MAKALAH AUDIT MANAJEMEN AUDIT FRAUD (AUDIT KECURANGAN

)

DISUSUN OLEH : 1. ANISSYA HARSONO 2. RAGIL PRIHAMBODO 7211410004 7211410025

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2013

1. PENGERTIAN AUDIT FRAUD / AUDIT KECURANGAN
Definisi Pengawasan Intern yang terkandung dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 60 tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah adalah seluruh proses kegiatan audit, reviu, evaluasi, pemantauan, dan kegiatan pengawasan lain terhadap penyelenggaraan tugas dan fungsi organisasi dalam rangka memberikan keyakinan yang memadai bahwa kegiatan telah dilaksanakan sesuai dengan tolak ukur yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien untuk kepentingan pimpinan dalam mewujudkan kepemerintahan yang baik. Pada PP Pasal 2 ayat 1 tercantum bahwa pengendalian penyelenggaraan kegiatan pemerintahan dilakukan untuk mencapai pengelolaan keuangan negara yang efektif, efisien, transparan dan akuntabel. Maka dapat disimpulkan bahwa sistem pengendalian internal pemerintah memiliki tujuan untuk mencapai pengelolaan keuangan baik di pemerintah daerah maupun pemerintah pusat sehingga dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat. Fraud Auditing atau audit kecurangan adalah upaya unytuk mendeteksi dan mencegah kecurangan dalam transaksi – transaksi komersial. Kegagalan pemerintah dalam mempertanggungjawabkan pengelolaan keuangan dapat diakibatkan oleh beberapa hal antara lain penyimpangan kebijakan dan penyimpangan yang diakibatkan oleh kecurangan (fraud). Penyimpangan kebijakan dilakukan oleh manajemen puncak terutama untuk mencapai tujuan tertentu, dengan cara membuat kebijakan yang tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku. Sedangkan penyimpangan kecurangan (fraud) dapat dilakukan baik oleh manajemen puncak maupun pegawai lainnya dengan untuk mendapatkan keuntungan, dengan cara melakukan tindakan-tindakan kriminal seperti korupsi, kolusi, penipuan, dan lain sebagainya. Bagaimana cara mengatasi fraud adalah tugas bersama dari suatu organisasi pemerintahan dan sistem pengawasan internalnya. Pengenalan akan kecurangan dan dampaknya menjadi hal yang penting untuk diketahui seluaruh staf pegawai hingga manajemenpuncak Demikian juga dengan kerugian atau kebocoran keuangan negara yang terjadi akibat adanya fraud. Hal ini dapat berakibat pada alokasi dana yang hilang yang telah dikumpulkan dari berbagai pendapatan negara terutama pajak yang telah didapatkan dari masyarakat. Dengan rata-rata setiap penduduk membayar pajak sekitar 15%-20% dari penghasilannya maka dapat dibayangkan kerugian negara berdampak pula pada pendapatan penduduk yang harus ditingkatkan pemerintah.

Kemudian melakukan tindakan hukuman dan penghargaan untuk lebih mempercepat peningkatan kesadaran dan budaya kerja tanpa fraud. termasuk pula investasi dari luar negeri berkurang.Padahal untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dibutuhkan sarana dan prasarana yang disiapkan oleh pemerintah yang didanai dari pajak di atas. Dan yang lebih utama adalah tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan menjadi berkurang. Fraud (kecurangan) merupakan penipuan yang disengaja dilakukan yang menimbulkan kerugian tanpa disadari oleh pihak yang dirugikan tersebut dan memberikan keuntungan bagi pelaku kecurangan. Kecurangan umumnya terjadi karena adanya tekanan untuk melakukan penyelewengan atau dorongan untuk memanfaatkan kesempatan yang ada dan adanya pembenaran (diterima secara umum) terhadap tindakan tersebut. seiring dengan kesadaran yang meningkat. sehingga kondisi makro keuangan pemerintah menjadi terganggu pula. Setelah itu. Kesadaran untuk melakukan tindakan anti fraud dapat diawali dengan memberikan pengertian yang lebih tentang kerugian dan dampak fraud. Secara sederhana dua segitiga berikut ini dapat bercerita banyak tentang hubungan – hubungan yang mendorong terjadinya fraud : Segitiga Unsur Fraud Faktor Pemicu Fraud . maka diupayakan untuk menghilangkan penyebab fraud.

Management fraud (kecurangan manajemen) : kecurangan yang dilakukan oleh pihak manajemen dengan menggunakan laporan keuangan/transaksi keuangan sebagai sarana fraud. Employee fraud (kecurangan pegawai) : kecurangan yang dilakukan oleh pegawai dalam suatu organisasi kerja. d. Pegawai untuk keuntungan individu. yaitu : a. e-commerce fraud (kecurangan melalui internet) : kecurangan yang dilakukan akibat adanya transaksi melalui internet (misalnya pengadaan lelang melalui internet). yaitu pelanggan. Manajemen untuk kepentingan perusahaan. sebagai berikut : a.2. yaitu salah saji yang berupa penyalahgunaan aktiva (misstatements arising from misappropriation of assets). b. Customer fraud : kecurangan yang dilakukan oleh konsumen/pelanggan. yaitu salah saji yang timbul karena kecurangan pelaporan keuangan (misstatements arising from fraudulent financial reporting). Dilihat dari pelaku fraud maka secara garis besar kecurangan bisa dikelompokkan menjadi dua jenis : 1. Oleh pihak di luar perusahaan. c. dan pihak asing yang dapat menimbulkan kerugian bagi perusahaan. 2. mitra usaha. . JENIS – JENIS AUDIT FRAUD Berikut ini adalah jenis fraud berdasarkan subjek atau pelaku. b. misalnya kecurangan oleh pihak kontraktor/konsultan terhadap satuan kerja proyek. Oleh pihak perusahaan. biasanya dilakukan untuk mencurangi pemegang kepentingan (stakeholders) yang terkait organisasinya.

Menurut Robert Cockerall (auditor Ernst & Young) dalam makalahnya "Forensic Accounting fundamental : Introduction to the investigations" dinyatakan bahwa lingkungan profil fraud mencakup beberapa hal yaitu motivasi. Untuk suatu organisasi. Pada organisasi pemerintahan khususnya pada lingkup kegiatan pekerjaan umum maka dapat diberikan contoh sebagai berikut : Seorang pengawas proyek memiliki motivasi kecurangan adalah karena kesulitan keuangan keluarga. fraud pun dapat dilakukan untuk mendapatkan keuntungan atau untuk mendapatkan apresiasi yang positif walaupun pekerjaan yang dilakukan tidak baik. Sedangkan konsekuensi fraud adalah dampak kecurangan yang terjadi pada organisasi tersebut.3. dan lain sebagainya. indikator. misalnya dokumen kontrak/lelang yang diatur. kesempatan. Motivasi : adalah mendapatkan keuntungan bagi dirinya sendiri dan atau suaru organisasi. tujuan/objek fraud. Alasan pribadi seperti masalah keuangan dapat menjadi motivasi untuk melakukan kecurangan. Motivasi dan kesempatan memiliki pengertian yang sama dengan definisi sebelumnya. 2. Metode fraud adalah cara-cara yang dilakukan untuk melakukan kecurangan. misalnya kolusi antara kontraktor/konsultan dengan panitia pengadaan barang atau jasa. Indikator fraud mengandung pengertian adanya gejala-gejala yang merujuk kepada pembuktian kecurangan. Kesempatan : karena kurangnya pengawasan internal dan pemahaman tentang aturan dapat menjadi ruang terjadinya kecurangan. . transaksi keuangan dilakukan secara tunai dan tidak menggunakan pencatatan yang baik. Sarana : mencakup seluruh media yang dapat digunakan untuk melakukan kecurangan. sarana dan kesempatan sebagai berikut: 1. metode dan konsekuensi fraud. Pegawai tersebut menggunakan kesempatan sebagai seorang pengawas proyek sesuai kewenangannya. Tujuan/objek fraud adalah sarana yang digunakan untuk mencapai motivasi kecurangan di atas. 3. PENYEBAB TERJADINYA AUDIT FRAUD Penyebab terjadinya fraud adalah motivasi.

Ketiga faktor tersebut digambarkan dalam segitiga fraud (Fraud Triangle) berikut: Opportunity biasanya muncul sebagai akibat lemahnya pengendalian inernal di organisasi tersebut. Insentif atau tekanan untuk melakukan fraud 2. Caranya adalah dengan melakukan manipulasi data yaitu menyetujui progress pekerjaan walaupun tidak sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan disertai permintaan dana kepada pihak kontraktor. Konsekuensi dari perbuatan pegawai tersebut kepada organisasi proyek adalah ketidaksesuaian mutu pekerjaan.Objek yang sesuai dengan kewenangannya sebagai pengawas adalah laporan pengawasan pekerjaan. Indikasi yang didapatkan adalah perbedaan spesifikasi pekerjaan. Sikap atau rasionalisasi untuk membenarkan tindakan fraud. . Terbukanya kesempatan ini juga dapat menggoda individu atau kelompok yang sebelumnya tidak memiliki motif untk melakukan fraud. Peluang untuk melakuakn fraud 3. yaitu: 1. Pada umumnya fraud terjadi karena tiga hal yang mendasarinya terjadi secara bersama.

Sedangkan faktor Opportunity dan Exposure merupakan faktor yang berhubungan dengan organisasi sebagai korban perbuatan kecurangan (disebut juga faktor generik/umum). Need (kebutuhan). 1. Exposure (pengungkapan). Faktor Greed dan Need merupakan faktor yang berhubungan dengan individu pelaku kecurangan (disebut juga faktor individual). . Dalam beberapa kasus lainnya terdapat pula kondisi dimana pelaku tergoda untuk melakukan fraud karena merasa rekan kerjanya juga melakukan hal yang sama dan tidak menerima sanksi atas tindakan fraud tersebut. Faktor generic Kesempatan (opportunity) untuk melakukan kecurangan tergantung pada kedudukan pelaku terhadap objek kecurangan. berhutang berlebihan dan tenggat waktu dan target kerja yang tidak realistis. beberapa contoh pressure dapat timbul karena masalah keuangan pribadi. ada yang mempunyai kesempatan besar dan ada yang kecil. Pada umumnya para pelaku fraud meyakini atau merasa bahwa tindakannya bukan merupakan suatu kecurangan tetapi adalah suatu yang memang merupakan haknya. Sifat-sifat buruk seperti berjudi. yaitu Greed (keserakahan). bahkan kadang pelaku merasa telah berjasa karena telah berbuat banyak untuk organisasi. Faktor Pemicu Fraud Terdapat empat faktor pendorong seseorang untuk melakukan kecurangan. Kesempatan untuk melakukan kecurangan selalu ada pada setiap kedudukan. Namun. Rationalization terjadi karena seseorang mencari pembenaran atas aktifitasnya yang mengandung fraud. Opportunity (kesempatan). Secara umum manajemen suatu organisasi/perusahaan mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk melakukan kecurangan daripada karyawan. narkoba.Pressure atau motivasi pada sesorang atau individu akan memebuat mereka mencari kesempatan melakukan fraud. yang disebut juga dengan teori GONE.

Oleh karena itu. faktor ini berhubungan dengan keserakahan (greed). adapun gejala tersebut adalah: 1. Tingkat komplain yang tinggi terhadap organisasi/perusahaan dari pihak konsumen. Terdapat peningkatan jumlah ayat jurnal penyesuaian pada akhir tahun buku. . perlu diketahui gejala yang menunjukkan adanya kecurangan tersebut. Perusahaan mengambil kredit sampai batas maksimal untuk jangka waktu yang lama.     Gejala kecurangan pada manajemen Ketidakcocokan diantara manajemen puncak.    Kekurangan kas secara tidak teratur dan tidak terantisipasi. pemasok. Penjualan/laba menurun sementara itu utang dan piutang dagang meningkat. Motivasi.   Terdapat kelebihan persediaan yang signifikan. Faktor individu Moral. Gejala Adanya Fraud Fraud (Kecurangan) yang dilakukan oleh manajemen umumnya lebih sulit ditemukan dibandingkan dengan yang dilakukan oleh karyawan. Oleh karena itu. setiap pelaku kecurangan seharusnya dikenakan sanksi apabila perbuatannya terungkap. atau badan otoritas. 2. Selain itu tekanan (pressure) yang dihadapi dalam bekerja dapat menyebabkan orang yang jujur mempunyai motif untuk melakukan kecurangan. Moral dan motivasi karyawan rendah. yang lebih cenderung berhubungan dengan pandangan/pikiran dan keperluan pegawai/pejabat yang terkait dengan aset yang dimiliki perusahaan/instansi/organisasi tempat ia bekerja. Departemen akuntansi kekurangan staf. faktor ini berhubungan dengan kebutuhan (need).- Pengungkapan (exposure) suatu kecurangan belum menjamin tidak terulangnya kecurangan tersebut baik oleh pelaku yang sama maupun oleh pelaku yang lain.

Temuan audit atas kekeliruan (error) atau ketidakberesan (irregularities) dianggap tidak material ketika ditemukan. pengrusakan dokumen pendukung pembayaran. Faktur ganda. mobil atau pakaian mahal.  Bekerja tenang. . bekerja keras. Sedang mengalami trauma emosional di rumah atau tempat kerja. yaitu:  Perubahan perilaku secara signifikan.  Gejala kecurangan pada karyawan/pegawai Pembuatan ayat jurnal penyesuaian tanpa otorisasi manajemen dan tanpa perincian/penjelasan pendukung. Pencatatan yang salah/tidak akurat pada buku jurnal/besar. Penjudi berat. tidak seperti biasanya. gaya hidup mewah. Penggantian mutu barang. bekerja melampaui jam kerja. sering bekerja sendiri.2.        Pengeluaran tanpa dokumen pendukung. seperti: easy going. Penghancuran. Sedang dililit utang. Peminum berat. Kekurangan barang yang diterima. penghilangan.       Gaya hidup di atas rata-rata. Perilaku Pelaku Fraud Berikut merupakan beberapa perilaku seseorang yang harus menjadi perhatian karena dapat merupakan indikasi adanya kecurangan yang dilakukan orang tersebut. Kemahalan harga barang yang dibeli.

dan evaluasi terhadap pengelolaan keuangan negara. perwujudan peran aparat pengawasan intern pemerintah yang efektif dan hubungan kerja yang baik dengan instansi pemerintah terkait. Hal tersebut tercantum dalam PP No. komitmen terhadap kompetensi. CARA MENGATASI DAN MENCEGAH AUDIT FRAUD Mengendalikan suasana kerja yang baik dilingkungan kerja. Menghilangkan kesempatan untuk melakukan Fraud dengan cara sistem pengawasan internal yang ketat. audit investigatif dan audit laporan keuangan sesuai Standar Audit Aparat Pengawasan Intern Pemerintan (PERMEN PAN No. efisiensi dan efektivitas. Mengendalikan susasana kerja yang baik merupakan tanggung jawab pimpinan disertai kerja sama dengan organisasi tersebut. dalam hal ini adalah penyusunan/pelaksanaan anggaran. Bentuk pengawasan internal yang ketat adalah dengan audit kinerja. .PAN/03/2008) dan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN). sehingga dibutuhkan cara pengungkapan fakta disertai bukti yang cukup. antara lain dengan menanamkan etika kerja dan peningkatan kesejahteraan pegawai atau pekerja. serta pengelolaan aset dan kewajiban. penyaluran dan penggunaan dana. Audit kerja adalah proses identifikasi masalah. Audit Investigasi digunakan untuk membuktikan kebenaran indikasi terjadinya perbuatan kecurangan yang merugikan negara dan atau potensi negara. PER/05/M. Namun pengungkapan bukti menjadi kendala terutama jika perbuatan kecurangan dilakukan secara melembaga. 60 tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah. melalui beberapa cara yaitu penegakan integritas dan etika. Dalam pelaksanaan pemeriksaan khusus investigasi maka terungkaplah seluruh fakta dan proses terhadap indikasi Fraud yang bertentangan dengan peraturan. pendelegasian wewenang dan tanggung jawab yang tepat. penyusunan dan penerapan kebijakan yang sehat tentang pembinaan sember daya manusia. pembentukan struktur organisasi yang sesuai dengan kebutuhan. analisis.4. penerimaan. kepemimpinan yang kondusif. Lingkungan pengendalian merupakan salah satu unsur yang harus diciptakan dan dipelihara agar timbul perilaku positif dan kondusif untuk penerapan sistem pengendalian intern dalam lingkungan kerja. Pengawasan internal yang ketat diharapkan mampu mengidentifkasikan dan meredam gejala Fraud. dan pelaksanaan tugas dan fungsi auditi yang terdiri atas aspek ekonomis.

objek fraud. pemeriksaan dokumen. indikasi fraud dan konsekuensi yang diterima organisasi. tindakan deteksi dan tindakan investigasi. Sistem ini dapat mengungkap fakta terjadinya kecurangan dengan mengungkap transaksi-transaksi keuangan yang mencurigakan pada laporan keuangan dan mengembangkan hasil temuan tersebut menjadi sebuah alat bukti.Berbagai cara investigasi dilakukan antara lain dengan wawancara langsung dengan auditi. Sedangkan audit atas pelaporan keuangan adalah audit yang bertujuan memberikan opini atas kewajaran penyajian laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi. Salah satu cara menemukan indikasi kecurangan. baik nominal yang besar maupun yang kecil. meliputi motivasi. terutama dalam hal menidentifikasikan indikasi terjadinya Fraud yang dilakukan oleh manajemen puncak dan atau dilakukan secara melembaga. Tindakan preventif merupakan tanggung jawab bersama antara manajemen puncak dengan stafnya. Pemberian opini didasarkan hasil pengelolaan aset negara serta penggunaan keuangan negara yang baik dan sesuai kenyataan. Sementara metode sistem informasi adalah dengan cara melakukan perbandingan profil kecurangan yang dapat terjadi. Tindakan deteksi adalah cara mengidentifikasi kecurangan yang terjadi. Metode yang digunakan dalam deteksi atas fraud dibagi atas metode konvensional dan metode sistem informasi. metode fraud. terutama yang dilakukan secara lembaga. masukan/input dari whistle blower (saksi pemberi informasi). Cara mengatasi fraud terbagi atas 3 tindakan yaitu tindakan preventif. Tindakan-tindakan pengawasan tersebut adalah cara untuk mengatasi kecurangan sehingga kehilangan keuangan negara dapat terus ditekan dan pada akhirnya tercapai tujuan untuk menghilangkan kebocoran dan kerugian negara. Audit atas laporan keuangan dapat menjadi input bagi proses input bagi proses audit investigasi. untuk menciptakan dan mengembangkan budaya kerja yang beretika dan lingkungan kerja yang baik. adalah dengan menggunakan sistem Akuntansi forensik. kesempatan. . yaitu dengan cara memeriksa transaksi yang mencurigakan pada laporan keuangan. dan teknik interogasi yang tepat. Tindakan investigasi adalah proses penyelidikan sehingga didapatkan pembuktian yang cukup. Metode konvensional adalah dengan cara menemukan indikasi setelah melakukan pemeriksaan secara menyeluruh terlebih dahulu. Cara menemukan indikasi fraud dengan menggunakan audit laporan keuangan disebut dengan sistem akuntansi forensik (forensic accounting).

. Sebagai suatu disiplin ilmu. Sementara menurut Bologna and Linquist definisi akuntansi forensik adalah sbb : "Forensic and investigative accounting is the application of financial skills and an investigative mentality to unresolved issues. it encompasses financial expertise. Kata forensik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah cabang ilmu kedokteran yg berhubungan dengan penerapan fakta-fakta medis pd masalah-masalah hukum. dan pengetahuan serta pengertian tentang bisnis (sistem) riil dan hukum." . tidak hanya oleh perusahaan swasta. Hal tersebut dapat berkembang melalui kerja praktek dan pengalaman dengan masalah investigasi dan hukum. Sistem ini awalnya berkembang semenjak kasus perusahaan-perusahaan swasta raksasa dunia yang ternyata melakukan kecurangan laporan keuangan." berikut : diterjemahkan "Akuntansi forensik dan investigasi adalah aplikasi keahlian keuangan dan mentalitas penyelidikan untuk menyelesaikan isu yang sesuai dengan konteks peraturan pembuktian. fraud knowledge.Perkembangan terhadap sistem akuntansi forensik ini diharapkan mampu mengatasi kerugian dan kebocoran keuangan negara. As a discipline. Istilah forensik sendiri pada Bahasa Indonesia cenderung masih jarang digunakan dan hanya digunakan untuk ilmu medis dan pembuktian hukum. Kasus perusahaan WorldCom dan Enron Corp. hal tersebut membutuhkan keahlian keuangan. sisrtem akuntansi forensik pun dikembangkan. pengetahuan akan fraud. Its development has been primarily achieved through on-the-job training as well as atau experience jika with investigating dalam bahasa officers Indonesia and adalah legal sebagai counsel. Sistem ini pun dapat dikembangkan untuk mendeteksi adanya kecurangan dan penyalahgunaan keuangan negara. WorldCom mengalami kerugian akibat fraud sebesar USD 102 Milyar dan Enron Corp mengalami kerugian sebesar USD 63 Milyar. merupakan kasus kebangkrutan terbesar yang terkait dengan kecurangan manajemen puncak dengan menggunakan laporan keuangan sebagai media/sarana fraud. Setelah kasus tersebut. atau ilmu bedah yg berkaitan dengan penentuan identitas mayat seseorang yg ada kaitannya dng kehakiman dan peradilan. conducted within the context of the rules of evidence. and a sound knowledge and understanding of business reality and the working of the legal system.

selain peningkatan kompetensi melalui pendidikan dan pelatihan. Dengan adanya data historis yang cukup mengenai fraud maka diharapkan dapat diketahui motivasi. Kurangnya pengalaman auditor dapat diatasi dengan sistem informasi atau data base yang baik. Selain menggunakan sistem audit yang ada. Karena untuk mengungkap hal yang kecil namun mencurigakan menjadi suatu alat bukti dibutuhkan usaha yang tidak mudah. kesempatan. Penggunaan sistem informasi ini membutuhkan pengetahuan statistik dan pengelolaan data sehingga kecenderungan terjadinya fraud dapat diatasi. sedangkan yang kecil kadang diabaikan dalam penentuan indikasi kecurangan. atau dengan kata lain didapatkan profil fraud/kecurangan yang kemungkinan dapat terjadi kembali. Pada akuntansi forensik. indikasi kecurangan tidak berdasarkan pada nominal transaksi yang besar. indikasi. Sistem informasi ini merupakan jembatan penghubung antara pengalaman dan pengetahuan terhadap audit dan fraud. material yang berpengaruh adalah jenis pendapatan dan pengeluaran yang bernominnal besar. metode dan konsekuensi kecurangan. namun melihat pada jenis pendapatan dan pengeluaran yang mencurigakan. penggunaan sistem informasi juga dapat dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya fraud. objek.Hal yang membedakan antara pemeriksaan laporan keuangan biasa dengan sistem akuntansi forensik ini adalah pada besarnya material yang mempengaruhinya. Umumnya untuk audit laporan keuangan biasa. . Pemeriksaan akuntansi forensik tidak dapat dipisahkan dari proses investigasi. sehingga proses audit laporan keuangan akan disertai pula oleh proses penyelidikan terhadap hal tersebut.

berbagai faktor memberi peluang bagi pihak-pihak tertentu untuk menikmati public goods seolah-olah itu merupakan private goods bagi mereka. Namun. karena otonomi daerah membawa dampak adanya raja-raja kecil di daerah yang menuntut bagian proyek pengadaan barang dan jasa. Apalagi pemerintah menerapkan production sharing atas lokasi-lokasi pertambangan di tanah air yang sangat rentan diselewengkan oleh para operator pertambangan. Penyediaan Barang dan Jasa Publik. tanpa diskriminasi. Kedua kasus ini memiliki kesamaan. Contohnya saja jasa keamanan yang merupakan public goods yang disediakan TNI/Polri dapat dinikmati oleh orang atau perusahaan yang membayar harga yang tepat. Soemitro Djojohadikusumo pada Kongres ISEI 1993 memperkirakan kebocoran keungan Negara sekitar 30% dari pengadaan barang dan jasa. Potensi fraud yang melibatkan perusahaan atau pengusaha asing biasanya terletak pada perizinan usaha pertambangan dan energi yang bisanya diperoleh dengan cara-cara penyuapan. Dr. Kerugian ini bervariasi dari department ke department sampai ke tingkat pemerintah daerah. Demikian pula dengan kendaraan. Pengadaan Barang dan Jasa. rumah dinas. Prof. JIka dilakukan penelitian untuk tahun-tahun sekarang ini kemungkinan persentasenya akan lebih besar lagi. Peran Multinational Corporation (MNC). dll yang diakui sepihak menjadi hak milik pejabat sebelumnya.5. yaitu sama-sama menggunakan dana talangan yang diberikan pemerintah yang seharusnya untuk menyelamatkan kondisi modal perbankan namun dana tersebut oleh manajemen malah diselewengkan untuk kepentingan pribadi atau bisnisnya yang lain. FRAUD DALAM PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA Fraud dalam Pengelolaan Keuangan Negara Bantuan Likuiditas Bank Indonesia dan Century Gate. Teorinya pubic goods disediakan untuk masyarakat luas. .

dan pendelegasian wewenang. Sebenarnya volume fraud yang paling besar bukan terletak pada sisi pengeluaran tetapi justru pada penerimaan Negara. sampai setoran penerimaan yang banyak dipotong untuk peruntukan yang tidak jelas. Pencegahan dan Pendeteksian Fraud Dalam mencegah dan mendeteksi serta menangani fraud sebenarnya ada beberapa pihak yang terkait: yaitu akuntan (baik sebagai auditor internal. Peran dan tanggung jawab msaing-masing pihak ini dapat digambarkan sebagai suatu siklus yang dinamakan Fraud Deterrence Cycle atau siklus pencegahan fraud seperti gambar dibawah ini. Corporate Governance dilakukan oleh manajemen yang dirancang dalam rangka mengeliminasi atau setidaknya menekan kemungkinan terjadinya fraud. kebijakan-kebijakan. atau membantu mengurangi jumlah pajak kiennya. auditor eksternal. . Di pemerintah daerah kasusnya lebih bergam lagi. mulai dari pemetongan sekian persen dari pencairan anggaran.Fraud pada Penerimaan Negara. atau auditor forensik) dan manajemen perusahaan. tengok saja kasus Bahasim dan Gayus Tambunan yang meraup kekayaan besar dalam waktu singkat hanya dengna menyelewengkan prosedur perpajakan. Corporate governance meliputi budaya perusahaan.

tanpa memandang apakah fraud itu hanya berupa pelanggaran kecil terhdaap kebijakan perusahaan ataukah pelanggaran besar yang berbentuk kecurangna dalam laporan keuangan atau penyalahgunaan aset. bukan merupakan kondisi umum yang dikehendaki masyarakat. Jika menunggu terjadinya fraud baru ditangani itu artinya sudah ada kerugian yang terjadi dan telah dinikmati oleh pihak terntu. tentu kerugian belum semuanya beralih ke pelaku fraud tersebut. mencegah benturan kepentingan. Mengapa Pencegahan? Keberhasilan kegiatan memerangi fraud. (3) membangun . Untuk melakukan pencegahan. setidaknya ada tiga upaya yang harus dilakukan yaitu (1) membangun individu yang didalamnya terdapat trust and openness. setelah korupsi terjadi adalah suatu ironi tersendiri dalam upaya penanggualan fraud karena semakin banyak mendeteksi dan menyelesaikan kasus berindikasi fraud. (2) Membangun sistem pendukung kerja yang meliputi sistem yang terintegrasi. aktifitas control dan sistem rewards and recognition. bandingkan bila kita berhasil mencegahnya. Pencegahan fraud bisa dianalogikan dengan penyakit. Peran auditor forensik adalah menentukan tindakan yang harus diambil terkait dengan ukuran dan tingkat kefatalan fraud. sebab pada dasarnya kejadian fraud bukanlah kejadian yang dikehendaki masyarakat. Investigation and Remediation yang dilakukan forensik auditor. Retrospective Examination yang dilakukan oleh Auditor Eksternal diarahkan untuk mendeteksi fraud sebelum menjadi besar dan membahayakan perusahaan. standarisasi kerja. mendapat otorisasi yang memadai yang dicatat dan melindungi perusahaan dari kerugian.Transaction Level Control Process yang dilakukan oleh auditor internal. confidential disclosure agreement dan corporate security contract. yaitu lebih baik dicegah dari pada diobati. pada dasarnya adalah proses yang lebih bersifat preventif dan pengendalian yang bertujuan untuk memastikan bahwa hanya transaksi yang sah. Dan bila fraud sudah terjadi maka biaya yang dikeluarkan jauh lebih besar untuk memulihkannya daripada melakukan pencegahan sejak dini.

auditor internal harus melaporkannya kepada pihak-pihak terkait dalam organsiasi tersebut. Pengetahuan yang harus harus dimiliki auditor internal termasuk pula pengetahuan mengenai karakteristik fraud. seperti audit committee. auditor internal dapat memfokuskan diri pada area-area yang memeiliki risiko tinggi terjadinya fraud seperti transaski kas.A2 menyatakan sebagai berikut: “The internal auditor should have sufficient knowledge to identify the indicators of fraud but is not expected to hace the expertise of a person whose primary responsibility is detecting and investigating fraud”. Merujuk pada standar profesi diatas. 1210. auditor internal diharuskan memiliki pengetahuan yang cukup untuk mendeteksi adanya indikasi fraud dalam organisasi. sebelum memebawa dampak yang lebih buruk pada organisasi. Standards No. rekonsiliasi bank. Pendeteksian tersebut dapat dilakukan pada saatmenjalankan kegiatan internal auditing. teknik-teknik yang digunakan dalam melakukan fraud. Auditor internal dapat memberikan rekomendasi dilakukannya investigasi yang diperlukan untuk menyelidiki fraud tersebut. dll. . Auditor internal bertanggung jawab dalam mendeteksi fraud yang mungkin telah terjadi sedini mungkin. Dalam sektor publik.sistem monitoring yang didalamnya terkandung control self sssessment. proses pengadaan. penjualan. Pada saat melakukan audit. internal auditor dan eksternal auditor Peran Internal Auditor Pendeteksian fraud oleh auditor internal merupakan salah satu peran dari kegiatan internal auditing yang dijalankan dalam organisasi. Auditor internal dapat dilakukan oleh inspektorat di masingmasing department dan oleh Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (“BPKP”) berdasarkan permintaan dari pemerintah. Teknis dan proses auditnya tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan di sektor swasta. dan jenis-jenis fraud yang mungkin terjadi pada berbagai proses bisnis. Jika auditor internal menemukan suatu indikasi terjadinya fraud dalam organisasi.

kondisi terjadinya pelanggaran dan dampak potensialnya terhadap laporan keuangan. . baik yang disebabkan oleh kekeliruan atau kecurangan”. dijelaskan bahwa apabila terjadi unsur tindakan pelanggaran hukum (termasuk fraud) maka auditor akan mengumpulkan informasi tentang sifat pelanggaran. Lebih jauh lagi. maka auditor tidak dapat memberikan opini “wajar tanpa pengecualian”. harus diungkapakan dalam catatan atas laporan keungan. Apabila dibutuhkan auditor dapat berkonsultasi dengan penasehat hukum dan melakukan prosedur audit tambahan untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang sifat pelanggaran yang terjadi. Pada sektor public. yang menjadi auditor eksternal adalah Badan Pemerika keuangan (“BPK”) berdasarkan UU No 15 tahun 2004 tentang pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan Negara. pemeriksaan kinerja. bila fraud yang terjadi sangat material dan bisa mempengaruhi kewajaran laporan keuangan. Terungkapanya fraud. Tanggung jawab auditor sehubungan dengan fraud dijelaskan secara umum dalam SA seksi 110 – Tanggung jawab dan fungsi auditor independen paragraph 02: “Auditor bertanggung jawab untuk merencanakan dan melaksanakan audit untuk memperoleh keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan bebas dari salah saji material.Peran Eksternal Auditor Dalam melaksanakan tanggung jawab profesionalnya seorang auditor eksternal dibatasi oleh standar-standar auditing yang berlaku. Dalam UU ini diatur bahwa BPK melaksanakan pemeriksaaan atas pengelolaan dan tanggung jawab keungan Negara. auditor harus secara khusus menaksir risiko salah saji material dalam laoran keuangan sebagai akibat dari kecurangan dan harus memperhatikan taksiran risiko ini dalam mendesain prosedur audit yang akan dilaksanakan. Prosedur audit mungkin berubah apabila terjadi fraud. Tanggung jawab auditor dalam mendeteksi fraud tersebut dijabarkan lebih lanjut dalam SA seksi 316 – pertimbangan atas kecurangan dalam audit laporan keuangan. Pemeriksaan tersebut terdiri dari pemeriksaan keuangan. Berdasarkan SA Seksi 316 tersebut. Selanjutnya dalam SA Seksi 317 – Unsur tindakan pelanggaran hukum oleh klien. dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu. yang berrdampak pada denda dan kerugian.

Untuk memberikan petunjuk yang jelas dan bagaimana karyawan melaksanakan tugas-tugasnya. pedoman kewajiban sosial perusahaan. kelompok Manajemen Resiko dan Departemen Audit Internal. mereka telah melakukan perencanaan sedini mungkin terhadap pencegahan fraud ini. pedoman direksi dan komisaris Astra. Telkom Group Grup Astra memberikan perhatian yang demikian besar dalam pengembangan praktek Good Corporate Governance (GCG) dengan standar tinggi. pedoman benturan kepentingan. yang mencakup semua aspek dalam berhubungan dengan pihak ketiga dan masyarakat luas secara bertanggung jawab dan professional. Komite Renumerasi dan Nominasi. Tengok saja Telkom Grup dan Astra Grup. pedoman-pedoamn itu yaitu: pedoman sistem audit dan manajemen risiko. kedua Perusahaan ini telah mengantisipasi fraud yang diwujudkan dalam kebijakan anti fraud yang diterapkan di dalam peruashaan. CONTOH KASUS FRAUD / KECURANGAN Kebijakan Anti Fraud Beberapa Perusahaan besar telah menyadari bahaya besar akibat fraud. Grup Astra telah membuat buku pedoman yang komprehensif.6. Beberapa paket kebijakan telah dibuat untuk mendukung GCG diseluruh Astra Grup yang dimonitor oleh Komite Audit. Komite Eksekutif. . yaitu “Pedoman Etika Bisnis dan kerja”. pedoman manajemen sumber daya manausia. peraturan mengenai informasi orang dalam. kebijakan atas penyampaian laporan tahunan dan kebijakan transaksi material dan perubahan kegiatan usaha. kebijakan pelaporan atas pelanggaran etika. Selain itu Astra juga mengeluarkan pedoman lainnya untuk memberikan kepastian dan assurance bahwa seluruh aktivitas telah menerapkan pola yang sesuai dengan GCG. 1.

reputasi dan risiko kerugian yang mungkin timbul. Program whistleblower yang diterapkan Telkom dimaksudkan untuk menciptakan sebuah sistem yang memungkinkan perusahaan dapat melakukan deteksi dini terhadap kemungkinan atau indikasi adanya fraud. (2) Peningkatan pemahaman proses bisnis yang efektif melalui penyederhanaan atau penghapusan proses bisnis yang kurang efektif.2. dan evaluasi diri atas pengendalian risiko seluruh unit. peningkatan. (3) pelaksanaan pengkajian risiko dan langkah mitigasi yang meliputi inisiatif startegis. distribusi dan kebijakan internal untuk mendukung pengelolaan resiko. (4) perlindungan asset melalui penyediaan informasi yang memadai dan akurat hingga menciptakan efektifitas dan efisiensi proses bisnis serta kepatuhan terhadap peraturan. RKAP. whistleblower policy. Beberapa kebijakan yang dilakukan Telkom terkait penerapan ERM ini antara lain: (1) peningkatan kebijakan melalui evaluasi. Telkom Group Sebagai perusahan publik yang juga melantai di bursa internasional (NYSE dan LSE) Telkom berupaya mewujudkan tata kelola perusahaan yang bersih sebagai mana tuntutan dari aturan Sarbanes Oxley Act (SOA) yang dianut Telkom Grup. . Telkom secara berkala terus mengeluarkan berbagai program yang memastikan kesempatan berbuat curang (fraud) itu tertutup. Didalam program anti fraud tersebut terdapat code of ethics. dengan begitu Telkom dapat secara lebih awal melakukan langkah-langkah koreksi dan mitigasi yang diperlukan untuk mengamankan asset. organization structure dan Human Resource Policy. perbaikan. Selain itu Telkom juga menerapkan Enterprise Risk Management (ERM) yang disusun oleh COSO.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.