BAB I PENDAHULUAN

Sistem motorik, sensorik dan reflek merupakan suatu sistem kompleks yang saling berhubungan. Sistem motorik bermanifestasi dalam gerakan otot,sistem sensoris menempatkan manusia berhubungan dengan sekitarnya (sensasi). Sedangkan refleks merupakan jawaban involuntar dari rangsangan. Untuk menggerakkan otot yang tidak hanya melibatkan sistem motorik saja tetapi juga sistem sensorik dan reflek,misal ketika seseorang menginjak batu yang runcing atau perasaan yang tidak nyaman lainnya seperti memegang atau mengangkat secangkir kopi yang sangat panas. Maka informasi tersebut dikirim ke otak , kemudian otak mengirim pesan ke otot tentang bagaimana otot tersebut merespon. Perpindahan/pertukaran infomasi semacam ini melibatkan terutama dua jalur syaraf yang kompleks yaitu jalur sensoris ke otak dan jalur motorik ke otot, selain itu suatu gerakan reflek juga dapat terjadi. Dengan kata lain dapat di katakana bahwa masukan dari sistem sensorik memainkan peranan dalam mengontrol fungsi motorik melalui koneksikoneksi didalam korteks sensori motoris atau jaras-jaras serebelum, sebaliknya impuls dari korteks sensoris motorik melaui jaras descenden mempengaruhi fungsi neuron sensorik dalam sum-sum tulang, batang otak, thalamus.

1

BAB II SISTEM MOTORIK

SISTEM MOTORIK
Sistem motorik adalah suatu sistem yang mengontrol atau mengatur hal ikhwal yang berkaitan dengan otot skeletal yang terdiri dari unsur saraf dan muskuler. Otot-otot yang menghasilkan pergerakan tidak berfungsi secara terus menerus, otot ini memerlukan suplai darah dan penambahan glukosa bila otot-otot tersebut lelah. Terdapat 2 sistem utama lintasan motorik yang digolongkan sebagai sistem Piramidalis dan Ekstrapiramidalis. Lintasan motorik desenden sistemnya melibatkan 2 neuron utama yaitu : Neuron Motorik Atas dan Neuron Motorik Bawah. LMN mempunyai badan sel dalam motoris serebri / daerah subkortikal otak dan batang otak yang bertugas menghantarkan impuls dari otak. Dengan neuron motorik atas terletak dalam SSP dan neuron motorik bawah dimulai dari SSP, mengirimkan serabut-serabutnya ke otot. Jadi LMN adalah bagian dari sistem saraf perifer. Guna melakukan gerakan volunter dari otot, berkaitan dengan serat otot panjang yang berasal dari neuron kortikal dan berjalan ke bawah ke sel kornu anterior medulla spinalis. Serat-serat ini membentuk traktus kortikospinalis atau traktus piramidalis. Serat ini adalah akson dari neuron yang terletak dalam region motorik yaitu lebih spesifik lagi adalah pada area sitoarsitektonik Brodmann 4. Area ini adalah lapangan yang agak sempit yang memanjang sepanjang fisura sentralis, dari lateral atau fisura sylvii ke arah dorsomedial ke tepi dorso hemisfer dan ke bagian anterior lobulus parasentralis pada sisi medial hemisfer. Neuron ini mencakup sel Piramida Betz raksasa, yang memberikan akson dengan selubung myelin yang tebal. Serat konduksi cepat ini hanya mewakili 3,4 sampai 4% dari semua serat yang membuat traktus piramidalis. Kebanyakan serat traktus piramidalis berasal dari sel piramidalis kecil atau sel fusiformis dalam area motorik 4 dari 6. Serat yang berasal dari area 4 mewakili sekitar 40% dari serat traktus, sisanya berasal dari daerah region sensorimotor lainnya. Motoneuron area 4 mengontrol gerakan volunteer yang halus dari otot-otot rangka separuh tubuh kontralateral karena kebanyakan serat traktus piramidalis menyilang ke sisi yang berlawanan dalam medulla oblongata. Stimulasi area 4 menghasilkan gerakan

2

3 . seperti gerakan seluruh otot lengan dan tungkai.umum masing-masing otot. Impuls dalam sel piramidalis korteks motorik berjalan dalam jarak yang terletak pada bagian rostal traktus piramidalis yaitu berkas kortikonuklear yang berakhir pada nuclei saraf kranialis motorik dalam pusat otak dan berkas kortikospinalis yang jauh lebih tebal dan berakhir pada kornu anterior medulla spinalis pada neuron interkalasi. Sel saraf ini mengirim impuls sepanjang radiks interior dan saraf perifer ke lempeng akhir motorik otot rangka. yang dihubungkan oleh sinaps dengan motomeuron besar kornu anterior. sedangkan stimulasi area 6 menghasilkan gerakan yang lebih kompleks.

Gambar 1. Area sensorimeter dengan area motorik primer 4 dalam gyrus Precentralis dan area promoter 6 dan 8 4 .

beberapa serat mungkin berhubungan dengan sel komu anterior dari sisi yang sama. serat-serat ini menyilang pada tingkat segmental melalui komisura inferior medulläre : Pada segmen cervical dan thoraks medulla spinalis.TRAKTUS PIRAMIDALIS ( TRAKTUS KORTIKOSPINALIS ) Setelah meninggalkan korteks motorik serat traktus kortikospinalis akan bergabung melewati korona radiata substansia alba serebrum ke arah ekstremitas posterior kapsula interna dalam urutan somatotropik dan memasuki bagian tengah pedunkulus otak tengah kemudian merupakan serat-serat padat yang berjalan turun melewati pusat setiap separuh basal pons yang dikelilingi oleh sejumlah sel saraf nuclei pontis dan oleh berbagai serat-serat sistem. Serat yang menyilang pada lokasi dekusatio piramidalis. 5 . menjadi lebih kecil dan makin kecil ke bagian lumbal. maka disebut Traktus Piramidalis. Pada sambungan pontomedulat. traktus tersebut terlihat dari luar dan membentuk juluran piramida yang terbaik pada setiap sisi garis tengah frontal dari medulla. sehingga otot-otot leher dari tubuh menerima persarafan kortikal dari kedua sisi. berjalan turun sebagai traktus kortikospinalis lateral melalui funikulus lateral. yang akan berhubungan dengan sel yang besar di kornu anterior seperti sel gama motor neuron. sisanya akan terus berjalan ke bawah dan tidak menyilang. karena serat-serat tersebut terus bercabang-cabang. masuk dalam funikulus anterior sebagai traktus kortikospinalis anterior. Sekitar 80% seratserat tersebut bersinaps dengan neuron internunsial. Pada ujung akhir medulla oblongata 80%-85% serat dari setiap traktus piramidalis menyilang ke sisi yang berlawanan dalam decusatio piramidalis dan menjadi traktus kortikospinalis lateral.

Traktus Piramidalis berjalan melewati korona radiate adalah serat-seratnya yang berkumpul kearah ekstremitas posterior kapsula interna dalam urutan somatotropik 6 .Gambar 2.

Gambar 3. Perjalanan Traktus Piramidalis 7 .

retikulospinalis.SISTEM MOTORIK EKSTRAPIRAMIDALIS Sistem motorik ekstrapiramidalis melewati Pyramidal medulla. 8 . vestibulospinalis dan traktus lainnya ke motoneuron kornu anterior dan merupakan jaras dimana sistem ektrapiramidal mempengaruhi kerja motorik spinal. serebelum dan korteks serebri. berjalan turun sebagai traktus tektospinalis. pusat otak. Traktus ekstrapiramidalis dan rantai ekstrapiramidal dan neuron bertemu pada motoneuron kornu anterior pada sel alfa. Kerusakan pada traktus piramidalis di luar daerah piramida selalu melibatkan serat ekstrapiramidalis terutama serat traktus retikulospinalis dan vestibulospinalis. Akson "Neuron kedua" memberikan aksonnya ke korteks serebelum kontralateral. Serebelum juga mengontrol dan menyeimbangkan pengaruh pada gerakan volunteer melalui system ekstrapiramidal. Sistem ekstrapiramidal menambah sistem kortikal dan kerja volunteer motorik ke tingkat yang lebih tinggi. dan sel gama yang lebih kecil dan mempengaruhi neuron yang sebagian dengan mengaktivasi dan sebagainya dengan menginhibisi. Dalam struktur ini impuls dikirim ke neuron tambahan melalui saraf interkalasi. juga merupakan bagian dari berkas serat yang menghubungkan korteks serebri dengan grisea pyramidal. Serat-serat ini adalah akson "Neuron pertama" dari berbagai traktus kortikopontoserebelaris. Berkas serat frontopontin terletak dalam krus anterior kapsula interna tepat di depan serat piramidalis yang mempersarafi otot-otot wajah. dan penting karena mempengaruhi sirkuit umpan balik motorik regulatoris dalam medulla spinalis. sehingga korteks serebral menerima semua impuls motorik yang berasal dari korteks serebri. juga menerima informasi tentang semua aktifitas motorik yang berlangsung di perifer. rubospinalis.

Traktus Extrapiramidalis 9 .Gambar 4.

IX ). Jika pemotongan traktus piramidalis terjadi secara tibatiba reflek regangan dari otot akan tertekan pertama-tama akan terjadi paralisa flaksid. Jika traktus piramidalis cedera di bawah dekusasio maka teijadi hemiplegi ipsilateral.III). Impuls-impuls yang menghasilkan gerakan konjugat dari mata adalah traktus kortikomesensefalik yang merupakan bagian dari traktus kortikonuklearis. dan menyebabkan paralisa spastic seluruh daerah yang berlawanan. glosofaringeus ( N. Setelah serat dari berkas ini meninggalkan area 8 kemudian bergabung dengan serat traktus piramidalis dalam korona radiate.X ). Kerusakan bilateral pada otak atau medulla 10 . dan abdusens ( N.VII ). akibatnya adalah paralysis otot yang disarafi oleh sel-sel ini. jika refleks ini pulih maka gelendong otot akan menjadi sensitive terhadap regangan daripada sebelumnya. Tidak jelas dimana serat traktus kortikomesensefalik berakhir. Saraf ini bekerja secara sinergik dalam menghasilkan gerakan konjugat ke sisi yang berlawanan. Lesi kecil pada kapsula interna dapat menghambat serat yang terbungkus erat. Troklearis ( N.IV ). Paralisanya kontralateral karena serat piramidalis menyilang dalam medulla oblongata bawah.XI) dan hipoglosus ( N. Lesi dengan dimensi yang sama jika terletak pada korona radiate. fasialis ( N. vagus ( N. Reflek regangan akan pulih setelah berhari-hari atau berminggu-minggu.XII). menyebabkan paralysis yang terbatas misalnya salah satu lengan atau tungkai. KERUSAKAN JARAS PIRAMIDALIS Pemotongan traktus piramidalis menghilangkan pengiriman semua rangsangan gerakan volunteer dari korteks motorik ke sel kornu anterior.VI ).V ).TRAKTUS KORTIKONUKLEARIS (TRAKTUS KORTIKOBULBARIS) Serat-serat yang membentuk traktus kortikonuklearis meninggalkan traktus piramidalis rostral pada tingkat otak tengah dan melakukan perjalanan ke dorsal. Impuls dari area 8 tidak dapat mempersarafi otot mata secara individual. Hanya diketahui bahwa serat ini tidak bersinaps secara langsung dengan neuron-neuron dalam nuclei okulomotor. Kemudian akan berjalan lebih ventral dalam ekstremitas posterior kapsula interna. Pada perjalanannya ke nuclei saraf kranialis motorik beberapa serat ini menyilang dan beberapa tetap tidak menyilang. asesoris (N. terutama pada fleksor lengan dan ekstensor tungkai. sampai akhirnya berbelok ke kaudal dalam perjalanannya ke nuclei saraf motorik dari mata : saraf okulomotoris (N. Nuklei yang terlibat adalah nuclei saraf kranialis yang mengontrol persarafan volunteer otot-otot wajah san mulut saraf trigeminus ( N.

: monoplegia spastic ipsilateral dari tungkai. Lesi torakalis h. : kerusakan motoneuron bawah atau perifer ipsilateral b. Lesi radiks anterior 11 . Lesi subkortikal c. Gejala-gejala sindroma paralysis spastic sentral bervariasi tergantung lokasi lesi sepanjang perjalanan traktus piramidalis : a. seperti tanda Babinski. Meskipun mekanisme sarafnya belum dimengerti. Tanda lain yang tidak begitu nyata adalah hilangnya refleks kulit. Lesi pedunkel d. dan flaksid.spinalis bagian servikal atas akan mengakibatkan tetraplegia. Kelumpuhan spastic ditandai oleh timbulnya dari spastik atau tanda jari kaki. : hemiplegi spastic ipsilateral. Lesi kapsula interna : terjadi hemiplegi spastic kontralateral. Lesi pons e. : hemiplegi spastic kontralateral. : Paresis tangan atau lengan kontralateral. Lesi piramida f. kehadirannya memberikan bukti yang jelas adanya cedera traktus piramidalis. seperti refleks abdomen atau kremaster. : hemiparesis flaksid kontralateral. : hemiplegi kontralateral dan mungkin bilateral. Lesi servikal g.

Gambar 5. Sindroma klinis terputusnya jaras motorik 12 .

Beberapa contoh reseptor : 1. Sensasi perasa terdiri dari: 1. Sensasi protopatik (eksteroseptif) . 2. nyeri dan suhu. pendengaran. keseimbangan yang disalurkan melalui saraf-saraf cranial. rasa raba. Sensasi visceral (introseptif) : rasa lapar. Susunan somatosensorik (somestesi) mencakup sensasi protopatik atau eksteroseptif (rasa raba. : untuk rasa panas. Sensasi khusus : pembauan. Proprioseptor Terdiri dari korpuskulus Pacini. tekan. korpuskulus Meisner. 2. 13 . Mekel : untuk rasa raba. Sensasi proprioseptif: rasa getar. mual nyeri visceral. End-buib dari Krause Korpuskulus Ruffini Ujung saraf bebas : untuk rasa dingin. pengecapan.BAB II SISTEM SENSORIK SISTEM SENSORIK Sistem sensorik adalah sistem yang menyalurkan informasi dari lingkungan external dan internal. dan suhu). penglihatan. 4. Eksteroseptor Sel rambut. reseptor sendi. nyeri. 3. RESEPTOR Yaitu sel-sel khusus yang mendeteksi perubahan tertentu di lingkungan sekitarnya. yang disalurkan melalui serat-serat aferen otonomik. : untuk perasa nyeri ( nosiseptor ). alat tendon Golgi: untuk perasa proprioseptif. dan posisi sendi). gerak. dan propioseptif (rasa getar. kerucut otot. tekan gerak dan posisi sendi.

Serat somatic menghubungkan reseptor dengan medulla spinalis. maka panjang asalnya akan kembali. Bagian tengah radiks diisi oleh serat yang berasal dari reseptor berkapsul dan meneruskan sensasi lainnya. yang dikirim ke motoneuron besar dalam medulla spinalis melaini serat aferen Ia konduksi cepat. Serat saraf yang berasal dari gelendong neuromuskuler dan mempunyai selubung myelin paling tebal. rasa raba. dipersarafi oleh serat motorik.SARAF PERIFER Saraf perifer mengandung serat aferen sebaik eferen. Dengan dikirimnya 14 . Serat yang paling lateral adalah serat yang hamper tak bermielin dan membawa impuls nyeri serta suhu. dan sel motorik kornu anterior dengan otot. bermielin sebaik tak bermielin. Bila otot teregang demikian juga gelendong otot. yang konduksinya juga cepat ke otot ekstrafusal. Bagitu otot berkontraksi. mengisi bagian paling medial dari radiks. Baik serat otot ekstrafusal maupun intrafusal. Serat intrafusal lebih tipis dari serat ekstrafiisal yang biasa. tekanan dan diskriminasi. disebut serat intrafusal. dan somatic sebaik vegetatif otonom. Impuls propriosepsi lain yang berasal dari reseptor di fasia. dan dari sini melalui serat eferen tebal alfa I. sendi dan jaringan ikat yang lebih dalam berjalan dalam serat yang kurang bermielin. Ketukan ringan pada tendon otot misalnya pada tendon otot kuadrisep sesaat akan merenggangkan otot homonom. getaran. ujung saraf anulospiral segera bereaksi terhadap peregangan dengan potensial aksi. Serat saraf dikalsifikasikan berdasarkan ketebalan selubung mielinnya dan kecepatan konduksinya. serat intrafusal melalui serat gama (fusimotorik) dari motoneuron kecil yang menyertai motoneuron besar pada kornu anterior. Propriosepsi Yaitu impuls yang berasal dari gelendong otot dan organ tendon. Gelendong otot segera bereaksi. Refleks Proprioseptif Monosinaptik Reseptor yang terbuat dari serat otot yang dimodifikasi. Neuron dari Sistem saraf Pusat Serat aferen neuron pseudonipolar dari ganglion spinalis membentuk arkus refleks monosinaptik sederhana dengan neuron motorik yang spesifik dalam komu anterior medulla spinalis. Setiap regangan otot akan mencetuskan mekanisme ini. Serat saraf dengan selubung myelin paling tebal. Serat otot ekstrafusal berada panjang yang tetap selama istirahat. dikirimi oleh serat konduksi tercepat yang paling kaya myelin. menghantarkan sensibilitas dalam propiosepsi. yaitu serat Ia.

perangsangan ini segera menyebabkan kontraksi singkat. 15 . Refleks monosinaptik ini didasarkan pada semua refleks proprioseptif.impuls ke motoneuron kornu anterior.

Homenkulus Somato Motorik Girus Precentralis 16 .Gambar 6.

Hilangnya sikap dan sensasi lokomotor. Fasikuli ini berakhir pada masing-masing nukleusnya. kapsula sendi. Neuron ketiga (nucleus talamikus ventralis posterolateral) membentuk talamokortikalis traktus berjalan pada posterior dari ekstremitas posterior kapsula interna melalui korona radiate substansia alba ke girus sentralis posterior. tendon. lengan. Impuls ini berjalan ke media spinalis melalui akson dari ganglion spinalis (akson neuron pseudonipolar). berjalan dalam fasikulus grasitis. memberi kolateral pada neuron dalam kornu anterior dan posterior. sensasi taktil). getaran. jaringan ikat profunda dan kulit. ada yang bercabang ke atas dan ada yang bercabang ke bawah. Serat yang berasal dari leher terletak paling terletak. Serat yang membawa impuls dari dada. aksonnya membentuk traktus bulbotalamikus dan berhubungan dengan neuron ketiga pada nucleus ventralis talamikus posterolateral.FUNIKULUS POSTERIOR Suatu sistem sensorik yang menyampaikan impuls proprioseptik (sikap tubuh. berlanjut pada anterior sisi substansia erisea sentralis medulla oblongata di atas dekusasio traktus oiramidalis desenden. Serat yang berjalan naik dalam funikulus posterior untuk somatotopik. Sindroma pada cidera funikulus posterior : a. Astereognosis c. fasia. nucleus grasilis dan nucleus kutaneus. dan leher disusun dalam fasikulus kutaneus. Kedua traktus masing-masing membentuk fasikulus grasilis lateral dari Goll untuk tungkai dan fasikulus kutaneus lateral dari Burdach untuk lengan. tekanan diskriminasi. yang terletak di tegmentum dorsalis medulla oblongata. Sel saraf dalam Nuclei grasitis dan kutaneus mewakili neuron kedua. b. Hilangnya diskriminasi dua titik hilangnya sensasi getaran d. kemudian mulai ke septum median posterior. Tanda Romberg positif 17 . Sensasi proprioseptik ini berasal dari reseptor di otot. Bagian utama cabang akson tersebut masuk dalam funikulus posterior. Kemudian traktus bulbotalamikus menjadi lemnikus medialis menyilang garis tengah (dekusasio lemnikus medialis) naik di dosterior ke pyramid dan medial dari olive inferior melalui tegmentum medulla atas dan pons serta otak tengah menuju thalamus.

Funikulus Posterior 18 .Gambar 7.

Jika kerusakan mencakup bagian servikal traktus spinotalamikus anterior dapat menyebabkan hipestesia ringan pada tungkai kontralateral. Sel-sel saraf ini menggantikan "neuron kedua" yang membentuk traktus spinotalamikus anterior. Selsel thalamus adalah "neuron ketiga" memproyeksikan impuls ke dalam girus postsentralis melalui traktus talamokortikalis. Cabang sentral dari akson ini berjalan melalui radiks posterior ke dalam funikulli posterior medulla spinalis. Impuls dapat dengan mudah melintasi daerah cidera. Dari sini traktus ini berjalan naik ke nucleus ventralis thalamus posterolateral.TRAKTUS SPINOTALAMIKUS ANTERIOR Neuron pertama adalah sel saraf pseudounipolar. Cabang sentral dan neuron pertama berjalan ke atas dan ke bawah di dalam funikulus dan berhubungan melalui banyak kolateral dengan neuron kedua. mengirim sensasi taktil dan tekanan. bersama dengan traktus spinotalamikus lateral dan lemnikus medialis. 19 . Traktus ini menyilang komisura anterior di depan kanalis sentralis ke sisi yang berlawanan dan berlanjut ke daerah perifer anterior dari funikulus anterolateral. maka cedera pada bagian lumbal dan thorak dari traktus spinotalamikus biasanya tidak menyebabkan hilangnya sensasi taktil yang penting. Pada sejumlah tingkat semua bersinaps dengan neuron kornu posterior.

Traktus Spinotalamikus Anterior 20 .Gambar 8.

sensasi nyeri seperti juga sensasi suhu akan rusak. Reseptor perifer adalah ujung saraf bebas dalam kulit yang merupakan organ akhir cabang perifer dari neuron pseudounipolar ganglion spinalis. perbedaan rasa sakit dapat dibedakan.1 longitudinal. Jika traktus tersebut dipotong (kordatomi). menghilangkan sensasi nyeri dan suhu kontralateral sekitar 1 sampai 2 segmen dibawah tingkat operasi. cabang sentral ini terbagi menjadi kontralateral pendek. Sekali impuls tersebut mencapai korteks serebral. terletak paling perifer dan yang berasal dari leher. Traktus spinotalamikus lateral menyertai lemniskus medialis pada waktu lemniskus spinalis melewati pusat otak. terletak paling sentral (medial). Dari sini. nyeri tidak dapat dihilangkan secara total. yang berlanjut ke kortek girus sentralis posterior. Serat yang membawa sensasi nyeri dan suhu. Traktus tersebut berakhir pada nucleus ventralis posterolateral dari thalamus. Pemotongan traktus spinotalamikus lateral pada ventral substansia alba medulla spinalis. yang berasal dari tungkai. yang mewakili serat kelompok A yang tipis dan serat C yang hampir bermielin. di mana diatas 1 atau 2 segmen berhubungan sinaps dengan sel-sel saraf substansia gelatinosa (Rolambi). Seperti serat funikuli posterior. Cabang sentral memasuki medulla spinalis melalui bagian lateral radiks posterior. yaitu suatu operasi yang biasanya dilakukan bilateral untuk terapi nyeri yang hebat. berjalan dalam traktus spinotalamikus dengan sangat rapat sisi kesisi. Traktus Spinotalamikus lateral merupakan jaras utama untuk nyeri dan suhu. sehingga tidak mungkin dipisahkan secara anatomi. meskipun tidak selalu dalam derajat yang sama. Hasil ini menyatakan bahwa rangsangan nyeri juga dapat dikirim melalui neuron intemunsial sepanjang jaras intrinsic fasikuli propii dari medulla spinalis. Serat-serat dari traktus ini juga menyilang komisura anterior dan berlanjut ke bagian lateral funikulus lateral dan ke atas ke talamus. Jika traktus spinotalamikus lateral cedera. radik segmen ke-8 21 . Di dalam medulla spinalis. kedua traktus spinotalamikus juga tersusun dalam urutan somatotopik. Impuls nyeri dan suhu yang mencapai thalamus dapat dirasakan. Radik dari segmen Cl sampai C7. tetapi tidak nyata. "neuron ketiga" membentuk traktus talamokortikalis. Cabang ini adalah "neuron kedua" yang membentuk traktus spinotalamikus lateral (8). Karena bagian servikal mempunyai satu segmen lebih dari pada vertebra servikalis. meninggalkan kanalis spinalis melalui foramina intervertebralis yang terletak pada sisi superior atau rostral setiap vertebra.TRAKTUS SPINOTALAMIKUS LATERAL Traktus ini membawa sensasi nyeri dan suhu.

meninggalkan kanalis melalui foramina yang terletak antara vertebra servikalis ke-7 dan torasikus ke-I. dan juga antara L2 dan S3. disebut dermatom atau daerah demiatomik. Jumlah dermatom adalah sebanyak radiks segmental. Antara C4 dan Tl. diameter medulla spinalis membesar. dengan kata lain. Ke arah perifer dari saraf. radik saraf meninggalkan kanalis melalui foramina yang lebih bawah. serat aferen berasal dari satu radiks dorsalis yang bergabung dan mensuplai daerah segmen tertentu dari kulit. setiap saraf perifer dibuat dari serat beberapa radiks segmental yang berdekatan. dan yang dari regio lumbosakral membentuk pleksus lumbosakralis. Intumesensia servikalis dan lumbalis ini terjadi karena radiks dari separuh bawah bagian servikal naik ke pleksus brakialis. 22 . mempersarafi ekstremitas atas. Dari sini ke bawah. mempersarafi ekstremitas bawah. Pembentukan pleksus-pleksus ini menyebabkan serat-serat dari setiap pasang bercabang menjadi saraf-saraf perifer yang berbeda.

Traktus Spinotalamikus Lateral 23 .Gambar 9.

kecuali sensasi nyeri dan suhu. Lokasi e : Jika kerusakan terbatas pada lemnikus trigeminalis dan traktus spinotalamikus lateral pada pusat otak. mengalami kerusakan. Jika kerusakan pada trigeminal dan traktus spinotalamikus lateral pada otak. Jika radiks yang cidera mensuplai saraf dari lengan otot tungkai akan ditemukan hipotomia atau atonia. Lokasi c : Suatu lesi yang melibatkan semua jaras sensorik tepat di bawah thalamus.SINDROMA PEMOTONGAN JARAS SENSORIK Lesi kortikal dan subkortikal dalam daerah sensori motorik untuk daerah lengan dan tungkai menyebabkan paratesia (rasa geli. menyebabkan hilangnya semua kualitas sensorik separuh tubuh kontralateral. tidak umum ditemukan. Lokasi a atau b : Lesi kortikal atau subkortikal dalam daerah sensori motorik untuk lengan (a) atau tungkai (b). Sindroma Pemotongan Jaras Sensorik 1. menyebabakan hilangnya sensasi sikap. menghilangkan sensasi suhu dan nyeri ipsilateral. Lokasi d : Jika jaras sensorik lain. Keterlibatan lemnikus medialis dan traktus spinotalamikus anterior. tidak ditemukan adanya sensasi nyeri dan suhu pada wajah dan tubuh kontralateral. 24 . Kerusakan nucleus dan traktus trigeminal spinalis dan traktus spinotalamikus lateral. tidak ditemukan adanya sensasi nyeri dan suhu pada wajah dan tubuh kontralateral. selain untuk nyeri dan suhu. Cidera beberapa radiks posterior yang berdekatan diikuti parestesia radikuler dan nyeri serta penurunan atau hilangnya semua kualitas sensorik pada masing-masing segmen tubuh.arefleksia dan ataksia. 3. terutama sebelah distal parestesia dapat teijadi sebagai kejang sensorik fokal. Lesi pada kornu posterior. Paratesia dapat terjadi sebagai kejang motorik. semua kualitas sensorik tubuh lainnya tidak terganggu. menyebabakan parestesia dan mati rasa pada masingmasing ekstremitas sisi yang berlawanan. kesemutan) dan mati rasa pada masingmasing ekstremitas sisi yang berlawanan. semua kualitas sensorik lainnya tetap tidak terganggu. 4. 2. diskriminasi dan sensasi lainnya yang berhubungan dengan atraksia ipsilateral. terutama distal. hipestesia teijadi pada sisi kontralateral wajah dan tubuh. getaran. semua kualitas lain tetap utuh. Sensasi nyeri dan suhu tetap utuh. semua kualitas sensorik pada bagian kontralateral tubuh.

9. menghilangkan semua kualitas sensorik pada bagian kontralateral tubuh. getaran. diikuti oleh parestesia radikuler dan nyeri dan juga penurunan atau hilangnya semua kualitas sensorik pada masing-masing segmen tubuh. semua kualitas lain tetap utuh (gangguan disosiasi sensibilitas). arefleksia dan ataksia. kecuali sensasi nyeri dan suhu. 6. Lokasi k : cedera beberapa radiks posterior yang berdekatan. Lokasi i : Lesi pada korau posterior.5. menghilangkan sensasi suhu dan nyeri ipsilateral. 7. Lokasi f : Keterlibatan lemnikus medialis dan traktus spinotalamikus anterior. menyebabkan hilangnya sensasi nyeri dan suhu pada wajah ipsilateral dan tubuh kontralateral. ditemukan hipotania atau atonia. diskriminasi dan sensasi lain yang berhubungan dengan ataksia ipsilateral. Lokasi g : Kerusakan nucleus dan traktus trigeminal spinalis daan traktus spinotalamikus lateral. Lokasi h : Kerusakan funikulus posterior menyebabkan hilangnya sensasi sikap. Jika radiks yang cedera mensuplai saraf dari lengan atau tungkai. 25 . 8.

P. 1989 26 . Diagnosis Topik Neurologi. Neurologi Anatomi Korelatif dan Neurologi Fungsional. Penerbit FKUI : 1998 Sidharta. Neurologi Klinis Dasar. Gajah Mada University Press : 1990 Duus. P. Neurologi Klinik.DAFTAR PUSTAKA Chusid. GJ. EGC : 1996 Lumbantobing.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful