P. 1
Diktat Fisika Dasar I OK

Diktat Fisika Dasar I OK

|Views: 359|Likes:
Published by Ikhbal Muttakin

More info:

Published by: Ikhbal Muttakin on Jul 10, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/21/2014

pdf

text

original

Sections

  • 1.1 Fisika Klasik
  • 1.2 Fisika Modern
  • 1.3 Sistem Satuan Internasional
  • 1.4 Rumus Dimensi
  • 1.5 SI Dalam Mekanika
  • 2.1 Definisi-definisi dalam kinematika
  • 2.2 Jarak dan Perpindahan
  • 2.3 Laju dan Kecepatan
  • 2.4 Laju dan kecepatan rata-rata
  • 2.5 Kecepatan Sesaat
  • 2.6 Percepatan
  • 2.7 Percepatan konstan dan percepatan berubah
  • 2.8 Percepatan rata-rata dan percepatan sesaat
  • 2.9.2 Tinjauan Matematik Gerak Lurus
  • 2.9.3 Gerak Lurus Beraturan
  • 2.9.4 Gerak Lurus Berubah Beraturan
  • 2.9.5 Gerak Parabola
  • 2.9.6 Gerak Jatuh Bebas
  • 2.10 CONTOH SOAL
  • 2.11 SOAL-SOAL LATIHAN
  • 3.1 PENDAHULUAN
  • 3.2 DESKRIPSI GAYA - GAYA
  • 3.3 HUKUM NEWTON I TENTANG GERAK
  • 3.4 HUKUM NEWTON II TENTANG GERAK
  • 3.5 HUKUM NEWTON III
  • 3.6 CONTOH SOAL
  • 3.7 SOAL-SOAL LATIHAN
  • 4.1 Usaha
  • 4.2 Gaya Konservatif dan Gaya Non-Konservatif
  • 4.3.1 Energi Kinetik
  • 4.3.2 Energi Potensial
  • 4.3.3 Energi Mekanik
  • 4.3.4 Hukum Kekekalan Energi Mekanik
  • 4.4 CONTOH SOAL
  • 4.5 SOAL-SOAL LATIHAN
  • 5.1 Definisi Momentum dan Impuls
  • 5.2 Hukum Kekekalan Momentum
  • 5.3 CONTOH SOAL
  • 5.4 SOAL-SOAL LATIHAN
  • 6.1 Momen Inersia
  • 6.2 CONTOH SOAL
  • 6.3 SOAL-SOAL LATIHAN
  • 7.1 Gerak Harmonik Sederhana
  • 7.2 CONTOH SOAL
  • 7.3 SOAL-SOAL LATIHAN
  • 8.1 STATIKA FLUIDA
  • 8.2 TEKANAN FLUIDA
  • 8.3 TEKANAN HIDROSTATIK
  • 8.4.1 Hukum Pascal
  • 8.4.2 Aplikasi Pada Pengungkit Hidrostatika
  • 8.4.3 Hukum Archimedes
  • 8.5.1 Persamaan Bernoulli
  • 8.5.2 PERSAMAAN KONTINUITAS
  • 8.6 CONTOH SOAL
  • 8.7 SOAL-SOAL LATIHAN
  • 9.1 TEORI KINETIK GAS Gas Ideal
  • 9.2 Perpindahan Kalor
  • 9.3.1 Usaha
  • 9.3.2 Hukum Pertama Termodinamika
  • 9.3.3 Proses-Proses Termodinamik
  • 9.3.4 Siklus Sistem
  • 9.3.5 Hukum Kedua Termodinamika
  • 9.4 CONTOH SOAL
  • 9.5 SOAL-SOAL LATIHAN
  • 10.1 Jenis gelombang
  • 10.2.2 Persamaan Gelombang Longitudinal dalam Gas
  • 10.2.3 Kecepatan Gelombang Elastik
  • 10.2.4 Kecepatan Gelombang Medan
  • 10.2.5 Rapat Energi, Daya, dan Intensitas Gelombang
  • 10.2.6 Transmisi dan Refleksi Gelombang
  • 10.2.7 Superposisi Gelombang
  • 10.3 CONTOH SOAL
  • 10.4 SOAL-SOAL LATIHAN

Fisika Dasar I

Halaman : 1/116

BAB I
PENDAHULUAN


Dalam ilmu Fisika dipelajari berbagai gejala alam, penyebab terjadinya, akibat
maupun pemakaiannya. Penemuan-penemuan dalam fisika menjadi dasar bagi industri
dan teknologi modern (dalam bidang komputer, transportasi, komunikasi, elektronika,
ilmu bahan, kesehatan, dan masih banyak lagi). Ukuran yang dipelajari dari ukuran
terkecil 10
-18
m sampai ukuran alam semesta 10
26
m.
Ilmu fisika dibagi 2 bagian, yaitu Fisika klasik dan Fisika Modern

1.1 Fisika Klasik
Untuk tingkat dasar Ilmu Fisika dibagi atas:
1. Mekanika
2. Termofisika
3. Keelektrikan
4. Kemagnetan
5. Optika
6. Akustika, dll
Mekanika mempelajari gerak dan dinamika benda. Mekanika benda titik (partikel)
sampai mekanika sistem banyak partikel (sistem benda tegar dan fluida).Mekanika dibagi
2 bagian, yaitu:
1. Kinematika: mempelajari gerak benda tanpa memperdulikan penyebab gerak atau
bagaimana pengaruh lingkungan terhadap gerak benda.
2. Dinamika: mempelajari bagaimana pengaruh lingkungan terhadap gerak benda.
Termodinamika mempelajari konsep pemindahkan energi dalam bentuk kalor.
3 konsep dasar mekanika:
+ Konsep gaya sebagai pengubah gerak (Hk Newton ÷ ¿F = m.a)
+ Konsep usaha sebagai pengubah energi (W = ∆K + ∆U), K = energi kinetik benda, U
= energi potensial benda.
+ Konsep impuls sebagai pengubah momentum (I = ∆p)
Akustika mempelajari konsep pemindahan energi dan momentum melalui interaksi
medium (gelombang elastik) yaitu gelombang bunyi/suara.
Optika mempelajari konsep pemindahan energi dan momentum melalui interaksi
medan (gelombang elektromagnet) yaitu cahaya.

1.2 Fisika Modern
1. Fisika Atom
2. Nuklir
3. Semikonduktor
4. Superkonduktor, dll


Fisika Dasar I
Halaman : 2/116

1.3 Sistem Satuan Internasional
Kemunculan bidang-bidang ilmu fisika (mekanika, termofisika, keelektrikan, dll)
tidak serempak. Akibatnya besaran yang sejenis diberi satuan yang berbeda
Contoh: satuan energi: Kalori, Joule, Erg, Btu (British thermal unit), kWh, hph, dsb.
Hal ini menyulitkan pemula yang baru belajar fisika. Dibuat sistem satuan yang
disebut Sistem Internasional untuk Satuan disingkat SI.
Dalam SI ada tujuh besaran dasar berdimensi dan dua besaran tambahan tak berdimensi.

Besaran Dasar dan Besaran Tambahan
BESARAN DASAR NAMA LAMBANG DIMENSI
1. Panjang
2. Massa
3. Waktu
4. Arus Listrik
5. Suhu Termodinamika
6. Jumlah Zat
7. Intensitas Cahaya
Meter
Kilogram
Sekon
(detik)
Ampere
Kelvin
Mole
Kandela
M
Kg
S
A
K
Mol
Cd
|L|
|M|
|T|
|I|
|O|
|N|
|J|
BESARAN TAMBAHAN
1. Sudut datar
2. Sudut Ruang
Radian
Steradian
Rad
Sr
-
-

Besaran : sesuatu yang dapat diukur dan dioperasikan.
Besaran pokok/dasar : besaran yang telah didefinisikan sendiri.
+ Panjang (L)
- Diambil standar panjang gelombang cahaya merah-jingga kripton-86.
- Alat ukurnya interferometer optik.
- Satuan |meter|, 1 m = 1.650.763,77 panjang gelombang kr-86.
+ Massa (M)
- Diambil standar silinder platina iridium dengan berat 1 kg
- Alat ukur neraca dan lengan
- Satuan |kilogram|
+ Waktu (T)
- Diambil standar waktu periode dari yang berkesesuaian dengan transisi antara
dua tingkatan energi dari atom C5-133
- Alat ukur jam atom.
- Satuan |detik/sekon|, 1 detik = 9.192.631,77 periode Cs-133
Besaran Turunan (jabaran) besaran yang diturunkan oleh besaran pokok melalui
definisi operasionalnya.
Contoh: Kecepatan, percepatan, gaya, dll.
Satuan besaran turunan diperoleh dari satuan dasar dengan menggunakan definisi
operasional besaran jabaran tersebut:
Contoh:
 Kecepatan adalah jarak dibagi waktu. Maka satuan kecepatan adalah satuan jarak
dibagi satuan waktu, yaitu: meter/sekon atau ms
-1

 Momentum adalah massa kali kecepatan. Jadi satuan momentum adalah satuan massa
kali satuan kecepatan, yaitu: kilogram meter/sekon atau kgms
-1
.

Fisika Dasar I
Halaman : 3/116

1.4 Rumus Dimensi
Rumus dimensi diperlukan untuk memeriksa kesesuaian suatu persamaan fisika.
Persamaan fisika yang benar haruslah mempunyai rumus dimensi yang sama pada kedua
ruasnya.Analisis dimensi dapat digunakan untuk mengecek kesesuaian rumus.
Contoh:
Pada gerak melingkar percepatan sentripetal bergantung pada lajur putar dan lintasannya.
Untuk memperoleh persamaannya dapat digunakan analisis dimensi sbb:
|percepatan| = |kecepatan|
a
|jari-jari|
b


| |
| |
| |
| |
| |
| |
| |
a
b a
b
a
T
L
L
T
L
T
L
+
=
|
|
.
|

\
|
=
2

maka a + b = 1 dan a = 2, sehingga b = -1. Jadi persamaan percepatan sentripetal adalah:
percepatan sentripetal =
jari jari
kecepa
÷
2
tan
atau
R
v
a
sp
2
=

1.5 SI Dalam Mekanika
Dalam mekanika digunakan tiga besaran dasar, yaitu: panjang (meter), massa
(kilogram), dan waktu (sekon atau detik); karena itu sistem ini sistem satuan ini disebut
sistem satuan mks.
Satuan waktu, satu sekon, didefinisikan:
2.1 sebagai 1/31 556 925,9744 kali satu tahun tropis
2.2 satu sekon adalah 9 192 631 770 kali periode getar radiasi yang timbul dari peralihan
dua tingkat „hyperfine‟ atom cesium-133, dari tingkat f = 4, m
f
= 0 ke tingkat f = 3,
m
f
= 0.
Satuan panjang, satu meter, didefinisikan:
1. sebagai jarak antara dua garis pada batang standar yang terbuat dari platinan-iridium
yang disimpan di kota Sevres dekat Paris.
2. satu meter adalah 1 650 763,73 kali panjang gelombang radiasi atom Krypton-86
untuk peralihan dari tingkat 2p
10
ke 5d
5
.
3. satu meter adalah jarak yang ditempuh oleh cahaya dalam waktu 1/299 792 458
sekon.
Satuan massa, satu kilogram, didefinisikan sebagai massa satu silinder suatu
platina-iridium yang disimpan di kota Sevres.
Satuan unified atomic mass unit (µ). Satu µ didefinisikan sebagai 1/12 massa isotop
atom Carbon-12. Jadi 1 kg setara dengan 1/12 kali massa satu kilo mole isotop C
12
, atau
1 µ ~ 1,6 x 10
-27
kg.
Fisika Dasar I
Halaman : 4/116

Satuan-satuan lain:
Panjang :
1 Angstrom(A
o
) = 10
-10
m.
1 nanometer(nm) = 10
-9
m.
1 mikrometer(µm) = 10
-6
m.
1 milimeter (mm) = 10
-3
m
1 sentimeter(cm) = 10
-2
m
1 kilometer(km) = 10
3
m.
Amerika dan Inggris
1 inci(in) = 2,54 cm.
1 foot(ft) = 12 in
1 yard(yd) = 3 ft

Massa :
1 mikrogram(µg) = 10
-9
kg
1 mikrogram(µ
1 miligram(mg) = 10
-6
kg
1 gram(g) = 10
-3
1 pound massa(lbm) = 0,45 kg

Waktu :
1 nanosekon(ns) = 10
-9
s
1 mikrosekon(µs) = 10
-6
s
1 milisekon(ms) = 10
-3
s
1 menit(men) = 60 s
1 jam(jm) = 3600 s
1 hari = 86.400 s

Seperti telah dibahas di bab sebelumnya, dalam mekanika terdapat dua komponen
utama yang akan kita pelajari yaitu kinematika dan dinamika. Dalam bab ini kita akan
membahas lebih dalam tentang dinamika dimana dalam dinamika gerakan yang terjadi
tidak hanya dianalisa profil gerakannya saja namun juga menganalisa penyebab
timbulnya gerakan tersebut. Ada beberapa topik yang dibahas dalam dinamika ini
diantaranya adalah teori dasar dan aplikasi hukum newton untuk menganalisa gerakan.
Fisika Dasar I
Halaman : 5/116


BAB 2
KINEMATIKA


Dalam kinematika akan dipelajari
bagaimana suatu benda (partikel) bergerak tanpa memperhatikan penyebab dari gerakan
tersebut. Untuk menghindari kerumitan-kerumitan
yang mungkin muncul dalam membahas kinematika,
maka dalam diktat ini benda-benda yang terlibat
dalam pergerakan dianggap sebagai suatu benda
ideal yang disebut partikel. Partikel secara
matematis diperlakukan sebagai sebuah titik
sehingga rotasi dan vibrasi dari benda dapat
diabaikan terlebih dahulu.

2.1 Definisi-definisi dalam kinematika
Gerakan dari sebuah partikel dapat dideskripsikan dengan beberapa besaran sebagai
berikut:
 Jarak dan perpindahan
 Laju dan kecepatan
 Percepatan
Besaran-besaran matematis yang digunakan untuk mendeskripsikan suatu gerakan
pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu besaran skalar dan besaran vektor.

Skalar adalah suatu besaran
yang hanya mempunyai “besar”
saja. Sedangkan vektor adalah
besaran yang mempunyai besar dan arah




Berdasarkan definisi besaran di atas , maka dalam kinematika kita bisa
mengelompokkan besaran besaran tersebut sebagai berikut :







Jarak , laju  besaran skalar
Perpindahan , kecepatan , percepatan  besaran vektor
Fisika Dasar I
Halaman : 6/116

2.2 Jarak dan Perpindahan
Jarak dan perpindahan adalah dua buah besaran yang tampaknya mempunyai arti
yang sama. Namun sesungguhnya kedua besaran tersebut berbeda dan dapat didefinisikan
seperti di bawah ini
 Jarak adalah besaran skalar yang didefinisikan sebagai panjang lintasan yang
ditempuh oleh suatu objek yang bergerak
 Perpindahan adalah besaran vektor yang didefinisikan sebagai perubahan posisi
dari objek yang berpindah
Sebagai ilustrasi mari kita lihat gerakan seorang pemain ski yang bergerak di salju
seperti terlihat dalam gambar di bawah ini.

Pada saat t = 0 menit pemain ski dianggap berada pada posisi awal dalam hal ini
posisi yang dianggap sebagai acuan. Pada saat t = 1 menit pemain ski telah menempuh
jarak 180 m dan berpindah sejauh 180 m dari posisi awal. Pada saat t = 2 menit pemain
ski telah menempuh jarak 420 m dan posisinya sekarang terhadap posisi awal adalah 40
m. Demikian juga pada saat t = 3 menit pemain ski berada pada posisi 140 m dari posisi
awal dan telah menempuh jarak 520 m. Jarak dan perpindahan pemain ski untuk berbagai
waktu dapat ditabelkan dalam tabel di bawah ini.
Posisi Jarak (m) Perpindahan (m)
A ; t = 0 menit 0 0
B ; t = 1 menit 180 180
C ; t = 2 menit 420 40
D ; t = 3 menit 520 140

2.3 Laju dan Kecepatan
Seperti halnya jarak dan perpindahan, kita juga mendapatkan definisi yang serupa
untuk laju dan percepatan
 Laju adalah besaran skalar yang didefinisikan sebagai “seberapa cepat suatu
objek bergerak”. Sebuah objek yang bergerak cepat mempunyai laju yang besar
dan sebaliknya.
 Kecepatan adalah besaran vektor yang didefinisikan sebagai “ seberapa cepat
suatu objek berpindah posisi”. Suatu objek dikatakan mempunyai kecepatan nol
jika selama pergerakan objek tersebut tidak berubah posisinya dengan kata lain
posisi objek terakhir sama dengan posisi awal objek.
Fisika Dasar I
Halaman : 7/116

Ketika kita mengevaluasi kecepatan suatu objek, kita harus memperhatikan arah
gerakan objek tersebut. Tidak akan cukup bila kita hanya menyatakan kecepatan suatu
mobil adalah 40 km/jam, tetapi kita harus menyebutkan arah dari pergerakan mobil
tersebut. Arah dari vektor kecepatan sama dengan arah perpindahannya dan tidak
bergantung pada seberapa cepat objek tersebut bergerak.
2.4 Laju dan kecepatan rata-rata
Ketika sebuah objek
bergerak, akan timbul perubahan
kecepatan dan laju dari objek
tersebut. Sebagai contoh, sebuah
mobil yang melaju di jalan tidak
akan mempunyai laju yang terus
konstan. Hal ini bisa dilihat dalam
penunjukan jarum spedometer.
Jarum penunjuk bergerak naik dan
turun yang menggambarkan
perubahan laju yang
bersangkutan. Namun kita bisa
mendapatkan besaran rata-rata
laju dan kecepatan saat mobil mulai bergerak sampai mobil tersebut mencapai tempat
tujuan. Besarnya laju dan kecepatan rata-rata dapat dinyatakan sebagai berikut.






2.5 Kecepatan Sesaat
Suatu objek yang bergerak akan mengalami perubahan
kecepatan. Telah disebutkan sebelumnya bahwa kita telah
mendefinisikan laju dan kecepatan rata-rata. Besaran tersebut
adalah besaran yang diukur pada selang waktu tertentu.
Untuk mengetahui besarnya kecepatan pada waktu tertentu,
kita terlebih dahulu harus
mendefinisikan suatu besaran yang
merepresentasikan kecepatan tersebut.
Kecepatan sesaat adalah kecepatan yang diukur pada satu waktu
tertentu dan bukan pada selang waktu tertentu.

Jarak yang ditempuh
Laju rata-rata =
Waktu tempuh

Perubahan posisi Perpindahan
Kecepatan rata-rata = =
Waktu tempuh Waktu tempuh

Fisika Dasar I
Halaman : 8/116

2.6 Percepatan
Besaran matematis terakhir yang dibahas dalam bab ini adalah percepatan. Sering
kali terdapat kesalahan pemakaian istilah percepatan dalam kehidupan sehari hari. Dalam
olahraga terutama atletik sering disebutkan bahwa pelari yang berlari cepat mempunyai
percepatan yang besar. Padahal jika dilihat dari definisi percepatan hal itu tidak
selamanya benar.
Percepatan adalah suatu besaran vektor yang
didefinisikan sebagai laju perubahan kecepatan suatu
objek yang bergerak. Orang yang berlari cepat tidak
selamanya mempunyai percepatan yang besar karena
kecepatannya belum tentu berubah.
Seperti terlihat dalam tabel di samping ini, kecepatan
objek bertambah untuk setiap kenaikan waktu sehingga
dikatakan objek tersebut bergerak dipercepat atau
mempunyai percepatan positif.


2.7 Percepatan konstan dan percepatan berubah
Suatu gerak disebut mempunyai percepatan konstan apabila perubahan kecepatan
untuk setiap selang waktu tertentu besarnya tetap. Sementara gerak dengan percepatan
yang berubah terjadi apabila perubahan kecepatan yang terjadi tiap selang waktu
besarnya tidak tetap. Dalam
tabel disamping terlihat dua
profil percepatan yang berbeda,
tabel pertama adalah gerak
dengan percepatan tetap
sementara tabel kedua adalah
gerak dengan percepatan yang
berubah.

2.8 Percepatan rata-rata dan percepatan sesaat
Seperti halnya kecepatan,
percepatan memiliki besaran rata-
rata dan sesaat. Percepatan rata-
rata didefinisikan sebagai besarnya
perubahan kecepatan pada selang
waktu tertentu. Sedangkan
percepatan sesaat adalah besarnya
percepatan pada satu waktu
tertentu. Sesuai dengan definisi
percepatan, maka percepatan
mempunyai satuan m/s
2
.






Fisika Dasar I
Halaman : 9/116


2.9 Mendeskripsikan gerakan melalui grafik posisi vs waktu
2.9.1 Arti gradien pada grafik posisi – waktu
Untuk mempelajari kinematika dalam dimensi satu kita bisa melakukan analisa
dengan berbagai pendeskripsian diantaranya adalah dengan menggunakan definisi (kata-
kata) , diagram (grafik) dan deskripsi secara matematis. Dalam bagian ini kita akan
mempelajari bagaimana mendeskripsikan gerakan melalui grafik posisi terhadap waktu
(grafik p-t). Seperti telah dipelajari dalam matematika, setiap grafik akan mempunyai
kemiringan (gradien) terhadap sumbu aksisnya. Lalu apakah arti gradien dalam grafik p-t
? Hal inilah yang akan dibahas lebih lanjut dalam bagian ini
Misalkan sebuah mobil yang bergerak dengan kecepatan konstan ke arah kanan (+)
sebesar 20 m/s seperti terlihat dalam gambar di bawah ini.



Jika posisi mobil tiap
detik kita gambarkan dalam
suatu grafik, maka kita akan
mendapatkan grafik seperti
terlihat dalam gambar
disamping ini. Dari gambar
terlihat bahwa grafik posisi
terhadap waktu mempunyai
bentuk garis lurus (linier)
sehingga dapat kita simpulkan
bahwa grafik p-t untuk gerak dengan kecepatan konstan (+) akan menghasilkan
menghasilkan garis lurus dan gradien yang tetap.
Sekarang misalkan kita akan melihat suatu mobil yang bergerak
dengan kecepatan yang berubah secara konstan artinya mobil bergerak
dengan percepatan konstan seperti terlihat dalam gambar di bawah ini.



Sekali lagi kita akan
menggambarkan grafik posisi terhadap
waktu untuk gerak mobil di atas dan kita
akan mendapatkan grafik p-t untuk gerak
tersebut seperti terdapat di atas. Dapat kita
lihat bahwa untuk gerak dengan kecepatan
yang berubah konstan akan dihasilkan
grafik berbentuk parabola seperti gambar
di samping.
Fisika Dasar I
Halaman : 10/116

dt
r d
v


=

Dapat kita simpulkan, bahwa untuk dua jenis gerakan tersebut di atas secara umum akan
mempunyai grafik p-t yang berbeda. Perbedaan ini terjadi karena adanya perbedaan
perubahan kecepatan yang terjadi. Tabel di bawah ini adalah bentuk grafik p-t secara
umum untuk masing-masing jenis gerakan.

Kecepatan tetap positif Perubahan kecepatan tetap positif


Bentuk dari grafik p-t untuk dua jenis gerakan
dasar di atas menghasilkan satu prinsip penting. Prinsip
tersebut menyatakan bahwa kemiringan (gradien) dari
garis pada grafik p-t merupakan gambaran dari kecepatan
objek yang bergerak. Bagaimanapun karakteristik
kecepatannya, gradien garis akan mengikuti karakteristik
dari kecepatan tersebut. Jika kecepatan positif dan
konstan maka gradiennya juga akan positif dan konstan.
Jika kecepatan berubah-ubah maka gradien akan berubah
mengikuti perubahan kecepatan yang terjadi. Prinsip ini bisa
diterapkan untuk berbagai jenis gerak dan tidak hanya berlaku untuk
kedua jenis gerakan yang telah dibahas sebelumnya di dalam bagian
ini.


CONTOH
Gambar disamping adalah pergerakan seekor tikus di lantai yang dinyatakan dalam
grafik p-t. Dari grafik tersebut tentukanlah
kecepatan rata-rata tikus di lantai dari t = 1
detik sampai t = 4 detik
Untuk bisa memecahkan
permasalahan ini terlebih dahulu kita harus
menentukan perubahan posisi tikus selama
selang waktu tersebut. Hal ini diperlukan
karena kecepatan rata-rata adalah perubahan
posisi selama selang waktu tertentu seperti
telah didefinisikan sebelumnya.
Fisika Dasar I
Halaman : 11/116

Jika kecepatan rata rata dicari dengan menggunakan teknik gradien maka hasilnya
dapat dilihat dalam gambar disamping. Dengan menggunakan persamaan
t
x
V
rata
A
A
=
2

kita akan mendapatkan V
rata2
= 6/2 = 3 m/s

2.9.2 Tinjauan Matematik Gerak Lurus
Secara matematik gerak lurus dapat dinyatakan dalam persamaan-persamaan
berdasarkan jenis gerakannya. Seperti telah dibahas sebelumnya kita mengenal dua jenis
gerak dalam gerak lurus. Yang
pertama adalah gerak lurus
dengan kecepatan konstan yang
disebut juga dengan gerak lurus
beraturan (GLB) dan yang
kedua adalah gerak lurus
dengan percepatan konstan atau
disebut juga dengan gerak lurus
berubah beraturan (GLBB).








2.9.3 Gerak Lurus Beraturan
Gerak lurus beraturan (GLB ) adalah gerak lurus dengan kecepatan konstan dapat
diartikan pula bahwa gerak tersebut tidak memiliki percepatan dengan kata lain
percepatannya adalah nol. Secara matematis dapat kita nyatakan.



Dari pembahas di bagian sebelumnya kita mendapatkan bahwa gradien grafik
posisi terhadap waktu adalah kecepatannya sehingga akan kita dapatkan

dt
r d
v


=

}
= dt . v r
 






c tan kons v = =

t v r
 
=
Fisika Dasar I
Halaman : 12/116

2.9.4 Gerak Lurus Berubah Beraturan
Seperti telah disebutkan sebelumnya gerak lurus berubah beraturan (GLBB) adalah
gerakan benda dengan percepatan yang konstan dengan kecepatan yang berubah. Secara
matematik persamaan yang menyatakan gerak lurus berubah beraturan terdapat di bawah
ini.
tan kons a =
}
= dt . a v




Posisi dari benda yang bergerak lurus beraturan dapat dicari dengan menggunakan
persamaan
}
}
+ =
=
dt ). at v ( r
dt . v r
O

 






Kita masih bisa mendapatkan persamaan matematik dari GLBB ini yaitu dengan
mengkuadratkan persamaan at v v
O
+ = sehingga didapatkan

2 2 2
2 ) at ( atv v v
O O
+ + =
namun
a
) t . v r (
t
O
÷
=
2
2

sehingga
a
) t v r (
. a atv v v
O
O O
÷
+ + =
2
2
2 2 2

) t v r ( a atv v v
O O O
÷ + + = 2 2
2 2

t av ar atv v v
O O O
2 2 2
2 2
÷ + + =

Akhirnya diperoleh




O O
r at t . v r + + =
2
2
1 

at v v
O
+ =

ar v v
O
2
2
2
+ =

Fisika Dasar I
Halaman : 13/116

2.9.5 Gerak Parabola
Suatu gerak dinamakan gerak parabola jika lintasan yang dilaluinya berbentuntuk
parabola. Pada dasarnya gerak parabola adalah gabungan GLB dan GLBB pada dua
sumbu yang berbeda. Dalam arah sumbu vertikal benda melakukan GLBB dengan
percepatan -g (g adalah percepatan gravitasi bumi) sedangkan di sumbu horizontal benda
melakukan GLB.










Komponen x (GLB) Komponen y (GLBB)











2.9.6 Gerak Jatuh Bebas
Benda dengan gerak jatuh bebas adalah sebuah objek yang
jatuh dibawah pengaruh percepatan gravitasi bumi. Seperti
diketahui bumi memiliki percepatan gravitasi yang arahnya
menuju pusat bumi sehingga setiap benda yang berada di atas
permukaan bumi akan selalu mendapatkan gaya gravitasi yang
arahnya ke pusat bumi. Ada dua hal penting yang harus
diperhatikan dalam menganalisa gerak jatuh bebas ini
- Benda yang jatuh bebas tidak memperhitungkan tahanan
udara
0 0
0 0 0
0
x t . V x
tetap cos . V V V
a
x .
x . x
x
+ =
= o = =
=
x t . . cos . V + o =
0
t . . cos . V x o =
0
gt V V
g a
y . y
y
÷ =
÷ =
0
t . g . sin . V ÷ o =
0 0
2
0 0
0
2
0
2
1
2
1
t . g t . . sin . V y
y t . g t . V y
y .
÷ o =
+ ÷ =
0 0 0
0 0 0
o =
o =
. sin . V y V
. cos . V x V
V
oy

V
ox

y
maks

x
maks

V
y
= 0
Fisika Dasar I
Halaman : 14/116

- Seluruh benda yang jatuh bebas di permukaan bumi akan mengalami percepatan
ke arah pusat bumi yang besarnya sekitar 10 m/s
2
(tepatnya 9,8 m/s
2
). Namun jika
ingin lebih teliti percepatan gravitasi bisa dihitung untuk setiap tempat berbeda
yang bergantung pada ketinggian tempat tersebut.

Benda yang mengalami jatuh bebas akan
bergerak dengan percepatan konstan
(percepatan gravitasi  g) sehingga
mengakibatkan kecepatan benda akan semakin
bertambah seperti terlihat dalam ilustrasi
disamping ini.
Mula-mula benda dilepaskan dari suatu
ketinggian tertentu ( V
0
= 0). Dengan
menggunakan persamaan GLBB (a diganti
dengan g) maka kita akan mendapatkan
besarnya kecepatan untuk setiap waktu adalah
sebagai berikut
V(t) = V
0
+ g.t
V(t) = g.t


Sementara posisi benda terhadap titik asal
akan semakin besar dan dapat dihitung dengan
persamaan
y = V
0
. t + ½ at
2

y = ½ at
2

Gambar di samping memperlihatkan
ilustrasi posisi benda yang jatuh bebas untuk
setiap waktu dari 0 sampai 5 detik.
Jika posisi tersebut digambarkan dalam
bentuk grafik, kita akan mendapatkan grafik
posisi terhadap waktu ( grafik p-t) seperti terlihat
dalam gambar di bawah ini

Pada awal gerak jatuh bebas,
benda turun dengan besar kecepatan
yang cukup kecil, semakin lama besar
kecepatan tersebut semakin bertambah
besar (arah ke bawah  kecepatan
negatif). Untuk lebih memahami profil
kecepatan dalam gerak jatuh bebas,
maka ada baiknya kita menganalisa
grafik kecepatan terhadap waktu yang
dapat digambarkan dalam gambar di
bawah ini.
Fisika Dasar I
Halaman : 15/116


Dapat dilihat bahwa semakin lama kecepatan bertambah besar (arah ke bawah)
dengan pertambahan kecepatan sama dengan besar percepatan gravitasi bumi.

Ada satu hal yang
menarik dari gerak jatuh bebas
ini, yaitu bahwa pertambahan
kecepatan benda yang jatuh
akan selalu sama walaupun
ukuran benda tersebut
berbeda. Tentu saja hal ini
terjadi jika kita mengabaikan
tahanan udara yang sebetulnya
juga mempengaruhi suatu
benda yang jatuh bebas.

2.10 CONTOH SOAL
SOAL 1
Suatu benda bergerak dengan kecepatan sebagai fungsi dari waktu seperti pada
gambar di bawah ini.




4 6 8 10
2



a. Gambarkan percepatan (a) sebagai fungsi t
t : 0  2 :
0 2
0 6
a
x
÷
÷
= = 3 m/s
2

Vx (m/s)
t (det)
6
-6
Fisika Dasar I
Halaman : 16/116

t : 2  6 :
2 6
6 6
a
x
÷
÷ ÷
= = -3 m/s
2

t : 6  8 :
8 10
) 6 ( 0
a
x
÷
÷ ÷
= = 3 m/s
2












b. Tentukan jarak yang ditempuh selama 10 detik dan posisi akhir (t = 10 det),
jika x(0) = 32 m.
Misalkan A adalah luas segitiga dan B adalah luas trapesium pada grafik v(t)
Jarak yang ditempuh selama 10 detik
S
10
= Luas A + Luas B
= 36 m
Perpindahan selama 10 detik
AX = Luas A – Luas B = - 12 m
x(t) = x(0) + Ax
x(10) = x(0) + Ax = 32 – 12 = 20 m

SOAL 2
Suatu benda bergerak dalam bidang dua dimensi dengan persamaan posisi
j ). 7 t 6 t ( i ). 1 t 6 ( ) t ( r
2
 

+ + ÷ + ÷ =
. Tentukanlah
a. Jenis gerakan benda
Untuk menentukan jenis gerakan benda terlebih dahulu kita harus mencari
profil kecepatannya.
dt
r d
) t ( v


=
= 6 i + (-2t + 6) j

Dari bentuk persamaan v(t) di atas dapat kita lihat bahwa di sumbu x
geraknya adalah GLB dan di sumbu y adalah GLBB. Maka dapat kita
simpulkan bahwa gerakan benda adalah gerak parabola.
b. Tinggi maksimum yang dicapai oleh benda
Tinggi maksimum yang dicapai benda terjadi saat v
y
= 0 yaitu pada saat t = 3
detik . Tinggi maksimumnya adalah
y
maks
= -3
2
+ 6(3) + 7
= 7 m
a (m/det
2
)
8
4 t (det)
Fisika Dasar I
Halaman : 17/116

c. Kecepatan benda ketika benda tiba di tanah
Ketika tiba di tanah tinggi benda adalah nol
-t
2
+ 6t + 7 = 0
t
2
- 6t - 7 = 0
(t – 7)(t +1) = 0
t = 7 detik
Pada saat t = 7 detik v
x
= 6 m/s dan v
y
= -8 m/s
Resultan kecepatan pada saat itu adalah

2
y
2
x
v v v + =
=
2 2
) 8 ( 6 ÷ +
v = 10 m/s

SOAL 3
Disuatu gedung pada sebuah lapangan terbang terdapat ban berjalan untuk pejalan kaki
yang panjangnya 150 m dan bergerak dengan kecepatan 1 m/det. Bila seseorang
melangkah dari salah satu ujungnya dan berjalan dengan kecepatan 2 m/det relatif
terhadap ban berjalan, berapa lama ia harus menempuh seluruh panjang ban berjalan bila
 berjalan searah dengan gerak ban berjalan
Jika ia berjalan searah ban berjalan maka resultan kecepatannya adalah
v = 1 + 2 = 3 m/det
Waktu yang diperlukan
t = 150 / 3 = 50 detik
 dengan arah yang berlawanan
Jika ia berjalan berlawanan dengan arah ban berjalan maka resultan
kecepatannya adalah
v = 2 – 1 = 1 m/det
Waktu yang diperlukan
t = 150 / 1 = 150 detik

SOAL 4
Sebuah bola golf dipukul mendatar dengan laju 25 m/det dari suatu tee yang letaknya
lebih tinggi. Bola tadi mencapai fairway 2,5 detik kemudian.
 Berapa jarak mendatar yang ditempuh oleh bola golf ?
x = v
x
. t
= 25 . 2,5
= 67,5 m
 Berapa jarak tegak yang ditempuh bola ?
y = v
oy
.t – ½ gt
2

= 0 – ½ .10. 2,5
2

= - 31, 25 m
Fisika Dasar I
Halaman : 18/116

 Hitung komponen mendatar dan tegak dari kecepatannya, dan besar serta
arah dari resultan kecepatan tepat sebelum bola jatuh.
v
y
= v
oy
– gt
= 0 – 10. 2,5
= - 25 m/det
Besar kecepatan resultan
V = 25 2 m/det
Arah kecepatan resultan
tan θ = -25/25 = 1
θ = 45
O


2.11 SOAL-SOAL LATIHAN
SOAL 1
Sebuah peluru ditembakan dari atas permukaan bidang dengan kemiringan o= 25
0

terhadap bidang datar. Jika kecepatan awal peluru 81 mataus dengan arah | = 15
0

terhadap permukaan bidang miring, tentukan
a. Waktu yang dibutuhkan peluru untuk
sampai di permukaan bidang miring.
b. Jarak maksimum yang dapat dicapai
peluru pada bidang miring.
V
0

|
o

SOAL 2
Berdasarkan grafik V
x
– t di bawah ini,
V
x
(m/s)
a. sket kurva percepatan (a
x
) terhadap waktu
dalam selang waktu antara 0-20 det
b. Hitung percepatan rata-rata dalam selang
antara 0-15 det.
c. Sket kurva posisi terhadap waktu dalam t(s)
selang waktu antara 0-20 det




SOAL 3
Sebuah kereta mainan bergerak lurus dalam arah sumbu –x dengan kurva kecepatan
seperti pada gambar dibawah. Jika posisi mainan tersebut pada t=0 adalah –16 m.
a. Gambarkan kurva percepatan (a) vs waktu (t)
b. Pada selang kapan kereta mainan memiliki percepatan kearah sumbu-x positif,
dan kapan ke arah sumbu-x negatif.
c. Tentukan posisi kereta mainan tersebut pada t=22 s
d. Tentukan kecepatan rata-rata dari t=0 sampai t=22 s

5 10 15 20
5
10
Fisika Dasar I
Halaman : 19/116

V (m/s)



6


2
16
6 10 22 t(s)


-6



SOAL 4
Vy (m/s)
Suatu benda bergerak dalam bidang X, Y,
dengan V
x
= (2t
2
+ 3t – 5)m/s dan V
y
seperti
grafik pada gambar.Tentukan :
a. Vektor kecepatan pada saat t = 2 detik ! 7
b. Vektor percepatan pada saat t = 3 detik !
c. Posisi benda pada saat t = 0 detik 4
benda berada di (0, 0)!
2 5 8

SOAL 5
Pada suatu sungai terdapat dua buah dermaga A dan B yang jaraknya 1 mil. Dua
orang harus melakukan perjalanan dari dermaga A ke B dan kembali lagi ke A. Salah
seorang mendayung perahu dengan kecepatan 4 mil/jam terhadap air, dan orang yang lain
berjalan sepanjang tepi sungai dengan kecepatan 4 mil/jam. Kecepatan air sungai adalah
2 mil/jam dari A ke B. Berapa lama perjalanan masing-masing orang tadi ?

SOAL 6
Seseorang berjalan menuruti route A dan B (seperti pada gambar) sampai di
menara pada posisi C.
a. Tentukan posisi C dalam vektor satuan i
ˆ
dan j
ˆ

b. Tentukan sudut vektor C terhadap sumbu x
c. Jika route A ditempuh dalam waktu 4 jam dan route B ditempuh dalam
waktu 5 jam. Berapa kecepatan rata-rata untuk menempuh titik C.
Fisika Dasar I
Halaman : 20/116



C

C B



40 km
A 45
0

A
25 km
60
0




SOAL 7
Setelah mesin suatu perahu motor yang sedang melaju dimatikan, perahu tadi
mendapat percepatan yang arahnya berlawanan dengan arah perahu dan berbanding lurus
dengan pangkat dua kecepatannya. Yaitu dv/dt = -kv
2
, dimana k adalah suatu konstanta
 Buktikan bahwa besar v dari perahu pada suatu waktu setelah mesin
dimatikan adalah kt
v
1
v
1
o
+ =
 Buktikan bahwa dalam waktu t jarak x yang ditempuh adalah
) 1 t . k . v ln(
k
1
x
o
+ =
 Buktikan bahwa setelah menempuh x kecepatannya adalah
v = v
o
e
-kx


Sebagai contoh numerik, misalkan bahwa mesin dimatikan pada waktu
kecepatannya 6 m/det, dan dalam waktu 15 deetik kecepatannya menurun menjadi 3
m/det.
 Berapakah harga dari k dan satuannya ?
 Berapakah pecepatannya pada waktu mesin dimatikan
 Buatlah grafik dari x,v dan a selama 20 detik.

SOAL 8
Seorang pengemudi mobil hendak mendahului sebuah truk yang melaju dengan laju
tetap 20 m/det. Percepatan maksimum mobil pada kecepatan ini adalah 0,5 m/det
2
. Mula-
mula jarak kedua kendaraan adalah 25 m dan setelah 25 m dari truk mobil kembali ke
jalur yang sama dengan truk. Panjang mobil 5 m dan panjang truk 20 m.
 Berapa lama mobil mendahului truk ?
 Berapa jarak yang ditempuh mobil selama itu
 Berapa akhirnya laju mobil, bila dianggap selama mendahului truk
percepatannya tetap.

Fisika Dasar I
Halaman : 21/116

SOAL 9
Dua buah mobil A dan B melunjur sepanjang sebuah garis lurus. Jarak A terhadap
suatu titik awal adalah x
A
= 4t + t
2
. ; jarak B terhadap suatu titik awal adalah x
B
= 2t
2
+
2t
3
.
 Tepat setelah meninggalkan titik awal, mobil mana yang di depan ?
 Bilamana kedua mobil berada pada titik yang sama ?
 Bilamana kecepatan B relatif terhadap A adalah nol ?
 Bilamana jarak antara A dan B adalah tetap ?

SOAL 10
Sebuah bola baseball meninggalkan pemukulnya dengan sudut 30
O
di atas arah
mendatar, dan ditangkap oleh seorang pemain pada jarak 200 m dari tempat semula.
 Berapa laju awal bola ?
 Sampai berapa tinggi bola melambung ke atas ?
 Berapa lama bola berada di udara
 Berapa percepatan lari penangkap bola apabila pada saat awal ia diam dan
berada 100 m dari pemukul ?

SOAL 11
Pesawat terbang yang menukik dengan sudut 37
O
dengan arah mendatar
menjatuhkan karung pasir dari ketinggian 800 m. Karung tersebut tampak mengenai
tanah 5 detik setelah dilepaskan.
 Berapa laju pesawat terbang ?
 Berapa jarak mendatar yang ditempuh karung selama jatuh ?
 Berapakah komponen mendatar dan tegak kecepatan karung tepat sebelum
menyentuh tanah ?

SOAL 12
Seorang pengunjung mal melempar kulit pisang dengan arah mendatar.
Pengunjung tersebut berada dalam suatu eskalator berjalan yang menghubungkan antar
lantai di mal tersebut. Eskalator membentuk sudut 45
O
dengan lantai bawah dan bergerak
dengan kecepatan tetap 1 m/det. Pengunjung melempar kulit pisang setelah 3 detik berada
di eskalator dan kulit pisang jatuh pada jarak 5 m dari dasar eskalator. Berapa kecepatan
kulit pisang tersebut sesaat setelah dilemparkan pengunjung mal ?

SOAL 13
David Beckham akan melakukan tendangan bebas pada jarak 30 m tepat di muka
tiang kanan gawang yang tingginya 2,4 m dan lebar 7 m. Benteng yang dibentuk pemain
belakang Arsenal berada pada jarak 5 m dari bola. Tinggi rata-rata pemain belakang
arsenal adalah 1,9 m. Supaya bola masuk ke gawang dan tidak terjangkau oleh David
Seaman, Beckham harus mengarahkan bola tepat ke ujung tiang kiri gawang dan
melewati benteng pertahanan arsenal. Berapa kecepatan dan sudut elevasi bola yang
ditendang supaya bola masuk ke gawang arsenal ?




Fisika Dasar I
Halaman : 22/116

BAB III
DINAMIKA


3.1 PENDAHULUAN
Seperti telah dibahas di bab
sebelumnya, dalam mekanika terdapat
dua komponen utama yang akan kita
pelajari yaitu kinematika dan dinamika.
Dalam bab ini kita akan membahas lebih
dalam tentang dinamika dimana dalam
dinamika gerakan yang terjadi tidak
hanya dianalisa profil gerakannya saja
namun juga menganalisa penyebab
timbulnya gerakan tersebut. Ada
beberapa topik yang dibahas dalam dinamika ini diantaranya adalah teori dasar dan
aplikasi hukum newton untuk menganalisa gerakan.

3.2 DESKRIPSI GAYA - GAYA
Dalam menganalisa dinamika suatu gerak, kita harus mengetahui gaya apa saja
yang bekerja pada benda tersebut. Tabel berikut ini memperlihatkan beberapa jenis gaya
yang sering kita temui dalam menganalisa dinamika suatu benda yang bergerak.
Jenis gaya dan
simbolnya
Deskripsi Gaya
Gaya luar

F
Gaya luar adalah gaya yang diberikan pada suatu benda oleh benda
lain atau oleh seseorang. Jika seseorang mendorong sebuah lemari di
dalam ruangan, maka pada lemari akan bekerja gaya luar akibat
dorongan orang.
Gaya Gravitasi
(juga dikenal
sebagai gaya
berat)

W
Gaya gravitasi adalah gaya yang diakibatkan oleh tarikan benda-
benda masif seperti bumi atau bulan yang bekerja pada suatu benda
lainnya. Dapat juga didefinisikan bahwa gaya gravitasi adalah gaya
berat benda yang bersangkutan. Arah dari gaya berat selalu menuju
pusat massa benda masif. Gaya berat dapat dinyatakan oleh
persamaan

g . m W =

dimana  W : gaya berat (N)
m : massa benda (kg)
g : percepatan gravitasi (m/s
2
)
Fisika Dasar I
Halaman : 23/116

Gaya Normal

N

Gaya normal adalah gaya tambahan yang muncul apabila suatu
benda berada di atas permukaan benda yang stabil. Arah gaya
normal selalu keluar tegak lurus permukaan tersebut.
Misalkan jika kita meletakkan suatu balok di atas meja, maka gaya
normal yang terjadi adalah gaya yang tegak lurus permukaan meja
keluar dari balok. Dapat juga didefinisikan gaya normal adalah gaya
reaksi oleh permukaan terhadap benda yang menekan permukaan
tersebut.


Gaya Gesekan
f
Gaya gesekan adalah gaya yang muncul ketika sebuah benda
bergerak dalam lintasan yang kasar. Arah gaya gesekan selalu
berlawanan dengan arah gerakan benda.
Misalkan sebuah buku diatas meja yang digeser sepanjang
permukaan benda. Akan terjadi gaya gesekan antara permukaan
buku dan permukaan benda yang menghambat gerakan buku di
permukaan meja. Jika buku digerakkan ke kanan maka arah gaya
gesekan adalah ke kiri. Gaya gesekan dinyatakan dalam persamaan
berikut ini
N . f µ =

Dimana
µ : Koefisien gesekan permukaan
N : Gaya Normal


Gaya Tegangan
Tali

T
Gaya tegangan tali muncul jika benda diikat dengan sebuah tali yang
ringan (massanya dapat diabaikan). Arah gaya tegangan tali selalu
keluar dari pusat massa benda

3.3 HUKUM NEWTON I TENTANG GERAK
Hukum Newton I pada dasarnya membahas tentang suatu benda yang berada dalam
keadaan statis. Suatu benda disebut berada dalam keadaan statis apabila benda tersebut
diam atau benda bergerak dengan kecepatan tetap. Sering kali hukum Newton I
dinyatakan sebagai berikut “Sebuah benda yang diam akan tetap diam dan benda yang
sedang bergerak akan tetap bergerak dengan kelajuan dan arah yang sama”. Pernyataan
di atas biasa disebut dengan hukum kelembaban.
Banyak sekali hal-hal di dalam kehidupan sehari-hari yang bisa dianalisa dengan
hukum Newton I ini. Sebagai ilustrasi misalkan ada sebuah truk kontainer yang
didalamnya berisi sebuah akuarium yang diisi penuh oleh air. Air tidak akan tumpah dari
akuarium selama truk kontainer tersebut berada dalam keadaan diam atau bergerak
dengan kecepatan tetap. Pada saat air tidak tumpah itulah hukum Newton I berkerja.
Fisika Dasar I
Halaman : 24/116

Dalam bentuk persamaan matematika, hukum Newton I dapat dinyatakan sebagai berikut



Resultan gaya yang bekerja pada suatu benda selalu sama dengan nol jika benda
tersebut diam atau bergerak dengan kecepatan tetap. Seperti disebutkan sebelumnya
hukum Newton I ini disebut juga hukum kelembaban yaitu suatu hukum yang
menyatakan bahwa suatu benda yang diam atau bergerak dengan kecepatan tetap akan
cenderung untuk mempertahankan gerakannya tersebut.
Selain itu hukum newton I juga sering disebut hukum kesetimbangan karena benda
yang diam atau bergerak dengan kecepatan tetap dikatakan mempunyai kesetimbangan
dalam gaya.

3.4 HUKUM NEWTON II TENTANG GERAK
Hukum Newton II pada dasarnya mengatur dinamika benda yang
mempunyai percepatan tetap. Artinya benda tidak berada dalam keadaan
kesetimbangan sehingga resultan gaya-gaya yang bekerja pada benda tidak sama
dengan nol. Secara matematik hukum Newton II tentang gerak dapat dinyatakan
dalam persamaan



Misalkan seseorang yang duduk diatas
kereta luncur yang bergerak di atas es. Kita
bisa menggambarkan gaya-gaya yang
bekerja pada kereta luncur tersebut seperti
diperlihatkan dalam gambar di samping.
Jika kita misalkan gerakan kereta luncur
berada dalam sumbu horizontal, dengan
hukum Newton II kita akan mendapatkan
persamaan
g . a
a . m g . m .
a . m N .
a . m f
a . m F
µ ÷ =
= µ ÷
= µ ÷
= ÷
=
¿

Dari hasil yang didapat kita bisa menyimpulkan bahwa benda bergerak
dengan percepatan negatif. Artinya bahwa kereta luncur tersebut semakin lama
akan semakin berkurang kecepatannya karena adanya gesekan antara permukaan
kereta luncur dan permukaan es

¿
= 0 F

¿
= a . m F
Fisika Dasar I
Halaman : 25/116

3.5 HUKUM NEWTON III
Suatu gaya dinamakan gaya tarik atau gaya dorong
pada suatu benda yang dihasilkan akibat adanya interaksi
dengan benda lain. Gaya dihasilkan oleh interaksi dua
benda. Beberapa gaya yang dihasilkan oleh interaksi
kontak seperti gaya normal, gaya gesekan dan gaya tekan
dimasukkan ke dalam kelompok gaya kontak. Gaya gaya lain yang dihasilkan
sebagai reaksi dengan jarak tertentu seperti gaya gravitasi , gaya listrik, gaya
Lorentz dinamakan “gaya reaksi jarak”. Menurut Newton, ketika dua benda
berinteraksi satu sama lain, mereka akan menghasilkan gaya satu sama lain.
Ketika anda duduk di atas kursi, tubuh anda akan memberikan gaya ke bawah
kepada kursi sementara kursi akan memberikan gaya ke atas terhadap tubuh anda
dengan besar yang sama. Akan ada dua gaya dalam interaksi ini, pertama adalah
gaya terhadap tubuh dan gaya
terhadap kursi. Kedua gaya ini
dinamakan gaya aksi dan reaksi
yang merupakan subjek utama
dalam hukum Newton III.

Secara garis besar hukum Newton
III menyatakan bahwa setiap ada aksi
terhadap suatu benda benda tersebut akan
memberikan reaksi dengan besar yang
sama namun arah yang berlawanan.
Pernyataan tersebut berarti bahwa gaya-
gaya aksi reaksi merupakan satu pasangan
gaya dengan besar yang sama dan arah
yang beralawanan.

Gaya aksi reaksi dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Misalkan
gerakan pada ikan di dalam air. Ikan menggunakan siripnya untuk mendorong air
ke belakang, tetapi dorongan terhadap air tersebut akan menyebabkan air bergerak
ke belakang dengan percepatan tertentu. Karena mendapat aksi dari ikan, air akan
memberikan reaksi berupa gaya dorong yang berlawanan artinya air akan
mendorong ikan ke depan dengan gaya yang sama.
Contoh lain adalah burung yang terbang di udara. Sayap burung yang
mengepak akan menyebabkan udara terdorong ke bawah,
tetapi di lain pihak udara akan mendorong balik burung ke
atas sebagai reaksi atas gaya yang diberikan sayap burung
ke udara.
Dalam persamaan matematis, hukum Newton III
dapat dinyatakan dengan




¿ ¿
÷ =
reaksi aksi
F F

Fisika Dasar I
Halaman : 26/116

3.6 CONTOH SOAL
SOAL 1













Sebuah balok dengan massa 10 kg terletak di permukaan yang licin. Balok
kemudian diberi gaya sebesar 20 N. Jika diasumsikan pada saat awal balok berada dalam
keadaan diam, hitunglah kecepatan balok ketika balok telah bergeser sejauh 25 m

SOLUSI :
Karena benda bergerak dan gaya yang bekerja pada benda tidak setimbang maka kita bisa
meneraokan hukum Newton II disini
¿
= a . m F
F = m.a
20 = 10 a
a = 2 m/s
2

Kemudian kita gunakan persamaan yang berlaku dalam GLBB
as v v
o t
2
2 2
+ =
25 2 2 0
2
2
. . v
t
+ =
100
2
=
t
v
v
t
= 10 m/s

SOAL 2
Dua buah balok yang bermassa 2 kg dan 4 kg terhubung oleh tali dan terletak diatas
lantai dasar kasar dengan koefisien gesekan statik 1/3 dan koefisien gesekan kinetik ¼.
Benda 4 kg ditarik oleh gaya F yang membentuk sudut 37
0
dengan bidang horizontal.








m
F
a
m

d
F

2 kg 4 kg
Fisika Dasar I
Halaman : 27/116


a. Gambarkan diagram gaya pada masing-masing benda










b. Tentukan gaya tegangan tali T dan percepatan kedua benda bila
diberikan gaya F = 15 N
Di benda A
∑F
yA
= 0
N
A
– W
A
= 0
N
A
= W
A
= 20 N
Gaya gesekan benda A dengan permukaan lantai
Gaya gesekan statik  f
A
= 1/3 . 20 = 6,67 N
Gaya gesekan kinetik  f
A
= 1/4 . 20 = 5 N

∑F
xA
= m
A
.a
T – f
A
= m
A
.a
T – f
A
= 2a
T – 6,67 = 0
T = 6,67 N (Asumsi benda mulai akan bergerak)

Di Benda B
∑F
yB
= 0
F sin 37 + N
B
– W
B
= 0
15 . 3/5 + N
B
– 40 = 0
N
B
= 31 N
Gaya gesekan benda B dengan permukaan lantai
Gaya gesekan statik  f
B
= 1/3 . 31 = 10,33 N
Gaya gesekan kinetik  f
B
= 1/4 . 31 = 7,75 N

∑F
xB
= F cos 37 – T – f
B

= 15 . 4/5 – 6,67 – 10,33
= 12 – 6,67 – 10,33
= - 5 N
Karena resultan gaya dalam sumbu x di benda B < 0 dapat kita
simpulkan bahwa sistem belum bergerak atau gaya yang diberikan belum
cukup untuk menggerakkan sistem.

F.cos 37
O

T
f
A
f
B


F
N
A
N
B

W
A
W
B

Fisika Dasar I
Halaman : 28/116

c. Tentukan gaya tegangan tali T dan percepatan kedua benda bila
diberikan gaya F = 50 N
Untuk F = 50 N dengan cara yang sama akan didapatkan
∑F
xB
= F cos 37 – T – f
B

= 50 . 4/5 – 6,67 – 10,33
= 40 – 6,67 – 10,33
= 23 N
Artinya sekarang gaya tersebut telah cukup untuk menggerakkan sistem.
Maka gaya gesekan yang kita gunakan sekarang adalah gaya gesekan
kinetik.
T = f
A
(kinetik) = 5 N
∑F
xB
= m
B
.a
F cos 37 – T – f
B

50 . 4/5 – 5 – 7,75 = 4a
a = 4,875 m/det
2
.

SOAL 3
Dua buah benda dihubungkan melalui 2 buah katrol seperti pada gambar di bawah
ini. Ujung tali dikaitkan pada gantungan . anggaplah tali dan katrol tidak bermassa. Jika
diketahui m
1
= 1 kg, m
2
= 1,2 kg, dan bidang mendatar adalah licin,











a. Gambarkan diagram gaya untuk masing-masing benda
Benda 1






Benda 2





m
1

m
2

W
1

N
1

T
W
2

2T

Fisika Dasar I
Halaman : 29/116

o = 30
0

F
b. Hitunglah percepatan m
1
dan m
2

Di benda 1
∑F
x1
= m
1
.a
1

T = m
1
. a
1

T = a
1

a
1
= 2a
2
 T = 2a
2


Di Benda 2
∑F
y2
= m
2
.a2

W
2
– 2T = m
2
.a2
12 – 4a
2
= 1,2 a2

a
2
= 2,3 m/det
2
 a
1
= 4,6 m/s
2


c. Jika bidang datar adalah kasar, tentukan koefisien (minimum) agar
benda dalam kesetimbangan (tidak bergerak)
∑F
x1
= 0
T – f
1
= 0
T – μ.N
1
= 0
T – μ.W
1
= 0
T = μ.W
1

T = 10 μ

∑F
y2
= 0
W
2
– 2T = 0
12 – 20μ = 0
μ = 0,6

SOAL 4
Suatu benda bermassa 20 kg berada diatasbidang miring (o = 30
0
) yang kasar (µ
k
= 0,1;
µ
s
= 0,4). Benda tersebut dikenai gaya horisontal F. Tentukan besar F pada saat benda
tepat akan bergerak ke atas.





Diagram gaya pada benda







∑F
y
= 0
N – F sin 30
O
– W cos 30
O
= 0
N =
2
1
F + 20 . 3
2
1

N
Fcos 30
O

Fsin 30
O
+ W cos 30
O

f + W sin 30
O

Fisika Dasar I
Halaman : 30/116

N =
2
1
F + 3 10

∑F
x
= 0
f + W sin 30
O
– F cos 30
O
= 0
μ.N + 20.
2
1
- F. 3
2
1
= 0
μ.(
2
1
F + 3 10 ) + 10 - 3
2
1
F = 0

5
1
F - 4 3 + 10 - 3
2
1
F = 0
F = 260,4 N

3.7 SOAL-SOAL LATIHAN
SOAL 1
Balok bermassa 4 kg digantungkan melalui tali bermassa pada balok lain yang
bermassa 6 kg. Jika gaya keatas sebesar 200 N dikenakan pada balok 6 kg.
a. Gambarkan diagram gaya bebas untuk masing-masing balok.
b. Hitung percepatan sistem
c. Berapa tegangan tali di posisi tengah-tengah tali.

SOAL 2
Benda yang massanya m
1
berada diatas bidang miring bermassa m
2
yang
mempunyai sudut kemiringan o terhadap bidang datar. Bidang miring tersebut berada
diatas permukaan meja datar (lihat gambar). Jika gesekan antara benda dan bidang miring
serta antara bidang miring dan meja diabaikan,
a. Gambarkan diagram gaya-gaya yang bekerja pada masing-masing benda!
b. Tentukan percepatan gerak bidang miring relatif terhadap lantai !
c. Tentukan hubungan antara m
1
dan m
2
agar benda m
1
tidak bergerak relatif
dalam arah horizontal terhadap lantai !












MEJA
m
2

m
1

Fisika Dasar I
Halaman : 31/116

SOAL 3
Dua buah benda dengan massa m
1
=2 kg dan m
2
= 5 kg terletak berdampingan
diatas lantai kasar (µ
s
= 0,5 dan µ
k
= 0,3) seperti terlihat pada gambar.
a. Berapakah besar gaya minimum F yang harus diberikan supaya kedua benda
hampir bergerak?
b. Hitung percepatan benda bila gaya ini tetap dipertahankan setelah benda
bergerak !
c. Berapakah besar gaya kontak kedua benda ?
d. Bila letak benda dipertukarkan, berapakah besar gaya kontak antar kedua benda
untuk gaya luar yang sama ?







SOAL 4
Dua buah balok masing-masing massanya 20 kg, diam di atas bidang licin seperti
terlihat dalam gambar. Dengan anggapan bahwa katrol adalah ringam dan licin,
hitunglah
 waktu yang diperlukan oleh balok A untuk bergerak 1 m ke bawah dari
keadaan diam
 tegangan pada tali yang menghubungkan kedua balok.









SOAL 5
Sebuah balok yang massanya 0,2 kg berada di atas balok yang massanya 0,8 kg.
Kombinasi ini ditarik sepanjang permukaan mendatar dengan kecepatan tetap oleh balok
menggantung yang massanya 0,2 kg seperti pada gambar.











u

u = 30
O

0,2 kg
0,2 kg
0,8 kg
m
2

m
1
F
Fisika Dasar I
Halaman : 32/116

 Berapakah tegangan pada tali yang dihubungkan pada balok 0,8 kg ?
 Balok 0,2 kg yang pertama diambil dari balok 0,8 kg dan digabungkan
dengan balok yang menggantung seperti pada gambar. Sekarang berapakah
percepatan sistem.












SOAL 6
Balok A pada gambar di bawah mempunyai massa 2 kg dan balok B 20 kg.
Koefisien gesekan kinetik antara balok A dan B dengan permukaan datar adalah 0,1.









 Berapakah massa balok C bila percepatan B adalah 2 m/det
2
ke kanan
 Berapakah tegangan pada masing-masing tali ?

SOAL 7
Dua buah balok dihubungkan dengan seutas tali yang melalui katrol kecil licin
berada di atas bidang licin seperti pada gambar.
 Kemana sistem akan bergerak ?
 Berapa percepatan balok-balok tersebut ?
 Berapa tegangan tali ?









0,2 kg
0,8 kg
B
A
C
u
1
= 30
O
u
2
= 53
O

50 kg
100 kg
u
1
u
2
Fisika Dasar I
Halaman : 33/116

SOAL 8
Dua buah balok 0,2 kg digantungkan pada ujung-ujung tali yang lentur dan melalui
sebuah katrol ringan yang licin seperti pada gambar. Sebuah balok 0,1 kg diletakkan di
sebelah kanan dan diambil lagi setelah 2 detik.
 Berapa jauhnya masing-masing balok akan bergerak selama satu detik yang
pertama setelah balok 0,1 kg diambil ?
 Berapa tegangan tali sebelum balok 0,1 kg diambil ? dan setelah diambil ?
 Berapa tegangan tali penggantung katrol sebelum balok 0,1 kg diambil ?











SOAL 9
Dua buah balok yang massanya masing-masing 4 kg dan 8 kg dihubungkan dengan
seutas tali dan meluncur ke bawah pada papan miring 30
0
, seperti pada gambar 4-19.
Koefisien gesekan kinetik antara balok 4 kg dan 8 kg dengan papan masing masing
sebesar 0,25 dan 0,50.








 Hitunglah percepatan masing-masing balok
 Hitunglah tegangan pada tali

SOAL 10
Berapakah seharusnya percepatan kereta pada gambar agar balok A tidak jatuh ?
Misalkan koefisien gesekan statis antara balok A dan permukaan kereta adalah µ
S
.








0,2 kg
0,2 kg
4 kg
8 kg
30
o

A
Fisika Dasar I
Halaman : 34/116

SOAL 11
Berat balok B dalam gambar adalah 710 N. Koefisien gesekan statik antara balok
dan meja adalah 0,25. Tentukanlah berat maksimum balok A agar sistem berada dalam
keadaan setimbang
















SOAL 12
Sebuah balok bermassa 4 kg diletakkan di atas balok lain yang bermassa 5 kg. Bila
balok yang di bawah dijaga tetap, maka untuk menggerakkan balok yang di atas harus
diberikkan gaya horizontal sebesar 12 N pada balok tersebut. Sekarang susunan balok
diletakkan di atas lantai horizontal yang licin. Tentukanlah ,
- Gaya horizontal maksimum F yang dapat dikenakan pada balok bawah agar
kedua balok tersebut dapat bergerak bersama-sama.
- Tentukanlah percepatan keduanya.









SOAL 13
Sebuah gaya horizontal sebesar 12 N mendorong balok yang beratnya 5 N ke arah
dinding vertikal. Koefisien gesekan statik antara antara dinding dan balok adalah 0,6 dan
koefisien gesekan kinetiknya 0,4. Anggap bahwa balok mula-mula diam,
 Apakah balok akan mulai bergerak ?
 Berapakah gaya yang dilakukan pada balok oleh dinding ?

45
O

A
1
B

4 kg
5 kg
F


Fisika Dasar I
Halaman : 35/116

SOAL 14
Sebuah balok logam massanya 10 kg diam di atas meja horizontal. Koefisien
gesekan statik antara balok dan permukaan meja adalah 0,5.
- Berapakah besar gaya horizontal yang diperlukan sehingga balok akan mulai
bergerak ?
- Berapakah besar gaya yang berarah 60
O
ke atas dari horizontal yang dapat
menyebabkan balok mulai bergerak ?
- Jika gaya tersebut berarah 60
O
ke bawah dari hprizontal , berapakah besar gaya
yang mungkin diberikan tanpa menyebabkan balok tersebut bergerak ?





































Fisika Dasar I
Halaman : 36/116

BAB IV
USAHA DAN ENERGI


4.1 Usaha
Di dalam fisika usaha dan energi merupakan suatu pengertian yang sering
dipergunakan orang. Kedua besaran ini mempunyai karakteristik dan satuan yang sama.
Kedua besaran saling bergantungan satu sama lain membentuk suatu konsep yang
dinamakan konsep usaha dan energi.
Usaha didefinisikan sebagai suatu tenaga yang dibutuhkan untuk memindahkan
benda sehingga posisinya berubah. Secara matematis usaha adalah perkalian skalar dua
vektor yaitu vektor gaya dan perpindahan. Karena perkalian kedua vektor tersebut
menghasilkan besaran skalar maka usaha juga merupakan besaran skalar. Sehingga
besarnya usaha dapat dinyatakan dalam persamaan :






Dimana u adalah besar sudut yang dibentuk oleh F dan s
Misalkan seorang pelayan restoran yang membawa
piring berisi makanan. Pelayan memberikan gaya vertikal
untuk menahan piring tersebut agar tidak jatuh. Namun
pelayan bergerak secara horizontal untuk memberikan
piring tersebut kepada pemesan. Artinya usaha yang
dilakukan pelayan untuk memindahkan piring tersebut
dalam arah horizontal adalah nol karena sudut yang
dibentuk gaya dan perpindahan adalah 90
O
.

Misalkan seekor anjing yang diikat dengan
rantai seperti terlihat dalam gambar disamping.
Usaha yang diperlukan untuk memindahkan anjing
tersebut dalam arah horizontal besarnya bergantung
pada nilai kosinus sudut u.
Satuan dari usaha adalah perkalian satuan
gaya (N) dan satuan perpindahan (m) sehingga
satuan untuk kerja haruslah N.m. Dalam fisika
satuan N.m disebut dengan joule.

4.2 Gaya Konservatif dan Gaya Non-Konservatif
Dalam menganalisa konsep usaha dan energi terlebih dahulu kita harus
mendefinisikan suatu konsep gaya yang dikenal dengan gaya konservatif. Gaya
konservatif adalah suatu gaya yang besarnya tidak bergantung pada lintasan yang
ditempuhnya. Contoh dari gaya konservatif adalah gaya gravitasi di permukaan bumi.
Sementara gaya non-konservatif adalah gaya yang besarnya bergantung pada lintasan
yang ditempuhnya. Salah satu contoh dari gaya non-konservatif adalah gaya gesekan.

s F W


- =

u = cos . s . F W
Fisika Dasar I
Halaman : 37/116

Seperti telah dibahas sebelumnya usaha atau kerja adalah perkalian antara gaya dan
perpindahan. Kerja oleh gaya konservatif tidak akan mengurangi energi suatu benda
sementara kerja yang dilakukan oleh gaya non-konservatif akan mengurangi jumlah
energi dari benda tersebut.

4.3 Energi
Dalam kehiduan sehari-hari kita sering kali mendengar orang menyebutkan kata
energi untuk berbagai maksud. Misalkan energi bahan bakar , energi yang dihubungkan
dengan gerak yaitu suatu benda yang bergerak dengan cepat dikatakan memiliki energi
yang besar. Kemudian energi juga sering kali dihubungkan dengan kerja, seseorang yang
bekerja dengan keras dikatakan telah menghabiskan energi yang cukup besar. Dari
pengertian-pengertian tersebut di atas bisa kita katakan bahwa energi adalah suatu
besaran yang tidak mudah didefinisikan dengan singkat dan tepat.
Dalam fisika kita mendefinisikan energi sebagai kemampuan untuk melakukan
kerja. Energi di alam merupakan suatu besaran yang kekal. Energi tidak dapat
dimusnakan namun dapat dipindahkan kedalam bentuk energi yang lainnya. Proses
perubahan energi inilah yang menjadi dasar dari peralatan-peralatan yang sering kita
gunakan sehari-hari. Misalkan untuk menggerakkan mobil kita membutuhkan bahan
bakar artinya kita mendapatkan energi dalam bentuk gerak dengan terlebih dahulu
memberikan energi dalam bentuk kalor.
Dalam bab ini kita akan lebih menekankan pada analisis energi mekanik yang
terdiri dari energi kinetik dan energi potensial.

4.3.1 Energi Kinetik
Energi kinetik adalah energi yang dimiliki oleh benda yang bergerak dengan
kecepatan tertentu. Semakin besar kecepatannya maka energi yang dimilikinya
akan semakin besar pula. Energi kinetik dapat dinyatakan dalam persamaan





4.3.2 Energi Potensial
Suatu benda dapat menyimpan energi karena adanya
perubahan posisinya. Suatu balok yang tergantung pada
ketinggian tertentu akan menyimpan energi. Energi tersebut
akan bisa digunakan jika balok tersebut berubah posisinya
dalam hal ini tali pengikatnya diputus. Energi yang muncul
karena adanya perpindahan posisi yang melawan gaya gravitasi
dinamakan energi potensial. Energi potensial dapat dinyatakan
dalam persamaan




2
K
v . m
2
1
E =

h . g . m E
p
=

Fisika Dasar I
Halaman : 38/116

4.3.3 Energi Mekanik
Energi mekanik adalah energi yang dimiliki oleh benda karena benda
tersebut bergerak atau karena benda tersebut menyimpan energi potensial. Energi
mekanik bisa berupa energi kinetik, energi potensial ataupun keduanya. Suatu
objek dikatakan mempunyai energi mekanik jika objek tersebut bergerak atau
berada pada posisi yang relatif terhadap posisi dengan energi potensial nol. Energi
mekanik dapat dinyatakan dalam persamaan



Suatu benda yang memiliki energi mekanik dapat melakukan kerja.
Sehingga seperti telah disebutkan dalam bagian sebelumnya kita dapat
mempersempit definisi energi mekanik sebagai kemampuan untuk melakukan
kerja.

Misalkan untuk gambar di atas , suatu balok kayu yang tergantung memiliki
energi potensial yang sewaktu-waktu bisa digunakan. Ketika tali tersebut putus,
balok melepaskan energi potensial dan merubahnya menjadi energi kinetik.
Kemudian ketika balok mengenai kayu energi kinetik tersebut digunakan sebagai
kerja untuk menancapkan kayu ke dalam tanah.

4.3.4 Hukum Kekekalan Energi Mekanik
Seperti dibahas dalam bagian sebelumnya, energi di dalam tidak dapat
dimusnahkan namun dapat ditransformasikan ke dalam bentuk energi lainnya.
Hukum kekekalan energi mekanik mengatur tentang bagaimana proses
perpindahan energi tersebut terjadi.
Jika pada suatu benda bekerja gaya konservatif maka kerja yang dilakukan
untuk melawan gaya ini akan memindahkan energi dari pelaku gaya menjadi
energi tersimpan yaitu energi potensial. Jika benda bergerak melawan gaya ini
maka energi kinetiknya akan diubah menjadi energi potensial. Dapat disimpulkan
bahwa kerja melawan gaya konservatif tidak membuang energi. Karena gaya
konservatif adalah gaya yang besarnya tidak bergantung pada lintasan benda maka
kerja yang dilakukan oleh gaya ini dalam geraknya pada suatu lintasan tertutup
adalah sama dengan nol. Secara matematik kerja yang dilakukan oleh gaya
konservatif dalam lintasa tertutup dapat dinyatakan dengan persamaan



P K M
E E E + =

}
= 0 r d . F



Fisika Dasar I
Halaman : 39/116


Jika gaya-gaya yang bekerja pada suatu benda adalah gaya konservatif maka
energi mekanik total benda tersebut akan tetap. Namun bagaimana jika pada suatu
benda bekerja gaya non-konservatif ?
Gaya non-konservatif yang bekerja pada suatu benda akan mengurangi
jumlah energi mekanik benda karena kerja yang dilakukan gaya non-konservatif
adalah kerja yang membuang energi. Hukum kekekalan energi secara umum dapat
dinyatakan dalam persamaan matematik sebagai berikut




Jika pada benda tidak ada gaya non-konservatif yang bekerja maka hukum
kekekalan energi akan mempunyai persamaan sebagai berikut







Gambar di atas adalah seorang pemain ski yang menuruni lereng gunung.
Misalkan tidak terjadi gesekan antara lereng gunung dengan permukaan papan
ski, maka tidak terdapat gaya non-konservatif selama gerakan artinya energi
mekanik sistem selalu tetap dimanapun dia berada. Namun besarnya energi
kinetik dan potensial sistem bisa saja berubah menurut kecepatan dan ketinggian
pemain ski pada saat itu.
Akhir f konservati Non l Awa
EM W EM = ÷
÷

akhir akhir nk akhir awal
EK EP S . F EK EP + = ÷ +

Akhir l Awa
EM EM =

akhir akhir akhir awal
EK EP EK EP + = +

Fisika Dasar I
Halaman : 40/116


Misalkan sebuah mobil yang bergerak dengan kecepatan tertentu sehingga
mempunyai energi mekanik awal sebesar 320000 J. Kemudian mobil di rem
sehingga terjadi gesekan antara ban dengan permukaan jalan sebesar 8000 N. Kita
ingin menghitung berapa energi mekanik mobil setelah direm sejauh 30m. Dalam
kasus ini kita menemukan gaya non-konservatif (gaya gesekan) yang bekerja pada
sistem sehingga persamaan kekekalan energi untuk sistem ini dapat dituliskan
akhir nk awal
EM W EM = ÷

akhir
EM ) 30 x 8000 ( 320000 = ÷

J . 80000 240000 320000 EM
akhir
= ÷ =


4.4 CONTOH SOAL
SOAL 1
Pegas suatu senapan mempunyai tetapan gaya sebesar 500 N/m. Pegas ditekan 0,05
m dan sebuah bola yang bermassa 0,01 kg diletakkan di dalam laras senapan pada ujung
pegas tadi. Hitunglah kecepatan maksimum bola meninggalkan senapan bila pegas
dilepas.
Energi potensial pegas
E
P
= ½ kx
2

= ½.500.(0,05)2
= 0,625 J
Energi potensial pegas tersebut seluruhnya digunakan bola untuk menambah
kecepatannya (energi kinetiknya).
0,625 = ½ mv
2

0,625 = ½ . 0,01.v
2

v = 11,18 m/det

SOAL 2
Dibutuhkan suatu pompa untuk mengangkat air 800 kg dari sebuah sumur yang
dalamnya 10 m dan menyemprotkannya dengan laju 20 m/det. Berapa daya pompa
tersebut jika air terangkat semuanya dalam 4 menit ?
Energi potensial untuk mengangkat air adalah
E
P
= m.g.h
= 800.10.10
= 80 kJ

Fisika Dasar I
Halaman : 41/116

Energi kinetik air dengan kecepatan 20 m/det adalah
E
k
= ½ mv
2

= ½ . 800.20
2

= 160 kJ

Energi yang harus ditangani pompa
E = 240 kJ
Daya pompa
P = E/t
= 240 kJ / 4.60 det
= 1 kW

SOAL 3
Sebuah bola bermassa 1 kg meluncur pada lintasan seperti pada gambar berikut.
Bidang lengkung adalah licin, sedangkan bidang yang lainnya kasar dengan µ = 0,2. Bola
dilepas dari titik A pada ketinggian 3 m dari bidang datar. Jika panjang lintasan datar 6 m
dari tanah, tentukan :












a. kerja yang dilakukan oleh gaya gesek pada lintasan ABC
Gaya gesekan hanya bekerja pada permukaan BC sepanjang 6 m. Besarnya
gaya gesekan adalah
f = µ.N
= µ.m.g
= 0,2.1.10
= 2 N
Kerja oleh gaya gesekan dinyatakan oleh
W
ges
= f.s
= 2.6
= 12 J
b. ketinggian bola dari bidang datar saat berhenti pertama kali.
Pada sistem ini terdapat energi mekanik yang hilang karena adanya gaya
gesekan yang berkerja pada benda. Sehingga hukum kekekalan energi mekanik
dapat dituliskan sebagai
EM
awal
– E
hilang
= EM
akhir

EK
A
+EP
A
– W
ges
= EK
akhir
+EP
akhir

0 + mgh
A
– W
ges
= 0 + mgh
1.10.3 – 12 = 1.10.h
h = 1,8 m
L
A
B C
Fisika Dasar I
Halaman : 42/116

SOAL 4
Sebuah balok bermassa 1 kg menumbuk pegas horizontal (abaikan massanya)
dengan konstanta pegas sebersar 2 N/m. Balok menekan pegas sejauh 4 m dari posisi
setimbangnya. Bila dianggap koefisien gesekan kinetik antara balok dengan permukaan
horizontal adalah 0,25 , berapakah laju balik pada saat mulai bertumbukan ?
Energi yang dimiliki balok dipergunakan untuk menekan pegas dan sebagian
hilang karena adanya gaya gesekan antara balok dengan lantai. Energi potensial
pegas yang tertekan dapat dinyatakan dengan persamaan
EP
pegas
= ½ k x
2

= ½ . 2. 4
2

= 16 J
Sementara energi yang hilang karena gaya gesekan adalah
W
ges
= µ.m.g.x
= 0,25 . 1. 10 .4
= 10 J
Energi total yang dipergunakan untuk menekan pegas dan yang hilang karena
gesekan berasal dari energi kinetik balok
EK = 16 + 10
½ .m.v
2
= 26
½ v
2
=26  v = 7,21 m/det

4.5 SOAL-SOAL LATIHAN
SOAL 1
Sebuah benda dengan massa 2 kg diletakan di atas bidang miring kasar (µ
k
= 0,8).
Benda tersebut didorong sedemikian rupa sehingga meluncur ke bawah dan di posisi A
memiliki kecepatan V
A
= 0,6 m/s. sebuah pegas dengan konstanta pegas k = 16 N/m
diletakan di ujung bidang miring dan dalam posisi ( jarak A-B adalah 0,25 m).












a. Hitung usaha oleh gaya gesek saat benda bergerak dari A ke B.
b. Hitung kecepatan benda di B, sesaat sebelum mendorong pegas.
c. Jika benda mendorong pegas hingga kecepatan benda menjadi nol, pegas
terdorong sejauh ( Al)
max
. Hitunglah ( Al)
max
ini !

A

B
ç
tan ç = 3/4
Fisika Dasar I
Halaman : 43/116

SOAL 2
Sebuah tangga berjalan (eskalator) menghubungkan satu lantai dengan lantai
lainnya setinggi 8 m. Panjang eskalator tersebut 10 m dan bergerak dengan laju 0,5 m/s.
Berapakah daya yang harus diberikan oleh motor eskalator untuk dapat membawa
maksimum 100 orang tiap menitnya yang rata-rata mempunyai massa 60 kg.

SOAL 3
Sebuah benda (m = 4 kg) yang awalnya diam,meluncur turun pada bidang miring
(o = 30
0
) menempuh jarak 0,5 m. koefisien gesekan kinetik benda pada bidang miring (µ
k) adalah 0,2.
Tentukan:
a. Kerja oleh gaya berat
b. Kerja oleh gaya gesek !
c. Kecepatan akhir benda !

SOAL 4
Suatu medan menghasilkan gaya F = ( ) j y x i y x
 
3 2 2
2 3 + N.
Dengan menggunakan gambar lintasan disamping ini, hitung usaha yang diperlukan
untuk memindahkan benda dari A ke D melalui lintasan
a. AD
b. ABCD
c. Apakah medan gaya ini konservatif? Jelaskan!














SOAL 5
Dua orang anak sedang bermain permainan menembak kotak kecil di atas lantai
dengan menggunakan senapan pegas yang diisi kelereng. Senapan diletakkan di atas meja
horizontal tanpa gesekan seperti dalam gambar. Anak pertama menekan pegas sejauh 1
cm dan kelereng jatuh 20 cm di muka sasaran yang berjarak horizontal 2 m dari tepi
meja. Berapa jauh anak kedua harus menekan pegas agar kelereng tersebut tepat jatuh ke
daam kotak sasaran ?
B
=
2
x
y
D
A
C
B=(4,0)
Fisika Dasar I
Halaman : 44/116











SOAL 6
Dua buah puncak yang tertutup salju memiliki ketinggian 850 m dan 750 m dan
dipisahkan oleh sebuah lembah. Panjang jalur ski dari puncak yang tinggi sampai puncak
yang rendah adalah 3 km.
 Seorang pemain ski mulai dari keadaan diam di puncak yang tinggi. Dengan
laju berapakah ia akan tiba di puncak yang rendah, jika ia bergerak secepat-
cepatnya tanpa berusaha memperlambat gerakannya ?
 Buatlah perkiraan koefisien gesekan dengan salju yang masih dapat diterima
agar pemain ski tersebut dapat sampai ke puncak yang rendah.

SOAL 7
Sebuah benda bermassa m mulai dari keadaan diam meluncur turun di atas sebuah
bidang miring sepanjang l yang membentuk sudut u dengan horizontal. Bidang miring
merupakan permukaan kasar dengan koefisien gesekan µ.
 Tentukanlah laju benda di dasar bidang
 Berapa jauh ia akan meluncur di atas bidang horizontal serupa setelah ia
mencapai dasar bidang miring ?

SOAL 8
Kabel sebuah elevator (lift) yang massanya 2 ton tiba-tiba putus sehingga elevator
yang sedang berada di lantai 2 setinggi 10 m jatuh. Di permukaan lantai dasar terdapat
pegas darurat dengan konstanta 5000 N/m. Alat pengaman elevator mencengkram rel
sehingga timbul gaya gesekan sebesar 500 N melawan gerak elevator. Apakah elevator
akan melambung kembali ke atas setelah mengenai pegas darurat ?











2 m
20 m
Pengaman elevator
Pegas darurat
Fisika Dasar I
Halaman : 45/116

SOAL 9
Rangkaian kereta api parahyangan yang penuh muatan dengan massa total 500 ton
melaju dengan kecepatan 108 km/jam. Dari jarak sekitar 500 m tiba-tiba masinis melihat
sebuah mobil yang mogok ditengah lintasan KA. Masinis langsung mengerem KA
sehingga roda-roda KA berhenti berputar. Jika koefisien gesekan antara roda KA dan rel
baja sebesar 0,2 , apakah KA tersebut akan menabrak mobil yang berhenti ?

SOAL 10
Misalkan anda sedang berjalan-jalan di sebuah desa, tiba-tiba anda melihat pohon
kelapa setinggi 15 m dengan buah yang cukup lebat. Anda mengamati bahwa tanah di
bawah pohon kelapa tersebut adalah tanah yang cukup lembek dengan gaya tahan sekitar
250 N dan diperkirakan gaya hambat udara di sekitar pohon kelapa sekitar 0,5 N.
beberapa detik kemudian nampak sebuah kelapa dengan diameter 3 cm jatuh ke tanah.
 Setelah berapa detik kelapa tersebut menyentuh tanah ?
 Berapa kecepatan kelapa tersebut ketika menyentuh tanah ?
 Apakah kelapa tersebut akan masuk ke dalam tanah ? jika ya, berapa cm ia
akan masuk ke dalam tanah ? Asumsikan bahwa kelapa dapat dianggap
sebagai suatu benda pejal.

SOAL 11
Sebuah peluru bermassa 9,4 kg ditembakkan tegak ke atas dengan laju awal 470
m/det. Hambatan udara mendisipasikan tenaga sebesar 6,8 x 10
5
J. Berapa jauh ia akan
bergerak lebih tinggi seandainya tidak ada disipasi tenaga tersebut ?










Fisika Dasar I
Halaman : 46/116

BAB V
MOMENTUM DAN IMPULS


5.1 Definisi Momentum dan Impuls
Jika kita mendengar pengucapan kata momentum sehari-hari tentu kita
membayangkan bahwa momentum adalah suatu kejadian karena memang kata
momentum sehari-hari dipakai untuk menggambarkan suatu peristiwa seperti dalam
kalimat momentum terjadinya perang di timur tengah.
Dalam konteks fisika momentum didefinisikan sebagai “massa yang bergerak”.
Semua benda yang mempunyai massa jika
bergerak akan mempunyai momentum.
Besarnya momentum tersebut hanya
bergantung pada massa dan kecepatan
benda. Secara matematis momentum suatu
benda yang bergerak dinyatakan oleh



Satuan dari momentum adalah satuan
massa dikalikan satuan kecepatan yaitu kg . (m/s). Karena masa merupakan besaran
skalar sementara kecepatan adalah besaran vektor, maka momentum merupakan suatu
besaran vektor.
Dari definisi momentum dapat kita simpulkan bahwa suatu benda akan
mempunyai momentum yang besar jika memiliki massa atau kecepatan yang besar.
Misalkan sebuah truk dan peluru akan mempunyai momentum yang besar walaupun
massanya jauh berbeda. Peluru yang massanya jauh lebih kecil dari truk akan mempunyai
momentum yang besar jika peluru mempunyai kecepatan yang sangat besar.
Definisi lain yang sangat penting dalam bab ini adalah impuls. Impuls didefinisikan
sebagai “efek” yang timbul apabila pada suatu benda terdapat gaya yang bekerja ada
selang waktu tertentu. Sebagai ilustrasi misalkan kita akan menahan suatu mobil yang
mogok di jalan yang menanjak. Kita harus mengeluarkan gaya dalam selang waktu
tertentu agar mobil tersebut tidak mundur. Semakin besar massa mobil tersebut akan
semakin besar pula gaya yang diperlukan untuk menahannya.
Contoh lain adalah
yang sering dialami
dalam pertandingan tinju
seorang petinju yang
menerima pukulan yang
gayanya kecil dalam
selang waktu yang lama
tidak akan merasakan apa
apa. Sementara bila
petinju tersebut menerima
gaya yang besar dengan selang waktu yang kecil maka efek yang dialami petinju tersebut
akan cukup besar akibatnya

p = m. v
Fisika Dasar I
Halaman : 47/116

Suatu benda yang mempunyai momentum yang besar akan sulit untuk dihentikan
untuk menghentikan gerakannya kita harus memberikan gaya yang besar atau
menahannya selama mungkin. Dari sinilah timbul suatu konsep yang sangat penting
bahwa impuls akan menyebabkan terjadinya perubahan momentum. Secara matematis hal
ini bisa dinyatakan sebagai berikut.
Dari hukum Newton II kita mengetahui bahwa gaya merupakan perkalian antara
massa dan kecepatan








Salah satu fokus dalam mempelajari materi ini adalah fenomena tumbukan.
Fenomena tumbukan dibangun oleh hukum momentum dan yang paling penting tentu
saja konsep impuls-momentum yang telah dibahas sebelumnya.

5.2 Hukum Kekekalan Momentum
Dalam menganalisa tumbukan yang terjadi antara dua benda terkebih dahulu kita
harus mengetahui suatu konsep kekekalan momentum yang merupakan dasar dari proses
tersebut. Hukum kekekalan momentum menyatakan bahwa untuk tumbukan yang terjadi
antara benda 1 dan benda 2 dalam sebuah sistem terisolasi, jumlah momentum total
sebelum dan sesudah tumbukan harus sama dengan kata lain momentum yang hilang dari
benda 1 akan didapatkan seluruhnya oleh benda 2. Suatu sistem dikatakan terisolasi jika
sistem tersebu bebas dari pengaruh gaya luar. Ada dua kriteria yang menunjukkan adanya
gaya luar yang bekerja pada suatu sistem yaitu
- Sebuah gaya yang berasal dari sumber lain selain kedua benda yang bertumbukan
- Sebuah gaya yang tidak diseimbangkan oleh gaya lainnya
Misalkan sebuah bola biliard no 7 yang bergerak
dan bola 8 yang diam. Jika dimisalkan tidak terjadi
gesekan antara bola dengan permukaan meja maka bisa
dikatakan bahwa sistem berada dalam keadaan
terisolasi sehingga jumlah momentum kedua bola sebelum dan sesudah tumbukan harus
sama. Hukum kekekalan momentum dapat dinyatakan dalam persamaan matematik
sebagai berikut


a . m F =

t
v
. m F
A
A
=

v . m t . F A = A



p I A =

¿ ¿
=
akhir awal
p p


¿ ¿
= =
=
n
1 i
akhir i i
n
1 i
awal i i
) v m ( ) v m (

Fisika Dasar I
Halaman : 48/116


Untuk kasus dalam gambar di atas berapakah kecepatan keduanya pada saat akhir ?
Persoalan ini dapat dengan mudah dipecahkan dengan menggunakan konsep
kekekalan momentum sebagai berikut








Untuk mempermudah proses penyelesaian masalah tumbukan mari kita lihat contoh
dalam gambar di atas yang memperlihatkan tabrakan yang terjadi antara sebuah truk dan
sedan yang sedang berhenti. Kita bisa juga membuat tabel momentum sebelum dan
sesudah tabrakan sebagai berikut
Momentum
Sebelum Setelah
Truk 3000 x 10 = 30000 3000 x v
Sedan 1000 x 0 = 0 1000 x 15 = 15000
Total 30000 3000 v + 15000
Maka  30000 = 3000 v + 15000
v =
3000
15000
= 5 m/s

s / m . 4
120
480
v
v ). 40 80 ( 0 x 40 6 x 80
v ). m m ( v . m v . m
' v m ' v m v . m v . m
2 1 2 2 1 1
2 2 1 1 2 2 1 1
= =
+ = +
+ = +
+ = +

Fisika Dasar I
Halaman : 49/116

5.3 CONTOH SOAL
SOAL 1
Sebuah batu yang massanya 100 g diam pada permukaan datar tanpa gesekan.
Sebutir peluru yang massanya 2,5 g bergerak mendatar dengan kecepatan 400 m/det
mengenai batu dan terpental mendatar tegak lurus pada arahnya semula dengan laju 300
m/det. Tentukan besar dan arah kecepatan batu setelah terkena peluru






Untuk menyelesaikan soal ini kita gunakan hukum kekekalan momentum

m
p
.v
p
+m
B
.v
B
= m
p
.v
p
‟ + m
B
.v
B

2,5. 400 i + 0 = 2,5. 300 j + 100.v
B

100 v
B
‟ = 1000 i – 750 j
v
B
‟ = 10 i – 7,5 j
Besarnya kecepatan bola setelah tumbukan adalah

2 2 '
B
) 5 , 7 ( 10 v ÷ + =

'
B
v = 12,5 m/det
Arah bola seelah tumbukan
tan u = -7,5 / 10
tan u = -0,75
u = - 37
O

terhadap sumbu mendatar.

SOAL 2
Sebutir peluru 5 gram ditembakkan mendatar pada sebuah balok kayu 3 kg yang
diam pada permukaan mendatar. Koefisien gesekan kinetik antara balok dan permukaan
adalah 0,2. Peluru tetap berada di dalam balok setelah tumbukan dan ternyata balok
bergerak sejauh 25 cm sebelum akhirnya berhenti. Berapa kecepatan peluru mula-mula ?


Persamaan energi untuk gerak balok setelah ditumbuk sampai berhenti adalah :
½ mv
2
– Wges = 0
½ mv
2
= µ.m.g.s
½ v
2
= µ.g.s
½ v
2
= 0,2 . 10. 0,25
v = 0,5 m/det
Hukum kekekalan momentum :
m
p
.v
p
= (m
p
+ m
B
)v
5.v
p
= (5+3000).0,5
v
p
= 300,5 m/det
v
p
= 400 i m/det
v
p

= 300 j m/det
v
p

v
v‟

= 0
Fisika Dasar I
Halaman : 50/116

SOAL 3
Sebuah peluru bermassa 5 g ditembakkan pada sebuah balok 0,95 kg yang
tergantung pada sebuah tali seperti terlihat pada gambar. Peluru bersarang di dalam balok
dan kemudian balok naik sejauh 125 cm, berapakah kecepatan awal perluru ?





Terapkan hukum kekekalan energi mekanik setelah balok tertumbuk.
EK
awal
+ EP
awal
= EK
akhir
+ EP
akhir

½ mv
2
+ 0 = 0 + mgh
½ v
2
= gh
v = gh 2 = 25 , 1 . 10 . 2
v = 5 m/det
Gunakan hukum kekekalan momentum ketika peluru menumbuk balok.
m
p
.v
p
= (m
p
+m
B
).v
5.v
p
= (5+95).5
v
p
=100 m/det
Soal 4
Sebuah balok bermassa m
1
= 1,5 kg meluncur dari ketinggian 1,8 m pada bidang
lengkung (1/4 lingkaran) yang licin. Sampai dibawah balok tersebut menumbuk balok
lain yang bermassa m
2
= 6 kg yang diam di permukaan horizontal. Jika tumbukan adalah
lenting sempurna, hitunglah








a. Kecepatan kedua balok tersebut setelah tumbukan
Kecepatan balok A ketika menumbuk balok B dapat dihitung dengan
persamaan
v
A
= gh 2 = 8 , 1 . 10 . 2
v
A
= 6 m/det
Gunakan hukum kekekalan momentum untuk mendapatkan kecepatan masing-
masing balok setelah tumbukan. Untuk tumbukan lenting sempurna e = 1,
h = 125 cm
V
p

A
B
1,8 m
Fisika Dasar I
Halaman : 51/116


6
' v ' v
v
' v ' v
v v
' v ' v
e
A B
A
A B
B A
A B
÷
=
÷
=
÷
÷
= =1
maka akan kita dapatkan
v
B
‟ =v
A
‟ + 6
Kemudian hukum kekekalan momentum dapat dinyatakan dengan persamaan
m
A
.v
A
+m
B
.v
B
= m
A
.v
A
‟ + m
B
.v
B

1,5 . 6 + 0 = 1,5. v
A
‟ + 6.(v
A
‟ + 6)
6 = v
A
‟ + 1,5.v
A
‟ + 9
v
A
‟ = - 1,2 m/det  vB‟ = 4,8 m/det

b. Ketinggian maksimum yang dicapai oleh m
1
setelah tumbukan
Karena kecepatan balok A setelah tumbukkan besarnya negatif , dapat kita
simpulkan balok A kembali lagi ke atas . Ketinggian maksimum yang dapat
dicapainya sekarang adalah

10 . 2
2 , 1
g 2
v
h
2 2
= =
h = 0,072 m = 7,2 cm


5.4 SOAL-SOAL LATIHAN
SOAL 1
Dua buah benda dengan massa m
1
= 400 kg dan m
2
= 100 kg bergerak dengan
kecepatan u
1
dan u
2
yang saling tegak lurus. Pada saat akan bertumbukan u
1
= 40 m/s dan
u
2
= 60 m/s. Setelah bertumbukan kedua benda bersatu dan bergerak membentuk sudut
o terhadap sumbu x.
a. Tentukan sudut o
b. Tentukan kecepatan kedua benda tepat setelah bertumbukan.
c. Setelah bertumbukan kedua benda tersebut berhenti sejauh 50 m, tentukanlah
gaya gesekan antara benda dengan lantai.

SOAL 2
Sebuah bola baja kecil bergerak dengan laju v
o
dakan arah x-positif bertumbukan
elastis sempurna dengan bila serupa yang mula-mula diam. Setelah tumbukan bola
pertama bergerak dengan laju v
1
dalam kuadran pertama dengan sudut θ
1
terhadap
sumbu-x dan benda kedua dengan laju v
2
dalam arah kuadran keempat dengan sudut θ
2

terhadap sumbu-x
- Tuliskan suatu persamaan yang menyatakan kekekalan momentum linear dalam
arah sumbu-x dan sumbu-y
- Buktikan bahwa θ
1

2
= 90
O


SOAL 3
Sebuah mobil meluncur ke timur sepanjang jalan suci dengan kecepatan 60 km/jam
bertumbukan dengan truk 4000 kg yang meluncur ke selatan dari arah jalan cikutra
dengan kecepatan 20 km/jam. Bila kedua kendaraan menjadi satu setelah tumbukan
(mobil terseret truk), berapakah besar kecepatan dan arah kedua mobil setelah tumbukan
terjadi ?
Fisika Dasar I
Halaman : 52/116

SOAL 4
Suatu bola hoki B diam di atas permukaan es yang rata dan ditumbuk oleh bola
kedua A yang mula-mula bergerak dengan kecepatan 30 m/det dan kemudian dibelokkan
30
O
dari arahnya semula. Bola B mendapat kecepatan yang membentuk sudut 45
O
dengan
kecepatan A semula
- Tentukan laju masing-masing bola setelah tumbukan
- Apakah tumbukan elastis sempurna ? Bila tidak, berapa bagian energi kinetik
mula-mula bola A yang hilang ?

SOAL 5
Suatu kereta tanpa atap yang massanya 100000 kg meluncur pada rel datar tanpa
gesekan. Pada waktu itu hujan sangat lebat dan butir-butir air hujan jatuh tegak lurus ke
dalam kereta. Mula-mula kereta kosong dan bergerak dengan kecepatan 1 m/det. Berpa
kecepatan kereta setelah bergerak cukup lama sehingga berisi 1000 kg air hujan?

SOAL 6
Sebuah peluru 20 kg ditembakkan dengan arah 60O terhadap arah mendatar dan
dengan kecepatan awal 400 m/det. Pada titik tertinggi dari lintasan peluru tersebut
meledak menjadi dua bagian yang massanya sama, salah satu diantaranya jatuh lurus
kebawah dengan laju awal nol.
- Pada jarak berapa dari titik penembakan bagian yang lain akan jatuh bila tanah
datar ?
- Berapa energi yang diletakkan selama ledakan.

SOAL 7
Misalkan sebuah bola yang masanya 200 g menggelinding bolak-balik antara sisi
sisi yang berhadapan meja billyard yang lebarnya 1 m, dengan kecepatan yagn besarnya
tetap tetapi arahnya berlawanan setiap kali menumbuk tepi meja. Besar kecepatan adalah
4 m/det
- Berapakah perubahan momentum bola setiap kali bertumbukan dengan meja ?
- Berapa tumbukan per satuan waktu yang dilakukan oleh bola dengan tepi meja ?
- Berapakah laju perubahan rata-rata momentum bola sebagai akibat tumbukan ?
- Berapa gaya-rata-rata yang diberikan oleh bola pada tepi meja ?

SOAL 8
Seorang penembak senapan massanya bersama-sama dengan senapan adalah 100
kg. Orang tersebut berdiri di atas sepatu roda dan menembakan senapan mesin dalam arah
mendatar sebanyak 10 kali. Masing-masing peluru massanya 10 g dan kecepatan awalnya
800 m/det.
- Bila penembak tadi bergerak ke belakang tanpa gesekan, berapakah kecepatannya
pada akhir tembakan ke sepuluh ?
- Bila lama tembakan 10 detik, berapakah gaya rata-rata padanya ?

Fisika Dasar I
Halaman : 53/116

SOAL 9
Seorang pendayung kano yang massanya 80 kg berdiri di atas kano yang massanya
30 kg dan panjangnya 5 m. Ia berjalan dari satu titik ke titik lain pada kano yang jaraknya
masing-masing 1 m dari ujungnya. Bika hambatan terhadap gerak kano di atas air dapat
di abaikan, berapa jauh kano bergerak selama proses ini ?

SOAL 10
Sebuah roket menghabiskan bahan bakar 0,05 kg /det, dan mengeluarkannya dalam
bentuk gas dengan kecepatan 5000 m/det relatif terhadap roket.
- Berapa gaya yang diberikan gas pada roket ?
- Apakah roket ini akan berfungsi di ruang angkasa ?
- Bila roket berfungsi di ruang angkasa, bagaimana anda mengemudikannya ?
dapatkah anda menghentikannya ?

SOAL 11
Pada soal tabrakan kereta api dengan mobil pada soal bab sebelumnya, jika kereta
menabrak mobil, tentukanlah kecepatan dan arah mobil setelah ditabrak oleh kereta.

SOAL 12
Katakanlah anda seorang pemain billyard professional. Anda sedang bermain nine-
ball dalam suatu pertandingan resmi. Pada suatu saat giliran anda dengan bola putih,
situasinya terdapat seperti dalam gambar di bawah ini.















Supaya menang, anda harus memasukkan bola 9 ke lubang kanan bawah
dengan terlebih dahulu memasukkan bola 5 ke lubang di atasnya. Supaya bola
masuk ke lubang dan tidak memantul kembali ke luar kecepatan bola billyard
yang akan masuk ke lubang tidak boleh lebih dari 0,5 m/det. Dengan kecepatan
berapakah anda harus mendorong bola putih sehingga bola 5 dan bola 9 masuk ke
dalam lubang. Asumsikan permukaan meja billyard adalah licin.



9
5
5
6
7
8
37
O

30 cm
40 cm
Fisika Dasar I
Halaman : 54/116

BAB VI
GERAK MELINGKAR


Sampai saat ini kita baru membahas tentang gerak translasi partikel tunggal atau
benda tegar. Dalam bab ini kita mencoba untuk menganalisa lebih dalam tentang gerak
rotasi pada suatu partikel tunggal atau benda tegar.
Sebuah benda dikatakan bergerak rotasi murni jika setiap partikel benda bergerak
dalam lingkaran yang pusatnya terletak pada sebuah garis lurus yang disebut sumbu
rotasi.
Misalkan seseorang yang memutarkan sebuah benda
dengan tali seperti terlihat dalam gambar disamping. Kita
katakan gerakan benda dengan tali tersebut sebagai gerak rotasi
dengan pusat tangan yang memegang tali.
Kemudian gerakan bulan yang mengelilingi
bumi juga kita katakan gerak rotasi. Bulan
mengelilingi bumi dengan jari-jari yang relatif konstan dengan bumi
sebagai pusat gerakannya.
Pada dasarnya persamaan-persamaan dalam gerak rotasi sama
dengan persamaan-persamaan pada gerak translasi. Ada beberapa
definisi yang harus dipahami terlebih dahulu sebelum kita membahas
tentang gerak rotasi ini. Tabel di bawah ini memperlihatkan analogi variabel-variabel
gerak rotasi dibandingkan terhadap variavel-variabek gerak translasi yang telah kita
ketahui sebelumnya.
Gerak Translasi Gerak Rotasi Hubungan
Jarak atau perpindahan
x
Satuan : m
Sudut yang ditempuh
u
Satuan : radian (rad)
x = u.R
Kecepatan
v
Satuan : m/det
Kecepatan sudut
e
Satuan : rad / det
V = e.R
Percepatan
a
Satuan : m / s
2

Percepatan sudut
o
Satuan : rad / s
2

A = o.R
Massa
M
Satuan : kg
Momen Inersia
I
Satuan : kg.m
2

Tergantung
geometri benda
Gaya
F
Satuan : N
Momen Gaya
t
Satuan : N.m
t = F.r
Fisika Dasar I
Halaman : 55/116

e

Gerak Translasi Gerak Rotasi Hubungan
Momentum
p = m.v
Satuan : kg m/s
Momentum Sudut
L = I.e
Satuan : kg m
2
rad/s

Energi Kinetik
E
K
= ½ m.v
2

Satuan : J
Momentum Sudut
E
KR
= ½ I.e
2

Satuan : J

Dalam gerak rotasi berlaku persamaan-persamaan kinematika dan dinamika
seperti halnya pada gerak translasi. Kita hanya tinggal mengganti variabel-
variabel yang bersesuaian.
Khusus untuk percepatan, selain percepatan sudut dalam gerak rotasi juga
dikenal besaran percepatan sentripetal. Besaran sentripetal adalah besaran pada
gerak rotasi baik berupa gaya atau percepatan yang arahnya menuju pusat
gerakan. Percepatan dan gaya sentripetal didefinisikan dengan persamaan
















Misalkan kita mempunyai sebuah piringan yang bisa berputar seperti terlihat
dalam gambar disamping ini. Piringan berputar dengan kecepatan sudut e. Setiap
titik dalam arah radial (jari-jari) akan mempunyai kecepatan linear yang berbeda-
beda. Besarnya kecepatan tersebut bergantung pada jark titik terhadap pusat
putaran.
r
v
a
S
2
=

r
v
m a . m F
S S
2
= =


Fisika Dasar I
Halaman : 56/116

Jika kita membandingkan persamaan konematika untuk translasi dan rotasi
hasilnya bisa kita lihat dalam tabel di bawah ini
Translasi Rotasi
a  konstan o  konstan





6.1 Momen Inersia
Seperti telah disebutkan sebelumnya, momen inersia adalah salah satu
variabel dalam rotasi yang analog dengan massa pada gerak translasi. Momen
inersia sering kali disebut dengan kelembaman rotasi yang didefinisikan sebagai
ukuran keengganan benda melawan perubahan gerak rotasinya terhadap suatu
sumbu tertentu.
Untuk benda yang terdiri dari titik-titik partikel momen inersia dapat
dinyatakan dengan persamaan



Dimana r
i
adalah jarak masing-masing partikel terhadap sumbu putaran.
Untuk benda yang bukan terdiri dari titik-titik partikel diskrit momen inersia
dinyatakan dengan persamaan dalam bentuk integral



Besarnya momen inersia benda pejal akan sangat bergantung pada bentuk
geometri benda dan sumbu putaran benda tersebut. Persamaan momen inersia
dalam bentuk integral di atas berlaku untuk seluruh bentuk geometri benda.
Tabel di bawah ini memperlihatkan harga momen inersia untuk berbagai benda
pejal dengan sumbu putaran tertentu.
t
0
o e e + =
2
0 0
t
2
1
t o e u u + + =
at v v + =
0
2
0 0
2
1
at t v x x + + =
¿
=
2
i i
r m I

}
= dm . r I
2

Fisika Dasar I
Halaman : 57/116

B

6.2 CONTOH SOAL
SOAL 1
Sebuah silinder pejal menggelinding di atas permukaan bidang miring seperti
tampak dalam gambar di bawah. Asumsikan bahwa gerakan silinder menuruni
permukaan tersebut adalah menggelinding sempurna. Hitung kecepatan silinder tersebut
ketika sampai di kaki permukaan bidang miring (titik B) !




Kita bisa menyelesaikan soal tersebut dengan menggunakan konsep usaha
dan energi seperti pada gerak translasi.
E
MA
= E
MB

E
KA
+ E
PA
= E
KB
+ E
PB

0 + mgh = E
KB

translasi
+ E
KB

rotasi
+ 0
mgh = ½ mv
2
+ ½ Ie
2

A
h
Fisika Dasar I
Halaman : 58/116

Untuk silinder pejal  I = ½ MR
2

mgh = ½ mv
2
+ ½ (½ mR
2
)(v/R)
2

mgh =
2
4
3
mv  gh v
3
4
=

SOAL 2
Sebuah balok massanya 0,05 kg diikat dengan tali yang melalui suatu lubang pada
permukaan datar yang licin. Mula-mula balok bergerak melingkar dengan jari-jari 0,2 m
dan kecepatan sudut 3 rad/det. Kemudian tali diperpendek menjadi 0,1 m. Jika
diasumsikan balok sebagai titik massa,
a. Berapa kecepatan sudut balok yang baru ?
Gunakan hukum kekekalan momentum untuk gerak rotasi
P
1
= P
2

I
1
e
1
= I
2
.e
2

m.r
1
2
.e
1
= m.r
2
2
.e
2

0,2
2
.3 = 0,1
2
.e
2

e
2
= 12 rad/det

b. Tentukan perubahan energi kinetik balok.
AEK = EK
2
– EK
1

= ½ I
2
.e
2
2
– ½.I
1
e
1
2

= ½ .m [(e
2
.r
2
)
2
–(e
1
.r
1
)
2
]
= ½.0,05 [1,2
2
– 0,6
2
)
= 0,027 J

SOAL 3
Sebuah benda 2 kg diikat dengan seutas tali yang panjangnya 1,5 m lalu diputar
menurut lintasan lingkaran vertikal dengan kecepatan sudut tetap. Jika g = 10 m/s
2
. dan
pada saat benda berada di titik terendah tali mengalami tegangan sebesar 47 newton,
maka kecepatan sudutnya adalah.
Pada saat benda berada di titik terendah, diagram gaya pada benda tersebut dapat
digambarkan seperti berikut ini












W
T
Fisika Dasar I
Halaman : 59/116

Gunakan hukum Newton 2 untuk gerak rotasi
EF
s
=
r
v
m
2

T – W =
r
v
m
2

47 –20 =
5 , 1
v
2
2

v = 4,5 m/det

SOAL 4
Sebuah piringan berputar dengan mengelilingi sumbu tetap mulai dari keadaan
diam dan dipercepat dengan percepatan sudut konstan. Pada suatu saat ia berputar 10
putaran per detik. Setelah menempuh 60 putaran lagi laju sudutnya menjadi 15 putaran
per detik. Hitunglah
a. Percepatan sudut
10 putaran/det  e
1
= 20t rad/det
15 putaran/det  e
2
= 30t rad/det
60 putaran  u
2
= 120t rad


e
2
2
= e
1
2
+ 2ou
2

900t
2
= 400t
2
+2o.120t
o = 2,1 t rad/det
2

b. Waktu yang diperlukan untuk mencapai laju sudut 10 putaran per detik.
e
1
= e
0
+ o.t
20t = 0 + 2,1t.t
t = 9,52 detik
c. Waktu yang diperlukah untuk menempuh 60 putaran di atas
e
2
= e
1
+ o.t
30t = 20t + 2,1t.t
t = 4,76 detik
Waktu total untuk menempuh 60 putaran adalah
t = 9,52 + 4,76
t = 14,28 detik
d. Banyaknya putaran yang ditempuh piringan dari keadaan diam sampai
mencapai laju 10 putaran per detik.
e
1
2
= e
0
2
+ 2ou
1

400t
2
= 0 +2.2,1.t. u
1
u
1
= 95,24 t rad = 47,6 putaran

Fisika Dasar I
Halaman : 60/116

6.3 SOAL-SOAL LATIHAN
SOAL 1
Suatu pintu dari kayu mempunyai lebar 1 m dan tinggi 2 m diberi engsel sepanjang
salah satu sisinya yang mempunyai massa 50 kg. Mula-mula pintu terbuka dan diam
kemudian dipukul dengan palu di tengah-tengahnya. Selama pintu dipukul gaya rata-rata
yang bekerja pada pintu adalah 2000 N selama 0,01 detik. Tentukan kecepatan sudut
pintu setelah dipukul

SOAL 2
Suatu sasaran dalam lapangan tembak terdiri dari papan kayu bujur sangkar dengan
sisi 0,2 m dan massanya 2 kg diberi sumbu pada sisi sebelah atas. Sasaran tadi terkena
peluru yang massanya 5 g pada tengah-tengahnya, peluru tersebut bergerak dengan
kecepatan 300 m/det.
a. Berapa kecepatan sudut sasaran setelah terh\kena peluru
b. Berapa jarak maksimum di atas kedudukan setimbang yang dapat dicapai oleh
sasaran sebelum berayun ke bawah lagi ?
c. Agar sasaran berputar pada sumbunya, berapa kecepatan peluru yang dibutuhkan
?

SOAL 3
Suatu meja putar berotasi terhadap sumbu tegak yang tetap, dan membuat satu kali
putaran dalam 10 detik. Momen inersia meja putar terhadap sumbu ini adalah 1200
kg.m
2
. Seorang yang massanya 80 kg mula-mula berdiri di pusat meja putara tersebut
kemudian berjalan sepanjang jari-jari meja menjauhi pusat putaran meja. Berapakah
kecepatan sudut putar meja ketika orang tersebut berada 2 m dari pusat putaran meja ?

SOAL 4
Roda suatu mobil dengan diameter 50 cm mula-mula diam. Tiba-tiba seorang anak
mendorongnya sehingga ban tersebut melaju dengan kecepatan 2 m/det. Anak tersebut
kemudian mengejar ban dan menghentikannya dalam waktu 5 detik.
a. Tentukan kecepatan sudut ban tersebut
b. Berapa kali ban tersebut berputar sampai berhenti ?

SOAL 5
Seseorang yang massanya 100 kg berdiri di tepi meja putar yang jari-jarinya 2 m
dan momen inersianya 4000 kgm
2
, dipasang pada sumbu tegak yang licin melalui
pusatnya. Mula-mula seluruh sistem dalam keadaan diam. Sekarang orang tersebut
berjalan sepanjang tepi luar meja putar dengan kecepatan 1 m/det relatif terhadap tanah,
a. Berapakah kecepatan sudut dan kemana arah putar dari meja?
b. Berapa sudut yang dilalui oleh meha putar ketika orang tadi kembali ke tempat
asalnya ?

Fisika Dasar I
Halaman : 61/116

SOAL 6
Seseorang yang massanya 60 kg berlari sepanjang meja yang dapat berputar pada
sumbu tengahnya. Kecepatan orang relatif terhadap tanah adalah 1 m/det. Meja putar
berotasi dalam arah yang berlawanan dengan kecepatan sudut 0,2 rad/det. Jari-jari meja
putar adalah 2 m dan momen inersia meja terhadap sumbu putarnya adalah 400 kg.m
2
.
Tentukan kecepatan sudut akhir sistem apabila orang diam terhadap meja putar.

SOAL 7
Salah satu belokan di sirkuit Assen yang menjadi arena balap Motor GP
mempunyai jari-jari 50 m. Permukaan trek di belokan tersebut relatif horizontal dengan
koefisien gesekan 0,4. Valentino Rossi akan melalui belokan tersebut dengan kecepatan
144 km/jam. Jika massa
Valentino Rossi dan motornya sekitar 125 kg, dengan sudut berapakah ia harus
memiringkan motornya sehingga tidak terjatuh ketika melalui belokan tersebut.

SOAL 8
Untuk soal yang sama seperti di atas, dengan kecepatan berapakah Valentino Rossi
harus melalui belokan yang sama jika pada saat itu hari hujan sehingga koefisien gesekan
antara permukaan ban dan trek menjadi 0,15. Asumsikan bahwa sudut kemiringan motor
adalah sudut yang didapatkan dari perhitungan soal sebelumnya.

SOAL 9
Seorang pesenam yang massanya 60 kg akan melakukan gerakan memutar seperti
gasing. Dengan tangan tertutup ternyata kecepatan putaran yang dihasilkan adalah 100
rpm. Berapakah kecepatan putaran yang dihasilkan jika ia merentangkan kedua
tangannya ?. Asumsikan panjang rentangan tangan pesenam tersebut adalah 125 cm.

SOAL 10
Sebuah mobil yang diameter rodanya 30 inchi bergerak 72 km/jam.
- Berapakah laju sudut roda terhadap porosnya ?
- Jika mobil dapat dihentikan dalam 30 putaran, berapakah percepatan sudutnya.
- Berapa jauh mobil bergerak maju selama saat pengereman ini ?

SOAL 11
Sebuah bola biiliard dengan jari-jari R mula-mula dalam keadaan diam, kemudian
diberikan impuls tajam dengan tongkat. Tongkat dipegang horizontalpada jarak h di atas
garis pusat seperti terdapat dalam gambar. Bola meninggalkan tongkat dengan laju vo dan
karena “putaran kedepannya” (forward english) akhirnya laju bola menjadi 9/7 vo.
Tunjukkan bahwa h = 4/5 R.







F
Fisika Dasar I
Halaman : 62/116

k
s
m
0
BAB VII
GETARAN HARMONIK


Jika kita menjumpai kata getaran dan gelombang tentu ingatan kita akan terarah
pada kejadian yang berkaitan dengan kedua kata tersebut. Kita dikatakan bergetar apabila
kita bergerak dengan karakteristik tertentu secara
berulang-ulang. Lalu bagaimana kita mendefinisikan
suatu gelombang ?. Jika kita berada di dalam perahu di
tengah laut maka kita dikatakan dalam keadaan
bergelombang . Mengapa tidak dikatakan bergetar ?
Lain jika kita berada di dalam mobil yang melaju di
jalan yang tidak begitu mulus, maka apa yang kita
katakan ? tentu saja kita katakan bahwa mobil kita
bergetar.
Pada dasarnya setiap gerak yang berulang dalam selang waktu yang sama disebut
gerak periodik. Pergeseran partikel yang bergerak periodik selalu dapat dinyatakan
dalam fungsi sinus dan kosinus. Karena fungsi sinus dan kosinus adalah fungsi yang
harmonik, maka sering kita katakan bahwa gerak periodik adalah gerak harmonik.
Jika suatu partikel dalam gerak periodik bergerak bolak-balik melalui lintasan yang
sama , maka gerakan tersebut disebut gerak osilasi atau getaran. Sementara gelombang
dalam hal ini didefinisikan sebagai getaran yang bergerak.

7.1 Gerak Harmonik Sederhana
Tinjaulah sebuah massa yang diberi pegas yang ditarik kemudian dilepaskan.
Setelah massa tersebut dilepaskan maka yang terjadi adalah massa bergerak secara
periodik. Hal ini disebabkan adanya gaya pegas bekerja. Gaya tersebut akan berusaha
untuk melawan gerakan yang timbul akibat tarikan gaya terhadap benda.









Gaya pegas dapat dinyatakan dengan hukum Hooke dengan persamaan


Dari persamaan tersebut dapat dilihat bahwa tanda minus menunjukkan pada kita
bahwa gaya pegas selalu melawan penyebabnya. Jika kita terapkan hukum Newton II
pada gerak dalam gambar di atas kita akan mendapatkan persamaan gerakan harmonik
sederhana
a . m F =

2
2
dt
x d
m kx = ÷
kx F ÷ =

Fisika Dasar I
Halaman : 63/116

atau dapat juga dinyatakan sebagai




Persamaan di atas adalah persamaan dasar gerakan harmonik . Jika persamaan tersebut
kita selesaikan maka kita akan mendapatkan solusinya sebagai berikut












Persamaan di atas adalah persamaan posisi untuk gerak harmonik sederhana. Selain itu
kita juga bisa mendapatkan besarnya perioda getaran tersebut dengan memasukkan solusi
persamaan posisi ke dalam persamaan differensialnya. Akan kita dapatkan besarnya
perioda getaran sebagai berikut





Persamaan kecepatan gerak harmonik dapat dengan mudah kita dapatkan dengan
mendifferensialkan persamaan posisi.

) t sin A (
dt
d
dt
dx
v e = =



Sementara percepatan gerak harmonik didapatkan dengan persamaan
) t cos A (
dt
d
dt
dv
a e e = =



Energi kinetik dan potensial dari benda yang bergerak harmonik dapat dicari
dengan menggunakan persamaan

2
2
1
mv E
k
=
0
2
2
= + kx
dt
x d
m

) t sin( A x | + e =
k
m
T t = 2

t cos A v e e =

t sin A a e e ÷ =
2

et
A
Fisika Dasar I
Halaman : 64/116

2
2
1
) t cos A ( m E
k
e e =





Sementara energi potensial dicari dengan menggunakan persamaan energi potensial pegas
sehingga didapatkan




Energi mekanik dari benda adalah penjumlahan energi kinetik dan potensialnya

p k M
E E E + =






7.2 CONTOH SOAL
SOAL 1
Beban 75 gram yang digantungkan vertikal pada pegas bergerak turun naik dengan
frekuensi 3 Hz. Bila beban tersebut dikurangi sepertiganya, maka perioda getaran pegas
menjadi ?
m T ~

1
2
1
2
m
m
T
T
=

75
50
m
m
f
f
1
2
2
1
= =
f
2
= 3,67 Hz

SOAL 2
Sebuah benda diikat pada ujung suatu pegas dan digetarkan harmonik dengan
amplitudo A. Jika konstanta pegas adalah k N/m, pada saat simpangan benda setengah
amplitudonya, maka energi kinetiknya adalah sebesar ? (nyatakan dalam fungsi k dan A)

Persamaan simpangan :
y = A sin et
½.A = A sin et
sin et = ½  cos et = ½ 3

t cos A m E
k
e e =
2 2 2
2
1

t sin A m E
p
e e =
2 2 2
2
1

2 2
2
1
A m E
M
e =

Fisika Dasar I
Halaman : 65/116

Persamaan energi kinetik :
EK = ½ m.e
2
.A
2
.cos
2
et
= ½ m.e
2
.A
2
.0,75
=
8
3
m.e
2
.A
2

Namun m.e
2
= k , maka
EK =
8
3
k.A
2


SOAL 3
Pegas dengan konstanta pegas k = 2 N/m diikatkan pada benda yang massanya 0,5
kg dan ujung lainnya pada dinding seperti ditunjukkan pada gambar. Kemudian benda
ditarik 10 cm ke kanan. Jika tidak ada gesekan antara benda dan lantai, tentukanlah
a. Persamaan simpangan sesaat benda sebagai fungsi waktu dari titik
setimbangnya
y = A sinet
y = 10 sinet
e =
5 , 0
2
m
k
=
e = 2 rad/det
y = 10 sin2t
b. Besar kecepatan maksimum benda

dt
dy
v =
v = 20 cos2t m/det
v
maks
= 20 m/det


7.3 SOAL-SOAL LATIHAN
SOAL 1
Sebuah benda bermassa 5 kg terhubung dengan sebuah pegas ringan dengan
koefisien pegas 20 N/m. Sistem ditarik oleh gaya F = 1 N kemudian dilepas sehingga
berosilasi pada bidang horisontal yang licin. Jika saat dilepas t = 0. Tentukan:
a. Persamaan gerak sistem!
b. Kecepatan maksimum benda!
c. Kecepatan benda saat tergeser sejauh 2 cm dari titik keseimbangan!

SOAL 2
Sebuah benda dengan massa 5 kg dihubungkan dengan sebuah pegas dengan k =
125 N/m yang ujung lainnya terikat pada dinding. Benda tersebut ditarik ke kanan sejauh
5 cm dari titik setimbang kemudian dilepas sehingga berisolasi di sekitar titik setimbang
(lihat gambar). Jika diketahui pada saat t = 0 detik benda di x = 0 dan menuju ke kanan,
tentukan :
a. persamaan gerak geetran dalam bentuk cosinus
b. waktu benda mencapai titik terjauh di sebelah kiri pertama kali setelah t = 0
Fisika Dasar I
Halaman : 66/116

c. kecepatan benda saat berada pada jarak 3 cm di kiri titik setimbang menuju ke
kanan




F

SOAL 3
Sebuah benda dengan massa 2 kg digantungkan pada sebuah pegas yang panjang
awalnya 10 cm dan belum diketahui konstanta pegasnya. Ketika beban digantungkan
pada pegas ternyata panjangnya sekarang 12 cm. Kemudian beban ditarik kembali ke
bawah sehingga panjang pegas 20 cm dan pegas selanjutnya dilepaskan dan dibiarkan
bergetar secara harmonik.
a. Tentukanlah konstanta pegasnya
b. Berapa kecepatan maksimum dari getaran benda tersebut?
c. Hitung frekuensi getarannya .

SOAL 4
Gerak penghisap (piston) pada mesin mobil dapat didekati dengan gerak harmonik
sederhana.
a. Jika langkah (stroke) sebuah mesin (dua kali amplitudo) adalah 10 cm dan mesin
berputar pada kecepatan 3600 rpm, hitung percepatan penghisap pada akhir
langkahnya.
b. Jika penghisap mempunyai massa 0, 5 kg, berapakah gaya resultan yang harus
dikerahkan pada penghisap pada titik ini?
c. Berapakah kecepatan penghisap, dalam kilometer per jam ada titik tengah-
tengah langkahnya ?

SOAL 5
Dua pegas dengan panjang tak terentang yang sama sebesar 20 cm tetapi
mempunyai konstanta pegas masing-masing k
1
dan k
2
diikatkan pada ujung-ujung yang
berlawanan suatu balok bermassa m pada suatu permukaan datar yang licin. Ujung-jung
bagian luar pegas sekarang diikatkan pada dua buah pena P
1
dan P
2
10 cm dari
kedudukan semula ujung-ujung pegas.
a. Carilah panjang setiap pegas bila blok berada dalam kedudukan setimbangnya
yang baru setelah pegas diikatkan pada pena.
b. Cari perioda getaran balok jika balok sedikit digeser dari kedudukan
setimbangnya yang baru dan dilepas.
Misalkan :
k
1
= 1 N/m
k
2
= 3 N/m
m = 0,1 kg





pegas M
10 cm 10 cm 20 cm 20 cm
P
1
P
2

Fisika Dasar I
Halaman : 67/116

SOAL 6
Jika sistem pada soal 8 berosilasi dengan amplitudo 5 cm, pada saat balok melewati
kedudukan setimbangnya, segumpal dempul dijatuhkan secara tegak lurus kepada balok
dan menempel di balok.
a. Cari perioda dan amplitudo yang baru
b. Apakah ada kehilangan energi mekanik ? jika ada kemana hilangnya energi ini ?

SOAL 7
Sebuah bandul sederhana panjangnya 4 m berayun dengan amplitudo 20 cm.
a. Hitung kecepatan bandul pada titik terendahnya
b. Hitung percepatan pada unjung-ujung lintasannya.

SOAL 8
Dua buah pegas dihubungkan dengan sebuah balok bermassa m dan dengan
dinding tetap seperti terlihat pada gambar. Tunjukkanlah bahwa frekuensi osilasi dari
sistem tersebut adalah

m
k k
2
1
f
2 1
+
t
=








SOAL 9
Dua buah pegas dihubungkan dengan sebuah baok bermassa m dan dengan dinding
tetap seperti terlihat pada gambar. Tunjukkanlah bahwa frekuensi osilasi dari sistem
tersebut adalah

m ) k k (
k k
2
1
f
2 1
2 1
+ t
=







k
1

m
k
2

k
1

m
k
2

Fisika Dasar I
Halaman : 68/116

Soal 10
Sebuah silinder pejal dengan massa M diikatkan pada pegas horizontal sehingga
silinder dapat menggelinding tanpa slip sepanjang permukaan horizontal seperti terlihat
dalam gambar. Konstanta pegas besarnya 3 N/m. Jika mulai dari keadaan diam sistem
dilepaskan dari posisi dimana peggas terentang sejauh 0,25 m, tentukanlah
 Energi kinetik translasi dan energi kinetik rotasi s\ketika silinder melalui posisi
setimbangnya.
 Tunjukkanlah bahwa untuk keadaan ini pusat silinder akan mengalami gerak
harmonis sederhana dengan periode

k 2
M 3
2 T t =







SOAL 11
 Berapakah frekuensi bandul sederhana yang panjangnya 2 m ?
 Jika diasumsikan amplitudonya kecil, berapakah frekuensi bandul jika terdapat di
dalam elevator yang bergerak naik dengan percepatan 2 m/s
2
.
 Berapa frekuensinya dalam gerak jatuh bebas ?

SOAL 12
Sebuah balok dengan massa 4 kg digantungkan pada pegas yang mempunyai
konstanta pegas 50 N/m. Sebutir peluru yang massanya 10 g ditembakkan ke dalam balok
dari bawah dengan laju 300 m/det. Peluru berhenti di dalam balok.
 Tentukanlah amplitudo gerak harmonik sederhana yang terjadi.
 Berapa bagian energi kinetik peluru semla tersimpan dalam osilator harmonik ?
Adakah energi yang hilang selama proses ini ?

k
M
Fisika Dasar I
Halaman : 69/116

BAB VIII
FLUIDA

8.1 STATIKA FLUIDA
Pada dasarnya fluida atau zat alir dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian besar
yaitu
Fluida Kompresibel  Fluida yang kerapatannya dipengaruhi oleh tekanannya. Fluida
jenis ini dapat dimampatkan atau direnggangkan. Yang
termasuk ke dalam fluida jenis ini adalah gas
Fluida Inkompresibel  Fluida yang kerapatannya relatif tidak dipengaruhi oleh
tekanannya. Fluida jenis ini tidak dapat dimampatkan atau
direnggangkan. Yang termasuk ke dalam fluida jenis ini
adalah cairan

8.2 TEKANAN FLUIDA
Jika dalam mekanika benda titik unsur dinamika yang utama adalah gaya, maka
dalam mekanika fluida unsur itu adalah tekanan. Tekanan adalah gaya yang dialami oleh
suatu titik pada suatu permukaan fluida per satuan luas dalam arah tegak lurus permukaan
tersebut. Secara matematika tekanan P didefinisikan melalui hubungan
dF = p dA
Dimana dF adalah gaya yang dialami oleh elemen luas dA dari permukaan Fluida.
Secara mikroskopik gaya ini merupakan pertambahan momentum per satuan waktu
yang disebabkan oleh tumbukan molekul-molekul dengan wadahnya. Tetapi ia bisa pula
berbentuk permukaan imajiner yang kita buat pada fluida. Tekanan ini merupakan
besaran skalar, bukan suatu besaran vektor seperti halnya gaya.

8.3 TEKANAN HIDROSTATIK
Dengan menggunakan hukum Newton kita dapat menurunkan persamaan yang
menghubungkan tekanan dengan keadaan fluida. Kita mempunyai sebuah elemen volume
fluida sebesar dxdydz. Bagian atas elemen volume tersbut akan memperoleh gaya ke
bawah sebesar
(p + dp) dx dy
Sedangkan pada bagian bawah terdapat gaya keatas sebesar
p dx dy
Apabila benda dalam keadaan seimbang, maka berdasarkan hokum Newton I kedua
gaya ini saling meniadakan, sehingga etelah menyamakan kedua gaya tersebut kita
memperoleh
p dx dy = (p + dp) dxdy + dw
p dxdy = (p + dp) dxdy + ρgdx dy dz
dp + ρg dz = 0
g
dz
dp
µ ÷ =

Perlu diperhatikan bahwa tanda muncul karena arah z kita ambil berlawanan
dengan arah g. Ini adalah suatu persamaam diferensial yang dapat diselesaikan dengan
mudah jika rapat massa ρ tidak tergantung pada z. Dengan mengintegrasikan ruas kiri dan
ruas kanan persamaan tersebut terhadap dz dan memasukan syarat batas p(H) = p0 maka
kita akan mendapatkan
Fisika Dasar I
Halaman : 70/116

p(z) = p(H) + ρg(H – z)
p(z) = p0 + ρg(H – z)
Misalkan kita gunakan parameter h yaitu kedalam keadaaan elemen volume relatif
terhadap permukaan, maka kita peroleh
h = H – z
dg = -dz
Sehingga
g
dz
dp
dh
dp
µ =
÷
=

dan bila diintegrasikan diperoleh
p = p0 + ρgh
dengan p0 adalah tekanan dipermukaan.

8.4 HUKUM-HUKUM HIDROSTATIK
Dari persamaan distribusi tekanan kita juga dapat kita turunkan hukum-hukum
hidrostatika yang terkenal. Karena persamaan distribusi tekanan adalah konsekuensi
hukum Newton, maka dapast disimpulkan bahwa hukum-hukum tersebut bukanlah
hukum fundamental. Artinya, kita tidak memerlukan mekanika khusus untuk fluida.
Berikut adalah penurunan hukum-hukum hidrostatika dari persamaan tekanan fluida
tersebut diatas.

8.4.1 Hukum Pascal
Hukum pascal mengatakan bahwa : tekanan pada suatu titik akan diteruskan ke
semua titik lain secara sama. Artinya bila tekanan pada satu tititk dalam zat cair
ditambah dengan suatu harga, maka tekanan semua titik di tempat lain pada zat cair yang
sama akan bertambah dengan harga yang sama pula.
Hukum ini dengan mudah dapat diturunkan dari hubungan linier antara tekanan dan
kedalaman. Perhatikan gambar dibawah ini.
hA
B
A
hB
po
h = 0


B 0 B B 0) (h B
A 0 A A 0) (h A
h g ρ p p h g ρ P P
h g ρ p p h g ρ P P
+ = ÷ = ÷
+ = ÷ = ÷
=
=

Bila tekanan dipermukaan ditambah Δp, maka

Δp Δp jadi h g ρ p p h g ρ P P
Δp Δp jadi h g ρ p p' h g ρ P' P'
B B 0 B B 0) (h B
A A 0 A A 0) (h A
= + = ÷ + = ÷
= + = ÷ = ÷
=
=

Jadi tekanan di setiap titik dalam fluida akan bertambah sebesar Δp juga.

Fisika Dasar I
Halaman : 71/116

8.4.2 Aplikasi Pada Pengungkit Hidrostatika
Berdasarkan hukum pascal ini, pengungkit hidrostatik dapat dibuat. Prinsipnya
mudah saja. Pada prinsipnya sebuah pengungkit hidrostatik adalah sebuah pipa U dengan
penampang kedua kakinya yang berbeda luasnya seperti pada gambar berikut ini. Diatas
piston ruas kiri seluas A1 diberi gaya pengungkit sebesar F. Dengan demikian terdapat
pertambahan tekanan sebesar F/A1. Tekanan ini tentunya berdasarkan hukum pascal
diteruskan ke piston kanan sama besar. Tekanan ini pada gilirannya akan memberikan
gaya pada apiston beban sebesar (F/A1) A2 = F(A1/A2).












8.4.3 Hukum Archimedes
Salah satu hukum hidrostatika yang lain adalah hukun Archimedes yang
mengatakan bahwa setiap benda yang berada di dalam suatu fluida maka benda itu akan
mengalami gaya ke atas, yang disebut gaya apung, sebesar berat zat cair yang
dipindahkannya. Hukum ini juga bukan suatu hukum fundamental, karena dapat
diturunkan dari hukum Newton juga. Penururnannya adalah sebagai berikut.
Tinjaulah suatu balok yang berada dalam zat cair seperti yang ada di bawah ini.
F
F'
z'
z
po


Gaya ke atas oleh zat cair pada balok adalah sama dengan

ρgz) A(p F
0
+ =

sedangkan gaya ke bawah adalah gaya yang disebabkan oleh tekanan fluida pada bagian
atas plus gaya berat benda akan sama dengan

W ) ρgz' A(p F'
0
+ + =

Gaya netto pada benda (arahnya diasumsikan ke atas)

W ) z' Aρρg( F
W ) ρgz' A(p ρgz) A(p F' F F
res
0 0 res
÷ ÷ =
÷ + ÷ + = ÷ =

F
x

Fisika Dasar I
Halaman : 72/116

Suku pertama dari gaya resultan adalah gaya Archimedes. Bila gaya Archimedes
F
A
sama dengan gaya berat W maka resultan gaya = 0 dan benda melayang
Bila F
A
> W mka benda akan terdorong ke atas dan akan melayang.
Bila F
A
< W maka benda akan terdorong ke bawah dan tenggelam.


Jadi



adalah berat zat cair yang dipindahkan oleh balok. Bila rapat massa benda tersebut sama
dengan ρ‟, maka berat benda adalah ρ‟g V.
Jika rapat massa fluida lebih kecil dari pada rapat massa balok, maka agar balok
berada dalam keadaan seimbang, volume zat cair yang dipindahkan harus lebih kecil dari
pada volume balok. Artinya benda tidak seluruhnya berada terendam dalam cairan.
Dengan perkataan lain benda mengapung. Agar benda melayang maka volume zat cair
yang dipindahkan harus sama dengan volume balok dan rapat massa cairan sama dengan
rapat massa benda.
Jika rapat massa benda lebih besar daripada rapat massa fluida, maka benda akan
mengalami gaya total ke bawah yang tidak sama dengan nol. Artinya benda akan jatuh
tenggelam.
Hukum Archimedes ini digunakan untuk membuat balon udara dan kapal selam.
Dalam hal balon udara, balon diisi dengan udara panas atau gas yang lebih ringan dari
pada udara. Dalam kapal selam, isi air dalam kapal tersebut diatur agar dapat rapat massa
rata-rata kapal yang terdiri dari besi, udara dan air beserta isi kapal yang lain besarnya
sama dengan rapat massa air laut agar kapal dapat melayang dalam laut.

8.5 DINAMIKA FLUIDA
Dinamika fluida membahas tentang gerak fluida. Perlu kita ingat bahwa fluida
adalah suatu sistem dengan distribusi massa yang kontinu, jadi merupakan suatu medan.
Untuk menangani permasalahan dinamika fluida menggunakan hukum-hukum dasar
mekanika (Hukum Newton untuk persoalan yang non relativistik) Lagrange (1736 –
1813) mengembangkan metode dengan mengikuti gerak tiap partikel dalam fluida. Jadi
tiap partikel mempunyai parameter berupa posisi dan waktu (x,y,z,t). cara lain yang lebih
sederhana dikembangkan oleh Euler (1707 – 1783) yang lazim dipakai dalam menangani
persoalan dinamika fluida, yaitu dengan memandang fluida sebagai medan rapat massa
dan medan vektor kecepatan. Jadi gerak fluida di suatu titik (x,y,z) pada saat t dinyatakan
dengan rapat massanya µ(x,y,z,t) dan vector kecepatannya v (x,y,z,t).
Untuk memudahkan pembahasan, terlebih dahulu akan dibahas tentang klasifikasi
fluida:
a. Aliran fluida tunak (steady) dan tak tunak (non-steady, bergantung waktu).
Pada aliran tunak parameter-parameter aliran dan v bersifat tetap tak bergantung
waktu, jadi hanya bergantung posisi saja. Sedangkan pada aliran tak tunak baik µ
maupun v secara umum bergantung pada parameter waktu t dan posisi (x,y,z).
g ' V F
cair A
µ =

Fisika Dasar I
Halaman : 73/116

b. Aliran rotasional dan tak rasional
Aliran fluida dikatakan rasional jika elemen fluida di suatu titik mempunyai
momentum sudut terhadap titik itu, dan aliran dikatakan tak rasional bila elemen
fluida tersebut tak memiliki momentum sudut terhadap titik tersebut. Secara praktis
sifat rotasional atau tak rotasional ini dapat dideteksi dengan meletakkan sebuah
kincir kecil di titik tersebut dengan arah tegak lurus terhadap arah aliran. Bila kincir
berputar berarti aliran bersifat rotasional, dan bila tidak berarti tak rotasional.
c. Aliran kompresibel (tak termampatkan) dan tak kompreibel (tak termampatkan)
Bila kerapatan massa fluida berubah terhadap putaran tekanan fluida maka dikatakan
aliran bersifat kompresibel, sedang bila praktis tak berubah terhadap perubahan
tekanan yang ada dalam sistem, maka aliran itu dikatakan bersifat tak kompresibel.
Zat cair umunya dapat dianggap mengalir secara tak kompresibel sedang gas secara
umum dipandang mengalir secara kompresibel. Walaupun untuk kasus-kasus tertentu
mungkin aliran gas dapat pula dipandang sebagai tak kompresibel, yaitu bila
perubahan kerapatan massa dalam sistem yang ditinjau praktis dapat diabaikan.
d. Aliran kental (viscos) dan tak kental (non viscos)
Aliran dikatakan kental bila ketika terjadi gerak relatif antara berbagai lapisan (layer)
yang bergerak sejajar, terjadi gesekan internal sehingga terjadi desipasi energi. Bila
gesekan internal ini tidak terjadi maka aliran disebut sebagai aliran tak kental
internal, ini dinyatakan dalam parameter viskositas.


8.5.1 Persamaan Bernoulli
Salah satu persamaan fundamental dalam persoalan dinamika fluida adalah
persamaan Bernoulli. Persamaan ini memberi hubungan antar tekanan, kecepatan, dan
ketinggian pada titik-titik sepanjang garis alir.
o1
V3
V3
aliran
V2
b
a
S1
b
a
S2

Untuk gambar di atas penurunan persamaan Bernoulli dapat dilakukan denga
menggunakan hukum kekelan energi, dalam hal ini kerja total (network) sama dengan
perubahan energi mekanik total yaitu perubahan energi kinetik ditambah perubahan
energi potensial. Fluida dinamik yang memenuhi hukum Bernoulli adalah fluida ideal
yang karakteristiknya : mengalir dengan garis abu-abu atau aliran tunak, tak kompresibel
dan tak kental.
Persamaan Bernaulli dikenal dengan persamaan berikut

tan Kons gh v
2
1
P
2
= µ + µ +

Fisika Dasar I
Halaman : 74/116

8.5.2 PERSAMAAN KONTINUITAS
Tinjau elemen fluida di penampang A
1
dan A
2
. Dalam selang waktu At yang
pendek partikel di penampang A
1
akan bergerak sejauh v
1
At sehingga total elemen massa
yang menembus permukaan A
1
dalam At adalah dt v A dV dm
1 1 1 1 1
µ µ = = .
Dalam selang waktu At yang sama elemen massa yang menembus permukaan A
2

adalah dt v A dm
2 2 2
µ = . Bila dalam jalur antara A
1
dan A
2
tak ada sumber massa atau
sumur massa (tempat keluarnya massa dari
jalur aliran) maka dm
1
= dm
2
sehingga:



Besaran Av = Q dikenal sebagai laju aliran
volume (debit)


8.6 CONTOH SOAL
SOAL 1
Sebuah pipa kapiler berdiameter 0,5 cm diiisi dengan dua buah zat cair yang
mempunyai massa jenis masing-masing 0,5 g/cm
3
dan 0,8 g/cm
3
seperti terlihat pada
gambar. Berapakah tinggi h ?









Tekanan zat cair untuk kedalaman yang sama besarnya selalu sama









P
A
= P
B

P
atm
+ µ
1
gh
1
= P
atm
+ µ
2
gh
2

µ
1
h
1
= µ
2
h
2

0,5.10 = 0,8.(7,5-h)
h = 1,25 cm


2 2 1 1
v A v A =

h 8 cm
10 cm
A B
h
1
=10
h + 0,5
h
2
=7,5 - h
Fisika Dasar I
Halaman : 75/116

SOAL 2
Sebuah balok kayu mempunyai massa sebesar 3,67 kg dan massa jenis relatif
sebesar 0,6. Balok kayu tersebut akan dibebani timah di atasnya sehingga akan
mengapung di permukaan air dengan 90% bagian volumenya yang terbenam. Berapakah
berat timah yang diperlukan jika massa jenis timah adalah 11300 kg/m
3
.












EF = 0
F
arch
– W
kayu
+ W
timah
= 0
F
arch
= W
kayu
+ W
timah

µ
air
.Vt.g = (m
kayu
+ m
timah
).g
µ
air
.0,9.
kayu
kayu
m
µ
g = (m
kayu
+ m
timah
).g
0,9.
6 , 0
67 , 3
= 3,67 + m
timah

m
timah
= 1,835 kg

SOAL 3
Pipa PDAM di rumah anda yang berdiameter ½ inchi mengeluarkan air sebanyak 5
liter tiap detiknya. Pipa tersebut terhubungkan dengan pipa PDAM lain yang berada 2 m
di bawah permukaan tanah dan berdiameter 10 inchi. Berapakah kecepatan aliran air di
pipa PDAM yang besar ?
Q = 5 liter/det = 5x10
-3
m
3
/det

v
1
=
1
A
Q

v
1
=
2 2
3
) 10 x 5 , 2 x 5 , 0 .(
4
1
10 . 5
÷
÷

v
1
= 128 m/det
F
arch

W
kayu
+ W
timah

Fisika Dasar I
Halaman : 76/116

Persamaan kontinuitas
A
1
.v
1
= A
2
.v
2

v
2
=
2
2
1
d
d
|
|
.
|

\
|
v
1

v
2
=
2
10
5 , 0
|
.
|

\
|
v
1

v
2
= 0,0025 v
1

v
2
= 0,0025 128
v
2
= 0,32 m/det


8.7 SOAL-SOAL LATIHAN
SOAL 1
Paru-paru manusia dapat beroperasi melawan suatu perbedaan tekanan yang
besarnya lebih kecil daripada seperduapuluh tekanan atmosfir standar. Jika seorang
penyelam menyelam di bawah permukaan laut, berapa jauhkah dia dapat berenang di
bawah permukaan air ?

SOAL 2
Sebuah pencetak besi yang mengandung sejumlah rongga mempunyai massa 27 kg
di dalam udara dan 18 kg di dalam air. Berapakah volume rongga udara di dalam
pencetak tersebut ? Asumsikan bahwa massa jenis relatif dari besi adalaj 7,8

SOAL 3
Seorang petugas pemadam kebakan akan memadamkan api yang berada di lantai 2
sebuah gedung sekitar 10 m di atas permukaan tanah. Ia mempunyai selang pemadam
berdiameter 20 cm dengan debit dari mobil pemadam sekitar 100 liter per detik. Ia berada
pada jarak 5 m dari gedung tersebut. Dengan sudut berapakah ia harus mengarahkan
selangnya sehingga air akan sampai ke tempat terjadinya kebakaran ?

SOAL 4
Sebuah sayap pesawat terbang dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi
perbedaan kecepatan udara yang melewati kedua sisi sayap tersebut. Dengan adanya
perbedaan kecepatan tersebut akan muncul gaya angkat sehingga pesawat bisa terbang.
Misalkan suatu pesawat mempunyai luas sayap total sebesar 10 m
2
. Udara melewati
permukaan sayap sebelah bawah dengan laju 50 m/s dan melewati permukaan atas sayap
pesawat dengan laju 80 m/s. Jika massa jenis udara adalah 1,2 kg/m
3
. Berapakah gaya
angkat yang ditimbulkan oleh sayap pesawat jika pesawat terbang mendatar ?

SOAL 5
Sebuah tangki setinggi 1 m diisi penuh dengan air dan terletak di atas meja setinggi
1 m seperti pada gambar. Sebuah lubang terdapat 20 cm dari dasar tangki sehingga air
memancar keluar dan akhirnya jatuh ke tanah. Berapakah jarak horizontal air yang jatuh
ke permukaan tanah tersebut ?

Fisika Dasar I
Halaman : 77/116












SOAL 6
Sebuah venturimeter dibuat dari dua buah pipa PVC yang yang masing-masing
memiliki diameter 10 cm dan 5 cm. Selain itu digunakan manometer air raksa yang
dihubungkan dengan kedua pipa tersebut. Venturimeter digunakan untuk mengukur aliran
air di rumah anda dan ternyata terukur perbedaan ketinggian permukaan air raksa di
manometer sebesar 2 cm. Maka debit air pada saat itu adalah ?

SOAL 7
Bayangkan anda berada di zaman kerajaan pajajaran yang pada saat itu dipimpin
oleh prabu siliwangi. Prabu siliwangi ingin memesan mahkota dari emas kepada seorang
pembuatnya dengan massa sekitar 2 kg dan sang prabu ingin agar mahkota tersebut
merupakan emas murni yang padat. Setelah mahkota selesai dibuat terdapat issu bahwa
mahkota tersebut tidak terbuat dari emas murni namun dicampur dengan kuningan di
dalamnya sehingga pembuat mahkota mendapatkan keuntungan yang besar. Sebagai
seorang penasihat prabu anda diminta untuk menguji apakah mahkota tersebut terbuat
dari emas murni atau bukan tanpa harus merusak mahkota tersebut dan jika anda tidak
sanggup, maka hukuman mati yang akan menunggu anda. Anda langsung bingung karena
anda memang belum mengetahui bagaimana menguji kadar emas di dalam mahkota
tersebut. Akhirnya mahkota anda bawa ke rumah dan karena bingung tanpa sengaja
mahkota terjatuh ke dalam ember berdiameter 30 cm dan tinggi 40 cm yang berisi penuh
air. Mahkota anda ambil kembali dari ember dan ternyata tinggi permukaan air di dalam
ember sekarang tinggal 35 cm. Tiba-tiba anda gembira karena anda kini telah tahu cara
untuk menguji kadar emas mahkota tersebut. Apakah mahkota tersebut terbuat dari emas
murni ? jika tidak berapa banyak kuningan yang telah dicampur oleh pembuat mahkota ?
Jelaskan jawaban anda dengan perhitungan yang tepat jika diketahui massa jenis emas
dan kuningan masing-masing 10 g/cm
3
dan 8 g/cm
3
.

Fisika Dasar I
Halaman : 78/116

BAB IX
TERMODINAMIKA


Pada termodinamika dibahas berupa sifat makroskopik (biasanya dapat diukur) disebut
termodinamika klasik atau sifat mikroskopik disebut termodinamika statistik.
Termodinamika klasik hanya membahas variabel-variabel makroskopik: tekanan,
temperatur, volume, dsb. Pembahasan tentang tekanan, temperatur, dan energi tingkat
atom dengan menggunakan metode yang dinamakan teori kinetik.

9.1 TEORI KINETIK GAS
Gas Ideal
Tinjau sejumlah gas dengan massa nM (n = jumlah mol, M = berat molekul) dalam
sebuah wadah dengan volume V dan temperaturnya T. Pada kerapatan cukup rendah gas
cenderung memperlihatkan hubungan yang sederhana antara variabel-variabel
termodinamika P, V, T.
(1) Untuk sejumlah massa tertentu, jika T(temperatur) tetap, maka P(tekanan) berbanding
terbalik dengan V(volume) ÷ Hukum Boyle.
(2) Untuk sejumlah massa tertentu, jika P tetap, maka V, berbanding langsung dengan
temperatur. ÷ Hukum Charles dan Gay-Lussac.
Dari kedua pernyataan tsb dapat dituliskan suatu hubungan:




T
PV
sebanding dengan massa gas, berarti sebanding dengan jumlah mol (n), sehingga,




R = konstanta gas umum = 8,312 J/mol K = 1,986 kal/mol K

Persamaan keadaan gas ideal dapat jugadituliskan degan persamaan



dengan N = jumlah partikel, k = tetapan Boltzman.

Dari segi pandangan mikroskopik gas ideal didefinisikan:
(1) Gas terdiri dari sejumlah partikel yang sangat banyak dan disebut molekul.
(2) Molekul-molekul bergerak secara acak dan memenuhi hukum-hukum gerak Newton.
(3) Volume molekul-molekul dapat diabaikan terhadap volume bejana yang ditempati
gas tersebut.
(4) Gaya-gaya pada molekul dapat diabaikan, kecuali selama terjadi tumbukan. Jadi,
selama tidak terjadi tumbukan molekul bergerak dengan kecepatan tetap.
tan kons
T
PV
=

nR
T
PV
=

NkT PV =
Fisika Dasar I
Halaman : 79/116

(5) Tumbukan-tumbukan yang terjadi antar molekul atau dengan diding bejana adalah
elastik sempurna dan terjadi dalam waktu yang sangat singkat.

9.2 Perpindahan Kalor
Dalam termodinamika proses perpindahan kalor merupakan suatu hal yang sangat
penting. Sebagian besar proses-proses termodinamika melibatkan perpindahan kalor yang
terjadi. Penggolongan kalor dalam termodinamika secara garis besar dibagi kedalam dua
bagian besar yaitu kalor sensibel dan kalor laten.

Kalor Sensibel
Kalor sensibel adalah kalor yang muncul karena adanya perbedaan suhu. Kalor
akan berpindah dari suatu sistem atau zat dengan suhu lebih tinggi ke sistem atau zat
dengan temperatur lebih rendah. Secara matematis kalor sensibel dapat dinyatakan
sebagai fungsi dari perubahan suhu.



Lebih jauh besar kalor sensibel dapat dinyatakan dalam persamaan matematis di bawah
ini


Dimana
c  kalor jenis zat (J/kg.
O
C)

Kalor Laten
Kalor laten adalah kalor yang muncul karena adanya perubahan kandungan uap air
atau adanya perubahan wujud pada suatu zat. Perlu diperhatikan bahwa kalor laten tidak
memperhitungan perubahan suhu yang terjadi. Pada proses perubahan wujud yang
merupakan proses isotermik perubahan suhu tidak berpengaruh pada besarnya kalor yang
terjadi. Contoh yang dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari adalah kalor yang
timbul karena adanya uap air yang menguap dan kalor yang diperlukan untuk
mendidihkan air.
Sementara itu jenis-jenis perpindahan kalor yang kita bahas dalam topik ini adalah
perpindahan kalor secara sensibel yang dapat dibagi ke dalam tiga bagian utama yaitu
proses konduksi, konveksi dan radiasi.

Proses Perpindahan Kalor Secara Konduksi
Proses perpindahan kalor secara konduksi adalah proses perpindahan kalor karena
adanya perbedaan suhu diantara dua sistem atau zat. Proses konduksi biasanya terjadi
pada benda padat dimana partikel-partikel zat tersebut tidak bergerak dan hanya berfungsi
sebagai media perpindahan kalor. Besarnya laju perpindahan kalor secara konduksi dapat
dinyatakan dalam persamaan




Dimana
Q

 Laju perpindahan kalor (J/det)
) T ( f Q
sensibel
A =

T . c . m Q A =

x
T
. A . k Q
A
A
=


Fisika Dasar I
Halaman : 80/116

k  Konduktivitas termal (W/m.K)
Ax  Tebal zat
A  Luas permukaan
AT  Perbedaan suhu

Proses Perpindahan Kalor Secara Konveksi
Proses perpindahan kalor secara konduksi adalah proses perpindahan kalor karena
adanya perbedaan suhu diantara dua sistem atau zat dimana zat tersebut ikut berfungsi
mengalirkan kalor. Proses konveksi biasanya terjadi pada zat alir (fluida) dimana partikel-
partikel zat tersebut bergerak dan berfungsi sebagai media yang mengalirkan kalor.
Besarnya laju perpindahan kalor secara konveksi dapat dinyatakan dalam persamaan



Dimana
Q

 Laju perpindahan kalor (J/det)
h  Koefisien konveksi (W/m
2
.K)
A  Luas permukaan
AT  Perbedaan suhu

Proses Perpindahan Kalor Secara Radiasi
Proses perpindahan kalor secara radiasi adalah proses perpindahan kalor dimana
kalor merambat tanpa melalui media perambatan. Kalor diradiasikan langsung dari
sumbernya ke tempat atau zat lain yang mempunyai suhu lebih rendah dari sumber kalor
tersebut. Perpindahan kalor secara radiasi yang bisa kita lihat adalah radiasi dari sinar
matahari. Persamaan perpindahan kalor secara radiasi dapat dinyatakan dalam persamaan



Dimana
Q

 Laju perpindahan kalor (J/det)
e  emissivitas
σ  Konstanta Boltzmann (W/m
2
.K
4
)
T  Suhu sumber radiasi

9.3 Usaha dan Hukum Pertama Termodinamika
Akan dibahas hukum kekekalan energi yang lebih luas daripada yang dibahas
dalam mekanika yang melibatkan kalor disamping usaha. Hukum ini disebut Hukum
Pertama Termodinamika.
T . A . h Q A =


4
T . . A . e Q o =


Fisika Dasar I
Halaman : 81/116

9.3.1 Usaha
Perhatikan sebuah tabung dengan sebuah pengisap yang dapat bergerak berisi gas.



Penampang tabung, A, dan tekanan oleh sistem terhadap piston, P. Maka usaha yang
dilakukan:



Jika perubahan volume yang terjadi dari V
1
ke V
2
, maka:





Integral ini dapat dihitung secara grafik sebagai luas di bawah kurva. Usaha yang
dilakukan sistem bergantung pada proses yang bersangkutan.

9.3.2 Hukum Pertama Termodinamika
Suatu sistem termodinamik berubah dari keadaan awal P
1
, V
1
ke keadaan akhir P
2
,
V
2
dengan menyerap atau mengeluarkan kalor Q, dan melakukan atau menerima usaha
W.
Q – W disebut perubahan energi dalam sistem = tetap untuk semua proses.
Jika U
1
= energi dalam sistem pada keadaan awal.
U
2
= energi dalam sistem pada keadaan akhir
Maka perubahan energi dalam sistem:
AU = U
2
–U
1
= Q – W ÷ Hukum Pertama Termodinamika.
) V V ( p dV . p dW
1 2
÷ = =

}
=
2
1
V
V
PdV W

Fisika Dasar I
Halaman : 82/116

Jika perubahan energi relatif kecil, maka:
dU = dQ - dW

dengan:
 W positif jika sistem melakukan kerja.
 Q positif jika sistem menyerap panas.


9.3.3 Proses-Proses Termodinamik
Proses isovolumetrik (proses pada volume tetap)

}
=
2
1
V
V
PdV W
Karena tidak ada perubahan volume, maka dV = 0, sehingga:
dU = dQ
v

atau
dU = nC
v
dT ÷ berlaku untuk semua proses.

dengan C
v
= kapasitas molar pada volume tetap

Proses isobarik (proses pada tekanan tetap)
) (
1 2
2
1
2
1
V V P dV P PdV W
V
V
V
V
÷ = = =
} }

dari definisi, kapasitas panas molar pada tekanan tetap adalah C
p
, maka:
dQ = nCpdT
dan usaha pada tekanan tetap:
dW = PdV = nRdT
maka
dU = dQ – dW
nC
v
dT = nC
p
dT- nRdT
C
p
– C
v
= R ÷ berlaku untuk semua proses

Proses isotermik (proses pada temperatur tetap)

}
=
2
1
V
V
PdV W
Untuk gas ideal:
V
nRT
P =
Karena n, R, dan T tetap maka:

}
=
2
1
V
V
V
dV
nRT W




1
2
V
V
ln nRT W =


Fisika Dasar I
Halaman : 83/116

Pada pemuaian, V
2
> V
1
dan W positif. Untuk T tetap:

2
1
1
2
2 2 1 1
P
P
V
V
atau V P V P = =
Usaha isotermik dapat ditulis;

2
1
ln
P
P
nRT W =
Pada proses isotermal ini dT = 0, sehingga: dU = 0
dQ = dW

Proses adiabatik (proses tanpa aliran kalor)
Pada proses adiabatis berlaku:

v
p
C
C
dengan
tetap PV
tetap TV
=
=
=
÷
÷
¸
¸
¸
1
1


Usaha yang dilakukan pada proses adiabatis (tidak isovolum):


} }
÷ = =
2
1
2
1
T
T
v
V
V
dT nC PdV W
Karena PV
¸-1
= tetap, misalnya sama dengan C, maka:

| |
2
1
2
1
V
V
1
V
V
V
1
1
C dV
V
C
W
¸ ÷
¸
÷ ¸
= =
}






Selain proses-proses tersebut diatas, ada proses lain yang perlu diketahui yaitu
proses reversibel adalah proses yang dapat kembali ke keadaan semula tanpa adanya
kalor yang berpindah dan tanpa usaha yang dilakukan, artinya tanpa adanya perubahan
apa pun, baik pada sistem maupun pada lingkungannya. Proses reversibel ini pada
kenyataannya tidak ada, semua proses yang terjadi di alam adalah proses yang
irreversibel. Contoh proses reversibel adalah mesin Carnot.

| |
1 1 2 2
V P V P
1
1
W ÷
¸ ÷
=

Fisika Dasar I
Halaman : 84/116

9.3.4 Siklus Sistem
Siklus sistem adalah sistem yang dalam kerjanya membentuk siklus tertutup.
Keadaan awal = keadaan akhir. Dalam satu siklus AU = 0 ÷ Q = W.
Perhatikan suatu proses berikut:
P



P
1 c d


P
2 b a


V
1
V
2
V

Proses :
 ab dan cd : proses isobarik (P tetap)
 bc dan da: proses isokhorik (V tetap) ÷ W = 0
(a) proses ab
a
b
a
b
b
a
b a p a b p p ab
b
a
ab
V
V
T
T
T T C T T C dT C Q
V V P V V P PdV W
=
÷ ÷ = ÷ = =
÷ ÷ = ÷ = =
}
}
) ( ) (
) ( ) (
1 2 2 1

(b) proses bc
1
2
) (
0
P
P
T
T
T T C dT C Q
PdV W
b
c
c
b
b c v v bc
c
b
bc
=
÷ = =
= =
}
}


(c) proses cd
2
1
1 2 1
) (
) (
V
V
T
T
T T C dT C Q
V V P PdV W
d
c
d
c
c d p p cd
d
c
cd
=
÷ = =
÷ = =
}
}

Fisika Dasar I
Halaman : 85/116


(d) proses da
1
2
) (
0
P
P
T
T
T T C dT C Q
PdV W
a
d
a
d
a d v v da
a
d
da
=
÷ ÷ = =
= =
}
}

Efisiensi dapat didefinisikan sebagai :

Dimana: W = W
ab
+ W
bc
+ W
cd
+ W
da
= (P
2
– P
1
)(V
2
– V
1
)
= luas daerah abcd dalam diagram P-V diatas.
Q
1
= jumlah kalor yang masuk
= Q
bc
+ Q
cd


9.3.5 Hukum Kedua Termodinamika
Pada dasarnya hukum kedua termodinamika mengatur laju aliran kalor
yangmengalir diantara dua reservoir suhu. Reservoir suhu adalah suatu sistem dimana
suhunya relatif tidak berubah jika menerima atau melepas kalor. Bisanya reservoir
ditandai dengan adanya jumlah zat yang sangat besar. Salah satu contoh reservoir suhu
yang kita kenal adalah udara luar.
Hukum kedua termodinamika disusun oleh dua pernyataan yang sampai saat ini
masih berlaku yaitu pernyataan Carnot untuk mesin panas dan pernyataan Claussius
untuk mesin pendingin

Pernyataan Carnot
Carnot menyatakan bahwa “tidak mungkin kita bisa
merubah seluruh kalor dari suatu reservoir bersuhu tinggi
menjadi kerja”. Dia juga menyatakan bahwa mesin panas
dengan efisiensi terbaik adalah mesin dengan siklus
reversibel atau yang dikenal dengan mesin Carnot.
Kita tinjau sebuah mesin yang mempunyai dua buah
reservoir suhu seperti dalam gambar di bawah ini








1
Q
W
= q
Q
H

Q
L

W
Q
H

W
Fisika Dasar I
Halaman : 86/116

Q
L

Q
H

Kalor mengalir dari reservoir suhu tinggi bersuhu T
H
ke reservoir suhu rendah
bersushu T
L
melalui suatu mesin. Sebagian kalor dirubah menjadi kerja dan sisanya
dibuang ke reservoir suhu rendah. Pada sistem ini berlaku persamaan
Q
H
= W + Q
L

Efisiensi mesin didefinisikan sebagai besaran yang diinginkan dibagi dengan
besaran yang harus dimasukkan pada sistem, atau sering pula dikatakan besaran yang
diinginkan dibagi dengan besaran yang dibutuhkan. Pada mesin panas besaran yang
diinginkan adalah W dan besaran yang dibutuhkan adalah Q
H
. Persamaan efisiensi akan
menjadi
q =
H
Q
W

q =
H
L H
Q
Q Q ÷

q = 1 -
H
L
Q
Q

Untuk mesin reversibel (mesin Carnot),
H
L
Q
Q
=
H
L
T
T


Sehingga persamaan efisiensi mesin Carnot dapat dituliskan sebagai





Pernyataan Claussius
Clausiuss menyatakan bahwa kita tidak mungkin memindahkan kalor
dari reservoir suhu rendah ke reservoir suhu tinggi tanpa memberikan
kerja pada sistem.
Kita tinjau suatu mesin pendingin yang memiliki dua buah reservoir
suhu seperti terlihat dalam gambar di bawah ini












H
L
T
T
1÷ = q

Q
L

Q
H

W
Fisika Dasar I
Halaman : 87/116

Kalor dipaksa untuk mengalir dari reservoir suhu rendah bersuhu T
L
ke reservoir
suhu tinggi bersuhu T
H
melalui suatu mesin. Kerja harus dilakukan pada sistem agar tidak
melanggar pernyataan Claussius. Pada sistem ini berlaku persamaan
Q
H
= W + Q
L

Efisiensi mesin didefinisikan sebagai besaran yang diinginkan dibagi dengan
besaran yang harus dimasukkan pada sistem, atau sering pula dikatakan besaran yang
diinginkan dibagi dengan besaran yang dibutuhkan. Untuk mesin pendingin efisiensi
lebih dikenal dengan sebutan COP (Coefficient of Performance). Pada mesin pendingin
besaran yang diinginkan adalah Q
L
dan besaran yang dibutuhkan adalah W. Persamaan
efisiensi akan menjadi
COP =
W
Q
L

COP =
L H
L
Q Q
Q
÷

COP =
1
Q
Q
1
L
H
÷

Untuk mesin reversibel,
L
H
Q
Q
=
L
H
T
T

Sehingga persamaan COP mesin pendingin dapat dituliskan sebagai







9.4 CONTOH SOAL
SOAL 1
Satu mol udara yang bisa dianggap sebagai suatu gas ideal pada suhu 27
O
C
dipanaskan dengan proses isobarik sehingga volumenya bertambah dari 1 liter menjadi 3
liter. Hitunglah
a. Temperatur akhir
Proses Isobarik (tekanan tetap)

2
2
1
1
T
V
T
V
=

2
T
3
300
1
=
T
2
= 900 K
b. Kerja yang dilakukan
Pada suhu 27
O
C
PV = nRT
P.1 = 0,082.300
P = 24,6 atm
1
T
T
1
COP
L
H
÷
=

Fisika Dasar I
Halaman : 88/116


W = P (V
2
– V
1
)
W = 24,6 (3 – 1)
W = 49,2 liter.atm

SOAL 2
Sebuah mesin Carnot bekerja diantara dua reservoir dengan suhu 400 K dan 600 K.
Mesin membuang kalor ke reservoir rendah sebesar 500 kJ. Hitunglah
a. Efisiensi mesin
H
L
T
T
1÷ = q
600
400
1÷ = q
q = 33,3 %
b. Kerja yang dihasilkan mesin
Q
L
= 500 kJ
Q
H
= W + Q
L

q =
H
Q
W

q =
500 W
W
+

0,33 =
500 W
W
+

W = 750 kJ

SOAL 3
Dalam proses termodinamik seperti di dalam gambar di bawah, Hitunglah,











2 5
2
4
P (atm)
A B
C
V (m
3
)
Fisika Dasar I
Halaman : 89/116

a. Kerja yang dilakukan
Kerja yang dilakukan adalah luas dibawah grafik P-V selama siklus berlangsung
W =
2
2 x 3
x10
5

W = 3x10
5
J
b. Perubahan energi dalam
Untuk suatu siklus termodinamika, perubahan energi dalam adalah nol
AU = 0
c. Kalor yang dilepas/diterima
Gunakan hukum termodinamika I
Q = W + AU
Q = W + 0
Q = W = 3x10
5
J

9.5 SOAL-SOAL LATIHAN
SOAL 1
Gas ideal berada di dalam suatu tangki tegar. Gas mula-mula berada pada suhu 27
O
C dan tekanan 1 atm. Gas kemudian dipanaskan sehingga tekanannya kini mencapai 4
atm. Hitunglah
- Suhu akhir
- Kerja yang dilakukan
- Perubahan energi dalam

SOAL 2
Sebuah termos berisi air panas bersuhu 80 OC. Volume termos tersebut adalah 2
liter. Setelah berapa lama suhu air dalam termos akan mencapai 50
O
C dengan asumsi
konduktivitas termal termos adalah 0,02 W/m.K dan tebal termos adalah 5 cm.

SOAL 3
Suatu gas ideal pada suhu 27
O
C dan tekanan 1 atm berada di dalam suatu silinder
dengan piston yang dapat bergerak bebas tanpa gesekan. Gas kemudian dipanaskan
sampai suhunya mencapai 127
O
C. Selanjutnya piston dipegang sehingga tidak dapat
bergerak lagi dan gas kembali dipanaskan sampai tekanannya 8 atm. Berapakah suhu
akhir gas sekarang ?

SOAL 4
Gas ideal berada di dalam suatu wadah yang terisolasi secara sempurna. Mula mula
gas berada dalam suhu 300 K dan tekanan 2 atm. Kemudian gas ditekan sehingga
volumenya berkurang setengahnya. Hitunglah,
a. Kerja yang dilakukan
b. Perubahan energi dalam
c. Kalor yang dilepas/diterima

Fisika Dasar I
Halaman : 90/116

SOAL 5
Sebuah bola besi dijatuhkan ke atas lantai beton dari seuatu ketinggian sebesar 10
m. Pada pantulan pertama bola tersebut naik setinggi 0,5 m. Anggaplah bahwa semua
tenaga mekanis yang hilang di dalam tumbukkan seluruhnya diterima bola tersebut untuk
menaikkan suhunya dan kalor jenis bola adalah 0,12 cal / g
O
C. Hitunglah kenaikkan
temperatur bola karena tumbukkan tersebut.

SOAL 6
Sebuah mesin dengan bahan gas ideal mempunyai siklus seperti gambar di bawah
ini. Gas tersebut mula-mula mempunyai volume 10 liter, tekanan 2,5 atm, dan suhunya
300 K. Secara adiabatis volumenya diubah menjadi 2 liter, kemudian secara isobarik
volumenya diubah menjadi 4 liter, akhirnya kembali ke volume semula secara adiabatik
dan secara isovolume. Jika ¸ = 1,5, tentukanlah:
(a) kerja tiap-tiap proses
(b) panas yang diserap dan yang dibuang pada siklus tersebut.
(c) efisiensi mesin.

P(atm)

B C


D

2,5 A


0 2 4 10 V(liter)




SOAL 7
Gambar di bawah ini adalah diagram P-V gas ideal yang massanya 50 gram. Suhu
pada keadaan A adalah 227
0
C dan C
v
= 0,15 kalori/gram K.

P(atm)

8 A

6 B




2 D C

0 2 10 V(liter)
Fisika Dasar I
Halaman : 91/116


Tentukanlah:
(a) suhu pada keadaan B
(b) perubahan energi pada proses A ke B,
(c) kerja dan panas pada proses A ke B,
(d) kerja total yang dilakukan pada siklus ABCDA.

SOAL 8
Misalkan anda adalah seorang pendaki gunung yang sedang berusaha untuk
menaklukkan puncak mount Everest. Diperkirakan suhu di puncak tersebut bisa mencapai
– 20
O
C. Luas seluruh permukaan badan anda adalah 2 m
2
dan tebal pakaian anda
ditambah dengan jaket anti dingin sebesar 5 cm. Menurut penelitian seseorang akan
meninggal karena “Hypothermia” jika suhu permukaan kulitnya mencapai – 5
O
C. Suhu
permukaan kulit normal adalah sebesar 36
O
C. Jika konduktivitas termal pakaian + jaket
anda adalah 0,05 W/m.K Berapa lama anda dapat berada di puncak Mount Everest
sebelum terkena Hypothermia ?

Fisika Dasar I
Halaman : 92/116

BAB X
GELOMBANG


Gelombang adalah suatu gejala terjadinya perambatan suatu gangguan (disturbance)
melewati suatu medium dimana setelah gangguan ini lewat keadaan medium akan
kembali ke keadaan semula seperti sebelum gangguan itu datang
Contoh pergerakan gelombang:
- bunyi yang dapat didengar(menjalar di udara),
- riak yang terjadi apabila kita melempar batu kedalam air,
- kamar yang terang apabila lampu dinyalakan,
- atau bahkan transmisi sinyal listrik.

10.1 Jenis gelombang
Berdasarkan arah rambatannya dapat dibedakan dua jenis gelombang, yaitu:
- Gelombang tranversal: arah rambatannya tegak lurus arah getaran (gel em, gel
mekanik
- Gelombang longitudinal; arah rambatannya sama dengan arah getaran. (gel
mekanik).
Berdasarkan medium perambatannya gelombang dibagi dalam:
1. Gelombang Mekanik
Yaitu gelombang yang dalam perambatannya memerlukan medium.
Termasuk dalam gelombang mekanik adalah:
- Gelombang tali
- Gelombang permukaan air
- Gelombang seismik
- Gelombang tegangan
- Gelombang akustik
Gelombang infrasonik (f < 20 Hz)
o Gelombang suara (20 Hz < f < 20 kHz)
o Gelombang ultrasonik (f > 20 kHz)
2. Gelombang Elektromagnet
Yaitu gelombang yang dalam perambatannya tidak diperlukan medium.
Termasuk dalam gelombang elektromagnet adalah:
 Cahaya tampak
 Sinar infra merah
 Sinar ultra ungu
 Gelombang radio AM
 Gelombang radio FM
 Gelombang televisi VHF
 Gelombang televisi UHF
 Sinar – x

Fisika Dasar I
Halaman : 93/116

10.2 Persamaan Gelombang
10.2.1 Persamaan Gelombang Tranversal dalam Tali
Tinjaulah suatu tali yang sangat panjang dengan rapat masa linier (masa per satuan
panjang) µ yang direntangkan dengan gaya tegangan tali F. selanjutnya arah rentang tali
pada keadaan setimbang dipilih sebagai sumbu x. andaikan suatu gangguan dilewatkan
pada tali tersebut, maka titik pada tali yang dilewati gangguan akan menyimpang dari
kedudukan setimbang. Jika simpangan terhadap kedudukan setimbang dinyatakan sebagai
¢ , maka besaran yang selanjutnya akan disebut fungsi gelombang merupakan fungsi
posisi (x) dan waktu (t).
Perhatikan suatu elemen yang pada keadaan setimbang mempunyai panjang dx dan
berjarak x dari pusat koordinat. Akibat gangguan yang dilewatkan pada tali pada saat t
ujung kiri elemen tali menyimpang sebesar ¢ (x + dx,t) seperti ditunjukan dalam
Gambar 1.


F

u
(x + dx,t)

x x + dx
Gambar Simpangan elemen tali yang pada kedudukan setimbang mempunyai panjang dx
Untuk menyederhanakan persoalan, simpangan titik-titik yang disebabkan karena
gangguan cukup kecil, sehingga sudut-sudut yang dibentuk oleh gaya tegangan tali
terhadap kedudukan setimbang (sumbu x) merupakan sudut-sudut yang kecil. Hal ini
berarti komponen tegangan tali dalam arah sumbu x yang bekerja pada kedua ujung
elemen tali dapat dianggap sama sehingga tidak terjadi gerak dalam sumbu x. dengan
demikian, persamaan gerak elemen tali hanya terjadi dalam arah tegak lurus sumbu.
Dari persamaan Hukum II Newton:

dF = dm . a
F (sin ( )
2
2
t
) sin d
c
¢ c
= u ÷ u + u

Untuk sudut kecil, sin u = tgn u = ,
x c
¢ c
sehingga diperoleh :
F
2
2
t
dx
x
dx x
c
¢ c
µ =
(
(
¸
(

¸

(
¸
(

¸

|
|
.
|

\
|
¢ c
¢ c
÷ |
.
|

\
|
c
¢ c
+
(1)
Fisika Dasar I
Halaman : 94/116

Besaran dalam kurung pada ruas kiri persamaan (1) dapat dikaitkan dengan definisi
turunan parsial suatu fungsi, yang secara umum dituliskan :

) ( dx
x x x x
: sehingga ,
dx
) y , x ( f ) y , dx x ( f
x
) y , x ( f
x dx x
2
(
¸
(

¸

c
¢ c
c
c
=
(
¸
(

¸

c
¢ c
÷
(
¸
(

¸

c
¢ c
÷ +
=
c
c
+

dengan menggunakan persamaan (2), persamaan gerak elemen tali pada persamaan (1)
dapat dituliskan :

(
¸
(

¸

c
¢ c
µ
=
(
¸
(

¸

c
¢ c
(
¸
(

¸

c
¢ c
µ =
(
¸
(

¸

c
¢ c
c
c
2
2
2
2
2
2
x
F
t
atau
t
. dx dx
x x
F
(3)
persamaan (3) dikenal sebagai persamaan umum gelombang satu dimensi dalam bentuk
diferensial. Persamaan tersebut hanya menggambarkan kekuatan atau sifat fungsi
gelombang, tidak menggambarkan secara lengkap bagaimanakah bentuk fungsi
gelombang yang memenuhi persamaan (3). Dengan manipulasi matematik diperoleh:

) (
t
x
v
t
t
x
v ,
t
x
x
t
x
t x t
t
x
.
x t t t
t
x
.
x t
4
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
c
c
=
c
¢ c
c
c
=
c
c
c
¢ c
=
|
.
|

\
|
c
c
c
c
c
¢ c
=
c
¢ c
|
.
|

\
|
c
c
c
¢ c
c
c
= |
.
|

\
|
c
¢ c
c
c
c
c
c
¢ c
=
c
¢ c

Persamaan (4) disebut dengan persamaan umum gelombang satu dimensi
Dari persamaan (3) dan (4) memberikan kesimpulan bahwa:


µ
F
v = (5)
v dalam persamaan (4) dan (5) disebut kecepatan fase gelombang atau kecepatan
gelombang. Kecepatan gelombang harus dibedakan dengan kecepatan naik turunnya
elemen-elemebn tali yang merupakan partikel atau kecepatan getaran.

Fisika Dasar I
Halaman : 95/116

Secara fisis, kecepatan gelombang menggambarkan cepat atau lambatnya suatau
gangguan merambat dalam medium. Istilah kecepatan fase gelombang berkaitan dengan
arti matematis kecepatan gelombang, sebab fase yang konstan bergerak sepanjang tali.
(medium) dengan kecepatan
dt
dx
v =
sedangkan kecepatan partikel atau kecepatan getaran menggambarkan respons
(tanggapan)medium terhadap gangguan yang melewatinya.
Persamaan umum gelombang dalam bentuk diferensial, persamaan (3) dan (4),
merupakan persamaan diferensial linier yang homogen, sehingga fungsi gelombang yang
diperoleh melalui persamaan tersebut memenuhi prinsip superposisi linier. Artinya, jika
¢1 dan ¢2 masing-masing memenuhi persamaan (3), maka ¢ = a¢1 + b¢2 juga
memenuhi persamaan (3) untuk sembarang konstanta a dan b.
Secara umum solusi fungsi gelombang yang memenuhi persamaan (4) dapat
dituliskan sebagai:
¢(x,t) = g(vt+ x) + h(vt-x) (6)
g(vt + v) menyatakan sembarang fungsi dengan domain (vt + x), dan h(vt – x)
menyatakan sembarang bentuk fungsi dengan domain (vt – x). domain atau argumen
fungsi tersebut selanjutnya akan disebut fase gelombang.
Untuk gelombang harmonik gelombang dinyatakan dalam bentuk fungsi sinusoida.
Gelombang sinusoida dapat dihasilkan pada tali jika ada bagian tali yang digetarkan
secara harmonik terus-menerus. Dengan demikian, gelombang yang merambat kekanan
sepanjang tali dapat dituliskan:
( ) ( ) x vt k sin A y ÷ = (9)
dan gelombang yang merambat ke kiri sepanjang tali:
( ) ( ) x vt k sin A y + = (10)
Atau dapat itulis dalam bentuk lain, untuk gelombang yang merambat ke kiri:
( ) kx t sin A y + e = (11)
sedangkan untuk gelombang yang merambat ke kiri:



Frekuensi f
sudut Frekuensi f
gelombang Panjang
gelombang Bilangan k
Amplituda A
=
= =
=
= =
=
t e
ì
ì
t
2
2
) x k t ( sin A y ÷ e =
Fisika Dasar I
Halaman : 96/116


Gambar Fungsi gelombang sinusoida
Pada gelomang sinusoida, seperti pada gambar 2., terlihat adanya puncak-puncak
dan lembah-lembah gelombang. Jarak antara dua puncak gelombang yang berurutan atau
jarak antara dua lembah gelombnag yang berurutan disebut panjang gelombang (ì).
Dari gambar 2. terlihat pula bahwa secara umum ì dapat diartikan sebagai jarak dua titi
sefase yang berurutan.
Selang waktu suatu titik menjadi puncak gelombang hingga menjadi puncak
gelombang berikutnya, atau lembah gelombang menjadi lembah gelombang berikutnya
disebut perioda gelombang (T). Secara umum perioda (T) dapat diartikan selang waktu
yang diperlukan sebuah titik untuk berubah fase sebesar 2t. Dari uraian tersebut dapat
disimpulkan bahwa panjang gelombang adalah jarak yang ditempuh gelombang selama
satu perioda. Dengan demikian :

) b . ( f v
) a . (
T
v
13
13
ì =
ì
=

f=1/T disebut frekuensi gelombang (Hz), mengambil analogi hubungan e=2t/T dalam
getaran.
Pada gelombang didefinisikan bilangan gelombang (k), melalui persamaan:
ì
t
=
2
k (14)
Dengan memasukan persamaan (14) ke persamaan (13.a) diperoleh:
k
v
e
= (15)


10.2.2 Persamaan Gelombang Longitudinal dalam Gas
Tinjaulah sejumlah gas dengan massa tertentu, yang dalam kesetimbangan dengan
tekanan P
o
menempati volume V
o
dan massa jenis gas µ
o
. Andaikan gelombang bunyi
dalam gas merupakan gelombang longitudinal, karena gas tidak mempunyai kemampuan
untuk melawan perubahan bentuk.
x
y
A
ì
Panjang gelombang
Amplitudo
Fisika Dasar I
Halaman : 97/116

Akibat gelombang bunyi yang melalui gas, tekanan dan volume tersebut berubah
menjadi:
P= P
o
+ P
V = V
o
+ V (16)
Sifat elastisitas gas merupakan ukuran kompresibilitasnya dinyatakan oleh besaran yang
disebut modulus bulk (B) dan didefinisikan sebagai :

] [
V
dV
dP
B = (17)
Harga modulus bulk yang dinyatakan dalam persamaan (17) bergantung pada
proses yang dialami gas selama perubahan volume tersebut. Laplace dapat menunjukan
bahwa perubahan volume gas dalam gelombang bunyi mengikuti proses adiabatik
sehingga barlaku hubungan:
tan kons PV =
¸

dari persamaan (16) dan (17) diperoleh:
B
a
= ¸ . P (18)
B
a
adalah modulus Bulk yang dihitung pada proses adiabatik, sehingga persamaan (17)
dan (16) memberikan hubungan :

Vo
V
Ba P
atau
Vo V
P
V dV
dP
Ba
.
/ /
÷ =
÷
=
÷
=
(19)
selanjutnya perhatikan suatu elemen massa gas yang pada keadaan setimbang berupa
suatu lapisan setebal dx dan berjarak x dari pusat koordinat. Jika simpangan yang
disebabkan oleh lewatnya gelombang dalam gas dinyatakan sebagai fungsi ¢, maka
ujung kiri elemen gas yang menyimpang sebesar ¢(x) dan ujung kanan menyimpang
sejauh ¢(x + dx) dari kedudukan setimbangnya seperti ditunjukan dalam gambar 3.

¢ (x+dx)


P1
¢(x)
x

Gambar Simpangan elemen gas yang pada keadaan setimbang mempunyai
tebal dx dan berjarak x dari pusat koordinat.
Lewatnya gelombang menyebabkan tekanan yang bekerja pada kedua permukaan
elemen gas yang ditinjau tidak lagi sama besar, sehingga terjadi simpangan yang telah
disebutkan.

P
2
Fisika Dasar I
Halaman : 98/116

Berdasarkan Hukum II Newton untuk elemen gas :
( )
2
2
2 1
t
Adx A P P
c
¢ c
µ = ÷

( ) ( )
2
2
2
2
t
dx dx
x
P
t
dx dx x P x P
c
¢ c
µ =
c
c
÷
c
¢ c
µ = + ÷

Mengingat P = P
o
+ P, maka persamaan tersebut dapat dituliskan

2
2
t
P
x c
¢ c
µ =
c
c
÷
(20)
Dari persamaan (19) :

x
B
Adx
)] x ( ) dx x [ A
B
Vo
V
B P
a
a
a
c
¢ c
÷ =
¢ = + ¢
÷ =
÷ =

Dengan memasukan ke persamaan (20):

2
2
t x
B
x
a
c
¢ c
µ =
|
.
|

\
|
c
¢ c
÷
c
c
÷
diperoleh

2
2
2
2
2
2
2
2
x
B
t
atau
t x
B
a
a
c
¢ c
µ
=
c
¢ c
c
¢ c
µ =
c
¢ c
(21)
Terlihat bahwa persamaan longitudinal dalam bentuk diferensial dinyatakan dalam
persamaan (21) mempunyai bentuk yang sama dengan persamaan (3) untuk gelombang
tranversal, kecuali konstantanya. Dengan demikian kecepatan gelombang di udara dapat
dituliskan:

µ
=
a
B
v (22)

10.2.3 Kecepatan Gelombang Elastik
Bentuk rumus kecepatan gelombang transversal dan gelombang longitudinal yang
dinyatakan dalam persamaan (5) dan (22) menunjukan adanya kemiripam bentuk,
mengungat rapat massa linier (µ) sam dengan hasil kali massa jenis (µ) dan luas
penampang (|) maka bentuk persamaa (5) yang menyatakan kecepatan gelombang dalam
tali dapat diubah menjadi:
Fisika Dasar I
Halaman : 99/116


µ µ|
G F
V
t
= = (23)
Terlihat adanya kemiripan persamaan kecepatan gelombang transversal dalam tali
dan kecepatan longitudinal dalam gas. Besaran G dalam persamaan (23) mempunyai
dimensi yang sama dengan tekanan maupun modulus bulk, dan peranannya dalam tali
memberikan respons terhadap gangguan dalam arah transversal . Besaran ini disebut
modulus elastisitas transversal atau modulus geser ( G) yang didefinisikan :

ser regangange
ser tegangange
G = (24)
Secara umum dapat disimpulkan bahwa kecepatan gelombang transversal dalam
medium padat ditentukan dengan persamaan (23) dan khusus untuk tali G harus diartikan
sebagai gaya tegangan tali persatuan luas.
Kecepatan gelombang longitudinal dalam berbagai medium dapat ditentukan
dengan persamaan-persamaan berikut :
a. Dalam Medium Gas
µ
a
L
B
V = (25)
Jika medium gas berkelakuan gas ideal yang memenuhi persamaan keadaan pv=nRT,
maka persamaa (25) dapat ditulis:

M
RT
V
L
¸ = (26)
dengan R = tetapan gas umum = 8,314.10
3
J/mole.K
T = temperatur gas dalam skala Kelvin
M = berat molekul rata-rata gas dalam satuan kg/mole
Selanjutnya dengan menggunakan hubungan R = NK( N = bilangan Avogadro dan K=
tetapan Boltzman), maka persamaan (26) juga dapat dituliskan :

m
KT
V
L
¸ = (27)
dengan K = 1,38.10
-38
J/K
m = massa rata-rata sebuah molekul gas dalam satuan kg
b. Dalam Medium Padat
Kecepatan gelombang longitudinal dalam medium padat

µ
G B
V
L
3 / 4 +
= (28)
dimana B = Modulus Bulk
G = Modulus Geser
Dapat juga ditulis dalam persamaan:

µ
Y
V
L
= (29)
dimana Y = Modulus Young
Fisika Dasar I
Halaman : 100/116

Tampak bahwa modulus elastis medium (dinyatakan G, B, maupun Y) dan rapat massa
menentukan kecepatan gelombang dalam medium.

10.2.4 Kecepatan Gelombang Medan
Gelombang medan yang akan dibahas yaitu gelombang elektromagnet. Sesuai
dengan namanya, gelombang elektromagnet merupakan rambatan getaran medan listrik
dan medan magnet. Dalam ruang hampa (vakum), kecepatan gelombang elektromagnet
(c), didefinisikan sebagai:

o o
c
µ c
1
= (30)
dimana c
o
= permitivitas ruang hampa
µ
o
= permeabilitas ruang hampa
Dari hasil pengukuran diperoleh c = 3.10
8
m/s.
Kecepatan gelombang elektromagnet dalam medium secara umum dapat ditentukan:


1
= V (31)
dimana c = permitivitas medium
µ = permeabilitas medium


10.2.5 Rapat Energi, Daya, dan Intensitas Gelombang
Mengingat gelombang dapat diartikan sebagai getaran yang dapat dirambatkan,
sehingga energi yang dimiliki gelombang merupakan energi getaran. Perhitungan yang
teliti menunjukan bahwa energi gelombang merupakan fungsi waktu, tetapi harga rata-
ratanya konstan sehingga rapat energinya mudah ditentukan.
Untuk gelombang tali rapat energi rata-rata :
c =
2
1
µe
2
A
2
(32)
Untuk gelombang bunyi rapat energi rata-rata :
c =
2
1
µ e
2
A
2
(33)
Daya gelombang satu dimensi (merambat dalam satu arah):

2 2
2
1
.
A V
V p
e µ
c
=
=
(34)
Daya gelombang tiga dimensi (menyebar dalam ruang):

| e µ
| c
2 2
2
1
A V
V p
=
=
(35)
dimana µ = permeabilitas medium
µ = rapat massa medium
Fisika Dasar I
Halaman : 101/116

c = permitivitas medium
e = 2tf = frekuensi sudut
A = Amplitudo simpangan
V = kecepatan gelombang merambat
| = luas penampang yang ditembusi gelombang.
Untuk gelombang tiga dimensi didefinisikan intensitas gelombang, yaitu energi
yang dirambatkan gelombang tiap satuan waktu tiap satuan luas atau I = p/A.
Dengan mengguanakan (35), intensitas gelombang adalah :

2 2
2
1
A V I e µ = (36)
Gelombang bunyi lebih sering dinyatakan sebagai gelombang tekanan. Sehingga
intensitas gelombang dapat dinyatakan :

v
Po
I
µ 2
= (37)
Intensitas gelombang bunyi sering dibandingkan terhadap intensitas bunyi ambang, yaitu
intensitas minimum gelombang bunyi yang masih dapat terdengar cukup jelas dan
dinyatakan dalam besaran yang disebut taraf intensitas (TI) yang didefinisikan :
dB
Io
I
TI
(
¸
(

¸

= log 10 (38)
atau
bell
Io
I
TI
(
¸
(

¸

= log (39)
I
o
= 10
-12
Watt/m
2
(intensitas ambang) dan dB kependekan dari decibell(1 bell = 10 dB)
merupakan satuan untuk taraf intensitas.

10.2.6 Transmisi dan Refleksi Gelombang
Setiap gelombang yang sampai pada daerah batas, pada umumnya mengalami
transmisi dan refleksi secara serentak. Berikut ini aka diuraikan transmisi dan refleksi
gelombang tali.
Andaikan gelombang datang, gelombang refleksi dan transmisi berturut-turut
dinyatakan oleh fungsi-fungsi gelombang berikut:
¢
d
= A
d
Sin (et – k
1
x)
¢
r
= Ar Sin (et + k
1
x)
¢
t
= At Sin (et – k
1
x)
Ketika ¢
d
sampai dititik sambungan yang merupakan daerah batas dua medium,
sebagian diteruskan ke medium kedua sebagai ¢
t
dan sebagian lagi dipantulkan kembali
ke medium pertama sebagai ¢
r
.
Fisika Dasar I
Halaman : 102/116

Untuk memudahkan perhitungan, posisi titik sambungan dipilih sebagai x = 0. Pada
titik sambungan fungsi gelombang harus memenuhi beberapa persyaratan, yaitu:
(1) persyaratan geometri yang mengharuskan simpangan titik sambungan sebagai bagian
dari dua medium haruslah sama setiap saat.
(2) Persyaratan dinamika yang mengharuskan bahwa gaya penggerak pada titik sambung
harus bersifat kontinu setiap saat.
Kedua persyaratan tersebut dalam bahasa matematik disebut sebagai persyaratan
kontinuitas dan persyaratan diferensiabel fungsi gelombang.
Dengan menggunakan kedua persyaratan yang harus dipenuhi fungsi gelombang di
titik sambungan (x = 0), diperoleh
(1) ¢
d
+ ¢
r
= ¢
t
di x = 0 setiap saat, sehingga diperoleh :
A
d
+ A
r
= A
t
(40)
(2)
x
F
x x
F
t r d
c
c
=
(
¸
(

¸

c
c
+
c
c ¢ ¢ ¢
di x = 0, setiap saat sehingga diperoleh:
-k
1
A
d
+ k
1
A
r
= - k
2
A
t
(41)
dari persamaan (40) dan (41) diperoleh :

) 43 (
) 42 (
2
2 1
2 1
2 1
1
k k
k k
r
A
A
atau
k k
k
t
A
A
d
r
d
t
+
÷
= =
+
= =

dimana t disebut koefisien transmisi dan r disebut koefisien refleksi.
Dari persamaan (42) dan (43) transmisi sempurna terjadi bila k
1
= k
2
yang berarti µ
1
= µ
2
,
dan refleksi sempurna diperoleh jika k
2
÷·.
Jika memperhatikan bahwa daya rata-rata yang dirambatkan gelombang satu
dimensi
2
2
2
2
2
2
2
1
2
1
2
1
t t
r r
d d
A V p
A V p
A V p
e µ
e µ
e µ
=
=
=

Sehingga koefisien transmisi daya (T) dan koefisien refleksi daya (R) dapat dinyatakan
sebagai berikut:

) (
4
2 1
2 1
k k
k k
T
P
P
d
t
+
= = (44a)
Fisika Dasar I
Halaman : 103/116


2
2 1
2 1
(
¸
(

¸

+
÷
= =
k k
k k
R
P
P
d
r
(44b)
Dari persamaan (44) dan (45) diperoleh:
T + R = 1 (45)
Atau:

) 46 (
) 46 ( 1
b P P P
sehingga
a
P
P
P
P
d r t
d
r
d
t
= +
= +

Dari persamaan (46b) tampak bahwa jumlah daya gelombang transmisi dan gelombang
refleksi sama dengan daya gelombang datang.

10.2.7 Superposisi Gelombang
Ditinjau suatu gelombang yang datang melalui medium pertam,a menuju medium
kedua. Jika gelombang datang tersebut dilewatkan secara terus menerus maka setelah
cukup lama gelombang datang dan gelombang refleksi akan bertemu dalam medium
pertama. Dalam matematik gabungan beberapa gelombang dikenal sebagai superposisi
gelombang dan dalam fisika dikenal istilah interferensi gelombang.

Efek Dopler
Gerak relatif antara sumber gelombang dan pengamat menyebabkan frekuensi
gelombang yang diterima oleh pengamat berbeda dengan frekuensi gelombang yang
dihasilkan sumber. Gejala yang demikian ini dikenal sebagai efek doppler.
Untuk memperoleh rumus perubahan frekuensi karena efek doppler, anggaplah
bahwa gelombang yang dipancarkan oleh sumber berupa pulsa-pulsa yang dihasilkan tiap
waktu T
s
(periode). Jika pada saat awal pengamat berjarak L dari sumber, kecepatan
sumber konstan v
s
, dan kecepatan pengamat konstan v
p
, maka pulsa yang dihasilkan
sumber pada saat awal, baru diterima oleh pengamat pada saat t
1
yang memenuhi
hubungan :

( )
p
p
v v
L
t
v
t v L
t
÷
=
+
=
1
1
1
(47)
V
p
.t
1
menyatakan perpindahan pengamat selama gelombang (pulsa) bergerak dari sumber
ke pengamat, dan v menyatakan kecepatan gelombang.
Pulsa kedua dihasilkan oleh sumber pada saat t = T
s
. pada saat tersebut sumber dan
pengamat terpisah pada jarak :
L‟ = L + ( v
p
– v
s
) T
s

Fisika Dasar I
Halaman : 104/116

Terhitung dari saat t = T
s
, selang waktu yang diperlukan oleh pulsa kedua untuk
mencapai pengamat adalah:

s
p
s p
p p
p
T
v v
v v
v v
L
v v
L
t
atau
v
t v L
t
÷
÷
+
+
=
÷
= A
A +
= A
'
'
(48)
dengan demikian terhitung dari saat awal, pulsa kedua diterima oleh pengamat pada saat :

s
p
s
p
s
p
s p
p
s
s
T
v v
v v
v v
L
T
v v
v v
v v
L
T
t T t
÷
÷
+
÷
=
÷
÷
+
+
+ =
A + =
2
(49)
selang waktu antra t
1
dan t
2
yang dinyatakan dalam persamaan (47) dan (49) menyatakan
selang waktu dua gelombang (pulsa) berturutan yang diterima oleh pengamat. Hal ini
berarti bahwa selang waktu tersebut menyatakan periode yang terukur atau diterima oleh
pengamat, sehingga:

s
p
s
p
T
v v
v v
T t t
÷
÷
= ÷ ÷
1 2
(50)
Karena F =
'
1
T
maka persamaan (50) dapat ditulis :

s
s
p
p
f
v v
v v
f
÷
÷
= (51)
Persamaan (51) dikenal dengan sebagai rumus Doppler. Mengingat kecepatan
merupakan besaran vektor, arah v
p
dan v
s
dalam persamaan (51) harus diperhatikan.
Dengan menggunakan persamaan (51, Vp maupun Vs berharga positif jika searah
dengan arah rambat gelombang, yaitu dari sumber menuju pengamat.
Dengan memperhitungkan kemungkin gerak medium, rumus Doppler secara umum dapat
ditulis :

s
s m
p m
p
f
v v v
v v v
f
÷ +
÷ +
= (52)
dimana V
m
= kecepatan medium.


Fisika Dasar I
Halaman : 105/116

10.3 CONTOH SOAL
SOAL 1
Buktikanlah bahwa sembarang fungsi g(vt – x) dan h(vt + x ) masing-masing
merupakan solusi persamaan gelombang yang dinyatakan oleh persamaan (4)

penyelesaian
misalnya:
¢
1
= g(vt + x) dan ¢
2
= h(vt –x)
= g(|1) = h(|2)

1
1
1
1
1
1
2
1
2
1
". g
x
.
' g
x
' g
) ' g (
x x
'. g
x
.
g
x
=
c
| c
| c
c
=
c
c
=
c
c
=
c
¢ c
=
c
| c
o|
c
=
c
¢ c
(a)


" g v
t
' g
v
t
' g
v
) v '. g (
t t
v '. g
t
.
g
t
2
1
1
2
1
2
1
1
1
=
c
| c
| c
c
=
c
c
=
c
c
=
c
¢ c
=
c
¢ c
| c
c
=
c
¢ c
(b)
persamaan (a ) dan (b ) memberikan hubungan :

2
1
2
2
2
1
x
v
t c
¢ c
=
c
¢ c

yang berarti ) x vt ( g + = ¢
1
merupakan solusi persamaan gelombang dari persamaan
(4)
Dengan cara yang sama diperoleh:

) ( "
) ( "
2
2
2 2
2
2
d h v
t
c h
x
=
c
c
=
c
c
¢
¢

persamaan ( c ) dan (d) memberikan hubungan :

Fisika Dasar I
Halaman : 106/116


2
2 2
2
2
2 2
x
v
t c
¢ c
=
c
¢ c

yang berarti ¢
2
= h(vt – x) merupakan solusi untuk persamaan gelombang dari
persamaan (4).

SOAL 2.
Jika ¢
1
dan ¢
2
masing-masing memenuhi solusi dari persamaan gelombang,
tunjukan bahwa
¢ = ¢
1
+ ¢
2
juga memenuhi persamaan gelombang.

Penyelesaian:
¢
1
dan ¢
2
solusi persamaan gelombang, berarti:

2
2
2
2
2
2
2
2
1
2
2
2
1
2
x
v
t
x
v
x
c
¢ c
=
c
¢ c
c
¢ c
=
c
¢ c

jika kedua persamaan tersebut dijumlahkan, diperoleh:

) (
x
v ) (
t
2 1
2
2
2
2 1
2
2
¢ + ¢
c
c
= ¢ + ¢
c
c

yang berarti ¢ = ¢
1
+ ¢
2
juga merupakan solusi persamaan gelombang.

SOAL 3
Suatu gelombang dengan amplitudo 4 cm merambat kekanan sepanjang tali yang
mempunyai rapat massa linier 10 gram/m dan gaya tegangan 16N. jika frekuensi
gelombang 100 Hz dan pada awal titik yang dipilih sebagai pusat koordinat mempunyai
simpangan 2 cm dan sedang bergerak naik, tentukan :
(a) kecepatan gelombang dan bilangan gelombang,
(b) fungsi gelombang
(c) simpangan dan kecepatan titik pada x=2,4 m dan t=1/16 S.

penyelesaian:

(a)
m rad
v
f
v
k
s m
v
F
v
/ 5
2
/ 40
01 , 0
16
t
t e
= = =
= = =

(b) misalkan fungsi gelombang: ) kx t sin( A y
0
| + ÷ e =
sehingga cm ) x t sin( y
0
5 200 4 | + t ÷ t =

Fisika Dasar I
Halaman : 107/116

pada saat awal (t = 0) dan pada x = 0, y = 2 cm , maka:
2 = 4sinφ
0
, sehingga sinφ
0
= 0,5
pada saat awal (t = 0) dan pada x = 0, 0 800 0 > | t >
¢
o
cos maka ,
dt
d

maka φ
0
yang memenuhi adalah
6
t

Jadi, |
.
|

\
| t
+ t ÷ t =
6
5 200 4 x t sin ) t , x ( y
(c) pada x = 2,4 m dan t = :
16
1
s

( )
s cm
dt
dy
maka s t dan x pada
x t
dt
dy
x t
dt
d
dt
dy
cm
y simpangan
/ 400
6
4
cos 800
: ,
16
1
4 , 2
6
5 200 800
]
6
5 200 sin[ 4
464 , 3
6
4
sin 4
6
4 , 2 5 )
6
1
( 200 sin 4 ,
t
t
t
t
t t t
t
t t
t
t
t t
÷ =
|
.
|

\
|
=
= =
|
.
|

\
|
+ ÷ =
|
.
|

\
|
+ ÷ =
=
|
.
|

\
|
=
(
¸
(

¸

+ ÷ =


SOAL 4
Gelombang bunyi yang berasal dari dua sumber yang berbeda, masing-masing
dengan frekuensi 1000Hz dan 1600 Hz, dilewatkan dalam udara pada temperatur 27
o
C
dan bertekanan 10
5
N/m
2
. Dengan menganggap udara sebagai gas ideal yang mempunyai
berat molekul rata-rata 30 kg/mole dan ¸ = 1,4 tentukan:
(a) panjang gelombang dan kecepatan masing-masing gelombang
(b) panjang gelombang dan kecepatan masing-masing gelombang jika tekanan
diduakalikan sedang temperatur dipertahankan konstan,
(c) panjang gelombang dan frekuensi masing-masing gelombang jika temperatur
diduakalikan dan tekanan diempatkalikan.
Fisika Dasar I
Halaman : 108/116


Penyelesaian
Dari persamaan (26) kecepatan gelombang bunyi dalam gas tidak bergantung pada
tekanan. Sebab setiap perubahan pada tekanan selalu dihapuskan oleh perubahan rapat
massa. Dan kecepatan bunyi dalam gas tidak bergantung pada frekuensi.
(a)
1
3
2 1
341
30
) 273 27 .( 10 . 314 . 8 . 4 , 1
÷
=
+
=
= =
ms
M
RT
V V
¸

v = ìf ÷
f
v
= ì sehingga
cm
m
cm
m
3 , 21
1600
341
1 , 34
1000
341
2
1
=
=
=
=
ì
ì

(b) Karena kecepatan gelombang tidak bergantung pada tekanan, maka kecepatan dan
panjang gelombang tetap seperti pada jawaban (a)
(c) Frekuensi yang dihasilkan sumber gelombang tetap tidak bergantung pada perubahan
temperatur maupun tekanan, sehingga f
1
= 1000 Hz, f
2
= 1600 Hz
V
1
= V
2
1
3
356
30
) 273 54 .( 10 . 314 , 8 . 4 , 1
÷
=
+
=
=
ms
M
RT ¸

cm m
cm m
3 , 22
1600
356
6 , 35
1000
356
2
1
= =
= =
ì
ì


SOAL 5.
Besar intensitas gelombang bunyi dengan f = 10
3
Hz yang dihasilkan oleh sebuah
loudspeaker di suatu titik adalah 0,4 watt/m
2
.
Jika rapat massa udara 1,6 kg/m
3
dan
temperatur udara pada saat tersebut 27
o
C, ¸ = 1,4 dan M = 30 kg/mole, tentukan:
(a ) amplitudo simpangan dan amplitudo tekanan pada titik tersebut
(b) taraf intensitas dititik tersebut
Fisika Dasar I
Halaman : 109/116

(c) taraf intensitas di titik lain yang jaraknya ke loudspeaker dua kali jarak titi pertama ke
loudspeaker.

Penyelesaian
(a) Amplitudo simpangan:
( )( )( )
( )( ) m A A
A V I
ms
M
RT
V
6 2 2 3
2 2
1
3
10 . 1 , 6 ) 10 . 2 ( 341 6 , 1
2
1
4 , 0
2
1
341
30
300 10 . 314 , 8 4 . 1
÷
÷
= ¬ =
=
= = =
t
e µ
¸

Amplitudo tekanan:
( )( )( )( )
2
6 3
2
/ 9 , 20
10 . 1 , 6 10 . 2 341 6 , 1
m N
A V p
o
=
=
=
÷
t
e µ

(b) Taraf Intensitas
dB
dB TI
116
10
04
log 10
12
=
(
¸
(

¸

=
÷

(c) untuk sumber titik, gelombang menyebar ke segala arah sehingga intensitas yang
sama dengan daya persatuan luas berbanding terbalik dengan kuadrat jarak ke
sumber, mengingat luas permukaan bola sebanding dengan kuadrat jari-jari bola.
Dengan demikian:
dB
Io
I
TI
m watt
I I
dB
110
10
1 , 0
log 10
log 10
/ 1 , 0 4 , 0 .
4
1
2
1
'
12
2
2
=
(
¸
(

¸

=
=
= =
|
.
|

\
|
=
÷


Fisika Dasar I
Halaman : 110/116

SOAL 6
Persamaan sebuah gelombang transversal yang berjalan sepanjang tali yang sangat
panjang diberikan oleh
) t 4 x 02 , 0 sin( 6 y t + t =

dimana x dan y dinyatakan dalam cm serta t dalam detik. Hitunglah,
a. Amplitudo dan panjang gelombangnya
A = 6 cm

k = 2t /ì
0,02t = 2t/ì
ì = 100 cm = 1 m
b. Frekuensi , laju dan arah penjalaran gelombang.
f = e /2t
f = 4t/2t
f = 2 Hz

v = ì.f
v = 1.2
v = 2 m/det

Arah penjalaran gelombang adalah ke kiri

SOAL 7
Jika sebuah gelombang yang frekuensinya 500 Hz mempunyai kecepatan sebesar
350 m/det,
a. Berapakah jauh diantara dua titik yang berbeda fase sebesar 60
O
?
ì = v/f
ì = 350 /500
ì =0,7 m

A¢ = Ax / ì
t/3 = Ax /0,7
Ax = 0,23 t m
b. Berapakah perbedaan fase di antara dua pergeseran di suatu titik tertentu
pada waktu 0,001 detik berselang
A¢ = t/T
A¢ = 0,001/0,002
A¢ = 0,5

Fisika Dasar I
Halaman : 111/116

10.4 SOAL-SOAL LATIHAN
SOAL 1
Sebuah gelombang sinusoida yang kontinu berjalan pada sebuah tali dengan
kecepatan 80 cm/det. Pergesaran dari partikel-partikel di x=10 cm didapatkan berubah
dengan waktu menurut persamaan
y = 5sin(1 – 4t) di dalam cm. Massa jenis linear dari tali adalah 4 g/cm.
 Berapakah frekuensi gelombang ?
 Berapakah panjang gelombangnya ?
 Tuliskan persamaan umum yang memberikan pergeseran transversal dari
partikel-partikel tali sebagai sebuah fungsi dari kedudukan dan waktu

SOAL 2
Massa jenis linear dari sebuah tali adalah 0,000134 kg/m. Sebuah gelombang
trasnversal merambat pada tali dan dinyatakan oleh persamaan y = 0,02 sin (x + 30t),
dimana x dan y diukur dalam meter. Berapakah tegangan di dalam tali ?

SOAL 3
Gelombang-gelombang sferis dipancarkan dari sebuah sumber yang mempunyai
daya 1 watt di dalam sebuah medium isotropik yang tak menyerap. Berapakah intensitas
gelombang pada jarak 1 m dari sumber tersebut.

SOAL 4
Persamaan sebuah gelombang transversal yang berjalan di dalam sebuah tali adalah
diberikan oleh
y = 10 cos (0,079x – 13t – 0,89)
dimana x dan y dinyatakan dalam cm dan t dalam detik. Tentukanlah
a. Cepat rambat gelombang
b. Panjang gelombang
c. Sudut fasa awal

SOAL 5
Dua gelombang sinusoida transversal berjalan di dalam arah yang berlawanan
sepanjang sebuah tali. Setiap gelombang mempunyai amplitudo sebesar 0,3 cm. dan
panjang gelombang sebesar 6 cm. Laju sebuah gelombang transversal di dalam tali
tersebut adalah 1,5 m/s. gambarkan bentuk tali pada setiap waktu berikut, t = 0 , t =10 dan
t = 15 detik.

SOAL 6
Kelompok biola di dalam beberapa orkes simponi dibagi kedalam dua bagian. Satu
bagian ditempatkan pada setiap sisi dari pemimpin orkes tersebut. Tinjaulah dua orang
pemain biola yang berjarak 8 m satu sama lain yang ditempatkan simetris terhadap
pemimpin orkestra sejauh masing-masing 5 m. Jika keluaran daya dari msing-masing
pemain biola adalah 0,0001 W/m
2
.
 Berapakah intensitas masing-masing pemain biola menurut pendengaran
pemimpin orkes.
Fisika Dasar I
Halaman : 112/116

 Intensitas gabungan keduanya yang bermain bersama-sama menurut pendengaran
pemain orkes.

SOAL 7
Dua pengeras suara masing-masing S
1
dan S
2
memancarkan bunyi yang
frekuensinya 200 Hz secara uniform di dalam semua arah. S
1
mempunyai keluaran
akustik 0,0012 W dan S
2
0,0018 W. Pengeras-pengeras suara tersebut berjarak 7 m satu
sama lain. Tinjaulah sebuah titik P yang berjarak 4 m dari S
1
dan 3 m dari S
2
. Berapakah
intensitas bunyi di P jika,
a. S
1
dinyalakan , S
2
tidak dinyalakan
b. S
1
tidak dinyalakan, S
2
dinyalakan
c. S
1
dan S
2
dinyalakan

SOAL 8
Sebuah sirine yang memancarkan bunyi dengan frekuensi 1000 Hz bergerak
menjauhi anda menuju sebuah karang yang terjal dengan laju sebesar 10 m/s jika cepat
rambat gelombang bunyi di udara sebesar 330 m/s berapakah layangan yang terjadi antara
frekuensi asli dari sirine dengan frekuensi sirine pantulan dari karang yang anda dengar.

SOAL 9
Seorang anak duduk di dekat jendela yang terbuka daru sebuah kereta api yang
bergerak dengan kecepatan sebesar 36 km/jam ke arah timur. Masinis kereta api
membunyikan peluit dengan frekuensi 500 Hz
a. Berapakah frekuensi yang didengar oleh orang yang berada di pinggir rel kereta
api ?
b. Berapakah frekuensi yang didengar oleh anak yang berada di dalam kereta ?
c. Jika dianggap angin bertiup dari arah timur ke barat dengan kecepatan 10 m/s,
berapakah frekuensi yang didengar oleh orang di pinggir rel kereta dan anak
yang berada di dalam kereta api ?

SOAL 10
Bayangkan di rumah anda terdapat sebuah perangkat “home theatre” yang
mempunyai dua buah speaker aktif masing-masing berdaya 1000 W. Susunan perangkat
tersebut di rumah anda dapat dilihat dalam gambar. Supaya anda mendapatkan kualitas
suara yang maksimum yaitu suara yang dihasilkan kedua speaker anda dengar dengan
keras, dimanakah anda harus menonton ? (jarak anda ke televisi (x) )












x
1,5 m 1,5 m
Televisi Speaker Aktif
Posisi menonton
anda
Fisika Dasar I
Halaman : 113/116

SOAL 11
Dengan susunan perangkat “home theatre” yang sama seperti soal sebelumnya,
dimanakah kira-kira (di depan televisi) suatu posisi dimana anda tidak akan mendengar
suara sama sekali ? mungkinkah hal ini terjadi ? Jelaskan jawaban anda dengan
perhitungan yang tepat.

SOAL 12
Untuk dapat mendeteksi pesawat terbang yang memasuki wilayah udara suatu
negara digunakan suatu peralatan yang dinamakan RADAR. RADAR akan memancarkan
sinyal elektromagnetik ( gelombang elektromagnetik mempunyai kecepatan sama dengan
kecepatan cahaya, c = 3 x 10
8
m/det) dengan frekuensi 1000 kHz. Jika pesawat asing
terbang dengan kecepatan 1000 km/jam dan terdeteksi oleh RADAR, berapakah
frekuensi gelombang pantulan ang ditangkap oleh RADAR ?

SOAL 13
Dalam suatu tali yang mempunyai rapat massa linier 0,02 kg/m merambat pulsa
gelombang dengan fungsi gelombang
cm
t x
t x
2
) 4 9 2
224
) , (
+ +
= ¢
jika x dan t berturut-turut dinyatakan dalam m dan s, tentukan:
a. kecepatan fase gelombang
b. amplitudo gelombang
c. tegangan tali.

SOAL 14
seutas tali dengan rapat massa linier 0,02 kg/m direntang dengan gaya tegangan 2
N. pada talui tersebut merambat pulsa gelombang kekanan yang pada saat t = 0
memenuhi persamaan
cm
x
x
1
24
) 0 , (
2
+
= ¢
jika x dan t dinyatakan dalam satuan SI, tentukan :
a. kecepatan gelombang.
b. Amplitudo gelombang
c. ¢(x,t)

SOAL 15
Suatu gelombang sinusoida kekana dilewatkan dalam tali yang mempunyai rapat
massa linier 0,02 kg/m dan tegangna 2 N. frekuensi dan amplitudo gelombang berturut-
turut 20 Hz dan 4 cm.jika (x,t) = 2 cm pada x = 0 dan t = 0, tentukan ¢(x,t)= 2 cm untuk
sembarangx dan t jika x dan t dinyatakan dalam satuan SI

Fisika Dasar I
Halaman : 114/116

SOAL 16
Pada temperatur 27
0
C di udara yang mempunyai rapay massa 1,44 kg/m
3

merambat dua macam gelombang bunyi. Gelombang pertamamempunyai frekuensi
1000HZ dan gelombang kedua mempunyai 1600 Hz. Di titik yang berjarak sama
terhadap kedua sumber gelombang tersebut, ternyata intensitas yang dihasilkan
gelombang pertama 25 kali yang dihasilkan gelombang kedua. Tetapan laplace untuk
udara 1,4 dan tekanan udara pada keadaa tersebut 1,26.10
5
N/m
2
. tentukan :
a. kecepatan kedua gelombvang tersebut.
b. Perbandingan amplitudo kedua gelombang .
c. Intensitas gelombang pertama di suatu titik tersebut 0,20 µm.
d. Berat molekul rata-rata udara.

SOAL 17
Gelombang bunyi yang mempunyaio intensitas sebesar 10
-12
W/m
2
. (intensitas
ambang) merambat ke udara yang temperatur nya 27
0
C. amplitudo tekanan dan
amplitudo simpangan gelombang tersebut masing-masing 3.10
-5
N/m
2
dan 3,6.10
-10
m.
berat molekul rata-rata udara 28,5 kg/mole dan tetapan laplace udara 1,4. Tentukan :
a. frekuensi gelombang bunyi tersebut
b. panjang gelombang bunyi
c. prosentase perubahan panjang gelombang bunyi jika temperatur udara menjadi
47
0
C, sedangkan M dan ¸ .dapat dianggap tetap

SOAL 18
Dalam udara dengan temperatur 27
0
C, tekanan 10
5
N/m
2
dan ¸ = 1,4 gelombang
bunyi merambat dengan kecepatan 352 m/s. pada keadaan tersebut amplitudo tekanan
maksimum yang dapat dihasilkan sumber adalah 24 N/m
2
. Jika amplitudo simpangan
yang dihasilkan sumber 4.10
-6
m, tentukan :
a. panjang gelombang yang memenuhi persyaratan tersebut
b. intensitas yang berkaitan dengan panjang gelombang tersebut
c. taraf intensitas yang berkaitan dengan panjang gelombang tersebut.

SOAL 19
Seorang pendengar berdiri pada jarak 10 meter dari sebuah sumber bunyi. Jika
pendengan pada jarak tersebut mendengar bunyi dengan intensitas 10
-6
W/m
2
, tentukan :
a. intensitas bunyi yang didengar oleh pendengar lain yang berada pada jarak 20
meter dari sumber.
b. Daya yang dipancarkan oleh sumber
c. Taraf intensitas yang didengar oleh masing-masing pendengar.

Fisika Dasar I
Halaman : 115/116

SOAL 20
Suatu gelombang dilewatkan sistem dua tali yang yang diregang 16 N. gelombang
tersebut mula-mula melewati tali pertama yang mempunyai rapat massa linier 0,04 kg/m,
menuju ke tali kedua yang mempunyai rapat massa linier 0,01 kg/m. jika pada saat awal
simpangan titik sambungandipilih sebagai sebagai x = 0 adalah 2,67 cm dan sedang
bergerak ke arah positif, sedangkan amplitudo dan frekuensi gelombang datang berturut-
turut adalah 4 cm dan 100 Hz, tentukan :
a. ¢
d ,
¢r dan ¢
t
sebagai fungsi x dan t yang dinyatakan dalam satuan SI
b. daya yang dirambatkan oleh gelombang datang , gelombang datang, gelombang
refleksi maupun gelombang transmisi


Fisika Dasar I
Halaman : 116/116

DAFTAR PUSTAKA



1. Resnick, Haliday , Fisika Jilid I, Edisi ketiga, Erlangga, Jakarta, 1990
2. Sears, Francis W, Fisika Universitas, Jilid 1, Edisi keenam, Erlangga,
Jakarta, 1987
3. Sutrisno, Fisika Dasar : Mekanika, Penerbit ITB, 1988
4. Soeharto, Fisika Dasar II Bagian II :Gelombang-Optika, Gramedia Pustaka
Utama, 1992

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->