Bogor Masterplan Minapolitan

MASTERPLAN MINAPOLITAN

KABUPATEN BOGOR

Tim Penyusun :
Lala M. Kolopaking Kadarwan Soewardi Linawati Hardjito Ernan Rustiadi Taryono Kodiran Siti Nursyiah Prastowo   Odang Carman Yoyoh Indaryanti   Dyah Ita Mardiyaningsih Nuning Koesumowardani Muhamad   Alif Razi Eka Hermawan Susanto Dewi Setyawati   Johan

   
Kerjasama BADAN PERENCANAN  PEMBANGUNAN DAERAH

 

PEMERINTAH KABUPATEN BOGOR
 

dengan   PUSAT STUDI PEMBANGUNAN PERTANIAN DAN PEDESAAN
LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2010  

MasterPlan Minapolitan Kabupaten Bogor

KATA PENGANTAR

Kami panjatkan puji syukur kehadirat

Allah SWT karena atas limpahan rahmat dan

karunia-Nya “Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor” ini dapat diselesaikan. Kegiatan ini merupakan hasil kerjasama antara PSP3 - LPPM IPB dengan BAPPEDA Kabupaten Bogor berdasarkan Surat Kuasa Melaksanakan Pekerjaan Swakelola Kajian Akademis oleh Perguruan Tinggi. Dokumen Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor ini merupakan bentuk Laporan Akhir dari pertanggungjawaban PSP3-IPB dalam pelaksanaan kegiatan Penyusunan

Masterplan Minapolitan di Kabupaten Bogor. Laporan ini dibuat berdasarkan data dan informasi yang diperoleh melalui beragam pendekatan dari wawancara mendalam, observasi langsung, survey terhadap stakeholder terkait maupun diskusi kelompok terarah pada beragam tingkatan. Selain itu, laporan ini dilengkapi dengan masukan-

masukan yang diterima oleh Tim pada saat kegiatan ekspose Laporan Pendahuluan dan Laporan Antara. Dalam laporan antara ini sudah dipaparkan rencana pengembangan

kawasan minapolitan di Kabupaten Bogor dengan beberapa indikasi program yang perlu dilakukan dalam jangka waktu lima tahun ke depan. Paparan rencana pengembangan kawasan minapolitan ini masih belum sempurna sehingga diharapkan masukan dan saran untuk mendapatkan satu dokumen Master Plan Minapolitan Kabupaten Bogor yang baik.

Terima kasih

Bogor, November 2010

Tim Penyusun

ii

MasterPlan Minapolitan Kabupaten Bogor

DAFTAR ISI

Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Tujuan dan Sasaran 1.2.1. Tujuan 1.2.2. Sasaran 1.3. Ruang Lingkup Kegiatan II. KONSEP DAN KERANGKA TEORU PENGEMBANGAN KAWASAN MINAPOLTAN 2.1. Pengertian dan Ciri Kawasan Minapolitan 2.1.1. Pengertian umum 2.1.2. Kriteia Kawasan Minapolitan 2.2. Rencana Pengembangan Kawasan Minapolitan 2.2.1. Komoditi Unggulan 2.2.2. Prinsip, Tujuan dan Perencanaan Pengembangan Kawasan Minapolitan 2.2.3. Konsep Rencana Tata Ruang Kawasan Minpolitan 2.2.4. Kedudukan Rencana Tata Ruang Minapolitan dalam Sistem Pengembangan Wilayah Kabupaten/Kota 2.2.5. Konsep Kelembagaabn Minapolitan 2.3 Tujuan Minapolitan 2.4. Sasaran Minapolitan III. TINJAUAN KEBIJAKAN 3.1. Kebijakan Nasional Minapolitan 3.2. Kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten iii

iii iv v v I-1 I-1 I-2 I-3 I-3 I-3 II-1 II-1 II-1 II-2 II-3 II-3 II-4 II-7 II-8 II-9 II-12 II-12 III-1 III-1 III - 3

3.1.3.2.3. Potensi budidaya Perikanan Air Tawar 6. Pendekatan Penyusunan Master Plan 4.1.3. Pendekatan Hidrologi 4.1. Pemasaran 6. 7 Tahun 2009 3.3.2. Biofisik dan Tata Guna Lahan 5.1. Pendekatan Keilmuan Terkait 4.4. KONDISI UMUM KAWASAN MINAPOLITAN 5. Kerangka Pendekatan Studi 4.2. Pendekatan Pengembangan Minapolitan 4.MasterPlan Minapolitan Kabupaten Bogor Bogor: Perda No. Pendekatan Lanskap 4. Permaalahan Pembenihan 6. WAKTU DAN LOKASI KEGIATAN 4. Lokasi Kegiatan di Empat Kecamatan 4.3.3. Permasalahan di Tingkat Pembesaran 6.1.4.4. 19 Tahun 2008 3.1.4.2.2. Potensi Pengolahan Produk Perikanan 6. Permasalahan di Tingkat Pendeder 6.6.3. Kondisi Demografi 5.4.5. Permasalahan Perikanan Budidaya 6.4. Pendekatan Pengembangan Wilayah 4.2 V-4 V-7 VI-1 VI-1 VI-2 VI-2 VI-3 VI-3 VI-4 VI-4 VI-6 .3. Kondisi Perikanan VI. Peraturan Terkait Minapolitan IV.3.3.1. Kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Memengah Daerah (RPJM-D) Kabupaten Bogor 2008-2013: Perda No.3. Pendekatan Peerikanan Budidaya 4.3. Batas Administrasi dan Geografis Wilayah 5. Jenis Pengolahan iv III-11 III-13 4-1 4-1 IV-2 IV-2 IV-4 IV-5 IV-7 IV-7 IV-8 IV-9 IV-9 IV-10 IV-11 IV-18 V-1 V-1 V-1 V. Kondisi Ekonomi Wilayah 5. ANALISIS POTENSI DAN PERMASALAHAN 6.1.3.2.5. Pendekatan Kelembagaan dan Sosial Ekonomi Perikanan 4.2.2. Pelaporan V.3.2.3. Pendekatan Pengolahan Perikanan 4. Pendekatan Agribisnis dalam Pengembangan Minapolitan 4.

Pengembangan Produk Olahan 7. Infrastruktur Wilayah 6. Potensi Calon Sentra Pengolahan 6. Identifikasi dan Analisis Potensi Lanskap Kawasan Minapolitan 6.3.4.5.2. Sistim Tata Air 6. Pemasaran Ikan Olahan 6.5.6.8.3. Penetapan Kawasan Pengembangan 7.MasterPlan Minapolitan Kabupaten Bogor 6. Pemasaran Ikan Segar 6.1. Pemasaran 6. Kebijakan Terkait Minapolitan 6. Isu dan Permasalahan Kelembagaan 6. Rencana Pengembangan Potensi Pengolahan 7.9.7.2.4.2.3.4. Penetapan Produk Unggulan 7.6. Arahan dan Rencana Pengembangan Lanskap Minawisata 7. Potensi Minawisata 6.4. STRATEGI DAN RENCANA PENGEMBANGAN 7. INDIKASI PROGRAM VI-7 VI-7 VI-8 VI-8 VI-9 VI-11 VI-15 VI-17 VI-18 VI-18 VI-18 VI-24 VII-1 VII-1 VII-1 VII-3 VII-3 VII-3 VII-4 VII-8 VII-13 VIII-1 D&L-1 Lampiran-2 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN v .2.2.9.4.9.9. Rencana Pengembangan Potensi Perikanan Budidaya 7. Analisis Kelayakan Lanskap untuk Minawisata VII.5.1. Permasalahan Pengolahan 6. Arahan dan Rencana Pengembangan Kelembagaan VIII.1.5. Pengembangan Teknologi Pengolahan 7.1.

Bening dan CV.3. V-4 V-5 V-7 6-1 VI-10 VI-11 Vi-12 VI-1 VI-25 . Julah Penduduk dan PDRB per Kapita Kabupaten/Kota di Kawasan Jabodetabek dan Sekitarnya Tahun 2006 Jumlah dan Luas Daerah Irrigáis Se-Kabupaten Bogor Luasan Masing-masing Penggunaan Lahan di Kabupeten Bogor Tahun 2006 Jumlah RTP Pembudidaya.5.1.3.1. 5. 4.5. 6. Bintang Anugerah di PIH Cibinong Hasil Analisi Neraca Air untuk Budidaya Perikanan Hasil Analisis Debit Bulanan (Lt/Dtet) di Cogrek (53 Hal) Status Jalan dan Panjang di Kabupaten Bogor Penilaian Kelayakan Kawasan Bogor sebagai Minawisata vi 5. 6. 5. Luas Areal dan Total Produksi Ikan Air Tawar di Kabupaten Bogor Produksi Perikanan Per-kecamatan menurut Jenis Ikan Jenis dan Harga Produk Olahan Ikan di CV.5 6.1.2. 6. 6. 6.MasterPlan Minapolitan Kabupaten Bogor DAFTAR TABEL Nomor 4. 4.4.2.2. 4. 5. 4.6. 6.4.3. 5.7. Lokasi Kegiatan di 4 Kecamatan Teks Hal IV-1 IV-3 IV-11 IV-14 IV-16 V-2 V-3 Kerangka Pendekatan Penyusunan Masterplan Pengembangan Minapolitan Alat Perencanaan Kriteria Penilaian Kelayakan Kawasan untuk Wisata Penilaian Akseptibilitas Masyarakat Presentase Jenis Mata Pencaharian Masyarakat Per Kecamatan di Zona IV PDRB per Kapita Kabupaten/Kota di Kawasan Jabodetabek dan Sekitarnya Tahun 2000 dan 2008 Total PDRB.4.

7. 7. 7.6. 7.4. 7. Skor Penentuan Komoditas Unggulan Ikan Air Tawar di Kabupaten Bogor Parameter Penilaian Pengolahan Daftar Fasilitas dan Peralatan untuk Produksi Filet dan Pemanfaatan Hasil Samping Fasilitas dan Peralatan untuk Pembuatan Lele Asap Fasilitas dan Peralatan untuk Produksi Surimi Fasilitas yang Diperlukan untuk Proses Produksi Surimi Pilihan Bentuk Kelembagaan Pengelola Kawasan Minpolitan Bogor VII-6 VII-7 VII-7 VII-20 VII-2 VII-2 vii .7.1. 7.2.3.MasterPlan Minapolitan Kabupaten Bogor 7.5.

4.MasterPlan Minapolitan Kabupaten Bogor DAFTAR GAMBAR Nomor 2.2.2.9. 6.4.3. 6.1. 6. 5. 6. 4. 6.7. 2.8.1. 5. 6.3.12 Teks Konsepsi Pengembangan Minapolitan Keterkaitan Pusat Kawasan Minapolitan Deskripsi Kawasan Minapolitan Keterkaitan Usaha dan Pelakunya di Wilayah Studi Peta Lokasi Kegiatan Sistem Agribisnis Perikanan Tahapan Studi Peta Lokasi Kabupaten Bogor Peta Wilayah Zona IV Kaki naga (VegiFish) (kiri) dan Nuget (kanan) Industri Rumah Tangga Lele Asap dan Pengasapan Lele Aktifitas Penjualan Benih Ikan di Pasar Benih Ciseeng Lokasi Pasar Benih Ikan di Ciseeng Lokasi BP3K.2. 6. 4. 2.10 6.11. Ciseeng Kolam di Lokasi BP3K CV. 6. 6.5. 6. 2.4.7.3. 6. Bening dan CV Bintang Anugerah Grafik Curah Hujan Andalan dan Kebutuhan Air Untuk Budidaya Perikanan Skema Daerah Irigasi Cibeuteung-1 Skema Daerah Irigasi Saak BSK3 Skema Daerah Irigasi Curug Serpong Peta Kecamatan Kemang viii Hal II-6 II-7 II-9 II-10 IV-2 IV-6 IV-13 V-1 V-9 VI-5 VI-6 VI-8 VI-8 VI-8 VI-8 VI-10 VI-12 VI-13 VI-14 VI-15 VI-19 .2.1.1.

6. 7. 7.8 7.12.24 7.15.4. 7.1. 6.21.2.15.14.20 6. 7. 7.9.19 6. Peta Kecamatan Ciseeng Kondisi Desa Babakan Kondisi Pasar Ciseeng Kondisi Kawasan Budidaya Ikan Hias Kondisi Kawasan BP3K Pembesaran Lele Peta Kecamatan Parung Kawasan Wisata Tirta Sanita Kawasan Budidaya Lobster Pengolahan Lele Asap Peta Kecamatan Gunung Sindur Beberapa Area Pemancingan Pengolahan Ikan Kaki Naga (Vegi Fish) dan Nuget Proses Pembuatan Lele Asap Proses Pembuatan Surimi Produksi Produk Turunana Surami Konsep Ruang dan Sirkulasi Minawisata Alternatife 1 Lokasi Eksisting dan Desain Alternatif 1 Sentra Minapolitan (BP3K) Kondisi Eksisting Sentra Minapolitan Alternatif 1 Perspektif Sentra Minawisata Alternatif 2 Konsep Ruang dan Sirkulasi Minawisata Alternatif 2 Diagram Ruang Sentra Minapolitan Alternatif 2 (Desa Babakan) Lokasi Eksisting dan Desain Alternatif 2 Sentra Minapolitan Hirarki Pengambilan Keputusan Pengelolaan Sumberdaya Kawasan Minapolitan Bogor Proses Pembentukan Kelembagaan Pengelola Kawasan Minapolitan ix VI-20 VI-20 VI-20 VI-21 VI-21 VI-21 VI-22 VI-22 VI-22 VI-23 VI-23 VI-24 VI-24 VII-6 VII-6 VII-6 VII-7 VII-10 VII-10 VII-11 VII-11 VII-12 VII-12 VII-13 VII-18 VII-19 .10. 7. 7. 7.13.3.13.MasterPlan Minapolitan Kabupaten Bogor 6. 7. 7.17. 6.7. 6.5. 7.18 6. 6.14 7.11. 6.23. 6.16 6.22.

Peta Rumah Tangga Perikanan Lampiran 3. Tabel Indikasi Program Pengembangan Kawasan Minapolitan Dapus & Lamp-3 Dapus & Lamp-4 Dapus & Lamp-5 Dapus & Lamp-6 Dapus & Lamp-7 x . Peta Produksi Perikanan Lampiran 2.16. Tahapan Substantif Pembentukan Kelembagaan Operasional Pengelolaan Kawasan Minapolitan VII-19 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Peta Sarana dan Prasarana Lampiran 4. Peta Lokasi Obyek Wisata Minapolitan Lampiran 5.MasterPlan Minapolitan Kabupaten Bogor 7.

PENDAHULUAN 1 1. kebijakan RP3 Kabupatern Bogor memiliki arah yang bersinergi dengan gagasan atau kebijakan KKP-RI dengan menempatkan perikanan budidaya faktor penggerak pembangunan daerah serta berkotribusi signifikan tehadap pembangunan perikanan nasional. Program minapolitan ini merupakan bagian dari strategi besar (grand strategy) KKP dengan slogan “Revolusi Biru” dalam rangka peningkatan produksi perikanan. Oleh karena itu.1. dan peningkatan pendapatan nelayan serta pembudidaya ikan untuk menjadi pendorong pembangunan daerah. Program yang dapat dikembangkan di Zona 4 dan 2 selaras dengan upaya pemerintah (KKP-RI) untuk menjadikan sektor perikanan sebagai salah satu sektor unggulan dalam pembangunan daerah. melainkan harus berdampak pada pertumbuhan ekonomi masyarakat secara umum di wilayah tersebut. Dalam strategi besar ini. Latar Belakang Bogor merupakan salah satu kabupaten yang ditunjuk oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia (RI) sebagai lokasi Pengembangan Minapolitan. yang dapat membedakan dengan produk-produk dari daerah lain dan juga memiliki daya saing yang tinggi. Sebagaimana dicatat bahwa Program Minapolitan tersebut merupakan direncanakan akan diwujudkan mulai tahun 2011. Dalam perkembangannya program minapolitan ini tidak hanya mampu menggerakkan sektor perikanan saja. Kebijakan tersebut seirama dengan Kebijakan Revitalisi Petanian dan Pedesaan (RP3) Kabupaten Bogor yang menerapkan pendekatan pengembangan pertanian berdasarkan zonasi. pemilihan produk atau komoditas menjadi sangat penting karena nantinya diharapkan dapat merupakan branding bagi Kabupaten Bogor. Program minapolitan merupakan upaya untuk menjadikan sektor perikanan sebagai sektor unggulan dalam pembangunan daerah yang kawasannya memiliki potensi perikanan. strategi besar KKP-RI yang . Selaras dengan RP3 tersebut. Prinsip Zonasi Pengembangan RP3 ditujukan agar di Kabupaten Bogor ada percepatan pembangunan pertanian dalam arti luas melalui pengembangan komoditas unggulan di masing-masing zona. prinsip pangembangan minapolitan oleh KKP juga menekankan pengembangan komoditas perikanan unggulan di masing-masing wilayah berdasarkan kluster wilayah.

dan lain-lain. dalam kerangka minapolitan budidaya. pengembangan Kabupaten Bogor yang menjadi hinterland Daerah Khusus Ibukota Jakarta merupakan wilayah pemasok pasar produk perikanan baik nasional maupun internasional. dalam kerangka minapolitan budidaya. finansial. Dalam rangka menyusun upaya-upaya teknis dan strategis untuk mematangkan konsep minapolitan tersebut disusun rencana induk atau master plan pengembangan minapolitan di Kabupaten Bogor. Hal-hal penting yang perlu mendapatkan perhatian dalam pengembangan minapolitan budidaya tersebut adalah bahwasannya pengembangan minapolitan budidaya harus terintegrasi dan memperhatikan kebijakan-kebijakan terkait yang sudah ada di Kabupaten Bogor. diantaranya ikan nila dan ikan Lele. di mana satu bentuk/jenis kegiatan budidaya perikanan satu komoditas unggulan. Hingga saat ini. teknologi. dalam rangka mematangkan konsep minapolitan budidaya perikanan Kabupaten Bogor yang meliputi kesiapan manajemen. tidak semua komoditas perikanan budidaya tersebut harus menjadi komoditas pengembangan budidaya perikanan.2 .Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Kabupaten Bogor adalah salah satu wilayah dengan ekologi dan geografis yang memiliki potensi usaha perikanan budidaya air tawar dikembangkan dalam kerangka program yang sangat memadai dan layak minapolitan budidaya. proses pengembangannya harus bertumpu pada pemberdayaan masyarakat dengan melakukan inovasi kebijakan di dalam pembiayaan usaha perikanan dengan membangun kerjasama dengan pihak-pihak yang memiliki sumber pendanaan (baik secara Blending maupun Hybrid Financing). maka tujuan dari kegiatan ini adalah memperoleh dan menganalisa data-data untuk merancang penyusunan dokumen rencana induk atau masterplan pengembangan minapolitan di Kabupaten Bogor. Tujuan dan Sasaran 1. diantaranya kebijakan tata ruang dan daya dukung wilayah. Oleh karena itu. 1. maka harus ada prioritas komoditas perikanan budidaya yang akan dikembangkan untuk masing-masing jenis kegiatan budidaya perikanan.1. beberapa komoditas perikanan budidaya sudah berkembang di Kabupaten Bogor. kelembagaan dan pemasaran. Oleh karena itu. Gurame. Selain itu. komoditas unggulan. perlu disusun upaya-upaya teknis untuk mematangkan konsep minapolitan budidaya perikanan tersebut. Namun demikian. Data-data tersebut diolah Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR I. Tujuan Berdasarkan latar belakang di atas.2.2.

4. Identifikasi kondisi dan potensi infrastruktur pendukung kegiatan budidaya perikanan. b. d.2.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor secara cermat sehingga masterplan yang terbentuk dapat mendukung segala kegiatan dan kepentingan minapolitan secara efektif dan efisien. c. 5. Sasaran Merujuk tujuan kegiatan yang diuraikan sebelumnya. 2. penentuan lokasi atau kawasan unggulan untuk pengembangan minapolitan budidaya. Perumusan konsepsi visi. penentuan komoditas unggulan dan teknologi budidaya untuk masing-masing jenis kegiatan budidaya perikanan. pengembangan sistem penyediaan benih secara tepat dan terus-menerus. misi. sumberdaya manusia. pengembangan sistem kelembagaan dan sistem pengelolaan kawasan minapolitan. dan strategi pengembangan minapolitan budidaya. diantaranya jalan akses dan balai-balai benih. sistem pemasaran produk-produk hasil pengembangan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR I. Ruang Lingkup Kegiatan Ruang lingkup kegiatan penyusunan masterplan pengembangan minapolitan di Kabupaten Bogor sebagai berikut: 1. meliputi: a. baik pusat maupun kebijakan RP3 Kabupaten Bogor yang terkait dengan pengembangan minapolitan budidaya perikanan serta pemanfaatan ruang. lingkungan perairan dan perikanan).2. 1. Penyusunan rencana induk pengembangan minapolitan budidaya di Kabupaten Bogor.3 . Identifikasi kebijakan-kebijakan pemerintah. dan kelembagaan perikanan. maka sasaran dari kegiatan ini adalah tersusunnya dokumen rencana induk atau masterplan pengembangan minapolitan di Kabupaten Bogor. dan e. Identifikasi isu dan permasalahan dalam pengembangan perikanan budidaya 3. tujuan. Masterplan tersebut haruslah mempertimbangan dan mewakili seluruh pihak terkait agar dapat menjadi cetak biru dalam pembangunan minapolitan. 6. pengembangan minapolitan. 1. Identifikasi potensi sumberdaya alam (lahan.3.

Lengkapnya adalah kluster perikanan yang tumbuh dan berkembang seiring berjalannya sistem dan usaha agribisnis yang mampu melayani. dan lain-lain). pengolahan dan pemasaran dalam sistem agribisnis terpadu di suatu wilayah atau lintas wilayah perikanan dengan kelengkapan sarana prasarana serta pelayanan seperti di perkotaaan (kelembagaan.1. pengolahan dan pemasaran dalam satu rangkaian kegiatan besar dalam satu kawasan atau wilayah. kawasan yang dikembangkan melalui pembentukan titik tumbuh suatu kluster kegiatan perikanan dengan sistem agribisnis berkelanjutan yang meliputi produksi. Pengertian Umum Secara bahasa. sampai jasa lingkungan sebagai sistem kemitraan di dalam satu wilayah. . mendorong. sistem permodalan.1. ada beberapa definisi minapolitan. dengan dukungan sistem permodalan yang tepat guna. 2.KONSEP DAN KERANGKA TEORI PENGEMBANGAN KAWASAN MINAPOLITAN 2 2. minapolitan berasal dari kata “Mina” (perikanan) dan “politan” (poli (multi) dan –tan (kegiatan)) yang dapat diartikan sebagai kluster kegiatan perikanan yang meliputi kegiatan produksi. kawasan terintegrasi sebagai kluster kegiatan perikanan dimana masyarakatnya tumbuh dan berkembang seiring dengan kemajuan kelembagaan usaha yang didukung sumberdaya manusia berkualitas melalui pendidikan yang maju. yaitu: 1. 3.1. Adapun secara makna. pengolahan dan pemasaran. Pengertian dan Ciri Kawasan Minapolitan 2. transportasi. kawasan perdesaan yang disiapkan mempunyai kelengkapan sarana dan prasarana dan pelayanan perkotaan (infrastruktur termasuk transportasi dan energi). Program minapolitan ini pada prinsipnya merupakan suatu program kegiatan yang berupaya untuk mensinergiskan kegiatan produksi bahan baku. menarik dan menghela kegiatan pembangunan perikanan di wilayah tersebut dan sekitarnya.

Memiliki keterkaitan kedepan (daerah pemasaran produk-produk yang dihasilkan) maupun ke belakang (suplai kebutuhan sarana produksi) dengan beberapa daerah pendukung. Kriteria Kawasan Minapolitan Kriteria dan persyaratan kawasan minapolitan yang akan dikembangkan. Sedangkan Kriteria khusus pengembangan kawasan perikanan budidaya antara lain adalah: 1. Kriteria dan Persyaratan Kawasan Minapolitan a. 3. Memiliki kemampuan untuk memelihara sumber daya alam sehingga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan dan mampu menciptakan kesejahteraan ekonomi secara adil dan merata bagi seluruh masyarakat. dan 5. Penggunaan lahan untuk kegiatan perikanan harus memanfaatkan potensi yang sesuai untuk peningkatan kegiatan produksi dan wajib memperhatikan aspek kelestarian lingkungan hidup serta mencegah kerusakannya. harus diupayakan menyerap sebesar mungkin tenaga kerja setempat. Pemanfaatan dan pengelolaan lahan yang harus dilakukanberdasarkan kesesuaian lahan dan RTRW. Kriteria umum pengembangan kawasan minapolitan harus memenuhi kriteria di bawah ini. Persyaratan Kawasan Minapolitan Suatu kawasan dapat dikembangkan menjadi kawasan minapolitan jika memenuhi persyaratan sebagai berikut: Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR II .2. Mempunyai sektor ekonomi unggulan yang mampu mendorong kegiatan ekonomi sektor lain dalam kawasan itu sendiri maupun di kawasan sekitarnya. 5. 3. 4. 4. 2. b. yaitu: 1. 2. Kegiatan perikanan skala besar.2 . baik yang menggunakan lahan luas ataupun teknologi intensif harus terlebih dahulu memiliki kajian Amdal sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku. Memiliki kegiatan ekonomi yang dapat menggerakkan pertumbuhan daerah. Memiliki luasan areal budidaya eksisting minimal 200 Ha.1. disesuaikan dengan kondisi geografis dan potensi yang dimiliki oleh masing-masing kawasan yang akan dikembangkan. Wilayah yang sudah ditetapkan untuk dilindungi kelestariannya dengan indikasi geografis dilarang untuk dialih fungsikan.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 2. Kegiatan perikanan skala besar.

serta berpotensi atau telah berkembang diversifikasi usaha komoditas unggulanya.2. c. 3. kegiatan pengolahan hasil perikanan sampai dengan pemasaran hasil perikanan serta kegiatan penunjang. Pengembangan kawasan tersebut tidak hanya menyangkut kegiatan perikanan saja (on farm) tetapi juga kegiatan off farm-nya. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR II . (pasar hasil-hasil perikanan. Penyuluhan dan bimbingan teknologi. pendidikan. dan lain-lain. Komoditi Unggulan Kawasan Minaploitan Komoditi unggulan adalah produk pilihan yang dihasilkan oleh sektor perikanan atau pariwisata berbasis perikanan yang mempunyai nilai jual dan jaminan prospek masa depan karena memiliki daya saling (competitive advantages) yang tinggi. 2. perpusatakaan dan lain-lain. 4. cold storagge dan processing hasil perikanan sebelum dipasarkan. Memiliki sarana dan Prasaran penunjang yanga memadai seperti jalan. Lembaga keuangan (perbankan maupun non perbankan). e. maupun pasar jasa pelayanan termasuk pasar lelang.3 . sosial budaya maupun kota terjamin. d. tetapi juga menghasilkan suatu produk olahan dari produksi pertanian yang siap dipasarkan dan menjadi ciri khas daerah yang bersangkutan. Keunggulan produk yang dihasilkan dari industri yang mengolah komoditi unggulan tersebut akan memberikan nilai tambah yang besar karena produk yang dihasilkan mempunyai nilai jual yang stabil dibandingkan dengan produk perkebunan atau pertanian tanpa melalui pengolahan. 2. yaitu mulai dari pengadadaan nsarana dan prasarana perikanan.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 1. b. air bersih.2.1. rekreasi. Memiliki kelembagaan perikanan (kelompok. Pasar. Balai Beni Ikan. kesenian. Kawasan minapolitan tidak saja berfungsi sebagai pemasok komoditi unggulan yang dihasilkan. Memiliki sarana dan prasarana kesejahteraan sosial/masyarakat yang memadai seperti kesehatan. Rencana Pengembangan Kawasan Minapolitan 2. pasar sarana dan prasarana. listrik. Memiliki sumberdaya lahan/perairan yang sesuai untuk pengembangan komoditas perikanan yang dapat dipasarkan atau telah mempunyai pasar (komoditas unggulan). UPP). Kelestarian lingkungan hidup baik kelestarian sumberdaya alam. Memiliki berbabgai sarana dan prasarana minabisnis yang memadai untuk mendukung pengembangan sistsem dan usaha minabisnis tersebut adalah: a. 5.

2. 5. Dengan demikian selain petani akan mendapatkan jaminan pembelian bagi produk pertanian yang dihasilkan.4 . Memberdayakan usaha kecil.2. sedangkan industri akan mendapatkan jaminan suplai dari para petani pengembang komoditi yang dibutuhkan. Mengembangkan sistem ekonomi kerakyatan yang bertumpu pada mekanisme pasar yang berkeadilan.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Untuk mendapatkan model-model pengembangan minapolitan pada kawasan pertanian yang berbasiskan: tanaman pangan. Di daerah-daerah yang akan dikembangkan sebagai kawasan minapolitan. Mempercepat pembangunan ekonomi daerah dengan memberdayakan para pelaku sesuai dengan semangat otonomi daerah. 3. Memaksimalkan peran pemerintah sebagai fasilitator dan pemantau seluruh kegiatan pembangunan di daerah.2. menengah dan koperasi. Mempercepat pembangunan pedesaan dalam rangka pemberdayaan masyarakat daerah (khususnya pembudidaya ikan) dengan kepastian dan kejelasan hak dan kewajiban semua pihak. Prinsip Pengembangan Kawasan Minapolitan Pengembangan kawasan dilaksanakan berdasarkan pada prinsip-prinsip yang sesuai dengan arah kebijakan ekonomi nasional. membangun industri produk jadi yang berbasis pada komoditi unggulan menjadi sangat penting untuk dilakukan agar produk tersebut tidak menjadi komoditi yang dipermainkan pasar. 4. Akan terjadi kerjasama yang baik antara petani dengan industri. 2. Mengembangkan perekonomian yang berorientasi global sesuai dengan kemajuan teknologi dengan membangun keunggulan kompetitif berdasarkan kompetensi produk unggulan di setiap daerah. dan 7. di mana petani akan mengembangkan tanaman atau komoditi yang dibutuhkan oleh industri. peternakan dan perikanan maka diperlukan susunan tipologi sesuai dengan karakteristik yang dimiliki oleh masingmasing kawasan minapolitan. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR II . harga jual produk pertanian juga akan memberikan kontribusi yang baik kepada petani. perkebunan. agar mampu bekerjasama secara efektif. 6. Mengembangkan sistem ketahanan pangan yang berbasis pada keragaman sumber daya perikanan budidaya dan budaya lokal. hortikultura. Tujuan dan Perencanaan Pengembangan Kawasan Minapolitan a. efisien dan berdaya saing. yaitu: 1. Prinsip.

mendapatkan masukan bagi proses pengembangan. Suatu kawasan sentra perikanan budidaya yang sudah berkembang harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut (lihat Gambar 2. dan lingkungan) yang cermat. teknis. d. dan lain-lain. penyuluhan. Strategi pengembangan kawasan minapolitan meliputi pembangunan sistem dan usaha agribisnis berorientasi kekuatan pasar (market driven) yang diarahkan untuk menembus batas kawasan (bahkan mencapai pasar global). Subsistem minabinis hilir (down stream minabusiness) yang meliputi: industriindustri pengolahan dan pemasarannya.): 1) Sebagian besar kegiatan masyarakat di kawasan tersebut di dominasi oleh kegiatan perikanan budidaya dalam suatu sistem yang utuh dan terintegrasi mulai dari: a. pendidikan. Subsistem minabisnis hulu (up stream minabusiness) yang mencakup: penelitian dan pengembangan.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor b. Inventarisasi dan identifikasi permasalahan yang terkait dengan proses perencanaan perlu dilakukan dengan kerja sama antara instansi terkait.1. sarana perikanan. Subsistem jasa-jasa penunjang (kegiatan yang menyediakan jasa bagi minabisnis) seperti: perkreditan. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR II . dan deregulasi yang berhubungan dengan penciptaan iklim yang kondusif bagi pengembangan usaha dan perekonomian daerah. pemodalan. b. Penyusunan rencana/program pengembangan kawasan minapolitan jangka panjang perlu dilakukan dengan mempertimbangkan potensi sumberdaya lahan dan perkembangan kawasan. dan masyarakat setempat. c. termasuk perdagangan untuk kegiatan ekspor. Subsistem usaha perikanan budidaya (on farm minabusiness) yang mencakup usaha: pembenihan ikan.5 . Perencanaan Pengembangan Kawasan Minapolitan Proses perencanaan kawasan minapolitan memerlukan fasilitasi kegiatan berupa sosialisasi program untuk seluruh stakeholders dalam rangka menyamakan persepsi. Langkah berikutnya adalah penetapan kawasan di daerah kabupaten/kota sebagai kawasan pengembangan minapolitan melalui studi kelayakan (ekonomi. transportasi. pemerintah daerah. dan mensiasati persaingan pasar (domestik dan global). dan kebijakan pemerintah. infrastruktur. pengembangan saranaprasarana publik untuk memperlancar distribusi hasil pertanian dengan efisiensi dan resiko yang minimal. pembesaran ikan dan penyediaan sarana perikanan budidaya. asuransi.

teknologi. peralatan perikanan dan lain sebagainya. Memiliki sumberdaya lahan dan perairan yang sesuai untuk mengembangkan komoditi perikanan budidaya.1. informasi. perdagangan hasil-hasil perikanan (termasuk perdagangan untuk kegiatan ekspor).6 . 3) Kegiatan sebagian besar masyarakat di kawasan tersebut didominasi oleh kegiatan perikanan budidaya. dan 4) Infrastruktur yang ada dikawasan diusahakan tidak jauh berbeda dengan di kota. dimana kawasan perikanan budidaya di pedesaan mengembangkan usaha budidaya (on farm) dan produk olahan skala rumahtangga (off farm).Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 2) Adanya keterkaitan antara kota dengan desa (urban-rural linkages) yang bersifat timbal balik dan saling membutuhkan. termasuk didalamnya usaha industri (pengolahan) produk perikanan. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR II . Konsepsi Pengembangan Minapolitan Suatu wilayah dapat dikembangkan menjadi suatu kawasan perikanan budidaya harus dapat memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. yang dapat dipasarkan atau telah mempunyai pasar (selanjutnya disebut komoditi unggulan). Desa  Minapolitan PASAR/GLOBAL Desa  Minapolitan Desa  Minapolitan Keterangan : Pengahsilan Bahan Baku Pengumpul Bahan Baku Sentra Produksi Kota Kecil / Pusat Regional Kota Kecil / Pusat Regional Kota Sedang / Besar (outlet) Jalan Dan Dukungan Sapras Batas Kaw. sebaliknya kota menyediakan fasilitas untuk berkembangnya usaha budidaya dan minabisnis seperti penyediaan sarana perikanan antara lain: modal. perdagangan minabisnis hulu (sarana perikanan dan permodalan). Minapolitan Gambar 2. minawisata dan jasa pelayanan.

Memiliki sumberdaya manusia yang mau dan berpotensi untuk mengembangkan kawasan perikanan budidaya secara mandiri. pengembangan sistem usaha agribisnis. sarana produksi pengolahan hasil perikanan. terminal. sumber air baku. 2. dan fasilitasumumserta fasilitas sosial lainnya.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor b. Beberapa hal yang sifatnya sektoral masih mendapatkan masukan dari sektor atau dinas terkait.7 . jaringan telekomunikasi.2. pengembangan sistem infrastruktur. Konsep Rencana Tata Ruang Kawasan Minapolitan Rencana Tata Ruang (RTR) Kawasan Minapolitan adalah dokumen formal rencana induk pengembangan kawasan yang digunakan sebagai arahan para stakeholder dalam melaksanakan pembangunan kawasan. Rencana tata ruang Kawasan Minapolitan merupakan rencana pengembangan kawasan yang bersifat komprehensif dan multisektor yang memuat terutama rencana struktur kawasan dengan pusat kegiatan dan hinterlandnya. dan juga memuat ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang kawasan. Kawasan 1 Jalan Nasional Kawasan 2 Keterangan : Pusat Kegiatan Jalan Propinsi Jalan Propinsi Pusat Kegiatan Jalan Kabupaten Jalan Kabupaten Pusat Kegiatan Pusat Minapolitan Jalan Lokal Jalan Lokal Gambar 2. sarana irigasi/pengairan. fasilitas perbankan. Keterkaitan Pusat Kawasan Minapolitan Dalam penyusunan rencana tata ruang. perencanaan dan pengembangan kawasan-kawasan yang akan dibangun sepenuhnya berada di tangan pemerintah daerah dengan melaksanakan konsultasi publik. Memiliki infrastruktur yang memadai untuk mendukung pengembangan sistem dan usaha perikanan. pasar. dan c. seperti misalnya: jalan. perumusan konsep.3. Proses perencanaan clan pengembangan kawasan minapolitan menuntut hal utama untuk diperhatikan yaitu Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR II .2.

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor koordinasi lintas sektoral dan lintas kelembagaan. khususnya dari aspek perencanaan tata ruang dan penyediaan sarana dan prasarana penunjang. Kedudukan Rencana Tata Ruang Kawasan Minapolitan dalam Sistem Pengembangan Wilayah KabupatenIKota Penataan ruang diklasifikasi berdasarkan sistem. Berdasar kegiatan kawasan maka diketahui adanya rencana tata ruang kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan. pelayanan sosial. kaidah formal dan informal (termasuk nilai budaya. Kawasan perdesaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama pertanian. tetapi juga berbagai pihak yang berkepentingan. 2. panduan. kelembagaan pengelola sumberdaya menunjukan konsepsi multidimensi yang diantaranya merepresentasikan konsep peran (roles) dan aturan (rules). organisasi sampai dengan ekonomi. sistem norma. kegiatan kawasan dan nilai strategis kawasan. 26 tahun 2007 tentang Panataan Ruang dijelaskan bahwa RTR Kawasan Agropolitan/Minapolitan merupakan penjabaran lebih detail dari RTRW Kabupaten. dan kegiatan ekonomi. Departemen Pekerjaan Umum adalah salah satu departemen teknis terkait yang sangat berkepentingan dalam proses pengembangan kawasan minapolitan. fungsi utama kawasan.5. dan adat istiadat) bagi Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR II .2.8 . Berdasarkan penelusuran terhadap sejumlah konsep tentang kelembagaan. 2. pelayanan jasa pemerintahan. tidak tertutup kemungkinan bahwa hasil dari rencana tata ruang tersebut dapat menjadi alat evaluasil masukan terhadap RTRW Kabupaten/kota. dengan pengertian definisi atau yang beragam mulai dari persepsi sosiologis. termasuk pengelolaan sumberdaya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan.2. Konsep Kelembagaan Kelembagaan merupakan terminologi yang sangat umum. Pengembangan kawasan minapolitan tidak hanya melibatkan departemen dan dinas teknis terkait saja. Dalam UU No. Kawasan Minapolitan adalah sebagian dari wilayah kabupaten yang ditetapkan dan direncanakan sebagai kawasan budidaya pertania dan termuat dalam RTRW Kabupaten yang bersangkutan. Rencana tata ruang kawasan perdesaan merupakan bagian dari rencana tata ruang wilayah kabupaten yang dapat disusun sebagai instrumen pemanfaatan ruang untuk mengoptimalkan kegiatan pertanian yang dapat berbentuk kawasan minapolitan.4. wilayah administratif. Meskipun demikian.

& SDM Desa Hiterland Sentra Produksi  Kawasan Minapolita Pusat  Minap olitan  Kawasan Minapolitan Jalan Akses  Jalan Primer  Jalan Utama Antar Pusat Minapolitan Jalan Arteri Prime Jalan Usahatani Gambar 2. sehingga pengelolaan menjadi efektif untuk mencapai tujuan dan fungsi-fungsinya. Kawasan Minapolitan Dalam Sistem Pemasaran Ibukota Propinsi Kota Kawasan Minapolita Kota Jenjang II Jalan Arteri Prime Jalan Kolektor Primer Ibukota Propinsi Kota Sketsa Jaringan Jalan Dalam Kawasan Minapolitan Sketsan jaringan jalan agar terjadi efisiensi desa-kota sebagai satu kesatuan dalam meningkatkan SDA. Upaya-upaya kelembagaan secara fokus perlu diarahkan pada usaha-usaha untuk menghasilkan bentuk-bentuk kesepahaman tentang organisasi dan aturana mainnya. Penataan kelembagaan (institutional arrangement) pengelolaan sumberdaya adalah penataan hubungan antar unit-unit elemen masyarakat atau organisasi. Deskripsi Kawasan Minapolitan Dua elemen pokok tersebut diatas menjadi kebutuhan elementer. Secara ringkas.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor masyarakat serta aturan yang memfasilitasi komunikasi dan koordinasi antar elemen organisasi atau masyarakat untuk mencapai pengelolaan efektif. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR II . kelembagaan pengelolaan sumberdaya setidaknya mencakup dua hal pokok yaitu (a) organisasi atau institusi pengelola (player of the game) dan (2) aturan-aturan (rules of the game) yang dapat menjamin organisasi/institusi pengelola dapat bekerja secara efektif melaksanakan aktivitas pengelolaannya.9 .3. berdasarkan pemahaman terdapat konsep-konsep kelembagaan. infrastruktur buatan. sehingga perlu dirumuskan melalui mekanisme yang dapat diterima oleh seluruh pemangku kepentingan pengelolaan kawasan Minapolitan Kabupaten Bogor.

hubungan yang harus dibangun semestinya bersifat mutualisme. Kegagalan dalam satu pelaku usaha. Pada beberapa kasus. Relasi ini sudah terjadi cukup lama. dan melibatkan transaksi jual beli dengan nilai uang yang cukup besar. di wilayah studi terdapat beberapa kelompok atau pelaku usaha perikanan yang meliputi kelompok atau pelaku usaha : (a) pembenihan baik berupa unit pembenihan rakyat (UPR) atau rumahtangga. maka keterkaitan antar usaha dan pelakunya dapat dilihat dalam Gambar 2. sebagai tulang punggung adalah sistem usaha on-farm yaitu proses budidaya yang meliputi aktivitas pembenihan.4. di wilayah tersebut juga telah berkembang usaha-usaha sarana produksi perikanan budidaya seperti penjualan pakan dan obat-obatan. jasa transportasi. Sampai pada cakupan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR II . Gambar 2. dimana antar pihak yang saling berinteraksi harus mendapatkan keuntungan optimum untuk mendukung kelangsungan usahanya. (c) pemasaran dan (d) pengolahan. Dalam konsepsi sistem agribisnis. Selain itu. Pada pabrik pakan. juga terdapat pedagang benih ikan baik yang membeli dari petani pembenih setempat atau mendatangkan dari wilayah lain. (b) budidaya pembesaran. pendederan dan pembesaran..Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Bila dari sisi pelaku baik organisasi maupun individual. Relasi antara pembudidaya dan pelaku usaha sarana produksi budidaya bersifat cukup kental. Pada faktanya di lapang. akan mendorong terjadinya efek domino pada kegiatan lainnya yang dapat menghancurkan sistem yang telah berkembang.4. mendorong adanya relasi yang lebih kuat antara petani dan agen pakan. Adanya kebijakan pemasaran yang dikembangkan oleh produsen pasar. Keterkaitan Usaha dan Pelakunya di Wilayah Studi Berdasar Gambar 2.10 . agen pakan seringkali juga merupakan petani ikan setempat. mempunyai beberapa pemasaran dan perwakilan pemasaran (agen pakan) yang berada pada tingkat komunitas. sehingga cukup kuat. Akan tetapi perlu dipahami bahwa dalam sistem ini.4.

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor
tertentu dapat bersifat patronase, dimana agen perwakilan pabrik pakan menjadi patron dan klien adalah petani yang menggunakan. Hal ini terjadi karena sebagian pola

pemasaran (pakan) tidak bersifat cash and carry. Pola ini juga terjadi pada pola hubungan antara petani dengan pemasok obat-obatan. Dalam proses on farm pola keeratan relasi juga terjadi antara petani dengan pembenih atau pemasok benih walaupun dengan intesitas yang berbeda.Demikian selanjutnya

antara pembenih atau pemasok benih dengan pembesar. Relasi yang berkembang biasanya didasarkan pada kebiasaan setempat mulai dari pola pembayaran, distribusi barang sampai kesepakatan lain termasuk resiko kematian benih. Relasi berikutnya terjadi antara sisi on-farm dengan off-farm pemasaran. Dimana biasanya sudah terjadi relasi yang cukup erat antara produsen pembesaran dengan pembeii. Dalam transaksi ini disepakati harga, pola pembayaran, distribusi dan resikoresiko yang ditanggung kedua belah pihak. Pola relasi antara on-farm dengan off-farm pengolahan sekarang ini belum terjadi. Mengingat bahwa pengolah hasil perikanan di Kecamatan Parung sekarang ini justru mengolah ikan laut. Sementara itu, untuk mendukung kegiatan usaha tersebut juga telah dilakukan fasilitasi oleh para petugas lapangan dan penyuluh dari dinas teknis baik Kabupaten Bogor. Petugas ini memberikan fasilitasi transfer pengetahuan pada bidang teknologi budidaya, pengelolaan usaha sampai kerjasama kelompok. Sehingga penyuluh merupakan kelembagaan dari sisi pelaku (player of the game) yang merupakan pendukung dari kegiatan ini. Perlu diperhatikan bahwa pada kenyataannya, di samping penyuluh, juga terdapat kelembagaan keuangan yang sekarang ini telah berinteraksi dalam penyediaan jasa permodalan bagi pelaku usaha budidaya. Kelompok jasa keuangan ini meliputi lembaga keuangan bank maupun bukan bank. Secara umum bisa disarikan bahwa secara kelembagaan, sekarang ini di lokasi terdapat pelaku-pelaku usaha (baik individual maupun kelompok) yang perlu diperhitungkan yang meliputi : A. On-farm meliputi : a.Pelaku pembenihan b.Pelaku Pendederan c. Pelaku pembesaran B. Off-farm meliputi : a. Pembeli/pedagang ikan konsumsi
Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR

II - 11

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor
b. Pelaku usaha transportasi C. Pendukung meliputi a. Pemasok pakan dan obat-obatan b. Pemasok benih c. Pemasok modal d. Penyuluh

2.3.

Tujuan Minapolitan

Tujuan dari penerapan program minapolitan ini adalah: 1. Untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat serta pendapatan asli daerah. 2. Untuk memfasilitasi pembangunan kawasan melalui pembentukan titik tumbuh agribisnis perikanan berkelanjutan berbasis masyarakat. 3. Untuk meningkatkan keterkaitan desa dengan kota melalui jaringan usaha.

2.4.

Sasaran Minapolitan

Sasaran program minapolitan yaitu: 1. Terwujudnya kawasan perdesaan dengan fasilitas perkotaan didukung kluster kegiatan perikanan yang dikembangkan bersama masyarakat, sehingga masyarakat tumbuh dan berkembang seiring dengan kemajuan agribisnis yang menjadi penghela kegiatan pembangunan perikanan dari kawasan/wilayah tersebut. 2. Terbentuknya sistem dan usaha agribisnis perikanan berkelanjutan (tidak merusak lingkungan), terdesentralisasi (wewenang berada pada pemerintah daerah dan masyarakat), dan menjadi titik tumbuh yang menciptakan lapangan kerja, dan membawa kemakmuran/kesejahteraan bagi masyarakat tersebut. dari kawasan/wilayah

Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR

II - 12

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor
2.5. Pariwisata

Yoeti (2008) mengemukakan, dalam perkembangan industri sebuah kawasan wisata, sebuah perencanaan yang baik sangat penting dibutuhkan agar pengembangan wisata tersebut sesuai dengan apa yang telah dirumuskan dan berhasil mencapai sasaran yang dikehendaki, baik itu ditinjau dari segi ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan hidup. Pariwisata menurut Damanik dan Weber (2006) adalah kegiatan rekreasi di luar domisili untuk melepaskan diri dari pekerjaan rutin atau mencari suasana lain. Pariwisata semakin berkembang sejalan perubahan-perubahan sosial, budaya, ekonomi, teknologi dan politik. Sebagai suatu aktifitas manusia, pariwisata adalah fenomena pergerakan manusia, barang dan jasa yang sangat kompleks. Yoeti (2008) menyatakan bahwa pariwisata merupakan sebuah perjalanan untuk bersenang-senang. Perjalanan tersebut baru dapat dikatakan sebagai perjalan wisata jika telah memenuhi empat kriteria di bawah ini, yaitu: 1. Perjalanan dilakukan dari suatu tempat ke tempat yang lain, dan dilakukan di luar tempat kediaman dimana orang itu biasanya tinggal. 2. Perjalanan dilakukan minimal 24 jam atau lebih kecuali bagi excursionist (kurang dari 24 jam). 3. Tujuan perjalanan hanya untuk bersenang-senang (to pleasure) tanpa mencari nafkah di negara, kota atau DTW (Daerah Tujuan Wisata) yang dikunjungi. 4. Uang yang dibelanjakan wisatawan tersebut dibawa dari negara asalnya dimana dia tinggal atau berdiam dan bukan diperoleh karena hasil usaha selama dalam perjalanan wisata yang dilakukan. Pariwisata di daerah pariwisata dan rekreasi dapat menimbulkan masalah ekologis yang khusus dibandingkan dengan kegiatan ekonomi lain mengingat bahwa keindahan dan keaslian alam merupakan modal utama. Bila suatu wilayah dibangun untuk tempat rekreasi, biasanya fasilitas-fasilitas pendukung lainnya juga berkembang dengan pesat. Sebagai kegiatan rekreatif, pariwisata merupakan sarana pemenuhan hasrat manusia untuk bereksplorasi guna mengalami berbagai perbedaan. Perbedaan tersebut mencakup perbedaan fisik, seperti bangunan, lingkungan alam, benda-benda, hewan, tumbuhan dan manusia. Perbedaan non-fisik, seperti perbedaan suhu dan kelembaban udara, suara, rasa makanan dan minuman serta suasana, dan juga perbedaan-perbedaan lain yang mengarah pada perilaku manusia termasuk adat-istiadat, kesenian, cara berpakaian dan lain sebagainya (Simatupang 1999).

Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR

II - 13

3. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah yang kemudian digantikan oleh UU No. Pendekatan pengusahaan didasarkan pada keanekaragaman hayati dan keanekaragaman budaya. 2. Kebijakan Nasional Minapolitan Seiring dengan perkembangan sistem pemerintahan di Indonesia. pengesahan Undangundang (UU) No. 32 Tahun 2004 telah menciptakan paradigma baru dalam pembangunan daerah. antara lain adalah: a) Menetapkan target pertumbuhan. Masyarakat sebagai pengambil keputusan dan menentukan sistem pengusahaan dan pengelolaan yang tepat. Masyarakat sebagai pelaku utama dalam pengelolaan dan pengambilan manfaatnya.1. dan 6. Salah satu implikasi perubahan kebijakan tersebut adalah Pemerintah Daerah harus mampu mengelola sumber dana untuk membiayai pembangunan daerahnya. Pergeseran sistem pemerintahan dari sentralistik menjadi terdesentralistik merupakan peluang sekaligus tantangan bagi pemerintah daerah. Kewenangan pemerintah daerah dalam kaitannya dengan pengembangan kawasan adalah sangat luas. khususnya Kabupaten/Kota. 4. Desentralisasi menuntut pembangunan dikelola berdasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: 1. b) Menetapkan tahap dan langkah pembangunan kawasan sesuai dengan potensi yang dimiliki. Kelembagaan pengusahaan ditentukan oleh masyarakat atau rakyat. Pemerintah sebagai fasilitator dan pemantau kegiatan. Kepastian dan kejelasan hak dan kewajiban semua pihak. sehingga kelembagaan lokal dalam pembangunan ekonomi daerah akan semakin penting dan diakui keberadaannya. .TINJAUAN KEBIJAKAN 3 3. Peran Pemerintah Pusat yang semula bersifat sektoral secara bertahap beralih ke Pemerintah Daerah. 5.

Undang-undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan kedua atas UU no. dan f) Mengembangkan sistem informasi untuk promosi kegiatan-kegiatan ekonomi regional. 2) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulaupulau Kecil. Pengelolaan ruang perikanan budidaya adalah arahan kebijakan dan strategi pemanfaatan ruang yang diperuntukkan bagi kegiatan perikanan dan usaha-usaha berbasis perikanan lainnya dalam skala nasional. Konsepsi mengenai pengembangan kawasan perikanan budidaya dalam penataan ruang lebih diarahkan kepada bagaimana memberikan arahan pengelolaan tata ruang suatu wilayah perikanan. Dalam rangka memanfaatkan potensi sumberdaya alam yang ada khususnya yang terkait dengan pengembangan perikanan dalam arti luas maka diupayakan suatu pendekatan melalui produk yaitu perencanaan pengembangan kawasan perikanan budidaya (Minapolitan). Perencanaan pengembangan kawasan perikanan budidaya (minapolitan) merupakan suatu upaya untuk memanfaatkan lahan/potensi yang ada dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan dan penataan ruang perikanan di pedesaan. e) Menetapkan institusi pendukung kebijakan untuk pertumbuhan ekonomi regional. 5) Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. 6) Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Perbantuan. d) Melakukan berbagai macam negosiasi yang bertujuan mewujudkan konsepsi pertumbuhan ekonomi regional.2 . Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR III .Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor c) Menetapkan persetujuan kerjasama regional di bidang perdagangan yang berlandaskan pada produksi lokal yang dihasilkan oleh sentra-sentra komoditas tertentu. khususnya kawasan sentra produksi perikanan nasional dan daerah. 3) 4) Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. 32 tentang Pemerintahan Daerah. sedangkan pengelolaan ruang kawasan sentra produksi perikanan nasional dan daerah merupakan arah kebijakan dan strategi pemanfaatan ruang bagi peruntukan perikanan secara umum. Berikut ini adalah peraturan-perundangan yang mendasari kebijakan Minapolitan secara nasional : 1) Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004.

Strategi pengembangan kawasan budidaya dilakukan dengan meningkatkan keterpaduan dan keterkaitan antar kegiatan budidaya. 19/2008 tentang Rencana tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bogor 2005-2025 pasal 7 menyebutkan bahwa strategi untuk mewujudkan pola kebijakan penataan ruang wilayah Kabupaten Bogor diantaranya mencakup strategi pengembangan pola ruang wilayah.3 . air deras. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor No.2.24/MEN/2002 tentang Tata Cara dan Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan di Lingkungan Departemen Kelautan dan Perikanan. kolam air tenang. 10) Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 41 Tahun 2009 tentang Penetapan Lokasi Minapolitan. sosial dan ekonomi memiliki potensi untuk kegiatan perikanan. Kawasan perikanan ini. berdasarkan peraturan daerah ini terletak di sebagian wilayah kecamatan tertentu. (b) strategi pengembangan kawasan budidaya dan (c) strategi pengembangan kawasan strategis. Hal yang dipikirkan adalah bahwa sebagian wilayah kecamatan yang telah ditunjuk tersebut juga digunakan untuk peruntukan pemanfaatan yang lainnya. pembenihan.67%. Perbandingan antara kawasan budidaya dan kawasan lindung masing-masing sebesar 55. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR III .Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 7) Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasioanal. pengendalian perkembangan budidaya agar tidak melampaui daya dukung dan pengembangan fasilitas perkotaan agar mendukung perkembangan perdesaan. kolam ikan hias/aquarium. 11) Peraturan Menteri Dalam Negeri No 29 Tahun 2008 tentang Pengembangan Kawasan Strategis Cepat Tumbuh di Daerah. 9) Pemerintah Daerah Provinsi. dan budidaya ikan di perairan umum.19 tahun 2008 Secara legal. Kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bogor : Perda No. dan 12) Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP. 8) Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintah. 3.31% dan 44. dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Pengembangan pola ruang wilayah (pasal 12) didasarkan pada (a) strategi pengembangan kawasan lindung. Di mana kawasan budidaya di luar hutan termasuk didalamnya ditujukan untuk pertanian dengan kegiatan perikanan. Kawasan perikanan dikembangkan pada wilayah/kawasan yang secara teknis.

2) Pengembangan kawasan strategis industri sebagai kawasan strategis sosial ekonomi melalui penataan dan pemanfaatan ruang serta pembangunan jaringan infrastruktur yang mendorong perkembangan kawasan. b. dan 4) Pengembangan kawasan strategis lintas administrasi kabupaten sebagai kawasan strategis sosial ekonomi melalui sinkronisasi sistem jaringan. dan 2) pengendalian perkembangan kegiatan budidaya agar tidak melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang tertuang dalam Peraturan Daerah Nomor 19 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bogor tahun 2005-2025 meliputi kebijakan pengembangan struktur ruang. Kebijakan pengembangan struktur ruang Kabupaten Bogor. dan 2) pencegahan dampak negatif kegiatan manusia yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup. kebijakan pengembangan kawasan budidaya. meliputi : 1) pemeliharaan dan perwujudan kelestarian fungsi lingkungan hidup. 2) Peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana transportasi. dan kebijakan pengembangan pola ruang. kebijakan pengembangan kawasan strategis. energi. 3) Pengembangan kawasan strategis pertambangan sebagai kawasan strategis lingkungan hidup yang berperan sebagai kawasan andalan sumber daya alam melalui konservasi bahan galian. Sedangkan kebijakan pengembangan pola ruang. meliputi : a. telekomunikasi. kebijakan pengembangan kawasan lindung. meliputi : 1) Peningkatan akses pelayanan perkotaan dan pusat pertumbuhan ekonomi wilayah yang merata dan berhierarki. meliputi : 1) Pengembangan kawasan strategis Puncak sebagai kawasan strategis lingkungan hidup yang berperan sebagai kawasan andalan pariwisata melalui pembatasan pemanfaatan ruang yang lebih selektif dan efisien. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR III . c. meliputi : 1) perwujudan dan peningkatan keterpaduan dan keterkaitan antarkegiatan budidaya.4 . dan. dan sumberdaya air yang terpadu dan merata di seluruh wilayah daerah.

(3) Orde III. Parung Panjang. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR III . dilakukan melalui pembangunan Desa Pusat Pertumbuhan (DPP). meliputi : (1) Taman Safari Indonesia. meliputi : (1) Orde I. (2) Gunung Gede Pangrango. Sistem prasarana wilayah. (2) Orde II. 7) Kawasan rawan konservasi geologi adalah kawasan karst kelas I yang berfungsi sebagai perlindungan hidrologi dan ekologi. meliputi : (1) lingkungan non bangunan. Untuk kawasan rawan letusan gunung api. dan (3) Gunung Halimun. d.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Pengembangan struktur wilayah terdiri dari: a. 6) Kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan. (4) sistem prasarana sumberdaya air. 5) Kawasan perlindungan plasma nutfah. (5) sistem prasarana gas. Ruang lingkup dari rencana pola ruang kawasan lindung. Pengembangan Pola Ruang Wilayah menggambarkan rencana sebaran Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya. terdiri dari : (1) Gunung Salak. Klaster di 5 (lima) wilayah sebagai strategi ruang wilayah. 3) Kawasan suaka alam. b. (2) lingkungan bangunan nongedung. Dalam hal ini terdiri dari : a. Parung. (2) sistem prasarana telekomunikasi. meliputi kawasan rawan letusan gunung api serta kawasan rawan gempa. dan (3) lingkungan bangunan gedung dan halamannya. gerakan tanah. (3) sistem prasarana sumberdaya energi. 8) Kawasan rawan bencana alam. meliputi 3 cagar alam di 3 kecamatan. meliputi 2 Taman Nasional dan 2 Taman Wisata Alam. (2) Taman Buah Mekarsari. dan (3) Gunung Salak Endah. c. meliputi 80 Desa di 40 Kecamatan. dan Cariu. Sistem pusat permukiman perkotaan. Sedangkan untuk kawasan gerakan tanah tinggi terdapat di 13 wilayah Kecamatan. 4) Kawasan pelestarian alam. 2) Kawasan perlindungan setempat. yaitu Cibinong yang memiliki aksesibilitas tinggi terhadap PKN lainnya (PKN JABODETABEKJUR). meliputi : (1) sistem prasarana transportasi. Ciawi. terdiri dari: 1) Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya. Cigombong. dan longsor. yaitu Jasinga. yaitu Cileungsi dan Leuwiliang yang memiliki aksesibilitas tinggi terhadap Cibinong.5 . dan (6) sistem prasarana lingkungan. Sistem pusat permukiman perdesaan.

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Ruang lingkup dari rencana pola ruang kawasan budidaya. b. serta dapat menunjang kegiatan pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. meliputi : (1) Kawasan Industri Estate (KIE). 5) Kawasan pariwisata meliputi kawasan wisata alam. meliputi : (1) Kawasan hutan produksi terbatas (HPT). kawasan wisata budaya dan kawasan wisata minat khusus. Pengelolaan kawasan lindung lainnya. meliputi : Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR III . Pengelolaan kawasan suaka alam. maka pemanfaatan potensi tambang harus memenuhi kelayakan secara teknis. dan (3) Sentra Industri Kecil. (3) tanaman tahunan (TT). (5) peternakan. (2) Zona Industri (ZI). meliputi : (1) pertanian lahan basah (LB). (4) perkebunan (PB). ekonomis dan lingkungan.6 . 6) Kawasan permukiman meliputi: (1) permukiman perdesaan terdiri dari permukiman pedesaan diluar kawasan yang berfungsi lindung (PD 1) dan permukiman pedesaan yang berada di dalam kawasan lindung di luar kawasan hutan (PD 2). (3) golongan bahan galian di luar bahan. (2) pertanian lahan kering (LK). meliputi : Pengelolaan kawasan lindung di dalam kawasan hutan dan arahan pengelolaan kawasan lindung di luar kawasan hutan. mencakup : 1) Pengelolaan kawasan Budidaya di dalam kawasan lindung. Pengelolaan Kawasan Budidaya. 3) Pemanfaatan kawasan pertambangan. dan (2) permukiman perkotaan terdiri dari permukiman perkotaan kepadatan tinggi (Pp 1). permukiman perkotaan kepadatan sedang (Pp 2) dan permukiman perkotaan kepadatan rendah Pengelolaan kawasan lindung dan kawasan budidaya terdiri dari : a. Pengelolaan Kawasan Lindung. 4) Pemanfaatan kawasan industri. meliputi : (1) pertambangan bahan galian golongan strategis. galian strategis dan bahan galian vital (golongan C). (2) golongan bahan galian vital. di luar kawasan hutan dilakukan pada kawasan hutan produksi terbatas dan hutan produksi tetap. Pengelolaan kawasan rawan bencana alam. 2) Kawasan pertanian. Pengelolaan kawasan perlindungan setempat. dan (2) Kawasan hutan produksi tetap (HP). terdiri dari: 1) Kawasan Budidaya di dalam kawasan hutan. dan (6) perikanan. (4) Dalam hal terdapat potensi tambang di luar lokasi tambang.

jalan Kabupaten. • • Jaringan jalan provinsi (kolektor primer II) (10 ruas jalan) Pengelolaan jaringan jalan kabupaten (lokal sekunder. perdagangan. jasa dan simpulsimpul transportasi serta pengembangan jalan penghubung antara jalan tol dan bukan jalan tol.7 . Pengelolaan kawasan peternakan.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Pengelolaan kawasan pertanian lahan basah. dilakukan terhadap seluruh jalan kabupaten dan desa di wilayah Kabupaten Bogor. meliputi : (1) Jaringan jalan arteri primer (2 ruas jalan). pertanian. terdiri dari : Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR III . dan jalan Kota. meliputi: Pengelolaan kawasan perdesaan. industri. Pengelolaan kawasan strategis. Pengelolaan kawasan permukiman. yang jaringan jalannya terlampir pada Dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah. 2) Pengembangan jalan baru dilakukan untuk menghubungkan antar wilayah dan antar pusat-pusat permukiman. Pengembangan sistem transportasi jalan 1) Pengelolaan jalan yang ada dilakukan melalui program peningkatan. lokal I. terdiri dari : • Jaringan jalan Nasional. Pengelolaan kawasan pertanian lahan kering. Kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) juga mewadahi pengembangan sistem prasarana wilayah yang terdiri dari : A. Pengelolaan kawasan pertambangan. Pengelolaan kawasan industri. rehabilitasi dan pemeliharaan rutin untuk ruas-ruas jalan Nasional. Pengelolaan kawasan tanaman tahunan/perkebunan. jalan Provinsi. (3) Jaringan jalan kolektor primer I (10 ruas jalan). (4) Jalan tol Jakarta – Bogor – Ciawi (Tol Jagorawi). 2) Pengelolaan Kawasan Budidaya di Luar Kawasan Lindung. (2) Jaringan jalan arteri sekunder (1 ruas jalan). Pengelolaan kawasan perikanan. lokal II dan lokal III) dan jalan desa (lingkungan). Pengelolaan kawasan perkotaan. Pengelolaan kawasan pariwisata.

meliputi : 1) Rencana pengembangan jalur kereta api perkotaan meliputi pengembangan jalur kereta api ganda dan penataan jalur kereta api yang beroperasi saat ini (3 jalur dan 1 stasiun). Rencana pengembangan jaringan jalan baru berfungsi kolektor primer III. 2) Rencana pengembangan jalur kereta api antarkota pada ruas tertentu. yang merupakan jalan tembus antar wilayah kabupaten/kota perbatasan (11 jaringan jalan). disesuaikan dengan rencana pengembangan jaringan kereta api (rail way master plan) nasional (3 jalur).Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Rencana pengembangan jaringan jalan baru Nasional (8 jaringan jalan). Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR III . Sekolah Polisi Negara (SPN) Lido di Kecamatan Cigombong. B. Rencana pengembangan jaringan jalan baru berfungsi kolektor primer II. terdiri dari lapangan udara dan ruang udara di sekitar udara yang dipergunakan untuk operasi penerbangan. Pengembangan sistem transportasi udara Sistem transportasi udara.8 . serta konservasi rel mati. dan (3) lapangan udara untuk pendidikan/pelatihan. (2) lapangan udara untuk penelitian. Rencana pengembangan jaringan jalan baru berfungsi lokal primer I (26 jaringan jalan). adalah : (1) lapangan udara untuk pertahanan keamanan (Hankam). terminal barang. Lapangan udara yang terdapat di wilayah Kabupaten Bogor. pengembangan prasarana transportasi kereta api untuk keperluan penyelenggaraan perkeretaapian komuter. C. dry port. 3 Terminal untuk tujuan wisata 2 Terminal barang/peti kemas. yang merupakan jalan lingkar kabupaten dan jalan tembus antar wilayah kabupaten/kota perbatasan (12 jaringan jalan). 3) Rencana pengembangan terminal. Atang Senjaya di Kecamatan Kemang. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) di Kecamatan Rumpin. Pengembangan sistem transportasi perkeretaapian Rencana pengembangan sistem transportasi perkeretaapian meliputi pengelolaan jalur perkeretaapian. terdiri dari : 4 Terminal angkutan penumpang.

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Penataan dan pengembangan ruang udara di sekitar bandar udara yang dipergunakan untuk operasi penerbangan sebagaimana dimaksud di atas. E. Pengembangan sistem prasarana sumberdaya air 1) Pengelolaan sumberdaya air. F. 2) Pengembangan Prasarana Pengairan. Pengembangan sistem jaringan tenaga listrik harus memperhatikan kapasitas yang telah terpasang dan kebutuhan jangka panjang. Pengembangan sistem prasarana migas Rencana pengembangan prasarana migas adalah jaringan/ distribusi minyak dan gas bumi melalui pipa di darat. dan (3) kriteria teknis lainnya sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan.9 . Rencana Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR III . Pengembangan sistem jaringan telekomunikasi dapat juga dilakukan melalui kerjasama antar daerah serta peran masyarakat dan dunia usaha. dan (3) kriteria teknis lainnya sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan. dimana penataan ruang di sekitar dan di kawasan lapangan udara harus memperhatikan kegiatan kebandaraan sesuai dengan rencana induk bandar udara dan ketentuan kawasan keselamatan operasi penerbangan (KKOP). D. meliputi energi mikrohidro di Kecamatan Leuwiliang dan energi panas bumi di Kecamatan Pamijahan. Pengembangan sistem jaringan tenaga listrik dapat dilakukan melalui kerjasama antar daerah. Pengembangan sistem prasarana telekomunikasi Pengembangan sistem jaringan telekomunikasi dilakukan berdasarkan kriteria teknis sebagai berikut : (1) meminimalkan dampak negatif terhadap kesehatan dan keselamatan masyarakat serta keselamatan penerbangan. kereta api dan angkutan jalan raya. G. dilakukan berdasarkan kriteria teknis sebagai berikut: (1) meminimalkan dampak negatif terhadap kesehatan dan keselamatan masyarakat. pera masyarakat dan dunia usaha. (2) mendukung perwujudan struktur ruang kawasan. Pengembangan sistem prasarana sumberdaya energi Pengembangan energi baru dan terbarukan oleh Pemerintah Kabupaten Bogor. (2) mendukung perwujudan struktur ruang kawasan. dilakukan untuk menjamin keselamatan operasi penerbangan dan keberlanjutan pengoperasian lapangan udara.

tata guna air.10 . estetika. tata guna udara. 2) Pengelolaan tata guna air. dan keselamatan. H. 6) Pengembangan sarana kebudayaan dan peribadatan. 5) Pengembangan sarana kesehatan. sedangkan rencana pengembangan prasarana migas dilakukan pada seluruh wilayah kabupaten. 7) Pengembangan tempat ibadah umat muslim dan pembangunan tempat ibadah umat lainnya disesuaikan dengan kebutuhan. dengan arahan pengembangan sebagai berikut : 1) Pengembangan sarana tempat pengolahan sampah. Pengelolaan tata guna tanah. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR III . dan tata guna sumber daya alam lainnya Rencana pengelolaan tata guna tanah. 8) Pengembangan sarana perdagangan. dilakukan melalui upaya perlindungan tanah dan perlindungan/pengawetan keseimbangannya terhadap kelestarian lingkungan hidup. dilakukan melalui upaya kelestarian sumberdaya air. terdiri dari: tata guna tanah. sarana Tempat Pemakaman Umum dan Bukan Umum (TPU/TPBU). sarana Pendidikan dan Balai Latihan Kerja. tata guna udara. dengan arahan pengembangan sebagai berikut : 1) Pengelolaan tata guna tanah. meliputi wilayah Kecamatan Jonggol dan Kecamatan Cariu. sarana Kesehatan. 3) Pengembangan sarana pendidikan dan balai latihan kerja. I. dan tata guna sumberdaya alam lainnya. tata guna air. Sarana Olahraga. Pengembangan sistem prasarana lingkungan Prasarana lingkungan meliputi. sarana Kebudayaan dan Peribadatan. 4) Pengembangan sarana olahraga.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor pengembangan sumber migas. sarana Tempat Pengelolaan Sampah (TPS). dan tata guna udara. tata guna air. 2) Pengembangan tempat pemakaman umum (TPU) dan tempat pemakaman bukan umum (TPBU). dan sarana Perdagangan. 3) Pengelolaan tata guna udara ditujukan untuk menjaga kelestarian kualitas udara.

7 Tahun 2009 RPJM Daerah Kabupaten Bogor 2008-2013 merupakan pedoman bagi seluruh pemangku kepentingan. Pemanfaatan jasa lingkungan Pemanfaatan jasa lingkungan merupakan acuan dalam pengenaan kompensasi bagi pengguna jasa lingkungan. 2) Kawasan yang menghasilkan jasa lingkungan harus dilindungi dari kegiatan yang dapat merusak fungsinya sebagai penyedia jasa lingkungan. baik Pemerintahan Daerah. meliputi : 1) Kawasan lindung dan kawasan budidaya yang dikelola secara berkelanjutan dapat memberikan jasa lingkungan yang penting bagi kelangsungan kehidupan masyarakat dan lingkungan hidupnya. udara bersih dan penyerapan karbon. 3) Upaya perlindungan kawasan penyedia jasa lingkungan harus diapresiasi oleh pengguna jasa lingkungan yang selama ini menggunakannya. misi. Jasa lingkungan dimaksud berupa jasa lingkungan air.11 . masyarakat dan dunia usaha di dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan pembangunan daerah Kabupaten Bogor. Kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bogor 2008-2013 : Perda No. dan strategi juga memuat kebijakan pembangunan Kabupaten Bogor lima tahun ke depan. 5) Pemilik lahan perorangan yang lahannya berfungsi sebagai penyedia jasa lingkungan dapat menerima dana kompensasi konservasi dari pengguna jasa lingkungannya berdasarkan kesepakatan diantara keduanya. 7) Pemerintah Kabupaten Bogor dapat mengadakan perjanjian kerja sama pemanfaatan jasa lingkungan yang ada di dalam wilayahnya dengan pengguna jasa lingkungan di wilayah Kabupaten Bogor dan/atau wilayah lain di sekitarnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 3. Kebijakan Pembangunan merupakan penjabaran tujuan dan sasaran pada Misi serta strategi pembangunan yang telah dijelaskan sebelumnya.3. 4) Pengguna jasa lingkungan memberikan sejumlah kompensasi sebagai bentuk apresiasi dan tanggung jawab bersama untuk melindungi dan melestarikan kawasan penyedia jasa lingkungan. 6) Dana kompensasi konservasi hanya dapat digunakan untuk membiayai upaya konservasi kawasan yang menyediakan jasa lingkungan. RPJM Daerah Kabupaten Bogor 2008-2013 selain memuat visi.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor J. serta wisata alam. Kebijakan Pembangunan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR III .

administrasi keuangan daerah. perangkat daerah. a. Kebijakan Pembangunan Kabupaten Bogor Kebijakan Pembangunan urusan pemerintahan yang termuat dalam okumen RPJM Daerah Kabupaten Bogor 2008-2013 adalah : Kebijakan pembangunan urusan pendidikan Kebijakan pembangunan urusan kesehatan Kebijakan pembangunan urusan pekerjaan umum Kebijakan pembangunan urusan perumahan dan permukiman Kebijakan pembangunan urusan penataan ruang Kebijakan pembangunan urusan perencanaan pembangunan Kebijakan pembangunan urusan perhubungan Kebijakan pembangunan urusan lingkungan hidup Kebijakan pembangunan urusan kependudukan .12 Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR . kepegawaian dan persandian Kebijakan pembangunan urusan pemberdayaan masyarakat desa Kebijakan pembangunan urusan kearsipan dan perpustakaan. Kebijakan pembangunan urusan komunikasi dan informasi Kebijakan pembangunan urusan pertanian Kebijakan pembangunan urusan energi dan sumber daya mineral III .Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor tersebut menjadi pedoman dalam melaksanakan program dan kegiatan pembangunan. pemerintahan umum.Kebijakan pembangunan urusan pembangunan otonomi daerah. dengan kata lain Kebijakan Pembangunan adalah untuk mengarahkan pencapaian tujuan dan sasaran Misi yang ditetapkan dan dijadikan sebagai pedoman dalam melaksanakan program dan kegiatan pembangunan. Rumusan Kebijakan Pembangunan dapat dikelompokkan ke dalam Urusan Pemerintahan maupun menurut Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).Kebijakan pembangunan urusan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Kebijakan pembangunan urusan sosial Kebijakan pembangunan urusan ketenagakerjaan Kebijakan pembangunan urusan koperasi dan UKM Kebijakan pembangunan urusan penanaman modal Kebijakan pembangunan urusan kebudayaan Kebijakan pembangunan urusan kepemudaan dan olahraga Kebijakan pembangunan urusan kesatuan bangsa dan politik dalam negeri .

Program Pengembangan Sistem Penyuluhan Perikanan. Pemberian pola insentif dalam rangka peningkatan produksi pertanian secara berkelanjutan dalam rangka ketersediaan pangan maupun agribisnis.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Kebijakan pembangunan urusan pariwisata . . 7. Dalam RPJM Daerah Kabupaten Bogor 2008-2013 terkait dengan pengembangan perikanan.Kebijakan pembangunan urusan industri dan perdaganga b. peraturan yang terkait dengan kebijakan pemilihan lokasi dan komoditas dan kebijakan/peraturan terkait dengan minapolitan itu sendiri. 19/2008 tentang Rencana tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bogor 2005-2025. Peningkatan produksi hasil perikanan yang berkelanjutan dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan. 2. 2. Pengembangan industri agro yang tersebar di pedesaan untuk meningkatkan nilai tambah produk pertanian dan menyerap tenaga kerja. Kebijakan pembangunan urusan pertanian Berikut ini adalah Kebijakan pembangunan urusan pertanian : 1. 6. Peraturan Terkait Minapolitan Peraturan terkait dengan Minapolitan saat ini secara pokok meliputi peraturan tentang tata ruang wilayah. 4. program yang akan dilaksanakan adalah : 1. Peningkatan ketersediaan pangan secara berkelanjutan melalui peningkatan produksi pertanian dan peternakan khususnya untuk memenuhi karbohidrat dan protein. ternak dan ikan. 5. 3. pencegahan dan penanggulangan penyakit tanaman. Peningkatan produksi hasil hutan dengan tetap menjaga kelestarian dan kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan serta rehabilitasi lahan kritis.13 . Peraturan terkait dengan tata ruang wilayah adalah peraturan Peraturan Daerah Kabupaten Bogor No. 3. Pelaksanaan revitalisasi pertanian dalam arti luas melalui penguatan sistem agribisnis dan penerapan hasil inovasi serta teknologi terkini dalam lingkup pertanian.4. Program Optimalisasi Pengelolaan dan Pemasaran Produksi Perikanan. Peningkatan. Peraturan ini Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR III .

mujair.14 . Hal yang paling penting dari peraturan ini adalah bahwa lokasi pengembangan minapolitan yang akan ditetapkan harus sesuai dengan rencana pemanfaatan wilayah sesuai dengan peraturan daerah ini. Parung. hortikultura. (4) rencana strukur dan pola ruang wilayah. peternakan. (b) zona industri dan (c) sentra industri kecil. RP3. Ciseeng dan Gunung Sindur. (2) Ruang lingkup. nila.31/227/Kpts/Huk/2010 tentang Penetapan Lokasi Pengembangan Kawasan Minapolitan di Kabupaten Bogor. (2) Kecamatan Parung. Rancabungur. tawes. Dalam Peraturan Bupati (Perbub) nomor 84/2009. Sebagian dari wilayah kecamatan yang menjadi zona industri (pasal 37) juga Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR Keempat lokasi tersebut merupakan bagian dari wilayah kecamatan di Zona IV III . nila. (3) asas. kewajiban dan peran serta masyarakat dan kelembagaan. Dalam peraturan tersebut menyatakan bahwa lokasi minapolitan terletak pada 4 kecamatan yaitu (1) Kecamatan Ciseeng. Kemang. Program direncanakan baik pada sisi on-farm. kehutanan dan perikanan. Peraturan yang terkait dengan kebijakan dan komoditas setidaknya terdapat dua peraturan pokok yaitu Peraturan Bupati (Perbub) nomor 84/2009 tentang Revitalisasi Pertanian dan Pembangunan Perdesaan (RP3) dan Keputusan Bupati Bogor nomor 523. secara kewilayah adalah adanya peraturan daerah tentang rencana tata ruang wilayah. gurame.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor secara garis besar berisikan : (1) ketentuan umum. hias. Maka pengembangan perikanan kolam air tenang (komoditi mas. tujuan. (5) rencana pemanfaatan wlayah. gurame. Hal lain yang lebih mendasar. (6) arahan pengendalian pemanfaatan ruang dan (7) hak. Pasal 37 perda ini ini menyebutkan bahwa kawasan industri mencakup bentuk (a) kawasan industry estate. patin dan lele.Terkait dengan minapolitan. Peraturan lain yang terkait dengan pengembangan Minapolitan di Kabupaten Bogor seperti yang sudah disebutkan di atas adalah Keputusan Bupati Bogor nomor 523. patin dan lele) bertumpu pada target produksi di kawasan Zona IV yang meliputi kawasan kecamatan Tahurhalang. off-farm maupun yang tidak didasarkan usaha pertanian (non-farm) serta infrastrukturnya. (3) Kecamatan Gunung Sindur dan (4) Kecamatan Kemang yang meliputi 28 desa. menyebutkan bahwa ruang lingkup revitalisasi pertanian dan pembangunan perdesaan mencakup 6 komoditi unggulan yaitu usaha tanaman pangan. Pasal 9 menyebutkan bahwa komoditi unggulan perikanan mencakup jenis-jenis ikan : mas.31/227/Kpts/Huk/2010 tentang penetapan lokasi pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Bogor. perkebunan. kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah.

Sementara sebagian wilayah kecamatan Gunung Sindur dan Parung juga menjadi sentra industri kecil. Rencana pengelolaan kawasan (Pasal 51 Perda No. dan/atau pemasaran dan kegiatan usaha lainnya seperti jasa dan perdagangan.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor merupakan lokasi pengembangan minapolitan yaitu kecamatan Gunung Sindur. Sedangkan dari sisi kebijakan nasional mengenai minapolitan. walaupun terdapat potensi tumpang tindih terutama pada kegiatan-kegiatan perikanan dan peternakan yang berbasis lahan yang sama. Kabupaten Bogor merupakan satu dari 11 kabupaten yang terpilih di Propinsi Jawa Barat. evaluasi dan pelaporan. peraturan ini juga meliputi : (1) azas. Berdasarkan pada telaah tersebut. Minapolitan didefinisikan sebagai suatu bagian wilayah yang mempunyai fungsi utama ekonomi yang terdiri dari sentra produksi. telah dikeluarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No.19/2008) kawasan perikanan dilakukan dengan (a) menjaga kelestarian sumberdaya air terhadap pencemaran limbah industry maupun limbah lainnya. Hal ini perlu untuk diperhitungkan secara cermat mengingat bahwa bukan hanya persaingan pemanfaatan lahan tetapi potensi eksternal negatif dari aktivitas perikanan dan zona industri yang bisa saling meniadakan. pengolahan. terlihat bahwa peraturan tentang lokasi minapolitan selaras dengan peraturan tentang RP3. (2) konsep pengembangan kawasan minapolitan. Hal perlu untuk menjadi catatan adalah adanya pemanfaatan wilayah sesuai RTRW sebagai zona indutri. KEP : 32/MEN/2010 tentang penetapan kawasan minapolitan. pengolahan.15 . disampingg berisikan tentang ketentuan umum. Secara spesifik. Kabupaten Bogor merupakan 1 dari 197 kabupaten/kota seluruh Indonesia yang telah ditetapkan sebagai daerah pengembangan kawasan minapolitan. (3) pemantauan. Secara umum. (4) pembinaan dan (5) pembiayaan. memuat tentang konsepsi minapolitan. tujuan dan sasaran. Salah satu persyaratan mendasar adalah bahwa kawasan minapolitan harus sesuai dengan rencana tata ruang wilayah (RTRW) dan Rencana Pengembangan Investasi Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR III . Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. pemasaran komoditas perikanan. pelayanan jasa dan/atau kegiatan pendukung lainnya. PER : 12/MEN/2010 tentang minapolitan. (b) pengendalian melalui sarana kualitas air dan memperhatikan habitat alami ikan dan (c) meningkatkan produksi dengan memperbaiki dan meningkatkan sarana dan prasarana perikanan. Dalam keputusan ini. peraturan ini menyebutkan bahwa karakteristik kawasan minapolitan merupakan kawasan ekonomi yang terdiri atas sentra produksi.

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Jangka Menengah Daerah (RPIJMD) yang telah ditetapkan. Penetapan lokasi Minapolitan dilakukan oleh Bupati/Walikota dan disampaikan pada Menteri Kelautan dan Perikanan. Sedangkan bila sudah memenuhi criteria dan persyaratan yang ada. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR III .16 . maka Bupati/Walikota mempunyai otoritas untuk menyusun Rencana Induk (Master plan). Pada sisi pembiayaan. maka pengembangan dan pembinaan kawasan minapolitan didasarkan pada APBN dan atau APBD serta sumber lain yang tidak mengikat sesuai peraturan perundang-undangan. yang diimplementasikan melalui Rencana Pengusahaan dan Rencana Tindak.

00 225. 1 Kecamatan Ciseeng Desa Babakan Parigi Mekar Putat Nutug Ciseeng Cibentang Cibeuteung Udik Cibeuteung Muara Cihoe 2 Parung Bj.00 56.00 90.00 35.00 82.00 105.1.00 22.00 36.00 32.00 24. Indah Cogreg Bj.METODOLOGI 4 4.00 76. Lokasi Kegiatan di Empat Kecamatan No.20 245.00 80.00 280. Sempu Waru Jaya Waru Pamegar Sari Iwu 3 Gunung Sindur Pangasinan Cibinong Gunung Sindur Curug Cidokom Pabuaran 4 Kemang Pabuaran Kemang Tegal Pondok Udik Bojong Jampang Luas (ha) 283.00 22. Waktu dan Lokasi Kegiatan Perencanaan kawasan minapolitan sebagai salah satu tujuan wisata edukasi dan rekreasi ini direncanakan dilakukan pada empat wilayah pengembangan yaitu di empat (4) kecamatan yang terdiri dari 27 desa yaitu : Tabel 4.30 105.00 8.00 151.1.00 18.00 63.00 45.00 15.00 56.00 210.00 203.00 25.00 .

perkiraan. spesifik lokasi dan berbasis masyarakat.2. pengembangan infrastruktur wilayah. yang mencakup pengumpulan data dan informasi (primer dan sekunder). implementatif. serta pengkajian terhadap data dan informasi (termasuk review hasil-hasil studi sejenisnya atau sebelumnya. Pendekatan studi penyusunan Masterplan Pengembangan Minapolitan Budidaya dilakukan dengan beberapa tahapan. Peta Lokasi Kegiatan Pelaksanaan kegiatan Penyusunan Masterplan Minapolitan di Kabupaten Bogor dilakukan selama 45 hari kerja dari bulan Oktober hingga Desember 2010. analisis mendalam dan komprehensif terhadap berbagai aspek. dan aspek kelembagaan. jika ada).Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor Gambar 4.2. Pendekatan Penyusunan Master Plan Penyusunan Masterplan Pengembangan Minapolitan Budidaya pada dasarnya merupakan penyusunan model-model dan program-program pembangunan yang akan dilakukan serta indikator kinerja untuk masing-masing model tersebut yang bersifat operasional. sehingga penyusunan masterplan dilakukan dengan berbagai pendekatan. sumberdaya manusia.2 .1.1. antara lain aspek sumberdaya alam dan lingkungan. 4. sosial ekonomi. Disamping itu terdapat proses Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV . Kerangka Pendekatan Studi 4.

sumberdaya manusia. Suatu calon Kawasan Minapolitan masing-masing memiliki potensi sumberdaya (sumberdaya alam. Secara skematis. misi dan strategi pengembangan kawasan yang kemudian menjadi arahan bagi rencana induk masing-masing sub kawasan pengembangan. sumberdaya infrastruktur dan sumberdaya sosial dan kelembagaan) dimana dalam perkembangan pengelolaan dan pemanfaatannya juga menimbulkan berbagai isu dan permasalahan.Infrastruktur pendukung perikanan budidaya c. dan Strategi) Rencana Induk Pengembangan Minapolitan Budidaya Rencana Pengembangan Sistem Perbenihan Rencana Pengembangan Teknologi Budidaya Perikanan Rencana Pengembangan Sistem Pemasaran Rencana Pengembangan Sistem Pengolahan Pertumbuhan Ekonomi dan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Berbasis Budidaya Perikanan Secara Berkelanjutan Gambar 4. SDM. Hasil akhir yang diharapkan adalah terciptanya kawasan minapolitan sebagai kawasan pertumbuhan baru berbasis sumberdaya perikanan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan. Untuk mewujudkan suatu lokasi sebagai sebuah kawasan minapolitan.2. Kebijakan-kebijakan itu dituangkan dalam bentuk konsepsi. visi. Calon Kawasan Minapolitan Budidaya FGD atau Rembug Warga Identifikasi: a. Isu & permasalahan perikanan budidaya Survei Lapangan Tinjauan Kebijakan Pemerintah Rencana Induk Pengembangan Minapolitan Budidaya (Konsepsi Visi. Misi. kerangka pendekatan penyusunan masterplan ini dapat dilihat pada Gambar 4.Potensi SDA. dan Kelembagaan b. maka perlu disusun kebijakankebijakan yang mampu memberikan arahan dan ketetapan pengembangan kawasan serta mendapat legitimasi dari seluruh stakeholder melalui proses pembuatan kebijakan yang partisipatif.3 . Kerangka Pendekatan Penyusunan Masterplan Pengembangan Minapolitan Budidaya Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV .2.Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor partisipatif melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) atau Rembug Warga di lokasi pengembangan minapolitan budidaya.

Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor 4. dalam pengembangan Minapolitan juga harus dilandasi dengan minapolitan adalah: 1. Jika ada lebih dari satu daerah mengembangkan minapolitan dengan komoditas unggulan yang sama dengan target pasar yang sama harus ada pengaturan tentang kuota yang adil.4 .2. sehingga dapat menjadikan mereka sebagai pelaku dan mitra kerja yang aktif dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan. 3) Prinsip Kemitraan: peran pelaku agribisnis perikanan diperlakukan sebagai mitra kerja pembangunan yang berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan. 2) Prinsip swadaya: bimbingan dan dukungan kemudahan (fasilitas) yang diberikan harus mampu menumbuhkan sikap keswadayaan dan kemandirian (bukan menciptakan ketergantungan). pengolahan dan pemasaran dalam satu rangkaian kegiatan besar dalam satu kawasan atau wilayah dengan penekanan pada peningkatan nilai tambah produk perikanan. 2. Pendekatan Pengembangan Minapolitan Prinsip utama dalam pengembangan Minapolitan adalah untuk mensinergiskan kegiatan produksi bahan baku. Dalam pengembangan Minapolitan harus dapat menjamin terciptanya pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut. Landasan konsep dalam pengembangan IV . Bahwa dalam pengembangan minapolitan secara nasional untuk komoditas yang sama tidak boleh terjadi kompetisi antar daerah. pengembangan minapolitan mengacu kepada prinsip-prinsip : 1) Prinsip Kerakyatan: pembangunan diutamakan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat banyak (bukan kesejahteraan individu atau kelompok) berdasarkan keadilan. Oleh karena itu. Keuntungan yang diperoleh melalui peningkatan nilai tambah harus dapat dinikmat oleh seluruh masyarakat yang terlibat dalam proses agribisnis perikanan tersebut sehingga akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Namun pertumbuhan ekonomi yang tercipta harus dinikmati masyarakat setempat khususnya masyarakat pelaku agribisnis perikanan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR konsep yang jelas.2. 4) Prinsip bertahap dan berkelanjutan: pembangunan dilaksanakan secara bertahap dan sesuai potensi dan kemampuan masyarakat setempat serta memperhatikan kelestarian lingkungan. 5) Prinsip Keadilan Pemerataan: manfaat yang diperoleh dari kegiatan minapolitan dapat terdistribusi secara merata dan berkeadilan bagi semua pelaku yang terlibat. Di samping prinsip-prinsip tersebut.

Kawasan minapolitan terdiri dari pusat kawasan perikanan dan desa-desa sentra produksi perikanan yang ada disekitarnya. setiap pengembangan usaha dari suatu sub sektor ekonomi di suatu kawasan harus dikaitkan dengan program pengembangan wilayah dan pengembangan masyarakat. menarik.2. pembudidaya maupun pengolah yang pada gilirannya akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi masyarakat yang lain secara keseluruhan. maka pengaturan maupun perijinan investasi harus dilakukan secara hati-hati dan selektif.Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor baik pembenih. menghela kegiatan pembangunan lainnya di wilayah sekitarnya. Untuk menjamin terciptanya kondisi seperti yang diuraikan dalam butir 2. sehingga dapat memenuhi kebutuhan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhan serta aspirasinya (Dahuri 1999) Dalam rangka mewujudkan pembangunan ekonomi secara berkelanjutan. Pendekatan Agribisnis dalam Pengembangan Minapolitan Kawasan minapolitan merupakan kawasan perikanan yang tumbuh dan berkembang karena berjalannya sistem dan usaha agribisnis perikanan serta mampu melayani. Oleh karena dalam pengembangan Minapolitan diperlukan kelembagaan yang berfungsi pengawasan atau pendampingan terhadap semua proses pengembangan bisnis di kawasan minapolitan. Dalam hal ini. Kalau tidak maka hal tersebut akan menimbulkan kerusakan pada lingkungan (sumberdaya alam dan ekosistem) dan masalah sosial (pemerataan kesempatan kerja dan berusaha. Dengan demikian. yang dimaksud dengan sustainable economic basis adalah bahwa kegiatan ekonomi termaksud hendaknya secara sosial-ekonomi menguntungkan masyarakat lokal dan secara ekologis aman.5 . tetapi lebih ditentukan dengan memperhatikan skala ekonomi kawasan yang ada. maka pengembangan minapolitan di Kabupaten Bogor hendaknya dilaksanakan melalui pendekatan sistem sumberdaya (resources system). Pendekatan ini mengartikan bahwa suatu kegiatan pembangunan (ekonomi) merupakan kombinasi yang terpadu dan holistik Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV .3. mendorong. 3. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi distorsi ekonomi. dengan batasan yang tidak ditentukan oleh batasan administratif pemerintahan. dimana keuntungan yang terjadi dari investasi tersebut dinikmati oleh masyarakat diluar kawasan tersebut. upaya untuk mengembangkan minapolitan hendaknya ditempuh melalui penciptaan atau pengembangan kegiatan-kegiatan ekonomi yang bersifat berkelanjutan (sustainable economic basis). 4. kecemburuan sosial serta friksi sosial). Di samping itu.

Oleh karena itu. dimana ketiga sektor tersebut saling terkait antara satu dengan yang lainnya. SEKTOR PRIMER SEKTOR SEKUNDER SEKTOR TERSIER HABITAT DAN SUMBERDAYA IKAN PRODUKSI * * BUDIDAYA PENGOLAHAN PEMASARAN KONSUMEN * LOKAL * NASIONAL * DUNIA KEUANGAN PRASARANA DAN SARANA SUMBERDAYA MANUSIA DAN IPTEK HUKUM DAN KELEMBAGAAN Gambar 4. tahapan pengembangan minapolitan harus dimulai dari identifikasi potensi sumberdaya yang dapat dikembangkan untuk kemudian dicari solusi optimalnya berdasarkan pendekatan sistem agribisnis perikanan yang terpadu dan holistik seperti diperlihatkan pada Gambar 4.6 . sehingga sering kali terjadi permasalahan pada saat produksi melimpah. dan (4) pemasaran termasuk konsumennya. (2) produksi. (3) hukum dan kelembagaan. Suatu sistem agribisnis perikanan (baik usaha penangkapan maupun budidaya) meliputi empat subsistem utama.3. mulai dari tahap produksi sampai pemasaran hasil kepada masyarakat konsumen. yaitu: (1) prasarana dan sarana. dan empat sub-sistem pendukung. yaitu sektor primer sektor sekunder dan sektor tersier. Sistem Agribisnis Perikanan (Dahuri 1999) Berdasarkan gambar di atas terlihat bahwa ada 3 (tiga) kegiatan besar dalam kegiatan industri perikanan. (2) keuangan. yaitu sektor primer yaitu produksi tanpa melihat sektor lainnya seperti pemasaran dan pengolahan. (3) pengolahan (teknologi pasca panen). Selama ini kebijakan pengembangan perikanan hanya terfokus pada satu sektor saja.Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor antara sumberdaya alam beserta ekosistemnya dengan sumberdaya manusia. yaitu: (1) sumberdaya ikan dan habitat/lingkungannya. dan (4) sumberdaya manusia beserta iptek.3. yaitu harga produk turun dan penghasilan masyarakat akan turun. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV .

1. model pemasaran hasil perikanan yang dikembangkan selama ini langsung dipasarkan ke pihak konsumen dalam bentuk segar dan biasanya dipasarkan sendiri-sendiri.3. Pemasaran produk-produk perikanan. Input produksi (sumber input. Model pemasaran seperti ini secara umum hanya memberikan nilai tambah yang rendah. Hal tersebut dimaksudkan agar pemasaran produk-produk perikanan lebih mudah dilakukan. Proses produksi pembesaran (lama produksi. pembudidaya. pekerjaan lain. melalui program minapolitan. lama usaha. lebih terkendali. Pendekatan Keilmuan Terkait 4. jumlah. 5. Proses produksi perbenihan . baik insfrastruktur yang mendukung kegiatan pengolahan hasil perikanan maupun pemasaran hasil perikanan. kuantitas input produksi. pemerintah ingin meningkatkan nilai tambah produk-produk perikanan sehingga dampaknya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada kegiatan perikanan. Pendekatan Perikanan Budidaya Data yang digunakan pada kegiatan ini adalah data primer yang diperoleh dari wawancara stakeholder yang terlibat dan data sekunder dari Dinas peternakan dan Perikanan (Disnakan) Kabupaten Bogor. dan fasilitas produksi). lebih mempunyai posisi tawar. akan diorganisasi oleh lembaga pengelola suatu kawasan minapolitan.Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor Sementara itu. salah satunya adalah kelembgaan pemasaran. baik ikan-ikan segar atau hidup maupun produk perikanan hasil olahan. program pengembangan minapolitan juga harus didukung oleh sistem keuangan yang kuat. anggota keluarga. jenis input.3. sumberdaya manusia yang berkualitas dan IPTEK serta dukungan kelengkapan infrastruktur. Pengembangan program minapolitan juga harus didukung dengan sistem kelembagaan yang kuat. 4. 3. dan pengolah produk perikanan. latar belakang usaha. dan teknologi yang digunakan). Data yang akan diambil meliputi: 1. Sumber daya manusia (Pendidikan. 2. dan kepemilikan usaha). Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV . Selain kelembagaan. permodalan. Produksi Lele di wilayah Minapolitan (4 kecamatan) per bulan. 4. minimal sesuai dengan harga pasar. dan selalu mendapatkan harga yang stabil dan baik.7 . dan itupun biasanya hanya pada sedikit produk perikanan yang memang memiliki nilai ekonomis tinggi dan dicari oleh para konsumen dalam keadaan masih hidup. umur. Oleh karena itu.

kemudahan akses bahan baku. Potensi dan kondisi existing Pemasaran di Jabodetabek (harga jual. dan lain-lain). mini market serta (Pusat ikan Higienisa) dan hotel. Proporsi hasil produksi menurut ukuran. Kapasitas produksi ditentukan dari persentasi ketersediaan bahan baku berupa lele BS. air) dan prasarana (jalan). catering. Secara umum produksi dan jenis olahan yang akan dikaji sebagai berikut: Jenis hasil olahan kan lele yang ada di 4 kecamatan Kapasitas produksi masing-masing jenis olahan Jenis ikan olahan ikan lele secara umum Konversi produk ikan lele menjadi olahan untuk setiap jenis olahan Harga produk ikan olahan Analisis finansial usaha ikan olahan c) Teknologi Pengolahan. b) Kapasitas Produksi dan Jenis Olahan. 9.Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor 6. sekolah. Output produksi (jumlah panen. teknologi yang diterapkan untuk pengolahan lele adalah teknologi zero waste (bebas limbah). nugget. akses pasar. 4.3. surimi. dan 11. Permasalahan dan kendala baik dalam proses pembenihan. 10. produk akan dipasarkan ke berbagai konsumen seperti PSH (Pusat Jajanan Sehat) disekolah-sekolah. rantai pemasaran. Hasil samping akan digunakan untuk memproduksi pupuk organik untuk budidaya hortikultura. pembesaran mapun pemasannya. lokasi pegolahan ditentukan berdasarkan survey lapang potensial area dengan mempertimbangkan ketersediaan lahan.8 . Analisis finansial usaha budidaya dan pembenihan. kualitas hasil panen dan keuntungan usaha). Pendekatan Pengolahan Perikanan Pendekatan yang dilakukan untuk mendapatkan model pengembangan pengolahan perikanan adalah: a) Lokasi pengolahan. crakers. ukuran panen. sarana(listrik. 8. Jenis olahan dapat merupa filet. potensi pasar yang lain seperti PIH Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV . 7. d) Jaringan Pemasaran.2. Jumlam pembudidaya dan pembenih ikan lele dan rata-rata produksinya. sosis. kaki naga dan makanan kering krupuk. bakso. dan lain-lain bekerjasama dengan asosiasi jasa boga.

Secara rinci data hidrologi yang diamati meliputi parameter sebagai berikut: o o o o o o Jaringan dan tata air diwilayah calon minapolitan Kapasitas suply aiar. IRR. Pendekatan Kelembagaan dan Sosial Ekonomi Perikanan Pengertian kelembagaan mencakup banyak pengertian yang diajukan oleh para ahli. BEP. Data ketersediaan air tersebut nantinya akan dibandingkan dengan data kebutuhan air untuk setiap unit dari setiap kegiatan pembenihan.Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor e) Kelayakan Ekonomi. 2003). pembesaran. pembesaran maupun pengolahan. kode etik aturan formal maupun informal untuk pengendalian prilaku sosial serta insentif untuk bekerjasama dan mencapai tujuan bersama” (Djogo et. Oleh karena itu akan dilakukan juga perhitungan kebutuhan air untuk setiap unit kegiatan per musim dan per tahun. waktu kembali modal dan Cash-Flow. Untuk dapat menghitung ketersediaan air akan dulakukan survai untuk mengidentifikasi sumbersumber air yang merupakan suplai air bagi kawasan minapolitan yang meliputi air sungai.9 .3. Pendekatan Hidrologi Data hidrobiologi yang diperlukan untuk menunjang kegiatan Minapolitan adalah menghitung ketersediaan air di kawasan minapolitan baik untuk kebutuhan pembenihan.all. Untuk sungai dan saluran irigasi akan dihitung debit air baik pada musim kemarau maupun hujan dengan demikian dapat diketahui fluktuasi antara kedua musim tersebut. Serta kebutuhan air lainnya. Secara umum kelembagaan mencakup segala suatu tatanan dan pola hubungan antara anggota masyarakat atau organisasi yang saling mengikat yang dapat menentukan bentuk hubungan antar manusia atau antara organisasi yang diwadahi dalam suatu organisasi atau jaringan dan ditentukan oleh faktor-faktor pembatas dan pengikat berupa norma. saluran irigasi dan air tanah khususnya untuk pemebenihan dan pengolahan. perbenihan dan pengolahann Water budget di wilayah calon minapolitan Konsep jaringan irigasi perikanan budidaya lele 4.musimhujan dan kemarau untuk kebutuhan budidaya Cadangan air tanah Kebutuhan air untuk budidaya . kelayakan ekonomi dianalisa dengan perhitungan standar seperti investasi. Sedangkan untuk air tanah akan dilakukan pengukuran dengan metode tersendiri.4. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV . pengolahan maupun kegiatan wisata.3. 4.3.

1997.3. 4. wawancara mendalam.pemasaran Kondisi existing kolam budidaya dan pembenihan Potensi lahan budidaya dan distribusinya dalam peta Konsep pengembangan wilayah untuk Minapolitan agar tercapai efisiensi dalam pendistribusan input maupun output produksi Peta jaringan irigasi maupun sungai di kawasan minapolitan Tata ruang serta perda yang ada untuk wilayah minapolitan IV . Aturan yang mendasari meliputi aturan pemerintah (pusat dan daerah).Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor Secara ringkas. Doward et. Baik usaha ikan pembenihan. dan studi pustaka pada dokumen yang mendukung. Jadi secara rinci akan dapat dihasilkan beberapa jenis peta yang meliputi: ‐ ‐ ‐ ‐ ‐ ‐ ‐ ‐ Peta administrtatif keempat kecamatan secara detail Kondisi eksisting jaringan jalan dengan ukuran lebar dan panjang Jaringan akses jalan produksi.10 Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR . Pendekatan Pengembangan Wilayah Pada prinsipnya dalam pendekatan pengembangan wilayah akan diidentifikasi kondisi existing calon kawasan minapolitan di empat kecamatan yakni Kemang. potensi pasar khususnya ikan olahan. 1998 dalam Kartodiharjo dan Jamhani.5. Disampingpemasaran ikan segar olahan.all. Dari aspek sosio-ekonomi perikanan data yang akan amati meliputi jaringan pemasaran ikan baik yang segar maupun olahan. kelembagaan menyangkut aspek pemain (baik individu atau organisasi) (player of the game) dan aturan yang menjamin fungsi-fungsi peran individu/organisasi berjalan dengan baik (rules of the game) (Ostorm. Doward. Ciseeng. Di samping itu potensi lahan budidaya dan penyebarannya serta sebaran pemukiman di kawasan minapolitan dapat dipetakan dalam peta GIS. Metode pengambilan data dilakukan dengan cara observasi. 1985. aturan antar pelaku (stakeholder langsung) terkait dengan hal-hal yang menyangkut implementasi minapolitan. Sedang peluang pengembangan pasar baik segar maupun olahan akan di kaji untuk melihat prospek bisnisnya di masa mendatang. 2006) Dengan demikian analisis tentang kelembagaan dalam kegiatan ini akan mencakup analisis individu atau organisasi sebagai stakeholder dan peraturan-peraturan yang mendasari (rules of the game). Parung dan Gunung Sindur dari segi akses dan keterkaitan satu daerah dengan yang lain serta antara daeran produksi dan pemasaran. system jaringan pemasaran input produksi khususnya benih merupakan hal penting untuk dikaji. pembesaran maupun olahan semuanya akan dilakukan analisis finansialnya. Ostorm 1986.

Pendapatan Stakeholder: Pemerintah. Pendekatan Lanskap a) Alat dan Data Kegiatan ini menggunakan peralatan baik perangkat keras (hardware) perangkat lunak (software) dengan spesifikasi pada Tabel 4.3. skala 1 : 50.6. Pihak Swasta. Peta : • Peta Administrasi • • • • • • 2. Iklim : Curah Hujan.2.000 Peta jalur eksisting transportasi. skala 1 : 500. BPS Sekunder 5. LSM BAPPEDA Survei lapangan dan pengamatan Sekunder Primer 4.000 Peta sebaran sungai.2. skala 1 : 100. dll Potensi Kawasan : a. Spesifikasi Data Lanskap No 1. Produksi perikanan b.3.3. Alat Perencanaan Hardware dan Software Hardware Kamera Notebook Software Microsoft Office (Word. Wisata Mina Sosial : a. Wawancara dan Kuisioner Primer Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV . Powerpoint) AutoCad 2008 Adobe Photoshop CS3 Fungsi Survei Pengolahan data Analisis data tabular. Tabel 4.Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor 4.000 Data/Informasi Sumber Jenis Data BAPPEDA Sekunder Kondisi Fisik: Ekologi. Mata Pencaharian c. presentasi Pengolahan peta tematik Pengolahan peta tematik maupun b) Data Penelitian Data yang digunakan pada kegiatan ini adalah telihat pada Tabel 4. Tabel 4. 3. Peta RTRW Peta Rupa Bumi. pelaporan. Excel.000 Peta Tata Guna Tanah BPN dan Peta Vegetasi Kawasan Peta Jaringan jalan dan telekomunikasi. Jumlah Penduduk b. skala 1 : 1. Masyarakat.11 .000.

Keempat tahap tersebut diuraikan sebagai berikut: Tahap 1. Tahap 2. wawancara dan studi pustaka. d) Prosedur Pelaksanaan Proses yang dilakukan dalam melaksanakan studi lanskap. a. Pendekatan ini dilakukan dengan memperhatikan kesesuaian wilayah kecamatan untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata minapolitan yang berkelanjutan.12 . konsep disain perencanaan serta tahap perancangan. Sedangkan.Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor c) Pendekan studi Studi ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yaitu melakukan analisis tabulasi dan spasial. Analisis dan Sintesis a.4).1 Data Data yang diperlukan dalam menganalisis potensi wilayah yang akan direncanakan untuk pengembangan minapolitan yaitu data tentang sumberdaya dan potensi perikanan yang terdapat di kecamatan yang dipilih berdasarkan potensi wisata dan objek yang ada. Pengumpulan dan Klasifikasi Data Tahap pengumpulan dan klasifikasi data ini dilakukan dengan mengumpulkan data primer maupun data sekunder di lapangan yang berkaitan dengan studi ini baik melalui survey langsung ke lokasi studi ataupun melalui dinas yang terkait. Pendekatan wisata dilakukan melalui penentuan kawasan yang berpotensi memiliki obyek dan atraksi wisata. pendekatan masyarakat (stakeholder) dilakukan melalui analisis stakeholder yang bersumber dari data kuisioner. Identifikasi dan Analisis Tapak dan Wilayah a. terdiri dari empat tahapan yaitu tahap pengumpulan dan klasifikasi data (persiapan). Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV . analisis dan sintesis.2 Metode Analisis Kawasan wisata minapolitan dapat dinilai dari beberapa parameter untuk mengetahui kesesuaian kawasan tersebut dengan analisis pembobotan dan skoring beberapa faktor kriteria penilaian kelayakan kawasan untuk wisata (Tabel 4.

Tahapan Studi Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV .4.13 .Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor Tahapan pengumpulan dan klasifikasi data Kawasan Perencanaan Wisata Minapolitan Peta Digital Tahapan analisis dan Sintesis Survey Lapangan Studi Pustaka Identifikasi Potensi Kawasan Potensi Pengembangan Pariwisata • • • • Stakeholder • Produksi Perikanan Ketersediaan Obyek dan Atraksi untuk Wisata Masyarakat Pemda Swasta Analisis kesesuaian kawasan minapolitan • Analisis Obyek dan Atraksi Wisata Analisis Stakeholder Pembobotan dan Skoring Zona Kesesuaian kawasan Minapolitan Pembobotan dan Skoring Zona Potensi Pengembangan Wisata Minapolitan Aturan Pemerintah (RTRW) Pembobotan dan Skoring Zona Akseptibilitas Stakeholder Zona Potensial untuk Pengembangan Wisata Minapolitan Pengembangan Aktifitas dan Fasilitas Wisata Minapolitan Pengembangan Jalur Wisata Minapolitan Tahapan Konsep dan Perencanaan Kawasan Perencanaan Kawasan Wisata Minapolitan Perancangan Kawasan Wisata Minapolitan Gambar 4.

.. Letak dari Jalan Raya Estetika dan keaslian Atraksi 10 25 3. Modifikasi Perhitungan penilaian kelayakan kawasan untuk wisata: Keterangan : Fljr = faktor letak dari jalan raya Fek = faktor estetika dan keaslian Fatr = faktor atraksi Fta = faktor transportasi dan aksesibilitas = titik ke 1 hingga ke 5 Ffp = faktor fasilitas pendukung Fka = faktor ketersediaan air bersih Penentuan klasifikasi tingkat kelayakan kawasan untuk wisata adalah sebagai berikut : Klasifikasi Tingkat Potensi = N Skor maksimal – N Skor minimal.. (1) N Tingkat Klasifikasi Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV ...14 ... ada kendaraan umum 4...Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor Tabel 4...5-1 km Jalan aspal berbatu.. Fasilitas Pendukung 15 5.5 km Jalan aspal. tanpa kendaraan umum 1 (Sangat Buruk) > 3 km Sudah berubah sama sekali Terdapat > 5 di tempat lain Tidak tersedia 1. 25 Hanya terdapat di tapak Tersedia dalam kondisi sangat baik < 0.. Ketersediaan Air bersih Transportasi dan Aksesibilitas 15 10 >2km Jalan berbatu /tanah.... ada kendaraan umum 2 (Buruk) 2-3 km Asimilasi. Kriteria Penilaian Kelayakan Kawasan untuk Wisata Nilai No Faktor Bobot 4 (sangat baik) < 1 km Asli 3 (Baik) 1-2 km Asimilasi. dominan bentuk asli Terdapat < 3 di tempat lain Tersedia dalam kondisi baik 0... tanpa kendaraan umum Sumber : Mc.. Kinnon (1986).. 6..4. 2. dominan bentuk baru Terdapat 3-5 di tempat lain Tersedia dalam kondisi kurang baik 1-2 km Jalan aspal berbatu.

bahwa obyek dan atraksi wisata cukup potensial untuk dilakukan pengembangan dan penataan kawasan wisata. Data Data yang digunakan dalam analisis stakeholder ini adalah data kesediaan masyarakat tentang pengembangan wisata pesisir melalui penyebaran kuisioner dengan sampling. data infrastruktur serta adanya peluang untuk rekreasi pada masingmasing kecamatan yang akan dikembangkan menjadi kawasan wisata minapolitan. Artinya. Perlakukan yang dilakukan hanya untuk menjaga kualitas obyek dan atraksi agar tetap terjaga • CP (Cukup Potensial) dengan nilai 249 – 324. Perlu perlakuan untuk meningkatkan kualitas menjadi sangat potensial • KP (Kurang Potensial) dengan nilai 173 – 248. Identifikasi dan Analisis Keikutsertakan Stakeholder c1. Perlu perlakuan yang khusus dan mahal untuk meningkatkan kualitas menjadi sangat potensial b. bahwa obyek dan atraksi wisata yang tersedia tidak potensial untuk dilakukan pengembangan dan penataan kawasan wisata. Artinya. bahwa obyek dan atraksi wisata sangat potensial untuk dilakukan pengembangan dan penataan kawasan wisata. Artinya. c. sehingga hasil Penilaian kawasan wisata di klasifikasikan menjadi : • SP (Sangat potensial) dengan nilai 325 – 400. bahwa bahwa obyek dan atraksi wisata kurang potensial untuk dilakukan pengembangan dan penataan kawasan wisata. metode pengambilan contohnya menggunakan metode purposive Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV .15 . Artinya. maka dilakukan pembobotan dan dikategorikan dalam kelas kesesuaian. Perlu perlakuan lebih banyak untuk meningkatkan kualitas menjadi sangat potensial • TP (Tidak Potensial) dengan nilai 97 – 172.Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor Dari penghitungan skor masing-masing parameter. Identifikasi dan Analisis Potensi Tapak Data yang digunakan dalam analisis potensi tapak ini adalah dilihat dari data produksi perikanan. data akses dan transportasi untuk menuju kawasan wisata minapolitan.

2 Metode Analisis Tahap penentuan zona akseptibilitas masyarakat lokal ditunjukkan dengan tingkat kesediaan masyarakat dalam menerima pengembangan lokasi penelitian menjadi kawasan wisata (Tabel 4. Penilaian dilakukan oleh responden.5. 4. sehingga jumlah dari responden seluruh kecamatan yang diteliti adalah 40 responden. Tabel 4. Fx p n = total nilai faktor tertentu = desa tertentu = jumlah orang yang memilih Aksesibilitas Masyarakat = Keterangan : Pdtw = Pengembangan kawasan sebagai daerah tujuan wisata Ppkw = Pengelolaan kawasan wisata oleh masyarakat Ppmp = Peran aktif masyarakat dalam pariwisata Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV . masing-masing kecamatan diambil n=10. Penilaian Akseptibilitas Masyarakat Peringkat No Faktor 4 (Bersedia) Setuju Setuju Ya Ya Bersedia 3 (Kurang Bersedia) Kurang setuju Kurang setuju Kurang Kurang Kurang Bersedia 2 (Tidak Bersedia) Tidak Setuju Tidak Setuju Tidak Tidak Tidak Bersedia 1 (Tidak tahu) Tidak Tahu Tidak Tahu Tidak Tahu Tidak Tahu Tidak Tahu 1.16 . 2. Pengembangan kawasan sebagai daerah tujuan wisata Pengelolaan kawasan wisata oleh masyarakat Peran aktif masyarakat dalam pariwisata Keuntungan kegiatan wisata Keberadaan wisatawan Sumber : Yusiana (2007) Penilaian akseptibilitas masyarakat untuk faktor tertentu di tiap desa didasarkan pada penghitungan : Fx desa ke-p = (4 x n)+(3 x n)+(2 x n)+(1 x n) Dimana.Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor c. 3. 5.5).

yaitu dalam bentuk: a. Penentuan Zona Potensial untuk Pengembangan Wisata Minapolitan Pembuatan zonasi ini dilakukan dengan menggunakan bantuan AutoCad dan Adobe Photoshop untuk tehnik overlay sehingga hasil analisis tapak/wilayah dan potensi wilayah serta hasil peta akseptibilitas masyarakat dapat dispasialkan. Dari hasil perencanaan wisata tersebut maka dilakukan pembuatan konsep yang sesuai dengan analisis dan sintesis yang telah dilakukan. sosial dan ekonomi memiliki potensi untuk kegiatan perikanan. kolam ikan hias/aquarium. Konsep pengembangan dan penataan ruang yang akan dilaksanakan adalah kawasan wisata minapolitan yang berkelanjutan. Dari zona tersebut kemudian ditentukan akfititas. Rencana lanskap kawasan wisata minapolitan berdasarkan zona kesesuaian wisata yang merupakan hasil analisis di beberapa kecamatan di Kabupaten Bogor. Konsep dan Perencanaan Kawasan Minapolitan Tahap konsep dan perencanaan ini merupakan hasil dari perencanaan wisata yang dikembangkan dari zona potensial. kawasan perikanan akan dikembangkan pada wilayah/kawasan yang secara teknis. fasilitas dan sirkulasi wisata yang disesuaikan dengan peraturan daerah (RTRW) ada pada. dan budidaya ikan di perairan umum.17 . maka dilakukan pembobotan dan dikategorikan dalam kelas kesesuaian : S1 (Sangat Sesuai) S2 (Cukup Sesuai) S3 (Sesuai Marginal) N (Tidak Sesuai) = Nilai = Nilai = Nilai = Nilai 163 – 200 125 – 162 87 – 124 49 – 86 d. Dengan demikian diperoleh rencana lanskap kawasan minapolitan.Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor Pkkw = Keuntungan kegiatan wisata Pkw = Keberadaan wisatawan Setelah dihitung skor masing-masing parameter. kolam air tenang. Peraturan Analisis mengenai regulasi dilakukan berdasarkan RTRW yang ada sehingga diterapkan pada masing-masing kecamatan yang akan dikembangkan. e. Menurut RTRW Kabupaten Bogor tahun 2005 – 2025. Konsep ini diilustrasikan dalam Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV . pembenihan. Tahap 3. air deras.

4. penentuan lokasi dan komoditas unggulan. dibuat luxury dan berwarna. Laporan Antara akan diserahkan 5 minggu setelah terbitnya Surat Perintah Mulai Kerja. Pelaporan Laporan yang dibuat sebagai pertanggung jawaban kegiatan ini terdiri dari: 1. pengerjaan Penyusunan Laporan ini dilengkapi daftar mobilisasi tenaga ahli dan Laporan jadwal penugasan tenaga ahli dan pelaksana/asisten tenaga ahli. Perencanaan program ini dilakukan berdasarkan nilainilai potensi wisata kawasan. rumusan konsepsi pengembangan kawasan minapolitan. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV . 2. Laporan Antara. pengembangan lahan budidaya dan infrastruktur pendudkung. c. pengembangan penyediaan benih/bibit dan pakan. Pendahuluan akan diserahkan 1 minggu setelah terbitnya Surat Perintah Mulai Kerja. Laporan Akhir. b. Rencana pengembangan dan penataan infrastruktur pendukung wisata. serta berisikan hasil analisis awal Masterplan Minapolitan. Program pengembangan dan penataan kawasan sesuai dengan konsep pengembangan kawasan. merupakan penyempurnaan terhadap Laporan Antara yang telah dibahas dengan instansi terkait. hasilnya berupa arahan pengembangan kawasan yang diilustrasikan secara grafis sebagai panduan penataan kawasan wisata minapolitan. 3. Laporan Pendahuluan. pengembangan sistem kelembagaan dan rumusan program/kegiatan pengembangan kawasan minapolitan dalam jangka waktu lima tahun. isu dan permasalahan dalam pengembangan budidaya perikanan air tawar.18 . yang memuat antara lain: kondisi dan potensi perikanan air tawar. berisi data-data hasil survei primer maupun sekunder dan hasil pengolahan data. Laporan Akhir dan Executive Summary akan diserahkan pada akhir pekerjaan atau 45 hari kerja setelah terbitnya Surat Perintah Mulai Kerja. 4. Laporan Akhir ini akan dilengkapi dengan Executive Summary dan peta kawasan minapolitan. pengembangan sistem pemasaran dan pengolahan.Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor bentuk model pengembangan dan penataan ruang wisata yang mempertimbangkan karakter lanskap dan potensi obyek atraksi wisata yang ada. antara lain berisi pemahaman dan tanggapan dalam Penyusunan Masterplan Minapolitan beserta metodologi Masterplan Minapolitan.

Kabupaten Bogor secara geografis terletak antara 6. dan Kabupaten Bekasi. sedangkan sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sukabumi. Gambar 5.1. Kota Bekasi. Wilayah Kabupaten Bogor di sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Tangerang (Banten).KONDISI UMUM KAWASAN MINAPOLITAN 5 5.47o Lintang Selatan dan 106o1’107o103’ Bujur Timur. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Lebak (Banten). Peta Lokasi Kabupaten Bogor 5.1.09 km2 merupakan salah satu wilayah administratif terluas (keenam) di Provinsi Jawa Barat setelah Kabupaten .237. Kondisi Demografi Kabupaten Bogor dengan luas wilayah sebesar 2. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Karawang. Batas Administrasi dan Geografis Wilayah Kabupaten Bogor yang merupkan bagian dari Provinsi Jawa Barat beribukota Cibinong.19o-6. Kota Depok.2.

81 1.711.54 Pegawai/ Karyawan 4.91 5. Kondisi Ekonomi Wilayah Sebagai wilayah hinterland dari Kota Bogor maupun sebagai bagian dari kawasan megapolitan Jabodetabek.316. 2008).22 2. yaitu 428 desa (dimana 200 desa termasuk dalam klasifikasi perkotaan.28 100.97 10.2 .96 3.59 5.24 4.62 3. 6.43 1. Dan berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010.46 25. Ditinjau dari segi mata pencaharian masyarakatnya .51%). Kabupaten Bogor mengalami kenaikan sebesar 145% dari tahun 2000 hingga 2006.06 0.54 %).go.17 1. Pada tahun 2000.57 0. serta daerah pemasaran barang dan jasa industri manufaktur.13 Buruh 3. Kabupaten Bogor mengalami peningkatan populasi penduduk yang cukup pesat dari waktu ke waktu.21 4.76 3.98 2.65 15.00 Jumlah Keterangan: *) Lain-lain = pengrajin dan pekerja tambang.17 Lainlain 0. Tajurhalang Kemang Rancabungur Parung Ciseeng Gunung Sindur 16.91 1. Tabel 5.446. 2.04 1. 4.64 0.12 0.74 25. Persentase Jenis Mata Pencaharian Masyarakat Per Kecamatan di Zona IV Mata Pencaharian Kecamatan PNS/TNI/ POLRI 1.1.97 5.68 1.82 2. Masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani/peternak sangat sedikit (6.13 20.33 %).76 2.17 %). Cianjur.26 0.14 Total 1.27 6.19 Pedagang 3.763.50 2. jumlah penduduk di Kabupaten Bogor sebanyak 3. pada umumnya yang didominasi oleh buruh (25.51 Jasa 2. Bogor 2007 dalam BAPPEDA Kabupaten Bogor & PSP3-IPB (2009) 5. buruh perusahaan industri dan pegawai/karyawan (25. Kabupaten Bogor berfungsi sebagai pemasok (produsen) bahan-bahan mentah dan atau bahan baku. dan pedagang (20.16 0. Dilihat dari penerimaan total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).28 0. 3. Kabupaten Bogor terdiri dari 40 kecamatan dengan jumlah total desa paling banyak se-Provinsi Jawa Barat.251 jiwa dan perempuan sebanyak 2.59 5.49 1.33 Petani/ Peternak 0.20 0.43 18.996 jiwa. sedangkan 228 desa lainnya berstatus perdesaan) (BPS. Sedangkan secara rinci distribusi mata pencaharian masyarakat di wilayah calon Kawasan Minapolitan disajkan pada Tabel 5.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Sukabumi.id).958 jiwa (http://bogorkab.53 0. Tasikmalaya.05 20. 5. yaitu Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR V.76 18.3.86 6. Bandung dan Ciamis. Sumber : Data Susda Kab. pemasok tenaga kerja melalui proses urbanisasi dan commuting (menglaju).62 1.24 0.209 Jiwa terdiri dari laki-laki sebanyak 2.83 1. penduduk Kabupaten Bogor menjadi 4.51 15.1.41 5.65 3.65 2.

545 juta rupiah (tahun 2000).031. Bekasi) dan sekitarnya (Sukabumi. Bogor.218 2.85% (tahun 2000) dan 64. BEKASI KOTA TANGERANG KOTA BEKASI KAB.69% pada tahun 2006). menjadi 44. Tangerang.595.310.152. 2007).435.623.30% (tahun 2006).121 5.507.297. jumlah penduduk dan PDRB per kapita masing-masing kabupaten/kota di Kawasan Jabodetabek dan sekitarnya tahun 2006.874. dan sektor pertanian (dengan persentase 7. Apabila dibandingkan dengan wilayah Jabodetabek (Jakarta.882.718.265.197 3.226.174 4. PDRB per Kapita Kabupaten/Kota di Kawasan Jabodetabek dan Sekitarnya Tahun 2000 dan 2006 KABUPATEN/KOTA KOTA JAKARTA KAB.190.011. Dan sektor industri pengolahan merupakan pemberi kontribusi paling besar terhadap total PDRB dengan persentase sebesar 59.353 2.669 2. Sedangkan urutan kedua dan ketiga ditempati oleh sektor perdagangan. dapat diketahui bahwa sektor industri pengolahan memberikan kontribusi paling besar terhadap total PDRB dengan persentase sebesar 59.687 2. SUKABUMI KAB. dan Kota Bekasi dalam hal PDRB per kapita tahun 2000 maupun 2006 (Tabel 5.222 7.644. dan sektor pertanian (dengan persentase 7.342 2006 55. yang diperoleh dengan cara membagi total PDRB dengan jumlah penduduknya. dan menurun menjadi 4.2. Ditinjau dari peranan masing-masing sektor terhadap perekonomian di Kabupaten Bogor.988 PDRB per kapita di Kabupaten Bogor pada tahun 2006 adalah Rp.538 5.753 12.74% pada tahun 2000. Kota Tangerang. dan menurun menjadi 4.30% (tahun 2006). Kabupaten Bekasi.341 4.027 17.623.85% (tahun 2000) dan 64.74% pada tahun 2000. Cianjur dan Lebak).983 4. Tabel 5.3. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR V. TANGERANG KOTA BOGOR KOTA DEPOK KAB. hotel dan restoran (dengan persentase sekitar 15%).815.3 .910. Depok. PDRB PER KAPITA (Rp/Jiwa) 2000 27.992.985 9. menyajikan data mengenai total PDRB.698 juta rupiah (tahun 2006) (BPS.973. BOGOR KOTA SUKABUMI KAB.).082 4.090 10.210 8.202. Kabupaten Bogor menempati urutan kelima setelah Jakarta.428.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor sebesar 18.824 24.030. CIANJUR KAB.361.792.434.2. hotel dan restoran (dengan persentase sekitar 15%).136 33.985/jiwa (meningkat lebih dari dua kali lipat dari tahun 2000). Sedangkan urutan kedua dan ketiga ditempati oleh sektor perdagangan.381 11.605 6. Tabel 5. LEBAK Sumber: PDRB Tahun 2000 dan 2006 (diolah).69% pada tahun 2006).363 5.10.

090 10. Biofisik dan Tata guna lahan Secara biofisik khususnya dalam hal ketersediaan air.874. Ciawi. Leuwiliang. Meskipun irigasi pada awalya ditujukan untuk pengembangan pertanian sawah.863.882. LEBAK TOTAL PDRB (JUTA RP) 495.481. Cianten. dengan Sub-DAS : Cisadane Hulu.222 7. CIANJUR KAB.023 2.056. Wilayah-wilayah yang tercakup dalam DAS Cisadane ini adalah kecamatan Caringin. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR V. Jumlah Penduduk dan PDRB per Kapita Kabupaten/Kota di Kawasan Jabodetabek dan Sekitarnya Tahun 2006 KABUPATEN/KOTA KOTA JAKARTA KAB.901 1.239.907 35.604.240.154 44.742 8. Dramaga. Ciampea.816 5. yaitu meliputi Daerah Aliran Sungai : 1.357.538 5.121 5.393. Ciampea. Pamijahan.4 .341 4.210 8.432 27.163.571.423 855.942.040.230 1.437.882 66. Total PDRB.623. Kemang. Di samping irigasi yang luas. Rumpin.186 294.900 JUMLAH PENDUDUK (JIWA) 8.985 9.184 PDRB PER KAPITA (RP/JIWA) 55.183.991.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 5.678 22. Kabupaten Bogor relatif memiliki ketersediaan air yang cukup memadai yang didukung oleh irigasi yang cukup baik.646 3.435. BEKASI KOTA TANGERANG KOTA BEKASI KAB. Citempuan.568 2.258 4. SUKABUMI KAB.792. Cihideung.125. DAS Cisadane. Jumlah dan daerah irigasi di Kabupaten Bogor dapat dilihat pada Tabel 5.967.595. di Kabupaten Bogor didukung oleh sumber air yang mengalir diwilayah kabupaten ini.136 33.190.381 11.855.318 1. Parung.528 13.988 Sumber: Data PDRB dan Jumlah Penduduk Tahun 2006 (diolah) 5. dan sebagian besar Cigudeg bagian timur.202.753 6.779 12.718. Cijeruk.4. BOGOR KOTA SUKABUMI KAB.4.031. Nanggung.3.846 1.361.luas daerah irigasi di Kabupaten Bogor adalah 47.366.591 2. daerah irigasi desa dan daerah irigasi PIK. TANGERANG KOTA BOGOR KOTA DEPOK KAB.216.428.605 6. Di Kabupaten Bogor mengalir enam sungai besar yang memiliki cabang-cabang sangat banyak hingga 339 cabang.824 24.500. sebagai gambaran . Ciomas.265. Cibungbulang.121 ha terdiri atas daerah irigasi Pemerintah (PU). Ciapus. namun dalam perkembangannya kegiatan budidaya perikanan memerlukan dukungan irigasi yang memadai.698 2.

256 131 263 285 909 48 1.468 462 1.838 653 7.373 7.365 948 1.567 1.4.995 2.699 461 733 2.386 11.696 2.121 Baik 6 7 3 11 4 7 32 10 10 14 26 10 11 5 86 2 3 8 5 3 7 16 3 47 2 1 1 2 3 0 0 9 18 3 3 3 1 1 11 2 4 4 11 6 16 43 237 KONDISI Sedang Rusak 7 8 8 2 1 30 24 22 87 18 4 8 9 18 12 11 80 7 3 1 8 13 8 17 4 61 1 3 2 1 0 1 0 7 15 2 0 2 2 0 6 1 1 7 19 5 7 40 289 39 11 10 19 17 20 116 22 3 15 22 11 5 11 89 3 5 5 9 5 7 5 2 41 2 1 1 3 0 0 2 23 32 0 4 3 2 1 10 3 2 18 22 5 15 65 353 2 3 4 5 6 Jasinga Parung Panjang Tenjo Nanggung Sukajaya Cigudeg Jumlah UPTD wilayah Jasinga Leuwiliang Leuwiliang Ciampea Cibungbulang Pamijahan Leuwisadeng Tenjolaya Taman Sari Jumlah UPTD teknis Leuwiliang Ciawi Ciomas Dramaga Cijeruk Ciawi Cisarua Megamendung Caringin Cigombong Jumlah UPTD wilayah Ciawi Parung Parung Ciseeng Kemang Gunung Sindur Bojonggede Ranca Bungur Tajur Halang Rupin Jumlah UPTD wilayah Parung Cibinong Cibinong Citeureup Babakan Madang Sukaraja Gunung Putri Jumlah UPTD wilayah Cibinong Jonggol Cileungsi Klapa Nunggal Jonggol Sukamakmur Cariu Tanjungsari Jumlah UPTD wilayah Jonggol Jumlah seluruh UPTD teknis pengairan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR V.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 5. Jumlah dan Luas Daerah Irigasi Se-Kabupaten Bogor NO 1 1 UPTD/KEC.636 752 897 2. DAERAH IRIGASI 2 Jasinga KECAMATAN 4 LUAS HA 5 1.325 47.964 6.531 12.823 626 389 204 706 73 1.294 1.579 2.459 743 873 488 891 1.881 1.857 523 1.579 1.5 .388 1.645 1.571 2.

Tenjo bagian timur. 6. dan Gunung Sindur. dengan wilayah-wilayah yang tercakup meliputi Kecamatan Parung Panjang. Tenjo bagian timur. Cikarang (Cibarengkok. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR V. Cipajutah). Citeureup. Wilayah-wilayah yang terdapat dalam DAS ini adalah Kecamatan Citeureup. 3. DAS Ciliwung. Sukaraja. Cisarua. 4. Sedangkan dari segi ata guna lahan. dan sebagian kecamatan Jonggol bagian barat. DAS Cidurian. terutama disebabkan karena karakteristik lahan dan kondisi geobiofisik wilayah yang sesuai untuk pengembangan pertanian.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 2. dan Limo. Cibinong. Cibogo. DAS Cimanceuri. Rumpin bagian utara. Wilayah-wilayah yang tercakup dalam DAS Ciliwung ini adalah Kecamatan Cisarua. Gunung Putri. Tenjo bagian barat. meskipun sektor pertanian menempati urutan ketiga dalam kontribusinya terhadap total PDRB kabupaten Bogor. Cimanggis. Wilayah-wilayah yang tercakup dalam DAS ini adalah Kecamatan Jonggol dan Cariu. berdasarkan luasan penggunaan lahan pada tahun 2006 sebagian besar lahan di Kabupaten Bogor digunakan sebagai areal persawahan (sawah irigasi + sawah tadah hujan). Secara garis besar wilayah Kabupaten Bogor memiliki tiga kelompok daerah resapan air sebagai berikut : daerah resapan air tanah utama antara lain daerah Parung. Cibinong. DAS Angke. Cigudeg bagian utara. Sawangan.6 . DAS Citarum. Ketersediaan air dari mata air di Kabupaten Bogor cukup banyak dan hampir semuanya mengalir sepanjang tahun dengan debit yang bervariasi. dengan wilayah-wilayah yang tercakup meliputi kecamatan Parung Panjang. Ciseuseupan. Hal ini menandakan bahwa Kabupaten Bogor masih mengandalkan sektor pertanian untuk menopang perekonomian di wilayahnya. Cisukaribas. kebun campuran dan hutan. Sawangan. Cibodas. Cileungsi. Sampai tahun 2006 Kabupaten Bogor masih memiliki areal persawahan kurang lebih seluas 65. dengan Sub-DAS : Cikeas. dengan Sub-DAS : Ciesek. dengan Sub-DAS : Cipamingkis. Cukup berkembangnya sektor pertanian di Kabupaten Bogor. Megamendung. Cibeet. Citeureup. Cileungsi. Cileungsi.000 ha. Ciliwung Hulu. Gunung Putri. Rumpin bagian utara. Bojong Gede. Cigudeg bagian selatan. 5.

025.96 28.263. Subang dan Purwakarta. Tasikmalaya.20 27.5.00 1.50 6.5. Budidaya Ikan cukup berkembanga terutama di Zona IV dan II karena potensi sumberdaya air yang ada di Kabupaten Bogor cukup banyak.65 1.70 524.07 0.73 0.89 0.10 5.001.30 11. Pada saat Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR V.00 53. 2007 Luas (ha) 26. Cihideung dan sekitarnya. Pamijahan. 5.217.00 Dalam pengembangan penggunaan lahan tidak terbatas hanya untuk pertanian budidaya.590.18 9.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 5.70 19.936.80 62.01 0. Diduga jumlahnya paling banyak dibanding daerah sentra produksi lainnya di Jawa Barat. pembudidaya ikan di Kabupaten Bogor banyak berkontribusi dalam memproduksi ikan-ikan ukuran konsumsi (kegiatan pembesaran).53 17. Kondisi Perikanan Dalam perikanan budidaya (khususnya budidaya ikan air tawar).40 43. namun dengan perkembangan kegiatan perikanan budidaya yang cukup pesat penggunaan lahan untuk kolam meningkat. Cianjur.90 Persentase (%) 8. beberapa catatan penting dalam kegiatan perikanan budidaya di Bogor antara lain: (1) Di tahun 80-an sistem budidaya ikan mas di kolam air deras berkembang pesat di daerah Cibening.01 0.805. Luasan Masing-masing Penggunaan Lahan di Kabupaten Bogor Tahun 2006 Jenis Penggunaan Lahan Pemukiman Jasa Tegal Industri Sawah Irigasi Sawah Tadah Hujan Kebun Campuran Perkebunan Hutan Perairan Tambak/Kolam Tanah Rusak/Kosong/ Pasir Galian Semak/alang2 Lain-lain Total Sumber: Badan Pertanahan Nasional (BPN). bahkan sebagian lahan pertanian juga ada yang digunakan untuk berbudidaya ikan.60 1. Selain dikenal sebagai produsen benih (kegiatan pembenihan).499.045. secara historis Kabuapten Bogor dan sekitarnya merupakan daerah sentra produksi di samping Sukabumi.41 1.94 3.10 17. Cibuntu.001.90 85. kehutanan dan kebun campuran.20 298.306.76 100.277. Selama tiga dekade terakhir.7 .37 20.90 4.

8 . peran bandara Soekarno-Hatta dalam hal distridusi antar pulau atau untuk ekspor. Misalnya. (4) Di tahun 90-an hingga sekarang.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor harga pakan semakin tinggi dan berkembangnya budidaya ikan mas di keramba jaring apung (KJA) di waduk Saguling. (3) Kabupaten Bogor dengan lokasinya yang tidak jauh dari Jakarta memiliki keunggulan komparatif dalam hal penyediaan sarana produksi seperti peralatan. Blitar dan Tasikmalaya. (2) Para pembudidaya ikan di Kabupaten Bogor secara relatif memiliki kemampuan teknis budidaya yang cukup baik dibanding daerah sentra produksi lainnya. dan Cirata. mengingat historis yang cukup panjang dan akses terhadap inovasi maupun teknologi baru yang lebih mudah. kegiatan perikanan budidaya yang secara lokal maupun nasional masih dianggap memegang peran penting adalah bahwa Bogor sebagai produsen benih ikan patin. hampir semua spesies ikan budidaya air tawar yang dipelihara dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. kegiatan budidaya gurame baik pembenihan maupun pembesaraanya akhirnya tersisihkan oleh daerah lain seperti Purwokerto. di samping akses pasar. baik ditinjau dari potensi kuota permintaan. dan sebagainyan) telah menunjukkan kesesuaian yang cukup tinggi untuk digunakan sebagai lahan usaha budidaya berbagai spesies ikan. pakan buatan dan obat-obatan. Tidak kurang dari 30 spesies ikan hias baik lokal maupun yang berasal negara lain. bawal. Dengan kata lain. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR V. daerah Bogor (khususnya Parung) dikenal sebagai pusat produsen benih dan ikan gurame ukuran konsumsi. maupun akses sarana dan prasarana pendistribusian. (3) Pada kurun waktu dua dekade terakhir Bogor dikenal sebagai sentra produksi berbagai spesien ikan hias. baik ikan konsumsi maupun ikan hias. dan gurame serta produsen ikan lele ukuran konsumsi dengan produksi sekitar 40 ton per hari. (2) Di tahun 80-an sampai tahun 90-an. Diduga karena persaingan harga. Jatiluhur. banyak dihasilkan oleh pembudidaya ikan di daerah Cibuntu dan sekitarnya. Beberapa kondisi yang menunjang dan diduga telah mendorong berkembangnya kegiatan perikanan budidaya di Kabupaten Bogor adalah bahwa: (1) Kabupaten Bogor dengan iklim yang dimilikinya (kelayakan lahan dan air. kisaran suhu. Ciseeng dan Parung. curah hujan. sistem budidaya ini secara berangsur berhenti.

Rancabungur.072. Wilayah ini berbatasan dengan Kota Bogor dan Kota Depok. terutama di Kecamatan Ciseeng yang memiliki kawasan wisata pemandian air panas.2. Ciseeng dan Gunung Sindur. meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha dan meningkatkan kegiatan perekonomian. Zona 4 dalam revitalisasi pertanian dan pembangunan perdesaan terletak di bagian tengah utara kawasan Kabupaten Bogor.9 . Kegiatan produksi perikanan menunjukkan skecenderungan semakin meningkatl. zona 4 juga memiliki potensi pariwisata. Tangerang. Depok dan beberapa kota lain Jabodetabek. yaitu: Kecamatan Tajurhalang. Memperhatikan perjalanan perikanan budidaya di Bogor selama ini. Peta Wilayah Zona 4 Selain memiliki potensi perikanan. Jumlah produksi perikanan kolam air tenang di Kabupaten Bogor pada tahun 2009 adalah 24. Kemang. pengembangan kegiatan perikanan budidaya di masa-masa mendatang dapat memberi kontribusi nyata dalam hal penyediaan lapangan pekerjaan. Masyarakat yang berkunjung di area wisata ini cukup beragam dan tidak hanya dari daerah Bogor namun ada yang dari Jakarta. Produksi Perikanan terbesar terdapat di Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR V.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Pendukung pengembangan perikanan yang lain adalah ketersediaan sarana prasarana transportasi yang cukup baik yang memperlancar distribusi hasil budidaya dan pengolahan meskipun masih diperlukan peningkatan kualitas. Secara administratif wilayah ini terdiri dari enam kecamatan. Gambar 5.98 ton yang tersebar merata di 40 kecataman yang terdapat Kabupaten Bogor. Parung. Salah satu kawasan yang cocok untuk dikembangkan menjadi kawasan pengembangan budidaya ikan air tawar di Kabupaten Bogor adalah Zona 4.

Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR V .650. Kecamatan paling luas adalah Kecamatan kemaang dengan luas areal budidaya seluas 145 ha sedangkan luas paling kecil adalah Kecamatan Tenjo dengan luas areal kolam seluas 0. Jumlah RTP terbanyak terdapat di Gunung Sindur yaitu sebanyak orang 493.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Kecamatan Parung dan Gunung Sindur dengan produksi sebesar 7.43 ton.075.64 ton.71 ha.10 . jumlah RTP yang kedua adalah Kecamatan Ciseeng dengan jumlah 463 orang RTP dan Kecamatan Parung dengan jumlah RTP 449 orang. Sementara itu jumlah Rumah Tangga Perikanan (RTP) di Kabupaten Bogor berjumlah 6. Sedangkan kecamatan dengan jumlah produksi paling kecil adalah kecataman Tenjo dengan produksi mencapau 15.605 orang yang tersebar ke 40 kecamatan.80 ton dan 6.071. Luas areal total Kolam air tenang yang terdapat di di Kabupaten Bogor seluas 1.94.

605. tambakan.1. Leuwisadeng. Sedangkan ditinjau dari penyerapan tenaga kerja. Dari kelapan zona tersebut Zona 4 memiliki produktivitas perikanan tertinggi dikuti dengan Zona 2 dan 3.0 582.0 680. lele.6 24. Kecamatan yang termasuk ke dalam Zona 2. Jumlah jenis ikan air tawar yang dibudidayakan ada 10 jenis ikan antara lain mas.9 40. Pamijahan .0 358. wilayah di Kabupaten Bogor telah diklasifikasikan menjadi 8 zona pembangunan.00 (Ha) 167. gurame. Cibungbulang.5 278.0 203.) atau sekitar 66.0 6.5 124. Jumlah RTP Pembudidaya.0 947.3 15. patin dan bawal (Lampiran 1). Nanggung.1 422.7 278.1.8 44.).1.ANALISIS POTENSI DAN PERMASALAHAN 6 6. Kedua jenis ikan yang terakhir tersebut tidak diikutkan dalam pembahasan karena dalam pengembangan produk tersebut tetap harus mendapat perhatian khusus karena memiliki prospek yang baik.94 (Ton)/hari 309.1. Tabel 6.8 121. mujair.605. produk perikanan menyerap tenaga kerja cukup besar mencapai sekitar 6.00 RTP (rumahtangga perikanan) (Tabel 6.0 503. Leuwiliang. Luas Areal dan Total Produksi Ikan Air Tawar di Kabupaten Bogor Zona KOLAM AIR TENANG Pengembangan Jumlah RTP Luas Areal Produksi (orang) Zona I 699.98 Zona II Zona III Zona IV Zona V Zona VI Zona VII Zona VII TOTAL Sumber : Diolah dari data Disnakan (2009) Dalam program Revitalisasi Pembangunan Pertanian dan Perdesaan (RP3). tawes. Potensi Perikanan Budidaya Air Tawar Potensi produksi ikan air tawar di Kabupaten Bogor cukup tinggi.85 ton per hari.6 58.075. 3 dan 4 adalah : Zona 2 : Sukajaya.072.0 933.98 ton per tahun pada tahun 2009 (Tabel 6.0 1.0 2203.9 1577. Jenis lain yang jumlahnya cukup banyak adalah ikan hias dan lobster air tawar.6 1566.0 460. nilem.072. nila.6 19179. untuk seluruh jenis ikan yang dibudiyakan mencapai 24.

00 10.0 0.3.3 133.4 0.0 0.80 0.0 1.4 11.2 0.0 86.2 16.59 ton/tahun) (lihat Tabel 6.4 9.19 0.1 71.36 29.2 38.4 50.) Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI .85 5.0 273.8 5.4 21.87 3.4 219.3 286.00 zona II zona III zona IV zona V zona VI zona VII zona VII TOTAL Prod/bln Prod/Hari Skor 3 2 3 5 1 1 1 1 1 1 Sumber : Diolah dari data Disnakan (2009) Keterangan : Untuk Tahun 2010 produksi lele mencapai 70 ton/hari Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa di antara komoditas perikanan yang ada di Kabupaten Bogor. lele merupakan komoditas dengan produksi tertinggi yakni sekitar 18312.7 38.9 585.0 1.6 214.9 167.7 479.5 1092.5 64. Gunung Sindur (Peta RTP Kemang.2 12. ikan Nila (1946. Produksi Perikanan Per-kecamatan menurut Jenis Ikan Komoditas Zona Mas Nila Gurame Lele Tawes Tambakan Mujair Nilem Patin Bawal zona I 112.58 22.6 0.2 0. dan pada akhir tahun 2010 produksi ini mencapai 70 ton/hari (Lihat Tabel 6.4 6. dan Gunung Sindur dapat dilihat di Lampiran 2).1 18312.15 0.1 17383.4 133.2.3 0.8 15. Ciomason Zona 4 : Tajurhalang. Kemang.0 26. Ciseeng.6 7.3 0.7 1086.76 0.).0 1946.8 328.86 1 526.0 3.8 248.9 166.0 88.0 19.0 70.0 0. Parung.59 91.3 207.87 ton/hari pada tahun 2009.6 0.0 0.03 27. Sedangkan jenis yang lain produkdsinya masih jauh lebih rendah.05 4.20 1.9 81.86 1.7 80.7 36.31 1. diikuti dengan ikan Mas (1966.7 73. Ciseeng. Tenjolaya.0 358.3 39.44 5.0 2.1 57. Tabel 6.8 0.17 ton/tahon).0 4.9 47.7 0.7 0.20 5.0 1966.1 0.0 4.2 10. Produksi ini semakin hari semakin meningkat.2.41 71. Ikan lele merupakan jenis yang produksinya paling tinggi (18312.87 0.17 163.07 50.9 101.07 0.0 10.86 ton/tahun). satu dari sepuluh jenis komoditi perikanan yang dibudidayakan produksi terbanyak adalah ikan lele.4 31.61 0.7 31. Dramaga.2 0.05 3.0 0. Parung .43 ton/tahun) dan Gurame (1092.43 162.0 43.22 2. Rancabungur.80 0.0 0.86/tahun atau sekitar 50. Sedangkan untuk jenis komoditi.46 = 78.6 24.2 122.2 0.2 .Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Zona 3 : Ciampea.7 764. Rancabungur.

Kapasitas Produksi Lele Menurut Petani/Penampung di Kawasan Minapolitan Tahun 2010 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Nama Siu eng Bun yan Yana Em bin Ahan Ong tan Asnawi Bun yok M. Kel. ASTENA Balai Makmur 1670 230 1900 Pada keadaan tertentu jumlah ikan BS bisa mencapai 30% dari jumlah ikan Daging 180 30 210 3 Anggota : 60 orang Anggota : 10 orang TOTAL(Ton/Bulan)/ TOTAL(Ton/Hari) Sumber: Data Survai Lapang (2010) 1850 62 260 8 2113 70 Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI .Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 6.nooh Khoerudin Rudy Abdul ghani Neran Peng un Ogh wan Sugeng Samsudin Nacu Kode Gedeon Akent Sutaji Kapasitas (ton/bulan ) Daging 90 90 90 70 90 40 100 100 100 100 90 70 40 70 70 30 30 30 70 70 180 50 Bs (besar) 10 10 10 10 10 5 20 10 10 10 10 5 5 5 5 5 5 5 5 5 60 10 Total 100 100 100 80 100 45 120 110 110 110 100 75 45 75 75 35 35 35 75 75 240 60 Keterangan Petani/penampung Petani/penampung Petani/penampung Petani Petani/penampung Petani Penampung/bandar Petani/penampung Petani Petani Petani/penampung Petani/penampung Petani Petani Petani Petani Petani Petani Petani/penampung Petani/penampung Petani/penampung Petani/penampung TOTAL Tergabung UPP 1.3 .3. 2.

sisanya dipasok utama dari Indramayu.1. di samping dipasarkan di Bogor. Dengan demikian diharapkan keuntungan pembudidaya dapat lebih ditingkatkan. Dari potensi pasar tersebut Kabupaten Bogor memasok sekitar 40-50 ton per hari. sedangkan Gurame. Pakan alami antara lain yang berupa cacing sutera dan insekta air tidak mencukupi. masih banyak petani yang menggunakan indukan lele “asal” yang diperoleh dari lele konsumsi yang telah matang gonad. secara teknis pemeliharaan induk.4 . paling tidak dapat menyerap produk ikan Lele BS (ukuran besar > 6 ekor/kg) dengan harga yang memadai. bukan dari lele unggul yang dikususkan menjadi parent stock. Secara genetik. Pasar ikan Lele tersebut adalah warung tenda (pecel lele).3.2. Khususnya untuk komoditas ikan lele. sebagian besar masih tergantung produksi alami yang berasal dari sungai-sungai besar di Jakarta dan Tangerang yang kaya akan bahan organik. sedangkan budidaya cacing sendiri sebenarnya sudah dapat dilakukan tetapi masih sangat terbatas karena teknologinya belum dapat dikuasai. Untuk mengantisipasi kejenuhan pasar.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 6. Mas dan Nila umumnya dipasarkan ke restoran. b) Ketersediaan pakan alami sangat terbatas baik dari segi kuantitas dan kualitas. pemasaran terbesar adalah di Jakarta dan Tangerang. Permasalahan Perikanan Budidaya   6. Dengan berkembangnya produksi ikan lele dari tahun ke tahun maka perlu diantisipasi akan terjadinya kejenuhan pasar. Pemasaran  Potensi pasar ikan air tawar cukup besar. pemberian pakan induk sering tidak mencukupi sehingga kualitas telur dan anakan menjadi rendah.3. Permasalahan Perbenihan a) Permasalahan utama dalam perbenihan adalah rendahnya produktivitas yang dicerminkan dengan rendahnya tingkat kelangsungan hidup (SR= Survival Rate) atau tingginya tinggkat kematian benih . Dengan adanya program pengolahan yang dikembangkan di Minapolitan. Potensi pasar Lele di Jakarta dan Tangerang mencapai sekitar 80-100 ton per hari (diprediksi dai jumlah pakan yang terjual). 6. dan belum Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI . Kualitas induk yang tidak stabil (akibat faktor genetik induk dan teknik pemeliharaan induk).Penyebab utama permasalahan tersebut dididuga disebabkan rendahnya kualitas induk. program minapolitan diharapkan dapat memberikan solusi dengan adanya pengolahan produk ikan Lele.

3. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI . b) Kurangnya pengetahuan sumberdaya manusia khususnya terkait penanganan terhadap penyakit dan manajemen keuangan usaha. tetapi hanya membeli larva atau benih ukuran kecil dari pembenih. 6. Perbedaan dengan pembenih adalah tidak dilakukannya pemijahan sendiri. namun hal ini berpengaruh terhadap kelangsungan hidup (SR) benih lele yang ditebar.5 . akan mengakibatkan persentase BS meningkat yang berujung pada kerugian usaha. Disamping itu pencemaran lingkungan sungai oleh logam berat menimbulkan resiko. terutama jika masuk lele dari jawa. Strategi yang digunakan petani pembenih saat ini ialah mempersingkat hanya pemeliharaan benih di bak yang menggunakan pakan cacing menjadi selama 3-10 hari yang sebelumnya 15 hari. Permasalahan yang dihadapi pendeder antara lain: a) Kualitas dan kuantitas benih yang tidak stabil akibat tidak stabilnya kualitas benih dari segmen pembenihan. c) Kurangnya pengetahuan khususnya terkait penanganan terhadap penyakit juga merupakan permasalahan bagi pembenih ikan. Permasalahan tersebut diantaranya adalah: a) Harga jual dan pasar yang fluktuatif. karena akibat benih ikan dapat terserang penyakit sehigga penggunaan sumber pakan alami terkontaminasi logam berat cacing sungai menjadi ancaman serius bagi petani lele. Permasalahan di Tingkat Pendeder Pendeder adalah adalah orang yang melakukan pemeliharaan dari ukuran larva atau ukuran 3-4 cm menjadi ukuran yang siap ditebar untuk pembesaran (7-12 cm). kemudian dipindahkan ke kolam yang telah dipupuk.2.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor mencapai skala ekonomis. Permasalahan di Tingkat Pembesaran Permasalahan dalam budidaya ikan lele tidak hanya terjadi di pembenihan tetapi juga terjadi pada tingkat pembesaran.3. Jumlah cacing sutera dari sungai-sungai ini dipengaruhi oleh curah hujan dan banjir. Penyakit yang paling umum menyerang pembenih lele ialah “lele gantung” dan “ moncong putih” d) Permasalahan yang lain yang dihadapi pembenih adalah lemahnya pengetahuan tentang pengelolaan keuangan sehingga masih terjadi pemborosan atau kurang efisien dalam mengelolaan usahanya. sedangkan sumber cacing lain dari sawah dan selokan tidak mencukupi kebutuhan cacing untuk budidaya lele. jika lele ditahan dijual. 6. hal ini cukup efektif dalam mengatasi kekurangan cacing.3.

surimi dan produk siap saji yaitu bakso.6 . perut kembung. badan kuning. budidaya dilakukan oleh kelompok UMKM.4. daerah produksi lele meliputi empat kecamatan yaitu Kecamatan Ciseeng. nugget. serta produk kering seperti krupuk. Lele sebagai bahan baku lebih mudah dijaga kesegarannya sehingga dapat menghasilkan produk olahan berkualitas.93 ton atau sekitar 11 ton/hari. Selama ini benih lele pada stadia awal diberikan cacing suter atau dahnia yang diperoleh secara alami. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI .dibawah harga normal).. d) Tingginya harga pakan. Potensi Pengolahan Produk Perikanan Lele merupakan komoditas unggulan Kabupaten Bogor karena beberapa alasan yaitu memiliki potensi terbesar dibanding jenis ikan lainnya. harga lele sebagai bahan baku produk olahan terjangkau sehingga meningkatkan daya saing olahan. Kandungan gizi lele yang bagus dapat meningkatkan konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia. dan lain-lain. 6. Penyakit yang sering menyerang antara lain aeromonas. Parung. h) Permodalan usaha dan kesulitan memperoleh input produksi. sering terjadi kekurangan pakan alami. Lele dapat diolah menjadi berbagai produk antara yaitu filet. j) Terbatasnya ketersediaan pakan alami dari benih pada stadia. penangan penyakit bahkan harga ikan. Pada tahun 2008 total produksi lele per tahun 41. crakers dan lainnya.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor b) Harga lele BS (over & undersize) yang rendah (Rp 2000. Gunung Sindur dan Kemang. Sehinga sebagian masyarakat masih memandang bahwa ikan lele merupakan produk yang kurang bersih. Berdasarkan data yang disediakan oleh PEMDA BOGOR. sosis. i) Kurangnya informasi khususnya mengenai teknologi budidaya. f) Kurangnya pengetahuan sumberdaya manusia khususnya terkait penanganan terhadap penyakit dan manajemen keuangan usaha. Dengan meningkatnya produksi benih. g) Kualitas produk hasil budidaya kualitasnya masih beragam belum dapat mencapai kualitas yang memenuhi standar higienis karena masih digunakannya pakan tambahan seperti limbah pabrik maupun budidaya ayam. e) Kualitas dan kuantitas benih yang tidak stabil yang disebabkan oleh teknologi pembenihan yang kurang tepat atau disebabkan karena tidak tersedianya induk yang berkualitas. c) Persaingan pasar dengan lele dari daerah lain (Indramayu) bahkan dari Boyolali. kaki naga.

sosis. filet lele asap.1.1. kaki naga masih bisa diproduksi dengan menciptakan segmen pasar yang berbeda. kaki naga (VegiFish) dibuat surimi terlebih dahulu. Dari jumlah tersebut sekitar 15 % ( 1 ton) diolah menjadi lele asap. diperoleh informasi industri rumahtangga produk olahan ada 4. kapasitas produksi sesuai dengan ketersediaan bahan baku dan daya serap pasar.4. Produk yang mungkin dikembangkan adalah perluasan lele asap dengan mencari pasar baru. nugget. 15% (1 ton/hari) diolah menjadi berbagai produk turunan. Hasil survey lanjutan pada tanggal 9 Nopember 2010.7 . Contoh produk olahan lele yang diformulasikan bersama rumput laut. Bintang Anugerah). Produk olahan bakso. Untuk produk siap saji seperti bakso. nugget. Dibandingkan dengan produk sejenis yang ada di pasaran saat ini (CV. burger. serta penerapan teknologi pengolahan yang ramah lingkungan. Produk lele asap yang Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI . nugget. dijual dalam bentuk makanan kesehatan. Jenis Pengolahan Berdasarkan survey pendahuluan yang dilakukan oeh team budidaya diperoleh data produksi lele mencapai 40 ton per hari untuk empat kecamatan dengan jumlah lele BS sekitar 15 % atau 6 ton /hari. Kapasitas bahan baku ditentukan dari kapasitas produk lele segar BS yaitu 6 ton lele segar/hari. kaki naga diyakini tidak dapat berkompetisi bila memasuki pasar yang sama. makanan ringan chiki/crackers. Bening dan CV.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Untuk pengembangan sentra produksi olahan dan pemasaran perlu dicari lokasi yang tepat dengan sarana dan prasarana yang memadai.1. Kaki naga (VegiFish) (kiri) dan Nuget (kanan) 6. sosis. Bahan baku yang digunakan untuk produk olahan adalah filet dari lele segar.) Gambar 6. filet segar. produk olahan bakso. chitosan dan lainnya (Gambar 6. jenis produk olahan yang digemari masyarakat. Selain itu kegiatan pengolahan dan pemasaran harus layak secara ekonomi supaya hasilnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Konsumen yang memiliki daya beli yang lebih tinggi biasanya menuntut kualitas produk yang lenih tinggi.8 . Lele masih dianggap sebagai ikan yang kurang bersih cara hidupnya.4. CV. Industri Rumah Tangga Lele Asap dan Pengasapan Lele 6. maka diperlukan inovasi dalam pengolahan produk agar dapat menjangkau konsumen yang memiliki daya beli lebih tinggi.2. nugget.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor terletak di Gunung Sindur. Bening dan CV. nuget. Bintang Anugerah menggunakan bahan baku tetelan tuna dengan kapasitas produksi 700 kg bahan baku/hari. Terdapat 2 industri rumah tangga di kecamatan Parung CV. CV.5-50 kg. antara lain : 1. Hal ini disebabkan karana harga lele (filet) jauh lebih mahal dibandingkan dengan bahan baku ikan yang selama ini digunakan yaitu tetelan kakap. Lele belum menjadi bahan baku olahan produk bakso.000/kg. Persepsi sebagian masyarakat yang negatif tentang lele. 2.000/kg. tuna marlin dengan kapasitas produksi 150-200 kg/hari bahan baku. Dengan pengasapan menggunakan kayu bakar selama 2 hari dihasilkan produk lele asap 37. Keduanya memproduksi olahan ikan seperti bakso. Bening menggunakan bahan baku tetelan kakap.2. kaki naga. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI . Selain itu terdapat industri olahan lele asap di Citayam. Gambar 6. kecuali lele asap. Oleh karena itu untuk meningkatkan daya saing produk Lele . marlin. Bintang Anugerah. 12. Selanjutnya produk dipasarkan di Pasar Senen Jakarta dengan harga Rp. Harga bahan baku berkisar antara Rp. 65. kakinaga. tuna.00015. Kelompok Usaha Lele Asap “Citra Dumbo” yang di miliki oleh Bapak Suaep dengan kapasitas produksi per hari antara 150-200 kg lele segar ukuran 10-12 ekor/kg. lumpia. ekado. Permasalahan Pengolahan Hasil observasi menunjukkan masih ditemukan isu dan permasalahan terkait dengan pengembangan olahan lele.

10.500. sosis. 6.9 . b) Inovasi produk yang sudah ada dengan penambahan bahan yang meningkatkan nilai kesehatan seperti rumput laut.. Hal ini disebabkan karena konsumen menginginkan kontinuitas produk baik dalam periode harian. d) Sosialisasi dan kampanye intensif tentang manfaat dan keunggulan lele sebagai sumber protein dan nutrisi lainnya. burger. dengan target pasar golongan menegah keatas.1. Konsumen utama produk ikan segar khususnya ikan Lele ke restoran dan adalah warung tenda yang menjual pecel lele dan sebagian lain cetering.tergantung banyak atau sedikitnya jumlah lele di pasaran.000. Namun rata-rata harga lele saat ini adalah Rp. mingguan maupun bulanan.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 3. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR Dengan harga VI . jadi hampir tidak mungkin pembudidaya skala kecil dapat memenuhi pemintaan konsumen. dan supermarket.5. filet segar. Hampir tidak ada penjualan dari pembudidaya langsung ke konsumen. pesantren. Belum diterapkannya Good Manufacturing Practices di industri pengolah. Harga lele di tingkat produsen atau pembudidaya untuk ukuran sedang berkisar antara Rp 10. e) Sertifikasi industri olahan dari BPOM. Penjualan ke konsumen hampir seluruhnya dilakukan oleh pedagang pengumpul. Pemasaran 6. protein ikan hidrolisat.000.5. MUI f) Penciptaan pasar baru seperti sekolah. Sistem pembesaran ikan segar dilakukan melalui rantai pemasaran mulai dari pembudidaya. chitosan. Pembudidaya skala besar dengan jumlah anggota banyak dapat mengatur pola tanam sesuai dengan kebutuhan pasar. Untuk mengolah lele perlu dilakukan beberapa hal sebagai berikut : a) Inovasi produk olahan yang belum ada di pasaran antara lain steak. dan chiki. c) Penerapan teknologi zero waste dengan memanfaatkan limbah (produk samping) untuk meningkatkan margin.sampai dengan Rp11. Belum dimilikinya ijin BPOM. pedang pengumpul an kemudian konsumen. Pemasaran Ikan Segar Pemasanan ikan segar khusunya Lele di Kabupaten Bogor sudah berjalan rutin dan hampir tidak ada permasalahan dalam proses penjualannya. Sedangkan pembudidayaan lele memerlukan waktu sekitar 2 bulan. 4. Pembudidaya yang dapat memenuhi konsumen dalam hal kontinuitas produk hanya pembudidaya skala besar.-. kehalalan MUI sehingga membatasi penetrasi pasar khususnya ke supermarket.. filet asap dan produk kering seperti crackers. café & resto. abon stick.

nugget. lumpia.7). 6. 65. Dengan pengasapan menggunakan kayu bakar selama 2 hari dihasilkan produk lele asap 37.3. Bening selain melaui gerobak jalan juga memasarkan produknya di Pasar Ikan Higienis Cibinong Daftar harga produk disajikan pada Tabel 6. Kelompok Usaha Lele Asap “Citra Dumbo” (Gambar 6. strategi pemeliharaan. Selain itu terdapat industri olahan lele asap di Citayam (akan di survey lanjut). CV. Bening menggunakan bahan baku tetelan kakap. Sistem pemasaran yang diterapkan kedua perusahaan tersebut adalah gerobak dorong dengan jumlah gerobak 30 untuk CV.2. pembudidaya dapat memperoleh keuntungan sekitar Rp 1. Bintang Anugerah dengan pemasaran di kawasan Jabotabek. Harga bahan baku berkisar antara Rp. Oleh karena itu keuntungan yang diperoleh pembudidaya akan ditentukan berapa besar proporsi ukuran konsumsi yang dipanen pertama kali dan berapa lama total pemeliharaan sisanya sapai mencapai ukuran konsumsi. tuna marlin dengan kapasitas produksi 150-200 kg/hari bahan baku.) yang dimiliki oleh Bapak Suaep dengan kapasitas produksi per hari antara 150-200 kg lele segar ukuran 10-12 ekor/kg. Bening dan CV.10 .000 . sumber induk atau benih dan strategi pemberian pakan.990. kaki naga. Bintang Anugerah (Gambar 6. diperoleh informasi industri rumahtangga produk olahan ada empat. Hal tersebut sangat ditentukan oleh pemehaman pembudidaya dalam hal teknolgi. Produk lele asap yang terletak di Gunung Sindur. 12.dari ikan ukuran konsumsi. Bintang Anugerah menggunakan bahan baku tetelan tuna denga kapasitas produksi 700 kg bahan baku/hari..2. Bening dan 60 untuk CV. Keduanya memproduksi olahan ikan seperti bakso.000-15. Terdapat 2 industri rumah tangga di kecamatan Parung CV. Jika ukurannya lebih besar dari 6 ekorper kg yakni mulai 5 ekor per kg sampai dengan 2 ekor atau 1 ekor per kg harganya lebih rendah Rp 2. Jika proporsi ukuran konsumsinya lebih banyak kentungan bisa lebih besar.5. CV. Pemasaran Ikan Olahan Hasil survey. Sedangkan yang ukurannya lebih kecil dari 12 ekor per kg biasanya tidak dibeli dan harus dipelihara lagi sampai mencapai ukuran konsumsi sehingga memerlukan waktu pemeliharaan lebih lama dan tentunya akan menambah biaya produksi. Selanjutnya produk dipasarkan di Pasar Senen Jakarta dengan harga Rp. Ukuran konsumsi berkisar dari ukuran 12 ekor per kg sampai dengan 6 ekor per kg.000/kg. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI . ekado.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor tersebut. CV.000/kg.2 000 per kilogramnya tergantung tingkat efisiensi teknologi yang diterapkan dan proporsi ukuran lele lele yang dipanen.5-50 kg.

8.000/kg 38. 5.6.4. dan Gambar 6.6. Jenis dan harga produk olahan ikan di CV Bening dan CV Bintang Anugerah di PIH Cibinong No. Bintang Anugerah Tabel 6.000/kg 35. Hasil analisis neraca air disajikan pada Tabel 6. Ketersediaan air hujan diperhitungkan sebagai curah hujan andalan dengan peluang kejadian 80%.000/kg Lokasi PIH Cibinong PIH Cibinong PIH Cibinong PIH Cibinong PIH Cibinong                   Gambar 6. Neraca Air Analisis neraca air dilakukan untuk mengetahui kondisi surplus/deficit neraca air secara alamiah. 3.000/kg 18.11 . 4. sedangkan kebutuhan air merupakan kehilangan air berupa evaporasi dan kebutuhan untuk penggantian air kolam.3. 1. Dari tabel dan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI .000/kg 45. Bening : Bakso Ikan (kiri)dan Lumananpia Ikan (kanan) 6. Sistem Tata Air 6.7. yaitu dengan cara membandingkan antara ketersediaan air hujan dengan kebutuhan air untuk budidaya perikanan.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Gambar 6. Bening dan CV. Jenis produk Filet kakap Filet tuna Filet dori Filet tenggiri Cucut Harga 35. 2.1. Produk ikan CV. CV.5.

Defisit neraca air berkisar antara 15-67 mm/bulan atau 0.2 86.1 193.7 108.5 102. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI .7 80.2 -22.8 161. Debit air keluar dialirkan kembali ke jaringan irigasi.0 -66.6 72.2 115.0 Kebutuhan air2) 80.5 228.38 lt/det/ha.9 130.0 41.3 203.8 569.4 -56.7 270.0 Catatan : 1) CH andalan dihitung dengan peluang 80% dari data curah hujan harian di daerah Kahuripan.7 293.06-0.8 104. DI Cibeuteung untuk wilayah Kemang. Cimulang dan Curug Serpong 2) Kebutuhan air dihitung dari hasil analisis evaporasi ditambah kebutuhan air untuk penggantian air Pada kondisi defisit neraca air.1 428.9 27. Dalam kondisi defisit neraca air. Table 6.3 mm/hari atau setara dengan 5-33 m3/hari/hektar. nilai ini setara dengan 0.0 108.8 59.1 53. sedangkan kondisi defisit terjadi pada Bulan Juni hingga Bulan Oktober.5 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember CH rata-rata 334.1 329.5-3.3 -56.4 81. kebutuhan air untuk budidaya perikanan dipenuhi dari sistem irigasi yang telah ada. dengan aliran air berkecepatan rendah.4 356.0 305.4.5 95.12 . dan DI Curug Serpong untuk wilayah Gunung Sindur.0 56.8 98.5 240.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor gambar tersebut dapat dilihat bahwa kondisi surplus neraca air terjadi pada periode Bulan November hingga Mei. Dalam kondisi pengaliran air secara kontinyu.2 105. Sistem ini dilengkapi dengan tanggul tanah dan pintu air.8 -15. untuk menghindari terjadinya kekeringan pada lahan sawah dengan sistem budidaya pertanian tanaman pangan maupun perikanan.6 132. diperlukan suplai air irigasi dan atau pengaturan pola tanam.4 233.7 125.0 89.5 154. Hasil Analisis Neraca Air untuk Budidaya Perikanan CH andalan1) 183. untuk mengatur masuk dan keluarnya air segar sekitar 5 – 10 % dari volume kolam per hari.0 192. namun secara umum dapat dimanfaatkan untuk suplai air irigasi perikanan dengan sistem budidaya ikan tawar kolam biasa.0 58.3 112.5 Surplus/defisit neraca air 102. Meskipun pada awalnya jaringan irigasi tersebut tidak dirancang secara khusus untuk budidaya perikanan.0 214. yaitu Daerah Irigasi (DI) Sasak untuk wilayah Parung dan Ciseeng.

serta relatif mencukupi untuk mengairi kolam-kolam yang ada. namun secara umum dapat dimanfaatkan untuk suplai air irigasi perikanan dengan sistem budidaya ikan tawar kolam biasa. Sistem ini dilengkapi dengan tanggul tanah dan pintu air. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI .5. yaitu Daerah Irigasi (DI) Sasak untuk wilayah Parung dan Ciseeng. DI Cibeuteung-1 untuk wilayah Kemang. Dari skema jaringan irigasi yang disajikan pada Lampiran 1.13 . dan > 10 lt/det/ha di DI Cibeuteung-1. baik di tingkat sekunder maupun tersier. 3-10 lt/det/ha di DI Curug Serpong. yaitu sekitar 1 lt/det/ha. Namun demikian pada bagian hilir daerah irigasi. kebutuhan air untuk budidaya perikanan dipenuhi dari sistem irigasi yang telah ada. dapat diprakirakan nilai satuan ketersediaan air irigasi. dengan aliran air berkecepatan rendah. Grafik Curah Hujan Andalan dan Kebutuhan Air untuk Budidaya Perikanan 6. dan DI Curug Serpong untuk wilayah Gunung Sindur. dan Lampiran 3. Meskipun pada awalnya jaringan irigasi tersebut tidak dirancang secara khusus untuk budidaya perikanan.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Gambar 6.5.2. untuk mengatur masuk dan keluarnya air segar sekitar 5 – 10 % dari volume kolam per hari. Layanan Daerah Irigasi Pada kondisi defisit neraca air di wilayah studi.6. Nilai ini relatif lebih besar dari nilai rata-rata satuan kebutuhan air untuk perikanan darat. yaitu masing-masing sebesar 1-5 lt/det/ha di DI Sasak. Kondisi debit di daerah irigasi tersebut berfluktuasi sepanjang tahun. Debit air keluar dialirkan kembali ke jaringan irigasi Hasil analisis debit intake irigasi disajikan pada Tabel 6. diperlukan pengaturan yang lebih baik karena debit intake pada musim kemarau cenderung berkurang.

2 9988.4 3267.6.6 DI Cogrek 3144.9 3785. Desa Babakan.2 DI Curug Serpong 13069. 6. Kecamatan Ciseeng Rangkuman hasil observasi lapang secara rinci disajikan pada Lampiran 4.5.9 4915.8 1680. Kolam dengan air tenang dapat diberi air dari saluran tersier. Pola aliran air dari pintu sadap menuju petakan kolam dan sawah seperti pada Lampiran 4 menunjukkan bahwa lokasi kolam menyebar di sebelah hulu hamparan sawah.4 4260.7 13425.0 1699. Kecamatan Kemang 2) Petak Tersier TP5 ki .2 4973. Pembiakan ikan dalam keramba di saluran tidak dianjurkan. dan kecukupan air di tingkat usahatani.9 6970.6 13405. DI Sasak.2 1611.5 1755. Hasil Analisis Debit Saluran Bulanan (Lt/Det) Bulan Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember DI Cibeuteung-1 4447.1 3086.2 5666. karena dapat mengganggu aliran dan merusak tanggul saluran.8 14616.1 4675.6 3836.7 6078. telah dilakukan observasi lapang di 4 (empat) lokasi berikut: 1) Petak Tersier CBTS 7 ki.3.0 DI Sasak (BSK3) 3923. Aliran air pada kolam pembibitan umumnya dari kolam ke Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI .6 2925.3 3047. Air drainase dari kolam bagian hulu pada umumnya digunakan kembali sebagai air irigasi untuk areal di bagian hilir.5 5579.6 3325.1 Catatan : Dihitung dari data debit harian Kolam ikan dengan aliran air kecepatan rendah dan pengembangbiakan di sawah tidak membutuhkan prasarana bangunan air secara khusus. Desa Nutug.1 3154.3 1641. Desa Cihowe.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 6.4 2794.6 2917.3 2287.2 3148. DI Cibeuteung-I.6 3971. Desa Pabuaran.2 4292.2 5512.4 2956.1 3213.0 3061.9 3101.1 4226.14 .0 11550. dengan pemberian air secara terus-menerus. DI Sasak.0 1123.7 2922. Kinerja Jaringan Irigasi Untuk memperoleh data dan informasi lapangan mengenai kondisi fisik jaringan. DI Sasak. Kecamatan Ciseeng 4) Petak Tersier TP1 ka. Kecamatan Ciseeng 3) Petak Tersier SK 8 ki .7 2849.3 3142. pengaturan air irigasi.4 3136.2 3018.

Pada lokasi tertentu. serta padi-padi-palawija. Sistem perkolaman terdiri dari kolam penyuntikan. air irigasi selalu cukup meskipun di musim kemarau karena muka airtanah yang tinggi (istilah setempat: lahan balong). kerusakan bangunan talang. serta tertutupnya saluran di bagian hilir oleh sampah dan rumput. Pada beberapa lokasi. Pada areal tertentu seperti di areal petak tersier TB 5 ki.15 . pintu bangunan pengambilan rusak/hilang.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor kolam (2 – 3 kolam). Kerusakan infrastruktur irigasi telah terjadi pada beberapa bangunan air seperti kerusakan tanggul yang mengakibatkan terjadi rembesan dan kebocoran. perbandingan antara luas kolam ikan dan sawah sekitar 95% : 5% atau sebagian besar adalah petani ikan. Pola tanam yang lain adalah kolam-kolam-padi diterapkan pada lahan yang relatif agak jauh dari sumber air. terutama pada musim kemarau. Perbandingan antara luas kolam ikan dan sawah di petak tersier sekitar 30-50% (kolam) dan 50-70% (lahan sawah). atau yang mendapat suplesi dari areal di bagian atas seperti dari perbukitan/kebun sawit. Luas garapan kolam rata-rata berkisar antara 200 m2 hingga 1 ha per petani. Petani yang memiliki kolam dengan garapan luas umumnya petani yang memiliki lapak di pasar. kolam penyuntikan terdapat di halaman rumah. petani pada umumnya beralih dari budidaya padi ke budidaya ikan. tanggul kurang tinggi. pada lahan dekat sumber air (saluran atau bangunan sadap). atau memiliki sumur bor. pada lahan yang relatif jauh dari sumber air. Ditinjau dari kecukupan airnya. pendangkalan saluran. pola tanam yang banyak diterapkan oleh petani adalah kolam ikan sepanjang tahun. petani cenderung mengurangi luas kolam yang diusahakan (kolam dikosongkan). Kecamatan Ciseeng. Di areal Petak Tersier TP1 ka. namun apabila air irigasi terbatas/kurang. namun demikian pada lokasi tertentu terdapat juga kompleks perkolaman seluas sekitar 12 ha yang dimiliki oleh seorang petani. serta tidak terdapat bangunan box bagi tersier. Kelembagaan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI . kolam pembibitan dan kolam pembesaran. umumnya berupa kolam pembibitan. Dalam kondisi air cukup. sedangkan pada kolam pembesaran aliran air kolam ke kolam (4 – 5 kolam). sedangkan pada musim hujan saluran tersier masih befungsi untuk penyaluran air namun pada musim kemarau terdapat hambatan dalam pengaturan air. Sebagian bangunan sadap atau pengambilan umumnya masih berfungsi untuk pengaturan air. namun saluran di bagian hilir tidak berfungsi dengan baik karena tertutup oleh rumput dan terjadi pendangkalan. Desa Babakan. bangunan pengambilan kurang berfungsi terutama pada musim kemarau. Selain itu juga terjadi pengendapan lumpur di saluran tersier.

7. Kelembagaan Pengelolaan Air di Tingkat Usahatani Daerah irigasi o Petak Tersier CBTS 7 ki. DI Cibeuteung-I. Ketua: Hudori . Kecamatan Ciseeng Petak Tersier SK 8 ki .6. Desa Cihowe. Kecamatan Kemang Petak Tersier TP5 ki . dapat diperoleh gambaran bahwa infrastrukur irigasi yang telah ada tidak sepenuhnya dapat memberikan pelayanan air irigasi yang memadai. Ketua: Bambang Purwanto Kelompok petani ikan : Tirta Makmur Kelompok petani ikan : Perikanan Jaya (jumlah anggota 100 orang.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor pengelolaan air di tingkat usahatani yang telah ada di lokasi observasi tertera pada Tabel 6. Desa Pabuaran. Tabel 6.6. merangkap sebagai bendahara P3A Gabungan) o P3A Gabungan (Ketua: Sumaryono) P3A Gabungan (Ketua: Sumaryono) P3A Gabungan (Ketua: Sumaryono) P3A o o o o o o o o o Dari uraian hasil observasi lapang di atas. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI .16 . Kecamatan Ciseeng: o Kelompok tani Kelompok tani tanaman pertanian : Solidaritas I (Ketua : Aja ) Kelompok tani ikan : Solidaritas II (Ketua : Arifin) Kelompok petani ikan : Perwatin (jumlah anggota 35 orang. Desa Putat Nutug. Beberapa bangunan air memerlukan rehabilitasi dan peningkatan fungsi jaringan. Desa Babakan. Kecamatan Ciseeng Petak Tersier TP1 ka. diusulkan beberapa segmen saluran yang memerlukan perbaikan. seperti tertera pada Tabel 6. Pada tahap awal pengembangan minapolitan ini.

1 bh Pembabatan rumput . 1500 m o Pasangan lining. (4) rencana strukur dan pola ruang wilayah. Saluran Tersier BTP5 ki d. kewajiban dan peran serta masyarakat dan kelembagaan. 1800 m Pasangan lining. Curug Serpong : a. tujuan. Peraturan terkait dengan tata ruang wilayah adalah peraturan Peraturan Daerah Kabupaten Bogor No. 19/2008 tentang Rencana tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bogor 2005-2025. 1 bh Talang. Cibeuteung 2 o Galian lumpur. (3) asas. 600 m Sumber: Kantor UPT Pengairan Wilayah Parung 6. BTP 5. 200 m Pintu pengambilan Perb bang pengambilan. 2000 m Pasangan lining. 500 m Galian lumpur. Sal Sekunder Cogrek e. 400 m o Galian lumpur. Sal Tersier BTP1 ka c. 3 bh D. 1 bh Perbaikan Bang Air. Kebijakan Terkait Minapolitan Peraturan terkait dengan Minapolitan saat ini secara pokok meliputi peraturan tentang tata ruang wilayah.7. Usulan Rehabilitasi dan Peningkatan Jaringan Irigasi No. Hal yang paling penting dari peraturan ini adalah bahwa lokasi pengembangan minapolitan yang Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI . 100 m Box tersier. Sal Tersier BSK 4 f. 500 m Box tersier. 800 m Box tersier. 1 buah Galian lumpur. 5600 m Pasangan lining. 3 bh Perbaikan lantai bangunan pengambilan Pasangan lining ki dan ka.I. (5) rencana pemanfaatan wlayah. 500 m Perb pintu air. 1. 1 bh Galian lumpur. 3 bh Bangunan Pelimpah. Cibeuteung I : o 2. 4 bh (BTP1. 500 m Box tersier.I.I. Sal Tersier BSK 8 3 D.I. Sal Tersier BCTS 7ki o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o Usulan rehabilitasi/peningkatan Galian Lumpur.1500 m Pasangan lining. (2) Ruang lingkup. (6) arahan pengendalian pemanfaatan ruang dan (7) hak. Sal Induk 4 5 D. Angke 2 D.I. 1 bh Galian lumpur. Sal Sek Tembok Panjang b.17 . kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah. 500 m Pasangan lining. Daerah Irigasi D. BTP 8 dan BTP 10) Box tersier. peraturan yang terkait dengan kebijakan pemilihan lokasi dan komoditas dan kebijakan/peraturan terkait dengan minapolitan itu sendiri. 4000 m o Pasangan lining. 2 bh Pemb bang pengambilan. Peraturan ini secara garis besar berisikan : (1) ketentuan umum. Sasak : a.7.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 6.

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor
akan ditetapkan harus sesuai dengan rencana pemanfaatan wilayah sesuai dengan peraturan daerah ini. Peraturan yang terkait dengan kebijakan dan komoditas setidaknya terdapat dua peraturan pokok yaitu Peraturan Bupati (Perbub) nomor 84/2009 tentang revitalisasi pertanian dan pembangunan perdesaan (RP3) dan Keputusan Bupati Bogor nomor 523.31/227/Kpts/Huk/2010 tentang penetapan lokasi pengembangan kawasan

minapolitan di Kabupaten Bogor. Pada Peraturan Bupaten No.84/2009 secara umum berisikan program revitalisasi pertanian dan pembangunan perdesaan. Isi pokok dari peraturan bupati ini adalah usaha untuk memberdayakan kembali sektor-sektor pertanian serta fungsi kawasan perdesaan. Secara garis besar, maka wilayah Kabupaten Bogor dibagi dalam 8 zona. Ruang lingkup revitalisasi pertanian dan pembangunan perdesaan mencakup 6 komoditi unggulan yaitu usaha tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan. Program direncanakan baik pada sisi on-farm, off-farm maupun yang tidak didasarkan usaha pertanian (non-farm) serta infrastrukturnya.Terkait dengan minapolitan, bahwa peraturan bupati ini menyebutkan bahwa perikanan termasuk komoditas unggulan yang akan diprogramkan, dengan 6 komoditas komoditas utama yaitu mas, gurame, nila, patin, lele dan ikan hias. Keputusan Bupati Bogor nomor 523.31/227/Kpts/Huk/2010 tentang penetapan lokasi pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Bogor, menyatakan bahwa lokasi minapolitan terletak pada 4 kecamatan yaitu (1) Kecamatan Ciseeng, (2) Kecamatan Parung, (3) Kecamatan Gunung Sindur dan (4) Kecamatan Kemang yang meliputi 28 desa. Lokasi tersebut merupakan sebagian wilayah dalam zona 4 revitalisasi pertanian dan pembangunan perdesaan (RP3). Bila diteaah lebih jauh sudah terjadi harmonisasi, dimana dalam kebijakan revitalisasi pada zona 4 juga diprioritaskan untuk

pengembangan budidaya perikanan. Sedangkan dari sisi kebijakan minapolitan, telah dikeluarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. KEP : 32/MEN/2010 tentang penetapan kawasan minapolitan. Dalam keputusan ini, Kabupaten Bogor merupakan 1 dari 197 kabupaten/kota seluruh Indonesia yang telah ditetapkan sebagai daerah pengembangan kawasan minapolitan. Kabupaten Bogor merupakan satu dari 11 kabupaten yang terpilih d Propinsi Jawa Barat. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. PER : 12/MEN/2010 tentang minapolitan, memuat tentang konsepsi minapolitan. Minapolitan didefinisikan sebagai suatu bagian
Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR

VI - 18

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor
wilayah yang mempunyai fungsi utama ekonomi yang terdiri dari sentra produksi, pengolahan, pemasaran komoditas perikanan, pelayanan jasa dan/atau kegiatan pendukung lainnya. Secara umum, disampingg berisikan tentang ketentuan umum, peraturan ini juga meliputi : (1) azas, tujuan dan sasaran, (2) konsep pengembangan kawasan minapolitan, (3) pemantauan, evaluasi dan pelaporan, (4) pembinaan dan (5) pembiayaan. Secara spesifik, peraturan ini menyebutkan bahwa karakteristik kawasan minapolitan merupakan kawasan ekonomi yang terdiri atas sentra produksi, pengolahan, dan/atau pemasaran dan kegiatan usaha lainnya seperti jasa dan perdagangan. Salah satu persyaratan mendasar adalah bahwa kawasan minapolitan harus sesuai dengan rencana tata ruang wilayah (RTRW) dan Rencana Pengembangan Investasi Jangka Menengah Daerah (RPIJMD) yang telah ditetapkan. Sedangkan bila sudah memenuhi criteria dan persyaratan yang ada, maka Bupati/Walikota mempunyai otoritas untuk menyusun Rencana Induk (Master plan), yang diimplementasikan melalui Rencana Pengusahaan dan Rencana Tindak. Penetapan lokasi Minapolitan dilakukan oleh Bupati/Walikota dan disampaikan pada Menteri Kelautan dan Perikanan. Pada sisi pembiayaan, maka pengembangan dan pembinaan kawasan minapolitan didasarkan pada APBN dan atau APBD serta sumber lain yang tidak mengikat sesuai peraturan perundang-undangan.

6.8.

Isu dan Permasalahan Kelembagaan

Berdasarkan kondisi kelembagaan serta hubungan antar pelaku usaha (baik individu maupun kelompok), maupun antara pendukung kegiatan ini dijumpai beberapa permasalahan sebagai berikut. A. Relasi antar pelaku usaha atau organisasi a. Kepastian relasi yang menguntungkan antar kelompok, b. Bangunan kepercayaan (trust) antar kelompok, c. Komunikasi yang produktif, dan d. Bentuk kelembagaan pengelolaan. B. Aturan Main (Rules of The Game) a. Peraturan yang menjamin kepastian pola hubungan dan transaksi yang menguntungkan, b. Peraturan yang menjamin kepastian lokasi dari interaksi potensi pemanfaatan wilayah lainnya, dan
Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR

VI - 19

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor
c. Kepastian peraturan prasarana. tentang pengelolaan dan pemanfaatan sarana dan

6.9.

Potensi Minawisata

Pengembangan minawista meliputi perencanaan yang mengakomodasikan seluruh aktifitas yang direncanakan dalam suatu kawasan minapolitan. Perencanaan tersebut didasari oleh konsep utama, yaitu untuk menciptakan kawasan wisata minapolitan yang berkelanjutan dengan mengembangkan wisata edukasi yang didasarkan pada potensi lingkungan yaitu perikanan yang potensial untuk melindungi sumberdaya alam dan kualitas lingkungan serta kesejahteraan masyarakat lokal. 6.9.1. Infrastruktur Wilayah Kondisi infrastruktur yang ada di sekitar kawasan perencanaan cukup baik. Beberapa data infrastruksur tersebut dapat dilihat pada Tabel 6.8. dan Lampiran 5.

Tabel 6.8. Status Jalan dan Panjang Jalan di Kabupaten Bogor Status Jalan a) Jalan Nasional b) Jalan Provinsi c) Jalan Kabupaten d) Jumlah Panjang (m) 121.487 129.989 1.506.565 1.758.041

6.9.2. Identifikasi dan Analisis Potensi Wisata Kawasan Minapolitan Kondisi kawasan yang terletak di perkampungan dan suasana perdesaan yang kental merupakan daya tarik tersendiri meskipun potensi masing-masing kecamatan relatif sama namun karakter yang ada cukup berbeda. Beberapa lokasi telah menjadi obyek wisata dan dapat dilihat pada peta obyek wisata, Lampiran 6.

A. Kecamatan Kemang

Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR

VI - 20

Cukup kecil dibandingkan dengan kecamatan yang lain sehingga. Situ ini memiliki pemandangan yang indah dan sudah ada trotoar di tepi danau serta tumbuhan yang rindang. serta tepi situ beum terpelihara. 99 Ha. Sedangkan dari segi Wisata Edukasi.21 . khususnya kondisi trotoar dan jalan . akan tetapi Kecamatan ini memiliki akses yang cukup baik sebagai jalur penghubung antara kawasan minapolitan dengan Kota Bogor maupun Jakarta. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI . Namun demikian kondisi wisata belum digarap secara baik. namun di Kecamatan ini memiliki situ yang cukup strategis. Dari luas wilayah sebesar 6369.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Meskipun produksi ikannya paling sedikit diantara keempat kawasan minapolitan. dengan akses yang mudah dan tidak terlalu jauh (10 m) dari Jalan raya Bogor-Parung. kecamatan Kemanga memiliki kekhususan dalam pembenihan ikan gurame dan sebagin juga ada perbenihan Lele serta pembesaran Akses ke area perbenihan maupun budidaya sangat mudah dengan kondisi jalan cukup baik. potensi perikanan yang dimiliki oleh Kecamatan ini sekitar 484 Ha.

Akses jalan menuju ke sentra produksi cukup memadai 3.7 . Kondisi Situ Cilala Desa Jampang B. Lokasi wisiata ini memiliki nilai jual yang cukup tinggi kerena akses yang mudah dan dekat dengan jalan raya Ciseeng (150 m) dan tidak jauh dengan jalan raya Bogor Parung. pembesaran pengolahan serta wisata. Secara uumum Keunggulan Kecamatan ini adalah : 1. Namun jika diberdayakan dengan sarana dan prasarana yang cukup maka kondisi Situ Cillala ini sangat potensial untuk menjadi obyek wisata unggulan.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Gambar 6. Kondis Situ Cilalal disajikan dalam gambar berikut ini: Gambar 6. Jaringan listrik dan telekomunikasi cukup tersedia 5. Kecamatan Ciseeng Kecamatan ini merupakan kecamatan yang cukup luas areanya dan memiliki barbagai kegitan budidaya yang beragam dari mulai perbenihan.22 . Kondisi potensi wisata Situ Kemang Kecamatan Kemang Disamping situ Kemang.8. Lokasi situ Cilaya terletak diperbatasan Kecamatan Kemang dan Kecamatan Ciseeng. Terdapat pasar benih ikan dan pasar yang menyediakan kebutuhan sehari-hari Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI . di kecamatan ini juga terdapat potensi wisata Situ Cilaya yang terletak didesa Jampang. Terletak relatif di tengah dari empat kota kecamatan wilayah minapolitan 2. Akses jalan menuju Jakarta sebagai pusat pemasaran cukup memadai 4. Situ ini sekarang telah ada akvtivitas wisata pemancingan.

di Kecamataan Ciseeng ini juga terdapat Pasar Benih Ikan Ciseeng yang ramai pada hari-hari tertentu dimana pedagang benih menjual benih ikannya dalam jumlah sedikit maupun banyak.9.10.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 6. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI . Terdapat kios penyedia sarana produksi perikanan Gambar 6. Peta Kecamatan Ciseeng Pada kecamatan ini terdapat Desa Babakan yaitu desa yang menjadi pusat pembenihan ikan lele yang cukup besar baik di skala rumah tangga maupun industri. Kondisi Desa Babakan Selain desa Babakan yang dikenal sebagai sentra pembenihan.23 . Gambar 6.

Situ ini memiliki nilai keindahan yang memadai untuk suatu obyek wisata.13. Gambar 6. kecamatan ini juga memiliki potensi wisata yang lain yakni Situ Iwul yang terletak didesa Iwul. Gambar 6. Kondisi Kawasan BP3K (Balai Penyuluhan Pertanian. perikanan. pada Kecamatan Ciseeng ini terdapat suatu kawasan budidaya yang cukup luas yaitu adanya danau buatan yang digunakan sebagai keramba ikan hias berbagai jenis sehingga menarik untuk dijadikan potensi minawisata. disamping akses yang mudah dan kondisis Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI . Kondisi Kawasan Budidaya Ikan Hias Kawasan BP3K merupakan salah satu aset pemerintah daerah yang digunakan sebagai unit pengembangan untuk tanaman pangan maupun perikanan yang berpotensi dapat dikembangkan sebagai tempat pelatihan berbagai kegiatan karena area yang cukup luas dan sudah tersedia kolam-kolam yang dapat dimanfaatkan sebagai percontohan perbenohan maupun budidaya serta didukuang dengan akses yang relative mudah. Situ ini lokasinya tidak jauh dari pasar Ciseeng dan juga relative dekat dengan Parung.11.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Gambar 6.24 . Kondisi Pasar Ciseeng Ikan hias juga merupakan salah satu komoditas unggulan selain ikan lele. Peternakan dan Kehutanan) Disamping kegiatan perbenihan dan budidaya.12.

Peta Kecamatan Parung Parung merupakan kecamatan dengan potensi perikanan yang cukup besar. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI .15. Namun kondisi Situ ini saat ini belum diberdayakan sebagai obyek wisata.Desa Iwul C. Pada kecamatan ini terdapat adanya area-area pembesaran ikan lele yang sudah cukup besar. Gambar 6. lahan yang berpotensi untuk perikanan adalah sebesar 607 ha. Kondisi Situ Iwul.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor jalan yang baik.25 . dengan luas kecamatan sebesar 7.376.59 ha.14. Gambaran umum kondisi Situ Iwul disajikan dalam gambar dibawah ini. Kecamatan Parung Gambar 6.

19. Gambar 6. Pengolahan ikan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI . Kawasan Budidaya Lobster Industri pengolahan ikan juga sudah maju di Kecamatan Parung adalah Bening Food dan CV Bintang Anugerah yaitu pabrik pengolahan ikan berasal dari skala rumahtangga. Gambar 6.169. Pada hari-hari libur wisata yang merupakan pemandian air panas ini banyak dikunjungi oleh pengunjung. Luasan kawasan bangunan sekaligus kolam budidaya adalah sekitar 3. Berbagai jenis lobster telah dibudidayakan dengan baik disini sehingga menarik untuk dikunjungi. Kawasan Wisata Tirta Sanita Potensi komoditas lain disini adalah adanya pusat budidaya lobster. Pembesaran Lele Obyek wisata yang terdapat di kecamatan ini dan sudah cukup dikenal oleh masyarakat adalah wisata Tirta Sanita.17.5 ha.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Gambar 6.26 .18. Gambar 6.

20. Namun ada masih terdapat juga kolam pemancingan yang banyak diminati oleh masyarakat sekitar. namun masih ada sebagian desa yang memiliki kolam-kolam pembesaran baik penampungan ikan lele. Proses pengasapan yang menggunakan cara yang masih tradisional ini menghasilkan lele asap dengan rasa yang khas sehingga dapat menjadi salah satu objek menarik (lihat gambar 6.27 . Peta Kecamatan Gunung Sindur Adanya tambang pasir dan kendaraan besar terdapat di sepanjang jalan di Kecamatan Gunung Sindur ini menyebabkan jalan atau akses menjadi tidak nyaman karena panas dan berdebu. Kecamatan GunungSindur Meskipun dalam RTRW Kecamatan Gunung Sindur dialokasikan sebagai kawasan industri. Beberapa Area Pemancingan Pengolahan ikan yang cukup terkenal di wilayah kecamatan Gunung Sindur ini adalah adanya pengolahan lele asap.2). Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI . Gambar 6.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor D. Gambar 6.21.

Penilaian Kelayakan Kawasan Bogor sebagai Minawisata Desa a) Letak dr jln raya b) Estetika dan keaslian c) Atraksi d) Fasilitas pendukung e) Ketersediaan air bersih f) Transportasi dan aksesilitas g) Nilai Keterangan Sumber : Hasil Olahan Data. 2010 Kemang 20 50 75 15 60 40 260 Cukup Potensial Ciseeng 40 75 75 15 60 40 305 Cukup Potensial Parung 40 50 75 15 60 40 280 Cukup Potensial Gunung Sindur 20 75 75 15 60 40 285 Cukup Potensial Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI .9. Obyek dan atraksi yang terdapat pada tapak memperkuat komponen untuk melakukan wisata.9. keragaman objek yang dapat dijadikan sebagai atraksi wisata juga merupakan faktor pendukung untuk menjadikan Ciseeng sebagai kawasan sentra dari minapolitan. Selain itu. Atraksi dapat berbentuk ekosistem. landmark atau satwa. alasan sebuah kawasan yang dikembangkan untuk wisata karena terdapat atraksi sebagai komponen dan suplay. Tabel 6. Analisis Kelayakan Lanskap untuk Minawisata Berdasarkan analisis kelayakan kawasan yang potensial untuk dikembangkan sebagai kawasan minapolitan dilihat dari Tabel 6.28 . dibawah menunjukkan bahwa seluruh kecamatan yang ada cukup potensial untuk dikembangkan sebagai kawasan minawisata. Kecamatan Ciseeng memiliki nilai paling besar untuk menjadi potensial dikarenakan kondisinya yang masih alami dengan kolam-kolam pembenihan yang menjadi objek menarik untuk dikunjungi.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 6.9. seperti yang dinyatakan oleh Gunn (1994).3.

Dengan demikian. wilayah Kabupaten Bogor dibagi menjadi delapan zona pengembangan pertanian dan perdesaan. Kedelapan zona pengembangan pertanian dan perdesaan tersebut dapat dilihat pada pada Gambar 7.1 Delapan Zona Pengembangan Pertanian dan Perdesaan Kabupaten Bogor .1 Kecamatan-kecamatan yang masuk ke dalam zona yang sama lokasinya saling berdekatan antara satu dengan lainnya. Gambar 7. Pengelompokkan berdasarkan agroekosistem tersebut penting karena suatu kondisi agroekosistem tertentu cocok bagi pengembangan komoditas pertanian tertentu pula. Penetapan Kawasan Pengembangan Minapolitan 7 Berdasarkan Kebijakan Revitalisasi Pertanian dan Pembangunan Pedesaan (RP3P) di Kabupaten Bogor yang sudah disinkronkan dengan RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) Kabupaten Bogor tahun 2005-2025.1 dan Tabel 7. sehingga diharapkan dapat mencerminkan kondisi agroekosistem yang sama.RENCANA PENGUSAHAAN KAWASAN MINAPOLITAN 7.1. di zona tersebut dapat dikembangkan suatu klaster industri (industrial cluster) bagi komoditas-komoditas tertentu pula.

2 .1.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 7. Delapan Zona Pengembangan Pertanian dan Perdesaan Kabupaten Bogor Zona Rumpin Cigudeg 1 Parung Panjang Jasinga Tenjo Sukajaya Nanggung 2 Leuwiliang Leuwisadeng Cibungbulang Pamijahan Ciampea 3 Tenjojaya Dramaga Ciomas Tajurhalang Kemang 4 Rancabungur Parung Ciseeng Gunung Sindur Tamansari 5 Cijeruk Cigombong Caringin Ciawi Cisarua 6 Megamendung Sukaraja Babakan Madang Cileungsi Klapanunggal 7 Gunung Putri Citeureup Cibinong Bojonggede Sukamakmur 8 Cariu Tanjungsari Jonggol Kecamatan Jumlah Desa 13 15 11 16 9 9 10 11 8 15 15 13 6 10 11 7 9 7 9 10 10 8 9 9 12 13 10 11 13 9 12 9 10 14 12 9 10 10 10 14 Pewilayahan RTRW Barat Barat Barat Barat Barat Barat Barat Barat Barat Barat Barat Barat Barat Barat Barat Tengah Tengah Tengah Tengah Tengah Tengah Tengah Tengah Tengah Tengah Tengah Tengah Tengah Tengah Tengah Timur Timur Timur Timur Timur Timur Timur Timur Timur Timur Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII .

Selengkapnya luas potensi lahan untuk kegiatan perikanan budidaya di kawasan minapolitan Kabupaten Bogor dapat dilihat pada Tabel 7.5 Ha yang tersebar di empat kecamatan kawasan pengembangan yaitu Kecamatan Ciseeng seluas 1. maka Zona (IV) empat yaitu Kecamatan Gunung Sindur. Kecamatan Kemang dengan 6 desa.772.309. dan Lampiran 7. Gunung Sindur dan Kemang saat ini merupakan sentra kawasan kegiatan perikanan budidaya di Kabupaten Bogor. Ikan Hias 10 Ha dan untuk ikan jenis 23 Ha lainnya. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . Kecamatan Gunung Sindur seluas 192 Ha dan Kecamatan Kemang 484 Ha. Kecamatan Parung seluas 607 Ha.2. (ii) produktvitas dan (iii) jumlah Rumah Tangga Perikanan (RTP). Parung. Total produksi perikanan budidaya yang dapat dikembangkan di kawasan Minapolitan adalah 2. Luas lahan yang digunakan untuk kegaitan budidaya Lele di kawasan tersebut adalah 649.538. komoditas lele menjadi komoditas yang banyak dibudidayakan kemudian Gurame.464 Ton. Komoditas Lele mempunyai priduktifitas paling besar yaitu Produksi perikanan budidaya di sebesar rupakan komoditas paling 16.14 ton. Ciseeng. Parung.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Dari Delapan Zona Pengembangan Pertanian dan Perdesaan Kabupaten Bogor. Kecamatan Ciseeng dengan 8 desa.3 .4. Potensi lahan untuk kegiatan perikanan budidaya di kawasan minapolitan Kabupaten Bogor adalah seluas 2. berdasarkan kriteria pengembangan kegiatan minapolitan. Kemang . hanya empat kecamatan dan 27 desa yang layak menjadi kawasan Minapolitan di Kabupaten Bogor.Tajurhalang. Setelah dianalisis lebih mendalam berdasarkan (i) aspek potensi lahan/area untuk kegiatan perikanan budidaya. Kawasan Minapolitan dapat dlihat apda Tabel 7. Komoditas perikanan budidaya yang dikembangkan di keempat kecamatan tersebut adalah Lele. Kecamatan Ciseeng. Rancabungur merupakan kawasan yang layak menjadi kawasan kegiatan Minapolitan di Kabupaten Bogor. Dari keempat kelompok komoditas yang dikembangkan di kawasan tersebut. Gurame Ikan Hias dan beberapa jenis lainya.5 Ha.592. Gurame 114 Ha. dan Kecamatan Parung dengan 7 desa. yaitu Kecamatan Gunung Sindur dengan 6 desa. Ikan Hias dan kemudian jenis ikan lainnya.

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 7.00 56. 1 Kecamatan Ciseeng Babakan Parigi Mekar Putat Nutug Ciseeng Cibentang Cibeuteung Udik Cibeuteung Muara Cihoe 2 Parung Bj.30 105.00 22.00 63.00 22.20 245.00 25. Sempu Waru Jaya Waru Pamegar Sari Iwu 3 Gunung Sindur Pangasinan Cibinong Gunung Sindur Curug Cidokom Pabuaran 4 Kemang Pabuaran Kemang Tegal Pondok Udik Bojong Jampang Desa Luas (ha) 283.00 8.00 45.00 18.00 56.00 210.4 . Potensi Luas lahan untuk kegiatan perikanan di Kawasan Minapolitan Kabupaten Bogor No.00 36.3.2.00 225.00 82.00 Tabel 7.00 15. Indah Cogreg Bj.00 105.00 32.00 90.00 24.00 80.00 203.00 280. Luas Lahan Eksisting untuk Kegiatan Budidaya Perikanan di Kawasan Minapolitan Komoditas Lele Gurame Ikan Hias Jenis Lain Luas per Kecamatan (Ha) Ciseeng 368 75 1 11 Parung 157 25 5 8 Gunung Sindur 88 10 1 2 Kemang 36 4 3 2 Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII .00 151.00 35.00 76.

44 698.14 4.08 108. Penetapan Komoditi Unggulan Seperti telah dijelaskan pada Bab sebelumnya.30 947.43 16.93 Ikan hias(RE) 594.95 0 258. Patin. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . pembesaran.464 899 1426 211 2538. Dengan demikian. Nila.4. unggulan pada kawasan minapolitan harus mempertimbangkan aspek-pasek tersebut.67 7.99 375. Sementara itu salah kriteria sebagai Kawasan Minapoliti adalah terdapatnya kegiatan yang terintegrasi dari hulu sampai hilir yang meliputi kegiatan pembenihan. yaitu aspek pembenihan.2.7 236.193. Lele. Kawasan minapolitan tidak saja berfungsi sebagai pemasok komoditi unggulan yang dihasilkan. pengolahan dan pemasaran. Komoditi unggulan adalah produk pilihan yang dihasilkan oleh sektor perikanan dan atau pariwisata berbasis perikanan yang mempunyai nilai jual dan jaminan prospek masa depan karena memiliki daya saling (competitive advantages) yang tinggi.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 7.500.47 192.04 Gurame 424. bahwa pengembangan kawasan minapolitan pada prinsipnya adalah membangun industri produk jadi yang berbasis pada komoditi unggulan.45 647. pengolahan serta pemasaran.820.60 5.772.464 1015. Analisis dilakukan pada beberapa komoditi yang selama ini sudah berkembang di lokasi kawasan Minapolitan yaitu antara lain Ikan Mas. Keunggulan produk yang dihasilkan dari industri yang mengolah komoditi unggulan tersebut akan memberikan nilai tambah yang besar karena produk yang dihasilkan mempunyai nilai jual yang stabil dibandingkan dengan produk tanpa melalui pengolahan. Tahun 2008 (Dalam Satuan Ton/Tahun) Kecamatan Ciseeng Parung Gunung Sindur Kemang Jumlah (Ton) Rata-rata (Ton) Lele 2. tetapi juga menghasilkan suatu produk olahan dari produksi perikanan yang siap dipasarkan dan menjadi ciri khas daerah yang bersangkutan.386 7. pembesaran.59 1.357. Bawal Tawes dan Tambakan.25 Jenis Ikan Lain 2. Produksi perikanan budidaya di Wilayah Studi. penetapan komoditi pembesaran. Gurame.85 222. pengolahan serta pemasaran.895.5 . Penentuan komoditi unggulan dianalis dengan menggunakan beberapa parameter yang berkaitan dengan aspek pembenihan.

Untuk paramater yang berkaitan dengan aspek budidaya (aspek pembenihan. setelah dilakukan analisis penentuan komoditi unggulan dengan menggunakan analisis skoring. pembesaran dan pemasaran) masing-masing parameter yang telah ditetapkan diberikan skor 1-5.6. skor 3 (sedang ). maka dapat dlihat bahwa komoditi Ikan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . asap produk konvensional dan produk kering) TOTAL 33 31 38 51 38 28 24 23 1 3 2 3 1 2 4 4 5 4 4 5 5 5 5 2 5 2 1 2 2 1 3 2 KOMODITAS IKAN KONSUMSI Mas 3 3 4 3 4 4 3 3 Gurame 3 2 3 4 5 2 2 4 Nila 2 3 5 3 3 4 2 3 Lele 5 5 5 5 3 5 5 5 Patin 1 4 2 2 2 3 4 5 Bawal 1 3 2 3 2 3 2 3 Tawes 1 2 2 1 5 2 3 3 Tambakan 1 2 1 1 3 2 3 4 Pada Tabel 7.6 Tabel 7.5. Selengkapnya hasil analisis skoring penentuan komoditi Unggulan untuk kegiatan Minapolitan di Kabupaten Bogor dapat di lihat pada Tabel.7. Parameter Penilaian Pengolahan NILAI RATING 1=sangat rendah 2=rendah 3=sedang 4=tinggi 5=sangat tinggi KETERANGAN Rendemen 5 = >40% 4 = 30-35% 3 = 25-30% 2 = 20-25% 1 = <20% Keragaman jika bisa diolah (4) = 5 (3) = 4 (2) = 3 (1) = 2 jika tidak bisa diolah = 1 Tabel 7. pembesaran dan pemasaran) Produksi Produktivitas Potensi pasar Jumlah pelaku Harga Lama pemeliharaan Margin/ m2/ tahun Persyaratan kualitas air INDIKATOR PENGOLAHAN 9 10 11 Rendemen fillet (2 ekor/kg) Harga bahan baku Keragaman produk olahan (surimi dan turunannya. Sedangkan skoring untuk parameter yang berkaitan dengan aspek Pengolahan penilaiannya dapat dilihat pada Tabel 7. dimana untuk parameter skor 1 (sangat rendah). skor 4 (Tinggi) dan skor 5 (sangat tinggi).6. Skor Penentuan Komoditas Unggulan Ikan Air Tawar di Kabupaten Bogor No.6 . 1 2 3 4 5 6 7 8 INDIKATOR BUDIDAYA (Pembenihan.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Analisis penentuan komoditi unggulan dengan menggunakan skoring. skor 2 (rendah).5. memperlihatkan bahwa.

tetapi kelemahan itu dapat bisa diatasi dengan melakukan deversifikasi produk olahan dari bahan baku Ikan Lele. khususnya dengan komoditas unggulan Lele. Oleh karena itu agar terbuka pasar yang baru maka kegiatan pengolahan sebaiknya di sentralisasi.7 Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR .pengolahan prduk perikanan. Atas dasar pemikiran tersebut tersebut. Kegiatan pemebnihen dan budidaya tidak dapat disentralisasi karena telah tercipta keterkaitan produsen dan pasar sesuai dengan mekanisme pasar. Ikan Lele merupakan komoditi perikanan yang mempunyai keunggulan lebih dibandingkan dengan jenis komiditi perikanan lainnya. Sementara itu pasar lele saat ini juga masih cukup menjajikan. Produktivitas Lele cukup tinggi dibandingkan dengan komoditi lainya sehingga masyakarat hampir tidak ada kesulitan yang berarti dalam mengembangkan kegiatan budidaya Lele. Dalam hal minapolitan di kabupaten bogor. Kegiatan pembenihan dan budidaya sudah berjalan cukup baik. Kegiatan yang masih belum berkembang adalah kegiatan . dan deregulasi yang berhubungan dengan penciptaan iklim yang kondusif bagi pengembangan usaha dan perekonomian daerah. 7. Salah satu kelemahan Ikan Lele adalah masih ada image di sebagian masyarakat yang mengangaga Ikan Lele jorok. maka kawasan minapolitan Bogor harus mempunyai sentra kawasan terutama untuk VII . Dengan demikian maka berdasarkaan analisis tersebut maka komoditi unggulan untuk kegiatan Minapolitan di Kabupaten Bogor adalah Ikan Lele. permintaan lele dari tahun ke tahun semakin meningkat seiring dengan meningkatnya daya konsumsi ikan serta masih banyak keunggulan lainnya dari Ikan Lele.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Lele mempunyai jumlah skor yang tertinggi yaitu 51. diikuti dengan Nila dan Bawal yang memiliki skor sama (38) dan kemudian ikan Mas (33) dan Gurame (31). sehingga yang perlu ditingkatkan adalah produktivitas dan efiiensinya.3. Persayaratan kualitas air yang menjadi prasyarat utama bagi kegiatan budidaya ikan secara umum tidak terlalu ketat. maka kawasn minapolitan harus dapat meningkatan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pendapatan khususnya pelaku usaha yang terdiri pembenih. pengembangan sarana-prasarana publik untuk memperlancar distribusi hasil perikanan dengan efisiensi dan resiko yang minimal. Penetapan dan Arahan pengembangan Sentra Kawasan (Minapolis) Pengembangan kawasan minapolitan adalah pembangunan sistem dan usaha agribisnis berorientasi kekuatan pasar (market driven) yang diarahkan untuk menembus batas kawasan (bahkan mencapai pasar global). pembudidaya dan Pengolah ikan. karena Ikan Lele bisa hidup pada perairan yang masih dibawah standar rata-rata.

4. Jaringan listrik dan telekomunikasi cukup tersedia. 5. dan disamping itu juga kegiatan minapolitan secara keseluruhan. berfungsi sebagai pusat informasi dan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . Lokasi Sentra minapolitan juga harus memenuhi syarat keindahan sehingga perlu dirancang Design Lanscape yang baik dan benar. Ketiga lokasi tersebut akan dipilih salah satu berdasarkan berbagai pertimbangan. Luas area minimal 1 hektar 7. Dengan demikian Sentra Minapolitan harus memiliki area yang cukup luas minimum satu hektar. pusat informasi. showroom produk olahan juag terdapat kolam perbenihan dan budidaya sebagai percontohan. Oleh karena itu. Arahan pengembangan sentra kawasan minapolitan adalah selain sebagai pusat industri pengolahan produk perikanan juga dapat menjadi pusat pemasaran produk olahan. Berdasarkan hasil survei dan analisis terhadap potensi calon lokasi sentra kawasan minapolitan.7. budidaya perikanan serta menajemen minapolitan. 2. Ada saluran pengairan untuk budidaya. maka didapatkan hasil skoring pada masing-masing wilayah seperti terlihat pada Tabel 7. Di samping luas area. Untuk saat ini ada 3 calon lokasi Minapolitan yakni : Pasar Ciseeng. Ketersediaan air bersih untuk pengolahan dan air untuk budidaya 8. Mengingat bahwa dalam Sentra Minapolitan terdapat berbagai fungsi dan kegiatan. kantor. maka sentra kawasan minapolitan Kabupaten Bogor harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: 1. mudah dijangkau dan kawasan sekelilingnya masih terbuka untuk pengembangan. BP3K dan lokasi dekat Danau Kahuripan. akses jalan menuju Jakarta sebagai pusat pemasaran cukup memadai.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor keitan pengolahan. pusat informasi kegiatan minapolitan secara keseluruhan dan juga pusat pelatihan bagi masyarakat dalam hal teknologi pengolahan. di dalam Sentra Minapolitan di samping bangunan pabrik. sentra minapolitan harus berada pada suatu lokasi yang strategis. 3. Terdapat pasar ikan dan pasar yang menyediakan kebutuhan sehari-hari. Akses jalan menuju ke sentra produksi cukup memadai. Terdapat kios penyedia sarana produksi 6.8 . Terletak relatif di tengah dari empat kota kecamatan wilayah minapolitan.

BP3K (7.8 2.72 0.35 1.56 0.7 diatas prioritas calon lokasi sentra minapolitan dari yang tertinggi sampai terendah adalah Situ Cilala (7.25 0. Estetika Aksesibilitas oleh calon pengunjung Nilai jual wisata Sub Total 2 3.82 0.7 Hasil Analisis Skoring 4 Lokasi Calon Sentra Minapolitan LOKASI Parameter Situ Cilala (A) 1.26 0.9 0. mulai proses pembenihan.1 0.25 5.35 0. Pasar Ciseeng (5. pengolahan sampai pada pemasaran.35 4.49 1. pembesaran.4 0.4 1.4 1 0. keterkaitan antar kawasan itu sendiri.6 0.8) dan Situ Iwul (4. Stuktur keterkaitan kawasan pengembangan minapolitan didasari oleh keterkaitan kegiatan antara kawasan yang satu dengan kawasan lainnya yaitu berdasarkan hubungan agribisnis perikanan.8 2.35 1. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII .35 1.45 1.6 0.35 2.25 1.35 1.5 1.35 0.9 .9).85 4.05 2.5 9 9 9 5 7 5 7 7 15 8 7 0.45 1.9 0.35 4. dan keterkaitan kawasan pengembangan dengan kawasan di luar kawasan minapolitan.6 Bobot (%) (A) Total Skor (B) (C) (D) Berdasarkan Tabel 7.72 0.63 1.56 0.35 1.91 0.5).07 0.65 7.25 7.6 0. Struktur Keterkaitan Kawasan keterkaitan kawasan pengembangan minapolitan digambarkan Secara umum stuktur oleh hubungan keterkaitan sentra kawasan dengan kawasan-kawasan pengembangan lainya.8 1.6 0.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 7. 7.05 9 7 7 9 1 3 7 9 7 5 7 9 3 3 7 7 Pasar Ciseeng (B) BP3K (C) Situ Iwul (D) 60 20 20 5 15 1.4.3). Teknis Kecukupan lahan (HA) Ketersediaan air Akses ke lokasi dari jalan raya Ketersediaan Listrik Sub total 1 2.2 0. Aspek Legal dan Otoritas Otoritas Pengelolaan Kemudahan pembebasan lahan Sub Total 3 Total 5 7 9 9 9 9 5 3 25 5 20 0.

Kecamatan Ciseeng menjadi pusat atau sentra pengolahan bagi kawasan-kawasan lainnya. Kecamatan Kemang dan Kecamatan Gunung Sindur.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor A. sentra Ciseeng juga diarahkan menjadi kawasan pusat informasi dan pendidikan kegiatan minapolitan. Sehingga Sentra pengolahan ikan tersebut dapat menerima bahan baku dari pembudidaya dari berbagai lokasi di kawasan minapolitan maupun di luar kawasan minapolitan Dalam hubunganya dengan pengolahan hasil perikanan. yaitu dari Kecamatan Parung. sehingga masyarakat dapat langsung melakukan transaksi hasil olahan dari komoditi kegiatan monapilitan di Sentra Ciseeng. Struktur Keterkaitan Antara Sentra Kawasan dengan Kawasan Pengembangan Lainnya Salah satu arahan pengembangan kawasan minapolitan Kabupaten Bogor adalah mengembangkan kawasan sentra Ciseeng menjadi pusat pengolahan hasil perikanan. Dalam sistem pengolahan hasil perikanan.10 . Oleh karena itu ikan Lele yang berukuran besar tersebut merupakan bahan baku bagi produk olahan. Segala kegiatan yang berhubungan dengan informasi baik itu informasi investasi. pemasaran.yang berukuran besar (>5 ekor per kg) tidak dipasarkan sebagai ikan konsumsi dan harganya lebih rendah dari harga ikan konsumsi yang berukuran 6 ekor s/d 12 ekor per kg. pembesaran serta pengolahan dilakukan di Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . Pendidikan dan pelatihan yang berkaitan dengan pembenihan. Produkproduk yang sudah dihasilkan dari kegiatan pengolahan dipasarkan di sentra Ciseeng. komoditi. Dengan demikian bahan baku yang digunakan dalam pengolahan produk perikanan yang dilakukan di Sentra Ciseeng diperoleh dari kawasan-kawasan minapolitan lainnya. pusat informasi dan pusat pendidikan & pelatihan serta pusat pemasaran hasil pengolahan komoditi Ikan Lele. Ikan lele. Sentra Ciseeng juga diarahkan menjadi pusat pendidikan dan pelatihan bagi pengembangan kegiatan minapolitan di Kabupaten Bogor. dan informasi lainya yang berkaitan dengan kegiatan minapolitan dipusatkan di sentra Ciseeng.kecamatan lainya didasari oleh pola hubungan sistem pengolahan komoditi hasil perikanan. Sehingga pola keterkaitan antara sentra kawasan Ciseeng dengan kecamatan. Selain pusat sistem pengolahan dan pemasaran. sentra Ciseeng juga diarahkan sebagai pusat pemasaran hasil-hasil pengolahan hasil perikanan. sistem informasi dan pendidikan dan pelatihan serta sistem pemasaran.

artinya bahwa pola keterkaitan/hubungan antara desa satu dengan yang lainya tidak bersifat tetap. hasil panen juga dijual ke luar kawasan minapolitan untuk ikan konsumsi. Suatu desa di kawasan minapolitan yang diarahkan sebagai kawasan pembenihan berfungsi sebagai suplier benih ke beberapa pendederan dan pembesaran ikan Lele pada beberapa desa baik dalam satu kecamatan maupun di luar kecamatan. tetapi bisa berubah-rubah sesuai dengan mekanisme pasar perbenihan.5. Penjualan hasil panen selain dijual di dalam wilayah Bogor juga banyak dijual ke luar wilayah Bogor seperti Jakarta. Pola hubungan keterkaitan antar kawasan pengembangan dapat dilihat pada Lampiran 8. Struktur hubungan keterkaitan antara sentra kawasan dengan kawasan pengembangan lainnya dapat dilihat pada Lampiran 8. C. Peningkatan produksi juga perlu dilakukan namun harus tetap Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII .Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor kecamatan Ciseeeng. Struktur keterkaitan antara kawasan pengembangan dengan kawasan diluar kawasan Minapolitan dapat dilihat pada Lampiran 8. Kegiatan tersebut bermanfaat bagi pengembangan usaha perikanan.11 . Arahan Pengembangan Kegiatan Budidaya (Pembesaran) Arahan pengelolaan dan pengembangan kegiatan budidaya harus diorientasian pada peningkatan produktivis dan efisiensi produksi agar diperoleh peningkatan keuntungan uang lebih besar. 7. Setiap kawasan atau desa pada kawasan minapolitan yang berfungsi sebagai pengembangan kegiatan budidaya menjual hasil panennya selain ke sentra kawasan di Ciseeng sebagai bahan baku untuk produk olahan. Keterkaitan antar kawasan pengembangan ini bersifat dinamik. baik dari dalam kawasan minapolitan maupun dari luar wilayah pengembangan di Kabupaten Bogor bahkan bisa dari masyarakat luar daerah. Struktur Keterkaitan antar Kawasan Pengembangan Struktur hubungan keterkaitan antar kawasan pengembangan minapolitan yang satu dengan yang lainya didasarkan pada kegiatan pembenihan. Stuktur Keterkaitan Antara Kawasan Pengembangan dengan Kawasan Diluar Kawasan Minapolitan Stuktur keterkaitan antara kawasan pengembangan dengan kawasan di luar kawasan Minapolitan ini biasanya terjadi karena adanya pola hubungan perdagangan hasil produksi ikan Lele. B.

Perbaikan teknologi produksi benih dapat dilakukan dengan perbaikan manajemen induk (prosedur pemberian pakan induk. dan treatment pakan alami sebelum digunakan) untuk mengurangi penggunaan antibiotik pada pembenihan lele. menIngkatkan nilai tambah dan untuk meningkatkan daya saing. produk olahan yang dihasilkan oleh minapolitan Bogor harus memiliki kehususan sendiri yakni : a) bebas bahan pengawet b) bebas bahan additive atau bahan tambahan yang berbahaya . Arahan pengembangan Kegiatan Perbenihan Kegiatan perbenihan di wilayah minapolitan di arahkan pada peningkatan kualitas dan kuantitas input produksi dan perbaikan teknologi produksi benih. perbaikan teknologi budidaya antara lain penggunaan probiotik dan multi vitamin dalam pakan untuk perbaikan kualitas air dan peningkatan efisiensi pakan serta peningkatan kualitas produk dengan teknologi budidaya yang lebih hiegenis dan ramah lingkungan. Sepert halnya produk budidaya . Sesuai dengan permasalahan yang telah diuraikan sebelumnya. Peningkatan kualitas input dan kuantitas input produksi dapat dilakukan dengan peningkatan kualitas dan kuantitas induk unggul seperti lele sangkuriang. Arahan Pengembangan Pengolahan Hasil Perikanan diversifikasi Arahan pengembangan pengolahan produk dilakukan berorientasi pada produk olahan dan pengembangan teknologi pengolahan dalam rangka memperluas pasar produk perikanan. dan program penyuntikan perbulan dengan pembagian kolam induk). seleksi dan pembatasan umur induk. peningkatan kualitas dan kuantitas cacing sutera dan pencarian pakan alternative pengganti cacing sutera. Kondisi pasar sangat dipengaruhi oleh persaingan dengan daerah lain dengan komoditas yang sama dan memiliki tujuan pasar yang sama. perbaikan manajemen kualitas air (penggunaan probiotik. Produk olahan minapolitan Bogor hendaknya tidak Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . penggunaan vitamin c dan multivitamin pada pakan.12 . 7. penggunaan tempat penampungan air) dan program pencegahan penyakit (pengaturan padat tebar. maka arahan pengelolaan dan pengembangan budidaya perikanan akan lebih di fokuskan pada peningkatan penyediaan benih baik dalam jumlah maupun kualitasnya. 7. yang diharapkan berujung pada peningkatan produktivitas dan kesejahteraan para pembenih lele. c) memiliki nilai gizi yang tinggi d) proses pengolahan yang hiegenis.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor mempertimbangkan kondisi pasar.6.7.

makanan ringan chiki/crackers. kaki naga diyakini tidak dapat berkompetisi bila memasuki pasar yang sama. dijual dalam bentuk makanan kesehatan. filet segar. Rencana kapasitas produksi disajikan pada Tabel 7. produk olahan bakso. Pada akhirnya strategi pengelolaan dan pengembangan produk olahan minapolitan Bogor diharapkan dapat memenuhi syarat untuk dapat diekspor keluar negeri. Produk olahan bakso. Sedangkan yang 5 ton untuk diversikasi produk olahan. Contoh produk olahan lele yang diformulasikan bersama rumput laut.namun juga dapat menjangkau kalangan masyarakat mengah keatas. burger. Bintang Anugerah).8. Disamping sentra produksi pengolahan produk perikanan. Kapasitas bahan baku ditentukan dari kapasitas produk lele segar BS BS (lele berukuran besar 5-1 ekor/kg) yaitu sekitar 6 ton lele segar/hari. kaki naga masih bisa diproduksi dengan menciptakan segmen pasar yang berbeda. filet lele asap. produksi pengolahan rumah tangga juga perlu dikembangkan bersinergi dengan industri pengolahan. nugget.13 . Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . nugget. Produk yang mungkin dikembangkan adalah perluasan lele asap dengan mencari pasar baru. chitosan dan lainnya ( Gambar 7.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor hanya dapat menjangkau pasar untuk kalangan masyarakat biasa.7. sosis. Dari jumlah tersebut 1 ton/hari akan digunakan untuk produksis lele asap utuh seperti yang telah ada. Industri rumah tangga perlu dikembangkan dan dibina agar dapat manghasilkan produl olahan sesuai dengan stAndar indusri.2). sosis. Untuk dapat memenuhi persyaratan tersebut pengembangan pengolahan produk perikanan diperlukan proses pruduksi pengolahan secara terpusat dalam suatu sentra industri pengolahan produk perikanan dan dikelola dengan sistem manajemen industri. Dibandingkan dengan produk sejenis yang ada di pasaran saat ini (CV. kaki naga (VegiFish) dibuat surimi terlebih dahulu. 7.1 Pengembangan Produk Olahan Bahan baku yang digunakan untuk produk olahan adalah filet dari lele segar. nugget. Untuk produk siap saji seperti bakso. Untuk itu sentra indusri pengolahan juga harus melakukan program pelatihan dan penyuluhan terhadapa masyarakat. Hal ini diperlukan agar proses produksi dapat terkontrol kualitasnya dan dapat mengatur output produksi tepat waktu dan jumlah serta mutu yang terjamin. Bening dan CV.

Pembuatan filet dan pemanfaatan hasil samping 2. hotel.14 . nila. pembuatan surimi untuk produk gel. dll Restoran. Kapasitas olahan (kg/hari) 300 1260 ( 260 kg untuk filet segar) 50 720 150 150 150 300 120 120 Potensi pasar Pesantren. Untuk menghindari masalah lingkungan semua limbah (produk samping) akan diolah menjadi produk turunan yang bernilai ekonomis. restoran Bahan baku produk turunan bakso. Jenis olahan produk lele atau ikan lainnya ( kapasitas 5 ton ikan segar/hari) No 1 2 Jenis olahan Lele tanpa kepala Filet lele ( skinless) atau filet patin. Pembuatan surimi Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . Tahapan pengolahan dimulai dari pembuatan filet lele. jasaboga. supermaket supermaket Supermaket supermarket 8-12 2 ekor/kg 3 3 3 4 5 6 7 8 9 100 filet 900 filet 100 surimi 100 100 200 60 60 100 Gambar 7. dan pengolahan surimi atau filet sesuai dengan produk akhir yang ditetapkan. jasaboga. Kaki naga (VegiFish) dan Nuget Teknologi yang akan diterapkan untuk mengolah lele adalah teknologi bebas limbah (produk samping).8.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 7. Teknologi pengolahan yang akan diterapkan meliputi : 1. lembaga pemasyarakatn Supermarket. supermarket Restoran. restoran dan bahan baku produk olahan Supermarket. bawal Filet asap Surimi Bakso Sosis Nuget Vegifish (kaki naga Krupuk Makanan ringan Lainnya Ukuran (ekor/kg) Kapasitas bahan baku ( kg/hari) 500 lele segar 4500 (total dari semua jenis ikan).2. supermaket Restoran. supermarket Restoran. Pembuatan filet asap 3.

Kulit dikeringkan untuk bahan baku kolagen yang dapat diapliaksikan di produk kosmetik.3. dan lain-lain. Tulang dan sisa daging dikeringkan. kaIlan. Skema Produksi Filet dan Pemanfaatn Hasil Samping Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . burger. timun. crackers.2 .2 PengembanganTeknologi Pengolahan Bahan baku lele akan difilet kemudian dibuat surimi untuk selanjutnya dipakai sebagai bahan baku produk bakso.9.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 4.7. Pupuk organik akan dipakai untuk budidaya hortikultura seperti caisin. dibubuk kemudian difermentasi untuk menghasilkan pupuk organik berkulitas tinggi dengan kandungan asam amino (growth factor). parkcoi.7. nugget. chiki. Skema proses masing-masing kegiatan pengolahan dapat dilihat pada Gambar 7. Produk olahan bakso. dll. bayam. pemberishan isi perut.15 . fasilitas dan peralatan yang digunakan dapat dilihat Lele hidup 100 % Pengeringan (70%) Pemotongan kepala. abon. pada Tabel 7. tomat. Sementara itu. pelepasan kulit kulit kulit Tulang Kepala-isi perut kolagen Pupuk/pakan Pupuk/fermentasi Filet lele (30%) Gambar 7. mineral. selada. dll 7. sosis. dll. kangkung.3. nugget. cabe.

Daftar Fasilitas dan Peralatan untuk Produksi Filet dan Pemanfaatan Hasil Samping No. 4. 3. Fasilitas dan Nama Alat Bak Penampungan lele Meja pemotongan lele (SS) Pisau potong dan pisua filet (SS) Bak pencucian (SS) Kerannjang penampungan (Plastik) Wadah penyiapan filet (SS) Freezer penampung filet (-20 C) Bak pencician hasil samping Pengering produk samping Grinder Vakum sealer Sealer karung Bak fermentasi Filet lele Pencampuran dengan bumbu  Pengasapan Filet asap Gambar 7. 10. 14. 11. 5.4.9.16 . 2. 13. 6. 12. 1. Proses Pembuatan Lele Asap Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . 8.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 7. 7.

Fasilitas dan Peralatan yang untuk Pembuatan Lele Asap No 1 2 3 4 Fasilitas dan Nama Alat Wadah pencampuran bumbu (SS) Alat pengasap ALat pendingin Vakum sealer Filet lele Grinding Pencucian Air bekas cucian untuk pupuk Penambahan cryoprotectant (extract rumput laut) dan bumbu2 Surimi Gambar 7. Proses Pembuatan Surimi Tabel 7.10. 1. 2.11.17 . 5. Grinder (SS) Wadah penampung daging ikan (SS) Wadah pencampur bumbu dan cryoprotectan Vakum sealer Freezer Fasilitas dan Nama Alat Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . Fasilitas dan Peralatan untuk Produksi Surimi No.5.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 7. 4. 3.

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Surimi  Bumbu2 +  ektrak rumput  pencampuran  Pencetakan  pemasakan  Bakso.18 . crackers. Fasilitas yang Diperlunan untuk Proses Produkan Surimi No 1 2 3 4 5 6 7 8 10 11 Fasilitas dan nama alat Mixer (SS) Pencetak bakso (SS) Pencetak sosis (SS) Pencetak burger (SS) Penggorengan (SS) Steamer (SS) Pemasak (SS) Oven Extruder Vakum sealer Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . sosis. nugget.  vegifish. dll  Gambar 7.chiki.  abon.6.12. Produksi Produk Turunan Surimi Tabel 7.

Pada saat ini RS Cibinong membutuhkan filet kakap 1300 kg/tahun dan ikan mujaer 1176 kg/tahun. dan peningkatan produktivitas pelaku usaha) dan pembentukan image lele bogor yang berbeda dengan lele wilayah lain (bebas antibiotik. luka bakar. supermarket. catering. dll). Peningkatan daya saing produk minapolitan bogor dilakukan dengan penurunan biaya produksi lele (dengan perbaikan teknologi budidaya. dan peningkatan pangsa pasar baru. peningkatan nilai jual/nilai tambah produk. gurame dan ikan balita. sekolah-sekolah. Ketiga instansi tersebut siap menjadi partner untuk pemasaran produk minapolitan. Produk olahan difortifikasi dengan serat alami dari rumput laut dan bahan alam alut lainnya (seperti citosan). kontinyu. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . nefrotil syndrome (ginjal). emas. rumah sakit Karyabakti menyajikan pilihan menu ikan bagi pasien VIP.3. Rumah Sakit Karya Bakti. efisiensi komponen biaya produksi.19 . Peningkatan nilai jual produk dilakukan dengan diferensiansi produk dengan pengolahan hasil produksi lele sehingga memiliki nilai tambah. restoran. patin. Pihak rumah sakit telah bersedia menjadi partner untuk pemasaran produk olahan minapolitan. bawal. Hotel Santika menyajikan menu Sunda seminggu sekali (hari Kamis) dengan sajian berbagai ikan termasuk lele ( ukuran 1012/kg). dan gerai yang dibangun khusus ditempat wisata mina. tanpa menggunakan pakan limbah. Selain itu. Untuk memasarkan produk harus dilakukan kerjasama dengan pihak terkait seperti : rumah sakit. Selain lele. higienis. hotel Santika menyajikan ikan nila. Jakarta.7.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 7. catering Tiska Sejahtera diketahui bahwa Rumah sakit Cibinong telah menggunakan ekstrak lele ( air rebusan lele) untuk penyediaan albumin bagi pasien cirosis hati. Pemasaran produk olahan lele perlu diciptakan pasar tersendiri dengan trade mark makanan kesehatan. dihadiri oleh perwakilan Rumah Sakit Cibinong. Peningkatan pangsa pasar baru dilakukan dengan pencarian pasar lele segar ataupun olahan keluar daerah/luar negeri dan peningkatan konsumsi pasar yang sudah ada (dengan gerakan makan ikan dan perbaikan pencitraan ikan khususnya lele). stroke dan hipoalbumin. Rencana Pegembangan Pemasaran Produk Olahan Lele Pengembangan pemasaran produksi lele diarahkan pada peningkatan daya saing produk. Untuk menghilangkan kesan negative tentang lele dan menungkatkan pemasaran perlu dilakukan promosi media kegiatan yang terkait dengan Forum Peningkatan Konsumsi Ikan (FORIKAN) Kementrian Kelautan dan Perikanan. PIH Cibinong. Dari hasil diskusi yang dilaksanakan tgl 14 Desember 2010. Bandung. Hotel Santika.

10.576. air) pemeliharaan TOTAL BIAYA PRODUKSI HPP headless lele (Rp) HPP filet lele (Rp) 300 kg lele tanpa kepala 1260 filet lele 5% 5% 275. Analisa Ekonomi Pengolahan Lele Biaya investasi untuk pengolahan lele tanpa kepala dan filet lele adalah Rp.000 (Lampiran 9 ). nuget dan lainnya kebutuhan biaya investasi adalah sebesar Rp.22/kg ( filet lele).305.000. 21.000.463 2.750.500.890.22 115. 8000/kg) dengan produk lele tanpa kepala 300 kg/hari dan filet lele 1260 kg/hari adalah Rp.615.68 /kg ( lele tanpa kepala) dan Rp.13.536.289 /kg.305. 42.7. 75.273 2.000 1. Detail perhitungan disajikan pada Tabel 7.009 26.009 21.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 7.000 300.289.536.         Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII .750.576.68 31.000 42.000/kg. 31. Harga pokok produksi (belum termasuk keuntungan) untuk bahan baku lele segar 5 ton/hari ( harga Rp.000 300.68 39.000.273 2. sosis.273 46.615. 8000/kg Investasi alat dan fasiltas (diluar gedung) Biaya penyusutan/hari Bahan baku Tenaga kerja 5000 kg 1000/kg headless 1500/kg filet sub-total Utilities ( listrik.576. 39.000/kg.115.13. Perhitungan HPP Lele Tanpa Kepala dan Filet Lele Komponen Biaya Keterangan Harga lele Rp.463 2. 400.4.463 50. Bila harga bahan baku naik menajdi Rp.500. Tabel 7.273 57.000 (lampiran 3). maka harga pokok filet lele akan menjadi Rp.000 1.115.90 harga lele 10000/kg Untuk produk olahan bakso.000 52.463 40.20 .000 115. Harga pokok produksi (belum termasuk keuntungan) adalah sekitar Rp.890.

467 68.084. seluruh aktifitas yang direncanakan dalam suatu kawasan Konsep Perencanaan Minawisata utama adalah untuk menciptakan kawasan wisata minapolitan yang Konsep berkelanjutan.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 7. Sosis.000. masyarakat disekitar kecamatan ini juga bersedia untuk menerima pengembangan minapolitan didaerahnya. Hal ini dikarenakan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . B.060.444.667 39. air) Pemeliharaan TOTAL Produk olahan (kg) Harga pokok produksi (Rp/kg) 130% 1638 42. memiliki potensi perikanan yang potensial serta alam yang alami dengan suasana perdesaan.666.812.8.000 3.744.000 7.00 10% 10% 1260 kg Jumlah Jumlah Total 400.000 6. A. Kecamatan Ciseeng sangat potensial untuk dijadikan kawasan sentra dari minawisata.744. Selain memenuhi persyaratan ekologis.000 57. Berdasarkan analisis pengembangan kawasan minawisata di kawasan Bogor.667 5.600 7. Pengembangan Tapak Isu pengembangan tapak dikaitkan dengan perencanaan lanskap yang dilakukan di kawasan minapolitan dilihat dari kondisi lingkungan cukup baik.906.14.21 . Nugget dan Lainnya Komponen Investasi alat dan fasiltas (Rp) Biaya penyusutan/hari (Rp) Biaya Bahan baku (Rp) Biaya bahan pembantu (10%) Biaya Tenaga kerja (20%) Sub-total Utilities ( listrik. yaitu dengan mengembangkan wisata edukasi yang didasarkan pada potensi lingkungan yaitu perikanan yang potensial untuk melindungi sumberdaya alam dan kualitas lingkungan serta kesejahteraan masyarakat lokal. Arahan Arahan Pengembangan Lanskap Minawisata pengembangan Lanskap Minawisata meliputi perencanaan yang mengakomodasikan minapolitan. Perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP) Produk Olahan Bakso.467 5.933.

diperlukan perluasan jalan di kawasan yang akan digunakan untuk minapolitan. Konsep Ruang dan Sirkulasi Minawisata Konsep ruang minawisata disesuaikan dengan kondisi eksisting lingkungan. Wisatawan/Pengunjung Masalah yang cukup penting untuk diperhatikan adalah sasaran wisatawan atau pengunjung yang ditargetkan untuk datang ke kawasan minapolitan. ditengah kehidupan masyarakatnya yang ramah dan suasana perdesaan yang masih kental. C. ruang transisi dan ruang wisata utama. Hal ini dilihat dari jenis minawisata yang ditawarkan yaitu wisata edukasi. Pelajar atau mahasiswa adalah target untuk wisata edukasi. D. kalangan masyarakat umum terutama keluarga akan menjadi target wisatawan yang diharapkan datang untuk rekreasi di kawasan ini. Aspek Masyarakat Masyarakat setuju dan mendukung adanya program minapolitan ini.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor kondisi keempat kecamatan yang memiliki lingkungan yang masih cukup alami. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . Area ini berisi fasilitas parkir serta ruang informasi agar wisatawan lebih mengerti dan mudah untuk melakukan aktifitas wisata. Ruang wisata dibagi menjadi tiga yaitu ruang penerimaan (Welcome area). Welcome Area merupakan area penerimaan yang ada sebagai pintu masuk ke objek di tiap kecamatan pada kawasan minapolitan. E. rekreasi dan wisata produksi. menambah jalan atau sirkulasi sekunder dan tersier untuk mendukung aktifitas minawisata seperti jalur sepeda maupun pedestrian untuk pejalan kaki. Pada tiap ruang wisata terdapat aktifitas dan fasilitas yang mendukung tema dan tujuan dari ruang wisata tersebut.22 . Selain itu pengunjung untuk wisata produksi juga umum khususnya investor lokal maupun mancanegara. Maka. Akses Jalan Jalan yang terdapat di kawasan minapolitan ini dinililai kurang memadai untuk mendukung program ini. karena dengan adanya pembangunan tersebut masyarakat dapat berperan aktif serta lapangan pekerjaan untuk mereka juga akan bertabah. Hal ini dikarenakan jalan yang kurang lebar serta kerusakan yang ditimbulkan oleh kendaraan dengan kapasitas yang besar.

Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . Gambar 7. restoran kemudian display area dari alur budidaya lele ini sendiri yang terdidir dari pembenihan. 3. Lokasi ini cukup strategis dilihat dari letaknya yang mudah dijangkau dan akses yang cukup baik serta lingkungan disekitar yang mendukung. A. Konsep Ruang dan Sirkulasi Minawisata Alternatif 1 Pada lokasi sentra minapolitan alternatif 1 ini. yaitu lele.7. homestay dan display area. wisata ini dibagi berdasarkan komoditas unggulan yang terdapat pada kawasan minapolitan. 1. dan lobster. pembesaran. Ruang Wisata Utama merupakan area minawisata yang ditawarkan untuk dikunjungi oleh wisatawan. Wisata Edukasi. wisata ini berdasarkan objek pengolahan ikan yang terdapat pada kawasan minapolitan. ikan hias. Bangunan yang terdapat pada rencana ini berupa area parkir. 2.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Ruang Transisi merupakan area perantara dari ruang penerimaan dan ruang wisata utama. Rekreasi Wisata Produksi. Konsep Ruang dan Sirkulasi Minawisata Alternatif 1 Konsep ruang dan sirkulasi minawisata pada alternatif 1 ini pusat atau sentra minapolitannya terletak di BP3K (Badan Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan). diikuti dengan pusat informasi.23 . desain yang ditawarkan berupa siteplan dengan tapak kawasan BP3K. Area ini berupa fasilitas pelayanan rest area (peristirahatan).

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor
penampungan, pengolahan hingga pasca panennya yang dilengkapi dengan pengolahan limbahnya sehingga ramah lingkungan.

Gambar 7.8. Lokasi Eksisting dan Desain Alternatif 1 Sentra Minapolitan (BP3K)

Gambar 7.9. Kondisi Eksisting Sentra Minapolitan Alternatif 1

Gambar 7.10. Perspektif Sentra Minapolitan Alternatif 1

Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR

VII - 24

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor
B. Konsep Ruang dan Sirkulasi Minawisata Alternatif 2 Konsep ruang dan sirkulasi minawisata pada alternatif 2 ini pusat atau sentra minapolitannya terletak di Desa Babakan. Lokasi ini dilihat cukup strategis dilihat karena akses yang berada di jalur utama masuk kawasan Minapolitan. Selain itu jalur yang mudah dijangkau dengan kondisi lingkungan perdesaannya yang masih terasa menjadikan sesuai untuk minawisata. Pada diagram ruang dibawah ini terdapat sirkulasi dimana dari sentra minapolitan, dapat langsung berwisata edukasi menuju ke perkampungan warga sekitar untuk menyaksikan secara langsung budidaya lele baik skala kecil (rumahtangga) hingga skala industri. Kuldesak yang terdapat di akhir bertujuan agar wisatawan dapat menikmati perjalanan dengan nyaman dan berputar balik untuk menuju ke paket wisata selanjutnya. Diupayakan pada paket ini wisatawan menggunakan jalur sepeda atau berjalan kaki.

Gambar 7.11. Konsep Ruang dan Sirkulasi Minawisata Alternatif 2

Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR

VII - 25

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor

Gambar 7.12. Lokasi Eksisting dan Desain Alternatif 2 Sentra Minapolitan (Desa Babakan)

Gambar 7.13. Lokasi Eksisting Sentra Minapolitan Alternatif 2 (Situ Cilala) 

Gambar 7.14. Desain Alternatif 2 Sentra Minapolitan (Situ Cilala)

7.9.

Pengembangan Lanskap Minawisata

Dalam pengembangan minawisata, salah satu upaya untuk meningkatkan daya tarik obyek wisata adalah dengan memperbaiki lanskap kawasan wisata dan infrastruktur (jalan, padestrian, fasilitas wisata) agar memiliki nilai jual wisata. Beberapa contoh pengembangan infrastruktur wisata disajikan pada gambar berikut.

Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR

VII - 26

Ciseeng Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII .27 .17. Gambar Existing dan Pengembangan Kawasan Wisata Ikan Hias Telaga Biru.16 Gambar Existing dan Pengembangan Gerbang Masuk Kawasan Wisata Gambar 7.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Gambar 7. Gambar Existing dan Pengembangan Jalan Obyek Wisata Lele (Desa Babakan) Gambar 7.15.

Berdasarkan kejelasan pasar dan sedikit bantuan input/modal. pengolahan dan pemasaran. tetapi belum ada organisasi. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . pendederan.10. Hal ini secara eksplisit dituangkan dalam Permen No. Dalam rangkaian budidaya ini. salah satu sasarannya adalah meningkatkan sector kelautan dan perikanan menjadi penggerak ekonomi regioanal dan nasional diantaranya berupa pengembangan sistem ekonomi berbasis wilayah. mempunyai tujuan salah satunya sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di daerah. Pembentukan/Penguatan Kelembagaan Masyarakat Sesuai dengan konsep tentang minapolitan. pengolahan dan/atau pemasaran yang terkonsentrasi di sentra produksi . Arahan pengembangan kelembagaan diuraikan sebagai berikut. A. terdapat usaha pengumpulan dan pendistribusian benih dari satu tahapan budidaya ke tahapan lainnya. Berdasarkan informasi terdapat 68 kelompok dibawah UPP untuk seluruh jenis ikan. pengolahan dan/atau pemasaran di suatu kawasan yang diproyeksikan menjadi kawasan minaploitan yang akan dikelola secara terpadu. Misalnya usaha pengumpulan benih untuk proses tahap selanjutnya pada budidaya. Seementara itu. tersegmentasi menjadi usaha pembenihan. Dalam rumusan peraturan ini juga dicantumkan bahwa pengembangan kawasan minaploitan dimulai dari pembinaan unit produksi. Sesuai dengan kondisi yang ada sekarang. pengembangan kawasan ekonomi kelautan dan perikanan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi lokal dan pemberdayaan kelompok usaha kelautan dan perikanan di sentra produksi.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 7.28 . Oleh karena itu. pembentukan dan/atau penguatan kelembagaan masyarakat diarahkan pada kelompok-kelompok unit produksi yang ada atau yang diperlukan untuk meningkatkan efisiensi dan pemenuhan tujuan minapolitan.12/MEN/2010 tentang minapolitan. Input cacing juga mempunyai kelompok berupa pencari cacing dan ketua adalah pengumpul. pembesaran. Pada usaha budidaya ikan. maka pembentukan dan atau penguatan kelembagaan masyarakat ditujukan untuk meningkatkan jaminan distribusi manfaat adanya kawasan minapolitan secara adil bagi seluruh stakeholder. Arahan Pengembangan Kelembagaan Arahan (a) pengembangan kelembagaan mencakup dua kegiatan dan pokok (b) yaitu : Pembentukan/penguatan kelembagaan masyarakat Penyusunan kelembagaan pengelola kawasan minapolitan. usaha perikanan yang dilakukan dilokasi calon kawasan minapolitan mencakup usaha budidaya. pengolahan dan/atau pemasaran.

Ketua kelompok ini menjadi pembeli produk lele yang dihasilkan. Peningkatan kemampuan komunikasi anggota kelompok. maka pembentukan dan atau penguatan kelompok diarahkan pada kelompok masing-masing segmen dan kelompok antar segmen budidaya. terdapat kelompok pembenih. sebenarnya sudah terjadi pengelompokan (grouping) dari masing-masing segmen budidaya tersebut. demikian pula pada segmen pembesaran juga terdapat kelompok. Peningkatan kemampuan komunikasi antar kelompok iv. II. Peningkatan kemampuan managerial organisasi kelompok iii. Pembentukan asosiasi kelompok dalam satu segmen (perbenihan. pola ini juga terjadi. adalah mengelola harapan (ekspektasi) manusia terhadap fungsi-fungsi minapolitan untuk Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . didapatkan bahwa kelompok ini masih dalam bentuk relasi “patron-klien”. faktanya motif pembentukan kelompok ini cukup beragam. terutama ketika terjadi oversupply. Peningkatan jiwa kewirausahaan anggota kelompok Peningkatan kemampuan perencanaan usaha III. Sedangkan usaha peningkatan kualitas anggota kelompok diantaranya meliputi : I. Sebagian besar bahwa sistem patronase ini terjadi berdasar pada jaminan kepastian pasar. Namun demikian. pengolahan atau pemasaran) dan atau pembentukan asosiasi antar segmen.29 . Pada segmen usaha perbenihan. adalah bahwa ketua kelompok juga menjadi pemasok input utama seperti pakan atau benih. Peningkatan efisiensi organisasi kelompok diantaranya meliputi : i. Pola lain. Demikian juga pada kelompok pembesaran. Sehingga anggota kelompok mempunyai jaminan pasar. B. pembesaran.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Kelembagaan yang ada di masyarakat sekarang. terjadi karena adanya ketua kelompok merupakan penjamin pasar (pedagang pengumpul). Peningkatan kohesivitas kelompok ii. Mengingat pola organisasi kelompok seperti tersebut diatas. Sebagian besar berdasarkan asesmen lapang. Tujuan penguatan kelompok meliputi dua hal pokok yaitu (a) peningkatan efisiensi organisasi kelompok dan (b) peningkatan kualitas anggota kelompok. kelompok pembenih. Penyusunan Kelembagaan Kawasan Minapolitan Pengelolaan sumberdaya termasuk kawasan minapolitan Kaupaten Bogor. jaminan input maupun kapital. Misalnya.

tetapi perlu direpresentasikan dalam format yang tangible dalam struktur yang jelas. untuk menjamin kelestasrian kawasan minapolitan. Fenomena ini tidak hanya diperlukan pada level kesepakatan antar anggota dalam satu lembaga. Hal ini terutama ditujukan untuk menjamin konsistensi dalam menjaga kesepakatan-kesepakatan antar elemen dalam masing-masing lembaga maupun antar lembaga. lamanya sanksi social dan ha-hal lain yang terkait dengan usaha untuk menjamin kesepakatan dituangkan dalam satu kesepakatan (baik tertulis maupun tidak tertulis) sehingga secara nyata dapat dilihat wujud kesepakatan tersebut. Lembaga-lembaga tersebut dapat meliputi lembaga-lembaga formal maupun informal. menunjukan pemenuhan terhadap harapan setiap anggotan dalam memanfaatkan sumberdaya. Sehingga kelompok mengembangkan tindakan untuk memberi hukuman atas pelanggaran yang dilakukan oleh anggotanya misalnya pengenaan denda atau pengucilan secara social. Hubungan antar manusia tidak selamanya cukup direfleksikan dalam konteks hubungan antar manusia (person to person). sehingga ekspektasinya juga berbeda. tetapi perlu dibangun struktur untuk menjamin konsistensi implementasi kesepakatan ini. Masing-masing lembaga tersebut berinteraksi. Kesepakatan ini perlu dikembangkan tidak hanya pada tataran pemahaman antar anggota masyarakat saja sehingga bersifat kognitif. tetapi diperlukan juga dalam membangun mekanisme antar lembaga. Misalnya. maka kemudian dibangun kesepakatan untuk mengeksploitas sebagian kawasan maksimum pada tingkat daya dukungnya. Unsur kesejahteraan perlu untuk digarisbawahi mengingat bahwa persepsi antar satu individu dengan individu yang yang terhadap konsepsi kesejahteraan berbeda-beda. Secara umum lembaga ini dapat disebut sebagai bentuk kelompok social (social groups).30 . Mekanisme pemberian sangsi. besarnya denda. Hanya saja. implementasi terhadap misi atas harapan masyarakat tersebut tidak selamanya bisa disandarkan pada mekanisme kesepakatan yang bersifat kognitif. Kelompok-kelompok yang melakukan kesepakatan tersebut sebenarnya membawa misi untuk mengimplementasikan ekspektasi-ekspektasi tersebut antar anggotanya. tetapi seringkali melalui lembagalembaga yang merefleksikan atribut kumpulan individu (kelompok) dan kepentingan bagi individu-individu yang mempunyai nilai-nilai atau kepentingan yang sama dalam satu kelompok. hal ini juga Sehingga ketika kesepakatan-kesepakatan diambil. yang pada akhirnya menghasilkan kesepakatan-kesepakatan yang dapat diterima oleh masing-masing pihak.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor “kesejahteraannya”. Inilah yang kemudian mengarah pada terbentuknya Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII .

Mekanisme ini juga dikembangkan pada relasi antar kelompok. terlihat bahwa pengelolaan kawasan minapolitan mensyaratkan adanya pembangunan lembaga (institution) baik formal maupun informal yang kuat serta pengembangan aturan main (baik kognitif maupun structural) yang secara efektif dapat diimplementasikan. Interaksi antar individu adalah kebutuhan mutlak. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . maka baik secara individual maupun kolektif kelembagaan. sebagai turunan konsepsi bahwa pengelolaan kawasan minaploitan adalah pengelolaan pemanfaatan sumberdaya oleh manusia. b. setiap individu terikat untuk melaksanakan kesepakatannya. sehingga masing-masing kelompok yang terlibat dalam kesepakatan dapat menjaga pelaksanaan kesepakatan. Setidaknya terdapat beberapa alasan mengapa kelembagaan yang kuat dan efektif perlu dibangun untuk pengelolaan sumberdaya seperti : a. sehingga berkelompok menjadi kebutuhan. Penjagaan kesepakatan kelompok baik melalui aspek kognitif maupun struktural adalah usaha-usaha esensial yang diperlukan dalam pengelolaan kawasan minapolitan. Bila satu nilai tertentu telah diadopsi sebagai nilai kelompok (yang sebaiknya melalui mekanisme kesepakatan). Berdasarkan uraian diatas.31 . Kelembagaan yang kuat dan efektif menggambarkan mekanisme menghasilkan kesepakatan yang baik dan bentuk kesepakatan yang diterima (baik kognitif maupun structural). Usaha-usaha ini dilakukan baik pada tataran kelompok informal maupun formal. Kelompok-kelompok informal sering dipahami dan diaktualisasikan sebagai kelompok pada level masyarakat. Secara alamiah sifat dasar manusia sebagai makhluk social. tetapi juga diperlukan untuk menjaga perilaku anggota yang menggambarkan identitas kelompok tersebut.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor aturan-aturan kelompok. yang secara efektif akan dijalankan oleh anggotanya serta lembaga juga mempunyai mekanisme menjaga konsistensi implementasinya. Bila kesepakatan terkait dengan pengelolaan sumberdaya sudah disetujui. Sedangkan pada kelompok formal mencakup pemerintahan (baik pusat maupun daerah) maupun kelompok-kelompok yang berbasis legal yang nyata. maka biasanya individu yang telah menyamakan identitasnya dengan kelompok tersebut akan mengimplementasikannya dalam aktivitas individualnya. Kelompok tidak hanya menggambarkan identitas indvidu anggotanya.

Konsepsi kelembagaan secara teoritis sangat bervariasi tergantung pada tinjauannya. Uphoff (1986) menyatakan kelembagaan sebagai suatu himpunan atau tatanan norma– norma dan tingkah laku yang bisa berlaku dalam suatu periode tertentu untuk melayani tujuan kolektif yang akan menjadi nilai bersama. tetapi juga Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . Institusi dapat berupa aturan formal atau dalam bentuk kode etik informal yang disepakati bersama. Artinya pengembangan kelembagaan pembentukan institusi/organisasi seperti halnya yang sering dipahami sekarang ini.all. Wadah atau organisasi dan peraturan-peraturan yang diperlukan untuk menjalankan organisasi menjadi hal yang tidak terpisahkan. perlu mendapat perhatian yang sangat besar dalam pengembangan tidak hanya kelembagaan mendasarkan yang pada efektif. Ostorm 1986. kelembagaan menggambarkan adanya interaksi antar individu dalam mencapai tujuan bersama serta usaha-usaha untuk menjamin bahwa harapan-harapan atau kepentingan mereka tetap terakokmodasi.32 . Williamson (1985) melihat dalam perspektif ekonomi dan mempelopori analisis ekonomi kelembagaan menyatakan bahwa kelembagaan mencakup penataan institusi (institutional arrangement) untuk memadukan organisasi dan institusi. Doward. kelembagaan dapat berupa organisasi atau wadah (players of the game) dan aturan main (rules of the game) yang mengatur kelangsungan organisasi maupun kerjasama antara anggotanya untuk mencapai tujuan bersama (Ostorm. Sehingga secara sederhana. 1997.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Kelembagaan. Doward et. Sebagai sebuah konsepsi. Institusi ditekankan pada norma-norma prilaku. Tinjauan konsepsi kelembagaan bekembang mulai dari pendekatan sosiologis. 1998 dalam Kartodiharjo dan Jamhani. Dalam pendekatan ini organisasi adalah suatu pertanyaan mengenai aktor atau pelaku ekonomi di mana ada kontrak atau transaski yang dilakukan dan tujuan utama kontrak adalah mengurangi biaya transaksi. sosial dan politik. Penataan institusi adalah suatu penataan hubungan antara unitunit ekonomi yang mengatur cara unit-unit ini apakah dapat bekerjasama dan atau berkompetisi. merupakan satu konsepsi yang kompleks yang mengkaitkan antara elemen-elemen secara komprehensif. 1985. 2006). North (1990) menyatakan aturan main di dalam suatu kelompok sosial dan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor ekonomi. Jadi ada usaha kolaboratif menggabungkan beberapa kepentingan serta representasi dari nilai-nilai yang disepakati antar anggotanya. North membedakan antara institusi dari organisasi dan mengatakan bahwa institusi adalah aturan main sedangkan organisasi adalah pemainnya. organisasi ekonomis sampai dengan politik/kebijakan. nilai budaya dan adat istiadat.

Menjadi wadah untuk merumuskan aturan-aturan operasional yang terkait dengan pengelolaan kawasan Minapolitan sesuai dengan rujukan hirarki peraturan yang lebih tinggi. Keputusan constitutional memerlukan kelembagaan pembuat keputusan terkait aturan dasar. Merujuk pada Ostrom (1999) tentang pengambilan keputusan (choice) pada pengelolaan sumberdaya temasuk kawasan minapolitan Bogor. d. Kebutuhan akan kelembagaan bersifat berjenjang. maka pengambilan keputusan bersifat berjenjang dalam bentuk hirarki. (c) Peraturan dan penegakan aturan/hukum.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor menyangkut seperangkat aturan (rules of the game) yang harus dan atau dapat dipatuhi oleh anggotanya. tetapi terkonstruksi atas sejumlah elemen yang mendukung performa kelembegaan. Pada level ini keputusan pemerintah daerah yang melibatkan pihak eksekutif dan legislative merupakan tingkat kelembagaan yang paling tinggi. Sebab dengan adanya kesepakatan yang tertuang dalam bentuk peraturan daerah merupakan peraturan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . Menjadi wadah untuk merumuskan dan memfasilitasi koordinasi dan partisipasi pemangku kepentingan dalam pengelolaan kawasan minapolitan. (g) Pasar. Secara akademis. Menjamin adanya organisasi/lembaga yang mempunyai tugas pokok dan fungsi (tupoksi) melaksanakan kegiatan-kegiatan sesuai dengan fungsi pengelolaan kawasan minapolitan Bogor. Secara hirarkial dari atas ke bawah secra vertical adalah pengambilan keputusan pada aras konstitutional.33 . sehingga institusi tersebut dapat berperan secara efektif. hak dan kewajiban anggota. (b) Norma tingkah laku yang mengakar dalam masyarakat dan diterima secara luas untuk melayani tujuan bersama yang mengandung nilai tertentu dan menghasilkan interaksi antar manusia yang terstruktur. b. Menjadi wadah yang pemangku menampung kepentingan dan terkait mengolah/menganalisis dengan fungsi-fungsi aspirasi/pemikiran pengelolaan kawasan minapolitan c. (i) Organisasi dan (j) Insentif untuk menghasilkan tingkah laku yang diinginkan Tinjauan teoritis seperti disebutkan diatas memberikan arahan tujuan pembentukan kelembagaan pengelolaan kawasan minapolitan Bogor. Tujuan-tujuan itu adalah : a. kolektif dan operasional. (f) Kontrak. (d) Aturan dalam masyarakat yang memfasilitasi koordinasi dan kerjasama dengan dukungan tingkah laku. kelembagaan tidak bersifat uni-elemen. (h) Hak milik (property rights atau tenureship) . (e) Kode etik. Elemen-elemen tersebut diantaranya adalah : (a) Institusi yang merupakan landasan untuk membangun tingkah laku social masyaraka.

Bentuk keputusan ini misalnya adalah keputusan atau peraturan bupati yang dikeluarkan oleh bupati setempat. dimana kelembagaan yang menghasilkan keputusan ini juga merupakan lembaga yang bisa mengikat stakeholder pengelolaan minapolitan. Pola aliran keputusan ini pada faktanya bisa bersifat dua arah (reversible) baik dari atas (top down) maupun dari bawah (bottom up). Hirarki Pengambilan Keputusan Pengelolaan Sumberdaya Kawasan Minapolitan Bogor (Sumber : Modifikasi Ostrom. Dalam hirarki vertical. yang bersifat pelaksana terhadap pengelolaan kawasan minapolitan. kolektif dan operasional. Keputusan operasional ini dihasilkan oleh kelembagaan operasional. Pengertiannya adalah apabila pada tingkat constitutional sudah dirumuskan menjadi keputusan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR politik yang dsetujui oleh pihak VII .Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor tertinggi di daerah sepanjang tidak menyalahi undang-undang pada tingkat yang lebih tinggi. Dalam hirarki ini. Karena kelembagaan-kelembagaan yang ada sekarang bisa menghasilkan keputusan-keputusan konstitional dan kolektif terkait dengan operasionalisasi kawasan minapolitan. Sedangkan keputusan operasional meliputi keputusan operatif yang mengimplementasikan keputusan kolektif. 1999) Pada tingkat dibawahnya adalah keputusan yang bersifat kolektif. Representasi kolektifitas ini ditunjukan keputusan yang bisa mengikat seluruh elemen stakeholder pengelolaan kawasan minapolitan. setidaknya dibutuhkan 3 tingkatan kelembagaan yaitu pada tingkat konstitutional. Bentuk kelembagaan juga mengikuti pola ini. keputusan atau peraturan bupati tunduk pada peraturan pemerintah daerah. Pola ini harus dibangun secara bersama.34 . Gambar 7. khususnya pada tingkat kelembagaan konstitutional dan kolektif. Tidak semua kelembagaan tersebut harus berangkat pada titik nol (zero point).18. maka keputusan ini tidak boleh bertentangan dengan keputusan kolektif. Pada keputusan constitutional ini dipengaruhi oleh kultur baik formal maupun informal dari pihak-pihak yang berinteraksi. Sehingga secara ringkas.

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor
eksektif dan legislative tingkat pemerintah daerah, maka tahap berikutnya adalah memformulasikan keputusan-keputusan dibawahnya sampai pada keputusan

operasional. Sebaliknya proses-proses yang terjadi pada tingkat konstitutional juga harus melihat dinamika pada tataran masyarakat yang nantinya akan member masukan pada keputusan politik yang akan diputuskan. Hubungan antara keputusan dan proses

pembentukan kelembagaan pengelola kawasan minapolitan dapat dilhat dalam Gambar 7.19.

Gambar 7.19. Proses Pembentukan Kelembagaan Pengelola Kawasan Minapolitan

Pada sisi substantive, pembentukan kelembagaan melewati proses-proses pemahasan tentang hal-hal elementer tentang kelembagaan seperti kewenangan dan kewajiban (Gambar 7.20) Kewenangan dan kewajiban kelembagaan ini ditentukan setelah diputuskan rencana induk kawasan, sehingga lebih jelas apa yang akan dilakukan dalam kawasan tersebut. Dalam konteks kawasan Minapolitan Bogor, arahan rencana induk merujuk pada kegiatan perikanan baik dari sisi on-farm (budidaya) sampai dengan pengolahan dan pemasaran secara integral. Pembentukan kelembagaan ini didasarkan pada produk-produk legal (baik pusat atau daerah) sesuai hirarkinya mulai undangundang, peraturan pemerintah, peraturan/keputusan presiden, peraturan/keputusan menteri dan peraturan operasionalnya. Sedangkan pada produk legal daerah meliputi peraturan daerah, peraturan/keputusan bupati dan aturan operasionalnya.

Gambar 7.20. Tahapan Substantif Pembentukan Kelembagaan Operasional Pengelolaan Kawasan Minapolitan

Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR

VII - 35

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor
Pada proses pembentukan kelembagaan akan berakhir ketika proses-proses tesebut diatas telah berhasil mengidentifikasi bentuk kelembagaan yang bisa diterima oleh seluruh stakeholder. Pilihan bentuk kelembagaan dapat dilakukan dengan merujuk pada peraturan perundang-undangan yang berlaku, sehingga lembaga yang terbentuk akan berfungsi optimal. Kelembagaan minapolitan meliputi beberapa jenis kelembagaan yaitu (a) kelembagaan menyeluruh kawasan minapolitan, (b) kelembagaan pusat (sentra minaploitan) dan (c) kelembagaan periferi atau masyarakat. Kelembagaan menyeluruh merupakan

kelembagaan pada tingkat pengarah (steering) yang merupakan kelembagaan koordinasi antar stakeholder terutama antara satuan kerja pemerintah daerah (SKPD).

Kelembagaan sentra minaploitan, merupakan kelembagaan yang mengelola aset-aset yang terdapat pada sentra minapolitan. Sedangkan kelembagaan periferi atau masyarakat merupakan kelembagaan tingkat masyarakat baik pada tingkat

pembudidaya, pengolah maupun pemasaran. Hal yang krusial untuk dibahas adalah kelembagaan pada tingkat sentra minapolitan, karena terkait dengan pengelolaan aset-aset yang dibangun, baik aset bergerak (alat transportasi) maupun aset tidak bergerak (gedung, kolam, mesin dan peralatan pengolahan). Pilhan bentuk kelembagaan dalam bentuk daftar panjang (long list) kelembagaan pengelolaan kawasan sentra minapolitan dapat dilihat dalam Tabel 7.15.

Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR

VII - 36

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor
Tabel 7.15. Pilihan Daftar Panjang (long list) Bentuk Kelembagaan Pengelola Kawasan Minapolitan Bogor Basis 1. Pemerintah Pilihan Bentuk Organisasi a. Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) pada Dinas Teknis b. Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) c. Perusahaan Daerah (PD) d. Perseroan Terbatas (PT) Keterangan/catatan Didasarkan pada keputusan pemimpin daerah tentang pendelagasian tugas dan kewenangan. Budget berbasis pada pagu dan arahan APBD Didasarkan pada rujukan undang-undang dan keputusan pemimpin daerah. Budget dan bentuk program lebih fleksibel. Pemerintah daerah sebagai pengelola seperti swasta dan mempunyai saham berupa aset-aset milik PEMDA Pemerintah daerah menyerahkan aset untuk membantuk unit usaha komersial yang dikelola secara terpisah dari pengelolaan pemerintah daerah, dengan kepemilikan bisa menjadi milik public dimana pemerintah menjadi salah satu bagiannya. Otoritas pengelolaan berada di masyarakat. Efektivitas pengelolaan sangat ditentukan oleh kapasitas masyarakat.. Salah satu bentuknya adalah koperasi. Otoritas pengelolaan berbasis pada “kesepakatan” masyarakat dengan pemerintah. Bentuk riil sangat tergantung pada kualitas interaksi yang dipengaruhi oleh kapasitas masyarakat dan pemerintah. Otoritas pengelolaan diserahkan kepada pihak swasta. Bentuk-bentuk otoritas dan kewajiban bervariasi tergantung kesepakatan.

2. Pemerintah

3. Pemerintah 4. Pemerintah

5. Masyarakat

e. Pengelola Berbasis Masyarakat (CBM) f. Ko-manajemen

6. Interaksi Pemerintah dan Masyarakat 7. Swasta

g. Public-Private Partnership Operation

Uraian dan penjelasan baik menyangkut filosofi dan/atau dasar hukum alternatif kelembagaan tersebut dapat dilihat dalam uraian sebagai berikut. A. Kelembagaan Berbasis Pemerintah

1. Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Daerah Sesuai dengan UU No.41/2007 tentang organisasi perangkat daerah, UPTD-daerah merupakan satu lembaga teknis yang terdapat dalam organisasi pemerintah daerah yaitu dinas teknis daerah. Besaran organisasi perangkat daerah ini disesuai dengan variabel jumlah penduduk, luas wilayah dan besarnya APBD. Berdasarkan pada undang-undang ini, besaran organisai perangkat daerah kabupaten/kota berbedabeda jumlahnya menurut nilai skor daerah. Semakin tinggi jumlah skor daerah, semakin besar jumlah organisasi perangkat daerah yang diijinkan dibentuk di suatu daerah. Sementara UPTD Unit pelaksana teknis pada dinas terdiri dari 1 (satu)

Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR

VII - 37

2. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . pada kawasan minapolitan ini juga memerlukan dukungan stakeholder lintas sektoral atau kedinasan.1/2004 tentang perbendaharaan negara. menggambarkan kewengan/otoritas kelembagaan yang jauh lebih sempit dibanding dengan dinas teknisnya. UPTD akan bertanggung jawab kepada kepala dinas yang membidanginya. didefinisikan sebagai instansi di lingkungan pemerintah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas. BLUD bisa merupakan unit teknis dalam SKPD maupun satu SKPD sendiri. BLUD merupakan bagian dari perangkat pemerintah daerah. Secara hirarkis.23/2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum. Peraturan yang lebih operatif adalah Preaturan Menterdi Dalam Negeri (Permendagri) No. maka kepala unit pelaksana teknis dinas di Kabupaten/Kota merupakan jabatan struktural eselon IVa. konsep ini dituangkan dalam PP No. Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Konsep Badan Layanan Umum (BLU) disebutkan dalam UU No.23/2005 dan Badan Layanan Umum. pola pengelolaan keuangan BLUD memberikan fleksibilitas berupa keleluasaan untuk menerapkan praktek-praktek bisnis yang sehat untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Sehingga pilihan ini menjadi pilihan yang sulit untuk dilakukan. Konsep Badan Layanan Umum yang terdapat dalam UU No. dengan status hukum tidak terpisah dari pemerintah daerah. Salah satu bentuk perbendaharaan adalah badan layanan umum yang dapat dibentuk di tingkat pusat dan daerah.61/2007 tentang pedoman teknis pengelolaan keuangan badan layanan umum daerah. Sebuah satuan kerja atau unit kerja dapat ditingkatkan statusnya sebagai BLUD. Bila dilihat dari sisi struktur organisasi UPTD dan eselonisasi. Berdasar struktur kepegawaian.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor subbagian tata usaha dan kelompok jabatan fungsional.1/2004 kemudian diadopsi dalam PP No. seperti pengecualian dari ketentuan pengelolaan keuangan daerah pada umumnya. Secara lebih spesifik. Sehingga bila pengelolaan kawasan sentra diserahkan kepada UPTD diduga akan sulit untuk dilaksanakan secara optimal. Sehingga bila pengelolaan diserahkan pada tingkat UPTD akan berpotensi menimbulkan overlaping dan konflik kepentingan antar beberapa dinas terkait.Pada sisi lain.38 . Berbeda dengan SKPD pada umumnya.

61/2007. Hal yang perlu dicatat adalah bahwa struktur organisasi BLUD meskipun ada keluluasaan administrasi keuangan dan program. APBD. Sementara berdasar Permendagri No. yang merupakan tugas perbantuan dari pimpinan daerah. Pungutan Jasa dan c. Persoalan ini menjadi catatan penting dari sisi kinerja kelembagaan. Bila pada kondisi jumlah SKPD sudah memenuhi ketentuan maksimal jumlah SKPD. b. (e) APBN dan (f) lain-lain pendapatan yang syah.39 . tanggung jawab dan resikonya. struktur pengelola unit BLUD dapat berasal baik dari pegawai negeri sipil (PNS) maupun non-PNS. Bila personalia pengelola BLUD merupakan PNS. Menurut Permendagri No.61/2007. tanggung jawab dan resikonya. pada faktanya sebagian besar personalia dari pengelola BLUD sekarang ini merupakan aparatur pemerintah (PNS). Remunerasi pada intinya dapat fleksible sesuai dengan profesionalisme. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . maka berpotensi untuk mengarah pada benturan dengan jumlah SKPD yang diijinkan menurut peraturan yang ada. maka pembentukan SKPD ini juga berpotensi untuk meniadakan salah satu SKPD yang sudah ada sekarang ini. pendapatan selain dari pendapatan hibah yang tidak mengikat. Sedangkan pungutan jasa dan hasil kerjasama dengan pihak lain akan masuk menjadi penerimaan daerah yang mengikuti pola yang ada. Unit organisasi BLUD dibawah kendali seorang pimpinan. juga mendapatkan tambahan remunerasi sesuai dengan profesionalisme. Sehingga terjadi peluang bahwa dari sisi kebutuhan organisasi membutuhkan dukungan operasional yang tinggi tetapi dari sisi personalia tidak memungkinkan karena statusnya sebagai PNS. disamping menerima gaji pokok dan tunjangan sesuai ketentuan tentang PNS. Unit kerja seperti puskesmas atau tempat rekreasi tidak tertutup kemungkinan ditingkatkan statusnya sebagai BLUD. dapat dikelola langsung untuk membiayai pengeluaran BLUD sesuai dengan RBA. Berdasarkan peraturan yang ada.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Contoh dari SKPD dengan status BLUD adalah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD). Sementara pertanggungjawaban yang bersifat hibah sesuai dengan peruntukannya. Pertanggungjawaban dari pemanfaatan sumber pendanaan berbedabeda menurut sumbernya. Merujuk pada peraturan yang ada. maka pertanggungjawaban mengikuti mekanisme pemanfaatan dana APBD.Pemanfaatan sumber pendanaan dari APBD dan APBN. Hibah yang tidak mengikat. Hal lain yang perlu dicatat adalah bila BLUD menjadi bentuk SKPD tersendiri. sumber pendanaan BLUD juga mencakup (d) hasil kerjasama dengan pihak lain. maka sumber pendanaan BLUD meliputi :a.

5/1962 pemanfaatan hasil keuntungan perusahaan daerah ditujukan untuk (a) dana pembangunan daerah. Berdasarkan UU No. (b) anggaran belanja daerah dan (c) untuk cadangan umum. Permendagri tersebut menyatakan bahwa BUMD yang berbadan hukum PD tunfuk pada undang-undang yang berlaku. jasa produksi. Perusahaan Daerah Perusahaan Daerah (PD) merupakan salah satu bentuk badan hukum Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) (Permendagri No.5/1962 tetap berlaku. Besarnya alokasi masing-masing komponen tesebut tergantung modal PD milik satu daerah atau milik dari beberapa daerah (Bab XIII pasal 25). Sebenarnya UU No. Secara umum. Tetapi dalam salah satu klausul UU No. menuju masyarakat yang adil dan makmur. 5/1962 telah dicabut dengan dikeluarkannya UU No. Pasal 25 ayat 4 menyatakan bahwa penggunaan laba untuk cadangan umum bilamana telah tercapai tujuannya dapat Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . Modal Perusahaan Daerah terdiri untuk seluruhnya atau untuk sebagian dari kekayaan Daerah yang dipisahkan. Artinya tidak semuanya dapat digunakan untuk rekapitulasi usaha bila tidak disertai peraturan khusus dari kepala daerah tentang pemanfaatan ini. sosial dan pendidikan. maka pemanfaatan keuntungan dari PD harus masuk melalui mekanisme PAD yang menjadi bagian APBD.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 3.3/1998). kecuali jika ditentukan lain dengan atau berdasarkan Undang-undang. Sehingga UU No.5/1962. sumbangan dana pensiun dan sokongan. Bila merujuk pada aturan yang ada.31998 tentang BUMD meyebutkan secara eksplisit bahwa keuntungan dari PD merupakan salah satu sumber PAD (pasal 7). Permendagri No.6/1969 dinyatakan bahwa undang-undang yang lama tetap berlaku bila belum terdapat undang-undang pengganti. Rujukan undang-undang tentang PD adalah UU No. berdasar UU No.40 .5/1962 ini yang dimaksud Perusahaan Daerah ialah semua perusahaan yang didirikan berdasarkan Undang-undang ini yang modalnya untuk seluruhnya atau untuk sebagian merupakan kekayaan Daerah yang dipisahkan.6/1969 tentang pencabutan UU No. sedangkan yang berbentuk perseroan terbatas (PT) tunduk pada undang-undangnya. Tujuan Perusahaan Daerah ialah untuk turut serta melaksanakan pembangunan Daerah khususnya dan pembangunan ekonomi nasional umumnya dalam rangka ekonomi terpimpin untuk memenuhi kebutuhan rakyat dengan mengutamakan industrialisasi dan ketenteraman serta kesenangan kerja dalam perusahaan.5/1962 tentang Perusahaan Daerah.

pemakaian dan penyaluran. Namun peraturan ini menyebutkan bahwa bagian terbesar dari saham Perseroan Terbatas dimiliki oleh Pemerintah Daerah dan Perusahaan Daerah. Perusahaan Daerah.3/1998). Dimana saham dalam PT yang terbentuk dapat dimiliki oleh Pemerintah Daerah. swasta dan masyarakat (pasal 8).41 . keagenan. dimana PT berhak untuk menerbitkan saham untuk mendapatkan tambahan modal. Sesuai dengan UU No. pembelian saham. kontrak.4/2000 yang mencabut Permendagri No. Secara spesifik bahkan dinyatakan bahwa pada perusahaan daerah yang tidak menghasilkan laba seperti tersebut diatas disebabkan karena pertimbangan dan kebijaksanaan Pemerintah Daerah dapat juga diberi jasa produksi yang ditentukan oleh Pemerintah Daerah.4/1995 tentang petunjuk pelaksanaanyya.4/1990 mengijinkan adanya kerjasama perusahaan daerah dengan pihak ketiga. Tetapi dengan diterbitkannya No.4/1990.3/1998 bahkan menyebutkan bahwa kepala daerah (termasuk Bupati) dapat merubah bentuk hukum Perusahaan Daerah (PD) menjadi PT. Artinya bila memang kelembagaan kawasan sentra minapolitan diharapkan untuk dapat melakukan rekapitulasi diperlukan peraturan khusus tentang kepala daerah tentang pemanfaatan keuntungan ini. Permendari No. termasuk Permendagri Permendagri No. yang tunduk pada undang-undang tentang PT. maka sebagai konsekuensinya adalah komposisi ini bisa berubah ketika saham diluar kepemilikan pemerintah menjadi lebih besar. Artinya harus selalu diusahakan bahwa porsi kepemilikan saham pemerintah merupakan saham mayoritas (pengendali) dengan jaminan pada pengendalian arah kebijakan perusahaan. Demikian pula cara mengurus dan penggunaan dana penyusutan dan cadangan tujuan ditentukan oleh kepala Daerah/pemegang saham/saham prioritet. Bila kepemilikan saham diluar pemerintah lebih Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII .Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor dialihkan kepada penggunaan lain dengan keputusan Pemerintah Daerah yang mendirikan. 4.40/2007 tentang perseroan terbatas. Kerjasama ini diantaranya dalam bentuk kerjasama manajemen. Perseroan Terbatas (PT) juga merupakan salah bentuk BUMD (Permendagri No. Sehingga PD tidak diperbolehkan lagi untuk bekerjasama dengan pihak ketiga dalam bentuk seperti yang disebutkan diatas. penjualan saham dan obligasi (go public) maupun bentuk-bentuk kombinasinya. Perseroan Terbatas (PT) Seperti halnya PD. Pada awalnya sesuai dengan Permendagri No. obligasi dari PT.

Hal ini akan bisa dilakukan bila didasarkan pada input pengambilan kebijakan yang valid. Pengelolaan Berbasis Masyarakat (PBM) Pengelolaan Berbasis Masyarakat (PBM) adalah suatu kelembagaan yang dibentuk dan dikembangkan berdasarkan inisiatif dari masyarakat. walaupun terdapat tokoh individual yang memenuhi kriteria tersebut tetapi tidak mendapatkan dukungan dari komunita lainnya juga tidak bisa berjalan dengan baik. Namun demikian persoalan ini menjadi lebih rumit. bila pengendali saham adalah swasta. Salah satu bentuk badan hukum pengelolaan kawasan sentra minapolitan dengan semangat ini adalah koperasi Secara praktis. maka dalam jangka panjang bisa menabrak rambu-rambu ini. Kondisi ini menunjukan perlunya tambahan saham dari pemerintah. persoalan ini menjadi sangat krusial mengingat bahwa kapasitas masyarakat seringkali tidak memadai baik secara individual maupun kolektif. Merunut kembali pada tujuan pengembangan minapolitan yang diarahkan pada meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang sebesar-besarnya. homogenitas pandangan individu-individu Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . Pada PBM. Bahkan tidak jarang yang terjadi. Keengganan masyarakat untuk melaporkan terjadinya pelanggaran pada pengelolaan sumberdaya walaupun tingkat modal sosial yang menggambarka jejaring sosial menjadi salah satu faktor kegagalan ini. sebab peraturan ini tidak memuat pasal yang memberikan penjelasan secara jelas apakah penambahan penyertaan modal dapat dilakukan melalui pengadaan dana dari APBD setempat.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor besar dari saham yang dimiliki oleh pemerintah maka kendali kebijakan perusahaan tidak lagi berada pada pemerintah. Pada PBM ini. Bodin and Crona (2007) menyatakan bahwa adanya modal sosial dan kepemimpinan merupakan prasyarat penting dalam pengelolaan sumberdaya. Pola kelembagaan ini memunculkan dua kemungkinan yaitu berjalan efektif bahkan sebaliknya berjalan sangat tidak efektif dan berpotensi terjadi salah pengelolaan (mismanagement). pengelolaan akan berjalan efektif dan lebih baik bila didrive dari kebijakan yang benar yang diturunkan dalam kebijakan operatif yang memadai. kuat dan visioner. B.42 . Sebab orientasi pengelolaan kawasan sentra minapolitan tidak menjadi bagian service yang diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan minapolitan tetapi meningkatkan keuntungan yang sebesar-sebesarnya bagi PT pengelola kawasan sentra minapolitan. Pada sisi lain. pengambilan keputusan dilakukan pada tingkat komunitas/masyarakat yang mempunyai hak pada bidang pengelolaan sumberdaya termasuk kawasan sentra minaploitan.

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor kunci harus dimaknai secara hati-hati karena berpotensi untuk melihat permasalah secara seragam sehingga kurang bisa mengenali perubahan ekologis.43 . mengakar dan efisien. tetapi tidak dalam kondisi penuh atau maksimal. hal ini membutuhkan prasyarat kelembagaan yang sangat kuat. PBM akan berjalan efisien ketika mendapat dukungan kualitas pengelolaan yang kuat. Hal ini bisa berdampak pada dominannya salah satu individu atau sekelompok kecil individu dalam membentuk opini. Pada praktisnya. dari sisi pendanaan operasional. pola pembentukan ini mulai diintroduksi ketika sistem sosial komunitas (pesisir termasuk nelayan) masih mengerucut dengan tingkat ketokohan lokal yang kuat. Beberapa kasus merujuk regim pengelolaan di luar negeri seperti pengelolaan perairan di Jepang yang berbasis komunitas (misalnya koperasi nelayan). pengambilan keputusan mempunyai legitimasi yang kuat secara sosio-kultural. Pada tataran praktis. Sehingga lembaga dalam pengertian organisasi pengelola akan mampu mengoperasikan fungsi-fungsi pengelolaan dengan baik. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . Apabila akan dikelola secara PBM. pengambilan keputusan dan aksi yang diperlukan. karakteristik masyarakat. walaupun secara filosofis dan ideologis pengelolaan PBM adalah merupakan kondisi ideal pengelolaan sumberdaya termasuk kawasan lindung. diikuti peraturan operasional dibawahnya. pemanfaatan maupun distribusi benefit baik untuk biaya pengelolaan maupun keuntungan pengelolaan. adanya penyertaan aset dari pemerintah dalam kawasan minapolitan. tetapi semangat dan filosofi ini perlu dikembangkan dalam pengelolaan. Sehingga. bentuk penyertaan ini harus tertuang secara jelas kemudian pengelolaanya juga harus dipertanggungjawabkan secara jelas. Secara legal pengelolaan dengan pola ini di Jepang mempunyai dua dukungan peraturan setingkat undang-undang yaitu Undang-Undang Perikanan dan Undang-Undang Koperasi Nelayan. Namun demikian. Secara sosiologis. Hal ini dilakukan dengan mengadopsi konsep keterlibatan masyarakat. bentuk Walaupun pada tataran operasional hal ini diduga masih sulit dilakukan pada kasus pengelolaan kawasan lindung Pamurbaya. tetapi karena besarnya kendala operasional pengelolaan maka konsep ini jarang sekali digunakan di Indonesia. Pada sisi lain. Baik dalam aspek pemeliharaan aset. juga memerlukan administrasi pertanggungjawaban yang akuntabel sehingga tidak menimbulkan permasalahan legal di kemudian hari.

penataan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . konsepsi tentang co-management pun bervariasi tergantung pada posisi tawar serta kapabilitas masing-masing stakeholder yang beinteraksi yaitu pemerintah dan masyarakat. Prinsip-prinsip tersebut perlu menjadi catatan.al. (2) Kuatnya kontrol lokal. akan bermuara pada dukungan komunitas lokal yang baik. Bentuk interaksi ini menghasilkan tingkat sharing (kekuatan dan dukungan) yang bervariasi seperti diuraikan oleh beberapa ahli seperti Pomeroy (1995). biasanya sulit mendapatkan hasil maksimal. yaitu masyarakat secara penuh pada satu sisi dan pemerintah secara penuh pada sisi yang lain. agar proses interaksi antara pemerintah dapat berjalan dengan baik dan mendukung efektivitas dan efisiensi pengelolaan. Oleh karena itu. (4) Proses yang terencana. Pengelolaan Ko-Manajemen (Co-Management) Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa kutub pengelolaan sumberdaya dapat bergerak pada dua titik ekstrim. (1991). Carlson and Berkes (2005). Interaksi antar dua kutub tersebut menghasilkan pola kelembagaan interaktif masyarakat dan pemerintah yang disebut ko-manajemen. Implementasi pola pengelolaan seperti telah disebutkan diatas membutuhkan dukungan dan kapasitas kelembagaan (perangkat peraturan dan organisasi) yang sangat kuat. Bila prasyarat ini tidak dipenuhi. kerjasama. kemudian komunikasi. Pilihan bentuk kelembagaan pengelolaan kawasan minapolitan perlu diarahkan untuk mendorong persyaratanpersyaratan tersebut dipenuhi. (3) Dukungan komunitas. (5) keberagaman substansi dan benefit bagi stakeholder. konsultatif yang condong pada kutub government base. Walaupun dalam beberapa kasus aka sulit dilakukan. ketika bentuk co-management menjadi pilihan.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor C. Berkes et. bukan hanya sekelompok stakeholder. tetapi semangat melibatkan masyarakat lokal dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan. Bentuk-bentuk ini bervariasi dari mulai sekedar informatif. dan (6) Penataan kelembagaan yang menyeluruh (holism).44 . Pada faktanya. Hal ini bisa diperoleh bila gain adanya kawasan tersebut dapat terdistribusi dengan baik kepada stakeholder. Noble (2000) menyatakan bahwa terdapat 6 prinsip secara kelembagaan yang mendukung efektivitas co-management pengelolaan sumberdaya yaitu (1) adanya organisasi yang interaktif. sampai bentuk joint action pada tingkat posisi tawar dan kapabilitas yang sama ataupun bergerak ke communication control dan inter area coordination yang condong ke masyarakat (lihat gambar berikut).

Permasalahan muncul terkait dengan akuntabilitas bila pengelolaan berbasis anggaran pemerintah setempat. Hirarki Co-Management (Setelah Berkes) Sumber : Pomeroy (1995).21. Hal ini tentunya memnbutuhkan asesmen kesiapan baik dari sisi pemerintah maupun masyarakat. Dimana perwakilan masyarakat akan ditempatkan sesuai dengan level hirarki co-management yang aka diaplikasikan.45 . Gambar 7. ditujukan untuk memberikan ruang bagi swasta untuk berpartisipasi terhadap prosesproses pembangunan. antara instansi pemerintah dengan badan usaha/pihak swasta.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor kelembagaan secara keseluruhan menjaadi penting yang menguatkan kapasitas baik pada tingkat komunitas maupun pemerintah. Kerjasama Pemerintah Swasta (Public Private Partnership Operation ) Kerjasama Operasi Swasta-Pemerintah (PPP = Public-private partnership operation). Pelibatan masyarakat dalam struktur kelembagaan perlu dilakukan dengan hati-hati. mengingat bahwa sistem pelaporan terhadap pemanfaatan APBD mempunyai struktur baku. dimana : a) pihak swasta melaksanakan sebagian fungsi pemerintah selama waktu tertentu. D. Pengertian Public-Private Partnerships (Kerjasama Pemerintah dengan Swasta/KPS)Suatu Perjanjian Kerja Sama (PKS) atau Kontrak. sehingga mendorong swasta untuk berhati-hati dan bekerja dengan efisien. PBB (2008) menyatakan bahwa adanya PPP menggeser resiko yang biasanya ditanggung oleh pemerintah kepada sector swasta. b) pihak swasta menerima Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII .

simpler dan better. dengan keterlibatan pihak swasta untuk jangka waktu tertentu. DesignBuild-Finance-Operate (DBFO). maka kegiatan atau proses pembangunan dapat tercapai. bentuk-bentuk kerjasama ini masih didominasi pada pengadaan dan operasionalisasi aset infrastruktur misalnya jalan tol. Berdasarkan polanya. Tujuan dari penerapan kerjasama pemerintah-swasta sangat beragam mulai dari mendapatkan dana investasi. dan UNECE telah menyusun prinsip-prinsip tata kelola (good governance) PPP sebagai berikut (UNECE. Secara teoritis. pertanggung jawaban. Operation License. efisiensi.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor kompensasi ataspelaksanaan fungsi tersebut. Build-Operate-Transfer (BOT). transparansi. Build-Own-Operate (BOO). Namun pada faktanya di Indonesia. operasi aset sampai pengadaan infrastruktur. PPP harus juga memenuhi standar-standar good governance yang dipersyaratakan seperti partisipasi. Finance Only. Sehingga prinsipprinsip dalam PPP harus memenuhi standar-standar tersebut. santun (decency). monitoring dan evaluasi sampai pada bentuk kelembagaan operasionalnya. lahan atau aset lainnya dapat diserahkan atau digunakan oleh pihak swastas selama masa kontrak. Seperti halnya kebijakan public lainnya. 3. kontrak kerjasama ini sangat beragam. Build-Own-Operate-Transfer (BOOT). Waktu kontrak bisa mencapai 30 tahun berdasarkan kebutuhan. Bersandar pada kebijakan (policy) 2. efisiensi dan pembangunan berkelanjutan. Meningkatkan Legal Framework (Improving legal framework) dalam pengertian fewer. 4. mulai jasa. keadilan. dan d) fasilitas pemerintah. Pengembangan Kapasitas (capacity building) baik skill. c) pihak swasta bertanggungjawab atas resiko yang timbul akibat pelaksanaan fungsi tersebut. Berdasarkan cara ini.46 . Spektrum model PPP termasuk sebagian dari bentuk-bentuk PPP dapat dilihat dalam gambar berikut. Design-Build (DB). 2008) : 1. transparansi. Operation & Maintenance Contract (O & M). sampai dengan pembukaan lapangan kerja. baik secara langsungmaupun tidak langsung. Misalnya bentuk-bentuk penyertaan aset pada pengelolaan. Risk Sharing yang mencakup nilai cooperative sharing dan mutual support Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . akuntabilitas. terdapat beberapa bentuk operasi PPP (UNECE. 2008) seperti Buy-Build-Operate (BBO). Build-Lease-Operate-Transfer (BLOT). Sehingga pengoperasian pengelolaan KLM Pamurbaya dengan pola seperti ini memerlukan banyak penelaahan terutama dari sisi legal. kelembagaan maupun pelatihan.

Perlunya kapasitas pengelola setigkat SKPD yang dapat melampui jumlah maksimal SKPD yang diijinkan oleh peraturan yang ada. Fleksibilitas perencanaan dan pemanfaatan anggaran lebih baik dari SKPD/UPTD 1. 7. Fleksibilitas perencanaan dan pemanfaatan anggaran lebih baik dari UPTD 3.47 . No. Kejelasan sumber anggaran belanja pokok 3. Procurement yang transparan. Ketersediaan personalia pendukung dari aparatur pemerintah 4. (seperti jasa dan hibah) akan menurunkan kinerja pembiayaan program. Berorientasi lingkungan yang bersifat ramah (green case). Tidak diijinkan kerjasama membentuk perserikatan dengan pihak ketiga 4.16. Sampai sekarang. Jaminan pemanfaatan keuntungan usaha untuk rekapitalisasi usaha 2. Kegagalan untuk menggali sumber-sumber pendanaan selain APBD. Kontrol dan pelaporan hanya kepada otoritas kepala daerah 3. Struktur dan eselonisasi pejabat jelas 2. 1. Berdasarkan uraian diatas dapat disusun tabel yang menggambarkan kelebihan dan kekurangan bentuk organisasi pengelola. 4. Kejelasan sumber anggaran belanja 3. Perseroan Terbatas Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . pola PPP di Indonesia baru diaplikasikan untuk infrastruktur jalan. Kurang fleksible terhadap kebutuan pengelolaan 3. tapi implementasi di Indonesia masih terkendala dengan kebijakan pemerintah. 2. Meletakan (kepentingan) Masyarakat sebagai hal pertama (Putting people first) dalam bentuk pemberian informasi. Walaupun secara teoritis cukup menguntungkan. 1. 1. Diluar infrastruktur tersebut masih belum diaplikasikan konsep ini. netral dan tidak diskriminatif. Potensi Kelebihan dan Kekurangan Pilihan Bentuk Organisasi Pengelola KLM Pamurbaya. Adanya potensi overlap dan konflik kepentingan antar SKPD yang terkait. Bentuk Badan Hukum Organisasi UPTD Kelebihan 1. BLUD 1. Akuntabilitas pengelolaan aset dan struktur kelembagaanya. 2. Kinerja dan ritme kerja personalia mengikuti pola reward and punishment PNS yang belum tentu cukup untuk kebutuhan pengelolaan. 6. Tidak adanya jaminan kebijakan 2. Perusahaan Daerah 1. Tabel 7. adanya peran pemerintah (government role) dan distribusi manfaat (belivery of benefit) yang baik dan adil. Kejelasan sumber anggaran belanja pokok 3. 3. Perencanaan sentralistik dan government base 4.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 5. seperti terlihat dalam tabel berikut. Struktur dan eselonisasi pejabat jelas (rujukan legal 2. Struktur dan eselonisasi pejabat jelas (rujukan legal 2. jembatan dan pelabuhan. akuntabilitas dan digalangnya dukungan. Kinerja dan ritme kerja mengikuti pola reward and punishment PNS 1. Ketersediaan personalia pendukung dari aparatur pemerintah 4. Pertanggungjawaban anggaran harus mengikuti tertib administrasi yang baku 5. Tidak adanya jamina dukungan dari masyarakat terutama terkait dengan suplai bahan baku karena kepemilikan masyarakat tidak ada. Ketersediaan personalia pendukung dari aparatur pemerintah Kekurangan 1. Fleksibilitas perencanaan dan 4.

6. Bentuk Badan Hukum Organisasi (PT) Kelebihan pemanfaatan anggaran lebih baik dari SKPD/UPTD 2. Arahan pengelolaan bisa menjadi lebih baik bila ada sumber atau pihak yang mempunyai kapasitas lebih baik. 2. BLUD dan Koperasi. dan dilakukan secara akuntabel dan transparan untuk mengindari klaim dari pihak lain. Pilihan-pilihan tersebut memerlukan catatan tersendiri dalam bentuk tindakan kebijakan pimpinan daerah untuk Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . Pengambilan keputusan berlarut-larut bila kapasitas masyarakat tidak cukup. Agar tetap menjadi pemegang saham pengendali terdapat potensi haru meningkatkan saham penyertaa setiap waktu tertentu. 4. Kontrol dan monitoring lebih baik. Akuntabilitas penyertaan aset daerah kepada pengelola. Beban pembiayaan bisa sharing pemerintah dengan swasta. PBM (Koperasi) 1. Akuntabilitas pemilihan partner harus baik. maka pilihan alternatif kelembagan pengelola sentra minapolitan meliputi bentuk-bentuk : Perusahaan daerah (PD). Sumber : Hasil analisis. Adanya dukungan anggaran pemerintah pada programprogram dasar sesuai perencanaan daerah 1. Perlu ketetapan jangka waktu tertentu dan review atas kerjasama 3. perseroan terbatas (PT). Kontrol terhadap pengelolaan aset perlu kuat dan mengikuti rambu-rambu peraturan dan tujuan pengembangan kawasan minapolitan. dan efisien bila partner mempunyai kapasitas yang cukup. Disyaratkan kesiapan dan kecukupan kapasitas masyarakat dan pemerintah 2. 2. Pengambilan keputusan bisa cepat dan rasional 7. tujuan dan semangat pengembangan kawasan minaploitan. Sesuai dengan analisis pada tabel diatas serta dikaitkan dengan azas. 3. Public-Private Partnership (PPP) 1. Pengambilan keputusan bisa memerlukan proses yang cukup lama bila kapasitas pemerintah dan masyarakat tidak sama. 3. Dukungan masyarakat dan stakeholder tinggi.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor No. Memungkinkan untuk mendapatkan dana penyertaan dari masyarakat dan swasta Kekurangan operasional perseroan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat ketika pemerintah tidak menjadi pemegang saham pengendali. Sumber pembiayaan untuk mempertahankan saham pengendali apakah memungkinkan dari APBD 1. Pengambilan keputusan bisa lebih cepat bila kapasitas masyarakat (koperasi) cukup. 5. 2. 4. 1. 4. 3. 3. 4. Sulitnya mendapatkan dukungan dan akuntabilitas anggaran 4. Dukungan stakeholder tinggi (baik pemerintah maupun masyarakat) 2. 2. sehingga memerlukan asesmen yang tepat. 2010. Keterlibatan masyaarakat/swasta tinggi. Co-management 1. Sumber pembiayaan tidak hanya tergantung dari pemerintah 3. baik dari pemerintah maupun masyarakat. Kebiasaan yang terjadi di Indonesia masih didasarkan pada kerjasama bidang infrastruktur. Range hirarki tingkat Co-management pengelolaan luas. Akuntabilitas penyertaan aset daerah pada pengelola 2. Keterjangkauan program berdasar kebutuhan pengelolaan dan masyarakat sekitar 3. 5. Operasional pengelolaan bisa lebih akuntable. Kontrol dan arah pengelolaan bisa salah bila kapasitas masyarakat tidak cukup.48 . Kurangnya kapasitas masyarakat dalam proses pengelolaan secara umum 3.

Alternatif Daftar Pendek Pilihan Kelembagaan Pengelola Kawasan Sentra Minapolitan No.17. Tabel 7. Bentuk Badan Hukum Organisasi Perusahaan Daerah (PD) Catatan Perlu adanya komitmen yang tertuang dalam kebijakan pimpinan daerah bahwa keuntungan digunakan untuk rekapitulasi pengembangan fungsi kawasan sentra minapolitan dalam rangka mencapai tujuan pengembangan minapolitan secara umum Perlu asistensi manajerial dan sistem pengawasan yang kuat serta pembentukan AD/ART yang menjamin arah kebijakan organisasi untuk pengembangan fungsi kawasan sentra minapolitan dalam rangka mencapai tujuan pengembangan minapolitan secara umum Bila tidak menimbulkan permasalahan yang terkait dengan profesionalisme manajerial. Koperasi 3. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII .49 . serta tetap menjamin tujuan dan fungsi kawasan minapolitan secara umum. BLUD 4. etos kerja dan sistem merit pengelola serta potensi overlaping SKPD sesuai peraturan yang ada. 2. 1. Bisa diterapkan bila pemerintah (langsung maupun melalui PD) dan masyarakat budidaya di daerah bisa menjadi pengendali kebijakan perusahaan yang berorientasi pada fungsi kawasan sentra minapolitan dalam rangka mencapai tujuan pengembangan minapolitan secara umum. Perseroan Terbatas (PT) Catatan untuk untuk bentuk kelemmbagaan adalah pilihan tersebut harus tetap mengikuti rambu-rambu peraturan yang ada sehingga tidak menimbulkan permasalahan hukum di kemudian hari.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor mengamankan tujuan pembentukan kawasan minapolitan seperti tertuang dalam tabel berikut.

Dengan visi ini diharapkan kawasan minapolitan dapat bermanfaat secara optimal dan berkelanjutan yang ditujukan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat dan menjadi kebanggaan bagi masyarakat Kabupaten Bogor. Berdasarkan hasil penggalian aspirasi dan hasil agregasi potensi. pendederan. pengolahan sampai pada pemasaran. Minapolitan diharapkan juga menjadi pusat sarana informasi.STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KAWASAN MINAPOLITAN 8 8. Dalam rangka mewujudkan visi tersebut maka misi yang akan dijalankan adalah: 1) Mengembangkan Sentra Produksi Komoditi Unggulan . isu dan permasalahan dari data sekunder dan penelitian lapang. hendaknya juga dapat memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat lainnya yang berada dalam kawasan tersebut melalui kegiatan-kegitan lain baik yang terkait secara langsung maupun yang tidak langsung dengan minapolitan. maka pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Bogor adalah : “TERWUJUDNYA KAWASAN MINAPOLITAN SEBAGAI PUSAT PENGEMBANGAN KEGIATAN PERIKANAN BUDIDAYA UNTUK KESEJAHETRAAN MASYARAKAT” Pernyataan tersebut mengandung makna bahwa : Pusat Kegiatan Perikanan Budidaya berarti bahwa diharapkan kawasan minapolitan di Kabupaten Bogor menjadi pusat kegiatan perikanan budidaya dari mulai pembenihan. Visi dan Misi Visi merupakan ungkapan keinginan atau harapan atau pandangan masa depan yang ingin dicapai semua pihak yang terkait (stakeholders) terhadap pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Bogor. Kesejahteraan Sejahtera berati bahwa pengembangan kawasan minapolitan selain harus meningkatkan pendapatan dari pembudidaya dan pengolah ikan .1. pembesaran. Disamping itu pengembangan kawasan minapolitan juga harus dapat menjadi rujukan maupun pendorong bagi pengembangan sector-sektor lain didaerah tersebut. pendidikan dan pelatihan kegiatan perikanan budidaya.

Strategi Pengembangan Sentra Produksi Komoditi Unggulan Strategi Pengembangan Sentra Produksi Komoditi Unggulan merupakan strategi yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas komoditi unggulan.2 . maka berikut ini adalah beberapa strategi dan arah kebijakan yang akan ditempuh dalam pengembangan kawasan minapolitan. Strategi dan Arah Kebijakan Pengembangan Minapolitan Dengan memperhatikan isu dan permasalahan dan harapan.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 2) Mengembangkan Jaringan Pemasaran Berbasis Teknologi Informasi 3) Mengembangkan Kawasan Minapolitan Sebagai Kawasan Minaeduwisata 4) Mengembangkan Pengolahan Produk Ikan Lele 5) Mengembangkan Pusat Pelayanan Kawasan (Sentra Minapolitan) 6) Mengembangkan Infrastruktur Dasar. Mengidentifikasi upaya upaya yang dapat dilakukan untuk peningkatan daya saing lele minapolitan dengan peningkatan kualitas produksi dan pembentukan merk/branding lele bogor dengan kualitas sebagai berikut: (i) bebas antibiotik. yaitu: a. sehingga kualitas dan kuantitas induk dapat terkontrol.1. dalam hal ini komoditi Ikan Lele sehingga produksinya dapat bersaing di pasaran. Program ini didasari atas dasar permasalahan dalam hal kualitas induk dan benih yang masih rendah. Bank induk memperoleh keuntungan dari pembayaran sewa indukan. Program peningkatan kuantitas dan kualitas induk dan benih. 8. Infrastruktur Perikanan. Dengan demikian daya saing lele Bogor dapat meningkat dan mempermudah pemasaran lele Bogor. dan Wisata 7) Mengembangkan Sistem Kelembagaan minapolitan 8) Mengembangkan Pembiayaan minapolitan 8. (iii) dipelihara tanpa menggunakan kotoran. b. c.2. dan lain-lain. serta untuk mencapai visi dan misi pengembangan kawasan Minapolitan di Kabupaten Bogor. (ii) bebas bau lumpur. sehingga program yang perlu dilakukan adalah pembentukan bank induk ikan air tawar : pembenih dapat menyewa induk siap suntik dari bank induk dengan sistem sewa. Program Peningkatan Kapasitas Sumberdaya Manusia. Berikut ini adalah beberapa program yang dapat dilakukan dalam rangka untuk mencapai strategi tersebut di atas.2. latar belakang keluarnya program ini adalah karena selama ini kualitas sumberdaya manusia yang bergerak Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VIII . baik lokal maupun luar daerah.

2. penyakit ikan. Aktivitas program pengembangan ini meliputi perencanaan paket wisata kawasan minapolitan yang diarahkan pada edutourism (wisata pendidikan) dan wisata kuliner. Pusat pelatihan budidaya dan pengolahan ikan. Persaingan harga dengan daerah lain merupakan permasalahan utama bagi para pelaku usaha kegiatan budidaya lele. sehingga petani ikan bisa melakukan strategi kapan mereka memanen. tetapi juga ditunjang oleh kegiatan lain yang sinergis dengan kegiatan perikanan budidaya. Kegiatan pengembangan minawisata ini juga didukung dengan pengembangan wisata perikanan lain yang berada di kawasan minapolitan. Paket wisata kuliner ditujukan kepada pengunjung yang ingin menikmati hasil olahan lele. d. maka program Dengan melihat latar utama dalam menjawab strategi Pengembangan Jaringan Pemasaran Berbasis Teknologi Informasi adalah : a. dan analisis proksimat pakan.2. Pembentukan pusat informasi budidaya yang didalamnya terdapat laboratorium kualitas air. harga tidak bisa bersaing serta kurangnya diversifikasi pasar. Program Pengembangan Sumberdaya manusia 8.2. Program Pengembangan Pusat Informasi Pasar b. 8. pusat riset/test farm budidaya untuk demplot teknologi dan komoditas terbaru budidaya. dan pusat data hasil perikanan minapolitan. Strategi Pengembangan Kawasan Minapolitan sebagai Kawasan Wisatamina Pengembangan kawasan minapolitan tidak hanya terfokus pada kegiatan pengembangan perikanan budidaya. mereka harus bersaing dengan daerah-daerah lain untuk menjual produk mereka ke Jakarta. sehingga perlu peningkatan kapasitasnya dengan melakukan pendidikan dan pelatihan dalam kegiatan budidaya perikanan. Pakat wisata pendidikan meliputi kegiatan budidaya (pembenihan dan pembesaran lele) sampai pada kegiatan pengolahan lele baik ditingkat sentra pengolahan maupun industri rumah tangga.3.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor dalam kegiatan budidaya masih sangat rendah. belakang tersebut. yaitu kegiatan wisatamina. Akar permasalahan dari persaingan harga ini adalah tidak adanya pusat informasi yang akurat yang memberikan informasi harga di pasaran kepada para petani ikan. dan kemana mereka akan menjual produksinya. Berikut ini adalah beberapa program yang dapat dijalankan yang berikaitan dengan Strategi Pengembangan Kawasan Minapolitan Sebagai Kawasan Wisatamina: Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VIII .3 . Strategi Pengembangan Jaringan Pemasaran Berbasis Teknologi Informasi Hasil identifikasi isu dan permasalahan aspek pemasaran adalah antara lain pasar persaingan antar daerah.

Dengan demikian daya saing lele Bogor dapat meningkat dan mempermudah pemasaran Lele Bogor. Program pengembangan produk olahan ikan dengan mengunakan lele sebagai bahan substitusi. 8. Strategi Pengembangan Pusat Pelayanan Kawasan (Sentra Minapolitan) Dalam rangka untuk menjalan fungsi sebagai pusat pelayanan kawasan (minapolis) di Kecamatan Ciseeng diperlukan beberapa program untuk mendukung strategi tersebut. Strategi lainya adalah peningkatan daya saing produk lele minapolitan dengan peningkatan kualitas produksi dan pembentukan merk/branding lele bogor dengan kualitas sebagai berikut: (i) bebas antibiotik.4 . showroom. training center.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor a. b.2. Program Pengembangan Industri Rumah Tangga b. café dan restoran serta fasilitas pendukung lainnya. guest house. yaitu: a. (ii) bebas bau lumpur. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VIII .4. Pengembangan home industry pendukung kegiatan minawisata 8. program pengembangan kegiatan pendidikan dan pelatihan menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan informal mengenai bagaimana proses pembenihan yang baik. Strategi Pengembangan Pengolahan Produk Ikan Lele Strategi pengembangan pengolahan produk Ikan Lele diarahkan untuk meningkatkan mutu dan kualitas serta deversifikasi produk komoditi unggulan yaitu Ikan Lele. Pembangunan dan pemeliharaan jalan wisata dan jalan produksi d. Program-program yang dapat dilakukan dalam rangka untuk menjawab strategi pengembangan pengolahan hasil budidaya lele adalah sebagai berikut a. Program pengembangan sebagai pusat pendidikan dan pelatihan. Program Pengembangan Industri Berbasis Sumber Daya Lokal c. VIC.2. proses kegiatan budidaya yang baik serta menyusun modul dan kurikulumnya.5. Pembangunan dan peningkatan fasilitas umum pendukung kegiatan minawisata b. dan lain-lain. Program pengembangan sentra kawasan minapolitan lele. Perencanaan dan pengembangan atraksi paket minawisata c. program ini meliputi sentra perkantoran. (iii) dipelihara tanpa menggunakan pakan limbah. Promosi paket minawisata e.

Strategi Pengembangan Pembiayaan Salah satu permasalahan dalam pengembangan kegiatan Minapoloitan bedasarkan hasil FGD adalah permasalahan keterbasatan modal. pembesaran). Strategi Pengembangan Infrastruktur Dasar Dan Infrastruktur Perikanan Strategi pengembangan infrastuktur dasar dan infrastuktur perikanan adalah salah strategi yang penting dalam pengembangan kegiatan minapolitan. Peningkatan kualitas dan pelayanan sarana dan prasarana transportasi. Bank memperoleh keuntungan berupa bunga (sistem bank Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VIII . Strategi ini adalah strategi yang dapat mendukung strategi strategi lainnya.8. sehingga pengembangan strategi ini tidak terlepas dengan strategi lainnya dalam pengembangan kawasan minapolitan. Beberapa program yang dapat dilakukan dalam rangka Pengembangan Infrastruktur Dasar Dan Infrastruktur Perikanan adalah sebagai berikut: a. pengolah dan pemasaran. Penyusunan kelembagaan pengelola sentra/kawasan minapolitan b. Peningkatan Sarana Pelayanan Pendukung Kegiatan bisnis Perikanan. Bank membantu pembiayaan namun untuk pengadaan barang tetap berasal dari penjual input produksi. Beberapa strategi yang dapat dilakukan adalah pembentukan bank budidaya/koperasi budidaya : petani yang kesulitan input produksi dapat meminjam input produksi dari bank budidaya yang berkoordinasi dengan penjual input produksi dengan jaminan pembayaran sesudah panen (bank memiliki tim survey untuk memastikan apakah petani benar-benar membutuhkan input produksi atau tidak). Strategi Pengembangan Sistem Kelembagaan Program pengembangan kelembagaan ditujukan sebagai pendukung pengembangan kawasan minapolitan yang ditujukan baik pada penyusunan kelembagaan pengelola sentra/kawasan minapolitan dan penguatan penguatan kelompok budidaya (pembenihan. Sehingga strategi ini sangat penting untuk memecahkan permasalahan tersebut. dan c.6.7. Program-program yang dapat dilakukan antara lain: a. 8.2.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 8. Penyusunan/penguatan kelompok pembudidaya ikan yang meliputi dua kelompok besar yaitu (1) peningkatan efisiensi organisasi kelompok dan (2) peningkatan kualitas anggota kelompok 8. b.2. Peningkatan kualitas pelayanan jaringan irigasi.2.5 .

maka dapat disusun table indikasi program yang perlu dilakukan dalam jangka waktu 5 (lima) tahunan. 8.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor konvensional) atau bagi hasil (bank syariah). Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VIII .6 . Indikasi program tersebut dapat terlihat pada Tabel 8.3.1. Untuk pembentukan bank ini dapat bekerjasama dengan bank yang sudah ada. Indikasi Program Berdasarkan arahan dan strategi pengembangan program minapolitan.

café dan restoran Pembangunan training center Pembangunan VIC Pembangunan guest house 6 f.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 8. Indikasi Program Dalam Waktu 5 (lima) Tahunan No. e. c. e. Pembangunan Test farm Program Pengembangan Jaringan Pemasaran Berbasis Teknologi Informasi a. f. kolagen) Pembangunan fasilitas umum Pengadaan peralatan pengolahan (mesin pengolah ikan) Uji coba peralatan dan mesin produksi Uji coba produksi dan pemasaran (skala terbatas) Pengembangan pemasaran hasil produksi olahan ikan 5 Program Pengembangan Sentra Kawasan Minapolitan Lele a. c. c. d. d. Pembangunan dan peningkatan fasilitas umum pendukung kegiatan minawisata b. penyakit dan pakan Penyediaan peralatan dan perlengkapan laboratorium terpadu Tahun Kerja I II III IV V 2 d. b. Pengembangan bank induk (broodstock Center) Pembangunan fisik laboratorium terpadu untuk analisis air.1. 1 Jenis Kegiatan Program Pengembangan Budidaya Ikan Lele a. g. Pembangunan fisik gedung pabrik Pembangunan kolam penampungan bahan baku Pembangunan unit pemanfaatan hasil sampingan kegiatan pengolahan (kebun hortikultura organik. e. pengolah dan pemasaran 8 Strategi Pengembangan Pembiayaan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VIII . Perencanaan dan pengembangan atraksi paket minawisata Pembangunan dan pemeliharaan jalan wisata dan jalan produksi Promosi paket minawisata Pengembangan home industry pendukung kegiatan minawisata 4 Program Pengembangan Pengolahan Hasil Budidaya Lele a. b. Pembangunan kantor Pembangunan showroom. b. Penyusunan kelembagaan pengelola sentra/kawasan minapolitan Penyusunan/penguatan kelompok pembudidaya ikan.7 . h. Program Pengembangan Pusat Informasi Pasar Program Pengembangan Sumberdaya manusia 3 Program Pengembangan Minawisata Lele a. pakan. c. c. meliputi : Peningkatan Sarana Pelayanan Pendukung Kegiatan bisnis Perikanan 7 Program Pengembangan Kelembagaan a. d. b. Pembangunan fasilitas umum (parkir area) Program Pengembangan Infrastruktur Dasar Dan Infrastruktur Perikanan a. b. Peningkatan kualitas dan pelayanan sarana dan prasarana transportasi Peningkatan kualitas pelayanan jaringan irigasi. b.

8 .Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VIII .

9 .Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VIII .

Peta Potensi Budidaya Lamp.LAMPIRAN Lampiran 1.1   .

Lampiran 2.2   . Peta Produksi Lamp.

Lampiran 3.3   . DI Sasak   Kolam       Sawah   4) Petak Tersier SK 8 ki. DI Sasak 2) Petak Tersier CBTS 7 ki. DI Sasak Lamp. DI Cibeuteung-I BSK 8 ki Kolam   BTP 1 3) Petak Tersier TP1 ka. Sketsa Aliran Irigasi di Lokasi Irigasi BCBTS BTP 5 ki Aliran ke D I 1) Petak Tersier TP5 ki.

Lampiran 4. Skema Daerah Irigasi   Keterangan : Panjang saluran: 1700 m CBTS 7 KI SALURAN KALI CBTS 4 KA CBTS 5 KA CBTS 3 KA CBTS 6 KA CBTS 2 KA 21 Ha 15 Ha CBTS 7 KA 13 Ha 6 Ha Skema Daerah Irigasi Cibeuteung-1 6 Ha Luas areal : 228 Haluran   CBTS 1 KA 70 Ha 7 Ha 90 Ha Lamp-4    .

BSK3 Keterangan : Luas areal : 1088 Ha Panjang saluran : 16991 m .        BTP 5 Ki BTP 8 Ki 7 Ha SALURAN SEKUNDER BTP 10 Ki 10 Ha BSK 3 BTP 12 TG 24 Ha 6 Ha BTP 11 Ka BTP 1 Ka BTP 2 Ka BTP 3 Ka BTP 9 Ka 38 Ha 11 Ha 10 Ha BTP 4 Ka 3 Ha 6 Ha BTP 6 Ka 10 Ha BTP 12 Ka BTP 7 Ka 2 Ha 4 Ha 3 Ha Lamp-5    Skema Daerah Irigasi Sasak.

BSK 4 Ki 23 Ha   BSK 4     BSK 5 Ki 32 Ha BSK 6 BSK 6 Ki 11 Ha BSK 7 BKP 1 Ki 45 Ha BKP 1 BKP 2 Ki 57 Ha BKP 3 Ki 4 Ha BKP 4 BKP 5 BKP 6 Ki 7 Ha BKP 8 7 Ha BSK 5 BKP 2 BKP 3 A  SALURAN INDUK SASAK             BSK 8 158 Ha BSKP 9 162 Ha BKP 4 Ka 3 Ha BKP 5 Ka 4 Ha BKP 7 Ka 5 Ha BKP 9 Ka 5 Ha SALURAN SEKUNDER KURIPAN KEC. PARUNG   Luas areal: 1088 Ha Panjang saluran: 16991 m             . CISEENG BSK 10 Keterangan : 8 Ha BSK 11 6 Ha BCG 1 Ki BSK 12 6 Ha 16 Ha   SALURAN SEKUNDER COGREG BSK 14 40 Ha Skema Daerah Irigasi Sasak BSK4 Lamp-6  2 Ha BCG 2 Ka BCG 3 Ki 9 Ha BCG 3 Ka 13 Ha KEC.

A                       BKP 10 Ka 37 Ha 14 Ha BKP 10 Ki BKP 11 Ka 10 Ha   BKP 12 Ki 5 Ha BKP 13 Ki 4 Ha BKP 14 Ki 15 Ha BKP 15 Ka 25 Ha BKP 16 Ki 29 Ha BKP 17 Ka 20 Ha Skema Daerah Irigasi Sasak BSK4 (lanjutan) Lamp-7  77 Ha BKP 18 Ka 25 Ha BKP 19 Ki 50 Ha BKP 19 TG               .

 CURUG  Ds. CURUG  L / dt L / dt L / dt BCS 5 Ki BCS 6 Ki L / dt L / dt L / dt BCS 2 Ki BCS 7 Ki BCS 3 Ki BCS 4 Ki BCS 9 Ki L / dt L / dt 10 Ha 15 Ha 26 Ha 25 Ha SITU  SAL INDUK CURUG SERPONG  KALI ANGKE  L / dt 32 Ha 25 Ha 3 Ha L / dt BCS 10 Ka Ds. PENGASINAN  PROPINSI BANTEN  Ds.KECAMATAN GUNUNG SINDUR   Ds. Rw. RAWA KALONG  Keterangan : Luas areal : 1550 Ha Skema Daerah Irigasi Curug Serpong Panjang saluran : 5800 m Lamp-8    17 Ha 2 Ha BCS 10 te BCS 1 Ka BCS 8 K L / dt .  KALONG  Ds.

Lampiran 5. Peta Sarana Prasarana Lamp-9   .

Peta Obyek Wisata Alternatif 1  Lamp-10   .Lampiran 6.

Alternatif 2 Lamp-11   .

Lampiran 7. Peta Potensi Budidaya Lamp-12   .

Lampiran 8. Peta Pola Keterkaitan Kawasan   Lamp-13   .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful