Persalinan Normal 1.

Pengertian Persalinan Normal

Partus normal adalah persalinan spontan pada kehamilan cukup bulan pada ibu yang sehat melalui vagina dengan letak belakang kepala / ubun-ubun kecil, tanpa memakai alat / pertolongan istimewa, janin sehat serta tidak melukai ibu maupun bayi (kecuali episiotomi), berlangsung dalam waktu kurang dari 18 jam. 2. Inisiasi Persalinan

Beberapa teori yang menjelaskan dimulainya partus 1. Faktor humoral Plasenta menjadi tua sesuai dengan tuanya kehamilan, vili korealis mengalami perubahanperubahan sehingga kadar estrogen dan progesteron menurun. Progesteron merupakan penenang bagi otot-otot uterus. Menurunnya kadar kedua hormon ini terjadi kira-kira 1-2 minggu sebelum partus dimulai. 1. Pengaruh prostaglandin Kadar prostaglandin meningkat mulai pada usia kehamilan 15 minggu hingga aterm, terutama sewaktu partus. 2. Uterus dan nutrisi Keadaan uterus yang terus membesar dan menjadi tegang mengakibatkan terjadi iskemia otot-otot uterus, mengakibatkan terganggunya sirkulasi uteroplasenta sehingga plasenta mengalami degenerasi dan nutrisi pada janin akan berkurang. Berkurangnya nutrisi pada janin mengakibatkan hasil konsepsi akan segera dikeluarkan. 3. Penekanan saraf Penekanan pada ganglion servikale dari pleksus Frankenhauser akan membangkitkan kontraksi uterus. 4. Tindakan

sepert: merangsang fleksus Frankenhauser dengan memasukkan beberapa gagang laminaria dalam kanalis servikalis. penyuntikan oksitoksin. ada/tidak kelainan anatomik mayor. . ukuran/berat janin. keadaan kardiovaskular respirasi metabolik ibu. Otot-otot uterus tidak pernah mengadakan relaksasi sampai 0. Penolong dan Posisi. Berbeda dengan otot polos lain. Passage atau Keadaan jalan lahir. disebut amplitudo atau intensitas his yang mempunyai dua bagian: bagian pertama peningkatan tekanan yang agak cepat dan bagian kedua penurunan tekanan yang agak lamban. (3) sesudah itu terjadi relaksasi. Frekuensi his adalah jumlah his dalam waktu tertentu. 2. kapasitas untuk meningkatkan tekanan dan menyebabkannya tidak bergantung pada letak atau presentasi. pemkaian prostaglandin dan lain-lain. 3. Amplitudo dikalikan dengan frekuensi his dalam 10 menit menggambarkan keaktifan uterus dan ini diukur dengan unit Montevideo. Pada tiap kontraksi tekanan tersebut terus meningkat. tenaga dapat disebarkan ke segala arah dan karena susunannya tidak terorganisasi secara memanjang hal ini memudahkan pemendekan. presentasi. persalinan dapat pula dimulai. His dan Tenaga Lain Dalam persalinan Uterus terdiri atas 3 lapisan otot polos. Passanger Keadaan janin (letak. 3. yaitu lapisan longitudinal. Keberhasilan suatu persalinan ditentukan oleh 3 faktor P. sehingga tekanan di dalam ruang amnion masih terukur antara 6-12 mmHg.Dengan berbagai tindakan. kekuatan mengejan ibu. Power His (kontraksi ritmis otot polos uterus). His dikatakan sempurna jika terdapat: (1) kontraksi yang simetris. pemecahan ketuban. akan tetapi masih mempunyai tonus. yaitu: 1. Ditambah dengan faktor-faktor “P” lainya : Psikologi. (2) kontraksi paling kuat atau adanya dominasi di fundus uteri. pemendekan otot rahim lebih besar. lapisan dalam sirkular dan dantara dua lapisan ini terdapat lapisan dengan oto-otot yang beranyam “tikar”.

oto-otot korpus uteri menjadi lebih pendek daripada sebelumnya yang disebut sebagai retraksi. His yang sempurna dan efektif bila ada koordinasi dari gelombang kontraksi. Gelombang bergerak ke dalam dan ke bawah dengan kecepatan 2 cm tiap detik sampai ke seluruh uterus. misalnya kepala. yakni pada permulaan kala I. Aktivitas miometrium dimulai saat kehamilan. His paling tinggi di fundus uteri yang lapisan ototnya paling tebal dan puncak kontraksi terjadi simultan di seluruh bagian uterus. Oleh karena serviks kurang mengandung otot. Terjadilah hipoksia janin dan timbul gawat janin yang secara klinik dapat ditentukan dengan antara lain menghitung detak jantung janin ataupun dengan pemeriksaan karditokografi. dan pada relaksasi tonus uterus kurang dari 12 mmHg. lebih-lebih jika ada tekanan oleh bagian janin yang keras. Tiap his dimulai sebagai gelombang dari salah satu sudut di mana tuba masuk ke dalam dinding uterus yang di sebut sebagai pace maker tempat gelombang his berasal. sehingga kontraksi semetris dengan dominasi di fundus uteri dan mempunyai amplitudo 40-60 mmHg yang berdurasi 60-90 detik. . Sesudah 36 minggu aktivitas uterus lebih meningkat lagi sampai persalinan mulai. Sesudah tiap his. frekuansi his 3x dalam 10 menit. servik tertarik dan terbuka (terjadi penipisan dan pembukaan). Nilai yang adekuat untuk terjadinya persalian adalah 150 – 250 unit Montevideo. durasi ini terus meningkat dari hanya 20 detik pada permulaan partus sampai 60-90 detik pada akhir kala I atau pada permulaan kala II. maka aktivitas uterus adalah 50x3 = 150 mmHg unit Montevideo. Pada seluruh trimester kehamilan dapat dicatat adanya kontraksi ringan dengan amplitudo 5 mmHg yang tidak teratur. dengan jangka waktu antara kontraksi 2 sampai 4 menit. maka dapat mengurangi pertukaran oksigen. His sesudah kehamilan 30 minggu terasa lebih kuat dan lebih sering. His menyebabkan pembukaan dan penipisan di samping tekanan air ketuban pada permulaan kala I dan selanjutnya oleh kepala janin yang semakin masuk ke rongga panggul dan sebagai benda keras yang mengadakan tekanan pada serviks hingga pembukaan menjadi lengkap.Jika amplitude 50 mmHg. Jika persalinan mulai. Jika frekuensi dan amplitudo his lebih tinggi. frekuensi dan amplitudo his meningkat. Amplitudo uterus meningkat terus sampai 60 mmHg pada akhir kala I dan frekuensi his menjadi 2 sampai 4 kontraksi setiap 10 menit.

Pada kala III yang berlangsung 2 sampai 6 menit. Selaput ketuban biasanya pecah spontan pada saat akhir kala I. 6 jam. . 4. Persalinan kala II. bibir porsio serviks tidak dapat diraba lagi). persalinan dibagi menjadi 3 stadium : Persalinan kala I . Fase aktif dibagi lagi menjadi 3 subfase yaitu fase akselerasi.Pada kala II ibu menambah kekuatan uterus yang sudah optimum dengan adanya peningkatan tekanan intaabdomen akibat ibu melakukan kontraksi diafragma dan otot-otot dinding abdomen. tetapi frekuensinya berkurang. Fase laten : pembukaan sampai mencapai 3 cm. berawal sejak adanya kontraksi uterus yang teratur sampai dilatasi servik lengkap. Pembagian Fase / Kala Dalam Persalinan Berdasarkan hasil penelitian oleh FRIEDMAN. Sesudah 24 jam pasca persalinan intensitas dan frekuensi his menurun. Fase aktif terbagi atas :  Fase akselerasi  Fase dilatasi maksimal (sekitar 2 jam). berlangsung sekitar 8 jam. KALA 1 – PERSALINAN :  Dimulai  Berakhir pada waktu serviks membuka karena his pada waktu pembukaan serviks telah lengkap (pada periksa dalam. kala persalinan plasenta. berlangsung sekitar (sekitar 2 jam). pembukaan 3 cm sampai 4 cm. setelah anak lahir kekuatan his tetap ada untuk pelepasan dan pengeluaran uri. dengan demikian kepala/bokong janin didorong membuka difragma pelvis dan vulva. pembukaan 4 cm sampai 9 cm. 2. yaitu : 1. sejak dilatasi servik lengkap sampai anak lahir Persalinan kala III. Terbagi menjadi 2 fase : fase laten ( dilatasi sampai dengan 3 – 4 cm ) dan fase aktif ( dilatasi servik 4 cm sampai lengkap ). Terdapat 2 fase pada Kala 1 ini. Hal ini disebabkan aktivitas uterus menurun. fase dilatasi maksimal dan fase deselerasi. amplitudp his masih tinggi ±60-80 mmHg. Fase aktif : pembukaan dari 3 cm sampai lengkap (+ 10 cm).

ostium internum dan eksternum membuka bersamaan (inspekulo ostium tampak berbentuk seperti garis lebar)  Periode Kala 1 pada primigravida lebih lama (+ 20 jam) dibandingkan multipara (+14 jam) karena pematangan dan pelunakan serviks pada fase laten pasien primigravida memerlukan waktu lebih lama. Fase deselerasi (sekitar 2 jam). . dan akibat pergeseran antara selaput ketuban dengan dinding dalam uterus. sedangkan pada multipara serviks telah lunak akibat persalinan sebelumnya. pembukaan 9 cm sampai lengkap (+ 10 cm). ostium internum membuka terlebih dahulu daripada ostium eksternum (inspekulo ostium tampak berbentuk seperti lingkaran kecil di tengah). frekuensi 2-4 kali / 10 menit. Selaput ketuban pecah spontan (beberapa kepustakaan menyebutkan ketuban pecah dini jika terjadi pengeluaran cairan ketuban sebelum pembukaan 5 cm). akibat terbukanya vaskular kapiler serviks. Serviks terbuka sampai 3 cm.  Sifat His pada Kala 1 : Timbul tiap 10 menit dengan amplitudo 40 mmHg. lama 60-90 detik. Terjadi peningkatan rasa nyeri. sedangkan pada multipara. pematangan dan pembukaan serviks (cervical effacement) Perbedaan  Pada proses pada primigravida dan multipara : primigravida terjadi penipisan serviks lebih terlebih dahulu sebelum terjadi pembukaan. sehingga langsung terjadi proses penipisan dan pembukaan. amplitudo makin kuat sampai 60 mmHg. Frekuensi dan amplitudo terus meningkat. Ostium uteri internum dan eksternum terbuka sehingga serviks menipis dan mendatar.  Pada primigravida. lama 20-30 detik. Serviks terbuka sampai lengkap (+10cm). KALA 2 PERSALINAN :  Dimulai pada saat pembukaan serviks telah lengkap dan berakhir pada saat bayi telah lahir lengkap.  Peristiwa penting Kala 1 : Keluar lendir / darah (bloody show) akibat terlepasnya sumbat mukus (mucous plug) yang selama kehamilan menumpuk di kanalis servikalis.

Desensus terjadi sepanjang kala I (fase deselerasi) hingga kala II. Pada Kala 2 ini His menjadi lebih kuat. dengan kontraksi otot-otot dinding abdomen dan diafragma.5 jam. frekuensi 3-4 kali / 10 menit. selanjutnya dilahirkan badan dan anggota badan.  - Gerakan-gerakan utama dari mekanisme persalinan adalah: 1. Selaput ketuban mungkin juga sudah pecah/ baru pecah spontan pada awal Kala 2 ini. Masuknya kepala melewati PAP dapat dalam keadaan sinklitismus yaitu bila sutura sagitalis terdapat ditengah tengan jalan lahir. dan lebih lama. Refleks mengejan terjadi juga akibat stimulasi dari tekanan bagian terbawah janin (pada persalinan normal yaitu kepala) yang menekan anus dan rektum. lebih sering. Perineum meregang dan anus membuka (hemoroid fisiologis) Kepala dilahirkan lebih dulu. Rata-rata waktu untuk keseluruhan proses Kala 2 pada primigravida ± 1. Peristiwa penting pada Kala 2 : Bagian terbawah janin (pada persalinan normal : kepala) turun sampai dasar panggul. dan multipara ± 0. Pada sinklitismus os parietal depan dan belakang sama tingginya. Ibu timbul perasaan/ refleks ingin mengedan yang semakin kuat. Kemungkinan diperlukan pemotongan jaringan perineum untuk memperbesar jalan lahir (episiotomi). Pada nulipara masuknya bagian presentasi terjadi . 2. Jika sutura sagitalis agak kedepan mendekati simfisis disebut asinklitismus anterior atau jika agak ke belakang mendekati promontoriuum disebut asinklitismus posterior. dengan suboksiput di bawah simfisis (simfisis pubis sebagai sumbu putar/ hipomoklion). Desensus (kepala terus turun) Desensus merupakan proses penurunan kepala masuk ke pelvis. berusaha untuk mengeluarkan bayi. Engagement Engagement merupakan masuknya kepala ke dalam pintu atas panggul (PAP).5 jam. Masuknya kepala ke dalam PAP biasanya dengan sutura sagitalis melintang dan dengan fleksi yang ringan.  Sifat His : Amplitudo 60 mmHg. Tambahan tenaga meneran dari ibu.

maka terjadilah ekstensi dari kepala janin. Jika kepala yang fleksi penuh pada waktu mencapai dasar panggul tidak melakukan ekstensi maka kepala akan tertekan pada perineum dan dapat . (3) upaya mengejan dengan otot abdomen dan (4) ekstensi dan melurusnya tubuh janin. Ekstensi Sesudah kepala janin sampai di dasar panggul dan ubun-ubun kecil berada di bawah simfisis. bagian yang terendah adalah daerah ubun-ubun kecil dan bagian inilah yang akan memutar ke depan kearah simfifis. (2) tekanan langsung fundus pada bokong saat kontraksi. biasanya kepala janin berada dalam keadaan fleksi maksimal. kepala bayi dalam keadaan fleksi yang ringan. Pada wanita multipara penurunan biasanya terjadi bersama masuknya bagian presentasi janin ke panggul. karena rotasi dalam merupakan suatu usaha untuk menyesuaikan posisi kepala dengan bentuk jalan lahir. 4. 5. Pada presentasi belakang kepala. Desensus terjadi akiabat satu atau lebih empat gaya berikut: (1) tekanan cairan amnion. Ada beberapa teori yang menjelaskan mengapa fleksi bisa terjadi. hal ini disebabkan karena adanya tahanan dari dinding serviks. Dengan adanya fleksi. diameter suboksipitobregmatika (9. Hal ini disebabkan karena sumbu jalan lahir pada pintu bawah panggul mengarah ke depan dan ke atas sehingga kepala harus mengadakan ekstensi untuk melewatinya. Fleksi ini disebabkan Karena anak didorong maju dan sebaliknya mendapat tahanan dari servik.sebelum awitan persalinan dan penurunan lebih lanjut mungkin belum terjadi sampai awitan kala II. Rotasi dalam penting untuk menyelesaikan persalinan. Dengan majunya kepala biasanya fleksi juga bertambah. dinding pelvis dan lantai pelvis.5 cm) menggantikan posisi suboksipitofrontalis (11cm) sampai di dasar panggul. 3. khususnya bidang tengah dan pintu bawah panggul. Rotasis dalam (putaran paksi dalam) Putaran paksi dalam adalah pemutaran dari bagian depan sedemikian rupa sehingga bagian terendah dari bagian depan janin memutar ke depan ke bawah simfisis. Pada pergerakan ini dagu dibawa lebih dekat kearah dada janin sehingga ubun-ubun kecil lebih rendah dari ubun-ubun besar. dinding panggul dan dasar panggul. Fleksi Pada awal persalinan.

7. Bahu melintasi pintu dalam dalam keadaan miring. Setelah kedua bahu lahir. sehingga di dasar panggul setelah kepala bayi lahir.  Pelepasan plasenta terjadi karena perlekatan plasenta di dinding uterus adalah bersifat adhesi. sehingga pada saat kontraksi mudah lepas dan berdarah. plasenta : lepasnya plasenta dari insersi pada dinding uterus.  Sifat . Subocciput yang tertahan pada pinggir bawah simfisis akan menjadi pusat pemutaran (hypomochlion) maka lahirlah berturut-turut pada pinggir atas perineum: ubunubun basar.menembusnya. Di dalam rongga panggul bahu akan menyesuaikan diri dengan bentuk panggul yang dilaluinya. atau dari tepi / marginal (Matthews-Duncan) jika tidak disertai perdarahan. fundus setinggi sekitar / di atas His : pusat. Ekspulsi Setelah putaran paksi luar. dagu bayi dengan gerakan ekstensi. dimana ukuran bahu (diameter bisa kromial) menempatkan diri dalam diameter anteroposterior dari pintu bawah panggul. Rotasi luar (putaran paksi luar) Kepala yang sudah lahir selanjutnya mengalami restitusi yaitu kepala bayi memutar kembali kea rah punggung anak untuk menghilangkan torsi pada leher yang terjadi karena putaran paksi dalam.  Lepasnya perdarahan baru. dan berakhir dengan lahirnya plasenta. hidung. KALA 3 PERSALINAN :  Dimulai pada saat bayi telah lahir lengkap. dahi. bahu depan sampai di bawah simfisis dan menjadi hypomochlion untuk kelahiran bahu belakang. selanjutnya seluruh badan bayi dilahirkan searah dengan sumbu jalan lahir. mulut. atau mungkin juga serempak sentral dan marginal. serta pengeluaran plasenta dari insersinya : mungkin dari sentral (Schultze) ditandai dengan  Kelahiran plasenta dari kavum uteri. bahu mengalami putaran dalam.  Pada keadaan normal. kontraksi uterus bertambah keras. 6.

JENIS PERSALINAN ABNORMAL : INDIKASI Fase Laten Memanjang Kala II rata-rata Kala II memanjang tanpa (dengan) anestesi epidural Protracted dilation Protracted descent Arrest of dilation* Arrest of descent* Kala II memanjang Nulipara > 20 jam 50 menit > 2 jam (>3 jam) <1. Hal penting yang harus diperhatikan pada Kala 4 persalinan : Kontraksi uterus harus baik Tidak ada perdarahan pervaginam atau dari alat genital lain Plasenta dan selaput ketuban harus sudah lahir lengkap Kandung kencing harus kosong Luka-luka di perineum harus dirawat dan tidak ada hematoma Keadaan umum ibu dan bayi. disfungsi persalinan atau disproporsi sepalo pelvik (CPD ). sampai dengan 1 jam setelahnya. partus tak maju . aktifitas uterus menurun.Amplitudo 60-80 mmHg. Plasenta dapat lepas spontan dari aktifitas uterus ini. Seringkali pula disebut sebagai partus lama.5cm/jam> <2> <2> <1> >30 menit . Persalinan Abnormal Persalinan abnormal ( distosia ) adalah persalinan yang berjalan tidak normal. frekuensi kontraksi berkurang. namun dapat juga tetap menempel (retensio) dan memerlukan tindakan aktif (manual aid). KALA 4 PERSALINAN : Dimulai pada saat plaenta telah lahir lengkap.2cm / jam <1> <2> <2> > 30 menit Multipara > 14 jam 20 menit >1 jam (>2 jam) <1.

kelainan pada kapasitas panggul (kelainan bentuk.Secara umum. posisi dan presentasi janin. P yang kedua. jalan lahir keras ( tulang panggul ) atau jalan lahir lunak ( organ sekitar jalan lahir ) Passanger ( janin ) . miomektomi atau gangguan hantaran saraf lain dapat menyebabkan kontraksi uterus berlangsung secara tidak efektif. P yang pertama . besar janin. Kekuatan kontraksi uterus dapat diukur secara langsung dengan menggunakan kateter pengukur tekanan intrauterine dan kekuatan kontraksi uterus dinayatakan dalam nilai MONTEVIDEO UNIT. Diagnosa adanya hambatan atau berhentinya kemajuan persalinan pada fase aktif lebih mudah diotegakkan dan umumnya disebabkan oleh faktor 3 P. persalinan abnormal adalah merupakan akibat dari beberapa faktor berikut: Power ( kontraksi uterus ) . luas pelvik ) dapat menyebabkan persalinan abnormal. pada kala II. adalah passage ( atau kapasitas panggul ) . komponen power . Harus pula diingat bahwa selain tulang . selain gangguan kontraksi uterus juga dapat disebabkan oleh gangguan kemampuan meneran. frekuensi kontraksi uterus mungkin memadai namun intensitas nya tidak memadai. Passage ( jalan lahir ) . Baik janin maupun kapasitas panggul dapat menyebabkan persalinan abnormal akibat adanya obstruksi mekanis sehingga seringkali dinamakan dengan distosia mekanis. Nilai kekuatan kontraksi uterus yang adekwat adalah 200 MVU selama periode kontraksi 10 menit. Diagnosa arrest of dilatation hanya bisa ditegakkan bila persalinan sudah dalam fase aktif dan tidak terdapat kemajuan selama 2 jam serta berlangsung dengan kontraksi uterus yang adekwat ( > 200 MVU ). letak. gangguan ini akan menyebabkan kelainan kemajuan dilatasi dan pendataran sehingga keadaan ini seringkali disebut sebagai distosia fungsionalis. Adanya gangguan hantaran saraf untuk terjadinya kontraksi uterus misalnya adanya jaringan parut pada bekas sectio caesar. Apapun penyebabnya. PATOFISIOLOGI Fase laten memanjang dapat disebabkan akibat oversedasi atau menegakkan diagnosa inpartu terlampau dini dimana masih belum terdapat dilatasi dan pendataran servik.

Outcome persalinan untuk ibu dan anak umumnya baik PENATALAKSANAAN : Tergantung pada etiologi Pemanjangan fase laten akibat pemberian sedasi atau analgesik yang berlebihan dan terlampau dini akan berakhir setelah efek obat mereda Kontraksi uterus hipertonik diatasi dengan istirahat dan diberikan terapi sedatif dan analgesic Kontraksi uterus hipotonik diatasi dengan akselerasi persalinan dengan infus oksitosin. presentasi dan posisi janin dapat menyebabkan hambatan kemajuan persalinan. Pemberian sedatif yang terlampau dini dan berlebihan 3. Etiologi : 1. kelainan besar dan bentuk janin serta kelainan letak. a. .Abnormalitas Persalinan Kala I Fase Laten Pemanjangan persalinan fase laten jarang sekali terjadi dan umumnya disebabkan oleh kesalahan dalam menegakkan diagnosa inpartu. Diagnosa pemanjangan fase laten ditegakkan bila pada nulipara batas 20 jam atau pada multipara batas 14 jam dilampaui. adalah passanger (janin ) . Kontraksi uterus hipertonik 2. Kontraksi uterus hipotonik Identifikasi keadaan etiologi pemanjangan fase laten umumnya tidak sulit dan dapat dilakukan dengan melakukan palpasi untuk menentukan kualitas kontraksi uterus.panggul . organ sekitar jalan lahir dapat pula menyebabkan hambatan persalinan (soft tissue dystocia akibat vesica urinaria atau rectum yang penuh) P yang ketiga.

Dalam literature lain dinyatakan. atau ada gangguan daya dorong kala II dapat menjadi abnormal lama. Sedangkan asidosis pada bayi tidak berhubungan dengan lamanya kala II. Perbedaan nilai APGAR signifikan pada kala II lebih dari 4 jam. Lamanya kala II ini berkaitan dengan APGAR score yang lebih rendah pada menit pertama setelah kelahiran namun tidak berbeda pada manit ke lima dan sepuluh.5 cm / jam dan pada nulipara 1. Kala II lama berkaitan dengan penurunan APGAR score pada menit pertama dan kelima tetapi tidak signifikan dengan peningkatan mortalitas perinatal. tetapi dapat sangat berbeda-beda pada nulipara dapat 50 menit dan 20 menit pada multipara. Pada seorang wanita dengan paritas lebih tinggi dengan perineum teregang dengan beberapa kali daya dorong mungkin dapat menyelesaikan persalinan. incontinensia urin.2 cm / jam Etiologi : • • • CPD Kelainan letak / posisi Kontraksi uterus hipotonik c. pada seorang wanita dengan panggul sempit atau janin besar. incontinensia alvi.Abnormalitas Persalinan Kala II Kala II memakan waktu kurang dari 30 menit dan Berkaitan dengan mortalitas dan morbiditas janin tenaga kesehatan harus berhati-hati bila lebih dari satu jam. Sedangkan menurut feinstein dkk 2001. Sebaliknya.b. Satu jam pada multipara dan dua jam pada nulipara.Abnormalitas Persalinan Kala I Fase Aktif Pada multipara. Rata – rata lamanya kala II persalianan menurut ACOG yaitu 30 menit pada multipara dan satu jam pada primipara. dan meningkatnya . Kala II yang memanjang berkaitan dengan kerusakan muscular dan neuromuscular dasar panggul. Dari beberapa hasil penelitian tidak bermasalah berapa lamanya kala II persalinan sehingga lamanya kala II ini tidak dapat menjadi pertimbangan dalam melakukan intervensi selama kondisi ibu dan janin baik lamanya kala II ini dapat berlanjut hingga lebih dari satu jam. kecepatan dilatasi servik 1.

Turunnya janin melalui jalan lahir dan berkurangnya volume uterus sebagai akibatnya dapat mencetuskan derajat pelepasan plasenta prematur. Tetapi tidak semua pelambatan denyut jantung janin tersebut didsebabkan oleh kompresi kepala. sehingga kesejahteraan janin terancam. Ekstraksi Vakum dan persalianan spontan dapat mengurangi trauma sfingter ani di bandingkan dengan ekstraksi forsep.risiko perdarahan post partum. . Turunnya janin lebih mungkin mengencangkan lilitan tali pusat disekeliling janin terutama dileher sehingga dapat menyumbat aliran darah umbilical. dengan perdarahan rata-rata 500cc dan penurunan hemoglobin 1.serta dorongan yang terus menerus dapat menyebabkan penurunan oksigenisasi bagi bayi dan tidak mengurangi lamanya kala II persalinan. Daya yang kuat yang timbul didalam uterus waktu kontraksi dan daya mengejan ibu dapat menurunkan perfusi plasenta yang cukup besar. Episiotomi mediana tidak efektif dalam perlindungan daerah perineum selama persalianan. Sebuah RCT di Canada menyatakan bahwa menghindari melakuakan episiotomi mengurangi trauma perineum dan episiotomi meningkatkan resiko inkontinensia fecal pada tiga dan enam bulan postpartum. Dan tidak ada bukti yang menunjang dilakukan masase perineum pada kala II pesalinan. Takikardi ibu. yang sering terjadi pada kala II jangan disalah artikan sebagai bunyi jantung janin yang normal. Episiotomi untuk mempercepat kala II tidak rutin dilakukan karena tidak mencegah terjadinya kerusakan m. Dorongan pada fundus selama persalinan dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan uterus dan abdomen.sfingter ani justru menambah risiko terjadinya kerusakan tersebut.8 g/dl serta meningkatkan risiko terjadinya atonia uteri. Bila pemulihan denyut jantung cepat setelah kontraksi dan setelah upaya ekspulsi tersebut maka pesalinan dapat dilanjutkan. Mengejan yang berkepanjangan dan tidak henti-hentinya dapat membahayakan janin. Melambatnya denyut jantung janin yang diinduksi kompresi kepala sering terjadi pada waktu kompresi dan upaya ibu untuk mendorong. Berdasarkan univariat analisis risiko tersebut timbul pada kala II lebih dari dua jam. Pada nuliparitas masase perineum beberapa minggu sebelum persalianan dapat mencegah trauma perineum.dari data yang didapat khususnya episiotomi mediana harus dihindari pada kala II memanjang karena dapat menambah kerusakan dasar panggul yang berat.

wajah cepat-cepat diusap dan nares serta mulut bayi diaspirasi. . Satu keuntungan dari transfusi plasenta tersebut bahwa hemoglobin dari 80 ml darah plasenta memberikan 50 mg besi sebagai simpanan bayi untuk menghindari anemia defisiensi besi pada masa bayi. Lavase atau manual eksplorasi pada uterus setelah bayi lahir tidak dianjurkan karena dapat menimbulkan trauma servik dan uterus serta dapat menimbulkan infeksi. bila terdapat lilitan hendaknya ditarik diantara jari-jari dan kalau cukup longgar dilepaskan dari kepala bayi. Selanjutnya jari hendaknya menuju leher untuk memastikan apakah ada lilitan tali pusat. kira – kira 80 ml darah dapat berpindah dari plasenta ke janin. sementara tangan lainnya memberi tekanan diatas pada oksiput. Kelahiran kepala dengan perasat Ritgen. Bila lilitan mencekik erat dileher sehingga susah dilepaskan dari kepala. Setelah lahir bayi ditempatkan setinggi introitus vagina atau dibawahnya selama tiga menit dan sirkulasi fetoplasenta tidak segera disumbat dengan klem. perlu memasang duk dengan satu tangan untuk melindungi introitus dari anus dan kemudian menekan ke depan pada dagu janin melalui perineum tepat didepan koksigis. dilaporkan peningkatan section sesarea dan persalinan operatif pervaginam.Pada salah satu penelitiannya didapat penurunan angka kejadian kejang pada neonatus dan fetal asidosis dengan menggunakan continous monitoring electronic namun tidak ada perbedaan hasil setelah satu tahun pemantauan perkembangan bayi. Adanya monitoring secara elaktronik ini tidak menambah keuntungan bagi bayi. Setelah kepala dilahirkan. untuk mengurangi kemungkinan aspirasi debris cairan amnion dan darah yang mungkin terjadi setelah dada lahir dan bayi dapat menarik nafas. pada waktu kepala meregangkan perineum dan vulva kontraksi cukup untuk membuka introitus vagina sekitar 5 cm. hendaknya dipotong diantara dua klem dan bayi cepat dilahirkan. Lilitan terjadi pada sekitar 25 % persen kasus.Dua puluh RCT (Randomized Controlled Trial ) membandingkan monitoring bunyi jantung janin secara elektronik dan auskultasi.

ulangi pemberian oksitosin 10 unit IM. Beberapa penelitian klinis menyarankan penggunaan misoprostol 400-600 mikrogram oral sama efektifnya dengan penggunaan oksitosin dan sintimetrin dan pada penelitian lain menemukan sama efektifnya dengan oksitosin namun berhubungan dengan peningkatan suhu dan mengigil.Abnormalitas Persalinan Kala III Bila plasenta belum lepas setelah melakukan penatalaksanaan aktif perslinan kala III dalam waktu 15 menit.d. Pada prinsipnya pencegahan perdarahan post partum yaitu dengan meningkatkan kontraksi uterus dan mempercepat kala II persalinan ini. tetapi juga dikaitkan dengan efek samping penggunaan uterotonik " Penggunaan syntrometrin intamuskular sebagai uterotonik profolaksis rutin pada kala III mengurangi risiko perdarahan postpartum dibandingkan dengan oksitosin intramuskular. lakukan kateterisasi bila penuh.Namun risiko terjadinya perdarahan postpartum yang berat pada penggunaan oksitosin intramuskular tidak meningkat. Sedangkan pada Penelitian multisenter RCT dari WHO didapat. Tatalaksana kala III persalinan berbeda pada setiap center kesehatan. "Cochrane systematic review" menganalisa lima RCT ( Rendomized Controlled Trials ) untuk membandingkan akspectant management dan managemen aktif didapat bahwa " managemen aktif berkaitan dengan menurunnya risiko perdarahan postpartum lebih dari 500cc. seperti di Eropa masih menggunakan "expectant management" yaitu menunggu terlepasnya plasenta dan membiarkan plasenta terlepas spontan. periksa kandung kemih. Pada penggunaaan misoprostol (prostaglandin E1) untuk mencegah perdarahan postpartum secara oral maupun rectal kurang efektif dibandingkan injeksi oksitosin. menghindari kala III yang memanjang dan komplikasi serius lainnya.Hal ini berkaitan dengan lamanya mencapai kadar puncak dalam plasma setelah pemberian oral maupun rectal sehingga tidak direkomendasikan digunakan secara rutin pada kala III. Setelah lahirnya plasenta harus diperiksa kelengkapannya dan masase uterus dilakukan untuk merangsang kontraksi uterus serta periksa perineum dari perdarahan aktif. kala III dilakukan terus hingga 15 menit berikutnya. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful