MASTERPLAN MINAPOLITAN

KABUPATEN BOGOR

Tim Penyusun :
Lala M. Kolopaking Kadarwan Soewardi Linawati Hardjito Ernan Rustiadi Taryono Kodiran Siti Nursyiah Prastowo   Odang Carman Yoyoh Indaryanti   Dyah Ita Mardiyaningsih Nuning Koesumowardani Muhamad   Alif Razi Eka Hermawan Susanto Dewi Setyawati   Johan

   
Kerjasama BADAN PERENCANAN  PEMBANGUNAN DAERAH

 

PEMERINTAH KABUPATEN BOGOR
 

dengan   PUSAT STUDI PEMBANGUNAN PERTANIAN DAN PEDESAAN
LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2010  

MasterPlan Minapolitan Kabupaten Bogor

KATA PENGANTAR

Kami panjatkan puji syukur kehadirat

Allah SWT karena atas limpahan rahmat dan

karunia-Nya “Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor” ini dapat diselesaikan. Kegiatan ini merupakan hasil kerjasama antara PSP3 - LPPM IPB dengan BAPPEDA Kabupaten Bogor berdasarkan Surat Kuasa Melaksanakan Pekerjaan Swakelola Kajian Akademis oleh Perguruan Tinggi. Dokumen Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor ini merupakan bentuk Laporan Akhir dari pertanggungjawaban PSP3-IPB dalam pelaksanaan kegiatan Penyusunan

Masterplan Minapolitan di Kabupaten Bogor. Laporan ini dibuat berdasarkan data dan informasi yang diperoleh melalui beragam pendekatan dari wawancara mendalam, observasi langsung, survey terhadap stakeholder terkait maupun diskusi kelompok terarah pada beragam tingkatan. Selain itu, laporan ini dilengkapi dengan masukan-

masukan yang diterima oleh Tim pada saat kegiatan ekspose Laporan Pendahuluan dan Laporan Antara. Dalam laporan antara ini sudah dipaparkan rencana pengembangan

kawasan minapolitan di Kabupaten Bogor dengan beberapa indikasi program yang perlu dilakukan dalam jangka waktu lima tahun ke depan. Paparan rencana pengembangan kawasan minapolitan ini masih belum sempurna sehingga diharapkan masukan dan saran untuk mendapatkan satu dokumen Master Plan Minapolitan Kabupaten Bogor yang baik.

Terima kasih

Bogor, November 2010

Tim Penyusun

ii

MasterPlan Minapolitan Kabupaten Bogor

DAFTAR ISI

Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Tujuan dan Sasaran 1.2.1. Tujuan 1.2.2. Sasaran 1.3. Ruang Lingkup Kegiatan II. KONSEP DAN KERANGKA TEORU PENGEMBANGAN KAWASAN MINAPOLTAN 2.1. Pengertian dan Ciri Kawasan Minapolitan 2.1.1. Pengertian umum 2.1.2. Kriteia Kawasan Minapolitan 2.2. Rencana Pengembangan Kawasan Minapolitan 2.2.1. Komoditi Unggulan 2.2.2. Prinsip, Tujuan dan Perencanaan Pengembangan Kawasan Minapolitan 2.2.3. Konsep Rencana Tata Ruang Kawasan Minpolitan 2.2.4. Kedudukan Rencana Tata Ruang Minapolitan dalam Sistem Pengembangan Wilayah Kabupaten/Kota 2.2.5. Konsep Kelembagaabn Minapolitan 2.3 Tujuan Minapolitan 2.4. Sasaran Minapolitan III. TINJAUAN KEBIJAKAN 3.1. Kebijakan Nasional Minapolitan 3.2. Kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten iii

iii iv v v I-1 I-1 I-2 I-3 I-3 I-3 II-1 II-1 II-1 II-2 II-3 II-3 II-4 II-7 II-8 II-9 II-12 II-12 III-1 III-1 III - 3

Pendekatan Penyusunan Master Plan 4.2.2. Peraturan Terkait Minapolitan IV. 19 Tahun 2008 3.1. KONDISI UMUM KAWASAN MINAPOLITAN 5. Batas Administrasi dan Geografis Wilayah 5.3. Kondisi Perikanan VI. Pendekatan Pengembangan Minapolitan 4.3.3.5. Pendekatan Hidrologi 4.2.2.3.3. Kondisi Demografi 5.4. Pendekatan Kelembagaan dan Sosial Ekonomi Perikanan 4. Pendekatan Agribisnis dalam Pengembangan Minapolitan 4. Potensi Pengolahan Produk Perikanan 6. Pendekatan Lanskap 4. Pemasaran 6.4.1.4.2.2.3. Pelaporan V. Pendekatan Keilmuan Terkait 4. Potensi budidaya Perikanan Air Tawar 6. Kondisi Ekonomi Wilayah 5.4.3.2.1.3. Permaalahan Pembenihan 6.6.1. WAKTU DAN LOKASI KEGIATAN 4. Pendekatan Pengembangan Wilayah 4.3. 7 Tahun 2009 3.3. Jenis Pengolahan iv III-11 III-13 4-1 4-1 IV-2 IV-2 IV-4 IV-5 IV-7 IV-7 IV-8 IV-9 IV-9 IV-10 IV-11 IV-18 V-1 V-1 V-1 V. Biofisik dan Tata Guna Lahan 5.4. Lokasi Kegiatan di Empat Kecamatan 4.3.3.MasterPlan Minapolitan Kabupaten Bogor Bogor: Perda No.3.3.1. ANALISIS POTENSI DAN PERMASALAHAN 6.3.1.4. Kerangka Pendekatan Studi 4. Permasalahan di Tingkat Pendeder 6.1.5.3. Pendekatan Pengolahan Perikanan 4. Permasalahan Perikanan Budidaya 6.2 V-4 V-7 VI-1 VI-1 VI-2 VI-2 VI-3 VI-3 VI-4 VI-4 VI-6 . Permasalahan di Tingkat Pembesaran 6. Kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Memengah Daerah (RPJM-D) Kabupaten Bogor 2008-2013: Perda No.2.2.1. Pendekatan Peerikanan Budidaya 4.

2.5.9.3. Sistim Tata Air 6. Pemasaran Ikan Olahan 6.2.5. Potensi Minawisata 6. Kebijakan Terkait Minapolitan 6.3. Analisis Kelayakan Lanskap untuk Minawisata VII.6. Infrastruktur Wilayah 6.2. Penetapan Produk Unggulan 7.3.2.9.1.4. Rencana Pengembangan Potensi Perikanan Budidaya 7. Penetapan Kawasan Pengembangan 7.5.4. Potensi Calon Sentra Pengolahan 6.8. INDIKASI PROGRAM VI-7 VI-7 VI-8 VI-8 VI-9 VI-11 VI-15 VI-17 VI-18 VI-18 VI-18 VI-24 VII-1 VII-1 VII-1 VII-3 VII-3 VII-3 VII-4 VII-8 VII-13 VIII-1 D&L-1 Lampiran-2 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN v .1.6. Rencana Pengembangan Potensi Pengolahan 7.2.1. Pemasaran Ikan Segar 6. Arahan dan Rencana Pengembangan Kelembagaan VIII. Pengembangan Teknologi Pengolahan 7.MasterPlan Minapolitan Kabupaten Bogor 6.1.9. Identifikasi dan Analisis Potensi Lanskap Kawasan Minapolitan 6. Isu dan Permasalahan Kelembagaan 6. Pemasaran 6. STRATEGI DAN RENCANA PENGEMBANGAN 7.7.4.5.9.4.4. Arahan dan Rencana Pengembangan Lanskap Minawisata 7. Permasalahan Pengolahan 6. Pengembangan Produk Olahan 7.

3.MasterPlan Minapolitan Kabupaten Bogor DAFTAR TABEL Nomor 4. V-4 V-5 V-7 6-1 VI-10 VI-11 Vi-12 VI-1 VI-25 . 6.5 6. Bintang Anugerah di PIH Cibinong Hasil Analisi Neraca Air untuk Budidaya Perikanan Hasil Analisis Debit Bulanan (Lt/Dtet) di Cogrek (53 Hal) Status Jalan dan Panjang di Kabupaten Bogor Penilaian Kelayakan Kawasan Bogor sebagai Minawisata vi 5.3.4. 6.4. 6. 5.5.2.7.1.6. 5. 6. Bening dan CV. 5.4. 6. 4. Luas Areal dan Total Produksi Ikan Air Tawar di Kabupaten Bogor Produksi Perikanan Per-kecamatan menurut Jenis Ikan Jenis dan Harga Produk Olahan Ikan di CV.2. 4.2.1.5.1. 5. 4. Julah Penduduk dan PDRB per Kapita Kabupaten/Kota di Kawasan Jabodetabek dan Sekitarnya Tahun 2006 Jumlah dan Luas Daerah Irrigáis Se-Kabupaten Bogor Luasan Masing-masing Penggunaan Lahan di Kabupeten Bogor Tahun 2006 Jumlah RTP Pembudidaya. 6. 4. Lokasi Kegiatan di 4 Kecamatan Teks Hal IV-1 IV-3 IV-11 IV-14 IV-16 V-2 V-3 Kerangka Pendekatan Penyusunan Masterplan Pengembangan Minapolitan Alat Perencanaan Kriteria Penilaian Kelayakan Kawasan untuk Wisata Penilaian Akseptibilitas Masyarakat Presentase Jenis Mata Pencaharian Masyarakat Per Kecamatan di Zona IV PDRB per Kapita Kabupaten/Kota di Kawasan Jabodetabek dan Sekitarnya Tahun 2000 dan 2008 Total PDRB.3.

2. 7. 7. Skor Penentuan Komoditas Unggulan Ikan Air Tawar di Kabupaten Bogor Parameter Penilaian Pengolahan Daftar Fasilitas dan Peralatan untuk Produksi Filet dan Pemanfaatan Hasil Samping Fasilitas dan Peralatan untuk Pembuatan Lele Asap Fasilitas dan Peralatan untuk Produksi Surimi Fasilitas yang Diperlukan untuk Proses Produksi Surimi Pilihan Bentuk Kelembagaan Pengelola Kawasan Minpolitan Bogor VII-6 VII-7 VII-7 VII-20 VII-2 VII-2 vii .4.3.7.6. 7.5. 7. 7.1.MasterPlan Minapolitan Kabupaten Bogor 7. 7.

7. 2. 6.2.MasterPlan Minapolitan Kabupaten Bogor DAFTAR GAMBAR Nomor 2. 6. 4.9. 5. 5.2. 6.11.1.4.12 Teks Konsepsi Pengembangan Minapolitan Keterkaitan Pusat Kawasan Minapolitan Deskripsi Kawasan Minapolitan Keterkaitan Usaha dan Pelakunya di Wilayah Studi Peta Lokasi Kegiatan Sistem Agribisnis Perikanan Tahapan Studi Peta Lokasi Kabupaten Bogor Peta Wilayah Zona IV Kaki naga (VegiFish) (kiri) dan Nuget (kanan) Industri Rumah Tangga Lele Asap dan Pengasapan Lele Aktifitas Penjualan Benih Ikan di Pasar Benih Ciseeng Lokasi Pasar Benih Ikan di Ciseeng Lokasi BP3K. 6.1. 6. 6.10 6.3.4. 6. 6. 6.1. 2.2.3. 2. 4.7.5. Bening dan CV Bintang Anugerah Grafik Curah Hujan Andalan dan Kebutuhan Air Untuk Budidaya Perikanan Skema Daerah Irigasi Cibeuteung-1 Skema Daerah Irigasi Saak BSK3 Skema Daerah Irigasi Curug Serpong Peta Kecamatan Kemang viii Hal II-6 II-7 II-9 II-10 IV-2 IV-6 IV-13 V-1 V-9 VI-5 VI-6 VI-8 VI-8 VI-8 VI-8 VI-10 VI-12 VI-13 VI-14 VI-15 VI-19 .3. 4.1. 6.2.8. Ciseeng Kolam di Lokasi BP3K CV. 6.

3. 6. 6.13. 6. 6. 7.12.18 6.21.23.7. 7.8 7. Peta Kecamatan Ciseeng Kondisi Desa Babakan Kondisi Pasar Ciseeng Kondisi Kawasan Budidaya Ikan Hias Kondisi Kawasan BP3K Pembesaran Lele Peta Kecamatan Parung Kawasan Wisata Tirta Sanita Kawasan Budidaya Lobster Pengolahan Lele Asap Peta Kecamatan Gunung Sindur Beberapa Area Pemancingan Pengolahan Ikan Kaki Naga (Vegi Fish) dan Nuget Proses Pembuatan Lele Asap Proses Pembuatan Surimi Produksi Produk Turunana Surami Konsep Ruang dan Sirkulasi Minawisata Alternatife 1 Lokasi Eksisting dan Desain Alternatif 1 Sentra Minapolitan (BP3K) Kondisi Eksisting Sentra Minapolitan Alternatif 1 Perspektif Sentra Minawisata Alternatif 2 Konsep Ruang dan Sirkulasi Minawisata Alternatif 2 Diagram Ruang Sentra Minapolitan Alternatif 2 (Desa Babakan) Lokasi Eksisting dan Desain Alternatif 2 Sentra Minapolitan Hirarki Pengambilan Keputusan Pengelolaan Sumberdaya Kawasan Minapolitan Bogor Proses Pembentukan Kelembagaan Pengelola Kawasan Minapolitan ix VI-20 VI-20 VI-20 VI-21 VI-21 VI-21 VI-22 VI-22 VI-22 VI-23 VI-23 VI-24 VI-24 VII-6 VII-6 VII-6 VII-7 VII-10 VII-10 VII-11 VII-11 VII-12 VII-12 VII-13 VII-18 VII-19 . 7. 7.10.13.16 6.14 7. 7.11.22. 7.4.1.5.MasterPlan Minapolitan Kabupaten Bogor 6. 6.19 6. 6.20 6.24 7. 7. 7.17.9.15. 7. 7.2.15. 6. 7.14.

Tabel Indikasi Program Pengembangan Kawasan Minapolitan Dapus & Lamp-3 Dapus & Lamp-4 Dapus & Lamp-5 Dapus & Lamp-6 Dapus & Lamp-7 x . Peta Produksi Perikanan Lampiran 2. Peta Lokasi Obyek Wisata Minapolitan Lampiran 5.16. Peta Sarana dan Prasarana Lampiran 4. Peta Rumah Tangga Perikanan Lampiran 3.MasterPlan Minapolitan Kabupaten Bogor 7. Tahapan Substantif Pembentukan Kelembagaan Operasional Pengelolaan Kawasan Minapolitan VII-19 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1.

1.PENDAHULUAN 1 1. Program minapolitan ini merupakan bagian dari strategi besar (grand strategy) KKP dengan slogan “Revolusi Biru” dalam rangka peningkatan produksi perikanan. dan peningkatan pendapatan nelayan serta pembudidaya ikan untuk menjadi pendorong pembangunan daerah. strategi besar KKP-RI yang . Prinsip Zonasi Pengembangan RP3 ditujukan agar di Kabupaten Bogor ada percepatan pembangunan pertanian dalam arti luas melalui pengembangan komoditas unggulan di masing-masing zona. Selaras dengan RP3 tersebut. kebijakan RP3 Kabupatern Bogor memiliki arah yang bersinergi dengan gagasan atau kebijakan KKP-RI dengan menempatkan perikanan budidaya faktor penggerak pembangunan daerah serta berkotribusi signifikan tehadap pembangunan perikanan nasional. Program minapolitan merupakan upaya untuk menjadikan sektor perikanan sebagai sektor unggulan dalam pembangunan daerah yang kawasannya memiliki potensi perikanan. Latar Belakang Bogor merupakan salah satu kabupaten yang ditunjuk oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia (RI) sebagai lokasi Pengembangan Minapolitan. Oleh karena itu. pemilihan produk atau komoditas menjadi sangat penting karena nantinya diharapkan dapat merupakan branding bagi Kabupaten Bogor. Dalam strategi besar ini. Dalam perkembangannya program minapolitan ini tidak hanya mampu menggerakkan sektor perikanan saja. prinsip pangembangan minapolitan oleh KKP juga menekankan pengembangan komoditas perikanan unggulan di masing-masing wilayah berdasarkan kluster wilayah. melainkan harus berdampak pada pertumbuhan ekonomi masyarakat secara umum di wilayah tersebut. Program yang dapat dikembangkan di Zona 4 dan 2 selaras dengan upaya pemerintah (KKP-RI) untuk menjadikan sektor perikanan sebagai salah satu sektor unggulan dalam pembangunan daerah. yang dapat membedakan dengan produk-produk dari daerah lain dan juga memiliki daya saing yang tinggi. Kebijakan tersebut seirama dengan Kebijakan Revitalisi Petanian dan Pedesaan (RP3) Kabupaten Bogor yang menerapkan pendekatan pengembangan pertanian berdasarkan zonasi. Sebagaimana dicatat bahwa Program Minapolitan tersebut merupakan direncanakan akan diwujudkan mulai tahun 2011.

perlu disusun upaya-upaya teknis untuk mematangkan konsep minapolitan budidaya perikanan tersebut. 1. kelembagaan dan pemasaran. dan lain-lain. maka tujuan dari kegiatan ini adalah memperoleh dan menganalisa data-data untuk merancang penyusunan dokumen rencana induk atau masterplan pengembangan minapolitan di Kabupaten Bogor. beberapa komoditas perikanan budidaya sudah berkembang di Kabupaten Bogor. diantaranya kebijakan tata ruang dan daya dukung wilayah. dalam rangka mematangkan konsep minapolitan budidaya perikanan Kabupaten Bogor yang meliputi kesiapan manajemen.1. dalam kerangka minapolitan budidaya. Data-data tersebut diolah Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR I. pengembangan Kabupaten Bogor yang menjadi hinterland Daerah Khusus Ibukota Jakarta merupakan wilayah pemasok pasar produk perikanan baik nasional maupun internasional. Hal-hal penting yang perlu mendapatkan perhatian dalam pengembangan minapolitan budidaya tersebut adalah bahwasannya pengembangan minapolitan budidaya harus terintegrasi dan memperhatikan kebijakan-kebijakan terkait yang sudah ada di Kabupaten Bogor. diantaranya ikan nila dan ikan Lele. Namun demikian. Hingga saat ini. Oleh karena itu. Oleh karena itu. proses pengembangannya harus bertumpu pada pemberdayaan masyarakat dengan melakukan inovasi kebijakan di dalam pembiayaan usaha perikanan dengan membangun kerjasama dengan pihak-pihak yang memiliki sumber pendanaan (baik secara Blending maupun Hybrid Financing).2. Tujuan Berdasarkan latar belakang di atas. di mana satu bentuk/jenis kegiatan budidaya perikanan satu komoditas unggulan. Selain itu.2 . tidak semua komoditas perikanan budidaya tersebut harus menjadi komoditas pengembangan budidaya perikanan.2. finansial.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Kabupaten Bogor adalah salah satu wilayah dengan ekologi dan geografis yang memiliki potensi usaha perikanan budidaya air tawar dikembangkan dalam kerangka program yang sangat memadai dan layak minapolitan budidaya. komoditas unggulan. Tujuan dan Sasaran 1. Gurame. dalam kerangka minapolitan budidaya. maka harus ada prioritas komoditas perikanan budidaya yang akan dikembangkan untuk masing-masing jenis kegiatan budidaya perikanan. Dalam rangka menyusun upaya-upaya teknis dan strategis untuk mematangkan konsep minapolitan tersebut disusun rencana induk atau master plan pengembangan minapolitan di Kabupaten Bogor. teknologi.

diantaranya jalan akses dan balai-balai benih. Identifikasi kebijakan-kebijakan pemerintah. Masterplan tersebut haruslah mempertimbangan dan mewakili seluruh pihak terkait agar dapat menjadi cetak biru dalam pembangunan minapolitan. sistem pemasaran produk-produk hasil pengembangan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR I. Ruang Lingkup Kegiatan Ruang lingkup kegiatan penyusunan masterplan pengembangan minapolitan di Kabupaten Bogor sebagai berikut: 1. 1.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor secara cermat sehingga masterplan yang terbentuk dapat mendukung segala kegiatan dan kepentingan minapolitan secara efektif dan efisien. Penyusunan rencana induk pengembangan minapolitan budidaya di Kabupaten Bogor.3. dan e. 1. dan kelembagaan perikanan. baik pusat maupun kebijakan RP3 Kabupaten Bogor yang terkait dengan pengembangan minapolitan budidaya perikanan serta pemanfaatan ruang. 2.3 . Identifikasi isu dan permasalahan dalam pengembangan perikanan budidaya 3. pengembangan sistem kelembagaan dan sistem pengelolaan kawasan minapolitan. Perumusan konsepsi visi. meliputi: a. tujuan. Identifikasi kondisi dan potensi infrastruktur pendukung kegiatan budidaya perikanan. 6.2. pengembangan sistem penyediaan benih secara tepat dan terus-menerus.2. Identifikasi potensi sumberdaya alam (lahan. penentuan lokasi atau kawasan unggulan untuk pengembangan minapolitan budidaya. c. dan strategi pengembangan minapolitan budidaya. 4. Sasaran Merujuk tujuan kegiatan yang diuraikan sebelumnya. 5. b. d. pengembangan minapolitan. lingkungan perairan dan perikanan). sumberdaya manusia. maka sasaran dari kegiatan ini adalah tersusunnya dokumen rencana induk atau masterplan pengembangan minapolitan di Kabupaten Bogor. misi. penentuan komoditas unggulan dan teknologi budidaya untuk masing-masing jenis kegiatan budidaya perikanan.

menarik dan menghela kegiatan pembangunan perikanan di wilayah tersebut dan sekitarnya. minapolitan berasal dari kata “Mina” (perikanan) dan “politan” (poli (multi) dan –tan (kegiatan)) yang dapat diartikan sebagai kluster kegiatan perikanan yang meliputi kegiatan produksi. kawasan terintegrasi sebagai kluster kegiatan perikanan dimana masyarakatnya tumbuh dan berkembang seiring dengan kemajuan kelembagaan usaha yang didukung sumberdaya manusia berkualitas melalui pendidikan yang maju. 2. Pengertian Umum Secara bahasa. . ada beberapa definisi minapolitan. Lengkapnya adalah kluster perikanan yang tumbuh dan berkembang seiring berjalannya sistem dan usaha agribisnis yang mampu melayani. pengolahan dan pemasaran dalam sistem agribisnis terpadu di suatu wilayah atau lintas wilayah perikanan dengan kelengkapan sarana prasarana serta pelayanan seperti di perkotaaan (kelembagaan. Pengertian dan Ciri Kawasan Minapolitan 2. kawasan perdesaan yang disiapkan mempunyai kelengkapan sarana dan prasarana dan pelayanan perkotaan (infrastruktur termasuk transportasi dan energi).1. mendorong.1. dan lain-lain). pengolahan dan pemasaran dalam satu rangkaian kegiatan besar dalam satu kawasan atau wilayah. pengolahan dan pemasaran. transportasi. yaitu: 1. kawasan yang dikembangkan melalui pembentukan titik tumbuh suatu kluster kegiatan perikanan dengan sistem agribisnis berkelanjutan yang meliputi produksi. sampai jasa lingkungan sebagai sistem kemitraan di dalam satu wilayah. 3. Program minapolitan ini pada prinsipnya merupakan suatu program kegiatan yang berupaya untuk mensinergiskan kegiatan produksi bahan baku. Adapun secara makna.1. sistem permodalan. dengan dukungan sistem permodalan yang tepat guna.KONSEP DAN KERANGKA TEORI PENGEMBANGAN KAWASAN MINAPOLITAN 2 2.

Kegiatan perikanan skala besar. 2. Sedangkan Kriteria khusus pengembangan kawasan perikanan budidaya antara lain adalah: 1. harus diupayakan menyerap sebesar mungkin tenaga kerja setempat. yaitu: 1. Memiliki kemampuan untuk memelihara sumber daya alam sehingga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan dan mampu menciptakan kesejahteraan ekonomi secara adil dan merata bagi seluruh masyarakat. Pemanfaatan dan pengelolaan lahan yang harus dilakukanberdasarkan kesesuaian lahan dan RTRW. Memiliki kegiatan ekonomi yang dapat menggerakkan pertumbuhan daerah. dan 5. 4. Memiliki keterkaitan kedepan (daerah pemasaran produk-produk yang dihasilkan) maupun ke belakang (suplai kebutuhan sarana produksi) dengan beberapa daerah pendukung.2. Penggunaan lahan untuk kegiatan perikanan harus memanfaatkan potensi yang sesuai untuk peningkatan kegiatan produksi dan wajib memperhatikan aspek kelestarian lingkungan hidup serta mencegah kerusakannya. Mempunyai sektor ekonomi unggulan yang mampu mendorong kegiatan ekonomi sektor lain dalam kawasan itu sendiri maupun di kawasan sekitarnya. Kegiatan perikanan skala besar. 5. baik yang menggunakan lahan luas ataupun teknologi intensif harus terlebih dahulu memiliki kajian Amdal sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku. 2. Persyaratan Kawasan Minapolitan Suatu kawasan dapat dikembangkan menjadi kawasan minapolitan jika memenuhi persyaratan sebagai berikut: Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR II . Wilayah yang sudah ditetapkan untuk dilindungi kelestariannya dengan indikasi geografis dilarang untuk dialih fungsikan. disesuaikan dengan kondisi geografis dan potensi yang dimiliki oleh masing-masing kawasan yang akan dikembangkan. Kriteria Kawasan Minapolitan Kriteria dan persyaratan kawasan minapolitan yang akan dikembangkan. 4.2 . 3. 3. Kriteria umum pengembangan kawasan minapolitan harus memenuhi kriteria di bawah ini. Kriteria dan Persyaratan Kawasan Minapolitan a.1. Memiliki luasan areal budidaya eksisting minimal 200 Ha.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 2. b.

Keunggulan produk yang dihasilkan dari industri yang mengolah komoditi unggulan tersebut akan memberikan nilai tambah yang besar karena produk yang dihasilkan mempunyai nilai jual yang stabil dibandingkan dengan produk perkebunan atau pertanian tanpa melalui pengolahan. 2. Memiliki sumberdaya lahan/perairan yang sesuai untuk pengembangan komoditas perikanan yang dapat dipasarkan atau telah mempunyai pasar (komoditas unggulan). kesenian. serta berpotensi atau telah berkembang diversifikasi usaha komoditas unggulanya. yaitu mulai dari pengadadaan nsarana dan prasarana perikanan. pendidikan. Memiliki sarana dan prasarana kesejahteraan sosial/masyarakat yang memadai seperti kesehatan. e. pasar sarana dan prasarana. perpusatakaan dan lain-lain. 5. 4.2.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 1. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR II . UPP). Balai Beni Ikan. 2.3 . dan lain-lain. Pasar. cold storagge dan processing hasil perikanan sebelum dipasarkan. Memiliki sarana dan Prasaran penunjang yanga memadai seperti jalan. Pengembangan kawasan tersebut tidak hanya menyangkut kegiatan perikanan saja (on farm) tetapi juga kegiatan off farm-nya. (pasar hasil-hasil perikanan. b. Memiliki kelembagaan perikanan (kelompok.2. Memiliki berbabgai sarana dan prasarana minabisnis yang memadai untuk mendukung pengembangan sistsem dan usaha minabisnis tersebut adalah: a. d. kegiatan pengolahan hasil perikanan sampai dengan pemasaran hasil perikanan serta kegiatan penunjang. maupun pasar jasa pelayanan termasuk pasar lelang. sosial budaya maupun kota terjamin. listrik. Kawasan minapolitan tidak saja berfungsi sebagai pemasok komoditi unggulan yang dihasilkan. Komoditi Unggulan Kawasan Minaploitan Komoditi unggulan adalah produk pilihan yang dihasilkan oleh sektor perikanan atau pariwisata berbasis perikanan yang mempunyai nilai jual dan jaminan prospek masa depan karena memiliki daya saling (competitive advantages) yang tinggi. rekreasi. tetapi juga menghasilkan suatu produk olahan dari produksi pertanian yang siap dipasarkan dan menjadi ciri khas daerah yang bersangkutan. 3. Lembaga keuangan (perbankan maupun non perbankan). Rencana Pengembangan Kawasan Minapolitan 2. c. Kelestarian lingkungan hidup baik kelestarian sumberdaya alam. air bersih. Penyuluhan dan bimbingan teknologi.1.

Mengembangkan perekonomian yang berorientasi global sesuai dengan kemajuan teknologi dengan membangun keunggulan kompetitif berdasarkan kompetensi produk unggulan di setiap daerah. perkebunan.4 . menengah dan koperasi. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR II . 6. Mempercepat pembangunan pedesaan dalam rangka pemberdayaan masyarakat daerah (khususnya pembudidaya ikan) dengan kepastian dan kejelasan hak dan kewajiban semua pihak. 5. harga jual produk pertanian juga akan memberikan kontribusi yang baik kepada petani. Mengembangkan sistem ekonomi kerakyatan yang bertumpu pada mekanisme pasar yang berkeadilan. membangun industri produk jadi yang berbasis pada komoditi unggulan menjadi sangat penting untuk dilakukan agar produk tersebut tidak menjadi komoditi yang dipermainkan pasar. 2.2. Akan terjadi kerjasama yang baik antara petani dengan industri. 3. di mana petani akan mengembangkan tanaman atau komoditi yang dibutuhkan oleh industri. Memberdayakan usaha kecil. Prinsip.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Untuk mendapatkan model-model pengembangan minapolitan pada kawasan pertanian yang berbasiskan: tanaman pangan. yaitu: 1. Memaksimalkan peran pemerintah sebagai fasilitator dan pemantau seluruh kegiatan pembangunan di daerah. Di daerah-daerah yang akan dikembangkan sebagai kawasan minapolitan. sedangkan industri akan mendapatkan jaminan suplai dari para petani pengembang komoditi yang dibutuhkan. agar mampu bekerjasama secara efektif. dan 7. Dengan demikian selain petani akan mendapatkan jaminan pembelian bagi produk pertanian yang dihasilkan. Mempercepat pembangunan ekonomi daerah dengan memberdayakan para pelaku sesuai dengan semangat otonomi daerah. 4.2. efisien dan berdaya saing. Prinsip Pengembangan Kawasan Minapolitan Pengembangan kawasan dilaksanakan berdasarkan pada prinsip-prinsip yang sesuai dengan arah kebijakan ekonomi nasional. Tujuan dan Perencanaan Pengembangan Kawasan Minapolitan a. peternakan dan perikanan maka diperlukan susunan tipologi sesuai dengan karakteristik yang dimiliki oleh masingmasing kawasan minapolitan. Mengembangkan sistem ketahanan pangan yang berbasis pada keragaman sumber daya perikanan budidaya dan budaya lokal. hortikultura. 2.

Subsistem jasa-jasa penunjang (kegiatan yang menyediakan jasa bagi minabisnis) seperti: perkreditan. infrastruktur. dan deregulasi yang berhubungan dengan penciptaan iklim yang kondusif bagi pengembangan usaha dan perekonomian daerah. c. pendidikan. teknis. dan kebijakan pemerintah. sarana perikanan. Subsistem minabisnis hulu (up stream minabusiness) yang mencakup: penelitian dan pengembangan. dan lingkungan) yang cermat. dan mensiasati persaingan pasar (domestik dan global). Suatu kawasan sentra perikanan budidaya yang sudah berkembang harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut (lihat Gambar 2. asuransi. Perencanaan Pengembangan Kawasan Minapolitan Proses perencanaan kawasan minapolitan memerlukan fasilitasi kegiatan berupa sosialisasi program untuk seluruh stakeholders dalam rangka menyamakan persepsi. Langkah berikutnya adalah penetapan kawasan di daerah kabupaten/kota sebagai kawasan pengembangan minapolitan melalui studi kelayakan (ekonomi.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor b.5 . Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR II . Strategi pengembangan kawasan minapolitan meliputi pembangunan sistem dan usaha agribisnis berorientasi kekuatan pasar (market driven) yang diarahkan untuk menembus batas kawasan (bahkan mencapai pasar global). Subsistem minabinis hilir (down stream minabusiness) yang meliputi: industriindustri pengolahan dan pemasarannya. dan lain-lain. termasuk perdagangan untuk kegiatan ekspor. pemerintah daerah.): 1) Sebagian besar kegiatan masyarakat di kawasan tersebut di dominasi oleh kegiatan perikanan budidaya dalam suatu sistem yang utuh dan terintegrasi mulai dari: a. penyuluhan. Penyusunan rencana/program pengembangan kawasan minapolitan jangka panjang perlu dilakukan dengan mempertimbangkan potensi sumberdaya lahan dan perkembangan kawasan. d. pemodalan. Inventarisasi dan identifikasi permasalahan yang terkait dengan proses perencanaan perlu dilakukan dengan kerja sama antara instansi terkait.1. pengembangan saranaprasarana publik untuk memperlancar distribusi hasil pertanian dengan efisiensi dan resiko yang minimal. b. transportasi. Subsistem usaha perikanan budidaya (on farm minabusiness) yang mencakup usaha: pembenihan ikan. mendapatkan masukan bagi proses pengembangan. pembesaran ikan dan penyediaan sarana perikanan budidaya. dan masyarakat setempat.

dan 4) Infrastruktur yang ada dikawasan diusahakan tidak jauh berbeda dengan di kota. minawisata dan jasa pelayanan. Konsepsi Pengembangan Minapolitan Suatu wilayah dapat dikembangkan menjadi suatu kawasan perikanan budidaya harus dapat memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. perdagangan minabisnis hulu (sarana perikanan dan permodalan). teknologi. termasuk didalamnya usaha industri (pengolahan) produk perikanan. Desa  Minapolitan PASAR/GLOBAL Desa  Minapolitan Desa  Minapolitan Keterangan : Pengahsilan Bahan Baku Pengumpul Bahan Baku Sentra Produksi Kota Kecil / Pusat Regional Kota Kecil / Pusat Regional Kota Sedang / Besar (outlet) Jalan Dan Dukungan Sapras Batas Kaw. informasi. yang dapat dipasarkan atau telah mempunyai pasar (selanjutnya disebut komoditi unggulan). Memiliki sumberdaya lahan dan perairan yang sesuai untuk mengembangkan komoditi perikanan budidaya. 3) Kegiatan sebagian besar masyarakat di kawasan tersebut didominasi oleh kegiatan perikanan budidaya.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 2) Adanya keterkaitan antara kota dengan desa (urban-rural linkages) yang bersifat timbal balik dan saling membutuhkan. dimana kawasan perikanan budidaya di pedesaan mengembangkan usaha budidaya (on farm) dan produk olahan skala rumahtangga (off farm). Minapolitan Gambar 2. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR II . perdagangan hasil-hasil perikanan (termasuk perdagangan untuk kegiatan ekspor). sebaliknya kota menyediakan fasilitas untuk berkembangnya usaha budidaya dan minabisnis seperti penyediaan sarana perikanan antara lain: modal. peralatan perikanan dan lain sebagainya.6 .1.

Memiliki infrastruktur yang memadai untuk mendukung pengembangan sistem dan usaha perikanan.2. terminal. dan c. sumber air baku. pasar. Memiliki sumberdaya manusia yang mau dan berpotensi untuk mengembangkan kawasan perikanan budidaya secara mandiri. perencanaan dan pengembangan kawasan-kawasan yang akan dibangun sepenuhnya berada di tangan pemerintah daerah dengan melaksanakan konsultasi publik. Beberapa hal yang sifatnya sektoral masih mendapatkan masukan dari sektor atau dinas terkait. Proses perencanaan clan pengembangan kawasan minapolitan menuntut hal utama untuk diperhatikan yaitu Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR II . Kawasan 1 Jalan Nasional Kawasan 2 Keterangan : Pusat Kegiatan Jalan Propinsi Jalan Propinsi Pusat Kegiatan Jalan Kabupaten Jalan Kabupaten Pusat Kegiatan Pusat Minapolitan Jalan Lokal Jalan Lokal Gambar 2. sarana irigasi/pengairan. seperti misalnya: jalan.7 . fasilitas perbankan.2. dan fasilitasumumserta fasilitas sosial lainnya. Keterkaitan Pusat Kawasan Minapolitan Dalam penyusunan rencana tata ruang. Rencana tata ruang Kawasan Minapolitan merupakan rencana pengembangan kawasan yang bersifat komprehensif dan multisektor yang memuat terutama rencana struktur kawasan dengan pusat kegiatan dan hinterlandnya. perumusan konsep.3.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor b. pengembangan sistem infrastruktur. jaringan telekomunikasi. sarana produksi pengolahan hasil perikanan. Konsep Rencana Tata Ruang Kawasan Minapolitan Rencana Tata Ruang (RTR) Kawasan Minapolitan adalah dokumen formal rencana induk pengembangan kawasan yang digunakan sebagai arahan para stakeholder dalam melaksanakan pembangunan kawasan. 2. dan juga memuat ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang kawasan. pengembangan sistem usaha agribisnis.

Berdasarkan penelusuran terhadap sejumlah konsep tentang kelembagaan. 2.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor koordinasi lintas sektoral dan lintas kelembagaan. Meskipun demikian. dan adat istiadat) bagi Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR II . wilayah administratif. Dalam UU No. sistem norma. kegiatan kawasan dan nilai strategis kawasan. kaidah formal dan informal (termasuk nilai budaya. 2. kelembagaan pengelola sumberdaya menunjukan konsepsi multidimensi yang diantaranya merepresentasikan konsep peran (roles) dan aturan (rules). termasuk pengelolaan sumberdaya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan. khususnya dari aspek perencanaan tata ruang dan penyediaan sarana dan prasarana penunjang.2. panduan. dengan pengertian definisi atau yang beragam mulai dari persepsi sosiologis. 26 tahun 2007 tentang Panataan Ruang dijelaskan bahwa RTR Kawasan Agropolitan/Minapolitan merupakan penjabaran lebih detail dari RTRW Kabupaten. Rencana tata ruang kawasan perdesaan merupakan bagian dari rencana tata ruang wilayah kabupaten yang dapat disusun sebagai instrumen pemanfaatan ruang untuk mengoptimalkan kegiatan pertanian yang dapat berbentuk kawasan minapolitan. dan kegiatan ekonomi. Kedudukan Rencana Tata Ruang Kawasan Minapolitan dalam Sistem Pengembangan Wilayah KabupatenIKota Penataan ruang diklasifikasi berdasarkan sistem.2. pelayanan jasa pemerintahan.8 . pelayanan sosial. Kawasan Minapolitan adalah sebagian dari wilayah kabupaten yang ditetapkan dan direncanakan sebagai kawasan budidaya pertania dan termuat dalam RTRW Kabupaten yang bersangkutan. fungsi utama kawasan. Pengembangan kawasan minapolitan tidak hanya melibatkan departemen dan dinas teknis terkait saja.5. tetapi juga berbagai pihak yang berkepentingan. organisasi sampai dengan ekonomi. Kawasan perdesaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama pertanian.4. Konsep Kelembagaan Kelembagaan merupakan terminologi yang sangat umum. tidak tertutup kemungkinan bahwa hasil dari rencana tata ruang tersebut dapat menjadi alat evaluasil masukan terhadap RTRW Kabupaten/kota. Departemen Pekerjaan Umum adalah salah satu departemen teknis terkait yang sangat berkepentingan dalam proses pengembangan kawasan minapolitan. Berdasar kegiatan kawasan maka diketahui adanya rencana tata ruang kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan.

sehingga perlu dirumuskan melalui mekanisme yang dapat diterima oleh seluruh pemangku kepentingan pengelolaan kawasan Minapolitan Kabupaten Bogor. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR II .Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor masyarakat serta aturan yang memfasilitasi komunikasi dan koordinasi antar elemen organisasi atau masyarakat untuk mencapai pengelolaan efektif.& SDM Desa Hiterland Sentra Produksi  Kawasan Minapolita Pusat  Minap olitan  Kawasan Minapolitan Jalan Akses  Jalan Primer  Jalan Utama Antar Pusat Minapolitan Jalan Arteri Prime Jalan Usahatani Gambar 2. sehingga pengelolaan menjadi efektif untuk mencapai tujuan dan fungsi-fungsinya.9 . Kawasan Minapolitan Dalam Sistem Pemasaran Ibukota Propinsi Kota Kawasan Minapolita Kota Jenjang II Jalan Arteri Prime Jalan Kolektor Primer Ibukota Propinsi Kota Sketsa Jaringan Jalan Dalam Kawasan Minapolitan Sketsan jaringan jalan agar terjadi efisiensi desa-kota sebagai satu kesatuan dalam meningkatkan SDA. berdasarkan pemahaman terdapat konsep-konsep kelembagaan.3. Secara ringkas. kelembagaan pengelolaan sumberdaya setidaknya mencakup dua hal pokok yaitu (a) organisasi atau institusi pengelola (player of the game) dan (2) aturan-aturan (rules of the game) yang dapat menjamin organisasi/institusi pengelola dapat bekerja secara efektif melaksanakan aktivitas pengelolaannya. Deskripsi Kawasan Minapolitan Dua elemen pokok tersebut diatas menjadi kebutuhan elementer. infrastruktur buatan. Upaya-upaya kelembagaan secara fokus perlu diarahkan pada usaha-usaha untuk menghasilkan bentuk-bentuk kesepahaman tentang organisasi dan aturana mainnya. Penataan kelembagaan (institutional arrangement) pengelolaan sumberdaya adalah penataan hubungan antar unit-unit elemen masyarakat atau organisasi.

4. agen pakan seringkali juga merupakan petani ikan setempat. mendorong adanya relasi yang lebih kuat antara petani dan agen pakan. Pada pabrik pakan. di wilayah studi terdapat beberapa kelompok atau pelaku usaha perikanan yang meliputi kelompok atau pelaku usaha : (a) pembenihan baik berupa unit pembenihan rakyat (UPR) atau rumahtangga. Kegagalan dalam satu pelaku usaha. Akan tetapi perlu dipahami bahwa dalam sistem ini. akan mendorong terjadinya efek domino pada kegiatan lainnya yang dapat menghancurkan sistem yang telah berkembang. juga terdapat pedagang benih ikan baik yang membeli dari petani pembenih setempat atau mendatangkan dari wilayah lain. Relasi antara pembudidaya dan pelaku usaha sarana produksi budidaya bersifat cukup kental. pendederan dan pembesaran. maka keterkaitan antar usaha dan pelakunya dapat dilihat dalam Gambar 2. Adanya kebijakan pemasaran yang dikembangkan oleh produsen pasar. Relasi ini sudah terjadi cukup lama. mempunyai beberapa pemasaran dan perwakilan pemasaran (agen pakan) yang berada pada tingkat komunitas. Keterkaitan Usaha dan Pelakunya di Wilayah Studi Berdasar Gambar 2. Dalam konsepsi sistem agribisnis.4. (b) budidaya pembesaran. Pada faktanya di lapang..4. di wilayah tersebut juga telah berkembang usaha-usaha sarana produksi perikanan budidaya seperti penjualan pakan dan obat-obatan. Pada beberapa kasus.10 . dimana antar pihak yang saling berinteraksi harus mendapatkan keuntungan optimum untuk mendukung kelangsungan usahanya. Selain itu. Sampai pada cakupan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR II . sehingga cukup kuat. hubungan yang harus dibangun semestinya bersifat mutualisme. (c) pemasaran dan (d) pengolahan. jasa transportasi. sebagai tulang punggung adalah sistem usaha on-farm yaitu proses budidaya yang meliputi aktivitas pembenihan. dan melibatkan transaksi jual beli dengan nilai uang yang cukup besar. Gambar 2.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Bila dari sisi pelaku baik organisasi maupun individual.

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor
tertentu dapat bersifat patronase, dimana agen perwakilan pabrik pakan menjadi patron dan klien adalah petani yang menggunakan. Hal ini terjadi karena sebagian pola

pemasaran (pakan) tidak bersifat cash and carry. Pola ini juga terjadi pada pola hubungan antara petani dengan pemasok obat-obatan. Dalam proses on farm pola keeratan relasi juga terjadi antara petani dengan pembenih atau pemasok benih walaupun dengan intesitas yang berbeda.Demikian selanjutnya

antara pembenih atau pemasok benih dengan pembesar. Relasi yang berkembang biasanya didasarkan pada kebiasaan setempat mulai dari pola pembayaran, distribusi barang sampai kesepakatan lain termasuk resiko kematian benih. Relasi berikutnya terjadi antara sisi on-farm dengan off-farm pemasaran. Dimana biasanya sudah terjadi relasi yang cukup erat antara produsen pembesaran dengan pembeii. Dalam transaksi ini disepakati harga, pola pembayaran, distribusi dan resikoresiko yang ditanggung kedua belah pihak. Pola relasi antara on-farm dengan off-farm pengolahan sekarang ini belum terjadi. Mengingat bahwa pengolah hasil perikanan di Kecamatan Parung sekarang ini justru mengolah ikan laut. Sementara itu, untuk mendukung kegiatan usaha tersebut juga telah dilakukan fasilitasi oleh para petugas lapangan dan penyuluh dari dinas teknis baik Kabupaten Bogor. Petugas ini memberikan fasilitasi transfer pengetahuan pada bidang teknologi budidaya, pengelolaan usaha sampai kerjasama kelompok. Sehingga penyuluh merupakan kelembagaan dari sisi pelaku (player of the game) yang merupakan pendukung dari kegiatan ini. Perlu diperhatikan bahwa pada kenyataannya, di samping penyuluh, juga terdapat kelembagaan keuangan yang sekarang ini telah berinteraksi dalam penyediaan jasa permodalan bagi pelaku usaha budidaya. Kelompok jasa keuangan ini meliputi lembaga keuangan bank maupun bukan bank. Secara umum bisa disarikan bahwa secara kelembagaan, sekarang ini di lokasi terdapat pelaku-pelaku usaha (baik individual maupun kelompok) yang perlu diperhitungkan yang meliputi : A. On-farm meliputi : a.Pelaku pembenihan b.Pelaku Pendederan c. Pelaku pembesaran B. Off-farm meliputi : a. Pembeli/pedagang ikan konsumsi
Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR

II - 11

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor
b. Pelaku usaha transportasi C. Pendukung meliputi a. Pemasok pakan dan obat-obatan b. Pemasok benih c. Pemasok modal d. Penyuluh

2.3.

Tujuan Minapolitan

Tujuan dari penerapan program minapolitan ini adalah: 1. Untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat serta pendapatan asli daerah. 2. Untuk memfasilitasi pembangunan kawasan melalui pembentukan titik tumbuh agribisnis perikanan berkelanjutan berbasis masyarakat. 3. Untuk meningkatkan keterkaitan desa dengan kota melalui jaringan usaha.

2.4.

Sasaran Minapolitan

Sasaran program minapolitan yaitu: 1. Terwujudnya kawasan perdesaan dengan fasilitas perkotaan didukung kluster kegiatan perikanan yang dikembangkan bersama masyarakat, sehingga masyarakat tumbuh dan berkembang seiring dengan kemajuan agribisnis yang menjadi penghela kegiatan pembangunan perikanan dari kawasan/wilayah tersebut. 2. Terbentuknya sistem dan usaha agribisnis perikanan berkelanjutan (tidak merusak lingkungan), terdesentralisasi (wewenang berada pada pemerintah daerah dan masyarakat), dan menjadi titik tumbuh yang menciptakan lapangan kerja, dan membawa kemakmuran/kesejahteraan bagi masyarakat tersebut. dari kawasan/wilayah

Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR

II - 12

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor
2.5. Pariwisata

Yoeti (2008) mengemukakan, dalam perkembangan industri sebuah kawasan wisata, sebuah perencanaan yang baik sangat penting dibutuhkan agar pengembangan wisata tersebut sesuai dengan apa yang telah dirumuskan dan berhasil mencapai sasaran yang dikehendaki, baik itu ditinjau dari segi ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan hidup. Pariwisata menurut Damanik dan Weber (2006) adalah kegiatan rekreasi di luar domisili untuk melepaskan diri dari pekerjaan rutin atau mencari suasana lain. Pariwisata semakin berkembang sejalan perubahan-perubahan sosial, budaya, ekonomi, teknologi dan politik. Sebagai suatu aktifitas manusia, pariwisata adalah fenomena pergerakan manusia, barang dan jasa yang sangat kompleks. Yoeti (2008) menyatakan bahwa pariwisata merupakan sebuah perjalanan untuk bersenang-senang. Perjalanan tersebut baru dapat dikatakan sebagai perjalan wisata jika telah memenuhi empat kriteria di bawah ini, yaitu: 1. Perjalanan dilakukan dari suatu tempat ke tempat yang lain, dan dilakukan di luar tempat kediaman dimana orang itu biasanya tinggal. 2. Perjalanan dilakukan minimal 24 jam atau lebih kecuali bagi excursionist (kurang dari 24 jam). 3. Tujuan perjalanan hanya untuk bersenang-senang (to pleasure) tanpa mencari nafkah di negara, kota atau DTW (Daerah Tujuan Wisata) yang dikunjungi. 4. Uang yang dibelanjakan wisatawan tersebut dibawa dari negara asalnya dimana dia tinggal atau berdiam dan bukan diperoleh karena hasil usaha selama dalam perjalanan wisata yang dilakukan. Pariwisata di daerah pariwisata dan rekreasi dapat menimbulkan masalah ekologis yang khusus dibandingkan dengan kegiatan ekonomi lain mengingat bahwa keindahan dan keaslian alam merupakan modal utama. Bila suatu wilayah dibangun untuk tempat rekreasi, biasanya fasilitas-fasilitas pendukung lainnya juga berkembang dengan pesat. Sebagai kegiatan rekreatif, pariwisata merupakan sarana pemenuhan hasrat manusia untuk bereksplorasi guna mengalami berbagai perbedaan. Perbedaan tersebut mencakup perbedaan fisik, seperti bangunan, lingkungan alam, benda-benda, hewan, tumbuhan dan manusia. Perbedaan non-fisik, seperti perbedaan suhu dan kelembaban udara, suara, rasa makanan dan minuman serta suasana, dan juga perbedaan-perbedaan lain yang mengarah pada perilaku manusia termasuk adat-istiadat, kesenian, cara berpakaian dan lain sebagainya (Simatupang 1999).

Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR

II - 13

2. Desentralisasi menuntut pembangunan dikelola berdasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: 1. Pemerintah sebagai fasilitator dan pemantau kegiatan. Masyarakat sebagai pengambil keputusan dan menentukan sistem pengusahaan dan pengelolaan yang tepat. Kewenangan pemerintah daerah dalam kaitannya dengan pengembangan kawasan adalah sangat luas. khususnya Kabupaten/Kota. Kelembagaan pengusahaan ditentukan oleh masyarakat atau rakyat. Salah satu implikasi perubahan kebijakan tersebut adalah Pemerintah Daerah harus mampu mengelola sumber dana untuk membiayai pembangunan daerahnya. Peran Pemerintah Pusat yang semula bersifat sektoral secara bertahap beralih ke Pemerintah Daerah. 5. dan 6. Pergeseran sistem pemerintahan dari sentralistik menjadi terdesentralistik merupakan peluang sekaligus tantangan bagi pemerintah daerah. sehingga kelembagaan lokal dalam pembangunan ekonomi daerah akan semakin penting dan diakui keberadaannya. Masyarakat sebagai pelaku utama dalam pengelolaan dan pengambilan manfaatnya. .1. Kebijakan Nasional Minapolitan Seiring dengan perkembangan sistem pemerintahan di Indonesia. pengesahan Undangundang (UU) No.TINJAUAN KEBIJAKAN 3 3. 4. 3. Kepastian dan kejelasan hak dan kewajiban semua pihak. antara lain adalah: a) Menetapkan target pertumbuhan. Pendekatan pengusahaan didasarkan pada keanekaragaman hayati dan keanekaragaman budaya. b) Menetapkan tahap dan langkah pembangunan kawasan sesuai dengan potensi yang dimiliki. 32 Tahun 2004 telah menciptakan paradigma baru dalam pembangunan daerah. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah yang kemudian digantikan oleh UU No.

Pengelolaan ruang perikanan budidaya adalah arahan kebijakan dan strategi pemanfaatan ruang yang diperuntukkan bagi kegiatan perikanan dan usaha-usaha berbasis perikanan lainnya dalam skala nasional. Berikut ini adalah peraturan-perundangan yang mendasari kebijakan Minapolitan secara nasional : 1) Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004. 3) 4) Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. khususnya kawasan sentra produksi perikanan nasional dan daerah. 6) Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Perbantuan. 32 tentang Pemerintahan Daerah. Dalam rangka memanfaatkan potensi sumberdaya alam yang ada khususnya yang terkait dengan pengembangan perikanan dalam arti luas maka diupayakan suatu pendekatan melalui produk yaitu perencanaan pengembangan kawasan perikanan budidaya (Minapolitan). Perencanaan pengembangan kawasan perikanan budidaya (minapolitan) merupakan suatu upaya untuk memanfaatkan lahan/potensi yang ada dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan dan penataan ruang perikanan di pedesaan. e) Menetapkan institusi pendukung kebijakan untuk pertumbuhan ekonomi regional.2 . d) Melakukan berbagai macam negosiasi yang bertujuan mewujudkan konsepsi pertumbuhan ekonomi regional. 2) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulaupulau Kecil.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor c) Menetapkan persetujuan kerjasama regional di bidang perdagangan yang berlandaskan pada produksi lokal yang dihasilkan oleh sentra-sentra komoditas tertentu. dan f) Mengembangkan sistem informasi untuk promosi kegiatan-kegiatan ekonomi regional. Konsepsi mengenai pengembangan kawasan perikanan budidaya dalam penataan ruang lebih diarahkan kepada bagaimana memberikan arahan pengelolaan tata ruang suatu wilayah perikanan. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR III . 5) Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. sedangkan pengelolaan ruang kawasan sentra produksi perikanan nasional dan daerah merupakan arah kebijakan dan strategi pemanfaatan ruang bagi peruntukan perikanan secara umum. Undang-undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan kedua atas UU no.

dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Hal yang dipikirkan adalah bahwa sebagian wilayah kecamatan yang telah ditunjuk tersebut juga digunakan untuk peruntukan pemanfaatan yang lainnya. Pengembangan pola ruang wilayah (pasal 12) didasarkan pada (a) strategi pengembangan kawasan lindung.31% dan 44.24/MEN/2002 tentang Tata Cara dan Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan di Lingkungan Departemen Kelautan dan Perikanan.19 tahun 2008 Secara legal. dan 12) Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP. Strategi pengembangan kawasan budidaya dilakukan dengan meningkatkan keterpaduan dan keterkaitan antar kegiatan budidaya.3 . Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR III . 9) Pemerintah Daerah Provinsi. Kawasan perikanan dikembangkan pada wilayah/kawasan yang secara teknis.67%. Kawasan perikanan ini. 10) Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 41 Tahun 2009 tentang Penetapan Lokasi Minapolitan. air deras. 19/2008 tentang Rencana tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bogor 2005-2025 pasal 7 menyebutkan bahwa strategi untuk mewujudkan pola kebijakan penataan ruang wilayah Kabupaten Bogor diantaranya mencakup strategi pengembangan pola ruang wilayah. Perbandingan antara kawasan budidaya dan kawasan lindung masing-masing sebesar 55. 8) Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintah. kolam ikan hias/aquarium. sosial dan ekonomi memiliki potensi untuk kegiatan perikanan.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 7) Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasioanal. berdasarkan peraturan daerah ini terletak di sebagian wilayah kecamatan tertentu. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor No. Kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bogor : Perda No. dan budidaya ikan di perairan umum. Di mana kawasan budidaya di luar hutan termasuk didalamnya ditujukan untuk pertanian dengan kegiatan perikanan. pengendalian perkembangan budidaya agar tidak melampaui daya dukung dan pengembangan fasilitas perkotaan agar mendukung perkembangan perdesaan.2. kolam air tenang. 3. pembenihan. 11) Peraturan Menteri Dalam Negeri No 29 Tahun 2008 tentang Pengembangan Kawasan Strategis Cepat Tumbuh di Daerah. (b) strategi pengembangan kawasan budidaya dan (c) strategi pengembangan kawasan strategis.

meliputi : 1) pemeliharaan dan perwujudan kelestarian fungsi lingkungan hidup. meliputi : a. kebijakan pengembangan kawasan budidaya. telekomunikasi. Kebijakan pengembangan struktur ruang Kabupaten Bogor. dan sumberdaya air yang terpadu dan merata di seluruh wilayah daerah. dan 2) pencegahan dampak negatif kegiatan manusia yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup. meliputi : 1) Peningkatan akses pelayanan perkotaan dan pusat pertumbuhan ekonomi wilayah yang merata dan berhierarki. meliputi : 1) Pengembangan kawasan strategis Puncak sebagai kawasan strategis lingkungan hidup yang berperan sebagai kawasan andalan pariwisata melalui pembatasan pemanfaatan ruang yang lebih selektif dan efisien. 3) Pengembangan kawasan strategis pertambangan sebagai kawasan strategis lingkungan hidup yang berperan sebagai kawasan andalan sumber daya alam melalui konservasi bahan galian. kebijakan pengembangan kawasan lindung. Sedangkan kebijakan pengembangan pola ruang. kebijakan pengembangan kawasan strategis. 2) Pengembangan kawasan strategis industri sebagai kawasan strategis sosial ekonomi melalui penataan dan pemanfaatan ruang serta pembangunan jaringan infrastruktur yang mendorong perkembangan kawasan. energi. dan 2) pengendalian perkembangan kegiatan budidaya agar tidak melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR III . dan kebijakan pengembangan pola ruang.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang tertuang dalam Peraturan Daerah Nomor 19 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bogor tahun 2005-2025 meliputi kebijakan pengembangan struktur ruang. meliputi : 1) perwujudan dan peningkatan keterpaduan dan keterkaitan antarkegiatan budidaya. dan 4) Pengembangan kawasan strategis lintas administrasi kabupaten sebagai kawasan strategis sosial ekonomi melalui sinkronisasi sistem jaringan.4 . c. dan. b. 2) Peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana transportasi.

Ciawi. Sistem pusat permukiman perkotaan. meliputi 80 Desa di 40 Kecamatan. 3) Kawasan suaka alam. meliputi : (1) Orde I. 4) Kawasan pelestarian alam. dan (6) sistem prasarana lingkungan. meliputi : (1) lingkungan non bangunan. dan Cariu. (3) sistem prasarana sumberdaya energi.5 . terdiri dari : (1) Gunung Salak. (2) Taman Buah Mekarsari. meliputi 2 Taman Nasional dan 2 Taman Wisata Alam. (5) sistem prasarana gas. Sedangkan untuk kawasan gerakan tanah tinggi terdapat di 13 wilayah Kecamatan. meliputi 3 cagar alam di 3 kecamatan. (2) lingkungan bangunan nongedung. yaitu Cibinong yang memiliki aksesibilitas tinggi terhadap PKN lainnya (PKN JABODETABEKJUR). 5) Kawasan perlindungan plasma nutfah. (2) sistem prasarana telekomunikasi. 2) Kawasan perlindungan setempat. Dalam hal ini terdiri dari : a. Ruang lingkup dari rencana pola ruang kawasan lindung. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR III . (2) Orde II. b. 6) Kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan. dan (3) lingkungan bangunan gedung dan halamannya. yaitu Jasinga. (2) Gunung Gede Pangrango. dilakukan melalui pembangunan Desa Pusat Pertumbuhan (DPP). gerakan tanah. Klaster di 5 (lima) wilayah sebagai strategi ruang wilayah. dan longsor. Cigombong.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Pengembangan struktur wilayah terdiri dari: a. meliputi : (1) sistem prasarana transportasi. 8) Kawasan rawan bencana alam. meliputi : (1) Taman Safari Indonesia. yaitu Cileungsi dan Leuwiliang yang memiliki aksesibilitas tinggi terhadap Cibinong. dan (3) Gunung Halimun. Sistem prasarana wilayah. d. Parung. Parung Panjang. terdiri dari: 1) Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya. (3) Orde III. (4) sistem prasarana sumberdaya air. Pengembangan Pola Ruang Wilayah menggambarkan rencana sebaran Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya. Untuk kawasan rawan letusan gunung api. dan (3) Gunung Salak Endah. c. meliputi kawasan rawan letusan gunung api serta kawasan rawan gempa. Sistem pusat permukiman perdesaan. 7) Kawasan rawan konservasi geologi adalah kawasan karst kelas I yang berfungsi sebagai perlindungan hidrologi dan ekologi.

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Ruang lingkup dari rencana pola ruang kawasan budidaya. terdiri dari: 1) Kawasan Budidaya di dalam kawasan hutan. meliputi : Pengelolaan kawasan lindung di dalam kawasan hutan dan arahan pengelolaan kawasan lindung di luar kawasan hutan. serta dapat menunjang kegiatan pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 4) Pemanfaatan kawasan industri. b. 6) Kawasan permukiman meliputi: (1) permukiman perdesaan terdiri dari permukiman pedesaan diluar kawasan yang berfungsi lindung (PD 1) dan permukiman pedesaan yang berada di dalam kawasan lindung di luar kawasan hutan (PD 2). kawasan wisata budaya dan kawasan wisata minat khusus. Pengelolaan kawasan rawan bencana alam. dan (2) Kawasan hutan produksi tetap (HP). permukiman perkotaan kepadatan sedang (Pp 2) dan permukiman perkotaan kepadatan rendah Pengelolaan kawasan lindung dan kawasan budidaya terdiri dari : a. dan (6) perikanan. Pengelolaan Kawasan Budidaya. (4) perkebunan (PB). (2) Zona Industri (ZI). mencakup : 1) Pengelolaan kawasan Budidaya di dalam kawasan lindung. maka pemanfaatan potensi tambang harus memenuhi kelayakan secara teknis. dan (3) Sentra Industri Kecil. (3) golongan bahan galian di luar bahan. (2) golongan bahan galian vital. Pengelolaan kawasan lindung lainnya. 2) Kawasan pertanian. (3) tanaman tahunan (TT). Pengelolaan kawasan suaka alam. ekonomis dan lingkungan. Pengelolaan Kawasan Lindung. 5) Kawasan pariwisata meliputi kawasan wisata alam. Pengelolaan kawasan perlindungan setempat. meliputi : Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR III . dan (2) permukiman perkotaan terdiri dari permukiman perkotaan kepadatan tinggi (Pp 1). galian strategis dan bahan galian vital (golongan C). meliputi : (1) Kawasan hutan produksi terbatas (HPT). meliputi : (1) pertanian lahan basah (LB).6 . meliputi : (1) Kawasan Industri Estate (KIE). (4) Dalam hal terdapat potensi tambang di luar lokasi tambang. (5) peternakan. (2) pertanian lahan kering (LK). 3) Pemanfaatan kawasan pertambangan. di luar kawasan hutan dilakukan pada kawasan hutan produksi terbatas dan hutan produksi tetap. meliputi : (1) pertambangan bahan galian golongan strategis.

Kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) juga mewadahi pengembangan sistem prasarana wilayah yang terdiri dari : A. Pengelolaan kawasan perkotaan. jalan Kabupaten. (4) Jalan tol Jakarta – Bogor – Ciawi (Tol Jagorawi). Pengelolaan kawasan pariwisata. terdiri dari : Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR III . (2) Jaringan jalan arteri sekunder (1 ruas jalan). pertanian. rehabilitasi dan pemeliharaan rutin untuk ruas-ruas jalan Nasional. perdagangan. Pengelolaan kawasan industri. industri. lokal II dan lokal III) dan jalan desa (lingkungan).Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Pengelolaan kawasan pertanian lahan basah. Pengelolaan kawasan permukiman. Pengembangan sistem transportasi jalan 1) Pengelolaan jalan yang ada dilakukan melalui program peningkatan. Pengelolaan kawasan tanaman tahunan/perkebunan. jalan Provinsi. Pengelolaan kawasan pertanian lahan kering. meliputi: Pengelolaan kawasan perdesaan. Pengelolaan kawasan perikanan. dan jalan Kota. terdiri dari : • Jaringan jalan Nasional. 2) Pengembangan jalan baru dilakukan untuk menghubungkan antar wilayah dan antar pusat-pusat permukiman. dilakukan terhadap seluruh jalan kabupaten dan desa di wilayah Kabupaten Bogor. meliputi : (1) Jaringan jalan arteri primer (2 ruas jalan). Pengelolaan kawasan pertambangan. • • Jaringan jalan provinsi (kolektor primer II) (10 ruas jalan) Pengelolaan jaringan jalan kabupaten (lokal sekunder. Pengelolaan kawasan strategis. 2) Pengelolaan Kawasan Budidaya di Luar Kawasan Lindung.7 . lokal I. (3) Jaringan jalan kolektor primer I (10 ruas jalan). jasa dan simpulsimpul transportasi serta pengembangan jalan penghubung antara jalan tol dan bukan jalan tol. yang jaringan jalannya terlampir pada Dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah. Pengelolaan kawasan peternakan.

Atang Senjaya di Kecamatan Kemang. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) di Kecamatan Rumpin. 2) Rencana pengembangan jalur kereta api antarkota pada ruas tertentu.8 . Lapangan udara yang terdapat di wilayah Kabupaten Bogor. 3 Terminal untuk tujuan wisata 2 Terminal barang/peti kemas. C.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Rencana pengembangan jaringan jalan baru Nasional (8 jaringan jalan). Rencana pengembangan jaringan jalan baru berfungsi lokal primer I (26 jaringan jalan). pengembangan prasarana transportasi kereta api untuk keperluan penyelenggaraan perkeretaapian komuter. Pengembangan sistem transportasi perkeretaapian Rencana pengembangan sistem transportasi perkeretaapian meliputi pengelolaan jalur perkeretaapian. B. meliputi : 1) Rencana pengembangan jalur kereta api perkotaan meliputi pengembangan jalur kereta api ganda dan penataan jalur kereta api yang beroperasi saat ini (3 jalur dan 1 stasiun). yang merupakan jalan tembus antar wilayah kabupaten/kota perbatasan (11 jaringan jalan). 3) Rencana pengembangan terminal. Rencana pengembangan jaringan jalan baru berfungsi kolektor primer II. Sekolah Polisi Negara (SPN) Lido di Kecamatan Cigombong. serta konservasi rel mati. terdiri dari : 4 Terminal angkutan penumpang. yang merupakan jalan lingkar kabupaten dan jalan tembus antar wilayah kabupaten/kota perbatasan (12 jaringan jalan). disesuaikan dengan rencana pengembangan jaringan kereta api (rail way master plan) nasional (3 jalur). Rencana pengembangan jaringan jalan baru berfungsi kolektor primer III. Pengembangan sistem transportasi udara Sistem transportasi udara. terminal barang. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR III . dry port. (2) lapangan udara untuk penelitian. adalah : (1) lapangan udara untuk pertahanan keamanan (Hankam). dan (3) lapangan udara untuk pendidikan/pelatihan. terdiri dari lapangan udara dan ruang udara di sekitar udara yang dipergunakan untuk operasi penerbangan.

D. dan (3) kriteria teknis lainnya sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan. (2) mendukung perwujudan struktur ruang kawasan. Rencana Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR III . dimana penataan ruang di sekitar dan di kawasan lapangan udara harus memperhatikan kegiatan kebandaraan sesuai dengan rencana induk bandar udara dan ketentuan kawasan keselamatan operasi penerbangan (KKOP). 2) Pengembangan Prasarana Pengairan. meliputi energi mikrohidro di Kecamatan Leuwiliang dan energi panas bumi di Kecamatan Pamijahan. G. kereta api dan angkutan jalan raya. Pengembangan sistem prasarana sumberdaya energi Pengembangan energi baru dan terbarukan oleh Pemerintah Kabupaten Bogor. (2) mendukung perwujudan struktur ruang kawasan. F.9 . Pengembangan sistem jaringan tenaga listrik dapat dilakukan melalui kerjasama antar daerah. Pengembangan sistem prasarana telekomunikasi Pengembangan sistem jaringan telekomunikasi dilakukan berdasarkan kriteria teknis sebagai berikut : (1) meminimalkan dampak negatif terhadap kesehatan dan keselamatan masyarakat serta keselamatan penerbangan. E.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Penataan dan pengembangan ruang udara di sekitar bandar udara yang dipergunakan untuk operasi penerbangan sebagaimana dimaksud di atas. Pengembangan sistem prasarana migas Rencana pengembangan prasarana migas adalah jaringan/ distribusi minyak dan gas bumi melalui pipa di darat. pera masyarakat dan dunia usaha. dan (3) kriteria teknis lainnya sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan. Pengembangan sistem jaringan tenaga listrik harus memperhatikan kapasitas yang telah terpasang dan kebutuhan jangka panjang. dilakukan berdasarkan kriteria teknis sebagai berikut: (1) meminimalkan dampak negatif terhadap kesehatan dan keselamatan masyarakat. dilakukan untuk menjamin keselamatan operasi penerbangan dan keberlanjutan pengoperasian lapangan udara. Pengembangan sistem prasarana sumberdaya air 1) Pengelolaan sumberdaya air. Pengembangan sistem jaringan telekomunikasi dapat juga dilakukan melalui kerjasama antar daerah serta peran masyarakat dan dunia usaha.

2) Pengembangan tempat pemakaman umum (TPU) dan tempat pemakaman bukan umum (TPBU). dilakukan melalui upaya kelestarian sumberdaya air. 8) Pengembangan sarana perdagangan. 5) Pengembangan sarana kesehatan. tata guna air. 4) Pengembangan sarana olahraga. sarana Kesehatan. 3) Pengelolaan tata guna udara ditujukan untuk menjaga kelestarian kualitas udara. 2) Pengelolaan tata guna air. estetika. sarana Kebudayaan dan Peribadatan. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR III . meliputi wilayah Kecamatan Jonggol dan Kecamatan Cariu.10 . 3) Pengembangan sarana pendidikan dan balai latihan kerja. dengan arahan pengembangan sebagai berikut : 1) Pengelolaan tata guna tanah.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor pengembangan sumber migas. Pengembangan sistem prasarana lingkungan Prasarana lingkungan meliputi. sarana Tempat Pengelolaan Sampah (TPS). tata guna udara. H. terdiri dari: tata guna tanah. I. dan tata guna udara. dan tata guna sumber daya alam lainnya Rencana pengelolaan tata guna tanah. sarana Tempat Pemakaman Umum dan Bukan Umum (TPU/TPBU). dengan arahan pengembangan sebagai berikut : 1) Pengembangan sarana tempat pengolahan sampah. dan tata guna sumberdaya alam lainnya. sarana Pendidikan dan Balai Latihan Kerja. tata guna air. Pengelolaan tata guna tanah. sedangkan rencana pengembangan prasarana migas dilakukan pada seluruh wilayah kabupaten. dan sarana Perdagangan. dan keselamatan. tata guna udara. Sarana Olahraga. 7) Pengembangan tempat ibadah umat muslim dan pembangunan tempat ibadah umat lainnya disesuaikan dengan kebutuhan. 6) Pengembangan sarana kebudayaan dan peribadatan. dilakukan melalui upaya perlindungan tanah dan perlindungan/pengawetan keseimbangannya terhadap kelestarian lingkungan hidup. tata guna air.

Kebijakan Pembangunan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR III . 3. 2) Kawasan yang menghasilkan jasa lingkungan harus dilindungi dari kegiatan yang dapat merusak fungsinya sebagai penyedia jasa lingkungan.7 Tahun 2009 RPJM Daerah Kabupaten Bogor 2008-2013 merupakan pedoman bagi seluruh pemangku kepentingan. 3) Upaya perlindungan kawasan penyedia jasa lingkungan harus diapresiasi oleh pengguna jasa lingkungan yang selama ini menggunakannya. 5) Pemilik lahan perorangan yang lahannya berfungsi sebagai penyedia jasa lingkungan dapat menerima dana kompensasi konservasi dari pengguna jasa lingkungannya berdasarkan kesepakatan diantara keduanya. Jasa lingkungan dimaksud berupa jasa lingkungan air. Kebijakan Pembangunan merupakan penjabaran tujuan dan sasaran pada Misi serta strategi pembangunan yang telah dijelaskan sebelumnya. Kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bogor 2008-2013 : Perda No. udara bersih dan penyerapan karbon. RPJM Daerah Kabupaten Bogor 2008-2013 selain memuat visi. masyarakat dan dunia usaha di dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan pembangunan daerah Kabupaten Bogor.3. dan strategi juga memuat kebijakan pembangunan Kabupaten Bogor lima tahun ke depan. 6) Dana kompensasi konservasi hanya dapat digunakan untuk membiayai upaya konservasi kawasan yang menyediakan jasa lingkungan. 4) Pengguna jasa lingkungan memberikan sejumlah kompensasi sebagai bentuk apresiasi dan tanggung jawab bersama untuk melindungi dan melestarikan kawasan penyedia jasa lingkungan.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor J. serta wisata alam. misi. 7) Pemerintah Kabupaten Bogor dapat mengadakan perjanjian kerja sama pemanfaatan jasa lingkungan yang ada di dalam wilayahnya dengan pengguna jasa lingkungan di wilayah Kabupaten Bogor dan/atau wilayah lain di sekitarnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. baik Pemerintahan Daerah. Pemanfaatan jasa lingkungan Pemanfaatan jasa lingkungan merupakan acuan dalam pengenaan kompensasi bagi pengguna jasa lingkungan. meliputi : 1) Kawasan lindung dan kawasan budidaya yang dikelola secara berkelanjutan dapat memberikan jasa lingkungan yang penting bagi kelangsungan kehidupan masyarakat dan lingkungan hidupnya.11 .

Rumusan Kebijakan Pembangunan dapat dikelompokkan ke dalam Urusan Pemerintahan maupun menurut Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).12 Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR . kepegawaian dan persandian Kebijakan pembangunan urusan pemberdayaan masyarakat desa Kebijakan pembangunan urusan kearsipan dan perpustakaan.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor tersebut menjadi pedoman dalam melaksanakan program dan kegiatan pembangunan. Kebijakan Pembangunan Kabupaten Bogor Kebijakan Pembangunan urusan pemerintahan yang termuat dalam okumen RPJM Daerah Kabupaten Bogor 2008-2013 adalah : Kebijakan pembangunan urusan pendidikan Kebijakan pembangunan urusan kesehatan Kebijakan pembangunan urusan pekerjaan umum Kebijakan pembangunan urusan perumahan dan permukiman Kebijakan pembangunan urusan penataan ruang Kebijakan pembangunan urusan perencanaan pembangunan Kebijakan pembangunan urusan perhubungan Kebijakan pembangunan urusan lingkungan hidup Kebijakan pembangunan urusan kependudukan . pemerintahan umum. dengan kata lain Kebijakan Pembangunan adalah untuk mengarahkan pencapaian tujuan dan sasaran Misi yang ditetapkan dan dijadikan sebagai pedoman dalam melaksanakan program dan kegiatan pembangunan. perangkat daerah. a. administrasi keuangan daerah. Kebijakan pembangunan urusan komunikasi dan informasi Kebijakan pembangunan urusan pertanian Kebijakan pembangunan urusan energi dan sumber daya mineral III .Kebijakan pembangunan urusan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Kebijakan pembangunan urusan sosial Kebijakan pembangunan urusan ketenagakerjaan Kebijakan pembangunan urusan koperasi dan UKM Kebijakan pembangunan urusan penanaman modal Kebijakan pembangunan urusan kebudayaan Kebijakan pembangunan urusan kepemudaan dan olahraga Kebijakan pembangunan urusan kesatuan bangsa dan politik dalam negeri .Kebijakan pembangunan urusan pembangunan otonomi daerah.

Dalam RPJM Daerah Kabupaten Bogor 2008-2013 terkait dengan pengembangan perikanan. 3. Pemberian pola insentif dalam rangka peningkatan produksi pertanian secara berkelanjutan dalam rangka ketersediaan pangan maupun agribisnis. Program Optimalisasi Pengelolaan dan Pemasaran Produksi Perikanan. program yang akan dilaksanakan adalah : 1. 2. 2. . Peraturan Terkait Minapolitan Peraturan terkait dengan Minapolitan saat ini secara pokok meliputi peraturan tentang tata ruang wilayah. peraturan yang terkait dengan kebijakan pemilihan lokasi dan komoditas dan kebijakan/peraturan terkait dengan minapolitan itu sendiri.4. Kebijakan pembangunan urusan pertanian Berikut ini adalah Kebijakan pembangunan urusan pertanian : 1. Peraturan terkait dengan tata ruang wilayah adalah peraturan Peraturan Daerah Kabupaten Bogor No. 6. 4. pencegahan dan penanggulangan penyakit tanaman. 7. ternak dan ikan. 19/2008 tentang Rencana tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bogor 2005-2025. 3. Program Pengembangan Sistem Penyuluhan Perikanan. Pelaksanaan revitalisasi pertanian dalam arti luas melalui penguatan sistem agribisnis dan penerapan hasil inovasi serta teknologi terkini dalam lingkup pertanian. Peningkatan.Kebijakan pembangunan urusan industri dan perdaganga b.13 . Peningkatan produksi hasil hutan dengan tetap menjaga kelestarian dan kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan serta rehabilitasi lahan kritis. Peningkatan ketersediaan pangan secara berkelanjutan melalui peningkatan produksi pertanian dan peternakan khususnya untuk memenuhi karbohidrat dan protein. Peningkatan produksi hasil perikanan yang berkelanjutan dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan. 5. Pengembangan industri agro yang tersebar di pedesaan untuk meningkatkan nilai tambah produk pertanian dan menyerap tenaga kerja. Peraturan ini Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR III .Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Kebijakan pembangunan urusan pariwisata .

menyebutkan bahwa ruang lingkup revitalisasi pertanian dan pembangunan perdesaan mencakup 6 komoditi unggulan yaitu usaha tanaman pangan. (2) Ruang lingkup. off-farm maupun yang tidak didasarkan usaha pertanian (non-farm) serta infrastrukturnya. (6) arahan pengendalian pemanfaatan ruang dan (7) hak. Parung. hortikultura. perkebunan. (3) asas. mujair. Kemang. tawes. (3) Kecamatan Gunung Sindur dan (4) Kecamatan Kemang yang meliputi 28 desa. RP3. (2) Kecamatan Parung. Hal yang paling penting dari peraturan ini adalah bahwa lokasi pengembangan minapolitan yang akan ditetapkan harus sesuai dengan rencana pemanfaatan wilayah sesuai dengan peraturan daerah ini. patin dan lele. Dalam Peraturan Bupati (Perbub) nomor 84/2009. (4) rencana strukur dan pola ruang wilayah.14 . kehutanan dan perikanan.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor secara garis besar berisikan : (1) ketentuan umum. tujuan. Pasal 37 perda ini ini menyebutkan bahwa kawasan industri mencakup bentuk (a) kawasan industry estate. peternakan. Rancabungur. gurame. Ciseeng dan Gunung Sindur. Program direncanakan baik pada sisi on-farm. kewajiban dan peran serta masyarakat dan kelembagaan.Terkait dengan minapolitan. (5) rencana pemanfaatan wlayah. patin dan lele) bertumpu pada target produksi di kawasan Zona IV yang meliputi kawasan kecamatan Tahurhalang. (b) zona industri dan (c) sentra industri kecil. secara kewilayah adalah adanya peraturan daerah tentang rencana tata ruang wilayah. Maka pengembangan perikanan kolam air tenang (komoditi mas. Pasal 9 menyebutkan bahwa komoditi unggulan perikanan mencakup jenis-jenis ikan : mas.31/227/Kpts/Huk/2010 tentang Penetapan Lokasi Pengembangan Kawasan Minapolitan di Kabupaten Bogor. nila.31/227/Kpts/Huk/2010 tentang penetapan lokasi pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Bogor. gurame. Hal lain yang lebih mendasar. Dalam peraturan tersebut menyatakan bahwa lokasi minapolitan terletak pada 4 kecamatan yaitu (1) Kecamatan Ciseeng. hias. Peraturan yang terkait dengan kebijakan dan komoditas setidaknya terdapat dua peraturan pokok yaitu Peraturan Bupati (Perbub) nomor 84/2009 tentang Revitalisasi Pertanian dan Pembangunan Perdesaan (RP3) dan Keputusan Bupati Bogor nomor 523. kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah. Peraturan lain yang terkait dengan pengembangan Minapolitan di Kabupaten Bogor seperti yang sudah disebutkan di atas adalah Keputusan Bupati Bogor nomor 523. nila. Sebagian dari wilayah kecamatan yang menjadi zona industri (pasal 37) juga Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR Keempat lokasi tersebut merupakan bagian dari wilayah kecamatan di Zona IV III .

15 . Sementara sebagian wilayah kecamatan Gunung Sindur dan Parung juga menjadi sentra industri kecil. KEP : 32/MEN/2010 tentang penetapan kawasan minapolitan.19/2008) kawasan perikanan dilakukan dengan (a) menjaga kelestarian sumberdaya air terhadap pencemaran limbah industry maupun limbah lainnya. peraturan ini juga meliputi : (1) azas. (b) pengendalian melalui sarana kualitas air dan memperhatikan habitat alami ikan dan (c) meningkatkan produksi dengan memperbaiki dan meningkatkan sarana dan prasarana perikanan. evaluasi dan pelaporan. Berdasarkan pada telaah tersebut. terlihat bahwa peraturan tentang lokasi minapolitan selaras dengan peraturan tentang RP3. dan/atau pemasaran dan kegiatan usaha lainnya seperti jasa dan perdagangan.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor merupakan lokasi pengembangan minapolitan yaitu kecamatan Gunung Sindur. pemasaran komoditas perikanan. Secara spesifik. pengolahan. pengolahan. peraturan ini menyebutkan bahwa karakteristik kawasan minapolitan merupakan kawasan ekonomi yang terdiri atas sentra produksi. disampingg berisikan tentang ketentuan umum. memuat tentang konsepsi minapolitan. Kabupaten Bogor merupakan 1 dari 197 kabupaten/kota seluruh Indonesia yang telah ditetapkan sebagai daerah pengembangan kawasan minapolitan. pelayanan jasa dan/atau kegiatan pendukung lainnya. tujuan dan sasaran. Salah satu persyaratan mendasar adalah bahwa kawasan minapolitan harus sesuai dengan rencana tata ruang wilayah (RTRW) dan Rencana Pengembangan Investasi Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR III . (4) pembinaan dan (5) pembiayaan. (3) pemantauan. Kabupaten Bogor merupakan satu dari 11 kabupaten yang terpilih di Propinsi Jawa Barat. Rencana pengelolaan kawasan (Pasal 51 Perda No. Secara umum. walaupun terdapat potensi tumpang tindih terutama pada kegiatan-kegiatan perikanan dan peternakan yang berbasis lahan yang sama. Hal perlu untuk menjadi catatan adalah adanya pemanfaatan wilayah sesuai RTRW sebagai zona indutri. Sedangkan dari sisi kebijakan nasional mengenai minapolitan. Dalam keputusan ini. Hal ini perlu untuk diperhitungkan secara cermat mengingat bahwa bukan hanya persaingan pemanfaatan lahan tetapi potensi eksternal negatif dari aktivitas perikanan dan zona industri yang bisa saling meniadakan. telah dikeluarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. PER : 12/MEN/2010 tentang minapolitan. (2) konsep pengembangan kawasan minapolitan. Minapolitan didefinisikan sebagai suatu bagian wilayah yang mempunyai fungsi utama ekonomi yang terdiri dari sentra produksi.

Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR III .Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Jangka Menengah Daerah (RPIJMD) yang telah ditetapkan. yang diimplementasikan melalui Rencana Pengusahaan dan Rencana Tindak.16 . maka pengembangan dan pembinaan kawasan minapolitan didasarkan pada APBN dan atau APBD serta sumber lain yang tidak mengikat sesuai peraturan perundang-undangan. Penetapan lokasi Minapolitan dilakukan oleh Bupati/Walikota dan disampaikan pada Menteri Kelautan dan Perikanan. maka Bupati/Walikota mempunyai otoritas untuk menyusun Rencana Induk (Master plan). Sedangkan bila sudah memenuhi criteria dan persyaratan yang ada. Pada sisi pembiayaan.

00 25.00 24.1.1. Sempu Waru Jaya Waru Pamegar Sari Iwu 3 Gunung Sindur Pangasinan Cibinong Gunung Sindur Curug Cidokom Pabuaran 4 Kemang Pabuaran Kemang Tegal Pondok Udik Bojong Jampang Luas (ha) 283. Indah Cogreg Bj.00 151.00 22.00 56. Waktu dan Lokasi Kegiatan Perencanaan kawasan minapolitan sebagai salah satu tujuan wisata edukasi dan rekreasi ini direncanakan dilakukan pada empat wilayah pengembangan yaitu di empat (4) kecamatan yang terdiri dari 27 desa yaitu : Tabel 4.00 .METODOLOGI 4 4.00 22.00 225.00 36.00 45.00 76.20 245.00 32.00 35.00 203.00 56.00 63.00 80.30 105.00 82. 1 Kecamatan Ciseeng Desa Babakan Parigi Mekar Putat Nutug Ciseeng Cibentang Cibeuteung Udik Cibeuteung Muara Cihoe 2 Parung Bj.00 210. Lokasi Kegiatan di Empat Kecamatan No.00 90.00 105.00 15.00 8.00 18.00 280.

sosial ekonomi. spesifik lokasi dan berbasis masyarakat. jika ada).1.2. antara lain aspek sumberdaya alam dan lingkungan. Pendekatan Penyusunan Master Plan Penyusunan Masterplan Pengembangan Minapolitan Budidaya pada dasarnya merupakan penyusunan model-model dan program-program pembangunan yang akan dilakukan serta indikator kinerja untuk masing-masing model tersebut yang bersifat operasional. sehingga penyusunan masterplan dilakukan dengan berbagai pendekatan.Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor Gambar 4.1. Pendekatan studi penyusunan Masterplan Pengembangan Minapolitan Budidaya dilakukan dengan beberapa tahapan.2 . serta pengkajian terhadap data dan informasi (termasuk review hasil-hasil studi sejenisnya atau sebelumnya. perkiraan. yang mencakup pengumpulan data dan informasi (primer dan sekunder). 4. analisis mendalam dan komprehensif terhadap berbagai aspek. Peta Lokasi Kegiatan Pelaksanaan kegiatan Penyusunan Masterplan Minapolitan di Kabupaten Bogor dilakukan selama 45 hari kerja dari bulan Oktober hingga Desember 2010. Disamping itu terdapat proses Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV . pengembangan infrastruktur wilayah.2. implementatif. Kerangka Pendekatan Studi 4. dan aspek kelembagaan. sumberdaya manusia.

sumberdaya manusia.Infrastruktur pendukung perikanan budidaya c.2. Suatu calon Kawasan Minapolitan masing-masing memiliki potensi sumberdaya (sumberdaya alam. Secara skematis. Untuk mewujudkan suatu lokasi sebagai sebuah kawasan minapolitan. Kerangka Pendekatan Penyusunan Masterplan Pengembangan Minapolitan Budidaya Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV . SDM. Misi. maka perlu disusun kebijakankebijakan yang mampu memberikan arahan dan ketetapan pengembangan kawasan serta mendapat legitimasi dari seluruh stakeholder melalui proses pembuatan kebijakan yang partisipatif.3 .Potensi SDA. kerangka pendekatan penyusunan masterplan ini dapat dilihat pada Gambar 4. Hasil akhir yang diharapkan adalah terciptanya kawasan minapolitan sebagai kawasan pertumbuhan baru berbasis sumberdaya perikanan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan. dan Strategi) Rencana Induk Pengembangan Minapolitan Budidaya Rencana Pengembangan Sistem Perbenihan Rencana Pengembangan Teknologi Budidaya Perikanan Rencana Pengembangan Sistem Pemasaran Rencana Pengembangan Sistem Pengolahan Pertumbuhan Ekonomi dan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Berbasis Budidaya Perikanan Secara Berkelanjutan Gambar 4. Kebijakan-kebijakan itu dituangkan dalam bentuk konsepsi.2. sumberdaya infrastruktur dan sumberdaya sosial dan kelembagaan) dimana dalam perkembangan pengelolaan dan pemanfaatannya juga menimbulkan berbagai isu dan permasalahan.Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor partisipatif melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) atau Rembug Warga di lokasi pengembangan minapolitan budidaya. Calon Kawasan Minapolitan Budidaya FGD atau Rembug Warga Identifikasi: a. misi dan strategi pengembangan kawasan yang kemudian menjadi arahan bagi rencana induk masing-masing sub kawasan pengembangan. Isu & permasalahan perikanan budidaya Survei Lapangan Tinjauan Kebijakan Pemerintah Rencana Induk Pengembangan Minapolitan Budidaya (Konsepsi Visi. visi. dan Kelembagaan b.

2.2. pengembangan minapolitan mengacu kepada prinsip-prinsip : 1) Prinsip Kerakyatan: pembangunan diutamakan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat banyak (bukan kesejahteraan individu atau kelompok) berdasarkan keadilan. Pendekatan Pengembangan Minapolitan Prinsip utama dalam pengembangan Minapolitan adalah untuk mensinergiskan kegiatan produksi bahan baku. pengolahan dan pemasaran dalam satu rangkaian kegiatan besar dalam satu kawasan atau wilayah dengan penekanan pada peningkatan nilai tambah produk perikanan. dalam pengembangan Minapolitan juga harus dilandasi dengan minapolitan adalah: 1. Oleh karena itu. Keuntungan yang diperoleh melalui peningkatan nilai tambah harus dapat dinikmat oleh seluruh masyarakat yang terlibat dalam proses agribisnis perikanan tersebut sehingga akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Dalam pengembangan Minapolitan harus dapat menjamin terciptanya pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut. 5) Prinsip Keadilan Pemerataan: manfaat yang diperoleh dari kegiatan minapolitan dapat terdistribusi secara merata dan berkeadilan bagi semua pelaku yang terlibat. 2) Prinsip swadaya: bimbingan dan dukungan kemudahan (fasilitas) yang diberikan harus mampu menumbuhkan sikap keswadayaan dan kemandirian (bukan menciptakan ketergantungan). Jika ada lebih dari satu daerah mengembangkan minapolitan dengan komoditas unggulan yang sama dengan target pasar yang sama harus ada pengaturan tentang kuota yang adil. 3) Prinsip Kemitraan: peran pelaku agribisnis perikanan diperlakukan sebagai mitra kerja pembangunan yang berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan. sehingga dapat menjadikan mereka sebagai pelaku dan mitra kerja yang aktif dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan. 2. 4) Prinsip bertahap dan berkelanjutan: pembangunan dilaksanakan secara bertahap dan sesuai potensi dan kemampuan masyarakat setempat serta memperhatikan kelestarian lingkungan. Namun pertumbuhan ekonomi yang tercipta harus dinikmati masyarakat setempat khususnya masyarakat pelaku agribisnis perikanan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR konsep yang jelas. Landasan konsep dalam pengembangan IV .Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor 4.4 . Di samping prinsip-prinsip tersebut. Bahwa dalam pengembangan minapolitan secara nasional untuk komoditas yang sama tidak boleh terjadi kompetisi antar daerah.

5 . menghela kegiatan pembangunan lainnya di wilayah sekitarnya. Pendekatan Agribisnis dalam Pengembangan Minapolitan Kawasan minapolitan merupakan kawasan perikanan yang tumbuh dan berkembang karena berjalannya sistem dan usaha agribisnis perikanan serta mampu melayani. Untuk menjamin terciptanya kondisi seperti yang diuraikan dalam butir 2. Dengan demikian. kecemburuan sosial serta friksi sosial). mendorong. menarik. upaya untuk mengembangkan minapolitan hendaknya ditempuh melalui penciptaan atau pengembangan kegiatan-kegiatan ekonomi yang bersifat berkelanjutan (sustainable economic basis). setiap pengembangan usaha dari suatu sub sektor ekonomi di suatu kawasan harus dikaitkan dengan program pengembangan wilayah dan pengembangan masyarakat. Di samping itu. dimana keuntungan yang terjadi dari investasi tersebut dinikmati oleh masyarakat diluar kawasan tersebut. 4. Oleh karena dalam pengembangan Minapolitan diperlukan kelembagaan yang berfungsi pengawasan atau pendampingan terhadap semua proses pengembangan bisnis di kawasan minapolitan.Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor baik pembenih. maka pengembangan minapolitan di Kabupaten Bogor hendaknya dilaksanakan melalui pendekatan sistem sumberdaya (resources system). pembudidaya maupun pengolah yang pada gilirannya akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi masyarakat yang lain secara keseluruhan. tetapi lebih ditentukan dengan memperhatikan skala ekonomi kawasan yang ada. maka pengaturan maupun perijinan investasi harus dilakukan secara hati-hati dan selektif. Kalau tidak maka hal tersebut akan menimbulkan kerusakan pada lingkungan (sumberdaya alam dan ekosistem) dan masalah sosial (pemerataan kesempatan kerja dan berusaha.3.2. 3. Dalam hal ini. Pendekatan ini mengartikan bahwa suatu kegiatan pembangunan (ekonomi) merupakan kombinasi yang terpadu dan holistik Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV . yang dimaksud dengan sustainable economic basis adalah bahwa kegiatan ekonomi termaksud hendaknya secara sosial-ekonomi menguntungkan masyarakat lokal dan secara ekologis aman. Kawasan minapolitan terdiri dari pusat kawasan perikanan dan desa-desa sentra produksi perikanan yang ada disekitarnya. sehingga dapat memenuhi kebutuhan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhan serta aspirasinya (Dahuri 1999) Dalam rangka mewujudkan pembangunan ekonomi secara berkelanjutan. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi distorsi ekonomi. dengan batasan yang tidak ditentukan oleh batasan administratif pemerintahan.

yaitu harga produk turun dan penghasilan masyarakat akan turun. yaitu: (1) prasarana dan sarana.6 . yaitu: (1) sumberdaya ikan dan habitat/lingkungannya. (2) produksi. dan (4) sumberdaya manusia beserta iptek. dan empat sub-sistem pendukung. (3) hukum dan kelembagaan. Sistem Agribisnis Perikanan (Dahuri 1999) Berdasarkan gambar di atas terlihat bahwa ada 3 (tiga) kegiatan besar dalam kegiatan industri perikanan. (3) pengolahan (teknologi pasca panen). mulai dari tahap produksi sampai pemasaran hasil kepada masyarakat konsumen. Oleh karena itu. yaitu sektor primer yaitu produksi tanpa melihat sektor lainnya seperti pemasaran dan pengolahan. (2) keuangan. dimana ketiga sektor tersebut saling terkait antara satu dengan yang lainnya. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV . yaitu sektor primer sektor sekunder dan sektor tersier.3. tahapan pengembangan minapolitan harus dimulai dari identifikasi potensi sumberdaya yang dapat dikembangkan untuk kemudian dicari solusi optimalnya berdasarkan pendekatan sistem agribisnis perikanan yang terpadu dan holistik seperti diperlihatkan pada Gambar 4. dan (4) pemasaran termasuk konsumennya. Selama ini kebijakan pengembangan perikanan hanya terfokus pada satu sektor saja. Suatu sistem agribisnis perikanan (baik usaha penangkapan maupun budidaya) meliputi empat subsistem utama.3.Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor antara sumberdaya alam beserta ekosistemnya dengan sumberdaya manusia. sehingga sering kali terjadi permasalahan pada saat produksi melimpah. SEKTOR PRIMER SEKTOR SEKUNDER SEKTOR TERSIER HABITAT DAN SUMBERDAYA IKAN PRODUKSI * * BUDIDAYA PENGOLAHAN PEMASARAN KONSUMEN * LOKAL * NASIONAL * DUNIA KEUANGAN PRASARANA DAN SARANA SUMBERDAYA MANUSIA DAN IPTEK HUKUM DAN KELEMBAGAAN Gambar 4.

pemerintah ingin meningkatkan nilai tambah produk-produk perikanan sehingga dampaknya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada kegiatan perikanan.Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor Sementara itu. model pemasaran hasil perikanan yang dikembangkan selama ini langsung dipasarkan ke pihak konsumen dalam bentuk segar dan biasanya dipasarkan sendiri-sendiri. dan selalu mendapatkan harga yang stabil dan baik. lebih terkendali. kuantitas input produksi. Pendekatan Keilmuan Terkait 4. sumberdaya manusia yang berkualitas dan IPTEK serta dukungan kelengkapan infrastruktur. Sumber daya manusia (Pendidikan. minimal sesuai dengan harga pasar. pembudidaya. salah satunya adalah kelembgaan pemasaran. anggota keluarga. jumlah. Data yang akan diambil meliputi: 1. Selain kelembagaan.3. Proses produksi pembesaran (lama produksi. dan kepemilikan usaha). Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV . Proses produksi perbenihan . permodalan. pekerjaan lain. Pengembangan program minapolitan juga harus didukung dengan sistem kelembagaan yang kuat. Hal tersebut dimaksudkan agar pemasaran produk-produk perikanan lebih mudah dilakukan. akan diorganisasi oleh lembaga pengelola suatu kawasan minapolitan. program pengembangan minapolitan juga harus didukung oleh sistem keuangan yang kuat. dan teknologi yang digunakan). dan fasilitas produksi). 4. 3. baik insfrastruktur yang mendukung kegiatan pengolahan hasil perikanan maupun pemasaran hasil perikanan. dan itupun biasanya hanya pada sedikit produk perikanan yang memang memiliki nilai ekonomis tinggi dan dicari oleh para konsumen dalam keadaan masih hidup. 5. Produksi Lele di wilayah Minapolitan (4 kecamatan) per bulan. umur. latar belakang usaha. dan pengolah produk perikanan. lama usaha. Pemasaran produk-produk perikanan. baik ikan-ikan segar atau hidup maupun produk perikanan hasil olahan.1.3. jenis input. 4. melalui program minapolitan. Model pemasaran seperti ini secara umum hanya memberikan nilai tambah yang rendah. Oleh karena itu. lebih mempunyai posisi tawar.7 . 2. Pendekatan Perikanan Budidaya Data yang digunakan pada kegiatan ini adalah data primer yang diperoleh dari wawancara stakeholder yang terlibat dan data sekunder dari Dinas peternakan dan Perikanan (Disnakan) Kabupaten Bogor. Input produksi (sumber input.

dan 11. akses pasar. catering. 9. rantai pemasaran. potensi pasar yang lain seperti PIH Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV .8 . teknologi yang diterapkan untuk pengolahan lele adalah teknologi zero waste (bebas limbah). Output produksi (jumlah panen.3. ukuran panen. dan lain-lain bekerjasama dengan asosiasi jasa boga. Jenis olahan dapat merupa filet. bakso. 7. Kapasitas produksi ditentukan dari persentasi ketersediaan bahan baku berupa lele BS. produk akan dipasarkan ke berbagai konsumen seperti PSH (Pusat Jajanan Sehat) disekolah-sekolah. Secara umum produksi dan jenis olahan yang akan dikaji sebagai berikut: Jenis hasil olahan kan lele yang ada di 4 kecamatan Kapasitas produksi masing-masing jenis olahan Jenis ikan olahan ikan lele secara umum Konversi produk ikan lele menjadi olahan untuk setiap jenis olahan Harga produk ikan olahan Analisis finansial usaha ikan olahan c) Teknologi Pengolahan. 4. sarana(listrik. 10. Proporsi hasil produksi menurut ukuran. nugget. kemudahan akses bahan baku. Permasalahan dan kendala baik dalam proses pembenihan. Analisis finansial usaha budidaya dan pembenihan. Hasil samping akan digunakan untuk memproduksi pupuk organik untuk budidaya hortikultura. b) Kapasitas Produksi dan Jenis Olahan. kaki naga dan makanan kering krupuk. 8. surimi.2. lokasi pegolahan ditentukan berdasarkan survey lapang potensial area dengan mempertimbangkan ketersediaan lahan. air) dan prasarana (jalan). d) Jaringan Pemasaran. pembesaran mapun pemasannya. mini market serta (Pusat ikan Higienisa) dan hotel. kualitas hasil panen dan keuntungan usaha). Jumlam pembudidaya dan pembenih ikan lele dan rata-rata produksinya. crakers.Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor 6. Potensi dan kondisi existing Pemasaran di Jabodetabek (harga jual. sekolah. sosis. Pendekatan Pengolahan Perikanan Pendekatan yang dilakukan untuk mendapatkan model pengembangan pengolahan perikanan adalah: a) Lokasi pengolahan. dan lain-lain).

3. BEP. saluran irigasi dan air tanah khususnya untuk pemebenihan dan pengolahan. waktu kembali modal dan Cash-Flow.musimhujan dan kemarau untuk kebutuhan budidaya Cadangan air tanah Kebutuhan air untuk budidaya .4. pengolahan maupun kegiatan wisata. kode etik aturan formal maupun informal untuk pengendalian prilaku sosial serta insentif untuk bekerjasama dan mencapai tujuan bersama” (Djogo et. Secara rinci data hidrologi yang diamati meliputi parameter sebagai berikut: o o o o o o Jaringan dan tata air diwilayah calon minapolitan Kapasitas suply aiar. Pendekatan Kelembagaan dan Sosial Ekonomi Perikanan Pengertian kelembagaan mencakup banyak pengertian yang diajukan oleh para ahli.all. Data ketersediaan air tersebut nantinya akan dibandingkan dengan data kebutuhan air untuk setiap unit dari setiap kegiatan pembenihan. Oleh karena itu akan dilakukan juga perhitungan kebutuhan air untuk setiap unit kegiatan per musim dan per tahun. pembesaran. 4. Pendekatan Hidrologi Data hidrobiologi yang diperlukan untuk menunjang kegiatan Minapolitan adalah menghitung ketersediaan air di kawasan minapolitan baik untuk kebutuhan pembenihan. Serta kebutuhan air lainnya. kelayakan ekonomi dianalisa dengan perhitungan standar seperti investasi.9 .3.Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor e) Kelayakan Ekonomi. Secara umum kelembagaan mencakup segala suatu tatanan dan pola hubungan antara anggota masyarakat atau organisasi yang saling mengikat yang dapat menentukan bentuk hubungan antar manusia atau antara organisasi yang diwadahi dalam suatu organisasi atau jaringan dan ditentukan oleh faktor-faktor pembatas dan pengikat berupa norma. IRR. 2003). Untuk sungai dan saluran irigasi akan dihitung debit air baik pada musim kemarau maupun hujan dengan demikian dapat diketahui fluktuasi antara kedua musim tersebut.3. Sedangkan untuk air tanah akan dilakukan pengukuran dengan metode tersendiri. perbenihan dan pengolahann Water budget di wilayah calon minapolitan Konsep jaringan irigasi perikanan budidaya lele 4. pembesaran maupun pengolahan. Untuk dapat menghitung ketersediaan air akan dulakukan survai untuk mengidentifikasi sumbersumber air yang merupakan suplai air bagi kawasan minapolitan yang meliputi air sungai. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV .

Aturan yang mendasari meliputi aturan pemerintah (pusat dan daerah). wawancara mendalam. 1998 dalam Kartodiharjo dan Jamhani. 2006) Dengan demikian analisis tentang kelembagaan dalam kegiatan ini akan mencakup analisis individu atau organisasi sebagai stakeholder dan peraturan-peraturan yang mendasari (rules of the game). 4. Di samping itu potensi lahan budidaya dan penyebarannya serta sebaran pemukiman di kawasan minapolitan dapat dipetakan dalam peta GIS.3.5. Baik usaha ikan pembenihan. pembesaran maupun olahan semuanya akan dilakukan analisis finansialnya. Sedang peluang pengembangan pasar baik segar maupun olahan akan di kaji untuk melihat prospek bisnisnya di masa mendatang. Metode pengambilan data dilakukan dengan cara observasi. Jadi secara rinci akan dapat dihasilkan beberapa jenis peta yang meliputi: ‐ ‐ ‐ ‐ ‐ ‐ ‐ ‐ Peta administrtatif keempat kecamatan secara detail Kondisi eksisting jaringan jalan dengan ukuran lebar dan panjang Jaringan akses jalan produksi. Doward. Pendekatan Pengembangan Wilayah Pada prinsipnya dalam pendekatan pengembangan wilayah akan diidentifikasi kondisi existing calon kawasan minapolitan di empat kecamatan yakni Kemang.all.pemasaran Kondisi existing kolam budidaya dan pembenihan Potensi lahan budidaya dan distribusinya dalam peta Konsep pengembangan wilayah untuk Minapolitan agar tercapai efisiensi dalam pendistribusan input maupun output produksi Peta jaringan irigasi maupun sungai di kawasan minapolitan Tata ruang serta perda yang ada untuk wilayah minapolitan IV .10 Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR . potensi pasar khususnya ikan olahan. 1997. system jaringan pemasaran input produksi khususnya benih merupakan hal penting untuk dikaji. Dari aspek sosio-ekonomi perikanan data yang akan amati meliputi jaringan pemasaran ikan baik yang segar maupun olahan. Parung dan Gunung Sindur dari segi akses dan keterkaitan satu daerah dengan yang lain serta antara daeran produksi dan pemasaran. Ciseeng. Ostorm 1986. Disampingpemasaran ikan segar olahan. dan studi pustaka pada dokumen yang mendukung. Doward et. aturan antar pelaku (stakeholder langsung) terkait dengan hal-hal yang menyangkut implementasi minapolitan.Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor Secara ringkas. 1985. kelembagaan menyangkut aspek pemain (baik individu atau organisasi) (player of the game) dan aturan yang menjamin fungsi-fungsi peran individu/organisasi berjalan dengan baik (rules of the game) (Ostorm.

pelaporan. Produksi perikanan b. Excel. Pihak Swasta.000 Peta jalur eksisting transportasi.000 Peta Tata Guna Tanah BPN dan Peta Vegetasi Kawasan Peta Jaringan jalan dan telekomunikasi.000 Peta sebaran sungai.000.3. Pendapatan Stakeholder: Pemerintah. Jumlah Penduduk b. Spesifikasi Data Lanskap No 1.2.000 Data/Informasi Sumber Jenis Data BAPPEDA Sekunder Kondisi Fisik: Ekologi.2. LSM BAPPEDA Survei lapangan dan pengamatan Sekunder Primer 4.Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor 4.3. 3. skala 1 : 100. skala 1 : 50.11 . dll Potensi Kawasan : a. Iklim : Curah Hujan. Wisata Mina Sosial : a. Masyarakat. Peta : • Peta Administrasi • • • • • • 2. Alat Perencanaan Hardware dan Software Hardware Kamera Notebook Software Microsoft Office (Word. skala 1 : 1. Mata Pencaharian c. skala 1 : 500. Wawancara dan Kuisioner Primer Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV . Tabel 4. Peta RTRW Peta Rupa Bumi. BPS Sekunder 5. presentasi Pengolahan peta tematik Pengolahan peta tematik maupun b) Data Penelitian Data yang digunakan pada kegiatan ini adalah telihat pada Tabel 4. Tabel 4.6. Powerpoint) AutoCad 2008 Adobe Photoshop CS3 Fungsi Survei Pengolahan data Analisis data tabular. Pendekatan Lanskap a) Alat dan Data Kegiatan ini menggunakan peralatan baik perangkat keras (hardware) perangkat lunak (software) dengan spesifikasi pada Tabel 4.3.

Sedangkan.1 Data Data yang diperlukan dalam menganalisis potensi wilayah yang akan direncanakan untuk pengembangan minapolitan yaitu data tentang sumberdaya dan potensi perikanan yang terdapat di kecamatan yang dipilih berdasarkan potensi wisata dan objek yang ada.4). d) Prosedur Pelaksanaan Proses yang dilakukan dalam melaksanakan studi lanskap. Pengumpulan dan Klasifikasi Data Tahap pengumpulan dan klasifikasi data ini dilakukan dengan mengumpulkan data primer maupun data sekunder di lapangan yang berkaitan dengan studi ini baik melalui survey langsung ke lokasi studi ataupun melalui dinas yang terkait.12 . Keempat tahap tersebut diuraikan sebagai berikut: Tahap 1. konsep disain perencanaan serta tahap perancangan. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV .Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor c) Pendekan studi Studi ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yaitu melakukan analisis tabulasi dan spasial. pendekatan masyarakat (stakeholder) dilakukan melalui analisis stakeholder yang bersumber dari data kuisioner. wawancara dan studi pustaka. a. Identifikasi dan Analisis Tapak dan Wilayah a. Pendekatan ini dilakukan dengan memperhatikan kesesuaian wilayah kecamatan untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata minapolitan yang berkelanjutan. Pendekatan wisata dilakukan melalui penentuan kawasan yang berpotensi memiliki obyek dan atraksi wisata. Analisis dan Sintesis a. terdiri dari empat tahapan yaitu tahap pengumpulan dan klasifikasi data (persiapan).2 Metode Analisis Kawasan wisata minapolitan dapat dinilai dari beberapa parameter untuk mengetahui kesesuaian kawasan tersebut dengan analisis pembobotan dan skoring beberapa faktor kriteria penilaian kelayakan kawasan untuk wisata (Tabel 4. analisis dan sintesis. Tahap 2.

4.13 .Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor Tahapan pengumpulan dan klasifikasi data Kawasan Perencanaan Wisata Minapolitan Peta Digital Tahapan analisis dan Sintesis Survey Lapangan Studi Pustaka Identifikasi Potensi Kawasan Potensi Pengembangan Pariwisata • • • • Stakeholder • Produksi Perikanan Ketersediaan Obyek dan Atraksi untuk Wisata Masyarakat Pemda Swasta Analisis kesesuaian kawasan minapolitan • Analisis Obyek dan Atraksi Wisata Analisis Stakeholder Pembobotan dan Skoring Zona Kesesuaian kawasan Minapolitan Pembobotan dan Skoring Zona Potensi Pengembangan Wisata Minapolitan Aturan Pemerintah (RTRW) Pembobotan dan Skoring Zona Akseptibilitas Stakeholder Zona Potensial untuk Pengembangan Wisata Minapolitan Pengembangan Aktifitas dan Fasilitas Wisata Minapolitan Pengembangan Jalur Wisata Minapolitan Tahapan Konsep dan Perencanaan Kawasan Perencanaan Kawasan Wisata Minapolitan Perancangan Kawasan Wisata Minapolitan Gambar 4. Tahapan Studi Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV .

... dominan bentuk asli Terdapat < 3 di tempat lain Tersedia dalam kondisi baik 0..... Kriteria Penilaian Kelayakan Kawasan untuk Wisata Nilai No Faktor Bobot 4 (sangat baik) < 1 km Asli 3 (Baik) 1-2 km Asimilasi.....5 km Jalan aspal.5-1 km Jalan aspal berbatu. 2.... 6. tanpa kendaraan umum 1 (Sangat Buruk) > 3 km Sudah berubah sama sekali Terdapat > 5 di tempat lain Tidak tersedia 1. Kinnon (1986).. Modifikasi Perhitungan penilaian kelayakan kawasan untuk wisata: Keterangan : Fljr = faktor letak dari jalan raya Fek = faktor estetika dan keaslian Fatr = faktor atraksi Fta = faktor transportasi dan aksesibilitas = titik ke 1 hingga ke 5 Ffp = faktor fasilitas pendukung Fka = faktor ketersediaan air bersih Penentuan klasifikasi tingkat kelayakan kawasan untuk wisata adalah sebagai berikut : Klasifikasi Tingkat Potensi = N Skor maksimal – N Skor minimal.4...Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor Tabel 4. 25 Hanya terdapat di tapak Tersedia dalam kondisi sangat baik < 0.14 . tanpa kendaraan umum Sumber : Mc. Letak dari Jalan Raya Estetika dan keaslian Atraksi 10 25 3.... dominan bentuk baru Terdapat 3-5 di tempat lain Tersedia dalam kondisi kurang baik 1-2 km Jalan aspal berbatu. ada kendaraan umum 4. ada kendaraan umum 2 (Buruk) 2-3 km Asimilasi. Fasilitas Pendukung 15 5. (1) N Tingkat Klasifikasi Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV .. Ketersediaan Air bersih Transportasi dan Aksesibilitas 15 10 >2km Jalan berbatu /tanah.

data akses dan transportasi untuk menuju kawasan wisata minapolitan.15 . metode pengambilan contohnya menggunakan metode purposive Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV . bahwa obyek dan atraksi wisata cukup potensial untuk dilakukan pengembangan dan penataan kawasan wisata. Artinya. sehingga hasil Penilaian kawasan wisata di klasifikasikan menjadi : • SP (Sangat potensial) dengan nilai 325 – 400. Perlakukan yang dilakukan hanya untuk menjaga kualitas obyek dan atraksi agar tetap terjaga • CP (Cukup Potensial) dengan nilai 249 – 324. Perlu perlakuan yang khusus dan mahal untuk meningkatkan kualitas menjadi sangat potensial b. Identifikasi dan Analisis Potensi Tapak Data yang digunakan dalam analisis potensi tapak ini adalah dilihat dari data produksi perikanan. Artinya. Artinya. data infrastruktur serta adanya peluang untuk rekreasi pada masingmasing kecamatan yang akan dikembangkan menjadi kawasan wisata minapolitan. Data Data yang digunakan dalam analisis stakeholder ini adalah data kesediaan masyarakat tentang pengembangan wisata pesisir melalui penyebaran kuisioner dengan sampling. bahwa obyek dan atraksi wisata yang tersedia tidak potensial untuk dilakukan pengembangan dan penataan kawasan wisata. Perlu perlakuan lebih banyak untuk meningkatkan kualitas menjadi sangat potensial • TP (Tidak Potensial) dengan nilai 97 – 172. maka dilakukan pembobotan dan dikategorikan dalam kelas kesesuaian. bahwa bahwa obyek dan atraksi wisata kurang potensial untuk dilakukan pengembangan dan penataan kawasan wisata. c. Perlu perlakuan untuk meningkatkan kualitas menjadi sangat potensial • KP (Kurang Potensial) dengan nilai 173 – 248. bahwa obyek dan atraksi wisata sangat potensial untuk dilakukan pengembangan dan penataan kawasan wisata.Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor Dari penghitungan skor masing-masing parameter. Artinya. Identifikasi dan Analisis Keikutsertakan Stakeholder c1.

2 Metode Analisis Tahap penentuan zona akseptibilitas masyarakat lokal ditunjukkan dengan tingkat kesediaan masyarakat dalam menerima pengembangan lokasi penelitian menjadi kawasan wisata (Tabel 4. sehingga jumlah dari responden seluruh kecamatan yang diteliti adalah 40 responden. 2. Penilaian dilakukan oleh responden. Penilaian Akseptibilitas Masyarakat Peringkat No Faktor 4 (Bersedia) Setuju Setuju Ya Ya Bersedia 3 (Kurang Bersedia) Kurang setuju Kurang setuju Kurang Kurang Kurang Bersedia 2 (Tidak Bersedia) Tidak Setuju Tidak Setuju Tidak Tidak Tidak Bersedia 1 (Tidak tahu) Tidak Tahu Tidak Tahu Tidak Tahu Tidak Tahu Tidak Tahu 1.5. 3. Tabel 4. masing-masing kecamatan diambil n=10. 4.16 . Pengembangan kawasan sebagai daerah tujuan wisata Pengelolaan kawasan wisata oleh masyarakat Peran aktif masyarakat dalam pariwisata Keuntungan kegiatan wisata Keberadaan wisatawan Sumber : Yusiana (2007) Penilaian akseptibilitas masyarakat untuk faktor tertentu di tiap desa didasarkan pada penghitungan : Fx desa ke-p = (4 x n)+(3 x n)+(2 x n)+(1 x n) Dimana. 5.Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor c.5). Fx p n = total nilai faktor tertentu = desa tertentu = jumlah orang yang memilih Aksesibilitas Masyarakat = Keterangan : Pdtw = Pengembangan kawasan sebagai daerah tujuan wisata Ppkw = Pengelolaan kawasan wisata oleh masyarakat Ppmp = Peran aktif masyarakat dalam pariwisata Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV .

Penentuan Zona Potensial untuk Pengembangan Wisata Minapolitan Pembuatan zonasi ini dilakukan dengan menggunakan bantuan AutoCad dan Adobe Photoshop untuk tehnik overlay sehingga hasil analisis tapak/wilayah dan potensi wilayah serta hasil peta akseptibilitas masyarakat dapat dispasialkan. Tahap 3. Dengan demikian diperoleh rencana lanskap kawasan minapolitan. kolam ikan hias/aquarium. Konsep ini diilustrasikan dalam Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV . Dari hasil perencanaan wisata tersebut maka dilakukan pembuatan konsep yang sesuai dengan analisis dan sintesis yang telah dilakukan. Rencana lanskap kawasan wisata minapolitan berdasarkan zona kesesuaian wisata yang merupakan hasil analisis di beberapa kecamatan di Kabupaten Bogor. yaitu dalam bentuk: a. pembenihan. Dari zona tersebut kemudian ditentukan akfititas. fasilitas dan sirkulasi wisata yang disesuaikan dengan peraturan daerah (RTRW) ada pada. Konsep dan Perencanaan Kawasan Minapolitan Tahap konsep dan perencanaan ini merupakan hasil dari perencanaan wisata yang dikembangkan dari zona potensial. air deras.Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor Pkkw = Keuntungan kegiatan wisata Pkw = Keberadaan wisatawan Setelah dihitung skor masing-masing parameter. kolam air tenang.17 . Menurut RTRW Kabupaten Bogor tahun 2005 – 2025. kawasan perikanan akan dikembangkan pada wilayah/kawasan yang secara teknis. dan budidaya ikan di perairan umum. Konsep pengembangan dan penataan ruang yang akan dilaksanakan adalah kawasan wisata minapolitan yang berkelanjutan. e. maka dilakukan pembobotan dan dikategorikan dalam kelas kesesuaian : S1 (Sangat Sesuai) S2 (Cukup Sesuai) S3 (Sesuai Marginal) N (Tidak Sesuai) = Nilai = Nilai = Nilai = Nilai 163 – 200 125 – 162 87 – 124 49 – 86 d. Peraturan Analisis mengenai regulasi dilakukan berdasarkan RTRW yang ada sehingga diterapkan pada masing-masing kecamatan yang akan dikembangkan. sosial dan ekonomi memiliki potensi untuk kegiatan perikanan.

dibuat luxury dan berwarna. Laporan Antara akan diserahkan 5 minggu setelah terbitnya Surat Perintah Mulai Kerja. serta berisikan hasil analisis awal Masterplan Minapolitan. Program pengembangan dan penataan kawasan sesuai dengan konsep pengembangan kawasan. Pendahuluan akan diserahkan 1 minggu setelah terbitnya Surat Perintah Mulai Kerja. pengembangan penyediaan benih/bibit dan pakan. Rencana pengembangan dan penataan infrastruktur pendukung wisata. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV . b. pengerjaan Penyusunan Laporan ini dilengkapi daftar mobilisasi tenaga ahli dan Laporan jadwal penugasan tenaga ahli dan pelaksana/asisten tenaga ahli. hasilnya berupa arahan pengembangan kawasan yang diilustrasikan secara grafis sebagai panduan penataan kawasan wisata minapolitan. berisi data-data hasil survei primer maupun sekunder dan hasil pengolahan data. antara lain berisi pemahaman dan tanggapan dalam Penyusunan Masterplan Minapolitan beserta metodologi Masterplan Minapolitan.18 . yang memuat antara lain: kondisi dan potensi perikanan air tawar. pengembangan sistem kelembagaan dan rumusan program/kegiatan pengembangan kawasan minapolitan dalam jangka waktu lima tahun.Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor bentuk model pengembangan dan penataan ruang wisata yang mempertimbangkan karakter lanskap dan potensi obyek atraksi wisata yang ada. isu dan permasalahan dalam pengembangan budidaya perikanan air tawar.4. Laporan Akhir ini akan dilengkapi dengan Executive Summary dan peta kawasan minapolitan. pengembangan sistem pemasaran dan pengolahan. pengembangan lahan budidaya dan infrastruktur pendudkung. c. Laporan Akhir. Perencanaan program ini dilakukan berdasarkan nilainilai potensi wisata kawasan. merupakan penyempurnaan terhadap Laporan Antara yang telah dibahas dengan instansi terkait. 2. 4. Pelaporan Laporan yang dibuat sebagai pertanggung jawaban kegiatan ini terdiri dari: 1. Laporan Antara. penentuan lokasi dan komoditas unggulan. Laporan Pendahuluan. 3. Laporan Akhir dan Executive Summary akan diserahkan pada akhir pekerjaan atau 45 hari kerja setelah terbitnya Surat Perintah Mulai Kerja. rumusan konsepsi pengembangan kawasan minapolitan.

Wilayah Kabupaten Bogor di sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Tangerang (Banten). Kota Bekasi. Kondisi Demografi Kabupaten Bogor dengan luas wilayah sebesar 2.19o-6. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Lebak (Banten).1.09 km2 merupakan salah satu wilayah administratif terluas (keenam) di Provinsi Jawa Barat setelah Kabupaten . Kabupaten Bogor secara geografis terletak antara 6. dan Kabupaten Bekasi. Kota Depok.1. Gambar 5.2. sedangkan sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sukabumi. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Karawang.KONDISI UMUM KAWASAN MINAPOLITAN 5 5. Batas Administrasi dan Geografis Wilayah Kabupaten Bogor yang merupkan bagian dari Provinsi Jawa Barat beribukota Cibinong.237. Peta Lokasi Kabupaten Bogor 5.47o Lintang Selatan dan 106o1’107o103’ Bujur Timur.

65 15. 6. 4.22 2.41 5. Kabupaten Bogor terdiri dari 40 kecamatan dengan jumlah total desa paling banyak se-Provinsi Jawa Barat.64 0.33 Petani/ Peternak 0. 2.id).27 6.05 20.446.62 1.33 %).209 Jiwa terdiri dari laki-laki sebanyak 2.1.86 6.26 0.54 Pegawai/ Karyawan 4.83 1.43 1.76 2. Bandung dan Ciamis. Kabupaten Bogor mengalami kenaikan sebesar 145% dari tahun 2000 hingga 2006. Pada tahun 2000.go.62 3.24 4.53 0.17 %).19 Pedagang 3.14 Total 1.65 2.711.96 3. yaitu 428 desa (dimana 200 desa termasuk dalam klasifikasi perkotaan.00 Jumlah Keterangan: *) Lain-lain = pengrajin dan pekerja tambang.68 1. serta daerah pemasaran barang dan jasa industri manufaktur.59 5.24 0.28 0. Dan berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010.13 20. Dilihat dari penerimaan total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). sedangkan 228 desa lainnya berstatus perdesaan) (BPS. yaitu Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR V.97 10.98 2.20 0.54 %).13 Buruh 3. penduduk Kabupaten Bogor menjadi 4.57 0.59 5.17 Lainlain 0. Persentase Jenis Mata Pencaharian Masyarakat Per Kecamatan di Zona IV Mata Pencaharian Kecamatan PNS/TNI/ POLRI 1. pemasok tenaga kerja melalui proses urbanisasi dan commuting (menglaju).65 3.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Sukabumi.43 18. buruh perusahaan industri dan pegawai/karyawan (25.21 4.04 1.996 jiwa. Kabupaten Bogor berfungsi sebagai pemasok (produsen) bahan-bahan mentah dan atau bahan baku. Cianjur. Bogor 2007 dalam BAPPEDA Kabupaten Bogor & PSP3-IPB (2009) 5.50 2.316. pada umumnya yang didominasi oleh buruh (25.46 25. Sedangkan secara rinci distribusi mata pencaharian masyarakat di wilayah calon Kawasan Minapolitan disajkan pada Tabel 5. Ditinjau dari segi mata pencaharian masyarakatnya . Kondisi Ekonomi Wilayah Sebagai wilayah hinterland dari Kota Bogor maupun sebagai bagian dari kawasan megapolitan Jabodetabek. dan pedagang (20.51 Jasa 2. Tasikmalaya.763. Sumber : Data Susda Kab. 2008).17 1. Tajurhalang Kemang Rancabungur Parung Ciseeng Gunung Sindur 16. 3.91 5.51%). Kabupaten Bogor mengalami peningkatan populasi penduduk yang cukup pesat dari waktu ke waktu.958 jiwa (http://bogorkab.16 0.12 0.2 .91 1. Masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani/peternak sangat sedikit (6.28 100. 5.06 0. jumlah penduduk di Kabupaten Bogor sebanyak 3.76 3.76 18.74 25.51 15.81 1. Tabel 5.3.49 1.97 5.82 2.1.251 jiwa dan perempuan sebanyak 2.

dan menurun menjadi 4.027 17.218 2.687 2.10.815.623.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor sebesar 18. yang diperoleh dengan cara membagi total PDRB dengan jumlah penduduknya. dapat diketahui bahwa sektor industri pengolahan memberikan kontribusi paling besar terhadap total PDRB dengan persentase sebesar 59.434.644. dan sektor pertanian (dengan persentase 7.85% (tahun 2000) dan 64.197 3.69% pada tahun 2006). Sedangkan urutan kedua dan ketiga ditempati oleh sektor perdagangan. BOGOR KOTA SUKABUMI KAB.988 PDRB per kapita di Kabupaten Bogor pada tahun 2006 adalah Rp.74% pada tahun 2000.226. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR V. Depok.992.30% (tahun 2006).698 juta rupiah (tahun 2006) (BPS.874. Dan sektor industri pengolahan merupakan pemberi kontribusi paling besar terhadap total PDRB dengan persentase sebesar 59.136 33. menyajikan data mengenai total PDRB.435.2.361. LEBAK Sumber: PDRB Tahun 2000 dan 2006 (diolah). dan Kota Bekasi dalam hal PDRB per kapita tahun 2000 maupun 2006 (Tabel 5.669 2. 2007).222 7. Sedangkan urutan kedua dan ketiga ditempati oleh sektor perdagangan.69% pada tahun 2006). TANGERANG KOTA BOGOR KOTA DEPOK KAB.353 2. PDRB PER KAPITA (Rp/Jiwa) 2000 27. Tangerang.605 6. BEKASI KOTA TANGERANG KOTA BEKASI KAB. Bogor.090 10.985/jiwa (meningkat lebih dari dua kali lipat dari tahun 2000).753 12.3.507.545 juta rupiah (tahun 2000).595.011. jumlah penduduk dan PDRB per kapita masing-masing kabupaten/kota di Kawasan Jabodetabek dan sekitarnya tahun 2006.985 9. Tabel 5.824 24.297. Kabupaten Bogor menempati urutan kelima setelah Jakarta.). dan menurun menjadi 4. menjadi 44. Bekasi) dan sekitarnya (Sukabumi.210 8.74% pada tahun 2000.428. PDRB per Kapita Kabupaten/Kota di Kawasan Jabodetabek dan Sekitarnya Tahun 2000 dan 2006 KABUPATEN/KOTA KOTA JAKARTA KAB.381 11.2.174 4.342 2006 55. Kota Tangerang. SUKABUMI KAB.265. Tabel 5. hotel dan restoran (dengan persentase sekitar 15%).082 4.363 5. Kabupaten Bekasi.718. hotel dan restoran (dengan persentase sekitar 15%).85% (tahun 2000) dan 64.190.983 4.310.30% (tahun 2006).882. Apabila dibandingkan dengan wilayah Jabodetabek (Jakarta. Cianjur dan Lebak).910.202.973.3 .341 4. dan sektor pertanian (dengan persentase 7.538 5.152. Ditinjau dari peranan masing-masing sektor terhadap perekonomian di Kabupaten Bogor.121 5.031.623.792.030. CIANJUR KAB.

BEKASI KOTA TANGERANG KOTA BEKASI KAB.186 294.571.154 44. Ciampea. Ciawi.318 1.125. daerah irigasi desa dan daerah irigasi PIK. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR V.900 JUMLAH PENDUDUK (JIWA) 8.568 2.824 24.985 9.183.718.528 13.646 3. Kemang.258 4.023 2. Cihideung. Citempuan. Parung.222 7.942.4. Wilayah-wilayah yang tercakup dalam DAS Cisadane ini adalah kecamatan Caringin.210 8.753 6.623.3.056.239.538 5.863.121 ha terdiri atas daerah irigasi Pemerintah (PU). Nanggung.190. SUKABUMI KAB. Dramaga. BOGOR KOTA SUKABUMI KAB.357.792.991. Ciapus.901 1. Kabupaten Bogor relatif memiliki ketersediaan air yang cukup memadai yang didukung oleh irigasi yang cukup baik.202. Total PDRB.216. namun dalam perkembangannya kegiatan budidaya perikanan memerlukan dukungan irigasi yang memadai.361.136 33.435. Ciampea.605 6.742 8.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 5. LEBAK TOTAL PDRB (JUTA RP) 495.366. Rumpin. DAS Cisadane. dan sebagian besar Cigudeg bagian timur.393.240.967. di Kabupaten Bogor didukung oleh sumber air yang mengalir diwilayah kabupaten ini. Cibungbulang. Di Kabupaten Bogor mengalir enam sungai besar yang memiliki cabang-cabang sangat banyak hingga 339 cabang.779 12.481.4. dengan Sub-DAS : Cisadane Hulu.423 855.luas daerah irigasi di Kabupaten Bogor adalah 47.846 1. CIANJUR KAB.882 66.230 1. Cianten. sebagai gambaran .428.265.031.341 4.595.855.988 Sumber: Data PDRB dan Jumlah Penduduk Tahun 2006 (diolah) 5.090 10.882.432 27.698 2.437. TANGERANG KOTA BOGOR KOTA DEPOK KAB.121 5. Leuwiliang. Di samping irigasi yang luas. Pamijahan.907 35. Jumlah Penduduk dan PDRB per Kapita Kabupaten/Kota di Kawasan Jabodetabek dan Sekitarnya Tahun 2006 KABUPATEN/KOTA KOTA JAKARTA KAB. Meskipun irigasi pada awalya ditujukan untuk pengembangan pertanian sawah.500.591 2.604. Ciomas. Jumlah dan daerah irigasi di Kabupaten Bogor dapat dilihat pada Tabel 5.184 PDRB PER KAPITA (RP/JIWA) 55.040.4 . Cijeruk.163. Biofisik dan Tata guna lahan Secara biofisik khususnya dalam hal ketersediaan air.381 11.816 5.874. yaitu meliputi Daerah Aliran Sungai : 1.678 22.

579 1.4.373 7.365 948 1.468 462 1.388 1.838 653 7.699 461 733 2.567 1.823 626 389 204 706 73 1.459 743 873 488 891 1.294 1.964 6.571 2.579 2. DAERAH IRIGASI 2 Jasinga KECAMATAN 4 LUAS HA 5 1.696 2.325 47.636 752 897 2.5 .857 523 1.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 5. Jumlah dan Luas Daerah Irigasi Se-Kabupaten Bogor NO 1 1 UPTD/KEC.995 2.645 1.386 11.256 131 263 285 909 48 1.531 12.121 Baik 6 7 3 11 4 7 32 10 10 14 26 10 11 5 86 2 3 8 5 3 7 16 3 47 2 1 1 2 3 0 0 9 18 3 3 3 1 1 11 2 4 4 11 6 16 43 237 KONDISI Sedang Rusak 7 8 8 2 1 30 24 22 87 18 4 8 9 18 12 11 80 7 3 1 8 13 8 17 4 61 1 3 2 1 0 1 0 7 15 2 0 2 2 0 6 1 1 7 19 5 7 40 289 39 11 10 19 17 20 116 22 3 15 22 11 5 11 89 3 5 5 9 5 7 5 2 41 2 1 1 3 0 0 2 23 32 0 4 3 2 1 10 3 2 18 22 5 15 65 353 2 3 4 5 6 Jasinga Parung Panjang Tenjo Nanggung Sukajaya Cigudeg Jumlah UPTD wilayah Jasinga Leuwiliang Leuwiliang Ciampea Cibungbulang Pamijahan Leuwisadeng Tenjolaya Taman Sari Jumlah UPTD teknis Leuwiliang Ciawi Ciomas Dramaga Cijeruk Ciawi Cisarua Megamendung Caringin Cigombong Jumlah UPTD wilayah Ciawi Parung Parung Ciseeng Kemang Gunung Sindur Bojonggede Ranca Bungur Tajur Halang Rupin Jumlah UPTD wilayah Parung Cibinong Cibinong Citeureup Babakan Madang Sukaraja Gunung Putri Jumlah UPTD wilayah Cibinong Jonggol Cileungsi Klapa Nunggal Jonggol Sukamakmur Cariu Tanjungsari Jumlah UPTD wilayah Jonggol Jumlah seluruh UPTD teknis pengairan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR V.881 1.

DAS Citarum. Cibogo. dengan Sub-DAS : Cipamingkis.6 . DAS Angke. Cibodas. Tenjo bagian barat. Cipajutah). Cileungsi. Sukaraja. Hal ini menandakan bahwa Kabupaten Bogor masih mengandalkan sektor pertanian untuk menopang perekonomian di wilayahnya. Ciliwung Hulu. Cikarang (Cibarengkok. terutama disebabkan karena karakteristik lahan dan kondisi geobiofisik wilayah yang sesuai untuk pengembangan pertanian. Sampai tahun 2006 Kabupaten Bogor masih memiliki areal persawahan kurang lebih seluas 65. 3. Cibinong. Rumpin bagian utara. Sawangan. Megamendung. Rumpin bagian utara. kebun campuran dan hutan. Citeureup. DAS Cimanceuri. Sawangan. berdasarkan luasan penggunaan lahan pada tahun 2006 sebagian besar lahan di Kabupaten Bogor digunakan sebagai areal persawahan (sawah irigasi + sawah tadah hujan). Cigudeg bagian selatan. Cisukaribas. Gunung Putri. Wilayah-wilayah yang tercakup dalam DAS ini adalah Kecamatan Jonggol dan Cariu.000 ha. dengan wilayah-wilayah yang tercakup meliputi kecamatan Parung Panjang. Gunung Putri. Cimanggis. Wilayah-wilayah yang tercakup dalam DAS Ciliwung ini adalah Kecamatan Cisarua. 4. dan Gunung Sindur. 6. Cukup berkembangnya sektor pertanian di Kabupaten Bogor. DAS Ciliwung. dengan Sub-DAS : Cikeas. Ciseuseupan. dan sebagian kecamatan Jonggol bagian barat.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 2. Cileungsi. Secara garis besar wilayah Kabupaten Bogor memiliki tiga kelompok daerah resapan air sebagai berikut : daerah resapan air tanah utama antara lain daerah Parung. Ketersediaan air dari mata air di Kabupaten Bogor cukup banyak dan hampir semuanya mengalir sepanjang tahun dengan debit yang bervariasi. Cisarua. Wilayah-wilayah yang terdapat dalam DAS ini adalah Kecamatan Citeureup. 5. dan Limo. Tenjo bagian timur. Bojong Gede. DAS Cidurian. Sedangkan dari segi ata guna lahan. dengan wilayah-wilayah yang tercakup meliputi Kecamatan Parung Panjang. dengan Sub-DAS : Ciesek. meskipun sektor pertanian menempati urutan ketiga dalam kontribusinya terhadap total PDRB kabupaten Bogor. Tenjo bagian timur. Citeureup. Cileungsi. Cibeet. Cigudeg bagian utara. Cibinong. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR V.

00 Dalam pengembangan penggunaan lahan tidak terbatas hanya untuk pertanian budidaya.045. bahkan sebagian lahan pertanian juga ada yang digunakan untuk berbudidaya ikan.53 17. Cihideung dan sekitarnya.263.5.001.76 100.73 0.70 19.025. kehutanan dan kebun campuran. Pada saat Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR V.40 43. Subang dan Purwakarta.217. Selama tiga dekade terakhir.01 0. namun dengan perkembangan kegiatan perikanan budidaya yang cukup pesat penggunaan lahan untuk kolam meningkat. Budidaya Ikan cukup berkembanga terutama di Zona IV dan II karena potensi sumberdaya air yang ada di Kabupaten Bogor cukup banyak.30 11. pembudidaya ikan di Kabupaten Bogor banyak berkontribusi dalam memproduksi ikan-ikan ukuran konsumsi (kegiatan pembesaran).277.590.00 53.00 1.20 298.805. Selain dikenal sebagai produsen benih (kegiatan pembenihan).60 1.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 5.499.936.70 524.90 4. Tasikmalaya. Luasan Masing-masing Penggunaan Lahan di Kabupaten Bogor Tahun 2006 Jenis Penggunaan Lahan Pemukiman Jasa Tegal Industri Sawah Irigasi Sawah Tadah Hujan Kebun Campuran Perkebunan Hutan Perairan Tambak/Kolam Tanah Rusak/Kosong/ Pasir Galian Semak/alang2 Lain-lain Total Sumber: Badan Pertanahan Nasional (BPN). 2007 Luas (ha) 26.10 5. secara historis Kabuapten Bogor dan sekitarnya merupakan daerah sentra produksi di samping Sukabumi.20 27.41 1.89 0. Cianjur.90 Persentase (%) 8.01 0.94 3.18 9. beberapa catatan penting dalam kegiatan perikanan budidaya di Bogor antara lain: (1) Di tahun 80-an sistem budidaya ikan mas di kolam air deras berkembang pesat di daerah Cibening. Cibuntu.07 0.5.90 85.50 6.80 62.10 17.96 28. Diduga jumlahnya paling banyak dibanding daerah sentra produksi lainnya di Jawa Barat.306. 5. Pamijahan.37 20.65 1. Kondisi Perikanan Dalam perikanan budidaya (khususnya budidaya ikan air tawar).7 .001.

(2) Para pembudidaya ikan di Kabupaten Bogor secara relatif memiliki kemampuan teknis budidaya yang cukup baik dibanding daerah sentra produksi lainnya. dan Cirata.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor harga pakan semakin tinggi dan berkembangnya budidaya ikan mas di keramba jaring apung (KJA) di waduk Saguling. Jatiluhur. daerah Bogor (khususnya Parung) dikenal sebagai pusat produsen benih dan ikan gurame ukuran konsumsi. (2) Di tahun 80-an sampai tahun 90-an. (3) Kabupaten Bogor dengan lokasinya yang tidak jauh dari Jakarta memiliki keunggulan komparatif dalam hal penyediaan sarana produksi seperti peralatan. baik ikan konsumsi maupun ikan hias. Diduga karena persaingan harga. maupun akses sarana dan prasarana pendistribusian. Dengan kata lain. peran bandara Soekarno-Hatta dalam hal distridusi antar pulau atau untuk ekspor. Ciseeng dan Parung. sistem budidaya ini secara berangsur berhenti. Blitar dan Tasikmalaya. di samping akses pasar. (3) Pada kurun waktu dua dekade terakhir Bogor dikenal sebagai sentra produksi berbagai spesien ikan hias. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR V. Tidak kurang dari 30 spesies ikan hias baik lokal maupun yang berasal negara lain. hampir semua spesies ikan budidaya air tawar yang dipelihara dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. pakan buatan dan obat-obatan. dan sebagainyan) telah menunjukkan kesesuaian yang cukup tinggi untuk digunakan sebagai lahan usaha budidaya berbagai spesies ikan.8 . kegiatan budidaya gurame baik pembenihan maupun pembesaraanya akhirnya tersisihkan oleh daerah lain seperti Purwokerto. Misalnya. bawal. mengingat historis yang cukup panjang dan akses terhadap inovasi maupun teknologi baru yang lebih mudah. Beberapa kondisi yang menunjang dan diduga telah mendorong berkembangnya kegiatan perikanan budidaya di Kabupaten Bogor adalah bahwa: (1) Kabupaten Bogor dengan iklim yang dimilikinya (kelayakan lahan dan air. kisaran suhu. kegiatan perikanan budidaya yang secara lokal maupun nasional masih dianggap memegang peran penting adalah bahwa Bogor sebagai produsen benih ikan patin. banyak dihasilkan oleh pembudidaya ikan di daerah Cibuntu dan sekitarnya. baik ditinjau dari potensi kuota permintaan. (4) Di tahun 90-an hingga sekarang. curah hujan. dan gurame serta produsen ikan lele ukuran konsumsi dengan produksi sekitar 40 ton per hari.

Secara administratif wilayah ini terdiri dari enam kecamatan.98 ton yang tersebar merata di 40 kecataman yang terdapat Kabupaten Bogor. Zona 4 dalam revitalisasi pertanian dan pembangunan perdesaan terletak di bagian tengah utara kawasan Kabupaten Bogor. meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha dan meningkatkan kegiatan perekonomian. yaitu: Kecamatan Tajurhalang. Gambar 5. zona 4 juga memiliki potensi pariwisata. Masyarakat yang berkunjung di area wisata ini cukup beragam dan tidak hanya dari daerah Bogor namun ada yang dari Jakarta.9 . Salah satu kawasan yang cocok untuk dikembangkan menjadi kawasan pengembangan budidaya ikan air tawar di Kabupaten Bogor adalah Zona 4. Ciseeng dan Gunung Sindur. pengembangan kegiatan perikanan budidaya di masa-masa mendatang dapat memberi kontribusi nyata dalam hal penyediaan lapangan pekerjaan. Produksi Perikanan terbesar terdapat di Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR V. Kemang.2. Jumlah produksi perikanan kolam air tenang di Kabupaten Bogor pada tahun 2009 adalah 24. Depok dan beberapa kota lain Jabodetabek. Kegiatan produksi perikanan menunjukkan skecenderungan semakin meningkatl. Tangerang.072.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Pendukung pengembangan perikanan yang lain adalah ketersediaan sarana prasarana transportasi yang cukup baik yang memperlancar distribusi hasil budidaya dan pengolahan meskipun masih diperlukan peningkatan kualitas. Memperhatikan perjalanan perikanan budidaya di Bogor selama ini. Peta Wilayah Zona 4 Selain memiliki potensi perikanan. Rancabungur. terutama di Kecamatan Ciseeng yang memiliki kawasan wisata pemandian air panas. Wilayah ini berbatasan dengan Kota Bogor dan Kota Depok. Parung.

80 ton dan 6. jumlah RTP yang kedua adalah Kecamatan Ciseeng dengan jumlah 463 orang RTP dan Kecamatan Parung dengan jumlah RTP 449 orang. Jumlah RTP terbanyak terdapat di Gunung Sindur yaitu sebanyak orang 493.605 orang yang tersebar ke 40 kecamatan.075. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR V .Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Kecamatan Parung dan Gunung Sindur dengan produksi sebesar 7.94. Kecamatan paling luas adalah Kecamatan kemaang dengan luas areal budidaya seluas 145 ha sedangkan luas paling kecil adalah Kecamatan Tenjo dengan luas areal kolam seluas 0.071. Luas areal total Kolam air tenang yang terdapat di di Kabupaten Bogor seluas 1.650. Sementara itu jumlah Rumah Tangga Perikanan (RTP) di Kabupaten Bogor berjumlah 6.10 . Sedangkan kecamatan dengan jumlah produksi paling kecil adalah kecataman Tenjo dengan produksi mencapau 15.64 ton.71 ha.43 ton.

Jumlah RTP Pembudidaya.7 278.).00 RTP (rumahtangga perikanan) (Tabel 6.6 19179. tawes.ANALISIS POTENSI DAN PERMASALAHAN 6 6.6 1566.075.605. Luas Areal dan Total Produksi Ikan Air Tawar di Kabupaten Bogor Zona KOLAM AIR TENANG Pengembangan Jumlah RTP Luas Areal Produksi (orang) Zona I 699.0 503. Tabel 6.072. Nanggung. Dari kelapan zona tersebut Zona 4 memiliki produktivitas perikanan tertinggi dikuti dengan Zona 2 dan 3.0 1. Kecamatan yang termasuk ke dalam Zona 2.5 124. untuk seluruh jenis ikan yang dibudiyakan mencapai 24.1 422.0 358.9 1577. Kedua jenis ikan yang terakhir tersebut tidak diikutkan dalam pembahasan karena dalam pengembangan produk tersebut tetap harus mendapat perhatian khusus karena memiliki prospek yang baik.0 460.6 24.8 44.94 (Ton)/hari 309.1. Sedangkan ditinjau dari penyerapan tenaga kerja. nila.0 203. patin dan bawal (Lampiran 1). Potensi Perikanan Budidaya Air Tawar Potensi produksi ikan air tawar di Kabupaten Bogor cukup tinggi.00 (Ha) 167.072. tambakan.98 ton per tahun pada tahun 2009 (Tabel 6.3 15.0 6. Cibungbulang.6 58.) atau sekitar 66.85 ton per hari. produk perikanan menyerap tenaga kerja cukup besar mencapai sekitar 6.9 40.8 121.605.0 582.1. 3 dan 4 adalah : Zona 2 : Sukajaya.1. wilayah di Kabupaten Bogor telah diklasifikasikan menjadi 8 zona pembangunan.0 2203.1. Jenis lain yang jumlahnya cukup banyak adalah ikan hias dan lobster air tawar. mujair.0 947. Leuwisadeng.0 680.5 278.98 Zona II Zona III Zona IV Zona V Zona VI Zona VII Zona VII TOTAL Sumber : Diolah dari data Disnakan (2009) Dalam program Revitalisasi Pembangunan Pertanian dan Perdesaan (RP3). nilem. Jumlah jenis ikan air tawar yang dibudidayakan ada 10 jenis ikan antara lain mas. gurame.0 933. lele. Leuwiliang. Pamijahan .

0 0.2 38.20 5.87 0. ikan Nila (1946.2 16. Rancabungur. dan Gunung Sindur dapat dilihat di Lampiran 2).0 4.2 10.9 585.7 80.5 1092.87 ton/hari pada tahun 2009.22 2.41 71.8 5.1 57.19 0.1 0.9 47.00 10.1 18312.4 0.7 36.3 207. Ciseeng.0 1. Gunung Sindur (Peta RTP Kemang.59 ton/tahun) (lihat Tabel 6.7 73.00 zona II zona III zona IV zona V zona VI zona VII zona VII TOTAL Prod/bln Prod/Hari Skor 3 2 3 5 1 1 1 1 1 1 Sumber : Diolah dari data Disnakan (2009) Keterangan : Untuk Tahun 2010 produksi lele mencapai 70 ton/hari Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa di antara komoditas perikanan yang ada di Kabupaten Bogor.7 764.03 27. Ciseeng. Ciomason Zona 4 : Tajurhalang.0 0.).0 70.86 1.17 163.8 248.7 0.2 0. Tabel 6.46 = 78.3 286.5 64.0 0.9 101.43 ton/tahun) dan Gurame (1092.44 5.80 0. Parung.2. dan pada akhir tahun 2010 produksi ini mencapai 70 ton/hari (Lihat Tabel 6.7 1086.) Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI .0 19.6 214.9 81.9 167. Ikan lele merupakan jenis yang produksinya paling tinggi (18312.3.0 273.85 5. Kemang.6 0.36 29.58 22.7 38. satu dari sepuluh jenis komoditi perikanan yang dibudidayakan produksi terbanyak adalah ikan lele.2 0.2.1 71. Tenjolaya.0 1946.7 0.31 1.0 88. Sedangkan jenis yang lain produkdsinya masih jauh lebih rendah.8 15.0 26.6 7.2 0.2 .7 479. Produksi Perikanan Per-kecamatan menurut Jenis Ikan Komoditas Zona Mas Nila Gurame Lele Tawes Tambakan Mujair Nilem Patin Bawal zona I 112.07 50.9 166.4 6. Produksi ini semakin hari semakin meningkat.2 122.4 133.61 0.05 4.8 328.0 0. diikuti dengan ikan Mas (1966.0 10.6 24.20 1.4 9.17 ton/tahon).Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Zona 3 : Ciampea.0 2.7 31.4 11.6 0.86/tahun atau sekitar 50. Sedangkan untuk jenis komoditi. Rancabungur.15 0.87 3. lele merupakan komoditas dengan produksi tertinggi yakni sekitar 18312.3 133.3 0.8 0.86 ton/tahun).0 1966.4 31.0 43.0 358.4 50.0 4.07 0.1 17383.2 12. Dramaga.0 0.80 0.3 0.0 86.4 21.2 0.59 91.76 0.0 3.86 1 526. Parung .0 0.43 162.4 219.05 3.0 1.3 39.

Kapasitas Produksi Lele Menurut Petani/Penampung di Kawasan Minapolitan Tahun 2010 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Nama Siu eng Bun yan Yana Em bin Ahan Ong tan Asnawi Bun yok M. 2.nooh Khoerudin Rudy Abdul ghani Neran Peng un Ogh wan Sugeng Samsudin Nacu Kode Gedeon Akent Sutaji Kapasitas (ton/bulan ) Daging 90 90 90 70 90 40 100 100 100 100 90 70 40 70 70 30 30 30 70 70 180 50 Bs (besar) 10 10 10 10 10 5 20 10 10 10 10 5 5 5 5 5 5 5 5 5 60 10 Total 100 100 100 80 100 45 120 110 110 110 100 75 45 75 75 35 35 35 75 75 240 60 Keterangan Petani/penampung Petani/penampung Petani/penampung Petani Petani/penampung Petani Penampung/bandar Petani/penampung Petani Petani Petani/penampung Petani/penampung Petani Petani Petani Petani Petani Petani Petani/penampung Petani/penampung Petani/penampung Petani/penampung TOTAL Tergabung UPP 1. Kel. ASTENA Balai Makmur 1670 230 1900 Pada keadaan tertentu jumlah ikan BS bisa mencapai 30% dari jumlah ikan Daging 180 30 210 3 Anggota : 60 orang Anggota : 10 orang TOTAL(Ton/Bulan)/ TOTAL(Ton/Hari) Sumber: Data Survai Lapang (2010) 1850 62 260 8 2113 70 Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI .3 .Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 6.3.

Dari potensi pasar tersebut Kabupaten Bogor memasok sekitar 40-50 ton per hari. program minapolitan diharapkan dapat memberikan solusi dengan adanya pengolahan produk ikan Lele.2.3.4 .Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 6.3. Pakan alami antara lain yang berupa cacing sutera dan insekta air tidak mencukupi. 6. sisanya dipasok utama dari Indramayu. masih banyak petani yang menggunakan indukan lele “asal” yang diperoleh dari lele konsumsi yang telah matang gonad. sedangkan budidaya cacing sendiri sebenarnya sudah dapat dilakukan tetapi masih sangat terbatas karena teknologinya belum dapat dikuasai. Dengan demikian diharapkan keuntungan pembudidaya dapat lebih ditingkatkan. pemberian pakan induk sering tidak mencukupi sehingga kualitas telur dan anakan menjadi rendah. dan belum Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI . Mas dan Nila umumnya dipasarkan ke restoran. Permasalahan Perikanan Budidaya   6. bukan dari lele unggul yang dikususkan menjadi parent stock. di samping dipasarkan di Bogor. Pemasaran  Potensi pasar ikan air tawar cukup besar. sebagian besar masih tergantung produksi alami yang berasal dari sungai-sungai besar di Jakarta dan Tangerang yang kaya akan bahan organik. paling tidak dapat menyerap produk ikan Lele BS (ukuran besar > 6 ekor/kg) dengan harga yang memadai. Potensi pasar Lele di Jakarta dan Tangerang mencapai sekitar 80-100 ton per hari (diprediksi dai jumlah pakan yang terjual). Untuk mengantisipasi kejenuhan pasar.Penyebab utama permasalahan tersebut dididuga disebabkan rendahnya kualitas induk. Pasar ikan Lele tersebut adalah warung tenda (pecel lele). Kualitas induk yang tidak stabil (akibat faktor genetik induk dan teknik pemeliharaan induk). pemasaran terbesar adalah di Jakarta dan Tangerang. secara teknis pemeliharaan induk. Permasalahan Perbenihan a) Permasalahan utama dalam perbenihan adalah rendahnya produktivitas yang dicerminkan dengan rendahnya tingkat kelangsungan hidup (SR= Survival Rate) atau tingginya tinggkat kematian benih . Dengan berkembangnya produksi ikan lele dari tahun ke tahun maka perlu diantisipasi akan terjadinya kejenuhan pasar. sedangkan Gurame. Secara genetik. Dengan adanya program pengolahan yang dikembangkan di Minapolitan. b) Ketersediaan pakan alami sangat terbatas baik dari segi kuantitas dan kualitas. Khususnya untuk komoditas ikan lele.1.

jika lele ditahan dijual. terutama jika masuk lele dari jawa. Disamping itu pencemaran lingkungan sungai oleh logam berat menimbulkan resiko. hal ini cukup efektif dalam mengatasi kekurangan cacing.5 . Permasalahan di Tingkat Pembesaran Permasalahan dalam budidaya ikan lele tidak hanya terjadi di pembenihan tetapi juga terjadi pada tingkat pembesaran.3. sedangkan sumber cacing lain dari sawah dan selokan tidak mencukupi kebutuhan cacing untuk budidaya lele. 6. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI . namun hal ini berpengaruh terhadap kelangsungan hidup (SR) benih lele yang ditebar. b) Kurangnya pengetahuan sumberdaya manusia khususnya terkait penanganan terhadap penyakit dan manajemen keuangan usaha. tetapi hanya membeli larva atau benih ukuran kecil dari pembenih.3. Perbedaan dengan pembenih adalah tidak dilakukannya pemijahan sendiri. 6. Permasalahan yang dihadapi pendeder antara lain: a) Kualitas dan kuantitas benih yang tidak stabil akibat tidak stabilnya kualitas benih dari segmen pembenihan. Penyakit yang paling umum menyerang pembenih lele ialah “lele gantung” dan “ moncong putih” d) Permasalahan yang lain yang dihadapi pembenih adalah lemahnya pengetahuan tentang pengelolaan keuangan sehingga masih terjadi pemborosan atau kurang efisien dalam mengelolaan usahanya.3. c) Kurangnya pengetahuan khususnya terkait penanganan terhadap penyakit juga merupakan permasalahan bagi pembenih ikan. kemudian dipindahkan ke kolam yang telah dipupuk. Jumlah cacing sutera dari sungai-sungai ini dipengaruhi oleh curah hujan dan banjir. Strategi yang digunakan petani pembenih saat ini ialah mempersingkat hanya pemeliharaan benih di bak yang menggunakan pakan cacing menjadi selama 3-10 hari yang sebelumnya 15 hari.2. karena akibat benih ikan dapat terserang penyakit sehigga penggunaan sumber pakan alami terkontaminasi logam berat cacing sungai menjadi ancaman serius bagi petani lele. Permasalahan di Tingkat Pendeder Pendeder adalah adalah orang yang melakukan pemeliharaan dari ukuran larva atau ukuran 3-4 cm menjadi ukuran yang siap ditebar untuk pembesaran (7-12 cm). Permasalahan tersebut diantaranya adalah: a) Harga jual dan pasar yang fluktuatif.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor mencapai skala ekonomis. akan mengakibatkan persentase BS meningkat yang berujung pada kerugian usaha.

Lele dapat diolah menjadi berbagai produk antara yaitu filet. Pada tahun 2008 total produksi lele per tahun 41.93 ton atau sekitar 11 ton/hari. Selama ini benih lele pada stadia awal diberikan cacing suter atau dahnia yang diperoleh secara alami. kaki naga. sering terjadi kekurangan pakan alami. h) Permodalan usaha dan kesulitan memperoleh input produksi. surimi dan produk siap saji yaitu bakso. badan kuning. Kandungan gizi lele yang bagus dapat meningkatkan konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia. daerah produksi lele meliputi empat kecamatan yaitu Kecamatan Ciseeng. Dengan meningkatnya produksi benih. Sehinga sebagian masyarakat masih memandang bahwa ikan lele merupakan produk yang kurang bersih. f) Kurangnya pengetahuan sumberdaya manusia khususnya terkait penanganan terhadap penyakit dan manajemen keuangan usaha. budidaya dilakukan oleh kelompok UMKM.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor b) Harga lele BS (over & undersize) yang rendah (Rp 2000. 6. e) Kualitas dan kuantitas benih yang tidak stabil yang disebabkan oleh teknologi pembenihan yang kurang tepat atau disebabkan karena tidak tersedianya induk yang berkualitas. c) Persaingan pasar dengan lele dari daerah lain (Indramayu) bahkan dari Boyolali. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI . penangan penyakit bahkan harga ikan. d) Tingginya harga pakan. harga lele sebagai bahan baku produk olahan terjangkau sehingga meningkatkan daya saing olahan. Potensi Pengolahan Produk Perikanan Lele merupakan komoditas unggulan Kabupaten Bogor karena beberapa alasan yaitu memiliki potensi terbesar dibanding jenis ikan lainnya. j) Terbatasnya ketersediaan pakan alami dari benih pada stadia.dibawah harga normal). perut kembung. g) Kualitas produk hasil budidaya kualitasnya masih beragam belum dapat mencapai kualitas yang memenuhi standar higienis karena masih digunakannya pakan tambahan seperti limbah pabrik maupun budidaya ayam. i) Kurangnya informasi khususnya mengenai teknologi budidaya. sosis. crakers dan lainnya. dan lain-lain. Gunung Sindur dan Kemang. nugget. serta produk kering seperti krupuk. Berdasarkan data yang disediakan oleh PEMDA BOGOR. Parung.6 . Lele sebagai bahan baku lebih mudah dijaga kesegarannya sehingga dapat menghasilkan produk olahan berkualitas.4. Penyakit yang sering menyerang antara lain aeromonas..

Kaki naga (VegiFish) (kiri) dan Nuget (kanan) 6. Kapasitas bahan baku ditentukan dari kapasitas produk lele segar BS yaitu 6 ton lele segar/hari. Contoh produk olahan lele yang diformulasikan bersama rumput laut.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Untuk pengembangan sentra produksi olahan dan pemasaran perlu dicari lokasi yang tepat dengan sarana dan prasarana yang memadai. makanan ringan chiki/crackers. jenis produk olahan yang digemari masyarakat. sosis. produk olahan bakso. Untuk produk siap saji seperti bakso. serta penerapan teknologi pengolahan yang ramah lingkungan. dijual dalam bentuk makanan kesehatan. nugget. filet segar. Selain itu kegiatan pengolahan dan pemasaran harus layak secara ekonomi supaya hasilnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.1.) Gambar 6.4. Produk yang mungkin dikembangkan adalah perluasan lele asap dengan mencari pasar baru.1. kaki naga (VegiFish) dibuat surimi terlebih dahulu. Dibandingkan dengan produk sejenis yang ada di pasaran saat ini (CV. burger. nugget. Hasil survey lanjutan pada tanggal 9 Nopember 2010. kapasitas produksi sesuai dengan ketersediaan bahan baku dan daya serap pasar. Produk lele asap yang Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI . Bening dan CV. diperoleh informasi industri rumahtangga produk olahan ada 4. Produk olahan bakso. filet lele asap. nugget. Jenis Pengolahan Berdasarkan survey pendahuluan yang dilakukan oeh team budidaya diperoleh data produksi lele mencapai 40 ton per hari untuk empat kecamatan dengan jumlah lele BS sekitar 15 % atau 6 ton /hari. kaki naga diyakini tidak dapat berkompetisi bila memasuki pasar yang sama. Bintang Anugerah). kaki naga masih bisa diproduksi dengan menciptakan segmen pasar yang berbeda. chitosan dan lainnya (Gambar 6.1. sosis.7 . Dari jumlah tersebut sekitar 15 % ( 1 ton) diolah menjadi lele asap. Bahan baku yang digunakan untuk produk olahan adalah filet dari lele segar. 15% (1 ton/hari) diolah menjadi berbagai produk turunan.

antara lain : 1.000/kg. kaki naga. kecuali lele asap. tuna. Konsumen yang memiliki daya beli yang lebih tinggi biasanya menuntut kualitas produk yang lenih tinggi. Oleh karena itu untuk meningkatkan daya saing produk Lele . Industri Rumah Tangga Lele Asap dan Pengasapan Lele 6. Kelompok Usaha Lele Asap “Citra Dumbo” yang di miliki oleh Bapak Suaep dengan kapasitas produksi per hari antara 150-200 kg lele segar ukuran 10-12 ekor/kg. Dengan pengasapan menggunakan kayu bakar selama 2 hari dihasilkan produk lele asap 37. Bening dan CV. Bening menggunakan bahan baku tetelan kakap. Persepsi sebagian masyarakat yang negatif tentang lele.4. tuna marlin dengan kapasitas produksi 150-200 kg/hari bahan baku. nuget. Lele masih dianggap sebagai ikan yang kurang bersih cara hidupnya. 65. CV. 2. lumpia. Harga bahan baku berkisar antara Rp. Bintang Anugerah menggunakan bahan baku tetelan tuna dengan kapasitas produksi 700 kg bahan baku/hari. Permasalahan Pengolahan Hasil observasi menunjukkan masih ditemukan isu dan permasalahan terkait dengan pengembangan olahan lele. kakinaga. CV.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor terletak di Gunung Sindur. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI . Selanjutnya produk dipasarkan di Pasar Senen Jakarta dengan harga Rp.00015.000/kg. marlin.2. Terdapat 2 industri rumah tangga di kecamatan Parung CV. Keduanya memproduksi olahan ikan seperti bakso. ekado.5-50 kg. Bintang Anugerah.2. Lele belum menjadi bahan baku olahan produk bakso. Hal ini disebabkan karana harga lele (filet) jauh lebih mahal dibandingkan dengan bahan baku ikan yang selama ini digunakan yaitu tetelan kakap. Gambar 6. Selain itu terdapat industri olahan lele asap di Citayam. 12.8 . maka diperlukan inovasi dalam pengolahan produk agar dapat menjangkau konsumen yang memiliki daya beli lebih tinggi. nugget.

kehalalan MUI sehingga membatasi penetrasi pasar khususnya ke supermarket. pedang pengumpul an kemudian konsumen. Pemasaran Ikan Segar Pemasanan ikan segar khusunya Lele di Kabupaten Bogor sudah berjalan rutin dan hampir tidak ada permasalahan dalam proses penjualannya. café & resto. Pembudidaya yang dapat memenuhi konsumen dalam hal kontinuitas produk hanya pembudidaya skala besar.tergantung banyak atau sedikitnya jumlah lele di pasaran. 10. Hal ini disebabkan karena konsumen menginginkan kontinuitas produk baik dalam periode harian. Namun rata-rata harga lele saat ini adalah Rp. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR Dengan harga VI . jadi hampir tidak mungkin pembudidaya skala kecil dapat memenuhi pemintaan konsumen. dengan target pasar golongan menegah keatas. Konsumen utama produk ikan segar khususnya ikan Lele ke restoran dan adalah warung tenda yang menjual pecel lele dan sebagian lain cetering. 6. Penjualan ke konsumen hampir seluruhnya dilakukan oleh pedagang pengumpul. d) Sosialisasi dan kampanye intensif tentang manfaat dan keunggulan lele sebagai sumber protein dan nutrisi lainnya. b) Inovasi produk yang sudah ada dengan penambahan bahan yang meningkatkan nilai kesehatan seperti rumput laut. Untuk mengolah lele perlu dilakukan beberapa hal sebagai berikut : a) Inovasi produk olahan yang belum ada di pasaran antara lain steak.5. mingguan maupun bulanan.500. Belum diterapkannya Good Manufacturing Practices di industri pengolah. MUI f) Penciptaan pasar baru seperti sekolah. filet asap dan produk kering seperti crackers. abon stick.. c) Penerapan teknologi zero waste dengan memanfaatkan limbah (produk samping) untuk meningkatkan margin.9 . Hampir tidak ada penjualan dari pembudidaya langsung ke konsumen. chitosan. protein ikan hidrolisat. filet segar.sampai dengan Rp11. Sedangkan pembudidayaan lele memerlukan waktu sekitar 2 bulan. 4.000.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 3. pesantren. Harga lele di tingkat produsen atau pembudidaya untuk ukuran sedang berkisar antara Rp 10. dan chiki.1. Belum dimilikinya ijin BPOM. e) Sertifikasi industri olahan dari BPOM.. burger. dan supermarket. Pemasaran 6. Sistem pembesaran ikan segar dilakukan melalui rantai pemasaran mulai dari pembudidaya. sosis.000.5.-. Pembudidaya skala besar dengan jumlah anggota banyak dapat mengatur pola tanam sesuai dengan kebutuhan pasar.

Bintang Anugerah menggunakan bahan baku tetelan tuna denga kapasitas produksi 700 kg bahan baku/hari. Selain itu terdapat industri olahan lele asap di Citayam (akan di survey lanjut). Harga bahan baku berkisar antara Rp.2. Pemasaran Ikan Olahan Hasil survey.7). diperoleh informasi industri rumahtangga produk olahan ada empat.dari ikan ukuran konsumsi. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI . Bening menggunakan bahan baku tetelan kakap. Keduanya memproduksi olahan ikan seperti bakso. Oleh karena itu keuntungan yang diperoleh pembudidaya akan ditentukan berapa besar proporsi ukuran konsumsi yang dipanen pertama kali dan berapa lama total pemeliharaan sisanya sapai mencapai ukuran konsumsi. CV.000-15.10 . nugget. pembudidaya dapat memperoleh keuntungan sekitar Rp 1.2. Bintang Anugerah dengan pemasaran di kawasan Jabotabek. CV. 65. Jika proporsi ukuran konsumsinya lebih banyak kentungan bisa lebih besar. Selanjutnya produk dipasarkan di Pasar Senen Jakarta dengan harga Rp. 6. Dengan pengasapan menggunakan kayu bakar selama 2 hari dihasilkan produk lele asap 37.5. Kelompok Usaha Lele Asap “Citra Dumbo” (Gambar 6. tuna marlin dengan kapasitas produksi 150-200 kg/hari bahan baku. lumpia. Sedangkan yang ukurannya lebih kecil dari 12 ekor per kg biasanya tidak dibeli dan harus dipelihara lagi sampai mencapai ukuran konsumsi sehingga memerlukan waktu pemeliharaan lebih lama dan tentunya akan menambah biaya produksi. Ukuran konsumsi berkisar dari ukuran 12 ekor per kg sampai dengan 6 ekor per kg. Terdapat 2 industri rumah tangga di kecamatan Parung CV. Produk lele asap yang terletak di Gunung Sindur. ekado. kaki naga. Sistem pemasaran yang diterapkan kedua perusahaan tersebut adalah gerobak dorong dengan jumlah gerobak 30 untuk CV. 12.990. Hal tersebut sangat ditentukan oleh pemehaman pembudidaya dalam hal teknolgi. sumber induk atau benih dan strategi pemberian pakan.3.000/kg. Bintang Anugerah (Gambar 6.) yang dimiliki oleh Bapak Suaep dengan kapasitas produksi per hari antara 150-200 kg lele segar ukuran 10-12 ekor/kg. Bening dan 60 untuk CV. strategi pemeliharaan.000 . Bening dan CV.2 000 per kilogramnya tergantung tingkat efisiensi teknologi yang diterapkan dan proporsi ukuran lele lele yang dipanen.000/kg. Bening selain melaui gerobak jalan juga memasarkan produknya di Pasar Ikan Higienis Cibinong Daftar harga produk disajikan pada Tabel 6..Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor tersebut. Jika ukurannya lebih besar dari 6 ekorper kg yakni mulai 5 ekor per kg sampai dengan 2 ekor atau 1 ekor per kg harganya lebih rendah Rp 2.5-50 kg. CV.

Dari tabel dan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI . Bening : Bakso Ikan (kiri)dan Lumananpia Ikan (kanan) 6. 3. sedangkan kebutuhan air merupakan kehilangan air berupa evaporasi dan kebutuhan untuk penggantian air kolam. Neraca Air Analisis neraca air dilakukan untuk mengetahui kondisi surplus/deficit neraca air secara alamiah.5. Jenis produk Filet kakap Filet tuna Filet dori Filet tenggiri Cucut Harga 35.6.1. Ketersediaan air hujan diperhitungkan sebagai curah hujan andalan dengan peluang kejadian 80%.4. Hasil analisis neraca air disajikan pada Tabel 6. Bintang Anugerah Tabel 6. Produk ikan CV. yaitu dengan cara membandingkan antara ketersediaan air hujan dengan kebutuhan air untuk budidaya perikanan.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Gambar 6. 2.000/kg 45.000/kg 38. CV.7. 5.000/kg 18. Jenis dan harga produk olahan ikan di CV Bening dan CV Bintang Anugerah di PIH Cibinong No.3. 1. Bening dan CV.000/kg Lokasi PIH Cibinong PIH Cibinong PIH Cibinong PIH Cibinong PIH Cibinong                   Gambar 6.000/kg 35.8. 4. dan Gambar 6.11 . Sistem Tata Air 6.6.

8 98.0 Kebutuhan air2) 80.4.5 Surplus/defisit neraca air 102. Debit air keluar dialirkan kembali ke jaringan irigasi.0 214. DI Cibeuteung untuk wilayah Kemang.0 56.8 104.0 89. yaitu Daerah Irigasi (DI) Sasak untuk wilayah Parung dan Ciseeng.9 27.0 192.5 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember CH rata-rata 334. untuk menghindari terjadinya kekeringan pada lahan sawah dengan sistem budidaya pertanian tanaman pangan maupun perikanan. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI . dan DI Curug Serpong untuk wilayah Gunung Sindur.8 569.0 305.1 193. Hasil Analisis Neraca Air untuk Budidaya Perikanan CH andalan1) 183.7 108. Defisit neraca air berkisar antara 15-67 mm/bulan atau 0. Meskipun pada awalnya jaringan irigasi tersebut tidak dirancang secara khusus untuk budidaya perikanan.8 161.7 270.3 -56. namun secara umum dapat dimanfaatkan untuk suplai air irigasi perikanan dengan sistem budidaya ikan tawar kolam biasa.0 -66.3 112. Dalam kondisi defisit neraca air.0 41.3 mm/hari atau setara dengan 5-33 m3/hari/hektar. Sistem ini dilengkapi dengan tanggul tanah dan pintu air.4 233. sedangkan kondisi defisit terjadi pada Bulan Juni hingga Bulan Oktober.9 130.4 356. Cimulang dan Curug Serpong 2) Kebutuhan air dihitung dari hasil analisis evaporasi ditambah kebutuhan air untuk penggantian air Pada kondisi defisit neraca air. Table 6. nilai ini setara dengan 0.1 53. kebutuhan air untuk budidaya perikanan dipenuhi dari sistem irigasi yang telah ada.06-0.8 -15.2 86.5 102.0 108.5 154.1 329.0 Catatan : 1) CH andalan dihitung dengan peluang 80% dari data curah hujan harian di daerah Kahuripan.6 132.7 80.0 58.5 240.7 125.12 .1 428.2 115.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor gambar tersebut dapat dilihat bahwa kondisi surplus neraca air terjadi pada periode Bulan November hingga Mei.2 105. dengan aliran air berkecepatan rendah. diperlukan suplai air irigasi dan atau pengaturan pola tanam.38 lt/det/ha.8 59.2 -22.4 81.6 72.7 293.4 -56.3 203.5-3.5 95. untuk mengatur masuk dan keluarnya air segar sekitar 5 – 10 % dari volume kolam per hari.5 228. Dalam kondisi pengaliran air secara kontinyu.

6. dan DI Curug Serpong untuk wilayah Gunung Sindur.13 . Debit air keluar dialirkan kembali ke jaringan irigasi Hasil analisis debit intake irigasi disajikan pada Tabel 6.5. Meskipun pada awalnya jaringan irigasi tersebut tidak dirancang secara khusus untuk budidaya perikanan. Kondisi debit di daerah irigasi tersebut berfluktuasi sepanjang tahun. diperlukan pengaturan yang lebih baik karena debit intake pada musim kemarau cenderung berkurang. untuk mengatur masuk dan keluarnya air segar sekitar 5 – 10 % dari volume kolam per hari. 3-10 lt/det/ha di DI Curug Serpong. Namun demikian pada bagian hilir daerah irigasi. DI Cibeuteung-1 untuk wilayah Kemang. namun secara umum dapat dimanfaatkan untuk suplai air irigasi perikanan dengan sistem budidaya ikan tawar kolam biasa. Dari skema jaringan irigasi yang disajikan pada Lampiran 1. dengan aliran air berkecepatan rendah.2. yaitu Daerah Irigasi (DI) Sasak untuk wilayah Parung dan Ciseeng. Sistem ini dilengkapi dengan tanggul tanah dan pintu air. yaitu sekitar 1 lt/det/ha. serta relatif mencukupi untuk mengairi kolam-kolam yang ada. dan Lampiran 3. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI . Nilai ini relatif lebih besar dari nilai rata-rata satuan kebutuhan air untuk perikanan darat. kebutuhan air untuk budidaya perikanan dipenuhi dari sistem irigasi yang telah ada. Layanan Daerah Irigasi Pada kondisi defisit neraca air di wilayah studi.5. yaitu masing-masing sebesar 1-5 lt/det/ha di DI Sasak. Grafik Curah Hujan Andalan dan Kebutuhan Air untuk Budidaya Perikanan 6.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Gambar 6. baik di tingkat sekunder maupun tersier. dan > 10 lt/det/ha di DI Cibeuteung-1. dapat diprakirakan nilai satuan ketersediaan air irigasi.

DI Sasak.4 3136.7 2849. dengan pemberian air secara terus-menerus. Desa Cihowe. Pola aliran air dari pintu sadap menuju petakan kolam dan sawah seperti pada Lampiran 4 menunjukkan bahwa lokasi kolam menyebar di sebelah hulu hamparan sawah.14 .7 13425. Kecamatan Ciseeng 3) Petak Tersier SK 8 ki .3 1641.5 1755.0 1123.5 5579. DI Cibeuteung-I.3.9 3785. DI Sasak.2 5512. karena dapat mengganggu aliran dan merusak tanggul saluran.9 4915.0 DI Sasak (BSK3) 3923.4 4260.1 3213. Kinerja Jaringan Irigasi Untuk memperoleh data dan informasi lapangan mengenai kondisi fisik jaringan. Kecamatan Ciseeng Rangkuman hasil observasi lapang secara rinci disajikan pada Lampiran 4.1 3086. Hasil Analisis Debit Saluran Bulanan (Lt/Det) Bulan Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember DI Cibeuteung-1 4447.1 4226. Kolam dengan air tenang dapat diberi air dari saluran tersier.6 13405.7 2922. DI Sasak.4 3267.0 11550.8 1680.5.9 6970.8 14616.2 1611.1 Catatan : Dihitung dari data debit harian Kolam ikan dengan aliran air kecepatan rendah dan pengembangbiakan di sawah tidak membutuhkan prasarana bangunan air secara khusus. telah dilakukan observasi lapang di 4 (empat) lokasi berikut: 1) Petak Tersier CBTS 7 ki.6 2925.7 6078. Kecamatan Ciseeng 4) Petak Tersier TP1 ka.3 2287.2 4292. Aliran air pada kolam pembibitan umumnya dari kolam ke Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI .2 4973.6 3971.4 2794.2 DI Curug Serpong 13069.6 3836. Pembiakan ikan dalam keramba di saluran tidak dianjurkan.1 4675.9 3101.1 3154.6 3325.4 2956.0 3061. pengaturan air irigasi. Desa Nutug.2 9988. Desa Pabuaran.2 3018.0 1699. 6.2 5666.6. Air drainase dari kolam bagian hulu pada umumnya digunakan kembali sebagai air irigasi untuk areal di bagian hilir.3 3142.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 6.6 2917. Kecamatan Kemang 2) Petak Tersier TP5 ki .6 DI Cogrek 3144. Desa Babakan.3 3047.2 3148. dan kecukupan air di tingkat usahatani.

Sistem perkolaman terdiri dari kolam penyuntikan. tanggul kurang tinggi. bangunan pengambilan kurang berfungsi terutama pada musim kemarau. umumnya berupa kolam pembibitan. Di areal Petak Tersier TP1 ka. sedangkan pada kolam pembesaran aliran air kolam ke kolam (4 – 5 kolam). Perbandingan antara luas kolam ikan dan sawah di petak tersier sekitar 30-50% (kolam) dan 50-70% (lahan sawah). Selain itu juga terjadi pengendapan lumpur di saluran tersier. Pada beberapa lokasi. kolam penyuntikan terdapat di halaman rumah. Desa Babakan. Petani yang memiliki kolam dengan garapan luas umumnya petani yang memiliki lapak di pasar. pola tanam yang banyak diterapkan oleh petani adalah kolam ikan sepanjang tahun. namun apabila air irigasi terbatas/kurang. terutama pada musim kemarau. Kerusakan infrastruktur irigasi telah terjadi pada beberapa bangunan air seperti kerusakan tanggul yang mengakibatkan terjadi rembesan dan kebocoran. petani cenderung mengurangi luas kolam yang diusahakan (kolam dikosongkan). Sebagian bangunan sadap atau pengambilan umumnya masih berfungsi untuk pengaturan air. Pada areal tertentu seperti di areal petak tersier TB 5 ki. kolam pembibitan dan kolam pembesaran. kerusakan bangunan talang. Pada lokasi tertentu. pintu bangunan pengambilan rusak/hilang. atau memiliki sumur bor.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor kolam (2 – 3 kolam). namun saluran di bagian hilir tidak berfungsi dengan baik karena tertutup oleh rumput dan terjadi pendangkalan. serta tertutupnya saluran di bagian hilir oleh sampah dan rumput. pada lahan dekat sumber air (saluran atau bangunan sadap). Luas garapan kolam rata-rata berkisar antara 200 m2 hingga 1 ha per petani. petani pada umumnya beralih dari budidaya padi ke budidaya ikan. namun demikian pada lokasi tertentu terdapat juga kompleks perkolaman seluas sekitar 12 ha yang dimiliki oleh seorang petani. Pola tanam yang lain adalah kolam-kolam-padi diterapkan pada lahan yang relatif agak jauh dari sumber air.15 . sedangkan pada musim hujan saluran tersier masih befungsi untuk penyaluran air namun pada musim kemarau terdapat hambatan dalam pengaturan air. perbandingan antara luas kolam ikan dan sawah sekitar 95% : 5% atau sebagian besar adalah petani ikan. pendangkalan saluran. Kelembagaan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI . air irigasi selalu cukup meskipun di musim kemarau karena muka airtanah yang tinggi (istilah setempat: lahan balong). pada lahan yang relatif jauh dari sumber air. serta padi-padi-palawija. atau yang mendapat suplesi dari areal di bagian atas seperti dari perbukitan/kebun sawit. Ditinjau dari kecukupan airnya. Kecamatan Ciseeng. Dalam kondisi air cukup. serta tidak terdapat bangunan box bagi tersier.

diusulkan beberapa segmen saluran yang memerlukan perbaikan. Kecamatan Ciseeng Petak Tersier TP1 ka. Desa Pabuaran. Kecamatan Ciseeng: o Kelompok tani Kelompok tani tanaman pertanian : Solidaritas I (Ketua : Aja ) Kelompok tani ikan : Solidaritas II (Ketua : Arifin) Kelompok petani ikan : Perwatin (jumlah anggota 35 orang. Desa Babakan. Ketua: Hudori . Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI .6. Kelembagaan Pengelolaan Air di Tingkat Usahatani Daerah irigasi o Petak Tersier CBTS 7 ki. Kecamatan Kemang Petak Tersier TP5 ki . Pada tahap awal pengembangan minapolitan ini.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor pengelolaan air di tingkat usahatani yang telah ada di lokasi observasi tertera pada Tabel 6. DI Cibeuteung-I.6. Kecamatan Ciseeng Petak Tersier SK 8 ki . merangkap sebagai bendahara P3A Gabungan) o P3A Gabungan (Ketua: Sumaryono) P3A Gabungan (Ketua: Sumaryono) P3A Gabungan (Ketua: Sumaryono) P3A o o o o o o o o o Dari uraian hasil observasi lapang di atas. Tabel 6.7. Desa Cihowe. seperti tertera pada Tabel 6. dapat diperoleh gambaran bahwa infrastrukur irigasi yang telah ada tidak sepenuhnya dapat memberikan pelayanan air irigasi yang memadai. Ketua: Bambang Purwanto Kelompok petani ikan : Tirta Makmur Kelompok petani ikan : Perikanan Jaya (jumlah anggota 100 orang. Beberapa bangunan air memerlukan rehabilitasi dan peningkatan fungsi jaringan. Desa Putat Nutug.16 .

BTP 8 dan BTP 10) Box tersier. Saluran Tersier BTP5 ki d.I. 200 m Pintu pengambilan Perb bang pengambilan. Sal Tersier BSK 4 f. peraturan yang terkait dengan kebijakan pemilihan lokasi dan komoditas dan kebijakan/peraturan terkait dengan minapolitan itu sendiri. 500 m Box tersier. 500 m Galian lumpur.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 6. 1500 m o Pasangan lining. Kebijakan Terkait Minapolitan Peraturan terkait dengan Minapolitan saat ini secara pokok meliputi peraturan tentang tata ruang wilayah. Sal Sekunder Cogrek e. Usulan Rehabilitasi dan Peningkatan Jaringan Irigasi No. Hal yang paling penting dari peraturan ini adalah bahwa lokasi pengembangan minapolitan yang Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI . 3 bh Bangunan Pelimpah. 800 m Box tersier. 1 buah Galian lumpur. tujuan. Peraturan terkait dengan tata ruang wilayah adalah peraturan Peraturan Daerah Kabupaten Bogor No. Angke 2 D. 4000 m o Pasangan lining.7. BTP 5.I. 1 bh Talang. Cibeuteung I : o 2. 2 bh Pemb bang pengambilan. Daerah Irigasi D. 1 bh Pembabatan rumput . 1 bh Galian lumpur. 3 bh Perbaikan lantai bangunan pengambilan Pasangan lining ki dan ka. 1800 m Pasangan lining. Sal Tersier BCTS 7ki o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o Usulan rehabilitasi/peningkatan Galian Lumpur. (2) Ruang lingkup. (3) asas. (6) arahan pengendalian pemanfaatan ruang dan (7) hak. Cibeuteung 2 o Galian lumpur. 100 m Box tersier. 2000 m Pasangan lining. 400 m o Galian lumpur. 5600 m Pasangan lining.I. 1. 1 bh Perbaikan Bang Air. Curug Serpong : a. (5) rencana pemanfaatan wlayah. kewajiban dan peran serta masyarakat dan kelembagaan. Sal Induk 4 5 D.I. 3 bh D. 500 m Pasangan lining. Sal Sek Tembok Panjang b. kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah.1500 m Pasangan lining. Sal Tersier BSK 8 3 D. 1 bh Galian lumpur.7. 500 m Perb pintu air. 600 m Sumber: Kantor UPT Pengairan Wilayah Parung 6. 19/2008 tentang Rencana tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bogor 2005-2025. Sal Tersier BTP1 ka c. 4 bh (BTP1. 500 m Box tersier. Sasak : a.17 . (4) rencana strukur dan pola ruang wilayah.I. Peraturan ini secara garis besar berisikan : (1) ketentuan umum.

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor
akan ditetapkan harus sesuai dengan rencana pemanfaatan wilayah sesuai dengan peraturan daerah ini. Peraturan yang terkait dengan kebijakan dan komoditas setidaknya terdapat dua peraturan pokok yaitu Peraturan Bupati (Perbub) nomor 84/2009 tentang revitalisasi pertanian dan pembangunan perdesaan (RP3) dan Keputusan Bupati Bogor nomor 523.31/227/Kpts/Huk/2010 tentang penetapan lokasi pengembangan kawasan

minapolitan di Kabupaten Bogor. Pada Peraturan Bupaten No.84/2009 secara umum berisikan program revitalisasi pertanian dan pembangunan perdesaan. Isi pokok dari peraturan bupati ini adalah usaha untuk memberdayakan kembali sektor-sektor pertanian serta fungsi kawasan perdesaan. Secara garis besar, maka wilayah Kabupaten Bogor dibagi dalam 8 zona. Ruang lingkup revitalisasi pertanian dan pembangunan perdesaan mencakup 6 komoditi unggulan yaitu usaha tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan. Program direncanakan baik pada sisi on-farm, off-farm maupun yang tidak didasarkan usaha pertanian (non-farm) serta infrastrukturnya.Terkait dengan minapolitan, bahwa peraturan bupati ini menyebutkan bahwa perikanan termasuk komoditas unggulan yang akan diprogramkan, dengan 6 komoditas komoditas utama yaitu mas, gurame, nila, patin, lele dan ikan hias. Keputusan Bupati Bogor nomor 523.31/227/Kpts/Huk/2010 tentang penetapan lokasi pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Bogor, menyatakan bahwa lokasi minapolitan terletak pada 4 kecamatan yaitu (1) Kecamatan Ciseeng, (2) Kecamatan Parung, (3) Kecamatan Gunung Sindur dan (4) Kecamatan Kemang yang meliputi 28 desa. Lokasi tersebut merupakan sebagian wilayah dalam zona 4 revitalisasi pertanian dan pembangunan perdesaan (RP3). Bila diteaah lebih jauh sudah terjadi harmonisasi, dimana dalam kebijakan revitalisasi pada zona 4 juga diprioritaskan untuk

pengembangan budidaya perikanan. Sedangkan dari sisi kebijakan minapolitan, telah dikeluarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. KEP : 32/MEN/2010 tentang penetapan kawasan minapolitan. Dalam keputusan ini, Kabupaten Bogor merupakan 1 dari 197 kabupaten/kota seluruh Indonesia yang telah ditetapkan sebagai daerah pengembangan kawasan minapolitan. Kabupaten Bogor merupakan satu dari 11 kabupaten yang terpilih d Propinsi Jawa Barat. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. PER : 12/MEN/2010 tentang minapolitan, memuat tentang konsepsi minapolitan. Minapolitan didefinisikan sebagai suatu bagian
Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR

VI - 18

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor
wilayah yang mempunyai fungsi utama ekonomi yang terdiri dari sentra produksi, pengolahan, pemasaran komoditas perikanan, pelayanan jasa dan/atau kegiatan pendukung lainnya. Secara umum, disampingg berisikan tentang ketentuan umum, peraturan ini juga meliputi : (1) azas, tujuan dan sasaran, (2) konsep pengembangan kawasan minapolitan, (3) pemantauan, evaluasi dan pelaporan, (4) pembinaan dan (5) pembiayaan. Secara spesifik, peraturan ini menyebutkan bahwa karakteristik kawasan minapolitan merupakan kawasan ekonomi yang terdiri atas sentra produksi, pengolahan, dan/atau pemasaran dan kegiatan usaha lainnya seperti jasa dan perdagangan. Salah satu persyaratan mendasar adalah bahwa kawasan minapolitan harus sesuai dengan rencana tata ruang wilayah (RTRW) dan Rencana Pengembangan Investasi Jangka Menengah Daerah (RPIJMD) yang telah ditetapkan. Sedangkan bila sudah memenuhi criteria dan persyaratan yang ada, maka Bupati/Walikota mempunyai otoritas untuk menyusun Rencana Induk (Master plan), yang diimplementasikan melalui Rencana Pengusahaan dan Rencana Tindak. Penetapan lokasi Minapolitan dilakukan oleh Bupati/Walikota dan disampaikan pada Menteri Kelautan dan Perikanan. Pada sisi pembiayaan, maka pengembangan dan pembinaan kawasan minapolitan didasarkan pada APBN dan atau APBD serta sumber lain yang tidak mengikat sesuai peraturan perundang-undangan.

6.8.

Isu dan Permasalahan Kelembagaan

Berdasarkan kondisi kelembagaan serta hubungan antar pelaku usaha (baik individu maupun kelompok), maupun antara pendukung kegiatan ini dijumpai beberapa permasalahan sebagai berikut. A. Relasi antar pelaku usaha atau organisasi a. Kepastian relasi yang menguntungkan antar kelompok, b. Bangunan kepercayaan (trust) antar kelompok, c. Komunikasi yang produktif, dan d. Bentuk kelembagaan pengelolaan. B. Aturan Main (Rules of The Game) a. Peraturan yang menjamin kepastian pola hubungan dan transaksi yang menguntungkan, b. Peraturan yang menjamin kepastian lokasi dari interaksi potensi pemanfaatan wilayah lainnya, dan
Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR

VI - 19

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor
c. Kepastian peraturan prasarana. tentang pengelolaan dan pemanfaatan sarana dan

6.9.

Potensi Minawisata

Pengembangan minawista meliputi perencanaan yang mengakomodasikan seluruh aktifitas yang direncanakan dalam suatu kawasan minapolitan. Perencanaan tersebut didasari oleh konsep utama, yaitu untuk menciptakan kawasan wisata minapolitan yang berkelanjutan dengan mengembangkan wisata edukasi yang didasarkan pada potensi lingkungan yaitu perikanan yang potensial untuk melindungi sumberdaya alam dan kualitas lingkungan serta kesejahteraan masyarakat lokal. 6.9.1. Infrastruktur Wilayah Kondisi infrastruktur yang ada di sekitar kawasan perencanaan cukup baik. Beberapa data infrastruksur tersebut dapat dilihat pada Tabel 6.8. dan Lampiran 5.

Tabel 6.8. Status Jalan dan Panjang Jalan di Kabupaten Bogor Status Jalan a) Jalan Nasional b) Jalan Provinsi c) Jalan Kabupaten d) Jumlah Panjang (m) 121.487 129.989 1.506.565 1.758.041

6.9.2. Identifikasi dan Analisis Potensi Wisata Kawasan Minapolitan Kondisi kawasan yang terletak di perkampungan dan suasana perdesaan yang kental merupakan daya tarik tersendiri meskipun potensi masing-masing kecamatan relatif sama namun karakter yang ada cukup berbeda. Beberapa lokasi telah menjadi obyek wisata dan dapat dilihat pada peta obyek wisata, Lampiran 6.

A. Kecamatan Kemang

Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR

VI - 20

Dari luas wilayah sebesar 6369. Namun demikian kondisi wisata belum digarap secara baik. serta tepi situ beum terpelihara.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Meskipun produksi ikannya paling sedikit diantara keempat kawasan minapolitan. namun di Kecamatan ini memiliki situ yang cukup strategis. kecamatan Kemanga memiliki kekhususan dalam pembenihan ikan gurame dan sebagin juga ada perbenihan Lele serta pembesaran Akses ke area perbenihan maupun budidaya sangat mudah dengan kondisi jalan cukup baik. akan tetapi Kecamatan ini memiliki akses yang cukup baik sebagai jalur penghubung antara kawasan minapolitan dengan Kota Bogor maupun Jakarta. dengan akses yang mudah dan tidak terlalu jauh (10 m) dari Jalan raya Bogor-Parung. Cukup kecil dibandingkan dengan kecamatan yang lain sehingga.21 . potensi perikanan yang dimiliki oleh Kecamatan ini sekitar 484 Ha. khususnya kondisi trotoar dan jalan . 99 Ha. Sedangkan dari segi Wisata Edukasi. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI . Situ ini memiliki pemandangan yang indah dan sudah ada trotoar di tepi danau serta tumbuhan yang rindang.

Kondisi Situ Cilala Desa Jampang B. Terletak relatif di tengah dari empat kota kecamatan wilayah minapolitan 2. Kondis Situ Cilalal disajikan dalam gambar berikut ini: Gambar 6.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Gambar 6. Akses jalan menuju Jakarta sebagai pusat pemasaran cukup memadai 4. Lokasi wisiata ini memiliki nilai jual yang cukup tinggi kerena akses yang mudah dan dekat dengan jalan raya Ciseeng (150 m) dan tidak jauh dengan jalan raya Bogor Parung. Lokasi situ Cilaya terletak diperbatasan Kecamatan Kemang dan Kecamatan Ciseeng. di kecamatan ini juga terdapat potensi wisata Situ Cilaya yang terletak didesa Jampang. Jaringan listrik dan telekomunikasi cukup tersedia 5.22 . Terdapat pasar benih ikan dan pasar yang menyediakan kebutuhan sehari-hari Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI . Namun jika diberdayakan dengan sarana dan prasarana yang cukup maka kondisi Situ Cillala ini sangat potensial untuk menjadi obyek wisata unggulan. Secara uumum Keunggulan Kecamatan ini adalah : 1.8. Kondisi potensi wisata Situ Kemang Kecamatan Kemang Disamping situ Kemang. Kecamatan Ciseeng Kecamatan ini merupakan kecamatan yang cukup luas areanya dan memiliki barbagai kegitan budidaya yang beragam dari mulai perbenihan. Akses jalan menuju ke sentra produksi cukup memadai 3. pembesaran pengolahan serta wisata.7 . Situ ini sekarang telah ada akvtivitas wisata pemancingan.

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 6.23 . Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI . Peta Kecamatan Ciseeng Pada kecamatan ini terdapat Desa Babakan yaitu desa yang menjadi pusat pembenihan ikan lele yang cukup besar baik di skala rumah tangga maupun industri. Kondisi Desa Babakan Selain desa Babakan yang dikenal sebagai sentra pembenihan. di Kecamataan Ciseeng ini juga terdapat Pasar Benih Ikan Ciseeng yang ramai pada hari-hari tertentu dimana pedagang benih menjual benih ikannya dalam jumlah sedikit maupun banyak. Terdapat kios penyedia sarana produksi perikanan Gambar 6.9.10. Gambar 6.

disamping akses yang mudah dan kondisis Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI . Kondisi Kawasan BP3K (Balai Penyuluhan Pertanian.24 . Kondisi Pasar Ciseeng Ikan hias juga merupakan salah satu komoditas unggulan selain ikan lele. Kondisi Kawasan Budidaya Ikan Hias Kawasan BP3K merupakan salah satu aset pemerintah daerah yang digunakan sebagai unit pengembangan untuk tanaman pangan maupun perikanan yang berpotensi dapat dikembangkan sebagai tempat pelatihan berbagai kegiatan karena area yang cukup luas dan sudah tersedia kolam-kolam yang dapat dimanfaatkan sebagai percontohan perbenohan maupun budidaya serta didukuang dengan akses yang relative mudah. Situ ini memiliki nilai keindahan yang memadai untuk suatu obyek wisata.13. Gambar 6.11.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Gambar 6. pada Kecamatan Ciseeng ini terdapat suatu kawasan budidaya yang cukup luas yaitu adanya danau buatan yang digunakan sebagai keramba ikan hias berbagai jenis sehingga menarik untuk dijadikan potensi minawisata. kecamatan ini juga memiliki potensi wisata yang lain yakni Situ Iwul yang terletak didesa Iwul. Peternakan dan Kehutanan) Disamping kegiatan perbenihan dan budidaya.12. Situ ini lokasinya tidak jauh dari pasar Ciseeng dan juga relative dekat dengan Parung. Gambar 6. perikanan.

Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI .25 . dengan luas kecamatan sebesar 7.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor jalan yang baik. lahan yang berpotensi untuk perikanan adalah sebesar 607 ha. Namun kondisi Situ ini saat ini belum diberdayakan sebagai obyek wisata.59 ha. Pada kecamatan ini terdapat adanya area-area pembesaran ikan lele yang sudah cukup besar. Gambar 6.14. Gambaran umum kondisi Situ Iwul disajikan dalam gambar dibawah ini. Kecamatan Parung Gambar 6.15. Peta Kecamatan Parung Parung merupakan kecamatan dengan potensi perikanan yang cukup besar. Kondisi Situ Iwul.376.Desa Iwul C.

Gambar 6. Gambar 6. Kawasan Wisata Tirta Sanita Potensi komoditas lain disini adalah adanya pusat budidaya lobster.5 ha. Luasan kawasan bangunan sekaligus kolam budidaya adalah sekitar 3. Pada hari-hari libur wisata yang merupakan pemandian air panas ini banyak dikunjungi oleh pengunjung. Berbagai jenis lobster telah dibudidayakan dengan baik disini sehingga menarik untuk dikunjungi. Pembesaran Lele Obyek wisata yang terdapat di kecamatan ini dan sudah cukup dikenal oleh masyarakat adalah wisata Tirta Sanita.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Gambar 6.19.26 .169.17. Pengolahan ikan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI .18. Gambar 6. Kawasan Budidaya Lobster Industri pengolahan ikan juga sudah maju di Kecamatan Parung adalah Bening Food dan CV Bintang Anugerah yaitu pabrik pengolahan ikan berasal dari skala rumahtangga.

Beberapa Area Pemancingan Pengolahan ikan yang cukup terkenal di wilayah kecamatan Gunung Sindur ini adalah adanya pengolahan lele asap. Gambar 6. Kecamatan GunungSindur Meskipun dalam RTRW Kecamatan Gunung Sindur dialokasikan sebagai kawasan industri. Namun ada masih terdapat juga kolam pemancingan yang banyak diminati oleh masyarakat sekitar. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI . Proses pengasapan yang menggunakan cara yang masih tradisional ini menghasilkan lele asap dengan rasa yang khas sehingga dapat menjadi salah satu objek menarik (lihat gambar 6.27 .Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor D. namun masih ada sebagian desa yang memiliki kolam-kolam pembesaran baik penampungan ikan lele.21. 20.2). Gambar 6. Peta Kecamatan Gunung Sindur Adanya tambang pasir dan kendaraan besar terdapat di sepanjang jalan di Kecamatan Gunung Sindur ini menyebabkan jalan atau akses menjadi tidak nyaman karena panas dan berdebu.

9. Tabel 6. seperti yang dinyatakan oleh Gunn (1994).3. landmark atau satwa. Obyek dan atraksi yang terdapat pada tapak memperkuat komponen untuk melakukan wisata. Penilaian Kelayakan Kawasan Bogor sebagai Minawisata Desa a) Letak dr jln raya b) Estetika dan keaslian c) Atraksi d) Fasilitas pendukung e) Ketersediaan air bersih f) Transportasi dan aksesilitas g) Nilai Keterangan Sumber : Hasil Olahan Data. dibawah menunjukkan bahwa seluruh kecamatan yang ada cukup potensial untuk dikembangkan sebagai kawasan minawisata. keragaman objek yang dapat dijadikan sebagai atraksi wisata juga merupakan faktor pendukung untuk menjadikan Ciseeng sebagai kawasan sentra dari minapolitan.9. alasan sebuah kawasan yang dikembangkan untuk wisata karena terdapat atraksi sebagai komponen dan suplay.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 6.9. Analisis Kelayakan Lanskap untuk Minawisata Berdasarkan analisis kelayakan kawasan yang potensial untuk dikembangkan sebagai kawasan minapolitan dilihat dari Tabel 6. Selain itu. Kecamatan Ciseeng memiliki nilai paling besar untuk menjadi potensial dikarenakan kondisinya yang masih alami dengan kolam-kolam pembenihan yang menjadi objek menarik untuk dikunjungi. 2010 Kemang 20 50 75 15 60 40 260 Cukup Potensial Ciseeng 40 75 75 15 60 40 305 Cukup Potensial Parung 40 50 75 15 60 40 280 Cukup Potensial Gunung Sindur 20 75 75 15 60 40 285 Cukup Potensial Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI .28 . Atraksi dapat berbentuk ekosistem.

Pengelompokkan berdasarkan agroekosistem tersebut penting karena suatu kondisi agroekosistem tertentu cocok bagi pengembangan komoditas pertanian tertentu pula.1 dan Tabel 7.1 Kecamatan-kecamatan yang masuk ke dalam zona yang sama lokasinya saling berdekatan antara satu dengan lainnya. Dengan demikian. Gambar 7.1.1 Delapan Zona Pengembangan Pertanian dan Perdesaan Kabupaten Bogor . wilayah Kabupaten Bogor dibagi menjadi delapan zona pengembangan pertanian dan perdesaan. Penetapan Kawasan Pengembangan Minapolitan 7 Berdasarkan Kebijakan Revitalisasi Pertanian dan Pembangunan Pedesaan (RP3P) di Kabupaten Bogor yang sudah disinkronkan dengan RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) Kabupaten Bogor tahun 2005-2025. di zona tersebut dapat dikembangkan suatu klaster industri (industrial cluster) bagi komoditas-komoditas tertentu pula. sehingga diharapkan dapat mencerminkan kondisi agroekosistem yang sama.RENCANA PENGUSAHAAN KAWASAN MINAPOLITAN 7. Kedelapan zona pengembangan pertanian dan perdesaan tersebut dapat dilihat pada pada Gambar 7.

1.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 7.2 . Delapan Zona Pengembangan Pertanian dan Perdesaan Kabupaten Bogor Zona Rumpin Cigudeg 1 Parung Panjang Jasinga Tenjo Sukajaya Nanggung 2 Leuwiliang Leuwisadeng Cibungbulang Pamijahan Ciampea 3 Tenjojaya Dramaga Ciomas Tajurhalang Kemang 4 Rancabungur Parung Ciseeng Gunung Sindur Tamansari 5 Cijeruk Cigombong Caringin Ciawi Cisarua 6 Megamendung Sukaraja Babakan Madang Cileungsi Klapanunggal 7 Gunung Putri Citeureup Cibinong Bojonggede Sukamakmur 8 Cariu Tanjungsari Jonggol Kecamatan Jumlah Desa 13 15 11 16 9 9 10 11 8 15 15 13 6 10 11 7 9 7 9 10 10 8 9 9 12 13 10 11 13 9 12 9 10 14 12 9 10 10 10 14 Pewilayahan RTRW Barat Barat Barat Barat Barat Barat Barat Barat Barat Barat Barat Barat Barat Barat Barat Tengah Tengah Tengah Tengah Tengah Tengah Tengah Tengah Tengah Tengah Tengah Tengah Tengah Tengah Tengah Timur Timur Timur Timur Timur Timur Timur Timur Timur Timur Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII .

Kecamatan Parung seluas 607 Ha. Gurame Ikan Hias dan beberapa jenis lainya. Luas lahan yang digunakan untuk kegaitan budidaya Lele di kawasan tersebut adalah 649. Kecamatan Ciseeng. Kemang . Komoditas perikanan budidaya yang dikembangkan di keempat kecamatan tersebut adalah Lele.Tajurhalang.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Dari Delapan Zona Pengembangan Pertanian dan Perdesaan Kabupaten Bogor. Kawasan Minapolitan dapat dlihat apda Tabel 7.538. Gurame 114 Ha. dan Lampiran 7. Parung. Dari keempat kelompok komoditas yang dikembangkan di kawasan tersebut. komoditas lele menjadi komoditas yang banyak dibudidayakan kemudian Gurame. Total produksi perikanan budidaya yang dapat dikembangkan di kawasan Minapolitan adalah 2.592.772. Parung. Selengkapnya luas potensi lahan untuk kegiatan perikanan budidaya di kawasan minapolitan Kabupaten Bogor dapat dilihat pada Tabel 7. Ikan Hias dan kemudian jenis ikan lainnya.2. Gunung Sindur dan Kemang saat ini merupakan sentra kawasan kegiatan perikanan budidaya di Kabupaten Bogor.4.464 Ton.14 ton. Kecamatan Gunung Sindur seluas 192 Ha dan Kecamatan Kemang 484 Ha.309. (ii) produktvitas dan (iii) jumlah Rumah Tangga Perikanan (RTP). Ikan Hias 10 Ha dan untuk ikan jenis 23 Ha lainnya. Potensi lahan untuk kegiatan perikanan budidaya di kawasan minapolitan Kabupaten Bogor adalah seluas 2.3 .5 Ha. Kecamatan Kemang dengan 6 desa. Ciseeng. dan Kecamatan Parung dengan 7 desa. berdasarkan kriteria pengembangan kegiatan minapolitan. yaitu Kecamatan Gunung Sindur dengan 6 desa. Rancabungur merupakan kawasan yang layak menjadi kawasan kegiatan Minapolitan di Kabupaten Bogor. hanya empat kecamatan dan 27 desa yang layak menjadi kawasan Minapolitan di Kabupaten Bogor. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . Kecamatan Ciseeng dengan 8 desa. maka Zona (IV) empat yaitu Kecamatan Gunung Sindur.5 Ha yang tersebar di empat kecamatan kawasan pengembangan yaitu Kecamatan Ciseeng seluas 1. Setelah dianalisis lebih mendalam berdasarkan (i) aspek potensi lahan/area untuk kegiatan perikanan budidaya. Komoditas Lele mempunyai priduktifitas paling besar yaitu Produksi perikanan budidaya di sebesar rupakan komoditas paling 16.

4 .00 25. Potensi Luas lahan untuk kegiatan perikanan di Kawasan Minapolitan Kabupaten Bogor No.00 8.00 82.3.00 280.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 7.00 56.00 56.00 22. Indah Cogreg Bj.00 151.00 90.00 15. 1 Kecamatan Ciseeng Babakan Parigi Mekar Putat Nutug Ciseeng Cibentang Cibeuteung Udik Cibeuteung Muara Cihoe 2 Parung Bj.00 18.00 203.00 45.00 63.00 105.20 245.00 22.30 105.00 24. Luas Lahan Eksisting untuk Kegiatan Budidaya Perikanan di Kawasan Minapolitan Komoditas Lele Gurame Ikan Hias Jenis Lain Luas per Kecamatan (Ha) Ciseeng 368 75 1 11 Parung 157 25 5 8 Gunung Sindur 88 10 1 2 Kemang 36 4 3 2 Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . Sempu Waru Jaya Waru Pamegar Sari Iwu 3 Gunung Sindur Pangasinan Cibinong Gunung Sindur Curug Cidokom Pabuaran 4 Kemang Pabuaran Kemang Tegal Pondok Udik Bojong Jampang Desa Luas (ha) 283.00 80.2.00 36.00 210.00 76.00 225.00 Tabel 7.00 32.00 35.

14 4. Patin. pengolahan dan pemasaran.59 1. pengolahan serta pemasaran.43 16. Gurame.67 7.25 Jenis Ikan Lain 2. bahwa pengembangan kawasan minapolitan pada prinsipnya adalah membangun industri produk jadi yang berbasis pada komoditi unggulan. pengolahan serta pemasaran.93 Ikan hias(RE) 594.60 5. yaitu aspek pembenihan.4.85 222. Tahun 2008 (Dalam Satuan Ton/Tahun) Kecamatan Ciseeng Parung Gunung Sindur Kemang Jumlah (Ton) Rata-rata (Ton) Lele 2. Lele. Komoditi unggulan adalah produk pilihan yang dihasilkan oleh sektor perikanan dan atau pariwisata berbasis perikanan yang mempunyai nilai jual dan jaminan prospek masa depan karena memiliki daya saling (competitive advantages) yang tinggi. penetapan komoditi pembesaran. Penetapan Komoditi Unggulan Seperti telah dijelaskan pada Bab sebelumnya.357.99 375.08 108.7 236.5 . Penentuan komoditi unggulan dianalis dengan menggunakan beberapa parameter yang berkaitan dengan aspek pembenihan.45 647. Sementara itu salah kriteria sebagai Kawasan Minapoliti adalah terdapatnya kegiatan yang terintegrasi dari hulu sampai hilir yang meliputi kegiatan pembenihan. unggulan pada kawasan minapolitan harus mempertimbangkan aspek-pasek tersebut. Analisis dilakukan pada beberapa komoditi yang selama ini sudah berkembang di lokasi kawasan Minapolitan yaitu antara lain Ikan Mas.464 1015.04 Gurame 424.193.772. Produksi perikanan budidaya di Wilayah Studi.47 192.500.464 899 1426 211 2538. pembesaran.44 698.386 7.895. pembesaran. Dengan demikian. Keunggulan produk yang dihasilkan dari industri yang mengolah komoditi unggulan tersebut akan memberikan nilai tambah yang besar karena produk yang dihasilkan mempunyai nilai jual yang stabil dibandingkan dengan produk tanpa melalui pengolahan. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII .820. tetapi juga menghasilkan suatu produk olahan dari produksi perikanan yang siap dipasarkan dan menjadi ciri khas daerah yang bersangkutan. Kawasan minapolitan tidak saja berfungsi sebagai pemasok komoditi unggulan yang dihasilkan. Nila. Bawal Tawes dan Tambakan.2.95 0 258.30 947.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 7.

memperlihatkan bahwa. skor 3 (sedang ).6.6 Tabel 7.7. pembesaran dan pemasaran) Produksi Produktivitas Potensi pasar Jumlah pelaku Harga Lama pemeliharaan Margin/ m2/ tahun Persyaratan kualitas air INDIKATOR PENGOLAHAN 9 10 11 Rendemen fillet (2 ekor/kg) Harga bahan baku Keragaman produk olahan (surimi dan turunannya.5. Sedangkan skoring untuk parameter yang berkaitan dengan aspek Pengolahan penilaiannya dapat dilihat pada Tabel 7. Untuk paramater yang berkaitan dengan aspek budidaya (aspek pembenihan. maka dapat dlihat bahwa komoditi Ikan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . dimana untuk parameter skor 1 (sangat rendah). setelah dilakukan analisis penentuan komoditi unggulan dengan menggunakan analisis skoring. pembesaran dan pemasaran) masing-masing parameter yang telah ditetapkan diberikan skor 1-5. Parameter Penilaian Pengolahan NILAI RATING 1=sangat rendah 2=rendah 3=sedang 4=tinggi 5=sangat tinggi KETERANGAN Rendemen 5 = >40% 4 = 30-35% 3 = 25-30% 2 = 20-25% 1 = <20% Keragaman jika bisa diolah (4) = 5 (3) = 4 (2) = 3 (1) = 2 jika tidak bisa diolah = 1 Tabel 7. Skor Penentuan Komoditas Unggulan Ikan Air Tawar di Kabupaten Bogor No.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Analisis penentuan komoditi unggulan dengan menggunakan skoring. 1 2 3 4 5 6 7 8 INDIKATOR BUDIDAYA (Pembenihan.5.6 . skor 4 (Tinggi) dan skor 5 (sangat tinggi). asap produk konvensional dan produk kering) TOTAL 33 31 38 51 38 28 24 23 1 3 2 3 1 2 4 4 5 4 4 5 5 5 5 2 5 2 1 2 2 1 3 2 KOMODITAS IKAN KONSUMSI Mas 3 3 4 3 4 4 3 3 Gurame 3 2 3 4 5 2 2 4 Nila 2 3 5 3 3 4 2 3 Lele 5 5 5 5 3 5 5 5 Patin 1 4 2 2 2 3 4 5 Bawal 1 3 2 3 2 3 2 3 Tawes 1 2 2 1 5 2 3 3 Tambakan 1 2 1 1 3 2 3 4 Pada Tabel 7. Selengkapnya hasil analisis skoring penentuan komoditi Unggulan untuk kegiatan Minapolitan di Kabupaten Bogor dapat di lihat pada Tabel. skor 2 (rendah).6.

Salah satu kelemahan Ikan Lele adalah masih ada image di sebagian masyarakat yang mengangaga Ikan Lele jorok. Dalam hal minapolitan di kabupaten bogor.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Lele mempunyai jumlah skor yang tertinggi yaitu 51. karena Ikan Lele bisa hidup pada perairan yang masih dibawah standar rata-rata. Dengan demikian maka berdasarkaan analisis tersebut maka komoditi unggulan untuk kegiatan Minapolitan di Kabupaten Bogor adalah Ikan Lele. Atas dasar pemikiran tersebut tersebut. permintaan lele dari tahun ke tahun semakin meningkat seiring dengan meningkatnya daya konsumsi ikan serta masih banyak keunggulan lainnya dari Ikan Lele. tetapi kelemahan itu dapat bisa diatasi dengan melakukan deversifikasi produk olahan dari bahan baku Ikan Lele. Penetapan dan Arahan pengembangan Sentra Kawasan (Minapolis) Pengembangan kawasan minapolitan adalah pembangunan sistem dan usaha agribisnis berorientasi kekuatan pasar (market driven) yang diarahkan untuk menembus batas kawasan (bahkan mencapai pasar global). maka kawasan minapolitan Bogor harus mempunyai sentra kawasan terutama untuk VII . Produktivitas Lele cukup tinggi dibandingkan dengan komoditi lainya sehingga masyakarat hampir tidak ada kesulitan yang berarti dalam mengembangkan kegiatan budidaya Lele. dan deregulasi yang berhubungan dengan penciptaan iklim yang kondusif bagi pengembangan usaha dan perekonomian daerah. khususnya dengan komoditas unggulan Lele. Kegiatan pembenihan dan budidaya sudah berjalan cukup baik. maka kawasn minapolitan harus dapat meningkatan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pendapatan khususnya pelaku usaha yang terdiri pembenih.pengolahan prduk perikanan. Ikan Lele merupakan komoditi perikanan yang mempunyai keunggulan lebih dibandingkan dengan jenis komiditi perikanan lainnya. diikuti dengan Nila dan Bawal yang memiliki skor sama (38) dan kemudian ikan Mas (33) dan Gurame (31). Sementara itu pasar lele saat ini juga masih cukup menjajikan. Oleh karena itu agar terbuka pasar yang baru maka kegiatan pengolahan sebaiknya di sentralisasi. Persayaratan kualitas air yang menjadi prasyarat utama bagi kegiatan budidaya ikan secara umum tidak terlalu ketat. Kegiatan pemebnihen dan budidaya tidak dapat disentralisasi karena telah tercipta keterkaitan produsen dan pasar sesuai dengan mekanisme pasar. 7. Kegiatan yang masih belum berkembang adalah kegiatan . pengembangan sarana-prasarana publik untuk memperlancar distribusi hasil perikanan dengan efisiensi dan resiko yang minimal.3.7 Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR . pembudidaya dan Pengolah ikan. sehingga yang perlu ditingkatkan adalah produktivitas dan efiiensinya.

Mengingat bahwa dalam Sentra Minapolitan terdapat berbagai fungsi dan kegiatan. Terdapat pasar ikan dan pasar yang menyediakan kebutuhan sehari-hari. Untuk saat ini ada 3 calon lokasi Minapolitan yakni : Pasar Ciseeng. pusat informasi. maka didapatkan hasil skoring pada masing-masing wilayah seperti terlihat pada Tabel 7. BP3K dan lokasi dekat Danau Kahuripan. 5. Terdapat kios penyedia sarana produksi 6.8 . Ada saluran pengairan untuk budidaya. Terletak relatif di tengah dari empat kota kecamatan wilayah minapolitan. mudah dijangkau dan kawasan sekelilingnya masih terbuka untuk pengembangan. Arahan pengembangan sentra kawasan minapolitan adalah selain sebagai pusat industri pengolahan produk perikanan juga dapat menjadi pusat pemasaran produk olahan. showroom produk olahan juag terdapat kolam perbenihan dan budidaya sebagai percontohan. Lokasi Sentra minapolitan juga harus memenuhi syarat keindahan sehingga perlu dirancang Design Lanscape yang baik dan benar. 4. akses jalan menuju Jakarta sebagai pusat pemasaran cukup memadai. Jaringan listrik dan telekomunikasi cukup tersedia.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor keitan pengolahan. maka sentra kawasan minapolitan Kabupaten Bogor harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: 1. sentra minapolitan harus berada pada suatu lokasi yang strategis. 3. Ketersediaan air bersih untuk pengolahan dan air untuk budidaya 8. Dengan demikian Sentra Minapolitan harus memiliki area yang cukup luas minimum satu hektar. Akses jalan menuju ke sentra produksi cukup memadai. pusat informasi kegiatan minapolitan secara keseluruhan dan juga pusat pelatihan bagi masyarakat dalam hal teknologi pengolahan. Oleh karena itu. kantor. Luas area minimal 1 hektar 7. Di samping luas area. Ketiga lokasi tersebut akan dipilih salah satu berdasarkan berbagai pertimbangan. Berdasarkan hasil survei dan analisis terhadap potensi calon lokasi sentra kawasan minapolitan. berfungsi sebagai pusat informasi dan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII .7. di dalam Sentra Minapolitan di samping bangunan pabrik. 2. dan disamping itu juga kegiatan minapolitan secara keseluruhan. budidaya perikanan serta menajemen minapolitan.

35 1.6 Bobot (%) (A) Total Skor (B) (C) (D) Berdasarkan Tabel 7.8 2.56 0. Aspek Legal dan Otoritas Otoritas Pengelolaan Kemudahan pembebasan lahan Sub Total 3 Total 5 7 9 9 9 9 5 3 25 5 20 0.6 0.35 1.45 1.07 0.25 5. keterkaitan antar kawasan itu sendiri. pembesaran.72 0.35 0.35 1.72 0.35 1.35 4. pengolahan sampai pada pemasaran. Stuktur keterkaitan kawasan pengembangan minapolitan didasari oleh keterkaitan kegiatan antara kawasan yang satu dengan kawasan lainnya yaitu berdasarkan hubungan agribisnis perikanan.8 1.26 0. Estetika Aksesibilitas oleh calon pengunjung Nilai jual wisata Sub Total 2 3. Struktur Keterkaitan Kawasan keterkaitan kawasan pengembangan minapolitan digambarkan Secara umum stuktur oleh hubungan keterkaitan sentra kawasan dengan kawasan-kawasan pengembangan lainya.9 .5 9 9 9 5 7 5 7 7 15 8 7 0.4 0.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 7.6 0.9 0. Teknis Kecukupan lahan (HA) Ketersediaan air Akses ke lokasi dari jalan raya Ketersediaan Listrik Sub total 1 2.2 0.82 0.7 Hasil Analisis Skoring 4 Lokasi Calon Sentra Minapolitan LOKASI Parameter Situ Cilala (A) 1.35 2.91 0.63 1.5 1.3). 7. dan keterkaitan kawasan pengembangan dengan kawasan di luar kawasan minapolitan.4 1.6 0.45 1.1 0.35 4.9).05 2.35 1.4 1 0.49 1.56 0.25 7.05 9 7 7 9 1 3 7 9 7 5 7 9 3 3 7 7 Pasar Ciseeng (B) BP3K (C) Situ Iwul (D) 60 20 20 5 15 1.25 1. BP3K (7.9 0. mulai proses pembenihan.5).85 4. Pasar Ciseeng (5.7 diatas prioritas calon lokasi sentra minapolitan dari yang tertinggi sampai terendah adalah Situ Cilala (7.65 7.8 2.35 0. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII .25 0.4.8) dan Situ Iwul (4.6 0.

pusat informasi dan pusat pendidikan & pelatihan serta pusat pemasaran hasil pengolahan komoditi Ikan Lele. dan informasi lainya yang berkaitan dengan kegiatan minapolitan dipusatkan di sentra Ciseeng. Kecamatan Kemang dan Kecamatan Gunung Sindur. sentra Ciseeng juga diarahkan sebagai pusat pemasaran hasil-hasil pengolahan hasil perikanan. Sehingga pola keterkaitan antara sentra kawasan Ciseeng dengan kecamatan. Selain pusat sistem pengolahan dan pemasaran. Oleh karena itu ikan Lele yang berukuran besar tersebut merupakan bahan baku bagi produk olahan. sehingga masyarakat dapat langsung melakukan transaksi hasil olahan dari komoditi kegiatan monapilitan di Sentra Ciseeng. Ikan lele.kecamatan lainya didasari oleh pola hubungan sistem pengolahan komoditi hasil perikanan. Dengan demikian bahan baku yang digunakan dalam pengolahan produk perikanan yang dilakukan di Sentra Ciseeng diperoleh dari kawasan-kawasan minapolitan lainnya. Pendidikan dan pelatihan yang berkaitan dengan pembenihan. Dalam sistem pengolahan hasil perikanan. sistem informasi dan pendidikan dan pelatihan serta sistem pemasaran.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor A.10 . pemasaran. sentra Ciseeng juga diarahkan menjadi kawasan pusat informasi dan pendidikan kegiatan minapolitan. komoditi. yaitu dari Kecamatan Parung.yang berukuran besar (>5 ekor per kg) tidak dipasarkan sebagai ikan konsumsi dan harganya lebih rendah dari harga ikan konsumsi yang berukuran 6 ekor s/d 12 ekor per kg. Kecamatan Ciseeng menjadi pusat atau sentra pengolahan bagi kawasan-kawasan lainnya. Segala kegiatan yang berhubungan dengan informasi baik itu informasi investasi. Sehingga Sentra pengolahan ikan tersebut dapat menerima bahan baku dari pembudidaya dari berbagai lokasi di kawasan minapolitan maupun di luar kawasan minapolitan Dalam hubunganya dengan pengolahan hasil perikanan. pembesaran serta pengolahan dilakukan di Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . Produkproduk yang sudah dihasilkan dari kegiatan pengolahan dipasarkan di sentra Ciseeng. Struktur Keterkaitan Antara Sentra Kawasan dengan Kawasan Pengembangan Lainnya Salah satu arahan pengembangan kawasan minapolitan Kabupaten Bogor adalah mengembangkan kawasan sentra Ciseeng menjadi pusat pengolahan hasil perikanan. Sentra Ciseeng juga diarahkan menjadi pusat pendidikan dan pelatihan bagi pengembangan kegiatan minapolitan di Kabupaten Bogor.

C.5. B. Peningkatan produksi juga perlu dilakukan namun harus tetap Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . Penjualan hasil panen selain dijual di dalam wilayah Bogor juga banyak dijual ke luar wilayah Bogor seperti Jakarta. hasil panen juga dijual ke luar kawasan minapolitan untuk ikan konsumsi. Arahan Pengembangan Kegiatan Budidaya (Pembesaran) Arahan pengelolaan dan pengembangan kegiatan budidaya harus diorientasian pada peningkatan produktivis dan efisiensi produksi agar diperoleh peningkatan keuntungan uang lebih besar. Setiap kawasan atau desa pada kawasan minapolitan yang berfungsi sebagai pengembangan kegiatan budidaya menjual hasil panennya selain ke sentra kawasan di Ciseeng sebagai bahan baku untuk produk olahan. Stuktur Keterkaitan Antara Kawasan Pengembangan dengan Kawasan Diluar Kawasan Minapolitan Stuktur keterkaitan antara kawasan pengembangan dengan kawasan di luar kawasan Minapolitan ini biasanya terjadi karena adanya pola hubungan perdagangan hasil produksi ikan Lele. Struktur hubungan keterkaitan antara sentra kawasan dengan kawasan pengembangan lainnya dapat dilihat pada Lampiran 8. Suatu desa di kawasan minapolitan yang diarahkan sebagai kawasan pembenihan berfungsi sebagai suplier benih ke beberapa pendederan dan pembesaran ikan Lele pada beberapa desa baik dalam satu kecamatan maupun di luar kecamatan. Struktur Keterkaitan antar Kawasan Pengembangan Struktur hubungan keterkaitan antar kawasan pengembangan minapolitan yang satu dengan yang lainya didasarkan pada kegiatan pembenihan. artinya bahwa pola keterkaitan/hubungan antara desa satu dengan yang lainya tidak bersifat tetap. 7. baik dari dalam kawasan minapolitan maupun dari luar wilayah pengembangan di Kabupaten Bogor bahkan bisa dari masyarakat luar daerah. Struktur keterkaitan antara kawasan pengembangan dengan kawasan diluar kawasan Minapolitan dapat dilihat pada Lampiran 8.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor kecamatan Ciseeeng. tetapi bisa berubah-rubah sesuai dengan mekanisme pasar perbenihan. Pola hubungan keterkaitan antar kawasan pengembangan dapat dilihat pada Lampiran 8. Keterkaitan antar kawasan pengembangan ini bersifat dinamik. Kegiatan tersebut bermanfaat bagi pengembangan usaha perikanan.11 .

c) memiliki nilai gizi yang tinggi d) proses pengolahan yang hiegenis. 7. maka arahan pengelolaan dan pengembangan budidaya perikanan akan lebih di fokuskan pada peningkatan penyediaan benih baik dalam jumlah maupun kualitasnya. Arahan Pengembangan Pengolahan Hasil Perikanan diversifikasi Arahan pengembangan pengolahan produk dilakukan berorientasi pada produk olahan dan pengembangan teknologi pengolahan dalam rangka memperluas pasar produk perikanan. 7. penggunaan tempat penampungan air) dan program pencegahan penyakit (pengaturan padat tebar.12 .6. seleksi dan pembatasan umur induk. perbaikan teknologi budidaya antara lain penggunaan probiotik dan multi vitamin dalam pakan untuk perbaikan kualitas air dan peningkatan efisiensi pakan serta peningkatan kualitas produk dengan teknologi budidaya yang lebih hiegenis dan ramah lingkungan. Arahan pengembangan Kegiatan Perbenihan Kegiatan perbenihan di wilayah minapolitan di arahkan pada peningkatan kualitas dan kuantitas input produksi dan perbaikan teknologi produksi benih.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor mempertimbangkan kondisi pasar. Peningkatan kualitas input dan kuantitas input produksi dapat dilakukan dengan peningkatan kualitas dan kuantitas induk unggul seperti lele sangkuriang. perbaikan manajemen kualitas air (penggunaan probiotik. dan program penyuntikan perbulan dengan pembagian kolam induk). Kondisi pasar sangat dipengaruhi oleh persaingan dengan daerah lain dengan komoditas yang sama dan memiliki tujuan pasar yang sama. penggunaan vitamin c dan multivitamin pada pakan. Perbaikan teknologi produksi benih dapat dilakukan dengan perbaikan manajemen induk (prosedur pemberian pakan induk. Sepert halnya produk budidaya . dan treatment pakan alami sebelum digunakan) untuk mengurangi penggunaan antibiotik pada pembenihan lele. Sesuai dengan permasalahan yang telah diuraikan sebelumnya. peningkatan kualitas dan kuantitas cacing sutera dan pencarian pakan alternative pengganti cacing sutera. yang diharapkan berujung pada peningkatan produktivitas dan kesejahteraan para pembenih lele. Produk olahan minapolitan Bogor hendaknya tidak Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . produk olahan yang dihasilkan oleh minapolitan Bogor harus memiliki kehususan sendiri yakni : a) bebas bahan pengawet b) bebas bahan additive atau bahan tambahan yang berbahaya . menIngkatkan nilai tambah dan untuk meningkatkan daya saing.7.

Disamping sentra produksi pengolahan produk perikanan. nugget. Rencana kapasitas produksi disajikan pada Tabel 7. Hal ini diperlukan agar proses produksi dapat terkontrol kualitasnya dan dapat mengatur output produksi tepat waktu dan jumlah serta mutu yang terjamin. sosis. Untuk dapat memenuhi persyaratan tersebut pengembangan pengolahan produk perikanan diperlukan proses pruduksi pengolahan secara terpusat dalam suatu sentra industri pengolahan produk perikanan dan dikelola dengan sistem manajemen industri. Pada akhirnya strategi pengelolaan dan pengembangan produk olahan minapolitan Bogor diharapkan dapat memenuhi syarat untuk dapat diekspor keluar negeri.2). kaki naga diyakini tidak dapat berkompetisi bila memasuki pasar yang sama. Dari jumlah tersebut 1 ton/hari akan digunakan untuk produksis lele asap utuh seperti yang telah ada. sosis.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor hanya dapat menjangkau pasar untuk kalangan masyarakat biasa. Untuk produk siap saji seperti bakso. Sedangkan yang 5 ton untuk diversikasi produk olahan. Contoh produk olahan lele yang diformulasikan bersama rumput laut. filet segar.7.8. Kapasitas bahan baku ditentukan dari kapasitas produk lele segar BS BS (lele berukuran besar 5-1 ekor/kg) yaitu sekitar 6 ton lele segar/hari. dijual dalam bentuk makanan kesehatan. Bening dan CV. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII .1 Pengembangan Produk Olahan Bahan baku yang digunakan untuk produk olahan adalah filet dari lele segar. produksi pengolahan rumah tangga juga perlu dikembangkan bersinergi dengan industri pengolahan. chitosan dan lainnya ( Gambar 7. Bintang Anugerah).namun juga dapat menjangkau kalangan masyarakat mengah keatas. 7. produk olahan bakso. burger. kaki naga (VegiFish) dibuat surimi terlebih dahulu. Industri rumah tangga perlu dikembangkan dan dibina agar dapat manghasilkan produl olahan sesuai dengan stAndar indusri. kaki naga masih bisa diproduksi dengan menciptakan segmen pasar yang berbeda. nugget. Dibandingkan dengan produk sejenis yang ada di pasaran saat ini (CV. Produk yang mungkin dikembangkan adalah perluasan lele asap dengan mencari pasar baru. nugget. filet lele asap.13 . Untuk itu sentra indusri pengolahan juga harus melakukan program pelatihan dan penyuluhan terhadapa masyarakat. Produk olahan bakso. makanan ringan chiki/crackers.

Kaki naga (VegiFish) dan Nuget Teknologi yang akan diterapkan untuk mengolah lele adalah teknologi bebas limbah (produk samping).14 .Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 7. Kapasitas olahan (kg/hari) 300 1260 ( 260 kg untuk filet segar) 50 720 150 150 150 300 120 120 Potensi pasar Pesantren. jasaboga. supermarket Restoran. bawal Filet asap Surimi Bakso Sosis Nuget Vegifish (kaki naga Krupuk Makanan ringan Lainnya Ukuran (ekor/kg) Kapasitas bahan baku ( kg/hari) 500 lele segar 4500 (total dari semua jenis ikan). supermarket Restoran.8. Untuk menghindari masalah lingkungan semua limbah (produk samping) akan diolah menjadi produk turunan yang bernilai ekonomis.2. nila. Teknologi pengolahan yang akan diterapkan meliputi : 1. restoran Bahan baku produk turunan bakso. Tahapan pengolahan dimulai dari pembuatan filet lele. Pembuatan filet asap 3. Jenis olahan produk lele atau ikan lainnya ( kapasitas 5 ton ikan segar/hari) No 1 2 Jenis olahan Lele tanpa kepala Filet lele ( skinless) atau filet patin. restoran dan bahan baku produk olahan Supermarket. Pembuatan filet dan pemanfaatan hasil samping 2. supermaket Restoran. dll Restoran. lembaga pemasyarakatn Supermarket. pembuatan surimi untuk produk gel. dan pengolahan surimi atau filet sesuai dengan produk akhir yang ditetapkan. supermaket supermaket Supermaket supermarket 8-12 2 ekor/kg 3 3 3 4 5 6 7 8 9 100 filet 900 filet 100 surimi 100 100 200 60 60 100 Gambar 7. jasaboga. hotel. Pembuatan surimi Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII .

7. pada Tabel 7. kaIlan. selada. dll. Sementara itu. dll. pemberishan isi perut. tomat. Skema proses masing-masing kegiatan pengolahan dapat dilihat pada Gambar 7.7. dibubuk kemudian difermentasi untuk menghasilkan pupuk organik berkulitas tinggi dengan kandungan asam amino (growth factor). mineral.3. Skema Produksi Filet dan Pemanfaatn Hasil Samping Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII .15 .9. bayam. dan lain-lain. sosis. nugget.3. parkcoi. burger. timun.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 4. Pupuk organik akan dipakai untuk budidaya hortikultura seperti caisin. nugget.2 . Produk olahan bakso. pelepasan kulit kulit kulit Tulang Kepala-isi perut kolagen Pupuk/pakan Pupuk/fermentasi Filet lele (30%) Gambar 7. cabe. fasilitas dan peralatan yang digunakan dapat dilihat Lele hidup 100 % Pengeringan (70%) Pemotongan kepala. crackers. Tulang dan sisa daging dikeringkan. abon. kangkung. chiki. dll 7.2 PengembanganTeknologi Pengolahan Bahan baku lele akan difilet kemudian dibuat surimi untuk selanjutnya dipakai sebagai bahan baku produk bakso. Kulit dikeringkan untuk bahan baku kolagen yang dapat diapliaksikan di produk kosmetik.

14. Fasilitas dan Nama Alat Bak Penampungan lele Meja pemotongan lele (SS) Pisau potong dan pisua filet (SS) Bak pencucian (SS) Kerannjang penampungan (Plastik) Wadah penyiapan filet (SS) Freezer penampung filet (-20 C) Bak pencician hasil samping Pengering produk samping Grinder Vakum sealer Sealer karung Bak fermentasi Filet lele Pencampuran dengan bumbu  Pengasapan Filet asap Gambar 7. 8. 12. 3. 2.4. 5. Proses Pembuatan Lele Asap Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII .Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 7. 7. 4. 11. 1. Daftar Fasilitas dan Peralatan untuk Produksi Filet dan Pemanfaatan Hasil Samping No.16 . 10. 6.9. 13.

11. Fasilitas dan Peralatan untuk Produksi Surimi No. 3.10. Fasilitas dan Peralatan yang untuk Pembuatan Lele Asap No 1 2 3 4 Fasilitas dan Nama Alat Wadah pencampuran bumbu (SS) Alat pengasap ALat pendingin Vakum sealer Filet lele Grinding Pencucian Air bekas cucian untuk pupuk Penambahan cryoprotectant (extract rumput laut) dan bumbu2 Surimi Gambar 7. 5. Proses Pembuatan Surimi Tabel 7.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 7. Grinder (SS) Wadah penampung daging ikan (SS) Wadah pencampur bumbu dan cryoprotectan Vakum sealer Freezer Fasilitas dan Nama Alat Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII .5. 1. 4. 2.17 .

18 .  vegifish. nugget.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Surimi  Bumbu2 +  ektrak rumput  pencampuran  Pencetakan  pemasakan  Bakso.chiki. Produksi Produk Turunan Surimi Tabel 7.  abon.6.12. crackers. Fasilitas yang Diperlunan untuk Proses Produkan Surimi No 1 2 3 4 5 6 7 8 10 11 Fasilitas dan nama alat Mixer (SS) Pencetak bakso (SS) Pencetak sosis (SS) Pencetak burger (SS) Penggorengan (SS) Steamer (SS) Pemasak (SS) Oven Extruder Vakum sealer Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . dll  Gambar 7. sosis.

dan peningkatan pangsa pasar baru. luka bakar. Produk olahan difortifikasi dengan serat alami dari rumput laut dan bahan alam alut lainnya (seperti citosan).19 . dan peningkatan produktivitas pelaku usaha) dan pembentukan image lele bogor yang berbeda dengan lele wilayah lain (bebas antibiotik. Rumah Sakit Karya Bakti. Peningkatan nilai jual produk dilakukan dengan diferensiansi produk dengan pengolahan hasil produksi lele sehingga memiliki nilai tambah. Selain lele. catering. dihadiri oleh perwakilan Rumah Sakit Cibinong.7. Pada saat ini RS Cibinong membutuhkan filet kakap 1300 kg/tahun dan ikan mujaer 1176 kg/tahun. tanpa menggunakan pakan limbah. hotel Santika menyajikan ikan nila. Jakarta. Untuk menghilangkan kesan negative tentang lele dan menungkatkan pemasaran perlu dilakukan promosi media kegiatan yang terkait dengan Forum Peningkatan Konsumsi Ikan (FORIKAN) Kementrian Kelautan dan Perikanan. supermarket. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . Dari hasil diskusi yang dilaksanakan tgl 14 Desember 2010. Ketiga instansi tersebut siap menjadi partner untuk pemasaran produk minapolitan. peningkatan nilai jual/nilai tambah produk. PIH Cibinong. Pemasaran produk olahan lele perlu diciptakan pasar tersendiri dengan trade mark makanan kesehatan. emas. dll). bawal. Untuk memasarkan produk harus dilakukan kerjasama dengan pihak terkait seperti : rumah sakit. patin. rumah sakit Karyabakti menyajikan pilihan menu ikan bagi pasien VIP. Pihak rumah sakit telah bersedia menjadi partner untuk pemasaran produk olahan minapolitan. dan gerai yang dibangun khusus ditempat wisata mina. Peningkatan pangsa pasar baru dilakukan dengan pencarian pasar lele segar ataupun olahan keluar daerah/luar negeri dan peningkatan konsumsi pasar yang sudah ada (dengan gerakan makan ikan dan perbaikan pencitraan ikan khususnya lele). Hotel Santika menyajikan menu Sunda seminggu sekali (hari Kamis) dengan sajian berbagai ikan termasuk lele ( ukuran 1012/kg). Selain itu. nefrotil syndrome (ginjal). higienis. Bandung. kontinyu. Rencana Pegembangan Pemasaran Produk Olahan Lele Pengembangan pemasaran produksi lele diarahkan pada peningkatan daya saing produk.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 7. efisiensi komponen biaya produksi. restoran. sekolah-sekolah. catering Tiska Sejahtera diketahui bahwa Rumah sakit Cibinong telah menggunakan ekstrak lele ( air rebusan lele) untuk penyediaan albumin bagi pasien cirosis hati. Peningkatan daya saing produk minapolitan bogor dilakukan dengan penurunan biaya produksi lele (dengan perbaikan teknologi budidaya. gurame dan ikan balita. stroke dan hipoalbumin. Hotel Santika.3.

000 52.4.68 39. sosis.115.890.536.615.463 50.7.000 300.289 /kg.750.000 (lampiran 3).273 2.009 26.890. maka harga pokok filet lele akan menjadi Rp.000.750.13.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 7.576. 10. 8000/kg Investasi alat dan fasiltas (diluar gedung) Biaya penyusutan/hari Bahan baku Tenaga kerja 5000 kg 1000/kg headless 1500/kg filet sub-total Utilities ( listrik.576.13.536.000. 400.20 .000 42.500. 42.000 1. 75.305. 8000/kg) dengan produk lele tanpa kepala 300 kg/hari dan filet lele 1260 kg/hari adalah Rp.000/kg.273 2.463 2.68 /kg ( lele tanpa kepala) dan Rp.         Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII .273 46.000 1.115.000 (Lampiran 9 ). Detail perhitungan disajikan pada Tabel 7.68 31.000 300.000 115. 39. 21.615.000.009 21. Analisa Ekonomi Pengolahan Lele Biaya investasi untuk pengolahan lele tanpa kepala dan filet lele adalah Rp. Harga pokok produksi (belum termasuk keuntungan) untuk bahan baku lele segar 5 ton/hari ( harga Rp.289.273 57. air) pemeliharaan TOTAL BIAYA PRODUKSI HPP headless lele (Rp) HPP filet lele (Rp) 300 kg lele tanpa kepala 1260 filet lele 5% 5% 275. Bila harga bahan baku naik menajdi Rp. Harga pokok produksi (belum termasuk keuntungan) adalah sekitar Rp. nuget dan lainnya kebutuhan biaya investasi adalah sebesar Rp.22 115.500.463 2. Tabel 7.305. Perhitungan HPP Lele Tanpa Kepala dan Filet Lele Komponen Biaya Keterangan Harga lele Rp.22/kg ( filet lele).463 40. 31.90 harga lele 10000/kg Untuk produk olahan bakso.576.000/kg.

masyarakat disekitar kecamatan ini juga bersedia untuk menerima pengembangan minapolitan didaerahnya.933. memiliki potensi perikanan yang potensial serta alam yang alami dengan suasana perdesaan. Sosis. A.21 .744. yaitu dengan mengembangkan wisata edukasi yang didasarkan pada potensi lingkungan yaitu perikanan yang potensial untuk melindungi sumberdaya alam dan kualitas lingkungan serta kesejahteraan masyarakat lokal.667 5.600 7. Nugget dan Lainnya Komponen Investasi alat dan fasiltas (Rp) Biaya penyusutan/hari (Rp) Biaya Bahan baku (Rp) Biaya bahan pembantu (10%) Biaya Tenaga kerja (20%) Sub-total Utilities ( listrik.00 10% 10% 1260 kg Jumlah Jumlah Total 400.444. Hal ini dikarenakan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . B.812.467 68. Berdasarkan analisis pengembangan kawasan minawisata di kawasan Bogor.000 3. seluruh aktifitas yang direncanakan dalam suatu kawasan Konsep Perencanaan Minawisata utama adalah untuk menciptakan kawasan wisata minapolitan yang Konsep berkelanjutan.14.467 5.000.000 7. Selain memenuhi persyaratan ekologis. Kecamatan Ciseeng sangat potensial untuk dijadikan kawasan sentra dari minawisata.000 57.744. Arahan Arahan Pengembangan Lanskap Minawisata pengembangan Lanskap Minawisata meliputi perencanaan yang mengakomodasikan minapolitan.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 7.000 6.906.667 39. air) Pemeliharaan TOTAL Produk olahan (kg) Harga pokok produksi (Rp/kg) 130% 1638 42.060. Pengembangan Tapak Isu pengembangan tapak dikaitkan dengan perencanaan lanskap yang dilakukan di kawasan minapolitan dilihat dari kondisi lingkungan cukup baik. Perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP) Produk Olahan Bakso.084.666.8.

Ruang wisata dibagi menjadi tiga yaitu ruang penerimaan (Welcome area). Welcome Area merupakan area penerimaan yang ada sebagai pintu masuk ke objek di tiap kecamatan pada kawasan minapolitan.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor kondisi keempat kecamatan yang memiliki lingkungan yang masih cukup alami. Pada tiap ruang wisata terdapat aktifitas dan fasilitas yang mendukung tema dan tujuan dari ruang wisata tersebut. Konsep Ruang dan Sirkulasi Minawisata Konsep ruang minawisata disesuaikan dengan kondisi eksisting lingkungan. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . karena dengan adanya pembangunan tersebut masyarakat dapat berperan aktif serta lapangan pekerjaan untuk mereka juga akan bertabah. rekreasi dan wisata produksi. diperlukan perluasan jalan di kawasan yang akan digunakan untuk minapolitan. ruang transisi dan ruang wisata utama. Area ini berisi fasilitas parkir serta ruang informasi agar wisatawan lebih mengerti dan mudah untuk melakukan aktifitas wisata. Wisatawan/Pengunjung Masalah yang cukup penting untuk diperhatikan adalah sasaran wisatawan atau pengunjung yang ditargetkan untuk datang ke kawasan minapolitan. C. E. Hal ini dilihat dari jenis minawisata yang ditawarkan yaitu wisata edukasi. Hal ini dikarenakan jalan yang kurang lebar serta kerusakan yang ditimbulkan oleh kendaraan dengan kapasitas yang besar. Selain itu pengunjung untuk wisata produksi juga umum khususnya investor lokal maupun mancanegara. Aspek Masyarakat Masyarakat setuju dan mendukung adanya program minapolitan ini. Akses Jalan Jalan yang terdapat di kawasan minapolitan ini dinililai kurang memadai untuk mendukung program ini. Maka. ditengah kehidupan masyarakatnya yang ramah dan suasana perdesaan yang masih kental. kalangan masyarakat umum terutama keluarga akan menjadi target wisatawan yang diharapkan datang untuk rekreasi di kawasan ini. menambah jalan atau sirkulasi sekunder dan tersier untuk mendukung aktifitas minawisata seperti jalur sepeda maupun pedestrian untuk pejalan kaki. Pelajar atau mahasiswa adalah target untuk wisata edukasi.22 . D.

diikuti dengan pusat informasi.7. 3. Ruang Wisata Utama merupakan area minawisata yang ditawarkan untuk dikunjungi oleh wisatawan. Konsep Ruang dan Sirkulasi Minawisata Alternatif 1 Pada lokasi sentra minapolitan alternatif 1 ini. pembesaran. desain yang ditawarkan berupa siteplan dengan tapak kawasan BP3K. 2.23 . A. Area ini berupa fasilitas pelayanan rest area (peristirahatan). Gambar 7.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Ruang Transisi merupakan area perantara dari ruang penerimaan dan ruang wisata utama. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . Konsep Ruang dan Sirkulasi Minawisata Alternatif 1 Konsep ruang dan sirkulasi minawisata pada alternatif 1 ini pusat atau sentra minapolitannya terletak di BP3K (Badan Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan). Bangunan yang terdapat pada rencana ini berupa area parkir. ikan hias. 1. Lokasi ini cukup strategis dilihat dari letaknya yang mudah dijangkau dan akses yang cukup baik serta lingkungan disekitar yang mendukung. yaitu lele. dan lobster. homestay dan display area. Wisata Edukasi. wisata ini dibagi berdasarkan komoditas unggulan yang terdapat pada kawasan minapolitan. Rekreasi Wisata Produksi. wisata ini berdasarkan objek pengolahan ikan yang terdapat pada kawasan minapolitan. restoran kemudian display area dari alur budidaya lele ini sendiri yang terdidir dari pembenihan.

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor
penampungan, pengolahan hingga pasca panennya yang dilengkapi dengan pengolahan limbahnya sehingga ramah lingkungan.

Gambar 7.8. Lokasi Eksisting dan Desain Alternatif 1 Sentra Minapolitan (BP3K)

Gambar 7.9. Kondisi Eksisting Sentra Minapolitan Alternatif 1

Gambar 7.10. Perspektif Sentra Minapolitan Alternatif 1

Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR

VII - 24

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor
B. Konsep Ruang dan Sirkulasi Minawisata Alternatif 2 Konsep ruang dan sirkulasi minawisata pada alternatif 2 ini pusat atau sentra minapolitannya terletak di Desa Babakan. Lokasi ini dilihat cukup strategis dilihat karena akses yang berada di jalur utama masuk kawasan Minapolitan. Selain itu jalur yang mudah dijangkau dengan kondisi lingkungan perdesaannya yang masih terasa menjadikan sesuai untuk minawisata. Pada diagram ruang dibawah ini terdapat sirkulasi dimana dari sentra minapolitan, dapat langsung berwisata edukasi menuju ke perkampungan warga sekitar untuk menyaksikan secara langsung budidaya lele baik skala kecil (rumahtangga) hingga skala industri. Kuldesak yang terdapat di akhir bertujuan agar wisatawan dapat menikmati perjalanan dengan nyaman dan berputar balik untuk menuju ke paket wisata selanjutnya. Diupayakan pada paket ini wisatawan menggunakan jalur sepeda atau berjalan kaki.

Gambar 7.11. Konsep Ruang dan Sirkulasi Minawisata Alternatif 2

Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR

VII - 25

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor

Gambar 7.12. Lokasi Eksisting dan Desain Alternatif 2 Sentra Minapolitan (Desa Babakan)

Gambar 7.13. Lokasi Eksisting Sentra Minapolitan Alternatif 2 (Situ Cilala) 

Gambar 7.14. Desain Alternatif 2 Sentra Minapolitan (Situ Cilala)

7.9.

Pengembangan Lanskap Minawisata

Dalam pengembangan minawisata, salah satu upaya untuk meningkatkan daya tarik obyek wisata adalah dengan memperbaiki lanskap kawasan wisata dan infrastruktur (jalan, padestrian, fasilitas wisata) agar memiliki nilai jual wisata. Beberapa contoh pengembangan infrastruktur wisata disajikan pada gambar berikut.

Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR

VII - 26

Ciseeng Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII .Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Gambar 7.17. Gambar Existing dan Pengembangan Jalan Obyek Wisata Lele (Desa Babakan) Gambar 7.27 .15.16 Gambar Existing dan Pengembangan Gerbang Masuk Kawasan Wisata Gambar 7. Gambar Existing dan Pengembangan Kawasan Wisata Ikan Hias Telaga Biru.

pengolahan dan/atau pemasaran di suatu kawasan yang diproyeksikan menjadi kawasan minaploitan yang akan dikelola secara terpadu. usaha perikanan yang dilakukan dilokasi calon kawasan minapolitan mencakup usaha budidaya. Arahan Pengembangan Kelembagaan Arahan (a) pengembangan kelembagaan mencakup dua kegiatan dan pokok (b) yaitu : Pembentukan/penguatan kelembagaan masyarakat Penyusunan kelembagaan pengelola kawasan minapolitan. pengolahan dan pemasaran. pendederan. mempunyai tujuan salah satunya sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di daerah. Sesuai dengan kondisi yang ada sekarang. terdapat usaha pengumpulan dan pendistribusian benih dari satu tahapan budidaya ke tahapan lainnya. maka pembentukan dan atau penguatan kelembagaan masyarakat ditujukan untuk meningkatkan jaminan distribusi manfaat adanya kawasan minapolitan secara adil bagi seluruh stakeholder. Hal ini secara eksplisit dituangkan dalam Permen No. pengolahan dan/atau pemasaran.12/MEN/2010 tentang minapolitan. pembentukan dan/atau penguatan kelembagaan masyarakat diarahkan pada kelompok-kelompok unit produksi yang ada atau yang diperlukan untuk meningkatkan efisiensi dan pemenuhan tujuan minapolitan. A. Berdasarkan informasi terdapat 68 kelompok dibawah UPP untuk seluruh jenis ikan. Input cacing juga mempunyai kelompok berupa pencari cacing dan ketua adalah pengumpul. tetapi belum ada organisasi. Dalam rumusan peraturan ini juga dicantumkan bahwa pengembangan kawasan minaploitan dimulai dari pembinaan unit produksi. Arahan pengembangan kelembagaan diuraikan sebagai berikut. tersegmentasi menjadi usaha pembenihan. Pembentukan/Penguatan Kelembagaan Masyarakat Sesuai dengan konsep tentang minapolitan.10. Oleh karena itu. salah satu sasarannya adalah meningkatkan sector kelautan dan perikanan menjadi penggerak ekonomi regioanal dan nasional diantaranya berupa pengembangan sistem ekonomi berbasis wilayah. pembesaran. Dalam rangkaian budidaya ini. pengolahan dan/atau pemasaran yang terkonsentrasi di sentra produksi . Seementara itu. Pada usaha budidaya ikan. Misalnya usaha pengumpulan benih untuk proses tahap selanjutnya pada budidaya. pengembangan kawasan ekonomi kelautan dan perikanan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi lokal dan pemberdayaan kelompok usaha kelautan dan perikanan di sentra produksi.28 . Berdasarkan kejelasan pasar dan sedikit bantuan input/modal.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 7. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII .

faktanya motif pembentukan kelompok ini cukup beragam. II.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Kelembagaan yang ada di masyarakat sekarang. Sedangkan usaha peningkatan kualitas anggota kelompok diantaranya meliputi : I. Tujuan penguatan kelompok meliputi dua hal pokok yaitu (a) peningkatan efisiensi organisasi kelompok dan (b) peningkatan kualitas anggota kelompok. Ketua kelompok ini menjadi pembeli produk lele yang dihasilkan. terutama ketika terjadi oversupply. Peningkatan kemampuan komunikasi antar kelompok iv. Peningkatan kemampuan komunikasi anggota kelompok. Pola lain. Pada segmen usaha perbenihan. pola ini juga terjadi. Namun demikian. pembesaran. Misalnya. Sebagian besar berdasarkan asesmen lapang. pengolahan atau pemasaran) dan atau pembentukan asosiasi antar segmen. Penyusunan Kelembagaan Kawasan Minapolitan Pengelolaan sumberdaya termasuk kawasan minapolitan Kaupaten Bogor. Pembentukan asosiasi kelompok dalam satu segmen (perbenihan. jaminan input maupun kapital.29 . didapatkan bahwa kelompok ini masih dalam bentuk relasi “patron-klien”. Mengingat pola organisasi kelompok seperti tersebut diatas. terdapat kelompok pembenih. adalah mengelola harapan (ekspektasi) manusia terhadap fungsi-fungsi minapolitan untuk Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . maka pembentukan dan atau penguatan kelompok diarahkan pada kelompok masing-masing segmen dan kelompok antar segmen budidaya. Peningkatan kohesivitas kelompok ii. demikian pula pada segmen pembesaran juga terdapat kelompok. kelompok pembenih. Peningkatan jiwa kewirausahaan anggota kelompok Peningkatan kemampuan perencanaan usaha III. Peningkatan kemampuan managerial organisasi kelompok iii. sebenarnya sudah terjadi pengelompokan (grouping) dari masing-masing segmen budidaya tersebut. adalah bahwa ketua kelompok juga menjadi pemasok input utama seperti pakan atau benih. B. terjadi karena adanya ketua kelompok merupakan penjamin pasar (pedagang pengumpul). Demikian juga pada kelompok pembesaran. Sebagian besar bahwa sistem patronase ini terjadi berdasar pada jaminan kepastian pasar. Sehingga anggota kelompok mempunyai jaminan pasar. Peningkatan efisiensi organisasi kelompok diantaranya meliputi : i.

Fenomena ini tidak hanya diperlukan pada level kesepakatan antar anggota dalam satu lembaga. untuk menjamin kelestasrian kawasan minapolitan. menunjukan pemenuhan terhadap harapan setiap anggotan dalam memanfaatkan sumberdaya. tetapi perlu dibangun struktur untuk menjamin konsistensi implementasi kesepakatan ini.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor “kesejahteraannya”. tetapi seringkali melalui lembagalembaga yang merefleksikan atribut kumpulan individu (kelompok) dan kepentingan bagi individu-individu yang mempunyai nilai-nilai atau kepentingan yang sama dalam satu kelompok. sehingga ekspektasinya juga berbeda. Hubungan antar manusia tidak selamanya cukup direfleksikan dalam konteks hubungan antar manusia (person to person). Unsur kesejahteraan perlu untuk digarisbawahi mengingat bahwa persepsi antar satu individu dengan individu yang yang terhadap konsepsi kesejahteraan berbeda-beda. maka kemudian dibangun kesepakatan untuk mengeksploitas sebagian kawasan maksimum pada tingkat daya dukungnya. Hal ini terutama ditujukan untuk menjamin konsistensi dalam menjaga kesepakatan-kesepakatan antar elemen dalam masing-masing lembaga maupun antar lembaga. Secara umum lembaga ini dapat disebut sebagai bentuk kelompok social (social groups). Lembaga-lembaga tersebut dapat meliputi lembaga-lembaga formal maupun informal. implementasi terhadap misi atas harapan masyarakat tersebut tidak selamanya bisa disandarkan pada mekanisme kesepakatan yang bersifat kognitif. tetapi perlu direpresentasikan dalam format yang tangible dalam struktur yang jelas. tetapi diperlukan juga dalam membangun mekanisme antar lembaga. Kesepakatan ini perlu dikembangkan tidak hanya pada tataran pemahaman antar anggota masyarakat saja sehingga bersifat kognitif. yang pada akhirnya menghasilkan kesepakatan-kesepakatan yang dapat diterima oleh masing-masing pihak. Misalnya.30 . Kelompok-kelompok yang melakukan kesepakatan tersebut sebenarnya membawa misi untuk mengimplementasikan ekspektasi-ekspektasi tersebut antar anggotanya. Inilah yang kemudian mengarah pada terbentuknya Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . lamanya sanksi social dan ha-hal lain yang terkait dengan usaha untuk menjamin kesepakatan dituangkan dalam satu kesepakatan (baik tertulis maupun tidak tertulis) sehingga secara nyata dapat dilihat wujud kesepakatan tersebut. Sehingga kelompok mengembangkan tindakan untuk memberi hukuman atas pelanggaran yang dilakukan oleh anggotanya misalnya pengenaan denda atau pengucilan secara social. Masing-masing lembaga tersebut berinteraksi. besarnya denda. Hanya saja. Mekanisme pemberian sangsi. hal ini juga Sehingga ketika kesepakatan-kesepakatan diambil.

b. Kelompok tidak hanya menggambarkan identitas indvidu anggotanya. sehingga masing-masing kelompok yang terlibat dalam kesepakatan dapat menjaga pelaksanaan kesepakatan. Setidaknya terdapat beberapa alasan mengapa kelembagaan yang kuat dan efektif perlu dibangun untuk pengelolaan sumberdaya seperti : a. Interaksi antar individu adalah kebutuhan mutlak. Berdasarkan uraian diatas. Penjagaan kesepakatan kelompok baik melalui aspek kognitif maupun struktural adalah usaha-usaha esensial yang diperlukan dalam pengelolaan kawasan minapolitan. tetapi juga diperlukan untuk menjaga perilaku anggota yang menggambarkan identitas kelompok tersebut.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor aturan-aturan kelompok. setiap individu terikat untuk melaksanakan kesepakatannya. Sedangkan pada kelompok formal mencakup pemerintahan (baik pusat maupun daerah) maupun kelompok-kelompok yang berbasis legal yang nyata. Kelembagaan yang kuat dan efektif menggambarkan mekanisme menghasilkan kesepakatan yang baik dan bentuk kesepakatan yang diterima (baik kognitif maupun structural). Bila kesepakatan terkait dengan pengelolaan sumberdaya sudah disetujui. Usaha-usaha ini dilakukan baik pada tataran kelompok informal maupun formal. Secara alamiah sifat dasar manusia sebagai makhluk social. terlihat bahwa pengelolaan kawasan minapolitan mensyaratkan adanya pembangunan lembaga (institution) baik formal maupun informal yang kuat serta pengembangan aturan main (baik kognitif maupun structural) yang secara efektif dapat diimplementasikan. sehingga berkelompok menjadi kebutuhan. maka biasanya individu yang telah menyamakan identitasnya dengan kelompok tersebut akan mengimplementasikannya dalam aktivitas individualnya. sebagai turunan konsepsi bahwa pengelolaan kawasan minaploitan adalah pengelolaan pemanfaatan sumberdaya oleh manusia. yang secara efektif akan dijalankan oleh anggotanya serta lembaga juga mempunyai mekanisme menjaga konsistensi implementasinya. Bila satu nilai tertentu telah diadopsi sebagai nilai kelompok (yang sebaiknya melalui mekanisme kesepakatan).31 . maka baik secara individual maupun kolektif kelembagaan. Kelompok-kelompok informal sering dipahami dan diaktualisasikan sebagai kelompok pada level masyarakat. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . Mekanisme ini juga dikembangkan pada relasi antar kelompok.

Jadi ada usaha kolaboratif menggabungkan beberapa kepentingan serta representasi dari nilai-nilai yang disepakati antar anggotanya. kelembagaan menggambarkan adanya interaksi antar individu dalam mencapai tujuan bersama serta usaha-usaha untuk menjamin bahwa harapan-harapan atau kepentingan mereka tetap terakokmodasi. merupakan satu konsepsi yang kompleks yang mengkaitkan antara elemen-elemen secara komprehensif. 1997. Sebagai sebuah konsepsi. kelembagaan dapat berupa organisasi atau wadah (players of the game) dan aturan main (rules of the game) yang mengatur kelangsungan organisasi maupun kerjasama antara anggotanya untuk mencapai tujuan bersama (Ostorm. Konsepsi kelembagaan secara teoritis sangat bervariasi tergantung pada tinjauannya. perlu mendapat perhatian yang sangat besar dalam pengembangan tidak hanya kelembagaan mendasarkan yang pada efektif. Institusi dapat berupa aturan formal atau dalam bentuk kode etik informal yang disepakati bersama. Williamson (1985) melihat dalam perspektif ekonomi dan mempelopori analisis ekonomi kelembagaan menyatakan bahwa kelembagaan mencakup penataan institusi (institutional arrangement) untuk memadukan organisasi dan institusi.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Kelembagaan. Penataan institusi adalah suatu penataan hubungan antara unitunit ekonomi yang mengatur cara unit-unit ini apakah dapat bekerjasama dan atau berkompetisi.32 . Dalam pendekatan ini organisasi adalah suatu pertanyaan mengenai aktor atau pelaku ekonomi di mana ada kontrak atau transaski yang dilakukan dan tujuan utama kontrak adalah mengurangi biaya transaksi. Artinya pengembangan kelembagaan pembentukan institusi/organisasi seperti halnya yang sering dipahami sekarang ini.all. Tinjauan konsepsi kelembagaan bekembang mulai dari pendekatan sosiologis. Ostorm 1986. Institusi ditekankan pada norma-norma prilaku. nilai budaya dan adat istiadat. sosial dan politik. organisasi ekonomis sampai dengan politik/kebijakan. Uphoff (1986) menyatakan kelembagaan sebagai suatu himpunan atau tatanan norma– norma dan tingkah laku yang bisa berlaku dalam suatu periode tertentu untuk melayani tujuan kolektif yang akan menjadi nilai bersama. Sehingga secara sederhana. Doward. North (1990) menyatakan aturan main di dalam suatu kelompok sosial dan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor ekonomi. 2006). North membedakan antara institusi dari organisasi dan mengatakan bahwa institusi adalah aturan main sedangkan organisasi adalah pemainnya. tetapi juga Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . Doward et. 1985. 1998 dalam Kartodiharjo dan Jamhani. Wadah atau organisasi dan peraturan-peraturan yang diperlukan untuk menjalankan organisasi menjadi hal yang tidak terpisahkan.

(i) Organisasi dan (j) Insentif untuk menghasilkan tingkah laku yang diinginkan Tinjauan teoritis seperti disebutkan diatas memberikan arahan tujuan pembentukan kelembagaan pengelolaan kawasan minapolitan Bogor.33 . (e) Kode etik. Secara akademis. Menjadi wadah untuk merumuskan dan memfasilitasi koordinasi dan partisipasi pemangku kepentingan dalam pengelolaan kawasan minapolitan. Keputusan constitutional memerlukan kelembagaan pembuat keputusan terkait aturan dasar. (h) Hak milik (property rights atau tenureship) . Tujuan-tujuan itu adalah : a.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor menyangkut seperangkat aturan (rules of the game) yang harus dan atau dapat dipatuhi oleh anggotanya. Pada level ini keputusan pemerintah daerah yang melibatkan pihak eksekutif dan legislative merupakan tingkat kelembagaan yang paling tinggi. tetapi terkonstruksi atas sejumlah elemen yang mendukung performa kelembegaan. maka pengambilan keputusan bersifat berjenjang dalam bentuk hirarki. (d) Aturan dalam masyarakat yang memfasilitasi koordinasi dan kerjasama dengan dukungan tingkah laku. hak dan kewajiban anggota. sehingga institusi tersebut dapat berperan secara efektif. Menjamin adanya organisasi/lembaga yang mempunyai tugas pokok dan fungsi (tupoksi) melaksanakan kegiatan-kegiatan sesuai dengan fungsi pengelolaan kawasan minapolitan Bogor. Kebutuhan akan kelembagaan bersifat berjenjang. kolektif dan operasional. (f) Kontrak. Merujuk pada Ostrom (1999) tentang pengambilan keputusan (choice) pada pengelolaan sumberdaya temasuk kawasan minapolitan Bogor. Secara hirarkial dari atas ke bawah secra vertical adalah pengambilan keputusan pada aras konstitutional. Menjadi wadah yang pemangku menampung kepentingan dan terkait mengolah/menganalisis dengan fungsi-fungsi aspirasi/pemikiran pengelolaan kawasan minapolitan c. (b) Norma tingkah laku yang mengakar dalam masyarakat dan diterima secara luas untuk melayani tujuan bersama yang mengandung nilai tertentu dan menghasilkan interaksi antar manusia yang terstruktur. (g) Pasar. Sebab dengan adanya kesepakatan yang tertuang dalam bentuk peraturan daerah merupakan peraturan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . Menjadi wadah untuk merumuskan aturan-aturan operasional yang terkait dengan pengelolaan kawasan Minapolitan sesuai dengan rujukan hirarki peraturan yang lebih tinggi. d. Elemen-elemen tersebut diantaranya adalah : (a) Institusi yang merupakan landasan untuk membangun tingkah laku social masyaraka. kelembagaan tidak bersifat uni-elemen. b. (c) Peraturan dan penegakan aturan/hukum.

Representasi kolektifitas ini ditunjukan keputusan yang bisa mengikat seluruh elemen stakeholder pengelolaan kawasan minapolitan. Pada keputusan constitutional ini dipengaruhi oleh kultur baik formal maupun informal dari pihak-pihak yang berinteraksi. Sehingga secara ringkas. Tidak semua kelembagaan tersebut harus berangkat pada titik nol (zero point). Keputusan operasional ini dihasilkan oleh kelembagaan operasional. setidaknya dibutuhkan 3 tingkatan kelembagaan yaitu pada tingkat konstitutional. Dalam hirarki vertical. yang bersifat pelaksana terhadap pengelolaan kawasan minapolitan. Bentuk kelembagaan juga mengikuti pola ini. Hirarki Pengambilan Keputusan Pengelolaan Sumberdaya Kawasan Minapolitan Bogor (Sumber : Modifikasi Ostrom. Pengertiannya adalah apabila pada tingkat constitutional sudah dirumuskan menjadi keputusan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR politik yang dsetujui oleh pihak VII . khususnya pada tingkat kelembagaan konstitutional dan kolektif. Bentuk keputusan ini misalnya adalah keputusan atau peraturan bupati yang dikeluarkan oleh bupati setempat.18. kolektif dan operasional. dimana kelembagaan yang menghasilkan keputusan ini juga merupakan lembaga yang bisa mengikat stakeholder pengelolaan minapolitan. Dalam hirarki ini. Karena kelembagaan-kelembagaan yang ada sekarang bisa menghasilkan keputusan-keputusan konstitional dan kolektif terkait dengan operasionalisasi kawasan minapolitan. Pola ini harus dibangun secara bersama.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor tertinggi di daerah sepanjang tidak menyalahi undang-undang pada tingkat yang lebih tinggi. maka keputusan ini tidak boleh bertentangan dengan keputusan kolektif. Pola aliran keputusan ini pada faktanya bisa bersifat dua arah (reversible) baik dari atas (top down) maupun dari bawah (bottom up). Sedangkan keputusan operasional meliputi keputusan operatif yang mengimplementasikan keputusan kolektif.34 . 1999) Pada tingkat dibawahnya adalah keputusan yang bersifat kolektif. Gambar 7. keputusan atau peraturan bupati tunduk pada peraturan pemerintah daerah.

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor
eksektif dan legislative tingkat pemerintah daerah, maka tahap berikutnya adalah memformulasikan keputusan-keputusan dibawahnya sampai pada keputusan

operasional. Sebaliknya proses-proses yang terjadi pada tingkat konstitutional juga harus melihat dinamika pada tataran masyarakat yang nantinya akan member masukan pada keputusan politik yang akan diputuskan. Hubungan antara keputusan dan proses

pembentukan kelembagaan pengelola kawasan minapolitan dapat dilhat dalam Gambar 7.19.

Gambar 7.19. Proses Pembentukan Kelembagaan Pengelola Kawasan Minapolitan

Pada sisi substantive, pembentukan kelembagaan melewati proses-proses pemahasan tentang hal-hal elementer tentang kelembagaan seperti kewenangan dan kewajiban (Gambar 7.20) Kewenangan dan kewajiban kelembagaan ini ditentukan setelah diputuskan rencana induk kawasan, sehingga lebih jelas apa yang akan dilakukan dalam kawasan tersebut. Dalam konteks kawasan Minapolitan Bogor, arahan rencana induk merujuk pada kegiatan perikanan baik dari sisi on-farm (budidaya) sampai dengan pengolahan dan pemasaran secara integral. Pembentukan kelembagaan ini didasarkan pada produk-produk legal (baik pusat atau daerah) sesuai hirarkinya mulai undangundang, peraturan pemerintah, peraturan/keputusan presiden, peraturan/keputusan menteri dan peraturan operasionalnya. Sedangkan pada produk legal daerah meliputi peraturan daerah, peraturan/keputusan bupati dan aturan operasionalnya.

Gambar 7.20. Tahapan Substantif Pembentukan Kelembagaan Operasional Pengelolaan Kawasan Minapolitan

Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR

VII - 35

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor
Pada proses pembentukan kelembagaan akan berakhir ketika proses-proses tesebut diatas telah berhasil mengidentifikasi bentuk kelembagaan yang bisa diterima oleh seluruh stakeholder. Pilihan bentuk kelembagaan dapat dilakukan dengan merujuk pada peraturan perundang-undangan yang berlaku, sehingga lembaga yang terbentuk akan berfungsi optimal. Kelembagaan minapolitan meliputi beberapa jenis kelembagaan yaitu (a) kelembagaan menyeluruh kawasan minapolitan, (b) kelembagaan pusat (sentra minaploitan) dan (c) kelembagaan periferi atau masyarakat. Kelembagaan menyeluruh merupakan

kelembagaan pada tingkat pengarah (steering) yang merupakan kelembagaan koordinasi antar stakeholder terutama antara satuan kerja pemerintah daerah (SKPD).

Kelembagaan sentra minaploitan, merupakan kelembagaan yang mengelola aset-aset yang terdapat pada sentra minapolitan. Sedangkan kelembagaan periferi atau masyarakat merupakan kelembagaan tingkat masyarakat baik pada tingkat

pembudidaya, pengolah maupun pemasaran. Hal yang krusial untuk dibahas adalah kelembagaan pada tingkat sentra minapolitan, karena terkait dengan pengelolaan aset-aset yang dibangun, baik aset bergerak (alat transportasi) maupun aset tidak bergerak (gedung, kolam, mesin dan peralatan pengolahan). Pilhan bentuk kelembagaan dalam bentuk daftar panjang (long list) kelembagaan pengelolaan kawasan sentra minapolitan dapat dilihat dalam Tabel 7.15.

Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR

VII - 36

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor
Tabel 7.15. Pilihan Daftar Panjang (long list) Bentuk Kelembagaan Pengelola Kawasan Minapolitan Bogor Basis 1. Pemerintah Pilihan Bentuk Organisasi a. Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) pada Dinas Teknis b. Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) c. Perusahaan Daerah (PD) d. Perseroan Terbatas (PT) Keterangan/catatan Didasarkan pada keputusan pemimpin daerah tentang pendelagasian tugas dan kewenangan. Budget berbasis pada pagu dan arahan APBD Didasarkan pada rujukan undang-undang dan keputusan pemimpin daerah. Budget dan bentuk program lebih fleksibel. Pemerintah daerah sebagai pengelola seperti swasta dan mempunyai saham berupa aset-aset milik PEMDA Pemerintah daerah menyerahkan aset untuk membantuk unit usaha komersial yang dikelola secara terpisah dari pengelolaan pemerintah daerah, dengan kepemilikan bisa menjadi milik public dimana pemerintah menjadi salah satu bagiannya. Otoritas pengelolaan berada di masyarakat. Efektivitas pengelolaan sangat ditentukan oleh kapasitas masyarakat.. Salah satu bentuknya adalah koperasi. Otoritas pengelolaan berbasis pada “kesepakatan” masyarakat dengan pemerintah. Bentuk riil sangat tergantung pada kualitas interaksi yang dipengaruhi oleh kapasitas masyarakat dan pemerintah. Otoritas pengelolaan diserahkan kepada pihak swasta. Bentuk-bentuk otoritas dan kewajiban bervariasi tergantung kesepakatan.

2. Pemerintah

3. Pemerintah 4. Pemerintah

5. Masyarakat

e. Pengelola Berbasis Masyarakat (CBM) f. Ko-manajemen

6. Interaksi Pemerintah dan Masyarakat 7. Swasta

g. Public-Private Partnership Operation

Uraian dan penjelasan baik menyangkut filosofi dan/atau dasar hukum alternatif kelembagaan tersebut dapat dilihat dalam uraian sebagai berikut. A. Kelembagaan Berbasis Pemerintah

1. Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Daerah Sesuai dengan UU No.41/2007 tentang organisasi perangkat daerah, UPTD-daerah merupakan satu lembaga teknis yang terdapat dalam organisasi pemerintah daerah yaitu dinas teknis daerah. Besaran organisasi perangkat daerah ini disesuai dengan variabel jumlah penduduk, luas wilayah dan besarnya APBD. Berdasarkan pada undang-undang ini, besaran organisai perangkat daerah kabupaten/kota berbedabeda jumlahnya menurut nilai skor daerah. Semakin tinggi jumlah skor daerah, semakin besar jumlah organisasi perangkat daerah yang diijinkan dibentuk di suatu daerah. Sementara UPTD Unit pelaksana teknis pada dinas terdiri dari 1 (satu)

Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR

VII - 37

2. BLUD bisa merupakan unit teknis dalam SKPD maupun satu SKPD sendiri.1/2004 kemudian diadopsi dalam PP No. BLUD merupakan bagian dari perangkat pemerintah daerah. UPTD akan bertanggung jawab kepada kepala dinas yang membidanginya. seperti pengecualian dari ketentuan pengelolaan keuangan daerah pada umumnya. Peraturan yang lebih operatif adalah Preaturan Menterdi Dalam Negeri (Permendagri) No.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor subbagian tata usaha dan kelompok jabatan fungsional.38 . didefinisikan sebagai instansi di lingkungan pemerintah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas. Konsep Badan Layanan Umum yang terdapat dalam UU No. pada kawasan minapolitan ini juga memerlukan dukungan stakeholder lintas sektoral atau kedinasan. Sehingga bila pengelolaan kawasan sentra diserahkan kepada UPTD diduga akan sulit untuk dilaksanakan secara optimal.61/2007 tentang pedoman teknis pengelolaan keuangan badan layanan umum daerah. Salah satu bentuk perbendaharaan adalah badan layanan umum yang dapat dibentuk di tingkat pusat dan daerah. Sehingga pilihan ini menjadi pilihan yang sulit untuk dilakukan. Secara hirarkis. Bila dilihat dari sisi struktur organisasi UPTD dan eselonisasi. konsep ini dituangkan dalam PP No. Secara lebih spesifik. Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Konsep Badan Layanan Umum (BLU) disebutkan dalam UU No. Berdasar struktur kepegawaian. menggambarkan kewengan/otoritas kelembagaan yang jauh lebih sempit dibanding dengan dinas teknisnya. maka kepala unit pelaksana teknis dinas di Kabupaten/Kota merupakan jabatan struktural eselon IVa. Sehingga bila pengelolaan diserahkan pada tingkat UPTD akan berpotensi menimbulkan overlaping dan konflik kepentingan antar beberapa dinas terkait.1/2004 tentang perbendaharaan negara.23/2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum.23/2005 dan Badan Layanan Umum. Berbeda dengan SKPD pada umumnya. Sebuah satuan kerja atau unit kerja dapat ditingkatkan statusnya sebagai BLUD. pola pengelolaan keuangan BLUD memberikan fleksibilitas berupa keleluasaan untuk menerapkan praktek-praktek bisnis yang sehat untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. dengan status hukum tidak terpisah dari pemerintah daerah. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII .Pada sisi lain.

Bila pada kondisi jumlah SKPD sudah memenuhi ketentuan maksimal jumlah SKPD. yang merupakan tugas perbantuan dari pimpinan daerah. Hal lain yang perlu dicatat adalah bila BLUD menjadi bentuk SKPD tersendiri. Sedangkan pungutan jasa dan hasil kerjasama dengan pihak lain akan masuk menjadi penerimaan daerah yang mengikuti pola yang ada. Remunerasi pada intinya dapat fleksible sesuai dengan profesionalisme. juga mendapatkan tambahan remunerasi sesuai dengan profesionalisme. dapat dikelola langsung untuk membiayai pengeluaran BLUD sesuai dengan RBA. sumber pendanaan BLUD juga mencakup (d) hasil kerjasama dengan pihak lain.39 . Hibah yang tidak mengikat. Sementara berdasar Permendagri No. Menurut Permendagri No. pada faktanya sebagian besar personalia dari pengelola BLUD sekarang ini merupakan aparatur pemerintah (PNS). pendapatan selain dari pendapatan hibah yang tidak mengikat. disamping menerima gaji pokok dan tunjangan sesuai ketentuan tentang PNS.61/2007. Pertanggungjawaban dari pemanfaatan sumber pendanaan berbedabeda menurut sumbernya. maka pembentukan SKPD ini juga berpotensi untuk meniadakan salah satu SKPD yang sudah ada sekarang ini.Pemanfaatan sumber pendanaan dari APBD dan APBN. maka pertanggungjawaban mengikuti mekanisme pemanfaatan dana APBD. Hal yang perlu dicatat adalah bahwa struktur organisasi BLUD meskipun ada keluluasaan administrasi keuangan dan program. maka berpotensi untuk mengarah pada benturan dengan jumlah SKPD yang diijinkan menurut peraturan yang ada. b. Pungutan Jasa dan c.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Contoh dari SKPD dengan status BLUD adalah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD). APBD. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . (e) APBN dan (f) lain-lain pendapatan yang syah. Sehingga terjadi peluang bahwa dari sisi kebutuhan organisasi membutuhkan dukungan operasional yang tinggi tetapi dari sisi personalia tidak memungkinkan karena statusnya sebagai PNS. Berdasarkan peraturan yang ada. tanggung jawab dan resikonya. Unit organisasi BLUD dibawah kendali seorang pimpinan. Sementara pertanggungjawaban yang bersifat hibah sesuai dengan peruntukannya.61/2007. Persoalan ini menjadi catatan penting dari sisi kinerja kelembagaan. maka sumber pendanaan BLUD meliputi :a. tanggung jawab dan resikonya. Unit kerja seperti puskesmas atau tempat rekreasi tidak tertutup kemungkinan ditingkatkan statusnya sebagai BLUD. Merujuk pada peraturan yang ada. Bila personalia pengelola BLUD merupakan PNS. struktur pengelola unit BLUD dapat berasal baik dari pegawai negeri sipil (PNS) maupun non-PNS.

6/1969 dinyatakan bahwa undang-undang yang lama tetap berlaku bila belum terdapat undang-undang pengganti.5/1962 pemanfaatan hasil keuntungan perusahaan daerah ditujukan untuk (a) dana pembangunan daerah. sumbangan dana pensiun dan sokongan. Bila merujuk pada aturan yang ada. jasa produksi. Pasal 25 ayat 4 menyatakan bahwa penggunaan laba untuk cadangan umum bilamana telah tercapai tujuannya dapat Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . Modal Perusahaan Daerah terdiri untuk seluruhnya atau untuk sebagian dari kekayaan Daerah yang dipisahkan. 5/1962 telah dicabut dengan dikeluarkannya UU No.5/1962 tetap berlaku.31998 tentang BUMD meyebutkan secara eksplisit bahwa keuntungan dari PD merupakan salah satu sumber PAD (pasal 7). Sebenarnya UU No.5/1962 tentang Perusahaan Daerah. Besarnya alokasi masing-masing komponen tesebut tergantung modal PD milik satu daerah atau milik dari beberapa daerah (Bab XIII pasal 25). Rujukan undang-undang tentang PD adalah UU No.5/1962. Sehingga UU No. Artinya tidak semuanya dapat digunakan untuk rekapitulasi usaha bila tidak disertai peraturan khusus dari kepala daerah tentang pemanfaatan ini.6/1969 tentang pencabutan UU No. maka pemanfaatan keuntungan dari PD harus masuk melalui mekanisme PAD yang menjadi bagian APBD. Permendagri tersebut menyatakan bahwa BUMD yang berbadan hukum PD tunfuk pada undang-undang yang berlaku.3/1998). Permendagri No. kecuali jika ditentukan lain dengan atau berdasarkan Undang-undang. Berdasarkan UU No. sosial dan pendidikan.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 3. Secara umum.40 . Tetapi dalam salah satu klausul UU No. Tujuan Perusahaan Daerah ialah untuk turut serta melaksanakan pembangunan Daerah khususnya dan pembangunan ekonomi nasional umumnya dalam rangka ekonomi terpimpin untuk memenuhi kebutuhan rakyat dengan mengutamakan industrialisasi dan ketenteraman serta kesenangan kerja dalam perusahaan. berdasar UU No.5/1962 ini yang dimaksud Perusahaan Daerah ialah semua perusahaan yang didirikan berdasarkan Undang-undang ini yang modalnya untuk seluruhnya atau untuk sebagian merupakan kekayaan Daerah yang dipisahkan. sedangkan yang berbentuk perseroan terbatas (PT) tunduk pada undang-undangnya. Perusahaan Daerah Perusahaan Daerah (PD) merupakan salah satu bentuk badan hukum Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) (Permendagri No. menuju masyarakat yang adil dan makmur. (b) anggaran belanja daerah dan (c) untuk cadangan umum.

Artinya harus selalu diusahakan bahwa porsi kepemilikan saham pemerintah merupakan saham mayoritas (pengendali) dengan jaminan pada pengendalian arah kebijakan perusahaan. obligasi dari PT.4/2000 yang mencabut Permendagri No. dimana PT berhak untuk menerbitkan saham untuk mendapatkan tambahan modal. Tetapi dengan diterbitkannya No. Bila kepemilikan saham diluar pemerintah lebih Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . maka sebagai konsekuensinya adalah komposisi ini bisa berubah ketika saham diluar kepemilikan pemerintah menjadi lebih besar. Kerjasama ini diantaranya dalam bentuk kerjasama manajemen.4/1990. swasta dan masyarakat (pasal 8).3/1998 bahkan menyebutkan bahwa kepala daerah (termasuk Bupati) dapat merubah bentuk hukum Perusahaan Daerah (PD) menjadi PT.40/2007 tentang perseroan terbatas. termasuk Permendagri Permendagri No.4/1990 mengijinkan adanya kerjasama perusahaan daerah dengan pihak ketiga.3/1998). pembelian saham. kontrak. Perusahaan Daerah. Namun peraturan ini menyebutkan bahwa bagian terbesar dari saham Perseroan Terbatas dimiliki oleh Pemerintah Daerah dan Perusahaan Daerah. Demikian pula cara mengurus dan penggunaan dana penyusutan dan cadangan tujuan ditentukan oleh kepala Daerah/pemegang saham/saham prioritet. Secara spesifik bahkan dinyatakan bahwa pada perusahaan daerah yang tidak menghasilkan laba seperti tersebut diatas disebabkan karena pertimbangan dan kebijaksanaan Pemerintah Daerah dapat juga diberi jasa produksi yang ditentukan oleh Pemerintah Daerah. keagenan. yang tunduk pada undang-undang tentang PT.4/1995 tentang petunjuk pelaksanaanyya.41 . Sesuai dengan UU No. 4. Sehingga PD tidak diperbolehkan lagi untuk bekerjasama dengan pihak ketiga dalam bentuk seperti yang disebutkan diatas. Pada awalnya sesuai dengan Permendagri No. Permendari No. pemakaian dan penyaluran.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor dialihkan kepada penggunaan lain dengan keputusan Pemerintah Daerah yang mendirikan. Perseroan Terbatas (PT) juga merupakan salah bentuk BUMD (Permendagri No. Perseroan Terbatas (PT) Seperti halnya PD. Dimana saham dalam PT yang terbentuk dapat dimiliki oleh Pemerintah Daerah. penjualan saham dan obligasi (go public) maupun bentuk-bentuk kombinasinya. Artinya bila memang kelembagaan kawasan sentra minapolitan diharapkan untuk dapat melakukan rekapitulasi diperlukan peraturan khusus tentang kepala daerah tentang pemanfaatan keuntungan ini.

Namun demikian persoalan ini menjadi lebih rumit. Salah satu bentuk badan hukum pengelolaan kawasan sentra minapolitan dengan semangat ini adalah koperasi Secara praktis. Pola kelembagaan ini memunculkan dua kemungkinan yaitu berjalan efektif bahkan sebaliknya berjalan sangat tidak efektif dan berpotensi terjadi salah pengelolaan (mismanagement).Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor besar dari saham yang dimiliki oleh pemerintah maka kendali kebijakan perusahaan tidak lagi berada pada pemerintah. maka dalam jangka panjang bisa menabrak rambu-rambu ini. pengelolaan akan berjalan efektif dan lebih baik bila didrive dari kebijakan yang benar yang diturunkan dalam kebijakan operatif yang memadai. Merunut kembali pada tujuan pengembangan minapolitan yang diarahkan pada meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang sebesar-besarnya. pengambilan keputusan dilakukan pada tingkat komunitas/masyarakat yang mempunyai hak pada bidang pengelolaan sumberdaya termasuk kawasan sentra minaploitan. Pada sisi lain. B. persoalan ini menjadi sangat krusial mengingat bahwa kapasitas masyarakat seringkali tidak memadai baik secara individual maupun kolektif. Pada PBM ini. Kondisi ini menunjukan perlunya tambahan saham dari pemerintah. walaupun terdapat tokoh individual yang memenuhi kriteria tersebut tetapi tidak mendapatkan dukungan dari komunita lainnya juga tidak bisa berjalan dengan baik. Sebab orientasi pengelolaan kawasan sentra minapolitan tidak menjadi bagian service yang diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan minapolitan tetapi meningkatkan keuntungan yang sebesar-sebesarnya bagi PT pengelola kawasan sentra minapolitan. Hal ini akan bisa dilakukan bila didasarkan pada input pengambilan kebijakan yang valid. sebab peraturan ini tidak memuat pasal yang memberikan penjelasan secara jelas apakah penambahan penyertaan modal dapat dilakukan melalui pengadaan dana dari APBD setempat. Bodin and Crona (2007) menyatakan bahwa adanya modal sosial dan kepemimpinan merupakan prasyarat penting dalam pengelolaan sumberdaya. Pengelolaan Berbasis Masyarakat (PBM) Pengelolaan Berbasis Masyarakat (PBM) adalah suatu kelembagaan yang dibentuk dan dikembangkan berdasarkan inisiatif dari masyarakat. Keengganan masyarakat untuk melaporkan terjadinya pelanggaran pada pengelolaan sumberdaya walaupun tingkat modal sosial yang menggambarka jejaring sosial menjadi salah satu faktor kegagalan ini. kuat dan visioner.42 . homogenitas pandangan individu-individu Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . bila pengendali saham adalah swasta. Bahkan tidak jarang yang terjadi. Pada PBM.

Hal ini bisa berdampak pada dominannya salah satu individu atau sekelompok kecil individu dalam membentuk opini. Baik dalam aspek pemeliharaan aset. pengambilan keputusan mempunyai legitimasi yang kuat secara sosio-kultural. hal ini membutuhkan prasyarat kelembagaan yang sangat kuat. Beberapa kasus merujuk regim pengelolaan di luar negeri seperti pengelolaan perairan di Jepang yang berbasis komunitas (misalnya koperasi nelayan). juga memerlukan administrasi pertanggungjawaban yang akuntabel sehingga tidak menimbulkan permasalahan legal di kemudian hari. Secara sosiologis. Apabila akan dikelola secara PBM. tetapi semangat dan filosofi ini perlu dikembangkan dalam pengelolaan. Pada praktisnya. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . Sehingga.43 . Hal ini dilakukan dengan mengadopsi konsep keterlibatan masyarakat.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor kunci harus dimaknai secara hati-hati karena berpotensi untuk melihat permasalah secara seragam sehingga kurang bisa mengenali perubahan ekologis. pola pembentukan ini mulai diintroduksi ketika sistem sosial komunitas (pesisir termasuk nelayan) masih mengerucut dengan tingkat ketokohan lokal yang kuat. bentuk penyertaan ini harus tertuang secara jelas kemudian pengelolaanya juga harus dipertanggungjawabkan secara jelas. mengakar dan efisien. Sehingga lembaga dalam pengertian organisasi pengelola akan mampu mengoperasikan fungsi-fungsi pengelolaan dengan baik. diikuti peraturan operasional dibawahnya. PBM akan berjalan efisien ketika mendapat dukungan kualitas pengelolaan yang kuat. Pada tataran praktis. walaupun secara filosofis dan ideologis pengelolaan PBM adalah merupakan kondisi ideal pengelolaan sumberdaya termasuk kawasan lindung. tetapi karena besarnya kendala operasional pengelolaan maka konsep ini jarang sekali digunakan di Indonesia. karakteristik masyarakat. adanya penyertaan aset dari pemerintah dalam kawasan minapolitan. Secara legal pengelolaan dengan pola ini di Jepang mempunyai dua dukungan peraturan setingkat undang-undang yaitu Undang-Undang Perikanan dan Undang-Undang Koperasi Nelayan. dari sisi pendanaan operasional. pengambilan keputusan dan aksi yang diperlukan. Namun demikian. pemanfaatan maupun distribusi benefit baik untuk biaya pengelolaan maupun keuntungan pengelolaan. Pada sisi lain. tetapi tidak dalam kondisi penuh atau maksimal. bentuk Walaupun pada tataran operasional hal ini diduga masih sulit dilakukan pada kasus pengelolaan kawasan lindung Pamurbaya.

(4) Proses yang terencana. (5) keberagaman substansi dan benefit bagi stakeholder. ketika bentuk co-management menjadi pilihan.al. Bentuk interaksi ini menghasilkan tingkat sharing (kekuatan dan dukungan) yang bervariasi seperti diuraikan oleh beberapa ahli seperti Pomeroy (1995). yaitu masyarakat secara penuh pada satu sisi dan pemerintah secara penuh pada sisi yang lain. kemudian komunikasi. Bila prasyarat ini tidak dipenuhi. Berkes et. kerjasama. agar proses interaksi antara pemerintah dapat berjalan dengan baik dan mendukung efektivitas dan efisiensi pengelolaan. Interaksi antar dua kutub tersebut menghasilkan pola kelembagaan interaktif masyarakat dan pemerintah yang disebut ko-manajemen. bukan hanya sekelompok stakeholder. (3) Dukungan komunitas. (1991). Noble (2000) menyatakan bahwa terdapat 6 prinsip secara kelembagaan yang mendukung efektivitas co-management pengelolaan sumberdaya yaitu (1) adanya organisasi yang interaktif. akan bermuara pada dukungan komunitas lokal yang baik. konsepsi tentang co-management pun bervariasi tergantung pada posisi tawar serta kapabilitas masing-masing stakeholder yang beinteraksi yaitu pemerintah dan masyarakat. Pada faktanya. penataan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . Implementasi pola pengelolaan seperti telah disebutkan diatas membutuhkan dukungan dan kapasitas kelembagaan (perangkat peraturan dan organisasi) yang sangat kuat. tetapi semangat melibatkan masyarakat lokal dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan. Carlson and Berkes (2005). sampai bentuk joint action pada tingkat posisi tawar dan kapabilitas yang sama ataupun bergerak ke communication control dan inter area coordination yang condong ke masyarakat (lihat gambar berikut). biasanya sulit mendapatkan hasil maksimal. dan (6) Penataan kelembagaan yang menyeluruh (holism). Bentuk-bentuk ini bervariasi dari mulai sekedar informatif. Prinsip-prinsip tersebut perlu menjadi catatan. Hal ini bisa diperoleh bila gain adanya kawasan tersebut dapat terdistribusi dengan baik kepada stakeholder.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor C. (2) Kuatnya kontrol lokal. Oleh karena itu.44 . Pilihan bentuk kelembagaan pengelolaan kawasan minapolitan perlu diarahkan untuk mendorong persyaratanpersyaratan tersebut dipenuhi. konsultatif yang condong pada kutub government base. Walaupun dalam beberapa kasus aka sulit dilakukan. Pengelolaan Ko-Manajemen (Co-Management) Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa kutub pengelolaan sumberdaya dapat bergerak pada dua titik ekstrim.

21. Gambar 7. Pengertian Public-Private Partnerships (Kerjasama Pemerintah dengan Swasta/KPS)Suatu Perjanjian Kerja Sama (PKS) atau Kontrak. antara instansi pemerintah dengan badan usaha/pihak swasta. Hal ini tentunya memnbutuhkan asesmen kesiapan baik dari sisi pemerintah maupun masyarakat. ditujukan untuk memberikan ruang bagi swasta untuk berpartisipasi terhadap prosesproses pembangunan. sehingga mendorong swasta untuk berhati-hati dan bekerja dengan efisien.45 . Pelibatan masyarakat dalam struktur kelembagaan perlu dilakukan dengan hati-hati. dimana : a) pihak swasta melaksanakan sebagian fungsi pemerintah selama waktu tertentu. b) pihak swasta menerima Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . PBB (2008) menyatakan bahwa adanya PPP menggeser resiko yang biasanya ditanggung oleh pemerintah kepada sector swasta. D. Dimana perwakilan masyarakat akan ditempatkan sesuai dengan level hirarki co-management yang aka diaplikasikan. Permasalahan muncul terkait dengan akuntabilitas bila pengelolaan berbasis anggaran pemerintah setempat. Hirarki Co-Management (Setelah Berkes) Sumber : Pomeroy (1995). Kerjasama Pemerintah Swasta (Public Private Partnership Operation ) Kerjasama Operasi Swasta-Pemerintah (PPP = Public-private partnership operation). mengingat bahwa sistem pelaporan terhadap pemanfaatan APBD mempunyai struktur baku.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor kelembagaan secara keseluruhan menjaadi penting yang menguatkan kapasitas baik pada tingkat komunitas maupun pemerintah.

Namun pada faktanya di Indonesia. simpler dan better. Spektrum model PPP termasuk sebagian dari bentuk-bentuk PPP dapat dilihat dalam gambar berikut. kelembagaan maupun pelatihan. PPP harus juga memenuhi standar-standar good governance yang dipersyaratakan seperti partisipasi. Operation & Maintenance Contract (O & M). Berdasarkan polanya. Seperti halnya kebijakan public lainnya. 2008) : 1. santun (decency). Risk Sharing yang mencakup nilai cooperative sharing dan mutual support Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . maka kegiatan atau proses pembangunan dapat tercapai. Pengembangan Kapasitas (capacity building) baik skill. lahan atau aset lainnya dapat diserahkan atau digunakan oleh pihak swastas selama masa kontrak. monitoring dan evaluasi sampai pada bentuk kelembagaan operasionalnya. terdapat beberapa bentuk operasi PPP (UNECE. Build-Own-Operate (BOO). efisiensi dan pembangunan berkelanjutan. transparansi. Operation License. operasi aset sampai pengadaan infrastruktur. sampai dengan pembukaan lapangan kerja. Sehingga pengoperasian pengelolaan KLM Pamurbaya dengan pola seperti ini memerlukan banyak penelaahan terutama dari sisi legal.46 . c) pihak swasta bertanggungjawab atas resiko yang timbul akibat pelaksanaan fungsi tersebut. Build-Lease-Operate-Transfer (BLOT). akuntabilitas. efisiensi. 2008) seperti Buy-Build-Operate (BBO). Misalnya bentuk-bentuk penyertaan aset pada pengelolaan. mulai jasa.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor kompensasi ataspelaksanaan fungsi tersebut. Design-Build (DB). Tujuan dari penerapan kerjasama pemerintah-swasta sangat beragam mulai dari mendapatkan dana investasi. Meningkatkan Legal Framework (Improving legal framework) dalam pengertian fewer. Berdasarkan cara ini. transparansi. dengan keterlibatan pihak swasta untuk jangka waktu tertentu. bentuk-bentuk kerjasama ini masih didominasi pada pengadaan dan operasionalisasi aset infrastruktur misalnya jalan tol. dan UNECE telah menyusun prinsip-prinsip tata kelola (good governance) PPP sebagai berikut (UNECE. Build-Own-Operate-Transfer (BOOT). Bersandar pada kebijakan (policy) 2. keadilan. kontrak kerjasama ini sangat beragam. Build-Operate-Transfer (BOT). Finance Only. Waktu kontrak bisa mencapai 30 tahun berdasarkan kebutuhan. 3. pertanggung jawaban. dan d) fasilitas pemerintah. DesignBuild-Finance-Operate (DBFO). baik secara langsungmaupun tidak langsung. Secara teoritis. 4. Sehingga prinsipprinsip dalam PPP harus memenuhi standar-standar tersebut.

Struktur dan eselonisasi pejabat jelas (rujukan legal 2. 1. Walaupun secara teoritis cukup menguntungkan. Kejelasan sumber anggaran belanja 3. Adanya potensi overlap dan konflik kepentingan antar SKPD yang terkait. Meletakan (kepentingan) Masyarakat sebagai hal pertama (Putting people first) dalam bentuk pemberian informasi. Tidak adanya jamina dukungan dari masyarakat terutama terkait dengan suplai bahan baku karena kepemilikan masyarakat tidak ada. (seperti jasa dan hibah) akan menurunkan kinerja pembiayaan program. Diluar infrastruktur tersebut masih belum diaplikasikan konsep ini. 2. 3. 1. pola PPP di Indonesia baru diaplikasikan untuk infrastruktur jalan. 2. Akuntabilitas pengelolaan aset dan struktur kelembagaanya. Berdasarkan uraian diatas dapat disusun tabel yang menggambarkan kelebihan dan kekurangan bentuk organisasi pengelola. BLUD 1. Potensi Kelebihan dan Kekurangan Pilihan Bentuk Organisasi Pengelola KLM Pamurbaya. Struktur dan eselonisasi pejabat jelas (rujukan legal 2. seperti terlihat dalam tabel berikut. adanya peran pemerintah (government role) dan distribusi manfaat (belivery of benefit) yang baik dan adil. Ketersediaan personalia pendukung dari aparatur pemerintah Kekurangan 1. Kontrol dan pelaporan hanya kepada otoritas kepala daerah 3. jembatan dan pelabuhan. Ketersediaan personalia pendukung dari aparatur pemerintah 4. tapi implementasi di Indonesia masih terkendala dengan kebijakan pemerintah. netral dan tidak diskriminatif. 1. Tidak adanya jaminan kebijakan 2. Kurang fleksible terhadap kebutuan pengelolaan 3. Perencanaan sentralistik dan government base 4. Berorientasi lingkungan yang bersifat ramah (green case). 4. akuntabilitas dan digalangnya dukungan. Ketersediaan personalia pendukung dari aparatur pemerintah 4. Struktur dan eselonisasi pejabat jelas 2. Fleksibilitas perencanaan dan pemanfaatan anggaran lebih baik dari UPTD 3. Bentuk Badan Hukum Organisasi UPTD Kelebihan 1. Pertanggungjawaban anggaran harus mengikuti tertib administrasi yang baku 5. Jaminan pemanfaatan keuntungan usaha untuk rekapitalisasi usaha 2. Kinerja dan ritme kerja mengikuti pola reward and punishment PNS 1. 7. 6. Fleksibilitas perencanaan dan 4. Perseroan Terbatas Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII .Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 5. Fleksibilitas perencanaan dan pemanfaatan anggaran lebih baik dari SKPD/UPTD 1. Procurement yang transparan.16. Kegagalan untuk menggali sumber-sumber pendanaan selain APBD. Kejelasan sumber anggaran belanja pokok 3. Kejelasan sumber anggaran belanja pokok 3. Kinerja dan ritme kerja personalia mengikuti pola reward and punishment PNS yang belum tentu cukup untuk kebutuhan pengelolaan. Perusahaan Daerah 1. Tabel 7.47 . Tidak diijinkan kerjasama membentuk perserikatan dengan pihak ketiga 4. Sampai sekarang. No. Perlunya kapasitas pengelola setigkat SKPD yang dapat melampui jumlah maksimal SKPD yang diijinkan oleh peraturan yang ada.

Arahan pengelolaan bisa menjadi lebih baik bila ada sumber atau pihak yang mempunyai kapasitas lebih baik. 3. sehingga memerlukan asesmen yang tepat. perseroan terbatas (PT). Akuntabilitas penyertaan aset daerah kepada pengelola. Operasional pengelolaan bisa lebih akuntable. 3. 3. Akuntabilitas penyertaan aset daerah pada pengelola 2. Keterjangkauan program berdasar kebutuhan pengelolaan dan masyarakat sekitar 3. Kebiasaan yang terjadi di Indonesia masih didasarkan pada kerjasama bidang infrastruktur. Agar tetap menjadi pemegang saham pengendali terdapat potensi haru meningkatkan saham penyertaa setiap waktu tertentu. 4. Perlu ketetapan jangka waktu tertentu dan review atas kerjasama 3. Pilihan-pilihan tersebut memerlukan catatan tersendiri dalam bentuk tindakan kebijakan pimpinan daerah untuk Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . Range hirarki tingkat Co-management pengelolaan luas. 2.48 . maka pilihan alternatif kelembagan pengelola sentra minapolitan meliputi bentuk-bentuk : Perusahaan daerah (PD). Pengambilan keputusan bisa lebih cepat bila kapasitas masyarakat (koperasi) cukup. 5. 4. 4. Kurangnya kapasitas masyarakat dalam proses pengelolaan secara umum 3. Pengambilan keputusan bisa memerlukan proses yang cukup lama bila kapasitas pemerintah dan masyarakat tidak sama. Public-Private Partnership (PPP) 1. 6. tujuan dan semangat pengembangan kawasan minaploitan. BLUD dan Koperasi. Pengambilan keputusan berlarut-larut bila kapasitas masyarakat tidak cukup. Adanya dukungan anggaran pemerintah pada programprogram dasar sesuai perencanaan daerah 1. 3. Co-management 1. Sesuai dengan analisis pada tabel diatas serta dikaitkan dengan azas.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor No. 2. 2010. Kontrol dan arah pengelolaan bisa salah bila kapasitas masyarakat tidak cukup. baik dari pemerintah maupun masyarakat. 2. Memungkinkan untuk mendapatkan dana penyertaan dari masyarakat dan swasta Kekurangan operasional perseroan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat ketika pemerintah tidak menjadi pemegang saham pengendali. Kontrol terhadap pengelolaan aset perlu kuat dan mengikuti rambu-rambu peraturan dan tujuan pengembangan kawasan minapolitan. Sumber pembiayaan tidak hanya tergantung dari pemerintah 3. dan dilakukan secara akuntabel dan transparan untuk mengindari klaim dari pihak lain. Beban pembiayaan bisa sharing pemerintah dengan swasta. Pengambilan keputusan bisa cepat dan rasional 7. dan efisien bila partner mempunyai kapasitas yang cukup. 5. 4. Sumber : Hasil analisis. Disyaratkan kesiapan dan kecukupan kapasitas masyarakat dan pemerintah 2. Kontrol dan monitoring lebih baik. Bentuk Badan Hukum Organisasi (PT) Kelebihan pemanfaatan anggaran lebih baik dari SKPD/UPTD 2. Keterlibatan masyaarakat/swasta tinggi. Dukungan stakeholder tinggi (baik pemerintah maupun masyarakat) 2. Dukungan masyarakat dan stakeholder tinggi. 2. PBM (Koperasi) 1. 1. Sumber pembiayaan untuk mempertahankan saham pengendali apakah memungkinkan dari APBD 1. Sulitnya mendapatkan dukungan dan akuntabilitas anggaran 4. Akuntabilitas pemilihan partner harus baik.

49 .Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor mengamankan tujuan pembentukan kawasan minapolitan seperti tertuang dalam tabel berikut. Alternatif Daftar Pendek Pilihan Kelembagaan Pengelola Kawasan Sentra Minapolitan No. BLUD 4. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII .17. etos kerja dan sistem merit pengelola serta potensi overlaping SKPD sesuai peraturan yang ada. serta tetap menjamin tujuan dan fungsi kawasan minapolitan secara umum. Bisa diterapkan bila pemerintah (langsung maupun melalui PD) dan masyarakat budidaya di daerah bisa menjadi pengendali kebijakan perusahaan yang berorientasi pada fungsi kawasan sentra minapolitan dalam rangka mencapai tujuan pengembangan minapolitan secara umum. Perseroan Terbatas (PT) Catatan untuk untuk bentuk kelemmbagaan adalah pilihan tersebut harus tetap mengikuti rambu-rambu peraturan yang ada sehingga tidak menimbulkan permasalahan hukum di kemudian hari. Koperasi 3. 1. Bentuk Badan Hukum Organisasi Perusahaan Daerah (PD) Catatan Perlu adanya komitmen yang tertuang dalam kebijakan pimpinan daerah bahwa keuntungan digunakan untuk rekapitulasi pengembangan fungsi kawasan sentra minapolitan dalam rangka mencapai tujuan pengembangan minapolitan secara umum Perlu asistensi manajerial dan sistem pengawasan yang kuat serta pembentukan AD/ART yang menjamin arah kebijakan organisasi untuk pengembangan fungsi kawasan sentra minapolitan dalam rangka mencapai tujuan pengembangan minapolitan secara umum Bila tidak menimbulkan permasalahan yang terkait dengan profesionalisme manajerial. Tabel 7. 2.

pendidikan dan pelatihan kegiatan perikanan budidaya.STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KAWASAN MINAPOLITAN 8 8. maka pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Bogor adalah : “TERWUJUDNYA KAWASAN MINAPOLITAN SEBAGAI PUSAT PENGEMBANGAN KEGIATAN PERIKANAN BUDIDAYA UNTUK KESEJAHETRAAN MASYARAKAT” Pernyataan tersebut mengandung makna bahwa : Pusat Kegiatan Perikanan Budidaya berarti bahwa diharapkan kawasan minapolitan di Kabupaten Bogor menjadi pusat kegiatan perikanan budidaya dari mulai pembenihan. pengolahan sampai pada pemasaran. Berdasarkan hasil penggalian aspirasi dan hasil agregasi potensi. Kesejahteraan Sejahtera berati bahwa pengembangan kawasan minapolitan selain harus meningkatkan pendapatan dari pembudidaya dan pengolah ikan . hendaknya juga dapat memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat lainnya yang berada dalam kawasan tersebut melalui kegiatan-kegitan lain baik yang terkait secara langsung maupun yang tidak langsung dengan minapolitan.1. Disamping itu pengembangan kawasan minapolitan juga harus dapat menjadi rujukan maupun pendorong bagi pengembangan sector-sektor lain didaerah tersebut. Minapolitan diharapkan juga menjadi pusat sarana informasi. isu dan permasalahan dari data sekunder dan penelitian lapang. pendederan. Visi dan Misi Visi merupakan ungkapan keinginan atau harapan atau pandangan masa depan yang ingin dicapai semua pihak yang terkait (stakeholders) terhadap pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Bogor. pembesaran. Dengan visi ini diharapkan kawasan minapolitan dapat bermanfaat secara optimal dan berkelanjutan yang ditujukan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat dan menjadi kebanggaan bagi masyarakat Kabupaten Bogor. Dalam rangka mewujudkan visi tersebut maka misi yang akan dijalankan adalah: 1) Mengembangkan Sentra Produksi Komoditi Unggulan .

Dengan demikian daya saing lele Bogor dapat meningkat dan mempermudah pemasaran lele Bogor. Infrastruktur Perikanan. Bank induk memperoleh keuntungan dari pembayaran sewa indukan.1. Berikut ini adalah beberapa program yang dapat dilakukan dalam rangka untuk mencapai strategi tersebut di atas. Program ini didasari atas dasar permasalahan dalam hal kualitas induk dan benih yang masih rendah. sehingga kualitas dan kuantitas induk dapat terkontrol. Strategi dan Arah Kebijakan Pengembangan Minapolitan Dengan memperhatikan isu dan permasalahan dan harapan. baik lokal maupun luar daerah. 8. serta untuk mencapai visi dan misi pengembangan kawasan Minapolitan di Kabupaten Bogor.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 2) Mengembangkan Jaringan Pemasaran Berbasis Teknologi Informasi 3) Mengembangkan Kawasan Minapolitan Sebagai Kawasan Minaeduwisata 4) Mengembangkan Pengolahan Produk Ikan Lele 5) Mengembangkan Pusat Pelayanan Kawasan (Sentra Minapolitan) 6) Mengembangkan Infrastruktur Dasar. Program Peningkatan Kapasitas Sumberdaya Manusia.2. dan lain-lain. maka berikut ini adalah beberapa strategi dan arah kebijakan yang akan ditempuh dalam pengembangan kawasan minapolitan. sehingga program yang perlu dilakukan adalah pembentukan bank induk ikan air tawar : pembenih dapat menyewa induk siap suntik dari bank induk dengan sistem sewa. Mengidentifikasi upaya upaya yang dapat dilakukan untuk peningkatan daya saing lele minapolitan dengan peningkatan kualitas produksi dan pembentukan merk/branding lele bogor dengan kualitas sebagai berikut: (i) bebas antibiotik. Program peningkatan kuantitas dan kualitas induk dan benih.2. c. latar belakang keluarnya program ini adalah karena selama ini kualitas sumberdaya manusia yang bergerak Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VIII . b.2 . (ii) bebas bau lumpur. Strategi Pengembangan Sentra Produksi Komoditi Unggulan Strategi Pengembangan Sentra Produksi Komoditi Unggulan merupakan strategi yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas komoditi unggulan. yaitu: a. dalam hal ini komoditi Ikan Lele sehingga produksinya dapat bersaing di pasaran. dan Wisata 7) Mengembangkan Sistem Kelembagaan minapolitan 8) Mengembangkan Pembiayaan minapolitan 8. (iii) dipelihara tanpa menggunakan kotoran.

Program Pengembangan Sumberdaya manusia 8. Paket wisata kuliner ditujukan kepada pengunjung yang ingin menikmati hasil olahan lele. sehingga perlu peningkatan kapasitasnya dengan melakukan pendidikan dan pelatihan dalam kegiatan budidaya perikanan.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor dalam kegiatan budidaya masih sangat rendah. Pusat pelatihan budidaya dan pengolahan ikan. dan pusat data hasil perikanan minapolitan. Akar permasalahan dari persaingan harga ini adalah tidak adanya pusat informasi yang akurat yang memberikan informasi harga di pasaran kepada para petani ikan.3 .3. Kegiatan pengembangan minawisata ini juga didukung dengan pengembangan wisata perikanan lain yang berada di kawasan minapolitan. Berikut ini adalah beberapa program yang dapat dijalankan yang berikaitan dengan Strategi Pengembangan Kawasan Minapolitan Sebagai Kawasan Wisatamina: Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VIII .2. d. Strategi Pengembangan Kawasan Minapolitan sebagai Kawasan Wisatamina Pengembangan kawasan minapolitan tidak hanya terfokus pada kegiatan pengembangan perikanan budidaya. maka program Dengan melihat latar utama dalam menjawab strategi Pengembangan Jaringan Pemasaran Berbasis Teknologi Informasi adalah : a. Aktivitas program pengembangan ini meliputi perencanaan paket wisata kawasan minapolitan yang diarahkan pada edutourism (wisata pendidikan) dan wisata kuliner. pusat riset/test farm budidaya untuk demplot teknologi dan komoditas terbaru budidaya. yaitu kegiatan wisatamina. penyakit ikan. dan analisis proksimat pakan.2. tetapi juga ditunjang oleh kegiatan lain yang sinergis dengan kegiatan perikanan budidaya. Program Pengembangan Pusat Informasi Pasar b. sehingga petani ikan bisa melakukan strategi kapan mereka memanen. harga tidak bisa bersaing serta kurangnya diversifikasi pasar. Persaingan harga dengan daerah lain merupakan permasalahan utama bagi para pelaku usaha kegiatan budidaya lele. Pakat wisata pendidikan meliputi kegiatan budidaya (pembenihan dan pembesaran lele) sampai pada kegiatan pengolahan lele baik ditingkat sentra pengolahan maupun industri rumah tangga. 8. dan kemana mereka akan menjual produksinya. mereka harus bersaing dengan daerah-daerah lain untuk menjual produk mereka ke Jakarta.2. belakang tersebut. Strategi Pengembangan Jaringan Pemasaran Berbasis Teknologi Informasi Hasil identifikasi isu dan permasalahan aspek pemasaran adalah antara lain pasar persaingan antar daerah. Pembentukan pusat informasi budidaya yang didalamnya terdapat laboratorium kualitas air.

showroom. Program-program yang dapat dilakukan dalam rangka untuk menjawab strategi pengembangan pengolahan hasil budidaya lele adalah sebagai berikut a. Program Pengembangan Industri Rumah Tangga b.5. program ini meliputi sentra perkantoran.4. Pembangunan dan pemeliharaan jalan wisata dan jalan produksi d. VIC. b. 8. yaitu: a. Program pengembangan produk olahan ikan dengan mengunakan lele sebagai bahan substitusi. program pengembangan kegiatan pendidikan dan pelatihan menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan informal mengenai bagaimana proses pembenihan yang baik. proses kegiatan budidaya yang baik serta menyusun modul dan kurikulumnya. Perencanaan dan pengembangan atraksi paket minawisata c.2. Program pengembangan sebagai pusat pendidikan dan pelatihan. Strategi lainya adalah peningkatan daya saing produk lele minapolitan dengan peningkatan kualitas produksi dan pembentukan merk/branding lele bogor dengan kualitas sebagai berikut: (i) bebas antibiotik.2. Dengan demikian daya saing lele Bogor dapat meningkat dan mempermudah pemasaran Lele Bogor. Pembangunan dan peningkatan fasilitas umum pendukung kegiatan minawisata b.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor a. training center. Program pengembangan sentra kawasan minapolitan lele. café dan restoran serta fasilitas pendukung lainnya. (ii) bebas bau lumpur. dan lain-lain. guest house. Strategi Pengembangan Pusat Pelayanan Kawasan (Sentra Minapolitan) Dalam rangka untuk menjalan fungsi sebagai pusat pelayanan kawasan (minapolis) di Kecamatan Ciseeng diperlukan beberapa program untuk mendukung strategi tersebut. Strategi Pengembangan Pengolahan Produk Ikan Lele Strategi pengembangan pengolahan produk Ikan Lele diarahkan untuk meningkatkan mutu dan kualitas serta deversifikasi produk komoditi unggulan yaitu Ikan Lele. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VIII . Pengembangan home industry pendukung kegiatan minawisata 8. Promosi paket minawisata e. Program Pengembangan Industri Berbasis Sumber Daya Lokal c. (iii) dipelihara tanpa menggunakan pakan limbah.4 .

6. Strategi Pengembangan Sistem Kelembagaan Program pengembangan kelembagaan ditujukan sebagai pendukung pengembangan kawasan minapolitan yang ditujukan baik pada penyusunan kelembagaan pengelola sentra/kawasan minapolitan dan penguatan penguatan kelompok budidaya (pembenihan. dan c. pengolah dan pemasaran. Beberapa strategi yang dapat dilakukan adalah pembentukan bank budidaya/koperasi budidaya : petani yang kesulitan input produksi dapat meminjam input produksi dari bank budidaya yang berkoordinasi dengan penjual input produksi dengan jaminan pembayaran sesudah panen (bank memiliki tim survey untuk memastikan apakah petani benar-benar membutuhkan input produksi atau tidak).5 . pembesaran). Peningkatan Sarana Pelayanan Pendukung Kegiatan bisnis Perikanan. Penyusunan/penguatan kelompok pembudidaya ikan yang meliputi dua kelompok besar yaitu (1) peningkatan efisiensi organisasi kelompok dan (2) peningkatan kualitas anggota kelompok 8. Program-program yang dapat dilakukan antara lain: a. Peningkatan kualitas pelayanan jaringan irigasi. Peningkatan kualitas dan pelayanan sarana dan prasarana transportasi. Bank memperoleh keuntungan berupa bunga (sistem bank Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VIII . Sehingga strategi ini sangat penting untuk memecahkan permasalahan tersebut.7. 8. Strategi ini adalah strategi yang dapat mendukung strategi strategi lainnya. Strategi Pengembangan Infrastruktur Dasar Dan Infrastruktur Perikanan Strategi pengembangan infrastuktur dasar dan infrastuktur perikanan adalah salah strategi yang penting dalam pengembangan kegiatan minapolitan. Bank membantu pembiayaan namun untuk pengadaan barang tetap berasal dari penjual input produksi.8.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 8.2. Penyusunan kelembagaan pengelola sentra/kawasan minapolitan b.2. Strategi Pengembangan Pembiayaan Salah satu permasalahan dalam pengembangan kegiatan Minapoloitan bedasarkan hasil FGD adalah permasalahan keterbasatan modal. sehingga pengembangan strategi ini tidak terlepas dengan strategi lainnya dalam pengembangan kawasan minapolitan. b.2. Beberapa program yang dapat dilakukan dalam rangka Pengembangan Infrastruktur Dasar Dan Infrastruktur Perikanan adalah sebagai berikut: a.

Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VIII . Indikasi Program Berdasarkan arahan dan strategi pengembangan program minapolitan.6 . maka dapat disusun table indikasi program yang perlu dilakukan dalam jangka waktu 5 (lima) tahunan.3. Untuk pembentukan bank ini dapat bekerjasama dengan bank yang sudah ada.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor konvensional) atau bagi hasil (bank syariah). Indikasi program tersebut dapat terlihat pada Tabel 8. 8.1.

b. c. c. Pembangunan fisik gedung pabrik Pembangunan kolam penampungan bahan baku Pembangunan unit pemanfaatan hasil sampingan kegiatan pengolahan (kebun hortikultura organik. Penyusunan kelembagaan pengelola sentra/kawasan minapolitan Penyusunan/penguatan kelompok pembudidaya ikan.1. meliputi : Peningkatan Sarana Pelayanan Pendukung Kegiatan bisnis Perikanan 7 Program Pengembangan Kelembagaan a. kolagen) Pembangunan fasilitas umum Pengadaan peralatan pengolahan (mesin pengolah ikan) Uji coba peralatan dan mesin produksi Uji coba produksi dan pemasaran (skala terbatas) Pengembangan pemasaran hasil produksi olahan ikan 5 Program Pengembangan Sentra Kawasan Minapolitan Lele a. Pembangunan dan peningkatan fasilitas umum pendukung kegiatan minawisata b. Program Pengembangan Pusat Informasi Pasar Program Pengembangan Sumberdaya manusia 3 Program Pengembangan Minawisata Lele a. c. e. Pembangunan kantor Pembangunan showroom. Pengembangan bank induk (broodstock Center) Pembangunan fisik laboratorium terpadu untuk analisis air. d. pakan. Pembangunan Test farm Program Pengembangan Jaringan Pemasaran Berbasis Teknologi Informasi a. 1 Jenis Kegiatan Program Pengembangan Budidaya Ikan Lele a. b. café dan restoran Pembangunan training center Pembangunan VIC Pembangunan guest house 6 f. pengolah dan pemasaran 8 Strategi Pengembangan Pembiayaan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VIII . d. e.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 8. c. d. b. Indikasi Program Dalam Waktu 5 (lima) Tahunan No. h. e. f. b. g. penyakit dan pakan Penyediaan peralatan dan perlengkapan laboratorium terpadu Tahun Kerja I II III IV V 2 d. Perencanaan dan pengembangan atraksi paket minawisata Pembangunan dan pemeliharaan jalan wisata dan jalan produksi Promosi paket minawisata Pengembangan home industry pendukung kegiatan minawisata 4 Program Pengembangan Pengolahan Hasil Budidaya Lele a. b. Peningkatan kualitas dan pelayanan sarana dan prasarana transportasi Peningkatan kualitas pelayanan jaringan irigasi. Pembangunan fasilitas umum (parkir area) Program Pengembangan Infrastruktur Dasar Dan Infrastruktur Perikanan a. c.7 . b.

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VIII .8 .

9 .Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VIII .

Peta Potensi Budidaya Lamp.LAMPIRAN Lampiran 1.1   .

Lampiran 2.2   . Peta Produksi Lamp.

DI Cibeuteung-I BSK 8 ki Kolam   BTP 1 3) Petak Tersier TP1 ka.Lampiran 3. DI Sasak 2) Petak Tersier CBTS 7 ki. Sketsa Aliran Irigasi di Lokasi Irigasi BCBTS BTP 5 ki Aliran ke D I 1) Petak Tersier TP5 ki. DI Sasak   Kolam       Sawah   4) Petak Tersier SK 8 ki. DI Sasak Lamp.3   .

Lampiran 4. Skema Daerah Irigasi   Keterangan : Panjang saluran: 1700 m CBTS 7 KI SALURAN KALI CBTS 4 KA CBTS 5 KA CBTS 3 KA CBTS 6 KA CBTS 2 KA 21 Ha 15 Ha CBTS 7 KA 13 Ha 6 Ha Skema Daerah Irigasi Cibeuteung-1 6 Ha Luas areal : 228 Haluran   CBTS 1 KA 70 Ha 7 Ha 90 Ha Lamp-4    .

BSK3 Keterangan : Luas areal : 1088 Ha Panjang saluran : 16991 m .        BTP 5 Ki BTP 8 Ki 7 Ha SALURAN SEKUNDER BTP 10 Ki 10 Ha BSK 3 BTP 12 TG 24 Ha 6 Ha BTP 11 Ka BTP 1 Ka BTP 2 Ka BTP 3 Ka BTP 9 Ka 38 Ha 11 Ha 10 Ha BTP 4 Ka 3 Ha 6 Ha BTP 6 Ka 10 Ha BTP 12 Ka BTP 7 Ka 2 Ha 4 Ha 3 Ha Lamp-5    Skema Daerah Irigasi Sasak.

CISEENG BSK 10 Keterangan : 8 Ha BSK 11 6 Ha BCG 1 Ki BSK 12 6 Ha 16 Ha   SALURAN SEKUNDER COGREG BSK 14 40 Ha Skema Daerah Irigasi Sasak BSK4 Lamp-6  2 Ha BCG 2 Ka BCG 3 Ki 9 Ha BCG 3 Ka 13 Ha KEC.BSK 4 Ki 23 Ha   BSK 4     BSK 5 Ki 32 Ha BSK 6 BSK 6 Ki 11 Ha BSK 7 BKP 1 Ki 45 Ha BKP 1 BKP 2 Ki 57 Ha BKP 3 Ki 4 Ha BKP 4 BKP 5 BKP 6 Ki 7 Ha BKP 8 7 Ha BSK 5 BKP 2 BKP 3 A  SALURAN INDUK SASAK             BSK 8 158 Ha BSKP 9 162 Ha BKP 4 Ka 3 Ha BKP 5 Ka 4 Ha BKP 7 Ka 5 Ha BKP 9 Ka 5 Ha SALURAN SEKUNDER KURIPAN KEC. PARUNG   Luas areal: 1088 Ha Panjang saluran: 16991 m             .

A                       BKP 10 Ka 37 Ha 14 Ha BKP 10 Ki BKP 11 Ka 10 Ha   BKP 12 Ki 5 Ha BKP 13 Ki 4 Ha BKP 14 Ki 15 Ha BKP 15 Ka 25 Ha BKP 16 Ki 29 Ha BKP 17 Ka 20 Ha Skema Daerah Irigasi Sasak BSK4 (lanjutan) Lamp-7  77 Ha BKP 18 Ka 25 Ha BKP 19 Ki 50 Ha BKP 19 TG               .

 CURUG  L / dt L / dt L / dt BCS 5 Ki BCS 6 Ki L / dt L / dt L / dt BCS 2 Ki BCS 7 Ki BCS 3 Ki BCS 4 Ki BCS 9 Ki L / dt L / dt 10 Ha 15 Ha 26 Ha 25 Ha SITU  SAL INDUK CURUG SERPONG  KALI ANGKE  L / dt 32 Ha 25 Ha 3 Ha L / dt BCS 10 Ka Ds. PENGASINAN  PROPINSI BANTEN  Ds. CURUG  Ds. RAWA KALONG  Keterangan : Luas areal : 1550 Ha Skema Daerah Irigasi Curug Serpong Panjang saluran : 5800 m Lamp-8    17 Ha 2 Ha BCS 10 te BCS 1 Ka BCS 8 K L / dt .  KALONG  Ds. Rw.KECAMATAN GUNUNG SINDUR   Ds.

Peta Sarana Prasarana Lamp-9   .Lampiran 5.

Peta Obyek Wisata Alternatif 1  Lamp-10   .Lampiran 6.

Alternatif 2 Lamp-11   .

Peta Potensi Budidaya Lamp-12   .Lampiran 7.

Lampiran 8. Peta Pola Keterkaitan Kawasan   Lamp-13   .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful