. Diagnosis PPOK Diagnosis PPOK dimulai dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.

Diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan foto toraks dapat menentukan PPOK klinis. Apabila dilanjutkan dengan pemeriksaan spirometri akan dapat menentukan diagnosis PPOK sesuai derajat penyakit. 2.3.1. Anamnesis a. Ada faktor risiko Faktor risiko yang penting adalah usia (biasanya usia pertengahan), dan adanya riwayat pajanan, baik berupa asap rokok, polusi udara, maupun polusi tempat kerja. Kebiasaan merokok merupakan satu - satunya penyebab kausal yang terpenting, jauh lebih penting dari faktor penyebab lainnya. Dalam pencatatan riwayat merokok perlu diperhatikan apakah pasien merupakan seorang perokok aktif, perokok pasif, atau bekas perokok. Penentuan derajat berat merokok dengan Indeks Brinkman (IB), yaitu perkalian jumlah rata-rata batang rokok dihisap sehari dikalikan lama merokok dalam tahun. Interpretasi hasilnya adalah derajat ringan (0-200), sedang (200-600), dan berat ( >600) (PDPI, 2011). b. Gejala klinis Gejala PPOK terutama berkaitan dengan respirasi. Keluhan respirasi ini harus diperiksa dengan teliti karena seringkali dianggap sebagai gejala yang biasa terjadi pada proses penuaan. Batuk kronik adalah batuk hilang timbul selama 3 bulan yang tidak hilang dengan pengobatan yang diberikan. Kadangkadang pasien menyatakan hanya berdahak terus menerus tanpa disertai batuk. Selain itu, Sesak napas merupakan gejala yang sering dikeluhkan pasien terutama pada saat melakukan aktivitas. Seringkali pasien sudah mengalami adaptasi dengan sesak napas yang bersifat progressif lambat sehingga sesak ini tidak dikeluhkan. Untuk menilai kuantitas sesak napas terhadap kualitas hidup digunakan ukuran sesak napas sesuai skala sesak menurut British Medical Research Council (MRC) (Tabel 2.1) (GOLD, 2011). Tabel. Skala Sesak menurut Modified Medical Research Council (mMRC)

APE meter walaupun kurang tepat. diafragma mendatar. Pemeriksaan Penunjang a. suara napas vesikuler melemah atau normal.3. Radiologi (foto toraks) Hasil pemeriksaan radiologis dapat ditemukan kelainan paru berupa hiperinflasi atau hiperlusen. b. VEP1 merupakan parameter yang paling umum dipakai untuk menilai beratnya PPOK dan memantau perjalanan penyakit.Skala Sesak 1 2 3 4 5 Keluhan Sesak Berkaitan dengan Aktivitas Tidak ada sesak kecuali dengan aktivitas berat Sesak mulai timbul jika berjalan cepat atau naik tangga 1 tinggi Berjalan lebih lambat karena merasa sesak Sesak timbul jika berjalan 100 meter atau setelah beberapa menit Sesak bila mandi atau berpakaian 2. ronki. KVP. 2011). Pemeriksaan auskultasi dapat ditemukan fremitus melemah.2. pelebaran sela iga. terlihat penggunaan dan hipertrofi otot-otot bantu napas. tidak lebih dari 20%. 2. VEP1/KVP) Obstruksi ditentukan oleh nilai VEP1 prediksi (%) dan atau VEP1/KVP (%). Pada perkusi biasanya ditemukan adanya hipersonor. dan mengi (PDPI. terdapat cara bernapas purse lips breathing (seperti orang meniup). corakan bronkovaskuler meningkat. VEP1 prediksi.3. Spirometri (VEP1.3. Meskipun kadang-kadang hasil pemeriksaan radiologis . dan bila telah terjadi gagal jantung kanan terlihat distensi vena jugularis dan edema tungkai. ekspirasi memanjang. dan ruang retrosternal melebar. Apabila spirometri tidak tersedia atau tidak mungkin dilakukan. jantung pendulum. dapat dipakai sebagai alternatif dengan memantau variabilitas harian pagi dan sore. Pemeriksaan Fisik Temuan pemeriksaan fisik mulai dari inspeksi dapat berupa bentuk dada seperti tong (barrel chest).

Laboratorium darah rutin d. Analisa gas darah e. rasa lelah dan serangan eksasernasi semakin sering dan berdampak pada kualitas hidup pasien Spirometri -VEP1 ≥ 80% prediksi (nilai normal spirometri) -VEP1/KVP < 70% PPOK Sedang -VEP1/KVP < 70% -50% ≤ VEP1 < 80% prediksi PPOK Berat -VEP1/KVP < 70% -30% ≤ VEP1 < 50% prediksi .masih normal pada PPOK ringan tetapi pemeriksaan radiologis ini berfungsi juga untuk menyingkirkan diagnosis penyakit paru lainnya atau menyingkirkan diagnosis banding dari keluhan pasien (GOLD. penurunan aktivitas. Pada derajat ini biasanya pasien mulai memeriksakan kesehatannya Gejala sesak lebih berat. 2011) Berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan spirometri dapat ditentukan klasifikasi (derajat) PPOK. Pada derajat ini pasien sering tidak menyadari bahwa faal paru mulai menurun Gejala sesak mulai dirasakan saat aktivitas dan kadang ditemukan gejala batuk dan produksi sputum. 2009). Mikrobiologi sputum (PDPI. yaitu (GOLD. 2013) Tabel 2 Klasifikasi PPOK Klasifikasi PPOK PPOK Ringan Gejala Klinis Gejala batuk kronik dan produksi sputum ada tetapi tidak sering. c.

Bagaimana kondisi sesak napas saat naik tangga 5.PPOK Sangat Berat Gejala di atas ditambah tandatanda gagal napas atau gagal jantung kanan dan ketergantungan oksigen. Apakah ada kekhawatiran untuk keluar dari rumah akibat penyakit yang dideritanya 7. Kondisi dahak pasien 3. 0 artinya kondisinya sangat baik dan 5 berarti kondisinya sangat tidak baik. atau -VEP1 < 50% dengan gagal napas kronik 3. Pada derajat ini kualitas hidup pasien memburuk dan jika eksaserbasi dapat mengancam jiwa -VEP1/KVP <70% -VEP1 < 30% prediksi. Apakah ada rasa beraat di dada 4. Kondisi batuk pasien 2. Apakah ada keterbatasan dalam aktivitas sehari-hari 6. Apakah penderita dapat tidur dengan nyenyak atau tidak 8. Delapan pertanyaan tersebut adalah : 1. kualitas hidup penderita PPOK dapat dinilai dengan CAT dimana kuesioner terdiri dari 8 pertanyaan. Setiap pertanyaan memiliki nilai 0 sampai 5. Apakah pasien merasa bertenaga atau tidak . Penilaian kombinasi PPOK Menurut GOLD 2011.