Cara Menghitung Tetesan Infus Pemberian cairan melalui infus merupakan tindakan memasukkan cairan melalui intravena yang

dilakukan pada pasien dengan bantuan perangkat infus. Tindakan ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit serta sebagai tindakan pengobatan dan pemberian makanan. Berikut penjelasan dan contoh bagaimana cara menghitung tetesan cairan infus:

a. Dewasa: (makro dengan 20 tetes/ml) Rumus TPM = 1 x cc 3 Jam = cc 3 x Jam

dari mana mendapat 1/3 diatas, angka tersebut didapat dari ; 20 tetes untuk 1cc 60 menit untuk 1 jamnya Contoh: Seorang pasien dewasa dipasang Infus set Makro diperlukan rehidrasi dengan 1000 ml (2 botol) dalam 1 jam atau mendapat advis dari dokter 1000ml/1jam, maka tetesan per menit adalah: TETESAN PERMENIT= 1000 ml /3 X 1 = 333tetes/menit b. Anak: (mikro dengan 60 tetes/ml) Rumus TPM = 1 x cc 1 Jam = cc Jam

dari mana mendapat 1/1 diatas, angka tersebut didapat dari ; 60 tetes untuk 1cc 60 menit untuk 1 jamnya Contoh: Seorang pasien neonatus dipasang Infus set Mikro diperlukan rehidrasi dengan 250 ml dalam 2 jam atau mendapat advis dari dokter 250ml/2jam, maka tetesan per menit adalah: TETESAN PERMENIT (MIKRO) = 250 / 2 = 125tetes/menit

c. Pasien dengan Tranfusi: (tranfusi dengan 15 tetes/ml) Rumus TPM = 1 x cc 4 Jam = cc 4 x Jam

Rekan kerja saya.html Manajemen Dasar Cairan . 15 tetes untuk 1cc 60 menit untuk 1 jamnya Contoh: Seorang pasien dipasang Tranfusi set diperlukan rehidrasi dengan 1000 ml (2 botol) dalam 1 jam atau mendapat advis dari dokter 1000ml/1jam. maka tetesan per menit adalah: TETESAN PERMENIT= 1000 ml /4 X 1 = 250tetes/menit PEMBUKTIAN (Crosscheck) untuk membenarkan rumus tersebut maka kita harus cek kebenarannya. mendapat 15 TPM maka jika pasien mendapat tetesan tersebut dalam 1 jam akan mendapat 60ml. angka tersebut didapat dari . kita ambil contoh salah satu dari contoh Tranfusi diatas. saya berharap Ilmu Hitung diatas dapat membantu Petugas Medis.. Partner kerja saya dan juga mungkin Teman Sejawat saya.blogspot. Terima kasih sudah membuka dan membaca blog saya..com/2011/06/cara-menghitung-tetesan-infus. jika 250 TPM maka 1 jam nya akan mendapat berapa ml??? 1 jam 15 TPM ----------> 60ml 250TPM ----------> Xml maka X = 250 x 60 = 1000ml 15 maka rumus diatas terbukti dan cocok untuk dipakai. Pasien dengan Tranfusi set (15 tetes = 1cc = 1ml). jika terdapat kesalahan atau kekurangan mohon Saran dan Kritiknya disadur dari : http://tetesaninfus.dari mana mendapat 1/4 diatas.

. Secara normal. keseimbangan cairan intravaskuler dijaga oleh adanya tekanan onkotik yang berasal dari molekul-molekul intravaskuler yang berukuran besar.Penulis : Irnizarifka Komposisi cairan tubuh Cairan tubuh memiliki berat total mencapai 50-60% dari berat badan seseorang. sedangkan natrium (Na+) lebih banyak berada di ruang ekstrasel. Volume ekstrasel terbagi menjadi volume interstitial dan intravaskuler. Pada bayi baru lahir proporsinya mencapai 75% dari berat badan sedangkan pada orang lanjut usia hanya sekitar 55%. Semua faktor tersebut akan membuat cairan masuk ke dalam ruang intravaskuler. pergerakan cairan limfe dari interstitial ke intravaskuler. serta adanya tekanan yang mempertahankan volume ekstrasel tetap. Sedangkan faktor yang berlawanan seperti adanya tekanan hidrostatik oleh jantung dan sirkulasi serta tekanan onkotik cairan interstitial akan menyebabkan cairan keluar dari ruang intravaskuler. Elektrolit utama pada ruang intrasel adalah potasium (K+). Keseimbangan kedua faktor inilah yang akan menjaga kestabilan hemodinamik intravaskuler seseorang yang penting untuk mengadakan sirkulasi adekuat yang diperlukan oleh sistim organ tubuh. Proporsi cairan tubuh ini menurun seiring dengan bertambahnya usia. Cairan antar ruang dapat saling bergerak (difusi) sesuai dengan kebutuhan tubuh melalui respon terhadap gradien konsentrasi elektrolit. dengan proporsi terbesar ada pada ruang intrasel (sekitar 2/3 dari total cairan).

Pada kondisi normal. Mekanisme secara umum larutan kristaloid menembus membran kapiler dari kompartemen intravaskuler ke kompartemen interstisial. terutama pada kasus dimana terjadi peningkatan resistensi kapiler seperti pada sepsis. Cairan Kristaloid Merupakan larutan dengan air (aqueous) yang terdiri dari molekul-molekul kecil yang dapat menembus membran kapiler dengan mudah. Bersifat isotonik. yaitu jenis koloid. Dengan demikian segala kondisi yang dapat merubah komposisi tersebut akan mengakibatkan ketidak seimbangan hemodinamik yang dapat menjadi fatal. onset lebih cepat. Yang termasuk cairan kristaloid antara lain salin (salin 0. serta sodium bikarbonat yang merupakan terapi pilihan pada kasus asidosis metabolik dan alkalinisasi urin. serta sodium bikarbonat. Hanya 25% dari jumlah pemberian awal yang tetap berada intravaskuler. Cairan kristaloid bersifat mudah keluar dari intravaskuler. Pada kondisi tersebut. cairan tubuh manusia didistribusikan intrasel dan ekstrasel dengan perbandingan yang tetap. penting untuk dipikirkan penggantian cairan yang memiliki molekul lebih besar. D10%. sehingga penggunaannya membutuhkan volume 3-4 kali dari volume plasma yang hilang. kemudian didistribusikan ke semua kompartemen ekstra vaskuler. Sedangkan yang dimaksud dengan hipervolemia adalah kondisi peningkatan volume intervaskuler baik disertai peningkatan volume interstitial maupun tidak.9%. maka efektif dalam mengisi sejumlah cairan kedalam pembuluh darah dengan segera dan efektif untuk pasien yang membutuhkan cairan segera. efek samping lebih sedikit dan harga lebih murah. dimana salin biasa digunakan untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh sehari-hari dan saat kegawat daruratan. Kondisi hipovolemia memiliki arti dimana terdapat penurunan volume intravaskuler yang tidak mempengaruhi kondisi volume interstitial. Biasanya volume pemberian lebih besar. ringer laktat. D20%). ringer asetat). Masing-masing jenis memiliki kegunaan tersendiri. Normal Saline . 1. glukosa (D5%. durasinya singkat. sedangkan glukosa biasa digunakan pada penanganan kasus hipoglikemia.

d. diikuti oleh keluarnya molekul protein besar ke kompartemen interstisial. cairan NaCl digunakan untuk mengganti cairan yang hilang tersebut. Kemasan : 100. c. Pemberian normal saline dan glukosa menjaga cairan ekstra seluler dan elektrolit. sel-sel endotelium pembuluh darah bocor. Gagal Ginjal Akut Penurunan fungsi ginjal akut mengakibatkan kegagalan ginjal menjaga homeostasis tubuh. Keadaan ini juga meningkatkan metabolit nitrogen yaitu ureum dan kreatinin serta gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit. ringer laktat. Luka Bakar Manifestasi luka bakar adalah syok hipovolemik. Cl = 154. Diare Kondisi diare menyebabkan kehilangan cairan dalam jumlah banyak. 500.Komposisi (mmol/l) : Na = 154. Untuk mempertahankan cairan dan elektrolit dapat digunakan cairan NaCl. Resusitasi Pada kondisi kritis. b. dimana terjadi kehilangan protein plasma atau cairan ekstraseluler dalam jumlah besar dari permukaan tubuh yang terbakar. atau dekstrosa. 1000 ml. . Indikasi : a. Plasma expander berguna untuk mengganti cairan dan elektrolit yang hilang pada intravaskuler. 250. diikuti air dan elektrolit yang bergerak ke intertisial karena gradien osmosis.

penggunaan dalam jumlah besar menyebabkan akumulasi natrium. retensi cairan. Indikasi : mengembalikan keseimbangan elektrolit pada keadaan dehidrasi dan syok hipovolemik. Hati-hati pemberian pada penderita edema perifer pulmoner.Kontraindikasi : hipertonik uterus. Natrium merupakan kation utama dari plasma darah dan menentukan tekanan osmotik. kelainan ginjal. kerusakan sel hati. Cara Kerja Obat : keunggulan terpenting dari larutan Ringer Laktat adalah komposisi elektrolit dan konsentrasinya yang sangat serupa dengan yang dikandung cairan ekstraseluler. 1000 ml. Elektrolit-elektrolit ini dibutuhkan untuk menggantikan kehilangan cairan pada dehidrasi dan syok hipovolemik termasuk syok perdarahan. Digunakan dengan pengawasan ketat pada CHF. Adverse Reaction : edema jaringan pada penggunaan volume besar (biasanya paru-paru). edema perifer dan edema paru. hipertensi. insufisiensi renal. Basa = 28-30 mEq/l. Ringer laktat menjadi kurang disukai karena menyebabkan hiperkloremia dan asidosis metabolik. K = 4-5. hiponatremia. Cl = 109-110. asidosis laktat. 2. Klorida merupakan anion utama di plasma darah. . Ringer Laktat (RL) Komposisi (mmol/100ml) : Na = 130-140. Ca = 2-3. Kalium merupakan kation terpenting di intraseluler dan berfungsi untuk konduksi saraf dan otot. Kontraindikasi : hipernatremia. Kemasan : 500. Adverse Reaction : edema jaringan pada penggunaan volume yang besar. heart failure/impaired renal function & pre-eklamsia. karena akan menyebabkan penumpukan asam laktat yang tinggi akibat metabolisme anaerob. Peringatan dan Perhatian : ”Not for use in the treatment of lactic acidosis”. biasanya paruparu.

500 ml. Dekstrosa Komposisi : glukosa = 50 gr/l (5%). 200 gr/l (20%). RA memiliki manfaat-manfaat tambahan pada dehidrasi dengan kehilangan bikarbonat masif yang terjadi pada diare. terlebih pada kondisi yang disertai asidosis. 4. Kemasan : 100. Larutan RA berbeda dari RL (Ringer Laktat) dimana laktat terutama dimetabolisme di hati. Metabolisme asetat juga didapatkan lebih cepat 3-4 kali dibanding laktat. Dengan profil seperti ini. Diberikan pada keadaan oliguria ringan sampai sedang (kadar kreatinin kurang dari 25 mg/100ml). 250. Hal ini dikarenakan adanya laktat dalam larutan Ringer Laktat membahayakan pasien sakit berat karena dikonversi dalam hati menjadi bikarbonat. Ringer Asetat (RA) Larutan ini merupakan salah satu cairan kristaloid yang cukup banyak diteliti. RA dan RL efektif sebagai terapi resusitasi pasien dengan dehidrasi berat dan syok.3. 100 gr/l (10%). Adverse Reaction : Injeksi glukosa hipertonik dengan pH rendah dapat menyebabkan iritasi pada pembuluh darah dan tromboflebitis. Kontraindikasi : Hiperglikemia. sementara asetat dimetabolisme terutama di otot. . Sebagai cairan kristaloid isotonik yang memiliki komposisi elektrolit mirip dengan plasma. Penggunaan Ringer Asetat sebagai cairan resusitasi sudah seharusnya diberikan pada pasien dengan gangguan fungsi hati berat seperti sirosis hati dan asidosis laktat. Indikasi : sebagai cairan resusitasi pada terapi intravena serta untuk keperluan hidrasi selama dan sesudah operasi.

Namun. dan juga diindikasikan pada stroke akut dengan komplikasi dehidrasi. Cairan ini terutama diindikasikan sebagai pengganti kehilangan cairan akut (resusitasi). Cairan Koloid Merupakan larutan yang terdiri dari molekul-molekul besar yang sulit menembus membran kapiler. onsetnya lambat. luka bakar/syok hemoragik. dan 65.Ringer Asetat telah tersedia luas di berbagai negara. loading cairan saat induksi anestesi regional. serta keseimbangan asam basa pada 20 pasien yang menjalani kombinasi anestesi spinal dan epidural sebelum seksio sesarea. Hasil studi juga memperlihatkan RA dapat mempertahankan suhu tubuh lebih baik dibanding RL secara signifikan pada menit ke 5. 55. karena itu dapat diberikan pada stroke akut. DBD. efek samping lebih banyak. Untuk kasus obstetrik. Umumnya pemberian lebih kecil. digunakan untuk mengganti cairan intravaskuler. terutama bila ada dugaan terjadinya edema otak. . dan lebih mahal. karena dapat memperbaiki asidosis laktat neonatus (kondisi yang umum terjadi pada bayi yang dilahirkan dari ibu yang mengalami eklampsia atau pre-eklampsia). durasinya lebih panjang. pengganti cairan selama prosedur operasi. Studi ini memperlihatkan pemberian RA lebih baik dibanding RL untuk ke-3 parameter di atas. Studi ini memperlihatkan pemberian RA dapat mencegah hipotensi arteri yang disebabkan hipovolemia sentral. Hahn dan Drobin (2003) memperlihatkan pemberian RA tidak mendorong terjadinya pembengkakan sel. Dehidrasi dan gangguan hemodinamik dapat terjadi pada stroke iskemik/hemoragik akut. misalnya ditunjukkan oleh studi Ewaldsson dan Hahn (2001) yang menganalisis efek pemberian 350 ml RA secara cepat (dalam waktu 2 menit) setelah induksi anestesi umum dan spinal terhadap parameterparameter volume kinetik. yang umum terjadi setelah anestesi umum/spinal. Onizuka dkk (1999) mencoba membandingkan efek pemberian infus cepat RL dengan RA terhadap metabolisme maternal dan fetal. misalnya pada diare. Manfaat pemberian loading cairan pada saat induksi anastesi. priming solution pada tindakan pintas kardiopulmonal. 50. sehingga umumnya para dokter spesialis saraf menghindari penggunaan cairan hipotonik karena kekhawatiran terhadap edema otak. tanpa menimbulkan perbedaan yang signifikan pada parameter-parameter hemodinamik (denyut jantung dan tekanan darah sistolik-diastolik).

atau hipoproteinemia. pancretitis. Terapi antibiotik adalah pilihan utama. efek koagulopati lebih rendah. Plasbumin 25. operasi. Sirosis memacu terjadinya asites/penumpukan cairan yang merupakan media pertumbuhan yang baik bagi bakteri. trauma. infeksi (sepsis syok). Adanya bakteri dalam darah dapat menyebabkan terjadinya multi organ dysfunction syndrome (MODS). selulitis luas dan luka bakar. . Produk : Plasbumin 20. operasi besar. Hipoalbuminemia yang merupakan manifestasi dari keadaan malnutrisi. Pada spontaneus bacterial peritonitis (SBP) yang merupakan komplikasi dari sirosis. Pengganti volume plasma pada ARDS (Acute Respiratory Distress Syndrome). Digunakan untuk menjaga dan meningkatkan tekanan osmose plasma. 1. Albumin Komposisi : Albumin yang tersedia untuk keperluan klinis adalah protein 69-kDa yang dimurnikan dari plasma manusia (cotoh: albumin 5%). Indikasi :     Pengganti volume plasma atau protein pada keadaan syok hipovolemia. Kontraindikasi : gagal jantung. mediasinitis. hiperbilirubinemia. berbagai macam kondisi inflamasi. dan ekskresi renal berlebih. anemia berat. resiko akumulasi di dalam jaringan pada penggunaan jangka lama yang lebih kecil dibandingkan starches dan resiko terjadinya anafilaksis lebih kecil. sedangkan penggunaan albumin pada terapi tersebut dapat mengurangi resiko renal impairment dan kematian. hipoalbuminemia. Albumin merupakan koloid alami dan lebih menguntungkan karena : volume yang dibutuhkan lebih kecil. Oleh karena itu penggunaannya membutuhkan volume yang sama dengan jumlah volume plasma yang hilang. kebakaran.Mekanisme secara umum memiliki sifat seperti protein plasma sehingga cenderung tidak keluar dari membran kapiler dan tetap berada dalam pembuluh darah. gagal ginjal akut. Pasien dengan hipoproteinemia dan ARDS diterapi dengan albumin dan furosemid yang dapat memberikan efek diuresis yang signifikan serta penurunan berat badan secara bersamaan. bersifat hipertonik dan dapat menarik cairan dari pembuluh darah. yaitu sindroma kerusakan organ-organ tubuh yang timbul akibat infeksi langsung dari bakteri. cardiopulmonary bypass.

disimpulkan HES tidak boleh digunakan pada sepsis karena :     Edema paru tetap terjadi baik setelah penggunaan kristaloid maupun koloid (HES). HES tidak dapat meningkatkan sirkulasi splanchnic dibandingkan dengan gelatin pada pasien sepsis dengan hipovolemia. yang manifestasinya menyebabkan kerusakan alveoli. Dengan menjaga COP. sehingga dapat menurunkan resiko kebocoran kapiler. Pada syok hipovolemia diperoleh innvestigasi bahwa HES dan albumin menunjukkan manifestasi edema paru yang lebih kecil dibandingkan kristaloid. Sepsis. Indikasi : Penggunaan HES pada resusitasi post trauma dapat menurunkan permeabilitas pembuluh darah. Kontraindikasi : Cardiopulmonary bypass. HES juga mempunyai kemampuan farmakologi yang sangat menguntungkan pada kondisi sepsis yaitu menekan laju sirkulasi dengan menghambat adesi molekuler. karena dapat meningkatkan resiko acute renal failure (ARF). HES mempunyai resiko lebih tinggi menimbulkan gangguan koagulasi. dapat mencegah komplikasi lebih lanjut seperti asidosis refraktori. Hal ini terutama terjadi pada pasien dengan kondisi iskemik reperfusi (contoh: transplantasi ginjal). yaitu amilosa dan amilopektin. . Penggunaan HES pada sepsis masih terdapat perdebatan. dapat meningkatkan resiko perdarahan setelah operasi. dan liver failure.2. Resiko nefrotoksik pada HES dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan gelatin pada pasien dengan sepsis. dimana suatu penelitian menyatakan bahwa HES dapat digunakan pada pasien sepsis karena :     Tingkat efikasi koloid lebih tinggi dibandingkan kristaloid. disamping itu HES tetap bisa digunakan untuk menambah volume plasma meskipun terjadi kenaikan permeabilitas. pruritus. Sementara itu pada penelitian yang lain. ARF. Muncul spekulasi tentang penggunaan HES pada kasus sepsis. hal ini terjadi karena HES berefek antikoagulan pada dosis moderat (>20 ml/kg). HES (Hydroxyetyl Starches) Komposisi : Starches tersusun atas 2 tipe polimer glukosa.

Adverse reaction : HES dapat terakumulasi pada jaringan retikulo endotelial jika digunakan dalam jangka waktu yang lama. Kontraidikasi : pasien dengan tanda-tanda kerusakan hemostatik (trombositopenia. dan penyakit vaskuler perifer. Indikasi :   Penambah volume plasma pada kondisi trauma. dextran juga sering dilaporkan dapat menyebabkan gagal ginjal akibat akumulasi molekul-molekul dextran pada tubulus renal. tanda-tanda gagal jantung. iskemia miokard. yang ditumbuhkan pada media sukrosa. Pada suatu penelitian dikemukakan bahwa dextran-40 mempunyai efek anti trombus paling poten jika dibandingkan dengan gelatin dan HES. Contoh : hibiron. 4. Expafusin. mekanismenya adalah dengan menurunkan viskositas darah. isotic tearin. iskemia cerebral. . Gelatin Komposisi : Gelatin diambil dari hidrolisis kolagen bovine. gangguan ginjal dengan oliguria atau anuria yang parah. 3. plasmafusin. Mempunyai efek anti trombus. Contoh : HAES steril. sehingga dapat menimbulkan pruritus. Dextran Komposisi : dextran tersusun dari polimer glukosa hasil sintesis dari bakteri Leuconostoc mesenteroides. hipofibrinogenemia). Adverse Reaction : Dextran dapat menyebabkan syok anafilaksis. syok sepsis. dextran menimbulkan efek pendarahan yang signifikan. dan menghambat agregasi platelet. Pada dosis tinggi. tears naturale II.

. gelofusine. Vintch J. Safani M. 2008.O. Current Clinical Strategies Publishing. Critical Care and Cardiac Medicine. Cairan Khusus Contoh dalam kelompok ini seperti cairan mannitol. namun lebih kecil dibandingkan HES. dilaporkan bahwa gelatin mempunyai resiko anafilaksis yang tinggi bila dibandingkan dengan starches. Current Diagnosis and Treatment Critical Care Third Edition.. Handbook of Pathophysiology. 2005. sehingga harus dihindari pada keadaan hiperkalsemia.000 pasien. Daftar Pustaka Bongard F. Sue D.. Pada penelitian dengan 20... . McGraw Hill.Indikasi : Penambah volume plasma dan mempunyai efek antikoagulan.. Kontraindikasi : haemacel tersusun atas sejumlah besar kalsium. Brenner M. Pada sebuah penelitian invitro dengan tromboelastropgraphy diketahui bahwa gelatin memiliki efek antikoagulan. 2001. Springhouse Corporation.Y. Contoh : haemacel.S. Carpenter D. Adverse reaction : dapat menyebabkan reaksi anafilaksis.R.

com/2010/07/09/manajemen-dasar-cairan/ gambar : http://informasisehat. jka tidak terpasang maka pasien harus menampung urinenya sendiri. yaitu jumlah keringat. Webb A. kandungan cairan dalam makanan pasien. OxfordHandbook of Critical Care 2nd Edition. biasanya ditampung di botol air mineral dengan ukuran 1.. uap hawa nafa. D. Oxford University Press Inc.jpg?w=450 Balance Cairan Rumus Balance Cairan Inteake / cairan masuk = Output / cairan keluar + IWL (Insensible Water Loss) Intake / Cairan Masuk : mulai dari cairan infus. Output / Cairan keluar : urine dalam 24 jam. obat yang di drip. disadur dari : http://nizarmd.wordpress. volume obat-obatan.Y. Current Essentials of Critical Care. jika pasien dipasang kateter maka hitung dalam ukuran di urobag. 2005. albumin dll. IWL (insensible water loss(IWL) : jumlah cairan keluarnya tidak disadari dan sulit diitung.R. RUMUS IWL ..files. Sue. minum. McGraw Hill. 2005. termasuk obat suntik. kemudian feses..wordpress.com/2009/10/dehydration_feature.5 liter.Singer M.

A BB 60kg dengan suhu tubuh 37⁰C (suhu normal) IWL = (15 x 60 ) = 37.5 = 39cc/jam *CM : Cairan Masuk Rumus Menghitung Tetes Infus MACRO = 1 cc = 20 tts/mnt 々Tetes Infus Macro tts/mnt = jmlh cairan X 20 / lama infus X 60 . CM= 200cc IWL = [(10%x200)x(39⁰C-37⁰C)] + 37.5 cc/jam 24 jam *kalo dlm 24 jam ----> 37. suhu= 39⁰C.5cc 24 = 1.7 + 37.IWL = (15 x BB ) 24 jam Cth: Tn.5 x 24 = 900cc/24 jam *Rumus IWL Kenaikan Suhu [(10% x CM)x jumlah kenaikan suhu] + IWL normal 24 jam Cth: Tn.5cc 24 jam = (20x2) + 37.A BB 60kg.

083 x 60) 124.083 cc = (2. berikut tips2 nya RUMUS 1 cc = 20 tetes makro = 60 tetes mikro contoh soal : 1.々Lama Infus Macro lama infus = (jmlh cairan X 20) / (tts/mnt X 60) MICRO = 1 cc = 60 tts/mnt 々Tetes Infus Micro tts/mnt = (jmlh cairan X 60) / (lama Infus X 60) 々Lama Infus Micro lama infus = (jmlh cairan X 60) / (tts/mnt X 60) Terkadang kita agak kesulitan dalam menghitung tetesan infus yang akan kita berikan kepada seorang pasien.083 x 20) 41.66 tetes makro = (2.083 cc / menit. mudah kan? selamat mencoba! .333 jam kalo dalam micro tinggal di kali 3 aja. ini jumlah cc RL yang harus diberikan per menitnya.98 tetes mikro. infus 500 cc diberikan kepada seorang pasien 20 tetes makro/ menit habis dalam berapa jam? jika dalam micro? jawab : 1 cc = 20 tetes makro --> berarti pasien diberikan 1 cc/ menit infus yang tersedia 500 cc --> = akan habis dalam 500 dibagi 60 menit = 8. 2. berapa tetes macro per menit tetesan 500 cc infus RL harus diberikan agar habis dalam 4 jam? jawab : 500 cc dibagi 4 jam = 125 cc --> ini jumlah cc RL yang harus diberikan per jamnya 125 cc dibagi 60 = 2. 1 cc = 20 tetes makro = 60 tetes mikro jadi 2.99 jam. jadinya = 24.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful