Edisi 3/ September / 2011

Birokrasi
Keterbukaan Informasi Publik

a r E m a l a d

Pelayanan Birokrasi dalam Era Otonomi Daerah Pelayanan Birokrasi Papua dalam Era Otonomi Khusus Reformasi Birokrasi dan Implementasi Good Governance
Foto : Antara

Reformasi Birokrasi, Syarat Mutlak Pembangunan Ekonomi

dalam Era
Diterbitkan Oleh :

Tim Redaksi Pengarah : Penanggungjawab :

Pemimpin Umum

:

Pemimpin Redaksi : Anggota Dewan Redaksi : Ismail Cawidu (Sekretaris Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik) Bambang Wiswalujo (Direktur Pengolah dan Penyediaan Informasi) Supomo (Direktur Komunikasi Publik)

Tifatul Sembiring (Menteri Kominfo) Basuki Yusuf Iskandar (Sekretaris Jenderal) Ahmad Mabruri Mei Akbari (Staf Khusus Menkominfo) Freddy H Tulung, (Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik) Suprawoto (Staf Ahli Menteri Bidang Sosial Ekonomi dan Budaya) Sadjan (Direktur Pengelolaan Media Publik)

Erlangga Masdiana (Direktur Layanan Informasi Internasional) James Pardede (Direktur Kemitraan Komunikasi) Redaktur Pelaksana : Mardianto Soemaryo Penyunting/ Editor : 1. Hypolitus Layanan 2. Endang Kartiwak 3. Taufik Hidayat Tim Tenaga Ahli : Sugeng Bayu Wahono Lambang Trijono Abduh Sandiah Murti Kusuma Wirasti Design Grafis : Danang Firmansyah Sekretaris Redaksi : M. Taofik Rauf Sekretariat : 1. M. Azhar Iskandar Zainal 2. Jatmadi 3. Sarnubi 4. Inu Sudiati 5. Elpira Inda Sari N.K 6. Lamini 7. Nur Arief Hidayat

.

Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Daftar Isi Salam Redaksi Wawancara Khusus Reformasi Birokrasi Tidak Secepat Membalik Telapak Tangan ii vii vii I II Pelayanan Birokrasi dalam Era Otonomi Daerah Pendahuluan Antara Harapan dan Kenyataan Penutup 1 2 5 9 Pelayanan Birokrasi Papua dalam Era Otonomi Khusus 11 Birokrasi dan III Reformasi Implementasi Good Governance Birokrasi. IV Reformasi Syarat Mutlak Pembangunan Ekonomi Laporan Studi lapangan Reformasi Birokrasi dalam Dinamika Pemerintahan Daerah 19 45 65 65 i .

(2) dalam pengambilan kebijakan serta keputusan. sebagai kebutuhan nasional akan transparansi dan akuntabilitas serta kontribusi aktif Indonesia ii . Isu utama yang ditekankan dalam reformasi birokrasi bukan saja pelayanan dan inefisiensi. akuntable. pemerintah telah berusaha membangun kepercayaan timbal balik antara pemerintah dan masyarakat melalui penyediaan informasi dan menjamin kemudahan di dalam memperoleh informasi tersebut. dan di sini birokrasi harus transparans. Seiring dengan bergulirnya demokratisasi. Pemerintah pun merespons atas tuntutan reformasi birokrasi dengan berkomitmen menerapkan prinsip good governance. (3) setiap proses pemerintahan mulai dari pengambilan keputusan sampai implementasi. dan (4) pengambilan keputusan juga perlu melibatkan masyarakat. antara lain tampak pada (1) penyelenggaraan pemerintahan dengan membuka koridor ketertutupan birokrasi melalui semangat dialog dan komunikasi intensif antara pemerintah. juga salah satu yang paling santer dikumandangkan adalah perlunya reformasi birokrasi. dan masyarakat. dan membuka partisipasi publik. pemerintah telah bertindak atas dasar tanggung jawab dalam segala bidang untuk kepentingan masyarakat luas. sehingga masyarakat memiliki kesempatan dalam menyampaikan aspirasinya Masih dalam konteks good governance. pihak swasta. pemerintah juga memiliki komitmen untuk melaksanakan inisiatif Open Government. tetapi juga transparansi. birokrasi pemerintah dituntut untuk tampil sebagai organisasi pelayanan publik yang transparan.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Salam Redaksi S etelah era reformasi. Good governance menjadi sebuah imperatif dalam proses negara demokrasi.

maka Jurnal Dialog Publik kali ini mengangkat tema Birokrasi dalam era keterbukaan informasi. pemerintah juga menerapkan Otonomi Daerah dengan menekankan pelayanan birokrasi pemerintah lebih efisien.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik dalam Open Government Partnership (OGP). perlu perbaikan-perbaikan menyangkut SDM dan SDA yang dimiliki. Atas dasar permasalahan di atas. melalui konsultasi dengan kelompok pemangku kepentingan masingmasing. Meskipun demikian. partisipasi dan kolaborasi. Untuk percepatan OG ini melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika. Reformasi birokrasi merupakan salah satu upaya untuk menerapkan prinsip good governance. tepat. cepat. Sementara itu. Dari prosesnya yang lebih efektif. Hal yang paling bisa dilakukan adalah untuk memberikan kepercayaan dan dukungan untuk melakukan upayaupaya reformasi birokrasi. Dalam pelaksanaannya. efisien dan tidak berbelit-belit serta menggunakan SDM yang optimal dan berkualitas. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. tetapi belum sepenuhnya dilaksanakan. ada juga yang memberikan penilaian kritis bahwa meskipun prinsip good governance telah dilaksanakan. Muhadam Labolo secara detail menganalisis kinerja birokrasi dalam konteks good governance. khususnya Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik telah berusaha menyusun disain komunikasi untuk memastikan inisiatif Open Government terlaksana sejalan dengan prinsip transparansi. sekaligus sebagai melihat bagaimana penerapan Undang-undang No. Keluarnya undangundang ini juga menunjukkan komitmen pemerintah terhadap upaya perwujudan reformasi birokrasi. dengan biaya yang terjangkau. dalam arti semangat desentralisasi dan debirokratisasi tercermin dalam tata kelola pemerintahannya. Untuk melakukan good governance perlu proses pembelajaran. Ia berusaha mendeskripsikan tentang makna birokrasi dan good governance. iii . kemampuan dan moral penyelenggara pemerintahan mampu memberi pelayanan yang mudah. setiap lembaga publik diharapkan menyusun Rencana Implementasi Open Government (OG) lembaganya. namun perlu keseriusan untuk melakukan reformasi birokrasi. Berbagai isu dan permasalahan di seputar reformasi birokrasi akan dibedah dan dianalisis secara komprehensif dari berbagai perspektif.

Menurut Habel birokrasi di Papua justru lebih menunjukkan karakter sebagai birokrasi yang rasional dan mengedepankan profesionalisme. sehingga personil. pada awalnya terdapat kecenderungan bahwa pemberian kewenangan pengelolaan politik oleh pemerintah pusat dalam bentuk Otsus. program dan kegiatan. serta upaya strategis reformasi birokrasi dan implementasi tata kelola pemerintahan yang baik. Perubahan tersebut diharapkan tidak saja bersifat incremental semata. Atau birokrasi bersifat adaptif dengan dinamika masyarakat Papua yang semakin terbuka. namun fundamental. Habel melihat adanya gejala etnosentrisme di Papua apakah berpengaruh terhadap pelayanan birokrasi.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 karakteristik pemerintahan yang baik. Birokrasi pun kemudian menunjukkan karakter birokrasi primordial. atau berkembang menjadi birokrasi modern yang mengutamakan profesionalisme dan merit system. sehingga birokrasi pemerintah terbukti adaftif dengan perkembangan masyarakatnya. Perkembangan masyarakat Papua yang semakin terbuka menjadikan Papua semakin plural. birokrasi pemerintah Papua berkembang ke arah yang lebih menunjukkan iv . masalah dan tantangan yang dihadapi dalam upaya reformasi birokrasi. Salah satu usulan menarik Muhadan adalah bahwa untuk mengefektifkan reformasi birokrasi diperlukan reformasi kapasitasi yang memadai guna meningkatkan kemampuan aparatur dalam melayani masyarakat. Atau dengan kata lain Habel mengajukan pertanyaan bagaimana pelayanan birokrasi pemerintah Papua dalam era Otonomi Khusus sekarang ini. disikapi oleh sebagian warga Papua secara primordialistik. dan pelayanan pun ada kecenderungan bias etnosentrisme. Reformasi kapasitasi berkaitan dengan kemampuan birokrasi baik secara individual maupun kelompok yang ditunjukkan pada kemampuan menerjemahkan visi dan misi. Memang. Akan tetapi dalam perkembangan lebih lanjut. agama. Sementara itu Habel Suwae mencoba menyoroti pelayanan birokrasi dalam era Otonomi Khsusus di Provinsi Papau. sistem rekreuitmen. sehingga lebih mengedepankan profesionalisme dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. dan kekerabatan. Apakah bias primordialisme seperti baik buruknya pelayanan birokrasi disebabkan oleh faktor kesamaan etnis. Pengembangan kapasitas aparatur berfokus pada aspek pendidikan dan pengalaman yang akan menentukan nilai profesionalisme birokrasi dihadapan masyarakat. sehingga lebih mengarah pada birokrasi primordial. Reformasi kapasitasi adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan sumber daya birokrasi dalam pelayanan agar mampu mengimbangi dinamika masyarakat.

Karakter masyarakat Papua sendiri yang terbuka dan semakin plural. Sedangkan Nursodik menilai birokrasi Indonesia belum probisnis. Untuk menghilangkan berbagai patologi yang ada. efisien. Reinventing bureaucracy diharapkan mampu mengembalikan birokrasi sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi. Dengan konsep tersebut. akuntabel dan berorientasi pada kebutuhan pengguna layanan. Akan tetapi. tetapi lebih ditentukan oleh tim sukses. birokrasi dikembangkan sebagai unit pelayanan yang tepat. kapabiltas dan hal ini disebabkan oleh karena penenpatan pejabat eselon II dan III. yang lebih mengutamakan efisiensi dan profesionalisme. cepat. Salah satunya adalah dengan menerapkan konsep reinventing bureaucracy. Bersamaan dengan itu. birokrasi perlu direformasi. bukan sebagai unit pelayanan masyarakat. menjadi pertimbangan utama mengedepankan birokrasi rasional. Sifatnya yang birokratis dan patologis membuat keberadaan birokrasi lebih dianggap sebagai faktor penghambat dibanding pendorong perekonomian.Untuk dapat mengoptimalkan pelayanan birokrasi yang menggunakan prinsip good governance. birokrasi pemerintah juga terus mendorong partisipasi publik dalam proses pembangunan menuju pemerintahan yang transparan dan akuntabel. Ferdinan mengkaji tentang efektivitas pelayanan birokrasi di era otonomi daerah. terdapat harapan yang sama. karena banyak pejabat publik yang diangkat tidak memiliki kapasitas. Berbagai penyakit birokrasi muncul karena aparat birokrasi cenderung menggunakan birokrasi sebagai alat untuk mencapai tujuan birokrasi itu sendiri. Banyak gejolak yang terjadi di daerah sebagai perwujudan ketidak puasan masyarakat dalam pelaksanaan otonomi daerah. Argumen agak berbeda dikemukakan oleh Ferdinan Kerebungu.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik karakter birokrasi profesional dengan menerapkan merit sistem. v . bukan berdasarkan pendidikan dan latihan penjenjangan kerier. harus ada trnasformasi kultural di kalangan aparat birokrasi dari cara pandang birokrasi sebagai penguasa menjadi birokrasi sebagai pelayanan sesuai dengan sistem politik yang deomokratis. Politisasi birokrasi ikut mendorong terjadinya penyelewengan yang membuat birokrasi semakin jauh dari fungsi utamanya sebagai penggerak sektor perekonomian. pada era sistem pemerintahan desentralisktik sekarang ini banyak menimbulkan persoalan pemerintahan terutama dalam birokrasi pelayanan publik. dari segenap analisis kritis yang dikemukan para penulis. efektif. Realitas yang teralami sekarang banyak birokrat yang tidak mengutamakan pelayanan publik. bahwa bagaimanapun birokrasi harus didorong untuk lebih independen.

dan mengedepankan profesionalisme. vi . Iklim demokrasi yang sudah baik.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 steril dari kepentingan politik. meski di sana-sini terdapat hambatan. Komitmen pemerintah pusat untuk melakukan reformasi birokrasi. tetap harus mendapat dukungan dari semua pihak. harus tetap dipelihara dan dirawat agar terus menjadi habitat subur bagi tumbuhnya birokrasi yang secara konsisten menerapkan prinsip good governance.

Edisi 3 / September / 2011 Wawancara Khusus Reformasi Birokrasi Tidak Secepat Membalik Telapak Tangan Dr. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. MBA* *Deputi Bidang Program dan Reformasi Birokrasi. Ismail Muhamad. vii .

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik

Edisi 3 / September / 2011

S

etelah era reformasi, salah satu isu yang paling santer dikumandangkan adalah perlunya reformasi birokrasi. Isu utama yang ditekankan dalam reformasi birokrasi bukan saja pelayanan dan efisiensi, tetapi juga transparansi. Seiring dengan bergulirnya demokratisasi, birokrasi pemerintah dituntut untuk tampil sebagai organisasi pelayanan publik yang transparan. Prinsip Good governance menjadi sebuah imperatif dalam proses negara demokrasi, dan di sini birokrasi harus transparans, akuntable, dan membuka partisipasi publik.

Meskipun secara normatif, pemerintah punya sejumlah regulasi yang mengatur tatakerja birokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan, namun dari hasil penyerapan opini dalam masyarakat, ternyata sebagian masyarakat menilai reformasi birokrasi belum memperlihatkan hasil konkret, alias reformasi birokrasi masih jalan di tempat. Persoalan yang mengemuka di anatranya pemerintah, termasuk pemerintah daerah dinilai kurang transparan dan tidak banyak melibatkan masyarakat dalam perumusan kebijakan publik. Dalam kaiatan dengan persoalan tersebut, berikut ini petikan hasil wawancara redaksi dengan

Dr. Ismail Muhamad, MBA

viii

Edisi 3 / September / 2011

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik

Deputi Bidang Program dan Reformasi Birokrasi, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Dr. Ismail Muhamad, MBA. Banyak kalangan menilai program reformasi birokrasi jalan di tempat, bagaimana kondisi yang sesungguhnya ada pada saat ini? Pandangan seperti itu dapat dipahami, tetapi sangat tergantung dari sudut pandang mana melihatnya. Perlu diluruskan, bahwa reformasi dalam skala besar (Nasional) dimulai pada tahun 1998. Fokus reformasi pada tiga bidang, yaitu Bidang Ekonomi, Bidang Politik dan Bidang Hukum. Sedangkan secara khusus reformasi birokrasi dimulai pada tahun 2004, dan sebagai pilot projectnya adalah Badan Pemeriksa Keuangan, Mahkamah Agung, dan Kementerian Keuangan. Pada tahun 2008, Kementerian PAN menerbitkan Pedoman Umum Reformasi Birokrasi. Mulai tahun 2010 ditetapkan Grand Design Reformasi Birokrasi 2010 – 2025 berdasarakanh Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 81 Tahun 2010, dan ditindaklanjutin dengan Peraturan Menteri PAN No. 4 Tahun 2010. Jadi kalau ada yang bilang reformasi birokrasi jalan di tempat itu karena kurang mengikuti perkembangan yang ada. Jadi dari sisi kebijakan pelaksanaan reformasi birokrasi sudah ada langkah-langkah konkret. Berbicara mengenai reformasi birokrasi di negara manapun tidak secepat

membalikkan telapak tangan, tetapi membutuhkan proses panjang. Contoh Australia, untuk melakukan reformasi membutuhkan waktu 30 tahun baru bisa dilihat hasilnya. Dalam kaitan dengan transparansi, akuntabilitas, partisipasi publik dan lain-lain sebenarnya sangat terkait dengan UU No. 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) yang secara definitif pelaksanaannya pada tahun 2010. Tetapi sebenarnya transparansi dan akuntabilitas di Indonesia sudah mulai dilaksanakan secara efektif pada tahun 1999, yaitu dengan dikeluarkan Instruksi Presiden RI No. 7 Tahun 1999 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Dengan demikian secara formal semua instansi pemerintah dalam pelaksanaan fungsi dan tugasnya diharuskan transparan dan akutabel. Jadi prinsipnya sudah ada model layanan, prosedur tetap, pengawasan, capaian hasil dan metode evaluasinya, semuanya sudah dituangkan dalam Rencana Strategis (renstra) instansi pemerintah. Pembuatan Renstra itu sendiri sangat transparan, meskipun pada waktu itu belum sejalan dengan UU KIP, karena belum ada. Dalam UU KIP jelas sekali menegaskan bahwa semua informasi itu terbuka (dipulikasikan) kecuali yang rahasia. Berbeda dengan paradigma sebelumnya bahwa semua informasi itu rahasia, kecuali yang dibuka atau yang dipublikasikan. Jadi secara ringkas bisa disimpulkan bahwa transparansi dan akuntabilitas

ix

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik

Edisi 3 / September / 2011

kebijakan pemeritah termasuk bidang pelaynan telah dilaksanakan, meskipun harus diakui ada beberapa yang masih tertinggal. Bagaimana kita melihat secara konkret reformasi birokrasi itu dari sisi pelaynan publik? Pelayanan publik itu kita bagi dua yakni yang bersifat administratif dan pelayanan praktis atau non administrasi. Pelayanan administratif seperti KTP dan sejenisnya, hampir di semua daerah sudah transparan, umpamanya sudah jelas berapa biayanya, penyelesaiannya berapa lama, prosedur dan mekanismenya. Bahkan informasi tentang semua itu ditempelkan di papan pengumuman sehingga masyarakat mengetahuinya secara jelas. Selain itu ada standar pelayanan minimum yang diatur berdasarkan Kepmendagri yang menjadi acuan bagi daerah untuk merancanakan angaran pendapatan dan belanja daerahnya. Standar pelaynan itu juga dipublikasikan agar diketahui oleh masyarakat. Ini artinya langkah konkret yang dilakukan pemerintah itu ada, hanya mungkin kalau ada penyimpangan oleh oknum, termasuk sikap dan prilaku SKPD di daerah tertentu yang cenderung mengada-ada. Sehingga dalam kontek reformasi birokrasi, kelemahan-kelemahan itu dipantau dan dievaluasi, kemudian ditertibkan. Untuk mengurangi penyimpangan kita menggunakan instrumen indek kepuasan masyarakat melalui survei. KPK juga menggunakan

tingkat kepuasan masyarakat dalam mengukur kualitas pelaynan publik. Dalam reformasi birokrasi, unsur itu juga dimasukkan sebagai salah satu indikator keberhasilan yakni peningkatan kualitas pelaynan publik. Kalau kita ambil contoh, kalau KPK mengunakan unsur integritas pelaynan publik, tingkat kemudahan berusaha, lalu instansi yang akuntabel. Tahun 2009 kita sudah punya base line sekian, kita punya target tahun 2014 sekian. Dengan ukuran itu terus dilakukan pemantauan, ternyata hasilnya semnatra ini mengalami peningkatan (kemajuan). Jadi jelas ada pengukurannya untuk menetukan tingkat keberhasilan program reformasi birokrasi. Sampai saat ini masih banyak pemerintah daerah belum membentuk PPID sesuai ketentuan UU No. 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik. Baagaimana Pemerintah menyikapi maslah tersebutdalam kaitan dengan upaya mempercepat reformasi birokrasi? Secara makro hal itu termasuk dalam konteks penguatan kelembagaan dan pembenahan organisasi. Atas dasar UU KIP tersebut kita melangkah pada Open Government yang salah satu intinya adalah setiap instansi pemerintah dihimbau untuk segera melangkah konkret membenahi organisasinya sesuai kebutuhan. UU KIP jelas mengatakan bahwa jika masyarakat yang meminta informasi yang terbuka,

x

seperti soal APBN. Mungkin urgensinya untuk memperkuat unit pelaynan informai. akuntabilitas dan partisipasi publik dalam pelaksanaan good governance di setiap instansi pemerintah. yakni melalui laporan akuntabilitas. Jadi dari sisi kacamata reformasi birokrasi. maka bisa dikatakan bahwa sebagian besarnya sudah punya kesadaran tersebut sangat kuat. Ada kendala di beberapa daerah dengan alasan PAD yang tidak mencukupi. Oleh karena itu bisa disimpulkan bahwa secara nasional terdapat kemajuan yang cukup signifikan dalam penyelenggaran pemerintahan dengan prinsip good governance. setiap waktu masyarakat berhak meminta informasi pada instansi pemerintah ada atau tidak PPID pada intansi tersebut. Kita tidak bisa menuding bahwa semua pemda itu sama. Ternyata langkah-langkah yang dilakukan kedua daerah ini luar bisa dalam kontek transparansi. Ada beberapa daerah yang mengalami hambatan. Saat ini pemerintah sudah cukup transparan dan open government. Jadi kalau berbicara tentang prinsip-prinsip transparansi. termasuk pemeritah daerah. upaya untuk meningkatkan pelaynan birokrasi sudah sangat kuat. Ini artinya pintu masuk tidak harus melalui lembaga baru (PPID). Aparat pemerintah menyadari bahwa hak publik untuk mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Ditambah lagi dengan adanya website. Penilaian ini didasarkan pada indikator dengan menggunakan instrumen yang ada. pengadaan barang dan jasa dan lainlain semuanya terbuka. Bahkan barubaru ini pada kesempatan lokakarya ditampilkan dua daerah yang masuk kategori berhasil. Mereka menyampaikannya dengan cukup baik. akan lebih memudahkan. di samping masyarakat juga punya kesadaran yang luar bisa dalam menuntut haknya untuk memperoleh informasi. baik karena faktor sumber daya manusia maupun sumber daya lain. Tetapi berdasarkan pengamatan Kementerian PAN dan RB. Dari unsur transparansi dan lain-lain juga terlihat adanya kesungguhan pemda-pemda dan hasilnya cukup baik. yakni Jawa Barat dan Nusa Tenggara Barat. karena karakter manusianya berbeda satu dengan yang lain. tetapi melalui induk lembaganya. tentu karena kendala-kendala. maka bisa dituntut. kecuali yang sifatnya terkait rahasia negara dan surat-surat yang memang sifatnya rahasia. salah satunya adalah dengan pemanfaatan teknologi inforasi untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik kalau ada yang menghaklangi. xi . Bagaimana kondisi pemerintah termasuk pemerintah daerah dalam menyelenggarakan pemerintahan yang berperinsip good governance? Kalau dilihat dari sisi akuntabilitas. tidak perlu pintupintu lagi. pemerintah daerah tidak terlalu tertinggal.

Tidak akan disiapkan formasi oleh pusat. prosesnya harus dimulai dari usulan desa/kelurahan. bahwa setiap ada kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Sekarang pemerintah melalui Peraturan Bersama Meneteri Dalam Negeri. kalau tidak ada analisis kebutuhan kompetensi yang dibutuhkan. Salah satu langkah reformasi terkait dengan maslah ini adalah merubah mainset dan kutureset para pejabat. bukan kewenangannya. kompetensinya apa dan sebagainya. Bagaimana pemetrintah menyikapi maslah tersebut? Memang harus diakui bahwa kondisi seperti itu ada pada praktek rekrutmen pegawai dan pejabat pemerintah. melalui tokohtokohnya. Kalau sebuah xii . Menteri Keuangan dan Menteri PAN dan RB memutuskan untuk moratorium penerimaan calon PNS mulai September 2011 sampai Desember 2012. berubah dan lebih mengutamakan peran. Jadi keterlibatan unsur – unsur dalam masyarakat itu penekanannya peranya apa. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembanagunan Nasional. Bahkan ada stetmen di Komisi II DPR RI bahwa akibat penyimpangan seperti itu menyebabkan kerugian negara sampai 25 triliun rupiah. Dalam UU ini jelas sekali. tetapi dalam kenyatannya itu dimainkan juga. Moratorium ini diperlukan untuk melakukan pembenahan. baru ada formasi. Musrembang sampai ke tingkat nasional dimana di setiap lefel itu melibatkan masukan masyarakat. Dengan reformasi ini juga kita mengukur kinerja. Atas dasar itu. Sampai dengan Desember 2012 ditetapkan supaya seluruh pemerintah provinsi. organisasi tertentu.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Salah satu sorotan masyarakat terhadap lemahnya pelaynan birokrasi adalah dalam kaitan dengan rekrutmen aparat (PNS) dan pejabat pemerintah yang tidak transparan dan sarat dengan KKN. Seperti ada informasi bawa di daerah tertentu untuk masuk PNS harus bayar jutaan rupiah. Apakah dalam penyelenggaraan pemerintahan sudah membuka koridor ketertutupan birokrasi melalui semangat dialog dan komunikasi intensif antara pemerintah dan masyarakat? Prinsipsnya kita berpegang pada UU No. Kita sudah melakukan pembenahan dengan menetapkan agar semua proses aplikasi melalui website. kabupaten/kota mengajukan berapa kebutuhannya. dan yang merepresentasikan masyarakat diundang untuk menjaring masukan dan aspirasi masyarakat. lalu dalam proses asesmennya diminta dari perguruan tinggi yang terbaik di masing-masing daerah. Intinya adalah selama masa moratorium itu akan dibuat formula yang bisa mencegah praktek KKN dan prilaku yang menyimpang. yang selama ini cenderung berorientasi pada kewenangan. Lalu harusnya hasil ujian itu diumumkan.

Kendala-kendala apa saja yang dirasakan dalam penyelenggaraan pelayanan birokrasi yang berprinsip good governance? Kendala utama yang terlihat selama ini adalah pada mind-set dan cuture-set pada aparat birokarasi. Tetapi ada contoh negara yang punya good governance namun dalam praktek demokrasinya masih kategori rendah. apalagi sudah membudaya itu membutuhkan waktu lama. seperti Singapura. difokuskan pada penguatan birokrasi pemerintah dalam rangka mewujudkan pemerintah yang bersih dan bebas KKN. Jadi dengan reformasi dimaksudkan untuk merubah pemahman bahwa demokrasi tidak seperti terjadi saat ini. maka kinerjanya turun. belum untuk mencapai kinerja yang lebih baik (better performance). dan belum berorientasi pada hasil (outcomes). produktif dan profrsional. Proses dalam merumuskan sebuah kebijakan publik harus melibatkan masyarakat. salah satu prasyaratnya adalah penerapan good governance. Selain itu. Bagaimana mengefektifkan pelayanan birokrasi dalam era keterbukaan informasi sebagai bagian dari demokratisasi? Prinsip demokrasi. itu pun sampai sekarang belum semua menerapkan. Pola piker dan budaya kerja birokrat belum sepenuhnya mendukung birokrasi yang efisien. bahkan sudah 10 tahun terakhir ini masuk pada periode maturity. Sasaran lima tahun pertama (2010 – 2014). yakni dengan menggunakan menejmen kinerja. Tetapi yang terpenting adanya suatu public policy process yang sesuai dengan prinsipprinsip good governance. Sebenernya secara normatif itu semua sudah diatur. masih jauh di bawah Indonesia. tetapi dari sisi demokratisasi. tetapi bukan berarti reformasi birokrasi jalan di tempat.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik kebijakan dalam implementasinya tidak ada aksesnya pada masyarakat. karena kemudian kurang efektif. Tetapi harus diakui untuk merubah pola pikir. itu semata- mata dengan pertimbangan demi kepentingan bersama. maka reformasi ini digunakan untuk membenahinya. birokrat belum benar-benar memiliki pola piker yang melayani masyarakat. Persoalan nanti kalau kemudian ada yang dipotong di atas. Kendala kedua adalah kebutuhan SDM aparat birokrasi itu belum proporsional. efektif. Demokrasi Indonesia menduduki nomor tiga terbaik di dunia. Meskipun Singapura punya pemerintah yang sangat good governance. baik dari faktor alokasinya dari pusat sampai ke daerah. meningkatkan kualitas xiii . maupun dari sisi kompetensinya juga belum pada posisi the right man on the right please. Seperti digambarkan sasran reformasi birokrasi dalam Grand Design Reformasi Borokrasi 2010 -2025 yang dibagi dalam tiga tahap sebagai berikut: 1.

3. Sehingga dengan sasaran-sasaran tersebut. Sasaran lima tahun kedua (2015 – 2019). pada lima tahun kedua juga dilanjutkan upaya yang belum dicapai pada berbagai komponen yang strategis birokrasi pemerintah pada lima tahun pertama. xiv .2024). reformasi birokrasi dilakukan melalui peningkatan kapasitas birokrasi secara terus menerus untuk menjadi pemerintahan kelas dunia sebagai kelanjutan dari reformasi birokrasi lima tahun kedua. Sasaran lima tahun ketiga (2020. reformasi birokrasi ini akan berhasil membenahi performen pelaynan birokrasi dalam memenuhi kebutuhan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. serta meningkatkan kapasitas dan akuntabilitas kinerja birokrasi. 2. selain implementasi hasil-hasil yang sidah dicapai pada lima tahun pertama.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 pelaynan publik kepada masyarakat. semua itu sudah pada posisi yang benar.

I Pelayanan Birokrasi dalam Era Otonomi Daerah Oleh : Ferdinand Kerebungu * Edisi 3 / September / 2011 * Ketua Program Studi Magister Administrasi Publik. Program Pascasarjana Universitas Samratulangi Manado. pada Program Pascasarjana Universitas Negeri Manado. 1 . dan mengajar pada S2 Pengembangan Sumberdaya Sosial.

Tugas ini di era orde baru belum dapat terwujud hingga ke pedalaman Negara kesatuan Republik Indonesia. kapabiltas dan akuntabiltas dalam bidang kerjanya. Di era otonomi daerah saat ini. karena banyak pejabat publik yang diangkat tidak memiliki kapasitas. Perubahan arus sistem pemerintahan ini merupakan impian dari masyarakat agar dapat terlayani dengan baik. Dalam tulisan ini dikaji tentang efektivitas pelayanan birokrasi di era otonomi daerah.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 i era sistem pemerintahan desentralisktik sekarang ini banyak menimbulkan persoalan pemerintahan terutama dalam birokrasi pelayanan publik. tetapi lebih ditentukan oleh tim sukses. penyelenggaraan birokrasi pelayanan publik yang dilaksanakan oleh pemerintah pada prinsipnya untuk memenuhi kebutuhan dasar dan hakhak setiap warga negara berdasarkan amanat Undang-Undang Dasar 1945. dan kebutuhan mereka D Pendahuluan 2 . Di era reformasi sekarang ini sistem pemerintahan berubah menjadi desentralistik. Untuk dapat mengoptimalkan sumberdaya yang ada di daerah khususnya sumberdaya manusia. sehingga mereka tidak menguasai tugas pokok dan fungsinya. Hal ini disebabkan oleh karena penempatan pejabat aselon II dan III. karena sistem pemerintahan yang bersifat sentralistik. dengan harapan tujuan terbentuk negara ini dapat terwujud secara optimal. Realitas yang teralami sekarang banyak birokrat yang tidak mengutamakan pelayanan publik. bukan berdasarkan pendidikan dan latihan penjenjangan kerier. Banyak gejolak yang terjadi di daerah sebagai perwujudan ketidak puasan masyarakat dalam pelaksanaan otonomi daerah. Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar tahun 1945 pada alinea keempat diamanatkan tentang tugas pemerintah antara lain adalah untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. dan transparan. maka sistem pemerintahan dan politik yang berlaku harus didasarkan pada sistem pemerintahan yang demokratis.

yang tidak sesuai dengan harapan masyarakat. apalagi mau menuntut kualitas. bahkan tujuan utama pemekaran wilayah yang marak terjadi di era otonomi daerah yaitu mendekatkan pelayanan pada masyarakat bagaikan api jauh dari panggang. Realitas yang dihadapi masyarakat di era otonomi sekarang ini seperti hanya sebuah mimpi yang sulit untuk terwujud. junto Undang-Undang no 12 tahun 2008. belum juga menunjukkan perubahan yang signifikan dalam sistem pelayanan publik yang dilaksanakan oleh para birokrat sebagai pejabat publik. bahkan dalam sistem pelayanan publik modern menuntut para birokrat melakukan pelayanan prima pada publik. Nampaknya para kepala daerah sebagai top manajemen dalam organisasi pemerintahan daerah lebih disibukkan dengan bagaimana para pendukungnya masuk dalam jajaran kabinetnya. Pelayanan birokrasi yang terjadi tidak mampu mengimbangi perkembangan tuntutan masyarakat akan pelayanan. kesulitan menciptakan lapangan kerja. tepat.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik dapat tercapai dengan sistem pelayanan birokrasi yang prima. Persoalan tersebut diperparah lagi dengan kinerja para birokrat yang sangat rendah. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis pelaksanaan pelayanan birokrasi terhadap masyarakat di era otonomi daerah. Kondisi ini banyak dilihat di tanah air ini tentang maraknya protes yang dilakukan oleh masyarakat. 3 . maka yang menjadi permasalahan dalam penulisan ini adalah “sejauhmana efektivitas pelayanan birokrasi diera otonomi daerah”. seperti pelayanan cepat. Berdasarkan latar belakang tersebut. efektif dan efisien. sehingga pelayanan publik tidak dapat terlaksana dengan optimal. Setelah dua belas tahun pelaksanaan perubahan sistem pemerintahan yaitu dari sistem pemerintahan yang sentralistik ke sistem pemerintahan desentralistik sejak ditetapkannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. hingga perubahannya menjadi UndangUndang Nomor 32 tahun 2004. Untuk meningkatkan kualitas birokrasi dalam pelayanan publik. Akibatnya kebanyakan pejabat yang menduduki jabatan aselon dua (II) hingga aselon tiga (III) adalah orang-orang yang tidak berkompeten dibidangnya. Sehingga tulisan ini dapat bermanfaat untuk melakukan evaluasi pelaksanaan otonomi daerah apakah berjalan efektif sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 junto Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang otonomi daerah.

(4) mengatur tindakan individu agar individu tidak menjadi liar. Selain itu. mengemukakan bahwa “birokrasi pemerintahan dapat dipandang dari dua dimensi. kelemahan birokrat sama dengan kelemahan administrasi pelayanan publik. memiliki pengetahuan luas dan ketrampilan yang baik. (Sarundajang. dimensi ini merujuk pada berbagai perilaku yang diperankan para birokrat dalam pelayanan publik”. Berdasarkan kedua dimensi birokrasi pemerintahan tersebut. dan (2) dimensi sikap dan perilaku birokrasi.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 perlu memperhatikan tentang tugas dan fungsi dari masing-masing aparatur. memahami alur birokrasi layanan yang ditetapkan oleh masing-masing satuan kerja perangkat daerah (SKPD). tidak menundanunda pekerjaan. peraturan-peraturan baku yang berstandard dan budaya. seorang birokrat akan nampak kualitas layanannya terhadap publik seperti kehandalannya. memiliki kejujuran dan berperilaku baik. mekanisme dan prosedur. birokrat dalam menjalankan tugasnya berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku bagi setiap pejabat publik dan menanpakan perilaku sebagai pamong yang 4 . dan yang terakhir. (2) menjamin keadilan di lingkungan masyarakat. Oleh karena itu birokrasi di Amerika Serikat disebut dengan Administration. mengemukakan ada lima ciri fungsi birokrasi yaitu: (1) memenuhi tatanan internal organisasi dan keamanan eksternal organisasi. Banyak pengamat mengatakan bahwa birokrasi identik dengan administrasi. (3) melindungi kebebasan individu berdasarkan peraturan dan norma adat istiadat yang berlaku di masyarakat. komunikatif. dan memberikan pengayoman terhadap masyarakat yang berada di wilayah kerjanya. Lumingkewas dan Masengi (2008). (5) meningkatkan kesejahteraan masyarakat. yaitu: (1) dimensi kelembagaan yang meliputi. seyogyanya di era otonomi daerah saat ini setiap penjabat publik dalam melaksanakan tugasnya sebagai administrator dan pelayan publik memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat guna mencapai cita-cita pendirian negara ini. responsif. kita tidak menjumpai berbagai bentuk kekecewaan masyarakat dan sebaliknya masyarakat akan concern dalam aktivitas kesehariannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh sebab itu. Di mana para aparatur (birokrat) dituntut untuk memiliki pengetahuan tentang unsur-unsur layanan publik yang secara tepat. dan memahami secara cepat kebutuhan publik yang dilayani. Jika birokrat sebagai administrator dan pelayan publik melaksanakan tugasnya berdasarkan fungsinya sebagaimana dikemukakan oleh Sarundajang di atas. Selanjutnya Sarundajang (2005). Menyimak kelima ciri fungsi birokrasi tersebut. Sejalan dengan pemikiran tersebut. 2005).

PIM II maupun PIM III. perencana. seperti 5 . tidak menggunakan komputer untuk kepentingan tugasnya sebagai seorang administrator. dan yang selalu menjadi alasan klasik yang dilontarkan oleh staf tersebut adalah belum ditanda tangan oleh bos/atasannya karena tidak berada ditempat. Sebagai contoh misalnya. Setiap penjabat aselon dua (II) atau tiga (III) yang diangkat oleh Bupati/ Walikota. yang pada gilirannya akan dapat memberikan pelayanan yang prima terhadap masyarakat. Antara Harapan dan Kenyataan 1. hal ini dimaksudkan agar dalam melaksanakan tugas kesehariannya ia mampu menyelesaikan dalam waktu yang tidak terlalu lama.      Birokrat sebagai Administrator Seorang birokrat sebagai administrator memerlukan pengetahuan luas. memiliki ketrampilan dan menguasai perkembangan teknologi informasi. Hal ini terkait dengan persoalan pelayanan kepada masyarakat. dan peran Badan Pertimbangan Jabatan (Baperjakat) hanyalah bersifat formalitas. Sebagai seorang pelaksana tugas di lembaga pemerintahan harus dapat menjadi sebagai konseptor. tidak lagi berdasarkan pada kapasitas atau kapabilitas para penjabat yang diangkat. sehingga sering banyak tugastugas yang seharusnya diselesaikan dalam waktu satu atau dua jam. bisa tertunda sampai berjam-jam atau bahkan berhari-hari. Kondisi ini yang sering membuat masyarakat bosan dengan berbagai keterlambatan dalam soal surat menyurat. dan bahkan tidak memperhatikan pendidikan penjenjangan karier seperti diklat PIM I. Berdasarkan realitas yang nampak di daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi   Utara. kondisi seperti yang disebutkan di atas banyak dipengaruhi oleh sikap kepala daerah (Bupati/Walikota) terpilih yang lebih banyak mendengarkan tim sukses dibandingkan dengan mendengarkan staf atau penjabat yang berkompeten dalam bidangnya. mulai sekitar bulan Juli 2011 sampai saat ini masih terjadi kesalahpahaman antara Walikota Manado dengan Gubernur Provinsi Sulawesi Utara. informasi dan komunikasi (TIK) saat ini tidak sedikit birokrat yang tidak mampu menguasai dan menggunakan teknologi informasi secara baik. demi kepentingan dan kemajuan bangsa dan negara. dan bahkan pengangkatannya lebih ditentukan oleh tim sukses pilkada. dan pelaksana. karena Walikota Manado mengganti beberapa pejabat aselon II tanpa konsultasi dengan Gubernur. bahkan jika diamati di lembaga-lembaga pemerintahan sering ditemui staf administrasi di kantor-kantor pemerintahan. Di era kemajuan teknologi. tetapi lebih banyak digunakan permainan game.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik patut diteladani oleh semua pihak.

penggantian pejabat dan pelantikannya sering dilakukan secara mendadak dan dilakukan malam hari. dan ditahan dilembaga pemasyarakatan Cipanang karena tersangkut kasus Korupsi). Banyak keluhan yang disampaikan aparatur di daerah yaitu kurangnya partisipasi masyarakat dalam berbagai program pembangunan termasuk dalam hal pembayaran pajak bumi dan bangunan (PBB). banyak masalah terjadi di daerah yang tidak tertangani secara baik karena keterbatasan kewenagan pemerintah daerah . di Kabupaten Minahasa Selatan. Pada saat ini kewenangan pemerintah daerah sudah begitu luas dalam mengembangkan potensi yang terdapat di daerahnya. Pelayan yang seimbang dan pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat merupakan konsekwensi dari implementasi otonomi daerah. setelah dilantik oleh Mendagri langsung melantik pejabat aselon II dan III di lembaga pemasyarakatan Cipinang. bisa berdampak pada penggantian pejabat. Sehubungan dengan hal itu. . sebab kalau tidak ikut serta dalam rombongan kunjungan kerja. Akibat perilaku demikian birokrasi pelayanan publik tidak berjalan optimal. .”. Contoh yang lain lagi. termasuk di dalamnya pelayanan birokrasi terhadap kepentingan masyarakat. mengemukakan bahwa  “di masa lalu. Sarundajang (2005) mengemukakan bahwa “Otonomi Daerah adalah hak wewenang dan kewajiban daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku”.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 penggantian Sekretaris Kota Manado. 6 . Secara sosiologis dan psikologis. ketaatan dan partisipasi masyarakat tersebut akan lahir dengan sendirinya apabila mereka mendapat perlakuan yang seimbang dan kebutuhan pokoknya terpenuhi. Contoh arogansi pejabat kepala daerah terpilih yang demikian itulah yang menyebabkan seringkali banyak penjabat tidak berada ditempat karena harus mengikuti ke mana Bupati/Walikota berkunjung. Fenomena-fenomena demikian bukan barang baru yang ditampilkan oleh setiap pejabat Bupati/Walikota di era Otonomi Daerah saat ini. Kasus pemberhentian sepihak terhadap pejabat Sekretaris Kota Manado berakhir di PTUN dan dimenangkan oleh pejabat Sekretaris Kota yang berhentikan. walaupun itu bukan bidangnya. Lain lagi peristiwa yang dilakukan oleh Walikota Tomohon Sulut yang terpilih (saat ini non aktif. Gaffar dan Rasyid (2003). Berdasarkan ketentuan peraturan peundang-undangan yang berlaku bahwa setiap pengangkatan pejabat aselon II harus dikonsultasikan oleh Bupati/Walikota kepada Gubernur. masyarakat Indonesia pada umumnya adalah masyarakat yang taat pada pemerintahnya. sehubungan dengan tujuan pelaksanaan desentralisasi oleh Syaukani.

2. Yang menjadi persoalan sekarang di daerah adalah banyak pejabat antar satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang kurang memahami tugas pokok dan fungsinya. karena kewenangan tersebut tidak dilaksanakan secara optimal. yaitu Bupati/Walikota dan seluruh aparat birokrasi yang berada di bawahnya.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Oleh sebab itu. Kondisi demikian sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Kaloh (2002). Tidak optimalnya pembayaran PBB oleh masyarakat berdampak pada rendah Pedapatan Asli Daerah (PAD). yang implikasi pada kurangnya dana untuk pembangunan. yang banyak mempengaruhi berhasil tidaknya pelaksanaan otonomi daerah terletak pada para pelaku otonomi daerah itu sendiri. seyogiyanya mengutamakan pengabdiannya kepada masyarakat (Sapta Prasetya Korpri). Kaloh (2002). Keberhasilan pelaksanaan otonomi daerah sangat ditentukan oleh bagaimana perilaku aparatur di daerah dalam melaksanakan tugas dan fungsinya secara bertanggung jawab dan penuh pengabdian. karena kosentrasi pejabat yang ada lebih terfokus pada melayani Bupati/Walikota ketimbang melayani masyarakat. serta didukung oleh kerjasama yang baik antar aparatur yang ada dalam membentuk tim kerja  (team work) yang solid. Perilaku Birokrasi dalam Pelayanan Publik Sebagaimana telah diutarakan pada bagian sebelumnya. gunan menutupi kekurangan dana dari PAD sebagai sumber utama APBD. dan Dana Alokasi Khusus (DAK). Kondisi demikian lebih dipeparah oleh perilaku anggota DPRD yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi ketimbang kepentingan konstituennya. ketimbang hal-hal yang tidak berdampak pada peningkatan partisipasi masyarakat. sehingga dalam perencanaan pembangunan daerah banyak antar SKPD yang saling tumpang tidih program. Kelemahan dalam pelayanan dan rendahnya partisipasi masyarakat banyak dijumpai pada saat pemberian kewenangan ke daerah secara luas. Para pelaku otonomi daerah adalah mereka yang diberi kewenangan dan otoritas untuk mengelolah daerahnya. “problematik yang dihadapi oleh birokrasi pemerintahan kita adalah 7 . sebagai seorang birokrat yang berada pada garis depan pelayanan publik. maka tidak mengherankan banyak pejabat di daerah yang ikut jadi pengemis ke pusat untuk meminta tambahan Dana Alokasi Umum (DAU). mengemukakan bahwa “salah satu prasyarat tercapainya team work dan konvergensi adalah adanya kejelasan tugas pokok dan fungsi masingmasing institusi pemerintahan”. hal ini sering disebabkan oleh ego sektoral dan kurang koordinasi antar SKPD dalam penyusunan program kerja.

sulit untuk melacak sumber permasalahan. jawabannya adalah pemerintah Provinsi. jika Bupati/Walikota dalam menjalankan sistem pemerintahannya secara demokratis. bahwa “otonomi daerah akan menciptakan raja-raja kecil di daerah dan memindahkan korupsi ke daerah”. Raja-raja kecil dan korupsi tidak akan lahir di daerah otonom. Dalam proses pengumpulan data. sehingga tujuan terbentuknya daerah otonom yaitu mendekatkan pelayanan pada publik dan peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat terwujud. akan tetapi tidak memperhatikan tupoksinya. Pada suatu kesempatan saya mendampingi salah seorang teman yang sedang melakukan penelitian tentang Privatisasi Kebijakan Publik tentang obyek wisata taman laut Bunaken. yang tidak mengutamakan pelayanan tapi hanya lebih mempertontonkan kebolehannya dihadapan atasannya (Bupati/Walokota). Sebagai contoh kasus misalnya penanganan beberapa obyek wisata yang terrdapat di Propinsi Sulawesi Utara. Saling lempar tanggung jawab. mampu berkoodinasi antar SKPD. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Syaukani. tumpang tindih program merupakan celah yang terbuka untuk terjadi manipulasi dan korupsi. karena obyek wisata taman laut bunaken berada di beberapa wilayah kabupaten kota.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 seringkali sesuatu urusan ditangani oleh banyak instansi sehingga muncul masalah. Perilaku saling lempar tangung jawab seperti contoh kasus tersebut memberikan gambaran tentang kinerja aparatur dalam pelayanan publik. Di Provinsi Sulawesi Utara tidak sedikit pejabat yang terlibat kasus manipulasi dan korupsi sehingga mereka berurusan dengan pihak berwajib dan bahkan sudah banyak yang masuk lembaga pemasyarakatan. sehingga dalam satu daerah otonom akan mengalami kesulitan untuk membentuk tim kerja yang solid. seperti Taman Laut Bunaken. Dampak dari perilaku demikian. Gaffar dan Rasyid (2003). Dalam kondisi sedemikian ini sulit membangun team work dan konvergensi”. banyak program kerja yang saling tumpang tindih karena sudah ditangani oleh beberapa SKPD. dan obyek wisata religi Bukit kasih di Kanonang Minahasa. Sebab sistem pemerintahan demokratis memberikan peluang bagi masyarakat untuk mengontrol 8 . kami mendapat jawaban bahwa yang bertanggung jawab adalah pemerintah kota manado. begitu sebaliknya waktu ditanyakan pada dinas pariwisata kota manado. Perilaku ego sektoral sering ditampilkan oleh para pejabat publik. kami menanyakan pada dinas pariwisata Provinsi Sulawesi Utara tentang siapa yang bertanggung jawab dalam pengelolaan obyek wisata taman laut Bunaken. agar supaya dipandang lebih piawai dalam menyusun program.

Untuk mencapai hal tersebut. maka tujuan utama utama pembentukan otonomi daerah dapat terealisasi. serta mendekatkan pelayanan pemerintahan pada masyarakat di daerah. termasuk diantaranya sumberdaya manusia secara berdaya guna dan berhasil guna. dan pihak pemerintah lebih terbuka dalam hal penyusunan program (Musrembang sesuai undang-undang 32 tahun 2004) dan penggunaan anggaran publik benar-benar untuk kepentingan publik. seorang kepala daerah dalam menjalankan roda pemerintahannya harus bersifat demokratis.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik jalannya pemerintahan. 9 . yang pada gilirannya birokrasi pelayanan publik akan berjalan secara optimal. tanggung jawab lebih bertumpuh pada kepala daerah yaitu Bupati/Walikota. Penutup Pelaksanaan otonomi daerah pada prinsipnya adalah percepatan pertumbuhan dan pembangunan daerah. transparan dan akuntabel. untuk dapat mengoptimalkan dan memberdayakan segala sumberdaya yang ada di daerahnya. Tidak terjadi tumpang tindih program pembangunan dan tidak membuka ruang bagi koruptor akan berdampak positif bagi kemajuan masyarakat. Dalam sistem pemerintahan daerah yang bersifat desentaristik seperti sekarang ini.

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik

Edisi 3 / September / 2011

 Daftar Pustaka Kaloh, J., 2002, Mencari Bentuk Otonomi Daerah, suatu solusi dalam menjawab kebutuhan local dan tantangan global, Rineka Cipta, Jakarta.  Lumingkewas, Lexie A., dan Evi E. Masengi, 2008, Reformasi Birokrasi Pemerintahan, dalam perspektif pelayanan publik, Wineka Media, Malang.   Sarundajang, S.H., 2005, Arus Balik Kekuasaan Pusat ke Daerah, Kata Hasta, Jakarta.  . . . . . ., 2005, Birokrasi Dalam Otonomi Daerah, uapaya mengatasi kegagalan, Kata Hasta, Jakarta.   Syaukani, Afan Gaffar, dan M. Ryaas Rayid, 2003, Otonomi Daerah, dalam negara kesatuan, kerjasama Pustaka Pelajar dan Pusat Kajian Etika Politik dan Pemerintahan, Jakarta.

10

Edisi 3 / September / 2011

II
Pelayanan Birokrasi Papua dalam Era Otonomi Khusus
Oleh : Oleh Habel M. Suwae 1, Heru Nugroho 2, Djoko Suryo 3 Habel M. Suwae, mahasiswa Program Doktor Kajian Budaya dan Media Sekolah Pascasarjana UGM, dan Bupati Kabupaten Jayapura Provinsi Papua.
1 2 3

Heru Nugroho, Guru Besar Sosiologi Fisipol UGM

Djoko Suryo, Guru Besar Sejarah FIB Universitas Gadjah Mada

11

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik

Edisi 3 / September / 2011

S

Pendahuluan ebagaimana diketahui, melalui Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001

tentang Otonomi Khusus,

Papua telah diberi kewenangan untuk mengatur pemerintahan sendiri berdasarkan peraturan perundangan. Dengan Otsus para elite politik di Papua kebanyakan memilih bersikap terbuka terhadap masuknya para investor, baik dari dalam dan luar negeri untuk tujuan mengembangkan Papua lebih maju. UU Otsus itu pun memang dengan eksplisit menyebutkan bahwa Papua dikategorikan sebagai daerah tertinggal jika dibandingkan dengan wilayah Indonesia Tengah dan apalagi wilayah Indonesia Barat.
Pilihan strategis politik pembangunan seperti itu membawa konsekuensi daerah ini terus berkembang baik secara politik, ekonomi, maupun kebudayaan. Dalam bidang politik, proses demokrasi terus bergulir tercermin

dalam proses Pemilu Kepala Daerah secara langsung. Lebih dari itu melalui prinsip demokrasi politik, terus dipakai dalam untuk mengubah paradigma pembangunan yang lebih partisipatif. Maka di beberapa wilayah Papua, terutama Kabupaten Jayapuran telah menerapkan model pembangunan partisipatif dalam upaya memberdayakan masyarakat. Di Kabupaten Jayapura telah meluncurkan program pembangunan yang diberi nama “Program Pemberdayaan Distrik dan Kapung”, atau yang lebih populer dengan singkatan PPDK.1 Konsep dan paradigma pembangunan ini diluncurkan sebagai respons atas semakin meningkatnya kecenderungan pola pembangunan sentralistik yang lebih menggunakan pendekatan dari atas-bawah (topdown approach). Berbagai program pembangunan pada saat itu lebih banyak prakarsa datang dari pemerintah, sementara prakarsa dari masyarakat kurang terakomodasi dalam proses perencanaan pembangunan. Partisipasi pun kemudian dipahami menurut tafsir tunggal pemerintah, yaitu yang dimaknai seberapa jauh masyarakat melaksanakan program pembangunan yang dirancang dari atas, dari yang telah ditetapkan oleh
1 Urain lebih lengkap terdapat dalam Poli dan Dahlan Abubakar, 2008, Suara Hati yang Memberdayakan: Gagasan Pemberdayaan Masyarakat di Kabupaten Jayapura, Makasar: Identitas.

12

atau berkembang menjadi birokrasi modern yang mengutamakan profesionalisme dan merit system. agama. Apakah bias primordialisme seperti baik buruknya pelayanan birokrasi disebabkan oleh faktor kesamaan etnis. bukan sebagai faktor yang memecah belah. Melalui PPKD. dan kekerabatan. Di samping itu juga terdapat masyarakat pendatang yang datang dari berbagai daerah dan memiliki latar belakang etnis. dan kultur yang beragam.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik pemerintah. Oleh karena itu multikulturalisme menjadi pilihan utama dalam mengkonstruksi identitas kolektif yang bernama Papua. Dengan kata lain. keberagaman itu justru dijadikan sebagai modal pembangunan dengan mendorong ke arah tujuan bersama yaitu peningkatan kesejahteraan berbasis kemandirian dan keberdayaan. prinsip pembangunan partisipatif tersebut dilaksanakan secara komprehensif dengan sasaran utama adalah menjadikan warga sebagai subyek pembangunan. pertanyaan menarik adalah bagaimana pelayanan birokrasi pemerintah Papua dalam era Otonomi Khusus sekarang ini. politik. Di Papua. Mereka itu saling berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain dengan masing-masing menunjukkan indentitasnya. Dinamika interaksi sosial itu kemudian membawa implikasi pada dua kemungkinan. Secara konkret sasaran PPKD adalah warga masyarakat lokal dan masyarakat pendatang. Dengan PPKD. dan masing-masing memiliki identitasnya sendiri. Berangkat dari realitas masyarakat Papua yang berkembang semakin plural. Persinggungan dengan dunia luar membuat masyarakat Papua berelasi dengan berbagai budaya dan kepentingan lain yang terus melakukan interaksi secara intens. agama. Masyarakat lokal adalah sejumlah warga yang sudah cukup lama berdomisili pada lokasi tertentu yang mengembangkan kultur atau pandangan hidup bersama (common way of living) yang lama-lama menjadi identitas. Bersamaan dengan itu. dan mereka itu juga mempunyai identitas masingmasing. 13 . keberagaman dipandang sebagai potensi integrasi. yaitu menuju proses integrasi atau konflik. serta semuanya membangun identitasnya masingmasing. Papua menjadi wilayah yang terbuka bagi masuknya berbagai aktivitas baik ekonomi. Masyarakat Papu kemudian berkembang menjadi masyarakat yang plural. sehingga mandiri. masyarakat lokal ini mewujud dalam komunitas berbasis etnis yang tersebar di berbagai wilayah baik di pantai dan daratan maupun di pegunungan. maupun sosialbudaya yang dibawa oleh arus modernisasi.

dan setiap suku memiliki kosmologi yang memandang dirinya sebagai pusat dari semesta. tidak tunduk pada yang lain. Konstruksi identitas kepapuan yang selama ini lebih dibentuk oleh narasi-narasi dominan. seperti terlahir kembali. setelah mendapatkan kembali nama Papua yang diakui secara resmi oleh pemerintah pusat. Bagi sebagian besar warga Papua. Kepapuaan cenderung berhenti sebagai identitas yang dihayati secara “etnosentris” dan emosional. Setiap kepala suku atau pemimpin lokal tidak memiliki otoritas yang penuh kecuali sebagai juru bicara masyarakatnya.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi Primordial Pada era reformasi. Pada era reformasi penggunaan nama Papua menjadi penanda bagi aspirasi bersama itu. Perasaan satu identitas ini disatukan oleh memori penderitaan kolektif dan kongruensi aspirasi yang bersumber dari mitologi sebagian besar suku bangsa masing-masing tentang milenium baru dan mesianisme. Sistem Politik Tradisional di Irian Jaya. Interaksi yang terbatas di masa lalu belum memungkinkan tumbuhnya kesadaran budaya yang relativistik dan toleran. (Jakarta-Leiden: LIPI-RUL). Setiap kelompok suku secara kultural mandiri dan unik. maka setelah kembali bernama Papua. Mereka menganggap bahwa orang Papua adalah orang Papua asli. Di dalam kenyataannya budaya semacam ini sulit tumbuh suatu kepemimpinan yang diakui oleh semua kelompok suku bangsa. terbuka ruang bagi warga Papua untuk mengeskspresikan diri identitas kepapuannya. Sejak itu kepapuaan kembali dihidupkan sebagai identitas alternatif dari identitas “Irian Jaya” yang telah identik dengan “Indonesia” beserta penindasan dan praktik kolonialismenya.2 Masyarakat Papua sendiri dalam mengkonstruksi identitas kepapuannya. Oleh karena itu etnosentrisme menjadi persoalan dasar di dalam konsolidasi rakyat Papua. bagi rakyat Papua asli merupakan momen yang luar biasa dan berkaitan dengan usaha mencari identitas. penamaan (naming) memiliki signifikansi tinggi terhadap tumbuhnya kepercayaan diri dan pengakuan eksistensial dari dunia luar tentang Papua. pada kurun 1998-1999. Perubahan nama dari Irian Jaya menjadi Papua. Berkembang perasaan di kalangan warga Papua. 14 . Struktur-struktur masyarakat Papua yang terdiri dari kurang lebih 250 suku bangsa bersifat otonom satu sama lain. Kongruensi aspirasi dan identitas kepapuaan baru pada tahap yang sangat dini. atas inisiatif Presiden Abdurrahman Wahid atau yang akrab disebut Gus Dur Irian Jaya diubah menjadi Papua. sebagian ada yang melihatnya secara konservatif dengan latar belakang etnis sebagai basis konstruksi identitas. sementara 2 Bandingkan dengan studi yang sudah dilakukan oleh Johszua Mansoben.

di jajaran birokrasi akan timbul masalah pertukaran antara loyalitas dan pemberian ganjaran. birokrasi seringkali merupakan bagian dari dominasi politik oleh suatu suku. Birokrasi semacam itu dikenal sebagai birokrasi primordial (Kartodirdjo. Jadi. Mesin politik itu kadang mencerminkan nilai-nilai serta norma-norma yang kurang rasional. namun isinya dan perilakunya secara kental diwarnai oleh kaitan primordialnya (Kuntjoro-Jakti. terdapat harga yang harus dikeluarkan oleh seseorang ketika berurusan dengan birokrasi. dan sebaliknya yang tidak loyal akan dibatasi sumber ekonomi dan karirnya. Perilaku birokrasi seperti itu sangat terlihat pada era Orde Baru. di mana tidak jarang perilaku birokrasi menyerupai interaksi yang bersifat transaksional. Dampak ikutan atas situasi itu merembes ke praktik penyimpangan kekuasaan. senantiasa penuh muatan politik. Fenomena etnosentrisme ini semakin mengental ketika sejumlah elite politik menafsir Otonomi Khusus (Otsus) juga dari perspektif esensialisme yang berakar pada geneologis. 1980). dan 3 Sejak tahun 2009. Ada anggapan bahwa berlainan dengan di negara-negara maju. Oleh karena itu. Artinya. daerah. hubungan-hubungan yang ada secara interen dan eksteren adalh hubungan antara patron dengan klien yang bersifat sangat pribadi dank has. perundang-undangan. Dalam konteks birokrasi di 15 . tidak obyektif.3 Apakah pemahaman yang bias etnosentrisme itu mempunyai implikasi terhadap pelayanan birokrasi? Dalam banyak kasus sedikit-banyak memang memiliki dampak terhadap ketidaknetralan birokrasi dalam memberikan pelayanan terhadap publik. Dalam birokrasi ini. 1988). aparat birokrasi di negaranegara berkembang birokrasi sering menunjukkan diri sebagai mesin politik yang tidak netral. diterbitkan Peraturan Pemerintah Daerah Otonomi Khusus yang merupakan keputusan politik melalui mekanisme pembahasan di DPRD Papua yang menetapkan bahwa Gubernur dan Wakil Gubernur. Dalam hubungan semacam itu. Bupati dan Wakil Bupati. Secara teoretik pemahaman seperti itu sering disebut sebagai birokrasi yang tidak netral. 1989). Walikota dan Wakili Walikota harus orang Papua asli.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik penduduk yang datang dari luar etnis Papua dianggap sebagai nonPapua. yang lepas dari konstitusi. atau pun peraturan-peraturan. Meskipun sebagai birokrasi ia memiliki struktur yang serupa dengan yang ditemui di negaranegara industri maju. atau kelompok-kelompok primordial lainnya. dan tidak mungkin netral (King. atau agama. Yang loyal kepada patron diberi sumber ekonomi dan status sosial. dalam politik lokal sekarang elite politik lokal menghendaki adanya Gubernur dan Wakil Gubernur serta Bupati dan Wakil Bupati harus orang Papua asli.

di Papua sektor perdagangan banyak dikuasai oleh etnis Tionghoa dan Bugis Makasar. yang sekarang sangat populer sebagai identitas warga Jayapura. Eselonisasi dalam jajaran birokrasi sama sekali tidak mempertimbangkan putra daerah. dalam menjalankan pelayanan publik. memang ada juga kecenderungan aparat birokrasi yang dalam memberikan pelayanan masih berkarakter sebagaimana yang ditunjukkan birokrasi primordial. Semuanya dibiarkan tumbuh secara natural. 2009. Sedangkan etnis Jawa banyak bergerak pada sektor informal dan pertanian. ibit. Bugis. karena baik etnis Jawa maupun penduduk asli telah menjadi subyek dalam budidaya tanaman kakao. Pemkab Jayapura. Sebagai ilustrasi. Di sektor pertanian. Kepala Dinas. Merit sistem benar-benar diterapkan. Bukan sebaliknya. maka birokrasi pemerintah Papua terus berusaha menuju ke arah profesionalisme dan merit sistem. sehingga membentuk identitas baru yang mengaburkan stigma sosial. seperti orang Papua tertinggal dan tidak transformatif. bahwa setiap warga masyarakat adalah ibarat raja yang harus dilayani. Batak. karena fakta menunjukkan bahwa Papua berkembang sebagai masyarakat plural. Menado. sama sekali tidak menerapkan kebijakan yang mengarah pada segregasi sosial. birokrasi pemerintah Papua berusaha menerapkan prinsip multikulturalisme. Pemkab Jayapura selama ini juga menghindari prinsip geneologis dan etnosentrisme. ekonomi. 16 . dan bersamaan dengan itu arus demokratisasi juga terus berlangsung. dan bukan atas dasar sentimen etnis. dalam arti penunjukan pejabat eselon berdasarkan profesionalisme. sekarang telah menjadi identitas baru warga Kabupaten Jayapura. Karena itu seperti di daerah lain. Orientasi terhadap pelayanan publik ini juga ditegaskan pada komitmen pemerintah Kabupaten Papua. Di Papua jabatan seperti Sekretaris Daerah. dalam arti mengikuti hukum pasar. Meskipun demikian. 2009.5 Semua itu menunjukan bahwa dalam menjalankan pelayanan publik. Akan tetapi. birokrasi Papua sangat mempertimbangkan kepentingan publik yang semakin plural. Sambutan Bupati Kabupaten Jayapura. dan lain-lain. banyak dijabat oleh pegawai yang berasal dari berbagai daeah seperti Jawa. dan pimpinan proyek strategis. dalam menerapkan kebijakan pada sektor birokrasi pemerintahan. di mana aparat birokrasi yang fungsi utamanya 5 Profil Kabupaten Jayapura.4 Sedangkan dalam bidang sosial4 Dikutip dari Profil Kabupaten Jayapura. Bali.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Papua sekarang. Meskipun demikian warga Papua asli kemudian mulai masuk ke dalam berbagai sektor strategis tersebut. kakao misalnya.

Pendekatan pembangunan yang top-down tidak mampu menggerakkan sikap-sikap aktif pada masyarakat sendiri untuk berkreasi dalam pembangunan. Konsep dan paradigma pembangunan ini diluncurkan sebagai respons atas semakin meningkatnya kecenderungan pola pembangunan sentralistik yang lebih menggunakan pendekatan dari atas-bawah (topdown approach). dan Batak. dan distribusi hasil. masyarakat Papua juga bersifat beragam. upaya memberdayakan masyarakat. dan latar belakang sosial ekonomi. Bugis. Di Kabupaten Jayapura telah meluncurkan program pembangunan yang diberi nama “Program Pemberdayaan Distrik dan Kapung”.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik adalah melayani masyarakat justru minta dilayani. pilihan birokrasi profesional dan berdasarkan merit sistem itu sesuai dengan realitas empirik masyarakat Papua yang cenderung semakin plural. Partisipasi pun kemudian dipahami menurut tafsir tunggal pemerintah. Kabupaten Jayapuran misalnya. dan ada juga Hindu. Khatolik. Minang. Dorong Partisipasi Publik Birokrasi pemerintah Papua juga terus mendorong partisipasi publik. baik dilihat dari latar belakang etnis. atau yang lebih populer dengan singkatan PPDK. seperti Kristen-Protestan. sementara prakarsa dari masyarakat kurang terakomodasi dalam proses perencanaan pembangunan. sehingga masyarakat sendiri yang akahirnya mampu secara mandiri melanjutkan 17 . Dari aspek keagamaan. Islam. 2009. bahwa pembangunan belum dianggap berhasil manakala dalam proses pelaksanaannya belum dapat membangkitkan sikap partisipatif pada masyarakat. Sementaran dalam teori pembangunan menjelaskan. Maluku. Dilihat dari keragaman latar belakang etnis. dari yang telah ditetapkan oleh pemerintah. agar terlibat dalam proses pembangunan mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan. Badan Pusat Statistik Kabupaten Jayapura. masyarakat Papua terdiri atas suku Jawa. Pemkab Papua juga membuka kotak aduan bagi warga masyarakat yang tidak mendapatkan pelayanan baik dari jajaran aparat birokrasi. agama. Masyarakat Papua sekarang telah berkembang menjadi masyarakat yang plural. Berbagai program pembangunan pada saat itu lebih banyak prakarsa datang dari pemerintah.6 Sementara itu dilihat dari latar belakang sosial ekonomi. telah menerapkan model pembangunan partisipatif dalam 6 Dikutip dari Kabupaten Jayapura dalam Angka. masyarakat Papua juga terdiri dari berbagai macam agama. Begitulah. yaitu yang dimaknai seberapa jauh masyarakat melaksanakan program pembangunan yang dirancang dari atas.

Dengan PPKD. Masyarakat Papua kemudian berkembang menjadi masyarakat yang plural. Karakter masyarakat Papua sendiri yang terbuka dan semakin plural. Secara konkret sasaran PPKD adalah warga masyarakat lokal dan masyarakat pendatang. yang lebih mengutamakan efisiensi dan profesionalisme. yaitu menuju proses integrasi atau konflik. pelayanan birokrasi pemerintah Papua dalam era Otonomi Khsusus berkembang secara dinamik. masyarakat lokal ini mewujud dalam komunitas berbasis etnis yang tersebar di berbagai wilayah baik di pantai dan daratan maupun di pegunungan. agama. dan kultur yang beragam. dan pelayanan pun ada kecenderungan bias etnosentrisme. dan mereka itu juga mempunyai identitas masingmasing. Melalui PPKD. serta semuanya membangun identitasnya masingmasing. keberagaman itu justru dijadikan sebagai modal pembangunan dengan mendorong ke arah tujuan bersama yaitu peningkatan kesejahteraan berbasis kemandirian dan keberdayaan. Di samping itu juga terdapat masyarakat pendatang yang datang dari berbagai daerah dan memiliki latar belakang etnis. Bersamaan dengan itu. Akan tetapi dalam perkembangan lebih lanjut. sehingga personil. Pada awalnya memang terdapat kecenderungan bahwa pemberian kewenangan pengelolaan politik oleh pemerintah pusat dalam bentuk Otsus. Penutup Begitulah. Birokrasi pun kemudian menunjukkan karakter birokrasi primordial. dan masing-masing memiliki identitasnya sendiri. Mereka itu saling berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain dengan masing-masing menunjukkan indentitasnya. Dinamika interaksi sosial itu kemudian membawa implikasi pada dua kemungkinan. sehingga mandiri. Masyarakat lokal adalah sejumlah warga yang sudah cukup lama berdomisili pada lokasi tertentu yang mengembangkan kultur atau pandangan hidup bersama (common way of living) yang lama-lama menjadi identitas. birokrasi pemerintah juga terus mendorong partisipasi publik dalam proses pembangunan menuju pemerintahan yang transparan dan akuntabel. Di Papua. prinsip pembangunan partisipatif tersebut dilaksanakan secara komprehensif dengan sasaran utama adalah menjadikan warga sebagai subyek pembangunan. birokrasi pemerintah Papua berkembang ke arah yang lebih menunjukkan karakter birokrasi profesional dengan menerapkan merit sistem.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 usaha pembangunan. disikapi oleh sebagian warga Papua secara primordialistik. menjadi pertimbangan utama mengedepankan birokrasi rasional. sistem rekreuitmen. 18 .

Email: muhadamlabolo@yahoo. Muhadam Labolo * Edisi 3 / September / 2011 * Dosen tetap pada Pasca Sarjana Institut Pemerintahan Dalam Negeri Cilandak dan Unlam Banjarmasin Jurusan Ilmu Pemerintahan. Direktur Eksekutif Pusat Kajian Strategik Pemerintahan.Foto : Antara III Reformasi Birokrasi dan Implementasi Good Governance Oleh : Dr.com 19 .

Struktur berhubungan dengan tatanan yang tersusun secara teratur dan sistematis. dimana 124 pemerintah daerah cenderung memperlihatkan gejala kebangkrutan. Ironisnya. perhelatan tersebut tak jelas melahirkan kepemimpinan pemerintahan yang handal. pertama. lebih kurang 2% pegawai kemungkinan menikmati belanja aparatur. sisanya sebesar 17% diperebutkan oleh 98% masyarakat dalam bentuk alokasi belanja modal/pembangunan. sarana dan prasarana. Kedua. Bertambahnya pegawai hasil rekrutmen tanpa kompetensi yang jelas serta kebiasaan mengembangkan struktur organisasi membuat pemerintah pusat maupun daerah mengalami defisit anggaran layaknya gali-lubang. disamping membesarnya struktur birokrasi pemerintahan. Urgensi reformasi birokrasi di Indonesia setidaknya di dorong oleh sejumlah catatan penting. membengkaknya ongkos demokrasi (pemilukada) mengakibatkan beban kas pemerintah daerah khususnya mengalami peningkatan signifikan. Ini berarti. Kegagalan birokrasi dalam melayani masyarakat selama ini sekaligus menggambarkan buruknya penyelenggaraan pemerintahan baik di level pemerintah pusat maupun daerah. Besarnya anggaran pemilukada. Perubahan tersebut meliputi keseluruhan aspek yang memungkinkan birokrasi memiliki kemampuan yang memadai dalam melaksanakan tugas dan fungsi pokoknya. tutup-lubang. serta dampak yang ditimbulkan terhadap birokrasi mengakibatkan pemerintah kelimpungan dalam menutup defisit 20 . organisasi dan lingkungannya dalam kerangka pencapaian tujuan efisiensi penyelenggaraan birokrasi pemerintahan. Kabupaten Lumajang menjadi contoh nyata dimana belanja aparatur membengkak hingga mencapai 83% dari total APBD. Sistem berkaitan dengan hubungan antar unsur atau elemen yang saling mempengaruhi dan berkaitan membentuk suatu totalitas. Perubahan pada satu elemen kiranya dapat mempengaruhi unsur lain dalam sistem itu sendiri. meningkatnya belanja aparatur disebabkan oleh bertambahnya rekrutmen pegawai tanpa pengendalian yang jelas.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Pendahuluan R eformasi birokrasi merupakan upaya penataan mendasar yang diharapkan dapat berdampak pada perubahan sistem dan struktur. Peningkatan belanja aparatur dapat dilihat dari hasil evaluasi FITRA (2011). Sedangkan perubahan struktur mencakup mekanisme dan prosedur. sumber daya manusia.

tingginya gairah penggemukan organisasi birokrasi pemerintahan tanpa perencanaan dan analisis yang jelas memicu pembiayaan dan rekrutmen pegawai dalam jumlah tak sedikit. apakah tantangan yang dihadapi. Tentu saja birokrasi pemerintahan sebagai instrument pelaksana menjadi fokus utama yang mesti diperbaiki melalui kebijakan reformasi birokrasi. kita semua paham bahwa reformasi birokrasi di level pemerintah daerah merupakan bagian dari kebijakan reformasi birokrasi secara nasional. Disisi lain rendahnya pendapatan asli daerah menciptakan ketergantungan pada pemerintah pusat. masalah dan tantangan yang dihadapi dalam upaya reformasi birokrasi. Konsep ini diharapkan mampu menjembatani suatu kondisi pemerintahan yang buruk (bad government) kearah terbentuknya pemerintah yang baik (good government). sewenang-wenang dan tak transparan. meluasnya perilaku koruptif mendorong birokrasi kehilangan kepercayaan sebagai pelayan masyarakat. Keseluruhan catatan negatif tersebut di dukung pula oleh perilaku buruk birokrasi dalam pelayanan masyarakat seperti sikap yang lamban dan reaktif. arogan.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik anggaran. Masalahnya. Akibatnya. berbelit-belit. enggan berubah. sementara belanja pemerintah daerah jauh dari efisiensi. Bagaimanapun juga. nepotisme. namun fundamental. Keempat. serta upaya strategis reformasi birokrasi dan implementasi tata kelola pemerintahan yang baik. bahkan tak terkontrol akibat tingginya beban organisasi. serta bagaimanakah desain reformasi birokrasi yang mesti dilakukan dalam meminimalisasi meluasnya masalah yang dihadapi? Tulisan singkat ini akan mendeskripsikan tentang makna birokrasi dan good governance. boros. lemahnya pengawasan mengakibatkan pemerintah cenderung bertindak konsumtif. Perubahan tersebut diharapkan tidak saja bersifat incremental semata. Kelima. Cakupan tulisan ini juga akan menyentuh reformasi birokrasi pemerintahan baik pusat maupun daerah. Hal itu disadari bahwa upaya reformasi birokrasi merupakan bagian dari grand desain penciptaan tata pemerintahan yang baik (good governance). karakteristik pemerintahan yang baik. sekalipun pada akhirnya lebih menampilkan potret masalah birokrasi di level pemerintah daerah. bagaimanakah sebaiknya reformasi birokrasi dilakukan. Ketiga. boros. birokrasi di daerah mengalami overload. Lebih dari itu birokrasi mengalami dilemma loyalitas akibat terpecahnya konsentrasi pada setiap pesta pemilukada. serta kurang berorientasi pada kepentingan masyarakat. bekerja secara naluriah (insting). 21 . khususnya daerah di luar pulau Jawa. atau bahkan kekurangan.

Demikian pula apabila sumber kekuasaan tersebut dikendalikan oleh sekelompok rakyat pintar (profesional) dikenal dengan istilah oligarkhi. 22 . Pada tingkat pragmatis. Dalam padanan lain seringkali dihubungkan dengan istilah pemerintahan (proses). Raja Grafindo. Ini bisa dimaklumi. Jakarta. birokrasi berasal dari kata bureaucracy (Inggris). sebab secara historis. Semua masalah relatif diselesaikan di atas meja. dalam Encyclopaedia of the Social Sciences. eksploitatif. Statement ini setidaknya sejalan dengan pikiran Gornay dan Laski (1930). pelayanan urusan yang lebih rinci pastilah berhubungan dengan apa yang lazim kita sebut dengan birokrasi. pastilah bicara tentang oligarkhi. atau bahkan proses dan sumber dari semua aturan dalam hubungan antara yang memerintah dan yang diperintah. 1 Martin Albrow dalam Donald P. R. New York dan London. Istilah ini dimunculkan kembali oleh filosof Perancis. burocrazia (Italia) dan bureaucatie (Perancis). Secara etimologis. 2 Adam Kuper dan Jessica Kuper. Cracy (kratos) sendiri menunjukkan arti kekuasaan atau aturan. Apabila sumber kekuasaan berasal dari rakyat banyak lazim disebut demokrasi. Cambridge Massachussets.74-75. Bahkan. kolutif. H. Bureaucracy. yang kemudian mendefenisikan birokrasi sebagai suatu sistem pemerintahan dimana kontrol sepenuhnya berada di tangan para pejabat yang sampai pada batas tertentu dapat menunda atau mengurangi kemerdekaan warga negara biasa3. Sinisme atas gejala tersebut melahirkan istilah bureaumania.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dan Good Governance Konsep birokrasi sendiri lazim merujuk pada gagasan Maximilliam Weber (1864-1920). boros. lewat kalimat provokatif Michel (1962)4 menyatakan bahwa siapa yang bicara tentang organisasi. volume 3. Theory of Public Bureucracy. dimana struktur di bentuk lebih banyak menyelesaikan pekerjaan di atas meja. Logikanya. Albrow1 mengembangkan konsep birokrasi dari berbagai sudut pandang. yang berarti meja atau kantor. Pejabatnya biasa duduk di belakang meja. jika urusan diselesaikan di bawah meja mungkin saja bertentangan dengan makna etimologisnya. koruptif dan nepotism. Harvard Universty Press. Baron de Grimm atas catatan Vincent de Gournay2. oportunis. 1962. Sekalipun banyak demikian. sebab pemerintahlah yang paling mungkin memiliki kekuasaan membuat aturan.Warwick. New York. birokrasi traditional di Perancis (abad 18) menampilkan wajah demikian. 4 Michaels. 3 Laski. Dua contoh lain hasil asimilasi yang sebangun dengan kata itu misalnya konsep demokrasi dan oligarkhi. Ensiklopedi Ilmu-Ilmu Sosial. hal. Makna bureau (baca:biro) identik dengan kenyataan dalam birokrasi. atau burocratie (Jerman). represif. 2000. Political Parties.

2010. Dalam perspektif Weber. misalnya meja ukuran bagian atau setengah bagian. biro hukum. Jakarta. merujuk pada hampir semua bentuk organisasi baik sipil maupun militer. baik pada instansi militer maupun sipil. Di Indonesia. Dalam konteks Indonesia. di level organisasi provinsi dan pusat misalnya. Secara faktual. biro pemerintahan. Karakteristik tersebut membentuk birokrasi sebagai alat untuk mencapai tujuan kolektif. hierarkhi. Kita sering menyebut kantor pada hampir semua organisasi yang secara fisual terlihat melalui bangunan megah. 5 Satjipto Rahardjo. struktur organisasi pemerintah daerah misalnya menggunakan istilah kantor untuk membedakan unit tersebut dengan dinas dan badan. Ia membawahi sejumlah bagian dan subbagian pada level paling rendah. Karakteristik dimaksud antara lain adanya suatu jabatan. profesional. biro organisasi. Di level provinsi. Sebagai contoh. seorang pejabat memiliki meja dengan ukuran biro atau setengah biro. tugas. birokrasi adalah organisasi rasional dengan segenap karakteristik yang melekat didalamnya. pemerintahan yang bernuansa demokratik biasanya meletakkan kontrol pada level pemerintahan tertentu yang untuk selanjutnya melakukan pengawasan secara berjenjang (desentralistik). Membedah Hukum Progresif. Birokrasi. realitas pelayanan justru menjadi lebih efisien dan efektif jika tanpa melalui meja birokrasi yang terkadang berbelitbelit dan menguras energi. Kompas. disiplin. Semakin ke puncak semakin langka pemegang kekuasaan.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Secara fungsional. Pengertian kedua (kantor). untuk membedakan secara teknis. sebab ia mengokohkan kepemimpinan dengan wewenang yang lebih luas. instrument pemerintah pusat dapat menjangkau hingga ke level pemerintahan paling rendah (dekonsentratif). formalitas. Sebaliknya. kita banyak menemukan istilah biro pada struktur organisasi. Demikian pula kantor pada organisasi swasta. seperti kantor wilayah (kanwil) dan kantor departemen (kandep). dalam makna konkrit adalah organisasi yang memiliki rantai komando berbentuk piramidal. Sejauh ini. sistem. kantor menjadi instrument pemerintah pusat di daerah. Mungkin inilah yang di sebut Rahardjo (2010)5 sebagai pendekatan hukum progresif dalam pelayanan birokrasi menurut perspektif hukum. dimana lebih banyak orang berada di tingkat bawah daripada tingkat atas. Bahkan. wewenang. 23 . Pada pemerintahan yang bersifat sentralistik. Kantor menjadi unit paling kecil ukurannya sebelum menanjak menjadi Badan atau Dinas. lengkap dengan sistem dan peralatannya. tak ada istilah lain untuk ukuran meja selain biro. biro umum dan sebagainya. kecakapan dan senioritas. terdapat jabatan biro yang dipimpin oleh seorang kepala biro setingkat eselon dua.

Kekuasaan tersebut dialirkan secara hirarkhis melalui Menteri. gumpalan awan hitam tersebut pecah menjadi butiran hujan yang jatuh dan mengumpul di suatu tempat. Camat. Demikian pula aliran kekuasaan pada level kabupaten/ walikota hingga pemerintah desa. tetapi ia semakin menunjukkan wewenang yang lebih terbatas. Pada suatu ketika. sekalipun dalam teori kedaulatan dapat bersumber dari Tuhan (teokrasi) dan atau sedikit orang (aristokrasi).Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Sebaliknya. Demikianlah kekuasaan mengalir menurut hukum alam (natural of law). Kekuasaan tersebut pada akhirnya habis terbagi dalam bentuk spesialisasi dan struktur yang lebih kecil. Para pemegang kekuasaan (pemerintah) baik diyakini merupakan representasi dari kedaulatan Tuhan (teokrasi) atau hasil pilihan masyarakat (demokrasi) secara konkrit membentuk organisasi pemerintahan yang untuk selanjutnya mengalirkannya dalam bentuk struktur-struktur formal birokrasi dari tingkat pusat hingga level pemerintahan paling rendah. Dari aspek ilmu pengetahuan (antroposentris). Bupati/Walikota. sebagian besar tersisa menjadi lautan luas. Pada contoh yang lebih nyata. kekuasaan tersebut mengalir sebagaimana siklus air hujan. seorang presiden hasil pilihan rakyat memiliki kekuasaan luas. lalu mengalir kedalam struktur yang dibagi secara khusus. semakin ke bawah semakin banyak pegawai. Kekuasaan dalam konteks ini mengalami formalisasi yang dirinci dan dipertanggungjawabkan secara 24 . Pada level gubernur. Kekuasaan lahir dari rakyat kebanyakan (demokrasi). Lurah hingga Kepala Desa. Dimulai dari gumpalan awan yang di pandang sebagai pemberian Tuhan (teosentris). Tekanan konflik dan sejumlah motivasi tertentu mendorong terbentuknya representasi pemegang kekuasaan. apakah terserap oleh akar pohon atau terkumpul pada wadah perbukitan yang mengalir melalui sungaisungai besar dan kecil menuju laut. Dalam pendekatan ilmu alam. air hujan merupakan hasil serapan dari laut berupa uap akibat tekanan panas matahari yang dibawa angin membentuk gumpalan awan hitam. Dari aspek ini birokrasi secara praktis merupakan instrument/alat dari kekuasaan untuk mencapai tujuan pemimpin maupun tujuan bersama yang diemban oleh pemimpin dimaksud. Tidak semua menguap. lalu dilembagakan dalam struktur formal seperti biro pemerintahan. Siklus air hujan secara sederhana dapat kita persamakan dengan siklus kekuasaan. kekuasaan dibagi berdasarkan jumlah wewenang yang diterima. bagian pemerintahan dan seterusnya. Birokrasi pada akhirnya dapat dipandang sebagai cerminan dari pelembagaan kekuasaan yang mengalir deras dari tingkat atas hingga bawah. Ia dimulai dari suatu kekuasaan yang maha besar. Gubernur.

Dalam perspektif negaranegara maju. Upaya-upaya dalam rangka penerapan kekuasaan melalui serangkaian mekanisme untuk menjamin akuntabilitas. Dalam kaitan itu. individualisme serta hilangnya legitimasi politik khususnya pada negara-negara yang kurang mampu dan tanpa sistem demokrasi yang memadai. tekanan dari kelompok neo-liberal yang mendukung dikuranginya peran negara dan pengimbangan kekuasaan kepada penyediaan layanan oleh pembeli dan pengatur. dua alasan utama yang mendorong lahirnya gagasan penciptaan pemerintahan yang baik adalah pertama. Berlawanan dari konsep ideal yang ingin dikembangkan. Kedua. pemangkasan peran pemerintah sejauh mungkin dengan 25 . Ini tentu saja berkaitan dengan tanggungjawab pemerintah pada masyarakatnya. tetapi juga pada ruang non pemerintah seperti perusahaan. Gejala tersebut antara lain meningkatnya korupsi. gagalnya pemerintah menjalankan fungsinya yang ditandai oleh tidak bekerjanya hukum dan tata aturan sehingga menimbulkan ketidakpercayaan pada pemerintah tentang bagaimana seharusnya pemerintah berinteraksi dengan masyarakatnya.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik jelas. bad government (pemerintah yang buruk) menjadi alasan bagi lembaga international untuk mengembangkan pola yang lebih mungkin dalam kaitan dengan manajemen ekonomi dan politik global. birokrasi hadir dan merujuk pada bagaimana cara pemerintah melaksanakan dan membuat peraturan-peraturan yang sah secara sosial. demikian pula kewajiban dan hak yang saling mengikat antara mereka yang memerintah dan mereka yang diperintah. kolusi. Seperti digambarkan oleh Mark Robinson (2000:417). Keabsahan tersebut diharapkan mampu merefleksikan suatu pemerintahan yang baik dengan berbagai ciri yang terkandung didalamnya. Inilah yang disebut dengan wewenang (authority). fenomena pemerintahan dewasa ini telah meluas tidak saja pada dunia pemerintah semata. nepotisme. Setidaknya hal ini terlihat dalam pembentukan serangkaian aturan atau struktur otoritas dalam komunitas tertentu yang memainkan peran atau fungsi pengelolaan sumber daya termasuk dalam menjaga tatanan sosial. Meluasnya upaya untuk menata pemerintahan kearah yang lebih baik mendorong donor international untuk mengembangkan konsep good governance (pemerintahan yang baik). Atau dengan kata lain. legitimasi dan tranparansi pada berbagai sektor diluar pemerintah menunjukkan gejala pemerintahan yang semakin menguat. Pengembangan konsep ini didorong oleh gejala meningkatnya hambatan-hambatan administrasi dan politik dalam pembangunan dunia ketiga.

Meletakkan tanggungjawab satusatunya pada sektor pemerintah bukanlah gagasan terbaik untuk menciptakan pemerintahan yang baik. Ketiga komponen tersebut sepatutnya berjalan secara paralel. Tanggungjawab pada elemen masyarakat dibutuhkan agar masyarakat sadar akan apapun output 26 . Dalam konteks ini.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 cara penyerahan kepentingan antara penjual dan pembeli pada mekanisme pasar. partisipasi. Tanggungjawab merupakan nilai yang mampu menjembatani relasi antara pemerintah dan masyarakat untuk menjamin keberlangsungan pemerintahan. tetapi juga meliputi kelompok swasta sebagai pemegang modal dan masyarakat selaku civil society. Interaksi tersebut hendaknya dilandasi oleh sejumlah karakteristik yang memungkinkan tata kelola pemerintahan berjalan baik. tertib hukum. kebijakan demikian semakin memperkokoh tumbuhnya demokrasi liberal yang pada akhirnya mendorong kembalinya pemerintah (eksekutif) meningkatkan kontrol yang lebih represif. Di negara-negara berkembang. efisiensi dan efektivitas. saling mendukung dan saling berinteraksi. Akuntabilitas. Bagaimanapun kita masih percaya bahwa menciptakan pemerintahan yang kuat mutlak dibutuhkan bagi stabilitas politik yang dapat menjamin keberhasilan pembangunan. pemerintahan yang baik setidaknya memiliki karakteristik akuntabilitas. Sekalipun upaya-upaya untuk menciptakan pemerintahan yang lebih baik dilakukan misalnya melalui desentralisasi kekuasaan. namun tidak berarti sepi dari dampak pengelolaan pemerintahan. merujuk pada tanggungjawab setiap aktor dalam interaksi berpemerintahan. tanggungjawab diperlukan sebagai konsekuensi terhadap semua jenis kontrak dari level paling bawah hingga pusat pemerintahan. konsensus. Komponen yang terlibat tidak saja domain pemerintah sebagai pelaksana. reformasi pemerintahan. good governance lebih menitikberatkan pada aspek proses melalui pendekatan fungsional guna mencapai tujuan yang diinginkan. legitimasi dan transparansi. responsif. Sebagai pemerintah. adil. Uraian selanjutnya akan mengembangkan makna dari sejumlah karakteristik yang melekat dalam konsep good governance. Tanggungjawab merupakan nilai penting yang semestinya berlaku pada semua elemen dalam proses pemerintahan. Karakteristik Good Governance Menurut UNDP (1997). serta memiliki visi strategis. transparansi. Tanggungjawab pemerintah pada segenap stakeholders selaku pemetik manfaat setidaknya memicu tumbuhnya trust sebagai modal bagi kontinuitas pemerintahan. reorientasi birokrasi serta perluasan partisipasi publik untuk mengembalikan akuntabilitas.

Rendahnya transparansi pemerintah berkenaan dengan perencanaan dan implementasi kebijakan menunjukkan lemahnya itikad baik dalam mewujudkan tujuan dan harapan masyarakat. Pada tingkat yang lebih jauh. seberapa kuat komitmen pemerintah dalam merealisasikan semua perencanaan yang telah disepakati. atau mengalami perubahan dipersimpangan jalan sesuai kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu. merupakan karakteristik yang memungkinkannya terbangunnya kepercayaan masyarakat terhadap apa yang diartikulasikan pemerintah dalam hal kepentingan dan kebutuhan masyarakat. indikasi meluasnya perilaku koruptif dalam pemerintahan semakin meyakinkan masyarakat bahwa pemerintah kehilangan karakteristik transparansi dalam menjalankan fungsi pelayanan. juga memelihara semua produk pelayanan yang diberikan. Sulit membayangkan jika pihak swasta lari dari tanggungjawab tersebut. bukan saja pemerintah. Selain itu. sebab ketiga elemen tadi memiliki batasan terhadap tanggungjawab masing-masing. Transparansi. menunjukkan keterlibatan masyarakat dalam penyusunan dokumen perencanaan pembangunan. swasta dan masyarakat. Penyakit demikian bukan saja melanda pemerintah. termasuk bertanggungjawab terhadap kegagalan pemerintah yang dipilih oleh mereka sendiri. Partisipasi aktif masyarakat lebih jauh 27 . para pemegang modal (swasta) seyogyanya memegang prinsip tanggungjawab dalam interaksi dengan masyarakat dan pemerintah. Partisipasi. Kasus Lumpur Lapindo di Indonesia (2005) mereflesikan tanggungjawab keseluruhan elemen. Perencanaan yang transparan meyakinkan masyarakat tentang sejauhmana kepentingan mereka mampu didokumentasikan secara jujur oleh pemerintah. Pada akhirnya. seharusnya dapat dipertanggungjawabkan secara murni dan konsekuen. Demikian pula pada elemen lain. Setiap tindakan yang secara praktis berkaitan serta membebani masyarakat dan pemerintah. Salah satu sorotan utama dewasa ini adalah seberapa efektif pemerintah mampu memperjuangkan kepentingan masyarakat melalui anggaran yang tersedia. demikian pula sektor swasta dan masyarakat pada tingkat tertentu. Akibatnya. Hal ini dapat dilihat dalam kasus projek Pembangunan Wisma Atlit di Kemenpora. Ketiadaan nilai transparansi seringkali ditunjukkan oleh mandeknya semua dokumen perencanaan tanpa realisasi. tanggungjawab masyarakat tidak saja memanfaatkan seefektif mungkin apa yang diberikan oleh pemerintah.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik pelayanan yang diberikan merupakan upaya paling maksimal yang dapat di produk pemerintah. semua perencanaan pemerintah kehilangan koneksitas dengan kepentingan masyarakat.

terhadap setiap masalah yang dihadapi masyarakat. sekaligus menunjukkan adanya hukum itu sendiri. selain melibatkan mereka dalam hal tanggungjawab yang lebih luas. Kehadiran pemerintah dalam setiap pelayanan masyarakat mengindikasikan hadirnya perlindungan bagi masyarakat. Masalah berikut justru terletak pada rendahnya keterbukaan pemerintah dalam melibatkan partisipasi masyarakat. kemungkinan kesadaran mereka rendah pula disebabkan rendahnya tingkat pendidikan yang diperoleh sehingga bersikap apatis. Tertib hukum merupakan karakteristik yang memungkinkan terciptanya masyarakat taat hukum. Kondisi ini tentu saja berhubungan dengan nilai transparansi. kemungkinan kesadaran pemerintah juga rendah sehingga mendorong kecurigaan terhadap setiap keterlibatan masyarakat. Kegagalan merespon setiap masalah yang dihadapi masyarakat menunjukkan ketidakpedualian 28 . Itulah mengapa seringkali gejala pemerintahan dipandang sebagai gejala hukum. Tertib hukum dimaksudkan untuk menciptakan social order. dibutuhkan kesadaran pemimpin untuk memberikan contoh sehingga mampu mendorong terwujudnya tertib hukum. jika pemerintah enggan melibatkan partisipasi masyarakat. Kemampuan memberikan jawaban atas setiap masalah yang dihadapi masyarakat menunjukkan kemampuan pemerintah dalam memahami apa yang menjadi kebutuhan utama masyarakat.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 menggambarkan sejauhmana kepentingan mereka telah terakomodir dengan baik. Responsif. Sebaliknya. Rendahnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan pemerintahan disebabkan oleh rendahnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya partisipasi dalam pembangunan. adalah karakteristik pemerintah yang mampu memberikan tanggapan sedini mungkin. Dalam hubungan itu. Pemerintah yang buruk seringkali mengidap perasaan curiga yang berlebihan ketika masyarakat terlibat dalam setiap proses perencanaan pembangunan. Disini terlihat jelas bahwa jika partisipasi masyarakat rendah. sehingga pemerintah terkesan sulit melibatkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan. Faktor pendidikan menjadi kunci penting dalam mendorong kesadaran masyarakat. yaitu suatu kondisi tertib bermasyarakat. sekaligus memperlihatkan tingkat aksebilitas masyarakat terhadap pemerintah. Semakin rendahnya kepatuhan hukum masyarakat menunjukkan semakin rendah pula tingkat penerimaan masyarakat terhadap pemerintahnya. sadar akan aturan yang diperuntukkan bagi kepentingan masyarakat itu sendiri. Ketaatan hukum memberikan landasan bagi pemerintah dalam menjalankan visi dan misi yang diemban.

Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik pemerintah serta hilangnya sense of belonging atas problem yang dialami oleh masyarakat. Konsensus. Karakteristik visi strategis berkaitan dengan kemampuan pemerintah dalam mewujudkan citacita ideal namun realistis berdasarkan kebutuhan masyarakat. Efisiensi dan efektivitas merupakan karakteristik good governance yang merefleksikan kemampuan pemerintah dalam pencapaian tujuan secara tepat guna dan hasil guna. statement pemerintah sekalipun dapat dinilai sebagai respon positif terhadap masalah yang sedang mereka hadapi. adalah karakteristik yang menggambarkan kemampuan pemerintah dalam membangun kesepakatan antara tuntutan secara bottom-up dan topdown. khususnya pemimpin. Keadilan merupakan salah satu tujuan ingin dicapai oleh setiap pemerintah. Visi menggambarkan masa depan pemerintahan dan memuat cita-cita ideal masyarakat yang dapat diwujudkan oleh 29 . Konsensus merupakan landasan bagi pencapaian komitmen bersama. Adil merupakan karakteristik yang dapat mendorong akseptabilitas masyarakat pada pemerintahnya. kecuali membiayai pegawai dilingkungannya masingmasing. Pencapaian tujuan dengan mempertimbangkan aspek efisiensi dan efektivitas dapat mendorong produktivitas pemerintahan menjadi lebih berkualitas tanpa membuang modal yang besar. sekaligus memberikan hak dan kewajiban secara proporsional. Kegagalan pemerintah dalam mempertimbangkan efisiensi dan efektivitas membuat pemerintah kehilangan modal serta tak mampu berbuat banyak. Kondisi tersebut membuat pemerintah mengalami beban anggaran yang cukup besar selain tak mampu membuat kebijakan strategis. Kegagalan membangun konsensus dapat meruntuhkan kepercayaan masyarakat dimana pemerintah dapat dinilai mengkhianati amanah yang diberikan. program hingga kegiatan teknis. Keadilan lazimnya melekat pada para pelaku pemerintahnya. Dalam perspektif masyarakat. Kemampuan pemerintah memelihara konsensus yang telah dibangun dapat diartikan sebagai kemampuan pemerintah dalam memelihara amanah. Tanpa visi yang jelas pemerintah sebenarnya hanya menjalankan fungsi secara instingtif. Keadilan bertujuan untuk menciptakan pemerataan. tanpa penalaran jauh kedepan. jangankan kehadiran. Komitmen bersama berkaitan dengan kepentingan stakeholder dalam mewujudkan tujuan yang diamanahkan pada pemerintah. Konsensus juga merujuk pada bagaimana pemerintah membangun kesepahaman yang memungkinkan semua kepentingan dapat diakomodir pada saluran yang tersedia. Visi diharapkan menjadi petunjuk yang dapat dikonkritkan dalam bentuk misi.

adalah tentang jaringan aktor yang bersifat mandiri dan mengatur sendiri. yaitu pertama. secara kompetitif atau koperatif dalam mengejar tujuan bersama. Penciptaan tata kelola pemerintahan yang baik bukanlah semata-mata menjadi bagian dari kebijakan pemerintah. Inilah sejumlah karakteristik pemerintahan yang baik (good governance) menurut UNDP. 2002:14). faktor internal yang meliputi ketidakmampuan birokrasi mengubah dirinya menjadi lebih baik. tetapi juga dapat menjadi positive sum game. merujuk pada seperangkat institusi dan aktor yang terdapat pada dan di luar pemerintah. Pemerintahan yang bertolak dari visi adalah pemerintahan yang memiliki pandangan jauh kedepan. proposisi governance meliputi lima hal yaitu.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 pemimpinnya sejauh ia mampu dan konsisten. authority yang berarti eksistensi kekuasaan yang legitimate. mengakui kapasitas guna menyelesaikan sesuatu yang tidak bersandar pada kekuasaan pemerintah untuk memberikan komando atau menggunakan otoritasnya. Disamping itu. yaitu. Hayden (dalam Hamdi. Ketiga. faktor keraguan publik terhadap efektivitas kebijakan yang direncanakan dan diimplementasikan oleh birokrasi. mengidentifikasi ketergantungan kekuasaan yang terdapat dalam hubungan antara institusi yang melakukan tindakan kolektif. serta memiliki cita-cita yang bersifat jangka panjang serta berkelanjutan. Visi strategis membutuhkan kesinambungan dalam mengawal agenda-agenda yang telah ditetapkan. Menurut Gerry Stoker (1998). Kelima. faktor eksternal berkenaan dengan tingginya intervensi politik yang membuat birokrasi kehilangan konsentrasi dalam menjalankan fungsi pelayanan. Governance memandang pemerintah mempunyai kemampuan untuk menggunakan alat dan teknik baru dalam mengarahkan dan menuntun. Trust. yang diartikan hidup bersama dan terikat. mengidentifikasi kekaburan batas dan tanggungjawab untuk menangani isu-isu sosial ekonomi. Ketiga. Tantangan Reformasi Birokrasi dan Good Governance Menurut Muhammad (2007). Secara umum. demikian pula pihak swasta dan masyarakat luas. karakteristik tersebut menjadi variabel penting tidak saja bagi pemerintah. Kedua. tantangan reformasi birokrasi meliputi tiga masalah pokok. Faktor pertama disebabkan oleh kelemahan birokrasi dalam 30 . Kedua. Accountabilitypada dasarnya memperkuat kepercayaan masyarakat dan sebaliknya. menyebutkan empat variabel dalam konsep governance. Keempat. reciprocity. yaitu pengembangan pandangan penggunaan kekuasaan tidak selalu merupakan zero-sum game. pertama. namun bersentuhan pula dengan nilai dan sikap yang dianut oleh pihak swasta dan masyarakat.

jauh dari karakter ideal birokrasi. seperti masalah finansial. Polapola pendekatan dan pelayanan kepada masyarakat secara nyata menunjukkan indikasi perilaku traditional. Menyandarkan pelayanan dengan meletakkan prinsip impersonalitas secara kaku sebagaimana dimaksud Weber tidaklah menciptakan rasa keadilan yang memadai. Harus diakui bahwa perbedaan kultur di dunia barat dan timur merupakan kenyataan yang harus diakui dalam pemberian pelayanan pada masyarakat. Masyarakat seringkali merasa frustasi karena pelayanan mereka mengalami kebuntuan hanya karena ketidakmampuan birokrasi saat menerjemahkan aturan yang berlaku. Setiap masyarakat yang dilayani terdiri dari masyarakat yang mampu dan tak mampu secara fisik dan non fisik. serta mampu menjawab setiap persoalan tidak saja secara struktural. Sebaliknya. tentu saja membutuhkan pendekatan untuk dilayani secara jemput-bola. kelompok birokrat terkesan seperti robot yang kehilangan rasa kemanusiaan ketika semua perkara diselesaikan berdasarkan aturan yang berlaku. Pola penyelesaian masalah dengan menyandarkan semua pada aspek regulasi tak selalu membawa hasil maksimal. Pendekatan struktural dalam pelayanan seringkali berhadapan dengan aturan dan norma yang berlaku. sebab hanya mereka yang dikenal secara personal saja yang akan dilayani. Apakah dengan alasan yang sama pemerintah mesti menolak pelayanan kepada 31 . Sebaliknya. kecakapan dan keterampilan dalam pengelolaan pemerintahan. harus diberikan insentif yang seimbang agar pelayanan tetap diberikan secara merata. namun fungsional. Ketidakmampuan birokrasi memahami pluralitas dalam masyarakat seringkali menimbulkan ketidakadilan dalam pelayanan. Persoalaannya. Sedangkan mereka yang tak mampu secara non fisik. Mereka yang secara fisik tak mampu. bagaimana jika tuntutan masyarakat melampaui aturan itu sendiri yang kadangkala datang terlambat. Dalam konteks ini diperlukan birokrasi yang mampu beradaptasi dengan perkembangan masyarakat. Pelayanan birokrasi disandarkan pada hubungan kekeluargaan yang bersifat emosional.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik memperbaharui kinerjanya sesuai perkembangan lingkungan. Tingginya dinamika masyarakat dalam menuntut pelayanan yang lebih baik tak serta merta diimbangi oleh kemampuan birokrasi dalam mengembangkan kecerdasan. sehingga sulit menyelesaikan masalah secara tuntas. menyandarkan pelayanan dengan meletakkan hubungan personalitas secara keseluruhan sama halnya dengan menciptakan diskriminasi bagi kelompok masyarakat yang tak memiliki akses secara langsung pada pemerintah. yaitu suatu hubungan yang bersifat impersonal. atau bahkan terjadi kekosongan regulasi.

Mereka yang dominan bersandar pada calon incumbent seringkali mengalami disorientasi saat kalah dalam kompetisi pemilukada. khususnya di level pemerintah pusat. seperti yang dikatakan oleh Dwiyanto (2011). berbelitbelit. Indikasi tersebut bisa diketahui lewat ramainya kebocoran anggaran APBN oleh Badan Anggaran. birokrasi yang mengambil jalan kompromi pada akhirnya turut mempersubur tingkat kebocoran anggaran baik di pusat maupun daerah. Sisanya kelompok birokrat yang mengambil sikap apatis terhadap dinamika yang terjadi 32 . Akibatnya. namun menimbulkan overlap serta kurang produktif. sebab semua pelayanan pada dasarnya membutuhkan pelembagaan formal sehingga dapat diawasi dan dikendalikan. Lahirnya badan. Pecahnya konsentrasi birokrasi disebabkan sirkulasi kepala daerah setiap lima tahun sekali. Politisasi birokrasi mendapatkan ruang ketika kelompok elit partai politik memanfaatkan momentum pemilukada untuk menggerakkan birokrasi sebagai mesin politik sekaligus aktivis politik. karena melakukan persengkokolan kolektif. membutuhkan waktu lama serta mengeluarkan biaya yang tak sedikit. Akibatnya. birokrasi mengalami pemecahan konsentrasi.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 masyarakat? Oleh sebab itu. lembaga-lembaga tersebut tidak saja membebani anggaran birokrasi pemerintah secara umum. Dewasa ini. serta bobolnya APBD pada saat perencanaan dan penetapannya. sekaligus pada saat yang sama gagal melayani masyarakat sesuai misi yang dipikulnya. Politisasi birokrasi menciptakan hubungan antara eksekutif dan legislatif mengalami dinamisasi serius kalau tidak ketegangan yang berkesinambungan. tidak berupaya menyelesaikan masalah secara tuntas. Dalam konteks ini birokrasi seringkali menyimpan dan merawat masalah untuk kepentingan tertentu. lembaga dan komisi yang bersifat mezzo-struktur disamping lembaga formal yang telah ada. Birokrasi yang mengambil jarak secara tegas dengan kelompok politisi justru mengalami ketegangan karena rentan kehilangan jabatan. Pendekatan fungsional dalam pelayanan merupakan pola pendekatan untuk mengimbangi pendekatan struktural yang terkadang menghambat. Perlu diingat bahwa melandaskan semua pelayanan secara fungsional juga tidak tepat. pola pendekatan fungsional mengalami banyak kemajuan. merupakan cerminan dari pola penyelesaian masalah dengan menggabungkan pendekatan struktural dan fungsional. Faktor kedua yang menjadi tantangan reformasi birokrasi adalah tingginya intervensi politik dalam birokrasi. diperlukan pendekatan fungsional yang dapat menyelesaikan hingga ke akar masalah. Sekalipun demikian bukan berarti tanpa catatan.

birokrasi terkesan bukan milik masyarakat namun elit berkuasa. Tingginya resistensi yang ditandai oleh meningkatnya demonstrasi masyarakat dan pihak swasta yang merasa dirugikan oleh setiap kebijakan yang ditetapkan menunjukkan dua alasan diatas. Keseluruhan indikasi tersebut bermuara pada rendahnya kualitas rancangan kebijakan sehingga menimbulkan resistensi dari para pemangku kepentingan (stakeholders). Keraguan masyarakat dan pihak swasta terhadap efektivitas kebijakan birokrasi disebabkan selain oleh dua faktor diatas. Rendahnya pendidikan serta kurangnya analisis terhadap setiap kebijakan yang diproduk. serta rendahnya konsultasi publik terhadap rancangan peraturan yang dibuat. juga masalah kredibilitas birokrasi. Keadaan ini jelas mengembangkan perilaku koruptif dalam birokrasi sebagai konsekuensi dari hubungan yang bersifat transaksional. Kelemahan rancangan kebijakan pada tahap perencanaan hingga tahap implementasi tak serta merta membuat birokrasi melakukan evaluasi yang berkelanjutan. Kekuasaan yang besar membuat birokrasi terombang-ambing serta sulit menentukan netralitasnya sebagai pelayan masyarakat. Dalam konteks ini terbangun koalisi efektif antara eksekutif dan legislatif dalam pembobolan anggaran. Akibatnya.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik dalam setiap rotasi pemerintahan. Faktor ketiga tantangan reformasi birokrasi adalah keraguan masyarakat terhadap setiap kebijakan yang dilaksanakan oleh birokrasi. 33 . berapa banyak dan kapan. daripada melihat kebawah. menjadikan birokrasi tak mampu membuat kebijakan yang efektif dalam menyelesaikan masalah. Sikap ekslusivisme dan seakan tau semua masalah mendorong birokrasi pada perilaku arogan ketika merespon setiap tuntutan masyarakat. Mobilisasi sumber daya dilakukan bahkan secara terang-benderang melalui rekrutmen pegawai berdasarkan hubungan primordial dan patronase. ketiadaan naskah akademik terhadap rancangan peraturan (khususnya peraturan daerah). Komitmen tersebut berupa transaksi politik yang berujung pada persoalan siapa dapat apa. Semua itu di dukung oleh kemampuan kepala daerah dalam memobilisasi sumber daya melalui sebagian anggota tim sukses yang berasal dari jajaran birokrasi. namun berusaha menutupi kelemahan kebijakan tersebut. Rendahnya kredibilitas birokrasi dalam mendesain suatu kebijakan dapat diketahui dari rendahnya keterlibatan pakar dalam bentuk asistensi. yang dapat dilihat dari sikap dan orientasinya yang cenderung melihat keatas. bukan merit sistem apalagi kompetensi. Intervensi politik terhadap birokrasi telah merangsang nafsu aparat untuk membangun komitmen rahasia dengan para elit dalam masa sirkulasi kekuasaan.

lebih banyak program yang bersifat list service. maka reformasi birokrasi semestinya diarahkan pada upaya penciptaan situasi yang kondusif agar birokrasi netral dari pengaruh kekuasaan yang berlebihan. namun bagaimana pelayanan tersebut dapat dilaksanakan dengan baik. Jika secara politis birokrasi merupakan instrument kekuasaan dalam mewujudkan visi dan misi penguasa sesuai amanah rakyat yang dituangkan dalam bentuk kebijakan politik formal. Kini. daripada realitas yang diharapkan. menitikberatkan aspek efisiensi dan efektivitas serta memiliki mekanisme dan standarisasi yang jelas dalam interaksinya. maka reformasi birokrasi seharusnya diarahkan pada sejumlah alternatif pilihan kebijakan seperti reformasi struktural. Demikian pula buruknya perilaku birokrasi dalam hal pelayanan membuat masyarakat tak percaya apa yang selama ini dikerjakan oleh pemerintah. sekalipun mesti dengan sejumlah catatan pengecualian pada tahap implementasi. Gambaran ini setidaknya disinggung oleh Osborne & Gaebler (1992) dalam ‘Reinventing Government. keraguan masyarakat terhadap reformasi birokrasi secara umum tumbuh disebabkan oleh rendahnya kepercayaan pada sistem dan sumber daya manusianya. bahwa masalah pemerintah terkadang bukan pada apa yang mereka kerjakan. keraguan masyarakat terhadap efektivitas kebijakan birokrasi tumbuh disebabkan oleh melimpahnya program yang dijanjikan namun kehilangan fokus saat implementasi. Pada akhirnya. Apabila secara sosiologis birokrasi dipandang sebagai organisasi paling rasional yang memiliki sejumlah karakteristik sebagai pelaksana interaksi antara pemerintah disatu sisi dan masyarakat disisi lain. maka reformasi birokrasi selayaknya diarahkan pada penguatan karakteristik dimaksud. marilah kita cermati bagaimanakah desain kebijakan reformasi birokrasi sebaiknya dilakukan dalam mewujudkan fungsi birokrasi sekaligus mendorong penciptaan tata kelola pemerintahan yang baik (good 34 .Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Disamping itu. Reformasi Birokrasi dan Implementasi Good Governance Seperti telah disinggung dalam pendahuluan. Masyarakat terkadang merasa muak terhadap kelambanan dan kerakusan birokrasi sebagaimana disinyalir oleh Barzelay (1982) dalam ‘Breaking Through Bureaucracy’. Buruknya sistem dalam pelayanan birokrasi membuat masyarakat tak merasa jelas dalam penyelesaian masalahnya. kapasitasi dan instrumentasi. Akibatnya. Jika secara administratif birokrasi dipandang sebagai media yang memudahkan pelayanan. reformasi birokrasi merupakan upaya penataan kapasitas kelembagaan yang menyangkut sistem dan struktur birokrasi dalam menjalankan fungsi pokok sebagai pelayan masyarakat.

Secara internal organisasi di dorong oleh tingginya tekanan kekuasaan. Pada level hirarkhis diperlukan pemangkasan yang memungkinkan jenjang struktural lebih pendek. Harus diakui bahwa budaya penyusunan organisasi di daerah selama ini cenderung mempraktekkan cara-cara penyusunan organisasi di tingkat pusat. reformasi organisasi (struktural). yaitu organisasi sebagai suatu sistem proses interaksi antara orang-orang yang bekerjasama. Desain reformasi struktural dapat dilakukan dengan meletakkan landasan kuat bahwa organisasi adalah alat untuk mencapai tujuan. Dominasi aspek struktural selama ini telah menciptakan kekakuan. namun lebih dari itu organisasi didesain berdasarkan kebutuhan. pertama dalam arti statis. Dalam jarak tertentu dibutuhkan pendelegasian yang memungkinkan pelayanan lebih efisien dan efektif. Sistem pemilukada 35 . selain membuang waktu dan biaya yang tak sedikit. Boleh jadi dalam perspektif seorang kepala daerah birokrasi adalah alat untuk mewujudkan gagasan ideal dalam bentuk visi dan misi selama lima tahun. Organisasi sebaiknya disusun berdasarkan hasil analisis jabatan dan beban kerja. Reformasi oganisasi tidaklah sekedar slogan kaya fungsi miskin struktur. Hal ini sebabkan oleh faktor eksternal dan internal. namun dalam perspektif aparatur birokrasi adalah tujuan akhir berkenaan dengan bagaimana jabatan paling tinggi sebagai refleksi kekuasaan dapat dicapai. bukan kepentingan politik atau kelompok tertentu. Pada level horizontal dibutuhkan organ fungsional yang lebih fleksibel dalam menjawab tuntas akar masalah yang dihadapi. yaitu organisasi dalam arti dinamis. baik formal maupun informal. bahkan sulit bersentuhan langsung dengan para pengambil keputusan (decition maker). Kedua dalam arti dinamis. Uraian selanjutnya akan lebih menitikberatkan pada pengertian kedua. bukan tujuan itu sendiri. Pertama. Kedua faktor tersebut cukup dominan menjadikan organisasi pemerintah tampak dinamis.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik governance). bukan kompromi politik. Perbedaan pemahaman dalam manajemen pemerintahan seringkali menjadikan birokrasi tak efektif menjalankan tugas dan fungsinya. Organisasi dapat diartikan dalam dua macam. Panjangnya jalur hirarkhis membuat setiap masalah terkesan basi ketika kembali pada masyarakat. yaitu bagaimana menjadikan birokrasi sebagai alat untuk memperoleh akses bagi keseluruhan sumber daya yang tersedia. Masalah kemudian bertambah ketika sebagian besar kepala daerah justru berpikir sama dengan aparatnya. yaitu organisasi sebagai wadah tempat dimana kegiatan kerjasama dijalankan. sedangkan secara eksternal di dorong oleh perubahan lingkungan yang lebih luas.

Pola penjenjangan karier kurang diperhatikan. Melebarnya ukuran organisasi tanpa analisa kebutuhan jabatan dan beban kerja membuat performance organisasi pemda khususnya terkesan tambun dan statis. Ambon dan Bitung misalnya. 36 . Kondisi ini tidak saja berlaku di daerah. dua dan seterusnya. Kasus pencopotan pejabat setingkat sekretaris daerah dalam tempo singkat dan mutasi besar-besaran adalah contoh yang dapat diamati dalam wilayah pemerintah daerah. apoteker dan perawat. diperlukan reformasi kapasitasi yang memadai guna meningkatkan kemampuan aparatur dalam melayani masyarakat. badan dan komisi. namun dipraktekkan terang-benderang di level pusat melalui perluasan organisasi pemerintahan. Palu. dokter. Potret tersebut terlihat tidak saja pada perluasan kementerian departemen.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 telah menjebak kepala daerah untuk melakukan rekonstruksi organisasi pemda lewat cara-cara resuhffle kabinet jilid satu. Ironisnya. program dan kegiatan. Postur organisasi Pemda yang mengalami kegemukan tentu saja dapat menyedot belanja aparatur lebih besar dibanding belanja pembangunan. Kedua. disamping tersisihnya peluang bagi rekrutmen pegawai yang memiliki kompetensi ideal seperti guru. 41 Tahun 2007. bahkan hasil Baperjakat hanyalah unsur formalitas dalam penempatan personil pada struktur organisasi pemda. namun tampak pada puluhan organisasi setingkat lembaga. bukan menjawab masalah yang dihadapi masyarakat. namun gagal melakukan efisiensi organisasi di level organisasi pemerintah pusat. organisasi Pemda memperlihatkan gejala obesitas yang sarat kepentingan politik para elit lokal sehingga sulit bergerak mencapai tujuan. Ini bisa dipahami jika dihubungkan dengan bertambahnya rekrutmen pegawai setiap tahun tanpa pengendalian berdasarkan kompetensi. Tasikmalaya. Rekrutmen pegawai tanpa kompetensi pada akhirnya hanya akan menyerap besaran APBD yang tak sedikit guna meningkatkan kecakapan dan keterampilan pegawai. pengetatan organisasi agar lebih ramping dan kaya fungsi diutamakan pada pemerintah daerah melalui kebijakan PP No. Sragen. Reformasi kapasitasi berkaitan dengan kemampuan birokrasi baik secara individual maupun kelompok yang ditunjukkan pada kemampuan menerjemahkan visi dan misi. Reformasi kapasitasi adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan sumber daya birokrasi dalam pelayanan agar mampu mengimbangi dinamika masyarakat. Akibatnya. dimana lebih dari 70% APBD habis untuk belanja aparatur (FITRA:2011). analis kebijakan. Praktis organisasi dibentuk untuk menjawab kepentingan rezim berkuasa. Realitas ini dapat ditemukan pada sejumlah kabupaten seperti Lumajang.

Dalam jangka panjang diperlukan pendidikan yang berbasis pada kebutuhan dan karakteristik organisasi pemerintah daerah. perikanan. Parahnya.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Pengembangan kapasitas aparatur berfokus pada aspek pendidikan dan pengalaman yang akan menentukan nilai profesionalisme birokrasi dihadapan masyarakat. Pada akhirnya. birokrasi dan pemerintah secara keseluruhan dapat kehilangan kepercayaan masyarakat. kiranya membutuhkan aparat yang menguasai sektor unggulan dimaksud. Dampaknya. Ini penting untuk mendorong perkembangan daerah lebih cepat dan kompetitif. tertutupnya kebijakan pengembangan pendidikan dan lahirnya diskriminasi dalam pengembangan sumber daya di daerah melahirkan kasus jalan pintas lewat indikasi ijazah palsu dan gelar pendidikan tanpa jelas asal-usulnya. Fakta ini jelas kurang mendorong 37 . Untuk mengantisipasi hal itu diperlukan desain kebijakan reformasi kapasitasi jangka panjang dan jangka pendek. sekaligus pada saat yang sama mendorong kemampuan kolektivitas birokrasi. pertama. Profesionalisme sekurang-kurangnya ditunjukkan oleh sertifikasi pendidikan dari jenjang dasar hingga jenjang yang lebih tinggi. Sebaliknya. Dalam jangka pendek. diperlukan desain kebijakan praktis. Kedua aspek tadi setidaknya dapat membentuk kemampuan individual. pertanian dan jasa. semakin tinggi kapasitas pemerintah daerah semakin rendah pula resiko yang akan dihadapi dimasa mendatang. Kesenjangan ini seringkali menimbulkan ketegangan sekaligus kecurigaan terhadap kinerja birokrasi. semakin tinggi resiko yang akan dihadapi. Pembangunan berbasis keunggulan lokal membutuhkan birokrasi yang mampu menjawab tantangan yang muncul. peningkatan insentif yang berfungsi mendorong spirit dan kinerja birokrasi. daerahdaerah yang berbasis kompetensi kelautan. sama-sama mendapatkan perlakuan khusus. Dalam jangka panjang dibutuhkan aparatur yang memiliki pengetahuan yang memadai guna penyusunan rencana kegiatan hingga keterampilan mengimplementasikan suatu program secara efektif. Sebagai perbandingan. Aspek tersebut diimbangi oleh segudang pengalaman pada berbagai organisasi yang memiliki nilai dan kompetensi utama. Rendahnya pendidikan aparatur mengakibatkan kesenjangan antara mereka yang dilayani dan mereka yang melayani. Spirit tersebut diarahkan untuk melahirkan nilai kompetitif sehingga mampu menciptakan keadilan bagi birokrasi yang berprestasi. semakin rendah kapasitas pemerintah daerah. Keadilan dapat diterapkan melalui pembayaran insentif berdasarkan penilaian kinerja birokrasi. Pemerataan selama ini hanya membuktikan bahwa mereka yang kerja dan tidak.

Ketiga. sebab itu diperlukan sistem eksternal yang 38 . Mengambil jarak terlalu jauh beresiko kehilangan jabatan. kreativitas dan kemandirian hendaknya memperoleh penghargaan yang setimpal guna mendorong semangat yang sama pada aparat yang lain. jauh lebih penting dari itu adalah lahirnya dampak positif bagi birokrasi untuk kembali pada tugas dan fungsinya masing-masing. yaitu mendorong berkembangnya birokrasi agar lebih disiplin dan bertanggungjawab serta mampu merespon perkembangan masyarakat. sekaligus melindungi birokrasi dari perilaku buruk aparatur yang berinteraksi didalamnya.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 kompetisi serta menciptakan ketidakadilan. birokrasi sulit menolak ransangan para elit untuk berkoalisi memenangkan calon tertentu. Lewat sistem yang ada. Statement ini tentu saja tidak mudah diperoleh dilapangan empirik. termasuk menurunkan penghargaan bagi mereka yang benarbenar memiliki profesionalisme. Kedua. Guna mengurangi kepentingan politik maka birokrasi sebaiknya mengambil jarak untuk bersikap netral. menunjukkan dampak positif dalam mendorong kinerja birokrasi. diperlukan penataan sistem yang secara eksternal efektif dapat mengurangi politisasi birokrasi yang dapat memecahkan konsentrasi aparatur dalam melayani masyarakat. Politisasi birokrasi membuat aparat menjadi bulanbulanan elit lokal. terlalu dekat sama artinya menceburkan diri dalam ketidakpastian lebih beresiko. Pembiaran terhadap tumbuhnya kreativitas tanpa apresiasi dapat menurunkan semangat untuk berkarya dan mengabdi pada organisasi. Pola penggajian dan insentif yang bervariasi sebagaimana pernah diterapkan sejumlah pemerintah daerah seperti Kabupaten Jembrana Provinsi Bali. Kesadaran yang terus meningkat hingga membuahkan inovasi. Pada sisi lain membiarkan kelalaian birokrasi sama maknanya dengan menyetujui sekaligus membolehkan kesewenang- wenangan dalam pelayanan masyarakat. Semua konsekuensi tersebut dilakukan tentu saja berdasarkan transaksi minimum lewat jabatan-jabatan strategis dan menggiurkan. Penerapan sanksi bukanlah tujuan akhir. Oleh sebab itu harus dipahami bahwa penarapan reward and punishment memiliki arti strategis bagi organisasi. Demikian pula pola penerapan sanksi dibutuhkan semaksimal mungkin dengan maksud pembinaan secara proporsional. reformasi birokrasi dalam jangka pendek hendaknya mampu menciptakan sistem internal yang dapat mendorong secara perlahan tumbuhnya kesadaran birokrasi sebagai pelayan masyarakat. birokrasi sangat rentan diintervensi oleh elit lokal guna memenuhi kepentingan kelompok tertentu dalam sirkulasi kekuasaan. faktanya sebaliknya.

Perilaku birokrasi yang korup cenderung termotivasi oleh pengaruh lingkungan serta tuntutan domestik. Keempat. sebab semua norma sosial termasuk agama tidaklah mentolerir perilaku buruk semacam itu. sebesar 2.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik dapat membentengi birokrasi dari kepentingan politik yang berlebihan. Pembentukan Komisi Pemberantasan Korupsi dimaksudkan untuk membantu pemerintah dalam meminimalisasi gejala korupsi. Perubahan budaya kerja yang diawali dari kebiasaan menanamkan keseluruhan karakteristik pemerintahan yang baik diharapkan mampu menghasilkan birokrasi yang dapat menjalankan fungsinya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat. Sejauh ini. Korupsi bukanlah budaya positif yang tumbuh pada masyarakat. Korupsi merupakan kejahatan extra ordinary sehingga membutuhkan upaya-upaya yang bersifat luar biasa. Landasan kebijakan secara umum diharapkan mampu melindungi pemerintah dan segenap pemangku kepentingan dalam lingkup good governance. Sedangkan sebagai abdi masyarakat. Reformasi instrumentasi berfungsi sebagai landasan kebijakan yang bersifat legalistik-formal untuk menghindari tuntutan masyarakat terhadap kinerja birokrasi. indeks persepsi korupsi di Indonesia belum berubah sesuai catatan International Transparancy. Berkaitan dengan reformasi birokrasi diperlukan sistem yang mengikat secara ketat. Sebagai abdi negara. maka dibutuhkan reformasi birokrasi yang mampu mencegah terjadinya tindak pidana korupsi dilingkungan birokrasi pemerintahan. Tentu saja reformasi birokrasi dalam jangka panjang termasuk jangka pendek sulit dilakukan tanpa dimulai dari perubahan budaya kerja kearah positif. birokrasi membutuhkan legitimasi de facto sebagai penyambung kepentingan kepada pemerintah yang berkuasa. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku buruk birokrasi perlu diperbaiki. Bagian ketiga dari gagasan reformasi birokrasi berkenaan reformasi instrumentasi yang mencakup penyiapan regulasi baik undangundang di tingkat pusat hingga peraturan pada level pemerintah daerah. Bercermin pada China yang berani menerapkan tindakan tegas bagi pelaku korupsi. Perlu dipahami bahwa sistem insentif sebagaimana dikemukakan sebelumnya bukanlah jalan satusatunya dalam mengurangi tindak pidana korupsi. demikian pula pada elemen masyarakat dan wiraswasta. birokrasi membutuhkan legitimasi de jure untuk menjalankan semua keputusan politik pemerintah. Budaya kerja positif diharapakan tidak saja menular pada pemerintah. Dalam banyak kasus birokrasi seringkali 39 . reformasi birokrasi dalam jangka pendek diarahkan pada upaya pencegahan (preventive) perilaku korupsi dalam tubuh birokrasi.8. disamping penerapan sanksi berat dalam setiap tindakan yang disangkakan.

Salah satu contoh dapat dilihat dalam kebijakan UU No. Berkaitan dengan implementasi good governance. Strategi pelayanan jemput bola melalui penggunaan sarana dan prasarana yang tersedia seperti teknologi informasi dan transportasi merupakan keseluruhan paket reformasi instrumentasi dalam kerangka besar reformasi birokrasi dan implementasi good governance. mekanisme dan prosedur. Kasus Bank Century. seperti landasan yuridis kebijakan serta tingkat partisipasi masyarakat. walaupun disadari belum sepenuhnya dapat dilaksanakan secara baik. pada akhirnya menimbulkan masalah lebih kompleks yaitu ekonomi biaya tinggi (high cost economy). pemerintah pada dasarnya telah banyak melakukan terobosan melalui berbagai regulasi yang memberikan peluang diterapkannya karakteristik tata kelola pemerintahan yang baik. Situasi demikian seringkali menyuburkan praktek suap. Kendati dengan alasan efisiensi. Reformasi instrumentasi diharapkan tidak hanya berkaitan dengan landasan hukum. Gejala tersebut dapat dilihat pada sejumlah hasil temuan BPK dimana pengeluaran anggaran pemerintah daerah khususnya kehilangan landasan yuridis. dimana prinsip-prinsip tata kelola pemerintahan menjadi landasan penting dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah.32/2004 tentang Pemerintahan Daerah. surat palsu di Mahkamah Konstitusi hingga Kemenakertrans adalah contoh gamblang dalam konteks terbentuknya jaringan mafia birokrasi antara pemerintah. Sebaliknya. Reformasi instrumentasi pada tingkat teknis setidaknya dapat memperjelas mekanisme dan prosedur pelayanan oleh birokrasi pemerintahan. juga berhubungan dengan seperangkat alat baik sarana dan prasarana yang memungkinkan birokrasi mampu mengembangkan dirinya dalam memberikan pelayanan yang bermutu. pemegang modal dan masyarakat biasa. Tanpa standar operational procedure. Contoh konkrit lain dapat dilihat dalam instrumen evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah yang memuat sejumlah variabel dan indikator sebagai refleksi dari tercapainya karakteristik tata kelola pemerintahan yang baik. kolusi dan berkembangnya jaringan mafia dalam tubuh birokrasi. birokrasi layaknya berjalan menggunakan insting dimana pada kondisi tertentu dapat berbenturan dengan norma dan ketentuan yang berlaku. Indikator lain yang bisa diamati adalah persyaratan adanya SOP sebagai pedoman bagi setiap pemerintah daerah 40 . ketatnya mekanisme dan prosedur dapat membentuk budaya birokratisme yang pada gilirannya mendorong perilaku “melambung” (by pass) untuk mempercepat pelayanan. Wisma Atlit.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 dianggap gagal menyiapkan instrumen bagi landasan pelayanan masyarakat.

eksternal. Prinsip akuntabilitas dapat dilihat pada sejumlah instrument pertanggungjawaban seperti PP No. Karakteristik visi strategis menjadi syarat mutlak bagi setiap kandidat pemimpin pemerintahan ketika mencalonkan diri sebagai pejabat publik. terlepas bahwa prinsip tersebut masih sering dilanggar oleh pemerintah daerah. politik maupun pengawasan publik. kesetaraan. pencanangan pendidikan karakter sejak usia dini oleh Kementrian Pendidikan Nasional merupakan terobosan jangka panjang dalam upaya menanamkan nilai-nilai kejujuran. badan dan komisi. Karakteristik konsensus dilakukan melalui upaya dokumentasi perencanaan APBN dan APBD sebagai bentuk kesepakatan bersama antara eksekutif dan legislatif yang notabene dipilih dan mewakili masyarakat itu sendiri. Strategi ini dilakukan melalui persyaratan fit and proper test yang dilakukan pada sejumlah calon pejabat setingkat kepala daerah maupun pimpinan lembaga. pengembangan dan implementasi karakteristik good governance. tanggungjawab.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik dalam menjalankan fungsi dan tugas pokoknya dilapangan. dilahirkannya regulasi tentang keterbukaan informasi publik oleh Kementrian Komunikasi dan Informasi menunjukkan komitmen pemerintah dalam memberikan akses seluas-luasnya kepada masyarakat. dan akuntabilitas. Karakteristik efisiensi dan efektivitas merupakan prinsip yang senantiasa diakomodir dalam undang-undang pemerintahan daerah termasuk peraturan yang menjadi turunannya. Bahkan. Pengembangan kesetaraan sebagai bagian dari karakteristik tata kelola pemerintahan yang baik dapat dilihat dalam mekanisme pemilihan pemimpin politik yang ramah gender serta terbuka bagi setiap warga negara menurut batasan konstitusi dan undang-undang. tranparansi. Pada karakteristik transparansi misalnya. Penyampaian laporan perkembangan harta kekayaan yang dimiliki oleh setiap pejabat publik mencerminkan diterapkannya prinsip akuntabilitas dan tranparansi. kedisiplinan. Prinsip ini mengalami perkembangan sejak lahirnya lembaga yang berfungsi melakukan evaluasi serta pengawasan baik secara internal.3/2007 tentang Pertanggungjawaban Kepala Daerah yang meliputi LPPD. LKPJ dan LIPD. Kesemua itu merupakan modal dasar dalam rangka penumbuhan. 41 . fungsional.

Maurice. Introducing Social Theory. Tiara Wacana Michaels. 2000. Jakarta Sudirman. Agus. 2000. Richard. Birokrasi. New York dan London. Soerjono. Jakarta Jones. 2002. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.W (1946) From Max Weber:Essays in Sociology. 2011. Jakarta Rahardjo. Sosiologi Pemerintahan. The Study of Politics (Terjemahan). Adam dan Jessica Kuper. Istianto. Jakarta Max Weber dalam Martin Albrow (Terj).XXXV No. Bekasi Dino Patti Djalal.1 Tahun. Demokratisasi Birokrasi. Satjipto. Kompas. Cambridge Massachussets. 1996. 2005. C. Indra Prahasta. 2010. Bandung Gerth. Roderick. 1962. Jakarta Setiono. Martin. Gramedia Pustaka Utama Effendy. 1998. Jakarta Dwiyanto. Raja Grafindo. Sosiologi Kekuasaan. Gugus Press. Membedah Hukum Progresif. The Bureaucratic Entrepreneur (terjemahan). Political Parties. Reformasi Birokrasi. Jurnal Ilmu Pemerintahan Widya Praja. Ensiklopedi Ilmu-Ilmu Sosial. 2010. 2010. 2001. Tinjauan dari Aspek Politik dan Administrasi. Stephen K. CV. Red and White Publishing. Jakarta Laski. Jakarta Sanderson. Pip. Sosiologi Suatu Pengantar. Yogyakarta. Harvard Universty Press. (terjemahan). 1993. H dan Mills. Martin Albrow dalam Donald P. 2010. Bambang.Warwick. Theory of Public Bureucracy. Macrosociology. (terjemahan). Raja Grafindo Persada. Khasan. 2008. Seni Memimpin SBY. New York. Jakarta Kuper. Rajawali Pers. Harus Bisa. R. Vol. N. Ina Publikatama. volume 3. Bureaucracy dalam Encyclopaedia of the Social Sciences. STIAMI. Rajawali 1Pers. Praktek Birokrasi Weberian di Indonesia. Jakarta Soekanto.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Daftar Pustaka Duverger. 2009. Jaring Birokrasi. H.Haass. New York. Jakarta 42 . Rajawali Pers. Budi.

Otonomi dan Pemerintahan Daerah. 2011. Corruption and Government Causes. Georg. 2000. IIP-Press Rasyid. Ryaas. Bambang. Peter M. dkk. 2004. Reformasi Birokrasi. IIP Press. Unismuh. Gugus Press. 2000. Birokrasi Dalam Polemik. 2004. 1982. Dilemma Of Pluralist Democracy. Jakarta Sorenson. Politicising Democracy.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Tjokrowinoto. Yale University Press Haris. Pustaka Pelajar. 2000. dkk. 1999. Jaring Birokrasi. Jakarta Suwandi. Terobosan Otonomi Satu Tingkatan. Vol. PKSP. Malang Toha. Yogyakarta Dahl. Bahan Ajar Sistem Politik Indonesia. Agustus 2011. 2006. Mitra Wacana Media. 2006. Nurul. And Reform. Jakarta Tjokrowinoto. Jhon. New haven and London. Miftah. Politik Organisasi. LPM-IIP. Cambridge University Press Aini. Fisipol UGM. hal 209-22 Republika. Westview Press Setiono. (Makalah). Ackermen-Susan Rose. Perspektif Mikro Diagnosa Psikologis. Jakarta Koswara. 2002. Pembagian Kewenangan Menurut UU 32 Tahun 2004. Birokrasi dalam Polemik.XXXII No. Moeljarto. Bekasi Subagyo. Bureaucracy in Modern Society (terj). Precesses and Prospects in Changing World.3 Tahun 2006. Pidato Pengukuhan Guru Besar. 1999. Pemerintahan Yang Amanah. Pustaka Pelajar. Palgrave. 1993. Untung. Demokratisasi Birokrasi. 2001. Pustaka Pelajar. Peran Kontrol Rakyat dan Netralitas Birokrasi. Jakarta. Democracy and Democratization. Consequences. Makalah. Pusataka Pelajar. Jakarta 43 . Jakarta Blau. Yayasan Bina Pembangunan. Robert A. Macmillan ltd Haris. Budi. Yogyakarta Istianto. 2004. Demokrasi dalam Birokrasi Pemerintah. Yogyakarta Jurnal Ilmu Pemerintahan Widyapraja. 2004.

.

Syarat Mutlak Pembangunan Ekonomi * Penulis adalah kandidat doktor Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 45 .Foto : Antara IV Oleh : Nursodik Gunarjo * Edisi 3 / September / 2011 Reformasi Birokrasi.

(1995). batal menanamkan investasi di Indonesia. Tidak mengherankan jika pelaku ekonomi cenderung menganggap keberadaan birokrasi lebih banyak menghambat. pelayanan yang cepat. birokrasi yang diharapkan mampu menjadi enzim of growth perekonomian. Sebaliknya. serta perilaku korup aparat birokrasi. dalam praktik justru sering membebani sektor ini. Selain itu. “Masalah Sekitar Peningkatan Pendapatan Asli Daerah”. alih-alih membantu percepatan perputaran roda perekonomian3 3 Kristiadi.Regulasi 2 http://us. 46 . 114. ketidaksiapan sumberdaya terutama SDM. 4.detikfinance. akan membuat dunia usaha lebih mudah menerapkan efektivitas dan efisiensi.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 B Pendahuluan irokrasi merupakan stakeholder penting di bidang ekonomi. Pelayanan birokrasi turut menentukan bergairah atau tidaknya aktivitas perekonomian suatu bangsa. Mereka juga mengeluhkan banyaknya biaya siluman (overhead cost) yang harus dikeluarkan saat melakukan aktivitas ekonomi di Indonesia2. 1 http://tekno. Pelayanan birokrasi yang lambat. mudah dan murah.com/ read/2004/12/17/110517/257641/4/ infrastruktur-buruk-investasi-jepangke-ri-minim Beberapa contoh yang telah dikemukakan setidaknya dapat dijadikan bukti bahwa birokrasi Indonesia belum ’ramah’ terhadap dunia usaha. di. No. Banyak keluhan muncul saat para pelaku usaha berurusan dengan birokrasi.com/ read/2011/07/27/12451245/Minat. proses perizinan di Indonesia dinilai lambat dan ruwet. Tulisan ini diharapkan dapat menganalisis secara komprehensif hubungan antara birokrasi dan dunia usaha dari perspektif ekonomi politik. Keluhan tersebut bukan saja berkenaan dengan buruknya layanan. Sebuah perusahaan berbasis teknologi informasi asing terkemuka. namun juga terkait dengan perilaku tak terpuji aparat birokrasi dan kebijakan yang tidak probisnis. regulasi pemerintah dinilai kurang mendukung keberadaan investor asing1. Penyebabnya.Indonesia. buruk dan berbiaya tinggi akan menyebabkan high-cost economy yang membebani pelaku usaha. Para penanam modal di Indonesia pada umumnya mengeluhkan minimnya infrastruktur. Prisma.kompas. Akibatnya sangat fatal.B. J.Terhalang.

maksudnya adalah upaya untuk menyederhanakan 5 Eisenstadt S. kelambatan. (1986).or. Bahkan ada perusahaan yang menggunakan dana hampir seperempat dari total aset yang dimiliki hanya untuk biaya pelicin agar urusan dengan birokrasi cepat selesai. oleh masyarakat seringkali diartikan dalam konotasi yang ruwet. 114. dalam jangka panjang efeknya dipastikan akan sangat berpengaruh terhadap efisiensi. Jakarta: CV. Prisma. birokrasi mudah mengalami birokratisasi—sebutan umum untuk birokrasi yang birokratis. setiap sistem pemerintahan dan organisasi membutuhkan birokrasi. php/publication/2010/11/11/indekspersepsi-korupsi-kota-kota-indonesia2010 47 . Keadaan ini terlihat pada kelambanan pelayanan dan proses kerja yang berbelit-belit. sehingga penyalahgunaan bisa muncul dalam sistem kegiatan birokrasi. Kesan seperti ini kemudian memunculkan istilah debirokratisasi.N. 4. Birokratisasi merupakan efek dari kegiatan birokrasi yang dihegemoni oleh kepentingan kekuasaan dari para elit organisasi.id/index. yang sejatinya merupakan manifestasi untuk menunjukan bentuk atau orientasi kekuasaan tertentu dari para elit5 Albrow mengungkapkan sorotan berbagai kalangan yang memandang birokrasi sebagai proses yang panjang dan berbelit-belit pada saat para pengguna berurusan dengan aparat birokrasi. Jika hal semacam itu terjadi di banyak perusahaan.B. termasuk di dalamnya pelayanan umum dan pembangunan.. “Masalah Sekitar Peningkatan Pendapatan Asli Daerah”. No. serta popular.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Sebagaimana disampaikan Transparency InternationalIndonesia (TI-Indonesia). Revolusi dan Transformasi Masyarakat. catatan Mohl tentang penyalahgunaan birokrasi memperlihatkan adanya sifat kecongkakan. dan pada akhirnya akan menekan produktivitas perusahaan4 Birokrasi Birokratis-Patologis: Perspektif Kritis Tidak bisa dimungkiri. pemerintahan. Kebutuhan tersebut muncul sebagai akibat logis dari adanya struktur hierarki yang membutuhkan tahapan-tahapan pengambilan keputusan. Dalam kenyataan. mempunyai daya tarik. 4 http://www.ti. Karena itu. birokrasi acapkali mendapatkan kritik yang cukup tajam6 Senada dengan itu. (1995). Namun dengan kondisi struktur yang rigid dan kaku. birokrasi yang dimaksudkan untuk melaksanakan penyelenggaraan bernegara. Rajawali 6 Kristiadi. biaya overhead cost yang harus dikeluarkan pelaku usaha sebagai imbas dari berbelit-belitnya urusan di birokrasi terbilang sangat besar. J.

lebih mengemuka ketimbang citra yang baik atau rasional (bureau rationality).an organisation with a certain position and role in running the government administration of a country.B. (1995). penegak disiplin dan penyelenggara pemerintahan dengan kekuasaan yang sangat besar.” Dengan demikian secara ringkas dapat dikatakan. Sementara yang dimaksud dengan birokrasi adalah: “. yakni korupsi dengan beranekaragam bentuknya.. Rajawali 11 Mustopadidjaja. orwellian atau birokrasi dengan peraturan yang menggurita sebagai perpanjangan tangan negara untuk mengontrol masyarakat. Models and Approaches. J. patologi berarti “ilmu tentang penyakit”. yang berhubungan dengan kedudukan dan kewenangan pejabat publik. tetapi mengabaikan fungsi pelayanan masyarakat10. The Public Sector. No. 114. Demokrasi dan Masyarakat Madani. seperti esensi birokrasi Hegelian dan Weberian9. negatif atau bahkan patologis. birokrasi lebih menunjukkan kondisi empirik yang buruk.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 prosedur yang dianggap ruwet itu7 Birokrasi pada kenyataannya sering mengalami disfungsi karena adanya pergantian tujuan-tujuan organisasi menjadi tujuan pribadi. Concept. Prisma. Second Edition.R.R. birokrasi tumbuh menjadi sesuatu yang chaos. 4. diperparah dengan isu yang sering muncul ke permukaan. hanya berfungsi sebagai pengendali. 48 . A. Akibatnya.E..N. Jakarta: LAN. Administrasi Negara. Birokrasi. bersifat over supplay dengan memaksimumkan struktur. Birokrasi pada akhirnya menjadi tuan bagi dirinya sendiri dan tidak berorientasi pada fungsi pelayanan. Jakarta: CV. dan tidak terkontrol8 Berbagai keluhan dan kritikan mengenai kinerja birokrasi memang bukan hal baru. Di berbagai belahan bumi. Secara etimologis. (1986). Citra buruk birokrasi seperti parkinsonian atau birokrasi gemuk (big bureaucracy). Revolusi dan Transformasi Masyarakat. atau jacksonian yakni birokrasi yang dipolitisasi. patologi birokrasi adalah “penyakit” yang menyebabkan peran dan fungsi birokrasi mengalami penyimpangan dan tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya11 10 Eisenstadt S. “Masalah Sekitar Peningkatan Pendapatan Asli Daerah”. (1995). London: Sage Publication 9 Mustopadidjaja. J. serta lambatnya pelayanan dan prosedur yang berbelit-belit atau yang lebih dikenal dengan efek pita merah (red-tape).           Citra buruk tersebut semakin 7 Kristiadi. (1999). Keseluruhan kondisi empirik yang terjadi secara akumulatif telah meruntuhkan konsep birokrasi Hegelian dan Weberian yang memfungsikan birokasi untuk mengkoordinasikan unsur-unsur dalam proses pemerintahan. A. Banyaknya penyimpangan di birokrasi menyebabkan birokrasi cenderung bersifat patologis. pada akhirnya. (1999). 8 Lane.

dan ketidakmampuan birokrasi untuk berubah sesuai tuntutan zaman12 Apabila ditelusuri lebih jauh. Potret Nyata Birokrasi Indonesia Jauh hari telah digambarkan secara dramatis.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Dalam praktik. persepsi gaya manajerial para pejabat di lingkungan birokrasi yang menyimpang dari prinsip-prinsip demokrasi. Filsafat Administrasi. Keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Demokrasi dan Masyarakat Madani. menerima sogok. Siagian. dan sistem yang pilih kasih13 Dari uraian yang telah dikemukakan. purapura sibuk. Kelima.P. Tidak adanya inovasi membuat para birokrat cenderung melakukan pelayanan sama dari waktu ke waktu. ketiadaan deskripsi dan indikator kerja. Sebaliknya. tindakan pejabat yang melanggar hukum. sehingga pelayanan yang diberikan kepada pelaku ekonomi menjadi tidak berkualitas. seperti sewenang-wenang. (1988). jelas bahwa birokratisasi dan patologi birokrasi merupakan dua sisi dari keping mata uang yang sama. S. gejala patologi dalam birokrasi bersumber pada lima masalah pokok. patologi birokrasi tersebut berupa perilaku (aparat) birokrasi yang menyimpang dari nilai-nilai etis. serta pegawai sering berbuat kesalahan. Jakarta: Gunung Agung. sehingga produktivitas sektor bisnis terpengaruh. manifestasi perilaku birokrasi yang bersifat disfungsional atau negatif. seperti rendahnya imbalan dan kondisi kerja yang kurang memadai. Hal itu mengakibatkan bentuk penyimpangan seperti penyalahgunaan wewenang dan jabatan. Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen. dengan menggelembungkan pembiayaan. menerima sogok. Jakarta: LAN 12 Umar H. situasi internal berbagai instansi pemerintahan yang berakibat negatif terhadap birokrasi. Kemunculan birokrasi yang birokratis menjadi pemicu munculnya patologi birokrasi. penyelewengan fungsi dan struktur. Administrasi Negara. yakni: Pertama. Ketiga. bagaimana birokrasi bisa merongrong habis-habisan kinerja sektor ekonomi di Uphill Battle. aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan perundangundangan serta norma-norma yang berlaku di dalam birokrasi. patologi birokrasi berimbas pada munculnya pelayanan birokrasi yang lambat. Cermin Retak Uphill Battle. dan diskriminatif. Penyakit birokrasi juga bisa berupa inefektivitas dan inefisiensi. mengakibatkan produktivitas dan mutu pelayanan yang rendah. Kemalasan pegawai birokrasi menyebabkan penyelesaian aplikasi perizinan dan pembuatan regulasi menjadi lambat. dan nepotisme. 13 49 . Amerika Serikat. korupsi dan sebagainya. rendahnya pengetahuan dan keterampilan para petugas pelaksana berbagai kegiatan operasional. Kedua. (2002). ruwet dan berbelit-belit.

kolusi. masih tingginya ketidakpastian dalam birokrasi (cost of uncertainty). Prasojo. etika dan moral. menyebabkan pelayanan publik tidak memuaskan.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Layanan yang tidak berorientasi kepada pelanggan. dan tentu masih sangat berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia. sangat tidak sebanding dengan output dan outcome yang dihasilkan14 Apa yang terjadi di Uphill Battle bisa disebut sebagai cermin retak. Di Indonesia. Permasalahan mendasar yang membuat birokrasi Indonesia koruptif dan tidak probisnis di antaranya adalah kurang baiknya kelembagaan dan tatalaksana. Situasi problematis yang dihadapi sebagian besar birokrasi Indonesia saat ini di antaranya: Pertama. Lain halnya dengan birokrasi Indonesia yang masih dipersepsikan sarat dengan KKN. selain berbagai jenis patologi birokrasi yang telah disebutkan. inkonsistensi dan instabilitas peraturan perundangundangan. lantaran birokrasi di sana hanya terinfeksi patologi birokrasi. E & Maksum. yakni KKN (korupsi. struktur. Permasalahan lain terkait dengan rendahnya kualitas sumberdaya manusia dan lemahnya pengawasan terutama dalam hal akuntabilitas. 50 . Keempat. (2006). Ketiadaan standar pelayanan. (2000). Masyarakat bisnis di Uphill Battle bisa dikatakan ‘masih beruntung’. I. P. & Plastrik. Di sisi lain. Memangkas Birokrasi. D. masih rendahnya kompetensi para birokrat15 15 14 Osborne. hal itu masih belum apa-apa jika dibandingkan dengan kondisi birokrasi di Tanah Air. membuat kalangan dunia usaha enggan berurusan dengan birokrasi. masih belum terbentuk budaya birokrasi (service delivery culture). masih kentalnya budaya patron-client dan budaya afiliasi yang mengarah kepada moral hazard. Penyakit warisan Orde Baru ini masih bercokol hingga kini. Jakarta: PPM. di sisi lain. masih ada penyakit menahun lain yang menggerogoti birokrasi. inefisiensi sumberdaya telah membuat aktivitas birokrasi memakan biaya dan menghabiskan sumberdaya sangat besar. Desentralisasi dan Pemerintahan Daerah. Akan tetapi. tidak responsif.R. Antara Model Demokrasi Lokal dan Efisiensi Struktural. serta tidak tepat waktu. namun tidak terkena wabah KKN. nilai dan regulasi yang ada masih berorientasi pada kepentingan penguasa/birokrat (power culture). Hal tersebut ditunjukkan oleh struktur organisasi birokrasi yang tidak sesuai dengan kebutuhan. terutama yang paling menonjol adalah perilaku korup aparat birokrasinya. nepotisme). Kelima. Kedua. norma. Jakarta: DIS FISIP UI. atau bahkan potret buruk birokrasi. dan rendahnya penggunaan perangkat teknologi informasi. Ketiga.

Kehadiran birokrasi merupakan tuntutan mutlak yang harus dipenuhi untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Kondisi ini membuat birokrasi rentan terhadap pengaruh kekuasaan atau politik praktis. Fungsi birokrasi sebagai unit pelayanan publik dihegemoni oleh kekuatan internal birokrasi. Memasuki zaman demokrasi liberal (1950-1959). Unsur partai bukan menjadi pertimbangan. birokrasi tidak mudah dibawa ke dalam pertarungan antara aktor politik yang sedang berkompetisi atau cenderung lebih patuh pada kekuatan politik yang menjadi patron-nya. Pada zaman kemerdekaan (19451950). akan tetapi lebih ditujukan pada kegiatan-kegiatan struglle to get political power. merupakan organ negara yang diberi tugas menjalankan semua kebijakan pemerintah yang terkait dengan kepentingan rakyat. Dinamika politik ditandai dengan instabilitas sehingga tidak ada satu pun kabinet yang dibentuk bisa menyelesaikan masa jabatannya. Dalam sejarah birokrasi Indonesia. Artinya. Peran ini menjadi strategis karena hanya aparat birokrasi yang memiliki wewenang menguasai akses atas kepentingan publik. Pemberian layanan merupakan implikasi dari fungsi negara sebagai alat pemenuhan kebutuhan rakyat. baik secara personal maupun institusional. Netralitas birokrasi tercermin dari kemampuan birokrat meletakkan fungsi birokrasi di atas kepentingan pribadi dan mengutamakan kepentingan masyarakat. terlebih ketika kecenderungan determinasi partai politik terhadap pejabat birokrasi tak juga sirna. Agar tidak terjebak dalam permainan politik praktis. Pembatasan ini dilakukan untuk mencegah terjadinya pencampuradukan kepentingan pribadi pejabat birokrasi ke dalam tugasnya sebagai pelayan masyarakat sehingga birokrasi tetap menjadi kekuatan yang netral dari pengaruh kelompok tertentu.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Di sisi lain. reformasi politik di Indonesia dalam kenyataannya belum mengubah birokrasi menjadi kekuatan profesional negara. pertumbuhan birokrasi tidak lepas dari dinamika politik dan masyarakat sehingga kultur birokrasi selalu sarat dengan warna politik di zamannya. Kabinet yang terbentuk pun lebih banyak diwarnai 51 . wewenang birokrasi dibatasi sesuai dengan hierarki jabatannya. Menurut Weber. sehingga berubah menjadi kepanjangan tangan kekuasaan. Birokrasi. hierarki jabatan dalam birokrasi disusun secara bertingkat. dari yang paling tinggi sampai kepada yang paling rendah. muncul pertarungan antarpartai politik untuk merebut posisi puncak birokrasi. Aktivitas utama birokrasi bukan lagi untuk melayani publik. sebagian besar penyelenggara negara memiliki komitmen kuat bagi perjuangan bangsa. Dalam setiap hierarki terdapat kekuasaan pejabat birokrasi.

Sementara nepotisme secara perlahan tapi pasti telah menciptakan perekonomian oligarkis yang dimonopoli oleh para kroni dan keluarga dekat pejabat birokrasi. mempermudah urusan publik. nafsu politik birokrat untuk menguasai birokrasi masih bercokol. langsung maupun tidak langsung. Jika korupsi dan mark-up dilakukan pada proyekproyek infrastruktur dan atau program-program probisnis. Kondisi ini membuat birokrasi sering dimanfaatkan untuk kepentingan partai daripada kepentingan masyarakat luas. dan memberikan kepuasan kepada publik. Situasi seperti ini mendorong para pejabat untuk mencari kesempatan dalam kesempitan agar mereka dapat menciptakan rente dari pelayanan berikutnya. Korupsi secara langsung akan mengurangi besaran dana yang seharusnya dipergunakan untuk kepentingan publik. kolusi secara nyata telah melempangkan jalan bagi orang-orang yang mau berkongsi dengan oknum birokrasi. efeknya 52 . terungkap bahwa birokrasi Indonesia gagal menjalankan fungsi pelayanan publiknya. berbagai jenis patologi birokrasi semua berujung pada uang. Meski asas monoloyalitas telah dihapus. Birokratisasi versus Ekonomi Berbelit-belinya pelayanan serta tidak transparannya kinerja birokrasi telah mendorong masyarakat untuk mencari ”jalan pintas” dengan suap atau berkolusi dengan para pejabat dalam rekrutmen pegawai atau untuk memperoleh pelayanan yang cepat. Birokrasi yang seharusnya mendahulukan kepentingan umum.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 corak koalisi partai. Korupsi yang merajalela di lembaga birokrasi berimbas pada banyaknya biaya tambahan yang harus dikeluarkan para pengusaha dan pemangku kepentingan lain yang berurusan dengan birokrasi. termasuk masyarakat umum. Tampaknya. Dalam praktik. Mulai dari menteri hingga pejabat di semua lini diisi orang Golkar. Keberpihakan birokrasi kepada partai politik masih terlihat. atau dalam bahasa populernya “UUD—ujung-ujungnya duit”. Pemerintah mengaburkan batasan jabatan politik dan jabatan birokrasi dari departemen untuk melanggengkan dominasi Golkar di tubuh birokrasi. Di sisi lain. pejabat birokrasi dikuasai Golkar. Akibatnya. dan sebaliknya melemparkan orangorang jujur dari kancah persaingan bisnis. masyarakat yang harus membayar mahal semua itu karena birokrasi tidak lagi profesional. Dalam beberapa jajak pendapat yang dilakukan lembaga independen. birokratisasi akan menggerus fiskal masyarakat pengguna birokrasi dalam jumlah yang sangat besar. tidak pernah hadir. cara itu masih tetap diwarisi birokrasi hasil reformasi. Secara akumulatif. Pada masa Orde Baru (1966-1988).

id/index. sehingga berpengaruh negatif terhadap kondisi ekonomi makro maupun pada program pembangunan ekonomi secara keseluruhan. Sebagaimana dikemukakan World Economic Forum (WEF) dalam The Global Competitiveness Report 2010-201117. Sementara jika dilakukan pada lembaga-lembaga keuangan atau lembaga pengumpul dan pendistribusi fiskal. Akibatnya. Jika ketiganya dilakukan dalam konteks usaha. ekonomi makro. mereka mengorbankan kuantitas ataupun kualitas barang dan jasa yang dihasilkan.71. perusahaan dan pemerintah.ti. Di antara kebutuhan dasar tersebut. baik swasta maupun pemerintah. mark-up dan permintaan imbalan. Skor rendah mengindikasikan para pelaku bisnis menilai korupsi masih lazim terjadi dalam sektor-sektor publik. adalah kunci penting sukses bidang ekonomi. yakni di antara 3.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik secara langsung akan memperlambat laju perekonomian. serta kesehatan dan pendidikan dasar (gambar 1) Dari gambar 1 dapat diketahui bahwa kelembagaan. dampaknya akan menyebabkan menurunnya pendapatan negara secara drastis. baru kemudian kebutuhan yang lain seperti infrastruktur. php/publication/2010/11/11/indekspersepsi-korupsi-kota-kota-indonesia2010 untuk menghindari kerugian. Biaya tersebut diambil dari nilai total transaksi. yang berarti memperkecil margin keuntungan. khususnya competitiveness suatu bangsa. Indeks Persepsi Korupsi Indonesia (IPK Indonesia) di 50 kota di Indonesia pada akhir 2010 rata-rata masih rendah. pengusaha dipastikan harus mengeluarkan biaya ekstra.61 – 6.10. Sebuah survei yang dirilis TI-Indonesia menunjukkan. Dalam praktik. untuk rentang skor penilaian 0 . Ketidakkondusifan birokrasi Indonesia bagi dunia usaha ternyata berimbas terhadap daya saing ekonomi bangsa di tingkat internasional. WEF menempatkan kelembagaan (institutions) yang kondusif pada urutan kebutuhan dasar pertama. akan menambah biaya yang seharusnya tidak ditanggung oleh pengguna layanan birokrasi. 16 http://www. pdf 53 . salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja ekonomi. Fakta menunjukkan.org/docs/WEF_ GlobalCompetitivenessReport_2010-11. adalah tidak terpenuhinya kebutuhan dasar yang menjadi kunci pendorong pertumbuhan ekonomi. yang semua bertujuan meningkatkan pendapatan dan mewujudkan perekonomian 17 http://www3.or. perilaku koruptif masih marak di lingkungan birokrasi. faktor kelembagaan sangat ditentukan oleh jaringan kerjasama legal dan administratif antara pelaku ekonomi. sementara pemerintah dan penegak hukum kurang serius dalam pemberantasan korupsi16 Suap.weforum.

over-regulasi. Lembaga pemerintah yang kuat mampu menjaga daya saing dan pertumbuhan. Menurut WEF. birokrasi yang birokratis. tahap kedua yang merupakan peralihan dari tahap factor driven ke innovation driven (Tabel 1). korup. tidak jujur.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Gambar 1. di mana hal itu sangat mempengaruhi kepercayaan investasi. Indonesia patut mencermati laporan WEF. dan dipolitisasi. akan mendongkrak biaya ekonomi yang harus dipikul para pengusaha secara signifikan sehingga dalam jangka panjang akan memperlambat laju pertumbuhan ekonomi. Kebutuhan Dasar Kunci Pendorong Pertumbuhan Ekonomi yang sehat. atau sebaliknya kembali terjerumus ke tahap yang lebih rendah karena kendala yang bersifat birokratis. tidak dapat dipercaya. pada masamasa krisis ekonomi peningkatan peran lembaga pemerintah di bidang perekonomian terbukti mampu menghindarkan banyak negara dari kemungkinan krisis yang lebih berat. Kendati posisi daya saing Indonesia untuk kategori overall pada tahun 2011 berada pada 54 Sumber: World Economic Forum Report 2011 . red tape alias lambat dan berbelit-belit. karena saat ini pendapatan per kapita Indonesia sedang berada pada tahap efficiency driven. Jelas bahwa perilaku lembaga pemerintah atau birokrasi sangat berpengaruh terhadap aktivitas dunia usaha. Pada tahap peralihan ini. tidak transparan. Indonesia bersama 25 lainnya berada pada tubir kritis: sewaktu-waktu dapat melompat ke jenjang perekonomian yang lebih tinggi lagi. khususnya dalam hal efektivitas dan efisiensi. produktivitas. Fakta menunjukkan.

yang menyebabkan membubungnya biaya yang harus dikeluarkan pihak pebisnis untuk ongkos pelicin. Munculnya biaya tak terduga (overhead cost) akibat keberadaan birokrasi yang birokratis. Secara khusus laporan tersebut menulis. CEO General Electric. akan tetapi hal tersebut tidak menjamin perekonomian Indonesia di masa datang dapat tetap bertahan pada birokrasi dapat menjadi ancaman serius terhadap daya saing Indonesia di masa datang. kolusi dan nepotisme (KKN) di instansi-instansi birokrasi muncul gara-gara birokrasi sangat permisif terhadap munculnya perilaku moral hazard tersebut. Birokrasi Versus Adokrasi Sumber: World Economic Forum Report 2011 Tabel 1.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik ranking 44 dari 133 negara. 55 . Kasus korupsi. keberadaan Indonesia di peringkat 44 menunjukkan peningkatan impresif 10 tingkat dari peringkat semula 55. Bahkan sebaliknya. menyebabkan timbulnya high-cost economy. Dari laporan tersebut jelas terlihat bahwa kenaikan posisi daya saing Indonesia tidak terjadi karena daya dukung birokrasi. tanpa adanya jaminan perbaikan mendasar pada sisi kelembagaan birokrasi. Peningkatan tersebut antara lain disebabkan oleh sehatnya kondisi ekonomi makro dan meningkatnya indikator-indikator pendidikan. sumbangan birokrasi Indonesia terhadap pertumbuhan ekonomi masih rendah. Income Tresholds for Establishing Stages of Development ranking yang sama. masih maraknya birokrasi yang birokratis yang sarat dengan patologi Sudah lama birokrasi yang rumit menjadi penyebab munculnya ekonomi biaya tinggi. Begitu juga birokrasi dalam bentuk berbelitbelitnya pengeluaran izin berusaha. Tidak mengherankan jika Jack Welch. melainkan karena peningkatan pada faktor-faktor yang lain. satu hal yang sangat dibenci pengusaha. Dengan kalimat yang lebih sederhana.

Alih-alih mempercepat proses. 19 Bennis. perusahaan akan bersandar pada tim proyek yang cepat dan fleksibel dalam struktur antibirokrasi yang ia sebut sebagai adokrasi. birokrasi profesional. (1998). dan adokrasi. The Temporary Society:What is Happening to Bussiness and family Life in America under the Impact of Accelerating Change. menyelesaikan masalah. wirausaha pemula. G. dan mendapatkan hasil. Jakarta: Buana Ilmu. dalam era perubahan berkelanjutan. adokrasi sebagai bentuk organisasi yang memotong jalur birokrasi normal diperlukan untuk menangkap peluang. Welch bahkan menyarankan para karyawannya untuk ”memukul” dan “menendang” birokrasi yang birokratis semacam itu18 Tidak bisa dimungkiri. organisasi-organisasi seperti ini akan menjadi yang paling sukses. J. P. Mintzberg menerbitkan buku “The Structuring of Organization” yang mengemukakan ada empat tipe dasar perusahaan. birokrasi tidak diterapkan secara benar. di masa datang. 18 Krames. Akan tetapi dalam banyak kasus. Adokrasi terbukti semakin banyak diterapkan perusahan-perusahaan bisnis.W. & Slater. yang sebagian besar mengikuti sekumpulan peraturan kaku dan tidak personal.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 menyatakan bahwa birokrasi adalah musuh produktivitas. ia mengusulkan penghapusan birokrasi atau yang sering dikenal dengan istilah adokrasi. Oleh karena itu. keberadaan birokrasi justru menyebabkan pengambilan keputusan menjadi lambat dan berbiaya tinggi. New York: Jossey-Bass Publisher. birokrasi adalah sistem administrasi hierarkis yang dirancang untuk berhubungan dengan sejumlah besar pekerjaan rutin. Bagaimana dengan birokrasi publik yang orientasinya adalah pelayanan masyarakat? Sesuai definisi yang dikemukakan Waterman. (2002). Robert Waterman dalam bukunya “Adhocracy” tahun 1990 mengatakan. Pada tahun yang sama. birokrasi merupakan mesin andal untuk mencapai efektivitas dan efisiensi pekerjaan. Ini menjadi bukti bahwa adokrasi membawa pengaruh positif bagi kinerja sektor perekonomian. Jack Welch adalah satu di antara sekian banyak manajer yang secara ekstrem mengemukakan bahwa kehadiran birokrasi (yang birokratis) sama sekali tidak diperlukan.E. Aliran dan gagasan kontrabirokrasi ini semakin berkembang setelah Alvin Toffler menyampaikan pandangan adokrasinya dalam buku yang ditulisnya “Future Shock” tahun 1970. Warren G Bennis19 Dia menulis. Inilah yang kemudian menjadi titik awal munculnya sentimen ‘kebencian’ para pengusaha terhadap birokrasi. yaitu: birokrasi mesin. Jika diterapkan secara benar. The Welch Way: 14 Tips Praktis dari CEO Terbesar Dunia. Gagasan awal tentang adokrasi muncul dalam karya para teori kepemimpinan Amerika Serikat. Ia berpendapat. 56 .

Reinventing Bureaucracy. efektif dan produktif.R. (2003). Transparansi di sini bermakna pembukaan ruang publik dan publik dapat mengakses secara luas penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum. cepat tanggap. menyempurnakan dan memperbaiki birokrasi agar menjadi lebih bersih. Formulasi. reformasi diharapkan dapat mewujudkan birokrasi yang transparan. Manajemen Proses Kebijakan Publik.. mengubah. Namun yang terpenting adalah mewujudkan perubahan dari birokrasi yang promodialisme atau minta dilayani menjadi birokrasi yang melayani masyarakat. penegakan aturan-aturan hukum. Bersih di sini berarti bebas dari praktek KKN. menyelesaikan masalah. Jakarta: Penerbit Pustaka Binawan Presindo. bersih. Justru yang ada. A. Jakarta: LAN RI dan Duta Pertiwi Foundation. di mana-mana tumbuh birokratisasi. pelaku ekonomi mendapatkan situasi yang lebih kondusif untuk menjalankan usaha tanpa terbebani urusan bertele-tele di luar urusan bisnis yang mereka lakukan. Selain itu. melalui pembenahan sistem pengelolaan anggaran. Reformasi birokrasi diperlukan untuk menata ulang. Sebuah Tawaran Khusus dalam kaitannya dengan bidang ekonomi. peningkatan pengawasan. Mewirausahakan Birokrasi. Berdasar tujuan dari adokrasi tersebut. efisien. Implementasi dan Evaluasi Kinerja. kreatif. yang bermakna mempersulit urusan yang sejatinya dapat terselenggara secara mudah dan murah20 Reformasi Birokrasi dan Pembangunan Ekonomi Untuk menggairahkan kinerja sektor perekonomian. adokrasi bisa pula diterapkan dalam birokrasi publik. Efisiensi dilakukan melalui program penghematan bagi pembiayaan operasional birokrasi. Dengan demikian. reformasi birokrasi adalah sebuah keniscayaan. Reformasi birokrasi juga ditujukan untuk mewujudkan birokarasi yang efisien. perbaikan kesejahteraan pegawai. T. D. mendapatkan hasil. & Gaebler. Reinventing bureaucracy pada intinya adalah pembaruan berupa 21 Osborne. (1995).Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik adokrasi sangat diperlukan dalam memecahkan masalah khususnya dalam menangkap peluang. di Indonesia tidak ada satu birokrasi publik pun yang menerapkan adokrasi. reformasi birokrasi model reinventing bureaucracy dapat ditawarkan sebagai salah satu solusi. 57 . Namun kenyataan menunjukkan. Tujuan reformasi birokrasi terkait sektor ekonomi adalah terwujudnya birokrasi yang 20 Mustopadidjaja. Konsep ini diadopsi dari reinventing government (pemerintahan wirausaha) yang dipopulerkan oleh Osborne & Plastrik21.

struktur kekuasaan. T. Wirausaha adalah memindahkan berbagai sumber daya dari unit kerja dengan produktivitas rendah ke unit kerja dengan produktivitas tinggi dan hasil yang lebih besar. Mewirausahakan Birokrasi. 58 . serta budaya sistem dan organisasi birokrasi. yakni: 1. birokrasi menetapkan kebijakan. Transformasi ini dicapai dengan cara mengubah tujuan. peluang aparat birokrasi untuk melakukan penyimpangan. Birokrasi milik masyarakat atau community-owned bureaucracy: empowering rather than serving Konsep ini menyarankan agar birokrasi mengalihkan wewenang kontrol yang dimilikinya kepada masyarakat. Birokrasi katalis atau catalytic bureaucracy: steering rather than rowing Inti dari formula ini adalah pada pemberian pengarahan bukan pelaksanaan pelayanan publik. Dengan tidak berhadapan langsung dengan pengguna layanan. Sedangkan pembaruan (reinvention) adalah transformasi sistem dan organisasi birokrasi secara fundamental guna menciptakan peningkatan dramatis dalam efektivitas. fungsinya. misalnya meminta imbalan di luar tarif. Dampak nyata dari penerapan konsep ini. peduli dan kreatif dalam memecahkan permasalahan publik. pelayanan birokrasi akan semakin baik dan bermutu. memberikan dana kepada badan pelaksana (baik itu dari swasta maupun lembaga swadaya masyarakat) dan menilai kinerjanya. akuntabilitas. & Gaebler. sehingga masyarakat berdaya untuk mengontrol pelayanan yang diberikan birokrasi dan mampu menjadi masyarakat yang menolong dirinya sendiri (community self-help). akan tetapi tidak harus terlibat secara langsung dengan proses produksinya (producing). D. akan tetapi yang lebih penting adalah efektivitas. dan di sisi lain probisnis. aparat birokrasi akan memiliki komitmen yang lebih baik. (1995). Dengan adanya kontrol dari masyarakat. Kolusi antara penyedia dan pengguna layanan juga dapat dihindarkan 2. birokrasi perlu mewujudkan 10 formula yang menjadi inti dari reinventing bureaucracy22. Birokrasi harus menyediakan (providing) beragam pelayanan publik sesuai dengan tugas dan 22 Osborne. Jakarta: Penerbit Pustaka Binawan Presindo. menerapkan sistem intensif. dapat ditekan. efisiensi dan kemampuan melakukan inovasi.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 penggantian sistem birokrasi yang birokratis menjadi sistem yang bersifat wirausaha. Untuk mewujudkan birokrasi wirausaha yang bebas patologi. Dalam pelaksanaanya. Tujuan pembaharuan adalah efesiensi.

Mengubah fokus input (kepatuhan pada peraturan dan membelanjakan barang sesuai ketentuan) menjadi akuntabilitas pada output dan outcome. 4. Dalam praktik. akan semakin sulit dilakukan karena setiap saat aktivitas birokrasi diawasi oleh masyarakat. serta memberikan diskresi kepada manajer untuk menemukan best practise mewujudkan misi namun tetap dalam koridor legal Dampak positif yang ditimbulkan. birokrasi harus mengembangkan standar kinerja. Masyarakat akhirnya bisa menikmati buah persaingan ini dalam bentuk mutu pelayanan yang semakin meningkat.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Pengguna layanan tidak harus mengeluarkan biaya lebih untuk membayar pelayanan standar yang memang menjadi haknya. misalnya menyederhanakan peraturan. Birokrasi berorientasi hasil atau result-oriented bureaucracy: finding outcomes. Selain itu. birokrasi melakukan deregulasi internal. banyak pelayanan publik yang dapat ditingkatkan kualitas pelayanannya tanpa harus memperbesar biaya. Untuk itu. prosedur dan sistem administratif. korupsi yang biasa terjadi karena kelemahan pengawasan internal. Dan yang lebih penting. 3. Dengan kompetisi. Birokrasi berorientasi misi atau mission-driven bureaucracy: transferring rule-driven organization Mengubah organisasi yang semula digerakan oleh peraturan menjadi organisasi yang digerakan oleh misi. Birokrasi yang kompetitif atau competitive bureaucracy: injecting competition into service delivery Birokrasi secara internal maupun eksternal menyuntikan semangat kompetisi dalam pemberian jasa dan pelayanan publik. not inputs Dalam konsep ini. birokrasi akan terhindar dari birokratisasi. Kompetisi adalah satusatunya cara untuk menghemat biaya sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan. Dengan adanya persaingan. yang mengukur seberapa baik satuan kerja memecahkan 59 . Pelayanan yang lambat dan berbelit-belit serta makan biaya besar. juga mensyaratkan setiap organisai dan satuan kerja birokrasi memiliki misi yang jelas. masing-masing pihak yang diberi wewenang melakukan pelayanan publik akan saling bersaing secara sehat. Dampak dari penerapan konsep ini. 5. birokrasi membiayai hasil bukan masukan peraturan dan membelanjakan. dengan sendirinya akan hilang. mereka akan berlomba-lomba memberikan pelayanan terbaik.

Banyak yang bisa dilakukan untuk menghasilkan pendapatan dari proses penyediaan pelayanan publik. birokrasi juga menetapkan target. atau sekadar melaksanakan tugas rutin organisasi. Selain itu. Birokrasi berjiwa wirausaha atau entreprising bureaucracy: earning rather than spending Birokrasi tradisional cenderung berpandangan bahwa mereka sedang mengerjakan pekerjaan dan karenanya tidak pantas berbicara tentang upaya untuk menghasilkan pendapatan dari aktivitasnya. dan sebagainya. pemberian hak guna usaha yang menarik pada para pengusaha dan masyarakat penyertaan modal daerah. dan menggunakan anggaran untuk mendongkrak tingkat kinerja yang diharapkan. Birokrasi melakukan survei pelanggan. Semakin baik kinerjanya. dengan konsep berorientasi pada pelanggan. Oleh karena itu. Birokrasi memperlakukan masyarakat yang dilayani sebagai pelanggan. bukan memenuhi kebutuhan birokrasi sendiri. dan lain-lain. not the bureaucracy. misalnya menjual informasi kepada pusat-pusat penelitian atau badan usaha baik yang menjual jasa maupun barang. melainkan diubah secara bertahap sesuai dinamika kebutuhan masyarakat. Selain itu. birokrasi 60 . Jika pada masa lalu birokrasi cenderung sekadar melakukan bussiness as usual. semangkin banyak pula dana yang akan dialokasikan untuk mengganti semua dana yang telah dikeluarkan oleh unit kerja tersebut. menetapkan standar pelayanan. Dampak positif dari penerapan konsep ini. birokrasi akan lebih hati-hati menggunakan dana publik. 6. Dengan kata lain. Standar pelayanan tidak tetap dan itu-itu saja. Birokrasi dapat mengembangkan beberapa pusat pendapatan. maka dengan konsep ini birokrasi benar-benar dituntut untuk berkembang sesuai dengan perkembangan kebutuhan masyarakat. birokrasi mendesain organisasi untuk menyampaikan nilai optimal kepada pelanggan. karena akuntabilitas yang tinggi akan sangat menentukan prestasi kerja dan juga berimbas pada pendapatan aparat birokrasi. birokrasi tidak akan pernah usang atau ketinggalan zaman. 7. memberi imbalan kepada unit kerja yang mencapai dan melebihi target.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 permasalahan yang menjadi tanggungjawabnya. memberi jaminan. kinerja birokrasi dapat terukur. Birokrasi yang berorientasi pelanggan atau customer-driven bureaucracy: meeting the needs of the customers. Dengan konsep ini. Birokrasi memenuhi kebutuhan pelanggan.

Dari keduanya. terutama oleh para pimpinan birokrasi. pimpinan bukan lagi “sang maha kuasa” yang berhak menentukan perintah secara top-down kepada bawahan secara sewenang-wenang. Imbas positif dari desentralisasi wewenang adalah makin berkurangnya d’tournament d’vavoir atau penyalahgunaan wewenang. 10. yaitu mekanisme pasar dan mekanisme administratif. apabila tidak ada kebakaran (masalah) maka tidak ada upaya pemecahan masalah. Visi dan misi diwujudkan bersama. Dengan konsep ini. namun juga berupaya keras untuk mengantisipasi masa depan. 8. atau bahkan dialokasikan untuk membantu pembiayaan pelayanan publik yang lain serta membayar insentif bagi pihak-pihak yang berprestasi. Birokrasi berorientasi pasar atau market-oriented bureaucracy: leveraging change through the market. Birokrasi birokratis cenderung bersifat reaktif seperti satuan pemadam kebakaran. Ada dua cara alokasi sumberdaya. akan tetapi proaktif. Menggunakan perencanaan strategi untuk menciptakan visi birokrasi. Put it all together. Desentralisasi akan menghasilkan kepemimpinan kolektif. 9. tanpa menunggu perintah. dan birokrasi daerah untuk meraih peluang yang tak terduga serta menghadapi krisis yang takterduga pula. Birokrasi yang tanggap atau anticipatory bureaucracy: prevention rather than cure Birokrasi tradisional yang birokratis memusatkan diri pada produksi pelayanan publik untuk memecahkan masalah publik. dan sebaliknya hiraki dikurangi. makanisme pasar terbukti sebagai yang tebaik dalam mengalokasi sumberdaya. bisnis. Wewenang diberikan pada unit terdepan. di mana keputusan dilakukan bersamasama oleh tim. Birokrasi terdesentralisasi atau decentralized bureaucracy: from hierarchy to participation and teamwork Birokrasi mengubah sistem hierarki menuju partisipasi dan tim kerja. sedangkan birokrasi 61 . Visi birokrasi membantu masyarakat. Pendapatan tersebut bisa diputar untuk membiayai kegiatan birokrasi. Birokrasi wirausaha tidak reaktif. Tidak hanya mencoba untuk mencegah masalah. Birokrasi tradisional menggunakan mekanisme administratif.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik dibentuk bukan untuk menghabiskan anggaran. Tim kerja bebas menentukan cara kerjanya untuk mencapai hasil terbaik. melainkan untuk menghasilkan pendapatan.

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 wirausaha menggunakan mekanisme pasar. Salah satunya adalah dengan menerapkan konsep reinventing bureaucracy. birokrasi dikembangkan sebagai unit pelayanan yang tepat. efisien. 62 . akuntabel dan berorientasi pada kebutuhan pengguna layanan. Berbagai penyakit birokrasi muncul karena aparat birokrasi cenderung menggunakan birokrasi sebagai alat untuk mencapai tujuan birokrasi itu sendiri. mengeluarkan prosedur dan definisi baku dan kemudian memerintahkan orang untuk melaksanakannya sesuai dengan prosedur tersebut. cepat. Sifatnya yang birokratis dan patologis membuat keberadaan birokrasi lebih dianggap sebagai faktor penghambat dibanding pendorong perekonomian. Sepuluh rumusan reinventing bureaucracy tersebut. Reinventing bureaucracy diharapkan mampu mengembalikan birokrasi sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi. Dalam mekanisme administratif. bukan sebagai unit pelayanan masyarakat. Dengan konsep tersebut. Politisasi birokrasi ikut mendorong terjadinya penyelewengan yang membuat birokrasi semakin jauh dari fungsi utamanya sebagai penggerak sektor perekonomian. Untuk menghilangkan berbagai patologi yang ada. birokrasi perlu direformasi. birokrasi tradisional menggunakan perintah dan pengendalian. efektif. Dalam mekanisme pasar. birokrasi wirausaha tidak memerintahkan dan mengawasi tetapi mengembangkan dan menggunakan sistem insentif agar orang tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang merugikan masyarakat. Kesimpulan Birokrasi Indonesia belum probisnis. jika dapat diterapkan secara konsekuen dipastikan dapat menghilangkan birokrasi birokratis dan patologi birokrasi yang selama ini melingkupi birokrasi Indonesia.

Edisi 3 / September / 2011 Laporan Studi Lapangan Foto : Antara Reformasi Birokrasi dalam Dinamika Pemerintahan Daerah Oleh : Tim Redaksi 63 .

mutu pelayanan kepada masyarakat meningkat. Manajemen sumber daya manusia aparatur negara pun belum profesioan. proaktif. dan efektif. Jika berhasil. EE Mangindaan. Melalui Menteri Pendayagunaan Aparatur dan Reformasi Birokrasi. Reformasi birokrasi perlu dilakukan. bahkan dapat menghilangkan. seperti menyangkut kedisiplinan atau taat peraturan. akan mengurangi. kolusi. Birokrasi pemerintah yang tidak efisien menjadi salah satu faktor penghambat utama dalam melakukan aktivitas percepatan pembangunan ekonomi. Akuntabilitas kinerja instansi perlu pembenahan dan harus berorientasi pada hasil. Reformasi di bidang birokrasi dinilai mengalami ketertinggalan dibanding reformasi di bidang politik. 20 September 2011). kareana kini korupsi. Pemerintah dinilai belum dapat menyediakan pelayanan publik yang berkualitas. Ini sebuah pertaruhan besar bagi bangsa Indonesia yang memasuki abad ke-21 ini. Oleh karena itu pemerintah dengan sirius ingin menerapkan 64 . setiap penyalahgunaan kewenangan publik. begitu pula mutu perumusan dan pelaksanaan kebijakan makin efisien waktu dan biaya. ekonomi. dan hukum.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 M Pendahuluan eskipun sudah ada kesepakatan bersama di semua jajaran pemerintahan baik pusat maupun daerah untuk melaksanakan reformasi birokrasi. pemerintah mengakui bahwa sejalan perkembangan kebutuhan masyarakat yang semakin maju dan persaingan global yang semakin ketat. maka birokrasi kita makin antisipatif. Jika kita memiliki birokrasi yang baik. Meskipun sudah banyak perbaikan dilakukan namun indeks persepsi korupsi Indonesia masih rendah dibandingan dengan negara Asia lainnuya. akan tetapi masih banyak yang menilai bahwa reformasi birokrasi masib belum berjalan secara optimal. pemerintah belum dapat memberikan pelayanan prima bagi investor yang berbisnis atau yang akan berbisnis di Indonesia (Kompas. Selanjutnya Mengindaan menjelaskan bahwa makna reformasi birokrasi adalah sebuah perubahan besar dalam paradigma dan tata kelola pemerintahan Indonesia. dan nepotisme (KKN) semakin menjadi. sesuai dengan tantangan yang dihadapi.

Keenam lokasi studi lapangan tersebar di wilayah Indonesia bagian barat. Sorong. Pertimbangan utama mengapa perlu melihat dinamika pelayanan publik di daerah-daerah. dan partisipasi publik. Oleh karena itu.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik pemerintahan dengan prinsip good governance. Adapun pertimbangan dipilihnya kota tersebut adalah. ternyata pemerintah daerah paling banyak mendapat laporan. Salah satu wujud dari komitmen pemerintah adalah mengundangkan Undang-undang Nomor 14 Tahun 208 tentang Keterbukaan Informasi Publik. akuntabilitas. melalui pengumpulan data lapangan dengan metode observasi dan wawancara mendalam kepada segenap informan yang potensial di berbagai daerah. belum terbentuknya PPID. dan Sorong mewakili daerah yang tingkat transparansinya masih dalam kategori cukup. Banjarmasin: Komitmen Tinggi Pemprop Kalsel dalam upaya reformasi birokrasi telah memanfaatkan dan mengembangkan IT dalam proses penyelenggaraan pemerintahan dengan mengembangkan unit pelayanan pengadaan secara elektoronik. karena selama ini pengaduan masyarakat terhadap layanan publik di sejumlah instansi.20%). seperti kendala kultural. Lokasi pengumpulan data lapangan diselenggarakan di enam (6) kota di Indonesia untuk mendapatkan pendapat publik tentang berbagai aspirasi yang berkembang di masyarakat terkait dengan akan kebijakan keterbukaan informasi publik di jajaran birokrasi pemerintah. bahwa di samping untuk mewakili perimbangan territorial yang mewakili Indonesia bagian barat. dan 65 . tengah dan timur yang dianggap relevan dengan isu transparansi birokrasi. akan dapat diserap aspirasi dan harapan sebagai umpan balik dari masyarakat. Denpasar. tengah dan timur.13%). yaitu adanya tranparansi. Dengan undang-undang ini birokrasi pemerintah daerah segera diharapkan untuk melaksanakan undang-undang tersebut. yaitu meliputi Pakanbaru. sementara untuk Surakarta dan Denpasar mewakili daerah yang tingkat transparansi pemerintahannya baik. Untuk daerah seperti Pakanbaru. yang akan sangat berguna bagi upaya meningkatkan kinerja birokrasi pemerintah dalam melayani dengan prinsip good governance. sistem informasi pelaporan keuangan daerah. Banjarmasin. Surakarta. Banjarmasin. Sidoarjo. Sidoharjo. dan tingkat kesadaran masyarakat sendiri dalam mencari dan mengakses informasi belum terbentuk secara meluas. yaitu sejumlah 354 aduan (31. juga atas pertimbangan prestasi dan kurang berprestasinya pemerintah daerah dalam melaksanakan pemerintahan dengan prinsip good governance. sistem database barang daerah. disusul kepolisian 241 aduan (21. Akan tetapi berbagai kendala masih muncul dalam implementasi undang-undang yang sangat demokratis tersebut.

dan Dewan Kelurahan. Sedangkan warga yang sedang mengurus paspor di kantor emigrasi mengaku tidak mendapat kesulitan dalam mengurus paspor. Reformasi telah menjadi komitmen Pemkot Banjarmasin dengan titik berat pada peningkatan pelayanan publik.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 secara bertahap penerapan paperless office. kata Muhidin. Khususnya dalam bidang perizinan. yaitu Badan Pelayanan Perijinan dan Penanaman Modal (BP3M). “Saya cukup lancar dalam 66 . Pemkot Banjarmasin menerapkan layanan terpadu dengan satu atap. maka akan menggairahkan dunia usaha. dan juga di kantor emigrasi. PAD mencapai Rp 80. dan tentu akan ikut berpengaruh terhadap naiknya Pendapatan Asli Daerah.5. yaitu organisasi yang tepat fungsi dan ukuran.” Katanya. “Semua itu dalam rangka mengoptimalkan pelayanan kepada masyarakat dalam segala aspek yang menyangkut kepentingan publik. sehingga masyarakat tidak terhambat oleh masalah birokrasi yang berlarutlarut dalam meningkatkan usahanya. dan pada tahun 2011. Muhidin mengungkapkan tekad tersebut bersamaan dengan Hari Jadi Kota Banjarmasin yang ke-485. RW. Banjarmasin selama program Pemkot telah meningkatkan kualitas SDM di jajaran PNS.5 milyar. Untuk setiap ijin kepada SKPD. Dalam hal memberikan layanan perijinan secara lancar. Pada tahun 2010. sumberdaya aparatur yang punya integritas. tata laksana seperti sistem dan proses-prosedur. pelayanan cukup lancar. dengan meningkatkan rata-rata tingkat pendidikan. Wali Kota Banjarmasin. optimis akan dapat dicapai”. tepatnya 24 September 2011. target Rp 111. seperti kantor urusan administrasi kependudukan. sehingga dengan demikian semuanya dapat dikontrol untuk kepentingan koordinasi. Langkah taktis yang dilakukan Kalsel adalah dengan melakukan perubahan menyeluruh pada aspek pendayagunaan aparatur negara. Akan tetapi Muhidin menegaskan tidak akan segan memberikan sangsi terhadap PNS yang tidak disiplin. pelayanan publik yang prima. “Hal ini terbukti. Hal ini meliputi delapan area perubahan. Demikian pula para guru juga mendapatkan insentif agar terus memberikan pelayanan pendidikan yang optimal. regulasi yang tertib. Pemkot juga berusaha meningkatkan tingkat kesejahteraan pegawai dengan memberikan tunjangan dan insentif bagi PNS di lingkungan Pemkot Banjarmasin. Memang berdasarkan pengamatan di lapangan. pola pikir. pengawasan. Pemkot terus berusaha memberikan pelayanan prima. Di samping itu. semuanya harus lewat BP3M. dan budaya kerja. akuntanbiilitas. bahwa dari tahun ke tahun PAD Kota Banjarmasin terus menunjukkan peningkatan secara cukup signifikan. Untuk menunjang reformasi birokrasi. Antara lain dengan memberikan insentif kepada RT. Berdasarkan pengakuan warga yang sedang antri mengurus perijinan mengaku cukup mendapat pelayanan secara baik. Dengan reformasi birokrasi.

bahwa di Banjarmasin kalau mengurus ijin.go. “Memang sekarang ini sudah banyak internet. Sujianto. lancar tidaknya juga tergantung. Ke depan Pemkot akan terus mendorong masyarakat agar terus semakin sadar akan pentingnya terlibat dalam pengambilan keputusan melalui media. Paling tidak ini sudah menunjukkan ada upaya peningkatan pelayanan. Eka Herlambang. kata Eka.” Kata Amin. Sebagaimana dijelaskan oleh Kepala Bidang Informatika Pemkot Banjarmasin. jadi jajaran birokrasi pemerintah tidak mau ambil risiko dengan melakukan lelang secara tertutup. Sekarang kan era keterbukaan. semuanya langsung ke petugas”. Karena di samping itu menyalahi hukum. Pemkot Banjarmasin terus berusaha mensosialisasikan undang-undang tersebut kepada masyarakat. Warga dalam mengakses internet. Pakanbaru: Antara Optimis dan Pesimis Pada prinsipnya pemerintah daerah telah berusaha keras dalam upaya meningkatkan pelayanan birokrasi kepada masyarakat. hanya menunggu satu minggu jadi. kata seorang warga yang mengaku akan menjadi TKI ke luar negeri. ya harus ada dana tambahan yang diserahkan pada petugas”. masyarakat terkesan kurang peduli terhadap perlunya informasi. Amin. Banjarmasin. Namu demikian juga ada warga yang mengaku. Dan saya tidak menemui calo di sini. dalam hal pelelangan tender senantiasa disampaikan kepada masyarakat. “Kalau mau urusan cepat. akan tetapi kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam kebijakan publik melalui akses informasi di jejaring sosial masih belum menjadi perilaku budaya. “Semua itu dilakukan guna mendukung prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam sistem pelayanan prima kepada masyarakat.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik mengurus paspor. adanya unit pelaksana teknis (UPT) termasuk Badan Pelayanan perizinan Terpadu menjadi bukti secara formal bahwa ada peningkatan pelayanan birokrasi. Akan tetapi memang harus diakui bahwa. Dr. karena akan lebih efisien dari sisi waktu dan biaya. Menurut Prof. Kepala Seksi E-Government. dan untuk komunikasi melalui jejaring sosial. Pemkot Banjarmasin terus berusaha memberikan pelayanan secara transparan kepada masyarakat. Sedangkan M. Guru Besar Administrasi Negara FIsipol Unri. Sementara itu dalam upaya menerapkan prinsip good governance. masih untuk keperluan hiburan.id yang digunakan untuk lelang secara on-line. dalam rangka menerpakan UU Keterbukaan Informasi Publik. katanya yang berpengalaman mengurus KTP. juga masyarakat sudah kritis”. “Pemkot juga membuka web. tetapi sudah diberlakukan sanksi denda bagi yang terlambat. Mungkin koordinasi dengan instansi teknisnya masih kurang baik. Sebenarnya pelaynan yang belum baik itu sering didengar di unit pelaynan non 67 .

bahwa nuansa politisasi birokrasi di daerah sangat terasa karena kompetisi politik sangat keras dalam Pilkada.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 perizinan. pembuatan KTP yang merupakan hak setiap warga Negara. Jika dulu senantiasa mengacu pada GBHN. Suara senada juga dikemukan oleh Azali Johan. Wakil Ketua DPRD Kota Pakanbaru. Contoh yang sederhana. tetapi kenyataannya justru sebaliknya. Akan tetapi Sujianto melanjutkan. Menurut Sondiwarman. seorang aktivis LSM. katanya menyayangkan. birokrasi cenderung tidak netral karena ada kepentingan politik. ada kecenderungan mempengaruhi kinerja birokrasi dalam memberikan pelayanan kepada publik. Meskipun ada kecenderungan Parpol membuat birokrasi pemerintah menjadi kurang netral. dalam prakteknya mulai dari Kelurahan sudah mulai menyimpang dari Perda yang seharusnya biayanya murah menjadi mahal. Seharusnya birokrasi dibebaskan dari kepentingan politik sesaat. tetapi disalahgunakan oleh negara-negara berkembang sehingga menjadi birokrasi feodal dan tradisional. “Sekarang ini pergantian pejabat lebih didasarkan pada pertimbangan politik. menilai bahwa birokrasi pemerintah hingga sekarang masih cenderung minta dilayani. tetapi sekarang pada visi kepala daerah yang setiap ganti kepala daerah pasti ganti visi. Kondisi pelayanan birokrasi pemerintah mengalami penurunan karena terseret dengan arus politik yang ada. Program pelayanan sering tidak konsisten karena setiap ganti pimpinan kepala daerah ganti visi dan ganti program. tetapi kritik juga datang dari kalangan politisi. dan yang 68 . Padahal mestinya birokrasi itu tugas dan fungsi utamanya adalah melayani masyarakat. “Itulah sebabnya pejabat mulai dari yang tertinggi sampai yang paling bawah sampai saat ini belum bisa menjadi teladan yang baik. ada satu hal yang menarik bahwa pada era otonomi daerah sekarang ini. Umumnya lebih disebabkan oleh faktor manusianya yang kurang tanggap dan cekatan. 17 September 2011 Koran memberitakan bahwa 134 pejabat pemerintah di Pakanbaru diganti karena tidak cocok dengan pejabat politik yang berkuasa saat ini. mereka melayani siapa saja yang berkuasa tanpa harus diganti. Para birokrat bekerja dalam kondisi yang tidak kondusif. dalam arti partai apa yang memenangkan dalam Pilkada. Tidak ada garis utama yang menjadi patokan program layanan birokrasi. Akibatnya mengabaikan faktor kualitas dan mengorbankan profesionalisme dalam menunjuk pejabat”. karena mereka sangat tergantung pada partai politik berkuasa. Nilai birokrasi sesungguhnya berlandaskan pada evisiensi dan netralitas. Untuk itu birokrasi seharusnya tidak lagi dibina oleh pejabat politik dan penegakan hukum dilakukan secara konsekwen terhadap siapapun. Dalam rekruitmen sumber daya manusia pun juga bias kepentingan politik. seperti di bidang kesehatan dan pendidikan. Birokrasi bekerja untuk melayani penguasa (kepentingan parpol). Partaipartai politik yang kebetulan menjadi pemenang dalam Pilkada misalnya. Contohnya hari ini Sabtu.

terutama di unit pelayanan masyarakat. Tujuannya adalah. atau melalui surat edaran. Praktik pungutan illegal seperti itu ada hubungannya dengan mentalitas para aparat birokrasi yang masih koruptif. untuk mendukung capaian kinerja yang optimal. tetapi tetap saja melakukan penyimpangan layanan. pegawai. tetapi tetap lambat. tetapi dalam praktek tidak demikian. yaitu jika pelayanan tidak memenuhi permintaan masyarakat atau pelayanan tidak sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang telah ditetapkan. Dalam kaitan dengan implementasi UU No.000. selaian untuk lebih mengefektifkan pelaynan birokrasi juga dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan. Hingga sekarang Komisi Informasi Daerah dan PPID belum terbentuk. Bagi mereka yang tidak masuk kantor atau melanggar disiplin. semua sarana dan fasilitas disediakan. Seharusnya proses lebih dipercepat. serta mengefektifkan pengawasan dan evaluasi. Yarham SH. Pemprov telah memberikan insentif kepada aparat birokrasi yaitu tunjangan beban kerja.000. karena juga rentan melakukan hubungan kolutif antara pelaksana dan jajaran pengawasnya. .sampai Rp. Besaran tunjangan di sesuaikan dengan golongan. Sekretaris Daerah selaku pembina pegawai ditingkat Provinsi juga merespon pengaduan masyarakat yang diungkap dalam acara Apel Bendera. Padahal sebagaimana dikatakan Kepala Bidang Kedudukan Hukum dan Kesra Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Riau. Buruknya pelayanan publik ini juga diungkapkan oleh Presiden Badan Mahasiswa Universitas Riau. akan dipotong sesuai dengan ketentuan yang telah dietapkan. karena aparat masih bermental korup. Setiap pengaduan masyarakat.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik seharusnya cepat tetapi kenyataannya masih lambat. perbulan. baik Sujianto maupun Nofri mengatakan bahwa pengawasan terhadap suatu kebijakan di lingkungan birokrasi pemerintah tidak berjalan efektif.000. sehingga meskipun sebenarnya sudah ada isentif. 53 tahun 2010. Rapat Pimpinan. “Bagaimana mungkin akan melaksanakan 69 . 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Bersamaan dengan itu.4000. Khusus bagi mereka yang melanggar disiplin pegawai akan diproses dan dikenakan sanksi sesuai PP No. maka akan langsung direspons oleh pimpinan. Memang mekanisme pengawasan dari masyarakat pun juga dibuka sebagaimana dikatakan oleh Yasram. meskipun sudah ada SOP-nya. Prinsip Good Governance akan sulit diterapkan secara optimal jika transparansi dalam mekanisme pemerintahan tidak dilaksanakan.2. Nofri Andri. respons pemerintah Provinsi Riau dapat dikatakan kurang cepat. Padahal salah satu prasyarat penting dalam melakukan reformasi birokrasi adalah efektifnya implementasi undangundang tersebut. atau melalui SMS. maka biasanya masyarakat mengadu langsung. yang memberikan contoh tentang layanan KTP gratis. Demikian juga. yakni antara Rp.

Ketua MUI Riau. Saat ini BP2T memiliki 150 jenis layanan perizinan dan non perizinan. Sorong: Bergelut Mimpi dan Tradisi Salah satu elemen penting dalam mewujudkan penyelenggaraan negara yang terbuka adalah hak publik untuk memperoleh informasi sesuai dengan peraturan perundangundangan. bahwa dalam upaya meningkatkan pelayanan publik Pemprov Riau telah membentuk Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BP2T) berdasarkan Kepmendagri No. tetapi sudah diberlakukan sanksi denda bagi yang terlambat. Sementara itu tentang belum terbentuknya PPID menurut Azali Johan tidak jelas alasanya. Akan tetapi Azali menilai bahwa pada prinsipnya Pemprov Riau sudah melaksanakan prinsip good governance sebagai bagian dari komitmen untuk menjalankan reformasi birokrasi. 70 . kata Nofri. “Adanya unit pelaksna teknis (UPT) termasuk Badan Pelayanan perizinan Terpadu menjadi bukti secara formal bahwa ada peningkatan pelayanan birokrasi. Ikon BP2T adalah CERIA . Mungkin koordinasi dengan instansi teknisnya masih kurang baik. Sebagai contoh dalam hal transparansi. Akan tetapi sekarang sudah relatif transparan. tetapi hampir di seluruh Indonesia ada gejala itu. 8 tahun 2008 tentang Badan Pelaynan Perizinan Terpadu. meskipun memang masih banyak hambatan baik struktural maupun kultural. hingga sekarang banyak warga masyarakat mengeluh tentang rekruitmen PNS yang tidak terbuka. mungkin karena takut dosa berjamaah. Paling tidak ini sudah menunjukkan ada upaya peningkatan pelayanan”. Dengan keterlibatan yang berkualitas. Sedangkan Ramli Khatib. Hal ini juga diakui oleh Politikus Sondiwarman bahwa pemerintah sudah berusaha transparan. dan saat ini baru ada di tingkat Provinsi. berpendapat bahwa belum terbentukan PPID sesuai dengan amanat UU KIP. Karena itu kami jajaran mahasiswa akan terus mendorong percepatan reformasi birokrasi”. Integritas. kata Sujianto yang diamini oleh Zulkurnain.Cepat. saya kira tidak hanya di Riau. Responsif.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 reformasi birokrasi jika prinsip good governance tidak dijalankan dengan baik. Jaminan hak publik atas informasi mendorong partisipasi atau keterlibatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan publik. Akan tetapi pada prinsipnya Pemprov Riau tetap berusaha semaksimal mungkin meningkatkan kualitas pelayanan birokrasi pada masyarakat. katanya. sehingga masyarakat tidak familiar dengan masalah keterbukaan informasi. “Kalau soal kecenderungan adanya KKN dalam rekruitmen PNS. Sebagaimana dikatakan oleh Sujianto dan Zulkurnain. Badan Pelayanan Perizinan Terpadu. misalnya dengan mengumumkan hasil tes beserta rankingnya di depan publik”. Kasubag Bina Program. karena akan lebih efisien dari sisi waktu dan biaya. penyebabnya adalah Pemprov Riau masih setengah hati dalam menjalankan pemerintahan secara transparan. Efisien. Sosialisasi UU KIP menurutnya kurang lancar. dan Akuntabel.

dan mengharuskan seluruh badan publik di Indonesia memberi informasi kepada masyarakat dan melayani permintaan informasi dari publik. Prioritas tersebut merupakan “mimpi” Pemerintah Kabupaten yang diarahkan untuk meningkatkan investasi di kawasan kepala burung. Apalagi. ekonomi dan infrastruktur diarahkan agar bisa menyiapkan sumber daya lokal agar mendukung kebutuhan sumber daya manusia. Sementara di kawasan Kota Sorong tengah berbenah untuk meningkatkan kapasitas sebagai meeting point. Tahun 2008. prioritas Pemerintah Kabupaten Sorong adalah meningkatkan investasi di kawasan yang kaya minyak.Sos. gas alam dan sumber mineral lain itu. karena Sorong dikelilingi oleh kabupaten-kabupaten yang mempunyai sumber daya alam yang sangat potensial sehingga membuka peluang bagi investor dalam maupun luar negeri untuk menanamkan modalnya. Kesadaran akan tanggung jawab yang harus diemban pemerintah daerah atas keterbukaan informasi publik tampak sudah dipahami oleh pejabat di kawasan timur Indonesia. ekonomi. yaitu pendidikan. di Indonesia. S. “Ada empat prioritas pembangunan Kabupaten Sorong. Posisinya sangatlah strategis karena merupakan pintu keluar masuk Provinsi Papua dan kota persinggahan.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik akhirnya terwujud akuntabilitas dan pertanggungjawaban setiap kebijakan publik. sementara kesehatan yang bertaratf internasional dikembangkan untuk melayani kebutuhan industri dan investor yang kebanyakan dari luar negeri. Dalam aspek layanan informasi. pelabuhan dan pendukung investasi di kawasan Papua Barat. Marthen Nebore. Sekalipun. Kota Sorong dikenal dengan istilah Kota Minyak sejak masuknya para surveyor minyak bumi dari Belanda pada tahun 1908. perdagangan dan jasa. kesehatan. Di kawasan timur Indonesia. dan infrastruktur. baik di lingkungan Kabupaten 71 . Kota Sorong terkenal penuh dengan sisa-sisa peninggalan sejarah bekas perusahaan minyak milik Belanda. Kabupaten dan Kota Sorong. kini tengah berbenah untuk meningkatkan kualitas layanan publik. Kota Sorong juga rnerupakan kota industri.” jelas Kepala Humas Kabupaten Sorong. Undang-undang itu memberi jaminan hukum bagi masyarakat dalam meminta informasi dari badan-badan publik. namun Marthen menegaskan bahwa komitmen keterbukaan informasi sudah melekat dalam setiap program pembangunan. Papua Barat. UndangUndang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP) disahkan dan diterapkan.Sc. kerangka layanan informasi memang tidak diprioritaskan dalam pembangunan Kabupaten Sorong. M. Pendidikan. termasuk informasi. sekalipun tidak ada peraturan lokal khusus mengatur implementasi UU KIP. Papua.

“Sempat bingung juga. Kemitraan bagian humas dengan pers cukup bagus sehingga berita tentang pembangunan Kabupaten Sorong dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Beberapa kesulitan yang ditangani langsung dibantu.” ungkapnya. “Jadi kalau mereka tidak membutuhkan ya.” tuturnya. peraturan-peraturan tersebut tidak secara jelas mengatur tata cara mengakses informasi sebagaimana diatur dalam UU KIP. namun Marthen Nebore. telah mengatur kewajiban lembaga pemerintah setempat untuk memberi informasi kepada masyarakat. tidak ada yang mau datang. Di Kota Sorong. Di kantor layanan.00 WIT dan berakhir di pukul 14.oo. warga bisa bertanya secara langsung mengenai kelengkapan berbagai dokumen yang dibutuhkan untuk mendapatkan Kartu Keluarga atau Akta Catatan Sipil lainnya. Ketika datang di kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Sorong. “Pelayanan informasi berjalan dengan baik. “Setiap dinas sudah memiliki website dan kami juga memfasilitasi petunjuk layanan informasi di setiap kantor layanan.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 dan Kota Sorong beberapa peraturan daerah. belum ada penunjukkan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumen (PPID).00 WIT. Akses informasi untuk masyarakat memang sudah disediakan langsung melalui kantor layanan dan website.” katanya yang harus menyempatkan diri pagi sekali karena layanan kantor dimulai pagi pk. Sebagaimana dialami oleh Amanis Waang (59) asal Kelurahan Rufei. informasi tentang biaya pengurusan KTP dan Akte Catatan Sipil bisa dilihat di ruang layanan kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. Nifu Ahmad.000. Keterbukaan informasi dalam tataran awal sudah cukup intensif dikembangkan.” tambahnya.000.IP. tapi untung ada yang membantu. termasuk di kelurahan dan distrik. 08. Hal itu juga dibenarkan oleh Maimunah (35) salah satu petugas layanan loket.oo sampai Rp25. langsung dipandu oleh salah satu petugas yang ada. ada kecenderungan warga Sorong hanya mengurus KTP atau yang lain ketika membutuhkan. Sesuai Perda No. menjamin masyarakat Kabupaten Sorong dapat dengan mudah mengakses informasi. Menurutnya penyediaan informasi yang dibutuhkan bisa diakses langsung masyarakat di instansi yang bersangkutan. S. Walaupun demikian. Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Bagian Humas Setda Kota Sorong. Distrik Sorong Barat. biaya pencetakan dokumen berkisar mulai Rp 10. Ini saja yang mengurus KTP Nasional baru bisa dihitung dengan jari. Dalam pandangan Abbas (50) seorang pekerja industri kayu.15 Tahun 2009 Tentang Retribusi Penggantian Biaya Cetak KTP dan Akte Catatan Sipil. misalnya dalam pelayanan pembuatan Kartu Tanda Penduduk. Menurutnya 72 . seperti Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. sekalipun di Kota dan Kabupaten Sorong.

penggunanya tidak terlalu banyak. “Padahal kita untuk menyukseskan Program Nasional Kepemilikan KTP Nasional dibuka layanan langsung selama empat hari. sebelah timur di kelilingi hutan lebat yang merupakan hutan lindung dan hutan wisata. Di Kota Sorong. lereng. Belum lagi harus menghadapi hambatan adat dan budaya masyarakat yang cukup beragam.” tambah Abbas.” jelas Rury.4/596/2010 tentang pembuatan KK dan KTP Standar Nasional tanggal 22 Juni 2010 dan Surat Perintah Tugas Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Sorong Tentang Pelayanan Langsung Pembuatan KK dan KTP Standar Nasional di Kelurahan Tanjung Kasuari dan Kelurahan Saoka Distrik Sorong Barat Nomor . Sumatera. “Dibutuhkan cost yang besar dikarenakan jangkauan wilayah kami yang cukup luas. Buton. Berbeda dengan di Kabupaten Sorong. “Biasanya kalau membutuhkan untuk pinjaman bank atau kredit.” jelasnya.” jelasnya. “Sehingga masyarakat yang datang untuk mengurus KK dan KTP jumlahnya tidak maksimal.” jelas Moh. layanan itu didasarkan pada Surat Edaran Walikota Sorong 474. Makasar). kurangnya sosialisasi pelaksanaan kegiatan membuat tidak maksimal. Kepala Bidang Komunikasi dan Informatika Dinas Perhubungan 73 . Di Sorong sendiri.  “Masing-masing suku memiliki karakteristik adat tersendiri dan berbeda dalam menyikapi layanan pemerintah.” ungkap Marthen seraya menambahkan bahwa standar biaya dari pemerintah pusat tidak sesuai apabila diterapkan di Papua. Baru mereka mau urus KTP. sebagai transmigran yang membawa agama Islam ke tanah Papua. staf di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Sorong. karena standar biaya di Papua memang cukup mahal. Menurut Nifu Ahmad. Sunda. menurutnya ia juga belum mendapatkan surat edaran dari distrik. 470/596/SPPD-DKPSRG/2010. memang kebanyakan layanan publik terkendala dengan perilaku warga. Jawa. Hal senada juga disampaikan oleh Abbas. selain masyarakat Moi (terutama yang ada di daerah pantai dan biasa menggunakan nama depan/belakangnya dengan usin) juga terdapat masyarakat BBM (Bugis. Keadaan topografi Sorong sangat bervariasi terdiri dari pegunungan. Cuma banyak yang tidak bisa datang karena beberapa hal. Ketika dibuka layanan langsung di distrik atau kelurahan. bukit-bukit dan sebagian adalah dataran rendah. “Memang kita dari pegawai Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Sorong di bantu oleh aparat kelurahan setempat. Menurutnya selain besaran biaya pengganti cetak. jangkauan geografis yang luas dan sebaran penduduk yang tidak merata menjadi kendala yang paling utama.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik kebutuhan warga yang lebih banyak mendorong ketika mereka mengurus KTP atau Akta lain. Alwin.

” tambah Moh. Undang-undang ini juga memberikan jaminan adanya 74 .Si menyatakan peran kehumasan yang langsung bisa berkomunikasi dengan warga atau pekerja media sangat penting dalam mewujudkan kepercayaan publik dan membina hubungan baik dengan masyarakat. Dr Stefanus Malak.“ tegas Marthen Nebore. salah satunya penyampaian informasi seputar program pembangunan yang sedang berjalan. Tak heran jika kemudian. maka akan lambat. Marthen Nebore.” tambahnya. Jika melalui website tidak optimal. Selain itu juga kian memudahkan koordinasi bagi aparat Pemda Sorong. Pemkot Sorong dan Pemkab Sorong. Dalam Undang-undang keterbukaan informasi publik. juga tak jauh beda kondisinya. Tapi usai jam 12. kami terus meningkatkan peran aparat hubungan masyarakat (humas) sebagai ujung tombak dalam penyampaian informasi. “Khususnya.00 siang.” tuturnya.” jelas Marthen. dukungan infrastruktur layanan informasi yang cukup kuat sangat diperlukan.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 dan Kominfo Kabupaten Sorong.” tambah Marthen. tapi kecepatan akses lambat juga masih jadi kendala. Namun kondisi akses jaringan internet yang belum stabil membuat layanan ini tidak bisa optimal diakses warga. Sementara website Kota Sorong. Agar bermanfaat bagi kekompakan jajaran SKPD. go. dan bisa dipertanggungjawabkan kepada masyarakat. menyatakan pihaknya juga memfasilitasi penyelenggaraan pelatihan dan kordinasi kehumasan.go. menurut Marthen. Oleh karena itu. “Jaringan internet di sini biasanya cepat kalau pagi. Alwin yang kini menangani layanan media center dari Kementerian Kominfo di Distrik Aimas. sebenarnya telah mengembangkan layanan infromasi melalui website. website Kabupaten Sorong www. guna menjawab tantangan besar yakni meningkatnya proses pertukaran informasi antar unit di dalam organisasi internal. haruslah didukung oleh informasi atau data yang akurat. tidak dapat diakses masyarakat.sorongkota. Bupati Sorong. “Apalagi kita harus menjangkau dan melayani masyarakat sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masingmasing. www. “ UndangUndang Keterbukaan Informasi Publik mewajibkan seluruh badan publik menyediakan informasi publik membuat standar layanan informasi publik. “Masingmasing wilayah kerja. Kepala Bagian Humas Pemkab Sorong. Tapi kita berupaya meningkatkan kinerja kehumasan pemerintah. kesiapan para penyelenggara negara dalam menyediakan informasi yang diberikan kepada masyarakat adalah hal yang mutlak.id. “Berbagai acara dan pelatihan secara berkala dikembangkan. Kabupaten Sorong. Keterbukaan informasi publik bukan hanya sekadar mengatur soal informasi.id. M.sorongkab. Sekalipun semua bisa terjangkau akses internet nirkabel.

Di kawasan Sorong. yaitu: Suku Moi.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik partisipasi warga negara dalam turut menentukan kebijakan.” tambah Marthen. dosen Ilmu Komunikasi Fisip UNS. “Widodo Muktiyo. diperlukan rintisan pembangunan kepariwisataan dalam jangka panjang yang dimulai dari sekarang. mengakui bahwa pelayanan birokrasi di kota ini 75 . Bugis Makasar. Kader posyandu ditujukan untuk membantu tenaga medis yang jumlahnya terbatas. Di bidang pendidikan.” tambah Abbas. Di bidang kesehatan. BPM/BPD/LKMD.” kata Bupati Sorong. “Prioritas utama kami adalah pengembangan wisata bahari dan wisata alam. relatif sudah mulai banyak didominasi oleh kalangan pendatang. Maybrat. Dengan pesona alam khas papua dan ditunjang letak yang strategis. Partisipasi yang paling menonjol dalam hal pelayanan dasar adalah di bidang pendidikan dan kesehatan. terdapat enam kelompok etnis besar. Di bawah kepemimpinan Wali Kota Joko Wiyono. dan Maluku. “Semua kegiatan itu memang aktif dilakukan di Kabupaten Sorong. Surakarta: Ada Perubahan Signifikan Pemerintah Kota Surakarta merupakan salah satu contoh semakin meningkatnya kinerja birokrasi. Suku Moi adalah penduduk asli Papua yang menjadi pemegang hak adat atas tanah di pusat pemerintahan Kabupaten Sorong. Jawa. Partisipasi atau pelibatan masyarakat tidak banyak berarti tanpa jaminan keterbukaan informasi publik. khususnya di propinsi Papua Barat. kota Surakarta memang telah menunjukan kemajuan signifikan dalam pelayanan birokrasi. Hal ini di sebabkan rendahnya kemampuan. Kabupaten Sorong kini sedang mempersiapkan diri untuk menjadi daerah tujuan wisata unggulan. keikutsertaan masyarakat dalam pelayanan dalam bentukkader posyandu. Rapat koordinasi pembangunan daerah yang dilakukan oleh BAPPEDA. Kota ini terus mengalami peningkatan dalam indeks transparansi di tingkat nasional. Sementara dalam perencanaan pembanguan. telah dikembangkan pelibatan masyarakat secara langsung maupun melalui perwakilan seperti DPRD. dan bahkan masuk dalam sepuluh besar.” kata Maimunah (45) seorang pedagang kelontong di Kota Sorong menambahkan. “Tetapi di daerah-daerah pedesaan justru kader posyandu menjadi tenaga inti dalam pelayanan kesehatan di pedesaan. Sementara di kawasan kota. Akan tetapi mengelola keterbukaan informasi di Kota dan Kabupaten Sorong merupakan seni tersendiri. di samping kurangnya sosialisasi dan informasi yang sampai pada anggota komite sekolah. “Namun peranan ini belum berkembang sesuai yang diharapkan. setiap sekolah terdapat komite sekolah yang beranggotakan para orang tua murid dan donatur. Stefanus Malak. baik finansial maupun intelektual.

terutam yang berkaitan dengan sektor usaha dan perdagangan. khususnya di bidang pelayanan umum.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 terus membaik. para petugas tampak bertugas secara allout dan mereka senantiasa menyapa dengan ramah. mulai pukul 08. Pemkot Surakarta juga terus memberikan pelayanan secara optimal meskipun dalam keterbatasan peralatan. karena secara sosiologis masyarakat kita memang masih patriomonialistik. dan kami minimal membuka layanan 12 jam efektif kepada warga masyarakat”. “Reformasi birokrasi cukup terasa dampaknya di kota ini sebagaimana tampak pada makin transparannya Pemkot. sehingga kalau pimpinan atasnya berubah. Harus diakui bahwa Wali Kota Surakarta sekarang cukup kreatif dan inovatif dalam usahanya memberikan layanan kepada masyarakat. “Ketika pimpinan kota Surakarta mau berubah dengan mengedepankan layanan publik. “Untuk pelayanan e-KTP ini kami bisa melayani 15 orang perjam.00. dan masalah kependudukan. pelayanan kesehatan yaitu program PKMS (Program Kesehatan Masyarakat Surakarta). Inovasi dalam pemerintahan juga dapat 76 . Pemkot juga telah secara aktif memberikan pelayanan lewat media on-line. kata Mahendra. Pemkot Surakarta juga melakukan langkah-langkah yang terus menunjang terselenggaranya transparansi. rencana kelurahan. Di bidang keterbukaan informasi. masih ada aparat birokrasi yang masih bermental harus dilayani. pelayanan yang dimaksudkan di sini adalahpelayanan jasa yaitu pelayanan di bidang administrasi (perijinan) melalui sistem one stop service (OSS). maka jajaran birokrasi pemerintah juga mengikuti. Dari hasil pantauan di lapangan.2 milyar rupiah. programprogram tersebut adalah programprogram yang didesain untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kota Surakarta. Faktor kepemimpinan menjadi kunci dari perubahan mind set aparat birokrasi. maka bawahannya juga mengikuti. seperti informasi umum. kata Widodo. dosen Sosiologi Fisip UNS bahwa ada kemajuan yang bararti dalam hal pelayanan publik. layanan kesehatan masyarakat. Fahrudin. Oleh karena itu. Namun demikian. dan kian cepat dan lancarnya urusan perijinan. pelayanan umum adalah pelayanan yang diberikan baik jasa maupun non jasa dan ataupelayanan administrasi. bursa kerja. salah seorang pejabat di bagian kependudukan. Dalam hal e-KTP. Bahkan juga sudah membentuk komisi informasi dengan anggaran sebesar 1.00 hingga 21. terbukti kota ini telah memiliki PPID. Fasilitas publik senantiasa menjadi prioritas pengembangan dan senantiasa diperbaiki”. kata Subandi. Penilaian senada juga datang dari Mahendra Wijaya. Bahkan pelayanan juga dilakukan di luar jam kantor. LPSE. Dalam struktur birokrasi itu bersifat hierarkis dan instruktif. Sebagaimana dijelaskan oleh salah seorang pejabat di jajaran Pemkot Surakarta. karena memang mereka tumbuh di kalangan kultur yang feodalistik”. Seperti yang diketahui.

Fahrudin juga menjelaskan upaya Pemkot dalam bidang layanan informasi publik. akses partisipasi. Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28F menjaminnya. transparan. akuntabel. yaitu mempersiapkan regulasi di tingkat daerah. dan pembekalan pada PPID sejak April 2011. Adanya Undangundang keterbukaan informasi pun disambut biasa-biasa saja. Padahal hak memperoleh informasi merupakan hak dasar warga Negara. UU tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Hak atas informasi diatur dalam Pasal 14. Secara khusus hak warga terhadap informasi diatur dalam UU nomor 14 Tahun 2008 tentang KIP. meningkatkan konten Web Pemerintah Surakarta sebagai sumber informasi. 77 . memperoleh. 39 Tahun 1999 tentang HAM. Masyarakat sebagian besar lebih memilih hidup mengurus diri dengan beribadah. Juga terus melakukan pembenahan sistem informasi data. menerbitkan SK Walikota Surakarta No : 060. dan meningkatkan sarana untuk mengakses informasi bagi masyarakat. meningkatkan pendokumentasian data daninformasi SKPD. mengolah. Ketiga bidang tersebut dianggap program yang menonjol di Kota Surakartadan dapat dilihat secara langsung nilai-nilai perubahannya dimana pelayananseharusnya diberikan secara adil. sesungguhnya masyarakat Bali tidak terlalu peduli terhadap keterbukaan informasi. Jasa yaitu pelayanan yang terkait dengan pemberdayaan masyarakat. menerbitkan SK Walikota Surakarta No. dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. dan partisipatif sesuaidengan prinsip good local governance. Pertama. Beberapa UU lain sesungguhnya juga menjamin hak warga atas informasi. menyiapkanruang pelayanan informasi beserta infrastrukturnya.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik didefinisikan sebagai pengembangan suatu desain kebijakan baru dan prosedur standard operasi yang baru untuk memecahkan masalah publik. Pasal 103. Denpasar: Rakyat Kurang Peduli Harus diakui. merata. UU No.05/05/1/2011 tanggal 3 januari 2011 tentang pembentukan Tim Uji Konsekuensiterhadap informasi yang dikecualikan pada Pemerintah Kota Surakarta. 042. yaitu melalui program rumah tidak layak huni (RTLH). Peraturan Wali Kota tentang Standar layanan Informasi/ SOP (dlm proses penyusunan).05/01-B/1/2011 tentang penunjukkan PPID. dan akses keadilan dalam memenuhi hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Pasal 65 ayat (2) UU ini menyatakan setiap orang berhak mendapatkan pendidikan lingkungan hidup. Warga juga berhak mencari. Pasal 60. memiliki. Kedua. Dalam pertimbangannya. menyimpan. akses informasi. sosialisasi UU KIP secara rutin. Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya.

Hasil uji publik tersebut ditindaklanjuti dengan mengadakan Rembug Lintas Aktor (RELA) Kesiapan Badan Publik di Bali dalam 78 . Perlu manajemen pengelolaan informasi yang dikuasai dan pelayanan akses informasi dari publik. Ada beberapa lembaga yang telah dengan baik membuka berbagai informasi kepada khalayak. Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana Bali. Hasil assessment KIP pusat menjelang pemberlakuan UU KIP disebutkan bahwa baru tujuh badan publik diseluruh indonesia yang dianggap siap atau berupaya mempersiapkan diri. Pendapat senada juga disampaikan oleh Agus Sanjaya dari Dinas Perhubungan dan Infokom Denpasar. namun itu hanya sebagian kecil. Ini merupakan salah satu cara agar badan publik menjadi lebih siap dan lebih baik dalam melayani permintaan informasi publik”. Kedua. minimnya kesiapan badan publik untuk melaksanakan UU KIP. katanya. Ketiga. dan lingkungan. informasi publik yang dikecualikan ini bersifat ketat dan terbatas. pertama. Perbaikan terutama adalah kebijakan pimpinan badan publik dalam menerapkan UU KIP. Badan publik adalah organanisasi yang terkait penyelenggaraan Negara maupun organisasi lain dengan pendanaan dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara/Daerah (APBN atau APBD). Perbaikan tersebut hanya bisa dicapai jika publik/masyarakat sebagai pemilik hak atas akses informasi aktif mendorong badan publik untuk selalu berbenah.Pasal 2 mengatur bahwa asas UU ini adalah setiap informasi publik bersifat terbuka dan dapat diakses oleh setiap Pengguna Informasi Publik kecuali informasi publik yang dikecualikan. khsusunya lembaga-lembaga publik. serta laporan keuangan badan publik. belum adanya Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi. Indikatornya antara lain. Uji badan publik yang dilakukan meliputi tiga sektor yaitu pendidikan. pemerintah kota Denpasar belum sepenuhnya menerapkan keterbukaan informasi publik. Informasi ini meliputi profil. sepertinya tidak serta merta terjadi dan diterapkan dengan baik. Dalam pasal 9 UU KIP disebutkan badan publik wajib mengumumkan informasi publik secara berkala. UU ini juga menegaskan bahwa keterbukaan informasi publik merupakan salah satu ciri penting negara demokratis. kondisi keterbukaan informasi. “Warga harus secara aktif meminta akses informasi. kegiatan dan kinerjan. hasil uji badan publik lintas sektor yang diadakan Sloka Institute bekerjasama dengan  Indonesian Parliamentary Center (IPC)  terhadap beberapa instansi di 4 kabupaten/kota serta di tingkat Provinsi Bali mencerminkan belum sistematis dan transparannya akses informasi publik.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 UU ini menyebutkan bahwa hak memperoleh informasi merupakan HAM. Mungkin perlu perbaikan pola pikir dan kemauan masing-masing lembaga dalam penerapan pelaksanaan UU KIP. kesehatan. Menurut Ni Made Ras Amanda Gelgel.

   perwakilan Biro Pemerintahan Provinsi Bali. Kemudian masalah anggaran dan transisi penataan lembaga publik juga menjadi masalah. Sementara pendapat warga masyarakat juga beragam. RELA dihadiri oleh anggota Komisi Informasi (KI) Pusat  Abdul Rahman Ma’mun. Ketua AJI Denpasar Rofiqi Hasan. Pemerintah daerah berharap LSM bias ikut memantau proses pembentukan PPID. karena mungkin banyak yang belum tahu. akuntabilitas. perwakilan Yayasan Manikaya Kauci. 79 . Sementara itu seorang tokoh masyarakat. Meniartha berpendapat masyarakat belum peduli. “animo warga Denpasar kurang begitu antusias dalam memanfaatkan adanya UU KIP. sehingga harus melakukan langkah-langkah penyesuaian. Nantinya di setiap lembaga itu akan ada Penanggung jawab Pengelolaan Informasi Daerah (PPID) yang ditetapkan dengan Peraturan Gubernur. Pemerintah Provinsi Bali baru bisa memasukkan pembentukan Komisi Informasi (KI) dalam APBD 2011. Ada kesan kuat bahwa Pemda sebenarnya menyadari akan pentingnya reformasi birokrasi. perwakilan Walhi Bali. perwakilan persma Akademika. dan partisipasi publik adalah penting dalam era sekarang ini. Tim seleksi selanjutnya akan menyaring minimal 10 calon dan maksimal 15 calon untuk diajukan dalam fit and proper test di DPRD Bali. bahwa semuanya semakin menyadari pentingan arti penyelenggaraan pemerintahan dengan prinsip good governance. Penutup Begitulah.. Untuk itu pemerintah perlu terus menggalakan sosialisasi”. Nanti DPRD akan memilih 5 calon anggota KI. Oleh karena itu masyarakat berharap agar pemerintah terus memberikan pelayanan optimal terhadap masyarakat. tetapi ada juga yang masih lamban. Informasi. Selain itu belum ada numenklatur yang jelas antara fungsi yang akan diemban Dinas Infokom dan Humas Pemkot Bali. MH. serba-serbi dinamika pemerintahan daerah dalam menyambut reformasi birokrasi ternyata sangat beragam. Sosialisasi tentang UU KIP sudah dilakukan di lembaga publik dan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Provinsi Bali. Ada yang cepat beradaptasi dalam iklim keterbukaan informasi. SH. dan wartawan. drs I Wayan Nuranta. Kepala Bidang Informasi Dinas Perhubungan.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Penerapan UU Keterbukaan Informasi Publik 2010 lalu. ada yang optimis dan ada yang pesimis. katanya. dan Ni Luh Candrawati Sari. Semua menyadari bahwa transparansi. SH. tokoh masyarakat dan pemerintah. Proses pendirian KI diawali dengan pembentukan Tim Seleksi yang melibatkan kalangan akademisi.. Langkah lainnya adalah dengan merancang website e-government. dan Komunikasi Bali. Akan tetapi ada satu yang jelas.

Sementara itu kendala kultural muncul berkaitan dengan belum ada transformasi cara berpikir dan sikap yang berorientasi pada pelayanan publik. UU KIP semakin populer berkat sosialisasi yang cukup intens kepada masyarakat. Hanya saja. 80 . terbukti masih sedikit yang membentuk PPID. Namun demikian. di mana mereka masih minta dilayani. Kendala itu berupa kendala struktural maupun kultural. karena itu perlu terus menumbuhkan kesadaran bersama untuk tetap terus belajar berdemokrasi. Kendala struktural muncul karena karakter birokrasi pemerintah yang hierarkis. Masih banyak aparat birokrasi yang mindset-nya menggunakan paradigma lama. Sepertinya masyarakat kita memang masih perlu terus didorong menuju ke arah keterbukaan informasi. Dalam kaitannya dengan pelaksanaan UU KIP. rigit.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Memang ada kendala yang cukup merisauhkan dalam upaya menggelorakan semangat reformasi birokrasi. dan kurang cepat melakukan perubahan dengan mengubah berbagai aturan yang telah usang. sebagian besar pemerintah daerah masih bergerak lamban dalam menyongsong era keterbukaan informasi. di kalangan masyarakat sendiri juga masih perlu didorong untuk lebih proaktif guna memanfaatkan UU KIP agar good governance terimplemntasi dengan lancar dalam proses pembangunan di daerah.

.

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 82 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful