P. 1
Hak Dokter Dan Kewajiban

Hak Dokter Dan Kewajiban

|Views: 85|Likes:
Published by Katelya Tarigan
Hak dan Kewajiban Dokter
Hak dan Kewajiban Dokter

More info:

Published by: Katelya Tarigan on Jul 10, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/18/2013

pdf

text

original

Hak dokter 1.

Memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuaidengan standart profesi dan standar prosedur operasional2. Memberikan pelayanan medis menurut standart profesi dan standart prosedur operasional3. Memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien dan keluarganya4. Menerima imbalan jasa

Kewajiban dokter 1. Memberikan pelayanan medis sesuai dengan standart profesi dan standart prosedure operasional2. Merujuk pasien kedokter yang mempunyai keahlian atau kemampuan lebih baik apabila tidak mampu melakukan pemeriksaan atau pengobatan3. merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan setelah pasien meninggal dunia4.

melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila iayakin ada orang lain yang bertugas dan mampu melaksanakannya dan5. Menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran Hak Pasien Adalah hak-hak pribadi yang dimiliki manusia sebagai pasien1. Hak memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di rumah sakit. Hak atas pelayanan yang manusiawi, adildan jujur.2. Hak untuk mendapatkan pelayanan medis yang bermutu sesuai denganstandar profesi kedokteran/kedokteran gigi dan tanpa diskriminasi.3. Hak memperoleh asuhan keperawatan sesuai dengan standar profesikeperawatan.4. Hak untuk memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengankeinginannya dan sesuai dengan peraturan yang berlaku di rumah sakit. 5. Hak dirawat oleh dokter yang secara bebas menentukan pendapat klinik dan pendapat etisnya tanpa campur tangan dari pihak luar.6. Hak atas ´second opinion´ / meminta pendapat dokter atau dokter gigilain.7. Hak atas ´privacy´ dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-data medisnya kecuali apabila ditentukan berbeda menurut peraturanyang berlaku.8. Hak untuk memperoleh informasi /penjelasan secara lengkap tentangtindakan medik yg akan dilakukan terhadap dirinya.9. Hak untuk memberikan persetujuan atas tindakan yang akan dilakukanoleh dokter sehubungan dengan penyakit yang dideritanya.10. Hak untuk menolak tindakan yang hendak dilakukan terhadap dirinya danmengakhiri pengobatan serta perawatan atas tanggung jawab sendirisesudah memperoleh informasi yang jelas tentang penyakitnya.11. Hak didampingi keluarga dan atau penasehatnya dalam beribadat dan ataumasalah lainya (dalam keadaan kritis atau menjelang kematian).12. Hak beribadat menurut agama dan kepercayaannya selama tidak mengganggu ketertiban & ketenangan umum / pasien lainya.13.

Hak atas keamanan dan keselamatan selama dalam perawatan di rumahsakit.14. Hak untuk mengajukan usul, saran, perbaikan atas pelayanan rumah sakitterhadap dirinya.15. Hak menerima atau menolak bimbingan moril maupun spiritual.16. Hak transparansi biaya pengobatan/tindakan medis yang akan dilakukanterhadap dirinya (memeriksa dan mendapatkan penjelasan pembayaran). http://ml.scribd.com/doc/36496720/Hak-dan-Kewajiban-Dokter-Pasien
Ada 6 sifat dasar yang harus ditunjukkan oleh seorang dokter: 1. Sifat ketuhanan 2. Kemurnian niat 3. Keluruhan budi 4. Kerendahan hati 5. Kesungguhan kerja 6. Integritas ilmiah dan social Yang mana nantinya 6 sifat dasar ini akan teraplikasi dalam beberapa sikap seorang dokter terhadap pasiennya, antara lain: 1. Munculnya profesionalisme seorang dokter • Terbuka, yaitu mau memeberika informasi yang dibutuhksan seorang pasien baik diminta maupun tidak. Dokter juga harus mampu memberikan penjelasan yang akurat dan jujur. • Menjadi pendengar yang baik, yaitu dokter hendaknya mau mendengarkan keluhan dan menaggapi pertanyaan pasien sehingga komunikasi yang terjalin tidak hanya satu arah dan disini dokter tidak hanya berperan dalam memberikan instruksi, tapi alangkah baiknya apabila mampu menampung dan memberikan solusi bagi permasalahan yang dihadapi pasien. • Punya waktu yang cukup, yaitu seorang dokter harus bisa menyediakan waktu yang cukup dalam melayani pasiennya, sehingga pasien merasa puas dengan pelayanan yang telah diberikan oleh dokter. 2. Mempunyai minat yang besar untuk menolong 3. Tumbuhnya sikap empati dokter terhadap pasien yang dihadapinya 4. Peka terhadap situasi dan kondisi lingkungan pada saat itu 5. Mampu mengaenal dan mengatasi masalah

http://tutorialkedokteran.blogspot.com/2009/06/4-kompetensi-pasien-hak-dankewajiban.html
Hak dan Kewajiban Dokter dan Pasien Hak dan Kewajiban Dokter Pasal 50 Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai hak :

a.

memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional; b. memberikan pelayanan medis menurut standar profesi dan standar prosedur operasional; c. memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien atau keluarganya; dan d. menerima imbalan jasa. Pasal 51 Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai kewajiban : memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien; merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai keahlian atau kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan; merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia; melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya; dan menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran atau kedokteran gigi. Hak dan Kewajiban Pasien Pasal 52 Pasien, dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran, mempunyai hak: mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (3); meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain; mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis; menolak tindakan medis; dan mendapatkan isi rekam medis. Pasal 53 Pasien, dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran, mempunyai kewajiban : memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah kesehatannya; mematuhi nasihat dan petunjuk dokter atau dokter gigi; mematuhi ketentuan yang berlaku di sarana pelayanan kesehatan; dan memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima.

a. b. c. a. b.

a. b. c. d. e.

a. b. c. d.

http://islamicandmedicalupdates.blogspot.com/2011/12/hak-dan-kewajiban-dokterdan-pasien.html

Hak dan Kewajiban Dokter dan Pasien Dalam Pelayanan Kesehatan
Sebagaimana dikemukakan di muka, bahwa dengan adanya hubungan hukum antara dokter dan pasien baik karena perjanjian maupun karena undang-undang, maka timbul hak dan kewajiban dalam hukum. Artinya, berbicara masalah hukum, tidak bisa lepas dari munculnya hak dan kewajiban yang melekat di dalam setiap ketentuan hukum. Semua hak melahirkan kewajiban, demikian juga sebaliknya. Hak memberi kenikmatan dan keleluasaan kepada individu di dalam pelaksanaannya, sedangkan kewajiban pembatasan dan beban bagi individu tersebut.[1] Menurut Nila Ismani,[2] yang menyatakan bahwa, “Hak di dalam pengertian secara umum adalah tuntutan seseorang terhadap sesuatu yang merupakan kebutuhan pribadinya sesuai dengan keadilan, moralitas dan legalitas”. Oleh karena itu, hak merupakan suatu kepentingan yang dilindungi undang-undang, sedangkan kepentingan merupakan tuntutan perseorangan atau kelompok yang diharapkan dipenuhi. Berkaitan dengan masalah hak ini, Soedikno Mertokusumo[3] mengatakan bahwa, terdapat 4 (empat) unsur yang terkandung dalam suatu hak, yakni : (1) Subyek hukum ; segala sesuatu yang dapat memperoleh hak dan dibebani kewajiban. Kewenangan untuk menyandang hak dan kewajiban ini disebut “Kewenangan Hukum”. (2) Obyek hukum ; segala sesuatu yang menjadi fokus atau tujuan diadakannya hubungan hukum (3) Hubungan hukum ; hubungan yang timbul dan terjalin karena suatu peristiwa hukum; (4) Perlindungan hukum ; segala sesuatu yang mengatur dan menentukan hak serta kewajiban masing-masing pihak yang melakukan hubungan hukum, sehingga kepentingannya terlindungi. Di bagian lain Soedikno Mertokusumo[4] juga menyatakan bahwa, ada 2 (dua) macam hak yang melekat pada setiap individu, yaitu : (a) Hak absolut ; yakni hak yang memberikan wewenang pada pemegangnya untuk berbuat atau tidak berbuat yang pada dasarnya dapat dilaksanakan siapa saja dan melibatkan setiap orang. Isi hak absolut ini ditentukan oleh kewenangan pemegang hak itu sendiri. (b) Hak relatif ; yakni hak yang berisi wewenang untuk menuntut hak yang dimiliki seseorang terhadap orang-orang tertentu.

Di bidang kesehatan hak dan kewajiban pun menjadi hal yang sangat penting dan mutlak untuk dilaksanakan. Mengingat kelalaian untuk memenuhi hak dan kewajiban akan menimbulkan akibat yang tidak kecil, yakni berupa tuntutan ganti kerugian ataupun dapat diduga melakukan tidak pidana yang diancam dengan sanksi pidana seperti hukuman mati, penjara maupun denda bahkan sanksi pencabutan hak-hak yang melekat pada setiap individu tersebut. Dalam pelayanan kesehatan yang di dalamnya terkandung hubungan hukum antara dokter dan pasien dalam perjanjian terapeutik secara otomatis timbul hak dan kewajiban dokter dan pasien sebagai akibat hukum dari adanya hubungan hukum pelayanan kesehatan tersebut. Ditinjau dari sudut pandang sosiologi hukum, maka dokter yang melakukan hubungan medis atau transaksi terapeutik terhadap pasien, masing-masing mempunyai kedudukan dan peranan. Kedudukan merupakan wadah hak-hak dan kewajiban-kewajiban, sedangkan peranan tidak lain merupakan pelaksanaan hak-hak dan kewajiban-kewajiban masing-masing pihak tersebut.[5] Dengan demikian secara sederhana dapat dikatakan bahwa, hak merupakan kewenangan dokter dan pasien untuk berbuat atau tidak berbuat, sedangkan kewajiban tidak lain merupakan beban atau tugas yang harus dilaksanakan, sehingga hak dan kewajiban merupakan pasangan, oleh karena di mana ada hak, disitulah ada kewajiban dan begitu sebaliknya. Untuk mengetahui lebih mendalam apa sajakah yang menjadi hak dan kewajiban dokter dan pasien dalam pelayanan kesehatan, maka berikut ini akan dikemukakan beberapa hak dan kewajiban dokter dan pasien secara parsial, baik yang bersumber dari hubungan hukum maupun undang-undang. Berkaitan dengan hal di atas, Alexandra Indriyanti Dewi[6] mengemukakan beberapa hak dan kewajiban dokter dalam pelayanan kesehatan. Adapun hak-hak dokter yang dimaksud berupa : (a) Hak untuk melakukan praktik kedokteran setelah memperoleh surat izin dokter dan surat izin praktik;

(b) Hak untuk memperoleh informasi yang benar dan lengkap dari pasiennya tentang penyakitnya; (c) Hak untuk bekerja sesuai dengan standar profesinya; (d) Hak untuk menolak melakukan tindakan medik yang bertentangan dengan etika, hukum, agama dan hati nuraninya; (e) Hak untuk mengakhiri hubungan dengan pasiennya, jika menurut penilaiannya kerja sama dengan pasiennya tidak ada gunanya lagi kecuali dalam keadaan darurat; (f) Hak atas privasi dokter dalam kehidupan pribadinya; (g) Hak untuk memperoleh ketenteraman bekerja dengan jaminan yang layak di dalam memberikan kenyamanan dan suasana kerja yang baik; (h) Hak untuk mengeluarkan surat-surat keterangan dokter; (i) Hak untuk menerima imbalan jasa; (j) Hak untuk menjadi anggota perhimpunan profesi (k) Hak untuk membela diri. Bilamana dikaitkan dengan perjanjian terapeutik antara dokter dengan pasien, Veronica Komalawati[7] mengemukakan pendapatnya tentang hak-hak dokter dalam pelayanan kesehatan secara ringkas sebagai berikut : (1) hak atas informasi pasien mengenai keluhan-keluhan yang diderita; (2) hak atas imbalan jasa atau honorarium; (3) hak mengakhiri hubungan dengan pasien, jika pasien tidak mematuhi nasehat yang diberikan; (4) hak atas etikad baik dari pasien dalam pelaksanaan transaksi terapeutik; (5) hak atas privasi. Hak-hak dokter yang dapat dinikmati dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan sebagaimana diuraikan di atas, diatur lebih tegas dalam ketentuan Pasal 50 Undang-Undang No. 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran yang menyatakan antara lain sebagai berikut : “Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai hak : Memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional; Memberikan pelayanan medis menurut standar profesi dan standar prosedur operasional; Memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien atau keluarganya; dan Menerima imbalan jasa”. Dari hak-hak dokter sebagaimana ditentukan dalam Pasal 50 di atas, nampak bahwa dokter berhak untuk mendapatkan perlindungan hukum dari tindakan medis yang telah dilakukan,

a. b. c. d.

sepanjang apa yang telah dilakukan dokter atau dokter gigi sesuai standar profesi dan standar prosedur operasional. Dengan kata lain, bilamana dokter atau dokter gigi telah melakukan tindakan medis sesuai standar profesi dan standar prosedur operasional tidak dapat dituntut secara hukum di persidangan lembaga peradilan. Di samping hak-hak tersebut di atas, dokter sebagai pengemban profesi dalam pelayanan kesehatan, dibebani pula dengan kewajiban-kewajiban sebagaimana dikemukakan oleh Alexandra Indriyanti Dewi[8] antara lain sebagai berikut : (a) Setiap dokter harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah kedokteran; (b) Setiap dokter harus senantiasa melakukan profesinya menurut ukuran tertinggi; (c) Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, dokter tidak boleh dipengaruhi oleh pertimbangan keuntungan pribadi; (d) Setiap dokter wajib melindungi makhluk insani; (e) Dalam melakukan pekerjaannya, seorang dokter harus mengutamakan kepentingan masyarakat dan memperhatikan semua aspek pelayanan kesehatan yang menyeluruh, serta berusaha menjadi pendidik dan pengabdi masyarakat yang sebenarnya; (f) Setiap dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan menggunakan segala ilmu dan keterampilannya untuk kepentingan penderita; (g) Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang penderita, bahkan setelah penderita meninggal dunia; (h) Setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai tugas kemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain bersedia dan mampu memberikannya; (i) Setiap dokter tidak diperbolehkan mengambil alih penderita dari teman sejawatnya tanpa persetujuannya. Menurut Leenen sebagaimana dikutip oleh Danny Wiradharma[9] mengatakan bahwa, kewajiban dokter dalam melaksanakan pelayanan kesehatan pada prinsipnya dapat dibagi menjadi 3 (tiga) kelompok, yakni :

1. Kewajiban yang timbul dari sifat keperawatan medik di mana dokter harus bertindak sesuai dengan standar profesi medik atau menjalankan praktik kedokterannya secara “lege artis”[10] 2. kewajiban untuk menghormati hak-hak pasien yang bersumber dari hak-hak asasi manusia dalam bidang kesehatan; 3. kewajiban yang berhubungan dengan fungsi sosial pemeliharaan kesehatan.

Ditinjau dari segi profesionalisme, secara normatif dokter mempunyai kewajibankewajiban profesionalisme yang harus diamalkan dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang meliputi :[11]

a. Kewajiban mempertahankan dan meningkatkan kompetensi profesionalnya (Commitment to professional competence); b. Kewajiban untuk berkata dan berlaku jujur kepada pasien (Commitment to honesty with patient); c. Kewajiban melindungi kerahasiaan pasien (Commitment to patient confidentially); d. Kewajiban untuk memelihara hubungan dan komunikasi yang sepantasnya dengan pasien (Commitment to maintaining appropriate relations with patient); e. Kewajiban untuk meningkatkan mutu pelayanan terhadap pasien (Commitment to improving quality of care); f. Kewajiban meningkatkan jangkauan pelayanan pasien (Commitment to improving acces to care); g. Kewajiban menyesuaikan distribusi pelayanan dalam hal keterbatasan fasilitas (Commitment to adjust distribution of finite resources); h. Kewajiban terhadap ilmu pengetahuan (Commitment to Scientifiec knowledge); i. Kewajiban memelihara kepercayaan dengan pengelolaan konflik kepentingan secara baik (Commitment to maintaining Trust by managing conflicts of interest).

Kewajiban-kewajiban dokter terhadap pasien dalam melaksanakan pelayanan kesehatan sebagaimana diuraikan di atas, secara normatif diatur lebih konkret dalam ketentuan Pasal 51 Undang-Undang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, yang menyatakan bahwa ;

a. b. c. d. e.

“Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai kewajiban : Memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien; Merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai keahlian atau kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan dan pengobatan; Merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia; Melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya; Menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran atau kedokteran gigi”. Masih dalam hubungannya dengan kewajiban dokter, Hermein Hadiati Koeswadji[12] menyatakan bahwa ;

“Dari Kode Etik Kedokteran dapat dirumuskan kewajiban-kewajiban pokok Dokter sebagai berikut ; 1. Dokter wajib merawat pasiennya dengan cara keilmuan yang dimiliki secara adekuat; 2. Dokter wajib menjalankan tugasnya sendiri sesuai dengan yang telah diperjanjikan, kecuali apabila pasien menyetujui perlu adanya seseorang yang mewakilinya; 3. Dokter wajib memberikan informasi kepada pasiennya mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan penyakit penderitanya. Di samping itu, terdapat pula tindakan-tindakan dokter yang dilarang dilakukan oleh dokter, karena hal tersebut dianggap bertentangan dengan Kode Etik Kedokteran, antara lain :[13] (a) Melakukan suatu perbuatan yang bersifat memuji diri sendiri; (b) Ikut serta dalam memberikan pertolongan kedokteran dalam segala bentuk tanpa kebebasan profesi; (c) Menerima uang lain selain dari imbalan yang layak sesuai dengan jasanya meskipun dengan pengetahuan pasien. Selain hak dan kewajiban dokter sebagaimana dipaparkan di atas, dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan juga timbul hak dan kewajiban pasien, baik karena perjanjian terapeutik maupun secara tegas dalam undang-undang.

Menurut Alexandra Indriyanti Dewi,[14] kedudukan pasien sebagai pihak penerima jasa medis dalam pelayanan kesehatan secara umum mempunyai hak-hak sebagai berikut : (1) Hak untuk hidup, hak atas tubuhnya sendiri dan hak untuk mati secara wajar; (2) Memperoleh pelayanan kedokteran dan keperawatan secara manusiawi sesuai dengan standar profesi baik kedokteran maupun keperawatan; (3) Menolak prosedur diagnosis dan terapi yang direncanakan; (4) Memperoleh penjelasan tentang riset kedokteran dan keperawatan yang akan diikutinya; (5) Menolak atau menerima keikutsertaannya dalam riset kesehatan dan kedokteran; (6) Dirujuk kepada dokter spesialis bilamana diperlukan; (7) Kerahasiaan dan rekam mediknya atas hal pribadi; (8) Memperoleh penjelasan tentang peraturan rumah sakit; (9) Hak untuk berhubungan dengan keluarga, penasehat rohani dan memperoleh perincian pembiayaan. Berkaitan dengan hak pasien dalam pelayanan kesehatan ini, Soerjono Seokanto mengatakan bahwa : “Secara umum hak-hak pasien dalam pelayanan kesehatan meliputi antara lain : Hak pasien atas perawatan dan pengurusan; Hak untuk memilih tenaga kesehatan dan rumah sakit yang akan merawatnya; Hak untuk menolak cara perawatan tertentu; Hak atas informasi; Hak atas rasa aman dan tidak diganggu; Hak untuk mengakhiri perjanjian perawatan. Selanjutnya secara normatif pasien dalam pelayanan kesehatan juga diberikan hak yang secara tegas ditentukan dalam Pasal 52 Undang-Undang No.29 tahun 2004 tentang Praktik kedokteran, yang menyatakan sebagai berikut : “Pasien dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran mempunyai hak, antara lain : Mendapat penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis; Meminta pendapat dokter lain; Mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis; Menolak tindakan medis; dan Mendapatkan isi rekam medis”. Selain yang ditentukan dalam Undang-Undang Praktik kedokteran tersebut di atas, Kode Etik Kedokteran Indonesia juga menyebutkan beberapa hak pasien yang perlu diperhatikan, antara lain sebagai berikut :[15]

a. b. c. d. e. f.

a. b. c. d. e.

(a) Hak untuk hidup, hak atas tubuhnya sendiri dan hak untuk mati secara wajar; (b) Hak memperoleh pelayanan kedokteran yang manusiawi sesuai dengan standar profesi kedokteran; (c) Hak memperoleh penjelasan tentang diagnosis dan terapi dari dokter yang mengobatinya; (d) Hak untuk menolak prosedur diagnosis dan terapi yang direncanakan, bahkan dapat menarik diri dari kontrak terapeutik; (e) Hak untuk memperoleh penjelasan tenaga riset kedokteran yang akan diikutinya serta menolak atau menerima keikutsertaannya dalam riset kedokteran tersebut; (f) Hak untuk dirujuk kepada dokter spesialis bila perlu, dan dikembalikan kepada dokter yang merujuknya setelah selesai konsultasi atau pengobatan untuk memperoleh perawatan atau tindak lanjut; (g) Hak atar kerahasiaan atau rekam medik yang bersifat pribadi; (h) Hak untuk memperoleh penjelasan peraturan rumah sakit; (i) Hak untuk berhubungan dengan keluarga, penasehat atau rohaniawan dan lain-lainnya yang diperlukan selama perawatan di rumah sakit; (j) Hak untuk memperoleh penjelasan tentang perincian biaya rawat inap, obat, pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan rontgen, ultrasonografi, CT-scan, biaya kamar bedah, kamar bersalin, imbalan jasa dokter dan lain-lain. Di samping hak-hak pasien sebagaimana dikemukakan di atas, dalam pelayanan kesehatan pasien juga mempunyai beberapa kewajiban yang harus dilaksanakan. Menurut Alexandra Indriyanti Dewi,[16] dikatakan bahwa pasien dalam pelayanan kesehatan mempunyai kewajiban sebagai berikut : (1) Kewajiban untuk memeriksakan diri sedini mungkin kepada dokter; (2) Kewajiban memberikan informasi yang benar dan lengkap tentang penyakitnya;

(3) Kewajiban mematuhi nasehat dan petunjuk dokter; (4) Kewajiban menandatangani surat-surat persetujuan tindakan medis atau Informed Consent, surat jaminan dirawat di rumah sakit; (5) Wajib yakin pada dokternya dan yakin akan sembuh; (6) Kewajiban melunasi biaya perawatan di rumah sakit, biaya pengobatan serta honorarium dokter. Berkaitan dengan kewajiban pasien ini, Bahder Johan Nasution memberikan pendapatnya yang agak berbeda pada beberapa kewajiban pasien dengan Alexandra Indriyanti Dewi, namun mengandung makna yang sama. Menurut Bahder Johan Nasution,[17] kewajiban pasien yang harus dilaksanakan dalam pelayanan kesehatan mencakup : (a) Kewajiban memberikan informasi; (b) Kewajiban melaksanakan nasehat dokter atau tenaga kesehatan lainnya; (c) Kewajiban untuk berterus terang apabila timbul masalah dalam hubungannya dengan dokter atau tenaga kesehatan; (d) Kewajiban memberikan imbalan jasa; (e) Kewajiban memberikan ganti rugi apabila tindakannya merugikan dokter atau tenaga kesehatan lainnya. Ditinjau dari hukum positif yang berlaku, kewajiban pasien dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan telah ditentukan secara tegas dalam ketentuan Pasal 53 Undang-Undang No. 29 tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran, yang menyatakan bahwa ; “Pasien dalam menerima pelayanan kesehatan pada praktik kedokteran mempunyai kewajiban sebagai berikut : Memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah kesehatannya; Mematuhi nasehat dan petunjuk dokter atau dokter gigi; Mematuhi ketentuan yang berlaku di sarana pelayanan kesehatan; dan Memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima. Berdasarkan pada kewajiban-kewajiban pasien tersebut di atas dapat diinterpretasikan bahwa, meskipun kewajiban pasien tersebut telah ditentukan secara tegas dalam Undang-Undang Praktik Kedokteran, tetapi pasien berkewajiban pula secara moral di bidang kesehatan, yakni menjaga kesehatannya dan menjalankan aturan-aturan perawatan sesuai dengan nasehat dan petunjuk dokter yang merawatnya. http://indraachmadi.blogspot.com/2012/04/hak-dan-kewajiban-dokter-dan-pasien.html

1. 2. 3. 4.

Hukum Kesehatan : Hak dan Kewajiban Dokter-Pasien
Hak-hak pasien yang timbul karena adanya perjanjian terapeutik adalah sebagai berikut.

1. Hak atas informasi yang jelas perihal penyakitnya (meliputi penyakit yang diderita, tindakan medis yang akan dilakukan, kemungkinan masalah yang timbul akibat tindakan medis tersebut dan tindakan yang dilakukan untuk mengatasinya, alternative terapi lainnya dan perkiraan biaya yang diperlukan). 2. Hak untuk menyetujui tindakan medis yang akan dilakukan oleh dokter atas penyakit yang dideritanya 3. Hak untuk memberikan persetujuan dalam bentuk informed consent jika sebelumnya pasien dalam keadaan pingsan 4. Hak untuk dirahasiakan selamanya tentang keadaan kesehatan termasuk data-data medis yang dimilikinya 5. Hak atas itikad baik dari dokter 6. Hak untuk mendapatkan pelayanan medis sebaik-baiknya 7. Hak untuk menolak tindakan medis yang akan dilakukan terhadap dirinya

Kewajiban yang harus dipenuhi pasien dalam perjanjian terpeutik adalah sebagai berikut.
1. 2. 3. 4. Memberikan informasi yang lengkap dan jujur mengenai penyakitnya kepada dokter Mematuhi nasihat dan instruksi yang diberikan oleh dokter Menghormati privacy dokter yang mengobatinya Memberikan imbalan jasa atas pelayanan kesehatan yang telah diterima

Hak-hak dokter yang timbul karena adanya perjanjian terapeutik adalah sebagai berikut.
1. Kewajiban untuk memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi, yaitu dengan cara melakukan tindakan medis dalam suatu kasus yang konkret menurut ukuran tertentu yang didasarkan pada ilmu medis dan pengalaman 2. Kewajiban untuk menghormati hak-hak pasien, antara lain rahasia atas kesehatan pasien bahkan setelah pasien meninggal dunia. 3. Kewajiban untuk memberikan informasi pada pasien dan/atau keluarganya tentang tindakan medis yang dilakukan dan risiko yang mungkin terjadi akibat tindakan medis tersebut. 4. Kewajiban merujuk pasien berobat ke dokter lain yang mempunyai keahlian/kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu melakukan pemeriksaan atau pengobatan 5. Kewajiban untuk memberikan pertolongan dalam keadaan darurat sebagai tugas perikemanusiaan 6. Kewajiban untuk membuat rekam medis yang baik dan secara berkesinambungan 7. Kewajiban yang berhubungan dengan tujuan ilmu kedokteran, termasuk kewajiban untuk secara terus menerus menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan di bidang ilmu kedokteran 8. Kewajiban yang berhubungan dengan prinsip keseimbangan

http://kuliahade.wordpress.com/2010/11/17/hukum-kesehatan-hak-dan-kewajiban-dokter-pasien/
Didalam mendapatkan layanan kesehatan, pasien mempunyai hak dan kewajiban sebagaimana Surat edaran DirJen Yan Medik No: YM.02.04.3.5.2504 Tentang Pedoman Hak dan Kewajiban Pasien, Dokter dan Rumah Sakit, th.1997; UU.Republik Indonesia No. 29 Tahun 2004 Tentang Praktek Kedokteran dan Pernyataan/SK PB. IDI, sebagai berikut : HAK PASIEN adalah hak-hak pribadi yang dimiliki manusia sebagai pasien:: 1. Hak memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di rumah sakit. Hak atas pelayanan yang

manusiawi, adil dan jujur Hak untuk mendapatkan pelayanan medis yang bermutu sesuai dengan standar profesi kedokteran/kedokteran gigi dan tanpa diskriminasi 3. Hak memperoleh asuhan keperawatan sesuai dengan standar profesi keperawatan Hak untuk memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan sesuai dengan peraturan yang berlaku di 4. rumah sakit Hak dirawat oleh dokter yang secara bebas menentukan pendapat klinik dan pendapat etisnya tanpa campur tangan dari pihak 5. luar Hak atas "privacy" dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-data medisnya kecuali apabila ditentukan berbeda 7. menurut peraturan yang berlaku 8. Hak untuk memperoleh informasi /penjelasan secara lengkap tentang tindakan medik yg akan dilakukan thd dirinya. Hak untuk memberikan persetujuan atas tindakan yang akan dilakukan oleh dokter sehubungan dengan penyakit yang 9. dideritanya Hak untuk menolak tindakan yang hendak dilakukan terhadap dirinya dan mengakhiri pengobatan serta perawatan atas 10. tanggung jawab sendiri sesudah memperoleh informasi yang jelas tentang penyakitnya. Hak didampingi keluarga dan atau penasehatnya dalam beribad dan atau masalah lainya (dalam keadaan kritis atau menjelang 11. kematian). 12. Hak beribadat menurut agama dan kepercayaannya selama tidak mengganggu ketertiban & ketenangan umum/pasien lainya. 13. Hak atas keamanan dan keselamatan selama dalam perawatan di rumah sakit 14. Hak untuk mengajukan usul, saran, perbaikan atas pelayanan rumah sakit terhadap dirinya Hak transparansi biaya pengobatan/tindakan medis yang akan dilakukan terhadap dirinya (memeriksa dan mendapatkan 16. penjelasan pembayaran) 17. Hak akses /'inzage' kepada rekam medis/ hak atas kandungan ISI rekam medis miliknya 2. KEWAJIBAN PASIEN 1. Memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah kesehatannya kepada dokter yang merawat 2. Mematuhi nasihat dan petunjuk dokter atau dokter gigi dan perawat dalam pengobatanya. Memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima. Berkewajiban memenuhi hal-hal yang telah disepakati/perjanjian yang 4. telah dibuatnya

http://askep-askeb.blogspot.com/2009/11/hak-dan-kewajiban-pasien.html HAK PASIEN & KELUARGA PASIEN 1. Anda berhak untuk diperlakukan dengan hormat dan penuh martabat  Anda berhak untuk menerima pengobatan berkualitas tinggi, aman tanpa diskriminasi: tanpa melihat perbedaan ras, umur, jenis kelamin, kewarganegaraan, kedudukan sosial, ataupun ketidak-mampuan fisik, serta bebas dari segala keterikatan/batasan yang tidak diperlukan secara medis.  Dipenuhi hak Anda untuk mendapatkan bimbingan rohani/agama /spiritual yang dianut  Anda memiliki hak untuk dirawat dengan penuh perhatian, rasa hormat dan kasih pada akhir kehidupan  Menerima pelayanan gawat darurat jika Anda memerlukannya.  Mendapatkan informasi mengenai hak-hak dan tanggung jawab Anda dengan cara dan bahasa yang yang dimengerti oleh Anda 2. Anda berhak atas privasi dan rahasia pribadi  Selama Anda berada di rumah sakit Anda berhak mendapatkan privasi, perlindungan kerahasiaan atas informasi/data kesehatan Anda, dan dijaga agar tidak disalah gunakan/hilang  Sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia, Isi/informasi medis dalam rekam medis/file Anda adalah milik Anda dan berkas rekam medis/file Anda adalah milik rumah sakit. Bila diperlukan, Anda bisa mendapatkan

resume/ringkasan catatan medis Anda pada waktu yang telah ditetapkan rumah sakit dan sesuai dengan batasan peraturan hukum di Indonesia. Anda memiliki hak untuk dirahasiakan bahwa Anda sedang dirawat di rumah sakit kecuali kepada pihak tertentu yang secara hukum rumah sakit dan atau dokter tidak diperkenankan merahasiakannya.

3. Anda berhak untuk menerima pengobatan di lingkungan yang aman dan terjamin  Berhak mendapatkan perlindungan terhadap percurian atau kehilangan, ancaman dan penganiayaan (dari kata-kata hingga serangan fisik), namun karena rumah sakit adalah public area, maka anda tidak diperkenankan untuk membawa barang berharga dan anda bertanggung jawab untuk menjaga barang berharga tersebut.  Anda berhak mendapatkan perlindungan keamanan dan keselamatan dari pengobatan yang diberikan kepada Anda  Bila Anda memerlukan perhatian khusus, seperti anak-anak, menderita cacat, manula, dan berisiko, akan memperoleh perlindungan sesuai dengan tindakan dan layanan yang diperlukan  Anda memiliki hak untuk dilindungi oleh Rumah Sakit dengan menyediakan pengawasan pemanenan (donor) dan transplantasi organ dan jaringan 4. Anda berhak untuk mengenal nama-nama orang yang melayani Anda  Mengenal nama dan keahlian dokter yang akan menangani Anda  Mengetahui nama-nama, posisi dan peran dari staf rumah sakit yang berpartisipasi dalam pengobatan Anda. 5. Anda berhak untuk diberikan informasi mengenai pelayanan dan pengobatan Anda  Menerima informasi yang lengkap dan jelas dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh Anda mengenai kondisi kesehatan, diagnosa penyakit dan rencana perawatan dan pengobatan Anda  Memiliki hak untuk mendapatkan pengkajian/penilaian nyeri dan pengelolaan nyeri yang tepat  Menerima informasi mengenai pengobatan yang diperlukan dirumah setelah Anda diperbolehkan pulang  Anda berhak untuk mendapat informasi mengenai pemindahan/ rujukan ke fasilitas atau rumah sakit lain yang ditunjang dengan penjelasan beserta alternatif pemindahan 6. Anda berhak untuk berpartisipasi dalam setiap keputusan atas pengobatan dirinya  Anda dan keluarga Anda memiliki hak untuk berpatisipasi dalam proses perawatan dan berpartisipasi dalam membuat keputusan perawatan dan kepulangan Anda sejauh Anda ingin berpartisipasi  Anda berhak mendapatkan informasi yang memadai dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh Anda dan Anda berhak memberikan persetujuan (Informed Consent) atau ijin atas tindakan atau operasi dan pengobatan yang akan diberikan kepada Anda.  Anda memiliki hak untuk bertanya berkaitan dengan pengobatan dan perawatan Anda.

   

Menunjuk seseorang/wali yang akan mewakili Anda atas semua keputusan medis Anda, dan termasuk untuk: o berhubungan dengan dokter/rumah sakit bila Anda tidak mampu berkomunikasi atau secara medis tidak mampu menentukan sendiri atas keputusan pengobatan Anda o memberitahu dokter yang menangani Anda, apabila Anda di dalam keadaan kritis dan atau tidak sadarkan diri, bahwa Anda tidak memerlukan pengobatan yang dapat memperpanjang masa kehidupan Anda (do not resuscitate) Penunjukan wali tersebut diatas harus diinformasikan terlebih dahulu kepada pihak rumah sakit pada saat anda mulai menjalani perawatan. Sampai kepada batas hukum yang berlaku, Anda berhak untuk menolak pengobatan atau menyudahi perawatan, berlawanan dengan nasehat dokter dan menolak tindakan resusitasi/terapi untuk mempertahankan kehidupan (do not resuscitate) dan diberitahu bahwa keputusan tersebut bisa membawa dampak kepada kesehatan Anda. Jika Anda memutuskan untuk tetap pada keputusan Anda, Anda harus menerima semua tanggung jawab atas konsekuensi medis yang berasal dari keputusan Anda tersebut. Anda berhak untuk memilih dokter dan meminta second opinion (pendapat dari dokter ahli lain) sesuai kebijakan rumah sakit. Anda berhak menentukan rumah sakit mana untuk merawat Anda. Bila Anda memiliki keterbatasan dalam komunikasi /bahasa Anda dapat memberitahu pihak rumah sakit untuk didampingi penterjemah/transletter Anda juga bisa mengemukakan keinginan Anda untuk mendonorkan organ tubuh Anda. Rumah sakit akan membantu Anda menghubungi bank donor organ tubuh yang resmi untuk memfasilitasi keinginan anda

7. Anda berhak untuk mengerti biaya rumah sakit  Diberikan informasi mengenai estimasi biaya sesuai dengan diagnosa pada saat Anda masuk rumah sakit  Menerima penjelasan mengenai biaya yang dibebankan kepada Anda 8. Anda berhak untuk didengar & memiliki sarana untuk menyampaikan saran & keluhan atas pelayanan dan pengobatan Anda  Anda dan keluarga Anda berhak untuk menyampaikan saran, pujian, keluhan, konflik, dan perbedaan pendapat tentang perawatan Anda tanpa khawatir akan pelayanan dan pengobatan yang akan Anda terima dan mendapat respon dari rumah sakit Keluhan bisa disampaikan secara tertulis dengan mengisi formulir Kritik & Saran (Customer Feedback Form) yang disediakan oleh rumah sakit atau menyampaikan langsung kepada Patient Advocate/Customer Relation Officer RS Pondok Indah Pondok Indah di Lobby Lantai 1 extention 1200/1300. KEWAJIBAN PASIEN & KELUARGA PASIEN 1. Menghormati dan mengerti orang lain  Mengikuti peraturan-peraturan yang ditetapkan rumah sakit sebagai pasien dan pengunjung

  

  

Memperlakukan staf rumah sakit, pasien lainnya, dan pengunjung, dengan sopan dan hormat Menghormati privasi pasien lainnya Bila membuat perjanjian, datang sesuai dengan waktu yang dijanjikan. Jika Anda tidak bisa hadir sesuai perjanjian, silakan memberitahukan pihak rumah sakit sebelumnya Anda bertanggungjawab atas keamanan barang-barang berharga dan barangbarang pribadi Anda selama berada di rumah sakit Memperlakukan properti dan fasilitas rumah sakit dengan hati hati dan penuh tanggung jawab Menginformasikan ke perawat jika Anda akan menerima kunjungan religius dan diperbolehkan menjalankan ibadah di tempat rawat inap sepanjang tidak mengganggu pasien/ orang lain.

2. Menyelesaikan semua tanggungjawab keuangan Anda  Menyelesaikan semua biaya rumah sakit pada waktunya sesuai dengan pelayanan dan pengobatan yang disediakan/diberikan untuk Anda selama Anda di rumah sakit  Mencari penjelasan apabila ada masalah finansial/biaya perawatan yang tidak dimengerti 3. Memberikan informasi yang diperlukan untuk pengobatan Anda  Memberikan informasi yang lengkap dan akurat atas kesehatan Anda, termasuk kondisi terkini, riwayat penyakit, riwayat opname, obat-obatan yang digunakan, allergi yang diderita dan psegala informasi mengenai kesehatan Anda yang patut untuk diketahui oleh dokter dan pihak rumah sakit  Memberikan data pribadi Anda secara lengkap dan akurat, seperti nama lengkap, tanggal lahir, alamat, nomor kontak. Patuh dengan proses Identifikasi Pasien yang diterapkan rumah sakit demi keamanana dan keselamatan Anda  Bertanya bila Anda tidak mengerti diagnosa atau rencana pengobatan yang akan Anda jalani. Anda dan keluarga Anda bertanggung jawab untuk memberitahu pihak rumah sakit apabila Anda tidak mengerti prosedur yang akan dijalankan  Memberitahukan perubahan yang terjadi atas kondisi atau/dan kesehatan Anda selama dalam perawatan di rumah sakit.  Memberitahu pihak rumah sakit/dokter bila Anda tidak memerlukan/menolak pengobatan yang dapat memperpanjang masa kehidupan Anda (do not resuscitate) 4. Mengikuti rekomendasi yang diberikan dokter  Berpartisipasi aktif dan patuh terhadap pengobatan Anda, termasuk patuh terhadap keputusan mengenai rencana pengobatan Anda. Ini termasuk minum obat-obat yang diberikan dokter, memberitahu dokter/perawat bila mengalami hambatan dengan rencana pengobatan yang diberikan, timbul masalah/reaksi yang tidak dikehendaki terhadap obat yang diminum dan pembuatan janji kepada dokter pada kunjungan berikutnya

Bertanggungjawab atas semua konsekuensi yang ada apabila Anda menolak pengobatan medis, rencana pengobatan Anda, meninggalkan rumah sakit atau bertentangan dengan nasehat medis.

5. Menunjuk wakil Anda Anda berkewajiban menunjuk seorang pembuat keputusan yang akan mewakili Anda mana kala Anda dalam situasi tidak mampu berkomunikasi atau secara medis tidak mampu menentukan sendiri atas :  keputusan pengobatan Anda  untuk berkomunikasi dan/ atau menyampaikan harapan Anda tentang perawatan Anda kepada pihak rumah sakit dan/atau dokter. Sejak awal perawatan, Anda berkewajiban memberitahu nama wakil Anda tersebut kepada pihak rumah sakit.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->