Drupadi SIAPAKAH yang mendengar suara Drupadi ketika ia diseret pada rambutnya yang panjang ke balairung perjudian itu

? Semua. Semua mendengar. Tapi tak ada yang menolongnya. Yudhistira, suaminya, yang telah kalah dalam pertaruhan, membisu. Juga Arjuna. Juga Nakula dan Sadewa. Hanya Bima yang menggeratakkan gerahamnya dalam rasa marah yang tertahan, hanya Bima yang berbisik, bahwa Yudhistira telah berbuat berlebihan, karena bahkan pelacur pun tak dipertaruhkan dalam pertandingan dadu. Ketika kau jadikan kami, adik-adikmu, barang taruhan, aku diam, karena kau, kakak sulung, adalah tetua kami. Kami bahkan rela jadi budak ketika kau kalah. Ketika kau jadikan dirimu sendiri barang pembayaran, kami juga diam, karena kau sendirilah yang menanggungnya. Tapi apa hakmu mengorbankan Drupadi di tempat ini? Apa hakmu, Kakakku? Yudhistira membisu. Semua hanya menyimak, juga para pangeran di arena itu, juga Baginda Destarastra yang—dalam gelap matanya yang buta—toh pasti mendengar, dan menyaksikan, malapetaka yang tengah terjadi: para Pandawa telah menerima tantangan berjudi para Kurawa, dan Yudhistira yang lurus hati itu dengan mudah kalah, oleh Sangkuni yang pintar, sampai milik penghabisan. Harta telah ludes. Kerajaan telah terambil. Adik-adiknya telah tersita. Juga dirinya sendiri, yang kini duduk bukan lagi sebagai orang merdeka. Lalu Drupadi, putri dari Kerajaan Pancala yang terhormat itu …. Bersalah apakah wanita ini, kecuali bahwa ia kebetulan dipersunting putra Pandu? Dursasana, yang matanya memerah saga oleh mabuk, oleh kemenangan dan berahi, menyeretnya pada rambut. ”Budak!” seru bangsawan Kurawa itu seraya mencoba merenggutkan kain Drupadi. ”Hayo, layani aku, budak!” Suara tertawa—kasar dan aneh karena gugup—terdengar di antara hadirin. Sangkuni ketawa. Duryudana ketawa. Karna ketawa. Bima, mendidih sampai ke ruas jantungnya, gemetar, mencoba menahan katup amarah, menyaksikan adegan kemenangan dan penghinaan itu. Api seperti memercik dari wajahnya, dan tinjunya yang kukuh mengencang di ujung lengan, tapi Arjuna menahannya. ”Apa boleh buat, Bima,” kata kesatria tengah Pandawa ini, ”merekalah yang menang, mereka tak menipu, dan Yudhistira tahu itu—perjudian ini juga sejak mula tak ditolaknya.” ”Baiklah, baiklah,” sahut Bima. ”Jangan tegur aku lagi. Tapi dengarlah sumpahku” (dan ia tiba-tiba berdiri, mengeraskan suaranya hingga terdengar ke segala penjuru). ”Hai, kalian, dengarlah sumpahku: kelak, dalam perang yang menentukan antara kita di sini, akan kurobek dada Dursasana dengan kuku-kuku tanganku” (dan suara Bima terdengar seperti raung, muram, menggeletar), ”lalu akan kuminum darahnya, kuminum!”

Balairung seolah baru mendengarkan petir menggugur. Beberapa bangsawan Kurawa mendeham mengejek—bukankah ancaman Bima itu omong kosong, karena ia secara sah telah jadi budak—tapi sebagian tiba-tiba merasa ngeri: rasanya memang sesuatu yang tak pantas telah terjadi di tempat terhormat ini. Tapi, siapakah yang akan menolong Drupadi? Sekali lagi, Dursasana mencoba menanggalkan kain dari tubuh istri Yudhistira itu. Kain terlepas…. Tapi entah mengapa, laki-laki perkasa itu tak kunjung berhasil menelanjangi wanita yang bingung dan pasrah itu. Mungkin ada keajaiban dari langit, mungkin Dursasana terlalu meradang oleh nafsu, mungkin anggur telah memuncak maraknya di kepala: di depannya, ia seakan-akan menghadapi berlapis-lapis kain yang menjaga kulit yang lembut itu. Tiap kali selembar terenggut oleh tangannya yang gemetar, tiap kali pinggul Drupadi seolah tertutup kembali. Dan Dursasana, pada klimaksnya, terkapar. Ruangan agung itu seolah-olah melepas napas: memang ada sesuatu yang melegakan ketika adegan yang menekan saraf itu berakhir begitu hambar. Tapi tidak: persoalan Drupadi belum selesai. Dan kini wanita itu datang, setengah merangkak, ke hadapan para bangsawan tua yang selama ini menyaksikan semuanya dengan mata sedih tapi mulut tertutup. ”Paduka, berhakkah Yudhistira mempertaruhkan diri hamba, berhakkah dia merasa memiliki diri hamba, ketika ia tidak memiliki lagi diri dan kemerdekaannya?” Kali ini Resi Bhisma—yang termasyhur arif dan ikhlas itu—menjawab, ”Aku tak tahu, Anakku. Jalan darma sangat subtil. Mana yang benar, mana yang tidak, bahkan orang yang paling bijaksana pun kadang-kadang hanya menduga. Cobalah kau tanya Yudhistira sendiri.” Tapi tak ada ucapan yang terdengar. Hanya, saat itu, di luar menggores jerit burung, dan suara anjing menyalak, dan langit malam seperti retak. Agaknya sesuatu, yang bukan termasuk dalam ruang judi para raja itu, yang bisa menjawab: tak seorang pun dapat memiliki orang lain, juga dalam kemenangannya yang sah. Berlapis-lapis batas tetap memisahkan antara Drupadi dan penaklukan, antara hamba dan tuan. Darah yang Bercahaya Kematian Dursasana yang mengenaskan segera tersebar ke segala penjuru pertempuran. Dengan rasa ngeri diceritakan bagaimana Bima tidak lagi bertindak seperti manusia. Ia menghancurkan wajah Dursasana yang buruk rupa, menggocohnya sampai menjadi bubur, menyobek perutnya dengan pisau, mengeluarkan ususnya, dan menghirup darah sebanyak-banyaknya. Demikianlah diceritakan dalam Kakimpoi Bharata-Yuddha:

Pada waktu itu berbicaralah Bhima dengan suara yang lantang dan tidak menghiraukan apa yang terjadi di sekitarnya. ”Wahai kelompok pahlawan semuanya dan khususnya dewa-dewa yang menjelma di dunia ini! Lihatlah Bhima ini yang sedang akan memenuhi janjinya di tengah medan pertempuran. Darah Dursasana inilah yang akan saya minum. Lihatlah! ”Dan untuk dewi Drupadi inilah hari yang terakhir untuk mengurai rambutnya. Terima ini dengan ikhlas hati, wahai Dursasana dan rasakan pahalamu untuk membuat kejahatan yang terus menerus. Bah, bahwa kau ini tetap meronta-ronta dan tidak tinggal diam, wahai kamu anjing yang tidak sopan, pada waktu ini kamu akan dibunuh. Apa yang kau pikir dalam hatimu? Akan kau lanjutkan perbuatanmu yang jahat itu? Buktinya, kamu berusaha untuk bangkit lagi!” Demikianlah ucapan Bhima yang pendek tegas. Setelah Bhima meringkus Dursasana dengan tangannya dan dapat memegang perutnya, perut inilah yang disudet. Pada ketika itu Dursasana telah tidak sadarkan akan dirinya lagi; kemudian dada yang telah disudet itu dibuka lebih lebar lagi. Kelihatannya seolah-olah Dursasana yang tetap hatinya dan gagah berani itu tetap dengan dendamnya mencoba untuk menerjang dan menggigit. Ketika Bhima minum darahnya itu, Dursasana secara mata gelap memukulmukul ke kiri dan ke kanan, meronta-ronta dan mencoba memegang Bhima, padahal badannya telah berkejatan. Sangat mengerikan kelihatannya, ketika Bhima minum darah dan dengan ketetapan hati menarik usus Dursasana dari perutnya. Kelihatannya seolah-olah ia akan menunjukkan bagaimana ia pada suatu ketika dapat memuaskan apa yang dikehendakinya. Rambutnya dapat disamakan dengan mega merah, matanya dapat disamakan dengan matahari yang dengan sinarnya yang berkilauan, sedangkan suara yang keluar dari tenggorokan dapat disamakan dengan petir dan suara yang keluar dari mulutnya sebagai tanda kepuasan dapat disamakan dengan halilintar. Mukanya yang penuh dengan darah itu dapat disamakan dengan mega merah yang kena sinar matahari. Bhima yang berjalan dengan angkuhnya itu dapat diumpamakan sebagai gunung yang menjolak ke atas. Dengan segera ia melempar-lemparkan mayat Dursasana ke atas, disertai oleh kata-kata seperti guruh yang berkumpul. ”Inilah pembantumu, bah!” Demikianlah ucapan Bhima dan dilemparkannya mayat Dursasana itu ke arah Suyodhana. Drupadi mendengar semuanya. Ia berada dalam tenda di belakang garis pertempuran di Kurusetra. Seorang penjaga dipanggilnya. ”Bawalah bokor ini kepada Bima,” katanya.

namun Drupadi melihatnya sebagai tirta amerta yang bercahaya. Ia tidak berpikir tentang dendamnya terhadap Dursasana. Para pengawal berlarian menuju tenda itu. Apakah tidak ada cara lain untuk menjadi ksatria? ”Inilah air kutukan itu.” Bokor itu berisi darah.” kata Drupadi. Dewi. Hari itu Karna juga telah gugur. Di dalam tenda diangkatnya bokor emas itu ke atas kepalanya. Drupadi. Pada malam hari Drupadi berkumpul dengan suami dan saudaranya. Cahaya memancar dari tubuhnya. Cahaya terang yang memancar-mancar. Para prajurit menyingkir ngeri melihat cara Bima memeras darah dari mayat Dursasana. Pada senja di hari kematian Dursasana itu. Kita akan menang. Namun mereka berpapasan dengan dayangdayang yang berwajah pucat. mertuanya sendiri. karena ia dulu adalah Sumantri yang mengingkari Sukasrana. Lunas sudah piutangmu Dursasana tak terlunaskan piutang pada kesucian semua kejahatan ada bayarannya meski kebaikan tidak minta balasan. Drupadi bersamadi dengan seluruh tubuh bersimbah darah. Benar dan salah hanya kekerasan. ia ingin melengkapkan putaran roda kehidupan. Perang memang hanya kekejaman. tapi tidak untuk disesali. Esok pagi Salya akan menebus kebenciannya terhadap Bagaspati. Kemenangan ini akan kita persembahkan kepada siapa?” Kresna bicara. Drupadi ingin menyanggul rambutnya sekarang juga. ”Apa hasil perang ini. Abimanyu.Bima yang wajahnya penuh darah mengerti makna bokor itu. ”Bharatayudha adalah suatu penebusan. ”putra-putra Pandawa yang perkasa seperti Irawan. orang-orang melihat cahaya berkilat menyemburat ke langit dari tenda Drupadi. semburat ke angkasa. Bagaimanakah caranya kita menghindari diri kita Drupadi? Tidak . ”Dewi Drupadi…” ”Kenapa Dewi Drupadi?” ”Mandi darah. Resi Bhisma menebus kelalaiannya kepada Dewi Amba. dan Gatotkaca telah gugur. Orang-orang yang kita hormati telah tiada. Bahkan Salya pun tidak punya niat jahat. Kodrat tak terhindarkan. Maka dicarinya mayat Dursasana yang telah dilemparnya. tapi apa arti kemenangan ini selain pelampiasan dendam yang tidak terpuaskan. Mahaguru Dorna menebus rasismenya kepada Ekalaya dari Nisada. Kita hidup dalam lingkaran karma.” Pengawal pertama yang menyibak tenda terkejut.

Kelak anak Utari yang bernama Parikesit akan menjadi raja. terus terang menghendaki darah Dursasana. Terutama aku. Kresna. Itulah masalahmu Kresna. engkau memutar leher Sishupala hanya karena kata-kata. kita akan menghindari atau menggunakan kekerasan. engkau mengerti segalanya. Maka hidup di dunia bukan hanya soal kita menjadi baik atau menjadi buruk. betapa dendam bisa begitu mengerikan. untuk membersihkan dunia. Bharatayudha hanyalah jalan bagi setiap orang untuk memenuhi karmanya. Dursasana yang menelanjangimu atau Bima yang menghirup darah Dursasana? Perang ini adalah sebuah pertanyaan. engkau memintanya berjiwa besar.” ”Jawabannya bisa lebih panjang Drupadi.” ”Dunia ini penuh kekerasan. Siapakah yang lebih jahat Drupadi. Perang ini penuh perlambangan. ”Maka memang menjadi pilihan. sehingga Arjuna bisa menandinginya. Perang ini memberi peringatan. untuk memberi pelajaran kepada penghinaan. bahkan mereka akan selalu dilindungi para dewa. Aku adalah korban. namun engkau tidak pernah merasakannya. melengkapkan perannya. Itukah pelajaranmu untuk dunia? Aku sudah menjadi korban. dan aku menggunakan hak diriku sebagai korban untuk menjawab nasibku dengan kemarahan. duhai Drupadi yang cerdas.” Drupadi berdiri. engkau membunuh Salwa orang bodoh yang mengacau Dwaraka. Apakah engkau tidak pernah mendendam Kresna. engkau sungguh pandai bicara. wahai Drupadi. Tapi renungkanlah kembali makna kekerasan. ”Kresna. Drupadi. Para Pandawa adalah ahli bertapa. seorang perempuan. ingatlah bahwa para Pandawa selalu membela kebenaran. Apakah jalan kekerasan para ksatria bisa dibenarkan?” Drupadi menjawab. Apakah itu tidak terlalu berlebihan? Biarlah Resi Bhisma atau Karna atau Yudhistira berjiwa .bisa. Sama seperti dendam Amba kepada Bhisma. Kau korbankan Gatotkaca.” ”Kresna yang bijak.” ”Tidak ada yang keliru. tapi tetap saja ada yang bernama malapetaka. yang selalu jadi korban. Engkau mengatur segala-galanya. sama seperti dendam Gandari kepada penglihatan karena mendapat suami dalam kebutaan. ”Aku Drupadi. namun di seluruh anak benua tiada pembunuh yang lebih besar daripada mereka. Engkau seorang perempuan telah memberi pelajaran tentang bagaimana perempuan menghidupkan diri dengan dendam. perempuan. tapi soal bagaimana kita bersikap kepada kebaikan dan keburukan itu. dan dari seseorang yang sudah menjadi korban. Tapi engkau belum pernah menjadi korban. agar Karna melepaskan Konta. saat itu dunia bersih bagai tanpa noda.

Bagi mereka.” Drupadi menarik nafas. hatiku yang gelisah menjadi pasrah. Mereka melangkah memasuki pintu cepuri. ”Kresna kakakku. Masih banyak yang harus kita atasi.” ”Itu hanya membuktikan. Lantas harus diberi nama apa korban kekerasan itu sendiri? Yudhistira berdiri. bukan hanya kejantanan menjadi korban kekerasan. dalam tatapan kagum suaminya. jim setan datan purun. bagimu pelaku kekerasan adalah korban. di bawah cahaya lampu minyak yang ditempatkan di depan gerbang cepuri kraton. sesekali mereka melantunkan mantra kidungan.” . Mendengar suaramu.” ”Kresna. engkau sudah datang. malam itu bagaikan selimut tebal yang memberi kenyamanan untuk terlelap dalam tidur. gunane wong luput.besar. Ana kidung rumeksa ing wengi. adinda Yamawidura. maling adoh tan wani perak mring mami. Janganlah diteruskan lagi. Kidung Malam (1) Malam bulan tua itu semakin larut. paneluhan tan ana wani. wahai Drupadi. teguh ayu luputa ing lara. Drupadi istriku. tapi aku Drupadi. Melalui cahaya bintang yang bertaburan. mukanya hitam dan kakinya pincang. terlebih bagi para petugas jaga. Bagi kawula yang pada umunnya bekerja di siang hari. baik yang berada di pelosok desa maupun yang berada di pusat kota-raja. Wajahnya terang dan bercahaya. Kresna. tidak demikian bagi mereka yang mempunyai tugas dan kewajiban pada malam hari. geni atemahan tirta. Untuk menjaga agar malam berlalu dengan selamat. miwah panggawe ala. karena dia dapat dengan tibatiba menampakkan wujudnya yang sangat mengerikan. menggunakan hak diriku sebagai korban untuk melakukan pembalasan. seorang perempuan. berjalan diapit oleh dua orang punggawa raja. di langit hitam. agar esok pagi dapat bekerja kembali dengan pikiran yang jernih dan badan yang segar. tanah Hastinapura masih menampakkan kesuburannya. Namun. tampaklah seorang setengah baya. tuju duduk pan sirna Sementara itu. menuju sebuah ruangan. “Kakanda Destarastra” “O. luputa bilahi kabeh. malam adalah bayangan misterius yang harus diwaspadai.

“Kanda Prabu. Oleh karenanya. “Yamawidura. sebagai saudara sulung Kurawa. tidurlah. Dewi Gendari menghampiri Destarastra. seorang raja besar Hastinapura. atau para Kurawa mendesak Destarastra. engkau laksana seorang Brahmana. Yamawidura?” “Perang saudara kakanda” Destarastra terkesiap.” “O kakanda. agar Duryudana. wawasanmu luas. di dalam lubuk hati yang paling dalam. tidak hanya untukku. Pengamatanmu tajam dan waskitha.” Malam merambat perlahan. Apa yang diucapkan adiknya tergambar jelas di benaknya. malam menjelang akhir. bergantung Kakanda Prabu” “Apa yang harus aku perbuat?” “Kakanda prabu sudah mempunyai jawabannya.” “Kegelisahan apakah yang membuat Kakanda Prabu gundah?” “Anak-anakku menginginkan tahta Hastinapura. aku merasa sangat berarti di hadapanmu. matanya yang buta menerawang jauh ke masa depan. kegelisahan itu tidak hanya milik Kakanda Prabu. namun darah sudra tidak nampak dalam pribadimu.” “Memang benar. diangkat menjadi pangeran pati untuk disiapkan menjadi raja Hastinapura. Semenjak meninggalnya Pandudewanata seratus anaknya. Dan tanda-tanda ke arah perang saudara sudah mulai tampak. tetapi milik seluruh rakyat Hastina. ” . Aku khawatir firasatku menjadi kenyataan” “Engkau mempunyai firasat apa.“Terimakasih Kakanda Prabu.” “Sungguh.” “Janganlah membuatku seorang sudra ini menjadi semakin kecil dan kerdil. karena pujian Kakanda Prabu. engkau lahir dari ibunda Rara Katri dari kalangan sudra. engkau sangat berarti adikku. yang penuh dengan konflik untuk memperebutkan tahta Hastinapura. banyak tugas menanti di esok hari. Sepeninggalnya Yamawidura. tetapi juga bagi Negara Hastinapura. malam ini aku memanggilmu agar engkau menyuarakan kebenaran di tengah-tengah kegelisahan hatiku. dapatkah perang saudara dihindarkan?” “Tentu saja dapat.

sesungguhnya kita semua berhak untuk mengatur. tentunya hak atas tahta Hastinapura berada di tangan anak-anak Pandu. karena belum pernah terjadi sebelumnya.” “Kanda Prabu. termasuk juga rakyat Hastinapura. Tak terkecuali untuk malam ini. bolehkah saya mengetahui tentang kegelisahan itu” “Peri hal permintaan anak-anak kita” “Mohon maaf Kanda Prabu. Jika anak-anak kita mampu untuk menjalankan tugas itu serta membawa kejayaan negeri ini di mata dunia. satu-satunya laki-laki paling istimewa di seluruh bumi Hastinapura. Maafkan kanda prabu. mengangkat Duryudana menjadi raja adalah salah. bukankah permintaan anak-anak kita adalah sesuatu yang terbaik? Menjadi raja.” “Ya. Malam yang paling menggelisahkan. Bukankah tahta Hastinapura adalah titipan dari Prabu Pandudewanata. Sepanjang hidup belum pernah aku mengalami perasaan seperti malam ini. ketika anak kita berada dalam rahimku.” “Engkau memang selalu ada bersamaku Gendari.” “Kanda Prabu. mengapa tidak kita beri kesempatan.” “Negara Hastina adalah titipan. Namun bukan dari Pandu semata. berkuasa di sebuah negara besar Hastinapura. Aku ingin menikmati malam ini sepuasnya.“Permaisuriku. yang membedakan adalah perasaanku. memelihara dan mengembangkan Negara Hastina demi kemakmuran rakyat. Untuk itu ijinkanlah aku ikut menikmati keistimewaan malam ini bersama kakanda prabu. menjaga. itu benar kakanda. yaitu para Pandawa. sesuatu yang terbaik memang pantas diberikan untuk anak kita. Ampun Kanda Prabu. Jika sekarang adinda Pandu wafat.” “Jika diperkenankan.” “Kita orang lemah Kanda Prabu. jika demikian. masih ingatkah ucapan kanda prabu. Jangan paksakan menyangga kegelisahan ini sendirian! . melainkan dari para pendahulu. bagiku malam dan pagi tidak ada bedanya. aku ingat. kata-kata Adinda Yamawidura tentang perang saudara sangat menggelisahkan.?” “Tetapi bagaimanapun juga.” “Namun bagaimanapun juga. tentunya malam ini menjadi malam yang sangat khusus dan istimewa. Apa jadinya kalau kita memaksakan kehendak? Tentu para Pandawa akan menuntut haknya sehingga terjadilah perang saudara seperti yang dikatakan Yamawidura. aku akan memberikan sesuatu yang terbaik bagi anak-anak kita.

Namun sayang. Hingga sekarang Destarastralah yang memegang tahta Hastinapura. ayam jantan berkokok bersusulan. Keduanya perlahan rebah di tilamsari nan indah. kekayaan. sentana. maka akan ringanlah jadinya. Pandudewanata mendapat kutuk dari Resi Kimindama. Resi Bisma.. kebesaran. sesuatu yang terbaik di bumi Hastinapura. kita nikmati bersama kegelisahan ini. Dan malam pun berlalu dengan selamat. antara mempertahankan atau menyerahkan tahta. Destarastra terombang-ambing. . Namun jika menuruti kesadarannya. Dan Gendari pun menyambut dengan pelukan mesra. karena hal itu dapat menjerumuskan anak-anak kita ke dalam perang saudara. Sejenak Destarastra melupakan kegelisahannya. Ya itulah tahta. Yamawidura. Burung bernyanyi bersautan. Tidak! Itu bukan yang terbaik. tahta akan dipertahankan untuk isteri dan anak-anaknya. Sisa malam itu menjadi milik mereka berdua. terpaksa meninggalkan tahta dan menitipkannya kepada Destarastra. anak ke duanya yang bernama Pandudewanata. Pada masa pemerintahan Pandu.. Semakin lama duduk di atas tahta. didampingi sang prameswari Dewi Gendari. Dewi Kunthi dan Dewi Madrim. Sang raja memakai mahkota Jamang Mas bersusun tiga. demang. sayupsayup terdengar dari kejauhan mantra kidungan: Ana kidung rumeksa ing wengi . Pandu wafat. pada puncak pemerintahannya. kewibawaan dan keagungan. Patih Sengkuni. bupati. dan dikelilingi para emban. kejayaan negeri terangkat. kesejahteraan meningkat. Berikanlah yang terbaik kepada anak-anak kita. maka yang diangkat sebagai raja. Kidung Malam (2) Tahta dan Kewibawaan Pagi itu udara segar. Prabu Destarastra adalah anak sulung raja Hastinapura yang bernama Abiyasa atau Prabu Kresnadwipayana dengan Dewi Ambika. tahta akan diserahkan kepada anak-anak Pandudewanata. akan semakin nikmat rasanya. kata Gendari terngiang ditelinga Destarastra. para tumenggung. beralaskan beludru hitam beraroma bunga melati. keparak. Diciumnya kening Gendari yang kuning bercahaya dengan penuh kasih cinta. pasrahkan kepada Hyang Maha Agung. Tahta itu telah memberinya segalanya. Namun dikarenakan bujukan Gendari tak pernah henti. Hadir dalam pasowawan agung tersebut. Jika menuruti pikirannya. Sementara itu. manggung.” Kata-kata yang diucapkan Gendari mengalir lembut bak selendang bidadari mengusap dadanya yang sesak karena kegelisahan. Namun karena ia buta. Ia beserta ke dua permaisuri. kesenangan kepuasan. nayaka dan para kawula. Betapa nikmatnya tahta itu. mantri. kekuasaan. langit cerah. Negara besar yang bernama Hastinapura mengawali hari itu dengan mengadakan pasowanan agung.Aku senantiasa ada di sampingmu. Kanda Prabu. Menurut silsilah. lurah. Pertanda hari baru mulai dibentangkan. cethi. Namun sebelum berhasil melepaskan kutuk. Sang Prabu Destarastra duduk di dampar kencana. Negara Hastinapura mengalami kemajuan pesat..

banyak kawula yang hidup dibawah garis kemiskinan. di tengah-tengah kemiskinan. para kawula memasang umbul-umbul. bagaimana pendapat mereka jika anak-anak Pandudewanata diboyong di Hastinapura. untuk menyambut kekasihnya yang telah lama berpisah.” Yamawidura memang dikenal sebagai penasehat bijaksana dan waskitha. “Ampun Kakanda Prabu. untuk menyampaikan niatnya kepada para tetua dan penasihat negri. tidak dengan kemewahan dan kekuatan. apakah engkau sampai hati menghamburkan kemewahan. Para sesepuh dan Destarastra menyetujui saran Yamawidura. para kawula.” Sela Yamawidura. penyambutan itu tidak perlu dengan kemewahan. Waktu itu. “Benar apa yang dikatakan Paman Resi Bisma. Dengan kesadaran dan ketulusan hati. agar diantara Kurawa dan Pandawa dapat hidup berdampingan dengan damai. Yamawidura diangkat menjadi duta. dan hamba akan mempersiapkan upacara besar-besaran menyambut kedatangan mereka. sesungguhnya maksud hamba tidak lain kecuali demi menjaga kewibawaan Raja. tetapi kewibawaan raja ada pada mereka.” “Sengkuni. mendengarkan suara mereka. rakyat akan menilai bahwa Kakanda Prabu memperhatikan mereka. hamba menyetujui rencana sinuwun Prabu memboyong anak-anak Pandudewanata. Semenjak Negara Hastina ditinggalkan Pandudewanata. Hastinapura berubah wajah. bahu-membahu membangun negeri dan meneruskan kejayaan Hastinapura. bahwa kewibawaan tidak terletak pada kemewahan. rontek.” sahut Bisma. ketika Pandudewanata. kekuatan dan simbol-simbol raja yang ada di keraton. Pada hari yang ditentukan. Destarastra mengadakan Pasowanan agung. rakyat mengiring dengan . serta merasakan jeritan hati mereka yang dirundung rindu kepada anak-anak Pandudewanata. Melihat kenyataan itu. Ibarat seorang gadis sedang bersolek. Bukankah tahta dan mahkota tidak ada artinya jika tanpa kawula? Dan tepatlah kiranya jika Kakanda Prabu memboyong Pandawa di Hastinapura. meninggalkan Hastinapura. sejak pagi kawula berduyun-duyun memenuhi alun-alun dan ruas-ruas jalan yang akan di lewati anak-anak Pandu. bendera. seorang raja akan semakin berwibawa jika dia rela menanggalkan kewibawaanya dan bersama-sama dengan kawula ikut merasakan dan menjalani keprihatinan. Di tengah-tengah keprihatinan. Maka segeralah diputuskan hari pelaksanaan memboyong Pandawa. “Sinuwun Prabu sesembahan hamba. untuk memboyong Kunthi dan ke lima anaknya. Dengan kebijaksanaan tersebut. menemui Begawan Abiyasa di Saptarengga.” “Ada cara lain untuk menjaga kewibawaan raja. penjor dan macam-macam hiasan untuk menyambut anak-anak Pandu. hanya demi sebuah upacara? Bukankah yang terpenting adalah keselamatan para Pandawa?” “Maafkan hamba dhuh Sang Maha Resi Bisma.Untuk mengatasai konflik batinnya.

Kakanda harus mempertahankan tahta Hastinapura” “Mempertahankan tahta tanpa kewibawaan?” “Bukankah Kanda Prabu yang memegang kekuasaan dan menguasai negeri ini? Termasuk menguasai kewibawaan. sepanas hati Dewi Gendari. Jalan-jalan menuju kotaraja menjadi lengang. “Gendari. alun-alun kembali sepi. hari itu. ada rasa iba tersembul dari ekspresi wajah rakyat Hastinapura. Cahaya matahari mulai enggan menambah panasnya Bumi Hastinapura yang kian panas. Ingat! Kakanda. kekokohan Bimasena. dan isinya ada di tangan anap-anak Pandu.” Sore menjelang malam. Tanpa simbol-simbol raja. Sore hari. setelah upacara Pandawa Boyong usai. merasakan peristiwa yang baru saja berlalu. ketampanan Harjuna. Ketika kereta yang ditumpangi Dewi Kunthi melintas di depan mereka.” “Hidup calon Raja!” “Hidup anak Pandu!” “Hiduuup!” Sepanjang jalan para kawula Hastinapura mengelu-elukan. Pancaran kebijaksanaan Puntadewa. Nestapa Pandudewanata adalah duka kawula Hastinapura. ketenangan Nakula dan kecerdasan Sadewa. . kerinduan antara kawula dan raja tumpah kepada anak-anak Pandudewanata. Untuk itu sudah sepantasnya tahta Hastinapura aku berikan kepada Pandawa” “Jangan Kanda Prabu. Setelah lama berpisah. langit menjadi semakin merah. mampu mengudang kekaguman rakyat Hastinapura. Itu artinya bahwa simbol-simbol raja yang aku pakai selama ini kosong. Mereka saling berebut ingin melihat dari dekat putra-putra Pandudewanata. kita belum memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita. Jika kewibawaan itu diyakini berada di tanggan Pandhawa kita akan merebutnya dan memberikan kepada para Kurawa. “Hore! Horeee! Calon Raja kita datang. tatkala melihat kerut-kerut wajah wanita setengah baya itu menggoreskan penderitaan yang teramat dalam. melebihi raja yang berkuasa. Prabu Destarastra termenung. anak-anak Pandudewanata disambut bak raja besar.tetesan air mata. Benar apa yang dikatakan Yamawidura bahwa kewibawaan tidak berada pada simbol raja.

yang seharusnya ikut bangga karena kelebihannya. Dengan berlindung dibawah kekuasaan Prabu Destarastra. dalam usia belia. Karena di Saptarengga Begawan Abiyasa menggembleng dan membekali mereka dengan berbagai ilmu. Jika negeri ini diperintah dengan jujur. unggah-ungguh.Kidung Malam (3) Menyalahgunakan Kekuasaan Beberapa pekan berlalu. Padahal usia mereka sebaya dengan Kurawa. Lepas dari benar dan tidaknya bahwa sesungguhnya yang berhak menduduki tahta . pada waktu ia menjadi raja dengan gelar Prabu Kresnadwipayana?” “Destarastraaa!” teriak para kawula di kasatriyan Banjarjungut. Sesama cucu Abiyasa itu ibaratnya air dan minyak. Patih Sengkuni dan ke seratus anak Destarastra. Maka tidak mengherankan. mereka tidak canggung menjalani hidup mewah di istana. tidak ada penyelewengan. tidak senang melihat kelebihan bocahbocah Pandawa. agar diantara Pandawa dan Kurawa hidup rukun berdampingan Namun harapan tersebut tidak kesampaian. raja kita sekarang?” “Duryudanaaa!” “Jelas bukan! Siapa yang lebih berhak menduduki tahta Hastinapura? “Duryudana!” “Bagus! Suara kalian adalah suara kejujuran. Tetapi sayang. Dan Duryudana merupakan pilihan kejujuran. Pandawa telah menunjukkan kematangannya. dan hukum tatanegara. Rasa dengki dan benci merambat dari dasar hati. “Hai Para kawula! Tidak sadarkah kalian. hati mereka ditutup oleh kemewahan.” Dursasana menegaskan. tidak pernah rukun. Pandawa tidak memiliki kepantasan menjadi raja. Mereka lupa bahwa para Pandawa adalah adik keponakannya. Duryudana dan adikadiknya selalu mencari dan membuat masalah. bahwa Abiyasa telah membelokkan tahta Hastinapura? Bukankah yang berhak menjadi raja adalah putra sulung laki-laki dari raja yang berkuasa? Siapakah anak sulung Abiyasa. “Dan siapakah anak sulung Prabu Destarastra. Walaupun sejak kecil hidup di pegunungan. para Kurawa memamerkan kekuatan untuk menghasut kawula Hastinapura. Harapan Destarastra memboyong Pandawa ke keraton. Pikiran mereka dibelenggu oleh kekuasaan dan bahkan mata mereka silau akan tahta. maka Hastinapura akan aman dan makmur. supaya di mata rakyat. Kunthi beserta kelima anaknya tinggal di Keraton Hastinapura.

dikhianati. Apakah Destarastra mengetahui bahwa Patih Sengkuni telah berkhianat? Wah gawat! Tidak terbayangkan apa jadinya seandainya pada saat kemarahan memuncak. apakah engkau tidak merasakan penderitaanku?” “Kakanda. Suara rakyat yang mengelu-elukan kedatangan para Pandawa. derita kita adalah satu. Tidakkah kanda menikmati indahnya suasana malam di Taman Candarkirana ini? ” “Dinda Gendari. panggil Patih Sengkuni. Cepaaat!!” Untuk sesaat darah Gendari berhenti mengalir mendengar nama Patih Sengkuni disebut. apa yang Kanda derita. kecuali hanya tahta kosong tanpa wahyu dan kewibawaan. Selama aku memerintah belum pernah aku mengecewakan rakyat. Katakanlah Kanda tentang derita itu!” “Gendari. Raut muka kakanda menyisakan kekecewaan. redakan gelombang kemarahan dan berpikirlah dengan jernih. digerayang tangan Destarastra yang telah dialiri aji lebur sekethi. kawula akan terluka. jangan hancurkan negeri ini! Apakah Kanda tega meninggalkan puing-puing kebobrokan kepada anak cucu kita?” “Gendari. Sengkuni berada di depan Destarastra. Kebijaksanaan yang aku putusan selalu berdasarkan suara dan kebutuhan rakyat. Tetapi engkau merasakan sendiri. juga aku derita. apakah yang Kanda pikirkan.adalah Duryudana. “Ampuuun Kanda Prabu. Keparaaat!! Rasakan aji lebur sekethi!” Brooll! Beteng taman di depan Destarastra hancur rata dengan tanah. Itu artinya bahwa rakyat kecewa dengan pemerintahanku tanpa aku ketahui penyebabnya. jangan halangi aku! Jika engkau tidak menginginkan negeri ini luluh lantak oleh aji lebur sekethi. apa yang kudapat atas jerih payahku. Dewi Gendari gemetar ketakutan melihat kemarahan Destarastra. Dalam kejernihan hati Kanda Prabu akan dapat melihat dengan jelas persoalannya dan . Panas udara kotaraja Hastinapura di malam Anggorokasih itu. Dewi Gendari mengajak Destarastra keluar cepuri untuk merasakan tiupan angin malam di Taman Candrakirana. Hastinapurapun berduka. para kawula sudah mempercayakan kewibawaan dan kebesaran Hastinapura kepada Pandawa. bukti bahwa mereka mendambakan raja baru yang dapat membawa kemakmuran. “Ampun Kanda Prabu. putra sulungnya. Aku mulai curiga bahwa aku telah dikhianati. tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Mereka memanfaatkan kebutaanku. Laporan yang aku terima dari orang-orang kepercayaanku. Aku telah dihina. barangkali hal tersebut dapat melepas kegerahan. Maka jika nanti Prabu Destarastra memberikan tahta kepada Duryudana. “Kanda Prabu.

atas kesanggupan Dewi Gendari.” Destarastra sedikit lega. ‘hendaknya kakanda Destarastra membuang bayi yang tangisnya menyerupai lolongan serigala itu di sungai. Suara si bijak Yamawidura terdengar kembali. agar aku dapat segera menemukan orang yang telah merongrong kewibawaan raja dan mereka yang berkhianat. beri kesempatan untuk membuktikan bahwa kecurigaan Kakanda tidak benar. Semar memanfatkan waktunya untuk mengunjungi momongannya. tiba-tiba mereka menghentikan langkahnya mendengar auman serigala di Taman Candrakirana. Sehingga ia membiarkan tangannya dipegang lembut oleh Dewi Gendari untuk kemudian dituntun masuk ke dalam kedhaton. Ia bukan seorang pengkhianat Ia telah bekerja keras siang malam demi Kanda Prabu. Perintah ini adalah perintah seorang raja. Adakah sesuatu perkara besar yang melebihi kemampuan kalian untuk menanggungnya. wanci bedhug tengange. Mendinginkan hati Destarastra. karena bayi yang berciri demikian akan membawa bencana besar. ada goresan sendu di wajah kalian. semuanya sudah jelas. Bimasena. Suasana sedikit hening. dan bawa pengkhianat itu ke hadapanku. Raja Hastinapura yang besar dan agung.” “Gendari justru karena ia adikmu.” “Ampun Kanda Prabu. Angin malam bertiup dingin. Puntadewa berkumpul dengan kedua adiknya. Siang itu. bahwa aku dikhianati. beberapa pohon sawo beludru yang berada di halaman memantulkan cahaya matahari ke wajah mereka. Patih Sengkuni adalah adik kandungku. Mohon doa restu Kanda Prabu.mencari jalan keluarnya.” “Gendari. Harjuna.” “Jangan tunda waktu. Sebagai kawula aku akan melaksanakannya dengan penuh pengabdian dan ketulusan. Puntadewa.’ Kidung Malam (4) Awal Sebuah Pertikaian Di dalem kasatrian Hastinapura. Auman itu mengingatkan tangis seorang bayi sulung yang kemudian diberi nama Duryudana. lakukan itu!” “Baiklah Kakanda. melalui balik daun-daunnya yang berwarna ke coklat-coklatan.” “Kanda Prabu. aku mengetahui apa yang dikerjakan selama ini. sehingga menggelisahkan hati?” . “Dhuh bendara kula. engkau menutupi kesalahannya. Sebelum memasuki pintu kedaton. saat istirahat.

Memang benar. Dharma bakti jangan dinanti. tanpa harus menimbulkan kecurigaan dan membuat keonaran. kami dilarang keluar masuk benteng untuk bertatap muka dengan para kawula. baru beberapa bulan hidup di istana. Mereka menunjukan sikap tidak bersahabat. Siang itu matahari tak terhalang mega. ndara. Apakah kalian tidak melihat dan merasakan kehidupan di lingkungan beteng jero ini. Setiap denyutnya harus membawa manfaat. mereka menghampiri Puntadewa dan adikadiknya. hidup dalam penderitaan dan tekanan. apa yang musti kami kerjakan?” “Dhuh adhuh. rasa pangrasa kalian menjadi tumpul. tetapi dikerjakan. sehingga kami jadi serba salah untuk melakukan sesuatu.” “Eyang Semar. waktu jangan disia-siakan. Disertai teguran sinis. ada perasaan yang menyesak hati. Bimasena dan Harjuna terpaku diam. bahkan mengarah pada permusuhan. Pekerjaan itu jangan ditunggu. namun kami malahan dituduh menentang kebijaksanaan raja dan membuat onar di beteng jero ini ” “Kalian memang harus cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Puntadewa. dilindungi dan dibebaskan dari berbagai ancaman. kami menjadi bingung. Ketiga anak Pandu itu diam saja. bendara kula. Tiba-tiba siang yang hening itu pecah oleh kegaduhan para Kurawa yang datang di Dalem Kasatrian.” Tanpa menunggu jawaban. dengan keadaan yang kurang menguntungkan tersebut bukan berarti kalian tidak dapat berbuat sesuatu. Mereka menyadari ketidak mampuannya menghadapi sebuah suasana yang sengaja dibuat untuk semakin memojokkan mereka. Para abdi menjadi korban kebijakan raja. Sampeyan itu bagaimana ta? Di Saptarengga eyangmu Abiyasa telah mengajari banyak hal. Suara yang tidak mengenakan dan menyakitan . melewati sela-sela pohon Sawo Beludru. engkau sungguh seorang panakawan pinunjul. Keberadaan kami di Hastinapura rupa-rupanya tidak dikehendaki oleh para Kurawa. Jangan berhenti karena dihalangi! Karena sesungguhnya pekerjaan mulia tidak akan pernah selesai hanya dengan berpangku tangan dan keragu-raguan. Dari pandangan matanya dapat diketahui bahwa perasaan mereka sangat terpukul.“Eyang Semar. Bagi orang bijak. mampu merasakan apa yang kami rasakan. wajah mereka yang merah karena teguran Semar. Kakinya yang besar dan kokoh menapaki hamparan pasir. Kalian dapat melakukan sesuatu untuk sebuah keadilan. semakin memerah diterpa pasir di halaman Kasatrian yang beterbangan tertiup angin. Gerak-gerik kami dicurigai. ndara. Mereka menatap kepergian Semar hingga hilang ditelan pintu seketeng. Semar segera melangkah pergi. Sebagai seorang satria masihkan kalian bertanya. Mereka butuh dibela. apa yang musti dikerjakan? ” “Eyang Semar.” “Dhuh bendara kula. tetapi dijalani. kami telah mencoba melakukan hal itu.

tidur nyenyak.” “Hmm.itu.” Ditolehnya arah datangnya suara.! Bingung! Linglung! Pantas saja anak gunung di kraton bingung. akibatnya akan merugikan negri.” Bimasena tak mampu menahan amarah ketika ayahnya yang sudah meninggal dihina. Ha ha ha. dihampirinya dengan kakinya.. jaga mulutmu Kakang Dursasana. Keduanya jatuh terlentang menyentuh pasir. Tetapi kalau memang kalian ingin diperlakukan sama seperti putra raja. Belum berlanjut keributan itu. “Hmm. sudah terbiasa keluar dari mulut para Kurawa. mereka tergetar oleh kata-kata Bimasena. mencelakai sesama dan menghancurkan diri sendiri. “Bima. ” “Tetapi Ramanda Pandhu adalah raja yang berhak atas tahta Hastinapura. “Sebagai saudara tua yang kami hormati seharusnya kalian tidak mengeluarkan katakata pedas menusuk. Puntadewa mencoba meredakan ketegangan.. huaaaaa.. “Huaa ha ha. menggelikan! Kami adalah para putra raja yang hidup di keraton. cantik bahenol? Huaaaa . Bersamaan dengan itu Para Kurawa meninggalkan Kasatrian. apakah masih kurang? Apakah menginginkan wanita sintal manis. dikuti oleh . silakan minta dikeloni arwah bapakmu.” Tanpa sepatah katapun Bimasena berjalan memasuki dalem kasatrian. Bukankah hidup di keraton menyenangkan? makan enak. Duryudana dan Dursasana yang berada dipaling depan. tidak ada gunanya membuat onar di negri yang kita cintai ini. sedangkan kalian adalah anak Pandhu yang hidup di hutan. Para kurawa maju mengerubut.. Di Hastinapura ini bukankah tidak ada perbedaan diantara kita” “Tidak berbeda dengan kami? Hua ha ha ha.” “Benar kata ibumu Kunthi. jika nafsu amarahmu kau biarkan liar. karena sesungguhnya kami ingin hidup berdampingan dengan damai. jika tidak ingin aku robek.” “Orang mati tidak dapat naik tahta.” Para Kurawa terdiam. Ia melihat Dewi Kunthi ibundanya dan Yamawidura pamandanya telah berada diantara Puntadewa dan Harjuna. kurang ajar. tiba-tiba terdengarlah suara yang sudah tidak asing di telinganya.” ejek Dursasana. jaga amarahmu. “Bima anakku.

Tidak seperti ketika mereka memasuki kotaraja. ketika para kawula kasatrian Panggombakan mulai berangkat ke peraduan. untuk tidak mengusir kalian keluar dari bumi Astinapura. di panggombakan. dan dua anaknya yaitu. menyambut kedatangan tamu agung dengan sukacita. sifat-sifat itu ada dalam diri Yamawidura. tidak semata-mata mencari uang. kecuali anggota dan kerabat dekat kasatrian. damai. bulan bundar menyembunyikan mukanya di balik awan hitam. disepanjang jalan yang dilaluinya. Prinsip hidupnya adalah . kali ini. Namun omongan Sengkuni dan Gendari lebih berpengaruh. adil dan sejahtera. Dewi Padmarini anak Prabu Dipacandra. Panggombakan namanya. kelima anaknya dan Yamawidura meninggalkan kotaraja Hastinapura. Yamawidura dan kedua adiknya. Jika hal ini dibiarkan. Kakanda Prabu memutuskan. bahwa semenjak Pandawa memasuki kota raja. Mereka bekerja dengan tulus. dewa keadilan dan kebenaran. Dewi Kunthi dan ke lima anaknya menginjakan kakinya di Panggombakan. Sanjaya dan Yuyutsuh. Ada sekelompok petinggi Negri dan para bangsawan yang membuat laporan. ia tidak sampai hati melihat ketidak adilan yang disandang anak-anak manusia. kalian diusir dari Hastinapura. tentram. Ia memperbolehkan aku memboyong kalian di Panggombakan. Sanjaya dan Yuyutsuh. “Aku sudah mengingatkan kepada Raja. tersebutlah sebuah kasatrian. agar meneliti terlebih dahulu kebenaran laporan itu sebelum mengambil keputusan. sebagian besar penduduknya tidak gila pangkat dan kedudukan. mereka duduk bersama. Sementara itu. ketika Kakanda Prabu masih mendengarkan suaraku.Kunthi. Di kasatrian tersebut Yamawidura tinggal bersama seorang istri. kewibawaan raja berangsur-angsur surut. Namun ada secercah harapan. Ada suasana yang berbeda. Kunthi. Kedatangan mereka memang disengaja agar tidak diketahui banyak orang. kecuali suara binatang malam yang mengidungkan tembang kesedihan. tidak ada rakyat yang mengelu-elukannya. Sosok Yamawidura adalah titisan Bathara Dharma. yang masih terhitung wilayah Hastinapura. dibandingkan dengan kotaraja Hastinapura. Malam itu. Yamawidura. Sesampainya di ruang tengah. Dalam kesempatan tersebut. Kidung Malam (5) Gajah Misterius Nun jauh di perbatasan Negara Hastinapura. Yamawidura menyampaikan perkembangan terbaru yang menyangkut keberadaan Anak-anak Pandu di Negara Hastinapura. Panggombakan menjadi kasatrian yang aman. pada saatnya nanti wahyu raja akan berpindah kepada Pandhawa.” Malam itu malam purnama. Dewi Padmarini. Oleh karenanya di bawah kepemimpinannya. Maka jalan satu-satunya yang harus dilakukan adalah mengusir Pandawa dari Bumi Astinapura.

melayani kebutuhan mereka. Yang kita butuhkan adalah ketabahan dan kesabaran. sepi ing pamrih rame ing gawe. Namun walaupun begitu. sudah saatnya kalian berbuat. Tidaklah mudah untuk mempengaruhi mereka dengan tipudaya dan kepalsuan. membuahkan hasil yang menggembirakan. Itulah yang membuat Kunthi dan kelima anaknya kerasan tinggal di kasatrian Panggombakan. Ada yang jauh lebih penting dari pada keinginan membasuh nama dari tuduhan pengkhianatan. kami harus berbuat apa? “Baiklah Bima. mereka bertindak berdasarkan kata hati yang jernih dan jujur. Mengapa kepindahan mereka ke kasatrian Panggombakan disebabkan oleh tuduhan sebagai pengghasut kawula dan pengkhianat raja? Betapa hinanya sebutan itu. tanah perdikan pemberian Pandudewanata tersebut mengalami kemajuan . Anak-anakku. Sekarang juga!” Hari demi hari dilaluinya. masih ada sisa nestapa yang senantiasa membayangi Kunthi dan para Pandawa. bahwa mereka bukan penghasut. ora ngaya’ Yang didambakan adalah hidup berdampingan dengan tentram saling menghargai dan saling membantu. berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing. Jiwa satria yang ada pada kalian akan menjadi pudar tanpa memberi manfaat bagi hidup dan kehidupan. yaitu manjing ajur-ajer menyatu dengan mereka. sesungguhnya dengan sebutan pengkhianat itu. Ibarat wastra lungset ing sampiran. Menunggu artinya membuang waktu. Namun bagaimana caranya? “Penjelasan itu tidak perlu. kami menjadi semakin canggung untuk melangkah dan semakin ragu untuk bertindak. lakukanlah sesuai dengan nurani. Lain di Kotaraja lain pula di Panggombakan. ada saatnya kebusukan itu terkuak dan kebenaran akan memancar bersinar. berhenti mati. Mendengarkan suara mereka. Jika kalian siap melakukannya. Kebersamaan para ksatria Saptarengga ditengah-tengah kehidupan kawula Panggombakan. percayalah. Oleh karena itu. sesungguhnya kawula Hastinapura tidak bertindak semata-mata berdasarkan pikirannya. jangan berputar-putar. bicaralah yang jelas. bukan pengkhianat. ” “Orang canggung akan tersandung. Ada keinginan untuk menjelaskan kepada kawula. tanpa peduli apa yang kita kerjakan” “Hmm. Waktu yang telah berlalu akan menjadi semakin jauh meninggalkan kita. Di sini hampir tidak ada kepalsuan dan kemunafikan. Paman Widura! aku ini orang bodhoh. Merasakan apa yang dirasakan mereka. Melangkah salah.” “Mengapa hal itu masih engkau tanyakan Puntadewa? Bukankah kakang Semar telah banyak memberikan wejangan. Jangan ditunda lagi. mulailah dari kasatrian Panggombakan. orang ragu bagaikan sebuah batu yang beku. Pelan namun pasti.” “Maafkan kami Pamanda Yamawidura.” “Lantas apa yang harus kami lakukan Pamanda Yamawidura.‘urip samadya.

Orang-orang mulai kecemasan ketika gajah itu melangkah semakin dekat. “Ayo kembali! Cepat!” Gajah tersebut sangat patuh. Puntadewa dan Harjuna memberi isyarat kepada mereka untuk tetap tenang. Ukuran gajah itu empat kali lipat lebih besar dibandingkan dengan gajah pada umumnya. Di pundak merekalah kawula Panggombakan khususnya dan rakyat Astinapura pada umumnya. Mereka segera meninggalkan pekerjaannya dan berlari-lari kecil. Semakin panjang jalan yang dilalui. berhenti!” Gajah tersebut menghentikan langkahnya. tatkala melihat Puntadewa dan Harjuna berubah menjadi gajah jinak dan bersahabat. Sikap ikhlas dan semangat melayani yang dibangun Puntadewa. rendah hati dan sakti. menggantungkan masa depan Negara Hastinapura yang lebih baik. mengikuti gajah yang membawa Puntadewa dan Harjuna. berjalan meninggalkan tempat itu. Kawula Panggombakan yang juga bagian dari rakyat Hastinapura dapat menilai dari dekat bahwa Puntadewa dan adik-adiknya tidak mempunyai jiwa pengkhianat seperti yang telah dituduhkan oleh penguasa negri. “He he. Matanya yang sipit berusaha dibuka lebar-lebar. Suasana takut dan cemas yang menghantui orang-orang disekitarnya. Setelah berkeliling tanah Panggombakan. belalai gajah tersebut mengangkat Puntadewa dan Harjuna untuk diletakan dipunggungnya. Gajah yang pada awalnya garang menakutan. munculah seekor gajah. Gajah besar bergading panjang itu mengarahkan langkahnya menuju orang-orang yang berkerumun ditempat itu. Keanehan terjadi. Puntadewa dan Harjuna masih sibuk membantu warga desa yang sedang membuat jembatan bambu. Bukankah polah gajah semacam itu hanya bisa dilakukan oleh gajah tunggangan raja? Belum habis rasa herannya. semakin bertambah pula orang-orang yang mengiringi. Hari menjelang sore. seakan-akan tahu bahwa ia menjadi pusat perhatian.diberbagai bidang. Ia menghampiri mereka dan bersimpuh. ketika langit diujung kulon temaram sinarnya. Mereka mulai membayangkan jika belalainya yang kuat melilitnya. Ia kelihatan bersalah dan malu-malu. Orang-orang heran menyaksikan peristiwa itu. dan tampaklah betapa tajamnya ia memandang. Belum jauh meninggalkan tapal batas Panggombakan. Segera sesudah itu ia berdiri. Mereka adalah para ksatria luhur. dan gadingnya yang panjang menghantamnya serta kakinya yang besar menginjaknya. Semua mata memandang heran. seperti layaknya seorang abdi yang mendapat perintah . Bimasena dan Harjuna tanpa disadarinya telah membasuh namanya. gajah tersebut melangkahkan kakinya ke arah kotaraja Hastinapura. berubah menjadi kegembiraan. tidak berani menatap mata Semar. sembari mengangkat belalainya. Tiba-tiba dari arah hutan. tiba-tiba Semar muncul menghadang ditengah jalan.

Banyak diantara para kawula Panggombakan datang ke Kasatrian. Kakek bermahkota tersebut mengaku bernama Prabu Hasti yang artinya Gajah. ia bermimpi bertemu seorang kakek tua bermahkota. maka dapat dipastikan bahwa Semar mengetahui asal usul dan sejarahnya. “Inikah dampar itu?” Saya menggangguk pelan. Dengan tersenyum ia berkata. ketika Palasara bertapa di hutan Gajahoya. Hari menjelang gelap. menuju ke rumah induk kasatrian Panggombakan. “Pada suatu malam. bayangan menjadi raja jauh dari pikirannya. ia merubah arah. mereka menemukan sebuah pohon hitam. Pada saat pembangunan hampir selesai. Mereka ingin menyaksikan keanehan baru yang akan di lakukan oleh seekor gajah besar bergading panjang dan bermata tajam. ada seekor gajah besar tiba-tiba muncul dan menghalangi niat kami. Dikatakan pohon hitam. Semar secara khusus menceritakan kepada orang-orang yang berkumpul di pendopo peri hal asal-usul Gajah tersebut.” Oleh karena mimpinya. bahwa Gajah itu sangat patuh kepada Semar. Dan karena itulah maka pada keesok harinya. Palasara . karena batang dan daunnya berwarna hitam legam. Ia menunjukkan sebuah dampar kayu berwarna hitam bercahaya. Dari manakah gajah itu? milik siapa? Mengapa ia memperlakukan Puntadewa dan Harjuna bagaikan raja? Seperti yang dilihat banyak orang. Apakah aku akan menjadi raja. begitulah Semar mengawali ceritanya. Ketika kami akan menebang pohon hitam tersebut. Kidung Malam (6) Tradisi “JUMENENGAN” Berita munculnya seekor gajah ramai dibicarakan. duduk di sebuah dampar hitam bercahaya seperti di dalam mimpiku kakang Semar? “Aku merasakan bahwa mimpi Raden akan menjadi kenyataan.tuannya. lampu-lampu minyak mulai dinyalakan. Berbagai pertanyaan terlontar dari mulut mereka. “Aku akan membatumu untuk menjadi raja menduduki dampar ini” Palasara tertegun dengan mimpi itu. Sebagai seorang pertapa. Raden Palasara menyetujui ketika beberapa pengikutnya dan Semar mencoba membuka sebagian dari hutan Gajah Oya untuk membangun keraton. Namun orang-orang yang mengiringi Gajah misterius justru bertambah jumlahnya. untuk melihat Gajah yang menggemparkan itu.” “Dimanakah aku mendapatkan dampar itu?” “Dampar itu ada di sekitar hutan ini. walau hanya sekejap.

tak terkecuali dampar tempat calon raja. Beliau raja menamakan negaranya Hastinapura. Gajah itu mengangguk hormat. Abiyasa dan Pandudewanata juga di dudukan oleh gajah Antisura. mengangkat dan membawanya untuk didudukan di atas dampar pusaka. Mereka tidak merelakan sedikitpun matanya berkedip. Para pengganti Palasara secara berurutan. Apakah ada hubungannya antara Prabu Hasti dan Gajah ini? Gajah misterius itu diberi nama Antisura. Semua mata diarahkan ke padanya. yang berasal dari Gajah besar bergading panjang. Gajah itu membantu merobohkannya. karena hal tersebut akan melewatkan detik-detik peristiwa langka. dan secara mengejutkan belalainya yang kokoh menyambar. heneng. . Hidup Palasara! Hidup Sang Raja! Hari penobatanpun dipilih. Ketika segala sesuatu telah siap dan waktu yang ditentukan tiba. Para pengikut Raden Palasara bersukacita. penobatan seorang raja. orang tua bermahkota yang menjumpai dalam mimpinya yang berjanji akan membantunya menjadi raja. Dengan lucunya Gajah itu menyembah hormat. ia sendiri yang mendekati Gajah tersebut. Dampar kayu hitam tersebut bercahaya memenuhi ruangan. “Bolehkah pohon itu kami tebang untuk membuat dhampar?” Sungguh aneh. Tepat pada saat selesaianya pembangunan keraton. dhampar pun jadilah. Pada saat segalanya hening. Palasara duduk diatas dampar pusaka dengan agungnya. Sejenak kemudian perhatian para kawula yang hadir beralih pada Gajah yang baru saja mendudukkan Palasara di atas dhampar. jagad raya diam sekejap. Pengangkatan calon raja oleh Gajah Antisura menjadi tradisi Jumenengan di Hastinapura. Sekejap darah di tubuh mereka bagaikan berhenti mengalir. Melihat tingkah laku Gajah yang mencoba bersikap seperti kawula terhadap rajanya. tiba-tiba ada suara memecah menggelegar. Pada waktu Pandu meninggalkan keraton dan menitipkan keraton kepada Destarastra. Tempat penobatan raja dihias meriah. Suasana sungguh hening. henung. Sang Prabu Dipakiswara teringat kepada Prabu Hasti. yaitu Prabu Sentanu. Karena hanya orang yang diangkat dan didudukkan oleh Gajah Antisura yang kuat duduk di atas dampar pusaka. Beberapa saat kemudian baru mereka sadar bahwa penobatan raja telah selesai. Maka penebangan pohon hitam dimulai. Para kawula terkesiap. Dengan penuh hormat Palasara memohon. Raden Palasara memakai busana kebesaran atau busana raja diiringi para pengikutnya berjalan pelan menuju dampar pusaka. Tanpa diperintah. Ia dengan tenang melangkah mendekati Palasara. Para kawula yang sejak awal membantu proses pembuatan keraton menanti-nanti saat seperti ini. Ia tahu apa yang dimaksudkan Raden Palasara. Para kawula bertepuk tangan penuh syukur.memerintahkan pengikutnya untuk mundur. Sang pewaris tahta dikatakan sah jika ia didudukkan di atas dampar pusaka oleh Gajah Antisura. Raja baru telah dinobatkan dengan gelar Prabu Dipakiswara.

Hasti artinya Gajah. Kecuali beberapa situs yang ditemukan seperti misalnya batu ompak dan batu fondasi. Liman juga berarti Gajah.” Demikianlah semar mengakhiri ceritanya sosok Gajah Antisura.Antisura tidak mau mengangkat Destarastra ke dampar pusaka. Berkali-kali dicoba. ketika Gajah Antisura akan membawa Puntadewa dan Arjuna menuju Hastinapura.memunculkan kembali sebuah keraton yang telah tenggelam. diyakini bahwa sebelumnya kawasan tersebut merupakan sebuah kerajaan besar yang bernama Gajahoya atau Limanbenawi. Karena dipaksa oleh Patih Sengkuni. ketika Destarastra mencoba sendiri duduk di atas dampar pusaka. Lebih dikuatkan lagi adanya peristiwa mistis dari beberapa orang yang tinggal disekitar hutan. Maka atas saran Patih Sengkuni dhampar pusaka yang berwarna hitam bercahaya itu disingkirkan. Namun sungguh aneh. Namun tidak pernah ketemu.” kata Patih Sengkuni kepada Destarastra. . ia mengangkat Puntadewa dan Harjuna. Sedangkan nama Hastinapura dapat dimaknai dengan hadirnya kembali keratonya Prabu Hasti. karena Prabu Pandu telah wafat. Orang kemudian menghubungkan dengan nama Gajahoya atau Limanbenawi sebagai nama negara yang diperintah oleh Prabu Hasti. ia terlempar. kita hilangkan saja tradisi jumenengan yang melibatkan Gajah Antisura. Destarastra terlempar. meninggalkan Hastinapura. Mereka sering ditemui oleh orang tua bermahkota yang mengaku bernama Prabu Hasti. “Kaka Prabu Destarastra. Jika demikian gajah Antisura tidak bisa lepas dengan Hastinapura. dan diganti dengan dhampar buatan baru yang lebih mewah dan indah. Maka ketika ia bertemu dengan anak-anak Pandudewanata. Karena pada kenyataannya Antisura tidak mau mengangkat Kakanda Prabu ke dampar pusaka. Gajah Antisura lari meninggalkan Hastinapura. Menurut dugaanku. “Tetapi mengapa gajah Antisura tiba-tiba muncul di Panggombakan dan mengangkat Puntadewa dan Arjuna” “Saya tidak tahu persis ke mana Gajah Antisura itu pergi menyusul penobatan Destarastra. yang dianggap sebagai pewaris tahta yang sah. artinya bahwa Palasara. maka tidak selayaknya jika Semar menghentikan langkahnya. orang telah mulai melupakan sosok Gajah keramat yang selalu hadir dalam upacara jumenengan dan kirab-kirab agung raja. Beberapa tahun telah berlalu. yang besar kuat laksana gajah. negara Gajah Oya hilang tak berbekas. Kidung Malam (7) REBUTAN LENGA TALA Gajahoya nama hutan yang kemudian dibuka oleh Palasara menjadi Negara Hastinapura. Tidak tahu pasti apa penyebabnya. ia mencari Pandudewanata untuk dibawa kembali dan didudukkan di Dampar Pusaka. Jika kemudian Palasara membuka hutan Gajahoya dan menjadikannya sebuah keraton. termasuk juga Palasara.

Bagaikan air kendi yang telah berusia delapan tahun menyiram kepala dan hatinya. namun dikarenakan Puntadewa dan Arjuna ada dipunggungnya. pandhita atau panembahan. Tak lama kemudian. pagi itu Dalem induk Panggombakan yang sekitarnya banyak ditumbuhi pohon besar kecil nan rindang. Dingin menyegarkan.“Sesungguhnya aku tidak melarang Gajah Antisura kembali ke Hastinapura. Rupanya para Kurawa telah mengatur strategi. karena saat ini Pandhawa baru dalam pengusiran ke luar keraton. Pada mulanya mereka menghaturkan sembah seperti layaknya seorang cucu kepada eyangnya yang bijak. ramai oleh kicaunya burung-burung. Namun ternyata itu sekedar basa-basi yang tidak berlangsung lama. karena dengan demikian semakin kuatlah pengakuan rakyat Hastinapura. Semar bersama dengan beberapa srati gajah menuntun Gajah Antisura melangkahkan kakinya ke Bumi Hastinapura.” Belum waktunya mereka masuk ke Hastinapura. Walaupun begitu ia menginginkan secepatnya Gajah Antisura kembali ke Gajahan keraton Hastinapura. Karena Lenga Tala merupakan minyak yang mempunuai . Belum genap sepekan Begawan Abiyasa tinggal di Panggombakan. Namun tidak demikian dengan Patih Sengkuni. Destarastra tidak begitu senang dengan kembalinya gajah Antisura karena dahulu menolak untuk mengangkat di atas dampar pusaka. itulah yang akan menjadi masalah besar. Seperti biasanya. Beberapa orang ditugaskan untuk menjauhkan Bima dan saudaranya dengan Begawan Abiyasa. maka ia bersama para abdi panggombakan mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut tamu agung tersebut. “Kami tidak percaya bahwasanya Sang Begawan tidak membawanya. Keyakinan Semar dalam menanggapi pertanda alam melalui suara burung prenjak menjadi kenyataan. Suasana menjadi tenang tentram. Karena Ia mempunyai rencana agar Gajah Antisura pada saatnya mau mengangkat Duryudana duduk di atas singgasana. Tidak mungkin Lenga Tala lepas dari dirinya. Tidak menunda waktu. tiba-tiba suasana damai dihempaskan oleh kedatangan Patih Sengkuni dan para Kurawa. datanglah Begawan Abiyasa dari Pertapaan Saptaarga. Tetapi apa yang kemudian terjadi? Para Kurawa yang diwakili Patih Sengkuni menanyakan perihal Lenga Tala milik Begawan Abiyasa. Yamawidura. karena kerabat Pandhawa sedang gundah hatinya menyusul pengusirannya dari Negara Hastinapura. Teristimewa suara burung prenjak bersautan persis didepan rumah sebelah kanan. Semar meyakini pertanda itu.” Yamawidura membenarkan apa yang dikatakan Semar. Biasanya itu pertanda akan datang seorang wiku. Dengan alasan karena terdorong oleh kerinduannya kepada sauadaranya yaitu para Pandhawa. Karena yang menjadi tujuan utama adalah untuk menemui Begawan Abiyasa. Kedatangan Begawan Abiyasa sungguh amat tepat. Kunthi dan Pandhawa tergopoh-gopoh menyambutnya.

seraya terkekeh-kekeh. Jika Sang Begawan Abiyasa mengatakan bahwa Lenga Tala tidak dibawa. Oleh karena itu kedatangan kami ke Panggombakan ini untuk memimta Lenga Tala sekarang juga. Bersamaan itu tampaklah benda bercahaya berbentuk oval. “Inikah Destrarastra hasil didikkanmu? Apakah engkau tidak cemas bahwa suatu saat perilaku anak-anakmu Kurawa yang diperbuat untukku akan menimpamu pula? Bahkan lebih dari itu. Maka ketika guntur menggelegar dibarengi angin bertiup kencang.” Belum mendapat jawaban.” Para cantrik mengerti bahwa apa yang di katakan Guru mereka tidak sekedar ungkapan ketidak puasan. para Cantrik merasa ngeri. Jika semula mereka menginginkan hari segera pagi. Namun dibalik raganya yang lemah. kami akan melepaskan semua pakaian yang menempel. hai Destarastra. selebar badanmu. mulutmu akan menjadi lebar. karena hal tersebut menjadi pertanda bahwa kutukan Begawan Abiyasa benar-benar akan terjadi. yaitu dengan kekuatan sabda yang keluar dari mulutnya. Dan engkau Sengkuni. tetapi merupakan kutukan bagi Drestarastra dan Patih Sengkuni. mereka akan beramai-ramai menginjak-injak kepalamu. Abiyasa bersama beberapa cantrik tidak mapu berbuat apa-apa. . Siapa saja yang sekujur badannya diolesi Lenga Tala ia tidak akan terluka oleh bermacam jenis senjata. Ia dengan cepat menjulurkan tangannya dan menarik ubel-ubel tutup kepala yang dipakai Begawan Abiyasa. sebelum dapat menemukan apa yang menjadi sumber cahaya tersebut. Oleh karena hasutanmu. Duryudana. Dengan cekatan Dursasana menyahut benda tersebut dan membawanya kabur. berujud cupu. Karena mulutmulah semua ini terjadi. diikuti oleh Patih Sengkuni. Karena di dalam gelap mereka dapat dengan jelas melihat sinar kebiru-biruan itu. Dursasana mulai melakukan aksinya.kasiat luar biasa. Dursasana dan Kurawa lainnya berubah. jatuh dan menggelinding di lantai. namun dengan adanya cahaya kebiru-biruan. Karena yang membawa adalah aku. sehingga dengan mudah dapat menemukan tempat cahaya itu berasal. hua ha ha” Dursasana berlari sambil menari-nari menimang cupu yang berisi Lenga Tala. bahwa dirimu tidak membawa Lenga Tala. mereka bermaksud menghentikan gelap. Kidung Malam (9) Murid Pilihan Niat Patih Sengkuni. untuk membuktikan bahwa Sang Begawan telah membohongi kami! He he he. “Memang benar engkau tidak berhohong hai Abiyasa. Duryudana dan beberapa Kurawa. Sang Begawan Abiyasa mempunyai kekuatan lain yang jauh melebihi kekuatan ragawi manapun.

Ia membawa rumput kalanjana yang telah disambung-sambung. untuk kemudian dibagi dengan adil. diantara mereka tidak ada yang punya nyali untuk masuk ke dalam sumur. “Anak-anakku Pandawa. Dinding sekelilingnya penuh lobang.” Teriak para Kurawa. menyergap Cupu Lenga Tala. Namun langkah mereka terhenti ketika melihat kelebatnya seseorang. Walaupun badannya cacat. Ditanganya. tanpa berniat melongok sumur tua itu. sembari menebarkan pandangan ke arah Kurawa dan Pandhawa. mata orang itu tajam bagai elang. ingin melihat apa yang akan dikerjakan orang asing tersebut. tanpa berbuat sesuatu. Hampir bersamaan mereka berucap “Cupu Lenga Tala. Dengan penuh keyakinan ia menurunkan rangkaian rumput kalanjana ke dalam sumur. dan mengangkatnya ke permukaan sumur. kebetulan kalian datang. Mata mereka berkilat-kilat melihat benda yang menjadi sumber dari cahaya. Bimasena. Dengan langkahnya yang ringan orang tersebut menuju sumur tua. Tampaklah di antara rimbunnya semak. beberapa ekor ular berbisa dengan badannya yang mengkilat tertimpa cahaya. “Aku tidak mau! biarlah Cupu Lenga Tala tenggelam di dasar sumur. tepatnya di sebuah sumur tua. Hanya kalianlah yang kami harapkan dapat mengambilnya. Sengkuni menyapanya dengan amat manis. sambungan rumput-rumput itu berubah bagaikan seekor naga kecil yang ganas. awal dari cahaya itu. ada tipu muslihat yang kotor.” Bimasena dan saudara-saudaranya ingin segera pergi. Kewibawaan memancar kuat darinya. Bersamaan dengan merekahnya fajar di ujung Timur. Semua mata menatapnya. namun mereka kebingungan bagaimana caranya? Sumur yang tidak begitu luas itu amat dalam. para Kurawa berebut merapat di bibir sumur. “Baiklah! Lihatlah!” Seperti mendapatkan aba-aba. Bagaikan anak-anak kecil yang mendapatkan kembali mainan kesukaannya. ditumbuhi semak belukar. Beberapa lama mereka mondar-mandir di seputar sumur.Di pinggir hamparan tanah pategalan. Sekarang cupu telah diketemukan di dalam sumur tua ini. Hampir saja kami putus asa tidak dapat menemukan Cupu Lenga Tala. Sesampainya di bibir sumur. “Apa yang kalian inginkan dariku?” “Ambilkan benda itu untuk kami!. ia berkakata. Mereka . Maksud hati ingin segera mengambilnya. Dalam sekejap Cupu Lenga Tala telah berada dalam genggamannya. Para kurawa bersorak gembira.” Bimasena dapat menangkap dibalik kata-kata manis. Secara bebarengan mereka mendekati sumur melongok di dalamnya. Melihat keadaan sumur yang menyeramkan. Harjuna dan saudarasaudaranya datang.” Betapa senang hati mereka melihat benda yang dicarinya ada di depan mata dalam keadaan utuh. Namun di antara kami tak ada berani mengambil. dari pada jatuh ke tangan orang-orang durhaka.

bertemu dengan orang berilmu tinggi merupakan kesempatan yang tidak boleh sia-siakan. Aku ingin bertemu dengan pemiliknya untuk mengembalikan padanya. siapakah orang ini? Apakah dia kenal dengan Begawan Abiyasa. Sejak awal ia mengamati Bimasena dan Harjuna. Orang asing tersebut mengerutkan keningnya. Matanya yang tajam dapat melihat kejujuran. Namun mereka tidak berani menanyakan hal tersebut.. pemiliknya?. Sesungguhnya penggembaran orang asing tersebut hingga sampai ke tempat ini dalam upaya mencari murid terbaik. Dan saat ini telah ditemukan dalam diri Harjuna dan Bimasena. “Tidak sembarang orang yang mempunyai benda istimewa ini.. ia nampak tidak senang atas perilaku para Kurawa.saling berdesakan. Oleh karena itu para Kurawa tidak berani memaksakan kehendak untuk mendapatkan Cupu Lenga Tala. berebut menjulurkan tangannya.” Orang itu terharu karenanya. “Siapa namamu bocah bagus?” “Nama hamba Harjuna” “Dan kau bocah gagah perkasa?” “Bimasena” “Baiklah Harjuna dan Bimasena mulai hari ini kalian aku angkat menjadi muridku” Kidung Malam (10) Kumbayana . dari pada Cupu Lenga Tala. Gayungpun pun bersambut. kesetiaan dan bakat yang luar biasa dibalik ketampanan Harjuna dan kegagahan Bimasena.” Dalam hati mereka bertanya-tanya. Sementara itu para Pandhawa justru lebih tertarik kepada perilaku orang asing tersebut yang dipercaya mempunyai segudang ilmu tingkat tinggi. kepatuhan. Maka dengan tak segansegan mereka menghampirinya. Harjuna bersimpuh menyembahnya dan Bimasena mengangkat orang itu di atas kepala wujud lain dari sembah Bimasena. Bagi para Pandhawa yang sejak kecil gemar berguru. Ada rasa getar dan takut menyaksikan kesaktian yang telah ditunjukkan. Keduanya hampir bersamaan berucap: “Perkenankanlah aku menjadi muridmu ya maha guru. Mereka menyerahkan kepada Patih Sengkuni yang dipercaya mempunyai banyak siasat untuk mendapatkan cupu dari tangan orang asing tersebut. untuk mendapatkan Cupu Lenga Tala.

" Sebenarnya orang asing tersebut tidak membutuhkan murid." Sengkuni keberatan dengan syarat itu. Dengan suka hati aku bersedia menjadi gurumu" Patih Sengkuni gusar. akupun keberatan untuk masuk istana. sekarang juga engkau aku ajak menghadap raja. "Jika kalian keberatan dengan syarat itu. dengan alasan bahwa Pandhawa telah menghasut rakyat untuk memusuhi raja. seperti layaknya sebutan untuk saudara tua.Orang sakti bertubuh cacad itu telah mengangkat murid baru. Untuk itu kakang. Bahkan beberapa waktu lalu Patih Sengkuni berhasil membujuk raja untuk mengusir Pandhawa. Siapakah sesungguhnya orang sakti itu? Ia menuturkan riwayatnya kepada Pandawa Lima sebelum mengajarkan ilmu di Padepokan tempat tinggalnya. Namun tawaran Patih Sengkuni perlu dipertimbangkan. sehingga raja berkenan mengangkatmu menjadi guru resmi istana. dengan penuh hormat ia memperkenalkan diri. bagus-bagus! Aku tidak menyangka bertemu kalian berlima yang terkenal dengan sebutan Pandhawa Lima. Orang asing yang berhasil mengambil Cupu Lenga Tala. ha. "Baiklah Adhi Sengkuni. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa Lenga Tala akan diberikan Pandhawa. dan disusul Puntadewa. Maaf! Selamat tinggal! Ayo murid-muridku. Ia tidak suka Pandhawa tinggal di istana. ia dapat memanfaatkan kekuatan dan kebesaran Hastinapura untuk tujuantujuan pribadi. Karena dengan menjadi guru istana. "Namaku Sengkuni. Kebetulan Sang raja butuh guru sakti bagi putra-putranya. Dalam pernyataan awal mereka berlima berjanji akan selalu patuh kepada guru. . Aku akan meyakinkan kesaktianmu. ikutilah aku!" "Adhuh celaka! Lenga Tala dibawa! Para Kurawa kejar dia!!" Ketika Kurawa bergerak untuk mengejar mereka. tiba-tiba kabut tebal menghadang jalan. telah mengangkat murid Pandhawa. Apalagi setelah mengetahui bahwa para Kurawa telah merebut paksa dari tangan Begawan Abiyasa. aku terima tawaranmu. "Ha. ha. asalkan anakku Aswatama dan Pandhawa lima boleh masuk ke istana untuk bersama putra-putra raja mendapatkan ilmu dariku. Nakula dan Sadewa. Patih Sengkuni segera mendekatinya. Orang sakti dan Pandawa lima lenyap di balik putihnya kabut. selain Pandhawa lima. Jika diperbolehkan aku akan memanggilmu Kakang. patih Hastinapura. Bimasena dan Harjuna. Namun sebelum kemungkinan paling buruk terjadi. dan yang berada di sekitar sumur itu adalah putra-putra raja.

Semula Hargajembangan merupakan kerajaan kecil. Nama itu dipilih untuk mengingatkan peristiwa kelahiranku. yang sedang mandi di telaga. karena usia yang mendekati senja. Aku berdebar menghadapnya. Sore itu. Air kama itulah kemudian di tempatkan di dalam bejana air yang kemudian menjadi anak manusia. "Kumbayana. Ketika ayahku bertapa. Hingga sore merambat malam. aku disiapkan menjadi raja.Namaku Durna atau Kumbayana. namun menurutku kebesaran tahta Hargajembangan bukan karena kehebatan ramanda. Ayahku adalah raja di Hargajembangan. Oleh karenanya matangkanlah ilmumu untuk bekal menjadi raja. Tetapi aku heran. Sebagai anak tertua. di malam itu juga. Ramanda Prabu memanggil aku dan adikku Sucitra. Rupanya ada hal yang begitu penting. Hargajembangan menjadi sebuah negara besar." "Kapan "Lebih cepat lebih Ramanda?" baik. Betapa beruntungnya jika aku dapat bertemu dan berguru kepadanya." Inilah saat yang kutunggu Dengan Pulanggeni aku akan menjadi raja besar. Tanaman padi umur lima pekan menghampar hijau bak permadani menyelimuti sebagian besar bumi Hargajembangan. untuk berbaring tidur dalam kelegaan. kesehatanku semakin menurun. sebelum mereka mendengar gemericiknya air mengaliri tanamannya. Ramanda Prabu mengambil keris Pulanggeni dan menyerahkannya kepada Sucitra "Kembalikan keris ini . mengapa Begawan Abiyasa membiarkan keris Pulanggeni bertahun-tahun berada di Hargajembangan? Apakah di padepokannya masih tersimpan puluhan pusaka sekelas Pulanggeni. tentunya akupun dapat menjadi raja besar. kalau bukan padamu. Bagaimana jadinya jika tanpa Pulanggeni? Apakah negara-negara Bumi Atasangin masih tetap tunduk dibawah Hargajembangan? Jika tiba saatnya nanti aku menggantikan Ramanda dengan Pulanggeni. Kerajaan-kerajaan di bumi Atasangin tunduk kepada Hargajembangan. ia tergoda oleh seorang bidadari bernama Dewi Grahitawati. melainkan karena kesaktian Pulanggeni. bernama Prabu Baratwaja. dan diberi nama Kumbayana. Jauh dipusat Kota. Aku tahu bahwa Ramanda Prabu berilmu hebat. menguasai raja-raja di Bumi Atasangin. dan gampang lelah. Karena tidak kuasa menahan nafsu. guru Ramanda dari tanah Jawa. para petani enggan beranjak. maka air kama ayah jatuh ke telaga. Namun belum reda getar suka-citaku. Karena bagi mereka suara gemericik dari ujung petak sawahnya bagaikan kidung malam yang menghantar ke tempat peraduan. artinya bejana air. Hargajembangan memamerkan ke kesuburannya. Pada siapa lagi tahta kuserahkan. namun semenjak Rama Baratwaja menyimpan keris Pulanggeni pinjaman Begawan Abiyasa.

Namun yang lebih penting bahwa engkau jangan salah mendudukan pusaka dalam hidupmu! Untuk menjadi raja yang terutama adalah ilmu dan kesiapan lahir batin. Kidung Pergi Malam ke Tanah (11) Jawa Perasaan takut menyelinap di dalam hatiku. Aku sudah berjanji kepada Bapa Guru Abiyasa." "Kumbayana." "Ampun Ramanda Prabu. keris Pulanggeni segera aku kembalikan. ada hal yang belum kau mengerti. siapa tahu karena kebaikan Begawan Abiyasa. . Mereka adalah sahabat-sahabat yang bersama-sama dengan Hargajembangan menjaga keutuhan Bumi Atasangin." "Kumbayana. Tidakkah engkau melihatnya sekarang? Bumi Atasangin telah menjadi satu di bawah Hargajembangan. biarlah aku yang mengembalikan Keris Pulanggeni ke tanah Jawa. memelihara dan mempertahankan memang butuh kesabaran dan welas asih. yaitu menjaga kebesaran Hargajembangan dan persatuan Bumi Atasangin. pengembalian pusaka tidak mungkin untuk ditunda. Engkau tinggal memelihara dan mempertahankan kebesaran negeri ini. bahwa Bapa Guru Abiyasa memberikan pusaka Pulanggeni untuk mengangkat wibawa. para raja Bumi Atasangin telah tunduk kepada kita. aku sangat membutuhkannya sebagai ‘sipat kandel’ menjadi raja. Baik itu membangun atau pun memelihara." Debar suka citaku berhenti seketika. jika Ramanda telah mengambil tuah dari pusaka Pulanggeni untuk merintis dan membangun. keduanya mempunyai kesulitannya masingmasing. "Ampun Ramanda.kepada Bapa Guru Abiyasa dan mohon doa restunya untuk penobatan Kumbayana. Hal itu bukan berarti lebih berat dibandingkan dengan merintis dan membangun. Mereka bukan musuh kita lagi. Menyusul keringat dingin ketakutan. Karena dengan demikian orang akan mudah ditundukan dan diatur." "Kumbayana. keris Pulanggeni jangan dikembalikan terlebih dahulu. jika Hargajembangan telah menjadi besar. memelihara dan mempertahankan lebih berat dari pada merintis dan membangun. Bukanlah hal tersebut telah terbukti? Namun sekarang. setelah keris Pulanggeni berada di tangan Sucitra dan segera akan dikembalikan pemiliknya di Tanah Jawa. apa salahnya aku menginginkan Pulanggeni untuk memelihara negri yang Ramanda wariskan. aku diberi pinjaman pusaka sekelas Pulanggeni untuk kepentingan yang berbeda. menebarkan rasa segan dan takut bagi yang berniat jahat dan membahayakan kelangsungan Hargajembangan. kalau boleh. "Rama Prabu. Apakah engkau tega menebar rasa takut kepada para sahabat kita?" "Jika demikian Ramanda.

Maka aku berniat meninggalkan tanah tumpah darahku. yang sejak kecil mengasuh. Jika aku ditakdirkan menjadi raja. Firasatku mengatakan bahwa wahyu keraton telah hilang dari Bumi Atasangin. Oleh karena itu Ramanda dengan terpaksa aku meninggalkan Bumi Atasangin untuk mencari pusaka pengganti Pulanggeni di tanah Jawa. ada sesuatu yang lepas dari Negara Hargajembangan. kelak aku pasti akan kembali di Bumi Atasangin. Ketika Pulanggeni dibawa pergi Sucitra. dan tidak mau menjadi raja sebelum mendapat pusaka sekelas Pulanggeni. hormati. terlebih letak Padepokan Saptaarga yang berada di puncak gunung ke tujuh. Tidak terasa kedua pipiku basah oleh airmata. Semakin jauh Negara Hargajembangan aku tinggalkan. Kewibawaan Hargajembangan akan menjadi surut. Negara Hargajembangan di bumi Atasangin. perjalanan ke Tanah Jawa membutuhkan waktu yang tidak pendek. semakin sedih rasanya. . Aku menjadi takut dinobatkan." Putranda Kumbayana yang durhaka Pada tengah malam aku tinggalkan Bumi Atasangin. Maafkan Ramanda Prabu dan selamat tinggal. Raja-raja di Bumi Atasangin yang selama ini tunduk kepada Hargajembangan akan berontak. mendidik dan mencintaiku. tidak cukup ditempuh selama satu bulan. Berhadapan samodra luas. Perjalanku terhenti di tepi Samodra. pagi-pagi benar. meninggalkan Hargajembangan. Aku "Ramanda pamit Prabu melalui yang selembar aku surat. Pada hari yang disepakati. Sucitra membawa Keris Pulanggeni. Itu artinya engkau akan membuang waktu yang seharusnya dipergunakan untuk mempersiapkan dirimu menjadi raja?" Rama Prabu Baratwaja bergeming pada perintah semula. Berat juga berpisah dengan Ibunda Ratu dan Ramanda Prabu. pengembalian keris Pulanggeni dipercayakan Sucitra. dan yang terkuat akan menguasai Hargajembangan. Suasana hening sepi. menemui Begawan Abiyasa."Kumbayana. Niatku pergi ke tanah Jawa.

ia terbang melintas samodra. Dewa. aku naik di punggungnya. takut akan jatuh. Tinggi dan semakin tinggi. jika binatang. Kidung Batari Isyarat kuda bersayap itu Malam Kuda jelas. . pasti Kalaupun ada yang dapat menolongku. Ke empat kakinya ditekuk. aku ketakutan. aku angkat menjadi sahabat. Tiba-tiba di angkasa ada benda putih terbang menuju tempat aku berdiri. ia memberi isyarat dengan kepalanya agar aku duduk di punggungnya. jika wanita akan aku peristri. aku mulai tenang. Tiba-tiba sayapnya dikepakan. dapat keturunan tentu kendaraan menolong. Dewa.disertai deburan ombak besar bergulung susul menyusul. Kuda Bersayap mengurangi kecepatan. Seekor Kuda Bersayap! Binatang yang hanya aku kenal dalam dongeng tersebut. kesaktianku tidak berarti. semakin jelas. Beberapa waktu kemudian. Apakah adikku aku Sucitra dapat menyeberangi sampai ke samodra ini? Bagaimana caranya? aku. Ia tahu. Apakah binatang ini dikirim dewa untuk menolong aku? Menyeberangkan aku ke tanah Jawa? Tanpa pikir panjang. Aku terkejut. mendarat tepat di depanku. Semakin dekat. berpegang lehernya erat-erat. jika laki-laki. dan berani menebarkan pandangan. Sejenak setelah duduk dipunggungnya. Aku coba menuruti keinginannya. Bagaimana Hanya Jika Namun tanah Jawa? Oh yang Dewa tolonglah Dewalah Orang. Aku dibawa terbang. Siapa tahu aku diterbangkan ke tanah Jawa. Oh betapa indahnya pemandangan di atas awan. aku diminta duduk di (12) Bersayap punggungnya. sayapnya dikibas-kibaskan. sayapnya digepakan.

Mega berarak laksana kapas putih terbang ditiup seribu bidadari jelita. akan ku ikuti ke mana ia melangkah. Tempat ini sangat romantis. Tampaknya Kuda bersayap itu tidak peduli. dan mendarat dengan lembut di tanah Jawa. Tanpa aku perintah. Hari-hari berlalu tanpa ada niatan meninggalkan tempat itu. Ah Aku jika dapat aku ditemani kasih seorang sepuasnya bidadari. Seharusnya aku elus-elus dahinya. Matanya yang sedih menjadi berbinar penuh kebahagiaan. Kuda betina kecewa dengan perlakuanku. bahwa aku diminta mengikutinya. Aku penasaran. bak putri raja.bahwa aku masih keheranan. kepalanya dan lehernya dengan lembut. ia berhenti dan menoleh kepadaku. Dan kuda bersayap itu telah menolongku. Kuda bersayap mulai merendahkan terbangnya. mulut kuda betina menyentuh punggung tanganku dengan lembut. Apa yang diinginkannya? Ku perhatikan dari belakang. Beberapa langkah kemudian. menggangu. Ooh! kuda itu betina Tidak lama kemudian kami sampai di tengah taman aneka bunga indah. seperti yang aku lakukan terhadap kuda-kudaku di Hargajembangan. langkahnya gemulai. bahwa daratan itu sangat subur. . Itulah tanah Jawa. Aku mulai mengerti isyaratnya. Dari sorot matanya tampak kesedihan itu. Aku heran dengan kejadian yang baru saja aku alami. selimut para Dewa. Aku elus dahinya. ia berjalan meninggalkan aku. Aku terkejut. memadu Selagi aku mengkhayal layaknya seorang jejaka yang kesepian. tanpa alangkah ada yang bahagianya. Semakin dekat tampaklah. Benar-benar aneh. ia tahu tujuanku. Siapa pun orangnya akan merasa nyaman berada di tempat ini. Aku semakin akrab dengannya. tempat Begawan Abiyasa tinggal. Dari kejauhan aku melihat daratan. Aku dekati kuda bersayap tersebut. Apakah aku sedang bermimpi? Tidak! Ini alam nyata. Aku telah berdiri di tanah Jawa. Air laut bagaikan beludru biru. Kutarik tanganku cepatcepat. Aku menyesal telah melakukannya dengan kasar. terutama bagi sepasang remaja.

kita tidak mungkin bersatu. aku mencintaimu. Aku akan pulih menjadi Batari. Bertahun-tahun aku menjalani kutukan dewa. Pertemuan kita merupakan akhir penantianku yang panjang. Kasih Kasih Ketika Aku tersadar. kenikmatan. Di tempat tersebut. Berdesir hatiku melihat sorot matanya. Karena jika tidak. aku bertemu dengan seorang batari jelita. sayup-sayup terdengar suara kidung malam yang menghanyutkan. antara sepasang antara kami Tidak jauh puas dariku. jika dapat melahirkan manusia. Aku Astaga! terkejut Batari Itu mendengar Wilutama? kah anak suara lembut Mimpikah ini? kita. sakral. di sebuah taman bunga nan elok indah. Anakku "Benar. Tiba-tiba secara ajaib kuda bersayap itu melahirkan seorang bayi. seperti mimpi? ." "Mengapa pertemuan kita hanya sekejap. Aku tidak dapat menceritakannya dalam wujud kata-kata keelokan malam itu. pasti aku mendapat hukuman yang lebih berat. Wilutama namanya." merdu. untuk bersama-sama mendampingi anak kita. yang terjadi gaib." "Wilutama. aku semakin menyayangi Kuda bersayap. Benarkah sorot mata Batari Wilutama? Apa Aneh.Pada suatu malam antara sadar dan mimpi. menatapku. Tanpa pernah aku tahu kapan mengandungnya. Kami berdua saling mencurahkan kasih. Aku segera kembali ke kahyangan. istri. agung berbaur menjadi satu. Semenjak peristiwa tersebut. mata pria dan suami meneguk kuda bersayap itu wanita. Kita akan membangun rumah tangga yang tentram damai. Karena di dalam sorot matanya aku diingatkan kepada Sang Batari Wilutama. aku? "Akulah Kuda bersayap itu.yang dan jatuh cinta. Aku menjadi bathari seperti semula. wajahnya mirip aku. dengan diriku dan penuh Kuda bersayap? misteri." Maafkan kakang. Ada suasana romantis.

Jika engkau rindu padaku kecuplah benda ini. bagaimana dengan hubungan kita?" Terimalah tusuk konde ini. Seorang bayi buah cinta kita. menanggungnya. aku kudang sepanjang jalan . Niatku dihalangi oleh pengawal perbatasan. maka rindumu akan terpuaskan. setelah aku terima benda pusaka pemberiannya. Dari cerita 'mbok bakul sinambi wara' bahwa Raja yang bertahta bernama Prabu Durpada. sebut namaku dan aku akan menolong. denganku. Bagaikan orang gila aku masuk keluar Tidak mudah mendapatkan keterangan keberadaan Pertapaan Karena orang pada takut berdekatan Tanah Jawa sangat Aku tersesat di Negara Pancalaradya. . Batari jejaka aku belia menyesal telah aku tak terhadap bercampur merampas kuasa menjadi satu. Kidung Merendam Malam (13) Dendam dusun. Pertemuan ini telah melahirkan sejarah baru. Memang hanya sekejap. Batari Wilutama lenyap secara gaib. Apapun yang terjadi aku ingin menghadap raja. kuwalat Oh Aswatama." Sekejap kemudian. menangislah keras-keras agar meninggalkan Aku berteriak ibumu mengurungkan keras. orang tua? niatnya kita. hidup ini adalah sebuah mimpi. cintaku. Jika ada kesulitan dengan anak ini. Yang menarik perhatianku bahwa sang raja adalah salah satu murid Begawan Abiyasa yang berasal dari negeri seberang. Namakan ia Aswatama. Saptaarga. Wilutamaaa…! Aku gendong anakku. sebagai tanda cintaku. luas."Sesungguhnya. Ada dorongan yang sangat kuat untuk bertemu kepada Prabu Durpada." "Lalu. Sang Sebagai Apakah kecewa. namun sangat berarti. Sedih.

aku dan anakku Aswatama dikepung prajurit. Segera setelah aku berhenti melawan. Wajahku rusak. ada utusan raja yang memerintahkan agar aku beserta Aswatama dibawa masuk menghadap raja. Di tengah kotaraja. berdaya. agar Aswatama tidak dilukai. Utusan raja dan pengawal mengirid kami masuk menuju ke Bangsal Kencana. Aswatama yang biasanya aku gendong. "Ayah!" aku berhenti mengamuk. dan menyerah. Aku tidak gentar. menghajarku. mereka bukan tandinganku. benar yang aku duga. Aswatama disandera. . Prabu Durpada terkejut. Sucitra! sembari mendekap eraterat penuh sukacita. Dalam sekejap para pengawal perbatasan aku kalahkan dan aku masuk ke kota raja Pancalaradya. Di sepanjang jalan kami tidak berjumpa orang. ketika mendengar jerit anakku. kami. melihat dan Sucitra aku para tidak dihajar Prajurit keluar juga. Sampai badanku remuk dihajar habis-habisan. kemudian mengajakku dan anakku memasuki Kedaton untuk saling melepas rindu. Ia hampir jatuh di lantai karena menahan dorongan tenagaku yang kegirangan. karena menganggap aku penjahat yang di hukum raja. Harapanku agar Sucitra keluar menghentikan perbuatan Gandamana. lengan kananku remuk. tempat Prabu Durpada menunggu. Gandamana Dengan adik marah Durpada. mengusir Sembari menagis sepanjang jalan. Rupanya khabar dari perbatasan telah sampai di sini. Aku mengamuk setiap prajurit yang menghalangi aku robohkan. Berdebar hatiku melihat dari jauh Raja Pancalaradya.Aku memaksakan kehendak. Aku menjadi lemas seketika. berusaha menuntunku. Aswatama membantu aku membersihkan darah disekujur badanku yang mulai mengering. ia kuatir menyeret keselamatan dan raja. Gandamana Gandamana. ia adalah adikku. Aswatama Setelah aku menagis tak keras sekali. Aku berteriak keras-keras. Aku sengaja tidak melawan. Ketika semakin dekat. Mungkin mereka menyingkir ketakutan. Sesampainya di sebuah sendang.

Nanti jika saatnya tiba. Oh ngger. menderita. menggendong dendam. air penuh matanya telah kesedihan. memilih tempat terpencil jauh dari keramaian. kakakmu si Kumbayana. Rata-rata Aku mereka berkemampuan murid yang sedang. satu-satunya harapan hidupku. Aswatama. Agar dapat membalaskan dendamku. benarkah aku kuwalat dengan orang tua? hinga aku mengalami nasib seperti ini? Aswatama Ia Hatinya tidak memandangku menangis lagi.? Mustahil! Ataukah engkau sengaja melupakan aku. Aku lebih menderita. Akhirnya Untuk Aku memeperdalam ilmu kami temukan tempat yang cocok sebagai tempat tinggal. tertarik untuk berguru. pandai. habis. Satu. suaraku. mengapa engkau sengaja membiarkan aku dihajar oleh adikmu? Mungkinkah engkau tidak ingat lagi wajahku. akan kutunjukan didepanmu. mendambakan . Jadilah tempat tinggalku sebagai padepokan kecil. Sucitra. Aswatama. melainkan karena melihat penderitaan anakku. mengubur masa lalulumu? Dhuh Dewa. dua orang perantau yang nyasar ketempatku.Sucitra. bocah bagus. untuk kuajari ilmu-ilmu andalan. Pembalasanku kepada Sucitra dan Gandamana. bukan karena penderitaanku. pandai. Bersabarlah. apakah dosaku. menyusuri jalan penderitaan. Diantara cantrik-cantrikku. termasuk bahkan teramat Aswatama. aku namakan Soka Lima. Siang malam kami berjalan. menyembuhkan dan mengajarkannya kepada luka-lukaku. belum kutemukan bakat menonjol.

sesampainya di keraton Hastinapura." "Jika demikian biarlah anak-anakku yang datang berguru ke padanya" "Ampun Kakanda Prabu. namun ia kemudian berkata. mencari di pusat pusat kota. ia mau menjadi guru para Kurawa asalkan Pandawa lima diperkenankan masuk istana. langkah tersebut akan merosotkan kewibawaan paduka raja. demikian Durna mengakhiri ceritanya. Maka mulai sekarang belajarlah penuh semangat dan ketekunan. Dibenakku telah tergambarkan. bahwa lenga tala gagal direbut. Bahkan ia telah mengangkat murid Pandhawa dan membawa serta mereka ke padepokannya. dengan membalaskan dendamku kepada Durpada dan Gandamana. Akan aku ajarkan ilmu-ilmu terbaik yang aku miliki.Jika aku tunggu mungkin terlalu lama. sebelumnya aku ingin mencari padepokannya untuk kemudian memaksa dia datang di istana tanpa Pandawa Lima" Mendengar rencana Patih Sengkuni. kalianlah yang mampu mengobati sakit hatiku. Sekarang dibawa pergi oleh seorang pandhita sakti." "Lantas bagaimana pendapatmu Patih Sengkuni?" "Kanda Prabu. Pada akhirnya kalian tahu sendiri. pada hal beberapa waktu yang lalu Kanda Prabu telah mengusir mereka. Maka saya putuskan untuk menyisihkan waktu. kita dipertemukan pada saat para Kurawa ingin mengambil cupu lenga tala di sumur tua itu. Duryudana dan para Kurawa merengek-rengek memohon kepada raja agar Pandhita sakti tersebut diangkat menjadi Guru Istana. Aku merasa lega mendapat murid kalian berlima. Kidung Mengharap Malam Hidup (14) Rukun Sementara itu. Duryudana yang menyaksikan sendiri kesaktiannya padhita tersebut bertanya. "Aku akan memerintahkan . lalu siapa yang mampu memaksanya? Sengkuni sempat gelagepan.. perlu menjadi pertimbangan. Patih Sengkuni melaporkan kepada raja. "Ampun Kakanda Prabu.

Tetapi memang mempelajari ilmu-ilmu tingkat tinggi tidak cukup dengan rajin dan tekun. Jika terjadi korban nyawa apakah engkau mau bertanggungjawab? "Maksud saya tidak begitu Maha Resi Bisma. Bukan sebagai pengasuh anak-anak raja. hamba ini seorang Patih. ada Maha Resi. Sehingga dengan demikian ada harapan untuk mempersatukan diantara mereka. eee kadang-kadang rajin. engkau akan mengatakan bahwa para Kurawa itu tekun dan rajin tetapi tidak berbakat dan tidak mampu menguasai ilmu-ilmu tinggi?" "Tidak demikian Sang Maha Resi. tetapi banyak. tetapi membutuhkan bakat dan kemampuan" "Jadi menurutmu cucu-cucuku para Kurawa itu rajin dan tekun?" Iya. terutama para guru yang digaji istana?" Eee sudah." "Baik! Jika demikian jangan ikut campur dalam hal mencari guru untuk para Kurawa. apakah engkau tidak pernah melihat guru sakti di Hastinapura ini? Coba kamu jawab dengan jujur. ijinkanlah aku sendiri yang akan menemui guru sakti yang diinginkan anak-anakmu. jika bibir ini menjadi panjang. mereka akan mampu menjaga. Sedangkan yang diangkat menjadi guru istana saja sudah seratus lebih. apakah para Kurawa telah menyerap semua ilmu dari mereka. lalu apa usahamu agar para Kurawa mampu menyerap ilmu para guru istana dengan baik? " Ampun Maha Resi Bisma. Jumlahnya kira-kira ratusan. eh belum dhing. belajarlah yang tekun dan rajin. Maksud saya semua ilmu telah diajarkan dan dipahami. tidak adakah Guru Sakti di Hastinapura? Sengkuni!" "Ada. salah satunya karena setiap waktu aku selalu mengatakan kepada keponakanku para kurawa. Pertimbanganku agar para Kurawa dan para Pandawa menyerap ilmu dari guru yang sama. "Sengkuni! Apakah untuk mendapatkan seorang guru tidak boleh dengan cara paksa. ee mungkin bisa mencapai ribuan." . Karena jika nantinya para putra raja mendapatkan guru yang sakti. para Kurawa itu mempunyai bakat dan kemampuan." "Bagus. bahkan tidak sekedar ada. dan kadang-kadang tekun. tetapi belum semua di kuasai. tugas hamba mengabdi kepada negara dan raja. Padahal gaji mereka…" "Cukup!! Sekarang jawab pertanyaanku. dengan aturan dan disiplin yang sama serta sumpah ketaatan yang sama pula. Apa yang akan kami lakukan ini sematamata merupakan tanda bakti kepada raja. tetapi" "Sengkuni.satu bregada prajurit untuk mengepung dan kemudian menangkapnya. dan menyerap ilmunya." "Ampun Maha Resi. memperkuat dan memperluas kerajaan Hastinapura" "Sengkuni. Sengkuni. tetapi belum ada guru yang mampu menggali bakat dan kemampuannya" "Sengkuni! Engkau jangan menyalahkan para guru istana! Engkau menganggap aku buta? Tidak dapat melihat kenyataan yang sebenarnya? Bukankah para Kurawa tidak dengan sungguh-sungguh menyerap ilmu dari para guru istana? Dan itu sesungguhnya menjadi tanggunggjawabmu untuk memotivasi mereka. Anak Prabu Destarastra. Eee rajin kok.

ia beserta keempat saudaranya selama beberapa waktu tinggal di Padepokan Sokalima yang terletak di tapal batas wilayah Negara Pancalaradya. sewaktu mohon restu kepada Ibunda Dewi Kunthi ke Panggombakan. Pada hari yang telah disepakati. Menurut keterangan Sadewa. Derap dari delapan kaki kuda yang mereka tumpangi. Resi Bisma diiringi Yamawidura keluar dari Kestalan Keraton Hastinapura. agar diantara anak-anaknya dan anak-anak Pandudewanata hidup berdampingan dengan rukun. karena sesungguhnya ada harapan yang sama. Dengan pertimbangan bahwa Yamawidura mengetahui letak padepokan. Tetapi entah apa sebabnya benih-benih permusuhan telah tumbuh lebih cepat dari pada benih-benih kerukunan.Destarastra setuju usul Resi Bisma. untuk berguru kepada Padhita Durna. menuju arah tenggara. sebelum matahari terbit. meninggalkan debu yang terbang terbawa angin dan menempel pada lekuk-lekuk bangunan Keraton Hastinapura yang indah. . tempat Pandhita Sakti berada. maka Destarastra memerintahkan kepada Yamawidura untuk mengiring Resi Bisma.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful