Edisi 3/ September / 2011

Birokrasi
Keterbukaan Informasi Publik

a r E m a l a d

Pelayanan Birokrasi dalam Era Otonomi Daerah Pelayanan Birokrasi Papua dalam Era Otonomi Khusus Reformasi Birokrasi dan Implementasi Good Governance
Foto : Antara

Reformasi Birokrasi, Syarat Mutlak Pembangunan Ekonomi

dalam Era
Diterbitkan Oleh :

Tim Redaksi Pengarah : Penanggungjawab :

Pemimpin Umum

:

Pemimpin Redaksi : Anggota Dewan Redaksi : Ismail Cawidu (Sekretaris Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik) Bambang Wiswalujo (Direktur Pengolah dan Penyediaan Informasi) Supomo (Direktur Komunikasi Publik)

Tifatul Sembiring (Menteri Kominfo) Basuki Yusuf Iskandar (Sekretaris Jenderal) Ahmad Mabruri Mei Akbari (Staf Khusus Menkominfo) Freddy H Tulung, (Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik) Suprawoto (Staf Ahli Menteri Bidang Sosial Ekonomi dan Budaya) Sadjan (Direktur Pengelolaan Media Publik)

Erlangga Masdiana (Direktur Layanan Informasi Internasional) James Pardede (Direktur Kemitraan Komunikasi) Redaktur Pelaksana : Mardianto Soemaryo Penyunting/ Editor : 1. Hypolitus Layanan 2. Endang Kartiwak 3. Taufik Hidayat Tim Tenaga Ahli : Sugeng Bayu Wahono Lambang Trijono Abduh Sandiah Murti Kusuma Wirasti Design Grafis : Danang Firmansyah Sekretaris Redaksi : M. Taofik Rauf Sekretariat : 1. M. Azhar Iskandar Zainal 2. Jatmadi 3. Sarnubi 4. Inu Sudiati 5. Elpira Inda Sari N.K 6. Lamini 7. Nur Arief Hidayat

.

Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Daftar Isi Salam Redaksi Wawancara Khusus Reformasi Birokrasi Tidak Secepat Membalik Telapak Tangan ii vii vii I II Pelayanan Birokrasi dalam Era Otonomi Daerah Pendahuluan Antara Harapan dan Kenyataan Penutup 1 2 5 9 Pelayanan Birokrasi Papua dalam Era Otonomi Khusus 11 Birokrasi dan III Reformasi Implementasi Good Governance Birokrasi. IV Reformasi Syarat Mutlak Pembangunan Ekonomi Laporan Studi lapangan Reformasi Birokrasi dalam Dinamika Pemerintahan Daerah 19 45 65 65 i .

dan masyarakat. Seiring dengan bergulirnya demokratisasi. pemerintah juga memiliki komitmen untuk melaksanakan inisiatif Open Government. dan di sini birokrasi harus transparans. pihak swasta. tetapi juga transparansi. sebagai kebutuhan nasional akan transparansi dan akuntabilitas serta kontribusi aktif Indonesia ii . antara lain tampak pada (1) penyelenggaraan pemerintahan dengan membuka koridor ketertutupan birokrasi melalui semangat dialog dan komunikasi intensif antara pemerintah. pemerintah telah bertindak atas dasar tanggung jawab dalam segala bidang untuk kepentingan masyarakat luas. juga salah satu yang paling santer dikumandangkan adalah perlunya reformasi birokrasi. Good governance menjadi sebuah imperatif dalam proses negara demokrasi. birokrasi pemerintah dituntut untuk tampil sebagai organisasi pelayanan publik yang transparan. Isu utama yang ditekankan dalam reformasi birokrasi bukan saja pelayanan dan inefisiensi. dan membuka partisipasi publik. dan (4) pengambilan keputusan juga perlu melibatkan masyarakat. pemerintah telah berusaha membangun kepercayaan timbal balik antara pemerintah dan masyarakat melalui penyediaan informasi dan menjamin kemudahan di dalam memperoleh informasi tersebut.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Salam Redaksi S etelah era reformasi. Pemerintah pun merespons atas tuntutan reformasi birokrasi dengan berkomitmen menerapkan prinsip good governance. (2) dalam pengambilan kebijakan serta keputusan. sehingga masyarakat memiliki kesempatan dalam menyampaikan aspirasinya Masih dalam konteks good governance. (3) setiap proses pemerintahan mulai dari pengambilan keputusan sampai implementasi. akuntable.

14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. tepat. khususnya Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik telah berusaha menyusun disain komunikasi untuk memastikan inisiatif Open Government terlaksana sejalan dengan prinsip transparansi. dengan biaya yang terjangkau. ada juga yang memberikan penilaian kritis bahwa meskipun prinsip good governance telah dilaksanakan. Ia berusaha mendeskripsikan tentang makna birokrasi dan good governance. Meskipun demikian. sekaligus sebagai melihat bagaimana penerapan Undang-undang No. Sementara itu. setiap lembaga publik diharapkan menyusun Rencana Implementasi Open Government (OG) lembaganya. Untuk melakukan good governance perlu proses pembelajaran. kemampuan dan moral penyelenggara pemerintahan mampu memberi pelayanan yang mudah. maka Jurnal Dialog Publik kali ini mengangkat tema Birokrasi dalam era keterbukaan informasi.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik dalam Open Government Partnership (OGP). partisipasi dan kolaborasi. perlu perbaikan-perbaikan menyangkut SDM dan SDA yang dimiliki. Keluarnya undangundang ini juga menunjukkan komitmen pemerintah terhadap upaya perwujudan reformasi birokrasi. Reformasi birokrasi merupakan salah satu upaya untuk menerapkan prinsip good governance. Berbagai isu dan permasalahan di seputar reformasi birokrasi akan dibedah dan dianalisis secara komprehensif dari berbagai perspektif. dalam arti semangat desentralisasi dan debirokratisasi tercermin dalam tata kelola pemerintahannya. melalui konsultasi dengan kelompok pemangku kepentingan masingmasing. Dalam pelaksanaannya. efisien dan tidak berbelit-belit serta menggunakan SDM yang optimal dan berkualitas. tetapi belum sepenuhnya dilaksanakan. Muhadam Labolo secara detail menganalisis kinerja birokrasi dalam konteks good governance. iii . namun perlu keseriusan untuk melakukan reformasi birokrasi. pemerintah juga menerapkan Otonomi Daerah dengan menekankan pelayanan birokrasi pemerintah lebih efisien. Hal yang paling bisa dilakukan adalah untuk memberikan kepercayaan dan dukungan untuk melakukan upayaupaya reformasi birokrasi. Untuk percepatan OG ini melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika. Atas dasar permasalahan di atas. cepat. Dari prosesnya yang lebih efektif.

sehingga lebih mengarah pada birokrasi primordial. Apakah bias primordialisme seperti baik buruknya pelayanan birokrasi disebabkan oleh faktor kesamaan etnis. Memang. dan pelayanan pun ada kecenderungan bias etnosentrisme. sistem rekreuitmen. namun fundamental. Perubahan tersebut diharapkan tidak saja bersifat incremental semata. agama. sehingga birokrasi pemerintah terbukti adaftif dengan perkembangan masyarakatnya. birokrasi pemerintah Papua berkembang ke arah yang lebih menunjukkan iv . Sementara itu Habel Suwae mencoba menyoroti pelayanan birokrasi dalam era Otonomi Khsusus di Provinsi Papau.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 karakteristik pemerintahan yang baik. Perkembangan masyarakat Papua yang semakin terbuka menjadikan Papua semakin plural. sehingga personil. Pengembangan kapasitas aparatur berfokus pada aspek pendidikan dan pengalaman yang akan menentukan nilai profesionalisme birokrasi dihadapan masyarakat. Atau dengan kata lain Habel mengajukan pertanyaan bagaimana pelayanan birokrasi pemerintah Papua dalam era Otonomi Khusus sekarang ini. atau berkembang menjadi birokrasi modern yang mengutamakan profesionalisme dan merit system. Salah satu usulan menarik Muhadan adalah bahwa untuk mengefektifkan reformasi birokrasi diperlukan reformasi kapasitasi yang memadai guna meningkatkan kemampuan aparatur dalam melayani masyarakat. Birokrasi pun kemudian menunjukkan karakter birokrasi primordial. disikapi oleh sebagian warga Papua secara primordialistik. masalah dan tantangan yang dihadapi dalam upaya reformasi birokrasi. Menurut Habel birokrasi di Papua justru lebih menunjukkan karakter sebagai birokrasi yang rasional dan mengedepankan profesionalisme. Habel melihat adanya gejala etnosentrisme di Papua apakah berpengaruh terhadap pelayanan birokrasi. pada awalnya terdapat kecenderungan bahwa pemberian kewenangan pengelolaan politik oleh pemerintah pusat dalam bentuk Otsus. sehingga lebih mengedepankan profesionalisme dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Reformasi kapasitasi berkaitan dengan kemampuan birokrasi baik secara individual maupun kelompok yang ditunjukkan pada kemampuan menerjemahkan visi dan misi. program dan kegiatan. serta upaya strategis reformasi birokrasi dan implementasi tata kelola pemerintahan yang baik. dan kekerabatan. Akan tetapi dalam perkembangan lebih lanjut. Reformasi kapasitasi adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan sumber daya birokrasi dalam pelayanan agar mampu mengimbangi dinamika masyarakat. Atau birokrasi bersifat adaptif dengan dinamika masyarakat Papua yang semakin terbuka.

birokrasi dikembangkan sebagai unit pelayanan yang tepat. bukan berdasarkan pendidikan dan latihan penjenjangan kerier. birokrasi perlu direformasi. efektif. Politisasi birokrasi ikut mendorong terjadinya penyelewengan yang membuat birokrasi semakin jauh dari fungsi utamanya sebagai penggerak sektor perekonomian. harus ada trnasformasi kultural di kalangan aparat birokrasi dari cara pandang birokrasi sebagai penguasa menjadi birokrasi sebagai pelayanan sesuai dengan sistem politik yang deomokratis.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik karakter birokrasi profesional dengan menerapkan merit sistem. Bersamaan dengan itu. efisien. Reinventing bureaucracy diharapkan mampu mengembalikan birokrasi sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi. kapabiltas dan hal ini disebabkan oleh karena penenpatan pejabat eselon II dan III. dari segenap analisis kritis yang dikemukan para penulis. Dengan konsep tersebut. menjadi pertimbangan utama mengedepankan birokrasi rasional. bukan sebagai unit pelayanan masyarakat.Untuk dapat mengoptimalkan pelayanan birokrasi yang menggunakan prinsip good governance. Sifatnya yang birokratis dan patologis membuat keberadaan birokrasi lebih dianggap sebagai faktor penghambat dibanding pendorong perekonomian. cepat. Berbagai penyakit birokrasi muncul karena aparat birokrasi cenderung menggunakan birokrasi sebagai alat untuk mencapai tujuan birokrasi itu sendiri. akuntabel dan berorientasi pada kebutuhan pengguna layanan. yang lebih mengutamakan efisiensi dan profesionalisme. tetapi lebih ditentukan oleh tim sukses. Salah satunya adalah dengan menerapkan konsep reinventing bureaucracy. Sedangkan Nursodik menilai birokrasi Indonesia belum probisnis. v . birokrasi pemerintah juga terus mendorong partisipasi publik dalam proses pembangunan menuju pemerintahan yang transparan dan akuntabel. Untuk menghilangkan berbagai patologi yang ada. pada era sistem pemerintahan desentralisktik sekarang ini banyak menimbulkan persoalan pemerintahan terutama dalam birokrasi pelayanan publik. Karakter masyarakat Papua sendiri yang terbuka dan semakin plural. Ferdinan mengkaji tentang efektivitas pelayanan birokrasi di era otonomi daerah. bahwa bagaimanapun birokrasi harus didorong untuk lebih independen. Realitas yang teralami sekarang banyak birokrat yang tidak mengutamakan pelayanan publik. terdapat harapan yang sama. Akan tetapi. karena banyak pejabat publik yang diangkat tidak memiliki kapasitas. Argumen agak berbeda dikemukakan oleh Ferdinan Kerebungu. Banyak gejolak yang terjadi di daerah sebagai perwujudan ketidak puasan masyarakat dalam pelaksanaan otonomi daerah.

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 steril dari kepentingan politik. meski di sana-sini terdapat hambatan. vi . harus tetap dipelihara dan dirawat agar terus menjadi habitat subur bagi tumbuhnya birokrasi yang secara konsisten menerapkan prinsip good governance. Iklim demokrasi yang sudah baik. Komitmen pemerintah pusat untuk melakukan reformasi birokrasi. tetap harus mendapat dukungan dari semua pihak. dan mengedepankan profesionalisme.

MBA* *Deputi Bidang Program dan Reformasi Birokrasi.Edisi 3 / September / 2011 Wawancara Khusus Reformasi Birokrasi Tidak Secepat Membalik Telapak Tangan Dr. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. vii . Ismail Muhamad.

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik

Edisi 3 / September / 2011

S

etelah era reformasi, salah satu isu yang paling santer dikumandangkan adalah perlunya reformasi birokrasi. Isu utama yang ditekankan dalam reformasi birokrasi bukan saja pelayanan dan efisiensi, tetapi juga transparansi. Seiring dengan bergulirnya demokratisasi, birokrasi pemerintah dituntut untuk tampil sebagai organisasi pelayanan publik yang transparan. Prinsip Good governance menjadi sebuah imperatif dalam proses negara demokrasi, dan di sini birokrasi harus transparans, akuntable, dan membuka partisipasi publik.

Meskipun secara normatif, pemerintah punya sejumlah regulasi yang mengatur tatakerja birokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan, namun dari hasil penyerapan opini dalam masyarakat, ternyata sebagian masyarakat menilai reformasi birokrasi belum memperlihatkan hasil konkret, alias reformasi birokrasi masih jalan di tempat. Persoalan yang mengemuka di anatranya pemerintah, termasuk pemerintah daerah dinilai kurang transparan dan tidak banyak melibatkan masyarakat dalam perumusan kebijakan publik. Dalam kaiatan dengan persoalan tersebut, berikut ini petikan hasil wawancara redaksi dengan

Dr. Ismail Muhamad, MBA

viii

Edisi 3 / September / 2011

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik

Deputi Bidang Program dan Reformasi Birokrasi, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Dr. Ismail Muhamad, MBA. Banyak kalangan menilai program reformasi birokrasi jalan di tempat, bagaimana kondisi yang sesungguhnya ada pada saat ini? Pandangan seperti itu dapat dipahami, tetapi sangat tergantung dari sudut pandang mana melihatnya. Perlu diluruskan, bahwa reformasi dalam skala besar (Nasional) dimulai pada tahun 1998. Fokus reformasi pada tiga bidang, yaitu Bidang Ekonomi, Bidang Politik dan Bidang Hukum. Sedangkan secara khusus reformasi birokrasi dimulai pada tahun 2004, dan sebagai pilot projectnya adalah Badan Pemeriksa Keuangan, Mahkamah Agung, dan Kementerian Keuangan. Pada tahun 2008, Kementerian PAN menerbitkan Pedoman Umum Reformasi Birokrasi. Mulai tahun 2010 ditetapkan Grand Design Reformasi Birokrasi 2010 – 2025 berdasarakanh Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 81 Tahun 2010, dan ditindaklanjutin dengan Peraturan Menteri PAN No. 4 Tahun 2010. Jadi kalau ada yang bilang reformasi birokrasi jalan di tempat itu karena kurang mengikuti perkembangan yang ada. Jadi dari sisi kebijakan pelaksanaan reformasi birokrasi sudah ada langkah-langkah konkret. Berbicara mengenai reformasi birokrasi di negara manapun tidak secepat

membalikkan telapak tangan, tetapi membutuhkan proses panjang. Contoh Australia, untuk melakukan reformasi membutuhkan waktu 30 tahun baru bisa dilihat hasilnya. Dalam kaitan dengan transparansi, akuntabilitas, partisipasi publik dan lain-lain sebenarnya sangat terkait dengan UU No. 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) yang secara definitif pelaksanaannya pada tahun 2010. Tetapi sebenarnya transparansi dan akuntabilitas di Indonesia sudah mulai dilaksanakan secara efektif pada tahun 1999, yaitu dengan dikeluarkan Instruksi Presiden RI No. 7 Tahun 1999 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Dengan demikian secara formal semua instansi pemerintah dalam pelaksanaan fungsi dan tugasnya diharuskan transparan dan akutabel. Jadi prinsipnya sudah ada model layanan, prosedur tetap, pengawasan, capaian hasil dan metode evaluasinya, semuanya sudah dituangkan dalam Rencana Strategis (renstra) instansi pemerintah. Pembuatan Renstra itu sendiri sangat transparan, meskipun pada waktu itu belum sejalan dengan UU KIP, karena belum ada. Dalam UU KIP jelas sekali menegaskan bahwa semua informasi itu terbuka (dipulikasikan) kecuali yang rahasia. Berbeda dengan paradigma sebelumnya bahwa semua informasi itu rahasia, kecuali yang dibuka atau yang dipublikasikan. Jadi secara ringkas bisa disimpulkan bahwa transparansi dan akuntabilitas

ix

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik

Edisi 3 / September / 2011

kebijakan pemeritah termasuk bidang pelaynan telah dilaksanakan, meskipun harus diakui ada beberapa yang masih tertinggal. Bagaimana kita melihat secara konkret reformasi birokrasi itu dari sisi pelaynan publik? Pelayanan publik itu kita bagi dua yakni yang bersifat administratif dan pelayanan praktis atau non administrasi. Pelayanan administratif seperti KTP dan sejenisnya, hampir di semua daerah sudah transparan, umpamanya sudah jelas berapa biayanya, penyelesaiannya berapa lama, prosedur dan mekanismenya. Bahkan informasi tentang semua itu ditempelkan di papan pengumuman sehingga masyarakat mengetahuinya secara jelas. Selain itu ada standar pelayanan minimum yang diatur berdasarkan Kepmendagri yang menjadi acuan bagi daerah untuk merancanakan angaran pendapatan dan belanja daerahnya. Standar pelaynan itu juga dipublikasikan agar diketahui oleh masyarakat. Ini artinya langkah konkret yang dilakukan pemerintah itu ada, hanya mungkin kalau ada penyimpangan oleh oknum, termasuk sikap dan prilaku SKPD di daerah tertentu yang cenderung mengada-ada. Sehingga dalam kontek reformasi birokrasi, kelemahan-kelemahan itu dipantau dan dievaluasi, kemudian ditertibkan. Untuk mengurangi penyimpangan kita menggunakan instrumen indek kepuasan masyarakat melalui survei. KPK juga menggunakan

tingkat kepuasan masyarakat dalam mengukur kualitas pelaynan publik. Dalam reformasi birokrasi, unsur itu juga dimasukkan sebagai salah satu indikator keberhasilan yakni peningkatan kualitas pelaynan publik. Kalau kita ambil contoh, kalau KPK mengunakan unsur integritas pelaynan publik, tingkat kemudahan berusaha, lalu instansi yang akuntabel. Tahun 2009 kita sudah punya base line sekian, kita punya target tahun 2014 sekian. Dengan ukuran itu terus dilakukan pemantauan, ternyata hasilnya semnatra ini mengalami peningkatan (kemajuan). Jadi jelas ada pengukurannya untuk menetukan tingkat keberhasilan program reformasi birokrasi. Sampai saat ini masih banyak pemerintah daerah belum membentuk PPID sesuai ketentuan UU No. 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik. Baagaimana Pemerintah menyikapi maslah tersebutdalam kaitan dengan upaya mempercepat reformasi birokrasi? Secara makro hal itu termasuk dalam konteks penguatan kelembagaan dan pembenahan organisasi. Atas dasar UU KIP tersebut kita melangkah pada Open Government yang salah satu intinya adalah setiap instansi pemerintah dihimbau untuk segera melangkah konkret membenahi organisasinya sesuai kebutuhan. UU KIP jelas mengatakan bahwa jika masyarakat yang meminta informasi yang terbuka,

x

Tetapi berdasarkan pengamatan Kementerian PAN dan RB. Ternyata langkah-langkah yang dilakukan kedua daerah ini luar bisa dalam kontek transparansi. setiap waktu masyarakat berhak meminta informasi pada instansi pemerintah ada atau tidak PPID pada intansi tersebut. Jadi dari sisi kacamata reformasi birokrasi. Ditambah lagi dengan adanya website. Mungkin urgensinya untuk memperkuat unit pelaynan informai. pengadaan barang dan jasa dan lainlain semuanya terbuka. akan lebih memudahkan. karena karakter manusianya berbeda satu dengan yang lain. upaya untuk meningkatkan pelaynan birokrasi sudah sangat kuat. yakni melalui laporan akuntabilitas.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik kalau ada yang menghaklangi. Ada beberapa daerah yang mengalami hambatan. Bahkan barubaru ini pada kesempatan lokakarya ditampilkan dua daerah yang masuk kategori berhasil. pemerintah daerah tidak terlalu tertinggal. tidak perlu pintupintu lagi. di samping masyarakat juga punya kesadaran yang luar bisa dalam menuntut haknya untuk memperoleh informasi. Ada kendala di beberapa daerah dengan alasan PAD yang tidak mencukupi. Aparat pemerintah menyadari bahwa hak publik untuk mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Bagaimana kondisi pemerintah termasuk pemerintah daerah dalam menyelenggarakan pemerintahan yang berperinsip good governance? Kalau dilihat dari sisi akuntabilitas. tetapi melalui induk lembaganya. xi . Penilaian ini didasarkan pada indikator dengan menggunakan instrumen yang ada. Ini artinya pintu masuk tidak harus melalui lembaga baru (PPID). Mereka menyampaikannya dengan cukup baik. akuntabilitas dan partisipasi publik dalam pelaksanaan good governance di setiap instansi pemerintah. yakni Jawa Barat dan Nusa Tenggara Barat. termasuk pemeritah daerah. maka bisa dikatakan bahwa sebagian besarnya sudah punya kesadaran tersebut sangat kuat. Oleh karena itu bisa disimpulkan bahwa secara nasional terdapat kemajuan yang cukup signifikan dalam penyelenggaran pemerintahan dengan prinsip good governance. Jadi kalau berbicara tentang prinsip-prinsip transparansi. maka bisa dituntut. Dari unsur transparansi dan lain-lain juga terlihat adanya kesungguhan pemda-pemda dan hasilnya cukup baik. Kita tidak bisa menuding bahwa semua pemda itu sama. baik karena faktor sumber daya manusia maupun sumber daya lain. salah satunya adalah dengan pemanfaatan teknologi inforasi untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. seperti soal APBN. kecuali yang sifatnya terkait rahasia negara dan surat-surat yang memang sifatnya rahasia. tentu karena kendala-kendala. Saat ini pemerintah sudah cukup transparan dan open government.

melalui tokohtokohnya. Dengan reformasi ini juga kita mengukur kinerja. dan yang merepresentasikan masyarakat diundang untuk menjaring masukan dan aspirasi masyarakat. Musrembang sampai ke tingkat nasional dimana di setiap lefel itu melibatkan masukan masyarakat. Jadi keterlibatan unsur – unsur dalam masyarakat itu penekanannya peranya apa. Bagaimana pemetrintah menyikapi maslah tersebut? Memang harus diakui bahwa kondisi seperti itu ada pada praktek rekrutmen pegawai dan pejabat pemerintah. berubah dan lebih mengutamakan peran. Atas dasar itu. kalau tidak ada analisis kebutuhan kompetensi yang dibutuhkan. prosesnya harus dimulai dari usulan desa/kelurahan. organisasi tertentu. Menteri Keuangan dan Menteri PAN dan RB memutuskan untuk moratorium penerimaan calon PNS mulai September 2011 sampai Desember 2012. Bahkan ada stetmen di Komisi II DPR RI bahwa akibat penyimpangan seperti itu menyebabkan kerugian negara sampai 25 triliun rupiah. Seperti ada informasi bawa di daerah tertentu untuk masuk PNS harus bayar jutaan rupiah. Lalu harusnya hasil ujian itu diumumkan. Moratorium ini diperlukan untuk melakukan pembenahan. bukan kewenangannya. Dalam UU ini jelas sekali. yang selama ini cenderung berorientasi pada kewenangan. baru ada formasi. bahwa setiap ada kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembanagunan Nasional. lalu dalam proses asesmennya diminta dari perguruan tinggi yang terbaik di masing-masing daerah. kompetensinya apa dan sebagainya. Kalau sebuah xii . Kita sudah melakukan pembenahan dengan menetapkan agar semua proses aplikasi melalui website. Tidak akan disiapkan formasi oleh pusat. Intinya adalah selama masa moratorium itu akan dibuat formula yang bisa mencegah praktek KKN dan prilaku yang menyimpang. tetapi dalam kenyatannya itu dimainkan juga. Sekarang pemerintah melalui Peraturan Bersama Meneteri Dalam Negeri. Salah satu langkah reformasi terkait dengan maslah ini adalah merubah mainset dan kutureset para pejabat. kabupaten/kota mengajukan berapa kebutuhannya.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Salah satu sorotan masyarakat terhadap lemahnya pelaynan birokrasi adalah dalam kaitan dengan rekrutmen aparat (PNS) dan pejabat pemerintah yang tidak transparan dan sarat dengan KKN. Sampai dengan Desember 2012 ditetapkan supaya seluruh pemerintah provinsi. Apakah dalam penyelenggaraan pemerintahan sudah membuka koridor ketertutupan birokrasi melalui semangat dialog dan komunikasi intensif antara pemerintah dan masyarakat? Prinsipsnya kita berpegang pada UU No.

Tetapi harus diakui untuk merubah pola pikir. Tetapi ada contoh negara yang punya good governance namun dalam praktek demokrasinya masih kategori rendah. salah satu prasyaratnya adalah penerapan good governance. Persoalan nanti kalau kemudian ada yang dipotong di atas. Kendala kedua adalah kebutuhan SDM aparat birokrasi itu belum proporsional. masih jauh di bawah Indonesia.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik kebijakan dalam implementasinya tidak ada aksesnya pada masyarakat. tetapi dari sisi demokratisasi. Meskipun Singapura punya pemerintah yang sangat good governance. seperti Singapura. karena kemudian kurang efektif. Proses dalam merumuskan sebuah kebijakan publik harus melibatkan masyarakat. itu semata- mata dengan pertimbangan demi kepentingan bersama. Bagaimana mengefektifkan pelayanan birokrasi dalam era keterbukaan informasi sebagai bagian dari demokratisasi? Prinsip demokrasi. produktif dan profrsional. Kendala-kendala apa saja yang dirasakan dalam penyelenggaraan pelayanan birokrasi yang berprinsip good governance? Kendala utama yang terlihat selama ini adalah pada mind-set dan cuture-set pada aparat birokarasi. meningkatkan kualitas xiii . Demokrasi Indonesia menduduki nomor tiga terbaik di dunia. maka kinerjanya turun. maupun dari sisi kompetensinya juga belum pada posisi the right man on the right please. dan belum berorientasi pada hasil (outcomes). yakni dengan menggunakan menejmen kinerja. efektif. Sebenernya secara normatif itu semua sudah diatur. Seperti digambarkan sasran reformasi birokrasi dalam Grand Design Reformasi Borokrasi 2010 -2025 yang dibagi dalam tiga tahap sebagai berikut: 1. apalagi sudah membudaya itu membutuhkan waktu lama. Tetapi yang terpenting adanya suatu public policy process yang sesuai dengan prinsipprinsip good governance. tetapi bukan berarti reformasi birokrasi jalan di tempat. bahkan sudah 10 tahun terakhir ini masuk pada periode maturity. belum untuk mencapai kinerja yang lebih baik (better performance). baik dari faktor alokasinya dari pusat sampai ke daerah. birokrat belum benar-benar memiliki pola piker yang melayani masyarakat. Jadi dengan reformasi dimaksudkan untuk merubah pemahman bahwa demokrasi tidak seperti terjadi saat ini. Sasaran lima tahun pertama (2010 – 2014). maka reformasi ini digunakan untuk membenahinya. Selain itu. itu pun sampai sekarang belum semua menerapkan. Pola piker dan budaya kerja birokrat belum sepenuhnya mendukung birokrasi yang efisien. difokuskan pada penguatan birokrasi pemerintah dalam rangka mewujudkan pemerintah yang bersih dan bebas KKN.

selain implementasi hasil-hasil yang sidah dicapai pada lima tahun pertama. semua itu sudah pada posisi yang benar. Sasaran lima tahun ketiga (2020.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 pelaynan publik kepada masyarakat. serta meningkatkan kapasitas dan akuntabilitas kinerja birokrasi. pada lima tahun kedua juga dilanjutkan upaya yang belum dicapai pada berbagai komponen yang strategis birokrasi pemerintah pada lima tahun pertama. 3. Sehingga dengan sasaran-sasaran tersebut. reformasi birokrasi ini akan berhasil membenahi performen pelaynan birokrasi dalam memenuhi kebutuhan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Sasaran lima tahun kedua (2015 – 2019).2024). reformasi birokrasi dilakukan melalui peningkatan kapasitas birokrasi secara terus menerus untuk menjadi pemerintahan kelas dunia sebagai kelanjutan dari reformasi birokrasi lima tahun kedua. xiv . 2.

Program Pascasarjana Universitas Samratulangi Manado. pada Program Pascasarjana Universitas Negeri Manado.I Pelayanan Birokrasi dalam Era Otonomi Daerah Oleh : Ferdinand Kerebungu * Edisi 3 / September / 2011 * Ketua Program Studi Magister Administrasi Publik. 1 . dan mengajar pada S2 Pengembangan Sumberdaya Sosial.

Realitas yang teralami sekarang banyak birokrat yang tidak mengutamakan pelayanan publik. Di era otonomi daerah saat ini. dengan harapan tujuan terbentuk negara ini dapat terwujud secara optimal. kapabiltas dan akuntabiltas dalam bidang kerjanya. Untuk dapat mengoptimalkan sumberdaya yang ada di daerah khususnya sumberdaya manusia. dan kebutuhan mereka D Pendahuluan 2 .Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 i era sistem pemerintahan desentralisktik sekarang ini banyak menimbulkan persoalan pemerintahan terutama dalam birokrasi pelayanan publik. karena banyak pejabat publik yang diangkat tidak memiliki kapasitas. maka sistem pemerintahan dan politik yang berlaku harus didasarkan pada sistem pemerintahan yang demokratis. penyelenggaraan birokrasi pelayanan publik yang dilaksanakan oleh pemerintah pada prinsipnya untuk memenuhi kebutuhan dasar dan hakhak setiap warga negara berdasarkan amanat Undang-Undang Dasar 1945. dan transparan. Di era reformasi sekarang ini sistem pemerintahan berubah menjadi desentralistik. Tugas ini di era orde baru belum dapat terwujud hingga ke pedalaman Negara kesatuan Republik Indonesia. Banyak gejolak yang terjadi di daerah sebagai perwujudan ketidak puasan masyarakat dalam pelaksanaan otonomi daerah. sehingga mereka tidak menguasai tugas pokok dan fungsinya. Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar tahun 1945 pada alinea keempat diamanatkan tentang tugas pemerintah antara lain adalah untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam tulisan ini dikaji tentang efektivitas pelayanan birokrasi di era otonomi daerah. bukan berdasarkan pendidikan dan latihan penjenjangan kerier. karena sistem pemerintahan yang bersifat sentralistik. tetapi lebih ditentukan oleh tim sukses. Perubahan arus sistem pemerintahan ini merupakan impian dari masyarakat agar dapat terlayani dengan baik. Hal ini disebabkan oleh karena penempatan pejabat aselon II dan III.

maka yang menjadi permasalahan dalam penulisan ini adalah “sejauhmana efektivitas pelayanan birokrasi diera otonomi daerah”. sehingga pelayanan publik tidak dapat terlaksana dengan optimal. 3 . Berdasarkan latar belakang tersebut. seperti pelayanan cepat. belum juga menunjukkan perubahan yang signifikan dalam sistem pelayanan publik yang dilaksanakan oleh para birokrat sebagai pejabat publik. Sehingga tulisan ini dapat bermanfaat untuk melakukan evaluasi pelaksanaan otonomi daerah apakah berjalan efektif sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 junto Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang otonomi daerah. efektif dan efisien. bahkan tujuan utama pemekaran wilayah yang marak terjadi di era otonomi daerah yaitu mendekatkan pelayanan pada masyarakat bagaikan api jauh dari panggang. Realitas yang dihadapi masyarakat di era otonomi sekarang ini seperti hanya sebuah mimpi yang sulit untuk terwujud. Setelah dua belas tahun pelaksanaan perubahan sistem pemerintahan yaitu dari sistem pemerintahan yang sentralistik ke sistem pemerintahan desentralistik sejak ditetapkannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Akibatnya kebanyakan pejabat yang menduduki jabatan aselon dua (II) hingga aselon tiga (III) adalah orang-orang yang tidak berkompeten dibidangnya. junto Undang-Undang no 12 tahun 2008. bahkan dalam sistem pelayanan publik modern menuntut para birokrat melakukan pelayanan prima pada publik. Untuk meningkatkan kualitas birokrasi dalam pelayanan publik. kesulitan menciptakan lapangan kerja. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis pelaksanaan pelayanan birokrasi terhadap masyarakat di era otonomi daerah. Nampaknya para kepala daerah sebagai top manajemen dalam organisasi pemerintahan daerah lebih disibukkan dengan bagaimana para pendukungnya masuk dalam jajaran kabinetnya. Persoalan tersebut diperparah lagi dengan kinerja para birokrat yang sangat rendah.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik dapat tercapai dengan sistem pelayanan birokrasi yang prima. hingga perubahannya menjadi UndangUndang Nomor 32 tahun 2004. Pelayanan birokrasi yang terjadi tidak mampu mengimbangi perkembangan tuntutan masyarakat akan pelayanan. Kondisi ini banyak dilihat di tanah air ini tentang maraknya protes yang dilakukan oleh masyarakat. apalagi mau menuntut kualitas. tepat. yang tidak sesuai dengan harapan masyarakat.

Lumingkewas dan Masengi (2008). Sejalan dengan pemikiran tersebut. seyogyanya di era otonomi daerah saat ini setiap penjabat publik dalam melaksanakan tugasnya sebagai administrator dan pelayan publik memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat guna mencapai cita-cita pendirian negara ini. 2005). Oleh sebab itu. dan yang terakhir. dan memahami secara cepat kebutuhan publik yang dilayani. dan memberikan pengayoman terhadap masyarakat yang berada di wilayah kerjanya. (Sarundajang. (3) melindungi kebebasan individu berdasarkan peraturan dan norma adat istiadat yang berlaku di masyarakat. mengemukakan bahwa “birokrasi pemerintahan dapat dipandang dari dua dimensi. (4) mengatur tindakan individu agar individu tidak menjadi liar. Jika birokrat sebagai administrator dan pelayan publik melaksanakan tugasnya berdasarkan fungsinya sebagaimana dikemukakan oleh Sarundajang di atas. mekanisme dan prosedur. yaitu: (1) dimensi kelembagaan yang meliputi. memahami alur birokrasi layanan yang ditetapkan oleh masing-masing satuan kerja perangkat daerah (SKPD). (2) menjamin keadilan di lingkungan masyarakat. peraturan-peraturan baku yang berstandard dan budaya. Selain itu. Selanjutnya Sarundajang (2005). memiliki kejujuran dan berperilaku baik. dan (2) dimensi sikap dan perilaku birokrasi. dimensi ini merujuk pada berbagai perilaku yang diperankan para birokrat dalam pelayanan publik”. kita tidak menjumpai berbagai bentuk kekecewaan masyarakat dan sebaliknya masyarakat akan concern dalam aktivitas kesehariannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. kelemahan birokrat sama dengan kelemahan administrasi pelayanan publik. komunikatif. Menyimak kelima ciri fungsi birokrasi tersebut. responsif. memiliki pengetahuan luas dan ketrampilan yang baik. Oleh karena itu birokrasi di Amerika Serikat disebut dengan Administration. birokrat dalam menjalankan tugasnya berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku bagi setiap pejabat publik dan menanpakan perilaku sebagai pamong yang 4 . Di mana para aparatur (birokrat) dituntut untuk memiliki pengetahuan tentang unsur-unsur layanan publik yang secara tepat. tidak menundanunda pekerjaan. Berdasarkan kedua dimensi birokrasi pemerintahan tersebut. mengemukakan ada lima ciri fungsi birokrasi yaitu: (1) memenuhi tatanan internal organisasi dan keamanan eksternal organisasi.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 perlu memperhatikan tentang tugas dan fungsi dari masing-masing aparatur. seorang birokrat akan nampak kualitas layanannya terhadap publik seperti kehandalannya. (5) meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Banyak pengamat mengatakan bahwa birokrasi identik dengan administrasi.

Sebagai contoh misalnya. bisa tertunda sampai berjam-jam atau bahkan berhari-hari. Kondisi ini yang sering membuat masyarakat bosan dengan berbagai keterlambatan dalam soal surat menyurat. hal ini dimaksudkan agar dalam melaksanakan tugas kesehariannya ia mampu menyelesaikan dalam waktu yang tidak terlalu lama. seperti 5 . dan bahkan pengangkatannya lebih ditentukan oleh tim sukses pilkada. Antara Harapan dan Kenyataan 1. sehingga sering banyak tugastugas yang seharusnya diselesaikan dalam waktu satu atau dua jam. Setiap penjabat aselon dua (II) atau tiga (III) yang diangkat oleh Bupati/ Walikota. Hal ini terkait dengan persoalan pelayanan kepada masyarakat. dan bahkan tidak memperhatikan pendidikan penjenjangan karier seperti diklat PIM I. PIM II maupun PIM III. informasi dan komunikasi (TIK) saat ini tidak sedikit birokrat yang tidak mampu menguasai dan menggunakan teknologi informasi secara baik. dan pelaksana. Sebagai seorang pelaksana tugas di lembaga pemerintahan harus dapat menjadi sebagai konseptor. yang pada gilirannya akan dapat memberikan pelayanan yang prima terhadap masyarakat. perencana. Di era kemajuan teknologi. tidak lagi berdasarkan pada kapasitas atau kapabilitas para penjabat yang diangkat. kondisi seperti yang disebutkan di atas banyak dipengaruhi oleh sikap kepala daerah (Bupati/Walikota) terpilih yang lebih banyak mendengarkan tim sukses dibandingkan dengan mendengarkan staf atau penjabat yang berkompeten dalam bidangnya.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik patut diteladani oleh semua pihak. dan peran Badan Pertimbangan Jabatan (Baperjakat) hanyalah bersifat formalitas. memiliki ketrampilan dan menguasai perkembangan teknologi informasi. bahkan jika diamati di lembaga-lembaga pemerintahan sering ditemui staf administrasi di kantor-kantor pemerintahan. tidak menggunakan komputer untuk kepentingan tugasnya sebagai seorang administrator.      Birokrat sebagai Administrator Seorang birokrat sebagai administrator memerlukan pengetahuan luas. tetapi lebih banyak digunakan permainan game. dan yang selalu menjadi alasan klasik yang dilontarkan oleh staf tersebut adalah belum ditanda tangan oleh bos/atasannya karena tidak berada ditempat. mulai sekitar bulan Juli 2011 sampai saat ini masih terjadi kesalahpahaman antara Walikota Manado dengan Gubernur Provinsi Sulawesi Utara. Berdasarkan realitas yang nampak di daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi   Utara. karena Walikota Manado mengganti beberapa pejabat aselon II tanpa konsultasi dengan Gubernur. demi kepentingan dan kemajuan bangsa dan negara.

Lain lagi peristiwa yang dilakukan oleh Walikota Tomohon Sulut yang terpilih (saat ini non aktif. di Kabupaten Minahasa Selatan. masyarakat Indonesia pada umumnya adalah masyarakat yang taat pada pemerintahnya. sehubungan dengan tujuan pelaksanaan desentralisasi oleh Syaukani. termasuk di dalamnya pelayanan birokrasi terhadap kepentingan masyarakat. Sarundajang (2005) mengemukakan bahwa “Otonomi Daerah adalah hak wewenang dan kewajiban daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku”. Banyak keluhan yang disampaikan aparatur di daerah yaitu kurangnya partisipasi masyarakat dalam berbagai program pembangunan termasuk dalam hal pembayaran pajak bumi dan bangunan (PBB). Sehubungan dengan hal itu. setelah dilantik oleh Mendagri langsung melantik pejabat aselon II dan III di lembaga pemasyarakatan Cipinang. ketaatan dan partisipasi masyarakat tersebut akan lahir dengan sendirinya apabila mereka mendapat perlakuan yang seimbang dan kebutuhan pokoknya terpenuhi.”. mengemukakan bahwa  “di masa lalu.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 penggantian Sekretaris Kota Manado. Kasus pemberhentian sepihak terhadap pejabat Sekretaris Kota Manado berakhir di PTUN dan dimenangkan oleh pejabat Sekretaris Kota yang berhentikan. 6 . penggantian pejabat dan pelantikannya sering dilakukan secara mendadak dan dilakukan malam hari. . banyak masalah terjadi di daerah yang tidak tertangani secara baik karena keterbatasan kewenagan pemerintah daerah . sebab kalau tidak ikut serta dalam rombongan kunjungan kerja. Contoh yang lain lagi. Akibat perilaku demikian birokrasi pelayanan publik tidak berjalan optimal. Contoh arogansi pejabat kepala daerah terpilih yang demikian itulah yang menyebabkan seringkali banyak penjabat tidak berada ditempat karena harus mengikuti ke mana Bupati/Walikota berkunjung. Gaffar dan Rasyid (2003). Pelayan yang seimbang dan pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat merupakan konsekwensi dari implementasi otonomi daerah. Fenomena-fenomena demikian bukan barang baru yang ditampilkan oleh setiap pejabat Bupati/Walikota di era Otonomi Daerah saat ini. Berdasarkan ketentuan peraturan peundang-undangan yang berlaku bahwa setiap pengangkatan pejabat aselon II harus dikonsultasikan oleh Bupati/Walikota kepada Gubernur. Pada saat ini kewenangan pemerintah daerah sudah begitu luas dalam mengembangkan potensi yang terdapat di daerahnya. . dan ditahan dilembaga pemasyarakatan Cipanang karena tersangkut kasus Korupsi). walaupun itu bukan bidangnya. bisa berdampak pada penggantian pejabat. Secara sosiologis dan psikologis.

Kaloh (2002). dan Dana Alokasi Khusus (DAK). 2. mengemukakan bahwa “salah satu prasyarat tercapainya team work dan konvergensi adalah adanya kejelasan tugas pokok dan fungsi masingmasing institusi pemerintahan”. yang implikasi pada kurangnya dana untuk pembangunan. Para pelaku otonomi daerah adalah mereka yang diberi kewenangan dan otoritas untuk mengelolah daerahnya. karena kosentrasi pejabat yang ada lebih terfokus pada melayani Bupati/Walikota ketimbang melayani masyarakat. yaitu Bupati/Walikota dan seluruh aparat birokrasi yang berada di bawahnya. Tidak optimalnya pembayaran PBB oleh masyarakat berdampak pada rendah Pedapatan Asli Daerah (PAD). hal ini sering disebabkan oleh ego sektoral dan kurang koordinasi antar SKPD dalam penyusunan program kerja. sehingga dalam perencanaan pembangunan daerah banyak antar SKPD yang saling tumpang tidih program. Keberhasilan pelaksanaan otonomi daerah sangat ditentukan oleh bagaimana perilaku aparatur di daerah dalam melaksanakan tugas dan fungsinya secara bertanggung jawab dan penuh pengabdian. Perilaku Birokrasi dalam Pelayanan Publik Sebagaimana telah diutarakan pada bagian sebelumnya. “problematik yang dihadapi oleh birokrasi pemerintahan kita adalah 7 . gunan menutupi kekurangan dana dari PAD sebagai sumber utama APBD.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Oleh sebab itu. Kondisi demikian sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Kaloh (2002). Kondisi demikian lebih dipeparah oleh perilaku anggota DPRD yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi ketimbang kepentingan konstituennya. Yang menjadi persoalan sekarang di daerah adalah banyak pejabat antar satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang kurang memahami tugas pokok dan fungsinya. maka tidak mengherankan banyak pejabat di daerah yang ikut jadi pengemis ke pusat untuk meminta tambahan Dana Alokasi Umum (DAU). ketimbang hal-hal yang tidak berdampak pada peningkatan partisipasi masyarakat. Kelemahan dalam pelayanan dan rendahnya partisipasi masyarakat banyak dijumpai pada saat pemberian kewenangan ke daerah secara luas. sebagai seorang birokrat yang berada pada garis depan pelayanan publik. yang banyak mempengaruhi berhasil tidaknya pelaksanaan otonomi daerah terletak pada para pelaku otonomi daerah itu sendiri. serta didukung oleh kerjasama yang baik antar aparatur yang ada dalam membentuk tim kerja  (team work) yang solid. karena kewenangan tersebut tidak dilaksanakan secara optimal. seyogiyanya mengutamakan pengabdiannya kepada masyarakat (Sapta Prasetya Korpri).

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 seringkali sesuatu urusan ditangani oleh banyak instansi sehingga muncul masalah. karena obyek wisata taman laut bunaken berada di beberapa wilayah kabupaten kota. sulit untuk melacak sumber permasalahan. akan tetapi tidak memperhatikan tupoksinya. bahwa “otonomi daerah akan menciptakan raja-raja kecil di daerah dan memindahkan korupsi ke daerah”. seperti Taman Laut Bunaken. jawabannya adalah pemerintah Provinsi. Dampak dari perilaku demikian. begitu sebaliknya waktu ditanyakan pada dinas pariwisata kota manado. Dalam proses pengumpulan data. Raja-raja kecil dan korupsi tidak akan lahir di daerah otonom. agar supaya dipandang lebih piawai dalam menyusun program. Di Provinsi Sulawesi Utara tidak sedikit pejabat yang terlibat kasus manipulasi dan korupsi sehingga mereka berurusan dengan pihak berwajib dan bahkan sudah banyak yang masuk lembaga pemasyarakatan. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Syaukani. banyak program kerja yang saling tumpang tindih karena sudah ditangani oleh beberapa SKPD. kami mendapat jawaban bahwa yang bertanggung jawab adalah pemerintah kota manado. Perilaku ego sektoral sering ditampilkan oleh para pejabat publik. kami menanyakan pada dinas pariwisata Provinsi Sulawesi Utara tentang siapa yang bertanggung jawab dalam pengelolaan obyek wisata taman laut Bunaken. Perilaku saling lempar tangung jawab seperti contoh kasus tersebut memberikan gambaran tentang kinerja aparatur dalam pelayanan publik. Sebagai contoh kasus misalnya penanganan beberapa obyek wisata yang terrdapat di Propinsi Sulawesi Utara. Saling lempar tanggung jawab. sehingga tujuan terbentuknya daerah otonom yaitu mendekatkan pelayanan pada publik dan peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat terwujud. jika Bupati/Walikota dalam menjalankan sistem pemerintahannya secara demokratis. tumpang tindih program merupakan celah yang terbuka untuk terjadi manipulasi dan korupsi. yang tidak mengutamakan pelayanan tapi hanya lebih mempertontonkan kebolehannya dihadapan atasannya (Bupati/Walokota). dan obyek wisata religi Bukit kasih di Kanonang Minahasa. sehingga dalam satu daerah otonom akan mengalami kesulitan untuk membentuk tim kerja yang solid. mampu berkoodinasi antar SKPD. Dalam kondisi sedemikian ini sulit membangun team work dan konvergensi”. Pada suatu kesempatan saya mendampingi salah seorang teman yang sedang melakukan penelitian tentang Privatisasi Kebijakan Publik tentang obyek wisata taman laut Bunaken. Sebab sistem pemerintahan demokratis memberikan peluang bagi masyarakat untuk mengontrol 8 . Gaffar dan Rasyid (2003).

dan pihak pemerintah lebih terbuka dalam hal penyusunan program (Musrembang sesuai undang-undang 32 tahun 2004) dan penggunaan anggaran publik benar-benar untuk kepentingan publik. Tidak terjadi tumpang tindih program pembangunan dan tidak membuka ruang bagi koruptor akan berdampak positif bagi kemajuan masyarakat. 9 . maka tujuan utama utama pembentukan otonomi daerah dapat terealisasi. termasuk diantaranya sumberdaya manusia secara berdaya guna dan berhasil guna. Penutup Pelaksanaan otonomi daerah pada prinsipnya adalah percepatan pertumbuhan dan pembangunan daerah. Dalam sistem pemerintahan daerah yang bersifat desentaristik seperti sekarang ini. serta mendekatkan pelayanan pemerintahan pada masyarakat di daerah. transparan dan akuntabel. tanggung jawab lebih bertumpuh pada kepala daerah yaitu Bupati/Walikota.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik jalannya pemerintahan. Untuk mencapai hal tersebut. seorang kepala daerah dalam menjalankan roda pemerintahannya harus bersifat demokratis. untuk dapat mengoptimalkan dan memberdayakan segala sumberdaya yang ada di daerahnya. yang pada gilirannya birokrasi pelayanan publik akan berjalan secara optimal.

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik

Edisi 3 / September / 2011

 Daftar Pustaka Kaloh, J., 2002, Mencari Bentuk Otonomi Daerah, suatu solusi dalam menjawab kebutuhan local dan tantangan global, Rineka Cipta, Jakarta.  Lumingkewas, Lexie A., dan Evi E. Masengi, 2008, Reformasi Birokrasi Pemerintahan, dalam perspektif pelayanan publik, Wineka Media, Malang.   Sarundajang, S.H., 2005, Arus Balik Kekuasaan Pusat ke Daerah, Kata Hasta, Jakarta.  . . . . . ., 2005, Birokrasi Dalam Otonomi Daerah, uapaya mengatasi kegagalan, Kata Hasta, Jakarta.   Syaukani, Afan Gaffar, dan M. Ryaas Rayid, 2003, Otonomi Daerah, dalam negara kesatuan, kerjasama Pustaka Pelajar dan Pusat Kajian Etika Politik dan Pemerintahan, Jakarta.

10

Edisi 3 / September / 2011

II
Pelayanan Birokrasi Papua dalam Era Otonomi Khusus
Oleh : Oleh Habel M. Suwae 1, Heru Nugroho 2, Djoko Suryo 3 Habel M. Suwae, mahasiswa Program Doktor Kajian Budaya dan Media Sekolah Pascasarjana UGM, dan Bupati Kabupaten Jayapura Provinsi Papua.
1 2 3

Heru Nugroho, Guru Besar Sosiologi Fisipol UGM

Djoko Suryo, Guru Besar Sejarah FIB Universitas Gadjah Mada

11

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik

Edisi 3 / September / 2011

S

Pendahuluan ebagaimana diketahui, melalui Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001

tentang Otonomi Khusus,

Papua telah diberi kewenangan untuk mengatur pemerintahan sendiri berdasarkan peraturan perundangan. Dengan Otsus para elite politik di Papua kebanyakan memilih bersikap terbuka terhadap masuknya para investor, baik dari dalam dan luar negeri untuk tujuan mengembangkan Papua lebih maju. UU Otsus itu pun memang dengan eksplisit menyebutkan bahwa Papua dikategorikan sebagai daerah tertinggal jika dibandingkan dengan wilayah Indonesia Tengah dan apalagi wilayah Indonesia Barat.
Pilihan strategis politik pembangunan seperti itu membawa konsekuensi daerah ini terus berkembang baik secara politik, ekonomi, maupun kebudayaan. Dalam bidang politik, proses demokrasi terus bergulir tercermin

dalam proses Pemilu Kepala Daerah secara langsung. Lebih dari itu melalui prinsip demokrasi politik, terus dipakai dalam untuk mengubah paradigma pembangunan yang lebih partisipatif. Maka di beberapa wilayah Papua, terutama Kabupaten Jayapuran telah menerapkan model pembangunan partisipatif dalam upaya memberdayakan masyarakat. Di Kabupaten Jayapura telah meluncurkan program pembangunan yang diberi nama “Program Pemberdayaan Distrik dan Kapung”, atau yang lebih populer dengan singkatan PPDK.1 Konsep dan paradigma pembangunan ini diluncurkan sebagai respons atas semakin meningkatnya kecenderungan pola pembangunan sentralistik yang lebih menggunakan pendekatan dari atas-bawah (topdown approach). Berbagai program pembangunan pada saat itu lebih banyak prakarsa datang dari pemerintah, sementara prakarsa dari masyarakat kurang terakomodasi dalam proses perencanaan pembangunan. Partisipasi pun kemudian dipahami menurut tafsir tunggal pemerintah, yaitu yang dimaknai seberapa jauh masyarakat melaksanakan program pembangunan yang dirancang dari atas, dari yang telah ditetapkan oleh
1 Urain lebih lengkap terdapat dalam Poli dan Dahlan Abubakar, 2008, Suara Hati yang Memberdayakan: Gagasan Pemberdayaan Masyarakat di Kabupaten Jayapura, Makasar: Identitas.

12

Melalui PPKD. pertanyaan menarik adalah bagaimana pelayanan birokrasi pemerintah Papua dalam era Otonomi Khusus sekarang ini. Berangkat dari realitas masyarakat Papua yang berkembang semakin plural. Di Papua. yaitu menuju proses integrasi atau konflik. Apakah bias primordialisme seperti baik buruknya pelayanan birokrasi disebabkan oleh faktor kesamaan etnis. Secara konkret sasaran PPKD adalah warga masyarakat lokal dan masyarakat pendatang. agama. Dinamika interaksi sosial itu kemudian membawa implikasi pada dua kemungkinan. Dengan kata lain. agama. 13 . sehingga mandiri. Masyarakat Papu kemudian berkembang menjadi masyarakat yang plural. Persinggungan dengan dunia luar membuat masyarakat Papua berelasi dengan berbagai budaya dan kepentingan lain yang terus melakukan interaksi secara intens. Bersamaan dengan itu. dan masing-masing memiliki identitasnya sendiri. prinsip pembangunan partisipatif tersebut dilaksanakan secara komprehensif dengan sasaran utama adalah menjadikan warga sebagai subyek pembangunan. dan kekerabatan. serta semuanya membangun identitasnya masingmasing. Papua menjadi wilayah yang terbuka bagi masuknya berbagai aktivitas baik ekonomi. keberagaman dipandang sebagai potensi integrasi. politik. keberagaman itu justru dijadikan sebagai modal pembangunan dengan mendorong ke arah tujuan bersama yaitu peningkatan kesejahteraan berbasis kemandirian dan keberdayaan. Mereka itu saling berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain dengan masing-masing menunjukkan indentitasnya. dan mereka itu juga mempunyai identitas masingmasing. Oleh karena itu multikulturalisme menjadi pilihan utama dalam mengkonstruksi identitas kolektif yang bernama Papua. bukan sebagai faktor yang memecah belah. maupun sosialbudaya yang dibawa oleh arus modernisasi. Dengan PPKD. Di samping itu juga terdapat masyarakat pendatang yang datang dari berbagai daerah dan memiliki latar belakang etnis. dan kultur yang beragam. atau berkembang menjadi birokrasi modern yang mengutamakan profesionalisme dan merit system.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik pemerintah. masyarakat lokal ini mewujud dalam komunitas berbasis etnis yang tersebar di berbagai wilayah baik di pantai dan daratan maupun di pegunungan. Masyarakat lokal adalah sejumlah warga yang sudah cukup lama berdomisili pada lokasi tertentu yang mengembangkan kultur atau pandangan hidup bersama (common way of living) yang lama-lama menjadi identitas.

Mereka menganggap bahwa orang Papua adalah orang Papua asli. Pada era reformasi penggunaan nama Papua menjadi penanda bagi aspirasi bersama itu. Sejak itu kepapuaan kembali dihidupkan sebagai identitas alternatif dari identitas “Irian Jaya” yang telah identik dengan “Indonesia” beserta penindasan dan praktik kolonialismenya. Bagi sebagian besar warga Papua. pada kurun 1998-1999. Berkembang perasaan di kalangan warga Papua. Kepapuaan cenderung berhenti sebagai identitas yang dihayati secara “etnosentris” dan emosional. Struktur-struktur masyarakat Papua yang terdiri dari kurang lebih 250 suku bangsa bersifat otonom satu sama lain. atas inisiatif Presiden Abdurrahman Wahid atau yang akrab disebut Gus Dur Irian Jaya diubah menjadi Papua. (Jakarta-Leiden: LIPI-RUL). Kongruensi aspirasi dan identitas kepapuaan baru pada tahap yang sangat dini. dan setiap suku memiliki kosmologi yang memandang dirinya sebagai pusat dari semesta. Interaksi yang terbatas di masa lalu belum memungkinkan tumbuhnya kesadaran budaya yang relativistik dan toleran. Di dalam kenyataannya budaya semacam ini sulit tumbuh suatu kepemimpinan yang diakui oleh semua kelompok suku bangsa. 14 .Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi Primordial Pada era reformasi. Sistem Politik Tradisional di Irian Jaya. tidak tunduk pada yang lain.2 Masyarakat Papua sendiri dalam mengkonstruksi identitas kepapuannya. Setiap kelompok suku secara kultural mandiri dan unik. penamaan (naming) memiliki signifikansi tinggi terhadap tumbuhnya kepercayaan diri dan pengakuan eksistensial dari dunia luar tentang Papua. sebagian ada yang melihatnya secara konservatif dengan latar belakang etnis sebagai basis konstruksi identitas. terbuka ruang bagi warga Papua untuk mengeskspresikan diri identitas kepapuannya. Konstruksi identitas kepapuan yang selama ini lebih dibentuk oleh narasi-narasi dominan. Perubahan nama dari Irian Jaya menjadi Papua. setelah mendapatkan kembali nama Papua yang diakui secara resmi oleh pemerintah pusat. seperti terlahir kembali. bagi rakyat Papua asli merupakan momen yang luar biasa dan berkaitan dengan usaha mencari identitas. sementara 2 Bandingkan dengan studi yang sudah dilakukan oleh Johszua Mansoben. maka setelah kembali bernama Papua. Setiap kepala suku atau pemimpin lokal tidak memiliki otoritas yang penuh kecuali sebagai juru bicara masyarakatnya. Perasaan satu identitas ini disatukan oleh memori penderitaan kolektif dan kongruensi aspirasi yang bersumber dari mitologi sebagian besar suku bangsa masing-masing tentang milenium baru dan mesianisme. Oleh karena itu etnosentrisme menjadi persoalan dasar di dalam konsolidasi rakyat Papua.

Birokrasi semacam itu dikenal sebagai birokrasi primordial (Kartodirdjo. Mesin politik itu kadang mencerminkan nilai-nilai serta norma-norma yang kurang rasional. perundang-undangan. Ada anggapan bahwa berlainan dengan di negara-negara maju. yang lepas dari konstitusi. Fenomena etnosentrisme ini semakin mengental ketika sejumlah elite politik menafsir Otonomi Khusus (Otsus) juga dari perspektif esensialisme yang berakar pada geneologis. Oleh karena itu. dan sebaliknya yang tidak loyal akan dibatasi sumber ekonomi dan karirnya. Yang loyal kepada patron diberi sumber ekonomi dan status sosial. Perilaku birokrasi seperti itu sangat terlihat pada era Orde Baru. hubungan-hubungan yang ada secara interen dan eksteren adalh hubungan antara patron dengan klien yang bersifat sangat pribadi dank has. Jadi. namun isinya dan perilakunya secara kental diwarnai oleh kaitan primordialnya (Kuntjoro-Jakti. Dalam konteks birokrasi di 15 . daerah. dan 3 Sejak tahun 2009. aparat birokrasi di negaranegara berkembang birokrasi sering menunjukkan diri sebagai mesin politik yang tidak netral. Walikota dan Wakili Walikota harus orang Papua asli. dalam politik lokal sekarang elite politik lokal menghendaki adanya Gubernur dan Wakil Gubernur serta Bupati dan Wakil Bupati harus orang Papua asli. diterbitkan Peraturan Pemerintah Daerah Otonomi Khusus yang merupakan keputusan politik melalui mekanisme pembahasan di DPRD Papua yang menetapkan bahwa Gubernur dan Wakil Gubernur. birokrasi seringkali merupakan bagian dari dominasi politik oleh suatu suku. Dalam hubungan semacam itu. Dalam birokrasi ini. atau agama. atau kelompok-kelompok primordial lainnya. Artinya. Dampak ikutan atas situasi itu merembes ke praktik penyimpangan kekuasaan. dan tidak mungkin netral (King. 1989). Secara teoretik pemahaman seperti itu sering disebut sebagai birokrasi yang tidak netral. Bupati dan Wakil Bupati. di mana tidak jarang perilaku birokrasi menyerupai interaksi yang bersifat transaksional. atau pun peraturan-peraturan.3 Apakah pemahaman yang bias etnosentrisme itu mempunyai implikasi terhadap pelayanan birokrasi? Dalam banyak kasus sedikit-banyak memang memiliki dampak terhadap ketidaknetralan birokrasi dalam memberikan pelayanan terhadap publik. 1980). di jajaran birokrasi akan timbul masalah pertukaran antara loyalitas dan pemberian ganjaran. senantiasa penuh muatan politik. Meskipun sebagai birokrasi ia memiliki struktur yang serupa dengan yang ditemui di negaranegara industri maju. 1988).Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik penduduk yang datang dari luar etnis Papua dianggap sebagai nonPapua. terdapat harga yang harus dikeluarkan oleh seseorang ketika berurusan dengan birokrasi. tidak obyektif.

Batak. bahwa setiap warga masyarakat adalah ibarat raja yang harus dilayani.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Papua sekarang. Bali. Sambutan Bupati Kabupaten Jayapura. birokrasi pemerintah Papua berusaha menerapkan prinsip multikulturalisme. dan bersamaan dengan itu arus demokratisasi juga terus berlangsung. Di sektor pertanian. dalam menerapkan kebijakan pada sektor birokrasi pemerintahan.5 Semua itu menunjukan bahwa dalam menjalankan pelayanan publik. 16 . birokrasi Papua sangat mempertimbangkan kepentingan publik yang semakin plural. Bugis. yang sekarang sangat populer sebagai identitas warga Jayapura. 2009. sehingga membentuk identitas baru yang mengaburkan stigma sosial. dan bukan atas dasar sentimen etnis. Orientasi terhadap pelayanan publik ini juga ditegaskan pada komitmen pemerintah Kabupaten Papua. di Papua sektor perdagangan banyak dikuasai oleh etnis Tionghoa dan Bugis Makasar. dalam arti penunjukan pejabat eselon berdasarkan profesionalisme. Pemkab Jayapura selama ini juga menghindari prinsip geneologis dan etnosentrisme. sekarang telah menjadi identitas baru warga Kabupaten Jayapura. Meskipun demikian warga Papua asli kemudian mulai masuk ke dalam berbagai sektor strategis tersebut. dan lain-lain. Meskipun demikian. Sebagai ilustrasi. memang ada juga kecenderungan aparat birokrasi yang dalam memberikan pelayanan masih berkarakter sebagaimana yang ditunjukkan birokrasi primordial. sama sekali tidak menerapkan kebijakan yang mengarah pada segregasi sosial. banyak dijabat oleh pegawai yang berasal dari berbagai daeah seperti Jawa.4 Sedangkan dalam bidang sosial4 Dikutip dari Profil Kabupaten Jayapura. Semuanya dibiarkan tumbuh secara natural. Eselonisasi dalam jajaran birokrasi sama sekali tidak mempertimbangkan putra daerah. Akan tetapi. Di Papua jabatan seperti Sekretaris Daerah. ekonomi. maka birokrasi pemerintah Papua terus berusaha menuju ke arah profesionalisme dan merit sistem. Merit sistem benar-benar diterapkan. Menado. dan pimpinan proyek strategis. karena baik etnis Jawa maupun penduduk asli telah menjadi subyek dalam budidaya tanaman kakao. seperti orang Papua tertinggal dan tidak transformatif. karena fakta menunjukkan bahwa Papua berkembang sebagai masyarakat plural. dalam arti mengikuti hukum pasar. ibit. 2009. Kepala Dinas. Pemkab Jayapura. dalam menjalankan pelayanan publik. Sedangkan etnis Jawa banyak bergerak pada sektor informal dan pertanian. Bukan sebaliknya. Karena itu seperti di daerah lain. di mana aparat birokrasi yang fungsi utamanya 5 Profil Kabupaten Jayapura. kakao misalnya.

2009. telah menerapkan model pembangunan partisipatif dalam 6 Dikutip dari Kabupaten Jayapura dalam Angka. Pendekatan pembangunan yang top-down tidak mampu menggerakkan sikap-sikap aktif pada masyarakat sendiri untuk berkreasi dalam pembangunan. seperti Kristen-Protestan. agama. sehingga masyarakat sendiri yang akahirnya mampu secara mandiri melanjutkan 17 . Islam. dan ada juga Hindu. Masyarakat Papua sekarang telah berkembang menjadi masyarakat yang plural. Partisipasi pun kemudian dipahami menurut tafsir tunggal pemerintah. sementara prakarsa dari masyarakat kurang terakomodasi dalam proses perencanaan pembangunan. Minang. agar terlibat dalam proses pembangunan mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan. upaya memberdayakan masyarakat. masyarakat Papua terdiri atas suku Jawa. dan Batak. atau yang lebih populer dengan singkatan PPDK. Khatolik. Konsep dan paradigma pembangunan ini diluncurkan sebagai respons atas semakin meningkatnya kecenderungan pola pembangunan sentralistik yang lebih menggunakan pendekatan dari atas-bawah (topdown approach). Kabupaten Jayapuran misalnya. dari yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Bugis. dan latar belakang sosial ekonomi. Badan Pusat Statistik Kabupaten Jayapura. Berbagai program pembangunan pada saat itu lebih banyak prakarsa datang dari pemerintah. masyarakat Papua juga bersifat beragam. masyarakat Papua juga terdiri dari berbagai macam agama. Dorong Partisipasi Publik Birokrasi pemerintah Papua juga terus mendorong partisipasi publik. Sementaran dalam teori pembangunan menjelaskan.6 Sementara itu dilihat dari latar belakang sosial ekonomi. Dari aspek keagamaan. Maluku. Dilihat dari keragaman latar belakang etnis. pilihan birokrasi profesional dan berdasarkan merit sistem itu sesuai dengan realitas empirik masyarakat Papua yang cenderung semakin plural. Begitulah. dan distribusi hasil. bahwa pembangunan belum dianggap berhasil manakala dalam proses pelaksanaannya belum dapat membangkitkan sikap partisipatif pada masyarakat.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik adalah melayani masyarakat justru minta dilayani. Di Kabupaten Jayapura telah meluncurkan program pembangunan yang diberi nama “Program Pemberdayaan Distrik dan Kapung”. Pemkab Papua juga membuka kotak aduan bagi warga masyarakat yang tidak mendapatkan pelayanan baik dari jajaran aparat birokrasi. baik dilihat dari latar belakang etnis. yaitu yang dimaknai seberapa jauh masyarakat melaksanakan program pembangunan yang dirancang dari atas.

disikapi oleh sebagian warga Papua secara primordialistik. Masyarakat lokal adalah sejumlah warga yang sudah cukup lama berdomisili pada lokasi tertentu yang mengembangkan kultur atau pandangan hidup bersama (common way of living) yang lama-lama menjadi identitas. sistem rekreuitmen. agama. masyarakat lokal ini mewujud dalam komunitas berbasis etnis yang tersebar di berbagai wilayah baik di pantai dan daratan maupun di pegunungan. Di Papua. yaitu menuju proses integrasi atau konflik. serta semuanya membangun identitasnya masingmasing. Dengan PPKD. yang lebih mengutamakan efisiensi dan profesionalisme. Birokrasi pun kemudian menunjukkan karakter birokrasi primordial. sehingga mandiri. Melalui PPKD.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 usaha pembangunan. dan mereka itu juga mempunyai identitas masingmasing. keberagaman itu justru dijadikan sebagai modal pembangunan dengan mendorong ke arah tujuan bersama yaitu peningkatan kesejahteraan berbasis kemandirian dan keberdayaan. Di samping itu juga terdapat masyarakat pendatang yang datang dari berbagai daerah dan memiliki latar belakang etnis. dan kultur yang beragam. Dinamika interaksi sosial itu kemudian membawa implikasi pada dua kemungkinan. 18 . sehingga personil. Penutup Begitulah. Masyarakat Papua kemudian berkembang menjadi masyarakat yang plural. menjadi pertimbangan utama mengedepankan birokrasi rasional. birokrasi pemerintah Papua berkembang ke arah yang lebih menunjukkan karakter birokrasi profesional dengan menerapkan merit sistem. prinsip pembangunan partisipatif tersebut dilaksanakan secara komprehensif dengan sasaran utama adalah menjadikan warga sebagai subyek pembangunan. Karakter masyarakat Papua sendiri yang terbuka dan semakin plural. birokrasi pemerintah juga terus mendorong partisipasi publik dalam proses pembangunan menuju pemerintahan yang transparan dan akuntabel. Secara konkret sasaran PPKD adalah warga masyarakat lokal dan masyarakat pendatang. Mereka itu saling berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain dengan masing-masing menunjukkan indentitasnya. Pada awalnya memang terdapat kecenderungan bahwa pemberian kewenangan pengelolaan politik oleh pemerintah pusat dalam bentuk Otsus. Bersamaan dengan itu. pelayanan birokrasi pemerintah Papua dalam era Otonomi Khsusus berkembang secara dinamik. dan pelayanan pun ada kecenderungan bias etnosentrisme. Akan tetapi dalam perkembangan lebih lanjut. dan masing-masing memiliki identitasnya sendiri.

com 19 .Foto : Antara III Reformasi Birokrasi dan Implementasi Good Governance Oleh : Dr. Direktur Eksekutif Pusat Kajian Strategik Pemerintahan. Muhadam Labolo * Edisi 3 / September / 2011 * Dosen tetap pada Pasca Sarjana Institut Pemerintahan Dalam Negeri Cilandak dan Unlam Banjarmasin Jurusan Ilmu Pemerintahan. Email: muhadamlabolo@yahoo.

tutup-lubang. Kegagalan birokrasi dalam melayani masyarakat selama ini sekaligus menggambarkan buruknya penyelenggaraan pemerintahan baik di level pemerintah pusat maupun daerah. Urgensi reformasi birokrasi di Indonesia setidaknya di dorong oleh sejumlah catatan penting. sarana dan prasarana. organisasi dan lingkungannya dalam kerangka pencapaian tujuan efisiensi penyelenggaraan birokrasi pemerintahan.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Pendahuluan R eformasi birokrasi merupakan upaya penataan mendasar yang diharapkan dapat berdampak pada perubahan sistem dan struktur. Perubahan tersebut meliputi keseluruhan aspek yang memungkinkan birokrasi memiliki kemampuan yang memadai dalam melaksanakan tugas dan fungsi pokoknya. disamping membesarnya struktur birokrasi pemerintahan. sisanya sebesar 17% diperebutkan oleh 98% masyarakat dalam bentuk alokasi belanja modal/pembangunan. Ini berarti. perhelatan tersebut tak jelas melahirkan kepemimpinan pemerintahan yang handal. lebih kurang 2% pegawai kemungkinan menikmati belanja aparatur. Kabupaten Lumajang menjadi contoh nyata dimana belanja aparatur membengkak hingga mencapai 83% dari total APBD. membengkaknya ongkos demokrasi (pemilukada) mengakibatkan beban kas pemerintah daerah khususnya mengalami peningkatan signifikan. pertama. Besarnya anggaran pemilukada. meningkatnya belanja aparatur disebabkan oleh bertambahnya rekrutmen pegawai tanpa pengendalian yang jelas. dimana 124 pemerintah daerah cenderung memperlihatkan gejala kebangkrutan. Bertambahnya pegawai hasil rekrutmen tanpa kompetensi yang jelas serta kebiasaan mengembangkan struktur organisasi membuat pemerintah pusat maupun daerah mengalami defisit anggaran layaknya gali-lubang. serta dampak yang ditimbulkan terhadap birokrasi mengakibatkan pemerintah kelimpungan dalam menutup defisit 20 . Sistem berkaitan dengan hubungan antar unsur atau elemen yang saling mempengaruhi dan berkaitan membentuk suatu totalitas. Kedua. Peningkatan belanja aparatur dapat dilihat dari hasil evaluasi FITRA (2011). Ironisnya. Sedangkan perubahan struktur mencakup mekanisme dan prosedur. Struktur berhubungan dengan tatanan yang tersusun secara teratur dan sistematis. sumber daya manusia. Perubahan pada satu elemen kiranya dapat mempengaruhi unsur lain dalam sistem itu sendiri.

masalah dan tantangan yang dihadapi dalam upaya reformasi birokrasi. bagaimanakah sebaiknya reformasi birokrasi dilakukan. Keseluruhan catatan negatif tersebut di dukung pula oleh perilaku buruk birokrasi dalam pelayanan masyarakat seperti sikap yang lamban dan reaktif. bekerja secara naluriah (insting). Hal itu disadari bahwa upaya reformasi birokrasi merupakan bagian dari grand desain penciptaan tata pemerintahan yang baik (good governance). berbelit-belit. apakah tantangan yang dihadapi. lemahnya pengawasan mengakibatkan pemerintah cenderung bertindak konsumtif. Kelima. karakteristik pemerintahan yang baik. Ketiga. serta kurang berorientasi pada kepentingan masyarakat. tingginya gairah penggemukan organisasi birokrasi pemerintahan tanpa perencanaan dan analisis yang jelas memicu pembiayaan dan rekrutmen pegawai dalam jumlah tak sedikit. serta bagaimanakah desain reformasi birokrasi yang mesti dilakukan dalam meminimalisasi meluasnya masalah yang dihadapi? Tulisan singkat ini akan mendeskripsikan tentang makna birokrasi dan good governance. Lebih dari itu birokrasi mengalami dilemma loyalitas akibat terpecahnya konsentrasi pada setiap pesta pemilukada. Disisi lain rendahnya pendapatan asli daerah menciptakan ketergantungan pada pemerintah pusat. Bagaimanapun juga. Perubahan tersebut diharapkan tidak saja bersifat incremental semata. birokrasi di daerah mengalami overload. Akibatnya. namun fundamental. serta upaya strategis reformasi birokrasi dan implementasi tata kelola pemerintahan yang baik. meluasnya perilaku koruptif mendorong birokrasi kehilangan kepercayaan sebagai pelayan masyarakat. Masalahnya. sewenang-wenang dan tak transparan. atau bahkan kekurangan. Keempat. arogan. Tentu saja birokrasi pemerintahan sebagai instrument pelaksana menjadi fokus utama yang mesti diperbaiki melalui kebijakan reformasi birokrasi. sementara belanja pemerintah daerah jauh dari efisiensi. kita semua paham bahwa reformasi birokrasi di level pemerintah daerah merupakan bagian dari kebijakan reformasi birokrasi secara nasional.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik anggaran. khususnya daerah di luar pulau Jawa. bahkan tak terkontrol akibat tingginya beban organisasi. 21 . sekalipun pada akhirnya lebih menampilkan potret masalah birokrasi di level pemerintah daerah. Konsep ini diharapkan mampu menjembatani suatu kondisi pemerintahan yang buruk (bad government) kearah terbentuknya pemerintah yang baik (good government). boros. nepotisme. Cakupan tulisan ini juga akan menyentuh reformasi birokrasi pemerintahan baik pusat maupun daerah. boros. enggan berubah.

Istilah ini dimunculkan kembali oleh filosof Perancis. represif. Dalam padanan lain seringkali dihubungkan dengan istilah pemerintahan (proses). 22 . Semua masalah relatif diselesaikan di atas meja. boros. Dua contoh lain hasil asimilasi yang sebangun dengan kata itu misalnya konsep demokrasi dan oligarkhi. Demikian pula apabila sumber kekuasaan tersebut dikendalikan oleh sekelompok rakyat pintar (profesional) dikenal dengan istilah oligarkhi. Political Parties. R. Ensiklopedi Ilmu-Ilmu Sosial. sebab pemerintahlah yang paling mungkin memiliki kekuasaan membuat aturan. Statement ini setidaknya sejalan dengan pikiran Gornay dan Laski (1930). Albrow1 mengembangkan konsep birokrasi dari berbagai sudut pandang. lewat kalimat provokatif Michel (1962)4 menyatakan bahwa siapa yang bicara tentang organisasi.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dan Good Governance Konsep birokrasi sendiri lazim merujuk pada gagasan Maximilliam Weber (1864-1920). 2000. Bureaucracy. H. pelayanan urusan yang lebih rinci pastilah berhubungan dengan apa yang lazim kita sebut dengan birokrasi. Raja Grafindo. Pejabatnya biasa duduk di belakang meja. Makna bureau (baca:biro) identik dengan kenyataan dalam birokrasi. Sekalipun banyak demikian. Baron de Grimm atas catatan Vincent de Gournay2. atau burocratie (Jerman). oportunis. sebab secara historis. 4 Michaels. 1 Martin Albrow dalam Donald P. 1962. atau bahkan proses dan sumber dari semua aturan dalam hubungan antara yang memerintah dan yang diperintah. yang kemudian mendefenisikan birokrasi sebagai suatu sistem pemerintahan dimana kontrol sepenuhnya berada di tangan para pejabat yang sampai pada batas tertentu dapat menunda atau mengurangi kemerdekaan warga negara biasa3. 3 Laski. Ini bisa dimaklumi. jika urusan diselesaikan di bawah meja mungkin saja bertentangan dengan makna etimologisnya. Jakarta. Logikanya. Pada tingkat pragmatis. Sinisme atas gejala tersebut melahirkan istilah bureaumania.74-75. kolutif. Cambridge Massachussets. Theory of Public Bureucracy.Warwick. dimana struktur di bentuk lebih banyak menyelesaikan pekerjaan di atas meja. dalam Encyclopaedia of the Social Sciences. 2 Adam Kuper dan Jessica Kuper. Secara etimologis. yang berarti meja atau kantor. birokrasi traditional di Perancis (abad 18) menampilkan wajah demikian. burocrazia (Italia) dan bureaucatie (Perancis). New York. Harvard Universty Press. koruptif dan nepotism. hal. volume 3. Cracy (kratos) sendiri menunjukkan arti kekuasaan atau aturan. eksploitatif. New York dan London. birokrasi berasal dari kata bureaucracy (Inggris). pastilah bicara tentang oligarkhi. Bahkan. Apabila sumber kekuasaan berasal dari rakyat banyak lazim disebut demokrasi.

Karakteristik dimaksud antara lain adanya suatu jabatan. struktur organisasi pemerintah daerah misalnya menggunakan istilah kantor untuk membedakan unit tersebut dengan dinas dan badan. Sebaliknya. Sebagai contoh. 5 Satjipto Rahardjo. Karakteristik tersebut membentuk birokrasi sebagai alat untuk mencapai tujuan kolektif. biro umum dan sebagainya. Kita sering menyebut kantor pada hampir semua organisasi yang secara fisual terlihat melalui bangunan megah. kita banyak menemukan istilah biro pada struktur organisasi. biro organisasi. dalam makna konkrit adalah organisasi yang memiliki rantai komando berbentuk piramidal. Mungkin inilah yang di sebut Rahardjo (2010)5 sebagai pendekatan hukum progresif dalam pelayanan birokrasi menurut perspektif hukum. Di level provinsi. tugas. hierarkhi. Dalam perspektif Weber.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Secara fungsional. seorang pejabat memiliki meja dengan ukuran biro atau setengah biro. 23 . pemerintahan yang bernuansa demokratik biasanya meletakkan kontrol pada level pemerintahan tertentu yang untuk selanjutnya melakukan pengawasan secara berjenjang (desentralistik). 2010. kecakapan dan senioritas. sebab ia mengokohkan kepemimpinan dengan wewenang yang lebih luas. profesional. biro hukum. realitas pelayanan justru menjadi lebih efisien dan efektif jika tanpa melalui meja birokrasi yang terkadang berbelitbelit dan menguras energi. lengkap dengan sistem dan peralatannya. Kompas. formalitas. Birokrasi. kantor menjadi instrument pemerintah pusat di daerah. seperti kantor wilayah (kanwil) dan kantor departemen (kandep). dimana lebih banyak orang berada di tingkat bawah daripada tingkat atas. misalnya meja ukuran bagian atau setengah bagian. merujuk pada hampir semua bentuk organisasi baik sipil maupun militer. Demikian pula kantor pada organisasi swasta. disiplin. terdapat jabatan biro yang dipimpin oleh seorang kepala biro setingkat eselon dua. Secara faktual. instrument pemerintah pusat dapat menjangkau hingga ke level pemerintahan paling rendah (dekonsentratif). Pengertian kedua (kantor). tak ada istilah lain untuk ukuran meja selain biro. di level organisasi provinsi dan pusat misalnya. Semakin ke puncak semakin langka pemegang kekuasaan. untuk membedakan secara teknis. birokrasi adalah organisasi rasional dengan segenap karakteristik yang melekat didalamnya. baik pada instansi militer maupun sipil. Pada pemerintahan yang bersifat sentralistik. Membedah Hukum Progresif. Jakarta. Di Indonesia. Sejauh ini. Dalam konteks Indonesia. Kantor menjadi unit paling kecil ukurannya sebelum menanjak menjadi Badan atau Dinas. Ia membawahi sejumlah bagian dan subbagian pada level paling rendah. wewenang. Bahkan. biro pemerintahan. sistem.

Tekanan konflik dan sejumlah motivasi tertentu mendorong terbentuknya representasi pemegang kekuasaan. Pada level gubernur. kekuasaan tersebut mengalir sebagaimana siklus air hujan. Lurah hingga Kepala Desa. Kekuasaan dalam konteks ini mengalami formalisasi yang dirinci dan dipertanggungjawabkan secara 24 . Dari aspek ilmu pengetahuan (antroposentris). Pada suatu ketika. Dalam pendekatan ilmu alam. Birokrasi pada akhirnya dapat dipandang sebagai cerminan dari pelembagaan kekuasaan yang mengalir deras dari tingkat atas hingga bawah. Siklus air hujan secara sederhana dapat kita persamakan dengan siklus kekuasaan. bagian pemerintahan dan seterusnya. Gubernur. Dimulai dari gumpalan awan yang di pandang sebagai pemberian Tuhan (teosentris). Camat. Demikian pula aliran kekuasaan pada level kabupaten/ walikota hingga pemerintah desa. kekuasaan dibagi berdasarkan jumlah wewenang yang diterima. Kekuasaan tersebut dialirkan secara hirarkhis melalui Menteri. seorang presiden hasil pilihan rakyat memiliki kekuasaan luas. lalu mengalir kedalam struktur yang dibagi secara khusus. air hujan merupakan hasil serapan dari laut berupa uap akibat tekanan panas matahari yang dibawa angin membentuk gumpalan awan hitam.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Sebaliknya. Dari aspek ini birokrasi secara praktis merupakan instrument/alat dari kekuasaan untuk mencapai tujuan pemimpin maupun tujuan bersama yang diemban oleh pemimpin dimaksud. Kekuasaan lahir dari rakyat kebanyakan (demokrasi). Pada contoh yang lebih nyata. Para pemegang kekuasaan (pemerintah) baik diyakini merupakan representasi dari kedaulatan Tuhan (teokrasi) atau hasil pilihan masyarakat (demokrasi) secara konkrit membentuk organisasi pemerintahan yang untuk selanjutnya mengalirkannya dalam bentuk struktur-struktur formal birokrasi dari tingkat pusat hingga level pemerintahan paling rendah. Demikianlah kekuasaan mengalir menurut hukum alam (natural of law). tetapi ia semakin menunjukkan wewenang yang lebih terbatas. gumpalan awan hitam tersebut pecah menjadi butiran hujan yang jatuh dan mengumpul di suatu tempat. apakah terserap oleh akar pohon atau terkumpul pada wadah perbukitan yang mengalir melalui sungaisungai besar dan kecil menuju laut. sebagian besar tersisa menjadi lautan luas. Ia dimulai dari suatu kekuasaan yang maha besar. semakin ke bawah semakin banyak pegawai. lalu dilembagakan dalam struktur formal seperti biro pemerintahan. Kekuasaan tersebut pada akhirnya habis terbagi dalam bentuk spesialisasi dan struktur yang lebih kecil. Bupati/Walikota. sekalipun dalam teori kedaulatan dapat bersumber dari Tuhan (teokrasi) dan atau sedikit orang (aristokrasi). Tidak semua menguap.

Seperti digambarkan oleh Mark Robinson (2000:417). tetapi juga pada ruang non pemerintah seperti perusahaan. dua alasan utama yang mendorong lahirnya gagasan penciptaan pemerintahan yang baik adalah pertama. kolusi. individualisme serta hilangnya legitimasi politik khususnya pada negara-negara yang kurang mampu dan tanpa sistem demokrasi yang memadai. Upaya-upaya dalam rangka penerapan kekuasaan melalui serangkaian mekanisme untuk menjamin akuntabilitas. Dalam kaitan itu. Pengembangan konsep ini didorong oleh gejala meningkatnya hambatan-hambatan administrasi dan politik dalam pembangunan dunia ketiga. bad government (pemerintah yang buruk) menjadi alasan bagi lembaga international untuk mengembangkan pola yang lebih mungkin dalam kaitan dengan manajemen ekonomi dan politik global. tekanan dari kelompok neo-liberal yang mendukung dikuranginya peran negara dan pengimbangan kekuasaan kepada penyediaan layanan oleh pembeli dan pengatur. Meluasnya upaya untuk menata pemerintahan kearah yang lebih baik mendorong donor international untuk mengembangkan konsep good governance (pemerintahan yang baik). nepotisme. Inilah yang disebut dengan wewenang (authority). Ini tentu saja berkaitan dengan tanggungjawab pemerintah pada masyarakatnya. demikian pula kewajiban dan hak yang saling mengikat antara mereka yang memerintah dan mereka yang diperintah. fenomena pemerintahan dewasa ini telah meluas tidak saja pada dunia pemerintah semata. pemangkasan peran pemerintah sejauh mungkin dengan 25 . Dalam perspektif negaranegara maju. Atau dengan kata lain. Setidaknya hal ini terlihat dalam pembentukan serangkaian aturan atau struktur otoritas dalam komunitas tertentu yang memainkan peran atau fungsi pengelolaan sumber daya termasuk dalam menjaga tatanan sosial. legitimasi dan tranparansi pada berbagai sektor diluar pemerintah menunjukkan gejala pemerintahan yang semakin menguat. Berlawanan dari konsep ideal yang ingin dikembangkan. Kedua. birokrasi hadir dan merujuk pada bagaimana cara pemerintah melaksanakan dan membuat peraturan-peraturan yang sah secara sosial. Gejala tersebut antara lain meningkatnya korupsi. Keabsahan tersebut diharapkan mampu merefleksikan suatu pemerintahan yang baik dengan berbagai ciri yang terkandung didalamnya. gagalnya pemerintah menjalankan fungsinya yang ditandai oleh tidak bekerjanya hukum dan tata aturan sehingga menimbulkan ketidakpercayaan pada pemerintah tentang bagaimana seharusnya pemerintah berinteraksi dengan masyarakatnya.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik jelas.

Akuntabilitas. Karakteristik Good Governance Menurut UNDP (1997). tetapi juga meliputi kelompok swasta sebagai pemegang modal dan masyarakat selaku civil society. kebijakan demikian semakin memperkokoh tumbuhnya demokrasi liberal yang pada akhirnya mendorong kembalinya pemerintah (eksekutif) meningkatkan kontrol yang lebih represif. Tanggungjawab pada elemen masyarakat dibutuhkan agar masyarakat sadar akan apapun output 26 . Tanggungjawab merupakan nilai penting yang semestinya berlaku pada semua elemen dalam proses pemerintahan. Di negara-negara berkembang. Meletakkan tanggungjawab satusatunya pada sektor pemerintah bukanlah gagasan terbaik untuk menciptakan pemerintahan yang baik. Sekalipun upaya-upaya untuk menciptakan pemerintahan yang lebih baik dilakukan misalnya melalui desentralisasi kekuasaan. Bagaimanapun kita masih percaya bahwa menciptakan pemerintahan yang kuat mutlak dibutuhkan bagi stabilitas politik yang dapat menjamin keberhasilan pembangunan.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 cara penyerahan kepentingan antara penjual dan pembeli pada mekanisme pasar. Tanggungjawab pemerintah pada segenap stakeholders selaku pemetik manfaat setidaknya memicu tumbuhnya trust sebagai modal bagi kontinuitas pemerintahan. saling mendukung dan saling berinteraksi. namun tidak berarti sepi dari dampak pengelolaan pemerintahan. Ketiga komponen tersebut sepatutnya berjalan secara paralel. good governance lebih menitikberatkan pada aspek proses melalui pendekatan fungsional guna mencapai tujuan yang diinginkan. tertib hukum. Uraian selanjutnya akan mengembangkan makna dari sejumlah karakteristik yang melekat dalam konsep good governance. efisiensi dan efektivitas. reformasi pemerintahan. responsif. konsensus. reorientasi birokrasi serta perluasan partisipasi publik untuk mengembalikan akuntabilitas. legitimasi dan transparansi. Komponen yang terlibat tidak saja domain pemerintah sebagai pelaksana. Sebagai pemerintah. merujuk pada tanggungjawab setiap aktor dalam interaksi berpemerintahan. transparansi. partisipasi. Tanggungjawab merupakan nilai yang mampu menjembatani relasi antara pemerintah dan masyarakat untuk menjamin keberlangsungan pemerintahan. serta memiliki visi strategis. Interaksi tersebut hendaknya dilandasi oleh sejumlah karakteristik yang memungkinkan tata kelola pemerintahan berjalan baik. Dalam konteks ini. adil. tanggungjawab diperlukan sebagai konsekuensi terhadap semua jenis kontrak dari level paling bawah hingga pusat pemerintahan. pemerintahan yang baik setidaknya memiliki karakteristik akuntabilitas.

merupakan karakteristik yang memungkinkannya terbangunnya kepercayaan masyarakat terhadap apa yang diartikulasikan pemerintah dalam hal kepentingan dan kebutuhan masyarakat. Transparansi. atau mengalami perubahan dipersimpangan jalan sesuai kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik pelayanan yang diberikan merupakan upaya paling maksimal yang dapat di produk pemerintah. Ketiadaan nilai transparansi seringkali ditunjukkan oleh mandeknya semua dokumen perencanaan tanpa realisasi. para pemegang modal (swasta) seyogyanya memegang prinsip tanggungjawab dalam interaksi dengan masyarakat dan pemerintah. Rendahnya transparansi pemerintah berkenaan dengan perencanaan dan implementasi kebijakan menunjukkan lemahnya itikad baik dalam mewujudkan tujuan dan harapan masyarakat. semua perencanaan pemerintah kehilangan koneksitas dengan kepentingan masyarakat. Demikian pula pada elemen lain. tanggungjawab masyarakat tidak saja memanfaatkan seefektif mungkin apa yang diberikan oleh pemerintah. sebab ketiga elemen tadi memiliki batasan terhadap tanggungjawab masing-masing. indikasi meluasnya perilaku koruptif dalam pemerintahan semakin meyakinkan masyarakat bahwa pemerintah kehilangan karakteristik transparansi dalam menjalankan fungsi pelayanan. juga memelihara semua produk pelayanan yang diberikan. termasuk bertanggungjawab terhadap kegagalan pemerintah yang dipilih oleh mereka sendiri. menunjukkan keterlibatan masyarakat dalam penyusunan dokumen perencanaan pembangunan. Setiap tindakan yang secara praktis berkaitan serta membebani masyarakat dan pemerintah. Kasus Lumpur Lapindo di Indonesia (2005) mereflesikan tanggungjawab keseluruhan elemen. Penyakit demikian bukan saja melanda pemerintah. Partisipasi. Salah satu sorotan utama dewasa ini adalah seberapa efektif pemerintah mampu memperjuangkan kepentingan masyarakat melalui anggaran yang tersedia. Pada akhirnya. swasta dan masyarakat. bukan saja pemerintah. seberapa kuat komitmen pemerintah dalam merealisasikan semua perencanaan yang telah disepakati. Selain itu. Partisipasi aktif masyarakat lebih jauh 27 . Akibatnya. Sulit membayangkan jika pihak swasta lari dari tanggungjawab tersebut. Hal ini dapat dilihat dalam kasus projek Pembangunan Wisma Atlit di Kemenpora. demikian pula sektor swasta dan masyarakat pada tingkat tertentu. seharusnya dapat dipertanggungjawabkan secara murni dan konsekuen. Perencanaan yang transparan meyakinkan masyarakat tentang sejauhmana kepentingan mereka mampu didokumentasikan secara jujur oleh pemerintah. Pada tingkat yang lebih jauh.

Itulah mengapa seringkali gejala pemerintahan dipandang sebagai gejala hukum. kemungkinan kesadaran pemerintah juga rendah sehingga mendorong kecurigaan terhadap setiap keterlibatan masyarakat. selain melibatkan mereka dalam hal tanggungjawab yang lebih luas. Disini terlihat jelas bahwa jika partisipasi masyarakat rendah. Tertib hukum merupakan karakteristik yang memungkinkan terciptanya masyarakat taat hukum.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 menggambarkan sejauhmana kepentingan mereka telah terakomodir dengan baik. Kondisi ini tentu saja berhubungan dengan nilai transparansi. Kehadiran pemerintah dalam setiap pelayanan masyarakat mengindikasikan hadirnya perlindungan bagi masyarakat. sehingga pemerintah terkesan sulit melibatkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan. jika pemerintah enggan melibatkan partisipasi masyarakat. kemungkinan kesadaran mereka rendah pula disebabkan rendahnya tingkat pendidikan yang diperoleh sehingga bersikap apatis. Tertib hukum dimaksudkan untuk menciptakan social order. sekaligus memperlihatkan tingkat aksebilitas masyarakat terhadap pemerintah. Rendahnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan pemerintahan disebabkan oleh rendahnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya partisipasi dalam pembangunan. Kegagalan merespon setiap masalah yang dihadapi masyarakat menunjukkan ketidakpedualian 28 . sadar akan aturan yang diperuntukkan bagi kepentingan masyarakat itu sendiri. Masalah berikut justru terletak pada rendahnya keterbukaan pemerintah dalam melibatkan partisipasi masyarakat. Semakin rendahnya kepatuhan hukum masyarakat menunjukkan semakin rendah pula tingkat penerimaan masyarakat terhadap pemerintahnya. Sebaliknya. Pemerintah yang buruk seringkali mengidap perasaan curiga yang berlebihan ketika masyarakat terlibat dalam setiap proses perencanaan pembangunan. Dalam hubungan itu. Responsif. Faktor pendidikan menjadi kunci penting dalam mendorong kesadaran masyarakat. yaitu suatu kondisi tertib bermasyarakat. Kemampuan memberikan jawaban atas setiap masalah yang dihadapi masyarakat menunjukkan kemampuan pemerintah dalam memahami apa yang menjadi kebutuhan utama masyarakat. Ketaatan hukum memberikan landasan bagi pemerintah dalam menjalankan visi dan misi yang diemban. dibutuhkan kesadaran pemimpin untuk memberikan contoh sehingga mampu mendorong terwujudnya tertib hukum. sekaligus menunjukkan adanya hukum itu sendiri. terhadap setiap masalah yang dihadapi masyarakat. adalah karakteristik pemerintah yang mampu memberikan tanggapan sedini mungkin.

Keadilan bertujuan untuk menciptakan pemerataan. Keadilan merupakan salah satu tujuan ingin dicapai oleh setiap pemerintah. Kegagalan membangun konsensus dapat meruntuhkan kepercayaan masyarakat dimana pemerintah dapat dinilai mengkhianati amanah yang diberikan. Karakteristik visi strategis berkaitan dengan kemampuan pemerintah dalam mewujudkan citacita ideal namun realistis berdasarkan kebutuhan masyarakat. kecuali membiayai pegawai dilingkungannya masingmasing. Konsensus merupakan landasan bagi pencapaian komitmen bersama. jangankan kehadiran. Adil merupakan karakteristik yang dapat mendorong akseptabilitas masyarakat pada pemerintahnya. Keadilan lazimnya melekat pada para pelaku pemerintahnya. Komitmen bersama berkaitan dengan kepentingan stakeholder dalam mewujudkan tujuan yang diamanahkan pada pemerintah. Visi diharapkan menjadi petunjuk yang dapat dikonkritkan dalam bentuk misi. program hingga kegiatan teknis. Efisiensi dan efektivitas merupakan karakteristik good governance yang merefleksikan kemampuan pemerintah dalam pencapaian tujuan secara tepat guna dan hasil guna. Konsensus. Tanpa visi yang jelas pemerintah sebenarnya hanya menjalankan fungsi secara instingtif. Kondisi tersebut membuat pemerintah mengalami beban anggaran yang cukup besar selain tak mampu membuat kebijakan strategis. statement pemerintah sekalipun dapat dinilai sebagai respon positif terhadap masalah yang sedang mereka hadapi. Dalam perspektif masyarakat. Konsensus juga merujuk pada bagaimana pemerintah membangun kesepahaman yang memungkinkan semua kepentingan dapat diakomodir pada saluran yang tersedia. Pencapaian tujuan dengan mempertimbangkan aspek efisiensi dan efektivitas dapat mendorong produktivitas pemerintahan menjadi lebih berkualitas tanpa membuang modal yang besar.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik pemerintah serta hilangnya sense of belonging atas problem yang dialami oleh masyarakat. Visi menggambarkan masa depan pemerintahan dan memuat cita-cita ideal masyarakat yang dapat diwujudkan oleh 29 . Kegagalan pemerintah dalam mempertimbangkan efisiensi dan efektivitas membuat pemerintah kehilangan modal serta tak mampu berbuat banyak. sekaligus memberikan hak dan kewajiban secara proporsional. khususnya pemimpin. Kemampuan pemerintah memelihara konsensus yang telah dibangun dapat diartikan sebagai kemampuan pemerintah dalam memelihara amanah. tanpa penalaran jauh kedepan. adalah karakteristik yang menggambarkan kemampuan pemerintah dalam membangun kesepakatan antara tuntutan secara bottom-up dan topdown.

faktor internal yang meliputi ketidakmampuan birokrasi mengubah dirinya menjadi lebih baik. Disamping itu. Penciptaan tata kelola pemerintahan yang baik bukanlah semata-mata menjadi bagian dari kebijakan pemerintah. Kelima. tantangan reformasi birokrasi meliputi tiga masalah pokok. Hayden (dalam Hamdi. 2002:14).Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 pemimpinnya sejauh ia mampu dan konsisten. mengidentifikasi kekaburan batas dan tanggungjawab untuk menangani isu-isu sosial ekonomi. serta memiliki cita-cita yang bersifat jangka panjang serta berkelanjutan. reciprocity. tetapi juga dapat menjadi positive sum game. yaitu pertama. faktor keraguan publik terhadap efektivitas kebijakan yang direncanakan dan diimplementasikan oleh birokrasi. Keempat. adalah tentang jaringan aktor yang bersifat mandiri dan mengatur sendiri. yaitu. menyebutkan empat variabel dalam konsep governance. Visi strategis membutuhkan kesinambungan dalam mengawal agenda-agenda yang telah ditetapkan. Trust. yang diartikan hidup bersama dan terikat. Tantangan Reformasi Birokrasi dan Good Governance Menurut Muhammad (2007). namun bersentuhan pula dengan nilai dan sikap yang dianut oleh pihak swasta dan masyarakat. Secara umum. Kedua. faktor eksternal berkenaan dengan tingginya intervensi politik yang membuat birokrasi kehilangan konsentrasi dalam menjalankan fungsi pelayanan. yaitu pengembangan pandangan penggunaan kekuasaan tidak selalu merupakan zero-sum game. Kedua. merujuk pada seperangkat institusi dan aktor yang terdapat pada dan di luar pemerintah. authority yang berarti eksistensi kekuasaan yang legitimate. Faktor pertama disebabkan oleh kelemahan birokrasi dalam 30 . secara kompetitif atau koperatif dalam mengejar tujuan bersama. Governance memandang pemerintah mempunyai kemampuan untuk menggunakan alat dan teknik baru dalam mengarahkan dan menuntun. demikian pula pihak swasta dan masyarakat luas. karakteristik tersebut menjadi variabel penting tidak saja bagi pemerintah. Ketiga. mengakui kapasitas guna menyelesaikan sesuatu yang tidak bersandar pada kekuasaan pemerintah untuk memberikan komando atau menggunakan otoritasnya. proposisi governance meliputi lima hal yaitu. mengidentifikasi ketergantungan kekuasaan yang terdapat dalam hubungan antara institusi yang melakukan tindakan kolektif. Inilah sejumlah karakteristik pemerintahan yang baik (good governance) menurut UNDP. Accountabilitypada dasarnya memperkuat kepercayaan masyarakat dan sebaliknya. Menurut Gerry Stoker (1998). pertama. Ketiga. Pemerintahan yang bertolak dari visi adalah pemerintahan yang memiliki pandangan jauh kedepan.

atau bahkan terjadi kekosongan regulasi. Pola penyelesaian masalah dengan menyandarkan semua pada aspek regulasi tak selalu membawa hasil maksimal.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik memperbaharui kinerjanya sesuai perkembangan lingkungan. bagaimana jika tuntutan masyarakat melampaui aturan itu sendiri yang kadangkala datang terlambat. Tingginya dinamika masyarakat dalam menuntut pelayanan yang lebih baik tak serta merta diimbangi oleh kemampuan birokrasi dalam mengembangkan kecerdasan. harus diberikan insentif yang seimbang agar pelayanan tetap diberikan secara merata. Masyarakat seringkali merasa frustasi karena pelayanan mereka mengalami kebuntuan hanya karena ketidakmampuan birokrasi saat menerjemahkan aturan yang berlaku. serta mampu menjawab setiap persoalan tidak saja secara struktural. Setiap masyarakat yang dilayani terdiri dari masyarakat yang mampu dan tak mampu secara fisik dan non fisik. Menyandarkan pelayanan dengan meletakkan prinsip impersonalitas secara kaku sebagaimana dimaksud Weber tidaklah menciptakan rasa keadilan yang memadai. Apakah dengan alasan yang sama pemerintah mesti menolak pelayanan kepada 31 . kelompok birokrat terkesan seperti robot yang kehilangan rasa kemanusiaan ketika semua perkara diselesaikan berdasarkan aturan yang berlaku. Pendekatan struktural dalam pelayanan seringkali berhadapan dengan aturan dan norma yang berlaku. yaitu suatu hubungan yang bersifat impersonal. sebab hanya mereka yang dikenal secara personal saja yang akan dilayani. menyandarkan pelayanan dengan meletakkan hubungan personalitas secara keseluruhan sama halnya dengan menciptakan diskriminasi bagi kelompok masyarakat yang tak memiliki akses secara langsung pada pemerintah. Harus diakui bahwa perbedaan kultur di dunia barat dan timur merupakan kenyataan yang harus diakui dalam pemberian pelayanan pada masyarakat. Sebaliknya. Persoalaannya. kecakapan dan keterampilan dalam pengelolaan pemerintahan. Dalam konteks ini diperlukan birokrasi yang mampu beradaptasi dengan perkembangan masyarakat. sehingga sulit menyelesaikan masalah secara tuntas. jauh dari karakter ideal birokrasi. Mereka yang secara fisik tak mampu. Sebaliknya. namun fungsional. Polapola pendekatan dan pelayanan kepada masyarakat secara nyata menunjukkan indikasi perilaku traditional. Sedangkan mereka yang tak mampu secara non fisik. tentu saja membutuhkan pendekatan untuk dilayani secara jemput-bola. Ketidakmampuan birokrasi memahami pluralitas dalam masyarakat seringkali menimbulkan ketidakadilan dalam pelayanan. seperti masalah finansial. Pelayanan birokrasi disandarkan pada hubungan kekeluargaan yang bersifat emosional.

tidak berupaya menyelesaikan masalah secara tuntas. diperlukan pendekatan fungsional yang dapat menyelesaikan hingga ke akar masalah. birokrasi mengalami pemecahan konsentrasi. lembaga dan komisi yang bersifat mezzo-struktur disamping lembaga formal yang telah ada. membutuhkan waktu lama serta mengeluarkan biaya yang tak sedikit. Pecahnya konsentrasi birokrasi disebabkan sirkulasi kepala daerah setiap lima tahun sekali. seperti yang dikatakan oleh Dwiyanto (2011).Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 masyarakat? Oleh sebab itu. Akibatnya. Mereka yang dominan bersandar pada calon incumbent seringkali mengalami disorientasi saat kalah dalam kompetisi pemilukada. Politisasi birokrasi mendapatkan ruang ketika kelompok elit partai politik memanfaatkan momentum pemilukada untuk menggerakkan birokrasi sebagai mesin politik sekaligus aktivis politik. serta bobolnya APBD pada saat perencanaan dan penetapannya. sekaligus pada saat yang sama gagal melayani masyarakat sesuai misi yang dipikulnya. pola pendekatan fungsional mengalami banyak kemajuan. Indikasi tersebut bisa diketahui lewat ramainya kebocoran anggaran APBN oleh Badan Anggaran. Sisanya kelompok birokrat yang mengambil sikap apatis terhadap dinamika yang terjadi 32 . khususnya di level pemerintah pusat. karena melakukan persengkokolan kolektif. sebab semua pelayanan pada dasarnya membutuhkan pelembagaan formal sehingga dapat diawasi dan dikendalikan. Faktor kedua yang menjadi tantangan reformasi birokrasi adalah tingginya intervensi politik dalam birokrasi. Lahirnya badan. Akibatnya. birokrasi yang mengambil jalan kompromi pada akhirnya turut mempersubur tingkat kebocoran anggaran baik di pusat maupun daerah. berbelitbelit. Dewasa ini. namun menimbulkan overlap serta kurang produktif. Birokrasi yang mengambil jarak secara tegas dengan kelompok politisi justru mengalami ketegangan karena rentan kehilangan jabatan. Perlu diingat bahwa melandaskan semua pelayanan secara fungsional juga tidak tepat. Politisasi birokrasi menciptakan hubungan antara eksekutif dan legislatif mengalami dinamisasi serius kalau tidak ketegangan yang berkesinambungan. Sekalipun demikian bukan berarti tanpa catatan. Dalam konteks ini birokrasi seringkali menyimpan dan merawat masalah untuk kepentingan tertentu. lembaga-lembaga tersebut tidak saja membebani anggaran birokrasi pemerintah secara umum. Pendekatan fungsional dalam pelayanan merupakan pola pendekatan untuk mengimbangi pendekatan struktural yang terkadang menghambat. merupakan cerminan dari pola penyelesaian masalah dengan menggabungkan pendekatan struktural dan fungsional.

Semua itu di dukung oleh kemampuan kepala daerah dalam memobilisasi sumber daya melalui sebagian anggota tim sukses yang berasal dari jajaran birokrasi. Faktor ketiga tantangan reformasi birokrasi adalah keraguan masyarakat terhadap setiap kebijakan yang dilaksanakan oleh birokrasi. Sikap ekslusivisme dan seakan tau semua masalah mendorong birokrasi pada perilaku arogan ketika merespon setiap tuntutan masyarakat. Rendahnya pendidikan serta kurangnya analisis terhadap setiap kebijakan yang diproduk. Tingginya resistensi yang ditandai oleh meningkatnya demonstrasi masyarakat dan pihak swasta yang merasa dirugikan oleh setiap kebijakan yang ditetapkan menunjukkan dua alasan diatas. Keraguan masyarakat dan pihak swasta terhadap efektivitas kebijakan birokrasi disebabkan selain oleh dua faktor diatas. namun berusaha menutupi kelemahan kebijakan tersebut. yang dapat dilihat dari sikap dan orientasinya yang cenderung melihat keatas. ketiadaan naskah akademik terhadap rancangan peraturan (khususnya peraturan daerah). Mobilisasi sumber daya dilakukan bahkan secara terang-benderang melalui rekrutmen pegawai berdasarkan hubungan primordial dan patronase. Akibatnya. Keseluruhan indikasi tersebut bermuara pada rendahnya kualitas rancangan kebijakan sehingga menimbulkan resistensi dari para pemangku kepentingan (stakeholders). Intervensi politik terhadap birokrasi telah merangsang nafsu aparat untuk membangun komitmen rahasia dengan para elit dalam masa sirkulasi kekuasaan. berapa banyak dan kapan. daripada melihat kebawah. juga masalah kredibilitas birokrasi. serta rendahnya konsultasi publik terhadap rancangan peraturan yang dibuat. Kelemahan rancangan kebijakan pada tahap perencanaan hingga tahap implementasi tak serta merta membuat birokrasi melakukan evaluasi yang berkelanjutan. bukan merit sistem apalagi kompetensi. Kekuasaan yang besar membuat birokrasi terombang-ambing serta sulit menentukan netralitasnya sebagai pelayan masyarakat. birokrasi terkesan bukan milik masyarakat namun elit berkuasa. Rendahnya kredibilitas birokrasi dalam mendesain suatu kebijakan dapat diketahui dari rendahnya keterlibatan pakar dalam bentuk asistensi. 33 . menjadikan birokrasi tak mampu membuat kebijakan yang efektif dalam menyelesaikan masalah. Dalam konteks ini terbangun koalisi efektif antara eksekutif dan legislatif dalam pembobolan anggaran. Komitmen tersebut berupa transaksi politik yang berujung pada persoalan siapa dapat apa.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik dalam setiap rotasi pemerintahan. Keadaan ini jelas mengembangkan perilaku koruptif dalam birokrasi sebagai konsekuensi dari hubungan yang bersifat transaksional.

kapasitasi dan instrumentasi. Masyarakat terkadang merasa muak terhadap kelambanan dan kerakusan birokrasi sebagaimana disinyalir oleh Barzelay (1982) dalam ‘Breaking Through Bureaucracy’. daripada realitas yang diharapkan. Kini. Jika secara administratif birokrasi dipandang sebagai media yang memudahkan pelayanan. Gambaran ini setidaknya disinggung oleh Osborne & Gaebler (1992) dalam ‘Reinventing Government. bahwa masalah pemerintah terkadang bukan pada apa yang mereka kerjakan. maka reformasi birokrasi selayaknya diarahkan pada penguatan karakteristik dimaksud. marilah kita cermati bagaimanakah desain kebijakan reformasi birokrasi sebaiknya dilakukan dalam mewujudkan fungsi birokrasi sekaligus mendorong penciptaan tata kelola pemerintahan yang baik (good 34 . reformasi birokrasi merupakan upaya penataan kapasitas kelembagaan yang menyangkut sistem dan struktur birokrasi dalam menjalankan fungsi pokok sebagai pelayan masyarakat.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Disamping itu. keraguan masyarakat terhadap reformasi birokrasi secara umum tumbuh disebabkan oleh rendahnya kepercayaan pada sistem dan sumber daya manusianya. Reformasi Birokrasi dan Implementasi Good Governance Seperti telah disinggung dalam pendahuluan. lebih banyak program yang bersifat list service. Buruknya sistem dalam pelayanan birokrasi membuat masyarakat tak merasa jelas dalam penyelesaian masalahnya. Akibatnya. namun bagaimana pelayanan tersebut dapat dilaksanakan dengan baik. maka reformasi birokrasi seharusnya diarahkan pada sejumlah alternatif pilihan kebijakan seperti reformasi struktural. sekalipun mesti dengan sejumlah catatan pengecualian pada tahap implementasi. maka reformasi birokrasi semestinya diarahkan pada upaya penciptaan situasi yang kondusif agar birokrasi netral dari pengaruh kekuasaan yang berlebihan. Apabila secara sosiologis birokrasi dipandang sebagai organisasi paling rasional yang memiliki sejumlah karakteristik sebagai pelaksana interaksi antara pemerintah disatu sisi dan masyarakat disisi lain. menitikberatkan aspek efisiensi dan efektivitas serta memiliki mekanisme dan standarisasi yang jelas dalam interaksinya. Demikian pula buruknya perilaku birokrasi dalam hal pelayanan membuat masyarakat tak percaya apa yang selama ini dikerjakan oleh pemerintah. keraguan masyarakat terhadap efektivitas kebijakan birokrasi tumbuh disebabkan oleh melimpahnya program yang dijanjikan namun kehilangan fokus saat implementasi. Pada akhirnya. Jika secara politis birokrasi merupakan instrument kekuasaan dalam mewujudkan visi dan misi penguasa sesuai amanah rakyat yang dituangkan dalam bentuk kebijakan politik formal.

Boleh jadi dalam perspektif seorang kepala daerah birokrasi adalah alat untuk mewujudkan gagasan ideal dalam bentuk visi dan misi selama lima tahun. namun lebih dari itu organisasi didesain berdasarkan kebutuhan. Pada level horizontal dibutuhkan organ fungsional yang lebih fleksibel dalam menjawab tuntas akar masalah yang dihadapi. Sistem pemilukada 35 . bukan kompromi politik. Dalam jarak tertentu dibutuhkan pendelegasian yang memungkinkan pelayanan lebih efisien dan efektif. Organisasi sebaiknya disusun berdasarkan hasil analisis jabatan dan beban kerja. Uraian selanjutnya akan lebih menitikberatkan pada pengertian kedua. reformasi organisasi (struktural). yaitu organisasi sebagai wadah tempat dimana kegiatan kerjasama dijalankan. namun dalam perspektif aparatur birokrasi adalah tujuan akhir berkenaan dengan bagaimana jabatan paling tinggi sebagai refleksi kekuasaan dapat dicapai. sedangkan secara eksternal di dorong oleh perubahan lingkungan yang lebih luas. Hal ini sebabkan oleh faktor eksternal dan internal. bukan tujuan itu sendiri. Secara internal organisasi di dorong oleh tingginya tekanan kekuasaan. baik formal maupun informal. bahkan sulit bersentuhan langsung dengan para pengambil keputusan (decition maker). yaitu bagaimana menjadikan birokrasi sebagai alat untuk memperoleh akses bagi keseluruhan sumber daya yang tersedia. Perbedaan pemahaman dalam manajemen pemerintahan seringkali menjadikan birokrasi tak efektif menjalankan tugas dan fungsinya. Panjangnya jalur hirarkhis membuat setiap masalah terkesan basi ketika kembali pada masyarakat. Pertama. yaitu organisasi dalam arti dinamis. Kedua dalam arti dinamis. yaitu organisasi sebagai suatu sistem proses interaksi antara orang-orang yang bekerjasama. Pada level hirarkhis diperlukan pemangkasan yang memungkinkan jenjang struktural lebih pendek. bukan kepentingan politik atau kelompok tertentu. Reformasi oganisasi tidaklah sekedar slogan kaya fungsi miskin struktur. Organisasi dapat diartikan dalam dua macam. Harus diakui bahwa budaya penyusunan organisasi di daerah selama ini cenderung mempraktekkan cara-cara penyusunan organisasi di tingkat pusat. Desain reformasi struktural dapat dilakukan dengan meletakkan landasan kuat bahwa organisasi adalah alat untuk mencapai tujuan. Masalah kemudian bertambah ketika sebagian besar kepala daerah justru berpikir sama dengan aparatnya. selain membuang waktu dan biaya yang tak sedikit. Kedua faktor tersebut cukup dominan menjadikan organisasi pemerintah tampak dinamis. pertama dalam arti statis. Dominasi aspek struktural selama ini telah menciptakan kekakuan.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik governance).

Melebarnya ukuran organisasi tanpa analisa kebutuhan jabatan dan beban kerja membuat performance organisasi pemda khususnya terkesan tambun dan statis. Rekrutmen pegawai tanpa kompetensi pada akhirnya hanya akan menyerap besaran APBD yang tak sedikit guna meningkatkan kecakapan dan keterampilan pegawai. apoteker dan perawat. Sragen. Tasikmalaya. Palu. pengetatan organisasi agar lebih ramping dan kaya fungsi diutamakan pada pemerintah daerah melalui kebijakan PP No. diperlukan reformasi kapasitasi yang memadai guna meningkatkan kemampuan aparatur dalam melayani masyarakat. Potret tersebut terlihat tidak saja pada perluasan kementerian departemen. namun tampak pada puluhan organisasi setingkat lembaga. badan dan komisi. bukan menjawab masalah yang dihadapi masyarakat. dimana lebih dari 70% APBD habis untuk belanja aparatur (FITRA:2011).Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 telah menjebak kepala daerah untuk melakukan rekonstruksi organisasi pemda lewat cara-cara resuhffle kabinet jilid satu. Akibatnya. 36 . analis kebijakan. Ini bisa dipahami jika dihubungkan dengan bertambahnya rekrutmen pegawai setiap tahun tanpa pengendalian berdasarkan kompetensi. dua dan seterusnya. Pola penjenjangan karier kurang diperhatikan. Postur organisasi Pemda yang mengalami kegemukan tentu saja dapat menyedot belanja aparatur lebih besar dibanding belanja pembangunan. Kasus pencopotan pejabat setingkat sekretaris daerah dalam tempo singkat dan mutasi besar-besaran adalah contoh yang dapat diamati dalam wilayah pemerintah daerah. Kondisi ini tidak saja berlaku di daerah. Praktis organisasi dibentuk untuk menjawab kepentingan rezim berkuasa. Reformasi kapasitasi adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan sumber daya birokrasi dalam pelayanan agar mampu mengimbangi dinamika masyarakat. 41 Tahun 2007. dokter. Reformasi kapasitasi berkaitan dengan kemampuan birokrasi baik secara individual maupun kelompok yang ditunjukkan pada kemampuan menerjemahkan visi dan misi. namun gagal melakukan efisiensi organisasi di level organisasi pemerintah pusat. Kedua. Ambon dan Bitung misalnya. namun dipraktekkan terang-benderang di level pusat melalui perluasan organisasi pemerintahan. organisasi Pemda memperlihatkan gejala obesitas yang sarat kepentingan politik para elit lokal sehingga sulit bergerak mencapai tujuan. program dan kegiatan. Ironisnya. bahkan hasil Baperjakat hanyalah unsur formalitas dalam penempatan personil pada struktur organisasi pemda. disamping tersisihnya peluang bagi rekrutmen pegawai yang memiliki kompetensi ideal seperti guru. Realitas ini dapat ditemukan pada sejumlah kabupaten seperti Lumajang.

semakin tinggi resiko yang akan dihadapi. Kesenjangan ini seringkali menimbulkan ketegangan sekaligus kecurigaan terhadap kinerja birokrasi. Ini penting untuk mendorong perkembangan daerah lebih cepat dan kompetitif.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Pengembangan kapasitas aparatur berfokus pada aspek pendidikan dan pengalaman yang akan menentukan nilai profesionalisme birokrasi dihadapan masyarakat. Spirit tersebut diarahkan untuk melahirkan nilai kompetitif sehingga mampu menciptakan keadilan bagi birokrasi yang berprestasi. sekaligus pada saat yang sama mendorong kemampuan kolektivitas birokrasi. perikanan. Dalam jangka pendek. Untuk mengantisipasi hal itu diperlukan desain kebijakan reformasi kapasitasi jangka panjang dan jangka pendek. Profesionalisme sekurang-kurangnya ditunjukkan oleh sertifikasi pendidikan dari jenjang dasar hingga jenjang yang lebih tinggi. Parahnya. pertanian dan jasa. Keadilan dapat diterapkan melalui pembayaran insentif berdasarkan penilaian kinerja birokrasi. Sebaliknya. kiranya membutuhkan aparat yang menguasai sektor unggulan dimaksud. sama-sama mendapatkan perlakuan khusus. Dalam jangka panjang dibutuhkan aparatur yang memiliki pengetahuan yang memadai guna penyusunan rencana kegiatan hingga keterampilan mengimplementasikan suatu program secara efektif. Fakta ini jelas kurang mendorong 37 . Sebagai perbandingan. birokrasi dan pemerintah secara keseluruhan dapat kehilangan kepercayaan masyarakat. Pembangunan berbasis keunggulan lokal membutuhkan birokrasi yang mampu menjawab tantangan yang muncul. Rendahnya pendidikan aparatur mengakibatkan kesenjangan antara mereka yang dilayani dan mereka yang melayani. diperlukan desain kebijakan praktis. semakin tinggi kapasitas pemerintah daerah semakin rendah pula resiko yang akan dihadapi dimasa mendatang. pertama. semakin rendah kapasitas pemerintah daerah. Kedua aspek tadi setidaknya dapat membentuk kemampuan individual. peningkatan insentif yang berfungsi mendorong spirit dan kinerja birokrasi. Pemerataan selama ini hanya membuktikan bahwa mereka yang kerja dan tidak. tertutupnya kebijakan pengembangan pendidikan dan lahirnya diskriminasi dalam pengembangan sumber daya di daerah melahirkan kasus jalan pintas lewat indikasi ijazah palsu dan gelar pendidikan tanpa jelas asal-usulnya. Pada akhirnya. daerahdaerah yang berbasis kompetensi kelautan. Dampaknya. Dalam jangka panjang diperlukan pendidikan yang berbasis pada kebutuhan dan karakteristik organisasi pemerintah daerah. Aspek tersebut diimbangi oleh segudang pengalaman pada berbagai organisasi yang memiliki nilai dan kompetensi utama.

Pola penggajian dan insentif yang bervariasi sebagaimana pernah diterapkan sejumlah pemerintah daerah seperti Kabupaten Jembrana Provinsi Bali. Statement ini tentu saja tidak mudah diperoleh dilapangan empirik. Mengambil jarak terlalu jauh beresiko kehilangan jabatan. Ketiga. Kedua. birokrasi sangat rentan diintervensi oleh elit lokal guna memenuhi kepentingan kelompok tertentu dalam sirkulasi kekuasaan. Pada sisi lain membiarkan kelalaian birokrasi sama maknanya dengan menyetujui sekaligus membolehkan kesewenang- wenangan dalam pelayanan masyarakat. faktanya sebaliknya.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 kompetisi serta menciptakan ketidakadilan. kreativitas dan kemandirian hendaknya memperoleh penghargaan yang setimpal guna mendorong semangat yang sama pada aparat yang lain. diperlukan penataan sistem yang secara eksternal efektif dapat mengurangi politisasi birokrasi yang dapat memecahkan konsentrasi aparatur dalam melayani masyarakat. Semua konsekuensi tersebut dilakukan tentu saja berdasarkan transaksi minimum lewat jabatan-jabatan strategis dan menggiurkan. termasuk menurunkan penghargaan bagi mereka yang benarbenar memiliki profesionalisme. Politisasi birokrasi membuat aparat menjadi bulanbulanan elit lokal. Guna mengurangi kepentingan politik maka birokrasi sebaiknya mengambil jarak untuk bersikap netral. jauh lebih penting dari itu adalah lahirnya dampak positif bagi birokrasi untuk kembali pada tugas dan fungsinya masing-masing. Lewat sistem yang ada. menunjukkan dampak positif dalam mendorong kinerja birokrasi. reformasi birokrasi dalam jangka pendek hendaknya mampu menciptakan sistem internal yang dapat mendorong secara perlahan tumbuhnya kesadaran birokrasi sebagai pelayan masyarakat. terlalu dekat sama artinya menceburkan diri dalam ketidakpastian lebih beresiko. Demikian pula pola penerapan sanksi dibutuhkan semaksimal mungkin dengan maksud pembinaan secara proporsional. yaitu mendorong berkembangnya birokrasi agar lebih disiplin dan bertanggungjawab serta mampu merespon perkembangan masyarakat. Penerapan sanksi bukanlah tujuan akhir. sebab itu diperlukan sistem eksternal yang 38 . sekaligus melindungi birokrasi dari perilaku buruk aparatur yang berinteraksi didalamnya. birokrasi sulit menolak ransangan para elit untuk berkoalisi memenangkan calon tertentu. Kesadaran yang terus meningkat hingga membuahkan inovasi. Pembiaran terhadap tumbuhnya kreativitas tanpa apresiasi dapat menurunkan semangat untuk berkarya dan mengabdi pada organisasi. Oleh sebab itu harus dipahami bahwa penarapan reward and punishment memiliki arti strategis bagi organisasi.

maka dibutuhkan reformasi birokrasi yang mampu mencegah terjadinya tindak pidana korupsi dilingkungan birokrasi pemerintahan. Sejauh ini.8.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik dapat membentengi birokrasi dari kepentingan politik yang berlebihan. Berkaitan dengan reformasi birokrasi diperlukan sistem yang mengikat secara ketat. Sedangkan sebagai abdi masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku buruk birokrasi perlu diperbaiki. disamping penerapan sanksi berat dalam setiap tindakan yang disangkakan. sebesar 2. Reformasi instrumentasi berfungsi sebagai landasan kebijakan yang bersifat legalistik-formal untuk menghindari tuntutan masyarakat terhadap kinerja birokrasi. Pembentukan Komisi Pemberantasan Korupsi dimaksudkan untuk membantu pemerintah dalam meminimalisasi gejala korupsi. Perlu dipahami bahwa sistem insentif sebagaimana dikemukakan sebelumnya bukanlah jalan satusatunya dalam mengurangi tindak pidana korupsi. sebab semua norma sosial termasuk agama tidaklah mentolerir perilaku buruk semacam itu. Budaya kerja positif diharapakan tidak saja menular pada pemerintah. Tentu saja reformasi birokrasi dalam jangka panjang termasuk jangka pendek sulit dilakukan tanpa dimulai dari perubahan budaya kerja kearah positif. Korupsi bukanlah budaya positif yang tumbuh pada masyarakat. Perubahan budaya kerja yang diawali dari kebiasaan menanamkan keseluruhan karakteristik pemerintahan yang baik diharapkan mampu menghasilkan birokrasi yang dapat menjalankan fungsinya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat. Sebagai abdi negara. indeks persepsi korupsi di Indonesia belum berubah sesuai catatan International Transparancy. Korupsi merupakan kejahatan extra ordinary sehingga membutuhkan upaya-upaya yang bersifat luar biasa. Dalam banyak kasus birokrasi seringkali 39 . Keempat. birokrasi membutuhkan legitimasi de jure untuk menjalankan semua keputusan politik pemerintah. Bagian ketiga dari gagasan reformasi birokrasi berkenaan reformasi instrumentasi yang mencakup penyiapan regulasi baik undangundang di tingkat pusat hingga peraturan pada level pemerintah daerah. Bercermin pada China yang berani menerapkan tindakan tegas bagi pelaku korupsi. reformasi birokrasi dalam jangka pendek diarahkan pada upaya pencegahan (preventive) perilaku korupsi dalam tubuh birokrasi. demikian pula pada elemen masyarakat dan wiraswasta. Landasan kebijakan secara umum diharapkan mampu melindungi pemerintah dan segenap pemangku kepentingan dalam lingkup good governance. birokrasi membutuhkan legitimasi de facto sebagai penyambung kepentingan kepada pemerintah yang berkuasa. Perilaku birokrasi yang korup cenderung termotivasi oleh pengaruh lingkungan serta tuntutan domestik.

juga berhubungan dengan seperangkat alat baik sarana dan prasarana yang memungkinkan birokrasi mampu mengembangkan dirinya dalam memberikan pelayanan yang bermutu. Strategi pelayanan jemput bola melalui penggunaan sarana dan prasarana yang tersedia seperti teknologi informasi dan transportasi merupakan keseluruhan paket reformasi instrumentasi dalam kerangka besar reformasi birokrasi dan implementasi good governance. pada akhirnya menimbulkan masalah lebih kompleks yaitu ekonomi biaya tinggi (high cost economy). Berkaitan dengan implementasi good governance. dimana prinsip-prinsip tata kelola pemerintahan menjadi landasan penting dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Situasi demikian seringkali menyuburkan praktek suap.32/2004 tentang Pemerintahan Daerah. Salah satu contoh dapat dilihat dalam kebijakan UU No. walaupun disadari belum sepenuhnya dapat dilaksanakan secara baik. Gejala tersebut dapat dilihat pada sejumlah hasil temuan BPK dimana pengeluaran anggaran pemerintah daerah khususnya kehilangan landasan yuridis. Reformasi instrumentasi diharapkan tidak hanya berkaitan dengan landasan hukum. kolusi dan berkembangnya jaringan mafia dalam tubuh birokrasi. Sebaliknya. Kasus Bank Century. pemerintah pada dasarnya telah banyak melakukan terobosan melalui berbagai regulasi yang memberikan peluang diterapkannya karakteristik tata kelola pemerintahan yang baik. Tanpa standar operational procedure.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 dianggap gagal menyiapkan instrumen bagi landasan pelayanan masyarakat. ketatnya mekanisme dan prosedur dapat membentuk budaya birokratisme yang pada gilirannya mendorong perilaku “melambung” (by pass) untuk mempercepat pelayanan. Indikator lain yang bisa diamati adalah persyaratan adanya SOP sebagai pedoman bagi setiap pemerintah daerah 40 . Contoh konkrit lain dapat dilihat dalam instrumen evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah yang memuat sejumlah variabel dan indikator sebagai refleksi dari tercapainya karakteristik tata kelola pemerintahan yang baik. seperti landasan yuridis kebijakan serta tingkat partisipasi masyarakat. Kendati dengan alasan efisiensi. pemegang modal dan masyarakat biasa. Reformasi instrumentasi pada tingkat teknis setidaknya dapat memperjelas mekanisme dan prosedur pelayanan oleh birokrasi pemerintahan. mekanisme dan prosedur. surat palsu di Mahkamah Konstitusi hingga Kemenakertrans adalah contoh gamblang dalam konteks terbentuknya jaringan mafia birokrasi antara pemerintah. Wisma Atlit. birokrasi layaknya berjalan menggunakan insting dimana pada kondisi tertentu dapat berbenturan dengan norma dan ketentuan yang berlaku.

Pengembangan kesetaraan sebagai bagian dari karakteristik tata kelola pemerintahan yang baik dapat dilihat dalam mekanisme pemilihan pemimpin politik yang ramah gender serta terbuka bagi setiap warga negara menurut batasan konstitusi dan undang-undang. LKPJ dan LIPD. Karakteristik efisiensi dan efektivitas merupakan prinsip yang senantiasa diakomodir dalam undang-undang pemerintahan daerah termasuk peraturan yang menjadi turunannya. tranparansi. kesetaraan. tanggungjawab. Prinsip akuntabilitas dapat dilihat pada sejumlah instrument pertanggungjawaban seperti PP No. Strategi ini dilakukan melalui persyaratan fit and proper test yang dilakukan pada sejumlah calon pejabat setingkat kepala daerah maupun pimpinan lembaga. badan dan komisi. Penyampaian laporan perkembangan harta kekayaan yang dimiliki oleh setiap pejabat publik mencerminkan diterapkannya prinsip akuntabilitas dan tranparansi.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik dalam menjalankan fungsi dan tugas pokoknya dilapangan. terlepas bahwa prinsip tersebut masih sering dilanggar oleh pemerintah daerah. fungsional. Prinsip ini mengalami perkembangan sejak lahirnya lembaga yang berfungsi melakukan evaluasi serta pengawasan baik secara internal.3/2007 tentang Pertanggungjawaban Kepala Daerah yang meliputi LPPD. pengembangan dan implementasi karakteristik good governance. Karakteristik konsensus dilakukan melalui upaya dokumentasi perencanaan APBN dan APBD sebagai bentuk kesepakatan bersama antara eksekutif dan legislatif yang notabene dipilih dan mewakili masyarakat itu sendiri. Karakteristik visi strategis menjadi syarat mutlak bagi setiap kandidat pemimpin pemerintahan ketika mencalonkan diri sebagai pejabat publik. Pada karakteristik transparansi misalnya. politik maupun pengawasan publik. Bahkan. 41 . dilahirkannya regulasi tentang keterbukaan informasi publik oleh Kementrian Komunikasi dan Informasi menunjukkan komitmen pemerintah dalam memberikan akses seluas-luasnya kepada masyarakat. dan akuntabilitas. kedisiplinan. eksternal. Kesemua itu merupakan modal dasar dalam rangka penumbuhan. pencanangan pendidikan karakter sejak usia dini oleh Kementrian Pendidikan Nasional merupakan terobosan jangka panjang dalam upaya menanamkan nilai-nilai kejujuran.

Gramedia Pustaka Utama Effendy. Martin.Warwick. 1996. Jakarta 42 . Jakarta Rahardjo. (terjemahan). Khasan. Istianto. Praktek Birokrasi Weberian di Indonesia. H. 1998.XXXV No. Political Parties. Roderick. Adam dan Jessica Kuper. Budi. Harvard Universty Press.1 Tahun. Bekasi Dino Patti Djalal. Jakarta Max Weber dalam Martin Albrow (Terj). 2008. CV. Red and White Publishing. Soerjono. Bureaucracy dalam Encyclopaedia of the Social Sciences. Jakarta Setiono. Yogyakarta. Agus. R. Sosiologi Kekuasaan. Tinjauan dari Aspek Politik dan Administrasi. Vol. 2010. Jakarta Dwiyanto. Membedah Hukum Progresif. Ina Publikatama. volume 3. Ensiklopedi Ilmu-Ilmu Sosial. Rajawali Pers. 2010. Introducing Social Theory. 2001. Kompas.Haass. Raja Grafindo Persada. Gugus Press. Raja Grafindo. Maurice. N. STIAMI. (terjemahan). Richard. Seni Memimpin SBY. Stephen K. Cambridge Massachussets. New York. Jakarta Jones. Jakarta Sanderson. Sosiologi Suatu Pengantar. The Study of Politics (Terjemahan). 2005. 2000. Jakarta Laski. 2010. Jakarta Sudirman. Martin Albrow dalam Donald P. Jurnal Ilmu Pemerintahan Widya Praja. New York dan London. Theory of Public Bureucracy. Birokrasi. New York. Reformasi Birokrasi. Rajawali Pers. Pip.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Daftar Pustaka Duverger. Demokratisasi Birokrasi. 2000. 1962. Indra Prahasta. 2011. 2009. The Bureaucratic Entrepreneur (terjemahan). Sosiologi Pemerintahan. Yayasan Pustaka Obor Indonesia. 2002. H dan Mills. Satjipto. Jakarta Kuper. C. Jaring Birokrasi. Bambang. Macrosociology. Tiara Wacana Michaels. 2010. Rajawali 1Pers. Bandung Gerth. Harus Bisa. Jakarta Soekanto.W (1946) From Max Weber:Essays in Sociology. 1993.

2011. Consequences. Dilemma Of Pluralist Democracy. Yogyakarta Jurnal Ilmu Pemerintahan Widyapraja. Georg. Bureaucracy in Modern Society (terj). Untung. Cambridge University Press Aini. Pustaka Pelajar. Demokrasi dalam Birokrasi Pemerintah. 1999. Pidato Pengukuhan Guru Besar. Yogyakarta Dahl. 2001. Moeljarto. Westview Press Setiono. Precesses and Prospects in Changing World.XXXII No. Budi. Jaring Birokrasi. Jakarta Suwandi. 2004. 2004. Pusataka Pelajar.3 Tahun 2006. 2000. Pembagian Kewenangan Menurut UU 32 Tahun 2004. Otonomi dan Pemerintahan Daerah. Pustaka Pelajar. Reformasi Birokrasi. Pemerintahan Yang Amanah. And Reform. IIP-Press Rasyid. IIP Press. Nurul. 2000. Jakarta 43 . Peter M. Ackermen-Susan Rose. Bambang. Unismuh. Democracy and Democratization.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Tjokrowinoto. Macmillan ltd Haris. 2006. Jhon. Bekasi Subagyo. Jakarta. Perspektif Mikro Diagnosa Psikologis. dkk. Peran Kontrol Rakyat dan Netralitas Birokrasi. 2000. 2006. Jakarta Blau. Birokrasi Dalam Polemik. Gugus Press. 1999. Jakarta Sorenson. Corruption and Government Causes. Fisipol UGM. Malang Toha. Yogyakarta Istianto. Mitra Wacana Media. dkk. Demokratisasi Birokrasi. (Makalah). Robert A. Yayasan Bina Pembangunan. Makalah. 2002. Jakarta Tjokrowinoto. 2004. Terobosan Otonomi Satu Tingkatan. Politik Organisasi. Agustus 2011. Miftah. 1993. Jakarta Koswara. 1982. Palgrave. PKSP. Pustaka Pelajar. Politicising Democracy. Yale University Press Haris. Ryaas. 2004. Vol. New haven and London. Bahan Ajar Sistem Politik Indonesia. Birokrasi dalam Polemik. LPM-IIP. hal 209-22 Republika.

.

Foto : Antara IV Oleh : Nursodik Gunarjo * Edisi 3 / September / 2011 Reformasi Birokrasi. Syarat Mutlak Pembangunan Ekonomi * Penulis adalah kandidat doktor Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 45 .

Keluhan tersebut bukan saja berkenaan dengan buruknya layanan. Tulisan ini diharapkan dapat menganalisis secara komprehensif hubungan antara birokrasi dan dunia usaha dari perspektif ekonomi politik.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 B Pendahuluan irokrasi merupakan stakeholder penting di bidang ekonomi. 46 . alih-alih membantu percepatan perputaran roda perekonomian3 3 Kristiadi. Para penanam modal di Indonesia pada umumnya mengeluhkan minimnya infrastruktur. Tidak mengherankan jika pelaku ekonomi cenderung menganggap keberadaan birokrasi lebih banyak menghambat.detikfinance. Penyebabnya. di. Sebuah perusahaan berbasis teknologi informasi asing terkemuka. batal menanamkan investasi di Indonesia. birokrasi yang diharapkan mampu menjadi enzim of growth perekonomian. Prisma.com/ read/2011/07/27/12451245/Minat.Regulasi 2 http://us. Pelayanan birokrasi turut menentukan bergairah atau tidaknya aktivitas perekonomian suatu bangsa.B. Selain itu. Banyak keluhan muncul saat para pelaku usaha berurusan dengan birokrasi. pelayanan yang cepat. akan membuat dunia usaha lebih mudah menerapkan efektivitas dan efisiensi.Terhalang. Sebaliknya. 4. serta perilaku korup aparat birokrasi. proses perizinan di Indonesia dinilai lambat dan ruwet. No.kompas. buruk dan berbiaya tinggi akan menyebabkan high-cost economy yang membebani pelaku usaha. “Masalah Sekitar Peningkatan Pendapatan Asli Daerah”. Mereka juga mengeluhkan banyaknya biaya siluman (overhead cost) yang harus dikeluarkan saat melakukan aktivitas ekonomi di Indonesia2. dalam praktik justru sering membebani sektor ini. (1995). ketidaksiapan sumberdaya terutama SDM.Indonesia. mudah dan murah. 1 http://tekno. regulasi pemerintah dinilai kurang mendukung keberadaan investor asing1. Pelayanan birokrasi yang lambat. 114. Akibatnya sangat fatal. J. namun juga terkait dengan perilaku tak terpuji aparat birokrasi dan kebijakan yang tidak probisnis.com/ read/2004/12/17/110517/257641/4/ infrastruktur-buruk-investasi-jepangke-ri-minim Beberapa contoh yang telah dikemukakan setidaknya dapat dijadikan bukti bahwa birokrasi Indonesia belum ’ramah’ terhadap dunia usaha.

(1986). (1995). Revolusi dan Transformasi Masyarakat.or. No. biaya overhead cost yang harus dikeluarkan pelaku usaha sebagai imbas dari berbelit-belitnya urusan di birokrasi terbilang sangat besar. pemerintahan. sehingga penyalahgunaan bisa muncul dalam sistem kegiatan birokrasi. Namun dengan kondisi struktur yang rigid dan kaku. Prisma. php/publication/2010/11/11/indekspersepsi-korupsi-kota-kota-indonesia2010 47 . 114. Karena itu. J. kelambatan. Kesan seperti ini kemudian memunculkan istilah debirokratisasi. serta popular. Birokratisasi merupakan efek dari kegiatan birokrasi yang dihegemoni oleh kepentingan kekuasaan dari para elit organisasi. catatan Mohl tentang penyalahgunaan birokrasi memperlihatkan adanya sifat kecongkakan. yang sejatinya merupakan manifestasi untuk menunjukan bentuk atau orientasi kekuasaan tertentu dari para elit5 Albrow mengungkapkan sorotan berbagai kalangan yang memandang birokrasi sebagai proses yang panjang dan berbelit-belit pada saat para pengguna berurusan dengan aparat birokrasi. Dalam kenyataan. Kebutuhan tersebut muncul sebagai akibat logis dari adanya struktur hierarki yang membutuhkan tahapan-tahapan pengambilan keputusan. maksudnya adalah upaya untuk menyederhanakan 5 Eisenstadt S. dan pada akhirnya akan menekan produktivitas perusahaan4 Birokrasi Birokratis-Patologis: Perspektif Kritis Tidak bisa dimungkiri. “Masalah Sekitar Peningkatan Pendapatan Asli Daerah”. termasuk di dalamnya pelayanan umum dan pembangunan. Jika hal semacam itu terjadi di banyak perusahaan. dalam jangka panjang efeknya dipastikan akan sangat berpengaruh terhadap efisiensi. Jakarta: CV.B. 4 http://www.ti.N. setiap sistem pemerintahan dan organisasi membutuhkan birokrasi. Keadaan ini terlihat pada kelambanan pelayanan dan proses kerja yang berbelit-belit. birokrasi yang dimaksudkan untuk melaksanakan penyelenggaraan bernegara.. oleh masyarakat seringkali diartikan dalam konotasi yang ruwet. birokrasi mudah mengalami birokratisasi—sebutan umum untuk birokrasi yang birokratis. birokrasi acapkali mendapatkan kritik yang cukup tajam6 Senada dengan itu.id/index. Bahkan ada perusahaan yang menggunakan dana hampir seperempat dari total aset yang dimiliki hanya untuk biaya pelicin agar urusan dengan birokrasi cepat selesai. mempunyai daya tarik.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Sebagaimana disampaikan Transparency InternationalIndonesia (TI-Indonesia). 4. Rajawali 6 Kristiadi.

No.an organisation with a certain position and role in running the government administration of a country. yang berhubungan dengan kedudukan dan kewenangan pejabat publik. (1986).B. (1995). Di berbagai belahan bumi.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 prosedur yang dianggap ruwet itu7 Birokrasi pada kenyataannya sering mengalami disfungsi karena adanya pergantian tujuan-tujuan organisasi menjadi tujuan pribadi. diperparah dengan isu yang sering muncul ke permukaan. Revolusi dan Transformasi Masyarakat. dan tidak terkontrol8 Berbagai keluhan dan kritikan mengenai kinerja birokrasi memang bukan hal baru. 48 . pada akhirnya. Birokrasi. Jakarta: LAN.” Dengan demikian secara ringkas dapat dikatakan. Prisma. Jakarta: CV. Banyaknya penyimpangan di birokrasi menyebabkan birokrasi cenderung bersifat patologis. J. seperti esensi birokrasi Hegelian dan Weberian9. The Public Sector. Second Edition. yakni korupsi dengan beranekaragam bentuknya. negatif atau bahkan patologis. patologi berarti “ilmu tentang penyakit”. (1995).N. 4.. London: Sage Publication 9 Mustopadidjaja. Citra buruk birokrasi seperti parkinsonian atau birokrasi gemuk (big bureaucracy). bersifat over supplay dengan memaksimumkan struktur. A. penegak disiplin dan penyelenggara pemerintahan dengan kekuasaan yang sangat besar. atau jacksonian yakni birokrasi yang dipolitisasi. Concept. Akibatnya. Secara etimologis. orwellian atau birokrasi dengan peraturan yang menggurita sebagai perpanjangan tangan negara untuk mengontrol masyarakat. (1999). A. lebih mengemuka ketimbang citra yang baik atau rasional (bureau rationality). 8 Lane. Keseluruhan kondisi empirik yang terjadi secara akumulatif telah meruntuhkan konsep birokrasi Hegelian dan Weberian yang memfungsikan birokasi untuk mengkoordinasikan unsur-unsur dalam proses pemerintahan. Rajawali 11 Mustopadidjaja. J. Demokrasi dan Masyarakat Madani. Models and Approaches. birokrasi tumbuh menjadi sesuatu yang chaos. patologi birokrasi adalah “penyakit” yang menyebabkan peran dan fungsi birokrasi mengalami penyimpangan dan tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya11 10 Eisenstadt S. Administrasi Negara. serta lambatnya pelayanan dan prosedur yang berbelit-belit atau yang lebih dikenal dengan efek pita merah (red-tape). Sementara yang dimaksud dengan birokrasi adalah: “.R.E. hanya berfungsi sebagai pengendali. (1999). birokrasi lebih menunjukkan kondisi empirik yang buruk. 114.           Citra buruk tersebut semakin 7 Kristiadi.R. “Masalah Sekitar Peningkatan Pendapatan Asli Daerah”.. Birokrasi pada akhirnya menjadi tuan bagi dirinya sendiri dan tidak berorientasi pada fungsi pelayanan. tetapi mengabaikan fungsi pelayanan masyarakat10.

serta pegawai sering berbuat kesalahan.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Dalam praktik. Administrasi Negara. yakni: Pertama. Kemunculan birokrasi yang birokratis menjadi pemicu munculnya patologi birokrasi. Kelima. jelas bahwa birokratisasi dan patologi birokrasi merupakan dua sisi dari keping mata uang yang sama. seperti sewenang-wenang. persepsi gaya manajerial para pejabat di lingkungan birokrasi yang menyimpang dari prinsip-prinsip demokrasi. Cermin Retak Uphill Battle. menerima sogok. Siagian. Tidak adanya inovasi membuat para birokrat cenderung melakukan pelayanan sama dari waktu ke waktu. Potret Nyata Birokrasi Indonesia Jauh hari telah digambarkan secara dramatis. rendahnya pengetahuan dan keterampilan para petugas pelaksana berbagai kegiatan operasional. dan ketidakmampuan birokrasi untuk berubah sesuai tuntutan zaman12 Apabila ditelusuri lebih jauh. ruwet dan berbelit-belit. patologi birokrasi berimbas pada munculnya pelayanan birokrasi yang lambat. dan nepotisme. Kedua. tindakan pejabat yang melanggar hukum. Demokrasi dan Masyarakat Madani. menerima sogok. dengan menggelembungkan pembiayaan. aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan perundangundangan serta norma-norma yang berlaku di dalam birokrasi. Ketiga. S. Keempat. patologi birokrasi tersebut berupa perilaku (aparat) birokrasi yang menyimpang dari nilai-nilai etis. mengakibatkan produktivitas dan mutu pelayanan yang rendah. 13 49 . ketiadaan deskripsi dan indikator kerja. sehingga produktivitas sektor bisnis terpengaruh. (1988). Jakarta: Gunung Agung. Hal itu mengakibatkan bentuk penyimpangan seperti penyalahgunaan wewenang dan jabatan. gejala patologi dalam birokrasi bersumber pada lima masalah pokok. situasi internal berbagai instansi pemerintahan yang berakibat negatif terhadap birokrasi. Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen. Filsafat Administrasi. Penyakit birokrasi juga bisa berupa inefektivitas dan inefisiensi. sehingga pelayanan yang diberikan kepada pelaku ekonomi menjadi tidak berkualitas. Sebaliknya. (2002). bagaimana birokrasi bisa merongrong habis-habisan kinerja sektor ekonomi di Uphill Battle. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. penyelewengan fungsi dan struktur. dan sistem yang pilih kasih13 Dari uraian yang telah dikemukakan. dan diskriminatif. purapura sibuk. Jakarta: LAN 12 Umar H. Amerika Serikat. korupsi dan sebagainya. Kemalasan pegawai birokrasi menyebabkan penyelesaian aplikasi perizinan dan pembuatan regulasi menjadi lambat.P. seperti rendahnya imbalan dan kondisi kerja yang kurang memadai. manifestasi perilaku birokrasi yang bersifat disfungsional atau negatif.

masih tingginya ketidakpastian dalam birokrasi (cost of uncertainty). Kelima. Masyarakat bisnis di Uphill Battle bisa dikatakan ‘masih beruntung’. Penyakit warisan Orde Baru ini masih bercokol hingga kini. Di sisi lain. Prasojo. inkonsistensi dan instabilitas peraturan perundangundangan. sangat tidak sebanding dengan output dan outcome yang dihasilkan14 Apa yang terjadi di Uphill Battle bisa disebut sebagai cermin retak. E & Maksum. & Plastrik. dan tentu masih sangat berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia. terutama yang paling menonjol adalah perilaku korup aparat birokrasinya. Jakarta: DIS FISIP UI. tidak responsif. Desentralisasi dan Pemerintahan Daerah. menyebabkan pelayanan publik tidak memuaskan.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Layanan yang tidak berorientasi kepada pelanggan. selain berbagai jenis patologi birokrasi yang telah disebutkan. Situasi problematis yang dihadapi sebagian besar birokrasi Indonesia saat ini di antaranya: Pertama. Antara Model Demokrasi Lokal dan Efisiensi Struktural. inefisiensi sumberdaya telah membuat aktivitas birokrasi memakan biaya dan menghabiskan sumberdaya sangat besar. masih belum terbentuk budaya birokrasi (service delivery culture). (2006). norma. 50 . Keempat. Permasalahan mendasar yang membuat birokrasi Indonesia koruptif dan tidak probisnis di antaranya adalah kurang baiknya kelembagaan dan tatalaksana. Di Indonesia. kolusi. Akan tetapi. atau bahkan potret buruk birokrasi. hal itu masih belum apa-apa jika dibandingkan dengan kondisi birokrasi di Tanah Air. Ketiadaan standar pelayanan. nepotisme). yakni KKN (korupsi. masih kentalnya budaya patron-client dan budaya afiliasi yang mengarah kepada moral hazard.R. lantaran birokrasi di sana hanya terinfeksi patologi birokrasi. Lain halnya dengan birokrasi Indonesia yang masih dipersepsikan sarat dengan KKN. Permasalahan lain terkait dengan rendahnya kualitas sumberdaya manusia dan lemahnya pengawasan terutama dalam hal akuntabilitas. di sisi lain. membuat kalangan dunia usaha enggan berurusan dengan birokrasi. Memangkas Birokrasi. serta tidak tepat waktu. nilai dan regulasi yang ada masih berorientasi pada kepentingan penguasa/birokrat (power culture). masih rendahnya kompetensi para birokrat15 15 14 Osborne. Hal tersebut ditunjukkan oleh struktur organisasi birokrasi yang tidak sesuai dengan kebutuhan. etika dan moral. Jakarta: PPM. (2000). namun tidak terkena wabah KKN. masih ada penyakit menahun lain yang menggerogoti birokrasi. struktur. Ketiga. P. D. Kedua. I. dan rendahnya penggunaan perangkat teknologi informasi.

sebagian besar penyelenggara negara memiliki komitmen kuat bagi perjuangan bangsa. Agar tidak terjebak dalam permainan politik praktis. sehingga berubah menjadi kepanjangan tangan kekuasaan. wewenang birokrasi dibatasi sesuai dengan hierarki jabatannya. Pemberian layanan merupakan implikasi dari fungsi negara sebagai alat pemenuhan kebutuhan rakyat.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Di sisi lain. Aktivitas utama birokrasi bukan lagi untuk melayani publik. Dinamika politik ditandai dengan instabilitas sehingga tidak ada satu pun kabinet yang dibentuk bisa menyelesaikan masa jabatannya. Menurut Weber. Peran ini menjadi strategis karena hanya aparat birokrasi yang memiliki wewenang menguasai akses atas kepentingan publik. Kabinet yang terbentuk pun lebih banyak diwarnai 51 . Dalam setiap hierarki terdapat kekuasaan pejabat birokrasi. birokrasi tidak mudah dibawa ke dalam pertarungan antara aktor politik yang sedang berkompetisi atau cenderung lebih patuh pada kekuatan politik yang menjadi patron-nya. Birokrasi. hierarki jabatan dalam birokrasi disusun secara bertingkat. Kehadiran birokrasi merupakan tuntutan mutlak yang harus dipenuhi untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Netralitas birokrasi tercermin dari kemampuan birokrat meletakkan fungsi birokrasi di atas kepentingan pribadi dan mengutamakan kepentingan masyarakat. Kondisi ini membuat birokrasi rentan terhadap pengaruh kekuasaan atau politik praktis. dari yang paling tinggi sampai kepada yang paling rendah. reformasi politik di Indonesia dalam kenyataannya belum mengubah birokrasi menjadi kekuatan profesional negara. muncul pertarungan antarpartai politik untuk merebut posisi puncak birokrasi. Pembatasan ini dilakukan untuk mencegah terjadinya pencampuradukan kepentingan pribadi pejabat birokrasi ke dalam tugasnya sebagai pelayan masyarakat sehingga birokrasi tetap menjadi kekuatan yang netral dari pengaruh kelompok tertentu. terlebih ketika kecenderungan determinasi partai politik terhadap pejabat birokrasi tak juga sirna. Artinya. Pada zaman kemerdekaan (19451950). merupakan organ negara yang diberi tugas menjalankan semua kebijakan pemerintah yang terkait dengan kepentingan rakyat. Memasuki zaman demokrasi liberal (1950-1959). baik secara personal maupun institusional. Unsur partai bukan menjadi pertimbangan. Fungsi birokrasi sebagai unit pelayanan publik dihegemoni oleh kekuatan internal birokrasi. akan tetapi lebih ditujukan pada kegiatan-kegiatan struglle to get political power. pertumbuhan birokrasi tidak lepas dari dinamika politik dan masyarakat sehingga kultur birokrasi selalu sarat dengan warna politik di zamannya. Dalam sejarah birokrasi Indonesia.

tidak pernah hadir. nafsu politik birokrat untuk menguasai birokrasi masih bercokol. Birokrasi yang seharusnya mendahulukan kepentingan umum. dan memberikan kepuasan kepada publik. Meski asas monoloyalitas telah dihapus. terungkap bahwa birokrasi Indonesia gagal menjalankan fungsi pelayanan publiknya. dan sebaliknya melemparkan orangorang jujur dari kancah persaingan bisnis. Tampaknya. cara itu masih tetap diwarisi birokrasi hasil reformasi. birokratisasi akan menggerus fiskal masyarakat pengguna birokrasi dalam jumlah yang sangat besar. Dalam beberapa jajak pendapat yang dilakukan lembaga independen. langsung maupun tidak langsung. Di sisi lain. kolusi secara nyata telah melempangkan jalan bagi orang-orang yang mau berkongsi dengan oknum birokrasi.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 corak koalisi partai. Situasi seperti ini mendorong para pejabat untuk mencari kesempatan dalam kesempitan agar mereka dapat menciptakan rente dari pelayanan berikutnya. Sementara nepotisme secara perlahan tapi pasti telah menciptakan perekonomian oligarkis yang dimonopoli oleh para kroni dan keluarga dekat pejabat birokrasi. Dalam praktik. Secara akumulatif. Keberpihakan birokrasi kepada partai politik masih terlihat. Birokratisasi versus Ekonomi Berbelit-belinya pelayanan serta tidak transparannya kinerja birokrasi telah mendorong masyarakat untuk mencari ”jalan pintas” dengan suap atau berkolusi dengan para pejabat dalam rekrutmen pegawai atau untuk memperoleh pelayanan yang cepat. Pada masa Orde Baru (1966-1988). Korupsi yang merajalela di lembaga birokrasi berimbas pada banyaknya biaya tambahan yang harus dikeluarkan para pengusaha dan pemangku kepentingan lain yang berurusan dengan birokrasi. Korupsi secara langsung akan mengurangi besaran dana yang seharusnya dipergunakan untuk kepentingan publik. termasuk masyarakat umum. Jika korupsi dan mark-up dilakukan pada proyekproyek infrastruktur dan atau program-program probisnis. mempermudah urusan publik. efeknya 52 . pejabat birokrasi dikuasai Golkar. Pemerintah mengaburkan batasan jabatan politik dan jabatan birokrasi dari departemen untuk melanggengkan dominasi Golkar di tubuh birokrasi. masyarakat yang harus membayar mahal semua itu karena birokrasi tidak lagi profesional. Kondisi ini membuat birokrasi sering dimanfaatkan untuk kepentingan partai daripada kepentingan masyarakat luas. berbagai jenis patologi birokrasi semua berujung pada uang. Mulai dari menteri hingga pejabat di semua lini diisi orang Golkar. atau dalam bahasa populernya “UUD—ujung-ujungnya duit”. Akibatnya.

dampaknya akan menyebabkan menurunnya pendapatan negara secara drastis. pengusaha dipastikan harus mengeluarkan biaya ekstra. perilaku koruptif masih marak di lingkungan birokrasi.61 – 6. Di antara kebutuhan dasar tersebut.71. adalah tidak terpenuhinya kebutuhan dasar yang menjadi kunci pendorong pertumbuhan ekonomi. Ketidakkondusifan birokrasi Indonesia bagi dunia usaha ternyata berimbas terhadap daya saing ekonomi bangsa di tingkat internasional. Akibatnya. php/publication/2010/11/11/indekspersepsi-korupsi-kota-kota-indonesia2010 untuk menghindari kerugian.weforum.id/index.org/docs/WEF_ GlobalCompetitivenessReport_2010-11. sementara pemerintah dan penegak hukum kurang serius dalam pemberantasan korupsi16 Suap.10. baru kemudian kebutuhan yang lain seperti infrastruktur. akan menambah biaya yang seharusnya tidak ditanggung oleh pengguna layanan birokrasi. Sementara jika dilakukan pada lembaga-lembaga keuangan atau lembaga pengumpul dan pendistribusi fiskal. salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja ekonomi. mark-up dan permintaan imbalan. yang berarti memperkecil margin keuntungan. ekonomi makro. adalah kunci penting sukses bidang ekonomi. mereka mengorbankan kuantitas ataupun kualitas barang dan jasa yang dihasilkan. yang semua bertujuan meningkatkan pendapatan dan mewujudkan perekonomian 17 http://www3. khususnya competitiveness suatu bangsa. Dalam praktik. baik swasta maupun pemerintah. Jika ketiganya dilakukan dalam konteks usaha. 16 http://www. Sebagaimana dikemukakan World Economic Forum (WEF) dalam The Global Competitiveness Report 2010-201117. Indeks Persepsi Korupsi Indonesia (IPK Indonesia) di 50 kota di Indonesia pada akhir 2010 rata-rata masih rendah.ti. untuk rentang skor penilaian 0 . WEF menempatkan kelembagaan (institutions) yang kondusif pada urutan kebutuhan dasar pertama. perusahaan dan pemerintah. Fakta menunjukkan. faktor kelembagaan sangat ditentukan oleh jaringan kerjasama legal dan administratif antara pelaku ekonomi. Skor rendah mengindikasikan para pelaku bisnis menilai korupsi masih lazim terjadi dalam sektor-sektor publik.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik secara langsung akan memperlambat laju perekonomian. Sebuah survei yang dirilis TI-Indonesia menunjukkan. serta kesehatan dan pendidikan dasar (gambar 1) Dari gambar 1 dapat diketahui bahwa kelembagaan. yakni di antara 3. Biaya tersebut diambil dari nilai total transaksi. pdf 53 .or. sehingga berpengaruh negatif terhadap kondisi ekonomi makro maupun pada program pembangunan ekonomi secara keseluruhan.

tidak dapat dipercaya. tidak transparan. tahap kedua yang merupakan peralihan dari tahap factor driven ke innovation driven (Tabel 1). karena saat ini pendapatan per kapita Indonesia sedang berada pada tahap efficiency driven. atau sebaliknya kembali terjerumus ke tahap yang lebih rendah karena kendala yang bersifat birokratis. korup. di mana hal itu sangat mempengaruhi kepercayaan investasi. produktivitas. birokrasi yang birokratis. tidak jujur. khususnya dalam hal efektivitas dan efisiensi. Menurut WEF. Lembaga pemerintah yang kuat mampu menjaga daya saing dan pertumbuhan.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Gambar 1. red tape alias lambat dan berbelit-belit. akan mendongkrak biaya ekonomi yang harus dipikul para pengusaha secara signifikan sehingga dalam jangka panjang akan memperlambat laju pertumbuhan ekonomi. Indonesia patut mencermati laporan WEF. Kendati posisi daya saing Indonesia untuk kategori overall pada tahun 2011 berada pada 54 Sumber: World Economic Forum Report 2011 . Jelas bahwa perilaku lembaga pemerintah atau birokrasi sangat berpengaruh terhadap aktivitas dunia usaha. dan dipolitisasi. Fakta menunjukkan. over-regulasi. Pada tahap peralihan ini. pada masamasa krisis ekonomi peningkatan peran lembaga pemerintah di bidang perekonomian terbukti mampu menghindarkan banyak negara dari kemungkinan krisis yang lebih berat. Kebutuhan Dasar Kunci Pendorong Pertumbuhan Ekonomi yang sehat. Indonesia bersama 25 lainnya berada pada tubir kritis: sewaktu-waktu dapat melompat ke jenjang perekonomian yang lebih tinggi lagi.

Birokrasi Versus Adokrasi Sumber: World Economic Forum Report 2011 Tabel 1. yang menyebabkan membubungnya biaya yang harus dikeluarkan pihak pebisnis untuk ongkos pelicin. Income Tresholds for Establishing Stages of Development ranking yang sama. Secara khusus laporan tersebut menulis. keberadaan Indonesia di peringkat 44 menunjukkan peningkatan impresif 10 tingkat dari peringkat semula 55. tanpa adanya jaminan perbaikan mendasar pada sisi kelembagaan birokrasi. CEO General Electric. Begitu juga birokrasi dalam bentuk berbelitbelitnya pengeluaran izin berusaha. Tidak mengherankan jika Jack Welch. 55 . akan tetapi hal tersebut tidak menjamin perekonomian Indonesia di masa datang dapat tetap bertahan pada birokrasi dapat menjadi ancaman serius terhadap daya saing Indonesia di masa datang. satu hal yang sangat dibenci pengusaha. masih maraknya birokrasi yang birokratis yang sarat dengan patologi Sudah lama birokrasi yang rumit menjadi penyebab munculnya ekonomi biaya tinggi. Bahkan sebaliknya. Kasus korupsi. Munculnya biaya tak terduga (overhead cost) akibat keberadaan birokrasi yang birokratis. Dari laporan tersebut jelas terlihat bahwa kenaikan posisi daya saing Indonesia tidak terjadi karena daya dukung birokrasi.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik ranking 44 dari 133 negara. melainkan karena peningkatan pada faktor-faktor yang lain. sumbangan birokrasi Indonesia terhadap pertumbuhan ekonomi masih rendah. Peningkatan tersebut antara lain disebabkan oleh sehatnya kondisi ekonomi makro dan meningkatnya indikator-indikator pendidikan. kolusi dan nepotisme (KKN) di instansi-instansi birokrasi muncul gara-gara birokrasi sangat permisif terhadap munculnya perilaku moral hazard tersebut. Dengan kalimat yang lebih sederhana. menyebabkan timbulnya high-cost economy.

birokrasi tidak diterapkan secara benar. yang sebagian besar mengikuti sekumpulan peraturan kaku dan tidak personal. birokrasi adalah sistem administrasi hierarkis yang dirancang untuk berhubungan dengan sejumlah besar pekerjaan rutin. wirausaha pemula. yaitu: birokrasi mesin. The Temporary Society:What is Happening to Bussiness and family Life in America under the Impact of Accelerating Change. Alih-alih mempercepat proses. Ini menjadi bukti bahwa adokrasi membawa pengaruh positif bagi kinerja sektor perekonomian. dan mendapatkan hasil. perusahaan akan bersandar pada tim proyek yang cepat dan fleksibel dalam struktur antibirokrasi yang ia sebut sebagai adokrasi. Jakarta: Buana Ilmu. The Welch Way: 14 Tips Praktis dari CEO Terbesar Dunia. Welch bahkan menyarankan para karyawannya untuk ”memukul” dan “menendang” birokrasi yang birokratis semacam itu18 Tidak bisa dimungkiri. (1998). dan adokrasi. P. 18 Krames. Oleh karena itu. ia mengusulkan penghapusan birokrasi atau yang sering dikenal dengan istilah adokrasi. Warren G Bennis19 Dia menulis. birokrasi profesional. Akan tetapi dalam banyak kasus. & Slater. Jack Welch adalah satu di antara sekian banyak manajer yang secara ekstrem mengemukakan bahwa kehadiran birokrasi (yang birokratis) sama sekali tidak diperlukan. dalam era perubahan berkelanjutan. G. Jika diterapkan secara benar. organisasi-organisasi seperti ini akan menjadi yang paling sukses. keberadaan birokrasi justru menyebabkan pengambilan keputusan menjadi lambat dan berbiaya tinggi. Pada tahun yang sama. Bagaimana dengan birokrasi publik yang orientasinya adalah pelayanan masyarakat? Sesuai definisi yang dikemukakan Waterman. Gagasan awal tentang adokrasi muncul dalam karya para teori kepemimpinan Amerika Serikat. New York: Jossey-Bass Publisher. 56 .Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 menyatakan bahwa birokrasi adalah musuh produktivitas. J. Ia berpendapat.W. menyelesaikan masalah.E. Aliran dan gagasan kontrabirokrasi ini semakin berkembang setelah Alvin Toffler menyampaikan pandangan adokrasinya dalam buku yang ditulisnya “Future Shock” tahun 1970. Mintzberg menerbitkan buku “The Structuring of Organization” yang mengemukakan ada empat tipe dasar perusahaan. adokrasi sebagai bentuk organisasi yang memotong jalur birokrasi normal diperlukan untuk menangkap peluang. Adokrasi terbukti semakin banyak diterapkan perusahan-perusahaan bisnis. 19 Bennis. birokrasi merupakan mesin andal untuk mencapai efektivitas dan efisiensi pekerjaan. Inilah yang kemudian menjadi titik awal munculnya sentimen ‘kebencian’ para pengusaha terhadap birokrasi. di masa datang. (2002). Robert Waterman dalam bukunya “Adhocracy” tahun 1990 mengatakan.

Sebuah Tawaran Khusus dalam kaitannya dengan bidang ekonomi.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik adokrasi sangat diperlukan dalam memecahkan masalah khususnya dalam menangkap peluang. Jakarta: Penerbit Pustaka Binawan Presindo. perbaikan kesejahteraan pegawai. Dengan demikian. Reformasi birokrasi diperlukan untuk menata ulang. bersih. efisien. reformasi birokrasi model reinventing bureaucracy dapat ditawarkan sebagai salah satu solusi. Jakarta: LAN RI dan Duta Pertiwi Foundation. reformasi diharapkan dapat mewujudkan birokrasi yang transparan. 57 . Justru yang ada. peningkatan pengawasan. efektif dan produktif. di Indonesia tidak ada satu birokrasi publik pun yang menerapkan adokrasi. & Gaebler. Reinventing Bureaucracy. Namun yang terpenting adalah mewujudkan perubahan dari birokrasi yang promodialisme atau minta dilayani menjadi birokrasi yang melayani masyarakat. Efisiensi dilakukan melalui program penghematan bagi pembiayaan operasional birokrasi. pelaku ekonomi mendapatkan situasi yang lebih kondusif untuk menjalankan usaha tanpa terbebani urusan bertele-tele di luar urusan bisnis yang mereka lakukan. A. Bersih di sini berarti bebas dari praktek KKN. adokrasi bisa pula diterapkan dalam birokrasi publik. Berdasar tujuan dari adokrasi tersebut. kreatif. Mewirausahakan Birokrasi. cepat tanggap. Selain itu. Reformasi birokrasi juga ditujukan untuk mewujudkan birokarasi yang efisien. Manajemen Proses Kebijakan Publik.R.. mendapatkan hasil. mengubah. Tujuan reformasi birokrasi terkait sektor ekonomi adalah terwujudnya birokrasi yang 20 Mustopadidjaja. melalui pembenahan sistem pengelolaan anggaran. reformasi birokrasi adalah sebuah keniscayaan. yang bermakna mempersulit urusan yang sejatinya dapat terselenggara secara mudah dan murah20 Reformasi Birokrasi dan Pembangunan Ekonomi Untuk menggairahkan kinerja sektor perekonomian. Formulasi. (1995). Transparansi di sini bermakna pembukaan ruang publik dan publik dapat mengakses secara luas penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum. (2003). menyempurnakan dan memperbaiki birokrasi agar menjadi lebih bersih. Namun kenyataan menunjukkan. di mana-mana tumbuh birokratisasi. T. Implementasi dan Evaluasi Kinerja. D. penegakan aturan-aturan hukum. menyelesaikan masalah. Konsep ini diadopsi dari reinventing government (pemerintahan wirausaha) yang dipopulerkan oleh Osborne & Plastrik21. Reinventing bureaucracy pada intinya adalah pembaruan berupa 21 Osborne.

Sedangkan pembaruan (reinvention) adalah transformasi sistem dan organisasi birokrasi secara fundamental guna menciptakan peningkatan dramatis dalam efektivitas. peluang aparat birokrasi untuk melakukan penyimpangan. Dampak nyata dari penerapan konsep ini. dapat ditekan. sehingga masyarakat berdaya untuk mengontrol pelayanan yang diberikan birokrasi dan mampu menjadi masyarakat yang menolong dirinya sendiri (community self-help). aparat birokrasi akan memiliki komitmen yang lebih baik. Transformasi ini dicapai dengan cara mengubah tujuan. fungsinya. Dengan adanya kontrol dari masyarakat. misalnya meminta imbalan di luar tarif. pelayanan birokrasi akan semakin baik dan bermutu. akan tetapi yang lebih penting adalah efektivitas. Birokrasi milik masyarakat atau community-owned bureaucracy: empowering rather than serving Konsep ini menyarankan agar birokrasi mengalihkan wewenang kontrol yang dimilikinya kepada masyarakat. 58 . D. Birokrasi katalis atau catalytic bureaucracy: steering rather than rowing Inti dari formula ini adalah pada pemberian pengarahan bukan pelaksanaan pelayanan publik. efisiensi dan kemampuan melakukan inovasi. (1995). akuntabilitas. Birokrasi harus menyediakan (providing) beragam pelayanan publik sesuai dengan tugas dan 22 Osborne. akan tetapi tidak harus terlibat secara langsung dengan proses produksinya (producing). yakni: 1. T. memberikan dana kepada badan pelaksana (baik itu dari swasta maupun lembaga swadaya masyarakat) dan menilai kinerjanya. Mewirausahakan Birokrasi. peduli dan kreatif dalam memecahkan permasalahan publik. Jakarta: Penerbit Pustaka Binawan Presindo. serta budaya sistem dan organisasi birokrasi. Dalam pelaksanaanya. Untuk mewujudkan birokrasi wirausaha yang bebas patologi. dan di sisi lain probisnis. Wirausaha adalah memindahkan berbagai sumber daya dari unit kerja dengan produktivitas rendah ke unit kerja dengan produktivitas tinggi dan hasil yang lebih besar. struktur kekuasaan.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 penggantian sistem birokrasi yang birokratis menjadi sistem yang bersifat wirausaha. Tujuan pembaharuan adalah efesiensi. & Gaebler. Kolusi antara penyedia dan pengguna layanan juga dapat dihindarkan 2. Dengan tidak berhadapan langsung dengan pengguna layanan. birokrasi menetapkan kebijakan. menerapkan sistem intensif. birokrasi perlu mewujudkan 10 formula yang menjadi inti dari reinventing bureaucracy22.

prosedur dan sistem administratif. masing-masing pihak yang diberi wewenang melakukan pelayanan publik akan saling bersaing secara sehat. misalnya menyederhanakan peraturan. Pelayanan yang lambat dan berbelit-belit serta makan biaya besar. not inputs Dalam konsep ini. yang mengukur seberapa baik satuan kerja memecahkan 59 . birokrasi akan terhindar dari birokratisasi.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Pengguna layanan tidak harus mengeluarkan biaya lebih untuk membayar pelayanan standar yang memang menjadi haknya. Dan yang lebih penting. 4. Selain itu. akan semakin sulit dilakukan karena setiap saat aktivitas birokrasi diawasi oleh masyarakat. korupsi yang biasa terjadi karena kelemahan pengawasan internal. 3. Dengan adanya persaingan. Masyarakat akhirnya bisa menikmati buah persaingan ini dalam bentuk mutu pelayanan yang semakin meningkat. 5. birokrasi harus mengembangkan standar kinerja. dengan sendirinya akan hilang. banyak pelayanan publik yang dapat ditingkatkan kualitas pelayanannya tanpa harus memperbesar biaya. Untuk itu. Dampak dari penerapan konsep ini. serta memberikan diskresi kepada manajer untuk menemukan best practise mewujudkan misi namun tetap dalam koridor legal Dampak positif yang ditimbulkan. Dengan kompetisi. Kompetisi adalah satusatunya cara untuk menghemat biaya sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan. Dalam praktik. Birokrasi berorientasi hasil atau result-oriented bureaucracy: finding outcomes. Mengubah fokus input (kepatuhan pada peraturan dan membelanjakan barang sesuai ketentuan) menjadi akuntabilitas pada output dan outcome. Birokrasi yang kompetitif atau competitive bureaucracy: injecting competition into service delivery Birokrasi secara internal maupun eksternal menyuntikan semangat kompetisi dalam pemberian jasa dan pelayanan publik. birokrasi membiayai hasil bukan masukan peraturan dan membelanjakan. mereka akan berlomba-lomba memberikan pelayanan terbaik. juga mensyaratkan setiap organisai dan satuan kerja birokrasi memiliki misi yang jelas. birokrasi melakukan deregulasi internal. Birokrasi berorientasi misi atau mission-driven bureaucracy: transferring rule-driven organization Mengubah organisasi yang semula digerakan oleh peraturan menjadi organisasi yang digerakan oleh misi.

memberi imbalan kepada unit kerja yang mencapai dan melebihi target. atau sekadar melaksanakan tugas rutin organisasi. birokrasi akan lebih hati-hati menggunakan dana publik. Dampak positif dari penerapan konsep ini. 7. birokrasi juga menetapkan target. Banyak yang bisa dilakukan untuk menghasilkan pendapatan dari proses penyediaan pelayanan publik. dan lain-lain. Birokrasi yang berorientasi pelanggan atau customer-driven bureaucracy: meeting the needs of the customers. melainkan diubah secara bertahap sesuai dinamika kebutuhan masyarakat. dan menggunakan anggaran untuk mendongkrak tingkat kinerja yang diharapkan. Selain itu. Birokrasi memperlakukan masyarakat yang dilayani sebagai pelanggan. Dengan konsep ini. karena akuntabilitas yang tinggi akan sangat menentukan prestasi kerja dan juga berimbas pada pendapatan aparat birokrasi. not the bureaucracy. birokrasi mendesain organisasi untuk menyampaikan nilai optimal kepada pelanggan. misalnya menjual informasi kepada pusat-pusat penelitian atau badan usaha baik yang menjual jasa maupun barang.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 permasalahan yang menjadi tanggungjawabnya. semangkin banyak pula dana yang akan dialokasikan untuk mengganti semua dana yang telah dikeluarkan oleh unit kerja tersebut. Birokrasi berjiwa wirausaha atau entreprising bureaucracy: earning rather than spending Birokrasi tradisional cenderung berpandangan bahwa mereka sedang mengerjakan pekerjaan dan karenanya tidak pantas berbicara tentang upaya untuk menghasilkan pendapatan dari aktivitasnya. maka dengan konsep ini birokrasi benar-benar dituntut untuk berkembang sesuai dengan perkembangan kebutuhan masyarakat. Jika pada masa lalu birokrasi cenderung sekadar melakukan bussiness as usual. pemberian hak guna usaha yang menarik pada para pengusaha dan masyarakat penyertaan modal daerah. birokrasi tidak akan pernah usang atau ketinggalan zaman. Selain itu. Semakin baik kinerjanya. Birokrasi dapat mengembangkan beberapa pusat pendapatan. dan sebagainya. Standar pelayanan tidak tetap dan itu-itu saja. dengan konsep berorientasi pada pelanggan. memberi jaminan. menetapkan standar pelayanan. 6. Birokrasi memenuhi kebutuhan pelanggan. Dengan kata lain. birokrasi 60 . Oleh karena itu. bukan memenuhi kebutuhan birokrasi sendiri. Birokrasi melakukan survei pelanggan. kinerja birokrasi dapat terukur.

Wewenang diberikan pada unit terdepan. Put it all together. Dari keduanya. Menggunakan perencanaan strategi untuk menciptakan visi birokrasi. tanpa menunggu perintah. dan birokrasi daerah untuk meraih peluang yang tak terduga serta menghadapi krisis yang takterduga pula. Pendapatan tersebut bisa diputar untuk membiayai kegiatan birokrasi. Tim kerja bebas menentukan cara kerjanya untuk mencapai hasil terbaik. bisnis. Birokrasi birokratis cenderung bersifat reaktif seperti satuan pemadam kebakaran. Visi birokrasi membantu masyarakat. terutama oleh para pimpinan birokrasi. Birokrasi wirausaha tidak reaktif. akan tetapi proaktif. makanisme pasar terbukti sebagai yang tebaik dalam mengalokasi sumberdaya. Imbas positif dari desentralisasi wewenang adalah makin berkurangnya d’tournament d’vavoir atau penyalahgunaan wewenang. pimpinan bukan lagi “sang maha kuasa” yang berhak menentukan perintah secara top-down kepada bawahan secara sewenang-wenang. 9. Birokrasi yang tanggap atau anticipatory bureaucracy: prevention rather than cure Birokrasi tradisional yang birokratis memusatkan diri pada produksi pelayanan publik untuk memecahkan masalah publik. 10. melainkan untuk menghasilkan pendapatan. di mana keputusan dilakukan bersamasama oleh tim. Birokrasi berorientasi pasar atau market-oriented bureaucracy: leveraging change through the market. Dengan konsep ini. atau bahkan dialokasikan untuk membantu pembiayaan pelayanan publik yang lain serta membayar insentif bagi pihak-pihak yang berprestasi. apabila tidak ada kebakaran (masalah) maka tidak ada upaya pemecahan masalah. dan sebaliknya hiraki dikurangi. sedangkan birokrasi 61 .Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik dibentuk bukan untuk menghabiskan anggaran. Ada dua cara alokasi sumberdaya. Desentralisasi akan menghasilkan kepemimpinan kolektif. yaitu mekanisme pasar dan mekanisme administratif. Tidak hanya mencoba untuk mencegah masalah. Birokrasi terdesentralisasi atau decentralized bureaucracy: from hierarchy to participation and teamwork Birokrasi mengubah sistem hierarki menuju partisipasi dan tim kerja. Visi dan misi diwujudkan bersama. 8. Birokrasi tradisional menggunakan mekanisme administratif. namun juga berupaya keras untuk mengantisipasi masa depan.

Sifatnya yang birokratis dan patologis membuat keberadaan birokrasi lebih dianggap sebagai faktor penghambat dibanding pendorong perekonomian. birokrasi tradisional menggunakan perintah dan pengendalian. Reinventing bureaucracy diharapkan mampu mengembalikan birokrasi sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi. Untuk menghilangkan berbagai patologi yang ada. efektif. Dalam mekanisme pasar. Dalam mekanisme administratif. Sepuluh rumusan reinventing bureaucracy tersebut. birokrasi dikembangkan sebagai unit pelayanan yang tepat. akuntabel dan berorientasi pada kebutuhan pengguna layanan. birokrasi perlu direformasi.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 wirausaha menggunakan mekanisme pasar. cepat. jika dapat diterapkan secara konsekuen dipastikan dapat menghilangkan birokrasi birokratis dan patologi birokrasi yang selama ini melingkupi birokrasi Indonesia. Politisasi birokrasi ikut mendorong terjadinya penyelewengan yang membuat birokrasi semakin jauh dari fungsi utamanya sebagai penggerak sektor perekonomian. birokrasi wirausaha tidak memerintahkan dan mengawasi tetapi mengembangkan dan menggunakan sistem insentif agar orang tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang merugikan masyarakat. bukan sebagai unit pelayanan masyarakat. efisien. Berbagai penyakit birokrasi muncul karena aparat birokrasi cenderung menggunakan birokrasi sebagai alat untuk mencapai tujuan birokrasi itu sendiri. Dengan konsep tersebut. Salah satunya adalah dengan menerapkan konsep reinventing bureaucracy. mengeluarkan prosedur dan definisi baku dan kemudian memerintahkan orang untuk melaksanakannya sesuai dengan prosedur tersebut. Kesimpulan Birokrasi Indonesia belum probisnis. 62 .

Edisi 3 / September / 2011 Laporan Studi Lapangan Foto : Antara Reformasi Birokrasi dalam Dinamika Pemerintahan Daerah Oleh : Tim Redaksi 63 .

pemerintah mengakui bahwa sejalan perkembangan kebutuhan masyarakat yang semakin maju dan persaingan global yang semakin ketat. maka birokrasi kita makin antisipatif. Pemerintah dinilai belum dapat menyediakan pelayanan publik yang berkualitas. Meskipun sudah banyak perbaikan dilakukan namun indeks persepsi korupsi Indonesia masih rendah dibandingan dengan negara Asia lainnuya. begitu pula mutu perumusan dan pelaksanaan kebijakan makin efisien waktu dan biaya. sesuai dengan tantangan yang dihadapi. Akuntabilitas kinerja instansi perlu pembenahan dan harus berorientasi pada hasil. Reformasi birokrasi perlu dilakukan. dan hukum. pemerintah belum dapat memberikan pelayanan prima bagi investor yang berbisnis atau yang akan berbisnis di Indonesia (Kompas. Jika berhasil. kolusi. Melalui Menteri Pendayagunaan Aparatur dan Reformasi Birokrasi. Reformasi di bidang birokrasi dinilai mengalami ketertinggalan dibanding reformasi di bidang politik. proaktif. Birokrasi pemerintah yang tidak efisien menjadi salah satu faktor penghambat utama dalam melakukan aktivitas percepatan pembangunan ekonomi. Selanjutnya Mengindaan menjelaskan bahwa makna reformasi birokrasi adalah sebuah perubahan besar dalam paradigma dan tata kelola pemerintahan Indonesia.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 M Pendahuluan eskipun sudah ada kesepakatan bersama di semua jajaran pemerintahan baik pusat maupun daerah untuk melaksanakan reformasi birokrasi. Ini sebuah pertaruhan besar bagi bangsa Indonesia yang memasuki abad ke-21 ini. bahkan dapat menghilangkan. Jika kita memiliki birokrasi yang baik. dan efektif. kareana kini korupsi. akan tetapi masih banyak yang menilai bahwa reformasi birokrasi masib belum berjalan secara optimal. dan nepotisme (KKN) semakin menjadi. seperti menyangkut kedisiplinan atau taat peraturan. Oleh karena itu pemerintah dengan sirius ingin menerapkan 64 . akan mengurangi. setiap penyalahgunaan kewenangan publik. ekonomi. 20 September 2011). Manajemen sumber daya manusia aparatur negara pun belum profesioan. mutu pelayanan kepada masyarakat meningkat. EE Mangindaan.

dan tingkat kesadaran masyarakat sendiri dalam mencari dan mengakses informasi belum terbentuk secara meluas. karena selama ini pengaduan masyarakat terhadap layanan publik di sejumlah instansi. disusul kepolisian 241 aduan (21. Dengan undang-undang ini birokrasi pemerintah daerah segera diharapkan untuk melaksanakan undang-undang tersebut. tengah dan timur. sementara untuk Surakarta dan Denpasar mewakili daerah yang tingkat transparansi pemerintahannya baik. Oleh karena itu. Sorong. akuntabilitas. Adapun pertimbangan dipilihnya kota tersebut adalah. Salah satu wujud dari komitmen pemerintah adalah mengundangkan Undang-undang Nomor 14 Tahun 208 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Keenam lokasi studi lapangan tersebar di wilayah Indonesia bagian barat.13%). ternyata pemerintah daerah paling banyak mendapat laporan. Banjarmasin: Komitmen Tinggi Pemprop Kalsel dalam upaya reformasi birokrasi telah memanfaatkan dan mengembangkan IT dalam proses penyelenggaraan pemerintahan dengan mengembangkan unit pelayanan pengadaan secara elektoronik. juga atas pertimbangan prestasi dan kurang berprestasinya pemerintah daerah dalam melaksanakan pemerintahan dengan prinsip good governance. yaitu adanya tranparansi. Banjarmasin. tengah dan timur yang dianggap relevan dengan isu transparansi birokrasi. yaitu sejumlah 354 aduan (31. Lokasi pengumpulan data lapangan diselenggarakan di enam (6) kota di Indonesia untuk mendapatkan pendapat publik tentang berbagai aspirasi yang berkembang di masyarakat terkait dengan akan kebijakan keterbukaan informasi publik di jajaran birokrasi pemerintah. Surakarta. belum terbentuknya PPID. yang akan sangat berguna bagi upaya meningkatkan kinerja birokrasi pemerintah dalam melayani dengan prinsip good governance. dan Sorong mewakili daerah yang tingkat transparansinya masih dalam kategori cukup. seperti kendala kultural. bahwa di samping untuk mewakili perimbangan territorial yang mewakili Indonesia bagian barat. Sidoarjo. yaitu meliputi Pakanbaru. sistem informasi pelaporan keuangan daerah. melalui pengumpulan data lapangan dengan metode observasi dan wawancara mendalam kepada segenap informan yang potensial di berbagai daerah. Akan tetapi berbagai kendala masih muncul dalam implementasi undang-undang yang sangat demokratis tersebut. Banjarmasin. Denpasar. Sidoharjo. Pertimbangan utama mengapa perlu melihat dinamika pelayanan publik di daerah-daerah. akan dapat diserap aspirasi dan harapan sebagai umpan balik dari masyarakat.20%). dan 65 . Untuk daerah seperti Pakanbaru. dan partisipasi publik.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik pemerintahan dengan prinsip good governance. sistem database barang daerah.

dan pada tahun 2011. RW. dan budaya kerja.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 secara bertahap penerapan paperless office.5. Sedangkan warga yang sedang mengurus paspor di kantor emigrasi mengaku tidak mendapat kesulitan dalam mengurus paspor. Memang berdasarkan pengamatan di lapangan. Dalam hal memberikan layanan perijinan secara lancar. Untuk setiap ijin kepada SKPD. dan tentu akan ikut berpengaruh terhadap naiknya Pendapatan Asli Daerah. yaitu organisasi yang tepat fungsi dan ukuran. Pemkot Banjarmasin menerapkan layanan terpadu dengan satu atap. tata laksana seperti sistem dan proses-prosedur. pelayanan cukup lancar. Khususnya dalam bidang perizinan. Reformasi telah menjadi komitmen Pemkot Banjarmasin dengan titik berat pada peningkatan pelayanan publik. dan Dewan Kelurahan. dengan meningkatkan rata-rata tingkat pendidikan. “Saya cukup lancar dalam 66 . kata Muhidin. Pemkot terus berusaha memberikan pelayanan prima. pengawasan. Pemkot juga berusaha meningkatkan tingkat kesejahteraan pegawai dengan memberikan tunjangan dan insentif bagi PNS di lingkungan Pemkot Banjarmasin. Antara lain dengan memberikan insentif kepada RT. Banjarmasin selama program Pemkot telah meningkatkan kualitas SDM di jajaran PNS. PAD mencapai Rp 80. Berdasarkan pengakuan warga yang sedang antri mengurus perijinan mengaku cukup mendapat pelayanan secara baik. akuntanbiilitas. Langkah taktis yang dilakukan Kalsel adalah dengan melakukan perubahan menyeluruh pada aspek pendayagunaan aparatur negara. semuanya harus lewat BP3M. yaitu Badan Pelayanan Perijinan dan Penanaman Modal (BP3M). regulasi yang tertib. Dengan reformasi birokrasi. optimis akan dapat dicapai”. sehingga dengan demikian semuanya dapat dikontrol untuk kepentingan koordinasi. pola pikir. sumberdaya aparatur yang punya integritas. “Hal ini terbukti. pelayanan publik yang prima. Di samping itu. Pada tahun 2010. tepatnya 24 September 2011. Demikian pula para guru juga mendapatkan insentif agar terus memberikan pelayanan pendidikan yang optimal. seperti kantor urusan administrasi kependudukan. bahwa dari tahun ke tahun PAD Kota Banjarmasin terus menunjukkan peningkatan secara cukup signifikan. “Semua itu dalam rangka mengoptimalkan pelayanan kepada masyarakat dalam segala aspek yang menyangkut kepentingan publik. dan juga di kantor emigrasi.” Katanya. maka akan menggairahkan dunia usaha. Hal ini meliputi delapan area perubahan. Akan tetapi Muhidin menegaskan tidak akan segan memberikan sangsi terhadap PNS yang tidak disiplin. sehingga masyarakat tidak terhambat oleh masalah birokrasi yang berlarutlarut dalam meningkatkan usahanya. target Rp 111. Untuk menunjang reformasi birokrasi. Muhidin mengungkapkan tekad tersebut bersamaan dengan Hari Jadi Kota Banjarmasin yang ke-485.5 milyar. Wali Kota Banjarmasin.

go. Pemkot Banjarmasin terus berusaha mensosialisasikan undang-undang tersebut kepada masyarakat. Amin. Sebagaimana dijelaskan oleh Kepala Bidang Informatika Pemkot Banjarmasin. Akan tetapi memang harus diakui bahwa. “Semua itu dilakukan guna mendukung prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam sistem pelayanan prima kepada masyarakat. Sujianto. bahwa di Banjarmasin kalau mengurus ijin. Kepala Seksi E-Government. dan untuk komunikasi melalui jejaring sosial. kata seorang warga yang mengaku akan menjadi TKI ke luar negeri. semuanya langsung ke petugas”. masih untuk keperluan hiburan. dalam rangka menerpakan UU Keterbukaan Informasi Publik.” Kata Amin. Namu demikian juga ada warga yang mengaku. jadi jajaran birokrasi pemerintah tidak mau ambil risiko dengan melakukan lelang secara tertutup. Sedangkan M. “Pemkot juga membuka web. “Memang sekarang ini sudah banyak internet. tetapi sudah diberlakukan sanksi denda bagi yang terlambat. Pakanbaru: Antara Optimis dan Pesimis Pada prinsipnya pemerintah daerah telah berusaha keras dalam upaya meningkatkan pelayanan birokrasi kepada masyarakat. karena akan lebih efisien dari sisi waktu dan biaya. ya harus ada dana tambahan yang diserahkan pada petugas”. akan tetapi kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam kebijakan publik melalui akses informasi di jejaring sosial masih belum menjadi perilaku budaya. masyarakat terkesan kurang peduli terhadap perlunya informasi. Guru Besar Administrasi Negara FIsipol Unri. Banjarmasin. lancar tidaknya juga tergantung.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik mengurus paspor. Dr. dalam hal pelelangan tender senantiasa disampaikan kepada masyarakat. katanya yang berpengalaman mengurus KTP. Paling tidak ini sudah menunjukkan ada upaya peningkatan pelayanan. “Kalau mau urusan cepat. Eka Herlambang. Karena di samping itu menyalahi hukum. Pemkot Banjarmasin terus berusaha memberikan pelayanan secara transparan kepada masyarakat. Sementara itu dalam upaya menerapkan prinsip good governance. Dan saya tidak menemui calo di sini. kata Eka. Mungkin koordinasi dengan instansi teknisnya masih kurang baik. Ke depan Pemkot akan terus mendorong masyarakat agar terus semakin sadar akan pentingnya terlibat dalam pengambilan keputusan melalui media. adanya unit pelaksana teknis (UPT) termasuk Badan Pelayanan perizinan Terpadu menjadi bukti secara formal bahwa ada peningkatan pelayanan birokrasi. Sekarang kan era keterbukaan. hanya menunggu satu minggu jadi. juga masyarakat sudah kritis”. Menurut Prof. Warga dalam mengakses internet. Sebenarnya pelaynan yang belum baik itu sering didengar di unit pelaynan non 67 .id yang digunakan untuk lelang secara on-line.

Nilai birokrasi sesungguhnya berlandaskan pada evisiensi dan netralitas. dalam arti partai apa yang memenangkan dalam Pilkada. ada satu hal yang menarik bahwa pada era otonomi daerah sekarang ini. dalam prakteknya mulai dari Kelurahan sudah mulai menyimpang dari Perda yang seharusnya biayanya murah menjadi mahal. Para birokrat bekerja dalam kondisi yang tidak kondusif. seperti di bidang kesehatan dan pendidikan. Untuk itu birokrasi seharusnya tidak lagi dibina oleh pejabat politik dan penegakan hukum dilakukan secara konsekwen terhadap siapapun. tetapi kritik juga datang dari kalangan politisi. tetapi disalahgunakan oleh negara-negara berkembang sehingga menjadi birokrasi feodal dan tradisional. Kondisi pelayanan birokrasi pemerintah mengalami penurunan karena terseret dengan arus politik yang ada. Akibatnya mengabaikan faktor kualitas dan mengorbankan profesionalisme dalam menunjuk pejabat”. birokrasi cenderung tidak netral karena ada kepentingan politik. tetapi kenyataannya justru sebaliknya. Meskipun ada kecenderungan Parpol membuat birokrasi pemerintah menjadi kurang netral. “Itulah sebabnya pejabat mulai dari yang tertinggi sampai yang paling bawah sampai saat ini belum bisa menjadi teladan yang baik. Partaipartai politik yang kebetulan menjadi pemenang dalam Pilkada misalnya. Suara senada juga dikemukan oleh Azali Johan. tetapi sekarang pada visi kepala daerah yang setiap ganti kepala daerah pasti ganti visi. pembuatan KTP yang merupakan hak setiap warga Negara. dan yang 68 . ada kecenderungan mempengaruhi kinerja birokrasi dalam memberikan pelayanan kepada publik. Seharusnya birokrasi dibebaskan dari kepentingan politik sesaat. Program pelayanan sering tidak konsisten karena setiap ganti pimpinan kepala daerah ganti visi dan ganti program. Akan tetapi Sujianto melanjutkan. karena mereka sangat tergantung pada partai politik berkuasa. katanya menyayangkan. Tidak ada garis utama yang menjadi patokan program layanan birokrasi. Wakil Ketua DPRD Kota Pakanbaru. Contoh yang sederhana. Contohnya hari ini Sabtu. Umumnya lebih disebabkan oleh faktor manusianya yang kurang tanggap dan cekatan. Menurut Sondiwarman. Jika dulu senantiasa mengacu pada GBHN. bahwa nuansa politisasi birokrasi di daerah sangat terasa karena kompetisi politik sangat keras dalam Pilkada. Padahal mestinya birokrasi itu tugas dan fungsi utamanya adalah melayani masyarakat. 17 September 2011 Koran memberitakan bahwa 134 pejabat pemerintah di Pakanbaru diganti karena tidak cocok dengan pejabat politik yang berkuasa saat ini. “Sekarang ini pergantian pejabat lebih didasarkan pada pertimbangan politik. seorang aktivis LSM. Birokrasi bekerja untuk melayani penguasa (kepentingan parpol). mereka melayani siapa saja yang berkuasa tanpa harus diganti. Dalam rekruitmen sumber daya manusia pun juga bias kepentingan politik.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 perizinan. menilai bahwa birokrasi pemerintah hingga sekarang masih cenderung minta dilayani.

Dalam kaitan dengan implementasi UU No. tetapi tetap lambat. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Nofri Andri. Bagi mereka yang tidak masuk kantor atau melanggar disiplin. Pemprov telah memberikan insentif kepada aparat birokrasi yaitu tunjangan beban kerja. Hingga sekarang Komisi Informasi Daerah dan PPID belum terbentuk. akan dipotong sesuai dengan ketentuan yang telah dietapkan. atau melalui SMS. Bersamaan dengan itu. respons pemerintah Provinsi Riau dapat dikatakan kurang cepat. karena aparat masih bermental korup. Khusus bagi mereka yang melanggar disiplin pegawai akan diproses dan dikenakan sanksi sesuai PP No. Yarham SH.4000. baik Sujianto maupun Nofri mengatakan bahwa pengawasan terhadap suatu kebijakan di lingkungan birokrasi pemerintah tidak berjalan efektif. tetapi dalam praktek tidak demikian.sampai Rp. atau melalui surat edaran. “Bagaimana mungkin akan melaksanakan 69 . perbulan. . untuk mendukung capaian kinerja yang optimal. tetapi tetap saja melakukan penyimpangan layanan. Padahal salah satu prasyarat penting dalam melakukan reformasi birokrasi adalah efektifnya implementasi undangundang tersebut. selaian untuk lebih mengefektifkan pelaynan birokrasi juga dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan.000.2. Demikian juga.000. Seharusnya proses lebih dipercepat. maka akan langsung direspons oleh pimpinan. Setiap pengaduan masyarakat. semua sarana dan fasilitas disediakan. Buruknya pelayanan publik ini juga diungkapkan oleh Presiden Badan Mahasiswa Universitas Riau. sehingga meskipun sebenarnya sudah ada isentif. Memang mekanisme pengawasan dari masyarakat pun juga dibuka sebagaimana dikatakan oleh Yasram. yakni antara Rp.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik seharusnya cepat tetapi kenyataannya masih lambat. yang memberikan contoh tentang layanan KTP gratis. Tujuannya adalah. Padahal sebagaimana dikatakan Kepala Bidang Kedudukan Hukum dan Kesra Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Riau. Rapat Pimpinan. meskipun sudah ada SOP-nya.000. Sekretaris Daerah selaku pembina pegawai ditingkat Provinsi juga merespon pengaduan masyarakat yang diungkap dalam acara Apel Bendera. serta mengefektifkan pengawasan dan evaluasi. terutama di unit pelayanan masyarakat. karena juga rentan melakukan hubungan kolutif antara pelaksana dan jajaran pengawasnya. Besaran tunjangan di sesuaikan dengan golongan. Prinsip Good Governance akan sulit diterapkan secara optimal jika transparansi dalam mekanisme pemerintahan tidak dilaksanakan. yaitu jika pelayanan tidak memenuhi permintaan masyarakat atau pelayanan tidak sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang telah ditetapkan. Praktik pungutan illegal seperti itu ada hubungannya dengan mentalitas para aparat birokrasi yang masih koruptif. maka biasanya masyarakat mengadu langsung. pegawai. 53 tahun 2010.

dan Akuntabel. Sorong: Bergelut Mimpi dan Tradisi Salah satu elemen penting dalam mewujudkan penyelenggaraan negara yang terbuka adalah hak publik untuk memperoleh informasi sesuai dengan peraturan perundangundangan. 70 . Responsif. Dengan keterlibatan yang berkualitas. “Adanya unit pelaksna teknis (UPT) termasuk Badan Pelayanan perizinan Terpadu menjadi bukti secara formal bahwa ada peningkatan pelayanan birokrasi. hingga sekarang banyak warga masyarakat mengeluh tentang rekruitmen PNS yang tidak terbuka. Sedangkan Ramli Khatib. Akan tetapi sekarang sudah relatif transparan. Ikon BP2T adalah CERIA . misalnya dengan mengumumkan hasil tes beserta rankingnya di depan publik”. “Kalau soal kecenderungan adanya KKN dalam rekruitmen PNS. dan saat ini baru ada di tingkat Provinsi. meskipun memang masih banyak hambatan baik struktural maupun kultural. bahwa dalam upaya meningkatkan pelayanan publik Pemprov Riau telah membentuk Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BP2T) berdasarkan Kepmendagri No. Paling tidak ini sudah menunjukkan ada upaya peningkatan pelayanan”. Saat ini BP2T memiliki 150 jenis layanan perizinan dan non perizinan. Badan Pelayanan Perizinan Terpadu. Integritas. katanya. tetapi hampir di seluruh Indonesia ada gejala itu. kata Sujianto yang diamini oleh Zulkurnain. mungkin karena takut dosa berjamaah. saya kira tidak hanya di Riau. Karena itu kami jajaran mahasiswa akan terus mendorong percepatan reformasi birokrasi”.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 reformasi birokrasi jika prinsip good governance tidak dijalankan dengan baik. sehingga masyarakat tidak familiar dengan masalah keterbukaan informasi. Sebagaimana dikatakan oleh Sujianto dan Zulkurnain. kata Nofri. berpendapat bahwa belum terbentukan PPID sesuai dengan amanat UU KIP. Jaminan hak publik atas informasi mendorong partisipasi atau keterlibatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan publik. Sementara itu tentang belum terbentuknya PPID menurut Azali Johan tidak jelas alasanya. Akan tetapi pada prinsipnya Pemprov Riau tetap berusaha semaksimal mungkin meningkatkan kualitas pelayanan birokrasi pada masyarakat. Efisien. Akan tetapi Azali menilai bahwa pada prinsipnya Pemprov Riau sudah melaksanakan prinsip good governance sebagai bagian dari komitmen untuk menjalankan reformasi birokrasi. tetapi sudah diberlakukan sanksi denda bagi yang terlambat. penyebabnya adalah Pemprov Riau masih setengah hati dalam menjalankan pemerintahan secara transparan. Ketua MUI Riau. Sosialisasi UU KIP menurutnya kurang lancar. Sebagai contoh dalam hal transparansi. karena akan lebih efisien dari sisi waktu dan biaya. 8 tahun 2008 tentang Badan Pelaynan Perizinan Terpadu. Kasubag Bina Program. Mungkin koordinasi dengan instansi teknisnya masih kurang baik. Hal ini juga diakui oleh Politikus Sondiwarman bahwa pemerintah sudah berusaha transparan.Cepat.

Kota Sorong terkenal penuh dengan sisa-sisa peninggalan sejarah bekas perusahaan minyak milik Belanda. Marthen Nebore. sekalipun tidak ada peraturan lokal khusus mengatur implementasi UU KIP.Sos. Kota Sorong juga rnerupakan kota industri. gas alam dan sumber mineral lain itu. baik di lingkungan Kabupaten 71 . Papua. Kabupaten dan Kota Sorong. pelabuhan dan pendukung investasi di kawasan Papua Barat. Tahun 2008. perdagangan dan jasa. dan infrastruktur. kesehatan. di Indonesia. Di kawasan timur Indonesia. “Ada empat prioritas pembangunan Kabupaten Sorong.Sc.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik akhirnya terwujud akuntabilitas dan pertanggungjawaban setiap kebijakan publik. Apalagi. yaitu pendidikan. Kota Sorong dikenal dengan istilah Kota Minyak sejak masuknya para surveyor minyak bumi dari Belanda pada tahun 1908. dan mengharuskan seluruh badan publik di Indonesia memberi informasi kepada masyarakat dan melayani permintaan informasi dari publik. UndangUndang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP) disahkan dan diterapkan. Prioritas tersebut merupakan “mimpi” Pemerintah Kabupaten yang diarahkan untuk meningkatkan investasi di kawasan kepala burung. termasuk informasi. S. Dalam aspek layanan informasi. ekonomi. sementara kesehatan yang bertaratf internasional dikembangkan untuk melayani kebutuhan industri dan investor yang kebanyakan dari luar negeri. kini tengah berbenah untuk meningkatkan kualitas layanan publik. Sekalipun. kerangka layanan informasi memang tidak diprioritaskan dalam pembangunan Kabupaten Sorong. prioritas Pemerintah Kabupaten Sorong adalah meningkatkan investasi di kawasan yang kaya minyak. Kesadaran akan tanggung jawab yang harus diemban pemerintah daerah atas keterbukaan informasi publik tampak sudah dipahami oleh pejabat di kawasan timur Indonesia. Papua Barat. Undang-undang itu memberi jaminan hukum bagi masyarakat dalam meminta informasi dari badan-badan publik. Sementara di kawasan Kota Sorong tengah berbenah untuk meningkatkan kapasitas sebagai meeting point. M. karena Sorong dikelilingi oleh kabupaten-kabupaten yang mempunyai sumber daya alam yang sangat potensial sehingga membuka peluang bagi investor dalam maupun luar negeri untuk menanamkan modalnya. Posisinya sangatlah strategis karena merupakan pintu keluar masuk Provinsi Papua dan kota persinggahan. namun Marthen menegaskan bahwa komitmen keterbukaan informasi sudah melekat dalam setiap program pembangunan. Pendidikan.” jelas Kepala Humas Kabupaten Sorong. ekonomi dan infrastruktur diarahkan agar bisa menyiapkan sumber daya lokal agar mendukung kebutuhan sumber daya manusia.

Beberapa kesulitan yang ditangani langsung dibantu. sekalipun di Kota dan Kabupaten Sorong. “Sempat bingung juga. misalnya dalam pelayanan pembuatan Kartu Tanda Penduduk. seperti Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil.” tambahnya. Menurutnya 72 . 08. menjamin masyarakat Kabupaten Sorong dapat dengan mudah mengakses informasi. Walaupun demikian. termasuk di kelurahan dan distrik. S.” katanya yang harus menyempatkan diri pagi sekali karena layanan kantor dimulai pagi pk.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 dan Kota Sorong beberapa peraturan daerah. Sebagaimana dialami oleh Amanis Waang (59) asal Kelurahan Rufei. Distrik Sorong Barat. ada kecenderungan warga Sorong hanya mengurus KTP atau yang lain ketika membutuhkan. Ketika datang di kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Sorong. langsung dipandu oleh salah satu petugas yang ada. telah mengatur kewajiban lembaga pemerintah setempat untuk memberi informasi kepada masyarakat. Keterbukaan informasi dalam tataran awal sudah cukup intensif dikembangkan. Hal itu juga dibenarkan oleh Maimunah (35) salah satu petugas layanan loket.” tuturnya. warga bisa bertanya secara langsung mengenai kelengkapan berbagai dokumen yang dibutuhkan untuk mendapatkan Kartu Keluarga atau Akta Catatan Sipil lainnya. Akses informasi untuk masyarakat memang sudah disediakan langsung melalui kantor layanan dan website. Di Kota Sorong. Dalam pandangan Abbas (50) seorang pekerja industri kayu. Sesuai Perda No. tapi untung ada yang membantu. “Setiap dinas sudah memiliki website dan kami juga memfasilitasi petunjuk layanan informasi di setiap kantor layanan. tidak ada yang mau datang. Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Bagian Humas Setda Kota Sorong. Kemitraan bagian humas dengan pers cukup bagus sehingga berita tentang pembangunan Kabupaten Sorong dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Menurutnya penyediaan informasi yang dibutuhkan bisa diakses langsung masyarakat di instansi yang bersangkutan. “Jadi kalau mereka tidak membutuhkan ya.000. Di kantor layanan.” ungkapnya. belum ada penunjukkan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumen (PPID).oo sampai Rp25. informasi tentang biaya pengurusan KTP dan Akte Catatan Sipil bisa dilihat di ruang layanan kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. biaya pencetakan dokumen berkisar mulai Rp 10. namun Marthen Nebore. Nifu Ahmad.IP.00 WIT dan berakhir di pukul 14. peraturan-peraturan tersebut tidak secara jelas mengatur tata cara mengakses informasi sebagaimana diatur dalam UU KIP. “Pelayanan informasi berjalan dengan baik.oo. Ini saja yang mengurus KTP Nasional baru bisa dihitung dengan jari.15 Tahun 2009 Tentang Retribusi Penggantian Biaya Cetak KTP dan Akte Catatan Sipil.00 WIT.000.

” jelasnya.” tambah Abbas.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik kebutuhan warga yang lebih banyak mendorong ketika mereka mengurus KTP atau Akta lain. memang kebanyakan layanan publik terkendala dengan perilaku warga. jangkauan geografis yang luas dan sebaran penduduk yang tidak merata menjadi kendala yang paling utama.4/596/2010 tentang pembuatan KK dan KTP Standar Nasional tanggal 22 Juni 2010 dan Surat Perintah Tugas Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Sorong Tentang Pelayanan Langsung Pembuatan KK dan KTP Standar Nasional di Kelurahan Tanjung Kasuari dan Kelurahan Saoka Distrik Sorong Barat Nomor . layanan itu didasarkan pada Surat Edaran Walikota Sorong 474. Di Kota Sorong. Cuma banyak yang tidak bisa datang karena beberapa hal. Buton. Di Sorong sendiri. Belum lagi harus menghadapi hambatan adat dan budaya masyarakat yang cukup beragam. “Padahal kita untuk menyukseskan Program Nasional Kepemilikan KTP Nasional dibuka layanan langsung selama empat hari. penggunanya tidak terlalu banyak. “Memang kita dari pegawai Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Sorong di bantu oleh aparat kelurahan setempat. Jawa. sebelah timur di kelilingi hutan lebat yang merupakan hutan lindung dan hutan wisata. Alwin. karena standar biaya di Papua memang cukup mahal. Baru mereka mau urus KTP. Sumatera. selain masyarakat Moi (terutama yang ada di daerah pantai dan biasa menggunakan nama depan/belakangnya dengan usin) juga terdapat masyarakat BBM (Bugis. Sunda. “Dibutuhkan cost yang besar dikarenakan jangkauan wilayah kami yang cukup luas. Menurutnya selain besaran biaya pengganti cetak.” ungkap Marthen seraya menambahkan bahwa standar biaya dari pemerintah pusat tidak sesuai apabila diterapkan di Papua. bukit-bukit dan sebagian adalah dataran rendah. sebagai transmigran yang membawa agama Islam ke tanah Papua. Berbeda dengan di Kabupaten Sorong. Makasar).” jelasnya.  “Masing-masing suku memiliki karakteristik adat tersendiri dan berbeda dalam menyikapi layanan pemerintah. staf di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Sorong. Kepala Bidang Komunikasi dan Informatika Dinas Perhubungan 73 . Keadaan topografi Sorong sangat bervariasi terdiri dari pegunungan.” jelas Rury. lereng. menurutnya ia juga belum mendapatkan surat edaran dari distrik. “Sehingga masyarakat yang datang untuk mengurus KK dan KTP jumlahnya tidak maksimal.” jelas Moh. kurangnya sosialisasi pelaksanaan kegiatan membuat tidak maksimal. Hal senada juga disampaikan oleh Abbas. Menurut Nifu Ahmad. Ketika dibuka layanan langsung di distrik atau kelurahan. “Biasanya kalau membutuhkan untuk pinjaman bank atau kredit. 470/596/SPPD-DKPSRG/2010.

” tambahnya. Marthen Nebore. Kabupaten Sorong. Undang-undang ini juga memberikan jaminan adanya 74 . guna menjawab tantangan besar yakni meningkatnya proses pertukaran informasi antar unit di dalam organisasi internal. dukungan infrastruktur layanan informasi yang cukup kuat sangat diperlukan.” tuturnya.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 dan Kominfo Kabupaten Sorong.sorongkota. Dalam Undang-undang keterbukaan informasi publik.” tambah Marthen. Selain itu juga kian memudahkan koordinasi bagi aparat Pemda Sorong. dan bisa dipertanggungjawabkan kepada masyarakat. kesiapan para penyelenggara negara dalam menyediakan informasi yang diberikan kepada masyarakat adalah hal yang mutlak. Sekalipun semua bisa terjangkau akses internet nirkabel. Kepala Bagian Humas Pemkab Sorong. M. Pemkot Sorong dan Pemkab Sorong. sebenarnya telah mengembangkan layanan infromasi melalui website.id. “Apalagi kita harus menjangkau dan melayani masyarakat sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masingmasing. Tapi usai jam 12. Namun kondisi akses jaringan internet yang belum stabil membuat layanan ini tidak bisa optimal diakses warga. www.“ tegas Marthen Nebore.Si menyatakan peran kehumasan yang langsung bisa berkomunikasi dengan warga atau pekerja media sangat penting dalam mewujudkan kepercayaan publik dan membina hubungan baik dengan masyarakat. Alwin yang kini menangani layanan media center dari Kementerian Kominfo di Distrik Aimas. “Berbagai acara dan pelatihan secara berkala dikembangkan. “Masingmasing wilayah kerja. Bupati Sorong. juga tak jauh beda kondisinya. salah satunya penyampaian informasi seputar program pembangunan yang sedang berjalan.id. Sementara website Kota Sorong. go. Oleh karena itu. Tapi kita berupaya meningkatkan kinerja kehumasan pemerintah. “Khususnya.” tambah Moh. tidak dapat diakses masyarakat.go. kami terus meningkatkan peran aparat hubungan masyarakat (humas) sebagai ujung tombak dalam penyampaian informasi. haruslah didukung oleh informasi atau data yang akurat. “Jaringan internet di sini biasanya cepat kalau pagi. menurut Marthen. menyatakan pihaknya juga memfasilitasi penyelenggaraan pelatihan dan kordinasi kehumasan.00 siang.” jelas Marthen. Keterbukaan informasi publik bukan hanya sekadar mengatur soal informasi. website Kabupaten Sorong www.sorongkab. tapi kecepatan akses lambat juga masih jadi kendala. Dr Stefanus Malak. “ UndangUndang Keterbukaan Informasi Publik mewajibkan seluruh badan publik menyediakan informasi publik membuat standar layanan informasi publik. Jika melalui website tidak optimal. maka akan lambat. Tak heran jika kemudian. Agar bermanfaat bagi kekompakan jajaran SKPD.

Kabupaten Sorong kini sedang mempersiapkan diri untuk menjadi daerah tujuan wisata unggulan. Hal ini di sebabkan rendahnya kemampuan. relatif sudah mulai banyak didominasi oleh kalangan pendatang. di samping kurangnya sosialisasi dan informasi yang sampai pada anggota komite sekolah. “Widodo Muktiyo. “Semua kegiatan itu memang aktif dilakukan di Kabupaten Sorong. Di bidang kesehatan. Kota ini terus mengalami peningkatan dalam indeks transparansi di tingkat nasional. Sementara dalam perencanaan pembanguan. “Tetapi di daerah-daerah pedesaan justru kader posyandu menjadi tenaga inti dalam pelayanan kesehatan di pedesaan. Bugis Makasar. setiap sekolah terdapat komite sekolah yang beranggotakan para orang tua murid dan donatur. telah dikembangkan pelibatan masyarakat secara langsung maupun melalui perwakilan seperti DPRD. Kader posyandu ditujukan untuk membantu tenaga medis yang jumlahnya terbatas. “Namun peranan ini belum berkembang sesuai yang diharapkan.” tambah Abbas. Sementara di kawasan kota. Rapat koordinasi pembangunan daerah yang dilakukan oleh BAPPEDA. keikutsertaan masyarakat dalam pelayanan dalam bentukkader posyandu. diperlukan rintisan pembangunan kepariwisataan dalam jangka panjang yang dimulai dari sekarang. Dengan pesona alam khas papua dan ditunjang letak yang strategis. Di kawasan Sorong. “Prioritas utama kami adalah pengembangan wisata bahari dan wisata alam.” kata Bupati Sorong.” tambah Marthen. mengakui bahwa pelayanan birokrasi di kota ini 75 . baik finansial maupun intelektual.” kata Maimunah (45) seorang pedagang kelontong di Kota Sorong menambahkan.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik partisipasi warga negara dalam turut menentukan kebijakan. Di bidang pendidikan. dan Maluku. terdapat enam kelompok etnis besar. dan bahkan masuk dalam sepuluh besar. Partisipasi atau pelibatan masyarakat tidak banyak berarti tanpa jaminan keterbukaan informasi publik. kota Surakarta memang telah menunjukan kemajuan signifikan dalam pelayanan birokrasi. khususnya di propinsi Papua Barat. Jawa. yaitu: Suku Moi. BPM/BPD/LKMD. Partisipasi yang paling menonjol dalam hal pelayanan dasar adalah di bidang pendidikan dan kesehatan. Di bawah kepemimpinan Wali Kota Joko Wiyono. Suku Moi adalah penduduk asli Papua yang menjadi pemegang hak adat atas tanah di pusat pemerintahan Kabupaten Sorong. Stefanus Malak. Maybrat. dosen Ilmu Komunikasi Fisip UNS. Akan tetapi mengelola keterbukaan informasi di Kota dan Kabupaten Sorong merupakan seni tersendiri. Surakarta: Ada Perubahan Signifikan Pemerintah Kota Surakarta merupakan salah satu contoh semakin meningkatnya kinerja birokrasi.

karena secara sosiologis masyarakat kita memang masih patriomonialistik. kata Subandi. Sebagaimana dijelaskan oleh salah seorang pejabat di jajaran Pemkot Surakarta. dan masalah kependudukan.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 terus membaik. terbukti kota ini telah memiliki PPID. Harus diakui bahwa Wali Kota Surakarta sekarang cukup kreatif dan inovatif dalam usahanya memberikan layanan kepada masyarakat. maka jajaran birokrasi pemerintah juga mengikuti. bursa kerja. masih ada aparat birokrasi yang masih bermental harus dilayani. kata Widodo. Faktor kepemimpinan menjadi kunci dari perubahan mind set aparat birokrasi. karena memang mereka tumbuh di kalangan kultur yang feodalistik”. pelayanan kesehatan yaitu program PKMS (Program Kesehatan Masyarakat Surakarta). Inovasi dalam pemerintahan juga dapat 76 . layanan kesehatan masyarakat. kata Mahendra. Seperti yang diketahui. Dari hasil pantauan di lapangan. “Untuk pelayanan e-KTP ini kami bisa melayani 15 orang perjam. pelayanan umum adalah pelayanan yang diberikan baik jasa maupun non jasa dan ataupelayanan administrasi. terutam yang berkaitan dengan sektor usaha dan perdagangan. para petugas tampak bertugas secara allout dan mereka senantiasa menyapa dengan ramah.00 hingga 21. pelayanan yang dimaksudkan di sini adalahpelayanan jasa yaitu pelayanan di bidang administrasi (perijinan) melalui sistem one stop service (OSS). Pemkot juga telah secara aktif memberikan pelayanan lewat media on-line. “Ketika pimpinan kota Surakarta mau berubah dengan mengedepankan layanan publik. seperti informasi umum.2 milyar rupiah. Pemkot Surakarta juga terus memberikan pelayanan secara optimal meskipun dalam keterbatasan peralatan. maka bawahannya juga mengikuti. Bahkan juga sudah membentuk komisi informasi dengan anggaran sebesar 1. Dalam struktur birokrasi itu bersifat hierarkis dan instruktif. Bahkan pelayanan juga dilakukan di luar jam kantor. sehingga kalau pimpinan atasnya berubah. programprogram tersebut adalah programprogram yang didesain untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kota Surakarta. Fasilitas publik senantiasa menjadi prioritas pengembangan dan senantiasa diperbaiki”. Penilaian senada juga datang dari Mahendra Wijaya. Di bidang keterbukaan informasi. Pemkot Surakarta juga melakukan langkah-langkah yang terus menunjang terselenggaranya transparansi. Namun demikian. Fahrudin. salah seorang pejabat di bagian kependudukan. khususnya di bidang pelayanan umum. LPSE. “Reformasi birokrasi cukup terasa dampaknya di kota ini sebagaimana tampak pada makin transparannya Pemkot. dan kian cepat dan lancarnya urusan perijinan. dan kami minimal membuka layanan 12 jam efektif kepada warga masyarakat”. mulai pukul 08. Dalam hal e-KTP. rencana kelurahan. Oleh karena itu. dosen Sosiologi Fisip UNS bahwa ada kemajuan yang bararti dalam hal pelayanan publik.00.

UU No. Pasal 60. sesungguhnya masyarakat Bali tidak terlalu peduli terhadap keterbukaan informasi. yaitu melalui program rumah tidak layak huni (RTLH). dan partisipatif sesuaidengan prinsip good local governance. dan pembekalan pada PPID sejak April 2011.05/01-B/1/2011 tentang penunjukkan PPID. Adanya Undangundang keterbukaan informasi pun disambut biasa-biasa saja. akuntabel. transparan. Pertama. akses informasi. Jasa yaitu pelayanan yang terkait dengan pemberdayaan masyarakat. meningkatkan pendokumentasian data daninformasi SKPD. memperoleh. Pasal 65 ayat (2) UU ini menyatakan setiap orang berhak mendapatkan pendidikan lingkungan hidup. Secara khusus hak warga terhadap informasi diatur dalam UU nomor 14 Tahun 2008 tentang KIP. menyiapkanruang pelayanan informasi beserta infrastrukturnya. Beberapa UU lain sesungguhnya juga menjamin hak warga atas informasi. dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. Kedua. Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28F menjaminnya. UU tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. mengolah. 77 . Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik didefinisikan sebagai pengembangan suatu desain kebijakan baru dan prosedur standard operasi yang baru untuk memecahkan masalah publik. Padahal hak memperoleh informasi merupakan hak dasar warga Negara. 042. menerbitkan SK Walikota Surakarta No. merata. akses partisipasi. menyimpan. yaitu mempersiapkan regulasi di tingkat daerah. Ketiga bidang tersebut dianggap program yang menonjol di Kota Surakartadan dapat dilihat secara langsung nilai-nilai perubahannya dimana pelayananseharusnya diberikan secara adil. memiliki. meningkatkan konten Web Pemerintah Surakarta sebagai sumber informasi. dan meningkatkan sarana untuk mengakses informasi bagi masyarakat. menerbitkan SK Walikota Surakarta No : 060. Dalam pertimbangannya. Juga terus melakukan pembenahan sistem informasi data. dan akses keadilan dalam memenuhi hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Masyarakat sebagian besar lebih memilih hidup mengurus diri dengan beribadah. Denpasar: Rakyat Kurang Peduli Harus diakui. Peraturan Wali Kota tentang Standar layanan Informasi/ SOP (dlm proses penyusunan). Pasal 103.05/05/1/2011 tanggal 3 januari 2011 tentang pembentukan Tim Uji Konsekuensiterhadap informasi yang dikecualikan pada Pemerintah Kota Surakarta. Hak atas informasi diatur dalam Pasal 14. Warga juga berhak mencari. Fahrudin juga menjelaskan upaya Pemkot dalam bidang layanan informasi publik. sosialisasi UU KIP secara rutin. 39 Tahun 1999 tentang HAM.

Ketiga. Indikatornya antara lain. namun itu hanya sebagian kecil. Kedua. Ada beberapa lembaga yang telah dengan baik membuka berbagai informasi kepada khalayak. pertama. Pendapat senada juga disampaikan oleh Agus Sanjaya dari Dinas Perhubungan dan Infokom Denpasar. Hasil assessment KIP pusat menjelang pemberlakuan UU KIP disebutkan bahwa baru tujuh badan publik diseluruh indonesia yang dianggap siap atau berupaya mempersiapkan diri. Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana Bali. khsusunya lembaga-lembaga publik. Badan publik adalah organanisasi yang terkait penyelenggaraan Negara maupun organisasi lain dengan pendanaan dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara/Daerah (APBN atau APBD). Uji badan publik yang dilakukan meliputi tiga sektor yaitu pendidikan. kondisi keterbukaan informasi. sepertinya tidak serta merta terjadi dan diterapkan dengan baik. kesehatan. Hasil uji publik tersebut ditindaklanjuti dengan mengadakan Rembug Lintas Aktor (RELA) Kesiapan Badan Publik di Bali dalam 78 . “Warga harus secara aktif meminta akses informasi. Mungkin perlu perbaikan pola pikir dan kemauan masing-masing lembaga dalam penerapan pelaksanaan UU KIP. serta laporan keuangan badan publik. Informasi ini meliputi profil. Dalam pasal 9 UU KIP disebutkan badan publik wajib mengumumkan informasi publik secara berkala. kegiatan dan kinerjan. hasil uji badan publik lintas sektor yang diadakan Sloka Institute bekerjasama dengan  Indonesian Parliamentary Center (IPC)  terhadap beberapa instansi di 4 kabupaten/kota serta di tingkat Provinsi Bali mencerminkan belum sistematis dan transparannya akses informasi publik. katanya. minimnya kesiapan badan publik untuk melaksanakan UU KIP. belum adanya Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi.Pasal 2 mengatur bahwa asas UU ini adalah setiap informasi publik bersifat terbuka dan dapat diakses oleh setiap Pengguna Informasi Publik kecuali informasi publik yang dikecualikan. UU ini juga menegaskan bahwa keterbukaan informasi publik merupakan salah satu ciri penting negara demokratis.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 UU ini menyebutkan bahwa hak memperoleh informasi merupakan HAM. Perbaikan tersebut hanya bisa dicapai jika publik/masyarakat sebagai pemilik hak atas akses informasi aktif mendorong badan publik untuk selalu berbenah. Perbaikan terutama adalah kebijakan pimpinan badan publik dalam menerapkan UU KIP. Ini merupakan salah satu cara agar badan publik menjadi lebih siap dan lebih baik dalam melayani permintaan informasi publik”. Menurut Ni Made Ras Amanda Gelgel. informasi publik yang dikecualikan ini bersifat ketat dan terbatas. pemerintah kota Denpasar belum sepenuhnya menerapkan keterbukaan informasi publik. Perlu manajemen pengelolaan informasi yang dikuasai dan pelayanan akses informasi dari publik. dan lingkungan.

Ada kesan kuat bahwa Pemda sebenarnya menyadari akan pentingnya reformasi birokrasi. SH. Untuk itu pemerintah perlu terus menggalakan sosialisasi”. Informasi. Nanti DPRD akan memilih 5 calon anggota KI. SH. perwakilan Walhi Bali. MH. 79 . RELA dihadiri oleh anggota Komisi Informasi (KI) Pusat  Abdul Rahman Ma’mun. Sosialisasi tentang UU KIP sudah dilakukan di lembaga publik dan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Provinsi Bali. dan Ni Luh Candrawati Sari. Pemerintah Provinsi Bali baru bisa memasukkan pembentukan Komisi Informasi (KI) dalam APBD 2011. tokoh masyarakat dan pemerintah. tetapi ada juga yang masih lamban. dan partisipasi publik adalah penting dalam era sekarang ini. katanya. Kepala Bidang Informasi Dinas Perhubungan. “animo warga Denpasar kurang begitu antusias dalam memanfaatkan adanya UU KIP. Sementara itu seorang tokoh masyarakat. Nantinya di setiap lembaga itu akan ada Penanggung jawab Pengelolaan Informasi Daerah (PPID) yang ditetapkan dengan Peraturan Gubernur. ada yang optimis dan ada yang pesimis. dan wartawan.. Ketua AJI Denpasar Rofiqi Hasan. Penutup Begitulah. karena mungkin banyak yang belum tahu.. perwakilan persma Akademika.   perwakilan Biro Pemerintahan Provinsi Bali. Proses pendirian KI diawali dengan pembentukan Tim Seleksi yang melibatkan kalangan akademisi. Tim seleksi selanjutnya akan menyaring minimal 10 calon dan maksimal 15 calon untuk diajukan dalam fit and proper test di DPRD Bali. Meniartha berpendapat masyarakat belum peduli. Langkah lainnya adalah dengan merancang website e-government. Selain itu belum ada numenklatur yang jelas antara fungsi yang akan diemban Dinas Infokom dan Humas Pemkot Bali. bahwa semuanya semakin menyadari pentingan arti penyelenggaraan pemerintahan dengan prinsip good governance.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Penerapan UU Keterbukaan Informasi Publik 2010 lalu. perwakilan Yayasan Manikaya Kauci. Pemerintah daerah berharap LSM bias ikut memantau proses pembentukan PPID. sehingga harus melakukan langkah-langkah penyesuaian. Akan tetapi ada satu yang jelas. dan Komunikasi Bali. Ada yang cepat beradaptasi dalam iklim keterbukaan informasi. akuntabilitas. Sementara pendapat warga masyarakat juga beragam. Semua menyadari bahwa transparansi. drs I Wayan Nuranta. Kemudian masalah anggaran dan transisi penataan lembaga publik juga menjadi masalah. Oleh karena itu masyarakat berharap agar pemerintah terus memberikan pelayanan optimal terhadap masyarakat. serba-serbi dinamika pemerintahan daerah dalam menyambut reformasi birokrasi ternyata sangat beragam.

terbukti masih sedikit yang membentuk PPID. Sepertinya masyarakat kita memang masih perlu terus didorong menuju ke arah keterbukaan informasi. Kendala itu berupa kendala struktural maupun kultural. sebagian besar pemerintah daerah masih bergerak lamban dalam menyongsong era keterbukaan informasi. Kendala struktural muncul karena karakter birokrasi pemerintah yang hierarkis. Dalam kaitannya dengan pelaksanaan UU KIP. rigit. 80 . Namun demikian. Sementara itu kendala kultural muncul berkaitan dengan belum ada transformasi cara berpikir dan sikap yang berorientasi pada pelayanan publik. dan kurang cepat melakukan perubahan dengan mengubah berbagai aturan yang telah usang. Hanya saja. di mana mereka masih minta dilayani. UU KIP semakin populer berkat sosialisasi yang cukup intens kepada masyarakat. di kalangan masyarakat sendiri juga masih perlu didorong untuk lebih proaktif guna memanfaatkan UU KIP agar good governance terimplemntasi dengan lancar dalam proses pembangunan di daerah. karena itu perlu terus menumbuhkan kesadaran bersama untuk tetap terus belajar berdemokrasi. Masih banyak aparat birokrasi yang mindset-nya menggunakan paradigma lama.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Memang ada kendala yang cukup merisauhkan dalam upaya menggelorakan semangat reformasi birokrasi.

.

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 82 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful