Edisi 3/ September / 2011

Birokrasi
Keterbukaan Informasi Publik

a r E m a l a d

Pelayanan Birokrasi dalam Era Otonomi Daerah Pelayanan Birokrasi Papua dalam Era Otonomi Khusus Reformasi Birokrasi dan Implementasi Good Governance
Foto : Antara

Reformasi Birokrasi, Syarat Mutlak Pembangunan Ekonomi

dalam Era
Diterbitkan Oleh :

Tim Redaksi Pengarah : Penanggungjawab :

Pemimpin Umum

:

Pemimpin Redaksi : Anggota Dewan Redaksi : Ismail Cawidu (Sekretaris Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik) Bambang Wiswalujo (Direktur Pengolah dan Penyediaan Informasi) Supomo (Direktur Komunikasi Publik)

Tifatul Sembiring (Menteri Kominfo) Basuki Yusuf Iskandar (Sekretaris Jenderal) Ahmad Mabruri Mei Akbari (Staf Khusus Menkominfo) Freddy H Tulung, (Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik) Suprawoto (Staf Ahli Menteri Bidang Sosial Ekonomi dan Budaya) Sadjan (Direktur Pengelolaan Media Publik)

Erlangga Masdiana (Direktur Layanan Informasi Internasional) James Pardede (Direktur Kemitraan Komunikasi) Redaktur Pelaksana : Mardianto Soemaryo Penyunting/ Editor : 1. Hypolitus Layanan 2. Endang Kartiwak 3. Taufik Hidayat Tim Tenaga Ahli : Sugeng Bayu Wahono Lambang Trijono Abduh Sandiah Murti Kusuma Wirasti Design Grafis : Danang Firmansyah Sekretaris Redaksi : M. Taofik Rauf Sekretariat : 1. M. Azhar Iskandar Zainal 2. Jatmadi 3. Sarnubi 4. Inu Sudiati 5. Elpira Inda Sari N.K 6. Lamini 7. Nur Arief Hidayat

.

Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Daftar Isi Salam Redaksi Wawancara Khusus Reformasi Birokrasi Tidak Secepat Membalik Telapak Tangan ii vii vii I II Pelayanan Birokrasi dalam Era Otonomi Daerah Pendahuluan Antara Harapan dan Kenyataan Penutup 1 2 5 9 Pelayanan Birokrasi Papua dalam Era Otonomi Khusus 11 Birokrasi dan III Reformasi Implementasi Good Governance Birokrasi. IV Reformasi Syarat Mutlak Pembangunan Ekonomi Laporan Studi lapangan Reformasi Birokrasi dalam Dinamika Pemerintahan Daerah 19 45 65 65 i .

Pemerintah pun merespons atas tuntutan reformasi birokrasi dengan berkomitmen menerapkan prinsip good governance. birokrasi pemerintah dituntut untuk tampil sebagai organisasi pelayanan publik yang transparan. Isu utama yang ditekankan dalam reformasi birokrasi bukan saja pelayanan dan inefisiensi. sehingga masyarakat memiliki kesempatan dalam menyampaikan aspirasinya Masih dalam konteks good governance. pemerintah juga memiliki komitmen untuk melaksanakan inisiatif Open Government. dan (4) pengambilan keputusan juga perlu melibatkan masyarakat. pemerintah telah bertindak atas dasar tanggung jawab dalam segala bidang untuk kepentingan masyarakat luas. (3) setiap proses pemerintahan mulai dari pengambilan keputusan sampai implementasi. pemerintah telah berusaha membangun kepercayaan timbal balik antara pemerintah dan masyarakat melalui penyediaan informasi dan menjamin kemudahan di dalam memperoleh informasi tersebut. juga salah satu yang paling santer dikumandangkan adalah perlunya reformasi birokrasi. akuntable. dan masyarakat. antara lain tampak pada (1) penyelenggaraan pemerintahan dengan membuka koridor ketertutupan birokrasi melalui semangat dialog dan komunikasi intensif antara pemerintah. Seiring dengan bergulirnya demokratisasi. pihak swasta. (2) dalam pengambilan kebijakan serta keputusan. dan di sini birokrasi harus transparans. Good governance menjadi sebuah imperatif dalam proses negara demokrasi. dan membuka partisipasi publik.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Salam Redaksi S etelah era reformasi. tetapi juga transparansi. sebagai kebutuhan nasional akan transparansi dan akuntabilitas serta kontribusi aktif Indonesia ii .

khususnya Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik telah berusaha menyusun disain komunikasi untuk memastikan inisiatif Open Government terlaksana sejalan dengan prinsip transparansi. Untuk melakukan good governance perlu proses pembelajaran. Meskipun demikian. Hal yang paling bisa dilakukan adalah untuk memberikan kepercayaan dan dukungan untuk melakukan upayaupaya reformasi birokrasi. tepat. setiap lembaga publik diharapkan menyusun Rencana Implementasi Open Government (OG) lembaganya. dengan biaya yang terjangkau. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Sementara itu. Reformasi birokrasi merupakan salah satu upaya untuk menerapkan prinsip good governance. Dalam pelaksanaannya. kemampuan dan moral penyelenggara pemerintahan mampu memberi pelayanan yang mudah. Ia berusaha mendeskripsikan tentang makna birokrasi dan good governance. namun perlu keseriusan untuk melakukan reformasi birokrasi. dalam arti semangat desentralisasi dan debirokratisasi tercermin dalam tata kelola pemerintahannya. sekaligus sebagai melihat bagaimana penerapan Undang-undang No. perlu perbaikan-perbaikan menyangkut SDM dan SDA yang dimiliki. Berbagai isu dan permasalahan di seputar reformasi birokrasi akan dibedah dan dianalisis secara komprehensif dari berbagai perspektif. iii . Atas dasar permasalahan di atas. Keluarnya undangundang ini juga menunjukkan komitmen pemerintah terhadap upaya perwujudan reformasi birokrasi. pemerintah juga menerapkan Otonomi Daerah dengan menekankan pelayanan birokrasi pemerintah lebih efisien. Muhadam Labolo secara detail menganalisis kinerja birokrasi dalam konteks good governance. maka Jurnal Dialog Publik kali ini mengangkat tema Birokrasi dalam era keterbukaan informasi. Untuk percepatan OG ini melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik dalam Open Government Partnership (OGP). cepat. ada juga yang memberikan penilaian kritis bahwa meskipun prinsip good governance telah dilaksanakan. melalui konsultasi dengan kelompok pemangku kepentingan masingmasing. Dari prosesnya yang lebih efektif. efisien dan tidak berbelit-belit serta menggunakan SDM yang optimal dan berkualitas. tetapi belum sepenuhnya dilaksanakan. partisipasi dan kolaborasi.

Pengembangan kapasitas aparatur berfokus pada aspek pendidikan dan pengalaman yang akan menentukan nilai profesionalisme birokrasi dihadapan masyarakat. namun fundamental. Reformasi kapasitasi adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan sumber daya birokrasi dalam pelayanan agar mampu mengimbangi dinamika masyarakat. Atau birokrasi bersifat adaptif dengan dinamika masyarakat Papua yang semakin terbuka. program dan kegiatan. sehingga lebih mengarah pada birokrasi primordial. sehingga birokrasi pemerintah terbukti adaftif dengan perkembangan masyarakatnya. Menurut Habel birokrasi di Papua justru lebih menunjukkan karakter sebagai birokrasi yang rasional dan mengedepankan profesionalisme. Habel melihat adanya gejala etnosentrisme di Papua apakah berpengaruh terhadap pelayanan birokrasi. Memang. atau berkembang menjadi birokrasi modern yang mengutamakan profesionalisme dan merit system.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 karakteristik pemerintahan yang baik. dan pelayanan pun ada kecenderungan bias etnosentrisme. sehingga personil. Reformasi kapasitasi berkaitan dengan kemampuan birokrasi baik secara individual maupun kelompok yang ditunjukkan pada kemampuan menerjemahkan visi dan misi. dan kekerabatan. Apakah bias primordialisme seperti baik buruknya pelayanan birokrasi disebabkan oleh faktor kesamaan etnis. sehingga lebih mengedepankan profesionalisme dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. agama. Perubahan tersebut diharapkan tidak saja bersifat incremental semata. Salah satu usulan menarik Muhadan adalah bahwa untuk mengefektifkan reformasi birokrasi diperlukan reformasi kapasitasi yang memadai guna meningkatkan kemampuan aparatur dalam melayani masyarakat. birokrasi pemerintah Papua berkembang ke arah yang lebih menunjukkan iv . Sementara itu Habel Suwae mencoba menyoroti pelayanan birokrasi dalam era Otonomi Khsusus di Provinsi Papau. Atau dengan kata lain Habel mengajukan pertanyaan bagaimana pelayanan birokrasi pemerintah Papua dalam era Otonomi Khusus sekarang ini. Akan tetapi dalam perkembangan lebih lanjut. masalah dan tantangan yang dihadapi dalam upaya reformasi birokrasi. serta upaya strategis reformasi birokrasi dan implementasi tata kelola pemerintahan yang baik. disikapi oleh sebagian warga Papua secara primordialistik. pada awalnya terdapat kecenderungan bahwa pemberian kewenangan pengelolaan politik oleh pemerintah pusat dalam bentuk Otsus. sistem rekreuitmen. Birokrasi pun kemudian menunjukkan karakter birokrasi primordial. Perkembangan masyarakat Papua yang semakin terbuka menjadikan Papua semakin plural.

harus ada trnasformasi kultural di kalangan aparat birokrasi dari cara pandang birokrasi sebagai penguasa menjadi birokrasi sebagai pelayanan sesuai dengan sistem politik yang deomokratis. Argumen agak berbeda dikemukakan oleh Ferdinan Kerebungu. birokrasi dikembangkan sebagai unit pelayanan yang tepat. Bersamaan dengan itu. Sifatnya yang birokratis dan patologis membuat keberadaan birokrasi lebih dianggap sebagai faktor penghambat dibanding pendorong perekonomian. birokrasi perlu direformasi. menjadi pertimbangan utama mengedepankan birokrasi rasional. bukan berdasarkan pendidikan dan latihan penjenjangan kerier. Salah satunya adalah dengan menerapkan konsep reinventing bureaucracy. Akan tetapi. Banyak gejolak yang terjadi di daerah sebagai perwujudan ketidak puasan masyarakat dalam pelaksanaan otonomi daerah. Berbagai penyakit birokrasi muncul karena aparat birokrasi cenderung menggunakan birokrasi sebagai alat untuk mencapai tujuan birokrasi itu sendiri. Ferdinan mengkaji tentang efektivitas pelayanan birokrasi di era otonomi daerah. dari segenap analisis kritis yang dikemukan para penulis. kapabiltas dan hal ini disebabkan oleh karena penenpatan pejabat eselon II dan III.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik karakter birokrasi profesional dengan menerapkan merit sistem. cepat. yang lebih mengutamakan efisiensi dan profesionalisme. Realitas yang teralami sekarang banyak birokrat yang tidak mengutamakan pelayanan publik. birokrasi pemerintah juga terus mendorong partisipasi publik dalam proses pembangunan menuju pemerintahan yang transparan dan akuntabel. karena banyak pejabat publik yang diangkat tidak memiliki kapasitas. v . Politisasi birokrasi ikut mendorong terjadinya penyelewengan yang membuat birokrasi semakin jauh dari fungsi utamanya sebagai penggerak sektor perekonomian. efektif. tetapi lebih ditentukan oleh tim sukses. terdapat harapan yang sama. Karakter masyarakat Papua sendiri yang terbuka dan semakin plural. bahwa bagaimanapun birokrasi harus didorong untuk lebih independen. bukan sebagai unit pelayanan masyarakat. Reinventing bureaucracy diharapkan mampu mengembalikan birokrasi sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi. Dengan konsep tersebut.Untuk dapat mengoptimalkan pelayanan birokrasi yang menggunakan prinsip good governance. efisien. Untuk menghilangkan berbagai patologi yang ada. akuntabel dan berorientasi pada kebutuhan pengguna layanan. Sedangkan Nursodik menilai birokrasi Indonesia belum probisnis. pada era sistem pemerintahan desentralisktik sekarang ini banyak menimbulkan persoalan pemerintahan terutama dalam birokrasi pelayanan publik.

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 steril dari kepentingan politik. harus tetap dipelihara dan dirawat agar terus menjadi habitat subur bagi tumbuhnya birokrasi yang secara konsisten menerapkan prinsip good governance. dan mengedepankan profesionalisme. tetap harus mendapat dukungan dari semua pihak. Komitmen pemerintah pusat untuk melakukan reformasi birokrasi. meski di sana-sini terdapat hambatan. Iklim demokrasi yang sudah baik. vi .

Ismail Muhamad. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.Edisi 3 / September / 2011 Wawancara Khusus Reformasi Birokrasi Tidak Secepat Membalik Telapak Tangan Dr. MBA* *Deputi Bidang Program dan Reformasi Birokrasi. vii .

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik

Edisi 3 / September / 2011

S

etelah era reformasi, salah satu isu yang paling santer dikumandangkan adalah perlunya reformasi birokrasi. Isu utama yang ditekankan dalam reformasi birokrasi bukan saja pelayanan dan efisiensi, tetapi juga transparansi. Seiring dengan bergulirnya demokratisasi, birokrasi pemerintah dituntut untuk tampil sebagai organisasi pelayanan publik yang transparan. Prinsip Good governance menjadi sebuah imperatif dalam proses negara demokrasi, dan di sini birokrasi harus transparans, akuntable, dan membuka partisipasi publik.

Meskipun secara normatif, pemerintah punya sejumlah regulasi yang mengatur tatakerja birokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan, namun dari hasil penyerapan opini dalam masyarakat, ternyata sebagian masyarakat menilai reformasi birokrasi belum memperlihatkan hasil konkret, alias reformasi birokrasi masih jalan di tempat. Persoalan yang mengemuka di anatranya pemerintah, termasuk pemerintah daerah dinilai kurang transparan dan tidak banyak melibatkan masyarakat dalam perumusan kebijakan publik. Dalam kaiatan dengan persoalan tersebut, berikut ini petikan hasil wawancara redaksi dengan

Dr. Ismail Muhamad, MBA

viii

Edisi 3 / September / 2011

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik

Deputi Bidang Program dan Reformasi Birokrasi, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Dr. Ismail Muhamad, MBA. Banyak kalangan menilai program reformasi birokrasi jalan di tempat, bagaimana kondisi yang sesungguhnya ada pada saat ini? Pandangan seperti itu dapat dipahami, tetapi sangat tergantung dari sudut pandang mana melihatnya. Perlu diluruskan, bahwa reformasi dalam skala besar (Nasional) dimulai pada tahun 1998. Fokus reformasi pada tiga bidang, yaitu Bidang Ekonomi, Bidang Politik dan Bidang Hukum. Sedangkan secara khusus reformasi birokrasi dimulai pada tahun 2004, dan sebagai pilot projectnya adalah Badan Pemeriksa Keuangan, Mahkamah Agung, dan Kementerian Keuangan. Pada tahun 2008, Kementerian PAN menerbitkan Pedoman Umum Reformasi Birokrasi. Mulai tahun 2010 ditetapkan Grand Design Reformasi Birokrasi 2010 – 2025 berdasarakanh Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 81 Tahun 2010, dan ditindaklanjutin dengan Peraturan Menteri PAN No. 4 Tahun 2010. Jadi kalau ada yang bilang reformasi birokrasi jalan di tempat itu karena kurang mengikuti perkembangan yang ada. Jadi dari sisi kebijakan pelaksanaan reformasi birokrasi sudah ada langkah-langkah konkret. Berbicara mengenai reformasi birokrasi di negara manapun tidak secepat

membalikkan telapak tangan, tetapi membutuhkan proses panjang. Contoh Australia, untuk melakukan reformasi membutuhkan waktu 30 tahun baru bisa dilihat hasilnya. Dalam kaitan dengan transparansi, akuntabilitas, partisipasi publik dan lain-lain sebenarnya sangat terkait dengan UU No. 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) yang secara definitif pelaksanaannya pada tahun 2010. Tetapi sebenarnya transparansi dan akuntabilitas di Indonesia sudah mulai dilaksanakan secara efektif pada tahun 1999, yaitu dengan dikeluarkan Instruksi Presiden RI No. 7 Tahun 1999 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Dengan demikian secara formal semua instansi pemerintah dalam pelaksanaan fungsi dan tugasnya diharuskan transparan dan akutabel. Jadi prinsipnya sudah ada model layanan, prosedur tetap, pengawasan, capaian hasil dan metode evaluasinya, semuanya sudah dituangkan dalam Rencana Strategis (renstra) instansi pemerintah. Pembuatan Renstra itu sendiri sangat transparan, meskipun pada waktu itu belum sejalan dengan UU KIP, karena belum ada. Dalam UU KIP jelas sekali menegaskan bahwa semua informasi itu terbuka (dipulikasikan) kecuali yang rahasia. Berbeda dengan paradigma sebelumnya bahwa semua informasi itu rahasia, kecuali yang dibuka atau yang dipublikasikan. Jadi secara ringkas bisa disimpulkan bahwa transparansi dan akuntabilitas

ix

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik

Edisi 3 / September / 2011

kebijakan pemeritah termasuk bidang pelaynan telah dilaksanakan, meskipun harus diakui ada beberapa yang masih tertinggal. Bagaimana kita melihat secara konkret reformasi birokrasi itu dari sisi pelaynan publik? Pelayanan publik itu kita bagi dua yakni yang bersifat administratif dan pelayanan praktis atau non administrasi. Pelayanan administratif seperti KTP dan sejenisnya, hampir di semua daerah sudah transparan, umpamanya sudah jelas berapa biayanya, penyelesaiannya berapa lama, prosedur dan mekanismenya. Bahkan informasi tentang semua itu ditempelkan di papan pengumuman sehingga masyarakat mengetahuinya secara jelas. Selain itu ada standar pelayanan minimum yang diatur berdasarkan Kepmendagri yang menjadi acuan bagi daerah untuk merancanakan angaran pendapatan dan belanja daerahnya. Standar pelaynan itu juga dipublikasikan agar diketahui oleh masyarakat. Ini artinya langkah konkret yang dilakukan pemerintah itu ada, hanya mungkin kalau ada penyimpangan oleh oknum, termasuk sikap dan prilaku SKPD di daerah tertentu yang cenderung mengada-ada. Sehingga dalam kontek reformasi birokrasi, kelemahan-kelemahan itu dipantau dan dievaluasi, kemudian ditertibkan. Untuk mengurangi penyimpangan kita menggunakan instrumen indek kepuasan masyarakat melalui survei. KPK juga menggunakan

tingkat kepuasan masyarakat dalam mengukur kualitas pelaynan publik. Dalam reformasi birokrasi, unsur itu juga dimasukkan sebagai salah satu indikator keberhasilan yakni peningkatan kualitas pelaynan publik. Kalau kita ambil contoh, kalau KPK mengunakan unsur integritas pelaynan publik, tingkat kemudahan berusaha, lalu instansi yang akuntabel. Tahun 2009 kita sudah punya base line sekian, kita punya target tahun 2014 sekian. Dengan ukuran itu terus dilakukan pemantauan, ternyata hasilnya semnatra ini mengalami peningkatan (kemajuan). Jadi jelas ada pengukurannya untuk menetukan tingkat keberhasilan program reformasi birokrasi. Sampai saat ini masih banyak pemerintah daerah belum membentuk PPID sesuai ketentuan UU No. 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik. Baagaimana Pemerintah menyikapi maslah tersebutdalam kaitan dengan upaya mempercepat reformasi birokrasi? Secara makro hal itu termasuk dalam konteks penguatan kelembagaan dan pembenahan organisasi. Atas dasar UU KIP tersebut kita melangkah pada Open Government yang salah satu intinya adalah setiap instansi pemerintah dihimbau untuk segera melangkah konkret membenahi organisasinya sesuai kebutuhan. UU KIP jelas mengatakan bahwa jika masyarakat yang meminta informasi yang terbuka,

x

setiap waktu masyarakat berhak meminta informasi pada instansi pemerintah ada atau tidak PPID pada intansi tersebut. maka bisa dikatakan bahwa sebagian besarnya sudah punya kesadaran tersebut sangat kuat. Ada beberapa daerah yang mengalami hambatan. Aparat pemerintah menyadari bahwa hak publik untuk mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. maka bisa dituntut. yakni Jawa Barat dan Nusa Tenggara Barat. Dari unsur transparansi dan lain-lain juga terlihat adanya kesungguhan pemda-pemda dan hasilnya cukup baik. akan lebih memudahkan. Jadi dari sisi kacamata reformasi birokrasi. Tetapi berdasarkan pengamatan Kementerian PAN dan RB. baik karena faktor sumber daya manusia maupun sumber daya lain. tetapi melalui induk lembaganya. akuntabilitas dan partisipasi publik dalam pelaksanaan good governance di setiap instansi pemerintah. upaya untuk meningkatkan pelaynan birokrasi sudah sangat kuat. Penilaian ini didasarkan pada indikator dengan menggunakan instrumen yang ada. yakni melalui laporan akuntabilitas. Bagaimana kondisi pemerintah termasuk pemerintah daerah dalam menyelenggarakan pemerintahan yang berperinsip good governance? Kalau dilihat dari sisi akuntabilitas.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik kalau ada yang menghaklangi. Mereka menyampaikannya dengan cukup baik. Oleh karena itu bisa disimpulkan bahwa secara nasional terdapat kemajuan yang cukup signifikan dalam penyelenggaran pemerintahan dengan prinsip good governance. Kita tidak bisa menuding bahwa semua pemda itu sama. Jadi kalau berbicara tentang prinsip-prinsip transparansi. Saat ini pemerintah sudah cukup transparan dan open government. Ditambah lagi dengan adanya website. tentu karena kendala-kendala. seperti soal APBN. Mungkin urgensinya untuk memperkuat unit pelaynan informai. Bahkan barubaru ini pada kesempatan lokakarya ditampilkan dua daerah yang masuk kategori berhasil. kecuali yang sifatnya terkait rahasia negara dan surat-surat yang memang sifatnya rahasia. pemerintah daerah tidak terlalu tertinggal. xi . Ini artinya pintu masuk tidak harus melalui lembaga baru (PPID). salah satunya adalah dengan pemanfaatan teknologi inforasi untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Ternyata langkah-langkah yang dilakukan kedua daerah ini luar bisa dalam kontek transparansi. Ada kendala di beberapa daerah dengan alasan PAD yang tidak mencukupi. karena karakter manusianya berbeda satu dengan yang lain. di samping masyarakat juga punya kesadaran yang luar bisa dalam menuntut haknya untuk memperoleh informasi. tidak perlu pintupintu lagi. pengadaan barang dan jasa dan lainlain semuanya terbuka. termasuk pemeritah daerah.

Kita sudah melakukan pembenahan dengan menetapkan agar semua proses aplikasi melalui website. Lalu harusnya hasil ujian itu diumumkan. baru ada formasi. yang selama ini cenderung berorientasi pada kewenangan. dan yang merepresentasikan masyarakat diundang untuk menjaring masukan dan aspirasi masyarakat. lalu dalam proses asesmennya diminta dari perguruan tinggi yang terbaik di masing-masing daerah. Sampai dengan Desember 2012 ditetapkan supaya seluruh pemerintah provinsi. Atas dasar itu. kabupaten/kota mengajukan berapa kebutuhannya. Seperti ada informasi bawa di daerah tertentu untuk masuk PNS harus bayar jutaan rupiah. Apakah dalam penyelenggaraan pemerintahan sudah membuka koridor ketertutupan birokrasi melalui semangat dialog dan komunikasi intensif antara pemerintah dan masyarakat? Prinsipsnya kita berpegang pada UU No. tetapi dalam kenyatannya itu dimainkan juga. Jadi keterlibatan unsur – unsur dalam masyarakat itu penekanannya peranya apa. Sekarang pemerintah melalui Peraturan Bersama Meneteri Dalam Negeri. prosesnya harus dimulai dari usulan desa/kelurahan. Kalau sebuah xii . Dengan reformasi ini juga kita mengukur kinerja. Dalam UU ini jelas sekali. Bagaimana pemetrintah menyikapi maslah tersebut? Memang harus diakui bahwa kondisi seperti itu ada pada praktek rekrutmen pegawai dan pejabat pemerintah. Musrembang sampai ke tingkat nasional dimana di setiap lefel itu melibatkan masukan masyarakat. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembanagunan Nasional. organisasi tertentu. Menteri Keuangan dan Menteri PAN dan RB memutuskan untuk moratorium penerimaan calon PNS mulai September 2011 sampai Desember 2012.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Salah satu sorotan masyarakat terhadap lemahnya pelaynan birokrasi adalah dalam kaitan dengan rekrutmen aparat (PNS) dan pejabat pemerintah yang tidak transparan dan sarat dengan KKN. kompetensinya apa dan sebagainya. Intinya adalah selama masa moratorium itu akan dibuat formula yang bisa mencegah praktek KKN dan prilaku yang menyimpang. kalau tidak ada analisis kebutuhan kompetensi yang dibutuhkan. Bahkan ada stetmen di Komisi II DPR RI bahwa akibat penyimpangan seperti itu menyebabkan kerugian negara sampai 25 triliun rupiah. bukan kewenangannya. Tidak akan disiapkan formasi oleh pusat. bahwa setiap ada kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Moratorium ini diperlukan untuk melakukan pembenahan. melalui tokohtokohnya. berubah dan lebih mengutamakan peran. Salah satu langkah reformasi terkait dengan maslah ini adalah merubah mainset dan kutureset para pejabat.

itu pun sampai sekarang belum semua menerapkan. itu semata- mata dengan pertimbangan demi kepentingan bersama. belum untuk mencapai kinerja yang lebih baik (better performance). dan belum berorientasi pada hasil (outcomes). salah satu prasyaratnya adalah penerapan good governance. Tetapi yang terpenting adanya suatu public policy process yang sesuai dengan prinsipprinsip good governance. Jadi dengan reformasi dimaksudkan untuk merubah pemahman bahwa demokrasi tidak seperti terjadi saat ini. Kendala kedua adalah kebutuhan SDM aparat birokrasi itu belum proporsional. Proses dalam merumuskan sebuah kebijakan publik harus melibatkan masyarakat. meningkatkan kualitas xiii . maupun dari sisi kompetensinya juga belum pada posisi the right man on the right please. Seperti digambarkan sasran reformasi birokrasi dalam Grand Design Reformasi Borokrasi 2010 -2025 yang dibagi dalam tiga tahap sebagai berikut: 1. karena kemudian kurang efektif. seperti Singapura. Kendala-kendala apa saja yang dirasakan dalam penyelenggaraan pelayanan birokrasi yang berprinsip good governance? Kendala utama yang terlihat selama ini adalah pada mind-set dan cuture-set pada aparat birokarasi. tetapi dari sisi demokratisasi. Selain itu. apalagi sudah membudaya itu membutuhkan waktu lama. masih jauh di bawah Indonesia. baik dari faktor alokasinya dari pusat sampai ke daerah. difokuskan pada penguatan birokrasi pemerintah dalam rangka mewujudkan pemerintah yang bersih dan bebas KKN. produktif dan profrsional. yakni dengan menggunakan menejmen kinerja. tetapi bukan berarti reformasi birokrasi jalan di tempat. Demokrasi Indonesia menduduki nomor tiga terbaik di dunia. Sasaran lima tahun pertama (2010 – 2014). maka reformasi ini digunakan untuk membenahinya. Tetapi ada contoh negara yang punya good governance namun dalam praktek demokrasinya masih kategori rendah. Tetapi harus diakui untuk merubah pola pikir. efektif. Bagaimana mengefektifkan pelayanan birokrasi dalam era keterbukaan informasi sebagai bagian dari demokratisasi? Prinsip demokrasi. maka kinerjanya turun. Meskipun Singapura punya pemerintah yang sangat good governance. bahkan sudah 10 tahun terakhir ini masuk pada periode maturity. birokrat belum benar-benar memiliki pola piker yang melayani masyarakat. Pola piker dan budaya kerja birokrat belum sepenuhnya mendukung birokrasi yang efisien. Persoalan nanti kalau kemudian ada yang dipotong di atas.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik kebijakan dalam implementasinya tidak ada aksesnya pada masyarakat. Sebenernya secara normatif itu semua sudah diatur.

Sasaran lima tahun ketiga (2020.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 pelaynan publik kepada masyarakat. reformasi birokrasi dilakukan melalui peningkatan kapasitas birokrasi secara terus menerus untuk menjadi pemerintahan kelas dunia sebagai kelanjutan dari reformasi birokrasi lima tahun kedua. serta meningkatkan kapasitas dan akuntabilitas kinerja birokrasi. 3. selain implementasi hasil-hasil yang sidah dicapai pada lima tahun pertama. xiv . 2. semua itu sudah pada posisi yang benar. Sasaran lima tahun kedua (2015 – 2019).2024). Sehingga dengan sasaran-sasaran tersebut. pada lima tahun kedua juga dilanjutkan upaya yang belum dicapai pada berbagai komponen yang strategis birokrasi pemerintah pada lima tahun pertama. reformasi birokrasi ini akan berhasil membenahi performen pelaynan birokrasi dalam memenuhi kebutuhan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

I Pelayanan Birokrasi dalam Era Otonomi Daerah Oleh : Ferdinand Kerebungu * Edisi 3 / September / 2011 * Ketua Program Studi Magister Administrasi Publik. dan mengajar pada S2 Pengembangan Sumberdaya Sosial. Program Pascasarjana Universitas Samratulangi Manado. pada Program Pascasarjana Universitas Negeri Manado. 1 .

karena banyak pejabat publik yang diangkat tidak memiliki kapasitas. dan transparan. Dalam tulisan ini dikaji tentang efektivitas pelayanan birokrasi di era otonomi daerah. Untuk dapat mengoptimalkan sumberdaya yang ada di daerah khususnya sumberdaya manusia.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 i era sistem pemerintahan desentralisktik sekarang ini banyak menimbulkan persoalan pemerintahan terutama dalam birokrasi pelayanan publik. Banyak gejolak yang terjadi di daerah sebagai perwujudan ketidak puasan masyarakat dalam pelaksanaan otonomi daerah. Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar tahun 1945 pada alinea keempat diamanatkan tentang tugas pemerintah antara lain adalah untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. sehingga mereka tidak menguasai tugas pokok dan fungsinya. Tugas ini di era orde baru belum dapat terwujud hingga ke pedalaman Negara kesatuan Republik Indonesia. Perubahan arus sistem pemerintahan ini merupakan impian dari masyarakat agar dapat terlayani dengan baik. maka sistem pemerintahan dan politik yang berlaku harus didasarkan pada sistem pemerintahan yang demokratis. Di era reformasi sekarang ini sistem pemerintahan berubah menjadi desentralistik. penyelenggaraan birokrasi pelayanan publik yang dilaksanakan oleh pemerintah pada prinsipnya untuk memenuhi kebutuhan dasar dan hakhak setiap warga negara berdasarkan amanat Undang-Undang Dasar 1945. bukan berdasarkan pendidikan dan latihan penjenjangan kerier. kapabiltas dan akuntabiltas dalam bidang kerjanya. karena sistem pemerintahan yang bersifat sentralistik. Di era otonomi daerah saat ini. dengan harapan tujuan terbentuk negara ini dapat terwujud secara optimal. dan kebutuhan mereka D Pendahuluan 2 . Hal ini disebabkan oleh karena penempatan pejabat aselon II dan III. Realitas yang teralami sekarang banyak birokrat yang tidak mengutamakan pelayanan publik. tetapi lebih ditentukan oleh tim sukses.

apalagi mau menuntut kualitas. maka yang menjadi permasalahan dalam penulisan ini adalah “sejauhmana efektivitas pelayanan birokrasi diera otonomi daerah”. seperti pelayanan cepat. Akibatnya kebanyakan pejabat yang menduduki jabatan aselon dua (II) hingga aselon tiga (III) adalah orang-orang yang tidak berkompeten dibidangnya. Realitas yang dihadapi masyarakat di era otonomi sekarang ini seperti hanya sebuah mimpi yang sulit untuk terwujud. tepat. hingga perubahannya menjadi UndangUndang Nomor 32 tahun 2004.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik dapat tercapai dengan sistem pelayanan birokrasi yang prima. bahkan tujuan utama pemekaran wilayah yang marak terjadi di era otonomi daerah yaitu mendekatkan pelayanan pada masyarakat bagaikan api jauh dari panggang. sehingga pelayanan publik tidak dapat terlaksana dengan optimal. kesulitan menciptakan lapangan kerja. belum juga menunjukkan perubahan yang signifikan dalam sistem pelayanan publik yang dilaksanakan oleh para birokrat sebagai pejabat publik. yang tidak sesuai dengan harapan masyarakat. 3 . Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis pelaksanaan pelayanan birokrasi terhadap masyarakat di era otonomi daerah. Setelah dua belas tahun pelaksanaan perubahan sistem pemerintahan yaitu dari sistem pemerintahan yang sentralistik ke sistem pemerintahan desentralistik sejak ditetapkannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Persoalan tersebut diperparah lagi dengan kinerja para birokrat yang sangat rendah. Berdasarkan latar belakang tersebut. efektif dan efisien. junto Undang-Undang no 12 tahun 2008. bahkan dalam sistem pelayanan publik modern menuntut para birokrat melakukan pelayanan prima pada publik. Pelayanan birokrasi yang terjadi tidak mampu mengimbangi perkembangan tuntutan masyarakat akan pelayanan. Kondisi ini banyak dilihat di tanah air ini tentang maraknya protes yang dilakukan oleh masyarakat. Untuk meningkatkan kualitas birokrasi dalam pelayanan publik. Nampaknya para kepala daerah sebagai top manajemen dalam organisasi pemerintahan daerah lebih disibukkan dengan bagaimana para pendukungnya masuk dalam jajaran kabinetnya. Sehingga tulisan ini dapat bermanfaat untuk melakukan evaluasi pelaksanaan otonomi daerah apakah berjalan efektif sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 junto Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang otonomi daerah.

komunikatif. (4) mengatur tindakan individu agar individu tidak menjadi liar. Oleh sebab itu. yaitu: (1) dimensi kelembagaan yang meliputi. Di mana para aparatur (birokrat) dituntut untuk memiliki pengetahuan tentang unsur-unsur layanan publik yang secara tepat. (3) melindungi kebebasan individu berdasarkan peraturan dan norma adat istiadat yang berlaku di masyarakat.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 perlu memperhatikan tentang tugas dan fungsi dari masing-masing aparatur. kita tidak menjumpai berbagai bentuk kekecewaan masyarakat dan sebaliknya masyarakat akan concern dalam aktivitas kesehariannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. (Sarundajang. Selain itu. (2) menjamin keadilan di lingkungan masyarakat. responsif. dimensi ini merujuk pada berbagai perilaku yang diperankan para birokrat dalam pelayanan publik”. (5) meningkatkan kesejahteraan masyarakat. dan memahami secara cepat kebutuhan publik yang dilayani. kelemahan birokrat sama dengan kelemahan administrasi pelayanan publik. dan yang terakhir. birokrat dalam menjalankan tugasnya berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku bagi setiap pejabat publik dan menanpakan perilaku sebagai pamong yang 4 . Lumingkewas dan Masengi (2008). seorang birokrat akan nampak kualitas layanannya terhadap publik seperti kehandalannya. Oleh karena itu birokrasi di Amerika Serikat disebut dengan Administration. memahami alur birokrasi layanan yang ditetapkan oleh masing-masing satuan kerja perangkat daerah (SKPD). dan (2) dimensi sikap dan perilaku birokrasi. Jika birokrat sebagai administrator dan pelayan publik melaksanakan tugasnya berdasarkan fungsinya sebagaimana dikemukakan oleh Sarundajang di atas. mekanisme dan prosedur. tidak menundanunda pekerjaan. Menyimak kelima ciri fungsi birokrasi tersebut. memiliki pengetahuan luas dan ketrampilan yang baik. Berdasarkan kedua dimensi birokrasi pemerintahan tersebut. seyogyanya di era otonomi daerah saat ini setiap penjabat publik dalam melaksanakan tugasnya sebagai administrator dan pelayan publik memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat guna mencapai cita-cita pendirian negara ini. 2005). dan memberikan pengayoman terhadap masyarakat yang berada di wilayah kerjanya. peraturan-peraturan baku yang berstandard dan budaya. Selanjutnya Sarundajang (2005). mengemukakan ada lima ciri fungsi birokrasi yaitu: (1) memenuhi tatanan internal organisasi dan keamanan eksternal organisasi. memiliki kejujuran dan berperilaku baik. Banyak pengamat mengatakan bahwa birokrasi identik dengan administrasi. Sejalan dengan pemikiran tersebut. mengemukakan bahwa “birokrasi pemerintahan dapat dipandang dari dua dimensi.

dan pelaksana. hal ini dimaksudkan agar dalam melaksanakan tugas kesehariannya ia mampu menyelesaikan dalam waktu yang tidak terlalu lama. dan bahkan tidak memperhatikan pendidikan penjenjangan karier seperti diklat PIM I. PIM II maupun PIM III. Sebagai contoh misalnya. kondisi seperti yang disebutkan di atas banyak dipengaruhi oleh sikap kepala daerah (Bupati/Walikota) terpilih yang lebih banyak mendengarkan tim sukses dibandingkan dengan mendengarkan staf atau penjabat yang berkompeten dalam bidangnya. dan bahkan pengangkatannya lebih ditentukan oleh tim sukses pilkada.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik patut diteladani oleh semua pihak. bisa tertunda sampai berjam-jam atau bahkan berhari-hari. Di era kemajuan teknologi. Sebagai seorang pelaksana tugas di lembaga pemerintahan harus dapat menjadi sebagai konseptor. memiliki ketrampilan dan menguasai perkembangan teknologi informasi. perencana. informasi dan komunikasi (TIK) saat ini tidak sedikit birokrat yang tidak mampu menguasai dan menggunakan teknologi informasi secara baik. yang pada gilirannya akan dapat memberikan pelayanan yang prima terhadap masyarakat. dan yang selalu menjadi alasan klasik yang dilontarkan oleh staf tersebut adalah belum ditanda tangan oleh bos/atasannya karena tidak berada ditempat. demi kepentingan dan kemajuan bangsa dan negara. mulai sekitar bulan Juli 2011 sampai saat ini masih terjadi kesalahpahaman antara Walikota Manado dengan Gubernur Provinsi Sulawesi Utara. seperti 5 . Setiap penjabat aselon dua (II) atau tiga (III) yang diangkat oleh Bupati/ Walikota. tidak lagi berdasarkan pada kapasitas atau kapabilitas para penjabat yang diangkat. sehingga sering banyak tugastugas yang seharusnya diselesaikan dalam waktu satu atau dua jam. bahkan jika diamati di lembaga-lembaga pemerintahan sering ditemui staf administrasi di kantor-kantor pemerintahan. karena Walikota Manado mengganti beberapa pejabat aselon II tanpa konsultasi dengan Gubernur. tidak menggunakan komputer untuk kepentingan tugasnya sebagai seorang administrator. Kondisi ini yang sering membuat masyarakat bosan dengan berbagai keterlambatan dalam soal surat menyurat. Antara Harapan dan Kenyataan 1. Berdasarkan realitas yang nampak di daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi   Utara.      Birokrat sebagai Administrator Seorang birokrat sebagai administrator memerlukan pengetahuan luas. dan peran Badan Pertimbangan Jabatan (Baperjakat) hanyalah bersifat formalitas. Hal ini terkait dengan persoalan pelayanan kepada masyarakat. tetapi lebih banyak digunakan permainan game.

Fenomena-fenomena demikian bukan barang baru yang ditampilkan oleh setiap pejabat Bupati/Walikota di era Otonomi Daerah saat ini. mengemukakan bahwa  “di masa lalu. Akibat perilaku demikian birokrasi pelayanan publik tidak berjalan optimal. sebab kalau tidak ikut serta dalam rombongan kunjungan kerja. walaupun itu bukan bidangnya. Sarundajang (2005) mengemukakan bahwa “Otonomi Daerah adalah hak wewenang dan kewajiban daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku”. Gaffar dan Rasyid (2003). sehubungan dengan tujuan pelaksanaan desentralisasi oleh Syaukani. Sehubungan dengan hal itu. penggantian pejabat dan pelantikannya sering dilakukan secara mendadak dan dilakukan malam hari. Kasus pemberhentian sepihak terhadap pejabat Sekretaris Kota Manado berakhir di PTUN dan dimenangkan oleh pejabat Sekretaris Kota yang berhentikan. ketaatan dan partisipasi masyarakat tersebut akan lahir dengan sendirinya apabila mereka mendapat perlakuan yang seimbang dan kebutuhan pokoknya terpenuhi. Pada saat ini kewenangan pemerintah daerah sudah begitu luas dalam mengembangkan potensi yang terdapat di daerahnya. Secara sosiologis dan psikologis. Contoh yang lain lagi. bisa berdampak pada penggantian pejabat. Pelayan yang seimbang dan pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat merupakan konsekwensi dari implementasi otonomi daerah. dan ditahan dilembaga pemasyarakatan Cipanang karena tersangkut kasus Korupsi).Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 penggantian Sekretaris Kota Manado. Banyak keluhan yang disampaikan aparatur di daerah yaitu kurangnya partisipasi masyarakat dalam berbagai program pembangunan termasuk dalam hal pembayaran pajak bumi dan bangunan (PBB). setelah dilantik oleh Mendagri langsung melantik pejabat aselon II dan III di lembaga pemasyarakatan Cipinang. . Lain lagi peristiwa yang dilakukan oleh Walikota Tomohon Sulut yang terpilih (saat ini non aktif. masyarakat Indonesia pada umumnya adalah masyarakat yang taat pada pemerintahnya. 6 .”. Berdasarkan ketentuan peraturan peundang-undangan yang berlaku bahwa setiap pengangkatan pejabat aselon II harus dikonsultasikan oleh Bupati/Walikota kepada Gubernur. Contoh arogansi pejabat kepala daerah terpilih yang demikian itulah yang menyebabkan seringkali banyak penjabat tidak berada ditempat karena harus mengikuti ke mana Bupati/Walikota berkunjung. . di Kabupaten Minahasa Selatan. termasuk di dalamnya pelayanan birokrasi terhadap kepentingan masyarakat. banyak masalah terjadi di daerah yang tidak tertangani secara baik karena keterbatasan kewenagan pemerintah daerah .

sebagai seorang birokrat yang berada pada garis depan pelayanan publik. yaitu Bupati/Walikota dan seluruh aparat birokrasi yang berada di bawahnya. gunan menutupi kekurangan dana dari PAD sebagai sumber utama APBD. dan Dana Alokasi Khusus (DAK). Keberhasilan pelaksanaan otonomi daerah sangat ditentukan oleh bagaimana perilaku aparatur di daerah dalam melaksanakan tugas dan fungsinya secara bertanggung jawab dan penuh pengabdian. Kondisi demikian lebih dipeparah oleh perilaku anggota DPRD yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi ketimbang kepentingan konstituennya. Tidak optimalnya pembayaran PBB oleh masyarakat berdampak pada rendah Pedapatan Asli Daerah (PAD). yang implikasi pada kurangnya dana untuk pembangunan. serta didukung oleh kerjasama yang baik antar aparatur yang ada dalam membentuk tim kerja  (team work) yang solid. yang banyak mempengaruhi berhasil tidaknya pelaksanaan otonomi daerah terletak pada para pelaku otonomi daerah itu sendiri. Kondisi demikian sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Kaloh (2002).Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Oleh sebab itu. hal ini sering disebabkan oleh ego sektoral dan kurang koordinasi antar SKPD dalam penyusunan program kerja. Para pelaku otonomi daerah adalah mereka yang diberi kewenangan dan otoritas untuk mengelolah daerahnya. seyogiyanya mengutamakan pengabdiannya kepada masyarakat (Sapta Prasetya Korpri). sehingga dalam perencanaan pembangunan daerah banyak antar SKPD yang saling tumpang tidih program. maka tidak mengherankan banyak pejabat di daerah yang ikut jadi pengemis ke pusat untuk meminta tambahan Dana Alokasi Umum (DAU). 2. Kelemahan dalam pelayanan dan rendahnya partisipasi masyarakat banyak dijumpai pada saat pemberian kewenangan ke daerah secara luas. karena kewenangan tersebut tidak dilaksanakan secara optimal. mengemukakan bahwa “salah satu prasyarat tercapainya team work dan konvergensi adalah adanya kejelasan tugas pokok dan fungsi masingmasing institusi pemerintahan”. Perilaku Birokrasi dalam Pelayanan Publik Sebagaimana telah diutarakan pada bagian sebelumnya. karena kosentrasi pejabat yang ada lebih terfokus pada melayani Bupati/Walikota ketimbang melayani masyarakat. Yang menjadi persoalan sekarang di daerah adalah banyak pejabat antar satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang kurang memahami tugas pokok dan fungsinya. ketimbang hal-hal yang tidak berdampak pada peningkatan partisipasi masyarakat. Kaloh (2002). “problematik yang dihadapi oleh birokrasi pemerintahan kita adalah 7 .

banyak program kerja yang saling tumpang tindih karena sudah ditangani oleh beberapa SKPD. Dalam proses pengumpulan data. bahwa “otonomi daerah akan menciptakan raja-raja kecil di daerah dan memindahkan korupsi ke daerah”. Sebagai contoh kasus misalnya penanganan beberapa obyek wisata yang terrdapat di Propinsi Sulawesi Utara. jika Bupati/Walikota dalam menjalankan sistem pemerintahannya secara demokratis. sehingga dalam satu daerah otonom akan mengalami kesulitan untuk membentuk tim kerja yang solid. akan tetapi tidak memperhatikan tupoksinya. yang tidak mengutamakan pelayanan tapi hanya lebih mempertontonkan kebolehannya dihadapan atasannya (Bupati/Walokota). Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Syaukani. sulit untuk melacak sumber permasalahan. Saling lempar tanggung jawab. Sebab sistem pemerintahan demokratis memberikan peluang bagi masyarakat untuk mengontrol 8 .Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 seringkali sesuatu urusan ditangani oleh banyak instansi sehingga muncul masalah. Dalam kondisi sedemikian ini sulit membangun team work dan konvergensi”. seperti Taman Laut Bunaken. Di Provinsi Sulawesi Utara tidak sedikit pejabat yang terlibat kasus manipulasi dan korupsi sehingga mereka berurusan dengan pihak berwajib dan bahkan sudah banyak yang masuk lembaga pemasyarakatan. Gaffar dan Rasyid (2003). Perilaku ego sektoral sering ditampilkan oleh para pejabat publik. Dampak dari perilaku demikian. agar supaya dipandang lebih piawai dalam menyusun program. mampu berkoodinasi antar SKPD. Perilaku saling lempar tangung jawab seperti contoh kasus tersebut memberikan gambaran tentang kinerja aparatur dalam pelayanan publik. jawabannya adalah pemerintah Provinsi. kami menanyakan pada dinas pariwisata Provinsi Sulawesi Utara tentang siapa yang bertanggung jawab dalam pengelolaan obyek wisata taman laut Bunaken. Pada suatu kesempatan saya mendampingi salah seorang teman yang sedang melakukan penelitian tentang Privatisasi Kebijakan Publik tentang obyek wisata taman laut Bunaken. tumpang tindih program merupakan celah yang terbuka untuk terjadi manipulasi dan korupsi. karena obyek wisata taman laut bunaken berada di beberapa wilayah kabupaten kota. sehingga tujuan terbentuknya daerah otonom yaitu mendekatkan pelayanan pada publik dan peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat terwujud. dan obyek wisata religi Bukit kasih di Kanonang Minahasa. Raja-raja kecil dan korupsi tidak akan lahir di daerah otonom. kami mendapat jawaban bahwa yang bertanggung jawab adalah pemerintah kota manado. begitu sebaliknya waktu ditanyakan pada dinas pariwisata kota manado.

Tidak terjadi tumpang tindih program pembangunan dan tidak membuka ruang bagi koruptor akan berdampak positif bagi kemajuan masyarakat. seorang kepala daerah dalam menjalankan roda pemerintahannya harus bersifat demokratis. maka tujuan utama utama pembentukan otonomi daerah dapat terealisasi. dan pihak pemerintah lebih terbuka dalam hal penyusunan program (Musrembang sesuai undang-undang 32 tahun 2004) dan penggunaan anggaran publik benar-benar untuk kepentingan publik. transparan dan akuntabel. untuk dapat mengoptimalkan dan memberdayakan segala sumberdaya yang ada di daerahnya.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik jalannya pemerintahan. Untuk mencapai hal tersebut. termasuk diantaranya sumberdaya manusia secara berdaya guna dan berhasil guna. Penutup Pelaksanaan otonomi daerah pada prinsipnya adalah percepatan pertumbuhan dan pembangunan daerah. serta mendekatkan pelayanan pemerintahan pada masyarakat di daerah. 9 . tanggung jawab lebih bertumpuh pada kepala daerah yaitu Bupati/Walikota. Dalam sistem pemerintahan daerah yang bersifat desentaristik seperti sekarang ini. yang pada gilirannya birokrasi pelayanan publik akan berjalan secara optimal.

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik

Edisi 3 / September / 2011

 Daftar Pustaka Kaloh, J., 2002, Mencari Bentuk Otonomi Daerah, suatu solusi dalam menjawab kebutuhan local dan tantangan global, Rineka Cipta, Jakarta.  Lumingkewas, Lexie A., dan Evi E. Masengi, 2008, Reformasi Birokrasi Pemerintahan, dalam perspektif pelayanan publik, Wineka Media, Malang.   Sarundajang, S.H., 2005, Arus Balik Kekuasaan Pusat ke Daerah, Kata Hasta, Jakarta.  . . . . . ., 2005, Birokrasi Dalam Otonomi Daerah, uapaya mengatasi kegagalan, Kata Hasta, Jakarta.   Syaukani, Afan Gaffar, dan M. Ryaas Rayid, 2003, Otonomi Daerah, dalam negara kesatuan, kerjasama Pustaka Pelajar dan Pusat Kajian Etika Politik dan Pemerintahan, Jakarta.

10

Edisi 3 / September / 2011

II
Pelayanan Birokrasi Papua dalam Era Otonomi Khusus
Oleh : Oleh Habel M. Suwae 1, Heru Nugroho 2, Djoko Suryo 3 Habel M. Suwae, mahasiswa Program Doktor Kajian Budaya dan Media Sekolah Pascasarjana UGM, dan Bupati Kabupaten Jayapura Provinsi Papua.
1 2 3

Heru Nugroho, Guru Besar Sosiologi Fisipol UGM

Djoko Suryo, Guru Besar Sejarah FIB Universitas Gadjah Mada

11

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik

Edisi 3 / September / 2011

S

Pendahuluan ebagaimana diketahui, melalui Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001

tentang Otonomi Khusus,

Papua telah diberi kewenangan untuk mengatur pemerintahan sendiri berdasarkan peraturan perundangan. Dengan Otsus para elite politik di Papua kebanyakan memilih bersikap terbuka terhadap masuknya para investor, baik dari dalam dan luar negeri untuk tujuan mengembangkan Papua lebih maju. UU Otsus itu pun memang dengan eksplisit menyebutkan bahwa Papua dikategorikan sebagai daerah tertinggal jika dibandingkan dengan wilayah Indonesia Tengah dan apalagi wilayah Indonesia Barat.
Pilihan strategis politik pembangunan seperti itu membawa konsekuensi daerah ini terus berkembang baik secara politik, ekonomi, maupun kebudayaan. Dalam bidang politik, proses demokrasi terus bergulir tercermin

dalam proses Pemilu Kepala Daerah secara langsung. Lebih dari itu melalui prinsip demokrasi politik, terus dipakai dalam untuk mengubah paradigma pembangunan yang lebih partisipatif. Maka di beberapa wilayah Papua, terutama Kabupaten Jayapuran telah menerapkan model pembangunan partisipatif dalam upaya memberdayakan masyarakat. Di Kabupaten Jayapura telah meluncurkan program pembangunan yang diberi nama “Program Pemberdayaan Distrik dan Kapung”, atau yang lebih populer dengan singkatan PPDK.1 Konsep dan paradigma pembangunan ini diluncurkan sebagai respons atas semakin meningkatnya kecenderungan pola pembangunan sentralistik yang lebih menggunakan pendekatan dari atas-bawah (topdown approach). Berbagai program pembangunan pada saat itu lebih banyak prakarsa datang dari pemerintah, sementara prakarsa dari masyarakat kurang terakomodasi dalam proses perencanaan pembangunan. Partisipasi pun kemudian dipahami menurut tafsir tunggal pemerintah, yaitu yang dimaknai seberapa jauh masyarakat melaksanakan program pembangunan yang dirancang dari atas, dari yang telah ditetapkan oleh
1 Urain lebih lengkap terdapat dalam Poli dan Dahlan Abubakar, 2008, Suara Hati yang Memberdayakan: Gagasan Pemberdayaan Masyarakat di Kabupaten Jayapura, Makasar: Identitas.

12

Dinamika interaksi sosial itu kemudian membawa implikasi pada dua kemungkinan. dan kekerabatan. dan mereka itu juga mempunyai identitas masingmasing. agama. Dengan PPKD. yaitu menuju proses integrasi atau konflik. politik. Di Papua. prinsip pembangunan partisipatif tersebut dilaksanakan secara komprehensif dengan sasaran utama adalah menjadikan warga sebagai subyek pembangunan. serta semuanya membangun identitasnya masingmasing. Masyarakat Papu kemudian berkembang menjadi masyarakat yang plural. Masyarakat lokal adalah sejumlah warga yang sudah cukup lama berdomisili pada lokasi tertentu yang mengembangkan kultur atau pandangan hidup bersama (common way of living) yang lama-lama menjadi identitas. keberagaman itu justru dijadikan sebagai modal pembangunan dengan mendorong ke arah tujuan bersama yaitu peningkatan kesejahteraan berbasis kemandirian dan keberdayaan. dan masing-masing memiliki identitasnya sendiri. agama. maupun sosialbudaya yang dibawa oleh arus modernisasi. masyarakat lokal ini mewujud dalam komunitas berbasis etnis yang tersebar di berbagai wilayah baik di pantai dan daratan maupun di pegunungan. Persinggungan dengan dunia luar membuat masyarakat Papua berelasi dengan berbagai budaya dan kepentingan lain yang terus melakukan interaksi secara intens. Apakah bias primordialisme seperti baik buruknya pelayanan birokrasi disebabkan oleh faktor kesamaan etnis. Berangkat dari realitas masyarakat Papua yang berkembang semakin plural. Di samping itu juga terdapat masyarakat pendatang yang datang dari berbagai daerah dan memiliki latar belakang etnis. Secara konkret sasaran PPKD adalah warga masyarakat lokal dan masyarakat pendatang. Papua menjadi wilayah yang terbuka bagi masuknya berbagai aktivitas baik ekonomi. bukan sebagai faktor yang memecah belah. keberagaman dipandang sebagai potensi integrasi. dan kultur yang beragam. Oleh karena itu multikulturalisme menjadi pilihan utama dalam mengkonstruksi identitas kolektif yang bernama Papua. Dengan kata lain.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik pemerintah. atau berkembang menjadi birokrasi modern yang mengutamakan profesionalisme dan merit system. 13 . Melalui PPKD. Mereka itu saling berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain dengan masing-masing menunjukkan indentitasnya. sehingga mandiri. pertanyaan menarik adalah bagaimana pelayanan birokrasi pemerintah Papua dalam era Otonomi Khusus sekarang ini. Bersamaan dengan itu.

Setiap kelompok suku secara kultural mandiri dan unik. Oleh karena itu etnosentrisme menjadi persoalan dasar di dalam konsolidasi rakyat Papua. Mereka menganggap bahwa orang Papua adalah orang Papua asli. Perubahan nama dari Irian Jaya menjadi Papua. Sistem Politik Tradisional di Irian Jaya. penamaan (naming) memiliki signifikansi tinggi terhadap tumbuhnya kepercayaan diri dan pengakuan eksistensial dari dunia luar tentang Papua. maka setelah kembali bernama Papua. Bagi sebagian besar warga Papua. Struktur-struktur masyarakat Papua yang terdiri dari kurang lebih 250 suku bangsa bersifat otonom satu sama lain. Kongruensi aspirasi dan identitas kepapuaan baru pada tahap yang sangat dini.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi Primordial Pada era reformasi. Berkembang perasaan di kalangan warga Papua. Kepapuaan cenderung berhenti sebagai identitas yang dihayati secara “etnosentris” dan emosional. terbuka ruang bagi warga Papua untuk mengeskspresikan diri identitas kepapuannya. Pada era reformasi penggunaan nama Papua menjadi penanda bagi aspirasi bersama itu. Perasaan satu identitas ini disatukan oleh memori penderitaan kolektif dan kongruensi aspirasi yang bersumber dari mitologi sebagian besar suku bangsa masing-masing tentang milenium baru dan mesianisme. Konstruksi identitas kepapuan yang selama ini lebih dibentuk oleh narasi-narasi dominan. 14 . Setiap kepala suku atau pemimpin lokal tidak memiliki otoritas yang penuh kecuali sebagai juru bicara masyarakatnya. (Jakarta-Leiden: LIPI-RUL). Di dalam kenyataannya budaya semacam ini sulit tumbuh suatu kepemimpinan yang diakui oleh semua kelompok suku bangsa. setelah mendapatkan kembali nama Papua yang diakui secara resmi oleh pemerintah pusat. sementara 2 Bandingkan dengan studi yang sudah dilakukan oleh Johszua Mansoben. tidak tunduk pada yang lain. pada kurun 1998-1999. bagi rakyat Papua asli merupakan momen yang luar biasa dan berkaitan dengan usaha mencari identitas. seperti terlahir kembali.2 Masyarakat Papua sendiri dalam mengkonstruksi identitas kepapuannya. atas inisiatif Presiden Abdurrahman Wahid atau yang akrab disebut Gus Dur Irian Jaya diubah menjadi Papua. Sejak itu kepapuaan kembali dihidupkan sebagai identitas alternatif dari identitas “Irian Jaya” yang telah identik dengan “Indonesia” beserta penindasan dan praktik kolonialismenya. dan setiap suku memiliki kosmologi yang memandang dirinya sebagai pusat dari semesta. sebagian ada yang melihatnya secara konservatif dengan latar belakang etnis sebagai basis konstruksi identitas. Interaksi yang terbatas di masa lalu belum memungkinkan tumbuhnya kesadaran budaya yang relativistik dan toleran.

dan tidak mungkin netral (King. Yang loyal kepada patron diberi sumber ekonomi dan status sosial. atau kelompok-kelompok primordial lainnya. Mesin politik itu kadang mencerminkan nilai-nilai serta norma-norma yang kurang rasional. Dalam birokrasi ini. terdapat harga yang harus dikeluarkan oleh seseorang ketika berurusan dengan birokrasi. Birokrasi semacam itu dikenal sebagai birokrasi primordial (Kartodirdjo. senantiasa penuh muatan politik. birokrasi seringkali merupakan bagian dari dominasi politik oleh suatu suku. dan sebaliknya yang tidak loyal akan dibatasi sumber ekonomi dan karirnya. diterbitkan Peraturan Pemerintah Daerah Otonomi Khusus yang merupakan keputusan politik melalui mekanisme pembahasan di DPRD Papua yang menetapkan bahwa Gubernur dan Wakil Gubernur. dan 3 Sejak tahun 2009. Jadi. dalam politik lokal sekarang elite politik lokal menghendaki adanya Gubernur dan Wakil Gubernur serta Bupati dan Wakil Bupati harus orang Papua asli. Walikota dan Wakili Walikota harus orang Papua asli. Dalam hubungan semacam itu. Artinya. perundang-undangan. namun isinya dan perilakunya secara kental diwarnai oleh kaitan primordialnya (Kuntjoro-Jakti. hubungan-hubungan yang ada secara interen dan eksteren adalh hubungan antara patron dengan klien yang bersifat sangat pribadi dank has. Ada anggapan bahwa berlainan dengan di negara-negara maju.3 Apakah pemahaman yang bias etnosentrisme itu mempunyai implikasi terhadap pelayanan birokrasi? Dalam banyak kasus sedikit-banyak memang memiliki dampak terhadap ketidaknetralan birokrasi dalam memberikan pelayanan terhadap publik. Oleh karena itu. 1980). Bupati dan Wakil Bupati. atau agama. atau pun peraturan-peraturan. Fenomena etnosentrisme ini semakin mengental ketika sejumlah elite politik menafsir Otonomi Khusus (Otsus) juga dari perspektif esensialisme yang berakar pada geneologis.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik penduduk yang datang dari luar etnis Papua dianggap sebagai nonPapua. Secara teoretik pemahaman seperti itu sering disebut sebagai birokrasi yang tidak netral. tidak obyektif. yang lepas dari konstitusi. di jajaran birokrasi akan timbul masalah pertukaran antara loyalitas dan pemberian ganjaran. Dampak ikutan atas situasi itu merembes ke praktik penyimpangan kekuasaan. 1989). aparat birokrasi di negaranegara berkembang birokrasi sering menunjukkan diri sebagai mesin politik yang tidak netral. 1988). daerah. Meskipun sebagai birokrasi ia memiliki struktur yang serupa dengan yang ditemui di negaranegara industri maju. di mana tidak jarang perilaku birokrasi menyerupai interaksi yang bersifat transaksional. Dalam konteks birokrasi di 15 . Perilaku birokrasi seperti itu sangat terlihat pada era Orde Baru.

Di Papua jabatan seperti Sekretaris Daerah. seperti orang Papua tertinggal dan tidak transformatif.5 Semua itu menunjukan bahwa dalam menjalankan pelayanan publik. ibit. Pemkab Jayapura selama ini juga menghindari prinsip geneologis dan etnosentrisme. dan pimpinan proyek strategis. maka birokrasi pemerintah Papua terus berusaha menuju ke arah profesionalisme dan merit sistem. dalam menjalankan pelayanan publik. di mana aparat birokrasi yang fungsi utamanya 5 Profil Kabupaten Jayapura. 2009. sama sekali tidak menerapkan kebijakan yang mengarah pada segregasi sosial.4 Sedangkan dalam bidang sosial4 Dikutip dari Profil Kabupaten Jayapura. banyak dijabat oleh pegawai yang berasal dari berbagai daeah seperti Jawa. karena fakta menunjukkan bahwa Papua berkembang sebagai masyarakat plural. dan bersamaan dengan itu arus demokratisasi juga terus berlangsung. Merit sistem benar-benar diterapkan. Sedangkan etnis Jawa banyak bergerak pada sektor informal dan pertanian. karena baik etnis Jawa maupun penduduk asli telah menjadi subyek dalam budidaya tanaman kakao. Batak. dan bukan atas dasar sentimen etnis. Akan tetapi. Meskipun demikian warga Papua asli kemudian mulai masuk ke dalam berbagai sektor strategis tersebut. Pemkab Jayapura. memang ada juga kecenderungan aparat birokrasi yang dalam memberikan pelayanan masih berkarakter sebagaimana yang ditunjukkan birokrasi primordial. sehingga membentuk identitas baru yang mengaburkan stigma sosial. dan lain-lain. yang sekarang sangat populer sebagai identitas warga Jayapura. Meskipun demikian. Bukan sebaliknya.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Papua sekarang. Sambutan Bupati Kabupaten Jayapura. di Papua sektor perdagangan banyak dikuasai oleh etnis Tionghoa dan Bugis Makasar. Karena itu seperti di daerah lain. Semuanya dibiarkan tumbuh secara natural. Sebagai ilustrasi. dalam arti mengikuti hukum pasar. 2009. birokrasi pemerintah Papua berusaha menerapkan prinsip multikulturalisme. Menado. bahwa setiap warga masyarakat adalah ibarat raja yang harus dilayani. Bugis. 16 . Orientasi terhadap pelayanan publik ini juga ditegaskan pada komitmen pemerintah Kabupaten Papua. birokrasi Papua sangat mempertimbangkan kepentingan publik yang semakin plural. Eselonisasi dalam jajaran birokrasi sama sekali tidak mempertimbangkan putra daerah. dalam arti penunjukan pejabat eselon berdasarkan profesionalisme. dalam menerapkan kebijakan pada sektor birokrasi pemerintahan. kakao misalnya. ekonomi. Di sektor pertanian. Kepala Dinas. sekarang telah menjadi identitas baru warga Kabupaten Jayapura. Bali.

masyarakat Papua juga terdiri dari berbagai macam agama. masyarakat Papua juga bersifat beragam. Masyarakat Papua sekarang telah berkembang menjadi masyarakat yang plural. agar terlibat dalam proses pembangunan mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan. Islam. sehingga masyarakat sendiri yang akahirnya mampu secara mandiri melanjutkan 17 . 2009. Begitulah. masyarakat Papua terdiri atas suku Jawa.6 Sementara itu dilihat dari latar belakang sosial ekonomi. atau yang lebih populer dengan singkatan PPDK. Partisipasi pun kemudian dipahami menurut tafsir tunggal pemerintah. Sementaran dalam teori pembangunan menjelaskan. Badan Pusat Statistik Kabupaten Jayapura. Bugis. Konsep dan paradigma pembangunan ini diluncurkan sebagai respons atas semakin meningkatnya kecenderungan pola pembangunan sentralistik yang lebih menggunakan pendekatan dari atas-bawah (topdown approach). upaya memberdayakan masyarakat. Kabupaten Jayapuran misalnya. Berbagai program pembangunan pada saat itu lebih banyak prakarsa datang dari pemerintah. dari yang telah ditetapkan oleh pemerintah. dan distribusi hasil. dan Batak. telah menerapkan model pembangunan partisipatif dalam 6 Dikutip dari Kabupaten Jayapura dalam Angka. Khatolik. Dilihat dari keragaman latar belakang etnis. dan ada juga Hindu. pilihan birokrasi profesional dan berdasarkan merit sistem itu sesuai dengan realitas empirik masyarakat Papua yang cenderung semakin plural. Dorong Partisipasi Publik Birokrasi pemerintah Papua juga terus mendorong partisipasi publik. agama. yaitu yang dimaknai seberapa jauh masyarakat melaksanakan program pembangunan yang dirancang dari atas. Maluku. seperti Kristen-Protestan. Minang. Pendekatan pembangunan yang top-down tidak mampu menggerakkan sikap-sikap aktif pada masyarakat sendiri untuk berkreasi dalam pembangunan. Dari aspek keagamaan. baik dilihat dari latar belakang etnis. dan latar belakang sosial ekonomi. bahwa pembangunan belum dianggap berhasil manakala dalam proses pelaksanaannya belum dapat membangkitkan sikap partisipatif pada masyarakat.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik adalah melayani masyarakat justru minta dilayani. Pemkab Papua juga membuka kotak aduan bagi warga masyarakat yang tidak mendapatkan pelayanan baik dari jajaran aparat birokrasi. sementara prakarsa dari masyarakat kurang terakomodasi dalam proses perencanaan pembangunan. Di Kabupaten Jayapura telah meluncurkan program pembangunan yang diberi nama “Program Pemberdayaan Distrik dan Kapung”.

yang lebih mengutamakan efisiensi dan profesionalisme. Di Papua. Penutup Begitulah. Mereka itu saling berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain dengan masing-masing menunjukkan indentitasnya. dan mereka itu juga mempunyai identitas masingmasing. keberagaman itu justru dijadikan sebagai modal pembangunan dengan mendorong ke arah tujuan bersama yaitu peningkatan kesejahteraan berbasis kemandirian dan keberdayaan. 18 . dan masing-masing memiliki identitasnya sendiri. Masyarakat Papua kemudian berkembang menjadi masyarakat yang plural. disikapi oleh sebagian warga Papua secara primordialistik. masyarakat lokal ini mewujud dalam komunitas berbasis etnis yang tersebar di berbagai wilayah baik di pantai dan daratan maupun di pegunungan. dan kultur yang beragam. Bersamaan dengan itu. birokrasi pemerintah Papua berkembang ke arah yang lebih menunjukkan karakter birokrasi profesional dengan menerapkan merit sistem. birokrasi pemerintah juga terus mendorong partisipasi publik dalam proses pembangunan menuju pemerintahan yang transparan dan akuntabel. sistem rekreuitmen. Di samping itu juga terdapat masyarakat pendatang yang datang dari berbagai daerah dan memiliki latar belakang etnis. Karakter masyarakat Papua sendiri yang terbuka dan semakin plural. sehingga mandiri. Dengan PPKD. Pada awalnya memang terdapat kecenderungan bahwa pemberian kewenangan pengelolaan politik oleh pemerintah pusat dalam bentuk Otsus. Masyarakat lokal adalah sejumlah warga yang sudah cukup lama berdomisili pada lokasi tertentu yang mengembangkan kultur atau pandangan hidup bersama (common way of living) yang lama-lama menjadi identitas. Birokrasi pun kemudian menunjukkan karakter birokrasi primordial. menjadi pertimbangan utama mengedepankan birokrasi rasional. sehingga personil. yaitu menuju proses integrasi atau konflik. Melalui PPKD.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 usaha pembangunan. agama. Akan tetapi dalam perkembangan lebih lanjut. pelayanan birokrasi pemerintah Papua dalam era Otonomi Khsusus berkembang secara dinamik. Secara konkret sasaran PPKD adalah warga masyarakat lokal dan masyarakat pendatang. serta semuanya membangun identitasnya masingmasing. dan pelayanan pun ada kecenderungan bias etnosentrisme. prinsip pembangunan partisipatif tersebut dilaksanakan secara komprehensif dengan sasaran utama adalah menjadikan warga sebagai subyek pembangunan. Dinamika interaksi sosial itu kemudian membawa implikasi pada dua kemungkinan.

Email: muhadamlabolo@yahoo. Direktur Eksekutif Pusat Kajian Strategik Pemerintahan.com 19 .Foto : Antara III Reformasi Birokrasi dan Implementasi Good Governance Oleh : Dr. Muhadam Labolo * Edisi 3 / September / 2011 * Dosen tetap pada Pasca Sarjana Institut Pemerintahan Dalam Negeri Cilandak dan Unlam Banjarmasin Jurusan Ilmu Pemerintahan.

sarana dan prasarana. dimana 124 pemerintah daerah cenderung memperlihatkan gejala kebangkrutan. sumber daya manusia. tutup-lubang. Kegagalan birokrasi dalam melayani masyarakat selama ini sekaligus menggambarkan buruknya penyelenggaraan pemerintahan baik di level pemerintah pusat maupun daerah. Perubahan tersebut meliputi keseluruhan aspek yang memungkinkan birokrasi memiliki kemampuan yang memadai dalam melaksanakan tugas dan fungsi pokoknya. Sistem berkaitan dengan hubungan antar unsur atau elemen yang saling mempengaruhi dan berkaitan membentuk suatu totalitas. Kabupaten Lumajang menjadi contoh nyata dimana belanja aparatur membengkak hingga mencapai 83% dari total APBD.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Pendahuluan R eformasi birokrasi merupakan upaya penataan mendasar yang diharapkan dapat berdampak pada perubahan sistem dan struktur. Bertambahnya pegawai hasil rekrutmen tanpa kompetensi yang jelas serta kebiasaan mengembangkan struktur organisasi membuat pemerintah pusat maupun daerah mengalami defisit anggaran layaknya gali-lubang. Ini berarti. organisasi dan lingkungannya dalam kerangka pencapaian tujuan efisiensi penyelenggaraan birokrasi pemerintahan. disamping membesarnya struktur birokrasi pemerintahan. Kedua. Ironisnya. pertama. sisanya sebesar 17% diperebutkan oleh 98% masyarakat dalam bentuk alokasi belanja modal/pembangunan. Sedangkan perubahan struktur mencakup mekanisme dan prosedur. perhelatan tersebut tak jelas melahirkan kepemimpinan pemerintahan yang handal. Peningkatan belanja aparatur dapat dilihat dari hasil evaluasi FITRA (2011). Besarnya anggaran pemilukada. membengkaknya ongkos demokrasi (pemilukada) mengakibatkan beban kas pemerintah daerah khususnya mengalami peningkatan signifikan. Struktur berhubungan dengan tatanan yang tersusun secara teratur dan sistematis. lebih kurang 2% pegawai kemungkinan menikmati belanja aparatur. Urgensi reformasi birokrasi di Indonesia setidaknya di dorong oleh sejumlah catatan penting. serta dampak yang ditimbulkan terhadap birokrasi mengakibatkan pemerintah kelimpungan dalam menutup defisit 20 . meningkatnya belanja aparatur disebabkan oleh bertambahnya rekrutmen pegawai tanpa pengendalian yang jelas. Perubahan pada satu elemen kiranya dapat mempengaruhi unsur lain dalam sistem itu sendiri.

boros. Masalahnya. apakah tantangan yang dihadapi. Hal itu disadari bahwa upaya reformasi birokrasi merupakan bagian dari grand desain penciptaan tata pemerintahan yang baik (good governance). boros. serta kurang berorientasi pada kepentingan masyarakat. Ketiga. berbelit-belit.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik anggaran. Lebih dari itu birokrasi mengalami dilemma loyalitas akibat terpecahnya konsentrasi pada setiap pesta pemilukada. bagaimanakah sebaiknya reformasi birokrasi dilakukan. kita semua paham bahwa reformasi birokrasi di level pemerintah daerah merupakan bagian dari kebijakan reformasi birokrasi secara nasional. Keempat. Disisi lain rendahnya pendapatan asli daerah menciptakan ketergantungan pada pemerintah pusat. Kelima. tingginya gairah penggemukan organisasi birokrasi pemerintahan tanpa perencanaan dan analisis yang jelas memicu pembiayaan dan rekrutmen pegawai dalam jumlah tak sedikit. Bagaimanapun juga. 21 . bahkan tak terkontrol akibat tingginya beban organisasi. bekerja secara naluriah (insting). nepotisme. sewenang-wenang dan tak transparan. karakteristik pemerintahan yang baik. sekalipun pada akhirnya lebih menampilkan potret masalah birokrasi di level pemerintah daerah. atau bahkan kekurangan. masalah dan tantangan yang dihadapi dalam upaya reformasi birokrasi. namun fundamental. Tentu saja birokrasi pemerintahan sebagai instrument pelaksana menjadi fokus utama yang mesti diperbaiki melalui kebijakan reformasi birokrasi. Cakupan tulisan ini juga akan menyentuh reformasi birokrasi pemerintahan baik pusat maupun daerah. Konsep ini diharapkan mampu menjembatani suatu kondisi pemerintahan yang buruk (bad government) kearah terbentuknya pemerintah yang baik (good government). arogan. serta upaya strategis reformasi birokrasi dan implementasi tata kelola pemerintahan yang baik. khususnya daerah di luar pulau Jawa. Perubahan tersebut diharapkan tidak saja bersifat incremental semata. sementara belanja pemerintah daerah jauh dari efisiensi. Akibatnya. serta bagaimanakah desain reformasi birokrasi yang mesti dilakukan dalam meminimalisasi meluasnya masalah yang dihadapi? Tulisan singkat ini akan mendeskripsikan tentang makna birokrasi dan good governance. enggan berubah. Keseluruhan catatan negatif tersebut di dukung pula oleh perilaku buruk birokrasi dalam pelayanan masyarakat seperti sikap yang lamban dan reaktif. birokrasi di daerah mengalami overload. lemahnya pengawasan mengakibatkan pemerintah cenderung bertindak konsumtif. meluasnya perilaku koruptif mendorong birokrasi kehilangan kepercayaan sebagai pelayan masyarakat.

Harvard Universty Press. sebab secara historis. birokrasi traditional di Perancis (abad 18) menampilkan wajah demikian. Sinisme atas gejala tersebut melahirkan istilah bureaumania. Raja Grafindo. jika urusan diselesaikan di bawah meja mungkin saja bertentangan dengan makna etimologisnya. Semua masalah relatif diselesaikan di atas meja. Statement ini setidaknya sejalan dengan pikiran Gornay dan Laski (1930). New York dan London. New York. burocrazia (Italia) dan bureaucatie (Perancis). yang berarti meja atau kantor. Bahkan. birokrasi berasal dari kata bureaucracy (Inggris). Theory of Public Bureucracy. 4 Michaels. H. Secara etimologis. Albrow1 mengembangkan konsep birokrasi dari berbagai sudut pandang. Cambridge Massachussets. Jakarta.Warwick. pelayanan urusan yang lebih rinci pastilah berhubungan dengan apa yang lazim kita sebut dengan birokrasi. 3 Laski. Ini bisa dimaklumi. Pada tingkat pragmatis. Apabila sumber kekuasaan berasal dari rakyat banyak lazim disebut demokrasi. atau burocratie (Jerman). lewat kalimat provokatif Michel (1962)4 menyatakan bahwa siapa yang bicara tentang organisasi. represif.74-75. Bureaucracy. 2 Adam Kuper dan Jessica Kuper. dalam Encyclopaedia of the Social Sciences.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dan Good Governance Konsep birokrasi sendiri lazim merujuk pada gagasan Maximilliam Weber (1864-1920). Makna bureau (baca:biro) identik dengan kenyataan dalam birokrasi. Ensiklopedi Ilmu-Ilmu Sosial. hal. 1962. dimana struktur di bentuk lebih banyak menyelesaikan pekerjaan di atas meja. Cracy (kratos) sendiri menunjukkan arti kekuasaan atau aturan. 22 . 1 Martin Albrow dalam Donald P. Pejabatnya biasa duduk di belakang meja. boros. Sekalipun banyak demikian. sebab pemerintahlah yang paling mungkin memiliki kekuasaan membuat aturan. Dalam padanan lain seringkali dihubungkan dengan istilah pemerintahan (proses). 2000. yang kemudian mendefenisikan birokrasi sebagai suatu sistem pemerintahan dimana kontrol sepenuhnya berada di tangan para pejabat yang sampai pada batas tertentu dapat menunda atau mengurangi kemerdekaan warga negara biasa3. koruptif dan nepotism. oportunis. R. Dua contoh lain hasil asimilasi yang sebangun dengan kata itu misalnya konsep demokrasi dan oligarkhi. Logikanya. volume 3. Baron de Grimm atas catatan Vincent de Gournay2. eksploitatif. Political Parties. atau bahkan proses dan sumber dari semua aturan dalam hubungan antara yang memerintah dan yang diperintah. pastilah bicara tentang oligarkhi. Demikian pula apabila sumber kekuasaan tersebut dikendalikan oleh sekelompok rakyat pintar (profesional) dikenal dengan istilah oligarkhi. kolutif. Istilah ini dimunculkan kembali oleh filosof Perancis.

biro hukum. merujuk pada hampir semua bentuk organisasi baik sipil maupun militer. Pengertian kedua (kantor). pemerintahan yang bernuansa demokratik biasanya meletakkan kontrol pada level pemerintahan tertentu yang untuk selanjutnya melakukan pengawasan secara berjenjang (desentralistik). realitas pelayanan justru menjadi lebih efisien dan efektif jika tanpa melalui meja birokrasi yang terkadang berbelitbelit dan menguras energi. 5 Satjipto Rahardjo. tugas. Di level provinsi. Sebaliknya. seorang pejabat memiliki meja dengan ukuran biro atau setengah biro. Dalam perspektif Weber. di level organisasi provinsi dan pusat misalnya. biro organisasi. sebab ia mengokohkan kepemimpinan dengan wewenang yang lebih luas. seperti kantor wilayah (kanwil) dan kantor departemen (kandep). Ia membawahi sejumlah bagian dan subbagian pada level paling rendah. kita banyak menemukan istilah biro pada struktur organisasi. disiplin. lengkap dengan sistem dan peralatannya. hierarkhi. Jakarta. Kantor menjadi unit paling kecil ukurannya sebelum menanjak menjadi Badan atau Dinas. Dalam konteks Indonesia. biro umum dan sebagainya. Karakteristik tersebut membentuk birokrasi sebagai alat untuk mencapai tujuan kolektif. biro pemerintahan. Pada pemerintahan yang bersifat sentralistik. Secara faktual. Birokrasi. instrument pemerintah pusat dapat menjangkau hingga ke level pemerintahan paling rendah (dekonsentratif). formalitas. Kompas. sistem. struktur organisasi pemerintah daerah misalnya menggunakan istilah kantor untuk membedakan unit tersebut dengan dinas dan badan. kantor menjadi instrument pemerintah pusat di daerah. Kita sering menyebut kantor pada hampir semua organisasi yang secara fisual terlihat melalui bangunan megah. Semakin ke puncak semakin langka pemegang kekuasaan. tak ada istilah lain untuk ukuran meja selain biro. misalnya meja ukuran bagian atau setengah bagian. Mungkin inilah yang di sebut Rahardjo (2010)5 sebagai pendekatan hukum progresif dalam pelayanan birokrasi menurut perspektif hukum. untuk membedakan secara teknis. birokrasi adalah organisasi rasional dengan segenap karakteristik yang melekat didalamnya. wewenang. Membedah Hukum Progresif. terdapat jabatan biro yang dipimpin oleh seorang kepala biro setingkat eselon dua. dalam makna konkrit adalah organisasi yang memiliki rantai komando berbentuk piramidal.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Secara fungsional. Di Indonesia. dimana lebih banyak orang berada di tingkat bawah daripada tingkat atas. Karakteristik dimaksud antara lain adanya suatu jabatan. profesional. 2010. Sejauh ini. Sebagai contoh. 23 . Demikian pula kantor pada organisasi swasta. Bahkan. baik pada instansi militer maupun sipil. kecakapan dan senioritas.

kekuasaan tersebut mengalir sebagaimana siklus air hujan. Dimulai dari gumpalan awan yang di pandang sebagai pemberian Tuhan (teosentris). Kekuasaan lahir dari rakyat kebanyakan (demokrasi). seorang presiden hasil pilihan rakyat memiliki kekuasaan luas. Kekuasaan tersebut pada akhirnya habis terbagi dalam bentuk spesialisasi dan struktur yang lebih kecil. Dalam pendekatan ilmu alam. kekuasaan dibagi berdasarkan jumlah wewenang yang diterima. Camat.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Sebaliknya. semakin ke bawah semakin banyak pegawai. Pada suatu ketika. gumpalan awan hitam tersebut pecah menjadi butiran hujan yang jatuh dan mengumpul di suatu tempat. Dari aspek ini birokrasi secara praktis merupakan instrument/alat dari kekuasaan untuk mencapai tujuan pemimpin maupun tujuan bersama yang diemban oleh pemimpin dimaksud. Dari aspek ilmu pengetahuan (antroposentris). Pada contoh yang lebih nyata. tetapi ia semakin menunjukkan wewenang yang lebih terbatas. Bupati/Walikota. sekalipun dalam teori kedaulatan dapat bersumber dari Tuhan (teokrasi) dan atau sedikit orang (aristokrasi). Siklus air hujan secara sederhana dapat kita persamakan dengan siklus kekuasaan. lalu mengalir kedalam struktur yang dibagi secara khusus. Demikianlah kekuasaan mengalir menurut hukum alam (natural of law). Pada level gubernur. Birokrasi pada akhirnya dapat dipandang sebagai cerminan dari pelembagaan kekuasaan yang mengalir deras dari tingkat atas hingga bawah. Gubernur. Kekuasaan dalam konteks ini mengalami formalisasi yang dirinci dan dipertanggungjawabkan secara 24 . Kekuasaan tersebut dialirkan secara hirarkhis melalui Menteri. sebagian besar tersisa menjadi lautan luas. Tidak semua menguap. Tekanan konflik dan sejumlah motivasi tertentu mendorong terbentuknya representasi pemegang kekuasaan. lalu dilembagakan dalam struktur formal seperti biro pemerintahan. apakah terserap oleh akar pohon atau terkumpul pada wadah perbukitan yang mengalir melalui sungaisungai besar dan kecil menuju laut. Ia dimulai dari suatu kekuasaan yang maha besar. Para pemegang kekuasaan (pemerintah) baik diyakini merupakan representasi dari kedaulatan Tuhan (teokrasi) atau hasil pilihan masyarakat (demokrasi) secara konkrit membentuk organisasi pemerintahan yang untuk selanjutnya mengalirkannya dalam bentuk struktur-struktur formal birokrasi dari tingkat pusat hingga level pemerintahan paling rendah. Demikian pula aliran kekuasaan pada level kabupaten/ walikota hingga pemerintah desa. Lurah hingga Kepala Desa. air hujan merupakan hasil serapan dari laut berupa uap akibat tekanan panas matahari yang dibawa angin membentuk gumpalan awan hitam. bagian pemerintahan dan seterusnya.

gagalnya pemerintah menjalankan fungsinya yang ditandai oleh tidak bekerjanya hukum dan tata aturan sehingga menimbulkan ketidakpercayaan pada pemerintah tentang bagaimana seharusnya pemerintah berinteraksi dengan masyarakatnya. Meluasnya upaya untuk menata pemerintahan kearah yang lebih baik mendorong donor international untuk mengembangkan konsep good governance (pemerintahan yang baik). Ini tentu saja berkaitan dengan tanggungjawab pemerintah pada masyarakatnya. Gejala tersebut antara lain meningkatnya korupsi.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik jelas. nepotisme. Atau dengan kata lain. kolusi. tetapi juga pada ruang non pemerintah seperti perusahaan. birokrasi hadir dan merujuk pada bagaimana cara pemerintah melaksanakan dan membuat peraturan-peraturan yang sah secara sosial. Keabsahan tersebut diharapkan mampu merefleksikan suatu pemerintahan yang baik dengan berbagai ciri yang terkandung didalamnya. fenomena pemerintahan dewasa ini telah meluas tidak saja pada dunia pemerintah semata. demikian pula kewajiban dan hak yang saling mengikat antara mereka yang memerintah dan mereka yang diperintah. legitimasi dan tranparansi pada berbagai sektor diluar pemerintah menunjukkan gejala pemerintahan yang semakin menguat. pemangkasan peran pemerintah sejauh mungkin dengan 25 . Inilah yang disebut dengan wewenang (authority). Berlawanan dari konsep ideal yang ingin dikembangkan. Kedua. Dalam perspektif negaranegara maju. tekanan dari kelompok neo-liberal yang mendukung dikuranginya peran negara dan pengimbangan kekuasaan kepada penyediaan layanan oleh pembeli dan pengatur. bad government (pemerintah yang buruk) menjadi alasan bagi lembaga international untuk mengembangkan pola yang lebih mungkin dalam kaitan dengan manajemen ekonomi dan politik global. individualisme serta hilangnya legitimasi politik khususnya pada negara-negara yang kurang mampu dan tanpa sistem demokrasi yang memadai. Dalam kaitan itu. Upaya-upaya dalam rangka penerapan kekuasaan melalui serangkaian mekanisme untuk menjamin akuntabilitas. Seperti digambarkan oleh Mark Robinson (2000:417). Pengembangan konsep ini didorong oleh gejala meningkatnya hambatan-hambatan administrasi dan politik dalam pembangunan dunia ketiga. dua alasan utama yang mendorong lahirnya gagasan penciptaan pemerintahan yang baik adalah pertama. Setidaknya hal ini terlihat dalam pembentukan serangkaian aturan atau struktur otoritas dalam komunitas tertentu yang memainkan peran atau fungsi pengelolaan sumber daya termasuk dalam menjaga tatanan sosial.

Tanggungjawab pada elemen masyarakat dibutuhkan agar masyarakat sadar akan apapun output 26 . Karakteristik Good Governance Menurut UNDP (1997). tetapi juga meliputi kelompok swasta sebagai pemegang modal dan masyarakat selaku civil society. kebijakan demikian semakin memperkokoh tumbuhnya demokrasi liberal yang pada akhirnya mendorong kembalinya pemerintah (eksekutif) meningkatkan kontrol yang lebih represif.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 cara penyerahan kepentingan antara penjual dan pembeli pada mekanisme pasar. tertib hukum. Meletakkan tanggungjawab satusatunya pada sektor pemerintah bukanlah gagasan terbaik untuk menciptakan pemerintahan yang baik. Tanggungjawab merupakan nilai penting yang semestinya berlaku pada semua elemen dalam proses pemerintahan. serta memiliki visi strategis. responsif. Sebagai pemerintah. Di negara-negara berkembang. pemerintahan yang baik setidaknya memiliki karakteristik akuntabilitas. Sekalipun upaya-upaya untuk menciptakan pemerintahan yang lebih baik dilakukan misalnya melalui desentralisasi kekuasaan. Akuntabilitas. reformasi pemerintahan. legitimasi dan transparansi. Komponen yang terlibat tidak saja domain pemerintah sebagai pelaksana. Bagaimanapun kita masih percaya bahwa menciptakan pemerintahan yang kuat mutlak dibutuhkan bagi stabilitas politik yang dapat menjamin keberhasilan pembangunan. transparansi. Tanggungjawab pemerintah pada segenap stakeholders selaku pemetik manfaat setidaknya memicu tumbuhnya trust sebagai modal bagi kontinuitas pemerintahan. Dalam konteks ini. Uraian selanjutnya akan mengembangkan makna dari sejumlah karakteristik yang melekat dalam konsep good governance. Ketiga komponen tersebut sepatutnya berjalan secara paralel. efisiensi dan efektivitas. reorientasi birokrasi serta perluasan partisipasi publik untuk mengembalikan akuntabilitas. saling mendukung dan saling berinteraksi. namun tidak berarti sepi dari dampak pengelolaan pemerintahan. good governance lebih menitikberatkan pada aspek proses melalui pendekatan fungsional guna mencapai tujuan yang diinginkan. Interaksi tersebut hendaknya dilandasi oleh sejumlah karakteristik yang memungkinkan tata kelola pemerintahan berjalan baik. konsensus. tanggungjawab diperlukan sebagai konsekuensi terhadap semua jenis kontrak dari level paling bawah hingga pusat pemerintahan. adil. merujuk pada tanggungjawab setiap aktor dalam interaksi berpemerintahan. partisipasi. Tanggungjawab merupakan nilai yang mampu menjembatani relasi antara pemerintah dan masyarakat untuk menjamin keberlangsungan pemerintahan.

Demikian pula pada elemen lain. termasuk bertanggungjawab terhadap kegagalan pemerintah yang dipilih oleh mereka sendiri. Akibatnya. Partisipasi. seharusnya dapat dipertanggungjawabkan secara murni dan konsekuen. Pada tingkat yang lebih jauh. bukan saja pemerintah. Hal ini dapat dilihat dalam kasus projek Pembangunan Wisma Atlit di Kemenpora. atau mengalami perubahan dipersimpangan jalan sesuai kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu. tanggungjawab masyarakat tidak saja memanfaatkan seefektif mungkin apa yang diberikan oleh pemerintah. merupakan karakteristik yang memungkinkannya terbangunnya kepercayaan masyarakat terhadap apa yang diartikulasikan pemerintah dalam hal kepentingan dan kebutuhan masyarakat. Setiap tindakan yang secara praktis berkaitan serta membebani masyarakat dan pemerintah. Penyakit demikian bukan saja melanda pemerintah. Selain itu. menunjukkan keterlibatan masyarakat dalam penyusunan dokumen perencanaan pembangunan. semua perencanaan pemerintah kehilangan koneksitas dengan kepentingan masyarakat. Kasus Lumpur Lapindo di Indonesia (2005) mereflesikan tanggungjawab keseluruhan elemen. Partisipasi aktif masyarakat lebih jauh 27 . indikasi meluasnya perilaku koruptif dalam pemerintahan semakin meyakinkan masyarakat bahwa pemerintah kehilangan karakteristik transparansi dalam menjalankan fungsi pelayanan. Transparansi. swasta dan masyarakat. Pada akhirnya. Perencanaan yang transparan meyakinkan masyarakat tentang sejauhmana kepentingan mereka mampu didokumentasikan secara jujur oleh pemerintah.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik pelayanan yang diberikan merupakan upaya paling maksimal yang dapat di produk pemerintah. Ketiadaan nilai transparansi seringkali ditunjukkan oleh mandeknya semua dokumen perencanaan tanpa realisasi. demikian pula sektor swasta dan masyarakat pada tingkat tertentu. para pemegang modal (swasta) seyogyanya memegang prinsip tanggungjawab dalam interaksi dengan masyarakat dan pemerintah. Salah satu sorotan utama dewasa ini adalah seberapa efektif pemerintah mampu memperjuangkan kepentingan masyarakat melalui anggaran yang tersedia. juga memelihara semua produk pelayanan yang diberikan. Sulit membayangkan jika pihak swasta lari dari tanggungjawab tersebut. sebab ketiga elemen tadi memiliki batasan terhadap tanggungjawab masing-masing. Rendahnya transparansi pemerintah berkenaan dengan perencanaan dan implementasi kebijakan menunjukkan lemahnya itikad baik dalam mewujudkan tujuan dan harapan masyarakat. seberapa kuat komitmen pemerintah dalam merealisasikan semua perencanaan yang telah disepakati.

jika pemerintah enggan melibatkan partisipasi masyarakat. terhadap setiap masalah yang dihadapi masyarakat. yaitu suatu kondisi tertib bermasyarakat. Rendahnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan pemerintahan disebabkan oleh rendahnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya partisipasi dalam pembangunan. Tertib hukum dimaksudkan untuk menciptakan social order. sehingga pemerintah terkesan sulit melibatkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan. sekaligus menunjukkan adanya hukum itu sendiri. adalah karakteristik pemerintah yang mampu memberikan tanggapan sedini mungkin. Kemampuan memberikan jawaban atas setiap masalah yang dihadapi masyarakat menunjukkan kemampuan pemerintah dalam memahami apa yang menjadi kebutuhan utama masyarakat. sadar akan aturan yang diperuntukkan bagi kepentingan masyarakat itu sendiri. Kegagalan merespon setiap masalah yang dihadapi masyarakat menunjukkan ketidakpedualian 28 . Itulah mengapa seringkali gejala pemerintahan dipandang sebagai gejala hukum.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 menggambarkan sejauhmana kepentingan mereka telah terakomodir dengan baik. selain melibatkan mereka dalam hal tanggungjawab yang lebih luas. dibutuhkan kesadaran pemimpin untuk memberikan contoh sehingga mampu mendorong terwujudnya tertib hukum. Ketaatan hukum memberikan landasan bagi pemerintah dalam menjalankan visi dan misi yang diemban. Kondisi ini tentu saja berhubungan dengan nilai transparansi. sekaligus memperlihatkan tingkat aksebilitas masyarakat terhadap pemerintah. Semakin rendahnya kepatuhan hukum masyarakat menunjukkan semakin rendah pula tingkat penerimaan masyarakat terhadap pemerintahnya. Pemerintah yang buruk seringkali mengidap perasaan curiga yang berlebihan ketika masyarakat terlibat dalam setiap proses perencanaan pembangunan. kemungkinan kesadaran pemerintah juga rendah sehingga mendorong kecurigaan terhadap setiap keterlibatan masyarakat. Faktor pendidikan menjadi kunci penting dalam mendorong kesadaran masyarakat. Tertib hukum merupakan karakteristik yang memungkinkan terciptanya masyarakat taat hukum. kemungkinan kesadaran mereka rendah pula disebabkan rendahnya tingkat pendidikan yang diperoleh sehingga bersikap apatis. Sebaliknya. Responsif. Disini terlihat jelas bahwa jika partisipasi masyarakat rendah. Dalam hubungan itu. Kehadiran pemerintah dalam setiap pelayanan masyarakat mengindikasikan hadirnya perlindungan bagi masyarakat. Masalah berikut justru terletak pada rendahnya keterbukaan pemerintah dalam melibatkan partisipasi masyarakat.

Keadilan merupakan salah satu tujuan ingin dicapai oleh setiap pemerintah. Visi menggambarkan masa depan pemerintahan dan memuat cita-cita ideal masyarakat yang dapat diwujudkan oleh 29 . jangankan kehadiran. Konsensus juga merujuk pada bagaimana pemerintah membangun kesepahaman yang memungkinkan semua kepentingan dapat diakomodir pada saluran yang tersedia. adalah karakteristik yang menggambarkan kemampuan pemerintah dalam membangun kesepakatan antara tuntutan secara bottom-up dan topdown.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik pemerintah serta hilangnya sense of belonging atas problem yang dialami oleh masyarakat. Karakteristik visi strategis berkaitan dengan kemampuan pemerintah dalam mewujudkan citacita ideal namun realistis berdasarkan kebutuhan masyarakat. Efisiensi dan efektivitas merupakan karakteristik good governance yang merefleksikan kemampuan pemerintah dalam pencapaian tujuan secara tepat guna dan hasil guna. Pencapaian tujuan dengan mempertimbangkan aspek efisiensi dan efektivitas dapat mendorong produktivitas pemerintahan menjadi lebih berkualitas tanpa membuang modal yang besar. Konsensus merupakan landasan bagi pencapaian komitmen bersama. Dalam perspektif masyarakat. statement pemerintah sekalipun dapat dinilai sebagai respon positif terhadap masalah yang sedang mereka hadapi. Kegagalan pemerintah dalam mempertimbangkan efisiensi dan efektivitas membuat pemerintah kehilangan modal serta tak mampu berbuat banyak. Visi diharapkan menjadi petunjuk yang dapat dikonkritkan dalam bentuk misi. tanpa penalaran jauh kedepan. program hingga kegiatan teknis. Kondisi tersebut membuat pemerintah mengalami beban anggaran yang cukup besar selain tak mampu membuat kebijakan strategis. Keadilan lazimnya melekat pada para pelaku pemerintahnya. khususnya pemimpin. sekaligus memberikan hak dan kewajiban secara proporsional. Kemampuan pemerintah memelihara konsensus yang telah dibangun dapat diartikan sebagai kemampuan pemerintah dalam memelihara amanah. Tanpa visi yang jelas pemerintah sebenarnya hanya menjalankan fungsi secara instingtif. Konsensus. Adil merupakan karakteristik yang dapat mendorong akseptabilitas masyarakat pada pemerintahnya. Keadilan bertujuan untuk menciptakan pemerataan. kecuali membiayai pegawai dilingkungannya masingmasing. Kegagalan membangun konsensus dapat meruntuhkan kepercayaan masyarakat dimana pemerintah dapat dinilai mengkhianati amanah yang diberikan. Komitmen bersama berkaitan dengan kepentingan stakeholder dalam mewujudkan tujuan yang diamanahkan pada pemerintah.

faktor internal yang meliputi ketidakmampuan birokrasi mengubah dirinya menjadi lebih baik. Menurut Gerry Stoker (1998). mengidentifikasi ketergantungan kekuasaan yang terdapat dalam hubungan antara institusi yang melakukan tindakan kolektif. yang diartikan hidup bersama dan terikat. reciprocity. Ketiga. faktor eksternal berkenaan dengan tingginya intervensi politik yang membuat birokrasi kehilangan konsentrasi dalam menjalankan fungsi pelayanan. yaitu. yaitu pengembangan pandangan penggunaan kekuasaan tidak selalu merupakan zero-sum game. authority yang berarti eksistensi kekuasaan yang legitimate. Inilah sejumlah karakteristik pemerintahan yang baik (good governance) menurut UNDP. serta memiliki cita-cita yang bersifat jangka panjang serta berkelanjutan. Tantangan Reformasi Birokrasi dan Good Governance Menurut Muhammad (2007). proposisi governance meliputi lima hal yaitu. pertama. namun bersentuhan pula dengan nilai dan sikap yang dianut oleh pihak swasta dan masyarakat. tantangan reformasi birokrasi meliputi tiga masalah pokok. Visi strategis membutuhkan kesinambungan dalam mengawal agenda-agenda yang telah ditetapkan. yaitu pertama. Pemerintahan yang bertolak dari visi adalah pemerintahan yang memiliki pandangan jauh kedepan. Ketiga.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 pemimpinnya sejauh ia mampu dan konsisten. Kelima. Trust. Keempat. menyebutkan empat variabel dalam konsep governance. tetapi juga dapat menjadi positive sum game. mengakui kapasitas guna menyelesaikan sesuatu yang tidak bersandar pada kekuasaan pemerintah untuk memberikan komando atau menggunakan otoritasnya. Kedua. Disamping itu. faktor keraguan publik terhadap efektivitas kebijakan yang direncanakan dan diimplementasikan oleh birokrasi. Kedua. merujuk pada seperangkat institusi dan aktor yang terdapat pada dan di luar pemerintah. Hayden (dalam Hamdi. demikian pula pihak swasta dan masyarakat luas. adalah tentang jaringan aktor yang bersifat mandiri dan mengatur sendiri. karakteristik tersebut menjadi variabel penting tidak saja bagi pemerintah. Secara umum. Faktor pertama disebabkan oleh kelemahan birokrasi dalam 30 . mengidentifikasi kekaburan batas dan tanggungjawab untuk menangani isu-isu sosial ekonomi. 2002:14). Accountabilitypada dasarnya memperkuat kepercayaan masyarakat dan sebaliknya. Governance memandang pemerintah mempunyai kemampuan untuk menggunakan alat dan teknik baru dalam mengarahkan dan menuntun. secara kompetitif atau koperatif dalam mengejar tujuan bersama. Penciptaan tata kelola pemerintahan yang baik bukanlah semata-mata menjadi bagian dari kebijakan pemerintah.

tentu saja membutuhkan pendekatan untuk dilayani secara jemput-bola. Mereka yang secara fisik tak mampu. Pelayanan birokrasi disandarkan pada hubungan kekeluargaan yang bersifat emosional. Pendekatan struktural dalam pelayanan seringkali berhadapan dengan aturan dan norma yang berlaku. harus diberikan insentif yang seimbang agar pelayanan tetap diberikan secara merata. jauh dari karakter ideal birokrasi. Menyandarkan pelayanan dengan meletakkan prinsip impersonalitas secara kaku sebagaimana dimaksud Weber tidaklah menciptakan rasa keadilan yang memadai. Apakah dengan alasan yang sama pemerintah mesti menolak pelayanan kepada 31 . Ketidakmampuan birokrasi memahami pluralitas dalam masyarakat seringkali menimbulkan ketidakadilan dalam pelayanan. Persoalaannya. namun fungsional. Sedangkan mereka yang tak mampu secara non fisik. serta mampu menjawab setiap persoalan tidak saja secara struktural. Sebaliknya. Polapola pendekatan dan pelayanan kepada masyarakat secara nyata menunjukkan indikasi perilaku traditional. Masyarakat seringkali merasa frustasi karena pelayanan mereka mengalami kebuntuan hanya karena ketidakmampuan birokrasi saat menerjemahkan aturan yang berlaku. Tingginya dinamika masyarakat dalam menuntut pelayanan yang lebih baik tak serta merta diimbangi oleh kemampuan birokrasi dalam mengembangkan kecerdasan. sehingga sulit menyelesaikan masalah secara tuntas. bagaimana jika tuntutan masyarakat melampaui aturan itu sendiri yang kadangkala datang terlambat. sebab hanya mereka yang dikenal secara personal saja yang akan dilayani.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik memperbaharui kinerjanya sesuai perkembangan lingkungan. atau bahkan terjadi kekosongan regulasi. kelompok birokrat terkesan seperti robot yang kehilangan rasa kemanusiaan ketika semua perkara diselesaikan berdasarkan aturan yang berlaku. kecakapan dan keterampilan dalam pengelolaan pemerintahan. seperti masalah finansial. Dalam konteks ini diperlukan birokrasi yang mampu beradaptasi dengan perkembangan masyarakat. Setiap masyarakat yang dilayani terdiri dari masyarakat yang mampu dan tak mampu secara fisik dan non fisik. Pola penyelesaian masalah dengan menyandarkan semua pada aspek regulasi tak selalu membawa hasil maksimal. Harus diakui bahwa perbedaan kultur di dunia barat dan timur merupakan kenyataan yang harus diakui dalam pemberian pelayanan pada masyarakat. menyandarkan pelayanan dengan meletakkan hubungan personalitas secara keseluruhan sama halnya dengan menciptakan diskriminasi bagi kelompok masyarakat yang tak memiliki akses secara langsung pada pemerintah. yaitu suatu hubungan yang bersifat impersonal. Sebaliknya.

berbelitbelit. Politisasi birokrasi menciptakan hubungan antara eksekutif dan legislatif mengalami dinamisasi serius kalau tidak ketegangan yang berkesinambungan. membutuhkan waktu lama serta mengeluarkan biaya yang tak sedikit.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 masyarakat? Oleh sebab itu. birokrasi mengalami pemecahan konsentrasi. serta bobolnya APBD pada saat perencanaan dan penetapannya. pola pendekatan fungsional mengalami banyak kemajuan. namun menimbulkan overlap serta kurang produktif. khususnya di level pemerintah pusat. lembaga-lembaga tersebut tidak saja membebani anggaran birokrasi pemerintah secara umum. lembaga dan komisi yang bersifat mezzo-struktur disamping lembaga formal yang telah ada. sekaligus pada saat yang sama gagal melayani masyarakat sesuai misi yang dipikulnya. Lahirnya badan. Indikasi tersebut bisa diketahui lewat ramainya kebocoran anggaran APBN oleh Badan Anggaran. merupakan cerminan dari pola penyelesaian masalah dengan menggabungkan pendekatan struktural dan fungsional. Akibatnya. Sekalipun demikian bukan berarti tanpa catatan. Pecahnya konsentrasi birokrasi disebabkan sirkulasi kepala daerah setiap lima tahun sekali. Sisanya kelompok birokrat yang mengambil sikap apatis terhadap dinamika yang terjadi 32 . Dalam konteks ini birokrasi seringkali menyimpan dan merawat masalah untuk kepentingan tertentu. Pendekatan fungsional dalam pelayanan merupakan pola pendekatan untuk mengimbangi pendekatan struktural yang terkadang menghambat. Birokrasi yang mengambil jarak secara tegas dengan kelompok politisi justru mengalami ketegangan karena rentan kehilangan jabatan. diperlukan pendekatan fungsional yang dapat menyelesaikan hingga ke akar masalah. Akibatnya. birokrasi yang mengambil jalan kompromi pada akhirnya turut mempersubur tingkat kebocoran anggaran baik di pusat maupun daerah. seperti yang dikatakan oleh Dwiyanto (2011). Dewasa ini. Faktor kedua yang menjadi tantangan reformasi birokrasi adalah tingginya intervensi politik dalam birokrasi. sebab semua pelayanan pada dasarnya membutuhkan pelembagaan formal sehingga dapat diawasi dan dikendalikan. Politisasi birokrasi mendapatkan ruang ketika kelompok elit partai politik memanfaatkan momentum pemilukada untuk menggerakkan birokrasi sebagai mesin politik sekaligus aktivis politik. tidak berupaya menyelesaikan masalah secara tuntas. Perlu diingat bahwa melandaskan semua pelayanan secara fungsional juga tidak tepat. Mereka yang dominan bersandar pada calon incumbent seringkali mengalami disorientasi saat kalah dalam kompetisi pemilukada. karena melakukan persengkokolan kolektif.

33 . Kekuasaan yang besar membuat birokrasi terombang-ambing serta sulit menentukan netralitasnya sebagai pelayan masyarakat. Rendahnya kredibilitas birokrasi dalam mendesain suatu kebijakan dapat diketahui dari rendahnya keterlibatan pakar dalam bentuk asistensi. bukan merit sistem apalagi kompetensi. Keraguan masyarakat dan pihak swasta terhadap efektivitas kebijakan birokrasi disebabkan selain oleh dua faktor diatas. Rendahnya pendidikan serta kurangnya analisis terhadap setiap kebijakan yang diproduk. Tingginya resistensi yang ditandai oleh meningkatnya demonstrasi masyarakat dan pihak swasta yang merasa dirugikan oleh setiap kebijakan yang ditetapkan menunjukkan dua alasan diatas. Sikap ekslusivisme dan seakan tau semua masalah mendorong birokrasi pada perilaku arogan ketika merespon setiap tuntutan masyarakat. Kelemahan rancangan kebijakan pada tahap perencanaan hingga tahap implementasi tak serta merta membuat birokrasi melakukan evaluasi yang berkelanjutan. Semua itu di dukung oleh kemampuan kepala daerah dalam memobilisasi sumber daya melalui sebagian anggota tim sukses yang berasal dari jajaran birokrasi. Keadaan ini jelas mengembangkan perilaku koruptif dalam birokrasi sebagai konsekuensi dari hubungan yang bersifat transaksional. daripada melihat kebawah. serta rendahnya konsultasi publik terhadap rancangan peraturan yang dibuat. namun berusaha menutupi kelemahan kebijakan tersebut. Akibatnya. menjadikan birokrasi tak mampu membuat kebijakan yang efektif dalam menyelesaikan masalah. birokrasi terkesan bukan milik masyarakat namun elit berkuasa. Intervensi politik terhadap birokrasi telah merangsang nafsu aparat untuk membangun komitmen rahasia dengan para elit dalam masa sirkulasi kekuasaan. Faktor ketiga tantangan reformasi birokrasi adalah keraguan masyarakat terhadap setiap kebijakan yang dilaksanakan oleh birokrasi.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik dalam setiap rotasi pemerintahan. ketiadaan naskah akademik terhadap rancangan peraturan (khususnya peraturan daerah). berapa banyak dan kapan. Keseluruhan indikasi tersebut bermuara pada rendahnya kualitas rancangan kebijakan sehingga menimbulkan resistensi dari para pemangku kepentingan (stakeholders). Komitmen tersebut berupa transaksi politik yang berujung pada persoalan siapa dapat apa. juga masalah kredibilitas birokrasi. Dalam konteks ini terbangun koalisi efektif antara eksekutif dan legislatif dalam pembobolan anggaran. yang dapat dilihat dari sikap dan orientasinya yang cenderung melihat keatas. Mobilisasi sumber daya dilakukan bahkan secara terang-benderang melalui rekrutmen pegawai berdasarkan hubungan primordial dan patronase.

namun bagaimana pelayanan tersebut dapat dilaksanakan dengan baik. Apabila secara sosiologis birokrasi dipandang sebagai organisasi paling rasional yang memiliki sejumlah karakteristik sebagai pelaksana interaksi antara pemerintah disatu sisi dan masyarakat disisi lain. keraguan masyarakat terhadap efektivitas kebijakan birokrasi tumbuh disebabkan oleh melimpahnya program yang dijanjikan namun kehilangan fokus saat implementasi. Jika secara politis birokrasi merupakan instrument kekuasaan dalam mewujudkan visi dan misi penguasa sesuai amanah rakyat yang dituangkan dalam bentuk kebijakan politik formal. Masyarakat terkadang merasa muak terhadap kelambanan dan kerakusan birokrasi sebagaimana disinyalir oleh Barzelay (1982) dalam ‘Breaking Through Bureaucracy’. maka reformasi birokrasi semestinya diarahkan pada upaya penciptaan situasi yang kondusif agar birokrasi netral dari pengaruh kekuasaan yang berlebihan. Buruknya sistem dalam pelayanan birokrasi membuat masyarakat tak merasa jelas dalam penyelesaian masalahnya. Reformasi Birokrasi dan Implementasi Good Governance Seperti telah disinggung dalam pendahuluan. Gambaran ini setidaknya disinggung oleh Osborne & Gaebler (1992) dalam ‘Reinventing Government.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Disamping itu. Akibatnya. Kini. bahwa masalah pemerintah terkadang bukan pada apa yang mereka kerjakan. reformasi birokrasi merupakan upaya penataan kapasitas kelembagaan yang menyangkut sistem dan struktur birokrasi dalam menjalankan fungsi pokok sebagai pelayan masyarakat. sekalipun mesti dengan sejumlah catatan pengecualian pada tahap implementasi. keraguan masyarakat terhadap reformasi birokrasi secara umum tumbuh disebabkan oleh rendahnya kepercayaan pada sistem dan sumber daya manusianya. Jika secara administratif birokrasi dipandang sebagai media yang memudahkan pelayanan. Pada akhirnya. daripada realitas yang diharapkan. marilah kita cermati bagaimanakah desain kebijakan reformasi birokrasi sebaiknya dilakukan dalam mewujudkan fungsi birokrasi sekaligus mendorong penciptaan tata kelola pemerintahan yang baik (good 34 . Demikian pula buruknya perilaku birokrasi dalam hal pelayanan membuat masyarakat tak percaya apa yang selama ini dikerjakan oleh pemerintah. kapasitasi dan instrumentasi. menitikberatkan aspek efisiensi dan efektivitas serta memiliki mekanisme dan standarisasi yang jelas dalam interaksinya. lebih banyak program yang bersifat list service. maka reformasi birokrasi selayaknya diarahkan pada penguatan karakteristik dimaksud. maka reformasi birokrasi seharusnya diarahkan pada sejumlah alternatif pilihan kebijakan seperti reformasi struktural.

Secara internal organisasi di dorong oleh tingginya tekanan kekuasaan. Kedua faktor tersebut cukup dominan menjadikan organisasi pemerintah tampak dinamis. Kedua dalam arti dinamis. Masalah kemudian bertambah ketika sebagian besar kepala daerah justru berpikir sama dengan aparatnya. bukan kompromi politik. sedangkan secara eksternal di dorong oleh perubahan lingkungan yang lebih luas. bukan kepentingan politik atau kelompok tertentu. Desain reformasi struktural dapat dilakukan dengan meletakkan landasan kuat bahwa organisasi adalah alat untuk mencapai tujuan. baik formal maupun informal. namun lebih dari itu organisasi didesain berdasarkan kebutuhan. bahkan sulit bersentuhan langsung dengan para pengambil keputusan (decition maker).Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik governance). Harus diakui bahwa budaya penyusunan organisasi di daerah selama ini cenderung mempraktekkan cara-cara penyusunan organisasi di tingkat pusat. bukan tujuan itu sendiri. yaitu organisasi dalam arti dinamis. yaitu organisasi sebagai wadah tempat dimana kegiatan kerjasama dijalankan. Panjangnya jalur hirarkhis membuat setiap masalah terkesan basi ketika kembali pada masyarakat. Uraian selanjutnya akan lebih menitikberatkan pada pengertian kedua. Organisasi sebaiknya disusun berdasarkan hasil analisis jabatan dan beban kerja. Perbedaan pemahaman dalam manajemen pemerintahan seringkali menjadikan birokrasi tak efektif menjalankan tugas dan fungsinya. Boleh jadi dalam perspektif seorang kepala daerah birokrasi adalah alat untuk mewujudkan gagasan ideal dalam bentuk visi dan misi selama lima tahun. namun dalam perspektif aparatur birokrasi adalah tujuan akhir berkenaan dengan bagaimana jabatan paling tinggi sebagai refleksi kekuasaan dapat dicapai. Pertama. Pada level horizontal dibutuhkan organ fungsional yang lebih fleksibel dalam menjawab tuntas akar masalah yang dihadapi. Reformasi oganisasi tidaklah sekedar slogan kaya fungsi miskin struktur. pertama dalam arti statis. Sistem pemilukada 35 . reformasi organisasi (struktural). selain membuang waktu dan biaya yang tak sedikit. Pada level hirarkhis diperlukan pemangkasan yang memungkinkan jenjang struktural lebih pendek. yaitu bagaimana menjadikan birokrasi sebagai alat untuk memperoleh akses bagi keseluruhan sumber daya yang tersedia. Organisasi dapat diartikan dalam dua macam. yaitu organisasi sebagai suatu sistem proses interaksi antara orang-orang yang bekerjasama. Dalam jarak tertentu dibutuhkan pendelegasian yang memungkinkan pelayanan lebih efisien dan efektif. Hal ini sebabkan oleh faktor eksternal dan internal. Dominasi aspek struktural selama ini telah menciptakan kekakuan.

Potret tersebut terlihat tidak saja pada perluasan kementerian departemen. Pola penjenjangan karier kurang diperhatikan. diperlukan reformasi kapasitasi yang memadai guna meningkatkan kemampuan aparatur dalam melayani masyarakat. dua dan seterusnya. Melebarnya ukuran organisasi tanpa analisa kebutuhan jabatan dan beban kerja membuat performance organisasi pemda khususnya terkesan tambun dan statis. dokter. Tasikmalaya. disamping tersisihnya peluang bagi rekrutmen pegawai yang memiliki kompetensi ideal seperti guru. program dan kegiatan. Reformasi kapasitasi adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan sumber daya birokrasi dalam pelayanan agar mampu mengimbangi dinamika masyarakat. Ini bisa dipahami jika dihubungkan dengan bertambahnya rekrutmen pegawai setiap tahun tanpa pengendalian berdasarkan kompetensi. Kasus pencopotan pejabat setingkat sekretaris daerah dalam tempo singkat dan mutasi besar-besaran adalah contoh yang dapat diamati dalam wilayah pemerintah daerah.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 telah menjebak kepala daerah untuk melakukan rekonstruksi organisasi pemda lewat cara-cara resuhffle kabinet jilid satu. pengetatan organisasi agar lebih ramping dan kaya fungsi diutamakan pada pemerintah daerah melalui kebijakan PP No. namun dipraktekkan terang-benderang di level pusat melalui perluasan organisasi pemerintahan. dimana lebih dari 70% APBD habis untuk belanja aparatur (FITRA:2011). Realitas ini dapat ditemukan pada sejumlah kabupaten seperti Lumajang. Kedua. 36 . 41 Tahun 2007. Sragen. namun tampak pada puluhan organisasi setingkat lembaga. Reformasi kapasitasi berkaitan dengan kemampuan birokrasi baik secara individual maupun kelompok yang ditunjukkan pada kemampuan menerjemahkan visi dan misi. Palu. bahkan hasil Baperjakat hanyalah unsur formalitas dalam penempatan personil pada struktur organisasi pemda. Rekrutmen pegawai tanpa kompetensi pada akhirnya hanya akan menyerap besaran APBD yang tak sedikit guna meningkatkan kecakapan dan keterampilan pegawai. organisasi Pemda memperlihatkan gejala obesitas yang sarat kepentingan politik para elit lokal sehingga sulit bergerak mencapai tujuan. Akibatnya. Praktis organisasi dibentuk untuk menjawab kepentingan rezim berkuasa. Ambon dan Bitung misalnya. apoteker dan perawat. bukan menjawab masalah yang dihadapi masyarakat. Postur organisasi Pemda yang mengalami kegemukan tentu saja dapat menyedot belanja aparatur lebih besar dibanding belanja pembangunan. Kondisi ini tidak saja berlaku di daerah. Ironisnya. analis kebijakan. badan dan komisi. namun gagal melakukan efisiensi organisasi di level organisasi pemerintah pusat.

Parahnya. Pada akhirnya. pertama. tertutupnya kebijakan pengembangan pendidikan dan lahirnya diskriminasi dalam pengembangan sumber daya di daerah melahirkan kasus jalan pintas lewat indikasi ijazah palsu dan gelar pendidikan tanpa jelas asal-usulnya. semakin tinggi resiko yang akan dihadapi. pertanian dan jasa. perikanan. sama-sama mendapatkan perlakuan khusus. birokrasi dan pemerintah secara keseluruhan dapat kehilangan kepercayaan masyarakat. kiranya membutuhkan aparat yang menguasai sektor unggulan dimaksud. semakin rendah kapasitas pemerintah daerah. Dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang dibutuhkan aparatur yang memiliki pengetahuan yang memadai guna penyusunan rencana kegiatan hingga keterampilan mengimplementasikan suatu program secara efektif. diperlukan desain kebijakan praktis. Kesenjangan ini seringkali menimbulkan ketegangan sekaligus kecurigaan terhadap kinerja birokrasi. Untuk mengantisipasi hal itu diperlukan desain kebijakan reformasi kapasitasi jangka panjang dan jangka pendek. Profesionalisme sekurang-kurangnya ditunjukkan oleh sertifikasi pendidikan dari jenjang dasar hingga jenjang yang lebih tinggi. peningkatan insentif yang berfungsi mendorong spirit dan kinerja birokrasi. Sebaliknya. Aspek tersebut diimbangi oleh segudang pengalaman pada berbagai organisasi yang memiliki nilai dan kompetensi utama. semakin tinggi kapasitas pemerintah daerah semakin rendah pula resiko yang akan dihadapi dimasa mendatang. Pemerataan selama ini hanya membuktikan bahwa mereka yang kerja dan tidak. Dampaknya. daerahdaerah yang berbasis kompetensi kelautan. Ini penting untuk mendorong perkembangan daerah lebih cepat dan kompetitif. Keadilan dapat diterapkan melalui pembayaran insentif berdasarkan penilaian kinerja birokrasi. Sebagai perbandingan. Pembangunan berbasis keunggulan lokal membutuhkan birokrasi yang mampu menjawab tantangan yang muncul. Fakta ini jelas kurang mendorong 37 . Dalam jangka panjang diperlukan pendidikan yang berbasis pada kebutuhan dan karakteristik organisasi pemerintah daerah. Spirit tersebut diarahkan untuk melahirkan nilai kompetitif sehingga mampu menciptakan keadilan bagi birokrasi yang berprestasi.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Pengembangan kapasitas aparatur berfokus pada aspek pendidikan dan pengalaman yang akan menentukan nilai profesionalisme birokrasi dihadapan masyarakat. Rendahnya pendidikan aparatur mengakibatkan kesenjangan antara mereka yang dilayani dan mereka yang melayani. sekaligus pada saat yang sama mendorong kemampuan kolektivitas birokrasi. Kedua aspek tadi setidaknya dapat membentuk kemampuan individual.

sekaligus melindungi birokrasi dari perilaku buruk aparatur yang berinteraksi didalamnya. Kesadaran yang terus meningkat hingga membuahkan inovasi. Guna mengurangi kepentingan politik maka birokrasi sebaiknya mengambil jarak untuk bersikap netral. Pembiaran terhadap tumbuhnya kreativitas tanpa apresiasi dapat menurunkan semangat untuk berkarya dan mengabdi pada organisasi. Statement ini tentu saja tidak mudah diperoleh dilapangan empirik. Pada sisi lain membiarkan kelalaian birokrasi sama maknanya dengan menyetujui sekaligus membolehkan kesewenang- wenangan dalam pelayanan masyarakat. Pola penggajian dan insentif yang bervariasi sebagaimana pernah diterapkan sejumlah pemerintah daerah seperti Kabupaten Jembrana Provinsi Bali. Oleh sebab itu harus dipahami bahwa penarapan reward and punishment memiliki arti strategis bagi organisasi.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 kompetisi serta menciptakan ketidakadilan. birokrasi sulit menolak ransangan para elit untuk berkoalisi memenangkan calon tertentu. jauh lebih penting dari itu adalah lahirnya dampak positif bagi birokrasi untuk kembali pada tugas dan fungsinya masing-masing. Semua konsekuensi tersebut dilakukan tentu saja berdasarkan transaksi minimum lewat jabatan-jabatan strategis dan menggiurkan. birokrasi sangat rentan diintervensi oleh elit lokal guna memenuhi kepentingan kelompok tertentu dalam sirkulasi kekuasaan. faktanya sebaliknya. Politisasi birokrasi membuat aparat menjadi bulanbulanan elit lokal. yaitu mendorong berkembangnya birokrasi agar lebih disiplin dan bertanggungjawab serta mampu merespon perkembangan masyarakat. Kedua. Demikian pula pola penerapan sanksi dibutuhkan semaksimal mungkin dengan maksud pembinaan secara proporsional. sebab itu diperlukan sistem eksternal yang 38 . kreativitas dan kemandirian hendaknya memperoleh penghargaan yang setimpal guna mendorong semangat yang sama pada aparat yang lain. Mengambil jarak terlalu jauh beresiko kehilangan jabatan. diperlukan penataan sistem yang secara eksternal efektif dapat mengurangi politisasi birokrasi yang dapat memecahkan konsentrasi aparatur dalam melayani masyarakat. Lewat sistem yang ada. menunjukkan dampak positif dalam mendorong kinerja birokrasi. Ketiga. reformasi birokrasi dalam jangka pendek hendaknya mampu menciptakan sistem internal yang dapat mendorong secara perlahan tumbuhnya kesadaran birokrasi sebagai pelayan masyarakat. termasuk menurunkan penghargaan bagi mereka yang benarbenar memiliki profesionalisme. Penerapan sanksi bukanlah tujuan akhir. terlalu dekat sama artinya menceburkan diri dalam ketidakpastian lebih beresiko.

sebab semua norma sosial termasuk agama tidaklah mentolerir perilaku buruk semacam itu. Perilaku birokrasi yang korup cenderung termotivasi oleh pengaruh lingkungan serta tuntutan domestik. Perubahan budaya kerja yang diawali dari kebiasaan menanamkan keseluruhan karakteristik pemerintahan yang baik diharapkan mampu menghasilkan birokrasi yang dapat menjalankan fungsinya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat. indeks persepsi korupsi di Indonesia belum berubah sesuai catatan International Transparancy. Bercermin pada China yang berani menerapkan tindakan tegas bagi pelaku korupsi. Budaya kerja positif diharapakan tidak saja menular pada pemerintah. birokrasi membutuhkan legitimasi de facto sebagai penyambung kepentingan kepada pemerintah yang berkuasa. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku buruk birokrasi perlu diperbaiki. Korupsi bukanlah budaya positif yang tumbuh pada masyarakat.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik dapat membentengi birokrasi dari kepentingan politik yang berlebihan. Pembentukan Komisi Pemberantasan Korupsi dimaksudkan untuk membantu pemerintah dalam meminimalisasi gejala korupsi. birokrasi membutuhkan legitimasi de jure untuk menjalankan semua keputusan politik pemerintah. Landasan kebijakan secara umum diharapkan mampu melindungi pemerintah dan segenap pemangku kepentingan dalam lingkup good governance. Sebagai abdi negara. Bagian ketiga dari gagasan reformasi birokrasi berkenaan reformasi instrumentasi yang mencakup penyiapan regulasi baik undangundang di tingkat pusat hingga peraturan pada level pemerintah daerah. Sedangkan sebagai abdi masyarakat. Korupsi merupakan kejahatan extra ordinary sehingga membutuhkan upaya-upaya yang bersifat luar biasa. demikian pula pada elemen masyarakat dan wiraswasta. maka dibutuhkan reformasi birokrasi yang mampu mencegah terjadinya tindak pidana korupsi dilingkungan birokrasi pemerintahan. Tentu saja reformasi birokrasi dalam jangka panjang termasuk jangka pendek sulit dilakukan tanpa dimulai dari perubahan budaya kerja kearah positif. Berkaitan dengan reformasi birokrasi diperlukan sistem yang mengikat secara ketat. reformasi birokrasi dalam jangka pendek diarahkan pada upaya pencegahan (preventive) perilaku korupsi dalam tubuh birokrasi. sebesar 2. disamping penerapan sanksi berat dalam setiap tindakan yang disangkakan. Reformasi instrumentasi berfungsi sebagai landasan kebijakan yang bersifat legalistik-formal untuk menghindari tuntutan masyarakat terhadap kinerja birokrasi.8. Sejauh ini. Dalam banyak kasus birokrasi seringkali 39 . Perlu dipahami bahwa sistem insentif sebagaimana dikemukakan sebelumnya bukanlah jalan satusatunya dalam mengurangi tindak pidana korupsi. Keempat.

Reformasi instrumentasi pada tingkat teknis setidaknya dapat memperjelas mekanisme dan prosedur pelayanan oleh birokrasi pemerintahan. Indikator lain yang bisa diamati adalah persyaratan adanya SOP sebagai pedoman bagi setiap pemerintah daerah 40 . Kasus Bank Century. pemegang modal dan masyarakat biasa. juga berhubungan dengan seperangkat alat baik sarana dan prasarana yang memungkinkan birokrasi mampu mengembangkan dirinya dalam memberikan pelayanan yang bermutu.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 dianggap gagal menyiapkan instrumen bagi landasan pelayanan masyarakat. walaupun disadari belum sepenuhnya dapat dilaksanakan secara baik. surat palsu di Mahkamah Konstitusi hingga Kemenakertrans adalah contoh gamblang dalam konteks terbentuknya jaringan mafia birokrasi antara pemerintah. Kendati dengan alasan efisiensi. kolusi dan berkembangnya jaringan mafia dalam tubuh birokrasi. birokrasi layaknya berjalan menggunakan insting dimana pada kondisi tertentu dapat berbenturan dengan norma dan ketentuan yang berlaku. Berkaitan dengan implementasi good governance. Tanpa standar operational procedure. dimana prinsip-prinsip tata kelola pemerintahan menjadi landasan penting dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Sebaliknya. seperti landasan yuridis kebijakan serta tingkat partisipasi masyarakat. Wisma Atlit. Reformasi instrumentasi diharapkan tidak hanya berkaitan dengan landasan hukum. mekanisme dan prosedur. Salah satu contoh dapat dilihat dalam kebijakan UU No. pemerintah pada dasarnya telah banyak melakukan terobosan melalui berbagai regulasi yang memberikan peluang diterapkannya karakteristik tata kelola pemerintahan yang baik. Contoh konkrit lain dapat dilihat dalam instrumen evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah yang memuat sejumlah variabel dan indikator sebagai refleksi dari tercapainya karakteristik tata kelola pemerintahan yang baik. Situasi demikian seringkali menyuburkan praktek suap. Strategi pelayanan jemput bola melalui penggunaan sarana dan prasarana yang tersedia seperti teknologi informasi dan transportasi merupakan keseluruhan paket reformasi instrumentasi dalam kerangka besar reformasi birokrasi dan implementasi good governance. pada akhirnya menimbulkan masalah lebih kompleks yaitu ekonomi biaya tinggi (high cost economy). ketatnya mekanisme dan prosedur dapat membentuk budaya birokratisme yang pada gilirannya mendorong perilaku “melambung” (by pass) untuk mempercepat pelayanan. Gejala tersebut dapat dilihat pada sejumlah hasil temuan BPK dimana pengeluaran anggaran pemerintah daerah khususnya kehilangan landasan yuridis.32/2004 tentang Pemerintahan Daerah.

Penyampaian laporan perkembangan harta kekayaan yang dimiliki oleh setiap pejabat publik mencerminkan diterapkannya prinsip akuntabilitas dan tranparansi. politik maupun pengawasan publik. tanggungjawab. tranparansi. Kesemua itu merupakan modal dasar dalam rangka penumbuhan. Karakteristik efisiensi dan efektivitas merupakan prinsip yang senantiasa diakomodir dalam undang-undang pemerintahan daerah termasuk peraturan yang menjadi turunannya. dan akuntabilitas.3/2007 tentang Pertanggungjawaban Kepala Daerah yang meliputi LPPD. Prinsip ini mengalami perkembangan sejak lahirnya lembaga yang berfungsi melakukan evaluasi serta pengawasan baik secara internal. fungsional. eksternal. Karakteristik konsensus dilakukan melalui upaya dokumentasi perencanaan APBN dan APBD sebagai bentuk kesepakatan bersama antara eksekutif dan legislatif yang notabene dipilih dan mewakili masyarakat itu sendiri. Prinsip akuntabilitas dapat dilihat pada sejumlah instrument pertanggungjawaban seperti PP No. dilahirkannya regulasi tentang keterbukaan informasi publik oleh Kementrian Komunikasi dan Informasi menunjukkan komitmen pemerintah dalam memberikan akses seluas-luasnya kepada masyarakat. kesetaraan. 41 . pengembangan dan implementasi karakteristik good governance. Strategi ini dilakukan melalui persyaratan fit and proper test yang dilakukan pada sejumlah calon pejabat setingkat kepala daerah maupun pimpinan lembaga.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik dalam menjalankan fungsi dan tugas pokoknya dilapangan. badan dan komisi. Karakteristik visi strategis menjadi syarat mutlak bagi setiap kandidat pemimpin pemerintahan ketika mencalonkan diri sebagai pejabat publik. Bahkan. pencanangan pendidikan karakter sejak usia dini oleh Kementrian Pendidikan Nasional merupakan terobosan jangka panjang dalam upaya menanamkan nilai-nilai kejujuran. LKPJ dan LIPD. Pada karakteristik transparansi misalnya. Pengembangan kesetaraan sebagai bagian dari karakteristik tata kelola pemerintahan yang baik dapat dilihat dalam mekanisme pemilihan pemimpin politik yang ramah gender serta terbuka bagi setiap warga negara menurut batasan konstitusi dan undang-undang. terlepas bahwa prinsip tersebut masih sering dilanggar oleh pemerintah daerah. kedisiplinan.

Jaring Birokrasi. Harus Bisa. Jakarta Jones. Jakarta Dwiyanto. Richard.XXXV No. Tinjauan dari Aspek Politik dan Administrasi. Budi. Jurnal Ilmu Pemerintahan Widya Praja. Birokrasi. volume 3. Soerjono. 2000. 1993. Membedah Hukum Progresif. Jakarta Soekanto. New York.Warwick. Raja Grafindo. Khasan. 2000. H dan Mills. Rajawali Pers. Martin. Jakarta 42 . STIAMI. Gramedia Pustaka Utama Effendy. Rajawali Pers. Demokratisasi Birokrasi. Tiara Wacana Michaels. Jakarta Sudirman. 1962. Jakarta Rahardjo. Gugus Press. Bureaucracy dalam Encyclopaedia of the Social Sciences. Macrosociology. 2009. 2002. 1998. C. Bambang. (terjemahan). N. Vol.1 Tahun. 2005. Rajawali 1Pers. H. 2010. Stephen K. 2008. Jakarta Setiono. Political Parties. Sosiologi Kekuasaan. Ina Publikatama. Yogyakarta. 2010. Pip. Bandung Gerth. Adam dan Jessica Kuper. Raja Grafindo Persada. Reformasi Birokrasi. Roderick. Jakarta Kuper.Haass. Red and White Publishing. Maurice. Harvard Universty Press. Seni Memimpin SBY. New York. Cambridge Massachussets. 2001. The Study of Politics (Terjemahan). Yayasan Pustaka Obor Indonesia. 2010. Sosiologi Suatu Pengantar. Praktek Birokrasi Weberian di Indonesia. R. Martin Albrow dalam Donald P. Indra Prahasta. (terjemahan). 2010. Agus. Introducing Social Theory. Satjipto. Sosiologi Pemerintahan. Ensiklopedi Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta Max Weber dalam Martin Albrow (Terj). The Bureaucratic Entrepreneur (terjemahan). Istianto. New York dan London. Jakarta Sanderson.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Daftar Pustaka Duverger. Jakarta Laski. Theory of Public Bureucracy. 2011. 1996. Kompas. Bekasi Dino Patti Djalal. CV.W (1946) From Max Weber:Essays in Sociology.

Perspektif Mikro Diagnosa Psikologis. Jakarta Blau. 2004. And Reform. Robert A. Malang Toha. Mitra Wacana Media. Pemerintahan Yang Amanah. Birokrasi dalam Polemik. Reformasi Birokrasi. Peran Kontrol Rakyat dan Netralitas Birokrasi. Jakarta. Yale University Press Haris. Pustaka Pelajar. Budi. 1993. dkk. 2006. Politicising Democracy. 2004. Jakarta Tjokrowinoto.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Tjokrowinoto. Jakarta Sorenson. 1999. Westview Press Setiono. Pusataka Pelajar. 2000. Birokrasi Dalam Polemik. 2011. Democracy and Democratization. Precesses and Prospects in Changing World. (Makalah). Ackermen-Susan Rose. Jaring Birokrasi. Bekasi Subagyo. Pustaka Pelajar. Cambridge University Press Aini. Peter M. Pembagian Kewenangan Menurut UU 32 Tahun 2004. Yogyakarta Istianto. 1982. 2004. 1999. Ryaas. New haven and London. 2002. 2000. Nurul. Agustus 2011. Fisipol UGM. 2006. Bureaucracy in Modern Society (terj). Dilemma Of Pluralist Democracy. Politik Organisasi.XXXII No. Jhon. Yayasan Bina Pembangunan. Jakarta 43 . Yogyakarta Dahl. Jakarta Koswara. Untung. LPM-IIP. 2000. Vol. 2004. Jakarta Suwandi. PKSP. 2001. Terobosan Otonomi Satu Tingkatan. Otonomi dan Pemerintahan Daerah. Makalah. Consequences. Macmillan ltd Haris. Bahan Ajar Sistem Politik Indonesia. Corruption and Government Causes.3 Tahun 2006. Miftah. Gugus Press. IIP Press. IIP-Press Rasyid. Georg. Yogyakarta Jurnal Ilmu Pemerintahan Widyapraja. Demokrasi dalam Birokrasi Pemerintah. Palgrave. Bambang. Pustaka Pelajar. Pidato Pengukuhan Guru Besar. dkk. Unismuh. Demokratisasi Birokrasi. Moeljarto. hal 209-22 Republika.

.

Syarat Mutlak Pembangunan Ekonomi * Penulis adalah kandidat doktor Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 45 .Foto : Antara IV Oleh : Nursodik Gunarjo * Edisi 3 / September / 2011 Reformasi Birokrasi.

Prisma. No. serta perilaku korup aparat birokrasi. Tulisan ini diharapkan dapat menganalisis secara komprehensif hubungan antara birokrasi dan dunia usaha dari perspektif ekonomi politik. alih-alih membantu percepatan perputaran roda perekonomian3 3 Kristiadi. “Masalah Sekitar Peningkatan Pendapatan Asli Daerah”. proses perizinan di Indonesia dinilai lambat dan ruwet. Mereka juga mengeluhkan banyaknya biaya siluman (overhead cost) yang harus dikeluarkan saat melakukan aktivitas ekonomi di Indonesia2. 4. Penyebabnya. Akibatnya sangat fatal.com/ read/2011/07/27/12451245/Minat. regulasi pemerintah dinilai kurang mendukung keberadaan investor asing1. (1995).B. namun juga terkait dengan perilaku tak terpuji aparat birokrasi dan kebijakan yang tidak probisnis. dalam praktik justru sering membebani sektor ini.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 B Pendahuluan irokrasi merupakan stakeholder penting di bidang ekonomi. J. Pelayanan birokrasi yang lambat.kompas. Selain itu. 114.com/ read/2004/12/17/110517/257641/4/ infrastruktur-buruk-investasi-jepangke-ri-minim Beberapa contoh yang telah dikemukakan setidaknya dapat dijadikan bukti bahwa birokrasi Indonesia belum ’ramah’ terhadap dunia usaha. akan membuat dunia usaha lebih mudah menerapkan efektivitas dan efisiensi. Keluhan tersebut bukan saja berkenaan dengan buruknya layanan. Banyak keluhan muncul saat para pelaku usaha berurusan dengan birokrasi. Tidak mengherankan jika pelaku ekonomi cenderung menganggap keberadaan birokrasi lebih banyak menghambat. pelayanan yang cepat. Para penanam modal di Indonesia pada umumnya mengeluhkan minimnya infrastruktur. Pelayanan birokrasi turut menentukan bergairah atau tidaknya aktivitas perekonomian suatu bangsa.detikfinance. birokrasi yang diharapkan mampu menjadi enzim of growth perekonomian.Regulasi 2 http://us. batal menanamkan investasi di Indonesia.Indonesia.Terhalang. Sebaliknya. 1 http://tekno. ketidaksiapan sumberdaya terutama SDM. buruk dan berbiaya tinggi akan menyebabkan high-cost economy yang membebani pelaku usaha. Sebuah perusahaan berbasis teknologi informasi asing terkemuka. mudah dan murah. di. 46 .

Rajawali 6 Kristiadi. Kesan seperti ini kemudian memunculkan istilah debirokratisasi. birokrasi acapkali mendapatkan kritik yang cukup tajam6 Senada dengan itu. Revolusi dan Transformasi Masyarakat.. termasuk di dalamnya pelayanan umum dan pembangunan. dalam jangka panjang efeknya dipastikan akan sangat berpengaruh terhadap efisiensi. No. Bahkan ada perusahaan yang menggunakan dana hampir seperempat dari total aset yang dimiliki hanya untuk biaya pelicin agar urusan dengan birokrasi cepat selesai. Jika hal semacam itu terjadi di banyak perusahaan.ti. maksudnya adalah upaya untuk menyederhanakan 5 Eisenstadt S. php/publication/2010/11/11/indekspersepsi-korupsi-kota-kota-indonesia2010 47 . pemerintahan. J. Birokratisasi merupakan efek dari kegiatan birokrasi yang dihegemoni oleh kepentingan kekuasaan dari para elit organisasi. yang sejatinya merupakan manifestasi untuk menunjukan bentuk atau orientasi kekuasaan tertentu dari para elit5 Albrow mengungkapkan sorotan berbagai kalangan yang memandang birokrasi sebagai proses yang panjang dan berbelit-belit pada saat para pengguna berurusan dengan aparat birokrasi. Keadaan ini terlihat pada kelambanan pelayanan dan proses kerja yang berbelit-belit. “Masalah Sekitar Peningkatan Pendapatan Asli Daerah”. Namun dengan kondisi struktur yang rigid dan kaku. birokrasi mudah mengalami birokratisasi—sebutan umum untuk birokrasi yang birokratis. dan pada akhirnya akan menekan produktivitas perusahaan4 Birokrasi Birokratis-Patologis: Perspektif Kritis Tidak bisa dimungkiri. Jakarta: CV.N.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Sebagaimana disampaikan Transparency InternationalIndonesia (TI-Indonesia). (1986). Kebutuhan tersebut muncul sebagai akibat logis dari adanya struktur hierarki yang membutuhkan tahapan-tahapan pengambilan keputusan. kelambatan. 114. mempunyai daya tarik. catatan Mohl tentang penyalahgunaan birokrasi memperlihatkan adanya sifat kecongkakan. (1995). biaya overhead cost yang harus dikeluarkan pelaku usaha sebagai imbas dari berbelit-belitnya urusan di birokrasi terbilang sangat besar. setiap sistem pemerintahan dan organisasi membutuhkan birokrasi. 4. oleh masyarakat seringkali diartikan dalam konotasi yang ruwet. 4 http://www. Dalam kenyataan.id/index.B. sehingga penyalahgunaan bisa muncul dalam sistem kegiatan birokrasi. birokrasi yang dimaksudkan untuk melaksanakan penyelenggaraan bernegara. Prisma.or. serta popular. Karena itu.

atau jacksonian yakni birokrasi yang dipolitisasi. Sementara yang dimaksud dengan birokrasi adalah: “. Jakarta: CV. diperparah dengan isu yang sering muncul ke permukaan. A. London: Sage Publication 9 Mustopadidjaja.R. (1995).an organisation with a certain position and role in running the government administration of a country.B. Banyaknya penyimpangan di birokrasi menyebabkan birokrasi cenderung bersifat patologis. 8 Lane. lebih mengemuka ketimbang citra yang baik atau rasional (bureau rationality). dan tidak terkontrol8 Berbagai keluhan dan kritikan mengenai kinerja birokrasi memang bukan hal baru. (1995). Administrasi Negara. seperti esensi birokrasi Hegelian dan Weberian9.” Dengan demikian secara ringkas dapat dikatakan. Rajawali 11 Mustopadidjaja. Concept. orwellian atau birokrasi dengan peraturan yang menggurita sebagai perpanjangan tangan negara untuk mengontrol masyarakat. birokrasi tumbuh menjadi sesuatu yang chaos.. Citra buruk birokrasi seperti parkinsonian atau birokrasi gemuk (big bureaucracy). (1999). Demokrasi dan Masyarakat Madani. 4. bersifat over supplay dengan memaksimumkan struktur. patologi berarti “ilmu tentang penyakit”. Birokrasi. penegak disiplin dan penyelenggara pemerintahan dengan kekuasaan yang sangat besar. tetapi mengabaikan fungsi pelayanan masyarakat10. Akibatnya.R. Models and Approaches.           Citra buruk tersebut semakin 7 Kristiadi. patologi birokrasi adalah “penyakit” yang menyebabkan peran dan fungsi birokrasi mengalami penyimpangan dan tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya11 10 Eisenstadt S. Revolusi dan Transformasi Masyarakat.. Secara etimologis. hanya berfungsi sebagai pengendali. yakni korupsi dengan beranekaragam bentuknya. Keseluruhan kondisi empirik yang terjadi secara akumulatif telah meruntuhkan konsep birokrasi Hegelian dan Weberian yang memfungsikan birokasi untuk mengkoordinasikan unsur-unsur dalam proses pemerintahan. The Public Sector. (1999). J. birokrasi lebih menunjukkan kondisi empirik yang buruk. Prisma. negatif atau bahkan patologis. J. A. 48 . yang berhubungan dengan kedudukan dan kewenangan pejabat publik. Birokrasi pada akhirnya menjadi tuan bagi dirinya sendiri dan tidak berorientasi pada fungsi pelayanan. 114.E. (1986). serta lambatnya pelayanan dan prosedur yang berbelit-belit atau yang lebih dikenal dengan efek pita merah (red-tape). pada akhirnya.N. Second Edition. Di berbagai belahan bumi. Jakarta: LAN. No.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 prosedur yang dianggap ruwet itu7 Birokrasi pada kenyataannya sering mengalami disfungsi karena adanya pergantian tujuan-tujuan organisasi menjadi tujuan pribadi. “Masalah Sekitar Peningkatan Pendapatan Asli Daerah”.

Demokrasi dan Masyarakat Madani. Keempat. dan diskriminatif. ruwet dan berbelit-belit. Cermin Retak Uphill Battle. dan nepotisme. dengan menggelembungkan pembiayaan. Sebaliknya. patologi birokrasi tersebut berupa perilaku (aparat) birokrasi yang menyimpang dari nilai-nilai etis. Amerika Serikat. serta pegawai sering berbuat kesalahan. seperti rendahnya imbalan dan kondisi kerja yang kurang memadai. aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan perundangundangan serta norma-norma yang berlaku di dalam birokrasi. Kedua. Tidak adanya inovasi membuat para birokrat cenderung melakukan pelayanan sama dari waktu ke waktu. mengakibatkan produktivitas dan mutu pelayanan yang rendah. sehingga produktivitas sektor bisnis terpengaruh. jelas bahwa birokratisasi dan patologi birokrasi merupakan dua sisi dari keping mata uang yang sama.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Dalam praktik. menerima sogok. (1988). Kelima. Potret Nyata Birokrasi Indonesia Jauh hari telah digambarkan secara dramatis. persepsi gaya manajerial para pejabat di lingkungan birokrasi yang menyimpang dari prinsip-prinsip demokrasi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Kemalasan pegawai birokrasi menyebabkan penyelesaian aplikasi perizinan dan pembuatan regulasi menjadi lambat. Siagian. Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen. yakni: Pertama. Hal itu mengakibatkan bentuk penyimpangan seperti penyalahgunaan wewenang dan jabatan. gejala patologi dalam birokrasi bersumber pada lima masalah pokok. ketiadaan deskripsi dan indikator kerja. bagaimana birokrasi bisa merongrong habis-habisan kinerja sektor ekonomi di Uphill Battle. (2002). tindakan pejabat yang melanggar hukum. S. Kemunculan birokrasi yang birokratis menjadi pemicu munculnya patologi birokrasi. Jakarta: Gunung Agung. Jakarta: LAN 12 Umar H. rendahnya pengetahuan dan keterampilan para petugas pelaksana berbagai kegiatan operasional. dan sistem yang pilih kasih13 Dari uraian yang telah dikemukakan. dan ketidakmampuan birokrasi untuk berubah sesuai tuntutan zaman12 Apabila ditelusuri lebih jauh. purapura sibuk. manifestasi perilaku birokrasi yang bersifat disfungsional atau negatif. Administrasi Negara. penyelewengan fungsi dan struktur. Penyakit birokrasi juga bisa berupa inefektivitas dan inefisiensi. 13 49 . sehingga pelayanan yang diberikan kepada pelaku ekonomi menjadi tidak berkualitas. situasi internal berbagai instansi pemerintahan yang berakibat negatif terhadap birokrasi. seperti sewenang-wenang. Ketiga. korupsi dan sebagainya. menerima sogok.P. patologi birokrasi berimbas pada munculnya pelayanan birokrasi yang lambat. Filsafat Administrasi.

Hal tersebut ditunjukkan oleh struktur organisasi birokrasi yang tidak sesuai dengan kebutuhan. D. 50 . Permasalahan lain terkait dengan rendahnya kualitas sumberdaya manusia dan lemahnya pengawasan terutama dalam hal akuntabilitas. I. (2000). masih rendahnya kompetensi para birokrat15 15 14 Osborne. hal itu masih belum apa-apa jika dibandingkan dengan kondisi birokrasi di Tanah Air. Prasojo. Memangkas Birokrasi. dan rendahnya penggunaan perangkat teknologi informasi. namun tidak terkena wabah KKN. membuat kalangan dunia usaha enggan berurusan dengan birokrasi.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Layanan yang tidak berorientasi kepada pelanggan. nepotisme). Kedua. dan tentu masih sangat berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia. sangat tidak sebanding dengan output dan outcome yang dihasilkan14 Apa yang terjadi di Uphill Battle bisa disebut sebagai cermin retak. serta tidak tepat waktu.R. Permasalahan mendasar yang membuat birokrasi Indonesia koruptif dan tidak probisnis di antaranya adalah kurang baiknya kelembagaan dan tatalaksana. Kelima. & Plastrik. Ketiadaan standar pelayanan. P. etika dan moral. nilai dan regulasi yang ada masih berorientasi pada kepentingan penguasa/birokrat (power culture). menyebabkan pelayanan publik tidak memuaskan. Masyarakat bisnis di Uphill Battle bisa dikatakan ‘masih beruntung’. Ketiga. Jakarta: DIS FISIP UI. Antara Model Demokrasi Lokal dan Efisiensi Struktural. Desentralisasi dan Pemerintahan Daerah. yakni KKN (korupsi. masih kentalnya budaya patron-client dan budaya afiliasi yang mengarah kepada moral hazard. Di Indonesia. Akan tetapi. norma. Keempat. struktur. E & Maksum. inefisiensi sumberdaya telah membuat aktivitas birokrasi memakan biaya dan menghabiskan sumberdaya sangat besar. Di sisi lain. di sisi lain. Jakarta: PPM. Penyakit warisan Orde Baru ini masih bercokol hingga kini. masih tingginya ketidakpastian dalam birokrasi (cost of uncertainty). selain berbagai jenis patologi birokrasi yang telah disebutkan. (2006). lantaran birokrasi di sana hanya terinfeksi patologi birokrasi. Lain halnya dengan birokrasi Indonesia yang masih dipersepsikan sarat dengan KKN. masih ada penyakit menahun lain yang menggerogoti birokrasi. inkonsistensi dan instabilitas peraturan perundangundangan. masih belum terbentuk budaya birokrasi (service delivery culture). tidak responsif. kolusi. terutama yang paling menonjol adalah perilaku korup aparat birokrasinya. atau bahkan potret buruk birokrasi. Situasi problematis yang dihadapi sebagian besar birokrasi Indonesia saat ini di antaranya: Pertama.

Unsur partai bukan menjadi pertimbangan. wewenang birokrasi dibatasi sesuai dengan hierarki jabatannya. Pada zaman kemerdekaan (19451950). birokrasi tidak mudah dibawa ke dalam pertarungan antara aktor politik yang sedang berkompetisi atau cenderung lebih patuh pada kekuatan politik yang menjadi patron-nya. dari yang paling tinggi sampai kepada yang paling rendah. terlebih ketika kecenderungan determinasi partai politik terhadap pejabat birokrasi tak juga sirna. Dalam setiap hierarki terdapat kekuasaan pejabat birokrasi.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Di sisi lain. merupakan organ negara yang diberi tugas menjalankan semua kebijakan pemerintah yang terkait dengan kepentingan rakyat. Agar tidak terjebak dalam permainan politik praktis. reformasi politik di Indonesia dalam kenyataannya belum mengubah birokrasi menjadi kekuatan profesional negara. Kehadiran birokrasi merupakan tuntutan mutlak yang harus dipenuhi untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Peran ini menjadi strategis karena hanya aparat birokrasi yang memiliki wewenang menguasai akses atas kepentingan publik. akan tetapi lebih ditujukan pada kegiatan-kegiatan struglle to get political power. Kondisi ini membuat birokrasi rentan terhadap pengaruh kekuasaan atau politik praktis. muncul pertarungan antarpartai politik untuk merebut posisi puncak birokrasi. Aktivitas utama birokrasi bukan lagi untuk melayani publik. sehingga berubah menjadi kepanjangan tangan kekuasaan. Menurut Weber. Memasuki zaman demokrasi liberal (1950-1959). Pembatasan ini dilakukan untuk mencegah terjadinya pencampuradukan kepentingan pribadi pejabat birokrasi ke dalam tugasnya sebagai pelayan masyarakat sehingga birokrasi tetap menjadi kekuatan yang netral dari pengaruh kelompok tertentu. Pemberian layanan merupakan implikasi dari fungsi negara sebagai alat pemenuhan kebutuhan rakyat. Netralitas birokrasi tercermin dari kemampuan birokrat meletakkan fungsi birokrasi di atas kepentingan pribadi dan mengutamakan kepentingan masyarakat. pertumbuhan birokrasi tidak lepas dari dinamika politik dan masyarakat sehingga kultur birokrasi selalu sarat dengan warna politik di zamannya. hierarki jabatan dalam birokrasi disusun secara bertingkat. Kabinet yang terbentuk pun lebih banyak diwarnai 51 . baik secara personal maupun institusional. Dalam sejarah birokrasi Indonesia. sebagian besar penyelenggara negara memiliki komitmen kuat bagi perjuangan bangsa. Dinamika politik ditandai dengan instabilitas sehingga tidak ada satu pun kabinet yang dibentuk bisa menyelesaikan masa jabatannya. Fungsi birokrasi sebagai unit pelayanan publik dihegemoni oleh kekuatan internal birokrasi. Birokrasi. Artinya.

Dalam beberapa jajak pendapat yang dilakukan lembaga independen. cara itu masih tetap diwarisi birokrasi hasil reformasi. Birokratisasi versus Ekonomi Berbelit-belinya pelayanan serta tidak transparannya kinerja birokrasi telah mendorong masyarakat untuk mencari ”jalan pintas” dengan suap atau berkolusi dengan para pejabat dalam rekrutmen pegawai atau untuk memperoleh pelayanan yang cepat. Birokrasi yang seharusnya mendahulukan kepentingan umum. Jika korupsi dan mark-up dilakukan pada proyekproyek infrastruktur dan atau program-program probisnis. langsung maupun tidak langsung. Pada masa Orde Baru (1966-1988). Korupsi secara langsung akan mengurangi besaran dana yang seharusnya dipergunakan untuk kepentingan publik. atau dalam bahasa populernya “UUD—ujung-ujungnya duit”. Secara akumulatif. Keberpihakan birokrasi kepada partai politik masih terlihat. nafsu politik birokrat untuk menguasai birokrasi masih bercokol. Pemerintah mengaburkan batasan jabatan politik dan jabatan birokrasi dari departemen untuk melanggengkan dominasi Golkar di tubuh birokrasi. dan sebaliknya melemparkan orangorang jujur dari kancah persaingan bisnis.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 corak koalisi partai. Korupsi yang merajalela di lembaga birokrasi berimbas pada banyaknya biaya tambahan yang harus dikeluarkan para pengusaha dan pemangku kepentingan lain yang berurusan dengan birokrasi. pejabat birokrasi dikuasai Golkar. berbagai jenis patologi birokrasi semua berujung pada uang. terungkap bahwa birokrasi Indonesia gagal menjalankan fungsi pelayanan publiknya. Sementara nepotisme secara perlahan tapi pasti telah menciptakan perekonomian oligarkis yang dimonopoli oleh para kroni dan keluarga dekat pejabat birokrasi. tidak pernah hadir. masyarakat yang harus membayar mahal semua itu karena birokrasi tidak lagi profesional. Mulai dari menteri hingga pejabat di semua lini diisi orang Golkar. Akibatnya. mempermudah urusan publik. Tampaknya. Meski asas monoloyalitas telah dihapus. termasuk masyarakat umum. Dalam praktik. Di sisi lain. dan memberikan kepuasan kepada publik. efeknya 52 . kolusi secara nyata telah melempangkan jalan bagi orang-orang yang mau berkongsi dengan oknum birokrasi. birokratisasi akan menggerus fiskal masyarakat pengguna birokrasi dalam jumlah yang sangat besar. Kondisi ini membuat birokrasi sering dimanfaatkan untuk kepentingan partai daripada kepentingan masyarakat luas. Situasi seperti ini mendorong para pejabat untuk mencari kesempatan dalam kesempitan agar mereka dapat menciptakan rente dari pelayanan berikutnya.

61 – 6. salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja ekonomi. Fakta menunjukkan.71. akan menambah biaya yang seharusnya tidak ditanggung oleh pengguna layanan birokrasi. Jika ketiganya dilakukan dalam konteks usaha. yang berarti memperkecil margin keuntungan.org/docs/WEF_ GlobalCompetitivenessReport_2010-11. php/publication/2010/11/11/indekspersepsi-korupsi-kota-kota-indonesia2010 untuk menghindari kerugian. Akibatnya. khususnya competitiveness suatu bangsa. yang semua bertujuan meningkatkan pendapatan dan mewujudkan perekonomian 17 http://www3. Di antara kebutuhan dasar tersebut. Ketidakkondusifan birokrasi Indonesia bagi dunia usaha ternyata berimbas terhadap daya saing ekonomi bangsa di tingkat internasional. pengusaha dipastikan harus mengeluarkan biaya ekstra. 16 http://www. baik swasta maupun pemerintah. adalah tidak terpenuhinya kebutuhan dasar yang menjadi kunci pendorong pertumbuhan ekonomi.ti. Sebuah survei yang dirilis TI-Indonesia menunjukkan. serta kesehatan dan pendidikan dasar (gambar 1) Dari gambar 1 dapat diketahui bahwa kelembagaan. pdf 53 . Skor rendah mengindikasikan para pelaku bisnis menilai korupsi masih lazim terjadi dalam sektor-sektor publik. sehingga berpengaruh negatif terhadap kondisi ekonomi makro maupun pada program pembangunan ekonomi secara keseluruhan. WEF menempatkan kelembagaan (institutions) yang kondusif pada urutan kebutuhan dasar pertama.or.10. mark-up dan permintaan imbalan. sementara pemerintah dan penegak hukum kurang serius dalam pemberantasan korupsi16 Suap. mereka mengorbankan kuantitas ataupun kualitas barang dan jasa yang dihasilkan. perusahaan dan pemerintah. yakni di antara 3. dampaknya akan menyebabkan menurunnya pendapatan negara secara drastis. Dalam praktik.id/index. untuk rentang skor penilaian 0 . adalah kunci penting sukses bidang ekonomi. baru kemudian kebutuhan yang lain seperti infrastruktur. ekonomi makro. Indeks Persepsi Korupsi Indonesia (IPK Indonesia) di 50 kota di Indonesia pada akhir 2010 rata-rata masih rendah. Sementara jika dilakukan pada lembaga-lembaga keuangan atau lembaga pengumpul dan pendistribusi fiskal. faktor kelembagaan sangat ditentukan oleh jaringan kerjasama legal dan administratif antara pelaku ekonomi. Biaya tersebut diambil dari nilai total transaksi.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik secara langsung akan memperlambat laju perekonomian.weforum. Sebagaimana dikemukakan World Economic Forum (WEF) dalam The Global Competitiveness Report 2010-201117. perilaku koruptif masih marak di lingkungan birokrasi.

atau sebaliknya kembali terjerumus ke tahap yang lebih rendah karena kendala yang bersifat birokratis. akan mendongkrak biaya ekonomi yang harus dipikul para pengusaha secara signifikan sehingga dalam jangka panjang akan memperlambat laju pertumbuhan ekonomi. over-regulasi. korup. Menurut WEF. Pada tahap peralihan ini.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Gambar 1. Fakta menunjukkan. birokrasi yang birokratis. di mana hal itu sangat mempengaruhi kepercayaan investasi. tahap kedua yang merupakan peralihan dari tahap factor driven ke innovation driven (Tabel 1). karena saat ini pendapatan per kapita Indonesia sedang berada pada tahap efficiency driven. Indonesia patut mencermati laporan WEF. Lembaga pemerintah yang kuat mampu menjaga daya saing dan pertumbuhan. Indonesia bersama 25 lainnya berada pada tubir kritis: sewaktu-waktu dapat melompat ke jenjang perekonomian yang lebih tinggi lagi. Kendati posisi daya saing Indonesia untuk kategori overall pada tahun 2011 berada pada 54 Sumber: World Economic Forum Report 2011 . dan dipolitisasi. Kebutuhan Dasar Kunci Pendorong Pertumbuhan Ekonomi yang sehat. Jelas bahwa perilaku lembaga pemerintah atau birokrasi sangat berpengaruh terhadap aktivitas dunia usaha. red tape alias lambat dan berbelit-belit. khususnya dalam hal efektivitas dan efisiensi. tidak dapat dipercaya. tidak transparan. pada masamasa krisis ekonomi peningkatan peran lembaga pemerintah di bidang perekonomian terbukti mampu menghindarkan banyak negara dari kemungkinan krisis yang lebih berat. produktivitas. tidak jujur.

kolusi dan nepotisme (KKN) di instansi-instansi birokrasi muncul gara-gara birokrasi sangat permisif terhadap munculnya perilaku moral hazard tersebut.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik ranking 44 dari 133 negara. CEO General Electric. menyebabkan timbulnya high-cost economy. sumbangan birokrasi Indonesia terhadap pertumbuhan ekonomi masih rendah. tanpa adanya jaminan perbaikan mendasar pada sisi kelembagaan birokrasi. Bahkan sebaliknya. melainkan karena peningkatan pada faktor-faktor yang lain. Dari laporan tersebut jelas terlihat bahwa kenaikan posisi daya saing Indonesia tidak terjadi karena daya dukung birokrasi. satu hal yang sangat dibenci pengusaha. Begitu juga birokrasi dalam bentuk berbelitbelitnya pengeluaran izin berusaha. Income Tresholds for Establishing Stages of Development ranking yang sama. masih maraknya birokrasi yang birokratis yang sarat dengan patologi Sudah lama birokrasi yang rumit menjadi penyebab munculnya ekonomi biaya tinggi. yang menyebabkan membubungnya biaya yang harus dikeluarkan pihak pebisnis untuk ongkos pelicin. akan tetapi hal tersebut tidak menjamin perekonomian Indonesia di masa datang dapat tetap bertahan pada birokrasi dapat menjadi ancaman serius terhadap daya saing Indonesia di masa datang. Secara khusus laporan tersebut menulis. Dengan kalimat yang lebih sederhana. Kasus korupsi. Birokrasi Versus Adokrasi Sumber: World Economic Forum Report 2011 Tabel 1. Munculnya biaya tak terduga (overhead cost) akibat keberadaan birokrasi yang birokratis. Tidak mengherankan jika Jack Welch. keberadaan Indonesia di peringkat 44 menunjukkan peningkatan impresif 10 tingkat dari peringkat semula 55. 55 . Peningkatan tersebut antara lain disebabkan oleh sehatnya kondisi ekonomi makro dan meningkatnya indikator-indikator pendidikan.

Akan tetapi dalam banyak kasus.W. Warren G Bennis19 Dia menulis. G. keberadaan birokrasi justru menyebabkan pengambilan keputusan menjadi lambat dan berbiaya tinggi. P. yaitu: birokrasi mesin. The Welch Way: 14 Tips Praktis dari CEO Terbesar Dunia. dalam era perubahan berkelanjutan. 18 Krames. menyelesaikan masalah. Ini menjadi bukti bahwa adokrasi membawa pengaruh positif bagi kinerja sektor perekonomian. organisasi-organisasi seperti ini akan menjadi yang paling sukses. Inilah yang kemudian menjadi titik awal munculnya sentimen ‘kebencian’ para pengusaha terhadap birokrasi. birokrasi tidak diterapkan secara benar. & Slater. Aliran dan gagasan kontrabirokrasi ini semakin berkembang setelah Alvin Toffler menyampaikan pandangan adokrasinya dalam buku yang ditulisnya “Future Shock” tahun 1970. adokrasi sebagai bentuk organisasi yang memotong jalur birokrasi normal diperlukan untuk menangkap peluang. Welch bahkan menyarankan para karyawannya untuk ”memukul” dan “menendang” birokrasi yang birokratis semacam itu18 Tidak bisa dimungkiri. Robert Waterman dalam bukunya “Adhocracy” tahun 1990 mengatakan. Jack Welch adalah satu di antara sekian banyak manajer yang secara ekstrem mengemukakan bahwa kehadiran birokrasi (yang birokratis) sama sekali tidak diperlukan. New York: Jossey-Bass Publisher. Mintzberg menerbitkan buku “The Structuring of Organization” yang mengemukakan ada empat tipe dasar perusahaan. J. birokrasi adalah sistem administrasi hierarkis yang dirancang untuk berhubungan dengan sejumlah besar pekerjaan rutin. yang sebagian besar mengikuti sekumpulan peraturan kaku dan tidak personal. The Temporary Society:What is Happening to Bussiness and family Life in America under the Impact of Accelerating Change. di masa datang. Bagaimana dengan birokrasi publik yang orientasinya adalah pelayanan masyarakat? Sesuai definisi yang dikemukakan Waterman. Adokrasi terbukti semakin banyak diterapkan perusahan-perusahaan bisnis.E. Alih-alih mempercepat proses. (2002). ia mengusulkan penghapusan birokrasi atau yang sering dikenal dengan istilah adokrasi. Gagasan awal tentang adokrasi muncul dalam karya para teori kepemimpinan Amerika Serikat. 19 Bennis. (1998). Ia berpendapat. Pada tahun yang sama. perusahaan akan bersandar pada tim proyek yang cepat dan fleksibel dalam struktur antibirokrasi yang ia sebut sebagai adokrasi. birokrasi profesional.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 menyatakan bahwa birokrasi adalah musuh produktivitas. wirausaha pemula. 56 . birokrasi merupakan mesin andal untuk mencapai efektivitas dan efisiensi pekerjaan. Jakarta: Buana Ilmu. dan mendapatkan hasil. Oleh karena itu. Jika diterapkan secara benar. dan adokrasi.

Berdasar tujuan dari adokrasi tersebut. efisien. A. Konsep ini diadopsi dari reinventing government (pemerintahan wirausaha) yang dipopulerkan oleh Osborne & Plastrik21. Formulasi. & Gaebler. Manajemen Proses Kebijakan Publik. melalui pembenahan sistem pengelolaan anggaran. D. pelaku ekonomi mendapatkan situasi yang lebih kondusif untuk menjalankan usaha tanpa terbebani urusan bertele-tele di luar urusan bisnis yang mereka lakukan. di Indonesia tidak ada satu birokrasi publik pun yang menerapkan adokrasi. cepat tanggap. di mana-mana tumbuh birokratisasi. Transparansi di sini bermakna pembukaan ruang publik dan publik dapat mengakses secara luas penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum. penegakan aturan-aturan hukum. menyempurnakan dan memperbaiki birokrasi agar menjadi lebih bersih. Selain itu. yang bermakna mempersulit urusan yang sejatinya dapat terselenggara secara mudah dan murah20 Reformasi Birokrasi dan Pembangunan Ekonomi Untuk menggairahkan kinerja sektor perekonomian. adokrasi bisa pula diterapkan dalam birokrasi publik.R.. Tujuan reformasi birokrasi terkait sektor ekonomi adalah terwujudnya birokrasi yang 20 Mustopadidjaja. Efisiensi dilakukan melalui program penghematan bagi pembiayaan operasional birokrasi. menyelesaikan masalah. Jakarta: LAN RI dan Duta Pertiwi Foundation. mengubah. Namun kenyataan menunjukkan. Namun yang terpenting adalah mewujudkan perubahan dari birokrasi yang promodialisme atau minta dilayani menjadi birokrasi yang melayani masyarakat. reformasi birokrasi adalah sebuah keniscayaan. Jakarta: Penerbit Pustaka Binawan Presindo. (2003). (1995). Bersih di sini berarti bebas dari praktek KKN. Reinventing bureaucracy pada intinya adalah pembaruan berupa 21 Osborne. Dengan demikian. Reinventing Bureaucracy. bersih. kreatif. Justru yang ada. T. Sebuah Tawaran Khusus dalam kaitannya dengan bidang ekonomi. peningkatan pengawasan. efektif dan produktif. 57 . Mewirausahakan Birokrasi. reformasi birokrasi model reinventing bureaucracy dapat ditawarkan sebagai salah satu solusi.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik adokrasi sangat diperlukan dalam memecahkan masalah khususnya dalam menangkap peluang. perbaikan kesejahteraan pegawai. Reformasi birokrasi juga ditujukan untuk mewujudkan birokarasi yang efisien. Reformasi birokrasi diperlukan untuk menata ulang. Implementasi dan Evaluasi Kinerja. reformasi diharapkan dapat mewujudkan birokrasi yang transparan. mendapatkan hasil.

Untuk mewujudkan birokrasi wirausaha yang bebas patologi. Mewirausahakan Birokrasi. serta budaya sistem dan organisasi birokrasi. T. Birokrasi harus menyediakan (providing) beragam pelayanan publik sesuai dengan tugas dan 22 Osborne. & Gaebler. akan tetapi tidak harus terlibat secara langsung dengan proses produksinya (producing).Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 penggantian sistem birokrasi yang birokratis menjadi sistem yang bersifat wirausaha. birokrasi menetapkan kebijakan. Dengan adanya kontrol dari masyarakat. memberikan dana kepada badan pelaksana (baik itu dari swasta maupun lembaga swadaya masyarakat) dan menilai kinerjanya. yakni: 1. fungsinya. Transformasi ini dicapai dengan cara mengubah tujuan. Jakarta: Penerbit Pustaka Binawan Presindo. Birokrasi milik masyarakat atau community-owned bureaucracy: empowering rather than serving Konsep ini menyarankan agar birokrasi mengalihkan wewenang kontrol yang dimilikinya kepada masyarakat. Dampak nyata dari penerapan konsep ini. Wirausaha adalah memindahkan berbagai sumber daya dari unit kerja dengan produktivitas rendah ke unit kerja dengan produktivitas tinggi dan hasil yang lebih besar. efisiensi dan kemampuan melakukan inovasi. misalnya meminta imbalan di luar tarif. Dalam pelaksanaanya. pelayanan birokrasi akan semakin baik dan bermutu. akuntabilitas. dapat ditekan. akan tetapi yang lebih penting adalah efektivitas. Kolusi antara penyedia dan pengguna layanan juga dapat dihindarkan 2. sehingga masyarakat berdaya untuk mengontrol pelayanan yang diberikan birokrasi dan mampu menjadi masyarakat yang menolong dirinya sendiri (community self-help). peduli dan kreatif dalam memecahkan permasalahan publik. peluang aparat birokrasi untuk melakukan penyimpangan. dan di sisi lain probisnis. aparat birokrasi akan memiliki komitmen yang lebih baik. Dengan tidak berhadapan langsung dengan pengguna layanan. (1995). 58 . Tujuan pembaharuan adalah efesiensi. birokrasi perlu mewujudkan 10 formula yang menjadi inti dari reinventing bureaucracy22. D. Birokrasi katalis atau catalytic bureaucracy: steering rather than rowing Inti dari formula ini adalah pada pemberian pengarahan bukan pelaksanaan pelayanan publik. Sedangkan pembaruan (reinvention) adalah transformasi sistem dan organisasi birokrasi secara fundamental guna menciptakan peningkatan dramatis dalam efektivitas. struktur kekuasaan. menerapkan sistem intensif.

birokrasi harus mengembangkan standar kinerja. Dan yang lebih penting. Dengan kompetisi. Birokrasi yang kompetitif atau competitive bureaucracy: injecting competition into service delivery Birokrasi secara internal maupun eksternal menyuntikan semangat kompetisi dalam pemberian jasa dan pelayanan publik. Birokrasi berorientasi hasil atau result-oriented bureaucracy: finding outcomes. Mengubah fokus input (kepatuhan pada peraturan dan membelanjakan barang sesuai ketentuan) menjadi akuntabilitas pada output dan outcome. Dampak dari penerapan konsep ini. serta memberikan diskresi kepada manajer untuk menemukan best practise mewujudkan misi namun tetap dalam koridor legal Dampak positif yang ditimbulkan. Masyarakat akhirnya bisa menikmati buah persaingan ini dalam bentuk mutu pelayanan yang semakin meningkat. misalnya menyederhanakan peraturan. Pelayanan yang lambat dan berbelit-belit serta makan biaya besar. birokrasi membiayai hasil bukan masukan peraturan dan membelanjakan.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Pengguna layanan tidak harus mengeluarkan biaya lebih untuk membayar pelayanan standar yang memang menjadi haknya. Selain itu. 3. akan semakin sulit dilakukan karena setiap saat aktivitas birokrasi diawasi oleh masyarakat. Untuk itu. Kompetisi adalah satusatunya cara untuk menghemat biaya sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan. juga mensyaratkan setiap organisai dan satuan kerja birokrasi memiliki misi yang jelas. birokrasi melakukan deregulasi internal. masing-masing pihak yang diberi wewenang melakukan pelayanan publik akan saling bersaing secara sehat. korupsi yang biasa terjadi karena kelemahan pengawasan internal. Dalam praktik. not inputs Dalam konsep ini. prosedur dan sistem administratif. Birokrasi berorientasi misi atau mission-driven bureaucracy: transferring rule-driven organization Mengubah organisasi yang semula digerakan oleh peraturan menjadi organisasi yang digerakan oleh misi. 4. mereka akan berlomba-lomba memberikan pelayanan terbaik. banyak pelayanan publik yang dapat ditingkatkan kualitas pelayanannya tanpa harus memperbesar biaya. Dengan adanya persaingan. dengan sendirinya akan hilang. 5. birokrasi akan terhindar dari birokratisasi. yang mengukur seberapa baik satuan kerja memecahkan 59 .

Dengan kata lain. not the bureaucracy. misalnya menjual informasi kepada pusat-pusat penelitian atau badan usaha baik yang menjual jasa maupun barang. maka dengan konsep ini birokrasi benar-benar dituntut untuk berkembang sesuai dengan perkembangan kebutuhan masyarakat. Birokrasi dapat mengembangkan beberapa pusat pendapatan. Dampak positif dari penerapan konsep ini. bukan memenuhi kebutuhan birokrasi sendiri. 6. memberi jaminan. melainkan diubah secara bertahap sesuai dinamika kebutuhan masyarakat. semangkin banyak pula dana yang akan dialokasikan untuk mengganti semua dana yang telah dikeluarkan oleh unit kerja tersebut. karena akuntabilitas yang tinggi akan sangat menentukan prestasi kerja dan juga berimbas pada pendapatan aparat birokrasi. Birokrasi memperlakukan masyarakat yang dilayani sebagai pelanggan. birokrasi 60 . dan lain-lain. kinerja birokrasi dapat terukur. Banyak yang bisa dilakukan untuk menghasilkan pendapatan dari proses penyediaan pelayanan publik. Oleh karena itu. Birokrasi memenuhi kebutuhan pelanggan. memberi imbalan kepada unit kerja yang mencapai dan melebihi target. Birokrasi yang berorientasi pelanggan atau customer-driven bureaucracy: meeting the needs of the customers. dan sebagainya. Jika pada masa lalu birokrasi cenderung sekadar melakukan bussiness as usual. Selain itu.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 permasalahan yang menjadi tanggungjawabnya. birokrasi juga menetapkan target. dan menggunakan anggaran untuk mendongkrak tingkat kinerja yang diharapkan. Dengan konsep ini. pemberian hak guna usaha yang menarik pada para pengusaha dan masyarakat penyertaan modal daerah. birokrasi tidak akan pernah usang atau ketinggalan zaman. dengan konsep berorientasi pada pelanggan. birokrasi mendesain organisasi untuk menyampaikan nilai optimal kepada pelanggan. Birokrasi berjiwa wirausaha atau entreprising bureaucracy: earning rather than spending Birokrasi tradisional cenderung berpandangan bahwa mereka sedang mengerjakan pekerjaan dan karenanya tidak pantas berbicara tentang upaya untuk menghasilkan pendapatan dari aktivitasnya. menetapkan standar pelayanan. atau sekadar melaksanakan tugas rutin organisasi. Birokrasi melakukan survei pelanggan. Selain itu. birokrasi akan lebih hati-hati menggunakan dana publik. Semakin baik kinerjanya. Standar pelayanan tidak tetap dan itu-itu saja. 7.

Put it all together. 9. Dari keduanya. atau bahkan dialokasikan untuk membantu pembiayaan pelayanan publik yang lain serta membayar insentif bagi pihak-pihak yang berprestasi. tanpa menunggu perintah. Tidak hanya mencoba untuk mencegah masalah. di mana keputusan dilakukan bersamasama oleh tim. sedangkan birokrasi 61 . Imbas positif dari desentralisasi wewenang adalah makin berkurangnya d’tournament d’vavoir atau penyalahgunaan wewenang. yaitu mekanisme pasar dan mekanisme administratif. bisnis. Tim kerja bebas menentukan cara kerjanya untuk mencapai hasil terbaik. 10. pimpinan bukan lagi “sang maha kuasa” yang berhak menentukan perintah secara top-down kepada bawahan secara sewenang-wenang. Wewenang diberikan pada unit terdepan. Birokrasi wirausaha tidak reaktif. Birokrasi tradisional menggunakan mekanisme administratif. Birokrasi berorientasi pasar atau market-oriented bureaucracy: leveraging change through the market. melainkan untuk menghasilkan pendapatan. terutama oleh para pimpinan birokrasi. Desentralisasi akan menghasilkan kepemimpinan kolektif. Visi birokrasi membantu masyarakat.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik dibentuk bukan untuk menghabiskan anggaran. dan sebaliknya hiraki dikurangi. dan birokrasi daerah untuk meraih peluang yang tak terduga serta menghadapi krisis yang takterduga pula. Birokrasi terdesentralisasi atau decentralized bureaucracy: from hierarchy to participation and teamwork Birokrasi mengubah sistem hierarki menuju partisipasi dan tim kerja. Menggunakan perencanaan strategi untuk menciptakan visi birokrasi. Birokrasi yang tanggap atau anticipatory bureaucracy: prevention rather than cure Birokrasi tradisional yang birokratis memusatkan diri pada produksi pelayanan publik untuk memecahkan masalah publik. Pendapatan tersebut bisa diputar untuk membiayai kegiatan birokrasi. Birokrasi birokratis cenderung bersifat reaktif seperti satuan pemadam kebakaran. akan tetapi proaktif. Visi dan misi diwujudkan bersama. Dengan konsep ini. Ada dua cara alokasi sumberdaya. makanisme pasar terbukti sebagai yang tebaik dalam mengalokasi sumberdaya. 8. apabila tidak ada kebakaran (masalah) maka tidak ada upaya pemecahan masalah. namun juga berupaya keras untuk mengantisipasi masa depan.

birokrasi perlu direformasi. Dalam mekanisme administratif. cepat. Dalam mekanisme pasar. Berbagai penyakit birokrasi muncul karena aparat birokrasi cenderung menggunakan birokrasi sebagai alat untuk mencapai tujuan birokrasi itu sendiri. mengeluarkan prosedur dan definisi baku dan kemudian memerintahkan orang untuk melaksanakannya sesuai dengan prosedur tersebut.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 wirausaha menggunakan mekanisme pasar. akuntabel dan berorientasi pada kebutuhan pengguna layanan. efektif. Politisasi birokrasi ikut mendorong terjadinya penyelewengan yang membuat birokrasi semakin jauh dari fungsi utamanya sebagai penggerak sektor perekonomian. birokrasi wirausaha tidak memerintahkan dan mengawasi tetapi mengembangkan dan menggunakan sistem insentif agar orang tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang merugikan masyarakat. Untuk menghilangkan berbagai patologi yang ada. bukan sebagai unit pelayanan masyarakat. Kesimpulan Birokrasi Indonesia belum probisnis. Sepuluh rumusan reinventing bureaucracy tersebut. 62 . Sifatnya yang birokratis dan patologis membuat keberadaan birokrasi lebih dianggap sebagai faktor penghambat dibanding pendorong perekonomian. Salah satunya adalah dengan menerapkan konsep reinventing bureaucracy. efisien. Reinventing bureaucracy diharapkan mampu mengembalikan birokrasi sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi. birokrasi dikembangkan sebagai unit pelayanan yang tepat. jika dapat diterapkan secara konsekuen dipastikan dapat menghilangkan birokrasi birokratis dan patologi birokrasi yang selama ini melingkupi birokrasi Indonesia. birokrasi tradisional menggunakan perintah dan pengendalian. Dengan konsep tersebut.

Edisi 3 / September / 2011 Laporan Studi Lapangan Foto : Antara Reformasi Birokrasi dalam Dinamika Pemerintahan Daerah Oleh : Tim Redaksi 63 .

20 September 2011). akan tetapi masih banyak yang menilai bahwa reformasi birokrasi masib belum berjalan secara optimal. Oleh karena itu pemerintah dengan sirius ingin menerapkan 64 . Reformasi birokrasi perlu dilakukan. Birokrasi pemerintah yang tidak efisien menjadi salah satu faktor penghambat utama dalam melakukan aktivitas percepatan pembangunan ekonomi. seperti menyangkut kedisiplinan atau taat peraturan. proaktif. pemerintah mengakui bahwa sejalan perkembangan kebutuhan masyarakat yang semakin maju dan persaingan global yang semakin ketat. dan nepotisme (KKN) semakin menjadi. sesuai dengan tantangan yang dihadapi. Akuntabilitas kinerja instansi perlu pembenahan dan harus berorientasi pada hasil. Ini sebuah pertaruhan besar bagi bangsa Indonesia yang memasuki abad ke-21 ini. Jika kita memiliki birokrasi yang baik. EE Mangindaan. mutu pelayanan kepada masyarakat meningkat. Reformasi di bidang birokrasi dinilai mengalami ketertinggalan dibanding reformasi di bidang politik. dan efektif. begitu pula mutu perumusan dan pelaksanaan kebijakan makin efisien waktu dan biaya. Pemerintah dinilai belum dapat menyediakan pelayanan publik yang berkualitas. setiap penyalahgunaan kewenangan publik. kareana kini korupsi. Meskipun sudah banyak perbaikan dilakukan namun indeks persepsi korupsi Indonesia masih rendah dibandingan dengan negara Asia lainnuya. akan mengurangi. Selanjutnya Mengindaan menjelaskan bahwa makna reformasi birokrasi adalah sebuah perubahan besar dalam paradigma dan tata kelola pemerintahan Indonesia. Manajemen sumber daya manusia aparatur negara pun belum profesioan. pemerintah belum dapat memberikan pelayanan prima bagi investor yang berbisnis atau yang akan berbisnis di Indonesia (Kompas. kolusi. ekonomi. Jika berhasil. maka birokrasi kita makin antisipatif.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 M Pendahuluan eskipun sudah ada kesepakatan bersama di semua jajaran pemerintahan baik pusat maupun daerah untuk melaksanakan reformasi birokrasi. bahkan dapat menghilangkan. dan hukum. Melalui Menteri Pendayagunaan Aparatur dan Reformasi Birokrasi.

juga atas pertimbangan prestasi dan kurang berprestasinya pemerintah daerah dalam melaksanakan pemerintahan dengan prinsip good governance. melalui pengumpulan data lapangan dengan metode observasi dan wawancara mendalam kepada segenap informan yang potensial di berbagai daerah. Sidoarjo. sistem database barang daerah. Akan tetapi berbagai kendala masih muncul dalam implementasi undang-undang yang sangat demokratis tersebut. Banjarmasin: Komitmen Tinggi Pemprop Kalsel dalam upaya reformasi birokrasi telah memanfaatkan dan mengembangkan IT dalam proses penyelenggaraan pemerintahan dengan mengembangkan unit pelayanan pengadaan secara elektoronik. Oleh karena itu. tengah dan timur. yaitu adanya tranparansi. sementara untuk Surakarta dan Denpasar mewakili daerah yang tingkat transparansi pemerintahannya baik. dan partisipasi publik. Denpasar. Sidoharjo. seperti kendala kultural. akuntabilitas. Keenam lokasi studi lapangan tersebar di wilayah Indonesia bagian barat. yaitu meliputi Pakanbaru. sistem informasi pelaporan keuangan daerah. Adapun pertimbangan dipilihnya kota tersebut adalah. bahwa di samping untuk mewakili perimbangan territorial yang mewakili Indonesia bagian barat.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik pemerintahan dengan prinsip good governance. dan tingkat kesadaran masyarakat sendiri dalam mencari dan mengakses informasi belum terbentuk secara meluas. tengah dan timur yang dianggap relevan dengan isu transparansi birokrasi. karena selama ini pengaduan masyarakat terhadap layanan publik di sejumlah instansi. Untuk daerah seperti Pakanbaru. ternyata pemerintah daerah paling banyak mendapat laporan. Salah satu wujud dari komitmen pemerintah adalah mengundangkan Undang-undang Nomor 14 Tahun 208 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Surakarta. belum terbentuknya PPID. Pertimbangan utama mengapa perlu melihat dinamika pelayanan publik di daerah-daerah. dan 65 . Banjarmasin.20%). Sorong. Banjarmasin.13%). akan dapat diserap aspirasi dan harapan sebagai umpan balik dari masyarakat. disusul kepolisian 241 aduan (21. dan Sorong mewakili daerah yang tingkat transparansinya masih dalam kategori cukup. Dengan undang-undang ini birokrasi pemerintah daerah segera diharapkan untuk melaksanakan undang-undang tersebut. yang akan sangat berguna bagi upaya meningkatkan kinerja birokrasi pemerintah dalam melayani dengan prinsip good governance. Lokasi pengumpulan data lapangan diselenggarakan di enam (6) kota di Indonesia untuk mendapatkan pendapat publik tentang berbagai aspirasi yang berkembang di masyarakat terkait dengan akan kebijakan keterbukaan informasi publik di jajaran birokrasi pemerintah. yaitu sejumlah 354 aduan (31.

maka akan menggairahkan dunia usaha.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 secara bertahap penerapan paperless office. Muhidin mengungkapkan tekad tersebut bersamaan dengan Hari Jadi Kota Banjarmasin yang ke-485. “Semua itu dalam rangka mengoptimalkan pelayanan kepada masyarakat dalam segala aspek yang menyangkut kepentingan publik. Untuk setiap ijin kepada SKPD. Pemkot terus berusaha memberikan pelayanan prima. bahwa dari tahun ke tahun PAD Kota Banjarmasin terus menunjukkan peningkatan secara cukup signifikan. sumberdaya aparatur yang punya integritas. Memang berdasarkan pengamatan di lapangan. Berdasarkan pengakuan warga yang sedang antri mengurus perijinan mengaku cukup mendapat pelayanan secara baik. Pemkot Banjarmasin menerapkan layanan terpadu dengan satu atap. pelayanan publik yang prima. Hal ini meliputi delapan area perubahan.5. pelayanan cukup lancar. Banjarmasin selama program Pemkot telah meningkatkan kualitas SDM di jajaran PNS. Demikian pula para guru juga mendapatkan insentif agar terus memberikan pelayanan pendidikan yang optimal. dan pada tahun 2011. Dengan reformasi birokrasi. dan Dewan Kelurahan. dan budaya kerja. PAD mencapai Rp 80. “Saya cukup lancar dalam 66 . Antara lain dengan memberikan insentif kepada RT. dan tentu akan ikut berpengaruh terhadap naiknya Pendapatan Asli Daerah. Wali Kota Banjarmasin. sehingga dengan demikian semuanya dapat dikontrol untuk kepentingan koordinasi.5 milyar. sehingga masyarakat tidak terhambat oleh masalah birokrasi yang berlarutlarut dalam meningkatkan usahanya. dengan meningkatkan rata-rata tingkat pendidikan. “Hal ini terbukti. yaitu Badan Pelayanan Perijinan dan Penanaman Modal (BP3M). Pada tahun 2010. Pemkot juga berusaha meningkatkan tingkat kesejahteraan pegawai dengan memberikan tunjangan dan insentif bagi PNS di lingkungan Pemkot Banjarmasin. kata Muhidin. Langkah taktis yang dilakukan Kalsel adalah dengan melakukan perubahan menyeluruh pada aspek pendayagunaan aparatur negara. akuntanbiilitas. Khususnya dalam bidang perizinan. Untuk menunjang reformasi birokrasi. seperti kantor urusan administrasi kependudukan. RW. Di samping itu. pengawasan. regulasi yang tertib. dan juga di kantor emigrasi. target Rp 111. yaitu organisasi yang tepat fungsi dan ukuran. Akan tetapi Muhidin menegaskan tidak akan segan memberikan sangsi terhadap PNS yang tidak disiplin. optimis akan dapat dicapai”. Dalam hal memberikan layanan perijinan secara lancar. tepatnya 24 September 2011. Sedangkan warga yang sedang mengurus paspor di kantor emigrasi mengaku tidak mendapat kesulitan dalam mengurus paspor.” Katanya. Reformasi telah menjadi komitmen Pemkot Banjarmasin dengan titik berat pada peningkatan pelayanan publik. pola pikir. tata laksana seperti sistem dan proses-prosedur. semuanya harus lewat BP3M.

Kepala Seksi E-Government. masyarakat terkesan kurang peduli terhadap perlunya informasi. “Pemkot juga membuka web. kata Eka.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik mengurus paspor. Sekarang kan era keterbukaan. Sujianto. Guru Besar Administrasi Negara FIsipol Unri. “Memang sekarang ini sudah banyak internet. Akan tetapi memang harus diakui bahwa.” Kata Amin. dalam hal pelelangan tender senantiasa disampaikan kepada masyarakat. Namu demikian juga ada warga yang mengaku. juga masyarakat sudah kritis”. Sebenarnya pelaynan yang belum baik itu sering didengar di unit pelaynan non 67 . ya harus ada dana tambahan yang diserahkan pada petugas”. Sebagaimana dijelaskan oleh Kepala Bidang Informatika Pemkot Banjarmasin. Eka Herlambang. Ke depan Pemkot akan terus mendorong masyarakat agar terus semakin sadar akan pentingnya terlibat dalam pengambilan keputusan melalui media. Dr. Paling tidak ini sudah menunjukkan ada upaya peningkatan pelayanan.id yang digunakan untuk lelang secara on-line. semuanya langsung ke petugas”. Pemkot Banjarmasin terus berusaha memberikan pelayanan secara transparan kepada masyarakat. Pemkot Banjarmasin terus berusaha mensosialisasikan undang-undang tersebut kepada masyarakat. “Kalau mau urusan cepat. kata seorang warga yang mengaku akan menjadi TKI ke luar negeri. Dan saya tidak menemui calo di sini. Menurut Prof. Karena di samping itu menyalahi hukum.go. Amin. akan tetapi kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam kebijakan publik melalui akses informasi di jejaring sosial masih belum menjadi perilaku budaya. tetapi sudah diberlakukan sanksi denda bagi yang terlambat. Mungkin koordinasi dengan instansi teknisnya masih kurang baik. Sementara itu dalam upaya menerapkan prinsip good governance. karena akan lebih efisien dari sisi waktu dan biaya. “Semua itu dilakukan guna mendukung prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam sistem pelayanan prima kepada masyarakat. hanya menunggu satu minggu jadi. bahwa di Banjarmasin kalau mengurus ijin. dalam rangka menerpakan UU Keterbukaan Informasi Publik. Sedangkan M. lancar tidaknya juga tergantung. jadi jajaran birokrasi pemerintah tidak mau ambil risiko dengan melakukan lelang secara tertutup. dan untuk komunikasi melalui jejaring sosial. Pakanbaru: Antara Optimis dan Pesimis Pada prinsipnya pemerintah daerah telah berusaha keras dalam upaya meningkatkan pelayanan birokrasi kepada masyarakat. masih untuk keperluan hiburan. adanya unit pelaksana teknis (UPT) termasuk Badan Pelayanan perizinan Terpadu menjadi bukti secara formal bahwa ada peningkatan pelayanan birokrasi. katanya yang berpengalaman mengurus KTP. Banjarmasin. Warga dalam mengakses internet.

Contoh yang sederhana. dalam prakteknya mulai dari Kelurahan sudah mulai menyimpang dari Perda yang seharusnya biayanya murah menjadi mahal. Suara senada juga dikemukan oleh Azali Johan. Untuk itu birokrasi seharusnya tidak lagi dibina oleh pejabat politik dan penegakan hukum dilakukan secara konsekwen terhadap siapapun. “Sekarang ini pergantian pejabat lebih didasarkan pada pertimbangan politik. Para birokrat bekerja dalam kondisi yang tidak kondusif.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 perizinan. karena mereka sangat tergantung pada partai politik berkuasa. seperti di bidang kesehatan dan pendidikan. Program pelayanan sering tidak konsisten karena setiap ganti pimpinan kepala daerah ganti visi dan ganti program. bahwa nuansa politisasi birokrasi di daerah sangat terasa karena kompetisi politik sangat keras dalam Pilkada. dalam arti partai apa yang memenangkan dalam Pilkada. mereka melayani siapa saja yang berkuasa tanpa harus diganti. tetapi sekarang pada visi kepala daerah yang setiap ganti kepala daerah pasti ganti visi. Akan tetapi Sujianto melanjutkan. Partaipartai politik yang kebetulan menjadi pemenang dalam Pilkada misalnya. Wakil Ketua DPRD Kota Pakanbaru. tetapi disalahgunakan oleh negara-negara berkembang sehingga menjadi birokrasi feodal dan tradisional. Contohnya hari ini Sabtu. “Itulah sebabnya pejabat mulai dari yang tertinggi sampai yang paling bawah sampai saat ini belum bisa menjadi teladan yang baik. Birokrasi bekerja untuk melayani penguasa (kepentingan parpol). menilai bahwa birokrasi pemerintah hingga sekarang masih cenderung minta dilayani. ada satu hal yang menarik bahwa pada era otonomi daerah sekarang ini. Nilai birokrasi sesungguhnya berlandaskan pada evisiensi dan netralitas. Tidak ada garis utama yang menjadi patokan program layanan birokrasi. tetapi kritik juga datang dari kalangan politisi. birokrasi cenderung tidak netral karena ada kepentingan politik. Kondisi pelayanan birokrasi pemerintah mengalami penurunan karena terseret dengan arus politik yang ada. Jika dulu senantiasa mengacu pada GBHN. Akibatnya mengabaikan faktor kualitas dan mengorbankan profesionalisme dalam menunjuk pejabat”. ada kecenderungan mempengaruhi kinerja birokrasi dalam memberikan pelayanan kepada publik. 17 September 2011 Koran memberitakan bahwa 134 pejabat pemerintah di Pakanbaru diganti karena tidak cocok dengan pejabat politik yang berkuasa saat ini. Meskipun ada kecenderungan Parpol membuat birokrasi pemerintah menjadi kurang netral. katanya menyayangkan. pembuatan KTP yang merupakan hak setiap warga Negara. Menurut Sondiwarman. Dalam rekruitmen sumber daya manusia pun juga bias kepentingan politik. Padahal mestinya birokrasi itu tugas dan fungsi utamanya adalah melayani masyarakat. dan yang 68 . Umumnya lebih disebabkan oleh faktor manusianya yang kurang tanggap dan cekatan. Seharusnya birokrasi dibebaskan dari kepentingan politik sesaat. tetapi kenyataannya justru sebaliknya. seorang aktivis LSM.

Rapat Pimpinan. atau melalui SMS.000. yang memberikan contoh tentang layanan KTP gratis. sehingga meskipun sebenarnya sudah ada isentif. Dalam kaitan dengan implementasi UU No. karena aparat masih bermental korup. Yarham SH.4000.2. semua sarana dan fasilitas disediakan.sampai Rp. Khusus bagi mereka yang melanggar disiplin pegawai akan diproses dan dikenakan sanksi sesuai PP No. akan dipotong sesuai dengan ketentuan yang telah dietapkan. Prinsip Good Governance akan sulit diterapkan secara optimal jika transparansi dalam mekanisme pemerintahan tidak dilaksanakan. serta mengefektifkan pengawasan dan evaluasi. selaian untuk lebih mengefektifkan pelaynan birokrasi juga dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Pemprov telah memberikan insentif kepada aparat birokrasi yaitu tunjangan beban kerja. atau melalui surat edaran. perbulan. meskipun sudah ada SOP-nya. “Bagaimana mungkin akan melaksanakan 69 . baik Sujianto maupun Nofri mengatakan bahwa pengawasan terhadap suatu kebijakan di lingkungan birokrasi pemerintah tidak berjalan efektif. Setiap pengaduan masyarakat. tetapi tetap saja melakukan penyimpangan layanan.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik seharusnya cepat tetapi kenyataannya masih lambat.000. Demikian juga. maka akan langsung direspons oleh pimpinan. yakni antara Rp. Tujuannya adalah. Nofri Andri. maka biasanya masyarakat mengadu langsung. Bersamaan dengan itu. Memang mekanisme pengawasan dari masyarakat pun juga dibuka sebagaimana dikatakan oleh Yasram. Hingga sekarang Komisi Informasi Daerah dan PPID belum terbentuk. Bagi mereka yang tidak masuk kantor atau melanggar disiplin. karena juga rentan melakukan hubungan kolutif antara pelaksana dan jajaran pengawasnya. tetapi dalam praktek tidak demikian. yaitu jika pelayanan tidak memenuhi permintaan masyarakat atau pelayanan tidak sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang telah ditetapkan. respons pemerintah Provinsi Riau dapat dikatakan kurang cepat. terutama di unit pelayanan masyarakat. pegawai. Praktik pungutan illegal seperti itu ada hubungannya dengan mentalitas para aparat birokrasi yang masih koruptif. tetapi tetap lambat.000. Sekretaris Daerah selaku pembina pegawai ditingkat Provinsi juga merespon pengaduan masyarakat yang diungkap dalam acara Apel Bendera. . Padahal sebagaimana dikatakan Kepala Bidang Kedudukan Hukum dan Kesra Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Riau. untuk mendukung capaian kinerja yang optimal. 53 tahun 2010. Besaran tunjangan di sesuaikan dengan golongan. Padahal salah satu prasyarat penting dalam melakukan reformasi birokrasi adalah efektifnya implementasi undangundang tersebut. Seharusnya proses lebih dipercepat. Buruknya pelayanan publik ini juga diungkapkan oleh Presiden Badan Mahasiswa Universitas Riau.

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 reformasi birokrasi jika prinsip good governance tidak dijalankan dengan baik. karena akan lebih efisien dari sisi waktu dan biaya. berpendapat bahwa belum terbentukan PPID sesuai dengan amanat UU KIP. tetapi hampir di seluruh Indonesia ada gejala itu. katanya. Badan Pelayanan Perizinan Terpadu. penyebabnya adalah Pemprov Riau masih setengah hati dalam menjalankan pemerintahan secara transparan. sehingga masyarakat tidak familiar dengan masalah keterbukaan informasi. Ketua MUI Riau. Ikon BP2T adalah CERIA . “Kalau soal kecenderungan adanya KKN dalam rekruitmen PNS. Efisien. saya kira tidak hanya di Riau. “Adanya unit pelaksna teknis (UPT) termasuk Badan Pelayanan perizinan Terpadu menjadi bukti secara formal bahwa ada peningkatan pelayanan birokrasi. Paling tidak ini sudah menunjukkan ada upaya peningkatan pelayanan”. Hal ini juga diakui oleh Politikus Sondiwarman bahwa pemerintah sudah berusaha transparan. Sedangkan Ramli Khatib. dan saat ini baru ada di tingkat Provinsi. Integritas. Karena itu kami jajaran mahasiswa akan terus mendorong percepatan reformasi birokrasi”. hingga sekarang banyak warga masyarakat mengeluh tentang rekruitmen PNS yang tidak terbuka. 70 . mungkin karena takut dosa berjamaah. Sebagai contoh dalam hal transparansi. meskipun memang masih banyak hambatan baik struktural maupun kultural. Akan tetapi sekarang sudah relatif transparan. Akan tetapi Azali menilai bahwa pada prinsipnya Pemprov Riau sudah melaksanakan prinsip good governance sebagai bagian dari komitmen untuk menjalankan reformasi birokrasi. Dengan keterlibatan yang berkualitas.Cepat. tetapi sudah diberlakukan sanksi denda bagi yang terlambat. kata Sujianto yang diamini oleh Zulkurnain. kata Nofri. Kasubag Bina Program. Sorong: Bergelut Mimpi dan Tradisi Salah satu elemen penting dalam mewujudkan penyelenggaraan negara yang terbuka adalah hak publik untuk memperoleh informasi sesuai dengan peraturan perundangundangan. Sementara itu tentang belum terbentuknya PPID menurut Azali Johan tidak jelas alasanya. Responsif. Sebagaimana dikatakan oleh Sujianto dan Zulkurnain. Akan tetapi pada prinsipnya Pemprov Riau tetap berusaha semaksimal mungkin meningkatkan kualitas pelayanan birokrasi pada masyarakat. Jaminan hak publik atas informasi mendorong partisipasi atau keterlibatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan publik. Sosialisasi UU KIP menurutnya kurang lancar. Saat ini BP2T memiliki 150 jenis layanan perizinan dan non perizinan. misalnya dengan mengumumkan hasil tes beserta rankingnya di depan publik”. 8 tahun 2008 tentang Badan Pelaynan Perizinan Terpadu. Mungkin koordinasi dengan instansi teknisnya masih kurang baik. dan Akuntabel. bahwa dalam upaya meningkatkan pelayanan publik Pemprov Riau telah membentuk Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BP2T) berdasarkan Kepmendagri No.

Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik akhirnya terwujud akuntabilitas dan pertanggungjawaban setiap kebijakan publik. sekalipun tidak ada peraturan lokal khusus mengatur implementasi UU KIP. Sementara di kawasan Kota Sorong tengah berbenah untuk meningkatkan kapasitas sebagai meeting point. Papua. kerangka layanan informasi memang tidak diprioritaskan dalam pembangunan Kabupaten Sorong. Posisinya sangatlah strategis karena merupakan pintu keluar masuk Provinsi Papua dan kota persinggahan. Kesadaran akan tanggung jawab yang harus diemban pemerintah daerah atas keterbukaan informasi publik tampak sudah dipahami oleh pejabat di kawasan timur Indonesia.Sos. UndangUndang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP) disahkan dan diterapkan. ekonomi. Marthen Nebore. gas alam dan sumber mineral lain itu. “Ada empat prioritas pembangunan Kabupaten Sorong. Papua Barat. baik di lingkungan Kabupaten 71 . Pendidikan. Kota Sorong dikenal dengan istilah Kota Minyak sejak masuknya para surveyor minyak bumi dari Belanda pada tahun 1908. Dalam aspek layanan informasi. M. namun Marthen menegaskan bahwa komitmen keterbukaan informasi sudah melekat dalam setiap program pembangunan. Undang-undang itu memberi jaminan hukum bagi masyarakat dalam meminta informasi dari badan-badan publik. karena Sorong dikelilingi oleh kabupaten-kabupaten yang mempunyai sumber daya alam yang sangat potensial sehingga membuka peluang bagi investor dalam maupun luar negeri untuk menanamkan modalnya. Kota Sorong juga rnerupakan kota industri. pelabuhan dan pendukung investasi di kawasan Papua Barat. perdagangan dan jasa. Prioritas tersebut merupakan “mimpi” Pemerintah Kabupaten yang diarahkan untuk meningkatkan investasi di kawasan kepala burung. di Indonesia. Sekalipun. sementara kesehatan yang bertaratf internasional dikembangkan untuk melayani kebutuhan industri dan investor yang kebanyakan dari luar negeri. Kabupaten dan Kota Sorong.Sc.” jelas Kepala Humas Kabupaten Sorong. kini tengah berbenah untuk meningkatkan kualitas layanan publik. dan mengharuskan seluruh badan publik di Indonesia memberi informasi kepada masyarakat dan melayani permintaan informasi dari publik. Di kawasan timur Indonesia. yaitu pendidikan. prioritas Pemerintah Kabupaten Sorong adalah meningkatkan investasi di kawasan yang kaya minyak. ekonomi dan infrastruktur diarahkan agar bisa menyiapkan sumber daya lokal agar mendukung kebutuhan sumber daya manusia. Tahun 2008. termasuk informasi. dan infrastruktur. Apalagi. Kota Sorong terkenal penuh dengan sisa-sisa peninggalan sejarah bekas perusahaan minyak milik Belanda. S. kesehatan.

S. menjamin masyarakat Kabupaten Sorong dapat dengan mudah mengakses informasi. “Pelayanan informasi berjalan dengan baik. tidak ada yang mau datang. Kemitraan bagian humas dengan pers cukup bagus sehingga berita tentang pembangunan Kabupaten Sorong dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Menurutnya penyediaan informasi yang dibutuhkan bisa diakses langsung masyarakat di instansi yang bersangkutan. “Setiap dinas sudah memiliki website dan kami juga memfasilitasi petunjuk layanan informasi di setiap kantor layanan. Hal itu juga dibenarkan oleh Maimunah (35) salah satu petugas layanan loket. Ini saja yang mengurus KTP Nasional baru bisa dihitung dengan jari.000. 08. Keterbukaan informasi dalam tataran awal sudah cukup intensif dikembangkan. telah mengatur kewajiban lembaga pemerintah setempat untuk memberi informasi kepada masyarakat. Menurutnya 72 . ada kecenderungan warga Sorong hanya mengurus KTP atau yang lain ketika membutuhkan.” katanya yang harus menyempatkan diri pagi sekali karena layanan kantor dimulai pagi pk.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 dan Kota Sorong beberapa peraturan daerah. misalnya dalam pelayanan pembuatan Kartu Tanda Penduduk. “Sempat bingung juga. Sesuai Perda No. langsung dipandu oleh salah satu petugas yang ada. warga bisa bertanya secara langsung mengenai kelengkapan berbagai dokumen yang dibutuhkan untuk mendapatkan Kartu Keluarga atau Akta Catatan Sipil lainnya.” tambahnya. termasuk di kelurahan dan distrik. Nifu Ahmad.15 Tahun 2009 Tentang Retribusi Penggantian Biaya Cetak KTP dan Akte Catatan Sipil. namun Marthen Nebore.oo sampai Rp25. Walaupun demikian. Beberapa kesulitan yang ditangani langsung dibantu. informasi tentang biaya pengurusan KTP dan Akte Catatan Sipil bisa dilihat di ruang layanan kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil.000.” tuturnya. seperti Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. Di kantor layanan. Sebagaimana dialami oleh Amanis Waang (59) asal Kelurahan Rufei. Akses informasi untuk masyarakat memang sudah disediakan langsung melalui kantor layanan dan website. “Jadi kalau mereka tidak membutuhkan ya. Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Bagian Humas Setda Kota Sorong. biaya pencetakan dokumen berkisar mulai Rp 10. Ketika datang di kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Sorong. belum ada penunjukkan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumen (PPID). sekalipun di Kota dan Kabupaten Sorong.” ungkapnya. Distrik Sorong Barat.00 WIT dan berakhir di pukul 14. tapi untung ada yang membantu.00 WIT.IP.oo. peraturan-peraturan tersebut tidak secara jelas mengatur tata cara mengakses informasi sebagaimana diatur dalam UU KIP. Dalam pandangan Abbas (50) seorang pekerja industri kayu. Di Kota Sorong.

selain masyarakat Moi (terutama yang ada di daerah pantai dan biasa menggunakan nama depan/belakangnya dengan usin) juga terdapat masyarakat BBM (Bugis. “Dibutuhkan cost yang besar dikarenakan jangkauan wilayah kami yang cukup luas. sebelah timur di kelilingi hutan lebat yang merupakan hutan lindung dan hutan wisata. Hal senada juga disampaikan oleh Abbas.  “Masing-masing suku memiliki karakteristik adat tersendiri dan berbeda dalam menyikapi layanan pemerintah.” tambah Abbas. Alwin. “Sehingga masyarakat yang datang untuk mengurus KK dan KTP jumlahnya tidak maksimal.” jelas Rury. “Padahal kita untuk menyukseskan Program Nasional Kepemilikan KTP Nasional dibuka layanan langsung selama empat hari. Keadaan topografi Sorong sangat bervariasi terdiri dari pegunungan.” jelasnya. Menurutnya selain besaran biaya pengganti cetak. Cuma banyak yang tidak bisa datang karena beberapa hal. 470/596/SPPD-DKPSRG/2010. bukit-bukit dan sebagian adalah dataran rendah. karena standar biaya di Papua memang cukup mahal. Belum lagi harus menghadapi hambatan adat dan budaya masyarakat yang cukup beragam. Baru mereka mau urus KTP. jangkauan geografis yang luas dan sebaran penduduk yang tidak merata menjadi kendala yang paling utama. Jawa.” ungkap Marthen seraya menambahkan bahwa standar biaya dari pemerintah pusat tidak sesuai apabila diterapkan di Papua. Di Kota Sorong. lereng. Sunda.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik kebutuhan warga yang lebih banyak mendorong ketika mereka mengurus KTP atau Akta lain. memang kebanyakan layanan publik terkendala dengan perilaku warga. Kepala Bidang Komunikasi dan Informatika Dinas Perhubungan 73 . Ketika dibuka layanan langsung di distrik atau kelurahan. Makasar). Di Sorong sendiri.” jelasnya. Berbeda dengan di Kabupaten Sorong. “Biasanya kalau membutuhkan untuk pinjaman bank atau kredit. kurangnya sosialisasi pelaksanaan kegiatan membuat tidak maksimal. sebagai transmigran yang membawa agama Islam ke tanah Papua.” jelas Moh. penggunanya tidak terlalu banyak. staf di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Sorong.4/596/2010 tentang pembuatan KK dan KTP Standar Nasional tanggal 22 Juni 2010 dan Surat Perintah Tugas Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Sorong Tentang Pelayanan Langsung Pembuatan KK dan KTP Standar Nasional di Kelurahan Tanjung Kasuari dan Kelurahan Saoka Distrik Sorong Barat Nomor . Buton. menurutnya ia juga belum mendapatkan surat edaran dari distrik. “Memang kita dari pegawai Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Sorong di bantu oleh aparat kelurahan setempat. layanan itu didasarkan pada Surat Edaran Walikota Sorong 474. Menurut Nifu Ahmad. Sumatera.

website Kabupaten Sorong www. Undang-undang ini juga memberikan jaminan adanya 74 . juga tak jauh beda kondisinya. guna menjawab tantangan besar yakni meningkatnya proses pertukaran informasi antar unit di dalam organisasi internal. Keterbukaan informasi publik bukan hanya sekadar mengatur soal informasi. Tapi kita berupaya meningkatkan kinerja kehumasan pemerintah.” tambah Moh. salah satunya penyampaian informasi seputar program pembangunan yang sedang berjalan. Selain itu juga kian memudahkan koordinasi bagi aparat Pemda Sorong. kami terus meningkatkan peran aparat hubungan masyarakat (humas) sebagai ujung tombak dalam penyampaian informasi.sorongkab. Tapi usai jam 12. tidak dapat diakses masyarakat. “Jaringan internet di sini biasanya cepat kalau pagi. Namun kondisi akses jaringan internet yang belum stabil membuat layanan ini tidak bisa optimal diakses warga.“ tegas Marthen Nebore.sorongkota. Agar bermanfaat bagi kekompakan jajaran SKPD. “Apalagi kita harus menjangkau dan melayani masyarakat sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masingmasing. kesiapan para penyelenggara negara dalam menyediakan informasi yang diberikan kepada masyarakat adalah hal yang mutlak. go. menyatakan pihaknya juga memfasilitasi penyelenggaraan pelatihan dan kordinasi kehumasan. Sementara website Kota Sorong. “Berbagai acara dan pelatihan secara berkala dikembangkan. maka akan lambat. Marthen Nebore. “ UndangUndang Keterbukaan Informasi Publik mewajibkan seluruh badan publik menyediakan informasi publik membuat standar layanan informasi publik.” tambahnya. Dr Stefanus Malak. Alwin yang kini menangani layanan media center dari Kementerian Kominfo di Distrik Aimas.go. Sekalipun semua bisa terjangkau akses internet nirkabel.id. Dalam Undang-undang keterbukaan informasi publik. menurut Marthen. Tak heran jika kemudian. dan bisa dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.” tuturnya.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 dan Kominfo Kabupaten Sorong.00 siang. Bupati Sorong.” jelas Marthen. Pemkot Sorong dan Pemkab Sorong. tapi kecepatan akses lambat juga masih jadi kendala. dukungan infrastruktur layanan informasi yang cukup kuat sangat diperlukan. haruslah didukung oleh informasi atau data yang akurat. Jika melalui website tidak optimal.Si menyatakan peran kehumasan yang langsung bisa berkomunikasi dengan warga atau pekerja media sangat penting dalam mewujudkan kepercayaan publik dan membina hubungan baik dengan masyarakat.id.” tambah Marthen. www. “Khususnya. Oleh karena itu. M. Kabupaten Sorong. “Masingmasing wilayah kerja. sebenarnya telah mengembangkan layanan infromasi melalui website. Kepala Bagian Humas Pemkab Sorong.

Kader posyandu ditujukan untuk membantu tenaga medis yang jumlahnya terbatas. dosen Ilmu Komunikasi Fisip UNS. keikutsertaan masyarakat dalam pelayanan dalam bentukkader posyandu. setiap sekolah terdapat komite sekolah yang beranggotakan para orang tua murid dan donatur.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik partisipasi warga negara dalam turut menentukan kebijakan. “Tetapi di daerah-daerah pedesaan justru kader posyandu menjadi tenaga inti dalam pelayanan kesehatan di pedesaan. Sementara dalam perencanaan pembanguan. Suku Moi adalah penduduk asli Papua yang menjadi pemegang hak adat atas tanah di pusat pemerintahan Kabupaten Sorong. “Namun peranan ini belum berkembang sesuai yang diharapkan. relatif sudah mulai banyak didominasi oleh kalangan pendatang. Di bidang pendidikan. Sementara di kawasan kota. khususnya di propinsi Papua Barat. Di bawah kepemimpinan Wali Kota Joko Wiyono.” kata Bupati Sorong. “Semua kegiatan itu memang aktif dilakukan di Kabupaten Sorong. Kota ini terus mengalami peningkatan dalam indeks transparansi di tingkat nasional. diperlukan rintisan pembangunan kepariwisataan dalam jangka panjang yang dimulai dari sekarang.” tambah Abbas. BPM/BPD/LKMD. baik finansial maupun intelektual. kota Surakarta memang telah menunjukan kemajuan signifikan dalam pelayanan birokrasi. “Widodo Muktiyo. Stefanus Malak. Dengan pesona alam khas papua dan ditunjang letak yang strategis. di samping kurangnya sosialisasi dan informasi yang sampai pada anggota komite sekolah. dan bahkan masuk dalam sepuluh besar. mengakui bahwa pelayanan birokrasi di kota ini 75 . telah dikembangkan pelibatan masyarakat secara langsung maupun melalui perwakilan seperti DPRD. Partisipasi yang paling menonjol dalam hal pelayanan dasar adalah di bidang pendidikan dan kesehatan. terdapat enam kelompok etnis besar. Jawa. Di kawasan Sorong. Kabupaten Sorong kini sedang mempersiapkan diri untuk menjadi daerah tujuan wisata unggulan. dan Maluku.” tambah Marthen.” kata Maimunah (45) seorang pedagang kelontong di Kota Sorong menambahkan. Bugis Makasar. yaitu: Suku Moi. Akan tetapi mengelola keterbukaan informasi di Kota dan Kabupaten Sorong merupakan seni tersendiri. Partisipasi atau pelibatan masyarakat tidak banyak berarti tanpa jaminan keterbukaan informasi publik. Di bidang kesehatan. Hal ini di sebabkan rendahnya kemampuan. Rapat koordinasi pembangunan daerah yang dilakukan oleh BAPPEDA. Surakarta: Ada Perubahan Signifikan Pemerintah Kota Surakarta merupakan salah satu contoh semakin meningkatnya kinerja birokrasi. Maybrat. “Prioritas utama kami adalah pengembangan wisata bahari dan wisata alam.

Harus diakui bahwa Wali Kota Surakarta sekarang cukup kreatif dan inovatif dalam usahanya memberikan layanan kepada masyarakat. dosen Sosiologi Fisip UNS bahwa ada kemajuan yang bararti dalam hal pelayanan publik. pelayanan yang dimaksudkan di sini adalahpelayanan jasa yaitu pelayanan di bidang administrasi (perijinan) melalui sistem one stop service (OSS). Faktor kepemimpinan menjadi kunci dari perubahan mind set aparat birokrasi. rencana kelurahan. Namun demikian. programprogram tersebut adalah programprogram yang didesain untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kota Surakarta. “Untuk pelayanan e-KTP ini kami bisa melayani 15 orang perjam. Inovasi dalam pemerintahan juga dapat 76 . seperti informasi umum. Sebagaimana dijelaskan oleh salah seorang pejabat di jajaran Pemkot Surakarta. Bahkan pelayanan juga dilakukan di luar jam kantor. Pemkot juga telah secara aktif memberikan pelayanan lewat media on-line. Dari hasil pantauan di lapangan. kata Subandi. layanan kesehatan masyarakat.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 terus membaik. maka bawahannya juga mengikuti. Penilaian senada juga datang dari Mahendra Wijaya. masih ada aparat birokrasi yang masih bermental harus dilayani. pelayanan umum adalah pelayanan yang diberikan baik jasa maupun non jasa dan ataupelayanan administrasi. terbukti kota ini telah memiliki PPID. Bahkan juga sudah membentuk komisi informasi dengan anggaran sebesar 1. pelayanan kesehatan yaitu program PKMS (Program Kesehatan Masyarakat Surakarta). sehingga kalau pimpinan atasnya berubah.2 milyar rupiah. dan kami minimal membuka layanan 12 jam efektif kepada warga masyarakat”. kata Mahendra. Dalam struktur birokrasi itu bersifat hierarkis dan instruktif.00 hingga 21. karena secara sosiologis masyarakat kita memang masih patriomonialistik. Fahrudin. LPSE. “Ketika pimpinan kota Surakarta mau berubah dengan mengedepankan layanan publik. mulai pukul 08. salah seorang pejabat di bagian kependudukan. Di bidang keterbukaan informasi. Fasilitas publik senantiasa menjadi prioritas pengembangan dan senantiasa diperbaiki”. bursa kerja. Pemkot Surakarta juga terus memberikan pelayanan secara optimal meskipun dalam keterbatasan peralatan. terutam yang berkaitan dengan sektor usaha dan perdagangan. khususnya di bidang pelayanan umum. “Reformasi birokrasi cukup terasa dampaknya di kota ini sebagaimana tampak pada makin transparannya Pemkot. para petugas tampak bertugas secara allout dan mereka senantiasa menyapa dengan ramah. Pemkot Surakarta juga melakukan langkah-langkah yang terus menunjang terselenggaranya transparansi. dan masalah kependudukan.00. kata Widodo. karena memang mereka tumbuh di kalangan kultur yang feodalistik”. Oleh karena itu. maka jajaran birokrasi pemerintah juga mengikuti. dan kian cepat dan lancarnya urusan perijinan. Seperti yang diketahui. Dalam hal e-KTP.

39 Tahun 1999 tentang HAM. Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya. sesungguhnya masyarakat Bali tidak terlalu peduli terhadap keterbukaan informasi. akuntabel. Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28F menjaminnya. UU tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. meningkatkan pendokumentasian data daninformasi SKPD. Ketiga bidang tersebut dianggap program yang menonjol di Kota Surakartadan dapat dilihat secara langsung nilai-nilai perubahannya dimana pelayananseharusnya diberikan secara adil. Pasal 103. dan akses keadilan dalam memenuhi hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Warga juga berhak mencari. memiliki. dan meningkatkan sarana untuk mengakses informasi bagi masyarakat. menyiapkanruang pelayanan informasi beserta infrastrukturnya. dan partisipatif sesuaidengan prinsip good local governance. merata. meningkatkan konten Web Pemerintah Surakarta sebagai sumber informasi. dan pembekalan pada PPID sejak April 2011. Fahrudin juga menjelaskan upaya Pemkot dalam bidang layanan informasi publik. Pasal 65 ayat (2) UU ini menyatakan setiap orang berhak mendapatkan pendidikan lingkungan hidup. Beberapa UU lain sesungguhnya juga menjamin hak warga atas informasi. Peraturan Wali Kota tentang Standar layanan Informasi/ SOP (dlm proses penyusunan). Padahal hak memperoleh informasi merupakan hak dasar warga Negara. menerbitkan SK Walikota Surakarta No : 060. dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. Adanya Undangundang keterbukaan informasi pun disambut biasa-biasa saja. Masyarakat sebagian besar lebih memilih hidup mengurus diri dengan beribadah. Dalam pertimbangannya. mengolah. 77 . menerbitkan SK Walikota Surakarta No. Secara khusus hak warga terhadap informasi diatur dalam UU nomor 14 Tahun 2008 tentang KIP. Kedua. menyimpan. yaitu melalui program rumah tidak layak huni (RTLH). memperoleh.05/01-B/1/2011 tentang penunjukkan PPID. Jasa yaitu pelayanan yang terkait dengan pemberdayaan masyarakat. 042. transparan. Hak atas informasi diatur dalam Pasal 14. Denpasar: Rakyat Kurang Peduli Harus diakui. yaitu mempersiapkan regulasi di tingkat daerah. Pertama. UU No. sosialisasi UU KIP secara rutin. akses partisipasi. Pasal 60.05/05/1/2011 tanggal 3 januari 2011 tentang pembentukan Tim Uji Konsekuensiterhadap informasi yang dikecualikan pada Pemerintah Kota Surakarta. Juga terus melakukan pembenahan sistem informasi data. akses informasi.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik didefinisikan sebagai pengembangan suatu desain kebijakan baru dan prosedur standard operasi yang baru untuk memecahkan masalah publik.

Hasil assessment KIP pusat menjelang pemberlakuan UU KIP disebutkan bahwa baru tujuh badan publik diseluruh indonesia yang dianggap siap atau berupaya mempersiapkan diri. katanya. Perbaikan tersebut hanya bisa dicapai jika publik/masyarakat sebagai pemilik hak atas akses informasi aktif mendorong badan publik untuk selalu berbenah. belum adanya Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi. informasi publik yang dikecualikan ini bersifat ketat dan terbatas. Ada beberapa lembaga yang telah dengan baik membuka berbagai informasi kepada khalayak. Perlu manajemen pengelolaan informasi yang dikuasai dan pelayanan akses informasi dari publik. Informasi ini meliputi profil. Indikatornya antara lain. minimnya kesiapan badan publik untuk melaksanakan UU KIP. Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana Bali. Ini merupakan salah satu cara agar badan publik menjadi lebih siap dan lebih baik dalam melayani permintaan informasi publik”. serta laporan keuangan badan publik. Dalam pasal 9 UU KIP disebutkan badan publik wajib mengumumkan informasi publik secara berkala. kegiatan dan kinerjan. dan lingkungan. UU ini juga menegaskan bahwa keterbukaan informasi publik merupakan salah satu ciri penting negara demokratis. sepertinya tidak serta merta terjadi dan diterapkan dengan baik. Pendapat senada juga disampaikan oleh Agus Sanjaya dari Dinas Perhubungan dan Infokom Denpasar. khsusunya lembaga-lembaga publik. “Warga harus secara aktif meminta akses informasi.Pasal 2 mengatur bahwa asas UU ini adalah setiap informasi publik bersifat terbuka dan dapat diakses oleh setiap Pengguna Informasi Publik kecuali informasi publik yang dikecualikan. Kedua. pemerintah kota Denpasar belum sepenuhnya menerapkan keterbukaan informasi publik.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 UU ini menyebutkan bahwa hak memperoleh informasi merupakan HAM. Uji badan publik yang dilakukan meliputi tiga sektor yaitu pendidikan. hasil uji badan publik lintas sektor yang diadakan Sloka Institute bekerjasama dengan  Indonesian Parliamentary Center (IPC)  terhadap beberapa instansi di 4 kabupaten/kota serta di tingkat Provinsi Bali mencerminkan belum sistematis dan transparannya akses informasi publik. pertama. kondisi keterbukaan informasi. Perbaikan terutama adalah kebijakan pimpinan badan publik dalam menerapkan UU KIP. Hasil uji publik tersebut ditindaklanjuti dengan mengadakan Rembug Lintas Aktor (RELA) Kesiapan Badan Publik di Bali dalam 78 . Ketiga. namun itu hanya sebagian kecil. Menurut Ni Made Ras Amanda Gelgel. kesehatan. Badan publik adalah organanisasi yang terkait penyelenggaraan Negara maupun organisasi lain dengan pendanaan dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara/Daerah (APBN atau APBD). Mungkin perlu perbaikan pola pikir dan kemauan masing-masing lembaga dalam penerapan pelaksanaan UU KIP.

katanya. Akan tetapi ada satu yang jelas. sehingga harus melakukan langkah-langkah penyesuaian. dan wartawan. Penutup Begitulah. Kemudian masalah anggaran dan transisi penataan lembaga publik juga menjadi masalah. Sosialisasi tentang UU KIP sudah dilakukan di lembaga publik dan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Provinsi Bali. Semua menyadari bahwa transparansi. drs I Wayan Nuranta. RELA dihadiri oleh anggota Komisi Informasi (KI) Pusat  Abdul Rahman Ma’mun. Langkah lainnya adalah dengan merancang website e-government. Ada kesan kuat bahwa Pemda sebenarnya menyadari akan pentingnya reformasi birokrasi.. Nantinya di setiap lembaga itu akan ada Penanggung jawab Pengelolaan Informasi Daerah (PPID) yang ditetapkan dengan Peraturan Gubernur.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Penerapan UU Keterbukaan Informasi Publik 2010 lalu. dan Komunikasi Bali. Ketua AJI Denpasar Rofiqi Hasan.. Kepala Bidang Informasi Dinas Perhubungan. tetapi ada juga yang masih lamban. Nanti DPRD akan memilih 5 calon anggota KI. perwakilan persma Akademika. bahwa semuanya semakin menyadari pentingan arti penyelenggaraan pemerintahan dengan prinsip good governance. perwakilan Walhi Bali. Sementara itu seorang tokoh masyarakat. Oleh karena itu masyarakat berharap agar pemerintah terus memberikan pelayanan optimal terhadap masyarakat. perwakilan Yayasan Manikaya Kauci. Pemerintah daerah berharap LSM bias ikut memantau proses pembentukan PPID. serba-serbi dinamika pemerintahan daerah dalam menyambut reformasi birokrasi ternyata sangat beragam. Selain itu belum ada numenklatur yang jelas antara fungsi yang akan diemban Dinas Infokom dan Humas Pemkot Bali. Untuk itu pemerintah perlu terus menggalakan sosialisasi”. akuntabilitas. Ada yang cepat beradaptasi dalam iklim keterbukaan informasi. “animo warga Denpasar kurang begitu antusias dalam memanfaatkan adanya UU KIP. SH. Proses pendirian KI diawali dengan pembentukan Tim Seleksi yang melibatkan kalangan akademisi. 79 . Sementara pendapat warga masyarakat juga beragam. karena mungkin banyak yang belum tahu. dan partisipasi publik adalah penting dalam era sekarang ini. Pemerintah Provinsi Bali baru bisa memasukkan pembentukan Komisi Informasi (KI) dalam APBD 2011. SH. dan Ni Luh Candrawati Sari. tokoh masyarakat dan pemerintah. Tim seleksi selanjutnya akan menyaring minimal 10 calon dan maksimal 15 calon untuk diajukan dalam fit and proper test di DPRD Bali. Meniartha berpendapat masyarakat belum peduli. ada yang optimis dan ada yang pesimis. Informasi. MH.   perwakilan Biro Pemerintahan Provinsi Bali.

Namun demikian.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Memang ada kendala yang cukup merisauhkan dalam upaya menggelorakan semangat reformasi birokrasi. karena itu perlu terus menumbuhkan kesadaran bersama untuk tetap terus belajar berdemokrasi. Dalam kaitannya dengan pelaksanaan UU KIP. di kalangan masyarakat sendiri juga masih perlu didorong untuk lebih proaktif guna memanfaatkan UU KIP agar good governance terimplemntasi dengan lancar dalam proses pembangunan di daerah. rigit. Masih banyak aparat birokrasi yang mindset-nya menggunakan paradigma lama. Kendala struktural muncul karena karakter birokrasi pemerintah yang hierarkis. terbukti masih sedikit yang membentuk PPID. Sepertinya masyarakat kita memang masih perlu terus didorong menuju ke arah keterbukaan informasi. Sementara itu kendala kultural muncul berkaitan dengan belum ada transformasi cara berpikir dan sikap yang berorientasi pada pelayanan publik. Hanya saja. 80 . Kendala itu berupa kendala struktural maupun kultural. sebagian besar pemerintah daerah masih bergerak lamban dalam menyongsong era keterbukaan informasi. di mana mereka masih minta dilayani. dan kurang cepat melakukan perubahan dengan mengubah berbagai aturan yang telah usang. UU KIP semakin populer berkat sosialisasi yang cukup intens kepada masyarakat.

.

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 82 .