LAPORAN FINAL

PEMETAAN PARTISIPATIF PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI EMPAT KECAMATAN KABUPATEN BOYOLALI

(KEC. AMPEL, BANYUDONO, WONOSEGORO, DAN MUSUK)

Lembaga Kajian untuk Transformasi Sosial Institute for Social Transformation Studies

i

Lembaga Kajian untuk Transformasi Sosial Institute for Social Transformation Studies

Bangunharjo Rt 07/II No. A2 Pulisen Po Box 130 Boyolali - Central Java – INDONESIA Phone: 62-276-324501 Fax: 62-276-324501 Email: information@lkts.org Url: www.lkts.org

© LKTS 2005

i

DAFTAR ISI I. KECAMATAN AMPEL ________________________________________ 1

PENDAHULUAN ___________________________________________________________________1 Letak Geografis dan Kondisi Fisik Lokasi Mata Air ___________________________________3 Pemanfaatan, Pengelolaan dan Sistem Distribusi Air _________________________________5

II.

KECAMATAN BANYUDONO __________________________________ 14

PENDAHULUAN __________________________________________________________________14 KONDISI SOSIAL MASYARAKAT ____________________________________________________14 UMBUL SUNGSANG ____________________________________________________________15 Letak Geografis dan Kondisi Fisik Lokasi Mata Air ______________________________15 Pemanfaatan, Pengelolaan dan Sistem Distribusi Air ___________________________15 UMBUL PENGGING ____________________________________________________________17 UMBUL PLANANGAN __________________________________________________________17 UMBUL KENDAT ______________________________________________________________18

III.

KECAMATAN MUSUK _____________________________________ 19

PENDAHULUAN __________________________________________________________________19 WILAYAH / LOKASI PENELITIAN ___________________________________________________22 PROFIL DESA DI KECAMATAN MUSUK ____________________________________________25 DESA CLUNTANG____________________________________________________________25 Potensi dan Keberadaan air _______________________________________________26 Ekosistem _______________________________________________________________27 Air Bersih Masyarakat ____________________________________________________28 DESA SRUNI ________________________________________________________________28 DESA MRIYAN _______________________________________________________________30 Air Bersih Masyarakat ____________________________________________________30 Potensi dan Keberadaan Sumber Air. ______________________________________30 Ekosistem _______________________________________________________________31 DESA SANGUP ______________________________________________________________34 Air Bersih Masyarakat ____________________________________________________34 DESA LANJARAN ____________________________________________________________35 Potensi Sumber Air _______________________________________________________36 Air Bersih Masyarakat ____________________________________________________37 DESA LAMPAR ______________________________________________________________37 Potensi Sumber Air _______________________________________________________37 Air Bersih Masyarakat. ____________________________________________________38 Ekosistem _______________________________________________________________38 DESA DRAGAN ______________________________________________________________39 Ekosistem _______________________________________________________________39 DESA MUSUK _______________________________________________________________39 Potensi sumber air _______________________________________________________39 DESA SUMUR _______________________________________________________________45 Potensi sumber air _______________________________________________________45 DESA SUKORAME____________________________________________________________46 Potensi dan keberadaan sumber air. _______________________________________46 Air Bersih Masyarakat ____________________________________________________46 DESA PAGAR JURANG _______________________________________________________48

ii

IV. Dampak Sosial ___________________________________________________________63 C. DAN EKONOMI _____________________________________62 A. Dampak Ekonomi _________________________________________________________64 UPAYA-UPAYA YANG TELAH DILAKUKAN DAN CAPAIANNYA __________________________65 iii . SOSIAL. Dampak Lingkungan ______________________________________________________62 B. KECAMATAN WONOSEGORO _______________________________ 49 KONDISI WILAYAH DAN PERSOALAN-PERSOALAN SUMBER DAYA ALAM/AIR _____________49 KONDISI OBYEKTIF WILAYAH SASARAN _____________________________________________49 GEOGRAFIS ___________________________________________________________________49 DEMOGRAFIS __________________________________________________________________50 PERSOALAN KEKERIINGAN DAN KELANGKAAN AIR ___________________________________51 Karakteristik Sumber Air dan Pemanfaatannya ____________________________________51 DESA BENGLE _______________________________________________________________51 DESA REPAKING _____________________________________________________________54 DESA GUNUGSARI____________________________________________________________57 DESA GARANGAN ___________________________________________________________60 EKOSISTEM SEKITAR _____________________________________________________________62 DAMPAK LINGKUNGAN.

110º 50’ Bujur Timur dan 7º 36’ . Magelang pada arah Timur dan Kecamatan Cepogo pada arah Selatan. AMPEL. wilayah Kec. terletak antara 110º 22’ . Letak geografis. Kabupaten Boyolali berada di Propinsi Jawa Tengah. Boyolali yang mengalami kekeringan. Dari hasil mapping hari pertama. Semarang pada arah Utara dan Barat. Kab. dengan ketinggian antara 75 – 1. 1. Terutama sekali terkait sumber daya air. lokasi yang diidentifikasi adalah mata air yang berada di Dukuh Pantaran Desa Candisari. Andosol Coklat.500 meter diatas permukaan air laut. Jenis tanah yang terdapat di daerah ini adalah Regosol Kelabu.039. MUSUK. Komplek Andosol Kelabu Tua dan Litosol mempunyai kontur lereng dengan kemiringan tanah antara 2 – 40%. Kecamatan Ampel berbatasan dengan Kab. Batas Administrasi Desa di Kecamatan Ampel 1 .7º 71’ Litang Selatan. Ampel adalah salah satu dari beberapa wilayah di Kab. BANYUDONO DAN WONOSEGORO) I. Latosol Coklat.PEMETAAN PARTISIPATIF PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI EMPAT KECAMATAN KABUPATEN BOYOLALI (KEC. atau masyarakat menyebutnya dengan tempuran (pertemuan dua arus sungai yang menyatu dan mengalir ke wilayah Desa-Desa di bawah kaki gunung Merbabu) menurut informasi dimanfaatkan oleh PDAM Kab. Boyolali dan masyarakat sekitar sebagai sumber untuk men-supply kebutuhan air bersih. Luas kecamatan Ampel 9. KECAMATAN AMPEL PENDAHULUAN Asumsi awal.1 Ha terdiri dari 20 desa yaitu: No 1 2 3 4 5 Desa Ngangrong Seboto Tanduk Banyuanyar Sidomulya No 6 7 8 9 10 Desa Ngargosari Selodoko Ngenden Godangslamet Ngapon No 11 12 13 14 15 Desa Candi Urut Sewu Kaligentong Gladagsari Kembang No 16 17 18 19 20 Desa Candisari Ngargaloka Sampetan Ngadirojo Jlarem Sumber Boyolali dalam angka Tahun 2003 Gambar 1.

peternakan sejumlah 2.584 Kepala keluarga (lihat table 1. 1. 2. Peta Sebaran Keluarga Miskin di Kecamatan Ampel Tabel 1.257 jiwa.Demografi Jumlah penduduk di Kecamatan Boyolali menurut data dari BPS Kab. Boyolali pada tahun 2003 sebesar 68. Jumlah Keluarga Miskin di Kecamatan Ampel Tahun 2003 Jumlah No Desa KK Klas Miskin 1 Ngangrong 775 banyak 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Seboto Tanduk Banyuanyar Sidomulya Ngargosari Selodoko Ngenden Godangslamet Ngapon 822 844 536 695 603 703 446 366 305 banyak banyak sedang banyak sedang banyak sedang sedikit sedikit 2 . Sebagian besar penduduk bekerja pada sector pertanian tanaman pangan sejumlah 14. Pada tahun 2003 keluarga yang dikategorikan dalam keluarga miskin secara keseluruhan berjumlha 12.939 orang. kemudian diikuti oleh sector pertanian lainnya dan perkebunan.825 yang terbagi antara laki-laki sebanyak 33. Tingkat kesejahteraan masyarakat di kecamatan Ampel menurut data dari pemerintah kabupaten menunjukkan angka yang cukup signifikan. Sedangkan desa dengan jumlah KK miskin terbesar berada di desa sampetan. Gambar 1.156.1) .568 jiwa dan perempuan 35.

bertepatan dengan pembangunan pipa distribusi air oleh PDAM Kab. untuk pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat Kec. 3. Sedangkan masyarakat di sekitar lokasi menyebutnya dengan tempuran.11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Candi Urut Sewu Kaligentong Gladagsari Kembang Candisari Ngargaloka Sampetan Ngadirojo Jlarem Total 762 676 653 331 815 471 383 1. Untuk menuju ke lokasi harus di tempuh dengan berjalan kaki dari Dukuh Candisari. Ampel. Kembang dan yang terakhir Candisari-Ngagrong 3 Sungai ini mengalami kekeringan sejak tahun 1997. Gambar 1. walau letak geografis mata air ini tidak tepat berada di wilayah Dukuh Pantaran. Waktu tempuh ke lokasi mata air dengan berjalan kaki menyusuri dasar sungai yang sudah kering3 – berbatu-batu besar4 dan mendaki kaki gunung + 2 jam. sedangkan jalan menuju ke pemberhentian terakhir ini menanjak dan sudah beraspal kecuali beberapa ratus meter pemberhentian jalan macadam2. alirannya membentuk sungai yang membelah dua Desa yaitu Candisari yang memiliki ketinggian 1040 dpl dan desa Ngagrong dengan ketinggian 1027 dpl. batu-batu besar yang berada di dasar sungai tersebut sebagai bawaan dari banjir bandang yang terjadi pada tahun 1998. 4 Menurut informasi masyarakat. lokasi mata air Pantaran1 terletak tepat di salah satu kaki gunung Merbabu. Bendungan PDAM di Sumber Air Pantaran Ada perbedaan penyebutan sumber mata air ini. Boyolali menyebut dengan mata air Pantaran.100 771 527 12. 1 3 . Boyolali. Letak Dukuh Pantaran secara geografis berada di bawah Dukuh Candisari. pihak PDAM Kab. 2 Beberapa Desa yang dilewati dari arah Ampel Kota yaitu. pada waktu musim penghujan di sertai dengan angin kencang. Desa Gladagsari.584 banyak banyak sedang sedikit banyak sedang sedikit sangat banyak banyak sedang Sumber Peta Tematik Kecamatan Boyolali Tahun 2003 Letak Geografis dan Kondisi Fisik Lokasi Mata Air Secara geografis. tepatnya kendaraan roda dua hanya bisa berhenti sampai areal pemakamaman Syeh Maulana Maqribi.

Kedua aliran sungai ini dipisahkan oleh sebuah bukit sebelum menyatu (lihat gambar 1.4 meter yang menurut informasi masyarakat diperuntukkan bagi para peziarah yang ingin bertirakat di lokasi. Boyolali Bendungan tersebut dibangun oleh PDAM pada tanggal 16 Oktober tahun 1997. 4. tinggal satu aliran sungai saja yang masih terdapat airnya yang saat ini dimanfaatkan. Sisi kiri atas bendungan terdapat sebuah bangungan dari bambu yang berukuran 2.Sumber air yang dimanfaatkan ini berasal dari aliran sungai sisi kanan yang melintasi kaki gunung. 6 Kedua aliran sungai yang menyatu tersebut pada tahun 1960-an masih terdapat air. Sumber dari aliran sungai ini belum di identifikasi lebih lanjut karena pertimbangan medan yang tidak memungkinkan untuk dilalui. tidak terdapat tanda-tanda didekatnya ada sumber air6.3). aliran tersebut meresap dalam tanah + 300 meter dari lokasi bendungan yang dibangun oleh PDAM. Gambar 1.5 akan tetapi aliran air sungai ini tidak sampai setengah perjalanan antara Dukuh Candisari – Lokasi mata air.2 dan 1. Aliran Air Sungai/Sumber Air di Pantaran yang Masuk dalam Pipa Jaringan Distribusi PDAM Kab. Bendungan ini dimanfaatkan untuk mengalirkan air ke pipa jaringan distribusi air milik PDAM.1). Sedangkan pada bagian atas dari bendungan tersebut terdapat pipa jaringan distribusi air milik masyarakat. Pada sisi kiri sungai tersebut terdapat bekas aliran sungai yang kondisinya kering. dan tahun demi mengalami penurunan debit hingga mengering. 5 4 .3 meter x 1. terdiri dari pintu air dan terowongan yang terhubung dengan pipa air PDAM ( lihat gambar 1.

549 5.837 5. dan distribusi air bersih PDAM untuk masyarakat di Kec. 5. dalam data tersebut disebutkan untuk Kecamatan Ampel Jumlah Sambungan Rumah Aktif yang terpasang sebanyak 516 Rumah.378 3. Pintu Air Bendungan PDAM di Sumber Air Pantaran Pemanfaatan. Candisari. Ngadirojo. Ampel7. Jlarem. dokumentasi dan data yang didapatkan dari pihak PDAM hanya terkait Data Produksi dan Sambungan Rumah Tahun 2004.Pintu air menuju ke pipa distribusi air PDAM Pintu air bendungan yang mencegah air meluap ke sungai Gambar 1. Tabel 1.033 2.470 7 Informasi pelayanan distribusi air bersih PDAM dengan memanfaatkan mata air Pantaran sangat minim.930 4. Jumlah Penduduk Tiap Desa yang Memanfaatkan Air dari Mata Air Pantaran Tahun 2000 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Desa Ngagrong Sebolo Tanduk Gladagsari Kembang Candisari Ngargoloka Sempetan Ngadirojo Jlarem Penduduk 2. dan Seboto) untuk kebutuhan air bersih dengan cara mengelola secara mandiri dari sumber air tersebut.893 2. Ngargoloka. Kembang. 5 . Pengelolaan dan Sistem Distribusi Air Sumber air Pantaran tersebut menjadi tumpuan masyarakat sekitar (Desa Ngagrong.203 1.373 2. 2. Sempetan. Gladagsari. Tanduk.487 5.

6). Aliran air yang berasal dari atas oleh masyarakat di pecah alirannya sebelum turun ke bawah dan masuk ke pipa jaringan distribusi air milik PDAM.Gambar 1. Dari hasil identifikasi di sumber air tersebut pada sisi kanan kaki gunung yang telah disebutkan di atas terdapat tiga buah pipa pralon air masyarakat dengan diameter masing-masing 8 cm dan ketebalan 2 inci. 7. 6 Batas Desa di Kecamatan Ampel Masyarakat dari 10 desa tersebut untuk memperoleh air tersebut dengan cara mengambil langsung dari mata air dengan memasang pipa-pipa yang melintasi tebing dan punggung bukit dan kaki gunung. 6 . Jarak antara tebing dan tanah-bebatuan tersebut 1.5 dan 1. Sedangkan pada sisi kiri kaki bukit gunung masih terdapat dua buah pipa masyarakat yang mendapatkan air bersih dari air terjun Sependok yang kemudian dialirkan ke wilayah Golelo. Model pemecahan air dengan menaruh tanah dan bebatuan di tengah sungai agar air dapat terbagi dan masuk ke pipa masyarakat.5).8 Tiga buah pipa distribusi air masyarakat Bendungan pemecah aliran air yang dibuat dari tanah dan batu Gambar 1. dan Cengklik (Lihat Gambar 1. Pipa Distribusi Air Masyarakat di Sumber Air Pantaran 8 Air terjun ini belum teridentifikasi dengan baik dengan pertimbangan jarak dan waktu yang tidak mencukupi maka tim memutuskan untuk mendapatkan informasi terkait dari masyrakat sekitar.3 meter (lihat gambar 1. Ngebrak.

10).9 dan 1. Pipa Distribusi Air Masyarakat di Sumber air Pantaran (nampak dekat) Pipa air sisi kanan diperuntukkan untuk masyarakat di desa Ngargoloko. 9.Gambar 1. sedangkan pipa air pada sisi kiri diperuntukkan bagi masyarakat desa Candisari. 7 . Gladagsari. 1. Sebolo.7 dan 1. berjarak 200 meter dari sebuah makam yang dikeramatkan masyarakat. kemudian didistribusikan ke bak-bak penampungan di rumah-rumah masyarakat atau bagi mereka yang tidak mampu membangun bak tersebut cukup dengan memasang pipa atau selang dari bak penampungan tetangganya (lihat gambar 1.12). Ngadirojo dan Jlarem. Sampetan.5 m dan ketebalan 30 cm) (lihat gambar 1. Kembang. Sebelum pipa air tersebut masuk ke dukuh Candisari. dan Tanduk (lihat gambar 1. Pipa distribusi air masyarakat pada sisi kiri dari sungai/ sumber air Pantaran Gambar 1. Pipa Distribusi Air Masyarakat Dari Air Terjun Sependok Model distribusi yang dikembangkan dengan menggunakan gravitasi didukung oleh kontur tanah yang memadai. 8. terlebih dahulu ditampung dalam sebuah bak penampungan (berukuran 3 m x 3 m dengan ketinggian 1. Ngagrong.11).8.

Pipa Distribusi Air tebing gunung.000. Masyarakat pemanfaat air tersebut tidak Masyarakat yang berasal dari Sumber Air dikenakan biaya bulanan guna perawatan pipa. atau berdasarkan kerelaan dan kemampuan membayar. 15. 11. 10.Gambar 1.000 – Rp. hanya Pantaran jika ada kerusakan atau pergantian pipa mereka dikenakan biaya sebesar Rp. 10. 8 . Bak Penampungan Air Masyarakat dari Sumber Air Pantaran Pipa-pipa tersebut hasil swadaya masyarakat begitu pula dengan tenaga kerja yang memasang pipa di tebingGambar 1.

12.Gambar 1. Sistem Jaringan Distribusi Air PDAM dan Masyarakat dari Mata Air/Sungai Pantaran Bak penampungan air pertama dari sungai/MA pantaran Aliran sungai Pantaran Pipa jaringan distribusi air ke bak penampungan di rumah-rumah masyarakat Jaringan pipa distribusi air masyarakat Bendungan PDAM di Pantaran Pipa distribusi air PDAM dari MA Pantaran ke rumah masyarakat Bak Penampungan air PDAM dari MA Pantaran yang terletak di Dusun Candisari 9 .

Gambar 1. 13. Sistem Jaringan Distribusi Air Bersih Masyarakat dari Air Terjun Sependok Bak penampungan air pertama dari Air Terjun Sepndok Aliran Terjun Sependok Pipa jaringan distribusi air ke bak penampungan di rumah-rumah masyarakat Jaringan pipa distribusi air masyarakat 10 .

11 . Pengamatan di lapangan. seperti contoh di Sebolo hanya 3 KK. tanah tegalan masyarakat ditanami produk unggulan seperti Kopi.5 1145 280 1225 1000 335 1225 560 1910 1070 600 30 0 45 160 230 60 Kapuk 0 350 100 550 600 550 250 350 400 700 250 600 250 250 0 0 0 0 0 0 Kenanga (x10) 0 0 0 450 0 0 0 0 0 0 0 7 290 500 5 0 0 325 0 0 Pola pemanfaatan dan model distribusi air yang demikian sudah berlangsung berpuluh-puluh tahun.Gambar 1. Meski demikian model pertanian warga sekitar tadah hujan. Dari debit air mencukupi kebutuhan masyarakat tersebut akan air bersih. 3 Produksi Tanaman Perkebunan Tiap Desa ( Jumlah Pohon ) Kecamatan Ampel tahun 2002 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Desa Ngagrong Seboto Tanduk Banyuanyar Sidomulyo Ngargosari Selodoko Ngenden Ngampon Gondang Slamet Candi Urut Sewu Kali gentong Gladag Sari Kembang Candi sari Ngargoloko Sampetan Ngadirojo Jlarem Kopi (x100) 1221 160 162 90 365 110 85 40 85 90 155 245 1105 150 675 55 1300 265 845 185 The (x100) 1802 40 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 10 10 1200 1030 2600 600 450 1210 Kelapa (x10) 0 100 820 175. Bak Penampungan Air di Rumah Masyarakat Dengan demikian masyarakat dari 10 desa dan beberapa wilayah lainnya tidak berlangganan air bersih dari PDAM walau pipa PDAM melewati daerah mereka. Alasan atau pertimbangan utama masyarakat tidak memanfaatkan air untuk pengairan tegalan mereka. Boyolali memanfaatkan sumber air/sungai Pantaran dengan membuat bendungan. Tabel 1. Kenanga dan Kapuk. masyarakat sudah terlebih dahulu memanfaatkannya. Sedangkan produk lainnya seperti Jagung dan Tembakau. dengan alasan minimnya kemampuan financial mereka untuk membayar retribusi bulanan. Teh. Sebengi 5 KK dan Drajut hanya 4 KK. Sedangkan warga desa yang berlangganan terhitung sedikit. bahkan kecenderungannya berlimpah. jika warga bagian atas memanfaatkan air tersebut di luar pemenuhan air bersih maka ditakutkan masyarakat bagian bawah kebutuhan air bersih-nya tidak tercukupi. 14. bahkan sebelum PDAM Kab. Kelapa.

10 dan 1. Gambar 1. Boyolali.9 Bahkan sungai di tempuran-pun kering.13). Bak Penampungan Air PDAM dari Sumber Air Pantaran yang Terletak di Dukuh Candisari Ekosistem Sumber Air dan Pelestarian Lingkungan Sekitar Ekosistem sekitar sungai tempuran. Ekosistem Gunung dan Kaki Gunung Merbabu Kondisi ini secara riil berdampak pada penurunan debit air dari sumber air di Pantaran yang kemudian mempengaruhi produksi air PDAM Kab. dalam jumlah yang relative kecil. Selebihnya air tersebut sudah meresap ke tanah. Hal ini tidak didukung pula oleh konservasi lahan lereng dan kaki gunung merbabu. Bak penampungan ini difungsikan sekaligus sebagai water treatment sebelum didistribusikan ke pelanggan (lihat gambar 1. mengapa demikian? Jika ditelusuri sumber aliran air sungai berasal dari gunung Merbabu.3 dapat dilihat dari tahun ke tahun terjadi penurunan produksi air yang sangat significant dengan kecenderungan tidak adanya hasil produksi seperti pada bulan 9 Tidak adanya database yang memadai dan komprehensif dari Dinas Pertanian. dalam hal ini hutan di gunung Merbabu 12 . baik itu oleh pemerintah maupun masyarakat sekitar. pada bagian atas bukit dan kaki gunung ditumbuhi oleh pohon Pinus dan beberapa pohon besar lainnya. sedangkan ekosistem gunung Merbabu tidak mendukung bagi keberlangsungan air bawah tanah dan air permukaan. 16. Dari tabel 1. namun keberlangsungan air sangat ditentukan oleh environment support system. Boyolali terkait luas hutan gundul di Gunung Merbabu menyulitkan untuk melakukan analisis tingkat degradasi air dalam relasi dengan menurunnya daya dukung lingkungan sekitar.Sistem distribusi air oleh PDAM dilakukan dengan memanfaat gravitasi mengalirkan air melalui pipa distribusi dari sumber air di Pantaran/tempuran kemudian ditampung dalam bak penampungan terletak di Ngagrong di dekat pemukiman penduduk. Walaupun masyarakat tidak melakukan perusakan lingkungan. 15. Sebagian besar lahan yang berada di kaki gunung dan di punggung gunung Merbabu terlihat gundul dan tandus. Perkebunan dan Kehutanan Kab. Gambar 1. Demikian halnya yang terjadi pada sungai-sungai di wilayah Kecamatan Ampel mengalami kering. hanya satu sungai saja pada sisi kanan yang aliran air-nya mencapai 1/3 jarak sungai di hitung dari bendungan PDAM hingga Dusun Candisari.

904 115.353 31.869 128.436 1.687 22.851 146.895 151. Data Produksi Air Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Boyolali (dalam m3) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Pantaran 2001 123.247 13.602 1.222 2.358 162.260 31. Tabel 1.195 24. 4.906 141.894 153.387 163.637 35.469 13 .441 2003 14.539 2.057 105.618 12.809 753 1.037 2002 40.203 151.546 155.Oktober – November tahun 2002 dan bulan Juni – November 2003.447 51.

II.

KECAMATAN BANYUDONO

PENDAHULUAN Kec. Banyudono adalah salah satu kecamatan di kab. Boyolali yang letak geografis lebih rendah dibanding dengan kecamatan lain. Letak geografis demikian menjadikan ketersediaan air di wilayah ini cukup, bahkan cenderung supply air berlebihan. Indikasinya terdapat sebaran mata air hampir di semua wilayah. Bahkan dibeberapa mata air, luapan airnya membentuk sungai mengalir hingga ke wilayah Kartasura. Karena berlimpahnya air di kecamatan maka wilayah ini adalah wilayah pertanian (lihat gambar 2.1). Kontur tanah di wilayah ini tidak bergelombang atau berbukit, sehingga akses ke masing-masing sumber air cukup mudah. Kecamatan Banyudono dijadikan salah satu pilot project mempunyai tujuan menjadi perbandingan dengan wilayah kekeringan lainnya. Secara menyeluruh ekosistem sekitar mata air terdiri dari areal persawahan, pemukiman penduduk, pembibitan ikan dan sebagian kecil tegalan.
Gambar 2. 1. Tata Guna Lahan Kecamatan Banyudono Tahun 2003

KONDISI SOSIAL MASYARAKAT Kondisi sosial-ekonomi masyarakat Banyudono berbeda dengan masyarakat di 3 kecamatan lainnya (Musuk, Ampel dan Wonosegoro). Dari data yang ada menunjukkan bahwa jumlah KK miskin di Kecamatan Banyudono lebih rendah dengan jumlah 4593 KK dibandingkan dengan 3 kecamatan lainnya. Karena letak Banyudono yang berbatasan dengan Kartosuro dan Solo, sehingga masyarakat di Banyudono dapat dikategorikan dalam masyarakat urban.

14

Gambar 2. 2. Peta Sebaran KK Miskin di Kecamatan Banyudono Tahun 2003

UMBUL SUNGSANG Letak Geografis dan Kondisi Fisik Lokasi Mata Air Umbul sungsang terletak di tengah areal pemukiman penduduk, dengan kondisi bangunan yang terbagi dalam 4 bagian, 2 ruang tertutup dan dua ruang terbuka. Dua ruang tertutup masingmasing diperuntukkan untuk mandi laki-laki dan perempuan, sedangkan dua ruangan terbuka di peruntukkan untuk aktivitas mencuci (lihat gambar 2.4). Di umbul ini terdapat beberapa titik mata air, sehingga tidak tergantung hanya kepada satu titik saja. Luapan umbul Sungsang membentuk aliran sungai yang mengalir Gambar 2. 3 Aliran Air Sungai yang Berasal dari hingga ke Klewer-Kartasura (lihat gambar Umbul Sungsang 2.3). Pemanfaatan, Pengelolaan dan Sistem Distribusi Air Secara umum umbul ini dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan non konsumsi, termasuk di dalamnya irigasi pertanian masyarakat Banyudono dan beberapa wilayah lain yang berada di luar Kabupaten Boyolali.

15

Gambar 2. 4 Aktivitas Masyarakat di Umbul Sungsang

Untuk pemenuhan kebutuhan air bersih, masyarakat sekitar umbul ini (desa Bendan) memanfaatkan sumur gali dengan kedalaman 68 meter, bahkan di beberapa wilayah hanya 4 meter. Kondisi ini berbanding terbalik dengan desa yang bersebelahan dengan desa Bendan, tepatnya arah barat yaitu desa Temple dan ke arah Utara yaitu Desa Ketaon dan Desa Tunjungsari, kedalaman sumur di wilayah tersebut mencapai 28-30 meter sampai pada titik mengeluarkan air. Secara geografis di dua wilayah tersebut memiliki kontur tanah yang lebih tinggi. Semakin ke arah Utara sumber air tidak ditemukan, sehingga PDAM Kab. Boyolali untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat mengolah air Sungai Pepe (lihat gambar 1.14). Kedalaman sumur di wilayah ini

berkisar antara 28-30 meter.

Gambar 2. 5. Proses Water Treatment PDAM Kab. Boyolali dari Sungai Pepe

Air Kotor

Prasedimentasi

Koogulasi

Flokkulasi

Reservoir

Disinfektan

Filtriasi

Sendimentasi

Model pengelolaan umbul ini tidak ada yang istimewa, hanya dengan menjaga kebersihan dan keindahan dari bangunan dan lingkungan sekitar mata air, dana operasional tersebut didapatkan dari kotak amal yang diletakkan di depan pintu masuk umbul. Pada musim kemarau debit air umbul Sungsang memang mengalami penurunan debit, akan tetapi tidak begitu signifikan, sehingga masyarakat masih bisa memanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan non konsumtif. Walau debit air umbul Sungsang cukup besar, namun tidak dimanfaatkan oleh PDAM kab. Boyolali untuk dijadikan salah satu sumber bagi distribusi air bersih masyarakat. Umbul Sungsang berada dalam penguasaan penuh masyarakat, sehingga setiap kebijakan pengelolaan sumber tersebut baik oleh pihak pemerintah maupun swasta harus berdasarkan persetujuan masyarakat. Hal ini berdasarkan pada kejadian tahun 1998, kebijakan pemerintah daerah Kab. Boyolali dan Pemerintah Daerah Solo berencana memanfaatkan

Gambar 2. 6 Areal yang di Sewa oleh PDAM Solo

16

Lokasi dimana umbul di atas tanah milik perorangan. Tempat dimana umbul itu Gambar 2. umbul tersebut diperuntukkan bagi masyarakat sekitar untuk pemenuhan kebutuhan mencuci dan mandi (lihat gambar 2. Lahan di sekitar umbul dan sebelum umbul sangat subur yang oleh masyarakat di tanami dengan Padi dan tanaman holtikultura lainnya. dan meski rencana PDAM Solo tidak terealisir. Di dalam lokasi ini terdapat bangunan-bangunan permanen seperti kolam renang dan pemancingan. masyarakat sekitar Sungsang melakukan perlawanan dalam bentuk merusak pipa-pipa air milik PDAM yang telah dipasang. Setiap orang yang masuk ke umbul Pengging dikenai retribusi sebesar Rp.umbul Sungsang guna distribusi air bersih bagi masyarakat Solo.7). Dana tersebut oleh masyarakat digunakan masyarakat untuk membangun jalan desa. debit air umbul Pengging tidak mengalami penurunan yang signifikan. hanya sekitar meter 100 m arah selatan dari umbul Sungsang. UMBUL PLANANGAN Umbul Planangan terletak di desa Plumbungan.Teras. sumber-sumber air ini tidak pernah mengalami kekeringan hanya debit air serta volumenya berkurang tapi tidak significant. Berdampingan dengan bangunan bilik tersebut. sebagian pekarangan tersebut dimanfaatkan oleh pemilik untuk pembenihan ikan. Kondisi fisik air nampak jernih dan luapan air dari umbul tersebut mengalir ke areal persawahan dan perkebunan di sekitarnya. berjarak + 10 kilometer arah timur dari umbul Pengging. 7 Bilik di Umbul Planangan yang Dimanfaatkan Masyarakat berada dibangun bilik-bilik yang masingmasing bilik dimanfaatkan untuk kebutuhan yang berbeda. Pada musim kemarau. Kelurahan Dukuh. dan luapan dari umbul ini membentuk sungai yang mengairi areal persawahan di wilayah Banyudono dan Kartasuro. Meski pada saat itu pihak PDAM Solo telah membayar sewa lahan yang akan di eksploitasi airnya selama 10 tahun dengan biaya sebesar 25 juta. Kolam Pembenihan Ikan 17 . banyak terdapat pohon-pohon peneduh.8). dengan pekarangan yang cukup luas. namun oleh sang pemilik. Umbul ini telah dikelola oleh pemerintah kabupaten Boyolali sebagai obyek wisata dan kolam renang.Banyudono Boyolali sendiri yang menggunakan atau memanfaatkan distribusi air PDAM hanyalah sebagian yaitu daerah Tempel bagian barat hingga Kec. Pada musim kemarau. Pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat diperoleh dari sumur gali yang berada di masing- Gambar 2. terdapat rumah pemilik tanah umbul tersebut. 8. Di areal ini terdapat sekitar 4 sumber. Kecamatan Banyudono. Sementara masyarakat Kec.1. UMBUL PENGGING Sumber ini masih berada diwilayah Bendan Banyudono. jika pipa pralon ditancapkan ke tanah kolam tersebut maka akan mengeluarkan air (lihat gambar 2. Melihat dan mendengar kebijakan tersebut. sehingga tidak banyak berpengaruh kepada lingkungan dan kehidupan social-ekonomi masyarakat. Menurut keterangannya di kolam pembibitan ikan terdapat umbul lainnya.200.

Areal sekitar umbul terdapat sawah dan pemukiman penduduk.masing rumah warga dengan rata-rata kedalaman 4 . Meski demikian masyarakat sekitar tidak mengenakan retribusi bagi Gambar 2. akan tetapi juga masyarakat dari kota lain. Pemanfaat mata air ini tidak hanya berasal dari masyarakat sekitar. Justru luapan airnya mengairi sawah dan ladang masyarakat. terdapat sebuah petilasan yang keramatkan karena diyakini masyarakat sebagai petilasan Prabu Brawijaya XI. tidak mengalami kekeringan. buah buah bilik yang tertutup diperuntukkan untuk mandi-cuci perempuan. dan memiliki tiga buah bangunan utama10 yaitu. Distribusi air dari salah satu sumber dengan menggunakan pipa telah berlangsung lama sejak tahun 1965/1966. Walau di sekitar mata air ini didominasi oleh areal persawahan masyarakat dan tanaman holtikultura lainnya. 10 Ekosistem Sekitar Umbul Kendat 10 Bilik-bilik ini dibangun oleh KOPPASUS pada tahun 1966 18 .6 meter. Pengelolaan mata air dilakukan oleh secara swadaya oleh masyarakat tanpa memungut retribusi bulanan. dan sebuah bangunan distribusi air bersih untuk KOPPASUS di Kartosuro. pengelolaan pada aspek kebersihan. Umbul Kendat mempunyai 3 buah sumber mata air. Di dekat umbul tersebut. Gambar 2. masyarakat sekitar memanfaatkan sumur gali dengan kedalaman berkisar antara 6-8 meter. satu bilik terbuka yang dimanfaatkan untuk mandi laki-laki. Akses jalan menuju lokasi sangat mudah dengan kondisi jalan aspal dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Pada musim kemarau. Jika terjadi penurunan debitpun tidak begitu significant mempengaruhi pemenuhan kebutuhan non konsumsi masyarakat. sama seperti umbul lain di wilayah Banyudono. sekitar 300 m arah Utara dari mata air Planangan. bahkan di wilayah tertentu dengan kedalaman 1. 9 Bak Penampungan Air di Salah satu masyarakat yang berasal dari luar kota Kolam umbul Kendat tersebut. bangunan fisik dan lingkungan sekitar. seperti Solo dan Kartosuro. UMBUL KENDAT Umbul ini terletak tidak jauh dari umbul Planangan.5 meter dapat diperoleh air. Sedangkan untuk pemenuhan air bersih.

Kabupaten Klaten dan Kecamatan Cepogo serta Kecamatan Mojosongo yang berada di Kabupaten Boyolali. Dengan pemanfaatannya sebagai berikut : Pekarangan 1992. Tata Guna Lahan Tahun 2003 19 .1 ha Tegal/kebun 3830.95 Km² dengan ketinggian antara 500-2941 mdpl.1 ha Gambar 3.III.4 ha Tanah lainnya 304.9 ha Padang gembala 100.277. lembah dengan kemiringan yang terjal. KECAMATAN MUSUK PENDAHULUAN Kecamatan Musuk terletak di lereng Gunung Merapi berada di antara Kecamatan Kemalang. Permukaan tanahnya sebagian besar bergelombang dan banyak terdapat sungai.6 ha Hutan negara 276. jurang. 1. Dengan luas areal 62.

39728 16 Ringinlarik 3.03% dengan tingkat kemiskinan penduduk . Pemukiman padat penduduk dijumpai di Desa Musuk.27795 Km² Sumber : Bappeda Kabupaten Boyolali Jenis tanah di Kecamatan Musuk Kabupaten Boyolali terdiri dari 2 macam: 1.77194 Sumur 2. mempunyai tingkat pertumbuhan sebesar 0. Sukorame.69241 19 Sukorame 2. 4 5.00773 Karangkendal 2. Jumlah penduduk di Kecamatan Musuk pada tahun 2003 sebanyak 59.241 3.34478 Lanjaran 2.882 20 .05440 Mriyan 2. Regosol kelabu Kependudukan Dari hasil pengamatan di lapangan rumah-rumah penduduk di Kecamatan Musuk terlihat jarang/tidak padat.53987 13 Sruni 3.480 dengan perbandingan laki-laki 28. Pra sejahtera Sejahtera Alasan ekonomi Alasan non Sejahtera 1 Sejahtera II. Pusporenggo. Sedangkan sisanya terlihat antara rumah satu dengan yang lainnya saling berjauhan. Pusporenggo 2.06835 Jemowo 5.74014 Keposong 4.724 jiwa.51546 Jumlah Total luas areal Kecamatan Musuk : 62. Ekonomi III+ 3.47700 Dragan 2.19150 Karanganyar 3. 10 Desa Luas (Km²) No Desa Luas (Km²) Lampar 3.63054 18. 7.664 Sumber data Boyolali dalam angka tahun 2003 Jumlah 16.927 3.68239 14 Cluntang 2. Kebongulo. 9. 8.26155 15 Kembangsari 3.dan Sukoredjo.10813 Sangup 3.990 5. III.09636 12 Sukorejo 5. Kompleks Regosol Kelabu dan Litosol 2.756 dan perempuan 30. 6.69659 17 Kebongulo 1. Musuk 4.71094 11 Pagerjurang 1.Kecamatan Musuk terdiri dari 20 desa yaitu : No 1 2 3.29063 20. dengan kepadatan penduduk 915 jiwa/km.

Potensi pertanian di wilayah Kecamatan Musuk adalah. Kelapa. 2. Dari hasil diskusi dengan masyarakat sebagian besar penduduk wilayah tersebut berprofesi sebagai petani dengan perbandingan sebagai berikut:. dan Cengkeh. Tembakau. 21 . Jagung. Cabai. Sebaran Penduduk Miskin di Kecamatan Musuk Potensi pertanian dan sumber pendapatan masyarakat Lahan di wilayah Kecamatan Musuk sebagian besar dipergunakan sebagai lahan pertanian masyarakat yang sekaligus juga menjadi mata pencaharian utama masyarakat setempat.Gambar 3.

038 liter.Pertanian tanaman pangan 4. hal ini terungkap setelah terlihat banyak dijumpai sesajen di tempat-tempat yang dianggap keramat.083 Ton Cabe 99. terutama daerah sungai yang kering.267 kw Tembakau 45.018 orang Perkebunan 5. Sumber pendapatan yang lain penduduk adalah sebagai penambang batu dan pasir.107 ekor Ayam buras 73.331 Ton Ketela 13.4610 kg Pada areal sekitar lahan pertanian juga banyak pohon sengon dan mahoni yang di tebang untuk dijual.835 orang Pertanian lainnya - Komoditi utama pertanian masyarakat wilayah Kecamatan Musuk mayoritas adalah tanaman keras.975. tebing jurang dan di dasar sungai.021 Ton Padi 4.itu terjadi atas kehendak jin penunggu tempat tersebut misal.285 kw Kelapa 1252200 butir Cengkeh 4. Jumlah penduduk yang bekerja pada sector peternakan sebesar 15. dengan perbandingan hasil pertanian tersebut adalah seperti ditunjukan pada table berikut: Data hasil produksi pertanian Kecamatan Musuk pada tahun 2003. Masyarakat Musuk adalah masyarakat yang sangat dekat dengan tradisi budaya leluhur yang diterapkan dalam kehidupan sehari-harinya. sungai yang tiba-tiba banjir.761 jiwa. Wilayah tersebut menjadi salah satu sasaran dalam penlitian pemetaan sumber daya air yang didasarkan pada beberapa hal diantaranya yaitu letaknya yang berada di lereng Merapi dimana wilayah Gunung Merapi sebagai salah satu daerah penyangga selain Gunung Merbabu. Jagung 15. Aktifitas penambangan rakyat dilakukan oleh masyarakat setempat sepanjang tahun.861 ekor Kambing 27. Masyarakat penambang batu dan pasir melakukan penambangan11 secara sporadis. 3 Ekosistem Kec. di wilayah yang mempunyai kandungan batu dan pasir. Musuk tidak/lupa memberi sesajen di tempat itu WILAYAH / LOKASI PENELITIAN Kecamatan Musuk secara administrative masuk dalam wilayah Kabupaten Boyolali. Dengan jumlah hewan ternak : Sapi perah 16. Disamping itu guna menambah penghasilan mereka juga memelihara ternak.801 ekor Itik 720 ekor Puyuh 5. Mereka mempercayai bahwa hal-hal yang terjadi secara mendadak/tibatiba. 22 . yang terletak di lereng Gunung Merapi.000 ekor Data dari Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Kabupaten Boyolali produksi susu di Kecamatan Musuk pada tahun 2003 adalah yang terbesar dengan jumlah 9. oleh masyarakat setempat dikatakan banjir tersebut karena mereka Gambar 3.322 ekor Sapi potong 6. Di wilayah Kecamatan Musuk juga memiliki potensi kelangkaan air yang 11 Penambangan dilakukan dengan menggali tanah.

Di tahun 1951 satuan keamanan yang dipimpin oleh Ranu Wiryo ditugaskan memberantas kegiatan gerombolan tersebut. Membuat sumur bor. • Memanfaatkan air dari sumber air yang ada di wilayah dusun/dukuh setempat. Sedangkan wilayah pemukiman atau desa-desa yang belum terlayani tersebut terletak pada posisi yang lebih tinggi dari sumber air yang ada. Menurut PDAM desa-desa yang tidak terjangkau pelayanannya disebabkan oleh kontur tanah di wilayah yang belum terlayani berbukit. • Membeli hak atas mata air. yaitu Desa Musuk dan Pusporenggo. dan belum mencakup upaya praktis kearah pemeliharaan kelestarian Gambar 3. 4 Sumur Bor di Desa Lampar lingkungan. Terutama perubahan yang terjadi pada tahun 1996 dimana masyarakat di beberapa desa berinisiatif untuk mengalirkan air di sumber-sumber yang memiliki debit relative besar ke wilayah pemukiman dengan memanfaatkan efek grafitasi. • Memanfaatkan sumber air di lereng Gunung Merapi. Upaya pemenuhan air tersebut oleh masyarakat di wilayah Kecamatan Musuk mengalami perubahan.terjadi terutama disetiap musim kemarau yang akhirnya juga potensial membawa pada permasalahan lain sebagai ikutan seperti penurunan hasil panen. Di Kecamatan Musuk12 hanya desa Pusporenggo dan desa Musuk yang mendapatkan pelayanan dari PDAM. • Membeli air yang dijual oleh pihak tertentu dengan menggunakan mobil tangki. penjarahan dan pembunuhan yang dipimpin oleh Suradi Bledek. masih berupa langkahlangkah yang bersifat temporer. Mereka tidak segan-segan untuk menghabisi nyawa bagi siapa saja yang menghalangi aksi perampokan dan penjarahan yang mereka lakukan. maka praktis. • Membuat sumur gali. Dampak dari pemasalahan kelangkaan air tersebut memaksa masyarakat untuk bertindak melakukan beberapa langkah antisipasi menghadapi musim kemarau seperti membuat tandon air di setiap rumah. masyarakat diluar kedua wilayah desa tersebut harus mengupayakannya secara swadaya. 23 . Karena pelayanan PDAM baru mencapai sebagian kecil Kecamatan Musuk. dengan aksi-aksi perampokan. 2. Pada tahun 1952 MMC bubar dan sebagian pengikutnya masuk menjadi anggota partai PKI yang memenangkan pemilu waktu itu. Pada tahun 1950 gerombolan tersebut di susupi oleh orangorang PKI Muso yang berbasis di Madiun. • Memanfaatkan bantuan yang diberikan oleh lembaga lain dan pemerintah. Beberapa altenatif yang dilakukan oleh masyarakat dalam upayanya memenuhi kebutuhan air bersih adalah dengan: • Membuat bak penampungan air hujan. Sebagian besar desa dari total sejumlah 20 desa yang berada di dalam wilayah Kecamatan Musuk belum dapat dilayani oleh PDAM dalam hal pemenuhan kebutuhan air bersih. Langkah-langkah yang dilakukan pemerintah selama ini diantaranya yaitu : 1. Melakukan dropping air ke wilayah-wilayah tertentu saja dalam jumlah yang sangat terbatas. Sehingga untuk mendistribusikan air tersebut diperlukan fasilitas khusus seperti pompa. Sementara langkah yang dilakukan oleh pemerintah untuk menyikapi kondisi kelangkaan air yang biasa terjadi. 12 Musuk pada tahun 1949 merupakan basis MMC( Merapi Merbabu Complek ) ini adalah sekelompok penjahat yang meresahkan berbagai kalangan masyarakat. penurunan tingkat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat setempat. reservoir. sehingga mengakibatkan biaya produksi air menjadi tinggi. hanya saja sejak saat itu hasil kejahatan yang mereka lakukan dibagi-bagikan kepada orang-orang yang kurang mampu. Kemudian makin merajalela aksi yang dilakukan.

Bambu. Mahoni. Kab Klaten Lampar. Karanglo Wonokembang. Air yang keluar dari sumber tersebut memiliki kecenderungan menyusut secara kuantitas karena pengaruh yang dimunculkan oleh musim kemarau. Perdu Beringin. Sambirejo Kasut Kasut. Kab Klaten Lampar. Beringin. Sumber-sumber air yang teridentifikasi adalah sebagai berikut: No 1 2 Desa Cluntang Mriyan Sumber Air Kali Jelok Sorkaman Kali Celeng Gua Kali Pusung Debit Tetap Tetap Tetap Tetap Kering Tetap Cenderung kering Kering Tetap Tetap Cenderung kering Tetap Cenderung kering Menyusut Tetap Tetap Tetap Kering Kering Lokasi Lereng Lereng Dasar sungai Dasar sungai Dasar sungai Dasar sungai Dasar Sungai Dasar sungai Tebing Dasar sungai Lereng Dasar sungai Lereng Dasar sungai Dasar sungai Dasar sungai Ditengah pemukiman penduduk Ditengah Pemukiman Didaerah tegalan Desa Pengguna Jelok. Sengon. Debit airnya pun sangat kecil hanya berupa rembesan-rembesan yang keluar dari tebing batu. Mriyan. Aren Beringin. Bambu Beringin. Bambu Sengon. Sukun. Bambu Beringin Beringin. Cengkeh. Kawengen Kawengen Pandean. Songgo Bumi Lanjaran. wilayah Kabupaten Botolali pada umumnya dan secara khusus di Kecamatan musuk memiliki keunikan tersendiri yaitu terdapat lapisan bantuan yang menyulitkan dalam proses pembuatan sumur gali. Bentuknya adalah dengan pemberian sesajen dan. Tegalrejo. Durian Beringin . Ipik. Bambu. Keseluruhan sumber air tersebut berada pada tebing dan dasar sungai kering. Sudimoro Karangrejo Wonokembang. Kelapa. Bambu Rumput Kolonjono Rumput Kolonjono. Sangup. Munggur.Ketela. Ekosistem Beringin. PDAM. Terdapat 16 sumber-sumber air yang dapat di indentifikasi di wilayah Kecamatan Musuk. Bahkan jika terjadi bencana yang melanda desa mereka. Karanglo Sumur. Ipik. Jati. Poko Pelem. jika hal tersebut tidak dilakukan maka sumber air tidak mengeluarkan air lagi. Bambu Mahoni. Diyakini oleh masyarakat. Aren Beringin. Sengon Bulu. Tegal weru Pelem. Lanjaran.Secara geologis. Sumur. Sumber-sumber tersebut tersebar di 8 desa. Ipik Perdu Beringin. Beringin. Beringin. Duren Beringin. Kab Klaten Lampar. Jemowo Kintel. Bambu. Perdu. melakukan ritual-ritual pada setiap tahun dan. diyakini juga akibat sesajen yang diberikan kurang lengkap. Bambu. Nglendang Tegalrejo. Sukorame dan di Lampar. Selain dari kantong air yang berada jauh di kedalaman. Tegalrejo Motong. ipik Beringin. Musuk. Serut. Bambu. bulan tertentu. Soko. Bakalan Pandean. Doyo. Ekosistem 24 . 3 4 Lanjaran Sangup Songgo Bumi Kali Lanjaran Kali Bendo Kali Gondang Kali Keduk Lepen Buk Kali Gede 5 6 Sumur Musuk Sumur Sungai Kintel Sungai Karanglo 7 8 Sukorame Lampar Kali Sombo Balong Soko Balong Gebang Balong Randu Kuning Sumber air tersebut oleh masyarakat sebagian masih dimanfaatkan dan dikeramatkan sesuai dengan tradisi dan kepercayaan local. Bakalan. yaitu Clutang.

selain ditumbuhi rumput Kolonjono yang ditanami oleh warga sekitar hutan.0 Tingkat kematian per seribu penduduk 2. Sementara wilayah yang tidak diperuntukkan sebagai lahan produksi seperti areal hutan sangat sedikit jika dibandingkan dengan luas Kecamatan Musuk secara keseluruhan. Mekanisme pengelolaan areal saban tersebut dilaksanakan oleh aparat desa dengan cara disewakan pada masyarakat desa seharga Rp.250. Menurut informasi yang dikeluarkan dari kantor BKKBN Boyolali. Praktek illegal tersebut berjalan karena adanya kerjasama antara mandor hutan dengan masyarakat dengan system bagi hasil sebagai kompensasinya. dimana hutan tersebut merupakan hutan lindung milik Perhutani di wilayah Kecamatan Musuk. Hingga saat ini pola pengelolaan tersebut masih terjadi kontroversi di kalangan masyarakat desa sejak tahun 1992 terutama di wilayah Mriyan. tembakau dan rumput kolonjono. 13 25 . dan Sangup 136.9 3.sedangkan untuk ke Puskesmas I mereka harus ke dukuh Drajitan di desa Sruni dengan jarak +/3km.5 Saban adalah istilah yang digunakan masyarakat untuk menyebut tanah kas desa yang berada di dekat hutan lindung.00 Ha.Ekosistem wilayah Kecamatan Musuk dimana sebagian besar lahan didalam wilayah tersebut adalah lahan pertanian (lahan kering). dan ketidak jelasan arus keuangan pembayaran sewa saban dari masyarakat.1 8. Cluntang. Saban13 ditanami oleh masyarakat dengan tanaman produksi. Cluntang 125. Sarana Kesehatan Sarana kesehatan masyarakat di wilayah Kec Musuk desa Mriyan.8 6. Sebagai perbandingan : Gambar 3. 2 Satu petak seluas limaratus meter persegi. Tingkat Kematian Penduduk di 4 Kecamatan Kabupaten Boyolali Tahun 2003 Penduduk pertengahan tahun 2003 Musuk 59341 Ampel 68763 Banyudono 44987 Wonosegoro 52895 Sumber data Boyolali dalam angka 2003 PROFIL DESA DI KECAMATAN MUSUK DESA CLUNTANG Kecamatan Tingkat kelahiran per seribu penduduk 3.4 ha. Dari total luas lahan hutan sejumlah 276. Tersebar di tiga desa yaitu Mriyan seluas 15. karena banyak lahan saban yang dijual oleh aparat desa.8 5. Hutan tersebut didominasi oleh tanaman Pinus dan Akasia. Sedangkan puskesmas ke II berada di Desa Karanganyar.000. banyak diantaranya dibuka untuk dijadikan lahan pertanian oleh masyarakat. tingkat kematian di wilayah Kec Musuk cukup tinggi. seperti jagung. tanah yang naik turun. terutama pada musim kemarau. maka membuat kondisi Musuk menjadi relative gersang dan terbuka.0 11. dan Sangup sangat sulit di akses karena terbatasnya petugas kesehatan. Setiap desa hanya mempunyai satu Bidan desa dan Polindes ( poliklinik desa ).0 3.4 Ha.00 Ha.00/perpetak14 selama periode waktu empat tahun. serta tidak terdapatnya puskesmas keliling.dengan melalui jalan batu. 5 Hutan Lindung Condro Geni Tabel 3. Areal hutan lindung tersebut terutama yang terletak di Mriyan dan Sangup. 1.

Lahan pekarangan di rumah-rumah penduduk didominasi tanaman cengkeh. dan jurang. yang oleh masyarakat setempat disebut Pasar Bubrah. Jarak yang ditempuh masyarakat di 2 dukuh tersebut menuju mata air Kali Jelok antara 200 m – 1. terbuat dari tanah dan batu berukuran 2x2 m. tepatnya di Dukuh Jelok. Hutan tersebut didominasi oleh tanaman pinus dan akasia. yang sempat menjadi andalan masyarakat dalam upayanya memenuhi kebutuhan air bersih. Fasilitas jalan desa yang ada di wilayah tersebut adalah jalan macadam dan sebagian sudah beraspal. Bukit Bibi dimana letak hutan lindung tersebut. Sedang pada areal saban rumput ditanam pada batas petak. air berasal dari sela-sela akar pohon Bulu yang terdapat disisi kolam. Potensi dan Keberadaan air Desa Cluntang memiliki potensi air yang relatif minim. kondisi mata air Kali Jelok seperti dijelaskan dibawah ini: Mata air : Kali Jelok Kondisi Fisik: Mata air Jelok terletak di lereng Bukit Bibi. secara fisik terdiri dari 2 bak penampung yang untuk menampung air yang mengalir dari dalam bukit. Masyarakat juga menanam rumput kolonjono di saban dan hutan. 15 Dukuh Nglendang terletak di Kecamatan Cepogo dan dukuh Jelok . 26 . hanya ada satu sumber air yaitu mata air Kali Jelok. Posisinya berada di sisi jalan setapak sebagai salah satu jalan alternatif yang menghubungkan Kecamatan Musuk dan Kecamatan Cepogo.5 km. meskipun ada yang khusus menanami petaknya dengan rumput. Salah satu sisi desa Cluntang berupa hutan yang berlokasi di Bukit Bibi. Dukuh Jelok. maka pelayanannya tidak sampai Desa Cluntang Secara singkat. Pada kolam pertama. tembakau dan sayuran. Mata air Kali Jelok terletak di sisi Timur Desa Cluntang. bunga mawar. berupa dedauanan dan rumput kolonjono yang di dapat dari areal hutan dan tegalan. Air dari sumber tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat di Dukuh Jelok dan Dukuh Nglendang15 untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari. Sedangkan kolam ke dua yang berukuran 0. Jarak antara Pasar Bubrah dengan Dukuh Jelok ±5 km melewati jalan yang hanya bisa di lalui dengan berjalan kaki. Desa Cluntang terdapat areal hutan lindung yang berada di dukuh Jelok yang dihuni 44 kepala keluarga. 6 Ekosistem Dukuh Jelok Desa Cluntang ditanami.Model penanaman rumput kolonjono dilakukan dengan cara tumpang sari pada areal hutan. Masyarakat juga memelihara sapi perah yang pakannya. Desa Cluntang.Desa Cluntang terletak di sebelah utara dan sebelah barat Kecamatan Musuk dan terletak pada wilayah yang memiliki ketinggian antara 1000 – 2689 mdpl membuat iklim di wilayah Desa Cluntang sejuk. dan sumber air yang digunakan PDAM berada di wilayah bawah. Menurut keterangan masyarakat setempat. Karena wilayah Desa Cluntang berada pada kontur tinggi. Pada umumnya masyarakat di desa tersebut bermata pencaharian sebagai petani yang mengolah lahan tegalan yang ditanami tanaman produksi berupa jagung.5x4m airnya berasal dari sisi tebing bukit Bibi. pada bagian atas adalah lahan tandus yang tidak bisa Gambar 3. Areal lahan tandus itu hanya terdapat batu-batuan dan pasir. Dengan kontur tanah yang berada di lereng gunung pada umumnya berbukit dan memiliki kemiringan yang tinggi.Kecamatan Musuk yang hanya dibatasi hutan lindung.

Meskipun sumber tersebut saat ini sudah jarang dipergunakan lagi. Warga Dukuh Jelok juga memanfaatkan areal saban dengan ditanami jagung. yang ditumbuhi pohon jagung. Gambar 3. aktifitas mandi setiap 3 hari sekali dan cuci pakaian setiap satu minggu sekali. ketela.00 WIB. Sedangkan pohon Bulu dan Kantil Merah tumbuh di tanah atas batu besar yang ada di bak penampung air yang pertama sedangkan. Masyarakat petani ladang jagung biasanya mengusir kera-kera dengan menggunakan anjing peliharaan. penduduk setempat masih merawat. dan hutan lindung yang berada di atasnya didominasi tanaman Pinus dan Akasia. akan tetapi pada bagian bawah hanya terdapat tumbuhan perdu. dan baru mendapatkan air pukul 07.Karena jumlah pengguna air dari masyarakat di 2 dukuh yang cukup banyak. Setiap tahun pada hari Rabu kliwon bulan Rojab menurut kalender Jawa. Kondisi tersebut dikeluhkan oleh penduduk karena kera-kera tersebut memakan jagung petani. Ekosistem Ekosistem sumber air Jelok terlihat masih rimbun pada bagian sisi atasnya. Masyarakat yang akan menggunakan mata air Jelok biasanya mulai mengantri dari pukul 04. Cara pemanfaatannya masih tradisional yaitu dengan mengangsu dengan menggunakan jerigen ukuran 40 liter. pada bak kedua pada bagian bawah nya tumbuh pohon Ipik.00 WIB. rumput kolonjono dan tembakau. Jalan menuju ke lokasi sumber air melewati ladang penduduk. Jurang dibawah sumber air banyak batu batu yang besar. Sumber air Jelok berada di wilayah saban Gambar 3. 8 Hutan lindung yang gundul di Desa Cluntang 27 . hewan tersebut mencari makan di ladang jagung milik penduduk. 7 Mata air Kali Jelok (tanah kas desa) Hewan liar kera banyak terdapat pada areal saban. Saat ini air dari sumber air Jelok hanya sebagai alternatif bagi masyarakat yang digunakan ketika aliran air dari merapi mengalami gangguan biasanya berupa pipa saluran yang pecah. sayur-sayuran dan rumput kolonjono. dan membersihkan sumber air Jelok. tidak sebanding dengan debit air yang dimiliki mata air Kali Jelok sehingga memaksa masyarakat untuk menghemat penggunaan air. macet. Penghematan yang dilakukan masyarakat dengan cara. Sedangkan rumah warga terdekat berjarak -/+ 200 m dibagian atas sumber air.

Seluruh pembagunan reservoir dan. 9 Reservoir Penampugan air dari Gunung Merapi penduduk desa Sruni memanfaatkan air hujan yang ditampung menggunakan di Desa Cluntang tandon air. dialirkan menggunakan pipa PVC ¼ inci. maka atas inisiatif masyarakat setempat. DESA SRUNI Desa Sruni terletak berada bersebelahan dengan desa Cluntang. Tidak ditemukan satupun mata air di dalam wilayah Desa Sruni sehingga dalam memenuhi kebutuhan air bersih Gambar 3. jaringan pipa dilakukan secara swadaya masyarakat Jelok pada tahun 1994. Meskipun mata pencaharian utama sebasgai petani. desa terlihat sangat gersang dan panas. Banyak lahan yang tidak dimanfaatkan secara maksimal menyebabkan. mereka memanfaatkan bilik yang dibangun menempel pada reservoir. penduduk Jelok dikenai biaya Rp. Adapun komoditi pertanian yang mendominasi wilayah tersebut adalah Jagung. pada periode sebelumnya memanfatkan aliran Kali Jelok tetapi untuk periode berikutnya hingga saat ini. Tembakau. Kondisi Ekosistem desa Sruni relatif serupa dengan wilayah disekitarnya seperti desa Mriyan dan Cluntang. Pada tahun 2000 masyarakat Dukuh Condro Bawuk. Karena jarak tempuh yang jauh. akan tetapi air setelah di bawa ke dukuh Condro Bawuk berubah warna mejadi merah. Tidak ada yang mengerti kenapa air berubah warna. Karena terjadi perubahan warna itu pula maka upaya tersebut tidak dilanjutkan. Model distribusi yang diterapkan yaitu dengan menampung air tersebut ke dalam bak penampung utama di dukuh Wonodoyo kecamatan Cepogo selanjutnya. tetapi kondisi kelangkaan air juga diderita oleh masyarakat setempat. Kemudian dialirkan dengan mengunakan pipa menuju ke 4 reservoir di dukuh Jelok. Desa Sruni pernah mencoba mengalirkan sumber air dari dukuh Jelok. sedangkan pengelolaanya dipercayakan pada UPS ( Unit Pengelola Sarana ) dan Tirta Merapi Abadi ( organisasi masyarakat pengguna air dari gunung Merapi ).000/bulan. Alternatif lain yang dilakukan oleh masyarakat setempat adalah dengan mengalirkan air yang berasal dari sumber air Pedut. 28 . 1. Tandon air tersebut ratarata berukuran 6 x 4 x 3 m atau mampu menampung air sebanyak 72 M³. kondisinyapun serupa. memanfaatkan air yang berasal dari sumber air di lereng Gunung Merapi. Sementara untuk perawatan fasilitas yang ada berupa pipa dan reservoir tersebut.Air Bersih Masyarakat Pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat Dukuh Jelok. Pohon pohon tahunan/keras hanyalah pohon cengkeh yang ditanam pada pekarangan rumah-rumah penduduk. dan membutuhkan waktu yang cukup lama yaitu ±6 jam perjalanan pulang-pergi dengan berjalan kaki. dimana jarang terdapat pohon besar. Volume air sejumlah itu dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat selama 3-4 bulan. Sedangkan untuk aktifitas mandi dan cuci. Air yang yang tertampung di masingmasing reservoir itulah yang dimanfaatkan oleh masyarakat desa untuk memenuhi kebutuhan air bersihnya dengan cara mengambilnya dengan menggunakan jerigen berkapasitas 40 liter. dilakukanlah upaya untuk mendekatkan air tersebut ke pemukiman di dukuh Jelok. secara umum. menuju reservoir pembagi di dukuh Jelok Desa Cluntang. dengan mengalirkannya melalui pipa PVC pada tahun 2002 .

Cepogo Reservoir dukuh Taring Kec. Cepogo Reservoir dukuh Ngelendong Kec. Cepogo Reservoir dukuh Gatakan Kec. Cepogo Reservoir dukuh Wonosari Kec.Gambar 3. 10 Sistem Distribusi Air dari Mata Air Merapi ke Kecamatan Musuk dan Cepogo Mata air Tirta Merapi Abadi Lereng Gunung Merapi Reservoir Dukuh Jelok Reservoir pembagi air di Dukuh Ngelendong Kec. Cepogo Reservoir dukuh Kujon Kec. Cepogo Reservoir dukuh Wonodoyo Kec Cepogo 29 .

2. Tiga dari lima sumber air tersebut mempunyai debit konstan. Air Bersih Masyarakat Pada awal tahun 1970 masyarakat dukuh Kawengen membangun bak tandon air hujan. sebab kebutuhan air bersih mereka telah tercukupi dengan adanya pengaliran air dari mata air Pedut. tidak perlu lagi mengambil air dari sumber air secara langsung cukup berjalan menuju ke reservoir terdekat mereka sudah mendapatkan air yang dibutuhkan. 3. Desa Mriyan. Mata air Kali Celeng. Sejak tahun 1996 sumber-sumber air tersebut tidak lagi dimanfaatkan oleh masyarakat. Baik ekosistem wilayah. Pola distribusi air dari sumber Pedut dapat di lihat pada skema distribusi air dari mata air Pedut. mendapat tentangan dari Camat Cepogo waktu itu. memiliki kemiripan kondisi. Tentangan tersebut tidak menyurutkan niat bpk Martono sebagai pemrakarsa proyek. dan komoditi pertanian serta kondisi kelangkaan air bersih yang melanda terutama pada saat musim kemarau. Mata air Kali Pusung.DESA MRIYAN Seperti telah di tulis pada bagian sebelumnya bahwa desa-desa yang terletak dalam satu kawasan seperti Mriyan. yang terletak di dukuh Kawengen dan dukuh Gobumi: 1. Namun pada awal proyek pengaliran air Pedut ke Kawengen tidak mudah dan. Mata air Sorkaman. dan dukungan warga Kawengen berupa dana sebesar Rp 58. sebelum di distribusikan ke 4 desa lain yang terletak lebih rendah. 000 / KK guna pembelian pipa PVC. Mata air Kali Guo. Sejak saat itu masyarakat Dukuh Kawengen membayar Rp 500 / KK untuk biaya perawatan yang dikelola oleh UPS setempat. Gambar 3. Desa Mriyan yang terletak pada posisi ketinggian 1155-1838 mdpl digunakan sebagai tempat untuk membangun kolam reservoir pembagi dari air yang berasal dari sumber air Pedut. Cluntang. 16 Mata air Pedut berada di Dukuh Wonodoyo Kecamatan Cepogo dengan ketinggian 1499mdpl 30 . sedangkan dua lainnya cenderung kering pada musim kemarau. Mata air Gobumi/Songo Bumi. Sama halnya pada dukuh Jelok warga Kawengen juga mempunyai organisasi pengguna air yang bernama Tirta Merapi I. Sruni. 5. yaitu menampung air terlebih dulu di reservoir utama yang terletak di dukuh Kawengen. 11 Mata Air Pedut Potensi dan Keberadaan Sumber Air. 4. Dengan dibangunnya beberapa reservoir tersebut maka warga Kawengen. Meskipun sama-sama mendapatkan pasokan air dari gunung Merapi desa Mriyan mendapatkan air yang berasal dari mata air Pedut16. Model pendistribusian air dari sumber Pedut di Desa Mriyan sama seperti yang dilakukan di desa Cluntang. mata pencaharian penduduk. untuk menampung persediaan air di musim kemarau. Desa Mriyan terdapat lima sumber air.

masyarakat tidak perlu lagi menempuh jarak yang jauh untuk mengambil air yang pada saat sebelumnya hal tersebut selalu dilakukan setiap harinya sejak jam 03. Tegalrejo. menurut warga terdapat mata air yang ditutup dengan panci oleh seorang yang sakti. Menurut warga setempat sebelum tahun 1935 pada areal hutan terdapat dukuh yang bernama Condro Geni. Dimana terbagi menjadi dua kelompok besar yaitu areal dengan vegetasi tanaman hutan. yang Ekosistemnya hanya ladang-ladang jagung. Areal hutan lindung dengan vegetasi tanaman Pinus dan Akasia. Hal ini disebabkan tidak adanya makanan di dalam hutan lindung. Pohon besar seperti beringin. Kali Celeng Kali Guo Kali Pusung Kali Songgo Bumi Lokasi Berada dilereng Dasar kering Dasar kering Dasar kering Dasar kering sungai Sungai Sungai Sungai Kondisi Kualitas Kuantitas Kecoklatan Tetap Jernih Jernih kecoklatan fluktuatif Tetap Kering Tetap Ekosistem Bamboo.Tabel 3. Bakalan. bambu juga terdapat pada areal tersebut dalam jumlah yang sedikit. 31 . Menurut mitos yang berkembang apabila mata air tersebut tidak ditutup. mindi. 2 Tabel sumber air yang terdapat di Desa Mriyan No 1 2 3 4 5 Nama Mata Air Sorkaman. maka akan terjadi banjir yang Gambar 3. Masyarakat justeru memanfaatkan areal hutan Condro Geni untuk berladang. perdu Beringin.00 pagi. Ekosistem Ekosistem di Kawengen hampir sama dengan dukuh Jelok. dan tembakau yang berada pada bagian lereng dan tebingnya. yang mereka mencari makan di ladang jagung milik penduduk. dan tanaman pertanian. Penduduk tidak ada yang tahu penyebab warga Condro Geni meninggalkan dukuhnya. Songgo. dan rumput kolonjono. Gobumi. Pada wilayah dimana dukuh Condro Geni berada. sengon. 12 Mata Air Sorkaman di Desa Mryan bahkan menggenangi Kecamatan Boyolali. beringin. dengan sistim bagi hasil dengan mandor hutan. dan Sangup. Tegalrejo Kawengen Pandean. Dibawah hutan lindung Condro Geni terdapat saban yang ditanami jagung. dikenal oleh masyarakat setempat dengan nama Condro Geni. yang tidak dimanfaatkan secara maksimal oleh penduduk setempat. Aren Perdu. Praktek tersebut serupa dengan yang terjadi di Desa Cluntang. Sejak masyarakat mengalihkan pemanfaatan air dari mata air local ke pemanfaatan dari reservoir pada tahun 1996. Pada daerah dimana kelima sumber air di Desa Mriyan berada. Pandean. Ipik Perdu Beringin. tembakau. ketela. Bakalan. Motong. mahoni. Satwa liar yang terdapat di hutan Condro Geni didominasi oleh kera. Sedangkan empat sumber air di Desa Mriyan terdapat di dasar sungai. Bambu. dan beberapa ekor kijang. Beringin Wilayah Pengguna (Dukuh/Dusun) Kawengen. Tegalrejo. adalah merupakan lahan gundul.

Gambar 3. 13 Lahan gundul di desa Mryan 32 .

Cepogo Bak Penampungan air dari mata air sungai Pedut Mata air terletak di dasar sungai Pedut Pipa jaringan distribusi air masyarakat Reservoir pembagian air di Mriyan Reservoir Lanjaran Reservoir Sangup Reservoir Sumur Reservoir Mriyan Masyarakat mengambil air dengan menggunakan jerigen di reservoirreservoir yang ada 33 .Gambar 3. 14 Sistem Jaringan Distribusi Air Masyarakat dari Mata Air Sungai Pedut Kec.

Sengon. 17 Dari 5 sumber air yang teridentifikasi di dalam wilayah Desa Sangup. Apabila terjadi kemarau panjang seluruh sumber air yang ada di wilayah ini mengering.000/dengan kapasitas 5000 liter. dengan kondisi yang relative baik. Masyarakat di tiga dukuh tersebut dalam memenuhui kebutuhan air bersih. Desa Sangup terdapat 19 Dukuh dan 4 Rw/27 Rt yang tersebar di 4 Dusun. Terdapat beberapa sumber air alam yang terdapat di wilayah Desa Sangup. Air Bersih Masyarakat Dari 19 dukuh di Desa Sangup terdapat 3 dukuh yang terletak pada posisi paling ujung Timur. Karangrejo. Sudimoro Karangrejo Wonokembang. Bambu Beringin Beringin. 15 Mata Air Kali Buk di Desa Sangup seharga Rp 110. Karanglo Gambar 3. dan Sudimoro yang tidak terjangkau distribusi air dari reservoir Desa Sangup. Kali Gondang dan Kali Bendo. Kondisi demikian terjadi karena 3 dukuh tersebut terletak pada posisi yang lebih tinggi ketimbang dukuh-dukuh lainnya. sehingga air tidak dapat mencapai wilayah dimana dukuh tersebut berada. Jumlah penduduk didesa Sangup adalah 2517 jiwa yang terbagi antara laki-laki 1147dan perempuan 1373 orang terdiri dari 663 KK. Ipik. Sumber air air yang berada di wilayah Desa Sangup: No Nama Mata Air Lokasi Kondisi Kualitas Kuantitas Ekosistem Wilayah pengguna (Dukuh/Dusun) 1 2 3 4 5 Kali Buk Kali Bendo Kali Gondang Kali Keduk Kali Gede Lereng Dasar sungai kering Tebing Dasar sungai kering Tetap Kecoklatan Jernih Jernih Jernih Cenderung mengering Kering Tetap Tetap Tetap Beringin. Bambu Wonokembang. Kabupaten Klaten Kali bebeng terletak di Kabupaten Klaten berjarak ± 3 km dari dukuh Kasut desa Sangup 34 . hanya 3 yang masih digunakan hingga saat ini yaitu Kali Keduk. Upaya lain adalah dengan cara membeli air dari mobil tangki yang airnya berasal dari Desa Karang Malang. Sehingga memaksa masyarakat ketiga dukuh untuk mengambil air di Kali Bebeng17. yaitu Dukuh Kasut. secara kuantitas oleh sebab itu sebagian masyarakat masih ada yang memenuhi kebutuhan air bersihnya dari sumber tersebut. Sengon. masih memanfaatkan sumber sumber air di dekat wilayah mereka.DESA SANGUP Desa Sangup terletak di lereng gunung Merapi yang memiliki ketinggian 1541 mdpl dengan suhu udara rata-rata adalah 26ºC. Ipik Beringin. Bambu Beringin. Karanglo kasut Kasut. Secara administrative.

Jumlah tersebut jelas sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan air bersih di ke 3 dukuh tersebut. penduduk dukuh Wonokembang desa Sangup. 146.Masyarakat pengguna sumber air di desa Sangup hanya terbatas pada tiga dukuh.9026 Ha. Dropping tersebut hanya sejumlah 8 tangki selama musim kemarau berlangsung. Tetapi apabila dilihat lebih jauh terdapat ladang-ladang jagung dan tembakau di dalam areal hutan. dan 976 adalah perempuan. Seperti pengguna air dari Pedut lainnya. dituduh warga desa Sumur melakukan kecurangan dalam membagi air yang menuju ke wilayah desa Sumur.731 Ha dan sisanya adalah fasilitas umum. Jumlah penduduk desa Lanjaran pada Desember 2003 berjumlah 1. Bantuan tersebut di khususkan untuk daerah Kasut. Pengelolaannya pun diserahkan ke UPS. adalah yang terluas jika dibandingkan desa Cluntang dan Mriyan. tersebar di 15 dukuh dengan mata pencaharian utama sebagai petani. Gambar 3. Konflik pernah terjadi terhadap pembagian air dari Pedut. Desa Lanjaran dengan luas 263. langkah yang dilakukan pemerintah daerah Kabupaten Boyolali untuk mentikapinya hanya terbatas pada dropping air. Dalam kondisi kelangkaan air di wilayah tersebut. Desa Sangup berada pada posisi paling bawah di sebelah barat Kecamatan Musuk. sama seperti desa Cluntang dan Mriyan. sedangkan 16 dukuh lainnya mendapatkan aliran air dari Pedut. 35 . Desa Mriyan dan Cluntang yang masih mempunyai areal hutan lindung. Pohon keras pada wilayah bawah hanya didominasi oleh cengkeh yang ditanam di lahan pekarangan rumah mereka. 900 laki-laki. Pada tahun 2004 desa Sangup mendapatkan bantuan bibit pohon miu dan alpokat dari pemerintah melalui GN-RLH.1486 m2 terdiri dari tegalan . dan mereka juga memiliki organisasi pengguna air Pedut bernama Tirta Merapi II. masyarakat dikenai beban biaya perawatan masing-masing sebesar Rp 1. 16 Saban di Desa Sangup DESA LANJARAN Letak Desa lanjaran berada dibawah Desa Mriyan dan Cluntang pada ketingian ± 600 mdpl.000/bulan. hal tersebut disampaikan oleh warga Dukuh Kasut. Sedang pada bagian bawah terlihat gersang. Karangrejo dan Sudimoro di desa Sangup. Dari 20 desa di wilayah Kecamatan Musuk hanya Desa Sangup.876 jiwa yang terbagi . Tetapi masyarakat sampai sekarang belum mendapatkan bibit yang dijanjikan pemerintah tersebut. pekarangan 635. Ladang-ladang yang terdapat di areal hutan lindung di Desa Sangup. tetapi tidak sampai bentrok fisik. Meskipun sempat terjadi ketegangan diantara dua desa tersebut. Penanaman bibit pohon miu dan alpokat bertujuan untuk menghijaukan wilayah seluas 25 Ha di desa Sangup.

Saat ini di Desa Lanjaran hanya tinggal beberapa ekor kera saja. Kondisi potensi kederadaan sumber air tersebut sama dengan kondisi yang ada pada Desa Cluntang. Sedangkan komoditi pertanian yang banyak di usahakan di wilayah tersebut adalah palawija serutama Jagung dan tembakau. karena bencana angin ribut yang paling parah terjadi pada wilayah ini. Fauna Fauna liar yang masih ada di wilayah Desa Lanjaran adalah Gambar 3. Satu dari empat mata air yang mempunyai debit air cukup bayak. maka sebagian besar pemanfaatan lahan di wilayah tersebut adalah sebagai lahan pertanian. Mengingat sebagian besar warga Desa Lanjaran yang bermata pencaharian sebagai petani. relatif serupa dengan kondisi di wilayah lain. Mata air Kali Lanjaran Kondisi fisik : Mata air Kali Lanjaran merupakan sebuah kompek sumber-sumber air yang terletak pada dasar sungai. Tidak adanya vegetasi yang melindungi Desa Lanjaran mejadikan bencana tersebut menjadi sebuah bencana yang besar. Ekosistem Flora Kondisi ekosistem pada Desa Lanjaran.dan 1kg paku serta 2 zak semen. Dimana hanya terdapat satu lokasi mata air yang terletak di dukuh Sambirejo. 17. Pemerintah pada waktu itu memberikan bantuan 1000 buah genteng untuk setiap rumah yang roboh. Pada tahun 1984 merupakan meupakan tahun yang terburuk bagi Desa Lanjaran.dan pohon –pohon tumbang. Air yang terdapat pada ke empat bak penampungan berasal dari rembesan tebing sungai dan mempunyai debit yang cenderung kering pada musim kemarau. Kolam penampungan dengan diameter 75cm dan mempunyai kedalaman 120cm.Desa Lanjaran pada setiap musim kawolu18di setiap tahunnya mengalami musibah angin ribut. terdapat di dalam gua yang dibuat bangsa Jepang pada masa revolusi. Sedangkan sungai dimana letak mata air Kali Lanjaran pada musim hujan merupakan sebuah sungai yang aliran airnya cukup deras. Sedangkan tiga kolam kecil yang terletak pada dasar sungai di gali oleh masyarakat. Potensi Sumber Air Seperti kondisi sebagian besar desa-desa di Kecamatan Musuk desa Lanjaran keberadaaan potensi sumber air sangat terbatas. Lanjaran di dalam gua Keberadaan kera tersebut cenderung merusak pertanian milik warga masyarakat. sedangkan masyarakat banyak yang mengalami gangguan pernapasan ringan. karena desa desa yang lain di Kecamatan Musuk juga mengalami bencana angin ribut yang datang setiap tahun. 18 Musim kawolu adalah bulan perhitungan jawa yang biasanya antara musim hujan dan musim kemarau. Bencana angin tersebut bersamaan dengan hujan abu dari gunung Merapi yang datang disertai hujan yang cukup deras. posisinya terletak didalam sebuah gua di lereng dasar sungai. Rumah-rumah yang terdapat di dukuh Sambirejo rata dengan tanah disapu angin. Hujan abu dari gunung merapi berlangsung selama 3 hari membuat jarak pandang tebatas karena terhalang abu. 36 . Masyarakat penggunanya hanya terbatas pada masyararakat dukuh Lanjaran dan dukuh Sambirejo. Sebenarnya tidak hanya Desa Lanjaran saja yang dilanda angin ribut. Terdapat 4 mata air yang saling berdekatan satu sama lain yang berjarak 3 meter. Mata air Kali Kera yang sampai tahun 1965 masih berjumlah ratusan. sehingga masyarakat melakukan upaya untuk mengurangi populasinya dengan cara diracun.

2.107 jiwa.Gambar 3. Saat ini mata air tersebut telah ditinggalkan. Pada musim kemarau. Dengan jumlah penduduk 3.023 jiwa.538 jiwa. Balong Soko.569 dan perempuan 1. dengan perbandingan laki-laki 1. Balong Gebang. Masyarakat setempat tidak tahu sejak kapan balong-balong tersebut dibuat. DESA LAMPAR Desa Lampar yang bebatasan dengan Kecamatan Jatinom Kabupaten Klaten pada sisi Selatan dan Barat. Yaitu dengan cara membatasi penggunaan mata air yang berada di dalam gua untuk kebutuhan konsumsi saja sedangkan mata air yang diluar gua boleh digunakan untuk kebutuhan non konsumsi. Disamping sebagai petani masyarakat juga memelihara ternak sapi untuk menambah penghasilan mereka. Untuk memperoleh air. Sedangkan dua balong yang lain tidak terdapat air pada musim kemarau. dimana terjadi kelangkaan air. Balong Randu Kuning. dan kondisinya menjadi cenderung terbengkalai. 3. 18 Ekosistem Desa Lanjaran Air Bersih Masyarakat Sumber air yang ada di Desa Lanjaran pengelolaannya dilakukan sendiri oleh masyarakat. hal tersebut terbukti air di dalam balong tidak pernah kering ataupun merembes keluar.000 m². Sehingga masyarakat tidak lagi mengambil air dari sumber air Kali Lanjaran. Potensi Sumber Air Desa Lampar dengan daerah yang relative datar tidak ditemukan mata air seperti desa beberapa desa yang lain. 37 .00 WIB. 19 Balong adalah sebuah bak/waduk yang digunakan untuk menampung air hujan dan tempat bermuaranya saluran drainase desa. masyarakat biasanya mengantri selama 2 jam. Sedangkan untuk kebutuhan non konsumsi mereka mengunakan tiga kolam kecil yang terdapat di dasar sungai. masyarakat memperoleh air dari mata air Kali Lanjaran dengan mengantri sejak pukul 04. Sebagian besar mata pencaharian masyarakat adalah sebagai petani yang berjumlah 2. Terdapat tiga buah Balong19 yang membuat ke unikan tersendiri pada desa Lampar yaitu : 1. Masyarakat Desa Lampar cenderung memanfaatkan air balong yang terdapat di Desanya. Dari ketiga Balong tersebut hanya satu balong yang masih berfungsi baik menampung air yaitu balong Soko dengan luas areal ± 4. Pada tahun 1996 masyarakat tidak lagi memanfaat kan mata air Kali Lanjaran dikarenakan pipa jaringan distribusi mata air pedut telah sampai desa mereka.

Tanaman lain selain tanaman produksi yang telah disebutkan. di balong Soko.Gambar 1. memelihara ikan Lele dan Mujahir yang dikelola secara kolektif dan dipercayakan kepada Bayan setempat. Alternative lain untuk menambah penghasilan masyarakat. Kondisi warna kekuningan yang terdapat di balong tersebut cukup mengkhawatirkan terutama berkaitan dengan kelayakan konsumsi. Balong Soko di desa Lampar Air Bersih Masyarakat. Bagi masyarakat yang bertempat tinggal jauh dari balong. sehingga perlu dilakukan uji kwalitas untuk mengetahui kandungan unsure lain yang terdapat di dalam air tersebut. dan kerusakan yang terparah pada pertengahan tahun 2001. Di wilayah tersebut. Tabel 3. Dikarenakan biaya perbaikan yang cukup mahal sampai sekarang sumur bor tersebut tidak berfungsi lagi. cuci pakaian. Sangup.00 No 1 2 Parameter Bau Jumlah zat padat Satuan _ mg / L Keterangan Tidak berbau 38 . memandikan ternak. Ekosistem Kondisi Ekosistem desa Lampar secara umum terlihat lebih hijau dibandingkan dengan desa Mriyan. selain diperuntukkan pemenuhan kebutuhan akan mandi. dengan kedalaman 203 meter dengan debit air 5 liter/detik. Kelapa. Selain menggunakan air yang terdapat dalam balong masyarakat juga membuat bak-bak penampung air hujan yang terdapat di halaman rumah warga. Warna air dari balong Soko hijau kekuningan.000. Pada tahun 1998 pemerintah Kabupaten Boyolali memberikan bantuan sumur bor. Masyarakat memanfaatkan air balong untuk memenuhi kebutuhan air sehari-harinya yaitu untuk kebutuhan mandi. mereka memanfaatkan jasa dari pihak swasta dengan cara membeli air dari mobil tangki seharga Rp 70. Cara penjernihan yangdilakukan adalah dengan menggunakan trawas terlebih dahulu. banyak pula terdapat pohon Doyo. Jati dan Bambu yang menjadi salah satu tanaman produksi masyarakat untuk diperdagangkan. hal ini disebabkan aktivitas masyarakat untuk memandikan ternak di dalam balong. sedangkan untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga masyarakat masih harus melakukan treatment terhadap air tersebut. cuci dan air bersih.500 Hasil pemeriksaan Berbau 132. 3 Hasil uji laboratorium Kualitas Air Balong Soko Kadar Maksimum Yang diperbolehkan _ 1. Pengupayaan kebutuhan air bersih juga datang dari berbagai pihak seperti dari. pepohonan besar relatif mudah dijumpai seperti Mahoni. dan Serut. Namun tidak ada follow up dari hasil penelitian tersebut. Hasil dari uji kualitas air Balong Soko adalah sebagai berikut . NGO dari Belanda bekerjasama dengan pihak Universitas Gajah Mada Jogja melakukan penelitiaan terkait dengan sungai bawah tanah di desa Lampar. 17. Dalam perjalanannya sumur bor mengalami tiga kali kerusakan. dan Cluntang.

Hal tersebut berbeda dengan desa-desa lain di sekitarnya yang kondisi 39 .0 18 pH mg / L 6.05 9 Besi mg / L 1.046 2000 24. Potensi sumber air Potensi terbesar sumber air di desa Musuk adalah terdapat 2 sungai yang masih mengalirkan air pada musim kemarau.0 10 Florida mg / L 1.7 Ha dengan komposisi . Sebelah Timur terletak Desa Bandungan dan Jatinom Kabupaten Klaten. DESA MUSUK Desa Musuk berbatasan dengan desa Kembang Sari yang terletak di sisi Timur.05 15 Mangan mg / L 0. Alternatif lain yaitu dengan membeli air dari pihak swasta dengan harga Rp 70. dan sisi sebelah Utara terletak Desa Lampar serta Desa Hogowatu dan Kemalang Kabupaten Klaten.323 jiwa yang terdiri dari 586 KK. 0. Seperti pada Desa Lampar di Desa Dragan juga tidak ditemukan sumber air sehingga masyarakat mengandalkan pada keberadaan air yang terdapat di bak penampungan air hujan yang terdapat di setiap pekarangan rumah. Ekosistem Di Desa Dragan terdapat areal hutan rakyat seluas 2.30C 6 Warna Skala 50 TCU 7 Air Raksa mg / L 0.3 Skala 25 NTU 4 Rasa _ _ Tidak berasa 5 Suhu 0-C +/.5 16 Nitrat.3630 Ha dengan ketinggian ± 550 Mdpl dengan suhu udara rata-rata 30ºC. Pada areal ladang milik masyarakat juga terdapat pohon Sengon.5 43. sebagai N mg / L 10 17 Nitrit. Bambu. dengan hasil pertanian yang menonjol adalah jagung.005 12 Kesadahan Ca CO2 mg / L 500 13 Khlorida mg / L 600 14 Kromium. pada arah Barat adalah Desa Pusporengo. Jumlah penduduk Desa Dragan 2.000. cabai dan kelapa. 0.001 8 Arsen mg / L 0. Mindi dan Nangka yang tumbuh di batas/pematang ladang.5 11 Kadmium mg / L 0.132 6.5 – 9. Luas Desa Dragan 209. Desa Musuk adalah juga merupakan Ibu Kota Kecamatan Musuk dimana sebagian besar wilayahnya merupakan pemukiman padat penduduk.7 Ha ditanami pohon Mahoni.2 Ha.0 19 Zat Organik ( KMn 04 ) mg / L 10 Sumber Laboratorium Dinas Kesehatan dan Sosial Kabupaten Boyolali 2004 DESA DRAGAN terlarut Kekeruhan _ Asin 29. Valensi 6 mg / L 0. Kontur tanah pada desa Musuk relative Datar dibandingkan dengan desa-desa yang lain.143 0. sedangkan sebelah Selatan terdapat Desa Ringin Larik.815 0. Sebagian besar mata pencaharian masyarakat sebagai petani yang berjumlah 826 jiwa.5 0.134 Desa Dragan terletak di sebelah Selatan Desa Karanganyar dan Jemowo. Mahoni.000C Kuning kehijauan 1.8 Ha pohon Randu dan tanaman lain 1. sebagai N mg / L 1.121 0.

00 Keruh 0. melalui sungai kecil yang pada bagian atas ditutup semen. Dengan menggunakan pompa yang berkapasitas 7.0 Tidak berasa Keterangan Tidak berbau Hasil pemeriksaan Tidak berbau 194. Debit air sungai pada musim kemarau hanya aliran air yang kecil dan kondisi air yang keruh berwarna kecoklatan karena buangan limbah pabrik penggolahan cengkeh.2 liter/detik. 19 PDAM di sungai Kintel Desa Musuk Pemanfaatan PDAM Kabupaten Boyolali memanfaatkan air dari sunggai Kintel guna menambah pasokan air bersih untuk pelanggan di wilayah IKK (Ibu Kota Kecamatan) Musuk dan desa Pusporengo. 1.05 1. namun kontinuitas pasokan air tidak dapat diandalkan untuk selalu ada terutama pada musim kemarau dimana airan air Sungai Kintel akan menurun sampai 30 % dari kondisi normal. Dukuh Kintel adalah salah satu dusun yang berada dalam wilayah Desa Musuk yang dilalui aliran sunggai Kintel. Pada musim kemarau tahun 2004 debit air yang ada pada sungai kintel hanya 0. 4 Hasil Uji Laboratorium Kualitas Air Sungai Kintel No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Parameter Bau Jumlah zat terlarut Kekeruhan Rasa Suhu Warna Air Raksa Arsen Besi padat Satuan Mg / L Skala NTU 0-C Skala TCU Mg / L Mg / L Mg / L Kadar maksimum yang diperbolehkan 1.00 Sedikit asin 28. selanjutnya air tersebut di alirkan ke Tampir untuk di treatment. .51 liter/detik air PDAM megalirkan air dari dukuh Tampir menuju reservoir yang terletak di desa Pusporenggo. Gambar 3.16 liter/detik.sungainya mengering pada musim kemarau dan berair pada musim hujan. Terdapat dua sungai di wilayah ini yaitu sungai Kintel dan sungai Karang Lo.037 40 .001 0. Sedangkan pada musim penghujan debit air mencapai 5 . sebelum tahun 2004 pada musim kemarau debit terendah 1.500 25 -/+ 3 Derajat Celcius 50 0. Air yang mengalir pada sungai ini merupakan satu aliran dengan sungai Soko Gede yang terletak di Desa Soko Gede Kecamatan Cepogo.8 liter/detik. Tabel 3. Dari hasil pantauan di lapangan aliran air dialihkan oleh PDAM yang kemudian ditampung disebuah bak penampungan air dengan ukuran 4x4m. Sungai Kintel.

dan hanya cukup untuk kebutuhan air bersih masyarakat. mahoni. sedangkan pada sisi Selatan terdapat jalan yang menghubungkan Kecamatan Musuk dengan Kecamatan Cepogo. Pabrik pengolahan cengkeh terdapat di atas areal bak penampungan milik PDAM. Sungai di karang lo juga digunakan pembuangan limbah pabrik pengolahan cengkeh yang terdapat di dekat sungai hal tersebut membuat air sungai berwarna hitam dan berbau. Pengambilan air dari kedua sungai dengan cara membuat bak penampung air di sisi sungai dan dialirkan menggunakan pipa ke rumah rumah. Masyarakat yang memanfaatkan sugai Karang Lo dengan cara membangun bak yang penampungan rembesan air dari sisi sungai kemudian dengan mengunakan pipa dialirkan ke rumah-rumah. Terdapat lahan perkebunan Cengkeh. 2. Selain sungai Kintel terdapat pula sungai Karang Lo di wilayah desa Musuk yang digunakan masyarakat sekitar.00 23. Valensi 6 Mangan Nitrat. Selain untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat air dari sungai Karang Lo juga dimanfaatkan oleh industri pengolahan cengkeh.gatal setelah mandi air sungai kintel.164 166.05 0. Air yang keluar dari sisi sungai relative kecil debitnya. dan aren yang tumbuh pada bantaran sungai. Tanaman roduksi pertaian yang terdapat di wilayah tersebut relatif sama dengan tanaman yang diusahakan oleh masyarakat yaitu palawija. Tetapi pada sungai Karang Lo ini belum ada kasus yang menimpa warga pengguna seperti di sungai Kintel. Ekosistem Kondisi Ekosistem di sungai karang lo masih banyak pohon besar seperti beringin.12 0.10 11 12 13 14 15 16 Florida Kadmium Kesadahan CaCO 2 Khlorida Kromium. Mahoni. Pisang dan Singkong milik masyarakat terletak di sisi utara sungai.5 10 0. Durian. sebagai N Mg / L Mg / L Mg / L Mg /L Mg / L Mg / L Mg / L 1.5 0. dan Batalyon 408. warga dukuh Tegal Sari mengalami gatal.0425 0.005 500 600 0. Sungai Karang Lo. Sedangkan pada komplek bangunan penampung PDAM tidak terawat dan banyak ditumbuhi tanaman perdu dan pohon Kalianda.22 Ekosistem Ekosistem sungai Kintel sangat didominasi tanaman Bambu terutama pada bagian atas areal bak penampungan PDAM berada. 41 .

Gambar 3. 20 Sistem Distribusi Air dari Sungai Karang Lo di Desa Musuk Sungai Karang Lo di Desa Musuk Bak penampungan air di Karang Lo Pipa distribusi air ke Dukuh Karang Lo Pipa distribusi air ke pabrik Pengolahan Cengkeh di Dukuh Karang Lo Pipa distribusi air ke Batalyon 408 Boyolali 42 .

Desa Pulisen Kec. Boyolali 3. 21 Sistem Jaringan Distribusi Air PDAM dari Sungai Kintel Bak penampungan air yang terletak di dasar sungai Kintel Bak water treatment sebelum di distribusi Rumah masyarakat di desa: 1.Gambar 3. desa Pusporenggo ke. Desa Musuk Kec. musuk Pipa distribusi air PDAM rumah masyakrat di beberapa desa 43 . Musuk 2.

Cepogo Pipa jaringan distribusi air masyarakat Reservoir Kintel Reservoir Cenglik Reservoir Dukuh Jati Reservoir Poko Reservoir Jati Pipa distribusi air ke rumah masyarakat 44 .Gambar 3. 22 Sistem Jaringan Distribusi Air Masyarakat dari Sungai Sembung Kec. Cepogo Sungai Sembung yang di bendung Bak Penampungan Air dari mata air Sembung Kec.

Untuk memenuhi kebutuhan air berih sehari-hari masyrakan Desa Sumur mengupayakan melalui : 1. Hal itu terbukti dengan terdapatnya satu sumber air pada wilayah ini.5 meter. 45 .DESA SUMUR Masyarakat Desa Sumur sama halnya dengan masyarakat desa-desa yang lain. sedangkan pada bagian atas terdapat pipa-pipa yang ditata untuk mencegah tanah masuk kedalam sumur. dengan kedalaman 6. Mata air ini memiliki debit air yang kecil tetapi akan menyusut pada musim kemarau. Kondisi Ekosistem sebelah barat mata air terdapat tebing yang banyak ditumbuhi pohon Randu. Potensi sumber air Seperti kebanyakan desa-desa yang lain desa Sumur terdapat kandungan air meskipun debit yang dikeluarkan sangat minim. Memanfaatkan air dari bak penampungan air hujan 2. Untuk pemeliharaan agar air ditempat itu tersebut tidak cepat habis sekaligus menjaga kebesihan air. Sungai Tonoloyo adalah sungai kering pada musim kemarau yang melewati desa Sumur. Pengguna air dari mata air ini sebagian bessar adalah masyarakat Desa Sumur dan Desa Jemowo. Sengon. Kondisi fisik mata air.5 x 2. Selain bercocok tanam dan memelihara ternak mereka. Masyarakat tidak diijinkan untuk melakukan aktifitas mandi dan cuci di lokasi mata air. dan Jati selain tanaman–tanaman liar yang lain.40 meter dengan bentuk penampang berbentuk bujur sangkar yang berukuran 2. Sedangkan di antara sumur dan sungai didominasi tanaman Bambu. Posisi letak mata air Sumur berada di sebelah barat sungai dengan jarak 5 meter. yaitu sebagian besar berprofesi sebagai petani. Gambar 3. Pada dinding bagian dalam terdapat batu-batu yang berbentuk kubus yang diatur mengelilingi dinding. Tidak terdapat cukup data yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi kapan mata air Sumur ini ada dan siapa yang membuatnya. 23 Mata air di Desa Sumur Ekosistem. Mata air Sumur. maka masyarakat membatasi pemanfaatan hanya untuk pemenuhan kebutuhan air bersih. juga melakukan penambangan pasir dan batu di sungai Tonoloyo yang mayoritas penambangnya adalah kaum perempuan. Membeli air dari penjual air swasta. Mahoni. Sungai Tonoloyo adalah sungai yang menjadi pembatas antara Desa Sumur dan Desa Jemowo. Bentuk mata air Sumur seperti layaknya sebuah sumur. pada sisi selatan sumur ditumbuhi sebuah pohon Ipik yang cukup besar.

yang dibayarkan kepada Bayan Kusno 46 . memasang pipa PVC dari Dusun Karang Lo di Desa Musuk menuju ke rumahnya. Aliran sungai Kali Sombo membuat potensi keberadaan sumber air Desa Sukorame relative melimpah dibandingkan dengan desa-desa yang lain. Disamping itu masyarakat juga ada yang bermata pencaharian sebagai penambang pasir dan batu yangdilakukan di sepanjang Kali Sombo. Masyarakat penguna tidak hanya desa Sukorame tetapi masyarakat yang berdomisili di dukuh Madu dan Tegalweru Kecamatan Mojosongo pun juga memanfaatkan dengan cara mengangsu dari mata air mengunakan jerigen. dengan cara pembelian pada awal pemasangan sebesar Rp1. berupa satu buah bak penampungan untuk menampung air yang berasal dari tebing sungai. Pegelolaan air dari Mata Air Kalisombo dilakukan oleh masyarakat pengguna air dengan cara memisahkan pemanfaatan kebutuhan air bersih dapat dilakukan di Mata air Kalisombo. Debit air yang dihasilkan oleh mata air Kali Sombo relative melimpah dan konstan pada musim kemarau. bahkan pada musim tersebut air sungan bisa meluap dan membanjiri wilayah sekitar sungai.Gambar 3.1 juta. Kandungan batu dan pasir membuat banyak masyarakat yang menggantungkan ekonomi dari sungai tersebut dengan manjadi penambang. Aktifitas penambangan akan terhenti ketika menghadapai kondisi air sungai yang besar dan deras yang biasanya terjadi pada masa musim penghujan. sedangkan untuk kebutuhan mandi dan cuci dilakukan di Sungai. Kebongulo Pusporenggo Kecamatan Musuk. dan Kecamatan Mojosongo. Masyarakat memanfaafkan ketersediaan air pada sungai yang melimpah bahkan pada saat musim kemarau. 24 Ekosistem mata air Sumur di Desa Sumur DESA SUKORAME Dengan kontur relatif datar Desa Sukorame berbatasan dengan Desa Musuk. Seperti salah seorang warga dukuh Pelem yang bernama Mbah Wiryo ini. Pada wilayah ini jarang ditemukan bak tandon air hujan seperti desa lain masyarakatnya pun tidak membutuhkan jasa penjualan air dari mobil tangki. Mata air Kali Sombo. masyarakat masih mencari air bersih dengan cara membeli air dari sumber yang kemudian dialirkan dengan pipa menuju ke rumah-rumah. Potensi dan keberadaan sumber air. Sungai Kali Sombo Sungai Kali Sombo yang melintasi desa Sukorame tidak pernah kering mesipun pada musim kemarau. Mata air Kali sombo terletak pada sisi sungai Kali Sombo sebelah Barat. Mata pencaharian bagi sebagian besar masyarakat di wilayah tersenut adlah bertani sekaligus beternak. Air Bersih Masyarakat Meskipun ketersediaan air cukup melimpah dari daerah ini.

5 juta.500 25 +/3 Celcius 50 0. 25 Ekosistem Kalisombo di desa Sukorame Pada sumber air Kalisombo terdapat Pohon Munggur.0 Keterangan Tidak berbau Tidak berasa Derajat Hasil Pemeriksaan Tidak berbau 221. sengon dan bambu yang dapat dijumpai di sepanjang sungai Kali Sombo. Ekosistem Seperti daerah Desa Sumur Ekosistem diwilayah ini terbilang rimbun dengan ditumbuhi berbagai jenis pohon besar seperti beringin. mahoni. Sebagian besar besar lahan di wilayah tersebut adalah lahan tegalan yang ditanami tanaman produksi seperti jagung tembakau . Kolang-kaling. Selain itu aktifitas penambangan batu oleh masyarakat juga dilakukan dengan cara menggali pada salah satu sisi kali. Adapun proses pembayarannya sama seperti yang dilakukan oleh Mbah Wiryo namun untuk masyarakat dihargai sebesar Rp 2. Tabel 3. 5 Hasil uji laboratorium Kualitas Air Sungai Kali Sombo No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Parameter Bau Jumlah zat terlarut Kekeruhan Rasa Suhu Warna Air Raksa Arsen Besi yang Satuan Mg / L Skala NTU 0-C Skala TCU Mg / L Mg / L Mg / L Kadar Maksimum yang diperbolehkan 1. Hal tersebut membuat warga Dusun Pelem mengikuti langkah yang ditempuh Mbah Wiryo. Sedangkan ekosistem sungai di kedua sisinya banyak ditumbuhi Pohon Bambu dan Kolang-kaling.000 pada tiap bulannya.pembayaran selanjutnya sebesar Rp 20.05 1. bagian atas. Pada sungai tersebut banyak terdapat batuan berukuran besar dan pasir yang ditambang oleh masyarakat. Kelapa.008 47 .singkong serta rumput gajah.00 Tidak berwarna 0. tetapi pada saat ini pipa warga belum tersambung ke mata air. Gambar 3. Pada sisi bagian atas terdapat ladang Tembakau milik masyarakat. dan Pohon Bambu.00 Tidak berasa 28. mereka melakukan penggalangan dana guna membeli pipa PVC untuk menglirkan air dari mata air Karang Lo.001 0.

mindi. mahoni. nangka. Kebutuhan air pada saat musim kemarau tidaklah cukup meskipun di desa Pager Jurang juga terdapat sumur gali dengan kedalaman 80 m dan tandon air hujan.16 211.000. Bak tandon air hujan terlihat pada setiap rumah warga dengan ukuran yang berbeda.5 – 9. Alternative lain untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat dengan membeli dari mobil tangki seharga Rp.074 0. sengon. ketela.476 Kesehatan dan Sosial Kabupaten Boyolali. hanya digunakan untuk sepuluh hari saja. Tidak ditemukan sungai.005 500 600 0. DESA PAGAR JURANG Tidak jauh berbeda kehidupan Masyarakat Pager jurang dengan desa-desa di Kecamatan Musuk.00 3.0 10 0. melinjo. Dari hasil diskusi dengan masyarakat setempat pengeluaran mereka akan bertambah dikala musim kemarau tiba. 48 . selain tanaman jagung. serta beliau memelihara 2 ekor sapi perah. pete.000. cengkeh. Berangkat dari kondisi ini. akasia. Pada musim kemarau kebutuhan air minum 2 ekor sapi = 64 L/hari. Maka kebutuhan air satu bulan keluarga bapak Sri Waluyo memerlukan : 3 tangki x 35. sebagai N pH Zat Organik ( KMn04 ) Sumber laboratorium Dinas Mg / L Mg / L Mg / L Mg / L Mg / L Mg / L Mg / L Mg / L Mg / L Mg / L 1.08 0. Kondisi Ekosistem desa Pager Jurang masih cukup rimbun dengan tanaman. hal tersebut dikarenakan tambahan biaya untuk memberi minum sapi mereka. untuk cuci dan mandi 4 orang = 400 L/hari.00 dengan kapasitas 5000 L. dan pohon besar lainnya.5 0.10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Florida Kadmium Kesadahan CaCO2 Klorida Kromium. maka pemerintah propinsi membuat sumur bor di dukuh Sodong Desa Pager Jurang. Sebagai contoh bapak Sri Waluyo warga desa Pager Jurang.0 6.05 0. 35. = 40 L/hari kebutuhan konsumsi dan cuci piring total kebutuhan air untuk sehari adalah = 504 L.5 10 1. terdapat pula sebuah balong yang oleh masyarakat dimanfaatkan untuk memandikan hewan ternak sapi.725 0.016 7. sebagai N Nitrit.000 = Rp 135. Dengan kapasitas tangki yang berisi 5000 L. yang saat ini dalam tahap penyempurnaan dan dalam waktu dekat siap dioperasikan. Valensi 6 Mangan Nitrat. dan jurang pada wilayah desa Pager Jurang. lainnya dalam hal pemenuhan kebutuhan air bersih yaitu dengan enggunakan bak tandon air hujan yang menampung air hujan untuk memasok kebutuhan air masing-masing rumah tangga. durian. dan tembakau. mempunyai 2 anak dan 1 istri.00 17. dan kambing. Sedangkan tanaman produksi lain adalah padi gogorancah. Areal persawahan dapat dijumpai pada daerah Timur di wilayah kecamatan Musuk.

terwujud dalam kepercayaan masyarakat terhadap mitos. Masalah kekeringan dan kelangkaan air bersih ini terjadi di setiap musim kemarau. Cara itupun belum dapat melayani yang kekeringan seperti wilayah dusun di Desa Gunungsari dan Bengle. Sumber-sumber air itulah yang selama ini menjadi andalan masyarakat setempat untuk memenuhi kebutuhan air bersihnya. sumber tersebut hanya memiliki debit yang kecil. dan tempat tertentu juga uang) untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehingga berdampak pada beban tambahan bagi masyarakat baik secara ekonomi maupun non-ekonomi. Kecamatan Kemusu Barat : Kabupaten Semarang 20 Sumber: Boyolali Dalam Angka th 2003 49 . sementara pada musim penghujan beberapa desa di wilayah Kecamatan Wonosegoro mengalami banjir karena luapan air sungai.5 km dari tempat tinggalnya. Kecamatan Wonosegoro mencakup wilayah seluas 9299. Kecamatan Juwangi Timur : Kecamatan Juwangi. dan mengalami kekeringan air saat musim kemarau. Hal tersebut karena keunikan wilayah Wonosegoro dimana hanya terdapat sedikit sumber air alami jikapun ada. Banyak diantara sumur yang digali dengan kisaran kedalaman antara 3-24 meter dari permukaan tanah tersebut akan mengering. mengembangkan sumber air tertentu. Sementara langkah yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi kelangkaan air bersih di Kecamatan Wonosegoro hanya sebatas melakukan droping air bersih dengan menggunakan tangki air ke wilayah-wilayah desa yang mengalami kekeringan ekstrem. Disamping kenyataan yang dijumpai oleh masyarakat sendiri terhadap perubahan mendadak yang terjadi pada sumber air yang akan diperbaiki yaitu perubahan warna air yang hingga saat ini belum dapat dijelaskan secara ilmiah. Aspek lainnya berkaitan dengan keberadaan sumber air di wilayah Kecamatan Wonosegoro adalah budaya.IV. berdasarkan survey yang telah dilakukan. Jika air di sebuah sumber telah mengering. jerigen. Terletak di bagian Utara Kabupaten Boyolali. Mitos tersebut berujung pada ketakutan masyarakat setempat untuk membuka. atau tempayan. KECAMATAN WONOSEGORO KONDISI WILAYAH DAN PERSOALAN-PERSOALAN SUMBER DAYA ALAM/AIR Wilayah Kecamatan Wonosegoro hingga saat ini belum dapat dilayani kebutuhan air bersihnya oleh PDAM Kabupaten Boyolali. Kondisi demikian memaksa masyarakat di wilayah Kecamatan Wonosegoro untuk mengalokasikan sumber daya tambahan (waktu. Cara mengatasinya pun masih sama yaitu dengan mencari air ke sumber lain jika air di sumber yang terdekat sudah mengering. yang secara geografis dibatasi oleh : Utara : Kabupaten Semarang.8 Ha20 secara administratif membawahi 18 desa yang didalamnya meliputi 55 dusun. tenaga. maka masyarakat akan mencari di sumber lainnya yang masih memiliki air meskipun harus dilakukan dengan berjalan kaki sejauh antara 500 m –1. Keterkaitan antara sebuah sumber dan kepercayaan masyarakat yang tertanam dalam kultur masyarakat. selain menggali sumur-sumur di rumah-rumah. Mekanisme perolehan air yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat masih sangat tradisional yaitu dengan mengambil langsung dari sumbernya dengan menggunakan ember. Kecamatan Kemusu Selatan : Kecamatan Karanggede. KONDISI OBYEKTIF WILAYAH SASARAN GEOGRAFIS Kecamatan Wonosegoro adalah salah satu kecamatan yang berada didalam wilayah administratif Kabupaten Boyolali yang secara keseluruhan membawahi 19 kecamatan.

31%) 2.69%) Keluarga Sejahtera I ALNEK JML 475 (18.203 26. Tanah Asosiasi Lisotol dan Grumosol 2. Tanah Komplek Regosol kelabu dan Grumosol 3.508 (22.5ºC membuat udara diwilayah tersebut terasa cukup panas.32%) 8.20%) 11. DEMOGRAFIS Dengan tingkat pertumbuhan penduduk rata-rata sebesar 0.maka tingkat kepadatan penduduk di wilayah Kecamatan Wonosegoro adalah sebesar 570 jiwa per Km²21 Untuk lebih detilnya dapat dilihat pada tabel kependudukan sebagai berikut: Tabel 4.161 ALEK Keluarga Pra Sejahtera ALNEK JML 2. Sedangkan proporsi bentuk wilayah secara umum terbagi dalam dua kategori yaitu: Wilayah datar sampai bergelombang : 70% Wilayah bergelombang sampai berbukit : 30% Terdapat variasi jenis tanah yang ada di dalam wilayah Kecamatan Wonosegoro yaitu : 1.78%) ALEK 2. terutama saat musim kemarau. 1 Grafik Perbandingan Penduduk Menurut Jenis Kelamin Perbandingan Penduduk Kecamatan Wonosegoro Berdasarkan Jenis Kelamin 28.298 (79.976 Laki-laki Perempuan Tabel 4. Tanah Mediteran coklat tua.31% dan jumlah penduduk total pertahun 2003 sebesar 53. 2 Tabel perbandingan tingkat kesejahteraan keluarga di wilayah Kecamatan Wonosegoro22. dengan suhu rata-rata 26.80%) 21 22 Sumber: Boyolali Dalam Angka th 2003 Sumber: Analisa Pendataan Keluarga Kabupaten Boyolali 2003. Jumlah KK 14.594 (18. BKKBN Kab Boyolali 50 .119 (81.Wilayah Kecamatan Wonosegoro terletak pada ketinggian rata-rata 221 mdpl.790 (77.032.

Dari informasi tersebut diketahui bahwa desa Bengle mengalami kekeringan setiap tiba musim kemarau. Sumber air yang ada di wilayah Kecamatan Wonosegoro hanya memiliki debit yang kecil sehingga tidak ekonomis untuk didistribusikan. 4. Mekanisme pengambilan air oleh masyarakat adalah dilakukan 2 kali sehari yaitu pada pukul 10. Khusus pada sumur yang memiliki kedalaman 24 meter tersebut memiliki debit air yang sangat minim. Karakteristik Sumber Air dan Pemanfaatannya Beberapa sumber air di wilayah Kecamnatan Wonosegoro yang berhasil diidentifikasi adalah sbb: DESA BENGLE Informasi yang relatif lebih banyak tentang Desa Bengle menjadikan desa tersebut sebagai titik awal. 3 Persentase Penduduk berdasarkan Pendidikan yang berhasil diselesaikan Perbandingan Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan 41% PT 21% Akdm SLTA SLTP 22% 15% 1% 0% SD Tdk/blm tmt SD PERSOALAN KEKERIINGAN DAN KELANGKAAN AIR Wilayah Kecamatan Wonosegoro yang merupakan salah satu wilayah sasaran kajian untuk pemetaan sumber daya air di wilayah Kabupaten Boyolali. Beberapa sumur gali yang terdapat di sekitar sumber memiliki kedalaman antara 7 hingga 24 meter. Kelangkaan sumber air dan belum adanya aktifitas eksplorasi terhadap keberadaan sumber air menyebabkan kesulitan masyarakat untuk mengetahui letak sumber dan hanya memanfaatkan sumber yang sudah diketahui saja meskipun jauh dari tempat tinggalnya. 3. yang kondisi airnya yang cukup baik sehingga dapat di manfaatkan untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga. dengan kedalaman 18 meter di rumah Bpk Marjan. Kontur wilayah yang berbukit sehingga perlu pengadaan pompa dan membangun reservoir di wilayah tersebut.00 malam dan 03. 5. selain bulan puasa. sehabis sahur. sumur-sumur lain masih mengeluarkan air seperti sumur yang berada di dekat mesjid yang terletak pada jarak kurang lebih sama. memiliki keunikan yaitu sebagai satu-satunya wilayah kecamatan di dalamn wilayah Kabupaten Boyolali yang belum terjangkau jaringan distribusi air bersih oleh PDAM. Pengambilan air dilakukan memakan waktu rata 30 51 . Minimnya jumlah debit yang diijinkan oleh BKSDA untuk didistribusikan ke masyarakat.Tabel 4. Sumur lain yang masih mengeluarkan air adalah sumur dengan pompa tangan. Kepercayaan masyarakat setempat yang kental dengan aspek spiritual sehingga ada sumber air yang tidak diijinkan untuk dieksplorasi karena ketakutran masyarakat akan terjadinya banjir.00 pagi pada masa puasa. 2. Sedangkan pada jarak 100 meter dari titik sumur tersebut. sehingga untuk menarik air kepermukaan perlu dibantu dengan pompa air jet pump. Beberapa permasalahan yang dapat diidentifikasi oleh PDAM Kabupaten Boyolali yaitu: 1. Upaya inipun tidak membuahkan hasil jika tiba musim kemarau. aktifitas pengambilan air dilakukan pada pagi hari. Upaya lain dari masyarakat adalah dengan membuat sumur gali. Kesulitan dalam melakukan pencarian sumber air baru.

baru sampai pada survey yang dilakukan oleh sebuah perguruan tinggi negeri dari Jogjakarta.menit. Kondisi ekosistem sekitar sumber: Tanah dan batuan : berkapur dengan warna coklat keputih-putihan. tempayan dan jerigen. Jarak penduduk yang terdekat dengan sumber tersebut adalah 500 meter. warga petani beralih mata pencaharian dengan mencari bonggol kayu sisa tebangan untuk diproses dan dijadikan arang yang kemudian dijual ke pasar terdekat. Kecamatan Wonosegoro yaitu: Nama sumber : GONDANG Kondisi fisik sumber: Berupa sumur dengan kedalaman 3 meter berpenampang segi empat. Vegetasi umum diwilayah tersebut adalah tanaman budidaya yang relatif tahan terhadap kelangkaan air seperti jati dan palawija. dan lantai semen untuk melakukan aktifitas pengambilan air dan mencuci masyarakat. Menurut keterangan Budi. tetapi dalam satu wilayah tanah yang sama yaitu tegalan. sehingga petani mengalami gagal panen. Pisang. Sedangkan kondisi masyarakat wilayah dukuh lain yang juga memanfaatkan air dari sumber Bengle 52 . Selain karena masyarakat sendiri belum mampu secara finansial untuk membiayai kebutuhan pembangunan reservoir juga pemerintah kabupaten maupun pihak lain belum ada yang melakukan. kelapa. putra mantan lurah Bengle. Posisi masing-masing berada pada ketinggian yang berbeda. Beberapa sumber air yang teridentifikasi di Desa Bengle : • Cluring • Wareng • Gondang Masing-masing titik sumber terletak pada jarak yang berdekatan +/. Sekeliling sumur dibangun pembatas semen. Pada kondisi tertentu dimana terjadi musim kemarau yeng berkepanjangan. pemanfaatan air dengan cara menampung air pada reservoir untuk dialirkan ke wilayah atau rumah tangga yang membutuhkan. Tanaman lainnya adalah Kelapa. Kondisi masyarakat sekitar sumber: Secara umum dapat dikatakan pengguna sumber air Gondang yang terletak diwilayah desa Bengle Kacamatan Wonosegoro adalah juga masyarakat desa Bengle. Masyarakat yang melakukan pengambilan dengan cara demikian berasal selain dari desa Bengle sendiri juga masyarakat dari wilayah lain hingga jarak 1.200 meter dan membentuk segitiga. Masih menurut Budi.5 km dari titik sumber. Akhirnya yang dilakukan oleh PDAM pada saat itu hanyalah memberikan bantuan sejumlah kecil dana yang hanya cukup untuk membangun sumur gali yang berlokasi didekat mesjid. pisang. jati. Adapun beberapa sumber air yang teridentifikasi di wilayah Desa Bengle. Secara umum masyarakat Desa Bengle bermata pencaharian sebagai petani. Vegetasi : Tanaman budidaya milik masyarakat sekitar yaitu palawija. Jikapun ada upaya yang mengarah pada pemanfaatan. hasil yang didapat dari survey tersebut adalah sumber yang diidentifikasi tidak memiliki kecukupan debit. sehingga kondisi masyarakat pengguna sumber tersebut adalah juga kondisi masyarakat Bengle secara umum. Cara pengambilan adalah secara langsung dari sumber dengan cara tradisional yaitu menggunakan ember. sehingga tidak ekonomis untuk dimanfaatkan oleh PDAM. hingga saat ini belum dapat dilakukan di desa Bengle. Air dari sumber Gondang yang kondisinya agak keruh dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kebutuhan rumah tangga. salah seorang warga desa Bengle.

palawija. milik masyarakat yaitu jati. dan merupakan sumber air alternatif bagi masyarakat ketika sumber lain mengering. 3 Sumber air Wareng. Pada saat pengamatan tersebut dilakukan sungai tersebut sudah kering. masyarakat sebagian besar bertanam palawija karena tidak membutuhkan banyak air seperti padi. sebagai alternatif lain selain sumber air Gondang yang berjarak +/. maka pengguna air dari sumber air Wareng adalah juga masyarakat yang sama. saat musim penghujan. Menurut keterangan Budi seorang warga Bengle. sungai tersebut berair.Gambar 4. Kondisi ekosistem sekitar sumber: Sumber air Wareng berada di lahan tegalan dengan vegetasi tanaman produksi.500 m. Dengan mata pencaharian sebagai petani. Gambar 4. Bengle Nama sumber : WARENG Kondisi Fisik Sumber: Berupa kolam berukuran kecil 1m x 1m dengan kedalaman 20 cm berada di sisi sungai yang merupakan jalur aliran air yang berasal dari daerah yang berada di atasnya. Ds. 1 Sumber air Gondang Ds. Kondisi air pada kolam tersebut agak keruh yang dimanfaatkan juga oleh warga masyarakat di Bengle. 53 . Debit air pada kolam tersebut sangat kecil tetapi cenderung konstan dan mengalir hingga keluar dari pembatas kolam. Bengle Gambar 4. 2 Sumber air tanpa nama I Ds Bengle Sumber lain yang terdapat di wilayah tersebut adalah sumber yan oleh masyarakat hanya dikenal dengan Sumber yang terleta di dekat sungai. bahkan kolam Wareng akan tidak terlihat karena tertutup oleh air sungai. Kondisi masyarakat sekitar sumber: Karena jarak yang relatif berdekatan antara sumber air Wareng dengan sumber air lainnya. pisang.

Dengan ukuran 4 m x 4 m dikelilingi pembatas semen dan lantai semen 54 . Beberapa sumber air yang dapat teridentifikasi di Desa Repaking. 5 Sumur dengan kedalaman 24 meter dituturkan oleh Bpk Tikwiyanto seorang warga Desa Repaking. Selain itu juga sumber-sumber yang menurut mitos pernah ada. Hal tersebut dapat dilihat dari sarana jalan raya yang sebagian besar sudah beraspal dan denyut kegiatan pertanian dan perekonomian yang lebih terasa karena kondisinya yang lebih beruntung dibandingkan dengan wilayah lain yang mengalami kekeringan di Wilayah Kecamatan Wonosegoro. DESA REPAKING Sesuai keterangan yang diperoleh dari pihak kecamatan pada saat diskusi awal. airnya tetap tidak keluar. di wilayah desa Repaking ditemukan juga beberapa sumber air dan sumur gali yang dimanfaatkan oleh masyarakat. Sebagaimana yang terjadi dengan desa lain. Posisi Desa Repaking berada di ujung Utara Kecamatan Wonosegoro. Sumber tersebut tidak dibuka karena dikhawatirkan limpahan air yang besar dari sumber Sendangsono akan membanjiri wilayah Wonosegoro atau bahkan Boyolali. Air yang diperoleh ternyata cenderung stabil dengan kondisi yang jernih meskipun pada musim kemarau ketika sumur lain disekitarnya mengering. sumber air bernama Sendangsono ditutup oleh pihak Kerajaan Mataram dengan menggunakan Kerbau dan Gong. 4 Sumur bor dengan pompa kebutuhan masyarakat relatif mudah diperoleh selain tangan memanfaatkan sumber air yang ada. masyarakat juga membuat sumur gali dengan kedalaman rata-rata hanya 3 meter. Desa Repaking merupakan salah satu desa yang diidentifikasi mengalami kekeringan pada sebagian wilayahnya. baik dari aparat desa maupun masyarakat sendiri. Air bersih untuk Gambar 4. Kecamatan Wonosegoro yaitu: Nama Sumber Air : Sumber Repaking Kondisi Fisik Sumber: Secara fisik sumber tersebut hanya terdiri dari sebuah kolam penampung air yang berada di bawah pohon Beringin. Aspek pembangunan sarana dan prasarana yang berada di Desa Repaking relatif lebih mendapat perhatian. Ratarata kedalaman sumur gali yang berada di wilayah Desa Repaking terutama yang berada di rumah warga adalah 3 – 7 m dengan kondisi air yang jernih. Seperti yang terjadi pada sumur milik Bpk Kasno yang berjarak hanya 100 m yang digali dengan kedalaman 24 meter bahkan meskipun telah menggunakan jetpump yang diletakkan di dasar sumur. dan sangat diyakini oleh masyarakat setempat seperti yang Gambar 4.Upaya untuk memperoleh air bersih bagi masyarakat wilayah Desa Bengle dilakukan juga dengan membuat sumur bor dengan pompa tangan. berkaitan dengan keberadaan sumber air. berbatasan dengan Kabupaten Purwodadi. Demikian pula dengan keadaan tanah yang berwarna lebih gelap ketimbang daerah lain di Kecamatan Wonosegoro sehingga membuat tanaman produksi di wilayah Desa Repaking lebih beragam dan lebih subur.

Sebagian lahan disekeliling sumber ditanami dengan pohon jati.tanpa dinding di salah satu sisinya untuk memudahkan masyarakat pengguna air dalam melakukan aktifitas seperti mandi dan cuci. Kondisi air yang terdapat di sumber air Repaking cenderung keruh dan berwarna kehijauan. ditambah dengan fasilitas sarana dan prasarana yang baik membuat kehidupan masyarakat Desa Repaking menjadi lebih terasa. Kondisi demikian terwujud dengan diijinkannya masyarakat dusun lain untuk mengambil air dari sumur warga Desa Repaking jika dibutuhkan. Kondisi masyarakat sekitar sumber : Kondisi yang relatif mudah untuk memperoleh air membuat masyarakat Desa Repaking yang mata pencaharian Gambar 4. Beberapa diantaranya dibangun. Debit air yang dimiliki oleh sumber tersebut cukup besar. pada saat musim kemarau tiba. seperti pompa tangan. Kondisi ekosistem sekitar sumber Sumber air Repaking terletak di wilayah yang datar. Kesulitan masyarakat dari wilayah desa lain seperti Traban untuk memperoleh air. 7 Sumber mata air Repaking Desa Repaking mendekati wilayah pemukiman warga yang mengalami kelangkaan air. Dukuh Traban yang bersebelahan dengan Repaking kondisinya relatif lebih kering. Sumur Gali Sumur-sumur gali yang ada di rumah-rumah warga masyarakat rata-rata hanya membutuhkan kedalaman 3 meter untuk bisa memperoleh air. tetapi akan menurun hingga setengah dari kedalaman kolam. Sedangkan untuk mengangkat air tersebut. atau jet pump. timba. masyarakat sekitar menggunakan air yang berasal dari sumur gali karena memiliki kondisi yang lebih jernih. memunculkan rasa saling pengertian antara anggota masyarakat. Masyarakat pengguna air dari sumber tersebut tidak hanya masyarakat Desa Repaking saja terlebih jika musim kemarau yaitu masyarakat dukuh Traban. kelapa. dan palawija. dimana lahan sekitarnya adalah lahan tegalan yang merupakan sumber utama pendapatan masyarakat Desa Repaking yaitu sebagai petani. masing-masing warga menggunakan sarana yang sesuai dengan kemampuannya. Sedangkan jarak sumber air dengan rumah penduduk terdekat adalah 50 mtr. 6 lingkungan sekitar sumber Repaking Dsn Repaking utamanya adalah petani. Debit air yang dimilikipun cukup untuk memenuhi kebutuhan air bersih selama musim kermarau karena debit air di sumur gali relatif lebih stabil. 55 . Mekanisme distribusi lain yaitu dengan membangun kolam penampungan air dari sumber Gambar 4. seperti yang terdapat Dsn Candi. sedangkan untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga. membuat warga hanya menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan mandi dan cuci saja. pisang.

Sumber tersebut hanya dimanfaatkan oleh satu rumah tangga yasng dialirkan menggunakan pipa PVC berukuran kecil sejauh 150 m dari posisi sumber. 11 Sumur gali masyarakat di tengah Tegalan. Oleh masyarakat.Gambar 4. seperti yang dilakukan didasar sungai Kali Kidang. sumur tersebut hanya terbuat dari batu yang tersusun pada dinding sumur bagian dalam mulai dari bibir sumur hingga kedalaman tertentu. Sumur pertama dengan diameter 1 m kedalaman 3 m (sampai ke dasar ) memiliki kedalaman air 2 m. 9 sumur dengan kolam penampungannya di Dusun Candi Gambar 4. bersih 56 . 8 Kolam penampungan di Dusun Candi Sumur Gali Beberapa sumur gali yang ada. di wilayah Desa Repaking Khususnya di dusun Candi terdapat juga sumber air kecil yang posisinya berada di bawah bukit. Tetapi juga di lakukan di dasar sungai yang mengering. Kondisi air cenderung keruh dan berwarna kehijauan. dan tanpa dilengkapi dengan tembok diatas permukaan tanah. Selain sumber air yang dikenal warga masyarakat. Kedalaman sumur yang digali didasar sungai beragam antara 25 cm hingga 3 meter dan diameter 30 – 50 cm. Sumber tersebut membentuk gua berukuran Gambar 4. air dari sumur tersebut dimanfaatkan untuk menyiram tanaman sayuran dan palawija yang ditanam di sekitar posisi sumur ketika musim kemarau. terdapat di tengah areal tegalan. Secara fisik. 10 Salah satu sumur pada lahan tegalan Penggalian tanah untuk memperoleh air tidak hanya dilakukan di pemukaan tanah sebagaimana biasa. Dsn Repaking Gambar 4. 12 Masyarakat memanfaatkan Kali Kijang yang mulai mongering untuk pemenuhan kebutuhan air diameter 35 cm yang menjorok ke dalam bukit. Gambar 4.

kelapa. Sedangkan pengguna air dari sumber adalah masyarakat yang tinggal berdekatan dengan sumber itu sendiri. 14 Kolam penampungan air di rumah warga dari air yang berasal dari gua DESA GUNUGSARI Secara geografis posisi Desa Gunungsari berbatasan dengan dengan Desa Repaking di sebelah Utara. Desa Garangan di Selatan. tidak terlalu signifikan selain itu kondisi airnya relatif jernih sehingga layak untuk konsumsi rumah tangga. Mata pencaharian utama masyarakat Desa Gunungsari adalah petani yang menanami lahan tegalan dengan palawija. Desa Gunungsari telah memiliki sumur gali di rumahnya masing-masing. sedangkan sisi Barat berbatasan dengan Kabupaten Semarang. Gambar 4. karena biaya pembuatan yang cukup mahal bagi masyarakat. Kondisi kelangkaan air bersih yang melanda setiap musim kemarau akhirnya juga memunculkan rasa simpati pada pemilik sumur. tidak semua masyarakat memiliki sumur gali. Alternatif lain dari sumber air yang langka itu. Upaya masyarakat Desa Gunungsari mengatasi kelangkaan air bersih serupa dengan yang dilakukan di Desa Bengle. Kondisi umum yang terjadi di Gunungsari tidak jauh berbeda dengan apa yang ditemukan di Desa Bengle. karena dikhawatirkan jika airnya meluap akan membanjiri wilayah Wonosegoro atau bahkan Boyolali. Hingga saat ini. Dusun Traban. masyarakat mengupayakannya dengan membuat sumur gali dan pompa yang memiliki kedalaman berkisar antara 3 m – 12 m dan pompa. jati. cukup jernih tetapi debitnya kecil. 13 Gua alam sebagai sumber air Gambar 4. Rasa simpati tersebut terwujud dengan diijinkannya warga masyarakat yang tidak memiliki sumur untuk mengambil air dari sumur milik warga yang lain terutama jika air dari sumber sudah mengering. jika musim kemarau memang air yang ada sedikit. Kondisi air dari gua.Pada langit-langit bagian dalam gua tersebut terdapat stalagtit. dan kebanyakan berasal dari dusun lain 57 . Diantaranya mitos tentang ditutupnya satu sumber air yaitu Sendangsono yang diyakini memiliki debit yang cukup besar. kalaupun terjadi pengurangan. Pada umumnya. Demikian pula dengan sumber air. Fakta yang ada di lapangan adalah sumur gali dan pompa tersebut debit airnya relatif stabil. Tetapi jika musim penghujan air yang masuk ke rumah warga yang memanfaatkan air dari gua tersebut cukup banyak. juga kepercayaan-kepercayaan yang berkembang terkait dengan keberadaan sumber air. yaitu dengan mengambil langsung dari sumbernya jika air disumur gali sudah menyusut. Desa Bengle di sisi Timur. Air yang menggenang dibagian bawah gua terkumpul dari tetesan-tetesan air yang jatuh dari stalagtit tersebut. baik keberadaannya yang langka. Kelangkaan air. Menurut keterangan salah seorang warga. Pengambilan air yang dilakukan masyarakat dimulai dari sumber yang terdekat jika sumber tersebut terjadi penyusutan. masyarakat akan mencari alternatif sumber air baru meskipun jaraknya semakin jauh. masyarakat di Dusun Gunungsari. ditutup oleh pihak kerajaan Mataram dengan menggunakan Kerbau dan Gong. dan kondisi tanahnya yang berkapur.

Air terjun tersebut berada di sebelah gua yang berukuran kecil dengan tiga pintu gua dengan posisi saling bersebelahan. berada di puncak salah satu bukit. Gambar 4. Akses menuju sumber tersebut berupa jalan pematang dengan kemiringan 20º . Kondisi ekosistem: Letak baik sumber air maupun gua terletak di daerah bukit dengan kemiringan.45º. demikian pula tegalan di Dusun Gambar 4. stabil dan kodisi air yang jernih. Hingga saat ini terdapat 2 selang yang dihubungkan ke rumah warga. 15 Pipa distribusi air milik Banyuurip yang ditanami palawija. pisang. warga dari sumber pancur Sementara kondisi gua. Sumber tersebut berada di dalam areal tegalan milik salah seorang warga Dusun Banyuurip. 16 Kondisi ekosistem sekitar sumber pancur 58 . Mekanisme pengelolaan Mekanisme pengelolaan dilakukan secara sederhana yaitu dengan mengalirkannya dengan selang mengingat jarak dengan rumah warga cukup jauh dan akses yang cukup sulit. Air limpahan dari sumber tersebut menyatu dengan air yang mengalir dari air terjun yang posisinya bersebelahan. Aliran tersebut membentuk sungai hingga bertemu dengan tebing di bawahnya dan kembali membentuk air terjun dan akhirnya mengalir menuju sungai. dan sebagian Jati. Secara fisik. Sebagaimana lahan tegalan di wilayah Kecamatan Wonosegoro. sumber tersebut berupa pancuran yang terletak dibawah pohon beringin dengan debit yang cukup besar.Sumber air yang berhasil diidentifikasi di wilayah Desa Gunungsari. Terbukti dari banyaknya batu di sekitar gua yang berasal dari patahan stalagtit-stalagmit gua. belum tersentuh upaya pengembangan dan penelitian. Air limpahan dari sumber tersebut menyatu dengan air yang mengalir dari air terjun di sebelahnya. Kecamatan Wonosegoro yaitu: Nama sumber : KALI GRINCING Kondisi fisik sumber : Sumber tersebut terletak pada posisi yang cukup tinggi. yang sekaligus juga merupakan lahan tegalan milik warga. Wilayah dimana terdapat sumber Kali Grincing terdiri dari daerah bergelombang dan berbukit yang cenderung gundul dan dijadikan lahan tegalan.

Kondisi masyarakat disekitar sumber: Mata pencaharian masyarakat Desa Gunungsari adalah petani yang mengusahakan lahan tegalan untuk ditanami jati dan Gambar 4. Menurut keterangan Dasirun. warga masyarakat setempat bahwa Sendang Ragen pada awalnya hanya sebongkah batu yang dicungkil dengan menggunakan alat sejenis linggis oleh seorang Belanda bernama Mr Pieterz pada jaman kolonial. maka banyak warga memanfaatkan airnya untuk memenuhi kebutuhan mandi dan cuci. air yang ada di dalam kolam penampungnya berjumlah sangat sedikit tetapi karena debitnya yang relatif stabil dan tidak kering pada musim kemarau.Gambar 4. sebagian lagi memang memanfaatkan air dari sumber untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari baik untuk mandi mencuci maupun untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga. bahkan untuk kebutuhan konsumsi. Sebagian dari masyarakat sekitar sumber memenuhi kebutuhan airnya dari sumur gali di rumah-rumah. dan Pohon yang dikenal oleh masyarakat dengan nama Pohon Lulingan. Pisang. Terdiri dari satu kolam penampung air berukuran 50 cm x 50 cm dengan titik terdalamnya memiliki kedalaman 25 cm (pada celah batuan) berbentuk segi empat layang-layang. Kondisi ekosistem sekitar sumber: Sendang Ragen terletak di lahan tegalan yang ditanami dengan tanaman budi daya milik masyarakat seperti Jati. Ds Gunungsari Nama sumber : SENDANG RAGEN Kondisi fisik sumber : Sendang yang berukuran kecil ini posisinya berada di celah batuan di lahan tegalan. Tanaman lain yang unik yang terdapat di dekat kedua sudut sendang yaitu Pohon Mangga. 18 Sendang Ragen. Pengguna air dari Sendang Ragen ini tidak hanya berasal dari warga yang berada di dekat sumber tetapi juga warga dari dusun-dusun dalam wilayah Desa Gunungsari. Sendang tersebut adalah sendang alami terbentuk dari celah batuan. Dsn Gunungsari palawija. Secara kuantitas. Langkah yang telah dilakukan untuk memperbaiki kondisi kelangkaan air 1. selain juga karena kondisi air yang cukup jernih. Adanya bantuan dari dana APBD melalui sebuah LSM di Solo berupa pencarian sumber air dan pembangunan sumur gali di 8 titik di wilayah Kelurahan Gunungsari. 17 Gua Grincing.dan kelapa. Palawija. Bantuan terseebut meliputi : 59 .

Selain itu sebagian warga juga memelihara hewan ternak yaitu sapi. 19 Sumur bantuan dari sebuah LSM . Akhirnya bantuan tersebut tetap tidak dapat diterima. yaitu dengan mengambil air langsung dari sumber. Mata pencaharian utama masyarakat Desa Garangan adalah petani yang menanami lahan tegalan dengan palawija. Kondisi geografis dan vegetasinyapun relatif sama dengan kedua desa tersebut. yaitu daerah bergelombang hingga berbukit dengan tanah yang berkapur. Fasilitas sarana jalan desa yang masih berupa jalan sebagaimana jalan desa di Desa Bengle dan Gunungsari yaitu jalan Maccadam. yaitu pada tahun 1994-1995. Bantuan tersebut ditolak oleh pejabat KUA yang benama Na’ip. Ketika ada bantuan yang akan diberikan dari sebuah yayasan. yang dilakukan oleh sebuah LSM dari Solo. maka kolam tersebut belum dapat difungsikan. yaitu Bengle. Bantuan bahan bangunan berupa: o Semen 6 sak o Pasir o Bis (untuk dinding sumur) 2. Penolakan itu mendapat perlawanan dari masyarakat. Gambar 4.i. Tetapi karena pipa yang digunakan untuk menyalurkan air dari sumber tidak ada. dan ayam. pisang. jati dan diselingi kelapa. Masyarakat Desa Garangan sama halnya dengan masyarakat lain di wilayah Kecamatan Wonosegoro yang mengalami kekeringan. Mencari titik air untuk pembuatan sumur gali. Bangunan yang ada hanya satu sumur berukuran 1. Kecamatan Wonosegoro adalah sebagai berikut: Nama Sumber : NN Kondisi : Sumber air terletak di tengah lahan tegalan yang ditanami palawija. ketika sumur gali di rumah warga sudah mengering. dan Gunungsari. Ds sempat menjadi konflik yang berbasiskan interest Gunungsari lembaga. Menurut informasi yang diperoleh dari pihak Kecamatan. 20 Panorama desa garangan Beberapa sumber air yang dapat diidentifikasi di Desa Garangan. di Desa Garangan. Bantuan dari Yayasan Rumah Sakit Islam Solo Bantuan yang diberikan berupa pembangunan sarana kolam penampungan. karena masyarakat sangat membutuhkan bantuan tersebut. Bantuan dari sebuah yayasan yang akhirnya Gambar 4. ii.5 m x 2. DESA GARANGAN Wilayah Desa Garangan berbatasan langsung dengan desa lain yang juga merupakan daerah kekeringan dan rawan air. karena ditakutkan akan dibarengi dengan penyebaran agama di wilayah tersebut.5 m dengan kedalaman 7 meter terbuat dari susunan batu pada 60 . telah diidentifikasi adanya aliran air bawah tanah.

bagian dinding didalam sumur. air pada sumur tersebut sudah mengering hingga dasar sumur dapat terlihat. Pada saat pengamatan dilakukan sumur tersebut masih mengeluarkan air sehingga masyarakat selalu mengambil air dari tempat tersebut. sumur Gambar 4. Secara fisik sumnber tersebut terdiri dari satu sumur berbentuk segi empat dengan ukuran 2 m – 1. Sebagian dari masyarakat memiliki sumur gali atau pompa di rumahnya masing-masing. Saat sumur masih mengeluarkan air yaitu pada musim penghujan dan awal musim kemarau. 21 Sumber air dengan kedalaman 7 meter. Berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan terhadap air. Ds bermata pencaharian sebagai petani di Garangan lahan tegalan yang sebagian besar ditanami jagung. Tetapi jika sumur di rumah-rumah mengering maka masyarakat akan mencari air pada sumber terdekat. Sumur-sumur tersebut digali dengan kedalaman rata-rata 3 meter dengan diameter 75 cm-100 cm. Pada saat survey dilakukan air pada sumur tersebut juga sudah mengering. 22 Sumber air Getas Krikil tersebut menjadi andalan masyarakat untuk memperoleh air terutama untuk kebutuhan mandi dan cuci. Terdapat 3 sumur serupa yang terpisah pada jarak masingmasing +/.75 mtr. Nama Sumber : SUMBER GETAS KRIKIL Kondisi : Berada di tengah lahan tegalan yang termasuk dalam wilayah administratif Desa Garangan.3 meter. Kondisi Ekosistem Sekitar Sumber: Sumber air tersebut terletak di tengah areal lahan tegalan yang di tanami palawija. banyak lahan tegalan tersebut kosong karena baru dipanen dan sebagian lagi baru ditanami jagung yang baru mencapai kettinggian 10-15 cm. Sumur Gali Sumur yang berada diwilayah Desa Garangan terutama yang terletak di wilayah pemukiman memerlukan kedalaman antara 7 m – 14 m. dengan pohon jati dan kelapa pada bagian pematangnya. seperti yang letaknya bersebelahan dengan mesjid yang memiliki kedalaman 13 meter dan dengan kondisi air yang nyaris mengering. Pada saat survey dilakukan.5 m dengan kedalaman +/. Sumur gali yang dimaksud adalah sumur yang berada di tengah lahan tegalan dimana siapa saja boleh mengambil air dari dalamnya. ditemukan pula sumur milik warga dengan kedalaman 10 meter dan kondisi air yang sama. dinding di permukaan tanah dengan ketinggian 50 cm dan ruang berlantai semen yang diberi sekat untuk memudahkan masyarakat memanfaatkan air. Pada jarak 100 meter. Tanah tegalan di wilayah sekitar sumur berkapur dan berwarna keputihan. Sumur terbuat dari susunan batu pada dinding bagian dalam dan dinding semen di sekeliling sumur serta lantai semen untuk melakukan aktifitas pengambilan air. 61 . masyarakat memanfaatkan sumber air yang terdekat dengan tempat tinggalnya. Pada saat survey dilakukan. Kondisi Masyarakat Sekitar Sumur Masyarakat Desa Garangan umumnya Gambar 4.

Sebagian kecil diantara sumbersumber air tersebut terdapat wilayah perbukitan. kacang. Secara singkat kondisi masing-masing sumber dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Tabel 4. adapula yang jernih terutama jika sumbernya berasal dari gua alam yang terdapat di Kecamatan Wonosegoro. sumber air yang ada sedikit sekali jumlahnya. dengan tanaman yang umum yang ada di sekitar sumber adalah tanaman produksi tersebut. dan berkapur. ember. Berkaitan dengan kondisi ekosistem di masingmasing sumber air telah ditulis pada bagian sebelumnya. Keadaan tanah pun turut memberi kontribusi terhadap kondisi air. DAMPAK LINGKUNGAN. maka air sumber yang ada di wilayah tersebut juga tampak cenderung keruh. Dari semua sumber air di wilayah tersebut yang berhasil diidentifikasi. SOSIAL. seperti yang terjadi pada sumber-sumber air yang berada di wilayah lahan dengan tanah yang berwarna kecpklatan.Kondisi Ekosistem sekitar sumber Wilayah seitar sumber berupa lahan tegalan yang di tanami jagung oleh masyarakat sebagai mata pencaharian utama Masyarakat Desa Garangan. Sehingga sumber air yang ada tersebut. Tanaman budi daya yang lain adalah Jati. pola pemanfaatannya adalah oleh masyarakat sendiri secara tradisional mengingat debitnya yang tidak besar. EKOSISTEM SEKITAR Wilayah Kecamatan Wonosegoro yang sebagian besar wilayahnya adalah lahan tegalan dan hutan Gambar 4. dengan kondisi air yang relatif lebih jernih jika dibandingkan dengan sumber air yang ada di permukaan tanah. Dampak Lingkungan Kualitas dan Kuantitas Sumber Air Seperti telah ditulis pada bagian sebelumnya bahwa dalam wilayah Kecamatan Wonosegoro. Beberapa sumber air bahkan tidak dapat diidentifikasi kondisinya karena kolam penampung air mengering sama sekali. DAN EKONOMI A. dan kelapa. Kondisi air yang keluar dari sumber memiliki variasi yaitu ada air yang cenderung keruh dan berwarna kehijauan. dan dengan menggunakan alat sederhana seperti tempayan. debit air yang dimiliki tidak cukup besar sehingga tidak ekonomis dimanfaatkan oleh PDAM. 23 Ekosistem sekitar sumber Getas rakyat yang ditanami tanaman produksi yaitu Krikil tanaman keras berupa palawija terutama jagung. umbi-umbian. 4 Tabel kondisi sumber air Kecamatan Wonosegoro No 1 2 3 1 Nama dan lokasi sumber air Desa Repaking Sumber Repaking Sumur Gali Sumber Desa Gunungsari Kali Grincing Kondisi air Keruh-kehijauan Keruh-kehijauan Jernih Jernih Pengaruh musim kemarau Menyusut Stabil Mengering 9 9 9 9 Posisi Ditengah lahan tegalan Ditengah lahan tegalan Di sisi bukit Di atas bukit 62 . Sehingga sumber-sumber air yang adapun berada di wilayah lingkungan tegalan. tanaman lainnya yaitu mahoni dan sengon. Sementara tanaman hutan rakyat ditanami dengan tanaman mayoritas jati. Kelapa dan Pisang. Dengan cara mengambil langsung yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu.

sungai. di Desa Bengle telah ada satu orang bidan desa yang bertugas sejak 3 tahun lalu. bahkan kekeringan baik pada sumber air maupun sungai. menjadi penyebab para ibu hamil untuk mempercayakan perawatan pada masa kehamilan dan proses kelahiran pada dukun beranak. Warga baru menghubungi bidan ketika terjadi permasalahan dalam proses kehamilan atau proses kelahiran. 5 Sungai yang mengering sebagai ikutan. sanitasi dan gizi. masyarakat sangat tergantung dari air yang ada pada sumber air bawah tanah. Sehingga beberapa kasus 63 . perubahan yang terjadi pada swiklus alam dan lingkungan. baik sumber air permukaan maupun sumber air dalam. Hal tersaebut juga disampaikan oleh warga Dusun Candi. misalnya penyakit. Sebab. dan masyarakat itu sendiri. sehingga masyarakat memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap lingkungan. Dampak Sosial Aspek Kesehatan Musim (penghujan dan kemarau) yang terjadi di wilayah Kecamatan Wonosegoro memunculkan pengaruh terhadap kondisi kesehatan warga. Musim kemarau yang berkepanjangan membawa dampak penyusutan. B. mis: perubahan musim akan berdampak secara langsung pada sumber air. Kesehatan ibu dan anak Sementara untuk kasus kesehatan Ibu dan anak. Dengan demikian. Tetapi hingga saat ini. ditambah lagi dengan pemahaman yang minim terhadap kesehatan itu sendiri. yang akhirnya menjadi permasalahan baru. Munculnya penyakit-penyakit tertentu masih pada penyakit yang umum terjadi pada musim tertentu misalnya muntaber. Desa Repaking yang letaknya bersebelahan dengan Desa Bengle. penurunan hingga gagal panen pada lahan pertanian masyarakat. demam berdarah. Permasalahan pemahaman kesehatan tentang ibu dan anak yang masih minim dikalangan masyarakat.2 1 2 3 1 2 Sendang Ragen Desa Bengle Gondang Wareng Cluring Desa Garangan NN Getas Krikil Cenderung keruh Cenderung keruh Cenderung keruh Cenderung keruh Cenderung keruh* Cenderung keruh* 9 9 9 9 Ditengah lahan tegalan Ditengah lahan tegalan Ditengah lahan tegalan Ditengah lahan tegalan 9 9 Ditengah lahan tegalan Ditengah lahan tegalan *Menurut informasi yang diperoleh dari masyarakat sekitar pengguna air sumber tersebut Sebagai wilayah yang pemenuhan kebutuhan air bersihnya dilakukan secara tradisional. Sealain juga dampak-dampak lain Tabel 4. dan biaya. akan muncul permasalahan baru ditingkatan rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan air bersih. seperti yang disampaikan oleh Bpk Kasno (mantan lurah Desa Bengle) Belum terjadi wabah penyakit dengan skala besar khususnya di wilayah Desa Bengle.

000 per karung (40 kg) jika musim penghujan. Sementara bagi pengguna air sungai.816 Buruh tani 8. Dampak Ekonomi Aspek Perekonomian Sebagian besar warga masyarakat di Desa Bengle adalah bekerja di sektor pertanian yang mengupayakan lahannya dengan bertanam palawija. kasus kematian bayi tidak banyak yaitu 2 kasus.kelahiran harus di bawa ke rumah sakit terdekat bahkan beberapa diantara kasus tersebut kelahiran terjadi di perjalanan menuju rumah sakit. kayu yang tidak bernilai jual tinggi untuk di proses menjadi arang. Oleh sebab itu banyak petani palawija yang juga memanfaatkan kayu-kayu bekas tebangan.546 Buruh Bangunan 5. C.910 18% 32% Pengrajin/Industri kecil 1.412 8% 6% 29% Pedagang 1. Harga tersebut bisa berubah menjadi sebesar Rp 27. Yang dijual kepada pengumpul dengan harga Rp 20. 6 Grafik Mata Pencaharian Masyarakat Kecamatan Wonosegoro23 Perbandingan Mata Pencaharian Masyarakat Kecamatan Wonosegoro 0 1% 0% % 1% 4%1% Petani pemilik tanah 9. membuang limbah buangan mandi dan cuci ke saluran air yang berupa saluran yang menjadi satu juga dengan saluran air di pematang tegalan sebelum berakhir di sungai dan septic tank. Karena masa tanam dan usia tanaman yang cukup pendek maka petani hanya bisa melakukan penanaman dan panen 2 kali dalam setahun. aktifitas mandi dan cuci dilakukan langsung di sungai. Sanitasi System sanitasi yang diterrapkan di masing-masing rumah tangga masyarakat Kecamatan Wonosegoro pada umumnya masih sangat sederhana. Pada kondisi rumah tangga yang memiliki sumur di rumah. 23 Sumber: Data Monografi Kecamatan Wonosegoro 64 . Tingkat Kematian Menurut keterangan Bpk Kasno.154 Pengangkutan 157 PNS 276 Pensiunan (TNI/PNS) 152 TNI 154 Adapun tanaman utama di wilayah tersebut adalah jagung. dan kacang. Tabel 4. mantan lurah Desa Bengle.000 per karung (40 kg). Sedangkan pada musim kemarau dapat dikatakan tidak ada pekerjaan.924 Buruh Industri 2.

Salah satu perubahan yang berdampak langsung dan sering terjadi adalah perubahan musim.Selain itu juga ada warga masyarakat yang bermata pencaharian sebagai pengumpul dan penjual kayu jati. Tabel 4. Untuk selanjutnya pohon tersebut dibiarkan tumbuh. 2.000 per M³.000 – Rp 2. dll di Kecamatan Wonosegoro meliputi sebagian besar areal wilayah administratif Kecamatan. diawali dengan pemberian bantuan bibit Pohon Jati dari pemerintah yang ditanam di ladang milik warga hingga menjadi hutan rakyat. dan ketika pohon tersebut akan dipanen. 400 Sementara dampak ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat karena kelangkaan air tersebut. Luas areal hutan Jati rakyat di wilayah Desa Bengle. 750. Upaya lain untuk mendapatkan air dilakukan oleh beberapa elemen diantaranya: 65 . Masyarakat desa pada umumnya menganggur pada musim kemarau sehingga banyak diantaranya yang akhirnya bekerja sebagai buruh bangunan atau pembantu rumah tangga di tempat lain. Hasil hutan jati rakyat tersebut dijual kepada pengumpul dengan harga berkisar antara Rp 500. UPAYA-UPAYA YANG TELAH DILAKUKAN DAN CAPAIANNYA Mengingat Kecamatan Wonosegoro adalah wilayah yang belum dapat dilayani oleh jaringan PDAM. bahkan bisa tidak panen sama sekali (gagal panen). Hal tersebut membawa pada ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sumber air alam. 036. untuk kemudian di jual ke industri pemrosesan kayu. seperti juga di Desa Gunungsari. Proses pemeliharaan pohon jati ini hanya memerlukan perhatian pada 3 tahun pertama. maka seperti yan telah disampaikan pada bagian sebelumnya yaitu upaya pemenuhan akan air bersih masyarakat dilakukan secara mandiri dan tradisional. 50 1. air akan sangat berkurang. Garangan. Hasil dari Pohon Jati yang ditanam warga. 7 Tabel Hasil Hutan Rakyat secara keselurtuhan untuk Kabupaten Boyolali No 1 2 3 4 5 6 7 Komoditi Hasil Hutan Jati Sengon Mahoni Akasia A Formis Akasia Decuren (ton) Suren Bambu (batang) Total Produksi (M³) 2. baik sumber yang airnya menyusut sampai kering sama sekali. Sehingga perubahan musim. seperti yang disampaikan oleh Mantan Lurah Desa Bengle yaitu: 1. 100 3. Permasalahan kelangkaan air di wilayah Kecamatan Wonosegoro selalu terjadi dari waktu ke waktu dengan cara menyikapi yang sama. 769 48. 751 146. 01 1. yaitu mencari air dari sumber yang masih mengeluarkan air meskipun harus menempuh jarak yang semakin jauh. hingga saatnya dipanen pada usia rata-rata 15 s/d 25 tahun. dimana pada musim kemarau. 3. buruh dan pegawai swasta dan negeri. Masyarakat harus mengalokasikan waktu tertentu untuk mencari air demi memenuhi kebutuhan air bersih rumah tangganya masing-masing. Tidak banyak keterlibatan pihak perhutani dalam hal ini hanya membantu petani pada masa awal pertumbuhan. Panen palawija menjadi berkurang karena pada musim hanya mampu paling banyak 2 kali panen. 050. perubahan kondisi lingkungan akan berpengaruh terhadap kondisi baik kualitas maupun kuantitas air yang ada pada sumber. 782.300. Penjualannya dilakukan melalui pengumpul. 500 237.

Pihak pemerintah daerah melalui PDAM melakukan upaya pembukaan dengan dibantu oleh seorang juru kunci. II. maka kolam tidak dapat terisi. dan kualitas air yang cenderung keruh. Upaya tersebut dilakukan oleh LKTS Boyolali di Dusun Candi. Membuka sumber air. Upaya tersebut berulangkali mengalami kegagalan karena pipa PVC yang digunakan selalu pecah meskipun sudajh dilapisi bambu. untuk memudahkan warga Dusun Candi dan Traban dalam memperoleh air bersih. Pipanisasi yang dilakukan oleh masyarakat Desa Gunungsari Pipanisasi dilakukan secara mandiri untuk menyalurkan air dari sumber Kali Grincing yang terletak diatas bukit ke tempat yang lebih rendah. Selain melakukan pengambilan air untuk kebutuhan air bersih masing-masing rumah tangga. Lembaga Swadaya Masyarakat I. Membangun kolam penampungan air dan mengalirkan air dari sumber ke kolam tersebut. 2. dan Masyarakat Desa Gunungsari. Dropping air bersih Dilakukan dengan menggunakan mobil tangki ke beberapa desa di wilayah Kecamatan Wonosegoro. Hingga saat ini kolam tersebut masih berfungsi dengan baik tetapi karena air yang menyusut di sumber.1. Upaya ini tidak menyelesaikan masalah karena pengiriman dilakukan tidak secara kontinyu. I. Upaya ini tidak juga membawa hasil. dan dampaknya dirasakan langsung olehj masyarakat. sumber tersebut dijadikan sumur yang berlokasi dekat mesjid di Desa Bengle. Masyarakat setempat. Hal ini terjadi karena penyusutan air yang terjadi pada musim kemarau. Membangun sumur gali Sumur gali tersebut dibuat secara swadaya oleh masyarakat desa atau dusun setempat di tempat-tempat tertentu sehingga dapat diakses oleh masyarakat yang lebih luas. Upaya tersebut diantaranya: I. II. Oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Boyolali. 66 . Saat ini masyarakat yang akan mengambil air dari Sumber Kali Grincing harus mengambilnya dengan tempaya atau Ember ke pancuran yang ada di sumber tersbeut. Hingga saat ini sumur yang dibangun masih berfungsi dengan baik. masyarakat juga secara swadaya melakukan beberapa upaya bagi pemenuhan kebutuhan air bersih untuk masyarakat secara lebih luas. Upaya tersebut dilakukan oleh LPTP bekerja sama dengan pemerintah daerah Kabupaten Boyolali. Air dari sumber yang berada di Dsn Candi dialirkan dengan menggunakan pipa PVC ke kolam penampungan yang terletak pada jarak 500 meter dari sumber. III. karena hanya ditemukan satu sumber air yang memiliki debit yang kecil sehingga tidak ekonomis untuk dimanfaatkan oleh PDAM. 3. Upaya tersebut akhirnya tidak memberikan hasil apapun karena masyarakat setempat takut akan terjadi banjir. Desa Repaking Kecamatan Wonosegoro. Membuka sumber air di wilayah Kecamatan Wonosegoro dilakukan berdasarkan informasi dan kepercayaan masyarakat bahwa terdapat sebuah sumber air dengan debit yang cukup besar tetapi ditutup oleh masyarakat sejak jaman dulu. II. Mencari sumber air baru Dilakukan oleh pemerintah daerah bekerja sama dengan perguruan tinggi di Jogjakarta. Saat ini. Menentukan titik air dan membangun sumur gali Dilakukan di 6 titik di wilayah Desa Gunungsari.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful