P. 1
Analisa Dan Cara Mengatasi Fraud Audit

Analisa Dan Cara Mengatasi Fraud Audit

|Views: 1,077|Likes:
Published by Alifian Nur Aditya

More info:

Published by: Alifian Nur Aditya on Jul 12, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/03/2014

pdf

text

original

MAKALAH AUDIT MANAJEMEN AUDIT FRAUD (AUDIT KECURANGAN

)

DISUSUN OLEH : 1. ANISSYA HARSONO 2. RAGIL PRIHAMBODO 7211410004 7211410025

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2013

1. PENGERTIAN AUDIT FRAUD / AUDIT KECURANGAN
Definisi Pengawasan Intern yang terkandung dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 60 tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah adalah seluruh proses kegiatan audit, reviu, evaluasi, pemantauan, dan kegiatan pengawasan lain terhadap penyelenggaraan tugas dan fungsi organisasi dalam rangka memberikan keyakinan yang memadai bahwa kegiatan telah dilaksanakan sesuai dengan tolak ukur yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien untuk kepentingan pimpinan dalam mewujudkan kepemerintahan yang baik. Pada PP Pasal 2 ayat 1 tercantum bahwa pengendalian penyelenggaraan kegiatan pemerintahan dilakukan untuk mencapai pengelolaan keuangan negara yang efektif, efisien, transparan dan akuntabel. Maka dapat disimpulkan bahwa sistem pengendalian internal pemerintah memiliki tujuan untuk mencapai pengelolaan keuangan baik di pemerintah daerah maupun pemerintah pusat sehingga dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat. Fraud Auditing atau audit kecurangan adalah upaya unytuk mendeteksi dan mencegah kecurangan dalam transaksi – transaksi komersial. Kegagalan pemerintah dalam mempertanggungjawabkan pengelolaan keuangan dapat diakibatkan oleh beberapa hal antara lain penyimpangan kebijakan dan penyimpangan yang diakibatkan oleh kecurangan (fraud). Penyimpangan kebijakan dilakukan oleh manajemen puncak terutama untuk mencapai tujuan tertentu, dengan cara membuat kebijakan yang tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku. Sedangkan penyimpangan kecurangan (fraud) dapat dilakukan baik oleh manajemen puncak maupun pegawai lainnya dengan untuk mendapatkan keuntungan, dengan cara melakukan tindakan-tindakan kriminal seperti korupsi, kolusi, penipuan, dan lain sebagainya. Bagaimana cara mengatasi fraud adalah tugas bersama dari suatu organisasi pemerintahan dan sistem pengawasan internalnya. Pengenalan akan kecurangan dan dampaknya menjadi hal yang penting untuk diketahui seluaruh staf pegawai hingga manajemenpuncak Demikian juga dengan kerugian atau kebocoran keuangan negara yang terjadi akibat adanya fraud. Hal ini dapat berakibat pada alokasi dana yang hilang yang telah dikumpulkan dari berbagai pendapatan negara terutama pajak yang telah didapatkan dari masyarakat. Dengan rata-rata setiap penduduk membayar pajak sekitar 15%-20% dari penghasilannya maka dapat dibayangkan kerugian negara berdampak pula pada pendapatan penduduk yang harus ditingkatkan pemerintah.

Padahal untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dibutuhkan sarana dan prasarana yang disiapkan oleh pemerintah yang didanai dari pajak di atas. seiring dengan kesadaran yang meningkat. Kemudian melakukan tindakan hukuman dan penghargaan untuk lebih mempercepat peningkatan kesadaran dan budaya kerja tanpa fraud. Kecurangan umumnya terjadi karena adanya tekanan untuk melakukan penyelewengan atau dorongan untuk memanfaatkan kesempatan yang ada dan adanya pembenaran (diterima secara umum) terhadap tindakan tersebut. Fraud (kecurangan) merupakan penipuan yang disengaja dilakukan yang menimbulkan kerugian tanpa disadari oleh pihak yang dirugikan tersebut dan memberikan keuntungan bagi pelaku kecurangan. Dan yang lebih utama adalah tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan menjadi berkurang. Kesadaran untuk melakukan tindakan anti fraud dapat diawali dengan memberikan pengertian yang lebih tentang kerugian dan dampak fraud. sehingga kondisi makro keuangan pemerintah menjadi terganggu pula. maka diupayakan untuk menghilangkan penyebab fraud. Secara sederhana dua segitiga berikut ini dapat bercerita banyak tentang hubungan – hubungan yang mendorong terjadinya fraud : Segitiga Unsur Fraud Faktor Pemicu Fraud . termasuk pula investasi dari luar negeri berkurang. Setelah itu.

Customer fraud : kecurangan yang dilakukan oleh konsumen/pelanggan. e-commerce fraud (kecurangan melalui internet) : kecurangan yang dilakukan akibat adanya transaksi melalui internet (misalnya pengadaan lelang melalui internet). . yaitu salah saji yang berupa penyalahgunaan aktiva (misstatements arising from misappropriation of assets). yaitu pelanggan. yaitu : a. Dilihat dari pelaku fraud maka secara garis besar kecurangan bisa dikelompokkan menjadi dua jenis : 1. biasanya dilakukan untuk mencurangi pemegang kepentingan (stakeholders) yang terkait organisasinya. Oleh pihak di luar perusahaan. 2. Oleh pihak perusahaan. b. Manajemen untuk kepentingan perusahaan. Pegawai untuk keuntungan individu. yaitu salah saji yang timbul karena kecurangan pelaporan keuangan (misstatements arising from fraudulent financial reporting). d. misalnya kecurangan oleh pihak kontraktor/konsultan terhadap satuan kerja proyek. c. b. Employee fraud (kecurangan pegawai) : kecurangan yang dilakukan oleh pegawai dalam suatu organisasi kerja.2. JENIS – JENIS AUDIT FRAUD Berikut ini adalah jenis fraud berdasarkan subjek atau pelaku. sebagai berikut : a. mitra usaha. Management fraud (kecurangan manajemen) : kecurangan yang dilakukan oleh pihak manajemen dengan menggunakan laporan keuangan/transaksi keuangan sebagai sarana fraud. dan pihak asing yang dapat menimbulkan kerugian bagi perusahaan.

3. kesempatan.3. misalnya kolusi antara kontraktor/konsultan dengan panitia pengadaan barang atau jasa. Motivasi dan kesempatan memiliki pengertian yang sama dengan definisi sebelumnya. Alasan pribadi seperti masalah keuangan dapat menjadi motivasi untuk melakukan kecurangan. Menurut Robert Cockerall (auditor Ernst & Young) dalam makalahnya "Forensic Accounting fundamental : Introduction to the investigations" dinyatakan bahwa lingkungan profil fraud mencakup beberapa hal yaitu motivasi. Indikator fraud mengandung pengertian adanya gejala-gejala yang merujuk kepada pembuktian kecurangan. Untuk suatu organisasi. . Pegawai tersebut menggunakan kesempatan sebagai seorang pengawas proyek sesuai kewenangannya. Motivasi : adalah mendapatkan keuntungan bagi dirinya sendiri dan atau suaru organisasi. tujuan/objek fraud. Pada organisasi pemerintahan khususnya pada lingkup kegiatan pekerjaan umum maka dapat diberikan contoh sebagai berikut : Seorang pengawas proyek memiliki motivasi kecurangan adalah karena kesulitan keuangan keluarga. Tujuan/objek fraud adalah sarana yang digunakan untuk mencapai motivasi kecurangan di atas. dan lain sebagainya. transaksi keuangan dilakukan secara tunai dan tidak menggunakan pencatatan yang baik. misalnya dokumen kontrak/lelang yang diatur. indikator. Metode fraud adalah cara-cara yang dilakukan untuk melakukan kecurangan. sarana dan kesempatan sebagai berikut: 1. fraud pun dapat dilakukan untuk mendapatkan keuntungan atau untuk mendapatkan apresiasi yang positif walaupun pekerjaan yang dilakukan tidak baik. Kesempatan : karena kurangnya pengawasan internal dan pemahaman tentang aturan dapat menjadi ruang terjadinya kecurangan. Sedangkan konsekuensi fraud adalah dampak kecurangan yang terjadi pada organisasi tersebut. PENYEBAB TERJADINYA AUDIT FRAUD Penyebab terjadinya fraud adalah motivasi. metode dan konsekuensi fraud. 2. Sarana : mencakup seluruh media yang dapat digunakan untuk melakukan kecurangan.

Objek yang sesuai dengan kewenangannya sebagai pengawas adalah laporan pengawasan pekerjaan. Ketiga faktor tersebut digambarkan dalam segitiga fraud (Fraud Triangle) berikut: Opportunity biasanya muncul sebagai akibat lemahnya pengendalian inernal di organisasi tersebut. Caranya adalah dengan melakukan manipulasi data yaitu menyetujui progress pekerjaan walaupun tidak sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan disertai permintaan dana kepada pihak kontraktor. Pada umumnya fraud terjadi karena tiga hal yang mendasarinya terjadi secara bersama. Sikap atau rasionalisasi untuk membenarkan tindakan fraud. yaitu: 1. Peluang untuk melakuakn fraud 3. . Konsekuensi dari perbuatan pegawai tersebut kepada organisasi proyek adalah ketidaksesuaian mutu pekerjaan. Terbukanya kesempatan ini juga dapat menggoda individu atau kelompok yang sebelumnya tidak memiliki motif untk melakukan fraud. Insentif atau tekanan untuk melakukan fraud 2. Indikasi yang didapatkan adalah perbedaan spesifikasi pekerjaan.

Opportunity (kesempatan). ada yang mempunyai kesempatan besar dan ada yang kecil. narkoba. Namun. . Sifat-sifat buruk seperti berjudi. Faktor generic Kesempatan (opportunity) untuk melakukan kecurangan tergantung pada kedudukan pelaku terhadap objek kecurangan. Pada umumnya para pelaku fraud meyakini atau merasa bahwa tindakannya bukan merupakan suatu kecurangan tetapi adalah suatu yang memang merupakan haknya. Sedangkan faktor Opportunity dan Exposure merupakan faktor yang berhubungan dengan organisasi sebagai korban perbuatan kecurangan (disebut juga faktor generik/umum). yang disebut juga dengan teori GONE. Faktor Greed dan Need merupakan faktor yang berhubungan dengan individu pelaku kecurangan (disebut juga faktor individual). yaitu Greed (keserakahan). bahkan kadang pelaku merasa telah berjasa karena telah berbuat banyak untuk organisasi.Pressure atau motivasi pada sesorang atau individu akan memebuat mereka mencari kesempatan melakukan fraud. beberapa contoh pressure dapat timbul karena masalah keuangan pribadi. 1. berhutang berlebihan dan tenggat waktu dan target kerja yang tidak realistis. Faktor Pemicu Fraud Terdapat empat faktor pendorong seseorang untuk melakukan kecurangan. Secara umum manajemen suatu organisasi/perusahaan mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk melakukan kecurangan daripada karyawan. Kesempatan untuk melakukan kecurangan selalu ada pada setiap kedudukan. Dalam beberapa kasus lainnya terdapat pula kondisi dimana pelaku tergoda untuk melakukan fraud karena merasa rekan kerjanya juga melakukan hal yang sama dan tidak menerima sanksi atas tindakan fraud tersebut. Rationalization terjadi karena seseorang mencari pembenaran atas aktifitasnya yang mengandung fraud. Exposure (pengungkapan). Need (kebutuhan).

Departemen akuntansi kekurangan staf. 2. Faktor individu Moral. Moral dan motivasi karyawan rendah.     Gejala kecurangan pada manajemen Ketidakcocokan diantara manajemen puncak. faktor ini berhubungan dengan kebutuhan (need). atau badan otoritas. Terdapat peningkatan jumlah ayat jurnal penyesuaian pada akhir tahun buku. setiap pelaku kecurangan seharusnya dikenakan sanksi apabila perbuatannya terungkap. . Penjualan/laba menurun sementara itu utang dan piutang dagang meningkat.    Kekurangan kas secara tidak teratur dan tidak terantisipasi. Gejala Adanya Fraud Fraud (Kecurangan) yang dilakukan oleh manajemen umumnya lebih sulit ditemukan dibandingkan dengan yang dilakukan oleh karyawan. faktor ini berhubungan dengan keserakahan (greed). perlu diketahui gejala yang menunjukkan adanya kecurangan tersebut.   Terdapat kelebihan persediaan yang signifikan. Motivasi. Oleh karena itu. pemasok. Selain itu tekanan (pressure) yang dihadapi dalam bekerja dapat menyebabkan orang yang jujur mempunyai motif untuk melakukan kecurangan. Tingkat komplain yang tinggi terhadap organisasi/perusahaan dari pihak konsumen. yang lebih cenderung berhubungan dengan pandangan/pikiran dan keperluan pegawai/pejabat yang terkait dengan aset yang dimiliki perusahaan/instansi/organisasi tempat ia bekerja. Perusahaan mengambil kredit sampai batas maksimal untuk jangka waktu yang lama.- Pengungkapan (exposure) suatu kecurangan belum menjamin tidak terulangnya kecurangan tersebut baik oleh pelaku yang sama maupun oleh pelaku yang lain. adapun gejala tersebut adalah: 1. Oleh karena itu.

Penjudi berat. Faktur ganda. Sedang dililit utang. Temuan audit atas kekeliruan (error) atau ketidakberesan (irregularities) dianggap tidak material ketika ditemukan. Penggantian mutu barang.        Pengeluaran tanpa dokumen pendukung. yaitu:  Perubahan perilaku secara signifikan. penghilangan.2. Pencatatan yang salah/tidak akurat pada buku jurnal/besar. bekerja keras.  Bekerja tenang. sering bekerja sendiri. Sedang mengalami trauma emosional di rumah atau tempat kerja. seperti: easy going.       Gaya hidup di atas rata-rata. mobil atau pakaian mahal. Kemahalan harga barang yang dibeli. bekerja melampaui jam kerja. Perilaku Pelaku Fraud Berikut merupakan beberapa perilaku seseorang yang harus menjadi perhatian karena dapat merupakan indikasi adanya kecurangan yang dilakukan orang tersebut. . Peminum berat.  Gejala kecurangan pada karyawan/pegawai Pembuatan ayat jurnal penyesuaian tanpa otorisasi manajemen dan tanpa perincian/penjelasan pendukung. Penghancuran. gaya hidup mewah. pengrusakan dokumen pendukung pembayaran. tidak seperti biasanya. Kekurangan barang yang diterima.

dan evaluasi terhadap pengelolaan keuangan negara. Dalam pelaksanaan pemeriksaan khusus investigasi maka terungkaplah seluruh fakta dan proses terhadap indikasi Fraud yang bertentangan dengan peraturan. Audit kerja adalah proses identifikasi masalah. penyaluran dan penggunaan dana. perwujudan peran aparat pengawasan intern pemerintah yang efektif dan hubungan kerja yang baik dengan instansi pemerintah terkait. dan pelaksanaan tugas dan fungsi auditi yang terdiri atas aspek ekonomis. penyusunan dan penerapan kebijakan yang sehat tentang pembinaan sember daya manusia. CARA MENGATASI DAN MENCEGAH AUDIT FRAUD Mengendalikan suasana kerja yang baik dilingkungan kerja. Lingkungan pengendalian merupakan salah satu unsur yang harus diciptakan dan dipelihara agar timbul perilaku positif dan kondusif untuk penerapan sistem pengendalian intern dalam lingkungan kerja. kepemimpinan yang kondusif. Namun pengungkapan bukti menjadi kendala terutama jika perbuatan kecurangan dilakukan secara melembaga. . pendelegasian wewenang dan tanggung jawab yang tepat. melalui beberapa cara yaitu penegakan integritas dan etika. Mengendalikan susasana kerja yang baik merupakan tanggung jawab pimpinan disertai kerja sama dengan organisasi tersebut. antara lain dengan menanamkan etika kerja dan peningkatan kesejahteraan pegawai atau pekerja.PAN/03/2008) dan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN). serta pengelolaan aset dan kewajiban. analisis. PER/05/M. Bentuk pengawasan internal yang ketat adalah dengan audit kinerja. sehingga dibutuhkan cara pengungkapan fakta disertai bukti yang cukup. Pengawasan internal yang ketat diharapkan mampu mengidentifkasikan dan meredam gejala Fraud. pembentukan struktur organisasi yang sesuai dengan kebutuhan. komitmen terhadap kompetensi. efisiensi dan efektivitas. Menghilangkan kesempatan untuk melakukan Fraud dengan cara sistem pengawasan internal yang ketat. penerimaan. audit investigatif dan audit laporan keuangan sesuai Standar Audit Aparat Pengawasan Intern Pemerintan (PERMEN PAN No. Hal tersebut tercantum dalam PP No.4. dalam hal ini adalah penyusunan/pelaksanaan anggaran. Audit Investigasi digunakan untuk membuktikan kebenaran indikasi terjadinya perbuatan kecurangan yang merugikan negara dan atau potensi negara. 60 tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah.

Salah satu cara menemukan indikasi kecurangan. tindakan deteksi dan tindakan investigasi. Tindakan investigasi adalah proses penyelidikan sehingga didapatkan pembuktian yang cukup.Berbagai cara investigasi dilakukan antara lain dengan wawancara langsung dengan auditi. terutama yang dilakukan secara lembaga. Sedangkan audit atas pelaporan keuangan adalah audit yang bertujuan memberikan opini atas kewajaran penyajian laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi. dan teknik interogasi yang tepat. metode fraud. Sistem ini dapat mengungkap fakta terjadinya kecurangan dengan mengungkap transaksi-transaksi keuangan yang mencurigakan pada laporan keuangan dan mengembangkan hasil temuan tersebut menjadi sebuah alat bukti. Tindakan deteksi adalah cara mengidentifikasi kecurangan yang terjadi. Cara mengatasi fraud terbagi atas 3 tindakan yaitu tindakan preventif. . Tindakan preventif merupakan tanggung jawab bersama antara manajemen puncak dengan stafnya. Tindakan-tindakan pengawasan tersebut adalah cara untuk mengatasi kecurangan sehingga kehilangan keuangan negara dapat terus ditekan dan pada akhirnya tercapai tujuan untuk menghilangkan kebocoran dan kerugian negara. Pemberian opini didasarkan hasil pengelolaan aset negara serta penggunaan keuangan negara yang baik dan sesuai kenyataan. Metode konvensional adalah dengan cara menemukan indikasi setelah melakukan pemeriksaan secara menyeluruh terlebih dahulu. pemeriksaan dokumen. Cara menemukan indikasi fraud dengan menggunakan audit laporan keuangan disebut dengan sistem akuntansi forensik (forensic accounting). baik nominal yang besar maupun yang kecil. adalah dengan menggunakan sistem Akuntansi forensik. masukan/input dari whistle blower (saksi pemberi informasi). untuk menciptakan dan mengembangkan budaya kerja yang beretika dan lingkungan kerja yang baik. Sementara metode sistem informasi adalah dengan cara melakukan perbandingan profil kecurangan yang dapat terjadi. yaitu dengan cara memeriksa transaksi yang mencurigakan pada laporan keuangan. terutama dalam hal menidentifikasikan indikasi terjadinya Fraud yang dilakukan oleh manajemen puncak dan atau dilakukan secara melembaga. kesempatan. indikasi fraud dan konsekuensi yang diterima organisasi. Audit atas laporan keuangan dapat menjadi input bagi proses input bagi proses audit investigasi. Metode yang digunakan dalam deteksi atas fraud dibagi atas metode konvensional dan metode sistem informasi. meliputi motivasi. objek fraud.

pengetahuan akan fraud. Kasus perusahaan WorldCom dan Enron Corp. dan pengetahuan serta pengertian tentang bisnis (sistem) riil dan hukum. sisrtem akuntansi forensik pun dikembangkan. Sistem ini pun dapat dikembangkan untuk mendeteksi adanya kecurangan dan penyalahgunaan keuangan negara. fraud knowledge. hal tersebut membutuhkan keahlian keuangan.." berikut : diterjemahkan "Akuntansi forensik dan investigasi adalah aplikasi keahlian keuangan dan mentalitas penyelidikan untuk menyelesaikan isu yang sesuai dengan konteks peraturan pembuktian. Sementara menurut Bologna and Linquist definisi akuntansi forensik adalah sbb : "Forensic and investigative accounting is the application of financial skills and an investigative mentality to unresolved issues. it encompasses financial expertise. Hal tersebut dapat berkembang melalui kerja praktek dan pengalaman dengan masalah investigasi dan hukum. Its development has been primarily achieved through on-the-job training as well as atau experience jika with investigating dalam bahasa officers Indonesia and adalah legal sebagai counsel. WorldCom mengalami kerugian akibat fraud sebesar USD 102 Milyar dan Enron Corp mengalami kerugian sebesar USD 63 Milyar. conducted within the context of the rules of evidence. merupakan kasus kebangkrutan terbesar yang terkait dengan kecurangan manajemen puncak dengan menggunakan laporan keuangan sebagai media/sarana fraud. Setelah kasus tersebut. Istilah forensik sendiri pada Bahasa Indonesia cenderung masih jarang digunakan dan hanya digunakan untuk ilmu medis dan pembuktian hukum. Sistem ini awalnya berkembang semenjak kasus perusahaan-perusahaan swasta raksasa dunia yang ternyata melakukan kecurangan laporan keuangan. and a sound knowledge and understanding of business reality and the working of the legal system. Sebagai suatu disiplin ilmu.Perkembangan terhadap sistem akuntansi forensik ini diharapkan mampu mengatasi kerugian dan kebocoran keuangan negara. Kata forensik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah cabang ilmu kedokteran yg berhubungan dengan penerapan fakta-fakta medis pd masalah-masalah hukum. tidak hanya oleh perusahaan swasta. atau ilmu bedah yg berkaitan dengan penentuan identitas mayat seseorang yg ada kaitannya dng kehakiman dan peradilan." . As a discipline.

metode dan konsekuensi kecurangan. kesempatan. objek.Hal yang membedakan antara pemeriksaan laporan keuangan biasa dengan sistem akuntansi forensik ini adalah pada besarnya material yang mempengaruhinya. atau dengan kata lain didapatkan profil fraud/kecurangan yang kemungkinan dapat terjadi kembali. Dengan adanya data historis yang cukup mengenai fraud maka diharapkan dapat diketahui motivasi. selain peningkatan kompetensi melalui pendidikan dan pelatihan. Pemeriksaan akuntansi forensik tidak dapat dipisahkan dari proses investigasi. Selain menggunakan sistem audit yang ada. sedangkan yang kecil kadang diabaikan dalam penentuan indikasi kecurangan. sehingga proses audit laporan keuangan akan disertai pula oleh proses penyelidikan terhadap hal tersebut. . namun melihat pada jenis pendapatan dan pengeluaran yang mencurigakan. indikasi kecurangan tidak berdasarkan pada nominal transaksi yang besar. Kurangnya pengalaman auditor dapat diatasi dengan sistem informasi atau data base yang baik. Karena untuk mengungkap hal yang kecil namun mencurigakan menjadi suatu alat bukti dibutuhkan usaha yang tidak mudah. Sistem informasi ini merupakan jembatan penghubung antara pengalaman dan pengetahuan terhadap audit dan fraud. material yang berpengaruh adalah jenis pendapatan dan pengeluaran yang bernominnal besar. indikasi. Pada akuntansi forensik. Umumnya untuk audit laporan keuangan biasa. penggunaan sistem informasi juga dapat dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya fraud. Penggunaan sistem informasi ini membutuhkan pengetahuan statistik dan pengelolaan data sehingga kecenderungan terjadinya fraud dapat diatasi.

Soemitro Djojohadikusumo pada Kongres ISEI 1993 memperkirakan kebocoran keungan Negara sekitar 30% dari pengadaan barang dan jasa. . Penyediaan Barang dan Jasa Publik. Apalagi pemerintah menerapkan production sharing atas lokasi-lokasi pertambangan di tanah air yang sangat rentan diselewengkan oleh para operator pertambangan. Contohnya saja jasa keamanan yang merupakan public goods yang disediakan TNI/Polri dapat dinikmati oleh orang atau perusahaan yang membayar harga yang tepat. karena otonomi daerah membawa dampak adanya raja-raja kecil di daerah yang menuntut bagian proyek pengadaan barang dan jasa.5. Peran Multinational Corporation (MNC). yaitu sama-sama menggunakan dana talangan yang diberikan pemerintah yang seharusnya untuk menyelamatkan kondisi modal perbankan namun dana tersebut oleh manajemen malah diselewengkan untuk kepentingan pribadi atau bisnisnya yang lain. Demikian pula dengan kendaraan. berbagai faktor memberi peluang bagi pihak-pihak tertentu untuk menikmati public goods seolah-olah itu merupakan private goods bagi mereka. rumah dinas. FRAUD DALAM PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA Fraud dalam Pengelolaan Keuangan Negara Bantuan Likuiditas Bank Indonesia dan Century Gate. tanpa diskriminasi. JIka dilakukan penelitian untuk tahun-tahun sekarang ini kemungkinan persentasenya akan lebih besar lagi. Potensi fraud yang melibatkan perusahaan atau pengusaha asing biasanya terletak pada perizinan usaha pertambangan dan energi yang bisanya diperoleh dengan cara-cara penyuapan. Prof. dll yang diakui sepihak menjadi hak milik pejabat sebelumnya. Pengadaan Barang dan Jasa. Teorinya pubic goods disediakan untuk masyarakat luas. Namun. Kedua kasus ini memiliki kesamaan. Kerugian ini bervariasi dari department ke department sampai ke tingkat pemerintah daerah. Dr.

Corporate Governance dilakukan oleh manajemen yang dirancang dalam rangka mengeliminasi atau setidaknya menekan kemungkinan terjadinya fraud. Corporate governance meliputi budaya perusahaan. Di pemerintah daerah kasusnya lebih bergam lagi. . tengok saja kasus Bahasim dan Gayus Tambunan yang meraup kekayaan besar dalam waktu singkat hanya dengna menyelewengkan prosedur perpajakan.Fraud pada Penerimaan Negara. Sebenarnya volume fraud yang paling besar bukan terletak pada sisi pengeluaran tetapi justru pada penerimaan Negara. auditor eksternal. Peran dan tanggung jawab msaing-masing pihak ini dapat digambarkan sebagai suatu siklus yang dinamakan Fraud Deterrence Cycle atau siklus pencegahan fraud seperti gambar dibawah ini. atau auditor forensik) dan manajemen perusahaan. atau membantu mengurangi jumlah pajak kiennya. kebijakan-kebijakan. sampai setoran penerimaan yang banyak dipotong untuk peruntukan yang tidak jelas. mulai dari pemetongan sekian persen dari pencairan anggaran. dan pendelegasian wewenang. Pencegahan dan Pendeteksian Fraud Dalam mencegah dan mendeteksi serta menangani fraud sebenarnya ada beberapa pihak yang terkait: yaitu akuntan (baik sebagai auditor internal.

setelah korupsi terjadi adalah suatu ironi tersendiri dalam upaya penanggualan fraud karena semakin banyak mendeteksi dan menyelesaikan kasus berindikasi fraud. Mengapa Pencegahan? Keberhasilan kegiatan memerangi fraud. standarisasi kerja. sebab pada dasarnya kejadian fraud bukanlah kejadian yang dikehendaki masyarakat. Retrospective Examination yang dilakukan oleh Auditor Eksternal diarahkan untuk mendeteksi fraud sebelum menjadi besar dan membahayakan perusahaan. Jika menunggu terjadinya fraud baru ditangani itu artinya sudah ada kerugian yang terjadi dan telah dinikmati oleh pihak terntu. Pencegahan fraud bisa dianalogikan dengan penyakit. bukan merupakan kondisi umum yang dikehendaki masyarakat. Dan bila fraud sudah terjadi maka biaya yang dikeluarkan jauh lebih besar untuk memulihkannya daripada melakukan pencegahan sejak dini. tentu kerugian belum semuanya beralih ke pelaku fraud tersebut. (2) Membangun sistem pendukung kerja yang meliputi sistem yang terintegrasi. bandingkan bila kita berhasil mencegahnya. Peran auditor forensik adalah menentukan tindakan yang harus diambil terkait dengan ukuran dan tingkat kefatalan fraud. confidential disclosure agreement dan corporate security contract. Investigation and Remediation yang dilakukan forensik auditor. mencegah benturan kepentingan. Untuk melakukan pencegahan. pada dasarnya adalah proses yang lebih bersifat preventif dan pengendalian yang bertujuan untuk memastikan bahwa hanya transaksi yang sah. mendapat otorisasi yang memadai yang dicatat dan melindungi perusahaan dari kerugian. (3) membangun . aktifitas control dan sistem rewards and recognition. tanpa memandang apakah fraud itu hanya berupa pelanggaran kecil terhdaap kebijakan perusahaan ataukah pelanggaran besar yang berbentuk kecurangna dalam laporan keuangan atau penyalahgunaan aset.Transaction Level Control Process yang dilakukan oleh auditor internal. setidaknya ada tiga upaya yang harus dilakukan yaitu (1) membangun individu yang didalamnya terdapat trust and openness. yaitu lebih baik dicegah dari pada diobati.

seperti audit committee. teknik-teknik yang digunakan dalam melakukan fraud. dan jenis-jenis fraud yang mungkin terjadi pada berbagai proses bisnis. internal auditor dan eksternal auditor Peran Internal Auditor Pendeteksian fraud oleh auditor internal merupakan salah satu peran dari kegiatan internal auditing yang dijalankan dalam organisasi. Jika auditor internal menemukan suatu indikasi terjadinya fraud dalam organisasi. Merujuk pada standar profesi diatas. penjualan. . Pendeteksian tersebut dapat dilakukan pada saatmenjalankan kegiatan internal auditing. sebelum memebawa dampak yang lebih buruk pada organisasi. dll. Auditor internal bertanggung jawab dalam mendeteksi fraud yang mungkin telah terjadi sedini mungkin. Auditor internal dapat dilakukan oleh inspektorat di masingmasing department dan oleh Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (“BPKP”) berdasarkan permintaan dari pemerintah. Standards No. 1210. Pada saat melakukan audit.A2 menyatakan sebagai berikut: “The internal auditor should have sufficient knowledge to identify the indicators of fraud but is not expected to hace the expertise of a person whose primary responsibility is detecting and investigating fraud”. Auditor internal dapat memberikan rekomendasi dilakukannya investigasi yang diperlukan untuk menyelidiki fraud tersebut.sistem monitoring yang didalamnya terkandung control self sssessment. Pengetahuan yang harus harus dimiliki auditor internal termasuk pula pengetahuan mengenai karakteristik fraud. auditor internal dapat memfokuskan diri pada area-area yang memeiliki risiko tinggi terjadinya fraud seperti transaski kas. auditor internal diharuskan memiliki pengetahuan yang cukup untuk mendeteksi adanya indikasi fraud dalam organisasi. Dalam sektor publik. Teknis dan proses auditnya tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan di sektor swasta. auditor internal harus melaporkannya kepada pihak-pihak terkait dalam organsiasi tersebut. rekonsiliasi bank. proses pengadaan.

Apabila dibutuhkan auditor dapat berkonsultasi dengan penasehat hukum dan melakukan prosedur audit tambahan untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang sifat pelanggaran yang terjadi. harus diungkapakan dalam catatan atas laporan keungan. yang berrdampak pada denda dan kerugian. Pada sektor public. auditor harus secara khusus menaksir risiko salah saji material dalam laoran keuangan sebagai akibat dari kecurangan dan harus memperhatikan taksiran risiko ini dalam mendesain prosedur audit yang akan dilaksanakan. pemeriksaan kinerja. baik yang disebabkan oleh kekeliruan atau kecurangan”. Selanjutnya dalam SA Seksi 317 – Unsur tindakan pelanggaran hukum oleh klien. maka auditor tidak dapat memberikan opini “wajar tanpa pengecualian”. Prosedur audit mungkin berubah apabila terjadi fraud. Lebih jauh lagi.Peran Eksternal Auditor Dalam melaksanakan tanggung jawab profesionalnya seorang auditor eksternal dibatasi oleh standar-standar auditing yang berlaku. Tanggung jawab auditor dalam mendeteksi fraud tersebut dijabarkan lebih lanjut dalam SA seksi 316 – pertimbangan atas kecurangan dalam audit laporan keuangan. dijelaskan bahwa apabila terjadi unsur tindakan pelanggaran hukum (termasuk fraud) maka auditor akan mengumpulkan informasi tentang sifat pelanggaran. kondisi terjadinya pelanggaran dan dampak potensialnya terhadap laporan keuangan. Dalam UU ini diatur bahwa BPK melaksanakan pemeriksaaan atas pengelolaan dan tanggung jawab keungan Negara. yang menjadi auditor eksternal adalah Badan Pemerika keuangan (“BPK”) berdasarkan UU No 15 tahun 2004 tentang pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan Negara. bila fraud yang terjadi sangat material dan bisa mempengaruhi kewajaran laporan keuangan. Terungkapanya fraud. Pemeriksaan tersebut terdiri dari pemeriksaan keuangan. . Berdasarkan SA Seksi 316 tersebut. dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu. Tanggung jawab auditor sehubungan dengan fraud dijelaskan secara umum dalam SA seksi 110 – Tanggung jawab dan fungsi auditor independen paragraph 02: “Auditor bertanggung jawab untuk merencanakan dan melaksanakan audit untuk memperoleh keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan bebas dari salah saji material.

Tengok saja Telkom Grup dan Astra Grup. yang mencakup semua aspek dalam berhubungan dengan pihak ketiga dan masyarakat luas secara bertanggung jawab dan professional. Grup Astra telah membuat buku pedoman yang komprehensif. Komite Renumerasi dan Nominasi. Komite Eksekutif. yaitu “Pedoman Etika Bisnis dan kerja”. peraturan mengenai informasi orang dalam. Selain itu Astra juga mengeluarkan pedoman lainnya untuk memberikan kepastian dan assurance bahwa seluruh aktivitas telah menerapkan pola yang sesuai dengan GCG. pedoman kewajiban sosial perusahaan. kelompok Manajemen Resiko dan Departemen Audit Internal. CONTOH KASUS FRAUD / KECURANGAN Kebijakan Anti Fraud Beberapa Perusahaan besar telah menyadari bahaya besar akibat fraud. kedua Perusahaan ini telah mengantisipasi fraud yang diwujudkan dalam kebijakan anti fraud yang diterapkan di dalam peruashaan. kebijakan pelaporan atas pelanggaran etika. mereka telah melakukan perencanaan sedini mungkin terhadap pencegahan fraud ini. pedoman manajemen sumber daya manausia. Untuk memberikan petunjuk yang jelas dan bagaimana karyawan melaksanakan tugas-tugasnya. Beberapa paket kebijakan telah dibuat untuk mendukung GCG diseluruh Astra Grup yang dimonitor oleh Komite Audit. Telkom Group Grup Astra memberikan perhatian yang demikian besar dalam pengembangan praktek Good Corporate Governance (GCG) dengan standar tinggi.6. pedoman-pedoamn itu yaitu: pedoman sistem audit dan manajemen risiko. kebijakan atas penyampaian laporan tahunan dan kebijakan transaksi material dan perubahan kegiatan usaha. . 1. pedoman benturan kepentingan. pedoman direksi dan komisaris Astra.

RKAP. Telkom Group Sebagai perusahan publik yang juga melantai di bursa internasional (NYSE dan LSE) Telkom berupaya mewujudkan tata kelola perusahaan yang bersih sebagai mana tuntutan dari aturan Sarbanes Oxley Act (SOA) yang dianut Telkom Grup. perbaikan. peningkatan. Beberapa kebijakan yang dilakukan Telkom terkait penerapan ERM ini antara lain: (1) peningkatan kebijakan melalui evaluasi. Selain itu Telkom juga menerapkan Enterprise Risk Management (ERM) yang disusun oleh COSO. Telkom secara berkala terus mengeluarkan berbagai program yang memastikan kesempatan berbuat curang (fraud) itu tertutup. reputasi dan risiko kerugian yang mungkin timbul. . whistleblower policy. dan evaluasi diri atas pengendalian risiko seluruh unit. (2) Peningkatan pemahaman proses bisnis yang efektif melalui penyederhanaan atau penghapusan proses bisnis yang kurang efektif. Didalam program anti fraud tersebut terdapat code of ethics. (3) pelaksanaan pengkajian risiko dan langkah mitigasi yang meliputi inisiatif startegis. (4) perlindungan asset melalui penyediaan informasi yang memadai dan akurat hingga menciptakan efektifitas dan efisiensi proses bisnis serta kepatuhan terhadap peraturan. Program whistleblower yang diterapkan Telkom dimaksudkan untuk menciptakan sebuah sistem yang memungkinkan perusahaan dapat melakukan deteksi dini terhadap kemungkinan atau indikasi adanya fraud. dengan begitu Telkom dapat secara lebih awal melakukan langkah-langkah koreksi dan mitigasi yang diperlukan untuk mengamankan asset.2. organization structure dan Human Resource Policy. distribusi dan kebijakan internal untuk mendukung pengelolaan resiko.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->