Edisi 3/ September / 2011

Birokrasi
Keterbukaan Informasi Publik

a r E m a l a d

Pelayanan Birokrasi dalam Era Otonomi Daerah Pelayanan Birokrasi Papua dalam Era Otonomi Khusus Reformasi Birokrasi dan Implementasi Good Governance
Foto : Antara

Reformasi Birokrasi, Syarat Mutlak Pembangunan Ekonomi

dalam Era
Diterbitkan Oleh :

Tim Redaksi Pengarah : Penanggungjawab :

Pemimpin Umum

:

Pemimpin Redaksi : Anggota Dewan Redaksi : Ismail Cawidu (Sekretaris Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik) Bambang Wiswalujo (Direktur Pengolah dan Penyediaan Informasi) Supomo (Direktur Komunikasi Publik)

Tifatul Sembiring (Menteri Kominfo) Basuki Yusuf Iskandar (Sekretaris Jenderal) Ahmad Mabruri Mei Akbari (Staf Khusus Menkominfo) Freddy H Tulung, (Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik) Suprawoto (Staf Ahli Menteri Bidang Sosial Ekonomi dan Budaya) Sadjan (Direktur Pengelolaan Media Publik)

Erlangga Masdiana (Direktur Layanan Informasi Internasional) James Pardede (Direktur Kemitraan Komunikasi) Redaktur Pelaksana : Mardianto Soemaryo Penyunting/ Editor : 1. Hypolitus Layanan 2. Endang Kartiwak 3. Taufik Hidayat Tim Tenaga Ahli : Sugeng Bayu Wahono Lambang Trijono Abduh Sandiah Murti Kusuma Wirasti Design Grafis : Danang Firmansyah Sekretaris Redaksi : M. Taofik Rauf Sekretariat : 1. M. Azhar Iskandar Zainal 2. Jatmadi 3. Sarnubi 4. Inu Sudiati 5. Elpira Inda Sari N.K 6. Lamini 7. Nur Arief Hidayat

.

Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Daftar Isi Salam Redaksi Wawancara Khusus Reformasi Birokrasi Tidak Secepat Membalik Telapak Tangan ii vii vii I II Pelayanan Birokrasi dalam Era Otonomi Daerah Pendahuluan Antara Harapan dan Kenyataan Penutup 1 2 5 9 Pelayanan Birokrasi Papua dalam Era Otonomi Khusus 11 Birokrasi dan III Reformasi Implementasi Good Governance Birokrasi. IV Reformasi Syarat Mutlak Pembangunan Ekonomi Laporan Studi lapangan Reformasi Birokrasi dalam Dinamika Pemerintahan Daerah 19 45 65 65 i .

pemerintah juga memiliki komitmen untuk melaksanakan inisiatif Open Government. pemerintah telah bertindak atas dasar tanggung jawab dalam segala bidang untuk kepentingan masyarakat luas. Pemerintah pun merespons atas tuntutan reformasi birokrasi dengan berkomitmen menerapkan prinsip good governance.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Salam Redaksi S etelah era reformasi. dan masyarakat. antara lain tampak pada (1) penyelenggaraan pemerintahan dengan membuka koridor ketertutupan birokrasi melalui semangat dialog dan komunikasi intensif antara pemerintah. akuntable. tetapi juga transparansi. pemerintah telah berusaha membangun kepercayaan timbal balik antara pemerintah dan masyarakat melalui penyediaan informasi dan menjamin kemudahan di dalam memperoleh informasi tersebut. pihak swasta. Isu utama yang ditekankan dalam reformasi birokrasi bukan saja pelayanan dan inefisiensi. juga salah satu yang paling santer dikumandangkan adalah perlunya reformasi birokrasi. sehingga masyarakat memiliki kesempatan dalam menyampaikan aspirasinya Masih dalam konteks good governance. dan membuka partisipasi publik. sebagai kebutuhan nasional akan transparansi dan akuntabilitas serta kontribusi aktif Indonesia ii . dan di sini birokrasi harus transparans. dan (4) pengambilan keputusan juga perlu melibatkan masyarakat. (3) setiap proses pemerintahan mulai dari pengambilan keputusan sampai implementasi. Good governance menjadi sebuah imperatif dalam proses negara demokrasi. birokrasi pemerintah dituntut untuk tampil sebagai organisasi pelayanan publik yang transparan. (2) dalam pengambilan kebijakan serta keputusan. Seiring dengan bergulirnya demokratisasi.

perlu perbaikan-perbaikan menyangkut SDM dan SDA yang dimiliki. Hal yang paling bisa dilakukan adalah untuk memberikan kepercayaan dan dukungan untuk melakukan upayaupaya reformasi birokrasi. dalam arti semangat desentralisasi dan debirokratisasi tercermin dalam tata kelola pemerintahannya. namun perlu keseriusan untuk melakukan reformasi birokrasi. Muhadam Labolo secara detail menganalisis kinerja birokrasi dalam konteks good governance. ada juga yang memberikan penilaian kritis bahwa meskipun prinsip good governance telah dilaksanakan. Ia berusaha mendeskripsikan tentang makna birokrasi dan good governance. maka Jurnal Dialog Publik kali ini mengangkat tema Birokrasi dalam era keterbukaan informasi. khususnya Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik telah berusaha menyusun disain komunikasi untuk memastikan inisiatif Open Government terlaksana sejalan dengan prinsip transparansi. cepat. melalui konsultasi dengan kelompok pemangku kepentingan masingmasing. tetapi belum sepenuhnya dilaksanakan. tepat. partisipasi dan kolaborasi. Untuk percepatan OG ini melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik dalam Open Government Partnership (OGP). Reformasi birokrasi merupakan salah satu upaya untuk menerapkan prinsip good governance. Sementara itu. Berbagai isu dan permasalahan di seputar reformasi birokrasi akan dibedah dan dianalisis secara komprehensif dari berbagai perspektif. efisien dan tidak berbelit-belit serta menggunakan SDM yang optimal dan berkualitas. pemerintah juga menerapkan Otonomi Daerah dengan menekankan pelayanan birokrasi pemerintah lebih efisien. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Dalam pelaksanaannya. Keluarnya undangundang ini juga menunjukkan komitmen pemerintah terhadap upaya perwujudan reformasi birokrasi. Dari prosesnya yang lebih efektif. iii . Atas dasar permasalahan di atas. setiap lembaga publik diharapkan menyusun Rencana Implementasi Open Government (OG) lembaganya. kemampuan dan moral penyelenggara pemerintahan mampu memberi pelayanan yang mudah. Meskipun demikian. Untuk melakukan good governance perlu proses pembelajaran. sekaligus sebagai melihat bagaimana penerapan Undang-undang No. dengan biaya yang terjangkau.

agama. Apakah bias primordialisme seperti baik buruknya pelayanan birokrasi disebabkan oleh faktor kesamaan etnis. Atau dengan kata lain Habel mengajukan pertanyaan bagaimana pelayanan birokrasi pemerintah Papua dalam era Otonomi Khusus sekarang ini. Reformasi kapasitasi berkaitan dengan kemampuan birokrasi baik secara individual maupun kelompok yang ditunjukkan pada kemampuan menerjemahkan visi dan misi. Perkembangan masyarakat Papua yang semakin terbuka menjadikan Papua semakin plural. serta upaya strategis reformasi birokrasi dan implementasi tata kelola pemerintahan yang baik. Pengembangan kapasitas aparatur berfokus pada aspek pendidikan dan pengalaman yang akan menentukan nilai profesionalisme birokrasi dihadapan masyarakat. Salah satu usulan menarik Muhadan adalah bahwa untuk mengefektifkan reformasi birokrasi diperlukan reformasi kapasitasi yang memadai guna meningkatkan kemampuan aparatur dalam melayani masyarakat. pada awalnya terdapat kecenderungan bahwa pemberian kewenangan pengelolaan politik oleh pemerintah pusat dalam bentuk Otsus. sistem rekreuitmen. masalah dan tantangan yang dihadapi dalam upaya reformasi birokrasi. sehingga lebih mengedepankan profesionalisme dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. sehingga birokrasi pemerintah terbukti adaftif dengan perkembangan masyarakatnya. Memang. Perubahan tersebut diharapkan tidak saja bersifat incremental semata. Habel melihat adanya gejala etnosentrisme di Papua apakah berpengaruh terhadap pelayanan birokrasi. Reformasi kapasitasi adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan sumber daya birokrasi dalam pelayanan agar mampu mengimbangi dinamika masyarakat. dan pelayanan pun ada kecenderungan bias etnosentrisme. Sementara itu Habel Suwae mencoba menyoroti pelayanan birokrasi dalam era Otonomi Khsusus di Provinsi Papau. Atau birokrasi bersifat adaptif dengan dinamika masyarakat Papua yang semakin terbuka.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 karakteristik pemerintahan yang baik. sehingga lebih mengarah pada birokrasi primordial. atau berkembang menjadi birokrasi modern yang mengutamakan profesionalisme dan merit system. Menurut Habel birokrasi di Papua justru lebih menunjukkan karakter sebagai birokrasi yang rasional dan mengedepankan profesionalisme. birokrasi pemerintah Papua berkembang ke arah yang lebih menunjukkan iv . sehingga personil. Akan tetapi dalam perkembangan lebih lanjut. program dan kegiatan. Birokrasi pun kemudian menunjukkan karakter birokrasi primordial. disikapi oleh sebagian warga Papua secara primordialistik. namun fundamental. dan kekerabatan.

Ferdinan mengkaji tentang efektivitas pelayanan birokrasi di era otonomi daerah. Sedangkan Nursodik menilai birokrasi Indonesia belum probisnis. Politisasi birokrasi ikut mendorong terjadinya penyelewengan yang membuat birokrasi semakin jauh dari fungsi utamanya sebagai penggerak sektor perekonomian. efektif. Realitas yang teralami sekarang banyak birokrat yang tidak mengutamakan pelayanan publik. bukan berdasarkan pendidikan dan latihan penjenjangan kerier. efisien. birokrasi perlu direformasi. kapabiltas dan hal ini disebabkan oleh karena penenpatan pejabat eselon II dan III. Salah satunya adalah dengan menerapkan konsep reinventing bureaucracy. birokrasi pemerintah juga terus mendorong partisipasi publik dalam proses pembangunan menuju pemerintahan yang transparan dan akuntabel. karena banyak pejabat publik yang diangkat tidak memiliki kapasitas. Karakter masyarakat Papua sendiri yang terbuka dan semakin plural. birokrasi dikembangkan sebagai unit pelayanan yang tepat. Argumen agak berbeda dikemukakan oleh Ferdinan Kerebungu. Sifatnya yang birokratis dan patologis membuat keberadaan birokrasi lebih dianggap sebagai faktor penghambat dibanding pendorong perekonomian. tetapi lebih ditentukan oleh tim sukses.Untuk dapat mengoptimalkan pelayanan birokrasi yang menggunakan prinsip good governance. v . akuntabel dan berorientasi pada kebutuhan pengguna layanan. Reinventing bureaucracy diharapkan mampu mengembalikan birokrasi sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi. bahwa bagaimanapun birokrasi harus didorong untuk lebih independen. yang lebih mengutamakan efisiensi dan profesionalisme. Dengan konsep tersebut. Akan tetapi. Banyak gejolak yang terjadi di daerah sebagai perwujudan ketidak puasan masyarakat dalam pelaksanaan otonomi daerah.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik karakter birokrasi profesional dengan menerapkan merit sistem. bukan sebagai unit pelayanan masyarakat. terdapat harapan yang sama. Untuk menghilangkan berbagai patologi yang ada. Berbagai penyakit birokrasi muncul karena aparat birokrasi cenderung menggunakan birokrasi sebagai alat untuk mencapai tujuan birokrasi itu sendiri. menjadi pertimbangan utama mengedepankan birokrasi rasional. pada era sistem pemerintahan desentralisktik sekarang ini banyak menimbulkan persoalan pemerintahan terutama dalam birokrasi pelayanan publik. cepat. Bersamaan dengan itu. dari segenap analisis kritis yang dikemukan para penulis. harus ada trnasformasi kultural di kalangan aparat birokrasi dari cara pandang birokrasi sebagai penguasa menjadi birokrasi sebagai pelayanan sesuai dengan sistem politik yang deomokratis.

Iklim demokrasi yang sudah baik. harus tetap dipelihara dan dirawat agar terus menjadi habitat subur bagi tumbuhnya birokrasi yang secara konsisten menerapkan prinsip good governance. meski di sana-sini terdapat hambatan. tetap harus mendapat dukungan dari semua pihak. vi . dan mengedepankan profesionalisme.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 steril dari kepentingan politik. Komitmen pemerintah pusat untuk melakukan reformasi birokrasi.

Edisi 3 / September / 2011 Wawancara Khusus Reformasi Birokrasi Tidak Secepat Membalik Telapak Tangan Dr. MBA* *Deputi Bidang Program dan Reformasi Birokrasi. vii . Ismail Muhamad. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik

Edisi 3 / September / 2011

S

etelah era reformasi, salah satu isu yang paling santer dikumandangkan adalah perlunya reformasi birokrasi. Isu utama yang ditekankan dalam reformasi birokrasi bukan saja pelayanan dan efisiensi, tetapi juga transparansi. Seiring dengan bergulirnya demokratisasi, birokrasi pemerintah dituntut untuk tampil sebagai organisasi pelayanan publik yang transparan. Prinsip Good governance menjadi sebuah imperatif dalam proses negara demokrasi, dan di sini birokrasi harus transparans, akuntable, dan membuka partisipasi publik.

Meskipun secara normatif, pemerintah punya sejumlah regulasi yang mengatur tatakerja birokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan, namun dari hasil penyerapan opini dalam masyarakat, ternyata sebagian masyarakat menilai reformasi birokrasi belum memperlihatkan hasil konkret, alias reformasi birokrasi masih jalan di tempat. Persoalan yang mengemuka di anatranya pemerintah, termasuk pemerintah daerah dinilai kurang transparan dan tidak banyak melibatkan masyarakat dalam perumusan kebijakan publik. Dalam kaiatan dengan persoalan tersebut, berikut ini petikan hasil wawancara redaksi dengan

Dr. Ismail Muhamad, MBA

viii

Edisi 3 / September / 2011

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik

Deputi Bidang Program dan Reformasi Birokrasi, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Dr. Ismail Muhamad, MBA. Banyak kalangan menilai program reformasi birokrasi jalan di tempat, bagaimana kondisi yang sesungguhnya ada pada saat ini? Pandangan seperti itu dapat dipahami, tetapi sangat tergantung dari sudut pandang mana melihatnya. Perlu diluruskan, bahwa reformasi dalam skala besar (Nasional) dimulai pada tahun 1998. Fokus reformasi pada tiga bidang, yaitu Bidang Ekonomi, Bidang Politik dan Bidang Hukum. Sedangkan secara khusus reformasi birokrasi dimulai pada tahun 2004, dan sebagai pilot projectnya adalah Badan Pemeriksa Keuangan, Mahkamah Agung, dan Kementerian Keuangan. Pada tahun 2008, Kementerian PAN menerbitkan Pedoman Umum Reformasi Birokrasi. Mulai tahun 2010 ditetapkan Grand Design Reformasi Birokrasi 2010 – 2025 berdasarakanh Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 81 Tahun 2010, dan ditindaklanjutin dengan Peraturan Menteri PAN No. 4 Tahun 2010. Jadi kalau ada yang bilang reformasi birokrasi jalan di tempat itu karena kurang mengikuti perkembangan yang ada. Jadi dari sisi kebijakan pelaksanaan reformasi birokrasi sudah ada langkah-langkah konkret. Berbicara mengenai reformasi birokrasi di negara manapun tidak secepat

membalikkan telapak tangan, tetapi membutuhkan proses panjang. Contoh Australia, untuk melakukan reformasi membutuhkan waktu 30 tahun baru bisa dilihat hasilnya. Dalam kaitan dengan transparansi, akuntabilitas, partisipasi publik dan lain-lain sebenarnya sangat terkait dengan UU No. 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) yang secara definitif pelaksanaannya pada tahun 2010. Tetapi sebenarnya transparansi dan akuntabilitas di Indonesia sudah mulai dilaksanakan secara efektif pada tahun 1999, yaitu dengan dikeluarkan Instruksi Presiden RI No. 7 Tahun 1999 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Dengan demikian secara formal semua instansi pemerintah dalam pelaksanaan fungsi dan tugasnya diharuskan transparan dan akutabel. Jadi prinsipnya sudah ada model layanan, prosedur tetap, pengawasan, capaian hasil dan metode evaluasinya, semuanya sudah dituangkan dalam Rencana Strategis (renstra) instansi pemerintah. Pembuatan Renstra itu sendiri sangat transparan, meskipun pada waktu itu belum sejalan dengan UU KIP, karena belum ada. Dalam UU KIP jelas sekali menegaskan bahwa semua informasi itu terbuka (dipulikasikan) kecuali yang rahasia. Berbeda dengan paradigma sebelumnya bahwa semua informasi itu rahasia, kecuali yang dibuka atau yang dipublikasikan. Jadi secara ringkas bisa disimpulkan bahwa transparansi dan akuntabilitas

ix

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik

Edisi 3 / September / 2011

kebijakan pemeritah termasuk bidang pelaynan telah dilaksanakan, meskipun harus diakui ada beberapa yang masih tertinggal. Bagaimana kita melihat secara konkret reformasi birokrasi itu dari sisi pelaynan publik? Pelayanan publik itu kita bagi dua yakni yang bersifat administratif dan pelayanan praktis atau non administrasi. Pelayanan administratif seperti KTP dan sejenisnya, hampir di semua daerah sudah transparan, umpamanya sudah jelas berapa biayanya, penyelesaiannya berapa lama, prosedur dan mekanismenya. Bahkan informasi tentang semua itu ditempelkan di papan pengumuman sehingga masyarakat mengetahuinya secara jelas. Selain itu ada standar pelayanan minimum yang diatur berdasarkan Kepmendagri yang menjadi acuan bagi daerah untuk merancanakan angaran pendapatan dan belanja daerahnya. Standar pelaynan itu juga dipublikasikan agar diketahui oleh masyarakat. Ini artinya langkah konkret yang dilakukan pemerintah itu ada, hanya mungkin kalau ada penyimpangan oleh oknum, termasuk sikap dan prilaku SKPD di daerah tertentu yang cenderung mengada-ada. Sehingga dalam kontek reformasi birokrasi, kelemahan-kelemahan itu dipantau dan dievaluasi, kemudian ditertibkan. Untuk mengurangi penyimpangan kita menggunakan instrumen indek kepuasan masyarakat melalui survei. KPK juga menggunakan

tingkat kepuasan masyarakat dalam mengukur kualitas pelaynan publik. Dalam reformasi birokrasi, unsur itu juga dimasukkan sebagai salah satu indikator keberhasilan yakni peningkatan kualitas pelaynan publik. Kalau kita ambil contoh, kalau KPK mengunakan unsur integritas pelaynan publik, tingkat kemudahan berusaha, lalu instansi yang akuntabel. Tahun 2009 kita sudah punya base line sekian, kita punya target tahun 2014 sekian. Dengan ukuran itu terus dilakukan pemantauan, ternyata hasilnya semnatra ini mengalami peningkatan (kemajuan). Jadi jelas ada pengukurannya untuk menetukan tingkat keberhasilan program reformasi birokrasi. Sampai saat ini masih banyak pemerintah daerah belum membentuk PPID sesuai ketentuan UU No. 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik. Baagaimana Pemerintah menyikapi maslah tersebutdalam kaitan dengan upaya mempercepat reformasi birokrasi? Secara makro hal itu termasuk dalam konteks penguatan kelembagaan dan pembenahan organisasi. Atas dasar UU KIP tersebut kita melangkah pada Open Government yang salah satu intinya adalah setiap instansi pemerintah dihimbau untuk segera melangkah konkret membenahi organisasinya sesuai kebutuhan. UU KIP jelas mengatakan bahwa jika masyarakat yang meminta informasi yang terbuka,

x

Jadi kalau berbicara tentang prinsip-prinsip transparansi. Ditambah lagi dengan adanya website. akan lebih memudahkan. Aparat pemerintah menyadari bahwa hak publik untuk mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Mereka menyampaikannya dengan cukup baik. salah satunya adalah dengan pemanfaatan teknologi inforasi untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Mungkin urgensinya untuk memperkuat unit pelaynan informai. upaya untuk meningkatkan pelaynan birokrasi sudah sangat kuat. akuntabilitas dan partisipasi publik dalam pelaksanaan good governance di setiap instansi pemerintah. Bahkan barubaru ini pada kesempatan lokakarya ditampilkan dua daerah yang masuk kategori berhasil. tidak perlu pintupintu lagi. tetapi melalui induk lembaganya. Dari unsur transparansi dan lain-lain juga terlihat adanya kesungguhan pemda-pemda dan hasilnya cukup baik. yakni Jawa Barat dan Nusa Tenggara Barat. karena karakter manusianya berbeda satu dengan yang lain. Bagaimana kondisi pemerintah termasuk pemerintah daerah dalam menyelenggarakan pemerintahan yang berperinsip good governance? Kalau dilihat dari sisi akuntabilitas. maka bisa dikatakan bahwa sebagian besarnya sudah punya kesadaran tersebut sangat kuat. yakni melalui laporan akuntabilitas. Ada kendala di beberapa daerah dengan alasan PAD yang tidak mencukupi. Kita tidak bisa menuding bahwa semua pemda itu sama. Ada beberapa daerah yang mengalami hambatan. pengadaan barang dan jasa dan lainlain semuanya terbuka. Penilaian ini didasarkan pada indikator dengan menggunakan instrumen yang ada. xi . seperti soal APBN. Saat ini pemerintah sudah cukup transparan dan open government. Oleh karena itu bisa disimpulkan bahwa secara nasional terdapat kemajuan yang cukup signifikan dalam penyelenggaran pemerintahan dengan prinsip good governance.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik kalau ada yang menghaklangi. Tetapi berdasarkan pengamatan Kementerian PAN dan RB. Ternyata langkah-langkah yang dilakukan kedua daerah ini luar bisa dalam kontek transparansi. baik karena faktor sumber daya manusia maupun sumber daya lain. Ini artinya pintu masuk tidak harus melalui lembaga baru (PPID). pemerintah daerah tidak terlalu tertinggal. setiap waktu masyarakat berhak meminta informasi pada instansi pemerintah ada atau tidak PPID pada intansi tersebut. Jadi dari sisi kacamata reformasi birokrasi. termasuk pemeritah daerah. maka bisa dituntut. kecuali yang sifatnya terkait rahasia negara dan surat-surat yang memang sifatnya rahasia. tentu karena kendala-kendala. di samping masyarakat juga punya kesadaran yang luar bisa dalam menuntut haknya untuk memperoleh informasi.

Moratorium ini diperlukan untuk melakukan pembenahan. tetapi dalam kenyatannya itu dimainkan juga. Kalau sebuah xii . prosesnya harus dimulai dari usulan desa/kelurahan. Dengan reformasi ini juga kita mengukur kinerja. kalau tidak ada analisis kebutuhan kompetensi yang dibutuhkan. Sekarang pemerintah melalui Peraturan Bersama Meneteri Dalam Negeri. berubah dan lebih mengutamakan peran. Menteri Keuangan dan Menteri PAN dan RB memutuskan untuk moratorium penerimaan calon PNS mulai September 2011 sampai Desember 2012. Bagaimana pemetrintah menyikapi maslah tersebut? Memang harus diakui bahwa kondisi seperti itu ada pada praktek rekrutmen pegawai dan pejabat pemerintah. Musrembang sampai ke tingkat nasional dimana di setiap lefel itu melibatkan masukan masyarakat. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembanagunan Nasional. yang selama ini cenderung berorientasi pada kewenangan. Lalu harusnya hasil ujian itu diumumkan. lalu dalam proses asesmennya diminta dari perguruan tinggi yang terbaik di masing-masing daerah. kompetensinya apa dan sebagainya. melalui tokohtokohnya.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Salah satu sorotan masyarakat terhadap lemahnya pelaynan birokrasi adalah dalam kaitan dengan rekrutmen aparat (PNS) dan pejabat pemerintah yang tidak transparan dan sarat dengan KKN. Sampai dengan Desember 2012 ditetapkan supaya seluruh pemerintah provinsi. bukan kewenangannya. dan yang merepresentasikan masyarakat diundang untuk menjaring masukan dan aspirasi masyarakat. Bahkan ada stetmen di Komisi II DPR RI bahwa akibat penyimpangan seperti itu menyebabkan kerugian negara sampai 25 triliun rupiah. bahwa setiap ada kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Dalam UU ini jelas sekali. Kita sudah melakukan pembenahan dengan menetapkan agar semua proses aplikasi melalui website. kabupaten/kota mengajukan berapa kebutuhannya. Salah satu langkah reformasi terkait dengan maslah ini adalah merubah mainset dan kutureset para pejabat. Seperti ada informasi bawa di daerah tertentu untuk masuk PNS harus bayar jutaan rupiah. Intinya adalah selama masa moratorium itu akan dibuat formula yang bisa mencegah praktek KKN dan prilaku yang menyimpang. Apakah dalam penyelenggaraan pemerintahan sudah membuka koridor ketertutupan birokrasi melalui semangat dialog dan komunikasi intensif antara pemerintah dan masyarakat? Prinsipsnya kita berpegang pada UU No. baru ada formasi. organisasi tertentu. Atas dasar itu. Tidak akan disiapkan formasi oleh pusat. Jadi keterlibatan unsur – unsur dalam masyarakat itu penekanannya peranya apa.

meningkatkan kualitas xiii . Seperti digambarkan sasran reformasi birokrasi dalam Grand Design Reformasi Borokrasi 2010 -2025 yang dibagi dalam tiga tahap sebagai berikut: 1. Demokrasi Indonesia menduduki nomor tiga terbaik di dunia. difokuskan pada penguatan birokrasi pemerintah dalam rangka mewujudkan pemerintah yang bersih dan bebas KKN. maka reformasi ini digunakan untuk membenahinya. Kendala kedua adalah kebutuhan SDM aparat birokrasi itu belum proporsional. belum untuk mencapai kinerja yang lebih baik (better performance). masih jauh di bawah Indonesia. Persoalan nanti kalau kemudian ada yang dipotong di atas. efektif. baik dari faktor alokasinya dari pusat sampai ke daerah. apalagi sudah membudaya itu membutuhkan waktu lama. Pola piker dan budaya kerja birokrat belum sepenuhnya mendukung birokrasi yang efisien. Bagaimana mengefektifkan pelayanan birokrasi dalam era keterbukaan informasi sebagai bagian dari demokratisasi? Prinsip demokrasi. maka kinerjanya turun. Kendala-kendala apa saja yang dirasakan dalam penyelenggaraan pelayanan birokrasi yang berprinsip good governance? Kendala utama yang terlihat selama ini adalah pada mind-set dan cuture-set pada aparat birokarasi. Tetapi harus diakui untuk merubah pola pikir. Selain itu. salah satu prasyaratnya adalah penerapan good governance. Sasaran lima tahun pertama (2010 – 2014). itu semata- mata dengan pertimbangan demi kepentingan bersama. maupun dari sisi kompetensinya juga belum pada posisi the right man on the right please. tetapi dari sisi demokratisasi. karena kemudian kurang efektif. produktif dan profrsional. Tetapi yang terpenting adanya suatu public policy process yang sesuai dengan prinsipprinsip good governance.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik kebijakan dalam implementasinya tidak ada aksesnya pada masyarakat. dan belum berorientasi pada hasil (outcomes). yakni dengan menggunakan menejmen kinerja. itu pun sampai sekarang belum semua menerapkan. Sebenernya secara normatif itu semua sudah diatur. tetapi bukan berarti reformasi birokrasi jalan di tempat. birokrat belum benar-benar memiliki pola piker yang melayani masyarakat. Proses dalam merumuskan sebuah kebijakan publik harus melibatkan masyarakat. Meskipun Singapura punya pemerintah yang sangat good governance. seperti Singapura. Tetapi ada contoh negara yang punya good governance namun dalam praktek demokrasinya masih kategori rendah. Jadi dengan reformasi dimaksudkan untuk merubah pemahman bahwa demokrasi tidak seperti terjadi saat ini. bahkan sudah 10 tahun terakhir ini masuk pada periode maturity.

3. Sasaran lima tahun ketiga (2020.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 pelaynan publik kepada masyarakat. 2. reformasi birokrasi dilakukan melalui peningkatan kapasitas birokrasi secara terus menerus untuk menjadi pemerintahan kelas dunia sebagai kelanjutan dari reformasi birokrasi lima tahun kedua. selain implementasi hasil-hasil yang sidah dicapai pada lima tahun pertama. xiv . reformasi birokrasi ini akan berhasil membenahi performen pelaynan birokrasi dalam memenuhi kebutuhan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Sehingga dengan sasaran-sasaran tersebut. serta meningkatkan kapasitas dan akuntabilitas kinerja birokrasi.2024). Sasaran lima tahun kedua (2015 – 2019). semua itu sudah pada posisi yang benar. pada lima tahun kedua juga dilanjutkan upaya yang belum dicapai pada berbagai komponen yang strategis birokrasi pemerintah pada lima tahun pertama.

dan mengajar pada S2 Pengembangan Sumberdaya Sosial. pada Program Pascasarjana Universitas Negeri Manado. Program Pascasarjana Universitas Samratulangi Manado.I Pelayanan Birokrasi dalam Era Otonomi Daerah Oleh : Ferdinand Kerebungu * Edisi 3 / September / 2011 * Ketua Program Studi Magister Administrasi Publik. 1 .

dengan harapan tujuan terbentuk negara ini dapat terwujud secara optimal. Perubahan arus sistem pemerintahan ini merupakan impian dari masyarakat agar dapat terlayani dengan baik. tetapi lebih ditentukan oleh tim sukses. Untuk dapat mengoptimalkan sumberdaya yang ada di daerah khususnya sumberdaya manusia. sehingga mereka tidak menguasai tugas pokok dan fungsinya. Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar tahun 1945 pada alinea keempat diamanatkan tentang tugas pemerintah antara lain adalah untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. penyelenggaraan birokrasi pelayanan publik yang dilaksanakan oleh pemerintah pada prinsipnya untuk memenuhi kebutuhan dasar dan hakhak setiap warga negara berdasarkan amanat Undang-Undang Dasar 1945. Realitas yang teralami sekarang banyak birokrat yang tidak mengutamakan pelayanan publik. maka sistem pemerintahan dan politik yang berlaku harus didasarkan pada sistem pemerintahan yang demokratis. Dalam tulisan ini dikaji tentang efektivitas pelayanan birokrasi di era otonomi daerah. Hal ini disebabkan oleh karena penempatan pejabat aselon II dan III. bukan berdasarkan pendidikan dan latihan penjenjangan kerier. dan transparan.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 i era sistem pemerintahan desentralisktik sekarang ini banyak menimbulkan persoalan pemerintahan terutama dalam birokrasi pelayanan publik. dan kebutuhan mereka D Pendahuluan 2 . Tugas ini di era orde baru belum dapat terwujud hingga ke pedalaman Negara kesatuan Republik Indonesia. Di era reformasi sekarang ini sistem pemerintahan berubah menjadi desentralistik. kapabiltas dan akuntabiltas dalam bidang kerjanya. Di era otonomi daerah saat ini. karena banyak pejabat publik yang diangkat tidak memiliki kapasitas. karena sistem pemerintahan yang bersifat sentralistik. Banyak gejolak yang terjadi di daerah sebagai perwujudan ketidak puasan masyarakat dalam pelaksanaan otonomi daerah.

Setelah dua belas tahun pelaksanaan perubahan sistem pemerintahan yaitu dari sistem pemerintahan yang sentralistik ke sistem pemerintahan desentralistik sejak ditetapkannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Nampaknya para kepala daerah sebagai top manajemen dalam organisasi pemerintahan daerah lebih disibukkan dengan bagaimana para pendukungnya masuk dalam jajaran kabinetnya. sehingga pelayanan publik tidak dapat terlaksana dengan optimal. Kondisi ini banyak dilihat di tanah air ini tentang maraknya protes yang dilakukan oleh masyarakat. maka yang menjadi permasalahan dalam penulisan ini adalah “sejauhmana efektivitas pelayanan birokrasi diera otonomi daerah”. Akibatnya kebanyakan pejabat yang menduduki jabatan aselon dua (II) hingga aselon tiga (III) adalah orang-orang yang tidak berkompeten dibidangnya. Persoalan tersebut diperparah lagi dengan kinerja para birokrat yang sangat rendah. efektif dan efisien. belum juga menunjukkan perubahan yang signifikan dalam sistem pelayanan publik yang dilaksanakan oleh para birokrat sebagai pejabat publik. Sehingga tulisan ini dapat bermanfaat untuk melakukan evaluasi pelaksanaan otonomi daerah apakah berjalan efektif sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 junto Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang otonomi daerah. Realitas yang dihadapi masyarakat di era otonomi sekarang ini seperti hanya sebuah mimpi yang sulit untuk terwujud. bahkan tujuan utama pemekaran wilayah yang marak terjadi di era otonomi daerah yaitu mendekatkan pelayanan pada masyarakat bagaikan api jauh dari panggang. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis pelaksanaan pelayanan birokrasi terhadap masyarakat di era otonomi daerah. yang tidak sesuai dengan harapan masyarakat. hingga perubahannya menjadi UndangUndang Nomor 32 tahun 2004. 3 . Berdasarkan latar belakang tersebut. seperti pelayanan cepat. kesulitan menciptakan lapangan kerja. Pelayanan birokrasi yang terjadi tidak mampu mengimbangi perkembangan tuntutan masyarakat akan pelayanan.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik dapat tercapai dengan sistem pelayanan birokrasi yang prima. Untuk meningkatkan kualitas birokrasi dalam pelayanan publik. tepat. bahkan dalam sistem pelayanan publik modern menuntut para birokrat melakukan pelayanan prima pada publik. apalagi mau menuntut kualitas. junto Undang-Undang no 12 tahun 2008.

(Sarundajang. birokrat dalam menjalankan tugasnya berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku bagi setiap pejabat publik dan menanpakan perilaku sebagai pamong yang 4 . dan memahami secara cepat kebutuhan publik yang dilayani. komunikatif. Lumingkewas dan Masengi (2008). (5) meningkatkan kesejahteraan masyarakat. mengemukakan bahwa “birokrasi pemerintahan dapat dipandang dari dua dimensi. mekanisme dan prosedur. seyogyanya di era otonomi daerah saat ini setiap penjabat publik dalam melaksanakan tugasnya sebagai administrator dan pelayan publik memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat guna mencapai cita-cita pendirian negara ini. Oleh sebab itu. Selain itu. (2) menjamin keadilan di lingkungan masyarakat. (3) melindungi kebebasan individu berdasarkan peraturan dan norma adat istiadat yang berlaku di masyarakat.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 perlu memperhatikan tentang tugas dan fungsi dari masing-masing aparatur. dan memberikan pengayoman terhadap masyarakat yang berada di wilayah kerjanya. Menyimak kelima ciri fungsi birokrasi tersebut. tidak menundanunda pekerjaan. dan yang terakhir. peraturan-peraturan baku yang berstandard dan budaya. Selanjutnya Sarundajang (2005). Banyak pengamat mengatakan bahwa birokrasi identik dengan administrasi. yaitu: (1) dimensi kelembagaan yang meliputi. Jika birokrat sebagai administrator dan pelayan publik melaksanakan tugasnya berdasarkan fungsinya sebagaimana dikemukakan oleh Sarundajang di atas. Di mana para aparatur (birokrat) dituntut untuk memiliki pengetahuan tentang unsur-unsur layanan publik yang secara tepat. kita tidak menjumpai berbagai bentuk kekecewaan masyarakat dan sebaliknya masyarakat akan concern dalam aktivitas kesehariannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. mengemukakan ada lima ciri fungsi birokrasi yaitu: (1) memenuhi tatanan internal organisasi dan keamanan eksternal organisasi. dimensi ini merujuk pada berbagai perilaku yang diperankan para birokrat dalam pelayanan publik”. Oleh karena itu birokrasi di Amerika Serikat disebut dengan Administration. Sejalan dengan pemikiran tersebut. memiliki pengetahuan luas dan ketrampilan yang baik. memiliki kejujuran dan berperilaku baik. (4) mengatur tindakan individu agar individu tidak menjadi liar. kelemahan birokrat sama dengan kelemahan administrasi pelayanan publik. dan (2) dimensi sikap dan perilaku birokrasi. seorang birokrat akan nampak kualitas layanannya terhadap publik seperti kehandalannya. 2005). responsif. Berdasarkan kedua dimensi birokrasi pemerintahan tersebut. memahami alur birokrasi layanan yang ditetapkan oleh masing-masing satuan kerja perangkat daerah (SKPD).

Sebagai seorang pelaksana tugas di lembaga pemerintahan harus dapat menjadi sebagai konseptor. dan yang selalu menjadi alasan klasik yang dilontarkan oleh staf tersebut adalah belum ditanda tangan oleh bos/atasannya karena tidak berada ditempat. Antara Harapan dan Kenyataan 1. perencana. seperti 5 . karena Walikota Manado mengganti beberapa pejabat aselon II tanpa konsultasi dengan Gubernur. hal ini dimaksudkan agar dalam melaksanakan tugas kesehariannya ia mampu menyelesaikan dalam waktu yang tidak terlalu lama. tidak lagi berdasarkan pada kapasitas atau kapabilitas para penjabat yang diangkat. memiliki ketrampilan dan menguasai perkembangan teknologi informasi. Sebagai contoh misalnya. Berdasarkan realitas yang nampak di daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi   Utara. PIM II maupun PIM III. kondisi seperti yang disebutkan di atas banyak dipengaruhi oleh sikap kepala daerah (Bupati/Walikota) terpilih yang lebih banyak mendengarkan tim sukses dibandingkan dengan mendengarkan staf atau penjabat yang berkompeten dalam bidangnya. bahkan jika diamati di lembaga-lembaga pemerintahan sering ditemui staf administrasi di kantor-kantor pemerintahan. sehingga sering banyak tugastugas yang seharusnya diselesaikan dalam waktu satu atau dua jam. Hal ini terkait dengan persoalan pelayanan kepada masyarakat. dan pelaksana. Setiap penjabat aselon dua (II) atau tiga (III) yang diangkat oleh Bupati/ Walikota.      Birokrat sebagai Administrator Seorang birokrat sebagai administrator memerlukan pengetahuan luas. dan bahkan pengangkatannya lebih ditentukan oleh tim sukses pilkada. tetapi lebih banyak digunakan permainan game. dan bahkan tidak memperhatikan pendidikan penjenjangan karier seperti diklat PIM I. demi kepentingan dan kemajuan bangsa dan negara. bisa tertunda sampai berjam-jam atau bahkan berhari-hari. yang pada gilirannya akan dapat memberikan pelayanan yang prima terhadap masyarakat. tidak menggunakan komputer untuk kepentingan tugasnya sebagai seorang administrator. informasi dan komunikasi (TIK) saat ini tidak sedikit birokrat yang tidak mampu menguasai dan menggunakan teknologi informasi secara baik. mulai sekitar bulan Juli 2011 sampai saat ini masih terjadi kesalahpahaman antara Walikota Manado dengan Gubernur Provinsi Sulawesi Utara.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik patut diteladani oleh semua pihak. dan peran Badan Pertimbangan Jabatan (Baperjakat) hanyalah bersifat formalitas. Kondisi ini yang sering membuat masyarakat bosan dengan berbagai keterlambatan dalam soal surat menyurat. Di era kemajuan teknologi.

Gaffar dan Rasyid (2003). penggantian pejabat dan pelantikannya sering dilakukan secara mendadak dan dilakukan malam hari. Banyak keluhan yang disampaikan aparatur di daerah yaitu kurangnya partisipasi masyarakat dalam berbagai program pembangunan termasuk dalam hal pembayaran pajak bumi dan bangunan (PBB).”. ketaatan dan partisipasi masyarakat tersebut akan lahir dengan sendirinya apabila mereka mendapat perlakuan yang seimbang dan kebutuhan pokoknya terpenuhi. sebab kalau tidak ikut serta dalam rombongan kunjungan kerja. Kasus pemberhentian sepihak terhadap pejabat Sekretaris Kota Manado berakhir di PTUN dan dimenangkan oleh pejabat Sekretaris Kota yang berhentikan. termasuk di dalamnya pelayanan birokrasi terhadap kepentingan masyarakat. Berdasarkan ketentuan peraturan peundang-undangan yang berlaku bahwa setiap pengangkatan pejabat aselon II harus dikonsultasikan oleh Bupati/Walikota kepada Gubernur. di Kabupaten Minahasa Selatan. banyak masalah terjadi di daerah yang tidak tertangani secara baik karena keterbatasan kewenagan pemerintah daerah . Fenomena-fenomena demikian bukan barang baru yang ditampilkan oleh setiap pejabat Bupati/Walikota di era Otonomi Daerah saat ini. sehubungan dengan tujuan pelaksanaan desentralisasi oleh Syaukani. Pelayan yang seimbang dan pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat merupakan konsekwensi dari implementasi otonomi daerah. mengemukakan bahwa  “di masa lalu. walaupun itu bukan bidangnya. bisa berdampak pada penggantian pejabat. masyarakat Indonesia pada umumnya adalah masyarakat yang taat pada pemerintahnya. Secara sosiologis dan psikologis. dan ditahan dilembaga pemasyarakatan Cipanang karena tersangkut kasus Korupsi). Pada saat ini kewenangan pemerintah daerah sudah begitu luas dalam mengembangkan potensi yang terdapat di daerahnya. Contoh arogansi pejabat kepala daerah terpilih yang demikian itulah yang menyebabkan seringkali banyak penjabat tidak berada ditempat karena harus mengikuti ke mana Bupati/Walikota berkunjung. Akibat perilaku demikian birokrasi pelayanan publik tidak berjalan optimal. Sehubungan dengan hal itu. . Sarundajang (2005) mengemukakan bahwa “Otonomi Daerah adalah hak wewenang dan kewajiban daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku”. Lain lagi peristiwa yang dilakukan oleh Walikota Tomohon Sulut yang terpilih (saat ini non aktif. .Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 penggantian Sekretaris Kota Manado. Contoh yang lain lagi. setelah dilantik oleh Mendagri langsung melantik pejabat aselon II dan III di lembaga pemasyarakatan Cipinang. 6 .

Tidak optimalnya pembayaran PBB oleh masyarakat berdampak pada rendah Pedapatan Asli Daerah (PAD). yaitu Bupati/Walikota dan seluruh aparat birokrasi yang berada di bawahnya. karena kewenangan tersebut tidak dilaksanakan secara optimal. Kelemahan dalam pelayanan dan rendahnya partisipasi masyarakat banyak dijumpai pada saat pemberian kewenangan ke daerah secara luas. Yang menjadi persoalan sekarang di daerah adalah banyak pejabat antar satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang kurang memahami tugas pokok dan fungsinya. Kondisi demikian lebih dipeparah oleh perilaku anggota DPRD yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi ketimbang kepentingan konstituennya. Perilaku Birokrasi dalam Pelayanan Publik Sebagaimana telah diutarakan pada bagian sebelumnya. gunan menutupi kekurangan dana dari PAD sebagai sumber utama APBD. dan Dana Alokasi Khusus (DAK). seyogiyanya mengutamakan pengabdiannya kepada masyarakat (Sapta Prasetya Korpri). serta didukung oleh kerjasama yang baik antar aparatur yang ada dalam membentuk tim kerja  (team work) yang solid. mengemukakan bahwa “salah satu prasyarat tercapainya team work dan konvergensi adalah adanya kejelasan tugas pokok dan fungsi masingmasing institusi pemerintahan”. karena kosentrasi pejabat yang ada lebih terfokus pada melayani Bupati/Walikota ketimbang melayani masyarakat. Kondisi demikian sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Kaloh (2002). maka tidak mengherankan banyak pejabat di daerah yang ikut jadi pengemis ke pusat untuk meminta tambahan Dana Alokasi Umum (DAU).Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Oleh sebab itu. “problematik yang dihadapi oleh birokrasi pemerintahan kita adalah 7 . yang implikasi pada kurangnya dana untuk pembangunan. sehingga dalam perencanaan pembangunan daerah banyak antar SKPD yang saling tumpang tidih program. sebagai seorang birokrat yang berada pada garis depan pelayanan publik. Kaloh (2002). Para pelaku otonomi daerah adalah mereka yang diberi kewenangan dan otoritas untuk mengelolah daerahnya. hal ini sering disebabkan oleh ego sektoral dan kurang koordinasi antar SKPD dalam penyusunan program kerja. yang banyak mempengaruhi berhasil tidaknya pelaksanaan otonomi daerah terletak pada para pelaku otonomi daerah itu sendiri. ketimbang hal-hal yang tidak berdampak pada peningkatan partisipasi masyarakat. 2. Keberhasilan pelaksanaan otonomi daerah sangat ditentukan oleh bagaimana perilaku aparatur di daerah dalam melaksanakan tugas dan fungsinya secara bertanggung jawab dan penuh pengabdian.

karena obyek wisata taman laut bunaken berada di beberapa wilayah kabupaten kota. jika Bupati/Walikota dalam menjalankan sistem pemerintahannya secara demokratis. Dalam kondisi sedemikian ini sulit membangun team work dan konvergensi”. bahwa “otonomi daerah akan menciptakan raja-raja kecil di daerah dan memindahkan korupsi ke daerah”. Raja-raja kecil dan korupsi tidak akan lahir di daerah otonom. banyak program kerja yang saling tumpang tindih karena sudah ditangani oleh beberapa SKPD. Pada suatu kesempatan saya mendampingi salah seorang teman yang sedang melakukan penelitian tentang Privatisasi Kebijakan Publik tentang obyek wisata taman laut Bunaken. Dampak dari perilaku demikian. Sebagai contoh kasus misalnya penanganan beberapa obyek wisata yang terrdapat di Propinsi Sulawesi Utara. jawabannya adalah pemerintah Provinsi. Di Provinsi Sulawesi Utara tidak sedikit pejabat yang terlibat kasus manipulasi dan korupsi sehingga mereka berurusan dengan pihak berwajib dan bahkan sudah banyak yang masuk lembaga pemasyarakatan. seperti Taman Laut Bunaken. agar supaya dipandang lebih piawai dalam menyusun program. sehingga tujuan terbentuknya daerah otonom yaitu mendekatkan pelayanan pada publik dan peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat terwujud. Saling lempar tanggung jawab. kami mendapat jawaban bahwa yang bertanggung jawab adalah pemerintah kota manado. mampu berkoodinasi antar SKPD. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Syaukani. sehingga dalam satu daerah otonom akan mengalami kesulitan untuk membentuk tim kerja yang solid. begitu sebaliknya waktu ditanyakan pada dinas pariwisata kota manado. kami menanyakan pada dinas pariwisata Provinsi Sulawesi Utara tentang siapa yang bertanggung jawab dalam pengelolaan obyek wisata taman laut Bunaken. Sebab sistem pemerintahan demokratis memberikan peluang bagi masyarakat untuk mengontrol 8 . yang tidak mengutamakan pelayanan tapi hanya lebih mempertontonkan kebolehannya dihadapan atasannya (Bupati/Walokota). Gaffar dan Rasyid (2003). Perilaku ego sektoral sering ditampilkan oleh para pejabat publik. akan tetapi tidak memperhatikan tupoksinya.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 seringkali sesuatu urusan ditangani oleh banyak instansi sehingga muncul masalah. Dalam proses pengumpulan data. sulit untuk melacak sumber permasalahan. dan obyek wisata religi Bukit kasih di Kanonang Minahasa. Perilaku saling lempar tangung jawab seperti contoh kasus tersebut memberikan gambaran tentang kinerja aparatur dalam pelayanan publik. tumpang tindih program merupakan celah yang terbuka untuk terjadi manipulasi dan korupsi.

termasuk diantaranya sumberdaya manusia secara berdaya guna dan berhasil guna. maka tujuan utama utama pembentukan otonomi daerah dapat terealisasi. Dalam sistem pemerintahan daerah yang bersifat desentaristik seperti sekarang ini. untuk dapat mengoptimalkan dan memberdayakan segala sumberdaya yang ada di daerahnya. Penutup Pelaksanaan otonomi daerah pada prinsipnya adalah percepatan pertumbuhan dan pembangunan daerah. Tidak terjadi tumpang tindih program pembangunan dan tidak membuka ruang bagi koruptor akan berdampak positif bagi kemajuan masyarakat. Untuk mencapai hal tersebut. transparan dan akuntabel. yang pada gilirannya birokrasi pelayanan publik akan berjalan secara optimal. dan pihak pemerintah lebih terbuka dalam hal penyusunan program (Musrembang sesuai undang-undang 32 tahun 2004) dan penggunaan anggaran publik benar-benar untuk kepentingan publik.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik jalannya pemerintahan. 9 . tanggung jawab lebih bertumpuh pada kepala daerah yaitu Bupati/Walikota. serta mendekatkan pelayanan pemerintahan pada masyarakat di daerah. seorang kepala daerah dalam menjalankan roda pemerintahannya harus bersifat demokratis.

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik

Edisi 3 / September / 2011

 Daftar Pustaka Kaloh, J., 2002, Mencari Bentuk Otonomi Daerah, suatu solusi dalam menjawab kebutuhan local dan tantangan global, Rineka Cipta, Jakarta.  Lumingkewas, Lexie A., dan Evi E. Masengi, 2008, Reformasi Birokrasi Pemerintahan, dalam perspektif pelayanan publik, Wineka Media, Malang.   Sarundajang, S.H., 2005, Arus Balik Kekuasaan Pusat ke Daerah, Kata Hasta, Jakarta.  . . . . . ., 2005, Birokrasi Dalam Otonomi Daerah, uapaya mengatasi kegagalan, Kata Hasta, Jakarta.   Syaukani, Afan Gaffar, dan M. Ryaas Rayid, 2003, Otonomi Daerah, dalam negara kesatuan, kerjasama Pustaka Pelajar dan Pusat Kajian Etika Politik dan Pemerintahan, Jakarta.

10

Edisi 3 / September / 2011

II
Pelayanan Birokrasi Papua dalam Era Otonomi Khusus
Oleh : Oleh Habel M. Suwae 1, Heru Nugroho 2, Djoko Suryo 3 Habel M. Suwae, mahasiswa Program Doktor Kajian Budaya dan Media Sekolah Pascasarjana UGM, dan Bupati Kabupaten Jayapura Provinsi Papua.
1 2 3

Heru Nugroho, Guru Besar Sosiologi Fisipol UGM

Djoko Suryo, Guru Besar Sejarah FIB Universitas Gadjah Mada

11

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik

Edisi 3 / September / 2011

S

Pendahuluan ebagaimana diketahui, melalui Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001

tentang Otonomi Khusus,

Papua telah diberi kewenangan untuk mengatur pemerintahan sendiri berdasarkan peraturan perundangan. Dengan Otsus para elite politik di Papua kebanyakan memilih bersikap terbuka terhadap masuknya para investor, baik dari dalam dan luar negeri untuk tujuan mengembangkan Papua lebih maju. UU Otsus itu pun memang dengan eksplisit menyebutkan bahwa Papua dikategorikan sebagai daerah tertinggal jika dibandingkan dengan wilayah Indonesia Tengah dan apalagi wilayah Indonesia Barat.
Pilihan strategis politik pembangunan seperti itu membawa konsekuensi daerah ini terus berkembang baik secara politik, ekonomi, maupun kebudayaan. Dalam bidang politik, proses demokrasi terus bergulir tercermin

dalam proses Pemilu Kepala Daerah secara langsung. Lebih dari itu melalui prinsip demokrasi politik, terus dipakai dalam untuk mengubah paradigma pembangunan yang lebih partisipatif. Maka di beberapa wilayah Papua, terutama Kabupaten Jayapuran telah menerapkan model pembangunan partisipatif dalam upaya memberdayakan masyarakat. Di Kabupaten Jayapura telah meluncurkan program pembangunan yang diberi nama “Program Pemberdayaan Distrik dan Kapung”, atau yang lebih populer dengan singkatan PPDK.1 Konsep dan paradigma pembangunan ini diluncurkan sebagai respons atas semakin meningkatnya kecenderungan pola pembangunan sentralistik yang lebih menggunakan pendekatan dari atas-bawah (topdown approach). Berbagai program pembangunan pada saat itu lebih banyak prakarsa datang dari pemerintah, sementara prakarsa dari masyarakat kurang terakomodasi dalam proses perencanaan pembangunan. Partisipasi pun kemudian dipahami menurut tafsir tunggal pemerintah, yaitu yang dimaknai seberapa jauh masyarakat melaksanakan program pembangunan yang dirancang dari atas, dari yang telah ditetapkan oleh
1 Urain lebih lengkap terdapat dalam Poli dan Dahlan Abubakar, 2008, Suara Hati yang Memberdayakan: Gagasan Pemberdayaan Masyarakat di Kabupaten Jayapura, Makasar: Identitas.

12

Apakah bias primordialisme seperti baik buruknya pelayanan birokrasi disebabkan oleh faktor kesamaan etnis. Mereka itu saling berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain dengan masing-masing menunjukkan indentitasnya. prinsip pembangunan partisipatif tersebut dilaksanakan secara komprehensif dengan sasaran utama adalah menjadikan warga sebagai subyek pembangunan.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik pemerintah. dan kekerabatan. Di samping itu juga terdapat masyarakat pendatang yang datang dari berbagai daerah dan memiliki latar belakang etnis. keberagaman dipandang sebagai potensi integrasi. Papua menjadi wilayah yang terbuka bagi masuknya berbagai aktivitas baik ekonomi. serta semuanya membangun identitasnya masingmasing. Masyarakat lokal adalah sejumlah warga yang sudah cukup lama berdomisili pada lokasi tertentu yang mengembangkan kultur atau pandangan hidup bersama (common way of living) yang lama-lama menjadi identitas. bukan sebagai faktor yang memecah belah. Dengan kata lain. dan masing-masing memiliki identitasnya sendiri. Bersamaan dengan itu. 13 . pertanyaan menarik adalah bagaimana pelayanan birokrasi pemerintah Papua dalam era Otonomi Khusus sekarang ini. Masyarakat Papu kemudian berkembang menjadi masyarakat yang plural. atau berkembang menjadi birokrasi modern yang mengutamakan profesionalisme dan merit system. masyarakat lokal ini mewujud dalam komunitas berbasis etnis yang tersebar di berbagai wilayah baik di pantai dan daratan maupun di pegunungan. sehingga mandiri. maupun sosialbudaya yang dibawa oleh arus modernisasi. Melalui PPKD. Dengan PPKD. Oleh karena itu multikulturalisme menjadi pilihan utama dalam mengkonstruksi identitas kolektif yang bernama Papua. dan kultur yang beragam. Dinamika interaksi sosial itu kemudian membawa implikasi pada dua kemungkinan. Persinggungan dengan dunia luar membuat masyarakat Papua berelasi dengan berbagai budaya dan kepentingan lain yang terus melakukan interaksi secara intens. keberagaman itu justru dijadikan sebagai modal pembangunan dengan mendorong ke arah tujuan bersama yaitu peningkatan kesejahteraan berbasis kemandirian dan keberdayaan. agama. agama. yaitu menuju proses integrasi atau konflik. dan mereka itu juga mempunyai identitas masingmasing. Di Papua. politik. Secara konkret sasaran PPKD adalah warga masyarakat lokal dan masyarakat pendatang. Berangkat dari realitas masyarakat Papua yang berkembang semakin plural.

14 . atas inisiatif Presiden Abdurrahman Wahid atau yang akrab disebut Gus Dur Irian Jaya diubah menjadi Papua. setelah mendapatkan kembali nama Papua yang diakui secara resmi oleh pemerintah pusat.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi Primordial Pada era reformasi. Kepapuaan cenderung berhenti sebagai identitas yang dihayati secara “etnosentris” dan emosional. penamaan (naming) memiliki signifikansi tinggi terhadap tumbuhnya kepercayaan diri dan pengakuan eksistensial dari dunia luar tentang Papua. maka setelah kembali bernama Papua. seperti terlahir kembali. Struktur-struktur masyarakat Papua yang terdiri dari kurang lebih 250 suku bangsa bersifat otonom satu sama lain. (Jakarta-Leiden: LIPI-RUL). dan setiap suku memiliki kosmologi yang memandang dirinya sebagai pusat dari semesta. pada kurun 1998-1999. Perasaan satu identitas ini disatukan oleh memori penderitaan kolektif dan kongruensi aspirasi yang bersumber dari mitologi sebagian besar suku bangsa masing-masing tentang milenium baru dan mesianisme. Interaksi yang terbatas di masa lalu belum memungkinkan tumbuhnya kesadaran budaya yang relativistik dan toleran. Di dalam kenyataannya budaya semacam ini sulit tumbuh suatu kepemimpinan yang diakui oleh semua kelompok suku bangsa. tidak tunduk pada yang lain. Setiap kelompok suku secara kultural mandiri dan unik. sementara 2 Bandingkan dengan studi yang sudah dilakukan oleh Johszua Mansoben. Oleh karena itu etnosentrisme menjadi persoalan dasar di dalam konsolidasi rakyat Papua. bagi rakyat Papua asli merupakan momen yang luar biasa dan berkaitan dengan usaha mencari identitas. Konstruksi identitas kepapuan yang selama ini lebih dibentuk oleh narasi-narasi dominan. Sistem Politik Tradisional di Irian Jaya. Kongruensi aspirasi dan identitas kepapuaan baru pada tahap yang sangat dini. Perubahan nama dari Irian Jaya menjadi Papua. terbuka ruang bagi warga Papua untuk mengeskspresikan diri identitas kepapuannya. Pada era reformasi penggunaan nama Papua menjadi penanda bagi aspirasi bersama itu. sebagian ada yang melihatnya secara konservatif dengan latar belakang etnis sebagai basis konstruksi identitas. Bagi sebagian besar warga Papua. Berkembang perasaan di kalangan warga Papua. Mereka menganggap bahwa orang Papua adalah orang Papua asli. Setiap kepala suku atau pemimpin lokal tidak memiliki otoritas yang penuh kecuali sebagai juru bicara masyarakatnya. Sejak itu kepapuaan kembali dihidupkan sebagai identitas alternatif dari identitas “Irian Jaya” yang telah identik dengan “Indonesia” beserta penindasan dan praktik kolonialismenya.2 Masyarakat Papua sendiri dalam mengkonstruksi identitas kepapuannya.

di jajaran birokrasi akan timbul masalah pertukaran antara loyalitas dan pemberian ganjaran. Birokrasi semacam itu dikenal sebagai birokrasi primordial (Kartodirdjo. Perilaku birokrasi seperti itu sangat terlihat pada era Orde Baru.3 Apakah pemahaman yang bias etnosentrisme itu mempunyai implikasi terhadap pelayanan birokrasi? Dalam banyak kasus sedikit-banyak memang memiliki dampak terhadap ketidaknetralan birokrasi dalam memberikan pelayanan terhadap publik. Dampak ikutan atas situasi itu merembes ke praktik penyimpangan kekuasaan. aparat birokrasi di negaranegara berkembang birokrasi sering menunjukkan diri sebagai mesin politik yang tidak netral. di mana tidak jarang perilaku birokrasi menyerupai interaksi yang bersifat transaksional. Oleh karena itu. Jadi. Meskipun sebagai birokrasi ia memiliki struktur yang serupa dengan yang ditemui di negaranegara industri maju. yang lepas dari konstitusi. Fenomena etnosentrisme ini semakin mengental ketika sejumlah elite politik menafsir Otonomi Khusus (Otsus) juga dari perspektif esensialisme yang berakar pada geneologis. atau pun peraturan-peraturan. birokrasi seringkali merupakan bagian dari dominasi politik oleh suatu suku. Walikota dan Wakili Walikota harus orang Papua asli. 1989). atau agama. Secara teoretik pemahaman seperti itu sering disebut sebagai birokrasi yang tidak netral. Dalam konteks birokrasi di 15 . Ada anggapan bahwa berlainan dengan di negara-negara maju. diterbitkan Peraturan Pemerintah Daerah Otonomi Khusus yang merupakan keputusan politik melalui mekanisme pembahasan di DPRD Papua yang menetapkan bahwa Gubernur dan Wakil Gubernur. Dalam birokrasi ini. Mesin politik itu kadang mencerminkan nilai-nilai serta norma-norma yang kurang rasional. perundang-undangan. Yang loyal kepada patron diberi sumber ekonomi dan status sosial. senantiasa penuh muatan politik. dan tidak mungkin netral (King. Bupati dan Wakil Bupati. terdapat harga yang harus dikeluarkan oleh seseorang ketika berurusan dengan birokrasi. atau kelompok-kelompok primordial lainnya. tidak obyektif. 1988).Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik penduduk yang datang dari luar etnis Papua dianggap sebagai nonPapua. Dalam hubungan semacam itu. dalam politik lokal sekarang elite politik lokal menghendaki adanya Gubernur dan Wakil Gubernur serta Bupati dan Wakil Bupati harus orang Papua asli. Artinya. 1980). hubungan-hubungan yang ada secara interen dan eksteren adalh hubungan antara patron dengan klien yang bersifat sangat pribadi dank has. daerah. namun isinya dan perilakunya secara kental diwarnai oleh kaitan primordialnya (Kuntjoro-Jakti. dan sebaliknya yang tidak loyal akan dibatasi sumber ekonomi dan karirnya. dan 3 Sejak tahun 2009.

Karena itu seperti di daerah lain. dalam menerapkan kebijakan pada sektor birokrasi pemerintahan. Sedangkan etnis Jawa banyak bergerak pada sektor informal dan pertanian. Pemkab Jayapura. 2009. Menado. Bukan sebaliknya. dalam arti penunjukan pejabat eselon berdasarkan profesionalisme. di mana aparat birokrasi yang fungsi utamanya 5 Profil Kabupaten Jayapura. sekarang telah menjadi identitas baru warga Kabupaten Jayapura. Bali. Pemkab Jayapura selama ini juga menghindari prinsip geneologis dan etnosentrisme. Batak. di Papua sektor perdagangan banyak dikuasai oleh etnis Tionghoa dan Bugis Makasar. dan bukan atas dasar sentimen etnis. Di Papua jabatan seperti Sekretaris Daerah. memang ada juga kecenderungan aparat birokrasi yang dalam memberikan pelayanan masih berkarakter sebagaimana yang ditunjukkan birokrasi primordial. maka birokrasi pemerintah Papua terus berusaha menuju ke arah profesionalisme dan merit sistem. kakao misalnya. Meskipun demikian warga Papua asli kemudian mulai masuk ke dalam berbagai sektor strategis tersebut. Bugis. Akan tetapi. dalam arti mengikuti hukum pasar. dalam menjalankan pelayanan publik. ibit. dan lain-lain. Kepala Dinas.5 Semua itu menunjukan bahwa dalam menjalankan pelayanan publik. birokrasi pemerintah Papua berusaha menerapkan prinsip multikulturalisme. bahwa setiap warga masyarakat adalah ibarat raja yang harus dilayani. Di sektor pertanian. Sebagai ilustrasi. Eselonisasi dalam jajaran birokrasi sama sekali tidak mempertimbangkan putra daerah. banyak dijabat oleh pegawai yang berasal dari berbagai daeah seperti Jawa. sehingga membentuk identitas baru yang mengaburkan stigma sosial. Orientasi terhadap pelayanan publik ini juga ditegaskan pada komitmen pemerintah Kabupaten Papua. yang sekarang sangat populer sebagai identitas warga Jayapura. karena fakta menunjukkan bahwa Papua berkembang sebagai masyarakat plural. karena baik etnis Jawa maupun penduduk asli telah menjadi subyek dalam budidaya tanaman kakao. Meskipun demikian. Merit sistem benar-benar diterapkan. sama sekali tidak menerapkan kebijakan yang mengarah pada segregasi sosial. dan bersamaan dengan itu arus demokratisasi juga terus berlangsung. seperti orang Papua tertinggal dan tidak transformatif. Sambutan Bupati Kabupaten Jayapura.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Papua sekarang. 2009. Semuanya dibiarkan tumbuh secara natural. dan pimpinan proyek strategis. 16 . ekonomi. birokrasi Papua sangat mempertimbangkan kepentingan publik yang semakin plural.4 Sedangkan dalam bidang sosial4 Dikutip dari Profil Kabupaten Jayapura.

Minang. telah menerapkan model pembangunan partisipatif dalam 6 Dikutip dari Kabupaten Jayapura dalam Angka. Pendekatan pembangunan yang top-down tidak mampu menggerakkan sikap-sikap aktif pada masyarakat sendiri untuk berkreasi dalam pembangunan. seperti Kristen-Protestan. upaya memberdayakan masyarakat. dan Batak. Masyarakat Papua sekarang telah berkembang menjadi masyarakat yang plural. masyarakat Papua juga bersifat beragam.6 Sementara itu dilihat dari latar belakang sosial ekonomi. bahwa pembangunan belum dianggap berhasil manakala dalam proses pelaksanaannya belum dapat membangkitkan sikap partisipatif pada masyarakat. 2009. Di Kabupaten Jayapura telah meluncurkan program pembangunan yang diberi nama “Program Pemberdayaan Distrik dan Kapung”. Islam. yaitu yang dimaknai seberapa jauh masyarakat melaksanakan program pembangunan yang dirancang dari atas. dari yang telah ditetapkan oleh pemerintah. masyarakat Papua terdiri atas suku Jawa. sehingga masyarakat sendiri yang akahirnya mampu secara mandiri melanjutkan 17 . Khatolik. Badan Pusat Statistik Kabupaten Jayapura. dan ada juga Hindu.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik adalah melayani masyarakat justru minta dilayani. atau yang lebih populer dengan singkatan PPDK. Berbagai program pembangunan pada saat itu lebih banyak prakarsa datang dari pemerintah. masyarakat Papua juga terdiri dari berbagai macam agama. Dilihat dari keragaman latar belakang etnis. Sementaran dalam teori pembangunan menjelaskan. agar terlibat dalam proses pembangunan mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan. dan latar belakang sosial ekonomi. Maluku. agama. Partisipasi pun kemudian dipahami menurut tafsir tunggal pemerintah. Pemkab Papua juga membuka kotak aduan bagi warga masyarakat yang tidak mendapatkan pelayanan baik dari jajaran aparat birokrasi. Bugis. Konsep dan paradigma pembangunan ini diluncurkan sebagai respons atas semakin meningkatnya kecenderungan pola pembangunan sentralistik yang lebih menggunakan pendekatan dari atas-bawah (topdown approach). dan distribusi hasil. Begitulah. Kabupaten Jayapuran misalnya. Dari aspek keagamaan. baik dilihat dari latar belakang etnis. Dorong Partisipasi Publik Birokrasi pemerintah Papua juga terus mendorong partisipasi publik. sementara prakarsa dari masyarakat kurang terakomodasi dalam proses perencanaan pembangunan. pilihan birokrasi profesional dan berdasarkan merit sistem itu sesuai dengan realitas empirik masyarakat Papua yang cenderung semakin plural.

dan masing-masing memiliki identitasnya sendiri. Masyarakat Papua kemudian berkembang menjadi masyarakat yang plural. birokrasi pemerintah juga terus mendorong partisipasi publik dalam proses pembangunan menuju pemerintahan yang transparan dan akuntabel. sehingga mandiri. Masyarakat lokal adalah sejumlah warga yang sudah cukup lama berdomisili pada lokasi tertentu yang mengembangkan kultur atau pandangan hidup bersama (common way of living) yang lama-lama menjadi identitas. Pada awalnya memang terdapat kecenderungan bahwa pemberian kewenangan pengelolaan politik oleh pemerintah pusat dalam bentuk Otsus. Bersamaan dengan itu. keberagaman itu justru dijadikan sebagai modal pembangunan dengan mendorong ke arah tujuan bersama yaitu peningkatan kesejahteraan berbasis kemandirian dan keberdayaan. Karakter masyarakat Papua sendiri yang terbuka dan semakin plural. agama. dan mereka itu juga mempunyai identitas masingmasing. Mereka itu saling berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain dengan masing-masing menunjukkan indentitasnya. Melalui PPKD. dan pelayanan pun ada kecenderungan bias etnosentrisme. masyarakat lokal ini mewujud dalam komunitas berbasis etnis yang tersebar di berbagai wilayah baik di pantai dan daratan maupun di pegunungan. sistem rekreuitmen. Dinamika interaksi sosial itu kemudian membawa implikasi pada dua kemungkinan. Secara konkret sasaran PPKD adalah warga masyarakat lokal dan masyarakat pendatang. menjadi pertimbangan utama mengedepankan birokrasi rasional. Birokrasi pun kemudian menunjukkan karakter birokrasi primordial. Di samping itu juga terdapat masyarakat pendatang yang datang dari berbagai daerah dan memiliki latar belakang etnis. birokrasi pemerintah Papua berkembang ke arah yang lebih menunjukkan karakter birokrasi profesional dengan menerapkan merit sistem. dan kultur yang beragam. prinsip pembangunan partisipatif tersebut dilaksanakan secara komprehensif dengan sasaran utama adalah menjadikan warga sebagai subyek pembangunan. Penutup Begitulah. yang lebih mengutamakan efisiensi dan profesionalisme. sehingga personil.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 usaha pembangunan. Dengan PPKD. Akan tetapi dalam perkembangan lebih lanjut. pelayanan birokrasi pemerintah Papua dalam era Otonomi Khsusus berkembang secara dinamik. Di Papua. yaitu menuju proses integrasi atau konflik. disikapi oleh sebagian warga Papua secara primordialistik. serta semuanya membangun identitasnya masingmasing. 18 .

Muhadam Labolo * Edisi 3 / September / 2011 * Dosen tetap pada Pasca Sarjana Institut Pemerintahan Dalam Negeri Cilandak dan Unlam Banjarmasin Jurusan Ilmu Pemerintahan.com 19 .Foto : Antara III Reformasi Birokrasi dan Implementasi Good Governance Oleh : Dr. Direktur Eksekutif Pusat Kajian Strategik Pemerintahan. Email: muhadamlabolo@yahoo.

dimana 124 pemerintah daerah cenderung memperlihatkan gejala kebangkrutan. Sistem berkaitan dengan hubungan antar unsur atau elemen yang saling mempengaruhi dan berkaitan membentuk suatu totalitas. perhelatan tersebut tak jelas melahirkan kepemimpinan pemerintahan yang handal. tutup-lubang. Ironisnya. Sedangkan perubahan struktur mencakup mekanisme dan prosedur. serta dampak yang ditimbulkan terhadap birokrasi mengakibatkan pemerintah kelimpungan dalam menutup defisit 20 . pertama. Struktur berhubungan dengan tatanan yang tersusun secara teratur dan sistematis. Perubahan pada satu elemen kiranya dapat mempengaruhi unsur lain dalam sistem itu sendiri. disamping membesarnya struktur birokrasi pemerintahan. organisasi dan lingkungannya dalam kerangka pencapaian tujuan efisiensi penyelenggaraan birokrasi pemerintahan. Ini berarti. Kegagalan birokrasi dalam melayani masyarakat selama ini sekaligus menggambarkan buruknya penyelenggaraan pemerintahan baik di level pemerintah pusat maupun daerah. Kabupaten Lumajang menjadi contoh nyata dimana belanja aparatur membengkak hingga mencapai 83% dari total APBD. lebih kurang 2% pegawai kemungkinan menikmati belanja aparatur. Perubahan tersebut meliputi keseluruhan aspek yang memungkinkan birokrasi memiliki kemampuan yang memadai dalam melaksanakan tugas dan fungsi pokoknya. sarana dan prasarana. sisanya sebesar 17% diperebutkan oleh 98% masyarakat dalam bentuk alokasi belanja modal/pembangunan. Peningkatan belanja aparatur dapat dilihat dari hasil evaluasi FITRA (2011). Bertambahnya pegawai hasil rekrutmen tanpa kompetensi yang jelas serta kebiasaan mengembangkan struktur organisasi membuat pemerintah pusat maupun daerah mengalami defisit anggaran layaknya gali-lubang.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Pendahuluan R eformasi birokrasi merupakan upaya penataan mendasar yang diharapkan dapat berdampak pada perubahan sistem dan struktur. membengkaknya ongkos demokrasi (pemilukada) mengakibatkan beban kas pemerintah daerah khususnya mengalami peningkatan signifikan. meningkatnya belanja aparatur disebabkan oleh bertambahnya rekrutmen pegawai tanpa pengendalian yang jelas. Besarnya anggaran pemilukada. Urgensi reformasi birokrasi di Indonesia setidaknya di dorong oleh sejumlah catatan penting. sumber daya manusia. Kedua.

tingginya gairah penggemukan organisasi birokrasi pemerintahan tanpa perencanaan dan analisis yang jelas memicu pembiayaan dan rekrutmen pegawai dalam jumlah tak sedikit. bahkan tak terkontrol akibat tingginya beban organisasi. karakteristik pemerintahan yang baik. serta bagaimanakah desain reformasi birokrasi yang mesti dilakukan dalam meminimalisasi meluasnya masalah yang dihadapi? Tulisan singkat ini akan mendeskripsikan tentang makna birokrasi dan good governance. enggan berubah. Disisi lain rendahnya pendapatan asli daerah menciptakan ketergantungan pada pemerintah pusat. sementara belanja pemerintah daerah jauh dari efisiensi. birokrasi di daerah mengalami overload. khususnya daerah di luar pulau Jawa. apakah tantangan yang dihadapi. Keseluruhan catatan negatif tersebut di dukung pula oleh perilaku buruk birokrasi dalam pelayanan masyarakat seperti sikap yang lamban dan reaktif. Lebih dari itu birokrasi mengalami dilemma loyalitas akibat terpecahnya konsentrasi pada setiap pesta pemilukada. meluasnya perilaku koruptif mendorong birokrasi kehilangan kepercayaan sebagai pelayan masyarakat. namun fundamental. Konsep ini diharapkan mampu menjembatani suatu kondisi pemerintahan yang buruk (bad government) kearah terbentuknya pemerintah yang baik (good government). atau bahkan kekurangan. lemahnya pengawasan mengakibatkan pemerintah cenderung bertindak konsumtif. Bagaimanapun juga. nepotisme. Perubahan tersebut diharapkan tidak saja bersifat incremental semata. Cakupan tulisan ini juga akan menyentuh reformasi birokrasi pemerintahan baik pusat maupun daerah. Keempat. Ketiga. serta kurang berorientasi pada kepentingan masyarakat. sewenang-wenang dan tak transparan. bagaimanakah sebaiknya reformasi birokrasi dilakukan. bekerja secara naluriah (insting). boros. masalah dan tantangan yang dihadapi dalam upaya reformasi birokrasi.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik anggaran. Kelima. Hal itu disadari bahwa upaya reformasi birokrasi merupakan bagian dari grand desain penciptaan tata pemerintahan yang baik (good governance). sekalipun pada akhirnya lebih menampilkan potret masalah birokrasi di level pemerintah daerah. 21 . serta upaya strategis reformasi birokrasi dan implementasi tata kelola pemerintahan yang baik. kita semua paham bahwa reformasi birokrasi di level pemerintah daerah merupakan bagian dari kebijakan reformasi birokrasi secara nasional. berbelit-belit. Akibatnya. arogan. boros. Masalahnya. Tentu saja birokrasi pemerintahan sebagai instrument pelaksana menjadi fokus utama yang mesti diperbaiki melalui kebijakan reformasi birokrasi.

New York. Istilah ini dimunculkan kembali oleh filosof Perancis. R. Statement ini setidaknya sejalan dengan pikiran Gornay dan Laski (1930). 1 Martin Albrow dalam Donald P. 3 Laski. Cracy (kratos) sendiri menunjukkan arti kekuasaan atau aturan. 1962. Sekalipun banyak demikian. Baron de Grimm atas catatan Vincent de Gournay2. atau burocratie (Jerman). Political Parties.74-75. Makna bureau (baca:biro) identik dengan kenyataan dalam birokrasi. Ensiklopedi Ilmu-Ilmu Sosial. 2000. represif.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dan Good Governance Konsep birokrasi sendiri lazim merujuk pada gagasan Maximilliam Weber (1864-1920). Dua contoh lain hasil asimilasi yang sebangun dengan kata itu misalnya konsep demokrasi dan oligarkhi. Theory of Public Bureucracy. koruptif dan nepotism. Pada tingkat pragmatis. burocrazia (Italia) dan bureaucatie (Perancis). dimana struktur di bentuk lebih banyak menyelesaikan pekerjaan di atas meja. birokrasi berasal dari kata bureaucracy (Inggris). 22 . Secara etimologis. Sinisme atas gejala tersebut melahirkan istilah bureaumania. volume 3. kolutif. Demikian pula apabila sumber kekuasaan tersebut dikendalikan oleh sekelompok rakyat pintar (profesional) dikenal dengan istilah oligarkhi. Ini bisa dimaklumi. atau bahkan proses dan sumber dari semua aturan dalam hubungan antara yang memerintah dan yang diperintah. 2 Adam Kuper dan Jessica Kuper. oportunis. H. pelayanan urusan yang lebih rinci pastilah berhubungan dengan apa yang lazim kita sebut dengan birokrasi. Jakarta. lewat kalimat provokatif Michel (1962)4 menyatakan bahwa siapa yang bicara tentang organisasi. Raja Grafindo. Albrow1 mengembangkan konsep birokrasi dari berbagai sudut pandang. Logikanya. Bahkan.Warwick. Harvard Universty Press. jika urusan diselesaikan di bawah meja mungkin saja bertentangan dengan makna etimologisnya. eksploitatif. sebab secara historis. yang berarti meja atau kantor. sebab pemerintahlah yang paling mungkin memiliki kekuasaan membuat aturan. yang kemudian mendefenisikan birokrasi sebagai suatu sistem pemerintahan dimana kontrol sepenuhnya berada di tangan para pejabat yang sampai pada batas tertentu dapat menunda atau mengurangi kemerdekaan warga negara biasa3. Apabila sumber kekuasaan berasal dari rakyat banyak lazim disebut demokrasi. Dalam padanan lain seringkali dihubungkan dengan istilah pemerintahan (proses). Cambridge Massachussets. Pejabatnya biasa duduk di belakang meja. boros. dalam Encyclopaedia of the Social Sciences. 4 Michaels. Bureaucracy. hal. birokrasi traditional di Perancis (abad 18) menampilkan wajah demikian. New York dan London. Semua masalah relatif diselesaikan di atas meja. pastilah bicara tentang oligarkhi.

struktur organisasi pemerintah daerah misalnya menggunakan istilah kantor untuk membedakan unit tersebut dengan dinas dan badan. formalitas. baik pada instansi militer maupun sipil. kita banyak menemukan istilah biro pada struktur organisasi. 23 . Dalam konteks Indonesia. Karakteristik tersebut membentuk birokrasi sebagai alat untuk mencapai tujuan kolektif. Di Indonesia. profesional. Sebaliknya. dalam makna konkrit adalah organisasi yang memiliki rantai komando berbentuk piramidal. Demikian pula kantor pada organisasi swasta. Sejauh ini. 2010. Di level provinsi. untuk membedakan secara teknis. Membedah Hukum Progresif. tugas. seperti kantor wilayah (kanwil) dan kantor departemen (kandep). biro pemerintahan. biro umum dan sebagainya. Bahkan. Karakteristik dimaksud antara lain adanya suatu jabatan. Ia membawahi sejumlah bagian dan subbagian pada level paling rendah. kantor menjadi instrument pemerintah pusat di daerah. Jakarta. 5 Satjipto Rahardjo. instrument pemerintah pusat dapat menjangkau hingga ke level pemerintahan paling rendah (dekonsentratif). Kompas. realitas pelayanan justru menjadi lebih efisien dan efektif jika tanpa melalui meja birokrasi yang terkadang berbelitbelit dan menguras energi. Semakin ke puncak semakin langka pemegang kekuasaan. kecakapan dan senioritas. merujuk pada hampir semua bentuk organisasi baik sipil maupun militer. Pada pemerintahan yang bersifat sentralistik. lengkap dengan sistem dan peralatannya. wewenang. Mungkin inilah yang di sebut Rahardjo (2010)5 sebagai pendekatan hukum progresif dalam pelayanan birokrasi menurut perspektif hukum. Sebagai contoh. Pengertian kedua (kantor). birokrasi adalah organisasi rasional dengan segenap karakteristik yang melekat didalamnya. Birokrasi. sebab ia mengokohkan kepemimpinan dengan wewenang yang lebih luas. seorang pejabat memiliki meja dengan ukuran biro atau setengah biro. Kita sering menyebut kantor pada hampir semua organisasi yang secara fisual terlihat melalui bangunan megah. disiplin. biro organisasi. sistem. hierarkhi. terdapat jabatan biro yang dipimpin oleh seorang kepala biro setingkat eselon dua.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Secara fungsional. misalnya meja ukuran bagian atau setengah bagian. Secara faktual. biro hukum. di level organisasi provinsi dan pusat misalnya. pemerintahan yang bernuansa demokratik biasanya meletakkan kontrol pada level pemerintahan tertentu yang untuk selanjutnya melakukan pengawasan secara berjenjang (desentralistik). Kantor menjadi unit paling kecil ukurannya sebelum menanjak menjadi Badan atau Dinas. tak ada istilah lain untuk ukuran meja selain biro. Dalam perspektif Weber. dimana lebih banyak orang berada di tingkat bawah daripada tingkat atas.

Birokrasi pada akhirnya dapat dipandang sebagai cerminan dari pelembagaan kekuasaan yang mengalir deras dari tingkat atas hingga bawah. sebagian besar tersisa menjadi lautan luas. Kekuasaan dalam konteks ini mengalami formalisasi yang dirinci dan dipertanggungjawabkan secara 24 . seorang presiden hasil pilihan rakyat memiliki kekuasaan luas. Tekanan konflik dan sejumlah motivasi tertentu mendorong terbentuknya representasi pemegang kekuasaan. Siklus air hujan secara sederhana dapat kita persamakan dengan siklus kekuasaan. Pada level gubernur. apakah terserap oleh akar pohon atau terkumpul pada wadah perbukitan yang mengalir melalui sungaisungai besar dan kecil menuju laut. semakin ke bawah semakin banyak pegawai. Para pemegang kekuasaan (pemerintah) baik diyakini merupakan representasi dari kedaulatan Tuhan (teokrasi) atau hasil pilihan masyarakat (demokrasi) secara konkrit membentuk organisasi pemerintahan yang untuk selanjutnya mengalirkannya dalam bentuk struktur-struktur formal birokrasi dari tingkat pusat hingga level pemerintahan paling rendah. lalu dilembagakan dalam struktur formal seperti biro pemerintahan. Bupati/Walikota. Dari aspek ini birokrasi secara praktis merupakan instrument/alat dari kekuasaan untuk mencapai tujuan pemimpin maupun tujuan bersama yang diemban oleh pemimpin dimaksud. Ia dimulai dari suatu kekuasaan yang maha besar. Lurah hingga Kepala Desa. Kekuasaan tersebut pada akhirnya habis terbagi dalam bentuk spesialisasi dan struktur yang lebih kecil. Kekuasaan lahir dari rakyat kebanyakan (demokrasi). Gubernur. Dimulai dari gumpalan awan yang di pandang sebagai pemberian Tuhan (teosentris). air hujan merupakan hasil serapan dari laut berupa uap akibat tekanan panas matahari yang dibawa angin membentuk gumpalan awan hitam. gumpalan awan hitam tersebut pecah menjadi butiran hujan yang jatuh dan mengumpul di suatu tempat. Dalam pendekatan ilmu alam. Kekuasaan tersebut dialirkan secara hirarkhis melalui Menteri. lalu mengalir kedalam struktur yang dibagi secara khusus. Tidak semua menguap. bagian pemerintahan dan seterusnya. kekuasaan tersebut mengalir sebagaimana siklus air hujan. Pada suatu ketika.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Sebaliknya. Camat. tetapi ia semakin menunjukkan wewenang yang lebih terbatas. Pada contoh yang lebih nyata. kekuasaan dibagi berdasarkan jumlah wewenang yang diterima. Demikian pula aliran kekuasaan pada level kabupaten/ walikota hingga pemerintah desa. sekalipun dalam teori kedaulatan dapat bersumber dari Tuhan (teokrasi) dan atau sedikit orang (aristokrasi). Dari aspek ilmu pengetahuan (antroposentris). Demikianlah kekuasaan mengalir menurut hukum alam (natural of law).

kolusi. Keabsahan tersebut diharapkan mampu merefleksikan suatu pemerintahan yang baik dengan berbagai ciri yang terkandung didalamnya. dua alasan utama yang mendorong lahirnya gagasan penciptaan pemerintahan yang baik adalah pertama. fenomena pemerintahan dewasa ini telah meluas tidak saja pada dunia pemerintah semata. bad government (pemerintah yang buruk) menjadi alasan bagi lembaga international untuk mengembangkan pola yang lebih mungkin dalam kaitan dengan manajemen ekonomi dan politik global. Seperti digambarkan oleh Mark Robinson (2000:417). individualisme serta hilangnya legitimasi politik khususnya pada negara-negara yang kurang mampu dan tanpa sistem demokrasi yang memadai. Ini tentu saja berkaitan dengan tanggungjawab pemerintah pada masyarakatnya. Meluasnya upaya untuk menata pemerintahan kearah yang lebih baik mendorong donor international untuk mengembangkan konsep good governance (pemerintahan yang baik). tekanan dari kelompok neo-liberal yang mendukung dikuranginya peran negara dan pengimbangan kekuasaan kepada penyediaan layanan oleh pembeli dan pengatur. Dalam perspektif negaranegara maju. Dalam kaitan itu. Berlawanan dari konsep ideal yang ingin dikembangkan. pemangkasan peran pemerintah sejauh mungkin dengan 25 . nepotisme. Gejala tersebut antara lain meningkatnya korupsi. Pengembangan konsep ini didorong oleh gejala meningkatnya hambatan-hambatan administrasi dan politik dalam pembangunan dunia ketiga.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik jelas. Atau dengan kata lain. Upaya-upaya dalam rangka penerapan kekuasaan melalui serangkaian mekanisme untuk menjamin akuntabilitas. Setidaknya hal ini terlihat dalam pembentukan serangkaian aturan atau struktur otoritas dalam komunitas tertentu yang memainkan peran atau fungsi pengelolaan sumber daya termasuk dalam menjaga tatanan sosial. Inilah yang disebut dengan wewenang (authority). demikian pula kewajiban dan hak yang saling mengikat antara mereka yang memerintah dan mereka yang diperintah. legitimasi dan tranparansi pada berbagai sektor diluar pemerintah menunjukkan gejala pemerintahan yang semakin menguat. Kedua. birokrasi hadir dan merujuk pada bagaimana cara pemerintah melaksanakan dan membuat peraturan-peraturan yang sah secara sosial. gagalnya pemerintah menjalankan fungsinya yang ditandai oleh tidak bekerjanya hukum dan tata aturan sehingga menimbulkan ketidakpercayaan pada pemerintah tentang bagaimana seharusnya pemerintah berinteraksi dengan masyarakatnya. tetapi juga pada ruang non pemerintah seperti perusahaan.

saling mendukung dan saling berinteraksi. good governance lebih menitikberatkan pada aspek proses melalui pendekatan fungsional guna mencapai tujuan yang diinginkan. kebijakan demikian semakin memperkokoh tumbuhnya demokrasi liberal yang pada akhirnya mendorong kembalinya pemerintah (eksekutif) meningkatkan kontrol yang lebih represif. efisiensi dan efektivitas. Dalam konteks ini. partisipasi. responsif. tetapi juga meliputi kelompok swasta sebagai pemegang modal dan masyarakat selaku civil society. adil. Karakteristik Good Governance Menurut UNDP (1997). Sekalipun upaya-upaya untuk menciptakan pemerintahan yang lebih baik dilakukan misalnya melalui desentralisasi kekuasaan. Tanggungjawab pemerintah pada segenap stakeholders selaku pemetik manfaat setidaknya memicu tumbuhnya trust sebagai modal bagi kontinuitas pemerintahan. Akuntabilitas. serta memiliki visi strategis. merujuk pada tanggungjawab setiap aktor dalam interaksi berpemerintahan. Interaksi tersebut hendaknya dilandasi oleh sejumlah karakteristik yang memungkinkan tata kelola pemerintahan berjalan baik. namun tidak berarti sepi dari dampak pengelolaan pemerintahan. Tanggungjawab pada elemen masyarakat dibutuhkan agar masyarakat sadar akan apapun output 26 . pemerintahan yang baik setidaknya memiliki karakteristik akuntabilitas. Meletakkan tanggungjawab satusatunya pada sektor pemerintah bukanlah gagasan terbaik untuk menciptakan pemerintahan yang baik. tanggungjawab diperlukan sebagai konsekuensi terhadap semua jenis kontrak dari level paling bawah hingga pusat pemerintahan. reorientasi birokrasi serta perluasan partisipasi publik untuk mengembalikan akuntabilitas. transparansi. legitimasi dan transparansi. reformasi pemerintahan. Tanggungjawab merupakan nilai yang mampu menjembatani relasi antara pemerintah dan masyarakat untuk menjamin keberlangsungan pemerintahan. Sebagai pemerintah. Komponen yang terlibat tidak saja domain pemerintah sebagai pelaksana. Ketiga komponen tersebut sepatutnya berjalan secara paralel. konsensus.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 cara penyerahan kepentingan antara penjual dan pembeli pada mekanisme pasar. Tanggungjawab merupakan nilai penting yang semestinya berlaku pada semua elemen dalam proses pemerintahan. tertib hukum. Di negara-negara berkembang. Uraian selanjutnya akan mengembangkan makna dari sejumlah karakteristik yang melekat dalam konsep good governance. Bagaimanapun kita masih percaya bahwa menciptakan pemerintahan yang kuat mutlak dibutuhkan bagi stabilitas politik yang dapat menjamin keberhasilan pembangunan.

Penyakit demikian bukan saja melanda pemerintah. swasta dan masyarakat. Setiap tindakan yang secara praktis berkaitan serta membebani masyarakat dan pemerintah. Demikian pula pada elemen lain. atau mengalami perubahan dipersimpangan jalan sesuai kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu. seharusnya dapat dipertanggungjawabkan secara murni dan konsekuen. tanggungjawab masyarakat tidak saja memanfaatkan seefektif mungkin apa yang diberikan oleh pemerintah. Pada akhirnya. termasuk bertanggungjawab terhadap kegagalan pemerintah yang dipilih oleh mereka sendiri. para pemegang modal (swasta) seyogyanya memegang prinsip tanggungjawab dalam interaksi dengan masyarakat dan pemerintah. bukan saja pemerintah. Transparansi. Kasus Lumpur Lapindo di Indonesia (2005) mereflesikan tanggungjawab keseluruhan elemen. Partisipasi aktif masyarakat lebih jauh 27 . Ketiadaan nilai transparansi seringkali ditunjukkan oleh mandeknya semua dokumen perencanaan tanpa realisasi. Selain itu. Perencanaan yang transparan meyakinkan masyarakat tentang sejauhmana kepentingan mereka mampu didokumentasikan secara jujur oleh pemerintah. semua perencanaan pemerintah kehilangan koneksitas dengan kepentingan masyarakat. Pada tingkat yang lebih jauh. demikian pula sektor swasta dan masyarakat pada tingkat tertentu. Salah satu sorotan utama dewasa ini adalah seberapa efektif pemerintah mampu memperjuangkan kepentingan masyarakat melalui anggaran yang tersedia. juga memelihara semua produk pelayanan yang diberikan. Partisipasi. Hal ini dapat dilihat dalam kasus projek Pembangunan Wisma Atlit di Kemenpora. Sulit membayangkan jika pihak swasta lari dari tanggungjawab tersebut. indikasi meluasnya perilaku koruptif dalam pemerintahan semakin meyakinkan masyarakat bahwa pemerintah kehilangan karakteristik transparansi dalam menjalankan fungsi pelayanan. Akibatnya. menunjukkan keterlibatan masyarakat dalam penyusunan dokumen perencanaan pembangunan. sebab ketiga elemen tadi memiliki batasan terhadap tanggungjawab masing-masing. Rendahnya transparansi pemerintah berkenaan dengan perencanaan dan implementasi kebijakan menunjukkan lemahnya itikad baik dalam mewujudkan tujuan dan harapan masyarakat. seberapa kuat komitmen pemerintah dalam merealisasikan semua perencanaan yang telah disepakati.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik pelayanan yang diberikan merupakan upaya paling maksimal yang dapat di produk pemerintah. merupakan karakteristik yang memungkinkannya terbangunnya kepercayaan masyarakat terhadap apa yang diartikulasikan pemerintah dalam hal kepentingan dan kebutuhan masyarakat.

sehingga pemerintah terkesan sulit melibatkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan. Dalam hubungan itu. Ketaatan hukum memberikan landasan bagi pemerintah dalam menjalankan visi dan misi yang diemban. Kehadiran pemerintah dalam setiap pelayanan masyarakat mengindikasikan hadirnya perlindungan bagi masyarakat. adalah karakteristik pemerintah yang mampu memberikan tanggapan sedini mungkin. Itulah mengapa seringkali gejala pemerintahan dipandang sebagai gejala hukum. Pemerintah yang buruk seringkali mengidap perasaan curiga yang berlebihan ketika masyarakat terlibat dalam setiap proses perencanaan pembangunan. dibutuhkan kesadaran pemimpin untuk memberikan contoh sehingga mampu mendorong terwujudnya tertib hukum. Kondisi ini tentu saja berhubungan dengan nilai transparansi. sekaligus memperlihatkan tingkat aksebilitas masyarakat terhadap pemerintah. Sebaliknya. Responsif. jika pemerintah enggan melibatkan partisipasi masyarakat. selain melibatkan mereka dalam hal tanggungjawab yang lebih luas. Disini terlihat jelas bahwa jika partisipasi masyarakat rendah. Semakin rendahnya kepatuhan hukum masyarakat menunjukkan semakin rendah pula tingkat penerimaan masyarakat terhadap pemerintahnya. Kegagalan merespon setiap masalah yang dihadapi masyarakat menunjukkan ketidakpedualian 28 . Kemampuan memberikan jawaban atas setiap masalah yang dihadapi masyarakat menunjukkan kemampuan pemerintah dalam memahami apa yang menjadi kebutuhan utama masyarakat. Tertib hukum dimaksudkan untuk menciptakan social order. sekaligus menunjukkan adanya hukum itu sendiri. Masalah berikut justru terletak pada rendahnya keterbukaan pemerintah dalam melibatkan partisipasi masyarakat. Rendahnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan pemerintahan disebabkan oleh rendahnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya partisipasi dalam pembangunan. sadar akan aturan yang diperuntukkan bagi kepentingan masyarakat itu sendiri. kemungkinan kesadaran mereka rendah pula disebabkan rendahnya tingkat pendidikan yang diperoleh sehingga bersikap apatis. yaitu suatu kondisi tertib bermasyarakat. Tertib hukum merupakan karakteristik yang memungkinkan terciptanya masyarakat taat hukum. Faktor pendidikan menjadi kunci penting dalam mendorong kesadaran masyarakat. terhadap setiap masalah yang dihadapi masyarakat.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 menggambarkan sejauhmana kepentingan mereka telah terakomodir dengan baik. kemungkinan kesadaran pemerintah juga rendah sehingga mendorong kecurigaan terhadap setiap keterlibatan masyarakat.

kecuali membiayai pegawai dilingkungannya masingmasing. program hingga kegiatan teknis. statement pemerintah sekalipun dapat dinilai sebagai respon positif terhadap masalah yang sedang mereka hadapi. Adil merupakan karakteristik yang dapat mendorong akseptabilitas masyarakat pada pemerintahnya. Konsensus merupakan landasan bagi pencapaian komitmen bersama. tanpa penalaran jauh kedepan. Kondisi tersebut membuat pemerintah mengalami beban anggaran yang cukup besar selain tak mampu membuat kebijakan strategis. Tanpa visi yang jelas pemerintah sebenarnya hanya menjalankan fungsi secara instingtif. Kemampuan pemerintah memelihara konsensus yang telah dibangun dapat diartikan sebagai kemampuan pemerintah dalam memelihara amanah. Keadilan bertujuan untuk menciptakan pemerataan. Pencapaian tujuan dengan mempertimbangkan aspek efisiensi dan efektivitas dapat mendorong produktivitas pemerintahan menjadi lebih berkualitas tanpa membuang modal yang besar. Konsensus. Visi menggambarkan masa depan pemerintahan dan memuat cita-cita ideal masyarakat yang dapat diwujudkan oleh 29 . Kegagalan membangun konsensus dapat meruntuhkan kepercayaan masyarakat dimana pemerintah dapat dinilai mengkhianati amanah yang diberikan. adalah karakteristik yang menggambarkan kemampuan pemerintah dalam membangun kesepakatan antara tuntutan secara bottom-up dan topdown. sekaligus memberikan hak dan kewajiban secara proporsional. Visi diharapkan menjadi petunjuk yang dapat dikonkritkan dalam bentuk misi. Karakteristik visi strategis berkaitan dengan kemampuan pemerintah dalam mewujudkan citacita ideal namun realistis berdasarkan kebutuhan masyarakat. Konsensus juga merujuk pada bagaimana pemerintah membangun kesepahaman yang memungkinkan semua kepentingan dapat diakomodir pada saluran yang tersedia. jangankan kehadiran. khususnya pemimpin. Komitmen bersama berkaitan dengan kepentingan stakeholder dalam mewujudkan tujuan yang diamanahkan pada pemerintah. Keadilan merupakan salah satu tujuan ingin dicapai oleh setiap pemerintah. Kegagalan pemerintah dalam mempertimbangkan efisiensi dan efektivitas membuat pemerintah kehilangan modal serta tak mampu berbuat banyak. Efisiensi dan efektivitas merupakan karakteristik good governance yang merefleksikan kemampuan pemerintah dalam pencapaian tujuan secara tepat guna dan hasil guna. Dalam perspektif masyarakat.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik pemerintah serta hilangnya sense of belonging atas problem yang dialami oleh masyarakat. Keadilan lazimnya melekat pada para pelaku pemerintahnya.

serta memiliki cita-cita yang bersifat jangka panjang serta berkelanjutan. Penciptaan tata kelola pemerintahan yang baik bukanlah semata-mata menjadi bagian dari kebijakan pemerintah. Secara umum. Visi strategis membutuhkan kesinambungan dalam mengawal agenda-agenda yang telah ditetapkan. 2002:14). tantangan reformasi birokrasi meliputi tiga masalah pokok. namun bersentuhan pula dengan nilai dan sikap yang dianut oleh pihak swasta dan masyarakat. karakteristik tersebut menjadi variabel penting tidak saja bagi pemerintah. yang diartikan hidup bersama dan terikat. Trust. adalah tentang jaringan aktor yang bersifat mandiri dan mengatur sendiri. faktor internal yang meliputi ketidakmampuan birokrasi mengubah dirinya menjadi lebih baik. merujuk pada seperangkat institusi dan aktor yang terdapat pada dan di luar pemerintah. mengidentifikasi kekaburan batas dan tanggungjawab untuk menangani isu-isu sosial ekonomi. Ketiga. Inilah sejumlah karakteristik pemerintahan yang baik (good governance) menurut UNDP. Kelima. pertama. Kedua. Accountabilitypada dasarnya memperkuat kepercayaan masyarakat dan sebaliknya. reciprocity. menyebutkan empat variabel dalam konsep governance. Governance memandang pemerintah mempunyai kemampuan untuk menggunakan alat dan teknik baru dalam mengarahkan dan menuntun. yaitu. Pemerintahan yang bertolak dari visi adalah pemerintahan yang memiliki pandangan jauh kedepan. Hayden (dalam Hamdi. faktor keraguan publik terhadap efektivitas kebijakan yang direncanakan dan diimplementasikan oleh birokrasi. yaitu pengembangan pandangan penggunaan kekuasaan tidak selalu merupakan zero-sum game. yaitu pertama. proposisi governance meliputi lima hal yaitu. mengidentifikasi ketergantungan kekuasaan yang terdapat dalam hubungan antara institusi yang melakukan tindakan kolektif. Tantangan Reformasi Birokrasi dan Good Governance Menurut Muhammad (2007). Menurut Gerry Stoker (1998). tetapi juga dapat menjadi positive sum game. authority yang berarti eksistensi kekuasaan yang legitimate. secara kompetitif atau koperatif dalam mengejar tujuan bersama. mengakui kapasitas guna menyelesaikan sesuatu yang tidak bersandar pada kekuasaan pemerintah untuk memberikan komando atau menggunakan otoritasnya. Faktor pertama disebabkan oleh kelemahan birokrasi dalam 30 . Disamping itu. demikian pula pihak swasta dan masyarakat luas. Kedua.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 pemimpinnya sejauh ia mampu dan konsisten. faktor eksternal berkenaan dengan tingginya intervensi politik yang membuat birokrasi kehilangan konsentrasi dalam menjalankan fungsi pelayanan. Ketiga. Keempat.

kecakapan dan keterampilan dalam pengelolaan pemerintahan. Apakah dengan alasan yang sama pemerintah mesti menolak pelayanan kepada 31 . Pendekatan struktural dalam pelayanan seringkali berhadapan dengan aturan dan norma yang berlaku. yaitu suatu hubungan yang bersifat impersonal. Polapola pendekatan dan pelayanan kepada masyarakat secara nyata menunjukkan indikasi perilaku traditional. jauh dari karakter ideal birokrasi. Sebaliknya. serta mampu menjawab setiap persoalan tidak saja secara struktural. seperti masalah finansial. Sedangkan mereka yang tak mampu secara non fisik. Setiap masyarakat yang dilayani terdiri dari masyarakat yang mampu dan tak mampu secara fisik dan non fisik. Sebaliknya. sehingga sulit menyelesaikan masalah secara tuntas. Ketidakmampuan birokrasi memahami pluralitas dalam masyarakat seringkali menimbulkan ketidakadilan dalam pelayanan. menyandarkan pelayanan dengan meletakkan hubungan personalitas secara keseluruhan sama halnya dengan menciptakan diskriminasi bagi kelompok masyarakat yang tak memiliki akses secara langsung pada pemerintah. Menyandarkan pelayanan dengan meletakkan prinsip impersonalitas secara kaku sebagaimana dimaksud Weber tidaklah menciptakan rasa keadilan yang memadai. namun fungsional. Harus diakui bahwa perbedaan kultur di dunia barat dan timur merupakan kenyataan yang harus diakui dalam pemberian pelayanan pada masyarakat. Tingginya dinamika masyarakat dalam menuntut pelayanan yang lebih baik tak serta merta diimbangi oleh kemampuan birokrasi dalam mengembangkan kecerdasan.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik memperbaharui kinerjanya sesuai perkembangan lingkungan. harus diberikan insentif yang seimbang agar pelayanan tetap diberikan secara merata. kelompok birokrat terkesan seperti robot yang kehilangan rasa kemanusiaan ketika semua perkara diselesaikan berdasarkan aturan yang berlaku. sebab hanya mereka yang dikenal secara personal saja yang akan dilayani. Persoalaannya. atau bahkan terjadi kekosongan regulasi. Masyarakat seringkali merasa frustasi karena pelayanan mereka mengalami kebuntuan hanya karena ketidakmampuan birokrasi saat menerjemahkan aturan yang berlaku. tentu saja membutuhkan pendekatan untuk dilayani secara jemput-bola. Dalam konteks ini diperlukan birokrasi yang mampu beradaptasi dengan perkembangan masyarakat. bagaimana jika tuntutan masyarakat melampaui aturan itu sendiri yang kadangkala datang terlambat. Mereka yang secara fisik tak mampu. Pelayanan birokrasi disandarkan pada hubungan kekeluargaan yang bersifat emosional. Pola penyelesaian masalah dengan menyandarkan semua pada aspek regulasi tak selalu membawa hasil maksimal.

Mereka yang dominan bersandar pada calon incumbent seringkali mengalami disorientasi saat kalah dalam kompetisi pemilukada. birokrasi yang mengambil jalan kompromi pada akhirnya turut mempersubur tingkat kebocoran anggaran baik di pusat maupun daerah. khususnya di level pemerintah pusat. merupakan cerminan dari pola penyelesaian masalah dengan menggabungkan pendekatan struktural dan fungsional. berbelitbelit. Politisasi birokrasi mendapatkan ruang ketika kelompok elit partai politik memanfaatkan momentum pemilukada untuk menggerakkan birokrasi sebagai mesin politik sekaligus aktivis politik. Birokrasi yang mengambil jarak secara tegas dengan kelompok politisi justru mengalami ketegangan karena rentan kehilangan jabatan. Indikasi tersebut bisa diketahui lewat ramainya kebocoran anggaran APBN oleh Badan Anggaran. membutuhkan waktu lama serta mengeluarkan biaya yang tak sedikit. Sekalipun demikian bukan berarti tanpa catatan. Pendekatan fungsional dalam pelayanan merupakan pola pendekatan untuk mengimbangi pendekatan struktural yang terkadang menghambat. pola pendekatan fungsional mengalami banyak kemajuan. Sisanya kelompok birokrat yang mengambil sikap apatis terhadap dinamika yang terjadi 32 . Pecahnya konsentrasi birokrasi disebabkan sirkulasi kepala daerah setiap lima tahun sekali. Akibatnya. Perlu diingat bahwa melandaskan semua pelayanan secara fungsional juga tidak tepat. lembaga-lembaga tersebut tidak saja membebani anggaran birokrasi pemerintah secara umum. sekaligus pada saat yang sama gagal melayani masyarakat sesuai misi yang dipikulnya. Dewasa ini. diperlukan pendekatan fungsional yang dapat menyelesaikan hingga ke akar masalah. sebab semua pelayanan pada dasarnya membutuhkan pelembagaan formal sehingga dapat diawasi dan dikendalikan.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 masyarakat? Oleh sebab itu. Dalam konteks ini birokrasi seringkali menyimpan dan merawat masalah untuk kepentingan tertentu. karena melakukan persengkokolan kolektif. serta bobolnya APBD pada saat perencanaan dan penetapannya. tidak berupaya menyelesaikan masalah secara tuntas. Faktor kedua yang menjadi tantangan reformasi birokrasi adalah tingginya intervensi politik dalam birokrasi. lembaga dan komisi yang bersifat mezzo-struktur disamping lembaga formal yang telah ada. Akibatnya. seperti yang dikatakan oleh Dwiyanto (2011). Lahirnya badan. namun menimbulkan overlap serta kurang produktif. Politisasi birokrasi menciptakan hubungan antara eksekutif dan legislatif mengalami dinamisasi serius kalau tidak ketegangan yang berkesinambungan. birokrasi mengalami pemecahan konsentrasi.

menjadikan birokrasi tak mampu membuat kebijakan yang efektif dalam menyelesaikan masalah. serta rendahnya konsultasi publik terhadap rancangan peraturan yang dibuat. Tingginya resistensi yang ditandai oleh meningkatnya demonstrasi masyarakat dan pihak swasta yang merasa dirugikan oleh setiap kebijakan yang ditetapkan menunjukkan dua alasan diatas. Rendahnya pendidikan serta kurangnya analisis terhadap setiap kebijakan yang diproduk. Akibatnya. Keraguan masyarakat dan pihak swasta terhadap efektivitas kebijakan birokrasi disebabkan selain oleh dua faktor diatas. Mobilisasi sumber daya dilakukan bahkan secara terang-benderang melalui rekrutmen pegawai berdasarkan hubungan primordial dan patronase. 33 . yang dapat dilihat dari sikap dan orientasinya yang cenderung melihat keatas. Rendahnya kredibilitas birokrasi dalam mendesain suatu kebijakan dapat diketahui dari rendahnya keterlibatan pakar dalam bentuk asistensi. Faktor ketiga tantangan reformasi birokrasi adalah keraguan masyarakat terhadap setiap kebijakan yang dilaksanakan oleh birokrasi. Kelemahan rancangan kebijakan pada tahap perencanaan hingga tahap implementasi tak serta merta membuat birokrasi melakukan evaluasi yang berkelanjutan. juga masalah kredibilitas birokrasi. Dalam konteks ini terbangun koalisi efektif antara eksekutif dan legislatif dalam pembobolan anggaran. Kekuasaan yang besar membuat birokrasi terombang-ambing serta sulit menentukan netralitasnya sebagai pelayan masyarakat. daripada melihat kebawah. Komitmen tersebut berupa transaksi politik yang berujung pada persoalan siapa dapat apa.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik dalam setiap rotasi pemerintahan. berapa banyak dan kapan. bukan merit sistem apalagi kompetensi. Sikap ekslusivisme dan seakan tau semua masalah mendorong birokrasi pada perilaku arogan ketika merespon setiap tuntutan masyarakat. birokrasi terkesan bukan milik masyarakat namun elit berkuasa. Semua itu di dukung oleh kemampuan kepala daerah dalam memobilisasi sumber daya melalui sebagian anggota tim sukses yang berasal dari jajaran birokrasi. ketiadaan naskah akademik terhadap rancangan peraturan (khususnya peraturan daerah). namun berusaha menutupi kelemahan kebijakan tersebut. Keseluruhan indikasi tersebut bermuara pada rendahnya kualitas rancangan kebijakan sehingga menimbulkan resistensi dari para pemangku kepentingan (stakeholders). Intervensi politik terhadap birokrasi telah merangsang nafsu aparat untuk membangun komitmen rahasia dengan para elit dalam masa sirkulasi kekuasaan. Keadaan ini jelas mengembangkan perilaku koruptif dalam birokrasi sebagai konsekuensi dari hubungan yang bersifat transaksional.

Reformasi Birokrasi dan Implementasi Good Governance Seperti telah disinggung dalam pendahuluan. bahwa masalah pemerintah terkadang bukan pada apa yang mereka kerjakan. marilah kita cermati bagaimanakah desain kebijakan reformasi birokrasi sebaiknya dilakukan dalam mewujudkan fungsi birokrasi sekaligus mendorong penciptaan tata kelola pemerintahan yang baik (good 34 . Akibatnya. Pada akhirnya. Demikian pula buruknya perilaku birokrasi dalam hal pelayanan membuat masyarakat tak percaya apa yang selama ini dikerjakan oleh pemerintah. menitikberatkan aspek efisiensi dan efektivitas serta memiliki mekanisme dan standarisasi yang jelas dalam interaksinya. kapasitasi dan instrumentasi. Gambaran ini setidaknya disinggung oleh Osborne & Gaebler (1992) dalam ‘Reinventing Government. maka reformasi birokrasi seharusnya diarahkan pada sejumlah alternatif pilihan kebijakan seperti reformasi struktural. maka reformasi birokrasi semestinya diarahkan pada upaya penciptaan situasi yang kondusif agar birokrasi netral dari pengaruh kekuasaan yang berlebihan. reformasi birokrasi merupakan upaya penataan kapasitas kelembagaan yang menyangkut sistem dan struktur birokrasi dalam menjalankan fungsi pokok sebagai pelayan masyarakat. sekalipun mesti dengan sejumlah catatan pengecualian pada tahap implementasi. namun bagaimana pelayanan tersebut dapat dilaksanakan dengan baik. daripada realitas yang diharapkan. Kini.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Disamping itu. keraguan masyarakat terhadap efektivitas kebijakan birokrasi tumbuh disebabkan oleh melimpahnya program yang dijanjikan namun kehilangan fokus saat implementasi. Jika secara politis birokrasi merupakan instrument kekuasaan dalam mewujudkan visi dan misi penguasa sesuai amanah rakyat yang dituangkan dalam bentuk kebijakan politik formal. Apabila secara sosiologis birokrasi dipandang sebagai organisasi paling rasional yang memiliki sejumlah karakteristik sebagai pelaksana interaksi antara pemerintah disatu sisi dan masyarakat disisi lain. keraguan masyarakat terhadap reformasi birokrasi secara umum tumbuh disebabkan oleh rendahnya kepercayaan pada sistem dan sumber daya manusianya. Masyarakat terkadang merasa muak terhadap kelambanan dan kerakusan birokrasi sebagaimana disinyalir oleh Barzelay (1982) dalam ‘Breaking Through Bureaucracy’. Buruknya sistem dalam pelayanan birokrasi membuat masyarakat tak merasa jelas dalam penyelesaian masalahnya. lebih banyak program yang bersifat list service. maka reformasi birokrasi selayaknya diarahkan pada penguatan karakteristik dimaksud. Jika secara administratif birokrasi dipandang sebagai media yang memudahkan pelayanan.

Kedua faktor tersebut cukup dominan menjadikan organisasi pemerintah tampak dinamis. Pada level horizontal dibutuhkan organ fungsional yang lebih fleksibel dalam menjawab tuntas akar masalah yang dihadapi. yaitu organisasi sebagai suatu sistem proses interaksi antara orang-orang yang bekerjasama. Harus diakui bahwa budaya penyusunan organisasi di daerah selama ini cenderung mempraktekkan cara-cara penyusunan organisasi di tingkat pusat. namun dalam perspektif aparatur birokrasi adalah tujuan akhir berkenaan dengan bagaimana jabatan paling tinggi sebagai refleksi kekuasaan dapat dicapai. bukan kepentingan politik atau kelompok tertentu. bukan tujuan itu sendiri. yaitu organisasi dalam arti dinamis. reformasi organisasi (struktural). sedangkan secara eksternal di dorong oleh perubahan lingkungan yang lebih luas. Dominasi aspek struktural selama ini telah menciptakan kekakuan. Perbedaan pemahaman dalam manajemen pemerintahan seringkali menjadikan birokrasi tak efektif menjalankan tugas dan fungsinya. baik formal maupun informal. Reformasi oganisasi tidaklah sekedar slogan kaya fungsi miskin struktur. bukan kompromi politik. Pertama. Organisasi dapat diartikan dalam dua macam. yaitu bagaimana menjadikan birokrasi sebagai alat untuk memperoleh akses bagi keseluruhan sumber daya yang tersedia. Dalam jarak tertentu dibutuhkan pendelegasian yang memungkinkan pelayanan lebih efisien dan efektif. bahkan sulit bersentuhan langsung dengan para pengambil keputusan (decition maker). pertama dalam arti statis. Kedua dalam arti dinamis. Pada level hirarkhis diperlukan pemangkasan yang memungkinkan jenjang struktural lebih pendek.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik governance). Organisasi sebaiknya disusun berdasarkan hasil analisis jabatan dan beban kerja. Desain reformasi struktural dapat dilakukan dengan meletakkan landasan kuat bahwa organisasi adalah alat untuk mencapai tujuan. Sistem pemilukada 35 . yaitu organisasi sebagai wadah tempat dimana kegiatan kerjasama dijalankan. namun lebih dari itu organisasi didesain berdasarkan kebutuhan. Boleh jadi dalam perspektif seorang kepala daerah birokrasi adalah alat untuk mewujudkan gagasan ideal dalam bentuk visi dan misi selama lima tahun. Secara internal organisasi di dorong oleh tingginya tekanan kekuasaan. Panjangnya jalur hirarkhis membuat setiap masalah terkesan basi ketika kembali pada masyarakat. Uraian selanjutnya akan lebih menitikberatkan pada pengertian kedua. Hal ini sebabkan oleh faktor eksternal dan internal. Masalah kemudian bertambah ketika sebagian besar kepala daerah justru berpikir sama dengan aparatnya. selain membuang waktu dan biaya yang tak sedikit.

organisasi Pemda memperlihatkan gejala obesitas yang sarat kepentingan politik para elit lokal sehingga sulit bergerak mencapai tujuan. Sragen. disamping tersisihnya peluang bagi rekrutmen pegawai yang memiliki kompetensi ideal seperti guru. Melebarnya ukuran organisasi tanpa analisa kebutuhan jabatan dan beban kerja membuat performance organisasi pemda khususnya terkesan tambun dan statis. Tasikmalaya. Kasus pencopotan pejabat setingkat sekretaris daerah dalam tempo singkat dan mutasi besar-besaran adalah contoh yang dapat diamati dalam wilayah pemerintah daerah. Akibatnya. Postur organisasi Pemda yang mengalami kegemukan tentu saja dapat menyedot belanja aparatur lebih besar dibanding belanja pembangunan. Reformasi kapasitasi adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan sumber daya birokrasi dalam pelayanan agar mampu mengimbangi dinamika masyarakat. dokter. program dan kegiatan. namun dipraktekkan terang-benderang di level pusat melalui perluasan organisasi pemerintahan.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 telah menjebak kepala daerah untuk melakukan rekonstruksi organisasi pemda lewat cara-cara resuhffle kabinet jilid satu. Reformasi kapasitasi berkaitan dengan kemampuan birokrasi baik secara individual maupun kelompok yang ditunjukkan pada kemampuan menerjemahkan visi dan misi. Palu. bahkan hasil Baperjakat hanyalah unsur formalitas dalam penempatan personil pada struktur organisasi pemda. Ironisnya. Praktis organisasi dibentuk untuk menjawab kepentingan rezim berkuasa. pengetatan organisasi agar lebih ramping dan kaya fungsi diutamakan pada pemerintah daerah melalui kebijakan PP No. dua dan seterusnya. dimana lebih dari 70% APBD habis untuk belanja aparatur (FITRA:2011). Pola penjenjangan karier kurang diperhatikan. Kedua. diperlukan reformasi kapasitasi yang memadai guna meningkatkan kemampuan aparatur dalam melayani masyarakat. Ini bisa dipahami jika dihubungkan dengan bertambahnya rekrutmen pegawai setiap tahun tanpa pengendalian berdasarkan kompetensi. Kondisi ini tidak saja berlaku di daerah. 36 . Rekrutmen pegawai tanpa kompetensi pada akhirnya hanya akan menyerap besaran APBD yang tak sedikit guna meningkatkan kecakapan dan keterampilan pegawai. Ambon dan Bitung misalnya. analis kebijakan. bukan menjawab masalah yang dihadapi masyarakat. apoteker dan perawat. Potret tersebut terlihat tidak saja pada perluasan kementerian departemen. 41 Tahun 2007. Realitas ini dapat ditemukan pada sejumlah kabupaten seperti Lumajang. namun gagal melakukan efisiensi organisasi di level organisasi pemerintah pusat. badan dan komisi. namun tampak pada puluhan organisasi setingkat lembaga.

Untuk mengantisipasi hal itu diperlukan desain kebijakan reformasi kapasitasi jangka panjang dan jangka pendek. Kedua aspek tadi setidaknya dapat membentuk kemampuan individual. semakin rendah kapasitas pemerintah daerah. Pembangunan berbasis keunggulan lokal membutuhkan birokrasi yang mampu menjawab tantangan yang muncul. Profesionalisme sekurang-kurangnya ditunjukkan oleh sertifikasi pendidikan dari jenjang dasar hingga jenjang yang lebih tinggi.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Pengembangan kapasitas aparatur berfokus pada aspek pendidikan dan pengalaman yang akan menentukan nilai profesionalisme birokrasi dihadapan masyarakat. Pada akhirnya. semakin tinggi kapasitas pemerintah daerah semakin rendah pula resiko yang akan dihadapi dimasa mendatang. birokrasi dan pemerintah secara keseluruhan dapat kehilangan kepercayaan masyarakat. Ini penting untuk mendorong perkembangan daerah lebih cepat dan kompetitif. Kesenjangan ini seringkali menimbulkan ketegangan sekaligus kecurigaan terhadap kinerja birokrasi. Dalam jangka panjang dibutuhkan aparatur yang memiliki pengetahuan yang memadai guna penyusunan rencana kegiatan hingga keterampilan mengimplementasikan suatu program secara efektif. Dampaknya. sama-sama mendapatkan perlakuan khusus. Parahnya. Aspek tersebut diimbangi oleh segudang pengalaman pada berbagai organisasi yang memiliki nilai dan kompetensi utama. Pemerataan selama ini hanya membuktikan bahwa mereka yang kerja dan tidak. semakin tinggi resiko yang akan dihadapi. Sebaliknya. Dalam jangka panjang diperlukan pendidikan yang berbasis pada kebutuhan dan karakteristik organisasi pemerintah daerah. perikanan. pertanian dan jasa. daerahdaerah yang berbasis kompetensi kelautan. sekaligus pada saat yang sama mendorong kemampuan kolektivitas birokrasi. tertutupnya kebijakan pengembangan pendidikan dan lahirnya diskriminasi dalam pengembangan sumber daya di daerah melahirkan kasus jalan pintas lewat indikasi ijazah palsu dan gelar pendidikan tanpa jelas asal-usulnya. Spirit tersebut diarahkan untuk melahirkan nilai kompetitif sehingga mampu menciptakan keadilan bagi birokrasi yang berprestasi. Keadilan dapat diterapkan melalui pembayaran insentif berdasarkan penilaian kinerja birokrasi. Fakta ini jelas kurang mendorong 37 . Sebagai perbandingan. Rendahnya pendidikan aparatur mengakibatkan kesenjangan antara mereka yang dilayani dan mereka yang melayani. pertama. diperlukan desain kebijakan praktis. kiranya membutuhkan aparat yang menguasai sektor unggulan dimaksud. Dalam jangka pendek. peningkatan insentif yang berfungsi mendorong spirit dan kinerja birokrasi.

kreativitas dan kemandirian hendaknya memperoleh penghargaan yang setimpal guna mendorong semangat yang sama pada aparat yang lain. Guna mengurangi kepentingan politik maka birokrasi sebaiknya mengambil jarak untuk bersikap netral. Kesadaran yang terus meningkat hingga membuahkan inovasi. jauh lebih penting dari itu adalah lahirnya dampak positif bagi birokrasi untuk kembali pada tugas dan fungsinya masing-masing. Politisasi birokrasi membuat aparat menjadi bulanbulanan elit lokal. Pola penggajian dan insentif yang bervariasi sebagaimana pernah diterapkan sejumlah pemerintah daerah seperti Kabupaten Jembrana Provinsi Bali. Kedua. Ketiga. Pembiaran terhadap tumbuhnya kreativitas tanpa apresiasi dapat menurunkan semangat untuk berkarya dan mengabdi pada organisasi. Penerapan sanksi bukanlah tujuan akhir. terlalu dekat sama artinya menceburkan diri dalam ketidakpastian lebih beresiko. birokrasi sangat rentan diintervensi oleh elit lokal guna memenuhi kepentingan kelompok tertentu dalam sirkulasi kekuasaan. termasuk menurunkan penghargaan bagi mereka yang benarbenar memiliki profesionalisme. birokrasi sulit menolak ransangan para elit untuk berkoalisi memenangkan calon tertentu. Semua konsekuensi tersebut dilakukan tentu saja berdasarkan transaksi minimum lewat jabatan-jabatan strategis dan menggiurkan. menunjukkan dampak positif dalam mendorong kinerja birokrasi. Lewat sistem yang ada. Demikian pula pola penerapan sanksi dibutuhkan semaksimal mungkin dengan maksud pembinaan secara proporsional. faktanya sebaliknya. Oleh sebab itu harus dipahami bahwa penarapan reward and punishment memiliki arti strategis bagi organisasi. diperlukan penataan sistem yang secara eksternal efektif dapat mengurangi politisasi birokrasi yang dapat memecahkan konsentrasi aparatur dalam melayani masyarakat. Pada sisi lain membiarkan kelalaian birokrasi sama maknanya dengan menyetujui sekaligus membolehkan kesewenang- wenangan dalam pelayanan masyarakat. Statement ini tentu saja tidak mudah diperoleh dilapangan empirik.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 kompetisi serta menciptakan ketidakadilan. yaitu mendorong berkembangnya birokrasi agar lebih disiplin dan bertanggungjawab serta mampu merespon perkembangan masyarakat. sebab itu diperlukan sistem eksternal yang 38 . Mengambil jarak terlalu jauh beresiko kehilangan jabatan. reformasi birokrasi dalam jangka pendek hendaknya mampu menciptakan sistem internal yang dapat mendorong secara perlahan tumbuhnya kesadaran birokrasi sebagai pelayan masyarakat. sekaligus melindungi birokrasi dari perilaku buruk aparatur yang berinteraksi didalamnya.

Landasan kebijakan secara umum diharapkan mampu melindungi pemerintah dan segenap pemangku kepentingan dalam lingkup good governance. Perilaku birokrasi yang korup cenderung termotivasi oleh pengaruh lingkungan serta tuntutan domestik. Tentu saja reformasi birokrasi dalam jangka panjang termasuk jangka pendek sulit dilakukan tanpa dimulai dari perubahan budaya kerja kearah positif. Pembentukan Komisi Pemberantasan Korupsi dimaksudkan untuk membantu pemerintah dalam meminimalisasi gejala korupsi. sebesar 2.8. Reformasi instrumentasi berfungsi sebagai landasan kebijakan yang bersifat legalistik-formal untuk menghindari tuntutan masyarakat terhadap kinerja birokrasi. birokrasi membutuhkan legitimasi de jure untuk menjalankan semua keputusan politik pemerintah. Korupsi bukanlah budaya positif yang tumbuh pada masyarakat. reformasi birokrasi dalam jangka pendek diarahkan pada upaya pencegahan (preventive) perilaku korupsi dalam tubuh birokrasi. indeks persepsi korupsi di Indonesia belum berubah sesuai catatan International Transparancy. Korupsi merupakan kejahatan extra ordinary sehingga membutuhkan upaya-upaya yang bersifat luar biasa.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik dapat membentengi birokrasi dari kepentingan politik yang berlebihan. disamping penerapan sanksi berat dalam setiap tindakan yang disangkakan. Berkaitan dengan reformasi birokrasi diperlukan sistem yang mengikat secara ketat. Sebagai abdi negara. sebab semua norma sosial termasuk agama tidaklah mentolerir perilaku buruk semacam itu. Sejauh ini. Sedangkan sebagai abdi masyarakat. Bercermin pada China yang berani menerapkan tindakan tegas bagi pelaku korupsi. Perlu dipahami bahwa sistem insentif sebagaimana dikemukakan sebelumnya bukanlah jalan satusatunya dalam mengurangi tindak pidana korupsi. Bagian ketiga dari gagasan reformasi birokrasi berkenaan reformasi instrumentasi yang mencakup penyiapan regulasi baik undangundang di tingkat pusat hingga peraturan pada level pemerintah daerah. birokrasi membutuhkan legitimasi de facto sebagai penyambung kepentingan kepada pemerintah yang berkuasa. Keempat. Dalam banyak kasus birokrasi seringkali 39 . demikian pula pada elemen masyarakat dan wiraswasta. Perubahan budaya kerja yang diawali dari kebiasaan menanamkan keseluruhan karakteristik pemerintahan yang baik diharapkan mampu menghasilkan birokrasi yang dapat menjalankan fungsinya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku buruk birokrasi perlu diperbaiki. Budaya kerja positif diharapakan tidak saja menular pada pemerintah. maka dibutuhkan reformasi birokrasi yang mampu mencegah terjadinya tindak pidana korupsi dilingkungan birokrasi pemerintahan.

Berkaitan dengan implementasi good governance. birokrasi layaknya berjalan menggunakan insting dimana pada kondisi tertentu dapat berbenturan dengan norma dan ketentuan yang berlaku. kolusi dan berkembangnya jaringan mafia dalam tubuh birokrasi. Salah satu contoh dapat dilihat dalam kebijakan UU No. Indikator lain yang bisa diamati adalah persyaratan adanya SOP sebagai pedoman bagi setiap pemerintah daerah 40 . Wisma Atlit. pemerintah pada dasarnya telah banyak melakukan terobosan melalui berbagai regulasi yang memberikan peluang diterapkannya karakteristik tata kelola pemerintahan yang baik. mekanisme dan prosedur. Strategi pelayanan jemput bola melalui penggunaan sarana dan prasarana yang tersedia seperti teknologi informasi dan transportasi merupakan keseluruhan paket reformasi instrumentasi dalam kerangka besar reformasi birokrasi dan implementasi good governance. Gejala tersebut dapat dilihat pada sejumlah hasil temuan BPK dimana pengeluaran anggaran pemerintah daerah khususnya kehilangan landasan yuridis. juga berhubungan dengan seperangkat alat baik sarana dan prasarana yang memungkinkan birokrasi mampu mengembangkan dirinya dalam memberikan pelayanan yang bermutu. pada akhirnya menimbulkan masalah lebih kompleks yaitu ekonomi biaya tinggi (high cost economy). Tanpa standar operational procedure. pemegang modal dan masyarakat biasa. Situasi demikian seringkali menyuburkan praktek suap. Contoh konkrit lain dapat dilihat dalam instrumen evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah yang memuat sejumlah variabel dan indikator sebagai refleksi dari tercapainya karakteristik tata kelola pemerintahan yang baik.32/2004 tentang Pemerintahan Daerah. Kendati dengan alasan efisiensi. Reformasi instrumentasi diharapkan tidak hanya berkaitan dengan landasan hukum. Reformasi instrumentasi pada tingkat teknis setidaknya dapat memperjelas mekanisme dan prosedur pelayanan oleh birokrasi pemerintahan. seperti landasan yuridis kebijakan serta tingkat partisipasi masyarakat.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 dianggap gagal menyiapkan instrumen bagi landasan pelayanan masyarakat. surat palsu di Mahkamah Konstitusi hingga Kemenakertrans adalah contoh gamblang dalam konteks terbentuknya jaringan mafia birokrasi antara pemerintah. dimana prinsip-prinsip tata kelola pemerintahan menjadi landasan penting dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. ketatnya mekanisme dan prosedur dapat membentuk budaya birokratisme yang pada gilirannya mendorong perilaku “melambung” (by pass) untuk mempercepat pelayanan. Kasus Bank Century. Sebaliknya. walaupun disadari belum sepenuhnya dapat dilaksanakan secara baik.

Strategi ini dilakukan melalui persyaratan fit and proper test yang dilakukan pada sejumlah calon pejabat setingkat kepala daerah maupun pimpinan lembaga. badan dan komisi. LKPJ dan LIPD. Kesemua itu merupakan modal dasar dalam rangka penumbuhan. terlepas bahwa prinsip tersebut masih sering dilanggar oleh pemerintah daerah.3/2007 tentang Pertanggungjawaban Kepala Daerah yang meliputi LPPD. Pada karakteristik transparansi misalnya. eksternal. Prinsip akuntabilitas dapat dilihat pada sejumlah instrument pertanggungjawaban seperti PP No. Bahkan. dilahirkannya regulasi tentang keterbukaan informasi publik oleh Kementrian Komunikasi dan Informasi menunjukkan komitmen pemerintah dalam memberikan akses seluas-luasnya kepada masyarakat. tranparansi. politik maupun pengawasan publik. Prinsip ini mengalami perkembangan sejak lahirnya lembaga yang berfungsi melakukan evaluasi serta pengawasan baik secara internal. pencanangan pendidikan karakter sejak usia dini oleh Kementrian Pendidikan Nasional merupakan terobosan jangka panjang dalam upaya menanamkan nilai-nilai kejujuran. Penyampaian laporan perkembangan harta kekayaan yang dimiliki oleh setiap pejabat publik mencerminkan diterapkannya prinsip akuntabilitas dan tranparansi.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik dalam menjalankan fungsi dan tugas pokoknya dilapangan. kedisiplinan. Karakteristik visi strategis menjadi syarat mutlak bagi setiap kandidat pemimpin pemerintahan ketika mencalonkan diri sebagai pejabat publik. kesetaraan. Karakteristik konsensus dilakukan melalui upaya dokumentasi perencanaan APBN dan APBD sebagai bentuk kesepakatan bersama antara eksekutif dan legislatif yang notabene dipilih dan mewakili masyarakat itu sendiri. 41 . Karakteristik efisiensi dan efektivitas merupakan prinsip yang senantiasa diakomodir dalam undang-undang pemerintahan daerah termasuk peraturan yang menjadi turunannya. pengembangan dan implementasi karakteristik good governance. dan akuntabilitas. tanggungjawab. Pengembangan kesetaraan sebagai bagian dari karakteristik tata kelola pemerintahan yang baik dapat dilihat dalam mekanisme pemilihan pemimpin politik yang ramah gender serta terbuka bagi setiap warga negara menurut batasan konstitusi dan undang-undang. fungsional.

Satjipto. 2010. Indra Prahasta. 2008. Bekasi Dino Patti Djalal. Sosiologi Pemerintahan. Macrosociology. Red and White Publishing. (terjemahan). Stephen K. Jakarta Kuper. 2000. 2001. 2010. Richard. Adam dan Jessica Kuper. Gugus Press. 1962. 2010. Vol. Rajawali Pers.Warwick. Yogyakarta. Rajawali 1Pers. Harvard Universty Press. Soerjono. Jakarta Soekanto. The Bureaucratic Entrepreneur (terjemahan). Jakarta Max Weber dalam Martin Albrow (Terj). Harus Bisa. Jakarta Dwiyanto. Jakarta Setiono. Jakarta 42 . Theory of Public Bureucracy. Jaring Birokrasi. Tiara Wacana Michaels. New York dan London. Jakarta Sanderson. volume 3. C. Bambang. Raja Grafindo Persada. Khasan. N.XXXV No. Jakarta Jones. Rajawali Pers. 2010. Budi. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta Sudirman. Demokratisasi Birokrasi. Kompas. Agus. Raja Grafindo. The Study of Politics (Terjemahan). CV. 2005. Roderick. Bureaucracy dalam Encyclopaedia of the Social Sciences. New York. Cambridge Massachussets. H. Membedah Hukum Progresif. 2011. Political Parties. New York. 2002. 1996. Gramedia Pustaka Utama Effendy.1 Tahun.Haass. Istianto. Maurice. 1998. Sosiologi Kekuasaan. Jakarta Laski. Ensiklopedi Ilmu-Ilmu Sosial. Tinjauan dari Aspek Politik dan Administrasi. Yayasan Pustaka Obor Indonesia. 1993. Jurnal Ilmu Pemerintahan Widya Praja. 2000. Pip. Ina Publikatama. STIAMI.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Daftar Pustaka Duverger. H dan Mills. 2009. Martin. R. Birokrasi. (terjemahan). Seni Memimpin SBY.W (1946) From Max Weber:Essays in Sociology. Jakarta Rahardjo. Introducing Social Theory. Bandung Gerth. Praktek Birokrasi Weberian di Indonesia. Reformasi Birokrasi. Martin Albrow dalam Donald P.

Consequences. Jakarta Blau. Bekasi Subagyo. Jhon. 2000. Politicising Democracy.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Tjokrowinoto. Mitra Wacana Media. Macmillan ltd Haris. Georg. Jakarta Koswara. (Makalah). 1982.3 Tahun 2006. Robert A. Makalah. Palgrave. Moeljarto. 2006. New haven and London. Bambang. IIP Press. Jakarta Tjokrowinoto. Yogyakarta Dahl. Agustus 2011. Pidato Pengukuhan Guru Besar. Dilemma Of Pluralist Democracy. Pusataka Pelajar. dkk. Westview Press Setiono. 2002. IIP-Press Rasyid. 1993. Jakarta Sorenson. 2004. 2011. Yayasan Bina Pembangunan. PKSP. LPM-IIP. 2001. Gugus Press. Demokratisasi Birokrasi. Pustaka Pelajar. 2004. Ryaas. 2000.XXXII No. 2000. Otonomi dan Pemerintahan Daerah. Jakarta. Precesses and Prospects in Changing World. Reformasi Birokrasi. Unismuh. Miftah. Nurul. 1999. 2004. Birokrasi Dalam Polemik. 1999. Bahan Ajar Sistem Politik Indonesia. 2006. Untung. Peran Kontrol Rakyat dan Netralitas Birokrasi. Ackermen-Susan Rose. Budi. Malang Toha. Pustaka Pelajar. Bureaucracy in Modern Society (terj). Yale University Press Haris. Corruption and Government Causes. Fisipol UGM. Jakarta Suwandi. Terobosan Otonomi Satu Tingkatan. Peter M. Jakarta 43 . Politik Organisasi. And Reform. 2004. Yogyakarta Istianto. Pemerintahan Yang Amanah. Cambridge University Press Aini. hal 209-22 Republika. Perspektif Mikro Diagnosa Psikologis. dkk. Birokrasi dalam Polemik. Demokrasi dalam Birokrasi Pemerintah. Vol. Jaring Birokrasi. Yogyakarta Jurnal Ilmu Pemerintahan Widyapraja. Pustaka Pelajar. Pembagian Kewenangan Menurut UU 32 Tahun 2004. Democracy and Democratization.

.

Foto : Antara IV Oleh : Nursodik Gunarjo * Edisi 3 / September / 2011 Reformasi Birokrasi. Syarat Mutlak Pembangunan Ekonomi * Penulis adalah kandidat doktor Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 45 .

Mereka juga mengeluhkan banyaknya biaya siluman (overhead cost) yang harus dikeluarkan saat melakukan aktivitas ekonomi di Indonesia2. No. Akibatnya sangat fatal. ketidaksiapan sumberdaya terutama SDM. Keluhan tersebut bukan saja berkenaan dengan buruknya layanan.Terhalang. Penyebabnya. J.kompas. buruk dan berbiaya tinggi akan menyebabkan high-cost economy yang membebani pelaku usaha. Sebaliknya.Regulasi 2 http://us. Para penanam modal di Indonesia pada umumnya mengeluhkan minimnya infrastruktur.Indonesia. 114. 4. 1 http://tekno. mudah dan murah. pelayanan yang cepat.com/ read/2011/07/27/12451245/Minat. regulasi pemerintah dinilai kurang mendukung keberadaan investor asing1. namun juga terkait dengan perilaku tak terpuji aparat birokrasi dan kebijakan yang tidak probisnis.B. Banyak keluhan muncul saat para pelaku usaha berurusan dengan birokrasi. serta perilaku korup aparat birokrasi. 46 . Selain itu. birokrasi yang diharapkan mampu menjadi enzim of growth perekonomian. batal menanamkan investasi di Indonesia. Tulisan ini diharapkan dapat menganalisis secara komprehensif hubungan antara birokrasi dan dunia usaha dari perspektif ekonomi politik.detikfinance. Prisma. Tidak mengherankan jika pelaku ekonomi cenderung menganggap keberadaan birokrasi lebih banyak menghambat. (1995). Sebuah perusahaan berbasis teknologi informasi asing terkemuka.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 B Pendahuluan irokrasi merupakan stakeholder penting di bidang ekonomi. dalam praktik justru sering membebani sektor ini. Pelayanan birokrasi yang lambat. alih-alih membantu percepatan perputaran roda perekonomian3 3 Kristiadi. “Masalah Sekitar Peningkatan Pendapatan Asli Daerah”.com/ read/2004/12/17/110517/257641/4/ infrastruktur-buruk-investasi-jepangke-ri-minim Beberapa contoh yang telah dikemukakan setidaknya dapat dijadikan bukti bahwa birokrasi Indonesia belum ’ramah’ terhadap dunia usaha. proses perizinan di Indonesia dinilai lambat dan ruwet. Pelayanan birokrasi turut menentukan bergairah atau tidaknya aktivitas perekonomian suatu bangsa. di. akan membuat dunia usaha lebih mudah menerapkan efektivitas dan efisiensi.

Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Sebagaimana disampaikan Transparency InternationalIndonesia (TI-Indonesia). Keadaan ini terlihat pada kelambanan pelayanan dan proses kerja yang berbelit-belit. sehingga penyalahgunaan bisa muncul dalam sistem kegiatan birokrasi. oleh masyarakat seringkali diartikan dalam konotasi yang ruwet. Bahkan ada perusahaan yang menggunakan dana hampir seperempat dari total aset yang dimiliki hanya untuk biaya pelicin agar urusan dengan birokrasi cepat selesai. dan pada akhirnya akan menekan produktivitas perusahaan4 Birokrasi Birokratis-Patologis: Perspektif Kritis Tidak bisa dimungkiri. termasuk di dalamnya pelayanan umum dan pembangunan. 4. Karena itu.. Jakarta: CV. setiap sistem pemerintahan dan organisasi membutuhkan birokrasi. 114. (1986). “Masalah Sekitar Peningkatan Pendapatan Asli Daerah”. (1995).id/index. Birokratisasi merupakan efek dari kegiatan birokrasi yang dihegemoni oleh kepentingan kekuasaan dari para elit organisasi. Jika hal semacam itu terjadi di banyak perusahaan. mempunyai daya tarik. J. Prisma. kelambatan. Rajawali 6 Kristiadi. dalam jangka panjang efeknya dipastikan akan sangat berpengaruh terhadap efisiensi. Kesan seperti ini kemudian memunculkan istilah debirokratisasi.B. Revolusi dan Transformasi Masyarakat. catatan Mohl tentang penyalahgunaan birokrasi memperlihatkan adanya sifat kecongkakan. php/publication/2010/11/11/indekspersepsi-korupsi-kota-kota-indonesia2010 47 . maksudnya adalah upaya untuk menyederhanakan 5 Eisenstadt S. Dalam kenyataan. Namun dengan kondisi struktur yang rigid dan kaku. Kebutuhan tersebut muncul sebagai akibat logis dari adanya struktur hierarki yang membutuhkan tahapan-tahapan pengambilan keputusan. birokrasi mudah mengalami birokratisasi—sebutan umum untuk birokrasi yang birokratis. birokrasi acapkali mendapatkan kritik yang cukup tajam6 Senada dengan itu. serta popular.N. 4 http://www. biaya overhead cost yang harus dikeluarkan pelaku usaha sebagai imbas dari berbelit-belitnya urusan di birokrasi terbilang sangat besar. yang sejatinya merupakan manifestasi untuk menunjukan bentuk atau orientasi kekuasaan tertentu dari para elit5 Albrow mengungkapkan sorotan berbagai kalangan yang memandang birokrasi sebagai proses yang panjang dan berbelit-belit pada saat para pengguna berurusan dengan aparat birokrasi.or. birokrasi yang dimaksudkan untuk melaksanakan penyelenggaraan bernegara.ti. pemerintahan. No.

tetapi mengabaikan fungsi pelayanan masyarakat10.. atau jacksonian yakni birokrasi yang dipolitisasi. Prisma. 114.an organisation with a certain position and role in running the government administration of a country. 48 . Secara etimologis. Sementara yang dimaksud dengan birokrasi adalah: “. Revolusi dan Transformasi Masyarakat.           Citra buruk tersebut semakin 7 Kristiadi. penegak disiplin dan penyelenggara pemerintahan dengan kekuasaan yang sangat besar. “Masalah Sekitar Peningkatan Pendapatan Asli Daerah”. Administrasi Negara. birokrasi tumbuh menjadi sesuatu yang chaos. dan tidak terkontrol8 Berbagai keluhan dan kritikan mengenai kinerja birokrasi memang bukan hal baru. Birokrasi. serta lambatnya pelayanan dan prosedur yang berbelit-belit atau yang lebih dikenal dengan efek pita merah (red-tape). Jakarta: CV. pada akhirnya. 4. Demokrasi dan Masyarakat Madani. (1986). Birokrasi pada akhirnya menjadi tuan bagi dirinya sendiri dan tidak berorientasi pada fungsi pelayanan. Keseluruhan kondisi empirik yang terjadi secara akumulatif telah meruntuhkan konsep birokrasi Hegelian dan Weberian yang memfungsikan birokasi untuk mengkoordinasikan unsur-unsur dalam proses pemerintahan. (1995). The Public Sector. Citra buruk birokrasi seperti parkinsonian atau birokrasi gemuk (big bureaucracy). London: Sage Publication 9 Mustopadidjaja. orwellian atau birokrasi dengan peraturan yang menggurita sebagai perpanjangan tangan negara untuk mengontrol masyarakat.R.N.” Dengan demikian secara ringkas dapat dikatakan. hanya berfungsi sebagai pengendali. lebih mengemuka ketimbang citra yang baik atau rasional (bureau rationality). yakni korupsi dengan beranekaragam bentuknya. patologi berarti “ilmu tentang penyakit”. bersifat over supplay dengan memaksimumkan struktur. (1999). Second Edition.. A. Models and Approaches. Banyaknya penyimpangan di birokrasi menyebabkan birokrasi cenderung bersifat patologis. (1999). Di berbagai belahan bumi.B.E. (1995). patologi birokrasi adalah “penyakit” yang menyebabkan peran dan fungsi birokrasi mengalami penyimpangan dan tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya11 10 Eisenstadt S. A.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 prosedur yang dianggap ruwet itu7 Birokrasi pada kenyataannya sering mengalami disfungsi karena adanya pergantian tujuan-tujuan organisasi menjadi tujuan pribadi. 8 Lane. Rajawali 11 Mustopadidjaja. seperti esensi birokrasi Hegelian dan Weberian9. diperparah dengan isu yang sering muncul ke permukaan. negatif atau bahkan patologis. Concept. J. Jakarta: LAN.R. yang berhubungan dengan kedudukan dan kewenangan pejabat publik. J. No. birokrasi lebih menunjukkan kondisi empirik yang buruk. Akibatnya.

jelas bahwa birokratisasi dan patologi birokrasi merupakan dua sisi dari keping mata uang yang sama. Jakarta: Gunung Agung. purapura sibuk.P. Potret Nyata Birokrasi Indonesia Jauh hari telah digambarkan secara dramatis. dengan menggelembungkan pembiayaan. Demokrasi dan Masyarakat Madani. menerima sogok. Penyakit birokrasi juga bisa berupa inefektivitas dan inefisiensi. korupsi dan sebagainya. seperti sewenang-wenang. patologi birokrasi berimbas pada munculnya pelayanan birokrasi yang lambat. sehingga pelayanan yang diberikan kepada pelaku ekonomi menjadi tidak berkualitas. Kemunculan birokrasi yang birokratis menjadi pemicu munculnya patologi birokrasi. persepsi gaya manajerial para pejabat di lingkungan birokrasi yang menyimpang dari prinsip-prinsip demokrasi.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Dalam praktik. Amerika Serikat. Sebaliknya. Keempat. Tidak adanya inovasi membuat para birokrat cenderung melakukan pelayanan sama dari waktu ke waktu. Ketiga. 13 49 . Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen. aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan perundangundangan serta norma-norma yang berlaku di dalam birokrasi. manifestasi perilaku birokrasi yang bersifat disfungsional atau negatif. ketiadaan deskripsi dan indikator kerja. dan sistem yang pilih kasih13 Dari uraian yang telah dikemukakan. (2002). sehingga produktivitas sektor bisnis terpengaruh. situasi internal berbagai instansi pemerintahan yang berakibat negatif terhadap birokrasi. penyelewengan fungsi dan struktur. mengakibatkan produktivitas dan mutu pelayanan yang rendah. dan diskriminatif. menerima sogok. rendahnya pengetahuan dan keterampilan para petugas pelaksana berbagai kegiatan operasional. gejala patologi dalam birokrasi bersumber pada lima masalah pokok. tindakan pejabat yang melanggar hukum. Kemalasan pegawai birokrasi menyebabkan penyelesaian aplikasi perizinan dan pembuatan regulasi menjadi lambat. Kedua. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. S. Kelima. (1988). seperti rendahnya imbalan dan kondisi kerja yang kurang memadai. dan nepotisme. bagaimana birokrasi bisa merongrong habis-habisan kinerja sektor ekonomi di Uphill Battle. Filsafat Administrasi. Hal itu mengakibatkan bentuk penyimpangan seperti penyalahgunaan wewenang dan jabatan. Jakarta: LAN 12 Umar H. Administrasi Negara. yakni: Pertama. Siagian. ruwet dan berbelit-belit. Cermin Retak Uphill Battle. patologi birokrasi tersebut berupa perilaku (aparat) birokrasi yang menyimpang dari nilai-nilai etis. dan ketidakmampuan birokrasi untuk berubah sesuai tuntutan zaman12 Apabila ditelusuri lebih jauh. serta pegawai sering berbuat kesalahan.

Prasojo. tidak responsif. dan rendahnya penggunaan perangkat teknologi informasi. Memangkas Birokrasi. Lain halnya dengan birokrasi Indonesia yang masih dipersepsikan sarat dengan KKN. dan tentu masih sangat berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia. yakni KKN (korupsi. Jakarta: DIS FISIP UI. 50 . Di Indonesia. I. inefisiensi sumberdaya telah membuat aktivitas birokrasi memakan biaya dan menghabiskan sumberdaya sangat besar.R. selain berbagai jenis patologi birokrasi yang telah disebutkan. menyebabkan pelayanan publik tidak memuaskan. Desentralisasi dan Pemerintahan Daerah. masih tingginya ketidakpastian dalam birokrasi (cost of uncertainty). Ketiga. Masyarakat bisnis di Uphill Battle bisa dikatakan ‘masih beruntung’. Situasi problematis yang dihadapi sebagian besar birokrasi Indonesia saat ini di antaranya: Pertama. Kedua. & Plastrik. nepotisme). masih ada penyakit menahun lain yang menggerogoti birokrasi. Penyakit warisan Orde Baru ini masih bercokol hingga kini. Hal tersebut ditunjukkan oleh struktur organisasi birokrasi yang tidak sesuai dengan kebutuhan. Kelima. Jakarta: PPM. kolusi. di sisi lain. masih rendahnya kompetensi para birokrat15 15 14 Osborne. (2000). serta tidak tepat waktu. Di sisi lain. Akan tetapi. Permasalahan lain terkait dengan rendahnya kualitas sumberdaya manusia dan lemahnya pengawasan terutama dalam hal akuntabilitas. etika dan moral. Keempat. masih belum terbentuk budaya birokrasi (service delivery culture). hal itu masih belum apa-apa jika dibandingkan dengan kondisi birokrasi di Tanah Air. masih kentalnya budaya patron-client dan budaya afiliasi yang mengarah kepada moral hazard. terutama yang paling menonjol adalah perilaku korup aparat birokrasinya.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Layanan yang tidak berorientasi kepada pelanggan. (2006). sangat tidak sebanding dengan output dan outcome yang dihasilkan14 Apa yang terjadi di Uphill Battle bisa disebut sebagai cermin retak. nilai dan regulasi yang ada masih berorientasi pada kepentingan penguasa/birokrat (power culture). Ketiadaan standar pelayanan. namun tidak terkena wabah KKN. atau bahkan potret buruk birokrasi. Permasalahan mendasar yang membuat birokrasi Indonesia koruptif dan tidak probisnis di antaranya adalah kurang baiknya kelembagaan dan tatalaksana. membuat kalangan dunia usaha enggan berurusan dengan birokrasi. P. D. inkonsistensi dan instabilitas peraturan perundangundangan. struktur. E & Maksum. norma. lantaran birokrasi di sana hanya terinfeksi patologi birokrasi. Antara Model Demokrasi Lokal dan Efisiensi Struktural.

Agar tidak terjebak dalam permainan politik praktis. Netralitas birokrasi tercermin dari kemampuan birokrat meletakkan fungsi birokrasi di atas kepentingan pribadi dan mengutamakan kepentingan masyarakat. Kehadiran birokrasi merupakan tuntutan mutlak yang harus dipenuhi untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Menurut Weber. terlebih ketika kecenderungan determinasi partai politik terhadap pejabat birokrasi tak juga sirna. Aktivitas utama birokrasi bukan lagi untuk melayani publik. merupakan organ negara yang diberi tugas menjalankan semua kebijakan pemerintah yang terkait dengan kepentingan rakyat. dari yang paling tinggi sampai kepada yang paling rendah. Pada zaman kemerdekaan (19451950). Birokrasi. muncul pertarungan antarpartai politik untuk merebut posisi puncak birokrasi. pertumbuhan birokrasi tidak lepas dari dinamika politik dan masyarakat sehingga kultur birokrasi selalu sarat dengan warna politik di zamannya. akan tetapi lebih ditujukan pada kegiatan-kegiatan struglle to get political power. Dalam setiap hierarki terdapat kekuasaan pejabat birokrasi. hierarki jabatan dalam birokrasi disusun secara bertingkat. Pembatasan ini dilakukan untuk mencegah terjadinya pencampuradukan kepentingan pribadi pejabat birokrasi ke dalam tugasnya sebagai pelayan masyarakat sehingga birokrasi tetap menjadi kekuatan yang netral dari pengaruh kelompok tertentu. Kabinet yang terbentuk pun lebih banyak diwarnai 51 . Dalam sejarah birokrasi Indonesia. Artinya. Kondisi ini membuat birokrasi rentan terhadap pengaruh kekuasaan atau politik praktis. Memasuki zaman demokrasi liberal (1950-1959). sebagian besar penyelenggara negara memiliki komitmen kuat bagi perjuangan bangsa.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Di sisi lain. Pemberian layanan merupakan implikasi dari fungsi negara sebagai alat pemenuhan kebutuhan rakyat. sehingga berubah menjadi kepanjangan tangan kekuasaan. Peran ini menjadi strategis karena hanya aparat birokrasi yang memiliki wewenang menguasai akses atas kepentingan publik. reformasi politik di Indonesia dalam kenyataannya belum mengubah birokrasi menjadi kekuatan profesional negara. Fungsi birokrasi sebagai unit pelayanan publik dihegemoni oleh kekuatan internal birokrasi. birokrasi tidak mudah dibawa ke dalam pertarungan antara aktor politik yang sedang berkompetisi atau cenderung lebih patuh pada kekuatan politik yang menjadi patron-nya. Unsur partai bukan menjadi pertimbangan. Dinamika politik ditandai dengan instabilitas sehingga tidak ada satu pun kabinet yang dibentuk bisa menyelesaikan masa jabatannya. baik secara personal maupun institusional. wewenang birokrasi dibatasi sesuai dengan hierarki jabatannya.

atau dalam bahasa populernya “UUD—ujung-ujungnya duit”. Sementara nepotisme secara perlahan tapi pasti telah menciptakan perekonomian oligarkis yang dimonopoli oleh para kroni dan keluarga dekat pejabat birokrasi. Kondisi ini membuat birokrasi sering dimanfaatkan untuk kepentingan partai daripada kepentingan masyarakat luas. masyarakat yang harus membayar mahal semua itu karena birokrasi tidak lagi profesional. Dalam praktik. efeknya 52 . tidak pernah hadir. pejabat birokrasi dikuasai Golkar. Secara akumulatif. Keberpihakan birokrasi kepada partai politik masih terlihat. cara itu masih tetap diwarisi birokrasi hasil reformasi. Di sisi lain. berbagai jenis patologi birokrasi semua berujung pada uang. mempermudah urusan publik. Situasi seperti ini mendorong para pejabat untuk mencari kesempatan dalam kesempitan agar mereka dapat menciptakan rente dari pelayanan berikutnya. dan sebaliknya melemparkan orangorang jujur dari kancah persaingan bisnis. Pada masa Orde Baru (1966-1988). Korupsi yang merajalela di lembaga birokrasi berimbas pada banyaknya biaya tambahan yang harus dikeluarkan para pengusaha dan pemangku kepentingan lain yang berurusan dengan birokrasi. langsung maupun tidak langsung. Korupsi secara langsung akan mengurangi besaran dana yang seharusnya dipergunakan untuk kepentingan publik. Tampaknya. Mulai dari menteri hingga pejabat di semua lini diisi orang Golkar. dan memberikan kepuasan kepada publik. Birokratisasi versus Ekonomi Berbelit-belinya pelayanan serta tidak transparannya kinerja birokrasi telah mendorong masyarakat untuk mencari ”jalan pintas” dengan suap atau berkolusi dengan para pejabat dalam rekrutmen pegawai atau untuk memperoleh pelayanan yang cepat. Pemerintah mengaburkan batasan jabatan politik dan jabatan birokrasi dari departemen untuk melanggengkan dominasi Golkar di tubuh birokrasi. Meski asas monoloyalitas telah dihapus. nafsu politik birokrat untuk menguasai birokrasi masih bercokol. birokratisasi akan menggerus fiskal masyarakat pengguna birokrasi dalam jumlah yang sangat besar. kolusi secara nyata telah melempangkan jalan bagi orang-orang yang mau berkongsi dengan oknum birokrasi.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 corak koalisi partai. termasuk masyarakat umum. Akibatnya. Dalam beberapa jajak pendapat yang dilakukan lembaga independen. Birokrasi yang seharusnya mendahulukan kepentingan umum. Jika korupsi dan mark-up dilakukan pada proyekproyek infrastruktur dan atau program-program probisnis. terungkap bahwa birokrasi Indonesia gagal menjalankan fungsi pelayanan publiknya.

or. Sebuah survei yang dirilis TI-Indonesia menunjukkan. 16 http://www. Sementara jika dilakukan pada lembaga-lembaga keuangan atau lembaga pengumpul dan pendistribusi fiskal. baru kemudian kebutuhan yang lain seperti infrastruktur.10. khususnya competitiveness suatu bangsa. Jika ketiganya dilakukan dalam konteks usaha. dampaknya akan menyebabkan menurunnya pendapatan negara secara drastis.ti. sehingga berpengaruh negatif terhadap kondisi ekonomi makro maupun pada program pembangunan ekonomi secara keseluruhan.61 – 6. WEF menempatkan kelembagaan (institutions) yang kondusif pada urutan kebutuhan dasar pertama. php/publication/2010/11/11/indekspersepsi-korupsi-kota-kota-indonesia2010 untuk menghindari kerugian. yakni di antara 3. Skor rendah mengindikasikan para pelaku bisnis menilai korupsi masih lazim terjadi dalam sektor-sektor publik. pengusaha dipastikan harus mengeluarkan biaya ekstra. yang semua bertujuan meningkatkan pendapatan dan mewujudkan perekonomian 17 http://www3. Akibatnya. perilaku koruptif masih marak di lingkungan birokrasi. salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja ekonomi. serta kesehatan dan pendidikan dasar (gambar 1) Dari gambar 1 dapat diketahui bahwa kelembagaan. baik swasta maupun pemerintah. sementara pemerintah dan penegak hukum kurang serius dalam pemberantasan korupsi16 Suap. pdf 53 . Sebagaimana dikemukakan World Economic Forum (WEF) dalam The Global Competitiveness Report 2010-201117. adalah tidak terpenuhinya kebutuhan dasar yang menjadi kunci pendorong pertumbuhan ekonomi. akan menambah biaya yang seharusnya tidak ditanggung oleh pengguna layanan birokrasi. yang berarti memperkecil margin keuntungan. mereka mengorbankan kuantitas ataupun kualitas barang dan jasa yang dihasilkan. perusahaan dan pemerintah.71. Di antara kebutuhan dasar tersebut. mark-up dan permintaan imbalan. Ketidakkondusifan birokrasi Indonesia bagi dunia usaha ternyata berimbas terhadap daya saing ekonomi bangsa di tingkat internasional. Indeks Persepsi Korupsi Indonesia (IPK Indonesia) di 50 kota di Indonesia pada akhir 2010 rata-rata masih rendah. Biaya tersebut diambil dari nilai total transaksi. Dalam praktik.org/docs/WEF_ GlobalCompetitivenessReport_2010-11. Fakta menunjukkan. untuk rentang skor penilaian 0 .weforum. adalah kunci penting sukses bidang ekonomi. ekonomi makro.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik secara langsung akan memperlambat laju perekonomian.id/index. faktor kelembagaan sangat ditentukan oleh jaringan kerjasama legal dan administratif antara pelaku ekonomi.

Jelas bahwa perilaku lembaga pemerintah atau birokrasi sangat berpengaruh terhadap aktivitas dunia usaha. Indonesia bersama 25 lainnya berada pada tubir kritis: sewaktu-waktu dapat melompat ke jenjang perekonomian yang lebih tinggi lagi. khususnya dalam hal efektivitas dan efisiensi. birokrasi yang birokratis. pada masamasa krisis ekonomi peningkatan peran lembaga pemerintah di bidang perekonomian terbukti mampu menghindarkan banyak negara dari kemungkinan krisis yang lebih berat. Kendati posisi daya saing Indonesia untuk kategori overall pada tahun 2011 berada pada 54 Sumber: World Economic Forum Report 2011 . Indonesia patut mencermati laporan WEF. Fakta menunjukkan.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Gambar 1. korup. Menurut WEF. di mana hal itu sangat mempengaruhi kepercayaan investasi. red tape alias lambat dan berbelit-belit. produktivitas. tidak dapat dipercaya. karena saat ini pendapatan per kapita Indonesia sedang berada pada tahap efficiency driven. Lembaga pemerintah yang kuat mampu menjaga daya saing dan pertumbuhan. Kebutuhan Dasar Kunci Pendorong Pertumbuhan Ekonomi yang sehat. tahap kedua yang merupakan peralihan dari tahap factor driven ke innovation driven (Tabel 1). tidak transparan. atau sebaliknya kembali terjerumus ke tahap yang lebih rendah karena kendala yang bersifat birokratis. over-regulasi. Pada tahap peralihan ini. tidak jujur. dan dipolitisasi. akan mendongkrak biaya ekonomi yang harus dipikul para pengusaha secara signifikan sehingga dalam jangka panjang akan memperlambat laju pertumbuhan ekonomi.

CEO General Electric. masih maraknya birokrasi yang birokratis yang sarat dengan patologi Sudah lama birokrasi yang rumit menjadi penyebab munculnya ekonomi biaya tinggi. Dengan kalimat yang lebih sederhana. keberadaan Indonesia di peringkat 44 menunjukkan peningkatan impresif 10 tingkat dari peringkat semula 55. Birokrasi Versus Adokrasi Sumber: World Economic Forum Report 2011 Tabel 1. Bahkan sebaliknya. Secara khusus laporan tersebut menulis. Peningkatan tersebut antara lain disebabkan oleh sehatnya kondisi ekonomi makro dan meningkatnya indikator-indikator pendidikan. melainkan karena peningkatan pada faktor-faktor yang lain. Income Tresholds for Establishing Stages of Development ranking yang sama. Kasus korupsi. akan tetapi hal tersebut tidak menjamin perekonomian Indonesia di masa datang dapat tetap bertahan pada birokrasi dapat menjadi ancaman serius terhadap daya saing Indonesia di masa datang. satu hal yang sangat dibenci pengusaha. tanpa adanya jaminan perbaikan mendasar pada sisi kelembagaan birokrasi. kolusi dan nepotisme (KKN) di instansi-instansi birokrasi muncul gara-gara birokrasi sangat permisif terhadap munculnya perilaku moral hazard tersebut. yang menyebabkan membubungnya biaya yang harus dikeluarkan pihak pebisnis untuk ongkos pelicin. Munculnya biaya tak terduga (overhead cost) akibat keberadaan birokrasi yang birokratis. 55 .Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik ranking 44 dari 133 negara. sumbangan birokrasi Indonesia terhadap pertumbuhan ekonomi masih rendah. menyebabkan timbulnya high-cost economy. Tidak mengherankan jika Jack Welch. Dari laporan tersebut jelas terlihat bahwa kenaikan posisi daya saing Indonesia tidak terjadi karena daya dukung birokrasi. Begitu juga birokrasi dalam bentuk berbelitbelitnya pengeluaran izin berusaha.

(2002). The Temporary Society:What is Happening to Bussiness and family Life in America under the Impact of Accelerating Change. Ini menjadi bukti bahwa adokrasi membawa pengaruh positif bagi kinerja sektor perekonomian. di masa datang. dan mendapatkan hasil. Robert Waterman dalam bukunya “Adhocracy” tahun 1990 mengatakan. Oleh karena itu. dan adokrasi.W. birokrasi adalah sistem administrasi hierarkis yang dirancang untuk berhubungan dengan sejumlah besar pekerjaan rutin. 56 . birokrasi merupakan mesin andal untuk mencapai efektivitas dan efisiensi pekerjaan. Mintzberg menerbitkan buku “The Structuring of Organization” yang mengemukakan ada empat tipe dasar perusahaan. dalam era perubahan berkelanjutan. (1998). P. Inilah yang kemudian menjadi titik awal munculnya sentimen ‘kebencian’ para pengusaha terhadap birokrasi. Warren G Bennis19 Dia menulis. Jakarta: Buana Ilmu. Jack Welch adalah satu di antara sekian banyak manajer yang secara ekstrem mengemukakan bahwa kehadiran birokrasi (yang birokratis) sama sekali tidak diperlukan. perusahaan akan bersandar pada tim proyek yang cepat dan fleksibel dalam struktur antibirokrasi yang ia sebut sebagai adokrasi. 19 Bennis. birokrasi profesional. Pada tahun yang sama. Alih-alih mempercepat proses. & Slater.E.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 menyatakan bahwa birokrasi adalah musuh produktivitas. yang sebagian besar mengikuti sekumpulan peraturan kaku dan tidak personal. Ia berpendapat. adokrasi sebagai bentuk organisasi yang memotong jalur birokrasi normal diperlukan untuk menangkap peluang. wirausaha pemula. yaitu: birokrasi mesin. The Welch Way: 14 Tips Praktis dari CEO Terbesar Dunia. Aliran dan gagasan kontrabirokrasi ini semakin berkembang setelah Alvin Toffler menyampaikan pandangan adokrasinya dalam buku yang ditulisnya “Future Shock” tahun 1970. New York: Jossey-Bass Publisher. keberadaan birokrasi justru menyebabkan pengambilan keputusan menjadi lambat dan berbiaya tinggi. birokrasi tidak diterapkan secara benar. J. Welch bahkan menyarankan para karyawannya untuk ”memukul” dan “menendang” birokrasi yang birokratis semacam itu18 Tidak bisa dimungkiri. Akan tetapi dalam banyak kasus. Bagaimana dengan birokrasi publik yang orientasinya adalah pelayanan masyarakat? Sesuai definisi yang dikemukakan Waterman. menyelesaikan masalah. G. Gagasan awal tentang adokrasi muncul dalam karya para teori kepemimpinan Amerika Serikat. Adokrasi terbukti semakin banyak diterapkan perusahan-perusahaan bisnis. 18 Krames. ia mengusulkan penghapusan birokrasi atau yang sering dikenal dengan istilah adokrasi. organisasi-organisasi seperti ini akan menjadi yang paling sukses. Jika diterapkan secara benar.

Dengan demikian. Konsep ini diadopsi dari reinventing government (pemerintahan wirausaha) yang dipopulerkan oleh Osborne & Plastrik21. reformasi birokrasi model reinventing bureaucracy dapat ditawarkan sebagai salah satu solusi. menyelesaikan masalah. menyempurnakan dan memperbaiki birokrasi agar menjadi lebih bersih. Tujuan reformasi birokrasi terkait sektor ekonomi adalah terwujudnya birokrasi yang 20 Mustopadidjaja. Transparansi di sini bermakna pembukaan ruang publik dan publik dapat mengakses secara luas penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum. Jakarta: Penerbit Pustaka Binawan Presindo. Selain itu. Reinventing Bureaucracy.R. Namun yang terpenting adalah mewujudkan perubahan dari birokrasi yang promodialisme atau minta dilayani menjadi birokrasi yang melayani masyarakat. di mana-mana tumbuh birokratisasi. A. Bersih di sini berarti bebas dari praktek KKN. yang bermakna mempersulit urusan yang sejatinya dapat terselenggara secara mudah dan murah20 Reformasi Birokrasi dan Pembangunan Ekonomi Untuk menggairahkan kinerja sektor perekonomian. efektif dan produktif. penegakan aturan-aturan hukum. mendapatkan hasil. (2003). Implementasi dan Evaluasi Kinerja. Formulasi. Namun kenyataan menunjukkan. adokrasi bisa pula diterapkan dalam birokrasi publik. cepat tanggap. perbaikan kesejahteraan pegawai. bersih. 57 . Reinventing bureaucracy pada intinya adalah pembaruan berupa 21 Osborne. melalui pembenahan sistem pengelolaan anggaran. efisien. reformasi birokrasi adalah sebuah keniscayaan. Manajemen Proses Kebijakan Publik. Mewirausahakan Birokrasi. mengubah. Reformasi birokrasi diperlukan untuk menata ulang. peningkatan pengawasan. Berdasar tujuan dari adokrasi tersebut. kreatif. & Gaebler.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik adokrasi sangat diperlukan dalam memecahkan masalah khususnya dalam menangkap peluang. T. (1995). di Indonesia tidak ada satu birokrasi publik pun yang menerapkan adokrasi. Jakarta: LAN RI dan Duta Pertiwi Foundation.. Efisiensi dilakukan melalui program penghematan bagi pembiayaan operasional birokrasi. Justru yang ada. reformasi diharapkan dapat mewujudkan birokrasi yang transparan. Sebuah Tawaran Khusus dalam kaitannya dengan bidang ekonomi. pelaku ekonomi mendapatkan situasi yang lebih kondusif untuk menjalankan usaha tanpa terbebani urusan bertele-tele di luar urusan bisnis yang mereka lakukan. D. Reformasi birokrasi juga ditujukan untuk mewujudkan birokarasi yang efisien.

& Gaebler. peduli dan kreatif dalam memecahkan permasalahan publik. menerapkan sistem intensif. 58 . dan di sisi lain probisnis. Dampak nyata dari penerapan konsep ini. akan tetapi tidak harus terlibat secara langsung dengan proses produksinya (producing). birokrasi menetapkan kebijakan. Sedangkan pembaruan (reinvention) adalah transformasi sistem dan organisasi birokrasi secara fundamental guna menciptakan peningkatan dramatis dalam efektivitas. D. aparat birokrasi akan memiliki komitmen yang lebih baik. Dalam pelaksanaanya. pelayanan birokrasi akan semakin baik dan bermutu. sehingga masyarakat berdaya untuk mengontrol pelayanan yang diberikan birokrasi dan mampu menjadi masyarakat yang menolong dirinya sendiri (community self-help). yakni: 1. Birokrasi katalis atau catalytic bureaucracy: steering rather than rowing Inti dari formula ini adalah pada pemberian pengarahan bukan pelaksanaan pelayanan publik. peluang aparat birokrasi untuk melakukan penyimpangan. misalnya meminta imbalan di luar tarif. Untuk mewujudkan birokrasi wirausaha yang bebas patologi. birokrasi perlu mewujudkan 10 formula yang menjadi inti dari reinventing bureaucracy22. Jakarta: Penerbit Pustaka Binawan Presindo.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 penggantian sistem birokrasi yang birokratis menjadi sistem yang bersifat wirausaha. serta budaya sistem dan organisasi birokrasi. T. Tujuan pembaharuan adalah efesiensi. Kolusi antara penyedia dan pengguna layanan juga dapat dihindarkan 2. Mewirausahakan Birokrasi. (1995). Birokrasi harus menyediakan (providing) beragam pelayanan publik sesuai dengan tugas dan 22 Osborne. Wirausaha adalah memindahkan berbagai sumber daya dari unit kerja dengan produktivitas rendah ke unit kerja dengan produktivitas tinggi dan hasil yang lebih besar. memberikan dana kepada badan pelaksana (baik itu dari swasta maupun lembaga swadaya masyarakat) dan menilai kinerjanya. Dengan tidak berhadapan langsung dengan pengguna layanan. struktur kekuasaan. Dengan adanya kontrol dari masyarakat. fungsinya. akan tetapi yang lebih penting adalah efektivitas. dapat ditekan. akuntabilitas. Birokrasi milik masyarakat atau community-owned bureaucracy: empowering rather than serving Konsep ini menyarankan agar birokrasi mengalihkan wewenang kontrol yang dimilikinya kepada masyarakat. efisiensi dan kemampuan melakukan inovasi. Transformasi ini dicapai dengan cara mengubah tujuan.

masing-masing pihak yang diberi wewenang melakukan pelayanan publik akan saling bersaing secara sehat. misalnya menyederhanakan peraturan. Birokrasi berorientasi hasil atau result-oriented bureaucracy: finding outcomes. birokrasi akan terhindar dari birokratisasi. birokrasi harus mengembangkan standar kinerja. Pelayanan yang lambat dan berbelit-belit serta makan biaya besar. Kompetisi adalah satusatunya cara untuk menghemat biaya sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan. Dalam praktik. juga mensyaratkan setiap organisai dan satuan kerja birokrasi memiliki misi yang jelas. Untuk itu. dengan sendirinya akan hilang. Selain itu. akan semakin sulit dilakukan karena setiap saat aktivitas birokrasi diawasi oleh masyarakat. yang mengukur seberapa baik satuan kerja memecahkan 59 .Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Pengguna layanan tidak harus mengeluarkan biaya lebih untuk membayar pelayanan standar yang memang menjadi haknya. Dengan kompetisi. serta memberikan diskresi kepada manajer untuk menemukan best practise mewujudkan misi namun tetap dalam koridor legal Dampak positif yang ditimbulkan. mereka akan berlomba-lomba memberikan pelayanan terbaik. 4. Birokrasi yang kompetitif atau competitive bureaucracy: injecting competition into service delivery Birokrasi secara internal maupun eksternal menyuntikan semangat kompetisi dalam pemberian jasa dan pelayanan publik. Dampak dari penerapan konsep ini. birokrasi melakukan deregulasi internal. Birokrasi berorientasi misi atau mission-driven bureaucracy: transferring rule-driven organization Mengubah organisasi yang semula digerakan oleh peraturan menjadi organisasi yang digerakan oleh misi. banyak pelayanan publik yang dapat ditingkatkan kualitas pelayanannya tanpa harus memperbesar biaya. 3. Dan yang lebih penting. Masyarakat akhirnya bisa menikmati buah persaingan ini dalam bentuk mutu pelayanan yang semakin meningkat. 5. Mengubah fokus input (kepatuhan pada peraturan dan membelanjakan barang sesuai ketentuan) menjadi akuntabilitas pada output dan outcome. Dengan adanya persaingan. prosedur dan sistem administratif. birokrasi membiayai hasil bukan masukan peraturan dan membelanjakan. not inputs Dalam konsep ini. korupsi yang biasa terjadi karena kelemahan pengawasan internal.

memberi jaminan. Birokrasi memperlakukan masyarakat yang dilayani sebagai pelanggan. melainkan diubah secara bertahap sesuai dinamika kebutuhan masyarakat. kinerja birokrasi dapat terukur.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 permasalahan yang menjadi tanggungjawabnya. Dampak positif dari penerapan konsep ini. birokrasi akan lebih hati-hati menggunakan dana publik. Dengan kata lain. birokrasi juga menetapkan target. birokrasi mendesain organisasi untuk menyampaikan nilai optimal kepada pelanggan. Dengan konsep ini. dan menggunakan anggaran untuk mendongkrak tingkat kinerja yang diharapkan. 6. Selain itu. Jika pada masa lalu birokrasi cenderung sekadar melakukan bussiness as usual. Semakin baik kinerjanya. maka dengan konsep ini birokrasi benar-benar dituntut untuk berkembang sesuai dengan perkembangan kebutuhan masyarakat. Birokrasi berjiwa wirausaha atau entreprising bureaucracy: earning rather than spending Birokrasi tradisional cenderung berpandangan bahwa mereka sedang mengerjakan pekerjaan dan karenanya tidak pantas berbicara tentang upaya untuk menghasilkan pendapatan dari aktivitasnya. menetapkan standar pelayanan. Birokrasi yang berorientasi pelanggan atau customer-driven bureaucracy: meeting the needs of the customers. misalnya menjual informasi kepada pusat-pusat penelitian atau badan usaha baik yang menjual jasa maupun barang. dengan konsep berorientasi pada pelanggan. atau sekadar melaksanakan tugas rutin organisasi. birokrasi tidak akan pernah usang atau ketinggalan zaman. birokrasi 60 . semangkin banyak pula dana yang akan dialokasikan untuk mengganti semua dana yang telah dikeluarkan oleh unit kerja tersebut. 7. not the bureaucracy. Birokrasi melakukan survei pelanggan. Selain itu. bukan memenuhi kebutuhan birokrasi sendiri. Oleh karena itu. memberi imbalan kepada unit kerja yang mencapai dan melebihi target. Birokrasi memenuhi kebutuhan pelanggan. Birokrasi dapat mengembangkan beberapa pusat pendapatan. dan sebagainya. karena akuntabilitas yang tinggi akan sangat menentukan prestasi kerja dan juga berimbas pada pendapatan aparat birokrasi. dan lain-lain. Standar pelayanan tidak tetap dan itu-itu saja. Banyak yang bisa dilakukan untuk menghasilkan pendapatan dari proses penyediaan pelayanan publik. pemberian hak guna usaha yang menarik pada para pengusaha dan masyarakat penyertaan modal daerah.

Desentralisasi akan menghasilkan kepemimpinan kolektif. Birokrasi wirausaha tidak reaktif. Visi birokrasi membantu masyarakat. Dari keduanya. terutama oleh para pimpinan birokrasi. Birokrasi birokratis cenderung bersifat reaktif seperti satuan pemadam kebakaran. Birokrasi tradisional menggunakan mekanisme administratif. sedangkan birokrasi 61 . apabila tidak ada kebakaran (masalah) maka tidak ada upaya pemecahan masalah. Menggunakan perencanaan strategi untuk menciptakan visi birokrasi. 10. dan birokrasi daerah untuk meraih peluang yang tak terduga serta menghadapi krisis yang takterduga pula. dan sebaliknya hiraki dikurangi. tanpa menunggu perintah. Imbas positif dari desentralisasi wewenang adalah makin berkurangnya d’tournament d’vavoir atau penyalahgunaan wewenang. Birokrasi terdesentralisasi atau decentralized bureaucracy: from hierarchy to participation and teamwork Birokrasi mengubah sistem hierarki menuju partisipasi dan tim kerja. Pendapatan tersebut bisa diputar untuk membiayai kegiatan birokrasi. atau bahkan dialokasikan untuk membantu pembiayaan pelayanan publik yang lain serta membayar insentif bagi pihak-pihak yang berprestasi. akan tetapi proaktif. Tidak hanya mencoba untuk mencegah masalah. 9. Ada dua cara alokasi sumberdaya. yaitu mekanisme pasar dan mekanisme administratif. Wewenang diberikan pada unit terdepan. Dengan konsep ini. Tim kerja bebas menentukan cara kerjanya untuk mencapai hasil terbaik. Visi dan misi diwujudkan bersama. bisnis. Birokrasi berorientasi pasar atau market-oriented bureaucracy: leveraging change through the market. melainkan untuk menghasilkan pendapatan. 8. di mana keputusan dilakukan bersamasama oleh tim. Birokrasi yang tanggap atau anticipatory bureaucracy: prevention rather than cure Birokrasi tradisional yang birokratis memusatkan diri pada produksi pelayanan publik untuk memecahkan masalah publik. pimpinan bukan lagi “sang maha kuasa” yang berhak menentukan perintah secara top-down kepada bawahan secara sewenang-wenang. namun juga berupaya keras untuk mengantisipasi masa depan.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik dibentuk bukan untuk menghabiskan anggaran. Put it all together. makanisme pasar terbukti sebagai yang tebaik dalam mengalokasi sumberdaya.

birokrasi perlu direformasi. akuntabel dan berorientasi pada kebutuhan pengguna layanan. Salah satunya adalah dengan menerapkan konsep reinventing bureaucracy. Kesimpulan Birokrasi Indonesia belum probisnis. Sepuluh rumusan reinventing bureaucracy tersebut.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 wirausaha menggunakan mekanisme pasar. 62 . cepat. Dalam mekanisme administratif. efisien. Dalam mekanisme pasar. Politisasi birokrasi ikut mendorong terjadinya penyelewengan yang membuat birokrasi semakin jauh dari fungsi utamanya sebagai penggerak sektor perekonomian. Berbagai penyakit birokrasi muncul karena aparat birokrasi cenderung menggunakan birokrasi sebagai alat untuk mencapai tujuan birokrasi itu sendiri. mengeluarkan prosedur dan definisi baku dan kemudian memerintahkan orang untuk melaksanakannya sesuai dengan prosedur tersebut. birokrasi wirausaha tidak memerintahkan dan mengawasi tetapi mengembangkan dan menggunakan sistem insentif agar orang tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang merugikan masyarakat. Reinventing bureaucracy diharapkan mampu mengembalikan birokrasi sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi. jika dapat diterapkan secara konsekuen dipastikan dapat menghilangkan birokrasi birokratis dan patologi birokrasi yang selama ini melingkupi birokrasi Indonesia. Untuk menghilangkan berbagai patologi yang ada. Sifatnya yang birokratis dan patologis membuat keberadaan birokrasi lebih dianggap sebagai faktor penghambat dibanding pendorong perekonomian. Dengan konsep tersebut. birokrasi dikembangkan sebagai unit pelayanan yang tepat. efektif. birokrasi tradisional menggunakan perintah dan pengendalian. bukan sebagai unit pelayanan masyarakat.

Edisi 3 / September / 2011 Laporan Studi Lapangan Foto : Antara Reformasi Birokrasi dalam Dinamika Pemerintahan Daerah Oleh : Tim Redaksi 63 .

pemerintah belum dapat memberikan pelayanan prima bagi investor yang berbisnis atau yang akan berbisnis di Indonesia (Kompas. EE Mangindaan. dan efektif. Pemerintah dinilai belum dapat menyediakan pelayanan publik yang berkualitas. 20 September 2011). akan tetapi masih banyak yang menilai bahwa reformasi birokrasi masib belum berjalan secara optimal. Jika kita memiliki birokrasi yang baik. Reformasi di bidang birokrasi dinilai mengalami ketertinggalan dibanding reformasi di bidang politik. dan hukum. begitu pula mutu perumusan dan pelaksanaan kebijakan makin efisien waktu dan biaya. pemerintah mengakui bahwa sejalan perkembangan kebutuhan masyarakat yang semakin maju dan persaingan global yang semakin ketat. akan mengurangi. Birokrasi pemerintah yang tidak efisien menjadi salah satu faktor penghambat utama dalam melakukan aktivitas percepatan pembangunan ekonomi. Jika berhasil. Melalui Menteri Pendayagunaan Aparatur dan Reformasi Birokrasi. sesuai dengan tantangan yang dihadapi. Ini sebuah pertaruhan besar bagi bangsa Indonesia yang memasuki abad ke-21 ini. dan nepotisme (KKN) semakin menjadi. bahkan dapat menghilangkan. setiap penyalahgunaan kewenangan publik. kareana kini korupsi. Oleh karena itu pemerintah dengan sirius ingin menerapkan 64 . Reformasi birokrasi perlu dilakukan. mutu pelayanan kepada masyarakat meningkat. kolusi. proaktif.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 M Pendahuluan eskipun sudah ada kesepakatan bersama di semua jajaran pemerintahan baik pusat maupun daerah untuk melaksanakan reformasi birokrasi. maka birokrasi kita makin antisipatif. Meskipun sudah banyak perbaikan dilakukan namun indeks persepsi korupsi Indonesia masih rendah dibandingan dengan negara Asia lainnuya. Manajemen sumber daya manusia aparatur negara pun belum profesioan. Selanjutnya Mengindaan menjelaskan bahwa makna reformasi birokrasi adalah sebuah perubahan besar dalam paradigma dan tata kelola pemerintahan Indonesia. seperti menyangkut kedisiplinan atau taat peraturan. Akuntabilitas kinerja instansi perlu pembenahan dan harus berorientasi pada hasil. ekonomi.

Lokasi pengumpulan data lapangan diselenggarakan di enam (6) kota di Indonesia untuk mendapatkan pendapat publik tentang berbagai aspirasi yang berkembang di masyarakat terkait dengan akan kebijakan keterbukaan informasi publik di jajaran birokrasi pemerintah. Adapun pertimbangan dipilihnya kota tersebut adalah. tengah dan timur yang dianggap relevan dengan isu transparansi birokrasi. yaitu sejumlah 354 aduan (31. melalui pengumpulan data lapangan dengan metode observasi dan wawancara mendalam kepada segenap informan yang potensial di berbagai daerah. sistem informasi pelaporan keuangan daerah. ternyata pemerintah daerah paling banyak mendapat laporan. bahwa di samping untuk mewakili perimbangan territorial yang mewakili Indonesia bagian barat. Sorong. Sidoharjo. dan 65 . Keenam lokasi studi lapangan tersebar di wilayah Indonesia bagian barat. juga atas pertimbangan prestasi dan kurang berprestasinya pemerintah daerah dalam melaksanakan pemerintahan dengan prinsip good governance. seperti kendala kultural. Surakarta. Dengan undang-undang ini birokrasi pemerintah daerah segera diharapkan untuk melaksanakan undang-undang tersebut. sementara untuk Surakarta dan Denpasar mewakili daerah yang tingkat transparansi pemerintahannya baik.13%). Oleh karena itu. dan tingkat kesadaran masyarakat sendiri dalam mencari dan mengakses informasi belum terbentuk secara meluas. Akan tetapi berbagai kendala masih muncul dalam implementasi undang-undang yang sangat demokratis tersebut. yang akan sangat berguna bagi upaya meningkatkan kinerja birokrasi pemerintah dalam melayani dengan prinsip good governance. Pertimbangan utama mengapa perlu melihat dinamika pelayanan publik di daerah-daerah.20%). disusul kepolisian 241 aduan (21. belum terbentuknya PPID. Untuk daerah seperti Pakanbaru. Banjarmasin. dan partisipasi publik. Sidoarjo. Salah satu wujud dari komitmen pemerintah adalah mengundangkan Undang-undang Nomor 14 Tahun 208 tentang Keterbukaan Informasi Publik. tengah dan timur. akan dapat diserap aspirasi dan harapan sebagai umpan balik dari masyarakat. yaitu adanya tranparansi. Banjarmasin.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik pemerintahan dengan prinsip good governance. akuntabilitas. Denpasar. Banjarmasin: Komitmen Tinggi Pemprop Kalsel dalam upaya reformasi birokrasi telah memanfaatkan dan mengembangkan IT dalam proses penyelenggaraan pemerintahan dengan mengembangkan unit pelayanan pengadaan secara elektoronik. yaitu meliputi Pakanbaru. karena selama ini pengaduan masyarakat terhadap layanan publik di sejumlah instansi. sistem database barang daerah. dan Sorong mewakili daerah yang tingkat transparansinya masih dalam kategori cukup.

target Rp 111. Pada tahun 2010. Demikian pula para guru juga mendapatkan insentif agar terus memberikan pelayanan pendidikan yang optimal. RW. Khususnya dalam bidang perizinan. Untuk setiap ijin kepada SKPD.5. yaitu organisasi yang tepat fungsi dan ukuran. Memang berdasarkan pengamatan di lapangan. maka akan menggairahkan dunia usaha. Berdasarkan pengakuan warga yang sedang antri mengurus perijinan mengaku cukup mendapat pelayanan secara baik. pola pikir. bahwa dari tahun ke tahun PAD Kota Banjarmasin terus menunjukkan peningkatan secara cukup signifikan. akuntanbiilitas. Wali Kota Banjarmasin. Sedangkan warga yang sedang mengurus paspor di kantor emigrasi mengaku tidak mendapat kesulitan dalam mengurus paspor. Banjarmasin selama program Pemkot telah meningkatkan kualitas SDM di jajaran PNS. Di samping itu. tepatnya 24 September 2011. dan juga di kantor emigrasi. Dalam hal memberikan layanan perijinan secara lancar. Pemkot Banjarmasin menerapkan layanan terpadu dengan satu atap. sehingga dengan demikian semuanya dapat dikontrol untuk kepentingan koordinasi. dan Dewan Kelurahan. Antara lain dengan memberikan insentif kepada RT. Untuk menunjang reformasi birokrasi. pelayanan publik yang prima. dan tentu akan ikut berpengaruh terhadap naiknya Pendapatan Asli Daerah. “Saya cukup lancar dalam 66 . Dengan reformasi birokrasi. kata Muhidin. pengawasan. Hal ini meliputi delapan area perubahan. sumberdaya aparatur yang punya integritas.” Katanya. Pemkot terus berusaha memberikan pelayanan prima. dan budaya kerja. yaitu Badan Pelayanan Perijinan dan Penanaman Modal (BP3M).5 milyar.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 secara bertahap penerapan paperless office. Muhidin mengungkapkan tekad tersebut bersamaan dengan Hari Jadi Kota Banjarmasin yang ke-485. dan pada tahun 2011. Langkah taktis yang dilakukan Kalsel adalah dengan melakukan perubahan menyeluruh pada aspek pendayagunaan aparatur negara. Reformasi telah menjadi komitmen Pemkot Banjarmasin dengan titik berat pada peningkatan pelayanan publik. tata laksana seperti sistem dan proses-prosedur. sehingga masyarakat tidak terhambat oleh masalah birokrasi yang berlarutlarut dalam meningkatkan usahanya. “Hal ini terbukti. semuanya harus lewat BP3M. Pemkot juga berusaha meningkatkan tingkat kesejahteraan pegawai dengan memberikan tunjangan dan insentif bagi PNS di lingkungan Pemkot Banjarmasin. dengan meningkatkan rata-rata tingkat pendidikan. seperti kantor urusan administrasi kependudukan. PAD mencapai Rp 80. “Semua itu dalam rangka mengoptimalkan pelayanan kepada masyarakat dalam segala aspek yang menyangkut kepentingan publik. optimis akan dapat dicapai”. pelayanan cukup lancar. Akan tetapi Muhidin menegaskan tidak akan segan memberikan sangsi terhadap PNS yang tidak disiplin. regulasi yang tertib.

ya harus ada dana tambahan yang diserahkan pada petugas”. hanya menunggu satu minggu jadi. Pemkot Banjarmasin terus berusaha mensosialisasikan undang-undang tersebut kepada masyarakat. Warga dalam mengakses internet.go. tetapi sudah diberlakukan sanksi denda bagi yang terlambat. katanya yang berpengalaman mengurus KTP. Pakanbaru: Antara Optimis dan Pesimis Pada prinsipnya pemerintah daerah telah berusaha keras dalam upaya meningkatkan pelayanan birokrasi kepada masyarakat. masyarakat terkesan kurang peduli terhadap perlunya informasi.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik mengurus paspor. Kepala Seksi E-Government. Sekarang kan era keterbukaan. Mungkin koordinasi dengan instansi teknisnya masih kurang baik. Akan tetapi memang harus diakui bahwa. bahwa di Banjarmasin kalau mengurus ijin. juga masyarakat sudah kritis”. masih untuk keperluan hiburan. Sebenarnya pelaynan yang belum baik itu sering didengar di unit pelaynan non 67 . Ke depan Pemkot akan terus mendorong masyarakat agar terus semakin sadar akan pentingnya terlibat dalam pengambilan keputusan melalui media. Namu demikian juga ada warga yang mengaku. “Semua itu dilakukan guna mendukung prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam sistem pelayanan prima kepada masyarakat. semuanya langsung ke petugas”. Dan saya tidak menemui calo di sini. Sebagaimana dijelaskan oleh Kepala Bidang Informatika Pemkot Banjarmasin. akan tetapi kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam kebijakan publik melalui akses informasi di jejaring sosial masih belum menjadi perilaku budaya. Eka Herlambang. jadi jajaran birokrasi pemerintah tidak mau ambil risiko dengan melakukan lelang secara tertutup. karena akan lebih efisien dari sisi waktu dan biaya. Menurut Prof. Paling tidak ini sudah menunjukkan ada upaya peningkatan pelayanan. Karena di samping itu menyalahi hukum. “Memang sekarang ini sudah banyak internet. “Pemkot juga membuka web. Banjarmasin. Guru Besar Administrasi Negara FIsipol Unri. kata seorang warga yang mengaku akan menjadi TKI ke luar negeri. Amin. kata Eka.” Kata Amin. adanya unit pelaksana teknis (UPT) termasuk Badan Pelayanan perizinan Terpadu menjadi bukti secara formal bahwa ada peningkatan pelayanan birokrasi. Sujianto. lancar tidaknya juga tergantung. dan untuk komunikasi melalui jejaring sosial. Pemkot Banjarmasin terus berusaha memberikan pelayanan secara transparan kepada masyarakat.id yang digunakan untuk lelang secara on-line. Sementara itu dalam upaya menerapkan prinsip good governance. Sedangkan M. dalam rangka menerpakan UU Keterbukaan Informasi Publik. dalam hal pelelangan tender senantiasa disampaikan kepada masyarakat. “Kalau mau urusan cepat. Dr.

seperti di bidang kesehatan dan pendidikan. Partaipartai politik yang kebetulan menjadi pemenang dalam Pilkada misalnya. Dalam rekruitmen sumber daya manusia pun juga bias kepentingan politik. ada kecenderungan mempengaruhi kinerja birokrasi dalam memberikan pelayanan kepada publik. Akibatnya mengabaikan faktor kualitas dan mengorbankan profesionalisme dalam menunjuk pejabat”. Jika dulu senantiasa mengacu pada GBHN. Tidak ada garis utama yang menjadi patokan program layanan birokrasi. birokrasi cenderung tidak netral karena ada kepentingan politik. menilai bahwa birokrasi pemerintah hingga sekarang masih cenderung minta dilayani. Nilai birokrasi sesungguhnya berlandaskan pada evisiensi dan netralitas. dalam arti partai apa yang memenangkan dalam Pilkada. tetapi kenyataannya justru sebaliknya. Menurut Sondiwarman. Kondisi pelayanan birokrasi pemerintah mengalami penurunan karena terseret dengan arus politik yang ada. pembuatan KTP yang merupakan hak setiap warga Negara. Para birokrat bekerja dalam kondisi yang tidak kondusif. Meskipun ada kecenderungan Parpol membuat birokrasi pemerintah menjadi kurang netral. tetapi sekarang pada visi kepala daerah yang setiap ganti kepala daerah pasti ganti visi. tetapi kritik juga datang dari kalangan politisi. Untuk itu birokrasi seharusnya tidak lagi dibina oleh pejabat politik dan penegakan hukum dilakukan secara konsekwen terhadap siapapun.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 perizinan. Birokrasi bekerja untuk melayani penguasa (kepentingan parpol). “Sekarang ini pergantian pejabat lebih didasarkan pada pertimbangan politik. seorang aktivis LSM. dalam prakteknya mulai dari Kelurahan sudah mulai menyimpang dari Perda yang seharusnya biayanya murah menjadi mahal. Program pelayanan sering tidak konsisten karena setiap ganti pimpinan kepala daerah ganti visi dan ganti program. tetapi disalahgunakan oleh negara-negara berkembang sehingga menjadi birokrasi feodal dan tradisional. bahwa nuansa politisasi birokrasi di daerah sangat terasa karena kompetisi politik sangat keras dalam Pilkada. Umumnya lebih disebabkan oleh faktor manusianya yang kurang tanggap dan cekatan. Contohnya hari ini Sabtu. mereka melayani siapa saja yang berkuasa tanpa harus diganti. Akan tetapi Sujianto melanjutkan. “Itulah sebabnya pejabat mulai dari yang tertinggi sampai yang paling bawah sampai saat ini belum bisa menjadi teladan yang baik. Suara senada juga dikemukan oleh Azali Johan. karena mereka sangat tergantung pada partai politik berkuasa. Seharusnya birokrasi dibebaskan dari kepentingan politik sesaat. 17 September 2011 Koran memberitakan bahwa 134 pejabat pemerintah di Pakanbaru diganti karena tidak cocok dengan pejabat politik yang berkuasa saat ini. Contoh yang sederhana. Wakil Ketua DPRD Kota Pakanbaru. katanya menyayangkan. Padahal mestinya birokrasi itu tugas dan fungsi utamanya adalah melayani masyarakat. dan yang 68 . ada satu hal yang menarik bahwa pada era otonomi daerah sekarang ini.

Praktik pungutan illegal seperti itu ada hubungannya dengan mentalitas para aparat birokrasi yang masih koruptif. akan dipotong sesuai dengan ketentuan yang telah dietapkan. 53 tahun 2010. Padahal salah satu prasyarat penting dalam melakukan reformasi birokrasi adalah efektifnya implementasi undangundang tersebut. .Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik seharusnya cepat tetapi kenyataannya masih lambat. sehingga meskipun sebenarnya sudah ada isentif. “Bagaimana mungkin akan melaksanakan 69 . Khusus bagi mereka yang melanggar disiplin pegawai akan diproses dan dikenakan sanksi sesuai PP No. serta mengefektifkan pengawasan dan evaluasi. Prinsip Good Governance akan sulit diterapkan secara optimal jika transparansi dalam mekanisme pemerintahan tidak dilaksanakan. Bersamaan dengan itu. Demikian juga. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Seharusnya proses lebih dipercepat. selaian untuk lebih mengefektifkan pelaynan birokrasi juga dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan. Tujuannya adalah. atau melalui surat edaran. Setiap pengaduan masyarakat. Rapat Pimpinan. karena aparat masih bermental korup.000.sampai Rp. Dalam kaitan dengan implementasi UU No. maka biasanya masyarakat mengadu langsung. pegawai.4000. meskipun sudah ada SOP-nya. Nofri Andri.2. Bagi mereka yang tidak masuk kantor atau melanggar disiplin. untuk mendukung capaian kinerja yang optimal. yaitu jika pelayanan tidak memenuhi permintaan masyarakat atau pelayanan tidak sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang telah ditetapkan. Buruknya pelayanan publik ini juga diungkapkan oleh Presiden Badan Mahasiswa Universitas Riau.000. baik Sujianto maupun Nofri mengatakan bahwa pengawasan terhadap suatu kebijakan di lingkungan birokrasi pemerintah tidak berjalan efektif. terutama di unit pelayanan masyarakat. Hingga sekarang Komisi Informasi Daerah dan PPID belum terbentuk. tetapi tetap lambat. tetapi dalam praktek tidak demikian. tetapi tetap saja melakukan penyimpangan layanan. semua sarana dan fasilitas disediakan.000. atau melalui SMS. Yarham SH. yang memberikan contoh tentang layanan KTP gratis. Padahal sebagaimana dikatakan Kepala Bidang Kedudukan Hukum dan Kesra Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Riau. karena juga rentan melakukan hubungan kolutif antara pelaksana dan jajaran pengawasnya. Pemprov telah memberikan insentif kepada aparat birokrasi yaitu tunjangan beban kerja. perbulan. yakni antara Rp. respons pemerintah Provinsi Riau dapat dikatakan kurang cepat. Memang mekanisme pengawasan dari masyarakat pun juga dibuka sebagaimana dikatakan oleh Yasram. Besaran tunjangan di sesuaikan dengan golongan. Sekretaris Daerah selaku pembina pegawai ditingkat Provinsi juga merespon pengaduan masyarakat yang diungkap dalam acara Apel Bendera. maka akan langsung direspons oleh pimpinan.

Sosialisasi UU KIP menurutnya kurang lancar. karena akan lebih efisien dari sisi waktu dan biaya. Ikon BP2T adalah CERIA . Akan tetapi sekarang sudah relatif transparan. Akan tetapi pada prinsipnya Pemprov Riau tetap berusaha semaksimal mungkin meningkatkan kualitas pelayanan birokrasi pada masyarakat. “Adanya unit pelaksna teknis (UPT) termasuk Badan Pelayanan perizinan Terpadu menjadi bukti secara formal bahwa ada peningkatan pelayanan birokrasi. dan saat ini baru ada di tingkat Provinsi. berpendapat bahwa belum terbentukan PPID sesuai dengan amanat UU KIP. 70 . Jaminan hak publik atas informasi mendorong partisipasi atau keterlibatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan publik.Cepat. Mungkin koordinasi dengan instansi teknisnya masih kurang baik. kata Sujianto yang diamini oleh Zulkurnain. Sementara itu tentang belum terbentuknya PPID menurut Azali Johan tidak jelas alasanya. Paling tidak ini sudah menunjukkan ada upaya peningkatan pelayanan”. Karena itu kami jajaran mahasiswa akan terus mendorong percepatan reformasi birokrasi”. penyebabnya adalah Pemprov Riau masih setengah hati dalam menjalankan pemerintahan secara transparan.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 reformasi birokrasi jika prinsip good governance tidak dijalankan dengan baik. Integritas. Sorong: Bergelut Mimpi dan Tradisi Salah satu elemen penting dalam mewujudkan penyelenggaraan negara yang terbuka adalah hak publik untuk memperoleh informasi sesuai dengan peraturan perundangundangan. Kasubag Bina Program. tetapi hampir di seluruh Indonesia ada gejala itu. meskipun memang masih banyak hambatan baik struktural maupun kultural. “Kalau soal kecenderungan adanya KKN dalam rekruitmen PNS. Akan tetapi Azali menilai bahwa pada prinsipnya Pemprov Riau sudah melaksanakan prinsip good governance sebagai bagian dari komitmen untuk menjalankan reformasi birokrasi. Sebagai contoh dalam hal transparansi. misalnya dengan mengumumkan hasil tes beserta rankingnya di depan publik”. Sedangkan Ramli Khatib. Badan Pelayanan Perizinan Terpadu. katanya. kata Nofri. 8 tahun 2008 tentang Badan Pelaynan Perizinan Terpadu. Hal ini juga diakui oleh Politikus Sondiwarman bahwa pemerintah sudah berusaha transparan. saya kira tidak hanya di Riau. Sebagaimana dikatakan oleh Sujianto dan Zulkurnain. Ketua MUI Riau. sehingga masyarakat tidak familiar dengan masalah keterbukaan informasi. bahwa dalam upaya meningkatkan pelayanan publik Pemprov Riau telah membentuk Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BP2T) berdasarkan Kepmendagri No. tetapi sudah diberlakukan sanksi denda bagi yang terlambat. Dengan keterlibatan yang berkualitas. dan Akuntabel. mungkin karena takut dosa berjamaah. Responsif. Saat ini BP2T memiliki 150 jenis layanan perizinan dan non perizinan. Efisien. hingga sekarang banyak warga masyarakat mengeluh tentang rekruitmen PNS yang tidak terbuka.

Papua Barat. Sekalipun. Kabupaten dan Kota Sorong. dan infrastruktur. Tahun 2008. di Indonesia. Kesadaran akan tanggung jawab yang harus diemban pemerintah daerah atas keterbukaan informasi publik tampak sudah dipahami oleh pejabat di kawasan timur Indonesia. baik di lingkungan Kabupaten 71 . kini tengah berbenah untuk meningkatkan kualitas layanan publik. sekalipun tidak ada peraturan lokal khusus mengatur implementasi UU KIP. M. Marthen Nebore. namun Marthen menegaskan bahwa komitmen keterbukaan informasi sudah melekat dalam setiap program pembangunan. Pendidikan. Dalam aspek layanan informasi. Kota Sorong dikenal dengan istilah Kota Minyak sejak masuknya para surveyor minyak bumi dari Belanda pada tahun 1908. Di kawasan timur Indonesia. Apalagi. kesehatan. perdagangan dan jasa. UndangUndang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP) disahkan dan diterapkan. Prioritas tersebut merupakan “mimpi” Pemerintah Kabupaten yang diarahkan untuk meningkatkan investasi di kawasan kepala burung. karena Sorong dikelilingi oleh kabupaten-kabupaten yang mempunyai sumber daya alam yang sangat potensial sehingga membuka peluang bagi investor dalam maupun luar negeri untuk menanamkan modalnya. Sementara di kawasan Kota Sorong tengah berbenah untuk meningkatkan kapasitas sebagai meeting point. ekonomi.Sc. gas alam dan sumber mineral lain itu. prioritas Pemerintah Kabupaten Sorong adalah meningkatkan investasi di kawasan yang kaya minyak. Kota Sorong terkenal penuh dengan sisa-sisa peninggalan sejarah bekas perusahaan minyak milik Belanda.Sos. termasuk informasi. ekonomi dan infrastruktur diarahkan agar bisa menyiapkan sumber daya lokal agar mendukung kebutuhan sumber daya manusia. yaitu pendidikan. Papua. “Ada empat prioritas pembangunan Kabupaten Sorong. Posisinya sangatlah strategis karena merupakan pintu keluar masuk Provinsi Papua dan kota persinggahan. Kota Sorong juga rnerupakan kota industri. dan mengharuskan seluruh badan publik di Indonesia memberi informasi kepada masyarakat dan melayani permintaan informasi dari publik. kerangka layanan informasi memang tidak diprioritaskan dalam pembangunan Kabupaten Sorong. S. Undang-undang itu memberi jaminan hukum bagi masyarakat dalam meminta informasi dari badan-badan publik. pelabuhan dan pendukung investasi di kawasan Papua Barat.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik akhirnya terwujud akuntabilitas dan pertanggungjawaban setiap kebijakan publik. sementara kesehatan yang bertaratf internasional dikembangkan untuk melayani kebutuhan industri dan investor yang kebanyakan dari luar negeri.” jelas Kepala Humas Kabupaten Sorong.

termasuk di kelurahan dan distrik.” tuturnya.” ungkapnya. Di Kota Sorong. Menurutnya penyediaan informasi yang dibutuhkan bisa diakses langsung masyarakat di instansi yang bersangkutan. Distrik Sorong Barat.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 dan Kota Sorong beberapa peraturan daerah. S. Di kantor layanan. biaya pencetakan dokumen berkisar mulai Rp 10.000. Sebagaimana dialami oleh Amanis Waang (59) asal Kelurahan Rufei. “Setiap dinas sudah memiliki website dan kami juga memfasilitasi petunjuk layanan informasi di setiap kantor layanan. telah mengatur kewajiban lembaga pemerintah setempat untuk memberi informasi kepada masyarakat.oo sampai Rp25. Kemitraan bagian humas dengan pers cukup bagus sehingga berita tentang pembangunan Kabupaten Sorong dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. tidak ada yang mau datang.15 Tahun 2009 Tentang Retribusi Penggantian Biaya Cetak KTP dan Akte Catatan Sipil. warga bisa bertanya secara langsung mengenai kelengkapan berbagai dokumen yang dibutuhkan untuk mendapatkan Kartu Keluarga atau Akta Catatan Sipil lainnya. Walaupun demikian. Nifu Ahmad. Sesuai Perda No. belum ada penunjukkan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumen (PPID).IP. misalnya dalam pelayanan pembuatan Kartu Tanda Penduduk. “Sempat bingung juga. ada kecenderungan warga Sorong hanya mengurus KTP atau yang lain ketika membutuhkan.oo. langsung dipandu oleh salah satu petugas yang ada. seperti Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. Hal itu juga dibenarkan oleh Maimunah (35) salah satu petugas layanan loket. Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Bagian Humas Setda Kota Sorong. namun Marthen Nebore. sekalipun di Kota dan Kabupaten Sorong. Menurutnya 72 . menjamin masyarakat Kabupaten Sorong dapat dengan mudah mengakses informasi. Akses informasi untuk masyarakat memang sudah disediakan langsung melalui kantor layanan dan website. Ketika datang di kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Sorong. Beberapa kesulitan yang ditangani langsung dibantu.00 WIT dan berakhir di pukul 14.000. Ini saja yang mengurus KTP Nasional baru bisa dihitung dengan jari. 08. peraturan-peraturan tersebut tidak secara jelas mengatur tata cara mengakses informasi sebagaimana diatur dalam UU KIP.00 WIT. tapi untung ada yang membantu. informasi tentang biaya pengurusan KTP dan Akte Catatan Sipil bisa dilihat di ruang layanan kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. “Jadi kalau mereka tidak membutuhkan ya. “Pelayanan informasi berjalan dengan baik.” tambahnya. Keterbukaan informasi dalam tataran awal sudah cukup intensif dikembangkan. Dalam pandangan Abbas (50) seorang pekerja industri kayu.” katanya yang harus menyempatkan diri pagi sekali karena layanan kantor dimulai pagi pk.

Buton. memang kebanyakan layanan publik terkendala dengan perilaku warga. lereng. Baru mereka mau urus KTP. Alwin. Cuma banyak yang tidak bisa datang karena beberapa hal. Keadaan topografi Sorong sangat bervariasi terdiri dari pegunungan.  “Masing-masing suku memiliki karakteristik adat tersendiri dan berbeda dalam menyikapi layanan pemerintah.” tambah Abbas.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik kebutuhan warga yang lebih banyak mendorong ketika mereka mengurus KTP atau Akta lain. kurangnya sosialisasi pelaksanaan kegiatan membuat tidak maksimal. Belum lagi harus menghadapi hambatan adat dan budaya masyarakat yang cukup beragam. Sunda.” jelas Moh. “Dibutuhkan cost yang besar dikarenakan jangkauan wilayah kami yang cukup luas. Ketika dibuka layanan langsung di distrik atau kelurahan. Berbeda dengan di Kabupaten Sorong. Menurut Nifu Ahmad. “Padahal kita untuk menyukseskan Program Nasional Kepemilikan KTP Nasional dibuka layanan langsung selama empat hari.4/596/2010 tentang pembuatan KK dan KTP Standar Nasional tanggal 22 Juni 2010 dan Surat Perintah Tugas Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Sorong Tentang Pelayanan Langsung Pembuatan KK dan KTP Standar Nasional di Kelurahan Tanjung Kasuari dan Kelurahan Saoka Distrik Sorong Barat Nomor . “Memang kita dari pegawai Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Sorong di bantu oleh aparat kelurahan setempat. sebelah timur di kelilingi hutan lebat yang merupakan hutan lindung dan hutan wisata. Di Sorong sendiri.” ungkap Marthen seraya menambahkan bahwa standar biaya dari pemerintah pusat tidak sesuai apabila diterapkan di Papua. Hal senada juga disampaikan oleh Abbas. Sumatera. penggunanya tidak terlalu banyak. menurutnya ia juga belum mendapatkan surat edaran dari distrik. staf di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Sorong. Menurutnya selain besaran biaya pengganti cetak.” jelas Rury. Makasar). “Biasanya kalau membutuhkan untuk pinjaman bank atau kredit. Kepala Bidang Komunikasi dan Informatika Dinas Perhubungan 73 .” jelasnya. Jawa. layanan itu didasarkan pada Surat Edaran Walikota Sorong 474.” jelasnya. Di Kota Sorong. “Sehingga masyarakat yang datang untuk mengurus KK dan KTP jumlahnya tidak maksimal. jangkauan geografis yang luas dan sebaran penduduk yang tidak merata menjadi kendala yang paling utama. 470/596/SPPD-DKPSRG/2010. sebagai transmigran yang membawa agama Islam ke tanah Papua. selain masyarakat Moi (terutama yang ada di daerah pantai dan biasa menggunakan nama depan/belakangnya dengan usin) juga terdapat masyarakat BBM (Bugis. karena standar biaya di Papua memang cukup mahal. bukit-bukit dan sebagian adalah dataran rendah.

menurut Marthen.00 siang. tidak dapat diakses masyarakat. Agar bermanfaat bagi kekompakan jajaran SKPD. salah satunya penyampaian informasi seputar program pembangunan yang sedang berjalan. Undang-undang ini juga memberikan jaminan adanya 74 .sorongkota. “Apalagi kita harus menjangkau dan melayani masyarakat sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masingmasing.id.” tambah Marthen. “Masingmasing wilayah kerja.“ tegas Marthen Nebore. “ UndangUndang Keterbukaan Informasi Publik mewajibkan seluruh badan publik menyediakan informasi publik membuat standar layanan informasi publik. Kabupaten Sorong. Selain itu juga kian memudahkan koordinasi bagi aparat Pemda Sorong.” tambah Moh. Marthen Nebore. Alwin yang kini menangani layanan media center dari Kementerian Kominfo di Distrik Aimas. haruslah didukung oleh informasi atau data yang akurat. tapi kecepatan akses lambat juga masih jadi kendala. dukungan infrastruktur layanan informasi yang cukup kuat sangat diperlukan. “Jaringan internet di sini biasanya cepat kalau pagi. Tapi kita berupaya meningkatkan kinerja kehumasan pemerintah. juga tak jauh beda kondisinya. Sekalipun semua bisa terjangkau akses internet nirkabel. website Kabupaten Sorong www.” jelas Marthen. Oleh karena itu.id. M. Tapi usai jam 12. Pemkot Sorong dan Pemkab Sorong. dan bisa dipertanggungjawabkan kepada masyarakat. Keterbukaan informasi publik bukan hanya sekadar mengatur soal informasi.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 dan Kominfo Kabupaten Sorong. guna menjawab tantangan besar yakni meningkatnya proses pertukaran informasi antar unit di dalam organisasi internal. “Berbagai acara dan pelatihan secara berkala dikembangkan. Dalam Undang-undang keterbukaan informasi publik.go. Sementara website Kota Sorong. “Khususnya. kami terus meningkatkan peran aparat hubungan masyarakat (humas) sebagai ujung tombak dalam penyampaian informasi.” tambahnya.Si menyatakan peran kehumasan yang langsung bisa berkomunikasi dengan warga atau pekerja media sangat penting dalam mewujudkan kepercayaan publik dan membina hubungan baik dengan masyarakat. Bupati Sorong. menyatakan pihaknya juga memfasilitasi penyelenggaraan pelatihan dan kordinasi kehumasan. Dr Stefanus Malak. Namun kondisi akses jaringan internet yang belum stabil membuat layanan ini tidak bisa optimal diakses warga. Kepala Bagian Humas Pemkab Sorong.” tuturnya. Jika melalui website tidak optimal. kesiapan para penyelenggara negara dalam menyediakan informasi yang diberikan kepada masyarakat adalah hal yang mutlak. maka akan lambat. go. Tak heran jika kemudian. sebenarnya telah mengembangkan layanan infromasi melalui website. www.sorongkab.

Kader posyandu ditujukan untuk membantu tenaga medis yang jumlahnya terbatas. Dengan pesona alam khas papua dan ditunjang letak yang strategis. Kota ini terus mengalami peningkatan dalam indeks transparansi di tingkat nasional. Surakarta: Ada Perubahan Signifikan Pemerintah Kota Surakarta merupakan salah satu contoh semakin meningkatnya kinerja birokrasi. terdapat enam kelompok etnis besar. mengakui bahwa pelayanan birokrasi di kota ini 75 . telah dikembangkan pelibatan masyarakat secara langsung maupun melalui perwakilan seperti DPRD. Partisipasi yang paling menonjol dalam hal pelayanan dasar adalah di bidang pendidikan dan kesehatan.” tambah Marthen. keikutsertaan masyarakat dalam pelayanan dalam bentukkader posyandu.” kata Maimunah (45) seorang pedagang kelontong di Kota Sorong menambahkan. Di bidang pendidikan. kota Surakarta memang telah menunjukan kemajuan signifikan dalam pelayanan birokrasi.” tambah Abbas. “Widodo Muktiyo. di samping kurangnya sosialisasi dan informasi yang sampai pada anggota komite sekolah. relatif sudah mulai banyak didominasi oleh kalangan pendatang. yaitu: Suku Moi. dosen Ilmu Komunikasi Fisip UNS. Di kawasan Sorong. setiap sekolah terdapat komite sekolah yang beranggotakan para orang tua murid dan donatur. Hal ini di sebabkan rendahnya kemampuan. diperlukan rintisan pembangunan kepariwisataan dalam jangka panjang yang dimulai dari sekarang. dan bahkan masuk dalam sepuluh besar. Akan tetapi mengelola keterbukaan informasi di Kota dan Kabupaten Sorong merupakan seni tersendiri. Jawa. Maybrat. “Namun peranan ini belum berkembang sesuai yang diharapkan. Kabupaten Sorong kini sedang mempersiapkan diri untuk menjadi daerah tujuan wisata unggulan. Bugis Makasar. BPM/BPD/LKMD. Di bawah kepemimpinan Wali Kota Joko Wiyono. Di bidang kesehatan. baik finansial maupun intelektual.” kata Bupati Sorong. Rapat koordinasi pembangunan daerah yang dilakukan oleh BAPPEDA. dan Maluku. “Semua kegiatan itu memang aktif dilakukan di Kabupaten Sorong.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik partisipasi warga negara dalam turut menentukan kebijakan. khususnya di propinsi Papua Barat. Sementara dalam perencanaan pembanguan. Stefanus Malak. “Tetapi di daerah-daerah pedesaan justru kader posyandu menjadi tenaga inti dalam pelayanan kesehatan di pedesaan. Partisipasi atau pelibatan masyarakat tidak banyak berarti tanpa jaminan keterbukaan informasi publik. “Prioritas utama kami adalah pengembangan wisata bahari dan wisata alam. Suku Moi adalah penduduk asli Papua yang menjadi pemegang hak adat atas tanah di pusat pemerintahan Kabupaten Sorong. Sementara di kawasan kota.

Pemkot Surakarta juga terus memberikan pelayanan secara optimal meskipun dalam keterbatasan peralatan. salah seorang pejabat di bagian kependudukan. Fasilitas publik senantiasa menjadi prioritas pengembangan dan senantiasa diperbaiki”. Faktor kepemimpinan menjadi kunci dari perubahan mind set aparat birokrasi. mulai pukul 08. seperti informasi umum. karena memang mereka tumbuh di kalangan kultur yang feodalistik”. maka jajaran birokrasi pemerintah juga mengikuti. sehingga kalau pimpinan atasnya berubah. Penilaian senada juga datang dari Mahendra Wijaya. Dari hasil pantauan di lapangan. “Ketika pimpinan kota Surakarta mau berubah dengan mengedepankan layanan publik. Inovasi dalam pemerintahan juga dapat 76 . layanan kesehatan masyarakat. dan kian cepat dan lancarnya urusan perijinan. rencana kelurahan. programprogram tersebut adalah programprogram yang didesain untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kota Surakarta. kata Mahendra. Dalam struktur birokrasi itu bersifat hierarkis dan instruktif. dan masalah kependudukan. “Reformasi birokrasi cukup terasa dampaknya di kota ini sebagaimana tampak pada makin transparannya Pemkot. terbukti kota ini telah memiliki PPID. masih ada aparat birokrasi yang masih bermental harus dilayani. pelayanan yang dimaksudkan di sini adalahpelayanan jasa yaitu pelayanan di bidang administrasi (perijinan) melalui sistem one stop service (OSS). kata Widodo. Dalam hal e-KTP.00 hingga 21. dan kami minimal membuka layanan 12 jam efektif kepada warga masyarakat”. para petugas tampak bertugas secara allout dan mereka senantiasa menyapa dengan ramah. “Untuk pelayanan e-KTP ini kami bisa melayani 15 orang perjam. Di bidang keterbukaan informasi. Fahrudin.00. Bahkan pelayanan juga dilakukan di luar jam kantor. khususnya di bidang pelayanan umum. Seperti yang diketahui. maka bawahannya juga mengikuti. Pemkot Surakarta juga melakukan langkah-langkah yang terus menunjang terselenggaranya transparansi.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 terus membaik. bursa kerja. pelayanan kesehatan yaitu program PKMS (Program Kesehatan Masyarakat Surakarta). pelayanan umum adalah pelayanan yang diberikan baik jasa maupun non jasa dan ataupelayanan administrasi. terutam yang berkaitan dengan sektor usaha dan perdagangan.2 milyar rupiah. Bahkan juga sudah membentuk komisi informasi dengan anggaran sebesar 1. Harus diakui bahwa Wali Kota Surakarta sekarang cukup kreatif dan inovatif dalam usahanya memberikan layanan kepada masyarakat. dosen Sosiologi Fisip UNS bahwa ada kemajuan yang bararti dalam hal pelayanan publik. Pemkot juga telah secara aktif memberikan pelayanan lewat media on-line. LPSE. Namun demikian. kata Subandi. karena secara sosiologis masyarakat kita memang masih patriomonialistik. Oleh karena itu. Sebagaimana dijelaskan oleh salah seorang pejabat di jajaran Pemkot Surakarta.

dan pembekalan pada PPID sejak April 2011. Secara khusus hak warga terhadap informasi diatur dalam UU nomor 14 Tahun 2008 tentang KIP. Peraturan Wali Kota tentang Standar layanan Informasi/ SOP (dlm proses penyusunan). Beberapa UU lain sesungguhnya juga menjamin hak warga atas informasi. menyiapkanruang pelayanan informasi beserta infrastrukturnya. 77 . dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. Adanya Undangundang keterbukaan informasi pun disambut biasa-biasa saja. yaitu mempersiapkan regulasi di tingkat daerah. dan akses keadilan dalam memenuhi hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Jasa yaitu pelayanan yang terkait dengan pemberdayaan masyarakat. memperoleh. meningkatkan konten Web Pemerintah Surakarta sebagai sumber informasi. memiliki. Warga juga berhak mencari. menyimpan. Dalam pertimbangannya. sesungguhnya masyarakat Bali tidak terlalu peduli terhadap keterbukaan informasi. mengolah. UU tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Hak atas informasi diatur dalam Pasal 14.05/01-B/1/2011 tentang penunjukkan PPID. transparan. Pasal 60. dan meningkatkan sarana untuk mengakses informasi bagi masyarakat. Denpasar: Rakyat Kurang Peduli Harus diakui. 042. akses partisipasi.05/05/1/2011 tanggal 3 januari 2011 tentang pembentukan Tim Uji Konsekuensiterhadap informasi yang dikecualikan pada Pemerintah Kota Surakarta. Fahrudin juga menjelaskan upaya Pemkot dalam bidang layanan informasi publik. Pasal 103. Pasal 65 ayat (2) UU ini menyatakan setiap orang berhak mendapatkan pendidikan lingkungan hidup. 39 Tahun 1999 tentang HAM. sosialisasi UU KIP secara rutin.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik didefinisikan sebagai pengembangan suatu desain kebijakan baru dan prosedur standard operasi yang baru untuk memecahkan masalah publik. dan partisipatif sesuaidengan prinsip good local governance. Padahal hak memperoleh informasi merupakan hak dasar warga Negara. akses informasi. Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28F menjaminnya. meningkatkan pendokumentasian data daninformasi SKPD. UU No. yaitu melalui program rumah tidak layak huni (RTLH). merata. akuntabel. Masyarakat sebagian besar lebih memilih hidup mengurus diri dengan beribadah. Pertama. Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya. Ketiga bidang tersebut dianggap program yang menonjol di Kota Surakartadan dapat dilihat secara langsung nilai-nilai perubahannya dimana pelayananseharusnya diberikan secara adil. Kedua. menerbitkan SK Walikota Surakarta No : 060. Juga terus melakukan pembenahan sistem informasi data. menerbitkan SK Walikota Surakarta No.

hasil uji badan publik lintas sektor yang diadakan Sloka Institute bekerjasama dengan  Indonesian Parliamentary Center (IPC)  terhadap beberapa instansi di 4 kabupaten/kota serta di tingkat Provinsi Bali mencerminkan belum sistematis dan transparannya akses informasi publik. “Warga harus secara aktif meminta akses informasi. serta laporan keuangan badan publik. Perbaikan tersebut hanya bisa dicapai jika publik/masyarakat sebagai pemilik hak atas akses informasi aktif mendorong badan publik untuk selalu berbenah. Informasi ini meliputi profil.Pasal 2 mengatur bahwa asas UU ini adalah setiap informasi publik bersifat terbuka dan dapat diakses oleh setiap Pengguna Informasi Publik kecuali informasi publik yang dikecualikan. sepertinya tidak serta merta terjadi dan diterapkan dengan baik. Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana Bali. kesehatan. Perlu manajemen pengelolaan informasi yang dikuasai dan pelayanan akses informasi dari publik. dan lingkungan. kondisi keterbukaan informasi. belum adanya Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi. Pendapat senada juga disampaikan oleh Agus Sanjaya dari Dinas Perhubungan dan Infokom Denpasar. Indikatornya antara lain. Ini merupakan salah satu cara agar badan publik menjadi lebih siap dan lebih baik dalam melayani permintaan informasi publik”. pemerintah kota Denpasar belum sepenuhnya menerapkan keterbukaan informasi publik. namun itu hanya sebagian kecil. Dalam pasal 9 UU KIP disebutkan badan publik wajib mengumumkan informasi publik secara berkala. minimnya kesiapan badan publik untuk melaksanakan UU KIP. Uji badan publik yang dilakukan meliputi tiga sektor yaitu pendidikan. Perbaikan terutama adalah kebijakan pimpinan badan publik dalam menerapkan UU KIP. Ada beberapa lembaga yang telah dengan baik membuka berbagai informasi kepada khalayak. Menurut Ni Made Ras Amanda Gelgel. Hasil uji publik tersebut ditindaklanjuti dengan mengadakan Rembug Lintas Aktor (RELA) Kesiapan Badan Publik di Bali dalam 78 . Mungkin perlu perbaikan pola pikir dan kemauan masing-masing lembaga dalam penerapan pelaksanaan UU KIP. UU ini juga menegaskan bahwa keterbukaan informasi publik merupakan salah satu ciri penting negara demokratis. katanya. Badan publik adalah organanisasi yang terkait penyelenggaraan Negara maupun organisasi lain dengan pendanaan dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara/Daerah (APBN atau APBD).Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 UU ini menyebutkan bahwa hak memperoleh informasi merupakan HAM. Hasil assessment KIP pusat menjelang pemberlakuan UU KIP disebutkan bahwa baru tujuh badan publik diseluruh indonesia yang dianggap siap atau berupaya mempersiapkan diri. pertama. Kedua. khsusunya lembaga-lembaga publik. kegiatan dan kinerjan. Ketiga. informasi publik yang dikecualikan ini bersifat ketat dan terbatas.

Nanti DPRD akan memilih 5 calon anggota KI. Oleh karena itu masyarakat berharap agar pemerintah terus memberikan pelayanan optimal terhadap masyarakat. Akan tetapi ada satu yang jelas. Ada kesan kuat bahwa Pemda sebenarnya menyadari akan pentingnya reformasi birokrasi. ada yang optimis dan ada yang pesimis. RELA dihadiri oleh anggota Komisi Informasi (KI) Pusat  Abdul Rahman Ma’mun. Selain itu belum ada numenklatur yang jelas antara fungsi yang akan diemban Dinas Infokom dan Humas Pemkot Bali. akuntabilitas. bahwa semuanya semakin menyadari pentingan arti penyelenggaraan pemerintahan dengan prinsip good governance. Informasi. Tim seleksi selanjutnya akan menyaring minimal 10 calon dan maksimal 15 calon untuk diajukan dalam fit and proper test di DPRD Bali. perwakilan Walhi Bali. 79 . Pemerintah Provinsi Bali baru bisa memasukkan pembentukan Komisi Informasi (KI) dalam APBD 2011. dan Ni Luh Candrawati Sari. SH. Kemudian masalah anggaran dan transisi penataan lembaga publik juga menjadi masalah.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Penerapan UU Keterbukaan Informasi Publik 2010 lalu. Ada yang cepat beradaptasi dalam iklim keterbukaan informasi. Semua menyadari bahwa transparansi. dan partisipasi publik adalah penting dalam era sekarang ini. tetapi ada juga yang masih lamban. Untuk itu pemerintah perlu terus menggalakan sosialisasi”. SH. MH. Langkah lainnya adalah dengan merancang website e-government. Sosialisasi tentang UU KIP sudah dilakukan di lembaga publik dan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Provinsi Bali. tokoh masyarakat dan pemerintah. Penutup Begitulah. drs I Wayan Nuranta. perwakilan Yayasan Manikaya Kauci. serba-serbi dinamika pemerintahan daerah dalam menyambut reformasi birokrasi ternyata sangat beragam. dan wartawan. Pemerintah daerah berharap LSM bias ikut memantau proses pembentukan PPID.   perwakilan Biro Pemerintahan Provinsi Bali. Sementara pendapat warga masyarakat juga beragam. Proses pendirian KI diawali dengan pembentukan Tim Seleksi yang melibatkan kalangan akademisi. Kepala Bidang Informasi Dinas Perhubungan. Meniartha berpendapat masyarakat belum peduli. dan Komunikasi Bali. “animo warga Denpasar kurang begitu antusias dalam memanfaatkan adanya UU KIP. perwakilan persma Akademika.. sehingga harus melakukan langkah-langkah penyesuaian.. Nantinya di setiap lembaga itu akan ada Penanggung jawab Pengelolaan Informasi Daerah (PPID) yang ditetapkan dengan Peraturan Gubernur. karena mungkin banyak yang belum tahu. Sementara itu seorang tokoh masyarakat. katanya. Ketua AJI Denpasar Rofiqi Hasan.

Masih banyak aparat birokrasi yang mindset-nya menggunakan paradigma lama. Sepertinya masyarakat kita memang masih perlu terus didorong menuju ke arah keterbukaan informasi. dan kurang cepat melakukan perubahan dengan mengubah berbagai aturan yang telah usang. Hanya saja. di mana mereka masih minta dilayani. terbukti masih sedikit yang membentuk PPID. UU KIP semakin populer berkat sosialisasi yang cukup intens kepada masyarakat. karena itu perlu terus menumbuhkan kesadaran bersama untuk tetap terus belajar berdemokrasi. 80 . Dalam kaitannya dengan pelaksanaan UU KIP. di kalangan masyarakat sendiri juga masih perlu didorong untuk lebih proaktif guna memanfaatkan UU KIP agar good governance terimplemntasi dengan lancar dalam proses pembangunan di daerah. Kendala itu berupa kendala struktural maupun kultural. rigit. Sementara itu kendala kultural muncul berkaitan dengan belum ada transformasi cara berpikir dan sikap yang berorientasi pada pelayanan publik.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Memang ada kendala yang cukup merisauhkan dalam upaya menggelorakan semangat reformasi birokrasi. Namun demikian. Kendala struktural muncul karena karakter birokrasi pemerintah yang hierarkis. sebagian besar pemerintah daerah masih bergerak lamban dalam menyongsong era keterbukaan informasi.

.

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 82 .