Pneumonia Pneumonia adalah infeksi akut parenkim paru yang meliputi alveolus dan interstitial.

Walaupun banyakp ihak yang sependapat bahwa pneumonia merupakan suatu keadaan inflamasi, namun sangat sulit untuk membuat suatu definisi tunonia didefinisikan ggal yang universal. Pneumonia didefinisikan berdasarkna gejala dan tanda klinis, serta perjalanan peyakitnya. World Health Organization (WHO) mendefinisikan pneumonia hanya berdasarkan penemuan klinis yang didapat pada pemeriksaan inspeksi dan frekuensi pernapasan. Pneumonia merupakan penyakit yang menjadi masalah di berbagai negara terutama di negara berkembang termasuk Indonesia. Insidens pneumonia pada anak < 5 tahun di negara maju adalah 2-4 kasus/100 anak/tahun, sedangkan di negara berkembang 10-20 kasus/100 anak/tahun. Pneumonia menyebabkan lebih dari 5 juta kematian per tahun pada anak balita di negara berkembang. Berbagai mikroorganisme dapat menyebabkan pneumonia, antara lain virus, jamur, dan bakteri. S. Pneumoniae merupakan penyebab tersering pneumonia bakterial pada semua kelompok umur. Virus lebih sering ditemukan pada anak kurang dari 5 tahun. Respiratory Syncytial Virus (RSV) merupakan virus penyebab tersering pada anak kurang dari 3 tahun. Pada umur yang lebih muda, adenovirus, parainfluenza virus, dan influenza virus juga ditemukan. Mycoplasma pneumonia dan Chlamydia pneumonia, lebih sering ditemukan pada anak lebih dari 10 tahun. Penelitian di Bandung menunjukkan bahwa Streptococcus pneumonia dan Staphylococcus epidermidis merupakan bakteri yang paling sering ditemukan pada apusan tenggorok pasien pneumonia umur 2-59 bulan. Beberapa faktor meningkatkan resiko kejadian dan derajat pneumonia, antara lain defek anatomi bawaan, defisit imunologi, polusi, GER (gastroesophageal reflux), aspirasi, gizi buruk, berat badan lahir rendah, tidak mendapatkan Air Susu Ibu (ASI), imunisasi tidak lengkap, adanya saudara serumah yang menderita batuk, dan kamar tidur yang terlalu padat penghuninya. Diagnosis Anamnesis Batuk yang awalnya kering, kemudian menjadi produktif dengan dahak purulen bahkan bisa berdarah Sesak napas Demam Kesulitan makan/minum Tampak lemah Serangan pertama atau berulang, untuk membedakan dengan kondisi imunokompromais, kelainan anatomi bronkus, atau asma.

Pemeriksaan fisis Penilaian keadaan umum anak, frekuensi napas, dan nadi harus dilakukan pada saat awal pemeriksaan sebelum pemeriksaan lain yang dapat menyebabkan anak gelisah atau rewel. Penilaian keadaan umum antara lain meliputi kesadaran dan kemampuan makan/minum. Gejala distress pernapasan seperti takipnea, retraksi subkostal, batuk, krepitasi, dan penurunan suara paru Demam dan sianosis

-

Anak di bawah 5 tahun mungkin tidak menunjukkan gejala pneumonia yang klasik. Pada anak yang demam dan sakit akut, terdapat gejala nyeri yang diproyeksikan ke abdomen. Pada bayi muda, terdapat gejala pernapasan tak teratur dan hipopnea.

Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan radiologi Pemeriksaan foto dada tidak direkomendasikan secara rutin pada anak dengan infeksi saluran napas bawah akut ringan tanpa komplikasi Pemeriksaan foto dada direkomendasikan pada penderita pneumonia yang dirawat inap atau bila tanda klinis yang ditemukan membingungkan. Pemeriksaan foto dada follow up hanya dilakukan bila didapatkan adanya kolaps lobus, kecurigaan terjadinya komplikasi, pneumonia berat, gejala yang menetap atau memburuk, atau tidak respons terhadap antibiotik. Pemeriksaan foto dada tidak dapat mengidentifikasi agen penyebab.

-

Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan jumlah leukosit dan hitung jenis leukosit perlu dilakukan untuk membantu menentukan pemberian antibiotik Pemeriksaan kultur dan pewarnaan gram sputum dengan kualitas yang baik direkomendasikan dalam tata laksana anak dengan pneumonia yang berat Kultur darah tidak direkomendasikan secara rutin pada pasien rawat jalan, tetapi direkomendasikan pada pasien rawat inap dengan kondisi berat dan pada setiap anak yang dicurigai menderita pneumonia bakterial Pada anak kurang dari 18 bulan, dilakukan pemeriksaan untuk mendeteksi antigen virus dengan atau tanpa kultur virus jika fasilitas tersedia Jika ada efusi pleura, dilakukan pungsi cairan pleura dan dilakukan pemeriksaan mikroskopis, kultur, serta deteksi antigen bakteri (jika fasilitas tersedia) untuk penegakan diagnosis dan menentukan mulainya pemberian antibiotik Pemeriksaan C-reactive (CRP), LED, dan pemeriksaan fase akut lain tidak dapat membedakan infeksi viral dan bakterial tidak direkomendasikan sebagai pemeriksaan rutin Pemeriksaan uji tuberkulin selalu dipertimbangkan pada anak dengan riwayat kontak dengan penderita TBC dewasa

-

-

Pemeriksaan Lain Pada setiap anak yang dirawat inap karena pneumonia, seharusnya diakukan pemeriksaan pulse oxymetry. Klasifikasi pneumonia WHO merekomendasikan penggunaan peningkatan frekuensi napas dan retrakis subkosta ntuk mengklasifikasikan pneumonia di negara berkembang. Namun demikian, kriteria tersebut mempunyai sensitivitas yang buruk untuk anak malnutrisi dan sering overlapping dengan gejala malaria. Klasifikasi pneumonia (berdasarkan WHO) : Bayi kurang dari 2 bulan

-

Pneumonia berat : napas cepat atau retraksi yang berat Pneumonia sangat berat : tidak mau menetek/minum, kejang, letargis, demam atau hipotermia, bradipnea atau pernapasan ireguler. Anak umur 2 bulan-5 tahun Pneumonia ringan : napas cepat Pneumonia berat : reraksi Pneumonia sangat berat : tidak dapat minum/makan, kejang, letargis, malnutrisi

Tata laksana Kriteria rawat inap Bayi : Anak : Saturasi oksigen < 92 %, sianosis Frekuensi napas >50 x/menit Distres pernapasan Grunting Terdapat tanda dehidrasi Keluarga tidak bisa merawat di rumah Saturasi oksigen ≤ 92 %, sianosis Frekuensi napas >60 x/menit Distres pernapasan, apnea intermiten, atau grunting Tidak mau minum/menetek Keluarga tidak bisa merawat di rumah

Tata laksana umum Pasien dengan saturasi oksigen ≤ pada saat bernapas, dengan udara kamar harus diberikan terapi oksigen dengan kanul nasal head box, atau sungkup untuk mempertahankan saturasi oksigen >92%. Pada pneumonia berat atau asupan per oral kurang, diberikan cairan intravena dan dilakukan balans cairan ketat Fisioterapi dada tidak bermanfaat dan tidak direkomendasikan untuk anak dengan pneumonia Antipiretik dan analgetik dapat diberikan untuk menjaga kenyamanan pasien dan mengontrol batuk Nebulasi dengan β2 agonis dan/atau NaCl dapat diberikan untuk memperbaiki mucocilliary clearance Pasien yang mendapatkan terapi oksigen harus diobservasi setidaknya setiap 4 jam sekali, termasuk pemeriksaan saturasi oksigen

Pemberian antibiotik Amoksisilin merupakan pilihan pertama untuk antibiotik oral pada anak <5 tahun karena efektif melawan sebagian besar patogen yang menyebabkan pneumonia pada anak, ditoleransi dengan baik dan murah. Alternatifnya adalah co-amoxiclav, ceflacor, eriromisin, claritromisin, dan azitromisin.

Makanan dapat diberi lewat NGT atau intravena. Pneumonia atau C. Tetapi harus diingat bahawa pemasangan NGT dapat menekan pernapasan. . - Kriteria pulang Gejala dan tanda pneumonia menghilang Asupan oral adekuat Pemberian antibiotik dapat diteruskan di rumah (oral) Keluarga mengerti dan setuju untuk pemberian terapi dan rencana kontrol Kondisi rumah memungkinkan untuk perawatan lanjutan di rumah Daftar Pustaka 1. dan cefotaxime Pemberian antibiotik oral harus dipertimbngkan jika terdapat perbaikan setelah mendapat antibiotik intravena Rekomendasi UKK respirologi Antibiotik untuk community acquired pneumonia : Neonatus – 2 bulan : Ampisilin + gentamisin >2bulan : Lini pertama ampisilin bila dalam 3 hari tidak ada perbaikan dapat ditambah kloramfenikol Lini kedua ceftriaxone Bila klinis perbaikan antibibiotik intravena dapat diganti preparat oral dengan antibiotik golongan yang sama dengan antibiotik intravena sebelumnya. Adegbola. khususnya pada bayi/anak dengan ukuran lubang hidung kecil. Pneumonia dicurigai sebagai penyebab Amoksisilin diberikan sebagai pilihan pertama jika S. Jika memang dibutuhkan. pemberian makanan per oral harus dihindari.Annal of Trop Med Par.- M. furoxime. ceftriaxone. Nutrisi Pada anak dengan distres pernapasan berat. Pneumonia lebih sering terjadi pada anak yang lebih tua maka antibiotik golongan makrolid diberikan sebagai pilihan pertama secara empiris pada anak ≥ 5 tahun Makrolid diberikan jika M. RA dan Obaro. Pneumoniae sangat mungkin sebagai penyebab Jika S.94:197-207. Review diagnosis of childhood pneumonia in the tropics. sebaiknya menggunakan ukuran yang terkecil Perlu dilakukan pemantauan balans cairan yang ketat agar anak tidak mengalami overhidrasi karena pada pneumonia berat terjadi peningkatan sekresi hormon antidiuretik.2000. cefuroxime. Aureus dicurigai sebagai penyebab diberikan makrolid atau kombinasi flucloxacillin dengan amiksisilin Antibiotik intravena diberikan pada pasien pneumonia yang tidak dapat menerima obat per oral ( misal karena muntah) atau termasuk dalam derajat pneumonia berat Antibiotik intravena yang dianjurkan adalah: ampisilin dan kloramfenikol. SK.

Mclntosh K. Kartasasmita CB. Setiowati I. et al. The Cochrane Library.Arch Dis Child.346:429-37. 6.Munoz O. Duddy HM. Reyes H. Diagnostic value of tachypnea in pneumonia defined radiologically. Review article: community acquired pneumonia in children. British Thoracic Society of Standards of Care Committee.2002 Issue 2.2000:82:41-5. . 3. Agustian D.57(suppl I): 11-24i. Guiscafre H.Ahmad TH. 4. 5.2002. 2001. Swingler GH and Zwarenstein M. Chest radiograph in acute respiratory infections in children. N Engl J Med.Thorax.2002. Paeditr Indones. Martinez H. BTS guidelines for the management of community acquired pneumonia in childhood. Palafox M.41:292-5. Nasopharyngeal bacterial carriage and antimicrobial resistance in under five children with community acquired pneumonia.2. Sudigdo S.

Dokter ataupun tenaga kesehatan adalah profesi yang paling mungkin melakukan deteksi dini keterlambatan perkembangan anak.Praskrining Perkembangan Parent’s Evaluation of Developmental Status (PEDS) Salah satu cara deteksi dini perkembangan yang mudah dan cepat tetapi sistematik. Di samping itu PEDS dapat membantu mengetahui kebutuhan psikologis anak dan keluarganya seperti : Apakah anak memerlukan evaluasi perkembangan atau pemeriksaan kesehatan mental? Jika ya. kemudian ditentukan anak mana yang membutuhkan evaluasi formal. adalah metode skrining. Praskrining perkembangan dengan PEDS dapat membantu mendeteksi anak-anak yang mempunyai resiko maupun anak yang tidak berisiko adanya gangguan pertumbuhan dan tingkah laku. pemeriksaan apa yang dilakukan? Haruskah tes skrining perkembangan dilakukan? Apakah orangtua memerlukan nasihat (konseling). Mereka akan selalu mendengarkan keluhan dan cerita orangtua pasien. dan ketrampilan dalam melakukan skrining. dan komprehensif. Walaupun demikian hanya sebagian saja dokter yang melakukan skrining secara rutin di tempat prakteknya. membantu dokter menggali keluhan orangtua mengenai gangguan perkembangan-perilaku putra-putrinya. Untuk mengurangi pengeluaran waktu dan biaya yang tidak perlu. pengetahuan. jika ya. seperti saat orangtuanya membawa anaknya untuk pemeriksaan rutin ataupun berobat karena sakit. Di Amerika hanya 30 % dokter anak yang melakukan skrining secara formal. dalam hal apa? Haruskah anak diamati dengan cermat pada setiap kunjungan untuk melihat adanya masalah yang memerlukan perhatian segera? Apakah pemantauan dan penilaian yang telah dilakukan tersebut memuaskan? . Glascoe mengembangkan metode Parent’s Evaluation of Developmental Status (PEDS) yaitu kuisioner yang dapat diselesaikan dalam 5 menit. Hal ini mungkin disebabkan keterbatasan waktu. Dikenal beberapa kuisioner yang telah distandarisasi. tahap awal skrining dapat dilakukan oleh perawat atau tenaga medis terlatih dengan mengunakan kuisioner praskrining bagi orangtua. Skrining terhadap perkembangan anak dapat dilakukan secara informal maupun formal.

Bakteri. virus. penyakitnya segera memberat Riwayat keadaan bayi lunglai. muntah. bayi kurang bulan. Late Onset Sepsis (LOS). Insidensnya berkisar 1-8 di antara 1000 kelahiran hidup dan meningkat menjadi 13-27 per 1000 kelahiran hidup pada bayi dengan berat <1500 g.Sepsis Neonatal Sepsis neonatal merupakan sindrom klinis penyakit sistemik akibat infeksi yang terjadi dalam satu bulan pertama kehidupan. jamur. berat lahir rendah Riwayat air ketuban keruh. berupa gangguan multisistem dengan gejala pernapasan yang menonjol. demam dengan kecurigaan infeksi berat. Sepsis nosokomial. lingkungan persalinan yang kurang higienis Riwayat asfiksia berat. penolong persalinan. kejang Pemeriksaan fisis Keadaan Umum . dan protozoa dapat menyebabkan sepsis pada neonatus. atau 3 atau lebih gejala pada kategori B (lihat Tabel I untuk kategori A dan B) Bayi usia lebih dari 3 hari Bayi mempunyai dua atau lebih temuan kategori A atau tiga atau lebih temuan kategori B - Diagnosis Anamnesis Riwayat ibu mengalami infeksi intrauterin. Terapi awal pada neonatus yang mengalami sepsis harus segera dilakukan tanpa menunggu hasil kultur.berhubungan dengan monitor invasif dan berbagai teknik yang digunakan di ruang rawat intensif. Mortalitas akibat sepsis neonatal adalah sekitar 13-25 %. tidak sadar. mengantuk aktivitas berkurang/iritabel/rewel. ditemukan pada bayi resiko tinggi yang dirawat. Sepsis dibedakan menjadi : Early Onset Sepsis (EOS). ditandai dengan awitan tiba-tiba dan cepat berkembang menjadi syok septik dengan mortalitas tinggi. biasanya ditemukan fokus infeksi dan sering disertai dengan meningitis. perut kembung. atau ketuban pecah dini Bayi memiliki dua atau lebih gejaa yang tergolong dalam kategori A. timbul dalam 3 hari pertama.demam dengan kecurigaan infeksi berat atau ketuban pecah dini Riwayat persalinan tindakan. Timbul setelah umur 3 hari. Tanda awal sepsis pada bayi baru lahir tidak spesifik. - Kecurigaan besar sepsis Bayi umur sampai dengan 3 hari Riwayat ibu dengan infeksi rahim. sehingga skrining dan pengelolaan terhadap faktor resiko perlu dilakukan. purulen atau bercampur mekonium Riwayat bayi malas minum. lebih sering di atas 1 minggu. Pada sepsis awitan lambat.

. neutropeni. kaku kuduk sesuai dengan meningitis Pemerksaan penunjang Pemeriksaan jumlah leukosit dan hitung jenis secara serial untuk menilai perubahan akibat infeksi. Pada foto toraks dapat ditemukan : Pneumonia kongenital berupa konsolidasi bilateral atau efusi pleura Pneumonia karena infeksi intraartum. asidosis metabolik. asidosis metabolik Peningkatan adar bilirubin - - Radiologis Foto toraks dilakukan jika ada distres pernapasan. asidosis laktat Pada pemeriksaan cairan serebrospianl ditemukan peningkatan jumlah leukosit terutama PMN. petekie. dan cairan serebrospinal serta dilakukan ujikepekaan kuman Analisa gas darah : hiposia. hipotensi Neurologis Iritabilitas. gambaran retikulogranular difus (seperti penyakit membran hialin) dan efusi pleura Pada pneumonia karena infeksi pascanatal. dapat ditemukan obstruksi aliran cairan serebrospinal. Peningkatan protein fase akut (C-reactive protein). takikardi. diare. adanya lekositosis atau lekopeni. ubun-ubun membonjol.- Suhu tubuh tidak normal (lebih sering hiotermia) Letargi atau lunglai. kejang. penurunan kadar glukosa serta ditemukan kuman pada pengecatan gram. infark atau abses. ikterik Muntah. peningkatan IgM Ditemukan kuman pada pemeriksaan kultur dan pengecatan grm pada sampel darah. perut kembung. merintih. penurunan kesadaran. berupa infiltrasi dan deskstrusi jaringan bronkopulmoner. sklerema. Pada ultrasonografi dapat ditemukan ventrikulitis.2. dapat dilakukan CT scan kepala. peningkatan rasio netrofil imatur/total (I/T) lebih dari 0. ruam. mengantuk atau aktivitas berkurang Malas mnum setelah sebelumnya minum dengan baik iritabel atau rewel Kondisi memburuk secara cepat dan membaik Gastrointestinal Kulit Perfusi kulit kurang. retraksi). sianosis. peningkatan kadar protein. urin. Gangguan metabolik hipoglikemi atau hiperglikemi. hepatomegali Tanda mulai muncul sesudah hari ke empat Kardiopulmonal Takipnu. distres respirasi (napas cuping hidung. gambarannya sesuai dengan pola kuman setempat - Jika ditemukan gejala neurologis. jumlah leukosit ≥20/ml (umur kurang dari 7 hari) atau ≥10/ml (umur lebih 7 hari). ateletaksis segmental atau lobaris. Gambaran ini sesuai dengan meningitis yang sering terjadipada sepsis awitan lambat.

hematologi. kardiorespirasi. Hematologi Transfusi komponen jikadiperlukan. Pada beberapa keadaan mungkin diperlukan obat-obat inotropik seperti dopamin atau dobutamin. gastrointestinal. gangguan metabolik. Bila organisme tidak dapat ditemukan dan bayi tetap menunjukkan tanda infeksi sesudah 48 jam. Pada kasus tertentu mungkin dibutuhkan ventilator mekanik Kardiovaskular Pasang jalur I dan beri cairan dengan dosis rumatan serta lakukan pemantauan tekanan darah (bila tersedia fasilitas) dn perfusi jaringan untuk mendeteksi dini adanya syok. seperti hidrosefalus dengan akumulasi progresif dan enterokolitis nekrotikan. Transfusi tukar diberikan jika tidak dapat perbaikan klinis dan laboratorium setelah pemberian antibiotik adekuat Bedah Pada kasus tertent. Pada gangguan perfusi dapat diberikan volume ekspader (NaCl fisiologis. Respirasi Menjaga patensi jalan napas dan pemberian oksigen untuk mencegah hipoksia. terapi antibiotikdiberikan dengan dosis meningitis selama 14 hari untuk kuman gram positif dan 21 hari untuk kuman gram negatif. antibodi monoklonal atau transfusi tkar (bila fasilitas memungkinkan). darah aau albumin. pediatri sosial. respirasi. Pada dugaan sepsis pengobatan ditujukan pada temuan khusus (misalnya kejang) serta dilakukan pemantauan Kecurigaan besar sepsis Antibiotik Antibiotik awal diberikan ampisilin dan gentamisin. dapat diulang 1-2 kali.Pemeriksaan lain sesuai penyakit yang menyertai. Tunjungan nutrisi adekuat Manajemen khusus Pengobatan terhadap tanda khusus lain atau penyakit penyerta serta komplikasi yang terjadi (misal:kejang . bedah syaraf dab rehabilitasi anak - - - - - . diperlukan tindakan bedah Lain-lain ( rujukan subspesialis. sedangkan gentamisin tetap dilanjutkan Pada sepsis nosokomial. gejala klinis dan pemeriksaan laboratorium serial (misalnya CRP). atau kelainan yang mendasari. Tata Laksana Dugaan sepsis Dasar melakukan pengobatan adalah daftar tabel temuan (abel I) yang berhubungan dengan sepsis. Lanjutan terapi dilakukan berdasarkan hasil kultur dan sensitivitas. dll) Pengelolaan bersama dengan sub bagian neurologi anak. rujukan spesialisasi lainnya. ganti ampisilin dan ganti sefotaksim. Jangan lupa untuk melakuan monitoring keseimbangan cairan. Jika disertai dengan meningitis. pemberian antibiotik disesuaikan dengan pola kuman setempat. bagian mata. hiperbilirubin) Pada kasus tertentu dibutuhkan imunoterapi dengan pemberian imunoglobulin. tergantung kebutuhan) sebanyak 10 ml/kgBB dalam waktu setengah jam.

Stoll BJ. management. Cunningham MD.2008. Langkah preventif Mencegah dan mengobati ibu dema dengan kecurigaan infeksi berat atau infeksi intrauterin Mencegah dan pengobatan ibu dengan ketuban pecah dini Perawatan antenatal yang baik Mencegah aborsi yang berulang. on-call problems. Goldfarb J.h. Philadelphia:WB Saunders. Care of The High Risk Neonate. Philadelphia: Lippincott Williams & Willkins.794-811 .363-92. Tuttle D. terutama jika disertai dengan meningitis. Neonatolog. Mohammad FMB. disease adn drgus.Jenson HB. Neonatal infections. dan kelainan tingkah laku. Fanaroff AA. procedures. 3. Dalam: Kliegman RM. edisi kelima.2004.2001.665-72. Sepsis. Dalam:Klaus MH. 4. Baley AV. penyunting. Edisi keenam. 2.h. penyunting. Infections of The Neoatal Infant.h. Eyal FG. edisi keenam. cacat bawaan Mencegah persalinan prematur Melakukan pertolongan persalinan yang bersih dan aman Melakukan resusitasi dengan benar Melakukan indakan pencegahan infeksi : CUCI TANGAN !!! Melakukan identifikasi awal terhadap faktor resiko sepsis serta pengelolaan yang efektif Kepustakaan 1. Puopolo KM. Behrman RE. New York:McGraw-Hill.penyunting Manual of neonata care. gangguan penglihatan. Stark AR. 274-300. Dalam: Gomella TL. penyunting. Nelson Textbook of Pediatrics.2007.h. Bacterial and Fungul infections. kesukaran belajar. Edisi ke-18. adalah gangguan tumbuh kembang berupa gejala sisa neurologis seperti retardasi mental.- Tumbuh kembang Komplikasiyang sering terjadi pada penderita dengan sepsis. Philadelphia: Elsevier. Eichenwaald EC. Dalam:Cloherty JP. Staton BF.

.

Eksaserbasi (serangan asma) adalah episode perburukan gejala-gejala asma secara progresif. atau berbagai kombinasi gejala tersebut. Pertanyaan berikut sangat berguna dalam pertimbangan diagnosis asma (consider diagnosis of asthma). Prevalens total asma diseluruh dunia diperkirakan 7. Serangan asma ditandai oleh penurunan PEF atau FEV.Serangan Asma Akut Asma adalah mengi berulang dan/atau batuk persisten dengan karalteristik sebagai berikut : timbul secara episodik. berat. Diagnosis Anamnesis Untuk memperuat dugaan asma .2% (10% pada anak) dan bervariasi antar negara. perubahan suhu lingkungan atau cuaca. emosi (misalnya menangis atau tertawa). sedang. mengi atau dada terasa berat yang bersifat episodik dan berkaitan dengan musim. Pencetus yang spesifik dapat berupa aktivitas. Derajat berat ringannya gejala harus ditentukan untuk mengarahkan pengobatan yang akan doberikan. Pada umumnya. atau asap dari perapian. makanan/minuman. Apakah anak mengalami serangan mengi atau serangan mengi berulang? Apakah anak sering terganggu oleh batuk pada malam hari? Apakah anak mengalami mengi atau batuk setelah berolahraga? Apakah anak mengalami gejala mengi. Pemeriksaan fisis Kesadaran Suhu tubuh Sesak nafas. Derajat serangan asma bervariasi mulai dari yang ringan. eksaserbasi disertai distres pernafasan. atau hari. jam. aroma parfum yang kuat atau aerosol. musiman. mengancam jiwa. dada terasa berat. berat dan serangan yang mengancam jiwa. sedang. pajanan terhadap hewan berbulu. Serangan akut biasanya timbul akibat pajanan terhadap faktor pencetus (paling sering infeksi virus atau alergen). dada rasa tertekan. Debu. mengi. gejala yang dimaksud adalah sesak nafas. apakah terdapat sesak nafas Tanda gagal nafas Tanda infeksi penyerta/komplikasi Penilaian derajat serangan asma : ringan. serta adanya riwayat asma atau penyakit atopi pada anggota keluarga. Prevalens asma diindonesia berdasarkan penelitian tahu 2002 pada anak usia 13-14 tahun adalah 6. setelah aktivitas fisik. Sedangkan serangan berupa perburukan yang bertahap mencerminkan kegagalan pengelolaan jangka panjang penyakit. batuk. asap rokok. anak membutuhkan >10 hari untuk sembuh? Apakah gejala klinis membaik setelah pemberian pengobatan antiasma? Pola gejala harus dibedakan apakah gejala tersebut timbul pada saat infeksi virus atau timbul tersendiri di antara batuk pilek biasa.7 %. perburukan dapat terjadi dalam beberapa menit. atau batuk setelah terpajan alergen atau polutan? Apakah jika mengalami pilek. . cenderung pada malam/dini hari (nokturnal). serta terdapat riwayat asma atau atopi lain pada pasien dan/atau keluarganya. anamnesis harus dilakukan dengan cermat agar didapatkan riwayat penyakit yang tepat mengenai gejala sulit bernafas.

diberikan kortikosteroid sistemik (oral)metilprednisolon dengan dosis 0. bisa dijumpai komplikasi berupa atelektasis. Pasien dibekali obat β-agonis (hirupan atau oral) yang harus diberikan tiap 4-6 jam. Untuk itu. Pasien diobservasi selama 1-2 jam. Bila pasien menunjukkan gejala dan tanda ancaman henti nafas.5-1 mg/kgbb/hari selama 3-5 hari. berarti derajat serangannya ringan. pasien harus langsung dirawat diruang rawat intensif. (Evidence A) Walaupun belumtentu diperlukan. Serangan asma sedang Jika dengan pemberian nebulisasi dua atau tiga kali pasien hanya menunjukkan responparsial (incomplete response). jika response itu bertahan. Pada pasien dengan serangan berat dan ancaman henti napas. pasien yang akan diobservasi di RRS langsung dipasang jalur parenteral sejak diunit gawat darurat (UGD). Analisis gas darah : pada asma dpat terjadi asidosis respiratorik dan metabolik Darah lengkap dan serum elektrolit Foto thoraks : pada asma umumnya tampak hiperaerasi. untuk persiapan keadaan darurat.Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan fungsi paru : peak flow meter. pasien harus dirawat diruang rawat inap. obat tersebut diteruskan hingga evaluasi ulang yang dilakukan diklinik rawat jalan. Namun. spirometer. pneumothoraks. jika setelah observasi 2 jam gejala timbul kembali. (Evidence D) Pasien kemudian dianjurkan untuk kontrol keklinik rawat jalan dalam waktu 24-48 jam untuk evaluasi ulang tatalaksana. Jika sebelum serangan pasien sudah mendapat obat pengendali. pasien perlu diobservasi dan ditangani diruang rawat sehari (RRS). Pada serangan asma sedang. foto thoraks harus langsung dibuat untuk mendeteksi komplikasi pneumothoraks dan/atau pneumomediastinum. Tata laksana Serangan asma ringan Jika dengan sekali nebulisasi pasien menunjukkan respons yang baik (complete response). kemungkinan derajat serangannya sedang. yaitu gejala dan tanda serangan masih ada (penilaian ulang sesuai pedoman). Oksigen 2-4L/menit diberikan sejak awal termasuk saat nebulisasi. pasien diperlakukan sebagai serangan asma sedang. dan pneumomediastinum. Jika pencetus serangannya adalah infeksi virus. pasien dapat dipulangkan. Jika serangannya memang termasuk serangan sedang. (Evidence B) Kemudian dipasang jalur parenteral dan dilakukan foto thoraks. - - Serangan asma berat Bila dengan 3 kali nebulisasi berturut-turut pasien tidak menunjukkan respons (poor response). - . dpat ditambahkan steroid oral jangka pendek (3-5 hari). derajat seranganharus dinilai ulang sesuai pedoman.

National heart. and blood institute. Textbook of pediatric asthma.5-1 mg/kgbb/jam. Chronic cough and/or wheezing in infants and children less 5 years old: diagnostic approaches. Thomson NC. 4. diberikan aminofilin dosis awal (inisial) sebesar 6-8mg/kgbb dilarutkan dalam dekstrosa 5% atau garam fisiologis sebanyak 20 ml. Nebulisasi β-agonis+antikolinergik dengan oksigen dilanjutkan tiap 1-2 jam.Ed. kliegman RM. NIH 02-3659. diberikan dalam 20-30 menit. National institute of health. Michael Sly. 1996. 5. philadelphia: saunders. penyunting. Indonesian pediatric respiratory meeting I:focur on asthma. Cartier A. Jika pasien telah mendapat aminofilin sebelumnya (kurang dari 4 jam). Warner JO. Naspitz CK. In: Behrman RE. Global strategy for asthma management and prevention. 1998. 197-201. Dalam: Naspitz CK. Bush A.- - - - Jika ada dehidrasi dan asidosis. 6. Selain itu. Tinkelman. sampai dengan 24 jam. nebulisasi diteruskan setiap 6 jam. Pedoman nasional penanganam asma pada anak. Anti allergic drugs.manual of asthma management. steroid oral dilanjutkan hingga pasien kontrol keklinik rawat jalan dalam 24-48 jam untuk evaluasi ulang tatalaksana. UKK respirologi PP IDAI. aminofilin dosis rumatan diberikan sebesar 0. 25:1-17. Gobal initiative for asthma. Asthma. edisi ke-15. Pada ancaman henti nafas diperlukan ventilasi mekanik.5-1mg/kgbb/hari. Sebaiknya kadar aminofilin dalam darah diukur dan dipertahankan sebesar 10-20 mcg/ml. jika dengan 4-6 kali pemberianmulai terjadi perbaikan klinis. penyunting.99-120. An international perspective. 628-40. hipokalsemia tetap terjadi walaupun sudah diberi oksigen (kadar PaO2 <60 mmHg dan/atau PaCO2 >45mmHg). Rvin AM. tiap 6-8jam. Ancaman henti nafas. dosis yang diberikan adalah setengah dosis inisial. . Nelson textbook of pediatric. Ped pulmonal. Warner JO. Steroid dan aminofilin diganti dengan pemberian peroral. diatasi dengan pemberian cairan intravena dan koreksi terhadap asidosis. 2002 (revisi). (Evidence D) Jika telah terjadi perbaikan klinis. london:saunders. Selanjutnya. lung. jakarta 2003. (Evidence B) Aminofilin diberikan secara intravena dengan ketentuan sebagai berikut: Jika pasien belum mendapatka aminofilin sebelumnya.h. Kepustakaan 1.(Evidence A) Dosis steroid intravena 0. London: martin dunitz Ltd: 2001: h. jarak pemberian dapat diperlebar menjadi tiap 46 jam. In O’byme PM. 2. 3. Szefler SJ. DG. pasien dapat dipulangkan dengan dibekali obat β-agonis (hirupan atau oral) yang diberikan tiap 4-6 jam selama 24-48 jam. 2001. edisi ke-2. Steroid intravena diberikan secara bolus. Jika dalam 24 jam pasien tetap stabil. Third international pediatric consensus statement on the management of childhood asthma.h.

.

Pada pemeriksaan darah didapatkan hipoalbuminemia (<2. adanya asites dan edema skrotum/labia. dilanjutkan dengan 2/3 dosis awal (40 mg/m2/hari. maksimum 60 mg/hari) dosis tunggal pagi selang sehari (dosis alternating) selama 48 minggu (lihat lampiran) (ISKDC 1982). diberikan obat imunosupresan lain seperti siklofosfamid per oral dengan dosis 2-3 mg/kgbb/hari dalam dosis tunggal di bawah pengawasan dokter nefrologi anak. Kelainan lain juga dapat ditemukan seperti urin eruh atau jika terdapat hematuri berwarna kemerahan. selama 4 minggu. dan sindrom nefrotik sekunder. dan hierkolesterolemia. Pemeriksaan fisis Pada pemeriksaan fisis dapat ditemukan edema di kedua kelopak mata. hiperkolesterolemia (>200mg/dl) dan laju endap darah yang meningkat. Kadar ureum dan kreatinin umumnya normal kecuali ada penurunan fungsi ginjal. hipertensi dan penurunan fungsi ginal. Kadang-kadang gejala disertai dengan hematuria. maka diberikan prednison 60 mg/m2/hari sampai terjadi remisi (maksimal 4 minggu). rasio albumin kreatinin urin >2 dan dapat disertai hematuria. Tatalaksana Medikamentosa Pengobatan dengan prednison diberikan dengan dosis awal 60 mg/m2/hari atau 2 mg/kgBB/hari (maksimal 80 mg/hari) dalam dosis terbagi tiga.5g/dL). Diagnosis Anamnesis Keluhan yang sering ditemukan adalah bengkak di kedua kelopak mata. Angka kejadian bervariasi antara 2-7 per 100. perut. Sindrom nefrotik dapat dibedakan menjadi sindromnefrotik kongenital. atau seluruh tubuh yang disertai penurunan jumlah urin. tetapi kira-kira 50% diantaanya akan relaps berulang dan sekitar 10% tidak memberi respon lagi dengan pengobatan steroid. Pemeriksaan penunjang Pada urinalisisi ditemukan proteinuria masif (≥2+). sindrom nefrotik primer. hipoalbuminemia. edema.Sindrom nefrotik Sindrom nefrotik adalah keadaan kinis dengan gejala proteinuria masif. tungkai. tungkai. Dosis dihitung berdasarkna berat badan tanpa edema (persentil ke-5o berat badan menurut tinggi badan) . Bila terjadi relaps.. dan lebih banyak pada anak lelaki daripada perempuan dengan perbandingan 2:1. atau. dilanjutkan 2/3 dosis awal (40 mg/m2/hari secara alternating selama 4 minggu. Pada umumnya sebagian besar ±80%) sindrom nefrotik primer memberi respon yang baik terhadap pegobatan awal dengan steroid. terkadang ditemukan hipertensi. Pada sindrom nefrotik resisten steroid tau toksik steroid.000 anak.

. Jika terjadi depresi sumsum tulang (leukosit <3000/uL) maka obat dihentikan sementara dan dilanjutkan lagi jika leukosit ≥5000/uL. atau lesi di kulit. kadar albumin <1gram/dl dibrikan 1g/kgbb/hari Skema pengobatan SN inisial menurut ISKDC 1967 - Lain-lain (rujukan subspesialis. riwayat penyakit sindrom nefrotik di dalam keluarga. maka perlu dilakukan pemantauan terhadap kemungkinan terjadinya efek samping obat. rujukan spesialis lainnya. Infeksi berulang dapat mengganggu tumbuh kembang pasien. hematuria nyata persisten. syok atau kadar albumin ≤1 g/dl. penurunan fungsi ginjal. atau disertai gejala ekstrarenal. Terapi psikologis terhadap pasien dan orangtua diperlukan karena penyakit ini merupakan penyakit kronik. Pemberian albumin 20-25% dengan dosis 1 g/kgbb selama 2-4 jam untuk menarik cairan dari jaringan interstisial dan diakhiri dengan pemberian furosemid intravena 1-2 mg/kgbb dilakukan atas indikasi seperti edema refrakter. seperti artritis. diperlukan pengobatan suportif lainnya. Jika terdapat hipertensi dapat diberikan obat antihipertensi. Diuretik furosemid 1-2 g/kgbb/hari. Dosis pemberian albumin Kadar albumin serum 1-2g/dl:diberikan 0. Apabila terjadi hipertensi. Prednison dapat menyebabkan hipertensi atau efek samping lain dan siklofosfamid dapat menyebabkan depresi sumsum tulan dan efek samping lain. hipertensi diatasi dengan obat atihipertensi.5 g/kgbb/hari. seperti pemberian diet protein normal (1. diuretik hemat kalium) 2-3 mg/kgbb/hari bila ada edema anasarka atau edema yang mengganggu aktivitas. penyakit ini merupakan keadaan imunokompromais sehingga sangat rentan terhadap infeksi. Pada pemeriksaan siklofosfamid diperlukan pemeriksaan darah tepi setiap minggu. . serositis. toksik steroid Sindrom nefrotik resisten steroid Sindrom nefrotik relaspsering atau dependen dteroid Diperlukan biopsi ginajl Pemantauan Terapi Dengan pemberian prednisosn atau imunosupresan lain dalam jangka lama. Selan pemberian kortikosteroid. infeksi berat.5-2 g/kgbb/hari). Selain itu. Pemeriksaan tekanan darah perlu dilakukan secara rutin. Tumbuh kembang Gangguan tumbuh kembang daat terjadi sebagai akibat penyakit sindrom nefrotik sendiri atau efek samping pemberian obat prednison dalam jangka lama secara berulang. tormbosis. bila perlu dikombinasikan dengan spironolakton (antagonis aldosteron.Suportif Bila ada edema anasarka diperukan tirah baring. diet rendah gaam (1-2 g/hari) dan diuretik. Sindrom nefrotik dengan komplikasi edema refrakter. prednison dihentikan dan diganti dengan imunosupresan lain. Sindrom nefrotik dengan hipertensi. dll) Keadaan di bawah ini merupakan indikasi untuk merujuk ke dokter spesialis nefrologi anak : Awitan sindrom nefrotik pada usia di bawah 1 tahun.

Kepustakaan 1. Edisi ke-18. Avner ED. Barrat TM. Jenson HB.h. Nelson textbook of pediatrics. Pediatrics nephrology. Baltimore:Lippincott Williams & Wilkins:1999. Vogt AB.h. Behrman RE.2008. Harmon WE. Dalam:Barrat TM. penyunting. Stanton BF. Edisi ke-4.2190-5. Edisi ke-2.1-20. Jakarta:Badan penerbit Ikatan Doter Anak Indonesia. Clark AG. 2. 3. Steroid responsive nephrotic syndrome. Konsensus Ikatan Dokter Anak Indonesia. Dalam: Kliegman RM. Philadelphia: Saunders. Nephrotic syndrome. . Tata laksana sindrom nefrotik idiopatik pada anak.penyunting.2007.h 731-47. Aver ED.

Archer P. et al. Tidak dapat diuji Bila ada skor menolak pada ≥ 1 uji coba terletak disebelah kiri garis umur atau menolak pada >1 uji coba ditembus garis umur pada daerah 72-90%. 1990. Dodds J. Denver. maka dipikirkan untuk dirujuk (referral consideration). Interpretasi Denver II Normal Suspek Bila didapatkan ≥ 2 caution dan/atau ≥ 1 keterlambatan Lakukan uji ulang dalam 1-2 minggu untuk menghilangkan faktor sesaat seperti rasa takut. atau kelelahan. CO: Denver Development Materials. garis umur terletak pada atau antara persentil 75 dan 90 skornya. Bila tidak ada keterlambatan dan atau paling banyak satu caution Lakukan ulangan pada kontrol berikutnya. Denver-II: screening manual. keadaan sakit. Frankenburg WK.Interpretasi penilaian individual Lebih (advanced) Bila seorang anak lewat pada uji coba yang terletak dikanan garis umur. Normal Bila seorang anak gagal atau menolak melakukan ujicoba disebelah kanan garis umur Caution/peringatan Bila seorang anak gagal atau menolak ujicoba. dinyatakan perkembangan anak lebih pada ujicoba tersebut. Uji ulang dalam 1-2 minggu Bila ulangan hasil pemeriksaan didapatkan suspek atau tidak dpat diuji. Delayed/keterlambatan Bila seorang anak gagal atau menolak dalam melakukan ujicoba yang terletak lengkap disebelah kiri garis umur Opportunity /tidak ada kesempatan ujicoba yang dilaporkan orang tua. . Kepustakaan 1.

Bila kehilangan darah lebih dari 40% akan terjadi koma. Pada syok hipovolemik. penurunan produksi urine. sehingga terjadi defisiensi akut oksigen ditingkat seluler. beberapa penyakit syok yang sering pada anak dapat digali dari anamnesis (tabel 2). nadi tidak teraba. kadang-kadang dapat juga ditemukan wheezing. akan dijumpai penurunan kesadaran. Untuk mempertahankan tekanan darah. Pada pemeriksaan fisik biasanya anak tampak takipnu disertai ronkhi basah halus tidak nyaring di kedua lapangan paru.Akibatnya. Berdasarkan kegagalan komponen penunjang sirkulasi. bradikardia. terjadi peningkatan tekanan hidrostatik vaskular paru. ketika mekanisme kompensasi tidak dapat lagi mempertahankan homeostasis tubuh. ektremitas yang dingin atai mottled. Agitasi hingga obtundasi dapat terjadi akibat penurunan perfusi serebral.akan terjadi vasokohstriksi hingga dapat dijumpai . terjadi kompensasi tubuh. Selanjutnya tekanan darah menurun hingga tidak terukur. oulsasi perifer melemah.Syok Syok adalah sindroma klinik akibat kegagalan sistem sirkulasi dalam mencukupi kebutuhan nutrien baik dari segi pasokan maupun utilisasinya untuk metabolisme seluler jaringan tubuh. Syok hipovolemik merupakan syok yang paling sering dijumpai pada anak. Bunyi gallop dapat dijumpai pada auskultasi jantung. hipotermi atau hipotermia. penurunan tekanan darah. dan distributif. disertai tanda penurunan perfusi organ atau perfusi perifer. Tanda awal syo hipovolemik adalah takikardi dan penurunan perfusi perifer. Untuk mempertahankan sirkulasi normal. dibutuhkan volume intravaskular yang adekuat serta fungsi pompa jantung dan fungsi sistem vaskular yang normal. Pada fase awal. termasuk pulsasi nadi perifer yang lebih kecil dari central. asidosis metabolik atau peningkata kadar laktat darah. pada curah jantung yang rendah. kardiogenik. asidosis dan anuria. anuria disertai kegagalan system organ lain. sementara tekanan darah masih normal (nilai normal denyut jantung dan tekanan darah dapat dilihat pada tabel I). Pada syok kardiogenik dengan kegagalan fungsi ventrikel kiri. terjadi transudasi hingga mengganggu pertukaran gas alveolar. kedsadaran semakin menurun. oleh karena itu hipotensi tidak merupakan keharusan untuk diagnosis syok. Pada anak. capillary refill yang mulai memanjang. penurunan kesadaran. Lebih lanjut. seperti telah diuraikan diatas. ekstremitas dingin. secara klinis dapat dijumpai takikardi. atau penurunan produksi urine. Diagnosis Anamnesis Selain tanda-tanda syok. waktu pengisisan kapiler yang lebih dari 2 detik. hipotensi baru terjadi setelah kehilangan lebih dari 25% volume intravaskular. hipotensi biasanya baru terjadi pada syok yang telah lanjut. Kegagalan fungsi ventrikel kanan biasanya disertai dengan kongesti vena sistemik dengan peningkatan tekanan vena juguler dan pembesaran hati. Pemeriksaan fisis Diagnosis syok dapat ditegakkan bila ditemukan takikardi (mungkin tidak ada pada kasus yang disertai dengan hipotermia). syok dibagi mejadi syok hipovolemik.

Respons yang baik ditandai dengan penurunan denyut nadi. . Pada syok distributif. dapat disertai terdapatnya ronkhi basah halus tidak nyaring. . . penurunan produksi urine. Pemeriksaan Penunjang Saturasi oksigen mixed vein (SvO3) dapat menggambarkan keseimbangan antara pasokan (DO2) dan kebutuhan oksigen (VO2). dalam jumlah yang terukur. penurunan kesadaran dan hipotensi. berikan oksigen (FiO2 100%).Bila syok belum teratasi setelah langkah no. lalu berikan cairan kristaloid 20 ml/ kg berat badan dalam'waktu kurang dari 10 menit Nilai respons terhadap pemberian cairan dengan menilai perubahan denyut nadi dan perfusi jaringan.Produksi urine > I ml/kg/jam . .Periksa dan atasi gangguan metabolik seperti hipoglikemi.sianosis atau mottled. Sedasi dan pemasangan ventilator "untuk mengurangi konsumsi oksigen dapat dipertimbangkan.Akral hangat . Pemeriksaan fisis menunjukan takikardia dengan akral yang hangat. hipokalsemi dan asidosis.Kualitas nadi perifer dan sentral sama . pemberian cairan resusitasi dapat dilanjutkan hingga mencapai 10 mmHg. . lakukan pemasangan vena sentral. Pemantauan kadar laktat darah arteri dan saturasi vena sentral (SCVO2) dapat digunakan untuk menilai defisiensi oksigen global.Capillary refill kurang dari 2 detik .Pasang akses vaskuiar secepatnya (60-90 detik). Tatalaksana . bila perlu berikan tunjangan ventilator. Penurunan SvO2 sebesar 5% (normal 6S%-77%) menunjukkan penurunan DO2 atau peningkatanVOj.Pertahankan jalan nafas. Nilai normal cardiac Index (Cl) dan systemic vascular resistance index (SVRJ) dapat dilihat padaTabel 3.akral yang dingin.Target resusitasi cairan: . bila syok belum teratasi. berikan dopamine 2-10 µg/kg/menit atau dobutamine 5-20 µg/kg/menit. Bila tekanan vena sentral kurang dari 10 mmHg. . Situasi semacam ini dikenal dengan kondisi hipovolemia efektif. perbaikan perfusi jaringan dan perbaikan tekanan darah bila terdapat hipotensi sebelumnya.Penggunaan koloid. terjadi paralisis vasomotor. 8. Indikator hemodinamik lain dapat diperoleh melalui pemasangan pulmonary ortery catheter (PAC) atau pu/se contour continuous cordioc output monitoring (PICCO). . peningkatan tekanan vena jugular atau pembesaran hati akut.Kesadaran normal . .Bila syok belum teratasi. dapat dipertimbangkan untuk mengisi volume intravaskular. hingga volume intravaskular optimal. Vasokonstriksi sistemik akan niengakibatkan peningkatan ofterlood hingga memperburuk kerja jantung.Pasang kateter urin untuk menilai sirkulasi dengan memantau produksi urin. yang sering dijumpai pada syok septik. Foto Rontgen thoraks pada syok kardiogenik dapat menunjukan gambar edema paru.Pemberian cairan resusitasi dihentikan bila penambahan volume tidak lagi mengakibatkan perbaikan hemodinamik.Pemberiran cairan resusitasi dapat diulangi. sehingga terjadi vascular pooling dan peningkatan permeabilitas kapiler.

- - - - Bila syok belum teratasi setelah langkah no. 2. penyakit-autoimun dll. 2006. Roger's textbook of pediatric intensive care. dapat dipertimbangkan milrinone yang mempunyai efek inotropik dan vasodilator. kemudian dilanjutkan dengan 0. Inotropik dan vasodilator digunakan untuk kasus dengan curah jantung rendah dan resistensi vaskular sistemik tinggi. Dalam: Fuhrman BP. terutama pada anakyang sebelumnya mendapat terapi steroid lama (misalnya asma. saturasi vena sentral <70% dan hematokrit <30%. Fields. 1005-28 5.05-2 µg/kg/menit. Philadelphia: Lippincott Williams &Wilkins. Zimmerman J. Shann f. Pediatrics 2006. Kumpulan mated pelatihan resusitasi pediatrik tahap lanjut.Kadar Uktat < 2 Mmol/L Bila kadar laktat tetap >2 mmol/L. atau metil-prednisolon atau dexamethason.75 µg/kg/menit (maksimum 1. 394-410 •t. Circulatory Support. Dalam: Nichols DG.H. Dosis hidrokortison dimulai dengan 2 mg/kg. setara dengan metil prednisolon 1. Smith L.Perfusion Pressure (Mean Arterial Pressure . penyunting. Millar K. UKK Pediatrik Gawat Darurat IDAI 2005-2008. vasopressor dan vasodilator dapat dilihat pada tabel 4).Victoria: Collective Pty Ltd. Dosis milrinone adalah 50 µg/kg/ bolus dalam 10 menit. Nisson NT. penyunting. Recognition and initial management of shock. Hernan L Shock states. American HeartAssociation. 117. 9. > I Tahun: 65 Cm H2o) . Pediatric critical care. Ranjit S. penyunting. berikan epinephrine 0. Al. Kepustakaan 1.13 µg/kg/hari) Bila syok masih belum teratasi setelah langkah no. h. bila akral dingin (vasokonstriksi) atau ndrepinephrine 0. Crit Care Med 2002. Bila syok masih belum. Task force Committee Members: Clinical practice variables for hemodynamic support of pediatric and neonatal patients in septic shock. Nadel S.I52-183 7.30:1365-78 . Pada syok kardiogenik dengan resistensi vaskular tinggi. 2006. Inotropik dan vasopressor untuk kasus dengan curah jantung rendah dan resistensi vaskular sistemik rendah (dosis inotropik. dapat dilakukan tranfusi packed red cells disertai upaya menurunkan konsumsi oksigen.3 mg/kg dan dexamethason 0. Edisi ke-12. bila akral hangat (vasodilatasi pada syok distributif).). 372-83 3.05-2 j-µg/kg/ menit.Saturasi Vena Sentral (Mixed Vein) > 70% .Cardiac Index >3. Philadelphia: Mosby. Pediatric Intensive Care.Target terapi: . pertimbangkan pemberian hidrokortison.Central Venous Pressure) Normal (<l Tahun 60 Cm H2o.Vasopressor untuk kasus dengan curah jantung tinggi dan resistensi vaskular sistemik rendah. Oxford: Oxford University Press.2 mg/kg. 10. Saat ini telah tersedia berbagai alat diagnostik untuk mengukur parameter hemodinamik sebagai alternatif pemasangan pulmonary artery cotheter. 4. teratasi. dibutuhkan pemasangan pulmonary artery catheter (PAC) untuk pengukuran dan intervensi lebih lanjut. Carcillo JA. Edisi ke-4. Edisi ke-3.2005American HeartAssociation (AHA) Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) and Emergency Cardiovascular Care (ECC) of Pediatric and Neonatal Patients:Pediatric Advanced Life Support. 6.3 dan <6 L/Menit/M7 .25-0. 1997. 2003. Dalam: Norton MS.J. h. Drug Doses.

Tabel 1. Nilal normal denyut jantung dan takanan darah sesuai usia. Usia Neonatus 3 bulan 6 bulan 1 tahun 3 tahun 7 tahun 10 tahun 12 tahun 14 tahun 21 tahun GO kg 21 tahun 70 kg Denyut Jantung (95% Mean Arterial Pressure 95% range) (denyut/menit) range) (mmHg) 95-145 40-60 110-175 45-75 110-175 50-90 105-170 50-100 80-140 50-100 70-120 60-90 : 60-110 60-90 60-100 65-95 60-100 65-95 65-115 65-105 65-115 70-110 .

.

dilakukan uji resistensi ospnotik I tabung (fragilitas).Indeks eritrosic-MCV.Konfirmasi dengarTana'lisis hemoglobin menggunakan: . RDYV meningkat Bila tidak menggunakan cell counter. Penyebaran talasemia meliputi daerah Mediterania.Facies cooley .sedangkanTalasemia a banyak ditemukan di daerah Timur jauh termasuk Cina. .HbH badan inklusi -> menggunakan pewarnaan supravital (retikulosit) .Jenis Hb kualitatif —> menggunakan elektroforesis cellulose acetate .Terlihat kuning .Hb F —» menggunakan alkali denaturasi modifikasi Betke .Anemia/pucat . sel target) .Mudah infeksi . MCH.Gizi kurang/buruk .TimurTengah.Pubertas terlambat Pemeriksaan penunjang Laboratorium .AsiaTenggara termasuk Cina.Riwayat keluarga yang mcnderiu talasemia Pemeriksaan fisis . .HbA^ kuantitatif —» menggunakan metode mikrokolom .Hepatospenomegali .Sediaan apus darah tepi (mikrositer.Hemoglobin .Hiperpigmentasi kulit .Pertumbuhan terhambat/pubertas terlambat .Peravvakan pendek . Talasemia p banyakditemukan diAsiaTenggara.Metode HPLC (Beta Short variant Biorad): analisis kualitatif dan kuanticitif. Semenanjung Malaysia. . hipokrom. Cipto Mangunkusumo sampai dengan akhir tahun 2008 terdapat H42 pasien talasemia mayor yang berobat jalan di Pusat Talasemia Departemen llmu Kesehatan Anak FKUIRSCM yang terdiri dari 52. fragmentosit. Afrika.Darah tepilengkap: . poikilositosis.5% pisien talasemia p homozigot.Talasemia Merupakan penyakit anemia hemolitik herediter yang disebabkan oleh defek genetik pada pembentukan rantai globin. Diagnosis Anamnesis . 46. serta 1. Di Rumah Sakit Dr.Pucat yang lama (kronis) .5% pasien talasemia pHbE.Perut membesar akibat hepatosplenomegali ..Elektroforesis hemoglobin: tidak ditemukannya HbA dan meningkatnya HbA2 dan HbF .Riwayat transfusi berulang (jika sudah pernah transfusi sebelumnya) .3% pasien talasemia a. Sekitar 70 -100 pasien baru datang setiap tahunnya. dan Indonesia. dan MCHC menurun.Ikterus .anisositosis. sel eritrosit muda /normoblas.

Pasien dengan gangguan fungsi jantung: 60-100 mg/kg BB/hari IV kontinu selama 24 jam.Dewasa dan anak >3 tahun: 30-50 mg/kgBB/hari.Bila pemeriksaan feritin tidak tersedia.Dimulai bila : .Fraktur tulang . .Bila tidak memungkinkan dilakukannya pemeriksaan laboratorium. Transfusi darah pertama kali diberikan bila: . antara lain massa -mediastinum Pada penanganan selanjutnya.Anak usia <3 tahun: 15-25 mg/kg BB/hari dengan monitoring ketat (efek samping: gangguan pertumbuhan panjang dan tulang belakang/vertebra).Hb >7g/dL disertai gejala klinis: .Gangguan tumbuh kembang . transfusi darah diberikan dalam bentuk PRC rendah leukosit (/euccdep/eted).Jika kesediaan deferoksamin terbatas: dosis dapat diturunkan tanpa mengubah frekuensi pemberian. Medikamentosa .Vitamin C:2-3 mg/kg/hari (maksimal 50 mg pada?nak < 10 tahun dan 100 mg pada anak > 10 tahun.Hb <7 g/dL yang diperiksa 2 kali berturutan dengan jarak 2 minggu . dapat digantikan dengan pemeriksaan saturasi transferin >55% .Curiga adanya hematopoietik ekstnmeduler. . .Tata laksana . kecuali pasien menderita gangguan jantung yang berat dan diberikan kembali pada trimester akhir deferioksamin 20-30 mg/kg BB/hari.Kelasi besi . . .Vitamin E: 2 x 200 lU/hari .Transfusi darah Prinsipnya pertimbangkan matang-matang sebelum memberikan transfusi darah.Pemakaian deferioksamin dihentikan pada pasien-pasien yang scdang hamil. tidak melebihi 200 mg/hari) dan h?"/3 diberikan saat pemakaian deferioksamin (DFO).Jika tidak ada syringe pump dapat diberikan bersama NaCI 0.Feritin >1OOO ng/mL .Perubahan muka//bc/es Cooley . Pemberian kelasi besi dapat berupa dalam bentuk parenteral (desferioksamin) atau oral (deferiprone/ deferasirox) ataupun kombinasi. transfusi darah diberikan Hb S8 g/dLSAMPAl kadarHb 10-11 g/dL Bila tersedia.9% 500 ml melalui infus (selama 8-12 jam).TIDAK dipakai pada pasien den|an gangguan fungsi jantung. 5-7 x seminggu subkutan (sk) selama 812 jam dengan syringe pump. Kelasi besi pertama kali dimulai dengan Deferioksamin/DFO: . maka digunakan kriteria sudah menerima 3-5 liter atau 10-20 kali transfusi. . . .Ibu menyusui tetap dapat menggunakan kelasi besi ini.

Oral iron chelators and the tretment of iron overload in pediatric patients with chronic anemia. yang bertahan minimal selama 3 bulan . pasien talasemia memcrlukan pemantauan rutin: . 2008. Hematology Am Soc Hematol Educ Program. Neufeld E.107:3436-41. Cohen AR. .2003. new questions. Vichinsky E. Pediatrics. Cazzola M. 7.Sebelum transfusi: darah perifer lengkap.3S3:l 135-46 6. serologis virus Kepustakaan 1. dkk. Galanello R. Cappellini MD. 121:153-6.Adanya gangguan fungsi jantung/kardiomiopati akibat kelebihan besi . 5. Barosi G. Thalassemia International Federation. Oral chelators deferaslrox and deferiprone for transfusional iron overload in thalassemia major: new dats. Haematologlca. Blood. Rund D. fungsi jantung. fungsi endokrin.About thalassemia. status besi.Setiap tahun: pertumbuhan dan perkembangan.Untuk jangka waktu tertentu (6-12 bulan) bergantung pada kadar feritin dan fungsi jantung saat evaluasi Pemantauan Selain pemantauan efek samping pengobatan. 2006:42-7. pendengaran.Terapi kombinasi (Desferioksamin dan deferiprone) hanya diberikan pada keadaan: . 3. 2006. 2. 2000. Guidelines for the clinical management of thalassemia. fungsi had . Angelucci E. Camaschella C. p-Thalassemia. visual. N Engl J Med. New advances in iron chelation therapy.Setiap 6 bulan: feritin .2008. Rachmilewitz C. tinggi badan) .2005. Athens: Thalassemia International Federation. Cyprus:Thalassemia International Federation.Setiap 3 bulan: pertumbuhan (berat badan. 4.93:741-52. Italian society of hematology practice guidelines for the management of iron overload in thalassemia major and related disorders.Feritin &3000 ng/ ml. EleftheriouA.

.

Menurut GINA. tetapi juga pada aspek pencegahan muncul atau berulangnya serangan.Identifikasi kembali langkah-langkah penghindaran terhadap faktor pencetus. Tidak kalah pentingnya adalah kontrol terhadap faktor pencetus munculnya serangan asma. dan pengawas lainnya seperti guru. yang disebut juga tata laksana jangka panjang. dan lain-lain. (3) Asma Persisten Rincian derajat selengkapnya dapat dilihat pada tabel dalam lampiran Anamnesis .Gejalabatukkronikberulang.atau berhubungan dengan faktor pencetus. dokter.keberhasiian tata laksana asma pada anak tidak hanya dalam hal mengatasi serangan akut saja (tata laksana jangka pendek).Berbagai tanda atau manifestasi alergi (allergic shiners) seperti geographic tongue atau dermatitis atopi dapat ditemukan. . Dalam menentukan tata laksana jangka panjang untuk penyandang asma.Riwayat tumbuh kembang. . dispnea. . Diagnosis Klasifikasi derajat penyakit asma pada anak terdiri dari: (I) Asma Episodik jarang. (2) Asma Episodik Sering.Tata Laksana Jangka Panjang Asma Kekeliruan yang sering terjadi pada tata laksana asma (termasuk pada anak) adalah dokter sering hanya terfokus pada penanganan serangan akut. Keberhasiian dapat dicapai melalui komitmen yang tinggi terhadap kepatuhan strategi pengobatan oleh keluarga. keadaan ideal yang akan dicapai berbeda pada setiap anak. respiratory effort dengan komponen ekspirasi yang lebih menonjol. pengobatan bersifat individual. .Pada saat tidak dalam serangan akut. lingkungan.Pada saat serangan dapat dijumpai takipneu. dan ronki basah kasar (lendir) pada auskultasi . seperti alergen makanan.Riwayat dan gejala penyakit atopi lain (rinitis. Bagaimanapun.Tanda lain yang dapat dijumpai adalah bercak hitam di kulit seperti bekas gigitan nyamuk.Identifikasi gejala penyakit lain yang mungkin sebagai penyulit. seperti sinusitis. dan lainlain.Tanda sinusitis seperti nyeri ketok pada daerah infra orbita. .Sejak kapan/usia berapa diketahui pertama kali rnenderita asma jika perlu ditanyakan siapa yang mendiagnosis saat itu. GER. dermatitis atopi) pada pasien dan keluarga. . lama setiap kali serangan. . Pemilihan obat dan penentuan dosis yang sesuai tergantung dari respons anak yang bersangkutan. . .Identifikasi frekuensi serangan akut (napas berbunyi menciut) dalam 3 bulan terakhir. Pemeriksaan Fisis . . serta keuntungan dan kerugian pengobatan.Tentukan pengaruh serangan terhadap kualitas tidur dan aktivitas. dibutuhkan penilaian yang seksama terhadap derajat penyakit asma. pemeriksaan fisis toraks dapat menunjukkan bentuk dada barrel chest. dan bagaimana gejala di antara serangan.dengancirikhas sering terjadi dinihari.

Pemeriksaan Penunjang .LABA (long acting 82-agonisi): Prokaterol. .Steroid hirupan tetap dalam dosis rendah dan dikombinasi dengan salah satu obat. .jika respons buruk.Skin Prick Test dan ujiTuberkulin jika diperlukan. . Tata Laksana Prinsip Umum . atau . Pemeriksaan dilakukan sebelum dan sesudah terapi medikamentosa jangka panjang.Identiflkasi faktor penyulit yang mungkin muncul selama terapi medikamentosa. .Steroid hirupan dimulai dengan dosis rendah .usia <12 tahun: Budeson/de 100-200 ug (50-100 \ig Flutikason) .Sebelum menaikkan atau menurunkan dosis obat. dengan berbagai bentuk sediaan dan dosis (tabel terlampir).jika respons baik.Anti Leucotrien Receptor (ALTR): Zafirlukas. Terapi Medikamentosa Obat yang dipakai adalah kelompok obat pengendali.Catat frekuensi serangan akut yang muncul selama terapi jangka panjang dilakukan.Hanya butuh obat relkver (pereda) saja ((32-agonis. turunkan dosis steroid hirupan.Selain pemeriksaan di atas.Teofilin lepas lambat (teoph/l//ne slow re/eose/TSR).usia > 12 tahun: Budesonide 200-400 ug (100-200 ug Flutikason) Evaluasi setelah 6-8 minggu (klinis dan uji fungsi paru) maksimal 8-12 minggu.Teofilin.Tidak perlu diberi obat pengendali. . pemeriksaan imunoglobulin E (IgE) dan eosinofil total dalam darjh dapat membantu penegakkan diagnosis asma. yaitu: . .Evaluasi berkala tentang cara pemakaian obat. Peningkatan kadar IgE dan eosinofil total umum dijumpai pada pasien asma.Obat pengendali diberikan terus-menerus tanpa melihat ada/tidaknya serangan selama periode waktu yang direncanakan.Asma Episodik Jarang . . . . Bambuterol.Pemeriksaan foto sinus jika diperlukan.Jika pemakaian (32-agonis hirupan lebih dari 3x per minggu (tanpa menghitung penggunaan pra-aktivitas fisik) acau serangan sedang/berat muncul >lx/bulan. . . Montelukas .Penyamaan persepsi dan membangun komitmen dengan orangtua.Pemeriksaan pH lambung jika diperlukan. Salmeterol. dll). . atau . Indikator yang dinilai adalah PEF/FEVI dan variability. . yang diberikan saat dalam serangan saja (lebih lengkap lihat tata laksana asma jangka pendek atau akut). dan jika perlu hentikan (step down) - Asma Persisten Terdapat 2 alternatif: . naikkan bertahap dosis steroid hirupan dengan dosis menengah sampai 400 ug (step up) . Asma Episodik Sering . maka tata laksana diperlakukan sebagai asma episodik sering (lihat algoritma). jangan lupa evaluasi berkala tentang penghindaran terhadap faktor pencetus.Uji fungsi paru dengan spirometri dapat dilakukan di luar serangan.

Starting inhaled corticosteroids in asthma: when. Van der MolenT. Warner JO. Third international pediatric consensus statement on the management of childhood asthma.!horax. WHO. 2000. maka dipakai cara pengobatan terakhir yaitu : Steroid Oral. 15:34-9. perabotan rumah tangga yang berpotensi menyimpan debu rumah. 10: 527-35. NHLBI/WHO Workshop Report 2002. 1998:25:1 -17. yaitu: .- Meningkatkan dosis steroid hirupan menjadi dosis medium yaitu: . Tasche MJA. Pedoman nasional asma anak.Beri air susu ibu (ASI) ekslusif sampai 6 butan. memperbaiki ventilasi ruangan. Leefant C. rnaka langkah berikutnya memakai salah satu dari 2 alternatif selanjutnya. Naspitz CK. Barry PW. atau ALTR . namun respon tetap buruk. Jika rnasih terdapat gejala/serangan asma. 5. berilah SF yang bersifat hipoalergenik. EurRespirJ. O'Callaghan C. Bernsen RMD.Hindarkan makanan ibu menyusui yang berpotensi alergenik. Kepustakaan 1. 2000. .Atasi penyakit penyerta (komorbid): sinusitis dan rinitis alergi konsultasi ke bagian THT dan gastroesofageal refluks (GER) konsultasi ke sub Bagian Gastroenterologi Anak . Allergic rhinitis ind its impacts in asthma. Indonesian Pediatric Respiratory Meeting I: Focus onAsthma. Eur Respir Rev. 8. Khaltaev N. Geneva:WHO 2001. 2003. 2000. mengurangi kelembaban kamar anak.Usia > 12 tahun : Budesonide > 600 µg/hr (>300 µg/hr Flutikason) Evaluasi kembali setelah 6-8 minggu (maksimal 8-12 minggu) Jika dosis steroid hirupan telah mencapai >800 µg/hr. UKK Pulmonologi PP IDAI. .Jika perlu tambahan susu formula (SF). Terapi Suportif . and how long. how high. Jakarta.usia > 12 tahun: Budesonide 400-600 µg (200-300 ug Flutikason) Evaluasi kembali setelah 68 minggu (maksirnal 8-12 minggu). 7. Cropp GjA. asap obat nyamuk. Pediatr Puli-nonol. van der Wouden JC. Uijen JHJM. 3.usia < 12 tahun: Budesonide 200-400 µg (100-200 µg Flutikason) .Konsultasi psikologis ke Psikolog atau Psikiater Anak Tindakan Provensi dan Kontrol lingkungan . . . 2. Pederson S. 4. Evidence for benefits of early intervention with non-sceroidal drugs in asthma. Nebulizers in childhood.Steroid hirupan tetap dalam dosis medium ditambah salah satu obat: LABA.Meningkatkan dosis steroid hirupan menjadi dosis tinggi: . Pediatr Pulmonol. 6. Kerstjem HAM. de jongste JC. Inhaled disodium cromoglucate (DSCG) as maintenance therapy in children with asthma: a systematic review.55:9I3-20.Pengendalian lingkungan: hindarkan asap rokok. Management ARIA.Usia < 12 tahun : Budesonide > 400 µg/hr (>200 µg/hr Flutikason) . Fouroux B.Identifikasi segera bayi yang lahir dari ibu atau ayah dengan riwayat atopi.TSR. dll.Fisioterapi pada keadaaan atelektasis . Global initiative (or asthma. Koni^ P. . 15:3-4. 1997..

1998. 2001. Pearlman D. Fahy JY. Lotvall J. 2001. 79:350-5. 14. Pediatr Pulmonol.577-87.N Engj Med. 339:14752. Onset of bronchodilatation of budesonide/ formoterol vs salmeterol/fluticasone In single Inhalers. 1997. Gershman NH. Beckman O.Petru V. RA. 16. 2000. 30:63-72. 12. 2000. Is primary prevention of asthma possible! Pediatr Pulmonol.J Allergy Clin Immunol. 15. Effect of Inhaled formoterol and budesonlde on exacerbations of asthma-NEnglJMed. 2002.9. .J Allergy Clin Immunol. Tal A. 10. Links between pediatric and adult asthma. Everald ML. Llu JT. 17. Leff JA. Dalam: O'Byrne PM. Specific problems: steroid-induced side effects. Pulmonary PharmacolTher. Lofdahl CG.Vermulen JH. Long-term placebo-controlled trial of ketotifer. Low-dose and high-dose flutlcasone proplonate in asthma: effects during and after treatment Eur Respir j. 13. Becher AB. Thomson NC. H.337:1405-11. Budesonlde/formoterol in a single Inhaler versus Inhaled corticosteroids alone In the treatment of asthma. Manual of Asthma management. Loftus BG. 34:342-50. Peterson S. Edisi ke-2. 14:29-34. Montelukast. for the treatment of mild asthma and exercise induced bronchoconstrlctlon. a leukotrlene-receptor antagonist. 107:344955. Pauwels. Martinez FD. London: WB Saunders 2001.Wong HH. Simon G. Palmqvlst M. penyunting. Price JF. CObos N. Busse WW. in the management of preschool children with astma. 15:11-6. Arvldson P. Postma DSI. I997. et al. 11. Barnes N.