P. 1
Birokrasi Di Indonesia

Birokrasi Di Indonesia

|Views: 311|Likes:
Birokrasi
Birokrasi

More info:

Published by: Rozary 'Ojha' Nur Iman on Jul 12, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/04/2015

pdf

text

original

Edisi 3/ September / 2011

Birokrasi
Keterbukaan Informasi Publik

a r E m a l a d

Pelayanan Birokrasi dalam Era Otonomi Daerah Pelayanan Birokrasi Papua dalam Era Otonomi Khusus Reformasi Birokrasi dan Implementasi Good Governance
Foto : Antara

Reformasi Birokrasi, Syarat Mutlak Pembangunan Ekonomi

dalam Era
Diterbitkan Oleh :

Tim Redaksi Pengarah : Penanggungjawab :

Pemimpin Umum

:

Pemimpin Redaksi : Anggota Dewan Redaksi : Ismail Cawidu (Sekretaris Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik) Bambang Wiswalujo (Direktur Pengolah dan Penyediaan Informasi) Supomo (Direktur Komunikasi Publik)

Tifatul Sembiring (Menteri Kominfo) Basuki Yusuf Iskandar (Sekretaris Jenderal) Ahmad Mabruri Mei Akbari (Staf Khusus Menkominfo) Freddy H Tulung, (Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik) Suprawoto (Staf Ahli Menteri Bidang Sosial Ekonomi dan Budaya) Sadjan (Direktur Pengelolaan Media Publik)

Erlangga Masdiana (Direktur Layanan Informasi Internasional) James Pardede (Direktur Kemitraan Komunikasi) Redaktur Pelaksana : Mardianto Soemaryo Penyunting/ Editor : 1. Hypolitus Layanan 2. Endang Kartiwak 3. Taufik Hidayat Tim Tenaga Ahli : Sugeng Bayu Wahono Lambang Trijono Abduh Sandiah Murti Kusuma Wirasti Design Grafis : Danang Firmansyah Sekretaris Redaksi : M. Taofik Rauf Sekretariat : 1. M. Azhar Iskandar Zainal 2. Jatmadi 3. Sarnubi 4. Inu Sudiati 5. Elpira Inda Sari N.K 6. Lamini 7. Nur Arief Hidayat

.

IV Reformasi Syarat Mutlak Pembangunan Ekonomi Laporan Studi lapangan Reformasi Birokrasi dalam Dinamika Pemerintahan Daerah 19 45 65 65 i .Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Daftar Isi Salam Redaksi Wawancara Khusus Reformasi Birokrasi Tidak Secepat Membalik Telapak Tangan ii vii vii I II Pelayanan Birokrasi dalam Era Otonomi Daerah Pendahuluan Antara Harapan dan Kenyataan Penutup 1 2 5 9 Pelayanan Birokrasi Papua dalam Era Otonomi Khusus 11 Birokrasi dan III Reformasi Implementasi Good Governance Birokrasi.

dan membuka partisipasi publik. dan (4) pengambilan keputusan juga perlu melibatkan masyarakat. pihak swasta. Seiring dengan bergulirnya demokratisasi. pemerintah juga memiliki komitmen untuk melaksanakan inisiatif Open Government. dan di sini birokrasi harus transparans. dan masyarakat. (2) dalam pengambilan kebijakan serta keputusan. birokrasi pemerintah dituntut untuk tampil sebagai organisasi pelayanan publik yang transparan. tetapi juga transparansi. antara lain tampak pada (1) penyelenggaraan pemerintahan dengan membuka koridor ketertutupan birokrasi melalui semangat dialog dan komunikasi intensif antara pemerintah. Good governance menjadi sebuah imperatif dalam proses negara demokrasi.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Salam Redaksi S etelah era reformasi. akuntable. (3) setiap proses pemerintahan mulai dari pengambilan keputusan sampai implementasi. Pemerintah pun merespons atas tuntutan reformasi birokrasi dengan berkomitmen menerapkan prinsip good governance. pemerintah telah berusaha membangun kepercayaan timbal balik antara pemerintah dan masyarakat melalui penyediaan informasi dan menjamin kemudahan di dalam memperoleh informasi tersebut. pemerintah telah bertindak atas dasar tanggung jawab dalam segala bidang untuk kepentingan masyarakat luas. sebagai kebutuhan nasional akan transparansi dan akuntabilitas serta kontribusi aktif Indonesia ii . juga salah satu yang paling santer dikumandangkan adalah perlunya reformasi birokrasi. Isu utama yang ditekankan dalam reformasi birokrasi bukan saja pelayanan dan inefisiensi. sehingga masyarakat memiliki kesempatan dalam menyampaikan aspirasinya Masih dalam konteks good governance.

iii . Berbagai isu dan permasalahan di seputar reformasi birokrasi akan dibedah dan dianalisis secara komprehensif dari berbagai perspektif. khususnya Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik telah berusaha menyusun disain komunikasi untuk memastikan inisiatif Open Government terlaksana sejalan dengan prinsip transparansi. Keluarnya undangundang ini juga menunjukkan komitmen pemerintah terhadap upaya perwujudan reformasi birokrasi. tepat. Muhadam Labolo secara detail menganalisis kinerja birokrasi dalam konteks good governance. kemampuan dan moral penyelenggara pemerintahan mampu memberi pelayanan yang mudah.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik dalam Open Government Partnership (OGP). tetapi belum sepenuhnya dilaksanakan. cepat. partisipasi dan kolaborasi. Untuk melakukan good governance perlu proses pembelajaran. Dalam pelaksanaannya. perlu perbaikan-perbaikan menyangkut SDM dan SDA yang dimiliki. dalam arti semangat desentralisasi dan debirokratisasi tercermin dalam tata kelola pemerintahannya. dengan biaya yang terjangkau. efisien dan tidak berbelit-belit serta menggunakan SDM yang optimal dan berkualitas. Untuk percepatan OG ini melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika. pemerintah juga menerapkan Otonomi Daerah dengan menekankan pelayanan birokrasi pemerintah lebih efisien. ada juga yang memberikan penilaian kritis bahwa meskipun prinsip good governance telah dilaksanakan. setiap lembaga publik diharapkan menyusun Rencana Implementasi Open Government (OG) lembaganya. Meskipun demikian. melalui konsultasi dengan kelompok pemangku kepentingan masingmasing. sekaligus sebagai melihat bagaimana penerapan Undang-undang No. Hal yang paling bisa dilakukan adalah untuk memberikan kepercayaan dan dukungan untuk melakukan upayaupaya reformasi birokrasi. Dari prosesnya yang lebih efektif. maka Jurnal Dialog Publik kali ini mengangkat tema Birokrasi dalam era keterbukaan informasi. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Reformasi birokrasi merupakan salah satu upaya untuk menerapkan prinsip good governance. Ia berusaha mendeskripsikan tentang makna birokrasi dan good governance. namun perlu keseriusan untuk melakukan reformasi birokrasi. Atas dasar permasalahan di atas. Sementara itu.

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 karakteristik pemerintahan yang baik. Atau birokrasi bersifat adaptif dengan dinamika masyarakat Papua yang semakin terbuka. Reformasi kapasitasi adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan sumber daya birokrasi dalam pelayanan agar mampu mengimbangi dinamika masyarakat. Menurut Habel birokrasi di Papua justru lebih menunjukkan karakter sebagai birokrasi yang rasional dan mengedepankan profesionalisme. sehingga personil. Atau dengan kata lain Habel mengajukan pertanyaan bagaimana pelayanan birokrasi pemerintah Papua dalam era Otonomi Khusus sekarang ini. birokrasi pemerintah Papua berkembang ke arah yang lebih menunjukkan iv . Salah satu usulan menarik Muhadan adalah bahwa untuk mengefektifkan reformasi birokrasi diperlukan reformasi kapasitasi yang memadai guna meningkatkan kemampuan aparatur dalam melayani masyarakat. serta upaya strategis reformasi birokrasi dan implementasi tata kelola pemerintahan yang baik. sehingga lebih mengedepankan profesionalisme dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. atau berkembang menjadi birokrasi modern yang mengutamakan profesionalisme dan merit system. dan kekerabatan. Perubahan tersebut diharapkan tidak saja bersifat incremental semata. dan pelayanan pun ada kecenderungan bias etnosentrisme. sehingga birokrasi pemerintah terbukti adaftif dengan perkembangan masyarakatnya. masalah dan tantangan yang dihadapi dalam upaya reformasi birokrasi. Akan tetapi dalam perkembangan lebih lanjut. Birokrasi pun kemudian menunjukkan karakter birokrasi primordial. Apakah bias primordialisme seperti baik buruknya pelayanan birokrasi disebabkan oleh faktor kesamaan etnis. Habel melihat adanya gejala etnosentrisme di Papua apakah berpengaruh terhadap pelayanan birokrasi. disikapi oleh sebagian warga Papua secara primordialistik. pada awalnya terdapat kecenderungan bahwa pemberian kewenangan pengelolaan politik oleh pemerintah pusat dalam bentuk Otsus. Reformasi kapasitasi berkaitan dengan kemampuan birokrasi baik secara individual maupun kelompok yang ditunjukkan pada kemampuan menerjemahkan visi dan misi. Memang. Perkembangan masyarakat Papua yang semakin terbuka menjadikan Papua semakin plural. Sementara itu Habel Suwae mencoba menyoroti pelayanan birokrasi dalam era Otonomi Khsusus di Provinsi Papau. Pengembangan kapasitas aparatur berfokus pada aspek pendidikan dan pengalaman yang akan menentukan nilai profesionalisme birokrasi dihadapan masyarakat. agama. sistem rekreuitmen. namun fundamental. program dan kegiatan. sehingga lebih mengarah pada birokrasi primordial.

harus ada trnasformasi kultural di kalangan aparat birokrasi dari cara pandang birokrasi sebagai penguasa menjadi birokrasi sebagai pelayanan sesuai dengan sistem politik yang deomokratis. kapabiltas dan hal ini disebabkan oleh karena penenpatan pejabat eselon II dan III. Sifatnya yang birokratis dan patologis membuat keberadaan birokrasi lebih dianggap sebagai faktor penghambat dibanding pendorong perekonomian. yang lebih mengutamakan efisiensi dan profesionalisme. Dengan konsep tersebut. dari segenap analisis kritis yang dikemukan para penulis. birokrasi pemerintah juga terus mendorong partisipasi publik dalam proses pembangunan menuju pemerintahan yang transparan dan akuntabel. Untuk menghilangkan berbagai patologi yang ada. tetapi lebih ditentukan oleh tim sukses. birokrasi dikembangkan sebagai unit pelayanan yang tepat. Reinventing bureaucracy diharapkan mampu mengembalikan birokrasi sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi. birokrasi perlu direformasi. pada era sistem pemerintahan desentralisktik sekarang ini banyak menimbulkan persoalan pemerintahan terutama dalam birokrasi pelayanan publik. Karakter masyarakat Papua sendiri yang terbuka dan semakin plural. Realitas yang teralami sekarang banyak birokrat yang tidak mengutamakan pelayanan publik. karena banyak pejabat publik yang diangkat tidak memiliki kapasitas. Bersamaan dengan itu. bukan berdasarkan pendidikan dan latihan penjenjangan kerier. bukan sebagai unit pelayanan masyarakat.Untuk dapat mengoptimalkan pelayanan birokrasi yang menggunakan prinsip good governance. Politisasi birokrasi ikut mendorong terjadinya penyelewengan yang membuat birokrasi semakin jauh dari fungsi utamanya sebagai penggerak sektor perekonomian. menjadi pertimbangan utama mengedepankan birokrasi rasional. v . Banyak gejolak yang terjadi di daerah sebagai perwujudan ketidak puasan masyarakat dalam pelaksanaan otonomi daerah. efisien. cepat. terdapat harapan yang sama. efektif. Sedangkan Nursodik menilai birokrasi Indonesia belum probisnis. Salah satunya adalah dengan menerapkan konsep reinventing bureaucracy. Argumen agak berbeda dikemukakan oleh Ferdinan Kerebungu. bahwa bagaimanapun birokrasi harus didorong untuk lebih independen. Ferdinan mengkaji tentang efektivitas pelayanan birokrasi di era otonomi daerah.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik karakter birokrasi profesional dengan menerapkan merit sistem. Berbagai penyakit birokrasi muncul karena aparat birokrasi cenderung menggunakan birokrasi sebagai alat untuk mencapai tujuan birokrasi itu sendiri. akuntabel dan berorientasi pada kebutuhan pengguna layanan. Akan tetapi.

tetap harus mendapat dukungan dari semua pihak.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 steril dari kepentingan politik. meski di sana-sini terdapat hambatan. harus tetap dipelihara dan dirawat agar terus menjadi habitat subur bagi tumbuhnya birokrasi yang secara konsisten menerapkan prinsip good governance. vi . Komitmen pemerintah pusat untuk melakukan reformasi birokrasi. dan mengedepankan profesionalisme. Iklim demokrasi yang sudah baik.

MBA* *Deputi Bidang Program dan Reformasi Birokrasi. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.Edisi 3 / September / 2011 Wawancara Khusus Reformasi Birokrasi Tidak Secepat Membalik Telapak Tangan Dr. Ismail Muhamad. vii .

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik

Edisi 3 / September / 2011

S

etelah era reformasi, salah satu isu yang paling santer dikumandangkan adalah perlunya reformasi birokrasi. Isu utama yang ditekankan dalam reformasi birokrasi bukan saja pelayanan dan efisiensi, tetapi juga transparansi. Seiring dengan bergulirnya demokratisasi, birokrasi pemerintah dituntut untuk tampil sebagai organisasi pelayanan publik yang transparan. Prinsip Good governance menjadi sebuah imperatif dalam proses negara demokrasi, dan di sini birokrasi harus transparans, akuntable, dan membuka partisipasi publik.

Meskipun secara normatif, pemerintah punya sejumlah regulasi yang mengatur tatakerja birokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan, namun dari hasil penyerapan opini dalam masyarakat, ternyata sebagian masyarakat menilai reformasi birokrasi belum memperlihatkan hasil konkret, alias reformasi birokrasi masih jalan di tempat. Persoalan yang mengemuka di anatranya pemerintah, termasuk pemerintah daerah dinilai kurang transparan dan tidak banyak melibatkan masyarakat dalam perumusan kebijakan publik. Dalam kaiatan dengan persoalan tersebut, berikut ini petikan hasil wawancara redaksi dengan

Dr. Ismail Muhamad, MBA

viii

Edisi 3 / September / 2011

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik

Deputi Bidang Program dan Reformasi Birokrasi, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Dr. Ismail Muhamad, MBA. Banyak kalangan menilai program reformasi birokrasi jalan di tempat, bagaimana kondisi yang sesungguhnya ada pada saat ini? Pandangan seperti itu dapat dipahami, tetapi sangat tergantung dari sudut pandang mana melihatnya. Perlu diluruskan, bahwa reformasi dalam skala besar (Nasional) dimulai pada tahun 1998. Fokus reformasi pada tiga bidang, yaitu Bidang Ekonomi, Bidang Politik dan Bidang Hukum. Sedangkan secara khusus reformasi birokrasi dimulai pada tahun 2004, dan sebagai pilot projectnya adalah Badan Pemeriksa Keuangan, Mahkamah Agung, dan Kementerian Keuangan. Pada tahun 2008, Kementerian PAN menerbitkan Pedoman Umum Reformasi Birokrasi. Mulai tahun 2010 ditetapkan Grand Design Reformasi Birokrasi 2010 – 2025 berdasarakanh Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 81 Tahun 2010, dan ditindaklanjutin dengan Peraturan Menteri PAN No. 4 Tahun 2010. Jadi kalau ada yang bilang reformasi birokrasi jalan di tempat itu karena kurang mengikuti perkembangan yang ada. Jadi dari sisi kebijakan pelaksanaan reformasi birokrasi sudah ada langkah-langkah konkret. Berbicara mengenai reformasi birokrasi di negara manapun tidak secepat

membalikkan telapak tangan, tetapi membutuhkan proses panjang. Contoh Australia, untuk melakukan reformasi membutuhkan waktu 30 tahun baru bisa dilihat hasilnya. Dalam kaitan dengan transparansi, akuntabilitas, partisipasi publik dan lain-lain sebenarnya sangat terkait dengan UU No. 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) yang secara definitif pelaksanaannya pada tahun 2010. Tetapi sebenarnya transparansi dan akuntabilitas di Indonesia sudah mulai dilaksanakan secara efektif pada tahun 1999, yaitu dengan dikeluarkan Instruksi Presiden RI No. 7 Tahun 1999 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Dengan demikian secara formal semua instansi pemerintah dalam pelaksanaan fungsi dan tugasnya diharuskan transparan dan akutabel. Jadi prinsipnya sudah ada model layanan, prosedur tetap, pengawasan, capaian hasil dan metode evaluasinya, semuanya sudah dituangkan dalam Rencana Strategis (renstra) instansi pemerintah. Pembuatan Renstra itu sendiri sangat transparan, meskipun pada waktu itu belum sejalan dengan UU KIP, karena belum ada. Dalam UU KIP jelas sekali menegaskan bahwa semua informasi itu terbuka (dipulikasikan) kecuali yang rahasia. Berbeda dengan paradigma sebelumnya bahwa semua informasi itu rahasia, kecuali yang dibuka atau yang dipublikasikan. Jadi secara ringkas bisa disimpulkan bahwa transparansi dan akuntabilitas

ix

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik

Edisi 3 / September / 2011

kebijakan pemeritah termasuk bidang pelaynan telah dilaksanakan, meskipun harus diakui ada beberapa yang masih tertinggal. Bagaimana kita melihat secara konkret reformasi birokrasi itu dari sisi pelaynan publik? Pelayanan publik itu kita bagi dua yakni yang bersifat administratif dan pelayanan praktis atau non administrasi. Pelayanan administratif seperti KTP dan sejenisnya, hampir di semua daerah sudah transparan, umpamanya sudah jelas berapa biayanya, penyelesaiannya berapa lama, prosedur dan mekanismenya. Bahkan informasi tentang semua itu ditempelkan di papan pengumuman sehingga masyarakat mengetahuinya secara jelas. Selain itu ada standar pelayanan minimum yang diatur berdasarkan Kepmendagri yang menjadi acuan bagi daerah untuk merancanakan angaran pendapatan dan belanja daerahnya. Standar pelaynan itu juga dipublikasikan agar diketahui oleh masyarakat. Ini artinya langkah konkret yang dilakukan pemerintah itu ada, hanya mungkin kalau ada penyimpangan oleh oknum, termasuk sikap dan prilaku SKPD di daerah tertentu yang cenderung mengada-ada. Sehingga dalam kontek reformasi birokrasi, kelemahan-kelemahan itu dipantau dan dievaluasi, kemudian ditertibkan. Untuk mengurangi penyimpangan kita menggunakan instrumen indek kepuasan masyarakat melalui survei. KPK juga menggunakan

tingkat kepuasan masyarakat dalam mengukur kualitas pelaynan publik. Dalam reformasi birokrasi, unsur itu juga dimasukkan sebagai salah satu indikator keberhasilan yakni peningkatan kualitas pelaynan publik. Kalau kita ambil contoh, kalau KPK mengunakan unsur integritas pelaynan publik, tingkat kemudahan berusaha, lalu instansi yang akuntabel. Tahun 2009 kita sudah punya base line sekian, kita punya target tahun 2014 sekian. Dengan ukuran itu terus dilakukan pemantauan, ternyata hasilnya semnatra ini mengalami peningkatan (kemajuan). Jadi jelas ada pengukurannya untuk menetukan tingkat keberhasilan program reformasi birokrasi. Sampai saat ini masih banyak pemerintah daerah belum membentuk PPID sesuai ketentuan UU No. 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik. Baagaimana Pemerintah menyikapi maslah tersebutdalam kaitan dengan upaya mempercepat reformasi birokrasi? Secara makro hal itu termasuk dalam konteks penguatan kelembagaan dan pembenahan organisasi. Atas dasar UU KIP tersebut kita melangkah pada Open Government yang salah satu intinya adalah setiap instansi pemerintah dihimbau untuk segera melangkah konkret membenahi organisasinya sesuai kebutuhan. UU KIP jelas mengatakan bahwa jika masyarakat yang meminta informasi yang terbuka,

x

Ditambah lagi dengan adanya website. Mereka menyampaikannya dengan cukup baik. pemerintah daerah tidak terlalu tertinggal. tidak perlu pintupintu lagi. karena karakter manusianya berbeda satu dengan yang lain. di samping masyarakat juga punya kesadaran yang luar bisa dalam menuntut haknya untuk memperoleh informasi. Kita tidak bisa menuding bahwa semua pemda itu sama. Mungkin urgensinya untuk memperkuat unit pelaynan informai. akuntabilitas dan partisipasi publik dalam pelaksanaan good governance di setiap instansi pemerintah. Ada beberapa daerah yang mengalami hambatan. Dari unsur transparansi dan lain-lain juga terlihat adanya kesungguhan pemda-pemda dan hasilnya cukup baik. Tetapi berdasarkan pengamatan Kementerian PAN dan RB. xi . Saat ini pemerintah sudah cukup transparan dan open government. Jadi dari sisi kacamata reformasi birokrasi. kecuali yang sifatnya terkait rahasia negara dan surat-surat yang memang sifatnya rahasia. Penilaian ini didasarkan pada indikator dengan menggunakan instrumen yang ada. salah satunya adalah dengan pemanfaatan teknologi inforasi untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Ada kendala di beberapa daerah dengan alasan PAD yang tidak mencukupi. yakni Jawa Barat dan Nusa Tenggara Barat. setiap waktu masyarakat berhak meminta informasi pada instansi pemerintah ada atau tidak PPID pada intansi tersebut. Jadi kalau berbicara tentang prinsip-prinsip transparansi. Aparat pemerintah menyadari bahwa hak publik untuk mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. tentu karena kendala-kendala. Ternyata langkah-langkah yang dilakukan kedua daerah ini luar bisa dalam kontek transparansi. termasuk pemeritah daerah. pengadaan barang dan jasa dan lainlain semuanya terbuka. Bagaimana kondisi pemerintah termasuk pemerintah daerah dalam menyelenggarakan pemerintahan yang berperinsip good governance? Kalau dilihat dari sisi akuntabilitas. Oleh karena itu bisa disimpulkan bahwa secara nasional terdapat kemajuan yang cukup signifikan dalam penyelenggaran pemerintahan dengan prinsip good governance. seperti soal APBN. maka bisa dituntut. baik karena faktor sumber daya manusia maupun sumber daya lain.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik kalau ada yang menghaklangi. upaya untuk meningkatkan pelaynan birokrasi sudah sangat kuat. tetapi melalui induk lembaganya. yakni melalui laporan akuntabilitas. akan lebih memudahkan. Bahkan barubaru ini pada kesempatan lokakarya ditampilkan dua daerah yang masuk kategori berhasil. Ini artinya pintu masuk tidak harus melalui lembaga baru (PPID). maka bisa dikatakan bahwa sebagian besarnya sudah punya kesadaran tersebut sangat kuat.

Moratorium ini diperlukan untuk melakukan pembenahan. Sampai dengan Desember 2012 ditetapkan supaya seluruh pemerintah provinsi. prosesnya harus dimulai dari usulan desa/kelurahan. lalu dalam proses asesmennya diminta dari perguruan tinggi yang terbaik di masing-masing daerah. baru ada formasi. Dengan reformasi ini juga kita mengukur kinerja. Bagaimana pemetrintah menyikapi maslah tersebut? Memang harus diakui bahwa kondisi seperti itu ada pada praktek rekrutmen pegawai dan pejabat pemerintah. Menteri Keuangan dan Menteri PAN dan RB memutuskan untuk moratorium penerimaan calon PNS mulai September 2011 sampai Desember 2012. berubah dan lebih mengutamakan peran. tetapi dalam kenyatannya itu dimainkan juga. Atas dasar itu. Lalu harusnya hasil ujian itu diumumkan. bukan kewenangannya. Jadi keterlibatan unsur – unsur dalam masyarakat itu penekanannya peranya apa. Apakah dalam penyelenggaraan pemerintahan sudah membuka koridor ketertutupan birokrasi melalui semangat dialog dan komunikasi intensif antara pemerintah dan masyarakat? Prinsipsnya kita berpegang pada UU No. Kita sudah melakukan pembenahan dengan menetapkan agar semua proses aplikasi melalui website. Kalau sebuah xii . kalau tidak ada analisis kebutuhan kompetensi yang dibutuhkan. Dalam UU ini jelas sekali. dan yang merepresentasikan masyarakat diundang untuk menjaring masukan dan aspirasi masyarakat. organisasi tertentu. Intinya adalah selama masa moratorium itu akan dibuat formula yang bisa mencegah praktek KKN dan prilaku yang menyimpang. Musrembang sampai ke tingkat nasional dimana di setiap lefel itu melibatkan masukan masyarakat. Salah satu langkah reformasi terkait dengan maslah ini adalah merubah mainset dan kutureset para pejabat. Bahkan ada stetmen di Komisi II DPR RI bahwa akibat penyimpangan seperti itu menyebabkan kerugian negara sampai 25 triliun rupiah. melalui tokohtokohnya.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Salah satu sorotan masyarakat terhadap lemahnya pelaynan birokrasi adalah dalam kaitan dengan rekrutmen aparat (PNS) dan pejabat pemerintah yang tidak transparan dan sarat dengan KKN. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembanagunan Nasional. kompetensinya apa dan sebagainya. Tidak akan disiapkan formasi oleh pusat. yang selama ini cenderung berorientasi pada kewenangan. Seperti ada informasi bawa di daerah tertentu untuk masuk PNS harus bayar jutaan rupiah. kabupaten/kota mengajukan berapa kebutuhannya. bahwa setiap ada kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Sekarang pemerintah melalui Peraturan Bersama Meneteri Dalam Negeri.

produktif dan profrsional. Kendala-kendala apa saja yang dirasakan dalam penyelenggaraan pelayanan birokrasi yang berprinsip good governance? Kendala utama yang terlihat selama ini adalah pada mind-set dan cuture-set pada aparat birokarasi. Tetapi ada contoh negara yang punya good governance namun dalam praktek demokrasinya masih kategori rendah. maupun dari sisi kompetensinya juga belum pada posisi the right man on the right please. Demokrasi Indonesia menduduki nomor tiga terbaik di dunia.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik kebijakan dalam implementasinya tidak ada aksesnya pada masyarakat. Sasaran lima tahun pertama (2010 – 2014). belum untuk mencapai kinerja yang lebih baik (better performance). Tetapi yang terpenting adanya suatu public policy process yang sesuai dengan prinsipprinsip good governance. dan belum berorientasi pada hasil (outcomes). bahkan sudah 10 tahun terakhir ini masuk pada periode maturity. Selain itu. itu pun sampai sekarang belum semua menerapkan. Bagaimana mengefektifkan pelayanan birokrasi dalam era keterbukaan informasi sebagai bagian dari demokratisasi? Prinsip demokrasi. maka reformasi ini digunakan untuk membenahinya. Meskipun Singapura punya pemerintah yang sangat good governance. Pola piker dan budaya kerja birokrat belum sepenuhnya mendukung birokrasi yang efisien. Proses dalam merumuskan sebuah kebijakan publik harus melibatkan masyarakat. baik dari faktor alokasinya dari pusat sampai ke daerah. Sebenernya secara normatif itu semua sudah diatur. masih jauh di bawah Indonesia. Seperti digambarkan sasran reformasi birokrasi dalam Grand Design Reformasi Borokrasi 2010 -2025 yang dibagi dalam tiga tahap sebagai berikut: 1. salah satu prasyaratnya adalah penerapan good governance. difokuskan pada penguatan birokrasi pemerintah dalam rangka mewujudkan pemerintah yang bersih dan bebas KKN. maka kinerjanya turun. tetapi bukan berarti reformasi birokrasi jalan di tempat. tetapi dari sisi demokratisasi. Jadi dengan reformasi dimaksudkan untuk merubah pemahman bahwa demokrasi tidak seperti terjadi saat ini. birokrat belum benar-benar memiliki pola piker yang melayani masyarakat. karena kemudian kurang efektif. apalagi sudah membudaya itu membutuhkan waktu lama. meningkatkan kualitas xiii . yakni dengan menggunakan menejmen kinerja. seperti Singapura. Persoalan nanti kalau kemudian ada yang dipotong di atas. itu semata- mata dengan pertimbangan demi kepentingan bersama. efektif. Kendala kedua adalah kebutuhan SDM aparat birokrasi itu belum proporsional. Tetapi harus diakui untuk merubah pola pikir.

Sehingga dengan sasaran-sasaran tersebut.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 pelaynan publik kepada masyarakat. Sasaran lima tahun ketiga (2020. pada lima tahun kedua juga dilanjutkan upaya yang belum dicapai pada berbagai komponen yang strategis birokrasi pemerintah pada lima tahun pertama. reformasi birokrasi ini akan berhasil membenahi performen pelaynan birokrasi dalam memenuhi kebutuhan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Sasaran lima tahun kedua (2015 – 2019). reformasi birokrasi dilakukan melalui peningkatan kapasitas birokrasi secara terus menerus untuk menjadi pemerintahan kelas dunia sebagai kelanjutan dari reformasi birokrasi lima tahun kedua. serta meningkatkan kapasitas dan akuntabilitas kinerja birokrasi. 2. selain implementasi hasil-hasil yang sidah dicapai pada lima tahun pertama. xiv . 3.2024). semua itu sudah pada posisi yang benar.

1 . pada Program Pascasarjana Universitas Negeri Manado. dan mengajar pada S2 Pengembangan Sumberdaya Sosial. Program Pascasarjana Universitas Samratulangi Manado.I Pelayanan Birokrasi dalam Era Otonomi Daerah Oleh : Ferdinand Kerebungu * Edisi 3 / September / 2011 * Ketua Program Studi Magister Administrasi Publik.

maka sistem pemerintahan dan politik yang berlaku harus didasarkan pada sistem pemerintahan yang demokratis. penyelenggaraan birokrasi pelayanan publik yang dilaksanakan oleh pemerintah pada prinsipnya untuk memenuhi kebutuhan dasar dan hakhak setiap warga negara berdasarkan amanat Undang-Undang Dasar 1945. Tugas ini di era orde baru belum dapat terwujud hingga ke pedalaman Negara kesatuan Republik Indonesia. sehingga mereka tidak menguasai tugas pokok dan fungsinya. dengan harapan tujuan terbentuk negara ini dapat terwujud secara optimal. dan kebutuhan mereka D Pendahuluan 2 . Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar tahun 1945 pada alinea keempat diamanatkan tentang tugas pemerintah antara lain adalah untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. karena banyak pejabat publik yang diangkat tidak memiliki kapasitas. Realitas yang teralami sekarang banyak birokrat yang tidak mengutamakan pelayanan publik. bukan berdasarkan pendidikan dan latihan penjenjangan kerier. kapabiltas dan akuntabiltas dalam bidang kerjanya. Untuk dapat mengoptimalkan sumberdaya yang ada di daerah khususnya sumberdaya manusia. Hal ini disebabkan oleh karena penempatan pejabat aselon II dan III. dan transparan. Dalam tulisan ini dikaji tentang efektivitas pelayanan birokrasi di era otonomi daerah. Di era reformasi sekarang ini sistem pemerintahan berubah menjadi desentralistik.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 i era sistem pemerintahan desentralisktik sekarang ini banyak menimbulkan persoalan pemerintahan terutama dalam birokrasi pelayanan publik. Di era otonomi daerah saat ini. tetapi lebih ditentukan oleh tim sukses. Banyak gejolak yang terjadi di daerah sebagai perwujudan ketidak puasan masyarakat dalam pelaksanaan otonomi daerah. karena sistem pemerintahan yang bersifat sentralistik. Perubahan arus sistem pemerintahan ini merupakan impian dari masyarakat agar dapat terlayani dengan baik.

efektif dan efisien. 3 . Realitas yang dihadapi masyarakat di era otonomi sekarang ini seperti hanya sebuah mimpi yang sulit untuk terwujud. Pelayanan birokrasi yang terjadi tidak mampu mengimbangi perkembangan tuntutan masyarakat akan pelayanan.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik dapat tercapai dengan sistem pelayanan birokrasi yang prima. bahkan dalam sistem pelayanan publik modern menuntut para birokrat melakukan pelayanan prima pada publik. seperti pelayanan cepat. Untuk meningkatkan kualitas birokrasi dalam pelayanan publik. maka yang menjadi permasalahan dalam penulisan ini adalah “sejauhmana efektivitas pelayanan birokrasi diera otonomi daerah”. bahkan tujuan utama pemekaran wilayah yang marak terjadi di era otonomi daerah yaitu mendekatkan pelayanan pada masyarakat bagaikan api jauh dari panggang. hingga perubahannya menjadi UndangUndang Nomor 32 tahun 2004. Kondisi ini banyak dilihat di tanah air ini tentang maraknya protes yang dilakukan oleh masyarakat. belum juga menunjukkan perubahan yang signifikan dalam sistem pelayanan publik yang dilaksanakan oleh para birokrat sebagai pejabat publik. yang tidak sesuai dengan harapan masyarakat. junto Undang-Undang no 12 tahun 2008. apalagi mau menuntut kualitas. Sehingga tulisan ini dapat bermanfaat untuk melakukan evaluasi pelaksanaan otonomi daerah apakah berjalan efektif sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 junto Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang otonomi daerah. Setelah dua belas tahun pelaksanaan perubahan sistem pemerintahan yaitu dari sistem pemerintahan yang sentralistik ke sistem pemerintahan desentralistik sejak ditetapkannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. sehingga pelayanan publik tidak dapat terlaksana dengan optimal. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis pelaksanaan pelayanan birokrasi terhadap masyarakat di era otonomi daerah. tepat. Persoalan tersebut diperparah lagi dengan kinerja para birokrat yang sangat rendah. Berdasarkan latar belakang tersebut. kesulitan menciptakan lapangan kerja. Akibatnya kebanyakan pejabat yang menduduki jabatan aselon dua (II) hingga aselon tiga (III) adalah orang-orang yang tidak berkompeten dibidangnya. Nampaknya para kepala daerah sebagai top manajemen dalam organisasi pemerintahan daerah lebih disibukkan dengan bagaimana para pendukungnya masuk dalam jajaran kabinetnya.

seorang birokrat akan nampak kualitas layanannya terhadap publik seperti kehandalannya. Jika birokrat sebagai administrator dan pelayan publik melaksanakan tugasnya berdasarkan fungsinya sebagaimana dikemukakan oleh Sarundajang di atas. (3) melindungi kebebasan individu berdasarkan peraturan dan norma adat istiadat yang berlaku di masyarakat. mekanisme dan prosedur. (2) menjamin keadilan di lingkungan masyarakat. 2005). komunikatif. Selanjutnya Sarundajang (2005). mengemukakan bahwa “birokrasi pemerintahan dapat dipandang dari dua dimensi. Oleh sebab itu. seyogyanya di era otonomi daerah saat ini setiap penjabat publik dalam melaksanakan tugasnya sebagai administrator dan pelayan publik memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat guna mencapai cita-cita pendirian negara ini. Sejalan dengan pemikiran tersebut. dimensi ini merujuk pada berbagai perilaku yang diperankan para birokrat dalam pelayanan publik”. memiliki kejujuran dan berperilaku baik. memiliki pengetahuan luas dan ketrampilan yang baik. Banyak pengamat mengatakan bahwa birokrasi identik dengan administrasi. Selain itu. Lumingkewas dan Masengi (2008). kita tidak menjumpai berbagai bentuk kekecewaan masyarakat dan sebaliknya masyarakat akan concern dalam aktivitas kesehariannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. dan (2) dimensi sikap dan perilaku birokrasi. mengemukakan ada lima ciri fungsi birokrasi yaitu: (1) memenuhi tatanan internal organisasi dan keamanan eksternal organisasi. Berdasarkan kedua dimensi birokrasi pemerintahan tersebut. birokrat dalam menjalankan tugasnya berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku bagi setiap pejabat publik dan menanpakan perilaku sebagai pamong yang 4 . (4) mengatur tindakan individu agar individu tidak menjadi liar. Menyimak kelima ciri fungsi birokrasi tersebut. memahami alur birokrasi layanan yang ditetapkan oleh masing-masing satuan kerja perangkat daerah (SKPD). (5) meningkatkan kesejahteraan masyarakat. dan yang terakhir. responsif. tidak menundanunda pekerjaan. kelemahan birokrat sama dengan kelemahan administrasi pelayanan publik. yaitu: (1) dimensi kelembagaan yang meliputi. dan memahami secara cepat kebutuhan publik yang dilayani. (Sarundajang. Di mana para aparatur (birokrat) dituntut untuk memiliki pengetahuan tentang unsur-unsur layanan publik yang secara tepat. Oleh karena itu birokrasi di Amerika Serikat disebut dengan Administration. peraturan-peraturan baku yang berstandard dan budaya. dan memberikan pengayoman terhadap masyarakat yang berada di wilayah kerjanya.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 perlu memperhatikan tentang tugas dan fungsi dari masing-masing aparatur.

informasi dan komunikasi (TIK) saat ini tidak sedikit birokrat yang tidak mampu menguasai dan menggunakan teknologi informasi secara baik. demi kepentingan dan kemajuan bangsa dan negara. Antara Harapan dan Kenyataan 1. PIM II maupun PIM III. yang pada gilirannya akan dapat memberikan pelayanan yang prima terhadap masyarakat. Di era kemajuan teknologi. perencana. bisa tertunda sampai berjam-jam atau bahkan berhari-hari. tetapi lebih banyak digunakan permainan game. karena Walikota Manado mengganti beberapa pejabat aselon II tanpa konsultasi dengan Gubernur. Berdasarkan realitas yang nampak di daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi   Utara. dan yang selalu menjadi alasan klasik yang dilontarkan oleh staf tersebut adalah belum ditanda tangan oleh bos/atasannya karena tidak berada ditempat. dan bahkan pengangkatannya lebih ditentukan oleh tim sukses pilkada. Hal ini terkait dengan persoalan pelayanan kepada masyarakat. seperti 5 . Kondisi ini yang sering membuat masyarakat bosan dengan berbagai keterlambatan dalam soal surat menyurat. tidak lagi berdasarkan pada kapasitas atau kapabilitas para penjabat yang diangkat.      Birokrat sebagai Administrator Seorang birokrat sebagai administrator memerlukan pengetahuan luas.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik patut diteladani oleh semua pihak. dan bahkan tidak memperhatikan pendidikan penjenjangan karier seperti diklat PIM I. dan pelaksana. memiliki ketrampilan dan menguasai perkembangan teknologi informasi. dan peran Badan Pertimbangan Jabatan (Baperjakat) hanyalah bersifat formalitas. sehingga sering banyak tugastugas yang seharusnya diselesaikan dalam waktu satu atau dua jam. mulai sekitar bulan Juli 2011 sampai saat ini masih terjadi kesalahpahaman antara Walikota Manado dengan Gubernur Provinsi Sulawesi Utara. bahkan jika diamati di lembaga-lembaga pemerintahan sering ditemui staf administrasi di kantor-kantor pemerintahan. Sebagai seorang pelaksana tugas di lembaga pemerintahan harus dapat menjadi sebagai konseptor. hal ini dimaksudkan agar dalam melaksanakan tugas kesehariannya ia mampu menyelesaikan dalam waktu yang tidak terlalu lama. kondisi seperti yang disebutkan di atas banyak dipengaruhi oleh sikap kepala daerah (Bupati/Walikota) terpilih yang lebih banyak mendengarkan tim sukses dibandingkan dengan mendengarkan staf atau penjabat yang berkompeten dalam bidangnya. Sebagai contoh misalnya. tidak menggunakan komputer untuk kepentingan tugasnya sebagai seorang administrator. Setiap penjabat aselon dua (II) atau tiga (III) yang diangkat oleh Bupati/ Walikota.

sehubungan dengan tujuan pelaksanaan desentralisasi oleh Syaukani. Pada saat ini kewenangan pemerintah daerah sudah begitu luas dalam mengembangkan potensi yang terdapat di daerahnya. Pelayan yang seimbang dan pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat merupakan konsekwensi dari implementasi otonomi daerah. Gaffar dan Rasyid (2003). Contoh arogansi pejabat kepala daerah terpilih yang demikian itulah yang menyebabkan seringkali banyak penjabat tidak berada ditempat karena harus mengikuti ke mana Bupati/Walikota berkunjung. setelah dilantik oleh Mendagri langsung melantik pejabat aselon II dan III di lembaga pemasyarakatan Cipinang. 6 . di Kabupaten Minahasa Selatan. Secara sosiologis dan psikologis. banyak masalah terjadi di daerah yang tidak tertangani secara baik karena keterbatasan kewenagan pemerintah daerah . ketaatan dan partisipasi masyarakat tersebut akan lahir dengan sendirinya apabila mereka mendapat perlakuan yang seimbang dan kebutuhan pokoknya terpenuhi. termasuk di dalamnya pelayanan birokrasi terhadap kepentingan masyarakat. Banyak keluhan yang disampaikan aparatur di daerah yaitu kurangnya partisipasi masyarakat dalam berbagai program pembangunan termasuk dalam hal pembayaran pajak bumi dan bangunan (PBB). Akibat perilaku demikian birokrasi pelayanan publik tidak berjalan optimal. Lain lagi peristiwa yang dilakukan oleh Walikota Tomohon Sulut yang terpilih (saat ini non aktif. . Sehubungan dengan hal itu. Berdasarkan ketentuan peraturan peundang-undangan yang berlaku bahwa setiap pengangkatan pejabat aselon II harus dikonsultasikan oleh Bupati/Walikota kepada Gubernur. Kasus pemberhentian sepihak terhadap pejabat Sekretaris Kota Manado berakhir di PTUN dan dimenangkan oleh pejabat Sekretaris Kota yang berhentikan. sebab kalau tidak ikut serta dalam rombongan kunjungan kerja.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 penggantian Sekretaris Kota Manado. bisa berdampak pada penggantian pejabat. Contoh yang lain lagi. Fenomena-fenomena demikian bukan barang baru yang ditampilkan oleh setiap pejabat Bupati/Walikota di era Otonomi Daerah saat ini. masyarakat Indonesia pada umumnya adalah masyarakat yang taat pada pemerintahnya.”. dan ditahan dilembaga pemasyarakatan Cipanang karena tersangkut kasus Korupsi). walaupun itu bukan bidangnya. penggantian pejabat dan pelantikannya sering dilakukan secara mendadak dan dilakukan malam hari. mengemukakan bahwa  “di masa lalu. Sarundajang (2005) mengemukakan bahwa “Otonomi Daerah adalah hak wewenang dan kewajiban daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku”. .

sehingga dalam perencanaan pembangunan daerah banyak antar SKPD yang saling tumpang tidih program. Perilaku Birokrasi dalam Pelayanan Publik Sebagaimana telah diutarakan pada bagian sebelumnya. Yang menjadi persoalan sekarang di daerah adalah banyak pejabat antar satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang kurang memahami tugas pokok dan fungsinya. 2. sebagai seorang birokrat yang berada pada garis depan pelayanan publik. karena kewenangan tersebut tidak dilaksanakan secara optimal. gunan menutupi kekurangan dana dari PAD sebagai sumber utama APBD. ketimbang hal-hal yang tidak berdampak pada peningkatan partisipasi masyarakat. Kondisi demikian lebih dipeparah oleh perilaku anggota DPRD yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi ketimbang kepentingan konstituennya. karena kosentrasi pejabat yang ada lebih terfokus pada melayani Bupati/Walikota ketimbang melayani masyarakat. Para pelaku otonomi daerah adalah mereka yang diberi kewenangan dan otoritas untuk mengelolah daerahnya. Kondisi demikian sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Kaloh (2002).Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Oleh sebab itu. Kelemahan dalam pelayanan dan rendahnya partisipasi masyarakat banyak dijumpai pada saat pemberian kewenangan ke daerah secara luas. dan Dana Alokasi Khusus (DAK). Tidak optimalnya pembayaran PBB oleh masyarakat berdampak pada rendah Pedapatan Asli Daerah (PAD). yang banyak mempengaruhi berhasil tidaknya pelaksanaan otonomi daerah terletak pada para pelaku otonomi daerah itu sendiri. “problematik yang dihadapi oleh birokrasi pemerintahan kita adalah 7 . yaitu Bupati/Walikota dan seluruh aparat birokrasi yang berada di bawahnya. Keberhasilan pelaksanaan otonomi daerah sangat ditentukan oleh bagaimana perilaku aparatur di daerah dalam melaksanakan tugas dan fungsinya secara bertanggung jawab dan penuh pengabdian. mengemukakan bahwa “salah satu prasyarat tercapainya team work dan konvergensi adalah adanya kejelasan tugas pokok dan fungsi masingmasing institusi pemerintahan”. hal ini sering disebabkan oleh ego sektoral dan kurang koordinasi antar SKPD dalam penyusunan program kerja. serta didukung oleh kerjasama yang baik antar aparatur yang ada dalam membentuk tim kerja  (team work) yang solid. yang implikasi pada kurangnya dana untuk pembangunan. maka tidak mengherankan banyak pejabat di daerah yang ikut jadi pengemis ke pusat untuk meminta tambahan Dana Alokasi Umum (DAU). Kaloh (2002). seyogiyanya mengutamakan pengabdiannya kepada masyarakat (Sapta Prasetya Korpri).

sehingga tujuan terbentuknya daerah otonom yaitu mendekatkan pelayanan pada publik dan peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat terwujud. bahwa “otonomi daerah akan menciptakan raja-raja kecil di daerah dan memindahkan korupsi ke daerah”. mampu berkoodinasi antar SKPD. dan obyek wisata religi Bukit kasih di Kanonang Minahasa. Gaffar dan Rasyid (2003). Dampak dari perilaku demikian. Sebagai contoh kasus misalnya penanganan beberapa obyek wisata yang terrdapat di Propinsi Sulawesi Utara. Raja-raja kecil dan korupsi tidak akan lahir di daerah otonom. begitu sebaliknya waktu ditanyakan pada dinas pariwisata kota manado. banyak program kerja yang saling tumpang tindih karena sudah ditangani oleh beberapa SKPD. Di Provinsi Sulawesi Utara tidak sedikit pejabat yang terlibat kasus manipulasi dan korupsi sehingga mereka berurusan dengan pihak berwajib dan bahkan sudah banyak yang masuk lembaga pemasyarakatan. tumpang tindih program merupakan celah yang terbuka untuk terjadi manipulasi dan korupsi. Perilaku ego sektoral sering ditampilkan oleh para pejabat publik. agar supaya dipandang lebih piawai dalam menyusun program. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Syaukani. akan tetapi tidak memperhatikan tupoksinya. Perilaku saling lempar tangung jawab seperti contoh kasus tersebut memberikan gambaran tentang kinerja aparatur dalam pelayanan publik. sehingga dalam satu daerah otonom akan mengalami kesulitan untuk membentuk tim kerja yang solid. karena obyek wisata taman laut bunaken berada di beberapa wilayah kabupaten kota. kami menanyakan pada dinas pariwisata Provinsi Sulawesi Utara tentang siapa yang bertanggung jawab dalam pengelolaan obyek wisata taman laut Bunaken. Sebab sistem pemerintahan demokratis memberikan peluang bagi masyarakat untuk mengontrol 8 . kami mendapat jawaban bahwa yang bertanggung jawab adalah pemerintah kota manado. Saling lempar tanggung jawab. seperti Taman Laut Bunaken. yang tidak mengutamakan pelayanan tapi hanya lebih mempertontonkan kebolehannya dihadapan atasannya (Bupati/Walokota). Dalam proses pengumpulan data. Dalam kondisi sedemikian ini sulit membangun team work dan konvergensi”. jawabannya adalah pemerintah Provinsi. Pada suatu kesempatan saya mendampingi salah seorang teman yang sedang melakukan penelitian tentang Privatisasi Kebijakan Publik tentang obyek wisata taman laut Bunaken. jika Bupati/Walikota dalam menjalankan sistem pemerintahannya secara demokratis. sulit untuk melacak sumber permasalahan.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 seringkali sesuatu urusan ditangani oleh banyak instansi sehingga muncul masalah.

seorang kepala daerah dalam menjalankan roda pemerintahannya harus bersifat demokratis.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik jalannya pemerintahan. Dalam sistem pemerintahan daerah yang bersifat desentaristik seperti sekarang ini. Untuk mencapai hal tersebut. serta mendekatkan pelayanan pemerintahan pada masyarakat di daerah. dan pihak pemerintah lebih terbuka dalam hal penyusunan program (Musrembang sesuai undang-undang 32 tahun 2004) dan penggunaan anggaran publik benar-benar untuk kepentingan publik. transparan dan akuntabel. tanggung jawab lebih bertumpuh pada kepala daerah yaitu Bupati/Walikota. 9 . Penutup Pelaksanaan otonomi daerah pada prinsipnya adalah percepatan pertumbuhan dan pembangunan daerah. yang pada gilirannya birokrasi pelayanan publik akan berjalan secara optimal. Tidak terjadi tumpang tindih program pembangunan dan tidak membuka ruang bagi koruptor akan berdampak positif bagi kemajuan masyarakat. termasuk diantaranya sumberdaya manusia secara berdaya guna dan berhasil guna. maka tujuan utama utama pembentukan otonomi daerah dapat terealisasi. untuk dapat mengoptimalkan dan memberdayakan segala sumberdaya yang ada di daerahnya.

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik

Edisi 3 / September / 2011

 Daftar Pustaka Kaloh, J., 2002, Mencari Bentuk Otonomi Daerah, suatu solusi dalam menjawab kebutuhan local dan tantangan global, Rineka Cipta, Jakarta.  Lumingkewas, Lexie A., dan Evi E. Masengi, 2008, Reformasi Birokrasi Pemerintahan, dalam perspektif pelayanan publik, Wineka Media, Malang.   Sarundajang, S.H., 2005, Arus Balik Kekuasaan Pusat ke Daerah, Kata Hasta, Jakarta.  . . . . . ., 2005, Birokrasi Dalam Otonomi Daerah, uapaya mengatasi kegagalan, Kata Hasta, Jakarta.   Syaukani, Afan Gaffar, dan M. Ryaas Rayid, 2003, Otonomi Daerah, dalam negara kesatuan, kerjasama Pustaka Pelajar dan Pusat Kajian Etika Politik dan Pemerintahan, Jakarta.

10

Edisi 3 / September / 2011

II
Pelayanan Birokrasi Papua dalam Era Otonomi Khusus
Oleh : Oleh Habel M. Suwae 1, Heru Nugroho 2, Djoko Suryo 3 Habel M. Suwae, mahasiswa Program Doktor Kajian Budaya dan Media Sekolah Pascasarjana UGM, dan Bupati Kabupaten Jayapura Provinsi Papua.
1 2 3

Heru Nugroho, Guru Besar Sosiologi Fisipol UGM

Djoko Suryo, Guru Besar Sejarah FIB Universitas Gadjah Mada

11

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik

Edisi 3 / September / 2011

S

Pendahuluan ebagaimana diketahui, melalui Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001

tentang Otonomi Khusus,

Papua telah diberi kewenangan untuk mengatur pemerintahan sendiri berdasarkan peraturan perundangan. Dengan Otsus para elite politik di Papua kebanyakan memilih bersikap terbuka terhadap masuknya para investor, baik dari dalam dan luar negeri untuk tujuan mengembangkan Papua lebih maju. UU Otsus itu pun memang dengan eksplisit menyebutkan bahwa Papua dikategorikan sebagai daerah tertinggal jika dibandingkan dengan wilayah Indonesia Tengah dan apalagi wilayah Indonesia Barat.
Pilihan strategis politik pembangunan seperti itu membawa konsekuensi daerah ini terus berkembang baik secara politik, ekonomi, maupun kebudayaan. Dalam bidang politik, proses demokrasi terus bergulir tercermin

dalam proses Pemilu Kepala Daerah secara langsung. Lebih dari itu melalui prinsip demokrasi politik, terus dipakai dalam untuk mengubah paradigma pembangunan yang lebih partisipatif. Maka di beberapa wilayah Papua, terutama Kabupaten Jayapuran telah menerapkan model pembangunan partisipatif dalam upaya memberdayakan masyarakat. Di Kabupaten Jayapura telah meluncurkan program pembangunan yang diberi nama “Program Pemberdayaan Distrik dan Kapung”, atau yang lebih populer dengan singkatan PPDK.1 Konsep dan paradigma pembangunan ini diluncurkan sebagai respons atas semakin meningkatnya kecenderungan pola pembangunan sentralistik yang lebih menggunakan pendekatan dari atas-bawah (topdown approach). Berbagai program pembangunan pada saat itu lebih banyak prakarsa datang dari pemerintah, sementara prakarsa dari masyarakat kurang terakomodasi dalam proses perencanaan pembangunan. Partisipasi pun kemudian dipahami menurut tafsir tunggal pemerintah, yaitu yang dimaknai seberapa jauh masyarakat melaksanakan program pembangunan yang dirancang dari atas, dari yang telah ditetapkan oleh
1 Urain lebih lengkap terdapat dalam Poli dan Dahlan Abubakar, 2008, Suara Hati yang Memberdayakan: Gagasan Pemberdayaan Masyarakat di Kabupaten Jayapura, Makasar: Identitas.

12

atau berkembang menjadi birokrasi modern yang mengutamakan profesionalisme dan merit system. politik. bukan sebagai faktor yang memecah belah.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik pemerintah. Masyarakat lokal adalah sejumlah warga yang sudah cukup lama berdomisili pada lokasi tertentu yang mengembangkan kultur atau pandangan hidup bersama (common way of living) yang lama-lama menjadi identitas. dan masing-masing memiliki identitasnya sendiri. Persinggungan dengan dunia luar membuat masyarakat Papua berelasi dengan berbagai budaya dan kepentingan lain yang terus melakukan interaksi secara intens. prinsip pembangunan partisipatif tersebut dilaksanakan secara komprehensif dengan sasaran utama adalah menjadikan warga sebagai subyek pembangunan. Apakah bias primordialisme seperti baik buruknya pelayanan birokrasi disebabkan oleh faktor kesamaan etnis. Melalui PPKD. keberagaman itu justru dijadikan sebagai modal pembangunan dengan mendorong ke arah tujuan bersama yaitu peningkatan kesejahteraan berbasis kemandirian dan keberdayaan. serta semuanya membangun identitasnya masingmasing. Dinamika interaksi sosial itu kemudian membawa implikasi pada dua kemungkinan. pertanyaan menarik adalah bagaimana pelayanan birokrasi pemerintah Papua dalam era Otonomi Khusus sekarang ini. agama. 13 . Papua menjadi wilayah yang terbuka bagi masuknya berbagai aktivitas baik ekonomi. dan mereka itu juga mempunyai identitas masingmasing. maupun sosialbudaya yang dibawa oleh arus modernisasi. Berangkat dari realitas masyarakat Papua yang berkembang semakin plural. yaitu menuju proses integrasi atau konflik. Oleh karena itu multikulturalisme menjadi pilihan utama dalam mengkonstruksi identitas kolektif yang bernama Papua. Mereka itu saling berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain dengan masing-masing menunjukkan indentitasnya. keberagaman dipandang sebagai potensi integrasi. Bersamaan dengan itu. Dengan PPKD. Secara konkret sasaran PPKD adalah warga masyarakat lokal dan masyarakat pendatang. Dengan kata lain. Di samping itu juga terdapat masyarakat pendatang yang datang dari berbagai daerah dan memiliki latar belakang etnis. Masyarakat Papu kemudian berkembang menjadi masyarakat yang plural. agama. sehingga mandiri. Di Papua. dan kultur yang beragam. dan kekerabatan. masyarakat lokal ini mewujud dalam komunitas berbasis etnis yang tersebar di berbagai wilayah baik di pantai dan daratan maupun di pegunungan.

Mereka menganggap bahwa orang Papua adalah orang Papua asli. (Jakarta-Leiden: LIPI-RUL). sebagian ada yang melihatnya secara konservatif dengan latar belakang etnis sebagai basis konstruksi identitas. terbuka ruang bagi warga Papua untuk mengeskspresikan diri identitas kepapuannya. setelah mendapatkan kembali nama Papua yang diakui secara resmi oleh pemerintah pusat. Oleh karena itu etnosentrisme menjadi persoalan dasar di dalam konsolidasi rakyat Papua. Bagi sebagian besar warga Papua. Sejak itu kepapuaan kembali dihidupkan sebagai identitas alternatif dari identitas “Irian Jaya” yang telah identik dengan “Indonesia” beserta penindasan dan praktik kolonialismenya. Setiap kelompok suku secara kultural mandiri dan unik. Sistem Politik Tradisional di Irian Jaya. atas inisiatif Presiden Abdurrahman Wahid atau yang akrab disebut Gus Dur Irian Jaya diubah menjadi Papua. Perubahan nama dari Irian Jaya menjadi Papua. tidak tunduk pada yang lain. Perasaan satu identitas ini disatukan oleh memori penderitaan kolektif dan kongruensi aspirasi yang bersumber dari mitologi sebagian besar suku bangsa masing-masing tentang milenium baru dan mesianisme. Pada era reformasi penggunaan nama Papua menjadi penanda bagi aspirasi bersama itu. Konstruksi identitas kepapuan yang selama ini lebih dibentuk oleh narasi-narasi dominan. pada kurun 1998-1999. penamaan (naming) memiliki signifikansi tinggi terhadap tumbuhnya kepercayaan diri dan pengakuan eksistensial dari dunia luar tentang Papua. Berkembang perasaan di kalangan warga Papua. Struktur-struktur masyarakat Papua yang terdiri dari kurang lebih 250 suku bangsa bersifat otonom satu sama lain. Di dalam kenyataannya budaya semacam ini sulit tumbuh suatu kepemimpinan yang diakui oleh semua kelompok suku bangsa. seperti terlahir kembali. sementara 2 Bandingkan dengan studi yang sudah dilakukan oleh Johszua Mansoben. Kongruensi aspirasi dan identitas kepapuaan baru pada tahap yang sangat dini. Kepapuaan cenderung berhenti sebagai identitas yang dihayati secara “etnosentris” dan emosional.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi Primordial Pada era reformasi. maka setelah kembali bernama Papua.2 Masyarakat Papua sendiri dalam mengkonstruksi identitas kepapuannya. dan setiap suku memiliki kosmologi yang memandang dirinya sebagai pusat dari semesta. bagi rakyat Papua asli merupakan momen yang luar biasa dan berkaitan dengan usaha mencari identitas. 14 . Setiap kepala suku atau pemimpin lokal tidak memiliki otoritas yang penuh kecuali sebagai juru bicara masyarakatnya. Interaksi yang terbatas di masa lalu belum memungkinkan tumbuhnya kesadaran budaya yang relativistik dan toleran.

namun isinya dan perilakunya secara kental diwarnai oleh kaitan primordialnya (Kuntjoro-Jakti. Yang loyal kepada patron diberi sumber ekonomi dan status sosial. 1980). di jajaran birokrasi akan timbul masalah pertukaran antara loyalitas dan pemberian ganjaran. Walikota dan Wakili Walikota harus orang Papua asli. Dalam konteks birokrasi di 15 . Mesin politik itu kadang mencerminkan nilai-nilai serta norma-norma yang kurang rasional. di mana tidak jarang perilaku birokrasi menyerupai interaksi yang bersifat transaksional. hubungan-hubungan yang ada secara interen dan eksteren adalh hubungan antara patron dengan klien yang bersifat sangat pribadi dank has. senantiasa penuh muatan politik. perundang-undangan. atau agama. diterbitkan Peraturan Pemerintah Daerah Otonomi Khusus yang merupakan keputusan politik melalui mekanisme pembahasan di DPRD Papua yang menetapkan bahwa Gubernur dan Wakil Gubernur. Perilaku birokrasi seperti itu sangat terlihat pada era Orde Baru. Fenomena etnosentrisme ini semakin mengental ketika sejumlah elite politik menafsir Otonomi Khusus (Otsus) juga dari perspektif esensialisme yang berakar pada geneologis. Birokrasi semacam itu dikenal sebagai birokrasi primordial (Kartodirdjo. Dampak ikutan atas situasi itu merembes ke praktik penyimpangan kekuasaan.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik penduduk yang datang dari luar etnis Papua dianggap sebagai nonPapua. dan 3 Sejak tahun 2009. dalam politik lokal sekarang elite politik lokal menghendaki adanya Gubernur dan Wakil Gubernur serta Bupati dan Wakil Bupati harus orang Papua asli. terdapat harga yang harus dikeluarkan oleh seseorang ketika berurusan dengan birokrasi. aparat birokrasi di negaranegara berkembang birokrasi sering menunjukkan diri sebagai mesin politik yang tidak netral. daerah. Ada anggapan bahwa berlainan dengan di negara-negara maju. birokrasi seringkali merupakan bagian dari dominasi politik oleh suatu suku. dan tidak mungkin netral (King. Oleh karena itu. atau kelompok-kelompok primordial lainnya. Dalam hubungan semacam itu. Artinya. tidak obyektif. atau pun peraturan-peraturan. Meskipun sebagai birokrasi ia memiliki struktur yang serupa dengan yang ditemui di negaranegara industri maju. dan sebaliknya yang tidak loyal akan dibatasi sumber ekonomi dan karirnya. Dalam birokrasi ini. yang lepas dari konstitusi. 1988).3 Apakah pemahaman yang bias etnosentrisme itu mempunyai implikasi terhadap pelayanan birokrasi? Dalam banyak kasus sedikit-banyak memang memiliki dampak terhadap ketidaknetralan birokrasi dalam memberikan pelayanan terhadap publik. Secara teoretik pemahaman seperti itu sering disebut sebagai birokrasi yang tidak netral. Jadi. 1989). Bupati dan Wakil Bupati.

karena baik etnis Jawa maupun penduduk asli telah menjadi subyek dalam budidaya tanaman kakao. Semuanya dibiarkan tumbuh secara natural. Menado. dalam arti penunjukan pejabat eselon berdasarkan profesionalisme. Bukan sebaliknya. ibit. 16 . Bali. dan lain-lain. Di sektor pertanian. sehingga membentuk identitas baru yang mengaburkan stigma sosial. Kepala Dinas. Pemkab Jayapura. Meskipun demikian warga Papua asli kemudian mulai masuk ke dalam berbagai sektor strategis tersebut. karena fakta menunjukkan bahwa Papua berkembang sebagai masyarakat plural. banyak dijabat oleh pegawai yang berasal dari berbagai daeah seperti Jawa. dalam arti mengikuti hukum pasar. birokrasi pemerintah Papua berusaha menerapkan prinsip multikulturalisme. Sambutan Bupati Kabupaten Jayapura. Bugis. di mana aparat birokrasi yang fungsi utamanya 5 Profil Kabupaten Jayapura. dan bukan atas dasar sentimen etnis. Pemkab Jayapura selama ini juga menghindari prinsip geneologis dan etnosentrisme. memang ada juga kecenderungan aparat birokrasi yang dalam memberikan pelayanan masih berkarakter sebagaimana yang ditunjukkan birokrasi primordial. yang sekarang sangat populer sebagai identitas warga Jayapura. Akan tetapi. Di Papua jabatan seperti Sekretaris Daerah. seperti orang Papua tertinggal dan tidak transformatif. dan bersamaan dengan itu arus demokratisasi juga terus berlangsung. 2009. sama sekali tidak menerapkan kebijakan yang mengarah pada segregasi sosial. birokrasi Papua sangat mempertimbangkan kepentingan publik yang semakin plural. Orientasi terhadap pelayanan publik ini juga ditegaskan pada komitmen pemerintah Kabupaten Papua. Merit sistem benar-benar diterapkan. Sebagai ilustrasi. bahwa setiap warga masyarakat adalah ibarat raja yang harus dilayani. ekonomi. Sedangkan etnis Jawa banyak bergerak pada sektor informal dan pertanian. 2009. Meskipun demikian. sekarang telah menjadi identitas baru warga Kabupaten Jayapura. Batak. dan pimpinan proyek strategis.4 Sedangkan dalam bidang sosial4 Dikutip dari Profil Kabupaten Jayapura.5 Semua itu menunjukan bahwa dalam menjalankan pelayanan publik. kakao misalnya. maka birokrasi pemerintah Papua terus berusaha menuju ke arah profesionalisme dan merit sistem. Eselonisasi dalam jajaran birokrasi sama sekali tidak mempertimbangkan putra daerah. Karena itu seperti di daerah lain. dalam menerapkan kebijakan pada sektor birokrasi pemerintahan. di Papua sektor perdagangan banyak dikuasai oleh etnis Tionghoa dan Bugis Makasar. dalam menjalankan pelayanan publik.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Papua sekarang.

dari yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Dorong Partisipasi Publik Birokrasi pemerintah Papua juga terus mendorong partisipasi publik. baik dilihat dari latar belakang etnis. dan latar belakang sosial ekonomi. Berbagai program pembangunan pada saat itu lebih banyak prakarsa datang dari pemerintah. agama. Islam. masyarakat Papua juga bersifat beragam. upaya memberdayakan masyarakat. masyarakat Papua juga terdiri dari berbagai macam agama. Pendekatan pembangunan yang top-down tidak mampu menggerakkan sikap-sikap aktif pada masyarakat sendiri untuk berkreasi dalam pembangunan. Begitulah. yaitu yang dimaknai seberapa jauh masyarakat melaksanakan program pembangunan yang dirancang dari atas. 2009. Masyarakat Papua sekarang telah berkembang menjadi masyarakat yang plural. Maluku. Khatolik. dan distribusi hasil. Badan Pusat Statistik Kabupaten Jayapura. Konsep dan paradigma pembangunan ini diluncurkan sebagai respons atas semakin meningkatnya kecenderungan pola pembangunan sentralistik yang lebih menggunakan pendekatan dari atas-bawah (topdown approach). dan Batak. seperti Kristen-Protestan.6 Sementara itu dilihat dari latar belakang sosial ekonomi. telah menerapkan model pembangunan partisipatif dalam 6 Dikutip dari Kabupaten Jayapura dalam Angka. bahwa pembangunan belum dianggap berhasil manakala dalam proses pelaksanaannya belum dapat membangkitkan sikap partisipatif pada masyarakat. sementara prakarsa dari masyarakat kurang terakomodasi dalam proses perencanaan pembangunan. Kabupaten Jayapuran misalnya. Dilihat dari keragaman latar belakang etnis. Partisipasi pun kemudian dipahami menurut tafsir tunggal pemerintah. dan ada juga Hindu. Dari aspek keagamaan. sehingga masyarakat sendiri yang akahirnya mampu secara mandiri melanjutkan 17 . atau yang lebih populer dengan singkatan PPDK.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik adalah melayani masyarakat justru minta dilayani. Pemkab Papua juga membuka kotak aduan bagi warga masyarakat yang tidak mendapatkan pelayanan baik dari jajaran aparat birokrasi. agar terlibat dalam proses pembangunan mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan. pilihan birokrasi profesional dan berdasarkan merit sistem itu sesuai dengan realitas empirik masyarakat Papua yang cenderung semakin plural. Di Kabupaten Jayapura telah meluncurkan program pembangunan yang diberi nama “Program Pemberdayaan Distrik dan Kapung”. Minang. Bugis. masyarakat Papua terdiri atas suku Jawa. Sementaran dalam teori pembangunan menjelaskan.

Akan tetapi dalam perkembangan lebih lanjut.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 usaha pembangunan. prinsip pembangunan partisipatif tersebut dilaksanakan secara komprehensif dengan sasaran utama adalah menjadikan warga sebagai subyek pembangunan. yaitu menuju proses integrasi atau konflik. Penutup Begitulah. dan mereka itu juga mempunyai identitas masingmasing. Birokrasi pun kemudian menunjukkan karakter birokrasi primordial. birokrasi pemerintah juga terus mendorong partisipasi publik dalam proses pembangunan menuju pemerintahan yang transparan dan akuntabel. sehingga mandiri. Masyarakat lokal adalah sejumlah warga yang sudah cukup lama berdomisili pada lokasi tertentu yang mengembangkan kultur atau pandangan hidup bersama (common way of living) yang lama-lama menjadi identitas. Di Papua. Dinamika interaksi sosial itu kemudian membawa implikasi pada dua kemungkinan. agama. Dengan PPKD. masyarakat lokal ini mewujud dalam komunitas berbasis etnis yang tersebar di berbagai wilayah baik di pantai dan daratan maupun di pegunungan. Melalui PPKD. Secara konkret sasaran PPKD adalah warga masyarakat lokal dan masyarakat pendatang. Bersamaan dengan itu. disikapi oleh sebagian warga Papua secara primordialistik. sistem rekreuitmen. 18 . birokrasi pemerintah Papua berkembang ke arah yang lebih menunjukkan karakter birokrasi profesional dengan menerapkan merit sistem. serta semuanya membangun identitasnya masingmasing. yang lebih mengutamakan efisiensi dan profesionalisme. dan kultur yang beragam. Di samping itu juga terdapat masyarakat pendatang yang datang dari berbagai daerah dan memiliki latar belakang etnis. dan masing-masing memiliki identitasnya sendiri. keberagaman itu justru dijadikan sebagai modal pembangunan dengan mendorong ke arah tujuan bersama yaitu peningkatan kesejahteraan berbasis kemandirian dan keberdayaan. sehingga personil. dan pelayanan pun ada kecenderungan bias etnosentrisme. pelayanan birokrasi pemerintah Papua dalam era Otonomi Khsusus berkembang secara dinamik. Masyarakat Papua kemudian berkembang menjadi masyarakat yang plural. Mereka itu saling berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain dengan masing-masing menunjukkan indentitasnya. menjadi pertimbangan utama mengedepankan birokrasi rasional. Pada awalnya memang terdapat kecenderungan bahwa pemberian kewenangan pengelolaan politik oleh pemerintah pusat dalam bentuk Otsus. Karakter masyarakat Papua sendiri yang terbuka dan semakin plural.

Direktur Eksekutif Pusat Kajian Strategik Pemerintahan. Muhadam Labolo * Edisi 3 / September / 2011 * Dosen tetap pada Pasca Sarjana Institut Pemerintahan Dalam Negeri Cilandak dan Unlam Banjarmasin Jurusan Ilmu Pemerintahan. Email: muhadamlabolo@yahoo.Foto : Antara III Reformasi Birokrasi dan Implementasi Good Governance Oleh : Dr.com 19 .

perhelatan tersebut tak jelas melahirkan kepemimpinan pemerintahan yang handal. disamping membesarnya struktur birokrasi pemerintahan. meningkatnya belanja aparatur disebabkan oleh bertambahnya rekrutmen pegawai tanpa pengendalian yang jelas.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Pendahuluan R eformasi birokrasi merupakan upaya penataan mendasar yang diharapkan dapat berdampak pada perubahan sistem dan struktur. Kegagalan birokrasi dalam melayani masyarakat selama ini sekaligus menggambarkan buruknya penyelenggaraan pemerintahan baik di level pemerintah pusat maupun daerah. sarana dan prasarana. Sistem berkaitan dengan hubungan antar unsur atau elemen yang saling mempengaruhi dan berkaitan membentuk suatu totalitas. Ironisnya. Peningkatan belanja aparatur dapat dilihat dari hasil evaluasi FITRA (2011). dimana 124 pemerintah daerah cenderung memperlihatkan gejala kebangkrutan. pertama. Ini berarti. sumber daya manusia. Perubahan pada satu elemen kiranya dapat mempengaruhi unsur lain dalam sistem itu sendiri. Kabupaten Lumajang menjadi contoh nyata dimana belanja aparatur membengkak hingga mencapai 83% dari total APBD. Urgensi reformasi birokrasi di Indonesia setidaknya di dorong oleh sejumlah catatan penting. Perubahan tersebut meliputi keseluruhan aspek yang memungkinkan birokrasi memiliki kemampuan yang memadai dalam melaksanakan tugas dan fungsi pokoknya. Bertambahnya pegawai hasil rekrutmen tanpa kompetensi yang jelas serta kebiasaan mengembangkan struktur organisasi membuat pemerintah pusat maupun daerah mengalami defisit anggaran layaknya gali-lubang. lebih kurang 2% pegawai kemungkinan menikmati belanja aparatur. Kedua. Sedangkan perubahan struktur mencakup mekanisme dan prosedur. Besarnya anggaran pemilukada. serta dampak yang ditimbulkan terhadap birokrasi mengakibatkan pemerintah kelimpungan dalam menutup defisit 20 . sisanya sebesar 17% diperebutkan oleh 98% masyarakat dalam bentuk alokasi belanja modal/pembangunan. membengkaknya ongkos demokrasi (pemilukada) mengakibatkan beban kas pemerintah daerah khususnya mengalami peningkatan signifikan. organisasi dan lingkungannya dalam kerangka pencapaian tujuan efisiensi penyelenggaraan birokrasi pemerintahan. tutup-lubang. Struktur berhubungan dengan tatanan yang tersusun secara teratur dan sistematis.

Hal itu disadari bahwa upaya reformasi birokrasi merupakan bagian dari grand desain penciptaan tata pemerintahan yang baik (good governance). 21 . Tentu saja birokrasi pemerintahan sebagai instrument pelaksana menjadi fokus utama yang mesti diperbaiki melalui kebijakan reformasi birokrasi. berbelit-belit. lemahnya pengawasan mengakibatkan pemerintah cenderung bertindak konsumtif. sekalipun pada akhirnya lebih menampilkan potret masalah birokrasi di level pemerintah daerah. Cakupan tulisan ini juga akan menyentuh reformasi birokrasi pemerintahan baik pusat maupun daerah. khususnya daerah di luar pulau Jawa. namun fundamental. bagaimanakah sebaiknya reformasi birokrasi dilakukan. boros. Bagaimanapun juga. Keseluruhan catatan negatif tersebut di dukung pula oleh perilaku buruk birokrasi dalam pelayanan masyarakat seperti sikap yang lamban dan reaktif. serta kurang berorientasi pada kepentingan masyarakat. apakah tantangan yang dihadapi. bekerja secara naluriah (insting). meluasnya perilaku koruptif mendorong birokrasi kehilangan kepercayaan sebagai pelayan masyarakat. birokrasi di daerah mengalami overload. kita semua paham bahwa reformasi birokrasi di level pemerintah daerah merupakan bagian dari kebijakan reformasi birokrasi secara nasional. karakteristik pemerintahan yang baik. enggan berubah. Akibatnya. serta bagaimanakah desain reformasi birokrasi yang mesti dilakukan dalam meminimalisasi meluasnya masalah yang dihadapi? Tulisan singkat ini akan mendeskripsikan tentang makna birokrasi dan good governance. sewenang-wenang dan tak transparan. Perubahan tersebut diharapkan tidak saja bersifat incremental semata. Keempat.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik anggaran. Kelima. atau bahkan kekurangan. masalah dan tantangan yang dihadapi dalam upaya reformasi birokrasi. serta upaya strategis reformasi birokrasi dan implementasi tata kelola pemerintahan yang baik. arogan. nepotisme. Disisi lain rendahnya pendapatan asli daerah menciptakan ketergantungan pada pemerintah pusat. bahkan tak terkontrol akibat tingginya beban organisasi. Konsep ini diharapkan mampu menjembatani suatu kondisi pemerintahan yang buruk (bad government) kearah terbentuknya pemerintah yang baik (good government). tingginya gairah penggemukan organisasi birokrasi pemerintahan tanpa perencanaan dan analisis yang jelas memicu pembiayaan dan rekrutmen pegawai dalam jumlah tak sedikit. Ketiga. sementara belanja pemerintah daerah jauh dari efisiensi. Lebih dari itu birokrasi mengalami dilemma loyalitas akibat terpecahnya konsentrasi pada setiap pesta pemilukada. boros. Masalahnya.

Sekalipun banyak demikian. pelayanan urusan yang lebih rinci pastilah berhubungan dengan apa yang lazim kita sebut dengan birokrasi. Pada tingkat pragmatis. Apabila sumber kekuasaan berasal dari rakyat banyak lazim disebut demokrasi. Ini bisa dimaklumi. 2 Adam Kuper dan Jessica Kuper. birokrasi berasal dari kata bureaucracy (Inggris).74-75. Ensiklopedi Ilmu-Ilmu Sosial. burocrazia (Italia) dan bureaucatie (Perancis). Istilah ini dimunculkan kembali oleh filosof Perancis. Albrow1 mengembangkan konsep birokrasi dari berbagai sudut pandang. sebab pemerintahlah yang paling mungkin memiliki kekuasaan membuat aturan. 22 . Makna bureau (baca:biro) identik dengan kenyataan dalam birokrasi. volume 3. Semua masalah relatif diselesaikan di atas meja. eksploitatif. dalam Encyclopaedia of the Social Sciences. Harvard Universty Press. sebab secara historis. Cracy (kratos) sendiri menunjukkan arti kekuasaan atau aturan. yang berarti meja atau kantor. 3 Laski. 4 Michaels. lewat kalimat provokatif Michel (1962)4 menyatakan bahwa siapa yang bicara tentang organisasi. oportunis. Pejabatnya biasa duduk di belakang meja. Theory of Public Bureucracy. Secara etimologis. yang kemudian mendefenisikan birokrasi sebagai suatu sistem pemerintahan dimana kontrol sepenuhnya berada di tangan para pejabat yang sampai pada batas tertentu dapat menunda atau mengurangi kemerdekaan warga negara biasa3. Raja Grafindo. Sinisme atas gejala tersebut melahirkan istilah bureaumania. H. atau bahkan proses dan sumber dari semua aturan dalam hubungan antara yang memerintah dan yang diperintah. koruptif dan nepotism. Jakarta. Demikian pula apabila sumber kekuasaan tersebut dikendalikan oleh sekelompok rakyat pintar (profesional) dikenal dengan istilah oligarkhi. boros. Bahkan. Bureaucracy. Political Parties. birokrasi traditional di Perancis (abad 18) menampilkan wajah demikian. Logikanya. Statement ini setidaknya sejalan dengan pikiran Gornay dan Laski (1930). represif.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dan Good Governance Konsep birokrasi sendiri lazim merujuk pada gagasan Maximilliam Weber (1864-1920). kolutif.Warwick. atau burocratie (Jerman). Dalam padanan lain seringkali dihubungkan dengan istilah pemerintahan (proses). jika urusan diselesaikan di bawah meja mungkin saja bertentangan dengan makna etimologisnya. R. Baron de Grimm atas catatan Vincent de Gournay2. dimana struktur di bentuk lebih banyak menyelesaikan pekerjaan di atas meja. pastilah bicara tentang oligarkhi. New York dan London. Dua contoh lain hasil asimilasi yang sebangun dengan kata itu misalnya konsep demokrasi dan oligarkhi. 1962. Cambridge Massachussets. 2000. hal. New York. 1 Martin Albrow dalam Donald P.

Sejauh ini. Karakteristik dimaksud antara lain adanya suatu jabatan.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Secara fungsional. Birokrasi. Sebaliknya. misalnya meja ukuran bagian atau setengah bagian. Semakin ke puncak semakin langka pemegang kekuasaan. dalam makna konkrit adalah organisasi yang memiliki rantai komando berbentuk piramidal. kantor menjadi instrument pemerintah pusat di daerah. Di Indonesia. Kompas. hierarkhi. Pengertian kedua (kantor). Kita sering menyebut kantor pada hampir semua organisasi yang secara fisual terlihat melalui bangunan megah. birokrasi adalah organisasi rasional dengan segenap karakteristik yang melekat didalamnya. pemerintahan yang bernuansa demokratik biasanya meletakkan kontrol pada level pemerintahan tertentu yang untuk selanjutnya melakukan pengawasan secara berjenjang (desentralistik). Membedah Hukum Progresif. Dalam konteks Indonesia. biro hukum. sebab ia mengokohkan kepemimpinan dengan wewenang yang lebih luas. Jakarta. biro pemerintahan. 23 . wewenang. baik pada instansi militer maupun sipil. Kantor menjadi unit paling kecil ukurannya sebelum menanjak menjadi Badan atau Dinas. struktur organisasi pemerintah daerah misalnya menggunakan istilah kantor untuk membedakan unit tersebut dengan dinas dan badan. di level organisasi provinsi dan pusat misalnya. untuk membedakan secara teknis. formalitas. biro umum dan sebagainya. Mungkin inilah yang di sebut Rahardjo (2010)5 sebagai pendekatan hukum progresif dalam pelayanan birokrasi menurut perspektif hukum. tak ada istilah lain untuk ukuran meja selain biro. Demikian pula kantor pada organisasi swasta. seperti kantor wilayah (kanwil) dan kantor departemen (kandep). dimana lebih banyak orang berada di tingkat bawah daripada tingkat atas. Pada pemerintahan yang bersifat sentralistik. Secara faktual. disiplin. lengkap dengan sistem dan peralatannya. tugas. seorang pejabat memiliki meja dengan ukuran biro atau setengah biro. sistem. merujuk pada hampir semua bentuk organisasi baik sipil maupun militer. instrument pemerintah pusat dapat menjangkau hingga ke level pemerintahan paling rendah (dekonsentratif). kita banyak menemukan istilah biro pada struktur organisasi. terdapat jabatan biro yang dipimpin oleh seorang kepala biro setingkat eselon dua. Karakteristik tersebut membentuk birokrasi sebagai alat untuk mencapai tujuan kolektif. 5 Satjipto Rahardjo. kecakapan dan senioritas. biro organisasi. Di level provinsi. Dalam perspektif Weber. profesional. Ia membawahi sejumlah bagian dan subbagian pada level paling rendah. Sebagai contoh. realitas pelayanan justru menjadi lebih efisien dan efektif jika tanpa melalui meja birokrasi yang terkadang berbelitbelit dan menguras energi. Bahkan. 2010.

Demikianlah kekuasaan mengalir menurut hukum alam (natural of law). Pada level gubernur. Pada contoh yang lebih nyata. Kekuasaan tersebut dialirkan secara hirarkhis melalui Menteri.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Sebaliknya. Birokrasi pada akhirnya dapat dipandang sebagai cerminan dari pelembagaan kekuasaan yang mengalir deras dari tingkat atas hingga bawah. kekuasaan tersebut mengalir sebagaimana siklus air hujan. tetapi ia semakin menunjukkan wewenang yang lebih terbatas. apakah terserap oleh akar pohon atau terkumpul pada wadah perbukitan yang mengalir melalui sungaisungai besar dan kecil menuju laut. Pada suatu ketika. air hujan merupakan hasil serapan dari laut berupa uap akibat tekanan panas matahari yang dibawa angin membentuk gumpalan awan hitam. gumpalan awan hitam tersebut pecah menjadi butiran hujan yang jatuh dan mengumpul di suatu tempat. Gubernur. Dari aspek ini birokrasi secara praktis merupakan instrument/alat dari kekuasaan untuk mencapai tujuan pemimpin maupun tujuan bersama yang diemban oleh pemimpin dimaksud. Kekuasaan dalam konteks ini mengalami formalisasi yang dirinci dan dipertanggungjawabkan secara 24 . lalu dilembagakan dalam struktur formal seperti biro pemerintahan. Demikian pula aliran kekuasaan pada level kabupaten/ walikota hingga pemerintah desa. Ia dimulai dari suatu kekuasaan yang maha besar. Dari aspek ilmu pengetahuan (antroposentris). bagian pemerintahan dan seterusnya. Kekuasaan tersebut pada akhirnya habis terbagi dalam bentuk spesialisasi dan struktur yang lebih kecil. Kekuasaan lahir dari rakyat kebanyakan (demokrasi). Tekanan konflik dan sejumlah motivasi tertentu mendorong terbentuknya representasi pemegang kekuasaan. Camat. Dimulai dari gumpalan awan yang di pandang sebagai pemberian Tuhan (teosentris). sebagian besar tersisa menjadi lautan luas. semakin ke bawah semakin banyak pegawai. kekuasaan dibagi berdasarkan jumlah wewenang yang diterima. Tidak semua menguap. Siklus air hujan secara sederhana dapat kita persamakan dengan siklus kekuasaan. Dalam pendekatan ilmu alam. lalu mengalir kedalam struktur yang dibagi secara khusus. seorang presiden hasil pilihan rakyat memiliki kekuasaan luas. Lurah hingga Kepala Desa. sekalipun dalam teori kedaulatan dapat bersumber dari Tuhan (teokrasi) dan atau sedikit orang (aristokrasi). Bupati/Walikota. Para pemegang kekuasaan (pemerintah) baik diyakini merupakan representasi dari kedaulatan Tuhan (teokrasi) atau hasil pilihan masyarakat (demokrasi) secara konkrit membentuk organisasi pemerintahan yang untuk selanjutnya mengalirkannya dalam bentuk struktur-struktur formal birokrasi dari tingkat pusat hingga level pemerintahan paling rendah.

Kedua. dua alasan utama yang mendorong lahirnya gagasan penciptaan pemerintahan yang baik adalah pertama. Upaya-upaya dalam rangka penerapan kekuasaan melalui serangkaian mekanisme untuk menjamin akuntabilitas. Setidaknya hal ini terlihat dalam pembentukan serangkaian aturan atau struktur otoritas dalam komunitas tertentu yang memainkan peran atau fungsi pengelolaan sumber daya termasuk dalam menjaga tatanan sosial. nepotisme. demikian pula kewajiban dan hak yang saling mengikat antara mereka yang memerintah dan mereka yang diperintah. Dalam perspektif negaranegara maju. Keabsahan tersebut diharapkan mampu merefleksikan suatu pemerintahan yang baik dengan berbagai ciri yang terkandung didalamnya. fenomena pemerintahan dewasa ini telah meluas tidak saja pada dunia pemerintah semata. individualisme serta hilangnya legitimasi politik khususnya pada negara-negara yang kurang mampu dan tanpa sistem demokrasi yang memadai. Atau dengan kata lain. Berlawanan dari konsep ideal yang ingin dikembangkan. Seperti digambarkan oleh Mark Robinson (2000:417). bad government (pemerintah yang buruk) menjadi alasan bagi lembaga international untuk mengembangkan pola yang lebih mungkin dalam kaitan dengan manajemen ekonomi dan politik global. legitimasi dan tranparansi pada berbagai sektor diluar pemerintah menunjukkan gejala pemerintahan yang semakin menguat. Pengembangan konsep ini didorong oleh gejala meningkatnya hambatan-hambatan administrasi dan politik dalam pembangunan dunia ketiga. Ini tentu saja berkaitan dengan tanggungjawab pemerintah pada masyarakatnya. birokrasi hadir dan merujuk pada bagaimana cara pemerintah melaksanakan dan membuat peraturan-peraturan yang sah secara sosial. tetapi juga pada ruang non pemerintah seperti perusahaan. Inilah yang disebut dengan wewenang (authority). pemangkasan peran pemerintah sejauh mungkin dengan 25 . gagalnya pemerintah menjalankan fungsinya yang ditandai oleh tidak bekerjanya hukum dan tata aturan sehingga menimbulkan ketidakpercayaan pada pemerintah tentang bagaimana seharusnya pemerintah berinteraksi dengan masyarakatnya. kolusi. Meluasnya upaya untuk menata pemerintahan kearah yang lebih baik mendorong donor international untuk mengembangkan konsep good governance (pemerintahan yang baik). Gejala tersebut antara lain meningkatnya korupsi. tekanan dari kelompok neo-liberal yang mendukung dikuranginya peran negara dan pengimbangan kekuasaan kepada penyediaan layanan oleh pembeli dan pengatur. Dalam kaitan itu.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik jelas.

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 cara penyerahan kepentingan antara penjual dan pembeli pada mekanisme pasar. serta memiliki visi strategis. Meletakkan tanggungjawab satusatunya pada sektor pemerintah bukanlah gagasan terbaik untuk menciptakan pemerintahan yang baik. Sekalipun upaya-upaya untuk menciptakan pemerintahan yang lebih baik dilakukan misalnya melalui desentralisasi kekuasaan. Sebagai pemerintah. Ketiga komponen tersebut sepatutnya berjalan secara paralel. legitimasi dan transparansi. tanggungjawab diperlukan sebagai konsekuensi terhadap semua jenis kontrak dari level paling bawah hingga pusat pemerintahan. saling mendukung dan saling berinteraksi. merujuk pada tanggungjawab setiap aktor dalam interaksi berpemerintahan. transparansi. Akuntabilitas. responsif. Karakteristik Good Governance Menurut UNDP (1997). tertib hukum. Komponen yang terlibat tidak saja domain pemerintah sebagai pelaksana. Interaksi tersebut hendaknya dilandasi oleh sejumlah karakteristik yang memungkinkan tata kelola pemerintahan berjalan baik. reformasi pemerintahan. Dalam konteks ini. tetapi juga meliputi kelompok swasta sebagai pemegang modal dan masyarakat selaku civil society. Tanggungjawab pemerintah pada segenap stakeholders selaku pemetik manfaat setidaknya memicu tumbuhnya trust sebagai modal bagi kontinuitas pemerintahan. Tanggungjawab pada elemen masyarakat dibutuhkan agar masyarakat sadar akan apapun output 26 . reorientasi birokrasi serta perluasan partisipasi publik untuk mengembalikan akuntabilitas. Tanggungjawab merupakan nilai yang mampu menjembatani relasi antara pemerintah dan masyarakat untuk menjamin keberlangsungan pemerintahan. Uraian selanjutnya akan mengembangkan makna dari sejumlah karakteristik yang melekat dalam konsep good governance. Tanggungjawab merupakan nilai penting yang semestinya berlaku pada semua elemen dalam proses pemerintahan. Bagaimanapun kita masih percaya bahwa menciptakan pemerintahan yang kuat mutlak dibutuhkan bagi stabilitas politik yang dapat menjamin keberhasilan pembangunan. efisiensi dan efektivitas. kebijakan demikian semakin memperkokoh tumbuhnya demokrasi liberal yang pada akhirnya mendorong kembalinya pemerintah (eksekutif) meningkatkan kontrol yang lebih represif. konsensus. good governance lebih menitikberatkan pada aspek proses melalui pendekatan fungsional guna mencapai tujuan yang diinginkan. partisipasi. namun tidak berarti sepi dari dampak pengelolaan pemerintahan. Di negara-negara berkembang. pemerintahan yang baik setidaknya memiliki karakteristik akuntabilitas. adil.

bukan saja pemerintah. Pada akhirnya. seharusnya dapat dipertanggungjawabkan secara murni dan konsekuen. atau mengalami perubahan dipersimpangan jalan sesuai kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu. demikian pula sektor swasta dan masyarakat pada tingkat tertentu. Penyakit demikian bukan saja melanda pemerintah. para pemegang modal (swasta) seyogyanya memegang prinsip tanggungjawab dalam interaksi dengan masyarakat dan pemerintah. termasuk bertanggungjawab terhadap kegagalan pemerintah yang dipilih oleh mereka sendiri. menunjukkan keterlibatan masyarakat dalam penyusunan dokumen perencanaan pembangunan. Akibatnya. Perencanaan yang transparan meyakinkan masyarakat tentang sejauhmana kepentingan mereka mampu didokumentasikan secara jujur oleh pemerintah. Demikian pula pada elemen lain. Setiap tindakan yang secara praktis berkaitan serta membebani masyarakat dan pemerintah. Partisipasi aktif masyarakat lebih jauh 27 .Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik pelayanan yang diberikan merupakan upaya paling maksimal yang dapat di produk pemerintah. Ketiadaan nilai transparansi seringkali ditunjukkan oleh mandeknya semua dokumen perencanaan tanpa realisasi. Rendahnya transparansi pemerintah berkenaan dengan perencanaan dan implementasi kebijakan menunjukkan lemahnya itikad baik dalam mewujudkan tujuan dan harapan masyarakat. Partisipasi. Sulit membayangkan jika pihak swasta lari dari tanggungjawab tersebut. Hal ini dapat dilihat dalam kasus projek Pembangunan Wisma Atlit di Kemenpora. Transparansi. juga memelihara semua produk pelayanan yang diberikan. tanggungjawab masyarakat tidak saja memanfaatkan seefektif mungkin apa yang diberikan oleh pemerintah. sebab ketiga elemen tadi memiliki batasan terhadap tanggungjawab masing-masing. Pada tingkat yang lebih jauh. merupakan karakteristik yang memungkinkannya terbangunnya kepercayaan masyarakat terhadap apa yang diartikulasikan pemerintah dalam hal kepentingan dan kebutuhan masyarakat. semua perencanaan pemerintah kehilangan koneksitas dengan kepentingan masyarakat. indikasi meluasnya perilaku koruptif dalam pemerintahan semakin meyakinkan masyarakat bahwa pemerintah kehilangan karakteristik transparansi dalam menjalankan fungsi pelayanan. Kasus Lumpur Lapindo di Indonesia (2005) mereflesikan tanggungjawab keseluruhan elemen. swasta dan masyarakat. Salah satu sorotan utama dewasa ini adalah seberapa efektif pemerintah mampu memperjuangkan kepentingan masyarakat melalui anggaran yang tersedia. seberapa kuat komitmen pemerintah dalam merealisasikan semua perencanaan yang telah disepakati. Selain itu.

dibutuhkan kesadaran pemimpin untuk memberikan contoh sehingga mampu mendorong terwujudnya tertib hukum. adalah karakteristik pemerintah yang mampu memberikan tanggapan sedini mungkin. Pemerintah yang buruk seringkali mengidap perasaan curiga yang berlebihan ketika masyarakat terlibat dalam setiap proses perencanaan pembangunan. selain melibatkan mereka dalam hal tanggungjawab yang lebih luas. Sebaliknya. Kegagalan merespon setiap masalah yang dihadapi masyarakat menunjukkan ketidakpedualian 28 . Masalah berikut justru terletak pada rendahnya keterbukaan pemerintah dalam melibatkan partisipasi masyarakat. terhadap setiap masalah yang dihadapi masyarakat. sekaligus memperlihatkan tingkat aksebilitas masyarakat terhadap pemerintah. Faktor pendidikan menjadi kunci penting dalam mendorong kesadaran masyarakat. kemungkinan kesadaran mereka rendah pula disebabkan rendahnya tingkat pendidikan yang diperoleh sehingga bersikap apatis. Kehadiran pemerintah dalam setiap pelayanan masyarakat mengindikasikan hadirnya perlindungan bagi masyarakat. Ketaatan hukum memberikan landasan bagi pemerintah dalam menjalankan visi dan misi yang diemban. sehingga pemerintah terkesan sulit melibatkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan. sekaligus menunjukkan adanya hukum itu sendiri. Disini terlihat jelas bahwa jika partisipasi masyarakat rendah. Kemampuan memberikan jawaban atas setiap masalah yang dihadapi masyarakat menunjukkan kemampuan pemerintah dalam memahami apa yang menjadi kebutuhan utama masyarakat. kemungkinan kesadaran pemerintah juga rendah sehingga mendorong kecurigaan terhadap setiap keterlibatan masyarakat. Dalam hubungan itu. Tertib hukum dimaksudkan untuk menciptakan social order. Semakin rendahnya kepatuhan hukum masyarakat menunjukkan semakin rendah pula tingkat penerimaan masyarakat terhadap pemerintahnya. Tertib hukum merupakan karakteristik yang memungkinkan terciptanya masyarakat taat hukum. jika pemerintah enggan melibatkan partisipasi masyarakat. yaitu suatu kondisi tertib bermasyarakat. Rendahnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan pemerintahan disebabkan oleh rendahnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya partisipasi dalam pembangunan. Itulah mengapa seringkali gejala pemerintahan dipandang sebagai gejala hukum. Kondisi ini tentu saja berhubungan dengan nilai transparansi. Responsif. sadar akan aturan yang diperuntukkan bagi kepentingan masyarakat itu sendiri.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 menggambarkan sejauhmana kepentingan mereka telah terakomodir dengan baik.

Karakteristik visi strategis berkaitan dengan kemampuan pemerintah dalam mewujudkan citacita ideal namun realistis berdasarkan kebutuhan masyarakat. Visi menggambarkan masa depan pemerintahan dan memuat cita-cita ideal masyarakat yang dapat diwujudkan oleh 29 . tanpa penalaran jauh kedepan. Visi diharapkan menjadi petunjuk yang dapat dikonkritkan dalam bentuk misi. adalah karakteristik yang menggambarkan kemampuan pemerintah dalam membangun kesepakatan antara tuntutan secara bottom-up dan topdown. Pencapaian tujuan dengan mempertimbangkan aspek efisiensi dan efektivitas dapat mendorong produktivitas pemerintahan menjadi lebih berkualitas tanpa membuang modal yang besar. Kegagalan membangun konsensus dapat meruntuhkan kepercayaan masyarakat dimana pemerintah dapat dinilai mengkhianati amanah yang diberikan. statement pemerintah sekalipun dapat dinilai sebagai respon positif terhadap masalah yang sedang mereka hadapi. Kondisi tersebut membuat pemerintah mengalami beban anggaran yang cukup besar selain tak mampu membuat kebijakan strategis. jangankan kehadiran. Efisiensi dan efektivitas merupakan karakteristik good governance yang merefleksikan kemampuan pemerintah dalam pencapaian tujuan secara tepat guna dan hasil guna. Kemampuan pemerintah memelihara konsensus yang telah dibangun dapat diartikan sebagai kemampuan pemerintah dalam memelihara amanah. Keadilan lazimnya melekat pada para pelaku pemerintahnya. Tanpa visi yang jelas pemerintah sebenarnya hanya menjalankan fungsi secara instingtif. program hingga kegiatan teknis. khususnya pemimpin. Dalam perspektif masyarakat. kecuali membiayai pegawai dilingkungannya masingmasing.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik pemerintah serta hilangnya sense of belonging atas problem yang dialami oleh masyarakat. Komitmen bersama berkaitan dengan kepentingan stakeholder dalam mewujudkan tujuan yang diamanahkan pada pemerintah. Keadilan merupakan salah satu tujuan ingin dicapai oleh setiap pemerintah. Keadilan bertujuan untuk menciptakan pemerataan. Adil merupakan karakteristik yang dapat mendorong akseptabilitas masyarakat pada pemerintahnya. Kegagalan pemerintah dalam mempertimbangkan efisiensi dan efektivitas membuat pemerintah kehilangan modal serta tak mampu berbuat banyak. Konsensus. Konsensus merupakan landasan bagi pencapaian komitmen bersama. sekaligus memberikan hak dan kewajiban secara proporsional. Konsensus juga merujuk pada bagaimana pemerintah membangun kesepahaman yang memungkinkan semua kepentingan dapat diakomodir pada saluran yang tersedia.

adalah tentang jaringan aktor yang bersifat mandiri dan mengatur sendiri. Trust. Pemerintahan yang bertolak dari visi adalah pemerintahan yang memiliki pandangan jauh kedepan. Penciptaan tata kelola pemerintahan yang baik bukanlah semata-mata menjadi bagian dari kebijakan pemerintah. mengidentifikasi kekaburan batas dan tanggungjawab untuk menangani isu-isu sosial ekonomi. reciprocity. yaitu. Kedua. Kelima. demikian pula pihak swasta dan masyarakat luas. Kedua. tetapi juga dapat menjadi positive sum game. tantangan reformasi birokrasi meliputi tiga masalah pokok. namun bersentuhan pula dengan nilai dan sikap yang dianut oleh pihak swasta dan masyarakat. merujuk pada seperangkat institusi dan aktor yang terdapat pada dan di luar pemerintah. faktor internal yang meliputi ketidakmampuan birokrasi mengubah dirinya menjadi lebih baik. Keempat. authority yang berarti eksistensi kekuasaan yang legitimate. menyebutkan empat variabel dalam konsep governance. Accountabilitypada dasarnya memperkuat kepercayaan masyarakat dan sebaliknya. 2002:14). Secara umum. Menurut Gerry Stoker (1998). Visi strategis membutuhkan kesinambungan dalam mengawal agenda-agenda yang telah ditetapkan. faktor keraguan publik terhadap efektivitas kebijakan yang direncanakan dan diimplementasikan oleh birokrasi. Tantangan Reformasi Birokrasi dan Good Governance Menurut Muhammad (2007). serta memiliki cita-cita yang bersifat jangka panjang serta berkelanjutan. Ketiga. Ketiga. karakteristik tersebut menjadi variabel penting tidak saja bagi pemerintah. mengidentifikasi ketergantungan kekuasaan yang terdapat dalam hubungan antara institusi yang melakukan tindakan kolektif. yaitu pertama. Governance memandang pemerintah mempunyai kemampuan untuk menggunakan alat dan teknik baru dalam mengarahkan dan menuntun. faktor eksternal berkenaan dengan tingginya intervensi politik yang membuat birokrasi kehilangan konsentrasi dalam menjalankan fungsi pelayanan. secara kompetitif atau koperatif dalam mengejar tujuan bersama. Inilah sejumlah karakteristik pemerintahan yang baik (good governance) menurut UNDP. Disamping itu. pertama. mengakui kapasitas guna menyelesaikan sesuatu yang tidak bersandar pada kekuasaan pemerintah untuk memberikan komando atau menggunakan otoritasnya.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 pemimpinnya sejauh ia mampu dan konsisten. Hayden (dalam Hamdi. proposisi governance meliputi lima hal yaitu. yang diartikan hidup bersama dan terikat. Faktor pertama disebabkan oleh kelemahan birokrasi dalam 30 . yaitu pengembangan pandangan penggunaan kekuasaan tidak selalu merupakan zero-sum game.

Menyandarkan pelayanan dengan meletakkan prinsip impersonalitas secara kaku sebagaimana dimaksud Weber tidaklah menciptakan rasa keadilan yang memadai. Pelayanan birokrasi disandarkan pada hubungan kekeluargaan yang bersifat emosional. Tingginya dinamika masyarakat dalam menuntut pelayanan yang lebih baik tak serta merta diimbangi oleh kemampuan birokrasi dalam mengembangkan kecerdasan. sebab hanya mereka yang dikenal secara personal saja yang akan dilayani. yaitu suatu hubungan yang bersifat impersonal. Pendekatan struktural dalam pelayanan seringkali berhadapan dengan aturan dan norma yang berlaku. harus diberikan insentif yang seimbang agar pelayanan tetap diberikan secara merata. Setiap masyarakat yang dilayani terdiri dari masyarakat yang mampu dan tak mampu secara fisik dan non fisik. Harus diakui bahwa perbedaan kultur di dunia barat dan timur merupakan kenyataan yang harus diakui dalam pemberian pelayanan pada masyarakat. Ketidakmampuan birokrasi memahami pluralitas dalam masyarakat seringkali menimbulkan ketidakadilan dalam pelayanan. Mereka yang secara fisik tak mampu. bagaimana jika tuntutan masyarakat melampaui aturan itu sendiri yang kadangkala datang terlambat. kecakapan dan keterampilan dalam pengelolaan pemerintahan. Dalam konteks ini diperlukan birokrasi yang mampu beradaptasi dengan perkembangan masyarakat. namun fungsional. sehingga sulit menyelesaikan masalah secara tuntas. serta mampu menjawab setiap persoalan tidak saja secara struktural. Polapola pendekatan dan pelayanan kepada masyarakat secara nyata menunjukkan indikasi perilaku traditional. Sebaliknya. Apakah dengan alasan yang sama pemerintah mesti menolak pelayanan kepada 31 . Pola penyelesaian masalah dengan menyandarkan semua pada aspek regulasi tak selalu membawa hasil maksimal. Sedangkan mereka yang tak mampu secara non fisik. Masyarakat seringkali merasa frustasi karena pelayanan mereka mengalami kebuntuan hanya karena ketidakmampuan birokrasi saat menerjemahkan aturan yang berlaku. menyandarkan pelayanan dengan meletakkan hubungan personalitas secara keseluruhan sama halnya dengan menciptakan diskriminasi bagi kelompok masyarakat yang tak memiliki akses secara langsung pada pemerintah. Sebaliknya. atau bahkan terjadi kekosongan regulasi. tentu saja membutuhkan pendekatan untuk dilayani secara jemput-bola. jauh dari karakter ideal birokrasi. kelompok birokrat terkesan seperti robot yang kehilangan rasa kemanusiaan ketika semua perkara diselesaikan berdasarkan aturan yang berlaku.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik memperbaharui kinerjanya sesuai perkembangan lingkungan. seperti masalah finansial. Persoalaannya.

Politisasi birokrasi menciptakan hubungan antara eksekutif dan legislatif mengalami dinamisasi serius kalau tidak ketegangan yang berkesinambungan. diperlukan pendekatan fungsional yang dapat menyelesaikan hingga ke akar masalah. khususnya di level pemerintah pusat. tidak berupaya menyelesaikan masalah secara tuntas. Perlu diingat bahwa melandaskan semua pelayanan secara fungsional juga tidak tepat. namun menimbulkan overlap serta kurang produktif. Birokrasi yang mengambil jarak secara tegas dengan kelompok politisi justru mengalami ketegangan karena rentan kehilangan jabatan. Akibatnya. sekaligus pada saat yang sama gagal melayani masyarakat sesuai misi yang dipikulnya. seperti yang dikatakan oleh Dwiyanto (2011). serta bobolnya APBD pada saat perencanaan dan penetapannya. merupakan cerminan dari pola penyelesaian masalah dengan menggabungkan pendekatan struktural dan fungsional. lembaga dan komisi yang bersifat mezzo-struktur disamping lembaga formal yang telah ada. birokrasi yang mengambil jalan kompromi pada akhirnya turut mempersubur tingkat kebocoran anggaran baik di pusat maupun daerah. karena melakukan persengkokolan kolektif. Faktor kedua yang menjadi tantangan reformasi birokrasi adalah tingginya intervensi politik dalam birokrasi. Sisanya kelompok birokrat yang mengambil sikap apatis terhadap dinamika yang terjadi 32 . Dewasa ini. sebab semua pelayanan pada dasarnya membutuhkan pelembagaan formal sehingga dapat diawasi dan dikendalikan. Akibatnya. Sekalipun demikian bukan berarti tanpa catatan. birokrasi mengalami pemecahan konsentrasi. Politisasi birokrasi mendapatkan ruang ketika kelompok elit partai politik memanfaatkan momentum pemilukada untuk menggerakkan birokrasi sebagai mesin politik sekaligus aktivis politik. Dalam konteks ini birokrasi seringkali menyimpan dan merawat masalah untuk kepentingan tertentu. Lahirnya badan. Mereka yang dominan bersandar pada calon incumbent seringkali mengalami disorientasi saat kalah dalam kompetisi pemilukada. Pendekatan fungsional dalam pelayanan merupakan pola pendekatan untuk mengimbangi pendekatan struktural yang terkadang menghambat. pola pendekatan fungsional mengalami banyak kemajuan. membutuhkan waktu lama serta mengeluarkan biaya yang tak sedikit. Pecahnya konsentrasi birokrasi disebabkan sirkulasi kepala daerah setiap lima tahun sekali. lembaga-lembaga tersebut tidak saja membebani anggaran birokrasi pemerintah secara umum. berbelitbelit. Indikasi tersebut bisa diketahui lewat ramainya kebocoran anggaran APBN oleh Badan Anggaran.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 masyarakat? Oleh sebab itu.

Intervensi politik terhadap birokrasi telah merangsang nafsu aparat untuk membangun komitmen rahasia dengan para elit dalam masa sirkulasi kekuasaan. Dalam konteks ini terbangun koalisi efektif antara eksekutif dan legislatif dalam pembobolan anggaran. serta rendahnya konsultasi publik terhadap rancangan peraturan yang dibuat. Keadaan ini jelas mengembangkan perilaku koruptif dalam birokrasi sebagai konsekuensi dari hubungan yang bersifat transaksional. Mobilisasi sumber daya dilakukan bahkan secara terang-benderang melalui rekrutmen pegawai berdasarkan hubungan primordial dan patronase. Rendahnya pendidikan serta kurangnya analisis terhadap setiap kebijakan yang diproduk. 33 . yang dapat dilihat dari sikap dan orientasinya yang cenderung melihat keatas. Semua itu di dukung oleh kemampuan kepala daerah dalam memobilisasi sumber daya melalui sebagian anggota tim sukses yang berasal dari jajaran birokrasi. Komitmen tersebut berupa transaksi politik yang berujung pada persoalan siapa dapat apa. daripada melihat kebawah. Rendahnya kredibilitas birokrasi dalam mendesain suatu kebijakan dapat diketahui dari rendahnya keterlibatan pakar dalam bentuk asistensi. menjadikan birokrasi tak mampu membuat kebijakan yang efektif dalam menyelesaikan masalah. Faktor ketiga tantangan reformasi birokrasi adalah keraguan masyarakat terhadap setiap kebijakan yang dilaksanakan oleh birokrasi. Tingginya resistensi yang ditandai oleh meningkatnya demonstrasi masyarakat dan pihak swasta yang merasa dirugikan oleh setiap kebijakan yang ditetapkan menunjukkan dua alasan diatas. Keseluruhan indikasi tersebut bermuara pada rendahnya kualitas rancangan kebijakan sehingga menimbulkan resistensi dari para pemangku kepentingan (stakeholders). birokrasi terkesan bukan milik masyarakat namun elit berkuasa. Sikap ekslusivisme dan seakan tau semua masalah mendorong birokrasi pada perilaku arogan ketika merespon setiap tuntutan masyarakat. juga masalah kredibilitas birokrasi. ketiadaan naskah akademik terhadap rancangan peraturan (khususnya peraturan daerah). namun berusaha menutupi kelemahan kebijakan tersebut. Kekuasaan yang besar membuat birokrasi terombang-ambing serta sulit menentukan netralitasnya sebagai pelayan masyarakat. Akibatnya. Keraguan masyarakat dan pihak swasta terhadap efektivitas kebijakan birokrasi disebabkan selain oleh dua faktor diatas. berapa banyak dan kapan. bukan merit sistem apalagi kompetensi.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik dalam setiap rotasi pemerintahan. Kelemahan rancangan kebijakan pada tahap perencanaan hingga tahap implementasi tak serta merta membuat birokrasi melakukan evaluasi yang berkelanjutan.

lebih banyak program yang bersifat list service. maka reformasi birokrasi seharusnya diarahkan pada sejumlah alternatif pilihan kebijakan seperti reformasi struktural. Apabila secara sosiologis birokrasi dipandang sebagai organisasi paling rasional yang memiliki sejumlah karakteristik sebagai pelaksana interaksi antara pemerintah disatu sisi dan masyarakat disisi lain. Kini. bahwa masalah pemerintah terkadang bukan pada apa yang mereka kerjakan.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Disamping itu. maka reformasi birokrasi selayaknya diarahkan pada penguatan karakteristik dimaksud. Gambaran ini setidaknya disinggung oleh Osborne & Gaebler (1992) dalam ‘Reinventing Government. daripada realitas yang diharapkan. namun bagaimana pelayanan tersebut dapat dilaksanakan dengan baik. Jika secara administratif birokrasi dipandang sebagai media yang memudahkan pelayanan. Reformasi Birokrasi dan Implementasi Good Governance Seperti telah disinggung dalam pendahuluan. Akibatnya. Demikian pula buruknya perilaku birokrasi dalam hal pelayanan membuat masyarakat tak percaya apa yang selama ini dikerjakan oleh pemerintah. Jika secara politis birokrasi merupakan instrument kekuasaan dalam mewujudkan visi dan misi penguasa sesuai amanah rakyat yang dituangkan dalam bentuk kebijakan politik formal. Buruknya sistem dalam pelayanan birokrasi membuat masyarakat tak merasa jelas dalam penyelesaian masalahnya. kapasitasi dan instrumentasi. keraguan masyarakat terhadap reformasi birokrasi secara umum tumbuh disebabkan oleh rendahnya kepercayaan pada sistem dan sumber daya manusianya. Masyarakat terkadang merasa muak terhadap kelambanan dan kerakusan birokrasi sebagaimana disinyalir oleh Barzelay (1982) dalam ‘Breaking Through Bureaucracy’. Pada akhirnya. marilah kita cermati bagaimanakah desain kebijakan reformasi birokrasi sebaiknya dilakukan dalam mewujudkan fungsi birokrasi sekaligus mendorong penciptaan tata kelola pemerintahan yang baik (good 34 . menitikberatkan aspek efisiensi dan efektivitas serta memiliki mekanisme dan standarisasi yang jelas dalam interaksinya. reformasi birokrasi merupakan upaya penataan kapasitas kelembagaan yang menyangkut sistem dan struktur birokrasi dalam menjalankan fungsi pokok sebagai pelayan masyarakat. maka reformasi birokrasi semestinya diarahkan pada upaya penciptaan situasi yang kondusif agar birokrasi netral dari pengaruh kekuasaan yang berlebihan. keraguan masyarakat terhadap efektivitas kebijakan birokrasi tumbuh disebabkan oleh melimpahnya program yang dijanjikan namun kehilangan fokus saat implementasi. sekalipun mesti dengan sejumlah catatan pengecualian pada tahap implementasi.

Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik governance). Dalam jarak tertentu dibutuhkan pendelegasian yang memungkinkan pelayanan lebih efisien dan efektif. Desain reformasi struktural dapat dilakukan dengan meletakkan landasan kuat bahwa organisasi adalah alat untuk mencapai tujuan. Pada level hirarkhis diperlukan pemangkasan yang memungkinkan jenjang struktural lebih pendek. Perbedaan pemahaman dalam manajemen pemerintahan seringkali menjadikan birokrasi tak efektif menjalankan tugas dan fungsinya. Reformasi oganisasi tidaklah sekedar slogan kaya fungsi miskin struktur. Harus diakui bahwa budaya penyusunan organisasi di daerah selama ini cenderung mempraktekkan cara-cara penyusunan organisasi di tingkat pusat. Pertama. yaitu bagaimana menjadikan birokrasi sebagai alat untuk memperoleh akses bagi keseluruhan sumber daya yang tersedia. Kedua dalam arti dinamis. yaitu organisasi sebagai wadah tempat dimana kegiatan kerjasama dijalankan. Uraian selanjutnya akan lebih menitikberatkan pada pengertian kedua. yaitu organisasi dalam arti dinamis. Kedua faktor tersebut cukup dominan menjadikan organisasi pemerintah tampak dinamis. pertama dalam arti statis. Sistem pemilukada 35 . bukan kompromi politik. bahkan sulit bersentuhan langsung dengan para pengambil keputusan (decition maker). Pada level horizontal dibutuhkan organ fungsional yang lebih fleksibel dalam menjawab tuntas akar masalah yang dihadapi. namun lebih dari itu organisasi didesain berdasarkan kebutuhan. Panjangnya jalur hirarkhis membuat setiap masalah terkesan basi ketika kembali pada masyarakat. Boleh jadi dalam perspektif seorang kepala daerah birokrasi adalah alat untuk mewujudkan gagasan ideal dalam bentuk visi dan misi selama lima tahun. namun dalam perspektif aparatur birokrasi adalah tujuan akhir berkenaan dengan bagaimana jabatan paling tinggi sebagai refleksi kekuasaan dapat dicapai. sedangkan secara eksternal di dorong oleh perubahan lingkungan yang lebih luas. Dominasi aspek struktural selama ini telah menciptakan kekakuan. bukan kepentingan politik atau kelompok tertentu. Masalah kemudian bertambah ketika sebagian besar kepala daerah justru berpikir sama dengan aparatnya. reformasi organisasi (struktural). yaitu organisasi sebagai suatu sistem proses interaksi antara orang-orang yang bekerjasama. Hal ini sebabkan oleh faktor eksternal dan internal. baik formal maupun informal. Organisasi sebaiknya disusun berdasarkan hasil analisis jabatan dan beban kerja. Organisasi dapat diartikan dalam dua macam. selain membuang waktu dan biaya yang tak sedikit. bukan tujuan itu sendiri. Secara internal organisasi di dorong oleh tingginya tekanan kekuasaan.

Kasus pencopotan pejabat setingkat sekretaris daerah dalam tempo singkat dan mutasi besar-besaran adalah contoh yang dapat diamati dalam wilayah pemerintah daerah. Pola penjenjangan karier kurang diperhatikan. Palu. apoteker dan perawat. badan dan komisi. Potret tersebut terlihat tidak saja pada perluasan kementerian departemen. dua dan seterusnya. Melebarnya ukuran organisasi tanpa analisa kebutuhan jabatan dan beban kerja membuat performance organisasi pemda khususnya terkesan tambun dan statis. Sragen. dimana lebih dari 70% APBD habis untuk belanja aparatur (FITRA:2011). Tasikmalaya. Realitas ini dapat ditemukan pada sejumlah kabupaten seperti Lumajang. namun dipraktekkan terang-benderang di level pusat melalui perluasan organisasi pemerintahan. analis kebijakan. Kedua. Ambon dan Bitung misalnya. pengetatan organisasi agar lebih ramping dan kaya fungsi diutamakan pada pemerintah daerah melalui kebijakan PP No. dokter. Postur organisasi Pemda yang mengalami kegemukan tentu saja dapat menyedot belanja aparatur lebih besar dibanding belanja pembangunan. 41 Tahun 2007. Kondisi ini tidak saja berlaku di daerah. 36 . Reformasi kapasitasi berkaitan dengan kemampuan birokrasi baik secara individual maupun kelompok yang ditunjukkan pada kemampuan menerjemahkan visi dan misi. Akibatnya. program dan kegiatan.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 telah menjebak kepala daerah untuk melakukan rekonstruksi organisasi pemda lewat cara-cara resuhffle kabinet jilid satu. Ironisnya. diperlukan reformasi kapasitasi yang memadai guna meningkatkan kemampuan aparatur dalam melayani masyarakat. Reformasi kapasitasi adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan sumber daya birokrasi dalam pelayanan agar mampu mengimbangi dinamika masyarakat. bukan menjawab masalah yang dihadapi masyarakat. Ini bisa dipahami jika dihubungkan dengan bertambahnya rekrutmen pegawai setiap tahun tanpa pengendalian berdasarkan kompetensi. namun tampak pada puluhan organisasi setingkat lembaga. namun gagal melakukan efisiensi organisasi di level organisasi pemerintah pusat. bahkan hasil Baperjakat hanyalah unsur formalitas dalam penempatan personil pada struktur organisasi pemda. organisasi Pemda memperlihatkan gejala obesitas yang sarat kepentingan politik para elit lokal sehingga sulit bergerak mencapai tujuan. Rekrutmen pegawai tanpa kompetensi pada akhirnya hanya akan menyerap besaran APBD yang tak sedikit guna meningkatkan kecakapan dan keterampilan pegawai. Praktis organisasi dibentuk untuk menjawab kepentingan rezim berkuasa. disamping tersisihnya peluang bagi rekrutmen pegawai yang memiliki kompetensi ideal seperti guru.

Kesenjangan ini seringkali menimbulkan ketegangan sekaligus kecurigaan terhadap kinerja birokrasi. Rendahnya pendidikan aparatur mengakibatkan kesenjangan antara mereka yang dilayani dan mereka yang melayani. semakin rendah kapasitas pemerintah daerah. daerahdaerah yang berbasis kompetensi kelautan. Sebagai perbandingan. sekaligus pada saat yang sama mendorong kemampuan kolektivitas birokrasi. pertama. Keadilan dapat diterapkan melalui pembayaran insentif berdasarkan penilaian kinerja birokrasi. Profesionalisme sekurang-kurangnya ditunjukkan oleh sertifikasi pendidikan dari jenjang dasar hingga jenjang yang lebih tinggi. Sebaliknya. pertanian dan jasa. semakin tinggi resiko yang akan dihadapi. peningkatan insentif yang berfungsi mendorong spirit dan kinerja birokrasi. Dampaknya. Dalam jangka panjang diperlukan pendidikan yang berbasis pada kebutuhan dan karakteristik organisasi pemerintah daerah. Dalam jangka panjang dibutuhkan aparatur yang memiliki pengetahuan yang memadai guna penyusunan rencana kegiatan hingga keterampilan mengimplementasikan suatu program secara efektif. birokrasi dan pemerintah secara keseluruhan dapat kehilangan kepercayaan masyarakat. Aspek tersebut diimbangi oleh segudang pengalaman pada berbagai organisasi yang memiliki nilai dan kompetensi utama. Pembangunan berbasis keunggulan lokal membutuhkan birokrasi yang mampu menjawab tantangan yang muncul. tertutupnya kebijakan pengembangan pendidikan dan lahirnya diskriminasi dalam pengembangan sumber daya di daerah melahirkan kasus jalan pintas lewat indikasi ijazah palsu dan gelar pendidikan tanpa jelas asal-usulnya. semakin tinggi kapasitas pemerintah daerah semakin rendah pula resiko yang akan dihadapi dimasa mendatang. kiranya membutuhkan aparat yang menguasai sektor unggulan dimaksud. Dalam jangka pendek. Parahnya. sama-sama mendapatkan perlakuan khusus. Kedua aspek tadi setidaknya dapat membentuk kemampuan individual. Spirit tersebut diarahkan untuk melahirkan nilai kompetitif sehingga mampu menciptakan keadilan bagi birokrasi yang berprestasi.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Pengembangan kapasitas aparatur berfokus pada aspek pendidikan dan pengalaman yang akan menentukan nilai profesionalisme birokrasi dihadapan masyarakat. Fakta ini jelas kurang mendorong 37 . Pemerataan selama ini hanya membuktikan bahwa mereka yang kerja dan tidak. Pada akhirnya. Untuk mengantisipasi hal itu diperlukan desain kebijakan reformasi kapasitasi jangka panjang dan jangka pendek. diperlukan desain kebijakan praktis. perikanan. Ini penting untuk mendorong perkembangan daerah lebih cepat dan kompetitif.

terlalu dekat sama artinya menceburkan diri dalam ketidakpastian lebih beresiko. sekaligus melindungi birokrasi dari perilaku buruk aparatur yang berinteraksi didalamnya.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 kompetisi serta menciptakan ketidakadilan. faktanya sebaliknya. Ketiga. Statement ini tentu saja tidak mudah diperoleh dilapangan empirik. menunjukkan dampak positif dalam mendorong kinerja birokrasi. birokrasi sangat rentan diintervensi oleh elit lokal guna memenuhi kepentingan kelompok tertentu dalam sirkulasi kekuasaan. sebab itu diperlukan sistem eksternal yang 38 . Lewat sistem yang ada. diperlukan penataan sistem yang secara eksternal efektif dapat mengurangi politisasi birokrasi yang dapat memecahkan konsentrasi aparatur dalam melayani masyarakat. jauh lebih penting dari itu adalah lahirnya dampak positif bagi birokrasi untuk kembali pada tugas dan fungsinya masing-masing. Pada sisi lain membiarkan kelalaian birokrasi sama maknanya dengan menyetujui sekaligus membolehkan kesewenang- wenangan dalam pelayanan masyarakat. birokrasi sulit menolak ransangan para elit untuk berkoalisi memenangkan calon tertentu. yaitu mendorong berkembangnya birokrasi agar lebih disiplin dan bertanggungjawab serta mampu merespon perkembangan masyarakat. Pola penggajian dan insentif yang bervariasi sebagaimana pernah diterapkan sejumlah pemerintah daerah seperti Kabupaten Jembrana Provinsi Bali. Kedua. Guna mengurangi kepentingan politik maka birokrasi sebaiknya mengambil jarak untuk bersikap netral. termasuk menurunkan penghargaan bagi mereka yang benarbenar memiliki profesionalisme. Penerapan sanksi bukanlah tujuan akhir. kreativitas dan kemandirian hendaknya memperoleh penghargaan yang setimpal guna mendorong semangat yang sama pada aparat yang lain. Mengambil jarak terlalu jauh beresiko kehilangan jabatan. Oleh sebab itu harus dipahami bahwa penarapan reward and punishment memiliki arti strategis bagi organisasi. Kesadaran yang terus meningkat hingga membuahkan inovasi. Demikian pula pola penerapan sanksi dibutuhkan semaksimal mungkin dengan maksud pembinaan secara proporsional. Pembiaran terhadap tumbuhnya kreativitas tanpa apresiasi dapat menurunkan semangat untuk berkarya dan mengabdi pada organisasi. reformasi birokrasi dalam jangka pendek hendaknya mampu menciptakan sistem internal yang dapat mendorong secara perlahan tumbuhnya kesadaran birokrasi sebagai pelayan masyarakat. Semua konsekuensi tersebut dilakukan tentu saja berdasarkan transaksi minimum lewat jabatan-jabatan strategis dan menggiurkan. Politisasi birokrasi membuat aparat menjadi bulanbulanan elit lokal.

birokrasi membutuhkan legitimasi de facto sebagai penyambung kepentingan kepada pemerintah yang berkuasa. Keempat. Sejauh ini. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku buruk birokrasi perlu diperbaiki. Korupsi bukanlah budaya positif yang tumbuh pada masyarakat. Berkaitan dengan reformasi birokrasi diperlukan sistem yang mengikat secara ketat. Sedangkan sebagai abdi masyarakat. Landasan kebijakan secara umum diharapkan mampu melindungi pemerintah dan segenap pemangku kepentingan dalam lingkup good governance.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik dapat membentengi birokrasi dari kepentingan politik yang berlebihan. Perlu dipahami bahwa sistem insentif sebagaimana dikemukakan sebelumnya bukanlah jalan satusatunya dalam mengurangi tindak pidana korupsi. disamping penerapan sanksi berat dalam setiap tindakan yang disangkakan. Sebagai abdi negara.8. Bagian ketiga dari gagasan reformasi birokrasi berkenaan reformasi instrumentasi yang mencakup penyiapan regulasi baik undangundang di tingkat pusat hingga peraturan pada level pemerintah daerah. sebesar 2. maka dibutuhkan reformasi birokrasi yang mampu mencegah terjadinya tindak pidana korupsi dilingkungan birokrasi pemerintahan. indeks persepsi korupsi di Indonesia belum berubah sesuai catatan International Transparancy. Pembentukan Komisi Pemberantasan Korupsi dimaksudkan untuk membantu pemerintah dalam meminimalisasi gejala korupsi. birokrasi membutuhkan legitimasi de jure untuk menjalankan semua keputusan politik pemerintah. sebab semua norma sosial termasuk agama tidaklah mentolerir perilaku buruk semacam itu. Budaya kerja positif diharapakan tidak saja menular pada pemerintah. Perilaku birokrasi yang korup cenderung termotivasi oleh pengaruh lingkungan serta tuntutan domestik. reformasi birokrasi dalam jangka pendek diarahkan pada upaya pencegahan (preventive) perilaku korupsi dalam tubuh birokrasi. demikian pula pada elemen masyarakat dan wiraswasta. Bercermin pada China yang berani menerapkan tindakan tegas bagi pelaku korupsi. Dalam banyak kasus birokrasi seringkali 39 . Perubahan budaya kerja yang diawali dari kebiasaan menanamkan keseluruhan karakteristik pemerintahan yang baik diharapkan mampu menghasilkan birokrasi yang dapat menjalankan fungsinya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat. Tentu saja reformasi birokrasi dalam jangka panjang termasuk jangka pendek sulit dilakukan tanpa dimulai dari perubahan budaya kerja kearah positif. Korupsi merupakan kejahatan extra ordinary sehingga membutuhkan upaya-upaya yang bersifat luar biasa. Reformasi instrumentasi berfungsi sebagai landasan kebijakan yang bersifat legalistik-formal untuk menghindari tuntutan masyarakat terhadap kinerja birokrasi.

Gejala tersebut dapat dilihat pada sejumlah hasil temuan BPK dimana pengeluaran anggaran pemerintah daerah khususnya kehilangan landasan yuridis. pemegang modal dan masyarakat biasa.32/2004 tentang Pemerintahan Daerah. Reformasi instrumentasi pada tingkat teknis setidaknya dapat memperjelas mekanisme dan prosedur pelayanan oleh birokrasi pemerintahan. ketatnya mekanisme dan prosedur dapat membentuk budaya birokratisme yang pada gilirannya mendorong perilaku “melambung” (by pass) untuk mempercepat pelayanan. birokrasi layaknya berjalan menggunakan insting dimana pada kondisi tertentu dapat berbenturan dengan norma dan ketentuan yang berlaku. surat palsu di Mahkamah Konstitusi hingga Kemenakertrans adalah contoh gamblang dalam konteks terbentuknya jaringan mafia birokrasi antara pemerintah. Berkaitan dengan implementasi good governance. Reformasi instrumentasi diharapkan tidak hanya berkaitan dengan landasan hukum. seperti landasan yuridis kebijakan serta tingkat partisipasi masyarakat. Salah satu contoh dapat dilihat dalam kebijakan UU No. juga berhubungan dengan seperangkat alat baik sarana dan prasarana yang memungkinkan birokrasi mampu mengembangkan dirinya dalam memberikan pelayanan yang bermutu. Kendati dengan alasan efisiensi. Situasi demikian seringkali menyuburkan praktek suap. pemerintah pada dasarnya telah banyak melakukan terobosan melalui berbagai regulasi yang memberikan peluang diterapkannya karakteristik tata kelola pemerintahan yang baik. Strategi pelayanan jemput bola melalui penggunaan sarana dan prasarana yang tersedia seperti teknologi informasi dan transportasi merupakan keseluruhan paket reformasi instrumentasi dalam kerangka besar reformasi birokrasi dan implementasi good governance. Tanpa standar operational procedure. pada akhirnya menimbulkan masalah lebih kompleks yaitu ekonomi biaya tinggi (high cost economy). Indikator lain yang bisa diamati adalah persyaratan adanya SOP sebagai pedoman bagi setiap pemerintah daerah 40 . mekanisme dan prosedur. walaupun disadari belum sepenuhnya dapat dilaksanakan secara baik. Sebaliknya. Kasus Bank Century.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 dianggap gagal menyiapkan instrumen bagi landasan pelayanan masyarakat. kolusi dan berkembangnya jaringan mafia dalam tubuh birokrasi. dimana prinsip-prinsip tata kelola pemerintahan menjadi landasan penting dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Contoh konkrit lain dapat dilihat dalam instrumen evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah yang memuat sejumlah variabel dan indikator sebagai refleksi dari tercapainya karakteristik tata kelola pemerintahan yang baik. Wisma Atlit.

Karakteristik visi strategis menjadi syarat mutlak bagi setiap kandidat pemimpin pemerintahan ketika mencalonkan diri sebagai pejabat publik. Penyampaian laporan perkembangan harta kekayaan yang dimiliki oleh setiap pejabat publik mencerminkan diterapkannya prinsip akuntabilitas dan tranparansi. Strategi ini dilakukan melalui persyaratan fit and proper test yang dilakukan pada sejumlah calon pejabat setingkat kepala daerah maupun pimpinan lembaga.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik dalam menjalankan fungsi dan tugas pokoknya dilapangan. pencanangan pendidikan karakter sejak usia dini oleh Kementrian Pendidikan Nasional merupakan terobosan jangka panjang dalam upaya menanamkan nilai-nilai kejujuran. dilahirkannya regulasi tentang keterbukaan informasi publik oleh Kementrian Komunikasi dan Informasi menunjukkan komitmen pemerintah dalam memberikan akses seluas-luasnya kepada masyarakat. eksternal. Pengembangan kesetaraan sebagai bagian dari karakteristik tata kelola pemerintahan yang baik dapat dilihat dalam mekanisme pemilihan pemimpin politik yang ramah gender serta terbuka bagi setiap warga negara menurut batasan konstitusi dan undang-undang.3/2007 tentang Pertanggungjawaban Kepala Daerah yang meliputi LPPD. politik maupun pengawasan publik. pengembangan dan implementasi karakteristik good governance. badan dan komisi. kedisiplinan. Prinsip ini mengalami perkembangan sejak lahirnya lembaga yang berfungsi melakukan evaluasi serta pengawasan baik secara internal. terlepas bahwa prinsip tersebut masih sering dilanggar oleh pemerintah daerah. Pada karakteristik transparansi misalnya. fungsional. tranparansi. Karakteristik efisiensi dan efektivitas merupakan prinsip yang senantiasa diakomodir dalam undang-undang pemerintahan daerah termasuk peraturan yang menjadi turunannya. Kesemua itu merupakan modal dasar dalam rangka penumbuhan. tanggungjawab. Karakteristik konsensus dilakukan melalui upaya dokumentasi perencanaan APBN dan APBD sebagai bentuk kesepakatan bersama antara eksekutif dan legislatif yang notabene dipilih dan mewakili masyarakat itu sendiri. Prinsip akuntabilitas dapat dilihat pada sejumlah instrument pertanggungjawaban seperti PP No. dan akuntabilitas. LKPJ dan LIPD. 41 . Bahkan. kesetaraan.

Adam dan Jessica Kuper. Jakarta Soekanto. Martin. Reformasi Birokrasi. Macrosociology. 1998. Yogyakarta. Sosiologi Kekuasaan. Agus. Political Parties. Bandung Gerth. Jakarta Sanderson. Sosiologi Pemerintahan. Jakarta 42 . volume 3. 2000.1 Tahun.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Daftar Pustaka Duverger. Jakarta Laski. 2005. 1996. Jaring Birokrasi.Warwick. Ensiklopedi Ilmu-Ilmu Sosial.XXXV No. Soerjono. 2000. Jurnal Ilmu Pemerintahan Widya Praja. CV. Cambridge Massachussets. 2011. Vol. Pip. Sosiologi Suatu Pengantar. Satjipto. 1962. Membedah Hukum Progresif. New York dan London. Richard. Demokratisasi Birokrasi. New York. Seni Memimpin SBY. Red and White Publishing. Jakarta Rahardjo. Theory of Public Bureucracy. Stephen K. 2010. Harvard Universty Press. Bureaucracy dalam Encyclopaedia of the Social Sciences. Raja Grafindo. 2002. Roderick. Jakarta Sudirman. 2008. C. Ina Publikatama. Gugus Press. Jakarta Kuper. (terjemahan). Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Jakarta Dwiyanto. Martin Albrow dalam Donald P. 2001. The Bureaucratic Entrepreneur (terjemahan).Haass.W (1946) From Max Weber:Essays in Sociology. Indra Prahasta. Rajawali Pers. 1993. R. Jakarta Jones. 2010. N. Introducing Social Theory. (terjemahan). 2010. Birokrasi. H dan Mills. Rajawali Pers. STIAMI. Praktek Birokrasi Weberian di Indonesia. H. The Study of Politics (Terjemahan). Jakarta Max Weber dalam Martin Albrow (Terj). 2009. Harus Bisa. Tinjauan dari Aspek Politik dan Administrasi. Istianto. New York. Khasan. Kompas. Raja Grafindo Persada. 2010. Jakarta Setiono. Gramedia Pustaka Utama Effendy. Maurice. Bambang. Budi. Rajawali 1Pers. Bekasi Dino Patti Djalal. Tiara Wacana Michaels.

Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Tjokrowinoto. Cambridge University Press Aini. 2002. 2006. Bekasi Subagyo. Bambang. New haven and London. Consequences. Unismuh. Jakarta Sorenson.3 Tahun 2006.XXXII No. Jakarta Koswara. Pemerintahan Yang Amanah. 2000. Dilemma Of Pluralist Democracy. 2004. 2001. Pusataka Pelajar. Macmillan ltd Haris. 2000. Birokrasi dalam Polemik. Jakarta Blau. And Reform. Miftah. 2004. Untung. Democracy and Democratization. LPM-IIP. Georg. Malang Toha. 2006. Jhon. Ryaas. 1993. hal 209-22 Republika. Yale University Press Haris. Politik Organisasi. Mitra Wacana Media. IIP-Press Rasyid. Agustus 2011. Terobosan Otonomi Satu Tingkatan. Peter M. Yogyakarta Istianto. Budi. Peran Kontrol Rakyat dan Netralitas Birokrasi. Jakarta 43 . Otonomi dan Pemerintahan Daerah. Pustaka Pelajar. 1999. Vol. Bureaucracy in Modern Society (terj). Nurul. Perspektif Mikro Diagnosa Psikologis. Makalah. Pidato Pengukuhan Guru Besar. 2011. PKSP. Jaring Birokrasi. Pustaka Pelajar. dkk. Pembagian Kewenangan Menurut UU 32 Tahun 2004. Demokrasi dalam Birokrasi Pemerintah. Politicising Democracy. 2000. Fisipol UGM. Birokrasi Dalam Polemik. Moeljarto. Palgrave. Yogyakarta Dahl. 2004. Pustaka Pelajar. Bahan Ajar Sistem Politik Indonesia. Yogyakarta Jurnal Ilmu Pemerintahan Widyapraja. Jakarta Tjokrowinoto. Jakarta Suwandi. 1982. IIP Press. Corruption and Government Causes. Ackermen-Susan Rose. Precesses and Prospects in Changing World. 2004. dkk. 1999. Yayasan Bina Pembangunan. (Makalah). Jakarta. Westview Press Setiono. Robert A. Demokratisasi Birokrasi. Reformasi Birokrasi. Gugus Press.

.

Foto : Antara IV Oleh : Nursodik Gunarjo * Edisi 3 / September / 2011 Reformasi Birokrasi. Syarat Mutlak Pembangunan Ekonomi * Penulis adalah kandidat doktor Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 45 .

akan membuat dunia usaha lebih mudah menerapkan efektivitas dan efisiensi. “Masalah Sekitar Peningkatan Pendapatan Asli Daerah”.com/ read/2004/12/17/110517/257641/4/ infrastruktur-buruk-investasi-jepangke-ri-minim Beberapa contoh yang telah dikemukakan setidaknya dapat dijadikan bukti bahwa birokrasi Indonesia belum ’ramah’ terhadap dunia usaha. (1995). Sebaliknya.Terhalang. batal menanamkan investasi di Indonesia. No. Pelayanan birokrasi yang lambat. Banyak keluhan muncul saat para pelaku usaha berurusan dengan birokrasi. Pelayanan birokrasi turut menentukan bergairah atau tidaknya aktivitas perekonomian suatu bangsa. Para penanam modal di Indonesia pada umumnya mengeluhkan minimnya infrastruktur. Penyebabnya. Tulisan ini diharapkan dapat menganalisis secara komprehensif hubungan antara birokrasi dan dunia usaha dari perspektif ekonomi politik. pelayanan yang cepat. namun juga terkait dengan perilaku tak terpuji aparat birokrasi dan kebijakan yang tidak probisnis. Selain itu. regulasi pemerintah dinilai kurang mendukung keberadaan investor asing1. di. Keluhan tersebut bukan saja berkenaan dengan buruknya layanan. proses perizinan di Indonesia dinilai lambat dan ruwet. Tidak mengherankan jika pelaku ekonomi cenderung menganggap keberadaan birokrasi lebih banyak menghambat. ketidaksiapan sumberdaya terutama SDM. 46 . alih-alih membantu percepatan perputaran roda perekonomian3 3 Kristiadi. J.B. 4. 1 http://tekno.Regulasi 2 http://us. serta perilaku korup aparat birokrasi. dalam praktik justru sering membebani sektor ini. buruk dan berbiaya tinggi akan menyebabkan high-cost economy yang membebani pelaku usaha.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 B Pendahuluan irokrasi merupakan stakeholder penting di bidang ekonomi. Akibatnya sangat fatal. mudah dan murah.com/ read/2011/07/27/12451245/Minat. 114. Prisma. Mereka juga mengeluhkan banyaknya biaya siluman (overhead cost) yang harus dikeluarkan saat melakukan aktivitas ekonomi di Indonesia2. Sebuah perusahaan berbasis teknologi informasi asing terkemuka. birokrasi yang diharapkan mampu menjadi enzim of growth perekonomian.detikfinance.kompas.Indonesia.

Prisma. serta popular. Bahkan ada perusahaan yang menggunakan dana hampir seperempat dari total aset yang dimiliki hanya untuk biaya pelicin agar urusan dengan birokrasi cepat selesai. dalam jangka panjang efeknya dipastikan akan sangat berpengaruh terhadap efisiensi. yang sejatinya merupakan manifestasi untuk menunjukan bentuk atau orientasi kekuasaan tertentu dari para elit5 Albrow mengungkapkan sorotan berbagai kalangan yang memandang birokrasi sebagai proses yang panjang dan berbelit-belit pada saat para pengguna berurusan dengan aparat birokrasi. Kebutuhan tersebut muncul sebagai akibat logis dari adanya struktur hierarki yang membutuhkan tahapan-tahapan pengambilan keputusan.. dan pada akhirnya akan menekan produktivitas perusahaan4 Birokrasi Birokratis-Patologis: Perspektif Kritis Tidak bisa dimungkiri. Kesan seperti ini kemudian memunculkan istilah debirokratisasi. 114.N. oleh masyarakat seringkali diartikan dalam konotasi yang ruwet. termasuk di dalamnya pelayanan umum dan pembangunan. “Masalah Sekitar Peningkatan Pendapatan Asli Daerah”.ti.id/index. Jakarta: CV. 4 http://www. Revolusi dan Transformasi Masyarakat. No. birokrasi mudah mengalami birokratisasi—sebutan umum untuk birokrasi yang birokratis. (1986). Rajawali 6 Kristiadi. setiap sistem pemerintahan dan organisasi membutuhkan birokrasi. Birokratisasi merupakan efek dari kegiatan birokrasi yang dihegemoni oleh kepentingan kekuasaan dari para elit organisasi. php/publication/2010/11/11/indekspersepsi-korupsi-kota-kota-indonesia2010 47 . J. biaya overhead cost yang harus dikeluarkan pelaku usaha sebagai imbas dari berbelit-belitnya urusan di birokrasi terbilang sangat besar. Keadaan ini terlihat pada kelambanan pelayanan dan proses kerja yang berbelit-belit.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Sebagaimana disampaikan Transparency InternationalIndonesia (TI-Indonesia). mempunyai daya tarik. 4. Dalam kenyataan. maksudnya adalah upaya untuk menyederhanakan 5 Eisenstadt S. (1995). sehingga penyalahgunaan bisa muncul dalam sistem kegiatan birokrasi. Karena itu. kelambatan. Namun dengan kondisi struktur yang rigid dan kaku.B. Jika hal semacam itu terjadi di banyak perusahaan. birokrasi yang dimaksudkan untuk melaksanakan penyelenggaraan bernegara. catatan Mohl tentang penyalahgunaan birokrasi memperlihatkan adanya sifat kecongkakan. birokrasi acapkali mendapatkan kritik yang cukup tajam6 Senada dengan itu.or. pemerintahan.

Birokrasi. lebih mengemuka ketimbang citra yang baik atau rasional (bureau rationality). (1995). Prisma. Citra buruk birokrasi seperti parkinsonian atau birokrasi gemuk (big bureaucracy). 4. Administrasi Negara. J. (1986). A. birokrasi lebih menunjukkan kondisi empirik yang buruk. (1995). serta lambatnya pelayanan dan prosedur yang berbelit-belit atau yang lebih dikenal dengan efek pita merah (red-tape). (1999). Akibatnya.. (1999).R.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 prosedur yang dianggap ruwet itu7 Birokrasi pada kenyataannya sering mengalami disfungsi karena adanya pergantian tujuan-tujuan organisasi menjadi tujuan pribadi. Concept. The Public Sector. Rajawali 11 Mustopadidjaja.R. No. dan tidak terkontrol8 Berbagai keluhan dan kritikan mengenai kinerja birokrasi memang bukan hal baru. London: Sage Publication 9 Mustopadidjaja. atau jacksonian yakni birokrasi yang dipolitisasi. tetapi mengabaikan fungsi pelayanan masyarakat10. Jakarta: LAN. bersifat over supplay dengan memaksimumkan struktur. pada akhirnya. 8 Lane. patologi birokrasi adalah “penyakit” yang menyebabkan peran dan fungsi birokrasi mengalami penyimpangan dan tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya11 10 Eisenstadt S. A. seperti esensi birokrasi Hegelian dan Weberian9. Jakarta: CV. birokrasi tumbuh menjadi sesuatu yang chaos. Secara etimologis. 114.B. yang berhubungan dengan kedudukan dan kewenangan pejabat publik. diperparah dengan isu yang sering muncul ke permukaan. orwellian atau birokrasi dengan peraturan yang menggurita sebagai perpanjangan tangan negara untuk mengontrol masyarakat. Keseluruhan kondisi empirik yang terjadi secara akumulatif telah meruntuhkan konsep birokrasi Hegelian dan Weberian yang memfungsikan birokasi untuk mengkoordinasikan unsur-unsur dalam proses pemerintahan. yakni korupsi dengan beranekaragam bentuknya. Second Edition.N.           Citra buruk tersebut semakin 7 Kristiadi. J. hanya berfungsi sebagai pengendali..E. Revolusi dan Transformasi Masyarakat. Models and Approaches. penegak disiplin dan penyelenggara pemerintahan dengan kekuasaan yang sangat besar. 48 . negatif atau bahkan patologis. patologi berarti “ilmu tentang penyakit”.an organisation with a certain position and role in running the government administration of a country. Demokrasi dan Masyarakat Madani. Sementara yang dimaksud dengan birokrasi adalah: “. Birokrasi pada akhirnya menjadi tuan bagi dirinya sendiri dan tidak berorientasi pada fungsi pelayanan. “Masalah Sekitar Peningkatan Pendapatan Asli Daerah”. Banyaknya penyimpangan di birokrasi menyebabkan birokrasi cenderung bersifat patologis. Di berbagai belahan bumi.” Dengan demikian secara ringkas dapat dikatakan.

Tidak adanya inovasi membuat para birokrat cenderung melakukan pelayanan sama dari waktu ke waktu. Kemunculan birokrasi yang birokratis menjadi pemicu munculnya patologi birokrasi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. S. Ketiga. dan diskriminatif. Administrasi Negara. Kelima. Sebaliknya. Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen. seperti sewenang-wenang. patologi birokrasi tersebut berupa perilaku (aparat) birokrasi yang menyimpang dari nilai-nilai etis. purapura sibuk. tindakan pejabat yang melanggar hukum. rendahnya pengetahuan dan keterampilan para petugas pelaksana berbagai kegiatan operasional. Kedua. mengakibatkan produktivitas dan mutu pelayanan yang rendah. Jakarta: Gunung Agung. Siagian. jelas bahwa birokratisasi dan patologi birokrasi merupakan dua sisi dari keping mata uang yang sama. bagaimana birokrasi bisa merongrong habis-habisan kinerja sektor ekonomi di Uphill Battle. aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan perundangundangan serta norma-norma yang berlaku di dalam birokrasi. menerima sogok. dan nepotisme. Keempat. Demokrasi dan Masyarakat Madani. seperti rendahnya imbalan dan kondisi kerja yang kurang memadai. situasi internal berbagai instansi pemerintahan yang berakibat negatif terhadap birokrasi. yakni: Pertama. patologi birokrasi berimbas pada munculnya pelayanan birokrasi yang lambat. gejala patologi dalam birokrasi bersumber pada lima masalah pokok. korupsi dan sebagainya. persepsi gaya manajerial para pejabat di lingkungan birokrasi yang menyimpang dari prinsip-prinsip demokrasi. penyelewengan fungsi dan struktur. Hal itu mengakibatkan bentuk penyimpangan seperti penyalahgunaan wewenang dan jabatan. ruwet dan berbelit-belit.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Dalam praktik. Cermin Retak Uphill Battle. 13 49 .P. Jakarta: LAN 12 Umar H. (2002). Kemalasan pegawai birokrasi menyebabkan penyelesaian aplikasi perizinan dan pembuatan regulasi menjadi lambat. Penyakit birokrasi juga bisa berupa inefektivitas dan inefisiensi. Amerika Serikat. manifestasi perilaku birokrasi yang bersifat disfungsional atau negatif. menerima sogok. dengan menggelembungkan pembiayaan. (1988). ketiadaan deskripsi dan indikator kerja. sehingga pelayanan yang diberikan kepada pelaku ekonomi menjadi tidak berkualitas. dan sistem yang pilih kasih13 Dari uraian yang telah dikemukakan. Filsafat Administrasi. dan ketidakmampuan birokrasi untuk berubah sesuai tuntutan zaman12 Apabila ditelusuri lebih jauh. Potret Nyata Birokrasi Indonesia Jauh hari telah digambarkan secara dramatis. sehingga produktivitas sektor bisnis terpengaruh. serta pegawai sering berbuat kesalahan.

di sisi lain. P. inkonsistensi dan instabilitas peraturan perundangundangan. masih kentalnya budaya patron-client dan budaya afiliasi yang mengarah kepada moral hazard. atau bahkan potret buruk birokrasi. inefisiensi sumberdaya telah membuat aktivitas birokrasi memakan biaya dan menghabiskan sumberdaya sangat besar. struktur. Jakarta: DIS FISIP UI. Di sisi lain. I. tidak responsif.R. membuat kalangan dunia usaha enggan berurusan dengan birokrasi. dan tentu masih sangat berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia. yakni KKN (korupsi. masih rendahnya kompetensi para birokrat15 15 14 Osborne. Ketiga. Ketiadaan standar pelayanan. Penyakit warisan Orde Baru ini masih bercokol hingga kini. masih tingginya ketidakpastian dalam birokrasi (cost of uncertainty). Memangkas Birokrasi. selain berbagai jenis patologi birokrasi yang telah disebutkan. (2006). Situasi problematis yang dihadapi sebagian besar birokrasi Indonesia saat ini di antaranya: Pertama. Akan tetapi. Di Indonesia. lantaran birokrasi di sana hanya terinfeksi patologi birokrasi. hal itu masih belum apa-apa jika dibandingkan dengan kondisi birokrasi di Tanah Air. Permasalahan lain terkait dengan rendahnya kualitas sumberdaya manusia dan lemahnya pengawasan terutama dalam hal akuntabilitas. serta tidak tepat waktu. dan rendahnya penggunaan perangkat teknologi informasi. nilai dan regulasi yang ada masih berorientasi pada kepentingan penguasa/birokrat (power culture). masih belum terbentuk budaya birokrasi (service delivery culture). D.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Layanan yang tidak berorientasi kepada pelanggan. Hal tersebut ditunjukkan oleh struktur organisasi birokrasi yang tidak sesuai dengan kebutuhan. sangat tidak sebanding dengan output dan outcome yang dihasilkan14 Apa yang terjadi di Uphill Battle bisa disebut sebagai cermin retak. Kedua. nepotisme). Kelima. masih ada penyakit menahun lain yang menggerogoti birokrasi. etika dan moral. menyebabkan pelayanan publik tidak memuaskan. terutama yang paling menonjol adalah perilaku korup aparat birokrasinya. & Plastrik. Antara Model Demokrasi Lokal dan Efisiensi Struktural. E & Maksum. (2000). Lain halnya dengan birokrasi Indonesia yang masih dipersepsikan sarat dengan KKN. Masyarakat bisnis di Uphill Battle bisa dikatakan ‘masih beruntung’. 50 . namun tidak terkena wabah KKN. Desentralisasi dan Pemerintahan Daerah. Prasojo. Permasalahan mendasar yang membuat birokrasi Indonesia koruptif dan tidak probisnis di antaranya adalah kurang baiknya kelembagaan dan tatalaksana. norma. Keempat. Jakarta: PPM. kolusi.

Unsur partai bukan menjadi pertimbangan. Birokrasi. Dinamika politik ditandai dengan instabilitas sehingga tidak ada satu pun kabinet yang dibentuk bisa menyelesaikan masa jabatannya. Kehadiran birokrasi merupakan tuntutan mutlak yang harus dipenuhi untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. sehingga berubah menjadi kepanjangan tangan kekuasaan. hierarki jabatan dalam birokrasi disusun secara bertingkat. baik secara personal maupun institusional. terlebih ketika kecenderungan determinasi partai politik terhadap pejabat birokrasi tak juga sirna. muncul pertarungan antarpartai politik untuk merebut posisi puncak birokrasi. merupakan organ negara yang diberi tugas menjalankan semua kebijakan pemerintah yang terkait dengan kepentingan rakyat. Fungsi birokrasi sebagai unit pelayanan publik dihegemoni oleh kekuatan internal birokrasi. Dalam sejarah birokrasi Indonesia. Peran ini menjadi strategis karena hanya aparat birokrasi yang memiliki wewenang menguasai akses atas kepentingan publik. Menurut Weber. Pada zaman kemerdekaan (19451950). sebagian besar penyelenggara negara memiliki komitmen kuat bagi perjuangan bangsa. pertumbuhan birokrasi tidak lepas dari dinamika politik dan masyarakat sehingga kultur birokrasi selalu sarat dengan warna politik di zamannya. akan tetapi lebih ditujukan pada kegiatan-kegiatan struglle to get political power. Pembatasan ini dilakukan untuk mencegah terjadinya pencampuradukan kepentingan pribadi pejabat birokrasi ke dalam tugasnya sebagai pelayan masyarakat sehingga birokrasi tetap menjadi kekuatan yang netral dari pengaruh kelompok tertentu. Kondisi ini membuat birokrasi rentan terhadap pengaruh kekuasaan atau politik praktis. Pemberian layanan merupakan implikasi dari fungsi negara sebagai alat pemenuhan kebutuhan rakyat. Kabinet yang terbentuk pun lebih banyak diwarnai 51 . reformasi politik di Indonesia dalam kenyataannya belum mengubah birokrasi menjadi kekuatan profesional negara. dari yang paling tinggi sampai kepada yang paling rendah. Netralitas birokrasi tercermin dari kemampuan birokrat meletakkan fungsi birokrasi di atas kepentingan pribadi dan mengutamakan kepentingan masyarakat. Agar tidak terjebak dalam permainan politik praktis. birokrasi tidak mudah dibawa ke dalam pertarungan antara aktor politik yang sedang berkompetisi atau cenderung lebih patuh pada kekuatan politik yang menjadi patron-nya. Dalam setiap hierarki terdapat kekuasaan pejabat birokrasi. Aktivitas utama birokrasi bukan lagi untuk melayani publik. Artinya.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Di sisi lain. wewenang birokrasi dibatasi sesuai dengan hierarki jabatannya. Memasuki zaman demokrasi liberal (1950-1959).

terungkap bahwa birokrasi Indonesia gagal menjalankan fungsi pelayanan publiknya. dan memberikan kepuasan kepada publik. nafsu politik birokrat untuk menguasai birokrasi masih bercokol. Birokrasi yang seharusnya mendahulukan kepentingan umum. efeknya 52 . Mulai dari menteri hingga pejabat di semua lini diisi orang Golkar. Jika korupsi dan mark-up dilakukan pada proyekproyek infrastruktur dan atau program-program probisnis. dan sebaliknya melemparkan orangorang jujur dari kancah persaingan bisnis. Akibatnya. Di sisi lain. Korupsi secara langsung akan mengurangi besaran dana yang seharusnya dipergunakan untuk kepentingan publik. atau dalam bahasa populernya “UUD—ujung-ujungnya duit”. pejabat birokrasi dikuasai Golkar. Birokratisasi versus Ekonomi Berbelit-belinya pelayanan serta tidak transparannya kinerja birokrasi telah mendorong masyarakat untuk mencari ”jalan pintas” dengan suap atau berkolusi dengan para pejabat dalam rekrutmen pegawai atau untuk memperoleh pelayanan yang cepat. Meski asas monoloyalitas telah dihapus. Keberpihakan birokrasi kepada partai politik masih terlihat. Pemerintah mengaburkan batasan jabatan politik dan jabatan birokrasi dari departemen untuk melanggengkan dominasi Golkar di tubuh birokrasi. Dalam praktik.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 corak koalisi partai. birokratisasi akan menggerus fiskal masyarakat pengguna birokrasi dalam jumlah yang sangat besar. Pada masa Orde Baru (1966-1988). Tampaknya. tidak pernah hadir. Sementara nepotisme secara perlahan tapi pasti telah menciptakan perekonomian oligarkis yang dimonopoli oleh para kroni dan keluarga dekat pejabat birokrasi. kolusi secara nyata telah melempangkan jalan bagi orang-orang yang mau berkongsi dengan oknum birokrasi. Secara akumulatif. cara itu masih tetap diwarisi birokrasi hasil reformasi. masyarakat yang harus membayar mahal semua itu karena birokrasi tidak lagi profesional. Korupsi yang merajalela di lembaga birokrasi berimbas pada banyaknya biaya tambahan yang harus dikeluarkan para pengusaha dan pemangku kepentingan lain yang berurusan dengan birokrasi. Dalam beberapa jajak pendapat yang dilakukan lembaga independen. langsung maupun tidak langsung. termasuk masyarakat umum. Situasi seperti ini mendorong para pejabat untuk mencari kesempatan dalam kesempitan agar mereka dapat menciptakan rente dari pelayanan berikutnya. berbagai jenis patologi birokrasi semua berujung pada uang. Kondisi ini membuat birokrasi sering dimanfaatkan untuk kepentingan partai daripada kepentingan masyarakat luas. mempermudah urusan publik.

WEF menempatkan kelembagaan (institutions) yang kondusif pada urutan kebutuhan dasar pertama. yang berarti memperkecil margin keuntungan. Di antara kebutuhan dasar tersebut. Fakta menunjukkan. mark-up dan permintaan imbalan.ti. Sebuah survei yang dirilis TI-Indonesia menunjukkan. khususnya competitiveness suatu bangsa. Sementara jika dilakukan pada lembaga-lembaga keuangan atau lembaga pengumpul dan pendistribusi fiskal. mereka mengorbankan kuantitas ataupun kualitas barang dan jasa yang dihasilkan. ekonomi makro. faktor kelembagaan sangat ditentukan oleh jaringan kerjasama legal dan administratif antara pelaku ekonomi. Sebagaimana dikemukakan World Economic Forum (WEF) dalam The Global Competitiveness Report 2010-201117. Jika ketiganya dilakukan dalam konteks usaha. php/publication/2010/11/11/indekspersepsi-korupsi-kota-kota-indonesia2010 untuk menghindari kerugian. dampaknya akan menyebabkan menurunnya pendapatan negara secara drastis. akan menambah biaya yang seharusnya tidak ditanggung oleh pengguna layanan birokrasi.61 – 6. perilaku koruptif masih marak di lingkungan birokrasi. Dalam praktik. Biaya tersebut diambil dari nilai total transaksi. yang semua bertujuan meningkatkan pendapatan dan mewujudkan perekonomian 17 http://www3.or. baik swasta maupun pemerintah. pdf 53 . Indeks Persepsi Korupsi Indonesia (IPK Indonesia) di 50 kota di Indonesia pada akhir 2010 rata-rata masih rendah.id/index.org/docs/WEF_ GlobalCompetitivenessReport_2010-11. pengusaha dipastikan harus mengeluarkan biaya ekstra. adalah kunci penting sukses bidang ekonomi. untuk rentang skor penilaian 0 . Skor rendah mengindikasikan para pelaku bisnis menilai korupsi masih lazim terjadi dalam sektor-sektor publik. salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja ekonomi. sementara pemerintah dan penegak hukum kurang serius dalam pemberantasan korupsi16 Suap. Ketidakkondusifan birokrasi Indonesia bagi dunia usaha ternyata berimbas terhadap daya saing ekonomi bangsa di tingkat internasional. Akibatnya.weforum. 16 http://www.71. sehingga berpengaruh negatif terhadap kondisi ekonomi makro maupun pada program pembangunan ekonomi secara keseluruhan. perusahaan dan pemerintah. baru kemudian kebutuhan yang lain seperti infrastruktur.10. adalah tidak terpenuhinya kebutuhan dasar yang menjadi kunci pendorong pertumbuhan ekonomi. yakni di antara 3.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik secara langsung akan memperlambat laju perekonomian. serta kesehatan dan pendidikan dasar (gambar 1) Dari gambar 1 dapat diketahui bahwa kelembagaan.

red tape alias lambat dan berbelit-belit. Pada tahap peralihan ini. tidak transparan. karena saat ini pendapatan per kapita Indonesia sedang berada pada tahap efficiency driven. khususnya dalam hal efektivitas dan efisiensi. Lembaga pemerintah yang kuat mampu menjaga daya saing dan pertumbuhan. pada masamasa krisis ekonomi peningkatan peran lembaga pemerintah di bidang perekonomian terbukti mampu menghindarkan banyak negara dari kemungkinan krisis yang lebih berat. akan mendongkrak biaya ekonomi yang harus dipikul para pengusaha secara signifikan sehingga dalam jangka panjang akan memperlambat laju pertumbuhan ekonomi. over-regulasi. tidak jujur. tahap kedua yang merupakan peralihan dari tahap factor driven ke innovation driven (Tabel 1). di mana hal itu sangat mempengaruhi kepercayaan investasi. atau sebaliknya kembali terjerumus ke tahap yang lebih rendah karena kendala yang bersifat birokratis. korup. Jelas bahwa perilaku lembaga pemerintah atau birokrasi sangat berpengaruh terhadap aktivitas dunia usaha. tidak dapat dipercaya. Indonesia patut mencermati laporan WEF. Kendati posisi daya saing Indonesia untuk kategori overall pada tahun 2011 berada pada 54 Sumber: World Economic Forum Report 2011 .Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Gambar 1. Kebutuhan Dasar Kunci Pendorong Pertumbuhan Ekonomi yang sehat. dan dipolitisasi. produktivitas. Fakta menunjukkan. birokrasi yang birokratis. Indonesia bersama 25 lainnya berada pada tubir kritis: sewaktu-waktu dapat melompat ke jenjang perekonomian yang lebih tinggi lagi. Menurut WEF.

Dari laporan tersebut jelas terlihat bahwa kenaikan posisi daya saing Indonesia tidak terjadi karena daya dukung birokrasi. melainkan karena peningkatan pada faktor-faktor yang lain. Tidak mengherankan jika Jack Welch. Begitu juga birokrasi dalam bentuk berbelitbelitnya pengeluaran izin berusaha. CEO General Electric. keberadaan Indonesia di peringkat 44 menunjukkan peningkatan impresif 10 tingkat dari peringkat semula 55. Kasus korupsi. Peningkatan tersebut antara lain disebabkan oleh sehatnya kondisi ekonomi makro dan meningkatnya indikator-indikator pendidikan. kolusi dan nepotisme (KKN) di instansi-instansi birokrasi muncul gara-gara birokrasi sangat permisif terhadap munculnya perilaku moral hazard tersebut. menyebabkan timbulnya high-cost economy. sumbangan birokrasi Indonesia terhadap pertumbuhan ekonomi masih rendah. satu hal yang sangat dibenci pengusaha. yang menyebabkan membubungnya biaya yang harus dikeluarkan pihak pebisnis untuk ongkos pelicin. Secara khusus laporan tersebut menulis. Bahkan sebaliknya. masih maraknya birokrasi yang birokratis yang sarat dengan patologi Sudah lama birokrasi yang rumit menjadi penyebab munculnya ekonomi biaya tinggi. tanpa adanya jaminan perbaikan mendasar pada sisi kelembagaan birokrasi. 55 . Munculnya biaya tak terduga (overhead cost) akibat keberadaan birokrasi yang birokratis. Dengan kalimat yang lebih sederhana.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik ranking 44 dari 133 negara. Birokrasi Versus Adokrasi Sumber: World Economic Forum Report 2011 Tabel 1. Income Tresholds for Establishing Stages of Development ranking yang sama. akan tetapi hal tersebut tidak menjamin perekonomian Indonesia di masa datang dapat tetap bertahan pada birokrasi dapat menjadi ancaman serius terhadap daya saing Indonesia di masa datang.

& Slater. 19 Bennis. birokrasi profesional. yang sebagian besar mengikuti sekumpulan peraturan kaku dan tidak personal. Alih-alih mempercepat proses. keberadaan birokrasi justru menyebabkan pengambilan keputusan menjadi lambat dan berbiaya tinggi. wirausaha pemula. Ini menjadi bukti bahwa adokrasi membawa pengaruh positif bagi kinerja sektor perekonomian. Jakarta: Buana Ilmu. Mintzberg menerbitkan buku “The Structuring of Organization” yang mengemukakan ada empat tipe dasar perusahaan. birokrasi tidak diterapkan secara benar. J. organisasi-organisasi seperti ini akan menjadi yang paling sukses. yaitu: birokrasi mesin. New York: Jossey-Bass Publisher. (2002). 18 Krames. Jack Welch adalah satu di antara sekian banyak manajer yang secara ekstrem mengemukakan bahwa kehadiran birokrasi (yang birokratis) sama sekali tidak diperlukan. Akan tetapi dalam banyak kasus. adokrasi sebagai bentuk organisasi yang memotong jalur birokrasi normal diperlukan untuk menangkap peluang. Oleh karena itu. The Welch Way: 14 Tips Praktis dari CEO Terbesar Dunia. birokrasi adalah sistem administrasi hierarkis yang dirancang untuk berhubungan dengan sejumlah besar pekerjaan rutin. Inilah yang kemudian menjadi titik awal munculnya sentimen ‘kebencian’ para pengusaha terhadap birokrasi. menyelesaikan masalah. Aliran dan gagasan kontrabirokrasi ini semakin berkembang setelah Alvin Toffler menyampaikan pandangan adokrasinya dalam buku yang ditulisnya “Future Shock” tahun 1970. Bagaimana dengan birokrasi publik yang orientasinya adalah pelayanan masyarakat? Sesuai definisi yang dikemukakan Waterman. dan mendapatkan hasil. dalam era perubahan berkelanjutan. Ia berpendapat. P. 56 . The Temporary Society:What is Happening to Bussiness and family Life in America under the Impact of Accelerating Change.W. G. Gagasan awal tentang adokrasi muncul dalam karya para teori kepemimpinan Amerika Serikat. Robert Waterman dalam bukunya “Adhocracy” tahun 1990 mengatakan. di masa datang. dan adokrasi. Warren G Bennis19 Dia menulis. perusahaan akan bersandar pada tim proyek yang cepat dan fleksibel dalam struktur antibirokrasi yang ia sebut sebagai adokrasi. Pada tahun yang sama. Jika diterapkan secara benar. birokrasi merupakan mesin andal untuk mencapai efektivitas dan efisiensi pekerjaan. Welch bahkan menyarankan para karyawannya untuk ”memukul” dan “menendang” birokrasi yang birokratis semacam itu18 Tidak bisa dimungkiri.E. ia mengusulkan penghapusan birokrasi atau yang sering dikenal dengan istilah adokrasi. (1998).Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 menyatakan bahwa birokrasi adalah musuh produktivitas. Adokrasi terbukti semakin banyak diterapkan perusahan-perusahaan bisnis.

Sebuah Tawaran Khusus dalam kaitannya dengan bidang ekonomi. Jakarta: LAN RI dan Duta Pertiwi Foundation. Jakarta: Penerbit Pustaka Binawan Presindo. Tujuan reformasi birokrasi terkait sektor ekonomi adalah terwujudnya birokrasi yang 20 Mustopadidjaja. reformasi birokrasi adalah sebuah keniscayaan. & Gaebler. Efisiensi dilakukan melalui program penghematan bagi pembiayaan operasional birokrasi. mengubah. adokrasi bisa pula diterapkan dalam birokrasi publik. menyempurnakan dan memperbaiki birokrasi agar menjadi lebih bersih. efisien. mendapatkan hasil. Mewirausahakan Birokrasi. T. Reinventing Bureaucracy. penegakan aturan-aturan hukum. 57 . Implementasi dan Evaluasi Kinerja. Berdasar tujuan dari adokrasi tersebut. Justru yang ada. Bersih di sini berarti bebas dari praktek KKN. perbaikan kesejahteraan pegawai. di mana-mana tumbuh birokratisasi. A. (1995). Reformasi birokrasi diperlukan untuk menata ulang..R. melalui pembenahan sistem pengelolaan anggaran. yang bermakna mempersulit urusan yang sejatinya dapat terselenggara secara mudah dan murah20 Reformasi Birokrasi dan Pembangunan Ekonomi Untuk menggairahkan kinerja sektor perekonomian. D. Namun yang terpenting adalah mewujudkan perubahan dari birokrasi yang promodialisme atau minta dilayani menjadi birokrasi yang melayani masyarakat. kreatif. bersih. Dengan demikian. efektif dan produktif. Formulasi. cepat tanggap. peningkatan pengawasan. reformasi birokrasi model reinventing bureaucracy dapat ditawarkan sebagai salah satu solusi. Namun kenyataan menunjukkan. di Indonesia tidak ada satu birokrasi publik pun yang menerapkan adokrasi. Selain itu. Manajemen Proses Kebijakan Publik. Transparansi di sini bermakna pembukaan ruang publik dan publik dapat mengakses secara luas penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum. reformasi diharapkan dapat mewujudkan birokrasi yang transparan. Reinventing bureaucracy pada intinya adalah pembaruan berupa 21 Osborne. (2003). Konsep ini diadopsi dari reinventing government (pemerintahan wirausaha) yang dipopulerkan oleh Osborne & Plastrik21.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik adokrasi sangat diperlukan dalam memecahkan masalah khususnya dalam menangkap peluang. menyelesaikan masalah. Reformasi birokrasi juga ditujukan untuk mewujudkan birokarasi yang efisien. pelaku ekonomi mendapatkan situasi yang lebih kondusif untuk menjalankan usaha tanpa terbebani urusan bertele-tele di luar urusan bisnis yang mereka lakukan.

(1995). efisiensi dan kemampuan melakukan inovasi. dan di sisi lain probisnis. Jakarta: Penerbit Pustaka Binawan Presindo. birokrasi menetapkan kebijakan. Wirausaha adalah memindahkan berbagai sumber daya dari unit kerja dengan produktivitas rendah ke unit kerja dengan produktivitas tinggi dan hasil yang lebih besar. T. peduli dan kreatif dalam memecahkan permasalahan publik. akuntabilitas. & Gaebler. dapat ditekan. Mewirausahakan Birokrasi. Dengan tidak berhadapan langsung dengan pengguna layanan. aparat birokrasi akan memiliki komitmen yang lebih baik. 58 . pelayanan birokrasi akan semakin baik dan bermutu. birokrasi perlu mewujudkan 10 formula yang menjadi inti dari reinventing bureaucracy22. sehingga masyarakat berdaya untuk mengontrol pelayanan yang diberikan birokrasi dan mampu menjadi masyarakat yang menolong dirinya sendiri (community self-help). yakni: 1. Dalam pelaksanaanya. Sedangkan pembaruan (reinvention) adalah transformasi sistem dan organisasi birokrasi secara fundamental guna menciptakan peningkatan dramatis dalam efektivitas. memberikan dana kepada badan pelaksana (baik itu dari swasta maupun lembaga swadaya masyarakat) dan menilai kinerjanya. Birokrasi harus menyediakan (providing) beragam pelayanan publik sesuai dengan tugas dan 22 Osborne. misalnya meminta imbalan di luar tarif. Birokrasi katalis atau catalytic bureaucracy: steering rather than rowing Inti dari formula ini adalah pada pemberian pengarahan bukan pelaksanaan pelayanan publik. Kolusi antara penyedia dan pengguna layanan juga dapat dihindarkan 2. Untuk mewujudkan birokrasi wirausaha yang bebas patologi. Tujuan pembaharuan adalah efesiensi.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 penggantian sistem birokrasi yang birokratis menjadi sistem yang bersifat wirausaha. Dampak nyata dari penerapan konsep ini. menerapkan sistem intensif. akan tetapi tidak harus terlibat secara langsung dengan proses produksinya (producing). peluang aparat birokrasi untuk melakukan penyimpangan. Birokrasi milik masyarakat atau community-owned bureaucracy: empowering rather than serving Konsep ini menyarankan agar birokrasi mengalihkan wewenang kontrol yang dimilikinya kepada masyarakat. struktur kekuasaan. fungsinya. Dengan adanya kontrol dari masyarakat. serta budaya sistem dan organisasi birokrasi. akan tetapi yang lebih penting adalah efektivitas. D. Transformasi ini dicapai dengan cara mengubah tujuan.

Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Pengguna layanan tidak harus mengeluarkan biaya lebih untuk membayar pelayanan standar yang memang menjadi haknya. serta memberikan diskresi kepada manajer untuk menemukan best practise mewujudkan misi namun tetap dalam koridor legal Dampak positif yang ditimbulkan. not inputs Dalam konsep ini. birokrasi akan terhindar dari birokratisasi. mereka akan berlomba-lomba memberikan pelayanan terbaik. Pelayanan yang lambat dan berbelit-belit serta makan biaya besar. Dampak dari penerapan konsep ini. Selain itu. birokrasi melakukan deregulasi internal. prosedur dan sistem administratif. banyak pelayanan publik yang dapat ditingkatkan kualitas pelayanannya tanpa harus memperbesar biaya. Birokrasi berorientasi misi atau mission-driven bureaucracy: transferring rule-driven organization Mengubah organisasi yang semula digerakan oleh peraturan menjadi organisasi yang digerakan oleh misi. 4. yang mengukur seberapa baik satuan kerja memecahkan 59 . Mengubah fokus input (kepatuhan pada peraturan dan membelanjakan barang sesuai ketentuan) menjadi akuntabilitas pada output dan outcome. Masyarakat akhirnya bisa menikmati buah persaingan ini dalam bentuk mutu pelayanan yang semakin meningkat. akan semakin sulit dilakukan karena setiap saat aktivitas birokrasi diawasi oleh masyarakat. Dengan adanya persaingan. korupsi yang biasa terjadi karena kelemahan pengawasan internal. Kompetisi adalah satusatunya cara untuk menghemat biaya sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan. Dalam praktik. Birokrasi yang kompetitif atau competitive bureaucracy: injecting competition into service delivery Birokrasi secara internal maupun eksternal menyuntikan semangat kompetisi dalam pemberian jasa dan pelayanan publik. masing-masing pihak yang diberi wewenang melakukan pelayanan publik akan saling bersaing secara sehat. Birokrasi berorientasi hasil atau result-oriented bureaucracy: finding outcomes. 3. Untuk itu. birokrasi membiayai hasil bukan masukan peraturan dan membelanjakan. 5. Dengan kompetisi. juga mensyaratkan setiap organisai dan satuan kerja birokrasi memiliki misi yang jelas. dengan sendirinya akan hilang. Dan yang lebih penting. birokrasi harus mengembangkan standar kinerja. misalnya menyederhanakan peraturan.

birokrasi 60 . melainkan diubah secara bertahap sesuai dinamika kebutuhan masyarakat. Selain itu. menetapkan standar pelayanan. birokrasi mendesain organisasi untuk menyampaikan nilai optimal kepada pelanggan. 7. Birokrasi dapat mengembangkan beberapa pusat pendapatan. kinerja birokrasi dapat terukur. Dengan konsep ini. not the bureaucracy.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 permasalahan yang menjadi tanggungjawabnya. Dengan kata lain. Birokrasi yang berorientasi pelanggan atau customer-driven bureaucracy: meeting the needs of the customers. semangkin banyak pula dana yang akan dialokasikan untuk mengganti semua dana yang telah dikeluarkan oleh unit kerja tersebut. birokrasi juga menetapkan target. Birokrasi memperlakukan masyarakat yang dilayani sebagai pelanggan. birokrasi tidak akan pernah usang atau ketinggalan zaman. Birokrasi melakukan survei pelanggan. karena akuntabilitas yang tinggi akan sangat menentukan prestasi kerja dan juga berimbas pada pendapatan aparat birokrasi. Banyak yang bisa dilakukan untuk menghasilkan pendapatan dari proses penyediaan pelayanan publik. Semakin baik kinerjanya. pemberian hak guna usaha yang menarik pada para pengusaha dan masyarakat penyertaan modal daerah. Birokrasi memenuhi kebutuhan pelanggan. Dampak positif dari penerapan konsep ini. maka dengan konsep ini birokrasi benar-benar dituntut untuk berkembang sesuai dengan perkembangan kebutuhan masyarakat. bukan memenuhi kebutuhan birokrasi sendiri. memberi imbalan kepada unit kerja yang mencapai dan melebihi target. misalnya menjual informasi kepada pusat-pusat penelitian atau badan usaha baik yang menjual jasa maupun barang. Jika pada masa lalu birokrasi cenderung sekadar melakukan bussiness as usual. dan sebagainya. 6. atau sekadar melaksanakan tugas rutin organisasi. memberi jaminan. dengan konsep berorientasi pada pelanggan. Birokrasi berjiwa wirausaha atau entreprising bureaucracy: earning rather than spending Birokrasi tradisional cenderung berpandangan bahwa mereka sedang mengerjakan pekerjaan dan karenanya tidak pantas berbicara tentang upaya untuk menghasilkan pendapatan dari aktivitasnya. dan menggunakan anggaran untuk mendongkrak tingkat kinerja yang diharapkan. Oleh karena itu. birokrasi akan lebih hati-hati menggunakan dana publik. Standar pelayanan tidak tetap dan itu-itu saja. Selain itu. dan lain-lain.

Birokrasi tradisional menggunakan mekanisme administratif. Desentralisasi akan menghasilkan kepemimpinan kolektif. terutama oleh para pimpinan birokrasi. Ada dua cara alokasi sumberdaya.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik dibentuk bukan untuk menghabiskan anggaran. di mana keputusan dilakukan bersamasama oleh tim. Tidak hanya mencoba untuk mencegah masalah. Pendapatan tersebut bisa diputar untuk membiayai kegiatan birokrasi. Put it all together. Dengan konsep ini. Dari keduanya. bisnis. Imbas positif dari desentralisasi wewenang adalah makin berkurangnya d’tournament d’vavoir atau penyalahgunaan wewenang. Birokrasi terdesentralisasi atau decentralized bureaucracy: from hierarchy to participation and teamwork Birokrasi mengubah sistem hierarki menuju partisipasi dan tim kerja. Wewenang diberikan pada unit terdepan. namun juga berupaya keras untuk mengantisipasi masa depan. dan sebaliknya hiraki dikurangi. Birokrasi yang tanggap atau anticipatory bureaucracy: prevention rather than cure Birokrasi tradisional yang birokratis memusatkan diri pada produksi pelayanan publik untuk memecahkan masalah publik. 8. apabila tidak ada kebakaran (masalah) maka tidak ada upaya pemecahan masalah. makanisme pasar terbukti sebagai yang tebaik dalam mengalokasi sumberdaya. Birokrasi birokratis cenderung bersifat reaktif seperti satuan pemadam kebakaran. 10. Visi birokrasi membantu masyarakat. yaitu mekanisme pasar dan mekanisme administratif. Birokrasi berorientasi pasar atau market-oriented bureaucracy: leveraging change through the market. sedangkan birokrasi 61 . 9. akan tetapi proaktif. Visi dan misi diwujudkan bersama. tanpa menunggu perintah. dan birokrasi daerah untuk meraih peluang yang tak terduga serta menghadapi krisis yang takterduga pula. Tim kerja bebas menentukan cara kerjanya untuk mencapai hasil terbaik. atau bahkan dialokasikan untuk membantu pembiayaan pelayanan publik yang lain serta membayar insentif bagi pihak-pihak yang berprestasi. pimpinan bukan lagi “sang maha kuasa” yang berhak menentukan perintah secara top-down kepada bawahan secara sewenang-wenang. Menggunakan perencanaan strategi untuk menciptakan visi birokrasi. melainkan untuk menghasilkan pendapatan. Birokrasi wirausaha tidak reaktif.

birokrasi tradisional menggunakan perintah dan pengendalian. Sifatnya yang birokratis dan patologis membuat keberadaan birokrasi lebih dianggap sebagai faktor penghambat dibanding pendorong perekonomian. 62 . Dalam mekanisme pasar. Kesimpulan Birokrasi Indonesia belum probisnis. cepat. jika dapat diterapkan secara konsekuen dipastikan dapat menghilangkan birokrasi birokratis dan patologi birokrasi yang selama ini melingkupi birokrasi Indonesia. Salah satunya adalah dengan menerapkan konsep reinventing bureaucracy. Dalam mekanisme administratif. efektif. Politisasi birokrasi ikut mendorong terjadinya penyelewengan yang membuat birokrasi semakin jauh dari fungsi utamanya sebagai penggerak sektor perekonomian. birokrasi wirausaha tidak memerintahkan dan mengawasi tetapi mengembangkan dan menggunakan sistem insentif agar orang tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang merugikan masyarakat. birokrasi perlu direformasi. Sepuluh rumusan reinventing bureaucracy tersebut. efisien. Untuk menghilangkan berbagai patologi yang ada. Dengan konsep tersebut. birokrasi dikembangkan sebagai unit pelayanan yang tepat.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 wirausaha menggunakan mekanisme pasar. Berbagai penyakit birokrasi muncul karena aparat birokrasi cenderung menggunakan birokrasi sebagai alat untuk mencapai tujuan birokrasi itu sendiri. Reinventing bureaucracy diharapkan mampu mengembalikan birokrasi sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi. bukan sebagai unit pelayanan masyarakat. mengeluarkan prosedur dan definisi baku dan kemudian memerintahkan orang untuk melaksanakannya sesuai dengan prosedur tersebut. akuntabel dan berorientasi pada kebutuhan pengguna layanan.

Edisi 3 / September / 2011 Laporan Studi Lapangan Foto : Antara Reformasi Birokrasi dalam Dinamika Pemerintahan Daerah Oleh : Tim Redaksi 63 .

Jika kita memiliki birokrasi yang baik. Reformasi di bidang birokrasi dinilai mengalami ketertinggalan dibanding reformasi di bidang politik. setiap penyalahgunaan kewenangan publik. begitu pula mutu perumusan dan pelaksanaan kebijakan makin efisien waktu dan biaya. dan hukum. proaktif. Oleh karena itu pemerintah dengan sirius ingin menerapkan 64 . Reformasi birokrasi perlu dilakukan. Ini sebuah pertaruhan besar bagi bangsa Indonesia yang memasuki abad ke-21 ini. maka birokrasi kita makin antisipatif. sesuai dengan tantangan yang dihadapi. Meskipun sudah banyak perbaikan dilakukan namun indeks persepsi korupsi Indonesia masih rendah dibandingan dengan negara Asia lainnuya. pemerintah belum dapat memberikan pelayanan prima bagi investor yang berbisnis atau yang akan berbisnis di Indonesia (Kompas. ekonomi. 20 September 2011). akan mengurangi. Pemerintah dinilai belum dapat menyediakan pelayanan publik yang berkualitas. EE Mangindaan. mutu pelayanan kepada masyarakat meningkat. dan efektif. kolusi. dan nepotisme (KKN) semakin menjadi. Melalui Menteri Pendayagunaan Aparatur dan Reformasi Birokrasi. Jika berhasil. akan tetapi masih banyak yang menilai bahwa reformasi birokrasi masib belum berjalan secara optimal.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 M Pendahuluan eskipun sudah ada kesepakatan bersama di semua jajaran pemerintahan baik pusat maupun daerah untuk melaksanakan reformasi birokrasi. Manajemen sumber daya manusia aparatur negara pun belum profesioan. pemerintah mengakui bahwa sejalan perkembangan kebutuhan masyarakat yang semakin maju dan persaingan global yang semakin ketat. Birokrasi pemerintah yang tidak efisien menjadi salah satu faktor penghambat utama dalam melakukan aktivitas percepatan pembangunan ekonomi. Akuntabilitas kinerja instansi perlu pembenahan dan harus berorientasi pada hasil. seperti menyangkut kedisiplinan atau taat peraturan. kareana kini korupsi. Selanjutnya Mengindaan menjelaskan bahwa makna reformasi birokrasi adalah sebuah perubahan besar dalam paradigma dan tata kelola pemerintahan Indonesia. bahkan dapat menghilangkan.

juga atas pertimbangan prestasi dan kurang berprestasinya pemerintah daerah dalam melaksanakan pemerintahan dengan prinsip good governance. sementara untuk Surakarta dan Denpasar mewakili daerah yang tingkat transparansi pemerintahannya baik. Surakarta. Adapun pertimbangan dipilihnya kota tersebut adalah. Salah satu wujud dari komitmen pemerintah adalah mengundangkan Undang-undang Nomor 14 Tahun 208 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Sorong. bahwa di samping untuk mewakili perimbangan territorial yang mewakili Indonesia bagian barat. belum terbentuknya PPID. disusul kepolisian 241 aduan (21. akuntabilitas. dan Sorong mewakili daerah yang tingkat transparansinya masih dalam kategori cukup. Banjarmasin.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik pemerintahan dengan prinsip good governance. dan tingkat kesadaran masyarakat sendiri dalam mencari dan mengakses informasi belum terbentuk secara meluas. yaitu adanya tranparansi. Lokasi pengumpulan data lapangan diselenggarakan di enam (6) kota di Indonesia untuk mendapatkan pendapat publik tentang berbagai aspirasi yang berkembang di masyarakat terkait dengan akan kebijakan keterbukaan informasi publik di jajaran birokrasi pemerintah. yang akan sangat berguna bagi upaya meningkatkan kinerja birokrasi pemerintah dalam melayani dengan prinsip good governance. Untuk daerah seperti Pakanbaru. Dengan undang-undang ini birokrasi pemerintah daerah segera diharapkan untuk melaksanakan undang-undang tersebut. ternyata pemerintah daerah paling banyak mendapat laporan.20%). seperti kendala kultural.13%). akan dapat diserap aspirasi dan harapan sebagai umpan balik dari masyarakat. sistem informasi pelaporan keuangan daerah. dan partisipasi publik. Keenam lokasi studi lapangan tersebar di wilayah Indonesia bagian barat. Sidoharjo. Banjarmasin. Oleh karena itu. yaitu sejumlah 354 aduan (31. Akan tetapi berbagai kendala masih muncul dalam implementasi undang-undang yang sangat demokratis tersebut. karena selama ini pengaduan masyarakat terhadap layanan publik di sejumlah instansi. yaitu meliputi Pakanbaru. tengah dan timur yang dianggap relevan dengan isu transparansi birokrasi. melalui pengumpulan data lapangan dengan metode observasi dan wawancara mendalam kepada segenap informan yang potensial di berbagai daerah. Denpasar. tengah dan timur. Pertimbangan utama mengapa perlu melihat dinamika pelayanan publik di daerah-daerah. dan 65 . sistem database barang daerah. Banjarmasin: Komitmen Tinggi Pemprop Kalsel dalam upaya reformasi birokrasi telah memanfaatkan dan mengembangkan IT dalam proses penyelenggaraan pemerintahan dengan mengembangkan unit pelayanan pengadaan secara elektoronik. Sidoarjo.

dan pada tahun 2011. Khususnya dalam bidang perizinan. pola pikir. pelayanan publik yang prima. dengan meningkatkan rata-rata tingkat pendidikan. Untuk setiap ijin kepada SKPD. dan Dewan Kelurahan. Pemkot juga berusaha meningkatkan tingkat kesejahteraan pegawai dengan memberikan tunjangan dan insentif bagi PNS di lingkungan Pemkot Banjarmasin. tepatnya 24 September 2011. Memang berdasarkan pengamatan di lapangan. sehingga masyarakat tidak terhambat oleh masalah birokrasi yang berlarutlarut dalam meningkatkan usahanya. sumberdaya aparatur yang punya integritas. yaitu organisasi yang tepat fungsi dan ukuran. Wali Kota Banjarmasin. Antara lain dengan memberikan insentif kepada RT. optimis akan dapat dicapai”. target Rp 111. “Hal ini terbukti.5. Akan tetapi Muhidin menegaskan tidak akan segan memberikan sangsi terhadap PNS yang tidak disiplin. Hal ini meliputi delapan area perubahan. maka akan menggairahkan dunia usaha. “Saya cukup lancar dalam 66 . Langkah taktis yang dilakukan Kalsel adalah dengan melakukan perubahan menyeluruh pada aspek pendayagunaan aparatur negara. Pada tahun 2010. PAD mencapai Rp 80. yaitu Badan Pelayanan Perijinan dan Penanaman Modal (BP3M).5 milyar. Pemkot terus berusaha memberikan pelayanan prima. Muhidin mengungkapkan tekad tersebut bersamaan dengan Hari Jadi Kota Banjarmasin yang ke-485. Sedangkan warga yang sedang mengurus paspor di kantor emigrasi mengaku tidak mendapat kesulitan dalam mengurus paspor. RW. Reformasi telah menjadi komitmen Pemkot Banjarmasin dengan titik berat pada peningkatan pelayanan publik. bahwa dari tahun ke tahun PAD Kota Banjarmasin terus menunjukkan peningkatan secara cukup signifikan. Dengan reformasi birokrasi. tata laksana seperti sistem dan proses-prosedur. kata Muhidin.” Katanya.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 secara bertahap penerapan paperless office. regulasi yang tertib. dan tentu akan ikut berpengaruh terhadap naiknya Pendapatan Asli Daerah. Dalam hal memberikan layanan perijinan secara lancar. “Semua itu dalam rangka mengoptimalkan pelayanan kepada masyarakat dalam segala aspek yang menyangkut kepentingan publik. Berdasarkan pengakuan warga yang sedang antri mengurus perijinan mengaku cukup mendapat pelayanan secara baik. akuntanbiilitas. semuanya harus lewat BP3M. pelayanan cukup lancar. Demikian pula para guru juga mendapatkan insentif agar terus memberikan pelayanan pendidikan yang optimal. pengawasan. dan budaya kerja. dan juga di kantor emigrasi. seperti kantor urusan administrasi kependudukan. Di samping itu. Untuk menunjang reformasi birokrasi. sehingga dengan demikian semuanya dapat dikontrol untuk kepentingan koordinasi. Banjarmasin selama program Pemkot telah meningkatkan kualitas SDM di jajaran PNS. Pemkot Banjarmasin menerapkan layanan terpadu dengan satu atap.

adanya unit pelaksana teknis (UPT) termasuk Badan Pelayanan perizinan Terpadu menjadi bukti secara formal bahwa ada peningkatan pelayanan birokrasi. Dan saya tidak menemui calo di sini. Sedangkan M. tetapi sudah diberlakukan sanksi denda bagi yang terlambat. Karena di samping itu menyalahi hukum. “Kalau mau urusan cepat. semuanya langsung ke petugas”. dan untuk komunikasi melalui jejaring sosial. Dr. dalam rangka menerpakan UU Keterbukaan Informasi Publik. ya harus ada dana tambahan yang diserahkan pada petugas”. Menurut Prof. juga masyarakat sudah kritis”. akan tetapi kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam kebijakan publik melalui akses informasi di jejaring sosial masih belum menjadi perilaku budaya. Pakanbaru: Antara Optimis dan Pesimis Pada prinsipnya pemerintah daerah telah berusaha keras dalam upaya meningkatkan pelayanan birokrasi kepada masyarakat.go. Namu demikian juga ada warga yang mengaku. Eka Herlambang. Mungkin koordinasi dengan instansi teknisnya masih kurang baik. Pemkot Banjarmasin terus berusaha memberikan pelayanan secara transparan kepada masyarakat. jadi jajaran birokrasi pemerintah tidak mau ambil risiko dengan melakukan lelang secara tertutup. Warga dalam mengakses internet. Amin.” Kata Amin. karena akan lebih efisien dari sisi waktu dan biaya. Sekarang kan era keterbukaan. Guru Besar Administrasi Negara FIsipol Unri. kata seorang warga yang mengaku akan menjadi TKI ke luar negeri. masih untuk keperluan hiburan. masyarakat terkesan kurang peduli terhadap perlunya informasi. Sujianto. Sebenarnya pelaynan yang belum baik itu sering didengar di unit pelaynan non 67 . Sementara itu dalam upaya menerapkan prinsip good governance. Paling tidak ini sudah menunjukkan ada upaya peningkatan pelayanan. Banjarmasin. Kepala Seksi E-Government. Pemkot Banjarmasin terus berusaha mensosialisasikan undang-undang tersebut kepada masyarakat.id yang digunakan untuk lelang secara on-line. lancar tidaknya juga tergantung. bahwa di Banjarmasin kalau mengurus ijin. “Semua itu dilakukan guna mendukung prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam sistem pelayanan prima kepada masyarakat. dalam hal pelelangan tender senantiasa disampaikan kepada masyarakat. katanya yang berpengalaman mengurus KTP. Akan tetapi memang harus diakui bahwa. “Pemkot juga membuka web. hanya menunggu satu minggu jadi.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik mengurus paspor. Ke depan Pemkot akan terus mendorong masyarakat agar terus semakin sadar akan pentingnya terlibat dalam pengambilan keputusan melalui media. “Memang sekarang ini sudah banyak internet. kata Eka. Sebagaimana dijelaskan oleh Kepala Bidang Informatika Pemkot Banjarmasin.

bahwa nuansa politisasi birokrasi di daerah sangat terasa karena kompetisi politik sangat keras dalam Pilkada. seorang aktivis LSM. Suara senada juga dikemukan oleh Azali Johan. katanya menyayangkan. menilai bahwa birokrasi pemerintah hingga sekarang masih cenderung minta dilayani. tetapi disalahgunakan oleh negara-negara berkembang sehingga menjadi birokrasi feodal dan tradisional. Contoh yang sederhana. Partaipartai politik yang kebetulan menjadi pemenang dalam Pilkada misalnya. “Itulah sebabnya pejabat mulai dari yang tertinggi sampai yang paling bawah sampai saat ini belum bisa menjadi teladan yang baik. Padahal mestinya birokrasi itu tugas dan fungsi utamanya adalah melayani masyarakat. 17 September 2011 Koran memberitakan bahwa 134 pejabat pemerintah di Pakanbaru diganti karena tidak cocok dengan pejabat politik yang berkuasa saat ini. dalam prakteknya mulai dari Kelurahan sudah mulai menyimpang dari Perda yang seharusnya biayanya murah menjadi mahal. Seharusnya birokrasi dibebaskan dari kepentingan politik sesaat. Menurut Sondiwarman. “Sekarang ini pergantian pejabat lebih didasarkan pada pertimbangan politik. dalam arti partai apa yang memenangkan dalam Pilkada. Contohnya hari ini Sabtu. Para birokrat bekerja dalam kondisi yang tidak kondusif. tetapi sekarang pada visi kepala daerah yang setiap ganti kepala daerah pasti ganti visi. ada kecenderungan mempengaruhi kinerja birokrasi dalam memberikan pelayanan kepada publik. dan yang 68 . birokrasi cenderung tidak netral karena ada kepentingan politik.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 perizinan. Jika dulu senantiasa mengacu pada GBHN. ada satu hal yang menarik bahwa pada era otonomi daerah sekarang ini. Untuk itu birokrasi seharusnya tidak lagi dibina oleh pejabat politik dan penegakan hukum dilakukan secara konsekwen terhadap siapapun. seperti di bidang kesehatan dan pendidikan. Meskipun ada kecenderungan Parpol membuat birokrasi pemerintah menjadi kurang netral. Akan tetapi Sujianto melanjutkan. pembuatan KTP yang merupakan hak setiap warga Negara. Kondisi pelayanan birokrasi pemerintah mengalami penurunan karena terseret dengan arus politik yang ada. tetapi kritik juga datang dari kalangan politisi. Tidak ada garis utama yang menjadi patokan program layanan birokrasi. Program pelayanan sering tidak konsisten karena setiap ganti pimpinan kepala daerah ganti visi dan ganti program. mereka melayani siapa saja yang berkuasa tanpa harus diganti. tetapi kenyataannya justru sebaliknya. Umumnya lebih disebabkan oleh faktor manusianya yang kurang tanggap dan cekatan. Akibatnya mengabaikan faktor kualitas dan mengorbankan profesionalisme dalam menunjuk pejabat”. Birokrasi bekerja untuk melayani penguasa (kepentingan parpol). Dalam rekruitmen sumber daya manusia pun juga bias kepentingan politik. karena mereka sangat tergantung pada partai politik berkuasa. Nilai birokrasi sesungguhnya berlandaskan pada evisiensi dan netralitas. Wakil Ketua DPRD Kota Pakanbaru.

“Bagaimana mungkin akan melaksanakan 69 . Sekretaris Daerah selaku pembina pegawai ditingkat Provinsi juga merespon pengaduan masyarakat yang diungkap dalam acara Apel Bendera.4000. Buruknya pelayanan publik ini juga diungkapkan oleh Presiden Badan Mahasiswa Universitas Riau. yang memberikan contoh tentang layanan KTP gratis. tetapi tetap saja melakukan penyimpangan layanan. . 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. tetapi tetap lambat. atau melalui surat edaran. pegawai. Pemprov telah memberikan insentif kepada aparat birokrasi yaitu tunjangan beban kerja.000. karena aparat masih bermental korup. selaian untuk lebih mengefektifkan pelaynan birokrasi juga dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan. semua sarana dan fasilitas disediakan. Bagi mereka yang tidak masuk kantor atau melanggar disiplin. 53 tahun 2010. akan dipotong sesuai dengan ketentuan yang telah dietapkan. tetapi dalam praktek tidak demikian. sehingga meskipun sebenarnya sudah ada isentif. Setiap pengaduan masyarakat. yaitu jika pelayanan tidak memenuhi permintaan masyarakat atau pelayanan tidak sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang telah ditetapkan. meskipun sudah ada SOP-nya. maka akan langsung direspons oleh pimpinan. perbulan. untuk mendukung capaian kinerja yang optimal. atau melalui SMS. maka biasanya masyarakat mengadu langsung. Dalam kaitan dengan implementasi UU No. Bersamaan dengan itu.000. Padahal sebagaimana dikatakan Kepala Bidang Kedudukan Hukum dan Kesra Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Riau. Seharusnya proses lebih dipercepat. terutama di unit pelayanan masyarakat. Khusus bagi mereka yang melanggar disiplin pegawai akan diproses dan dikenakan sanksi sesuai PP No.sampai Rp. Prinsip Good Governance akan sulit diterapkan secara optimal jika transparansi dalam mekanisme pemerintahan tidak dilaksanakan.2. Besaran tunjangan di sesuaikan dengan golongan. respons pemerintah Provinsi Riau dapat dikatakan kurang cepat. Tujuannya adalah. Praktik pungutan illegal seperti itu ada hubungannya dengan mentalitas para aparat birokrasi yang masih koruptif.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik seharusnya cepat tetapi kenyataannya masih lambat. Padahal salah satu prasyarat penting dalam melakukan reformasi birokrasi adalah efektifnya implementasi undangundang tersebut. Memang mekanisme pengawasan dari masyarakat pun juga dibuka sebagaimana dikatakan oleh Yasram. Yarham SH. Hingga sekarang Komisi Informasi Daerah dan PPID belum terbentuk. Nofri Andri. yakni antara Rp. karena juga rentan melakukan hubungan kolutif antara pelaksana dan jajaran pengawasnya. baik Sujianto maupun Nofri mengatakan bahwa pengawasan terhadap suatu kebijakan di lingkungan birokrasi pemerintah tidak berjalan efektif. serta mengefektifkan pengawasan dan evaluasi. Rapat Pimpinan. Demikian juga.000.

8 tahun 2008 tentang Badan Pelaynan Perizinan Terpadu. Sebagaimana dikatakan oleh Sujianto dan Zulkurnain. penyebabnya adalah Pemprov Riau masih setengah hati dalam menjalankan pemerintahan secara transparan. “Adanya unit pelaksna teknis (UPT) termasuk Badan Pelayanan perizinan Terpadu menjadi bukti secara formal bahwa ada peningkatan pelayanan birokrasi. Akan tetapi sekarang sudah relatif transparan. tetapi sudah diberlakukan sanksi denda bagi yang terlambat. sehingga masyarakat tidak familiar dengan masalah keterbukaan informasi. meskipun memang masih banyak hambatan baik struktural maupun kultural. Integritas. Badan Pelayanan Perizinan Terpadu. Sedangkan Ramli Khatib. Dengan keterlibatan yang berkualitas. “Kalau soal kecenderungan adanya KKN dalam rekruitmen PNS.Cepat. Sosialisasi UU KIP menurutnya kurang lancar. misalnya dengan mengumumkan hasil tes beserta rankingnya di depan publik”. Jaminan hak publik atas informasi mendorong partisipasi atau keterlibatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan publik. Kasubag Bina Program. 70 . kata Nofri. Akan tetapi Azali menilai bahwa pada prinsipnya Pemprov Riau sudah melaksanakan prinsip good governance sebagai bagian dari komitmen untuk menjalankan reformasi birokrasi. Karena itu kami jajaran mahasiswa akan terus mendorong percepatan reformasi birokrasi”. dan Akuntabel. Efisien. berpendapat bahwa belum terbentukan PPID sesuai dengan amanat UU KIP. hingga sekarang banyak warga masyarakat mengeluh tentang rekruitmen PNS yang tidak terbuka. saya kira tidak hanya di Riau. Sebagai contoh dalam hal transparansi. tetapi hampir di seluruh Indonesia ada gejala itu. Responsif. kata Sujianto yang diamini oleh Zulkurnain. katanya. Paling tidak ini sudah menunjukkan ada upaya peningkatan pelayanan”. Mungkin koordinasi dengan instansi teknisnya masih kurang baik. Akan tetapi pada prinsipnya Pemprov Riau tetap berusaha semaksimal mungkin meningkatkan kualitas pelayanan birokrasi pada masyarakat. mungkin karena takut dosa berjamaah. bahwa dalam upaya meningkatkan pelayanan publik Pemprov Riau telah membentuk Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BP2T) berdasarkan Kepmendagri No. Saat ini BP2T memiliki 150 jenis layanan perizinan dan non perizinan.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 reformasi birokrasi jika prinsip good governance tidak dijalankan dengan baik. Sementara itu tentang belum terbentuknya PPID menurut Azali Johan tidak jelas alasanya. Ikon BP2T adalah CERIA . Ketua MUI Riau. Sorong: Bergelut Mimpi dan Tradisi Salah satu elemen penting dalam mewujudkan penyelenggaraan negara yang terbuka adalah hak publik untuk memperoleh informasi sesuai dengan peraturan perundangundangan. karena akan lebih efisien dari sisi waktu dan biaya. Hal ini juga diakui oleh Politikus Sondiwarman bahwa pemerintah sudah berusaha transparan. dan saat ini baru ada di tingkat Provinsi.

Kesadaran akan tanggung jawab yang harus diemban pemerintah daerah atas keterbukaan informasi publik tampak sudah dipahami oleh pejabat di kawasan timur Indonesia. gas alam dan sumber mineral lain itu. Dalam aspek layanan informasi. prioritas Pemerintah Kabupaten Sorong adalah meningkatkan investasi di kawasan yang kaya minyak. Sekalipun. ekonomi. Kota Sorong terkenal penuh dengan sisa-sisa peninggalan sejarah bekas perusahaan minyak milik Belanda. Apalagi. kesehatan. yaitu pendidikan. M. kerangka layanan informasi memang tidak diprioritaskan dalam pembangunan Kabupaten Sorong.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik akhirnya terwujud akuntabilitas dan pertanggungjawaban setiap kebijakan publik. sementara kesehatan yang bertaratf internasional dikembangkan untuk melayani kebutuhan industri dan investor yang kebanyakan dari luar negeri. Tahun 2008. Prioritas tersebut merupakan “mimpi” Pemerintah Kabupaten yang diarahkan untuk meningkatkan investasi di kawasan kepala burung. Posisinya sangatlah strategis karena merupakan pintu keluar masuk Provinsi Papua dan kota persinggahan. termasuk informasi. Di kawasan timur Indonesia. UndangUndang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP) disahkan dan diterapkan. perdagangan dan jasa. Sementara di kawasan Kota Sorong tengah berbenah untuk meningkatkan kapasitas sebagai meeting point. dan mengharuskan seluruh badan publik di Indonesia memberi informasi kepada masyarakat dan melayani permintaan informasi dari publik. ekonomi dan infrastruktur diarahkan agar bisa menyiapkan sumber daya lokal agar mendukung kebutuhan sumber daya manusia. karena Sorong dikelilingi oleh kabupaten-kabupaten yang mempunyai sumber daya alam yang sangat potensial sehingga membuka peluang bagi investor dalam maupun luar negeri untuk menanamkan modalnya. kini tengah berbenah untuk meningkatkan kualitas layanan publik. Papua Barat. dan infrastruktur. pelabuhan dan pendukung investasi di kawasan Papua Barat. Marthen Nebore.Sos. “Ada empat prioritas pembangunan Kabupaten Sorong.Sc. namun Marthen menegaskan bahwa komitmen keterbukaan informasi sudah melekat dalam setiap program pembangunan. Kabupaten dan Kota Sorong. Kota Sorong juga rnerupakan kota industri.” jelas Kepala Humas Kabupaten Sorong. Undang-undang itu memberi jaminan hukum bagi masyarakat dalam meminta informasi dari badan-badan publik. Kota Sorong dikenal dengan istilah Kota Minyak sejak masuknya para surveyor minyak bumi dari Belanda pada tahun 1908. Pendidikan. sekalipun tidak ada peraturan lokal khusus mengatur implementasi UU KIP. S. baik di lingkungan Kabupaten 71 . Papua. di Indonesia.

misalnya dalam pelayanan pembuatan Kartu Tanda Penduduk.IP.oo sampai Rp25. langsung dipandu oleh salah satu petugas yang ada.” ungkapnya. informasi tentang biaya pengurusan KTP dan Akte Catatan Sipil bisa dilihat di ruang layanan kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. tidak ada yang mau datang.” tuturnya. Hal itu juga dibenarkan oleh Maimunah (35) salah satu petugas layanan loket. 08.15 Tahun 2009 Tentang Retribusi Penggantian Biaya Cetak KTP dan Akte Catatan Sipil. Di Kota Sorong. peraturan-peraturan tersebut tidak secara jelas mengatur tata cara mengakses informasi sebagaimana diatur dalam UU KIP. Dalam pandangan Abbas (50) seorang pekerja industri kayu. S. Menurutnya 72 . termasuk di kelurahan dan distrik. Nifu Ahmad. namun Marthen Nebore. Sesuai Perda No. seperti Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. Walaupun demikian.oo. ada kecenderungan warga Sorong hanya mengurus KTP atau yang lain ketika membutuhkan.00 WIT. menjamin masyarakat Kabupaten Sorong dapat dengan mudah mengakses informasi. tapi untung ada yang membantu.000. Keterbukaan informasi dalam tataran awal sudah cukup intensif dikembangkan.” tambahnya.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 dan Kota Sorong beberapa peraturan daerah. Distrik Sorong Barat. “Sempat bingung juga. Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Bagian Humas Setda Kota Sorong. Beberapa kesulitan yang ditangani langsung dibantu. Menurutnya penyediaan informasi yang dibutuhkan bisa diakses langsung masyarakat di instansi yang bersangkutan. telah mengatur kewajiban lembaga pemerintah setempat untuk memberi informasi kepada masyarakat. Ketika datang di kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Sorong.00 WIT dan berakhir di pukul 14. Akses informasi untuk masyarakat memang sudah disediakan langsung melalui kantor layanan dan website. “Setiap dinas sudah memiliki website dan kami juga memfasilitasi petunjuk layanan informasi di setiap kantor layanan. Sebagaimana dialami oleh Amanis Waang (59) asal Kelurahan Rufei. sekalipun di Kota dan Kabupaten Sorong. Di kantor layanan. warga bisa bertanya secara langsung mengenai kelengkapan berbagai dokumen yang dibutuhkan untuk mendapatkan Kartu Keluarga atau Akta Catatan Sipil lainnya.000. “Jadi kalau mereka tidak membutuhkan ya. biaya pencetakan dokumen berkisar mulai Rp 10. Kemitraan bagian humas dengan pers cukup bagus sehingga berita tentang pembangunan Kabupaten Sorong dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. “Pelayanan informasi berjalan dengan baik. belum ada penunjukkan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumen (PPID). Ini saja yang mengurus KTP Nasional baru bisa dihitung dengan jari.” katanya yang harus menyempatkan diri pagi sekali karena layanan kantor dimulai pagi pk.

Menurutnya selain besaran biaya pengganti cetak. menurutnya ia juga belum mendapatkan surat edaran dari distrik. jangkauan geografis yang luas dan sebaran penduduk yang tidak merata menjadi kendala yang paling utama. 470/596/SPPD-DKPSRG/2010. sebagai transmigran yang membawa agama Islam ke tanah Papua.” ungkap Marthen seraya menambahkan bahwa standar biaya dari pemerintah pusat tidak sesuai apabila diterapkan di Papua.  “Masing-masing suku memiliki karakteristik adat tersendiri dan berbeda dalam menyikapi layanan pemerintah. Sumatera. Belum lagi harus menghadapi hambatan adat dan budaya masyarakat yang cukup beragam. Jawa. staf di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Sorong. Alwin. Cuma banyak yang tidak bisa datang karena beberapa hal. sebelah timur di kelilingi hutan lebat yang merupakan hutan lindung dan hutan wisata. Baru mereka mau urus KTP. Ketika dibuka layanan langsung di distrik atau kelurahan.” jelasnya. Di Kota Sorong.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik kebutuhan warga yang lebih banyak mendorong ketika mereka mengurus KTP atau Akta lain.4/596/2010 tentang pembuatan KK dan KTP Standar Nasional tanggal 22 Juni 2010 dan Surat Perintah Tugas Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Sorong Tentang Pelayanan Langsung Pembuatan KK dan KTP Standar Nasional di Kelurahan Tanjung Kasuari dan Kelurahan Saoka Distrik Sorong Barat Nomor . Makasar). Berbeda dengan di Kabupaten Sorong. “Sehingga masyarakat yang datang untuk mengurus KK dan KTP jumlahnya tidak maksimal. memang kebanyakan layanan publik terkendala dengan perilaku warga. “Memang kita dari pegawai Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Sorong di bantu oleh aparat kelurahan setempat. Di Sorong sendiri. kurangnya sosialisasi pelaksanaan kegiatan membuat tidak maksimal. Sunda. Hal senada juga disampaikan oleh Abbas. Keadaan topografi Sorong sangat bervariasi terdiri dari pegunungan. “Padahal kita untuk menyukseskan Program Nasional Kepemilikan KTP Nasional dibuka layanan langsung selama empat hari.” jelas Rury. Menurut Nifu Ahmad. “Biasanya kalau membutuhkan untuk pinjaman bank atau kredit. penggunanya tidak terlalu banyak. “Dibutuhkan cost yang besar dikarenakan jangkauan wilayah kami yang cukup luas.” tambah Abbas.” jelasnya. karena standar biaya di Papua memang cukup mahal. bukit-bukit dan sebagian adalah dataran rendah. lereng. layanan itu didasarkan pada Surat Edaran Walikota Sorong 474.” jelas Moh. Kepala Bidang Komunikasi dan Informatika Dinas Perhubungan 73 . selain masyarakat Moi (terutama yang ada di daerah pantai dan biasa menggunakan nama depan/belakangnya dengan usin) juga terdapat masyarakat BBM (Bugis. Buton.

Kabupaten Sorong.sorongkota. Tapi kita berupaya meningkatkan kinerja kehumasan pemerintah. “Berbagai acara dan pelatihan secara berkala dikembangkan.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 dan Kominfo Kabupaten Sorong.id. juga tak jauh beda kondisinya.sorongkab.00 siang.id. Tapi usai jam 12. Dr Stefanus Malak. Jika melalui website tidak optimal. kesiapan para penyelenggara negara dalam menyediakan informasi yang diberikan kepada masyarakat adalah hal yang mutlak.Si menyatakan peran kehumasan yang langsung bisa berkomunikasi dengan warga atau pekerja media sangat penting dalam mewujudkan kepercayaan publik dan membina hubungan baik dengan masyarakat. sebenarnya telah mengembangkan layanan infromasi melalui website. “Masingmasing wilayah kerja. kami terus meningkatkan peran aparat hubungan masyarakat (humas) sebagai ujung tombak dalam penyampaian informasi.go. Oleh karena itu. www. Selain itu juga kian memudahkan koordinasi bagi aparat Pemda Sorong. Agar bermanfaat bagi kekompakan jajaran SKPD. menurut Marthen.“ tegas Marthen Nebore. Kepala Bagian Humas Pemkab Sorong. Sementara website Kota Sorong.” tambah Moh. “Apalagi kita harus menjangkau dan melayani masyarakat sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masingmasing. go.” tuturnya. haruslah didukung oleh informasi atau data yang akurat. Marthen Nebore. maka akan lambat. Dalam Undang-undang keterbukaan informasi publik. dan bisa dipertanggungjawabkan kepada masyarakat. Sekalipun semua bisa terjangkau akses internet nirkabel. dukungan infrastruktur layanan informasi yang cukup kuat sangat diperlukan. website Kabupaten Sorong www. tapi kecepatan akses lambat juga masih jadi kendala. guna menjawab tantangan besar yakni meningkatnya proses pertukaran informasi antar unit di dalam organisasi internal. Bupati Sorong. tidak dapat diakses masyarakat. Tak heran jika kemudian. Pemkot Sorong dan Pemkab Sorong. salah satunya penyampaian informasi seputar program pembangunan yang sedang berjalan.” jelas Marthen. menyatakan pihaknya juga memfasilitasi penyelenggaraan pelatihan dan kordinasi kehumasan. Keterbukaan informasi publik bukan hanya sekadar mengatur soal informasi. Namun kondisi akses jaringan internet yang belum stabil membuat layanan ini tidak bisa optimal diakses warga.” tambah Marthen. “Khususnya. Alwin yang kini menangani layanan media center dari Kementerian Kominfo di Distrik Aimas. Undang-undang ini juga memberikan jaminan adanya 74 . “Jaringan internet di sini biasanya cepat kalau pagi. “ UndangUndang Keterbukaan Informasi Publik mewajibkan seluruh badan publik menyediakan informasi publik membuat standar layanan informasi publik. M.” tambahnya.

“Semua kegiatan itu memang aktif dilakukan di Kabupaten Sorong. “Tetapi di daerah-daerah pedesaan justru kader posyandu menjadi tenaga inti dalam pelayanan kesehatan di pedesaan. Surakarta: Ada Perubahan Signifikan Pemerintah Kota Surakarta merupakan salah satu contoh semakin meningkatnya kinerja birokrasi. BPM/BPD/LKMD. Dengan pesona alam khas papua dan ditunjang letak yang strategis. “Widodo Muktiyo.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik partisipasi warga negara dalam turut menentukan kebijakan. keikutsertaan masyarakat dalam pelayanan dalam bentukkader posyandu.” kata Bupati Sorong. yaitu: Suku Moi.” tambah Abbas. baik finansial maupun intelektual. Kader posyandu ditujukan untuk membantu tenaga medis yang jumlahnya terbatas. Di kawasan Sorong.” kata Maimunah (45) seorang pedagang kelontong di Kota Sorong menambahkan. di samping kurangnya sosialisasi dan informasi yang sampai pada anggota komite sekolah. Jawa. kota Surakarta memang telah menunjukan kemajuan signifikan dalam pelayanan birokrasi. Di bawah kepemimpinan Wali Kota Joko Wiyono. terdapat enam kelompok etnis besar. Partisipasi yang paling menonjol dalam hal pelayanan dasar adalah di bidang pendidikan dan kesehatan. dan Maluku. Bugis Makasar. “Prioritas utama kami adalah pengembangan wisata bahari dan wisata alam. Maybrat. Kota ini terus mengalami peningkatan dalam indeks transparansi di tingkat nasional. dan bahkan masuk dalam sepuluh besar. relatif sudah mulai banyak didominasi oleh kalangan pendatang.” tambah Marthen. Di bidang pendidikan. diperlukan rintisan pembangunan kepariwisataan dalam jangka panjang yang dimulai dari sekarang. Suku Moi adalah penduduk asli Papua yang menjadi pemegang hak adat atas tanah di pusat pemerintahan Kabupaten Sorong. Sementara di kawasan kota. telah dikembangkan pelibatan masyarakat secara langsung maupun melalui perwakilan seperti DPRD. dosen Ilmu Komunikasi Fisip UNS. Stefanus Malak. mengakui bahwa pelayanan birokrasi di kota ini 75 . Hal ini di sebabkan rendahnya kemampuan. Partisipasi atau pelibatan masyarakat tidak banyak berarti tanpa jaminan keterbukaan informasi publik. setiap sekolah terdapat komite sekolah yang beranggotakan para orang tua murid dan donatur. Sementara dalam perencanaan pembanguan. Di bidang kesehatan. Rapat koordinasi pembangunan daerah yang dilakukan oleh BAPPEDA. Kabupaten Sorong kini sedang mempersiapkan diri untuk menjadi daerah tujuan wisata unggulan. khususnya di propinsi Papua Barat. Akan tetapi mengelola keterbukaan informasi di Kota dan Kabupaten Sorong merupakan seni tersendiri. “Namun peranan ini belum berkembang sesuai yang diharapkan.

Namun demikian. “Reformasi birokrasi cukup terasa dampaknya di kota ini sebagaimana tampak pada makin transparannya Pemkot. maka jajaran birokrasi pemerintah juga mengikuti. maka bawahannya juga mengikuti. terbukti kota ini telah memiliki PPID. pelayanan umum adalah pelayanan yang diberikan baik jasa maupun non jasa dan ataupelayanan administrasi. Harus diakui bahwa Wali Kota Surakarta sekarang cukup kreatif dan inovatif dalam usahanya memberikan layanan kepada masyarakat.00.00 hingga 21. Oleh karena itu. Dalam hal e-KTP. Penilaian senada juga datang dari Mahendra Wijaya. Sebagaimana dijelaskan oleh salah seorang pejabat di jajaran Pemkot Surakarta. Di bidang keterbukaan informasi. Fahrudin. Faktor kepemimpinan menjadi kunci dari perubahan mind set aparat birokrasi. Bahkan pelayanan juga dilakukan di luar jam kantor. masih ada aparat birokrasi yang masih bermental harus dilayani. pelayanan kesehatan yaitu program PKMS (Program Kesehatan Masyarakat Surakarta). dan masalah kependudukan. mulai pukul 08. khususnya di bidang pelayanan umum. “Untuk pelayanan e-KTP ini kami bisa melayani 15 orang perjam. karena memang mereka tumbuh di kalangan kultur yang feodalistik”. Inovasi dalam pemerintahan juga dapat 76 . seperti informasi umum. salah seorang pejabat di bagian kependudukan. Fasilitas publik senantiasa menjadi prioritas pengembangan dan senantiasa diperbaiki”. dosen Sosiologi Fisip UNS bahwa ada kemajuan yang bararti dalam hal pelayanan publik. sehingga kalau pimpinan atasnya berubah. programprogram tersebut adalah programprogram yang didesain untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kota Surakarta. rencana kelurahan. Dalam struktur birokrasi itu bersifat hierarkis dan instruktif. LPSE. pelayanan yang dimaksudkan di sini adalahpelayanan jasa yaitu pelayanan di bidang administrasi (perijinan) melalui sistem one stop service (OSS). dan kami minimal membuka layanan 12 jam efektif kepada warga masyarakat”. dan kian cepat dan lancarnya urusan perijinan. Pemkot Surakarta juga terus memberikan pelayanan secara optimal meskipun dalam keterbatasan peralatan.2 milyar rupiah. kata Widodo. layanan kesehatan masyarakat. karena secara sosiologis masyarakat kita memang masih patriomonialistik.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 terus membaik. bursa kerja. kata Mahendra. Pemkot juga telah secara aktif memberikan pelayanan lewat media on-line. Dari hasil pantauan di lapangan. Bahkan juga sudah membentuk komisi informasi dengan anggaran sebesar 1. Seperti yang diketahui. kata Subandi. terutam yang berkaitan dengan sektor usaha dan perdagangan. “Ketika pimpinan kota Surakarta mau berubah dengan mengedepankan layanan publik. para petugas tampak bertugas secara allout dan mereka senantiasa menyapa dengan ramah. Pemkot Surakarta juga melakukan langkah-langkah yang terus menunjang terselenggaranya transparansi.

Jasa yaitu pelayanan yang terkait dengan pemberdayaan masyarakat. akses informasi. Pertama. Hak atas informasi diatur dalam Pasal 14. sesungguhnya masyarakat Bali tidak terlalu peduli terhadap keterbukaan informasi. UU No. Kedua. Padahal hak memperoleh informasi merupakan hak dasar warga Negara. menyimpan. Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28F menjaminnya. akuntabel. yaitu melalui program rumah tidak layak huni (RTLH). Beberapa UU lain sesungguhnya juga menjamin hak warga atas informasi. Masyarakat sebagian besar lebih memilih hidup mengurus diri dengan beribadah. sosialisasi UU KIP secara rutin. meningkatkan pendokumentasian data daninformasi SKPD. Juga terus melakukan pembenahan sistem informasi data. Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya. transparan. menerbitkan SK Walikota Surakarta No. yaitu mempersiapkan regulasi di tingkat daerah. dan meningkatkan sarana untuk mengakses informasi bagi masyarakat. 042. Pasal 60. Secara khusus hak warga terhadap informasi diatur dalam UU nomor 14 Tahun 2008 tentang KIP.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik didefinisikan sebagai pengembangan suatu desain kebijakan baru dan prosedur standard operasi yang baru untuk memecahkan masalah publik. UU tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. memiliki. Warga juga berhak mencari. mengolah. dan pembekalan pada PPID sejak April 2011. Fahrudin juga menjelaskan upaya Pemkot dalam bidang layanan informasi publik. Pasal 65 ayat (2) UU ini menyatakan setiap orang berhak mendapatkan pendidikan lingkungan hidup.05/05/1/2011 tanggal 3 januari 2011 tentang pembentukan Tim Uji Konsekuensiterhadap informasi yang dikecualikan pada Pemerintah Kota Surakarta.05/01-B/1/2011 tentang penunjukkan PPID. Dalam pertimbangannya. dan akses keadilan dalam memenuhi hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. 39 Tahun 1999 tentang HAM. Pasal 103. Denpasar: Rakyat Kurang Peduli Harus diakui. menerbitkan SK Walikota Surakarta No : 060. akses partisipasi. Adanya Undangundang keterbukaan informasi pun disambut biasa-biasa saja. merata. Ketiga bidang tersebut dianggap program yang menonjol di Kota Surakartadan dapat dilihat secara langsung nilai-nilai perubahannya dimana pelayananseharusnya diberikan secara adil. menyiapkanruang pelayanan informasi beserta infrastrukturnya. meningkatkan konten Web Pemerintah Surakarta sebagai sumber informasi. dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. dan partisipatif sesuaidengan prinsip good local governance. 77 . Peraturan Wali Kota tentang Standar layanan Informasi/ SOP (dlm proses penyusunan). memperoleh.

Badan publik adalah organanisasi yang terkait penyelenggaraan Negara maupun organisasi lain dengan pendanaan dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara/Daerah (APBN atau APBD). Mungkin perlu perbaikan pola pikir dan kemauan masing-masing lembaga dalam penerapan pelaksanaan UU KIP. Perlu manajemen pengelolaan informasi yang dikuasai dan pelayanan akses informasi dari publik. kondisi keterbukaan informasi.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 UU ini menyebutkan bahwa hak memperoleh informasi merupakan HAM. belum adanya Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi. Perbaikan tersebut hanya bisa dicapai jika publik/masyarakat sebagai pemilik hak atas akses informasi aktif mendorong badan publik untuk selalu berbenah. Informasi ini meliputi profil. pemerintah kota Denpasar belum sepenuhnya menerapkan keterbukaan informasi publik. Pendapat senada juga disampaikan oleh Agus Sanjaya dari Dinas Perhubungan dan Infokom Denpasar. Menurut Ni Made Ras Amanda Gelgel. kesehatan. sepertinya tidak serta merta terjadi dan diterapkan dengan baik. kegiatan dan kinerjan. dan lingkungan. UU ini juga menegaskan bahwa keterbukaan informasi publik merupakan salah satu ciri penting negara demokratis. serta laporan keuangan badan publik. minimnya kesiapan badan publik untuk melaksanakan UU KIP. Uji badan publik yang dilakukan meliputi tiga sektor yaitu pendidikan. Ini merupakan salah satu cara agar badan publik menjadi lebih siap dan lebih baik dalam melayani permintaan informasi publik”. katanya. informasi publik yang dikecualikan ini bersifat ketat dan terbatas. pertama. Ketiga. hasil uji badan publik lintas sektor yang diadakan Sloka Institute bekerjasama dengan  Indonesian Parliamentary Center (IPC)  terhadap beberapa instansi di 4 kabupaten/kota serta di tingkat Provinsi Bali mencerminkan belum sistematis dan transparannya akses informasi publik. namun itu hanya sebagian kecil.Pasal 2 mengatur bahwa asas UU ini adalah setiap informasi publik bersifat terbuka dan dapat diakses oleh setiap Pengguna Informasi Publik kecuali informasi publik yang dikecualikan. khsusunya lembaga-lembaga publik. Perbaikan terutama adalah kebijakan pimpinan badan publik dalam menerapkan UU KIP. Kedua. Hasil assessment KIP pusat menjelang pemberlakuan UU KIP disebutkan bahwa baru tujuh badan publik diseluruh indonesia yang dianggap siap atau berupaya mempersiapkan diri. Ada beberapa lembaga yang telah dengan baik membuka berbagai informasi kepada khalayak. Hasil uji publik tersebut ditindaklanjuti dengan mengadakan Rembug Lintas Aktor (RELA) Kesiapan Badan Publik di Bali dalam 78 . Dalam pasal 9 UU KIP disebutkan badan publik wajib mengumumkan informasi publik secara berkala. “Warga harus secara aktif meminta akses informasi. Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana Bali. Indikatornya antara lain.

dan Ni Luh Candrawati Sari. Penutup Begitulah.. MH.Edisi 3 / September / 2011 Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Penerapan UU Keterbukaan Informasi Publik 2010 lalu. Oleh karena itu masyarakat berharap agar pemerintah terus memberikan pelayanan optimal terhadap masyarakat. Sosialisasi tentang UU KIP sudah dilakukan di lembaga publik dan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Provinsi Bali. Pemerintah daerah berharap LSM bias ikut memantau proses pembentukan PPID. Informasi. Pemerintah Provinsi Bali baru bisa memasukkan pembentukan Komisi Informasi (KI) dalam APBD 2011. 79 . Ada yang cepat beradaptasi dalam iklim keterbukaan informasi. tetapi ada juga yang masih lamban. Ada kesan kuat bahwa Pemda sebenarnya menyadari akan pentingnya reformasi birokrasi. SH. Semua menyadari bahwa transparansi. Akan tetapi ada satu yang jelas. Nantinya di setiap lembaga itu akan ada Penanggung jawab Pengelolaan Informasi Daerah (PPID) yang ditetapkan dengan Peraturan Gubernur. Kemudian masalah anggaran dan transisi penataan lembaga publik juga menjadi masalah. Untuk itu pemerintah perlu terus menggalakan sosialisasi”. Langkah lainnya adalah dengan merancang website e-government. katanya. perwakilan Yayasan Manikaya Kauci. bahwa semuanya semakin menyadari pentingan arti penyelenggaraan pemerintahan dengan prinsip good governance. karena mungkin banyak yang belum tahu. perwakilan Walhi Bali. ada yang optimis dan ada yang pesimis. Selain itu belum ada numenklatur yang jelas antara fungsi yang akan diemban Dinas Infokom dan Humas Pemkot Bali. Tim seleksi selanjutnya akan menyaring minimal 10 calon dan maksimal 15 calon untuk diajukan dalam fit and proper test di DPRD Bali. “animo warga Denpasar kurang begitu antusias dalam memanfaatkan adanya UU KIP. RELA dihadiri oleh anggota Komisi Informasi (KI) Pusat  Abdul Rahman Ma’mun. tokoh masyarakat dan pemerintah. Sementara itu seorang tokoh masyarakat. dan wartawan. Ketua AJI Denpasar Rofiqi Hasan. Sementara pendapat warga masyarakat juga beragam. sehingga harus melakukan langkah-langkah penyesuaian. serba-serbi dinamika pemerintahan daerah dalam menyambut reformasi birokrasi ternyata sangat beragam. Proses pendirian KI diawali dengan pembentukan Tim Seleksi yang melibatkan kalangan akademisi. drs I Wayan Nuranta. SH.. perwakilan persma Akademika.   perwakilan Biro Pemerintahan Provinsi Bali. Nanti DPRD akan memilih 5 calon anggota KI. Meniartha berpendapat masyarakat belum peduli. dan partisipasi publik adalah penting dalam era sekarang ini. Kepala Bidang Informasi Dinas Perhubungan. akuntabilitas. dan Komunikasi Bali.

Dalam kaitannya dengan pelaksanaan UU KIP. dan kurang cepat melakukan perubahan dengan mengubah berbagai aturan yang telah usang.Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 Memang ada kendala yang cukup merisauhkan dalam upaya menggelorakan semangat reformasi birokrasi. Masih banyak aparat birokrasi yang mindset-nya menggunakan paradigma lama. Sementara itu kendala kultural muncul berkaitan dengan belum ada transformasi cara berpikir dan sikap yang berorientasi pada pelayanan publik. Hanya saja. rigit. Namun demikian. di kalangan masyarakat sendiri juga masih perlu didorong untuk lebih proaktif guna memanfaatkan UU KIP agar good governance terimplemntasi dengan lancar dalam proses pembangunan di daerah. di mana mereka masih minta dilayani. Sepertinya masyarakat kita memang masih perlu terus didorong menuju ke arah keterbukaan informasi. sebagian besar pemerintah daerah masih bergerak lamban dalam menyongsong era keterbukaan informasi. terbukti masih sedikit yang membentuk PPID. 80 . Kendala itu berupa kendala struktural maupun kultural. Kendala struktural muncul karena karakter birokrasi pemerintah yang hierarkis. UU KIP semakin populer berkat sosialisasi yang cukup intens kepada masyarakat. karena itu perlu terus menumbuhkan kesadaran bersama untuk tetap terus belajar berdemokrasi.

.

Birokrasi dalam Era Keterbukaan Informasi Publik Edisi 3 / September / 2011 82 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->