender adalah suatu proses untuk menjadi adil terhadap laki-laki dan perempuan dalam pembangunan kesehatan. pelaku pembangunan kesehatan perlu lebih proaktif terhadap perubahan lingkungan strategis baik yang bersifat internal maupun eksternal.4. diperlukan dukungan regulasi berupa adanya berbagai peraturan perundangan yang mendukung penyelenggaraan SKN dan penerapannya (law enforcement). Dengan mengacu pada antisipasi tersebut. agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan kesehatan serta kesamaan dalam memperoleh manfaat pembangunan kesehatan. 6. Antisipatif dan Pro Aktif Setiap pelaku pembangunan kesehatan harus mampu melakukan antisipasi atas perubahan yang akan terjadi. Responsif Gender Dalam penyelenggaraan SKN. Dukungan Regulasi Dalam menyelenggarakan SKN.

Kearifan Lokal Penyelenggaraan SKN di daerah harus memperhatikan dan menggunakan potensi daerah yang secara positif dapat meningkatkan hasil guna dan daya guna pembangunan kesehatan. yang dapat diukur secara kuantitatif dari meningkatnya peran serta masyarakat dan secara kualitatif dari meningkatnya kualitas hidup jasmani dan rohani. 20 . Dengan demikian kebijakan pembangunan daerah di bidang kesehatan harus sejalan dengan SKN.7. walaupun dalam prakteknya. dapat disesuaikan dengan potensi dan kondisi serta kebutuhan masyarakat di daerah terutama dalam penyediaan pelayanan kesehatan dasar bagi rakyat.

Suprasistem SKN Suprasistem SKN adalah Ketahanan Nasional. perdamaian. yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. berhasil guna dan berdaya guna. Kedudukan SKN dalam Sistem Nasional Lainnya Terwujudnya keadaan sehat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang tidak hanya menjadi tanggung-jawab sektor kesehatan. B. undangundang yang berkaitan dengan kesehatan merupakan kebijakan strategis dalam pembangunan kesehatan.BAB IV BENTUK POKOK SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. baik masyarakat. maupun pemerintah secara sinergis. melainkan juga tanggung-jawab berbagai sektor terkait. swasta. Dalam kaitan ini. 2. KEDUDUKAN SKN 1. TUJUAN SKN Tujuan SKN adalah terselenggaranya pembangunan kesehatan oleh semua potensi bangsa. mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. sehingga terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Dalam penyelenggaraan pembangunan 21 . SKN bersama dengan berbagai sistem nasional lainnya diarahkan untuk mencapai Tujuan Bangsa Indonesia seperti yang tercantum dalam Pembukaan Undangundang Dasar 1945. abadi dan keadilan sosial.

SKN dapat bersinergis secara dinamis dengan berbagai sistem nasional lainnya. Dengan demikian pelaksanaan pembangunan nasional harus berwawasan kesehatan dengan mengikutsertakan seluruh sektor terkait kesehatan sejak awal perencanaan agar dampak pembangunan yang dilakukan tidak merugikan derajat kesehatan masyarakat secara langsung maupun tidak langsung dalam jangka pendek maupun jangka panjang. seperti: Sistem Pendidikan Nasional. 4. 22 . Sistem Hankamnas.kesehatan. Sistem Ketahanan Pangan Nasional. SKN perlu menjadi acuan bagi sektor lain. termasuk potensi swasta berperan aktif sebagai mitra dalam pembangunan kesehatan yang dilaksanakan sesuai SKN. dan Sistem nasional lainnya. Dalam penyelenggaraan pembangunan nasional. Di lain pihak. Kedudukan SKN terhadap Penyelenggaraan Pembangunan Kesehatan di Daerah Dalam pembangunan kesehatan. SKN merupakan acuan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan di daerah. Sistem Perekonomian Nasional. Kedudukan SKN terhadap berbagai Kemasyarakatan. Dalam kaitan ini SKN dipergunakan sebagai acuan bagi masyarakat dalam berbagai upaya kesehatan. termasuk Swasta Sistem Keberhasilan pembangunan kesehatan sangat ditentukan oleh dukungan sistem nilai dan budaya masyarakat yang secara bersama terhimpun dalam berbagai sistem kemasyarakatan. 3. sebagai sistem kemasyarakatan yang ada.

2) Kontingensi. Dengan mengacu terutama pada kedudukan SKN diatas dan pencapaian tujuan nasional. dalam Gambar-1 dikemukakan alur pikir dari Rencana Pembangunan Kesehatan dan SKN termaksud. dan 3) Sinergi yang dinamis. pengobatan. Upaya kesehatan diselenggarakan dengan upaya peningkatan.Keberhasilan pembangunan kesehatan juga ditentukan oleh peran aktif swasta. Mengacu pada substansi perkembangan penyelenggaraan pembangunan kesehatan dewasa ini serta pendekatan manajemen kesehatan tersebut diatas. terbuka. C. Dalam kaitan ini potensi swasta merupakan bagian integral dari SKN. 23 . SUBSISTEM SKN Pendekatan manajemen kesehatan dewasa ini dan kecenderungannya di masa depan adalah kombinasi dari pendekatan: 1) Sistem. Subsistem Upaya Kesehatan Untuk dapat mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya perlu diselenggarakan berbagai upaya kesehatan dengan menghimpun seluruh potensi bangsa Indonesia. pencegahan. maka subsistem SKN meliputi: 1. dan pemulihan. dan saling menguntungkan dengan berbagai potensi swasta. sehingga sejalan dengan tujuan pembangunan nasional yang berwawasan kesehatan. Untuk keberhasilan pembangunan kesehatan perlu digalang kemitraan yang setara. Sistem Kesehatan Nasional dapat mewarnai potensi swasta.

Pembiayaan pelayanan kesehatan masyarakat merupakan public good yang menjadi tanggung-jawab pemerintah. pembiayaan kesehatan yang adekuat. Pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan meliputi: 1) 24 . swasta. organisasi masyarakat. SKN juga memberikan fokus penting pada pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan guna menjamin ketersediaan dan pendistribusian sumber daya manusia kesehatan. Pembiayaan pelayanan kesehatan perorangan diselenggarakan melalui jaminan pemeliharaan kesehatan dengan mekanisme asuransi sosial yang pada waktunya diharapkan akan mencapai universal coverage sesuai dengan Undang-undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Subsistem Sumber Daya Manusia Kesehatan Sebagai pelaksana upaya kesehatan. yakni: Pemerintah. dan berkesinambungan memegang peran yang amat vital untuk penyelenggaraan pelayanan kesehatan dalam rangka mencapai berbagai tujuan pembangunan kesehatan. Subsistem Pembiayaan Kesehatan Pembiayaan kesehatan bersumber dari berbagai sumber. Pemerintah Daerah. Oleh karena itu. diperlukan sumber daya manusia kesehatan yang mencukupi dalam jumlah. sedangkan untuk pelayanan kesehatan perorangan pembiayaannya bersifat private. sesuai tututan kebutuhan pembangunan kesehatan. serta terdistribusi secara adil dan merata. kecuali pembiayaan untuk masyarakat miskin dan tidak mampu menjadi tanggung-jawab pemerintah. 3. jenis dan kualitasnya. terintegrasi.2. stabil. dan masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu.

dan informasi kesehatan. ketersediaan. analisa. 4. efisien. serta penyerasian berbagai subsistem SKN dan efektif. 5. pemerataan. dan keterjangkauan obat. Dari segi pengadaan data dan informasi dapat dikelompokkan kegiatannya sebagai berikut: 1) Pengumpulan. serta transparansi dari penyelenggaraan SKN tersebut. diperlukan manajemen kesehatan. administrasi kesehatan. dan Makanan Subsistem kesehatan ini meliputi berbagai kegiatan untuk menjamin: aspek keamanan. serta upaya kemandirian di bidang kefarmasian melalui pemanfaatan sumber daya dalam negeri. Peranan manajemen kesehatan adalah koordinasi. Subsistem Manajemen dan Informasi Kesehatan Subsistem ini meliputi: kebijakan kesehatan. penggunaan obat yang rasional. khasiat/ kemanfaatan dan mutu sediaan farmasi. Subsistem Sediaan Farmasi. 2) Manajemen sistem informasi. Alat Kesehatan. alat kesehatan. integrasi. terutama obat esensial. dan diseminasi data dan informasi. perlindungan masyarakat dari penggunaan yang salah dan penyalahgunaan obat. 3) 25 . Dalam kaitan ini peranan informasi kesehatan sangat penting. sinkronisasi. validasi. 2) pengadaan yang meliputi pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan SDM Kesehatan. termasuk peningkatan kesejahteraannya. 3) pendayagunaan SDM Kesehatan. Untuk menggerakkan pembangunan kesehatan secara berhasil guna dan berdaya guna. hukum kesehatan.perencanaan kebutuhan sumber daya manusia yang diperlukan. dan 4) pembinaan serta pengawasan SDM Kesehatan. dan makanan yang beredar.

Keterkaitan tersebut adalah sebagai berikut: 1.Dukungan kegiatan dan sumber daya untuk unit-unit yang memerlukan. Subsistem Pemberdayaan Masyarakat Sistem Kesehatan Nasional akan berfungsi optimal apabila ditunjang oleh pemberdayaan masyarakat. dan 4) Pengembangan untuk peningkatan mutu sistem informasi kesehatan. melainkan juga sebagai subjek atau penyelenggara dan pelaku pembangunan kesehatan. Masyarakat termasuk swasta bukan semata-mata sebagai sasaran pembangunan kesehatan. TATA HUBUNGAN LINGKUNGANNYA ANTAR SUBSISTEM DAN Penyelenggaraan SKN memerlukan keterkaitan antar unsur-unsur SKN sebagai suatu tata hubungan yang efektif. 6. D. Dalam pemberdayaan masyarakat meliputi pula upaya peningkatan lingkungan sehat oleh masyarakat sendiri. Berbagai upaya tersebut memerlukan dukungan pembiayaan. SDM Kesehatan. ketersediaan sediaan 26 . Subsistem Upaya Kesehatan diselenggarakan untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Untuk penyelenggaraan subsistem tersebut diperlukan berbagai upaya dengan menghimpun seluruh potensi bangsa Indonesia. Oleh karenanya pemberdayaan masyarakat menjadi sangat penting. Upaya pemberdayaan masyarakat akan berhasil pada hakekatnya bila kebutuhan dasar masyarakat sudah terpenuhi. Pemberdayaan masyarakat dan upaya kesehatan pada hakekatnya merupakan fokus dari pembangunan kesehatan. agar masyarakat termasuk swasta dapat mampu dan mau berperan sebagai pelaku pembangunan kesehatan.

terdistribusi secara adil. manajemen dan informasi kesehatan. alat kesehatan dan makanan. 2. dan makanan diselenggarakan guna menjamin keamanan. dan keterjangkauan obat. manfaat. teralokasi secara adil. menjamin ketersediaan. alat kesehatan.farmasi. subsistem sediaan farmasi. alat kesehatan. dan makanan yang beredar. serta subsistem pemberdayaan masyarakat. subsistem manajemen dan informasi kesehatan. Tersedianya tenaga kesehatan yang mencukupi dan berkualitas juga akan menunjang terselenggaranya subsistem pembiayaan kesehatan. dan makanan. dan mutu semua produk sediaan farmasi. subsistem manajemen dan informasi kesehatan. pemerataan. 27 . dan makanan. khasiat. dan termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna untuk terselenggaranya upaya kesehatan secara merata. 4. dan bermutu bagi seluruh masyarakat. serta subsistem pemberdayaan masyarakat. Tersedianya pembiayaan yang memadai juga akan menunjang terselenggaranya subsistem sumber daya manusia kesehatan. Subsistem pembiayaan kesehatan diselenggarakan guna menghasilkan ketersediaan pembiayaan kesehatan dengan jumlah yang mencukupi. serta pemberdayaan masyarakat. terjangkau. sehingga upaya kesehatan dapat diselenggarakan sesuai dengan kebutuhan seluruh lapisan masyarakat. Subsistem sediaan farmasi. terutama obat esensial. serta termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna. Subsistem sumber daya manusia kesehatan diselenggarakan guna menghasilkan tenaga kesehatan yang bermutu dalam jumlah yang mencukupi. alat kesehatan. 3. alat kesehatan. subsistem sediaan farmasi.

alat kesehatan. subsistem pembiayaan kesehatan. Subsistem manajemen dan informasi kesehatan diselenggarakan guna menghasilkan fungsi-fungsi kebijakan kesehatan. 5. kelompok. 28 . dan masyarakat umum yang mampu berperan aktif dalam penyelenggaraan upaya kesehatan. subsistem sediaan farmasi. dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. dan makanan. sehingga upaya kesehatan dapat diselenggarakan dengan berhasil guna dan berdaya guna. 6. manajemen dan informasi kesehatan. serta pemberdayaan masyarakat. pembiayaan kesehatan. alat kesehatan. Dengan manajemen kesehatan yang berhasil guna dan berdaya guna dapat diselenggarakan subsistem upaya kesehatan. subsistem sumber daya manusia kesehatan.perlindungan masyarakat dari penggunaan yang salah dan penyalahgunaan obat. sebagai suatu kesatuan yang terpadu dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Masyarakat yang berdaya akan berperan aktif dalam penyelenggaraan subsistem pembiayaan kesehatan. dan makanan saling terkait dengan subsistem upaya kesehatan. Subsistem sediaan farmasi. subsistem sediaan farmasi. serta penggunaan obat yang rasional. subsistem sumber daya manusia kesehatan. Subsistem pemberdayaan masyarakat diselenggarakan guna menghasilkan individu. dan hukum kesehatan yang memadai dan mampu menunjang penyelenggaraan upaya kesehatan secara berhasil guna dan berdaya guna. sumber daya kesehatan. alat kesehatan. serta subsistem pemberdayaan masyarakat. informasi kesehatan. administrasi kesehatan.

yang meliputi: ideologi. nasional. regional. hubungan SKN dengan lingkungan strategisnya sangat penting artinya.dan makanan. serta subsistem manajemen dan informasi kesehatan. Dalam kaitan ini. lingkungan termaksud dapat sebagai peluang maupun kendala. mengingat pembangunan kesehatan tidak dapat mencapai tujuannya tanpa memperhatikan dengan seksama interaksi dengan lingkungan strategis tersebut. Untuk memperoleh kejelasan secara umum substansi berbagai unsur-unsur pembangunan kesehatan dan subsistem SKN serta tata hubungannya dengan lingkungan strategis yang lebih spesifik dan penting yang mempengaruhi SKN dapat dilihat pada skema di Gambar-2. ekonomi. Selain itu. dan pertahanan keamanan. politik. maupun global. 29 . sosial budaya. Lingkungan tersebut terdapat di tingkat lokal.

Pengertian Subsistem Upaya Kesehatan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan upaya kesehatan yang paripurna. SUBSISTEM UPAYA KESEHATAN 1. meliputi upaya peningkatan. dan berkualitas. Unsur-unsur a. 30 . merata. pencegahan. pengobatan. 3. baik pelayanan kesehatan konvensional maupun pelayanan kesehatan yang terdiri dari pengobatan tradisional dan komplementer melalui pendidikan dan pelatihan dengan selalu mengutamakan keamanan dan efektifitas yang tinggi. pengobatan. Upaya Kesehatan Pelayanan kesehatan meliputi peningkatan. dan pemulihan. yang diselenggarakan guna menjamin tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. terjangkau. dan pemulihan. Tujuan Tujuan dari penyelenggaraan subsistem upaya kesehatan adalah terselenggaranya upaya kesehatan yang adil. terpadu. pencegahan.BAB V CARA PENYELENGGARAAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL A. 2. dan bermutu untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.

antara lain: ibu. biaya. Pembinaan dan Pengawasan Upaya Kesehatan Pelayanan kesehatan harus diberikan berdasarkan standar pelayanan yang telah ditetapkan oleh pemerintah dengan mempertimbangkan masukan dari organisasi profesi. c. dan masyarakat miskin. sertifikasi. maupun pemulihan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat. manusia usia lanjut. bayi. dan penegakan hukum yang dilakukan oleh pemerintah bersama dengan organisasi profesi dan masyarakat. Sumber Daya Upaya Kesehatan Sumber daya upaya kesehatan terdiri dari SDM kesehatan. Fasilitas pelayanan kesehatan merupakan alat dan atau tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan. anak. sediaan farmasi dan alat kesehatan. b. serta manajemen dan sistem informasi kesehatan yang memadai guna terselenggaranya upaya kesehatan. Pembinaan dan pengawasan upaya kesehatan dilakukan secara berjenjang melalui standarisasi. termasuk swasta. pengobatan. termasuk fasilitas pelayanan kesehatan. sarana dan prasarana. pencegahan. baik peningkatan. lisensi. 31 . akreditasi.Upaya kesehatan diutamakan pada berbagai upaya yang mempunyai daya ungkit tinggi dalam pencapaian sasaran pembangunan kesehatan utamanya penduduk rentan.

d. 4. serta aspek terkait lainnya dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai. Bermutu. Berkesinambungan dan Paripurna Upaya kesehatan bagi masyarakat diselenggarakan secara berkesinambungan dan paripurna meliputi upaya peningkatan. pencegahan. dapat diterima masyarakat. serta rujukan antar tingkatan upaya. Aman. Adil dan Merata Pemerintah wajib menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan yang berkeadilan dan merata untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di bidang kesehatan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan di luar negeri dalam kondisi tertentu. dan Sesuai Kebutuhan Pelayanan kesehatan bagi masyarakat harus berkualitas. b. c. 32 . sumber daya kesehatan. efektif dan sesuai. serta mampu menghadapi tantangan global dan regional. Prinsip a. pengobatan hingga pemulihan. terjamin keamanannya bagi penerima dan pemberi upaya. Pelaksanaan penelitian dan pengembangan didasarkan pada masalah kesehatan prioritas. Penelitian dan Pengembangan Upaya Kesehatan Penelitian dan pengembangan dilakukan utamanya untuk mendukung peningkatan mutu upaya kesehatan yang berhasil guna dan berdaya guna.

yaitu upaya kesehatan primer. dan nilai agama. Terjangkau Ketersediaan dan pembiayaan pelayanan kesehatan yang bermutu harus terjangkau oleh seluruh masyarakat. dan 33 . f. 5. upaya kesehatan sekunder. Terdapat tiga tingkatan upaya. budaya dan agama. dilakukan secara cepat dengan ketepatan/presisi yang tinggi. Teknologi tepat guna berasas pada kesesuaian kebutuhan dan tidak bertentangan dengan etika. Bekerja dalam Tim secara Cepat dan Tepat Upaya kesehatan dilakukan secara kerjasama tim.d. g. Teknologi Tepat Guna Upaya kesehatan menggunakan teknologi tepat guna yang berbasis bukti. moral. Upaya kesehatan dilaksanakan dalam tingkatan upaya sesuai dengan kebutuhan medik dan kesehatan. termasuk intelegensia dan sosial. mental. bukan status sosial ekonomi dan tidak membeda-bedakan suku/ras. e. Upaya Kesehatan Upaya kesehatan mencakup kesehatan fisik. Non diskriminatif Setiap penduduk harus mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan medis. melibatkan semua pihak yang kompeten. Penyelenggaraan a. dengan tetap memperhatikan pengarus-utamaan gender.

baik horisontal dan vertikal maupun struktural dan fungsional terhadap kasus penyakit atau masalah penyakit atau permasalahan kesehatan. Upaya kesehatan diselenggarakan secara berkesinambungan. sedang rujukan kesehatan dikaitkan dengan upaya pencegahan dan peningkatan kesehatan berupa sarana. dan paripurna melalui sistem rujukan. Upaya kesehatan primer adalah upaya kesehatan dimana terjadi kontak pertama secara perorangan atau masyarakat dengan pelayanan kesehatan melalui mekanisme rujukan timbal-balik. termasuk penanggulangan bencana dan pelayanan gawat darurat. Upaya kesehatan sekunder dan tersier adalah upaya kesehatan tingkat rujukan maupun rujukan tingkat lanjut. teknologi. 34 . dan operasional. 1) Upaya Kesehatan Primer Upaya Kesehatan Primer terdiri dari pelayanan kesehatan perorangan primer dan pelayanan kesehatan masyarakat primer. terpadu. dan pengetahuan tentang penyakit. Rujukan upaya kesehatan adalah pelimpahan wewenang dan tanggung-jawab secara timbal balik.upaya kesehatan tersier. spesimen. Rujukan dibagi dalam rujukan medik yang berkaitan dengan pengobatan dan pemulihan berupa pengiriman pasien (kasus).

Sstandar. termasuk di dalamnya pelayanan kebugaran dan gaya hidup sehat (healthy life style). Pelayanan kesehatan perorangan primer diselenggarakan berdasarkan Norma. serta fasilitas kesehatan lainnya milik pemerintah. tempat kerja. Pelayanan kesehatan perorangan primer memberikan penekanan pada pelayanan pengobatan.a) Pelayanan Kesehatan Perorangan Primer (PKPP) Pelayanan kesehatan perorangan primer adalah pelayanan kesehatan dimana terjadi kontak pertama secara perorangan sebagai proses awal pelayanan kesehatan. pemulihan tanpa mengabaikan upaya peningkatan dan pencegahan. Dilaksanakan dengan dukungan pelayanan kesehatan perorangan sekunder dalam sistem rujukan yang timbal balik. masyarakat. Pelayanan kesehatan perorangan primer dapat diselenggarakan sebagai pelayanan 35 . maupun fasilitas kesehatan perorangan primer baik Puskesmas dan jaringannya. maupun swasta. Prosedur dan Kriteria (NSPK) pelayanan yang ditetapkan oleh Pemerintah dengan memperhatikan masukan dari organisasi profesi dan masyarakat. Pelayanan kesehatan perorangan primer diselenggarakan oleh tenaga kesehatan yang dibutuhkan dan mempunyai kompetensi seperti yang ditetapkan sesuai ketentuan berlaku serta dapat dilaksanakan di rumah.

yang bergerak (ambulatory) atau menetap; dapat dikaitkan dengan tempat kerja, seperti klinik perusahaan; dan dapat disesuaikan dengan lingkungan atau kondisi tertentu (kesehatan matra, seperti: kesehatan haji, kesehatan kelautan, kesehatan penerbangan, kesehatan wisata). Pemerintah wajib menyediakan pelayanan kesehatan perorangan primer di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai kebutuhan, terutama bagi masyarakat miskin, daerah terpencil, perbatasan, pulau-pulau terluar dan terdepan, serta yang tidak diminati swasta. Pembiayaan pelayanan kesehatan perorangan primer untuk penduduk miskin dibiayai oleh pemerintah, sedangkan golongan ekonomi lainnya dibiayai dalam sistem pembiayaan yang diatur oleh pemerintah. Dalam pelayanan kesehatan perorangan termasuk pula pelayanan kesehatan berbasis masyarakat dalam bentuk seperti Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) dan pengobatan tradisional serta pengobatan alternatif yang secara ilmiah telah terbukti terjamin keamanan dan khasiatnya. b) Pelayanan Kesehatan Masyarakat Primer (PKMP) Pelayanan kesehatan masyarakat primer adalah pelayanan peningkatan dan pencegahan tanpa mengabaikan 36

pengobatan dan pemulihan dengan sasaran keluarga, kelompok, dan masyarakat. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat primer menjadi tanggung-jawab Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang pelaksanaan operasionalnya dapat didelegasikan kepada Puskesmas. Masyarakat termasuk swasta dapat menyelenggarakan pelayanan kesehatan masyarakat primer sesuai peraturan yang berlaku dan berkerjasama dengan pemerintah. Pembiayaan pelayanan kesehatan masyarakat primer ditanggung oleh pemerintah bersama masyarakat, termasuk swasta. Pemerintah wajib melaksanakan dan membiayai pelayanan kesehatan masyarakat primer yang berhubungan dengan prioritas pembangunan kesehatan melalui kegiatan perbaikan lingkungan, peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit dan kematian serta paliatif. Pelaksanaan pelayanan kesehatan masyarakat primer didukung kegiatan lainnya, seperti surveilans, pencatatan, dan pelaporan. Pemerintah dapat membentuk fasilitas kesehatan yang secara khusus ditugaskan untuk melaksanakan upaya kesehatan masyarakat sesuai keperluan. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat primer mendukung upaya 37

kesehatan berbasis masyarakat dan didukung oleh pelayanan kesehatan masyarakat sekunder. 2) Upaya Kesehatan Sekunder Upaya kesehatan sekunder adalah upaya kesehatan rujukan lanjutan, yang terdiri dari pelayanan kesehatan perorangan sekunder dan pelayanan kesehatan masyarakat sekunder. a) Pelayanan Kesehatan Sekunder (PKPS) Perorangan

Pelayanan kesehatan perorangan sekunder adalah pelayanan kesehatan spesialistik yang menerima rujukan dari pelayanan kesehatan perorangan primer, yang meliputi rujukan kasus, spesimen, dan ilmu pengetahuan serta wajib merujuk kembali ke fasilitas kesehatan yang merujuk. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder dilaksanakan oleh dokter spesialis atau dokter yang sudah mendapatkan pendidikan khusus dan mempunyai ijin praktik serta didukung tenaga kesehatan lainnya yang diperlukan. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder dilaksanakan di tempat kerja maupun fasilitas kesehatan perorangan sekunder baik Rumah Sakit setara kelas C serta fasilitas kesehatan lainnya milik pemerintah, masyarakat, maupun swasta. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder harus memberikan pelayanan kesehatan 38

efisien dan berbasis bukti (evidence based medicine) serta didukung pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder dapat dijadikan sebagai wahana pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan pendidikan dan pelatihan. dan sumber daya manusia kesehatan serta didukung oleh pelayanan kesehatan masyarakat tersier. b) Pelayanan Kesehatan Sekunder (PKMS) Masyarakat Pelayanan kesehatan masyarakat sekunder menerima rujukan kesehatan dari pelayanan kesehatan masyarakat primer dan memberikan fasilitasi dalam bentuk sarana.yang aman. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat sekunder menjadi tanggungjawab Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan atau Provinsi sebagai fungsi teknisnya. efektif. teknologi. sesuai. yakni melaksanakan pelayanan kesehatan masyarakat yang tidak sanggup atau tidak memadai dilakukan pada pelayanan kesehatan masyarakat primer. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder yang bersifat tradisional dan komplementer dilaksanakan dengan berafiliasi dengan atau di rumah sakit pendidikan. Dalam penanggulangan penyakit menular yang tidak terbatas pada suatu batas 39 .

dan wajib merujuk kembali ke fasilitas kesehatan yang merujuk. Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL). a) Pelayanan Kesehatan Perorangan Tersier (PKPT) Pelayanan kesehatan perorangan tersier menerima rujukan sub-spesialistik dari pelayanan kesehatan di bawahnya. maka tingkat yang lebih tinggi (provinsi) yang harus menanganinya. 40 . Fasilitas kesehatan penyelenggara pelayanan kesehatan masyarakat sekunder dibangun sesuai dengan standar. Pelaksana pelayanan kesehatan perorangan tersier adalah dokter sub-spesialis atau dokter spesialis yang telah mendapatkan pendidikan khusus atau pelatihan dan mempunyai izin praktik dan didukung oleh tenaga kesehatan lainnya yang diperlukan. 3) Upaya Kesehatan Tersier Upaya kesehatan tersier adalah upaya kesehatan rujukan unggulan yang terdiri dari pelayanan kesehatan perorangan tersier dan pelayanan kesehatan masyarakat tersier. seperti laboratorium kesehatan. Bagi fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat milik swasta harus mempunyai izin sesuai peraturan yang berlaku serta dapat bekerjasama dengan unit kerja Pemerintah Daerah. Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK). dan lain-lain.administrasi pemerintahan (lintas kabupaten/ kota).

baik milik pemerintah maupun swasta yang mampu memberikan pelayanan kesehatan subspesialistik dan juga termasuk klinik khusus. Pelaksana pelayanan kesehatan masyarakat tersier adalah Dinas Kesehatan Provinsi. seperti pusat radioterapi. Fasilitas pelayanan kesehatan perorangan tersier dapat didirikan melalui modal patungan dengan pihak asing sesuai dengan peraturan dan kebijakan yang berlaku. Rumah Sakit Khusus setara kelas A dan B.Pelayanan kesehatan perorangan tersier dilaksanakan di Rumah Sakit Umum. Unit 41 . teknologi. Pelayanan kesehatan perorangan tersier wajib melaksanakan penelitian dan pengembangan dasar maupun terapan dan dapat dijadikan sebagai pusat pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan. b) Pelayanan Kesehatan Masyarakat Tersier (PKMT) Pelayanan kesehatan masyarakat tersier menerima rujukan kesehatan dari pelayanan kesehatan masyarakat sekunder dan memberikan fasilitasi dalam bentuk sarana. dan rujukan operasional. sumber daya manusia kesehatan. Pemerintah mengembangkan berbagai pusat pelayanan unggulan nasional yang berstandar internasional untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan dan menghadapi persaingan global dan regional.

42 . harus didukung dengan standar pelayanan yang selalu dikaji dalam periode tertentu sesuai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebutuhan. Institut pelayanan kesehatan masyarakat tertentu secara nasional dapat dikembangkan untuk menampung kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat.kerja terkait di tingkat Provinsi. Pemerintah Provinsi melakukan bimbingan dan pengendalian terhadap pelaksanaan kebijakan dan NSPK upaya kesehatan. dan masyarakat. Pelaksanaan pelayanan kesehatan masyarakat tersier menjadi tanggung-jawab Dinas Kesehatan Provinsi dan Departemen Kesehatan yang didukung dengan kerja sama lintas sektor. Pembinaan dan Pengawasan 1) Pembinaan Upaya Kesehatan Pembinaan upaya kesehatan ditujukan untuk menjamin mutu pelayanan kesehatan. Departemen Kesehatan. b. dan Unit kerja terkait di tingkat nasional. Pemerintah menetapkan kebijakan dan NSPK upaya kesehatan dengan memperhatikan masukan dari Pemerintah Daerah. Organisasi Profesi.

Hasil pengawasan digunakan untuk perlindungan terhadap masyarakat dan tenaga kesehatan selaku penyelenggara upaya kesehatan. sehingga semua fasilitas pelayanan kesehatan wajib memberikan laporan kegiatannya. 43 . dan Pemerintah Kabupaten/Kota sesuai dengan kewenangannya yang diatur dalam peraturan perundangan. Pemerintah. Perizinan fasilitas upaya kesehatan menurut tingkatannya ditetapkan oleh Pemerintah. berkewajiban melakukan pembinaan terhadap semua fasilitas pelayanan kesehatan termasuk swasta. Pemerintah Provinsi. Pemerintah Provinsi. 2) Pengawasan Upaya Kesehatan Pengawasan ditujukan untuk menjamin konsistensi penyelenggaraan upaya kesehatan dan dilakukan secara intensif. baik internal maupun eksternal dan juga dapat melibatkan masyarakat dan swasta.Pemerintah Kabupaten/Kota melaksanakan kebijakan dan NSPK upaya kesehatan. dan Pemerintah Kabupaten/Kota sebagai penanggung-jawab pelaksanaan pembangunan kesehatan di wilayahnya. Pembinaan upaya kesehatan dilakukan oleh pemerintah bersama dengan organisasi profesi dan masyarakat termasuk swasta.

c. Penelitian yang dilaksanakan oleh badan asing dan atau individu Warga Negara Asing (WNA) harus atas izin dan diawasi Pemerintah. 44 . jaringan informasi. Penelitian dan Pengembangan Pengembangan dan pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) yang memadai ditujukan untuk meningkatkan mutu upaya kesehatan. pengembangan dan pemanfaatan Iptek perlu diperluas untuk mendukung pembangunan kesehatan secara keseluruhan. Sesuai dengan perkembangan dan keperluannya. dilakukan dengan membentuk pusatpusat penelitian dan pengembangan unggulan. dan dokumentasi Iptek kesehatan. Pengembangan dan pemanfaatan Iptek. Pemerintah melaksanakan penelitian data dasar kesehatan. 2) Pemanfaatan dan penyebarluasan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan diatur oleh Pemerintah dengan dukungan organisasi profesi. meliputi: 1) Ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan dihasilkan dari penelitian dan pengembangan kesehatan yang diselenggarakan oleh pusatpusat penelitian dan pengembangan milik masyarakat. swasta. dan pemerintah. seperti Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) secara berkala dan penelitian pengembangan upaya kesehatan.

merata dan termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna. SUBSISTEM PEMBIAYAAN KESEHATAN 1. 2. 45 . Dana yang tersedia harus mencukupi dan dapat dipertanggungjawabkan serta dipertanggung-gugatkan. pengalokasian. Pengertian Subsistem pembiayaan kesehatan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan berbagai upaya penggalian. 3. dari masyarakat.B. maupun swasta serta sumber lainnya yang digunakan untuk mendukung pelaksanaan pembangunan kesehatan. Tujuan Tujuan dari penyelenggaraan subsistem pembiayaan kesehatan adalah tersedianya dana kesehatan dalam jumlah yang mencukupi. teralokasi secara adil. dan pembelanjaan dana kesehatan untuk mendukung penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Unsur-unsur a. Dana Dana digali dari sumber pemerintah baik dari sektor kesehatan dan sektor lain terkait. tersalurkan sesuai peruntukannya untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.

terus diupayakan peningkatan dan kecukupannya sesuai kebutuhan menuju sekurang-kurangnya 5% dari PDB atau 15% dari total anggaran pendapatan dan belanja setiap tahunnya. dan kelembagaan yang digunakan secara berhasil guna dan berdaya guna dalam upaya penggalian. dan pembelanjaan dana kesehatan. Sumber Daya Sumber daya dari subsistem pembiayaan kesehatan. Prinsip a.b. regulasi. sarana. Kecukupan Pembiayaan kesehatan pada dasarnya merupakan tanggung-jawab bersama pemerintah. 46 . dan swasta. pengalokasian. dan pembelanjaan dana kesehatan untuk mendukung terselenggaranya pembangunan kesehatan. baik oleh pemerintah secara lintas sektor. maupun masyarakat yang mencakup mekanisme penggalian. baik pusat maupun daerah. pengalokasian. masyarakat. meliputi: SDM pengelola. standar. Alokasi dana yang berasal dari pemerintah untuk upaya kesehatan dilakukan melalui penyusunan anggaran pendapatan dan belanja. 4. swasta. c. Pengelolaan Dana Kesehatan Prosedur/mekanisme pengelolaan dana kesehatan adalah seperangkat aturan yang disepakati dan secara konsisten dijalankan oleh para pelaku subsistem pembiayaan kesehatan.

penguatan kapasitas manajemen perencanaan anggaran dan kompetensi pemberi pelayanan kesehatan. serta menjamin terpenuhinya ekuitas. masyarakat. c. Adil dan Transparan Dana kesehatan yang terhimpun baik dari pemerintah maupun masyarakat dimanfaatkan secara adil dalam rangka menjamin terpeliharanya dan terlindunginya masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan. maka pembelanjaannya dilakukan melalui kesesuaian antara perencanaan pembiayaan kesehatan. maupun swasta yang harus digali dan dikumpulkan serta terus ditingkatkan untuk menjamin kecukupan agar jumlahnya dapat sesuai dengan kebutuhan. b. tersalurkan secara tepat memperhatikan subsidiaritas dan fleksibilitas. transparan. sistem pembayaran pada fasilitas kesehatan perlu dikembangkan menuju bentuk pembayaran prospektif. Dana kesehatan digunakan secara bertanggungjawab dan bertanggung-gugat berdasarkan prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance). baik dari pemerintah. berkelanjutan. dikelola secara adil. 47 . Dana kesehatan diperoleh dari berbagai sumber. berhasil guna dan berdaya guna. akuntabel. Efektif dan Efisien Dalam menjamin efektifitas dan efisiensi penggunaan dana kesehatan.Pembiayaan kesehatan untuk masyarakat miskin dan tidak mampu merupakan tanggung-jawab pemerintah.

serta menggunakannya secara efisien dan efektif. Penggalian Dana Penggalian dana untuk pembangunan kesehatan yang bersumber dari pemerintah dilakukan melalui pajak umum. Dana yang bersumber dari swasta dihimpun dengan menerapkan prinsip kemitraan antara pemerintah dan masyarakat yang didukung dengan pemberian insentif. serta berbagai sumber lainnya.transparan. Dalam hal pengaturan penggalian dan pengumpulan serta pemanfaatan dana yang bersumber dari iuran wajib. dan mengacu perundangan yang berlaku. bantuan atau pinjaman yang tidak mengikat. dana APBN/APBD. a. agar tersedia dana kesehatan yang mencukupi dan berkesinambungan. swasta. Penyelenggaraan pada peraturan Subsistem pembiayaan kesehatan merupakan suatu proses yang terus-menerus dan terkendali. dan sumber lainnya. pajak khusus. dan sumber lainnya. Perencanaan dan pengaturan pembiayaan kesehatan dilakukan melalui penggalian dan pengumpulan berbagai sumber dana yang dapat menjamin kesinambungan pembiayaan pembangunan kesehatan. pemerintah harus melakukan sinkronisasi dan sinergisme antara sumber dana dari iuran wajib. bersumber dari pemerintah. Penggalian dana yang bersumber dari masyarakat dihimpun secara aktif oleh masyarakat sendiri atau dilakukan secara pasif 48 . mengalokasikannya secara rasional. masyarakat. 5. dana dari masyarakat.

Pengalokasian dana yang dihimpun dari masyarakat dilaksanakan berdasarkan asas gotong-royong sesuai dengan potensi dan kebutuhannya. dan tersier dengan mengutamakan masyarakat rentan dan miskin. Pengalokasian dana untuk pelayanan kesehatan perorangan dilakukan melalui kepesertaan dalam jaminan pemeliharaan kesehatan yang diatur oleh pemerintah. Dana pemerintah untuk pembangunan kesehatan diarahkan untuk membiayai upaya kesehatan primer. termasuk program-program kesehatan yang mempunyai daya ungkit tinggi terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat. sekunder. Pengalokasian Dana Pengalokasian dana pemerintah dilakukan melalui perencanaan anggaran dengan mengutamakan upaya kesehatan prioritas secara bertahap dan terus ditingkatkan jumlah pengalokasiannya sehingga sesuai dengan kebutuhan. Hal ini termasuk program bantuan sosial dari pemerintah untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin dan tidak mampu (Jamkesmas). Penggalian dana untuk pelayanan kesehatan perorangan dilakukan dengan cara penggalian dan pengumpulan dana masyarakat dan didorong pada bentuk jaminan pemeliharaan kesehatan. pulau-pulau terluar dan terdepan. b.dengan memanfaatkan berbagai dana yang sudah terkumpul di masyarakat. perbatasan. daerah terpencil. serta yang tidak diminati swasta. 49 .

50 .c. C. serta menerapkan prinsip penyelenggaraan tata pemerintahan yang baik (good governance). pendayagunaan. baik yang bersifat wajib maupun sukarela serta dalam upaya peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan. SUBSISTEM SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN 1. Sumber Daya Manusia Kesehatan adalah tenaga kesehatan profesi termasuk tenaga kesehatan strategis dan tenaga kesehatan non profesi serta tenaga pendukung/penunjang kesehatan yang terlibat dan bekerja serta mengabdikan dirinya seperti dalam upaya dan manajemen kesehatan. yang meliputi: upaya perencanaan. akuntabel. pengadaan. Pengertian Subsistem SDM Kesehatan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan upaya pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan. serta pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan untuk mendukung penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Pembelanjaan dana kesehatan diarahkan terutama melalui jaminan pemeliharaan kesehatan. Pembelanjaan Pemanfaatan dana kesehatan dilakukan dengan memperhatikan aspek teknis maupun alokatif sesuai peruntukannya secara efisien dan efektif untuk terwujudnya pengelolaan pembiayaan kesehatan yang transparan.

yang meliputi: berbagai standar kompetensi. cara 51 . dan wajib memiliki kompetensi untuk mengabdikan dirinya di bidang kesehatan. 3. Unsur-unsur a. serta institusi/fasilitas pendidikan dan pelatihan yang menyediakan sarana dan prasarana pendidikan dan pelatihan. Sumber Daya Kesehatan) Manusia Kesehatan (SDM Sumber daya manusia Kesehatan. mempunyai hak untuk memenuhi kebutuhan dasarnya (hak asasi) dan sebagai makhluk sosial. berakhlak luhur. baik tenaga kesehatan maupun tenaga pendukung/penunjang kesehatan. dana. b. Tujuan Tujuan dari penyelenggaraan subsistem SDM Kesehatan adalah tersedianya SDM Kesehatan yang kompeten sesuai kebutuhan yang terdistribusi secara adil dan merata serta didayagunakan secara optimal dalam mendukung penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Sumber Daya Pengembangan Pemberdayaan SDM Kesehatan dan Sumber daya pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan adalah sumber daya pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan SDM Kesehatan. modul dan kurikulum serta metode pendidikan dan latihan. dan berdedikasi tinggi dalam melakukan tugasnya. serta mempunyai etika. sumber daya manusia pendidikan dan pelatihan.2. Dalam sumber daya ini juga termasuk sumber daya manusia.

memberikan dukungan. serta pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan. Prinsip a. Pendayagunaan SDM Kesehatan adalah upaya pemerataan dan pemanfaatan serta pengembangan SDM Kesehatan. pengadaan. pendayagunaan. pendayagunaan. serta peralatan dan perlengkapan untuk melakukan perencanaan.atau metode. c. dan distribusi tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan pembangunan kesehatan. serta mengawasi pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan. Pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan adalah upaya untuk mengarahkan. serta pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan. Penyelenggaraan Pengembangan Pemberdayaan SDM Kesehatan dan Penyelenggaraan pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan meliputi upaya perencanaan. Pengadaan SDM Kesehatan adalah upaya yang meliputi pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan SDM Kesehatan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan kesehatan. Perencanaan SDM Kesehatan adalah upaya penetapan jenis. Adil dan Merata serta Demokratis Pemenuhan ketersediaan SDM Kesehatan ke seluruh wilayah Indonesia harus berdasarkan 52 . kualifikasi. 4. jumlah.

53 . Kompeten dan Berintegritas Pengadaan SDM Kesehatan melalui pendidikan dan pelatihan yang sesuai standar pelayanan dan standar kompetensi serta menghasilkan SDM yang menguasai Iptek. nilai keagamaan. dan berdaya saing tinggi. c. beriman.pemerataan dan keadilan sesuai dengan potensi dan kebutuhan pembangunan kesehatan serta dilaksanakan secara demokratis. profesional. bertanggung-jawab. nilai budaya. Objektif dan Transparan Pembinaan dan pengawasan serta pendayagunaan (termasuk pengembangan karir) SDM Kesehatan dilakukan secara objektif dan transparan berdasarkan prestasi kerja dan disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan kesehatan. dan kemajemukan bangsa. d. b. tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia. mandiri. bertaqwa. kompetensi. serta keterampilan masing-masing SDM Kesehatan. Hierarki dalam SDM Kesehatan Pengembangan dan pemberdayan SDM Kesehatan dalam mendukung pembangunan kesehatan perlu memperhatikan adanya susunan hierarki SDM Kesehatan yang ditetapkan berdasarkan jenis dan tingkat tanggung-jawab.

dan kualifikasinya dilakukan dengan meningkatkan dan memantapkan keterkaitannya dengan unsur lainnya dalam manajemen pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan dengan memperhatikan tujuan pembangunan kesehatan dan kecenderungan permasalahan kesehatan di masa depan.5. jumlah. Penyelenggaraan a. baik dalam upaya kesehatan primer maupun upaya kesehatan sekunder serta tersier. Pemerintah bertanggung-jawab mengatur pendirian institusi pendidikan dan pembukaan program 54 . Pemerintah dengan melibatkan organisasi profesi dan masyarakat menetapkan standar kompetensi dan standar pendidikan yang berlaku secara nasional. Perencanaan SDM Kesehatan yang meliputi jenis. Perencanaan SDM Kesehatan dilakukan dengan mendasarkan pada fakta (berbasis bukti) melalui peningkatan sistem informasi SDM Kesehatan. Pengadaan SDM Kesehatan Standar pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan SDM Kesehatan mengacu kepada standar pelayanan dan standar kompetensi SDM Kesehatan dan perlu didukung oleh etika profesi SDM Kesehatan tersebut. Perencanaan SDM Kesehatan Penyusunan rencana kebutuhan SDM Kesehatan dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan SDM Kesehatan yang diutamakan. b.

Pendirian institusi pendidikan dan pembukaan program pendidikan ditekankan untuk menghasilkan lulusan tenaga kesehatan yang bermutu dan dapat bersaing secara global dengan memperhatikan keseimbangan antara kebutuhan. Pemerintah dengan melibatkan organisasi profesi membentuk badan regulator profesi yang bertugas menyusun berbagai peraturan persyaratan. 55 . Kompetensi tenaga kesehatan harus setara dengan kompetensi tenaga kesehatan di dunia internasional.pendidikan tenaga kesehatan yang dibutuhkan dalam pembangunan kesehatan. sehingga registrasi tenaga kesehatan lulusan dalam negeri dapat diakui di dunia internasional. prosedur penetapan kompetensi khusus tenaga kesehatan. Penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan harus memenuhi akreditasi sesuai dengan peraturan perundangan. dinamika pasar baik di dalam maupun di luar negeri. menentukan kompetensi umum. dan kemampuan produksi tenaga kesehatan dengan yang sudah ada. Penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan harus responsif gender yang berorientasi kepada kepentingan peserta didik (“student centered”). serta menentukan sertifikasi institusi pendidikan dan pelatihan profesi. Institusi/fasilitas pelayanan kesehatan yang terakreditasi wajib mendukung penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan.

Pemerintah Daerah bersama UPT-nya dan masyarakat melakukan rekrutmen dan penempatan tenaga penunjang (tenaga masyarakat) yang diperlukan untuk mendukung UKBM sesuai dengan kebutuhan pembangunan kesehatan. Pemerintah. pulau-pulau terluar dan terdepan. daerah perbatasan. Pemerintah dan swasta mengembangkan dan menerapkan pola karir tenaga kesehatan yang dilakukan secara transparan. baik Pusat maupun Daerah dan Swasta melakukan rekrutmen dan penempatan tenaga kesehatan dan tenaga pendukung kesehatan yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan pembangunan kesehatan dan atau menjalankan tugas dan fungsi institusinya. Dalam rangka penempatan tenaga kesehatan untuk kepentingan pelayanan publik dan pemerataan. dan lintas institusi melalui jenjang jabatan struktural dan jabatan fungsional. Pendayagunaan SDM Kesehatan Pemerintah Pusat bekerjasama dengan Pemerintah Daerah melakukan upaya penempatan tenaga kesehatan yang ditujukan untuk mencapai pemerataan yang berkeadilan dalam pembangunan kesehatan. Pemerintah bersama organisasi profesi dan swasta mengupayakan penyelenggaraan pendidikan 56 .c. pemerintah melakukan berbagai pengaturan untuk memberikan imbalan material atau non material kepada tenaga kesehatan untuk bekerja di bidang tugas atau daerah yang tidak diminati. seperti: daerah terpencil. serta daerah bencana dan rawan konflik. terbuka. daerah tertinggal.

diantaranya melalui pelatihan yang terakreditasi yang dilaksanakan oleh institusi penyelenggara pelatihan yang terakreditasi. mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan tenaga kesehatan lulusan dalam negeri. perlu dilakukan peningkatan kualitas SDM Kesehatan secara terus menerus (pra-jabatan/”preservice” dan “in-service”). Pendayagunaan tenaga kesehatan untuk keperluan luar negeri diatur oleh lembaga pemerintah dalam rangka menjamin keseimbangan antara kemampuan pengadaan tenaga kesehatan di Indonesia dan kebutuhan tenaga kesehatan Indonesia di luar negeri serta melindungi hak-hak dan hak asasi manusia tenaga kesehatan Indonesia di luar negeri. Dalam rangka mengantisipasi globalisasi perlu dilakukan pengaturan agar masuknya SDM Kesehatan warga negara asing dengan teknologi. dan pengalaman yang mereka punyai tidak merugikan SDM Kesehatan Indonesia. dalam rangka alih teknologi dan ditetapkan melalui persyaratan sesuai peraturan perundangan yang berlaku. modal.berkelanjutan dalam rangka peningkatan karir dan profesionalisme tenaga kesehatan. Dalam rangka pendayagunaan SDM Kesehatan yang sesuai kebutuhan pembangunan kesehatan. Tenaga kesehatan Warga Negara Indonesia lulusan institusi luar negeri yang telah memperoleh pengakuan dari Departemen yang bertanggungjawab atas pendidikan nasional. 57 . Pendayagunaan tenaga kesehatan warga negara asing hanya dilakukan pada tingkat konsultan pada bidang tertentu.

Pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan dilakukan melalui sistem karier. yang dalam pelaksanaannya dapat dilimpahkan kepada Pemerintah Daerah Provinsi. Perizinan/lisensi tenaga kesehatan profesi untuk melakukan praktik dalam rangka memperoleh penghasilan secara mandiri dari profesinya diberikan oleh instansi kesehatan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota setelah mendapatkan rekomendasi dari organisasi profesi terkait. dan pemberian lisensi bagi tenaga kesehatan yang memenuhi syarat. uji kompetensi. Registrasi tenaga kesehatan untuk dapat melakukan praktik profesi di seluruh wilayah Indonesia diberikan oleh Departemen Kesehatan.d. Sertifikasi tenaga kesehatan dalam bentuk ijazah dan sertifikat kompetensi diberikan Departemen Kesehatan setelah melalui uji kompetensi yang dilaksanakan organisasi profesi terkait. penggajian. Pembinaan dan Pengawasan SDM Kesehatan Pembinaan penyelenggaraan pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan di berbagai tingkatan dan atau organisasi memerlukan komitmen yang kuat dari pemerintah dan dukungan peraturan perundang-undangan mengenai pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan tersebut. registrasi. Pembinaan dan pengawasan praktik profesi bagi tenaga kesehatan profesi dilakukan melalui sertifikasi. dan insentif untuk hidup layak sesuai dengan tata nilai di 58 .

Pengawasan SDM Kesehatan dilakukan untuk mencegah terjadinya pelanggaran disiplin melalui pengawasan melekat dan pengawasan profesi. khasiat/manfaat. alat kesehatan. bahan obat. 2. maka sanksi administrasi maupun pidana harus dilakukan dalam rangka melindungi masyarakat maupun tenaga yang bersangkutan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. ALAT KESEHATAN. alat kesehatan. Pengertian Subsistem sediaan farmasi. DAN MAKANAN 1. dan kosmetika. dan makanan yang terjamin aman. mutu sediaan farmasi. Sediaan farmasi adalah obat. alat kesehatan. dan makanan adalah tersedianya sediaan farmasi.masyarakat dan beban tugasnya agar dapat bekerja secara profesional. Tujuan Tujuan penyelenggaraan subsistem sediaan farmasi. SUBSISTEM SEDIAAN FARMASI. dan khusus untuk obat dijamin ketersediaan dan 59 . dan makanan. Dalam hal terjadi pelanggaran disiplin oleh tenaga kesehatan maupun tenaga pendukung/penunjang kesehatan yang bekerja dalam bidang kesehatan dan menyebabkan kerugian pada pihak lain. berkhasiat/bermanfaat dan bermutu. D. dan makanan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan berbagai upaya yang menjamin keamanan. obat tradisional. alat kesehatan.

jumlah. Fasilitas sediaan farmasi. Komoditi Sediaan farmasi dan alat kesehatan adalah komoditi untuk penyelenggaraan upaya kesehatan. bentuk. dan Kriteria yang telah ditetapkan. sekunder. jumlah. dosis. b. makanan adalah komoditi yang mempengaruhi kesehatan masyarakat. dan khasiat yang tepat. Pembiayaan yang cukup dari pemerintah diperlukan untuk menjamin ketersediaan dan keterjangkauan obat. terutama obat dan alat kesehatan esensial bagi masyarakat miskin. Sumber Daya Sumber Daya Manusia sediaan farmasi. 60 . dan makanan harus dengan jumlah yang cukup serta mempunyai standar kompetensi yang sesuai dengan etika profesi. 3. Prosedur. alat kesehatan. dan tersier. distribusi maupun fasilitas pelayanan kesehatan primer.keterjangkauannya guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. baik di fasilitas produksi. Sediaan farmasi harus tersedia dalam jenis. bentuk. dan fungsinya. dan makanan adalah peralatan atau tempat yang harus memenuhi Norma. alat kesehatan. alat kesehatan tersedia dalam jenis. Standar. Unsur-unsur a. serta makanan meliputi jenis dan manfaat.

Penyediaan unit pelayanan publik bidang kesehatan untuk menangani berbagai masalah yang mudah diakses oleh masyarakat dan menerima keluhan atau pertanyaan terkait dengan sediaan farmasi. standar. aman. Pelayanan Kefarmasian Pelayanan kefarmasian ditujukan untuk dapat menjamin penggunaan sediaan farmasi dan alat kesehatan. Pengawasan Pengawasan yang komprehensif dengan melaksanakan regulasi yang baik (Good Regulatory Practices). alat kesehatan dan makanan. dan kriteria yang ditetapkan. dan makanan yang beredar memenuhi standar dan persyaratan keamanan. dan mutu yang ditetapkan yang didukung oleh Laboratorium Pengujian yang handal. alat kesehatan. secara rasional. dan makanan serta terhindar dari penggunaan yang salah dan penyalahgunaan. e. d. ditujukan untuk menjamin setiap sediaan farmasi. khasiat/manfaat. alat kesehatan. 61 . Pemberdayaan Masyarakat Masyarakat senantiasa dilibatkan secara aktif agar sadar dan dapat lebih berperan dalam penyediaan dan penggunaan sediaan farmasi. dan bermutu di semua sarana pelayanan kesehatan dengan mengikuti norma. prosedur.c.

pengawasan. Prinsip a. dan mutu produk sesuai dengan fungsi usahanya dan peraturan yang berlaku. lengkap. 62 . d. Merata. c. dan mutu sediaan farmasi. dan Terjangkau Obat merupakan kebutuhan dasar manusia yang tidak tergantikan dalam pelayanan kesehatan. Bermanfaat. dan makanan melalui pembinaan. b. khasiat. distributor. alat kesehatan. dan berbasis bukti ilmiah. alat kesehatan. transparan. khasiat/manfaat. Tersedia. dan pengendalian secara profesional. manfaat. Transparan dan Bertanggung-jawab Masyarakat berhak untuk mendapatkan informasi yang benar. Berkhasiat. Rasional Setiap pelaku pelayanan kesehatan harus selalu bertindak berdasarkan bukti ilmiah terbaik dan prinsip tepat biaya (cost-effective) serta tepat manfaat (cost-benefit) dalam pemanfaatan obat agar memberikan hasil yang optimal. sehingga obat tidak boleh diperlakukan sebagai komoditas ekonomi semata. bertanggungjawab. dan Bermutu Pemerintah menjamin keamanan. Sedangkan pelaku usaha bertanggungjawab atas keamanan. Aman. dan makanan dari produsen. dan tidak menyesatkan tentang sediaan farmasi. dan pelaku pelayanan kesehatan.4. independen.

5. dan berkesinambungan sehingga memiliki daya saing tinggi dan mengurangi ketergantungan dari sumber daya luar negeri serta menjadi sumber ekonomi masyarakat dan devisa negara. Penyelenggaraan a. utamanya bahan baku obat dan obat tradisional harus dikelola secara profesional. Pemerataan. Kemandirian Potensi sumber daya dalam negeri. sistematis.e. Pemerintah mengatur harga obat dan alat kesehatan. 63 . Upaya Ketersediaan. Pemerintah dengan pengaturan khusus menjamin tersedianya obat bagi masyarakat di daerah terpencil. serta daerah bencana. daerah rawan konflik dan obat yang tidak mempunyai nilai ekonomis (orphan drug). Keterjangkauan Obat dan Alat Kesehatan dan Penyediaan dan pelayanan obat berpedoman pada DOEN untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan. daerah tertinggal dan perbatasan. Pemerintah melakukan pengendalian dan pengawasan terhadap pengadaan serta penyaluran untuk menjamin ketersediaan dan pemerataan obat serta alat kesehatan.

dan masyarakat secara terpadu dan bertanggung-jawab. pelaku usaha. Pembinaan. Pengembangan dan penyempurnaan norma. dan kriteria mengenai produk dan fasilitas produksi dan distribusi sediaan farmasi. khasiat/manfaat. dan mutu sediaan farmasi. Alat Kesehatan. alat kesehatan. pengawasan. dilakukan melalui penilaian keamanan. yaitu pemerintah. sistem manajemen mutu. dan transparan. kerjasama internasional. survailan dan vijilan setelah pemasaran. 64 . pengambilan dan pengujian sampel. ekspor. dan pengendalian impor. Pelaksanaan regulasi yang baik (Good Regulatory Practices) didukung oleh sumber daya yang memadai secara kuantitas maupun kualitas. alat kesehatan.b. alat kesehatan. dan Mutu Sediaan Farmasi. standar. serta pemantauan label atau penandaan. Khasiat/manfaat. independen. dan Makanan serta Perlindungan Masyarakat dari Penggunaan yang Salah dan Penyalahgunaan Obat dan Alat Kesehatan Upaya jaminan keamanan. inspeksi fasilitas produksi dan distribusi. dan makanan sesuai dengan perkembangan Iptek dan standar internasional. khasiat/manfaat. laboratorium pengujian mutu yang kompeten. dan makanan merupakan suatu kesatuan yang utuh. prosedur. dan mutu produk melalui proses pendaftaran dan evaluasi. dan makanan merupakan tugas bersama yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. produksi dan distribusi sediaan farmasi. iklan dan promosi. Upaya Jaminan Keamanan. akses terhadap ahli dan referensi ilmiah.

atau penggunaan bahan tambahan makanan yang tidak sesuai persyaratan. transparan. Peningkatan kesadaran/kemandirian masyarakat melalui penyediaan dan penyebaran informasi terpercaya termasuk informasi harga obat. dan tidak menyesatkan mengenai penggunaan sediaan farmasi. serta lingkungannya. Mendorong masyarakat rentan terutama anak dan ibu hamil. c. kuratif.Dalam rangka menghindarkan dampak buruk dari penggunaan alat kesehatan. menyeluruh. dan rehabilitatif. maka upaya jaminan perlindungan keamanan diberikan kepada pengguna dan operator alat kesehatan. sehingga masyarakat memperoleh informasi yang benar. termasuk pemberantasan produk palsu dan ilegal. dan Zat Adiktif (Napza) harus merupakan upaya yang terpadu antara upaya represif. Psikotropika. masyarakat. mutu dan gizi. serta manusia usia lanjut untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi tinggi dan memenuhi persyaratan keamanan. Penegakan hukum yang konsisten dengan efek jera yang tinggi untuk setiap pelanggaran. alat kesehatan. Upaya Penyelenggaraan Pelayanan Kefarmasian Penyelengaraan pelayanan kefarmasian di semua sarana pelayanan kesehatan dilakukan dengan: 65 . Perlindungan masyarakat dari penyalahgunaan Narkotika. preventif. dan makanan. Perlindungan masyarakat terhadap pencemaran sediaan farmasi dari bahan-bahan yang dilarang.

1) Mengutamakan kesejahteraan pasien dalam segala situasi dan kondisi. 5) Penerapan pendekatan farmako ekonomi melalui analisis biaya efektif dan biaya manfaat pada seleksi obat yang digunakan di semua tingkat pelayanan kesehatan. 6) Penyediaan informasi obat yang benar. Penyelenggaraan upaya penggunaan obat yang rasional dilakukan antara lain melalui kegiatan berikut: 1) Penerapan DOEN dalam upaya pelayanan kesehatan tingkat primer. 3) Memberikan kontribusi dalam peningkatan peresepan yang rasional dan ekonomis serta penggunaan yang tepat. sekunder. dan tersier. dan 4) Memberikan pelayanan kefarmasian yang sesuai untuk setiap individu. d. memberikan informasi dan saran serta memonitor penggunaan obat oleh pasien. objektif dan lengkap melalui penyusunan Informasi Obat Nasional Indonesia 66 . melalui pemanfaatan pedoman terapi dan formularium berbasis bukti ilmiah terbaik. 3) Pengembangan mekanisme pemantauan ketersediaan obat esensial dan langkah-langkah perbaikan di setiap fasilitas pelayanan kesehatan. 2) Melaksanakan kegiatan inti farmasi yang meliputi pengelolaan obat dan produk kesehatan lainnya. 2) Audit dan umpan balik dalam penggunaan obat rasional. menjamin mutu. 4) Pemberdayaan Komite Farmasi dan Terapi (KFT) untuk meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian melalui penggunaan obat secara rasional. Upaya Penggunaan Obat yang Rasional Penggunaan obat yang rasional merupakan salah satu langkah untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik dan mengefisienkan biaya pengobatan.

e. dan lain-lain. 4) Komitmen semua 67 . seperti penyakit diare. perawat dan tenaga kesehatan lainnya dalam memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat sehingga dapat meningkatkan kemanfaatan dan keamanan penggunaan obat termasuk penggunaan obat yang rasional. Informasi kepada masyarakat.(IONI) akan sangat mendukung para profesi kesehatan seperti: dokter. serta kepastian proses perijinan. 7) Pemberdayaan masyarakat melalui Komunikasi. Langkah-langkah yang perlu diselenggarakan meliputi: 1) Pemilihan produk yang tepat untuk pengembangan produksi dalam negeri dengan mempertimbangkan potensi sumber daya dalam negeri. apoteker. pemberian insentif kebijakan perpajakan dan perbankan. antara lain promosi penggunaan obat generik dan pengelolaan berbagai penyakit secara tepat. serta 8) Pemberdayaan SDM Kesehatan dalam melaksanakan penggunaan obat rasional di semua fasilitas pelayanan kesehatan. 3) Pembinaan industri farmasi dalam negeri agar mampu melakukan produksi sesuai dengan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dan dapat melakukan usahanya dengan efektif dan efisien sehingga mempunyai daya saing yang tinggi. Informasi dan Edukasi (KIE). Upaya Kemandirian Sediaan Farmasi melalui Pemanfaatan Sumber Daya Dalam Negeri Pengembangan dan pemanfaatan sumber daya alam Indonesia perlu didorong secara berkelanjutan untuk digunakan sebagai obat tradisional demi peningkatan pelayanan kesehatan dan ekonomi. 2) Pemerintah menciptakan iklim yang kondusif bagi investasi di bidang farmasi melalui persaingan usaha yang adil.

SUBSISTEM KESEHATAN 1. Penyelenggaraan subsistem sediaan farmasi. 68 . para pelayan kesehatan dan konsumen. seperti kemauan industri farmasi domestik untuk memprioritaskan penggunaan bahan baku produksi dalam negeri. memiliki khasiat nyata yang teruji secara ilmiah. pengaturan hukum kesehatan. bermutu tinggi. Pengertian MANAJEMEN DAN INFORMASI Subsistem manajemen dan informasi kesehatan adalah bentuk dan cara penyelenggaraan yang menghimpun berbagai upaya kebijakan kesehatan. administrasi kesehatan. 6) Pengembangan pemanfaatan obat tradisional yang aman. dan masyarakat. 5) Peningkatan penelitian dan pengembangan bahan baku obat. dan dimanfaatkan secara luas baik untuk pengobatan sendiri oleh masyarakat maupun digunakan dalam pelayanan kesehatan formal. penerimaan fasilitas pelayanan kesehatan. dan obat tradisional untuk menunjang pembangunan kesehatan. E. alat kesehatan. pengelolaan data dan informasi kesehatan yang mendukung subsistem lainnya dari SKN guna menjamin tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. swasta/dunia usaha. dan makanan harus melibatkan seluruh pelaku baik secara perorangan maupun bersama dan terpadu antara pemerintah. obat.pemangku kepentingan.

Kebijakan Kesehatan Kebijakan kesehatan merupakan pedoman yang menjadi acuan bagi semua pelaku pembangunan kesehatan. swasta. dan pengendalian serta pengawasan dan pertanggung-jawaban penyelenggaraan pembangunan kesehatan. pelaksanaan. dan masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan dengan memperhatikan kerangka desentralisasi dan otonomi daerah. terutama kepada individu dan masyarakat dan sebagai sarana untuk 69 . berdaya guna. Administrasi Kesehatan Administrasi kesehatan merupakan kegiatan perencanaan. berbasis bukti dan operasional. baik pemerintah. b. serta didukung oleh hukum kesehatan dan sistem informasi kesehatan untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.2. 3. c. Unsur-unsur a. penerapan. dan akuntabel. dan penegakan aturan tersebut dalam rangka memberikan perlindungan. Hukum Kesehatan Hukum kesehatan merupakan keseluruhan peraturan perundangan di bidang kesehatan dan segala tindakan penyebarluasan. terselenggaranya fungsi-fungsi administrasi kesehatan yang berhasil guna. Tujuan Tujuan subsistem manajemen dan informasi kesehatan adalah terwujudnya kebijakan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan.

b. Prinsip a. keteladanan. 70 . dana. penyelenggaraan pembangunan d. standar. Inovasi atau Kreativitas Penyelenggaraan manajemen dan informasi kesehatan harus mampu menciptakan daya tahan dan kesinambungan kinerja sistem melalui inovasi/kreatifitas dalam menghadapi perubahan dan tantangan pembangunan kesehatan dengan lebih baik. dan bertekad dalam pembangunan kesehatan. Informasi Kesehatan Informasi kesehatan merupakan hasil pengumpulan dan pengolahan data sebagai masukan bagi pengambilan keputusan di bidang kesehatan. 4. e. sarana prasarana. Sumber daya Manajemen Informasi Kesehatan Kesehatan dan Sumber daya manajemen kesehatan dan informasi kesehatan. Kepemimpinan yang Visioner Bidang Kesehatan Kepemimpinan yang visioner bidang kesehatan adalah kepemimpinan yang mempunyai visi. meliputi: SDM.memfasilitasi kesehatan. dan kelembagaan yang digunakan secara berhasil guna dan berdaya guna dalam upaya mendukung terselenggaranya pembangunan kesehatan.

dan anggaran perlu disusun secara terpadu. dan informasi kesehatan. d. dan transparansi sangat penting. 5. dan Kriteria (NSPK) kebijakan pembangunan kesehatan nasional. Prosedur. a. administrasi. Sinergisme yang Dinamis Pendekatan manajemen kesehatan merupakan kombinasi dari pendekatan sistem. subsistem manajemen dan informasi kesehatan diselenggarakan dengan mensinergikan unsur kebijakan. kontingensi. pembangunan kesehatan menjadi salah satu dari arus utama pembangunan nasional. Kesesuaian dengan Sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia Manajemen dan informasi kesehatan menjadi pendukung utama dalam pelaksanaan desentralisasi dengan mempertimbangkan komitmen global dalam pembangunan kesehatan. Perencanaan kebijakan. program. Dalam manajemen kesehatan ini prinsip efisiensi. Untuk itu.c. Dalam manajemen ini penting adanya interaksi. dan sinergi yang dinamis. interelasi dan interdependensi yang dinamis di antara para pelaku pembangunan kesehatan. efektifitas. transparansi. penetapan skala prioritas berbasis bukti dari 71 . Standar. Penyelenggaraan Dalam rangka mencapai Tujuan Nasional. Kebijakan Kesehatan Penyelenggaraan proses kebijakan kesehatan dilakukan secara optimal dengan mengacu kepada Norma. hukum.

melalui proses pengkajian dan perumusan kebijakan yang melibatkan masyarakat dan berbagai stakeholder terkait. didukung SDM yang kompeten. Administrasi Kesehatan Penyelenggaraan administrasi kesehatan meliputi perencanaan. dilaksanakan secara sinergi yang dinamis antara sektor kesehatan dengan sektor lain. pelaksanaan dan pengendalian. c. berorientasi pada kepentingan masyarakat. pelayanan advokasi hukum. didukung dengan SDM yang kompeten. berorientasi pada kepentingan masyarakat. Pusat dan Daerah dengan mempertimbangkan desentralisasi dan memperhatikan peraturan perundangan yang berlaku. responsif gender. b. peningkatan kesadaran hukum bagi aparatur kesehatan dan masyarakat. dilaksanakan dengan menjunjung tinggi penyelenggaraan tata pemerintahan yang baik (good governance). dan pembiayaan yang mencukupi.berbagai sumber yang tersedia. Hukum Kesehatan Penyelenggaraan hukum kesehatan meliputi penyusunan peraturan/regulasi dan harmonisasi di tingkat pusat dan daerah. untuk dilaksanakan secara bersama oleh seluruh pelaku pembangunan kesehatan secara sinergi dan dinamis. serta pengawasan dan pertanggung-jawaban didasarkan atas urusan wajib bidang kesehatan yang dilaksanakan secara berdaya guna dan berhasil guna. terpadu berlandaskan pada arah kebijakan pembangunan nasional dengan memperhatikan NSPK dan prioritas pembangunan kesehatan. serta 72 . memanfaatkan teknologi informasi.

serta aspek kerahasiaan yang berlaku di bidang kesehatan. keadilan. d. manajemen informasi kesehatan. F. serta sesuai dengan kebutuhan. dan penegakan hukum perlu dilengkapi dan ditata dengan memperhatikan perkembangan dan perubahan lingkungan internal dan eksternal. pengembangan dan penelitian kesehatan. kesetaraan. pengolahan dan analisis data. peraturan. Informasi Kesehatan Penyelenggaraan informasi kesehatan meliputi pengumpulan. dan sinkronisasi informasi kesehatan secara sinergi yang dinamis dalam rangka penyediaan data dan informasi terkini. 73 . valid. dengan dukungan pendayagunaan teknologi. serta pengembangan sistem informasi kesehatan terpadu. sosialisasi. dilakukan melalui koordinasi. termasuk regulasi kesehatan internasional. integrasi. dengan memperhatikan kecukupan data termasuk data terpilah yang responsif gender.pembinaan dan pengawasan. data dari fasilitas kesehatan dan masyarakat (seperti Riset Kesehatan Dasar dan surveilans). dilaksanakan dengan mempertimbangkan perlindungan bagi masyarakat dan pemberi pelayanan. penerapan. akurat. serta berhasil guna dan berdaya guna sebagai bahan pengambilan keputusan dengan mempertimbangkan desentralisasi. SUBSISTEM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT 1. Pengertian Subsistem pemberdayaan masyarakat adalah bentuk dan cara penyelenggaraan berbagai upaya kesehatan. cepat. transparan. serta penerapan pengetahuan dan teknologi kesehatan.

figur masyarakat. baik formal maupun non formal. dan fasilitator yang mempunyai kompetensi memadai dan dapat membangun komitmen dengan dukungan para pemimpin. berperan aktif dalam setiap pembangunan kesehatan. b. tokoh agama. dan swasta menjadi inisiator.baik perorangan. kelompok. organisasi profesi. mampu mengatasi masalah kesehatan secara mandiri. Tujuan Tujuan subsistem pemberdayaan masyarakat adalah meningkatnya kemampuan masyarakat untuk berperilaku hidup sehat. Sasaran Pemberdayaan Perorangan (tokoh masyarakat. 3. kelompok (organisasi kemasyarakatan. dan sebagainya). politisi. terpadu. Penggerak Pemberdayaan Pemerintah. maupun masyarakat secara terencana. motivator. Unsur-unsur a. serta dapat menjadi penggerak dalam mewujudkan pembangunan berwawasan kesehatan. masyarakat. 74 . dan berkesinambungan guna tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. kelompok masyarakat). dan masyarakat luas serta pemerintah yang berperan sebagai agen perubahan untuk penerapan perilaku hidup sehat (subjek pembangunan kesehatan). 2.

kemauan. dan kemampuan. serta menjadi penggerak dalam pembangunan kesehatan. dan untuk masyarakat sehingga mampu untuk mengoptimalkan dan menggerakkan segala 75 . permasalahan. b. dan pemerintah yang meliputi: dana. keluarga. tumbuh dan berkembang.c. kebutuhan. pedoman. swasta. Kemandirian bermakna sebagai upaya kesehatan dari. d. metode. dan media untuk terselenggaranya proses pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan. Berbasis Masyarakat Pembangunan kesehatan berbasis pada tata nilai perorangan. sehingga membentuk kebiasaan dan pola hidup. Prinsip a. oleh. dan masyarakat sesuai dengan keragaman sosial budaya. serta potensi masyarakat (modal sosial). Kegiatan Hidup Sehat Kegiatan hidup sehat yang dilakukan sehari-hari oleh masyarakat. Edukatif dan Kemandirian Pemberdayaan masyarakat dilakukan atas dasar untuk menumbuhkan kesadaran. budaya. 4. Sumber Daya Potensi yang dimiliki oleh masyarakat. serta melembaga dan membudaya dalam kehidupan bermasyarakat. sarana dan prasarana.

mengemukakan pendapat dan terlibat dalam proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kesehatan diri. dan lingkungannya. dan kepekaan masyarakat dalam menghadapi potensi dan masalah kesehatan yang akhirnya bermuara dalam semangat gotongroyong sesuai dengan nilai luhur bangsa. keluarga. solidaritas. serta kemudahan akses informasi. c. tanggap terhadap aspirasi masyarakat dan bertanggung-jawab. Tumbuhnya rasa kepedulian. tenggang rasa. Kemitraan dan Gotong-royong Semua pelaku pembangunan kesehatan baik sebagai penyelenggara maupun sebagai pengguna jasa kesehatan dengan masyarakat yang dilayani berinteraksi dalam semangat kebersamaan. empati. Penggerakan Masyarakat Pembangunan kesehatan perlu digerakkan oleh masyarakat dan masyarakat mempunyai peluang yang penting dan luas dalam pembangunan 76 .sumber daya setempat serta tidak bergantung kepada pihak lain. d. Penyelenggaraan a. masyarakat. kesetaraan. 5. Kesemuanya itu dapat dilaksanakan bila kebutuhan masyarakat telah dipenuhi secara wajar. Kesempatan Mengemukakan Memilih Pelayanan Kesehatan Pendapat dan Masyarakat mempunyai kesempatan untuk menerima pembaharuan. dan saling memperoleh manfaat.

kelompok. Pada hakekatnya pembangunan kesehatan diselenggarakan oleh. Pemberdayaan masyarakat. Dalam kaitan ini pelibatan aktif masyarakat dalam proses pembangunan kesehatan dilakukan mulai dari penelaahan situasi masalah kesehatan. dari. pencegahan. pemantauan. penyembuhan. hal ini mengingat penekanan atau fokus pembangunan kesehatan diberikan pada peningkatan perilaku dan kemandirian masyarakat serta upaya promotif dan preventif. Pemberdayaan masyarakat ditujukan guna terwujudnya penguatan upaya peningkatan. b. dan untuk masyarakat. 77 . dan evaluasi upaya kesehatan sehingga dapat terwujud kemandirian dan kesinambungan pembangunan kesehatan. Pengorganisasian dalam Pemberdayaan Pelaksanaan pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan melalui perorangan. merupakan hal yang penting dalam pembangunan kesehatan. maupun pemulihan secara tersendiri atau terpadu. penyusunan rencana termasuk dalam penentuan prioritas kesehatan. Perencanaan pemberdayaan masyarakat didasarkan pada fakta dan masalah kesehatan yang menjadi perhatian masyarakat setempat maupun masyarakat luas serta dengan mempertimbangkan potensi sumber daya dan nilainilai sosial budaya masyarakat. pelaksanaan. termasuk penggerakan masyarakat. dan masyarakat luas sesuai dengan kepentingannya dan yang berhasil guna dan berdaya guna.kesehatan.

dan kemampuan masyarakat dalam berperilaku sehat dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung melalui berbagai saluran media dan teknik promosi kesehatan. daerah pegunungan. serta dengan memperhatikan nilai-nilai agama dan sosial budaya yang ada. dan kemandirian dalam upaya kesehatan. Musholla Sehat. Upaya untuk meningkatkan pengetahuan. seperti: Poskestren. tempat kerja. menyiapkan regulasi. daerah pesisir. kemauan. Peranan Pemerintah membuka akses informasi dan dialog. menyiapkan masyarakat dengan membekali pengetahuan dan keterampilan bagi masyarakat. seperti: rumah tangga. kesadaran.Pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan pula melalui pendekatan ketatanan. institusi pendidikan. Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan metoda yang tepat. dukungan sumber daya untuk membangun kemandirian dalam upaya kesehatan dan mendorong terbentuknya Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM). dan aliran sungai. seperti masyarakat di desa. memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang. Desa Siaga. dan fasilitas kesehatan agar terwujud pemberdayaan masyarakat yang berhasil guna dan berdaya guna serta terjamin kesinambungannya. Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan memperhatikan karakteristik dan kekhususan masyarakat. 78 . Pemuda Siaga Peduli Bencana (Dasipena). tempat umum. kota.

organisasi kemasyarakatan. seperti legislatif untuk memperoleh dukungan kebijakan dan sumber daya bagi terwujudnya pembangunan berwawasan kesehatan. seperti seluruh sektor terkait. c. lembaga legislatif. Kemitraan Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan kemitraan berbagai pihak. Masyarakat juga dapat berpartisipasi dengan memberikan kritik yang membangun bagi kepentingan seluruh masyarakat. Pembinaan dilakukan untuk kesinambungan pemberdayaan masyarakat yang telah dilakukan 79 . dan masyarakat agar terwujud dukungan sumber daya dan kebijakan dalam pembangunan kesehatan. Advokasi Masyarakat dapat berperan dalam melakukan advokasi kepada pemerintah dan lembaga pemerintahan lainnya. perguruan tinggi. Pelaksanaan advokasi dilakukan dengan dukungan informasi yang memadai serta metode yang berhasil guna dan berdaya guna. dunia usaha.Peran masyarakat dalam pembangunan kesehatan dapat dengan cara mendirikan sarana pelayanan kesehatan maupun memberikan informasi kesehatan (promosi kesehatan) kepada masyarakat. Dalam kaitan ini termasuk pengembangan Desa Siaga atau bentuk-bentuk lain pada masyarakat desa/kelurahan. d.

seperti di Puskesmas dan Rumah Sakit yang mempunyai kompetensi dan integritas tinggi. pembiayaan yang memadai. dan dinamisator dalam proses pemberdayaan masyarakat. 80 . Peningkatan Sumber Daya Dalam pemberdayaan masyarakat perlu didukung oleh pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan yang kuat. e. antara lain pemberian insentif. termasuk pentingnya ketersediaan tenaga penggerak/promosi kesehatan. lomba. dan kompetisi. pendampingan. komunikator.melalui berbagai cara. Dalam pemberdayaan masyarakat secara lebih spesifik dapat didampingi penggerak yang berperan sebagai fasilitator. dan dukungan berbagai sarana lain yang berkaitan. Ketersediaan sumber daya tersebut sangat penting agar dapat tercapai masyarakat berperilaku hidup sehat dan mandiri.

Bila terjadi perubahan paradigma dan lingkungan strategis. bermutu. 2. dan subsistem sediaan farmasi. dan subsistem manajemen dan informasi kesehatan. proses. budaya. regional maupun global. Proses dalam SKN meliputi subsistem upaya kesehatan. luaran. Lingkungan SKN meliputi berbagai keadaan yang menyangkut ideologi. 3. dan tingkat fisik/alam yang berdampak terhadap 81 . Luaran dari SKN adalah terselenggaranya pembangunan kesehatan yang berhasil guna dan berdaya guna. subsistem pembiayaan kesehatan. 4. sosial. sebagai berikut: 1. PROSES PENYELENGGARAAN SKN Penyelenggaraan SKN menerapkan pendekatan kesisteman yang meliputi masukan. ilmu pengetahuan dan teknologi. politik. Sistem Kesehatan Nasional dapat disesuaikan dan disempurnakan dengan kondisi dan situasi yang berkembang. alat kesehatan. dan lingkungan serta keterkaitannya satu sama lain. merata. Masukan dalam SKN meliputi subsistem sumber daya manusia. dan berkeadilan. pertahanan dan keamanan baik nasional. ekonomi.BAB VI DUKUNGAN PENYELENGGARAAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL Sistem Kesehatan Nasional diupayakan agar mampu menyesuaikan dengan perkembangan dan dinamika pembangunan kesehatan yang dihadapi dalam penyelenggaraannya yang dilaksanakan secara berkesinambungan. subsistem pemberdayaan masyarakat. A. dan makanan.

Berbagai materi SKN yang terpilih dapat digunakan untuk penyusunan dan penetapan peraturan perundangan pada tingkat kebijakan strategis. dan Ketahanan Nasional merupakan landasan bagi penyelenggaraan SKN. 82 . SKN perlu ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. antar subsistem SKN. Wawasan Nusantara. akuntabel. Sosialisasi dan Advokasi SKN Sistem Kesehatan Nasional perlu disosialisasikan dan diadvokasikan ke seluruh pelaku pembangunan kesehatan dan seluruh pemangku kepentingan kesehatan untuk memperoleh komitmen dan dukungan dari semua pihak. serta pengawasan dan pertanggung-jawaban secara sistematis. integrasi. dan berkelanjutan dengan memperhatikan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025. dan kebijakan teknis operasional. baik antar pelaku. Penyelenggaraan SKN dilaksanakan secara bertahap.pembangunan kesehatan. Pancasila. maupun dengan sistem serta subsistem lain diluar SKN. Undang-undang Dasar 1945. berjenjang. 2. pelaksanaan dan pengendalian. sebagai berikut: 1. Penetapan SKN Untuk memperoleh kepastian hukum yang mengikat semua pihak. sinkronisasi. kebijakan manajerial. Penyelenggaraan SKN memerlukan penerapan prinsip koordinasi. transparan. Penyelenggaraan SKN dilakukan melalui siklus perencanaan. dan sinergisme yang dinamis.

dinamika. 3. yaitu: 1. Fasilitasi Pengembangan Kebijakan Kesehatan di Daerah Dalam pembangunan kesehatan di daerah perlu dikembangkan kebijakan kesehatan. serta memfasilitasi sosialisasi dan advokasi penyelenggaraan pembangunan kesehatan di daerah sesuai kebutuhan. Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra SKPD) yang penyelenggaraannya disesuaikan dengan kondisi. sistematis. baik di sektor publik maupun di sektor swasta. memfasilitasi pengukuhannya dalam bentuk peraturan perundangundangan daerah.Sasaran sosialisasi dan advokasi SKN adalah semua penentu kebijakan. dan berkelanjutan. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJM-D). baik di pusat maupun daerah. Penyelenggaraan SKN. Penyelenggaraan SKN. terpadu. dan masalah spesifik daerah dalam kerangka SKN. termasuk pengembangan kebijakan di daerah diselenggarakan melalui penataan ulang keenam subsistemnya secara bertahap. Pemerintah Pusat memfasilitasi pengembangan kebijakan kesehatan di daerah. 2. 3. termasuk pengembangan kebijakan di daerah didukung dengan penyusunan 83 . seperti: Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJP-D). termasuk pengembangan kebijakan di daerah diwujudkan dalam kerangka penyelenggaraan pembangunan kesehatan. baik secara nasional maupun dalam lingkup daerah. Penyelenggaraan SKN dalam kaitannya dengan pengembangan kebijakan kesehatan di daerah dilakukan dengan berbagai kegiatan. Penyelenggaraan SKN.

4. demokratisasi. standar. baik tingkat nasional maupun tingkat daerah.kebijakan. 2. Indikator kinerja SKN menjadi rekomendasi untuk upaya perbaikan yang harus didokumentasikan dan disebarluaskan. Pengendalian dan penilaian SKN termasuk kebijakan kesehatan di daerah diselenggarakan secara berjenjang dan berkelanjutan dengan menggunakan tolok ukur keberhasilan pembangunan kesehatan. dan kabupaten/kota sampai 84 . dan pedoman dalam bentuk berbagai peraturan perundang-undangan. provinsi. dan lokal yang dinamis dan cepat berubah. Pengendalian dan penilaian SKN termasuk kebijakan kesehatan di daerah bertujuan untuk memantau dan menilai keberhasilan penyelenggaraan pembangunan kesehatan berdasarkan sistem kesehatan yang ada. Dalam rangka menyesuaikan dengan perkembangan global. termasuk pengembangan kebijakan kesehatan di daerah diselenggarakan sesuai dengan asas desentralisasi yang bertanggung-jawab. regional. Penyelenggaraan SKN. dan good governance dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). maka dilakukan pengendalian dan penilaian SKN sebagai berikut: 1. Indikator tersebut menjadi acuan segenap pelaku pembangunan kesehatan di tingkat nasional. Setiap tahun seluruh pelaku pembangunan kesehatan dengan koordinasi pemerintah melakukan pengukuran pencapaian/kinerja SKN dengan beberapa indikator yang akurat dan terpercaya. 3. Pengendalian dan penilaian SKN termasuk kebijakan kesehatan di daerah perlu didukung dengan pengembangan sistem monitoring dan evaluasi di tingkat nasional dan daerah secara terpadu. nasional.

ke tingkat desa. inklusif. efisien. penyelenggaraan pembangunan kesehatan di perlu memperhatikan SKN dan peraturan setempat. Standar. semua Dalam daerah daerah Secara operasional. semua peraturan perundangan yang berkaitan harus dilaksanakan secara konsisten dengan tata pemerintahan yang baik (good governance). Provinsi. efektif. TATA PENYELENGGARAAN SKN Penyelenggaraan SKN harus memperhatikan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Adapun unsur dari tata pemerintahan yang baik. dan organisasi bukan pemerintah lainnya. Prosedur. Pelaku pelanggaran peraturan harus ditindak secara tegas. Masyarakat madani dan seluruh sektor terkait perlu secara jelas dan tegas diberi 85 . guna penyesuaian penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang berbasis fakta. berorientasi pada konsensus. pemerintah juga harus secara konsisten dan konsekuen mengawasi kepatuhan hukum masyarakat. Selain tata pemerintahan yang baik. Tata pemerintahan yang baik disertai regulasi pada keenam subsistem SKN merupakan langkah menuju kesinambungan pelaksanaan sistem kesehatan. termasuk SDM nasional yang melaksanakannya. penyelenggaraan SKN memerlukan peran regulasi dari pemerintah sesuai dengan tingkatannya (Pusat. Dalam penyelenggaraan SKN perlu kejelasan dan ketegasan tentang pelimpahan urusan pemerintahan di bidang kesehatan yang luas sampai kabupaten/kota. meliputi: partisipatif. dan mengikuti kaidah hukum yang berlaku. swasta. transparan. Untuk menjaga kepentingan rakyat. dan Kriteria dari Departemen Kesehatan perlu dikoordinasikan dengan Departemen Dalam Negeri. B. Pedoman tentang Norma. Kabupaten/Kota).

pembangunan fasilitas umum. Pemerintah daerah. Untuk Pemerintah. penggerak. Pelaku adalah: penyelenggaraan pembangunan kesehatan 1. sektor perdagangan. akademisi. Penyelenggaraan SKN dapat berjalan dengan baik apabila melibatkan. dalam konteks desentralisasi perlu jelas dan tegas dalam memberikan arahan untuk pembangunan kesehatan di daerahnya. sektor pertanian. serta masyarakat luas. 2. antara lain: sektor pendidikan. C. PENYELENGGARA SKN Pemerintah dan masyarakat termasuk swasta bertanggung-jawab atas penyelenggaraan pembangunan kesehatan sesuai peran dan fungsinya masing-masing.peran dalam pelaksanaan berbagai subsistem SKN. praktisi. sektor keuangan. dan sektor terkait lainnya. organisasi profesi. keluarga. Pemerintah. termasuk swasta yang berperan dalam advokasi. baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah berperan sebagai penanggungjawab. media massa. dan penyelenggaraan berbagai pelayanan kesehatan sesuai dengan bidang keahlian dan kemampuan masing-masing. Individu. lembaga swadaya masyarakat. dan pembina pembangunan kesehatan dalam lingkup wilayah kerja dan kewenangan masing-masing. sektor keamanan. peranan tersebut ditambah dengan menetapkan 86 . pelaksana. SKN tidak bisa dijalankan hanya oleh Departemen Kesehatan atau Dinas yang mengurus kesehatan di daerah. Di sektor publik. dan masyarakat yang meliputi tokoh masyarakat. pengawasan sosial. sektor perikanan dan kelautan.

Kebijakan, Standar, Prosedur, dan Kriteria yang digunakan sebagai acuan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan di daerah. 3. Badan Legislatif, baik di pusat maupun di daerah, yang berperan melakukan persetujuan anggaran dan pengawasan terhadap penyelenggaraan pembangunan kesehatan, melalui penyusunan produk-produk hukum dan mekanisme kemitraan antara eksekutif dan legislatif. 4. Badan Yudikatif, termasuk kepolisian, kejaksaan dan kehakiman berperan menegakan pelaksanaan hukum dan peraturan perundangan yang berlaku di bidang kesehatan. 5. Sektor swasta yang memiliki atau mengembangkan industri kesehatan, seperti: industri farmasi, alat-alat kesehatan, jamu, makanan sehat, asuransi kesehatan, dan industri pada umumnya. Industri pada umumnya berperan besar dalam memungut iuran dari para pekerja dan menambah iuran yang menjadi kewajibannya. 6. Lembaga pendidikan, baik pada tingkat sekolah dasar sampai tingkat perguruan tinggi, baik milik publik maupun swasta. Sebagian besar masalah kesehatan berhubungan dengan perilaku dan pemahaman. Pendidikan memegang kunci untuk menyadarkan masyarakat akan berbagai risiko kesehatan dan peran masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

D. SUMBER DAYA PENYELENGGARAAN SKN Sistem Kesehatan Nasional merupakan bentuk dan cara penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang bekerja secara sinergis, harmonis, dan menuju satu tujuan. 87

Pemerintah wajib melakukan koordinasi agar semua subsistem dan semua pelaku berfungsi dan bekerja secara sinergis. Kepincangan pada salah satu subsistem atau pelaku akan mengganggu kerja SKN. Pemerintah harus menjamin tersedianya dana, sumber daya manusia yang memadai dan profesional, sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan yang dikelola dengan manajemen kesehatan yang baik, terutama yang berkaitan dengan administrasi kesehatan dan pengaturan hukum kesehatan serta didukung dengan informasi yang akurat, valid, tepat waktu, dan tepat kebutuhan. Pelaku sistem informasi kesehatan sesuai perannya harus mampu secara cepat merespon dan menggunakan perkembangan teknologi informasi, baik untuk mengolah, menyampaikan ke pelaku lain, maupun kepada masyarakat nasional dan internasional. Pemerintah juga mengembangkan sistem insentif/reward dan sistem sanksi bagi setiap pelaku yang tidak menggunakan informasi yang akurat, tepat waktu, dan tepat kebutuhan (relevan). Selain itu, Pemerintah juga mengharuskan fasilitas kesehatan publik maupun swasta untuk menyediakan informasi melalui situs yang mudah diakses dan terbuka, sebagai cara untuk mendidik masyarakat. Tersedianya pembiayaan kesehatan dalam jumlah yang memadai teralokasi secara adil, merata, dan termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna, sangat penting dalam pembangunan kesehatan. Pemerintah juga menjamin tersedianya dana untuk penelitian dan pengembangan bidang kesehatan. Sumber daya manusia merupakan komponen kunci keberhasilan SKN. Pemerintah harus melakukan upaya agar semua SDM Kesehatan memenuhi standar kompetensi tertentu sesuai bidangnya sebagai prasyarat bagi penyediaan pelayanan kesehatan yang bermutu dan 88

diterima oleh masyarakat. Namun, Pemerintah juga menjamin agar setiap SDM di bidang kesehatan mendapat remunerasi yang wajar, layak, dan sesuai dengan tanggung-jawab, pengalaman, dan kompetensinya. Keseimbangan profesionalitas, tanggung-jawab, pengalaman, dan besaran renumerasi merupakan kunci kesinambungan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Penyelenggaraan subsistem sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan harus dilakukan secara terbuka dengan keseimbangan antara produksi dan pemanfaatan dengan dukungan dana yang memadai. Keterbukaan ini adalah kemampuan mengakomodasikan perkembangan teknologi dan produk teknologi kefarmasian dan teknologi peralatan kedokteran dan kesehatan serta memperhatikan keterjangkauan harga bagi masyarakat. Indonesia harus mampu menjadi pengekspor berbagai sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan. Keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif dalam bidang ini harus terus dikembangkan. Untuk menjamin kesinambungan subsistem upaya kesehatan, maka dukungan masukan informasi kesehatan, sumber daya manusia kesehatan, sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan, serta pendanaan harus selalu tersedia dalam jumlah yang memadai. Kualitas pelayanan harus selalu memenuhi standar yang ditetapkan agar setiap pengguna pelayanan kesehatan merasa puas dan memperoleh manfaat pelayanan kesehatan. Dengan kualitas dan kepuasan pengguna yang tinggi, maka akan timbul kemauan masyarakat sebagai pengguna untuk berkontribusi dalam bentuk dana, pemikiran, maupun tenaga. Pemerintah perlu menjamin adanya kepastian hukum dalam setiap penyelenggaraan subsistem SKN. Peraturan perundangan yang dalam pelaksanaannya mengalami 89

hambatan besar di daerah harus diatur lebih lanjut dengan Peraturan Daerah. Pemerintah memfasilitasi dan memberikan insentif (baik berupa pembebasan pajak. maka wajib berperan aktif sesuai dengan bidangnya guna mewujudkan tujuan SKN. pemenuhan 90 . memberikan insentif. dan memfasilitasi berbagai penelitian di dalam negeri guna tersedianya sediaan farmasi dan alat kesehatan. perguruan tinggi. Pemerintah daerah perlu diberikan kewenangan untuk penegakan hukum terhadap berbagai aspek yang memungkinkan terselenggaranya SKN dengan baik. Departemen Kesehatan melakukan koordinasi dengan lintas sektor. maupun bantuan teknis lainnya) bagi fasilitas kesehatan. Pemerintah mendorong terwujudnya kontrol sosial yang kuat dari masyarakat terhadap kualitas pelayanan kesehatan. serta sistem pengelolaan yang lebih baik dan bermutu. Kewajiban berbagai sektor mencakup pemenuhan logistik yang diperlukan sebagai masukan dalam SKN. lembaga penelitian dan pengembangan lainnya. Pemerintah mengatur dan memberdayakan masyarakat agar mampu melakukan kontrol sosial yang memadai guna menjamin kesinambungan dan akuntabilitas SKN. Peraturan yang dibuat harus melalui sinkronisasi dengan berbagai peraturan di bidang kesehatan dan di luar bidang kesehatan serta membuka kesempatan luas kepada pemangku kepentingan dalam perumusan peraturan. pembelian hasil produksi. E. KERJASAMA INTERNASIONAL Sistem Kesehatan Nasional merupakan bagian dari sistem nasional. atau industri dalam melakukan penelitian dan pengembangan pelayanan kesehatan guna memacu perkembangan SKN. maupun instansi kesehatan di daerah untuk mendukung.

Para pelaku SKN juga wajib mencermati dan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada di dunia internasional guna memperkuat SKN. Peran Indonesia dalam upaya mereformasi WHO perlu terus dilakukan agar transparansi dan keadilan dari organisasi internasional tersebut dapat tercapai. dan peran lainnya yang berkembang sesuai perubahan lingkungan strategis. Dana internasional yang tersedia yang tidak mengikat dan dapat secara sinergis meningkatkan kinerja SKN perlu dimanfaatkan dengan baik. Para pelaku SKN berkewajiban mengembangkan diri agar mampu berperan di tingkat internasional dalam rangka menjaga agar SKN dapat berjalan dengan baik. Para pelaku SKN wajib berperan aktif di lingkungan internasional untuk mewujudkan kepemimpinan Indonesia di dunia internasional guna menghasilkan kebijakan yang kondusif bagi pengembangan SKN. seperti UNDP. dan ASEAN. UNICEF. Kerja sama dalam bidang kesehatan dengan berbagai lembaga internasional dan regional lain yang terkait perlu ditingkatkan. koordinasi penyelenggaraan. peniadaan atau pengurangan bahan-bahan ataupun kondisi yang dapat menimbulkan risiko kesehatan. setiap intervensi internasional yang dalam jangka pendek atau jangka panjang yang dapat merugikan SKN wajib dicegah oleh setiap pemangku kepentingan. 91 . Perubahan lingkungan strategis regional maupun global dapat mengancam keberhasilan SKN. Sebaliknya.SDM dengan kompetensi yang sesuai. UNFPA. penyediaan insentif finansial dan non finansial.

interelasi. termasuk swasta. tidak berarti seluruh pelayanan kesehatan harus menyediakan pelayanan non diskriminatif bagi seluruh rakyat untuk seluruh jenis pelayanan. Manajer tersebut harus mempunyai kompetensi khusus dan mempunyai komitmen kuat dalam upaya mencapai tujuan pembangunan kesehatan. dibutuhkan manajer-manajer di sektor publik maupun di masyarakat. tetapi juga harus realistis dengan kemampuan sumber daya manusia dan ketersediaan dana dan sumber daya lainnya. Dengan demikian. serta masyarakat. termasuk swasta. baik pemerintah secara lintas sektor. badan legislatif dan yudikatif. Prinsip adil dan merata secara bertahap diupayakan sesuai kemampuan yang dimiliki. Untuk dapat melaksanakan SKN yang memenuhi prinsip umum dan prinsip dasar dari masing-masing subsistemnya yang disesuaikan dengan kemampuan diri dan lingkungan. penyelenggaraan pembangunan kesehatan dengan dukungan SKN dapat dilaksanakan dengan berhasil guna dan berdaya guna dengan interaksi. 92 . Penetapan SKN dimaksudkan untuk memberikan arah bagi setiap pelaku upaya atau pelayanan kesehatan sesuai dengan kondisi lingkungan masing-masing instansi dan institusi.BAB VII PENUTUP Tujuan pembangunan kesehatan hanya dapat dicapai bila didukung oleh kerjasama dengan semangat kemitraan antar semua pelaku pembangunan. pemerintah pusat dan daerah. serta keterpaduan berbagai upaya yang dilakukan oleh semua pelaku SKN. meskipun nantinya diharapkan terwujud pelayanan kesehatan yang adil dan merata. serta kondisi lingkungannya. Dengan demikian. Dalam pelaksanaannya. seluruh pelaku harus memegang teguh prinsip-prinsip umum SKN dan prinsip dasar masing-masing subsistemnya.

baik nasional.Sistem Kesehatan Nasional merupakan sistem terbuka yang berinteraksi dengan berbagai sistem nasionalnya sebagai subsistem dari Ketahanan Nasional. regional. regional. dan dalam pelaksanaannya selalu mengikuti perkembangan. dan perubahan lingkungan strategis nasional. 93 . maupun internasional. Sistem Kesehatan Nasional harus selalu mampu menjawab peluang. Oleh karenanya. SKN perlu disesuaikan atau diubah secara berkala sesuai dengan perubahan lingkungan strategis. bersifat dinamis. semua pemangku kepentingan wajib memantau kinerja dan kendala yang dihadapi SKN. tantangan. maupun global. Oleh karenanya.

REGIONAL.RAWAN PANGAN DAN RAWAN GIZI .AKSES PELAYANAN PUBLIK BURUK .WASANTARA. UUD 1945. Politik. dasar.LINGKUNGAN BURUK . NASIONAL. Ekonomi Sosial Budaya dan Pertahanan Keamanan) GLOBAL. TANNAS.SUMBER DAYA KESEHATAN TERBATAS DERAJAT KESMAS YG SETINGGITINGGINYA RAKYAT SEHAT PRODUKTIF TUJUAN NASIONAL LINGKUNGAN STRATEGIS: (Ideologi.ALUR PIKIR RENCANA PEMBANGUNAN KESEHATAN DAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL PARADIGMA NASIONAL (PANCASILA.) (UU 23/1992 Kesehatan.PERILAKU MASYARAKAT BURUK .KETIDAKPASTIAN HUKUM . bentuk dan cara penyelenggaraan Bangkes) MASALAH MENDASAR BANGKES: . UU 17/2007 RPJPN) KONDISI SAAT INI Derajat Kesehatan Masyarakat Rendah Gambar-1 RPJP-K DAN SKN (Arah. LOKAL PELUANG/KENDALA 94 .

dan Makanan 3) Meliputi : Manajemen dan Informasi Kesehatan 95 .GAMBARAN UNSUR-UNSUR PEMBANGUNAN KESEHATAN DAN SUBSISTEM SKN SERTA TATA HUBUNGANNYA Gambar-2 DAN LINGKUNGAN STRATEGIS YANG MEMPENGARUHI SKN LINGKUNGAN ILMU DAN TEKNOLOGI LINGKUNGAN SOSIAL. AGAMA DAN BUDAYA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN FUNDAMEN MORAL: KEMANUSIAAN LINGKUNGAN EKONOMI 2) SUMBER DAYA KESEHATAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT UPAYA KESEHATAN 1) DERAJAT KESEHATAN MASYARAKAT LINGKUNGAN SEHAT 3) MANAJEMEN KESEHATAN PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA LINGKUNGAN POLITIK DAN HUKUM LINGKUNGAN FISIK DAN BIOLOGI Catatan: 1) Meliputi pula: Penelitian dan Pengembangan Kesehatan 2) Meliputi: Pembiayaan Kesehatan. serta Sediaan Farmasi. Alat Kesehatan. SDM Kesehatan.

DAFTAR SINGKATAN AKB AKI APBD APBN ASEAN BPFK BTKL CPOB DBD DOEN Dasipena HAM HIV/AIDS Iptek Jamkesmas KFT KIA KIE KISS MDGs NKRI NSPK PDB PKMP PKMS PKMT PKPP PKPS PKPT Pilkada : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : Angka Kematian Bayi Angka Kematian Ibu Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Association South East Asian Nation Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan Balai Tehnik Kesehatan Lingkungan Cara Pembuatan Obat yang Baik Demam Berdarah Dengue Daftar Obat Esensial Nasional Pemuda Siaga Peduli Bencana Hak Asasi Manusia Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Jaminan Kesehatan Masyarakat Komite Farmasi dan Terapi Kesehatan Ibu dan Anak Komunikasi. Standar. dan Kriteria Produk Domestik Bruto Pelayanan Kesehatan Masyarakat Primer Pelayanan Kesehatan Masyarakat Sekunder Pelayanan Kesehatan Masyarakat Tersier Pelayanan Kesehatan Perorangan Primer Pelayanan Kesehatan Perorangan Sekunder Pelayanan Kesehatan Perorangan Tersier Pemilihan Kepala Daerah 96 . Prosedur. Sinkronisasi. Integrasi. dan Sinergisme Millenium Development Goals Negara Kesatuan Republik Indonesia Norma. Informasi dan Edukasi Koordinasi.

Poskesdes Poskestren Posyandu Puskesmas P4K RPJM-D RPJP-K RPJP-D RPJP-N Renstra SKPD Riskesdas SDKI SDM SJSN SKN Siknas TB Paru UHH UKBM UNDP UNFPA UNICEF UPT UUD WHO WNA WNI : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : Pos Kesehatan Desa Pos Kesehatan Pesantren Pos Kesehatan Terpadu Pusat Kesehatan Masyarakat Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah Riset Kesehatan Dasar Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Sumber Daya Manusia Sistem Jaminan Sosial Nasional Sistem Kesehatan Nasional Sistem Informasi Kesehatan Nasional Tuberculosis Paru Umur Harapan Hidup Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat United Nations Development Programme United Nations Population Fund United Nations Emergency Children’s Fund Unit Pelaksana Teknis Undang-undang Dasar World Health Organization Warga Negara Asing Warga Negara Indonesia 97 .

Sukowidodo. MPH. SKM. SKM. Prof. antara lain: Tingkat Pusat: Dr. Achmad Soebagio T. DR. DM Wismarini. MPH. SE.Kes . Sutoto. Drg. Richard Panjaitan. Dr. Lovita T. Dra. Ruhayati . T. Lily S. Agus Sunario. Dr.Kes. MSc. Dr. Wandaningsih. SKM. Dr.W.KONTRIBUTOR Sistem Kesehatan Nasional ini berhasil disusun atas partisipasi aktif dan kontribusi positif dari berbagai pihak. MPH. Kodrat Pramudho. Drg. Drs. Setiawan Soeparan. MSc. DR. Dr. M. Yoserizal.SKM. Taufik. MPH. MPP. MPH. Apt. Liliana. dr. MKM. MPH. MPH). Bambang Giatno Rahardjo. MPH.Kes. Siti Fadilah Supari. Dr. Rachmi Untoro. Nagiot CT.Kes. Dra. Yaslis Ilyas. SKM. Jemfy Naswil. Dr. Edi Suranto. . Bambang Hartono. Syamsul Bahri. MPH.Rita Ratna Puri. MSc. SKM. Dr. Drs. SE. Kustantinah. H. S. Jajang Subagya. SKM. MBA.B. Ida Bagus Indra Gotama. Rahbudi Helmi. Charles Suryadi. Apt. Bambang W. MPH. Lenny Evanita. Apt. Ph. SKM. Suhardjono. Sp.Kes. SH.DTM&H. Dr. Nasirah Bahaudin. Sri Suhariningsih. Dr. Ida Bagus Indra Gotama. DR. R. Firman Lubis. MPH. Sri Muljati.Tugijono.Kom. Mustikowati. MSc. M. . MPH. SH. Dr. dr. Sp.D.Sc. DR. Marwan Nusri. Dr.Kes. SKM . MPH. Drg. SE. Dr. Drg. DR. SH. Hapsara Habib Rahmat. SKM. M. SKM. Arum Atmawikarta. Ir. Apt.Kes. M. Dr. Iswandi Mourbas.JP. M.Chalik Masulili.Kes. dr. Mary S Maryam. Bambang Sardjono. Sp. Dr. M. M. DR. Drs. Dr. Budhihardja.B(K). Toto Heryanto . Harmein Harun. Yuniar S. Bambang Hartono. DR. M. MPH. S. M. Indah Yuningprapti. Dr. Diah Puspitasari. MSc. Ruslidjah. M. MSc. Dr. Dr. M. MPH. Dr. Abidinsyah Siregar. Dr. MPH . M. SKM . MPH. Yusharmen D Comm. Mulya A Hasjmy. SS .J. Dr. Bambang Widodo. DR. Soenarjo Soejoso.Kes. SKM. Purwadi. Adang Bachtiar. Dr.Kes. dr. H. SKM . Ina Hernawati. Drs. Drg. dr. DR.DR. Naydial Roesdal. MSi.H. Krissna Tirtawidjaja. Dr. M. dr. Sonny P.Kes. Ratna Rosita Hendardji. M.PH. SK Amdani. Dr. Dr. dr. MM. Drs. Dr.Kes. Sp. Dr. DHSM. Mulyadi. MSc. Sardikin Giriputro.Kes. SKM. Iis Sin Sin. Faisal Barabas. Drg. Krishnajaya. MM. Dr. PhD. M. MPH. Agus Purwadianto. Drs. MBA. Apt. Ruhayati .Kes. Dr.B. Dr. Delnalis. Bambang Hartono. Indariwati. Taufik Izwan. Dra.Appt. Geral Mario S. Royan. Gemala Hatta. Bambang Widodo. SKM. Pakkaya. MSc. Apt.Sos. MPH. Widyawati. M. MKKK . Suamsul Bahri. I Nyoman Kandun. Msi. Dr. Dr. SKM. Dr. Ph. SKM.Epid. MKM. Drs. Prof. Hary Purwanto. Herma Trillas Purba. MS. Untung Suseno Sutarjo.A. . Sulistyowati. Sontang Tambunan. Suginarti . MPH.Syihab. Louventus P . Widjaja Lukito. . Dr. Trisa Wahjuni Putri. Titte Kabul Adimidjaja. DR. Rahmat Kurniadi. Rustam S. M.M. Andi Saguni. Msi. MPH. Dr. MPPM. MPH. Dr. Madiono. Riza Sultoni.D. Sp. Emiliya Roza. Drs. Dr.Kes. MM. SKM. Dr. Zulkarnain Kasim. Sp. M.Sos. Ahmad Nizar S. Hardini Kusumadewi. Peter Andreas. Zulkarnain. R. Dr. MSi. Faiq Bahfen. Dr. Dr. Hasbullah Thabrani. Agus Iriawan. Dr.Epid . SKM. Dr. MSc. Prof. DPH. dr. Farid Wadjdi Husain.KO. S. MPH. M. Dra.Meinarwati. DR. Sri Hermiyanti. MS. MM. Sjafii Achmad. Chirul R Nasution. Dr. Gatot Soetomo. Indriyono Tantoro. dr. MA. Abdurachman. Triono Soendoro. dr. Fresly. Dr. Rita Djupuri. Rusmiati. SKM. M. M. Tjipto Rahardjo. Rustam S Pakkaya. Abidinsyah Siregar. Mulya A Hasymi. DCN. Donald Pardede. MSc.Kes. Marius W. Imran Agus Nurali. MPH. SpF(K). Dr. H. M. Prof. drg. Bambang Sardjono.MSc(PH). Dr.Kes. dr. DHSM.JP(K). Slamet Sudi Santoso.

Ni Wayan Mariani. Isti Ratnaningsih.Sos . rapat. Djayusmantoko. Kartini Rustandi. Siti Aisyah. SKM. Drs. Abdul Gani Sitepu. M. Oslinda Martony. Dr. Dr. Yanti. Amin Yohannis. Kamaruzaman. Lovita T . Prof. M. Choirul Anwar. Bondan Agus Susyanto. Lita R Siampar. Dr. MKes. Agung Indarto. MARS. Drg. Dr.Sos. Fauzi Ali Amin.Kes. Andreas Meliala. Dr. One Widyawati. Risma Julius.Kes . MM. Widyawati. Dr. SKM. Pande Putujaraga. Dr. Guntur DW. M. SKM. Peter Andreas). Dr. Drg. MKes. Sri Rachmani.Sp. Tjipto Rahardjo. Agussalim Mooduto. Drg. MSCPH. Dr. Prof. Tukijan. Lily Mulyasari. Bambang Sugeng W. Muninjaya. SKM. Vita. SE. Sudono. Julistio Djais. Lukman HL. MKes. Ibnu Alferbaly. Kuwat S Hudoyo. Kiswanto. M. Poedjo Praseptio.A. M.GDE Agung Wiadnya P. M.Kes. Andi M. Razak Thaha. Drs. Emi Nurjasmi. SKM. S. Ridarson. Dr. Sofia Wirda.Kes . Jauhari. Eny Susilowati. Nizwardi Azkha. DR. Julistio TB Djais. Sardikin Giriputro. MPH. Drg. Dr. MPH.Ahmad Said. Harif Fadhillah. HJ. Poedjo Prasetyo. M. Dr. SpACKI. Ishak. Dedi Supratman. Rosihan Adhani. Tri Martiana. H. SKM. Suteja. Dr. Irwan. Dr. Drg. Dr. Pius Weraman. DESS. Dyah RB. M. MKes. Nurbaiti. Dr. MKes. Drs. RE. H. Dien Emawati. Eny Setiowati. Abd. Jorizal Jannis. MPH. Herry Tjahjono. dr. SKM. MPAM. Jimmy Lee.Kes. Sultan Akbar Torutju . Drs. MSc. Rudi Arif. M. M. MPH. Entos Rusna. Okti Palupi .Kes. Dr. Eryta W.Kes. Wirabrata. Munzir Purba. Munzelly Husivevi. Sugito. Drg. SH. Adi Wirachjanto.SKM. Dan semua individu/pihak yang telah membantu penyusunan SKN yang tidak bisa disebutkan satu per-satu Mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan nama dan gelar Daftar nama dan gelar disusun berdasarkan absensi lokakarya. Bambang Agus Legowo. Dr. MPH. Jeane Pangemanan. Ninin S . SKM. Dr. SpOG. DESS. Drg. Indro Darmadji. Prijono. Shermina Oruh. Adnan Mahmud. Drs. Dr. SpA (K). Ade Erma.Kes. Apt. Arbiansyah Alam. Syahrul A.Kes. Drs.S. Dr. Mahmud Fauzi. Rita Kusriastuti. Drg. Zaura Rini Anggraini.P. T. Dian Damairini. Kuswati Ningsih. A. M. Tri Martiana. Dr. Tingkat Daerah: Drg. Sasli Adis. Syafri. atau pertemuan lainnya . Drs. SKM. Drg. I Wayan A. Bairizal. Ockti Palupi. Dr. Mkes. Hasnawati.Kes. Sutrisno. Hanni Rono S. Jeni Haju. Apt. Nina Kurnia. Yanti Nurbayanti.M. Durachman.Kes. M.SKM. Bachtiar Oesman. Benny Patiasina. Noto Basuki.Kes. Slamet Soesilo. Drg. Entos Z. Dr. Emmilya Rosa. MPH. Ratna Dewi Umar. Rais Lamangkona. SKM. Dr.Kes.Kes. Kodrat Pramudho. SE. Endro Buono. Melzan Dharmayuli. Didi Suswanto. Tin tin F. Dr. Syafrudin Rasyid. Suharto. SKM. Dr. Sugeng LA. SKM. Ridwan Thaha. E. M. Dr. Broto Wasisto. Syahrani Djedi. Dr. MKes. S. MPPM.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful