Bibir sumbing (cleft lip atau labioschizis) adalah suatu kelainan bawaan yang ditandai dengan adanya celah

pada bibir, gusi dan langit-langit yang dapat timbul sendiri atau bersamaan. Ada tiga tahap penanganan bibir sumbing yaitu tahap sebelum operasi, tahap sewaktu operasi dan tahap setelah operasi. Pada tahap sebelum operasi yang dipersiapkan adalah ketahanan tubuh bayi menerima tindakan operasi, asupan gizi yang cukup dilihat dari keseimbangan berat badan yang dicapai dan usia yang memadai. Patokan yang biasa dipakai adalah rule of ten meliputi berat badan lebih dari 10 pounds atau sekitar 4-5 kg , Hb lebih dari 10 gr % dan usia lebih dari 10 minggu , jika bayi belum mencapai rule of ten ada beberapa nasehat yang harus diberikan pada orang tua agar kelainan dan komplikasi yang terjadi tidak bertambah parah. Misalnya memberi minum harus dengan dot khusus dimana ketika dot dibalik susu dapat memancar keluar sendiri dengan jumlah yang optimal artinya tidak terlalu besar sehingga membuat bayi tersedak atau terlalu kecil sehingga membuat asupan gizi menjadi tidak cukup, jika dot dengan besar lubang khusus ini tidak tersedia bayi cukup diberi minum dengan bantuan sendok secara perlahan dalam posisi setengah duduk atau tegak untuk menghindari masuknya susu melewati langit-langit yang terbelah. Selain itu celah pada bibir harus direkatkan dengan menggunakan plester khusus non alergenik untuk menjaga agar celah pada bibir menjadi tidak terlalu jauh akibat proses tumbuh kembang yang menyebabkan menonjolnya gusi kearah depan (protrusio pre maksila) akibat dorongan lidah pada prolabium , karena jika hal ini terjadi tindakan koreksi pada saat operasi akan menjadi sulit dan secara kosmetika hasil akhir yang didapat tidak sempurna. Plester non alergenik tadi harus tetap direkatkan sampai waktu operasi tiba. Tahapan selanjutnya adalah tahapan operasi, pada saat ini yang diperhatikan adalah soal kesiapan tubuh si bayi menerima perlakuan operasi, hal ini hanya bisa diputuskan oleh seorang ahli bedah Usia optimal untuk operasi bibir sumbing (labioplasty) adalah usia 3 bulan Usia ini dipilih mengingat pengucapan bahasa bibir dimulai pada usia 5-6 bulan sehingga jika koreksi pada bibir lebih dari usia tersebut maka pengucapan huruf bibir sudah terlanjur salah sehingga kalau dilakukan operasi pengucapan huruf bibir tetap menjadi kurang sempurna. Operasi untuk langit-langit (palatoplasty) optimal pada usia 18 – 20 bulan mengingat anak aktif bicara usia 2 tahun dan sebelum anak masuk sekolah. Operasi yang dilakukan sesudah usia 2 tahun harus diikuti dengan tindakan speech teraphy karena jika tidak, setelah operasi suara sengau pada saat bicara tetap terjadi karena anak sudah terbiasa melafalkan suara yang salah, sudah ada mekanisme kompensasi memposisikan lidah pada posisi yang salah..Bila gusi juga terbelah (gnatoschizis) kelainannya menjadi labiognatopalatoschizis, koreksi untuk gusi dilakukan pada saat usia 8 – 9 tahun bekerja sama dengan dokter gigi ahli ortodonsiTahap selanjutnya adalah tahap setelah operasi, penatalaksanaanya tergantung dari tiap-tiap jenis operasi yang dilakukan, biasanya dokter bedah yang menangani akan memberikan instruksi pada orang tua pasien misalnya setelah operasi bibir sumbing luka bekas operasi dibiarkan terbuka dan tetap menggunakan sendok atau dot khusus untuk memberikan minum bayi. Banyaknya penderita bibir sumbing yang datang ketika usia sudah melebihi batas usia optimal untuk operasi membuat operasi hanya untuk keperluan kosmetika saja sedangkan secara fisiologis tidak tercapai, fungsi bicara tetap terganggu seperti sengau dan lafalisasi beberapa huruf tetap tidak sempurna, tindakan speech teraphy pun tidak banyak bermanfaa

Labio Palato Skisis 9:33:00 PM Kesehatan No comments A. DEFINISI Labio / Palato skisis merupakan kongenital yang berupa adanya kelainan bentuk pada struktur wajah (Ngastiah, 2005 : 167). Bibir sumbing adalah malformasi yang disebabkan oleh gagalnya propsuesus nasal median dan maksilaris untuk menyatu selama perkembangan embriotik.(Wong, Donna L. 2003). Palatoskisis adalah fissura garis tengah pada polatum yang terjadi karena kegagalan 2 sisi untuk menyatu karena perkembangan embriotik (Wong, Donna L. 2003). Labio Palato skisis merupakan suatu kelainan yang dapat terjadi pada daerah mulut, palato skisis (subbing palatum) dan labio skisis (sumbing tulang) untuk menyatu selama perkembangan embrio (Hidayat, Aziz, 2005:21) B. KLASIFIKASI 1. Berdasarkan organ yang terlibat Celah di bibir (labioskizis) Celah di gusi (gnatoskizis) Celah di langit (palatoskizis) Celah dapat terjadi lebih dari satu organ mis = terjadi di bibir dan langit-langit (labiopalatoskizis) 2. Berdasarkan lengkap/tidaknya celah terbentuk - Unilateral Incomplete à Apabila celah sumbing terjadi hanya di salah satu sisi bibir dan tidak memanjang hingga ke hidung. Unilateral complete à Apabila celah sumbing terjadi hanya di salah satu bibir dan memanjang hingga ke hidung. Bilateral complete à Apabila celah sumbing terjadi di kedua sisi bibir dan memanjang hingga ke hidung. C. ETIOLOGI

terapi penitonin Multifaktoral dan mutasi genetic Diplasia ektodermal yaitu dipakai untuk sekelompok kelainan yang secara anatomis maupun fisiologis mengalami kerusakan berbagai struktur. prosesnya karena tidak terbentuknya mesoderm pada daerah tersebut sehingga bagian yang telah menyatu (proses nasalis dan maksilaris) pecah kembali. toxoplasmosis dan klamidia Pengaruh obat teratogenik. 3. 5. Terjadi pemisahan bibir c. 2) Gejala Pada Labio skisis Distorsi pada hidung Tampak sebagian atau keduanya Adanya celah pada bibir Gejala Pada Palato skisis Tampak ada celah pada tekak (unla). Infeksi pada ibu yang dapat mempengaruhi janin contohnya seperti infeksi Rubella dan Sifilis. b. Namun kelainan ini sangat jarang terjadi dengan frekuensi 1 dari 8000-10000 bayi yang lahir. yaitu gigi. Distorsi hidung Teraba ada celah atau terbukanya langit-langit saat diperiksadn jari Kesukaran dalam menghisap/makan. Ada rongga pada hidung. sehingga jumlah total kromosom pada tiap selnya adalah 47. misalnya kecanduan alkohol. Radiasi Terjadi trauma pada kehamilan trimester pertama. d. palato lunak. Infeksi telinga e. Kurang Nutrisi contohnya defisiensi Zn dan B6. palatum mole pada usia 8-9 minggu. Jika terjadi hal seperti ini selain menyebabkan bibir sumbing akan menyebabkan gangguan berat pada perkembangan otak. 6. kekurangan asam folat. kulit beserta apendiksnya. termasuk jamu dan kontrasepsi hormonal. 2. vitamin C pada waktu hamil. MANIFESTASI KLINIS 1) Ada beberapa gejala dari bibir sumbing yaitu : a. 8. kuku. Gangguan fusi palatum durum serta palatum mole terjadi sekitar kahamilan ke-7 sampai 12 minggu. Factor Genetik atau keturunan Dimana terjadi karena adaya adanya mutasi gen ataupun kelainan kromosom. jantung. E. termasuk rambut.    3) a. Pada penderita bibir sumbing terjadi Trisomi 13 atau Sindroma Patau dimana ada 3 untai kromosom 13 pada setiap sel penderita. akibat toksisitas selama kehamilan. Palatoskizis terjadi akibat fusi atau penyatuan prominen maksilaris dengan prominen nasalis medial yang diikuti difusi kedua palatum pada garis tengah dan kegagalan fusi septup nasi. dan ginjal. Pada setiap sel yang normal mempunyai 46 kromosom yang terdiri dari 22 pasang kromosom non-sex ( kromosom 1 s/d 22 ) dan 1 pasang kromosom sex ( kromosom X dan Y ) yang menentukan jenis kelamin. keras dan faramen incisive. c. PATOFISIOLOGI Cacat terbentuk pada trimester pertama kehamilan. Terjadi pamisahan Langit-langit b. kelenjar ekrin dan kelenjar sebasea D. Palatum durum terbentuk usia janin 4-5 minggu. 7.1. Terjadi pemisahan bibir dan langit-langit d. 4. Berat badan tidak bertambah f. e. . Pada bayi terjadi regurgitasi nasal ketika menyusui yaitu keluarnya air susu dari hidung.

dengan beberapa tahap. Ø Tingkatkan dan pertahankan asupan dan nutrisi yang adequate.F. Operasi untuk langit-langit (palatoplasty) optimal pada usia 18 – 20 bulan mengingat anak aktif bicara usia 2 tahun dan sebelum anak masuk sekolah. Kalau operasi dikerjakan terlambat. Umur 10-12 bulan : Qperasi palato/celah langit-langit. Fasilitasi menyusui dengan ASI atau susu formula dengan botol atau dot yang cocok. Bantu orangtua dalam mengatasi reaksi berduka Dorong orangtua untuk mengekspresikan perasaannya. Penatalaksanaan Medis Tahapan operasi. d.Foto rontgen 2. Tindakan operasi. Masalah gigi Perubahan harga diri dan citra tubuh yang dipengaruhi derajat kecacatan dan jaringan paruhj. Usia ini dipilih mengingat pengucapan bahasa bibir dimulai pada usia 5-6 bulan sehingga jika koreksi pada bibir lebih dari usia tersebut maka pengucapan huruf bibir sudah terlanjur salah sehingga kalau dilakukan operasi pengucapan huruf bibir tetap menjadi kurang sempurna.MRI untuk evaluasi abnormal H. Umur 4 tahun : Dipertimbangkan repalatoraphy atau/dan Pharyngoplasty 6. Tempatkan bayi pada posisi yang tegak dan arahkan aliran susu ke dinding mulut. Tunjukkan sikap penerimaan terhadap bayi. hal ini hanya bisa diputuskan oleh seorang ahli bedah Usia optimal untuk operasi bibir sumbing (labioplasty) adalah usia 3 bulan. Perawatan Pra-Operasi: Fasilitas penyesuaian yang positif dari orangtua terhadap bayi. 4. Diskusikan tentang pembedahan Berikan informasi yang membangkitkan harapan dan perasaan yang positif terhadap bayi. evaluasi telinga. bila diperlukan advancementosteotomy Ø - 2. Umur 1-4 tahun : Evaluasi bicara. Umur 17 tahun : Evaluasi tulang-tulang muka. g. c. sering hasil operasi dalam hal kemampuan mengeluarkan suara normal atau tidak sangat sulit dicapai. KOMPLIKASI Gangguan bicara Terjadinya Otitis media Aspirasi Distress pernafasan Resiko infeksi saluran nafas Pertumbuhan dan perkembangan terhambat Gangguan pendengaran yang disebabkan oleh Otitis media rekureris sekunder akibat disfungsi tuba eustachius. pada saat ini yang diperhatikan adalah soal kesiapan tubuh si bayi menerima perlakuan operasi. 9. e. b. Umur 12-13 tahun : Final touch. sudah ada mekanisme kompensasi memposisikan lidah pada posisi yang salah. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Umur 6 tahun : Evaluasi gigi dan rahang. evaluasi pendengaran dan telinga. . speech theraphist setelah 3 bulan pasca operasi 5. i. PENATALAKSANAAN 1. 7. sebagai berikut : 1. Kesulitan makan G. a. Palatoplasty dilakukan sedini mungkin (15-24 bulan) sebelum anak mulai bicara lengkap sehingga pusat bicara di otak belum membentuk cara bicara. setelah operasi suara sengau pada saat bicara tetap terjadi karena anak sudah terbiasa melafalkan suara yang salah. perbaikan-perbaikan bila diperlukan.Monitor atau mengobservasi kemampuan menelan dan menghisap. 3. evaluasi pendengaran. koreksi untuk gusi dilakukan pada saat usia 8–9 tahun bekerja sama dengan dokter gigi / orthodontist. Penjelasan kepada orangtuanya 2. Umur 3 bulan (rule over ten) : Operasi bibir dan alanasi(hidung). h. Bila gusi juga terbelah (gnatoschizis) kelainannya menjadi labiognatopalatoschizis. Operasi yang dilakukan sesudah usia 2 tahun harus diikuti dengan tindakan speech teraphy karena jika tidak. f. Umur 9-10 tahun : Alveolar bone graft (penambahan tulang pada celah gusi) 8. Pentalaksanaan Keperawatan a.Pemeriksaan fisisk 3.

Lanjutkan dengan diet lunak Sendawakan bayi selama pemberian makanan. semakin banyak orofacial clefts diidentifikasi sebagai sindrom. Faktor yang diduga menyebabkan kelainan ini akibat kekurangan nutrisi.LANGKAH PENANGANAN CLP (Cleft Lip and Palate) LANGKAH . Sendawkan bayi dengan sering selama pemberian makan Kaji respon bayi terhadap pemberian susu. edema. Ø Tingkatkan penyembuhan dan pertahankan integritas daerah insisi anak. Biasanya.LANGKAH PENANGANAN CLP (Cleft Lip and Palate) I. Perhatikan pendarahan. trauma dan faktor genetik. Derita psikis dialami keluarga dan kelak dialami pula oleh penderita setelah menyadari dirinya berbeda dengan yang lain. radiasi. adanya cacat/kelainan kongenital berat disertai CLP/CP. Celah bibir dan langit-langit adalah suatu kelainan bawaan berupa celah pada bibir. Akhiri pemberian susu dengan air. Perawatan Pasca-Operasi Ø Tingkatkan asupan cairan dan nutrisi yang adequate Berikan makan cair selama 3 minggu mempergunakan alat penetes atau sendok. infeksi virus. Pantau tanda-tanda infeksi pada tempat operasi dan secara sistemik. hindari jangan kontak dengan alat-alat tidak steril LANGKAH . obat-obatan. Lanjutkan dengan makanan formula sesuai toleransi.2 berat. Diagnosis yang benar . Adanya CLP/CP dapat pula mengindikasikan kelainan kongenital lainnya. yang sekarang dapat diklasifikasikan lebih akurat. Meskipun tingkat dasar clefting (1:500 ke 1:550) belum berubah sejak Fogh-Andersen merintis penelitian genetik membedakan 2 kategori dasar untuk orofacial clefts yaitu bibir sumbing dengan atau tanpa celah langit-langit [CL/P] dan celah langit-langit sendiri. Bersihkan garis sutura dengan hati-hati Oleskan salep antibiotik pada garis sutura (Keiloskisis) Bilas mulut dengan air sebelum dan sesudah pemberian makan. gangguan pendengaran serta gangguan pertumbuhan gigi dan rahang. Dalam hal ini. Deteksi prenatal CLP/CP (cleft of the lip with or without cleft palate or isolated cleft palate) sangat berguna dalam menyiapkan orangtua yang sedang mengandung akan adanya cacat/kelainan pada anak mereka dan penatalaksanaan bayi mereka setelah lahir. Pantau tingkat nyeri pada bayi dan perlunya obat pereda nyeri. dapat dipertimbangkan untuk diakhiri. Ø Tingkatkan dan pertahankan kepatenan jalan nafas Pantau status pernafasan Posisikan bayi miring kekanan dengan sedikit ditinggikan Letakkan selalu alat penghisap di dekat bayi b. Hindari memasukkan obyek ke dalam mulut anak sesudah pemberian makan untuk mencegah terjadinya aspirasi. Monitor keutuhan jaringan kulit Perhatikan posisi jahitan. Dengan kemajuan pengetahuan dalam genetika medis dan teknologi diagnostik DNA baru. Masalah pada penderita celah bibir dan langit-langit sudah muncul sejak penderita lahir. utamanya pada kasus dengan celah (clefts) yang lebih 1. PENDAHULUAN Kelainan kongenital dan kelainan genetik sekarang ini semakin sering dilaporkan sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan medis. celah (cleft) pada bibir dan palatum segera didiagnosa pada saat kelahiran. gusi dan langit-langit. stress pada masa 3 kehamilan. Penyulit yang juga 3 mungkin terjadi adalah infeksi telinga tengah. drainage. Secara fisik adanya celah akan membuat kesukaran minum karena daya hisap yang kurang dan gangguan bicara berupa suara yang sengau.Arahkan cairan ke sebalah dalam gusi di dekat lidah. Kelainan ini terjadi karena adanya gangguan pada kehamilan trimester pertama yang menganggu proses tumbuh kembang janin.

anak maupun dewasa di antara 3 juta penduduk. ETIOLOGI Di antara celah bibir dan langit-langit yang biasa diderita oleh pasien. III. radiasi. Ada tiga kategori faktor lingkungan yang berpengaruh dalam pembentukan janin. Fogh Andersen di Denmark melaporkan kasus bibir sumbing dan celah langitlangit 1. Isolated cleftdisebabkan oleh multigen dan atau pengaruh faktor lingkungan. Faktor resiko adalah riwayat celah bibir atau celah langit9 langit pada keluarga serta adanya kelainan bawaan lainnya. dan terjadi dua kali lebih sering pada sisi kiri daripada sisi kanan. untuk etiopathological genetik yang lebih lanjut dan 4 penelitian. Orang tua dengan anak yang celah nonsyndromic atau riwayat keluarga memiliki celah. diikuti oleh celah langit-langit sekitar 33%. terdapat riwayat celah pada wajah (facial clefting) di keluarga. serta untuk langkah-langkah pencegahan kategori orofacial clefts yang benar. dalam embriogenesis wajah. dan jika satu orangtua dan satu anak yang sebelumnya terkena dampak.Selain tidak sedap dipandang. Ibu hamil yang merokok menjadi faktor penting penyebab CLP. Kelainan ini juga bersamaan dengan kelainan bawaan lainnya. Hasil yang hampir sama juga dilaporkan oleh Woolf dan Broadbent di Amerika Serikat serta 5. obat-obatan. dan 15% jika salah 8 satu orang tua dan satu anak sebelumnya telah CP. risiko meningkat menjadi 9%. Pandangan ini didukung dengan fakta dari beberapa penelitian pada anak kembar yang menunjukkan pengaruh relatif genetik dan non-genetik terhadap timbulnya celah. . seperti antikonvulsan phenytoin dan 10 benzodiazepines. 3 trauma dan faktor genetik. dan langit-langit. bibir sumbing dengan atau tanpa celah langit-langit terjadi pada kira-kira 1 dalam 1. ditemukan satu tiap 700 kelahiran hidup di seluruh dunia. dan hal tersebut menunjukkan bahwa celah yang timbul diwariskan secara heterogen. celah bibir dan langitlangit yang terbelah (CLP).6 Wilson untuk daerah Inggris. resiko bagi saudara atau keturunan berikutnya 10-20%.000 kelahiran hidup. Celah unilateral sembilan kali lebih banyak dari celah bilateral. INSIDEN CLP merupakan cacat pada wajah yang paling sering.sebuah anomali sumbing adalah fundamental untuk pengobatan. Istilah CLP juga sesuai dengan ICD (International Code Diagnosis). diagnosis yang paling sering adalah celah bibir dan langit-langit sekitar 46%. sedangkan celah langit-langit terjadi lebih sering pada wanita. Neel menemukan insiden 2. contohnya virus atau bahan kimia). risiko untuk anak-anak dari kehamilan berikutnya adalah 17%. Celah bibir dan celah langit-langit bisa terjadi secara bersamaan maupun sendiri-sendiri. atau celah langit-langit sendiri (CP). tidak diikuti resesif atau pun dominan paternal. Pada 25 % pasien. faktor lingkungan berperan sama penting. gangguan perkembangan berbicara dan infeksi telinga. Laki-laki lebih dominan dalam celah bibir dan langit-langit. IV. stress pada masa kehamilan. Kelainan kongenital muncul dari gabungan antara faktor multigenetik dan faktor lingkungan. 1% jika dua anak sebelumnya terpengaruh. Teratogen lainnya yang meningkatkan risiko CLP diantaranya adalah obat-obatan. sering bertanya tentang risiko pada kehamilan berikutnya. infeksi virus. atau pestisida. Mayoritas bibir sumbing bilateral sekitar 86% dan unilateral celah bibir sekitar 68% dan berhubungan dengan celah langit-langit. Padaisolated cleft palate dan CL/P. risiko anak-anak CP untuk kehamilan berikutnya adalah 2% jika salah satu anak terkena dampak sebelumnya.47/1000 kelahiran hidup. Entitas ini dua kali lebih umum di 8 populasi Asia. risiko anak kehamilan berikutnya memiliki CLP adalah 4%.1/1000 penduduk di Jepang. Kelainan ini terjadi karena adanya gangguan pada kehamilan trimester pertama yang menyebabkan terganggunya proses tumbuh kembang janin. seperti dioxin. dan nutrien serta metabolisme kolesterol. Akan tetapi jika terdapat proband dengan CL/P kombinasi yang 7 mempengaruhi keluarga tingkat pertama dan kedua. Timbulnya celah tidak ada hubungannya dengan pola warisan Mendelian. Hardjo-Wasito dengan kawan-kawan di propinsi Nusa Tenggara Timur antara April 1986 sampai Nopember 1987 melakukan operasi pada 1004 kasus bibir sumbing atau celah langit-langit pada bayi. Pada populasi putih. proband tidak memiliki pengaruh pada keluarga tingkat pertama dan kedua. DEFINISI Celah bibir dan langit-langit (Cleft lip and palate) adalah suatu cacat/kelainan bawaan berupa celah pada bibir. Walaupun gen memiliki peran penting. infeksi. gusi. Insiden bibir sumbing di Indonesia belum diketahui. Jika keluarga memiliki satu anak atau orangtua terpengaruh dengan CLP. kelainan ini menyebabkan anak kesulitan ketika makan. celah bibir sekitar 21%. 6% jika satu orangtua memiliki CP. dan sekitar setengah dari Afrika dan Amerika. yaitu teratogen. Penyebabnya mungkin adalah mutasi genetik atau teratogen (zat yang dapat menyebabkan kelainan pada janin. Faktor yang diduga menyebabkan terjadinya kelainan ini adalah kekurangan nutrisi. Risiko tergantung pada apakah proband memiliki selah bibir sendiri (CL). Jika dua anak sebelumnya CLP. secara empiris resiko pada saudara yang lahir dengan cacat/kelainan yang sama 3-5%. II. Untuk keluarga dengan riwayat CP.

walaupun ibu hamil hanya berperan sebagai perokok pasif. dengan atau disertai celah pada palatum sekunder. Celah pada palatum sekunder sendiri memiliki etiologi yang berbeda dengan CLP dan terjadi hanya satu tiap 2. seperti CLP. namun tidak dipicu oleh faktor eksternal. Kegagalan dalam penyatuan atau gangguan dari proses penyatuan ini menyebabkan timbulnya celah (cleft) pada palatum primer. celah bilateral pada bibir dan rahang. dan pembentukan palatum sekunder dari procesus palatal sinistra 10 & dekstra pada 8-12 minggu kehamilan. Mutasi pada sel somatik tidak diturunkan. MSX1. Struktur anterior dari foramen insisif. FGFR1 dan SATB. . Tanda panah menunjukkan proses pertumbuhan medial dan posterior dari palatina lateral. Apabila gen-gen tertentu telah membawa sifat CLP. P63. proliferasi dan differensiasi sel-sel neural crest untuk membentuk jaringan otot dan pengikat.Ahr (aryl-hydrocarbon receptor). Namun mutasi pada IRF6.E dan G: gambar potongan frontal kepala menunjukkan proses penyatuan kedua palatina lateral dan septum nasal. D. Dua lempengan ini bertemu pada garis tengah dan proses penyatuan dimulai ketika lempengan tersebut bergerak ke arah superior. Palatum sekunder timbul dari lempengan yang tumbuh dari aspek medial MxP. Selain teratogen.D. V. hal ini ada kemungkinan diturunkan. yaitu dari orang tuanya. C celah unilateral pada bibir dan rahang hingga ke foramen insisif. dengan syarat terjadi pada sel gamet (ovum atau 10 spermatozoa).500 kelahiran hidup. berperan sebagai reseptor dari senyawa aril hidrokarbon yang terdapat dalam asap rokok. penggabungan antar komponen. dan EPHX. Asal usul dari palatum sekunder diawali dengan selesainya pembentukan palatum primer. Selanjutnya. TGFA. gusi. bibir dan hidung. infeksi dan nutrisi juga berperan dalam perkembangan janin. B Unilateral cleft lip hingga ke hidung. yang merupakan palatum primer. misalnya. dan pada bibir atas terjadi merger procesus maksilaris & nasalis medialis pada minggu VI kehamilan. penyatuan palatum sekunder terjadi pada 8-12 minggu usia kehamilan. Mutasi tertentu dapat diturunkan. EMBRIOLOGI Morfogenesis fasial dimulai dengan migrasi sel-sel neural crest ke dalam regio fasial. A normal. Gangguan pada penyatuan ini dapat menyebabkan 11 celah pada palatum sekunder. remodeling matriks ekstraseluler. Palatum sekunder membentuk posterior stuktur palatum hingga foramen insisif. P450. MSX1. Pembentukan palatum primer dari procesus nasalis medialis. A: sketsa gambaran sagital dari kepala embrio pada akhir minggu ke-6 menunjukkan proses palatine media. Gen-gen yang ditemukan mempunyai interaksi dengan paparan asap rokok dan 10 menyebabkan timbulnya CLP adalah TGFA. Pada pembentukan palatum primer. C. ada kemungkinan fenotip CLP tidak muncul. insiden CLP dan celah pada palatum sekunder pada populasi prenatal lebih tinggi 5 dibanding populasi postnatal. Di dalam populasi prenatal. Pertumbuhan palatum dimulai pada sekitar 35 hari usia kehamilan disertai timbulnya pembentukan wajah. GST. Karena banyak dari fetus abnormal meninggal di dalam kandungan atau diakhiri. Dalam sel palatum yang sedang berkembang terdapat reseptor tertentu yang bereaksi terhadap senyawa tertentu. Isolated cleft palate F. E. TGFB3. karena interaksi gen dengan lingkungan maka fenotip CLP muncul sebagai hasilnya. TBX22. PVRL1. Gambaran ventral daripalatum.E dan H: gambaran langit-langit mulut sejak usia ke-6 hingga 12 minggu yang menunjukkan perkembangan palatum. Ada pula gen yang memang telah mengalami mutasi sejak awal. menjadi salah satu penyebab bayi lahir dengan cacat kongenital. Embriogenesis dari palatum terbagi dalam dua fase yang terpisah : pembentukan palatum primer yang diikuti pembentukan palatum sekunder. Garis terputus pada (D) dan (F) menunjukkan bagian yang menyatu pada proses palatina. celah pada palatum disertai celah anterior unilateral pada bibir. Gambar 3. penyatuan dari prosesus nasal medial (medial nasal process(MNP)) dan prosesus maksilaris (maxillary process (MxP)) diikuti penyatuan prosesus nasal lateral (lateral nasal process(LNP)) dengan MNP. dan FGFR1 umumnya terkait dengan kelainan gigi dan CLP yang terjadi lebih dari satu kali dalam suatu silsilah keluarga. Gen yang telah mengalami mutasi ini akan menurunkan sifat kepada keturunannya. Kekurangan nutrisi asam 10 folat misalnya. Hal tersebut merupakan akibat dari satu ataupun kedua prominens nasal medial untuk menyatu dan bergabung dengan prominens maksilari selama 4-6 minggu usia kehamilan.B. Celah pada elemen palatum primer. RARA. banyak fetus dengan CLP atau celah pada palatum sekunder yang memiliki abnormalitas pada kromosom atau cacat/kelainan lain yang tidak mendukung untuk bertahan hidup. Gambar 2. MSX1. Masuknya aril hidrokarbon ini jelas mempengaruhi perkembangan janin. atau palatum primer. meliputi bibir dan bagian alveolus. dan sebagian besar nasal dan cavitas oral. dapat menyebabkan CLP.Gen-gen yang diketahui menjadi penyebab terjadinya isolated CLP diantaranya adalah IRF6 (sebagai gen yang berpengaruh dalam Van der Woude syndrome).

anak lebih dapat menahan stress akibat operasi. yang memberikan keamanan dalam prosedur. Hb lebih dari 10 gr % dan usia lebih dari 10 minggu . Namun demikian. teknik ini mungkin tepat digunakan untuk konfirmasi pada beberapa cacat/kelainan pada kehamilan yang kemungkinan besar akan diakhiri. Pada operasi in 2 utero manipulasi perlu dipertimbangkan. Celah terbentuk tidak sempurna hanya sebagian kecil saja Pada bibir disebut dengan istilah Labioschizis. invasifitas dan persetujuan pasien. celah (cleft) pada bibir dan palatum segera didiagnosa pada saat kelahiran. Meskipun persoalan teknik dan etika seputar konsep ini masih belum dapat dipecahkan. Mereka dapat menemui anggota dari kelompok yang memiliki CLP. Celah terbentuk sempurna hingga menembus dasar hidung ataupun bagian dari palatum lunak dan keras tidak . magnetic resonance imaging. memungkinkan untuk melaksanakan 12 perbaikan dari unilateral cleft lip pada minggu pertama kehidupan. Deteksi dini memperkenankan kepada keluarga untuk menyiapkan diri terlebih dahulu terhadap suatu kenyataan bahwa bayi mereka akan memiliki suatu kelainan/cacat. sebaiknya bebas dari infeksi pernapasan sekurang-kurangnya lebih dari dua minggu dan tanpa infeksi kulit pada waktu operasi dan dari hasil pemeriksaan darah leukosit kurang dari 10. Hal ini bertujuan untuk meminimalkan resiko anastesi. Fetoskopi telah digunakan untuk memberikan gambaran wajah fetus. 2 ketersediaannya. deteksi kelainan enzim pada cairan amnion dan transvaginal ultrasonografi keseluruhannya dapat mendeteksi dengan sukses CLP secara antenatal. Ultrasound transabdominal merupakan alat yang paling sering digunakan pada deteksi antenatal CLP. Celah dapat terlihat seperti sudut kecil pada bibir atau dapat memanjang dari bibir hingga ke gusi atas dan palatum. bila terdapat celah pada satu sisi . tipe celah ini tidak dapat 13 didiagnosa hingga beberapa waktu. Diagnosa Postnatal Biasanya. Tetapi. Selain rule of tens. Misalnya memberi minum harus dengan dot khusus dimana ketika dot dibalik susu dapat . PENANGANANAN Ada tiga tahap penanganan bibir sumbing yaitu tahap sebelum operasi. Sebagai pembanding. yang terletak pada bagian belakang mulut dan tertutupi oleh mouth's lining. memaksimalkan status nutrisi dan penyembuhan serta elemen bibir lebih besar sehingga memungkinkan rekonstruksi yang lebih teliti dan ukuran alat yang sesuai. Karena letaknya yang tersembunyi. ibu yang menerima konseling pada 2 pekan awal kehidupan mungkin akan lebih merasa bingung dan kewalahan. belajar mengenai pemberian makanan khusus dan memahami apa yang harus diharapkan ketika bayi lahir. Terdapat beberapa hal yang menarik perhatian dalam operasi fetus yang merupakan bentuk potensial dari pengobatan CLP. sedangkan pada langit-langit (palatum) disebut dengan istilah Palatoschizis VI. pemeriksaan-pemeriksaan tersebut dibatasi pada biaya. tahap sewaktu operasi dan tahap setelah operasi : Pada tahap sebelum operasi yang dipersiapkan adalah ketahanan tubuh bayi menerima tindakan operasi. VII. Deteksi dini juga memperkenankan kepada ahli bedah untuk bertemu dengan keluarga sebelum kelahiran dan mendiskusikan pilihan perbaikan.000/µL dan hematokrit sejumlah 35%. deteksi cacat/kelainan sedini mungkin diterapkan pada masa kehamilan. Teknik lain seperti ultrasonografi intrauterine. dan digunakan secara luas pada skrining anatomi antenatal. bila terdapat dua celah langsung pada kedua sisi . Akan tetapi teknik ini bersifat invasif dan dapat menimbulkan resiko menginduksi aborsi.Klasifikasi: Unilateral Bilateral Complete menyatu Incomplete . Namun tidak jarang. celah hanya terdapat pada otot palatum molle (soft palate (submucous cleft). asupan gizi yang cukup dilihat dari keseimbangan berat badan yang dicapai dan usia yang memadai. jika bayi belum mencapai rule of ten ada beberapa nasehat yang harus diberikan pada orang tua agar kelainan dan komplikasi yang terjadi tidak bertambah parah. Patokan yang biasa dipakai adalah rule of ten meliputi berat badan lebih dari 10 pounds atau sekitar 4-5 kg . DIAGNOSIS Diagnosis Prenatal Deteksi prenatal dapat dilakukan dengan beragam teknik. Dengan waktu konseling dan rencana yang tepat.

menghasilkan kondisi optimal untuk proses mastikasi.atau CLP/---SHAL.Bila gusi juga terbelah (gnatoschizis) kelainannya menjadi labiognatopalatoschizis. hal ini hanya bisa diputuskan oleh seorang ahli bedah. Dibuatkan record psikososial pasien sebagai bagian record CLP pada umumnya. cara ini menggunakan rotation advancement flap . Tahapan-tahapan operasi CLP : CHEILORAPHY/LABIOPLASTI : 3 BULAN PALATORAPHY SPEECH THERAPY PHARYNGOPLASTY PERAWATAN ORTHODONTIS ALVEOLAR BONE GRAFT LE FORT I OSTEOTOMY : 10-12 BULAN : 4 TAHUN : 5-6 TAHUN : 8-9 TAHUN : 9-10 TAHUN : 17-18 TAHUN Teknik Operasi : A. baik untuk bibir. Menerangkan bagaimana memberi minum bayi agar tidak banyak yang tumpah. pendengaran. Adapun kontraindikasi adalah malnutrisi. Kesukaran minum karena daya hisap yang kurang dan banyak yang tumpah. penatalaksanaanya tergantung dari tiap-tiap jenis operasi yang dilakukan. setelah operasi suara sengau pada saat bicara tetap terjadi karena anak sudah terbiasa melafalkan suara yang salah. Untuk penyulit telinga dan fungsi pendengaran perlu jasa spesialis THT. Operasi Celah bibir Operasi celah bibir satu sisi (cheiloraphy uunilateral) dilakukan pada kelainan CLP/L-----. karena jika hal ini terjadi tindakan koreksi pada saat operasi akan menjadi sulit dan secara kosmetika hasil akhir yang didapat tidak sempurna. jika dot dengan besar lubang khusus ini tidak tersedia bayi cukup diberi minum dengan bantuan sendok secara perlahan dalam posisi setengah duduk atau tegak untuk menghindari masuknya susu melewati langit-langit yang terbelah. Usia ini dipilih mengingat pengucapan bahasa bibir dimulai pada usia 5-6 bulan sehingga jika koreksi pada bibir lebih dari usia tersebut maka pengucapan huruf bibir sudah terlanjur salah sehingga kalau dilakukan operasi pengucapan huruf bibir tetap menjadi kurang sempurna. Teknik operasi yang umum dipakai adalah teknik millard.memancar keluar sendiri dengan jumlah yang optimal artinya tidak terlalu besar sehingga membuat bayi tersedak atau terlalu kecil sehingga membuat asupan gizi menjadi tidak cukup. Operasi untuk langit-langit (palatoplasty) optimal pada usia 18 – 20 bulan mengingat anak aktif bicara usia 2 tahun dan sebelum anak masuk sekolah. Usia optimal untuk operasi bibir sumbing (labioplasty) adalah usia 3 bulan.atau CLP/ La----. Penderita CLP mengalami berbagai penyulit mulai lahir. Disamping jasa seorang spesialis bedah plastik. Jadi penanganan pasien CLP perlu kerjasama para spesialis dalam teamwork yang harmonis dengan diatur dalam suatu protocol. bicara dan pernapasan serta status. Untuk penampakannya serta fungsi velum yang baik perlu pembedahan yang secara estetik bagus. koreksi untuk gusi dilakukan pada saat usia 8 – 9 tahun bekerja sama dengan dokter gigi ahli ortodonsi Tahap selanjutnya adalah tahap setelah operasi. pada saat ini yang diperhatikan adalah soal kesiapan tubuh si bayi menerima perlakuan operasi. anemia 15 intoleransi terhadap general anastesi serta gangguan jantung. Tujuan dari rekonstruksi adalah mempertahankan bentuk dan fungsi morfologi wajah normal. Perlu seorang pekerja sosoial di bawah psikososial. Operasi yang dilakukan sesudah usia 2 tahun harus diikuti dengan tindakan speech teraphy karena jika tidak. derita batin dialami keluarganya dan kelak oleh anaknya sendiri setelah menyadari keadaan dirinya. hidung rahang. Plester non alergenik tadi harus tetap direkatkan sampai waktu operasi tiba. Tahapan selanjutnya adalah tahapan operasi. Pasien yang lahir dengan adanya celah pada bibir seharusnya dilakukan operasi jika tidak ada kontraindikasi tertentu. sudah ada mekanisme kompensasi memposisikan lidah pada posisi yang salah. juga perlu didukung dokter gigi spesialis ortodentist. Selain itu celah pada bibir harus direkatkan dengan menggunakan plester khusus non alergenik untuk menjaga agar celah pada bibir menjadi tidak terlalu jauh akibat proses tumbuh kembang yang menyebabkan menonjolnya gusi kearah depan (protrusio pre maksila) akibat dorongan lidah pada prolabium .atau CLP/LAHS-. biasanya dokter bedah yang menangani akan memberikan instruksi pada orang tua pasien misalnya setelah operasi bibir sumbing luka bekas operasi dibiarkan terbuka dan tetap menggunakan sendok atau dot khusus untuk memberikan minum 17 bayi.

Dua teknik yang sering digunakan yaitu teknik rotasi Millard dan teknik Triangular. Wedge Excision. C. Back cut incision. Teknik Von Langenbeck Teknik ini pertama kali diperkenalkan oleh Von Langenbeck yang merupakan teknik operasi tertua yang masih digunakan sampai saat ini. Triangle ini menambah panjang di sisi 8. Operasi Celah Palatum Ada beberapa teknik dasar pembedahan yang bisa digunakan untuk memperbaiki celah palatum. diperkirakan satu tahun (setelah fase 3 penyembuhan luka selesai). dasar flap ini di sebelah anterior dan posterior diperluas ke medial untuk menutup celah paIatum. Desain Cheiloraphy Unilateral.3 terpendek dari bibir. secara lateral dan foramen palatina mayor. cukup kulit dan subkutan yang dijahitkan. B. Hasil cheiloraphy unilateral (dikutip dari kepustakaan Marsuki) Operasi celah bibir dua sisi dapat untuk celah yang ditulis lokasinya dengan cara otto kriens sebagai CLP/LAHSHAL atau CLP/la---al atau kombinasi lain. melintasi collum philtral sampai ke puncak cupid. Teknik Rose-Thompson melibatkan kurva atau sudut kulit dari tepi celah untuk memperpanjang bibir sebagai garis lurus.dari segmen lateral dan menyisipkannya ke subkutan vermillion tipis untuk membuat sentral vermillion sedikit menonjol dan dapat menghilangkan kolobama. Anestesi menyebar dengan mudah jika disuntikkan antara tepi celah dengan bagian lateral dan daerah yang direncanakan . Menempelkan saja pada tepi probelium. Sering pada cheiloraphy bilateral ditemukan keadaan premaksilanya yang sangat menonjol. Teknik Von Langenbeck (Dikutip dan kepustakaan 7) Indentasi medial yang tipis ke tuberositas maksilaris ditandai dengan tinta pewarna (gentian violet). Dan titik ini. Teknik ini menggunakan flap bipedikel mukoperiostal pada palatum durum dan palatum molle. Gambar 8 : A. Anestesi lokal misalnya 1% lidokain. Pada teknik Hagedorn-LeMesurier elemen bibir medial diperpanjang dengan memasukan flap quadrilateral yang dihasilkan dari elemen bibir lateral. Gambar 10. Flap Muskulus vermilion Lateral (Flap DJO). elemen bibir medial 16 diperpanjang dengan memasukan dua flap triangular yang dihasilkan dari elemen bibir. Beberapa prosedur bedah yang lain adalah Le Mesurier quadrilateral flap repair. Desain Cheiloraphy Bilateral. Disamping itu dasar vestibulum nasi juga harus dibuat pada waktu yang sama. Randall-Tenison triangular flap repair. Teknik ini menghasilkan panjang bibir yang baik tetapi jaringan parut yang terbentuk tidak terlihat alami. Mempertemukan flap lateral dan medial F. dan berakhir pada daerah gigi taring dan palatum. Teknik triangular dikembangkan oleh Tennison dan kawan-kawan dengan menggunakan flap triangular dari sisi lateral. Anatomi bibir dan hidung. E. yaitu: 1. Bila celah bibir inkomplit maka Cheiloraphy dilakukan sama seperti 3 penanganan celah komplit. Hasil Cheiloraphy bilateral (Dikutip dari kepustakaan 3) B. 7 Untuk kelainan yang ada. Flap ini disebut flap Djo. Bila didapatkan celah bibir bilateral inkomplit maka cheilorapy dilakukan sebagai 3 komplit. Skoog and Kernahan-Bauer and lower lip Z-plasty repairs. Djohansjah mengajurkan pada keadaan tersebut otot tidak perlu dipaksakan dipertemukan di tengah. Gambar 9: A. pada celah bibir bilateral dewasa probeliumnya relatip kecil maka perlu tambahan segmen kulit untuk memperpanjang probeliumnya. D. Insisi pada Cheiloraphy Bilateral. C. Keuntungan dari teknik rotasi Millard adalah jaringan parut yang terbentuk pada jalur anatomi normal dari collum philtral dan ambang hidung. E. Penjahitan mukosa. Tanda tinta pewarna sekarang memanjang ke depan menuju batas medial dan alveolus. D. garis dan tinta pewarna diperpanjang sepanjang pterygomaksilaris menuju ke sendi tonsilar anterior. F. disuntikkan untuk hemostasis dan peningkatan bagian terbesar dan jaringan. Seperti yang dijelaskan diatas Teknik Millard membuat dua flap yang berlawanan dimana pada sisi medial dirotasi ke bawah dari kolumella untuk menurunkan titik puncak ke posisi normal dan sisi lateral dimasukkan ke arah garis tengah untuk menutupi defek pada dasar kolumela. Hubungan antara lapisan oral dan nasal sepanjang tepi celah dapat juga ditandai dengan tinta pewarna. Tanda dibuat pada kedua sisi. dimasukkan ke sudut di sisi medial dari celah tepat diatas batas vermillion. Otot tersebut dapat dijahit sekunder kelak bila keadaan luka sudah tenang dan stabil. Pada teknik Skoog. melengkung sedikit secara medial untuk menyesuaikan dengan daerah alveolar. ini menyulitkan ahli bedah karena otot-otot bibir tidak bisa secara langsung dipertemukan atau bila dipaksakan akan terjadi ketegangan dan berakibat jahitan lepas beberapa hari kemudian. Membebaskan otot. B.

Pada palatum durum. Kemudian dilakukan desinfeksi dan pemasangan rink. Jika tingkatan yang tepat didapatkan. Fibromuskulatur tambahan pada tepi posterior dan palatum durum diinsisi yang akan memudahkan mukosa untuk meregang. dimana palatum molle ditutup (pada umur 6-8 bulan) dan palatum 7 durum dibiarkan terbuka dan kemudian akan ditutup pada umur 12-15 tahun. Perlu berhati-hati agar arteri palatina mayor tidak putus. Mukosa nasal dilepas dan perlekatannya dengan tulang palatum menggunakan respatonium dan posterior ke arah 3 anterior sampai mukosa tersebut dapat bebas ke medial. Lapisan nasal dan mukoperiosteum diangkat secara bilateral untuk memudahkan lapisan nasal kira-kira ke tengah tanpa tarikan (tension). digambarkan 3 rencana insisi flap. Kepala penderita dalam posisi hiperekstensi dengan cara menyanggah bantal di punggung sehingga posisi palatum tampak datar. Penggunaan mukoperiosteurn oral akan mencegah kerusakan dan mukosa nasal yang tipis pada daerah mi. Lapisan nasal. Mukoperiosteum oral antara celah dan insisi lateral diangkat dengan forceps dan dental kuret. larutan akan menyebar sepanjang jaringan ke dalam bagian belahan dan uvula. Hal yang penting untuk melakukan insisi ke dalam mukoperiosteum oral pada bagian apeks dan celah untuk memastikan bahwa bagian yang bagus dan jaringan yang kuat tersedia untuk kebutuhan penutupan lapisan nasal yang sempit di area apeks ini. jahitan dipertautkan ke mukosa nasal agar flap tersebut melekat dan tidak jatuh mengikuti lidah. Flap anterior dimajukan dan diputar ke medial sedangkan flap posterior dipindahkan ke belakang dengan 3 teknik V to Y akan menambah panjang palatum yang diperbaiki. Flap ini kemudian diputar dan dimajukan ke medial untuk 7 memperbaiki kelainan. Teknik Double opposing Z-plasty Teknik ini diperkenalkan oleh Furlow untuk memperpanjang palatum molle dan membuat suatu fungsi dan m. Sisi lateral dan flap yang terbuka diberi surgicel atau 3 spongostan untuk membantu hemostasis.untuk diinsisi. Penjahitan dimulai dari daerah uvula kemudian mukosa nasal dengan simpul ke arah nasal. Hal ini akan memudahkan flap bipedikel untuk digerakkan secara media/satu sama lain pada garis tengah. . 7 teknik ini merupakan cara penutupan palatum dengan satu tahap. Tendon dan otot tensor veli palatini terdorong kearah posterior dan processus hamular. Teknik Velar closure Teknik ini diperkenalkan oleh Schweckendiek. Ujung otot yang melekat pada sisi posterior tulang palatum dibebaskan dan mukosa nasal dan oral sehingga dapat digeser sampai posterior dan otot tersebut dipertemukan di tengah. Perlekatan mukosa oral di dekat foramen palatina dibebaskan dan arteri palatina mayor menggunakan gunting yang dilakukan sampai flap dapat bergerak ke medial tanpa tegangan. Tindakan selanjutnya adalah menginsisi menggunakan pisau no 15 di bagian lateral pada garis yang dibuat sampai menembus periosteum. Teknik ini mencakup pembuatan dua flap pedikel dengan dasarnya diposterior yang meluas sampai keseluruh bagian celah alveolar. 4. mulai dari apeks celah bagian anterior dijahit dengan catgut. 11 sementara ujung dan uvula dipegang pelan dengan forsep. Kemudian dilakukan pembebasan flap mukoperiosteal dengan mendorong ke belakang sehingga tampak arteri palatina keluar dan foramen palatina. Dengan menggunakan tinta pewarna.levator. Anestesi lokal tambahan disuntikkan ke dalam separuh posterior dan garis insisi lateral sepanjang pterygomaksilanis. Teknik Wardill V-Y push-back Teknik V-Y push back mencakup dua flap unipedikel dengan satu atau dua flap palatum unipedikel dengan dasarnya di sebelah anterior. lnsisi dibuat di bagian lateral dan garis dengan menggunakan pisau no 15 yang diperdalam dengan gunting pediatrik Metzenbaum sehingga pain nitar process terlihat. 3. 2. Mukosa dijahit dengan matras horisontal dan simpulnya intraoral. Tepi celah diinsisi atau dipotong dengan pisau no. Teknik Palatoplasty two-flap Diperkenalkan oleh Bardach dan Salyer (1984). Flap diangkat dan tulang dengan respatoriuni ke arah medial. Otot dijahit dengan ujung simpul pendek. Penjahitan juga dilakukan sepanjang palatum molle menuju dasar dan uvula. 5. Dibuat irisan di tepi medial lalu mukosa dibebaskan dengan gunting mengarah ke permukaan nasal.

Belum ada yang tahu cara mencegah cleft tetapi perawatan antenatal penting untuk mengurangi.7 pertumbuhannya. Evaluasi perkembangan selanjutnya. Pada usia anak 8-9 tahun ahli orthodontik memperbaiki lengkung alveolus sebagai persiapan tindakan alveolar bone graft dan usia 9-10 tahun spesialis bedah plastik melakukan operasi bone graft pada celah tulang alveolus seiring pertumbuhan gigi caninus. gangguan bicara berupa suara sengau. Bila setelah palatoraphy dan terapi bicara masih terdapat suara sengau maka dilakukan pharyngoplasty untuk memperkecil suara nasal dan biasanya dilakukan pada usia 5-6 tahun. Penyumbatan pernapasan juga jarang terjadi jika tidak ada perdarahan yang berlebihan tetapi dapat mengancam jiwa. deviasi septim nasi dan terjadinya fistula. bahkan mencegah resiko kelainan ini. anak tetap menderita gangguan bicara sehingga diperlukan terapi bicara yang bisa diperoleh di sekolah. retardasi mental. infeksi. sering didapatkan hipoplasia pertumbuhan maksilla sehingga terjadi wajah cekung. tapi mungkin memerlukan operasi kembali untuk mengontrol perdarahan. Fistula palatum bisa ada karena celah asimptomatik atau menyebabkan gejala-gejala seperti 7 masalah pengucapan dan kesulitan kebersihan gigi. KOMPLIKASI Komplikasi dari celah bibir dan langit-langit bila tidak di operasi adalah secara fisik membuat kesulitan dalam makan dan minum karena daya hisap yang kurang maksimal dan banyak yang tumpah atau bocor ke hidung. VIII. IX. Keadaan inidapat dikoreksi dengan cara operasi advancement osteotomi Le Fort I pada usia 17 tahun dimana tulang-tulang Wajah telah berhenti 3. gangguan kosmetik.Terapi bicara (speech therapy) diperlukan setelah operasi palatoraphy. Komplikasi yang dapat timbul pada operasi adalah perdarahan. gangguan pendengaran dan gangguan pertumbuhan gigi. PROGNOSIS Bayi yang lahir dangan cleft palate mempunyai prognosis yang baik dan kurang lebih 80 % tetap memiliki suara yang normal. Perdarahan yang banyak jarang terjadi. untuk melatih bicara benar dan meminimalkan timbulnya suara sengau. . Saluran harus dipantau secara hati-hati. Prognosis operasi pasien cleft palate pada umumnya baik tergantung dari pengalaman dan metode yang 7 digunakan dan ada atau tidaknya kmplikasi yang muncul akibat pembedahan. Monitor saturasi O2 bisa digunakan di ruang perawatan atau pasien dapat di pantau dalam ruang ICU. infeksi telinga tengah. Meskipun telah dilakukan koreksi anatomis. Tetapi jika anak berbicara lambat atau berhati-hati maka biasanya mereka akan terdengar 7 seperti anak normal. obstruksi saluran pernapasan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful