MASTERPLAN MINAPOLITAN

KABUPATEN BOGOR

Tim Penyusun :
Lala M. Kolopaking Kadarwan Soewardi Linawati Hardjito Ernan Rustiadi Taryono Kodiran Siti Nursyiah Prastowo   Odang Carman Yoyoh Indaryanti   Dyah Ita Mardiyaningsih Nuning Koesumowardani Muhamad   Alif Razi Eka Hermawan Susanto Dewi Setyawati   Johan

   
Kerjasama BADAN PERENCANAN  PEMBANGUNAN DAERAH

 

PEMERINTAH KABUPATEN BOGOR
 

dengan   PUSAT STUDI PEMBANGUNAN PERTANIAN DAN PEDESAAN
LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2010  

MasterPlan Minapolitan Kabupaten Bogor

KATA PENGANTAR

Kami panjatkan puji syukur kehadirat

Allah SWT karena atas limpahan rahmat dan

karunia-Nya “Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor” ini dapat diselesaikan. Kegiatan ini merupakan hasil kerjasama antara PSP3 - LPPM IPB dengan BAPPEDA Kabupaten Bogor berdasarkan Surat Kuasa Melaksanakan Pekerjaan Swakelola Kajian Akademis oleh Perguruan Tinggi. Dokumen Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor ini merupakan bentuk Laporan Akhir dari pertanggungjawaban PSP3-IPB dalam pelaksanaan kegiatan Penyusunan

Masterplan Minapolitan di Kabupaten Bogor. Laporan ini dibuat berdasarkan data dan informasi yang diperoleh melalui beragam pendekatan dari wawancara mendalam, observasi langsung, survey terhadap stakeholder terkait maupun diskusi kelompok terarah pada beragam tingkatan. Selain itu, laporan ini dilengkapi dengan masukan-

masukan yang diterima oleh Tim pada saat kegiatan ekspose Laporan Pendahuluan dan Laporan Antara. Dalam laporan antara ini sudah dipaparkan rencana pengembangan

kawasan minapolitan di Kabupaten Bogor dengan beberapa indikasi program yang perlu dilakukan dalam jangka waktu lima tahun ke depan. Paparan rencana pengembangan kawasan minapolitan ini masih belum sempurna sehingga diharapkan masukan dan saran untuk mendapatkan satu dokumen Master Plan Minapolitan Kabupaten Bogor yang baik.

Terima kasih

Bogor, November 2010

Tim Penyusun

ii

MasterPlan Minapolitan Kabupaten Bogor

DAFTAR ISI

Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Tujuan dan Sasaran 1.2.1. Tujuan 1.2.2. Sasaran 1.3. Ruang Lingkup Kegiatan II. KONSEP DAN KERANGKA TEORU PENGEMBANGAN KAWASAN MINAPOLTAN 2.1. Pengertian dan Ciri Kawasan Minapolitan 2.1.1. Pengertian umum 2.1.2. Kriteia Kawasan Minapolitan 2.2. Rencana Pengembangan Kawasan Minapolitan 2.2.1. Komoditi Unggulan 2.2.2. Prinsip, Tujuan dan Perencanaan Pengembangan Kawasan Minapolitan 2.2.3. Konsep Rencana Tata Ruang Kawasan Minpolitan 2.2.4. Kedudukan Rencana Tata Ruang Minapolitan dalam Sistem Pengembangan Wilayah Kabupaten/Kota 2.2.5. Konsep Kelembagaabn Minapolitan 2.3 Tujuan Minapolitan 2.4. Sasaran Minapolitan III. TINJAUAN KEBIJAKAN 3.1. Kebijakan Nasional Minapolitan 3.2. Kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten iii

iii iv v v I-1 I-1 I-2 I-3 I-3 I-3 II-1 II-1 II-1 II-2 II-3 II-3 II-4 II-7 II-8 II-9 II-12 II-12 III-1 III-1 III - 3

1.2.1.1.3. Batas Administrasi dan Geografis Wilayah 5. Permasalahan di Tingkat Pendeder 6. Lokasi Kegiatan di Empat Kecamatan 4. Peraturan Terkait Minapolitan IV.2. Pendekatan Agribisnis dalam Pengembangan Minapolitan 4. Pendekatan Peerikanan Budidaya 4. Kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Memengah Daerah (RPJM-D) Kabupaten Bogor 2008-2013: Perda No. Pendekatan Pengolahan Perikanan 4.2.2.1.3.1. Pendekatan Pengembangan Minapolitan 4. Permasalahan Perikanan Budidaya 6. Kerangka Pendekatan Studi 4. Kondisi Demografi 5.2.3. Biofisik dan Tata Guna Lahan 5.4.3. KONDISI UMUM KAWASAN MINAPOLITAN 5.3.4. Pendekatan Keilmuan Terkait 4. Pendekatan Hidrologi 4.1. Permasalahan di Tingkat Pembesaran 6. Permaalahan Pembenihan 6. Kondisi Perikanan VI.2. Kondisi Ekonomi Wilayah 5.3. Potensi budidaya Perikanan Air Tawar 6. ANALISIS POTENSI DAN PERMASALAHAN 6.3.3. Pendekatan Pengembangan Wilayah 4.6. Pendekatan Penyusunan Master Plan 4.3.4.5.3.4. 19 Tahun 2008 3.3.2 V-4 V-7 VI-1 VI-1 VI-2 VI-2 VI-3 VI-3 VI-4 VI-4 VI-6 . Pemasaran 6.3.2.4.3.2.5.MasterPlan Minapolitan Kabupaten Bogor Bogor: Perda No.4. Jenis Pengolahan iv III-11 III-13 4-1 4-1 IV-2 IV-2 IV-4 IV-5 IV-7 IV-7 IV-8 IV-9 IV-9 IV-10 IV-11 IV-18 V-1 V-1 V-1 V.3. Potensi Pengolahan Produk Perikanan 6.3. WAKTU DAN LOKASI KEGIATAN 4.2. Pendekatan Lanskap 4.1. Pelaporan V. 7 Tahun 2009 3.3.1. Pendekatan Kelembagaan dan Sosial Ekonomi Perikanan 4.

Potensi Minawisata 6. Arahan dan Rencana Pengembangan Lanskap Minawisata 7.3.1.2.4. INDIKASI PROGRAM VI-7 VI-7 VI-8 VI-8 VI-9 VI-11 VI-15 VI-17 VI-18 VI-18 VI-18 VI-24 VII-1 VII-1 VII-1 VII-3 VII-3 VII-3 VII-4 VII-8 VII-13 VIII-1 D&L-1 Lampiran-2 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN v .2.4.3.5.1.9. Rencana Pengembangan Potensi Perikanan Budidaya 7.9.2. Pemasaran Ikan Olahan 6.4. Kebijakan Terkait Minapolitan 6. STRATEGI DAN RENCANA PENGEMBANGAN 7. Identifikasi dan Analisis Potensi Lanskap Kawasan Minapolitan 6.1. Isu dan Permasalahan Kelembagaan 6.2.4. Rencana Pengembangan Potensi Pengolahan 7.6.1.MasterPlan Minapolitan Kabupaten Bogor 6.5.9. Infrastruktur Wilayah 6. Pengembangan Produk Olahan 7. Arahan dan Rencana Pengembangan Kelembagaan VIII.5. Pemasaran Ikan Segar 6.2. Pengembangan Teknologi Pengolahan 7.5.9.6. Analisis Kelayakan Lanskap untuk Minawisata VII. Pemasaran 6.3. Penetapan Kawasan Pengembangan 7.7.4. Potensi Calon Sentra Pengolahan 6. Penetapan Produk Unggulan 7.8. Permasalahan Pengolahan 6. Sistim Tata Air 6.

3.5. 5.2. 6. 5.4. 5.2. Bening dan CV.1. 4.2.6. Bintang Anugerah di PIH Cibinong Hasil Analisi Neraca Air untuk Budidaya Perikanan Hasil Analisis Debit Bulanan (Lt/Dtet) di Cogrek (53 Hal) Status Jalan dan Panjang di Kabupaten Bogor Penilaian Kelayakan Kawasan Bogor sebagai Minawisata vi 5. Julah Penduduk dan PDRB per Kapita Kabupaten/Kota di Kawasan Jabodetabek dan Sekitarnya Tahun 2006 Jumlah dan Luas Daerah Irrigáis Se-Kabupaten Bogor Luasan Masing-masing Penggunaan Lahan di Kabupeten Bogor Tahun 2006 Jumlah RTP Pembudidaya.5 6. 6. 4. 6. 6.4.7.3.MasterPlan Minapolitan Kabupaten Bogor DAFTAR TABEL Nomor 4. 4.1. 5. 6. Lokasi Kegiatan di 4 Kecamatan Teks Hal IV-1 IV-3 IV-11 IV-14 IV-16 V-2 V-3 Kerangka Pendekatan Penyusunan Masterplan Pengembangan Minapolitan Alat Perencanaan Kriteria Penilaian Kelayakan Kawasan untuk Wisata Penilaian Akseptibilitas Masyarakat Presentase Jenis Mata Pencaharian Masyarakat Per Kecamatan di Zona IV PDRB per Kapita Kabupaten/Kota di Kawasan Jabodetabek dan Sekitarnya Tahun 2000 dan 2008 Total PDRB.3. V-4 V-5 V-7 6-1 VI-10 VI-11 Vi-12 VI-1 VI-25 . 6.5. 4.1. Luas Areal dan Total Produksi Ikan Air Tawar di Kabupaten Bogor Produksi Perikanan Per-kecamatan menurut Jenis Ikan Jenis dan Harga Produk Olahan Ikan di CV.4.

7. 7.6.4.3. 7.MasterPlan Minapolitan Kabupaten Bogor 7.5.2.1.7. 7. 7. Skor Penentuan Komoditas Unggulan Ikan Air Tawar di Kabupaten Bogor Parameter Penilaian Pengolahan Daftar Fasilitas dan Peralatan untuk Produksi Filet dan Pemanfaatan Hasil Samping Fasilitas dan Peralatan untuk Pembuatan Lele Asap Fasilitas dan Peralatan untuk Produksi Surimi Fasilitas yang Diperlukan untuk Proses Produksi Surimi Pilihan Bentuk Kelembagaan Pengelola Kawasan Minpolitan Bogor VII-6 VII-7 VII-7 VII-20 VII-2 VII-2 vii . 7.

5. 2.7.7.10 6. 6. 4.11.1.4.3. 6. 6.9. 6. Ciseeng Kolam di Lokasi BP3K CV.1. 6.2. 6.MasterPlan Minapolitan Kabupaten Bogor DAFTAR GAMBAR Nomor 2.1. 6.1. 2. 4.2.3.4. 6.2.3. 4. 6. 6.8. 5. 2. Bening dan CV Bintang Anugerah Grafik Curah Hujan Andalan dan Kebutuhan Air Untuk Budidaya Perikanan Skema Daerah Irigasi Cibeuteung-1 Skema Daerah Irigasi Saak BSK3 Skema Daerah Irigasi Curug Serpong Peta Kecamatan Kemang viii Hal II-6 II-7 II-9 II-10 IV-2 IV-6 IV-13 V-1 V-9 VI-5 VI-6 VI-8 VI-8 VI-8 VI-8 VI-10 VI-12 VI-13 VI-14 VI-15 VI-19 . 6.2.5.12 Teks Konsepsi Pengembangan Minapolitan Keterkaitan Pusat Kawasan Minapolitan Deskripsi Kawasan Minapolitan Keterkaitan Usaha dan Pelakunya di Wilayah Studi Peta Lokasi Kegiatan Sistem Agribisnis Perikanan Tahapan Studi Peta Lokasi Kabupaten Bogor Peta Wilayah Zona IV Kaki naga (VegiFish) (kiri) dan Nuget (kanan) Industri Rumah Tangga Lele Asap dan Pengasapan Lele Aktifitas Penjualan Benih Ikan di Pasar Benih Ciseeng Lokasi Pasar Benih Ikan di Ciseeng Lokasi BP3K.

7.4. 7.11.3.22.14 7.23.19 6. 7.24 7.14.8 7.MasterPlan Minapolitan Kabupaten Bogor 6.1.17. 6.15. 7.2.18 6.15.13.21. 7. 7. 7. 7. 6.12. 7.20 6.7.5. Peta Kecamatan Ciseeng Kondisi Desa Babakan Kondisi Pasar Ciseeng Kondisi Kawasan Budidaya Ikan Hias Kondisi Kawasan BP3K Pembesaran Lele Peta Kecamatan Parung Kawasan Wisata Tirta Sanita Kawasan Budidaya Lobster Pengolahan Lele Asap Peta Kecamatan Gunung Sindur Beberapa Area Pemancingan Pengolahan Ikan Kaki Naga (Vegi Fish) dan Nuget Proses Pembuatan Lele Asap Proses Pembuatan Surimi Produksi Produk Turunana Surami Konsep Ruang dan Sirkulasi Minawisata Alternatife 1 Lokasi Eksisting dan Desain Alternatif 1 Sentra Minapolitan (BP3K) Kondisi Eksisting Sentra Minapolitan Alternatif 1 Perspektif Sentra Minawisata Alternatif 2 Konsep Ruang dan Sirkulasi Minawisata Alternatif 2 Diagram Ruang Sentra Minapolitan Alternatif 2 (Desa Babakan) Lokasi Eksisting dan Desain Alternatif 2 Sentra Minapolitan Hirarki Pengambilan Keputusan Pengelolaan Sumberdaya Kawasan Minapolitan Bogor Proses Pembentukan Kelembagaan Pengelola Kawasan Minapolitan ix VI-20 VI-20 VI-20 VI-21 VI-21 VI-21 VI-22 VI-22 VI-22 VI-23 VI-23 VI-24 VI-24 VII-6 VII-6 VII-6 VII-7 VII-10 VII-10 VII-11 VII-11 VII-12 VII-12 VII-13 VII-18 VII-19 .10. 6.13. 6.9. 7.16 6. 6. 6. 6. 7.

Peta Lokasi Obyek Wisata Minapolitan Lampiran 5. Tabel Indikasi Program Pengembangan Kawasan Minapolitan Dapus & Lamp-3 Dapus & Lamp-4 Dapus & Lamp-5 Dapus & Lamp-6 Dapus & Lamp-7 x . Peta Produksi Perikanan Lampiran 2. Peta Rumah Tangga Perikanan Lampiran 3.MasterPlan Minapolitan Kabupaten Bogor 7. Peta Sarana dan Prasarana Lampiran 4. Tahapan Substantif Pembentukan Kelembagaan Operasional Pengelolaan Kawasan Minapolitan VII-19 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1.16.

kebijakan RP3 Kabupatern Bogor memiliki arah yang bersinergi dengan gagasan atau kebijakan KKP-RI dengan menempatkan perikanan budidaya faktor penggerak pembangunan daerah serta berkotribusi signifikan tehadap pembangunan perikanan nasional. Program minapolitan merupakan upaya untuk menjadikan sektor perikanan sebagai sektor unggulan dalam pembangunan daerah yang kawasannya memiliki potensi perikanan. pemilihan produk atau komoditas menjadi sangat penting karena nantinya diharapkan dapat merupakan branding bagi Kabupaten Bogor. Selaras dengan RP3 tersebut. Prinsip Zonasi Pengembangan RP3 ditujukan agar di Kabupaten Bogor ada percepatan pembangunan pertanian dalam arti luas melalui pengembangan komoditas unggulan di masing-masing zona. prinsip pangembangan minapolitan oleh KKP juga menekankan pengembangan komoditas perikanan unggulan di masing-masing wilayah berdasarkan kluster wilayah.PENDAHULUAN 1 1. Dalam perkembangannya program minapolitan ini tidak hanya mampu menggerakkan sektor perikanan saja. dan peningkatan pendapatan nelayan serta pembudidaya ikan untuk menjadi pendorong pembangunan daerah. yang dapat membedakan dengan produk-produk dari daerah lain dan juga memiliki daya saing yang tinggi. Oleh karena itu. Program minapolitan ini merupakan bagian dari strategi besar (grand strategy) KKP dengan slogan “Revolusi Biru” dalam rangka peningkatan produksi perikanan. melainkan harus berdampak pada pertumbuhan ekonomi masyarakat secara umum di wilayah tersebut. Program yang dapat dikembangkan di Zona 4 dan 2 selaras dengan upaya pemerintah (KKP-RI) untuk menjadikan sektor perikanan sebagai salah satu sektor unggulan dalam pembangunan daerah. strategi besar KKP-RI yang . Dalam strategi besar ini. Latar Belakang Bogor merupakan salah satu kabupaten yang ditunjuk oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia (RI) sebagai lokasi Pengembangan Minapolitan.1. Sebagaimana dicatat bahwa Program Minapolitan tersebut merupakan direncanakan akan diwujudkan mulai tahun 2011. Kebijakan tersebut seirama dengan Kebijakan Revitalisi Petanian dan Pedesaan (RP3) Kabupaten Bogor yang menerapkan pendekatan pengembangan pertanian berdasarkan zonasi.

pengembangan Kabupaten Bogor yang menjadi hinterland Daerah Khusus Ibukota Jakarta merupakan wilayah pemasok pasar produk perikanan baik nasional maupun internasional. diantaranya kebijakan tata ruang dan daya dukung wilayah.1. maka harus ada prioritas komoditas perikanan budidaya yang akan dikembangkan untuk masing-masing jenis kegiatan budidaya perikanan. proses pengembangannya harus bertumpu pada pemberdayaan masyarakat dengan melakukan inovasi kebijakan di dalam pembiayaan usaha perikanan dengan membangun kerjasama dengan pihak-pihak yang memiliki sumber pendanaan (baik secara Blending maupun Hybrid Financing). finansial. dalam rangka mematangkan konsep minapolitan budidaya perikanan Kabupaten Bogor yang meliputi kesiapan manajemen. Oleh karena itu. Gurame. komoditas unggulan. Hal-hal penting yang perlu mendapatkan perhatian dalam pengembangan minapolitan budidaya tersebut adalah bahwasannya pengembangan minapolitan budidaya harus terintegrasi dan memperhatikan kebijakan-kebijakan terkait yang sudah ada di Kabupaten Bogor. beberapa komoditas perikanan budidaya sudah berkembang di Kabupaten Bogor. diantaranya ikan nila dan ikan Lele. Selain itu. Hingga saat ini. maka tujuan dari kegiatan ini adalah memperoleh dan menganalisa data-data untuk merancang penyusunan dokumen rencana induk atau masterplan pengembangan minapolitan di Kabupaten Bogor.2. dalam kerangka minapolitan budidaya. 1. kelembagaan dan pemasaran. dan lain-lain. Oleh karena itu. Namun demikian. di mana satu bentuk/jenis kegiatan budidaya perikanan satu komoditas unggulan. tidak semua komoditas perikanan budidaya tersebut harus menjadi komoditas pengembangan budidaya perikanan. Dalam rangka menyusun upaya-upaya teknis dan strategis untuk mematangkan konsep minapolitan tersebut disusun rencana induk atau master plan pengembangan minapolitan di Kabupaten Bogor.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Kabupaten Bogor adalah salah satu wilayah dengan ekologi dan geografis yang memiliki potensi usaha perikanan budidaya air tawar dikembangkan dalam kerangka program yang sangat memadai dan layak minapolitan budidaya. teknologi.2. Tujuan Berdasarkan latar belakang di atas. dalam kerangka minapolitan budidaya. Data-data tersebut diolah Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR I.2 . Tujuan dan Sasaran 1. perlu disusun upaya-upaya teknis untuk mematangkan konsep minapolitan budidaya perikanan tersebut.

Perumusan konsepsi visi. lingkungan perairan dan perikanan). dan strategi pengembangan minapolitan budidaya. meliputi: a.2. Sasaran Merujuk tujuan kegiatan yang diuraikan sebelumnya.3. diantaranya jalan akses dan balai-balai benih. b. 5. Identifikasi isu dan permasalahan dalam pengembangan perikanan budidaya 3.2. 1. penentuan lokasi atau kawasan unggulan untuk pengembangan minapolitan budidaya. 1. 4. pengembangan sistem penyediaan benih secara tepat dan terus-menerus. Ruang Lingkup Kegiatan Ruang lingkup kegiatan penyusunan masterplan pengembangan minapolitan di Kabupaten Bogor sebagai berikut: 1. Identifikasi kondisi dan potensi infrastruktur pendukung kegiatan budidaya perikanan. c. penentuan komoditas unggulan dan teknologi budidaya untuk masing-masing jenis kegiatan budidaya perikanan. sistem pemasaran produk-produk hasil pengembangan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR I.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor secara cermat sehingga masterplan yang terbentuk dapat mendukung segala kegiatan dan kepentingan minapolitan secara efektif dan efisien. tujuan. Identifikasi potensi sumberdaya alam (lahan. dan e. Identifikasi kebijakan-kebijakan pemerintah. pengembangan minapolitan. pengembangan sistem kelembagaan dan sistem pengelolaan kawasan minapolitan. d. baik pusat maupun kebijakan RP3 Kabupaten Bogor yang terkait dengan pengembangan minapolitan budidaya perikanan serta pemanfaatan ruang. Masterplan tersebut haruslah mempertimbangan dan mewakili seluruh pihak terkait agar dapat menjadi cetak biru dalam pembangunan minapolitan. sumberdaya manusia. misi. 2. 6. Penyusunan rencana induk pengembangan minapolitan budidaya di Kabupaten Bogor.3 . maka sasaran dari kegiatan ini adalah tersusunnya dokumen rencana induk atau masterplan pengembangan minapolitan di Kabupaten Bogor. dan kelembagaan perikanan.

Adapun secara makna. sistem permodalan. 2. Program minapolitan ini pada prinsipnya merupakan suatu program kegiatan yang berupaya untuk mensinergiskan kegiatan produksi bahan baku. sampai jasa lingkungan sebagai sistem kemitraan di dalam satu wilayah. pengolahan dan pemasaran dalam sistem agribisnis terpadu di suatu wilayah atau lintas wilayah perikanan dengan kelengkapan sarana prasarana serta pelayanan seperti di perkotaaan (kelembagaan. kawasan perdesaan yang disiapkan mempunyai kelengkapan sarana dan prasarana dan pelayanan perkotaan (infrastruktur termasuk transportasi dan energi). ada beberapa definisi minapolitan.1. Pengertian Umum Secara bahasa. transportasi. menarik dan menghela kegiatan pembangunan perikanan di wilayah tersebut dan sekitarnya. minapolitan berasal dari kata “Mina” (perikanan) dan “politan” (poli (multi) dan –tan (kegiatan)) yang dapat diartikan sebagai kluster kegiatan perikanan yang meliputi kegiatan produksi. pengolahan dan pemasaran. Pengertian dan Ciri Kawasan Minapolitan 2. yaitu: 1. Lengkapnya adalah kluster perikanan yang tumbuh dan berkembang seiring berjalannya sistem dan usaha agribisnis yang mampu melayani.KONSEP DAN KERANGKA TEORI PENGEMBANGAN KAWASAN MINAPOLITAN 2 2. mendorong. pengolahan dan pemasaran dalam satu rangkaian kegiatan besar dalam satu kawasan atau wilayah. kawasan terintegrasi sebagai kluster kegiatan perikanan dimana masyarakatnya tumbuh dan berkembang seiring dengan kemajuan kelembagaan usaha yang didukung sumberdaya manusia berkualitas melalui pendidikan yang maju. dengan dukungan sistem permodalan yang tepat guna. . kawasan yang dikembangkan melalui pembentukan titik tumbuh suatu kluster kegiatan perikanan dengan sistem agribisnis berkelanjutan yang meliputi produksi.1. 3. dan lain-lain).1.

4.2 .2. 3. Memiliki luasan areal budidaya eksisting minimal 200 Ha. Memiliki kemampuan untuk memelihara sumber daya alam sehingga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan dan mampu menciptakan kesejahteraan ekonomi secara adil dan merata bagi seluruh masyarakat. Kegiatan perikanan skala besar. 3.1. Persyaratan Kawasan Minapolitan Suatu kawasan dapat dikembangkan menjadi kawasan minapolitan jika memenuhi persyaratan sebagai berikut: Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR II . yaitu: 1. Penggunaan lahan untuk kegiatan perikanan harus memanfaatkan potensi yang sesuai untuk peningkatan kegiatan produksi dan wajib memperhatikan aspek kelestarian lingkungan hidup serta mencegah kerusakannya. Kriteria Kawasan Minapolitan Kriteria dan persyaratan kawasan minapolitan yang akan dikembangkan. 2. Kriteria umum pengembangan kawasan minapolitan harus memenuhi kriteria di bawah ini. Sedangkan Kriteria khusus pengembangan kawasan perikanan budidaya antara lain adalah: 1. 5. Kriteria dan Persyaratan Kawasan Minapolitan a. Mempunyai sektor ekonomi unggulan yang mampu mendorong kegiatan ekonomi sektor lain dalam kawasan itu sendiri maupun di kawasan sekitarnya. Wilayah yang sudah ditetapkan untuk dilindungi kelestariannya dengan indikasi geografis dilarang untuk dialih fungsikan. harus diupayakan menyerap sebesar mungkin tenaga kerja setempat. Memiliki keterkaitan kedepan (daerah pemasaran produk-produk yang dihasilkan) maupun ke belakang (suplai kebutuhan sarana produksi) dengan beberapa daerah pendukung. 2. dan 5. disesuaikan dengan kondisi geografis dan potensi yang dimiliki oleh masing-masing kawasan yang akan dikembangkan. b. baik yang menggunakan lahan luas ataupun teknologi intensif harus terlebih dahulu memiliki kajian Amdal sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku. 4. Pemanfaatan dan pengelolaan lahan yang harus dilakukanberdasarkan kesesuaian lahan dan RTRW. Kegiatan perikanan skala besar.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 2. Memiliki kegiatan ekonomi yang dapat menggerakkan pertumbuhan daerah.

dan lain-lain. 2. Lembaga keuangan (perbankan maupun non perbankan). Memiliki sumberdaya lahan/perairan yang sesuai untuk pengembangan komoditas perikanan yang dapat dipasarkan atau telah mempunyai pasar (komoditas unggulan). kesenian.3 . Balai Beni Ikan.2. serta berpotensi atau telah berkembang diversifikasi usaha komoditas unggulanya. air bersih. 3. pendidikan. 4. Penyuluhan dan bimbingan teknologi. (pasar hasil-hasil perikanan. e. yaitu mulai dari pengadadaan nsarana dan prasarana perikanan. maupun pasar jasa pelayanan termasuk pasar lelang. rekreasi. d. c. Pasar. cold storagge dan processing hasil perikanan sebelum dipasarkan. b. Kelestarian lingkungan hidup baik kelestarian sumberdaya alam. Memiliki kelembagaan perikanan (kelompok. Keunggulan produk yang dihasilkan dari industri yang mengolah komoditi unggulan tersebut akan memberikan nilai tambah yang besar karena produk yang dihasilkan mempunyai nilai jual yang stabil dibandingkan dengan produk perkebunan atau pertanian tanpa melalui pengolahan. kegiatan pengolahan hasil perikanan sampai dengan pemasaran hasil perikanan serta kegiatan penunjang. listrik.2. tetapi juga menghasilkan suatu produk olahan dari produksi pertanian yang siap dipasarkan dan menjadi ciri khas daerah yang bersangkutan. perpusatakaan dan lain-lain.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 1. pasar sarana dan prasarana. Rencana Pengembangan Kawasan Minapolitan 2. Pengembangan kawasan tersebut tidak hanya menyangkut kegiatan perikanan saja (on farm) tetapi juga kegiatan off farm-nya.1. UPP). sosial budaya maupun kota terjamin. Memiliki sarana dan prasarana kesejahteraan sosial/masyarakat yang memadai seperti kesehatan. 5. Memiliki sarana dan Prasaran penunjang yanga memadai seperti jalan. Komoditi Unggulan Kawasan Minaploitan Komoditi unggulan adalah produk pilihan yang dihasilkan oleh sektor perikanan atau pariwisata berbasis perikanan yang mempunyai nilai jual dan jaminan prospek masa depan karena memiliki daya saling (competitive advantages) yang tinggi. Kawasan minapolitan tidak saja berfungsi sebagai pemasok komoditi unggulan yang dihasilkan. 2. Memiliki berbabgai sarana dan prasarana minabisnis yang memadai untuk mendukung pengembangan sistsem dan usaha minabisnis tersebut adalah: a. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR II .

yaitu: 1. sedangkan industri akan mendapatkan jaminan suplai dari para petani pengembang komoditi yang dibutuhkan. hortikultura.4 . perkebunan. Memaksimalkan peran pemerintah sebagai fasilitator dan pemantau seluruh kegiatan pembangunan di daerah. agar mampu bekerjasama secara efektif. Dengan demikian selain petani akan mendapatkan jaminan pembelian bagi produk pertanian yang dihasilkan. Mengembangkan sistem ekonomi kerakyatan yang bertumpu pada mekanisme pasar yang berkeadilan. dan 7. Memberdayakan usaha kecil. Mengembangkan perekonomian yang berorientasi global sesuai dengan kemajuan teknologi dengan membangun keunggulan kompetitif berdasarkan kompetensi produk unggulan di setiap daerah. Di daerah-daerah yang akan dikembangkan sebagai kawasan minapolitan. di mana petani akan mengembangkan tanaman atau komoditi yang dibutuhkan oleh industri. 2. Tujuan dan Perencanaan Pengembangan Kawasan Minapolitan a. harga jual produk pertanian juga akan memberikan kontribusi yang baik kepada petani. Prinsip Pengembangan Kawasan Minapolitan Pengembangan kawasan dilaksanakan berdasarkan pada prinsip-prinsip yang sesuai dengan arah kebijakan ekonomi nasional. 2. menengah dan koperasi. Mempercepat pembangunan ekonomi daerah dengan memberdayakan para pelaku sesuai dengan semangat otonomi daerah.2. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR II . Prinsip. peternakan dan perikanan maka diperlukan susunan tipologi sesuai dengan karakteristik yang dimiliki oleh masingmasing kawasan minapolitan. 6. efisien dan berdaya saing. Akan terjadi kerjasama yang baik antara petani dengan industri. 4. membangun industri produk jadi yang berbasis pada komoditi unggulan menjadi sangat penting untuk dilakukan agar produk tersebut tidak menjadi komoditi yang dipermainkan pasar.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Untuk mendapatkan model-model pengembangan minapolitan pada kawasan pertanian yang berbasiskan: tanaman pangan. 5. Mengembangkan sistem ketahanan pangan yang berbasis pada keragaman sumber daya perikanan budidaya dan budaya lokal. 3.2. Mempercepat pembangunan pedesaan dalam rangka pemberdayaan masyarakat daerah (khususnya pembudidaya ikan) dengan kepastian dan kejelasan hak dan kewajiban semua pihak.

Perencanaan Pengembangan Kawasan Minapolitan Proses perencanaan kawasan minapolitan memerlukan fasilitasi kegiatan berupa sosialisasi program untuk seluruh stakeholders dalam rangka menyamakan persepsi. pengembangan saranaprasarana publik untuk memperlancar distribusi hasil pertanian dengan efisiensi dan resiko yang minimal.5 . dan mensiasati persaingan pasar (domestik dan global). pemerintah daerah. teknis. Subsistem minabisnis hulu (up stream minabusiness) yang mencakup: penelitian dan pengembangan. Strategi pengembangan kawasan minapolitan meliputi pembangunan sistem dan usaha agribisnis berorientasi kekuatan pasar (market driven) yang diarahkan untuk menembus batas kawasan (bahkan mencapai pasar global). Subsistem jasa-jasa penunjang (kegiatan yang menyediakan jasa bagi minabisnis) seperti: perkreditan.1. Inventarisasi dan identifikasi permasalahan yang terkait dengan proses perencanaan perlu dilakukan dengan kerja sama antara instansi terkait. pendidikan. mendapatkan masukan bagi proses pengembangan. dan masyarakat setempat. Penyusunan rencana/program pengembangan kawasan minapolitan jangka panjang perlu dilakukan dengan mempertimbangkan potensi sumberdaya lahan dan perkembangan kawasan. Subsistem minabinis hilir (down stream minabusiness) yang meliputi: industriindustri pengolahan dan pemasarannya. transportasi. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR II . Subsistem usaha perikanan budidaya (on farm minabusiness) yang mencakup usaha: pembenihan ikan. dan kebijakan pemerintah. asuransi.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor b. Suatu kawasan sentra perikanan budidaya yang sudah berkembang harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut (lihat Gambar 2. pembesaran ikan dan penyediaan sarana perikanan budidaya. Langkah berikutnya adalah penetapan kawasan di daerah kabupaten/kota sebagai kawasan pengembangan minapolitan melalui studi kelayakan (ekonomi. penyuluhan. pemodalan. d. infrastruktur. c. termasuk perdagangan untuk kegiatan ekspor. sarana perikanan. dan lain-lain. dan lingkungan) yang cermat. b.): 1) Sebagian besar kegiatan masyarakat di kawasan tersebut di dominasi oleh kegiatan perikanan budidaya dalam suatu sistem yang utuh dan terintegrasi mulai dari: a. dan deregulasi yang berhubungan dengan penciptaan iklim yang kondusif bagi pengembangan usaha dan perekonomian daerah.

peralatan perikanan dan lain sebagainya. termasuk didalamnya usaha industri (pengolahan) produk perikanan. Memiliki sumberdaya lahan dan perairan yang sesuai untuk mengembangkan komoditi perikanan budidaya. informasi. Minapolitan Gambar 2. Konsepsi Pengembangan Minapolitan Suatu wilayah dapat dikembangkan menjadi suatu kawasan perikanan budidaya harus dapat memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. sebaliknya kota menyediakan fasilitas untuk berkembangnya usaha budidaya dan minabisnis seperti penyediaan sarana perikanan antara lain: modal. 3) Kegiatan sebagian besar masyarakat di kawasan tersebut didominasi oleh kegiatan perikanan budidaya. dan 4) Infrastruktur yang ada dikawasan diusahakan tidak jauh berbeda dengan di kota.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 2) Adanya keterkaitan antara kota dengan desa (urban-rural linkages) yang bersifat timbal balik dan saling membutuhkan. perdagangan hasil-hasil perikanan (termasuk perdagangan untuk kegiatan ekspor). minawisata dan jasa pelayanan. yang dapat dipasarkan atau telah mempunyai pasar (selanjutnya disebut komoditi unggulan).1. Desa  Minapolitan PASAR/GLOBAL Desa  Minapolitan Desa  Minapolitan Keterangan : Pengahsilan Bahan Baku Pengumpul Bahan Baku Sentra Produksi Kota Kecil / Pusat Regional Kota Kecil / Pusat Regional Kota Sedang / Besar (outlet) Jalan Dan Dukungan Sapras Batas Kaw. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR II .6 . teknologi. perdagangan minabisnis hulu (sarana perikanan dan permodalan). dimana kawasan perikanan budidaya di pedesaan mengembangkan usaha budidaya (on farm) dan produk olahan skala rumahtangga (off farm).

seperti misalnya: jalan. terminal. perumusan konsep. Konsep Rencana Tata Ruang Kawasan Minapolitan Rencana Tata Ruang (RTR) Kawasan Minapolitan adalah dokumen formal rencana induk pengembangan kawasan yang digunakan sebagai arahan para stakeholder dalam melaksanakan pembangunan kawasan.2. sarana produksi pengolahan hasil perikanan. pasar. jaringan telekomunikasi. pengembangan sistem usaha agribisnis.7 . perencanaan dan pengembangan kawasan-kawasan yang akan dibangun sepenuhnya berada di tangan pemerintah daerah dengan melaksanakan konsultasi publik.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor b. Rencana tata ruang Kawasan Minapolitan merupakan rencana pengembangan kawasan yang bersifat komprehensif dan multisektor yang memuat terutama rencana struktur kawasan dengan pusat kegiatan dan hinterlandnya. Memiliki sumberdaya manusia yang mau dan berpotensi untuk mengembangkan kawasan perikanan budidaya secara mandiri.2. Proses perencanaan clan pengembangan kawasan minapolitan menuntut hal utama untuk diperhatikan yaitu Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR II .3. sumber air baku. dan juga memuat ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang kawasan. Keterkaitan Pusat Kawasan Minapolitan Dalam penyusunan rencana tata ruang. Memiliki infrastruktur yang memadai untuk mendukung pengembangan sistem dan usaha perikanan. dan c. pengembangan sistem infrastruktur. 2. fasilitas perbankan. Beberapa hal yang sifatnya sektoral masih mendapatkan masukan dari sektor atau dinas terkait. sarana irigasi/pengairan. Kawasan 1 Jalan Nasional Kawasan 2 Keterangan : Pusat Kegiatan Jalan Propinsi Jalan Propinsi Pusat Kegiatan Jalan Kabupaten Jalan Kabupaten Pusat Kegiatan Pusat Minapolitan Jalan Lokal Jalan Lokal Gambar 2. dan fasilitasumumserta fasilitas sosial lainnya.

fungsi utama kawasan. pelayanan sosial. panduan. sistem norma. Pengembangan kawasan minapolitan tidak hanya melibatkan departemen dan dinas teknis terkait saja. tetapi juga berbagai pihak yang berkepentingan.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor koordinasi lintas sektoral dan lintas kelembagaan. pelayanan jasa pemerintahan. Berdasarkan penelusuran terhadap sejumlah konsep tentang kelembagaan. Kawasan perdesaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama pertanian.4. khususnya dari aspek perencanaan tata ruang dan penyediaan sarana dan prasarana penunjang. tidak tertutup kemungkinan bahwa hasil dari rencana tata ruang tersebut dapat menjadi alat evaluasil masukan terhadap RTRW Kabupaten/kota. Kedudukan Rencana Tata Ruang Kawasan Minapolitan dalam Sistem Pengembangan Wilayah KabupatenIKota Penataan ruang diklasifikasi berdasarkan sistem. organisasi sampai dengan ekonomi. 26 tahun 2007 tentang Panataan Ruang dijelaskan bahwa RTR Kawasan Agropolitan/Minapolitan merupakan penjabaran lebih detail dari RTRW Kabupaten.8 . kaidah formal dan informal (termasuk nilai budaya. termasuk pengelolaan sumberdaya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan. Departemen Pekerjaan Umum adalah salah satu departemen teknis terkait yang sangat berkepentingan dalam proses pengembangan kawasan minapolitan. Rencana tata ruang kawasan perdesaan merupakan bagian dari rencana tata ruang wilayah kabupaten yang dapat disusun sebagai instrumen pemanfaatan ruang untuk mengoptimalkan kegiatan pertanian yang dapat berbentuk kawasan minapolitan.2. dengan pengertian definisi atau yang beragam mulai dari persepsi sosiologis.5. Kawasan Minapolitan adalah sebagian dari wilayah kabupaten yang ditetapkan dan direncanakan sebagai kawasan budidaya pertania dan termuat dalam RTRW Kabupaten yang bersangkutan. Dalam UU No. kelembagaan pengelola sumberdaya menunjukan konsepsi multidimensi yang diantaranya merepresentasikan konsep peran (roles) dan aturan (rules).2. wilayah administratif. dan adat istiadat) bagi Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR II . 2. Konsep Kelembagaan Kelembagaan merupakan terminologi yang sangat umum. Berdasar kegiatan kawasan maka diketahui adanya rencana tata ruang kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan. 2. dan kegiatan ekonomi. kegiatan kawasan dan nilai strategis kawasan. Meskipun demikian.

& SDM Desa Hiterland Sentra Produksi  Kawasan Minapolita Pusat  Minap olitan  Kawasan Minapolitan Jalan Akses  Jalan Primer  Jalan Utama Antar Pusat Minapolitan Jalan Arteri Prime Jalan Usahatani Gambar 2.3. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR II . Penataan kelembagaan (institutional arrangement) pengelolaan sumberdaya adalah penataan hubungan antar unit-unit elemen masyarakat atau organisasi. sehingga perlu dirumuskan melalui mekanisme yang dapat diterima oleh seluruh pemangku kepentingan pengelolaan kawasan Minapolitan Kabupaten Bogor. infrastruktur buatan. Secara ringkas. sehingga pengelolaan menjadi efektif untuk mencapai tujuan dan fungsi-fungsinya. Kawasan Minapolitan Dalam Sistem Pemasaran Ibukota Propinsi Kota Kawasan Minapolita Kota Jenjang II Jalan Arteri Prime Jalan Kolektor Primer Ibukota Propinsi Kota Sketsa Jaringan Jalan Dalam Kawasan Minapolitan Sketsan jaringan jalan agar terjadi efisiensi desa-kota sebagai satu kesatuan dalam meningkatkan SDA. Deskripsi Kawasan Minapolitan Dua elemen pokok tersebut diatas menjadi kebutuhan elementer. kelembagaan pengelolaan sumberdaya setidaknya mencakup dua hal pokok yaitu (a) organisasi atau institusi pengelola (player of the game) dan (2) aturan-aturan (rules of the game) yang dapat menjamin organisasi/institusi pengelola dapat bekerja secara efektif melaksanakan aktivitas pengelolaannya.9 .Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor masyarakat serta aturan yang memfasilitasi komunikasi dan koordinasi antar elemen organisasi atau masyarakat untuk mencapai pengelolaan efektif. berdasarkan pemahaman terdapat konsep-konsep kelembagaan. Upaya-upaya kelembagaan secara fokus perlu diarahkan pada usaha-usaha untuk menghasilkan bentuk-bentuk kesepahaman tentang organisasi dan aturana mainnya.

4. dimana antar pihak yang saling berinteraksi harus mendapatkan keuntungan optimum untuk mendukung kelangsungan usahanya. Dalam konsepsi sistem agribisnis. pendederan dan pembesaran. Selain itu. juga terdapat pedagang benih ikan baik yang membeli dari petani pembenih setempat atau mendatangkan dari wilayah lain. hubungan yang harus dibangun semestinya bersifat mutualisme. mendorong adanya relasi yang lebih kuat antara petani dan agen pakan. agen pakan seringkali juga merupakan petani ikan setempat. Sampai pada cakupan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR II . akan mendorong terjadinya efek domino pada kegiatan lainnya yang dapat menghancurkan sistem yang telah berkembang. Pada pabrik pakan.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Bila dari sisi pelaku baik organisasi maupun individual. di wilayah tersebut juga telah berkembang usaha-usaha sarana produksi perikanan budidaya seperti penjualan pakan dan obat-obatan. sebagai tulang punggung adalah sistem usaha on-farm yaitu proses budidaya yang meliputi aktivitas pembenihan.10 . Gambar 2. di wilayah studi terdapat beberapa kelompok atau pelaku usaha perikanan yang meliputi kelompok atau pelaku usaha : (a) pembenihan baik berupa unit pembenihan rakyat (UPR) atau rumahtangga. Kegagalan dalam satu pelaku usaha. Pada faktanya di lapang. Adanya kebijakan pemasaran yang dikembangkan oleh produsen pasar.4. sehingga cukup kuat. Pada beberapa kasus.4. mempunyai beberapa pemasaran dan perwakilan pemasaran (agen pakan) yang berada pada tingkat komunitas. Keterkaitan Usaha dan Pelakunya di Wilayah Studi Berdasar Gambar 2.. (b) budidaya pembesaran. Relasi antara pembudidaya dan pelaku usaha sarana produksi budidaya bersifat cukup kental. jasa transportasi. Akan tetapi perlu dipahami bahwa dalam sistem ini. dan melibatkan transaksi jual beli dengan nilai uang yang cukup besar. (c) pemasaran dan (d) pengolahan. Relasi ini sudah terjadi cukup lama. maka keterkaitan antar usaha dan pelakunya dapat dilihat dalam Gambar 2.

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor
tertentu dapat bersifat patronase, dimana agen perwakilan pabrik pakan menjadi patron dan klien adalah petani yang menggunakan. Hal ini terjadi karena sebagian pola

pemasaran (pakan) tidak bersifat cash and carry. Pola ini juga terjadi pada pola hubungan antara petani dengan pemasok obat-obatan. Dalam proses on farm pola keeratan relasi juga terjadi antara petani dengan pembenih atau pemasok benih walaupun dengan intesitas yang berbeda.Demikian selanjutnya

antara pembenih atau pemasok benih dengan pembesar. Relasi yang berkembang biasanya didasarkan pada kebiasaan setempat mulai dari pola pembayaran, distribusi barang sampai kesepakatan lain termasuk resiko kematian benih. Relasi berikutnya terjadi antara sisi on-farm dengan off-farm pemasaran. Dimana biasanya sudah terjadi relasi yang cukup erat antara produsen pembesaran dengan pembeii. Dalam transaksi ini disepakati harga, pola pembayaran, distribusi dan resikoresiko yang ditanggung kedua belah pihak. Pola relasi antara on-farm dengan off-farm pengolahan sekarang ini belum terjadi. Mengingat bahwa pengolah hasil perikanan di Kecamatan Parung sekarang ini justru mengolah ikan laut. Sementara itu, untuk mendukung kegiatan usaha tersebut juga telah dilakukan fasilitasi oleh para petugas lapangan dan penyuluh dari dinas teknis baik Kabupaten Bogor. Petugas ini memberikan fasilitasi transfer pengetahuan pada bidang teknologi budidaya, pengelolaan usaha sampai kerjasama kelompok. Sehingga penyuluh merupakan kelembagaan dari sisi pelaku (player of the game) yang merupakan pendukung dari kegiatan ini. Perlu diperhatikan bahwa pada kenyataannya, di samping penyuluh, juga terdapat kelembagaan keuangan yang sekarang ini telah berinteraksi dalam penyediaan jasa permodalan bagi pelaku usaha budidaya. Kelompok jasa keuangan ini meliputi lembaga keuangan bank maupun bukan bank. Secara umum bisa disarikan bahwa secara kelembagaan, sekarang ini di lokasi terdapat pelaku-pelaku usaha (baik individual maupun kelompok) yang perlu diperhitungkan yang meliputi : A. On-farm meliputi : a.Pelaku pembenihan b.Pelaku Pendederan c. Pelaku pembesaran B. Off-farm meliputi : a. Pembeli/pedagang ikan konsumsi
Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR

II - 11

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor
b. Pelaku usaha transportasi C. Pendukung meliputi a. Pemasok pakan dan obat-obatan b. Pemasok benih c. Pemasok modal d. Penyuluh

2.3.

Tujuan Minapolitan

Tujuan dari penerapan program minapolitan ini adalah: 1. Untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat serta pendapatan asli daerah. 2. Untuk memfasilitasi pembangunan kawasan melalui pembentukan titik tumbuh agribisnis perikanan berkelanjutan berbasis masyarakat. 3. Untuk meningkatkan keterkaitan desa dengan kota melalui jaringan usaha.

2.4.

Sasaran Minapolitan

Sasaran program minapolitan yaitu: 1. Terwujudnya kawasan perdesaan dengan fasilitas perkotaan didukung kluster kegiatan perikanan yang dikembangkan bersama masyarakat, sehingga masyarakat tumbuh dan berkembang seiring dengan kemajuan agribisnis yang menjadi penghela kegiatan pembangunan perikanan dari kawasan/wilayah tersebut. 2. Terbentuknya sistem dan usaha agribisnis perikanan berkelanjutan (tidak merusak lingkungan), terdesentralisasi (wewenang berada pada pemerintah daerah dan masyarakat), dan menjadi titik tumbuh yang menciptakan lapangan kerja, dan membawa kemakmuran/kesejahteraan bagi masyarakat tersebut. dari kawasan/wilayah

Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR

II - 12

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor
2.5. Pariwisata

Yoeti (2008) mengemukakan, dalam perkembangan industri sebuah kawasan wisata, sebuah perencanaan yang baik sangat penting dibutuhkan agar pengembangan wisata tersebut sesuai dengan apa yang telah dirumuskan dan berhasil mencapai sasaran yang dikehendaki, baik itu ditinjau dari segi ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan hidup. Pariwisata menurut Damanik dan Weber (2006) adalah kegiatan rekreasi di luar domisili untuk melepaskan diri dari pekerjaan rutin atau mencari suasana lain. Pariwisata semakin berkembang sejalan perubahan-perubahan sosial, budaya, ekonomi, teknologi dan politik. Sebagai suatu aktifitas manusia, pariwisata adalah fenomena pergerakan manusia, barang dan jasa yang sangat kompleks. Yoeti (2008) menyatakan bahwa pariwisata merupakan sebuah perjalanan untuk bersenang-senang. Perjalanan tersebut baru dapat dikatakan sebagai perjalan wisata jika telah memenuhi empat kriteria di bawah ini, yaitu: 1. Perjalanan dilakukan dari suatu tempat ke tempat yang lain, dan dilakukan di luar tempat kediaman dimana orang itu biasanya tinggal. 2. Perjalanan dilakukan minimal 24 jam atau lebih kecuali bagi excursionist (kurang dari 24 jam). 3. Tujuan perjalanan hanya untuk bersenang-senang (to pleasure) tanpa mencari nafkah di negara, kota atau DTW (Daerah Tujuan Wisata) yang dikunjungi. 4. Uang yang dibelanjakan wisatawan tersebut dibawa dari negara asalnya dimana dia tinggal atau berdiam dan bukan diperoleh karena hasil usaha selama dalam perjalanan wisata yang dilakukan. Pariwisata di daerah pariwisata dan rekreasi dapat menimbulkan masalah ekologis yang khusus dibandingkan dengan kegiatan ekonomi lain mengingat bahwa keindahan dan keaslian alam merupakan modal utama. Bila suatu wilayah dibangun untuk tempat rekreasi, biasanya fasilitas-fasilitas pendukung lainnya juga berkembang dengan pesat. Sebagai kegiatan rekreatif, pariwisata merupakan sarana pemenuhan hasrat manusia untuk bereksplorasi guna mengalami berbagai perbedaan. Perbedaan tersebut mencakup perbedaan fisik, seperti bangunan, lingkungan alam, benda-benda, hewan, tumbuhan dan manusia. Perbedaan non-fisik, seperti perbedaan suhu dan kelembaban udara, suara, rasa makanan dan minuman serta suasana, dan juga perbedaan-perbedaan lain yang mengarah pada perilaku manusia termasuk adat-istiadat, kesenian, cara berpakaian dan lain sebagainya (Simatupang 1999).

Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR

II - 13

Salah satu implikasi perubahan kebijakan tersebut adalah Pemerintah Daerah harus mampu mengelola sumber dana untuk membiayai pembangunan daerahnya. Masyarakat sebagai pelaku utama dalam pengelolaan dan pengambilan manfaatnya. Pendekatan pengusahaan didasarkan pada keanekaragaman hayati dan keanekaragaman budaya.TINJAUAN KEBIJAKAN 3 3. b) Menetapkan tahap dan langkah pembangunan kawasan sesuai dengan potensi yang dimiliki. 2. Masyarakat sebagai pengambil keputusan dan menentukan sistem pengusahaan dan pengelolaan yang tepat. Kepastian dan kejelasan hak dan kewajiban semua pihak. 5. antara lain adalah: a) Menetapkan target pertumbuhan. sehingga kelembagaan lokal dalam pembangunan ekonomi daerah akan semakin penting dan diakui keberadaannya. Pergeseran sistem pemerintahan dari sentralistik menjadi terdesentralistik merupakan peluang sekaligus tantangan bagi pemerintah daerah.1. Desentralisasi menuntut pembangunan dikelola berdasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: 1. 4. Kelembagaan pengusahaan ditentukan oleh masyarakat atau rakyat. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah yang kemudian digantikan oleh UU No. dan 6. Peran Pemerintah Pusat yang semula bersifat sektoral secara bertahap beralih ke Pemerintah Daerah. . khususnya Kabupaten/Kota. Kebijakan Nasional Minapolitan Seiring dengan perkembangan sistem pemerintahan di Indonesia. pengesahan Undangundang (UU) No. Pemerintah sebagai fasilitator dan pemantau kegiatan. Kewenangan pemerintah daerah dalam kaitannya dengan pengembangan kawasan adalah sangat luas. 32 Tahun 2004 telah menciptakan paradigma baru dalam pembangunan daerah. 3.

dan f) Mengembangkan sistem informasi untuk promosi kegiatan-kegiatan ekonomi regional. Undang-undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan kedua atas UU no. khususnya kawasan sentra produksi perikanan nasional dan daerah. sedangkan pengelolaan ruang kawasan sentra produksi perikanan nasional dan daerah merupakan arah kebijakan dan strategi pemanfaatan ruang bagi peruntukan perikanan secara umum. 5) Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. 3) 4) Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. e) Menetapkan institusi pendukung kebijakan untuk pertumbuhan ekonomi regional. Perencanaan pengembangan kawasan perikanan budidaya (minapolitan) merupakan suatu upaya untuk memanfaatkan lahan/potensi yang ada dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan dan penataan ruang perikanan di pedesaan. Konsepsi mengenai pengembangan kawasan perikanan budidaya dalam penataan ruang lebih diarahkan kepada bagaimana memberikan arahan pengelolaan tata ruang suatu wilayah perikanan.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor c) Menetapkan persetujuan kerjasama regional di bidang perdagangan yang berlandaskan pada produksi lokal yang dihasilkan oleh sentra-sentra komoditas tertentu. Berikut ini adalah peraturan-perundangan yang mendasari kebijakan Minapolitan secara nasional : 1) Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004. Dalam rangka memanfaatkan potensi sumberdaya alam yang ada khususnya yang terkait dengan pengembangan perikanan dalam arti luas maka diupayakan suatu pendekatan melalui produk yaitu perencanaan pengembangan kawasan perikanan budidaya (Minapolitan).2 . 2) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulaupulau Kecil. 32 tentang Pemerintahan Daerah. 6) Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Perbantuan. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR III . d) Melakukan berbagai macam negosiasi yang bertujuan mewujudkan konsepsi pertumbuhan ekonomi regional. Pengelolaan ruang perikanan budidaya adalah arahan kebijakan dan strategi pemanfaatan ruang yang diperuntukkan bagi kegiatan perikanan dan usaha-usaha berbasis perikanan lainnya dalam skala nasional.

8) Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintah. dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR III . (b) strategi pengembangan kawasan budidaya dan (c) strategi pengembangan kawasan strategis.67%. Kawasan perikanan ini. dan 12) Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP. sosial dan ekonomi memiliki potensi untuk kegiatan perikanan. air deras. 11) Peraturan Menteri Dalam Negeri No 29 Tahun 2008 tentang Pengembangan Kawasan Strategis Cepat Tumbuh di Daerah. Strategi pengembangan kawasan budidaya dilakukan dengan meningkatkan keterpaduan dan keterkaitan antar kegiatan budidaya. Di mana kawasan budidaya di luar hutan termasuk didalamnya ditujukan untuk pertanian dengan kegiatan perikanan. kolam air tenang. Kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bogor : Perda No. 9) Pemerintah Daerah Provinsi. 3. 10) Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 41 Tahun 2009 tentang Penetapan Lokasi Minapolitan.31% dan 44. pembenihan. dan budidaya ikan di perairan umum. Pengembangan pola ruang wilayah (pasal 12) didasarkan pada (a) strategi pengembangan kawasan lindung. berdasarkan peraturan daerah ini terletak di sebagian wilayah kecamatan tertentu. 19/2008 tentang Rencana tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bogor 2005-2025 pasal 7 menyebutkan bahwa strategi untuk mewujudkan pola kebijakan penataan ruang wilayah Kabupaten Bogor diantaranya mencakup strategi pengembangan pola ruang wilayah. kolam ikan hias/aquarium.2. Perbandingan antara kawasan budidaya dan kawasan lindung masing-masing sebesar 55. Hal yang dipikirkan adalah bahwa sebagian wilayah kecamatan yang telah ditunjuk tersebut juga digunakan untuk peruntukan pemanfaatan yang lainnya. pengendalian perkembangan budidaya agar tidak melampaui daya dukung dan pengembangan fasilitas perkotaan agar mendukung perkembangan perdesaan. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor No.3 .Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 7) Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasioanal.19 tahun 2008 Secara legal.24/MEN/2002 tentang Tata Cara dan Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan di Lingkungan Departemen Kelautan dan Perikanan. Kawasan perikanan dikembangkan pada wilayah/kawasan yang secara teknis.

dan 2) pengendalian perkembangan kegiatan budidaya agar tidak melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan. 2) Peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana transportasi. 3) Pengembangan kawasan strategis pertambangan sebagai kawasan strategis lingkungan hidup yang berperan sebagai kawasan andalan sumber daya alam melalui konservasi bahan galian.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang tertuang dalam Peraturan Daerah Nomor 19 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bogor tahun 2005-2025 meliputi kebijakan pengembangan struktur ruang. dan kebijakan pengembangan pola ruang. meliputi : 1) Peningkatan akses pelayanan perkotaan dan pusat pertumbuhan ekonomi wilayah yang merata dan berhierarki. b. 2) Pengembangan kawasan strategis industri sebagai kawasan strategis sosial ekonomi melalui penataan dan pemanfaatan ruang serta pembangunan jaringan infrastruktur yang mendorong perkembangan kawasan. meliputi : 1) Pengembangan kawasan strategis Puncak sebagai kawasan strategis lingkungan hidup yang berperan sebagai kawasan andalan pariwisata melalui pembatasan pemanfaatan ruang yang lebih selektif dan efisien. dan. kebijakan pengembangan kawasan lindung. meliputi : 1) perwujudan dan peningkatan keterpaduan dan keterkaitan antarkegiatan budidaya. Sedangkan kebijakan pengembangan pola ruang.4 . kebijakan pengembangan kawasan strategis. meliputi : a. c. Kebijakan pengembangan struktur ruang Kabupaten Bogor. kebijakan pengembangan kawasan budidaya. dan sumberdaya air yang terpadu dan merata di seluruh wilayah daerah. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR III . telekomunikasi. energi. dan 2) pencegahan dampak negatif kegiatan manusia yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup. dan 4) Pengembangan kawasan strategis lintas administrasi kabupaten sebagai kawasan strategis sosial ekonomi melalui sinkronisasi sistem jaringan. meliputi : 1) pemeliharaan dan perwujudan kelestarian fungsi lingkungan hidup.

Ciawi. b. dan (6) sistem prasarana lingkungan. 2) Kawasan perlindungan setempat. 7) Kawasan rawan konservasi geologi adalah kawasan karst kelas I yang berfungsi sebagai perlindungan hidrologi dan ekologi. Sistem prasarana wilayah. (2) Orde II. (4) sistem prasarana sumberdaya air. Parung Panjang. dan (3) lingkungan bangunan gedung dan halamannya. gerakan tanah. (2) lingkungan bangunan nongedung. meliputi : (1) sistem prasarana transportasi. Ruang lingkup dari rencana pola ruang kawasan lindung. (2) Gunung Gede Pangrango. (2) sistem prasarana telekomunikasi. Dalam hal ini terdiri dari : a. terdiri dari : (1) Gunung Salak. yaitu Jasinga. (3) Orde III. dan longsor. 3) Kawasan suaka alam. 5) Kawasan perlindungan plasma nutfah. yaitu Cibinong yang memiliki aksesibilitas tinggi terhadap PKN lainnya (PKN JABODETABEKJUR). meliputi 80 Desa di 40 Kecamatan. dilakukan melalui pembangunan Desa Pusat Pertumbuhan (DPP). Sistem pusat permukiman perkotaan. meliputi : (1) lingkungan non bangunan. 4) Kawasan pelestarian alam. (2) Taman Buah Mekarsari. Sedangkan untuk kawasan gerakan tanah tinggi terdapat di 13 wilayah Kecamatan. Parung. meliputi kawasan rawan letusan gunung api serta kawasan rawan gempa. meliputi 2 Taman Nasional dan 2 Taman Wisata Alam. meliputi : (1) Taman Safari Indonesia.5 . meliputi 3 cagar alam di 3 kecamatan. 6) Kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan. d. (3) sistem prasarana sumberdaya energi. Cigombong. dan (3) Gunung Salak Endah. yaitu Cileungsi dan Leuwiliang yang memiliki aksesibilitas tinggi terhadap Cibinong. dan (3) Gunung Halimun. terdiri dari: 1) Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya. 8) Kawasan rawan bencana alam. Pengembangan Pola Ruang Wilayah menggambarkan rencana sebaran Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR III . meliputi : (1) Orde I.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Pengembangan struktur wilayah terdiri dari: a. (5) sistem prasarana gas. Untuk kawasan rawan letusan gunung api. Klaster di 5 (lima) wilayah sebagai strategi ruang wilayah. dan Cariu. Sistem pusat permukiman perdesaan. c.

(2) Zona Industri (ZI). (2) golongan bahan galian vital. serta dapat menunjang kegiatan pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. dan (2) permukiman perkotaan terdiri dari permukiman perkotaan kepadatan tinggi (Pp 1). kawasan wisata budaya dan kawasan wisata minat khusus. (3) tanaman tahunan (TT). 6) Kawasan permukiman meliputi: (1) permukiman perdesaan terdiri dari permukiman pedesaan diluar kawasan yang berfungsi lindung (PD 1) dan permukiman pedesaan yang berada di dalam kawasan lindung di luar kawasan hutan (PD 2). 2) Kawasan pertanian. Pengelolaan kawasan lindung lainnya. mencakup : 1) Pengelolaan kawasan Budidaya di dalam kawasan lindung. meliputi : (1) Kawasan hutan produksi terbatas (HPT). ekonomis dan lingkungan. di luar kawasan hutan dilakukan pada kawasan hutan produksi terbatas dan hutan produksi tetap. dan (3) Sentra Industri Kecil. (2) pertanian lahan kering (LK). 5) Kawasan pariwisata meliputi kawasan wisata alam. (3) golongan bahan galian di luar bahan. Pengelolaan kawasan rawan bencana alam.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Ruang lingkup dari rencana pola ruang kawasan budidaya. 4) Pemanfaatan kawasan industri. dan (6) perikanan. meliputi : Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR III . meliputi : (1) pertanian lahan basah (LB). galian strategis dan bahan galian vital (golongan C).6 . meliputi : (1) Kawasan Industri Estate (KIE). (4) perkebunan (PB). b. meliputi : Pengelolaan kawasan lindung di dalam kawasan hutan dan arahan pengelolaan kawasan lindung di luar kawasan hutan. Pengelolaan Kawasan Budidaya. Pengelolaan kawasan suaka alam. Pengelolaan Kawasan Lindung. permukiman perkotaan kepadatan sedang (Pp 2) dan permukiman perkotaan kepadatan rendah Pengelolaan kawasan lindung dan kawasan budidaya terdiri dari : a. (4) Dalam hal terdapat potensi tambang di luar lokasi tambang. (5) peternakan. maka pemanfaatan potensi tambang harus memenuhi kelayakan secara teknis. terdiri dari: 1) Kawasan Budidaya di dalam kawasan hutan. meliputi : (1) pertambangan bahan galian golongan strategis. dan (2) Kawasan hutan produksi tetap (HP). Pengelolaan kawasan perlindungan setempat. 3) Pemanfaatan kawasan pertambangan.

rehabilitasi dan pemeliharaan rutin untuk ruas-ruas jalan Nasional. Pengelolaan kawasan strategis. jalan Provinsi. dilakukan terhadap seluruh jalan kabupaten dan desa di wilayah Kabupaten Bogor. (3) Jaringan jalan kolektor primer I (10 ruas jalan). Kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) juga mewadahi pengembangan sistem prasarana wilayah yang terdiri dari : A. yang jaringan jalannya terlampir pada Dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah. 2) Pengelolaan Kawasan Budidaya di Luar Kawasan Lindung. • • Jaringan jalan provinsi (kolektor primer II) (10 ruas jalan) Pengelolaan jaringan jalan kabupaten (lokal sekunder. meliputi: Pengelolaan kawasan perdesaan. terdiri dari : Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR III . 2) Pengembangan jalan baru dilakukan untuk menghubungkan antar wilayah dan antar pusat-pusat permukiman. lokal II dan lokal III) dan jalan desa (lingkungan). Pengelolaan kawasan pertanian lahan kering. jalan Kabupaten. Pengelolaan kawasan perikanan. Pengembangan sistem transportasi jalan 1) Pengelolaan jalan yang ada dilakukan melalui program peningkatan. Pengelolaan kawasan industri. jasa dan simpulsimpul transportasi serta pengembangan jalan penghubung antara jalan tol dan bukan jalan tol. Pengelolaan kawasan pertambangan. Pengelolaan kawasan permukiman. perdagangan. Pengelolaan kawasan pariwisata. (4) Jalan tol Jakarta – Bogor – Ciawi (Tol Jagorawi). terdiri dari : • Jaringan jalan Nasional. industri. lokal I. Pengelolaan kawasan tanaman tahunan/perkebunan.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Pengelolaan kawasan pertanian lahan basah. (2) Jaringan jalan arteri sekunder (1 ruas jalan). dan jalan Kota. Pengelolaan kawasan peternakan.7 . meliputi : (1) Jaringan jalan arteri primer (2 ruas jalan). Pengelolaan kawasan perkotaan. pertanian.

adalah : (1) lapangan udara untuk pertahanan keamanan (Hankam). B. serta konservasi rel mati.8 . Atang Senjaya di Kecamatan Kemang. terminal barang. Sekolah Polisi Negara (SPN) Lido di Kecamatan Cigombong. terdiri dari lapangan udara dan ruang udara di sekitar udara yang dipergunakan untuk operasi penerbangan. disesuaikan dengan rencana pengembangan jaringan kereta api (rail way master plan) nasional (3 jalur). 2) Rencana pengembangan jalur kereta api antarkota pada ruas tertentu. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) di Kecamatan Rumpin. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR III .Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Rencana pengembangan jaringan jalan baru Nasional (8 jaringan jalan). 3) Rencana pengembangan terminal. Rencana pengembangan jaringan jalan baru berfungsi kolektor primer II. terdiri dari : 4 Terminal angkutan penumpang. 3 Terminal untuk tujuan wisata 2 Terminal barang/peti kemas. Lapangan udara yang terdapat di wilayah Kabupaten Bogor. (2) lapangan udara untuk penelitian. Pengembangan sistem transportasi perkeretaapian Rencana pengembangan sistem transportasi perkeretaapian meliputi pengelolaan jalur perkeretaapian. yang merupakan jalan tembus antar wilayah kabupaten/kota perbatasan (11 jaringan jalan). pengembangan prasarana transportasi kereta api untuk keperluan penyelenggaraan perkeretaapian komuter. Rencana pengembangan jaringan jalan baru berfungsi kolektor primer III. dan (3) lapangan udara untuk pendidikan/pelatihan. Rencana pengembangan jaringan jalan baru berfungsi lokal primer I (26 jaringan jalan). C. yang merupakan jalan lingkar kabupaten dan jalan tembus antar wilayah kabupaten/kota perbatasan (12 jaringan jalan). dry port. Pengembangan sistem transportasi udara Sistem transportasi udara. meliputi : 1) Rencana pengembangan jalur kereta api perkotaan meliputi pengembangan jalur kereta api ganda dan penataan jalur kereta api yang beroperasi saat ini (3 jalur dan 1 stasiun).

G. 2) Pengembangan Prasarana Pengairan. Pengembangan sistem prasarana sumberdaya energi Pengembangan energi baru dan terbarukan oleh Pemerintah Kabupaten Bogor. kereta api dan angkutan jalan raya. (2) mendukung perwujudan struktur ruang kawasan. dilakukan berdasarkan kriteria teknis sebagai berikut: (1) meminimalkan dampak negatif terhadap kesehatan dan keselamatan masyarakat. D. dan (3) kriteria teknis lainnya sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan. Rencana Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR III . Pengembangan sistem prasarana sumberdaya air 1) Pengelolaan sumberdaya air.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Penataan dan pengembangan ruang udara di sekitar bandar udara yang dipergunakan untuk operasi penerbangan sebagaimana dimaksud di atas. Pengembangan sistem jaringan telekomunikasi dapat juga dilakukan melalui kerjasama antar daerah serta peran masyarakat dan dunia usaha. dimana penataan ruang di sekitar dan di kawasan lapangan udara harus memperhatikan kegiatan kebandaraan sesuai dengan rencana induk bandar udara dan ketentuan kawasan keselamatan operasi penerbangan (KKOP). Pengembangan sistem prasarana telekomunikasi Pengembangan sistem jaringan telekomunikasi dilakukan berdasarkan kriteria teknis sebagai berikut : (1) meminimalkan dampak negatif terhadap kesehatan dan keselamatan masyarakat serta keselamatan penerbangan. dan (3) kriteria teknis lainnya sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan. (2) mendukung perwujudan struktur ruang kawasan.9 . Pengembangan sistem prasarana migas Rencana pengembangan prasarana migas adalah jaringan/ distribusi minyak dan gas bumi melalui pipa di darat. F. Pengembangan sistem jaringan tenaga listrik dapat dilakukan melalui kerjasama antar daerah. Pengembangan sistem jaringan tenaga listrik harus memperhatikan kapasitas yang telah terpasang dan kebutuhan jangka panjang. meliputi energi mikrohidro di Kecamatan Leuwiliang dan energi panas bumi di Kecamatan Pamijahan. dilakukan untuk menjamin keselamatan operasi penerbangan dan keberlanjutan pengoperasian lapangan udara. E. pera masyarakat dan dunia usaha.

sarana Kebudayaan dan Peribadatan. dengan arahan pengembangan sebagai berikut : 1) Pengembangan sarana tempat pengolahan sampah. meliputi wilayah Kecamatan Jonggol dan Kecamatan Cariu. 2) Pengelolaan tata guna air. 3) Pengelolaan tata guna udara ditujukan untuk menjaga kelestarian kualitas udara. dilakukan melalui upaya perlindungan tanah dan perlindungan/pengawetan keseimbangannya terhadap kelestarian lingkungan hidup. tata guna air. 4) Pengembangan sarana olahraga.10 . Pengelolaan tata guna tanah. dan keselamatan. 5) Pengembangan sarana kesehatan. dilakukan melalui upaya kelestarian sumberdaya air. 7) Pengembangan tempat ibadah umat muslim dan pembangunan tempat ibadah umat lainnya disesuaikan dengan kebutuhan. 2) Pengembangan tempat pemakaman umum (TPU) dan tempat pemakaman bukan umum (TPBU). 8) Pengembangan sarana perdagangan. Pengembangan sistem prasarana lingkungan Prasarana lingkungan meliputi. dan tata guna sumber daya alam lainnya Rencana pengelolaan tata guna tanah. estetika. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR III . tata guna air. dan tata guna udara. dengan arahan pengembangan sebagai berikut : 1) Pengelolaan tata guna tanah. sarana Tempat Pengelolaan Sampah (TPS). terdiri dari: tata guna tanah. sarana Kesehatan.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor pengembangan sumber migas. I. dan tata guna sumberdaya alam lainnya. 3) Pengembangan sarana pendidikan dan balai latihan kerja. sedangkan rencana pengembangan prasarana migas dilakukan pada seluruh wilayah kabupaten. H. Sarana Olahraga. tata guna udara. sarana Pendidikan dan Balai Latihan Kerja. 6) Pengembangan sarana kebudayaan dan peribadatan. sarana Tempat Pemakaman Umum dan Bukan Umum (TPU/TPBU). tata guna air. dan sarana Perdagangan. tata guna udara.

11 .7 Tahun 2009 RPJM Daerah Kabupaten Bogor 2008-2013 merupakan pedoman bagi seluruh pemangku kepentingan. Pemanfaatan jasa lingkungan Pemanfaatan jasa lingkungan merupakan acuan dalam pengenaan kompensasi bagi pengguna jasa lingkungan. 4) Pengguna jasa lingkungan memberikan sejumlah kompensasi sebagai bentuk apresiasi dan tanggung jawab bersama untuk melindungi dan melestarikan kawasan penyedia jasa lingkungan. Kebijakan Pembangunan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR III . 5) Pemilik lahan perorangan yang lahannya berfungsi sebagai penyedia jasa lingkungan dapat menerima dana kompensasi konservasi dari pengguna jasa lingkungannya berdasarkan kesepakatan diantara keduanya.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor J. misi. 6) Dana kompensasi konservasi hanya dapat digunakan untuk membiayai upaya konservasi kawasan yang menyediakan jasa lingkungan. 3) Upaya perlindungan kawasan penyedia jasa lingkungan harus diapresiasi oleh pengguna jasa lingkungan yang selama ini menggunakannya. udara bersih dan penyerapan karbon. 2) Kawasan yang menghasilkan jasa lingkungan harus dilindungi dari kegiatan yang dapat merusak fungsinya sebagai penyedia jasa lingkungan. Kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bogor 2008-2013 : Perda No. masyarakat dan dunia usaha di dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan pembangunan daerah Kabupaten Bogor. serta wisata alam. Kebijakan Pembangunan merupakan penjabaran tujuan dan sasaran pada Misi serta strategi pembangunan yang telah dijelaskan sebelumnya. RPJM Daerah Kabupaten Bogor 2008-2013 selain memuat visi. 3. meliputi : 1) Kawasan lindung dan kawasan budidaya yang dikelola secara berkelanjutan dapat memberikan jasa lingkungan yang penting bagi kelangsungan kehidupan masyarakat dan lingkungan hidupnya. baik Pemerintahan Daerah. dan strategi juga memuat kebijakan pembangunan Kabupaten Bogor lima tahun ke depan.3. Jasa lingkungan dimaksud berupa jasa lingkungan air. 7) Pemerintah Kabupaten Bogor dapat mengadakan perjanjian kerja sama pemanfaatan jasa lingkungan yang ada di dalam wilayahnya dengan pengguna jasa lingkungan di wilayah Kabupaten Bogor dan/atau wilayah lain di sekitarnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

perangkat daerah. Kebijakan pembangunan urusan komunikasi dan informasi Kebijakan pembangunan urusan pertanian Kebijakan pembangunan urusan energi dan sumber daya mineral III . dengan kata lain Kebijakan Pembangunan adalah untuk mengarahkan pencapaian tujuan dan sasaran Misi yang ditetapkan dan dijadikan sebagai pedoman dalam melaksanakan program dan kegiatan pembangunan.Kebijakan pembangunan urusan pembangunan otonomi daerah. administrasi keuangan daerah. pemerintahan umum. Rumusan Kebijakan Pembangunan dapat dikelompokkan ke dalam Urusan Pemerintahan maupun menurut Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). a.Kebijakan pembangunan urusan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Kebijakan pembangunan urusan sosial Kebijakan pembangunan urusan ketenagakerjaan Kebijakan pembangunan urusan koperasi dan UKM Kebijakan pembangunan urusan penanaman modal Kebijakan pembangunan urusan kebudayaan Kebijakan pembangunan urusan kepemudaan dan olahraga Kebijakan pembangunan urusan kesatuan bangsa dan politik dalam negeri .Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor tersebut menjadi pedoman dalam melaksanakan program dan kegiatan pembangunan. kepegawaian dan persandian Kebijakan pembangunan urusan pemberdayaan masyarakat desa Kebijakan pembangunan urusan kearsipan dan perpustakaan. Kebijakan Pembangunan Kabupaten Bogor Kebijakan Pembangunan urusan pemerintahan yang termuat dalam okumen RPJM Daerah Kabupaten Bogor 2008-2013 adalah : Kebijakan pembangunan urusan pendidikan Kebijakan pembangunan urusan kesehatan Kebijakan pembangunan urusan pekerjaan umum Kebijakan pembangunan urusan perumahan dan permukiman Kebijakan pembangunan urusan penataan ruang Kebijakan pembangunan urusan perencanaan pembangunan Kebijakan pembangunan urusan perhubungan Kebijakan pembangunan urusan lingkungan hidup Kebijakan pembangunan urusan kependudukan .12 Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR .

Pemberian pola insentif dalam rangka peningkatan produksi pertanian secara berkelanjutan dalam rangka ketersediaan pangan maupun agribisnis. Program Optimalisasi Pengelolaan dan Pemasaran Produksi Perikanan. 6. pencegahan dan penanggulangan penyakit tanaman. Kebijakan pembangunan urusan pertanian Berikut ini adalah Kebijakan pembangunan urusan pertanian : 1. Peningkatan. Peningkatan produksi hasil hutan dengan tetap menjaga kelestarian dan kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan serta rehabilitasi lahan kritis. 3. ternak dan ikan. 4.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Kebijakan pembangunan urusan pariwisata .4. Pengembangan industri agro yang tersebar di pedesaan untuk meningkatkan nilai tambah produk pertanian dan menyerap tenaga kerja. Peraturan terkait dengan tata ruang wilayah adalah peraturan Peraturan Daerah Kabupaten Bogor No. 3. 2. Peningkatan produksi hasil perikanan yang berkelanjutan dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan. .Kebijakan pembangunan urusan industri dan perdaganga b. Dalam RPJM Daerah Kabupaten Bogor 2008-2013 terkait dengan pengembangan perikanan. 7. Pelaksanaan revitalisasi pertanian dalam arti luas melalui penguatan sistem agribisnis dan penerapan hasil inovasi serta teknologi terkini dalam lingkup pertanian. peraturan yang terkait dengan kebijakan pemilihan lokasi dan komoditas dan kebijakan/peraturan terkait dengan minapolitan itu sendiri. Peningkatan ketersediaan pangan secara berkelanjutan melalui peningkatan produksi pertanian dan peternakan khususnya untuk memenuhi karbohidrat dan protein. program yang akan dilaksanakan adalah : 1. Peraturan Terkait Minapolitan Peraturan terkait dengan Minapolitan saat ini secara pokok meliputi peraturan tentang tata ruang wilayah. 19/2008 tentang Rencana tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bogor 2005-2025.13 . 5. 2. Program Pengembangan Sistem Penyuluhan Perikanan. Peraturan ini Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR III .

(3) Kecamatan Gunung Sindur dan (4) Kecamatan Kemang yang meliputi 28 desa. Sebagian dari wilayah kecamatan yang menjadi zona industri (pasal 37) juga Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR Keempat lokasi tersebut merupakan bagian dari wilayah kecamatan di Zona IV III . nila. Hal yang paling penting dari peraturan ini adalah bahwa lokasi pengembangan minapolitan yang akan ditetapkan harus sesuai dengan rencana pemanfaatan wilayah sesuai dengan peraturan daerah ini. Pasal 9 menyebutkan bahwa komoditi unggulan perikanan mencakup jenis-jenis ikan : mas.31/227/Kpts/Huk/2010 tentang Penetapan Lokasi Pengembangan Kawasan Minapolitan di Kabupaten Bogor.14 . menyebutkan bahwa ruang lingkup revitalisasi pertanian dan pembangunan perdesaan mencakup 6 komoditi unggulan yaitu usaha tanaman pangan. (4) rencana strukur dan pola ruang wilayah. patin dan lele) bertumpu pada target produksi di kawasan Zona IV yang meliputi kawasan kecamatan Tahurhalang. (5) rencana pemanfaatan wlayah. tawes. secara kewilayah adalah adanya peraturan daerah tentang rencana tata ruang wilayah. kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah. kehutanan dan perikanan. hias. gurame. gurame. (6) arahan pengendalian pemanfaatan ruang dan (7) hak. peternakan. Rancabungur. Maka pengembangan perikanan kolam air tenang (komoditi mas.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor secara garis besar berisikan : (1) ketentuan umum. (b) zona industri dan (c) sentra industri kecil.Terkait dengan minapolitan. Kemang. RP3. mujair. Dalam peraturan tersebut menyatakan bahwa lokasi minapolitan terletak pada 4 kecamatan yaitu (1) Kecamatan Ciseeng. Program direncanakan baik pada sisi on-farm. (2) Kecamatan Parung. patin dan lele. (3) asas. nila. off-farm maupun yang tidak didasarkan usaha pertanian (non-farm) serta infrastrukturnya. kewajiban dan peran serta masyarakat dan kelembagaan. Hal lain yang lebih mendasar.31/227/Kpts/Huk/2010 tentang penetapan lokasi pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Bogor. Parung. tujuan. Dalam Peraturan Bupati (Perbub) nomor 84/2009. Peraturan lain yang terkait dengan pengembangan Minapolitan di Kabupaten Bogor seperti yang sudah disebutkan di atas adalah Keputusan Bupati Bogor nomor 523. Pasal 37 perda ini ini menyebutkan bahwa kawasan industri mencakup bentuk (a) kawasan industry estate. perkebunan. (2) Ruang lingkup. Peraturan yang terkait dengan kebijakan dan komoditas setidaknya terdapat dua peraturan pokok yaitu Peraturan Bupati (Perbub) nomor 84/2009 tentang Revitalisasi Pertanian dan Pembangunan Perdesaan (RP3) dan Keputusan Bupati Bogor nomor 523. Ciseeng dan Gunung Sindur. hortikultura.

Kabupaten Bogor merupakan satu dari 11 kabupaten yang terpilih di Propinsi Jawa Barat.15 . Berdasarkan pada telaah tersebut. Sementara sebagian wilayah kecamatan Gunung Sindur dan Parung juga menjadi sentra industri kecil. pemasaran komoditas perikanan. pengolahan. PER : 12/MEN/2010 tentang minapolitan. KEP : 32/MEN/2010 tentang penetapan kawasan minapolitan. (b) pengendalian melalui sarana kualitas air dan memperhatikan habitat alami ikan dan (c) meningkatkan produksi dengan memperbaiki dan meningkatkan sarana dan prasarana perikanan. disampingg berisikan tentang ketentuan umum. walaupun terdapat potensi tumpang tindih terutama pada kegiatan-kegiatan perikanan dan peternakan yang berbasis lahan yang sama. dan/atau pemasaran dan kegiatan usaha lainnya seperti jasa dan perdagangan. (4) pembinaan dan (5) pembiayaan. evaluasi dan pelaporan.19/2008) kawasan perikanan dilakukan dengan (a) menjaga kelestarian sumberdaya air terhadap pencemaran limbah industry maupun limbah lainnya. pelayanan jasa dan/atau kegiatan pendukung lainnya. peraturan ini menyebutkan bahwa karakteristik kawasan minapolitan merupakan kawasan ekonomi yang terdiri atas sentra produksi.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor merupakan lokasi pengembangan minapolitan yaitu kecamatan Gunung Sindur. memuat tentang konsepsi minapolitan. Salah satu persyaratan mendasar adalah bahwa kawasan minapolitan harus sesuai dengan rencana tata ruang wilayah (RTRW) dan Rencana Pengembangan Investasi Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR III . Secara spesifik. Secara umum. Rencana pengelolaan kawasan (Pasal 51 Perda No. Hal ini perlu untuk diperhitungkan secara cermat mengingat bahwa bukan hanya persaingan pemanfaatan lahan tetapi potensi eksternal negatif dari aktivitas perikanan dan zona industri yang bisa saling meniadakan. (3) pemantauan. Sedangkan dari sisi kebijakan nasional mengenai minapolitan. Dalam keputusan ini. Minapolitan didefinisikan sebagai suatu bagian wilayah yang mempunyai fungsi utama ekonomi yang terdiri dari sentra produksi. (2) konsep pengembangan kawasan minapolitan. Hal perlu untuk menjadi catatan adalah adanya pemanfaatan wilayah sesuai RTRW sebagai zona indutri. Kabupaten Bogor merupakan 1 dari 197 kabupaten/kota seluruh Indonesia yang telah ditetapkan sebagai daerah pengembangan kawasan minapolitan. terlihat bahwa peraturan tentang lokasi minapolitan selaras dengan peraturan tentang RP3. peraturan ini juga meliputi : (1) azas. pengolahan. telah dikeluarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. tujuan dan sasaran.

16 .Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Jangka Menengah Daerah (RPIJMD) yang telah ditetapkan. Pada sisi pembiayaan. Sedangkan bila sudah memenuhi criteria dan persyaratan yang ada. maka Bupati/Walikota mempunyai otoritas untuk menyusun Rencana Induk (Master plan). Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR III . maka pengembangan dan pembinaan kawasan minapolitan didasarkan pada APBN dan atau APBD serta sumber lain yang tidak mengikat sesuai peraturan perundang-undangan. Penetapan lokasi Minapolitan dilakukan oleh Bupati/Walikota dan disampaikan pada Menteri Kelautan dan Perikanan. yang diimplementasikan melalui Rencana Pengusahaan dan Rencana Tindak.

00 36.1.00 35. Lokasi Kegiatan di Empat Kecamatan No.00 32.30 105.00 45.00 225.00 82.00 25.00 22.00 22.1. Indah Cogreg Bj.00 56.20 245.00 280.00 .00 24. 1 Kecamatan Ciseeng Desa Babakan Parigi Mekar Putat Nutug Ciseeng Cibentang Cibeuteung Udik Cibeuteung Muara Cihoe 2 Parung Bj.00 80. Sempu Waru Jaya Waru Pamegar Sari Iwu 3 Gunung Sindur Pangasinan Cibinong Gunung Sindur Curug Cidokom Pabuaran 4 Kemang Pabuaran Kemang Tegal Pondok Udik Bojong Jampang Luas (ha) 283.METODOLOGI 4 4.00 210.00 76.00 203.00 8.00 151.00 105.00 18.00 90.00 15.00 56.00 63. Waktu dan Lokasi Kegiatan Perencanaan kawasan minapolitan sebagai salah satu tujuan wisata edukasi dan rekreasi ini direncanakan dilakukan pada empat wilayah pengembangan yaitu di empat (4) kecamatan yang terdiri dari 27 desa yaitu : Tabel 4.

Pendekatan studi penyusunan Masterplan Pengembangan Minapolitan Budidaya dilakukan dengan beberapa tahapan.2. Disamping itu terdapat proses Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV . spesifik lokasi dan berbasis masyarakat. sehingga penyusunan masterplan dilakukan dengan berbagai pendekatan.2 . perkiraan. implementatif. sosial ekonomi. yang mencakup pengumpulan data dan informasi (primer dan sekunder). analisis mendalam dan komprehensif terhadap berbagai aspek. Peta Lokasi Kegiatan Pelaksanaan kegiatan Penyusunan Masterplan Minapolitan di Kabupaten Bogor dilakukan selama 45 hari kerja dari bulan Oktober hingga Desember 2010. jika ada). Pendekatan Penyusunan Master Plan Penyusunan Masterplan Pengembangan Minapolitan Budidaya pada dasarnya merupakan penyusunan model-model dan program-program pembangunan yang akan dilakukan serta indikator kinerja untuk masing-masing model tersebut yang bersifat operasional. antara lain aspek sumberdaya alam dan lingkungan. sumberdaya manusia.1. dan aspek kelembagaan. 4. pengembangan infrastruktur wilayah. serta pengkajian terhadap data dan informasi (termasuk review hasil-hasil studi sejenisnya atau sebelumnya.1. Kerangka Pendekatan Studi 4.2.Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor Gambar 4.

maka perlu disusun kebijakankebijakan yang mampu memberikan arahan dan ketetapan pengembangan kawasan serta mendapat legitimasi dari seluruh stakeholder melalui proses pembuatan kebijakan yang partisipatif. sumberdaya infrastruktur dan sumberdaya sosial dan kelembagaan) dimana dalam perkembangan pengelolaan dan pemanfaatannya juga menimbulkan berbagai isu dan permasalahan. misi dan strategi pengembangan kawasan yang kemudian menjadi arahan bagi rencana induk masing-masing sub kawasan pengembangan. Calon Kawasan Minapolitan Budidaya FGD atau Rembug Warga Identifikasi: a. SDM. Isu & permasalahan perikanan budidaya Survei Lapangan Tinjauan Kebijakan Pemerintah Rencana Induk Pengembangan Minapolitan Budidaya (Konsepsi Visi. Kerangka Pendekatan Penyusunan Masterplan Pengembangan Minapolitan Budidaya Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV . sumberdaya manusia.Infrastruktur pendukung perikanan budidaya c.3 . Kebijakan-kebijakan itu dituangkan dalam bentuk konsepsi. Secara skematis.Potensi SDA. Suatu calon Kawasan Minapolitan masing-masing memiliki potensi sumberdaya (sumberdaya alam.2. Untuk mewujudkan suatu lokasi sebagai sebuah kawasan minapolitan. dan Strategi) Rencana Induk Pengembangan Minapolitan Budidaya Rencana Pengembangan Sistem Perbenihan Rencana Pengembangan Teknologi Budidaya Perikanan Rencana Pengembangan Sistem Pemasaran Rencana Pengembangan Sistem Pengolahan Pertumbuhan Ekonomi dan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Berbasis Budidaya Perikanan Secara Berkelanjutan Gambar 4. Misi. dan Kelembagaan b.2. kerangka pendekatan penyusunan masterplan ini dapat dilihat pada Gambar 4.Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor partisipatif melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) atau Rembug Warga di lokasi pengembangan minapolitan budidaya. visi. Hasil akhir yang diharapkan adalah terciptanya kawasan minapolitan sebagai kawasan pertumbuhan baru berbasis sumberdaya perikanan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan.

Pendekatan Pengembangan Minapolitan Prinsip utama dalam pengembangan Minapolitan adalah untuk mensinergiskan kegiatan produksi bahan baku. 2.Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor 4. Keuntungan yang diperoleh melalui peningkatan nilai tambah harus dapat dinikmat oleh seluruh masyarakat yang terlibat dalam proses agribisnis perikanan tersebut sehingga akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Namun pertumbuhan ekonomi yang tercipta harus dinikmati masyarakat setempat khususnya masyarakat pelaku agribisnis perikanan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR konsep yang jelas. Landasan konsep dalam pengembangan IV . dalam pengembangan Minapolitan juga harus dilandasi dengan minapolitan adalah: 1. Oleh karena itu. Bahwa dalam pengembangan minapolitan secara nasional untuk komoditas yang sama tidak boleh terjadi kompetisi antar daerah. 5) Prinsip Keadilan Pemerataan: manfaat yang diperoleh dari kegiatan minapolitan dapat terdistribusi secara merata dan berkeadilan bagi semua pelaku yang terlibat. sehingga dapat menjadikan mereka sebagai pelaku dan mitra kerja yang aktif dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan. 4) Prinsip bertahap dan berkelanjutan: pembangunan dilaksanakan secara bertahap dan sesuai potensi dan kemampuan masyarakat setempat serta memperhatikan kelestarian lingkungan.4 . 2) Prinsip swadaya: bimbingan dan dukungan kemudahan (fasilitas) yang diberikan harus mampu menumbuhkan sikap keswadayaan dan kemandirian (bukan menciptakan ketergantungan).2. pengolahan dan pemasaran dalam satu rangkaian kegiatan besar dalam satu kawasan atau wilayah dengan penekanan pada peningkatan nilai tambah produk perikanan. Jika ada lebih dari satu daerah mengembangkan minapolitan dengan komoditas unggulan yang sama dengan target pasar yang sama harus ada pengaturan tentang kuota yang adil. Dalam pengembangan Minapolitan harus dapat menjamin terciptanya pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut. 3) Prinsip Kemitraan: peran pelaku agribisnis perikanan diperlakukan sebagai mitra kerja pembangunan yang berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan. Di samping prinsip-prinsip tersebut. pengembangan minapolitan mengacu kepada prinsip-prinsip : 1) Prinsip Kerakyatan: pembangunan diutamakan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat banyak (bukan kesejahteraan individu atau kelompok) berdasarkan keadilan.2.

upaya untuk mengembangkan minapolitan hendaknya ditempuh melalui penciptaan atau pengembangan kegiatan-kegiatan ekonomi yang bersifat berkelanjutan (sustainable economic basis). Oleh karena dalam pengembangan Minapolitan diperlukan kelembagaan yang berfungsi pengawasan atau pendampingan terhadap semua proses pengembangan bisnis di kawasan minapolitan.5 . maka pengembangan minapolitan di Kabupaten Bogor hendaknya dilaksanakan melalui pendekatan sistem sumberdaya (resources system).Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor baik pembenih. Kalau tidak maka hal tersebut akan menimbulkan kerusakan pada lingkungan (sumberdaya alam dan ekosistem) dan masalah sosial (pemerataan kesempatan kerja dan berusaha. Kawasan minapolitan terdiri dari pusat kawasan perikanan dan desa-desa sentra produksi perikanan yang ada disekitarnya. kecemburuan sosial serta friksi sosial). Pendekatan ini mengartikan bahwa suatu kegiatan pembangunan (ekonomi) merupakan kombinasi yang terpadu dan holistik Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV . dimana keuntungan yang terjadi dari investasi tersebut dinikmati oleh masyarakat diluar kawasan tersebut. tetapi lebih ditentukan dengan memperhatikan skala ekonomi kawasan yang ada. sehingga dapat memenuhi kebutuhan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhan serta aspirasinya (Dahuri 1999) Dalam rangka mewujudkan pembangunan ekonomi secara berkelanjutan.3. pembudidaya maupun pengolah yang pada gilirannya akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi masyarakat yang lain secara keseluruhan. mendorong. Di samping itu. menghela kegiatan pembangunan lainnya di wilayah sekitarnya. 3. yang dimaksud dengan sustainable economic basis adalah bahwa kegiatan ekonomi termaksud hendaknya secara sosial-ekonomi menguntungkan masyarakat lokal dan secara ekologis aman. Dengan demikian. Untuk menjamin terciptanya kondisi seperti yang diuraikan dalam butir 2.2. dengan batasan yang tidak ditentukan oleh batasan administratif pemerintahan. Pendekatan Agribisnis dalam Pengembangan Minapolitan Kawasan minapolitan merupakan kawasan perikanan yang tumbuh dan berkembang karena berjalannya sistem dan usaha agribisnis perikanan serta mampu melayani. 4. maka pengaturan maupun perijinan investasi harus dilakukan secara hati-hati dan selektif. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi distorsi ekonomi. Dalam hal ini. menarik. setiap pengembangan usaha dari suatu sub sektor ekonomi di suatu kawasan harus dikaitkan dengan program pengembangan wilayah dan pengembangan masyarakat.

dimana ketiga sektor tersebut saling terkait antara satu dengan yang lainnya. mulai dari tahap produksi sampai pemasaran hasil kepada masyarakat konsumen. dan empat sub-sistem pendukung. (2) produksi. dan (4) pemasaran termasuk konsumennya. yaitu sektor primer sektor sekunder dan sektor tersier.3. Sistem Agribisnis Perikanan (Dahuri 1999) Berdasarkan gambar di atas terlihat bahwa ada 3 (tiga) kegiatan besar dalam kegiatan industri perikanan. yaitu: (1) sumberdaya ikan dan habitat/lingkungannya. (3) hukum dan kelembagaan. dan (4) sumberdaya manusia beserta iptek. yaitu harga produk turun dan penghasilan masyarakat akan turun. Suatu sistem agribisnis perikanan (baik usaha penangkapan maupun budidaya) meliputi empat subsistem utama. Selama ini kebijakan pengembangan perikanan hanya terfokus pada satu sektor saja. yaitu sektor primer yaitu produksi tanpa melihat sektor lainnya seperti pemasaran dan pengolahan.Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor antara sumberdaya alam beserta ekosistemnya dengan sumberdaya manusia. SEKTOR PRIMER SEKTOR SEKUNDER SEKTOR TERSIER HABITAT DAN SUMBERDAYA IKAN PRODUKSI * * BUDIDAYA PENGOLAHAN PEMASARAN KONSUMEN * LOKAL * NASIONAL * DUNIA KEUANGAN PRASARANA DAN SARANA SUMBERDAYA MANUSIA DAN IPTEK HUKUM DAN KELEMBAGAAN Gambar 4.6 . (3) pengolahan (teknologi pasca panen). yaitu: (1) prasarana dan sarana. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV . sehingga sering kali terjadi permasalahan pada saat produksi melimpah. (2) keuangan. Oleh karena itu. tahapan pengembangan minapolitan harus dimulai dari identifikasi potensi sumberdaya yang dapat dikembangkan untuk kemudian dicari solusi optimalnya berdasarkan pendekatan sistem agribisnis perikanan yang terpadu dan holistik seperti diperlihatkan pada Gambar 4.3.

Sumber daya manusia (Pendidikan. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV . Pengembangan program minapolitan juga harus didukung dengan sistem kelembagaan yang kuat. model pemasaran hasil perikanan yang dikembangkan selama ini langsung dipasarkan ke pihak konsumen dalam bentuk segar dan biasanya dipasarkan sendiri-sendiri.7 . Produksi Lele di wilayah Minapolitan (4 kecamatan) per bulan. Proses produksi perbenihan . dan itupun biasanya hanya pada sedikit produk perikanan yang memang memiliki nilai ekonomis tinggi dan dicari oleh para konsumen dalam keadaan masih hidup. dan teknologi yang digunakan). pemerintah ingin meningkatkan nilai tambah produk-produk perikanan sehingga dampaknya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada kegiatan perikanan. 3. salah satunya adalah kelembgaan pemasaran. Hal tersebut dimaksudkan agar pemasaran produk-produk perikanan lebih mudah dilakukan. lebih mempunyai posisi tawar. akan diorganisasi oleh lembaga pengelola suatu kawasan minapolitan. Input produksi (sumber input. pembudidaya. permodalan. baik ikan-ikan segar atau hidup maupun produk perikanan hasil olahan. jumlah. minimal sesuai dengan harga pasar. baik insfrastruktur yang mendukung kegiatan pengolahan hasil perikanan maupun pemasaran hasil perikanan. Pendekatan Keilmuan Terkait 4. pekerjaan lain. umur. anggota keluarga. dan selalu mendapatkan harga yang stabil dan baik. Oleh karena itu. jenis input. Model pemasaran seperti ini secara umum hanya memberikan nilai tambah yang rendah. 4. Proses produksi pembesaran (lama produksi. Data yang akan diambil meliputi: 1. sumberdaya manusia yang berkualitas dan IPTEK serta dukungan kelengkapan infrastruktur. program pengembangan minapolitan juga harus didukung oleh sistem keuangan yang kuat. Pendekatan Perikanan Budidaya Data yang digunakan pada kegiatan ini adalah data primer yang diperoleh dari wawancara stakeholder yang terlibat dan data sekunder dari Dinas peternakan dan Perikanan (Disnakan) Kabupaten Bogor. latar belakang usaha.3. dan pengolah produk perikanan. dan kepemilikan usaha).3. Pemasaran produk-produk perikanan.Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor Sementara itu. 2.1. melalui program minapolitan. lama usaha. 4. Selain kelembagaan. 5. lebih terkendali. kuantitas input produksi. dan fasilitas produksi).

d) Jaringan Pemasaran. kualitas hasil panen dan keuntungan usaha). Potensi dan kondisi existing Pemasaran di Jabodetabek (harga jual.Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor 6. produk akan dipasarkan ke berbagai konsumen seperti PSH (Pusat Jajanan Sehat) disekolah-sekolah. 9. ukuran panen. kemudahan akses bahan baku. akses pasar. Permasalahan dan kendala baik dalam proses pembenihan.2. air) dan prasarana (jalan). pembesaran mapun pemasannya. potensi pasar yang lain seperti PIH Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV . nugget. 10. Hasil samping akan digunakan untuk memproduksi pupuk organik untuk budidaya hortikultura. teknologi yang diterapkan untuk pengolahan lele adalah teknologi zero waste (bebas limbah). sosis. catering. b) Kapasitas Produksi dan Jenis Olahan. Analisis finansial usaha budidaya dan pembenihan. dan lain-lain). 8. bakso. Jenis olahan dapat merupa filet. rantai pemasaran. kaki naga dan makanan kering krupuk. crakers. mini market serta (Pusat ikan Higienisa) dan hotel. Output produksi (jumlah panen. dan 11. lokasi pegolahan ditentukan berdasarkan survey lapang potensial area dengan mempertimbangkan ketersediaan lahan.8 . Proporsi hasil produksi menurut ukuran.3. sarana(listrik. sekolah. Kapasitas produksi ditentukan dari persentasi ketersediaan bahan baku berupa lele BS. Pendekatan Pengolahan Perikanan Pendekatan yang dilakukan untuk mendapatkan model pengembangan pengolahan perikanan adalah: a) Lokasi pengolahan. Jumlam pembudidaya dan pembenih ikan lele dan rata-rata produksinya. 7. 4. Secara umum produksi dan jenis olahan yang akan dikaji sebagai berikut: Jenis hasil olahan kan lele yang ada di 4 kecamatan Kapasitas produksi masing-masing jenis olahan Jenis ikan olahan ikan lele secara umum Konversi produk ikan lele menjadi olahan untuk setiap jenis olahan Harga produk ikan olahan Analisis finansial usaha ikan olahan c) Teknologi Pengolahan. dan lain-lain bekerjasama dengan asosiasi jasa boga. surimi.

all. Untuk sungai dan saluran irigasi akan dihitung debit air baik pada musim kemarau maupun hujan dengan demikian dapat diketahui fluktuasi antara kedua musim tersebut. saluran irigasi dan air tanah khususnya untuk pemebenihan dan pengolahan.Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor e) Kelayakan Ekonomi. Secara umum kelembagaan mencakup segala suatu tatanan dan pola hubungan antara anggota masyarakat atau organisasi yang saling mengikat yang dapat menentukan bentuk hubungan antar manusia atau antara organisasi yang diwadahi dalam suatu organisasi atau jaringan dan ditentukan oleh faktor-faktor pembatas dan pengikat berupa norma.3.4. 4. Serta kebutuhan air lainnya. kelayakan ekonomi dianalisa dengan perhitungan standar seperti investasi. perbenihan dan pengolahann Water budget di wilayah calon minapolitan Konsep jaringan irigasi perikanan budidaya lele 4. IRR. Oleh karena itu akan dilakukan juga perhitungan kebutuhan air untuk setiap unit kegiatan per musim dan per tahun.musimhujan dan kemarau untuk kebutuhan budidaya Cadangan air tanah Kebutuhan air untuk budidaya .9 . Sedangkan untuk air tanah akan dilakukan pengukuran dengan metode tersendiri. Untuk dapat menghitung ketersediaan air akan dulakukan survai untuk mengidentifikasi sumbersumber air yang merupakan suplai air bagi kawasan minapolitan yang meliputi air sungai. Pendekatan Kelembagaan dan Sosial Ekonomi Perikanan Pengertian kelembagaan mencakup banyak pengertian yang diajukan oleh para ahli.3. pembesaran maupun pengolahan. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV . kode etik aturan formal maupun informal untuk pengendalian prilaku sosial serta insentif untuk bekerjasama dan mencapai tujuan bersama” (Djogo et. pembesaran. Pendekatan Hidrologi Data hidrobiologi yang diperlukan untuk menunjang kegiatan Minapolitan adalah menghitung ketersediaan air di kawasan minapolitan baik untuk kebutuhan pembenihan. Secara rinci data hidrologi yang diamati meliputi parameter sebagai berikut: o o o o o o Jaringan dan tata air diwilayah calon minapolitan Kapasitas suply aiar. BEP.3. Data ketersediaan air tersebut nantinya akan dibandingkan dengan data kebutuhan air untuk setiap unit dari setiap kegiatan pembenihan. waktu kembali modal dan Cash-Flow. pengolahan maupun kegiatan wisata. 2003).

Sedang peluang pengembangan pasar baik segar maupun olahan akan di kaji untuk melihat prospek bisnisnya di masa mendatang. Ostorm 1986. wawancara mendalam.3.Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor Secara ringkas. Metode pengambilan data dilakukan dengan cara observasi. Dari aspek sosio-ekonomi perikanan data yang akan amati meliputi jaringan pemasaran ikan baik yang segar maupun olahan. Disampingpemasaran ikan segar olahan.all. 4. 1997. Doward. Jadi secara rinci akan dapat dihasilkan beberapa jenis peta yang meliputi: ‐ ‐ ‐ ‐ ‐ ‐ ‐ ‐ Peta administrtatif keempat kecamatan secara detail Kondisi eksisting jaringan jalan dengan ukuran lebar dan panjang Jaringan akses jalan produksi. Doward et. Pendekatan Pengembangan Wilayah Pada prinsipnya dalam pendekatan pengembangan wilayah akan diidentifikasi kondisi existing calon kawasan minapolitan di empat kecamatan yakni Kemang. kelembagaan menyangkut aspek pemain (baik individu atau organisasi) (player of the game) dan aturan yang menjamin fungsi-fungsi peran individu/organisasi berjalan dengan baik (rules of the game) (Ostorm. Baik usaha ikan pembenihan.5. pembesaran maupun olahan semuanya akan dilakukan analisis finansialnya.10 Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR . 1998 dalam Kartodiharjo dan Jamhani.pemasaran Kondisi existing kolam budidaya dan pembenihan Potensi lahan budidaya dan distribusinya dalam peta Konsep pengembangan wilayah untuk Minapolitan agar tercapai efisiensi dalam pendistribusan input maupun output produksi Peta jaringan irigasi maupun sungai di kawasan minapolitan Tata ruang serta perda yang ada untuk wilayah minapolitan IV . dan studi pustaka pada dokumen yang mendukung. 2006) Dengan demikian analisis tentang kelembagaan dalam kegiatan ini akan mencakup analisis individu atau organisasi sebagai stakeholder dan peraturan-peraturan yang mendasari (rules of the game). potensi pasar khususnya ikan olahan. Aturan yang mendasari meliputi aturan pemerintah (pusat dan daerah). system jaringan pemasaran input produksi khususnya benih merupakan hal penting untuk dikaji. 1985. Parung dan Gunung Sindur dari segi akses dan keterkaitan satu daerah dengan yang lain serta antara daeran produksi dan pemasaran. aturan antar pelaku (stakeholder langsung) terkait dengan hal-hal yang menyangkut implementasi minapolitan. Ciseeng. Di samping itu potensi lahan budidaya dan penyebarannya serta sebaran pemukiman di kawasan minapolitan dapat dipetakan dalam peta GIS.

skala 1 : 100. Wisata Mina Sosial : a. Pihak Swasta. Wawancara dan Kuisioner Primer Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV . Tabel 4. Produksi perikanan b. Pendapatan Stakeholder: Pemerintah. BPS Sekunder 5.2. skala 1 : 500. Tabel 4. LSM BAPPEDA Survei lapangan dan pengamatan Sekunder Primer 4.11 . Peta RTRW Peta Rupa Bumi. 3. Excel. Pendekatan Lanskap a) Alat dan Data Kegiatan ini menggunakan peralatan baik perangkat keras (hardware) perangkat lunak (software) dengan spesifikasi pada Tabel 4.6. skala 1 : 1.3.3.000 Data/Informasi Sumber Jenis Data BAPPEDA Sekunder Kondisi Fisik: Ekologi. Peta : • Peta Administrasi • • • • • • 2. skala 1 : 50.000.000 Peta sebaran sungai.Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor 4. pelaporan.3. Masyarakat. Spesifikasi Data Lanskap No 1. dll Potensi Kawasan : a. Mata Pencaharian c. presentasi Pengolahan peta tematik Pengolahan peta tematik maupun b) Data Penelitian Data yang digunakan pada kegiatan ini adalah telihat pada Tabel 4. Iklim : Curah Hujan.000 Peta jalur eksisting transportasi.2. Alat Perencanaan Hardware dan Software Hardware Kamera Notebook Software Microsoft Office (Word.000 Peta Tata Guna Tanah BPN dan Peta Vegetasi Kawasan Peta Jaringan jalan dan telekomunikasi. Jumlah Penduduk b. Powerpoint) AutoCad 2008 Adobe Photoshop CS3 Fungsi Survei Pengolahan data Analisis data tabular.

Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor c) Pendekan studi Studi ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yaitu melakukan analisis tabulasi dan spasial. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV . wawancara dan studi pustaka. Analisis dan Sintesis a. Pendekatan wisata dilakukan melalui penentuan kawasan yang berpotensi memiliki obyek dan atraksi wisata. d) Prosedur Pelaksanaan Proses yang dilakukan dalam melaksanakan studi lanskap.12 . pendekatan masyarakat (stakeholder) dilakukan melalui analisis stakeholder yang bersumber dari data kuisioner. terdiri dari empat tahapan yaitu tahap pengumpulan dan klasifikasi data (persiapan).2 Metode Analisis Kawasan wisata minapolitan dapat dinilai dari beberapa parameter untuk mengetahui kesesuaian kawasan tersebut dengan analisis pembobotan dan skoring beberapa faktor kriteria penilaian kelayakan kawasan untuk wisata (Tabel 4. Pendekatan ini dilakukan dengan memperhatikan kesesuaian wilayah kecamatan untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata minapolitan yang berkelanjutan. a.4). Identifikasi dan Analisis Tapak dan Wilayah a. analisis dan sintesis. Tahap 2. Pengumpulan dan Klasifikasi Data Tahap pengumpulan dan klasifikasi data ini dilakukan dengan mengumpulkan data primer maupun data sekunder di lapangan yang berkaitan dengan studi ini baik melalui survey langsung ke lokasi studi ataupun melalui dinas yang terkait. konsep disain perencanaan serta tahap perancangan. Keempat tahap tersebut diuraikan sebagai berikut: Tahap 1. Sedangkan.1 Data Data yang diperlukan dalam menganalisis potensi wilayah yang akan direncanakan untuk pengembangan minapolitan yaitu data tentang sumberdaya dan potensi perikanan yang terdapat di kecamatan yang dipilih berdasarkan potensi wisata dan objek yang ada.

Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor Tahapan pengumpulan dan klasifikasi data Kawasan Perencanaan Wisata Minapolitan Peta Digital Tahapan analisis dan Sintesis Survey Lapangan Studi Pustaka Identifikasi Potensi Kawasan Potensi Pengembangan Pariwisata • • • • Stakeholder • Produksi Perikanan Ketersediaan Obyek dan Atraksi untuk Wisata Masyarakat Pemda Swasta Analisis kesesuaian kawasan minapolitan • Analisis Obyek dan Atraksi Wisata Analisis Stakeholder Pembobotan dan Skoring Zona Kesesuaian kawasan Minapolitan Pembobotan dan Skoring Zona Potensi Pengembangan Wisata Minapolitan Aturan Pemerintah (RTRW) Pembobotan dan Skoring Zona Akseptibilitas Stakeholder Zona Potensial untuk Pengembangan Wisata Minapolitan Pengembangan Aktifitas dan Fasilitas Wisata Minapolitan Pengembangan Jalur Wisata Minapolitan Tahapan Konsep dan Perencanaan Kawasan Perencanaan Kawasan Wisata Minapolitan Perancangan Kawasan Wisata Minapolitan Gambar 4.13 .4. Tahapan Studi Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV .

14 . Fasilitas Pendukung 15 5... 2... Kinnon (1986).. dominan bentuk asli Terdapat < 3 di tempat lain Tersedia dalam kondisi baik 0. Kriteria Penilaian Kelayakan Kawasan untuk Wisata Nilai No Faktor Bobot 4 (sangat baik) < 1 km Asli 3 (Baik) 1-2 km Asimilasi. Letak dari Jalan Raya Estetika dan keaslian Atraksi 10 25 3. dominan bentuk baru Terdapat 3-5 di tempat lain Tersedia dalam kondisi kurang baik 1-2 km Jalan aspal berbatu. Modifikasi Perhitungan penilaian kelayakan kawasan untuk wisata: Keterangan : Fljr = faktor letak dari jalan raya Fek = faktor estetika dan keaslian Fatr = faktor atraksi Fta = faktor transportasi dan aksesibilitas = titik ke 1 hingga ke 5 Ffp = faktor fasilitas pendukung Fka = faktor ketersediaan air bersih Penentuan klasifikasi tingkat kelayakan kawasan untuk wisata adalah sebagai berikut : Klasifikasi Tingkat Potensi = N Skor maksimal – N Skor minimal.Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor Tabel 4.. ada kendaraan umum 4. 25 Hanya terdapat di tapak Tersedia dalam kondisi sangat baik < 0..... tanpa kendaraan umum Sumber : Mc..5 km Jalan aspal.. 6.4. ada kendaraan umum 2 (Buruk) 2-3 km Asimilasi.. Ketersediaan Air bersih Transportasi dan Aksesibilitas 15 10 >2km Jalan berbatu /tanah. tanpa kendaraan umum 1 (Sangat Buruk) > 3 km Sudah berubah sama sekali Terdapat > 5 di tempat lain Tidak tersedia 1.....5-1 km Jalan aspal berbatu... (1) N Tingkat Klasifikasi Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV ...

data infrastruktur serta adanya peluang untuk rekreasi pada masingmasing kecamatan yang akan dikembangkan menjadi kawasan wisata minapolitan. Perlu perlakuan lebih banyak untuk meningkatkan kualitas menjadi sangat potensial • TP (Tidak Potensial) dengan nilai 97 – 172. bahwa obyek dan atraksi wisata yang tersedia tidak potensial untuk dilakukan pengembangan dan penataan kawasan wisata. Perlu perlakuan untuk meningkatkan kualitas menjadi sangat potensial • KP (Kurang Potensial) dengan nilai 173 – 248. metode pengambilan contohnya menggunakan metode purposive Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV . bahwa obyek dan atraksi wisata cukup potensial untuk dilakukan pengembangan dan penataan kawasan wisata. Identifikasi dan Analisis Potensi Tapak Data yang digunakan dalam analisis potensi tapak ini adalah dilihat dari data produksi perikanan. Data Data yang digunakan dalam analisis stakeholder ini adalah data kesediaan masyarakat tentang pengembangan wisata pesisir melalui penyebaran kuisioner dengan sampling. Perlakukan yang dilakukan hanya untuk menjaga kualitas obyek dan atraksi agar tetap terjaga • CP (Cukup Potensial) dengan nilai 249 – 324. data akses dan transportasi untuk menuju kawasan wisata minapolitan.15 . Artinya.Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor Dari penghitungan skor masing-masing parameter. bahwa bahwa obyek dan atraksi wisata kurang potensial untuk dilakukan pengembangan dan penataan kawasan wisata. bahwa obyek dan atraksi wisata sangat potensial untuk dilakukan pengembangan dan penataan kawasan wisata. sehingga hasil Penilaian kawasan wisata di klasifikasikan menjadi : • SP (Sangat potensial) dengan nilai 325 – 400. maka dilakukan pembobotan dan dikategorikan dalam kelas kesesuaian. Perlu perlakuan yang khusus dan mahal untuk meningkatkan kualitas menjadi sangat potensial b. c. Artinya. Identifikasi dan Analisis Keikutsertakan Stakeholder c1. Artinya. Artinya.

2.5.2 Metode Analisis Tahap penentuan zona akseptibilitas masyarakat lokal ditunjukkan dengan tingkat kesediaan masyarakat dalam menerima pengembangan lokasi penelitian menjadi kawasan wisata (Tabel 4.Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor c.5). 5. 3. Pengembangan kawasan sebagai daerah tujuan wisata Pengelolaan kawasan wisata oleh masyarakat Peran aktif masyarakat dalam pariwisata Keuntungan kegiatan wisata Keberadaan wisatawan Sumber : Yusiana (2007) Penilaian akseptibilitas masyarakat untuk faktor tertentu di tiap desa didasarkan pada penghitungan : Fx desa ke-p = (4 x n)+(3 x n)+(2 x n)+(1 x n) Dimana. Penilaian dilakukan oleh responden. sehingga jumlah dari responden seluruh kecamatan yang diteliti adalah 40 responden.16 . Fx p n = total nilai faktor tertentu = desa tertentu = jumlah orang yang memilih Aksesibilitas Masyarakat = Keterangan : Pdtw = Pengembangan kawasan sebagai daerah tujuan wisata Ppkw = Pengelolaan kawasan wisata oleh masyarakat Ppmp = Peran aktif masyarakat dalam pariwisata Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV . masing-masing kecamatan diambil n=10. Penilaian Akseptibilitas Masyarakat Peringkat No Faktor 4 (Bersedia) Setuju Setuju Ya Ya Bersedia 3 (Kurang Bersedia) Kurang setuju Kurang setuju Kurang Kurang Kurang Bersedia 2 (Tidak Bersedia) Tidak Setuju Tidak Setuju Tidak Tidak Tidak Bersedia 1 (Tidak tahu) Tidak Tahu Tidak Tahu Tidak Tahu Tidak Tahu Tidak Tahu 1. 4. Tabel 4.

Peraturan Analisis mengenai regulasi dilakukan berdasarkan RTRW yang ada sehingga diterapkan pada masing-masing kecamatan yang akan dikembangkan. dan budidaya ikan di perairan umum. Dari hasil perencanaan wisata tersebut maka dilakukan pembuatan konsep yang sesuai dengan analisis dan sintesis yang telah dilakukan. Menurut RTRW Kabupaten Bogor tahun 2005 – 2025.Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor Pkkw = Keuntungan kegiatan wisata Pkw = Keberadaan wisatawan Setelah dihitung skor masing-masing parameter. Konsep pengembangan dan penataan ruang yang akan dilaksanakan adalah kawasan wisata minapolitan yang berkelanjutan. Konsep ini diilustrasikan dalam Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV . Penentuan Zona Potensial untuk Pengembangan Wisata Minapolitan Pembuatan zonasi ini dilakukan dengan menggunakan bantuan AutoCad dan Adobe Photoshop untuk tehnik overlay sehingga hasil analisis tapak/wilayah dan potensi wilayah serta hasil peta akseptibilitas masyarakat dapat dispasialkan. pembenihan. yaitu dalam bentuk: a.17 . sosial dan ekonomi memiliki potensi untuk kegiatan perikanan. Tahap 3. Dari zona tersebut kemudian ditentukan akfititas. kolam ikan hias/aquarium. Konsep dan Perencanaan Kawasan Minapolitan Tahap konsep dan perencanaan ini merupakan hasil dari perencanaan wisata yang dikembangkan dari zona potensial. Dengan demikian diperoleh rencana lanskap kawasan minapolitan. air deras. maka dilakukan pembobotan dan dikategorikan dalam kelas kesesuaian : S1 (Sangat Sesuai) S2 (Cukup Sesuai) S3 (Sesuai Marginal) N (Tidak Sesuai) = Nilai = Nilai = Nilai = Nilai 163 – 200 125 – 162 87 – 124 49 – 86 d. kolam air tenang. kawasan perikanan akan dikembangkan pada wilayah/kawasan yang secara teknis. e. fasilitas dan sirkulasi wisata yang disesuaikan dengan peraturan daerah (RTRW) ada pada. Rencana lanskap kawasan wisata minapolitan berdasarkan zona kesesuaian wisata yang merupakan hasil analisis di beberapa kecamatan di Kabupaten Bogor.

isu dan permasalahan dalam pengembangan budidaya perikanan air tawar. dibuat luxury dan berwarna. merupakan penyempurnaan terhadap Laporan Antara yang telah dibahas dengan instansi terkait. pengembangan sistem kelembagaan dan rumusan program/kegiatan pengembangan kawasan minapolitan dalam jangka waktu lima tahun. serta berisikan hasil analisis awal Masterplan Minapolitan. pengembangan sistem pemasaran dan pengolahan. Rencana pengembangan dan penataan infrastruktur pendukung wisata. berisi data-data hasil survei primer maupun sekunder dan hasil pengolahan data. Laporan Pendahuluan. Laporan Akhir dan Executive Summary akan diserahkan pada akhir pekerjaan atau 45 hari kerja setelah terbitnya Surat Perintah Mulai Kerja.4. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR IV . penentuan lokasi dan komoditas unggulan. Program pengembangan dan penataan kawasan sesuai dengan konsep pengembangan kawasan. yang memuat antara lain: kondisi dan potensi perikanan air tawar. pengerjaan Penyusunan Laporan ini dilengkapi daftar mobilisasi tenaga ahli dan Laporan jadwal penugasan tenaga ahli dan pelaksana/asisten tenaga ahli. Laporan Akhir. pengembangan lahan budidaya dan infrastruktur pendudkung. Laporan Antara. rumusan konsepsi pengembangan kawasan minapolitan.18 . Perencanaan program ini dilakukan berdasarkan nilainilai potensi wisata kawasan.Penyusunan Master Plan Minapolitan di Kabupaten Bogor bentuk model pengembangan dan penataan ruang wisata yang mempertimbangkan karakter lanskap dan potensi obyek atraksi wisata yang ada. antara lain berisi pemahaman dan tanggapan dalam Penyusunan Masterplan Minapolitan beserta metodologi Masterplan Minapolitan. Laporan Akhir ini akan dilengkapi dengan Executive Summary dan peta kawasan minapolitan. pengembangan penyediaan benih/bibit dan pakan. 4. 3. 2. c. b. Laporan Antara akan diserahkan 5 minggu setelah terbitnya Surat Perintah Mulai Kerja. Pelaporan Laporan yang dibuat sebagai pertanggung jawaban kegiatan ini terdiri dari: 1. hasilnya berupa arahan pengembangan kawasan yang diilustrasikan secara grafis sebagai panduan penataan kawasan wisata minapolitan. Pendahuluan akan diserahkan 1 minggu setelah terbitnya Surat Perintah Mulai Kerja.

dan Kabupaten Bekasi. Peta Lokasi Kabupaten Bogor 5.237. sedangkan sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sukabumi. Kabupaten Bogor secara geografis terletak antara 6.47o Lintang Selatan dan 106o1’107o103’ Bujur Timur. Kota Bekasi.1. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Karawang.KONDISI UMUM KAWASAN MINAPOLITAN 5 5.09 km2 merupakan salah satu wilayah administratif terluas (keenam) di Provinsi Jawa Barat setelah Kabupaten . Gambar 5.2. Wilayah Kabupaten Bogor di sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Tangerang (Banten).19o-6. Kondisi Demografi Kabupaten Bogor dengan luas wilayah sebesar 2. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Lebak (Banten). Kota Depok.1. Batas Administrasi dan Geografis Wilayah Kabupaten Bogor yang merupkan bagian dari Provinsi Jawa Barat beribukota Cibinong.

98 2.16 0.26 0.53 0.17 %). yaitu 428 desa (dimana 200 desa termasuk dalam klasifikasi perkotaan.13 Buruh 3.82 2.76 18. Dilihat dari penerimaan total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).1.id).24 4.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Sukabumi. sedangkan 228 desa lainnya berstatus perdesaan) (BPS. Cianjur.76 3.06 0.3.65 2.41 5. Dan berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010. penduduk Kabupaten Bogor menjadi 4.19 Pedagang 3.46 25.91 1.17 Lainlain 0. Kabupaten Bogor berfungsi sebagai pemasok (produsen) bahan-bahan mentah dan atau bahan baku.59 5. 2.81 1. Ditinjau dari segi mata pencaharian masyarakatnya . Tajurhalang Kemang Rancabungur Parung Ciseeng Gunung Sindur 16.05 20.27 6. Sumber : Data Susda Kab.763. Bogor 2007 dalam BAPPEDA Kabupaten Bogor & PSP3-IPB (2009) 5. Sedangkan secara rinci distribusi mata pencaharian masyarakat di wilayah calon Kawasan Minapolitan disajkan pada Tabel 5.24 0.14 Total 1.446.51 15. yaitu Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR V. 6.316. Kondisi Ekonomi Wilayah Sebagai wilayah hinterland dari Kota Bogor maupun sebagai bagian dari kawasan megapolitan Jabodetabek.17 1.62 3.go. Kabupaten Bogor terdiri dari 40 kecamatan dengan jumlah total desa paling banyak se-Provinsi Jawa Barat.251 jiwa dan perempuan sebanyak 2.50 2.97 5. dan pedagang (20.43 18.65 15.20 0.59 5.958 jiwa (http://bogorkab.22 2.51%).51 Jasa 2.83 1. pada umumnya yang didominasi oleh buruh (25. 2008).68 1. Kabupaten Bogor mengalami peningkatan populasi penduduk yang cukup pesat dari waktu ke waktu.74 25.996 jiwa. Tabel 5.57 0. Bandung dan Ciamis.54 Pegawai/ Karyawan 4.711.91 5.28 0.33 %).65 3.12 0. jumlah penduduk di Kabupaten Bogor sebanyak 3.00 Jumlah Keterangan: *) Lain-lain = pengrajin dan pekerja tambang.04 1. 3. serta daerah pemasaran barang dan jasa industri manufaktur.97 10.33 Petani/ Peternak 0. buruh perusahaan industri dan pegawai/karyawan (25. 4.54 %).86 6. Pada tahun 2000.62 1. Tasikmalaya.13 20. Persentase Jenis Mata Pencaharian Masyarakat Per Kecamatan di Zona IV Mata Pencaharian Kecamatan PNS/TNI/ POLRI 1.43 1.21 4.2 .64 0. pemasok tenaga kerja melalui proses urbanisasi dan commuting (menglaju).76 2.96 3.1. 5. Masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani/peternak sangat sedikit (6. Kabupaten Bogor mengalami kenaikan sebesar 145% dari tahun 2000 hingga 2006.28 100.209 Jiwa terdiri dari laki-laki sebanyak 2.49 1.

218 2.031.824 24.874.10.623.210 8.265. dan menurun menjadi 4. Kabupaten Bogor menempati urutan kelima setelah Jakarta. dan sektor pertanian (dengan persentase 7. jumlah penduduk dan PDRB per kapita masing-masing kabupaten/kota di Kawasan Jabodetabek dan sekitarnya tahun 2006.985 9.2.992.197 3.669 2.082 4. Apabila dibandingkan dengan wilayah Jabodetabek (Jakarta.753 12. dan sektor pertanian (dengan persentase 7.353 2.3 .011. dan Kota Bekasi dalam hal PDRB per kapita tahun 2000 maupun 2006 (Tabel 5.605 6.2.).973.152.988 PDRB per kapita di Kabupaten Bogor pada tahun 2006 adalah Rp. Sedangkan urutan kedua dan ketiga ditempati oleh sektor perdagangan. PDRB PER KAPITA (Rp/Jiwa) 2000 27.815. Depok. Sedangkan urutan kedua dan ketiga ditempati oleh sektor perdagangan. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR V. dan menurun menjadi 4.545 juta rupiah (tahun 2000).3. menyajikan data mengenai total PDRB.341 4.69% pada tahun 2006).027 17.74% pada tahun 2000. Ditinjau dari peranan masing-masing sektor terhadap perekonomian di Kabupaten Bogor.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor sebesar 18.74% pada tahun 2000. PDRB per Kapita Kabupaten/Kota di Kawasan Jabodetabek dan Sekitarnya Tahun 2000 dan 2006 KABUPATEN/KOTA KOTA JAKARTA KAB.222 7.538 5.435.30% (tahun 2006).910.69% pada tahun 2006).310.30% (tahun 2006). LEBAK Sumber: PDRB Tahun 2000 dan 2006 (diolah).985/jiwa (meningkat lebih dari dua kali lipat dari tahun 2000).428.090 10. Tabel 5.226.718. Kota Tangerang.202. yang diperoleh dengan cara membagi total PDRB dengan jumlah penduduknya.507. Dan sektor industri pengolahan merupakan pemberi kontribusi paling besar terhadap total PDRB dengan persentase sebesar 59.595. Bogor. dapat diketahui bahwa sektor industri pengolahan memberikan kontribusi paling besar terhadap total PDRB dengan persentase sebesar 59.623.687 2. Tabel 5.882. Cianjur dan Lebak).644.85% (tahun 2000) dan 64.85% (tahun 2000) dan 64.361.121 5. BOGOR KOTA SUKABUMI KAB. TANGERANG KOTA BOGOR KOTA DEPOK KAB.342 2006 55. SUKABUMI KAB.190. hotel dan restoran (dengan persentase sekitar 15%).983 4.381 11. BEKASI KOTA TANGERANG KOTA BEKASI KAB.698 juta rupiah (tahun 2006) (BPS.174 4.297.792.030. CIANJUR KAB. menjadi 44.434. Bekasi) dan sekitarnya (Sukabumi. hotel dan restoran (dengan persentase sekitar 15%). Tangerang.363 5. Kabupaten Bekasi.136 33. 2007).

di Kabupaten Bogor didukung oleh sumber air yang mengalir diwilayah kabupaten ini.202.023 2.056.437.luas daerah irigasi di Kabupaten Bogor adalah 47. Cibungbulang.900 JUMLAH PENDUDUK (JIWA) 8.186 294.742 8.184 PDRB PER KAPITA (RP/JIWA) 55.718. Kabupaten Bogor relatif memiliki ketersediaan air yang cukup memadai yang didukung oleh irigasi yang cukup baik.136 33. Total PDRB. DAS Cisadane.435.432 27.623.571. BOGOR KOTA SUKABUMI KAB. Leuwiliang. sebagai gambaran .230 1. Ciampea.031.341 4.4.901 1.824 24.591 2.863. dan sebagian besar Cigudeg bagian timur.882. Jumlah Penduduk dan PDRB per Kapita Kabupaten/Kota di Kawasan Jabodetabek dan Sekitarnya Tahun 2006 KABUPATEN/KOTA KOTA JAKARTA KAB.816 5.646 3. Parung.040. LEBAK TOTAL PDRB (JUTA RP) 495.481.882 66. BEKASI KOTA TANGERANG KOTA BEKASI KAB. Di samping irigasi yang luas. Cijeruk. Meskipun irigasi pada awalya ditujukan untuk pengembangan pertanian sawah.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 5.222 7. Jumlah dan daerah irigasi di Kabupaten Bogor dapat dilihat pada Tabel 5. Rumpin.528 13. Kemang.265.568 2.357. Cihideung.366.907 35. Biofisik dan Tata guna lahan Secara biofisik khususnya dalam hal ketersediaan air.361. Ciapus.4.595. CIANJUR KAB. Dramaga.753 6. TANGERANG KOTA BOGOR KOTA DEPOK KAB.698 2.985 9.967.393.846 1.125.500. Cianten. Ciampea.678 22. Ciawi.381 11. Di Kabupaten Bogor mengalir enam sungai besar yang memiliki cabang-cabang sangat banyak hingga 339 cabang.258 4.423 855.190.239. Citempuan.240.874.942.792.605 6.428.210 8.183.121 5.988 Sumber: Data PDRB dan Jumlah Penduduk Tahun 2006 (diolah) 5. Ciomas.3.604.4 . namun dalam perkembangannya kegiatan budidaya perikanan memerlukan dukungan irigasi yang memadai. Wilayah-wilayah yang tercakup dalam DAS Cisadane ini adalah kecamatan Caringin.121 ha terdiri atas daerah irigasi Pemerintah (PU).779 12. daerah irigasi desa dan daerah irigasi PIK.154 44. yaitu meliputi Daerah Aliran Sungai : 1.855. dengan Sub-DAS : Cisadane Hulu.090 10.318 1.538 5. Pamijahan.216.991. SUKABUMI KAB. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR V.163. Nanggung.

DAERAH IRIGASI 2 Jasinga KECAMATAN 4 LUAS HA 5 1.388 1.567 1.531 12.579 2.699 461 733 2.373 7.857 523 1.365 948 1.386 11.121 Baik 6 7 3 11 4 7 32 10 10 14 26 10 11 5 86 2 3 8 5 3 7 16 3 47 2 1 1 2 3 0 0 9 18 3 3 3 1 1 11 2 4 4 11 6 16 43 237 KONDISI Sedang Rusak 7 8 8 2 1 30 24 22 87 18 4 8 9 18 12 11 80 7 3 1 8 13 8 17 4 61 1 3 2 1 0 1 0 7 15 2 0 2 2 0 6 1 1 7 19 5 7 40 289 39 11 10 19 17 20 116 22 3 15 22 11 5 11 89 3 5 5 9 5 7 5 2 41 2 1 1 3 0 0 2 23 32 0 4 3 2 1 10 3 2 18 22 5 15 65 353 2 3 4 5 6 Jasinga Parung Panjang Tenjo Nanggung Sukajaya Cigudeg Jumlah UPTD wilayah Jasinga Leuwiliang Leuwiliang Ciampea Cibungbulang Pamijahan Leuwisadeng Tenjolaya Taman Sari Jumlah UPTD teknis Leuwiliang Ciawi Ciomas Dramaga Cijeruk Ciawi Cisarua Megamendung Caringin Cigombong Jumlah UPTD wilayah Ciawi Parung Parung Ciseeng Kemang Gunung Sindur Bojonggede Ranca Bungur Tajur Halang Rupin Jumlah UPTD wilayah Parung Cibinong Cibinong Citeureup Babakan Madang Sukaraja Gunung Putri Jumlah UPTD wilayah Cibinong Jonggol Cileungsi Klapa Nunggal Jonggol Sukamakmur Cariu Tanjungsari Jumlah UPTD wilayah Jonggol Jumlah seluruh UPTD teknis pengairan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR V.645 1.636 752 897 2.995 2.838 653 7.325 47.579 1.459 743 873 488 891 1.823 626 389 204 706 73 1.294 1.571 2.4. Jumlah dan Luas Daerah Irigasi Se-Kabupaten Bogor NO 1 1 UPTD/KEC.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 5.964 6.256 131 263 285 909 48 1.696 2.881 1.468 462 1.5 .

Cimanggis. DAS Cimanceuri. Cibinong. meskipun sektor pertanian menempati urutan ketiga dalam kontribusinya terhadap total PDRB kabupaten Bogor. kebun campuran dan hutan. Ciliwung Hulu. dengan wilayah-wilayah yang tercakup meliputi Kecamatan Parung Panjang. Ciseuseupan. Cisarua. DAS Cidurian. Bojong Gede. dengan Sub-DAS : Ciesek. Sukaraja. Cibodas. terutama disebabkan karena karakteristik lahan dan kondisi geobiofisik wilayah yang sesuai untuk pengembangan pertanian. Cigudeg bagian selatan. dengan Sub-DAS : Cikeas. Cigudeg bagian utara. berdasarkan luasan penggunaan lahan pada tahun 2006 sebagian besar lahan di Kabupaten Bogor digunakan sebagai areal persawahan (sawah irigasi + sawah tadah hujan). Wilayah-wilayah yang terdapat dalam DAS ini adalah Kecamatan Citeureup. Sedangkan dari segi ata guna lahan. Citeureup. Cileungsi. Rumpin bagian utara.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 2. Cileungsi. Hal ini menandakan bahwa Kabupaten Bogor masih mengandalkan sektor pertanian untuk menopang perekonomian di wilayahnya. 5. Tenjo bagian timur. Cibogo. Secara garis besar wilayah Kabupaten Bogor memiliki tiga kelompok daerah resapan air sebagai berikut : daerah resapan air tanah utama antara lain daerah Parung. dan sebagian kecamatan Jonggol bagian barat. Rumpin bagian utara. dan Gunung Sindur. Ketersediaan air dari mata air di Kabupaten Bogor cukup banyak dan hampir semuanya mengalir sepanjang tahun dengan debit yang bervariasi. Cibeet. DAS Ciliwung. Cisukaribas. Sawangan.000 ha. Cipajutah). Cileungsi. Megamendung. 3. Sawangan. DAS Angke. Citeureup. Cikarang (Cibarengkok. dengan Sub-DAS : Cipamingkis. DAS Citarum. Cukup berkembangnya sektor pertanian di Kabupaten Bogor. Gunung Putri. Wilayah-wilayah yang tercakup dalam DAS ini adalah Kecamatan Jonggol dan Cariu.6 . 6. Wilayah-wilayah yang tercakup dalam DAS Ciliwung ini adalah Kecamatan Cisarua. dengan wilayah-wilayah yang tercakup meliputi kecamatan Parung Panjang. Cibinong. 4. Tenjo bagian barat. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR V. Gunung Putri. dan Limo. Tenjo bagian timur. Sampai tahun 2006 Kabupaten Bogor masih memiliki areal persawahan kurang lebih seluas 65.

96 28.20 27. namun dengan perkembangan kegiatan perikanan budidaya yang cukup pesat penggunaan lahan untuk kolam meningkat. pembudidaya ikan di Kabupaten Bogor banyak berkontribusi dalam memproduksi ikan-ikan ukuran konsumsi (kegiatan pembesaran).10 17. 2007 Luas (ha) 26.00 Dalam pengembangan penggunaan lahan tidak terbatas hanya untuk pertanian budidaya. Tasikmalaya.70 19.045.41 1. Cianjur.263.001.001. Cibuntu. 5. Selain dikenal sebagai produsen benih (kegiatan pembenihan).936.90 Persentase (%) 8. bahkan sebagian lahan pertanian juga ada yang digunakan untuk berbudidaya ikan.00 53. Diduga jumlahnya paling banyak dibanding daerah sentra produksi lainnya di Jawa Barat.53 17.499. beberapa catatan penting dalam kegiatan perikanan budidaya di Bogor antara lain: (1) Di tahun 80-an sistem budidaya ikan mas di kolam air deras berkembang pesat di daerah Cibening.76 100. kehutanan dan kebun campuran.18 9. Luasan Masing-masing Penggunaan Lahan di Kabupaten Bogor Tahun 2006 Jenis Penggunaan Lahan Pemukiman Jasa Tegal Industri Sawah Irigasi Sawah Tadah Hujan Kebun Campuran Perkebunan Hutan Perairan Tambak/Kolam Tanah Rusak/Kosong/ Pasir Galian Semak/alang2 Lain-lain Total Sumber: Badan Pertanahan Nasional (BPN). Pamijahan.217.01 0.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 5.5.00 1.30 11.5.20 298. Kondisi Perikanan Dalam perikanan budidaya (khususnya budidaya ikan air tawar).60 1.07 0.37 20. Budidaya Ikan cukup berkembanga terutama di Zona IV dan II karena potensi sumberdaya air yang ada di Kabupaten Bogor cukup banyak.277.10 5.65 1. Pada saat Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR V.94 3.90 4. Selama tiga dekade terakhir.590.01 0.805. Cihideung dan sekitarnya.80 62.40 43.90 85. Subang dan Purwakarta.50 6.89 0.025.70 524.7 .306. secara historis Kabuapten Bogor dan sekitarnya merupakan daerah sentra produksi di samping Sukabumi.73 0.

(2) Di tahun 80-an sampai tahun 90-an. sistem budidaya ini secara berangsur berhenti.8 . kisaran suhu. Beberapa kondisi yang menunjang dan diduga telah mendorong berkembangnya kegiatan perikanan budidaya di Kabupaten Bogor adalah bahwa: (1) Kabupaten Bogor dengan iklim yang dimilikinya (kelayakan lahan dan air. Tidak kurang dari 30 spesies ikan hias baik lokal maupun yang berasal negara lain. baik ditinjau dari potensi kuota permintaan. (3) Kabupaten Bogor dengan lokasinya yang tidak jauh dari Jakarta memiliki keunggulan komparatif dalam hal penyediaan sarana produksi seperti peralatan. peran bandara Soekarno-Hatta dalam hal distridusi antar pulau atau untuk ekspor. kegiatan budidaya gurame baik pembenihan maupun pembesaraanya akhirnya tersisihkan oleh daerah lain seperti Purwokerto. (4) Di tahun 90-an hingga sekarang. hampir semua spesies ikan budidaya air tawar yang dipelihara dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. pakan buatan dan obat-obatan. mengingat historis yang cukup panjang dan akses terhadap inovasi maupun teknologi baru yang lebih mudah. Blitar dan Tasikmalaya.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor harga pakan semakin tinggi dan berkembangnya budidaya ikan mas di keramba jaring apung (KJA) di waduk Saguling. Jatiluhur. bawal. dan gurame serta produsen ikan lele ukuran konsumsi dengan produksi sekitar 40 ton per hari. di samping akses pasar. (3) Pada kurun waktu dua dekade terakhir Bogor dikenal sebagai sentra produksi berbagai spesien ikan hias. curah hujan. dan sebagainyan) telah menunjukkan kesesuaian yang cukup tinggi untuk digunakan sebagai lahan usaha budidaya berbagai spesies ikan. Dengan kata lain. Ciseeng dan Parung. kegiatan perikanan budidaya yang secara lokal maupun nasional masih dianggap memegang peran penting adalah bahwa Bogor sebagai produsen benih ikan patin. Misalnya. maupun akses sarana dan prasarana pendistribusian. banyak dihasilkan oleh pembudidaya ikan di daerah Cibuntu dan sekitarnya. (2) Para pembudidaya ikan di Kabupaten Bogor secara relatif memiliki kemampuan teknis budidaya yang cukup baik dibanding daerah sentra produksi lainnya. dan Cirata. baik ikan konsumsi maupun ikan hias. Diduga karena persaingan harga. daerah Bogor (khususnya Parung) dikenal sebagai pusat produsen benih dan ikan gurame ukuran konsumsi. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR V.

Tangerang. Depok dan beberapa kota lain Jabodetabek. Jumlah produksi perikanan kolam air tenang di Kabupaten Bogor pada tahun 2009 adalah 24.9 . Rancabungur.98 ton yang tersebar merata di 40 kecataman yang terdapat Kabupaten Bogor. zona 4 juga memiliki potensi pariwisata. Produksi Perikanan terbesar terdapat di Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR V. Secara administratif wilayah ini terdiri dari enam kecamatan.072. Ciseeng dan Gunung Sindur. Peta Wilayah Zona 4 Selain memiliki potensi perikanan. Gambar 5. Memperhatikan perjalanan perikanan budidaya di Bogor selama ini. Kemang. Wilayah ini berbatasan dengan Kota Bogor dan Kota Depok. Salah satu kawasan yang cocok untuk dikembangkan menjadi kawasan pengembangan budidaya ikan air tawar di Kabupaten Bogor adalah Zona 4. terutama di Kecamatan Ciseeng yang memiliki kawasan wisata pemandian air panas. yaitu: Kecamatan Tajurhalang. Masyarakat yang berkunjung di area wisata ini cukup beragam dan tidak hanya dari daerah Bogor namun ada yang dari Jakarta. meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha dan meningkatkan kegiatan perekonomian. Kegiatan produksi perikanan menunjukkan skecenderungan semakin meningkatl.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Pendukung pengembangan perikanan yang lain adalah ketersediaan sarana prasarana transportasi yang cukup baik yang memperlancar distribusi hasil budidaya dan pengolahan meskipun masih diperlukan peningkatan kualitas. pengembangan kegiatan perikanan budidaya di masa-masa mendatang dapat memberi kontribusi nyata dalam hal penyediaan lapangan pekerjaan.2. Parung. Zona 4 dalam revitalisasi pertanian dan pembangunan perdesaan terletak di bagian tengah utara kawasan Kabupaten Bogor.

jumlah RTP yang kedua adalah Kecamatan Ciseeng dengan jumlah 463 orang RTP dan Kecamatan Parung dengan jumlah RTP 449 orang. Sementara itu jumlah Rumah Tangga Perikanan (RTP) di Kabupaten Bogor berjumlah 6.075.43 ton.071.650.94.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Kecamatan Parung dan Gunung Sindur dengan produksi sebesar 7. Luas areal total Kolam air tenang yang terdapat di di Kabupaten Bogor seluas 1.64 ton. Jumlah RTP terbanyak terdapat di Gunung Sindur yaitu sebanyak orang 493.10 .71 ha.80 ton dan 6.605 orang yang tersebar ke 40 kecamatan. Kecamatan paling luas adalah Kecamatan kemaang dengan luas areal budidaya seluas 145 ha sedangkan luas paling kecil adalah Kecamatan Tenjo dengan luas areal kolam seluas 0. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR V . Sedangkan kecamatan dengan jumlah produksi paling kecil adalah kecataman Tenjo dengan produksi mencapau 15.

3 dan 4 adalah : Zona 2 : Sukajaya. tawes.1.0 358.6 19179. gurame.605.).0 947.075.ANALISIS POTENSI DAN PERMASALAHAN 6 6.0 1.1 422.00 (Ha) 167.1. Leuwiliang. Pamijahan . nila.0 460.9 40. untuk seluruh jenis ikan yang dibudiyakan mencapai 24. lele.7 278. patin dan bawal (Lampiran 1).1. Leuwisadeng.6 58.072.6 1566.0 2203.94 (Ton)/hari 309.6 24.00 RTP (rumahtangga perikanan) (Tabel 6. Kedua jenis ikan yang terakhir tersebut tidak diikutkan dalam pembahasan karena dalam pengembangan produk tersebut tetap harus mendapat perhatian khusus karena memiliki prospek yang baik.3 15.98 ton per tahun pada tahun 2009 (Tabel 6.98 Zona II Zona III Zona IV Zona V Zona VI Zona VII Zona VII TOTAL Sumber : Diolah dari data Disnakan (2009) Dalam program Revitalisasi Pembangunan Pertanian dan Perdesaan (RP3). mujair.5 124.0 6.605.5 278.0 503. Potensi Perikanan Budidaya Air Tawar Potensi produksi ikan air tawar di Kabupaten Bogor cukup tinggi. Jumlah jenis ikan air tawar yang dibudidayakan ada 10 jenis ikan antara lain mas. tambakan. Jenis lain yang jumlahnya cukup banyak adalah ikan hias dan lobster air tawar. Sedangkan ditinjau dari penyerapan tenaga kerja.) atau sekitar 66. Jumlah RTP Pembudidaya. Nanggung.0 203. Tabel 6. Cibungbulang.9 1577. produk perikanan menyerap tenaga kerja cukup besar mencapai sekitar 6. Luas Areal dan Total Produksi Ikan Air Tawar di Kabupaten Bogor Zona KOLAM AIR TENANG Pengembangan Jumlah RTP Luas Areal Produksi (orang) Zona I 699.85 ton per hari.072. wilayah di Kabupaten Bogor telah diklasifikasikan menjadi 8 zona pembangunan.0 680.0 582.0 933.1. Dari kelapan zona tersebut Zona 4 memiliki produktivitas perikanan tertinggi dikuti dengan Zona 2 dan 3. Kecamatan yang termasuk ke dalam Zona 2. nilem.8 121.8 44.

2 10.3 39.7 36.6 0.0 0.2 16.43 ton/tahun) dan Gurame (1092.0 1.85 5. Ciseeng. Rancabungur.6 0.2 .1 71.87 ton/hari pada tahun 2009.4 31.07 50.0 3.0 26.7 73.1 18312.9 167.5 1092.59 ton/tahun) (lihat Tabel 6.87 0.2 0. Ciomason Zona 4 : Tajurhalang.15 0.7 479. dan Gunung Sindur dapat dilihat di Lampiran 2).05 3.17 ton/tahon).46 = 78. Dramaga.4 11.0 0.7 38.1 0.80 0.2 122.00 zona II zona III zona IV zona V zona VI zona VII zona VII TOTAL Prod/bln Prod/Hari Skor 3 2 3 5 1 1 1 1 1 1 Sumber : Diolah dari data Disnakan (2009) Keterangan : Untuk Tahun 2010 produksi lele mencapai 70 ton/hari Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa di antara komoditas perikanan yang ada di Kabupaten Bogor.0 88.7 80.20 5.3 0. diikuti dengan ikan Mas (1966.2 38. Kemang.58 22.03 27.36 29.2 0.9 81.0 4.2 0. Rancabungur.6 7.9 166.0 1946. Parung.7 31.0 0.8 5.19 0.0 2.6 24.05 4.1 57.4 50.).9 101.17 163.0 0.86 1 526. dan pada akhir tahun 2010 produksi ini mencapai 70 ton/hari (Lihat Tabel 6.0 19. ikan Nila (1946.86/tahun atau sekitar 50.31 1.0 273. satu dari sepuluh jenis komoditi perikanan yang dibudidayakan produksi terbanyak adalah ikan lele.0 70.0 1.4 219.4 21.0 0.7 0.1 17383. Produksi Perikanan Per-kecamatan menurut Jenis Ikan Komoditas Zona Mas Nila Gurame Lele Tawes Tambakan Mujair Nilem Patin Bawal zona I 112.3 286.86 1.44 5.59 91.7 764.3 207. Sedangkan jenis yang lain produkdsinya masih jauh lebih rendah.86 ton/tahun).5 64.8 15. Sedangkan untuk jenis komoditi.0 4.00 10.2 0.8 0.61 0.4 6.3 133. Tabel 6.07 0.0 10.0 358.3 0. Tenjolaya.0 0. Ciseeng. Ikan lele merupakan jenis yang produksinya paling tinggi (18312.) Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI .Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Zona 3 : Ciampea. Gunung Sindur (Peta RTP Kemang. Produksi ini semakin hari semakin meningkat.4 133.80 0.76 0.6 214.0 1966.4 0.7 0.87 3.20 1.22 2.9 585.7 1086. Parung .0 86.0 43.8 328.41 71. lele merupakan komoditas dengan produksi tertinggi yakni sekitar 18312.8 248.2 12.2.2.3.9 47.43 162.4 9.

ASTENA Balai Makmur 1670 230 1900 Pada keadaan tertentu jumlah ikan BS bisa mencapai 30% dari jumlah ikan Daging 180 30 210 3 Anggota : 60 orang Anggota : 10 orang TOTAL(Ton/Bulan)/ TOTAL(Ton/Hari) Sumber: Data Survai Lapang (2010) 1850 62 260 8 2113 70 Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI . 2. Kapasitas Produksi Lele Menurut Petani/Penampung di Kawasan Minapolitan Tahun 2010 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Nama Siu eng Bun yan Yana Em bin Ahan Ong tan Asnawi Bun yok M.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 6.nooh Khoerudin Rudy Abdul ghani Neran Peng un Ogh wan Sugeng Samsudin Nacu Kode Gedeon Akent Sutaji Kapasitas (ton/bulan ) Daging 90 90 90 70 90 40 100 100 100 100 90 70 40 70 70 30 30 30 70 70 180 50 Bs (besar) 10 10 10 10 10 5 20 10 10 10 10 5 5 5 5 5 5 5 5 5 60 10 Total 100 100 100 80 100 45 120 110 110 110 100 75 45 75 75 35 35 35 75 75 240 60 Keterangan Petani/penampung Petani/penampung Petani/penampung Petani Petani/penampung Petani Penampung/bandar Petani/penampung Petani Petani Petani/penampung Petani/penampung Petani Petani Petani Petani Petani Petani Petani/penampung Petani/penampung Petani/penampung Petani/penampung TOTAL Tergabung UPP 1.3 . Kel.3.

4 . masih banyak petani yang menggunakan indukan lele “asal” yang diperoleh dari lele konsumsi yang telah matang gonad. secara teknis pemeliharaan induk. Kualitas induk yang tidak stabil (akibat faktor genetik induk dan teknik pemeliharaan induk). Pemasaran  Potensi pasar ikan air tawar cukup besar. 6. Permasalahan Perbenihan a) Permasalahan utama dalam perbenihan adalah rendahnya produktivitas yang dicerminkan dengan rendahnya tingkat kelangsungan hidup (SR= Survival Rate) atau tingginya tinggkat kematian benih . Pakan alami antara lain yang berupa cacing sutera dan insekta air tidak mencukupi. pemasaran terbesar adalah di Jakarta dan Tangerang. sedangkan budidaya cacing sendiri sebenarnya sudah dapat dilakukan tetapi masih sangat terbatas karena teknologinya belum dapat dikuasai. Untuk mengantisipasi kejenuhan pasar. Mas dan Nila umumnya dipasarkan ke restoran. sedangkan Gurame. Secara genetik. di samping dipasarkan di Bogor. Dengan berkembangnya produksi ikan lele dari tahun ke tahun maka perlu diantisipasi akan terjadinya kejenuhan pasar. Dari potensi pasar tersebut Kabupaten Bogor memasok sekitar 40-50 ton per hari.1.3. Khususnya untuk komoditas ikan lele. Pasar ikan Lele tersebut adalah warung tenda (pecel lele). Permasalahan Perikanan Budidaya   6. Dengan adanya program pengolahan yang dikembangkan di Minapolitan. program minapolitan diharapkan dapat memberikan solusi dengan adanya pengolahan produk ikan Lele. bukan dari lele unggul yang dikususkan menjadi parent stock.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 6. b) Ketersediaan pakan alami sangat terbatas baik dari segi kuantitas dan kualitas. pemberian pakan induk sering tidak mencukupi sehingga kualitas telur dan anakan menjadi rendah.2. paling tidak dapat menyerap produk ikan Lele BS (ukuran besar > 6 ekor/kg) dengan harga yang memadai. sebagian besar masih tergantung produksi alami yang berasal dari sungai-sungai besar di Jakarta dan Tangerang yang kaya akan bahan organik. Dengan demikian diharapkan keuntungan pembudidaya dapat lebih ditingkatkan.3. Potensi pasar Lele di Jakarta dan Tangerang mencapai sekitar 80-100 ton per hari (diprediksi dai jumlah pakan yang terjual). sisanya dipasok utama dari Indramayu.Penyebab utama permasalahan tersebut dididuga disebabkan rendahnya kualitas induk. dan belum Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI .

c) Kurangnya pengetahuan khususnya terkait penanganan terhadap penyakit juga merupakan permasalahan bagi pembenih ikan.3. Permasalahan yang dihadapi pendeder antara lain: a) Kualitas dan kuantitas benih yang tidak stabil akibat tidak stabilnya kualitas benih dari segmen pembenihan. Penyakit yang paling umum menyerang pembenih lele ialah “lele gantung” dan “ moncong putih” d) Permasalahan yang lain yang dihadapi pembenih adalah lemahnya pengetahuan tentang pengelolaan keuangan sehingga masih terjadi pemborosan atau kurang efisien dalam mengelolaan usahanya. 6. Disamping itu pencemaran lingkungan sungai oleh logam berat menimbulkan resiko. Permasalahan di Tingkat Pembesaran Permasalahan dalam budidaya ikan lele tidak hanya terjadi di pembenihan tetapi juga terjadi pada tingkat pembesaran. b) Kurangnya pengetahuan sumberdaya manusia khususnya terkait penanganan terhadap penyakit dan manajemen keuangan usaha. tetapi hanya membeli larva atau benih ukuran kecil dari pembenih. Perbedaan dengan pembenih adalah tidak dilakukannya pemijahan sendiri.3. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI . Permasalahan di Tingkat Pendeder Pendeder adalah adalah orang yang melakukan pemeliharaan dari ukuran larva atau ukuran 3-4 cm menjadi ukuran yang siap ditebar untuk pembesaran (7-12 cm). kemudian dipindahkan ke kolam yang telah dipupuk. sedangkan sumber cacing lain dari sawah dan selokan tidak mencukupi kebutuhan cacing untuk budidaya lele. karena akibat benih ikan dapat terserang penyakit sehigga penggunaan sumber pakan alami terkontaminasi logam berat cacing sungai menjadi ancaman serius bagi petani lele.3. hal ini cukup efektif dalam mengatasi kekurangan cacing. akan mengakibatkan persentase BS meningkat yang berujung pada kerugian usaha.2.5 .Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor mencapai skala ekonomis. Jumlah cacing sutera dari sungai-sungai ini dipengaruhi oleh curah hujan dan banjir. jika lele ditahan dijual. namun hal ini berpengaruh terhadap kelangsungan hidup (SR) benih lele yang ditebar. Strategi yang digunakan petani pembenih saat ini ialah mempersingkat hanya pemeliharaan benih di bak yang menggunakan pakan cacing menjadi selama 3-10 hari yang sebelumnya 15 hari. 6. terutama jika masuk lele dari jawa. Permasalahan tersebut diantaranya adalah: a) Harga jual dan pasar yang fluktuatif.

nugget. Sehinga sebagian masyarakat masih memandang bahwa ikan lele merupakan produk yang kurang bersih. harga lele sebagai bahan baku produk olahan terjangkau sehingga meningkatkan daya saing olahan. Potensi Pengolahan Produk Perikanan Lele merupakan komoditas unggulan Kabupaten Bogor karena beberapa alasan yaitu memiliki potensi terbesar dibanding jenis ikan lainnya. i) Kurangnya informasi khususnya mengenai teknologi budidaya. Kandungan gizi lele yang bagus dapat meningkatkan konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia. budidaya dilakukan oleh kelompok UMKM. d) Tingginya harga pakan. surimi dan produk siap saji yaitu bakso. Gunung Sindur dan Kemang. perut kembung. crakers dan lainnya. dan lain-lain. e) Kualitas dan kuantitas benih yang tidak stabil yang disebabkan oleh teknologi pembenihan yang kurang tepat atau disebabkan karena tidak tersedianya induk yang berkualitas. j) Terbatasnya ketersediaan pakan alami dari benih pada stadia.93 ton atau sekitar 11 ton/hari. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI .dibawah harga normal). serta produk kering seperti krupuk.4. h) Permodalan usaha dan kesulitan memperoleh input produksi. kaki naga.. sosis. f) Kurangnya pengetahuan sumberdaya manusia khususnya terkait penanganan terhadap penyakit dan manajemen keuangan usaha. Berdasarkan data yang disediakan oleh PEMDA BOGOR. g) Kualitas produk hasil budidaya kualitasnya masih beragam belum dapat mencapai kualitas yang memenuhi standar higienis karena masih digunakannya pakan tambahan seperti limbah pabrik maupun budidaya ayam. Pada tahun 2008 total produksi lele per tahun 41.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor b) Harga lele BS (over & undersize) yang rendah (Rp 2000. Lele dapat diolah menjadi berbagai produk antara yaitu filet.6 . sering terjadi kekurangan pakan alami. c) Persaingan pasar dengan lele dari daerah lain (Indramayu) bahkan dari Boyolali. Penyakit yang sering menyerang antara lain aeromonas. Selama ini benih lele pada stadia awal diberikan cacing suter atau dahnia yang diperoleh secara alami. penangan penyakit bahkan harga ikan. Dengan meningkatnya produksi benih. daerah produksi lele meliputi empat kecamatan yaitu Kecamatan Ciseeng. 6. badan kuning. Lele sebagai bahan baku lebih mudah dijaga kesegarannya sehingga dapat menghasilkan produk olahan berkualitas. Parung.

Kapasitas bahan baku ditentukan dari kapasitas produk lele segar BS yaitu 6 ton lele segar/hari. nugget. kapasitas produksi sesuai dengan ketersediaan bahan baku dan daya serap pasar.7 . serta penerapan teknologi pengolahan yang ramah lingkungan. nugget. Dibandingkan dengan produk sejenis yang ada di pasaran saat ini (CV. Contoh produk olahan lele yang diformulasikan bersama rumput laut. Selain itu kegiatan pengolahan dan pemasaran harus layak secara ekonomi supaya hasilnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. makanan ringan chiki/crackers. Bahan baku yang digunakan untuk produk olahan adalah filet dari lele segar.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Untuk pengembangan sentra produksi olahan dan pemasaran perlu dicari lokasi yang tepat dengan sarana dan prasarana yang memadai. jenis produk olahan yang digemari masyarakat.1. Dari jumlah tersebut sekitar 15 % ( 1 ton) diolah menjadi lele asap.1. chitosan dan lainnya (Gambar 6. 15% (1 ton/hari) diolah menjadi berbagai produk turunan. Bintang Anugerah). Produk yang mungkin dikembangkan adalah perluasan lele asap dengan mencari pasar baru. kaki naga (VegiFish) dibuat surimi terlebih dahulu. Untuk produk siap saji seperti bakso. produk olahan bakso.4. Jenis Pengolahan Berdasarkan survey pendahuluan yang dilakukan oeh team budidaya diperoleh data produksi lele mencapai 40 ton per hari untuk empat kecamatan dengan jumlah lele BS sekitar 15 % atau 6 ton /hari. burger.) Gambar 6. kaki naga diyakini tidak dapat berkompetisi bila memasuki pasar yang sama. filet lele asap.1. Produk lele asap yang Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI . diperoleh informasi industri rumahtangga produk olahan ada 4. dijual dalam bentuk makanan kesehatan. Bening dan CV. kaki naga masih bisa diproduksi dengan menciptakan segmen pasar yang berbeda. Hasil survey lanjutan pada tanggal 9 Nopember 2010. sosis. Produk olahan bakso. filet segar. nugget. Kaki naga (VegiFish) (kiri) dan Nuget (kanan) 6. sosis.

5-50 kg. Bintang Anugerah.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor terletak di Gunung Sindur.2. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI . Persepsi sebagian masyarakat yang negatif tentang lele. Harga bahan baku berkisar antara Rp. Kelompok Usaha Lele Asap “Citra Dumbo” yang di miliki oleh Bapak Suaep dengan kapasitas produksi per hari antara 150-200 kg lele segar ukuran 10-12 ekor/kg. Dengan pengasapan menggunakan kayu bakar selama 2 hari dihasilkan produk lele asap 37. 65. kakinaga. ekado. Permasalahan Pengolahan Hasil observasi menunjukkan masih ditemukan isu dan permasalahan terkait dengan pengembangan olahan lele. Bening dan CV. Keduanya memproduksi olahan ikan seperti bakso.8 . lumpia. tuna. marlin. Terdapat 2 industri rumah tangga di kecamatan Parung CV.00015.000/kg. Industri Rumah Tangga Lele Asap dan Pengasapan Lele 6.000/kg.4. Lele belum menjadi bahan baku olahan produk bakso. maka diperlukan inovasi dalam pengolahan produk agar dapat menjangkau konsumen yang memiliki daya beli lebih tinggi.2. Selanjutnya produk dipasarkan di Pasar Senen Jakarta dengan harga Rp. Bening menggunakan bahan baku tetelan kakap. Selain itu terdapat industri olahan lele asap di Citayam. antara lain : 1. Bintang Anugerah menggunakan bahan baku tetelan tuna dengan kapasitas produksi 700 kg bahan baku/hari. nugget. 2. 12. Hal ini disebabkan karana harga lele (filet) jauh lebih mahal dibandingkan dengan bahan baku ikan yang selama ini digunakan yaitu tetelan kakap. CV. Konsumen yang memiliki daya beli yang lebih tinggi biasanya menuntut kualitas produk yang lenih tinggi. tuna marlin dengan kapasitas produksi 150-200 kg/hari bahan baku. Gambar 6. kecuali lele asap. nuget. Oleh karena itu untuk meningkatkan daya saing produk Lele . Lele masih dianggap sebagai ikan yang kurang bersih cara hidupnya. kaki naga. CV.

dengan target pasar golongan menegah keatas. b) Inovasi produk yang sudah ada dengan penambahan bahan yang meningkatkan nilai kesehatan seperti rumput laut. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR Dengan harga VI . sosis. Pemasaran 6. c) Penerapan teknologi zero waste dengan memanfaatkan limbah (produk samping) untuk meningkatkan margin. 6. Untuk mengolah lele perlu dilakukan beberapa hal sebagai berikut : a) Inovasi produk olahan yang belum ada di pasaran antara lain steak. abon stick.. Pemasaran Ikan Segar Pemasanan ikan segar khusunya Lele di Kabupaten Bogor sudah berjalan rutin dan hampir tidak ada permasalahan dalam proses penjualannya. protein ikan hidrolisat.000. dan chiki.5. burger. kehalalan MUI sehingga membatasi penetrasi pasar khususnya ke supermarket. Pembudidaya yang dapat memenuhi konsumen dalam hal kontinuitas produk hanya pembudidaya skala besar. 4. d) Sosialisasi dan kampanye intensif tentang manfaat dan keunggulan lele sebagai sumber protein dan nutrisi lainnya. dan supermarket. 10.-. filet asap dan produk kering seperti crackers. pedang pengumpul an kemudian konsumen.000.500. filet segar.tergantung banyak atau sedikitnya jumlah lele di pasaran. Pembudidaya skala besar dengan jumlah anggota banyak dapat mengatur pola tanam sesuai dengan kebutuhan pasar. Hampir tidak ada penjualan dari pembudidaya langsung ke konsumen. Penjualan ke konsumen hampir seluruhnya dilakukan oleh pedagang pengumpul..5. Sistem pembesaran ikan segar dilakukan melalui rantai pemasaran mulai dari pembudidaya. mingguan maupun bulanan.9 . Hal ini disebabkan karena konsumen menginginkan kontinuitas produk baik dalam periode harian.sampai dengan Rp11. Sedangkan pembudidayaan lele memerlukan waktu sekitar 2 bulan. Namun rata-rata harga lele saat ini adalah Rp.1. café & resto. e) Sertifikasi industri olahan dari BPOM. chitosan. MUI f) Penciptaan pasar baru seperti sekolah. Belum dimilikinya ijin BPOM. pesantren. Harga lele di tingkat produsen atau pembudidaya untuk ukuran sedang berkisar antara Rp 10. Belum diterapkannya Good Manufacturing Practices di industri pengolah. jadi hampir tidak mungkin pembudidaya skala kecil dapat memenuhi pemintaan konsumen. Konsumen utama produk ikan segar khususnya ikan Lele ke restoran dan adalah warung tenda yang menjual pecel lele dan sebagian lain cetering.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 3.

Bening dan CV.10 . Produk lele asap yang terletak di Gunung Sindur.990. Sedangkan yang ukurannya lebih kecil dari 12 ekor per kg biasanya tidak dibeli dan harus dipelihara lagi sampai mencapai ukuran konsumsi sehingga memerlukan waktu pemeliharaan lebih lama dan tentunya akan menambah biaya produksi. Kelompok Usaha Lele Asap “Citra Dumbo” (Gambar 6.000/kg..Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor tersebut. CV. strategi pemeliharaan. Bintang Anugerah dengan pemasaran di kawasan Jabotabek. Bintang Anugerah menggunakan bahan baku tetelan tuna denga kapasitas produksi 700 kg bahan baku/hari.000-15.5-50 kg. 65. Jika ukurannya lebih besar dari 6 ekorper kg yakni mulai 5 ekor per kg sampai dengan 2 ekor atau 1 ekor per kg harganya lebih rendah Rp 2. sumber induk atau benih dan strategi pemberian pakan. Ukuran konsumsi berkisar dari ukuran 12 ekor per kg sampai dengan 6 ekor per kg. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI . Bintang Anugerah (Gambar 6. Dengan pengasapan menggunakan kayu bakar selama 2 hari dihasilkan produk lele asap 37. Terdapat 2 industri rumah tangga di kecamatan Parung CV. Bening menggunakan bahan baku tetelan kakap.2. pembudidaya dapat memperoleh keuntungan sekitar Rp 1.000 . Harga bahan baku berkisar antara Rp.dari ikan ukuran konsumsi.) yang dimiliki oleh Bapak Suaep dengan kapasitas produksi per hari antara 150-200 kg lele segar ukuran 10-12 ekor/kg. nugget. diperoleh informasi industri rumahtangga produk olahan ada empat.7). kaki naga.2. Bening selain melaui gerobak jalan juga memasarkan produknya di Pasar Ikan Higienis Cibinong Daftar harga produk disajikan pada Tabel 6. Selanjutnya produk dipasarkan di Pasar Senen Jakarta dengan harga Rp. Selain itu terdapat industri olahan lele asap di Citayam (akan di survey lanjut). Sistem pemasaran yang diterapkan kedua perusahaan tersebut adalah gerobak dorong dengan jumlah gerobak 30 untuk CV. tuna marlin dengan kapasitas produksi 150-200 kg/hari bahan baku. 6.2 000 per kilogramnya tergantung tingkat efisiensi teknologi yang diterapkan dan proporsi ukuran lele lele yang dipanen. lumpia. Hal tersebut sangat ditentukan oleh pemehaman pembudidaya dalam hal teknolgi. Jika proporsi ukuran konsumsinya lebih banyak kentungan bisa lebih besar. 12. Bening dan 60 untuk CV. Oleh karena itu keuntungan yang diperoleh pembudidaya akan ditentukan berapa besar proporsi ukuran konsumsi yang dipanen pertama kali dan berapa lama total pemeliharaan sisanya sapai mencapai ukuran konsumsi. Keduanya memproduksi olahan ikan seperti bakso. CV.5. CV. Pemasaran Ikan Olahan Hasil survey. ekado.000/kg.3.

Bening dan CV. 3.4. Jenis produk Filet kakap Filet tuna Filet dori Filet tenggiri Cucut Harga 35.6.8.1. Bening : Bakso Ikan (kiri)dan Lumananpia Ikan (kanan) 6. Produk ikan CV.000/kg Lokasi PIH Cibinong PIH Cibinong PIH Cibinong PIH Cibinong PIH Cibinong                   Gambar 6.000/kg 35. Sistem Tata Air 6.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Gambar 6. yaitu dengan cara membandingkan antara ketersediaan air hujan dengan kebutuhan air untuk budidaya perikanan.3. Hasil analisis neraca air disajikan pada Tabel 6. 1.000/kg 18. sedangkan kebutuhan air merupakan kehilangan air berupa evaporasi dan kebutuhan untuk penggantian air kolam. dan Gambar 6. Jenis dan harga produk olahan ikan di CV Bening dan CV Bintang Anugerah di PIH Cibinong No. Ketersediaan air hujan diperhitungkan sebagai curah hujan andalan dengan peluang kejadian 80%.000/kg 38. 5. 2. Dari tabel dan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI .11 . Neraca Air Analisis neraca air dilakukan untuk mengetahui kondisi surplus/deficit neraca air secara alamiah.5. Bintang Anugerah Tabel 6.7. 4.6.000/kg 45. CV.

6 72.38 lt/det/ha.0 56. untuk mengatur masuk dan keluarnya air segar sekitar 5 – 10 % dari volume kolam per hari.2 86.06-0.3 -56. Defisit neraca air berkisar antara 15-67 mm/bulan atau 0. untuk menghindari terjadinya kekeringan pada lahan sawah dengan sistem budidaya pertanian tanaman pangan maupun perikanan.3 mm/hari atau setara dengan 5-33 m3/hari/hektar.0 89.7 293.8 569.3 112.5 228.4 81.2 115. sedangkan kondisi defisit terjadi pada Bulan Juni hingga Bulan Oktober.8 104.4 233.5 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember CH rata-rata 334. Hasil Analisis Neraca Air untuk Budidaya Perikanan CH andalan1) 183.5 154.4 356.8 59. Dalam kondisi pengaliran air secara kontinyu.8 -15.6 132.1 329. Cimulang dan Curug Serpong 2) Kebutuhan air dihitung dari hasil analisis evaporasi ditambah kebutuhan air untuk penggantian air Pada kondisi defisit neraca air. namun secara umum dapat dimanfaatkan untuk suplai air irigasi perikanan dengan sistem budidaya ikan tawar kolam biasa. kebutuhan air untuk budidaya perikanan dipenuhi dari sistem irigasi yang telah ada.9 130.7 108. Meskipun pada awalnya jaringan irigasi tersebut tidak dirancang secara khusus untuk budidaya perikanan.0 -66.0 108.5 95.5 102.0 41.5-3.5 240. DI Cibeuteung untuk wilayah Kemang.0 192. Sistem ini dilengkapi dengan tanggul tanah dan pintu air.8 98.0 305.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor gambar tersebut dapat dilihat bahwa kondisi surplus neraca air terjadi pada periode Bulan November hingga Mei. diperlukan suplai air irigasi dan atau pengaturan pola tanam.3 203.9 27.7 270. yaitu Daerah Irigasi (DI) Sasak untuk wilayah Parung dan Ciseeng.12 .7 125.7 80.0 214. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI .0 58.1 53.5 Surplus/defisit neraca air 102. Table 6. dan DI Curug Serpong untuk wilayah Gunung Sindur.2 105. Dalam kondisi defisit neraca air.2 -22.0 Catatan : 1) CH andalan dihitung dengan peluang 80% dari data curah hujan harian di daerah Kahuripan.8 161.0 Kebutuhan air2) 80.1 428.1 193. dengan aliran air berkecepatan rendah.4 -56.4. Debit air keluar dialirkan kembali ke jaringan irigasi. nilai ini setara dengan 0.

serta relatif mencukupi untuk mengairi kolam-kolam yang ada. Kondisi debit di daerah irigasi tersebut berfluktuasi sepanjang tahun. dengan aliran air berkecepatan rendah. Namun demikian pada bagian hilir daerah irigasi. yaitu sekitar 1 lt/det/ha.5. namun secara umum dapat dimanfaatkan untuk suplai air irigasi perikanan dengan sistem budidaya ikan tawar kolam biasa. untuk mengatur masuk dan keluarnya air segar sekitar 5 – 10 % dari volume kolam per hari.6. Meskipun pada awalnya jaringan irigasi tersebut tidak dirancang secara khusus untuk budidaya perikanan. Nilai ini relatif lebih besar dari nilai rata-rata satuan kebutuhan air untuk perikanan darat. yaitu masing-masing sebesar 1-5 lt/det/ha di DI Sasak. Dari skema jaringan irigasi yang disajikan pada Lampiran 1. kebutuhan air untuk budidaya perikanan dipenuhi dari sistem irigasi yang telah ada. Debit air keluar dialirkan kembali ke jaringan irigasi Hasil analisis debit intake irigasi disajikan pada Tabel 6. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI . dan DI Curug Serpong untuk wilayah Gunung Sindur. Grafik Curah Hujan Andalan dan Kebutuhan Air untuk Budidaya Perikanan 6. dan > 10 lt/det/ha di DI Cibeuteung-1. baik di tingkat sekunder maupun tersier.5.2. Sistem ini dilengkapi dengan tanggul tanah dan pintu air. dan Lampiran 3. DI Cibeuteung-1 untuk wilayah Kemang. dapat diprakirakan nilai satuan ketersediaan air irigasi. diperlukan pengaturan yang lebih baik karena debit intake pada musim kemarau cenderung berkurang. Layanan Daerah Irigasi Pada kondisi defisit neraca air di wilayah studi. 3-10 lt/det/ha di DI Curug Serpong.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Gambar 6.13 . yaitu Daerah Irigasi (DI) Sasak untuk wilayah Parung dan Ciseeng.

0 1699.3 3142.6 2917. dengan pemberian air secara terus-menerus. DI Sasak. Kinerja Jaringan Irigasi Untuk memperoleh data dan informasi lapangan mengenai kondisi fisik jaringan. DI Sasak. Hasil Analisis Debit Saluran Bulanan (Lt/Det) Bulan Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember DI Cibeuteung-1 4447.0 DI Sasak (BSK3) 3923. Kecamatan Ciseeng Rangkuman hasil observasi lapang secara rinci disajikan pada Lampiran 4.0 11550. Desa Pabuaran.9 4915.5. Kecamatan Kemang 2) Petak Tersier TP5 ki .6 3836. pengaturan air irigasi.6 13405. DI Cibeuteung-I. Kecamatan Ciseeng 4) Petak Tersier TP1 ka.2 3018. Air drainase dari kolam bagian hulu pada umumnya digunakan kembali sebagai air irigasi untuk areal di bagian hilir.8 14616.4 3267.3 3047.7 13425.4 2794. Desa Babakan.9 3785.0 1123.0 3061.6.1 3086. Pola aliran air dari pintu sadap menuju petakan kolam dan sawah seperti pada Lampiran 4 menunjukkan bahwa lokasi kolam menyebar di sebelah hulu hamparan sawah.4 2956.3 2287.2 4292. karena dapat mengganggu aliran dan merusak tanggul saluran.2 9988.9 3101.7 6078. Kecamatan Ciseeng 3) Petak Tersier SK 8 ki .1 3213.2 3148.9 6970.7 2849.3. 6. telah dilakukan observasi lapang di 4 (empat) lokasi berikut: 1) Petak Tersier CBTS 7 ki.1 3154.2 5666.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 6.1 4226. Aliran air pada kolam pembibitan umumnya dari kolam ke Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI .6 2925. Kolam dengan air tenang dapat diberi air dari saluran tersier. Desa Nutug.5 5579.2 DI Curug Serpong 13069.4 3136.6 3971.5 1755. Desa Cihowe.7 2922.8 1680.6 DI Cogrek 3144.2 4973.2 5512.6 3325.2 1611.3 1641.4 4260. Pembiakan ikan dalam keramba di saluran tidak dianjurkan.1 4675.1 Catatan : Dihitung dari data debit harian Kolam ikan dengan aliran air kecepatan rendah dan pengembangbiakan di sawah tidak membutuhkan prasarana bangunan air secara khusus. dan kecukupan air di tingkat usahatani. DI Sasak.14 .

serta padi-padi-palawija. petani pada umumnya beralih dari budidaya padi ke budidaya ikan. Perbandingan antara luas kolam ikan dan sawah di petak tersier sekitar 30-50% (kolam) dan 50-70% (lahan sawah). petani cenderung mengurangi luas kolam yang diusahakan (kolam dikosongkan). tanggul kurang tinggi. pada lahan yang relatif jauh dari sumber air. Pada beberapa lokasi. namun saluran di bagian hilir tidak berfungsi dengan baik karena tertutup oleh rumput dan terjadi pendangkalan. air irigasi selalu cukup meskipun di musim kemarau karena muka airtanah yang tinggi (istilah setempat: lahan balong). terutama pada musim kemarau. pintu bangunan pengambilan rusak/hilang. atau yang mendapat suplesi dari areal di bagian atas seperti dari perbukitan/kebun sawit. Desa Babakan. namun demikian pada lokasi tertentu terdapat juga kompleks perkolaman seluas sekitar 12 ha yang dimiliki oleh seorang petani. Petani yang memiliki kolam dengan garapan luas umumnya petani yang memiliki lapak di pasar. Dalam kondisi air cukup. Selain itu juga terjadi pengendapan lumpur di saluran tersier. bangunan pengambilan kurang berfungsi terutama pada musim kemarau. kerusakan bangunan talang.15 . Luas garapan kolam rata-rata berkisar antara 200 m2 hingga 1 ha per petani. Kerusakan infrastruktur irigasi telah terjadi pada beberapa bangunan air seperti kerusakan tanggul yang mengakibatkan terjadi rembesan dan kebocoran. atau memiliki sumur bor. kolam penyuntikan terdapat di halaman rumah. pendangkalan saluran. umumnya berupa kolam pembibitan. namun apabila air irigasi terbatas/kurang. pada lahan dekat sumber air (saluran atau bangunan sadap). Pola tanam yang lain adalah kolam-kolam-padi diterapkan pada lahan yang relatif agak jauh dari sumber air. Kecamatan Ciseeng. serta tertutupnya saluran di bagian hilir oleh sampah dan rumput. Di areal Petak Tersier TP1 ka. Pada lokasi tertentu. pola tanam yang banyak diterapkan oleh petani adalah kolam ikan sepanjang tahun. sedangkan pada musim hujan saluran tersier masih befungsi untuk penyaluran air namun pada musim kemarau terdapat hambatan dalam pengaturan air. serta tidak terdapat bangunan box bagi tersier.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor kolam (2 – 3 kolam). kolam pembibitan dan kolam pembesaran. Kelembagaan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI . perbandingan antara luas kolam ikan dan sawah sekitar 95% : 5% atau sebagian besar adalah petani ikan. Pada areal tertentu seperti di areal petak tersier TB 5 ki. Sistem perkolaman terdiri dari kolam penyuntikan. Ditinjau dari kecukupan airnya. sedangkan pada kolam pembesaran aliran air kolam ke kolam (4 – 5 kolam). Sebagian bangunan sadap atau pengambilan umumnya masih berfungsi untuk pengaturan air.

Desa Babakan. Desa Cihowe. Kecamatan Ciseeng Petak Tersier SK 8 ki . seperti tertera pada Tabel 6. Beberapa bangunan air memerlukan rehabilitasi dan peningkatan fungsi jaringan. Kecamatan Ciseeng: o Kelompok tani Kelompok tani tanaman pertanian : Solidaritas I (Ketua : Aja ) Kelompok tani ikan : Solidaritas II (Ketua : Arifin) Kelompok petani ikan : Perwatin (jumlah anggota 35 orang.6. Pada tahap awal pengembangan minapolitan ini. Kecamatan Ciseeng Petak Tersier TP1 ka. Kecamatan Kemang Petak Tersier TP5 ki . Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI .7. diusulkan beberapa segmen saluran yang memerlukan perbaikan. Desa Putat Nutug. Ketua: Bambang Purwanto Kelompok petani ikan : Tirta Makmur Kelompok petani ikan : Perikanan Jaya (jumlah anggota 100 orang. Tabel 6. Kelembagaan Pengelolaan Air di Tingkat Usahatani Daerah irigasi o Petak Tersier CBTS 7 ki. dapat diperoleh gambaran bahwa infrastrukur irigasi yang telah ada tidak sepenuhnya dapat memberikan pelayanan air irigasi yang memadai. merangkap sebagai bendahara P3A Gabungan) o P3A Gabungan (Ketua: Sumaryono) P3A Gabungan (Ketua: Sumaryono) P3A Gabungan (Ketua: Sumaryono) P3A o o o o o o o o o Dari uraian hasil observasi lapang di atas. Desa Pabuaran.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor pengelolaan air di tingkat usahatani yang telah ada di lokasi observasi tertera pada Tabel 6. Ketua: Hudori . DI Cibeuteung-I.6.16 .

Sasak : a. 1 bh Galian lumpur. 2000 m Pasangan lining. 5600 m Pasangan lining. 500 m Galian lumpur.1500 m Pasangan lining. 1 buah Galian lumpur. 800 m Box tersier. 600 m Sumber: Kantor UPT Pengairan Wilayah Parung 6. 1800 m Pasangan lining. BTP 5. kewajiban dan peran serta masyarakat dan kelembagaan. Cibeuteung I : o 2. 1 bh Galian lumpur. 4000 m o Pasangan lining. Sal Tersier BTP1 ka c. (6) arahan pengendalian pemanfaatan ruang dan (7) hak. 2 bh Pemb bang pengambilan.I. Sal Tersier BSK 4 f.7. 500 m Box tersier. Sal Tersier BCTS 7ki o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o Usulan rehabilitasi/peningkatan Galian Lumpur. Sal Sekunder Cogrek e. BTP 8 dan BTP 10) Box tersier. kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah. Kebijakan Terkait Minapolitan Peraturan terkait dengan Minapolitan saat ini secara pokok meliputi peraturan tentang tata ruang wilayah. (3) asas.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 6. Cibeuteung 2 o Galian lumpur. Sal Induk 4 5 D. Hal yang paling penting dari peraturan ini adalah bahwa lokasi pengembangan minapolitan yang Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI .I. 1500 m o Pasangan lining. (4) rencana strukur dan pola ruang wilayah. 500 m Pasangan lining. 1. 200 m Pintu pengambilan Perb bang pengambilan. 500 m Perb pintu air. 1 bh Perbaikan Bang Air. 4 bh (BTP1. 3 bh D. 100 m Box tersier. Daerah Irigasi D.17 . 3 bh Perbaikan lantai bangunan pengambilan Pasangan lining ki dan ka. Angke 2 D. peraturan yang terkait dengan kebijakan pemilihan lokasi dan komoditas dan kebijakan/peraturan terkait dengan minapolitan itu sendiri. (5) rencana pemanfaatan wlayah. (2) Ruang lingkup.I. 500 m Box tersier. Sal Tersier BSK 8 3 D. Peraturan ini secara garis besar berisikan : (1) ketentuan umum.I. Saluran Tersier BTP5 ki d. Curug Serpong : a. Usulan Rehabilitasi dan Peningkatan Jaringan Irigasi No. 400 m o Galian lumpur. 19/2008 tentang Rencana tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bogor 2005-2025. Peraturan terkait dengan tata ruang wilayah adalah peraturan Peraturan Daerah Kabupaten Bogor No. 1 bh Pembabatan rumput .I. Sal Sek Tembok Panjang b.7. 3 bh Bangunan Pelimpah. tujuan. 1 bh Talang.

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor
akan ditetapkan harus sesuai dengan rencana pemanfaatan wilayah sesuai dengan peraturan daerah ini. Peraturan yang terkait dengan kebijakan dan komoditas setidaknya terdapat dua peraturan pokok yaitu Peraturan Bupati (Perbub) nomor 84/2009 tentang revitalisasi pertanian dan pembangunan perdesaan (RP3) dan Keputusan Bupati Bogor nomor 523.31/227/Kpts/Huk/2010 tentang penetapan lokasi pengembangan kawasan

minapolitan di Kabupaten Bogor. Pada Peraturan Bupaten No.84/2009 secara umum berisikan program revitalisasi pertanian dan pembangunan perdesaan. Isi pokok dari peraturan bupati ini adalah usaha untuk memberdayakan kembali sektor-sektor pertanian serta fungsi kawasan perdesaan. Secara garis besar, maka wilayah Kabupaten Bogor dibagi dalam 8 zona. Ruang lingkup revitalisasi pertanian dan pembangunan perdesaan mencakup 6 komoditi unggulan yaitu usaha tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan. Program direncanakan baik pada sisi on-farm, off-farm maupun yang tidak didasarkan usaha pertanian (non-farm) serta infrastrukturnya.Terkait dengan minapolitan, bahwa peraturan bupati ini menyebutkan bahwa perikanan termasuk komoditas unggulan yang akan diprogramkan, dengan 6 komoditas komoditas utama yaitu mas, gurame, nila, patin, lele dan ikan hias. Keputusan Bupati Bogor nomor 523.31/227/Kpts/Huk/2010 tentang penetapan lokasi pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Bogor, menyatakan bahwa lokasi minapolitan terletak pada 4 kecamatan yaitu (1) Kecamatan Ciseeng, (2) Kecamatan Parung, (3) Kecamatan Gunung Sindur dan (4) Kecamatan Kemang yang meliputi 28 desa. Lokasi tersebut merupakan sebagian wilayah dalam zona 4 revitalisasi pertanian dan pembangunan perdesaan (RP3). Bila diteaah lebih jauh sudah terjadi harmonisasi, dimana dalam kebijakan revitalisasi pada zona 4 juga diprioritaskan untuk

pengembangan budidaya perikanan. Sedangkan dari sisi kebijakan minapolitan, telah dikeluarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. KEP : 32/MEN/2010 tentang penetapan kawasan minapolitan. Dalam keputusan ini, Kabupaten Bogor merupakan 1 dari 197 kabupaten/kota seluruh Indonesia yang telah ditetapkan sebagai daerah pengembangan kawasan minapolitan. Kabupaten Bogor merupakan satu dari 11 kabupaten yang terpilih d Propinsi Jawa Barat. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. PER : 12/MEN/2010 tentang minapolitan, memuat tentang konsepsi minapolitan. Minapolitan didefinisikan sebagai suatu bagian
Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR

VI - 18

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor
wilayah yang mempunyai fungsi utama ekonomi yang terdiri dari sentra produksi, pengolahan, pemasaran komoditas perikanan, pelayanan jasa dan/atau kegiatan pendukung lainnya. Secara umum, disampingg berisikan tentang ketentuan umum, peraturan ini juga meliputi : (1) azas, tujuan dan sasaran, (2) konsep pengembangan kawasan minapolitan, (3) pemantauan, evaluasi dan pelaporan, (4) pembinaan dan (5) pembiayaan. Secara spesifik, peraturan ini menyebutkan bahwa karakteristik kawasan minapolitan merupakan kawasan ekonomi yang terdiri atas sentra produksi, pengolahan, dan/atau pemasaran dan kegiatan usaha lainnya seperti jasa dan perdagangan. Salah satu persyaratan mendasar adalah bahwa kawasan minapolitan harus sesuai dengan rencana tata ruang wilayah (RTRW) dan Rencana Pengembangan Investasi Jangka Menengah Daerah (RPIJMD) yang telah ditetapkan. Sedangkan bila sudah memenuhi criteria dan persyaratan yang ada, maka Bupati/Walikota mempunyai otoritas untuk menyusun Rencana Induk (Master plan), yang diimplementasikan melalui Rencana Pengusahaan dan Rencana Tindak. Penetapan lokasi Minapolitan dilakukan oleh Bupati/Walikota dan disampaikan pada Menteri Kelautan dan Perikanan. Pada sisi pembiayaan, maka pengembangan dan pembinaan kawasan minapolitan didasarkan pada APBN dan atau APBD serta sumber lain yang tidak mengikat sesuai peraturan perundang-undangan.

6.8.

Isu dan Permasalahan Kelembagaan

Berdasarkan kondisi kelembagaan serta hubungan antar pelaku usaha (baik individu maupun kelompok), maupun antara pendukung kegiatan ini dijumpai beberapa permasalahan sebagai berikut. A. Relasi antar pelaku usaha atau organisasi a. Kepastian relasi yang menguntungkan antar kelompok, b. Bangunan kepercayaan (trust) antar kelompok, c. Komunikasi yang produktif, dan d. Bentuk kelembagaan pengelolaan. B. Aturan Main (Rules of The Game) a. Peraturan yang menjamin kepastian pola hubungan dan transaksi yang menguntungkan, b. Peraturan yang menjamin kepastian lokasi dari interaksi potensi pemanfaatan wilayah lainnya, dan
Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR

VI - 19

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor
c. Kepastian peraturan prasarana. tentang pengelolaan dan pemanfaatan sarana dan

6.9.

Potensi Minawisata

Pengembangan minawista meliputi perencanaan yang mengakomodasikan seluruh aktifitas yang direncanakan dalam suatu kawasan minapolitan. Perencanaan tersebut didasari oleh konsep utama, yaitu untuk menciptakan kawasan wisata minapolitan yang berkelanjutan dengan mengembangkan wisata edukasi yang didasarkan pada potensi lingkungan yaitu perikanan yang potensial untuk melindungi sumberdaya alam dan kualitas lingkungan serta kesejahteraan masyarakat lokal. 6.9.1. Infrastruktur Wilayah Kondisi infrastruktur yang ada di sekitar kawasan perencanaan cukup baik. Beberapa data infrastruksur tersebut dapat dilihat pada Tabel 6.8. dan Lampiran 5.

Tabel 6.8. Status Jalan dan Panjang Jalan di Kabupaten Bogor Status Jalan a) Jalan Nasional b) Jalan Provinsi c) Jalan Kabupaten d) Jumlah Panjang (m) 121.487 129.989 1.506.565 1.758.041

6.9.2. Identifikasi dan Analisis Potensi Wisata Kawasan Minapolitan Kondisi kawasan yang terletak di perkampungan dan suasana perdesaan yang kental merupakan daya tarik tersendiri meskipun potensi masing-masing kecamatan relatif sama namun karakter yang ada cukup berbeda. Beberapa lokasi telah menjadi obyek wisata dan dapat dilihat pada peta obyek wisata, Lampiran 6.

A. Kecamatan Kemang

Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR

VI - 20

akan tetapi Kecamatan ini memiliki akses yang cukup baik sebagai jalur penghubung antara kawasan minapolitan dengan Kota Bogor maupun Jakarta. Sedangkan dari segi Wisata Edukasi. potensi perikanan yang dimiliki oleh Kecamatan ini sekitar 484 Ha. Cukup kecil dibandingkan dengan kecamatan yang lain sehingga. Situ ini memiliki pemandangan yang indah dan sudah ada trotoar di tepi danau serta tumbuhan yang rindang. Namun demikian kondisi wisata belum digarap secara baik. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI . namun di Kecamatan ini memiliki situ yang cukup strategis. dengan akses yang mudah dan tidak terlalu jauh (10 m) dari Jalan raya Bogor-Parung. 99 Ha.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Meskipun produksi ikannya paling sedikit diantara keempat kawasan minapolitan. Dari luas wilayah sebesar 6369. kecamatan Kemanga memiliki kekhususan dalam pembenihan ikan gurame dan sebagin juga ada perbenihan Lele serta pembesaran Akses ke area perbenihan maupun budidaya sangat mudah dengan kondisi jalan cukup baik.21 . serta tepi situ beum terpelihara. khususnya kondisi trotoar dan jalan .

7 . Situ ini sekarang telah ada akvtivitas wisata pemancingan. Namun jika diberdayakan dengan sarana dan prasarana yang cukup maka kondisi Situ Cillala ini sangat potensial untuk menjadi obyek wisata unggulan.22 . Kondis Situ Cilalal disajikan dalam gambar berikut ini: Gambar 6. Akses jalan menuju Jakarta sebagai pusat pemasaran cukup memadai 4. di kecamatan ini juga terdapat potensi wisata Situ Cilaya yang terletak didesa Jampang. pembesaran pengolahan serta wisata. Jaringan listrik dan telekomunikasi cukup tersedia 5. Secara uumum Keunggulan Kecamatan ini adalah : 1. Terletak relatif di tengah dari empat kota kecamatan wilayah minapolitan 2. Lokasi wisiata ini memiliki nilai jual yang cukup tinggi kerena akses yang mudah dan dekat dengan jalan raya Ciseeng (150 m) dan tidak jauh dengan jalan raya Bogor Parung. Kondisi potensi wisata Situ Kemang Kecamatan Kemang Disamping situ Kemang. Terdapat pasar benih ikan dan pasar yang menyediakan kebutuhan sehari-hari Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI .8. Akses jalan menuju ke sentra produksi cukup memadai 3. Kondisi Situ Cilala Desa Jampang B. Lokasi situ Cilaya terletak diperbatasan Kecamatan Kemang dan Kecamatan Ciseeng.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Gambar 6. Kecamatan Ciseeng Kecamatan ini merupakan kecamatan yang cukup luas areanya dan memiliki barbagai kegitan budidaya yang beragam dari mulai perbenihan.

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 6. di Kecamataan Ciseeng ini juga terdapat Pasar Benih Ikan Ciseeng yang ramai pada hari-hari tertentu dimana pedagang benih menjual benih ikannya dalam jumlah sedikit maupun banyak. Peta Kecamatan Ciseeng Pada kecamatan ini terdapat Desa Babakan yaitu desa yang menjadi pusat pembenihan ikan lele yang cukup besar baik di skala rumah tangga maupun industri.10. Gambar 6.9.23 . Kondisi Desa Babakan Selain desa Babakan yang dikenal sebagai sentra pembenihan. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI . Terdapat kios penyedia sarana produksi perikanan Gambar 6.

Peternakan dan Kehutanan) Disamping kegiatan perbenihan dan budidaya.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Gambar 6. Situ ini memiliki nilai keindahan yang memadai untuk suatu obyek wisata. Kondisi Kawasan Budidaya Ikan Hias Kawasan BP3K merupakan salah satu aset pemerintah daerah yang digunakan sebagai unit pengembangan untuk tanaman pangan maupun perikanan yang berpotensi dapat dikembangkan sebagai tempat pelatihan berbagai kegiatan karena area yang cukup luas dan sudah tersedia kolam-kolam yang dapat dimanfaatkan sebagai percontohan perbenohan maupun budidaya serta didukuang dengan akses yang relative mudah. Gambar 6. perikanan. Situ ini lokasinya tidak jauh dari pasar Ciseeng dan juga relative dekat dengan Parung.12. Kondisi Pasar Ciseeng Ikan hias juga merupakan salah satu komoditas unggulan selain ikan lele. kecamatan ini juga memiliki potensi wisata yang lain yakni Situ Iwul yang terletak didesa Iwul. Gambar 6.11. Kondisi Kawasan BP3K (Balai Penyuluhan Pertanian.13. disamping akses yang mudah dan kondisis Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI . pada Kecamatan Ciseeng ini terdapat suatu kawasan budidaya yang cukup luas yaitu adanya danau buatan yang digunakan sebagai keramba ikan hias berbagai jenis sehingga menarik untuk dijadikan potensi minawisata.24 .

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor jalan yang baik. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI . Kecamatan Parung Gambar 6.25 . lahan yang berpotensi untuk perikanan adalah sebesar 607 ha. Pada kecamatan ini terdapat adanya area-area pembesaran ikan lele yang sudah cukup besar. Kondisi Situ Iwul.376. Namun kondisi Situ ini saat ini belum diberdayakan sebagai obyek wisata. Gambar 6.14.15.59 ha. Gambaran umum kondisi Situ Iwul disajikan dalam gambar dibawah ini. dengan luas kecamatan sebesar 7.Desa Iwul C. Peta Kecamatan Parung Parung merupakan kecamatan dengan potensi perikanan yang cukup besar.

Kawasan Budidaya Lobster Industri pengolahan ikan juga sudah maju di Kecamatan Parung adalah Bening Food dan CV Bintang Anugerah yaitu pabrik pengolahan ikan berasal dari skala rumahtangga. Kawasan Wisata Tirta Sanita Potensi komoditas lain disini adalah adanya pusat budidaya lobster. Pembesaran Lele Obyek wisata yang terdapat di kecamatan ini dan sudah cukup dikenal oleh masyarakat adalah wisata Tirta Sanita.26 . Pada hari-hari libur wisata yang merupakan pemandian air panas ini banyak dikunjungi oleh pengunjung. Berbagai jenis lobster telah dibudidayakan dengan baik disini sehingga menarik untuk dikunjungi. Gambar 6.19.18. Gambar 6.17.169.5 ha.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Gambar 6. Pengolahan ikan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI . Luasan kawasan bangunan sekaligus kolam budidaya adalah sekitar 3. Gambar 6.

Gambar 6. Gambar 6. Beberapa Area Pemancingan Pengolahan ikan yang cukup terkenal di wilayah kecamatan Gunung Sindur ini adalah adanya pengolahan lele asap. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI .Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor D.27 .2). Namun ada masih terdapat juga kolam pemancingan yang banyak diminati oleh masyarakat sekitar. namun masih ada sebagian desa yang memiliki kolam-kolam pembesaran baik penampungan ikan lele.21. Kecamatan GunungSindur Meskipun dalam RTRW Kecamatan Gunung Sindur dialokasikan sebagai kawasan industri. Proses pengasapan yang menggunakan cara yang masih tradisional ini menghasilkan lele asap dengan rasa yang khas sehingga dapat menjadi salah satu objek menarik (lihat gambar 6. 20. Peta Kecamatan Gunung Sindur Adanya tambang pasir dan kendaraan besar terdapat di sepanjang jalan di Kecamatan Gunung Sindur ini menyebabkan jalan atau akses menjadi tidak nyaman karena panas dan berdebu.

9. Selain itu. Kecamatan Ciseeng memiliki nilai paling besar untuk menjadi potensial dikarenakan kondisinya yang masih alami dengan kolam-kolam pembenihan yang menjadi objek menarik untuk dikunjungi. 2010 Kemang 20 50 75 15 60 40 260 Cukup Potensial Ciseeng 40 75 75 15 60 40 305 Cukup Potensial Parung 40 50 75 15 60 40 280 Cukup Potensial Gunung Sindur 20 75 75 15 60 40 285 Cukup Potensial Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VI . alasan sebuah kawasan yang dikembangkan untuk wisata karena terdapat atraksi sebagai komponen dan suplay. seperti yang dinyatakan oleh Gunn (1994). Obyek dan atraksi yang terdapat pada tapak memperkuat komponen untuk melakukan wisata. Atraksi dapat berbentuk ekosistem.9. dibawah menunjukkan bahwa seluruh kecamatan yang ada cukup potensial untuk dikembangkan sebagai kawasan minawisata.28 . Tabel 6.3.9.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 6. keragaman objek yang dapat dijadikan sebagai atraksi wisata juga merupakan faktor pendukung untuk menjadikan Ciseeng sebagai kawasan sentra dari minapolitan. landmark atau satwa. Penilaian Kelayakan Kawasan Bogor sebagai Minawisata Desa a) Letak dr jln raya b) Estetika dan keaslian c) Atraksi d) Fasilitas pendukung e) Ketersediaan air bersih f) Transportasi dan aksesilitas g) Nilai Keterangan Sumber : Hasil Olahan Data. Analisis Kelayakan Lanskap untuk Minawisata Berdasarkan analisis kelayakan kawasan yang potensial untuk dikembangkan sebagai kawasan minapolitan dilihat dari Tabel 6.

1 dan Tabel 7. Pengelompokkan berdasarkan agroekosistem tersebut penting karena suatu kondisi agroekosistem tertentu cocok bagi pengembangan komoditas pertanian tertentu pula. Penetapan Kawasan Pengembangan Minapolitan 7 Berdasarkan Kebijakan Revitalisasi Pertanian dan Pembangunan Pedesaan (RP3P) di Kabupaten Bogor yang sudah disinkronkan dengan RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) Kabupaten Bogor tahun 2005-2025.1 Kecamatan-kecamatan yang masuk ke dalam zona yang sama lokasinya saling berdekatan antara satu dengan lainnya.1. sehingga diharapkan dapat mencerminkan kondisi agroekosistem yang sama. di zona tersebut dapat dikembangkan suatu klaster industri (industrial cluster) bagi komoditas-komoditas tertentu pula. Gambar 7.1 Delapan Zona Pengembangan Pertanian dan Perdesaan Kabupaten Bogor . Kedelapan zona pengembangan pertanian dan perdesaan tersebut dapat dilihat pada pada Gambar 7.RENCANA PENGUSAHAAN KAWASAN MINAPOLITAN 7. Dengan demikian. wilayah Kabupaten Bogor dibagi menjadi delapan zona pengembangan pertanian dan perdesaan.

1. Delapan Zona Pengembangan Pertanian dan Perdesaan Kabupaten Bogor Zona Rumpin Cigudeg 1 Parung Panjang Jasinga Tenjo Sukajaya Nanggung 2 Leuwiliang Leuwisadeng Cibungbulang Pamijahan Ciampea 3 Tenjojaya Dramaga Ciomas Tajurhalang Kemang 4 Rancabungur Parung Ciseeng Gunung Sindur Tamansari 5 Cijeruk Cigombong Caringin Ciawi Cisarua 6 Megamendung Sukaraja Babakan Madang Cileungsi Klapanunggal 7 Gunung Putri Citeureup Cibinong Bojonggede Sukamakmur 8 Cariu Tanjungsari Jonggol Kecamatan Jumlah Desa 13 15 11 16 9 9 10 11 8 15 15 13 6 10 11 7 9 7 9 10 10 8 9 9 12 13 10 11 13 9 12 9 10 14 12 9 10 10 10 14 Pewilayahan RTRW Barat Barat Barat Barat Barat Barat Barat Barat Barat Barat Barat Barat Barat Barat Barat Tengah Tengah Tengah Tengah Tengah Tengah Tengah Tengah Tengah Tengah Tengah Tengah Tengah Tengah Tengah Timur Timur Timur Timur Timur Timur Timur Timur Timur Timur Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII .Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 7.2 .

Kecamatan Ciseeng dengan 8 desa. komoditas lele menjadi komoditas yang banyak dibudidayakan kemudian Gurame. dan Lampiran 7. Setelah dianalisis lebih mendalam berdasarkan (i) aspek potensi lahan/area untuk kegiatan perikanan budidaya. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . Komoditas perikanan budidaya yang dikembangkan di keempat kecamatan tersebut adalah Lele.2. Parung.Tajurhalang. hanya empat kecamatan dan 27 desa yang layak menjadi kawasan Minapolitan di Kabupaten Bogor. Gurame Ikan Hias dan beberapa jenis lainya. Ikan Hias 10 Ha dan untuk ikan jenis 23 Ha lainnya. Kawasan Minapolitan dapat dlihat apda Tabel 7. Komoditas Lele mempunyai priduktifitas paling besar yaitu Produksi perikanan budidaya di sebesar rupakan komoditas paling 16. Kemang .772. Ciseeng. dan Kecamatan Parung dengan 7 desa.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Dari Delapan Zona Pengembangan Pertanian dan Perdesaan Kabupaten Bogor. Kecamatan Ciseeng. Kecamatan Gunung Sindur seluas 192 Ha dan Kecamatan Kemang 484 Ha.5 Ha yang tersebar di empat kecamatan kawasan pengembangan yaitu Kecamatan Ciseeng seluas 1. yaitu Kecamatan Gunung Sindur dengan 6 desa.592. berdasarkan kriteria pengembangan kegiatan minapolitan. Dari keempat kelompok komoditas yang dikembangkan di kawasan tersebut. Kecamatan Parung seluas 607 Ha. Parung.3 . Gurame 114 Ha. Ikan Hias dan kemudian jenis ikan lainnya.14 ton. Kecamatan Kemang dengan 6 desa. (ii) produktvitas dan (iii) jumlah Rumah Tangga Perikanan (RTP). Gunung Sindur dan Kemang saat ini merupakan sentra kawasan kegiatan perikanan budidaya di Kabupaten Bogor. Selengkapnya luas potensi lahan untuk kegiatan perikanan budidaya di kawasan minapolitan Kabupaten Bogor dapat dilihat pada Tabel 7. Total produksi perikanan budidaya yang dapat dikembangkan di kawasan Minapolitan adalah 2.464 Ton. maka Zona (IV) empat yaitu Kecamatan Gunung Sindur.538. Rancabungur merupakan kawasan yang layak menjadi kawasan kegiatan Minapolitan di Kabupaten Bogor.309.5 Ha. Potensi lahan untuk kegiatan perikanan budidaya di kawasan minapolitan Kabupaten Bogor adalah seluas 2. Luas lahan yang digunakan untuk kegaitan budidaya Lele di kawasan tersebut adalah 649.4.

00 22.30 105.00 280.00 90.00 225.00 76.00 22.00 8. Potensi Luas lahan untuk kegiatan perikanan di Kawasan Minapolitan Kabupaten Bogor No.00 32.00 203.00 56.00 82.3.00 24.00 56.00 80.00 105. 1 Kecamatan Ciseeng Babakan Parigi Mekar Putat Nutug Ciseeng Cibentang Cibeuteung Udik Cibeuteung Muara Cihoe 2 Parung Bj.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 7.00 63. Sempu Waru Jaya Waru Pamegar Sari Iwu 3 Gunung Sindur Pangasinan Cibinong Gunung Sindur Curug Cidokom Pabuaran 4 Kemang Pabuaran Kemang Tegal Pondok Udik Bojong Jampang Desa Luas (ha) 283.00 35.00 45.4 .00 36.00 25.00 15.00 Tabel 7.00 210. Indah Cogreg Bj.00 18. Luas Lahan Eksisting untuk Kegiatan Budidaya Perikanan di Kawasan Minapolitan Komoditas Lele Gurame Ikan Hias Jenis Lain Luas per Kecamatan (Ha) Ciseeng 368 75 1 11 Parung 157 25 5 8 Gunung Sindur 88 10 1 2 Kemang 36 4 3 2 Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII .20 245.2.00 151.

464 1015.95 0 258. unggulan pada kawasan minapolitan harus mempertimbangkan aspek-pasek tersebut.386 7.772.60 5. Komoditi unggulan adalah produk pilihan yang dihasilkan oleh sektor perikanan dan atau pariwisata berbasis perikanan yang mempunyai nilai jual dan jaminan prospek masa depan karena memiliki daya saling (competitive advantages) yang tinggi.04 Gurame 424.2. bahwa pengembangan kawasan minapolitan pada prinsipnya adalah membangun industri produk jadi yang berbasis pada komoditi unggulan.5 . tetapi juga menghasilkan suatu produk olahan dari produksi perikanan yang siap dipasarkan dan menjadi ciri khas daerah yang bersangkutan.47 192. Patin.08 108.43 16. pembesaran. pembesaran. Nila.99 375. Penetapan Komoditi Unggulan Seperti telah dijelaskan pada Bab sebelumnya. Analisis dilakukan pada beberapa komoditi yang selama ini sudah berkembang di lokasi kawasan Minapolitan yaitu antara lain Ikan Mas.820. Bawal Tawes dan Tambakan. Produksi perikanan budidaya di Wilayah Studi. pengolahan serta pemasaran.500.464 899 1426 211 2538.30 947. penetapan komoditi pembesaran. Dengan demikian.4. Penentuan komoditi unggulan dianalis dengan menggunakan beberapa parameter yang berkaitan dengan aspek pembenihan.357. pengolahan serta pemasaran. Tahun 2008 (Dalam Satuan Ton/Tahun) Kecamatan Ciseeng Parung Gunung Sindur Kemang Jumlah (Ton) Rata-rata (Ton) Lele 2.85 222.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 7.895. Lele. yaitu aspek pembenihan.25 Jenis Ikan Lain 2.44 698.45 647.59 1.7 236.14 4.93 Ikan hias(RE) 594. Sementara itu salah kriteria sebagai Kawasan Minapoliti adalah terdapatnya kegiatan yang terintegrasi dari hulu sampai hilir yang meliputi kegiatan pembenihan. pengolahan dan pemasaran. Kawasan minapolitan tidak saja berfungsi sebagai pemasok komoditi unggulan yang dihasilkan.67 7. Gurame.193. Keunggulan produk yang dihasilkan dari industri yang mengolah komoditi unggulan tersebut akan memberikan nilai tambah yang besar karena produk yang dihasilkan mempunyai nilai jual yang stabil dibandingkan dengan produk tanpa melalui pengolahan. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII .

maka dapat dlihat bahwa komoditi Ikan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . Selengkapnya hasil analisis skoring penentuan komoditi Unggulan untuk kegiatan Minapolitan di Kabupaten Bogor dapat di lihat pada Tabel.6 . pembesaran dan pemasaran) Produksi Produktivitas Potensi pasar Jumlah pelaku Harga Lama pemeliharaan Margin/ m2/ tahun Persyaratan kualitas air INDIKATOR PENGOLAHAN 9 10 11 Rendemen fillet (2 ekor/kg) Harga bahan baku Keragaman produk olahan (surimi dan turunannya.6. Untuk paramater yang berkaitan dengan aspek budidaya (aspek pembenihan.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Analisis penentuan komoditi unggulan dengan menggunakan skoring.6. Parameter Penilaian Pengolahan NILAI RATING 1=sangat rendah 2=rendah 3=sedang 4=tinggi 5=sangat tinggi KETERANGAN Rendemen 5 = >40% 4 = 30-35% 3 = 25-30% 2 = 20-25% 1 = <20% Keragaman jika bisa diolah (4) = 5 (3) = 4 (2) = 3 (1) = 2 jika tidak bisa diolah = 1 Tabel 7. dimana untuk parameter skor 1 (sangat rendah). pembesaran dan pemasaran) masing-masing parameter yang telah ditetapkan diberikan skor 1-5. memperlihatkan bahwa. asap produk konvensional dan produk kering) TOTAL 33 31 38 51 38 28 24 23 1 3 2 3 1 2 4 4 5 4 4 5 5 5 5 2 5 2 1 2 2 1 3 2 KOMODITAS IKAN KONSUMSI Mas 3 3 4 3 4 4 3 3 Gurame 3 2 3 4 5 2 2 4 Nila 2 3 5 3 3 4 2 3 Lele 5 5 5 5 3 5 5 5 Patin 1 4 2 2 2 3 4 5 Bawal 1 3 2 3 2 3 2 3 Tawes 1 2 2 1 5 2 3 3 Tambakan 1 2 1 1 3 2 3 4 Pada Tabel 7.5.6 Tabel 7. skor 4 (Tinggi) dan skor 5 (sangat tinggi). 1 2 3 4 5 6 7 8 INDIKATOR BUDIDAYA (Pembenihan. skor 2 (rendah). Skor Penentuan Komoditas Unggulan Ikan Air Tawar di Kabupaten Bogor No. skor 3 (sedang ). setelah dilakukan analisis penentuan komoditi unggulan dengan menggunakan analisis skoring.5.7. Sedangkan skoring untuk parameter yang berkaitan dengan aspek Pengolahan penilaiannya dapat dilihat pada Tabel 7.

sehingga yang perlu ditingkatkan adalah produktivitas dan efiiensinya. karena Ikan Lele bisa hidup pada perairan yang masih dibawah standar rata-rata. pengembangan sarana-prasarana publik untuk memperlancar distribusi hasil perikanan dengan efisiensi dan resiko yang minimal. Kegiatan pembenihan dan budidaya sudah berjalan cukup baik. pembudidaya dan Pengolah ikan.pengolahan prduk perikanan. maka kawasan minapolitan Bogor harus mempunyai sentra kawasan terutama untuk VII . Penetapan dan Arahan pengembangan Sentra Kawasan (Minapolis) Pengembangan kawasan minapolitan adalah pembangunan sistem dan usaha agribisnis berorientasi kekuatan pasar (market driven) yang diarahkan untuk menembus batas kawasan (bahkan mencapai pasar global). Sementara itu pasar lele saat ini juga masih cukup menjajikan. Persayaratan kualitas air yang menjadi prasyarat utama bagi kegiatan budidaya ikan secara umum tidak terlalu ketat. Ikan Lele merupakan komoditi perikanan yang mempunyai keunggulan lebih dibandingkan dengan jenis komiditi perikanan lainnya. Kegiatan pemebnihen dan budidaya tidak dapat disentralisasi karena telah tercipta keterkaitan produsen dan pasar sesuai dengan mekanisme pasar. Oleh karena itu agar terbuka pasar yang baru maka kegiatan pengolahan sebaiknya di sentralisasi. permintaan lele dari tahun ke tahun semakin meningkat seiring dengan meningkatnya daya konsumsi ikan serta masih banyak keunggulan lainnya dari Ikan Lele. Dalam hal minapolitan di kabupaten bogor. dan deregulasi yang berhubungan dengan penciptaan iklim yang kondusif bagi pengembangan usaha dan perekonomian daerah. Atas dasar pemikiran tersebut tersebut. Kegiatan yang masih belum berkembang adalah kegiatan . 7. diikuti dengan Nila dan Bawal yang memiliki skor sama (38) dan kemudian ikan Mas (33) dan Gurame (31). khususnya dengan komoditas unggulan Lele. maka kawasn minapolitan harus dapat meningkatan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pendapatan khususnya pelaku usaha yang terdiri pembenih. Produktivitas Lele cukup tinggi dibandingkan dengan komoditi lainya sehingga masyakarat hampir tidak ada kesulitan yang berarti dalam mengembangkan kegiatan budidaya Lele.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Lele mempunyai jumlah skor yang tertinggi yaitu 51. Dengan demikian maka berdasarkaan analisis tersebut maka komoditi unggulan untuk kegiatan Minapolitan di Kabupaten Bogor adalah Ikan Lele.7 Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR . tetapi kelemahan itu dapat bisa diatasi dengan melakukan deversifikasi produk olahan dari bahan baku Ikan Lele.3. Salah satu kelemahan Ikan Lele adalah masih ada image di sebagian masyarakat yang mengangaga Ikan Lele jorok.

BP3K dan lokasi dekat Danau Kahuripan. Berdasarkan hasil survei dan analisis terhadap potensi calon lokasi sentra kawasan minapolitan. dan disamping itu juga kegiatan minapolitan secara keseluruhan. pusat informasi kegiatan minapolitan secara keseluruhan dan juga pusat pelatihan bagi masyarakat dalam hal teknologi pengolahan. Lokasi Sentra minapolitan juga harus memenuhi syarat keindahan sehingga perlu dirancang Design Lanscape yang baik dan benar. Terdapat kios penyedia sarana produksi 6.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor keitan pengolahan. Mengingat bahwa dalam Sentra Minapolitan terdapat berbagai fungsi dan kegiatan. Dengan demikian Sentra Minapolitan harus memiliki area yang cukup luas minimum satu hektar.8 . mudah dijangkau dan kawasan sekelilingnya masih terbuka untuk pengembangan. kantor. Terdapat pasar ikan dan pasar yang menyediakan kebutuhan sehari-hari. maka sentra kawasan minapolitan Kabupaten Bogor harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: 1. showroom produk olahan juag terdapat kolam perbenihan dan budidaya sebagai percontohan. di dalam Sentra Minapolitan di samping bangunan pabrik. Ada saluran pengairan untuk budidaya. Akses jalan menuju ke sentra produksi cukup memadai. 5. Ketersediaan air bersih untuk pengolahan dan air untuk budidaya 8. 3. Luas area minimal 1 hektar 7. Terletak relatif di tengah dari empat kota kecamatan wilayah minapolitan. Arahan pengembangan sentra kawasan minapolitan adalah selain sebagai pusat industri pengolahan produk perikanan juga dapat menjadi pusat pemasaran produk olahan. Oleh karena itu. 4. sentra minapolitan harus berada pada suatu lokasi yang strategis. akses jalan menuju Jakarta sebagai pusat pemasaran cukup memadai.7. Untuk saat ini ada 3 calon lokasi Minapolitan yakni : Pasar Ciseeng. berfungsi sebagai pusat informasi dan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . budidaya perikanan serta menajemen minapolitan. 2. Jaringan listrik dan telekomunikasi cukup tersedia. Ketiga lokasi tersebut akan dipilih salah satu berdasarkan berbagai pertimbangan. Di samping luas area. pusat informasi. maka didapatkan hasil skoring pada masing-masing wilayah seperti terlihat pada Tabel 7.

6 0.56 0. Pasar Ciseeng (5.05 9 7 7 9 1 3 7 9 7 5 7 9 3 3 7 7 Pasar Ciseeng (B) BP3K (C) Situ Iwul (D) 60 20 20 5 15 1.05 2.25 1. pembesaran.35 1. Stuktur keterkaitan kawasan pengembangan minapolitan didasari oleh keterkaitan kegiatan antara kawasan yang satu dengan kawasan lainnya yaitu berdasarkan hubungan agribisnis perikanan.4 1. pengolahan sampai pada pemasaran.91 0. Estetika Aksesibilitas oleh calon pengunjung Nilai jual wisata Sub Total 2 3.49 1. BP3K (7.9 0.9 .3).5).35 1.45 1.35 4.35 2.45 1.35 0.72 0.35 1. keterkaitan antar kawasan itu sendiri. Teknis Kecukupan lahan (HA) Ketersediaan air Akses ke lokasi dari jalan raya Ketersediaan Listrik Sub total 1 2.8 2.4 1 0.8) dan Situ Iwul (4.7 Hasil Analisis Skoring 4 Lokasi Calon Sentra Minapolitan LOKASI Parameter Situ Cilala (A) 1.35 0. Aspek Legal dan Otoritas Otoritas Pengelolaan Kemudahan pembebasan lahan Sub Total 3 Total 5 7 9 9 9 9 5 3 25 5 20 0.4 0.1 0. Struktur Keterkaitan Kawasan keterkaitan kawasan pengembangan minapolitan digambarkan Secara umum stuktur oleh hubungan keterkaitan sentra kawasan dengan kawasan-kawasan pengembangan lainya. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII .5 9 9 9 5 7 5 7 7 15 8 7 0. 7.25 5.07 0.56 0.5 1.72 0.9).82 0.65 7.6 Bobot (%) (A) Total Skor (B) (C) (D) Berdasarkan Tabel 7.26 0.8 2.9 0.63 1.35 4.2 0.25 0.6 0.85 4.4.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 7. dan keterkaitan kawasan pengembangan dengan kawasan di luar kawasan minapolitan.8 1.35 1.25 7.7 diatas prioritas calon lokasi sentra minapolitan dari yang tertinggi sampai terendah adalah Situ Cilala (7.35 1. mulai proses pembenihan.6 0.6 0.

Pendidikan dan pelatihan yang berkaitan dengan pembenihan. sentra Ciseeng juga diarahkan sebagai pusat pemasaran hasil-hasil pengolahan hasil perikanan. Dengan demikian bahan baku yang digunakan dalam pengolahan produk perikanan yang dilakukan di Sentra Ciseeng diperoleh dari kawasan-kawasan minapolitan lainnya. Kecamatan Kemang dan Kecamatan Gunung Sindur. sehingga masyarakat dapat langsung melakukan transaksi hasil olahan dari komoditi kegiatan monapilitan di Sentra Ciseeng. Oleh karena itu ikan Lele yang berukuran besar tersebut merupakan bahan baku bagi produk olahan. dan informasi lainya yang berkaitan dengan kegiatan minapolitan dipusatkan di sentra Ciseeng. komoditi. Kecamatan Ciseeng menjadi pusat atau sentra pengolahan bagi kawasan-kawasan lainnya.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor A. sentra Ciseeng juga diarahkan menjadi kawasan pusat informasi dan pendidikan kegiatan minapolitan.kecamatan lainya didasari oleh pola hubungan sistem pengolahan komoditi hasil perikanan. yaitu dari Kecamatan Parung. Sentra Ciseeng juga diarahkan menjadi pusat pendidikan dan pelatihan bagi pengembangan kegiatan minapolitan di Kabupaten Bogor. Sehingga pola keterkaitan antara sentra kawasan Ciseeng dengan kecamatan. Produkproduk yang sudah dihasilkan dari kegiatan pengolahan dipasarkan di sentra Ciseeng. pembesaran serta pengolahan dilakukan di Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . Dalam sistem pengolahan hasil perikanan.yang berukuran besar (>5 ekor per kg) tidak dipasarkan sebagai ikan konsumsi dan harganya lebih rendah dari harga ikan konsumsi yang berukuran 6 ekor s/d 12 ekor per kg. pusat informasi dan pusat pendidikan & pelatihan serta pusat pemasaran hasil pengolahan komoditi Ikan Lele.10 . Selain pusat sistem pengolahan dan pemasaran. Sehingga Sentra pengolahan ikan tersebut dapat menerima bahan baku dari pembudidaya dari berbagai lokasi di kawasan minapolitan maupun di luar kawasan minapolitan Dalam hubunganya dengan pengolahan hasil perikanan. Segala kegiatan yang berhubungan dengan informasi baik itu informasi investasi. Struktur Keterkaitan Antara Sentra Kawasan dengan Kawasan Pengembangan Lainnya Salah satu arahan pengembangan kawasan minapolitan Kabupaten Bogor adalah mengembangkan kawasan sentra Ciseeng menjadi pusat pengolahan hasil perikanan. pemasaran. Ikan lele. sistem informasi dan pendidikan dan pelatihan serta sistem pemasaran.

Struktur Keterkaitan antar Kawasan Pengembangan Struktur hubungan keterkaitan antar kawasan pengembangan minapolitan yang satu dengan yang lainya didasarkan pada kegiatan pembenihan. Setiap kawasan atau desa pada kawasan minapolitan yang berfungsi sebagai pengembangan kegiatan budidaya menjual hasil panennya selain ke sentra kawasan di Ciseeng sebagai bahan baku untuk produk olahan. Kegiatan tersebut bermanfaat bagi pengembangan usaha perikanan. tetapi bisa berubah-rubah sesuai dengan mekanisme pasar perbenihan. Struktur hubungan keterkaitan antara sentra kawasan dengan kawasan pengembangan lainnya dapat dilihat pada Lampiran 8. Penjualan hasil panen selain dijual di dalam wilayah Bogor juga banyak dijual ke luar wilayah Bogor seperti Jakarta.5.11 . Pola hubungan keterkaitan antar kawasan pengembangan dapat dilihat pada Lampiran 8. Struktur keterkaitan antara kawasan pengembangan dengan kawasan diluar kawasan Minapolitan dapat dilihat pada Lampiran 8. Arahan Pengembangan Kegiatan Budidaya (Pembesaran) Arahan pengelolaan dan pengembangan kegiatan budidaya harus diorientasian pada peningkatan produktivis dan efisiensi produksi agar diperoleh peningkatan keuntungan uang lebih besar. Peningkatan produksi juga perlu dilakukan namun harus tetap Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . Keterkaitan antar kawasan pengembangan ini bersifat dinamik. Suatu desa di kawasan minapolitan yang diarahkan sebagai kawasan pembenihan berfungsi sebagai suplier benih ke beberapa pendederan dan pembesaran ikan Lele pada beberapa desa baik dalam satu kecamatan maupun di luar kecamatan.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor kecamatan Ciseeeng. 7. baik dari dalam kawasan minapolitan maupun dari luar wilayah pengembangan di Kabupaten Bogor bahkan bisa dari masyarakat luar daerah. B. hasil panen juga dijual ke luar kawasan minapolitan untuk ikan konsumsi. artinya bahwa pola keterkaitan/hubungan antara desa satu dengan yang lainya tidak bersifat tetap. C. Stuktur Keterkaitan Antara Kawasan Pengembangan dengan Kawasan Diluar Kawasan Minapolitan Stuktur keterkaitan antara kawasan pengembangan dengan kawasan di luar kawasan Minapolitan ini biasanya terjadi karena adanya pola hubungan perdagangan hasil produksi ikan Lele.

penggunaan vitamin c dan multivitamin pada pakan.6.12 . dan treatment pakan alami sebelum digunakan) untuk mengurangi penggunaan antibiotik pada pembenihan lele. Produk olahan minapolitan Bogor hendaknya tidak Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . Sesuai dengan permasalahan yang telah diuraikan sebelumnya. perbaikan manajemen kualitas air (penggunaan probiotik. Perbaikan teknologi produksi benih dapat dilakukan dengan perbaikan manajemen induk (prosedur pemberian pakan induk. c) memiliki nilai gizi yang tinggi d) proses pengolahan yang hiegenis.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor mempertimbangkan kondisi pasar. dan program penyuntikan perbulan dengan pembagian kolam induk). yang diharapkan berujung pada peningkatan produktivitas dan kesejahteraan para pembenih lele. Arahan Pengembangan Pengolahan Hasil Perikanan diversifikasi Arahan pengembangan pengolahan produk dilakukan berorientasi pada produk olahan dan pengembangan teknologi pengolahan dalam rangka memperluas pasar produk perikanan. seleksi dan pembatasan umur induk. peningkatan kualitas dan kuantitas cacing sutera dan pencarian pakan alternative pengganti cacing sutera. Sepert halnya produk budidaya . 7. maka arahan pengelolaan dan pengembangan budidaya perikanan akan lebih di fokuskan pada peningkatan penyediaan benih baik dalam jumlah maupun kualitasnya.7. menIngkatkan nilai tambah dan untuk meningkatkan daya saing. 7. penggunaan tempat penampungan air) dan program pencegahan penyakit (pengaturan padat tebar. Kondisi pasar sangat dipengaruhi oleh persaingan dengan daerah lain dengan komoditas yang sama dan memiliki tujuan pasar yang sama. Arahan pengembangan Kegiatan Perbenihan Kegiatan perbenihan di wilayah minapolitan di arahkan pada peningkatan kualitas dan kuantitas input produksi dan perbaikan teknologi produksi benih. Peningkatan kualitas input dan kuantitas input produksi dapat dilakukan dengan peningkatan kualitas dan kuantitas induk unggul seperti lele sangkuriang. perbaikan teknologi budidaya antara lain penggunaan probiotik dan multi vitamin dalam pakan untuk perbaikan kualitas air dan peningkatan efisiensi pakan serta peningkatan kualitas produk dengan teknologi budidaya yang lebih hiegenis dan ramah lingkungan. produk olahan yang dihasilkan oleh minapolitan Bogor harus memiliki kehususan sendiri yakni : a) bebas bahan pengawet b) bebas bahan additive atau bahan tambahan yang berbahaya .

Untuk itu sentra indusri pengolahan juga harus melakukan program pelatihan dan penyuluhan terhadapa masyarakat. filet lele asap. nugget. Pada akhirnya strategi pengelolaan dan pengembangan produk olahan minapolitan Bogor diharapkan dapat memenuhi syarat untuk dapat diekspor keluar negeri. Kapasitas bahan baku ditentukan dari kapasitas produk lele segar BS BS (lele berukuran besar 5-1 ekor/kg) yaitu sekitar 6 ton lele segar/hari.1 Pengembangan Produk Olahan Bahan baku yang digunakan untuk produk olahan adalah filet dari lele segar. sosis. produk olahan bakso. Produk yang mungkin dikembangkan adalah perluasan lele asap dengan mencari pasar baru.2). Bintang Anugerah). Dari jumlah tersebut 1 ton/hari akan digunakan untuk produksis lele asap utuh seperti yang telah ada. 7. sosis. Untuk produk siap saji seperti bakso. Contoh produk olahan lele yang diformulasikan bersama rumput laut. Rencana kapasitas produksi disajikan pada Tabel 7. kaki naga diyakini tidak dapat berkompetisi bila memasuki pasar yang sama. Disamping sentra produksi pengolahan produk perikanan.13 . nugget. Untuk dapat memenuhi persyaratan tersebut pengembangan pengolahan produk perikanan diperlukan proses pruduksi pengolahan secara terpusat dalam suatu sentra industri pengolahan produk perikanan dan dikelola dengan sistem manajemen industri. Industri rumah tangga perlu dikembangkan dan dibina agar dapat manghasilkan produl olahan sesuai dengan stAndar indusri. dijual dalam bentuk makanan kesehatan.namun juga dapat menjangkau kalangan masyarakat mengah keatas. chitosan dan lainnya ( Gambar 7. burger. filet segar. Hal ini diperlukan agar proses produksi dapat terkontrol kualitasnya dan dapat mengatur output produksi tepat waktu dan jumlah serta mutu yang terjamin. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII .7. kaki naga masih bisa diproduksi dengan menciptakan segmen pasar yang berbeda. Dibandingkan dengan produk sejenis yang ada di pasaran saat ini (CV. kaki naga (VegiFish) dibuat surimi terlebih dahulu. produksi pengolahan rumah tangga juga perlu dikembangkan bersinergi dengan industri pengolahan. Bening dan CV.8. Produk olahan bakso. nugget.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor hanya dapat menjangkau pasar untuk kalangan masyarakat biasa. makanan ringan chiki/crackers. Sedangkan yang 5 ton untuk diversikasi produk olahan.

restoran Bahan baku produk turunan bakso. Kaki naga (VegiFish) dan Nuget Teknologi yang akan diterapkan untuk mengolah lele adalah teknologi bebas limbah (produk samping). Teknologi pengolahan yang akan diterapkan meliputi : 1. Kapasitas olahan (kg/hari) 300 1260 ( 260 kg untuk filet segar) 50 720 150 150 150 300 120 120 Potensi pasar Pesantren.14 .Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 7. hotel. supermarket Restoran. supermaket supermaket Supermaket supermarket 8-12 2 ekor/kg 3 3 3 4 5 6 7 8 9 100 filet 900 filet 100 surimi 100 100 200 60 60 100 Gambar 7. bawal Filet asap Surimi Bakso Sosis Nuget Vegifish (kaki naga Krupuk Makanan ringan Lainnya Ukuran (ekor/kg) Kapasitas bahan baku ( kg/hari) 500 lele segar 4500 (total dari semua jenis ikan). jasaboga.8. dan pengolahan surimi atau filet sesuai dengan produk akhir yang ditetapkan. Pembuatan surimi Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII .2. nila. dll Restoran. lembaga pemasyarakatn Supermarket. Tahapan pengolahan dimulai dari pembuatan filet lele. pembuatan surimi untuk produk gel. Pembuatan filet dan pemanfaatan hasil samping 2. Jenis olahan produk lele atau ikan lainnya ( kapasitas 5 ton ikan segar/hari) No 1 2 Jenis olahan Lele tanpa kepala Filet lele ( skinless) atau filet patin. jasaboga. supermarket Restoran. supermaket Restoran. restoran dan bahan baku produk olahan Supermarket. Untuk menghindari masalah lingkungan semua limbah (produk samping) akan diolah menjadi produk turunan yang bernilai ekonomis. Pembuatan filet asap 3.

3. timun.3. dan lain-lain. abon. Skema Produksi Filet dan Pemanfaatn Hasil Samping Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII .Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 4. bayam.2 PengembanganTeknologi Pengolahan Bahan baku lele akan difilet kemudian dibuat surimi untuk selanjutnya dipakai sebagai bahan baku produk bakso. crackers. pada Tabel 7. pelepasan kulit kulit kulit Tulang Kepala-isi perut kolagen Pupuk/pakan Pupuk/fermentasi Filet lele (30%) Gambar 7. Produk olahan bakso. kaIlan. mineral. chiki. kangkung. fasilitas dan peralatan yang digunakan dapat dilihat Lele hidup 100 % Pengeringan (70%) Pemotongan kepala. dll. selada. dibubuk kemudian difermentasi untuk menghasilkan pupuk organik berkulitas tinggi dengan kandungan asam amino (growth factor).7. Tulang dan sisa daging dikeringkan. dll.9. parkcoi. pemberishan isi perut. Kulit dikeringkan untuk bahan baku kolagen yang dapat diapliaksikan di produk kosmetik. tomat. nugget. cabe. Skema proses masing-masing kegiatan pengolahan dapat dilihat pada Gambar 7.2 . burger. sosis. dll 7.15 . Sementara itu. nugget.7. Pupuk organik akan dipakai untuk budidaya hortikultura seperti caisin.

13. 12. 2. 7.16 .Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 7. 8. 10. 1. 14. 3.9. 11. 5. Proses Pembuatan Lele Asap Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . Fasilitas dan Nama Alat Bak Penampungan lele Meja pemotongan lele (SS) Pisau potong dan pisua filet (SS) Bak pencucian (SS) Kerannjang penampungan (Plastik) Wadah penyiapan filet (SS) Freezer penampung filet (-20 C) Bak pencician hasil samping Pengering produk samping Grinder Vakum sealer Sealer karung Bak fermentasi Filet lele Pencampuran dengan bumbu  Pengasapan Filet asap Gambar 7. 4.4. Daftar Fasilitas dan Peralatan untuk Produksi Filet dan Pemanfaatan Hasil Samping No. 6.

4. Fasilitas dan Peralatan yang untuk Pembuatan Lele Asap No 1 2 3 4 Fasilitas dan Nama Alat Wadah pencampuran bumbu (SS) Alat pengasap ALat pendingin Vakum sealer Filet lele Grinding Pencucian Air bekas cucian untuk pupuk Penambahan cryoprotectant (extract rumput laut) dan bumbu2 Surimi Gambar 7. Grinder (SS) Wadah penampung daging ikan (SS) Wadah pencampur bumbu dan cryoprotectan Vakum sealer Freezer Fasilitas dan Nama Alat Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII .17 . Fasilitas dan Peralatan untuk Produksi Surimi No. 3. 5.10. Proses Pembuatan Surimi Tabel 7.5. 2.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 7. 1.11.

12. Fasilitas yang Diperlunan untuk Proses Produkan Surimi No 1 2 3 4 5 6 7 8 10 11 Fasilitas dan nama alat Mixer (SS) Pencetak bakso (SS) Pencetak sosis (SS) Pencetak burger (SS) Penggorengan (SS) Steamer (SS) Pemasak (SS) Oven Extruder Vakum sealer Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII .  vegifish. dll  Gambar 7. crackers.chiki.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Surimi  Bumbu2 +  ektrak rumput  pencampuran  Pencetakan  pemasakan  Bakso.18 . sosis. Produksi Produk Turunan Surimi Tabel 7.6.  abon. nugget.

Dari hasil diskusi yang dilaksanakan tgl 14 Desember 2010. PIH Cibinong. sekolah-sekolah. Rencana Pegembangan Pemasaran Produk Olahan Lele Pengembangan pemasaran produksi lele diarahkan pada peningkatan daya saing produk. Selain lele. dan peningkatan pangsa pasar baru. dan peningkatan produktivitas pelaku usaha) dan pembentukan image lele bogor yang berbeda dengan lele wilayah lain (bebas antibiotik. rumah sakit Karyabakti menyajikan pilihan menu ikan bagi pasien VIP. Jakarta. nefrotil syndrome (ginjal). hotel Santika menyajikan ikan nila. Ketiga instansi tersebut siap menjadi partner untuk pemasaran produk minapolitan. kontinyu. bawal. Untuk menghilangkan kesan negative tentang lele dan menungkatkan pemasaran perlu dilakukan promosi media kegiatan yang terkait dengan Forum Peningkatan Konsumsi Ikan (FORIKAN) Kementrian Kelautan dan Perikanan. Hotel Santika menyajikan menu Sunda seminggu sekali (hari Kamis) dengan sajian berbagai ikan termasuk lele ( ukuran 1012/kg).3. Peningkatan nilai jual produk dilakukan dengan diferensiansi produk dengan pengolahan hasil produksi lele sehingga memiliki nilai tambah. Pada saat ini RS Cibinong membutuhkan filet kakap 1300 kg/tahun dan ikan mujaer 1176 kg/tahun. catering. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . patin.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 7. Produk olahan difortifikasi dengan serat alami dari rumput laut dan bahan alam alut lainnya (seperti citosan). emas. Pihak rumah sakit telah bersedia menjadi partner untuk pemasaran produk olahan minapolitan. dan gerai yang dibangun khusus ditempat wisata mina. Rumah Sakit Karya Bakti. Hotel Santika.19 . luka bakar. dll). gurame dan ikan balita. catering Tiska Sejahtera diketahui bahwa Rumah sakit Cibinong telah menggunakan ekstrak lele ( air rebusan lele) untuk penyediaan albumin bagi pasien cirosis hati. stroke dan hipoalbumin. efisiensi komponen biaya produksi. higienis. Selain itu. dihadiri oleh perwakilan Rumah Sakit Cibinong. Peningkatan pangsa pasar baru dilakukan dengan pencarian pasar lele segar ataupun olahan keluar daerah/luar negeri dan peningkatan konsumsi pasar yang sudah ada (dengan gerakan makan ikan dan perbaikan pencitraan ikan khususnya lele). Pemasaran produk olahan lele perlu diciptakan pasar tersendiri dengan trade mark makanan kesehatan. Bandung. peningkatan nilai jual/nilai tambah produk. supermarket. Peningkatan daya saing produk minapolitan bogor dilakukan dengan penurunan biaya produksi lele (dengan perbaikan teknologi budidaya. tanpa menggunakan pakan limbah. Untuk memasarkan produk harus dilakukan kerjasama dengan pihak terkait seperti : rumah sakit. restoran.7.

000.000.463 40. 8000/kg) dengan produk lele tanpa kepala 300 kg/hari dan filet lele 1260 kg/hari adalah Rp.115.000 1.000/kg. Detail perhitungan disajikan pada Tabel 7.000 300.289.463 2. nuget dan lainnya kebutuhan biaya investasi adalah sebesar Rp. 8000/kg Investasi alat dan fasiltas (diluar gedung) Biaya penyusutan/hari Bahan baku Tenaga kerja 5000 kg 1000/kg headless 1500/kg filet sub-total Utilities ( listrik.273 57.000 115. 10.20 .7.536.273 2. maka harga pokok filet lele akan menjadi Rp. 75.615.4.000 (lampiran 3).68 39.750. Harga pokok produksi (belum termasuk keuntungan) untuk bahan baku lele segar 5 ton/hari ( harga Rp.289 /kg.22/kg ( filet lele).536. Analisa Ekonomi Pengolahan Lele Biaya investasi untuk pengolahan lele tanpa kepala dan filet lele adalah Rp. air) pemeliharaan TOTAL BIAYA PRODUKSI HPP headless lele (Rp) HPP filet lele (Rp) 300 kg lele tanpa kepala 1260 filet lele 5% 5% 275.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 7. Tabel 7. Perhitungan HPP Lele Tanpa Kepala dan Filet Lele Komponen Biaya Keterangan Harga lele Rp.000 1.463 2.009 26.115.68 31.463 50.890.000 300.273 46. sosis.000/kg.615.576.500. 21.13. 400.000 (Lampiran 9 ).22 115.305.009 21.576.         Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII .000.000 52.500.305. 42.68 /kg ( lele tanpa kepala) dan Rp.890.750.000 42. Harga pokok produksi (belum termasuk keuntungan) adalah sekitar Rp. 39.90 harga lele 10000/kg Untuk produk olahan bakso.273 2.576. Bila harga bahan baku naik menajdi Rp.13. 31.

B.667 5. seluruh aktifitas yang direncanakan dalam suatu kawasan Konsep Perencanaan Minawisata utama adalah untuk menciptakan kawasan wisata minapolitan yang Konsep berkelanjutan.444.744.000 57.000 3.467 68.000 7.000 6. Hal ini dikarenakan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII .667 39.600 7.8. Arahan Arahan Pengembangan Lanskap Minawisata pengembangan Lanskap Minawisata meliputi perencanaan yang mengakomodasikan minapolitan.14.906.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 7.744. Pengembangan Tapak Isu pengembangan tapak dikaitkan dengan perencanaan lanskap yang dilakukan di kawasan minapolitan dilihat dari kondisi lingkungan cukup baik.812.666. Sosis. Berdasarkan analisis pengembangan kawasan minawisata di kawasan Bogor. Selain memenuhi persyaratan ekologis.933.21 . Nugget dan Lainnya Komponen Investasi alat dan fasiltas (Rp) Biaya penyusutan/hari (Rp) Biaya Bahan baku (Rp) Biaya bahan pembantu (10%) Biaya Tenaga kerja (20%) Sub-total Utilities ( listrik. memiliki potensi perikanan yang potensial serta alam yang alami dengan suasana perdesaan. air) Pemeliharaan TOTAL Produk olahan (kg) Harga pokok produksi (Rp/kg) 130% 1638 42. Perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP) Produk Olahan Bakso.084.060. A. masyarakat disekitar kecamatan ini juga bersedia untuk menerima pengembangan minapolitan didaerahnya.467 5.00 10% 10% 1260 kg Jumlah Jumlah Total 400.000. yaitu dengan mengembangkan wisata edukasi yang didasarkan pada potensi lingkungan yaitu perikanan yang potensial untuk melindungi sumberdaya alam dan kualitas lingkungan serta kesejahteraan masyarakat lokal. Kecamatan Ciseeng sangat potensial untuk dijadikan kawasan sentra dari minawisata.

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor kondisi keempat kecamatan yang memiliki lingkungan yang masih cukup alami. kalangan masyarakat umum terutama keluarga akan menjadi target wisatawan yang diharapkan datang untuk rekreasi di kawasan ini. ruang transisi dan ruang wisata utama. E. D. karena dengan adanya pembangunan tersebut masyarakat dapat berperan aktif serta lapangan pekerjaan untuk mereka juga akan bertabah. Hal ini dilihat dari jenis minawisata yang ditawarkan yaitu wisata edukasi. Pada tiap ruang wisata terdapat aktifitas dan fasilitas yang mendukung tema dan tujuan dari ruang wisata tersebut. Akses Jalan Jalan yang terdapat di kawasan minapolitan ini dinililai kurang memadai untuk mendukung program ini. Maka. Wisatawan/Pengunjung Masalah yang cukup penting untuk diperhatikan adalah sasaran wisatawan atau pengunjung yang ditargetkan untuk datang ke kawasan minapolitan. rekreasi dan wisata produksi. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . diperlukan perluasan jalan di kawasan yang akan digunakan untuk minapolitan. Area ini berisi fasilitas parkir serta ruang informasi agar wisatawan lebih mengerti dan mudah untuk melakukan aktifitas wisata. Hal ini dikarenakan jalan yang kurang lebar serta kerusakan yang ditimbulkan oleh kendaraan dengan kapasitas yang besar. Pelajar atau mahasiswa adalah target untuk wisata edukasi. Selain itu pengunjung untuk wisata produksi juga umum khususnya investor lokal maupun mancanegara. menambah jalan atau sirkulasi sekunder dan tersier untuk mendukung aktifitas minawisata seperti jalur sepeda maupun pedestrian untuk pejalan kaki. ditengah kehidupan masyarakatnya yang ramah dan suasana perdesaan yang masih kental. Ruang wisata dibagi menjadi tiga yaitu ruang penerimaan (Welcome area). C. Aspek Masyarakat Masyarakat setuju dan mendukung adanya program minapolitan ini. Konsep Ruang dan Sirkulasi Minawisata Konsep ruang minawisata disesuaikan dengan kondisi eksisting lingkungan. Welcome Area merupakan area penerimaan yang ada sebagai pintu masuk ke objek di tiap kecamatan pada kawasan minapolitan.22 .

7. wisata ini berdasarkan objek pengolahan ikan yang terdapat pada kawasan minapolitan. dan lobster. yaitu lele. Konsep Ruang dan Sirkulasi Minawisata Alternatif 1 Pada lokasi sentra minapolitan alternatif 1 ini. 3.23 . ikan hias. homestay dan display area. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . Gambar 7. A. Konsep Ruang dan Sirkulasi Minawisata Alternatif 1 Konsep ruang dan sirkulasi minawisata pada alternatif 1 ini pusat atau sentra minapolitannya terletak di BP3K (Badan Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan). 1. desain yang ditawarkan berupa siteplan dengan tapak kawasan BP3K. Ruang Wisata Utama merupakan area minawisata yang ditawarkan untuk dikunjungi oleh wisatawan. Bangunan yang terdapat pada rencana ini berupa area parkir. diikuti dengan pusat informasi. Wisata Edukasi.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Ruang Transisi merupakan area perantara dari ruang penerimaan dan ruang wisata utama. pembesaran. wisata ini dibagi berdasarkan komoditas unggulan yang terdapat pada kawasan minapolitan. Area ini berupa fasilitas pelayanan rest area (peristirahatan). restoran kemudian display area dari alur budidaya lele ini sendiri yang terdidir dari pembenihan. 2. Lokasi ini cukup strategis dilihat dari letaknya yang mudah dijangkau dan akses yang cukup baik serta lingkungan disekitar yang mendukung. Rekreasi Wisata Produksi.

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor
penampungan, pengolahan hingga pasca panennya yang dilengkapi dengan pengolahan limbahnya sehingga ramah lingkungan.

Gambar 7.8. Lokasi Eksisting dan Desain Alternatif 1 Sentra Minapolitan (BP3K)

Gambar 7.9. Kondisi Eksisting Sentra Minapolitan Alternatif 1

Gambar 7.10. Perspektif Sentra Minapolitan Alternatif 1

Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR

VII - 24

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor
B. Konsep Ruang dan Sirkulasi Minawisata Alternatif 2 Konsep ruang dan sirkulasi minawisata pada alternatif 2 ini pusat atau sentra minapolitannya terletak di Desa Babakan. Lokasi ini dilihat cukup strategis dilihat karena akses yang berada di jalur utama masuk kawasan Minapolitan. Selain itu jalur yang mudah dijangkau dengan kondisi lingkungan perdesaannya yang masih terasa menjadikan sesuai untuk minawisata. Pada diagram ruang dibawah ini terdapat sirkulasi dimana dari sentra minapolitan, dapat langsung berwisata edukasi menuju ke perkampungan warga sekitar untuk menyaksikan secara langsung budidaya lele baik skala kecil (rumahtangga) hingga skala industri. Kuldesak yang terdapat di akhir bertujuan agar wisatawan dapat menikmati perjalanan dengan nyaman dan berputar balik untuk menuju ke paket wisata selanjutnya. Diupayakan pada paket ini wisatawan menggunakan jalur sepeda atau berjalan kaki.

Gambar 7.11. Konsep Ruang dan Sirkulasi Minawisata Alternatif 2

Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR

VII - 25

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor

Gambar 7.12. Lokasi Eksisting dan Desain Alternatif 2 Sentra Minapolitan (Desa Babakan)

Gambar 7.13. Lokasi Eksisting Sentra Minapolitan Alternatif 2 (Situ Cilala) 

Gambar 7.14. Desain Alternatif 2 Sentra Minapolitan (Situ Cilala)

7.9.

Pengembangan Lanskap Minawisata

Dalam pengembangan minawisata, salah satu upaya untuk meningkatkan daya tarik obyek wisata adalah dengan memperbaiki lanskap kawasan wisata dan infrastruktur (jalan, padestrian, fasilitas wisata) agar memiliki nilai jual wisata. Beberapa contoh pengembangan infrastruktur wisata disajikan pada gambar berikut.

Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR

VII - 26

Ciseeng Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII .Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Gambar 7.16 Gambar Existing dan Pengembangan Gerbang Masuk Kawasan Wisata Gambar 7. Gambar Existing dan Pengembangan Kawasan Wisata Ikan Hias Telaga Biru.27 . Gambar Existing dan Pengembangan Jalan Obyek Wisata Lele (Desa Babakan) Gambar 7.17.15.

Arahan pengembangan kelembagaan diuraikan sebagai berikut. pembentukan dan/atau penguatan kelembagaan masyarakat diarahkan pada kelompok-kelompok unit produksi yang ada atau yang diperlukan untuk meningkatkan efisiensi dan pemenuhan tujuan minapolitan. maka pembentukan dan atau penguatan kelembagaan masyarakat ditujukan untuk meningkatkan jaminan distribusi manfaat adanya kawasan minapolitan secara adil bagi seluruh stakeholder. Oleh karena itu.28 . pembesaran. Input cacing juga mempunyai kelompok berupa pencari cacing dan ketua adalah pengumpul. pengolahan dan pemasaran.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 7.10. pengolahan dan/atau pemasaran. terdapat usaha pengumpulan dan pendistribusian benih dari satu tahapan budidaya ke tahapan lainnya. pengolahan dan/atau pemasaran yang terkonsentrasi di sentra produksi . Dalam rangkaian budidaya ini. Arahan Pengembangan Kelembagaan Arahan (a) pengembangan kelembagaan mencakup dua kegiatan dan pokok (b) yaitu : Pembentukan/penguatan kelembagaan masyarakat Penyusunan kelembagaan pengelola kawasan minapolitan. tetapi belum ada organisasi. Dalam rumusan peraturan ini juga dicantumkan bahwa pengembangan kawasan minaploitan dimulai dari pembinaan unit produksi. Berdasarkan informasi terdapat 68 kelompok dibawah UPP untuk seluruh jenis ikan. Pembentukan/Penguatan Kelembagaan Masyarakat Sesuai dengan konsep tentang minapolitan. Seementara itu. usaha perikanan yang dilakukan dilokasi calon kawasan minapolitan mencakup usaha budidaya. mempunyai tujuan salah satunya sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di daerah. pendederan. Misalnya usaha pengumpulan benih untuk proses tahap selanjutnya pada budidaya. pengembangan kawasan ekonomi kelautan dan perikanan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi lokal dan pemberdayaan kelompok usaha kelautan dan perikanan di sentra produksi. salah satu sasarannya adalah meningkatkan sector kelautan dan perikanan menjadi penggerak ekonomi regioanal dan nasional diantaranya berupa pengembangan sistem ekonomi berbasis wilayah.12/MEN/2010 tentang minapolitan. Berdasarkan kejelasan pasar dan sedikit bantuan input/modal. tersegmentasi menjadi usaha pembenihan. A. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . pengolahan dan/atau pemasaran di suatu kawasan yang diproyeksikan menjadi kawasan minaploitan yang akan dikelola secara terpadu. Pada usaha budidaya ikan. Hal ini secara eksplisit dituangkan dalam Permen No. Sesuai dengan kondisi yang ada sekarang.

Peningkatan kemampuan managerial organisasi kelompok iii. Ketua kelompok ini menjadi pembeli produk lele yang dihasilkan. Pola lain. Namun demikian. Tujuan penguatan kelompok meliputi dua hal pokok yaitu (a) peningkatan efisiensi organisasi kelompok dan (b) peningkatan kualitas anggota kelompok. Sedangkan usaha peningkatan kualitas anggota kelompok diantaranya meliputi : I. Sebagian besar berdasarkan asesmen lapang. sebenarnya sudah terjadi pengelompokan (grouping) dari masing-masing segmen budidaya tersebut. Peningkatan kemampuan komunikasi anggota kelompok. Mengingat pola organisasi kelompok seperti tersebut diatas. Demikian juga pada kelompok pembesaran. didapatkan bahwa kelompok ini masih dalam bentuk relasi “patron-klien”.29 . maka pembentukan dan atau penguatan kelompok diarahkan pada kelompok masing-masing segmen dan kelompok antar segmen budidaya. terjadi karena adanya ketua kelompok merupakan penjamin pasar (pedagang pengumpul). II. pola ini juga terjadi. Misalnya. Pada segmen usaha perbenihan. Peningkatan efisiensi organisasi kelompok diantaranya meliputi : i. jaminan input maupun kapital. Penyusunan Kelembagaan Kawasan Minapolitan Pengelolaan sumberdaya termasuk kawasan minapolitan Kaupaten Bogor. demikian pula pada segmen pembesaran juga terdapat kelompok.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Kelembagaan yang ada di masyarakat sekarang. Peningkatan kemampuan komunikasi antar kelompok iv. pengolahan atau pemasaran) dan atau pembentukan asosiasi antar segmen. kelompok pembenih. pembesaran. Peningkatan jiwa kewirausahaan anggota kelompok Peningkatan kemampuan perencanaan usaha III. Peningkatan kohesivitas kelompok ii. B. adalah bahwa ketua kelompok juga menjadi pemasok input utama seperti pakan atau benih. Pembentukan asosiasi kelompok dalam satu segmen (perbenihan. terdapat kelompok pembenih. faktanya motif pembentukan kelompok ini cukup beragam. Sebagian besar bahwa sistem patronase ini terjadi berdasar pada jaminan kepastian pasar. adalah mengelola harapan (ekspektasi) manusia terhadap fungsi-fungsi minapolitan untuk Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . Sehingga anggota kelompok mempunyai jaminan pasar. terutama ketika terjadi oversupply.

Hubungan antar manusia tidak selamanya cukup direfleksikan dalam konteks hubungan antar manusia (person to person). Kesepakatan ini perlu dikembangkan tidak hanya pada tataran pemahaman antar anggota masyarakat saja sehingga bersifat kognitif. Hanya saja. menunjukan pemenuhan terhadap harapan setiap anggotan dalam memanfaatkan sumberdaya. Secara umum lembaga ini dapat disebut sebagai bentuk kelompok social (social groups). sehingga ekspektasinya juga berbeda. Kelompok-kelompok yang melakukan kesepakatan tersebut sebenarnya membawa misi untuk mengimplementasikan ekspektasi-ekspektasi tersebut antar anggotanya. besarnya denda. tetapi seringkali melalui lembagalembaga yang merefleksikan atribut kumpulan individu (kelompok) dan kepentingan bagi individu-individu yang mempunyai nilai-nilai atau kepentingan yang sama dalam satu kelompok. tetapi perlu dibangun struktur untuk menjamin konsistensi implementasi kesepakatan ini. Sehingga kelompok mengembangkan tindakan untuk memberi hukuman atas pelanggaran yang dilakukan oleh anggotanya misalnya pengenaan denda atau pengucilan secara social. maka kemudian dibangun kesepakatan untuk mengeksploitas sebagian kawasan maksimum pada tingkat daya dukungnya. Mekanisme pemberian sangsi. implementasi terhadap misi atas harapan masyarakat tersebut tidak selamanya bisa disandarkan pada mekanisme kesepakatan yang bersifat kognitif.30 . Hal ini terutama ditujukan untuk menjamin konsistensi dalam menjaga kesepakatan-kesepakatan antar elemen dalam masing-masing lembaga maupun antar lembaga. Fenomena ini tidak hanya diperlukan pada level kesepakatan antar anggota dalam satu lembaga. lamanya sanksi social dan ha-hal lain yang terkait dengan usaha untuk menjamin kesepakatan dituangkan dalam satu kesepakatan (baik tertulis maupun tidak tertulis) sehingga secara nyata dapat dilihat wujud kesepakatan tersebut. Unsur kesejahteraan perlu untuk digarisbawahi mengingat bahwa persepsi antar satu individu dengan individu yang yang terhadap konsepsi kesejahteraan berbeda-beda. Lembaga-lembaga tersebut dapat meliputi lembaga-lembaga formal maupun informal. yang pada akhirnya menghasilkan kesepakatan-kesepakatan yang dapat diterima oleh masing-masing pihak. tetapi perlu direpresentasikan dalam format yang tangible dalam struktur yang jelas.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor “kesejahteraannya”. untuk menjamin kelestasrian kawasan minapolitan. Misalnya. hal ini juga Sehingga ketika kesepakatan-kesepakatan diambil. Inilah yang kemudian mengarah pada terbentuknya Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . tetapi diperlukan juga dalam membangun mekanisme antar lembaga. Masing-masing lembaga tersebut berinteraksi.

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor aturan-aturan kelompok. Interaksi antar individu adalah kebutuhan mutlak. sebagai turunan konsepsi bahwa pengelolaan kawasan minaploitan adalah pengelolaan pemanfaatan sumberdaya oleh manusia. Usaha-usaha ini dilakukan baik pada tataran kelompok informal maupun formal. Secara alamiah sifat dasar manusia sebagai makhluk social. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . b. sehingga masing-masing kelompok yang terlibat dalam kesepakatan dapat menjaga pelaksanaan kesepakatan. Kelembagaan yang kuat dan efektif menggambarkan mekanisme menghasilkan kesepakatan yang baik dan bentuk kesepakatan yang diterima (baik kognitif maupun structural). maka biasanya individu yang telah menyamakan identitasnya dengan kelompok tersebut akan mengimplementasikannya dalam aktivitas individualnya.31 . Kelompok tidak hanya menggambarkan identitas indvidu anggotanya. Setidaknya terdapat beberapa alasan mengapa kelembagaan yang kuat dan efektif perlu dibangun untuk pengelolaan sumberdaya seperti : a. Penjagaan kesepakatan kelompok baik melalui aspek kognitif maupun struktural adalah usaha-usaha esensial yang diperlukan dalam pengelolaan kawasan minapolitan. Berdasarkan uraian diatas. Bila satu nilai tertentu telah diadopsi sebagai nilai kelompok (yang sebaiknya melalui mekanisme kesepakatan). Kelompok-kelompok informal sering dipahami dan diaktualisasikan sebagai kelompok pada level masyarakat. sehingga berkelompok menjadi kebutuhan. tetapi juga diperlukan untuk menjaga perilaku anggota yang menggambarkan identitas kelompok tersebut. terlihat bahwa pengelolaan kawasan minapolitan mensyaratkan adanya pembangunan lembaga (institution) baik formal maupun informal yang kuat serta pengembangan aturan main (baik kognitif maupun structural) yang secara efektif dapat diimplementasikan. yang secara efektif akan dijalankan oleh anggotanya serta lembaga juga mempunyai mekanisme menjaga konsistensi implementasinya. Bila kesepakatan terkait dengan pengelolaan sumberdaya sudah disetujui. Mekanisme ini juga dikembangkan pada relasi antar kelompok. maka baik secara individual maupun kolektif kelembagaan. Sedangkan pada kelompok formal mencakup pemerintahan (baik pusat maupun daerah) maupun kelompok-kelompok yang berbasis legal yang nyata. setiap individu terikat untuk melaksanakan kesepakatannya.

32 . nilai budaya dan adat istiadat. organisasi ekonomis sampai dengan politik/kebijakan. Artinya pengembangan kelembagaan pembentukan institusi/organisasi seperti halnya yang sering dipahami sekarang ini. kelembagaan menggambarkan adanya interaksi antar individu dalam mencapai tujuan bersama serta usaha-usaha untuk menjamin bahwa harapan-harapan atau kepentingan mereka tetap terakokmodasi. Doward. Konsepsi kelembagaan secara teoritis sangat bervariasi tergantung pada tinjauannya. North membedakan antara institusi dari organisasi dan mengatakan bahwa institusi adalah aturan main sedangkan organisasi adalah pemainnya. Williamson (1985) melihat dalam perspektif ekonomi dan mempelopori analisis ekonomi kelembagaan menyatakan bahwa kelembagaan mencakup penataan institusi (institutional arrangement) untuk memadukan organisasi dan institusi. Ostorm 1986. merupakan satu konsepsi yang kompleks yang mengkaitkan antara elemen-elemen secara komprehensif.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Kelembagaan. Sehingga secara sederhana. perlu mendapat perhatian yang sangat besar dalam pengembangan tidak hanya kelembagaan mendasarkan yang pada efektif. 1985. Jadi ada usaha kolaboratif menggabungkan beberapa kepentingan serta representasi dari nilai-nilai yang disepakati antar anggotanya. Sebagai sebuah konsepsi. Institusi dapat berupa aturan formal atau dalam bentuk kode etik informal yang disepakati bersama. kelembagaan dapat berupa organisasi atau wadah (players of the game) dan aturan main (rules of the game) yang mengatur kelangsungan organisasi maupun kerjasama antara anggotanya untuk mencapai tujuan bersama (Ostorm. Dalam pendekatan ini organisasi adalah suatu pertanyaan mengenai aktor atau pelaku ekonomi di mana ada kontrak atau transaski yang dilakukan dan tujuan utama kontrak adalah mengurangi biaya transaksi. North (1990) menyatakan aturan main di dalam suatu kelompok sosial dan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor ekonomi. Uphoff (1986) menyatakan kelembagaan sebagai suatu himpunan atau tatanan norma– norma dan tingkah laku yang bisa berlaku dalam suatu periode tertentu untuk melayani tujuan kolektif yang akan menjadi nilai bersama.all. Wadah atau organisasi dan peraturan-peraturan yang diperlukan untuk menjalankan organisasi menjadi hal yang tidak terpisahkan. Institusi ditekankan pada norma-norma prilaku. 1998 dalam Kartodiharjo dan Jamhani. Doward et. 2006). tetapi juga Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . sosial dan politik. 1997. Tinjauan konsepsi kelembagaan bekembang mulai dari pendekatan sosiologis. Penataan institusi adalah suatu penataan hubungan antara unitunit ekonomi yang mengatur cara unit-unit ini apakah dapat bekerjasama dan atau berkompetisi.

Menjadi wadah yang pemangku menampung kepentingan dan terkait mengolah/menganalisis dengan fungsi-fungsi aspirasi/pemikiran pengelolaan kawasan minapolitan c. (e) Kode etik. (h) Hak milik (property rights atau tenureship) . Merujuk pada Ostrom (1999) tentang pengambilan keputusan (choice) pada pengelolaan sumberdaya temasuk kawasan minapolitan Bogor. d. Elemen-elemen tersebut diantaranya adalah : (a) Institusi yang merupakan landasan untuk membangun tingkah laku social masyaraka. sehingga institusi tersebut dapat berperan secara efektif. (i) Organisasi dan (j) Insentif untuk menghasilkan tingkah laku yang diinginkan Tinjauan teoritis seperti disebutkan diatas memberikan arahan tujuan pembentukan kelembagaan pengelolaan kawasan minapolitan Bogor. (f) Kontrak.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor menyangkut seperangkat aturan (rules of the game) yang harus dan atau dapat dipatuhi oleh anggotanya. Tujuan-tujuan itu adalah : a. hak dan kewajiban anggota. Kebutuhan akan kelembagaan bersifat berjenjang. Sebab dengan adanya kesepakatan yang tertuang dalam bentuk peraturan daerah merupakan peraturan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . tetapi terkonstruksi atas sejumlah elemen yang mendukung performa kelembegaan. kolektif dan operasional. (c) Peraturan dan penegakan aturan/hukum. Menjamin adanya organisasi/lembaga yang mempunyai tugas pokok dan fungsi (tupoksi) melaksanakan kegiatan-kegiatan sesuai dengan fungsi pengelolaan kawasan minapolitan Bogor. Menjadi wadah untuk merumuskan aturan-aturan operasional yang terkait dengan pengelolaan kawasan Minapolitan sesuai dengan rujukan hirarki peraturan yang lebih tinggi. b. (g) Pasar. Keputusan constitutional memerlukan kelembagaan pembuat keputusan terkait aturan dasar. (d) Aturan dalam masyarakat yang memfasilitasi koordinasi dan kerjasama dengan dukungan tingkah laku. Pada level ini keputusan pemerintah daerah yang melibatkan pihak eksekutif dan legislative merupakan tingkat kelembagaan yang paling tinggi.33 . Secara akademis. (b) Norma tingkah laku yang mengakar dalam masyarakat dan diterima secara luas untuk melayani tujuan bersama yang mengandung nilai tertentu dan menghasilkan interaksi antar manusia yang terstruktur. maka pengambilan keputusan bersifat berjenjang dalam bentuk hirarki. Secara hirarkial dari atas ke bawah secra vertical adalah pengambilan keputusan pada aras konstitutional. kelembagaan tidak bersifat uni-elemen. Menjadi wadah untuk merumuskan dan memfasilitasi koordinasi dan partisipasi pemangku kepentingan dalam pengelolaan kawasan minapolitan.

dimana kelembagaan yang menghasilkan keputusan ini juga merupakan lembaga yang bisa mengikat stakeholder pengelolaan minapolitan. setidaknya dibutuhkan 3 tingkatan kelembagaan yaitu pada tingkat konstitutional. Gambar 7. kolektif dan operasional. Sedangkan keputusan operasional meliputi keputusan operatif yang mengimplementasikan keputusan kolektif. Pengertiannya adalah apabila pada tingkat constitutional sudah dirumuskan menjadi keputusan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR politik yang dsetujui oleh pihak VII . yang bersifat pelaksana terhadap pengelolaan kawasan minapolitan.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor tertinggi di daerah sepanjang tidak menyalahi undang-undang pada tingkat yang lebih tinggi. Bentuk keputusan ini misalnya adalah keputusan atau peraturan bupati yang dikeluarkan oleh bupati setempat. Bentuk kelembagaan juga mengikuti pola ini. Hirarki Pengambilan Keputusan Pengelolaan Sumberdaya Kawasan Minapolitan Bogor (Sumber : Modifikasi Ostrom. Sehingga secara ringkas. Pola ini harus dibangun secara bersama. Dalam hirarki ini. Representasi kolektifitas ini ditunjukan keputusan yang bisa mengikat seluruh elemen stakeholder pengelolaan kawasan minapolitan. Tidak semua kelembagaan tersebut harus berangkat pada titik nol (zero point). Pada keputusan constitutional ini dipengaruhi oleh kultur baik formal maupun informal dari pihak-pihak yang berinteraksi.18. Karena kelembagaan-kelembagaan yang ada sekarang bisa menghasilkan keputusan-keputusan konstitional dan kolektif terkait dengan operasionalisasi kawasan minapolitan. 1999) Pada tingkat dibawahnya adalah keputusan yang bersifat kolektif. Pola aliran keputusan ini pada faktanya bisa bersifat dua arah (reversible) baik dari atas (top down) maupun dari bawah (bottom up). maka keputusan ini tidak boleh bertentangan dengan keputusan kolektif. Keputusan operasional ini dihasilkan oleh kelembagaan operasional. khususnya pada tingkat kelembagaan konstitutional dan kolektif. keputusan atau peraturan bupati tunduk pada peraturan pemerintah daerah.34 . Dalam hirarki vertical.

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor
eksektif dan legislative tingkat pemerintah daerah, maka tahap berikutnya adalah memformulasikan keputusan-keputusan dibawahnya sampai pada keputusan

operasional. Sebaliknya proses-proses yang terjadi pada tingkat konstitutional juga harus melihat dinamika pada tataran masyarakat yang nantinya akan member masukan pada keputusan politik yang akan diputuskan. Hubungan antara keputusan dan proses

pembentukan kelembagaan pengelola kawasan minapolitan dapat dilhat dalam Gambar 7.19.

Gambar 7.19. Proses Pembentukan Kelembagaan Pengelola Kawasan Minapolitan

Pada sisi substantive, pembentukan kelembagaan melewati proses-proses pemahasan tentang hal-hal elementer tentang kelembagaan seperti kewenangan dan kewajiban (Gambar 7.20) Kewenangan dan kewajiban kelembagaan ini ditentukan setelah diputuskan rencana induk kawasan, sehingga lebih jelas apa yang akan dilakukan dalam kawasan tersebut. Dalam konteks kawasan Minapolitan Bogor, arahan rencana induk merujuk pada kegiatan perikanan baik dari sisi on-farm (budidaya) sampai dengan pengolahan dan pemasaran secara integral. Pembentukan kelembagaan ini didasarkan pada produk-produk legal (baik pusat atau daerah) sesuai hirarkinya mulai undangundang, peraturan pemerintah, peraturan/keputusan presiden, peraturan/keputusan menteri dan peraturan operasionalnya. Sedangkan pada produk legal daerah meliputi peraturan daerah, peraturan/keputusan bupati dan aturan operasionalnya.

Gambar 7.20. Tahapan Substantif Pembentukan Kelembagaan Operasional Pengelolaan Kawasan Minapolitan

Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR

VII - 35

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor
Pada proses pembentukan kelembagaan akan berakhir ketika proses-proses tesebut diatas telah berhasil mengidentifikasi bentuk kelembagaan yang bisa diterima oleh seluruh stakeholder. Pilihan bentuk kelembagaan dapat dilakukan dengan merujuk pada peraturan perundang-undangan yang berlaku, sehingga lembaga yang terbentuk akan berfungsi optimal. Kelembagaan minapolitan meliputi beberapa jenis kelembagaan yaitu (a) kelembagaan menyeluruh kawasan minapolitan, (b) kelembagaan pusat (sentra minaploitan) dan (c) kelembagaan periferi atau masyarakat. Kelembagaan menyeluruh merupakan

kelembagaan pada tingkat pengarah (steering) yang merupakan kelembagaan koordinasi antar stakeholder terutama antara satuan kerja pemerintah daerah (SKPD).

Kelembagaan sentra minaploitan, merupakan kelembagaan yang mengelola aset-aset yang terdapat pada sentra minapolitan. Sedangkan kelembagaan periferi atau masyarakat merupakan kelembagaan tingkat masyarakat baik pada tingkat

pembudidaya, pengolah maupun pemasaran. Hal yang krusial untuk dibahas adalah kelembagaan pada tingkat sentra minapolitan, karena terkait dengan pengelolaan aset-aset yang dibangun, baik aset bergerak (alat transportasi) maupun aset tidak bergerak (gedung, kolam, mesin dan peralatan pengolahan). Pilhan bentuk kelembagaan dalam bentuk daftar panjang (long list) kelembagaan pengelolaan kawasan sentra minapolitan dapat dilihat dalam Tabel 7.15.

Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR

VII - 36

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor
Tabel 7.15. Pilihan Daftar Panjang (long list) Bentuk Kelembagaan Pengelola Kawasan Minapolitan Bogor Basis 1. Pemerintah Pilihan Bentuk Organisasi a. Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) pada Dinas Teknis b. Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) c. Perusahaan Daerah (PD) d. Perseroan Terbatas (PT) Keterangan/catatan Didasarkan pada keputusan pemimpin daerah tentang pendelagasian tugas dan kewenangan. Budget berbasis pada pagu dan arahan APBD Didasarkan pada rujukan undang-undang dan keputusan pemimpin daerah. Budget dan bentuk program lebih fleksibel. Pemerintah daerah sebagai pengelola seperti swasta dan mempunyai saham berupa aset-aset milik PEMDA Pemerintah daerah menyerahkan aset untuk membantuk unit usaha komersial yang dikelola secara terpisah dari pengelolaan pemerintah daerah, dengan kepemilikan bisa menjadi milik public dimana pemerintah menjadi salah satu bagiannya. Otoritas pengelolaan berada di masyarakat. Efektivitas pengelolaan sangat ditentukan oleh kapasitas masyarakat.. Salah satu bentuknya adalah koperasi. Otoritas pengelolaan berbasis pada “kesepakatan” masyarakat dengan pemerintah. Bentuk riil sangat tergantung pada kualitas interaksi yang dipengaruhi oleh kapasitas masyarakat dan pemerintah. Otoritas pengelolaan diserahkan kepada pihak swasta. Bentuk-bentuk otoritas dan kewajiban bervariasi tergantung kesepakatan.

2. Pemerintah

3. Pemerintah 4. Pemerintah

5. Masyarakat

e. Pengelola Berbasis Masyarakat (CBM) f. Ko-manajemen

6. Interaksi Pemerintah dan Masyarakat 7. Swasta

g. Public-Private Partnership Operation

Uraian dan penjelasan baik menyangkut filosofi dan/atau dasar hukum alternatif kelembagaan tersebut dapat dilihat dalam uraian sebagai berikut. A. Kelembagaan Berbasis Pemerintah

1. Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Daerah Sesuai dengan UU No.41/2007 tentang organisasi perangkat daerah, UPTD-daerah merupakan satu lembaga teknis yang terdapat dalam organisasi pemerintah daerah yaitu dinas teknis daerah. Besaran organisasi perangkat daerah ini disesuai dengan variabel jumlah penduduk, luas wilayah dan besarnya APBD. Berdasarkan pada undang-undang ini, besaran organisai perangkat daerah kabupaten/kota berbedabeda jumlahnya menurut nilai skor daerah. Semakin tinggi jumlah skor daerah, semakin besar jumlah organisasi perangkat daerah yang diijinkan dibentuk di suatu daerah. Sementara UPTD Unit pelaksana teknis pada dinas terdiri dari 1 (satu)

Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR

VII - 37

Sehingga bila pengelolaan kawasan sentra diserahkan kepada UPTD diduga akan sulit untuk dilaksanakan secara optimal. menggambarkan kewengan/otoritas kelembagaan yang jauh lebih sempit dibanding dengan dinas teknisnya. Berbeda dengan SKPD pada umumnya. Peraturan yang lebih operatif adalah Preaturan Menterdi Dalam Negeri (Permendagri) No. UPTD akan bertanggung jawab kepada kepala dinas yang membidanginya.Pada sisi lain. Sehingga pilihan ini menjadi pilihan yang sulit untuk dilakukan.23/2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum. Sehingga bila pengelolaan diserahkan pada tingkat UPTD akan berpotensi menimbulkan overlaping dan konflik kepentingan antar beberapa dinas terkait. Konsep Badan Layanan Umum yang terdapat dalam UU No. seperti pengecualian dari ketentuan pengelolaan keuangan daerah pada umumnya. Secara hirarkis. Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Konsep Badan Layanan Umum (BLU) disebutkan dalam UU No. maka kepala unit pelaksana teknis dinas di Kabupaten/Kota merupakan jabatan struktural eselon IVa.1/2004 kemudian diadopsi dalam PP No.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor subbagian tata usaha dan kelompok jabatan fungsional. Berdasar struktur kepegawaian. BLUD bisa merupakan unit teknis dalam SKPD maupun satu SKPD sendiri.61/2007 tentang pedoman teknis pengelolaan keuangan badan layanan umum daerah. BLUD merupakan bagian dari perangkat pemerintah daerah. konsep ini dituangkan dalam PP No. pola pengelolaan keuangan BLUD memberikan fleksibilitas berupa keleluasaan untuk menerapkan praktek-praktek bisnis yang sehat untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. pada kawasan minapolitan ini juga memerlukan dukungan stakeholder lintas sektoral atau kedinasan. Bila dilihat dari sisi struktur organisasi UPTD dan eselonisasi. Salah satu bentuk perbendaharaan adalah badan layanan umum yang dapat dibentuk di tingkat pusat dan daerah.1/2004 tentang perbendaharaan negara.38 . Sebuah satuan kerja atau unit kerja dapat ditingkatkan statusnya sebagai BLUD.23/2005 dan Badan Layanan Umum. Secara lebih spesifik. dengan status hukum tidak terpisah dari pemerintah daerah. didefinisikan sebagai instansi di lingkungan pemerintah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . 2.

Persoalan ini menjadi catatan penting dari sisi kinerja kelembagaan. maka sumber pendanaan BLUD meliputi :a.61/2007. maka berpotensi untuk mengarah pada benturan dengan jumlah SKPD yang diijinkan menurut peraturan yang ada.Pemanfaatan sumber pendanaan dari APBD dan APBN. sumber pendanaan BLUD juga mencakup (d) hasil kerjasama dengan pihak lain. yang merupakan tugas perbantuan dari pimpinan daerah. b. tanggung jawab dan resikonya. Hal yang perlu dicatat adalah bahwa struktur organisasi BLUD meskipun ada keluluasaan administrasi keuangan dan program. Unit kerja seperti puskesmas atau tempat rekreasi tidak tertutup kemungkinan ditingkatkan statusnya sebagai BLUD. Unit organisasi BLUD dibawah kendali seorang pimpinan. disamping menerima gaji pokok dan tunjangan sesuai ketentuan tentang PNS. Pertanggungjawaban dari pemanfaatan sumber pendanaan berbedabeda menurut sumbernya.39 . pendapatan selain dari pendapatan hibah yang tidak mengikat. Pungutan Jasa dan c. juga mendapatkan tambahan remunerasi sesuai dengan profesionalisme. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . Sedangkan pungutan jasa dan hasil kerjasama dengan pihak lain akan masuk menjadi penerimaan daerah yang mengikuti pola yang ada. struktur pengelola unit BLUD dapat berasal baik dari pegawai negeri sipil (PNS) maupun non-PNS. Sehingga terjadi peluang bahwa dari sisi kebutuhan organisasi membutuhkan dukungan operasional yang tinggi tetapi dari sisi personalia tidak memungkinkan karena statusnya sebagai PNS.61/2007. Menurut Permendagri No. (e) APBN dan (f) lain-lain pendapatan yang syah. maka pertanggungjawaban mengikuti mekanisme pemanfaatan dana APBD. dapat dikelola langsung untuk membiayai pengeluaran BLUD sesuai dengan RBA. Sementara pertanggungjawaban yang bersifat hibah sesuai dengan peruntukannya. Bila personalia pengelola BLUD merupakan PNS. maka pembentukan SKPD ini juga berpotensi untuk meniadakan salah satu SKPD yang sudah ada sekarang ini. Hibah yang tidak mengikat. APBD. Bila pada kondisi jumlah SKPD sudah memenuhi ketentuan maksimal jumlah SKPD. tanggung jawab dan resikonya. Sementara berdasar Permendagri No. Hal lain yang perlu dicatat adalah bila BLUD menjadi bentuk SKPD tersendiri. Berdasarkan peraturan yang ada. pada faktanya sebagian besar personalia dari pengelola BLUD sekarang ini merupakan aparatur pemerintah (PNS). Remunerasi pada intinya dapat fleksible sesuai dengan profesionalisme. Merujuk pada peraturan yang ada.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Contoh dari SKPD dengan status BLUD adalah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD).

Pasal 25 ayat 4 menyatakan bahwa penggunaan laba untuk cadangan umum bilamana telah tercapai tujuannya dapat Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . (b) anggaran belanja daerah dan (c) untuk cadangan umum. kecuali jika ditentukan lain dengan atau berdasarkan Undang-undang. Artinya tidak semuanya dapat digunakan untuk rekapitulasi usaha bila tidak disertai peraturan khusus dari kepala daerah tentang pemanfaatan ini. jasa produksi. menuju masyarakat yang adil dan makmur. Rujukan undang-undang tentang PD adalah UU No. sedangkan yang berbentuk perseroan terbatas (PT) tunduk pada undang-undangnya. sumbangan dana pensiun dan sokongan. Permendagri tersebut menyatakan bahwa BUMD yang berbadan hukum PD tunfuk pada undang-undang yang berlaku.3/1998). Bila merujuk pada aturan yang ada. maka pemanfaatan keuntungan dari PD harus masuk melalui mekanisme PAD yang menjadi bagian APBD. Besarnya alokasi masing-masing komponen tesebut tergantung modal PD milik satu daerah atau milik dari beberapa daerah (Bab XIII pasal 25).5/1962 ini yang dimaksud Perusahaan Daerah ialah semua perusahaan yang didirikan berdasarkan Undang-undang ini yang modalnya untuk seluruhnya atau untuk sebagian merupakan kekayaan Daerah yang dipisahkan. sosial dan pendidikan.40 . 5/1962 telah dicabut dengan dikeluarkannya UU No.5/1962. Modal Perusahaan Daerah terdiri untuk seluruhnya atau untuk sebagian dari kekayaan Daerah yang dipisahkan. Tetapi dalam salah satu klausul UU No.5/1962 tentang Perusahaan Daerah. Perusahaan Daerah Perusahaan Daerah (PD) merupakan salah satu bentuk badan hukum Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) (Permendagri No.5/1962 pemanfaatan hasil keuntungan perusahaan daerah ditujukan untuk (a) dana pembangunan daerah.31998 tentang BUMD meyebutkan secara eksplisit bahwa keuntungan dari PD merupakan salah satu sumber PAD (pasal 7).5/1962 tetap berlaku.6/1969 tentang pencabutan UU No. Sebenarnya UU No. Permendagri No.6/1969 dinyatakan bahwa undang-undang yang lama tetap berlaku bila belum terdapat undang-undang pengganti. Sehingga UU No. Secara umum.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 3. Berdasarkan UU No. Tujuan Perusahaan Daerah ialah untuk turut serta melaksanakan pembangunan Daerah khususnya dan pembangunan ekonomi nasional umumnya dalam rangka ekonomi terpimpin untuk memenuhi kebutuhan rakyat dengan mengutamakan industrialisasi dan ketenteraman serta kesenangan kerja dalam perusahaan. berdasar UU No.

yang tunduk pada undang-undang tentang PT. pembelian saham. Perseroan Terbatas (PT) juga merupakan salah bentuk BUMD (Permendagri No. 4. Sehingga PD tidak diperbolehkan lagi untuk bekerjasama dengan pihak ketiga dalam bentuk seperti yang disebutkan diatas. Demikian pula cara mengurus dan penggunaan dana penyusutan dan cadangan tujuan ditentukan oleh kepala Daerah/pemegang saham/saham prioritet.4/1990 mengijinkan adanya kerjasama perusahaan daerah dengan pihak ketiga. penjualan saham dan obligasi (go public) maupun bentuk-bentuk kombinasinya.4/1995 tentang petunjuk pelaksanaanyya. Dimana saham dalam PT yang terbentuk dapat dimiliki oleh Pemerintah Daerah. dimana PT berhak untuk menerbitkan saham untuk mendapatkan tambahan modal. kontrak.3/1998 bahkan menyebutkan bahwa kepala daerah (termasuk Bupati) dapat merubah bentuk hukum Perusahaan Daerah (PD) menjadi PT. Artinya harus selalu diusahakan bahwa porsi kepemilikan saham pemerintah merupakan saham mayoritas (pengendali) dengan jaminan pada pengendalian arah kebijakan perusahaan. obligasi dari PT.4/2000 yang mencabut Permendagri No. Bila kepemilikan saham diluar pemerintah lebih Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . Kerjasama ini diantaranya dalam bentuk kerjasama manajemen. maka sebagai konsekuensinya adalah komposisi ini bisa berubah ketika saham diluar kepemilikan pemerintah menjadi lebih besar. keagenan. Artinya bila memang kelembagaan kawasan sentra minapolitan diharapkan untuk dapat melakukan rekapitulasi diperlukan peraturan khusus tentang kepala daerah tentang pemanfaatan keuntungan ini. pemakaian dan penyaluran.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor dialihkan kepada penggunaan lain dengan keputusan Pemerintah Daerah yang mendirikan. Sesuai dengan UU No.4/1990. Perseroan Terbatas (PT) Seperti halnya PD. swasta dan masyarakat (pasal 8). termasuk Permendagri Permendagri No. Secara spesifik bahkan dinyatakan bahwa pada perusahaan daerah yang tidak menghasilkan laba seperti tersebut diatas disebabkan karena pertimbangan dan kebijaksanaan Pemerintah Daerah dapat juga diberi jasa produksi yang ditentukan oleh Pemerintah Daerah. Pada awalnya sesuai dengan Permendagri No.41 .3/1998). Tetapi dengan diterbitkannya No. Namun peraturan ini menyebutkan bahwa bagian terbesar dari saham Perseroan Terbatas dimiliki oleh Pemerintah Daerah dan Perusahaan Daerah.40/2007 tentang perseroan terbatas. Permendari No. Perusahaan Daerah.

Pola kelembagaan ini memunculkan dua kemungkinan yaitu berjalan efektif bahkan sebaliknya berjalan sangat tidak efektif dan berpotensi terjadi salah pengelolaan (mismanagement). pengambilan keputusan dilakukan pada tingkat komunitas/masyarakat yang mempunyai hak pada bidang pengelolaan sumberdaya termasuk kawasan sentra minaploitan. Sebab orientasi pengelolaan kawasan sentra minapolitan tidak menjadi bagian service yang diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan minapolitan tetapi meningkatkan keuntungan yang sebesar-sebesarnya bagi PT pengelola kawasan sentra minapolitan. Pengelolaan Berbasis Masyarakat (PBM) Pengelolaan Berbasis Masyarakat (PBM) adalah suatu kelembagaan yang dibentuk dan dikembangkan berdasarkan inisiatif dari masyarakat. Salah satu bentuk badan hukum pengelolaan kawasan sentra minapolitan dengan semangat ini adalah koperasi Secara praktis. Bahkan tidak jarang yang terjadi. homogenitas pandangan individu-individu Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII .42 . Namun demikian persoalan ini menjadi lebih rumit. B. Pada PBM ini.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor besar dari saham yang dimiliki oleh pemerintah maka kendali kebijakan perusahaan tidak lagi berada pada pemerintah. Pada PBM. persoalan ini menjadi sangat krusial mengingat bahwa kapasitas masyarakat seringkali tidak memadai baik secara individual maupun kolektif. Bodin and Crona (2007) menyatakan bahwa adanya modal sosial dan kepemimpinan merupakan prasyarat penting dalam pengelolaan sumberdaya. Keengganan masyarakat untuk melaporkan terjadinya pelanggaran pada pengelolaan sumberdaya walaupun tingkat modal sosial yang menggambarka jejaring sosial menjadi salah satu faktor kegagalan ini. Pada sisi lain. Merunut kembali pada tujuan pengembangan minapolitan yang diarahkan pada meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang sebesar-besarnya. Hal ini akan bisa dilakukan bila didasarkan pada input pengambilan kebijakan yang valid. kuat dan visioner. walaupun terdapat tokoh individual yang memenuhi kriteria tersebut tetapi tidak mendapatkan dukungan dari komunita lainnya juga tidak bisa berjalan dengan baik. bila pengendali saham adalah swasta. maka dalam jangka panjang bisa menabrak rambu-rambu ini. Kondisi ini menunjukan perlunya tambahan saham dari pemerintah. sebab peraturan ini tidak memuat pasal yang memberikan penjelasan secara jelas apakah penambahan penyertaan modal dapat dilakukan melalui pengadaan dana dari APBD setempat. pengelolaan akan berjalan efektif dan lebih baik bila didrive dari kebijakan yang benar yang diturunkan dalam kebijakan operatif yang memadai.

pola pembentukan ini mulai diintroduksi ketika sistem sosial komunitas (pesisir termasuk nelayan) masih mengerucut dengan tingkat ketokohan lokal yang kuat. Namun demikian. bentuk penyertaan ini harus tertuang secara jelas kemudian pengelolaanya juga harus dipertanggungjawabkan secara jelas.43 .Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor kunci harus dimaknai secara hati-hati karena berpotensi untuk melihat permasalah secara seragam sehingga kurang bisa mengenali perubahan ekologis. Secara legal pengelolaan dengan pola ini di Jepang mempunyai dua dukungan peraturan setingkat undang-undang yaitu Undang-Undang Perikanan dan Undang-Undang Koperasi Nelayan. tetapi tidak dalam kondisi penuh atau maksimal. Baik dalam aspek pemeliharaan aset. Pada sisi lain. karakteristik masyarakat. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . Pada praktisnya. bentuk Walaupun pada tataran operasional hal ini diduga masih sulit dilakukan pada kasus pengelolaan kawasan lindung Pamurbaya. Hal ini bisa berdampak pada dominannya salah satu individu atau sekelompok kecil individu dalam membentuk opini. Beberapa kasus merujuk regim pengelolaan di luar negeri seperti pengelolaan perairan di Jepang yang berbasis komunitas (misalnya koperasi nelayan). PBM akan berjalan efisien ketika mendapat dukungan kualitas pengelolaan yang kuat. Pada tataran praktis. Apabila akan dikelola secara PBM. dari sisi pendanaan operasional. walaupun secara filosofis dan ideologis pengelolaan PBM adalah merupakan kondisi ideal pengelolaan sumberdaya termasuk kawasan lindung. tetapi semangat dan filosofi ini perlu dikembangkan dalam pengelolaan. pengambilan keputusan dan aksi yang diperlukan. hal ini membutuhkan prasyarat kelembagaan yang sangat kuat. Hal ini dilakukan dengan mengadopsi konsep keterlibatan masyarakat. adanya penyertaan aset dari pemerintah dalam kawasan minapolitan. Secara sosiologis. diikuti peraturan operasional dibawahnya. tetapi karena besarnya kendala operasional pengelolaan maka konsep ini jarang sekali digunakan di Indonesia. juga memerlukan administrasi pertanggungjawaban yang akuntabel sehingga tidak menimbulkan permasalahan legal di kemudian hari. mengakar dan efisien. pemanfaatan maupun distribusi benefit baik untuk biaya pengelolaan maupun keuntungan pengelolaan. pengambilan keputusan mempunyai legitimasi yang kuat secara sosio-kultural. Sehingga lembaga dalam pengertian organisasi pengelola akan mampu mengoperasikan fungsi-fungsi pengelolaan dengan baik. Sehingga.

Bila prasyarat ini tidak dipenuhi. Pada faktanya. Walaupun dalam beberapa kasus aka sulit dilakukan. (1991). Implementasi pola pengelolaan seperti telah disebutkan diatas membutuhkan dukungan dan kapasitas kelembagaan (perangkat peraturan dan organisasi) yang sangat kuat. tetapi semangat melibatkan masyarakat lokal dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan. agar proses interaksi antara pemerintah dapat berjalan dengan baik dan mendukung efektivitas dan efisiensi pengelolaan. akan bermuara pada dukungan komunitas lokal yang baik. Bentuk-bentuk ini bervariasi dari mulai sekedar informatif. sampai bentuk joint action pada tingkat posisi tawar dan kapabilitas yang sama ataupun bergerak ke communication control dan inter area coordination yang condong ke masyarakat (lihat gambar berikut). Pilihan bentuk kelembagaan pengelolaan kawasan minapolitan perlu diarahkan untuk mendorong persyaratanpersyaratan tersebut dipenuhi. dan (6) Penataan kelembagaan yang menyeluruh (holism). Bentuk interaksi ini menghasilkan tingkat sharing (kekuatan dan dukungan) yang bervariasi seperti diuraikan oleh beberapa ahli seperti Pomeroy (1995). penataan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . Noble (2000) menyatakan bahwa terdapat 6 prinsip secara kelembagaan yang mendukung efektivitas co-management pengelolaan sumberdaya yaitu (1) adanya organisasi yang interaktif. Berkes et. biasanya sulit mendapatkan hasil maksimal. (5) keberagaman substansi dan benefit bagi stakeholder.44 . (2) Kuatnya kontrol lokal. yaitu masyarakat secara penuh pada satu sisi dan pemerintah secara penuh pada sisi yang lain. Carlson and Berkes (2005). Oleh karena itu. ketika bentuk co-management menjadi pilihan. konsepsi tentang co-management pun bervariasi tergantung pada posisi tawar serta kapabilitas masing-masing stakeholder yang beinteraksi yaitu pemerintah dan masyarakat. kemudian komunikasi. (4) Proses yang terencana. konsultatif yang condong pada kutub government base. Hal ini bisa diperoleh bila gain adanya kawasan tersebut dapat terdistribusi dengan baik kepada stakeholder.al. bukan hanya sekelompok stakeholder. (3) Dukungan komunitas. Prinsip-prinsip tersebut perlu menjadi catatan.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor C. Pengelolaan Ko-Manajemen (Co-Management) Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa kutub pengelolaan sumberdaya dapat bergerak pada dua titik ekstrim. kerjasama. Interaksi antar dua kutub tersebut menghasilkan pola kelembagaan interaktif masyarakat dan pemerintah yang disebut ko-manajemen.

antara instansi pemerintah dengan badan usaha/pihak swasta.21. sehingga mendorong swasta untuk berhati-hati dan bekerja dengan efisien. Pengertian Public-Private Partnerships (Kerjasama Pemerintah dengan Swasta/KPS)Suatu Perjanjian Kerja Sama (PKS) atau Kontrak. ditujukan untuk memberikan ruang bagi swasta untuk berpartisipasi terhadap prosesproses pembangunan.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor kelembagaan secara keseluruhan menjaadi penting yang menguatkan kapasitas baik pada tingkat komunitas maupun pemerintah. Kerjasama Pemerintah Swasta (Public Private Partnership Operation ) Kerjasama Operasi Swasta-Pemerintah (PPP = Public-private partnership operation). mengingat bahwa sistem pelaporan terhadap pemanfaatan APBD mempunyai struktur baku. dimana : a) pihak swasta melaksanakan sebagian fungsi pemerintah selama waktu tertentu. Permasalahan muncul terkait dengan akuntabilitas bila pengelolaan berbasis anggaran pemerintah setempat. Gambar 7. D. Hirarki Co-Management (Setelah Berkes) Sumber : Pomeroy (1995).45 . Hal ini tentunya memnbutuhkan asesmen kesiapan baik dari sisi pemerintah maupun masyarakat. PBB (2008) menyatakan bahwa adanya PPP menggeser resiko yang biasanya ditanggung oleh pemerintah kepada sector swasta. b) pihak swasta menerima Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . Dimana perwakilan masyarakat akan ditempatkan sesuai dengan level hirarki co-management yang aka diaplikasikan. Pelibatan masyarakat dalam struktur kelembagaan perlu dilakukan dengan hati-hati.

Pengembangan Kapasitas (capacity building) baik skill. c) pihak swasta bertanggungjawab atas resiko yang timbul akibat pelaksanaan fungsi tersebut. monitoring dan evaluasi sampai pada bentuk kelembagaan operasionalnya. Berdasarkan cara ini. Tujuan dari penerapan kerjasama pemerintah-swasta sangat beragam mulai dari mendapatkan dana investasi. baik secara langsungmaupun tidak langsung. transparansi. Build-Operate-Transfer (BOT). Misalnya bentuk-bentuk penyertaan aset pada pengelolaan. efisiensi. simpler dan better. Sehingga prinsipprinsip dalam PPP harus memenuhi standar-standar tersebut.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor kompensasi ataspelaksanaan fungsi tersebut. Finance Only. mulai jasa. Build-Lease-Operate-Transfer (BLOT). pertanggung jawaban. PPP harus juga memenuhi standar-standar good governance yang dipersyaratakan seperti partisipasi. Operation License. 4. Build-Own-Operate-Transfer (BOOT). Berdasarkan polanya. dan d) fasilitas pemerintah. Spektrum model PPP termasuk sebagian dari bentuk-bentuk PPP dapat dilihat dalam gambar berikut. terdapat beberapa bentuk operasi PPP (UNECE. 3. sampai dengan pembukaan lapangan kerja. transparansi. dan UNECE telah menyusun prinsip-prinsip tata kelola (good governance) PPP sebagai berikut (UNECE. Waktu kontrak bisa mencapai 30 tahun berdasarkan kebutuhan. Design-Build (DB). lahan atau aset lainnya dapat diserahkan atau digunakan oleh pihak swastas selama masa kontrak. efisiensi dan pembangunan berkelanjutan. Namun pada faktanya di Indonesia. maka kegiatan atau proses pembangunan dapat tercapai. operasi aset sampai pengadaan infrastruktur. keadilan. dengan keterlibatan pihak swasta untuk jangka waktu tertentu. Operation & Maintenance Contract (O & M). Seperti halnya kebijakan public lainnya. Build-Own-Operate (BOO). santun (decency). Meningkatkan Legal Framework (Improving legal framework) dalam pengertian fewer. 2008) seperti Buy-Build-Operate (BBO). Risk Sharing yang mencakup nilai cooperative sharing dan mutual support Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . Bersandar pada kebijakan (policy) 2.46 . kontrak kerjasama ini sangat beragam. kelembagaan maupun pelatihan. DesignBuild-Finance-Operate (DBFO). Secara teoritis. Sehingga pengoperasian pengelolaan KLM Pamurbaya dengan pola seperti ini memerlukan banyak penelaahan terutama dari sisi legal. akuntabilitas. 2008) : 1. bentuk-bentuk kerjasama ini masih didominasi pada pengadaan dan operasionalisasi aset infrastruktur misalnya jalan tol.

47 . 4.16. Perencanaan sentralistik dan government base 4. Potensi Kelebihan dan Kekurangan Pilihan Bentuk Organisasi Pengelola KLM Pamurbaya. pola PPP di Indonesia baru diaplikasikan untuk infrastruktur jalan. 3. Struktur dan eselonisasi pejabat jelas (rujukan legal 2. Pertanggungjawaban anggaran harus mengikuti tertib administrasi yang baku 5. seperti terlihat dalam tabel berikut. adanya peran pemerintah (government role) dan distribusi manfaat (belivery of benefit) yang baik dan adil. Ketersediaan personalia pendukung dari aparatur pemerintah Kekurangan 1. 1.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 5. Meletakan (kepentingan) Masyarakat sebagai hal pertama (Putting people first) dalam bentuk pemberian informasi. Perlunya kapasitas pengelola setigkat SKPD yang dapat melampui jumlah maksimal SKPD yang diijinkan oleh peraturan yang ada. Kinerja dan ritme kerja mengikuti pola reward and punishment PNS 1. Adanya potensi overlap dan konflik kepentingan antar SKPD yang terkait. Fleksibilitas perencanaan dan 4. Tidak adanya jaminan kebijakan 2. akuntabilitas dan digalangnya dukungan. Fleksibilitas perencanaan dan pemanfaatan anggaran lebih baik dari SKPD/UPTD 1. Fleksibilitas perencanaan dan pemanfaatan anggaran lebih baik dari UPTD 3. Tidak diijinkan kerjasama membentuk perserikatan dengan pihak ketiga 4. No. 1. Berdasarkan uraian diatas dapat disusun tabel yang menggambarkan kelebihan dan kekurangan bentuk organisasi pengelola. Bentuk Badan Hukum Organisasi UPTD Kelebihan 1. Tabel 7. Kurang fleksible terhadap kebutuan pengelolaan 3. 7. Ketersediaan personalia pendukung dari aparatur pemerintah 4. 1. BLUD 1. Kejelasan sumber anggaran belanja pokok 3. 6. Jaminan pemanfaatan keuntungan usaha untuk rekapitalisasi usaha 2. 2. Kontrol dan pelaporan hanya kepada otoritas kepala daerah 3. Perseroan Terbatas Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . Struktur dan eselonisasi pejabat jelas 2. Sampai sekarang. Ketersediaan personalia pendukung dari aparatur pemerintah 4. Berorientasi lingkungan yang bersifat ramah (green case). Akuntabilitas pengelolaan aset dan struktur kelembagaanya. (seperti jasa dan hibah) akan menurunkan kinerja pembiayaan program. Kinerja dan ritme kerja personalia mengikuti pola reward and punishment PNS yang belum tentu cukup untuk kebutuhan pengelolaan. Kejelasan sumber anggaran belanja 3. tapi implementasi di Indonesia masih terkendala dengan kebijakan pemerintah. 2. Kegagalan untuk menggali sumber-sumber pendanaan selain APBD. Procurement yang transparan. Tidak adanya jamina dukungan dari masyarakat terutama terkait dengan suplai bahan baku karena kepemilikan masyarakat tidak ada. Struktur dan eselonisasi pejabat jelas (rujukan legal 2. Walaupun secara teoritis cukup menguntungkan. netral dan tidak diskriminatif. jembatan dan pelabuhan. Perusahaan Daerah 1. Diluar infrastruktur tersebut masih belum diaplikasikan konsep ini. Kejelasan sumber anggaran belanja pokok 3.

Beban pembiayaan bisa sharing pemerintah dengan swasta. Arahan pengelolaan bisa menjadi lebih baik bila ada sumber atau pihak yang mempunyai kapasitas lebih baik. BLUD dan Koperasi. Sumber : Hasil analisis. Pengambilan keputusan bisa cepat dan rasional 7. Akuntabilitas pemilihan partner harus baik. 3. Dukungan stakeholder tinggi (baik pemerintah maupun masyarakat) 2. Disyaratkan kesiapan dan kecukupan kapasitas masyarakat dan pemerintah 2. Pengambilan keputusan bisa memerlukan proses yang cukup lama bila kapasitas pemerintah dan masyarakat tidak sama. Sumber pembiayaan untuk mempertahankan saham pengendali apakah memungkinkan dari APBD 1. Sumber pembiayaan tidak hanya tergantung dari pemerintah 3. perseroan terbatas (PT). 5. 3. 1. Adanya dukungan anggaran pemerintah pada programprogram dasar sesuai perencanaan daerah 1. 4. Public-Private Partnership (PPP) 1. 3. Memungkinkan untuk mendapatkan dana penyertaan dari masyarakat dan swasta Kekurangan operasional perseroan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat ketika pemerintah tidak menjadi pemegang saham pengendali. Kontrol dan arah pengelolaan bisa salah bila kapasitas masyarakat tidak cukup. 2. tujuan dan semangat pengembangan kawasan minaploitan. Kebiasaan yang terjadi di Indonesia masih didasarkan pada kerjasama bidang infrastruktur. Kontrol terhadap pengelolaan aset perlu kuat dan mengikuti rambu-rambu peraturan dan tujuan pengembangan kawasan minapolitan. maka pilihan alternatif kelembagan pengelola sentra minapolitan meliputi bentuk-bentuk : Perusahaan daerah (PD). Pengambilan keputusan bisa lebih cepat bila kapasitas masyarakat (koperasi) cukup. Akuntabilitas penyertaan aset daerah kepada pengelola. 6. dan dilakukan secara akuntabel dan transparan untuk mengindari klaim dari pihak lain. baik dari pemerintah maupun masyarakat. Agar tetap menjadi pemegang saham pengendali terdapat potensi haru meningkatkan saham penyertaa setiap waktu tertentu. Range hirarki tingkat Co-management pengelolaan luas. PBM (Koperasi) 1. 2. Sulitnya mendapatkan dukungan dan akuntabilitas anggaran 4. 4. sehingga memerlukan asesmen yang tepat. Sesuai dengan analisis pada tabel diatas serta dikaitkan dengan azas. 2. 2010. Keterjangkauan program berdasar kebutuhan pengelolaan dan masyarakat sekitar 3. Pilihan-pilihan tersebut memerlukan catatan tersendiri dalam bentuk tindakan kebijakan pimpinan daerah untuk Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . 4. Co-management 1.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor No. 3. Kurangnya kapasitas masyarakat dalam proses pengelolaan secara umum 3. Perlu ketetapan jangka waktu tertentu dan review atas kerjasama 3. 2. Bentuk Badan Hukum Organisasi (PT) Kelebihan pemanfaatan anggaran lebih baik dari SKPD/UPTD 2. 5. 4. Operasional pengelolaan bisa lebih akuntable. Pengambilan keputusan berlarut-larut bila kapasitas masyarakat tidak cukup. Akuntabilitas penyertaan aset daerah pada pengelola 2.48 . Keterlibatan masyaarakat/swasta tinggi. Kontrol dan monitoring lebih baik. dan efisien bila partner mempunyai kapasitas yang cukup. Dukungan masyarakat dan stakeholder tinggi.

Koperasi 3. Perseroan Terbatas (PT) Catatan untuk untuk bentuk kelemmbagaan adalah pilihan tersebut harus tetap mengikuti rambu-rambu peraturan yang ada sehingga tidak menimbulkan permasalahan hukum di kemudian hari. etos kerja dan sistem merit pengelola serta potensi overlaping SKPD sesuai peraturan yang ada. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VII . Bisa diterapkan bila pemerintah (langsung maupun melalui PD) dan masyarakat budidaya di daerah bisa menjadi pengendali kebijakan perusahaan yang berorientasi pada fungsi kawasan sentra minapolitan dalam rangka mencapai tujuan pengembangan minapolitan secara umum. 1. Bentuk Badan Hukum Organisasi Perusahaan Daerah (PD) Catatan Perlu adanya komitmen yang tertuang dalam kebijakan pimpinan daerah bahwa keuntungan digunakan untuk rekapitulasi pengembangan fungsi kawasan sentra minapolitan dalam rangka mencapai tujuan pengembangan minapolitan secara umum Perlu asistensi manajerial dan sistem pengawasan yang kuat serta pembentukan AD/ART yang menjamin arah kebijakan organisasi untuk pengembangan fungsi kawasan sentra minapolitan dalam rangka mencapai tujuan pengembangan minapolitan secara umum Bila tidak menimbulkan permasalahan yang terkait dengan profesionalisme manajerial.49 .17. Alternatif Daftar Pendek Pilihan Kelembagaan Pengelola Kawasan Sentra Minapolitan No. 2. serta tetap menjamin tujuan dan fungsi kawasan minapolitan secara umum. Tabel 7.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor mengamankan tujuan pembentukan kawasan minapolitan seperti tertuang dalam tabel berikut. BLUD 4.

1. Kesejahteraan Sejahtera berati bahwa pengembangan kawasan minapolitan selain harus meningkatkan pendapatan dari pembudidaya dan pengolah ikan . Visi dan Misi Visi merupakan ungkapan keinginan atau harapan atau pandangan masa depan yang ingin dicapai semua pihak yang terkait (stakeholders) terhadap pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Bogor. pendidikan dan pelatihan kegiatan perikanan budidaya. Dengan visi ini diharapkan kawasan minapolitan dapat bermanfaat secara optimal dan berkelanjutan yang ditujukan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat dan menjadi kebanggaan bagi masyarakat Kabupaten Bogor. maka pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Bogor adalah : “TERWUJUDNYA KAWASAN MINAPOLITAN SEBAGAI PUSAT PENGEMBANGAN KEGIATAN PERIKANAN BUDIDAYA UNTUK KESEJAHETRAAN MASYARAKAT” Pernyataan tersebut mengandung makna bahwa : Pusat Kegiatan Perikanan Budidaya berarti bahwa diharapkan kawasan minapolitan di Kabupaten Bogor menjadi pusat kegiatan perikanan budidaya dari mulai pembenihan. pendederan. Berdasarkan hasil penggalian aspirasi dan hasil agregasi potensi. Disamping itu pengembangan kawasan minapolitan juga harus dapat menjadi rujukan maupun pendorong bagi pengembangan sector-sektor lain didaerah tersebut. isu dan permasalahan dari data sekunder dan penelitian lapang. Minapolitan diharapkan juga menjadi pusat sarana informasi. hendaknya juga dapat memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat lainnya yang berada dalam kawasan tersebut melalui kegiatan-kegitan lain baik yang terkait secara langsung maupun yang tidak langsung dengan minapolitan.STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KAWASAN MINAPOLITAN 8 8. pembesaran. Dalam rangka mewujudkan visi tersebut maka misi yang akan dijalankan adalah: 1) Mengembangkan Sentra Produksi Komoditi Unggulan . pengolahan sampai pada pemasaran.

b. yaitu: a. 8. dalam hal ini komoditi Ikan Lele sehingga produksinya dapat bersaing di pasaran. maka berikut ini adalah beberapa strategi dan arah kebijakan yang akan ditempuh dalam pengembangan kawasan minapolitan. (iii) dipelihara tanpa menggunakan kotoran.2 .2.2. Strategi Pengembangan Sentra Produksi Komoditi Unggulan Strategi Pengembangan Sentra Produksi Komoditi Unggulan merupakan strategi yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas komoditi unggulan. Infrastruktur Perikanan. Program ini didasari atas dasar permasalahan dalam hal kualitas induk dan benih yang masih rendah. latar belakang keluarnya program ini adalah karena selama ini kualitas sumberdaya manusia yang bergerak Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VIII . Dengan demikian daya saing lele Bogor dapat meningkat dan mempermudah pemasaran lele Bogor. (ii) bebas bau lumpur. Berikut ini adalah beberapa program yang dapat dilakukan dalam rangka untuk mencapai strategi tersebut di atas. sehingga program yang perlu dilakukan adalah pembentukan bank induk ikan air tawar : pembenih dapat menyewa induk siap suntik dari bank induk dengan sistem sewa. dan lain-lain. Program peningkatan kuantitas dan kualitas induk dan benih. baik lokal maupun luar daerah. Strategi dan Arah Kebijakan Pengembangan Minapolitan Dengan memperhatikan isu dan permasalahan dan harapan. c. Program Peningkatan Kapasitas Sumberdaya Manusia.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 2) Mengembangkan Jaringan Pemasaran Berbasis Teknologi Informasi 3) Mengembangkan Kawasan Minapolitan Sebagai Kawasan Minaeduwisata 4) Mengembangkan Pengolahan Produk Ikan Lele 5) Mengembangkan Pusat Pelayanan Kawasan (Sentra Minapolitan) 6) Mengembangkan Infrastruktur Dasar. Bank induk memperoleh keuntungan dari pembayaran sewa indukan. Mengidentifikasi upaya upaya yang dapat dilakukan untuk peningkatan daya saing lele minapolitan dengan peningkatan kualitas produksi dan pembentukan merk/branding lele bogor dengan kualitas sebagai berikut: (i) bebas antibiotik. serta untuk mencapai visi dan misi pengembangan kawasan Minapolitan di Kabupaten Bogor. dan Wisata 7) Mengembangkan Sistem Kelembagaan minapolitan 8) Mengembangkan Pembiayaan minapolitan 8.1. sehingga kualitas dan kuantitas induk dapat terkontrol.

Pusat pelatihan budidaya dan pengolahan ikan. pusat riset/test farm budidaya untuk demplot teknologi dan komoditas terbaru budidaya. Pembentukan pusat informasi budidaya yang didalamnya terdapat laboratorium kualitas air. penyakit ikan. Kegiatan pengembangan minawisata ini juga didukung dengan pengembangan wisata perikanan lain yang berada di kawasan minapolitan. mereka harus bersaing dengan daerah-daerah lain untuk menjual produk mereka ke Jakarta.2.2. dan kemana mereka akan menjual produksinya. Akar permasalahan dari persaingan harga ini adalah tidak adanya pusat informasi yang akurat yang memberikan informasi harga di pasaran kepada para petani ikan. Berikut ini adalah beberapa program yang dapat dijalankan yang berikaitan dengan Strategi Pengembangan Kawasan Minapolitan Sebagai Kawasan Wisatamina: Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VIII . maka program Dengan melihat latar utama dalam menjawab strategi Pengembangan Jaringan Pemasaran Berbasis Teknologi Informasi adalah : a. dan pusat data hasil perikanan minapolitan. Program Pengembangan Pusat Informasi Pasar b. Strategi Pengembangan Jaringan Pemasaran Berbasis Teknologi Informasi Hasil identifikasi isu dan permasalahan aspek pemasaran adalah antara lain pasar persaingan antar daerah.2. belakang tersebut. Paket wisata kuliner ditujukan kepada pengunjung yang ingin menikmati hasil olahan lele. sehingga petani ikan bisa melakukan strategi kapan mereka memanen. sehingga perlu peningkatan kapasitasnya dengan melakukan pendidikan dan pelatihan dalam kegiatan budidaya perikanan. Strategi Pengembangan Kawasan Minapolitan sebagai Kawasan Wisatamina Pengembangan kawasan minapolitan tidak hanya terfokus pada kegiatan pengembangan perikanan budidaya. Pakat wisata pendidikan meliputi kegiatan budidaya (pembenihan dan pembesaran lele) sampai pada kegiatan pengolahan lele baik ditingkat sentra pengolahan maupun industri rumah tangga. yaitu kegiatan wisatamina. tetapi juga ditunjang oleh kegiatan lain yang sinergis dengan kegiatan perikanan budidaya. Aktivitas program pengembangan ini meliputi perencanaan paket wisata kawasan minapolitan yang diarahkan pada edutourism (wisata pendidikan) dan wisata kuliner.3 . d. harga tidak bisa bersaing serta kurangnya diversifikasi pasar. Persaingan harga dengan daerah lain merupakan permasalahan utama bagi para pelaku usaha kegiatan budidaya lele. 8. Program Pengembangan Sumberdaya manusia 8.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor dalam kegiatan budidaya masih sangat rendah. dan analisis proksimat pakan.3.

4. Program Pengembangan Industri Berbasis Sumber Daya Lokal c. proses kegiatan budidaya yang baik serta menyusun modul dan kurikulumnya. Program pengembangan sentra kawasan minapolitan lele. 8. program pengembangan kegiatan pendidikan dan pelatihan menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan informal mengenai bagaimana proses pembenihan yang baik.2.4 . Dengan demikian daya saing lele Bogor dapat meningkat dan mempermudah pemasaran Lele Bogor. training center.2. Strategi Pengembangan Pengolahan Produk Ikan Lele Strategi pengembangan pengolahan produk Ikan Lele diarahkan untuk meningkatkan mutu dan kualitas serta deversifikasi produk komoditi unggulan yaitu Ikan Lele. Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VIII . yaitu: a. Strategi Pengembangan Pusat Pelayanan Kawasan (Sentra Minapolitan) Dalam rangka untuk menjalan fungsi sebagai pusat pelayanan kawasan (minapolis) di Kecamatan Ciseeng diperlukan beberapa program untuk mendukung strategi tersebut. program ini meliputi sentra perkantoran. café dan restoran serta fasilitas pendukung lainnya. dan lain-lain.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor a. guest house. showroom. Promosi paket minawisata e.5. Pengembangan home industry pendukung kegiatan minawisata 8. Strategi lainya adalah peningkatan daya saing produk lele minapolitan dengan peningkatan kualitas produksi dan pembentukan merk/branding lele bogor dengan kualitas sebagai berikut: (i) bebas antibiotik. Program pengembangan produk olahan ikan dengan mengunakan lele sebagai bahan substitusi. Program Pengembangan Industri Rumah Tangga b. Program-program yang dapat dilakukan dalam rangka untuk menjawab strategi pengembangan pengolahan hasil budidaya lele adalah sebagai berikut a. Pembangunan dan pemeliharaan jalan wisata dan jalan produksi d. (ii) bebas bau lumpur. Perencanaan dan pengembangan atraksi paket minawisata c. b. Pembangunan dan peningkatan fasilitas umum pendukung kegiatan minawisata b. (iii) dipelihara tanpa menggunakan pakan limbah. Program pengembangan sebagai pusat pendidikan dan pelatihan. VIC.

2.8. Beberapa program yang dapat dilakukan dalam rangka Pengembangan Infrastruktur Dasar Dan Infrastruktur Perikanan adalah sebagai berikut: a.2. Program-program yang dapat dilakukan antara lain: a. dan c. Strategi ini adalah strategi yang dapat mendukung strategi strategi lainnya.5 . Bank memperoleh keuntungan berupa bunga (sistem bank Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VIII . Penyusunan/penguatan kelompok pembudidaya ikan yang meliputi dua kelompok besar yaitu (1) peningkatan efisiensi organisasi kelompok dan (2) peningkatan kualitas anggota kelompok 8.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor 8. pembesaran). 8. Peningkatan Sarana Pelayanan Pendukung Kegiatan bisnis Perikanan. Peningkatan kualitas dan pelayanan sarana dan prasarana transportasi. Peningkatan kualitas pelayanan jaringan irigasi.7. pengolah dan pemasaran. Strategi Pengembangan Pembiayaan Salah satu permasalahan dalam pengembangan kegiatan Minapoloitan bedasarkan hasil FGD adalah permasalahan keterbasatan modal. sehingga pengembangan strategi ini tidak terlepas dengan strategi lainnya dalam pengembangan kawasan minapolitan. Bank membantu pembiayaan namun untuk pengadaan barang tetap berasal dari penjual input produksi. Strategi Pengembangan Sistem Kelembagaan Program pengembangan kelembagaan ditujukan sebagai pendukung pengembangan kawasan minapolitan yang ditujukan baik pada penyusunan kelembagaan pengelola sentra/kawasan minapolitan dan penguatan penguatan kelompok budidaya (pembenihan. Beberapa strategi yang dapat dilakukan adalah pembentukan bank budidaya/koperasi budidaya : petani yang kesulitan input produksi dapat meminjam input produksi dari bank budidaya yang berkoordinasi dengan penjual input produksi dengan jaminan pembayaran sesudah panen (bank memiliki tim survey untuk memastikan apakah petani benar-benar membutuhkan input produksi atau tidak). Sehingga strategi ini sangat penting untuk memecahkan permasalahan tersebut. Penyusunan kelembagaan pengelola sentra/kawasan minapolitan b.2. b.6. Strategi Pengembangan Infrastruktur Dasar Dan Infrastruktur Perikanan Strategi pengembangan infrastuktur dasar dan infrastuktur perikanan adalah salah strategi yang penting dalam pengembangan kegiatan minapolitan.

6 .Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor konvensional) atau bagi hasil (bank syariah). Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VIII . Untuk pembentukan bank ini dapat bekerjasama dengan bank yang sudah ada.3.1. maka dapat disusun table indikasi program yang perlu dilakukan dalam jangka waktu 5 (lima) tahunan. Indikasi Program Berdasarkan arahan dan strategi pengembangan program minapolitan. Indikasi program tersebut dapat terlihat pada Tabel 8. 8.

pakan. c. b. Pembangunan fisik gedung pabrik Pembangunan kolam penampungan bahan baku Pembangunan unit pemanfaatan hasil sampingan kegiatan pengolahan (kebun hortikultura organik. c. meliputi : Peningkatan Sarana Pelayanan Pendukung Kegiatan bisnis Perikanan 7 Program Pengembangan Kelembagaan a.7 . f. Peningkatan kualitas dan pelayanan sarana dan prasarana transportasi Peningkatan kualitas pelayanan jaringan irigasi. e. b. c. Pengembangan bank induk (broodstock Center) Pembangunan fisik laboratorium terpadu untuk analisis air. Pembangunan fasilitas umum (parkir area) Program Pengembangan Infrastruktur Dasar Dan Infrastruktur Perikanan a. e. d. c. café dan restoran Pembangunan training center Pembangunan VIC Pembangunan guest house 6 f. 1 Jenis Kegiatan Program Pengembangan Budidaya Ikan Lele a. Penyusunan kelembagaan pengelola sentra/kawasan minapolitan Penyusunan/penguatan kelompok pembudidaya ikan. b. c. h. b. pengolah dan pemasaran 8 Strategi Pengembangan Pembiayaan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VIII . b. kolagen) Pembangunan fasilitas umum Pengadaan peralatan pengolahan (mesin pengolah ikan) Uji coba peralatan dan mesin produksi Uji coba produksi dan pemasaran (skala terbatas) Pengembangan pemasaran hasil produksi olahan ikan 5 Program Pengembangan Sentra Kawasan Minapolitan Lele a. Program Pengembangan Pusat Informasi Pasar Program Pengembangan Sumberdaya manusia 3 Program Pengembangan Minawisata Lele a. Pembangunan Test farm Program Pengembangan Jaringan Pemasaran Berbasis Teknologi Informasi a. Pembangunan dan peningkatan fasilitas umum pendukung kegiatan minawisata b. d. Pembangunan kantor Pembangunan showroom. Perencanaan dan pengembangan atraksi paket minawisata Pembangunan dan pemeliharaan jalan wisata dan jalan produksi Promosi paket minawisata Pengembangan home industry pendukung kegiatan minawisata 4 Program Pengembangan Pengolahan Hasil Budidaya Lele a. b. d. penyakit dan pakan Penyediaan peralatan dan perlengkapan laboratorium terpadu Tahun Kerja I II III IV V 2 d.Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Tabel 8.1. g. e. Indikasi Program Dalam Waktu 5 (lima) Tahunan No.

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VIII .8 .

Masterplan Minapolitan Kabupaten Bogor Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan INSTITUT PERTANIAN BOGOR VIII .9 .

Peta Potensi Budidaya Lamp.1   .LAMPIRAN Lampiran 1.

Peta Produksi Lamp.Lampiran 2.2   .

3   . Sketsa Aliran Irigasi di Lokasi Irigasi BCBTS BTP 5 ki Aliran ke D I 1) Petak Tersier TP5 ki. DI Sasak 2) Petak Tersier CBTS 7 ki. DI Sasak Lamp. DI Sasak   Kolam       Sawah   4) Petak Tersier SK 8 ki. DI Cibeuteung-I BSK 8 ki Kolam   BTP 1 3) Petak Tersier TP1 ka.Lampiran 3.

Skema Daerah Irigasi   Keterangan : Panjang saluran: 1700 m CBTS 7 KI SALURAN KALI CBTS 4 KA CBTS 5 KA CBTS 3 KA CBTS 6 KA CBTS 2 KA 21 Ha 15 Ha CBTS 7 KA 13 Ha 6 Ha Skema Daerah Irigasi Cibeuteung-1 6 Ha Luas areal : 228 Haluran   CBTS 1 KA 70 Ha 7 Ha 90 Ha Lamp-4    .Lampiran 4.

BSK3 Keterangan : Luas areal : 1088 Ha Panjang saluran : 16991 m .        BTP 5 Ki BTP 8 Ki 7 Ha SALURAN SEKUNDER BTP 10 Ki 10 Ha BSK 3 BTP 12 TG 24 Ha 6 Ha BTP 11 Ka BTP 1 Ka BTP 2 Ka BTP 3 Ka BTP 9 Ka 38 Ha 11 Ha 10 Ha BTP 4 Ka 3 Ha 6 Ha BTP 6 Ka 10 Ha BTP 12 Ka BTP 7 Ka 2 Ha 4 Ha 3 Ha Lamp-5    Skema Daerah Irigasi Sasak.

PARUNG   Luas areal: 1088 Ha Panjang saluran: 16991 m             . CISEENG BSK 10 Keterangan : 8 Ha BSK 11 6 Ha BCG 1 Ki BSK 12 6 Ha 16 Ha   SALURAN SEKUNDER COGREG BSK 14 40 Ha Skema Daerah Irigasi Sasak BSK4 Lamp-6  2 Ha BCG 2 Ka BCG 3 Ki 9 Ha BCG 3 Ka 13 Ha KEC.BSK 4 Ki 23 Ha   BSK 4     BSK 5 Ki 32 Ha BSK 6 BSK 6 Ki 11 Ha BSK 7 BKP 1 Ki 45 Ha BKP 1 BKP 2 Ki 57 Ha BKP 3 Ki 4 Ha BKP 4 BKP 5 BKP 6 Ki 7 Ha BKP 8 7 Ha BSK 5 BKP 2 BKP 3 A  SALURAN INDUK SASAK             BSK 8 158 Ha BSKP 9 162 Ha BKP 4 Ka 3 Ha BKP 5 Ka 4 Ha BKP 7 Ka 5 Ha BKP 9 Ka 5 Ha SALURAN SEKUNDER KURIPAN KEC.

A                       BKP 10 Ka 37 Ha 14 Ha BKP 10 Ki BKP 11 Ka 10 Ha   BKP 12 Ki 5 Ha BKP 13 Ki 4 Ha BKP 14 Ki 15 Ha BKP 15 Ka 25 Ha BKP 16 Ki 29 Ha BKP 17 Ka 20 Ha Skema Daerah Irigasi Sasak BSK4 (lanjutan) Lamp-7  77 Ha BKP 18 Ka 25 Ha BKP 19 Ki 50 Ha BKP 19 TG               .

 CURUG  Ds. Rw. RAWA KALONG  Keterangan : Luas areal : 1550 Ha Skema Daerah Irigasi Curug Serpong Panjang saluran : 5800 m Lamp-8    17 Ha 2 Ha BCS 10 te BCS 1 Ka BCS 8 K L / dt . PENGASINAN  PROPINSI BANTEN  Ds.KECAMATAN GUNUNG SINDUR   Ds.  KALONG  Ds. CURUG  L / dt L / dt L / dt BCS 5 Ki BCS 6 Ki L / dt L / dt L / dt BCS 2 Ki BCS 7 Ki BCS 3 Ki BCS 4 Ki BCS 9 Ki L / dt L / dt 10 Ha 15 Ha 26 Ha 25 Ha SITU  SAL INDUK CURUG SERPONG  KALI ANGKE  L / dt 32 Ha 25 Ha 3 Ha L / dt BCS 10 Ka Ds.

Peta Sarana Prasarana Lamp-9   .Lampiran 5.

Lampiran 6. Peta Obyek Wisata Alternatif 1  Lamp-10   .

Alternatif 2 Lamp-11   .

Peta Potensi Budidaya Lamp-12   .Lampiran 7.

Peta Pola Keterkaitan Kawasan   Lamp-13   .Lampiran 8.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful