BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia masih juga belum mampu mengatasi tingginya angka kematian ibu (AKI) yang 307 per 100.000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi (AKB) 35 per 1.000 kelahiran hidup. "Itu berarti setiap tahun ada 13.778 kematian ibu atau setiap dua jam ada dua ibu hamil, bersalin, nifas yang meninggal karena berbagai penyebab," kata Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan Prof dr Azrul Azwar MPH. Angka kematian bayi baru lahir (neonatal) penurunannya lambat, yaitu 28,2 per 1.000 menjadi 20 per 1.000 kelahiran hidup. Penyebab langsung berkaitan dengan kematian ibu adalah komplikasi pada kehamilan, persalinan, dan nifas yang tidak tertangani dengan baik dan tepat waktu. Dari hasil survei (SKRT 2001) diketahui bahwa komplikasi penyebab kematian ibu yang terbanyak adalah perdarahan, hipertensi dalam kehamilan (eklampsia), infeksi, partus lama, dan komplikasi keguguran. Angka kematian bayi baru lahir terutama disebabkan oleh antara lain infeksi dan berat bayi lahir rendah. Kondisi tersebut berkaitan erat dengan kondisi kehamilan, pertolongan persalinan yang aman, dan perawatan bayi baru lahir. DEPARTEMEN Kesehatan (Depkes) mengungkapkan rata-rata per tahun terdapat 401 bayi baru lahir di Indonesia meninggal dunia sebelum umurnya genap 1 tahun. Data bersumber dari survei terakhir pemerintah, yaitu dari Survei Demografi Kesehatan Indonesia 2007 (SDKI). "Rata-rata kematian bayi di Indonesia masih cukup besar. Kewajiban kita semua untuk menguranginya," sebut Kepala Sub Direktorat Bina Kesehatan Depkes, Kirana Pri-tasari, kemarin, di Jakarta. Berdasarkan survei lainnya, yaitu Riset Kesehatan Dasar Depkes 2007, kematian bayi baru lahir (neonatus) merupakan penyumbang kematian terbesar pada tingginya angka kematian balita (AKB). Setiap tahun sekitar 20 bayi per 1.000 kelahiran hidup terenggut nyawanya dalam rentang waktu 0-12 hari pas-cakelahirannya.

Parahnya, dalam rentang 2002-2007 (data terakhir), angka neonatus tidak pernah mengalami penurunan. Penyebab kematian terbanyak pada periode ini, menurut Depkes, disebabkan oleh sepsis (infeksi sistemik), kelainan bawaan, dan infeksi saluran pemapasan atas.

3 Tujuan • Untuk mengetahui populasi penyebab kematian bayi baru lahir. AKB di indonesia termasuk salah satu yang paling tinggi di dunia. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002-2003 menunjukkan terjadinya penurunan AKB hingga mencapai 46 per 1. Tingginya kematian anak pada usia hingga satu tahun. BAB II PEMBAHASAN Kesehatan neonatal dan maternal. Kematian balita dan bayi.2 Rumusan Masalah · · Pada populasi manakah penyebab kematian bayi baru lahir ? Bagaimanakah cara penanggulangan kematian bayi baru lahir ? 1.Selaras dengan target pencapaian Millenium Development Goals (MDGs).000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup menjadi 23 per 1. 1. lebih tinggi dari dekade sebelumnya sebesar 4 persen per tahun.000 kelahiran hidup pada 2015. Depkes telah mematok target penurunan AKB di Indonesia dari rata-rata 36 meninggal per 1. menunjukkan masih rendahnya status kesehatan ibu dan bayi baru lahir. Pada tahun 1960 angka kematian balita (AKB) masih sangat tinggi yaitu 216 per 1000 kelahiran hidup. • Untuk mengetahui cara penanggulangan kematian bayi baru lahir. serta perilaku (baik .000 kelahiran hidup pada periode 1998-2002.000 kelahiran hidup dan Singapura dengan 5 per 1. Pada tahun 2000 Indonesia telah mencapai target yang ditetapkan dalam World Summit for Children (WSC) yaitu 65 per 1000 kelahiran hidup. yaitu sepertiganya terjadi dalam satu bulan pertama setelah kelahiran dan sekitar 80 persen kematian neonatal ini terjadi pada minggu pertama. Hal itu tecermin dari perbandingan dengan jumlah AKB di negara tetangga seperti Malaysia yang telah mencapai 10 per 1. rendahnya akses dan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak khususnya pada masa persalinan dan segera sesudahnya. Rata-rata penurunan AKBA pada dekade 1990-an adalah sebesar 7 persen per tahun.

jauh lebih tinggi daripada golongan terkaya sebesar 17 per 1. Rumus Dimana: Angka Kematian Neo-Natal = Angka Kematian Bayi umur 0-<1bulan . Penyakit infeksi yang merupakan penyebab kematian balita dan bayi seperti infeksi saluran pernafasan akut. lebih sering terjadi pada kelompok miskin. Perubahan perilaku merupakan penyebab langsung kematian bayi dan balita sebenarnya relatif dapat ditangani secara mudah. bahkan bila hanya sementara (pernapasan.yang bersifat preventif maupun kuratif) ibu hamil dan keluarga serta masyarakat yang belum mendukung perilaku hidup bersih dan sehat. termasuk upaya mencari pelayanan kesehatan serta memperbaiki akses. terutama perilaku hidup bersih dan sehat. memperbaiki kesehatan lingkungan termasuk air bersih dan sanitasi. gerakan otot volunter. atau pulsasi dalam korda umbilikalis).1 Definisi Kematian adalah akhir kehidupan. Rendahnya status kesehatan penduduk miskin ini terutama disebabkan oleh terbatasnya akses terhadap pelayanan karena kendala kendala biaya (cost barrier). Kematian neonatus(neonatal) yaitu kematian neonatus lahir hidup pada usia gestasi 20 minggu atau lebih. Tantangan yang dihadapi adalah bagaimana memperbaiki perilaku keluarga dan masyarakat. 2.000 kelahiran hidup. diare dan tetanus. dan yang meninggal dalam 28 hari. geografis dan transportasi. Semua makhluk hidup pada akhirnya mati secara permanen. baik dari penyebab alami seperti penyakit atau dari penyebab tidak alami seperti kecelakaan. dan pemenuhan gizi yang cukup. kelahiran. denyut jantung. Angka kematian bayi pada kelompok termiskin adalah 61 per 1. pengendalian penyakit menular. neonatus lahir hidup adalah salah satu neonatus yang menunjukkan bukti hidup setelah lahir.000 kelahiran hidup. dibandingkan upaya untuk meningkatkan perilaku masyarakat dan keluarga yang dapat menjamin kehamilan. Sedangkan. ketiadaan nyawa dalam organisme biologis. Angka Kematian Neo-Natal adalah kematian yang terjadi sebelum bayi berumur satu bulan atau 28 hari. per 1000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu. dan perawatan bayi baru lahir yang lebih sehat. memperkuat mutu manajemen terpadu penyakit bayi dan balita.

sifilis. dan penyakit saraf. 1. Asfiksia • Umur 8 – 28 hari : pneumonia.Pola penyebab utama kematian balita juga hampir sama yaitu penyakit saluran pernafasan. saluran cerna. diare. Persalinan • Partus macet/ lama : letak sunsang. penyakit syaraf – termasuk meningitis dan encephalitis – dan tifus. Pada 2001 pola penyebab kematian bayi ini tidak banyak berubah dari periode sebelumnya.kurang 1 bulan pada satu tahun tertentu di daerah tertentu. diare. sepsis. diare. Upaya penyehatan lingkungan seperti penyediaan air minum. "Untuk itu pemerintah tidak lelah mengampanyekan pentingnya upaya . Tiga penyebab utama kematian bayi adalah infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). bayi kembar. distocia • Tenaga Penolong Kehamilan 2. Gabungan ketiga penyebab ini memberi andil bagi 75% kematian bayi. tetanus. Faktor Ibu a. gonorhoe. malaria • Gizi ibu hamil • Karakteristik ibu hamil : umur. serta pengendalian pencemaran udara mampu meredam jumlah bayi meninggal.3 Pencegahan Angka kematian bayi baru lahir dapat dicegah dengan intervensi lingkungan dan perilaku. jarak b. paritas. tetanus neotarum. Faktor Janin • Umur 0 – 7 hari : BBLR. kelainan kogenital 2. fasilitas sanitasi dan higienitas yang memadai. komplikasi perinatal dan diare. Masa Kehamilan • ANC • Infeksi ibu hamil : rubela. = Jumlah Kelahiran hidup pada satu tahun tertentu di daerah tertentu = 1000 Penyebab Sebab kematian pada anak.= Jumlah Kematian Bayi umur 0 . yaitu karena sebab-sebab perinatal. kemudian diikuti oleh infeksi saluran pernafasan akut (ISPA).

• promosi perawatan bayi neonatal kepada ibunya. infus. termasuk pertolongan gawat darurat di RS Dati II dengan biaya terjangkau • Pelayanan berkualitas yang berkesinambungan . Kepala Dinkes Dati II dan atau RS Dati II dan jajarannya mempunyai komitmen yang tinggi dalam melaksanakan: • Fungsi RS Dati II sebagai PONEK 24 jam • Sistem yang tertata sehingga memberi kesempatan kepada keluarga bayi neonatal dari golongan tidak mampu untuk mendapatkan pelayanan standar. Bidan di desa atau petugas kesehatan harus mampu melakukan: • perawatan terhadap bayi neonatal. sosial dan budaya (sama dengan permasalahan kesehatan maternal) maka: 1. serta • pertolongan pertama bayi neonatal yang mengalami gangguan atau sakit. Perawatan sederhana seperti pemberian air susu ibu (ASI) dapat menekan AKB.4 Cara penanggulangan Dari gambaran penyakit penyebab kematian neonatal di Indonesia. Kepala Puskesmas dan jajarannya mempunyai komitmen yang tinggi dalam melaksanakan: • Deteksi dan penanganan bayi neonatal sakit • Persalinan yang ditolong/didampingi oleh tenaga kesehatan • Pembinaan bidan di desa dan pondok bersalin di desa • PONED dengan baik dan lengkap (obat. 2. alat-alat emergensi) • Organisasi transportasi untuk kasus rujukan 3.kesehatan lingkungan dan perilaku hidup sehat”. Telah terbukti. 2. dan permasalahan kesehatan neonatal yang kompleks dimana dipengaruhi oleh faktor medis. pemberian ASI eksklusif dapat mencegah 13% kematian bayi dan bahkan 19/0 jika dikombinasikan dengan makanan tambahan bayi setelah usia 6 bulan.

dan penyakit saraf. Gabungan ketiga penyebab ini memberi andil bagi 75% kematian bayi. dan perawatan bayi baru lahir yang lebih sehat. Pada 2001 pola penyebab kematian bayi ini tidak banyak berubah dari periode sebelumnya. memperbaiki kesehatan lingkungan termasuk air bersih dan sanitasi. 4. diare. Tiga penyebab utama kematian bayi adalah infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). termasuk upaya mencari pelayanan kesehatan serta memperbaiki akses. Sebab kematian pada anak. komplikasi perinatal dan diare. Perubahan perilaku merupakan penyebab langsung kematian bayi dan balita sebenarnya relatif dapat ditangani secara mudah. penyakit syaraf – termasuk meningitis dan encephalitis – dan tifus. Oleh karena . per 1000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu. saluran cerna. memperkuat mutu manajemen terpadu penyakit bayi dan balita.2 Saran Meningkatkan mutu dan pelayanan kesehatan masyarakat baik dari masyarakat menengah keatas dan khususnya masyarakat menengah ke bawah. Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan neonatal emergency care di Puskesmas dan RS Dati II. tetanus neotarum. dan pemenuhan gizi yang cukup.• Pembinaan teknis profesi kebidanan untuk bidan yang bekerja Puskesmas/desa melalui pelatihan. kemudian diikuti oleh infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). penyegaran pengetahuan dan keterampilan. diare. yaitu karena sebab-sebab perinatal.Pola penyebab utama kematian balita juga hampir sama yaitu penyakit saluran pernafasan. pengendalian penyakit menular. kelahiran. 3. terutama perilaku hidup bersih dan sehat. Tantangan yang dihadapi adalah bagaimana memperbaiki perilaku keluarga dan masyarakat.1 Kesimpulan Angka Kematian Neo-Natal adalah kematian yang terjadi sebelum bayi berumur satu bulan atau 28 hari. penanganan kasus rujukan. BAB III PENUTUP 3. dibandingkan upaya untuk meningkatkan perilaku masyarakat dan keluarga yang dapat menjamin kehamilan.

wordpress. Hal ini mengingat kesehatan dan keselamatan janin dalam rahim sangat tergantung pada keadaan serta kesempurnaan bekerjanya sistem dalam tubuh ibu. dan mengurangi hingga separuh jumlah orang yang tidak memiliki akses air bersih pada tahun 2015. mengentaskan kesenjangan jender pada semua tingkat pendidikan. dan Balita Indonesia. Muhammad. diakses 18 November 2011) NN.ilmukesehatan. selain Angka Kematian Maternal/Ibu (AKM) terdapat Angka Kematian Perinatal (AKP) yang dapat digunakan sebagai parameter keberhasilan pelayanan. Pemerintah Indonesia turut menghadiri Pertemuan Puncak Milenium di New York tersebut dan menandatangani Deklarasi Milenium itu. 2011. Targetnya adalah tercapai kesejahteraan rakyat dan pembangunan masyarakat pada 2015. DAFTAR PUSTAKA Yasir. Target ini merupakan tantangan utama dalam pembangunan di seluruh dunia yang terurai dalam Deklarasi Milenium. sebagai satu paket tujuan yang terukur untuk pembangunan dan pengentasan kemiskinan. . Angka Kematian Ibu. dan diadopsi oleh 189 negara serta ditandatangani oleh 147 kepala pemerintahan dan kepala negara pada saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium di New York pada bulan September 2000 tersebut. 2011. Angka kematian bayi merupakan salah satu indikator sensitif untuk mengetahui derajat kesehatan suatu negara bahkan untuk mengukur tingkat kemajuan suatu bangsa. Penandatanganan deklarasi ini merupakan komitmen dari pemimpin-pemimpin dunia untuk mengurangi lebih dari separuh orang-orang yang menderita akibat kelaparan.html/) Latar Belakang Tujuan Pembangunan Milenium atau Millennium Development Goals (MDGs) adalah Deklarasi Milenium hasil kesepakatan kepala negara dan perwakilan dari 189 negara Perserikatan Bangsabangsa (PBB) yang mulai dijalankan pada September 2000.com/pencegahan-kematianbayi. menjamin semua anak untuk menyelesaikan pendidikan dasarnya. dll. yang mempunyai fungsi untuk menumbuhkan hasil konsepsi dari mudigah menjadi janin cukup bulan. (http://muhyasir. Dalam pelayanan kebidanan (obstetric). (http://www.itu diharapkan seluruh elemen masyarakat menyadari tentang status kesehatan ibu dan bayi. Bayi. Pencegahan Kematian Bayi. berupa delapan butir tujuan untuk dicapai pada tahun 2015. keberhasilan menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) di negara-negara maju saat ini menganggap Angka Kematian Perinatal (AKP) merupakan parameter yang lebih baik dan lebih peka untuk menilai kualitas pelayanan kebidanan. mengurangi kematian anak balita hingga 2/3 . Namun. Deklarasi berisi komitmen negara masing-masing dan komunitas internasional untuk mencapai 8 buah sasaran pembangunan dalam Milenium ini (MDG).com/2011/11/18/angka-kematian-ibu-bayi-dan-balita-indonesia2011/.

Pada tahun 2007 meningkat menjadi 465 kasus. hal ini disebabkan karena sebagian pertolongan persalinan masih ada ditolong oleh dukun bayi serta keterampilan bidan dan peralatan yang kurang memadai (Laporan Pelaksanaan Pembangunan Kesehatan Prov. gangguan perinatal naik dari urutan kelima menjadi kedua sebagai penyebab kematian bayi (Anonim. Berdasarkan kelompok kerja World Health Organitation (WHO) April 1994. Berat badan lahir rendah (kurang dari 2500 gram) merupakan salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap kematian perinatal dan neonatal. dimana terdapat 1 kasus Tetanus Neonaturum dan 83 kasus berat badan lahir rendah serta 325 tercatat sebagai penyebab lain. Adapun angka kematian perinatal adalah jumlah lahir mati (umur kehamilan ibu 28 minggu) ditambah jumlah kematian neonatal dini (umur bayi 0 – 7 hari) per jumlah kelahiran hidup pada tahun yang sama dikali 1000 (Wiknjosastro. dimana terdapat 1 kasus tetanus neonaturum dan 100 kasus berat badan lahir rendah serta 118 tercatat sebagai penyebab lain. Indonesia belum berhasil mencapai target penurunan kematian perinatal (early neonatal). 48 % adalah kematian neonatal. Studi Mortalitas SKRT 2001 menunjukkan penyebab utama kematian perinatal dari faktor bayi adalah asfiksia 34%.1 juta kematian bayi di dunia. kasus kematian perinatal cenderung mengalami peningkatan. asfiksia pada saat lahir. 2003). Berat badan lahir rendah (BBLR) dibedakan . Kasus lahir mati berjumlah 115 kasus. Pada tahun 2006 mengalami peningkatan menjadi 380 kasus lahir mati dan 325 untuk kematian bayi dari 45. Menurut Varney (2006). dimana disimpulkan bahwa penyebab kematian didominasi karena berat badan lahir rendah dan asfiksia.Kematian perinatal (perinatal mortality) adalah jumlah bayi lahir-mati dan kematian bayi dalam tujuh hari pertama sesudah lahir (early neonatal) yang terjadi dari masa kehamilan ibu 28 minggu atau lebih. Jumlah seluruh kematian bayi adalah 466 kasus. 2006). kematian neonatal (0 – 28 hari ) adalah 180 kasus. prematur dan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) 33 % (Djaja. 2008).7%) dan di daerah pedesaan (58. Di Provinsi Sulawesi Tenggara sendiri. 2007). tetanus neonatorum 4 %. melalui program kesehatan bayi baru lahir tercakup di dalam program kesehatan ibu. sekitar 85 % kematian bayi baru lahir terjadi akibat infeksi. berdasarkan profil kesehatan provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2006. kurang lebih 8 juta kematian perinatal di dunia terjadi setiap tahun. diperoleh data 35/1000 kelahiran hidup untuk angka kematian bayi dan 20/1000 kelahiran hidup untuk angka kematian neonatal. Pola penyakit penyebab kematian bayi dari hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1995 adalah penyakit sistem pernafasan 30 %. dan cedera saat lahir. Sultra. target dari dampak kesehatan untuk bayi baru lahir adalah menurunkan angka kematian neonatal menjadi 15 per 1000 kelahiran hidup (Djaja. Menurut umur kematian.6% terjadi pada usia 8-28 hari.6%). diare 14 %. 79.4% dari kematian neonatal terjadi pada usia 0 – 7 hari yakni pada masa perinatal (early neonatal). dan infeksi atau parasit lainnya 4 %. dari 8.952 kelahiran. Hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2003. Dalam rencana strategi nasional Making Pregnancy Safer. Bila dibandingkan hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga 1992 dengan hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga 1995. Dari jumlah ini.006 kelahiran. Dari seluruh kematian neonatal sekitar 60 % merupakan kematian bayi berumur kurang dari 7 hari (perinatal) dan kematian bayi umur lebih dari 7 hari akibat gangguan pada masa perinatal. Dimana Indonesia. 2003). Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2001. gangguan perinatal 29 %. Distribusi kematian neonatal sebagian besar di wilayah Jawa Bali (66. penyakit sistem saraf 16 %. yakni pada tahun 2005 terdapat 372 kasus lahir mati (perinatal) dan 381 kematian bayi dari 32. dan 20.

Dan pada tahun 2008 meningkat menjadi 60 kasus kematian perinatal dari 4815 kelahiran. Banyak BBLR di negara berkembang dengan IUGR sebagai akibat ibu dengan status gizi buruk. Untuk mengetahui Indikator Lokal untuk Memantau Kemajuan Kabupaten dan Kecamatan 3. yakni terdapat 58 kasus kematian perinatal dari 6357 kelahiran. Apa Penyebab Kematian bayi dan Balita? 1. Indikator Global/Nasional untuk Memantau Pencapaian Target .3.4% (Djaja. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah makalah ini yaitu: 1. Berdasarkan studi pendahuluan di diperoleh data bahwa pada wilayah kerja dinas kesehatan Kabupaten Konawe. kemudian menurun pada tahun 2007. 2003).dalam 2 katagori yaitu: BBLR karena premature (usia kandungan kurang dari 37 minggu) atau BBLR karena intrauterine growth retardation (IUGR) yaitu bayi cukup bulan tetapi berat kurang untuk usianya. Apa saja indikator Lokal untuk Memantau Kemajuan Kabupaten dan Kecamatan terhadap penurunan angka kematian anak? 3. Untuk mengetahui Indikator Global/Nasional untuk Memantau Pencapaian Target 2. 1. anemia. dimana kasus lahir mati sebanyak 37 kasus dan kematian pada usia 0 – 7 hari terdapat 21 kasus atau terdapat kasus kematian perinatal sebanyak 9/1000 kelahiran hidup. malaria. 2008).2.1. dan menderita penyakit menular seksual (PMS) sebelum konsepsi atau ketika hamil. dimana terdapat 30 kasus lahir mati dan kematian 0 – 7 hari terdapat 30 kasus atau terdapat kasus kematian perinatal sebanyak 12/1000 kelahiran hidup (Dinkes Kab. pada tahun 2006 terdapat 91 kasus kematian perinatal dari 6268 kelahiran. Untuk mengetahui Penyebab Kematian bayi dan Balita BAB II PEMBAHASAN 2. Apa saja yang menjadi Indikator Global/Nasional untuk Memantau Pencapaian Target? 2. namun dari hasil survei proporsi kematian BBLR dengan IUGR hanya 1. dimana kasus lahir mati sebanyak 51 kasus dan kematian pada usia 0 – 7 hari sebanyak 40 kasus atau terdapat kasus kematian perinatal 14/1000 kelahiran hidup. Tujuan Tujuan dari makalah ini adalah 1. Konawe.

Nilai normatif Akaba > 140 sangat tinggi.1 Angka Kematian Balita (Akaba) a.2 Angka kematian bayi (AKB) a.1. Akaba kerap dipakai untuk mengidentifikasi kesulitan ekonomi penduduk. dinyatakan sebagai angka per 1000 kelahiran hidup. Mengingat kegiatan registrasi penduduk di Indonesia belum sempurna sumber data ini belum dapat dipakai untuk menghitung Akaba. Manfaat Indikator ini terkait langsung dengan target kelangsungan hidup anak dan merefleksikan kondisi sosial.1. Sebagai gantinya Akaba dihitung berdasarkan estimasi tidak langsung dari berbagai survei. Dengan keterbatasan data yang tersedia di tingkat wilayah kecil tidak semua dari tiga indikator ini dapat dihitung. Metode Perhitungan Rumus yang digunakan: Akaba = 5 tahun X 1000 Banyaknya penduduk yang meninggal pada usia kurang dari Banyaknya balita Sumber data: BPS (SP. c. .Untuk memantau menurunnya angka kematian balita. antara 71 – 140 sedang dan < 20 rendah. Brass. angka kematian bayi dan proporsi imunisasi campak pada anak yang berusia 1 tahun. b. Konsep dan definisi Akaba adalah jumlah anak yang dilahirkan pada tahun tertentu dan meninggal sebelum mencapai usia 5 tahun. MDGs menetapkan 3 indikator global yaitu angka kematian balita. hanya indikator tentang imunisasi campak yang mungkin diperoleh. SDKI. Konsep dan definisi AKB adalah banyaknya bayi yang meninggal sebelum mencapai usia 1 tahun AKB per 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. ekonomi dan lingkungan anak-anak bertempat tinggal termasuk pemeliharaan kesehatannya. Kor Susenas) dan Departemen Kesehatan 2. Agar pemantauan terhadap pencapaian target MDGs untuk tingkat lokal kabupaten/kota dan kecamatan dapat dilakukan dibuat indikator proksi 2.

b. Manfaat Indikator ini merupakan suatu ukuran cakupan dan kualitas sistem pemeliharaan kesehatan anak di suatu wilayah.3 Proporsi imunisasi campak (PIC) pada anak yang berusia 1 tahun (12-23 bulan) a. dan lebih besar dari 70 tergolong mudah untuk diturunkan.1. Konsep dan definisi PIC adalah perbandingan antara banyaknya anak berumur 1 tahun yang telah menerima paling sedikit satu kali imunisasi campak terhadap jumlah anak berumur 1 tahun. c. Metode Perhitungan Rumus yang digunakan:AKB = X 1000 Banyaknya kematian bayi (di bawah 1 tahun) selama tahun tertentu Banyaknya kelahiran hidup Sumber data: BPS (SP. Manfaat Indikator ini terkait langsung dengan target kelangsungan hidup anak dan merefleksikan kondisi sosial. AKB cenderung lebih menggambarkan kesehatan reproduksi dari pada Akaba. Brass.Nilai normatif AKB kurang dari 40 sangat sulit diupayakan penurunannya (hard rock). Meskipun target program terkait khusus dengan kematian balita. Metode Perhitungan Rumus yang digunakan: PIC = sekurang-kurangnya 1 kali Banyaknya anak usia 12-23 bulan yang telah diimunisasi campak X 100% . Imunisasi adalah unsur penting untuk mengurangi kematian balita. b. SDKI. c. ekonomi dan lingkungan anak-anak bertempat tinggal termasuk pemeliharaan kesehatannya. Kor Susenas) dan Departemen Kesehatan 2. AKB relevan dipakai untuk memonitor pencapaian target program karena mewakili komponen penting pada kematian balita. antara 40-70 tergolong sedang namun sulit untuk diturunkan. dan dinyatakan dalam persentase.

2 Indikator Lokal untuk Memantau Kemajuan Kabupaten dan Kecamatan Angka kematian anak dan angka kematian bayi untuk tingkat kecamatan tidak tepat jika diperoleh dari survey yang berskala nasional. dan Departemen Kesehatan 2.2. b. Rumus:Persentasi balita BGM = Jumlah balita BGM X 100% . Presentase Balita dengan BGM (Bawah Garis Merah) a. persentase pemberian vitamin A. Definisi Bayi dengan BBLR. Kor Susenas). b. antara lain persentase BBLR. cakupan kunjungan bayi.1 Persentase Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) a.Jumlah anak yang berumur 12-23 bulan Sumber data:BPS (SDKI. karena rancangan sampel diperuntukkan untuk menggambarkan angka kematian anak dan bayi tingkat kabupaten dan atau tingkat propinsi Karena itu angka kematian anak dan angka kematian bayi didekati dengan indikator program yang dilaksanakan dalam upaya menurunkan angka kematian balita dan angka kematian bayi. rumus dan sumber data indikator-indikator tersebut. adalah bayi yang lahir dengan berat badan (BB) < 2500 gram pada saat lahir atau hari ke-7 setelah lahir.dan cakupan pemberian ASI eklusif. Definisi Balita dengan BGM adalah Balita dengan berat badan menurut umur (BB/U) berada pada dan di bawah garis merah pada KMS. 2.2. Rumus:Persentasi bayi BBLR = kurang dari 2500 gram X 100% Jumlah bayi yang ditimbang dengan berat Jumlah bayi lahir hidup 2.2. Berikut ini adalah definisi operasional.

adalah jumlah balita yang terdaftar dan memiliki KMS atau buku KIA. RumusPresentase D/S = Jumlah balita yang datang ditimbang (D) X 100% Jumlah sasaran balita yang ada di wilayah kerja Presentase K/S = Jumlah balita yang terdaftar dan mempunyai KMS (K) X 100% Jumlah sasaran balita yang ada di wilayah kerja Presentase N/D = Jumlah balita yang naik berat badannya (N) X 100% Jumlah balita yang ditimbang . adalah jumlah seluruh balita yang Ditimbang.2.3 Pemantauan Pertumbuhan Menggunakan Data SKDN S K D N adalah Seluruh balita yang ada di wilayah kerja.Jumlah seluruh balita yang ditimbang 2. adalah balita yang Naik berat badannya sesuai dengan garis pertumbuhan.

2 kali (neonatus) di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. atau perawat yang memiliki kompetensi klinis kesehatan. Definisi . A. b. 2 kali/tahun.2. Definisi Kunjungan bayi adalah kunjungan bayi (umur 1-12 bulan) termasuk neonatus (umur 1-28 hari) untuk memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan standar oleh dokter.5 Cakupan Pemberian Vitamin A pada Balita a. adalah bayi umur 6-11 bulan yang mendapat kapsul vitamin A satu kali dan anak umur 12-59 bulan mendapat kapsul vitamin A dosis tinggi dua kali per tahun di suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.4 Cakupan Kunjungan Bayi a. paling sedikit 2 kali di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Rumus:Cakupan Balita mendapat kapsul vit. Kunjungan neonatus adalah kunjungan neonatus (umur 1-28 hari) untuk memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan standar oleh dokter.2. A = 2 kali per tahun Jumlah balita mendapat kapsul vitamin A dosis tinggi di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu X 100% Jumlah balita yang ada di satu wilayah kerja pada kurun waktu yg sama 2. bidan. 2. paling sedikit 4 kali (bayi). Definisi Balita mendapat kapsul vit.2. bidan.6 Persentase Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif a. atau perawat yang memiliki kompetensi klinis kesehatan.2.

mengalami gangguan pernapasan sebesar 27 persen dan masalah nutrisi sebesar 10 persen. kematian bayi ada dua macam yaitu endogen dan eksogen. vitamin dan mineral. Secara garis besar. Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (TDAI). Kematian bayi eksogen atau kematian post neo-natal. dan umumnya disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa anak sejak lahir. adalah kematian bayi yang terjadi setelah usia satu bulan sampai menjelang usia satu tahun yang disebabkan oleh faktor-faktor yang bertalian dengan pengaruh lingkungan luar Tiga penyebab utama bayi meninggal adalah akibat berat badan rendah sebesar 29 persen. dalam acara talkshow "Di Balik Kematian Bayi dan Balita dalam Rangka Hari Kesehatan Nasional 2009" di Jakarta Convention Center Jumat (4/12).Pemberian ASI ekslusif adalah pemberian hanya air susu ibu saja kepada bayi sejak lahir sampai berumur 6 bulan tanpa makanan atau minuman lain.3 Penyebab Kematian bayi dan Balita Banyak faktor yang dikaitkan dengan kematian bayi. Kematian bayi endogen atau yang umum disebut dengan kematian neonatal. adalah kematian bayi yang terjadi pada bulan pertama setelah dilahirkan." ungkap dr Badriul Hegar SpA(K). Persentase ASI Ekslusif = Jumlah bayi umur 0-6 bulan yang diberi hanya ASI saja X 100% Jumlah bayi umur 0-6 bulan di suatu wilayah 2. yang diperoleh dari orang tuanya pada saat konsepsi atau didapat selama kehamilan. dari sisi penyebabnya. kecuali obat. .

antara lain persentase BBLR. Berikut ini adalah definisi operasional.1 Kesimpulan Untuk memantau menurunnya angka kematian balita. karena rancangan sampel diperuntukkan untuk menggambarkan angka kematian anak dan bayi tingkat kabupaten dan atau tingkat propinsi Karena itu angka kematian anak dan angka kematian bayi didekati dengan indikator program yang dilaksanakan dalam upaya menurunkan angka kematian balita dan angka kematian bayi. Dengan keterbatasan data yang tersedia di tingkat wilayah kecil tidak semua dari tiga indikator ini dapat dihitung. rumus dan sumber data indikator-indikator tersebut. Sedangkan Kematian bayi eksogen atau kematian post neo-natal.Kematian bayi endogen atau yang umum disebut dengan kematian neonatal. dan umumnya disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa anak sejak lahir. cakupan kunjungan bayi. adalah kematian bayi yang terjadi pada bulan pertama setelah dilahirkan. dari sisi penyebabnya. adalah kematian bayi yang terjadi setelah usia satu bulan sampai menjelang usia satu tahun yang disebabkan oleh faktor-faktor yang bertalian dengan pengaruh lingkungan luar . MDGs menetapkan 3 indikator global yaitu angka kematian balita. hanya indikator tentang imunisasi campak yang mungkin diperoleh. Secara garis besar.BAB III PENUTUP 3. Agar pemantauan terhadap pencapaian target MDGs untuk tingkat lokal kabupaten/kota dan kecamatan dapat dilakukan dibuat indikator proksi Angka kematian anak dan angka kematian bayi untuk tingkat kecamatan tidak tepat jika diperoleh dari survey yang berskala nasional. yang diperoleh dari orang tuanya pada saat konsepsi atau didapat selama kehamilan. Banyak faktor yang dikaitkan dengan kematian bayi. kematian bayi ada dua macam yaitu endogen dan eksogen.dan cakupan pemberian ASI eklusif. persentase pemberian vitamin A. angka kematian bayi dan proporsi imunisasi campak pada anak yang berusia 1 tahun.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful