ANASIR HADIS

[Sanad, Rawi dan Matan] Hadis pada hakikatnya terdiri dari dua unsur pokok: Sanad dan Matan. Kedudukan sanad dalam hadis sangat penting, karena hadis yang diperoleh/diriwayatkan akan mengikuti siapa yang meriwayatkannya. Dengan sanad, suatu periwayatan hadis dapat diketahui mana yang dapat diterima (maqbul) atau ditolak (mardud); dan mana hadis yang sahih atau tidak, untuk dijadikan dasar/argumentasi/dalil hukum dan diamalkan isi/pemahaman matan hadisnya. Sanad merupakan jalan untuk menetapkan hukum-hukum Islam. PENGERTIAN SANAD DAN MATAN HADIS Sanad dari segi bahasa artinya sanad yaitu: (sandaran, tempat bersandar, yang menjadi sandaran). Sedangkan menurut istilah ahli hadis,

(Jalan yang menyampaikan kepada matan hadis). Contoh :

"Dikhabarkan kepada kami oleh Malik yang menerimanya dari Nafi, yang menerimanya dari Abdullah ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Janganlah sebagian dari antara kamu membeli barang yang sedang dibeli oleh sebagian yang lainnya." (Al-Hadis) Dalam hadis tersebut yang dinamakan sanad adalah:

(Dikhabarkan kepada kami oleh Malik yang menerimanya dari nafi yang menerimanya dari Abdullah ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda:...) Nama-nama orang yang ada dalam rangkaian sanad tersebut adalah Rawi/Periwayat. Adapun matan dari segi bahasa artinya membelah, mengeluarkan, mengikat. Sedangkan menurut istilah ahli hadis, matan yaitu:

(perkataan yang disebut pada akhir sanad, yakni sabda Nabi SAW yang disebut sesudah habis disebutkan sanadnya) .

" Dari Muhammad yang diterima dari Abu Salamah yang diterimanya dari Abu Hurairah. bahwa Rasulullah SAW bersabda; "Seandainya tidak memberatkan terhadap umatku, niscaya aku suruh mereka untuk bersiwak (menggosok gigi) setiap akan melakukan salat. " (Al-Hadis) Yang disebut matan dalam hadis tersebut yaitu:

‫لو ل أن أشق على أرمتي لرمرتهم بالسواك عند كل صلة‬
Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo

1

KEDUDUKAN SANAD DAN MATAN HADIS Para ahli hadis sangat hati-hati dalam menerima suatu hadis kecuali apabila mengenal dari siapa mereka menerima setelah benar-benar dapat dipercaya. Pada umumnya riwayat dari golongan sahabat tidak disyaratkan apa-apa untuk diterima periwayatannya. Akan tetapi mereka pun sangat hati-hati dalam menerima hadis . Pada masa Abu bakar r.a. dan Umar r.a. periwayatan hadis ’diawasi’ secara hati-hati dan tidak akan diterima jika tidak disaksikan kebenarannya oleh orang lain. Ali bin Abu Thalib tidak menerima hadis sebelum yang meriwayatkannya disumpah terlebih dahulu bahwa apa yang disampaikannya itu adalah benar-benar hadis Nabi Saw. Meminta seorang saksi kepada perawi, bukanlah merupakan keharusan dan hanya merupakan jalan untuk menguatkan hati dalam menerima yang berisikan itu. Jika dirasa tak perlu meminta saksi atau sumpah para perawi, mereka pun menerima periwayatannya. Adapun meminta seseorang saksi atau menyeluruh perawi untuk bersumpah untuk membenarkan riwayatnya, tidak dipandang sebagai suatu undang-undang umum diterima atau tidaknya periwayatan hadis. Yang diperlukan dalam menerima hadis adalah adanya kepercayaan penuh kepada perawi. Jika sewaktu-waktu ragu tentang riwayatnya, maka perlu didatangkan saksi/keterangan. Ada beberapa hadis dan atsar yang menerangkan keutamaan sanad, di antaranya yaitu: Diriwayatkan oleh muslim dari Ibnu Sirin, bahwa beliau berkata:

"Ilmu ini (hadis ini), idlah agama, karena itu telitilah orang-orang yang kamu mengambil agamamu dari mereka," Abdullah lbnu Mubarak berkata:

"Menerangkan sanad hadis, termasuk tugas agama Andaikata tidak diperlukan sanad, tentu siapa saja dapat mengatakan apa yang dikehendakinya. Antara kami dengan mereka, ialah sanad. Perumpamaan orang yang mencari hukum-hukum agamanya, tanpa memerlukan sanad, adalah seperti orang yang menaiki loteng tanpa tangga." Asy-Syafii berkata.

"Perumpamaan orang yang mencari (menerima) hadis tanpa sanad, sama dengan orang yang mengumpulkan kayu api di malam hari. " Perhatian terhadap sanad di masa sahabat yaitu dengan menghapal sanad-sanad itu dan mereka mempuyai daya ingat yang luar biasa. Dengan adanya perhatian mereka maka terpelihara sunnah Rasul dari tangan-tangan ahli bid'ah dan para pendusta. Karenanya pula imam- imam hadis berusaha pergi dan melawat ke berbagai kota untuk memperoleh sanad yang terdekat dengan Rasul yang dilakukan sanad 'aali Ibn Hazm mengatakan bahwa nukilan orang kepercayaan dari Orang yang dipercaya hingga sampai kepada Nabi SAW. dengan bersambung-sambung perawi-perawinya adalah suatu keistimewaan dari Allah khususnya kepada orang-orang Islam. Memperhatikan sanad riwayat adalah suatu keistimewaan dari ketentuan-ketentuan umat Islam. SKEMA SANAD HADIS Skema sanad hadis sebenarnya ditujukan untuk lebih memudahkan dalam mengenali dan mengetahui mata rantai / transmisi periwayatan hadis. Melalui skema ini juga bisa diketahui jalur periwayatan mana yang mengalami cacat dan tidak dalam sanad hadisnya, yakni dengan cara memperbandingkan berbagai jalur periwayatan hadis yang ada. Contoh skema sanad hadis sebagaimana terlampir dalam file tersendiri.[] KLASIFIKASI KITAB-KITAB HADIS DARI SEGI KUANTITAS – KUALITAS – KERAGAMAN MATERI DENGAN DASAR-DASARNYA

Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo

2

Al-Muwaththa’ karya Imam Malik dapat diperinci sebagai berikut. Ibnu Habbab yang dikutip oleh Abu Bakar al-‘Arabi dalam Syarah al-Tirmidzi.939 hadis. b. 4. Tambahan dari puteranya Abdullah ibn Ahmad sekitar 10. Ajjaj al-Khatib mengatakan 3. 5. Wensinck menyatakan ada 1.000 hadits. Jumlah hadis mu’allaq sebanyak 1341 hadis. Namun sebagian ulama ada yang menghitungnya sebanyak 5. memuat 7.602.804 hadis. Shahih Bukhari Sebagian ulama’ ada yang mengatakan bahwa Shahih Bukhari adalah sebagai rujukan umat Islam setelah Al-Qur’an.000 diantaranya dengan diulang-ulang. 6.A. Ad-darimi. B.030 hadis tanpa pengulangan. 10. Sunan al-Tirmidzi. Seluruh hadis yang mausul tanpa mengulang sebanyak 2. berjumlah 4.800 dari 500. d. 2. A. Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 3 . f. e. Shahih Muslim. berjumlah 3. Al-Mustadrok ‘Ala Al-Shohihain karangan Imam Al-Hakim An-Nasaiburi yang memuat 8690 hadis. sebagaimana yang dikatakan Imam Muhyiddin Abdul Hamid. Jika tanpa mengulang sebanyak 4000 hadis. Para ulama mensyarahkan semua hadis dalam kitab Shahih Bukhari.275 hadis termasuk yang diulang. c.000 hadis seperti yang dikatakan Ibnu Shalah dari Abu Quraisy. Sedangkan menurut perhitungan M.000 hadis sera beberapa tambahan dari Ahmad ibn Ja’far al-Qathiliy.274 hadis.000 hadis termasuk yang diulang. Sunan Abu Dawud. menurut Ibnu al-Shalah dalam muqaddimahnya.612 hadis. Jumlah matan hadis yang mu’allaq tetapi marfu’ yang tidak disambung pada tempat lain sebanyak 159. Jumlah semua hadis termasuk yang diulang sebanyak 7. didalamnya terdapat 40.000 hadis. Jika tanpa pengulangan sebanyak 4. Jumlah hadis mutabi’ sebanyak 344. 7. Kitab ini diterima baik oleh umat Islam. kurang lebih 10.397. Abu Bakar al-Abhari menyatakan dalam kitab Imam Malik memuat 1726 hadis. Musnad Ahmad ibn Hanbal. Menurut Ajjaj al-Khatib memuat 5. Sedangkan menurut Ibnu Hajar dalam muqaddimah Fathu al-Bari. Fuad ‘Abd al-Baqi kitab ini memuat 3. Dalam versi lain Sunan al-Nasa’i berisi 4. Klasifikasi Berdasarkan Kuantitas Hadis 1. mengistimbat hukum darinya. 3. Belum ada kitab hadis yang mendapat perhatian besar selain kitab ini. Ibnu Hazm menyatakan ada 500 hadis lebih. 9. menyatakan dalam kitab beliau ada 500 hadis. Sunan Ibnu Majah. Shahih Bukhari. Klasifikasi Berdasarkan Kualitas Hadis 1. sebagaimana yang telah disebutkan Imam Abu Dawud dalam tulisan beliau hadisnya berjumlah 4.956 hadis.082 hadis. Sunan al-Nasa’i.J. jumlah hadis Bukhari diperinci sebagai berikut: a. Jumlah seluruhnya termasuk yang diulang sebanyak 9.761 hadis. Sebagaimana yang dikatakan oleh penulis Shahih Muslim bahwa didalamnya memuat 12. Al-Harasi mengatakan ada 700 hadis. Hasil karyanya yang terkenal adalah Sunan Ad-Darimi yang mengandung 39 buah hadis mursal dan 240 hadis maqthu’. Shuhudi Ismail menyebutkan ada 1.033 hadis.000 hadis yang disaring. meneliti para rawinya. 8.

tetapi juga memuat hadis hasan dan dla’if dengan diberi penjelasan mengenai kelemahan hadis tersebut.masdud dan hadis maqthu’. Hal ini diakui oleh para ulama kritikus hadis. dan mu’dhal. C. pengklasifikasiannya didasarkan pada bersambung atau tidaknya sanad. Adapun yang menonjol penambahannya pada atsar. dla’if.Ia kemukakan di mukoddimah dalam Fadloil Al-Qur’an. Klasifikasi Berdasarkan Sistimatika dan Keragaman Materi hadis Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 4 . Oleh para ulama’ kitab ini tidak dimasukkan dalam kutubu al-sittah. Al-Mustadrok Al-Hakim Kitab al-Mustadrok memuat hadis shoheh dan tidak shoheh. Ibnu Shalah. Kitab beliau juga termasuk yang paling sedikit memuat hadis. seperti Imam Nawawi. 5. sebagaimana yang dikatakan Ibnu al-‘Arabi bahwa apabila seseorang sudah memiliki kitabullah dan kitab Sunan Abu Dawud.karena dalam penentuan keshohihan hadisnya Bukhori mengharuskan antara guru dan murid terjadi pertemuan. namun beliau memberikan karyanya kepada ulama lain untuk mengoreksinya. Musnad Ahmad Ibn Hanbal Dilihat dari nilai hadis yang ada didalam kitab. Dengan demikian kitab ini juga memuat hadis dla’if. hasan. dan pendusta. mursal. Imam Nasa’i mengatakan bahwa tidak ada kitab hadis yang paling baik selain karya Muhammad ibn Isma’il al-Bukhari.dan maqthu’. Sedikit sekali komentar yang ditulis. 7. 8. Sunan Ad-Darimi Kitab ini berisikan hadis-hadis marfu’. sebagaimana yang dikatakan beliau sendiri ketika ditanya oleh Amir al-Ramlah. Komentar pujian para ulama ditujukan terhadap karya beliau. . karena Abu Dawud lebih terfokus hadis-hadis yang diperlukan fukaha’ dan lebih banyak perhatiannya dalam matan-matan hadis yang ada tambahannya. Para periwayatnya banyak yang dinilai negatif oleh kritikus hadis. Diantara pujian yang menyangkut karya beliau dilontarkan oleh Ibnu al-Atsir dalam muqaddimah Jami’ al-Ushul. Kitab ini sedikit dibawah Sunan Abu Dawud. karena lemahnya syarat standar penilaian hadis. meskipun ada yang menilai semuanya shahih. 6. Ini juga dapat dilihat dalam penilaian Ulama’hadis sebagai pengarang yang terkenal hafidz. dla’if bahkan ada yang mungkar. Sebagian ulama’ melakukan kritik terhadap beberapa hadis beliau dan menilai maudlu’. Hal inilah yang menyebabkan kedudukan Tirmidzi lebih rendah dari Imam Abu Dawud. Banyak kalangan ulama’ yang menilai bahwa Al-Hakim adalah seorang ahli hadis yang tsiqoh. Al-Muwaththa’ Dalam al-Muwaththa’ terdapat hadis yang shahih. munqathi’. Sedangkan yang menjadi sebab tingkatan Imam Muslim lebih rendah dari imam Bukhori. Ibnu Kasir dan Ibnu al-Subki. beliau tidak hanya mengikuti kriterianya sendiri. 4. tetapi ada juga hadis hasan. waro’ dan zuhud. Namun hadis-hadis tersebut adalah hal yang berkaitan dengan Fadla’ilu al-A’mal. 9. Kitab ini juga memuat hadis selain shahih. 10. Sehingga kitab ini tidak termasuk dalam kutubu al-sittah Menurut Sufyan Ibn Uyainah dan As-Suyuti mengatakan bahwa seluruh hadis yang diriwayatkan Imam Malik adalah shohih. Sunan al-Tirmidzi Imam Tirmidzi tidak hanya memuat hadis shahih.alasannya karena diriwayatkan oleh orang-orang yang terpecaya. karena ada yang berpendapat bahwa kitab ini seluruhnya shahih. Kitab ini masuk dalam deretan terakhir dalam kutubu al-sittah. ada yang dlaif bahkan maudlu’. Alasan kenapa kedudukan sunan Abu Dawud lebih rendah dibanding dengan Sunan Bukhori dan Muslim. ada pula yang mendekati keduanya. menurut ulama’ derajat kitab ini dibawah kitab sunan. matruk. 3. tidak hanya memuat hadis sahih saja seperti Bukhari dan Muslim. Imam Daraqutni mengatakan bahwa jika tidak ada Imam Bukhari. maka ia tidak memerlukan kitab lain.seperti yang dikemukakan oleh Al-Habib. Sunan Ibnu Majah Kitab Sunan Ibnu Majah.mauquf. 2. Sunan Abu Dawud Dalam Sunan Abu Dawud. Shahih Muslim Dikatakan bahwa kitab ini adalah termasuk dua kitab yang paling shahih setelah al-Qur’an. Imam al-Ghazali berkata: “Sunan Abu Dawud sudah cukup bagi para mujtahid untuk mengetahui hadis hukum”. Hal ini berdasarkan pendapat Imam Daraqutni diatas. Dalam mencatat hadis shahih. Shahih Muslim berada satu tingkat dibawah Bukhari. sedangkan Imam Muslim tidak mengharuskan itu. Sunan al-Nasa’i Didalamnya memuat hadis shahih. niscaya tidak ada Imam Muslim. sehingga kriteria shahih dapat diterima seluruh ulama lain. teguh.namun ini hanya sedikit saja.karena dalam kitad sunan abu dawud selain memuat hadis shohih juga memuat hadis hasan dan dloif. Yang dimaksud “baik” adalah “shahih”. Secara umum karya Imam Bukhari ini adalah kitab yang paling Shahih diantara kitab-kitab hadis yang ada. tsiqoh. Dan masih banyak pujian yang diberikan terhadap karya beliau.Penilaian yang positif dan termasuk dalam tingkat tinggi ditujukan kepada kitab beliau. sangat kurang menarik perhatian ulama’.

6. Sunan Ibnu Majah Sistematika dalam kitabnya dibagi dalam beberapa kitab (bab) atau dengan kata lain sistematika Fiqh. 9. sholat. ratusan bab. ‫ أى ان صحة النسناد ليست رموجبة لصحة المتن‬. Kitab wudu’ dan seterusnya. diakhiri kitab Tafsir. ‫ "علل الحديث ومعرفة الرجال " لبن المدينى‬: ‫ومن كتب العلل‬ . 10. 4. Kitab ini kemudian dinamakan al-Fath ar-Rabbany. juz kedua : Jihad dan diakhiri nama-nama Nabi.1. ibadah. doa.( 113 ‫قال ابن الصل ح قد يقال هذا حديث صحيح ال نسناد ول يصح لكونه شذوذا او رمعلل ) مقدمة‬ ( 6 ‫) التقريب ص‬. Shahih Muslim Diawali dengan muqoddimah dan diteruskan dengan bab-bab fiqhiyah. zakat dan diakhiri dengan kitab Adab. ‫ وكتاب " العلل " للترمذى‬. dengan urutan diawali Thaharah dan diakhiri Zuhud. kitab. jihad. Al-Muwaththa’ Kitab al-Muwaththo adalah kitab hadis yang bersistematika Fiqh berdasar kitab yang telah ditahqiq oleh Muhammad Fuad alBaqi.2 .‫ الطضطراب‬.( 43 ‫ والحكم بالصحة او الحسن على السناد ل يلزم منه الحكم بذلك على المتن اذ قد يكون شاذا او معلل ) اختصار علوم الحديث‬: ‫قال ابن كثير‬ . 8. 3. Sunan al-Tirmidzi Kitab ini disusun berdasar urutan bab Fiqh. Juz pertama waktu shalat diakhiri haji. pakaian. 61 kitab (bab). adab. dari bab Thaharah seterusnya sampai dengan bab Aklaq. Shahih Bukhari Sistematika yang dipakai oleh al-Bukhori adalah memakai metode sunan yaitu dengan membagi menjadi beberapa judul tertentu dengan istilah kitab yang mana berjumlah 97 kitab. Dengan kata lain al-Tirmidzi dalam menulis hadis dengan mengklasifikasikan sistematikanya dengan model Juz.‫ لكنها كما هو معلوم مختصة بعلل الساند فقط‬. 2. kemudian dibagi lagi menjadi beberapa sub judul dengan istilah bab berjumlah 4550 bab dengan dimulai dengan bab Bad’u al-Wahy kemudian disusun kitab al-Iman. ‫وكتاب " علل الحديث " لبن ابى حاتم فى مجلدين وهو اكبر كتاب مطبوع فى العلل‬        : ‫رمقايس نقد الحديث‬ ‫عرض الحديث على القرآن‬ ‫عرض السنة بعضها على بعض‬ ‫النظر العقلى‬ : ‫رمقايس النقد عند الفقهاء‬ ‫ عرض الحديث على القرآن‬.‫أ‬ Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 5 . dan sub bab. dengan diawali muqaddimah kemudian dilanjutkan bab Thaharah dan ditutup Fadhoil al-Qur’an.1 ‫ عرض روايات الحديث الواحد بعضها على بعض‬. bab. ‫ ل نه قد يصح او يحسن ال سناد دون المتن لشذوذ او علة‬: ‫قال النووى‬ . dan keutamaan-keutamaan. 7.‫ ولم يوجد فيه انه يعلل حديثا واحدا بالنظر الى متنه‬. ‫ليس كل رما صح نسنده صح رمتنه‬ . Adapun urutan penulisan hadisnya dalam kitab sunannya dengan memulai pembahasannya tentang Thaharah. Kitab al-Muwaththa’ terdiri dari 2 juz. Kitab ini memuat hadis-hadis mengenai ajaran Islam yaitu hal-hal yang menyangkut keimanan sampai masalah sejarah masa silam. kitab al-‘Ilm. Kitab ini disusun dengan menggunakan sistematika sunan yaitu dengan membagi menjadi beberapa judul tertentu berdasarkan urutan fiqh yang terdiri dari 44 kitab dan tujuh juz diawali oleh muqaddimah. makanan dan minuman. 5. muamalah.( ‫ لحمد بن حنبل وكتاب " التاريخ والعلل " ليحيى بن معين ) مخطوط‬: ‫وكذلك كتاب " العلل ومعرفة الرجال‬ ‫ حديثا وليس فيها تعليل للمتون بل كل ذلك للساند‬2940 ‫ ذكر فيه علل‬. Secara garis besar urutannya adalah kitab iman. dari Fadhoil dan lain-lain. ‫ومن الكتب المؤلفة فى نقد الحديث كتب العلل‬ . Sunan al-Nasa’i Kitab sunan Nasa’i dikualifikasikan menurut hukum Islam yang disusun dengan cara mengumpulkan sanadsanad hadis di satu tempat. Sunan Abu Dawud Kitab Sunan Abu Daud dalam menyusun kitabnya menurut sistematika/urutan bab-bab fiqh yang dapat memudahkan pembaca. dan mencakup pokok bahasan sekitar 50 bab dan 896 hadis. Musnad Ahmad Ibn Hanbal Kitab Ibn Hambal pada perkembangannya disusun berdasarkan susunan fiqh oleh Abdurrahman Ibn Muhammad al-Banna yang terkenal dengan as-Sa’aty dan dijadikan tujuh bagian. Sunan Ad-Darimi Sistematika penyusunan berdasarkan tata urutan dan sistematika kitab Fiqh yang terangkai dalam 24 kitab. ‫ ولم يوجد فيه مايتعلق بالمتن‬. Al-Mustadrok Al-Hakim Kitab ini terdiri atas empat jilid 2561 halaman.

Hadits yang dapat dijadikan pegangan dasar hukum suatu perbuatan haruslah diyakini kebenarannya. Sebagian ulama menetapkan sekurang-kurangnya 20 orang. Hal tersebut diqiyaskan dengan firman Allah: Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 6 .5 . maka dalam hal ini pada garis besarnya hadits dibagi menjadi dua macam. Dalam sejarah para perawi diketahui bagaimana cara perawi menerima dan menyampaikan hadits. Disamping itu. Hadits Mutawatir a.3 . dalam arti tidak merupakan hasil tanggapan pancaindera (tidak didengar atau dilihat) sendiri oleh pemberitanya. yaitu segala berita yang diriwayatkan dengan tidak bersandar pada pancaindera. Hal tersebut berdasarkan ketentuan yang telah difirmankan Allah tentang orang-orang mukmin yang tahan uji.‫ج‬ . maka jalan penyampaian hadits itu atau orang-orang yang menyampaikan hadits itu harus dapat memberikan keyakinan tentang kebenaran hadits tersebut. DARI SEGI JUMLAH PERIWAYATNYA Hadits ditinjau dari segi jumlah rawi atau banyak sedikitnya perawi yang menjadi sumber berita.‫د‬ ‫عرض السنة بعضها على بعض‬ . Hal tersebut diqiyaskan dengan jumlah saksi yang diperlukan oleh hakim. a. hal tersebut seimbang dari permulaan sanad hingga akhirnya.6 .‫عرض متن الحديث على الوقائع والمعلومات التاريخية‬ ‫ركاكة لفظ الحديث وبعد رمعناه‬ ‫رمخالفة الحديث للصول الشرعية والقواعد المقررة‬ ‫اشتمال الحديث على ارمر رمنكر او رمستحيل‬ . Untuk mendapatkan hadits tersebut tidaklah mudah karena hadits yang ada sangatlah banyak dan sumbernya pun berasal dari berbagai kalangan. dapat diketahui pula banyak atau sedikitnya orang yang meriwayatkan hadits itu. Abu Thayib menentukan sekurang-kurangnya 4 orang. ada pula yang dengan tidak melalui perantaraan pancaindera. d. A. Artinya bahwa berita yang disampaikan itu benar-benar merupakan hasil pemikiran semata atau rangkuman dari peristiwa-peristiwa yang lain dan yang semacamnya. b. seperti meriwayatkan tentang sifat-sifat manusia. Sedangkan menurut istilah ialah: "Suatu hasil hadis tanggapan pancaindera." Tidak dapat dikategorikan dalam hadits mutawatir.7 KUALITAS & KLASIFIKASI HADIS NABI SAW Hadits yang dapat dijadikan pegangan adalah hadits yang dapat diyakini kebenarannya.4 . Syarat-Syarat Hadits Mutawatir Suatu hadits dapat dikatakan mutawatir apabila telah memenuhi persyaratan sebagai berikut : 1. baik yang terpuji maupun yang tercela.‫ القلب‬. Apabila jumlah yang meriwayatkan demikian banyak yang secara mudah dapat diketahui bahwa sekian banyak perawi itu tidak mungkin bersepakat untuk berdusta. 1. b. ‫ زيادة الثقة‬. Karena kita tidak mendengar hadis itu langsung dari Nabi Muhammad SAW. Ta'rif Hadits Mutawatir Kata mutawatir Menurut lughat ialah mutatabi yang berarti beriring-iringan atau berturut-turut antara satu dengan yang lain. Ashabus Syafi'i menentukan minimal 5 orang. Hal tersebut diqiyaskan dengan jumlah para Nabi yang mendapatkan gelar Ulul Azmi.‫ب‬ ‫ التصحيف والتحريف‬." ‫ما رواه جمع تحل العادة تواطئهم على الكذب عن مثلهم من أول السند إلى منتهاه على أن يحتل هذا الجمع في أي طبقة من طبقات السند‬ Artinya: "Hadits mutawatir ialah suatu (hadits) yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut adat mustahil mereka bersepakat berbuat dusta. c. yang diriwayatkan oleh sejumlah besar rawi. yang menurut kebiasaan mustahil mereka berkumpul dan bersepakat untuk dusta. tidak terdapat kejanggalan jumlah pada setiap tingkatan. Hadits (khabar) yang diberitakan oleh rawi-rawi tersebut harus berdasarkan tanggapan (daya tangkap) pancaindera. misalnya dengan lafaz diberitakan dan sebagainya. yakni hadits mutawatir dan hadits ahad. Ada yang melihat atau mendengar. tetapi mereka berkumpul untuk bersepakat mengadakan berita-berita secara dusta. Ulama yang lain menetapkan jumlah tersebut sekurang-kurangnya 40 orang. maka penyampaian itu adalah secara mutawatir. yang dapat mengalahkan orang-orang kafir sejumlah 200 orang (lihat surat Al-Anfal ayat 65). 2. Bilangan para perawi mencapai suatu jumlah yang menurut adat mustahil mereka untuk berdusta . maka tidak dapat disebut hadits mutawatir walaupun rawi yang memberikan itu mencapai jumlah yang banyak. Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat tentang batasan jumlah untuk tidak memungkinkan bersepakat dusta. juga segala berita yang diriwayatkan oleh orang banyak.

Ibnu Hajar Al-Asqalani berpendapat bahwa pendapat tersebut di atas tidak benar. Sedangkan Ibnu Salah berpendapat bahwa mutawatir itu memang ada. Pembagian Hadits Mutawatir Para ulama membagi hadits mutawatir menjadi 3 (tiga) macam : 1. yakni keharusan untuk menerimanya secara bulat sesuatu yang diberitahukan mutawatir karena ia membawa keyakinan yang qath'i (pasti). Hadits Mutawatir Lafzi Muhadditsin memberi pengertian Hadits Mutawatir Lafzi antara lain : ". Faedah Hadits Mutawatir Hadits mutawatir memberikan faedah ilmu daruri. bahkan Ibnu Hibban dan Al-Hazimi menyatakan bahwa hadits mutawatir tidak mungkin terdapat karena persyaratan yang demikian ketatnya.Suatu (hadits) yang sama (mufakat) bunyi lafaz menurut para rawi dan demikian juga pada hukum dan maknanya " Pengertian lain hadits mutawatir lafzi adalah : ". d. sejak dalam thabaqat (lapisan/tingkatan) pertama maupun thabaqat berikutnya. kelakuan dan sifat-sifat perawi yang dapat memustahilkan hadits mutawatir itu banyak jumlahnya sebagaimana dikemukakan dalam kitab-kitab yang masyhur bahkan ada beberapa kitab yang khusus menghimpun hadits-hadits mutawatir. "Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku. Al-Anfal: 64). Oleh karenanya wajiblah bagi setiap muslim menerima dan mengamalkan semua hadits mutawatir. maka hendaklah ia bersedia menduduki tempat duduk di neraka. Ibnu Hajar mengemukakan bahwa mereka kurang menelaah jalan-jalan hadits. Seimbang jumlah para perawi." (QS. susunan Imam As-Suyuti(911 H). susunan Muhammad Abdullah bin Jafar Al-Khattani (1345 H). dengan seyakin-yakinnya bahwa Nabi Muhammad SAW benar-benar menyabdakan atau mengerjakan sesuatu seperti yang diriwayatkan oleh rawi-rawi mutawatir. seperti Al-Azharu al-Mutanatsirah fi al-Akhabri al-Mutawatirah. Hadits mutawatir yang memenuhi syarat-syarat seperti ini tidak banyak jumlahnya. 3. dapatlah dikatakan bahwa penelitian terhadap rawi-rawi hadits mutawatir tentang keadilan dan kedlabitannya tidak diperlukan lagi.Suatu yang diriwayatkan dengan bunyi lafaznya oleh sejumlah rawi dari sejumlah rawi dari sejumlah rawi " Contoh Hadits Mutawatir Lafzi : "Rasulullah SAW bersabda. Nadmu al-Mutasir Mina al-Haditsi al-Mutawatir. Dengan demikian."Wahai nabi cukuplah Allah dan orang-orang yang mengikutimu (menjadi penolongmu)." Silsilah/urutan rawi hadits di atas ialah sebagai berikut : Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 7 . c. Umat Islam telah sepakat tentang faedah hadits mutawatir seperti tersebut di atas dan bahkan orang yang mengingkari hasil ilmu daruri dari hadits mutawatir sama halnya dengan mengingkari hasil ilmu daruri yang berdasarkan musyahailat (penglibatan pancaindera). karena kuantitas/jumlah rawi-rawinya mencapai ketentuan yang dapat menjamin untuk tidak bersepakat dusta. tetapi jumlahnya hanya sedikit.

" 3. yaitu tidak kurang dari 30 buah dengan redaksi yang berbeda-beda. Contoh : Artinya : "Rasulullah SAW tidak mengangkat kedua tangan beliau dalam doa-doanya selain dalam doa salat istiqa' dan beliau mengangkat tangannya. Hadits mutawatir maknawi Hadits mutawatir maknawi adalah : Artinya : "Hadis yang berlainan bunyi lafaz dan maknanya. kemudian Imam Nawawi dalam kita Minhaju al-Muhadditsin menyatakan bahwa hadits itu diterima 200 sahabat.Menurut Abu Bakar Al-Bazzar. hadits tersebut diatas diriwayatkan oleh 40 orang sahabat." :Artinya ". sehingga nampak putih-putih kedua ketiaknya. Bukhari Muslim) Hadis yang semakna dengan hadis tersebut di atas ada banyak. Antara lain hadis-hadis yang ditakhrijkan oleh Imam ahmad. Al-Hakim dan Abu Daud yang berbunyi : Artinya : "Rasulullah SAW mengangkat tangan sejajar dengan kedua pundak beliau. namun terdapat persesuaian atau kesamaan dalam maknanya. Hadis Mutawatir Amali Hadis Mutawatir Amali adalah : Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 8 .Hadis yang disepakati penulisannya atas maknanya tanpa menghiraukan perbedaan pada lafaz " Jadi hadis mutawatir maknawi adalah hadis mutawatir yang para perawinya berbeda dalam menyusun redaksi hadis tersebut. tetapi dapat diambil dari kesimpulannya atau satu makna yang umum. 2." (HR.

hendaklah kita periksa apakah ada muaridnya yang berlawanan dengan maknanya. yang terkemudian kita ambil. baik pemberita itu seorang. Jika tak dapat ditarjihkan salah satunya. Pengertian hadis ahad Menurut Istilah ahli hadis. dan hadis yang diriwayatkan oleh tiga orang rawi lebih tinggi tingkatannya daripada hadis yang diriwayatkan oleh dua orang rawi. maka hadis yang diriwayatkan oleh dua orang rawi lebih tinggi tingkatannya dari hadis yang diriwayatkan oleh satu orang rawi. Jika terlepas dari perlawanan maka hadis itu kita sebut muhkam. kita usahakan menarjihkan salah satunya.Artinya : "Sesuatu yang mudah dapat diketahui bahwa hal itu berasal dari agama dan telah mutawatir di antara kaum muslimin bahwa Nabi melakukannya atau memerintahkan untuk melakukannya atau serupa dengan itu. tiga orang. Di samping pembagian hadis mutawatir sebagimana tersebut di atas. kita pandang nasikh. empat orang. ialah memeriksa "Apakah hadis tersebut maqbul atau mardud". dalam arti maqbul." b. Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 9 . lima orang dan seterusnya. Hadis Ahad a. maka hadis yang diriwayatkan oleh rawi yang kuat ingatannya. Bahwa neraca yang harus kita pergunakan dalam berhujjah dengan suatu hadis. maka mereka sepakat bahwa hadis tersebut wajib untuk diamalkan sebagaimana hadis mutawatir. baik ia muhkam. kita kumpulkan antara keduanya. tarif hadis ahad antara laian adalah: Artinya: "Suatu hadis (khabar) yang jumlah pemberitaannya tidak mencapai jumlah pemberita hadis mutawatir. atau mukhtakif adalah jika dia tidak marjuh dan tidak mansukh. sesudah nyata sahih atau hasannya. yaitu jumlah rawi. kita tidak dapat iktiqatkan dan tidak dapat pula kita mengamalkannya. dan keadaan matan. Kalau maqbul. Kemudian apabila telah nyata bahwa hadis itu (sahih. kita pandang mansukh. Oleh karenanya hadis mutawatir hanya dibagi menjadi mutawatir lafzi dan mutawatir maknawi. B. Dan kalau temyata telah diketahui bahwa. Walhasil." Contoh : Kita melihat dimana saja bahwa salat Zuhur dilakukan dengan jumlah rakaat sebanyak 4 (empat) rakaat dan kita tahu bahwa hal itu adalah perbuatan yang diperintahkan oleh Islam dan kita mempunyai sangkaan kuat bahwa Nabi Muhammad SAW melakukannya atau memerintahkannya demikian. maka yang terdahulu kita tinggalkan. Hadis ahad hanya memfaedahkan zan. Faedah hadis ahad Para ulama sependapat bahwa hadis ahad tidak Qat'i. boleh kita berhujjah dengannya. Jika dua buah hadis memiliki keadaan matan jumlah rawi (sanad) yang sama. bertawaqquflah kita dahulu. tetapi jumlah tersebut tidak memberi pengertian bahwa hadis tersebut masuk ke dalam hadis mutawatir: " Ada juga yang memberikan tarif sebagai berikut: Artinya: "Suatu hadis yang padanya tidak terkumpul syara-syarat mutawatir. kita tinggalkan yang marjuh. Jika kita tidak mengetahui sejarahnya. Jika ada. Kita ambil yang rajih. 2. dua orang. Bila dua buah hadis menentukan keadaan rawi dan keadaan matan yang sama. Mereka memasukkan hadis mutawatir amali ke dalam mutawatir maknawi. juga ulama yang membagi hadis mutawatir menjadi 2 (dua) macam saja. oleh karena itu masih perlu diadakan penyelidikan sehingga dapat diketahui maqbul dan mardudnya. keadaan (kualitas) rawi. DARI SEGI KUALITAS SANAD DAN MATAN HADIS Penentuan tinggi rendahnya tingkatan suatu hadis bergantung kepada tiga hal. tapi diketahui mana yang terkemudian. Kalau tak mungkin dikumpulkan. hadis tersebut tidak tertolak. Ketiga hal tersebut menetukan tinggi-rendahnya suatu hadis. sebagaimana hadis mutawatir. barulah dapat kita dapat berhujjah dengan suatu hadis. atau hasan). atau kita takwilkan salah satunya supaya tidak bertentangan lagi maknanya. Kalau mardud.

Batasan hadis sahih." Awal hadis tersebut adalah ahad. Maka hadis yang demikian bukan termsuk hadis mutawatir. seperti pernyataan bahwa satu itu separuhnya dua. Contoh hadis : Artinya : "Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya. Hadis Hasan Menurut bahasa. hadis hasan. jumlah rawi. Kata-kata (dan sandaran mereka adalah pancaindera) seperti sikap dan perkataan beliau yang dapat dilihat atau didengar sabdanya. maka hadis yang matannya seiring atau tidak bertentangan dengan ayatayat Al-Quran. keadaan rawi. Tinggi rendahnya tingkatan suatu hadis menentukan tinggi rendahnya kedudukan hadis sebagai sumber hukum atau sumber Islam. yaitu hadis sahih. namun pada pertengahan sanadnya menjadi mutawatir. Hadis yang rendah tingkatannya berarti hadis yang rehdah taraf kepastiannya atau taraf dugaan tentang benarnya ia berasal dari Rasulullah SAW. Misalnya para sahabat menyatakan.Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohon tobat kepada kami) pada waktu yang telah kami tentukan " Pendapat lain membatasi jumlah mereka empat pulu orang. hasan. Bila dua hadis memiliki rawi yang sama keadaan dan jumlahnya. Kata-kata (dari sejumlah rawi yng semisal dan seterusnya sampai akhir sanad) mengecualikan hadis ahad yang pada sebagian tingkatannya terkadang diriwayatkan oleh sejumlah rawi mutawatir. 2. Para ulama membagi hadis ahad dalam tiga tingkatan. Tingkatan{martabat) hadis ialah taraf kepastian atau taraf dugaan tentang benar atau palsunya hadis berasal dari Rasulullah. dan hadis yang diriwayatkan oleh rawi yang jujur lebih tinggi tingkatannya daripada hadis yang diriwayatkan oleh rawi pendusta. Hadis Sahih Hadis sahih menurut bahasa berarti hadis yng bersih dari cacat. Hadis yang tinggi tingkatannya berarti hadis yang tinggi taraf kepastiannya atau tinggi taraf dugaan tentang benarnya hadis itu berasal Rasulullah SAW. lebih tinggi tingkatannya dari hadis yang matannya buruk atau bertentangan dengan ayat-ayat Al-quran. hdis mutawatir. seperti pernyataan tentang keesaan firman Allah dan mengecualikan pernyataanpernyataan rasional murni. Menurut Imam Turmuzi hasis hasan adalah : Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 10 . dan daif. dan hadis daif." Keterangan lebih luas mengenai hadis sahih diuraikan pada bab tersendiri. Hal ini dikarenakan bahwa yang menjadi pertimbangan adalah akal bukan berita. antara lain : Artinya : "Hadis sahih adalah hadis yng susunan lafadnya tidak cacat dan maknanya tidak menyalahi ayat (al-Quran). bahkan ada yang membatasi cukup dengan empat orang pertimbangan bahwa saksi zina itu ada empat orang. Dengan demikian mengecualikan masalah-masalah keyakinan yang disandarkan pada akal. dan keadaan matan dalam menentukan pembagian hadis-hadis tersebut menjadi hadis sahih. hadis yng benar berasal dari Rasulullah SAW. hasan berarti bagus atau baik. Pada umumnya para ulama tidak mengemukakan.lebih tinggi tingkatannya daripada hadis yang diriwayatkan oleh rawi yang lemah tingkatannya. 1. : Artinya ". atau ijimak serta para rawinya adil dan dabit. "kami melihat Nabi SAW berbuat begini". yang diberikan oleh ulama.

DARI SEGI KEDUDUKAN DALAM HUJJAH Sebagaimana telah dijelaskan bahwa suatu hadis perlu dilakukan pemeriksaan. penyelidikan dan pemhahasan yang seksama khususnya hadis ahad. C. Dalam hal ini hadis yang kuat disebut dengan hadis rajih. yaitu setiap hadis yang diriwayatkan melalui sanad di dalamnya tidak terdapat rawi yang dicurigai berdusta. yang dibenarkan. Sedangkan menurut urf Muhaditsin hadis Maqbul ialah: :Artinya ". Pada hadis daif itu terdapat hal-hal yang menyebabkan lebih besarnya dugaan untuk menetapkan hadis tersebut bukan berasal dari Rasulullah SAW. yang diterima. yakni para ulama memiliki dugaan yang lemah (keci atau rendah) tentang benarnya hadis itu berasal dari Rasulullah SAW. 1. Hadis yang demikian kami sebut hadis hasan. Memang berbeda dengan hadis mutawatir yang memfaedahkan ilmu darury. sedangkan yang lemah disebut dengan hadis marjuh. Sehubungan dengan hal tersebut di atas. Hadis maqmulun bihi • • Jumhur ulama berpendapat bahwa hadis maqbul ini wajib diterima. namun demikian para muhaddisin dan juga ulama yang lain sependapat bahwa tidak semua hadis yang maqbul itu harus diamalkan. melainkan juga tidak memenuhi syarat-syarat hadis hasan." Jadi hadis daif itu bukan saja tidak memenuhi syarat-syarat hadis sahih. baik yang lizatihu maupun yang ligairihi. dan juga tidak menghimpun sifat-sifat hadis hasan. sedangkan yang datang terdahulu (yang dihapus) disebut dengan hadis mansukh. mengingat dalam kenyataan terdapat hadis-hadis yang telah dihapuskan hukumnya disebabkan datangnya hukum atau ketentuan barn yangjugaditetapkan oleh hadis Rasulullah SAW. Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 11 . a. maka hadis maqbul dapat dibagi menjadi 2 (dua) yakni hadis maqbulun bihi dan hadis gairu ma'mulin bihi. Adapun hadis maqbul yang datang kemudian (yang menghapuskan)disebut dengan hadis nasikh. Hadis Daif Hadis daif menurut bahasa berarti hadis yang lemah. Apabila ditinjau dari segi kemakmurannya. matan hadisnya. Disamping itu. Para ulama memberi batasan bagi hadis daif : Artinya : "Hadis daif adalah hadis yang tidak menghimpun sifat-sifat hadis sahih." 3. Kedua macam hadis tersebut di atas adalah hadis-hadis maqbul yang wajib diterima. karena hadis tersebut tidak mencapai derajat mutawatir.Artinya : "yang kami sebut hadis hasan dalam kitab kami adalah hadis yng sannadnya baik menurut kami. Sedangkan yang temasuk dalam kategori hadis maqbul adalah: Hadis sahih.Hadis yang menunjuki suatu keterangan bahwa Nabi Muhammad SAW menyabdakannya " Hadis hasan baik yang lizatihi maupun yang ligairihi. terdapat pula hadis-hadis maqbul yang maknanya berlawanan antara satu dengan yang lainnya yang lebih rajih (lebih kuat periwayatannya). tidak janggal diriwayatkan melalui sanad yang lain pula yang sederajat. hadis ahad ahad ditinjau dari segi dapat diterima atau tidaknya terbagi menjadi 2 (dua) macam yaitu hadis maqbul dan hadis mardud. yaitu suatu keharusan menerima secara bulat. Hadis Maqbul Maqbul menurut bahasa berarti yang diambil.

Hadis Muttasil Hadis muttasil disebutjuga Hadis Mausul. Hadis Mardud Mardud menurut bahasa berarti yang ditolak. Contoh Hadis Muttasil Marfu' adalah hadis yang diriwayatkan oleh Malik. Hadis rajih. Hadis mutawaqaf. Artinya: "Hadis muttasil adalah hadis yang didengar oleh masing-masing rawinya dari rawi yang di atasnya sampai kepada ujung sanadnya. Al-Sahihah. Hadis mansuh c. Hadis marjuh. Hadis muhkam." Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 12 . sehubungan dengan hadis Mu 'an 'an. baik hadis marfu' maupun hadis mauquf. seperti AlArz. Sedangkan menurut urf Muhaddisin. Di antara hadis-hadis maqbul yang tidak dapat diamalkan ialah: a. Jadi. yaitu hadis muthalif yang tidak dapat dikompromikan. Hadis gairo makmulinbihi Hadis gairu makmulinbihi ialah hadis maqbul yang tidak dapat diamalkan. hadis mardud ialah : Artinya: "Hadis yang tidak menunjuki keterangan yang kuat akan adanya dan tidak menunjuki keterangan yang kuat atas ketidakadaannya. yaitu hadis yang tidak mempunyai perlawanan b. bahwa para ulama Mutaakhirin menggunakan kata 'an dalam menyampaikan hadis yang diterima melalui Al-Ijasah dan yang demikian tidaklah menafikan hadis yang bersangkutan dari batas Hadis Muttasil. DARI SEGI PERKEMBANGAN SANADNYA 1. Mereka menjelaskan. 2. yaitu dua hadis yang pada lahimya saling berlawanan yang mungkin dikompromikan dengan mudah c. Hadis mukhtalif. Al-Mukatabah." Ada juga yang menarifkan hadis mardud adalah: Artinya: "Hadis yang tidak terdapat di dalamnya sifat hadis Maqbun. D." Kata-kata "hadis yang didengar olehnya" mencakup pula hadis-hadis yang diriwayatkan melalui cara lain yang telah diakui.Hadis maqmulun bihi adalah hadis yang dapat diamalkan apabila yang termasuk hadis ini ialah: a. tetapi adanya dengan ketidakadaannya bersamaan. hadis mardud adalah semua hadis yang telah dihukumi daif." Sebagaimana telah diterangkan di atas bahwa jumhur ulama mewajibkan untuk menerima hadis-hadis maqbul. Dalam definisi di atas digunakan kata-kata "yang didengar" karena cara penerimaan demikian ialah cara periwayatan yang paling banyak ditempuh. Hadis nasih d. yang tidak diterima. dan Al-Ijasah. maka sebaliknya setiap hadis yang mardud tidak boleh diterima dan tidak boleh diamalkan (harus ditolak). tidak dapat ditansihkan dan tidak pula dapat ditarjihkan b. dari Nafi' dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda: Artinya: "Orang yang tidak mengerjakan shalat Asar seakan-akan menimpakan bencana kepada keluarga dan hartanya" Contoh hadis mutasil maukuf adalah hadis yang diriwayatkan oleh Malik dari Nafi' bahwa ia mendengar Abdullah bin Umar berkata: Artinya: "Barang siapa yang mengutangi orang lain maka tidak boleh menentukan syarat lain kecuali keharusan membayarnya. B.

dengan kata-kata. Dengan ketentuan "Salah seorang rawinya" defnisi ini tidak mencakup hadis mu'dal. Adapun ahli hadis Mutaakhirin menjadikan istilah tersebut sebagai berikut: Artinya: "Hadis Munqati adalah hadis yang gugur salah seorang rawinya sebelum sahabat di satu tempat atau beberapa tempat. hadis munqati' merupakan suatu judul yang umum yangmencakup segala macam hadis yang terputus sanadnya. diikutkan kepada kedua hadis mausul di atas. yaitu hadis yang berpangkal pada tabi'in dinamai hadis maqtu. baik yang disandarkan kepada Nabi SAW. Dan kata inqita' merupakan akibatnya. "Sebelum sahabat" definisi ini tidak mencakup hadis mursal. Kata inqita' adalah lawan kata ittisal (bersambung) dan Al-Wasl. Tidak diperselisihkan bahwa hadis maqtu termasuk jenis Hadis muttasil. yakni: Artinya: "Hadis Munqati adalah setiap hadis yang tidak bersambung sanadnya.[] Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 13 . Definisi Munqati' yang paling utama adalah definisi yang dikemukakan oleh Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr.Masing-masing hadis di atas adalah muttasil atau mausul. Yang dimaksud di sini adalah gugurnya sebagaian rawi pada rangkaian sanad. Oleh karena itu. Dengan demikian. 2. Sebagian ulama membolehkan penyebutan hadis maqtu sebagai hadis mausul atau muttasil secara mutlak tanpa batasan. yakni terputus. An-Nawawi berkata. Seakan-akan pendapat yang dikemukakan jumhur. tetapi jumhur mudaddisin berkata. dari awal sampai akhir. hal ini dikarenakan berkembangnya pemakaian istilah tersebut dari masa ulama mutaqaddimin sampai masa ulama mutaakhirin. Al-Khatib. mestinya dikatakan "Hadis ini bersambung sampai kepada Sayid bin Al-Musayyab dan sebagainya ". Para ulama berbeda pendapat dalam memahami istilah ini dengan perbedaan yang tajam. Adapun hadis Maqtu yakni hadis yang disandarkan kepada tabi'in. dengan catatan bahwa rawi yang gugur pada setiap tempat tidak lebih dari seorang dan tidak terjadi pada awal sanad. mereka membedakannya dengan menyadarkannya kepada tabi'in. karena masing-masing rawinya mendengarnya dari periwayat di atasnya. Ibnu Abdil Barr. "Hadis maqtu tidak dapat disebut hadis mausul atau muttasil secara mutlak. maupun disandarkan kepada yang lain. bila sanadnya bersambung. melainkan hendaknya disertai kata-kata yang membedakannya dengan Hadis mausul sebelumnya. "Klasifikasi tersebut adalah sahih dan dipilih oleh para fuqaha. Menurut kami. penyusun Al-Manzhumah Al-Baiquniyyah mengatakan: Artinya: Setiap hadis yang tidak bersambung sanadnya bagaimanapun keadannya adalah termasuk Hadis Munqati' (terputus) persambungannya. Sehubungan dengan itu. Hadis Munqati' Kata Al-Inqita' (terputus) berasal dari kata Al-Qat (pemotongan) yang menurut bahasa berarti memisahkan sesuatu dari yang lain. Oleh karena itu." Hadis yang tidak bersambung sanadnya adalah hadis yang pada sanadnya gugur seorang atau beberapa orang rawi pada tingkatan (tabaqat) mana pun." Demikianlah para ulama Mutaqaddimin mengklasifikasikan hadis." Definisi ini menjadikan hadis munqati' berbeda dengan hadis-hadis yang terputus sanadnya yang lain. Secara etimologis hadis maqtu' adalah lawan Hadis mausul. dan Muhaddis lainnya". dan dengan penjelasan kata-kata "Tidak pada awal sanad" definisi ini tidak mencakup hadis muallaq.

Alias bukan terpisah dan sudah menjadi cabang tersendiri. Lihat Hasbi Ash Shidiqi.2 B. Golongan ini disebut inkar alsunnah. Dar Ihya Al Kutub al-Arabiyyah). dan ketika diucapkan/dibicarakan semata hal itu untuk sekedar pendekatan (bersifat preventif). Vol. Pendahuluan Hadis adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW baik berupa sabda. (Jakarta. Muhammad bin Idris Al-Syafi’i (selanjutnya disebut Al-Syafi’i) . 1981) hlm.Berhujjah Dengan Hadits Dla'if Salah satu fenomena yang marak dilakukan adalah pengamalan hadits Dla’if secara serampangan tanpa pilah dan pilih terlebih dahulu. al-Maghâziy (berita-berita seputar peperangan-peperangan) dan Sirah. Pengamalannya di dalam masalah-masalah ‘aqidah tidak boleh secara ijma’. hlm. Namun pendapat yang tepat adalah bahwa hadits Dla’if tidak boleh diamalkan secara mutlak selama dugaan terhadap validitasnya masih lemah dan selama ia tidak mencapai derajat Hasan Li Ghairihi (Menjadi Hasan karena ada penguat/pendukungnya dari sisi sanad dan matan yang lain). 2. padahal implikasinya amat berbahaya sekali. Hasyyah Jam’al Jawami (Ttp. Shahîh al-Bukhary dan Shahîh Muslim. dan oleh Imam asy-Syafi’i disebut al-Taifah al-lati raddat al-akhbar kullaha. 250-260. dan ada yang bersifat memperjelas. terdapat segolongan kecil dari kalangan ulama dan umat Islam yang menolak Hadis sebagai sumber ajaran Islam. Demikian pula pendapat yang tersirat dari ucapan Syaikhul Islam. Ibn Taimiyah dan Ibn al-Qayyim serta petunjuk yang didapat di dalam dua kitab Shahih. hadits Dla’if tidak boleh diamalkan secara mutlak dalam bab apapun di dalam dien ini . persetujuan dan segala sifat pribadi Nabi. yaitu. Dalam buku ini Syaikh Husen Makhluf menyebut aliran Inkar Al Sunnah dengan istilah Inkar Al Sunnah Khurujun an Al Islam. 1967). Pemahaman Hadis Secara Tekstual dan Kontekstual A. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis. Surat Ali Imran (3): 32. Syaikh al-Albany. Berhujjah dengan hadits Dla’if dan mengamalkannya perlu ada perinciannya: 1. Kedudukan Hadis sebagai sumber ajaran Islam telah disepakati oleh hampir seluruh ulama dan umat Islam. Tgl. perbuatan atau persetujuan atau hal ihwal mengenai pribadi Nabi. Permasalahan yang dibicarakan di dalam hadits yang Dla’if tersebut masih berada di dalam kawasan prinsip dasar umum. 2.’Abdul Karim bin ‘Abdullah al-Khudlair [Dosen pada Fakultas Ushuluddin di Jâmi’ah al-Imam Muhammad bin Su’ûd]. Ibn al-Qayyim mengisyaratkan dimungkinkannya untuk menggunakan Hadits Dla’if tersebut ketika dalam kondisi akan menguatkan dua di antara ucapan yang seimbang. Pengamalannya di dalam masalah-masalah hukum (al-Ahkâm) tidak diperbolehkan juga menurut mayoritas Ulama. 41-46. 3 Sanad adalah rangkaian orang-orang sanad yang meriwayatkan Hadis yang menyampaikan matan Hadis. 1977) hlm 178-188. yang disebut bayan tafsir. matan4 (teks) Hadis itu sendiri yang berisi sabda. yang disebut dengan bayan ta’kid. Di antaranya adalah ayat al-Quran yang tersebut dalam Surat al-Hasyr (59): 7. Kedudukan Hadis Nabi sebagai sumber ajaran Islam kedua itu telah dilegitimasi oleh ayat-ayat al-Quran yang memerintahkan agar Nabi Muhammad harus ditaati oleh umat Islam.1 yaitu golongan yang menolak seluruh Hadis Nabi. tidak meyakini kevalidannya (bahwa ia adalah hadits yang shahih) bahkan harus meyakininya sebagai sikap preventif. Dari beberapa ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa mematuhi dan mentaati Nabi Muhammad (Hadis Nabi) berarti telah mematuhi ketentuan Allah (al-Quran). Wallahu a’lam. membagi penjelasan lebih detail (merinci) atau membatasi pengertian lahir ayat-ayat Al-Qur'an. mayoritas para ulama membolehkannya dengan syarat-syarat sebagai berikut:    Hadits yang dijadikan hujjah/diamalkan tersebut tidak Dla’if (Lemah) sekali. diantaranya Abu Hâtim. asySyawkany dan ulama kontemporer. 4 Matan adalah materi berita atau teks Hadis Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 1 14 . mata rantai transmisi sanad3 atau isnad yang menyebutkan rangkaian nama-nama periwayat Hadis yang bersambung sampai kepada Nabi. Juz II hlm 97-98. (Jakarta. Juz VII. Majallah ‘ad-Da’wah’. yaitu: 1. CATATAN: Ada ulama yang menambahkan satu syarat lagi. III.1890. perbuatan. Oleh karena itu. dan Surat an-Nisa (4): 80. Maka berdasarkan hal ini. Peranan dan fungsi Nabi Muhammad (Hadis Nabi) adalah menjelaskan tentang maksud firman-firman (wahyu) Allah. Imam an-Nawawy telah menukil ijma’ para ulama mengenai hukum mengamalkan hadits Dla’if dalam masalah Fadlâ`il al-A’mâl padahal sebenarnya ada banyak ulama terkenal yang tidak sependapat dengan hal itu. 2 Al Banani. Media Dakwah. Lihat juga Ahmad Husnan. disini kita akan membahas sedikit tentang hukum berhujjah dengannya dan persyaratannya. maka harus disebutkan ke -dla’if-an haditst tersebut. Ketika mengamalkan hadits Dla’if tersebut. cet. 29-02-1424 H ). Hadis yang Shahih Setiap Hadis yang periwayatannya sampai saat ini tentu mengandung tiga unsur. 3. Dalam sejarah. Gerakan Inkar Al Sunnah dan Jawabannya. perlu kiranya diketahui kapan berhujjah dan mengamalkan hadits Dla’if itu dibenarkan dan apa pula persyaratannya? Untuk itu. Bulan Bintang. Ibn al-‘Araby. Al -Um. Sedangkan pengamalannya di dalam Fadlâ`il al-A’mâl (amalan-amalan yang memiliki keutamaan). Ulama-ulama Ahlul Atsar maupun Ahl Al Ra’ya menerangkan bahwa fungsi Al Hadis terhadap Al-Qur'an dengan membagi beberapa macam bayan. ketika berhujjah dengan hadits Dla’if dan menyampaikannya di dalam suatu majlis. Abu Zur’ah. Kitab Ikhtilaf Al Hadis(Ttp Daar al_Kitab al-Arabi. Penjelasan Nabi terhadap ayat-ayat Al-Qur'an ada yang bersifat sekedar menguatkan kembali apa yang telah dijelaskan al-Quran. Hamisy berjudul. (Disarikan dari Jawaban Syaikh DR.

Sementara itu Imam asy-Syafi’i berpendapat bahwa kaedah kesahihan Hadis itu harus memenuhi kriteria sebagai berikut: 1. 85-87. 1409 H/ 1989). sahabat atau tabi’in) dalam sanandnya sebagian besar periwayatan Hadis itu terjadi secara ahad dan sedikit terjadi secara muttawatir. (Jakarta. 67-69 10 Dabit ialah periwayat Hadis yang hafal dengan sempurna Hadis yang diterimanya. tetapi riwayatnya bertentangan dengan riwayat yang dikemukakan oleh riwayat-riwayat lain yang siqoh juga. Ulum al Hadis wa mustawahuh (Beirut. Jika terjadi perubahan redaksi pada Hadis ia mengetahui perubahan maknanya.13 maka Hadis itu bernilai shahih. Mukharrij adalah seorang periwayat Hadis yang menghimpun Hadis-Hadis yang diriwayatkan dalam kitab Hadis yang disusunnya. Syuhudi Ismail. hlm. dan h. Hadis itu otentik dari Nabi atau bukan. tetapi setelah diteliti kenyataannya mauquf (bersandar pada sahabat Nabi) atau mursal (bersandar pada tabi’in) atau terjadi kekeliruan penyebutan nama periwayat yang mempunyai kemiripan atau kesamaan nama dengan periwayat lain yang berbeda kualitas. 1992). 302-303. kemungkinannya ada yang sedikit atau banyak orang yang ikut meriwayatkan Hadis itu pada setiap tingkat generasi (tabaqat. Bulan Bintang. bahwa Hadis ahad itu jika dilihat dari segi dalalahnya mempunyai kedudukan yang tidak mutlak kebenaran dalalahnya. 70--71 11 Bersambung sanadnya. matan. (ttp. Periwayatnya a. selanjutnya disebut Usul al Hadis (Beirut. Metodologi Penelitian Hadis. taat beragama Isalam. Illat pada matan Hadis terjadi jika sanad sebuah Hadis tampaknya muttasil. 9 Adil adalah seorang periwayat Hadis yang jujur. 82-84. Sedangkan Hadis muttawattir adalah Hadis yang disampaikan oleh banyak orang pada setiap tingkat riwayatnya dan yang menurut adat kebiasaan mustahil mereka akan sepakat berbuat dusta. Metodologi Penelitian Hadis Nabi. orangnya dapat dipercaya dan tidak ada tadlis di dalamnya (penyembunyia cacat). dabit10. Bulan Bintang. sedangkan arti zanni al dalalah. dan ketika periwayat itu menyampaikan Hadis kepada orang lain haruslah disebutkan susunan mata rantai sanad. (2) kegiatan menyampaikan Hadis kepada orang lain yang disebut dengan istilah ada’u al-riwayah. hlm. Kaedah Kesahihan Sanad Hadis. Dar Al Fikr. 4-5. hlm. berakal sehat. Hadis itu berasal dari Nabi atau tidak. Syuhudi Ismail. ibid. dan menjaga kehormatan diri (muru’ah) Lihat M.mukharrrij. mereka mempunyai kewajiban moral untuk meriwayatkan Hadis Nabi kepada sahabat lain yang tidak sempat hadir di hadapan Nabi. Dia dabit. terpercaya dan mempunyai syarat dia beragama Islam. Syuhudi Ismail. dapat meriyawatkan Hadis itu dengan hafalannya atau catatannya g. e. Cara untuk mengetahui ada tidaknya syaz dalam satu periwayatan Hadis maka harus ditempuh jalan perbandingan antata berbagai sanad Hadis Hadis yang topik matannya memiliki segi kesamaan. Ulumuh wa mustalahuh. lihat M. Syuhudi Ismail. hlm. namun tidak mencapai derajat Hadis mutawattir. Syuhudi Ismail. Hadis muttawatir tidak pelu diteliti karena bernilai qat’i al-wurud dan qat’i al-dilalah. dan bersandar pada Nabi. artinya jika Hadis itu dilihat dari petunjuk dalalahnya mempunyai kedudukan yang mutlak kebenaran dalalahnya.5 yaitu orang yang meriwayatkan Hadis lengkap dengan sanad dan matannya. bersambung sanandnya. Lihat M. 12 Tidak ada syaz. 1988). 13 Tidak ada illatnya. Lihat M. Lihat Subkhi al Salih. hendaknya memahami riwayat Hadis yang terdiri dari dua unsur. 4. Muqodimah Ibn Khaldun. 37 Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 5 15 . Memahami dengan baik Hadis yang diriwayatkan baik mengenai sanad dan matannya d. artinya antara seorang periwayat dengan periwayat lain dalam sebuah sanad itu masing-masing pernah bertemu. Penyebutan mata rantai sanad Hadis hanya terjadi di dalam aktivitas periwayatan Hadis. dan zanni al-dilalah. Dalam satu periwayatan Hadis. yang disebut dengan tahammud al-riwayah.12 serta tidak ada illatnya. Syhudi Ismail. yaitu (1) kegiatan menerima Hadis dari periwayat Hadis. bersambung sanadnya. Bulan Bintang. artinya Hadis yang diriwayatkan oleh seorang yang siqoh. dewasa. Metodologi Penelitian Hadis Nabi (Jakarta. hlm.7 sedangkan Hadis ahad bernilai zanni al-wurud. 7 Qat’i al-wurud. mampu menyampaikan Hadis yang dihafalkan kapan dan di mana saja kepada orang lain serta mampu memahami dengan baik Hadis yang dihafalkan. artinya jika Hadis itu dilihat dari segi periwatannya mempunyai kedudukan yang mutlak kebenaran beritanya. Jika suatu penelitian terhadap suatu Hadis itu membuktikan bahwa Hadis Nabi itu diriwayatkan oleh periwayat-periwayat yang menurut Ibn as-Salah memenuhi syarat sebagai orang yang adil9. 1992) hlm. tt) hlm. Usul Al Hadis. Kaidah Kesahihan. Dikenal sebagai orang yang jujur (adil) c. f. Kaedah Kesahihan Sanad Hadis. tidak meriwayatkan dengan maknanya. para ulama telah membuat kaedah penelitian Hadis. matan dan mukharrijnya. Terlepas dari perbuatan tadlis (menyembunyikan cacat) 3.11 tidak syaz. (Jakarta. hlm 87-89 14 Muhammad Ibn Khaldun. hlm 122 dan Metodologi Penelitian Hadis Nabi. Penelitian tentang kualitas Hadis sangat erat kaitannya dengan apakah Hadis yang diteliti itu dapat atau tidak dijadikan hujjah (dalil) agama. Untuk memahami tentang sanad Hadis. Untuk kepentingan penelitian kualitas Hadis ini. 1977) hlm 146-147 dan lihat Ajjaj al-Khatib. Ibnu Khaldun berpendapat bahwa ulama Hadis dalam melakukan penelitian Hadis lebih banyak perhatiannya pada penelitian sanad Hadis ketimbang pada penelitian matan Hadis. yang mana periwayatan Hadisnya memuat sanad dan matannya. Lihat juga Syuhudi Ismail. hlm. Lihat selanjutnya pengertian sanad. Dar al Ilm li al malayin. Bukti sejarah menunjukkan bahwa sistem isnad itu sudah dilakukan sejak jaman Nabi meskipun masih bersifat sederhana. untuk mengetahui nilai suatu Hadis apakah Hadis yang diteliti itu sahih atau tidak. 132 dan Metodologi Penelitian. Dapat dipercaya b. Matan yang diriwayatkannya tidak berbeda dengan matan Hadis yang diriwayatkan periwayat lain.. Para sahabat Nabi yang sempat menyaksikan lahir atau munculnya Hadis Nabi.14 Pandangan Ahmad Amin sejalan dengan pendapat Ibnu Khaldun. hlm. 8 Zanni al-wurud adalah jika Hadis ahad itu dilihat dari segi periwayatannya mempunyai kedudukan yang tidak mutlak tingkat kebenarannya. cacat Hadis yang terdapat dalam sanad dan matan Hadis. 6 Hadis ahad adalah Hadis yang disampaikan oleh satu atau dua orang atau lebih.8 Penelitian kualitas Hadis Nabi secara kesejarahan adalah untuk menilai apakah sesuatu yang dikatakan sebagai Hadis Nabi benar-benar dapat dibuktikan secara ilmiah keshahihannya. Dapat meriwayatkan Hadis itu dengan matannya dengan baik. sedangkan qat’i al dillalah. dan mukharrij dalam Metodologi Penelitian Hadis Nabi. tetapi yang menjadi obyek penelitian ulama Hadis adalah Hadis yang dikategorikan sebagai Hadis ahad. 6 Hadis muttawatir tidak menjadi obyek penelitian. Dar al Fikr. Lihat M. misalnya Imam Al Bukhori dan Imam Muslim. hlm 113 dan M.

Aisyah. terj. Lihat Muhammad Al Ghazali. 1979) hlm 369-371. Karena kondisi saat disampaikan oleh Nabi. panglima perang. Isi kandungannya bertentangan dengan petunjuk al-Quran dan Hadis muttawatir. mereka tidak mau menggunakan qiyas. tanda-tanda matan Hadis yang tidak sahih (palsu) sebagai berikut: a. 18 Secara historis tidak seluruh Hadis sudah ditulis oleh para sahabat. kadang sabdanya diulang-ulang tiga sampai empat kali dan kadang sabdanya itu merupakan perincian dari masalah yang ditanyakan atau yang dijelaskan19 dan juga karena para sahabat yang banyak hafalan Hadisnya dekat pergaulannya dengan Nabi. b. hlm 236 dan lihat Al Khatib Al Bagdadi. hlm 296-303.2. C. 19 Sa’dullah Assa’idi. e. Jika mereka menghadapi masalah yang tidak ada ketentuannya dalam al-Quran dan Hadis Nabi. Sikap mereka menolak pendekatan rasional karena beralasan bahwa al-Quran sebagai wahyu Allah yang diriwayatkan secara muttawatir. hlm. Al Sunnah wa makanatuha di Tasyri Al Islami (ttp. suami. 1983). Usul Al Hadis. hlm 129-130. Hal ini mungkin karena tertarik terhadap apa yang disabdakan. 1991). Lihat juga M Syuhudi Ismail. da M. pemahaman Hadis secara tekstual dan kontekstual harus dikembangkan agar ajaran Islam semakin membumi. manusia biasa. Di antara para sahabat ada yang dapat menghafalkan dan sekaligus menghimpun banyak Hadis dalam hafalannya. Aisyah. seperti amalan yang kecil dibalas dengan pahala yang sangat besar. Ahl al-Hadis dan Ahl ar-Ra’yu Sejak generasi Nabi yang awal yakni sahabat dan tabi'in ada sementara mereka yang dalam memberikan fatwa-fatwanya mendasarkan pada nas-nas al-Quran dan Hadis Nabi saja. hlm. inilah pendapat Ahmad Amin. Isi kandungannya bertentangan dengan fakta sejarah e. demikian pula Hadis yang muttawatir itu mengandung kebenaran yang mutlak (qat’i). Hanya Hadis-hadis Nabi yang berbentuk qauliyah (sabda Nabi) kemungkinan besar yang dapat diriwayatkan secara lafaznya persis seperti apa yang disabdakan Nabi. hlm. Tidak bertentangan dengan amalan yang telah menjadi kesepakatan ulama salaf. Mizan. Muhammad Al Baqir dengan judul Studi Kritis Hadis Nabi SAW. Sebagian ulama berpandangan jika sanad Hadis itu bernilai sahih. f. diteliti dan disyarakh oleh Ahmad Muhammad Syakir (Kairo. Ada kalanya sebuah Hadis dinilai sahih sanadnya dan matannya.15 Kritik matan pada dasarnya juga sudah dilakukan oleh para ulama ahli Hadis (atsar). tetapi ada yang bernilai sahih sanadnya tetapi matannya da’if. 428-432. hakim. Yunus (10) : 36 16 15 Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 16 . bahkan kadang-kadang sabdanya itu berbentuk jawami al-halim (ungkapannya pendek tetapi maknanya padat). Mereka itu cenderung berpegang pada arti lahiriah dari nas al-Quran atau Hadis Nabi. kebanyakan Hadis Nabi diriwayatkan secara lisan. Muhammad Abu Rayyah dan Muhammad al-Ghazali. analogi atau illat yang terdapat dalam teks al-Quran atau Hadis Nabi. maka Hadis itu dianggap lemah. Kadangkala sebuah hadis menuntut dipahami secara tekstual tapi hadis lain menuntut dipahami secara kontekstual. ‘Ulum Al Hadis. c. Mustafa Al Siba’i . walaupun sahih sanad dan matannya. jika memenuhi syarat sebagai berikut: a. Al-Quran sendiri menyatakan bahwa sesuatu yang nisbi (zauni) tidak dapat untuk mencapai kebenaran. peranan dan fungsi Nabi ketika menyampaikan hadis itu berbeda-beda. Syuhudi Ismail. Manhaj Naqdil Matan (Beirut. 20 Ibid. Jika matan Hadis itu memenuhi syarat tidak syadz (janggal) dan tidak ada illatnya. bahkan ada Hadis yang da’if sanad dan matannya. Jika dalam menghadapi sesuatu masalah tidak menemukan ketentuannya dalam al-Quran maupun Hadis. mereka menetapkan masalah itu dengan Al Syafi’i . 1996). 1966). tidak mutlak. 463 H/1072 M) bahwa suatu matan Hadis dikatakan sahih. latar belakang budaya sekelilingnya. Isi kandungan bertentangan dengan hukum alam (sunatullah) d. Dengan kata lain. 24-25. atau persetujuan Nabi atas perbuatan atau peristiwa-peristiwa tertentu. tetapi sanadnya da’if. Semua faktor di atas harus diperhatikan dan diketahui agar dalam memahami sebuah hadis dapat tepat sasaran. Massa’ah Al Sa’adah. Al Kifayah Fi Ilmi Al Ruwayah (Mesir. hlm. hlm 128. dapat menggunakan bahasa yang sesuai dengan kemampuan akal. para ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama lain berpandangan jika sebuah Hadis itu matannya bertentangan dengan al-Quran. Tidak bertentangan dengan akal sehat b. terutama Hadis-Hadis yang tidak dalam bentuk sabda.21 Sementara itu ada sebagian sahabat dan tabi'in yang juga menyandarkan fatwa-fatwanya kepada nas-nas al-Quran dan Hadis Nabi. Tidak bertentangan dengan Hadis ahad yang lebih kuat kualitas kesahihannya.17 Kemudian menurut Jumhur ulama Hadis. dan lain-lain. dengan menetapkan kaidah kesahihan matan. Sedangkan kebenaran yang diperoleh secara rasional dan akal manusia bersifat nisbi (relatif). 21 QS. atau matannya sahih. Al-Sunnah al Nabawiyyah baina Ahl Al Fiqh wa Ahl Al Hadis. 18 Muhammad Ajjaj Al Khatib. seperti Abu Hurairah. Tidak bertentangan dengan dalil yang telah pasti. Pustaka Pelajar. Demikian pula kebanyakan Hadis diriwayatkan dengan maknanya. Demikian pendapat Mustafa as-Siba’i dan Muhammad Abu Syuhbah. Hadis-Hadis Sekte. 1972) hlm. dan f. apakah beliau sebagai rasul. atau yang lain. Dar Al Qaumiyyah. Metodologi Penelitian Hadis Nabi. Nabi Muhammad sendiri adalah seorang yang dikenal sebagai orang yang fasih dalam berbicara. kepala negara. 206-207. Tidak bertentangan dengan Hadis mutawatir d. Susunan bahasanya rancu. maka Hadis itu dinilai sahih seperti hadis-hadis yang sahih sanadnya dalam kitab Sahih al-Bukhori dan Sahih Muslim. tidak secara tertulis. demikian pula latar belakang para sahabat pun yang berbeda-beda. Metodologi Penelitian Hadis Nabi. Sesuatu yang nisbi tidak dapat menjangkau atau menyampaikan kepada sesuatu yang mutlak. 272-274. 26-27. Dar al Afaq Al Jadidah. Subkhu Al Salih. Tidak bertentangan dengan ayat al-Quran yang muhkam (ketetapan hukumnya telah tetap) c. Al Risalah. Isi kandungan bertentangan dengan ukuran kewajaran. yakni HadisHadis yang berupa perbuatan Nabi. Maktabah Dar al-Turas. (Yogyakarta. pembicarannya berbobot. Antara Pemahaman Tekstual dan Kontekstual. Di samping itu posisi. padahal Nabi seorang yang fasih dalam berbicara. Sanadnya itu bersambung sampai kepada Nabi.16 Menurut al-Khatib al-Bagdadi (w. Isi kandungannya bertentangan dengan akal sehat dan sulit diterima oleh akal sehat. (Bandung. Hal ini dimaksudkan agar Hadis itu dapat dipahami dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya. 17 Sihabud Din bin Ahmad Al Adlabi. Dalam menilai sahih atau tidaknya sebuah Hadis. dan lainlain. 20 Kritik terhadap matan Hadis sesungguhnya sudah dilakukan oleh beberapa tokoh shahabat seperi Umar bin Khattab.

Makna isyarat suatu kata. dan Hambaliyah melakukan pemahaman suatu teks dari al-Quran atau Hadis Nabi dengan membagi kata pada arti yang tersurat atau terucapkan (mantuq) dan yang tersirat (mafhum). Aliran ini dalam menetapkan hukum hanya berdasarkan teks al-Quran dan Hadis Nabi serta ajaran sahabat. 3. dan Ahmad bin Hambali. ada aliran tekstual lain yang lebih bersifat rasional. Metode bayan ini digunakan untuk memecahkan berbagai persoalan hukum dengan mendasarkan pada nas-nas al-Quran atau Hadis Nabi yang dilakukan dengan komprehensif dan terpadu dengan mengaitkan antara satu ayat dengan ayat lain atau satu ayat dengan Hadis.menggunakan qiyas. 2. Kesimpulan ini ada perbedaan prinsip antara hukum jual beli dan riba. 10 tahun ke 89 tanggal 16-31 Mei 2004. Jika ada sesuatu masalah yang tidak ditentukan hukumnya dalam al-Quran dan Hadis Nabi. 2. E. Ijtihad dengan menggunakan pendekatan rasional ini didasarkan pada sebuah hadis Nabi yang masyhur yang berisi dialog antara Nabi SAW dengan sabahat Mu’az bin Jabal ketika ditanya oleh Nabi. bagaimana jika anda (Muaz) tidak menemukan nas dalam al-Quran dan Hadis Nabi dalam menetapkan hukumnya sesuatu? Dijawab oleh Muaz bahwa dia akan menggunakan ijtihad dengan rasionya (ra’yunya). yaitu menggunakan pendekatan rasional disebut Ahl ar-Ra’yu. maka pemahaman teks-teks seperti itu dapat dikatagorikan sebagai pemahaman secara kontekstual. Pemahaman dengan model ini telah dilakukan oleh tokoh-tokoh mahzab yang empat. Tokohnya Abu Hanifah. artinya bahwa pemahaman itu dapat diperoleh dari petunjuk yang tersirat (tak terlihat) pada maksud susunan katanya (kalimatnya). 25 Sebenarnya pemahaman teks al-Quran atau Hadis Nabi dengan cara mengambil maknanya secara tersirat. D. Sementara kelompok kedua dapat disebut kelompok moderat atau kelompok ulama tekstual yang rasional. dengan tokohnya Ibnu Taimiyah. No. Kelompok pertama kemudian dapat disebut kelompok ulama salaf. Pemahaman seperti ini dapat dikatagorikan sesuai dengan pemahaman yang cocok dengan teks redaksinya (mafhum muwafaqah). tetapi diperoleh dari kelanjutannya. hlm 25. sedangkan kelompok kedua diikuti oleh mayoritas ulama Irak dan negeri-negeri yang jauh dari Hijaz. Dari ayat ini dapat diambil dua makna sebagai berikut. Bayan tafsir. Tekstual. yaitu Abu Hanifah. asy-Syafi’i. apalagi dengan mengaitkan pemahamannya dengan keadaan sosio historis pada masa awalnya dan dengan keadaan sosial budaya yang berlaku sekarang. Adapun pemahaman sebaliknya (mafhum mukhalafah) adalah bahwa kambing yang tidak digembalakan tidak wajib dikeluarkan zakatnya. Mereka juga menggunakan metode qiyas jika dalam menghadapi suatu masalah tidak diketemukan ketentuannya secara jelas dalam nas al-Quran dan Hadis Nabi. Pengertian semacam ini diperoleh dengan cara menghubungkan dengan ayat sebelumnya. hlm. Dawud az-Zahiri. yakni penjelasan terhadap ungkapan ayat al-Quran dan Hadis Nabi yang tersirat (tersembunyi). yang artinya: “Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. dan Malik bin Anas. Pemahaman secara tersurat (tekstual) dari hadis di atas adalah pemahaman yang sesuai dengan teks redaksinya. 4. Syafi’iyah. Ibnu Hazim. Tekstualisasi dan Kontekstualisasi Terhadap Hadis Nabi Asymuni Abdurrahman. 23 ibid 24 ibid 25 Ibid. Dikatakan demikan karena aliran ini dalam memahami teks-teks dalam nas al-Quran dan Hadis Nabi meskipun secara tekstual tetapi mereka berpendapat bahwa dalam teks-teks nas itu ada yang mempunyai arti tersurat dan atau tersirat. b. Para ulama Malikiyah. Dalam perkembangan selanjutnya kelompok pertama itu diikuti oleh mayoritas ulama hijaz. Tentunya dalam penggunaan qiyas didahului pendekatan rasional. yakni bahwa binatang ternak yang digembalakan itu wajib dizakati jika sudah sampai nisabnya. Bayan darurat. Contoh pemahaman dengan model tersebut di atas adalah seperti yang dikemukakan oleh ulama-ulama Hanafiyah. yaitu penjelasan yang mengandung perubahan dari satu makna kepada makna lain yang mengakibatkan perubahan pada hukumnya. Pemahaman Tekstual dan Kontekstual atas Hadis Nabi Pemahaman tekstual terhadap al-Quran dan Hadis Nabi adalah pemahaman yang terbatas pada bunyi teks atau lafaz. Dapat juga kelompok pertama disebut golongan ulama tekstual. maka masalah itu dikembalikan kepada hukum asalnya. Sementara itu ulama-ulama Hanafiyah juga berusaha memahami teks ayat al-Quran dan teks Hadis Nabi dengan metode al bayan. atau mencari ta’lilnya yang ada dalam teks al-Quran ataupun Hadis Nabi. Kontekstual dan Liberal. Al-Baqarah 233 yang artinya: “Dan kewajiban suami itu memberikan makan dan pakaian kepada istrinya dengan cara yang ma’ruf”. Contoh memahami kata yang tersurat adalah Hadis Nabi yang menyatakan “Kambing yang digembalakan itu kena zakat”. a. menolak segala bentuk ar-ra’yu atau ijtihad atau pemahamannya itu tidak dikaitkan realitas sosial-historis yang ada. seperti QS al-Baqarah 275. Bahwa jual beli itu tidak sama dengan sistem riba. Bayan taqrir. yang terbagi menjadi : 1. Muhammad bin Idris asy-Syafi’i. Contoh QS. Makna ibaratnya. Adapun kelompok sahabat dan tabi'in yang kedua yang dalam memberikan fatwa-fatwanya tidak menemukan ketentuan hukumnya dalam teks nas al-Quran atau Hadis Nabi. Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 22 17 . 4. Malik bin Anas. Dalam memahami arti suatu kata atau lafaz (teks) al-Quran atau Hadis Nabi. Dari ayat ini dapat diambil isyarat bahwa anak itu bernasab (dinisbahkan) kepada ayah (suami) bukan kepada ibu (isteri)24. yakni penjelasan atau penguatan terhadap maksud ayat al-Quran dan teks Hadis Nabi. Dalam majalah Suara Muhammadiyah. Pemahaman dengan model seperti ini telah dilakukan oleh sebagian ulama sahabat dan tabi’in23. Kelompok sahabat dan tabi'in yang pertama yang dalam memberikan fatwa berpegang teguh pada teks nas al-Quran atau Hadis Nabi disebut Ahl al-Hadis. yaitu penjelasan yang tidak berwujud kata-kata tetapi berupa suatu yang tidak dikatakan (tersirat) dan hal itu mengandung suatu hukum yang disebut dalalah al sukut. dapat diambil dari : 1. Bahwa jual beli halal hukumnya sedangkan riba itu hukumnya haram. Bayan tagyir.22 Menurut Asymuni Abdurrahman. secara komprehensif dan terpadu.

illa’ (QS. terlebih karena ada sementara Hadis-hadis Nabi yang menggunakan kata-kata yang musykil (sulit). neraka dan lain sebagainya. yang semula dilarang kemudian lalu diperbolehkan (Hadis riwayat Muslim. Kontekstualisasi dalam bidang ibadah hanya boleh dilakukan jika berkaitan dengan aspek teknis. Hadis ahad dikatakan sahih jika sanadnya bersambung. Jika terdapat periwayat yang kurang dabit tetapi periwayatnya memenuhi syarat-syarat lain seperti di atas maka hadis itu bernilai hasan. bedug. Sebagian budaya Arab yang sudah berjalan tidak semua dihapus oleh Islam.Para ulama Hadis sepakat bahwa Hadis Nabi menjadi sumber ajaran Islam kedua setelah al-Quran. jawaban beliau itu disesuaikan dengan konteks si penanya. Penelitian matan Hadis lebih rumit jika dibandingkan dengan penelitian sanad. atau majaz. yaitu orang kaum muslimin selamat dari (gangguan) mulutnya dan tangannya. Para ulama berbeda pendapat dalam memahami makna hadis tentang sabda Nabi yang menyatakan bahwa seorang lelaki yang melamar seorang wanita diharapkan dapat melihat wanita yang dipinangnya agar dengan melihat itu dapat mengekalkan perkawinannya (Hadis riwayat Imam yang lima kecuali Abu Dawud). Tahun ke-90. Adapun alasannya adalah sebagai berikut: 1. Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 18 . 26 Demikian pula Umar bin Khattab pernah tidak memberikan bagian zakat bagi orang muallaf sebagaimana yang diceritakan dalam QS. karena ia memahai secara tekstual. karena hal ini sesuai dengan kesepakatan yang berlaku dalam masyarakat. Al-Baqarah (2): 226-227). Hal ini dimaksudkan agar orang tidak main-main terhadap talak. No. tetapi Imam an-Nawawi menyatakan bahwa lelaki itu ketika melamar wanita hanya boleh melihat wajah dan dua telapak tangannya. Bahwa masyarakat Arab yang menjadi obyek dakwah Nabi bukan masyarakat yang hampa atau kosong dari budaya setempat. zakat. beliau menjawab. maka makna dan maksud sebuah hadis akan dapat dipahami secara kontekstual jika dikaitkan dengan realita sosio kultural yang berkembang saat ini. kamu tampak olehku seperti punggung ibuku. Bahwa Nabi sendiri dalam menjawab pertanyaan tentang suatu masalah tertentu dari beberapa orang sahabat. Dan sekali tempo dalam mencari makna suatu Hadis Nabi perlu digali. yaitu orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan seterusnya. penggunaan bahasa Indonesia dalam khutbah jum’at agar isi khutbah dapat dipahami oleh para jamaah Jum'at. 6. Hadis sahih dan Hadis hasan dapat dijadikan hujjah dan dapat diamalkan sebagai dasar hukum. Demikian pula pemahaman terhadap Hadis-hadis muttawatir atau Hadis ahad yang sahih yang berkaitan dengan ibadah. Pemahaman terhadap Hadis-hadis muttawatir atau Hadis ahad yang bernilai sahih yang berkaitan dengan aqidah atau keimanan. Terhadap Hadis-hadis yang berkaitan dengan keimanan terhadap malaikat. Tetapi pada zaman Umar bin al-Khattab memerintah dinyatakan bahwa talak yang djatuhkan tiga kali sekaligus jatuh tiga kali juga. sebab-sebab munculnya Hadis itu atau digali illat yang terkandung di dalamnya. 3. Hadis ahad yang tidak memenuhi salah satu lima syarat itu disebut Hadis da’if. Dan menurut kebanyakan ulama bahwa wajah wanita dan kedua telapak tangannya itu bukan termasuk aurat wanita. Sementara itu ulama lain berpendapat bahwa talak yang dijatuhkan tiga kali sekalius tidak sah talaknya. Jumhur ulama menambahkan bahwa ketika seorang lelaki melamar wanita dan melihatnya dalam rangka ta’aruf tidak boleh berduaan di tempat yang sepi. mizan. maka pemahamannya yang paling selamat adalah secara tekstual. 4. karena hal itu tidak sesuai dengan perintah Rasulullah (Hadis riwayat Muslim). tanggal 13 – 28 Februari 2005. garib (jarang digunakan). kitabkitab Allah. Demikian pula beliau tidak memberikan harta rampasan perang yang berupa tanah kepada tentara yang ikut berperang. yang berisi bahwa suami bersumpah tidak akan mencampuri isterinya selama empat bulan atau lebih. Kedua macam perceraian ini menjadi khas budaya Arab. adalah dengan cara tekstual. Suara Muhammadiyah. Abu Dawud az-Zahiri menyatakan bahwa lelaki itu boleh melihat seluruh badannya. di mana seorang suami berkata kepada isterinya. maupun hadis ahad asalkan memenuhi syarat-syarat kesahihan hadis. aktual. sound system untuk keperluan tanda waktu adzan. Padahal dalam Hadis hanya 3 sebab saja seseorang dapat dihukum bunuh. atau karena murtad (keluar dari Islam). Jika hal-hal tersebut di atas dapat berhasil diketahui dengan baik. Bahwa sahabat Abu Bakar pernah menumpas orang yang tidak mau membayar zakat. puasa dan cara haji.4. maka tidak ada jalan lain yang paling selamat dalam pemahamannya. berzina. maka teks-teks ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad ada yang harus diberikan interpretasi secara tepat. seperti cerai yang terjadi karena zihar (QS. melakukan sesuatu atau menyetujui perbuatan sahabatnya. seluruh periwayat dalam rangkaian sanad itu bersifat adil. dan atTurmudzi). 2). Hadis Imam Ahmad dari Ibnu Abbas menyatakan bahwa talak yang dijatuhkan tiga kali sekaligus hanya jatuh satu kali. At-Taubah 60. alam barzah. seperti tentang cara sholat. Dalam menghadapi beberapa kasus Nabi terkadang menetapkan hukum yang berlawanan satu sama lain karena adanya perbedaan konteks. Untuk mengantisipasi perkembangan jaman yang selalu berubah-rubah. 2. Mereka berpendapat demikian karena mengkaitkan dengan Hadis Nabi yang lain yang menyatakan bahwa sorang lelaki tidak boleh menyepi dengan seorang wanita yang bukan mahramnya karena teman ketiganya adalah syetan. Pemahaman Hadis-hadis Nabi secara kontekstual saat ini menjadi suatu keharusan dan suatu keniscayaan jika hadis-hadis Nabi yang merupakan sumber ajaran Islam kedua setelah al-Quran atau tetap diberlakukan secara benar dan tepat sesuai nilai-nilai yang ada dalam alQuran dan Hadis Nabi itu sendiri. dan kontekstual sesuai dengan tempat dan perkembangan jaman dengan tanpa meninggalkan prinsip-prinsip ajaran Islam demi tegaknya kemaslahatan. syafa’at. tidak ada jalan lain kcuali membenarkan dan mengimaninya. Beliau melakukan kebijaksanaan tersebut karena realita sosial waktu itu mendorong beliau untuk memutuskan bahwa golongan muallaf tidak perlu lagi diberi bagian zakat dan bagi tentara yang ikut perang tidak perlu diberi harta rampasan perang berupa tanah karena akan menyulitkan pembagian sehingga tidak menjadi efisien. Terhadap kata-kata tersebut harus dicari arti yang ada di balik kata-kata itu dengan ta’wil. sehingga tentu tidak bisa berlaku di Indonesia atau di negara lain. 5. Abu Dawud. Hal ini sebagai kontekstualisasi terhadap Hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari Jabir bin Samurah. Ajaran Islam yang tertuang ajarannya dalam al-Qur'an maupun Hadis Nabi sebagai petunjuk Allah yang dibawa oleh Nabi Muhammad sebagai rasul terakhir berlaku untuk semua manusia sepanjang masa dan untuk menjadi rahmatan lil alamin. dan Abu Hurairah. dabit. hlm. misalnya dibolehkan menggunakan kenthongan. beliau menjawab. Al-Mujadalah (58) . baik hadis muttawatir. 24. sebagai kontekstualisasi Hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad dari 26 Ibid. Tidak kalah penting dalam rangka memahami makna dan maksud hadis perlu diketahui dalam peranan dan posisi apa Nabi pada waktu mengucapkan. Tapi dalam kesempatan yang lain ketika ditanya dengan pertanyaan yang sama seperti di atas. surga. misalnya kasus tentang ziarah kubur. misalnya ketika beliau ditanya tentang amalan Islam yang mana yang lebih utama (ayyul Islami afdal?)Berdasarkan Hadis yang disepakati oleh al-Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy’ari ini. atau cerai yang terjadi karena suatu sumpah. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim. Penggunaan sikat gigi sebagai alternatif pengganti dari siwak. dalam periwayatannya dan tidak ada syaz dan berillat sanadnya. yaitu karena membunuh.

Yunus 5. Islamunna Press. Kalimat al-masih ad-dajjal a’war al-'ain al-yumna. Karisma. walaupun hal-hal yang gaib itu diterangkan oleh Hadis-hadis yang sahih. 1994). tanpa bertanya tentang hakekatnya dan tanpa mencari rinciannya. yang artinya: Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan tempat-tempat bagi perjalanan bulan itu.Abu Hurairah. diartikan secara kontekstual .30 Hadis lain adalah sebagai berikut : ‫أن رسول ال صلى ال عليه وسلم ذكر الدجال بين ظهراني الناس فقال إن ال تعالى ليس بأعور أل وإن المسيح الدجال أعور العين‬ (‫اليمنى كأن عينه عنبة طافئة )رواه البخارى و مسلم وغيره عن ابن عمر‬ Artinya : bahwa Rasulullah SAW menyebut ad-Dajjal di muka banyak orang. Perintah Nabi untuk mulai puasa dan berhari raya atas dasar melihat tanggal satu bulan Qamariyah dengan melihatnya secara langsung (mata telanjang). hlm. Jadi kewajiban membayar zakat itu merupakan kewajiban yang bersifat universal sedang yang berhubungan bahan atau material zakat hanya dilakukan pemahaman kontekstual. sebagaimana dikatakan “ Kami mendengar dan kami mematuhi” setiap amalan ibadah yang dijawibkan kepada umat Islam. Mereka tak percaya kepada Hadis-hadis Nabi yang menerangkan tentang nikmat dan siksa kubur. 193 29 Yusuf Qardawi. maka sempurnakanlah (bilangan hari) untuk bulan sya’ban menjadi tiga puluh hari. yaitu bahwa kekusaan Allah itu tidak ada cacatnya. Dia menjelaskan tanda-tanda kebesaran-Nya kepada orang-orang yang mengetahui. niscaya Aku kabulkan doanya itu. sirat dan tentang melihat Allah secara langsung bagi orang yang beriman besuk pada hari akhirat. Muslim dan lain-lain dari Ibnu Umar) Kalimat Inna Allaha Ta’ala laisa bi a’wara. 1977). Apabila cuaca mendung sehingga bulan (terlindungi) dari pemandangan kamu sekalian. Perintah ini didasarkan pada pertimbangan keadaan umat Islam waktu itu yang hampir semuanya buta huruf. hlm. hlm 53-55 Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 19 . 31 Pemahaman kontekstual terhadap Hadis tersebut dikaitkan dengan QS. diartikan secara kontekstual sebagai penguasa yang zalim. kecuali terhadap Hadis-hadis yang menggunakan ungkapan simbolik maka Hadis itu dipahami secara kontekstual. setiap kali dihadapkan pada masalah-masalah gaib yang telah ditetapkan dalam Islam. Dalam keadaan ummi tdak mungkin mereka itu dapat menentukan tanggal satu Ramadan dan Syawal dengan perhitungan hisab apalagi menggunakan alat-alat teknologi canggih seperti sekarang ini. tetapi sempurna. A Najiyullah (Jakarta. tidak pandai menulis dan tidak pandai menghitung (melakukan hisab) bulan itu begini dan begini (yakni adakalanya tiga puluh hari. 27 Yusuf Qardawi. 243 30 M. Hadis tentang mizan. terj Muhammad Al Baqir. seperti mengeluarkan zakat fitri dengan beras. sedangkan matanya seperti buah anggur yang timbul. 246 28 Yusuf Qardawi. sagu atau harganya sebagaimana berlaku di Indonesia untuk menggantikan kurma atau gandum sebagaimana kontekstualisasi ketentuan dalam Hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Ibnu Umar. Allah tidak menciptakan hal itu kcuali dengan haq. Bulan Bintang. dan berhari rayalah kamu sekalian setelah melihat bulan (tanggal satu Syawal). terj. Dia mengatakan bahwa akal manusia itu terbatas sehingga tidak mampu memahami hal-hal yang gaib. dan barangsiapa meminta ampun kepada-Ku. barang siapa meminta sesuatu kepada-Ku. Bagaimana Memahami Hadis Nabi SAW. Hadis Nabi yang Tekstual dan Kontekstual. Bisa juga untuk substitusi. adakalanya duapuluh sembilan hari)” (Hadis riwayat al-Bukhori dan Muslim dan lain-lain dari Ibnu Umar). dalam hal ini Nabi bersabda: (‫صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غمي عليكم فأكملوا عددة شعبان ثلثين )رواه البخارى و مسلم وغيره عن أبى هريرة‬ Artinya: Berpuasalah kamu sekalian karena telah melihat bulan (tanggal satu Ramadan). Hadis yang berkaitan dengan ibadah puasa didapatkan bahwa berpuasa Ramadan itu dimulai dengan melihat bulan. 27 Selanjutnya dia mengatakan bahwa sikap yang benar yang harus ada pada logika keimanan dan tidak ditolak oleh logika akal adalah mengatakan: Kami beriman dan percaya”. niscaya Aku memberinya. 1994). (Allah) berfirman: Barang siapa yang berdoa kepada-Ku. Kajian Praktis Pemahaman Hadis. maka boleh menentukan tanggal satu bulan Ramadan dan Syawal itu dengan perhitungan hisab. Perintah Nabi berpuasa setelah menyaksikan tanggal satu bulan Qamariyah bersifat temporal. seperti Hadis Nabi : ‫ من يسألني فأعتي له ومن‬. Syuhudi Ismail. Yusuf Qaradawi berpendapat bahwa dalam masalah akidah kewajiban kita adalah mengimani apa yang disebutkan dalam nas al-Qur'an dan Hadis-hadis Nabi. niscaya Aku mengampuni.28 Pendapat Yusuf Qaradawi tersebut di atas berbeda sangat dengan pandangan orang-orang mu’tazilah yang menolak keterangan Hadishadis yang dianggap mustahil menurut akal. Hadis-hadis itu dipahami secara tekstual. cet V (Bandung. Antara Pemahaman Tekstual dan Kontekstual. Hadis tersebut ada hubungannya dengan Hadis lain yang artinya: “Kami umat yang ummi. Allah memang tidak menganugerahi kemampuan kepada manusia untuk dapat memahami soal-soal gaib dengan sebenarnya. (Hadis riwayat al-Bukhari.. tidak sempurna. ketahuilan sesungguhnya al-Masih ad-Dajjal itu buta matanya sebelah kanan. karena hal itu tidak dibutuhkan manusia dalam tugasnya sebagai khalifah di muka bumi. Kajian Kritis …. hlm. Jadi penggunaan hasil penemuan manusia terhadap gejala-gejala alam seperti ilmu astronomi atau ilmu hisab seperti yang ditunjukkan dari ayat tersebut di atas tidaklah bertentangan.supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu. orang muslim tidak diperhatikan dan kemaksiatan merajalela sehingga kekuasaannya itu jelek. (Jakarta. manakala umat Islam sudah menguasai ilmu pengetahuan hisab dengan baik. 29 Dalam kitab-kitab syarah Hadis. para ulama pada umumnya dalam memahami Hadis-hadis yang berkaitan dengan masalah-masalah yang gaib (aqidah).‫ينزل ربنا تبارك وتعالى كل ليلة إلى السماء الدنيا حين يبقى ثلث الليل يقول من يدعوني فأستجب له‬ (‫يستغفرني فأغفر له )متفق عليه عن أبي هريرة‬ Artinya : Tuhan kita tabaraka ta’ala setiap malam turun ke langit dunia pada saat malam di pertiga akhir. hlm 20 31 Ibid. Kalimat yanzilu rabbuna kulla lailatin ila as-sama’ ad-dunya diartikan yang turun itu adalah limpahan rahmat Allah bukan Allah turun ke langit dunia. Kemudian Nabi bersabda: Sesungguhnya Allah itu tidak buta sebelah mata. Sikap mereka itu sudah melampui batas akibat sangat mengagungkan akalnya. tidak amanah.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa orang yang memanjangkan tanpa ada niat untuk sombong (sebagai niatnya) maka diperbolehkan. apakah kainnya itu di atas atau di bawah tumit. orang-orang yang menyebut-nyebut pmberiannya dan orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah bohong (Hadis riwayat Abu Dawud dari Abu Zaar Ra). yakni orang yang memanjangkan kain sampai di bawah tumit akan masuk neraka. Bahkan Hadis di atas dikuatkan dengan Hadis lain : (‫ما أسفل من الكعبين من الزار ففي النار)رواه البخارى عن أبى هريرة‬ Artinya : Kain sarung melewati di bawah kedua mata kaki akan membawa ke neraka (Hadis riwayat Al Bukhori dar Abu Hurairah). Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 20 . maka Allah tidak akan memandangnya pada hari kiamat. yang masih syubhat menjadi muhkam. Demikian pendapat Yusuf Al Qaradawi. (‫ بينما رجل يمشي في حلة تعجبه نفسه مرجل جمته إذ خسف ال به فهو يتجلجل إلى يوم القيامة )رواه البخارى عن أبى هريرة‬. yang mutlak menjadi muqayyad dan Hadis yang bermakna umum menjadi khusus sehingga diperoleh pemahaman yang terpadu. Hadis di atas bersifat umum tanpa memandang siapa yang melakukan. 2. Sebaliknya orang yang memanjangkan kainnya di bawah tumit atau memendekkan kainnya di atas tumit dengan disertai kesombongan tetap tidak diperbolehkan. Dengan cara seperti ini maknanya menjadi jelas. (Hadis riwayat al-Bukhari dari Abu Hurairah). Pemahaman Hadis yang berkaitan mengenai bidang aqidah dan ibadah lebih baik dilakukan secara tekstual untuk menghindarkan dari kesalahan dengan timbulnya bid’ah atau khurafat. yaitu orang yang memanjangkan kain. yaitu: (‫ ل ينظر ال إلى من جر ثوبه خيلء )رواه البخارى عن أبن عمر‬. Sebagai contoh adalah Hadis-hadis berikut : ‫ثلثة ل يكلمهم ال ول ينظر إليهم يوم القيامة ول يزكيهم ولهم عذاب أليم قلت من هم يا رسول ال قد خابوا وخسروا فأعادها ثلثا قلت‬ (‫ر‬ ّ( ‫من هم يا رسول ال خابوا وخسروا فقال المسبل والمنان والمنفق سلعته بالحلف الكاذب )رواه ابو داود عن أبي ذ‬ Artinya: Ada tiga macam manusia yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat. yakni bahwa orang yang memanjangkan kainnya dengan rasa sombong Allah akan memberikan siksaan pada hari kiamat. bahwa orang yang memanjangkan kain di bawah mata kaki diancam siksaan yang pedih. komprehensif terhadap ajaran Islam.3 Artinya : Satu saat ada seseorang laki-laki memanjangkan kainya yang kelihatan sombong dengan panjang ujung kainnya. dan saya akan memperhatikan (peringatan) tentang hal itu. F. itulah yang paling afdal. Pemahaman Hadis secara kontekstual merupakan suatu pendekatan yang seharusnya dikembangkan dalam kaitannya dengan pemahaman yang lebih utuh.2 (‫النبي صلى ال عليه وسلم لست ممن يصنعه خيلء )رواه البخارى عن سالم بن عبد ال‬ Artinya : Barangsiapa memanjangkan kain (sarungnya) dengan sikap sombong. tidak dipandang dan tidak disucikan. Penutup Dari sedikit uraian di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. siapa mereka itu ya Rasulullah orang yang kecewa dan merugi? Rasulullah menjawab. bahwa kamu tidak termasuk orang yang berlaku sombong (Hadis riwayat al-Bukhari dari Salim bin Abdullah). Dengan mengkaitkan dua buah hadis di atas mempunyai arti khusus. Lalu Abu Bakar berkata Ya Rasulullah sebelah ujung kainku memanjang ke bawah. Rasulullah mengatakan hal itu 3 kali. Rasulullah lalu berkata. mereka itu akan mendapatkan siksaan yang pedih. dimana dan kapan dilakukan.1 Artinya : Sesungguhnya Allah tidak akan memandang orang yang memanjangkan kainnya karena sombong (Hadis riwayat Al Bukhari dari Ibnu Umar Ra). Kemudian Abu Zaar bertanya. Namun pemahaman Hadis secara kontekstual dalam bidang muamalat terbuka lebar asalkan tetap berpegang pada prinsip menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dan asas kemaslahatan. ‫ من جر ثوبه خيلء لم ينظر ال إليه يوم القيامة قال أبو بكر يا رسول ال إن أحد شقي إزاري يسترخي إل أن أتعاهد ذلك منه فقال‬. utuh dan komprehensif. dengan 3 hadis yang mempunyai makna khusus. Tetapi di bawah ini ada beberapa Hadis yang membicarakan hal yang sama tetapi mempunyai makna yang lain. Yang terbaik adalah jika seseorang berpakaian menurut adat istiadat setempat dan pakaiannya itu menutup aurat serta tidak disertai rasa sombong.Salah satu cara memahami Hadis secara kontekstual adalah dengan jalan menghimpun Hadis-hadis sahih yang temanya sama. Allah akan membenamkan orang itu atau menjadikan orang itu terpelanting besok pada hari kiamat.

Kontekstualitas Pemahaman Hadis dalam Muhammadiyah. As-Syafi’i. 2003. penyusun hadis mengakhiri penulisan hadisnya dengan kata-kata: "Akhrajahul Bukhari". Saad. YPI-Al Rahmah. M Syuhudi. 1977. Tanya Jawab Agama I. _______. Kairo: Daar Al Syuruq. Media Dakwah. Jurnal Ilmu Dakwah. 1994. No. 4 tahun 90 tanggal 16-28 Februari 2005. TM Hasbi. bahkan mungkin bisa jadi maudhu’ setelah diadakan penelitian dari segi matan maupun sanadnya. 1999. Jakarta. Dar al-Ilmi lil al-Malayin. Bulan Bintang. ataukah daif.ttp. Gerakan Inkar Al Sunnah dan Jawabannya. 1997. al-Siba’i. Jakarta. 10 tahun ke-89 tanggal 16-31 Mei 2004 dan No. M. Oktober 2000. Yogyakarta. Jakarta. Jakarta. Usaha mencari sanad hadis yang terdapat dalam kitab hadis karya orang lain. Yogyakarta. Pedoman Praktis Pemahaman Hadis. Jakarta. yaitu: 1. Tim PP Muhammadiyah Majelis Tarjih. TAKHRIJ AL-HADIS Salah satu manfaat dari takhrijul hadis adalah dapat memberikan informasi bahwa suatu hadis tertentu apakah berkualitas sahih. PSW IAIN Sunan Kalijaga. Yusuf. Suara Muhammadiyah. Asymuni. artinya bahwa hadis yang dinukil itu terdapat kitab Jami’us Sahih Bukhari. Ahmadie Thoha. Sulaiman. Tekstualitas. Ahmad. tanggal 27 November 2004. 2001. Pengertian Kata Takhij adalah bentuk masdar dari fi’il madi yang secara bahasa berarti mengeluakan sesuatu dari tempatnya. Assiddiqie. Muhibbin. Mustafa. Buchori. 2. Jakarta. 2. yang tidak sama dengan sanad yang terdapat dalam kitab tersebut. terj. 1996. Usaha semacam ini dinamakan juga istikhraj. Kaifa Nata’amalu ma’a Al Sunnah Al Nabawiyyah. Universitas Islam Indonesia. Yogyakarta. Pustaka Pelajar. Bila ia mengakhirinya dengan kata Akhrajahul Muslim berarti hadis tersebut terdapat dalam kitab Sahih Muslim. A. Nizar. 1996. Ismail. Qaradhawi. Yogyakarta. Yogyakarta. dkk. tt As-Salih. UMY. Suatu keterangan bahwa hadis yang dinukilkan ke dalam kitab susunannya itu terdapat dalam kitab lain yang telah disebutkan nama penyusunnya. Jakarta. Bulan Bintang. Hamim. Beirut. Karisma. 1967. dalam majalah Suara Muhammadiyah. Muhammad Al Baqir. Nuansa Madani. 3. Subkhi. Hamid. hasan. Adapun pengertian takhrij menurut ahli hadis memiliki tiga (3) macam pengertian. M Syuhudi. 2000. 1995. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis. Ilyas. Ulum al-Hadis wa Mustilalahu. Soeparma. Hadis Nabi Yang Tekstual dan Kontektual. _______.Daftar Pustaka Abdurrahman. Pustaka Pelajar. Fiqh Islam. Attahiriyyah. Hadis-Hadis Sekte. Sa’dullah. Misalnya. Sebuah Kajian Hermenutik. II. 1994. Abdurrahim. Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 21 . "Tekstual. Memahami Hadis Nabi (Metode dan Pendekatan). Ar-Risalah¸ terj. Ismail. Najiyullah. as-Sunnah wa Maknatuha fi at-Tasyri al-Islami. Kapan Hadis-Hadis. 1995. Bagaimana Memahami Hadis Nabi SAW. III. Ali. Quran Karim dan Terjemahan Artinya. UII Press. "Metode Memahami Hadis". Metodologi Penelitian Hadis Nabi. Makalah Seminar di Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam (LPPI). Kajian Hadis-hadis Yogyakarta. Assa’idi. 1992. 1977. Yogyakarta. Jakarta. 1981. Perempuan Tertindas. dan IV. Kontekstual dan Liberal". Vol. Pustaka Pelajar. kemudian ia mencari sanad hadis tersebut yang berbeda dengan sanad yang telah ditetapkan oleh imam Muslim. Husnan. No. Misalnya seseorang mengambil sebuah hadis dari kitab Jami’ al-Sahih karya Muslim. Metode Pemahaman Hadis. M. Antara Pemahaman Tekstual dan Kontekstual. Islamuna Press. Bandung. Hadis-Hadis Politik. terj. tp. Rasyid. Bulan Bintang.

5. AI-Bugyatu fi Tartibi Ahadasi al-Hilyah Kitab ini disusun oleh Sayyid Abdul Aziz bin Al-Sayyid Muhammad bin Sayyid Siddiq AI-Qammari. Suatu usaha mencari derajat. Adapun kitab-kitab tersebut antara lain: 1. Kitab hadis tersebut memuat dan menerangkan hadis-hadis yang tercantum dalam kitab yang disusun Abu Nuaim AI-Asabuni (w. ataupun daif. Memberikan kemudahan bagi orang yang mau mengamalkan setelah tahu bahwa suatu hadis adalah hadis maqbul (dapat diterima).  Daftar awal matan hadis dalam bentuk sabda yang tersusun menurut abjad serta diterangkan nomor-nomor hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari. apakah sahih. 430 H) yang berjudul: Hilyatul Auliyai wa Tabaqatul Asfiyai. Manfaat Takhrij al-Hadis Ada beberapa manfaat dari takhrijul hadis antara lain sebagai berikut: 1. Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 22 . dan rawi hadis yang tidak diterangkan oleh penyusun atau pengarang suatu kitab. karya Abdurrahim Al-Iraqy. 2. perbedaan lafal dalam matan hadis riwayat Al-Bukhari tidak dapat diketahui lewat kamus tersebut. 3. 4. Sejenis dengan kitab tersebut di atas adalah kitab.  Al-Mugny An Haml al-Asfal. Memberikan informasi bahwa apakah suatu hadis itu termasuk kategori hadis sahih. 3.3.Miftahus Sahihain Kitab ini disusun oleh Muhammad Syarif bin Mustafa Al-Tauqiah. baik dari segi sanad maupun matan. Misalnya:  Takhrij Ahadis al-Kasysyaaf. hasan. Jus V ini merupakan kamus terhadap Juz ke-I sampai IV yang berisi:  Daftar urutan judul kitab serta nomor hadis dan juz yang memuatnya. 2. atau lainnya. bila kebetulan hadis tersebut juga diriwayatkan oleh Bukhari. Menguatkan keyakinan bahwa suatu hadis adalah benar-benar berasal dari Rasulullah Saw yang harus kita ikuti karena adanya bukti-bukti yang kuat tentang kebenaran hadis tersebut. Dan sebaliknya tidak mengamalkannya apabila diketahui bahwa suatu hadis adalah mardud (tertolak). Kitab-Kitab Yang Diperlukan dalam Melakukan Takhrij al-Hadis Ada beberapa kitab yang diperlukan untuk melakukan takhrij al-hadis. Lafal-lafal hadis disusun menurut aturan urutan huruf abjad Arab. Kitab ini disusun khusus untuk mencari hadis-hadis yang termuat dalam Sahih AI-Bukhari. setelah diadakan penelitian dari segi matan maupun sanadnya. Susunan kitabnya diberi judul Tarikhu Bagdadi yang terdiri atas 4 jilid. yakni juz ke-V dari Kitab Sahih Muslim yang disunting oleh Muhammad Abdul Baqi. Hadis tersebut disusun menurut abjad dari awal lafal hadis lafal matan hadis. Miftahut Tartibi li Ahadisi Tarikhil Khatib yang disusun oleh Sayyid Ahmad bin Sayyid Muhammad bin Sayyid As-Siddiq AI-Qammari yang memuat dan menerangkan hadis-hadis yang tercantum dalam kitab sejarah yang disusun oleh Abu Bakar bin Ali bin Subit bin Ahmad AI-Bagdadi yang dikenal dengan AI-Khatib AlBagdadi ( w. Kitab ini dapat digunakan untuk mencari hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Muslim.  Daftar nama para sahabat Nabi yang meriwayatkan hadis yang termuat dalam Sahih Muslim. adalah kitab yang menjelaskan derajat-derajat hadis yang terdapat dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali. Akan tetapi hadis-hadis yang dimuat dalam kitab ini hanyalah hadis-hadis yang berupa sabda ( qauliyah) saja. karyanya Jamaluddin Al-Hanafi adalah suatu kitab yang mengusahakan dan menerangkan derajat hadis yang terdapat dalam kitab Tafsir AI-Kasysyaaf yang oleh pengarangya tidak diterangkan derajat hadisnya. Dengan demikian. Mu’jam Al-Fazi wala Siyyama al-Garibu minha atau Fihris li Tartibi Ahadisi Sahihi Muslim Kitab tersebut merupakan salah satu juz. Namun hadis-hadis yang dikemukakan secara berulang dalam Sahih Bukhari tidak dimuat secara berulang dalam kitab tersebut. sanad. hasan. 463 H). Hidayatul bari ila tartibi ahadisil Bukhari Penyusun kitab ini adalah Abdur Rahman Ambar AI-Misri At-Tahtawi.

Sahih Muslim. negeri Belanda. Muwatta Malik. kitab Mu'jam mampu memberikan informasi kepada pencari matan dan sanad hadis. termasuk bahasa Arab di Universitas Leiden. Biasanya kalimat yang dipakai adalah Nama sahabat periwayat hadis dalam contoh di atas adalah Abu Hurairah. Berbagai lafal yang disajikan tidak dibatasi hanya lafal-lafal yang berada di tengah dan bagian-bagian lain dari matan hadis. Al-Jami’us Shagir Kitab ini disusun oleh Imam Jalaludin Abdurrahman As-Suyuti (w. Dengan demikian.6." Apabila hadis tersebut dikutip dalam karya tulis ilmiah. yakni kitab Jam'ul Jawami’. Menakhrij hadis telah diketahui awal matannya Maka hadis tersebut dapat dicari atau ditelusuri dalam kitab-kitab kamus hadis dengan dicarikan huruf awal yang sesuai diurutkan dengan abjad. namun telah mengandung pengertian yang cukup. maka diketahuilah bahwa bunyi lengkap matan hadis yang dicari adalah: Artinya: "(Hadis) riwayat Abu Hurairah bahwa Rasullulah bersabda. Adapun dua macam cara takhrijul hadis yaitu: 1. Kitab hadis tersebut juga menerangkan nama-nama sahabat Nabi yang meriwayatkan hadis yang bersangkutan dan nama-nama Mukharijnya (periwayat hadis yang menghimpun hadis dalam kitabnya). Sunan Ibnu Majjah. maka sesudah lafal matan dan nama sahabat periwayat hadis yang bersangkutan ditulis. yakni: Sahih Bukhari. AI-Mu’jam al-Mufahras li Alfazil Hadis Nabawi Penyusun kitab ini adalah sebuah tim dari kalangan orientalis. Selain itu. hampir setiap hadis yang dikutip dijelaskan kualitasnya menurut penilaian yang dilakukan atau disetujui oleh As-suyuti. nama Imam Muslim disertakan. seorang profesor bahasa-bahasa Semit. Sebagian dari hadis-hadis itu ada yang ditulis secara lengkap dan ada pula yang ditulis sebagian-sebagian saja. kalimat yang dipakai berbunyi : Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 23 . Berarti. Sunan Turmuzi. langkah yang harus dilakukan adalah menelusuri penggalan matan itu pada urutan awal matan yang memuat penggalan matan yang dimaksud. Sunan Nasai. Kitab Mu'jam ini terdiri dari tujuh Juz dan dapat digunakan untuk mencari hadis-hadis yang terdapat dalam sembilan kitab hadis. Arnold John Wensinck (w. Setelah diperiksa. Sunan Abu Dawud. Di antara anggota tim yang paling aktif dalam kegiatan proses penyusunan ialah Dr. Hadis yang dimuat dalam kitab Jami’us Shagir disusun berdasarkan urutan abjad dari awal lafal matan hadis. 7. asal saja sebagian dari lafal matan yang dicarinya itu telah diketahuinya. tetapi yang disebut sebagai orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya tatkala dia marah. Sunan Daromi.91h). Contohnya hadis Nabi: Untuk mengetahui lafal lengkap dari penggalan matan tersebut. dapat pula ditulis sesudah nama Muslim dan tidak ditulis di awal matan. lafal yang dicari berada pada halaman 2014 juz IV. Kitab kamus hadis tersebut memuat hadis-hadis yang terhimpun dalam kitab himpunan kutipan hadis yang disusun oleh As-suyuti juga. CARA MELAKUKAN TAKHRIJ AL-HADIS Secara garis besar menakhrij hadis (takhrijul hadis) dapat dibagi menjadi dua cara dengan menggunakan kitab-kitab sebagaimana telah disebutkan di atas. Ternyata halaman yang ditunjuk memuat penggalan lafal tersebut adalah halaman 2014. "(Ukuran) orang yang kuat (perkasa) itu bukanlah dari kekuatan orang itu dalam berkelahi. dan Musnad Ahmad. 1939 m). Kitab ini dimaksudkan untuk mencari hadis berdasarkan petunjuk lafal matan hadis.

padahal Sahih Muslim memuatnya dalam juz III halaman 1359.J. Jumlah kitab rujukan itu ada empat belas kitab. Pencarian matan hadis berdasarkan topik masalah sangat menolong pengkaji hadis yang ingin memahami petunjuk-petunjuk hadis dalam segala konteksnya. Kamus hadis yang berbahasa Inggris tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Arab sebagaimana tercantum di atas oleh Muhamad Fuad Abdul-Baqi. Kitab-kitab yang menjadi rujukan kamus tidak hanya kitab-kitab hadis saja. tetapi juga kitab-kitab sejarah ( tarikh) Nabi. Wensinck adalah juga penyusun utama kitab kamus hadis: Bahasa asli dari kitab Miftah Kunuzis-Sunnah adalah bahasa Inggris dengan judul a Handbook of Early Muhammadan. yaitu: = juz pertama (awal) = bab Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 24 .Dalam kitab Sahih Muslim dicantumkan dicatatan kaki sebagaimana lazimnya. Padahal untuk memahami topik tertentu tentang petunjuk hadis. nama dan beberapa hal yang berhubungan dengan kitab-kitab tersebut dikemukakan dalam bentuk lambang. namun berbagai kitab itu biasanya tidak menunjukkan teks hadis menurut para periwayatnya masing-masing. Naskah yang berbahasa Inggris diterbitkan untuk pertama kalinya pada tahun 1927 dan terjemahannya pada tahun 1934. seorang orientalis yang besar jasanya dalam dunia perkamusan hadis. Salah satu kamus hadis itu ialah: (Untuk empat belas kitab hadis dan kitab tarikh Nabi). baik. Untuk setiap topik biasanya disertakan beberapa subtopik. Kamus yang disusun oleh Muhamad Fuad Abdul Baqi tersebut tidak mengemukakan lafal hadis Nabi yang dalam bentuk selain sabda. Dr. diperlukan pengkajian terhadap teks-teks hadis menurut periwayatnya masing-masing. yang berkenaan dengan masalah-masalah yang berkaitan dengan petunjuk Nabi maupun yang berkenaan dengan masalah-masalah yang berkaitan dengan nama. Menakhrij hadis dengan berdasarkan topik permasalahan (takhrijul hadis bit Mundu'i) Upaya mencari hadis terkadang tidak didasarkan pada lafal matan (materi) hadis. lafalnya berbunyi: 2. dan untuk setiap subtopik dikemukakan data hadis dan kitab yang menjelaskannya. Kitab tersebut merupakan kamus hadis yang disusun berdasarkan topik masalah. A. Contoh berbagai lambang yang dipakai dalam kamus hadis Miftah Kunuzis-Sunnah. bahkan hadis yang berupa sabda pun tidak disebutkan seluruhnya. A. Muhamad Fuad tidak hanya menerjemahkan saja. nomor urut hadis 1734.J. Dengan bantuan kamus hadis tertentu. Pencarian matan hadis berdasarkan topik masalah tertentu itu dapat ditempuh dengan cara membaca berbagai kitab himpunan kutipan hadis. Dalam kamus hadis tersebut dikemukakan berbagai topik. Contoh: Lafal hadis tersebut tidak termuat dalam kamus. tetapi didasarkan pada topik masalah. Pengarang asli kamus hadis tersebut adalah Dr. Wensinck (Wafat 1939 M). Sebagaimana telah dibahas dalam uraian terdahulu. Hadis yang dimuat dalam kamus adalah hadis yang semakna yang terdapat dalam juz dan halaman yang sama dengan nomor urut hadis 1733. tetapi juga mengoreksi berbagai data yang salah. yakni: Dalam kamus. pengkajian teks dan konteks hadis menurut riwayat dari berbagai periwayat akan mudah dilakukan.

Cara penggunaannya seperti berbagai hadis yang dicari adalah yang memberi petunjuk tentang pemenuhan nazar: Dengan demikian. topik Yang dicari dalam kamus adalah topik tentang nazar. Setiap halaman kamus terbagi dalam tiga kolom. Setiap kolom memuat topik. dan pada setiap subtopik dikemukakan data kitab yang memuat hadis yang bersangkutan. Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 25 . Setiap topik biasanya mengandung beberapa subtopik.= sahih al-bukhari = Sunan Abi Daud = Sunan At-Turmuzi = Juz ketiga = juz kedua = Juz = Hadis = Musnad Ahmad = juz kelima = juz keempat = Musnad Zaid bin Ali = juz keenam = halaman (Sathah) = Musnad Abi Daud At-Thayalisi = Tabaqat Ibni Saad = Bagian Kitab (Qismul-kitab) = Konfirmasikan data yang sebelumnya dengan data yang sesudahnya = Magazi AI-Waqidi = Kitab (dalam arti bagian) = Muwatta' Malik = Sunan Ibni Majah = Sahih Muslim = Hadis terulang beberapa kali = Sunan Ad-Darimi = Sunan An-Nasai = Sirah Ibni Hisyam Angka kecil yang berada di sebelah kiri bagian atas dari angka Yang umum = hadis yang bersangkutan termuat sebanyak angka kecil itu pada halaman atau bab yang angkanya disertai dengan angka kecil tersebut.

Judul-judul kitab (dalam arti bagian) yang ditunjuk dalam data di atas dapat diperiksa pada daftar nama kitab (dalam arti bagian) yang termuat pada Bab IV tulisan ini untuk masing-masing kitab hadis yang bersangkutan. kolom kedua (tengah). Sunan An-Nasai dan Musnad Ahmad. maka topik yang dicari dalam kamus adalah topik Ramadan. kolom ketiga. hadis dimaksud dimuat dua kali) . kolom ketiga.nomor utut bab: 18. yakni dalam hal ini hadis yang membahas pemenuhan nazar diperiksa pada kelima kitab hadis di atas. Topik tersebut ada di halaman 211. halaman 159. Data Yang tercantum dalam subtopik tersebut adalah sebagai berikut : Dengan memahami kembali maksud lambang-lambang yang telah dikemukakan dalam uraian sebelumnya. Sunan lbnu Majah. Setelah data diperoleh. kolom ketiga. nomor urut kitab (bagian): 11. halaman 266 ( dalam halaman itu. Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 26 . topik nazar termuat di halaman 497. Sunan Abu Daud. Sunan Abu Daud. maka hadis yang dicari. Subtopik Yang dicari berada pada urutan kedua belas. nomor urut bab: 1. 5. dan juz VI. Sahih Muslim. maka dapat diketahui bahwa maksud data di atas ialah: 1. nomor urut kitab (bagian): 21. maka data tersebut dapat dipahami maksudnya. halaman 419. Subtopik yang dicari berada pada urutan subtopik keenam dan terletak di halaman 212. misalnya berbagai hadis Nabi tentang tata cara salat malam yang dilakukan Nabi pada bulan Ramadan. nomor urut bab: 22. Sunan Ad-Darimi. juz ll. yakni dalam Sahih Al-Bukhari. juz lII. 4. Sesudah itu lalu diperiksa hadis-hadis yang termuat dalam keenam kitab hadis tersebut. Apabila yang dicari. Sunan At-Turmuzi. 3. Data yang dikemukakan adalah : Dengan memeriksa lambing-lambang yang telah dikemukanan dalam pembahasan terlebih dahulu. nomor urut kitab (bagian): 22 nomor urut bab: 3. di halaman 498. Musnad Ahmad. Muatta ' Malik. nomor urut kitab (bagian): 14.Dalam kamus (Miftah Kunuzis-Sunnah) terbitan Lahore (pakistan). Subtopik untuk Ramadan ada dua puluh satu macam. Topik tersebut mengandung empat belas subtopik. 2.

Ibn al-‘Araby. Berhujjah Dengan Hadits Dla'if belum dijelaskan Salah satu fenomena yang marak dilakukan adalah pengamalan hadits Dla’if secara serampangan tanpa pilah dan pilih terlebih dahulu. Pengamalannya di dalam masalah-masalah ‘aqidah tidak boleh secara ijma’. Demikian pula pendapat yang tersirat dari ucapan Syaikhul Islam. Abu Zur’ah. Permasalahan yang dibicarakan di dalam hadits yang Dla’if tersebut masih berada di dalam kawasan prinsip dasar umum. Shahîh al-Bukhary dan Shahîh Muslim. Ketika mengamalkan hadits Dla’if tersebut. CATATAN: Ada ulama yang menambahkan satu syarat lagi. subtopiknya ada empat macam. Untuk mengetahui kualitasnya diperlukan penelitian tersendiri. disini kita akan membahas sedikit tentang hukum berhujjah dengannya dan persyaratannya. maka nama tersebut ditelusuri dalam kamus. yaitu. Sedangkan pengamalannya di dalam Fadlâ`il al-A’mâl (amalan-amalan yang memiliki keutamaan). dapat diperiksa hadis-hadis yang termuat dalam: 1. Tgl. Pengamalannya di dalam masalah-masalah hukum (al-Ahkâm) tidak diperbolehkan juga menurut mayoritas Ulama. Wallahu a’lam. 3. misalnya Abu Jahal. nomor urut kitab (bagian): 50. dan ketika diucapkan/dibicarakan semata hal itu untuk sekedar pendekatan (bersifat preventif). 5. perlu kiranya diketahui kapan berhujjah dan mengamalkan hadits Dla’if itu dibenarkan dan apa pula persyaratannya? Untuk itu. Berhujjah dengan hadits Dla’if dan mengamalkannya perlu ada perinciannya: 4. Syaikh al-Albany. Untuk memperlancar pencarian hadis berdasarkan topik tersebut. Sirah Ibnu Hisyam. juz II.1890. 29-02-1424 H ). perlu dilakukan praktek pencarian hadis berdasarkan data yang dikemukakan oleh kamus. Ibn al-Qayyim mengisyaratkan dimungkinkannya untuk menggunakan Hadits Dla’if tersebut ketika dalam kondisi akan menguatkan dua di antara ucapan yang seimbang. padahal implikasinya amat berbahaya sekali. Imam an-Nawawy telah menukil ijma’ para ulama mengenai hukum mengamalkan hadits Dla’if dalam masalah Fadlâ`il al-A’mâl padahal sebenarnya ada banyak ulama terkenal yang tidak sependapat dengan hal itu. Oleh karena itu. maka harus disebutkan ke -dla’if-an haditst tersebut. Namun pendapat yang tepat adalah bahwa hadits Dla’if tidak boleh diamalkan secara mutlak selama dugaan terhadap validitasnya masih lemah dan selama ia tidak mencapai derajat Hasan Li Ghairihi (Menjadi Hasan karena ada penguat/pendukungnya dari sisi sanad dan matan yang lain). Data untuk subtopik yang pertama. 6. tidak meyakini kevalidannya (bahwa ia adalah hadits yang shahih) bahkan harus meyakininya sebagai sikap preventif. misalnya berbunyi sebagai berikut (Keburukan tingkah laku Abu Jahal terhadap Nabi SAW. asySyawkany dan ulama kontemporer. Musnad Ahmad. pada nomor urut hadis: 28 2. ketika berhujjah dengan hadits Dla’if dan menyampaikannya di dalam suatu majlis. Nama Abu Jahal ternyata terletak di halaman l5 kolom kedua. hadits Dla’if tidak boleh diamalkan secara mutlak dalam bab apapun di dalam dien ini . diantaranya Abu Hâtim. halaman 184. Vol. Perlu ditegaskan bahwa berbagai hadis yang ditunjuk oleh kamus kualitasnya. mayoritas para ulama membolehkannya dengan syarat-syarat sebagai berikut:    Hadits yang dijadikan hujjah/diamalkan tersebut tidak Dla’if (Lemah) sekali. Alias bukan terpisah dan sudah menjadi cabang tersendiri.Sekiranya topik yang dikaji berkaitan dengan nama orang.’Abdul Karim bin ‘Abdullah al-Khudlair [Dosen pada Fakultas Ushuluddin di Jâmi’ah al-Imam Muhammad bin Su’ûd]. al-Maghâziy (berita-berita seputar peperangan-peperangan) dan Sirah. (Disarikan dari Jawaban Syaikh DR. Majallah ‘ad-Da’wah’. Maka berdasarkan hal ini. Sahih Muslim. Dengan demikian untuk mengetahui keburukan tingkah laku AbuJahal kepada Nabi Muhamad. Ibn Taimiyah dan Ibn al-Qayyim serta petunjuk yang didapat di dalam dua kitab Shahih. halaman 370. Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 27 . Data tersebut agar dikonfirmasikan dengan data yang dikemukakan sebelumnya dan sesudahnya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful