Birokrasi Di Indonesia

Edisi 3/ September / 2011

Birokrasi
Keterbukaan Informasi Publik

a r E m a l a d

Pelayanan Birokrasi dalam Era Otonomi Daerah Pelayanan Birokrasi Papua dalam Era Otonomi Khusus Reformasi Birokrasi dan Implementasi Good Governance
Foto : Antara

Reformasi Birokrasi, Syarat Mutlak Pembangunan Ekonomi

dalam Era
Diterbitkan Oleh :

Tim Redaksi Pengarah : Penanggungjawab :

Pemimpin Umum

:

Pemimpin Redaksi : Anggota Dewan Redaksi : Ismail Cawidu (Sekretaris Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik) Bambang Wiswalujo (Direktur Pengolah dan Penyediaan Informasi) Supomo (Direktur Komunikasi Publik)

Tifatul Sembiring (Menteri Kominfo) Basuki Yusuf Iskandar (Sekretaris Jenderal) Ahmad Mabruri Mei Akbari (Staf Khusus Menkominfo) Freddy H Tulung, (Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik) Suprawoto (Staf Ahli Menteri Bidang Sosial Ekonomi dan Budaya) Sadjan (Direktur Pengelolaan Media Publik)

Erlangga Masdiana (Direktur Layanan Informasi Internasional) James Pardede (Direktur Kemitraan Komunikasi) Redaktur Pelaksana : Mardianto Soemaryo Penyunting/ Editor : 1. Hypolitus Layanan 2. Endang Kartiwak 3. Taufik Hidayat Tim Tenaga Ahli : Sugeng Bayu Wahono Lambang Trijono Abduh Sandiah Murti Kusuma Wirasti Design Grafis : Danang Firmansyah Sekretaris Redaksi : M. Taofik Rauf Sekretariat : 1. M. Azhar Iskandar Zainal 2. Jatmadi 3. Sarnubi 4. Inu Sudiati 5. Elpira Inda Sari N.K 6. Lamini 7. Nur Arief Hidayat

.

Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Daftar Isi Salam Redaksi Wawancara Khusus Reformasi Birokrasi Tidak Secepat Membalik Telapak Tangan ii vii vii I II Pelayanan Birokrasi dalam Era Otonomi Daerah Pendahuluan Antara Harapan dan Kenyataan Penutup 1 2 5 9 Pelayanan Birokrasi Papua dalam Era Otonomi Khusus 11 Birokrasi dan III Reformasi Implementasi Good Governance Birokrasi. IV Reformasi Syarat Mutlak Pembangunan Ekonomi Laporan Studi lapangan Reformasi Birokrasi dalam Dinamika Pemerintahan Daerah 19 45 65 65 i .

Isu utama yang ditekankan dalam reformasi birokrasi bukan saja pelayanan dan inefisiensi. antara lain tampak pada (1) penyelenggaraan pemerintahan dengan membuka koridor ketertutupan birokrasi melalui semangat dialog dan komunikasi intensif antara pemerintah. Seiring dengan bergulirnya demokratisasi. pihak swasta. birokrasi pemerintah dituntut untuk tampil sebagai organisasi pelayanan publik yang transparan. juga salah satu yang paling santer dikumandangkan adalah perlunya reformasi birokrasi. tetapi juga transparansi. Good governance menjadi sebuah imperatif dalam proses negara demokrasi. (3) setiap proses pemerintahan mulai dari pengambilan keputusan sampai implementasi. dan di sini birokrasi harus transparans. pemerintah telah berusaha membangun kepercayaan timbal balik antara pemerintah dan masyarakat melalui penyediaan informasi dan menjamin kemudahan di dalam memperoleh informasi tersebut.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Salam Redaksi S etelah era reformasi. pemerintah juga memiliki komitmen untuk melaksanakan inisiatif Open Government. sehingga masyarakat memiliki kesempatan dalam menyampaikan aspirasinya Masih dalam konteks good governance. akuntable. dan membuka partisipasi publik. sebagai kebutuhan nasional akan transparansi dan akuntabilitas serta kontribusi aktif Indonesia ii . (2) dalam pengambilan kebijakan serta keputusan. dan masyarakat. dan (4) pengambilan keputusan juga perlu melibatkan masyarakat. Pemerintah pun merespons atas tuntutan reformasi birokrasi dengan berkomitmen menerapkan prinsip good governance. pemerintah telah bertindak atas dasar tanggung jawab dalam segala bidang untuk kepentingan masyarakat luas.

melalui konsultasi dengan kelompok pemangku kepentingan masingmasing. dalam arti semangat desentralisasi dan debirokratisasi tercermin dalam tata kelola pemerintahannya. setiap lembaga publik diharapkan menyusun Rencana Implementasi Open Government (OG) lembaganya. Ia berusaha mendeskripsikan tentang makna birokrasi dan good governance. Untuk percepatan OG ini melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika. Muhadam Labolo secara detail menganalisis kinerja birokrasi dalam konteks good governance. cepat. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. khususnya Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik telah berusaha menyusun disain komunikasi untuk memastikan inisiatif Open Government terlaksana sejalan dengan prinsip transparansi. Dalam pelaksanaannya. partisipasi dan kolaborasi. tetapi belum sepenuhnya dilaksanakan. namun perlu keseriusan untuk melakukan reformasi birokrasi. maka Jurnal Dialog Publik kali ini mengangkat tema Birokrasi dalam era keterbukaan informasi. Sementara itu. Keluarnya undangundang ini juga menunjukkan komitmen pemerintah terhadap upaya perwujudan reformasi birokrasi. Berbagai isu dan permasalahan di seputar reformasi birokrasi akan dibedah dan dianalisis secara komprehensif dari berbagai perspektif. efisien dan tidak berbelit-belit serta menggunakan SDM yang optimal dan berkualitas. sekaligus sebagai melihat bagaimana penerapan Undang-undang No. dengan biaya yang terjangkau. Meskipun demikian. Untuk melakukan good governance perlu proses pembelajaran.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik dalam Open Government Partnership (OGP). kemampuan dan moral penyelenggara pemerintahan mampu memberi pelayanan yang mudah. Dari prosesnya yang lebih efektif. Reformasi birokrasi merupakan salah satu upaya untuk menerapkan prinsip good governance. tepat. Hal yang paling bisa dilakukan adalah untuk memberikan kepercayaan dan dukungan untuk melakukan upayaupaya reformasi birokrasi. ada juga yang memberikan penilaian kritis bahwa meskipun prinsip good governance telah dilaksanakan. iii . Atas dasar permasalahan di atas. pemerintah juga menerapkan Otonomi Daerah dengan menekankan pelayanan birokrasi pemerintah lebih efisien. perlu perbaikan-perbaikan menyangkut SDM dan SDA yang dimiliki.

atau berkembang menjadi birokrasi modern yang mengutamakan profesionalisme dan merit system. agama. Birokrasi pun kemudian menunjukkan karakter birokrasi primordial. Habel melihat adanya gejala etnosentrisme di Papua apakah berpengaruh terhadap pelayanan birokrasi. sehingga lebih mengedepankan profesionalisme dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. namun fundamental. dan kekerabatan. Menurut Habel birokrasi di Papua justru lebih menunjukkan karakter sebagai birokrasi yang rasional dan mengedepankan profesionalisme. Atau dengan kata lain Habel mengajukan pertanyaan bagaimana pelayanan birokrasi pemerintah Papua dalam era Otonomi Khusus sekarang ini. sehingga personil.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 karakteristik pemerintahan yang baik. birokrasi pemerintah Papua berkembang ke arah yang lebih menunjukkan iv . Sementara itu Habel Suwae mencoba menyoroti pelayanan birokrasi dalam era Otonomi Khsusus di Provinsi Papau. Pengembangan kapasitas aparatur berfokus pada aspek pendidikan dan pengalaman yang akan menentukan nilai profesionalisme birokrasi dihadapan masyarakat. Reformasi kapasitasi berkaitan dengan kemampuan birokrasi baik secara individual maupun kelompok yang ditunjukkan pada kemampuan menerjemahkan visi dan misi. masalah dan tantangan yang dihadapi dalam upaya reformasi birokrasi. pada awalnya terdapat kecenderungan bahwa pemberian kewenangan pengelolaan politik oleh pemerintah pusat dalam bentuk Otsus. Memang. Apakah bias primordialisme seperti baik buruknya pelayanan birokrasi disebabkan oleh faktor kesamaan etnis. Perkembangan masyarakat Papua yang semakin terbuka menjadikan Papua semakin plural. sistem rekreuitmen. serta upaya strategis reformasi birokrasi dan implementasi tata kelola pemerintahan yang baik. dan pelayanan pun ada kecenderungan bias etnosentrisme. Reformasi kapasitasi adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan sumber daya birokrasi dalam pelayanan agar mampu mengimbangi dinamika masyarakat. sehingga birokrasi pemerintah terbukti adaftif dengan perkembangan masyarakatnya. program dan kegiatan. Atau birokrasi bersifat adaptif dengan dinamika masyarakat Papua yang semakin terbuka. sehingga lebih mengarah pada birokrasi primordial. Akan tetapi dalam perkembangan lebih lanjut. Salah satu usulan menarik Muhadan adalah bahwa untuk mengefektifkan reformasi birokrasi diperlukan reformasi kapasitasi yang memadai guna meningkatkan kemampuan aparatur dalam melayani masyarakat. Perubahan tersebut diharapkan tidak saja bersifat incremental semata. disikapi oleh sebagian warga Papua secara primordialistik.

tetapi lebih ditentukan oleh tim sukses. Bersamaan dengan itu. Berbagai penyakit birokrasi muncul karena aparat birokrasi cenderung menggunakan birokrasi sebagai alat untuk mencapai tujuan birokrasi itu sendiri. kapabiltas dan hal ini disebabkan oleh karena penenpatan pejabat eselon II dan III. pada era sistem pemerintahan desentralisktik sekarang ini banyak menimbulkan persoalan pemerintahan terutama dalam birokrasi pelayanan publik. Dengan konsep tersebut. Akan tetapi. birokrasi perlu direformasi. Sedangkan Nursodik menilai birokrasi Indonesia belum probisnis. efisien. v . bukan sebagai unit pelayanan masyarakat.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik karakter birokrasi profesional dengan menerapkan merit sistem. Realitas yang teralami sekarang banyak birokrat yang tidak mengutamakan pelayanan publik. menjadi pertimbangan utama mengedepankan birokrasi rasional. Politisasi birokrasi ikut mendorong terjadinya penyelewengan yang membuat birokrasi semakin jauh dari fungsi utamanya sebagai penggerak sektor perekonomian. Reinventing bureaucracy diharapkan mampu mengembalikan birokrasi sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi. birokrasi pemerintah juga terus mendorong partisipasi publik dalam proses pembangunan menuju pemerintahan yang transparan dan akuntabel. dari segenap analisis kritis yang dikemukan para penulis. akuntabel dan berorientasi pada kebutuhan pengguna layanan. Salah satunya adalah dengan menerapkan konsep reinventing bureaucracy. Banyak gejolak yang terjadi di daerah sebagai perwujudan ketidak puasan masyarakat dalam pelaksanaan otonomi daerah. bukan berdasarkan pendidikan dan latihan penjenjangan kerier. terdapat harapan yang sama. birokrasi dikembangkan sebagai unit pelayanan yang tepat. Ferdinan mengkaji tentang efektivitas pelayanan birokrasi di era otonomi daerah. efektif. cepat. bahwa bagaimanapun birokrasi harus didorong untuk lebih independen. Sifatnya yang birokratis dan patologis membuat keberadaan birokrasi lebih dianggap sebagai faktor penghambat dibanding pendorong perekonomian. Argumen agak berbeda dikemukakan oleh Ferdinan Kerebungu. Untuk menghilangkan berbagai patologi yang ada. harus ada trnasformasi kultural di kalangan aparat birokrasi dari cara pandang birokrasi sebagai penguasa menjadi birokrasi sebagai pelayanan sesuai dengan sistem politik yang deomokratis. Karakter masyarakat Papua sendiri yang terbuka dan semakin plural.Untuk dapat mengoptimalkan pelayanan birokrasi yang menggunakan prinsip good governance. yang lebih mengutamakan efisiensi dan profesionalisme. karena banyak pejabat publik yang diangkat tidak memiliki kapasitas.

dan mengedepankan profesionalisme. meski di sana-sini terdapat hambatan. tetap harus mendapat dukungan dari semua pihak. vi . Komitmen pemerintah pusat untuk melakukan reformasi birokrasi. Iklim demokrasi yang sudah baik. harus tetap dipelihara dan dirawat agar terus menjadi habitat subur bagi tumbuhnya birokrasi yang secara konsisten menerapkan prinsip good governance.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 steril dari kepentingan politik.

vii .Edisi 3 / September / 2011 Wawancara Khusus Reformasi Birokrasi Tidak Secepat Membalik Telapak Tangan Dr. Ismail Muhamad. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. MBA* *Deputi Bidang Program dan Reformasi Birokrasi.

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik

Edisi 3 / September / 2011

S

etelah era reformasi, salah satu isu yang paling santer dikumandangkan adalah perlunya reformasi birokrasi. Isu utama yang ditekankan dalam reformasi birokrasi bukan saja pelayanan dan efisiensi, tetapi juga transparansi. Seiring dengan bergulirnya demokratisasi, birokrasi pemerintah dituntut untuk tampil sebagai organisasi pelayanan publik yang transparan. Prinsip Good governance menjadi sebuah imperatif dalam proses negara demokrasi, dan di sini birokrasi harus transparans, akuntable, dan membuka partisipasi publik.

Meskipun secara normatif, pemerintah punya sejumlah regulasi yang mengatur tatakerja birokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan, namun dari hasil penyerapan opini dalam masyarakat, ternyata sebagian masyarakat menilai reformasi birokrasi belum memperlihatkan hasil konkret, alias reformasi birokrasi masih jalan di tempat. Persoalan yang mengemuka di anatranya pemerintah, termasuk pemerintah daerah dinilai kurang transparan dan tidak banyak melibatkan masyarakat dalam perumusan kebijakan publik. Dalam kaiatan dengan persoalan tersebut, berikut ini petikan hasil wawancara redaksi dengan

Dr. Ismail Muhamad, MBA

viii

Edisi 3 / September / 2011

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik

Deputi Bidang Program dan Reformasi Birokrasi, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Dr. Ismail Muhamad, MBA. Banyak kalangan menilai program reformasi birokrasi jalan di tempat, bagaimana kondisi yang sesungguhnya ada pada saat ini? Pandangan seperti itu dapat dipahami, tetapi sangat tergantung dari sudut pandang mana melihatnya. Perlu diluruskan, bahwa reformasi dalam skala besar (Nasional) dimulai pada tahun 1998. Fokus reformasi pada tiga bidang, yaitu Bidang Ekonomi, Bidang Politik dan Bidang Hukum. Sedangkan secara khusus reformasi birokrasi dimulai pada tahun 2004, dan sebagai pilot projectnya adalah Badan Pemeriksa Keuangan, Mahkamah Agung, dan Kementerian Keuangan. Pada tahun 2008, Kementerian PAN menerbitkan Pedoman Umum Reformasi Birokrasi. Mulai tahun 2010 ditetapkan Grand Design Reformasi Birokrasi 2010 – 2025 berdasarakanh Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 81 Tahun 2010, dan ditindaklanjutin dengan Peraturan Menteri PAN No. 4 Tahun 2010. Jadi kalau ada yang bilang reformasi birokrasi jalan di tempat itu karena kurang mengikuti perkembangan yang ada. Jadi dari sisi kebijakan pelaksanaan reformasi birokrasi sudah ada langkah-langkah konkret. Berbicara mengenai reformasi birokrasi di negara manapun tidak secepat

membalikkan telapak tangan, tetapi membutuhkan proses panjang. Contoh Australia, untuk melakukan reformasi membutuhkan waktu 30 tahun baru bisa dilihat hasilnya. Dalam kaitan dengan transparansi, akuntabilitas, partisipasi publik dan lain-lain sebenarnya sangat terkait dengan UU No. 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) yang secara definitif pelaksanaannya pada tahun 2010. Tetapi sebenarnya transparansi dan akuntabilitas di Indonesia sudah mulai dilaksanakan secara efektif pada tahun 1999, yaitu dengan dikeluarkan Instruksi Presiden RI No. 7 Tahun 1999 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Dengan demikian secara formal semua instansi pemerintah dalam pelaksanaan fungsi dan tugasnya diharuskan transparan dan akutabel. Jadi prinsipnya sudah ada model layanan, prosedur tetap, pengawasan, capaian hasil dan metode evaluasinya, semuanya sudah dituangkan dalam Rencana Strategis (renstra) instansi pemerintah. Pembuatan Renstra itu sendiri sangat transparan, meskipun pada waktu itu belum sejalan dengan UU KIP, karena belum ada. Dalam UU KIP jelas sekali menegaskan bahwa semua informasi itu terbuka (dipulikasikan) kecuali yang rahasia. Berbeda dengan paradigma sebelumnya bahwa semua informasi itu rahasia, kecuali yang dibuka atau yang dipublikasikan. Jadi secara ringkas bisa disimpulkan bahwa transparansi dan akuntabilitas

ix

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik

Edisi 3 / September / 2011

kebijakan pemeritah termasuk bidang pelaynan telah dilaksanakan, meskipun harus diakui ada beberapa yang masih tertinggal. Bagaimana kita melihat secara konkret reformasi birokrasi itu dari sisi pelaynan publik? Pelayanan publik itu kita bagi dua yakni yang bersifat administratif dan pelayanan praktis atau non administrasi. Pelayanan administratif seperti KTP dan sejenisnya, hampir di semua daerah sudah transparan, umpamanya sudah jelas berapa biayanya, penyelesaiannya berapa lama, prosedur dan mekanismenya. Bahkan informasi tentang semua itu ditempelkan di papan pengumuman sehingga masyarakat mengetahuinya secara jelas. Selain itu ada standar pelayanan minimum yang diatur berdasarkan Kepmendagri yang menjadi acuan bagi daerah untuk merancanakan angaran pendapatan dan belanja daerahnya. Standar pelaynan itu juga dipublikasikan agar diketahui oleh masyarakat. Ini artinya langkah konkret yang dilakukan pemerintah itu ada, hanya mungkin kalau ada penyimpangan oleh oknum, termasuk sikap dan prilaku SKPD di daerah tertentu yang cenderung mengada-ada. Sehingga dalam kontek reformasi birokrasi, kelemahan-kelemahan itu dipantau dan dievaluasi, kemudian ditertibkan. Untuk mengurangi penyimpangan kita menggunakan instrumen indek kepuasan masyarakat melalui survei. KPK juga menggunakan

tingkat kepuasan masyarakat dalam mengukur kualitas pelaynan publik. Dalam reformasi birokrasi, unsur itu juga dimasukkan sebagai salah satu indikator keberhasilan yakni peningkatan kualitas pelaynan publik. Kalau kita ambil contoh, kalau KPK mengunakan unsur integritas pelaynan publik, tingkat kemudahan berusaha, lalu instansi yang akuntabel. Tahun 2009 kita sudah punya base line sekian, kita punya target tahun 2014 sekian. Dengan ukuran itu terus dilakukan pemantauan, ternyata hasilnya semnatra ini mengalami peningkatan (kemajuan). Jadi jelas ada pengukurannya untuk menetukan tingkat keberhasilan program reformasi birokrasi. Sampai saat ini masih banyak pemerintah daerah belum membentuk PPID sesuai ketentuan UU No. 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik. Baagaimana Pemerintah menyikapi maslah tersebutdalam kaitan dengan upaya mempercepat reformasi birokrasi? Secara makro hal itu termasuk dalam konteks penguatan kelembagaan dan pembenahan organisasi. Atas dasar UU KIP tersebut kita melangkah pada Open Government yang salah satu intinya adalah setiap instansi pemerintah dihimbau untuk segera melangkah konkret membenahi organisasinya sesuai kebutuhan. UU KIP jelas mengatakan bahwa jika masyarakat yang meminta informasi yang terbuka,

x

xi . Ditambah lagi dengan adanya website. Ini artinya pintu masuk tidak harus melalui lembaga baru (PPID). yakni Jawa Barat dan Nusa Tenggara Barat. Aparat pemerintah menyadari bahwa hak publik untuk mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Jadi kalau berbicara tentang prinsip-prinsip transparansi. Bahkan barubaru ini pada kesempatan lokakarya ditampilkan dua daerah yang masuk kategori berhasil. Tetapi berdasarkan pengamatan Kementerian PAN dan RB. pemerintah daerah tidak terlalu tertinggal. setiap waktu masyarakat berhak meminta informasi pada instansi pemerintah ada atau tidak PPID pada intansi tersebut. Mungkin urgensinya untuk memperkuat unit pelaynan informai. termasuk pemeritah daerah. Ternyata langkah-langkah yang dilakukan kedua daerah ini luar bisa dalam kontek transparansi. Kita tidak bisa menuding bahwa semua pemda itu sama. Jadi dari sisi kacamata reformasi birokrasi. maka bisa dikatakan bahwa sebagian besarnya sudah punya kesadaran tersebut sangat kuat. Penilaian ini didasarkan pada indikator dengan menggunakan instrumen yang ada. pengadaan barang dan jasa dan lainlain semuanya terbuka. salah satunya adalah dengan pemanfaatan teknologi inforasi untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. akuntabilitas dan partisipasi publik dalam pelaksanaan good governance di setiap instansi pemerintah. Saat ini pemerintah sudah cukup transparan dan open government. Ada beberapa daerah yang mengalami hambatan. yakni melalui laporan akuntabilitas. Oleh karena itu bisa disimpulkan bahwa secara nasional terdapat kemajuan yang cukup signifikan dalam penyelenggaran pemerintahan dengan prinsip good governance. Ada kendala di beberapa daerah dengan alasan PAD yang tidak mencukupi. Mereka menyampaikannya dengan cukup baik. Bagaimana kondisi pemerintah termasuk pemerintah daerah dalam menyelenggarakan pemerintahan yang berperinsip good governance? Kalau dilihat dari sisi akuntabilitas. baik karena faktor sumber daya manusia maupun sumber daya lain.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik kalau ada yang menghaklangi. di samping masyarakat juga punya kesadaran yang luar bisa dalam menuntut haknya untuk memperoleh informasi. karena karakter manusianya berbeda satu dengan yang lain. maka bisa dituntut. tidak perlu pintupintu lagi. kecuali yang sifatnya terkait rahasia negara dan surat-surat yang memang sifatnya rahasia. akan lebih memudahkan. upaya untuk meningkatkan pelaynan birokrasi sudah sangat kuat. tentu karena kendala-kendala. Dari unsur transparansi dan lain-lain juga terlihat adanya kesungguhan pemda-pemda dan hasilnya cukup baik. seperti soal APBN. tetapi melalui induk lembaganya.

Dalam UU ini jelas sekali. Moratorium ini diperlukan untuk melakukan pembenahan. Bahkan ada stetmen di Komisi II DPR RI bahwa akibat penyimpangan seperti itu menyebabkan kerugian negara sampai 25 triliun rupiah. Sampai dengan Desember 2012 ditetapkan supaya seluruh pemerintah provinsi. bahwa setiap ada kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. melalui tokohtokohnya. Tidak akan disiapkan formasi oleh pusat. Lalu harusnya hasil ujian itu diumumkan. lalu dalam proses asesmennya diminta dari perguruan tinggi yang terbaik di masing-masing daerah. Atas dasar itu. kabupaten/kota mengajukan berapa kebutuhannya. yang selama ini cenderung berorientasi pada kewenangan. Seperti ada informasi bawa di daerah tertentu untuk masuk PNS harus bayar jutaan rupiah. Bagaimana pemetrintah menyikapi maslah tersebut? Memang harus diakui bahwa kondisi seperti itu ada pada praktek rekrutmen pegawai dan pejabat pemerintah. Salah satu langkah reformasi terkait dengan maslah ini adalah merubah mainset dan kutureset para pejabat. organisasi tertentu. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembanagunan Nasional. dan yang merepresentasikan masyarakat diundang untuk menjaring masukan dan aspirasi masyarakat.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Salah satu sorotan masyarakat terhadap lemahnya pelaynan birokrasi adalah dalam kaitan dengan rekrutmen aparat (PNS) dan pejabat pemerintah yang tidak transparan dan sarat dengan KKN. prosesnya harus dimulai dari usulan desa/kelurahan. Sekarang pemerintah melalui Peraturan Bersama Meneteri Dalam Negeri. kalau tidak ada analisis kebutuhan kompetensi yang dibutuhkan. kompetensinya apa dan sebagainya. Jadi keterlibatan unsur – unsur dalam masyarakat itu penekanannya peranya apa. bukan kewenangannya. Kalau sebuah xii . Kita sudah melakukan pembenahan dengan menetapkan agar semua proses aplikasi melalui website. Dengan reformasi ini juga kita mengukur kinerja. Musrembang sampai ke tingkat nasional dimana di setiap lefel itu melibatkan masukan masyarakat. Menteri Keuangan dan Menteri PAN dan RB memutuskan untuk moratorium penerimaan calon PNS mulai September 2011 sampai Desember 2012. Apakah dalam penyelenggaraan pemerintahan sudah membuka koridor ketertutupan birokrasi melalui semangat dialog dan komunikasi intensif antara pemerintah dan masyarakat? Prinsipsnya kita berpegang pada UU No. Intinya adalah selama masa moratorium itu akan dibuat formula yang bisa mencegah praktek KKN dan prilaku yang menyimpang. tetapi dalam kenyatannya itu dimainkan juga. berubah dan lebih mengutamakan peran. baru ada formasi.

Kendala-kendala apa saja yang dirasakan dalam penyelenggaraan pelayanan birokrasi yang berprinsip good governance? Kendala utama yang terlihat selama ini adalah pada mind-set dan cuture-set pada aparat birokarasi. Sebenernya secara normatif itu semua sudah diatur. efektif. Kendala kedua adalah kebutuhan SDM aparat birokrasi itu belum proporsional. Demokrasi Indonesia menduduki nomor tiga terbaik di dunia. maka reformasi ini digunakan untuk membenahinya. yakni dengan menggunakan menejmen kinerja. produktif dan profrsional. itu semata- mata dengan pertimbangan demi kepentingan bersama. dan belum berorientasi pada hasil (outcomes). Tetapi yang terpenting adanya suatu public policy process yang sesuai dengan prinsipprinsip good governance. birokrat belum benar-benar memiliki pola piker yang melayani masyarakat. Persoalan nanti kalau kemudian ada yang dipotong di atas. Tetapi ada contoh negara yang punya good governance namun dalam praktek demokrasinya masih kategori rendah. maupun dari sisi kompetensinya juga belum pada posisi the right man on the right please. difokuskan pada penguatan birokrasi pemerintah dalam rangka mewujudkan pemerintah yang bersih dan bebas KKN. Meskipun Singapura punya pemerintah yang sangat good governance. bahkan sudah 10 tahun terakhir ini masuk pada periode maturity. Proses dalam merumuskan sebuah kebijakan publik harus melibatkan masyarakat. seperti Singapura. Pola piker dan budaya kerja birokrat belum sepenuhnya mendukung birokrasi yang efisien. Tetapi harus diakui untuk merubah pola pikir.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik kebijakan dalam implementasinya tidak ada aksesnya pada masyarakat. tetapi dari sisi demokratisasi. belum untuk mencapai kinerja yang lebih baik (better performance). Jadi dengan reformasi dimaksudkan untuk merubah pemahman bahwa demokrasi tidak seperti terjadi saat ini. meningkatkan kualitas xiii . apalagi sudah membudaya itu membutuhkan waktu lama. baik dari faktor alokasinya dari pusat sampai ke daerah. Sasaran lima tahun pertama (2010 – 2014). itu pun sampai sekarang belum semua menerapkan. Seperti digambarkan sasran reformasi birokrasi dalam Grand Design Reformasi Borokrasi 2010 -2025 yang dibagi dalam tiga tahap sebagai berikut: 1. Selain itu. maka kinerjanya turun. tetapi bukan berarti reformasi birokrasi jalan di tempat. Bagaimana mengefektifkan pelayanan birokrasi dalam era keterbukaan informasi sebagai bagian dari demokratisasi? Prinsip demokrasi. masih jauh di bawah Indonesia. karena kemudian kurang efektif. salah satu prasyaratnya adalah penerapan good governance.

Sasaran lima tahun ketiga (2020. serta meningkatkan kapasitas dan akuntabilitas kinerja birokrasi. reformasi birokrasi dilakukan melalui peningkatan kapasitas birokrasi secara terus menerus untuk menjadi pemerintahan kelas dunia sebagai kelanjutan dari reformasi birokrasi lima tahun kedua. Sasaran lima tahun kedua (2015 – 2019).Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 pelaynan publik kepada masyarakat. Sehingga dengan sasaran-sasaran tersebut. pada lima tahun kedua juga dilanjutkan upaya yang belum dicapai pada berbagai komponen yang strategis birokrasi pemerintah pada lima tahun pertama. 2. semua itu sudah pada posisi yang benar. selain implementasi hasil-hasil yang sidah dicapai pada lima tahun pertama. xiv . reformasi birokrasi ini akan berhasil membenahi performen pelaynan birokrasi dalam memenuhi kebutuhan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. 3.2024).

1 .I Pelayanan Birokrasi dalam Era Otonomi Daerah Oleh : Ferdinand Kerebungu * Edisi 3 / September / 2011 * Ketua Program Studi Magister Administrasi Publik. pada Program Pascasarjana Universitas Negeri Manado. dan mengajar pada S2 Pengembangan Sumberdaya Sosial. Program Pascasarjana Universitas Samratulangi Manado.

tetapi lebih ditentukan oleh tim sukses. dan transparan. Hal ini disebabkan oleh karena penempatan pejabat aselon II dan III. Di era otonomi daerah saat ini. maka sistem pemerintahan dan politik yang berlaku harus didasarkan pada sistem pemerintahan yang demokratis. Realitas yang teralami sekarang banyak birokrat yang tidak mengutamakan pelayanan publik. Di era reformasi sekarang ini sistem pemerintahan berubah menjadi desentralistik. dan kebutuhan mereka D Pendahuluan 2 . dengan harapan tujuan terbentuk negara ini dapat terwujud secara optimal.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 i era sistem pemerintahan desentralisktik sekarang ini banyak menimbulkan persoalan pemerintahan terutama dalam birokrasi pelayanan publik. Tugas ini di era orde baru belum dapat terwujud hingga ke pedalaman Negara kesatuan Republik Indonesia. Perubahan arus sistem pemerintahan ini merupakan impian dari masyarakat agar dapat terlayani dengan baik. penyelenggaraan birokrasi pelayanan publik yang dilaksanakan oleh pemerintah pada prinsipnya untuk memenuhi kebutuhan dasar dan hakhak setiap warga negara berdasarkan amanat Undang-Undang Dasar 1945. kapabiltas dan akuntabiltas dalam bidang kerjanya. bukan berdasarkan pendidikan dan latihan penjenjangan kerier. karena banyak pejabat publik yang diangkat tidak memiliki kapasitas. sehingga mereka tidak menguasai tugas pokok dan fungsinya. karena sistem pemerintahan yang bersifat sentralistik. Dalam tulisan ini dikaji tentang efektivitas pelayanan birokrasi di era otonomi daerah. Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar tahun 1945 pada alinea keempat diamanatkan tentang tugas pemerintah antara lain adalah untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk dapat mengoptimalkan sumberdaya yang ada di daerah khususnya sumberdaya manusia. Banyak gejolak yang terjadi di daerah sebagai perwujudan ketidak puasan masyarakat dalam pelaksanaan otonomi daerah.

belum juga menunjukkan perubahan yang signifikan dalam sistem pelayanan publik yang dilaksanakan oleh para birokrat sebagai pejabat publik. hingga perubahannya menjadi UndangUndang Nomor 32 tahun 2004. Berdasarkan latar belakang tersebut. Nampaknya para kepala daerah sebagai top manajemen dalam organisasi pemerintahan daerah lebih disibukkan dengan bagaimana para pendukungnya masuk dalam jajaran kabinetnya. maka yang menjadi permasalahan dalam penulisan ini adalah “sejauhmana efektivitas pelayanan birokrasi diera otonomi daerah”. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis pelaksanaan pelayanan birokrasi terhadap masyarakat di era otonomi daerah. Setelah dua belas tahun pelaksanaan perubahan sistem pemerintahan yaitu dari sistem pemerintahan yang sentralistik ke sistem pemerintahan desentralistik sejak ditetapkannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. apalagi mau menuntut kualitas. bahkan dalam sistem pelayanan publik modern menuntut para birokrat melakukan pelayanan prima pada publik. Realitas yang dihadapi masyarakat di era otonomi sekarang ini seperti hanya sebuah mimpi yang sulit untuk terwujud. Pelayanan birokrasi yang terjadi tidak mampu mengimbangi perkembangan tuntutan masyarakat akan pelayanan. seperti pelayanan cepat. Akibatnya kebanyakan pejabat yang menduduki jabatan aselon dua (II) hingga aselon tiga (III) adalah orang-orang yang tidak berkompeten dibidangnya. efektif dan efisien. Kondisi ini banyak dilihat di tanah air ini tentang maraknya protes yang dilakukan oleh masyarakat. tepat.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik dapat tercapai dengan sistem pelayanan birokrasi yang prima. Sehingga tulisan ini dapat bermanfaat untuk melakukan evaluasi pelaksanaan otonomi daerah apakah berjalan efektif sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 junto Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang otonomi daerah. sehingga pelayanan publik tidak dapat terlaksana dengan optimal. bahkan tujuan utama pemekaran wilayah yang marak terjadi di era otonomi daerah yaitu mendekatkan pelayanan pada masyarakat bagaikan api jauh dari panggang. kesulitan menciptakan lapangan kerja. junto Undang-Undang no 12 tahun 2008. Untuk meningkatkan kualitas birokrasi dalam pelayanan publik. yang tidak sesuai dengan harapan masyarakat. 3 . Persoalan tersebut diperparah lagi dengan kinerja para birokrat yang sangat rendah.

Menyimak kelima ciri fungsi birokrasi tersebut. 2005). dan memahami secara cepat kebutuhan publik yang dilayani. dan memberikan pengayoman terhadap masyarakat yang berada di wilayah kerjanya. dan yang terakhir. memiliki kejujuran dan berperilaku baik. memiliki pengetahuan luas dan ketrampilan yang baik. kelemahan birokrat sama dengan kelemahan administrasi pelayanan publik. Oleh sebab itu. yaitu: (1) dimensi kelembagaan yang meliputi. Selanjutnya Sarundajang (2005). mengemukakan bahwa “birokrasi pemerintahan dapat dipandang dari dua dimensi. responsif. tidak menundanunda pekerjaan. mekanisme dan prosedur. dan (2) dimensi sikap dan perilaku birokrasi. peraturan-peraturan baku yang berstandard dan budaya. seorang birokrat akan nampak kualitas layanannya terhadap publik seperti kehandalannya. dimensi ini merujuk pada berbagai perilaku yang diperankan para birokrat dalam pelayanan publik”. memahami alur birokrasi layanan yang ditetapkan oleh masing-masing satuan kerja perangkat daerah (SKPD).Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 perlu memperhatikan tentang tugas dan fungsi dari masing-masing aparatur. komunikatif. (5) meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Lumingkewas dan Masengi (2008). birokrat dalam menjalankan tugasnya berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku bagi setiap pejabat publik dan menanpakan perilaku sebagai pamong yang 4 . kita tidak menjumpai berbagai bentuk kekecewaan masyarakat dan sebaliknya masyarakat akan concern dalam aktivitas kesehariannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. seyogyanya di era otonomi daerah saat ini setiap penjabat publik dalam melaksanakan tugasnya sebagai administrator dan pelayan publik memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat guna mencapai cita-cita pendirian negara ini. Di mana para aparatur (birokrat) dituntut untuk memiliki pengetahuan tentang unsur-unsur layanan publik yang secara tepat. (Sarundajang. Sejalan dengan pemikiran tersebut. (3) melindungi kebebasan individu berdasarkan peraturan dan norma adat istiadat yang berlaku di masyarakat. Selain itu. (2) menjamin keadilan di lingkungan masyarakat. Jika birokrat sebagai administrator dan pelayan publik melaksanakan tugasnya berdasarkan fungsinya sebagaimana dikemukakan oleh Sarundajang di atas. Banyak pengamat mengatakan bahwa birokrasi identik dengan administrasi. mengemukakan ada lima ciri fungsi birokrasi yaitu: (1) memenuhi tatanan internal organisasi dan keamanan eksternal organisasi. Oleh karena itu birokrasi di Amerika Serikat disebut dengan Administration. Berdasarkan kedua dimensi birokrasi pemerintahan tersebut. (4) mengatur tindakan individu agar individu tidak menjadi liar.

karena Walikota Manado mengganti beberapa pejabat aselon II tanpa konsultasi dengan Gubernur. Kondisi ini yang sering membuat masyarakat bosan dengan berbagai keterlambatan dalam soal surat menyurat. dan peran Badan Pertimbangan Jabatan (Baperjakat) hanyalah bersifat formalitas. Sebagai contoh misalnya. Di era kemajuan teknologi. mulai sekitar bulan Juli 2011 sampai saat ini masih terjadi kesalahpahaman antara Walikota Manado dengan Gubernur Provinsi Sulawesi Utara. Sebagai seorang pelaksana tugas di lembaga pemerintahan harus dapat menjadi sebagai konseptor. yang pada gilirannya akan dapat memberikan pelayanan yang prima terhadap masyarakat. dan bahkan pengangkatannya lebih ditentukan oleh tim sukses pilkada. dan pelaksana. bahkan jika diamati di lembaga-lembaga pemerintahan sering ditemui staf administrasi di kantor-kantor pemerintahan. bisa tertunda sampai berjam-jam atau bahkan berhari-hari. memiliki ketrampilan dan menguasai perkembangan teknologi informasi. kondisi seperti yang disebutkan di atas banyak dipengaruhi oleh sikap kepala daerah (Bupati/Walikota) terpilih yang lebih banyak mendengarkan tim sukses dibandingkan dengan mendengarkan staf atau penjabat yang berkompeten dalam bidangnya. demi kepentingan dan kemajuan bangsa dan negara. tidak lagi berdasarkan pada kapasitas atau kapabilitas para penjabat yang diangkat. sehingga sering banyak tugastugas yang seharusnya diselesaikan dalam waktu satu atau dua jam.      Birokrat sebagai Administrator Seorang birokrat sebagai administrator memerlukan pengetahuan luas. perencana. tetapi lebih banyak digunakan permainan game. dan yang selalu menjadi alasan klasik yang dilontarkan oleh staf tersebut adalah belum ditanda tangan oleh bos/atasannya karena tidak berada ditempat. Berdasarkan realitas yang nampak di daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi   Utara. tidak menggunakan komputer untuk kepentingan tugasnya sebagai seorang administrator.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik patut diteladani oleh semua pihak. informasi dan komunikasi (TIK) saat ini tidak sedikit birokrat yang tidak mampu menguasai dan menggunakan teknologi informasi secara baik. Setiap penjabat aselon dua (II) atau tiga (III) yang diangkat oleh Bupati/ Walikota. Hal ini terkait dengan persoalan pelayanan kepada masyarakat. Antara Harapan dan Kenyataan 1. seperti 5 . PIM II maupun PIM III. dan bahkan tidak memperhatikan pendidikan penjenjangan karier seperti diklat PIM I. hal ini dimaksudkan agar dalam melaksanakan tugas kesehariannya ia mampu menyelesaikan dalam waktu yang tidak terlalu lama.

6 . Contoh arogansi pejabat kepala daerah terpilih yang demikian itulah yang menyebabkan seringkali banyak penjabat tidak berada ditempat karena harus mengikuti ke mana Bupati/Walikota berkunjung. penggantian pejabat dan pelantikannya sering dilakukan secara mendadak dan dilakukan malam hari. . Secara sosiologis dan psikologis. Akibat perilaku demikian birokrasi pelayanan publik tidak berjalan optimal.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 penggantian Sekretaris Kota Manado. Sarundajang (2005) mengemukakan bahwa “Otonomi Daerah adalah hak wewenang dan kewajiban daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku”. banyak masalah terjadi di daerah yang tidak tertangani secara baik karena keterbatasan kewenagan pemerintah daerah . di Kabupaten Minahasa Selatan. setelah dilantik oleh Mendagri langsung melantik pejabat aselon II dan III di lembaga pemasyarakatan Cipinang. sebab kalau tidak ikut serta dalam rombongan kunjungan kerja. Gaffar dan Rasyid (2003). sehubungan dengan tujuan pelaksanaan desentralisasi oleh Syaukani. mengemukakan bahwa  “di masa lalu. Pelayan yang seimbang dan pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat merupakan konsekwensi dari implementasi otonomi daerah. Banyak keluhan yang disampaikan aparatur di daerah yaitu kurangnya partisipasi masyarakat dalam berbagai program pembangunan termasuk dalam hal pembayaran pajak bumi dan bangunan (PBB). masyarakat Indonesia pada umumnya adalah masyarakat yang taat pada pemerintahnya. walaupun itu bukan bidangnya. . Pada saat ini kewenangan pemerintah daerah sudah begitu luas dalam mengembangkan potensi yang terdapat di daerahnya. Sehubungan dengan hal itu. Lain lagi peristiwa yang dilakukan oleh Walikota Tomohon Sulut yang terpilih (saat ini non aktif. ketaatan dan partisipasi masyarakat tersebut akan lahir dengan sendirinya apabila mereka mendapat perlakuan yang seimbang dan kebutuhan pokoknya terpenuhi. Contoh yang lain lagi. dan ditahan dilembaga pemasyarakatan Cipanang karena tersangkut kasus Korupsi). termasuk di dalamnya pelayanan birokrasi terhadap kepentingan masyarakat. Fenomena-fenomena demikian bukan barang baru yang ditampilkan oleh setiap pejabat Bupati/Walikota di era Otonomi Daerah saat ini.”. bisa berdampak pada penggantian pejabat. Kasus pemberhentian sepihak terhadap pejabat Sekretaris Kota Manado berakhir di PTUN dan dimenangkan oleh pejabat Sekretaris Kota yang berhentikan. Berdasarkan ketentuan peraturan peundang-undangan yang berlaku bahwa setiap pengangkatan pejabat aselon II harus dikonsultasikan oleh Bupati/Walikota kepada Gubernur.

Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Oleh sebab itu. Kondisi demikian sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Kaloh (2002). 2. karena kewenangan tersebut tidak dilaksanakan secara optimal. sehingga dalam perencanaan pembangunan daerah banyak antar SKPD yang saling tumpang tidih program. yang banyak mempengaruhi berhasil tidaknya pelaksanaan otonomi daerah terletak pada para pelaku otonomi daerah itu sendiri. Para pelaku otonomi daerah adalah mereka yang diberi kewenangan dan otoritas untuk mengelolah daerahnya. Keberhasilan pelaksanaan otonomi daerah sangat ditentukan oleh bagaimana perilaku aparatur di daerah dalam melaksanakan tugas dan fungsinya secara bertanggung jawab dan penuh pengabdian. Tidak optimalnya pembayaran PBB oleh masyarakat berdampak pada rendah Pedapatan Asli Daerah (PAD). ketimbang hal-hal yang tidak berdampak pada peningkatan partisipasi masyarakat. Kondisi demikian lebih dipeparah oleh perilaku anggota DPRD yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi ketimbang kepentingan konstituennya. mengemukakan bahwa “salah satu prasyarat tercapainya team work dan konvergensi adalah adanya kejelasan tugas pokok dan fungsi masingmasing institusi pemerintahan”. serta didukung oleh kerjasama yang baik antar aparatur yang ada dalam membentuk tim kerja  (team work) yang solid. dan Dana Alokasi Khusus (DAK). Perilaku Birokrasi dalam Pelayanan Publik Sebagaimana telah diutarakan pada bagian sebelumnya. karena kosentrasi pejabat yang ada lebih terfokus pada melayani Bupati/Walikota ketimbang melayani masyarakat. maka tidak mengherankan banyak pejabat di daerah yang ikut jadi pengemis ke pusat untuk meminta tambahan Dana Alokasi Umum (DAU). yang implikasi pada kurangnya dana untuk pembangunan. Yang menjadi persoalan sekarang di daerah adalah banyak pejabat antar satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang kurang memahami tugas pokok dan fungsinya. Kaloh (2002). gunan menutupi kekurangan dana dari PAD sebagai sumber utama APBD. Kelemahan dalam pelayanan dan rendahnya partisipasi masyarakat banyak dijumpai pada saat pemberian kewenangan ke daerah secara luas. seyogiyanya mengutamakan pengabdiannya kepada masyarakat (Sapta Prasetya Korpri). sebagai seorang birokrat yang berada pada garis depan pelayanan publik. “problematik yang dihadapi oleh birokrasi pemerintahan kita adalah 7 . yaitu Bupati/Walikota dan seluruh aparat birokrasi yang berada di bawahnya. hal ini sering disebabkan oleh ego sektoral dan kurang koordinasi antar SKPD dalam penyusunan program kerja.

sulit untuk melacak sumber permasalahan. kami menanyakan pada dinas pariwisata Provinsi Sulawesi Utara tentang siapa yang bertanggung jawab dalam pengelolaan obyek wisata taman laut Bunaken. Perilaku saling lempar tangung jawab seperti contoh kasus tersebut memberikan gambaran tentang kinerja aparatur dalam pelayanan publik. Perilaku ego sektoral sering ditampilkan oleh para pejabat publik. yang tidak mengutamakan pelayanan tapi hanya lebih mempertontonkan kebolehannya dihadapan atasannya (Bupati/Walokota). Di Provinsi Sulawesi Utara tidak sedikit pejabat yang terlibat kasus manipulasi dan korupsi sehingga mereka berurusan dengan pihak berwajib dan bahkan sudah banyak yang masuk lembaga pemasyarakatan. Sebab sistem pemerintahan demokratis memberikan peluang bagi masyarakat untuk mengontrol 8 . Saling lempar tanggung jawab. seperti Taman Laut Bunaken. Dampak dari perilaku demikian. dan obyek wisata religi Bukit kasih di Kanonang Minahasa. tumpang tindih program merupakan celah yang terbuka untuk terjadi manipulasi dan korupsi. Raja-raja kecil dan korupsi tidak akan lahir di daerah otonom. akan tetapi tidak memperhatikan tupoksinya. sehingga tujuan terbentuknya daerah otonom yaitu mendekatkan pelayanan pada publik dan peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat terwujud. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Syaukani. banyak program kerja yang saling tumpang tindih karena sudah ditangani oleh beberapa SKPD. agar supaya dipandang lebih piawai dalam menyusun program. bahwa “otonomi daerah akan menciptakan raja-raja kecil di daerah dan memindahkan korupsi ke daerah”. sehingga dalam satu daerah otonom akan mengalami kesulitan untuk membentuk tim kerja yang solid. Sebagai contoh kasus misalnya penanganan beberapa obyek wisata yang terrdapat di Propinsi Sulawesi Utara. begitu sebaliknya waktu ditanyakan pada dinas pariwisata kota manado. mampu berkoodinasi antar SKPD. Dalam kondisi sedemikian ini sulit membangun team work dan konvergensi”. jawabannya adalah pemerintah Provinsi.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 seringkali sesuatu urusan ditangani oleh banyak instansi sehingga muncul masalah. Pada suatu kesempatan saya mendampingi salah seorang teman yang sedang melakukan penelitian tentang Privatisasi Kebijakan Publik tentang obyek wisata taman laut Bunaken. kami mendapat jawaban bahwa yang bertanggung jawab adalah pemerintah kota manado. jika Bupati/Walikota dalam menjalankan sistem pemerintahannya secara demokratis. Dalam proses pengumpulan data. karena obyek wisata taman laut bunaken berada di beberapa wilayah kabupaten kota. Gaffar dan Rasyid (2003).

Tidak terjadi tumpang tindih program pembangunan dan tidak membuka ruang bagi koruptor akan berdampak positif bagi kemajuan masyarakat. 9 . serta mendekatkan pelayanan pemerintahan pada masyarakat di daerah. yang pada gilirannya birokrasi pelayanan publik akan berjalan secara optimal. maka tujuan utama utama pembentukan otonomi daerah dapat terealisasi. termasuk diantaranya sumberdaya manusia secara berdaya guna dan berhasil guna. dan pihak pemerintah lebih terbuka dalam hal penyusunan program (Musrembang sesuai undang-undang 32 tahun 2004) dan penggunaan anggaran publik benar-benar untuk kepentingan publik. Untuk mencapai hal tersebut. tanggung jawab lebih bertumpuh pada kepala daerah yaitu Bupati/Walikota. seorang kepala daerah dalam menjalankan roda pemerintahannya harus bersifat demokratis. untuk dapat mengoptimalkan dan memberdayakan segala sumberdaya yang ada di daerahnya.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik jalannya pemerintahan. Penutup Pelaksanaan otonomi daerah pada prinsipnya adalah percepatan pertumbuhan dan pembangunan daerah. transparan dan akuntabel. Dalam sistem pemerintahan daerah yang bersifat desentaristik seperti sekarang ini.

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik

Edisi 3 / September / 2011

 Daftar Pustaka Kaloh, J., 2002, Mencari Bentuk Otonomi Daerah, suatu solusi dalam menjawab kebutuhan local dan tantangan global, Rineka Cipta, Jakarta.  Lumingkewas, Lexie A., dan Evi E. Masengi, 2008, Reformasi Birokrasi Pemerintahan, dalam perspektif pelayanan publik, Wineka Media, Malang.   Sarundajang, S.H., 2005, Arus Balik Kekuasaan Pusat ke Daerah, Kata Hasta, Jakarta.  . . . . . ., 2005, Birokrasi Dalam Otonomi Daerah, uapaya mengatasi kegagalan, Kata Hasta, Jakarta.   Syaukani, Afan Gaffar, dan M. Ryaas Rayid, 2003, Otonomi Daerah, dalam negara kesatuan, kerjasama Pustaka Pelajar dan Pusat Kajian Etika Politik dan Pemerintahan, Jakarta.

10

Edisi 3 / September / 2011

II
Pelayanan Birokrasi Papua dalam Era Otonomi Khusus
Oleh : Oleh Habel M. Suwae 1, Heru Nugroho 2, Djoko Suryo 3 Habel M. Suwae, mahasiswa Program Doktor Kajian Budaya dan Media Sekolah Pascasarjana UGM, dan Bupati Kabupaten Jayapura Provinsi Papua.
1 2 3

Heru Nugroho, Guru Besar Sosiologi Fisipol UGM

Djoko Suryo, Guru Besar Sejarah FIB Universitas Gadjah Mada

11

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik

Edisi 3 / September / 2011

S

Pendahuluan ebagaimana diketahui, melalui Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001

tentang Otonomi Khusus,

Papua telah diberi kewenangan untuk mengatur pemerintahan sendiri berdasarkan peraturan perundangan. Dengan Otsus para elite politik di Papua kebanyakan memilih bersikap terbuka terhadap masuknya para investor, baik dari dalam dan luar negeri untuk tujuan mengembangkan Papua lebih maju. UU Otsus itu pun memang dengan eksplisit menyebutkan bahwa Papua dikategorikan sebagai daerah tertinggal jika dibandingkan dengan wilayah Indonesia Tengah dan apalagi wilayah Indonesia Barat.
Pilihan strategis politik pembangunan seperti itu membawa konsekuensi daerah ini terus berkembang baik secara politik, ekonomi, maupun kebudayaan. Dalam bidang politik, proses demokrasi terus bergulir tercermin

dalam proses Pemilu Kepala Daerah secara langsung. Lebih dari itu melalui prinsip demokrasi politik, terus dipakai dalam untuk mengubah paradigma pembangunan yang lebih partisipatif. Maka di beberapa wilayah Papua, terutama Kabupaten Jayapuran telah menerapkan model pembangunan partisipatif dalam upaya memberdayakan masyarakat. Di Kabupaten Jayapura telah meluncurkan program pembangunan yang diberi nama “Program Pemberdayaan Distrik dan Kapung”, atau yang lebih populer dengan singkatan PPDK.1 Konsep dan paradigma pembangunan ini diluncurkan sebagai respons atas semakin meningkatnya kecenderungan pola pembangunan sentralistik yang lebih menggunakan pendekatan dari atas-bawah (topdown approach). Berbagai program pembangunan pada saat itu lebih banyak prakarsa datang dari pemerintah, sementara prakarsa dari masyarakat kurang terakomodasi dalam proses perencanaan pembangunan. Partisipasi pun kemudian dipahami menurut tafsir tunggal pemerintah, yaitu yang dimaknai seberapa jauh masyarakat melaksanakan program pembangunan yang dirancang dari atas, dari yang telah ditetapkan oleh
1 Urain lebih lengkap terdapat dalam Poli dan Dahlan Abubakar, 2008, Suara Hati yang Memberdayakan: Gagasan Pemberdayaan Masyarakat di Kabupaten Jayapura, Makasar: Identitas.

12

politik. masyarakat lokal ini mewujud dalam komunitas berbasis etnis yang tersebar di berbagai wilayah baik di pantai dan daratan maupun di pegunungan. Di Papua. Masyarakat lokal adalah sejumlah warga yang sudah cukup lama berdomisili pada lokasi tertentu yang mengembangkan kultur atau pandangan hidup bersama (common way of living) yang lama-lama menjadi identitas. keberagaman dipandang sebagai potensi integrasi. atau berkembang menjadi birokrasi modern yang mengutamakan profesionalisme dan merit system.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik pemerintah. Melalui PPKD. agama. Masyarakat Papu kemudian berkembang menjadi masyarakat yang plural. pertanyaan menarik adalah bagaimana pelayanan birokrasi pemerintah Papua dalam era Otonomi Khusus sekarang ini. Dengan PPKD. bukan sebagai faktor yang memecah belah. prinsip pembangunan partisipatif tersebut dilaksanakan secara komprehensif dengan sasaran utama adalah menjadikan warga sebagai subyek pembangunan. agama. Berangkat dari realitas masyarakat Papua yang berkembang semakin plural. Secara konkret sasaran PPKD adalah warga masyarakat lokal dan masyarakat pendatang. Oleh karena itu multikulturalisme menjadi pilihan utama dalam mengkonstruksi identitas kolektif yang bernama Papua. 13 . Dengan kata lain. Bersamaan dengan itu. Di samping itu juga terdapat masyarakat pendatang yang datang dari berbagai daerah dan memiliki latar belakang etnis. keberagaman itu justru dijadikan sebagai modal pembangunan dengan mendorong ke arah tujuan bersama yaitu peningkatan kesejahteraan berbasis kemandirian dan keberdayaan. Dinamika interaksi sosial itu kemudian membawa implikasi pada dua kemungkinan. Mereka itu saling berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain dengan masing-masing menunjukkan indentitasnya. Apakah bias primordialisme seperti baik buruknya pelayanan birokrasi disebabkan oleh faktor kesamaan etnis. dan kekerabatan. sehingga mandiri. Persinggungan dengan dunia luar membuat masyarakat Papua berelasi dengan berbagai budaya dan kepentingan lain yang terus melakukan interaksi secara intens. dan masing-masing memiliki identitasnya sendiri. maupun sosialbudaya yang dibawa oleh arus modernisasi. dan kultur yang beragam. serta semuanya membangun identitasnya masingmasing. dan mereka itu juga mempunyai identitas masingmasing. Papua menjadi wilayah yang terbuka bagi masuknya berbagai aktivitas baik ekonomi. yaitu menuju proses integrasi atau konflik.

Bagi sebagian besar warga Papua. penamaan (naming) memiliki signifikansi tinggi terhadap tumbuhnya kepercayaan diri dan pengakuan eksistensial dari dunia luar tentang Papua. sementara 2 Bandingkan dengan studi yang sudah dilakukan oleh Johszua Mansoben. Struktur-struktur masyarakat Papua yang terdiri dari kurang lebih 250 suku bangsa bersifat otonom satu sama lain. Setiap kelompok suku secara kultural mandiri dan unik. Konstruksi identitas kepapuan yang selama ini lebih dibentuk oleh narasi-narasi dominan. Kepapuaan cenderung berhenti sebagai identitas yang dihayati secara “etnosentris” dan emosional. Pada era reformasi penggunaan nama Papua menjadi penanda bagi aspirasi bersama itu. Interaksi yang terbatas di masa lalu belum memungkinkan tumbuhnya kesadaran budaya yang relativistik dan toleran. Oleh karena itu etnosentrisme menjadi persoalan dasar di dalam konsolidasi rakyat Papua. Perasaan satu identitas ini disatukan oleh memori penderitaan kolektif dan kongruensi aspirasi yang bersumber dari mitologi sebagian besar suku bangsa masing-masing tentang milenium baru dan mesianisme. atas inisiatif Presiden Abdurrahman Wahid atau yang akrab disebut Gus Dur Irian Jaya diubah menjadi Papua. Sistem Politik Tradisional di Irian Jaya. (Jakarta-Leiden: LIPI-RUL). Berkembang perasaan di kalangan warga Papua.2 Masyarakat Papua sendiri dalam mengkonstruksi identitas kepapuannya. sebagian ada yang melihatnya secara konservatif dengan latar belakang etnis sebagai basis konstruksi identitas.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi Primordial Pada era reformasi. Sejak itu kepapuaan kembali dihidupkan sebagai identitas alternatif dari identitas “Irian Jaya” yang telah identik dengan “Indonesia” beserta penindasan dan praktik kolonialismenya. dan setiap suku memiliki kosmologi yang memandang dirinya sebagai pusat dari semesta. 14 . seperti terlahir kembali. Di dalam kenyataannya budaya semacam ini sulit tumbuh suatu kepemimpinan yang diakui oleh semua kelompok suku bangsa. pada kurun 1998-1999. Setiap kepala suku atau pemimpin lokal tidak memiliki otoritas yang penuh kecuali sebagai juru bicara masyarakatnya. bagi rakyat Papua asli merupakan momen yang luar biasa dan berkaitan dengan usaha mencari identitas. Perubahan nama dari Irian Jaya menjadi Papua. setelah mendapatkan kembali nama Papua yang diakui secara resmi oleh pemerintah pusat. terbuka ruang bagi warga Papua untuk mengeskspresikan diri identitas kepapuannya. Kongruensi aspirasi dan identitas kepapuaan baru pada tahap yang sangat dini. Mereka menganggap bahwa orang Papua adalah orang Papua asli. maka setelah kembali bernama Papua. tidak tunduk pada yang lain.

atau agama. Yang loyal kepada patron diberi sumber ekonomi dan status sosial. atau pun peraturan-peraturan. hubungan-hubungan yang ada secara interen dan eksteren adalh hubungan antara patron dengan klien yang bersifat sangat pribadi dank has. Walikota dan Wakili Walikota harus orang Papua asli. Meskipun sebagai birokrasi ia memiliki struktur yang serupa dengan yang ditemui di negaranegara industri maju. dan sebaliknya yang tidak loyal akan dibatasi sumber ekonomi dan karirnya.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik penduduk yang datang dari luar etnis Papua dianggap sebagai nonPapua. dan tidak mungkin netral (King. diterbitkan Peraturan Pemerintah Daerah Otonomi Khusus yang merupakan keputusan politik melalui mekanisme pembahasan di DPRD Papua yang menetapkan bahwa Gubernur dan Wakil Gubernur. yang lepas dari konstitusi. daerah. Jadi. dan 3 Sejak tahun 2009. Ada anggapan bahwa berlainan dengan di negara-negara maju.3 Apakah pemahaman yang bias etnosentrisme itu mempunyai implikasi terhadap pelayanan birokrasi? Dalam banyak kasus sedikit-banyak memang memiliki dampak terhadap ketidaknetralan birokrasi dalam memberikan pelayanan terhadap publik. Perilaku birokrasi seperti itu sangat terlihat pada era Orde Baru. 1980). tidak obyektif. di jajaran birokrasi akan timbul masalah pertukaran antara loyalitas dan pemberian ganjaran. Oleh karena itu. birokrasi seringkali merupakan bagian dari dominasi politik oleh suatu suku. namun isinya dan perilakunya secara kental diwarnai oleh kaitan primordialnya (Kuntjoro-Jakti. aparat birokrasi di negaranegara berkembang birokrasi sering menunjukkan diri sebagai mesin politik yang tidak netral. Bupati dan Wakil Bupati. terdapat harga yang harus dikeluarkan oleh seseorang ketika berurusan dengan birokrasi. Birokrasi semacam itu dikenal sebagai birokrasi primordial (Kartodirdjo. Secara teoretik pemahaman seperti itu sering disebut sebagai birokrasi yang tidak netral. Dalam konteks birokrasi di 15 . atau kelompok-kelompok primordial lainnya. Artinya. di mana tidak jarang perilaku birokrasi menyerupai interaksi yang bersifat transaksional. 1989). Dalam hubungan semacam itu. Fenomena etnosentrisme ini semakin mengental ketika sejumlah elite politik menafsir Otonomi Khusus (Otsus) juga dari perspektif esensialisme yang berakar pada geneologis. perundang-undangan. senantiasa penuh muatan politik. Mesin politik itu kadang mencerminkan nilai-nilai serta norma-norma yang kurang rasional. Dampak ikutan atas situasi itu merembes ke praktik penyimpangan kekuasaan. Dalam birokrasi ini. 1988). dalam politik lokal sekarang elite politik lokal menghendaki adanya Gubernur dan Wakil Gubernur serta Bupati dan Wakil Bupati harus orang Papua asli.

Di Papua jabatan seperti Sekretaris Daerah. Bugis. dan lain-lain. dan bukan atas dasar sentimen etnis. Menado. Merit sistem benar-benar diterapkan. seperti orang Papua tertinggal dan tidak transformatif. sehingga membentuk identitas baru yang mengaburkan stigma sosial. maka birokrasi pemerintah Papua terus berusaha menuju ke arah profesionalisme dan merit sistem. Kepala Dinas. Pemkab Jayapura selama ini juga menghindari prinsip geneologis dan etnosentrisme. di Papua sektor perdagangan banyak dikuasai oleh etnis Tionghoa dan Bugis Makasar. sama sekali tidak menerapkan kebijakan yang mengarah pada segregasi sosial. ibit. di mana aparat birokrasi yang fungsi utamanya 5 Profil Kabupaten Jayapura. Karena itu seperti di daerah lain. birokrasi Papua sangat mempertimbangkan kepentingan publik yang semakin plural. banyak dijabat oleh pegawai yang berasal dari berbagai daeah seperti Jawa. memang ada juga kecenderungan aparat birokrasi yang dalam memberikan pelayanan masih berkarakter sebagaimana yang ditunjukkan birokrasi primordial.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Papua sekarang. Eselonisasi dalam jajaran birokrasi sama sekali tidak mempertimbangkan putra daerah. bahwa setiap warga masyarakat adalah ibarat raja yang harus dilayani. dan bersamaan dengan itu arus demokratisasi juga terus berlangsung. Akan tetapi. dalam menerapkan kebijakan pada sektor birokrasi pemerintahan. yang sekarang sangat populer sebagai identitas warga Jayapura. Bali. Semuanya dibiarkan tumbuh secara natural. Meskipun demikian. ekonomi. Orientasi terhadap pelayanan publik ini juga ditegaskan pada komitmen pemerintah Kabupaten Papua. Sedangkan etnis Jawa banyak bergerak pada sektor informal dan pertanian. 2009. Meskipun demikian warga Papua asli kemudian mulai masuk ke dalam berbagai sektor strategis tersebut. dalam arti mengikuti hukum pasar.5 Semua itu menunjukan bahwa dalam menjalankan pelayanan publik. Di sektor pertanian. Batak. 2009. birokrasi pemerintah Papua berusaha menerapkan prinsip multikulturalisme. dalam arti penunjukan pejabat eselon berdasarkan profesionalisme. Sambutan Bupati Kabupaten Jayapura. karena fakta menunjukkan bahwa Papua berkembang sebagai masyarakat plural. dalam menjalankan pelayanan publik. karena baik etnis Jawa maupun penduduk asli telah menjadi subyek dalam budidaya tanaman kakao. sekarang telah menjadi identitas baru warga Kabupaten Jayapura. Bukan sebaliknya. dan pimpinan proyek strategis. Pemkab Jayapura. 16 . kakao misalnya.4 Sedangkan dalam bidang sosial4 Dikutip dari Profil Kabupaten Jayapura. Sebagai ilustrasi.

upaya memberdayakan masyarakat. atau yang lebih populer dengan singkatan PPDK. Islam. Konsep dan paradigma pembangunan ini diluncurkan sebagai respons atas semakin meningkatnya kecenderungan pola pembangunan sentralistik yang lebih menggunakan pendekatan dari atas-bawah (topdown approach). Maluku. Partisipasi pun kemudian dipahami menurut tafsir tunggal pemerintah. sementara prakarsa dari masyarakat kurang terakomodasi dalam proses perencanaan pembangunan. Pendekatan pembangunan yang top-down tidak mampu menggerakkan sikap-sikap aktif pada masyarakat sendiri untuk berkreasi dalam pembangunan. Masyarakat Papua sekarang telah berkembang menjadi masyarakat yang plural. agama. Dari aspek keagamaan. dan distribusi hasil. masyarakat Papua terdiri atas suku Jawa. dan Batak. pilihan birokrasi profesional dan berdasarkan merit sistem itu sesuai dengan realitas empirik masyarakat Papua yang cenderung semakin plural. Dilihat dari keragaman latar belakang etnis. Pemkab Papua juga membuka kotak aduan bagi warga masyarakat yang tidak mendapatkan pelayanan baik dari jajaran aparat birokrasi. agar terlibat dalam proses pembangunan mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan. masyarakat Papua juga bersifat beragam. Begitulah. Khatolik. baik dilihat dari latar belakang etnis. bahwa pembangunan belum dianggap berhasil manakala dalam proses pelaksanaannya belum dapat membangkitkan sikap partisipatif pada masyarakat. masyarakat Papua juga terdiri dari berbagai macam agama. Di Kabupaten Jayapura telah meluncurkan program pembangunan yang diberi nama “Program Pemberdayaan Distrik dan Kapung”. Dorong Partisipasi Publik Birokrasi pemerintah Papua juga terus mendorong partisipasi publik. seperti Kristen-Protestan. Kabupaten Jayapuran misalnya. dan latar belakang sosial ekonomi. Minang.6 Sementara itu dilihat dari latar belakang sosial ekonomi. dari yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Badan Pusat Statistik Kabupaten Jayapura. telah menerapkan model pembangunan partisipatif dalam 6 Dikutip dari Kabupaten Jayapura dalam Angka. sehingga masyarakat sendiri yang akahirnya mampu secara mandiri melanjutkan 17 . 2009. Berbagai program pembangunan pada saat itu lebih banyak prakarsa datang dari pemerintah. Sementaran dalam teori pembangunan menjelaskan. yaitu yang dimaknai seberapa jauh masyarakat melaksanakan program pembangunan yang dirancang dari atas. Bugis. dan ada juga Hindu.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik adalah melayani masyarakat justru minta dilayani.

agama. sistem rekreuitmen. sehingga mandiri. yang lebih mengutamakan efisiensi dan profesionalisme. serta semuanya membangun identitasnya masingmasing. birokrasi pemerintah juga terus mendorong partisipasi publik dalam proses pembangunan menuju pemerintahan yang transparan dan akuntabel. Akan tetapi dalam perkembangan lebih lanjut. masyarakat lokal ini mewujud dalam komunitas berbasis etnis yang tersebar di berbagai wilayah baik di pantai dan daratan maupun di pegunungan. keberagaman itu justru dijadikan sebagai modal pembangunan dengan mendorong ke arah tujuan bersama yaitu peningkatan kesejahteraan berbasis kemandirian dan keberdayaan. Melalui PPKD. Dengan PPKD. Di samping itu juga terdapat masyarakat pendatang yang datang dari berbagai daerah dan memiliki latar belakang etnis. Masyarakat Papua kemudian berkembang menjadi masyarakat yang plural. prinsip pembangunan partisipatif tersebut dilaksanakan secara komprehensif dengan sasaran utama adalah menjadikan warga sebagai subyek pembangunan. dan pelayanan pun ada kecenderungan bias etnosentrisme. Di Papua. Birokrasi pun kemudian menunjukkan karakter birokrasi primordial. yaitu menuju proses integrasi atau konflik. pelayanan birokrasi pemerintah Papua dalam era Otonomi Khsusus berkembang secara dinamik. dan mereka itu juga mempunyai identitas masingmasing. dan kultur yang beragam. dan masing-masing memiliki identitasnya sendiri. Secara konkret sasaran PPKD adalah warga masyarakat lokal dan masyarakat pendatang. sehingga personil.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 usaha pembangunan. Pada awalnya memang terdapat kecenderungan bahwa pemberian kewenangan pengelolaan politik oleh pemerintah pusat dalam bentuk Otsus. Dinamika interaksi sosial itu kemudian membawa implikasi pada dua kemungkinan. birokrasi pemerintah Papua berkembang ke arah yang lebih menunjukkan karakter birokrasi profesional dengan menerapkan merit sistem. menjadi pertimbangan utama mengedepankan birokrasi rasional. Mereka itu saling berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain dengan masing-masing menunjukkan indentitasnya. 18 . Masyarakat lokal adalah sejumlah warga yang sudah cukup lama berdomisili pada lokasi tertentu yang mengembangkan kultur atau pandangan hidup bersama (common way of living) yang lama-lama menjadi identitas. Karakter masyarakat Papua sendiri yang terbuka dan semakin plural. disikapi oleh sebagian warga Papua secara primordialistik. Penutup Begitulah. Bersamaan dengan itu.

Foto : Antara III Reformasi Birokrasi dan Implementasi Good Governance Oleh : Dr.com 19 . Direktur Eksekutif Pusat Kajian Strategik Pemerintahan. Email: muhadamlabolo@yahoo. Muhadam Labolo * Edisi 3 / September / 2011 * Dosen tetap pada Pasca Sarjana Institut Pemerintahan Dalam Negeri Cilandak dan Unlam Banjarmasin Jurusan Ilmu Pemerintahan.

tutup-lubang. Perubahan pada satu elemen kiranya dapat mempengaruhi unsur lain dalam sistem itu sendiri. Urgensi reformasi birokrasi di Indonesia setidaknya di dorong oleh sejumlah catatan penting. sisanya sebesar 17% diperebutkan oleh 98% masyarakat dalam bentuk alokasi belanja modal/pembangunan. Struktur berhubungan dengan tatanan yang tersusun secara teratur dan sistematis. Sedangkan perubahan struktur mencakup mekanisme dan prosedur. Bertambahnya pegawai hasil rekrutmen tanpa kompetensi yang jelas serta kebiasaan mengembangkan struktur organisasi membuat pemerintah pusat maupun daerah mengalami defisit anggaran layaknya gali-lubang. organisasi dan lingkungannya dalam kerangka pencapaian tujuan efisiensi penyelenggaraan birokrasi pemerintahan. dimana 124 pemerintah daerah cenderung memperlihatkan gejala kebangkrutan. pertama. membengkaknya ongkos demokrasi (pemilukada) mengakibatkan beban kas pemerintah daerah khususnya mengalami peningkatan signifikan. lebih kurang 2% pegawai kemungkinan menikmati belanja aparatur. Sistem berkaitan dengan hubungan antar unsur atau elemen yang saling mempengaruhi dan berkaitan membentuk suatu totalitas. Kedua. perhelatan tersebut tak jelas melahirkan kepemimpinan pemerintahan yang handal. Ini berarti. serta dampak yang ditimbulkan terhadap birokrasi mengakibatkan pemerintah kelimpungan dalam menutup defisit 20 . Besarnya anggaran pemilukada. Kabupaten Lumajang menjadi contoh nyata dimana belanja aparatur membengkak hingga mencapai 83% dari total APBD. Peningkatan belanja aparatur dapat dilihat dari hasil evaluasi FITRA (2011). meningkatnya belanja aparatur disebabkan oleh bertambahnya rekrutmen pegawai tanpa pengendalian yang jelas. Ironisnya. disamping membesarnya struktur birokrasi pemerintahan. sumber daya manusia. Perubahan tersebut meliputi keseluruhan aspek yang memungkinkan birokrasi memiliki kemampuan yang memadai dalam melaksanakan tugas dan fungsi pokoknya. Kegagalan birokrasi dalam melayani masyarakat selama ini sekaligus menggambarkan buruknya penyelenggaraan pemerintahan baik di level pemerintah pusat maupun daerah.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Pendahuluan R eformasi birokrasi merupakan upaya penataan mendasar yang diharapkan dapat berdampak pada perubahan sistem dan struktur. sarana dan prasarana.

Bagaimanapun juga. arogan. bagaimanakah sebaiknya reformasi birokrasi dilakukan. Hal itu disadari bahwa upaya reformasi birokrasi merupakan bagian dari grand desain penciptaan tata pemerintahan yang baik (good governance). namun fundamental. boros. 21 . meluasnya perilaku koruptif mendorong birokrasi kehilangan kepercayaan sebagai pelayan masyarakat. khususnya daerah di luar pulau Jawa. kita semua paham bahwa reformasi birokrasi di level pemerintah daerah merupakan bagian dari kebijakan reformasi birokrasi secara nasional. Ketiga. serta kurang berorientasi pada kepentingan masyarakat. Disisi lain rendahnya pendapatan asli daerah menciptakan ketergantungan pada pemerintah pusat. enggan berubah. karakteristik pemerintahan yang baik. masalah dan tantangan yang dihadapi dalam upaya reformasi birokrasi. tingginya gairah penggemukan organisasi birokrasi pemerintahan tanpa perencanaan dan analisis yang jelas memicu pembiayaan dan rekrutmen pegawai dalam jumlah tak sedikit. Kelima. apakah tantangan yang dihadapi. Konsep ini diharapkan mampu menjembatani suatu kondisi pemerintahan yang buruk (bad government) kearah terbentuknya pemerintah yang baik (good government). Keempat. nepotisme. Masalahnya. Keseluruhan catatan negatif tersebut di dukung pula oleh perilaku buruk birokrasi dalam pelayanan masyarakat seperti sikap yang lamban dan reaktif. lemahnya pengawasan mengakibatkan pemerintah cenderung bertindak konsumtif. birokrasi di daerah mengalami overload. bekerja secara naluriah (insting). sekalipun pada akhirnya lebih menampilkan potret masalah birokrasi di level pemerintah daerah. sementara belanja pemerintah daerah jauh dari efisiensi. atau bahkan kekurangan. Tentu saja birokrasi pemerintahan sebagai instrument pelaksana menjadi fokus utama yang mesti diperbaiki melalui kebijakan reformasi birokrasi. Akibatnya. sewenang-wenang dan tak transparan. serta bagaimanakah desain reformasi birokrasi yang mesti dilakukan dalam meminimalisasi meluasnya masalah yang dihadapi? Tulisan singkat ini akan mendeskripsikan tentang makna birokrasi dan good governance. serta upaya strategis reformasi birokrasi dan implementasi tata kelola pemerintahan yang baik. bahkan tak terkontrol akibat tingginya beban organisasi. boros. Lebih dari itu birokrasi mengalami dilemma loyalitas akibat terpecahnya konsentrasi pada setiap pesta pemilukada.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik anggaran. berbelit-belit. Perubahan tersebut diharapkan tidak saja bersifat incremental semata. Cakupan tulisan ini juga akan menyentuh reformasi birokrasi pemerintahan baik pusat maupun daerah.

H. koruptif dan nepotism. birokrasi berasal dari kata bureaucracy (Inggris). atau burocratie (Jerman). 1 Martin Albrow dalam Donald P. Ensiklopedi Ilmu-Ilmu Sosial. Semua masalah relatif diselesaikan di atas meja. represif. sebab pemerintahlah yang paling mungkin memiliki kekuasaan membuat aturan. New York dan London. Jakarta. 1962. Baron de Grimm atas catatan Vincent de Gournay2. Dua contoh lain hasil asimilasi yang sebangun dengan kata itu misalnya konsep demokrasi dan oligarkhi. Logikanya. Dalam padanan lain seringkali dihubungkan dengan istilah pemerintahan (proses). dimana struktur di bentuk lebih banyak menyelesaikan pekerjaan di atas meja. atau bahkan proses dan sumber dari semua aturan dalam hubungan antara yang memerintah dan yang diperintah. yang kemudian mendefenisikan birokrasi sebagai suatu sistem pemerintahan dimana kontrol sepenuhnya berada di tangan para pejabat yang sampai pada batas tertentu dapat menunda atau mengurangi kemerdekaan warga negara biasa3. kolutif. jika urusan diselesaikan di bawah meja mungkin saja bertentangan dengan makna etimologisnya. Ini bisa dimaklumi. Demikian pula apabila sumber kekuasaan tersebut dikendalikan oleh sekelompok rakyat pintar (profesional) dikenal dengan istilah oligarkhi.74-75. Secara etimologis. pastilah bicara tentang oligarkhi. Cambridge Massachussets. eksploitatif. Cracy (kratos) sendiri menunjukkan arti kekuasaan atau aturan. burocrazia (Italia) dan bureaucatie (Perancis). 4 Michaels. 2 Adam Kuper dan Jessica Kuper. sebab secara historis. Istilah ini dimunculkan kembali oleh filosof Perancis.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dan Good Governance Konsep birokrasi sendiri lazim merujuk pada gagasan Maximilliam Weber (1864-1920). Raja Grafindo. 3 Laski. pelayanan urusan yang lebih rinci pastilah berhubungan dengan apa yang lazim kita sebut dengan birokrasi. Bureaucracy. 22 . Theory of Public Bureucracy. Political Parties. Bahkan. oportunis.Warwick. Sinisme atas gejala tersebut melahirkan istilah bureaumania. dalam Encyclopaedia of the Social Sciences. Pejabatnya biasa duduk di belakang meja. New York. volume 3. hal. yang berarti meja atau kantor. Makna bureau (baca:biro) identik dengan kenyataan dalam birokrasi. Sekalipun banyak demikian. Statement ini setidaknya sejalan dengan pikiran Gornay dan Laski (1930). Apabila sumber kekuasaan berasal dari rakyat banyak lazim disebut demokrasi. boros. 2000. Albrow1 mengembangkan konsep birokrasi dari berbagai sudut pandang. Harvard Universty Press. Pada tingkat pragmatis. lewat kalimat provokatif Michel (1962)4 menyatakan bahwa siapa yang bicara tentang organisasi. R. birokrasi traditional di Perancis (abad 18) menampilkan wajah demikian.

formalitas. seperti kantor wilayah (kanwil) dan kantor departemen (kandep). profesional. misalnya meja ukuran bagian atau setengah bagian. biro pemerintahan. sebab ia mengokohkan kepemimpinan dengan wewenang yang lebih luas. Kompas. Secara faktual. Birokrasi. di level organisasi provinsi dan pusat misalnya. kecakapan dan senioritas. Pengertian kedua (kantor). Karakteristik tersebut membentuk birokrasi sebagai alat untuk mencapai tujuan kolektif. Membedah Hukum Progresif. Karakteristik dimaksud antara lain adanya suatu jabatan. terdapat jabatan biro yang dipimpin oleh seorang kepala biro setingkat eselon dua. Pada pemerintahan yang bersifat sentralistik. disiplin. Demikian pula kantor pada organisasi swasta. Semakin ke puncak semakin langka pemegang kekuasaan. 23 . tugas. Mungkin inilah yang di sebut Rahardjo (2010)5 sebagai pendekatan hukum progresif dalam pelayanan birokrasi menurut perspektif hukum. dalam makna konkrit adalah organisasi yang memiliki rantai komando berbentuk piramidal. Sebaliknya.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Secara fungsional. 5 Satjipto Rahardjo. Dalam konteks Indonesia. Jakarta. biro hukum. merujuk pada hampir semua bentuk organisasi baik sipil maupun militer. instrument pemerintah pusat dapat menjangkau hingga ke level pemerintahan paling rendah (dekonsentratif). wewenang. realitas pelayanan justru menjadi lebih efisien dan efektif jika tanpa melalui meja birokrasi yang terkadang berbelitbelit dan menguras energi. Di Indonesia. Dalam perspektif Weber. Sejauh ini. Kita sering menyebut kantor pada hampir semua organisasi yang secara fisual terlihat melalui bangunan megah. baik pada instansi militer maupun sipil. biro organisasi. 2010. birokrasi adalah organisasi rasional dengan segenap karakteristik yang melekat didalamnya. sistem. lengkap dengan sistem dan peralatannya. Di level provinsi. Bahkan. Kantor menjadi unit paling kecil ukurannya sebelum menanjak menjadi Badan atau Dinas. seorang pejabat memiliki meja dengan ukuran biro atau setengah biro. hierarkhi. Ia membawahi sejumlah bagian dan subbagian pada level paling rendah. dimana lebih banyak orang berada di tingkat bawah daripada tingkat atas. Sebagai contoh. struktur organisasi pemerintah daerah misalnya menggunakan istilah kantor untuk membedakan unit tersebut dengan dinas dan badan. biro umum dan sebagainya. kantor menjadi instrument pemerintah pusat di daerah. untuk membedakan secara teknis. kita banyak menemukan istilah biro pada struktur organisasi. tak ada istilah lain untuk ukuran meja selain biro. pemerintahan yang bernuansa demokratik biasanya meletakkan kontrol pada level pemerintahan tertentu yang untuk selanjutnya melakukan pengawasan secara berjenjang (desentralistik).

Dari aspek ini birokrasi secara praktis merupakan instrument/alat dari kekuasaan untuk mencapai tujuan pemimpin maupun tujuan bersama yang diemban oleh pemimpin dimaksud. Tekanan konflik dan sejumlah motivasi tertentu mendorong terbentuknya representasi pemegang kekuasaan. sebagian besar tersisa menjadi lautan luas. Demikianlah kekuasaan mengalir menurut hukum alam (natural of law). sekalipun dalam teori kedaulatan dapat bersumber dari Tuhan (teokrasi) dan atau sedikit orang (aristokrasi).Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Sebaliknya. kekuasaan tersebut mengalir sebagaimana siklus air hujan. kekuasaan dibagi berdasarkan jumlah wewenang yang diterima. Dimulai dari gumpalan awan yang di pandang sebagai pemberian Tuhan (teosentris). Birokrasi pada akhirnya dapat dipandang sebagai cerminan dari pelembagaan kekuasaan yang mengalir deras dari tingkat atas hingga bawah. lalu dilembagakan dalam struktur formal seperti biro pemerintahan. apakah terserap oleh akar pohon atau terkumpul pada wadah perbukitan yang mengalir melalui sungaisungai besar dan kecil menuju laut. bagian pemerintahan dan seterusnya. lalu mengalir kedalam struktur yang dibagi secara khusus. Siklus air hujan secara sederhana dapat kita persamakan dengan siklus kekuasaan. Para pemegang kekuasaan (pemerintah) baik diyakini merupakan representasi dari kedaulatan Tuhan (teokrasi) atau hasil pilihan masyarakat (demokrasi) secara konkrit membentuk organisasi pemerintahan yang untuk selanjutnya mengalirkannya dalam bentuk struktur-struktur formal birokrasi dari tingkat pusat hingga level pemerintahan paling rendah. semakin ke bawah semakin banyak pegawai. Dalam pendekatan ilmu alam. Bupati/Walikota. Lurah hingga Kepala Desa. Kekuasaan tersebut dialirkan secara hirarkhis melalui Menteri. Kekuasaan lahir dari rakyat kebanyakan (demokrasi). seorang presiden hasil pilihan rakyat memiliki kekuasaan luas. Camat. Ia dimulai dari suatu kekuasaan yang maha besar. Pada contoh yang lebih nyata. Pada suatu ketika. Pada level gubernur. gumpalan awan hitam tersebut pecah menjadi butiran hujan yang jatuh dan mengumpul di suatu tempat. Demikian pula aliran kekuasaan pada level kabupaten/ walikota hingga pemerintah desa. Gubernur. Tidak semua menguap. Kekuasaan dalam konteks ini mengalami formalisasi yang dirinci dan dipertanggungjawabkan secara 24 . Kekuasaan tersebut pada akhirnya habis terbagi dalam bentuk spesialisasi dan struktur yang lebih kecil. tetapi ia semakin menunjukkan wewenang yang lebih terbatas. air hujan merupakan hasil serapan dari laut berupa uap akibat tekanan panas matahari yang dibawa angin membentuk gumpalan awan hitam. Dari aspek ilmu pengetahuan (antroposentris).

bad government (pemerintah yang buruk) menjadi alasan bagi lembaga international untuk mengembangkan pola yang lebih mungkin dalam kaitan dengan manajemen ekonomi dan politik global. Atau dengan kata lain. Berlawanan dari konsep ideal yang ingin dikembangkan. individualisme serta hilangnya legitimasi politik khususnya pada negara-negara yang kurang mampu dan tanpa sistem demokrasi yang memadai. tetapi juga pada ruang non pemerintah seperti perusahaan. Seperti digambarkan oleh Mark Robinson (2000:417). fenomena pemerintahan dewasa ini telah meluas tidak saja pada dunia pemerintah semata. Meluasnya upaya untuk menata pemerintahan kearah yang lebih baik mendorong donor international untuk mengembangkan konsep good governance (pemerintahan yang baik). Pengembangan konsep ini didorong oleh gejala meningkatnya hambatan-hambatan administrasi dan politik dalam pembangunan dunia ketiga. dua alasan utama yang mendorong lahirnya gagasan penciptaan pemerintahan yang baik adalah pertama. nepotisme. pemangkasan peran pemerintah sejauh mungkin dengan 25 . birokrasi hadir dan merujuk pada bagaimana cara pemerintah melaksanakan dan membuat peraturan-peraturan yang sah secara sosial. kolusi. Dalam kaitan itu. Gejala tersebut antara lain meningkatnya korupsi. legitimasi dan tranparansi pada berbagai sektor diluar pemerintah menunjukkan gejala pemerintahan yang semakin menguat. Setidaknya hal ini terlihat dalam pembentukan serangkaian aturan atau struktur otoritas dalam komunitas tertentu yang memainkan peran atau fungsi pengelolaan sumber daya termasuk dalam menjaga tatanan sosial. gagalnya pemerintah menjalankan fungsinya yang ditandai oleh tidak bekerjanya hukum dan tata aturan sehingga menimbulkan ketidakpercayaan pada pemerintah tentang bagaimana seharusnya pemerintah berinteraksi dengan masyarakatnya. Kedua. Dalam perspektif negaranegara maju. Upaya-upaya dalam rangka penerapan kekuasaan melalui serangkaian mekanisme untuk menjamin akuntabilitas. Inilah yang disebut dengan wewenang (authority). Keabsahan tersebut diharapkan mampu merefleksikan suatu pemerintahan yang baik dengan berbagai ciri yang terkandung didalamnya. tekanan dari kelompok neo-liberal yang mendukung dikuranginya peran negara dan pengimbangan kekuasaan kepada penyediaan layanan oleh pembeli dan pengatur. Ini tentu saja berkaitan dengan tanggungjawab pemerintah pada masyarakatnya. demikian pula kewajiban dan hak yang saling mengikat antara mereka yang memerintah dan mereka yang diperintah.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik jelas.

Sebagai pemerintah. Akuntabilitas. Tanggungjawab pemerintah pada segenap stakeholders selaku pemetik manfaat setidaknya memicu tumbuhnya trust sebagai modal bagi kontinuitas pemerintahan. adil. reformasi pemerintahan. partisipasi. Interaksi tersebut hendaknya dilandasi oleh sejumlah karakteristik yang memungkinkan tata kelola pemerintahan berjalan baik. Meletakkan tanggungjawab satusatunya pada sektor pemerintah bukanlah gagasan terbaik untuk menciptakan pemerintahan yang baik. transparansi. Karakteristik Good Governance Menurut UNDP (1997). saling mendukung dan saling berinteraksi.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 cara penyerahan kepentingan antara penjual dan pembeli pada mekanisme pasar. responsif. Bagaimanapun kita masih percaya bahwa menciptakan pemerintahan yang kuat mutlak dibutuhkan bagi stabilitas politik yang dapat menjamin keberhasilan pembangunan. efisiensi dan efektivitas. Sekalipun upaya-upaya untuk menciptakan pemerintahan yang lebih baik dilakukan misalnya melalui desentralisasi kekuasaan. namun tidak berarti sepi dari dampak pengelolaan pemerintahan. Tanggungjawab merupakan nilai penting yang semestinya berlaku pada semua elemen dalam proses pemerintahan. Dalam konteks ini. Tanggungjawab merupakan nilai yang mampu menjembatani relasi antara pemerintah dan masyarakat untuk menjamin keberlangsungan pemerintahan. reorientasi birokrasi serta perluasan partisipasi publik untuk mengembalikan akuntabilitas. tertib hukum. serta memiliki visi strategis. pemerintahan yang baik setidaknya memiliki karakteristik akuntabilitas. Tanggungjawab pada elemen masyarakat dibutuhkan agar masyarakat sadar akan apapun output 26 . tetapi juga meliputi kelompok swasta sebagai pemegang modal dan masyarakat selaku civil society. Uraian selanjutnya akan mengembangkan makna dari sejumlah karakteristik yang melekat dalam konsep good governance. Ketiga komponen tersebut sepatutnya berjalan secara paralel. Komponen yang terlibat tidak saja domain pemerintah sebagai pelaksana. konsensus. good governance lebih menitikberatkan pada aspek proses melalui pendekatan fungsional guna mencapai tujuan yang diinginkan. legitimasi dan transparansi. kebijakan demikian semakin memperkokoh tumbuhnya demokrasi liberal yang pada akhirnya mendorong kembalinya pemerintah (eksekutif) meningkatkan kontrol yang lebih represif. merujuk pada tanggungjawab setiap aktor dalam interaksi berpemerintahan. Di negara-negara berkembang. tanggungjawab diperlukan sebagai konsekuensi terhadap semua jenis kontrak dari level paling bawah hingga pusat pemerintahan.

Perencanaan yang transparan meyakinkan masyarakat tentang sejauhmana kepentingan mereka mampu didokumentasikan secara jujur oleh pemerintah. demikian pula sektor swasta dan masyarakat pada tingkat tertentu. tanggungjawab masyarakat tidak saja memanfaatkan seefektif mungkin apa yang diberikan oleh pemerintah. Rendahnya transparansi pemerintah berkenaan dengan perencanaan dan implementasi kebijakan menunjukkan lemahnya itikad baik dalam mewujudkan tujuan dan harapan masyarakat. Setiap tindakan yang secara praktis berkaitan serta membebani masyarakat dan pemerintah. Demikian pula pada elemen lain.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik pelayanan yang diberikan merupakan upaya paling maksimal yang dapat di produk pemerintah. Salah satu sorotan utama dewasa ini adalah seberapa efektif pemerintah mampu memperjuangkan kepentingan masyarakat melalui anggaran yang tersedia. Selain itu. Sulit membayangkan jika pihak swasta lari dari tanggungjawab tersebut. sebab ketiga elemen tadi memiliki batasan terhadap tanggungjawab masing-masing. atau mengalami perubahan dipersimpangan jalan sesuai kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu. indikasi meluasnya perilaku koruptif dalam pemerintahan semakin meyakinkan masyarakat bahwa pemerintah kehilangan karakteristik transparansi dalam menjalankan fungsi pelayanan. bukan saja pemerintah. Partisipasi. Pada akhirnya. menunjukkan keterlibatan masyarakat dalam penyusunan dokumen perencanaan pembangunan. seberapa kuat komitmen pemerintah dalam merealisasikan semua perencanaan yang telah disepakati. seharusnya dapat dipertanggungjawabkan secara murni dan konsekuen. Kasus Lumpur Lapindo di Indonesia (2005) mereflesikan tanggungjawab keseluruhan elemen. Penyakit demikian bukan saja melanda pemerintah. swasta dan masyarakat. Akibatnya. Hal ini dapat dilihat dalam kasus projek Pembangunan Wisma Atlit di Kemenpora. Partisipasi aktif masyarakat lebih jauh 27 . juga memelihara semua produk pelayanan yang diberikan. merupakan karakteristik yang memungkinkannya terbangunnya kepercayaan masyarakat terhadap apa yang diartikulasikan pemerintah dalam hal kepentingan dan kebutuhan masyarakat. para pemegang modal (swasta) seyogyanya memegang prinsip tanggungjawab dalam interaksi dengan masyarakat dan pemerintah. Transparansi. semua perencanaan pemerintah kehilangan koneksitas dengan kepentingan masyarakat. termasuk bertanggungjawab terhadap kegagalan pemerintah yang dipilih oleh mereka sendiri. Pada tingkat yang lebih jauh. Ketiadaan nilai transparansi seringkali ditunjukkan oleh mandeknya semua dokumen perencanaan tanpa realisasi.

kemungkinan kesadaran pemerintah juga rendah sehingga mendorong kecurigaan terhadap setiap keterlibatan masyarakat. Tertib hukum dimaksudkan untuk menciptakan social order. Pemerintah yang buruk seringkali mengidap perasaan curiga yang berlebihan ketika masyarakat terlibat dalam setiap proses perencanaan pembangunan. terhadap setiap masalah yang dihadapi masyarakat. Disini terlihat jelas bahwa jika partisipasi masyarakat rendah. dibutuhkan kesadaran pemimpin untuk memberikan contoh sehingga mampu mendorong terwujudnya tertib hukum. sekaligus menunjukkan adanya hukum itu sendiri. Masalah berikut justru terletak pada rendahnya keterbukaan pemerintah dalam melibatkan partisipasi masyarakat. Itulah mengapa seringkali gejala pemerintahan dipandang sebagai gejala hukum. sehingga pemerintah terkesan sulit melibatkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan. Ketaatan hukum memberikan landasan bagi pemerintah dalam menjalankan visi dan misi yang diemban. kemungkinan kesadaran mereka rendah pula disebabkan rendahnya tingkat pendidikan yang diperoleh sehingga bersikap apatis. selain melibatkan mereka dalam hal tanggungjawab yang lebih luas. Rendahnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan pemerintahan disebabkan oleh rendahnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya partisipasi dalam pembangunan. Sebaliknya. Kondisi ini tentu saja berhubungan dengan nilai transparansi. Kemampuan memberikan jawaban atas setiap masalah yang dihadapi masyarakat menunjukkan kemampuan pemerintah dalam memahami apa yang menjadi kebutuhan utama masyarakat. sadar akan aturan yang diperuntukkan bagi kepentingan masyarakat itu sendiri. Faktor pendidikan menjadi kunci penting dalam mendorong kesadaran masyarakat. Responsif. adalah karakteristik pemerintah yang mampu memberikan tanggapan sedini mungkin. Tertib hukum merupakan karakteristik yang memungkinkan terciptanya masyarakat taat hukum.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 menggambarkan sejauhmana kepentingan mereka telah terakomodir dengan baik. sekaligus memperlihatkan tingkat aksebilitas masyarakat terhadap pemerintah. Kehadiran pemerintah dalam setiap pelayanan masyarakat mengindikasikan hadirnya perlindungan bagi masyarakat. Semakin rendahnya kepatuhan hukum masyarakat menunjukkan semakin rendah pula tingkat penerimaan masyarakat terhadap pemerintahnya. Kegagalan merespon setiap masalah yang dihadapi masyarakat menunjukkan ketidakpedualian 28 . jika pemerintah enggan melibatkan partisipasi masyarakat. Dalam hubungan itu. yaitu suatu kondisi tertib bermasyarakat.

Kegagalan membangun konsensus dapat meruntuhkan kepercayaan masyarakat dimana pemerintah dapat dinilai mengkhianati amanah yang diberikan. Kemampuan pemerintah memelihara konsensus yang telah dibangun dapat diartikan sebagai kemampuan pemerintah dalam memelihara amanah. Pencapaian tujuan dengan mempertimbangkan aspek efisiensi dan efektivitas dapat mendorong produktivitas pemerintahan menjadi lebih berkualitas tanpa membuang modal yang besar. kecuali membiayai pegawai dilingkungannya masingmasing. Dalam perspektif masyarakat. tanpa penalaran jauh kedepan. khususnya pemimpin.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik pemerintah serta hilangnya sense of belonging atas problem yang dialami oleh masyarakat. Konsensus. Karakteristik visi strategis berkaitan dengan kemampuan pemerintah dalam mewujudkan citacita ideal namun realistis berdasarkan kebutuhan masyarakat. Efisiensi dan efektivitas merupakan karakteristik good governance yang merefleksikan kemampuan pemerintah dalam pencapaian tujuan secara tepat guna dan hasil guna. Kegagalan pemerintah dalam mempertimbangkan efisiensi dan efektivitas membuat pemerintah kehilangan modal serta tak mampu berbuat banyak. adalah karakteristik yang menggambarkan kemampuan pemerintah dalam membangun kesepakatan antara tuntutan secara bottom-up dan topdown. sekaligus memberikan hak dan kewajiban secara proporsional. Tanpa visi yang jelas pemerintah sebenarnya hanya menjalankan fungsi secara instingtif. Keadilan bertujuan untuk menciptakan pemerataan. Komitmen bersama berkaitan dengan kepentingan stakeholder dalam mewujudkan tujuan yang diamanahkan pada pemerintah. Visi menggambarkan masa depan pemerintahan dan memuat cita-cita ideal masyarakat yang dapat diwujudkan oleh 29 . Keadilan merupakan salah satu tujuan ingin dicapai oleh setiap pemerintah. Konsensus juga merujuk pada bagaimana pemerintah membangun kesepahaman yang memungkinkan semua kepentingan dapat diakomodir pada saluran yang tersedia. Visi diharapkan menjadi petunjuk yang dapat dikonkritkan dalam bentuk misi. jangankan kehadiran. Keadilan lazimnya melekat pada para pelaku pemerintahnya. statement pemerintah sekalipun dapat dinilai sebagai respon positif terhadap masalah yang sedang mereka hadapi. Kondisi tersebut membuat pemerintah mengalami beban anggaran yang cukup besar selain tak mampu membuat kebijakan strategis. program hingga kegiatan teknis. Adil merupakan karakteristik yang dapat mendorong akseptabilitas masyarakat pada pemerintahnya. Konsensus merupakan landasan bagi pencapaian komitmen bersama.

Kedua. mengidentifikasi ketergantungan kekuasaan yang terdapat dalam hubungan antara institusi yang melakukan tindakan kolektif.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 pemimpinnya sejauh ia mampu dan konsisten. Ketiga. Ketiga. Accountabilitypada dasarnya memperkuat kepercayaan masyarakat dan sebaliknya. Faktor pertama disebabkan oleh kelemahan birokrasi dalam 30 . secara kompetitif atau koperatif dalam mengejar tujuan bersama. Menurut Gerry Stoker (1998). Inilah sejumlah karakteristik pemerintahan yang baik (good governance) menurut UNDP. tantangan reformasi birokrasi meliputi tiga masalah pokok. yaitu pengembangan pandangan penggunaan kekuasaan tidak selalu merupakan zero-sum game. karakteristik tersebut menjadi variabel penting tidak saja bagi pemerintah. mengakui kapasitas guna menyelesaikan sesuatu yang tidak bersandar pada kekuasaan pemerintah untuk memberikan komando atau menggunakan otoritasnya. namun bersentuhan pula dengan nilai dan sikap yang dianut oleh pihak swasta dan masyarakat. Governance memandang pemerintah mempunyai kemampuan untuk menggunakan alat dan teknik baru dalam mengarahkan dan menuntun. menyebutkan empat variabel dalam konsep governance. faktor internal yang meliputi ketidakmampuan birokrasi mengubah dirinya menjadi lebih baik. Disamping itu. Keempat. proposisi governance meliputi lima hal yaitu. Hayden (dalam Hamdi. faktor eksternal berkenaan dengan tingginya intervensi politik yang membuat birokrasi kehilangan konsentrasi dalam menjalankan fungsi pelayanan. yang diartikan hidup bersama dan terikat. merujuk pada seperangkat institusi dan aktor yang terdapat pada dan di luar pemerintah. pertama. Kelima. Trust. mengidentifikasi kekaburan batas dan tanggungjawab untuk menangani isu-isu sosial ekonomi. Kedua. adalah tentang jaringan aktor yang bersifat mandiri dan mengatur sendiri. yaitu. Tantangan Reformasi Birokrasi dan Good Governance Menurut Muhammad (2007). serta memiliki cita-cita yang bersifat jangka panjang serta berkelanjutan. Pemerintahan yang bertolak dari visi adalah pemerintahan yang memiliki pandangan jauh kedepan. reciprocity. 2002:14). faktor keraguan publik terhadap efektivitas kebijakan yang direncanakan dan diimplementasikan oleh birokrasi. yaitu pertama. tetapi juga dapat menjadi positive sum game. authority yang berarti eksistensi kekuasaan yang legitimate. Penciptaan tata kelola pemerintahan yang baik bukanlah semata-mata menjadi bagian dari kebijakan pemerintah. Secara umum. demikian pula pihak swasta dan masyarakat luas. Visi strategis membutuhkan kesinambungan dalam mengawal agenda-agenda yang telah ditetapkan.

Mereka yang secara fisik tak mampu. namun fungsional. kecakapan dan keterampilan dalam pengelolaan pemerintahan.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik memperbaharui kinerjanya sesuai perkembangan lingkungan. Pelayanan birokrasi disandarkan pada hubungan kekeluargaan yang bersifat emosional. menyandarkan pelayanan dengan meletakkan hubungan personalitas secara keseluruhan sama halnya dengan menciptakan diskriminasi bagi kelompok masyarakat yang tak memiliki akses secara langsung pada pemerintah. Setiap masyarakat yang dilayani terdiri dari masyarakat yang mampu dan tak mampu secara fisik dan non fisik. Sebaliknya. Pola penyelesaian masalah dengan menyandarkan semua pada aspek regulasi tak selalu membawa hasil maksimal. Tingginya dinamika masyarakat dalam menuntut pelayanan yang lebih baik tak serta merta diimbangi oleh kemampuan birokrasi dalam mengembangkan kecerdasan. Menyandarkan pelayanan dengan meletakkan prinsip impersonalitas secara kaku sebagaimana dimaksud Weber tidaklah menciptakan rasa keadilan yang memadai. serta mampu menjawab setiap persoalan tidak saja secara struktural. bagaimana jika tuntutan masyarakat melampaui aturan itu sendiri yang kadangkala datang terlambat. Pendekatan struktural dalam pelayanan seringkali berhadapan dengan aturan dan norma yang berlaku. jauh dari karakter ideal birokrasi. sebab hanya mereka yang dikenal secara personal saja yang akan dilayani. Ketidakmampuan birokrasi memahami pluralitas dalam masyarakat seringkali menimbulkan ketidakadilan dalam pelayanan. Dalam konteks ini diperlukan birokrasi yang mampu beradaptasi dengan perkembangan masyarakat. atau bahkan terjadi kekosongan regulasi. tentu saja membutuhkan pendekatan untuk dilayani secara jemput-bola. yaitu suatu hubungan yang bersifat impersonal. Apakah dengan alasan yang sama pemerintah mesti menolak pelayanan kepada 31 . Harus diakui bahwa perbedaan kultur di dunia barat dan timur merupakan kenyataan yang harus diakui dalam pemberian pelayanan pada masyarakat. Sebaliknya. Persoalaannya. Masyarakat seringkali merasa frustasi karena pelayanan mereka mengalami kebuntuan hanya karena ketidakmampuan birokrasi saat menerjemahkan aturan yang berlaku. harus diberikan insentif yang seimbang agar pelayanan tetap diberikan secara merata. sehingga sulit menyelesaikan masalah secara tuntas. kelompok birokrat terkesan seperti robot yang kehilangan rasa kemanusiaan ketika semua perkara diselesaikan berdasarkan aturan yang berlaku. seperti masalah finansial. Sedangkan mereka yang tak mampu secara non fisik. Polapola pendekatan dan pelayanan kepada masyarakat secara nyata menunjukkan indikasi perilaku traditional.

Akibatnya. diperlukan pendekatan fungsional yang dapat menyelesaikan hingga ke akar masalah. membutuhkan waktu lama serta mengeluarkan biaya yang tak sedikit. Akibatnya. birokrasi yang mengambil jalan kompromi pada akhirnya turut mempersubur tingkat kebocoran anggaran baik di pusat maupun daerah.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 masyarakat? Oleh sebab itu. birokrasi mengalami pemecahan konsentrasi. khususnya di level pemerintah pusat. serta bobolnya APBD pada saat perencanaan dan penetapannya. sekaligus pada saat yang sama gagal melayani masyarakat sesuai misi yang dipikulnya. berbelitbelit. Dewasa ini. pola pendekatan fungsional mengalami banyak kemajuan. karena melakukan persengkokolan kolektif. Sekalipun demikian bukan berarti tanpa catatan. lembaga dan komisi yang bersifat mezzo-struktur disamping lembaga formal yang telah ada. Pecahnya konsentrasi birokrasi disebabkan sirkulasi kepala daerah setiap lima tahun sekali. namun menimbulkan overlap serta kurang produktif. Sisanya kelompok birokrat yang mengambil sikap apatis terhadap dinamika yang terjadi 32 . Pendekatan fungsional dalam pelayanan merupakan pola pendekatan untuk mengimbangi pendekatan struktural yang terkadang menghambat. Politisasi birokrasi menciptakan hubungan antara eksekutif dan legislatif mengalami dinamisasi serius kalau tidak ketegangan yang berkesinambungan. merupakan cerminan dari pola penyelesaian masalah dengan menggabungkan pendekatan struktural dan fungsional. tidak berupaya menyelesaikan masalah secara tuntas. Mereka yang dominan bersandar pada calon incumbent seringkali mengalami disorientasi saat kalah dalam kompetisi pemilukada. Perlu diingat bahwa melandaskan semua pelayanan secara fungsional juga tidak tepat. Faktor kedua yang menjadi tantangan reformasi birokrasi adalah tingginya intervensi politik dalam birokrasi. Birokrasi yang mengambil jarak secara tegas dengan kelompok politisi justru mengalami ketegangan karena rentan kehilangan jabatan. Indikasi tersebut bisa diketahui lewat ramainya kebocoran anggaran APBN oleh Badan Anggaran. seperti yang dikatakan oleh Dwiyanto (2011). Lahirnya badan. sebab semua pelayanan pada dasarnya membutuhkan pelembagaan formal sehingga dapat diawasi dan dikendalikan. Politisasi birokrasi mendapatkan ruang ketika kelompok elit partai politik memanfaatkan momentum pemilukada untuk menggerakkan birokrasi sebagai mesin politik sekaligus aktivis politik. Dalam konteks ini birokrasi seringkali menyimpan dan merawat masalah untuk kepentingan tertentu. lembaga-lembaga tersebut tidak saja membebani anggaran birokrasi pemerintah secara umum.

bukan merit sistem apalagi kompetensi. Akibatnya. Rendahnya pendidikan serta kurangnya analisis terhadap setiap kebijakan yang diproduk. Keseluruhan indikasi tersebut bermuara pada rendahnya kualitas rancangan kebijakan sehingga menimbulkan resistensi dari para pemangku kepentingan (stakeholders). menjadikan birokrasi tak mampu membuat kebijakan yang efektif dalam menyelesaikan masalah. birokrasi terkesan bukan milik masyarakat namun elit berkuasa. Mobilisasi sumber daya dilakukan bahkan secara terang-benderang melalui rekrutmen pegawai berdasarkan hubungan primordial dan patronase. Semua itu di dukung oleh kemampuan kepala daerah dalam memobilisasi sumber daya melalui sebagian anggota tim sukses yang berasal dari jajaran birokrasi.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik dalam setiap rotasi pemerintahan. Dalam konteks ini terbangun koalisi efektif antara eksekutif dan legislatif dalam pembobolan anggaran. Kekuasaan yang besar membuat birokrasi terombang-ambing serta sulit menentukan netralitasnya sebagai pelayan masyarakat. serta rendahnya konsultasi publik terhadap rancangan peraturan yang dibuat. Intervensi politik terhadap birokrasi telah merangsang nafsu aparat untuk membangun komitmen rahasia dengan para elit dalam masa sirkulasi kekuasaan. yang dapat dilihat dari sikap dan orientasinya yang cenderung melihat keatas. 33 . Keraguan masyarakat dan pihak swasta terhadap efektivitas kebijakan birokrasi disebabkan selain oleh dua faktor diatas. Sikap ekslusivisme dan seakan tau semua masalah mendorong birokrasi pada perilaku arogan ketika merespon setiap tuntutan masyarakat. Keadaan ini jelas mengembangkan perilaku koruptif dalam birokrasi sebagai konsekuensi dari hubungan yang bersifat transaksional. Kelemahan rancangan kebijakan pada tahap perencanaan hingga tahap implementasi tak serta merta membuat birokrasi melakukan evaluasi yang berkelanjutan. Rendahnya kredibilitas birokrasi dalam mendesain suatu kebijakan dapat diketahui dari rendahnya keterlibatan pakar dalam bentuk asistensi. juga masalah kredibilitas birokrasi. daripada melihat kebawah. Komitmen tersebut berupa transaksi politik yang berujung pada persoalan siapa dapat apa. Tingginya resistensi yang ditandai oleh meningkatnya demonstrasi masyarakat dan pihak swasta yang merasa dirugikan oleh setiap kebijakan yang ditetapkan menunjukkan dua alasan diatas. berapa banyak dan kapan. ketiadaan naskah akademik terhadap rancangan peraturan (khususnya peraturan daerah). namun berusaha menutupi kelemahan kebijakan tersebut. Faktor ketiga tantangan reformasi birokrasi adalah keraguan masyarakat terhadap setiap kebijakan yang dilaksanakan oleh birokrasi.

Jika secara administratif birokrasi dipandang sebagai media yang memudahkan pelayanan. Gambaran ini setidaknya disinggung oleh Osborne & Gaebler (1992) dalam ‘Reinventing Government. keraguan masyarakat terhadap efektivitas kebijakan birokrasi tumbuh disebabkan oleh melimpahnya program yang dijanjikan namun kehilangan fokus saat implementasi. maka reformasi birokrasi seharusnya diarahkan pada sejumlah alternatif pilihan kebijakan seperti reformasi struktural. lebih banyak program yang bersifat list service. Masyarakat terkadang merasa muak terhadap kelambanan dan kerakusan birokrasi sebagaimana disinyalir oleh Barzelay (1982) dalam ‘Breaking Through Bureaucracy’. reformasi birokrasi merupakan upaya penataan kapasitas kelembagaan yang menyangkut sistem dan struktur birokrasi dalam menjalankan fungsi pokok sebagai pelayan masyarakat. Kini. Akibatnya. Reformasi Birokrasi dan Implementasi Good Governance Seperti telah disinggung dalam pendahuluan. kapasitasi dan instrumentasi. daripada realitas yang diharapkan. Demikian pula buruknya perilaku birokrasi dalam hal pelayanan membuat masyarakat tak percaya apa yang selama ini dikerjakan oleh pemerintah. maka reformasi birokrasi semestinya diarahkan pada upaya penciptaan situasi yang kondusif agar birokrasi netral dari pengaruh kekuasaan yang berlebihan. maka reformasi birokrasi selayaknya diarahkan pada penguatan karakteristik dimaksud. keraguan masyarakat terhadap reformasi birokrasi secara umum tumbuh disebabkan oleh rendahnya kepercayaan pada sistem dan sumber daya manusianya. Pada akhirnya. marilah kita cermati bagaimanakah desain kebijakan reformasi birokrasi sebaiknya dilakukan dalam mewujudkan fungsi birokrasi sekaligus mendorong penciptaan tata kelola pemerintahan yang baik (good 34 . sekalipun mesti dengan sejumlah catatan pengecualian pada tahap implementasi. namun bagaimana pelayanan tersebut dapat dilaksanakan dengan baik. menitikberatkan aspek efisiensi dan efektivitas serta memiliki mekanisme dan standarisasi yang jelas dalam interaksinya. bahwa masalah pemerintah terkadang bukan pada apa yang mereka kerjakan. Apabila secara sosiologis birokrasi dipandang sebagai organisasi paling rasional yang memiliki sejumlah karakteristik sebagai pelaksana interaksi antara pemerintah disatu sisi dan masyarakat disisi lain. Jika secara politis birokrasi merupakan instrument kekuasaan dalam mewujudkan visi dan misi penguasa sesuai amanah rakyat yang dituangkan dalam bentuk kebijakan politik formal. Buruknya sistem dalam pelayanan birokrasi membuat masyarakat tak merasa jelas dalam penyelesaian masalahnya.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Disamping itu.

Organisasi dapat diartikan dalam dua macam. Harus diakui bahwa budaya penyusunan organisasi di daerah selama ini cenderung mempraktekkan cara-cara penyusunan organisasi di tingkat pusat. sedangkan secara eksternal di dorong oleh perubahan lingkungan yang lebih luas. Reformasi oganisasi tidaklah sekedar slogan kaya fungsi miskin struktur. Pertama. Panjangnya jalur hirarkhis membuat setiap masalah terkesan basi ketika kembali pada masyarakat. baik formal maupun informal. Masalah kemudian bertambah ketika sebagian besar kepala daerah justru berpikir sama dengan aparatnya. Organisasi sebaiknya disusun berdasarkan hasil analisis jabatan dan beban kerja.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik governance). bukan kepentingan politik atau kelompok tertentu. namun dalam perspektif aparatur birokrasi adalah tujuan akhir berkenaan dengan bagaimana jabatan paling tinggi sebagai refleksi kekuasaan dapat dicapai. Pada level hirarkhis diperlukan pemangkasan yang memungkinkan jenjang struktural lebih pendek. Dominasi aspek struktural selama ini telah menciptakan kekakuan. Desain reformasi struktural dapat dilakukan dengan meletakkan landasan kuat bahwa organisasi adalah alat untuk mencapai tujuan. namun lebih dari itu organisasi didesain berdasarkan kebutuhan. yaitu bagaimana menjadikan birokrasi sebagai alat untuk memperoleh akses bagi keseluruhan sumber daya yang tersedia. Pada level horizontal dibutuhkan organ fungsional yang lebih fleksibel dalam menjawab tuntas akar masalah yang dihadapi. Hal ini sebabkan oleh faktor eksternal dan internal. yaitu organisasi dalam arti dinamis. yaitu organisasi sebagai suatu sistem proses interaksi antara orang-orang yang bekerjasama. selain membuang waktu dan biaya yang tak sedikit. Secara internal organisasi di dorong oleh tingginya tekanan kekuasaan. Uraian selanjutnya akan lebih menitikberatkan pada pengertian kedua. Sistem pemilukada 35 . yaitu organisasi sebagai wadah tempat dimana kegiatan kerjasama dijalankan. bukan kompromi politik. Dalam jarak tertentu dibutuhkan pendelegasian yang memungkinkan pelayanan lebih efisien dan efektif. Perbedaan pemahaman dalam manajemen pemerintahan seringkali menjadikan birokrasi tak efektif menjalankan tugas dan fungsinya. bahkan sulit bersentuhan langsung dengan para pengambil keputusan (decition maker). Kedua faktor tersebut cukup dominan menjadikan organisasi pemerintah tampak dinamis. Boleh jadi dalam perspektif seorang kepala daerah birokrasi adalah alat untuk mewujudkan gagasan ideal dalam bentuk visi dan misi selama lima tahun. Kedua dalam arti dinamis. reformasi organisasi (struktural). bukan tujuan itu sendiri. pertama dalam arti statis.

Ini bisa dipahami jika dihubungkan dengan bertambahnya rekrutmen pegawai setiap tahun tanpa pengendalian berdasarkan kompetensi. Pola penjenjangan karier kurang diperhatikan. bahkan hasil Baperjakat hanyalah unsur formalitas dalam penempatan personil pada struktur organisasi pemda. Reformasi kapasitasi adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan sumber daya birokrasi dalam pelayanan agar mampu mengimbangi dinamika masyarakat. namun dipraktekkan terang-benderang di level pusat melalui perluasan organisasi pemerintahan. Kondisi ini tidak saja berlaku di daerah. Reformasi kapasitasi berkaitan dengan kemampuan birokrasi baik secara individual maupun kelompok yang ditunjukkan pada kemampuan menerjemahkan visi dan misi. Praktis organisasi dibentuk untuk menjawab kepentingan rezim berkuasa. Akibatnya. Sragen. namun tampak pada puluhan organisasi setingkat lembaga.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 telah menjebak kepala daerah untuk melakukan rekonstruksi organisasi pemda lewat cara-cara resuhffle kabinet jilid satu. Kasus pencopotan pejabat setingkat sekretaris daerah dalam tempo singkat dan mutasi besar-besaran adalah contoh yang dapat diamati dalam wilayah pemerintah daerah. dua dan seterusnya. dokter. bukan menjawab masalah yang dihadapi masyarakat. Tasikmalaya. 41 Tahun 2007. Ambon dan Bitung misalnya. Ironisnya. Realitas ini dapat ditemukan pada sejumlah kabupaten seperti Lumajang. dimana lebih dari 70% APBD habis untuk belanja aparatur (FITRA:2011). Kedua. 36 . Rekrutmen pegawai tanpa kompetensi pada akhirnya hanya akan menyerap besaran APBD yang tak sedikit guna meningkatkan kecakapan dan keterampilan pegawai. diperlukan reformasi kapasitasi yang memadai guna meningkatkan kemampuan aparatur dalam melayani masyarakat. analis kebijakan. namun gagal melakukan efisiensi organisasi di level organisasi pemerintah pusat. badan dan komisi. Melebarnya ukuran organisasi tanpa analisa kebutuhan jabatan dan beban kerja membuat performance organisasi pemda khususnya terkesan tambun dan statis. program dan kegiatan. organisasi Pemda memperlihatkan gejala obesitas yang sarat kepentingan politik para elit lokal sehingga sulit bergerak mencapai tujuan. pengetatan organisasi agar lebih ramping dan kaya fungsi diutamakan pada pemerintah daerah melalui kebijakan PP No. Palu. apoteker dan perawat. Potret tersebut terlihat tidak saja pada perluasan kementerian departemen. disamping tersisihnya peluang bagi rekrutmen pegawai yang memiliki kompetensi ideal seperti guru. Postur organisasi Pemda yang mengalami kegemukan tentu saja dapat menyedot belanja aparatur lebih besar dibanding belanja pembangunan.

Rendahnya pendidikan aparatur mengakibatkan kesenjangan antara mereka yang dilayani dan mereka yang melayani. Ini penting untuk mendorong perkembangan daerah lebih cepat dan kompetitif. Pembangunan berbasis keunggulan lokal membutuhkan birokrasi yang mampu menjawab tantangan yang muncul. Kedua aspek tadi setidaknya dapat membentuk kemampuan individual. Fakta ini jelas kurang mendorong 37 . Pemerataan selama ini hanya membuktikan bahwa mereka yang kerja dan tidak. Pada akhirnya. perikanan. Aspek tersebut diimbangi oleh segudang pengalaman pada berbagai organisasi yang memiliki nilai dan kompetensi utama. peningkatan insentif yang berfungsi mendorong spirit dan kinerja birokrasi. birokrasi dan pemerintah secara keseluruhan dapat kehilangan kepercayaan masyarakat. tertutupnya kebijakan pengembangan pendidikan dan lahirnya diskriminasi dalam pengembangan sumber daya di daerah melahirkan kasus jalan pintas lewat indikasi ijazah palsu dan gelar pendidikan tanpa jelas asal-usulnya. daerahdaerah yang berbasis kompetensi kelautan. Keadilan dapat diterapkan melalui pembayaran insentif berdasarkan penilaian kinerja birokrasi. diperlukan desain kebijakan praktis. Dalam jangka panjang diperlukan pendidikan yang berbasis pada kebutuhan dan karakteristik organisasi pemerintah daerah. semakin tinggi kapasitas pemerintah daerah semakin rendah pula resiko yang akan dihadapi dimasa mendatang. Kesenjangan ini seringkali menimbulkan ketegangan sekaligus kecurigaan terhadap kinerja birokrasi. sekaligus pada saat yang sama mendorong kemampuan kolektivitas birokrasi. kiranya membutuhkan aparat yang menguasai sektor unggulan dimaksud. Sebagai perbandingan.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Pengembangan kapasitas aparatur berfokus pada aspek pendidikan dan pengalaman yang akan menentukan nilai profesionalisme birokrasi dihadapan masyarakat. Parahnya. Dalam jangka panjang dibutuhkan aparatur yang memiliki pengetahuan yang memadai guna penyusunan rencana kegiatan hingga keterampilan mengimplementasikan suatu program secara efektif. semakin tinggi resiko yang akan dihadapi. Dalam jangka pendek. Untuk mengantisipasi hal itu diperlukan desain kebijakan reformasi kapasitasi jangka panjang dan jangka pendek. Profesionalisme sekurang-kurangnya ditunjukkan oleh sertifikasi pendidikan dari jenjang dasar hingga jenjang yang lebih tinggi. Dampaknya. sama-sama mendapatkan perlakuan khusus. pertanian dan jasa. Spirit tersebut diarahkan untuk melahirkan nilai kompetitif sehingga mampu menciptakan keadilan bagi birokrasi yang berprestasi. pertama. semakin rendah kapasitas pemerintah daerah. Sebaliknya.

yaitu mendorong berkembangnya birokrasi agar lebih disiplin dan bertanggungjawab serta mampu merespon perkembangan masyarakat. Guna mengurangi kepentingan politik maka birokrasi sebaiknya mengambil jarak untuk bersikap netral. birokrasi sulit menolak ransangan para elit untuk berkoalisi memenangkan calon tertentu. reformasi birokrasi dalam jangka pendek hendaknya mampu menciptakan sistem internal yang dapat mendorong secara perlahan tumbuhnya kesadaran birokrasi sebagai pelayan masyarakat. Pola penggajian dan insentif yang bervariasi sebagaimana pernah diterapkan sejumlah pemerintah daerah seperti Kabupaten Jembrana Provinsi Bali. birokrasi sangat rentan diintervensi oleh elit lokal guna memenuhi kepentingan kelompok tertentu dalam sirkulasi kekuasaan. Pada sisi lain membiarkan kelalaian birokrasi sama maknanya dengan menyetujui sekaligus membolehkan kesewenang- wenangan dalam pelayanan masyarakat. Semua konsekuensi tersebut dilakukan tentu saja berdasarkan transaksi minimum lewat jabatan-jabatan strategis dan menggiurkan. Politisasi birokrasi membuat aparat menjadi bulanbulanan elit lokal. Lewat sistem yang ada. Kesadaran yang terus meningkat hingga membuahkan inovasi. Penerapan sanksi bukanlah tujuan akhir. kreativitas dan kemandirian hendaknya memperoleh penghargaan yang setimpal guna mendorong semangat yang sama pada aparat yang lain. sekaligus melindungi birokrasi dari perilaku buruk aparatur yang berinteraksi didalamnya. menunjukkan dampak positif dalam mendorong kinerja birokrasi. Oleh sebab itu harus dipahami bahwa penarapan reward and punishment memiliki arti strategis bagi organisasi. Ketiga. diperlukan penataan sistem yang secara eksternal efektif dapat mengurangi politisasi birokrasi yang dapat memecahkan konsentrasi aparatur dalam melayani masyarakat.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 kompetisi serta menciptakan ketidakadilan. Pembiaran terhadap tumbuhnya kreativitas tanpa apresiasi dapat menurunkan semangat untuk berkarya dan mengabdi pada organisasi. Mengambil jarak terlalu jauh beresiko kehilangan jabatan. Kedua. sebab itu diperlukan sistem eksternal yang 38 . terlalu dekat sama artinya menceburkan diri dalam ketidakpastian lebih beresiko. termasuk menurunkan penghargaan bagi mereka yang benarbenar memiliki profesionalisme. jauh lebih penting dari itu adalah lahirnya dampak positif bagi birokrasi untuk kembali pada tugas dan fungsinya masing-masing. Demikian pula pola penerapan sanksi dibutuhkan semaksimal mungkin dengan maksud pembinaan secara proporsional. Statement ini tentu saja tidak mudah diperoleh dilapangan empirik. faktanya sebaliknya.

Berkaitan dengan reformasi birokrasi diperlukan sistem yang mengikat secara ketat. Perilaku birokrasi yang korup cenderung termotivasi oleh pengaruh lingkungan serta tuntutan domestik. reformasi birokrasi dalam jangka pendek diarahkan pada upaya pencegahan (preventive) perilaku korupsi dalam tubuh birokrasi. Tentu saja reformasi birokrasi dalam jangka panjang termasuk jangka pendek sulit dilakukan tanpa dimulai dari perubahan budaya kerja kearah positif. sebesar 2. Budaya kerja positif diharapakan tidak saja menular pada pemerintah. Perubahan budaya kerja yang diawali dari kebiasaan menanamkan keseluruhan karakteristik pemerintahan yang baik diharapkan mampu menghasilkan birokrasi yang dapat menjalankan fungsinya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat. indeks persepsi korupsi di Indonesia belum berubah sesuai catatan International Transparancy. birokrasi membutuhkan legitimasi de facto sebagai penyambung kepentingan kepada pemerintah yang berkuasa. Sebagai abdi negara. disamping penerapan sanksi berat dalam setiap tindakan yang disangkakan. Reformasi instrumentasi berfungsi sebagai landasan kebijakan yang bersifat legalistik-formal untuk menghindari tuntutan masyarakat terhadap kinerja birokrasi. sebab semua norma sosial termasuk agama tidaklah mentolerir perilaku buruk semacam itu. birokrasi membutuhkan legitimasi de jure untuk menjalankan semua keputusan politik pemerintah. demikian pula pada elemen masyarakat dan wiraswasta. Sejauh ini. Bercermin pada China yang berani menerapkan tindakan tegas bagi pelaku korupsi. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku buruk birokrasi perlu diperbaiki. Perlu dipahami bahwa sistem insentif sebagaimana dikemukakan sebelumnya bukanlah jalan satusatunya dalam mengurangi tindak pidana korupsi. Bagian ketiga dari gagasan reformasi birokrasi berkenaan reformasi instrumentasi yang mencakup penyiapan regulasi baik undangundang di tingkat pusat hingga peraturan pada level pemerintah daerah. maka dibutuhkan reformasi birokrasi yang mampu mencegah terjadinya tindak pidana korupsi dilingkungan birokrasi pemerintahan. Korupsi merupakan kejahatan extra ordinary sehingga membutuhkan upaya-upaya yang bersifat luar biasa. Korupsi bukanlah budaya positif yang tumbuh pada masyarakat. Pembentukan Komisi Pemberantasan Korupsi dimaksudkan untuk membantu pemerintah dalam meminimalisasi gejala korupsi. Dalam banyak kasus birokrasi seringkali 39 . Sedangkan sebagai abdi masyarakat. Keempat.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik dapat membentengi birokrasi dari kepentingan politik yang berlebihan.8. Landasan kebijakan secara umum diharapkan mampu melindungi pemerintah dan segenap pemangku kepentingan dalam lingkup good governance.

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 dianggap gagal menyiapkan instrumen bagi landasan pelayanan masyarakat. pada akhirnya menimbulkan masalah lebih kompleks yaitu ekonomi biaya tinggi (high cost economy). dimana prinsip-prinsip tata kelola pemerintahan menjadi landasan penting dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Strategi pelayanan jemput bola melalui penggunaan sarana dan prasarana yang tersedia seperti teknologi informasi dan transportasi merupakan keseluruhan paket reformasi instrumentasi dalam kerangka besar reformasi birokrasi dan implementasi good governance. Wisma Atlit. pemegang modal dan masyarakat biasa. juga berhubungan dengan seperangkat alat baik sarana dan prasarana yang memungkinkan birokrasi mampu mengembangkan dirinya dalam memberikan pelayanan yang bermutu. Reformasi instrumentasi pada tingkat teknis setidaknya dapat memperjelas mekanisme dan prosedur pelayanan oleh birokrasi pemerintahan. pemerintah pada dasarnya telah banyak melakukan terobosan melalui berbagai regulasi yang memberikan peluang diterapkannya karakteristik tata kelola pemerintahan yang baik. kolusi dan berkembangnya jaringan mafia dalam tubuh birokrasi.32/2004 tentang Pemerintahan Daerah. ketatnya mekanisme dan prosedur dapat membentuk budaya birokratisme yang pada gilirannya mendorong perilaku “melambung” (by pass) untuk mempercepat pelayanan. walaupun disadari belum sepenuhnya dapat dilaksanakan secara baik. Contoh konkrit lain dapat dilihat dalam instrumen evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah yang memuat sejumlah variabel dan indikator sebagai refleksi dari tercapainya karakteristik tata kelola pemerintahan yang baik. Sebaliknya. Berkaitan dengan implementasi good governance. Kendati dengan alasan efisiensi. Kasus Bank Century. seperti landasan yuridis kebijakan serta tingkat partisipasi masyarakat. Gejala tersebut dapat dilihat pada sejumlah hasil temuan BPK dimana pengeluaran anggaran pemerintah daerah khususnya kehilangan landasan yuridis. surat palsu di Mahkamah Konstitusi hingga Kemenakertrans adalah contoh gamblang dalam konteks terbentuknya jaringan mafia birokrasi antara pemerintah. Salah satu contoh dapat dilihat dalam kebijakan UU No. Reformasi instrumentasi diharapkan tidak hanya berkaitan dengan landasan hukum. Situasi demikian seringkali menyuburkan praktek suap. Tanpa standar operational procedure. birokrasi layaknya berjalan menggunakan insting dimana pada kondisi tertentu dapat berbenturan dengan norma dan ketentuan yang berlaku. Indikator lain yang bisa diamati adalah persyaratan adanya SOP sebagai pedoman bagi setiap pemerintah daerah 40 . mekanisme dan prosedur.

tranparansi. LKPJ dan LIPD. dan akuntabilitas. Prinsip ini mengalami perkembangan sejak lahirnya lembaga yang berfungsi melakukan evaluasi serta pengawasan baik secara internal. kedisiplinan. badan dan komisi. kesetaraan. Karakteristik efisiensi dan efektivitas merupakan prinsip yang senantiasa diakomodir dalam undang-undang pemerintahan daerah termasuk peraturan yang menjadi turunannya. eksternal.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik dalam menjalankan fungsi dan tugas pokoknya dilapangan. Prinsip akuntabilitas dapat dilihat pada sejumlah instrument pertanggungjawaban seperti PP No. Strategi ini dilakukan melalui persyaratan fit and proper test yang dilakukan pada sejumlah calon pejabat setingkat kepala daerah maupun pimpinan lembaga. Kesemua itu merupakan modal dasar dalam rangka penumbuhan. 41 . politik maupun pengawasan publik. fungsional. Pengembangan kesetaraan sebagai bagian dari karakteristik tata kelola pemerintahan yang baik dapat dilihat dalam mekanisme pemilihan pemimpin politik yang ramah gender serta terbuka bagi setiap warga negara menurut batasan konstitusi dan undang-undang. dilahirkannya regulasi tentang keterbukaan informasi publik oleh Kementrian Komunikasi dan Informasi menunjukkan komitmen pemerintah dalam memberikan akses seluas-luasnya kepada masyarakat. Bahkan.3/2007 tentang Pertanggungjawaban Kepala Daerah yang meliputi LPPD. pengembangan dan implementasi karakteristik good governance. Pada karakteristik transparansi misalnya. Karakteristik visi strategis menjadi syarat mutlak bagi setiap kandidat pemimpin pemerintahan ketika mencalonkan diri sebagai pejabat publik. tanggungjawab. Penyampaian laporan perkembangan harta kekayaan yang dimiliki oleh setiap pejabat publik mencerminkan diterapkannya prinsip akuntabilitas dan tranparansi. pencanangan pendidikan karakter sejak usia dini oleh Kementrian Pendidikan Nasional merupakan terobosan jangka panjang dalam upaya menanamkan nilai-nilai kejujuran. Karakteristik konsensus dilakukan melalui upaya dokumentasi perencanaan APBN dan APBD sebagai bentuk kesepakatan bersama antara eksekutif dan legislatif yang notabene dipilih dan mewakili masyarakat itu sendiri. terlepas bahwa prinsip tersebut masih sering dilanggar oleh pemerintah daerah.

2001. Jakarta Sanderson. Reformasi Birokrasi. C. Red and White Publishing. Introducing Social Theory. volume 3. Tiara Wacana Michaels. Political Parties. 2010. Macrosociology. 2000. 2010. Bandung Gerth. 2009. Rajawali 1Pers. New York. Jakarta Rahardjo. Kompas. Gramedia Pustaka Utama Effendy. Demokratisasi Birokrasi. Martin.W (1946) From Max Weber:Essays in Sociology. Jakarta Max Weber dalam Martin Albrow (Terj). 2010. Birokrasi. H. Jurnal Ilmu Pemerintahan Widya Praja. 1962. Satjipto. N. Bambang. Gugus Press. Sosiologi Kekuasaan. Adam dan Jessica Kuper. 2000. R. Tinjauan dari Aspek Politik dan Administrasi. 2005. Harvard Universty Press. 1996. 2002. Raja Grafindo. Jakarta Laski. Jakarta Dwiyanto. Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Bekasi Dino Patti Djalal. Indra Prahasta. Khasan. Bureaucracy dalam Encyclopaedia of the Social Sciences.XXXV No. Roderick. Jakarta Setiono. Soerjono. Theory of Public Bureucracy. New York dan London. Seni Memimpin SBY. Martin Albrow dalam Donald P. Cambridge Massachussets. Harus Bisa. Stephen K. 1993. Jakarta 42 . 2010. (terjemahan). Yogyakarta. Praktek Birokrasi Weberian di Indonesia. 2008. Rajawali Pers. Rajawali Pers. The Study of Politics (Terjemahan). (terjemahan).1 Tahun. Jaring Birokrasi. Sosiologi Pemerintahan. Jakarta Soekanto. Budi. Ensiklopedi Ilmu-Ilmu Sosial. Ina Publikatama. Jakarta Kuper. New York. Agus.Warwick. The Bureaucratic Entrepreneur (terjemahan). H dan Mills. CV. Raja Grafindo Persada. STIAMI. Istianto. Pip. Richard. Jakarta Sudirman. Membedah Hukum Progresif.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Daftar Pustaka Duverger. 1998. Sosiologi Suatu Pengantar. Vol. Maurice. Jakarta Jones. 2011.Haass.

Yogyakarta Jurnal Ilmu Pemerintahan Widyapraja. Georg. Terobosan Otonomi Satu Tingkatan. Pustaka Pelajar. 2004. Jhon. Otonomi dan Pemerintahan Daerah. 1993. Makalah. Pusataka Pelajar. Fisipol UGM. Ackermen-Susan Rose. 2004. And Reform. 2004. Jakarta Tjokrowinoto. Macmillan ltd Haris. Cambridge University Press Aini. IIP-Press Rasyid. 2011. Miftah. New haven and London. 1982. Gugus Press. Westview Press Setiono. Demokratisasi Birokrasi. Peran Kontrol Rakyat dan Netralitas Birokrasi. Pidato Pengukuhan Guru Besar. Politicising Democracy. Perspektif Mikro Diagnosa Psikologis. Peter M. Jakarta. Consequences. dkk. Vol. Yogyakarta Istianto. 2002. hal 209-22 Republika. Robert A. Pustaka Pelajar. Birokrasi dalam Polemik. dkk. 2006. Democracy and Democratization. 2004. Budi. IIP Press. Bahan Ajar Sistem Politik Indonesia. Nurul. Untung. Demokrasi dalam Birokrasi Pemerintah. 2000. Dilemma Of Pluralist Democracy. Jaring Birokrasi. Unismuh. 2000. Jakarta 43 . Bekasi Subagyo. 1999. Jakarta Koswara. 2001. 1999.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Tjokrowinoto. Agustus 2011. Reformasi Birokrasi. Moeljarto. Palgrave. (Makalah). LPM-IIP. Ryaas.XXXII No. Yogyakarta Dahl. 2006. 2000. Jakarta Blau. Pemerintahan Yang Amanah. Politik Organisasi. Yale University Press Haris. Malang Toha. Jakarta Sorenson. Pustaka Pelajar. Pembagian Kewenangan Menurut UU 32 Tahun 2004. Precesses and Prospects in Changing World. Corruption and Government Causes.3 Tahun 2006. Bureaucracy in Modern Society (terj). PKSP. Yayasan Bina Pembangunan. Mitra Wacana Media. Jakarta Suwandi. Bambang. Birokrasi Dalam Polemik.

.

Syarat Mutlak Pembangunan Ekonomi * Penulis adalah kandidat doktor Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 45 .Foto : Antara IV Oleh : Nursodik Gunarjo * Edisi 3 / September / 2011 Reformasi Birokrasi.

“Masalah Sekitar Peningkatan Pendapatan Asli Daerah”. namun juga terkait dengan perilaku tak terpuji aparat birokrasi dan kebijakan yang tidak probisnis. 46 . birokrasi yang diharapkan mampu menjadi enzim of growth perekonomian. alih-alih membantu percepatan perputaran roda perekonomian3 3 Kristiadi.Indonesia. Tidak mengherankan jika pelaku ekonomi cenderung menganggap keberadaan birokrasi lebih banyak menghambat. proses perizinan di Indonesia dinilai lambat dan ruwet. Sebuah perusahaan berbasis teknologi informasi asing terkemuka. Banyak keluhan muncul saat para pelaku usaha berurusan dengan birokrasi. Selain itu.detikfinance. 114. Prisma. regulasi pemerintah dinilai kurang mendukung keberadaan investor asing1. Akibatnya sangat fatal. (1995). akan membuat dunia usaha lebih mudah menerapkan efektivitas dan efisiensi.Terhalang. dalam praktik justru sering membebani sektor ini.kompas. No. 4. Mereka juga mengeluhkan banyaknya biaya siluman (overhead cost) yang harus dikeluarkan saat melakukan aktivitas ekonomi di Indonesia2. Pelayanan birokrasi turut menentukan bergairah atau tidaknya aktivitas perekonomian suatu bangsa. Tulisan ini diharapkan dapat menganalisis secara komprehensif hubungan antara birokrasi dan dunia usaha dari perspektif ekonomi politik.com/ read/2004/12/17/110517/257641/4/ infrastruktur-buruk-investasi-jepangke-ri-minim Beberapa contoh yang telah dikemukakan setidaknya dapat dijadikan bukti bahwa birokrasi Indonesia belum ’ramah’ terhadap dunia usaha. 1 http://tekno. serta perilaku korup aparat birokrasi. Penyebabnya. batal menanamkan investasi di Indonesia. Sebaliknya. Pelayanan birokrasi yang lambat. ketidaksiapan sumberdaya terutama SDM. J.com/ read/2011/07/27/12451245/Minat.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 B Pendahuluan irokrasi merupakan stakeholder penting di bidang ekonomi. Keluhan tersebut bukan saja berkenaan dengan buruknya layanan. buruk dan berbiaya tinggi akan menyebabkan high-cost economy yang membebani pelaku usaha. mudah dan murah.B. Para penanam modal di Indonesia pada umumnya mengeluhkan minimnya infrastruktur. pelayanan yang cepat. di.Regulasi 2 http://us.

php/publication/2010/11/11/indekspersepsi-korupsi-kota-kota-indonesia2010 47 . catatan Mohl tentang penyalahgunaan birokrasi memperlihatkan adanya sifat kecongkakan. Kebutuhan tersebut muncul sebagai akibat logis dari adanya struktur hierarki yang membutuhkan tahapan-tahapan pengambilan keputusan. Namun dengan kondisi struktur yang rigid dan kaku. 114. setiap sistem pemerintahan dan organisasi membutuhkan birokrasi. termasuk di dalamnya pelayanan umum dan pembangunan. birokrasi yang dimaksudkan untuk melaksanakan penyelenggaraan bernegara. 4 http://www. Kesan seperti ini kemudian memunculkan istilah debirokratisasi. No. Karena itu. Jika hal semacam itu terjadi di banyak perusahaan. maksudnya adalah upaya untuk menyederhanakan 5 Eisenstadt S. (1986).Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Sebagaimana disampaikan Transparency InternationalIndonesia (TI-Indonesia).ti. serta popular. mempunyai daya tarik. J. kelambatan. Rajawali 6 Kristiadi.B. oleh masyarakat seringkali diartikan dalam konotasi yang ruwet.id/index. Prisma. Dalam kenyataan.N. 4. (1995). Bahkan ada perusahaan yang menggunakan dana hampir seperempat dari total aset yang dimiliki hanya untuk biaya pelicin agar urusan dengan birokrasi cepat selesai. sehingga penyalahgunaan bisa muncul dalam sistem kegiatan birokrasi. Jakarta: CV. Revolusi dan Transformasi Masyarakat. dalam jangka panjang efeknya dipastikan akan sangat berpengaruh terhadap efisiensi. Birokratisasi merupakan efek dari kegiatan birokrasi yang dihegemoni oleh kepentingan kekuasaan dari para elit organisasi. birokrasi acapkali mendapatkan kritik yang cukup tajam6 Senada dengan itu. birokrasi mudah mengalami birokratisasi—sebutan umum untuk birokrasi yang birokratis. dan pada akhirnya akan menekan produktivitas perusahaan4 Birokrasi Birokratis-Patologis: Perspektif Kritis Tidak bisa dimungkiri. yang sejatinya merupakan manifestasi untuk menunjukan bentuk atau orientasi kekuasaan tertentu dari para elit5 Albrow mengungkapkan sorotan berbagai kalangan yang memandang birokrasi sebagai proses yang panjang dan berbelit-belit pada saat para pengguna berurusan dengan aparat birokrasi. “Masalah Sekitar Peningkatan Pendapatan Asli Daerah”.or. Keadaan ini terlihat pada kelambanan pelayanan dan proses kerja yang berbelit-belit.. pemerintahan. biaya overhead cost yang harus dikeluarkan pelaku usaha sebagai imbas dari berbelit-belitnya urusan di birokrasi terbilang sangat besar.

pada akhirnya. Concept. seperti esensi birokrasi Hegelian dan Weberian9.E. London: Sage Publication 9 Mustopadidjaja. yakni korupsi dengan beranekaragam bentuknya. Jakarta: LAN. Citra buruk birokrasi seperti parkinsonian atau birokrasi gemuk (big bureaucracy). Secara etimologis. patologi berarti “ilmu tentang penyakit”. Birokrasi.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 prosedur yang dianggap ruwet itu7 Birokrasi pada kenyataannya sering mengalami disfungsi karena adanya pergantian tujuan-tujuan organisasi menjadi tujuan pribadi.R.B. Administrasi Negara. Second Edition. (1995). orwellian atau birokrasi dengan peraturan yang menggurita sebagai perpanjangan tangan negara untuk mengontrol masyarakat. 48 . 8 Lane. No. yang berhubungan dengan kedudukan dan kewenangan pejabat publik. Rajawali 11 Mustopadidjaja.” Dengan demikian secara ringkas dapat dikatakan. bersifat over supplay dengan memaksimumkan struktur. hanya berfungsi sebagai pengendali. (1995).N. tetapi mengabaikan fungsi pelayanan masyarakat10. (1986). Di berbagai belahan bumi. A.. Keseluruhan kondisi empirik yang terjadi secara akumulatif telah meruntuhkan konsep birokrasi Hegelian dan Weberian yang memfungsikan birokasi untuk mengkoordinasikan unsur-unsur dalam proses pemerintahan. Birokrasi pada akhirnya menjadi tuan bagi dirinya sendiri dan tidak berorientasi pada fungsi pelayanan. Banyaknya penyimpangan di birokrasi menyebabkan birokrasi cenderung bersifat patologis. Demokrasi dan Masyarakat Madani. lebih mengemuka ketimbang citra yang baik atau rasional (bureau rationality). birokrasi lebih menunjukkan kondisi empirik yang buruk. “Masalah Sekitar Peningkatan Pendapatan Asli Daerah”.R.. 4. Sementara yang dimaksud dengan birokrasi adalah: “. J. (1999).an organisation with a certain position and role in running the government administration of a country. Revolusi dan Transformasi Masyarakat. Akibatnya. The Public Sector. serta lambatnya pelayanan dan prosedur yang berbelit-belit atau yang lebih dikenal dengan efek pita merah (red-tape). J. Jakarta: CV. patologi birokrasi adalah “penyakit” yang menyebabkan peran dan fungsi birokrasi mengalami penyimpangan dan tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya11 10 Eisenstadt S. atau jacksonian yakni birokrasi yang dipolitisasi. (1999). dan tidak terkontrol8 Berbagai keluhan dan kritikan mengenai kinerja birokrasi memang bukan hal baru. Prisma.           Citra buruk tersebut semakin 7 Kristiadi. A. Models and Approaches. 114. negatif atau bahkan patologis. diperparah dengan isu yang sering muncul ke permukaan. penegak disiplin dan penyelenggara pemerintahan dengan kekuasaan yang sangat besar. birokrasi tumbuh menjadi sesuatu yang chaos.

(1988). mengakibatkan produktivitas dan mutu pelayanan yang rendah. aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan perundangundangan serta norma-norma yang berlaku di dalam birokrasi. Hal itu mengakibatkan bentuk penyimpangan seperti penyalahgunaan wewenang dan jabatan. (2002). Jakarta: LAN 12 Umar H. seperti rendahnya imbalan dan kondisi kerja yang kurang memadai. menerima sogok. dengan menggelembungkan pembiayaan. S. serta pegawai sering berbuat kesalahan. Demokrasi dan Masyarakat Madani. penyelewengan fungsi dan struktur. Filsafat Administrasi. Amerika Serikat. seperti sewenang-wenang. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. dan ketidakmampuan birokrasi untuk berubah sesuai tuntutan zaman12 Apabila ditelusuri lebih jauh. tindakan pejabat yang melanggar hukum.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Dalam praktik. ketiadaan deskripsi dan indikator kerja. purapura sibuk. dan sistem yang pilih kasih13 Dari uraian yang telah dikemukakan. dan diskriminatif. Administrasi Negara. gejala patologi dalam birokrasi bersumber pada lima masalah pokok. rendahnya pengetahuan dan keterampilan para petugas pelaksana berbagai kegiatan operasional.P. Keempat. yakni: Pertama. menerima sogok. Kelima. 13 49 . Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen. sehingga produktivitas sektor bisnis terpengaruh. Kedua. Kemalasan pegawai birokrasi menyebabkan penyelesaian aplikasi perizinan dan pembuatan regulasi menjadi lambat. situasi internal berbagai instansi pemerintahan yang berakibat negatif terhadap birokrasi. dan nepotisme. ruwet dan berbelit-belit. Ketiga. persepsi gaya manajerial para pejabat di lingkungan birokrasi yang menyimpang dari prinsip-prinsip demokrasi. sehingga pelayanan yang diberikan kepada pelaku ekonomi menjadi tidak berkualitas. jelas bahwa birokratisasi dan patologi birokrasi merupakan dua sisi dari keping mata uang yang sama. Jakarta: Gunung Agung. bagaimana birokrasi bisa merongrong habis-habisan kinerja sektor ekonomi di Uphill Battle. manifestasi perilaku birokrasi yang bersifat disfungsional atau negatif. patologi birokrasi tersebut berupa perilaku (aparat) birokrasi yang menyimpang dari nilai-nilai etis. Potret Nyata Birokrasi Indonesia Jauh hari telah digambarkan secara dramatis. Tidak adanya inovasi membuat para birokrat cenderung melakukan pelayanan sama dari waktu ke waktu. Siagian. korupsi dan sebagainya. Penyakit birokrasi juga bisa berupa inefektivitas dan inefisiensi. Kemunculan birokrasi yang birokratis menjadi pemicu munculnya patologi birokrasi. Sebaliknya. Cermin Retak Uphill Battle. patologi birokrasi berimbas pada munculnya pelayanan birokrasi yang lambat.

Lain halnya dengan birokrasi Indonesia yang masih dipersepsikan sarat dengan KKN. Akan tetapi. Kelima. nepotisme). Hal tersebut ditunjukkan oleh struktur organisasi birokrasi yang tidak sesuai dengan kebutuhan. 50 . P. Penyakit warisan Orde Baru ini masih bercokol hingga kini. etika dan moral. lantaran birokrasi di sana hanya terinfeksi patologi birokrasi. Antara Model Demokrasi Lokal dan Efisiensi Struktural. Prasojo. Keempat. Ketiadaan standar pelayanan. dan rendahnya penggunaan perangkat teknologi informasi. namun tidak terkena wabah KKN. di sisi lain. atau bahkan potret buruk birokrasi. Kedua. inefisiensi sumberdaya telah membuat aktivitas birokrasi memakan biaya dan menghabiskan sumberdaya sangat besar. inkonsistensi dan instabilitas peraturan perundangundangan. E & Maksum. I. (2000). hal itu masih belum apa-apa jika dibandingkan dengan kondisi birokrasi di Tanah Air. Desentralisasi dan Pemerintahan Daerah. tidak responsif. membuat kalangan dunia usaha enggan berurusan dengan birokrasi. sangat tidak sebanding dengan output dan outcome yang dihasilkan14 Apa yang terjadi di Uphill Battle bisa disebut sebagai cermin retak. dan tentu masih sangat berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia. serta tidak tepat waktu. Di sisi lain. Permasalahan lain terkait dengan rendahnya kualitas sumberdaya manusia dan lemahnya pengawasan terutama dalam hal akuntabilitas. selain berbagai jenis patologi birokrasi yang telah disebutkan. masih ada penyakit menahun lain yang menggerogoti birokrasi. Ketiga. (2006). yakni KKN (korupsi. masih belum terbentuk budaya birokrasi (service delivery culture). D. Masyarakat bisnis di Uphill Battle bisa dikatakan ‘masih beruntung’. masih kentalnya budaya patron-client dan budaya afiliasi yang mengarah kepada moral hazard. Permasalahan mendasar yang membuat birokrasi Indonesia koruptif dan tidak probisnis di antaranya adalah kurang baiknya kelembagaan dan tatalaksana. struktur. kolusi. Situasi problematis yang dihadapi sebagian besar birokrasi Indonesia saat ini di antaranya: Pertama. nilai dan regulasi yang ada masih berorientasi pada kepentingan penguasa/birokrat (power culture).Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Layanan yang tidak berorientasi kepada pelanggan. menyebabkan pelayanan publik tidak memuaskan. masih tingginya ketidakpastian dalam birokrasi (cost of uncertainty). Jakarta: PPM. norma. Memangkas Birokrasi. terutama yang paling menonjol adalah perilaku korup aparat birokrasinya. & Plastrik. Jakarta: DIS FISIP UI. masih rendahnya kompetensi para birokrat15 15 14 Osborne. Di Indonesia.R.

dari yang paling tinggi sampai kepada yang paling rendah.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Di sisi lain. Kondisi ini membuat birokrasi rentan terhadap pengaruh kekuasaan atau politik praktis. hierarki jabatan dalam birokrasi disusun secara bertingkat. akan tetapi lebih ditujukan pada kegiatan-kegiatan struglle to get political power. Peran ini menjadi strategis karena hanya aparat birokrasi yang memiliki wewenang menguasai akses atas kepentingan publik. Pemberian layanan merupakan implikasi dari fungsi negara sebagai alat pemenuhan kebutuhan rakyat. Birokrasi. Fungsi birokrasi sebagai unit pelayanan publik dihegemoni oleh kekuatan internal birokrasi. Artinya. Unsur partai bukan menjadi pertimbangan. Kehadiran birokrasi merupakan tuntutan mutlak yang harus dipenuhi untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Dinamika politik ditandai dengan instabilitas sehingga tidak ada satu pun kabinet yang dibentuk bisa menyelesaikan masa jabatannya. muncul pertarungan antarpartai politik untuk merebut posisi puncak birokrasi. Pembatasan ini dilakukan untuk mencegah terjadinya pencampuradukan kepentingan pribadi pejabat birokrasi ke dalam tugasnya sebagai pelayan masyarakat sehingga birokrasi tetap menjadi kekuatan yang netral dari pengaruh kelompok tertentu. Pada zaman kemerdekaan (19451950). birokrasi tidak mudah dibawa ke dalam pertarungan antara aktor politik yang sedang berkompetisi atau cenderung lebih patuh pada kekuatan politik yang menjadi patron-nya. Netralitas birokrasi tercermin dari kemampuan birokrat meletakkan fungsi birokrasi di atas kepentingan pribadi dan mengutamakan kepentingan masyarakat. Memasuki zaman demokrasi liberal (1950-1959). Agar tidak terjebak dalam permainan politik praktis. Dalam setiap hierarki terdapat kekuasaan pejabat birokrasi. Aktivitas utama birokrasi bukan lagi untuk melayani publik. Kabinet yang terbentuk pun lebih banyak diwarnai 51 . pertumbuhan birokrasi tidak lepas dari dinamika politik dan masyarakat sehingga kultur birokrasi selalu sarat dengan warna politik di zamannya. wewenang birokrasi dibatasi sesuai dengan hierarki jabatannya. reformasi politik di Indonesia dalam kenyataannya belum mengubah birokrasi menjadi kekuatan profesional negara. baik secara personal maupun institusional. merupakan organ negara yang diberi tugas menjalankan semua kebijakan pemerintah yang terkait dengan kepentingan rakyat. sehingga berubah menjadi kepanjangan tangan kekuasaan. Menurut Weber. Dalam sejarah birokrasi Indonesia. sebagian besar penyelenggara negara memiliki komitmen kuat bagi perjuangan bangsa. terlebih ketika kecenderungan determinasi partai politik terhadap pejabat birokrasi tak juga sirna.

langsung maupun tidak langsung. Mulai dari menteri hingga pejabat di semua lini diisi orang Golkar. Situasi seperti ini mendorong para pejabat untuk mencari kesempatan dalam kesempitan agar mereka dapat menciptakan rente dari pelayanan berikutnya. birokratisasi akan menggerus fiskal masyarakat pengguna birokrasi dalam jumlah yang sangat besar. mempermudah urusan publik. Keberpihakan birokrasi kepada partai politik masih terlihat. efeknya 52 . kolusi secara nyata telah melempangkan jalan bagi orang-orang yang mau berkongsi dengan oknum birokrasi. Pemerintah mengaburkan batasan jabatan politik dan jabatan birokrasi dari departemen untuk melanggengkan dominasi Golkar di tubuh birokrasi. dan memberikan kepuasan kepada publik. terungkap bahwa birokrasi Indonesia gagal menjalankan fungsi pelayanan publiknya. Birokrasi yang seharusnya mendahulukan kepentingan umum. Korupsi yang merajalela di lembaga birokrasi berimbas pada banyaknya biaya tambahan yang harus dikeluarkan para pengusaha dan pemangku kepentingan lain yang berurusan dengan birokrasi. atau dalam bahasa populernya “UUD—ujung-ujungnya duit”. pejabat birokrasi dikuasai Golkar. Meski asas monoloyalitas telah dihapus. Korupsi secara langsung akan mengurangi besaran dana yang seharusnya dipergunakan untuk kepentingan publik. Dalam beberapa jajak pendapat yang dilakukan lembaga independen. masyarakat yang harus membayar mahal semua itu karena birokrasi tidak lagi profesional. cara itu masih tetap diwarisi birokrasi hasil reformasi. Jika korupsi dan mark-up dilakukan pada proyekproyek infrastruktur dan atau program-program probisnis. nafsu politik birokrat untuk menguasai birokrasi masih bercokol. Pada masa Orde Baru (1966-1988). Secara akumulatif. Kondisi ini membuat birokrasi sering dimanfaatkan untuk kepentingan partai daripada kepentingan masyarakat luas.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 corak koalisi partai. tidak pernah hadir. Sementara nepotisme secara perlahan tapi pasti telah menciptakan perekonomian oligarkis yang dimonopoli oleh para kroni dan keluarga dekat pejabat birokrasi. Tampaknya. Dalam praktik. Akibatnya. Di sisi lain. dan sebaliknya melemparkan orangorang jujur dari kancah persaingan bisnis. berbagai jenis patologi birokrasi semua berujung pada uang. termasuk masyarakat umum. Birokratisasi versus Ekonomi Berbelit-belinya pelayanan serta tidak transparannya kinerja birokrasi telah mendorong masyarakat untuk mencari ”jalan pintas” dengan suap atau berkolusi dengan para pejabat dalam rekrutmen pegawai atau untuk memperoleh pelayanan yang cepat.

ekonomi makro.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik secara langsung akan memperlambat laju perekonomian. untuk rentang skor penilaian 0 . dampaknya akan menyebabkan menurunnya pendapatan negara secara drastis. Indeks Persepsi Korupsi Indonesia (IPK Indonesia) di 50 kota di Indonesia pada akhir 2010 rata-rata masih rendah. Skor rendah mengindikasikan para pelaku bisnis menilai korupsi masih lazim terjadi dalam sektor-sektor publik. Dalam praktik. sehingga berpengaruh negatif terhadap kondisi ekonomi makro maupun pada program pembangunan ekonomi secara keseluruhan. Sementara jika dilakukan pada lembaga-lembaga keuangan atau lembaga pengumpul dan pendistribusi fiskal. khususnya competitiveness suatu bangsa. Fakta menunjukkan. perusahaan dan pemerintah. Biaya tersebut diambil dari nilai total transaksi. yang semua bertujuan meningkatkan pendapatan dan mewujudkan perekonomian 17 http://www3. Akibatnya.org/docs/WEF_ GlobalCompetitivenessReport_2010-11. php/publication/2010/11/11/indekspersepsi-korupsi-kota-kota-indonesia2010 untuk menghindari kerugian.id/index. Ketidakkondusifan birokrasi Indonesia bagi dunia usaha ternyata berimbas terhadap daya saing ekonomi bangsa di tingkat internasional. Jika ketiganya dilakukan dalam konteks usaha. adalah tidak terpenuhinya kebutuhan dasar yang menjadi kunci pendorong pertumbuhan ekonomi. serta kesehatan dan pendidikan dasar (gambar 1) Dari gambar 1 dapat diketahui bahwa kelembagaan.or.ti. faktor kelembagaan sangat ditentukan oleh jaringan kerjasama legal dan administratif antara pelaku ekonomi. Sebuah survei yang dirilis TI-Indonesia menunjukkan. mereka mengorbankan kuantitas ataupun kualitas barang dan jasa yang dihasilkan. salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja ekonomi. baru kemudian kebutuhan yang lain seperti infrastruktur. mark-up dan permintaan imbalan. yang berarti memperkecil margin keuntungan.weforum. 16 http://www. adalah kunci penting sukses bidang ekonomi. perilaku koruptif masih marak di lingkungan birokrasi.10. Di antara kebutuhan dasar tersebut. pengusaha dipastikan harus mengeluarkan biaya ekstra. yakni di antara 3. sementara pemerintah dan penegak hukum kurang serius dalam pemberantasan korupsi16 Suap. Sebagaimana dikemukakan World Economic Forum (WEF) dalam The Global Competitiveness Report 2010-201117.61 – 6.71. akan menambah biaya yang seharusnya tidak ditanggung oleh pengguna layanan birokrasi. WEF menempatkan kelembagaan (institutions) yang kondusif pada urutan kebutuhan dasar pertama. pdf 53 . baik swasta maupun pemerintah.

Kendati posisi daya saing Indonesia untuk kategori overall pada tahun 2011 berada pada 54 Sumber: World Economic Forum Report 2011 . Menurut WEF. tidak jujur. Indonesia bersama 25 lainnya berada pada tubir kritis: sewaktu-waktu dapat melompat ke jenjang perekonomian yang lebih tinggi lagi. dan dipolitisasi.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Gambar 1. birokrasi yang birokratis. tahap kedua yang merupakan peralihan dari tahap factor driven ke innovation driven (Tabel 1). di mana hal itu sangat mempengaruhi kepercayaan investasi. atau sebaliknya kembali terjerumus ke tahap yang lebih rendah karena kendala yang bersifat birokratis. khususnya dalam hal efektivitas dan efisiensi. Jelas bahwa perilaku lembaga pemerintah atau birokrasi sangat berpengaruh terhadap aktivitas dunia usaha. red tape alias lambat dan berbelit-belit. tidak dapat dipercaya. korup. tidak transparan. karena saat ini pendapatan per kapita Indonesia sedang berada pada tahap efficiency driven. pada masamasa krisis ekonomi peningkatan peran lembaga pemerintah di bidang perekonomian terbukti mampu menghindarkan banyak negara dari kemungkinan krisis yang lebih berat. Kebutuhan Dasar Kunci Pendorong Pertumbuhan Ekonomi yang sehat. Indonesia patut mencermati laporan WEF. Pada tahap peralihan ini. produktivitas. Lembaga pemerintah yang kuat mampu menjaga daya saing dan pertumbuhan. Fakta menunjukkan. akan mendongkrak biaya ekonomi yang harus dipikul para pengusaha secara signifikan sehingga dalam jangka panjang akan memperlambat laju pertumbuhan ekonomi. over-regulasi.

Income Tresholds for Establishing Stages of Development ranking yang sama. melainkan karena peningkatan pada faktor-faktor yang lain. Tidak mengherankan jika Jack Welch.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik ranking 44 dari 133 negara. akan tetapi hal tersebut tidak menjamin perekonomian Indonesia di masa datang dapat tetap bertahan pada birokrasi dapat menjadi ancaman serius terhadap daya saing Indonesia di masa datang. masih maraknya birokrasi yang birokratis yang sarat dengan patologi Sudah lama birokrasi yang rumit menjadi penyebab munculnya ekonomi biaya tinggi. 55 . Dari laporan tersebut jelas terlihat bahwa kenaikan posisi daya saing Indonesia tidak terjadi karena daya dukung birokrasi. keberadaan Indonesia di peringkat 44 menunjukkan peningkatan impresif 10 tingkat dari peringkat semula 55. sumbangan birokrasi Indonesia terhadap pertumbuhan ekonomi masih rendah. Peningkatan tersebut antara lain disebabkan oleh sehatnya kondisi ekonomi makro dan meningkatnya indikator-indikator pendidikan. satu hal yang sangat dibenci pengusaha. tanpa adanya jaminan perbaikan mendasar pada sisi kelembagaan birokrasi. Kasus korupsi. CEO General Electric. menyebabkan timbulnya high-cost economy. Dengan kalimat yang lebih sederhana. Begitu juga birokrasi dalam bentuk berbelitbelitnya pengeluaran izin berusaha. Munculnya biaya tak terduga (overhead cost) akibat keberadaan birokrasi yang birokratis. Bahkan sebaliknya. yang menyebabkan membubungnya biaya yang harus dikeluarkan pihak pebisnis untuk ongkos pelicin. kolusi dan nepotisme (KKN) di instansi-instansi birokrasi muncul gara-gara birokrasi sangat permisif terhadap munculnya perilaku moral hazard tersebut. Secara khusus laporan tersebut menulis. Birokrasi Versus Adokrasi Sumber: World Economic Forum Report 2011 Tabel 1.

organisasi-organisasi seperti ini akan menjadi yang paling sukses. Inilah yang kemudian menjadi titik awal munculnya sentimen ‘kebencian’ para pengusaha terhadap birokrasi. Welch bahkan menyarankan para karyawannya untuk ”memukul” dan “menendang” birokrasi yang birokratis semacam itu18 Tidak bisa dimungkiri. Gagasan awal tentang adokrasi muncul dalam karya para teori kepemimpinan Amerika Serikat. yaitu: birokrasi mesin. Ia berpendapat. New York: Jossey-Bass Publisher. wirausaha pemula. Oleh karena itu. Akan tetapi dalam banyak kasus. dan adokrasi. ia mengusulkan penghapusan birokrasi atau yang sering dikenal dengan istilah adokrasi. yang sebagian besar mengikuti sekumpulan peraturan kaku dan tidak personal. P. Pada tahun yang sama. birokrasi merupakan mesin andal untuk mencapai efektivitas dan efisiensi pekerjaan.E. (1998). Warren G Bennis19 Dia menulis. dalam era perubahan berkelanjutan. adokrasi sebagai bentuk organisasi yang memotong jalur birokrasi normal diperlukan untuk menangkap peluang. Adokrasi terbukti semakin banyak diterapkan perusahan-perusahaan bisnis. menyelesaikan masalah. & Slater. birokrasi tidak diterapkan secara benar. 18 Krames. Alih-alih mempercepat proses. birokrasi profesional. 19 Bennis. G. dan mendapatkan hasil. J. birokrasi adalah sistem administrasi hierarkis yang dirancang untuk berhubungan dengan sejumlah besar pekerjaan rutin. perusahaan akan bersandar pada tim proyek yang cepat dan fleksibel dalam struktur antibirokrasi yang ia sebut sebagai adokrasi. Jack Welch adalah satu di antara sekian banyak manajer yang secara ekstrem mengemukakan bahwa kehadiran birokrasi (yang birokratis) sama sekali tidak diperlukan. Robert Waterman dalam bukunya “Adhocracy” tahun 1990 mengatakan. Aliran dan gagasan kontrabirokrasi ini semakin berkembang setelah Alvin Toffler menyampaikan pandangan adokrasinya dalam buku yang ditulisnya “Future Shock” tahun 1970. The Temporary Society:What is Happening to Bussiness and family Life in America under the Impact of Accelerating Change. Mintzberg menerbitkan buku “The Structuring of Organization” yang mengemukakan ada empat tipe dasar perusahaan. di masa datang.W. Bagaimana dengan birokrasi publik yang orientasinya adalah pelayanan masyarakat? Sesuai definisi yang dikemukakan Waterman. Ini menjadi bukti bahwa adokrasi membawa pengaruh positif bagi kinerja sektor perekonomian. 56 . (2002). Jakarta: Buana Ilmu.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 menyatakan bahwa birokrasi adalah musuh produktivitas. Jika diterapkan secara benar. keberadaan birokrasi justru menyebabkan pengambilan keputusan menjadi lambat dan berbiaya tinggi. The Welch Way: 14 Tips Praktis dari CEO Terbesar Dunia.

Reformasi birokrasi juga ditujukan untuk mewujudkan birokarasi yang efisien. kreatif. mendapatkan hasil. yang bermakna mempersulit urusan yang sejatinya dapat terselenggara secara mudah dan murah20 Reformasi Birokrasi dan Pembangunan Ekonomi Untuk menggairahkan kinerja sektor perekonomian. mengubah. cepat tanggap. reformasi birokrasi model reinventing bureaucracy dapat ditawarkan sebagai salah satu solusi. Selain itu. 57 . di mana-mana tumbuh birokratisasi. Sebuah Tawaran Khusus dalam kaitannya dengan bidang ekonomi.R. Reinventing bureaucracy pada intinya adalah pembaruan berupa 21 Osborne. Justru yang ada. Dengan demikian. di Indonesia tidak ada satu birokrasi publik pun yang menerapkan adokrasi. Bersih di sini berarti bebas dari praktek KKN. Implementasi dan Evaluasi Kinerja. menyempurnakan dan memperbaiki birokrasi agar menjadi lebih bersih. D. Namun kenyataan menunjukkan. (2003). pelaku ekonomi mendapatkan situasi yang lebih kondusif untuk menjalankan usaha tanpa terbebani urusan bertele-tele di luar urusan bisnis yang mereka lakukan. perbaikan kesejahteraan pegawai. Formulasi. Reinventing Bureaucracy. Berdasar tujuan dari adokrasi tersebut. penegakan aturan-aturan hukum. Reformasi birokrasi diperlukan untuk menata ulang. efektif dan produktif. reformasi birokrasi adalah sebuah keniscayaan. & Gaebler. T. menyelesaikan masalah. adokrasi bisa pula diterapkan dalam birokrasi publik. Transparansi di sini bermakna pembukaan ruang publik dan publik dapat mengakses secara luas penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum. peningkatan pengawasan. efisien. Jakarta: Penerbit Pustaka Binawan Presindo. reformasi diharapkan dapat mewujudkan birokrasi yang transparan.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik adokrasi sangat diperlukan dalam memecahkan masalah khususnya dalam menangkap peluang. Jakarta: LAN RI dan Duta Pertiwi Foundation.. Konsep ini diadopsi dari reinventing government (pemerintahan wirausaha) yang dipopulerkan oleh Osborne & Plastrik21. Mewirausahakan Birokrasi. Manajemen Proses Kebijakan Publik. Tujuan reformasi birokrasi terkait sektor ekonomi adalah terwujudnya birokrasi yang 20 Mustopadidjaja. (1995). A. bersih. Efisiensi dilakukan melalui program penghematan bagi pembiayaan operasional birokrasi. melalui pembenahan sistem pengelolaan anggaran. Namun yang terpenting adalah mewujudkan perubahan dari birokrasi yang promodialisme atau minta dilayani menjadi birokrasi yang melayani masyarakat.

& Gaebler. dan di sisi lain probisnis. Birokrasi milik masyarakat atau community-owned bureaucracy: empowering rather than serving Konsep ini menyarankan agar birokrasi mengalihkan wewenang kontrol yang dimilikinya kepada masyarakat. T. misalnya meminta imbalan di luar tarif. yakni: 1. D. akuntabilitas. menerapkan sistem intensif. sehingga masyarakat berdaya untuk mengontrol pelayanan yang diberikan birokrasi dan mampu menjadi masyarakat yang menolong dirinya sendiri (community self-help). Tujuan pembaharuan adalah efesiensi. Dengan tidak berhadapan langsung dengan pengguna layanan. Wirausaha adalah memindahkan berbagai sumber daya dari unit kerja dengan produktivitas rendah ke unit kerja dengan produktivitas tinggi dan hasil yang lebih besar. Transformasi ini dicapai dengan cara mengubah tujuan. Birokrasi katalis atau catalytic bureaucracy: steering rather than rowing Inti dari formula ini adalah pada pemberian pengarahan bukan pelaksanaan pelayanan publik. struktur kekuasaan. Dengan adanya kontrol dari masyarakat. Untuk mewujudkan birokrasi wirausaha yang bebas patologi. Dampak nyata dari penerapan konsep ini. Birokrasi harus menyediakan (providing) beragam pelayanan publik sesuai dengan tugas dan 22 Osborne. Mewirausahakan Birokrasi. fungsinya. birokrasi menetapkan kebijakan. Sedangkan pembaruan (reinvention) adalah transformasi sistem dan organisasi birokrasi secara fundamental guna menciptakan peningkatan dramatis dalam efektivitas. birokrasi perlu mewujudkan 10 formula yang menjadi inti dari reinventing bureaucracy22. Kolusi antara penyedia dan pengguna layanan juga dapat dihindarkan 2. peduli dan kreatif dalam memecahkan permasalahan publik. (1995). 58 . serta budaya sistem dan organisasi birokrasi. pelayanan birokrasi akan semakin baik dan bermutu. Dalam pelaksanaanya. akan tetapi yang lebih penting adalah efektivitas. Jakarta: Penerbit Pustaka Binawan Presindo. aparat birokrasi akan memiliki komitmen yang lebih baik. dapat ditekan. akan tetapi tidak harus terlibat secara langsung dengan proses produksinya (producing). memberikan dana kepada badan pelaksana (baik itu dari swasta maupun lembaga swadaya masyarakat) dan menilai kinerjanya. efisiensi dan kemampuan melakukan inovasi.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 penggantian sistem birokrasi yang birokratis menjadi sistem yang bersifat wirausaha. peluang aparat birokrasi untuk melakukan penyimpangan.

Pelayanan yang lambat dan berbelit-belit serta makan biaya besar. misalnya menyederhanakan peraturan. 5. Dengan adanya persaingan. mereka akan berlomba-lomba memberikan pelayanan terbaik. 4. juga mensyaratkan setiap organisai dan satuan kerja birokrasi memiliki misi yang jelas. 3. Birokrasi yang kompetitif atau competitive bureaucracy: injecting competition into service delivery Birokrasi secara internal maupun eksternal menyuntikan semangat kompetisi dalam pemberian jasa dan pelayanan publik. prosedur dan sistem administratif. yang mengukur seberapa baik satuan kerja memecahkan 59 . Birokrasi berorientasi hasil atau result-oriented bureaucracy: finding outcomes. Masyarakat akhirnya bisa menikmati buah persaingan ini dalam bentuk mutu pelayanan yang semakin meningkat. Dan yang lebih penting. Untuk itu. birokrasi akan terhindar dari birokratisasi. Selain itu. Dampak dari penerapan konsep ini. dengan sendirinya akan hilang. Dalam praktik. Mengubah fokus input (kepatuhan pada peraturan dan membelanjakan barang sesuai ketentuan) menjadi akuntabilitas pada output dan outcome. serta memberikan diskresi kepada manajer untuk menemukan best practise mewujudkan misi namun tetap dalam koridor legal Dampak positif yang ditimbulkan. birokrasi harus mengembangkan standar kinerja. korupsi yang biasa terjadi karena kelemahan pengawasan internal. masing-masing pihak yang diberi wewenang melakukan pelayanan publik akan saling bersaing secara sehat. birokrasi melakukan deregulasi internal. akan semakin sulit dilakukan karena setiap saat aktivitas birokrasi diawasi oleh masyarakat.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Pengguna layanan tidak harus mengeluarkan biaya lebih untuk membayar pelayanan standar yang memang menjadi haknya. Kompetisi adalah satusatunya cara untuk menghemat biaya sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan. Birokrasi berorientasi misi atau mission-driven bureaucracy: transferring rule-driven organization Mengubah organisasi yang semula digerakan oleh peraturan menjadi organisasi yang digerakan oleh misi. Dengan kompetisi. not inputs Dalam konsep ini. banyak pelayanan publik yang dapat ditingkatkan kualitas pelayanannya tanpa harus memperbesar biaya. birokrasi membiayai hasil bukan masukan peraturan dan membelanjakan.

Birokrasi memperlakukan masyarakat yang dilayani sebagai pelanggan. Jika pada masa lalu birokrasi cenderung sekadar melakukan bussiness as usual. melainkan diubah secara bertahap sesuai dinamika kebutuhan masyarakat. semangkin banyak pula dana yang akan dialokasikan untuk mengganti semua dana yang telah dikeluarkan oleh unit kerja tersebut. Oleh karena itu. Selain itu. maka dengan konsep ini birokrasi benar-benar dituntut untuk berkembang sesuai dengan perkembangan kebutuhan masyarakat. 6. Dengan kata lain. karena akuntabilitas yang tinggi akan sangat menentukan prestasi kerja dan juga berimbas pada pendapatan aparat birokrasi. 7. dan menggunakan anggaran untuk mendongkrak tingkat kinerja yang diharapkan. memberi imbalan kepada unit kerja yang mencapai dan melebihi target. Dampak positif dari penerapan konsep ini. birokrasi akan lebih hati-hati menggunakan dana publik. Semakin baik kinerjanya. Birokrasi dapat mengembangkan beberapa pusat pendapatan. Birokrasi yang berorientasi pelanggan atau customer-driven bureaucracy: meeting the needs of the customers. Birokrasi melakukan survei pelanggan. kinerja birokrasi dapat terukur. misalnya menjual informasi kepada pusat-pusat penelitian atau badan usaha baik yang menjual jasa maupun barang. Dengan konsep ini. birokrasi tidak akan pernah usang atau ketinggalan zaman.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 permasalahan yang menjadi tanggungjawabnya. birokrasi mendesain organisasi untuk menyampaikan nilai optimal kepada pelanggan. memberi jaminan. dengan konsep berorientasi pada pelanggan. bukan memenuhi kebutuhan birokrasi sendiri. Birokrasi berjiwa wirausaha atau entreprising bureaucracy: earning rather than spending Birokrasi tradisional cenderung berpandangan bahwa mereka sedang mengerjakan pekerjaan dan karenanya tidak pantas berbicara tentang upaya untuk menghasilkan pendapatan dari aktivitasnya. dan sebagainya. birokrasi 60 . birokrasi juga menetapkan target. Selain itu. dan lain-lain. not the bureaucracy. Banyak yang bisa dilakukan untuk menghasilkan pendapatan dari proses penyediaan pelayanan publik. atau sekadar melaksanakan tugas rutin organisasi. pemberian hak guna usaha yang menarik pada para pengusaha dan masyarakat penyertaan modal daerah. menetapkan standar pelayanan. Standar pelayanan tidak tetap dan itu-itu saja. Birokrasi memenuhi kebutuhan pelanggan.

di mana keputusan dilakukan bersamasama oleh tim. Dengan konsep ini. Visi birokrasi membantu masyarakat.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik dibentuk bukan untuk menghabiskan anggaran. Tim kerja bebas menentukan cara kerjanya untuk mencapai hasil terbaik. Imbas positif dari desentralisasi wewenang adalah makin berkurangnya d’tournament d’vavoir atau penyalahgunaan wewenang. Birokrasi terdesentralisasi atau decentralized bureaucracy: from hierarchy to participation and teamwork Birokrasi mengubah sistem hierarki menuju partisipasi dan tim kerja. apabila tidak ada kebakaran (masalah) maka tidak ada upaya pemecahan masalah. Pendapatan tersebut bisa diputar untuk membiayai kegiatan birokrasi. akan tetapi proaktif. bisnis. Put it all together. atau bahkan dialokasikan untuk membantu pembiayaan pelayanan publik yang lain serta membayar insentif bagi pihak-pihak yang berprestasi. Birokrasi yang tanggap atau anticipatory bureaucracy: prevention rather than cure Birokrasi tradisional yang birokratis memusatkan diri pada produksi pelayanan publik untuk memecahkan masalah publik. Birokrasi birokratis cenderung bersifat reaktif seperti satuan pemadam kebakaran. Birokrasi tradisional menggunakan mekanisme administratif. Ada dua cara alokasi sumberdaya. melainkan untuk menghasilkan pendapatan. namun juga berupaya keras untuk mengantisipasi masa depan. makanisme pasar terbukti sebagai yang tebaik dalam mengalokasi sumberdaya. Menggunakan perencanaan strategi untuk menciptakan visi birokrasi. terutama oleh para pimpinan birokrasi. dan birokrasi daerah untuk meraih peluang yang tak terduga serta menghadapi krisis yang takterduga pula. pimpinan bukan lagi “sang maha kuasa” yang berhak menentukan perintah secara top-down kepada bawahan secara sewenang-wenang. yaitu mekanisme pasar dan mekanisme administratif. Visi dan misi diwujudkan bersama. Desentralisasi akan menghasilkan kepemimpinan kolektif. 9. Birokrasi wirausaha tidak reaktif. tanpa menunggu perintah. Birokrasi berorientasi pasar atau market-oriented bureaucracy: leveraging change through the market. sedangkan birokrasi 61 . Wewenang diberikan pada unit terdepan. Dari keduanya. 8. Tidak hanya mencoba untuk mencegah masalah. 10. dan sebaliknya hiraki dikurangi.

Salah satunya adalah dengan menerapkan konsep reinventing bureaucracy. Dalam mekanisme pasar. Reinventing bureaucracy diharapkan mampu mengembalikan birokrasi sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi. Dengan konsep tersebut. efisien. Dalam mekanisme administratif. Berbagai penyakit birokrasi muncul karena aparat birokrasi cenderung menggunakan birokrasi sebagai alat untuk mencapai tujuan birokrasi itu sendiri. cepat. Politisasi birokrasi ikut mendorong terjadinya penyelewengan yang membuat birokrasi semakin jauh dari fungsi utamanya sebagai penggerak sektor perekonomian. Kesimpulan Birokrasi Indonesia belum probisnis. akuntabel dan berorientasi pada kebutuhan pengguna layanan. birokrasi dikembangkan sebagai unit pelayanan yang tepat. mengeluarkan prosedur dan definisi baku dan kemudian memerintahkan orang untuk melaksanakannya sesuai dengan prosedur tersebut. efektif. Sepuluh rumusan reinventing bureaucracy tersebut. Untuk menghilangkan berbagai patologi yang ada. birokrasi perlu direformasi. bukan sebagai unit pelayanan masyarakat.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 wirausaha menggunakan mekanisme pasar. jika dapat diterapkan secara konsekuen dipastikan dapat menghilangkan birokrasi birokratis dan patologi birokrasi yang selama ini melingkupi birokrasi Indonesia. Sifatnya yang birokratis dan patologis membuat keberadaan birokrasi lebih dianggap sebagai faktor penghambat dibanding pendorong perekonomian. birokrasi wirausaha tidak memerintahkan dan mengawasi tetapi mengembangkan dan menggunakan sistem insentif agar orang tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang merugikan masyarakat. 62 . birokrasi tradisional menggunakan perintah dan pengendalian.

Edisi 3 / September / 2011 Laporan Studi Lapangan Foto : Antara Reformasi Birokrasi dalam Dinamika Pemerintahan Daerah Oleh : Tim Redaksi 63 .

Manajemen sumber daya manusia aparatur negara pun belum profesioan. Ini sebuah pertaruhan besar bagi bangsa Indonesia yang memasuki abad ke-21 ini. Meskipun sudah banyak perbaikan dilakukan namun indeks persepsi korupsi Indonesia masih rendah dibandingan dengan negara Asia lainnuya. EE Mangindaan. Oleh karena itu pemerintah dengan sirius ingin menerapkan 64 . 20 September 2011). setiap penyalahgunaan kewenangan publik. Akuntabilitas kinerja instansi perlu pembenahan dan harus berorientasi pada hasil. sesuai dengan tantangan yang dihadapi. proaktif. dan efektif. Jika berhasil. Birokrasi pemerintah yang tidak efisien menjadi salah satu faktor penghambat utama dalam melakukan aktivitas percepatan pembangunan ekonomi. mutu pelayanan kepada masyarakat meningkat. Selanjutnya Mengindaan menjelaskan bahwa makna reformasi birokrasi adalah sebuah perubahan besar dalam paradigma dan tata kelola pemerintahan Indonesia. kareana kini korupsi. maka birokrasi kita makin antisipatif. begitu pula mutu perumusan dan pelaksanaan kebijakan makin efisien waktu dan biaya. Reformasi birokrasi perlu dilakukan. bahkan dapat menghilangkan. Pemerintah dinilai belum dapat menyediakan pelayanan publik yang berkualitas. seperti menyangkut kedisiplinan atau taat peraturan. dan nepotisme (KKN) semakin menjadi. kolusi. Jika kita memiliki birokrasi yang baik. ekonomi. akan mengurangi. Melalui Menteri Pendayagunaan Aparatur dan Reformasi Birokrasi. akan tetapi masih banyak yang menilai bahwa reformasi birokrasi masib belum berjalan secara optimal. pemerintah mengakui bahwa sejalan perkembangan kebutuhan masyarakat yang semakin maju dan persaingan global yang semakin ketat.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 M Pendahuluan eskipun sudah ada kesepakatan bersama di semua jajaran pemerintahan baik pusat maupun daerah untuk melaksanakan reformasi birokrasi. pemerintah belum dapat memberikan pelayanan prima bagi investor yang berbisnis atau yang akan berbisnis di Indonesia (Kompas. Reformasi di bidang birokrasi dinilai mengalami ketertinggalan dibanding reformasi di bidang politik. dan hukum.

yaitu adanya tranparansi. dan tingkat kesadaran masyarakat sendiri dalam mencari dan mengakses informasi belum terbentuk secara meluas. Banjarmasin. yaitu sejumlah 354 aduan (31. Banjarmasin: Komitmen Tinggi Pemprop Kalsel dalam upaya reformasi birokrasi telah memanfaatkan dan mengembangkan IT dalam proses penyelenggaraan pemerintahan dengan mengembangkan unit pelayanan pengadaan secara elektoronik. karena selama ini pengaduan masyarakat terhadap layanan publik di sejumlah instansi. Adapun pertimbangan dipilihnya kota tersebut adalah. Untuk daerah seperti Pakanbaru. tengah dan timur yang dianggap relevan dengan isu transparansi birokrasi. seperti kendala kultural. juga atas pertimbangan prestasi dan kurang berprestasinya pemerintah daerah dalam melaksanakan pemerintahan dengan prinsip good governance. akuntabilitas. ternyata pemerintah daerah paling banyak mendapat laporan. Surakarta.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik pemerintahan dengan prinsip good governance. Sidoarjo. sementara untuk Surakarta dan Denpasar mewakili daerah yang tingkat transparansi pemerintahannya baik. bahwa di samping untuk mewakili perimbangan territorial yang mewakili Indonesia bagian barat. melalui pengumpulan data lapangan dengan metode observasi dan wawancara mendalam kepada segenap informan yang potensial di berbagai daerah. Sorong. disusul kepolisian 241 aduan (21. Dengan undang-undang ini birokrasi pemerintah daerah segera diharapkan untuk melaksanakan undang-undang tersebut. Pertimbangan utama mengapa perlu melihat dinamika pelayanan publik di daerah-daerah. dan 65 . Salah satu wujud dari komitmen pemerintah adalah mengundangkan Undang-undang Nomor 14 Tahun 208 tentang Keterbukaan Informasi Publik. akan dapat diserap aspirasi dan harapan sebagai umpan balik dari masyarakat. Sidoharjo. dan Sorong mewakili daerah yang tingkat transparansinya masih dalam kategori cukup. tengah dan timur. Keenam lokasi studi lapangan tersebar di wilayah Indonesia bagian barat. yang akan sangat berguna bagi upaya meningkatkan kinerja birokrasi pemerintah dalam melayani dengan prinsip good governance. Lokasi pengumpulan data lapangan diselenggarakan di enam (6) kota di Indonesia untuk mendapatkan pendapat publik tentang berbagai aspirasi yang berkembang di masyarakat terkait dengan akan kebijakan keterbukaan informasi publik di jajaran birokrasi pemerintah. Banjarmasin. Denpasar.20%). dan partisipasi publik. belum terbentuknya PPID. yaitu meliputi Pakanbaru. Akan tetapi berbagai kendala masih muncul dalam implementasi undang-undang yang sangat demokratis tersebut. sistem informasi pelaporan keuangan daerah.13%). sistem database barang daerah. Oleh karena itu.

Untuk setiap ijin kepada SKPD. Demikian pula para guru juga mendapatkan insentif agar terus memberikan pelayanan pendidikan yang optimal. Pada tahun 2010. Dengan reformasi birokrasi. Dalam hal memberikan layanan perijinan secara lancar. pelayanan cukup lancar. maka akan menggairahkan dunia usaha. regulasi yang tertib. Khususnya dalam bidang perizinan. tata laksana seperti sistem dan proses-prosedur. optimis akan dapat dicapai”. Berdasarkan pengakuan warga yang sedang antri mengurus perijinan mengaku cukup mendapat pelayanan secara baik. Sedangkan warga yang sedang mengurus paspor di kantor emigrasi mengaku tidak mendapat kesulitan dalam mengurus paspor. dengan meningkatkan rata-rata tingkat pendidikan. kata Muhidin. Muhidin mengungkapkan tekad tersebut bersamaan dengan Hari Jadi Kota Banjarmasin yang ke-485. pelayanan publik yang prima. dan Dewan Kelurahan. Reformasi telah menjadi komitmen Pemkot Banjarmasin dengan titik berat pada peningkatan pelayanan publik. sehingga dengan demikian semuanya dapat dikontrol untuk kepentingan koordinasi. dan tentu akan ikut berpengaruh terhadap naiknya Pendapatan Asli Daerah. PAD mencapai Rp 80. semuanya harus lewat BP3M.5 milyar. Langkah taktis yang dilakukan Kalsel adalah dengan melakukan perubahan menyeluruh pada aspek pendayagunaan aparatur negara. sehingga masyarakat tidak terhambat oleh masalah birokrasi yang berlarutlarut dalam meningkatkan usahanya. dan juga di kantor emigrasi. Memang berdasarkan pengamatan di lapangan. yaitu organisasi yang tepat fungsi dan ukuran. “Semua itu dalam rangka mengoptimalkan pelayanan kepada masyarakat dalam segala aspek yang menyangkut kepentingan publik. “Hal ini terbukti. dan budaya kerja. tepatnya 24 September 2011. Pemkot Banjarmasin menerapkan layanan terpadu dengan satu atap. Akan tetapi Muhidin menegaskan tidak akan segan memberikan sangsi terhadap PNS yang tidak disiplin. pola pikir. pengawasan. “Saya cukup lancar dalam 66 . dan pada tahun 2011. sumberdaya aparatur yang punya integritas. Wali Kota Banjarmasin. Di samping itu. seperti kantor urusan administrasi kependudukan. target Rp 111. bahwa dari tahun ke tahun PAD Kota Banjarmasin terus menunjukkan peningkatan secara cukup signifikan. Hal ini meliputi delapan area perubahan. Pemkot juga berusaha meningkatkan tingkat kesejahteraan pegawai dengan memberikan tunjangan dan insentif bagi PNS di lingkungan Pemkot Banjarmasin. Banjarmasin selama program Pemkot telah meningkatkan kualitas SDM di jajaran PNS. Untuk menunjang reformasi birokrasi. RW.5. akuntanbiilitas.” Katanya. Antara lain dengan memberikan insentif kepada RT. yaitu Badan Pelayanan Perijinan dan Penanaman Modal (BP3M). Pemkot terus berusaha memberikan pelayanan prima.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 secara bertahap penerapan paperless office.

masyarakat terkesan kurang peduli terhadap perlunya informasi. Dan saya tidak menemui calo di sini. Kepala Seksi E-Government. akan tetapi kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam kebijakan publik melalui akses informasi di jejaring sosial masih belum menjadi perilaku budaya. Menurut Prof. Banjarmasin. lancar tidaknya juga tergantung. Namu demikian juga ada warga yang mengaku.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik mengurus paspor. “Kalau mau urusan cepat. Mungkin koordinasi dengan instansi teknisnya masih kurang baik. Paling tidak ini sudah menunjukkan ada upaya peningkatan pelayanan. Sebagaimana dijelaskan oleh Kepala Bidang Informatika Pemkot Banjarmasin. katanya yang berpengalaman mengurus KTP. Amin. dalam rangka menerpakan UU Keterbukaan Informasi Publik. Pemkot Banjarmasin terus berusaha mensosialisasikan undang-undang tersebut kepada masyarakat.go. hanya menunggu satu minggu jadi. Sebenarnya pelaynan yang belum baik itu sering didengar di unit pelaynan non 67 . jadi jajaran birokrasi pemerintah tidak mau ambil risiko dengan melakukan lelang secara tertutup. Pemkot Banjarmasin terus berusaha memberikan pelayanan secara transparan kepada masyarakat. ya harus ada dana tambahan yang diserahkan pada petugas”.” Kata Amin. karena akan lebih efisien dari sisi waktu dan biaya. Dr. Akan tetapi memang harus diakui bahwa. masih untuk keperluan hiburan. Sementara itu dalam upaya menerapkan prinsip good governance. kata seorang warga yang mengaku akan menjadi TKI ke luar negeri. Karena di samping itu menyalahi hukum. “Pemkot juga membuka web. kata Eka. Sedangkan M. bahwa di Banjarmasin kalau mengurus ijin. semuanya langsung ke petugas”. “Semua itu dilakukan guna mendukung prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam sistem pelayanan prima kepada masyarakat. Sekarang kan era keterbukaan. juga masyarakat sudah kritis”. adanya unit pelaksana teknis (UPT) termasuk Badan Pelayanan perizinan Terpadu menjadi bukti secara formal bahwa ada peningkatan pelayanan birokrasi. “Memang sekarang ini sudah banyak internet. Warga dalam mengakses internet. dalam hal pelelangan tender senantiasa disampaikan kepada masyarakat. Sujianto. Pakanbaru: Antara Optimis dan Pesimis Pada prinsipnya pemerintah daerah telah berusaha keras dalam upaya meningkatkan pelayanan birokrasi kepada masyarakat. dan untuk komunikasi melalui jejaring sosial. Ke depan Pemkot akan terus mendorong masyarakat agar terus semakin sadar akan pentingnya terlibat dalam pengambilan keputusan melalui media. Eka Herlambang. Guru Besar Administrasi Negara FIsipol Unri. tetapi sudah diberlakukan sanksi denda bagi yang terlambat.id yang digunakan untuk lelang secara on-line.

tetapi disalahgunakan oleh negara-negara berkembang sehingga menjadi birokrasi feodal dan tradisional. Untuk itu birokrasi seharusnya tidak lagi dibina oleh pejabat politik dan penegakan hukum dilakukan secara konsekwen terhadap siapapun. karena mereka sangat tergantung pada partai politik berkuasa. bahwa nuansa politisasi birokrasi di daerah sangat terasa karena kompetisi politik sangat keras dalam Pilkada. Jika dulu senantiasa mengacu pada GBHN. pembuatan KTP yang merupakan hak setiap warga Negara. Akibatnya mengabaikan faktor kualitas dan mengorbankan profesionalisme dalam menunjuk pejabat”. dalam arti partai apa yang memenangkan dalam Pilkada. Seharusnya birokrasi dibebaskan dari kepentingan politik sesaat. tetapi kritik juga datang dari kalangan politisi. “Itulah sebabnya pejabat mulai dari yang tertinggi sampai yang paling bawah sampai saat ini belum bisa menjadi teladan yang baik. Para birokrat bekerja dalam kondisi yang tidak kondusif. seorang aktivis LSM. tetapi kenyataannya justru sebaliknya. Kondisi pelayanan birokrasi pemerintah mengalami penurunan karena terseret dengan arus politik yang ada. seperti di bidang kesehatan dan pendidikan. ada kecenderungan mempengaruhi kinerja birokrasi dalam memberikan pelayanan kepada publik. Menurut Sondiwarman. 17 September 2011 Koran memberitakan bahwa 134 pejabat pemerintah di Pakanbaru diganti karena tidak cocok dengan pejabat politik yang berkuasa saat ini. Partaipartai politik yang kebetulan menjadi pemenang dalam Pilkada misalnya. Contoh yang sederhana. Dalam rekruitmen sumber daya manusia pun juga bias kepentingan politik. Meskipun ada kecenderungan Parpol membuat birokrasi pemerintah menjadi kurang netral. Birokrasi bekerja untuk melayani penguasa (kepentingan parpol). Tidak ada garis utama yang menjadi patokan program layanan birokrasi. Contohnya hari ini Sabtu. dalam prakteknya mulai dari Kelurahan sudah mulai menyimpang dari Perda yang seharusnya biayanya murah menjadi mahal. Wakil Ketua DPRD Kota Pakanbaru. tetapi sekarang pada visi kepala daerah yang setiap ganti kepala daerah pasti ganti visi. Suara senada juga dikemukan oleh Azali Johan. “Sekarang ini pergantian pejabat lebih didasarkan pada pertimbangan politik. Padahal mestinya birokrasi itu tugas dan fungsi utamanya adalah melayani masyarakat. katanya menyayangkan. birokrasi cenderung tidak netral karena ada kepentingan politik. ada satu hal yang menarik bahwa pada era otonomi daerah sekarang ini.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 perizinan. menilai bahwa birokrasi pemerintah hingga sekarang masih cenderung minta dilayani. Program pelayanan sering tidak konsisten karena setiap ganti pimpinan kepala daerah ganti visi dan ganti program. mereka melayani siapa saja yang berkuasa tanpa harus diganti. Akan tetapi Sujianto melanjutkan. Umumnya lebih disebabkan oleh faktor manusianya yang kurang tanggap dan cekatan. dan yang 68 . Nilai birokrasi sesungguhnya berlandaskan pada evisiensi dan netralitas.

Memang mekanisme pengawasan dari masyarakat pun juga dibuka sebagaimana dikatakan oleh Yasram. Bagi mereka yang tidak masuk kantor atau melanggar disiplin. Bersamaan dengan itu. perbulan.000. terutama di unit pelayanan masyarakat. Prinsip Good Governance akan sulit diterapkan secara optimal jika transparansi dalam mekanisme pemerintahan tidak dilaksanakan. 53 tahun 2010. Pemprov telah memberikan insentif kepada aparat birokrasi yaitu tunjangan beban kerja. untuk mendukung capaian kinerja yang optimal. maka akan langsung direspons oleh pimpinan. selaian untuk lebih mengefektifkan pelaynan birokrasi juga dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan. Besaran tunjangan di sesuaikan dengan golongan. Buruknya pelayanan publik ini juga diungkapkan oleh Presiden Badan Mahasiswa Universitas Riau. pegawai. serta mengefektifkan pengawasan dan evaluasi. Dalam kaitan dengan implementasi UU No.4000. Setiap pengaduan masyarakat. Sekretaris Daerah selaku pembina pegawai ditingkat Provinsi juga merespon pengaduan masyarakat yang diungkap dalam acara Apel Bendera. Yarham SH. tetapi tetap saja melakukan penyimpangan layanan.000. atau melalui SMS. sehingga meskipun sebenarnya sudah ada isentif. . yaitu jika pelayanan tidak memenuhi permintaan masyarakat atau pelayanan tidak sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang telah ditetapkan.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik seharusnya cepat tetapi kenyataannya masih lambat. akan dipotong sesuai dengan ketentuan yang telah dietapkan. Rapat Pimpinan. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. meskipun sudah ada SOP-nya. atau melalui surat edaran. “Bagaimana mungkin akan melaksanakan 69 . yang memberikan contoh tentang layanan KTP gratis. maka biasanya masyarakat mengadu langsung.2. Khusus bagi mereka yang melanggar disiplin pegawai akan diproses dan dikenakan sanksi sesuai PP No. Padahal sebagaimana dikatakan Kepala Bidang Kedudukan Hukum dan Kesra Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Riau. Hingga sekarang Komisi Informasi Daerah dan PPID belum terbentuk. respons pemerintah Provinsi Riau dapat dikatakan kurang cepat. yakni antara Rp. tetapi tetap lambat. Praktik pungutan illegal seperti itu ada hubungannya dengan mentalitas para aparat birokrasi yang masih koruptif. semua sarana dan fasilitas disediakan. karena juga rentan melakukan hubungan kolutif antara pelaksana dan jajaran pengawasnya. Seharusnya proses lebih dipercepat. Padahal salah satu prasyarat penting dalam melakukan reformasi birokrasi adalah efektifnya implementasi undangundang tersebut. Tujuannya adalah.000. baik Sujianto maupun Nofri mengatakan bahwa pengawasan terhadap suatu kebijakan di lingkungan birokrasi pemerintah tidak berjalan efektif. Demikian juga. karena aparat masih bermental korup.sampai Rp. tetapi dalam praktek tidak demikian. Nofri Andri.

Integritas. misalnya dengan mengumumkan hasil tes beserta rankingnya di depan publik”. Sebagai contoh dalam hal transparansi. hingga sekarang banyak warga masyarakat mengeluh tentang rekruitmen PNS yang tidak terbuka. Kasubag Bina Program. Akan tetapi Azali menilai bahwa pada prinsipnya Pemprov Riau sudah melaksanakan prinsip good governance sebagai bagian dari komitmen untuk menjalankan reformasi birokrasi.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 reformasi birokrasi jika prinsip good governance tidak dijalankan dengan baik. Sementara itu tentang belum terbentuknya PPID menurut Azali Johan tidak jelas alasanya. tetapi hampir di seluruh Indonesia ada gejala itu. Saat ini BP2T memiliki 150 jenis layanan perizinan dan non perizinan. kata Sujianto yang diamini oleh Zulkurnain. Responsif. “Kalau soal kecenderungan adanya KKN dalam rekruitmen PNS. sehingga masyarakat tidak familiar dengan masalah keterbukaan informasi. 8 tahun 2008 tentang Badan Pelaynan Perizinan Terpadu.Cepat. penyebabnya adalah Pemprov Riau masih setengah hati dalam menjalankan pemerintahan secara transparan. Akan tetapi pada prinsipnya Pemprov Riau tetap berusaha semaksimal mungkin meningkatkan kualitas pelayanan birokrasi pada masyarakat. saya kira tidak hanya di Riau. mungkin karena takut dosa berjamaah. bahwa dalam upaya meningkatkan pelayanan publik Pemprov Riau telah membentuk Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BP2T) berdasarkan Kepmendagri No. “Adanya unit pelaksna teknis (UPT) termasuk Badan Pelayanan perizinan Terpadu menjadi bukti secara formal bahwa ada peningkatan pelayanan birokrasi. Mungkin koordinasi dengan instansi teknisnya masih kurang baik. Ikon BP2T adalah CERIA . katanya. 70 . karena akan lebih efisien dari sisi waktu dan biaya. Efisien. tetapi sudah diberlakukan sanksi denda bagi yang terlambat. meskipun memang masih banyak hambatan baik struktural maupun kultural. Badan Pelayanan Perizinan Terpadu. Hal ini juga diakui oleh Politikus Sondiwarman bahwa pemerintah sudah berusaha transparan. Jaminan hak publik atas informasi mendorong partisipasi atau keterlibatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan publik. Sosialisasi UU KIP menurutnya kurang lancar. dan Akuntabel. Ketua MUI Riau. Akan tetapi sekarang sudah relatif transparan. dan saat ini baru ada di tingkat Provinsi. Dengan keterlibatan yang berkualitas. Sebagaimana dikatakan oleh Sujianto dan Zulkurnain. berpendapat bahwa belum terbentukan PPID sesuai dengan amanat UU KIP. Sedangkan Ramli Khatib. Sorong: Bergelut Mimpi dan Tradisi Salah satu elemen penting dalam mewujudkan penyelenggaraan negara yang terbuka adalah hak publik untuk memperoleh informasi sesuai dengan peraturan perundangundangan. kata Nofri. Paling tidak ini sudah menunjukkan ada upaya peningkatan pelayanan”. Karena itu kami jajaran mahasiswa akan terus mendorong percepatan reformasi birokrasi”.

termasuk informasi. Di kawasan timur Indonesia. S.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik akhirnya terwujud akuntabilitas dan pertanggungjawaban setiap kebijakan publik. Apalagi. kesehatan.Sc. sementara kesehatan yang bertaratf internasional dikembangkan untuk melayani kebutuhan industri dan investor yang kebanyakan dari luar negeri. pelabuhan dan pendukung investasi di kawasan Papua Barat. perdagangan dan jasa. sekalipun tidak ada peraturan lokal khusus mengatur implementasi UU KIP. namun Marthen menegaskan bahwa komitmen keterbukaan informasi sudah melekat dalam setiap program pembangunan. dan infrastruktur. kerangka layanan informasi memang tidak diprioritaskan dalam pembangunan Kabupaten Sorong. Papua Barat. Kabupaten dan Kota Sorong.Sos. Posisinya sangatlah strategis karena merupakan pintu keluar masuk Provinsi Papua dan kota persinggahan. Prioritas tersebut merupakan “mimpi” Pemerintah Kabupaten yang diarahkan untuk meningkatkan investasi di kawasan kepala burung. kini tengah berbenah untuk meningkatkan kualitas layanan publik. M. Dalam aspek layanan informasi. karena Sorong dikelilingi oleh kabupaten-kabupaten yang mempunyai sumber daya alam yang sangat potensial sehingga membuka peluang bagi investor dalam maupun luar negeri untuk menanamkan modalnya. Tahun 2008. Sementara di kawasan Kota Sorong tengah berbenah untuk meningkatkan kapasitas sebagai meeting point. Kesadaran akan tanggung jawab yang harus diemban pemerintah daerah atas keterbukaan informasi publik tampak sudah dipahami oleh pejabat di kawasan timur Indonesia. Undang-undang itu memberi jaminan hukum bagi masyarakat dalam meminta informasi dari badan-badan publik. ekonomi.” jelas Kepala Humas Kabupaten Sorong. Papua. gas alam dan sumber mineral lain itu. Marthen Nebore. baik di lingkungan Kabupaten 71 . dan mengharuskan seluruh badan publik di Indonesia memberi informasi kepada masyarakat dan melayani permintaan informasi dari publik. prioritas Pemerintah Kabupaten Sorong adalah meningkatkan investasi di kawasan yang kaya minyak. yaitu pendidikan. “Ada empat prioritas pembangunan Kabupaten Sorong. UndangUndang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP) disahkan dan diterapkan. Sekalipun. di Indonesia. Kota Sorong juga rnerupakan kota industri. Kota Sorong dikenal dengan istilah Kota Minyak sejak masuknya para surveyor minyak bumi dari Belanda pada tahun 1908. Kota Sorong terkenal penuh dengan sisa-sisa peninggalan sejarah bekas perusahaan minyak milik Belanda. ekonomi dan infrastruktur diarahkan agar bisa menyiapkan sumber daya lokal agar mendukung kebutuhan sumber daya manusia. Pendidikan.

ada kecenderungan warga Sorong hanya mengurus KTP atau yang lain ketika membutuhkan.000.” tuturnya. misalnya dalam pelayanan pembuatan Kartu Tanda Penduduk. Keterbukaan informasi dalam tataran awal sudah cukup intensif dikembangkan. S. Dalam pandangan Abbas (50) seorang pekerja industri kayu.IP. peraturan-peraturan tersebut tidak secara jelas mengatur tata cara mengakses informasi sebagaimana diatur dalam UU KIP. Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Bagian Humas Setda Kota Sorong.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 dan Kota Sorong beberapa peraturan daerah. tidak ada yang mau datang. telah mengatur kewajiban lembaga pemerintah setempat untuk memberi informasi kepada masyarakat. termasuk di kelurahan dan distrik.00 WIT dan berakhir di pukul 14. Beberapa kesulitan yang ditangani langsung dibantu. Hal itu juga dibenarkan oleh Maimunah (35) salah satu petugas layanan loket.15 Tahun 2009 Tentang Retribusi Penggantian Biaya Cetak KTP dan Akte Catatan Sipil.” katanya yang harus menyempatkan diri pagi sekali karena layanan kantor dimulai pagi pk. Menurutnya 72 . Ketika datang di kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Sorong. langsung dipandu oleh salah satu petugas yang ada. Menurutnya penyediaan informasi yang dibutuhkan bisa diakses langsung masyarakat di instansi yang bersangkutan.oo. menjamin masyarakat Kabupaten Sorong dapat dengan mudah mengakses informasi. Walaupun demikian. warga bisa bertanya secara langsung mengenai kelengkapan berbagai dokumen yang dibutuhkan untuk mendapatkan Kartu Keluarga atau Akta Catatan Sipil lainnya. Akses informasi untuk masyarakat memang sudah disediakan langsung melalui kantor layanan dan website. “Setiap dinas sudah memiliki website dan kami juga memfasilitasi petunjuk layanan informasi di setiap kantor layanan.000. informasi tentang biaya pengurusan KTP dan Akte Catatan Sipil bisa dilihat di ruang layanan kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. biaya pencetakan dokumen berkisar mulai Rp 10. namun Marthen Nebore. Di Kota Sorong. “Pelayanan informasi berjalan dengan baik. Di kantor layanan.00 WIT. Sesuai Perda No. “Jadi kalau mereka tidak membutuhkan ya. sekalipun di Kota dan Kabupaten Sorong. seperti Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. belum ada penunjukkan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumen (PPID). 08.oo sampai Rp25. Distrik Sorong Barat.” tambahnya. tapi untung ada yang membantu. Ini saja yang mengurus KTP Nasional baru bisa dihitung dengan jari. Sebagaimana dialami oleh Amanis Waang (59) asal Kelurahan Rufei. Kemitraan bagian humas dengan pers cukup bagus sehingga berita tentang pembangunan Kabupaten Sorong dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Nifu Ahmad.” ungkapnya. “Sempat bingung juga.

“Biasanya kalau membutuhkan untuk pinjaman bank atau kredit. “Dibutuhkan cost yang besar dikarenakan jangkauan wilayah kami yang cukup luas. layanan itu didasarkan pada Surat Edaran Walikota Sorong 474. Sunda.” jelasnya. bukit-bukit dan sebagian adalah dataran rendah. Sumatera. Cuma banyak yang tidak bisa datang karena beberapa hal. lereng. Makasar). penggunanya tidak terlalu banyak. Di Sorong sendiri. selain masyarakat Moi (terutama yang ada di daerah pantai dan biasa menggunakan nama depan/belakangnya dengan usin) juga terdapat masyarakat BBM (Bugis. Kepala Bidang Komunikasi dan Informatika Dinas Perhubungan 73 . Belum lagi harus menghadapi hambatan adat dan budaya masyarakat yang cukup beragam.4/596/2010 tentang pembuatan KK dan KTP Standar Nasional tanggal 22 Juni 2010 dan Surat Perintah Tugas Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Sorong Tentang Pelayanan Langsung Pembuatan KK dan KTP Standar Nasional di Kelurahan Tanjung Kasuari dan Kelurahan Saoka Distrik Sorong Barat Nomor . Hal senada juga disampaikan oleh Abbas.” tambah Abbas. “Padahal kita untuk menyukseskan Program Nasional Kepemilikan KTP Nasional dibuka layanan langsung selama empat hari. memang kebanyakan layanan publik terkendala dengan perilaku warga. jangkauan geografis yang luas dan sebaran penduduk yang tidak merata menjadi kendala yang paling utama. “Memang kita dari pegawai Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Sorong di bantu oleh aparat kelurahan setempat. Menurutnya selain besaran biaya pengganti cetak.  “Masing-masing suku memiliki karakteristik adat tersendiri dan berbeda dalam menyikapi layanan pemerintah. “Sehingga masyarakat yang datang untuk mengurus KK dan KTP jumlahnya tidak maksimal. Di Kota Sorong. sebelah timur di kelilingi hutan lebat yang merupakan hutan lindung dan hutan wisata. staf di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Sorong. Keadaan topografi Sorong sangat bervariasi terdiri dari pegunungan. Jawa. Buton.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik kebutuhan warga yang lebih banyak mendorong ketika mereka mengurus KTP atau Akta lain. menurutnya ia juga belum mendapatkan surat edaran dari distrik. Baru mereka mau urus KTP. Ketika dibuka layanan langsung di distrik atau kelurahan. Menurut Nifu Ahmad. karena standar biaya di Papua memang cukup mahal. kurangnya sosialisasi pelaksanaan kegiatan membuat tidak maksimal. sebagai transmigran yang membawa agama Islam ke tanah Papua. Berbeda dengan di Kabupaten Sorong. 470/596/SPPD-DKPSRG/2010.” jelasnya.” jelas Moh.” ungkap Marthen seraya menambahkan bahwa standar biaya dari pemerintah pusat tidak sesuai apabila diterapkan di Papua. Alwin.” jelas Rury.

guna menjawab tantangan besar yakni meningkatnya proses pertukaran informasi antar unit di dalam organisasi internal.“ tegas Marthen Nebore. Sekalipun semua bisa terjangkau akses internet nirkabel. haruslah didukung oleh informasi atau data yang akurat. www.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 dan Kominfo Kabupaten Sorong. Marthen Nebore. juga tak jauh beda kondisinya. Agar bermanfaat bagi kekompakan jajaran SKPD. menurut Marthen. maka akan lambat.sorongkab.” tambah Marthen.sorongkota. Namun kondisi akses jaringan internet yang belum stabil membuat layanan ini tidak bisa optimal diakses warga. Selain itu juga kian memudahkan koordinasi bagi aparat Pemda Sorong. Tapi kita berupaya meningkatkan kinerja kehumasan pemerintah.” jelas Marthen.id. M. Kepala Bagian Humas Pemkab Sorong.id.” tambahnya. Undang-undang ini juga memberikan jaminan adanya 74 . Tapi usai jam 12. “Khususnya. “Berbagai acara dan pelatihan secara berkala dikembangkan. “Apalagi kita harus menjangkau dan melayani masyarakat sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masingmasing. kami terus meningkatkan peran aparat hubungan masyarakat (humas) sebagai ujung tombak dalam penyampaian informasi.” tambah Moh. go. Sementara website Kota Sorong. dukungan infrastruktur layanan informasi yang cukup kuat sangat diperlukan. salah satunya penyampaian informasi seputar program pembangunan yang sedang berjalan. Dalam Undang-undang keterbukaan informasi publik. “Masingmasing wilayah kerja. Dr Stefanus Malak. Keterbukaan informasi publik bukan hanya sekadar mengatur soal informasi. Jika melalui website tidak optimal. tapi kecepatan akses lambat juga masih jadi kendala.Si menyatakan peran kehumasan yang langsung bisa berkomunikasi dengan warga atau pekerja media sangat penting dalam mewujudkan kepercayaan publik dan membina hubungan baik dengan masyarakat.00 siang. kesiapan para penyelenggara negara dalam menyediakan informasi yang diberikan kepada masyarakat adalah hal yang mutlak. website Kabupaten Sorong www. Oleh karena itu.” tuturnya. menyatakan pihaknya juga memfasilitasi penyelenggaraan pelatihan dan kordinasi kehumasan. dan bisa dipertanggungjawabkan kepada masyarakat. Alwin yang kini menangani layanan media center dari Kementerian Kominfo di Distrik Aimas. sebenarnya telah mengembangkan layanan infromasi melalui website. “Jaringan internet di sini biasanya cepat kalau pagi. Bupati Sorong. Pemkot Sorong dan Pemkab Sorong. “ UndangUndang Keterbukaan Informasi Publik mewajibkan seluruh badan publik menyediakan informasi publik membuat standar layanan informasi publik. Tak heran jika kemudian. tidak dapat diakses masyarakat. Kabupaten Sorong.go.

Jawa. Di kawasan Sorong. Akan tetapi mengelola keterbukaan informasi di Kota dan Kabupaten Sorong merupakan seni tersendiri. Hal ini di sebabkan rendahnya kemampuan. Rapat koordinasi pembangunan daerah yang dilakukan oleh BAPPEDA. “Tetapi di daerah-daerah pedesaan justru kader posyandu menjadi tenaga inti dalam pelayanan kesehatan di pedesaan. mengakui bahwa pelayanan birokrasi di kota ini 75 . telah dikembangkan pelibatan masyarakat secara langsung maupun melalui perwakilan seperti DPRD. Suku Moi adalah penduduk asli Papua yang menjadi pemegang hak adat atas tanah di pusat pemerintahan Kabupaten Sorong.” kata Maimunah (45) seorang pedagang kelontong di Kota Sorong menambahkan. di samping kurangnya sosialisasi dan informasi yang sampai pada anggota komite sekolah. Bugis Makasar. baik finansial maupun intelektual. kota Surakarta memang telah menunjukan kemajuan signifikan dalam pelayanan birokrasi. Di bidang pendidikan. Di bawah kepemimpinan Wali Kota Joko Wiyono. dan bahkan masuk dalam sepuluh besar.” tambah Abbas. relatif sudah mulai banyak didominasi oleh kalangan pendatang. “Namun peranan ini belum berkembang sesuai yang diharapkan. Kader posyandu ditujukan untuk membantu tenaga medis yang jumlahnya terbatas. Di bidang kesehatan. “Semua kegiatan itu memang aktif dilakukan di Kabupaten Sorong. Kota ini terus mengalami peningkatan dalam indeks transparansi di tingkat nasional. Sementara di kawasan kota. Stefanus Malak. Partisipasi yang paling menonjol dalam hal pelayanan dasar adalah di bidang pendidikan dan kesehatan. setiap sekolah terdapat komite sekolah yang beranggotakan para orang tua murid dan donatur. Sementara dalam perencanaan pembanguan. keikutsertaan masyarakat dalam pelayanan dalam bentukkader posyandu. terdapat enam kelompok etnis besar. dosen Ilmu Komunikasi Fisip UNS.” tambah Marthen. dan Maluku. khususnya di propinsi Papua Barat. yaitu: Suku Moi.” kata Bupati Sorong. Partisipasi atau pelibatan masyarakat tidak banyak berarti tanpa jaminan keterbukaan informasi publik. “Widodo Muktiyo. BPM/BPD/LKMD. Dengan pesona alam khas papua dan ditunjang letak yang strategis. Maybrat. diperlukan rintisan pembangunan kepariwisataan dalam jangka panjang yang dimulai dari sekarang. Surakarta: Ada Perubahan Signifikan Pemerintah Kota Surakarta merupakan salah satu contoh semakin meningkatnya kinerja birokrasi. “Prioritas utama kami adalah pengembangan wisata bahari dan wisata alam.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik partisipasi warga negara dalam turut menentukan kebijakan. Kabupaten Sorong kini sedang mempersiapkan diri untuk menjadi daerah tujuan wisata unggulan.

Oleh karena itu. Pemkot juga telah secara aktif memberikan pelayanan lewat media on-line. Dari hasil pantauan di lapangan. maka bawahannya juga mengikuti.00. “Untuk pelayanan e-KTP ini kami bisa melayani 15 orang perjam. seperti informasi umum. bursa kerja. Pemkot Surakarta juga terus memberikan pelayanan secara optimal meskipun dalam keterbatasan peralatan. kata Mahendra. kata Widodo. terbukti kota ini telah memiliki PPID. dosen Sosiologi Fisip UNS bahwa ada kemajuan yang bararti dalam hal pelayanan publik. Bahkan pelayanan juga dilakukan di luar jam kantor. “Reformasi birokrasi cukup terasa dampaknya di kota ini sebagaimana tampak pada makin transparannya Pemkot. sehingga kalau pimpinan atasnya berubah. Dalam struktur birokrasi itu bersifat hierarkis dan instruktif. terutam yang berkaitan dengan sektor usaha dan perdagangan.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 terus membaik. Dalam hal e-KTP. maka jajaran birokrasi pemerintah juga mengikuti. Sebagaimana dijelaskan oleh salah seorang pejabat di jajaran Pemkot Surakarta. programprogram tersebut adalah programprogram yang didesain untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kota Surakarta. dan kami minimal membuka layanan 12 jam efektif kepada warga masyarakat”. Fahrudin. layanan kesehatan masyarakat.2 milyar rupiah. salah seorang pejabat di bagian kependudukan. Pemkot Surakarta juga melakukan langkah-langkah yang terus menunjang terselenggaranya transparansi. Seperti yang diketahui. pelayanan yang dimaksudkan di sini adalahpelayanan jasa yaitu pelayanan di bidang administrasi (perijinan) melalui sistem one stop service (OSS). mulai pukul 08. dan masalah kependudukan. dan kian cepat dan lancarnya urusan perijinan. Harus diakui bahwa Wali Kota Surakarta sekarang cukup kreatif dan inovatif dalam usahanya memberikan layanan kepada masyarakat. LPSE. kata Subandi. Penilaian senada juga datang dari Mahendra Wijaya. khususnya di bidang pelayanan umum. karena secara sosiologis masyarakat kita memang masih patriomonialistik. “Ketika pimpinan kota Surakarta mau berubah dengan mengedepankan layanan publik.00 hingga 21. rencana kelurahan. masih ada aparat birokrasi yang masih bermental harus dilayani. para petugas tampak bertugas secara allout dan mereka senantiasa menyapa dengan ramah. Di bidang keterbukaan informasi. Bahkan juga sudah membentuk komisi informasi dengan anggaran sebesar 1. Inovasi dalam pemerintahan juga dapat 76 . pelayanan umum adalah pelayanan yang diberikan baik jasa maupun non jasa dan ataupelayanan administrasi. Fasilitas publik senantiasa menjadi prioritas pengembangan dan senantiasa diperbaiki”. Faktor kepemimpinan menjadi kunci dari perubahan mind set aparat birokrasi. karena memang mereka tumbuh di kalangan kultur yang feodalistik”. pelayanan kesehatan yaitu program PKMS (Program Kesehatan Masyarakat Surakarta). Namun demikian.

Pertama. menyimpan. Fahrudin juga menjelaskan upaya Pemkot dalam bidang layanan informasi publik. transparan. menerbitkan SK Walikota Surakarta No.05/01-B/1/2011 tentang penunjukkan PPID. dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya. Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28F menjaminnya. Dalam pertimbangannya. Masyarakat sebagian besar lebih memilih hidup mengurus diri dengan beribadah. memiliki. yaitu mempersiapkan regulasi di tingkat daerah. Padahal hak memperoleh informasi merupakan hak dasar warga Negara. Juga terus melakukan pembenahan sistem informasi data. Kedua. meningkatkan pendokumentasian data daninformasi SKPD. dan meningkatkan sarana untuk mengakses informasi bagi masyarakat. memperoleh. akses partisipasi. UU No. yaitu melalui program rumah tidak layak huni (RTLH). dan akses keadilan dalam memenuhi hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. sesungguhnya masyarakat Bali tidak terlalu peduli terhadap keterbukaan informasi. 77 . Ketiga bidang tersebut dianggap program yang menonjol di Kota Surakartadan dapat dilihat secara langsung nilai-nilai perubahannya dimana pelayananseharusnya diberikan secara adil. Adanya Undangundang keterbukaan informasi pun disambut biasa-biasa saja. Peraturan Wali Kota tentang Standar layanan Informasi/ SOP (dlm proses penyusunan). Secara khusus hak warga terhadap informasi diatur dalam UU nomor 14 Tahun 2008 tentang KIP. Pasal 60.05/05/1/2011 tanggal 3 januari 2011 tentang pembentukan Tim Uji Konsekuensiterhadap informasi yang dikecualikan pada Pemerintah Kota Surakarta. 042. Jasa yaitu pelayanan yang terkait dengan pemberdayaan masyarakat. UU tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. meningkatkan konten Web Pemerintah Surakarta sebagai sumber informasi. merata. sosialisasi UU KIP secara rutin. akses informasi. akuntabel. dan partisipatif sesuaidengan prinsip good local governance. menerbitkan SK Walikota Surakarta No : 060.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik didefinisikan sebagai pengembangan suatu desain kebijakan baru dan prosedur standard operasi yang baru untuk memecahkan masalah publik. mengolah. Pasal 103. 39 Tahun 1999 tentang HAM. dan pembekalan pada PPID sejak April 2011. menyiapkanruang pelayanan informasi beserta infrastrukturnya. Warga juga berhak mencari. Pasal 65 ayat (2) UU ini menyatakan setiap orang berhak mendapatkan pendidikan lingkungan hidup. Beberapa UU lain sesungguhnya juga menjamin hak warga atas informasi. Denpasar: Rakyat Kurang Peduli Harus diakui. Hak atas informasi diatur dalam Pasal 14.

minimnya kesiapan badan publik untuk melaksanakan UU KIP. Perlu manajemen pengelolaan informasi yang dikuasai dan pelayanan akses informasi dari publik. informasi publik yang dikecualikan ini bersifat ketat dan terbatas. Mungkin perlu perbaikan pola pikir dan kemauan masing-masing lembaga dalam penerapan pelaksanaan UU KIP. Uji badan publik yang dilakukan meliputi tiga sektor yaitu pendidikan. pertama. Perbaikan terutama adalah kebijakan pimpinan badan publik dalam menerapkan UU KIP. Perbaikan tersebut hanya bisa dicapai jika publik/masyarakat sebagai pemilik hak atas akses informasi aktif mendorong badan publik untuk selalu berbenah. belum adanya Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi. Pendapat senada juga disampaikan oleh Agus Sanjaya dari Dinas Perhubungan dan Infokom Denpasar. khsusunya lembaga-lembaga publik. Ini merupakan salah satu cara agar badan publik menjadi lebih siap dan lebih baik dalam melayani permintaan informasi publik”. namun itu hanya sebagian kecil. katanya. Indikatornya antara lain. Menurut Ni Made Ras Amanda Gelgel. “Warga harus secara aktif meminta akses informasi. UU ini juga menegaskan bahwa keterbukaan informasi publik merupakan salah satu ciri penting negara demokratis. Hasil uji publik tersebut ditindaklanjuti dengan mengadakan Rembug Lintas Aktor (RELA) Kesiapan Badan Publik di Bali dalam 78 .Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 UU ini menyebutkan bahwa hak memperoleh informasi merupakan HAM. pemerintah kota Denpasar belum sepenuhnya menerapkan keterbukaan informasi publik. kondisi keterbukaan informasi. Badan publik adalah organanisasi yang terkait penyelenggaraan Negara maupun organisasi lain dengan pendanaan dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara/Daerah (APBN atau APBD). Dalam pasal 9 UU KIP disebutkan badan publik wajib mengumumkan informasi publik secara berkala. Hasil assessment KIP pusat menjelang pemberlakuan UU KIP disebutkan bahwa baru tujuh badan publik diseluruh indonesia yang dianggap siap atau berupaya mempersiapkan diri. sepertinya tidak serta merta terjadi dan diterapkan dengan baik. Ada beberapa lembaga yang telah dengan baik membuka berbagai informasi kepada khalayak. Ketiga. Informasi ini meliputi profil.Pasal 2 mengatur bahwa asas UU ini adalah setiap informasi publik bersifat terbuka dan dapat diakses oleh setiap Pengguna Informasi Publik kecuali informasi publik yang dikecualikan. dan lingkungan. serta laporan keuangan badan publik. kegiatan dan kinerjan. Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana Bali. hasil uji badan publik lintas sektor yang diadakan Sloka Institute bekerjasama dengan  Indonesian Parliamentary Center (IPC)  terhadap beberapa instansi di 4 kabupaten/kota serta di tingkat Provinsi Bali mencerminkan belum sistematis dan transparannya akses informasi publik. kesehatan. Kedua.

Ketua AJI Denpasar Rofiqi Hasan. SH. “animo warga Denpasar kurang begitu antusias dalam memanfaatkan adanya UU KIP. karena mungkin banyak yang belum tahu. Nantinya di setiap lembaga itu akan ada Penanggung jawab Pengelolaan Informasi Daerah (PPID) yang ditetapkan dengan Peraturan Gubernur. tetapi ada juga yang masih lamban. Nanti DPRD akan memilih 5 calon anggota KI. Kemudian masalah anggaran dan transisi penataan lembaga publik juga menjadi masalah. dan wartawan. Untuk itu pemerintah perlu terus menggalakan sosialisasi”. drs I Wayan Nuranta. bahwa semuanya semakin menyadari pentingan arti penyelenggaraan pemerintahan dengan prinsip good governance. RELA dihadiri oleh anggota Komisi Informasi (KI) Pusat  Abdul Rahman Ma’mun. Penutup Begitulah. SH. Semua menyadari bahwa transparansi. dan Komunikasi Bali. Sementara pendapat warga masyarakat juga beragam. perwakilan Yayasan Manikaya Kauci. akuntabilitas.   perwakilan Biro Pemerintahan Provinsi Bali. tokoh masyarakat dan pemerintah. Ada yang cepat beradaptasi dalam iklim keterbukaan informasi. Langkah lainnya adalah dengan merancang website e-government. perwakilan persma Akademika. Ada kesan kuat bahwa Pemda sebenarnya menyadari akan pentingnya reformasi birokrasi.. serba-serbi dinamika pemerintahan daerah dalam menyambut reformasi birokrasi ternyata sangat beragam. Sementara itu seorang tokoh masyarakat. Pemerintah Provinsi Bali baru bisa memasukkan pembentukan Komisi Informasi (KI) dalam APBD 2011. Proses pendirian KI diawali dengan pembentukan Tim Seleksi yang melibatkan kalangan akademisi. Meniartha berpendapat masyarakat belum peduli. Sosialisasi tentang UU KIP sudah dilakukan di lembaga publik dan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Provinsi Bali. MH. Pemerintah daerah berharap LSM bias ikut memantau proses pembentukan PPID.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Penerapan UU Keterbukaan Informasi Publik 2010 lalu.. Akan tetapi ada satu yang jelas. Oleh karena itu masyarakat berharap agar pemerintah terus memberikan pelayanan optimal terhadap masyarakat. Selain itu belum ada numenklatur yang jelas antara fungsi yang akan diemban Dinas Infokom dan Humas Pemkot Bali. perwakilan Walhi Bali. ada yang optimis dan ada yang pesimis. Tim seleksi selanjutnya akan menyaring minimal 10 calon dan maksimal 15 calon untuk diajukan dalam fit and proper test di DPRD Bali. 79 . katanya. sehingga harus melakukan langkah-langkah penyesuaian. dan partisipasi publik adalah penting dalam era sekarang ini. Informasi. Kepala Bidang Informasi Dinas Perhubungan. dan Ni Luh Candrawati Sari.

sebagian besar pemerintah daerah masih bergerak lamban dalam menyongsong era keterbukaan informasi. terbukti masih sedikit yang membentuk PPID. di mana mereka masih minta dilayani. Hanya saja. Namun demikian. Kendala struktural muncul karena karakter birokrasi pemerintah yang hierarkis. Sepertinya masyarakat kita memang masih perlu terus didorong menuju ke arah keterbukaan informasi.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Memang ada kendala yang cukup merisauhkan dalam upaya menggelorakan semangat reformasi birokrasi. Dalam kaitannya dengan pelaksanaan UU KIP. di kalangan masyarakat sendiri juga masih perlu didorong untuk lebih proaktif guna memanfaatkan UU KIP agar good governance terimplemntasi dengan lancar dalam proses pembangunan di daerah. dan kurang cepat melakukan perubahan dengan mengubah berbagai aturan yang telah usang. 80 . UU KIP semakin populer berkat sosialisasi yang cukup intens kepada masyarakat. Sementara itu kendala kultural muncul berkaitan dengan belum ada transformasi cara berpikir dan sikap yang berorientasi pada pelayanan publik. rigit. Kendala itu berupa kendala struktural maupun kultural. karena itu perlu terus menumbuhkan kesadaran bersama untuk tetap terus belajar berdemokrasi. Masih banyak aparat birokrasi yang mindset-nya menggunakan paradigma lama.

.

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 82 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful