Edisi 3/ September / 2011

Birokrasi
Keterbukaan Informasi Publik

a r E m a l a d

Pelayanan Birokrasi dalam Era Otonomi Daerah Pelayanan Birokrasi Papua dalam Era Otonomi Khusus Reformasi Birokrasi dan Implementasi Good Governance
Foto : Antara

Reformasi Birokrasi, Syarat Mutlak Pembangunan Ekonomi

dalam Era
Diterbitkan Oleh :

Tim Redaksi Pengarah : Penanggungjawab :

Pemimpin Umum

:

Pemimpin Redaksi : Anggota Dewan Redaksi : Ismail Cawidu (Sekretaris Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik) Bambang Wiswalujo (Direktur Pengolah dan Penyediaan Informasi) Supomo (Direktur Komunikasi Publik)

Tifatul Sembiring (Menteri Kominfo) Basuki Yusuf Iskandar (Sekretaris Jenderal) Ahmad Mabruri Mei Akbari (Staf Khusus Menkominfo) Freddy H Tulung, (Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik) Suprawoto (Staf Ahli Menteri Bidang Sosial Ekonomi dan Budaya) Sadjan (Direktur Pengelolaan Media Publik)

Erlangga Masdiana (Direktur Layanan Informasi Internasional) James Pardede (Direktur Kemitraan Komunikasi) Redaktur Pelaksana : Mardianto Soemaryo Penyunting/ Editor : 1. Hypolitus Layanan 2. Endang Kartiwak 3. Taufik Hidayat Tim Tenaga Ahli : Sugeng Bayu Wahono Lambang Trijono Abduh Sandiah Murti Kusuma Wirasti Design Grafis : Danang Firmansyah Sekretaris Redaksi : M. Taofik Rauf Sekretariat : 1. M. Azhar Iskandar Zainal 2. Jatmadi 3. Sarnubi 4. Inu Sudiati 5. Elpira Inda Sari N.K 6. Lamini 7. Nur Arief Hidayat

.

IV Reformasi Syarat Mutlak Pembangunan Ekonomi Laporan Studi lapangan Reformasi Birokrasi dalam Dinamika Pemerintahan Daerah 19 45 65 65 i .Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Daftar Isi Salam Redaksi Wawancara Khusus Reformasi Birokrasi Tidak Secepat Membalik Telapak Tangan ii vii vii I II Pelayanan Birokrasi dalam Era Otonomi Daerah Pendahuluan Antara Harapan dan Kenyataan Penutup 1 2 5 9 Pelayanan Birokrasi Papua dalam Era Otonomi Khusus 11 Birokrasi dan III Reformasi Implementasi Good Governance Birokrasi.

pihak swasta. sebagai kebutuhan nasional akan transparansi dan akuntabilitas serta kontribusi aktif Indonesia ii . dan (4) pengambilan keputusan juga perlu melibatkan masyarakat. (2) dalam pengambilan kebijakan serta keputusan. pemerintah juga memiliki komitmen untuk melaksanakan inisiatif Open Government. Good governance menjadi sebuah imperatif dalam proses negara demokrasi. tetapi juga transparansi. juga salah satu yang paling santer dikumandangkan adalah perlunya reformasi birokrasi. pemerintah telah berusaha membangun kepercayaan timbal balik antara pemerintah dan masyarakat melalui penyediaan informasi dan menjamin kemudahan di dalam memperoleh informasi tersebut.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Salam Redaksi S etelah era reformasi. akuntable. pemerintah telah bertindak atas dasar tanggung jawab dalam segala bidang untuk kepentingan masyarakat luas. sehingga masyarakat memiliki kesempatan dalam menyampaikan aspirasinya Masih dalam konteks good governance. Pemerintah pun merespons atas tuntutan reformasi birokrasi dengan berkomitmen menerapkan prinsip good governance. (3) setiap proses pemerintahan mulai dari pengambilan keputusan sampai implementasi. dan membuka partisipasi publik. dan masyarakat. antara lain tampak pada (1) penyelenggaraan pemerintahan dengan membuka koridor ketertutupan birokrasi melalui semangat dialog dan komunikasi intensif antara pemerintah. Seiring dengan bergulirnya demokratisasi. dan di sini birokrasi harus transparans. birokrasi pemerintah dituntut untuk tampil sebagai organisasi pelayanan publik yang transparan. Isu utama yang ditekankan dalam reformasi birokrasi bukan saja pelayanan dan inefisiensi.

partisipasi dan kolaborasi. ada juga yang memberikan penilaian kritis bahwa meskipun prinsip good governance telah dilaksanakan. Hal yang paling bisa dilakukan adalah untuk memberikan kepercayaan dan dukungan untuk melakukan upayaupaya reformasi birokrasi. Reformasi birokrasi merupakan salah satu upaya untuk menerapkan prinsip good governance. Meskipun demikian. Dari prosesnya yang lebih efektif. sekaligus sebagai melihat bagaimana penerapan Undang-undang No. kemampuan dan moral penyelenggara pemerintahan mampu memberi pelayanan yang mudah. Sementara itu. Atas dasar permasalahan di atas. maka Jurnal Dialog Publik kali ini mengangkat tema Birokrasi dalam era keterbukaan informasi. Berbagai isu dan permasalahan di seputar reformasi birokrasi akan dibedah dan dianalisis secara komprehensif dari berbagai perspektif. perlu perbaikan-perbaikan menyangkut SDM dan SDA yang dimiliki. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Untuk melakukan good governance perlu proses pembelajaran. Muhadam Labolo secara detail menganalisis kinerja birokrasi dalam konteks good governance. Dalam pelaksanaannya. cepat. namun perlu keseriusan untuk melakukan reformasi birokrasi. khususnya Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik telah berusaha menyusun disain komunikasi untuk memastikan inisiatif Open Government terlaksana sejalan dengan prinsip transparansi. melalui konsultasi dengan kelompok pemangku kepentingan masingmasing.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik dalam Open Government Partnership (OGP). efisien dan tidak berbelit-belit serta menggunakan SDM yang optimal dan berkualitas. tepat. pemerintah juga menerapkan Otonomi Daerah dengan menekankan pelayanan birokrasi pemerintah lebih efisien. Ia berusaha mendeskripsikan tentang makna birokrasi dan good governance. Keluarnya undangundang ini juga menunjukkan komitmen pemerintah terhadap upaya perwujudan reformasi birokrasi. dalam arti semangat desentralisasi dan debirokratisasi tercermin dalam tata kelola pemerintahannya. Untuk percepatan OG ini melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika. setiap lembaga publik diharapkan menyusun Rencana Implementasi Open Government (OG) lembaganya. dengan biaya yang terjangkau. iii . tetapi belum sepenuhnya dilaksanakan.

namun fundamental. Menurut Habel birokrasi di Papua justru lebih menunjukkan karakter sebagai birokrasi yang rasional dan mengedepankan profesionalisme. Pengembangan kapasitas aparatur berfokus pada aspek pendidikan dan pengalaman yang akan menentukan nilai profesionalisme birokrasi dihadapan masyarakat. Sementara itu Habel Suwae mencoba menyoroti pelayanan birokrasi dalam era Otonomi Khsusus di Provinsi Papau. Akan tetapi dalam perkembangan lebih lanjut. dan pelayanan pun ada kecenderungan bias etnosentrisme. sehingga lebih mengedepankan profesionalisme dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. birokrasi pemerintah Papua berkembang ke arah yang lebih menunjukkan iv . atau berkembang menjadi birokrasi modern yang mengutamakan profesionalisme dan merit system. Perkembangan masyarakat Papua yang semakin terbuka menjadikan Papua semakin plural. Reformasi kapasitasi berkaitan dengan kemampuan birokrasi baik secara individual maupun kelompok yang ditunjukkan pada kemampuan menerjemahkan visi dan misi. Birokrasi pun kemudian menunjukkan karakter birokrasi primordial. sehingga birokrasi pemerintah terbukti adaftif dengan perkembangan masyarakatnya. sistem rekreuitmen. Memang. Reformasi kapasitasi adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan sumber daya birokrasi dalam pelayanan agar mampu mengimbangi dinamika masyarakat. Atau dengan kata lain Habel mengajukan pertanyaan bagaimana pelayanan birokrasi pemerintah Papua dalam era Otonomi Khusus sekarang ini. program dan kegiatan. Salah satu usulan menarik Muhadan adalah bahwa untuk mengefektifkan reformasi birokrasi diperlukan reformasi kapasitasi yang memadai guna meningkatkan kemampuan aparatur dalam melayani masyarakat. agama. masalah dan tantangan yang dihadapi dalam upaya reformasi birokrasi. sehingga personil. dan kekerabatan.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 karakteristik pemerintahan yang baik. Apakah bias primordialisme seperti baik buruknya pelayanan birokrasi disebabkan oleh faktor kesamaan etnis. Habel melihat adanya gejala etnosentrisme di Papua apakah berpengaruh terhadap pelayanan birokrasi. disikapi oleh sebagian warga Papua secara primordialistik. sehingga lebih mengarah pada birokrasi primordial. serta upaya strategis reformasi birokrasi dan implementasi tata kelola pemerintahan yang baik. Atau birokrasi bersifat adaptif dengan dinamika masyarakat Papua yang semakin terbuka. pada awalnya terdapat kecenderungan bahwa pemberian kewenangan pengelolaan politik oleh pemerintah pusat dalam bentuk Otsus. Perubahan tersebut diharapkan tidak saja bersifat incremental semata.

Reinventing bureaucracy diharapkan mampu mengembalikan birokrasi sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi. Sedangkan Nursodik menilai birokrasi Indonesia belum probisnis. Politisasi birokrasi ikut mendorong terjadinya penyelewengan yang membuat birokrasi semakin jauh dari fungsi utamanya sebagai penggerak sektor perekonomian.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik karakter birokrasi profesional dengan menerapkan merit sistem. cepat. terdapat harapan yang sama. Sifatnya yang birokratis dan patologis membuat keberadaan birokrasi lebih dianggap sebagai faktor penghambat dibanding pendorong perekonomian. Salah satunya adalah dengan menerapkan konsep reinventing bureaucracy. bukan sebagai unit pelayanan masyarakat. Dengan konsep tersebut. bahwa bagaimanapun birokrasi harus didorong untuk lebih independen. yang lebih mengutamakan efisiensi dan profesionalisme. dari segenap analisis kritis yang dikemukan para penulis. Bersamaan dengan itu. birokrasi perlu direformasi. Argumen agak berbeda dikemukakan oleh Ferdinan Kerebungu. Untuk menghilangkan berbagai patologi yang ada. Ferdinan mengkaji tentang efektivitas pelayanan birokrasi di era otonomi daerah. kapabiltas dan hal ini disebabkan oleh karena penenpatan pejabat eselon II dan III. Realitas yang teralami sekarang banyak birokrat yang tidak mengutamakan pelayanan publik. Berbagai penyakit birokrasi muncul karena aparat birokrasi cenderung menggunakan birokrasi sebagai alat untuk mencapai tujuan birokrasi itu sendiri. harus ada trnasformasi kultural di kalangan aparat birokrasi dari cara pandang birokrasi sebagai penguasa menjadi birokrasi sebagai pelayanan sesuai dengan sistem politik yang deomokratis. menjadi pertimbangan utama mengedepankan birokrasi rasional. Banyak gejolak yang terjadi di daerah sebagai perwujudan ketidak puasan masyarakat dalam pelaksanaan otonomi daerah. birokrasi pemerintah juga terus mendorong partisipasi publik dalam proses pembangunan menuju pemerintahan yang transparan dan akuntabel. pada era sistem pemerintahan desentralisktik sekarang ini banyak menimbulkan persoalan pemerintahan terutama dalam birokrasi pelayanan publik.Untuk dapat mengoptimalkan pelayanan birokrasi yang menggunakan prinsip good governance. efektif. bukan berdasarkan pendidikan dan latihan penjenjangan kerier. karena banyak pejabat publik yang diangkat tidak memiliki kapasitas. birokrasi dikembangkan sebagai unit pelayanan yang tepat. v . tetapi lebih ditentukan oleh tim sukses. efisien. Karakter masyarakat Papua sendiri yang terbuka dan semakin plural. Akan tetapi. akuntabel dan berorientasi pada kebutuhan pengguna layanan.

Komitmen pemerintah pusat untuk melakukan reformasi birokrasi. tetap harus mendapat dukungan dari semua pihak. meski di sana-sini terdapat hambatan. Iklim demokrasi yang sudah baik.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 steril dari kepentingan politik. vi . harus tetap dipelihara dan dirawat agar terus menjadi habitat subur bagi tumbuhnya birokrasi yang secara konsisten menerapkan prinsip good governance. dan mengedepankan profesionalisme.

MBA* *Deputi Bidang Program dan Reformasi Birokrasi. Ismail Muhamad.Edisi 3 / September / 2011 Wawancara Khusus Reformasi Birokrasi Tidak Secepat Membalik Telapak Tangan Dr. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. vii .

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik

Edisi 3 / September / 2011

S

etelah era reformasi, salah satu isu yang paling santer dikumandangkan adalah perlunya reformasi birokrasi. Isu utama yang ditekankan dalam reformasi birokrasi bukan saja pelayanan dan efisiensi, tetapi juga transparansi. Seiring dengan bergulirnya demokratisasi, birokrasi pemerintah dituntut untuk tampil sebagai organisasi pelayanan publik yang transparan. Prinsip Good governance menjadi sebuah imperatif dalam proses negara demokrasi, dan di sini birokrasi harus transparans, akuntable, dan membuka partisipasi publik.

Meskipun secara normatif, pemerintah punya sejumlah regulasi yang mengatur tatakerja birokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan, namun dari hasil penyerapan opini dalam masyarakat, ternyata sebagian masyarakat menilai reformasi birokrasi belum memperlihatkan hasil konkret, alias reformasi birokrasi masih jalan di tempat. Persoalan yang mengemuka di anatranya pemerintah, termasuk pemerintah daerah dinilai kurang transparan dan tidak banyak melibatkan masyarakat dalam perumusan kebijakan publik. Dalam kaiatan dengan persoalan tersebut, berikut ini petikan hasil wawancara redaksi dengan

Dr. Ismail Muhamad, MBA

viii

Edisi 3 / September / 2011

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik

Deputi Bidang Program dan Reformasi Birokrasi, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Dr. Ismail Muhamad, MBA. Banyak kalangan menilai program reformasi birokrasi jalan di tempat, bagaimana kondisi yang sesungguhnya ada pada saat ini? Pandangan seperti itu dapat dipahami, tetapi sangat tergantung dari sudut pandang mana melihatnya. Perlu diluruskan, bahwa reformasi dalam skala besar (Nasional) dimulai pada tahun 1998. Fokus reformasi pada tiga bidang, yaitu Bidang Ekonomi, Bidang Politik dan Bidang Hukum. Sedangkan secara khusus reformasi birokrasi dimulai pada tahun 2004, dan sebagai pilot projectnya adalah Badan Pemeriksa Keuangan, Mahkamah Agung, dan Kementerian Keuangan. Pada tahun 2008, Kementerian PAN menerbitkan Pedoman Umum Reformasi Birokrasi. Mulai tahun 2010 ditetapkan Grand Design Reformasi Birokrasi 2010 – 2025 berdasarakanh Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 81 Tahun 2010, dan ditindaklanjutin dengan Peraturan Menteri PAN No. 4 Tahun 2010. Jadi kalau ada yang bilang reformasi birokrasi jalan di tempat itu karena kurang mengikuti perkembangan yang ada. Jadi dari sisi kebijakan pelaksanaan reformasi birokrasi sudah ada langkah-langkah konkret. Berbicara mengenai reformasi birokrasi di negara manapun tidak secepat

membalikkan telapak tangan, tetapi membutuhkan proses panjang. Contoh Australia, untuk melakukan reformasi membutuhkan waktu 30 tahun baru bisa dilihat hasilnya. Dalam kaitan dengan transparansi, akuntabilitas, partisipasi publik dan lain-lain sebenarnya sangat terkait dengan UU No. 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) yang secara definitif pelaksanaannya pada tahun 2010. Tetapi sebenarnya transparansi dan akuntabilitas di Indonesia sudah mulai dilaksanakan secara efektif pada tahun 1999, yaitu dengan dikeluarkan Instruksi Presiden RI No. 7 Tahun 1999 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Dengan demikian secara formal semua instansi pemerintah dalam pelaksanaan fungsi dan tugasnya diharuskan transparan dan akutabel. Jadi prinsipnya sudah ada model layanan, prosedur tetap, pengawasan, capaian hasil dan metode evaluasinya, semuanya sudah dituangkan dalam Rencana Strategis (renstra) instansi pemerintah. Pembuatan Renstra itu sendiri sangat transparan, meskipun pada waktu itu belum sejalan dengan UU KIP, karena belum ada. Dalam UU KIP jelas sekali menegaskan bahwa semua informasi itu terbuka (dipulikasikan) kecuali yang rahasia. Berbeda dengan paradigma sebelumnya bahwa semua informasi itu rahasia, kecuali yang dibuka atau yang dipublikasikan. Jadi secara ringkas bisa disimpulkan bahwa transparansi dan akuntabilitas

ix

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik

Edisi 3 / September / 2011

kebijakan pemeritah termasuk bidang pelaynan telah dilaksanakan, meskipun harus diakui ada beberapa yang masih tertinggal. Bagaimana kita melihat secara konkret reformasi birokrasi itu dari sisi pelaynan publik? Pelayanan publik itu kita bagi dua yakni yang bersifat administratif dan pelayanan praktis atau non administrasi. Pelayanan administratif seperti KTP dan sejenisnya, hampir di semua daerah sudah transparan, umpamanya sudah jelas berapa biayanya, penyelesaiannya berapa lama, prosedur dan mekanismenya. Bahkan informasi tentang semua itu ditempelkan di papan pengumuman sehingga masyarakat mengetahuinya secara jelas. Selain itu ada standar pelayanan minimum yang diatur berdasarkan Kepmendagri yang menjadi acuan bagi daerah untuk merancanakan angaran pendapatan dan belanja daerahnya. Standar pelaynan itu juga dipublikasikan agar diketahui oleh masyarakat. Ini artinya langkah konkret yang dilakukan pemerintah itu ada, hanya mungkin kalau ada penyimpangan oleh oknum, termasuk sikap dan prilaku SKPD di daerah tertentu yang cenderung mengada-ada. Sehingga dalam kontek reformasi birokrasi, kelemahan-kelemahan itu dipantau dan dievaluasi, kemudian ditertibkan. Untuk mengurangi penyimpangan kita menggunakan instrumen indek kepuasan masyarakat melalui survei. KPK juga menggunakan

tingkat kepuasan masyarakat dalam mengukur kualitas pelaynan publik. Dalam reformasi birokrasi, unsur itu juga dimasukkan sebagai salah satu indikator keberhasilan yakni peningkatan kualitas pelaynan publik. Kalau kita ambil contoh, kalau KPK mengunakan unsur integritas pelaynan publik, tingkat kemudahan berusaha, lalu instansi yang akuntabel. Tahun 2009 kita sudah punya base line sekian, kita punya target tahun 2014 sekian. Dengan ukuran itu terus dilakukan pemantauan, ternyata hasilnya semnatra ini mengalami peningkatan (kemajuan). Jadi jelas ada pengukurannya untuk menetukan tingkat keberhasilan program reformasi birokrasi. Sampai saat ini masih banyak pemerintah daerah belum membentuk PPID sesuai ketentuan UU No. 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik. Baagaimana Pemerintah menyikapi maslah tersebutdalam kaitan dengan upaya mempercepat reformasi birokrasi? Secara makro hal itu termasuk dalam konteks penguatan kelembagaan dan pembenahan organisasi. Atas dasar UU KIP tersebut kita melangkah pada Open Government yang salah satu intinya adalah setiap instansi pemerintah dihimbau untuk segera melangkah konkret membenahi organisasinya sesuai kebutuhan. UU KIP jelas mengatakan bahwa jika masyarakat yang meminta informasi yang terbuka,

x

Bagaimana kondisi pemerintah termasuk pemerintah daerah dalam menyelenggarakan pemerintahan yang berperinsip good governance? Kalau dilihat dari sisi akuntabilitas. xi . karena karakter manusianya berbeda satu dengan yang lain. Ditambah lagi dengan adanya website. baik karena faktor sumber daya manusia maupun sumber daya lain. Tetapi berdasarkan pengamatan Kementerian PAN dan RB. di samping masyarakat juga punya kesadaran yang luar bisa dalam menuntut haknya untuk memperoleh informasi. Aparat pemerintah menyadari bahwa hak publik untuk mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Saat ini pemerintah sudah cukup transparan dan open government. tetapi melalui induk lembaganya. akuntabilitas dan partisipasi publik dalam pelaksanaan good governance di setiap instansi pemerintah. salah satunya adalah dengan pemanfaatan teknologi inforasi untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. pengadaan barang dan jasa dan lainlain semuanya terbuka. Mungkin urgensinya untuk memperkuat unit pelaynan informai. yakni melalui laporan akuntabilitas.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik kalau ada yang menghaklangi. Bahkan barubaru ini pada kesempatan lokakarya ditampilkan dua daerah yang masuk kategori berhasil. termasuk pemeritah daerah. upaya untuk meningkatkan pelaynan birokrasi sudah sangat kuat. seperti soal APBN. setiap waktu masyarakat berhak meminta informasi pada instansi pemerintah ada atau tidak PPID pada intansi tersebut. Dari unsur transparansi dan lain-lain juga terlihat adanya kesungguhan pemda-pemda dan hasilnya cukup baik. Ini artinya pintu masuk tidak harus melalui lembaga baru (PPID). Jadi dari sisi kacamata reformasi birokrasi. Kita tidak bisa menuding bahwa semua pemda itu sama. Ternyata langkah-langkah yang dilakukan kedua daerah ini luar bisa dalam kontek transparansi. maka bisa dikatakan bahwa sebagian besarnya sudah punya kesadaran tersebut sangat kuat. Ada kendala di beberapa daerah dengan alasan PAD yang tidak mencukupi. Jadi kalau berbicara tentang prinsip-prinsip transparansi. Ada beberapa daerah yang mengalami hambatan. maka bisa dituntut. kecuali yang sifatnya terkait rahasia negara dan surat-surat yang memang sifatnya rahasia. akan lebih memudahkan. Mereka menyampaikannya dengan cukup baik. Penilaian ini didasarkan pada indikator dengan menggunakan instrumen yang ada. yakni Jawa Barat dan Nusa Tenggara Barat. Oleh karena itu bisa disimpulkan bahwa secara nasional terdapat kemajuan yang cukup signifikan dalam penyelenggaran pemerintahan dengan prinsip good governance. tentu karena kendala-kendala. pemerintah daerah tidak terlalu tertinggal. tidak perlu pintupintu lagi.

baru ada formasi. Bagaimana pemetrintah menyikapi maslah tersebut? Memang harus diakui bahwa kondisi seperti itu ada pada praktek rekrutmen pegawai dan pejabat pemerintah. lalu dalam proses asesmennya diminta dari perguruan tinggi yang terbaik di masing-masing daerah. Kita sudah melakukan pembenahan dengan menetapkan agar semua proses aplikasi melalui website. yang selama ini cenderung berorientasi pada kewenangan. kalau tidak ada analisis kebutuhan kompetensi yang dibutuhkan. Sampai dengan Desember 2012 ditetapkan supaya seluruh pemerintah provinsi. Jadi keterlibatan unsur – unsur dalam masyarakat itu penekanannya peranya apa. Intinya adalah selama masa moratorium itu akan dibuat formula yang bisa mencegah praktek KKN dan prilaku yang menyimpang. Salah satu langkah reformasi terkait dengan maslah ini adalah merubah mainset dan kutureset para pejabat.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Salah satu sorotan masyarakat terhadap lemahnya pelaynan birokrasi adalah dalam kaitan dengan rekrutmen aparat (PNS) dan pejabat pemerintah yang tidak transparan dan sarat dengan KKN. Dengan reformasi ini juga kita mengukur kinerja. kompetensinya apa dan sebagainya. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembanagunan Nasional. Tidak akan disiapkan formasi oleh pusat. Kalau sebuah xii . Moratorium ini diperlukan untuk melakukan pembenahan. Lalu harusnya hasil ujian itu diumumkan. kabupaten/kota mengajukan berapa kebutuhannya. Dalam UU ini jelas sekali. prosesnya harus dimulai dari usulan desa/kelurahan. berubah dan lebih mengutamakan peran. Bahkan ada stetmen di Komisi II DPR RI bahwa akibat penyimpangan seperti itu menyebabkan kerugian negara sampai 25 triliun rupiah. tetapi dalam kenyatannya itu dimainkan juga. Apakah dalam penyelenggaraan pemerintahan sudah membuka koridor ketertutupan birokrasi melalui semangat dialog dan komunikasi intensif antara pemerintah dan masyarakat? Prinsipsnya kita berpegang pada UU No. melalui tokohtokohnya. bukan kewenangannya. dan yang merepresentasikan masyarakat diundang untuk menjaring masukan dan aspirasi masyarakat. Sekarang pemerintah melalui Peraturan Bersama Meneteri Dalam Negeri. Menteri Keuangan dan Menteri PAN dan RB memutuskan untuk moratorium penerimaan calon PNS mulai September 2011 sampai Desember 2012. organisasi tertentu. Musrembang sampai ke tingkat nasional dimana di setiap lefel itu melibatkan masukan masyarakat. Seperti ada informasi bawa di daerah tertentu untuk masuk PNS harus bayar jutaan rupiah. bahwa setiap ada kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Atas dasar itu.

tetapi bukan berarti reformasi birokrasi jalan di tempat. maka reformasi ini digunakan untuk membenahinya.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik kebijakan dalam implementasinya tidak ada aksesnya pada masyarakat. apalagi sudah membudaya itu membutuhkan waktu lama. yakni dengan menggunakan menejmen kinerja. Jadi dengan reformasi dimaksudkan untuk merubah pemahman bahwa demokrasi tidak seperti terjadi saat ini. difokuskan pada penguatan birokrasi pemerintah dalam rangka mewujudkan pemerintah yang bersih dan bebas KKN. Sebenernya secara normatif itu semua sudah diatur. dan belum berorientasi pada hasil (outcomes). Kendala kedua adalah kebutuhan SDM aparat birokrasi itu belum proporsional. maka kinerjanya turun. tetapi dari sisi demokratisasi. Persoalan nanti kalau kemudian ada yang dipotong di atas. belum untuk mencapai kinerja yang lebih baik (better performance). Tetapi yang terpenting adanya suatu public policy process yang sesuai dengan prinsipprinsip good governance. masih jauh di bawah Indonesia. itu pun sampai sekarang belum semua menerapkan. seperti Singapura. Seperti digambarkan sasran reformasi birokrasi dalam Grand Design Reformasi Borokrasi 2010 -2025 yang dibagi dalam tiga tahap sebagai berikut: 1. Tetapi harus diakui untuk merubah pola pikir. maupun dari sisi kompetensinya juga belum pada posisi the right man on the right please. Pola piker dan budaya kerja birokrat belum sepenuhnya mendukung birokrasi yang efisien. bahkan sudah 10 tahun terakhir ini masuk pada periode maturity. birokrat belum benar-benar memiliki pola piker yang melayani masyarakat. Proses dalam merumuskan sebuah kebijakan publik harus melibatkan masyarakat. efektif. Kendala-kendala apa saja yang dirasakan dalam penyelenggaraan pelayanan birokrasi yang berprinsip good governance? Kendala utama yang terlihat selama ini adalah pada mind-set dan cuture-set pada aparat birokarasi. itu semata- mata dengan pertimbangan demi kepentingan bersama. baik dari faktor alokasinya dari pusat sampai ke daerah. Bagaimana mengefektifkan pelayanan birokrasi dalam era keterbukaan informasi sebagai bagian dari demokratisasi? Prinsip demokrasi. Demokrasi Indonesia menduduki nomor tiga terbaik di dunia. Sasaran lima tahun pertama (2010 – 2014). Tetapi ada contoh negara yang punya good governance namun dalam praktek demokrasinya masih kategori rendah. Selain itu. produktif dan profrsional. salah satu prasyaratnya adalah penerapan good governance. meningkatkan kualitas xiii . karena kemudian kurang efektif. Meskipun Singapura punya pemerintah yang sangat good governance.

Sehingga dengan sasaran-sasaran tersebut. reformasi birokrasi dilakukan melalui peningkatan kapasitas birokrasi secara terus menerus untuk menjadi pemerintahan kelas dunia sebagai kelanjutan dari reformasi birokrasi lima tahun kedua. 3. xiv . Sasaran lima tahun ketiga (2020. serta meningkatkan kapasitas dan akuntabilitas kinerja birokrasi.2024). 2. reformasi birokrasi ini akan berhasil membenahi performen pelaynan birokrasi dalam memenuhi kebutuhan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. semua itu sudah pada posisi yang benar. selain implementasi hasil-hasil yang sidah dicapai pada lima tahun pertama. Sasaran lima tahun kedua (2015 – 2019).Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 pelaynan publik kepada masyarakat. pada lima tahun kedua juga dilanjutkan upaya yang belum dicapai pada berbagai komponen yang strategis birokrasi pemerintah pada lima tahun pertama.

Program Pascasarjana Universitas Samratulangi Manado.I Pelayanan Birokrasi dalam Era Otonomi Daerah Oleh : Ferdinand Kerebungu * Edisi 3 / September / 2011 * Ketua Program Studi Magister Administrasi Publik. 1 . pada Program Pascasarjana Universitas Negeri Manado. dan mengajar pada S2 Pengembangan Sumberdaya Sosial.

kapabiltas dan akuntabiltas dalam bidang kerjanya. Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar tahun 1945 pada alinea keempat diamanatkan tentang tugas pemerintah antara lain adalah untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. karena banyak pejabat publik yang diangkat tidak memiliki kapasitas. dan kebutuhan mereka D Pendahuluan 2 . dan transparan. Di era otonomi daerah saat ini. Perubahan arus sistem pemerintahan ini merupakan impian dari masyarakat agar dapat terlayani dengan baik. tetapi lebih ditentukan oleh tim sukses. sehingga mereka tidak menguasai tugas pokok dan fungsinya.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 i era sistem pemerintahan desentralisktik sekarang ini banyak menimbulkan persoalan pemerintahan terutama dalam birokrasi pelayanan publik. Realitas yang teralami sekarang banyak birokrat yang tidak mengutamakan pelayanan publik. bukan berdasarkan pendidikan dan latihan penjenjangan kerier. karena sistem pemerintahan yang bersifat sentralistik. Di era reformasi sekarang ini sistem pemerintahan berubah menjadi desentralistik. Hal ini disebabkan oleh karena penempatan pejabat aselon II dan III. Banyak gejolak yang terjadi di daerah sebagai perwujudan ketidak puasan masyarakat dalam pelaksanaan otonomi daerah. Tugas ini di era orde baru belum dapat terwujud hingga ke pedalaman Negara kesatuan Republik Indonesia. dengan harapan tujuan terbentuk negara ini dapat terwujud secara optimal. maka sistem pemerintahan dan politik yang berlaku harus didasarkan pada sistem pemerintahan yang demokratis. penyelenggaraan birokrasi pelayanan publik yang dilaksanakan oleh pemerintah pada prinsipnya untuk memenuhi kebutuhan dasar dan hakhak setiap warga negara berdasarkan amanat Undang-Undang Dasar 1945. Dalam tulisan ini dikaji tentang efektivitas pelayanan birokrasi di era otonomi daerah. Untuk dapat mengoptimalkan sumberdaya yang ada di daerah khususnya sumberdaya manusia.

bahkan tujuan utama pemekaran wilayah yang marak terjadi di era otonomi daerah yaitu mendekatkan pelayanan pada masyarakat bagaikan api jauh dari panggang. Sehingga tulisan ini dapat bermanfaat untuk melakukan evaluasi pelaksanaan otonomi daerah apakah berjalan efektif sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 junto Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang otonomi daerah. kesulitan menciptakan lapangan kerja. sehingga pelayanan publik tidak dapat terlaksana dengan optimal. Akibatnya kebanyakan pejabat yang menduduki jabatan aselon dua (II) hingga aselon tiga (III) adalah orang-orang yang tidak berkompeten dibidangnya. Kondisi ini banyak dilihat di tanah air ini tentang maraknya protes yang dilakukan oleh masyarakat. yang tidak sesuai dengan harapan masyarakat. belum juga menunjukkan perubahan yang signifikan dalam sistem pelayanan publik yang dilaksanakan oleh para birokrat sebagai pejabat publik. maka yang menjadi permasalahan dalam penulisan ini adalah “sejauhmana efektivitas pelayanan birokrasi diera otonomi daerah”. efektif dan efisien. tepat. Realitas yang dihadapi masyarakat di era otonomi sekarang ini seperti hanya sebuah mimpi yang sulit untuk terwujud. hingga perubahannya menjadi UndangUndang Nomor 32 tahun 2004. Setelah dua belas tahun pelaksanaan perubahan sistem pemerintahan yaitu dari sistem pemerintahan yang sentralistik ke sistem pemerintahan desentralistik sejak ditetapkannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. 3 . apalagi mau menuntut kualitas. Persoalan tersebut diperparah lagi dengan kinerja para birokrat yang sangat rendah. Untuk meningkatkan kualitas birokrasi dalam pelayanan publik. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis pelaksanaan pelayanan birokrasi terhadap masyarakat di era otonomi daerah. junto Undang-Undang no 12 tahun 2008. bahkan dalam sistem pelayanan publik modern menuntut para birokrat melakukan pelayanan prima pada publik. Berdasarkan latar belakang tersebut. seperti pelayanan cepat. Nampaknya para kepala daerah sebagai top manajemen dalam organisasi pemerintahan daerah lebih disibukkan dengan bagaimana para pendukungnya masuk dalam jajaran kabinetnya. Pelayanan birokrasi yang terjadi tidak mampu mengimbangi perkembangan tuntutan masyarakat akan pelayanan.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik dapat tercapai dengan sistem pelayanan birokrasi yang prima.

Berdasarkan kedua dimensi birokrasi pemerintahan tersebut. (3) melindungi kebebasan individu berdasarkan peraturan dan norma adat istiadat yang berlaku di masyarakat. Lumingkewas dan Masengi (2008). mekanisme dan prosedur. responsif. Banyak pengamat mengatakan bahwa birokrasi identik dengan administrasi. mengemukakan bahwa “birokrasi pemerintahan dapat dipandang dari dua dimensi. memiliki kejujuran dan berperilaku baik. Selanjutnya Sarundajang (2005). mengemukakan ada lima ciri fungsi birokrasi yaitu: (1) memenuhi tatanan internal organisasi dan keamanan eksternal organisasi. peraturan-peraturan baku yang berstandard dan budaya. Jika birokrat sebagai administrator dan pelayan publik melaksanakan tugasnya berdasarkan fungsinya sebagaimana dikemukakan oleh Sarundajang di atas. dan (2) dimensi sikap dan perilaku birokrasi. tidak menundanunda pekerjaan. 2005). dan memahami secara cepat kebutuhan publik yang dilayani. seyogyanya di era otonomi daerah saat ini setiap penjabat publik dalam melaksanakan tugasnya sebagai administrator dan pelayan publik memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat guna mencapai cita-cita pendirian negara ini. kita tidak menjumpai berbagai bentuk kekecewaan masyarakat dan sebaliknya masyarakat akan concern dalam aktivitas kesehariannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Selain itu. Di mana para aparatur (birokrat) dituntut untuk memiliki pengetahuan tentang unsur-unsur layanan publik yang secara tepat. (Sarundajang.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 perlu memperhatikan tentang tugas dan fungsi dari masing-masing aparatur. dimensi ini merujuk pada berbagai perilaku yang diperankan para birokrat dalam pelayanan publik”. memahami alur birokrasi layanan yang ditetapkan oleh masing-masing satuan kerja perangkat daerah (SKPD). memiliki pengetahuan luas dan ketrampilan yang baik. dan yang terakhir. Sejalan dengan pemikiran tersebut. komunikatif. yaitu: (1) dimensi kelembagaan yang meliputi. Oleh karena itu birokrasi di Amerika Serikat disebut dengan Administration. Oleh sebab itu. dan memberikan pengayoman terhadap masyarakat yang berada di wilayah kerjanya. Menyimak kelima ciri fungsi birokrasi tersebut. (2) menjamin keadilan di lingkungan masyarakat. (5) meningkatkan kesejahteraan masyarakat. kelemahan birokrat sama dengan kelemahan administrasi pelayanan publik. birokrat dalam menjalankan tugasnya berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku bagi setiap pejabat publik dan menanpakan perilaku sebagai pamong yang 4 . (4) mengatur tindakan individu agar individu tidak menjadi liar. seorang birokrat akan nampak kualitas layanannya terhadap publik seperti kehandalannya.

Setiap penjabat aselon dua (II) atau tiga (III) yang diangkat oleh Bupati/ Walikota. dan yang selalu menjadi alasan klasik yang dilontarkan oleh staf tersebut adalah belum ditanda tangan oleh bos/atasannya karena tidak berada ditempat. hal ini dimaksudkan agar dalam melaksanakan tugas kesehariannya ia mampu menyelesaikan dalam waktu yang tidak terlalu lama. bahkan jika diamati di lembaga-lembaga pemerintahan sering ditemui staf administrasi di kantor-kantor pemerintahan. Kondisi ini yang sering membuat masyarakat bosan dengan berbagai keterlambatan dalam soal surat menyurat.      Birokrat sebagai Administrator Seorang birokrat sebagai administrator memerlukan pengetahuan luas. demi kepentingan dan kemajuan bangsa dan negara. tidak menggunakan komputer untuk kepentingan tugasnya sebagai seorang administrator. tidak lagi berdasarkan pada kapasitas atau kapabilitas para penjabat yang diangkat. dan bahkan tidak memperhatikan pendidikan penjenjangan karier seperti diklat PIM I. yang pada gilirannya akan dapat memberikan pelayanan yang prima terhadap masyarakat. dan pelaksana. perencana. informasi dan komunikasi (TIK) saat ini tidak sedikit birokrat yang tidak mampu menguasai dan menggunakan teknologi informasi secara baik. memiliki ketrampilan dan menguasai perkembangan teknologi informasi. dan bahkan pengangkatannya lebih ditentukan oleh tim sukses pilkada. Antara Harapan dan Kenyataan 1. sehingga sering banyak tugastugas yang seharusnya diselesaikan dalam waktu satu atau dua jam. seperti 5 . mulai sekitar bulan Juli 2011 sampai saat ini masih terjadi kesalahpahaman antara Walikota Manado dengan Gubernur Provinsi Sulawesi Utara. Sebagai contoh misalnya. Berdasarkan realitas yang nampak di daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi   Utara. bisa tertunda sampai berjam-jam atau bahkan berhari-hari. PIM II maupun PIM III. Hal ini terkait dengan persoalan pelayanan kepada masyarakat. Di era kemajuan teknologi. kondisi seperti yang disebutkan di atas banyak dipengaruhi oleh sikap kepala daerah (Bupati/Walikota) terpilih yang lebih banyak mendengarkan tim sukses dibandingkan dengan mendengarkan staf atau penjabat yang berkompeten dalam bidangnya. tetapi lebih banyak digunakan permainan game. dan peran Badan Pertimbangan Jabatan (Baperjakat) hanyalah bersifat formalitas. karena Walikota Manado mengganti beberapa pejabat aselon II tanpa konsultasi dengan Gubernur.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik patut diteladani oleh semua pihak. Sebagai seorang pelaksana tugas di lembaga pemerintahan harus dapat menjadi sebagai konseptor.

. di Kabupaten Minahasa Selatan. Secara sosiologis dan psikologis. Sarundajang (2005) mengemukakan bahwa “Otonomi Daerah adalah hak wewenang dan kewajiban daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku”. sebab kalau tidak ikut serta dalam rombongan kunjungan kerja. walaupun itu bukan bidangnya. masyarakat Indonesia pada umumnya adalah masyarakat yang taat pada pemerintahnya. 6 . sehubungan dengan tujuan pelaksanaan desentralisasi oleh Syaukani. Akibat perilaku demikian birokrasi pelayanan publik tidak berjalan optimal. Kasus pemberhentian sepihak terhadap pejabat Sekretaris Kota Manado berakhir di PTUN dan dimenangkan oleh pejabat Sekretaris Kota yang berhentikan. setelah dilantik oleh Mendagri langsung melantik pejabat aselon II dan III di lembaga pemasyarakatan Cipinang. penggantian pejabat dan pelantikannya sering dilakukan secara mendadak dan dilakukan malam hari.”. Lain lagi peristiwa yang dilakukan oleh Walikota Tomohon Sulut yang terpilih (saat ini non aktif. Fenomena-fenomena demikian bukan barang baru yang ditampilkan oleh setiap pejabat Bupati/Walikota di era Otonomi Daerah saat ini. banyak masalah terjadi di daerah yang tidak tertangani secara baik karena keterbatasan kewenagan pemerintah daerah . Pada saat ini kewenangan pemerintah daerah sudah begitu luas dalam mengembangkan potensi yang terdapat di daerahnya. bisa berdampak pada penggantian pejabat. ketaatan dan partisipasi masyarakat tersebut akan lahir dengan sendirinya apabila mereka mendapat perlakuan yang seimbang dan kebutuhan pokoknya terpenuhi. mengemukakan bahwa  “di masa lalu. Contoh arogansi pejabat kepala daerah terpilih yang demikian itulah yang menyebabkan seringkali banyak penjabat tidak berada ditempat karena harus mengikuti ke mana Bupati/Walikota berkunjung. dan ditahan dilembaga pemasyarakatan Cipanang karena tersangkut kasus Korupsi). Contoh yang lain lagi. . termasuk di dalamnya pelayanan birokrasi terhadap kepentingan masyarakat.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 penggantian Sekretaris Kota Manado. Berdasarkan ketentuan peraturan peundang-undangan yang berlaku bahwa setiap pengangkatan pejabat aselon II harus dikonsultasikan oleh Bupati/Walikota kepada Gubernur. Banyak keluhan yang disampaikan aparatur di daerah yaitu kurangnya partisipasi masyarakat dalam berbagai program pembangunan termasuk dalam hal pembayaran pajak bumi dan bangunan (PBB). Pelayan yang seimbang dan pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat merupakan konsekwensi dari implementasi otonomi daerah. Gaffar dan Rasyid (2003). Sehubungan dengan hal itu.

ketimbang hal-hal yang tidak berdampak pada peningkatan partisipasi masyarakat. Kelemahan dalam pelayanan dan rendahnya partisipasi masyarakat banyak dijumpai pada saat pemberian kewenangan ke daerah secara luas. 2.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Oleh sebab itu. dan Dana Alokasi Khusus (DAK). seyogiyanya mengutamakan pengabdiannya kepada masyarakat (Sapta Prasetya Korpri). Perilaku Birokrasi dalam Pelayanan Publik Sebagaimana telah diutarakan pada bagian sebelumnya. Kondisi demikian lebih dipeparah oleh perilaku anggota DPRD yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi ketimbang kepentingan konstituennya. gunan menutupi kekurangan dana dari PAD sebagai sumber utama APBD. Keberhasilan pelaksanaan otonomi daerah sangat ditentukan oleh bagaimana perilaku aparatur di daerah dalam melaksanakan tugas dan fungsinya secara bertanggung jawab dan penuh pengabdian. serta didukung oleh kerjasama yang baik antar aparatur yang ada dalam membentuk tim kerja  (team work) yang solid. Para pelaku otonomi daerah adalah mereka yang diberi kewenangan dan otoritas untuk mengelolah daerahnya. maka tidak mengherankan banyak pejabat di daerah yang ikut jadi pengemis ke pusat untuk meminta tambahan Dana Alokasi Umum (DAU). Kondisi demikian sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Kaloh (2002). yang banyak mempengaruhi berhasil tidaknya pelaksanaan otonomi daerah terletak pada para pelaku otonomi daerah itu sendiri. Tidak optimalnya pembayaran PBB oleh masyarakat berdampak pada rendah Pedapatan Asli Daerah (PAD). “problematik yang dihadapi oleh birokrasi pemerintahan kita adalah 7 . sebagai seorang birokrat yang berada pada garis depan pelayanan publik. yang implikasi pada kurangnya dana untuk pembangunan. sehingga dalam perencanaan pembangunan daerah banyak antar SKPD yang saling tumpang tidih program. Yang menjadi persoalan sekarang di daerah adalah banyak pejabat antar satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang kurang memahami tugas pokok dan fungsinya. mengemukakan bahwa “salah satu prasyarat tercapainya team work dan konvergensi adalah adanya kejelasan tugas pokok dan fungsi masingmasing institusi pemerintahan”. hal ini sering disebabkan oleh ego sektoral dan kurang koordinasi antar SKPD dalam penyusunan program kerja. Kaloh (2002). karena kosentrasi pejabat yang ada lebih terfokus pada melayani Bupati/Walikota ketimbang melayani masyarakat. karena kewenangan tersebut tidak dilaksanakan secara optimal. yaitu Bupati/Walikota dan seluruh aparat birokrasi yang berada di bawahnya.

kami mendapat jawaban bahwa yang bertanggung jawab adalah pemerintah kota manado. Di Provinsi Sulawesi Utara tidak sedikit pejabat yang terlibat kasus manipulasi dan korupsi sehingga mereka berurusan dengan pihak berwajib dan bahkan sudah banyak yang masuk lembaga pemasyarakatan. karena obyek wisata taman laut bunaken berada di beberapa wilayah kabupaten kota. jika Bupati/Walikota dalam menjalankan sistem pemerintahannya secara demokratis. seperti Taman Laut Bunaken. Gaffar dan Rasyid (2003). Perilaku ego sektoral sering ditampilkan oleh para pejabat publik. Perilaku saling lempar tangung jawab seperti contoh kasus tersebut memberikan gambaran tentang kinerja aparatur dalam pelayanan publik. Saling lempar tanggung jawab. akan tetapi tidak memperhatikan tupoksinya. Dalam proses pengumpulan data. Dalam kondisi sedemikian ini sulit membangun team work dan konvergensi”. Sebagai contoh kasus misalnya penanganan beberapa obyek wisata yang terrdapat di Propinsi Sulawesi Utara. sehingga dalam satu daerah otonom akan mengalami kesulitan untuk membentuk tim kerja yang solid. sehingga tujuan terbentuknya daerah otonom yaitu mendekatkan pelayanan pada publik dan peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat terwujud.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 seringkali sesuatu urusan ditangani oleh banyak instansi sehingga muncul masalah. Pada suatu kesempatan saya mendampingi salah seorang teman yang sedang melakukan penelitian tentang Privatisasi Kebijakan Publik tentang obyek wisata taman laut Bunaken. agar supaya dipandang lebih piawai dalam menyusun program. Sebab sistem pemerintahan demokratis memberikan peluang bagi masyarakat untuk mengontrol 8 . mampu berkoodinasi antar SKPD. Raja-raja kecil dan korupsi tidak akan lahir di daerah otonom. Dampak dari perilaku demikian. jawabannya adalah pemerintah Provinsi. tumpang tindih program merupakan celah yang terbuka untuk terjadi manipulasi dan korupsi. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Syaukani. sulit untuk melacak sumber permasalahan. dan obyek wisata religi Bukit kasih di Kanonang Minahasa. yang tidak mengutamakan pelayanan tapi hanya lebih mempertontonkan kebolehannya dihadapan atasannya (Bupati/Walokota). banyak program kerja yang saling tumpang tindih karena sudah ditangani oleh beberapa SKPD. bahwa “otonomi daerah akan menciptakan raja-raja kecil di daerah dan memindahkan korupsi ke daerah”. begitu sebaliknya waktu ditanyakan pada dinas pariwisata kota manado. kami menanyakan pada dinas pariwisata Provinsi Sulawesi Utara tentang siapa yang bertanggung jawab dalam pengelolaan obyek wisata taman laut Bunaken.

Dalam sistem pemerintahan daerah yang bersifat desentaristik seperti sekarang ini.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik jalannya pemerintahan. serta mendekatkan pelayanan pemerintahan pada masyarakat di daerah. tanggung jawab lebih bertumpuh pada kepala daerah yaitu Bupati/Walikota. maka tujuan utama utama pembentukan otonomi daerah dapat terealisasi. Tidak terjadi tumpang tindih program pembangunan dan tidak membuka ruang bagi koruptor akan berdampak positif bagi kemajuan masyarakat. seorang kepala daerah dalam menjalankan roda pemerintahannya harus bersifat demokratis. transparan dan akuntabel. dan pihak pemerintah lebih terbuka dalam hal penyusunan program (Musrembang sesuai undang-undang 32 tahun 2004) dan penggunaan anggaran publik benar-benar untuk kepentingan publik. Penutup Pelaksanaan otonomi daerah pada prinsipnya adalah percepatan pertumbuhan dan pembangunan daerah. termasuk diantaranya sumberdaya manusia secara berdaya guna dan berhasil guna. yang pada gilirannya birokrasi pelayanan publik akan berjalan secara optimal. untuk dapat mengoptimalkan dan memberdayakan segala sumberdaya yang ada di daerahnya. Untuk mencapai hal tersebut. 9 .

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik

Edisi 3 / September / 2011

 Daftar Pustaka Kaloh, J., 2002, Mencari Bentuk Otonomi Daerah, suatu solusi dalam menjawab kebutuhan local dan tantangan global, Rineka Cipta, Jakarta.  Lumingkewas, Lexie A., dan Evi E. Masengi, 2008, Reformasi Birokrasi Pemerintahan, dalam perspektif pelayanan publik, Wineka Media, Malang.   Sarundajang, S.H., 2005, Arus Balik Kekuasaan Pusat ke Daerah, Kata Hasta, Jakarta.  . . . . . ., 2005, Birokrasi Dalam Otonomi Daerah, uapaya mengatasi kegagalan, Kata Hasta, Jakarta.   Syaukani, Afan Gaffar, dan M. Ryaas Rayid, 2003, Otonomi Daerah, dalam negara kesatuan, kerjasama Pustaka Pelajar dan Pusat Kajian Etika Politik dan Pemerintahan, Jakarta.

10

Edisi 3 / September / 2011

II
Pelayanan Birokrasi Papua dalam Era Otonomi Khusus
Oleh : Oleh Habel M. Suwae 1, Heru Nugroho 2, Djoko Suryo 3 Habel M. Suwae, mahasiswa Program Doktor Kajian Budaya dan Media Sekolah Pascasarjana UGM, dan Bupati Kabupaten Jayapura Provinsi Papua.
1 2 3

Heru Nugroho, Guru Besar Sosiologi Fisipol UGM

Djoko Suryo, Guru Besar Sejarah FIB Universitas Gadjah Mada

11

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik

Edisi 3 / September / 2011

S

Pendahuluan ebagaimana diketahui, melalui Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001

tentang Otonomi Khusus,

Papua telah diberi kewenangan untuk mengatur pemerintahan sendiri berdasarkan peraturan perundangan. Dengan Otsus para elite politik di Papua kebanyakan memilih bersikap terbuka terhadap masuknya para investor, baik dari dalam dan luar negeri untuk tujuan mengembangkan Papua lebih maju. UU Otsus itu pun memang dengan eksplisit menyebutkan bahwa Papua dikategorikan sebagai daerah tertinggal jika dibandingkan dengan wilayah Indonesia Tengah dan apalagi wilayah Indonesia Barat.
Pilihan strategis politik pembangunan seperti itu membawa konsekuensi daerah ini terus berkembang baik secara politik, ekonomi, maupun kebudayaan. Dalam bidang politik, proses demokrasi terus bergulir tercermin

dalam proses Pemilu Kepala Daerah secara langsung. Lebih dari itu melalui prinsip demokrasi politik, terus dipakai dalam untuk mengubah paradigma pembangunan yang lebih partisipatif. Maka di beberapa wilayah Papua, terutama Kabupaten Jayapuran telah menerapkan model pembangunan partisipatif dalam upaya memberdayakan masyarakat. Di Kabupaten Jayapura telah meluncurkan program pembangunan yang diberi nama “Program Pemberdayaan Distrik dan Kapung”, atau yang lebih populer dengan singkatan PPDK.1 Konsep dan paradigma pembangunan ini diluncurkan sebagai respons atas semakin meningkatnya kecenderungan pola pembangunan sentralistik yang lebih menggunakan pendekatan dari atas-bawah (topdown approach). Berbagai program pembangunan pada saat itu lebih banyak prakarsa datang dari pemerintah, sementara prakarsa dari masyarakat kurang terakomodasi dalam proses perencanaan pembangunan. Partisipasi pun kemudian dipahami menurut tafsir tunggal pemerintah, yaitu yang dimaknai seberapa jauh masyarakat melaksanakan program pembangunan yang dirancang dari atas, dari yang telah ditetapkan oleh
1 Urain lebih lengkap terdapat dalam Poli dan Dahlan Abubakar, 2008, Suara Hati yang Memberdayakan: Gagasan Pemberdayaan Masyarakat di Kabupaten Jayapura, Makasar: Identitas.

12

yaitu menuju proses integrasi atau konflik. Secara konkret sasaran PPKD adalah warga masyarakat lokal dan masyarakat pendatang. Dinamika interaksi sosial itu kemudian membawa implikasi pada dua kemungkinan. keberagaman dipandang sebagai potensi integrasi. Dengan kata lain. Di Papua. prinsip pembangunan partisipatif tersebut dilaksanakan secara komprehensif dengan sasaran utama adalah menjadikan warga sebagai subyek pembangunan. Melalui PPKD. dan kultur yang beragam. Bersamaan dengan itu. bukan sebagai faktor yang memecah belah. Persinggungan dengan dunia luar membuat masyarakat Papua berelasi dengan berbagai budaya dan kepentingan lain yang terus melakukan interaksi secara intens. 13 . Masyarakat lokal adalah sejumlah warga yang sudah cukup lama berdomisili pada lokasi tertentu yang mengembangkan kultur atau pandangan hidup bersama (common way of living) yang lama-lama menjadi identitas. dan masing-masing memiliki identitasnya sendiri. masyarakat lokal ini mewujud dalam komunitas berbasis etnis yang tersebar di berbagai wilayah baik di pantai dan daratan maupun di pegunungan. Di samping itu juga terdapat masyarakat pendatang yang datang dari berbagai daerah dan memiliki latar belakang etnis. Dengan PPKD. Papua menjadi wilayah yang terbuka bagi masuknya berbagai aktivitas baik ekonomi. atau berkembang menjadi birokrasi modern yang mengutamakan profesionalisme dan merit system. Berangkat dari realitas masyarakat Papua yang berkembang semakin plural. dan mereka itu juga mempunyai identitas masingmasing. Masyarakat Papu kemudian berkembang menjadi masyarakat yang plural. agama. serta semuanya membangun identitasnya masingmasing.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik pemerintah. Oleh karena itu multikulturalisme menjadi pilihan utama dalam mengkonstruksi identitas kolektif yang bernama Papua. Mereka itu saling berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain dengan masing-masing menunjukkan indentitasnya. politik. pertanyaan menarik adalah bagaimana pelayanan birokrasi pemerintah Papua dalam era Otonomi Khusus sekarang ini. keberagaman itu justru dijadikan sebagai modal pembangunan dengan mendorong ke arah tujuan bersama yaitu peningkatan kesejahteraan berbasis kemandirian dan keberdayaan. agama. sehingga mandiri. dan kekerabatan. Apakah bias primordialisme seperti baik buruknya pelayanan birokrasi disebabkan oleh faktor kesamaan etnis. maupun sosialbudaya yang dibawa oleh arus modernisasi.

maka setelah kembali bernama Papua. Setiap kepala suku atau pemimpin lokal tidak memiliki otoritas yang penuh kecuali sebagai juru bicara masyarakatnya. atas inisiatif Presiden Abdurrahman Wahid atau yang akrab disebut Gus Dur Irian Jaya diubah menjadi Papua. setelah mendapatkan kembali nama Papua yang diakui secara resmi oleh pemerintah pusat. Sejak itu kepapuaan kembali dihidupkan sebagai identitas alternatif dari identitas “Irian Jaya” yang telah identik dengan “Indonesia” beserta penindasan dan praktik kolonialismenya. sementara 2 Bandingkan dengan studi yang sudah dilakukan oleh Johszua Mansoben. bagi rakyat Papua asli merupakan momen yang luar biasa dan berkaitan dengan usaha mencari identitas. 14 . (Jakarta-Leiden: LIPI-RUL). sebagian ada yang melihatnya secara konservatif dengan latar belakang etnis sebagai basis konstruksi identitas. Konstruksi identitas kepapuan yang selama ini lebih dibentuk oleh narasi-narasi dominan. penamaan (naming) memiliki signifikansi tinggi terhadap tumbuhnya kepercayaan diri dan pengakuan eksistensial dari dunia luar tentang Papua. Interaksi yang terbatas di masa lalu belum memungkinkan tumbuhnya kesadaran budaya yang relativistik dan toleran. Kongruensi aspirasi dan identitas kepapuaan baru pada tahap yang sangat dini. Sistem Politik Tradisional di Irian Jaya. Mereka menganggap bahwa orang Papua adalah orang Papua asli. Perasaan satu identitas ini disatukan oleh memori penderitaan kolektif dan kongruensi aspirasi yang bersumber dari mitologi sebagian besar suku bangsa masing-masing tentang milenium baru dan mesianisme.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi Primordial Pada era reformasi. Setiap kelompok suku secara kultural mandiri dan unik. Perubahan nama dari Irian Jaya menjadi Papua. Pada era reformasi penggunaan nama Papua menjadi penanda bagi aspirasi bersama itu. seperti terlahir kembali. Bagi sebagian besar warga Papua. dan setiap suku memiliki kosmologi yang memandang dirinya sebagai pusat dari semesta. terbuka ruang bagi warga Papua untuk mengeskspresikan diri identitas kepapuannya. tidak tunduk pada yang lain. pada kurun 1998-1999. Kepapuaan cenderung berhenti sebagai identitas yang dihayati secara “etnosentris” dan emosional. Di dalam kenyataannya budaya semacam ini sulit tumbuh suatu kepemimpinan yang diakui oleh semua kelompok suku bangsa. Oleh karena itu etnosentrisme menjadi persoalan dasar di dalam konsolidasi rakyat Papua.2 Masyarakat Papua sendiri dalam mengkonstruksi identitas kepapuannya. Struktur-struktur masyarakat Papua yang terdiri dari kurang lebih 250 suku bangsa bersifat otonom satu sama lain. Berkembang perasaan di kalangan warga Papua.

dan tidak mungkin netral (King. 1989). birokrasi seringkali merupakan bagian dari dominasi politik oleh suatu suku.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik penduduk yang datang dari luar etnis Papua dianggap sebagai nonPapua. 1988). Bupati dan Wakil Bupati. dan 3 Sejak tahun 2009. Dalam hubungan semacam itu. tidak obyektif. Oleh karena itu. perundang-undangan. Birokrasi semacam itu dikenal sebagai birokrasi primordial (Kartodirdjo. terdapat harga yang harus dikeluarkan oleh seseorang ketika berurusan dengan birokrasi. atau kelompok-kelompok primordial lainnya. Meskipun sebagai birokrasi ia memiliki struktur yang serupa dengan yang ditemui di negaranegara industri maju. Dalam konteks birokrasi di 15 . aparat birokrasi di negaranegara berkembang birokrasi sering menunjukkan diri sebagai mesin politik yang tidak netral. senantiasa penuh muatan politik. Yang loyal kepada patron diberi sumber ekonomi dan status sosial. Dampak ikutan atas situasi itu merembes ke praktik penyimpangan kekuasaan. di mana tidak jarang perilaku birokrasi menyerupai interaksi yang bersifat transaksional. Walikota dan Wakili Walikota harus orang Papua asli.3 Apakah pemahaman yang bias etnosentrisme itu mempunyai implikasi terhadap pelayanan birokrasi? Dalam banyak kasus sedikit-banyak memang memiliki dampak terhadap ketidaknetralan birokrasi dalam memberikan pelayanan terhadap publik. dan sebaliknya yang tidak loyal akan dibatasi sumber ekonomi dan karirnya. hubungan-hubungan yang ada secara interen dan eksteren adalh hubungan antara patron dengan klien yang bersifat sangat pribadi dank has. Secara teoretik pemahaman seperti itu sering disebut sebagai birokrasi yang tidak netral. di jajaran birokrasi akan timbul masalah pertukaran antara loyalitas dan pemberian ganjaran. diterbitkan Peraturan Pemerintah Daerah Otonomi Khusus yang merupakan keputusan politik melalui mekanisme pembahasan di DPRD Papua yang menetapkan bahwa Gubernur dan Wakil Gubernur. Mesin politik itu kadang mencerminkan nilai-nilai serta norma-norma yang kurang rasional. namun isinya dan perilakunya secara kental diwarnai oleh kaitan primordialnya (Kuntjoro-Jakti. atau pun peraturan-peraturan. Fenomena etnosentrisme ini semakin mengental ketika sejumlah elite politik menafsir Otonomi Khusus (Otsus) juga dari perspektif esensialisme yang berakar pada geneologis. Perilaku birokrasi seperti itu sangat terlihat pada era Orde Baru. Artinya. dalam politik lokal sekarang elite politik lokal menghendaki adanya Gubernur dan Wakil Gubernur serta Bupati dan Wakil Bupati harus orang Papua asli. Ada anggapan bahwa berlainan dengan di negara-negara maju. 1980). daerah. Dalam birokrasi ini. atau agama. yang lepas dari konstitusi. Jadi.

16 .4 Sedangkan dalam bidang sosial4 Dikutip dari Profil Kabupaten Jayapura. sama sekali tidak menerapkan kebijakan yang mengarah pada segregasi sosial. di Papua sektor perdagangan banyak dikuasai oleh etnis Tionghoa dan Bugis Makasar. di mana aparat birokrasi yang fungsi utamanya 5 Profil Kabupaten Jayapura. sekarang telah menjadi identitas baru warga Kabupaten Jayapura.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Papua sekarang. 2009. Di Papua jabatan seperti Sekretaris Daerah. Sebagai ilustrasi. Bukan sebaliknya. Sedangkan etnis Jawa banyak bergerak pada sektor informal dan pertanian. Bugis. Eselonisasi dalam jajaran birokrasi sama sekali tidak mempertimbangkan putra daerah. dan lain-lain. Menado. birokrasi pemerintah Papua berusaha menerapkan prinsip multikulturalisme. dalam menjalankan pelayanan publik.5 Semua itu menunjukan bahwa dalam menjalankan pelayanan publik. birokrasi Papua sangat mempertimbangkan kepentingan publik yang semakin plural. Meskipun demikian warga Papua asli kemudian mulai masuk ke dalam berbagai sektor strategis tersebut. Akan tetapi. dalam arti mengikuti hukum pasar. Merit sistem benar-benar diterapkan. banyak dijabat oleh pegawai yang berasal dari berbagai daeah seperti Jawa. maka birokrasi pemerintah Papua terus berusaha menuju ke arah profesionalisme dan merit sistem. ekonomi. Kepala Dinas. dan bukan atas dasar sentimen etnis. karena fakta menunjukkan bahwa Papua berkembang sebagai masyarakat plural. Karena itu seperti di daerah lain. Meskipun demikian. Pemkab Jayapura. dalam menerapkan kebijakan pada sektor birokrasi pemerintahan. sehingga membentuk identitas baru yang mengaburkan stigma sosial. Sambutan Bupati Kabupaten Jayapura. ibit. karena baik etnis Jawa maupun penduduk asli telah menjadi subyek dalam budidaya tanaman kakao. bahwa setiap warga masyarakat adalah ibarat raja yang harus dilayani. kakao misalnya. Di sektor pertanian. seperti orang Papua tertinggal dan tidak transformatif. Orientasi terhadap pelayanan publik ini juga ditegaskan pada komitmen pemerintah Kabupaten Papua. dan bersamaan dengan itu arus demokratisasi juga terus berlangsung. Batak. Semuanya dibiarkan tumbuh secara natural. Bali. 2009. dan pimpinan proyek strategis. yang sekarang sangat populer sebagai identitas warga Jayapura. Pemkab Jayapura selama ini juga menghindari prinsip geneologis dan etnosentrisme. dalam arti penunjukan pejabat eselon berdasarkan profesionalisme. memang ada juga kecenderungan aparat birokrasi yang dalam memberikan pelayanan masih berkarakter sebagaimana yang ditunjukkan birokrasi primordial.

masyarakat Papua terdiri atas suku Jawa. Dilihat dari keragaman latar belakang etnis. seperti Kristen-Protestan.6 Sementara itu dilihat dari latar belakang sosial ekonomi. agar terlibat dalam proses pembangunan mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan. Badan Pusat Statistik Kabupaten Jayapura. dan ada juga Hindu. Dari aspek keagamaan. sementara prakarsa dari masyarakat kurang terakomodasi dalam proses perencanaan pembangunan. Maluku. telah menerapkan model pembangunan partisipatif dalam 6 Dikutip dari Kabupaten Jayapura dalam Angka. masyarakat Papua juga bersifat beragam. Sementaran dalam teori pembangunan menjelaskan. bahwa pembangunan belum dianggap berhasil manakala dalam proses pelaksanaannya belum dapat membangkitkan sikap partisipatif pada masyarakat. Bugis. upaya memberdayakan masyarakat. 2009. dari yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Konsep dan paradigma pembangunan ini diluncurkan sebagai respons atas semakin meningkatnya kecenderungan pola pembangunan sentralistik yang lebih menggunakan pendekatan dari atas-bawah (topdown approach). dan Batak. Kabupaten Jayapuran misalnya. agama. Partisipasi pun kemudian dipahami menurut tafsir tunggal pemerintah. Pemkab Papua juga membuka kotak aduan bagi warga masyarakat yang tidak mendapatkan pelayanan baik dari jajaran aparat birokrasi. baik dilihat dari latar belakang etnis. masyarakat Papua juga terdiri dari berbagai macam agama. Masyarakat Papua sekarang telah berkembang menjadi masyarakat yang plural. Minang. atau yang lebih populer dengan singkatan PPDK. Khatolik. pilihan birokrasi profesional dan berdasarkan merit sistem itu sesuai dengan realitas empirik masyarakat Papua yang cenderung semakin plural. Islam. dan distribusi hasil. Dorong Partisipasi Publik Birokrasi pemerintah Papua juga terus mendorong partisipasi publik. Pendekatan pembangunan yang top-down tidak mampu menggerakkan sikap-sikap aktif pada masyarakat sendiri untuk berkreasi dalam pembangunan. Berbagai program pembangunan pada saat itu lebih banyak prakarsa datang dari pemerintah. Di Kabupaten Jayapura telah meluncurkan program pembangunan yang diberi nama “Program Pemberdayaan Distrik dan Kapung”.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik adalah melayani masyarakat justru minta dilayani. yaitu yang dimaknai seberapa jauh masyarakat melaksanakan program pembangunan yang dirancang dari atas. Begitulah. dan latar belakang sosial ekonomi. sehingga masyarakat sendiri yang akahirnya mampu secara mandiri melanjutkan 17 .

Secara konkret sasaran PPKD adalah warga masyarakat lokal dan masyarakat pendatang. Bersamaan dengan itu. Di Papua. sistem rekreuitmen. yaitu menuju proses integrasi atau konflik. sehingga personil. keberagaman itu justru dijadikan sebagai modal pembangunan dengan mendorong ke arah tujuan bersama yaitu peningkatan kesejahteraan berbasis kemandirian dan keberdayaan. dan mereka itu juga mempunyai identitas masingmasing. serta semuanya membangun identitasnya masingmasing. Dengan PPKD. Akan tetapi dalam perkembangan lebih lanjut. Birokrasi pun kemudian menunjukkan karakter birokrasi primordial. Melalui PPKD. dan pelayanan pun ada kecenderungan bias etnosentrisme. masyarakat lokal ini mewujud dalam komunitas berbasis etnis yang tersebar di berbagai wilayah baik di pantai dan daratan maupun di pegunungan. disikapi oleh sebagian warga Papua secara primordialistik. birokrasi pemerintah Papua berkembang ke arah yang lebih menunjukkan karakter birokrasi profesional dengan menerapkan merit sistem.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 usaha pembangunan. Karakter masyarakat Papua sendiri yang terbuka dan semakin plural. birokrasi pemerintah juga terus mendorong partisipasi publik dalam proses pembangunan menuju pemerintahan yang transparan dan akuntabel. Masyarakat lokal adalah sejumlah warga yang sudah cukup lama berdomisili pada lokasi tertentu yang mengembangkan kultur atau pandangan hidup bersama (common way of living) yang lama-lama menjadi identitas. pelayanan birokrasi pemerintah Papua dalam era Otonomi Khsusus berkembang secara dinamik. menjadi pertimbangan utama mengedepankan birokrasi rasional. prinsip pembangunan partisipatif tersebut dilaksanakan secara komprehensif dengan sasaran utama adalah menjadikan warga sebagai subyek pembangunan. dan kultur yang beragam. Mereka itu saling berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain dengan masing-masing menunjukkan indentitasnya. dan masing-masing memiliki identitasnya sendiri. Masyarakat Papua kemudian berkembang menjadi masyarakat yang plural. 18 . Penutup Begitulah. sehingga mandiri. Pada awalnya memang terdapat kecenderungan bahwa pemberian kewenangan pengelolaan politik oleh pemerintah pusat dalam bentuk Otsus. agama. Di samping itu juga terdapat masyarakat pendatang yang datang dari berbagai daerah dan memiliki latar belakang etnis. Dinamika interaksi sosial itu kemudian membawa implikasi pada dua kemungkinan. yang lebih mengutamakan efisiensi dan profesionalisme.

Muhadam Labolo * Edisi 3 / September / 2011 * Dosen tetap pada Pasca Sarjana Institut Pemerintahan Dalam Negeri Cilandak dan Unlam Banjarmasin Jurusan Ilmu Pemerintahan. Direktur Eksekutif Pusat Kajian Strategik Pemerintahan. Email: muhadamlabolo@yahoo.Foto : Antara III Reformasi Birokrasi dan Implementasi Good Governance Oleh : Dr.com 19 .

organisasi dan lingkungannya dalam kerangka pencapaian tujuan efisiensi penyelenggaraan birokrasi pemerintahan. Perubahan tersebut meliputi keseluruhan aspek yang memungkinkan birokrasi memiliki kemampuan yang memadai dalam melaksanakan tugas dan fungsi pokoknya. disamping membesarnya struktur birokrasi pemerintahan. Perubahan pada satu elemen kiranya dapat mempengaruhi unsur lain dalam sistem itu sendiri. tutup-lubang. Struktur berhubungan dengan tatanan yang tersusun secara teratur dan sistematis. serta dampak yang ditimbulkan terhadap birokrasi mengakibatkan pemerintah kelimpungan dalam menutup defisit 20 .Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Pendahuluan R eformasi birokrasi merupakan upaya penataan mendasar yang diharapkan dapat berdampak pada perubahan sistem dan struktur. Bertambahnya pegawai hasil rekrutmen tanpa kompetensi yang jelas serta kebiasaan mengembangkan struktur organisasi membuat pemerintah pusat maupun daerah mengalami defisit anggaran layaknya gali-lubang. Peningkatan belanja aparatur dapat dilihat dari hasil evaluasi FITRA (2011). sumber daya manusia. pertama. membengkaknya ongkos demokrasi (pemilukada) mengakibatkan beban kas pemerintah daerah khususnya mengalami peningkatan signifikan. Ironisnya. Ini berarti. Kedua. sarana dan prasarana. lebih kurang 2% pegawai kemungkinan menikmati belanja aparatur. Kegagalan birokrasi dalam melayani masyarakat selama ini sekaligus menggambarkan buruknya penyelenggaraan pemerintahan baik di level pemerintah pusat maupun daerah. perhelatan tersebut tak jelas melahirkan kepemimpinan pemerintahan yang handal. Sistem berkaitan dengan hubungan antar unsur atau elemen yang saling mempengaruhi dan berkaitan membentuk suatu totalitas. Sedangkan perubahan struktur mencakup mekanisme dan prosedur. Besarnya anggaran pemilukada. sisanya sebesar 17% diperebutkan oleh 98% masyarakat dalam bentuk alokasi belanja modal/pembangunan. Urgensi reformasi birokrasi di Indonesia setidaknya di dorong oleh sejumlah catatan penting. meningkatnya belanja aparatur disebabkan oleh bertambahnya rekrutmen pegawai tanpa pengendalian yang jelas. dimana 124 pemerintah daerah cenderung memperlihatkan gejala kebangkrutan. Kabupaten Lumajang menjadi contoh nyata dimana belanja aparatur membengkak hingga mencapai 83% dari total APBD.

berbelit-belit. serta bagaimanakah desain reformasi birokrasi yang mesti dilakukan dalam meminimalisasi meluasnya masalah yang dihadapi? Tulisan singkat ini akan mendeskripsikan tentang makna birokrasi dan good governance. sekalipun pada akhirnya lebih menampilkan potret masalah birokrasi di level pemerintah daerah. arogan. Kelima. khususnya daerah di luar pulau Jawa. namun fundamental. Cakupan tulisan ini juga akan menyentuh reformasi birokrasi pemerintahan baik pusat maupun daerah. Perubahan tersebut diharapkan tidak saja bersifat incremental semata. sewenang-wenang dan tak transparan. Akibatnya. meluasnya perilaku koruptif mendorong birokrasi kehilangan kepercayaan sebagai pelayan masyarakat. boros. Tentu saja birokrasi pemerintahan sebagai instrument pelaksana menjadi fokus utama yang mesti diperbaiki melalui kebijakan reformasi birokrasi. bahkan tak terkontrol akibat tingginya beban organisasi. birokrasi di daerah mengalami overload. bagaimanakah sebaiknya reformasi birokrasi dilakukan. Bagaimanapun juga. nepotisme. Ketiga. 21 . Keseluruhan catatan negatif tersebut di dukung pula oleh perilaku buruk birokrasi dalam pelayanan masyarakat seperti sikap yang lamban dan reaktif. enggan berubah. bekerja secara naluriah (insting). Masalahnya. karakteristik pemerintahan yang baik. kita semua paham bahwa reformasi birokrasi di level pemerintah daerah merupakan bagian dari kebijakan reformasi birokrasi secara nasional. serta upaya strategis reformasi birokrasi dan implementasi tata kelola pemerintahan yang baik. Lebih dari itu birokrasi mengalami dilemma loyalitas akibat terpecahnya konsentrasi pada setiap pesta pemilukada. Keempat. sementara belanja pemerintah daerah jauh dari efisiensi. apakah tantangan yang dihadapi. tingginya gairah penggemukan organisasi birokrasi pemerintahan tanpa perencanaan dan analisis yang jelas memicu pembiayaan dan rekrutmen pegawai dalam jumlah tak sedikit. Disisi lain rendahnya pendapatan asli daerah menciptakan ketergantungan pada pemerintah pusat.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik anggaran. serta kurang berorientasi pada kepentingan masyarakat. masalah dan tantangan yang dihadapi dalam upaya reformasi birokrasi. Konsep ini diharapkan mampu menjembatani suatu kondisi pemerintahan yang buruk (bad government) kearah terbentuknya pemerintah yang baik (good government). atau bahkan kekurangan. boros. Hal itu disadari bahwa upaya reformasi birokrasi merupakan bagian dari grand desain penciptaan tata pemerintahan yang baik (good governance). lemahnya pengawasan mengakibatkan pemerintah cenderung bertindak konsumtif.

Pejabatnya biasa duduk di belakang meja. Dalam padanan lain seringkali dihubungkan dengan istilah pemerintahan (proses). represif. dimana struktur di bentuk lebih banyak menyelesaikan pekerjaan di atas meja. eksploitatif. Theory of Public Bureucracy. Baron de Grimm atas catatan Vincent de Gournay2. birokrasi berasal dari kata bureaucracy (Inggris). 2000. Ensiklopedi Ilmu-Ilmu Sosial. 22 . Semua masalah relatif diselesaikan di atas meja. yang berarti meja atau kantor. atau burocratie (Jerman). Bureaucracy. pastilah bicara tentang oligarkhi. kolutif. Ini bisa dimaklumi. burocrazia (Italia) dan bureaucatie (Perancis). 1 Martin Albrow dalam Donald P. atau bahkan proses dan sumber dari semua aturan dalam hubungan antara yang memerintah dan yang diperintah. oportunis.Warwick.74-75. hal. New York dan London. jika urusan diselesaikan di bawah meja mungkin saja bertentangan dengan makna etimologisnya. Dua contoh lain hasil asimilasi yang sebangun dengan kata itu misalnya konsep demokrasi dan oligarkhi. Istilah ini dimunculkan kembali oleh filosof Perancis. 3 Laski. Makna bureau (baca:biro) identik dengan kenyataan dalam birokrasi. H. Statement ini setidaknya sejalan dengan pikiran Gornay dan Laski (1930). Logikanya. 2 Adam Kuper dan Jessica Kuper. Demikian pula apabila sumber kekuasaan tersebut dikendalikan oleh sekelompok rakyat pintar (profesional) dikenal dengan istilah oligarkhi. Apabila sumber kekuasaan berasal dari rakyat banyak lazim disebut demokrasi. Raja Grafindo. lewat kalimat provokatif Michel (1962)4 menyatakan bahwa siapa yang bicara tentang organisasi. Cambridge Massachussets. Sekalipun banyak demikian. dalam Encyclopaedia of the Social Sciences. 1962. Bahkan. Pada tingkat pragmatis. R. Sinisme atas gejala tersebut melahirkan istilah bureaumania. Cracy (kratos) sendiri menunjukkan arti kekuasaan atau aturan. New York. Jakarta.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dan Good Governance Konsep birokrasi sendiri lazim merujuk pada gagasan Maximilliam Weber (1864-1920). Albrow1 mengembangkan konsep birokrasi dari berbagai sudut pandang. Political Parties. Secara etimologis. pelayanan urusan yang lebih rinci pastilah berhubungan dengan apa yang lazim kita sebut dengan birokrasi. sebab pemerintahlah yang paling mungkin memiliki kekuasaan membuat aturan. Harvard Universty Press. sebab secara historis. 4 Michaels. yang kemudian mendefenisikan birokrasi sebagai suatu sistem pemerintahan dimana kontrol sepenuhnya berada di tangan para pejabat yang sampai pada batas tertentu dapat menunda atau mengurangi kemerdekaan warga negara biasa3. boros. volume 3. koruptif dan nepotism. birokrasi traditional di Perancis (abad 18) menampilkan wajah demikian.

Ia membawahi sejumlah bagian dan subbagian pada level paling rendah. Di Indonesia. biro hukum. 2010. baik pada instansi militer maupun sipil. realitas pelayanan justru menjadi lebih efisien dan efektif jika tanpa melalui meja birokrasi yang terkadang berbelitbelit dan menguras energi. Di level provinsi. profesional. kita banyak menemukan istilah biro pada struktur organisasi. Pengertian kedua (kantor). disiplin. kecakapan dan senioritas. formalitas. instrument pemerintah pusat dapat menjangkau hingga ke level pemerintahan paling rendah (dekonsentratif). Karakteristik dimaksud antara lain adanya suatu jabatan. terdapat jabatan biro yang dipimpin oleh seorang kepala biro setingkat eselon dua. Demikian pula kantor pada organisasi swasta. Mungkin inilah yang di sebut Rahardjo (2010)5 sebagai pendekatan hukum progresif dalam pelayanan birokrasi menurut perspektif hukum. di level organisasi provinsi dan pusat misalnya. biro pemerintahan. Sebaliknya. seorang pejabat memiliki meja dengan ukuran biro atau setengah biro. wewenang. Pada pemerintahan yang bersifat sentralistik. sistem. Jakarta. Birokrasi.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Secara fungsional. merujuk pada hampir semua bentuk organisasi baik sipil maupun militer. Dalam konteks Indonesia. hierarkhi. tak ada istilah lain untuk ukuran meja selain biro. Sebagai contoh. pemerintahan yang bernuansa demokratik biasanya meletakkan kontrol pada level pemerintahan tertentu yang untuk selanjutnya melakukan pengawasan secara berjenjang (desentralistik). biro organisasi. Dalam perspektif Weber. dimana lebih banyak orang berada di tingkat bawah daripada tingkat atas. lengkap dengan sistem dan peralatannya. Kantor menjadi unit paling kecil ukurannya sebelum menanjak menjadi Badan atau Dinas. biro umum dan sebagainya. struktur organisasi pemerintah daerah misalnya menggunakan istilah kantor untuk membedakan unit tersebut dengan dinas dan badan. 5 Satjipto Rahardjo. Semakin ke puncak semakin langka pemegang kekuasaan. Kompas. Kita sering menyebut kantor pada hampir semua organisasi yang secara fisual terlihat melalui bangunan megah. birokrasi adalah organisasi rasional dengan segenap karakteristik yang melekat didalamnya. untuk membedakan secara teknis. Membedah Hukum Progresif. Secara faktual. misalnya meja ukuran bagian atau setengah bagian. 23 . Karakteristik tersebut membentuk birokrasi sebagai alat untuk mencapai tujuan kolektif. sebab ia mengokohkan kepemimpinan dengan wewenang yang lebih luas. seperti kantor wilayah (kanwil) dan kantor departemen (kandep). Bahkan. dalam makna konkrit adalah organisasi yang memiliki rantai komando berbentuk piramidal. Sejauh ini. tugas. kantor menjadi instrument pemerintah pusat di daerah.

Camat. sekalipun dalam teori kedaulatan dapat bersumber dari Tuhan (teokrasi) dan atau sedikit orang (aristokrasi). Kekuasaan lahir dari rakyat kebanyakan (demokrasi).Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Sebaliknya. seorang presiden hasil pilihan rakyat memiliki kekuasaan luas. Lurah hingga Kepala Desa. tetapi ia semakin menunjukkan wewenang yang lebih terbatas. Dari aspek ilmu pengetahuan (antroposentris). Gubernur. Pada level gubernur. Demikian pula aliran kekuasaan pada level kabupaten/ walikota hingga pemerintah desa. lalu mengalir kedalam struktur yang dibagi secara khusus. Para pemegang kekuasaan (pemerintah) baik diyakini merupakan representasi dari kedaulatan Tuhan (teokrasi) atau hasil pilihan masyarakat (demokrasi) secara konkrit membentuk organisasi pemerintahan yang untuk selanjutnya mengalirkannya dalam bentuk struktur-struktur formal birokrasi dari tingkat pusat hingga level pemerintahan paling rendah. Pada suatu ketika. Dari aspek ini birokrasi secara praktis merupakan instrument/alat dari kekuasaan untuk mencapai tujuan pemimpin maupun tujuan bersama yang diemban oleh pemimpin dimaksud. semakin ke bawah semakin banyak pegawai. kekuasaan tersebut mengalir sebagaimana siklus air hujan. Dalam pendekatan ilmu alam. Kekuasaan tersebut dialirkan secara hirarkhis melalui Menteri. Tidak semua menguap. Siklus air hujan secara sederhana dapat kita persamakan dengan siklus kekuasaan. apakah terserap oleh akar pohon atau terkumpul pada wadah perbukitan yang mengalir melalui sungaisungai besar dan kecil menuju laut. Kekuasaan dalam konteks ini mengalami formalisasi yang dirinci dan dipertanggungjawabkan secara 24 . air hujan merupakan hasil serapan dari laut berupa uap akibat tekanan panas matahari yang dibawa angin membentuk gumpalan awan hitam. Bupati/Walikota. Ia dimulai dari suatu kekuasaan yang maha besar. Pada contoh yang lebih nyata. Dimulai dari gumpalan awan yang di pandang sebagai pemberian Tuhan (teosentris). gumpalan awan hitam tersebut pecah menjadi butiran hujan yang jatuh dan mengumpul di suatu tempat. Tekanan konflik dan sejumlah motivasi tertentu mendorong terbentuknya representasi pemegang kekuasaan. Birokrasi pada akhirnya dapat dipandang sebagai cerminan dari pelembagaan kekuasaan yang mengalir deras dari tingkat atas hingga bawah. lalu dilembagakan dalam struktur formal seperti biro pemerintahan. Demikianlah kekuasaan mengalir menurut hukum alam (natural of law). kekuasaan dibagi berdasarkan jumlah wewenang yang diterima. bagian pemerintahan dan seterusnya. Kekuasaan tersebut pada akhirnya habis terbagi dalam bentuk spesialisasi dan struktur yang lebih kecil. sebagian besar tersisa menjadi lautan luas.

Pengembangan konsep ini didorong oleh gejala meningkatnya hambatan-hambatan administrasi dan politik dalam pembangunan dunia ketiga. Kedua. Seperti digambarkan oleh Mark Robinson (2000:417). birokrasi hadir dan merujuk pada bagaimana cara pemerintah melaksanakan dan membuat peraturan-peraturan yang sah secara sosial. kolusi. Ini tentu saja berkaitan dengan tanggungjawab pemerintah pada masyarakatnya. Gejala tersebut antara lain meningkatnya korupsi. Berlawanan dari konsep ideal yang ingin dikembangkan.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik jelas. Atau dengan kata lain. Setidaknya hal ini terlihat dalam pembentukan serangkaian aturan atau struktur otoritas dalam komunitas tertentu yang memainkan peran atau fungsi pengelolaan sumber daya termasuk dalam menjaga tatanan sosial. bad government (pemerintah yang buruk) menjadi alasan bagi lembaga international untuk mengembangkan pola yang lebih mungkin dalam kaitan dengan manajemen ekonomi dan politik global. Dalam perspektif negaranegara maju. nepotisme. Dalam kaitan itu. tetapi juga pada ruang non pemerintah seperti perusahaan. tekanan dari kelompok neo-liberal yang mendukung dikuranginya peran negara dan pengimbangan kekuasaan kepada penyediaan layanan oleh pembeli dan pengatur. demikian pula kewajiban dan hak yang saling mengikat antara mereka yang memerintah dan mereka yang diperintah. Meluasnya upaya untuk menata pemerintahan kearah yang lebih baik mendorong donor international untuk mengembangkan konsep good governance (pemerintahan yang baik). fenomena pemerintahan dewasa ini telah meluas tidak saja pada dunia pemerintah semata. Keabsahan tersebut diharapkan mampu merefleksikan suatu pemerintahan yang baik dengan berbagai ciri yang terkandung didalamnya. individualisme serta hilangnya legitimasi politik khususnya pada negara-negara yang kurang mampu dan tanpa sistem demokrasi yang memadai. gagalnya pemerintah menjalankan fungsinya yang ditandai oleh tidak bekerjanya hukum dan tata aturan sehingga menimbulkan ketidakpercayaan pada pemerintah tentang bagaimana seharusnya pemerintah berinteraksi dengan masyarakatnya. legitimasi dan tranparansi pada berbagai sektor diluar pemerintah menunjukkan gejala pemerintahan yang semakin menguat. dua alasan utama yang mendorong lahirnya gagasan penciptaan pemerintahan yang baik adalah pertama. Inilah yang disebut dengan wewenang (authority). pemangkasan peran pemerintah sejauh mungkin dengan 25 . Upaya-upaya dalam rangka penerapan kekuasaan melalui serangkaian mekanisme untuk menjamin akuntabilitas.

Uraian selanjutnya akan mengembangkan makna dari sejumlah karakteristik yang melekat dalam konsep good governance. Komponen yang terlibat tidak saja domain pemerintah sebagai pelaksana. Tanggungjawab pada elemen masyarakat dibutuhkan agar masyarakat sadar akan apapun output 26 . good governance lebih menitikberatkan pada aspek proses melalui pendekatan fungsional guna mencapai tujuan yang diinginkan. transparansi. Akuntabilitas.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 cara penyerahan kepentingan antara penjual dan pembeli pada mekanisme pasar. saling mendukung dan saling berinteraksi. reformasi pemerintahan. Meletakkan tanggungjawab satusatunya pada sektor pemerintah bukanlah gagasan terbaik untuk menciptakan pemerintahan yang baik. partisipasi. responsif. Tanggungjawab merupakan nilai yang mampu menjembatani relasi antara pemerintah dan masyarakat untuk menjamin keberlangsungan pemerintahan. Dalam konteks ini. tertib hukum. Bagaimanapun kita masih percaya bahwa menciptakan pemerintahan yang kuat mutlak dibutuhkan bagi stabilitas politik yang dapat menjamin keberhasilan pembangunan. reorientasi birokrasi serta perluasan partisipasi publik untuk mengembalikan akuntabilitas. konsensus. Sebagai pemerintah. Interaksi tersebut hendaknya dilandasi oleh sejumlah karakteristik yang memungkinkan tata kelola pemerintahan berjalan baik. tanggungjawab diperlukan sebagai konsekuensi terhadap semua jenis kontrak dari level paling bawah hingga pusat pemerintahan. efisiensi dan efektivitas. Tanggungjawab merupakan nilai penting yang semestinya berlaku pada semua elemen dalam proses pemerintahan. kebijakan demikian semakin memperkokoh tumbuhnya demokrasi liberal yang pada akhirnya mendorong kembalinya pemerintah (eksekutif) meningkatkan kontrol yang lebih represif. namun tidak berarti sepi dari dampak pengelolaan pemerintahan. merujuk pada tanggungjawab setiap aktor dalam interaksi berpemerintahan. legitimasi dan transparansi. serta memiliki visi strategis. Di negara-negara berkembang. Karakteristik Good Governance Menurut UNDP (1997). adil. Ketiga komponen tersebut sepatutnya berjalan secara paralel. pemerintahan yang baik setidaknya memiliki karakteristik akuntabilitas. Tanggungjawab pemerintah pada segenap stakeholders selaku pemetik manfaat setidaknya memicu tumbuhnya trust sebagai modal bagi kontinuitas pemerintahan. Sekalipun upaya-upaya untuk menciptakan pemerintahan yang lebih baik dilakukan misalnya melalui desentralisasi kekuasaan. tetapi juga meliputi kelompok swasta sebagai pemegang modal dan masyarakat selaku civil society.

bukan saja pemerintah. para pemegang modal (swasta) seyogyanya memegang prinsip tanggungjawab dalam interaksi dengan masyarakat dan pemerintah. seharusnya dapat dipertanggungjawabkan secara murni dan konsekuen. Salah satu sorotan utama dewasa ini adalah seberapa efektif pemerintah mampu memperjuangkan kepentingan masyarakat melalui anggaran yang tersedia. Partisipasi. Sulit membayangkan jika pihak swasta lari dari tanggungjawab tersebut. indikasi meluasnya perilaku koruptif dalam pemerintahan semakin meyakinkan masyarakat bahwa pemerintah kehilangan karakteristik transparansi dalam menjalankan fungsi pelayanan. Pada tingkat yang lebih jauh. semua perencanaan pemerintah kehilangan koneksitas dengan kepentingan masyarakat. Demikian pula pada elemen lain. juga memelihara semua produk pelayanan yang diberikan. demikian pula sektor swasta dan masyarakat pada tingkat tertentu. swasta dan masyarakat. Perencanaan yang transparan meyakinkan masyarakat tentang sejauhmana kepentingan mereka mampu didokumentasikan secara jujur oleh pemerintah. Penyakit demikian bukan saja melanda pemerintah. Akibatnya. Selain itu. sebab ketiga elemen tadi memiliki batasan terhadap tanggungjawab masing-masing. Pada akhirnya. Kasus Lumpur Lapindo di Indonesia (2005) mereflesikan tanggungjawab keseluruhan elemen.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik pelayanan yang diberikan merupakan upaya paling maksimal yang dapat di produk pemerintah. Transparansi. Hal ini dapat dilihat dalam kasus projek Pembangunan Wisma Atlit di Kemenpora. merupakan karakteristik yang memungkinkannya terbangunnya kepercayaan masyarakat terhadap apa yang diartikulasikan pemerintah dalam hal kepentingan dan kebutuhan masyarakat. Partisipasi aktif masyarakat lebih jauh 27 . tanggungjawab masyarakat tidak saja memanfaatkan seefektif mungkin apa yang diberikan oleh pemerintah. atau mengalami perubahan dipersimpangan jalan sesuai kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu. Rendahnya transparansi pemerintah berkenaan dengan perencanaan dan implementasi kebijakan menunjukkan lemahnya itikad baik dalam mewujudkan tujuan dan harapan masyarakat. menunjukkan keterlibatan masyarakat dalam penyusunan dokumen perencanaan pembangunan. termasuk bertanggungjawab terhadap kegagalan pemerintah yang dipilih oleh mereka sendiri. seberapa kuat komitmen pemerintah dalam merealisasikan semua perencanaan yang telah disepakati. Ketiadaan nilai transparansi seringkali ditunjukkan oleh mandeknya semua dokumen perencanaan tanpa realisasi. Setiap tindakan yang secara praktis berkaitan serta membebani masyarakat dan pemerintah.

sehingga pemerintah terkesan sulit melibatkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan. terhadap setiap masalah yang dihadapi masyarakat. Disini terlihat jelas bahwa jika partisipasi masyarakat rendah. Tertib hukum dimaksudkan untuk menciptakan social order. Rendahnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan pemerintahan disebabkan oleh rendahnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya partisipasi dalam pembangunan. Semakin rendahnya kepatuhan hukum masyarakat menunjukkan semakin rendah pula tingkat penerimaan masyarakat terhadap pemerintahnya. sekaligus memperlihatkan tingkat aksebilitas masyarakat terhadap pemerintah. kemungkinan kesadaran mereka rendah pula disebabkan rendahnya tingkat pendidikan yang diperoleh sehingga bersikap apatis. adalah karakteristik pemerintah yang mampu memberikan tanggapan sedini mungkin. Sebaliknya. yaitu suatu kondisi tertib bermasyarakat. dibutuhkan kesadaran pemimpin untuk memberikan contoh sehingga mampu mendorong terwujudnya tertib hukum. Kehadiran pemerintah dalam setiap pelayanan masyarakat mengindikasikan hadirnya perlindungan bagi masyarakat. Kondisi ini tentu saja berhubungan dengan nilai transparansi. Responsif. Dalam hubungan itu. Tertib hukum merupakan karakteristik yang memungkinkan terciptanya masyarakat taat hukum. kemungkinan kesadaran pemerintah juga rendah sehingga mendorong kecurigaan terhadap setiap keterlibatan masyarakat. Masalah berikut justru terletak pada rendahnya keterbukaan pemerintah dalam melibatkan partisipasi masyarakat. jika pemerintah enggan melibatkan partisipasi masyarakat.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 menggambarkan sejauhmana kepentingan mereka telah terakomodir dengan baik. Ketaatan hukum memberikan landasan bagi pemerintah dalam menjalankan visi dan misi yang diemban. sekaligus menunjukkan adanya hukum itu sendiri. Faktor pendidikan menjadi kunci penting dalam mendorong kesadaran masyarakat. Itulah mengapa seringkali gejala pemerintahan dipandang sebagai gejala hukum. Kemampuan memberikan jawaban atas setiap masalah yang dihadapi masyarakat menunjukkan kemampuan pemerintah dalam memahami apa yang menjadi kebutuhan utama masyarakat. Kegagalan merespon setiap masalah yang dihadapi masyarakat menunjukkan ketidakpedualian 28 . Pemerintah yang buruk seringkali mengidap perasaan curiga yang berlebihan ketika masyarakat terlibat dalam setiap proses perencanaan pembangunan. selain melibatkan mereka dalam hal tanggungjawab yang lebih luas. sadar akan aturan yang diperuntukkan bagi kepentingan masyarakat itu sendiri.

Konsensus juga merujuk pada bagaimana pemerintah membangun kesepahaman yang memungkinkan semua kepentingan dapat diakomodir pada saluran yang tersedia. sekaligus memberikan hak dan kewajiban secara proporsional. khususnya pemimpin. Konsensus merupakan landasan bagi pencapaian komitmen bersama. Komitmen bersama berkaitan dengan kepentingan stakeholder dalam mewujudkan tujuan yang diamanahkan pada pemerintah. Visi menggambarkan masa depan pemerintahan dan memuat cita-cita ideal masyarakat yang dapat diwujudkan oleh 29 . kecuali membiayai pegawai dilingkungannya masingmasing. Kemampuan pemerintah memelihara konsensus yang telah dibangun dapat diartikan sebagai kemampuan pemerintah dalam memelihara amanah. Dalam perspektif masyarakat. statement pemerintah sekalipun dapat dinilai sebagai respon positif terhadap masalah yang sedang mereka hadapi. Keadilan merupakan salah satu tujuan ingin dicapai oleh setiap pemerintah. Pencapaian tujuan dengan mempertimbangkan aspek efisiensi dan efektivitas dapat mendorong produktivitas pemerintahan menjadi lebih berkualitas tanpa membuang modal yang besar. program hingga kegiatan teknis. Konsensus. Visi diharapkan menjadi petunjuk yang dapat dikonkritkan dalam bentuk misi. Keadilan lazimnya melekat pada para pelaku pemerintahnya. Kondisi tersebut membuat pemerintah mengalami beban anggaran yang cukup besar selain tak mampu membuat kebijakan strategis. Efisiensi dan efektivitas merupakan karakteristik good governance yang merefleksikan kemampuan pemerintah dalam pencapaian tujuan secara tepat guna dan hasil guna. Adil merupakan karakteristik yang dapat mendorong akseptabilitas masyarakat pada pemerintahnya. Tanpa visi yang jelas pemerintah sebenarnya hanya menjalankan fungsi secara instingtif. Keadilan bertujuan untuk menciptakan pemerataan.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik pemerintah serta hilangnya sense of belonging atas problem yang dialami oleh masyarakat. Kegagalan pemerintah dalam mempertimbangkan efisiensi dan efektivitas membuat pemerintah kehilangan modal serta tak mampu berbuat banyak. tanpa penalaran jauh kedepan. Kegagalan membangun konsensus dapat meruntuhkan kepercayaan masyarakat dimana pemerintah dapat dinilai mengkhianati amanah yang diberikan. adalah karakteristik yang menggambarkan kemampuan pemerintah dalam membangun kesepakatan antara tuntutan secara bottom-up dan topdown. jangankan kehadiran. Karakteristik visi strategis berkaitan dengan kemampuan pemerintah dalam mewujudkan citacita ideal namun realistis berdasarkan kebutuhan masyarakat.

yaitu pengembangan pandangan penggunaan kekuasaan tidak selalu merupakan zero-sum game. yaitu. Menurut Gerry Stoker (1998). merujuk pada seperangkat institusi dan aktor yang terdapat pada dan di luar pemerintah. mengidentifikasi kekaburan batas dan tanggungjawab untuk menangani isu-isu sosial ekonomi. namun bersentuhan pula dengan nilai dan sikap yang dianut oleh pihak swasta dan masyarakat. reciprocity. Trust. demikian pula pihak swasta dan masyarakat luas. Keempat. menyebutkan empat variabel dalam konsep governance. 2002:14). Kedua. Tantangan Reformasi Birokrasi dan Good Governance Menurut Muhammad (2007). faktor keraguan publik terhadap efektivitas kebijakan yang direncanakan dan diimplementasikan oleh birokrasi. secara kompetitif atau koperatif dalam mengejar tujuan bersama. Kelima. tantangan reformasi birokrasi meliputi tiga masalah pokok. adalah tentang jaringan aktor yang bersifat mandiri dan mengatur sendiri. pertama. proposisi governance meliputi lima hal yaitu. mengakui kapasitas guna menyelesaikan sesuatu yang tidak bersandar pada kekuasaan pemerintah untuk memberikan komando atau menggunakan otoritasnya. Penciptaan tata kelola pemerintahan yang baik bukanlah semata-mata menjadi bagian dari kebijakan pemerintah. Secara umum. Inilah sejumlah karakteristik pemerintahan yang baik (good governance) menurut UNDP. serta memiliki cita-cita yang bersifat jangka panjang serta berkelanjutan. mengidentifikasi ketergantungan kekuasaan yang terdapat dalam hubungan antara institusi yang melakukan tindakan kolektif. Pemerintahan yang bertolak dari visi adalah pemerintahan yang memiliki pandangan jauh kedepan. Faktor pertama disebabkan oleh kelemahan birokrasi dalam 30 . yaitu pertama. karakteristik tersebut menjadi variabel penting tidak saja bagi pemerintah. faktor internal yang meliputi ketidakmampuan birokrasi mengubah dirinya menjadi lebih baik. yang diartikan hidup bersama dan terikat. authority yang berarti eksistensi kekuasaan yang legitimate. Visi strategis membutuhkan kesinambungan dalam mengawal agenda-agenda yang telah ditetapkan. Governance memandang pemerintah mempunyai kemampuan untuk menggunakan alat dan teknik baru dalam mengarahkan dan menuntun. Ketiga. faktor eksternal berkenaan dengan tingginya intervensi politik yang membuat birokrasi kehilangan konsentrasi dalam menjalankan fungsi pelayanan. Kedua. Disamping itu. Hayden (dalam Hamdi. tetapi juga dapat menjadi positive sum game. Accountabilitypada dasarnya memperkuat kepercayaan masyarakat dan sebaliknya. Ketiga.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 pemimpinnya sejauh ia mampu dan konsisten.

Sedangkan mereka yang tak mampu secara non fisik. Pendekatan struktural dalam pelayanan seringkali berhadapan dengan aturan dan norma yang berlaku. Pelayanan birokrasi disandarkan pada hubungan kekeluargaan yang bersifat emosional. atau bahkan terjadi kekosongan regulasi. Sebaliknya. Harus diakui bahwa perbedaan kultur di dunia barat dan timur merupakan kenyataan yang harus diakui dalam pemberian pelayanan pada masyarakat. Polapola pendekatan dan pelayanan kepada masyarakat secara nyata menunjukkan indikasi perilaku traditional. Apakah dengan alasan yang sama pemerintah mesti menolak pelayanan kepada 31 . yaitu suatu hubungan yang bersifat impersonal. Mereka yang secara fisik tak mampu. tentu saja membutuhkan pendekatan untuk dilayani secara jemput-bola. serta mampu menjawab setiap persoalan tidak saja secara struktural. Dalam konteks ini diperlukan birokrasi yang mampu beradaptasi dengan perkembangan masyarakat. sebab hanya mereka yang dikenal secara personal saja yang akan dilayani. Menyandarkan pelayanan dengan meletakkan prinsip impersonalitas secara kaku sebagaimana dimaksud Weber tidaklah menciptakan rasa keadilan yang memadai. Setiap masyarakat yang dilayani terdiri dari masyarakat yang mampu dan tak mampu secara fisik dan non fisik. harus diberikan insentif yang seimbang agar pelayanan tetap diberikan secara merata. menyandarkan pelayanan dengan meletakkan hubungan personalitas secara keseluruhan sama halnya dengan menciptakan diskriminasi bagi kelompok masyarakat yang tak memiliki akses secara langsung pada pemerintah. Tingginya dinamika masyarakat dalam menuntut pelayanan yang lebih baik tak serta merta diimbangi oleh kemampuan birokrasi dalam mengembangkan kecerdasan. Ketidakmampuan birokrasi memahami pluralitas dalam masyarakat seringkali menimbulkan ketidakadilan dalam pelayanan. sehingga sulit menyelesaikan masalah secara tuntas. Sebaliknya. kelompok birokrat terkesan seperti robot yang kehilangan rasa kemanusiaan ketika semua perkara diselesaikan berdasarkan aturan yang berlaku. seperti masalah finansial. Pola penyelesaian masalah dengan menyandarkan semua pada aspek regulasi tak selalu membawa hasil maksimal.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik memperbaharui kinerjanya sesuai perkembangan lingkungan. Masyarakat seringkali merasa frustasi karena pelayanan mereka mengalami kebuntuan hanya karena ketidakmampuan birokrasi saat menerjemahkan aturan yang berlaku. Persoalaannya. namun fungsional. jauh dari karakter ideal birokrasi. bagaimana jika tuntutan masyarakat melampaui aturan itu sendiri yang kadangkala datang terlambat. kecakapan dan keterampilan dalam pengelolaan pemerintahan.

birokrasi yang mengambil jalan kompromi pada akhirnya turut mempersubur tingkat kebocoran anggaran baik di pusat maupun daerah. Akibatnya. Perlu diingat bahwa melandaskan semua pelayanan secara fungsional juga tidak tepat. Indikasi tersebut bisa diketahui lewat ramainya kebocoran anggaran APBN oleh Badan Anggaran. merupakan cerminan dari pola penyelesaian masalah dengan menggabungkan pendekatan struktural dan fungsional. Akibatnya. membutuhkan waktu lama serta mengeluarkan biaya yang tak sedikit. Sekalipun demikian bukan berarti tanpa catatan. diperlukan pendekatan fungsional yang dapat menyelesaikan hingga ke akar masalah. Faktor kedua yang menjadi tantangan reformasi birokrasi adalah tingginya intervensi politik dalam birokrasi. Pecahnya konsentrasi birokrasi disebabkan sirkulasi kepala daerah setiap lima tahun sekali. sebab semua pelayanan pada dasarnya membutuhkan pelembagaan formal sehingga dapat diawasi dan dikendalikan. seperti yang dikatakan oleh Dwiyanto (2011). pola pendekatan fungsional mengalami banyak kemajuan. Pendekatan fungsional dalam pelayanan merupakan pola pendekatan untuk mengimbangi pendekatan struktural yang terkadang menghambat. khususnya di level pemerintah pusat. Lahirnya badan. Birokrasi yang mengambil jarak secara tegas dengan kelompok politisi justru mengalami ketegangan karena rentan kehilangan jabatan.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 masyarakat? Oleh sebab itu. Dalam konteks ini birokrasi seringkali menyimpan dan merawat masalah untuk kepentingan tertentu. Dewasa ini. birokrasi mengalami pemecahan konsentrasi. sekaligus pada saat yang sama gagal melayani masyarakat sesuai misi yang dipikulnya. lembaga-lembaga tersebut tidak saja membebani anggaran birokrasi pemerintah secara umum. Politisasi birokrasi mendapatkan ruang ketika kelompok elit partai politik memanfaatkan momentum pemilukada untuk menggerakkan birokrasi sebagai mesin politik sekaligus aktivis politik. serta bobolnya APBD pada saat perencanaan dan penetapannya. karena melakukan persengkokolan kolektif. namun menimbulkan overlap serta kurang produktif. berbelitbelit. Mereka yang dominan bersandar pada calon incumbent seringkali mengalami disorientasi saat kalah dalam kompetisi pemilukada. lembaga dan komisi yang bersifat mezzo-struktur disamping lembaga formal yang telah ada. Politisasi birokrasi menciptakan hubungan antara eksekutif dan legislatif mengalami dinamisasi serius kalau tidak ketegangan yang berkesinambungan. Sisanya kelompok birokrat yang mengambil sikap apatis terhadap dinamika yang terjadi 32 . tidak berupaya menyelesaikan masalah secara tuntas.

serta rendahnya konsultasi publik terhadap rancangan peraturan yang dibuat. ketiadaan naskah akademik terhadap rancangan peraturan (khususnya peraturan daerah). Keseluruhan indikasi tersebut bermuara pada rendahnya kualitas rancangan kebijakan sehingga menimbulkan resistensi dari para pemangku kepentingan (stakeholders). bukan merit sistem apalagi kompetensi. Akibatnya. Keadaan ini jelas mengembangkan perilaku koruptif dalam birokrasi sebagai konsekuensi dari hubungan yang bersifat transaksional. Intervensi politik terhadap birokrasi telah merangsang nafsu aparat untuk membangun komitmen rahasia dengan para elit dalam masa sirkulasi kekuasaan. Kekuasaan yang besar membuat birokrasi terombang-ambing serta sulit menentukan netralitasnya sebagai pelayan masyarakat. Rendahnya kredibilitas birokrasi dalam mendesain suatu kebijakan dapat diketahui dari rendahnya keterlibatan pakar dalam bentuk asistensi. Komitmen tersebut berupa transaksi politik yang berujung pada persoalan siapa dapat apa. birokrasi terkesan bukan milik masyarakat namun elit berkuasa. Keraguan masyarakat dan pihak swasta terhadap efektivitas kebijakan birokrasi disebabkan selain oleh dua faktor diatas. Sikap ekslusivisme dan seakan tau semua masalah mendorong birokrasi pada perilaku arogan ketika merespon setiap tuntutan masyarakat. Tingginya resistensi yang ditandai oleh meningkatnya demonstrasi masyarakat dan pihak swasta yang merasa dirugikan oleh setiap kebijakan yang ditetapkan menunjukkan dua alasan diatas. Dalam konteks ini terbangun koalisi efektif antara eksekutif dan legislatif dalam pembobolan anggaran. yang dapat dilihat dari sikap dan orientasinya yang cenderung melihat keatas. Semua itu di dukung oleh kemampuan kepala daerah dalam memobilisasi sumber daya melalui sebagian anggota tim sukses yang berasal dari jajaran birokrasi. Kelemahan rancangan kebijakan pada tahap perencanaan hingga tahap implementasi tak serta merta membuat birokrasi melakukan evaluasi yang berkelanjutan. menjadikan birokrasi tak mampu membuat kebijakan yang efektif dalam menyelesaikan masalah. Rendahnya pendidikan serta kurangnya analisis terhadap setiap kebijakan yang diproduk. namun berusaha menutupi kelemahan kebijakan tersebut. Faktor ketiga tantangan reformasi birokrasi adalah keraguan masyarakat terhadap setiap kebijakan yang dilaksanakan oleh birokrasi. Mobilisasi sumber daya dilakukan bahkan secara terang-benderang melalui rekrutmen pegawai berdasarkan hubungan primordial dan patronase. daripada melihat kebawah. juga masalah kredibilitas birokrasi. 33 .Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik dalam setiap rotasi pemerintahan. berapa banyak dan kapan.

sekalipun mesti dengan sejumlah catatan pengecualian pada tahap implementasi. daripada realitas yang diharapkan. Buruknya sistem dalam pelayanan birokrasi membuat masyarakat tak merasa jelas dalam penyelesaian masalahnya. maka reformasi birokrasi seharusnya diarahkan pada sejumlah alternatif pilihan kebijakan seperti reformasi struktural. Demikian pula buruknya perilaku birokrasi dalam hal pelayanan membuat masyarakat tak percaya apa yang selama ini dikerjakan oleh pemerintah. keraguan masyarakat terhadap efektivitas kebijakan birokrasi tumbuh disebabkan oleh melimpahnya program yang dijanjikan namun kehilangan fokus saat implementasi. Reformasi Birokrasi dan Implementasi Good Governance Seperti telah disinggung dalam pendahuluan. Jika secara politis birokrasi merupakan instrument kekuasaan dalam mewujudkan visi dan misi penguasa sesuai amanah rakyat yang dituangkan dalam bentuk kebijakan politik formal. Pada akhirnya. Jika secara administratif birokrasi dipandang sebagai media yang memudahkan pelayanan. marilah kita cermati bagaimanakah desain kebijakan reformasi birokrasi sebaiknya dilakukan dalam mewujudkan fungsi birokrasi sekaligus mendorong penciptaan tata kelola pemerintahan yang baik (good 34 . maka reformasi birokrasi semestinya diarahkan pada upaya penciptaan situasi yang kondusif agar birokrasi netral dari pengaruh kekuasaan yang berlebihan.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Disamping itu. Masyarakat terkadang merasa muak terhadap kelambanan dan kerakusan birokrasi sebagaimana disinyalir oleh Barzelay (1982) dalam ‘Breaking Through Bureaucracy’. Apabila secara sosiologis birokrasi dipandang sebagai organisasi paling rasional yang memiliki sejumlah karakteristik sebagai pelaksana interaksi antara pemerintah disatu sisi dan masyarakat disisi lain. Gambaran ini setidaknya disinggung oleh Osborne & Gaebler (1992) dalam ‘Reinventing Government. Kini. kapasitasi dan instrumentasi. namun bagaimana pelayanan tersebut dapat dilaksanakan dengan baik. lebih banyak program yang bersifat list service. reformasi birokrasi merupakan upaya penataan kapasitas kelembagaan yang menyangkut sistem dan struktur birokrasi dalam menjalankan fungsi pokok sebagai pelayan masyarakat. keraguan masyarakat terhadap reformasi birokrasi secara umum tumbuh disebabkan oleh rendahnya kepercayaan pada sistem dan sumber daya manusianya. Akibatnya. maka reformasi birokrasi selayaknya diarahkan pada penguatan karakteristik dimaksud. bahwa masalah pemerintah terkadang bukan pada apa yang mereka kerjakan. menitikberatkan aspek efisiensi dan efektivitas serta memiliki mekanisme dan standarisasi yang jelas dalam interaksinya.

namun dalam perspektif aparatur birokrasi adalah tujuan akhir berkenaan dengan bagaimana jabatan paling tinggi sebagai refleksi kekuasaan dapat dicapai. Panjangnya jalur hirarkhis membuat setiap masalah terkesan basi ketika kembali pada masyarakat. yaitu organisasi dalam arti dinamis. Hal ini sebabkan oleh faktor eksternal dan internal. bukan tujuan itu sendiri. Perbedaan pemahaman dalam manajemen pemerintahan seringkali menjadikan birokrasi tak efektif menjalankan tugas dan fungsinya. Dalam jarak tertentu dibutuhkan pendelegasian yang memungkinkan pelayanan lebih efisien dan efektif. Masalah kemudian bertambah ketika sebagian besar kepala daerah justru berpikir sama dengan aparatnya. Desain reformasi struktural dapat dilakukan dengan meletakkan landasan kuat bahwa organisasi adalah alat untuk mencapai tujuan. Pada level horizontal dibutuhkan organ fungsional yang lebih fleksibel dalam menjawab tuntas akar masalah yang dihadapi. Reformasi oganisasi tidaklah sekedar slogan kaya fungsi miskin struktur. yaitu organisasi sebagai suatu sistem proses interaksi antara orang-orang yang bekerjasama. reformasi organisasi (struktural). Boleh jadi dalam perspektif seorang kepala daerah birokrasi adalah alat untuk mewujudkan gagasan ideal dalam bentuk visi dan misi selama lima tahun. Uraian selanjutnya akan lebih menitikberatkan pada pengertian kedua. sedangkan secara eksternal di dorong oleh perubahan lingkungan yang lebih luas. Harus diakui bahwa budaya penyusunan organisasi di daerah selama ini cenderung mempraktekkan cara-cara penyusunan organisasi di tingkat pusat. yaitu bagaimana menjadikan birokrasi sebagai alat untuk memperoleh akses bagi keseluruhan sumber daya yang tersedia.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik governance). bukan kepentingan politik atau kelompok tertentu. Kedua dalam arti dinamis. Secara internal organisasi di dorong oleh tingginya tekanan kekuasaan. Organisasi dapat diartikan dalam dua macam. bahkan sulit bersentuhan langsung dengan para pengambil keputusan (decition maker). baik formal maupun informal. Kedua faktor tersebut cukup dominan menjadikan organisasi pemerintah tampak dinamis. yaitu organisasi sebagai wadah tempat dimana kegiatan kerjasama dijalankan. Sistem pemilukada 35 . selain membuang waktu dan biaya yang tak sedikit. Pada level hirarkhis diperlukan pemangkasan yang memungkinkan jenjang struktural lebih pendek. pertama dalam arti statis. namun lebih dari itu organisasi didesain berdasarkan kebutuhan. Pertama. bukan kompromi politik. Organisasi sebaiknya disusun berdasarkan hasil analisis jabatan dan beban kerja. Dominasi aspek struktural selama ini telah menciptakan kekakuan.

pengetatan organisasi agar lebih ramping dan kaya fungsi diutamakan pada pemerintah daerah melalui kebijakan PP No. disamping tersisihnya peluang bagi rekrutmen pegawai yang memiliki kompetensi ideal seperti guru. Potret tersebut terlihat tidak saja pada perluasan kementerian departemen. Kondisi ini tidak saja berlaku di daerah. Rekrutmen pegawai tanpa kompetensi pada akhirnya hanya akan menyerap besaran APBD yang tak sedikit guna meningkatkan kecakapan dan keterampilan pegawai. organisasi Pemda memperlihatkan gejala obesitas yang sarat kepentingan politik para elit lokal sehingga sulit bergerak mencapai tujuan. 41 Tahun 2007. Pola penjenjangan karier kurang diperhatikan. Ironisnya. Akibatnya. Ambon dan Bitung misalnya. Tasikmalaya. namun tampak pada puluhan organisasi setingkat lembaga. program dan kegiatan. Praktis organisasi dibentuk untuk menjawab kepentingan rezim berkuasa. Realitas ini dapat ditemukan pada sejumlah kabupaten seperti Lumajang. 36 . dua dan seterusnya. Melebarnya ukuran organisasi tanpa analisa kebutuhan jabatan dan beban kerja membuat performance organisasi pemda khususnya terkesan tambun dan statis. dokter. Sragen. Postur organisasi Pemda yang mengalami kegemukan tentu saja dapat menyedot belanja aparatur lebih besar dibanding belanja pembangunan. Reformasi kapasitasi adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan sumber daya birokrasi dalam pelayanan agar mampu mengimbangi dinamika masyarakat. dimana lebih dari 70% APBD habis untuk belanja aparatur (FITRA:2011). diperlukan reformasi kapasitasi yang memadai guna meningkatkan kemampuan aparatur dalam melayani masyarakat. bahkan hasil Baperjakat hanyalah unsur formalitas dalam penempatan personil pada struktur organisasi pemda. Ini bisa dipahami jika dihubungkan dengan bertambahnya rekrutmen pegawai setiap tahun tanpa pengendalian berdasarkan kompetensi. apoteker dan perawat. namun dipraktekkan terang-benderang di level pusat melalui perluasan organisasi pemerintahan. Palu. bukan menjawab masalah yang dihadapi masyarakat. Kasus pencopotan pejabat setingkat sekretaris daerah dalam tempo singkat dan mutasi besar-besaran adalah contoh yang dapat diamati dalam wilayah pemerintah daerah. analis kebijakan. Reformasi kapasitasi berkaitan dengan kemampuan birokrasi baik secara individual maupun kelompok yang ditunjukkan pada kemampuan menerjemahkan visi dan misi. Kedua. badan dan komisi. namun gagal melakukan efisiensi organisasi di level organisasi pemerintah pusat.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 telah menjebak kepala daerah untuk melakukan rekonstruksi organisasi pemda lewat cara-cara resuhffle kabinet jilid satu.

kiranya membutuhkan aparat yang menguasai sektor unggulan dimaksud. Ini penting untuk mendorong perkembangan daerah lebih cepat dan kompetitif. semakin tinggi kapasitas pemerintah daerah semakin rendah pula resiko yang akan dihadapi dimasa mendatang. perikanan. tertutupnya kebijakan pengembangan pendidikan dan lahirnya diskriminasi dalam pengembangan sumber daya di daerah melahirkan kasus jalan pintas lewat indikasi ijazah palsu dan gelar pendidikan tanpa jelas asal-usulnya. pertanian dan jasa. Keadilan dapat diterapkan melalui pembayaran insentif berdasarkan penilaian kinerja birokrasi. Dampaknya. Untuk mengantisipasi hal itu diperlukan desain kebijakan reformasi kapasitasi jangka panjang dan jangka pendek. Kedua aspek tadi setidaknya dapat membentuk kemampuan individual. pertama. Pembangunan berbasis keunggulan lokal membutuhkan birokrasi yang mampu menjawab tantangan yang muncul.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Pengembangan kapasitas aparatur berfokus pada aspek pendidikan dan pengalaman yang akan menentukan nilai profesionalisme birokrasi dihadapan masyarakat. Profesionalisme sekurang-kurangnya ditunjukkan oleh sertifikasi pendidikan dari jenjang dasar hingga jenjang yang lebih tinggi. Spirit tersebut diarahkan untuk melahirkan nilai kompetitif sehingga mampu menciptakan keadilan bagi birokrasi yang berprestasi. diperlukan desain kebijakan praktis. semakin rendah kapasitas pemerintah daerah. Sebaliknya. sama-sama mendapatkan perlakuan khusus. Fakta ini jelas kurang mendorong 37 . peningkatan insentif yang berfungsi mendorong spirit dan kinerja birokrasi. Aspek tersebut diimbangi oleh segudang pengalaman pada berbagai organisasi yang memiliki nilai dan kompetensi utama. semakin tinggi resiko yang akan dihadapi. Kesenjangan ini seringkali menimbulkan ketegangan sekaligus kecurigaan terhadap kinerja birokrasi. sekaligus pada saat yang sama mendorong kemampuan kolektivitas birokrasi. Pemerataan selama ini hanya membuktikan bahwa mereka yang kerja dan tidak. daerahdaerah yang berbasis kompetensi kelautan. birokrasi dan pemerintah secara keseluruhan dapat kehilangan kepercayaan masyarakat. Sebagai perbandingan. Pada akhirnya. Parahnya. Dalam jangka panjang diperlukan pendidikan yang berbasis pada kebutuhan dan karakteristik organisasi pemerintah daerah. Rendahnya pendidikan aparatur mengakibatkan kesenjangan antara mereka yang dilayani dan mereka yang melayani. Dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang dibutuhkan aparatur yang memiliki pengetahuan yang memadai guna penyusunan rencana kegiatan hingga keterampilan mengimplementasikan suatu program secara efektif.

sebab itu diperlukan sistem eksternal yang 38 . menunjukkan dampak positif dalam mendorong kinerja birokrasi. diperlukan penataan sistem yang secara eksternal efektif dapat mengurangi politisasi birokrasi yang dapat memecahkan konsentrasi aparatur dalam melayani masyarakat. jauh lebih penting dari itu adalah lahirnya dampak positif bagi birokrasi untuk kembali pada tugas dan fungsinya masing-masing. Kedua.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 kompetisi serta menciptakan ketidakadilan. Guna mengurangi kepentingan politik maka birokrasi sebaiknya mengambil jarak untuk bersikap netral. Oleh sebab itu harus dipahami bahwa penarapan reward and punishment memiliki arti strategis bagi organisasi. Ketiga. birokrasi sulit menolak ransangan para elit untuk berkoalisi memenangkan calon tertentu. birokrasi sangat rentan diintervensi oleh elit lokal guna memenuhi kepentingan kelompok tertentu dalam sirkulasi kekuasaan. Lewat sistem yang ada. kreativitas dan kemandirian hendaknya memperoleh penghargaan yang setimpal guna mendorong semangat yang sama pada aparat yang lain. Mengambil jarak terlalu jauh beresiko kehilangan jabatan. Politisasi birokrasi membuat aparat menjadi bulanbulanan elit lokal. termasuk menurunkan penghargaan bagi mereka yang benarbenar memiliki profesionalisme. terlalu dekat sama artinya menceburkan diri dalam ketidakpastian lebih beresiko. Pada sisi lain membiarkan kelalaian birokrasi sama maknanya dengan menyetujui sekaligus membolehkan kesewenang- wenangan dalam pelayanan masyarakat. Pola penggajian dan insentif yang bervariasi sebagaimana pernah diterapkan sejumlah pemerintah daerah seperti Kabupaten Jembrana Provinsi Bali. Penerapan sanksi bukanlah tujuan akhir. Statement ini tentu saja tidak mudah diperoleh dilapangan empirik. Semua konsekuensi tersebut dilakukan tentu saja berdasarkan transaksi minimum lewat jabatan-jabatan strategis dan menggiurkan. Kesadaran yang terus meningkat hingga membuahkan inovasi. faktanya sebaliknya. reformasi birokrasi dalam jangka pendek hendaknya mampu menciptakan sistem internal yang dapat mendorong secara perlahan tumbuhnya kesadaran birokrasi sebagai pelayan masyarakat. yaitu mendorong berkembangnya birokrasi agar lebih disiplin dan bertanggungjawab serta mampu merespon perkembangan masyarakat. sekaligus melindungi birokrasi dari perilaku buruk aparatur yang berinteraksi didalamnya. Demikian pula pola penerapan sanksi dibutuhkan semaksimal mungkin dengan maksud pembinaan secara proporsional. Pembiaran terhadap tumbuhnya kreativitas tanpa apresiasi dapat menurunkan semangat untuk berkarya dan mengabdi pada organisasi.

Reformasi instrumentasi berfungsi sebagai landasan kebijakan yang bersifat legalistik-formal untuk menghindari tuntutan masyarakat terhadap kinerja birokrasi. Keempat. Tentu saja reformasi birokrasi dalam jangka panjang termasuk jangka pendek sulit dilakukan tanpa dimulai dari perubahan budaya kerja kearah positif. Berkaitan dengan reformasi birokrasi diperlukan sistem yang mengikat secara ketat.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik dapat membentengi birokrasi dari kepentingan politik yang berlebihan. sebesar 2. maka dibutuhkan reformasi birokrasi yang mampu mencegah terjadinya tindak pidana korupsi dilingkungan birokrasi pemerintahan. demikian pula pada elemen masyarakat dan wiraswasta. disamping penerapan sanksi berat dalam setiap tindakan yang disangkakan. Korupsi merupakan kejahatan extra ordinary sehingga membutuhkan upaya-upaya yang bersifat luar biasa. Sejauh ini. sebab semua norma sosial termasuk agama tidaklah mentolerir perilaku buruk semacam itu. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku buruk birokrasi perlu diperbaiki. reformasi birokrasi dalam jangka pendek diarahkan pada upaya pencegahan (preventive) perilaku korupsi dalam tubuh birokrasi. Budaya kerja positif diharapakan tidak saja menular pada pemerintah. Bercermin pada China yang berani menerapkan tindakan tegas bagi pelaku korupsi. Sebagai abdi negara. Dalam banyak kasus birokrasi seringkali 39 . Perubahan budaya kerja yang diawali dari kebiasaan menanamkan keseluruhan karakteristik pemerintahan yang baik diharapkan mampu menghasilkan birokrasi yang dapat menjalankan fungsinya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat. birokrasi membutuhkan legitimasi de jure untuk menjalankan semua keputusan politik pemerintah. Perilaku birokrasi yang korup cenderung termotivasi oleh pengaruh lingkungan serta tuntutan domestik. Landasan kebijakan secara umum diharapkan mampu melindungi pemerintah dan segenap pemangku kepentingan dalam lingkup good governance. Perlu dipahami bahwa sistem insentif sebagaimana dikemukakan sebelumnya bukanlah jalan satusatunya dalam mengurangi tindak pidana korupsi.8. indeks persepsi korupsi di Indonesia belum berubah sesuai catatan International Transparancy. Bagian ketiga dari gagasan reformasi birokrasi berkenaan reformasi instrumentasi yang mencakup penyiapan regulasi baik undangundang di tingkat pusat hingga peraturan pada level pemerintah daerah. Sedangkan sebagai abdi masyarakat. Pembentukan Komisi Pemberantasan Korupsi dimaksudkan untuk membantu pemerintah dalam meminimalisasi gejala korupsi. Korupsi bukanlah budaya positif yang tumbuh pada masyarakat. birokrasi membutuhkan legitimasi de facto sebagai penyambung kepentingan kepada pemerintah yang berkuasa.

dimana prinsip-prinsip tata kelola pemerintahan menjadi landasan penting dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Berkaitan dengan implementasi good governance. Kendati dengan alasan efisiensi. Strategi pelayanan jemput bola melalui penggunaan sarana dan prasarana yang tersedia seperti teknologi informasi dan transportasi merupakan keseluruhan paket reformasi instrumentasi dalam kerangka besar reformasi birokrasi dan implementasi good governance. walaupun disadari belum sepenuhnya dapat dilaksanakan secara baik. birokrasi layaknya berjalan menggunakan insting dimana pada kondisi tertentu dapat berbenturan dengan norma dan ketentuan yang berlaku. Kasus Bank Century.32/2004 tentang Pemerintahan Daerah. surat palsu di Mahkamah Konstitusi hingga Kemenakertrans adalah contoh gamblang dalam konteks terbentuknya jaringan mafia birokrasi antara pemerintah. Situasi demikian seringkali menyuburkan praktek suap.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 dianggap gagal menyiapkan instrumen bagi landasan pelayanan masyarakat. Indikator lain yang bisa diamati adalah persyaratan adanya SOP sebagai pedoman bagi setiap pemerintah daerah 40 . seperti landasan yuridis kebijakan serta tingkat partisipasi masyarakat. pemegang modal dan masyarakat biasa. pada akhirnya menimbulkan masalah lebih kompleks yaitu ekonomi biaya tinggi (high cost economy). kolusi dan berkembangnya jaringan mafia dalam tubuh birokrasi. Gejala tersebut dapat dilihat pada sejumlah hasil temuan BPK dimana pengeluaran anggaran pemerintah daerah khususnya kehilangan landasan yuridis. Reformasi instrumentasi diharapkan tidak hanya berkaitan dengan landasan hukum. Reformasi instrumentasi pada tingkat teknis setidaknya dapat memperjelas mekanisme dan prosedur pelayanan oleh birokrasi pemerintahan. pemerintah pada dasarnya telah banyak melakukan terobosan melalui berbagai regulasi yang memberikan peluang diterapkannya karakteristik tata kelola pemerintahan yang baik. Contoh konkrit lain dapat dilihat dalam instrumen evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah yang memuat sejumlah variabel dan indikator sebagai refleksi dari tercapainya karakteristik tata kelola pemerintahan yang baik. ketatnya mekanisme dan prosedur dapat membentuk budaya birokratisme yang pada gilirannya mendorong perilaku “melambung” (by pass) untuk mempercepat pelayanan. Salah satu contoh dapat dilihat dalam kebijakan UU No. Sebaliknya. juga berhubungan dengan seperangkat alat baik sarana dan prasarana yang memungkinkan birokrasi mampu mengembangkan dirinya dalam memberikan pelayanan yang bermutu. Tanpa standar operational procedure. Wisma Atlit. mekanisme dan prosedur.

Karakteristik konsensus dilakukan melalui upaya dokumentasi perencanaan APBN dan APBD sebagai bentuk kesepakatan bersama antara eksekutif dan legislatif yang notabene dipilih dan mewakili masyarakat itu sendiri. fungsional. Kesemua itu merupakan modal dasar dalam rangka penumbuhan. Prinsip akuntabilitas dapat dilihat pada sejumlah instrument pertanggungjawaban seperti PP No. Prinsip ini mengalami perkembangan sejak lahirnya lembaga yang berfungsi melakukan evaluasi serta pengawasan baik secara internal. dan akuntabilitas. Strategi ini dilakukan melalui persyaratan fit and proper test yang dilakukan pada sejumlah calon pejabat setingkat kepala daerah maupun pimpinan lembaga. kesetaraan. Karakteristik efisiensi dan efektivitas merupakan prinsip yang senantiasa diakomodir dalam undang-undang pemerintahan daerah termasuk peraturan yang menjadi turunannya. 41 .3/2007 tentang Pertanggungjawaban Kepala Daerah yang meliputi LPPD. LKPJ dan LIPD. Pengembangan kesetaraan sebagai bagian dari karakteristik tata kelola pemerintahan yang baik dapat dilihat dalam mekanisme pemilihan pemimpin politik yang ramah gender serta terbuka bagi setiap warga negara menurut batasan konstitusi dan undang-undang. kedisiplinan. Penyampaian laporan perkembangan harta kekayaan yang dimiliki oleh setiap pejabat publik mencerminkan diterapkannya prinsip akuntabilitas dan tranparansi. dilahirkannya regulasi tentang keterbukaan informasi publik oleh Kementrian Komunikasi dan Informasi menunjukkan komitmen pemerintah dalam memberikan akses seluas-luasnya kepada masyarakat. pencanangan pendidikan karakter sejak usia dini oleh Kementrian Pendidikan Nasional merupakan terobosan jangka panjang dalam upaya menanamkan nilai-nilai kejujuran. pengembangan dan implementasi karakteristik good governance. politik maupun pengawasan publik. tranparansi.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik dalam menjalankan fungsi dan tugas pokoknya dilapangan. Bahkan. badan dan komisi. terlepas bahwa prinsip tersebut masih sering dilanggar oleh pemerintah daerah. Karakteristik visi strategis menjadi syarat mutlak bagi setiap kandidat pemimpin pemerintahan ketika mencalonkan diri sebagai pejabat publik. Pada karakteristik transparansi misalnya. tanggungjawab. eksternal.

Reformasi Birokrasi. volume 3. Kompas. Macrosociology.XXXV No. Jakarta 42 . Praktek Birokrasi Weberian di Indonesia. Birokrasi. Jakarta Sudirman. The Study of Politics (Terjemahan). CV. Yayasan Pustaka Obor Indonesia. 2000. Jakarta Rahardjo. Rajawali 1Pers. Political Parties. H. Jakarta Max Weber dalam Martin Albrow (Terj). 2010. Sosiologi Kekuasaan. Maurice. Indra Prahasta. Ensiklopedi Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta Kuper. Tinjauan dari Aspek Politik dan Administrasi. Jakarta Soekanto. 2008. R. Richard. Bureaucracy dalam Encyclopaedia of the Social Sciences.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Daftar Pustaka Duverger. Jakarta Sanderson. Seni Memimpin SBY. Yogyakarta. 1993. (terjemahan). H dan Mills. New York dan London. Bandung Gerth. Gugus Press. Bambang. New York. Rajawali Pers. Harus Bisa. C. Vol. Sosiologi Pemerintahan. 1998. Stephen K. Bekasi Dino Patti Djalal. Roderick. Jakarta Jones. 2011. 2010.Haass. Soerjono. Gramedia Pustaka Utama Effendy. Adam dan Jessica Kuper. N.W (1946) From Max Weber:Essays in Sociology. Istianto. Membedah Hukum Progresif.1 Tahun. The Bureaucratic Entrepreneur (terjemahan). Agus. Raja Grafindo Persada. 1996. 2010. 1962. New York. Harvard Universty Press. Pip. 2001. Jakarta Dwiyanto. Introducing Social Theory. 2009. Rajawali Pers. (terjemahan). STIAMI. Satjipto. Jurnal Ilmu Pemerintahan Widya Praja. Jakarta Laski. Jaring Birokrasi. 2000. 2010. 2002. 2005. Red and White Publishing. Budi.Warwick. Khasan. Martin Albrow dalam Donald P. Raja Grafindo. Cambridge Massachussets. Theory of Public Bureucracy. Martin. Demokratisasi Birokrasi. Tiara Wacana Michaels. Jakarta Setiono. Sosiologi Suatu Pengantar. Ina Publikatama.

Dilemma Of Pluralist Democracy. Pustaka Pelajar. Yogyakarta Dahl. Unismuh. Georg. PKSP. Jakarta.3 Tahun 2006. LPM-IIP. Yayasan Bina Pembangunan. Politik Organisasi. New haven and London. Fisipol UGM. 1993. Mitra Wacana Media. Otonomi dan Pemerintahan Daerah. Yogyakarta Istianto. Moeljarto. Ackermen-Susan Rose. Pusataka Pelajar. 1982. dkk. Cambridge University Press Aini. Yale University Press Haris. 2011. Pustaka Pelajar. Bekasi Subagyo. Birokrasi Dalam Polemik. 2006. hal 209-22 Republika. IIP Press. Budi. Politicising Democracy.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Tjokrowinoto. Consequences. Jakarta 43 . Vol. Bambang. Jaring Birokrasi. And Reform. Pemerintahan Yang Amanah. Pidato Pengukuhan Guru Besar. Jakarta Tjokrowinoto. dkk. 2000. Jakarta Koswara. 2004. Yogyakarta Jurnal Ilmu Pemerintahan Widyapraja. Peran Kontrol Rakyat dan Netralitas Birokrasi. Nurul. Malang Toha. Agustus 2011. Birokrasi dalam Polemik. Perspektif Mikro Diagnosa Psikologis. 2001. Gugus Press. Miftah. Macmillan ltd Haris. Terobosan Otonomi Satu Tingkatan. Reformasi Birokrasi. (Makalah). Demokrasi dalam Birokrasi Pemerintah. 2004. 2000. Demokratisasi Birokrasi. Pembagian Kewenangan Menurut UU 32 Tahun 2004. 1999. Precesses and Prospects in Changing World. 2000. Jakarta Sorenson. 2004. Robert A. IIP-Press Rasyid. Democracy and Democratization. Peter M. Makalah. Jakarta Blau. Jakarta Suwandi. Ryaas. 1999. Westview Press Setiono. Bahan Ajar Sistem Politik Indonesia.XXXII No. 2004. 2002. Bureaucracy in Modern Society (terj). 2006. Jhon. Untung. Corruption and Government Causes. Palgrave. Pustaka Pelajar.

.

Syarat Mutlak Pembangunan Ekonomi * Penulis adalah kandidat doktor Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 45 .Foto : Antara IV Oleh : Nursodik Gunarjo * Edisi 3 / September / 2011 Reformasi Birokrasi.

Mereka juga mengeluhkan banyaknya biaya siluman (overhead cost) yang harus dikeluarkan saat melakukan aktivitas ekonomi di Indonesia2. Prisma. Pelayanan birokrasi turut menentukan bergairah atau tidaknya aktivitas perekonomian suatu bangsa.com/ read/2011/07/27/12451245/Minat. Banyak keluhan muncul saat para pelaku usaha berurusan dengan birokrasi. 1 http://tekno. regulasi pemerintah dinilai kurang mendukung keberadaan investor asing1. pelayanan yang cepat. dalam praktik justru sering membebani sektor ini. No. J. 4. Selain itu. Akibatnya sangat fatal. Keluhan tersebut bukan saja berkenaan dengan buruknya layanan. Sebuah perusahaan berbasis teknologi informasi asing terkemuka. Para penanam modal di Indonesia pada umumnya mengeluhkan minimnya infrastruktur. serta perilaku korup aparat birokrasi. 114. proses perizinan di Indonesia dinilai lambat dan ruwet. mudah dan murah.B.Terhalang. Pelayanan birokrasi yang lambat. batal menanamkan investasi di Indonesia. (1995).com/ read/2004/12/17/110517/257641/4/ infrastruktur-buruk-investasi-jepangke-ri-minim Beberapa contoh yang telah dikemukakan setidaknya dapat dijadikan bukti bahwa birokrasi Indonesia belum ’ramah’ terhadap dunia usaha. akan membuat dunia usaha lebih mudah menerapkan efektivitas dan efisiensi.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 B Pendahuluan irokrasi merupakan stakeholder penting di bidang ekonomi. Sebaliknya. namun juga terkait dengan perilaku tak terpuji aparat birokrasi dan kebijakan yang tidak probisnis.Indonesia.detikfinance.kompas.Regulasi 2 http://us. Penyebabnya. birokrasi yang diharapkan mampu menjadi enzim of growth perekonomian. buruk dan berbiaya tinggi akan menyebabkan high-cost economy yang membebani pelaku usaha. 46 . alih-alih membantu percepatan perputaran roda perekonomian3 3 Kristiadi. “Masalah Sekitar Peningkatan Pendapatan Asli Daerah”. ketidaksiapan sumberdaya terutama SDM. di. Tulisan ini diharapkan dapat menganalisis secara komprehensif hubungan antara birokrasi dan dunia usaha dari perspektif ekonomi politik. Tidak mengherankan jika pelaku ekonomi cenderung menganggap keberadaan birokrasi lebih banyak menghambat.

Prisma. Keadaan ini terlihat pada kelambanan pelayanan dan proses kerja yang berbelit-belit. kelambatan.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Sebagaimana disampaikan Transparency InternationalIndonesia (TI-Indonesia). oleh masyarakat seringkali diartikan dalam konotasi yang ruwet. (1995). No.ti. sehingga penyalahgunaan bisa muncul dalam sistem kegiatan birokrasi. php/publication/2010/11/11/indekspersepsi-korupsi-kota-kota-indonesia2010 47 .B. (1986). biaya overhead cost yang harus dikeluarkan pelaku usaha sebagai imbas dari berbelit-belitnya urusan di birokrasi terbilang sangat besar. Kesan seperti ini kemudian memunculkan istilah debirokratisasi. birokrasi mudah mengalami birokratisasi—sebutan umum untuk birokrasi yang birokratis. Rajawali 6 Kristiadi. Jakarta: CV. birokrasi acapkali mendapatkan kritik yang cukup tajam6 Senada dengan itu.id/index.N. Namun dengan kondisi struktur yang rigid dan kaku. catatan Mohl tentang penyalahgunaan birokrasi memperlihatkan adanya sifat kecongkakan. Jika hal semacam itu terjadi di banyak perusahaan. “Masalah Sekitar Peningkatan Pendapatan Asli Daerah”.or. setiap sistem pemerintahan dan organisasi membutuhkan birokrasi. Bahkan ada perusahaan yang menggunakan dana hampir seperempat dari total aset yang dimiliki hanya untuk biaya pelicin agar urusan dengan birokrasi cepat selesai. serta popular. mempunyai daya tarik. dan pada akhirnya akan menekan produktivitas perusahaan4 Birokrasi Birokratis-Patologis: Perspektif Kritis Tidak bisa dimungkiri. Birokratisasi merupakan efek dari kegiatan birokrasi yang dihegemoni oleh kepentingan kekuasaan dari para elit organisasi. yang sejatinya merupakan manifestasi untuk menunjukan bentuk atau orientasi kekuasaan tertentu dari para elit5 Albrow mengungkapkan sorotan berbagai kalangan yang memandang birokrasi sebagai proses yang panjang dan berbelit-belit pada saat para pengguna berurusan dengan aparat birokrasi. Revolusi dan Transformasi Masyarakat. pemerintahan. maksudnya adalah upaya untuk menyederhanakan 5 Eisenstadt S. 4 http://www.. 4. termasuk di dalamnya pelayanan umum dan pembangunan. dalam jangka panjang efeknya dipastikan akan sangat berpengaruh terhadap efisiensi. birokrasi yang dimaksudkan untuk melaksanakan penyelenggaraan bernegara. J. Kebutuhan tersebut muncul sebagai akibat logis dari adanya struktur hierarki yang membutuhkan tahapan-tahapan pengambilan keputusan. 114. Karena itu. Dalam kenyataan.

Keseluruhan kondisi empirik yang terjadi secara akumulatif telah meruntuhkan konsep birokrasi Hegelian dan Weberian yang memfungsikan birokasi untuk mengkoordinasikan unsur-unsur dalam proses pemerintahan. dan tidak terkontrol8 Berbagai keluhan dan kritikan mengenai kinerja birokrasi memang bukan hal baru.B. negatif atau bahkan patologis. (1999).. A. No. Models and Approaches. bersifat over supplay dengan memaksimumkan struktur. diperparah dengan isu yang sering muncul ke permukaan. 4. Jakarta: CV. (1995). 8 Lane. Banyaknya penyimpangan di birokrasi menyebabkan birokrasi cenderung bersifat patologis. serta lambatnya pelayanan dan prosedur yang berbelit-belit atau yang lebih dikenal dengan efek pita merah (red-tape). Concept.           Citra buruk tersebut semakin 7 Kristiadi. Demokrasi dan Masyarakat Madani.” Dengan demikian secara ringkas dapat dikatakan. (1986). patologi birokrasi adalah “penyakit” yang menyebabkan peran dan fungsi birokrasi mengalami penyimpangan dan tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya11 10 Eisenstadt S. yakni korupsi dengan beranekaragam bentuknya. Akibatnya.R. J. orwellian atau birokrasi dengan peraturan yang menggurita sebagai perpanjangan tangan negara untuk mengontrol masyarakat. 114. Di berbagai belahan bumi. hanya berfungsi sebagai pengendali. “Masalah Sekitar Peningkatan Pendapatan Asli Daerah”.N. Administrasi Negara. birokrasi lebih menunjukkan kondisi empirik yang buruk. Revolusi dan Transformasi Masyarakat. Secara etimologis. (1999). (1995). penegak disiplin dan penyelenggara pemerintahan dengan kekuasaan yang sangat besar. London: Sage Publication 9 Mustopadidjaja. Prisma. Sementara yang dimaksud dengan birokrasi adalah: “. pada akhirnya. yang berhubungan dengan kedudukan dan kewenangan pejabat publik.an organisation with a certain position and role in running the government administration of a country.R. birokrasi tumbuh menjadi sesuatu yang chaos. Birokrasi pada akhirnya menjadi tuan bagi dirinya sendiri dan tidak berorientasi pada fungsi pelayanan. Rajawali 11 Mustopadidjaja. J.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 prosedur yang dianggap ruwet itu7 Birokrasi pada kenyataannya sering mengalami disfungsi karena adanya pergantian tujuan-tujuan organisasi menjadi tujuan pribadi. seperti esensi birokrasi Hegelian dan Weberian9. Second Edition. The Public Sector. Citra buruk birokrasi seperti parkinsonian atau birokrasi gemuk (big bureaucracy). patologi berarti “ilmu tentang penyakit”.. A. 48 . atau jacksonian yakni birokrasi yang dipolitisasi.E. Birokrasi. tetapi mengabaikan fungsi pelayanan masyarakat10. lebih mengemuka ketimbang citra yang baik atau rasional (bureau rationality). Jakarta: LAN.

menerima sogok. rendahnya pengetahuan dan keterampilan para petugas pelaksana berbagai kegiatan operasional. tindakan pejabat yang melanggar hukum. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. dan sistem yang pilih kasih13 Dari uraian yang telah dikemukakan. Kedua. Demokrasi dan Masyarakat Madani. purapura sibuk. Filsafat Administrasi. serta pegawai sering berbuat kesalahan. Siagian. mengakibatkan produktivitas dan mutu pelayanan yang rendah. manifestasi perilaku birokrasi yang bersifat disfungsional atau negatif. dan nepotisme. ruwet dan berbelit-belit.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Dalam praktik.P. dan diskriminatif. seperti sewenang-wenang. situasi internal berbagai instansi pemerintahan yang berakibat negatif terhadap birokrasi. dan ketidakmampuan birokrasi untuk berubah sesuai tuntutan zaman12 Apabila ditelusuri lebih jauh. Jakarta: LAN 12 Umar H. sehingga pelayanan yang diberikan kepada pelaku ekonomi menjadi tidak berkualitas. sehingga produktivitas sektor bisnis terpengaruh. 13 49 . persepsi gaya manajerial para pejabat di lingkungan birokrasi yang menyimpang dari prinsip-prinsip demokrasi. Kemunculan birokrasi yang birokratis menjadi pemicu munculnya patologi birokrasi. korupsi dan sebagainya. ketiadaan deskripsi dan indikator kerja. aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan perundangundangan serta norma-norma yang berlaku di dalam birokrasi. Ketiga. Keempat. penyelewengan fungsi dan struktur. jelas bahwa birokratisasi dan patologi birokrasi merupakan dua sisi dari keping mata uang yang sama. dengan menggelembungkan pembiayaan. S. Sebaliknya. patologi birokrasi berimbas pada munculnya pelayanan birokrasi yang lambat. bagaimana birokrasi bisa merongrong habis-habisan kinerja sektor ekonomi di Uphill Battle. (1988). Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen. Tidak adanya inovasi membuat para birokrat cenderung melakukan pelayanan sama dari waktu ke waktu. seperti rendahnya imbalan dan kondisi kerja yang kurang memadai. yakni: Pertama. Cermin Retak Uphill Battle. Administrasi Negara. (2002). gejala patologi dalam birokrasi bersumber pada lima masalah pokok. Penyakit birokrasi juga bisa berupa inefektivitas dan inefisiensi. Potret Nyata Birokrasi Indonesia Jauh hari telah digambarkan secara dramatis. Kelima. Amerika Serikat. Hal itu mengakibatkan bentuk penyimpangan seperti penyalahgunaan wewenang dan jabatan. menerima sogok. Jakarta: Gunung Agung. patologi birokrasi tersebut berupa perilaku (aparat) birokrasi yang menyimpang dari nilai-nilai etis. Kemalasan pegawai birokrasi menyebabkan penyelesaian aplikasi perizinan dan pembuatan regulasi menjadi lambat.

atau bahkan potret buruk birokrasi. Di Indonesia. P. namun tidak terkena wabah KKN. lantaran birokrasi di sana hanya terinfeksi patologi birokrasi. D. sangat tidak sebanding dengan output dan outcome yang dihasilkan14 Apa yang terjadi di Uphill Battle bisa disebut sebagai cermin retak. nilai dan regulasi yang ada masih berorientasi pada kepentingan penguasa/birokrat (power culture). Di sisi lain. serta tidak tepat waktu. Ketiga. yakni KKN (korupsi. Keempat. menyebabkan pelayanan publik tidak memuaskan. terutama yang paling menonjol adalah perilaku korup aparat birokrasinya. masih tingginya ketidakpastian dalam birokrasi (cost of uncertainty). tidak responsif. masih ada penyakit menahun lain yang menggerogoti birokrasi. etika dan moral. & Plastrik. inefisiensi sumberdaya telah membuat aktivitas birokrasi memakan biaya dan menghabiskan sumberdaya sangat besar. Memangkas Birokrasi. selain berbagai jenis patologi birokrasi yang telah disebutkan. Lain halnya dengan birokrasi Indonesia yang masih dipersepsikan sarat dengan KKN. E & Maksum. (2000). dan tentu masih sangat berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia. Hal tersebut ditunjukkan oleh struktur organisasi birokrasi yang tidak sesuai dengan kebutuhan. Antara Model Demokrasi Lokal dan Efisiensi Struktural. Jakarta: PPM.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Layanan yang tidak berorientasi kepada pelanggan. Kedua. Jakarta: DIS FISIP UI. masih belum terbentuk budaya birokrasi (service delivery culture). norma. Prasojo. Ketiadaan standar pelayanan. nepotisme). masih rendahnya kompetensi para birokrat15 15 14 Osborne. hal itu masih belum apa-apa jika dibandingkan dengan kondisi birokrasi di Tanah Air. Desentralisasi dan Pemerintahan Daerah. Permasalahan lain terkait dengan rendahnya kualitas sumberdaya manusia dan lemahnya pengawasan terutama dalam hal akuntabilitas. Masyarakat bisnis di Uphill Battle bisa dikatakan ‘masih beruntung’. Akan tetapi. Penyakit warisan Orde Baru ini masih bercokol hingga kini. I. masih kentalnya budaya patron-client dan budaya afiliasi yang mengarah kepada moral hazard. (2006). inkonsistensi dan instabilitas peraturan perundangundangan. struktur. membuat kalangan dunia usaha enggan berurusan dengan birokrasi. kolusi. 50 . Situasi problematis yang dihadapi sebagian besar birokrasi Indonesia saat ini di antaranya: Pertama.R. dan rendahnya penggunaan perangkat teknologi informasi. Permasalahan mendasar yang membuat birokrasi Indonesia koruptif dan tidak probisnis di antaranya adalah kurang baiknya kelembagaan dan tatalaksana. di sisi lain. Kelima.

akan tetapi lebih ditujukan pada kegiatan-kegiatan struglle to get political power. Memasuki zaman demokrasi liberal (1950-1959). Pemberian layanan merupakan implikasi dari fungsi negara sebagai alat pemenuhan kebutuhan rakyat. Aktivitas utama birokrasi bukan lagi untuk melayani publik. Peran ini menjadi strategis karena hanya aparat birokrasi yang memiliki wewenang menguasai akses atas kepentingan publik. Dinamika politik ditandai dengan instabilitas sehingga tidak ada satu pun kabinet yang dibentuk bisa menyelesaikan masa jabatannya. birokrasi tidak mudah dibawa ke dalam pertarungan antara aktor politik yang sedang berkompetisi atau cenderung lebih patuh pada kekuatan politik yang menjadi patron-nya. sehingga berubah menjadi kepanjangan tangan kekuasaan. Birokrasi. Netralitas birokrasi tercermin dari kemampuan birokrat meletakkan fungsi birokrasi di atas kepentingan pribadi dan mengutamakan kepentingan masyarakat. Kabinet yang terbentuk pun lebih banyak diwarnai 51 . Unsur partai bukan menjadi pertimbangan. Kondisi ini membuat birokrasi rentan terhadap pengaruh kekuasaan atau politik praktis. hierarki jabatan dalam birokrasi disusun secara bertingkat. baik secara personal maupun institusional. Dalam sejarah birokrasi Indonesia. Agar tidak terjebak dalam permainan politik praktis.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Di sisi lain. Dalam setiap hierarki terdapat kekuasaan pejabat birokrasi. dari yang paling tinggi sampai kepada yang paling rendah. Kehadiran birokrasi merupakan tuntutan mutlak yang harus dipenuhi untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. pertumbuhan birokrasi tidak lepas dari dinamika politik dan masyarakat sehingga kultur birokrasi selalu sarat dengan warna politik di zamannya. terlebih ketika kecenderungan determinasi partai politik terhadap pejabat birokrasi tak juga sirna. Artinya. Pembatasan ini dilakukan untuk mencegah terjadinya pencampuradukan kepentingan pribadi pejabat birokrasi ke dalam tugasnya sebagai pelayan masyarakat sehingga birokrasi tetap menjadi kekuatan yang netral dari pengaruh kelompok tertentu. sebagian besar penyelenggara negara memiliki komitmen kuat bagi perjuangan bangsa. reformasi politik di Indonesia dalam kenyataannya belum mengubah birokrasi menjadi kekuatan profesional negara. Fungsi birokrasi sebagai unit pelayanan publik dihegemoni oleh kekuatan internal birokrasi. muncul pertarungan antarpartai politik untuk merebut posisi puncak birokrasi. Menurut Weber. wewenang birokrasi dibatasi sesuai dengan hierarki jabatannya. Pada zaman kemerdekaan (19451950). merupakan organ negara yang diberi tugas menjalankan semua kebijakan pemerintah yang terkait dengan kepentingan rakyat.

termasuk masyarakat umum. atau dalam bahasa populernya “UUD—ujung-ujungnya duit”. Di sisi lain. kolusi secara nyata telah melempangkan jalan bagi orang-orang yang mau berkongsi dengan oknum birokrasi. Dalam praktik. pejabat birokrasi dikuasai Golkar. birokratisasi akan menggerus fiskal masyarakat pengguna birokrasi dalam jumlah yang sangat besar. Sementara nepotisme secara perlahan tapi pasti telah menciptakan perekonomian oligarkis yang dimonopoli oleh para kroni dan keluarga dekat pejabat birokrasi. Kondisi ini membuat birokrasi sering dimanfaatkan untuk kepentingan partai daripada kepentingan masyarakat luas. berbagai jenis patologi birokrasi semua berujung pada uang. nafsu politik birokrat untuk menguasai birokrasi masih bercokol. Secara akumulatif. dan memberikan kepuasan kepada publik. Pada masa Orde Baru (1966-1988). Meski asas monoloyalitas telah dihapus. efeknya 52 .Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 corak koalisi partai. Pemerintah mengaburkan batasan jabatan politik dan jabatan birokrasi dari departemen untuk melanggengkan dominasi Golkar di tubuh birokrasi. mempermudah urusan publik. langsung maupun tidak langsung. Situasi seperti ini mendorong para pejabat untuk mencari kesempatan dalam kesempitan agar mereka dapat menciptakan rente dari pelayanan berikutnya. Akibatnya. Korupsi secara langsung akan mengurangi besaran dana yang seharusnya dipergunakan untuk kepentingan publik. masyarakat yang harus membayar mahal semua itu karena birokrasi tidak lagi profesional. Dalam beberapa jajak pendapat yang dilakukan lembaga independen. terungkap bahwa birokrasi Indonesia gagal menjalankan fungsi pelayanan publiknya. dan sebaliknya melemparkan orangorang jujur dari kancah persaingan bisnis. Birokrasi yang seharusnya mendahulukan kepentingan umum. Korupsi yang merajalela di lembaga birokrasi berimbas pada banyaknya biaya tambahan yang harus dikeluarkan para pengusaha dan pemangku kepentingan lain yang berurusan dengan birokrasi. cara itu masih tetap diwarisi birokrasi hasil reformasi. Tampaknya. tidak pernah hadir. Mulai dari menteri hingga pejabat di semua lini diisi orang Golkar. Birokratisasi versus Ekonomi Berbelit-belinya pelayanan serta tidak transparannya kinerja birokrasi telah mendorong masyarakat untuk mencari ”jalan pintas” dengan suap atau berkolusi dengan para pejabat dalam rekrutmen pegawai atau untuk memperoleh pelayanan yang cepat. Keberpihakan birokrasi kepada partai politik masih terlihat. Jika korupsi dan mark-up dilakukan pada proyekproyek infrastruktur dan atau program-program probisnis.

perilaku koruptif masih marak di lingkungan birokrasi. adalah kunci penting sukses bidang ekonomi. php/publication/2010/11/11/indekspersepsi-korupsi-kota-kota-indonesia2010 untuk menghindari kerugian. ekonomi makro. untuk rentang skor penilaian 0 . Sementara jika dilakukan pada lembaga-lembaga keuangan atau lembaga pengumpul dan pendistribusi fiskal.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik secara langsung akan memperlambat laju perekonomian. adalah tidak terpenuhinya kebutuhan dasar yang menjadi kunci pendorong pertumbuhan ekonomi. yang semua bertujuan meningkatkan pendapatan dan mewujudkan perekonomian 17 http://www3. Dalam praktik.weforum. WEF menempatkan kelembagaan (institutions) yang kondusif pada urutan kebutuhan dasar pertama. salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja ekonomi. mereka mengorbankan kuantitas ataupun kualitas barang dan jasa yang dihasilkan. pdf 53 . 16 http://www.id/index. Biaya tersebut diambil dari nilai total transaksi. khususnya competitiveness suatu bangsa. baik swasta maupun pemerintah. perusahaan dan pemerintah. Sebuah survei yang dirilis TI-Indonesia menunjukkan. akan menambah biaya yang seharusnya tidak ditanggung oleh pengguna layanan birokrasi. mark-up dan permintaan imbalan. faktor kelembagaan sangat ditentukan oleh jaringan kerjasama legal dan administratif antara pelaku ekonomi. Sebagaimana dikemukakan World Economic Forum (WEF) dalam The Global Competitiveness Report 2010-201117.61 – 6. yakni di antara 3. yang berarti memperkecil margin keuntungan. Jika ketiganya dilakukan dalam konteks usaha. sehingga berpengaruh negatif terhadap kondisi ekonomi makro maupun pada program pembangunan ekonomi secara keseluruhan. serta kesehatan dan pendidikan dasar (gambar 1) Dari gambar 1 dapat diketahui bahwa kelembagaan.10. Ketidakkondusifan birokrasi Indonesia bagi dunia usaha ternyata berimbas terhadap daya saing ekonomi bangsa di tingkat internasional.or. Skor rendah mengindikasikan para pelaku bisnis menilai korupsi masih lazim terjadi dalam sektor-sektor publik. Di antara kebutuhan dasar tersebut. Indeks Persepsi Korupsi Indonesia (IPK Indonesia) di 50 kota di Indonesia pada akhir 2010 rata-rata masih rendah. baru kemudian kebutuhan yang lain seperti infrastruktur. Akibatnya.org/docs/WEF_ GlobalCompetitivenessReport_2010-11.71. Fakta menunjukkan.ti. sementara pemerintah dan penegak hukum kurang serius dalam pemberantasan korupsi16 Suap. dampaknya akan menyebabkan menurunnya pendapatan negara secara drastis. pengusaha dipastikan harus mengeluarkan biaya ekstra.

tidak jujur. tahap kedua yang merupakan peralihan dari tahap factor driven ke innovation driven (Tabel 1). Indonesia patut mencermati laporan WEF. Indonesia bersama 25 lainnya berada pada tubir kritis: sewaktu-waktu dapat melompat ke jenjang perekonomian yang lebih tinggi lagi. Fakta menunjukkan. red tape alias lambat dan berbelit-belit. Pada tahap peralihan ini. produktivitas. Lembaga pemerintah yang kuat mampu menjaga daya saing dan pertumbuhan. Kendati posisi daya saing Indonesia untuk kategori overall pada tahun 2011 berada pada 54 Sumber: World Economic Forum Report 2011 . korup. di mana hal itu sangat mempengaruhi kepercayaan investasi. over-regulasi. Kebutuhan Dasar Kunci Pendorong Pertumbuhan Ekonomi yang sehat. akan mendongkrak biaya ekonomi yang harus dipikul para pengusaha secara signifikan sehingga dalam jangka panjang akan memperlambat laju pertumbuhan ekonomi. tidak dapat dipercaya. Jelas bahwa perilaku lembaga pemerintah atau birokrasi sangat berpengaruh terhadap aktivitas dunia usaha. birokrasi yang birokratis.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Gambar 1. karena saat ini pendapatan per kapita Indonesia sedang berada pada tahap efficiency driven. khususnya dalam hal efektivitas dan efisiensi. tidak transparan. Menurut WEF. dan dipolitisasi. atau sebaliknya kembali terjerumus ke tahap yang lebih rendah karena kendala yang bersifat birokratis. pada masamasa krisis ekonomi peningkatan peran lembaga pemerintah di bidang perekonomian terbukti mampu menghindarkan banyak negara dari kemungkinan krisis yang lebih berat.

kolusi dan nepotisme (KKN) di instansi-instansi birokrasi muncul gara-gara birokrasi sangat permisif terhadap munculnya perilaku moral hazard tersebut.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik ranking 44 dari 133 negara. 55 . melainkan karena peningkatan pada faktor-faktor yang lain. sumbangan birokrasi Indonesia terhadap pertumbuhan ekonomi masih rendah. tanpa adanya jaminan perbaikan mendasar pada sisi kelembagaan birokrasi. CEO General Electric. keberadaan Indonesia di peringkat 44 menunjukkan peningkatan impresif 10 tingkat dari peringkat semula 55. Secara khusus laporan tersebut menulis. Peningkatan tersebut antara lain disebabkan oleh sehatnya kondisi ekonomi makro dan meningkatnya indikator-indikator pendidikan. menyebabkan timbulnya high-cost economy. satu hal yang sangat dibenci pengusaha. akan tetapi hal tersebut tidak menjamin perekonomian Indonesia di masa datang dapat tetap bertahan pada birokrasi dapat menjadi ancaman serius terhadap daya saing Indonesia di masa datang. Birokrasi Versus Adokrasi Sumber: World Economic Forum Report 2011 Tabel 1. Munculnya biaya tak terduga (overhead cost) akibat keberadaan birokrasi yang birokratis. Tidak mengherankan jika Jack Welch. Income Tresholds for Establishing Stages of Development ranking yang sama. masih maraknya birokrasi yang birokratis yang sarat dengan patologi Sudah lama birokrasi yang rumit menjadi penyebab munculnya ekonomi biaya tinggi. Begitu juga birokrasi dalam bentuk berbelitbelitnya pengeluaran izin berusaha. Dari laporan tersebut jelas terlihat bahwa kenaikan posisi daya saing Indonesia tidak terjadi karena daya dukung birokrasi. Dengan kalimat yang lebih sederhana. yang menyebabkan membubungnya biaya yang harus dikeluarkan pihak pebisnis untuk ongkos pelicin. Bahkan sebaliknya. Kasus korupsi.

The Temporary Society:What is Happening to Bussiness and family Life in America under the Impact of Accelerating Change. birokrasi tidak diterapkan secara benar. Bagaimana dengan birokrasi publik yang orientasinya adalah pelayanan masyarakat? Sesuai definisi yang dikemukakan Waterman. Mintzberg menerbitkan buku “The Structuring of Organization” yang mengemukakan ada empat tipe dasar perusahaan. yaitu: birokrasi mesin. (2002). 18 Krames. Warren G Bennis19 Dia menulis. dalam era perubahan berkelanjutan. birokrasi merupakan mesin andal untuk mencapai efektivitas dan efisiensi pekerjaan. Aliran dan gagasan kontrabirokrasi ini semakin berkembang setelah Alvin Toffler menyampaikan pandangan adokrasinya dalam buku yang ditulisnya “Future Shock” tahun 1970. dan mendapatkan hasil. & Slater. Jack Welch adalah satu di antara sekian banyak manajer yang secara ekstrem mengemukakan bahwa kehadiran birokrasi (yang birokratis) sama sekali tidak diperlukan. Adokrasi terbukti semakin banyak diterapkan perusahan-perusahaan bisnis. Gagasan awal tentang adokrasi muncul dalam karya para teori kepemimpinan Amerika Serikat. ia mengusulkan penghapusan birokrasi atau yang sering dikenal dengan istilah adokrasi. Jakarta: Buana Ilmu. 19 Bennis. New York: Jossey-Bass Publisher. Jika diterapkan secara benar. menyelesaikan masalah. adokrasi sebagai bentuk organisasi yang memotong jalur birokrasi normal diperlukan untuk menangkap peluang.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 menyatakan bahwa birokrasi adalah musuh produktivitas. keberadaan birokrasi justru menyebabkan pengambilan keputusan menjadi lambat dan berbiaya tinggi. organisasi-organisasi seperti ini akan menjadi yang paling sukses. Akan tetapi dalam banyak kasus. (1998). wirausaha pemula. perusahaan akan bersandar pada tim proyek yang cepat dan fleksibel dalam struktur antibirokrasi yang ia sebut sebagai adokrasi. J. G. Inilah yang kemudian menjadi titik awal munculnya sentimen ‘kebencian’ para pengusaha terhadap birokrasi. dan adokrasi. Ia berpendapat.W. yang sebagian besar mengikuti sekumpulan peraturan kaku dan tidak personal.E. Robert Waterman dalam bukunya “Adhocracy” tahun 1990 mengatakan. P. The Welch Way: 14 Tips Praktis dari CEO Terbesar Dunia. Oleh karena itu. birokrasi profesional. 56 . Welch bahkan menyarankan para karyawannya untuk ”memukul” dan “menendang” birokrasi yang birokratis semacam itu18 Tidak bisa dimungkiri. di masa datang. Pada tahun yang sama. Ini menjadi bukti bahwa adokrasi membawa pengaruh positif bagi kinerja sektor perekonomian. birokrasi adalah sistem administrasi hierarkis yang dirancang untuk berhubungan dengan sejumlah besar pekerjaan rutin. Alih-alih mempercepat proses.

Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik adokrasi sangat diperlukan dalam memecahkan masalah khususnya dalam menangkap peluang. efisien. Reinventing Bureaucracy. A. perbaikan kesejahteraan pegawai. reformasi diharapkan dapat mewujudkan birokrasi yang transparan. bersih. Justru yang ada. cepat tanggap. & Gaebler. Reformasi birokrasi juga ditujukan untuk mewujudkan birokarasi yang efisien. reformasi birokrasi adalah sebuah keniscayaan. Implementasi dan Evaluasi Kinerja. (2003). Sebuah Tawaran Khusus dalam kaitannya dengan bidang ekonomi. (1995). pelaku ekonomi mendapatkan situasi yang lebih kondusif untuk menjalankan usaha tanpa terbebani urusan bertele-tele di luar urusan bisnis yang mereka lakukan. Transparansi di sini bermakna pembukaan ruang publik dan publik dapat mengakses secara luas penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum. T. Reformasi birokrasi diperlukan untuk menata ulang. Namun yang terpenting adalah mewujudkan perubahan dari birokrasi yang promodialisme atau minta dilayani menjadi birokrasi yang melayani masyarakat. D. Tujuan reformasi birokrasi terkait sektor ekonomi adalah terwujudnya birokrasi yang 20 Mustopadidjaja. efektif dan produktif. mendapatkan hasil. menyempurnakan dan memperbaiki birokrasi agar menjadi lebih bersih. Reinventing bureaucracy pada intinya adalah pembaruan berupa 21 Osborne. Mewirausahakan Birokrasi. Konsep ini diadopsi dari reinventing government (pemerintahan wirausaha) yang dipopulerkan oleh Osborne & Plastrik21. peningkatan pengawasan. menyelesaikan masalah. Efisiensi dilakukan melalui program penghematan bagi pembiayaan operasional birokrasi. adokrasi bisa pula diterapkan dalam birokrasi publik. kreatif. mengubah. melalui pembenahan sistem pengelolaan anggaran. Formulasi. di mana-mana tumbuh birokratisasi. di Indonesia tidak ada satu birokrasi publik pun yang menerapkan adokrasi. Namun kenyataan menunjukkan.. Selain itu.R. 57 . Bersih di sini berarti bebas dari praktek KKN. Jakarta: LAN RI dan Duta Pertiwi Foundation. Jakarta: Penerbit Pustaka Binawan Presindo. reformasi birokrasi model reinventing bureaucracy dapat ditawarkan sebagai salah satu solusi. yang bermakna mempersulit urusan yang sejatinya dapat terselenggara secara mudah dan murah20 Reformasi Birokrasi dan Pembangunan Ekonomi Untuk menggairahkan kinerja sektor perekonomian. penegakan aturan-aturan hukum. Manajemen Proses Kebijakan Publik. Berdasar tujuan dari adokrasi tersebut. Dengan demikian.

struktur kekuasaan. dan di sisi lain probisnis. pelayanan birokrasi akan semakin baik dan bermutu. Kolusi antara penyedia dan pengguna layanan juga dapat dihindarkan 2. (1995). Sedangkan pembaruan (reinvention) adalah transformasi sistem dan organisasi birokrasi secara fundamental guna menciptakan peningkatan dramatis dalam efektivitas. peluang aparat birokrasi untuk melakukan penyimpangan. Dampak nyata dari penerapan konsep ini. 58 . dapat ditekan. aparat birokrasi akan memiliki komitmen yang lebih baik. D. fungsinya. Birokrasi katalis atau catalytic bureaucracy: steering rather than rowing Inti dari formula ini adalah pada pemberian pengarahan bukan pelaksanaan pelayanan publik. Jakarta: Penerbit Pustaka Binawan Presindo. Dalam pelaksanaanya. Birokrasi milik masyarakat atau community-owned bureaucracy: empowering rather than serving Konsep ini menyarankan agar birokrasi mengalihkan wewenang kontrol yang dimilikinya kepada masyarakat. Transformasi ini dicapai dengan cara mengubah tujuan. akan tetapi tidak harus terlibat secara langsung dengan proses produksinya (producing). Tujuan pembaharuan adalah efesiensi.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 penggantian sistem birokrasi yang birokratis menjadi sistem yang bersifat wirausaha. menerapkan sistem intensif. T. Dengan adanya kontrol dari masyarakat. akan tetapi yang lebih penting adalah efektivitas. peduli dan kreatif dalam memecahkan permasalahan publik. Birokrasi harus menyediakan (providing) beragam pelayanan publik sesuai dengan tugas dan 22 Osborne. memberikan dana kepada badan pelaksana (baik itu dari swasta maupun lembaga swadaya masyarakat) dan menilai kinerjanya. misalnya meminta imbalan di luar tarif. birokrasi menetapkan kebijakan. Mewirausahakan Birokrasi. efisiensi dan kemampuan melakukan inovasi. Dengan tidak berhadapan langsung dengan pengguna layanan. serta budaya sistem dan organisasi birokrasi. & Gaebler. akuntabilitas. Untuk mewujudkan birokrasi wirausaha yang bebas patologi. yakni: 1. Wirausaha adalah memindahkan berbagai sumber daya dari unit kerja dengan produktivitas rendah ke unit kerja dengan produktivitas tinggi dan hasil yang lebih besar. birokrasi perlu mewujudkan 10 formula yang menjadi inti dari reinventing bureaucracy22. sehingga masyarakat berdaya untuk mengontrol pelayanan yang diberikan birokrasi dan mampu menjadi masyarakat yang menolong dirinya sendiri (community self-help).

banyak pelayanan publik yang dapat ditingkatkan kualitas pelayanannya tanpa harus memperbesar biaya. Birokrasi berorientasi misi atau mission-driven bureaucracy: transferring rule-driven organization Mengubah organisasi yang semula digerakan oleh peraturan menjadi organisasi yang digerakan oleh misi. birokrasi akan terhindar dari birokratisasi. Birokrasi yang kompetitif atau competitive bureaucracy: injecting competition into service delivery Birokrasi secara internal maupun eksternal menyuntikan semangat kompetisi dalam pemberian jasa dan pelayanan publik. akan semakin sulit dilakukan karena setiap saat aktivitas birokrasi diawasi oleh masyarakat. Dalam praktik. not inputs Dalam konsep ini. korupsi yang biasa terjadi karena kelemahan pengawasan internal. Dan yang lebih penting. juga mensyaratkan setiap organisai dan satuan kerja birokrasi memiliki misi yang jelas. prosedur dan sistem administratif. Dengan kompetisi. Selain itu. birokrasi membiayai hasil bukan masukan peraturan dan membelanjakan. Masyarakat akhirnya bisa menikmati buah persaingan ini dalam bentuk mutu pelayanan yang semakin meningkat. masing-masing pihak yang diberi wewenang melakukan pelayanan publik akan saling bersaing secara sehat. birokrasi melakukan deregulasi internal. misalnya menyederhanakan peraturan. Dampak dari penerapan konsep ini. Kompetisi adalah satusatunya cara untuk menghemat biaya sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan. yang mengukur seberapa baik satuan kerja memecahkan 59 . Untuk itu. birokrasi harus mengembangkan standar kinerja. mereka akan berlomba-lomba memberikan pelayanan terbaik. dengan sendirinya akan hilang. Dengan adanya persaingan.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Pengguna layanan tidak harus mengeluarkan biaya lebih untuk membayar pelayanan standar yang memang menjadi haknya. Pelayanan yang lambat dan berbelit-belit serta makan biaya besar. Birokrasi berorientasi hasil atau result-oriented bureaucracy: finding outcomes. Mengubah fokus input (kepatuhan pada peraturan dan membelanjakan barang sesuai ketentuan) menjadi akuntabilitas pada output dan outcome. 4. 5. 3. serta memberikan diskresi kepada manajer untuk menemukan best practise mewujudkan misi namun tetap dalam koridor legal Dampak positif yang ditimbulkan.

dan menggunakan anggaran untuk mendongkrak tingkat kinerja yang diharapkan. Dengan konsep ini. menetapkan standar pelayanan. melainkan diubah secara bertahap sesuai dinamika kebutuhan masyarakat. Banyak yang bisa dilakukan untuk menghasilkan pendapatan dari proses penyediaan pelayanan publik. Standar pelayanan tidak tetap dan itu-itu saja. birokrasi 60 . Birokrasi memenuhi kebutuhan pelanggan. atau sekadar melaksanakan tugas rutin organisasi. dengan konsep berorientasi pada pelanggan. Birokrasi melakukan survei pelanggan. 6. misalnya menjual informasi kepada pusat-pusat penelitian atau badan usaha baik yang menjual jasa maupun barang. Birokrasi berjiwa wirausaha atau entreprising bureaucracy: earning rather than spending Birokrasi tradisional cenderung berpandangan bahwa mereka sedang mengerjakan pekerjaan dan karenanya tidak pantas berbicara tentang upaya untuk menghasilkan pendapatan dari aktivitasnya. birokrasi juga menetapkan target. birokrasi mendesain organisasi untuk menyampaikan nilai optimal kepada pelanggan. Selain itu.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 permasalahan yang menjadi tanggungjawabnya. maka dengan konsep ini birokrasi benar-benar dituntut untuk berkembang sesuai dengan perkembangan kebutuhan masyarakat. pemberian hak guna usaha yang menarik pada para pengusaha dan masyarakat penyertaan modal daerah. Dengan kata lain. Birokrasi yang berorientasi pelanggan atau customer-driven bureaucracy: meeting the needs of the customers. Semakin baik kinerjanya. memberi imbalan kepada unit kerja yang mencapai dan melebihi target. Birokrasi dapat mengembangkan beberapa pusat pendapatan. semangkin banyak pula dana yang akan dialokasikan untuk mengganti semua dana yang telah dikeluarkan oleh unit kerja tersebut. 7. kinerja birokrasi dapat terukur. dan lain-lain. not the bureaucracy. Oleh karena itu. Jika pada masa lalu birokrasi cenderung sekadar melakukan bussiness as usual. dan sebagainya. karena akuntabilitas yang tinggi akan sangat menentukan prestasi kerja dan juga berimbas pada pendapatan aparat birokrasi. Birokrasi memperlakukan masyarakat yang dilayani sebagai pelanggan. birokrasi akan lebih hati-hati menggunakan dana publik. memberi jaminan. Dampak positif dari penerapan konsep ini. bukan memenuhi kebutuhan birokrasi sendiri. Selain itu. birokrasi tidak akan pernah usang atau ketinggalan zaman.

Imbas positif dari desentralisasi wewenang adalah makin berkurangnya d’tournament d’vavoir atau penyalahgunaan wewenang. Menggunakan perencanaan strategi untuk menciptakan visi birokrasi. bisnis. terutama oleh para pimpinan birokrasi. Put it all together. Birokrasi tradisional menggunakan mekanisme administratif. 8. Birokrasi berorientasi pasar atau market-oriented bureaucracy: leveraging change through the market. akan tetapi proaktif. Dengan konsep ini. Birokrasi birokratis cenderung bersifat reaktif seperti satuan pemadam kebakaran. melainkan untuk menghasilkan pendapatan. yaitu mekanisme pasar dan mekanisme administratif. 9. namun juga berupaya keras untuk mengantisipasi masa depan. tanpa menunggu perintah. Tim kerja bebas menentukan cara kerjanya untuk mencapai hasil terbaik. Desentralisasi akan menghasilkan kepemimpinan kolektif. Pendapatan tersebut bisa diputar untuk membiayai kegiatan birokrasi. Visi birokrasi membantu masyarakat. Tidak hanya mencoba untuk mencegah masalah. 10. di mana keputusan dilakukan bersamasama oleh tim. dan sebaliknya hiraki dikurangi. Ada dua cara alokasi sumberdaya. Wewenang diberikan pada unit terdepan. Birokrasi terdesentralisasi atau decentralized bureaucracy: from hierarchy to participation and teamwork Birokrasi mengubah sistem hierarki menuju partisipasi dan tim kerja. sedangkan birokrasi 61 . makanisme pasar terbukti sebagai yang tebaik dalam mengalokasi sumberdaya. atau bahkan dialokasikan untuk membantu pembiayaan pelayanan publik yang lain serta membayar insentif bagi pihak-pihak yang berprestasi. Birokrasi yang tanggap atau anticipatory bureaucracy: prevention rather than cure Birokrasi tradisional yang birokratis memusatkan diri pada produksi pelayanan publik untuk memecahkan masalah publik. Visi dan misi diwujudkan bersama. pimpinan bukan lagi “sang maha kuasa” yang berhak menentukan perintah secara top-down kepada bawahan secara sewenang-wenang. Dari keduanya. apabila tidak ada kebakaran (masalah) maka tidak ada upaya pemecahan masalah. Birokrasi wirausaha tidak reaktif. dan birokrasi daerah untuk meraih peluang yang tak terduga serta menghadapi krisis yang takterduga pula.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik dibentuk bukan untuk menghabiskan anggaran.

Sepuluh rumusan reinventing bureaucracy tersebut. Kesimpulan Birokrasi Indonesia belum probisnis. Dengan konsep tersebut.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 wirausaha menggunakan mekanisme pasar. birokrasi tradisional menggunakan perintah dan pengendalian. efisien. Dalam mekanisme pasar. birokrasi wirausaha tidak memerintahkan dan mengawasi tetapi mengembangkan dan menggunakan sistem insentif agar orang tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang merugikan masyarakat. Reinventing bureaucracy diharapkan mampu mengembalikan birokrasi sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi. Untuk menghilangkan berbagai patologi yang ada. mengeluarkan prosedur dan definisi baku dan kemudian memerintahkan orang untuk melaksanakannya sesuai dengan prosedur tersebut. 62 . Dalam mekanisme administratif. Berbagai penyakit birokrasi muncul karena aparat birokrasi cenderung menggunakan birokrasi sebagai alat untuk mencapai tujuan birokrasi itu sendiri. akuntabel dan berorientasi pada kebutuhan pengguna layanan. cepat. efektif. Sifatnya yang birokratis dan patologis membuat keberadaan birokrasi lebih dianggap sebagai faktor penghambat dibanding pendorong perekonomian. birokrasi perlu direformasi. bukan sebagai unit pelayanan masyarakat. Salah satunya adalah dengan menerapkan konsep reinventing bureaucracy. Politisasi birokrasi ikut mendorong terjadinya penyelewengan yang membuat birokrasi semakin jauh dari fungsi utamanya sebagai penggerak sektor perekonomian. jika dapat diterapkan secara konsekuen dipastikan dapat menghilangkan birokrasi birokratis dan patologi birokrasi yang selama ini melingkupi birokrasi Indonesia. birokrasi dikembangkan sebagai unit pelayanan yang tepat.

Edisi 3 / September / 2011 Laporan Studi Lapangan Foto : Antara Reformasi Birokrasi dalam Dinamika Pemerintahan Daerah Oleh : Tim Redaksi 63 .

Birokrasi pemerintah yang tidak efisien menjadi salah satu faktor penghambat utama dalam melakukan aktivitas percepatan pembangunan ekonomi. Jika kita memiliki birokrasi yang baik. Akuntabilitas kinerja instansi perlu pembenahan dan harus berorientasi pada hasil. akan tetapi masih banyak yang menilai bahwa reformasi birokrasi masib belum berjalan secara optimal. setiap penyalahgunaan kewenangan publik. sesuai dengan tantangan yang dihadapi. kareana kini korupsi. akan mengurangi. pemerintah belum dapat memberikan pelayanan prima bagi investor yang berbisnis atau yang akan berbisnis di Indonesia (Kompas. Pemerintah dinilai belum dapat menyediakan pelayanan publik yang berkualitas. proaktif. Jika berhasil. mutu pelayanan kepada masyarakat meningkat. bahkan dapat menghilangkan. begitu pula mutu perumusan dan pelaksanaan kebijakan makin efisien waktu dan biaya. dan efektif. 20 September 2011). ekonomi. Meskipun sudah banyak perbaikan dilakukan namun indeks persepsi korupsi Indonesia masih rendah dibandingan dengan negara Asia lainnuya. dan nepotisme (KKN) semakin menjadi. Reformasi birokrasi perlu dilakukan. pemerintah mengakui bahwa sejalan perkembangan kebutuhan masyarakat yang semakin maju dan persaingan global yang semakin ketat. Reformasi di bidang birokrasi dinilai mengalami ketertinggalan dibanding reformasi di bidang politik. Selanjutnya Mengindaan menjelaskan bahwa makna reformasi birokrasi adalah sebuah perubahan besar dalam paradigma dan tata kelola pemerintahan Indonesia. kolusi. dan hukum. EE Mangindaan. Melalui Menteri Pendayagunaan Aparatur dan Reformasi Birokrasi. Ini sebuah pertaruhan besar bagi bangsa Indonesia yang memasuki abad ke-21 ini. seperti menyangkut kedisiplinan atau taat peraturan. Manajemen sumber daya manusia aparatur negara pun belum profesioan.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 M Pendahuluan eskipun sudah ada kesepakatan bersama di semua jajaran pemerintahan baik pusat maupun daerah untuk melaksanakan reformasi birokrasi. maka birokrasi kita makin antisipatif. Oleh karena itu pemerintah dengan sirius ingin menerapkan 64 .

seperti kendala kultural. Denpasar. karena selama ini pengaduan masyarakat terhadap layanan publik di sejumlah instansi. Sidoharjo. sistem informasi pelaporan keuangan daerah. melalui pengumpulan data lapangan dengan metode observasi dan wawancara mendalam kepada segenap informan yang potensial di berbagai daerah. tengah dan timur yang dianggap relevan dengan isu transparansi birokrasi. sementara untuk Surakarta dan Denpasar mewakili daerah yang tingkat transparansi pemerintahannya baik. Banjarmasin. belum terbentuknya PPID. tengah dan timur. yaitu meliputi Pakanbaru. Salah satu wujud dari komitmen pemerintah adalah mengundangkan Undang-undang Nomor 14 Tahun 208 tentang Keterbukaan Informasi Publik.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik pemerintahan dengan prinsip good governance. Untuk daerah seperti Pakanbaru. disusul kepolisian 241 aduan (21. Pertimbangan utama mengapa perlu melihat dinamika pelayanan publik di daerah-daerah. Lokasi pengumpulan data lapangan diselenggarakan di enam (6) kota di Indonesia untuk mendapatkan pendapat publik tentang berbagai aspirasi yang berkembang di masyarakat terkait dengan akan kebijakan keterbukaan informasi publik di jajaran birokrasi pemerintah. juga atas pertimbangan prestasi dan kurang berprestasinya pemerintah daerah dalam melaksanakan pemerintahan dengan prinsip good governance. Banjarmasin. Dengan undang-undang ini birokrasi pemerintah daerah segera diharapkan untuk melaksanakan undang-undang tersebut. ternyata pemerintah daerah paling banyak mendapat laporan. dan 65 . dan Sorong mewakili daerah yang tingkat transparansinya masih dalam kategori cukup. Surakarta. yang akan sangat berguna bagi upaya meningkatkan kinerja birokrasi pemerintah dalam melayani dengan prinsip good governance. Oleh karena itu. sistem database barang daerah. Akan tetapi berbagai kendala masih muncul dalam implementasi undang-undang yang sangat demokratis tersebut.13%). dan partisipasi publik. Adapun pertimbangan dipilihnya kota tersebut adalah. dan tingkat kesadaran masyarakat sendiri dalam mencari dan mengakses informasi belum terbentuk secara meluas. yaitu adanya tranparansi. Keenam lokasi studi lapangan tersebar di wilayah Indonesia bagian barat. Banjarmasin: Komitmen Tinggi Pemprop Kalsel dalam upaya reformasi birokrasi telah memanfaatkan dan mengembangkan IT dalam proses penyelenggaraan pemerintahan dengan mengembangkan unit pelayanan pengadaan secara elektoronik. yaitu sejumlah 354 aduan (31.20%). bahwa di samping untuk mewakili perimbangan territorial yang mewakili Indonesia bagian barat. akuntabilitas. akan dapat diserap aspirasi dan harapan sebagai umpan balik dari masyarakat. Sorong. Sidoarjo.

RW. yaitu organisasi yang tepat fungsi dan ukuran. “Semua itu dalam rangka mengoptimalkan pelayanan kepada masyarakat dalam segala aspek yang menyangkut kepentingan publik. sehingga masyarakat tidak terhambat oleh masalah birokrasi yang berlarutlarut dalam meningkatkan usahanya. pelayanan publik yang prima. pengawasan. target Rp 111. “Hal ini terbukti. Dalam hal memberikan layanan perijinan secara lancar. kata Muhidin. PAD mencapai Rp 80. tepatnya 24 September 2011. Pemkot terus berusaha memberikan pelayanan prima. pola pikir. Antara lain dengan memberikan insentif kepada RT.” Katanya. maka akan menggairahkan dunia usaha. dan budaya kerja. dan juga di kantor emigrasi. yaitu Badan Pelayanan Perijinan dan Penanaman Modal (BP3M). Muhidin mengungkapkan tekad tersebut bersamaan dengan Hari Jadi Kota Banjarmasin yang ke-485. dan pada tahun 2011. dengan meningkatkan rata-rata tingkat pendidikan. Akan tetapi Muhidin menegaskan tidak akan segan memberikan sangsi terhadap PNS yang tidak disiplin. Untuk menunjang reformasi birokrasi. Pemkot juga berusaha meningkatkan tingkat kesejahteraan pegawai dengan memberikan tunjangan dan insentif bagi PNS di lingkungan Pemkot Banjarmasin. sumberdaya aparatur yang punya integritas.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 secara bertahap penerapan paperless office. semuanya harus lewat BP3M. dan Dewan Kelurahan. bahwa dari tahun ke tahun PAD Kota Banjarmasin terus menunjukkan peningkatan secara cukup signifikan. Wali Kota Banjarmasin. “Saya cukup lancar dalam 66 . dan tentu akan ikut berpengaruh terhadap naiknya Pendapatan Asli Daerah. Untuk setiap ijin kepada SKPD.5 milyar. Pemkot Banjarmasin menerapkan layanan terpadu dengan satu atap. sehingga dengan demikian semuanya dapat dikontrol untuk kepentingan koordinasi. optimis akan dapat dicapai”. Sedangkan warga yang sedang mengurus paspor di kantor emigrasi mengaku tidak mendapat kesulitan dalam mengurus paspor.5. Langkah taktis yang dilakukan Kalsel adalah dengan melakukan perubahan menyeluruh pada aspek pendayagunaan aparatur negara. seperti kantor urusan administrasi kependudukan. Berdasarkan pengakuan warga yang sedang antri mengurus perijinan mengaku cukup mendapat pelayanan secara baik. Memang berdasarkan pengamatan di lapangan. Demikian pula para guru juga mendapatkan insentif agar terus memberikan pelayanan pendidikan yang optimal. Pada tahun 2010. Di samping itu. Reformasi telah menjadi komitmen Pemkot Banjarmasin dengan titik berat pada peningkatan pelayanan publik. Khususnya dalam bidang perizinan. Banjarmasin selama program Pemkot telah meningkatkan kualitas SDM di jajaran PNS. regulasi yang tertib. akuntanbiilitas. Dengan reformasi birokrasi. Hal ini meliputi delapan area perubahan. tata laksana seperti sistem dan proses-prosedur. pelayanan cukup lancar.

Namu demikian juga ada warga yang mengaku. dan untuk komunikasi melalui jejaring sosial. Dr. Karena di samping itu menyalahi hukum. “Memang sekarang ini sudah banyak internet. masyarakat terkesan kurang peduli terhadap perlunya informasi. kata seorang warga yang mengaku akan menjadi TKI ke luar negeri. Ke depan Pemkot akan terus mendorong masyarakat agar terus semakin sadar akan pentingnya terlibat dalam pengambilan keputusan melalui media. Paling tidak ini sudah menunjukkan ada upaya peningkatan pelayanan. semuanya langsung ke petugas”. tetapi sudah diberlakukan sanksi denda bagi yang terlambat.go. Eka Herlambang.” Kata Amin. Sebagaimana dijelaskan oleh Kepala Bidang Informatika Pemkot Banjarmasin. dalam hal pelelangan tender senantiasa disampaikan kepada masyarakat. Dan saya tidak menemui calo di sini. Menurut Prof. Pakanbaru: Antara Optimis dan Pesimis Pada prinsipnya pemerintah daerah telah berusaha keras dalam upaya meningkatkan pelayanan birokrasi kepada masyarakat. masih untuk keperluan hiburan. Guru Besar Administrasi Negara FIsipol Unri. Sebenarnya pelaynan yang belum baik itu sering didengar di unit pelaynan non 67 . jadi jajaran birokrasi pemerintah tidak mau ambil risiko dengan melakukan lelang secara tertutup. karena akan lebih efisien dari sisi waktu dan biaya. Mungkin koordinasi dengan instansi teknisnya masih kurang baik. ya harus ada dana tambahan yang diserahkan pada petugas”. juga masyarakat sudah kritis”. katanya yang berpengalaman mengurus KTP. akan tetapi kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam kebijakan publik melalui akses informasi di jejaring sosial masih belum menjadi perilaku budaya. “Semua itu dilakukan guna mendukung prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam sistem pelayanan prima kepada masyarakat. Banjarmasin. kata Eka. Warga dalam mengakses internet. “Pemkot juga membuka web. adanya unit pelaksana teknis (UPT) termasuk Badan Pelayanan perizinan Terpadu menjadi bukti secara formal bahwa ada peningkatan pelayanan birokrasi. Sujianto. Amin. Sekarang kan era keterbukaan. Akan tetapi memang harus diakui bahwa. hanya menunggu satu minggu jadi. bahwa di Banjarmasin kalau mengurus ijin. Pemkot Banjarmasin terus berusaha mensosialisasikan undang-undang tersebut kepada masyarakat. lancar tidaknya juga tergantung. Kepala Seksi E-Government. dalam rangka menerpakan UU Keterbukaan Informasi Publik.id yang digunakan untuk lelang secara on-line.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik mengurus paspor. Sementara itu dalam upaya menerapkan prinsip good governance. Sedangkan M. Pemkot Banjarmasin terus berusaha memberikan pelayanan secara transparan kepada masyarakat. “Kalau mau urusan cepat.

Tidak ada garis utama yang menjadi patokan program layanan birokrasi. Contohnya hari ini Sabtu. karena mereka sangat tergantung pada partai politik berkuasa. dalam arti partai apa yang memenangkan dalam Pilkada. bahwa nuansa politisasi birokrasi di daerah sangat terasa karena kompetisi politik sangat keras dalam Pilkada. Dalam rekruitmen sumber daya manusia pun juga bias kepentingan politik. menilai bahwa birokrasi pemerintah hingga sekarang masih cenderung minta dilayani. tetapi sekarang pada visi kepala daerah yang setiap ganti kepala daerah pasti ganti visi. Padahal mestinya birokrasi itu tugas dan fungsi utamanya adalah melayani masyarakat. mereka melayani siapa saja yang berkuasa tanpa harus diganti. katanya menyayangkan. Partaipartai politik yang kebetulan menjadi pemenang dalam Pilkada misalnya. Kondisi pelayanan birokrasi pemerintah mengalami penurunan karena terseret dengan arus politik yang ada. ada satu hal yang menarik bahwa pada era otonomi daerah sekarang ini. Umumnya lebih disebabkan oleh faktor manusianya yang kurang tanggap dan cekatan. Untuk itu birokrasi seharusnya tidak lagi dibina oleh pejabat politik dan penegakan hukum dilakukan secara konsekwen terhadap siapapun. 17 September 2011 Koran memberitakan bahwa 134 pejabat pemerintah di Pakanbaru diganti karena tidak cocok dengan pejabat politik yang berkuasa saat ini. Menurut Sondiwarman. Seharusnya birokrasi dibebaskan dari kepentingan politik sesaat. Nilai birokrasi sesungguhnya berlandaskan pada evisiensi dan netralitas. Akan tetapi Sujianto melanjutkan. Birokrasi bekerja untuk melayani penguasa (kepentingan parpol). Wakil Ketua DPRD Kota Pakanbaru. tetapi disalahgunakan oleh negara-negara berkembang sehingga menjadi birokrasi feodal dan tradisional. seorang aktivis LSM. pembuatan KTP yang merupakan hak setiap warga Negara. dan yang 68 . Para birokrat bekerja dalam kondisi yang tidak kondusif. “Sekarang ini pergantian pejabat lebih didasarkan pada pertimbangan politik. tetapi kenyataannya justru sebaliknya. Meskipun ada kecenderungan Parpol membuat birokrasi pemerintah menjadi kurang netral. Suara senada juga dikemukan oleh Azali Johan. “Itulah sebabnya pejabat mulai dari yang tertinggi sampai yang paling bawah sampai saat ini belum bisa menjadi teladan yang baik. seperti di bidang kesehatan dan pendidikan. Program pelayanan sering tidak konsisten karena setiap ganti pimpinan kepala daerah ganti visi dan ganti program. ada kecenderungan mempengaruhi kinerja birokrasi dalam memberikan pelayanan kepada publik. birokrasi cenderung tidak netral karena ada kepentingan politik. Contoh yang sederhana. Jika dulu senantiasa mengacu pada GBHN. dalam prakteknya mulai dari Kelurahan sudah mulai menyimpang dari Perda yang seharusnya biayanya murah menjadi mahal. tetapi kritik juga datang dari kalangan politisi. Akibatnya mengabaikan faktor kualitas dan mengorbankan profesionalisme dalam menunjuk pejabat”.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 perizinan.

Padahal sebagaimana dikatakan Kepala Bidang Kedudukan Hukum dan Kesra Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Riau. Khusus bagi mereka yang melanggar disiplin pegawai akan diproses dan dikenakan sanksi sesuai PP No. tetapi tetap lambat.000. karena aparat masih bermental korup. tetapi dalam praktek tidak demikian. pegawai. respons pemerintah Provinsi Riau dapat dikatakan kurang cepat. Padahal salah satu prasyarat penting dalam melakukan reformasi birokrasi adalah efektifnya implementasi undangundang tersebut. meskipun sudah ada SOP-nya.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik seharusnya cepat tetapi kenyataannya masih lambat. atau melalui SMS. perbulan.000. akan dipotong sesuai dengan ketentuan yang telah dietapkan. yang memberikan contoh tentang layanan KTP gratis. semua sarana dan fasilitas disediakan. Nofri Andri. Buruknya pelayanan publik ini juga diungkapkan oleh Presiden Badan Mahasiswa Universitas Riau. Setiap pengaduan masyarakat. Besaran tunjangan di sesuaikan dengan golongan.4000. Bersamaan dengan itu.2.000. Seharusnya proses lebih dipercepat. Dalam kaitan dengan implementasi UU No. yakni antara Rp. serta mengefektifkan pengawasan dan evaluasi. untuk mendukung capaian kinerja yang optimal. selaian untuk lebih mengefektifkan pelaynan birokrasi juga dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan. baik Sujianto maupun Nofri mengatakan bahwa pengawasan terhadap suatu kebijakan di lingkungan birokrasi pemerintah tidak berjalan efektif. . Prinsip Good Governance akan sulit diterapkan secara optimal jika transparansi dalam mekanisme pemerintahan tidak dilaksanakan. Tujuannya adalah.sampai Rp. Yarham SH. Demikian juga. Hingga sekarang Komisi Informasi Daerah dan PPID belum terbentuk. yaitu jika pelayanan tidak memenuhi permintaan masyarakat atau pelayanan tidak sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang telah ditetapkan. maka biasanya masyarakat mengadu langsung. Bagi mereka yang tidak masuk kantor atau melanggar disiplin. terutama di unit pelayanan masyarakat. karena juga rentan melakukan hubungan kolutif antara pelaksana dan jajaran pengawasnya. Sekretaris Daerah selaku pembina pegawai ditingkat Provinsi juga merespon pengaduan masyarakat yang diungkap dalam acara Apel Bendera. atau melalui surat edaran. maka akan langsung direspons oleh pimpinan. Memang mekanisme pengawasan dari masyarakat pun juga dibuka sebagaimana dikatakan oleh Yasram. Praktik pungutan illegal seperti itu ada hubungannya dengan mentalitas para aparat birokrasi yang masih koruptif. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. tetapi tetap saja melakukan penyimpangan layanan. Pemprov telah memberikan insentif kepada aparat birokrasi yaitu tunjangan beban kerja. sehingga meskipun sebenarnya sudah ada isentif. Rapat Pimpinan. 53 tahun 2010. “Bagaimana mungkin akan melaksanakan 69 .

Sorong: Bergelut Mimpi dan Tradisi Salah satu elemen penting dalam mewujudkan penyelenggaraan negara yang terbuka adalah hak publik untuk memperoleh informasi sesuai dengan peraturan perundangundangan. dan Akuntabel.Cepat. Karena itu kami jajaran mahasiswa akan terus mendorong percepatan reformasi birokrasi”. Sedangkan Ramli Khatib. hingga sekarang banyak warga masyarakat mengeluh tentang rekruitmen PNS yang tidak terbuka. Mungkin koordinasi dengan instansi teknisnya masih kurang baik. Efisien. Sebagaimana dikatakan oleh Sujianto dan Zulkurnain. Ketua MUI Riau. “Kalau soal kecenderungan adanya KKN dalam rekruitmen PNS. “Adanya unit pelaksna teknis (UPT) termasuk Badan Pelayanan perizinan Terpadu menjadi bukti secara formal bahwa ada peningkatan pelayanan birokrasi. Akan tetapi sekarang sudah relatif transparan. tetapi sudah diberlakukan sanksi denda bagi yang terlambat. saya kira tidak hanya di Riau. mungkin karena takut dosa berjamaah. penyebabnya adalah Pemprov Riau masih setengah hati dalam menjalankan pemerintahan secara transparan. Kasubag Bina Program. Sementara itu tentang belum terbentuknya PPID menurut Azali Johan tidak jelas alasanya. dan saat ini baru ada di tingkat Provinsi. Responsif. Badan Pelayanan Perizinan Terpadu. kata Nofri. berpendapat bahwa belum terbentukan PPID sesuai dengan amanat UU KIP. 70 . Hal ini juga diakui oleh Politikus Sondiwarman bahwa pemerintah sudah berusaha transparan. misalnya dengan mengumumkan hasil tes beserta rankingnya di depan publik”. Integritas. Jaminan hak publik atas informasi mendorong partisipasi atau keterlibatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan publik. kata Sujianto yang diamini oleh Zulkurnain. Sosialisasi UU KIP menurutnya kurang lancar.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 reformasi birokrasi jika prinsip good governance tidak dijalankan dengan baik. karena akan lebih efisien dari sisi waktu dan biaya. Ikon BP2T adalah CERIA . tetapi hampir di seluruh Indonesia ada gejala itu. sehingga masyarakat tidak familiar dengan masalah keterbukaan informasi. Akan tetapi Azali menilai bahwa pada prinsipnya Pemprov Riau sudah melaksanakan prinsip good governance sebagai bagian dari komitmen untuk menjalankan reformasi birokrasi. 8 tahun 2008 tentang Badan Pelaynan Perizinan Terpadu. Sebagai contoh dalam hal transparansi. meskipun memang masih banyak hambatan baik struktural maupun kultural. Dengan keterlibatan yang berkualitas. bahwa dalam upaya meningkatkan pelayanan publik Pemprov Riau telah membentuk Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BP2T) berdasarkan Kepmendagri No. Paling tidak ini sudah menunjukkan ada upaya peningkatan pelayanan”. Akan tetapi pada prinsipnya Pemprov Riau tetap berusaha semaksimal mungkin meningkatkan kualitas pelayanan birokrasi pada masyarakat. katanya. Saat ini BP2T memiliki 150 jenis layanan perizinan dan non perizinan.

gas alam dan sumber mineral lain itu. S. Dalam aspek layanan informasi. Sementara di kawasan Kota Sorong tengah berbenah untuk meningkatkan kapasitas sebagai meeting point. Undang-undang itu memberi jaminan hukum bagi masyarakat dalam meminta informasi dari badan-badan publik. “Ada empat prioritas pembangunan Kabupaten Sorong. yaitu pendidikan. namun Marthen menegaskan bahwa komitmen keterbukaan informasi sudah melekat dalam setiap program pembangunan. ekonomi. Marthen Nebore. baik di lingkungan Kabupaten 71 . UndangUndang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP) disahkan dan diterapkan. Prioritas tersebut merupakan “mimpi” Pemerintah Kabupaten yang diarahkan untuk meningkatkan investasi di kawasan kepala burung. sekalipun tidak ada peraturan lokal khusus mengatur implementasi UU KIP. termasuk informasi. prioritas Pemerintah Kabupaten Sorong adalah meningkatkan investasi di kawasan yang kaya minyak. karena Sorong dikelilingi oleh kabupaten-kabupaten yang mempunyai sumber daya alam yang sangat potensial sehingga membuka peluang bagi investor dalam maupun luar negeri untuk menanamkan modalnya. Di kawasan timur Indonesia. sementara kesehatan yang bertaratf internasional dikembangkan untuk melayani kebutuhan industri dan investor yang kebanyakan dari luar negeri. Apalagi. Kesadaran akan tanggung jawab yang harus diemban pemerintah daerah atas keterbukaan informasi publik tampak sudah dipahami oleh pejabat di kawasan timur Indonesia.” jelas Kepala Humas Kabupaten Sorong. perdagangan dan jasa. ekonomi dan infrastruktur diarahkan agar bisa menyiapkan sumber daya lokal agar mendukung kebutuhan sumber daya manusia. kini tengah berbenah untuk meningkatkan kualitas layanan publik. dan infrastruktur. Pendidikan. Kota Sorong dikenal dengan istilah Kota Minyak sejak masuknya para surveyor minyak bumi dari Belanda pada tahun 1908.Sc. Kota Sorong terkenal penuh dengan sisa-sisa peninggalan sejarah bekas perusahaan minyak milik Belanda. Kabupaten dan Kota Sorong.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik akhirnya terwujud akuntabilitas dan pertanggungjawaban setiap kebijakan publik. M. di Indonesia. dan mengharuskan seluruh badan publik di Indonesia memberi informasi kepada masyarakat dan melayani permintaan informasi dari publik. Sekalipun. Posisinya sangatlah strategis karena merupakan pintu keluar masuk Provinsi Papua dan kota persinggahan. kerangka layanan informasi memang tidak diprioritaskan dalam pembangunan Kabupaten Sorong. Kota Sorong juga rnerupakan kota industri. Tahun 2008.Sos. Papua Barat. Papua. kesehatan. pelabuhan dan pendukung investasi di kawasan Papua Barat.

Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Bagian Humas Setda Kota Sorong. ada kecenderungan warga Sorong hanya mengurus KTP atau yang lain ketika membutuhkan.” tambahnya. Menurutnya penyediaan informasi yang dibutuhkan bisa diakses langsung masyarakat di instansi yang bersangkutan.” ungkapnya.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 dan Kota Sorong beberapa peraturan daerah. Sesuai Perda No. Di Kota Sorong. Ini saja yang mengurus KTP Nasional baru bisa dihitung dengan jari. warga bisa bertanya secara langsung mengenai kelengkapan berbagai dokumen yang dibutuhkan untuk mendapatkan Kartu Keluarga atau Akta Catatan Sipil lainnya. termasuk di kelurahan dan distrik. Beberapa kesulitan yang ditangani langsung dibantu. Sebagaimana dialami oleh Amanis Waang (59) asal Kelurahan Rufei. Dalam pandangan Abbas (50) seorang pekerja industri kayu. 08.00 WIT.” katanya yang harus menyempatkan diri pagi sekali karena layanan kantor dimulai pagi pk. Keterbukaan informasi dalam tataran awal sudah cukup intensif dikembangkan.IP. Ketika datang di kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Sorong. peraturan-peraturan tersebut tidak secara jelas mengatur tata cara mengakses informasi sebagaimana diatur dalam UU KIP. Distrik Sorong Barat.” tuturnya.000. telah mengatur kewajiban lembaga pemerintah setempat untuk memberi informasi kepada masyarakat. sekalipun di Kota dan Kabupaten Sorong.000. Menurutnya 72 .oo sampai Rp25. Walaupun demikian. biaya pencetakan dokumen berkisar mulai Rp 10. “Jadi kalau mereka tidak membutuhkan ya. namun Marthen Nebore. “Sempat bingung juga. S. menjamin masyarakat Kabupaten Sorong dapat dengan mudah mengakses informasi. tidak ada yang mau datang. belum ada penunjukkan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumen (PPID). tapi untung ada yang membantu. informasi tentang biaya pengurusan KTP dan Akte Catatan Sipil bisa dilihat di ruang layanan kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil.oo. langsung dipandu oleh salah satu petugas yang ada. “Pelayanan informasi berjalan dengan baik. Nifu Ahmad. seperti Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. Akses informasi untuk masyarakat memang sudah disediakan langsung melalui kantor layanan dan website. Kemitraan bagian humas dengan pers cukup bagus sehingga berita tentang pembangunan Kabupaten Sorong dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Hal itu juga dibenarkan oleh Maimunah (35) salah satu petugas layanan loket.15 Tahun 2009 Tentang Retribusi Penggantian Biaya Cetak KTP dan Akte Catatan Sipil.00 WIT dan berakhir di pukul 14. misalnya dalam pelayanan pembuatan Kartu Tanda Penduduk. Di kantor layanan. “Setiap dinas sudah memiliki website dan kami juga memfasilitasi petunjuk layanan informasi di setiap kantor layanan.

Keadaan topografi Sorong sangat bervariasi terdiri dari pegunungan.” jelas Moh. lereng. karena standar biaya di Papua memang cukup mahal. Belum lagi harus menghadapi hambatan adat dan budaya masyarakat yang cukup beragam.” jelas Rury. Jawa. staf di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Sorong. memang kebanyakan layanan publik terkendala dengan perilaku warga.” jelasnya. Kepala Bidang Komunikasi dan Informatika Dinas Perhubungan 73 . Sumatera. bukit-bukit dan sebagian adalah dataran rendah. Buton. “Memang kita dari pegawai Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Sorong di bantu oleh aparat kelurahan setempat.” ungkap Marthen seraya menambahkan bahwa standar biaya dari pemerintah pusat tidak sesuai apabila diterapkan di Papua. Baru mereka mau urus KTP. Di Sorong sendiri. “Padahal kita untuk menyukseskan Program Nasional Kepemilikan KTP Nasional dibuka layanan langsung selama empat hari. “Biasanya kalau membutuhkan untuk pinjaman bank atau kredit. “Dibutuhkan cost yang besar dikarenakan jangkauan wilayah kami yang cukup luas. Hal senada juga disampaikan oleh Abbas.” jelasnya.  “Masing-masing suku memiliki karakteristik adat tersendiri dan berbeda dalam menyikapi layanan pemerintah. sebelah timur di kelilingi hutan lebat yang merupakan hutan lindung dan hutan wisata. Alwin.” tambah Abbas. layanan itu didasarkan pada Surat Edaran Walikota Sorong 474. Sunda. Berbeda dengan di Kabupaten Sorong. sebagai transmigran yang membawa agama Islam ke tanah Papua. 470/596/SPPD-DKPSRG/2010. Makasar). menurutnya ia juga belum mendapatkan surat edaran dari distrik. jangkauan geografis yang luas dan sebaran penduduk yang tidak merata menjadi kendala yang paling utama. Ketika dibuka layanan langsung di distrik atau kelurahan. penggunanya tidak terlalu banyak.4/596/2010 tentang pembuatan KK dan KTP Standar Nasional tanggal 22 Juni 2010 dan Surat Perintah Tugas Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Sorong Tentang Pelayanan Langsung Pembuatan KK dan KTP Standar Nasional di Kelurahan Tanjung Kasuari dan Kelurahan Saoka Distrik Sorong Barat Nomor . Menurutnya selain besaran biaya pengganti cetak.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik kebutuhan warga yang lebih banyak mendorong ketika mereka mengurus KTP atau Akta lain. Di Kota Sorong. Menurut Nifu Ahmad. Cuma banyak yang tidak bisa datang karena beberapa hal. “Sehingga masyarakat yang datang untuk mengurus KK dan KTP jumlahnya tidak maksimal. kurangnya sosialisasi pelaksanaan kegiatan membuat tidak maksimal. selain masyarakat Moi (terutama yang ada di daerah pantai dan biasa menggunakan nama depan/belakangnya dengan usin) juga terdapat masyarakat BBM (Bugis.

Undang-undang ini juga memberikan jaminan adanya 74 . tidak dapat diakses masyarakat.Si menyatakan peran kehumasan yang langsung bisa berkomunikasi dengan warga atau pekerja media sangat penting dalam mewujudkan kepercayaan publik dan membina hubungan baik dengan masyarakat.sorongkota. Keterbukaan informasi publik bukan hanya sekadar mengatur soal informasi.“ tegas Marthen Nebore. Oleh karena itu. guna menjawab tantangan besar yakni meningkatnya proses pertukaran informasi antar unit di dalam organisasi internal. Jika melalui website tidak optimal. “ UndangUndang Keterbukaan Informasi Publik mewajibkan seluruh badan publik menyediakan informasi publik membuat standar layanan informasi publik.go.” tambahnya. “Khususnya. sebenarnya telah mengembangkan layanan infromasi melalui website. Kepala Bagian Humas Pemkab Sorong. Tak heran jika kemudian. haruslah didukung oleh informasi atau data yang akurat. dan bisa dipertanggungjawabkan kepada masyarakat. “Apalagi kita harus menjangkau dan melayani masyarakat sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masingmasing. dukungan infrastruktur layanan informasi yang cukup kuat sangat diperlukan. website Kabupaten Sorong www. maka akan lambat.” jelas Marthen. “Masingmasing wilayah kerja. Sementara website Kota Sorong. M. tapi kecepatan akses lambat juga masih jadi kendala. “Jaringan internet di sini biasanya cepat kalau pagi. menurut Marthen.” tambah Marthen. Sekalipun semua bisa terjangkau akses internet nirkabel. Selain itu juga kian memudahkan koordinasi bagi aparat Pemda Sorong.” tuturnya. kesiapan para penyelenggara negara dalam menyediakan informasi yang diberikan kepada masyarakat adalah hal yang mutlak.id. “Berbagai acara dan pelatihan secara berkala dikembangkan. go. www. Tapi usai jam 12. menyatakan pihaknya juga memfasilitasi penyelenggaraan pelatihan dan kordinasi kehumasan. Agar bermanfaat bagi kekompakan jajaran SKPD. Kabupaten Sorong.id. Tapi kita berupaya meningkatkan kinerja kehumasan pemerintah. Pemkot Sorong dan Pemkab Sorong. Bupati Sorong.” tambah Moh.00 siang.sorongkab. Dr Stefanus Malak. Namun kondisi akses jaringan internet yang belum stabil membuat layanan ini tidak bisa optimal diakses warga. Marthen Nebore. kami terus meningkatkan peran aparat hubungan masyarakat (humas) sebagai ujung tombak dalam penyampaian informasi. salah satunya penyampaian informasi seputar program pembangunan yang sedang berjalan. Alwin yang kini menangani layanan media center dari Kementerian Kominfo di Distrik Aimas. Dalam Undang-undang keterbukaan informasi publik.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 dan Kominfo Kabupaten Sorong. juga tak jauh beda kondisinya.

dan bahkan masuk dalam sepuluh besar. Akan tetapi mengelola keterbukaan informasi di Kota dan Kabupaten Sorong merupakan seni tersendiri. mengakui bahwa pelayanan birokrasi di kota ini 75 .” kata Bupati Sorong. telah dikembangkan pelibatan masyarakat secara langsung maupun melalui perwakilan seperti DPRD. keikutsertaan masyarakat dalam pelayanan dalam bentukkader posyandu. yaitu: Suku Moi. “Semua kegiatan itu memang aktif dilakukan di Kabupaten Sorong. Bugis Makasar. khususnya di propinsi Papua Barat. Di bidang kesehatan. Sementara dalam perencanaan pembanguan. Di kawasan Sorong. BPM/BPD/LKMD. Di bidang pendidikan. Kader posyandu ditujukan untuk membantu tenaga medis yang jumlahnya terbatas. Partisipasi yang paling menonjol dalam hal pelayanan dasar adalah di bidang pendidikan dan kesehatan. “Tetapi di daerah-daerah pedesaan justru kader posyandu menjadi tenaga inti dalam pelayanan kesehatan di pedesaan. “Prioritas utama kami adalah pengembangan wisata bahari dan wisata alam. Stefanus Malak. “Namun peranan ini belum berkembang sesuai yang diharapkan. terdapat enam kelompok etnis besar. Jawa. setiap sekolah terdapat komite sekolah yang beranggotakan para orang tua murid dan donatur. Surakarta: Ada Perubahan Signifikan Pemerintah Kota Surakarta merupakan salah satu contoh semakin meningkatnya kinerja birokrasi. baik finansial maupun intelektual. “Widodo Muktiyo. Partisipasi atau pelibatan masyarakat tidak banyak berarti tanpa jaminan keterbukaan informasi publik. diperlukan rintisan pembangunan kepariwisataan dalam jangka panjang yang dimulai dari sekarang. di samping kurangnya sosialisasi dan informasi yang sampai pada anggota komite sekolah. Hal ini di sebabkan rendahnya kemampuan. Kabupaten Sorong kini sedang mempersiapkan diri untuk menjadi daerah tujuan wisata unggulan. Kota ini terus mengalami peningkatan dalam indeks transparansi di tingkat nasional. kota Surakarta memang telah menunjukan kemajuan signifikan dalam pelayanan birokrasi. dosen Ilmu Komunikasi Fisip UNS. relatif sudah mulai banyak didominasi oleh kalangan pendatang. Rapat koordinasi pembangunan daerah yang dilakukan oleh BAPPEDA.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik partisipasi warga negara dalam turut menentukan kebijakan. Dengan pesona alam khas papua dan ditunjang letak yang strategis. Di bawah kepemimpinan Wali Kota Joko Wiyono.” kata Maimunah (45) seorang pedagang kelontong di Kota Sorong menambahkan.” tambah Abbas. Suku Moi adalah penduduk asli Papua yang menjadi pemegang hak adat atas tanah di pusat pemerintahan Kabupaten Sorong. Maybrat.” tambah Marthen. dan Maluku. Sementara di kawasan kota.

Fasilitas publik senantiasa menjadi prioritas pengembangan dan senantiasa diperbaiki”. masih ada aparat birokrasi yang masih bermental harus dilayani. para petugas tampak bertugas secara allout dan mereka senantiasa menyapa dengan ramah. pelayanan umum adalah pelayanan yang diberikan baik jasa maupun non jasa dan ataupelayanan administrasi. mulai pukul 08.2 milyar rupiah. Penilaian senada juga datang dari Mahendra Wijaya. Namun demikian. Dalam hal e-KTP. Oleh karena itu. layanan kesehatan masyarakat. Bahkan pelayanan juga dilakukan di luar jam kantor. karena memang mereka tumbuh di kalangan kultur yang feodalistik”. terutam yang berkaitan dengan sektor usaha dan perdagangan. Pemkot Surakarta juga terus memberikan pelayanan secara optimal meskipun dalam keterbatasan peralatan. Faktor kepemimpinan menjadi kunci dari perubahan mind set aparat birokrasi. Sebagaimana dijelaskan oleh salah seorang pejabat di jajaran Pemkot Surakarta. Harus diakui bahwa Wali Kota Surakarta sekarang cukup kreatif dan inovatif dalam usahanya memberikan layanan kepada masyarakat. Dari hasil pantauan di lapangan. dosen Sosiologi Fisip UNS bahwa ada kemajuan yang bararti dalam hal pelayanan publik. terbukti kota ini telah memiliki PPID. programprogram tersebut adalah programprogram yang didesain untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kota Surakarta. Bahkan juga sudah membentuk komisi informasi dengan anggaran sebesar 1. “Reformasi birokrasi cukup terasa dampaknya di kota ini sebagaimana tampak pada makin transparannya Pemkot. dan kian cepat dan lancarnya urusan perijinan. karena secara sosiologis masyarakat kita memang masih patriomonialistik. Di bidang keterbukaan informasi. “Ketika pimpinan kota Surakarta mau berubah dengan mengedepankan layanan publik. “Untuk pelayanan e-KTP ini kami bisa melayani 15 orang perjam. Fahrudin.00. salah seorang pejabat di bagian kependudukan. Pemkot Surakarta juga melakukan langkah-langkah yang terus menunjang terselenggaranya transparansi. dan masalah kependudukan. khususnya di bidang pelayanan umum. sehingga kalau pimpinan atasnya berubah. Seperti yang diketahui. seperti informasi umum. Pemkot juga telah secara aktif memberikan pelayanan lewat media on-line. kata Widodo. LPSE. Dalam struktur birokrasi itu bersifat hierarkis dan instruktif. maka jajaran birokrasi pemerintah juga mengikuti. kata Subandi. bursa kerja. kata Mahendra.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 terus membaik. Inovasi dalam pemerintahan juga dapat 76 . pelayanan kesehatan yaitu program PKMS (Program Kesehatan Masyarakat Surakarta). pelayanan yang dimaksudkan di sini adalahpelayanan jasa yaitu pelayanan di bidang administrasi (perijinan) melalui sistem one stop service (OSS). rencana kelurahan. dan kami minimal membuka layanan 12 jam efektif kepada warga masyarakat”. maka bawahannya juga mengikuti.00 hingga 21.

Kedua. Fahrudin juga menjelaskan upaya Pemkot dalam bidang layanan informasi publik. sesungguhnya masyarakat Bali tidak terlalu peduli terhadap keterbukaan informasi. transparan. UU No. menerbitkan SK Walikota Surakarta No. Peraturan Wali Kota tentang Standar layanan Informasi/ SOP (dlm proses penyusunan). yaitu mempersiapkan regulasi di tingkat daerah. meningkatkan konten Web Pemerintah Surakarta sebagai sumber informasi. dan meningkatkan sarana untuk mengakses informasi bagi masyarakat.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik didefinisikan sebagai pengembangan suatu desain kebijakan baru dan prosedur standard operasi yang baru untuk memecahkan masalah publik. sosialisasi UU KIP secara rutin. Beberapa UU lain sesungguhnya juga menjamin hak warga atas informasi. akses partisipasi. Hak atas informasi diatur dalam Pasal 14. Padahal hak memperoleh informasi merupakan hak dasar warga Negara. Juga terus melakukan pembenahan sistem informasi data. Jasa yaitu pelayanan yang terkait dengan pemberdayaan masyarakat. memperoleh. Pasal 60. Pertama. yaitu melalui program rumah tidak layak huni (RTLH). dan pembekalan pada PPID sejak April 2011. 39 Tahun 1999 tentang HAM. menerbitkan SK Walikota Surakarta No : 060. mengolah.05/05/1/2011 tanggal 3 januari 2011 tentang pembentukan Tim Uji Konsekuensiterhadap informasi yang dikecualikan pada Pemerintah Kota Surakarta. dan akses keadilan dalam memenuhi hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Masyarakat sebagian besar lebih memilih hidup mengurus diri dengan beribadah. Denpasar: Rakyat Kurang Peduli Harus diakui. 042. Ketiga bidang tersebut dianggap program yang menonjol di Kota Surakartadan dapat dilihat secara langsung nilai-nilai perubahannya dimana pelayananseharusnya diberikan secara adil. menyimpan. menyiapkanruang pelayanan informasi beserta infrastrukturnya. 77 . Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28F menjaminnya. akuntabel. Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya. dan partisipatif sesuaidengan prinsip good local governance. UU tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pasal 103.05/01-B/1/2011 tentang penunjukkan PPID. dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. Warga juga berhak mencari. akses informasi. Adanya Undangundang keterbukaan informasi pun disambut biasa-biasa saja. meningkatkan pendokumentasian data daninformasi SKPD. Pasal 65 ayat (2) UU ini menyatakan setiap orang berhak mendapatkan pendidikan lingkungan hidup. Dalam pertimbangannya. memiliki. merata. Secara khusus hak warga terhadap informasi diatur dalam UU nomor 14 Tahun 2008 tentang KIP.

Ada beberapa lembaga yang telah dengan baik membuka berbagai informasi kepada khalayak.Pasal 2 mengatur bahwa asas UU ini adalah setiap informasi publik bersifat terbuka dan dapat diakses oleh setiap Pengguna Informasi Publik kecuali informasi publik yang dikecualikan. Informasi ini meliputi profil. Mungkin perlu perbaikan pola pikir dan kemauan masing-masing lembaga dalam penerapan pelaksanaan UU KIP. Ketiga. kegiatan dan kinerjan. Hasil assessment KIP pusat menjelang pemberlakuan UU KIP disebutkan bahwa baru tujuh badan publik diseluruh indonesia yang dianggap siap atau berupaya mempersiapkan diri. Perbaikan terutama adalah kebijakan pimpinan badan publik dalam menerapkan UU KIP. Perbaikan tersebut hanya bisa dicapai jika publik/masyarakat sebagai pemilik hak atas akses informasi aktif mendorong badan publik untuk selalu berbenah. Indikatornya antara lain. Dalam pasal 9 UU KIP disebutkan badan publik wajib mengumumkan informasi publik secara berkala. “Warga harus secara aktif meminta akses informasi. pemerintah kota Denpasar belum sepenuhnya menerapkan keterbukaan informasi publik. serta laporan keuangan badan publik. Badan publik adalah organanisasi yang terkait penyelenggaraan Negara maupun organisasi lain dengan pendanaan dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara/Daerah (APBN atau APBD). Ini merupakan salah satu cara agar badan publik menjadi lebih siap dan lebih baik dalam melayani permintaan informasi publik”. informasi publik yang dikecualikan ini bersifat ketat dan terbatas. Hasil uji publik tersebut ditindaklanjuti dengan mengadakan Rembug Lintas Aktor (RELA) Kesiapan Badan Publik di Bali dalam 78 . kesehatan. Kedua. Menurut Ni Made Ras Amanda Gelgel. belum adanya Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi. khsusunya lembaga-lembaga publik. UU ini juga menegaskan bahwa keterbukaan informasi publik merupakan salah satu ciri penting negara demokratis. Perlu manajemen pengelolaan informasi yang dikuasai dan pelayanan akses informasi dari publik. kondisi keterbukaan informasi. Uji badan publik yang dilakukan meliputi tiga sektor yaitu pendidikan. Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana Bali. pertama.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 UU ini menyebutkan bahwa hak memperoleh informasi merupakan HAM. Pendapat senada juga disampaikan oleh Agus Sanjaya dari Dinas Perhubungan dan Infokom Denpasar. namun itu hanya sebagian kecil. sepertinya tidak serta merta terjadi dan diterapkan dengan baik. katanya. hasil uji badan publik lintas sektor yang diadakan Sloka Institute bekerjasama dengan  Indonesian Parliamentary Center (IPC)  terhadap beberapa instansi di 4 kabupaten/kota serta di tingkat Provinsi Bali mencerminkan belum sistematis dan transparannya akses informasi publik. dan lingkungan. minimnya kesiapan badan publik untuk melaksanakan UU KIP.

Ketua AJI Denpasar Rofiqi Hasan. Sosialisasi tentang UU KIP sudah dilakukan di lembaga publik dan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Provinsi Bali. karena mungkin banyak yang belum tahu. ada yang optimis dan ada yang pesimis. RELA dihadiri oleh anggota Komisi Informasi (KI) Pusat  Abdul Rahman Ma’mun. Kemudian masalah anggaran dan transisi penataan lembaga publik juga menjadi masalah. dan wartawan.. Proses pendirian KI diawali dengan pembentukan Tim Seleksi yang melibatkan kalangan akademisi. tokoh masyarakat dan pemerintah. serba-serbi dinamika pemerintahan daerah dalam menyambut reformasi birokrasi ternyata sangat beragam. “animo warga Denpasar kurang begitu antusias dalam memanfaatkan adanya UU KIP. dan Komunikasi Bali. MH. katanya. Nanti DPRD akan memilih 5 calon anggota KI. 79 . Penutup Begitulah. Informasi. Langkah lainnya adalah dengan merancang website e-government. Kepala Bidang Informasi Dinas Perhubungan.   perwakilan Biro Pemerintahan Provinsi Bali. dan Ni Luh Candrawati Sari. Sementara pendapat warga masyarakat juga beragam. tetapi ada juga yang masih lamban.. drs I Wayan Nuranta. Ada kesan kuat bahwa Pemda sebenarnya menyadari akan pentingnya reformasi birokrasi. SH. Pemerintah Provinsi Bali baru bisa memasukkan pembentukan Komisi Informasi (KI) dalam APBD 2011. Akan tetapi ada satu yang jelas. Nantinya di setiap lembaga itu akan ada Penanggung jawab Pengelolaan Informasi Daerah (PPID) yang ditetapkan dengan Peraturan Gubernur.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Penerapan UU Keterbukaan Informasi Publik 2010 lalu. Pemerintah daerah berharap LSM bias ikut memantau proses pembentukan PPID. akuntabilitas. Oleh karena itu masyarakat berharap agar pemerintah terus memberikan pelayanan optimal terhadap masyarakat. Tim seleksi selanjutnya akan menyaring minimal 10 calon dan maksimal 15 calon untuk diajukan dalam fit and proper test di DPRD Bali. bahwa semuanya semakin menyadari pentingan arti penyelenggaraan pemerintahan dengan prinsip good governance. perwakilan persma Akademika. Ada yang cepat beradaptasi dalam iklim keterbukaan informasi. SH. dan partisipasi publik adalah penting dalam era sekarang ini. Untuk itu pemerintah perlu terus menggalakan sosialisasi”. Meniartha berpendapat masyarakat belum peduli. perwakilan Walhi Bali. Sementara itu seorang tokoh masyarakat. Selain itu belum ada numenklatur yang jelas antara fungsi yang akan diemban Dinas Infokom dan Humas Pemkot Bali. Semua menyadari bahwa transparansi. perwakilan Yayasan Manikaya Kauci. sehingga harus melakukan langkah-langkah penyesuaian.

sebagian besar pemerintah daerah masih bergerak lamban dalam menyongsong era keterbukaan informasi. karena itu perlu terus menumbuhkan kesadaran bersama untuk tetap terus belajar berdemokrasi. rigit. Namun demikian. Sementara itu kendala kultural muncul berkaitan dengan belum ada transformasi cara berpikir dan sikap yang berorientasi pada pelayanan publik. di mana mereka masih minta dilayani. terbukti masih sedikit yang membentuk PPID. Kendala itu berupa kendala struktural maupun kultural. dan kurang cepat melakukan perubahan dengan mengubah berbagai aturan yang telah usang. UU KIP semakin populer berkat sosialisasi yang cukup intens kepada masyarakat. Sepertinya masyarakat kita memang masih perlu terus didorong menuju ke arah keterbukaan informasi. Masih banyak aparat birokrasi yang mindset-nya menggunakan paradigma lama. di kalangan masyarakat sendiri juga masih perlu didorong untuk lebih proaktif guna memanfaatkan UU KIP agar good governance terimplemntasi dengan lancar dalam proses pembangunan di daerah. Kendala struktural muncul karena karakter birokrasi pemerintah yang hierarkis. Dalam kaitannya dengan pelaksanaan UU KIP. 80 .Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Memang ada kendala yang cukup merisauhkan dalam upaya menggelorakan semangat reformasi birokrasi. Hanya saja.

.

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 82 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful