EVALUASI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BAGI PENUTUR ASING

Prosiding Semiloka Nasional Pengujian Bahasa Pusat Bahasa, Kemendiknas, 2010 Liliana Muliastuti, M.Pd. *)
PENGANTAR

Belajar bahasa Indonesia sebagai bahasa asing pada kebanyakan orang asing dapat dikategorikan sebagai belajar bahasa kedua. Para siswa asing tersebut sudah memiliki bahasa pertama (bahasa ibu) sebelum mereka belajar bahasa Indoneia. Dengan kondisi demikian, tentu saja pengajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA)menjadi berbeda dibandingkan dengan pengajaran bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama (B1). Pengajaran BIPA lebih kompleks dan rumit karena siswa asing tersebut berasal dari berbagai negara. Pengajar BIPA harus memiliki kompetensi berbahasa Indonesia dan kompetensi sebagai pengajar bahasa Indonesia. Tanpa kompetensi tersebut, pengajar akan banyak menemui kendala. Dengan kompetensi sebagai pengajar BIPA, para pengajar tentunya juga harus memiliki kemampuan dalam menyusun evaluasi BIPA. Berkaitan dengan evaluasi pembelajaran BIPA, permasalahan yang sering dihadapi oleh pengajar, antara lain: bentuk, jenis dan kualifikasi alat ukur yang digunakan. Untuk program BIPA, para penyelenggara sudah harus menyiapkan tes yang valid sejak penyelenggara mulai menerima peserta program. Melalui tes tersebut, penyelenggara mengharapkan dapat mengklasifikasikan siswa pada kelas yang tepat. Penyelenggaraan pengajaran BIPA biasanya mengklasifikasikan peserta atas kelas dasar, menengah, dan mahir. Setiap kegiatan pembelajaran memerlukan acuan untuk memantau keberhasilannya. Dalam ilmu pendidikan kegiatan tersebut disebut dengan istilah evaluasi. Kegiatan evaluasi merupakan proses sistematis yang terdapat dalam dunia pendidikan dan pengajaran, termasuk pengajaran bahasa Indonesia sebagai bahasa asing (selanjutnya disingkat BIPA). Widodo (1995:6) dalam Imron Rosidi mengatakan bahwa pengajaran BIPA seringkali dihadapkan pada permasalahan evaluasi pembelajaran, baik evaluasi proses maupun evaluasi hasil. Dalam evaluasi proses pembelajaran, banyak hal yang berpengaruh terhadap kelangsungan proses belajar mengajar. Berkaitan dengan evaluasi hasil pembelajaran, permasalahan yang sering dihadapi oleh pengajar, antara lain: bentuk, jenis dan kualifikasi alat ukur yang digunakan. Kondisi seperti ini akan selalu dialami pengajar ketika melaksanakan tes penentuan level, baik untuk kepentingan placement tes, pre tes, maupun tes akhir program (Imron Rosidi, 2009).

1

serta (3) menyimak. (4) mengetahui keberhasilan proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan. dan menyediakan informasi atau data yang diperlukan sebagai dasar untuk membuat alternatif keputusan. dan keterampilan. (2) apakah mereka bersikap sebagaimana yang diharapkan. Oleh sebab itu. (3) apakah mereka telah memiliki keterampilan berbahasa. sikap. Evaluasi dalam pengertian luas dapat diartikan sebagai suatu proses merencanakan.Berikut ini adalah hakikat evaluasi yang dikemukakan Imron Rosidi dalam makalahnya “Prosedur dan Teknik Evaluasi Pembelajaran Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Asing”. Tanpa pengetahuan tentang hasil tidak dapat terjadi perbaikan yang sistematis dalam belajar. Melalui pengamatan. pengukuran kompetensi berbicara dan menulis dilakukan. Nontes digunakan untuk menguji kompetensi (1) berbicara dan (2) menulis dengan bentuk penugasan. 1992). 1984) bahwa pengukuran merupakan langkah awal pengajaran. 2 . Bila tidak demikian. (2) kosakata dan membaca. Semua bentuk evaluasi tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi keberhasilan pembelajaran BIPA. Mengenai hubungan antara evaluasi dengan pengajaran. pengetahuan. Padahal. setiap kegiatan evaluasi atau penilaian merupakan suatu proses yang sengaja direncanakan untuk memperoleh informasi atau data (Purwanto. Bentuk alat ukur yang berupa tes dapat digunakan untuk menguji kompetensi (1) struktur dan ekspresi tulis. 1992) mengemukakan bahwa evaluasi ialah penafsiran terhadap pertumbuhan dan kemajuan siswa ke arah tujuan-tujuan atau nilai-nilai yang telah ditetapkan dalam kurikulum. dan (5) menentukan kebijakan selanjutnya. Untuk melakukan penskoran digunakan lembar pengamatan yang dilengkapi skala berjenjang. Dalam hubungannya dengan kegiatan pembelajaran. dan keterampilan yang diharapkan dari pebelajar tidak dapat diketahui dengan pasti. Informasi atau data yang dikumpulkan haruslah mendukung tujuan evaluasi yang direncanakan. Bentuk alat ukur evaluasi dapat berupa tes dan nontes. memperoleh. Tanpa umpan balik tidak akan diperoleh pengetahuan yang baik tentang hasil. kepastian hasil evaluasi inilah yang dijadikan titik tolak untuk menentukan kebijakan selanjutnya. Melalui evaluasi. disebutkan oleh Parnel (Purwanto. Gronlund (1976) merumuskan pengertian evaluasi sebagai suatu proses sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan tentang ketercapaian tujuan pengajaran. Tujuan pengajaran BIPA sebagaimana tujuan pengajaran lainnya meliputi ranah pengetahuan. Tanpa pengukuran tidak akan terjadi penilaian. Tanpa penilaian tidak akan terjadi umpan balik. Wrighstone (dalam Purwanto. sikap. model evaluasi yang diterapkan dalam BIPA juga harus mengacu pada ketiga ranah tersebut. seorang pengajar dapat (1) mengetahui apakah pebelajar mampu menguasai materi yang telah diajarkan. Dengan demikian.

dan struktur. Klasifikasi tes pun dapat dilakukan berdasarkan aspeknya. kosakata. tes dapat digunakan untuk mengetahui keefektivan pendekatan. menurut Harris (1967:2-4) tes bahasa mempunyai enam tujuan yang berhubungan dan tidak saling mengecualikan. Bidang kebahasaan terdiri dari sub-bidang ucapan/ejaan. (5) untuk mengukur luas pencapaian tujuan belajar pada siswa. dan menulis. Dalam hal tes bahasa. 1) Evaluasi Kebahasaan Berikut ini adalah tes yang digunakan sebagai alat evaluasi untuk ranah kebahasaan: Tes Ucapan dan Ejaan Tes ucapan adalah tes untuk menilai kecepatan dan ketepatan mengucapkan bunyi-bunyi bahasa dan mengidentifikasi bunyi-bunyi yang didengar atau diperdengarkan. (4) untuk mengukur bakat belajar. dan menulis. Pengembangan alat tes untuk menilai pengucapan masih menjadi 3 . yaitu: (1) untuk menentukan kesiapan siswa menerima suatu program pelajaran. (2) untuk mengelompokkan atau menempatkan siswa pada kelas yang tepat. Sudah disebutkan di atas bahwa tes dalam pengajaran BIPA juga dapat dikelompokkan atas tes kebahasaan dan tes keterampilan berbahasa. metode.JENIS DAN TUJUAN TES DALAM PEMBELAJARAN BIPA Tes adalah alat. tes penempatan. tes diagnostik. berbicara. Pemisahan tersebut dalam praktiknya tidak mutlak sebab di dalam keempat kecakapan berbahasa itu diterapkan ucapan. tes dapat dibedakan menjadi beberapa jenis. dapat pula diklasifikasikan tes berdasarkan empat keterampilan berbahasa: tes menyimak. membaca. dan tes penguasaan. tes kebahasaan dan tes keterampilan berbahasa. tes masuk. dan (6) untuk menilai keefektivan pengajaran. Tes ejaan adalah tes yang digunakan untuk menilai ketepatan menuliskannya. serta fasilitas yang digunakan dalam proses pembelajaaran. Bagi siswa. tes hasil prestasi belajar. baik pembelajar maupun pebelajar dalam mencapai tujuannya. prosedur evaluasi yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan testee dengan menggunakan pertanyaan atau tugas yang harus dijawab atau dikerjakan. Berikut ini akan dibicarakan masing-masing sub-bidang tes bahasa yang dapat diterapkan dalam pengajaran BIPA. membaca. Bidang kecakapan berbahasa meliputi : mendengarkan. (3) untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan khusus individu yang dites. tes dapat digunakan untuk mengetahui seberapa besar hasil yang telah dicapai. misalnya: tes seleksi. kosakata. yaitu kemampuan yang telah diperoleh. Tidak terlepas dari kepentingan tes dalam belajar-mengajar bahasa. tes keberhasilan. Berdasarkan tujuannya. sedangkan bagi pengajar. teknik. berbicara. dan struktur. tes perkembangan. Tes bahasa sangat penting dalam pembelajaran bahasa karena tes dapat memonitor keberhasilan.

ketiga. membaca dan menulis. semua pilihan berhubungan dengan bidang atau kegiatan yang sama. butir soal harus bebas dari kesalahan ejaan. Pengetahuan tentang kosakata merupakan hal yang sangat penting untuk mengembangkan dan menunjukkan keterampilan berbahasa: mendengarkan. Tes kosakata umumnya menggunakan soal bentuk objektif pilihan ganda. belum ada ucapan baku dan banyaknya variasi ucapan dalam bahasa Indonesia juga tidak membedakan arti. 2. Namun demikian. tes dalam bentuk definisi dengan menggunakan kata-kata sederhana yang mudah dipahami. Dalam menyusun tes kosakata Harris (1969:54-57) menyarankan hal-hal berikut ini: 1. yaitu kata-kata yang akan digunakan dalam berbicara dan menulis atau yang akan digunakan khusus untuk memahami bacaan. tes ucapan dan ejaan merupakan bagian tes penting mengingat tanpa penguasaan dua hal tersebut komunikasi akan terhambat. Kendala yang dialami para siswa BIPA pada kedua aspek ini biasanya adalah kebiasaan dalam B1 yang akan terbawa ke dalam bahasa Indonesia yang sering kita sebut dengan istilah interferensi. definisi atau parafrase. tes ucapan produktif harus dilaksanakan secara individual yang tentu akan makan banyak waktu dan tenaga (Y. Namun. 3. tekanan bunyi dalam bahasa Indonesia tidak membedakan arti. kedua. Tes Kosakata Tes kosakata bertujuan untuk mengukur pengetahuan dan produksi katakata yang digunakan dalam berbicara dan menulis. Dalam hal ini perlu diperhatikan perbedaan antara kemampuan produktif (berbicara dan menulis) dan kemampuan reseptif (mendengarkan dan membaca). hal itu tidak selamanya berarti bahwa kosa kata harus diteskan secara terpisah (Hughes. pada umumnya digunakan daftar kata yang dibuat berdasarkan frekuensi pemakaiannya secara nyata. Pertama.wacana diskusi dengan beberapa alasan. Tes kosakata dapat dilakukan tersendiri. Karmin. isian dan gambar. berbicara. 2000). Meskipun kamus dapat digunakan dalam memilih kata-kata yang akan diteskan. Menurut Harris (1969:48) yang mula-mula harus diterapkan adalah apakah kosakata yang akan diteskan itu kosakata aktif atau kosakata pasif. dapat juga dilakukan secara terpadu dengan keempat keterampilan itu. jika memungkinkan. melibatkan sinonim. panjang pilihan jawaban lebih kurang sama. 4. 4 . Untuk siswa BIPA. 5. semua alternatif jawaban tes memiliki tingkat kesukaran yang lebih kurang sama. pengajar BIPA hendaknya tetap melakukan tes tersebut untuk dapat mengetahui kompetensi siswa dalam ucapan dan ejaan. 1989:146).

Contoh dalam pelaksanaan tes di atas misalnya. Bagi siswa BIPA. dengan demikian tes fonologi tidak lepas dari kata. dengan konteks wacana tadi. bentuk kata menjadi mantap dan sempurna setelah dipakai di dalam struktur sintaksis. tes tersebut dapat terintegrasi pula dengan tes keterampilan berbahasa lainnya. tes diberikan. Karena fonem belum mengandung arti. b. keterkaitan konteks dengan tes akan memudahkan siswa berpikir untuk memilih kosakata atau kalimat yang tepat. Namun. tes rumpang (cloze test) (Y. melengkapi kalimat (sederhana).Dalam pengajaran BIPA. tetapi terintegrasi dalam konteksnya. sebelum siswa diminta untuk melengkapi kalimat harus terlebih dahulu ada wacana yang dibaca atau disimak siswa. mengingat tujuan siswa BIPA adalah belajar berbahasa bukan bertatabahasa. Fonem merupakan unsur terkecil mendasari pembentukan unsur di atasnya walaupun fonem belum mengandung arti. Masing-masing dengan porsinya yang memadai. 2000). klausa. Hal itu terjadi karena dalam hirarki unsur bahasa. atau kalimat). pembentukan dan pemakaian kata. Tes morfologi dapat diberikan dalam satuan sintaksis (kelompok kata. Namun. dan c. 5 . Adapun butir-butir soal tesnya dapat berbentuk: a. untuk siswa BIPA tingkat dasar yang tentunya masih berhubungan dengan tema-tema yang dekat dengan kehidupannya (tema konkret) akan sulit mengerjakan tes kosakata tersebut. isi tes akan mencakup pemakaian bunyi. dan sintaksis. Jika siswa telah menguasai tema hukum. Tes tatabahasa sebaiknya tidak dilaksanakan tersendiri. Setiap kosakata terkait dengan tema-tema tertentu. klausa. Dengan demikian. Tes Struktur (Tata Bahasa) Dalam ilmu bahasa disepakati secara umum bahwa tata bahasa meliputi dua cabang: morfologi dan sintaksis. Selanjutnya. Selanjutnya. terintegrasinya tes bahasa dengan keterampilan berbahasa akan sangat membantu siswa dalam berkomunikasi lisan maupun tulisan. melengkapi kalimat (pilihan ganda). fonem merupakan salah satu unsur. Tes kosakata yang tidak relevan dengan tema yang telah dikuasai siswa akan menimbulkan frustasi pada siswa. dalam buku-buku tata bahasa Indonesia (tradisional) dibicarakan juga bidang fonologi. dan kalimat. maka kosakata yang terkait dengan bidang hukum dapat diujikan. Dengan demikian. Di samping itu. Sesuai dengan ruang lingkup tata bahasa. kelompok kata. tes kosakata tentu harus disesuaikan dengan tematema yang telah dikuasai siswa. Tanpa hal tersebut. morfologi. Karmin. tes struktur terdiri atas fonologi. siswa akan sangat sulit mengerjakan tes tersebut.

e) Menjawab suat pertanyaan dari suatu soal (objektif. Rekaman yang buruk akan menyebabkan hasil tes tidak valid. peristiwa. g) Memperbaiki ucapan-ucapan yang salah yang tidak sesuai dengan bahasa target (Imron Rosidi. peserta tes diharapkan dapat merespons “sinyal” fonologi. c) Menyebutkan/menuliskan kembali suatu hal (kelahiran. nama sesuatu. b) Menyebutkan/menuliskan kembali deskripsi atau uraian suatu peristiwa. benda. 6 . Dalam tulisan ini yang dimaksud tes mendengarkan adalah tes yang tidak hanya untuk mengetahui apakah seseorang mendengar atau tidak. atau pernyataan tentang fakta. menganalisis.com. a) Menyebutkan/menuliskan kembali suatu informasi sederhana (fonem. gramatikal. Karmin. Sebelum tes. Keterampilan menyimak pada hakikatnya lebih bersifat kognitif dengan aspek yang lebih tinggi. keadaan. Kemampuan ini mencakup menerima. tes menyimak selalu dilakukan dengan media audio atau audiovisual. dan lain-lain). pengalaman kawankawan. lafal. keadaan sesuatu.2) Evaluasi Keberbahasaan Berikut ini adalah uraian untuk jenis-jenis tes yang digunakan dalam evaluasi keberbahasaan: Tes Menyimak/ Mendengarkan Menyimak merupakan keterampilan berbahasa yang pertama kali dikuasai anak sebelum menguasaai keterampilan berbicara. Jawaban mereka akan menunjukkan sejauhmana mereka dapat memahami makna dari unsur yang disinyalkan bila digunakan dalam komunikasi verbal (Harris. d) Menyebutkan/menuliskan kembali suatu cerita. 2000. f) Menyimpulkan tema dan unsur-unsur lainnya dari sebuah cerita. jumlah. Melalui tes ini. dan leksikal secara serentak. pengajar harus terlebih dahulu menyiapkan perangkat tes dengan baik sehingga tes dapat berjalan lancar. pertanyaan. Pada umumnya. dan lain-lain. Menyimpulkan suatu percakapan.blogspot. tetapi untuk mengukur kemampuan seseorang memahami bahasa lisan yang didengarnya. Yang harus diingat oleh para pengajar BIPA adalah pembicara yang terekam pada media tersebut harus jelas baik suara. dan intonasinya. dan menulis. membaca. dan menyimpulkan informasi lisan yang disampaikan dalam bahasa target.1 Oktober 2009).. atau esai bebas). sebab akibat. esai berstuktural. Materi dalam tes ini dapat berupa satu kalimat perintah. dapat juga berupa simulasi percakapan singkat atau uraian wacana ekspositori. 1969:35) dalam Y. memahami. Teknik evaluasi yang dapat dilakukan dipaparkan berikut. dan lain-lain).

5. dan menyimpulkan informasi. ilmu pengetahuan seecara lisan. menganalisis. 4. keadaan dalam bahasa target. a) Membaca dengan lafal dan intonasi yang tepat. Namun. b) Menjawab pertanyaan-pertanyaan. Tes berbicara dapat dilakukan dengan berbagai cara di antaranya : tes jawaban terbatas.blogspot. Halim (1982). cerita.com. Kemampuan berbicara merupakan keterampilan yang rumit karena melibatkan empat atau lima unsur: 1. Tentu saja semua itu dilaksanakan secara lisan dan individual. tetapi juga menuntut kemampuan menggunakan perangkat kebahasaan dan nonkebahasaan. Teknik evaluasi yang dapat digunakan untuk mengukur kemampuan membaca dipaparkan berikut. Evaluasi keterampilan berbicara dilaksanakan untuk mengetahui kemampuan pebelajar dalam menggunakan bahasa target secara lisan untuk menyampaikan pikiran. Melakukan wawancara. 1974 :136) dan Harris dapat juga tes berbicara dilaksanakan secara tertulis dengan bentuk objektif yang dapat menunjukkan bukti-bukti tidak langsung mengenai kemampuan berbicara seseorang. menurut Amran Halim (Halim. (3) ketepatan lafal dan intonasi ketika membaca dalam bahasa target. mengklafikasi. Tes Membaca Evaluasi keterampilan membaca dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan pebelajar (1) memahami informasi. Menceritakan gambar. tata bahasa kosakata kefasihan. (2) menerima. 2. maupun Madsen (1983) menyatakan bahwa tes berbicara umumnya dianggap sebagai tes yang paling sukar dilaksanakan. peristiwa yang didengar atau yang dibaca. peristiwa. Menjawab pertanyaan sederhana dan komplek. a) b) c) d) e) f) h) Mengucapkan huruf. 7 . Menceritakan kembali dialog. Teknik evaluasi yang dapat digunakan dipaparkan berikut. 3. dan wawancara (Madsen. Baik Harris (1969). dan keberadaannya. 1983 :12).. Bermain peran (Imron Rosidi. teknik terbimbing. Salah satu sebabnya adalah bahwa hakikat keterampilan berbicara itu sendiri sukar didefinisikan.1 Oktober 2009). dan pemahaman. perasaan.Tes Berbicara Keterampilan berbicara sangat komplek karena tidak hanya menuntut pemahaman terhadap masalah yang akan diinformasikan. ucapan. nama. Menyampaikan pengalaman.

membaca sekilas. pemilihan teks akan sangat menentukan hasil tes. jangan memilih teks yang terlalu bermuatan budaya. dan pilihan ganda dengan berbagai variasinya. di antaranya membaca cepat. blogspot. carilah kutipan yang mengandung banyak informasi terpisah. pilih teks dengan panjang teks sesuai dengan kemampuan siswa. diperlihatkan. dan bicara. a) Menulis huruf. 5. serta menggunakan perangkat bahasa target secara tulis. dan menyimpulkan bahan bacaan. b) Menyampaikan kembali secara tertulis suatu cerita. agar mendapatkan reliabilitas yang dapat diterima. nama. dan khusus. 3. f) Melengkapi bagian-bagian tertentu dari bacaan yang sengaja dihilangkan (teknik klose). jangan menggunakan teks yang telah dibaca oleh siswa. intonasi. 7. Bentuk soal tes dapat berupa soal tes objektif dengan jawaban benar-salah.. i) Menyusun kembali rangkaian informasi yang kurang tepat dari suatu bacaan dalam bahasa target (Imron Rosidi. Berikut ini adalah hal yang harus diperhatikan dalam memilih teks menurut Hughes (1989 : 119-120): 1. hindari teks yang merupakan informasi yang mungkin bagian dari pengetahuan umum calon. secara umum teknik mengetesnya adalah memberikan kutipan yang berisi masalah kepada peserta dan mengetes ketepatan pemahaman mereka (Lado. c) Menuliskan cerita berdasarkan gambar atau rangkaian gambar. peristiwa yang didengar atau dibaca. Kegiatan membaca ada bermacam-macam. ketepatan ucapan. Teknik evaluasi yang dapat digunakan dipaparkan berikut. perasaan. membaca keras. homonim. homofon. Karena tes ini berlaku untuk membaca pemahaman. masukkan kutipan sebanyak mungkin dalam teks itu. 1969 : 232). dan antonim. hiponim. jawaban singkat. dan kelancaran tidak diperhitungkan. 8 . ingatlah selalu spesifikasinya dan cobalah memilih sampel yang representatif dan jangan mengulang memilih teks yang semacam hanya karena teks tersebut yang tersedia. dan membaca pemahaman. dan keadaan yang diperdengarkan. 4. peristiwa. dan pikirannya. tetapi yang tidak terlalu mengagumkan atau mengganggu mereka. Tes Menulis Evaluasi keterampilan menulis bertujuan mengetahui kemampuan pebelajar dalam menyampikan ide. Semua tes tentu saja dilaksanakan secara tertulis.com. dialog. d) Mengindentifikasi. Untuk tes membaca pemahaman. pilihlah teks yang menarik bagi peserta. dengan demikian. mengklasifiksi. umum. 2. dan 8. sinonim. Pembedaan jenis membaca itu dapat didasarkan atas tujuannya atau tekniknya. e) Menentukan kata sulit. 6.1 Oktober 2009). untuk teks membaca sekilas.c) Menyimpulkan tema dan unsur-unsur lainnya dari cerita yang dibaca.

Dalam tes BIPA. maupun mahir.. Bagi pengajar BIPA. Menulis merupakan kegiatan berbahasa yang melibatkan berbagai kemampuan dan keterampilan secara terpadu. Tiga syarat terakhir yang dikemukakan oleh Lado itu pada dasarnya sama dengan kepraktisan. diksi. Di samping itu. Hal tersebut disebabkan oleh adanya tahap-tahap dalam pengajaran menulis. dan administrabilitas (Lado. dan kepraktisan (Harris. kosakata. salah satu di antaranya yang paling mudah adalah tes-ulang (retest). validitas kriteria (criterion validity). Validitas dibedakan atas validitas isi (content validity). Tes kemampuan menulis juga ada beberapa macam. Dalam ilmu pendidikan. peristiwa. Sedangkan tes objektif akan sulit mengukur ranah psikomotor untuk kemampuan menulis. menengah. tes bentuk objektif akan lebih baik. reliabilitas. Validitas menunjukkan apakah suatu alat ukur benar-benar mengukur sesuatu yang harus diukur dengan hasil yang tepat. Apabila jumlah peserta tes banyak. retorika.kriteria tersebut disebut dengan istilah validitas dan reliabilitas. validitas menunjukkan kualitas alat ukur. Sebagai alat ukur. di antaranya validitas. tes tersebut banyak kelemahannya. Dapat juga dikatakan bahwa validitas adalah tingkat ketepatan suatu tes mengukur apa yang dimaksudkan untuk diukur. logika. hal tersebut pun wajib menjadi perhatian pengajar.d) e) f) g) Melaporkan pengalaman. reliabilitas. pekerjaan. Akan tetapi.1 Oktober 2009). Jika pengajar akan mengukur kemampuan menulis narasi siswa. Reliabilitas dapat diuji dengan berbagai cara. Tes essai maupun tes objektif dapat digunakan baik untuk siswa BIPA tingkat dasar. Membuat karangan berdasarkan tema tertentu. tes harus memenuhi beberapa syarat. 1990:183-194). ketepatan isi. cara yang lain adalah tes bentuk lain (alternate form) dan belah-dua (split-half) 9 . seperti : mekanis. atau perjalanan secara tulis. Alternatif lain untuk menutupi kelemahahan tes tersebut adalah tes objektif. dan validitas konstruk (construct validity) (Wiersma. banyak faktor yang dapat dinilai dalam menulis. skorabilitas. dan gaya (Madsen. blogspot. Kriteria Tes BIPA Untuk dapat menyusun tes BIPA yang baik. Kedua jenis tersebut tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan. kedua bentuk tes hendaknya digunakan untuk dapat mengukur kemampuan menulis siswa. 1990) atau validitas. Davies. 1961).com. 1983 :101). ekonomi. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengukur kemampuan menulis seseorang adalah dengan tes menulis. 1969. Reliabilitas adalah ketetapan sampel. ada beberapa kriteria yang harus diperhatikan pengajar. Menjawab pertanyaan sederhana atau komplek secara tulis. tentunya tes bentu essai yang lebih tepat digunakan. Bersama dengan reliabilitas. tata bahasa. Yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaannya adalah tes harus mengukur sesuai tujuan. Menggunakan ejaan dan tanda baca secara tetap (Imron Rosidi.

Dengan kata lain. berikut ini adalah hal-hal yang perlu disiapkan untuk penyusunan tes bahasa untuk siswa BIPA: a) b) c) d) e) f) Analisis tujuan siswa belajar BIPA. David P. (1969). Jakarta: Wira Nurbakti. 1986:58-59). Y. (1983). dan Haroen Al Rasjid (1982). Oxford : Oxford University Press. walaupun tes itu reliabel dan valid. Menulis soal sesuai dengan kisi-kisi tes. Alan (1990). 2000. Ujian Bahasa.(Mueller. Mueller. Portofolio dalam Evaluasi dan Pembelajaran. A. Malang. Pengembangan Tes BIPA. Daniel J. New York : Teachers College Press. dari segi administrasi dan penyekoran apakah tes dapat dilaksanakan mengingat tenaga dan perlengkapan yang diperlukan. New York: McGrawHill Company. M. Tes yang reliabel akan dapat digunakan oleh siapa pun dan dalam waktu kapan pun. Principles of Language Testing. 2000). 1988. reliabilitas terkait dengan kekonsistenan hasil tes. apakah tes memerlukan banyak biaya dan waktu. Ramli. 29 April 1988. Makalah Prosiding Konferensi Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (KIPBIPA) III. Cambridge. Harris. Segi kemudahan interpretasi menyangkut apakah hasil tesnya. Harold S. Testing English as a Second Language. PENUTUP Berdasarkan uraian di atas. 10 . Makalah yang disampaikan dalam seminar Assesmen Portofolio. DAFTAR RUJUKAN Davies. masih relevan dan tidak kadaluarsa (Y. dan Uji coba soal agar valid dan reliabel. (1986). penyekoran. Dari segi ekonomi. dan interpretasi. kemudian administrasi. Madsen. Kepraktisan tes maksudnya adalah kemungkinan tes dapat dilaksanakan. Persiapkan silabus. Technique in Testing. Karmin. materi. Halim. Susun kisi-kisi tes sesuai tujuan pokok bahasa yang telah ada pada silabus. Massachuetts : Basil Blackwell. Siapkan tes dengan jenis yang sesuai dengan aspek yang akan diukur. Bandung.Jazir Burhan. Measuring Social Attitude. pada tanggal 11-13 Oktober 1999 di Kampus Universitas Pendidikan Indonesia. dan media sesuai tujuan belajar.. Kepraktisan menyangkut segi ekonomi. Karmin.

Rosidi. Model Alat Ukur Evaluasi BIPA. H. Makalah Prosiding Konferensi Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (KIPBIPA) III. 1995. Makalah yang disampaikan dalam Kongres Internasional BIPA pada tanggal 28-30 Agustus 1995 di Fakultas Sastra Universitas Indonesia.S. Tenaga Pengajar: Sosok dan Problematikanya dalam Penyelenggaraan Program Pembelajaran bahasa Indonesia bagi Penutur Asing. 11 .1 Oktober 2009 Suyata. 2000.com. pada tanggal 11-13 Oktober 1999 di Kampus Universitas Pendidikan Indonesia. Jakarta.. blogspot. Widodo. Bandung.Imron. P.

S2 IKIP Jakarta. Kegiatan Profesional a. b. Nama 2. Tutor Program Studi Bhs Indonesia sebagai subkomponen PGSM. h. 2005. i. Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia tahun 2003-2005 b. Penulis modul UT. Status perkawinan 9. Tempat/tgl lahir 6. j. tamat tahun 1991. e.DAFTAR RIWAYAT HIDUP 1. Busan Korea Selatan tahun 2000-2002. M. Kegiatan Akademik Penataran/Pelatihan: a. : 196805291992032001 : III/d : Lektor : Jakarta. Penatar Kurikulum 2004 Guru-Guru SMP DKI. Penatar Kurikulum 2004 Guru-Guru Pesantren Salafiyah Se. 11. Jabatan fungsional 5. f. Bekasi Timur Jawa Barat 10. Riwayat Pendidikan a.Indonesia. 2005. Jenis kelamin 7. Pengkaji materi dalam kegiatan penyusunan GBPP Isi program media Pustekkom. S1 IKIP Jakarta. k. c. Zamrud Utara VIII Blok M 3 No. Pangkat/gol 4. 19-28 Maret 2000 di Jakarta. Agama 8. UT. Penyusun soal ujian Bhs Indonesia. 12 . d. tamat tahun 1997. Alamat : Liliana Muliastuti. Dosen tamu di Sungsim College. Penataran Bahasa Indonesia tingkat Nasional. Magang Pengajaran BIPA di Univ Negeri Malang tahun 2003. Dirjen Dikti.Pd. Panitia Pelatihan Pendidikan Guru-Guru di wilayah DKI Jakarta. b. Pembantu Dekan I tahun 2005-sekarang 12. 29 Mei 1968 : Perempuan : Islam : Menikah : Jln. Narasumber pada Pelatihan Pengajaran BIPA untuk Guru-Guru Bahasa Indonesia SeIndonesia yang diselenggarakan oleh Seameo Qitep Language tahun 2009 dan 2010. g. 45 Kota Legenda. NIP 3.

13. d. 2009. 1996. Pembelajaran Keterampilan Menulis Jurusan Non-Bahasa Indonesia.a. g. h. 2007. d. h. Pengembangan Keterampilan Terpadu. 1998. Buku Pegangan Guru Bantu Bahasa Indonesia (Penerbit: Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah. Evektivitas Perkuliahan Pengajaran BIPA untuk Peningkatan Mutu BIPA (makalah yang disampaikan pada Semiloka Internasional Pengajaran BIPA di Jakarta . Buku Pegangan Guru Bahasa Indonesia untuk Kelas Akselerasi (Penerbit: Direktorat Pendidikan Luar Biasa. Linguistik Umum (Modul UT). Pengetahuan tentang Kosakata Baku Para Guru Bahasa Indonesia SLTP di DKI Jakarta. Telaah Buku Teks BIPA. Juli 2010 13 . 2000. 2004). Semantik (Modul UT). e. 1996. Narasumber pada Pelatihan Metodologi Pengajaran Bahasa Kedua untuk Guru-Guru Singapura yang diselenggarakan oleh P4TK Bahasa bekerja sama dengan Kementrian Pendidikan Singapura pada tahun 2009. Balai Bahasa Lombok. Pemahaman Guru terhadap Kurikulum Berbasis Kompetensi Bahasa Indonesia Sekolah Dasar. Jakarta. 2005. Pengembangan Bahan Ajar dan VCD Pembelajaran BIPA dengan dana DIPA UNJ pada tahun 2009 dan 2010. i. b. 2002. 2005). 1997. Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (Diktat). Juli 2007). Keterampilan Terpadu dalam Mengembangkan Materi Ajar Kebahasaan. Kesalahan Contoh-Contoh Bahasa Indonesia pada Kamus Korea-Indonesia Modern. Seminar Internasional Bahasa dan Sastra Indonesia. j. Penulisan Bahan Ajar/Makalah a. g. Mengajar BIPA bersama Penyanyi Indonesia (makalah yang disampaikan dalam Seminar Internasional BIPA VI tahun 2004 di Makassar). Banten). Kesalahan-kesalahan dalam Kamus Bahasa Indonesia-Korea Modern ( Sebuah Analisis Kesalahan). i. c. Hasil Penelitian a. (makalah yang disampaikan dalam Seminar Internasional BIPA VII tahun 2005 di Anyer. Telaah Kurikulum dan Buku Teks (Modul UT). 2002. 14. Meningkatkan Citra Indonesia melalui Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing. f. f. e. Instrumen pengembangan keterampilan terpadu. b. 2010. c.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful