Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan

PERATURAN-PERATURAN BERKAITAN DENGAN KESELAMATAN KETENAGALISTRIKAN

1

Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 1985 TENTANG KETENAGALISTRIKAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa tujuan pembangunan nasional adalah untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, guna mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur yang merata meteriil dan spiritual berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945;
bahwa tenaga listrik sangat penting artinya bagi peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat pada umumnya serta untuk mendorong peningkatan kegiatan ekonomi pada khusus-nya, dan oleh karenanya usaha penyediaan tenaga listrik, pemanfaatan, dan pengelolaannya perlu ditingkatkan, agar tersedia tenaga listrik dalam jumlah yang cukup dan merata dengan mutu pelayanan yang baik; bahwa dalam rangka peningkatan pembangunan yang berke-sinambungan di bidang ketenagalistrikan, diperlukan upaya untuk secara optimal memanfaatkan sumber-sumber energi untuk membangkitkan tenaga listrik, sehingga menjamin tersedianya tenaga listrik; bahwa untuk mencapai maksud tersebutdi atas dan karena Ordonansi tanggal 13 September 1890 tentang Ketentuan Mengenai Pemasangan dan Penggunaan Saluran untuk Pene-rangan Listrik dan Pemindahan Tenaga dengan Listrik di Indonesia yang dimuat dalam Staatsblad Tahun 1890 Nomor 190 yang telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Ordo-nansi tanggal 8 Pebruari 1934 (Staatsblad Tahun 1934 Nomor 63) yang sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan keadaan dan kebutuhan pembangunan di bidang ketenagalis-trikan, perlu disusun Undang-undang tentang Ketenagalis-trikan;

Mengingat : Pasal 5 ayat (1), Pasal Dasar 1945;

20 ayat (1), dan Pasal 33 Undang-Undang

Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG KETENAGALISTRIKAN

2

Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan : 1. Ketenagalistrikan adalah segala sesuatu yang menyangkut penyediaan dan pemanfaatan tenaga listrik. 2. Tenaga listrik adalah salah satu bentuk energi sekunder yang dibangkitkan, ditransmisikan, dan didistribusikan untuk segala macam keperluan, dan bukan listrik yang dipakai untuk komunikasi atau isyarat. 3. Penyediaan tenaga listrik adalah pengadaan tenaga listrik mulai dari titik pembangkitan sampai dengan titik pemakaian. 4. Pemanfaatan tenaga listrik adalah penggunaan tenaga listrik mulai dari titik pemakaian. 5. Kuasa Usaha Ketenagalistrikan adalah kewenangan yang diberikan oleh Pemerintah kepada badan usaha milik negara yang diserahi tugas sematamata untuk melaksanakan usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum, dan diberi tugas untuk melakukan pekerjaan usaha penunjang tenaga listrik. 6. Izin Usaha Ketenagalistrikan adalah izin yang diberikan oleh Pemerintah kepada koperasi atau swasta untuk melakukan penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan sendiri. 7. Menteri adalah Menteri ketenagalistrikan. yang bertanggung jawab dalam bidang

BAB II LANDASAN DAN TUJUAN USAHA KETENAGALISTRIKAN Pasal 2 Pembangunan ketenagalistrikan berlan-daskan asas manfaat, asas adil dan merata, asas kepercayaan pada diri sendiri, dan kelestarian lingkungan hidup. Pasal 3 Usaha ketenagalistrikan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat secara adil dan merata serta mendorong peningkatan kegiatan ekonomi. BAB III SUMBER ENERGI UNTUK TENAGA LISTRIK Pasal 4

3

usaha penyediaan tenaga listrik. d. c. (2) Kebijaksanaan penyediaan dan peman-faatan sumber energi untuk tenaga listrik ditetapkan Pemerintah dengan memperhatikan aspek keamanan. 4 . usaha penunjang tenaga listrik. BAB IV PERENCANAAN UMUM KETENAGALISTRIKAN Pasal 5 (1) Pemerintah menetapkan rencana umum ketenagalistrikan secara menyeluruh dan terpadu. b.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan (1) Sumber daya alam yang merupakan sumber energi yang terdapat di seluruh Wilayah Republik Indonesia diman-faatkan semaksimal mungkin untuk berbagai tujuan termasuk untuk men-jamin keperluan penyediaan tenaga listrik. BAB V USAHA KETENAGALISTRIKAN Pasal 6 (1) Usaha ketenagalistrikan terdiri dari : a. b. pembangkitan tenaga listrik. c. Pemeliharaan peralatan ketenagalistrikan. distribusi tenaga listrik. (2) Usaha penyediaan tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a dapat meliputi jenis usaha : a. keseimbangan dan kelestarian ling-kungan hidup. Pengembangan teknologi peralatan yang menunjang penyediaan tenaga listrik. b. (3) Usaha penunjang tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b meliputi : a. Konsultansi yang berhubungan dengan ketenagalistrikan. Pasal 7 (1) Usaha penyediaan tenaga listrik dilakukan oleh Negara dan diselenggarakan oleh badan usaha milik negara yang didirikan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku sebagai Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan. transmisi tenaga listrik. (2) Dalam menyusun rencana umum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pemerintah wajib memperhatikan pikiran dan pandangan yang hidup dalam masyarakat. Pembangunan dan pemasangan peralatan ketenagalistrikan.

Untuk kepentingan umum. (3) Izin Usaha Ketenagalistrikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dikecualikan bagi usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan sendiri yang jumlah kapasitasnya diatur dengan peraturan pemerintah. menggunakan tanah. menebang atau memotong tumbuh-tumbuhan yang menghalanginya. Pasal 11 a. sepanjang tidak merugikan kepentingan negara. Pasal 8 Pemberi Izin Usaha Ketenagalistrikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan (2) Dalam upaya memenuhi kebutuhan tenaga listrik secara lebih merata dan untuk lebih meningkatkan kemampuan negara dalam hal penyediaan tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2). b. melintasi jalan umum maupun jalan kereta api. d. b. melintasi laut baik di atas maupun di bawah permukaan. Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan dan Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan Untuk Kepentingan Umum dalam melaksanakan usaha-usaha penyediaan tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) diberi kewenangan untuk : a. dapat diberikan kesempatan seluas-luasnya kepada koperasi dan badan usaha lain untuk menyediakan tenaga listrik berdasarkan Izin Usaha Ketenagalistrikan. c. melintasi sungai atau danau baik diatas maupun di bawah permukaan. Pasal 10 Untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan usaha penyediaan tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) yang belum atau tidak dapat dilaksanakan sendiri. c. Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan dapat bekerja sama dengan badan usaha lain setelah mendapatkan persetujuan Menteri. melintas di atas atau di bawah bangunan yang dibangun di atas atau di bawah tanah. Sepanjang tidak bertentangan dan dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 9 Ketentuan mengenai usaha penunjang tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. masuk ketempat umum atau perorangan dan menggunakannya untuk sementara waktu. baik untuk kepentingan umum maupun untuk kepentingan sendiri. b. untuk kepentingan umum Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan dan Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan untuk Kepentingan Umum juga diberi kewenangan untuk : a. melintas di atas atau di bawah tanah. 5 .

Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Pasal 12 (1) Untuk kepentingan umum. (3) Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan dan Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan Untuk Kepentingan Umum baru dapat melakukan pekerjaannya setelah ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diselesaikan. dan tumbuh-tumbuhan mengizinkan Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan dan Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan Untuk Kepentingan Umum melaksanakan kewenangannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2). mereka yang berhak atas tanah. BAB VI HUBUNGAN ANTARA PEMEGANG KUASA USAHA KETENAGALISTRIKAN DAN PEMEGANG IZIN USAHA KETENAGALISTRIKAN UNTUK KEPENTINGAN UMUM DENGAN MASYARAKAT DALAM USAHA PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK Pasal 15 (1) Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan dan Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan Untuk Kepentingan Umum wajib : a. bagi pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan. dan pembayaran ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. menyediakan tenaga listrik. dan lain-lain di atas tanah yang akan atau sudah digunakan untuk usaha penyediaan tenaga listrik dengan tujuan untuk memperoleh ganti rugi. tata cara. Pasal 14 Penetapan. menanam. (2) Ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dibebankan kepada Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan dan Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan Untuk Kepentingan Umum. bangunan. 6 . Pasal 13 Kewajiban untuk memberikan ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 tidak berlaku terhadap mereka yang mendirikan bangunan. tumbuh-tumbuhan. dengan mendapatkan imbalan ganti rugi kecuali tanah negara.

c. instalasi. pengembangan usaha. memperhatikan keselamatan kerja dan keselamatan umum. keselamatan umum. BAB IX KETENTUAN PIDANA Pasal 19 7 . memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakat. (3) Tata cara pembinaan dan pengawasan umum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. BAB VIII PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Pasal 18 (1) Pemerintah melakukan pembinaan dan pengawasan umum terhadap pekerjaan dan pelaksanaan usaha ketenagalistrikan. Pasal 16 Pemerintah mengatur harga jual tenaga listrik. pemanfaatan. pengusahaan.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan b. kewajiban. BAB VII PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN TENAGA LISTRIK Pasal 17 Syarat-syarat penyediaan. (2) Pembinaan dan pengawasan umum sebagaimana dimaksud dlam ayat (1) terutama meliputi keselamatan kerja. (2) Ketentuan tentang hubungan antara Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan dan Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan untuk Kepentingan Umum dengan msyarakat yang menyangkut hak. dan tanggung jawab masing-masing diatur dengan Peraturan Pemerintah. dan standardisasi ketenagalistrikan diatur oleh Pemerintah. dan tercapainya standardisasi dalam bidang ketenagalistrikan.

. Pasal 20 (1) Barang siapa melakukan usaha penyediaan tenaga listrik tanpa Kuasa Usaha Ketenagalistrikan atau Izin Usaha Ketenagalistrikan. (3) Selain pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (2).Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Barang siapa menggunakan tenaga listrik yang bukan haknya merupakan tindak pidana pencurian sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undangundang Hukum Pidana. 5. 50. 8 . dan tumbuhtumbuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya 1 (satu) tahun atau denda setinggi-tingginya Rp. Pasal 22 (1) Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan atau Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan Untuk Kepentingan Umum yang tidak mentaati ketentuan pelaksanaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan selama-lamanya 6 (enam) bulan atau denda setinggi-tingginya Rp.000.(lima juta rupiah)..000. 10. dipidana dengan pidana penjara selamalamanya 7 (tujuh) tahun. dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya 5 (lima) tahun.000.000. (2) Apabila kelalaian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan oleh pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan atau Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan.000. dan pembayaran ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.(lima puluh juta rupiah).. (2) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak berlaku bagi usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan sendiri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3). (4) Penetapan. (3) Barang siapa melakukan usaha penyediaan tenaga listrik tidak memenuhi kewajiban terhadap yang berhak atas tanah. Pasal 21 (1) Barang siapa karena kelalaiannya mengakibatkan matinya seseorang karena tenaga listrik. Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan atau Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan juga diwajibkan untuk memberi ganti rugi.(sepuluh juta rupiah) dan dicabut Izin Usaha Ketenagalistrikan. dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya 6 (enam) tahun atau denda setinggi-tingginya Rp. tata cara.000. bangunan. (2) Selain pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dikenakan pidana tambahan berupa pencabutan Izin Usaha Ketenagalistrikan.

Melakukan tindakan lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. b. BAB XI KETENTUAN PERALIHAN Pasal 25 Dengan berlakunya Undang-undang ini peraturan pelaksanaan di bidang ketenagalistrikan yang telah dikeluarkan berdasarkan Ordonansi tanggal 13 September 1890 tentang Ketentuan Mengenai Pemasangan dan Penggunaan Saluran untuk Penerangan Listrik dan Pemindahan dengan Listrik di Indonesia (“Bipalingen Omtrent dan aanleg en het gebruik van geleidingen voor electrische verlichting en het overbrengen van kracht door middle van electriciteit in Nederlandsch-Indie”) yang dimuat dalam 9 . Pasal 20. (2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 adalah pelanggaran. c. Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan sehubungan dengan peristiwa tindak pidana di bidang ketenagalistrikan. Melakukan penelitian atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan dengan tindak pidana di bidang ketenagalistrikan. dan Pasal 21 adalah kejahatan. e. BAB X PENYIDIKAN Pasal 24 (1) Selain pejabat penyidik umum yang bertugas menyidik tindak pidana. Melakukan pemeriksaan di tempat tertentu yang diduga terdapat bahan bukti dan melakukan penyitaan terhadap bahan yang dapat dijadikan bahan bukti dalam perkara tindak pidana di bidang ketenagalistrikan . (2) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berwenang : a. d. penyidikan atas tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Undangundang ini serta peraturan pelaksanaannya dapat juga dilakukan oleh Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu yang diangkat sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Pasal 23 (1) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19. Melakukan penelitian terhadap orang atau badan yang diduga melakukan tindak pidana di bidang ketenagalistrikan.

Disahkan di Jakarta pada tanggal 30 Desember 1985 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 30 Desember 1985 MENTERI/SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd SUDHARMONO.H.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Staatsblad Tahun 1890 Nomor 190 yang telah beberapa kali diubah. Pasal 27 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. terakhir dengan Ordonansi tanggal 8 Pebruari 1934 yang dimuat dalam Staatsblad tahun 1934 Nomor 63. LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1985 NOMOR 74 10 . terakhir dengan Ordonansi tanggal 8 Pebruari 1934 yang dimuat dalam Staatsblad tahun 1934 Nomor 63. Ordonansi tanggal 13 September 1890 tentang Ketentuan Mengenai Pemasngan dan Penggunaan Saluran untuk Penerangan Listrik dan Pemindahan Tenaga dengan Listrik di Indonesia (Bepalingen Omtrent dan aanleg en het overbengen van kracht door middle van electriciteit in Nederlandsch-Indie”) yang dimuat dalam Staatsblad Tahun 1890 Nomor 190 yang telah beberapa kali diubah. Agar setiap orang mengetahuinya. S. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dlam Lebaran Negara Republik Indonesia. Pasal 26 Pada saat berlakunya undang-undang ini. dinyatakan tidak berlaku lagi. tetapi berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-undang ini atau belum diganti diubah berdasarkan Undang-undang ini.

jasa. c. bahwa dalam rangka mendukung peningkatan produktivitas. Undang-undang Nomor 2 Tahun 1981 tentang Metrologi Legal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 11. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b. mutu barang. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3274). daya guna produksi. pelaku usaha. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3193). tenaga kerja dan masyarakat khususnya di bidang keselamatan. yang dimaksudkan untuk meningkatkan daya saing. 11 . dipandang perlu untuk mengganti Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1991 tentang Standar Nasional Indonesia. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 22. Menimbang:a. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 46. b. keamanan. Mengingat: 1. maka efektifitas pengaturan di bidang standardisasi perlu lebih ditingkatkan. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 sebagaimana telah diubah dengan Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar 1945. sistem dan atau personel. proses. 4. 3. 2.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 102 TAHUN 2000 TENTANG STANDARDISASI NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. kesehatan dan lingkungan hidup. bahwa Indonesia telah ikut serta dalam persetujuan pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization) yang di dalamnya mengatur pula masalah standardisasi berlanjut dengan kewajiban untuk menyesuaikan peraturan perundang-undangan nasional di bidang standardisasi. Undang-undang Nomor 10 Tahun 1961 tentang Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 1961 tentang Barang menjadi Undang-undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1961 Nomor 215. Tambahan Lembaran Negara Nomor 2210). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3299). perlindungan konsumen. 5.

Tambahan Lembaran Negara 12 . Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). Undang-undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 131. Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 1989 tentang Standar Nasional untuk Satuan Ukuran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1989 Nomor 3. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3950).Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan 6. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3495). 12. 17. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3656). Undang-undang Nomor 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 23. 9. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3482). Ikan. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 42. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3881). Undang-undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 99. 13. 14. Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 107. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3564). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3821). Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 100. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 51. 10. Undang-undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 154. 19. 7. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3388). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). Undang-undang Nomor 15 Tahun 1985 tentang Ketenagalistrikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 74. 18. 8. 15. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1994 tentang Persetujuan Pembentukan WTO (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 57. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. 16. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3676). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3867). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3317). 11. dan Tumbuhan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 56.

7. kesehatan. perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. menerapkan dan merevisi standar. 9. Perumusan Standar Nasional Indonesia adalah rangkaian kegiatan sejak pengumpulan dan pengolahan data untuk menyusun Rancangan Standar Nasional Indonesia sampai tercapainya konsensus dari semua pihak yang terkait. adalah rancangan standar yang dirumuskan oleh panitia teknis setelah tercapai konsensus dari semua pihak yang terkait. Penerapan Standar Nasional Indonesia adalah kegiatan menggunakan Standar Nasional Indonesia oleh pelaku usaha. Standar adalah spesifikasi teknis atau sesuatu yang dibakukan termasuk tata cara dan metode yang disusun berdasarkan konsensus semua pihak yang terkait dengan memperhatikan syarat-syarat keselamatan. 8. Penetapan Standar Nasional Indonesia adalah kegiatan menetapkan Rancangan Standar Nasional Indonesia menjadi Standar Nasional Indonesia. Standardisasi adalah proses merumuskan. 3. adalah standar yang ditetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional dan berlaku secara nasional. 5. MEMUTUSKAN : Menetapkan: PERATURAN PEMERINTAH TENTANG STANDARDISASI NASIONAL BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. perkembangan masa kini dan masa yang akan datang untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya. 6.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Nomor 3980). Rancangan Standar Nasional Indonesia (RSNI). Standar Nasional Indonesia (SNI). 13 . lingkungan hidup. keamanan. menetapkan. 2. 4. yang dilaksanakan secara tertib dan bekerjasama dengan semua pihak. Revisi Standar Nasional Indonesia adalah kegiatan penyempurnaan Standar Nasional Indonesia sesuai dengan kebutuhan. Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia adalah keputusan pimpinan instansi teknis yang berwenang untuk memberlakukan Standar Nasional Indonesia secara wajib terhadap barang dan atau jasa. serta pengalaman.

informasi dan dokumentasi. 17. proses. Badan Standardisasi Nasional (BSN). sistem atau personel telah memenuhi standar yang dipersyaratkan.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan 10. Departemen atau Lembaga Pemerintah Non Departemen yang salah satu kegiatannya melakukan kegiatan standardisasi. 13. yang menyatakan bahwa suatu lembaga/laboratorium telah memenuhi persyaratan untuk melakukan kegiatan sertifikasi tertentu. baik sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian menyelenggarakan kegiatan usaha dalam berbagai bidang ekonomi. 14 . penerapan standar. selaras dan terpadu serta berwawasan nasional. Pelaku usaha adalah setiap orang perseorangan atau badan usaha. metrologi. 19. atau dimanfaatkan oleh konsumen. 16. penetapan standar. adalah tatanan jaringan sarana dan kegiatan standardisasi yang serasi. yang dapat diperdagangkan. 20. 14. Jasa adalah setiap layanan yang berbentuk pekerjaan atau prestasi yang disediakan bagi masyarakat untuk dimanfaatkan oleh konsumen. pembinaan dan pengawasan standardisasi. perumusan standar. dapat dihabiskan maupun tidak dapat dihabiskan. baik yang berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia. kerjasama. Pimpinan instansi teknis adalah Menteri Negara atau Menteri yang memimpin Departemen atau Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen yang bertanggung jawab atas kegiatan standardisasi dalam lingkup kewenangannya. Tanda SNI adalah tanda sertifikasi yang dibubuhkan pada barang kemasan atau label yang menyatakan telah terpenuhinya persyaratan Standar Nasional Indonesia. 18. Sistem Standardisasi Nasional (SSN). pemasyarakatan dan pendidikan dan pelatihan standardisasi. yang meliputi penelitian dan pengembangan standardisasi. Akreditasi adalah rangkaian kegiatan pengakuan formal oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN). Barang adalah setiap benda baik berwujud maupun tidak berwujud. dipergunakan. 11. adalah Badan yang membantu Presiden dalam menyelenggarakan pengembangan dan pembinaan dibidang standardisasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. sertifikasi. Sertifikat adalah jaminan tertulis yang diberikan oleh lembaga/laboratorium yang telah diakreditasi untuk menyatakan bahwa barang. jasa. pemberlakuan standar. 15. baik bergerak maupun tidak bergerak. dipakai. Instansi teknis adalah Kantor Menteri Negara. 12. akreditasi. Sertifikasi adalah rangkaian kegiatan penerbitan sertifikat terhadap barang dan atau jasa.

(6) Badan Standardisasi Nasional. (4) Pelaksanaan tugas dan fungsi Badan Standardisasi Nasional di bidang Standar Nasional untuk Satuan Ukuran dilakukan oleh Komite Standar Nasional untuk Satuan Ukuran. 3. (3) Komite Akreditasi Nasional sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) mempunyai tugas menetapkan akreditasi dan memberikan pertimbangan serta saran kepada Badan Standardisasi Nasional dalam menetapkan sistem akreditasi dan sertifikasi. pengujian dan mutu. Komite Akreditasi Nasional dan Komite Standar Nasional untuk Satuan Ukuran sebagaimana dimaksud dalam 15 .Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan BAB II RUANG LINGKUP STANDARDISASI NASIONAL Pasal 2 Ruang lingkup standardisasi nasional mencakup semua kegiatan yang berkaitan dengan metrologi teknik. kesehatan maupun pelestarian fungsi lingkungan hidup. 2. Meningkatkan perlindungan kepada konsumen. Membantu kelancaran perdagangan. standar. BAB III TUJUAN STANDARDISASI NASIONAL Pasal 3 Standardisasi Nasional bertujuan untuk: 1. keamanan. BAB IV KELEMBAGAAN Pasal 4 (1) Penyelenggaraan pengembangan dan pembinaan di standardisasi dilakukan oleh Badan Standardisasi Nasional. Mewujudkan persaingan usaha yang sehat dalam perdagangan. (5) Komite Standar Nasional untuk Satuan Ukuran sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) mempunyai tugas memberikan pertimbangan dan saran kepada Badan Standardisasi Nasional mengenai standar nasional untuk satuan ukuran. bidang (2) Pelaksanaan tugas dan fungsi Badan Standardisasi Nasional di bidang akreditasi dilakukan oleh Komite Akreditasi Nasional. dan masyarakat lainnya baik untuk keselamatan. pelaku usaha. tenaga kerja.

(3) Dalam penyusunan Sistem Standardisasi Nasional dan Pedoman sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 8 Kaji ulang dan revisi Standar Nasional Indonesia dilaksanakan oleh Panitia Teknis melalui konsensus dari semua pihak yang terkait. BAB V PERUMUSAN DAN PENETAPAN SNI Pasal 6 (1) Standar Nasional Indonesia disusun melalui proses perumusan Rancangan Standar Nasional Indonesia. Badan Standardisasi Nasional memperhatikan masukan dari instansi teknis dan pihak yang terkait dengan standardisasi. ayat (2) dan ayat (4) dibentuk dengan Keputusan Presiden. Pasal 7 (1) Rancangan Standar Nasional Indonesia ditetapkan menjadi Standar Nasional Indonesia oleh Kepala Badan Standardisasi Nasional. Pasal 9 (1) Panitia Teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2)dan Pasal 8 ditetapkan oleh Kepala Badan Standardisasi Nasional berdasarkan pedoman yang disepakati oleh Badan Standardisasi Nasional bersama instansi teknis. (2) Standar Nasional Indonesia sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diberi nomor urut. 16 .Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan ayat (1). (2) Perumusan Rancangan Standar Nasional Indonesia dilaksanakan oleh Panitia Teknis melalui konsensus dari semua pihak yang terkait. dan kode bidang standar sesuai Pedoman Badan Standardisasi Nasional. (2) Sistem Standardisasi Nasional dan Pedoman sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) merupakan dasar dan pedoman pelaksanaan yang harus diacu untuk setiap kegiatan standardisasi di Indonesia. Pasal 5 (1) Badan Standardisasi Nasional menyusun dan menetapkan Sistem Standardisasi Nasional dan Pedoman di bidang standardisasi nasional. (3) Ketentuan tentang konsensus sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur lebih lanjut oleh Kepala Badan Standardisasi Nasional.

Pasal 10 Dalam rangka perumusan Rancangan Standar Nasional Indonesia. Badan Standardisasi Nasional dan instansi teknis dapat melakukan kegiatan Penelitian dan Pengembangan Standardisasi. BAB VI PENERAPAN SNI Pasal 12 (1) Standar Nasional Indonesia berlaku di seluruh wilayah Republik Indonesia. (4) Tata cara Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia sebagaimana dimaksud dalam ayat (3). instansi teknis dapat memberlakukan secara wajib sebagian atau keseluruhan spesifikasi teknis dan atau parameter dalam Standar Nasional Indonesia. Badan Standardisasi Nasional dapat mengkoordinasikan Panitia Teknis dimaksud. kaji ulang Standar Nasional Indonesia. 17 . (2) Standar Nasional Indonesia bersifat sukarela untuk diterapkan oleh pelaku usaha. Pasal 13 Penerapan Standar Nasional Indonesia dilakukan melalui kegiatan sertifikasi dan akreditasi. keamanan.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan (2) Dalam pelaksanaan tugasnya Panitia Teknis dikoordinasikan oleh instansi teknis sesuai dengan kewenangannya. Pasal 11 Ketentuan lebih lanjut mengenai Perumusan dan Penetapan Standar Nasional Indonesia diatur dengan Keputusan Kepala Badan Standardisasi Nasional. diatur lebih lanjut dengan Keputusan Pimpinan instansi teknis sesuai dengan bidang tugasnya. dan revisi Standar Nasional Indonesia. kesehatan masyarakat atau pelestarian fungsi lingkungan hidup dan atau pertimbangan ekonomis. (4) Panitia Teknis dalam melaksanakan tugasnya mengacu pada Pedoman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5. (3) Dalam hal Standar Nasional Indonesia berkaitan dengan kepentingan keselamatan. (3) Dalam hal instansi teknis belum dapat melakukan koordinasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2).

yang barang dan atau jasanya telah memperoleh sertifikat produk dan atau tanda Standar Nasional Indonesia dari lembaga sertifikasi produk. atau laboratorium sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diawasi dan dibina oleh Komite Akreditasi Nasional. (3) Tanda SNI yang berlaku adalah sebagaimana tercantum dalam lampiran Peraturan Pemerintah ini. yang tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan Standar Nasional Indonesia yang telah diberlakukan secara wajib. atau laboratorium. Pasal 17 (1) Biaya akreditasi dibebankan kepada lembaga sertifikasi. (2) Pelaku usaha. lembaga pelatihan. atau laboratorium sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (2) di akreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional. lembaga inspeksi. 18 . lembaga pelatihan atau laboratorium yang mengajukan permohonan akreditasi. lembaga pelatihan. (2) Besarnya biaya akreditasi diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah tersendiri. sistem dan personel yang telah memenuhi ketentuan/spesifikasi teknis Standar Nasional Indonesia dapat diberikan sertifikat dan atau dibubuhi tanda SNI. lembaga inspeksi. (2) Unjuk kerja lembaga sertifikasi. dilarang memproduksi dan mengedarkan barang dan atau jasa yang tidak memenuhi Standar Nasional Indonesia. lembaga inspeksi. Pasal 15 Pelaku usaha yang menerapkan Standar Nasional Indonesia yang diberlakukan secara wajib. (4) Persyaratan dan tata cara pemberian sertifikat dan pembubuhan tanda SNI sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut oleh Ketua Komite Akreditasi Nasional. (2) Sertifikasi dilakukan oleh lembaga sertifikasi. proses.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Pasal 14 (1) Terhadap barang dan atau jasa. Pasal 18 (1) Pelaku usaha dilarang memproduksi dan atau mengedarkan barang dan atau jasa. Pasal 16 (1) Lembaga sertifikasi. lembaga pelatihan. lembaga inspeksi. harus memiliki sertifikat dan atau tanda SNI.

baik terhadap barang dan atau jasa produksi dalam negeri maupun terhadap barang dan atau jasa impor. Pasal 21 Ketentuan lebih lanjut mengenai Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia diatur dengan Keputusan pimpinan instansi teknis yang berwenang.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Pasal 19 (1) Standar Nasional Indonesia yang diberlakukan secara wajib dikenakan sama. lembaga pelatihan atau laboratorium negara pengekspor oleh Komite Akreditasi Nasional sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) didasarkan pada perjanjian saling pengakuan baik secara bilateral ataupun multilateral. lembaga inspeksi. pemenuhan standarnya ditunjukkan dengan sertifikat yang diterbitkan oleh lembaga sertifikasi atau laboratorium yang telah diakreditasi Komite Akreditasi Nasional atau lembaga sertifikasi atau laboratorium negara pengekspor yang diakui Komite Akreditasi Nasional. (2) Barang dan atau jasa impor sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pimpinan instansi teknis dapat menunjuk salah satu lembaga sertifikasi atau laboratorium baik di dalam maupun di luar negeri yang telah diakreditasi dan atau diakui oleh Komite Akreditasi Nasional untuk melakukan sertifikasi terhadap barang dan atau jasa impor dimaksud. (4) Dalam hal barang dan atau jasa impor sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak dilengkapi sertifikat. Pasal 20 (1) Pemberlakukan Standar Nasional Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (3) dinotifikasikan Badan Standardisasi Nasional kepada Organisasi Perdagangan Dunia setelah memperoleh masukan dari instansi teknis yang berwenang dan dilaksanakan paling lambat 2 (dua) bulan sebelum Standar Nasional Indonesia yang diberlakukan secara wajib berlaku efektif. (2) Badan Standardisasi Nasional menjawab pertanyaan yang datang dari luar negeri yang berkaitan dengan Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia setelah memperoleh masukan dari instansi teknis yang berwenang. BAB VII PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Pasal 22 (1) Pimpinan instansi teknis dan atau Pemerintah Daerah melakukan 19 . (3) Pengakuan lembaga sertifikasi.

(3) Masyarakat dan lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat melakukan pengawasan terhadap barang yang beredar di pasaran. pendidikan. (2) Pengawasan terhadap unjuk kerja pelaku usaha yang telah memperoleh sertifikat produk dan atau tanda SNI dilakukan oleh lembaga sertifikasi produk yang menerbitkan sertifikat dimaksud. (3) Sanksi pencabutan sertifikat produk dan atau hak penggunaan tanda SNI dilakukan oleh lembaga sertifikasi produk. pelatihan. dan pemasyarakatan standardisasi. (5) Sanksi pidana sebagaimana di maksud dalam ayat (1) berupa sanksi pidana sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan pembinaan terhadap menerapkan standar. dilakukan oleh Pimpinan instansi teknis sesuai kewenangannya dan atau Pemerintah Daerah. pelaku usaha dan masyarakat dalam (2) Pembinaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi konsultasi. semua ketentuan pelaksanaan yang berhubungan dengan standardisasi yang telah ditetapkan oleh Pimpinan instansi teknis dan atau Dewan 20 . (2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berupa pencabutan sertifikat produk dan atau pencabutan hak penggunaan tanda SNI. barang dan atau jasa yang telah memperoleh sertifikat dan atau dibubuhi tanda SNI yang diberlakukan secara wajib. pencabutan ijin usaha. (4) Sanksi pencabutan ijin usaha dan atau penarikan barang dari peredaran ditetapkan oleh instansi teknis yang berwenang dan atau Pemerintah Daerah. BAB VIII SANKSI Pasal 24 (1) Pelaku usaha yang melakukan pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) dan (2) dapat dikenakan sanksi administratif dan atau sanksi pidana. Pasal 23 (1) Pengawasan terhadap pelaku usaha. dan atau penarikan barang dari peredaran. BAB IX KETENTUAN PERALIHAN Pasal 25 (1) Pada saat ditetapkannya Peraturan Pemerintah ini.

BAB X KETENTUAN PENUTUP Pasal 26 Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 10 November 2000 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. ttd ABDURRAHMAN WAHID Diundangkan di Jakarta pada tanggal 10 November 2000 SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA. dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan atau belum diganti dengan yang baru berdasarkan Peraturan Pemerintah ini. Agar setiap orang mengetahuinya.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Standardisasi Nasional dan atau Kepala Badan Standardisasi Nasional. (2) Khusus untuk ketentuan pelaksanaan yang berhubungan dengan penandaan SNI yang telah ditetapkan oleh Menteri Perindustrian dan Perdagangan wajib disesuaikan paling lambat 2 (dua) tahun sejak ditetapkannya Peraturan Pemerintah ini. ttd DJOHAN EFFENDI 21 . Pasal 27 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1991 tentang Standar Nasional Indonesia dan Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 1991 tentang Penyusunan Penerapan dan Pengawasan Standar Nasional Indonesia dinyatakan tidak berlaku.

perlu meningkatkan peran serta koperasi. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437). swasta. Mengingat: 1. 4. Badan Usaha Milik Negara. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan b serta dalam rangka menciptakan kepastian hukum dan kepastian berusaha di bidang ketenagalistrikan. bahwa untuk melaksanakan kebijakan otonomi daerah di bidang ketenagalistrikan perlu memberikan peran Pemerintah Daerah dalam penyediaan tenaga listrik. 22 . 3. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1989 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1989 Nomor 24. dan perorangan dalam penyediaan tenaga listrik. 2. Menimbang: a. bahwa dalam rangka meningkatkan penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2000 NOMOR 1999 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2005 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 10 TAHUN 1989 TENTANG PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN TENAGA LISTRIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3394). swadaya masyarakat. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 10 TAHUN 1989 TENTANG PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN TENAGA LISTRIK. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3317). perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1989 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1985 tentang Ketenagalistrikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 74. Badan Usaha Milik Daerah. c. b.

Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Pasal 1 Beberapa ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1989 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1989 Nomor 24.” 3. sehingga berbunyi sebagai berikut : Pasal 3 (1) Usaha penyediaan tenaga listrik dilakukan oleh Negara dan diselenggarakan oleh Badan Usaha Milik Negara yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah sebagai Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan untuk melaksanakan usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum. (2) Menteri menetapkan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional dengan mempertimbangkan masukan dari Pemerintah Daerah dan masyarakat. yakni Pasal 2A. Di antara Pasal 2 dan Pasal 3 disisipkan 1 (satu) pasal. Ketentuan Pasal 3 diubah. diubah sebagai berikut : 1. 23 . Ketentuan Pasal 2 diubah. perbatasan antar negara dan pembangunan listrik perdesaan. (4) Guna menjamin ketersediaan energi primer untuk penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum. pembangunan sarana penyediaan tenaga listrik di daerah yang belum berkembang. (3) Penyediaan tenaga listrik dilakukan dengan memanfaatkan seoptimal mungkin sumber energi primer yang terdapat di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. diprioritaskan penggunaan sumber energi setempat dengan kewajiban mengutamakan pemanfaatan sumber energi terbarukan. pembangunan tenaga listrik di daerah terpencil. sehingga berbunyi sebagai berikut Pasal 2 (1) Penyediaan dan pemanfaatan tenaga listrik dilaksanakan berdasarkan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3394).sehingga berbunyi sebagai berikut : Pasal 2A Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah menyediakan dana pembangunan sarana penyediaan tenaga listrik untuk membantu kelompok masyarakat tidak mampu.” 2.

(2) Badan usaha lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dapat melakukan usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum 24 . sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 6 (1) Sepanjang tidak merugikan kepentingan Negara. penyusunan Rencana Usaha (6) Dalam hal Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan untuk Kepentingan Umum tidak membuat dan/atau tidak melaksanakan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik. Izin Usaha Ketenagalistrikan diberikan kepada koperasi dan badan usaha lain untuk melakukan usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum atau usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan sendiri. atau Bupati/Walikota sesuai kewenangannya dapat memberikan sanksi administratif berupa: a. Ketentuan Pasal 5 diubah.” 4. sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 5 (1) Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik disusun berdasarkan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional. Gubernur. b. (3) Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan wajib membuat Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik di daerah usahanya untuk disahkan oleh Menteri. pencabutan izin.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan (2) Menteri menetapkan daerah usaha dan/atau bidang usaha Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan. peringatan tertulis. atau c. (5) Menteri menetapkan pedoman Penyediaan Tenaga Listrik. (4) Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan untuk Kepentingan Umum yang memiliki daerah usaha wajib membuat Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik di daerah usahanya yang disahkan oleh Menteri. Ketentuan Pasal 6 diubah. (2) Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan sebagai pedoman pelaksanaan penyediaan tenaga listrik bagi Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan dan Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan untuk Kepentingan Umum. penangguhan kegiatan. Gubernur atau Bupati/Walikota sesuai kewenangannya untuk dijadikan bahan pertimbangan bagi pemberian izin usaha ketenagalistrikan serta digunakan sebagai sarana pengawasan berkala atas pelaksanaan kegiatan Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan yang bersangkutan. Menteri.” 5.

untuk usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan sendiri yang fasilitas instalasinya berada di dalam daerah kabupaten/kota. Bupati/Walikota. swasta. b. Bupati/Walikota. swadaya masyarakat dan perorangan. untuk usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan sendiri yang fasilitas instalasinya mencakup lintas provinsi. untuk usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan sendiri yang fasilitas instalasinya mencakup lintas kabupaten/kota dalam satu provinsi. atau b. untuk usaha penyediaan tenaga listrik baik sarana maupun energi listriknya berada dalam daerahnya masing-masing yang tidak terhubung ke dalam Jaringan Transmisi Nasional. swadaya masyarakat. untuk usaha penyediaan tenaga listrik lintas kabupaten atau kota baik sarana maupun energi listriknya yang tidak terhubung ke dalam Jaringan Transmisi Nasional. b. untuk usaha penyediaan tenaga listrik lintas provinsi baik sarana maupun energi listriknya yang tidak terhubung ke dalam Jaringan Transmisi Nasional atau usaha penyediaan tenaga listrik yang terhubung ke dalam Jaringan Transmisi Nasional. (6) izin Usaha Ketenagalistrikan untuk Kepentingan Sendiri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) dikeluarkan oleh: a. Gubernur. Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan atau Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan untuk Kepentingan Umum tersebut nyatanyata belum dapat menyediakan tenaga listrik dengan mutu dan keandalan yang baik atau belum dapat menjangkau seluruh daerah usahanya. c. 25 . pemohon Izin Usaha Ketenagalistrikan untuk Kepentingan Sendiri dapat menyediakan listrik secara lebih ekonomis. (5) Jaringan Transmisi Nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a dan huruf b ditetapkan dengan Peraturan Menteri. c. (4) Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik untuk Kepentingan Umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dikeluarkan oleh: a.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan meliputi Badan Usaha Milik Daerah. Badan Usaha Milik Daerah. (7) Izin Usaha Ketenagalistrikan untuk Kepentingan Sendiri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) hanya dapat diberikan di suatu daerah usaha Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan atau Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan untuk Kepentingan Umum dalam hal : a. Menteri. Gubernur. Menteri. perorangan atau lembaga negara lainnya. swasta. (3) Badan usaha lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dapat melakukan usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan sendiri meliputi Badan Usaha Milik Negara.

keterangan/gambar daerah usaha dan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik. dan e.” 6. dan h. d. d. Ketentuan Pasal 11 diubah. atau Bupati/Walikota sesuai kewenangannya. (13) Izin Usaha Ketenagalistrikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dialihkan kepada pihak lain sesudah mendapat persetujuan tertulis dari Menteri.diagram satu garis (single line diagram). Gubernur. (14) Ketentuan lebih lanjut tentang tata cara perizinan ditetapkan oleh Menteri. (10) Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (8) meliputi : a. g. (3) Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan dan Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan untuk Kepentingan Umum yang memiliki daerah 26 . jadwal pengoperasian. b. kemampuan pendanaan. sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 11 (1) Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan atau Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan untuk Kepentingan Umum yang memiliki jaringan transmisi tenaga listrik wajib membuka kesempatan pemanfaatan bersama jaringan transmisi. akta pendirian perusahaan. jenis dan kapasitas usaha. (2) Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan dan Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan untuk Kepentingan Umum yang memiliki daerah usaha harus menjamin kecukupan pasokan tenaga listrik di dalam masing-masing daerah usahanya.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan (8) Permohonan Izin Usaha Ketenagalistrikan untuk Kepentingan Umum dan Izin Usaha Ketenagalistrikan untuk Kepentingan Sendiri diajukan dengan melengkapi persyaratan administratif dan teknis. jadwal pembangunan. f. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). identitas pemohon. lokasi instalasi termasuk tata letak (gambar situasi). studi kelayakan. b. (9) Persyaratan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (8) meliputi : a. c. (12) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (9) huruf b dan huruf c tidak berlaku bagi pemohon Izin Usaha Ketenagalistrikan oleh swadaya masyarakat dan perorangan. e.profil perusahaan. atau Bupati/Walikota sesuai kewenangannya. Gubernur. c. izin dan persyaratan lain sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. (11) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (9) huruf e dan ayat (10) huruf e tidak berlaku bagi permohonan Izin Usaha Ketenagalistrikan untuk Kepentingan Sendiri.

Badan Usaha Milik Daerah. dan perorangan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib memiliki Izin Usaha Ketenagalistrikan sesuai dengan jenis usahanya. atau Bupati/Walikota sesuai kewenangannya.” 7. atau Bupati/Walikota sesuai kewenangannya atas usul Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan atau Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan untuk Kepentingan Umum. (2) Penjualan kelebihan tenaga listrik kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan dalam hal daerah tersebut belum terjangkau oleh Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan atau Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan untuk Kepentingan Umum. swadaya masyarakat. sehingga berbunyi sebagai berikut : Pasal 13 (1) Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan untuk Kepentingan Sendiri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) dan ayat (3) yang mempunyai kelebihan tenaga listrik dapat menjual kelebihan tenaga listriknya kepada Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan atau Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan untuk Kepentingan Umum atau masyarakat setelah mendapat persetujuan Menteri. Gubernur. atau Bupati/Walikota sesuai kewenangannya. pembelian kelebihan tenaga listrik. dan ayat (6) tetap memperhatikan kaidah-kaidah bisnis yang sehat dan transparan. (9) Ketentuan lebih lanjut mengenai prosedur pembelian tenaga listrik dan/atau sewa jaringan ditetapkan oleh Menteri. swadaya masyarakat. Gubernur. dalam melakukan usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum dapat melakukan pembelian tenaga listrik dan/atau sewa jaringan dari koperasi. (6) Pembelian tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat dilakukan melalui penunjukan langsung dalam hal: a. swasta. (5) Pembelian tenaga listrik dan/atau sewa jaringan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan melalui pelelangan umum. (7) Kondisi krisis penyediaan tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (6) huruf c ditetapkan oleh Menteri. Gubernur. b. ayat (5). swasta. atau Bupati/Walikota sesuai kewenangannya. atau c.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan usaha.” 27 . batubara di mulut tambang. Gubernur. (4) Koperasi. sistem tenaga listrik setempat dalam kondisi krisis penyediaan tenaga listrik. Badan Usaha Milik Daerah. dan energi setempat lainnya. Ketentuan Pasal 13 diubah. dan perorangan setelah mendapat persetujuan Menteri. gas marjinal. (8) Pembelian tenaga listrik dan/atau sewa jaringan sebagaimana dimaksud pada ayat (3). pembelian tenaga listrik dari pembangkit tenaga listrik yang menggunakan energi terbarukan.

(9) Setiap tenaga teknik yang bekerja dalam usaha ketenagalistrikan wajib memiliki sertifikat kompetensi sesuai peraturan perundang-undangan. Gubernur. (6) Pemeriksaan dan pengujian instalasi penyediaan tenaga listrik dan instalasi pemanfaatan tenaga listrik tegangan tinggi dan tegangan menengah dilaksanakan oleh lembaga inspeksi teknik yang diakreditasi oleh lembaga yang berwenang. sehingga berbunyi sebagai berikut Pasal 21 (1) Setiap usaha penyediaan tenaga listrik wajib memenuhi ketentuan mengenai keselamatan ketenagalistrikan. (8) Pemeriksaan instalasi tegangan rendah yang dimiliki oleh konsumen tegangan tinggi dan/atau konsumen tegangan menengah dilakukan oleh lembaga inspeksi sebagaimana dimaksud pada ayat (6). pengamanan instalasi tenaga listrik dan pengamanan pemanfaat tenaga listrik untuk mewujudkan kondisi andal dan aman bagi instalasi dan kondisi aman dari bahaya bagi manusia serta kondisi akrab lingkungan. Gubernur atau Bupati/Walikota sesuai kewenangannya dapat menunjuk Badan Usaha Penunjang Tenaga Listrik. atau Bupati/Walikota sesuai kewenangannya dapat menunjuk lembaga sertifikasi. (7) Pemeriksaan instalasi pemanfaatan tenaga listrik konsumen tegangan rendah dilaksanakan oleh suatu lembaga inspeksi independen yang sifat usahanya nirlaba dan ditetapkan oleh Menteri.” 9. 28 . (4) Dalam hal di suatu daerah belum terdapat Badan Usaha Penunjang Tenaga Listrik yang telah disertifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Ketentuan Pasal 21 diubah. (3) Pekerjaan instalasi ketenagalistrikan untuk penyediaan dan pemanfaatan tenaga listrik harus dikerjakan oleh Badan Usaha Penunjang Tenaga Listrik yang disertifikasi oleh lembaga sertifikasi yang terakreditasi. (5) Dalam hal belum ada lembaga sertifikasi yang telah diakreditasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3).Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan 8. wajib diberikan dengan mutu dan keandalan yang baik. (2) Ketentuan tentang mutu dan keandalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri. sehingga berbunyi sebagai berikut Pasal 15 (1) Tenaga listrik yang disediakan untuk kepentingan umum. (2) Ketentuan keselamatan ketenagalistrikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi standardisasi. Menteri. Ketentuan Pasal 15 diubah. Menteri.

yakni Pasal 23A. 29 . sehingga berbunyi sebagai berikut : Pasal 22 (1) Instalasi ketenagalistrikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (3) harus sesuai dengan Standar Nasional Indonesia Bidang Ketenagalistrikan. Gubernur. pemeriksaan. Ketentuan Pasal 24 diubah. sehingga berbunyi sebagai berikut : Pasal 23 Ketentuan mengenai perencanaan. (3) Setiap pemanfaat tenaga listrik wajib memenuhi Standar Nasional Indonesia yang diberlakukan wajib dan dibubuhi Tanda Keselamatan. Ketentuan Pasal 23 diubah.” 13. 10. sehingga berbunyi sebagai berikut : Pasal 24 (1) Menteri dapat memberlakukan Standar Nasional Indonesia di bidang ketenagalistrikan sebagai standar wajib.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan (10) Untuk jenis-jenis usaha penunjang tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang berkaitan dengan jasa konstruksi diatur tersendiri dalam peraturan perundang-undangan di bidang Jasa Konstruksi. (2) Setiap peralatan tenaga listrik wajib memenuhi Standar Nasional Indonesia yang diberlakukan wajib dan dibubuhi tanda SNI. Ketentuan Pasal 22 diubah. sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 23A Pemanfaatan instalasi ketenagalistrikan untuk kepentingan di luar penyaluran tenaga listrik harus mendapat izin Menteri. pengujian dan uji laik operasi instalasi ketenagalistrikan diatur dengan Peraturan Menteri. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembubuhan tanda SNI dan Tanda Keselamatan diatur dengan Peraturan Menteri.” 12. pengamanan. (2) Setiap instalasi ketenagalistrikan sebelum dioperasikan wajib memiliki sertifikat laik operasi.” 11. atau Bupati/Walikota sesuai kewenangannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (4). pemasangan. Di antara Pasal 23 dan Pasal 24 disisipkan 1 (satu) pasal.

mengambil tindakan penertiban atas pemakaian tenaga listrik secara tidak sah. mengambil tindakan atas pelanggaran perjanjian penyambungan listrik oleh konsumen. b. memeriksa instalasi ketenagalistrikan yang diperlukan oleh masyarakat. (3) Harga jual tenaga listrik untuk konsumen yang disediakan oleh Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan untuk Kepentingan Umum 30 . baik sebelum maupun sesudah mendapat sambungan tenaga listrik. bertanggung jawab atas segala kerugian atau bahaya terhadap nyawa. nyawa. dan barang yang timbul karena kelalaiannya. kesehatan. melakukan pengamanan instalasi bahaya yang mungkin timbul. apabila ada gangguan tenaga listrik. memberikan pelayanan yang baik. menyediakan tenaga listrik secara terus menerus dengan mutu dan keandalan yang baik. memberikan perbaikan. sehingga berbunyi sebagai berikut : Pasal 32 (1) Harga jual tenaga listrik untuk konsumen diatur dan ditetapkan dengan memperhatikan kepentingan dan kemampuan masyarakat. (3) Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan dan Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan untuk Kepentingan Umum dalam menyediakan tenaga listrik wajib : a. d. b. dan c. dan e. (2) Harga jual tenaga listrik untuk konsumen yang disediakan oleh Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan ditetapkan oleh Presiden atas usul Menteri. dan barang yang timbul karena penggunaan tenaga listrik yang tidak sesuai dengan peruntukannya atau salah dalam pemanfaatannya. Ketentuan Pasal 25 diubah. c. sehingga berbunyi sebagai berikut : Pasal 25 (1) Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan dan Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan untuk Kepentingan Umum dalam menyediakan tenaga listrik berhak untuk : a.” ketenagalistrikan terhadap 15. (2) Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan dan Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan untuk Kepentingan Umum tidak bertanggung jawab atas bahaya terhadap kesehatan. Ketentuan Pasal 32 diubah.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan 14.

Di antara Pasal 32 dan Pasal 33 disisipkan 1 (satu) pasal. Menteri. (4) Menteri dalam mengusulkan harga jual tenaga listrik untuk konsumen sebagaimana dimaksud pada ayat (2) memperhatikan hal-hal sebagai berikut : a. kaidah-kaidah industri dan niaga yang sehat. d. tersedianya sumber dana untuk investasi. Gubernur. Ketentuan Pasal 35 diubah. biaya produksi. 16. mempertimbangkan juga kemampuan masyarakat. yakni Pasal 32A. sehingga berbunyi sebagai berikut : Pasal 35 (1) Menteri. kelangkaan sumber energi primer yang digunakan. efisiensi pengusahaan. c. atau Bupati/Walikota sesuai kewenangannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (4) melakukan 31 . Gubernur. memperhatikan hal-hal sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a sampai dengan huruf f. sehingga berbunyi sebagai berikut : Pasal 32 A (1) Harga jual tenaga listrik atau harga sewa jaringan tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (3) dinyatakan dengan mata uang rupiah.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan ditetapkan oleh Menteri. (5) Menteri. atau Bupati/Walikota sesuai kewenangannya dalam pemberian izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (4). b.” 17. skala pengusahaan dan interkoneksi sistem yang dipakai. dan f. Gubernur. (6) Dalam menentukan harga jual tenaga listrik untuk konsumen tidak mampu. atau Bupati/Walikota sesuai kewenangannya selain memperhatikan hal-hal sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a sampai dengan huruf f. Gubernur. atau Bupati/Walikota dalam menetapkan harga jual tenaga listrik untuk konsumen sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (2) Harga jual tenaga listrik atau harga sewa jaringan tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat disesuaikan berdasarkan perubahan unsur biaya tertentu atas dasar kesepakatan bersama yang dicantumkan dalam perjanjian jual beli tenaga listrik atau perjanjian sewa jaringan tenaga listrik. (3) Harga jual tenaga listrik atau harga sewa jaringan tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mendapatkan persetujuan Menteri. e. Gubernur. atau Bupati/Walikota sesuai kewenangannya.

(3) Dalam rangka pengawasan umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Menteri menetapkan Pedoman Umum Pengawasan Ketenagalistrikan. Menteri. yakni Pasal 37A. 32 . atau Bupati/Walikota sesuai kewenangannya melakukan pemeriksaan atas dipenuhinya syarat-syarat keselamatan ketenagalistrikan baik oleh Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan dan Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan maupun pemanfaat tenaga listrik. Ketentuan Pasal 36 diubah. atau Bupati/Walikota sesuai kewenangannya menugaskan kepada Inspektur Ketenagalistrikan untuk melakukan pemeriksaan atas dipenuhinya syarat-syarat aman. d. Di antara Pasal 37 dan Pasal 38 disisipkan 1 (satu) pasal. kompetensi tenaga teknik.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan pengawasan umum terhadap usaha penyediaan dan pemanfaatan tenaga listrik. atau Bupati/Walikota sesuai kewenangannya mengadakan koordinasi dengan instansi lain yang bidang tugasnya berkaitan dengan usaha penyediaan tenaga listrik. keandalan dan keamanan penyediaan tenaga listrik. keselamatan pada keseluruhan sistem penyediaan dan pemanfaatan tenaga listrik. Gubernur. sehingga berbunyi sebagai berikut: PASAL 37 Dalam melaksanakan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 Menteri. f. (2) Dalam melakukan pengawasan umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Menteri. ramah lingkungan dan berefisiensi tinggi pada pembangkitan tenaga listrik. (2) Pengawasan umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. tercapainya standardisasi dalam bidang ketenagalistrikan. sehingga berbunyi sebagai berikut : Pasal 37A (1) Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan wajib melaporkan kegiatan usahanya setiap 3 (tiga) bulan kepada Menteri. andal dan akrab lingkungan pada instalasi ketenagalistrikan. c. 18. 19. Gubernur. sehingga berbunyi sebagai berikut: PASAL 36 (1) Dalam melakukan pengawasan umum.pemanfaatan teknologi yang bersih. Gubernur. aspek lindungan lingkungan. Ketentuan Pasal 37 diubah. (3) Pengawasan atas pemenuhan syarat keselamatan kerja dilaksanakan sesuai peraturan perundang-undangan. 20. e. b.

Dr.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan (2) Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan untuk Kepentingan Umum dan Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan untuk Kepentingan Sendiri wajib melaporkan kegiatan usahanya setiap 3 (tiga) bulan kepada Menteri. Pasal II Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini. Dr. Agar setiap orang mengetahuinya. Pasal III Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. atau Bupati/Walikota sesuai kewenangannya. Gubernur. ttd. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. H. peraturan pelaksanaan di bidang ketenagalistrikan yang telah dikeluarkan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan atau belum diubah dengan Peraturan Pemerintah ini. ttd. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 16 Januari 2005 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 16 Januari 2005 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. HAMID AWALUDIN 33 .

Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2005 NOMOR 5 Salinan sesuai dengan aslinya. Nahattands 34 . Deputi Sekretaris Kabinet Bidang Hukum dan Perundang-undangan Lambock V.

Keputusan Presiden Nomor 187/M Tahun 2004 tanggal 20 Oktober 2004 sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Presiden Nomor 8/M Tahun 2005 tanggal 31 Januarl 2005. BAB I 35 . 4. Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3317). MEMUTUSKAN : Menetapkan: PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL TENTANG TATA CARA PEMBUBUHAN TANDA SNI DAN TANDA KESELAMATAN. perlu menetapkan Peraturan Menterl Energi dan Sumber Daya Mineral tentang Tata Cara Pembubuhan Tanda SNI dan Tanda Keselamatan. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1989 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik (Lembaran Negara RI Tahun 1989 Nomor 24. 2. Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4020). Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3821). Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1985 tentang Ketenagalistrikan (Lembaran Negara RI Tahun 1985 Nomor 74. Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 24 ayat (4) Peraturan Pemerintah Nomor 10 tahun 1989 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrlk sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerlntah Nomor 3 Tahun 2005. 5. Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3394) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2005 (Lembaran Negara RI Tahun 2005 Nomor 5.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR 0027 TAHUN 2005 TENTANG TATA CARA PEMBUBUHAN TANDA SNI DAN TANDA KESELAMATAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (Lembaran Negara RI Tahun 1999 Nomor 42. Mengingat : 1. 3. Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4469). Peraturan Pemerintah Nomor 102 Tahun 2000 tentang Standardisasi Nasional (Lembaran Negara RI Tahun 2000 Nomor 199.

3. Tanda kesesuaian produk adalah label tanda SNI atau label tanda Keselamatan bernomor seri yang dibubuhkan pada peralatan atau pemanfaat tenaga listrik yang menandakan bahwa peralatan atau pemanfaat tenaga Iistrik tersebut telah memenuhi persyaratan SNI yang dibuktikan dengan sertifikat kesesuaian produk. 36 . Peralatan tenaga listrik adalah semua alat dan sarana tenaga listrik yang dipergunakan untuk instalasi penyediaan dan instalasi pemanfaatan tenaga listrik. Tanda SNI adalah tanda yang dibubuhkan pada peralatan tenaga Iistrik yang menandakan bahwa peralatan tenaga listrik tersebut telah memenuhi persyaratan SNI. 4. Pasal 2 (1) Setiap peralatan tenaga listrik yang SNI-nya diberlakukan sebagai SNI Wajib harus dibubuhi tanda SNI setelah mendapatkan sertifikat produk. Lembaga sertifikasi produk adalah lembaga yang berwenang dalam memberikan pengakuan formal untuk memberikan sertifikasi atas produk. 10. 9. Sertifikat produk adalah keterangan tertulis yang diberikan oleh lembaga sertifikasi produk untuk menyatakan bahwa peralatan atau pemanfaat tenaga listrik telah memenuhi persyaratan SNI.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksudkan dengan: 1. 11. Sertifikat kesesuaian produk adalah keterangan tertulis yang diberikan oleh lembaga sertifikasi produk untuk menyatakan bahwa suatu partai peralatan atau pemanfaat tenaga listrik telah memenuhi persyaratan SNI. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang ketenagalistrikan. Tanda keselamatan adalah tanda yang dibubuhkan pada pemanfaat tenaga listrik yang menandakan bahwa pemanfaat tenaga listrik tersebut telah memenuhi persyaratan SNI. 7. 2. Pemanfaat tenaga listrik adalah semua produk yang dalam pemanfaatannya menggunakan tenaga Iistrik untuk beroperasinya produk tersebut. 6. Menteri adalah Menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang ketenagalistrikan. 5. 8. Standar Nasional Indonesia (SNI) adalah Standar yang ditetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional yang berlaku secara nasional.

b. BAB II SERTIFIKASI PRODUK Pasal 3 (1) Untuk dapat dibubuhi tanda SNI. Nama produk. yang dinyatakan dengan sertifikat produk sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri ini. produsen atau importir mengajukan permohonan secara tertulis kepada lembaga sertifikasi produk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) dengan tembusan kepada Direktur Jenderal dengan melampirkan dokumen sebagai berikut: a. peralatan tenaga Iistrik harus memenuhi ketentuan yang dipersyaratkan dalam SNI wajib. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) Perusahaan. (2) Untuk dapat dibubuhi tanda keselamatan. (4) Bentuk. lembaga sertifikasi produk menerbitkan sertifikat produk dengan menggunakan format sebagaimana tercantum dalam Lampiran I dan II 37 . ukuran. (3) Sertifikat produk sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diterbitkan oleh lembaga sertifikasi produk yang telah diakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) dan mendapat penugasan dari Direktur Jenderal. (3) Bentuk dan ukuran Tanda SNI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 102 Tahun 2000 tentang Standardisasi Nasional. tipe/jenis dan spesifikasi teknis produk. yang dinyatakan dengan sertifikat produk sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri ini. (2) Berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan berdasarkan laporan hasil uji jenis serta hasil asesmen sistem mutu pabrik. Akta Pendirian Perusahaan. dan warna tanda keselamatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sesuai dengan SNI Nomor 19-6659-2002 tentang Tanda Keselamatan . Pasal 4 (1) Untuk mendapatkan sertifikat produk. (4) Sertifikat produk berlaku selama 3(tiga) tahun dan dapat diperpanjang. c. pemanfaat tenaga listrik harus memenuhi ketentuan yang dipersyaratkan dalam SNI wajib. Izin Industri. d.Pemanfaat Listrik.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan (2) Setiap pemanfaat tenaga Iistrik yang SNI-nya diberlakukan sebagal SNI Wajlb harus dibubuhi tanda Keselamatan setelah mendapatkan sertifikat produk.

adalah pengujian atas parameter-parameter kritikal/utama tertentu atau parameter uji rutin sesuai standar yang terkait. dan informasi yang diperolehnya. dan gambar desain. laporan hasil uji jenis. (3) Laporan hasil uji jenis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diterbitkan oleh laboratorium uji yang telah diakreditasi oleh KAN atau oleh laboratorium uji yang telah diakreditasi oleh lembaga akreditasi di negara yang telah menandatangani kesepakatan saling pengakuan dengan KAN. (3) Laporan hasil uji jenis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diterbitkan oleh laboratorium uji yang telah diakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) atau oleh laboratorium uji yang telah diakreditasi oleh lembaga akreditasi di negara yang telah menandatangani kesepakatan saling pengakuan dengan KAN. hasil uji. (5) Lembaga sertifikasi produk dan laboratorium uji yang bertugas dalam kegiatan sertifikasi ini wajib menjaga kerahasiaan data. daftar material dan komponen. lembaga sertifikasi produk mengambil contoh/sampel dari partai barang yang telah berada di wilayah pabean disaksikan oleh pemilik barang atau kuasanya dan petugas lnstansi kepabeanan dengan dibuatkan berita acara. (5) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) adalah pemeriksaan kesesuaian produk terhadap angka pengenal importir. 38 . (4) Berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). untuk dilakukan pemeriksaan dan pengujian. packing list. laporan hasil uji jenis. packing list. BAB III PEMERIKSAAN KESESUAIAN PRODUK Pasal 5 (1) Peralatan atau pemanfaat tenaga listrik produk impor yang tidak mempunyai tanda SNI atau tanda keselamatan dapat diperjualbelikan dengan dibubuhi tanda kesesuaian produk setelah mendapatkan sertifikat kesesuaian produk.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Peraturan Menteri ini. importir mengajukan permohonan secara tertulis kepada lembaga sertifikasi produk dengan tembusan kepada Direktur Jenderal dengan melampirkan angka pengenal importir. daftar material dan komponen. dan gambar desain. (2) Untuk mendapatkan sertifikat kesesuaian produk. (6) Pengujian sebagaimana dimaksud pada ayat (4). (4) Lembaga sertifikasi produk menyampaikan salinan sertifikat produk yang telah diterbitkan kepada Direktur Jenderal.

(4) Pemanfaat tenaga listrik yang telah mendapatkan sertifikat kesesuaian produk dibubuhi label tanda keselamatan. BAB IV PEMBUBUHAN TANDA SNI DAN TANDA KESELAMATAN Pasal 6 (1) Peralatan tenaga Iistrik yang telah mendapatkan sertifkat produk harus dibubuhi Tanda SNI. adalah pengujian atas parameter-parameter kritikal/utama tertentu atau pengujian rutin sesuai standar yang terkait. lembaga sertifikasi produk menerbitkan sertifikat kesesuaian produk serta tanda kesesuaian produk atas suatu partai peralatan atau pemanfaat tenaga listrik yang diajukan. (2) Pemeriksaan berkala sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan melalui pemeriksaan sistem mutu dan pengujian setiap 6 bulan dalam tahun pertama dan pemeriksaan selanjutnya dilakukan setiap 1 (satu) tahun sekali. 39 .Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan (7) Berdasarkan hasil pemeriksaan dan pengujian sebagaimana dimaksud pada ayat (4). menggunakan format sebagaimana tercantum dalam Lampiran III dan IV Peraturan Menteri ini. (3) Pengujlan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (3) Pemanfaat tenaga listrik yang telah mendapatkan sertifikat produk harus dibubuhi tanda keselamatan. (2) Peralatan tenaga listrik yang telah mendapatkan sertifikat kesesuaian produk dibubuhi label Tanda SNI. (6) Pembubuhan Tanda SNI dan Tanda Keselamatan mengikuti ketentuan sebagaimana tercantum dalam Lampiran V dan VI Peraturan Menteri ini. BAB V PEMERIKSAAN BERKALA OLEH LEMBAGA SERTIFIKASI PRODUK Pasal 7 (1) Lembaga sertifikasi produk melakukan pemeriksaan berkala atas konsistensi penggunaan sertifikat produk oleh produsen. (8) Sertifikat kesesuaian produk yang diterbitkan oleh lembaga serilfikasi produk sebagaimana dimaksud pada ayat (7). (5) Pemohon dapat berkonsultasi kepada lembaga sertifikasi produk dalam menentukan letak dan ukuran logo lembaga sertifikasi produk pada pemanfaat tenaga Iistrik.

(2) Dalam melakukan pembinaan. bimbingan. dan supervisi berkaitan dengan proses sertifikasi dan pembubuhan Tanda SNI dan Tanda Keselamatan. (3) Pelaksanaan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Inspektur Ketenagalistrikan.Direktur Jenderal menyelenggarakan pelatihan. BAB VI PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Pasal 8 (1) Direktur Jenderal melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap proses sertifikasi dan pembubuhan Tanda SNI danTanda Keselamatan. 40 . (4) Dalam hal pelaksanaan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) menemukan penyimpangan dalam proses sertifikasi produk dan pembubuhan Tanda SNI dan atau Tanda Keselamatan. BAB V II KETENTUAN PERALIHAN Pasal 9 (1) Selama belum tersedia lembaga sertifikasi produk dan laboratorium uji yang diakreditasi oleh KAN. dan c. penyimpangan tersebut diselesaikan dengan mengacu pada prosedur penyelesaian penyimpangan dalam pelaksanaan sertifikasi dan pembubuhan Tanda SNI dan Tanda Keselamatan sebagaimana tercantum dalam Lampiran V I I dan VIII Peraturan Menteri ini. (5) Dalam hal sertifkat produk dibekukan atau ditarik oleh lembaga sertifikasi produk. b. menarik peralatan dan pemanfaat tenaga listrik yang beredar di pasar. (6) Sertifikat produk dapat digunakan kembali setelah pembekuan sertifikat produk dicabut oleh lembaga sertifikasi produk yang bersangkutan. untuk sementara kegiatan sertifikasi produk dan kegiatan pengujian dilakukan oleh lembaga sertifikasi produk dan laboratorium uji yang ditunjuk Direktur Jenderal. maka pemegang sertifikat produk harus: a.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan (4) Dalam hal pemeriksaan berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menunjukkan adanya ketidaksesuaian dengan ketentuan yang dipersyaratkan. lembaga sertiflkasi produk dapat membekukan atau menarik Sertiflkat Produk. menghentikan peredaran peralatan dan pemanfaat tenaga listrik yang telah dibubuhi Tanda SNI atau Tanda Keselamatan. menghentikan penggunaan Tanda SNI atau Tanda Keselamatan sejak tanggal ditetapkan oleh lembaga sertifikasi produk.

Lampiran XI dan Lampiran XII Peraturan Menteri ini. BAB VIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 10 (1) Pada saat Peraturan Menteri ini berlaku : 1. Keputusan Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi Nomor 189-12/44/600. Direktur Jenderal menerbitkan sertifikat produk dan sertifikat kesesuaian produk dengan menggunakan format sebagaimana tercantum dalam Lampiran IX. (2) Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Lampiran X.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan (2) Dalam hal belum tersedia lembaga sertifikasi produk dan laboratorium uji yang diakreditasi oleh KAN sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 14 Juli 2005 MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL.4/2003 tanggal 18 Juli 2003 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pembubuhan Tanda SNI Pada Peralatan Tenaga Listrik Produksi Dalam Negeri. 41 . dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.4/2003 tanggal 18 Juli 2003 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pembubuhan Tanda Keselamatan Pada Pemanfaat Tenaga Listrik Produksi Dalam Negeri. dan 2. Keputusan Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi Nomor 188-12/44/600.

............(nomor SNI) .(tanggal bulan tahun) sampai dengan ....... ...(judul SNI)..............(nama peralatan tenaga listrik) Menyatakan . Produk ini dapat menggunakan tanda sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 102 Tahun 2000 tentang Standardisasi Nasional..(nama lengkap) 42 ........... Masa berlaku….........(tanggal bulan tahun)...........................Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 0027 Tahun 2005 TANGGAL : 14 Juli 2005 MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL......................................tanggal........ : setelah diuji di Laboratorium Uji (nama laboratorium uji) dan diaudit dengan rekomendasi penerbitan sertifikat Nomor .... SNI.(pimpinan Lembaga Sertifikasi Produk) tanda tangan MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL …. MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL.... telah sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan dalam Standar Nasional Indonesia. Sertifikat Produk MENTERI ENERGI DA Nomor Tanggal : : ………………… ………………… Diberikan Kepada : (nama perusahaan produsen peralatan tenaga listrik) Alamat : Produsen Peralatan Tenaga Listrik ............. : • ....(nama dan jenis peralatan tenaga listrik) Kode Pabrik : Spesifikasi : • Tegangan pengenal : • ....(tanggal bulan tahun)...

...(judul SNI)....(nama pemanfaat tenaga listrik) Menyatakan ............tanggal...(tanggal bulan tahun) sampai dengan .......... Produk ini dapat menggunakan tanda sesuai dengan SNI 19-6659-2002 Masa berlaku….... ...................Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan LAMPIRAN II PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 0027 Tahun 2005 TANGGAL : 14 Juli 2005 Sertifikat Produk Nomor Tanggal : : ………………… ………………… Diberikan Kepada : (nama perusahaan produsen peralatan tenaga listrik) Alamat : Produsen Pemanfaat Tenaga Listrik .... SNI...(tanggal bulan tahun)......(nama lengkap) 43 .... telah sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan dalam Standar Nasional Indonesia........................(pimpinan Lembaga Sertifikasi Produk) tanda tangan MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL ….........(nomor SNI) ......................(tanggal bulan tahun)............(nama dan jenis pemanfaat tenaga listrik) Kode Pabrik : Spesifikasi : • Tegangan pengenal : • ..... : setelah diuji di Laboratorium Uji (nama laboratorium uji) dan diaudit dengan rekomendasi penerbitan sertifikat Nomor ............ : • .........

......... SNI................. :............ Berjumlah :... :......s... berdasarkan Sertifikat Uji Tipe Nomor : ..... jenis dan model peralatan tenaga listrik) Kode/ No... Menyatakan .......unit Spesifikasi : • Tegangan pengenal :......(nama lengkap) 44 ....................................(judul SNI).....................................(nomor SNI) .......(pimpinan Lembaga Sertifikasi Produk) tanda tangan MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL ….. ........................(tanggal bulan tahun)..............................(nama....Seri :....yang diterbitkan oleh Laboratorium Uji (nama laboratorium uji) dan hasil inspeksi Lembaga Sertifikasi Produk (nama lembaga) dengan laporan hasil Inspeksi Nomor......d. • . telah sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan dalam Standar Nasional Indonesia......tanggal........................... dengan Nomor Seri Label mulai………sampai dengan .................... • ..... Partai produk dengan jumlah dan kode seperti di atas dapat ditempelkan label sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 102 Tahun 2000 tentang Standardisasi Nasional..........Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan LAMPIRAN III PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 0027 Tahun 2005 TANGGAL : 14 Juli 2005 Sertifikat Kesesuaian Produk Nomor Tanggal : : ………………… ………………… Diberikan Kepada : (nama perusahaan importir peralatan tenaga listrik) Alamat : Mengacu pada : Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No...........

...yang diterbitkan oleh Laboratorium Uji (nama laboratorium uji) dan hasil inspeksi Lembaga Sertifikasi Produk (nama lembaga) dengan laporan hasil Inspeksi Nomor....tanggal............ berdasarkan Sertifikat Uji Tipe Nomor : ...(nomor SNI) ........................(pimpinan Lembaga Sertifikasi Produk) tanda tangan MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL …..(nama........ :.......Seri :................................................... :........(judul SNI).... telah sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan dalam Standar Nasional Indonesia........unit Spesifikasi : • Tegangan pengenal :.... • . Partai produk dengan jumlah dan kode seperti di atas dapat ditempelkan label dengan SNI 19-6659-2002 dengan Nomor Seri Label mulai………sampai dengan .........Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan LAMPIRAN IV PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 0027 Tahun 2005 TANGGAL : 14 Juli 2005 Sertifikat Kesesuaian Produk Nomor Tanggal : : ………………… ………………… Diberikan Kepada : (nama perusahaan importir peralatan tenaga listrik) Alamat : Mengacu pada : Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No.. Berjumlah :......... .................s..........(tanggal bulan tahun)............. SNI..d........ Menyatakan .....................................(nama lengkap) sesuai 45 .................................... • ... jenis dan model pemanfaat tenaga listrik) Kode/ No...............

dibuat pada fasilitas produksi dengan alamat sebagaimana tersebut di dalam sertifikat produk. Tanda SNI harus jelas. dan e. 6. tipe dan spesifikasimteknis lainnya sesuai dengan daftar yang ada di dalam sertifikat produk. diproduksi dan diedarkan secara sah. Jika sertifikat produk dicabut oleh lembaga sertifikasi produk maka perusahaan harus segera menghentikan pembubuhan Tanda SNI sejak tanggal yang ditetapkan oleh Lembaga Sertifikasi Produk pada surat pencabutan Sertifikat Tanda SNI dan menarik peredaran peralatan tenaga listrik. 2. perusahaan harus menarik peredaran peralatan tenaga listrik yang telah terlanjur dibubuhi Tanda SNI sampai Sertifikat Produk dinyatakan berlaku kembali oleh lembaga sertifikasi produk . b. dan ukurannya disesuaikan dengan dimensi peralatan tenaga listrik dan dibubuhkan pada peralatan tenaga listrik yang telah disertifikasi serta tidak dapat dipindahkan kepada peralatan tenaga listrik lain. maka disamping menghentikan penggunaan pembubuhan Tanda SNI. nama. Tanda SNI hanya boleh dibubuhkan pada peralatan tenaga listrik dengan syarat : a. 4. Produsen atau importir dapat berkonsultasi dengan lembaga sertifikasi produk dalam menentukan letak Tanda SNI pada peralatan tenaga listrik yang telah disertifikasi 3. Pada setiap publikasi dan advertensi.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan LAMPIRAN V PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 0027 Tahun 2005 TANGGAL : 14 Juli 2005 KETENTUAN PEMBUBUHAN TANDA SNI 1. 7. memenuhi semua kriteria sertifikasi produk tanpa kecuali. Jika sertifikat produk dibekukan oleh lembaga sertifikasi produk. c. Tanda SNI harus dibubuhkan pada peralatan tenaga listrik yang disertifikasi dengan mencantumkan penandaan sesuai dengan standarnya. d. 5. tidak menerapkan tanda kesesuaian lain secara tidak sah. MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL 46 . mudah dibaca. merek. produsen atau importir harus menghindari penyampaian informasi yang rancu antara peralatan tenaga listrik yang disertifikasi dan yang tidak disertifikasi.

Jika sertifikat produk dicabut oleh lembaga sertifikasi produk maka perusahaan harus segera menghentikan pembubuhan tanda keselamatan sejak tanggal yang ditetapkan oleh Lembaga Sertifikasi Produk pada surat pencabutan sertifikat produk dan menarik peredaran pemanfaattenaga listrik. Jika sertifikat produk dibekukan oleh lembaga sertifikasi produk. 4. perusahaan harus menarik peredaran peralatan tenaga listrik yang telah terlanjur dibubuhi tanda keselamatan sampai Sertifikat Produk dinyatakan berlaku kembali oleh lembaga sertifikasi produk . 5. dan ukurannya disesuaikan dengan dimensi peralatan tenaga listrik dan dibubuhkan pada peralatan tenaga listrik yang telah disertifikasi serta tidak dapat dipindahkan kepada peralatan tenaga listrik lain. diproduksi dan diedarkan secara sah. c. 6. dibuat pada fasilitas produksi dengan alamat sebagaimana tersebut di dalam sertifikat produk. tipe dan spesifikasimteknis lainnya sesuai dengan daftar yang ada di dalam sertifikat produk. mudah dibaca. produsen atau importir harus menghindari penyampaian informasi yang rancu antara pemanfaat tenaga listrik yang disertifikasi dan yang tidak disertifikasi. maka disamping menghentikan penggunaan tanda keselamatan. nama. 2. Pada setiap publikasi dan advertensi. Produsen atau importir dapat berkonsultasi dengan lembaga sertifikasi produk dalam menentukan letak Tanda SNI pada peralatan tenaga listrik yang telah disertifikasi 3. d. Tanda keselamatan harus dibubuhkan pada peralatan tenaga listrik yang disertifikasi dengan mencantumkan penandaan sesuai dengan standarnya. Tanda SNI hanya boleh dibubuhkan pada peralatan tenaga listrik dengan syarat : a. dan e. merek. tidak menerapkan tanda kesesuaian lain secara tidak sah. b.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan LAMPIRAN VI PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 0027 Tahun 2005 TANGGAL : 14 Juli 2005 KETENTUAN PEMBUBUHAN TANDA KESELAMATAN 1. Tanda keselamatan harus jelas. 7. memenuhi semua kriteria sertifikasi produk tanpa kecuali. MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL 47 .

sebagai berikut : 1. Tindakan penyelesaian : a. Jika dari penjelasan dapat disimpulkan terdapat kelemahan pada sistem pemeriksaan oleh lembaga sertifikasi produk dan atau laboratorium uji. b. maka lembaga sertifikasi produk harus mengambil tindakan koreksi sesuai dengan prosedur sertufikasi. Tembusan keputusan atau tindakan koreksi yang telah dilaksanakan dikirimkan kepada Direktur Jenderal. c. maka Direktur Jenderal mengeluarkan surat ketidakpuasan kepada lembaga sertifikasi produk dan atau laboratorium uji. MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL 48 . Direktur Jenderal meminta penjelasan rinci dari lembaga sertifikasi produk yang menerbitkan sertifikat produk atas peralatan tenaga listrik bersangkutan mengenai terulangnya kegagalan dalam uji petik b. Jika hasil asesmen membuktikan bahwa perusahaan pemegang sertifikat telah melakukan kesalahan dalam menjaga kesesuaian produk yang beredar terhadap standar yang ditetapkan. dan c. Dalam memepersiapkan penjelasan. Direktur jenderal meminta lembaga sertifikasi produk yang menerbitkan Sertifikat produk atas peralatan tenaga listrik untuk melakukan asesmen ulang terhadap perusahaan pemegang sertifikat. serta melakukan tindakan penyelesaian yang diperlukan terhadap penyimpangan dalam pelaksanaan pembubuhan Tanda SNI. Tindakan penyelesaian : a. lembaga sertifikasi produk dapat melakukan audit ulang terhadap perusahaan pemegang sertifikat.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan LAMPIRAN VII PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 0027 Tahun 2005 TANGGAL : 14 Juli 2005 PROSEDUR PENYELESAIAN PENYIMPANGAN DALAM PELAKSANAAN SERTIFIKASI DAN PEMBUBUHAN TANDA SNI Dalam rangka pengawasan terhadap pembubuhan Tanda SNI. Tembusan surat ketidakpuasan dikirimkan kepada lembaga yang berwenang dalam memberikan pengakuan formal untuk melakukan kegiatan sertifikasi sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan audit ulang terhadap lembaga sertifikasi produk dan atau laboratorium uji. Peralatan tenaga listrik yang dibubuhi Tanda SNI yang belum pernah tidak lulus pada uji petik sebelumnya yang diselenggarakan oleh Direktur Jenderal. maka Direktorat Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi menerima pengaduan masyarakat dan melaksanakan uji petik terhadap peralatan tenaga listrik yang beredar di pasar dan yang dipasang pada instalasi tenaga listrik. dan d. Peralatan tenaga listrik yang dibubuhi Tanda SNI yang pernah tidak lulus pada uji petik sebelumnya yang diselenggarakan oleh Direktur Jenderal. 2.

Pemanfaatan tenaga listrik yang dibubuhi Tanda Keselamatan yang pernah tidak lulus pada uji petik sebelumnya yang diselenggarakan oleh Direktur Jenderal. dan d. 2. maka Direktur Jenderal mengeluarkan surat ketidakpuasan kepada lembaga sertifikasi produk dan atau laboratorium uji. b. sebagai berikut : 1. Tindakan penyelesaian : a. Pemanfaat tenaga listrik yang dibubuhi Tanda keselamatan yang belum pernah tidak lulus pada uji petik sebelumnya yang diselenggarakan oleh Direktur Jenderal. Tembusan surat ketidakpuasan dikirimkan kepada lembaga yang berwenang dalam memberikan pengakuan formal untuk melakukan kegiatan sertifikasi sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan audit ulang terhadap lembaga sertifikasi produk dan atau laboratorium uji. maka Direktorat Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi menerima pengaduan masyarakat dan melaksanakan uji petik terhadap pemanfaatan tenaga listrik yang beredar di pasar. dan c. maka lembaga sertifikasi produk harus mengambil tindakan koreksi sesuai dengan prosedur sertifikasi. lembaga sertifikasi produk dapat melakukan audit ulang terhadap perusahaan pemegang sertifikat.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan LAMPIRAN VIII PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 0027 Tahun 2005 TANGGAL : 14 Juli 2005 PROSEDUR PENYELESAIAN PENYIMPANGAN DALAM PELAKSANAAN SERTIFIKASI DAN PEMBUBUHAN TANDA KESELAMATAN Dalam rangka pengawasan terhadap pembubuhan Tanda Keselamatan. Dalam memepersiapkan penjelasan. Direktur Jenderal meminta penjelasan rinci dari lembaga sertifikasi produk yang menerbitkan sertifikat produk atas pemanfaat tenaga listrik bersangkutan mengenai terulangnya kegagalan dalam uji petik b. Jika hasil audit membuktikan bahwa perusahaan pemegang sertifikat telah melakukan kesalahan dalam menjaga kesesuaian produk yang beredar terhadap standar yang ditetapkan. serta melakukan tindakan penyelesaian yang diperlukan terhadap penyimpangan dalam pelaksanaan pembubuhan Tanda Keselamatan. Tembusan keputusan atau tindakan koreksi yang telah dilaksanakan dikirimkan kepada Direktur Jenderal. c. Direktur jenderal meminta lembaga sertifikasi produk yang menerbitkan Sertifikat produk atas pemanfaat tenaga listrik untuk melakukan audit ulang terhadap perusahaan pemegang sertifikat. Jika dari penjelasan dapat disimpulkan terdapat kelemahan pada sistem pemeriksaan oleh lembaga sertifikasi produk dan atau laboratorium uji. Tindakan penyelesaian : a. MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL 49 .

............................................... • .................(nama peralatan tenaga listrik) Menyatakan ............ setelah diuji di Laboratorium Uji (nama laboratorium uji) dan diaudit oleh Lembaga Sertifikasi Produk (nama lembaga) dengan rekomendasi penerbitan sertifikat Nomor...(nama dan jenis peralatan tenaga listrik) Kode Pabrik :............. Produk ini dapat menggunakan tanda sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 102 Tahun 2000 tentang Standardisasi Nasional..........(tanggal bulan tahun)............(tanggal bulan tahun) sampai dengan ......(nama lengkap) NIP…………..... tanda tangan MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL …..(nomor SNI) ...........(judul SNI)............... :. Masa berlaku….......(tanggal bulan tahun)..............tanggal......Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan LAMPIRAN IX PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 0027 Tahun 2005 TANGGAL : 14 Juli 2005 DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL LISTRIK DAN PEMANFAATAN ENERGI Sertifikat Produk Nomor Tanggal : : ………………… ………………… Diberikan Kepada : (nama perusahaan produsen peralatan tenaga listrik) Alamat : Produsen Peralatan Tenaga Listrik .. SNI................................ 50 ............ :...... Spesifikasi : • Tegangan pengenal :...... • .... telah sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan dalam Standar Nasional Indonesia....... Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi.....

.(tanggal bulan tahun)..................Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan LAMPIRAN X PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 0027 Tahun 2005 TANGGAL : 14 Juli 2005 DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL LISTRIK DAN PEMANFAATAN ENERGI Sertifikat Produk Nomor Tanggal : : ………………… ………………… Diberikan Kepada : (nama perusahaan produsen pemanfaat tenaga listrik) Alamat : Produsen Pemanfaat Tenaga Listrik .................. :............(nama lengkap) NIP…………...................................................... Spesifikasi : • Tegangan pengenal :.. • . • .......(tanggal bulan tahun) sampai dengan . Produk ini dapat menggunakan tanda sesuai dengan SNI 19-6659-2002 Masa berlaku…......... tanda tangan MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL ….(nama dan jenis peralatan tenaga listrik) Kode Pabrik :..(nama pemanfaat tenaga listrik) Menyatakan .............(tanggal bulan tahun).......................(nomor SNI) ............. :.......... telah sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan dalam Standar Nasional Indonesia.............. SNI...(judul SNI)......tanggal............. 51 ............... setelah diuji di Laboratorium Uji (nama laboratorium uji) dan diaudit oleh Lembaga Sertifikasi Produk (nama lembaga) dengan rekomendasi penerbitan sertifikat Nomor................. Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi.

...............(nama..(judul SNI).............(nomor SNI) ............ jenis dan model peralatan tenaga listrik) Kode Pabrik/No......................d....... Partai Produk dengan jumlah dan kode seperti di atas dapat ditempelkan label tanda sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 102 Tahun 2000 tentang Standardisasi Nasional............... Berjumlah :.Unit Spesifikasi : • Tegangan pengenal :.... Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi.................Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan LAMPIRAN XI PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 0027 Tahun 2005 TANGGAL : 14 Juli 2005 DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL LISTRIK DAN PEMANFAATAN ENERGI Sertifikat Kesesuaian Produk Nomor Tanggal : : ………………… ………………… Diberikan Kepada : (nama perusahaan importir peralatan tenaga listrik) Alamat : Mengacu pada : Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No…… Menyatakan ........s.............. • ................sampai dengan........... :....................(tanggal bulan tahun)........ dengan Nomor Seri Label Mulai...............yang diterbitkan oleh Laboratorium Uji (nama laboratorium uji) dan hasil inspeksi Lembaga Sertifikasi Produk (nama lembaga) dengan Laporan Hasil Inspeksi Nomor............tanggal. tanda tangan MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL …..(nama lengkap) NIP………………… 52 .... Seri :. setelah diuji di Laboratorium Uji Tipe Nomor ....... SNI..................... telah sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan dalam Standar Nasional Indonesia... :..................... • ................................

................ …… Menyatakan ..(judul SNI).......(tanggal bulan tahun)....... Partai Produk dengan jumlah dan kode seperti di atas dapat ditempelkan label tanda sesuai dengan SNI 19-6659-2002........ • .... telah sesuai MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL..... tanda tangan …...............yang diterbitkan oleh Laboratorium Uji (nama laboratorium uji) dan hasil inspeksi Lembaga Sertifikasi Produk (nama lembaga) dengan Laporan Hasil Inspeksi Nomor.................. Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi......................................... SNI...........(nomor SNI) MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL..s...........Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan LAMPIRAN XI PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 0027 Tahun 2005 TANGGAL : 14 Juli 2005 DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL LISTRIK DAN PEMANFAATAN ENERGI Sertifikat Produk Nomor Tanggal : : ………………… ………………… Diberikan Kepada : (nama perusahaan importir peralatan tenaga listrik) Alamat : Mengacu pada : Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No....... setelah diuji di Laboratorium Uji Tipe Nomor .. ..d..(nama dan jenis peralatan tenaga listrik) Kode Pabrik/No.............tanggal....sampai dengan .........................................(nama lengkap) MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NIP………… 53 .Unit Spesifikasi : • Tegangan pengenal :...................... dengan persyaratan yang ditetapkan dalam Standar Nasional Indonesia.. dengan Nomor Seri Label Mulai..... Seri :............ • ..... Berjumlah :. :..... :.....................

2. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nornor 3821). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3317). T a m b a h a n L e m b a r a n N e g a r a Republik Indonesia Nomor 4469). 4. Keputusan Presiden Nomor 187/M Tahun 2004 tanggal 20 Oktober 2004 sebagaimana telah tiga kali diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Nomor 20/P Tahun 2005 Tanggal 5 Desember 2005. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1989 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1989 Nomor 24.-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 42. Mengingat : 1. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4020). Undang. 5. MEMUTUSKAN Menetapkan: PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL TENTANG INSTALASI KETENAGALISTRIKAN BABI K E T E N T U A N U MU M 54 . Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3394) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2005 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor. Pasal 22 dan Pasal 23 Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1989 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2005. 3.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA PERA TURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBE R DAYMINE RAL NOMOR : 0045 Tahun 2005 TENTANG INSTALASI KETENAGALISTRIKAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL. Peraturan Pemerintah NOmor 102 Tahun 2000 tentang Standardisasi Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 199. perlu menetapkan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral tentang Instalasi Ketenagalistrikan. Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 21. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1985 tentang Ketenagalistrikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 74.

agar instalasi selalu dalam keadaan baik dan bersih. Pengoperasian adalah suatu kegiatan usaha untuk mengendalikan dan mengkoordinasikan antar sistem pada instalasi. transformasi. 4. 3. baik yang diakibatkan oleh instalasi maupun oleh lingkungan.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksudkan dengan : 1. baik pekerja maupun masyarakat umum. 8. perawatan. 7. Pemeriksaan adalah segala kegiatan untuk mengadakan penilaian terhadap suatu instalasi dengan cara mencocokkan terhadap persyaratan dan spesifikasi teknis yang ditentukan. serta kondisi akrab lingkungan dalam arti tidak merusak 55 . 6. 2. 10. keselamatan kerja dan keselamatan umum. Pengujian adalah segala kegiatan yang bertujuan untuk mengukur dan menilai unjuk kerja suatu instalasi. Rekondisi adalah kegiatan untuk memperbaiki kemampuan instalasi penyediaan tenaga listrik menjadi seperti kondisi 13. penyaluran. 12. perbaikan dan uji ulang. dan gangguan serta kerusakan mudah diketahui. Konsumen adalah setiap orang atau badan usaha/atau Badan/Lembaga lainnya yang menggunakan tenaga listrik dari instalasi milik pengusaha berdasarkan atas hak yang sah. distribusi dan pemanfaatan tenaga listrik. Pemanfaatan Tenaga Listrik adalah penggunaan tenaga listrik mulai dari titik pemakaian. 5. Instalasi Ketenagalistrikann yang selanjutnya disebut instalasi adalah bangunan-bangunan sipil dan elektromekanik. Pengamanan adalah segala kegiatan. penggunaannya aman. saluran-saluran dan perlengkapannya yang digunakan untuk pembangkitan. untuk mencegah bahaya terhadap keamanan instalasi. dicegah atau diperkecil. ditransmisikan dan didistribusikan untuk segala macam keperluan. Penyediaan Tenaga Listrik adalah pengadaan tenaga listrik mulai dari titik pembangkitan sampai dengan titik pemakaian. 9. mesin-mesin peralatan. Tenaga Listrik adalah salah satu bentuk energi sekunder yang dibangkitkan. 11. Perencanaan adalah suatu kegiatan membuat rancangan yang berupa suatu berkas gambar instalasi atau uraian teknik. sistem dan perlengkapannya. Pemeliharaan adalah segala kegiatan yang meliputi program pemeriksaan. konversi. dan bukan listrik yang dipakai untuk komunikasi atau isyarat. Keselamatan Ketenagalistrikan adalah suatu keadaan yang terwujud apabila terpenuhi persyaratan kondisi andal bagi instalasi dan kondisi aman bagi instalasi dan manusia.

c. gambar instalasi. 14. gambar situasi/tata letak. dan instalasi distribusi tenaga listrik sampai dengan titik pemakaian. Instalasi pemanfaatan tenaga listrik terdiri atas instalasi konsumen tegangan tinggi. b. pembangunan dan pemasangan. perhitungan teknik. Pasal 4 Tahapan pekerjaan instalasi penyediaan tenaga listrik dan instalasi pemanfaatan tenaga listrik terdiri atas perencanaan. gambar rinci. daftar bahan instalasi. instalasi transmisi. Menteri adalah menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang ketenagalistrikan. Pasal 3 (1) Instalasi penyediaan tenaga listrik terdiri atas instalasi pembangkitan. pemeriksaan dan pengujian. f. instalasi konsumen tegangan menengah. pengoperasian dan pemeliharaan. BAB II INSTALASI PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK DAN INSTALASI PEMANFAATAN TENA GA LISTRIK Bagian Pertama Perencanaan Instaiasi Penyediaan Tenaga Listrik dan Instalasi Pemnnfaatan Tenaga Listrik Pasal 5 (1) Perencanaan instalasi penyediaan tenaga listrik dan instalasi pemanfaatan tenaga listrik konsumen tegangan tinggi dan tegangan menengah terdiri atas : (2) a. diagram garis tunggal instalasi. dan 56 . 15. Direktur Jenderal adalah direktur jenderaI yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang ketenagalistrikan. serta pengamanan sesuai standar yang berlaku. dan instalasi konsumen tegangan rendah sampai dengan kotak kontak bertegangan.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan lingkungan hidup di sekitar instalasi ketenagalistrikan serta peralatan dan pemanfaat tenaga listrik yang memenuhi standar. e. d. Pasal 2 Instalasi terdiri atas instalasi penyediaan tenaga listrik dan instalasi pemanfaatan tenaga listrik.

Perencanaan instalasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) harus dibuat sesuai dengan ketentuan standar yang berlaku. Instalasi penyediaan tenaga listrik dan instalasi pemanfaatan tenaga listrik yang dibangun dan dipasang harus sesuai dengan fungsi dan peruntukannya. gambar situasi/tata letak. Bagian Ketiga Pemeriksaan dan Pengujian Instalasi Penyediaan Tenaga Listrik Pasal 7 (1) Instalasi penyediaan tenaga listrik yang selesai dibangun dan dipasang. diagram garis tunggal instalasi. Gubernur atau Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya. Pemeriksaan dan pengujian instalasi penyediaan tenaga listrik milik Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan dan instalasi penyediaan (3) (2) (3) (2) (3) (4) 57 . b. (2) Perencanaan instalasi pemanfaatan tenaga listrik konsumen tegangan rendah terdiri atas : a. uraian dan spesifikasi teknik. uraian dan spesifikasi teknik. dilakukan perubahan kapasitas. Instalasi penyediaan tenaga listrik dan instalasi pemanfaatan tenaga listrik yang telah selesai dibangun dan dipasang harus dilengkapi dengan gambar yang terpasang. Pemeriksaan dan pengujian terhadap kesesuaian dengan ketentuan standar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dalam rangka keselamatan ketenagalistrikan. direkondisi.. dan c.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan g. atau direlokasi wajib dilakukan pemeriksaan dan pengujian terhadap kesesuaian dengan ketentuan standar yang berlaku. Pemeriksaan dan pengujian instalasi penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum dan untuk kepentingan sendiri dilakukan oleh lembaga inspeksi teknik yang telah terakreditasi dan dilaporkan kepada Direktur Jenderal. Bagian Kedua Pembangunan dan Pemasangan Instalasi Penyediaan Tenaga Listrik dan Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik Pasal 6 (1) Pembangunan dan pemasangan instalasi penyediaan tenaga listrik dan instalasi pemanfaatan tenaga listrik wajib mengacu pada rancangan instalasi.

c. Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurangkurangnya d. pemegang izin usaha ketenagalistrikan untuk kepentingan umum dan kepentingan sendiri mengajukan permohonan tertulis kepada lembaga inspeksi teknik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) atau ayat (4). atau Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya. Hasil pemeriksaan dan pengujian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) (2) (2) (3) (4) 58 . kapasitas daya terpasang. Pemeriksaan dan pengujian instalasi transmisi dan distribusi tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sekurangkurangnya berdasarkan mata uji (test items) sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II Peraturan Menteri. dan distribusi tenaga listrik. Gubernur. dan d. transmisi. Pemeriksaan dan pengujian instalasi pembangkitan tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sekurang-kurangnya berdasarkan mata uji (test items) sebagaimana tercantum dalam Lampiran I Peraturan Menteri ini. ayat (4) disaksikan oleh petugas pelaksana yang ditunjuk Direktur Jenderal. jenis instalasi. jadwal pelaksanaan pembangunan dan pemasangan. (6) Pasal 8 (1) Untuk mendapatkan sertifikat laik operasi instalasi penyediaan tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (6). Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan. pengoperasian serta pemeliharaan. Instalasi penyediaan tenaga listrik yang hasil pemeriksaan dan pengujiannya memenuhi kesesuaian dengan standar yang berlaku diberikan sertifikat laik operasi yang diterbitkan oleh lembaga inspeksi teknik sebagaimana dirnaksud pada ayat (3) atau ayat (4). Pasal 9 (1) Pemeriksaan dan pengujian instalasi penyediaan tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) terdiri atas pemeriksaan dan pengujian instalasi pembangkitan. (5) Pelaksanaan pemeriksaan dan pengujian instalasi penyediaan tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan. b. pelaksana pembangunan dan pemasangan.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan tenaga listrik untuk kepentingan umum yang tersambung ke instalasi penyediaan tenaga listrik milik pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan dan yang izinnya dikeluarkan oleh Menteri dilakukan oleh lembaga inspeksi teknik yang terakreditasi dan dilaporkan kepada Direktur Jenderal.lengkapi data mengenai: a.

Lembaga inspeksi teknik wajib mengirimkan tembusan sertifikat laik operasi yang telah diterbitkan kepada Direktur Jenderal. sedangkan sertifikat laik operasi untuk instalasi transmisi serta distribusi berlaku paling lama selama 10 (sepuluh) tahun dan setiap kali dapat diperpanjang untuk jangka waktu yang sama. Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya. Gubernur. (5) Hasil pemeriksaan dan pengujian sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dituangkan dalam laporan hasil uji laik operasi dengan menggunakan format sebagaimana tercantum dalam Lampiran IV Peraturan Menteri ini.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan dituangkan dalam laporan hasil uji laik operasi dengan menggunakan format sebagaimana tercantum dalam Lampiran III Peraturan Menteri ini. Pemeriksaan dan pengujian terhadap kesesuaian dengan ketentuan standar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dalam rangka keselamatan ketenagalistrikan. lembaga inspeksi teknik menerbitkan sertifikat laik operasi atas instalasi penyediaan tenaga listrik. Sertifikat laik operasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk instalasi pembangkitan tenaga listrik berlaku paling lama selama 5 (lima) tahun dan setiap kali dapat diperpanjang untuk jangka waktu yang sama. (2) (3) (4) (2) (3) (4) 59 . Biaya yang diperlukan untuk kegiatan dalam rangka sertifikasi instalasi penyediaan tenaga listrik dibebankan kepada pemilik instalasi. Pemeriksaan dan pengujian instalasi pemanfaatan tenaga listrik konsumen tegangan tinggi dan instalasi pemanfaatan tenaga listrik tegangan menengah dan/atau tegangan rendah yang dimiliki oleh konsumen tegangan tinggi dilakukan oleh lembaga inspeksi te knik yang telah terakreditasi dan dilaporkan kepada Direktur Jenderal. Pemeriksaan dan pengujian instalasi pemanfaatan tenaga listrik konsumen tegangan menengah dan instalasi pemanfaatan tenaga listrik tegangan rendah yang dimiliki oleh konsumen tegangan menengah dilakukan oleh lembaga inspeksi teknik yang telah terakreditasi dan dilaporkan kepada Gubernur atau Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya dalam pemberian izin penggunaan bangunan. Pasal 10 (1) Berdasarkan laporan hasil uji laik operasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (4) atau ayat (5). Bagian Keempat Pemeriksaan dan Pengujian Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik Pasal 11 (1) Instalasi pemanfaatan tenaga listrik yang telah selesai dibangun dan dipasang wajib dilakukan pemeriksaan dan pengujian terhadap kesesuaian dengan standar yang berlaku.

Pasal 14 (2) (3) (1) Pemeriksaan dan pengujian instalasi pemanfaatan tenaga listrik konsumen tegangan tinggi dan tegangan menengah dilaksanakan sekurang-kurangnya berdasarkan mata uji (test items) sebagaimana tercantum dalam Lampiran V Peraturan Menteri ini. pelaksana pembangunan dan pemasangan.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan (5) Pemeriksaan dan pengujian instalasi pemanfaatan tenaga listrik konsumen tegangan rendah dilakukan oleh lembaga inspeksi independen yang sifat usahanya nirlaba dan ditetapkan oleh Menteri. Hasil pemeriksaan dan pengujian instalasi pemanfaatan tenaga listrik (2) (3) 60 . Pelaksanaan sertifikasi laik operasi instalasi pemanfaatan tenaga listrik konsumen tegangan rendah dilaksanakan oleh lembaga inspeksi independen yang sifat usahanya nirlaba sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (5) sesuai dengan prosedur penyambungan tenaga listrik yang dikeluarkan oleh Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan atau Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan untuk Kepentingan Umum terintegrasi. b. Pemeriksaan dan pengujian instalasi pemanfaatan tenaga listrik konsumen tegangan rendah dilaksanakan berdasarkan mata uji (test items) sebagaimana tercantum dalam Lampiran VI Peraturan Menteri ini. pemilik instalasi mengajukan permohonan tertulis kepada lembaga inspeksi teknik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (3) atau ayat (4). c. Permohonan sertifikat laik operasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya harus memuat data mengenai: a. jenis instalasi. Instalasi pemanfaatan tenaga listrik konsumen tegangan rendah yang hasil pemeriksaan dan pengujiannya memenuhi kesesuaian dengan standar yang berlaku diberikan sertifikat laik operasi yang diterbitkan oleh lembaga inspeksi independen yang sifat usahanya nirlaba sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (5). jadwal pelaksanaan pembangunan dan pernasangan. dan d. Pasal 13 (2) (1) Untuk mendapatkan sertifikat laik operasi instalasi pemanfaatan tenaga listrik konsumen tegangan tinggi dan tegangan menengah. Pasal 12 (1) Instalasi pemanfaatan tenaga listrik konsumen tegangan tinggi dan konsumen tegangan menengah yang hasil pemeriksaan dan pengujiannya memenuhi kesesuaian dengan standar yang berlaku diberikan sertifikat laik operasi yang diterbitkan oleh lembaga inspeksi teknik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (3) atau ayat (4). kapasitas daya terpasang.

Berdasarkan laporan hasil uji laik operasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (4). Sertifikat laik operasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) untuk instalasi pemanfaatan tenaga listrik konsumen tegangan tinggi. lembaga inspeksi teknik menerbitkan sertifikat laik operasi instalasi pemanfaatan tenaga listrik konsumen tegangan tinggi dan tegangan menengah. lembaga inspeksi independen yang sifat usahanya nirlaba menerbitkan sertifikat laik operasi instalasi pemanfaatan tenaga listrik konsumen tegangan rendah. Gubernur. Pasal 15 (1) Berdasarkan laporan hasil uji laik operasi sebaqaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (3). Pemeliharaan sebagaimana termaksud pada ayat (2) meliputi: (2) (3) 61 . Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya. tegangan menengah dan tegangan rendah berlaku paling lama 15 (lima belas) tahun dan setiap kali dapat diperpanjang untuk jangka waktu yang sama. Segala biaya yang timbul dari kegiatan sertifikasi instalasi pemanfaatan tenaga listrik dibebankan kepada pemilik instalasi. (4) Hasil pemeriksaan dan pengujian instalasi pemanfaatan tenaga listrik konsumen tegangan rendah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dituangkan dalam laporan hasil uji laik operasi dengan menggunakan format sebagaimana tercantum dalam Lampiran VIII Peraturan Menteri ini.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan konsumen tegangan tinggi dan tegangan menengah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam laporan hasil uji laik operasi dengan menggunakan format sebagaimana tercantum dalam Lampiran VII Peraturan Menteri ini. (2) (3) (4) (5) Bagian Kelima Pengoperasian dan Pemeliharaan Instalasi Penyediaan Tenaga Listrik dan Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik Pasal 16 (1) Instalasi penyediaan tenaga listrik dan instalasi pemanfaatan tenaga listrik hanya dapat dioperasikan setelah mendapatkan sertifikat laik operasi. Lembaga inspeksi teknik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) wajib mengirimkan tembusan sertifikat laik operasi yang telah diterbitkan kepada Direktur Jenderal. Setiap instalasi penyediaan tenaga listrik dan instalasi pemanfaatan tenaga listrik harus terpelihara dengan baik.

tanda-tanda dan alat-alat pengaman. Untuk kepentingan keselamatan ketenagalistrikan. Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya dapat melakukan pemeriksaan instalasi penyediaan tenaga listrik dan instalasi pemanfaatan tenaga listrik. d. Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya melaksanakan pemeriksaan secara berkala terhadap setiap instalasi penyediaan tenaga listrik dan instalasi pemanfaatan tenaga listrik.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan a. Gubernur. Pelaksanaan pemeliharaan instalasi transmisi dan distribusi dapat dilakukan dalam keadaan bertegangan. Direktur Jenderal. Bupati/Walikota melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pemilik instalasi penyediaan tenaga listrik dan pemilik instalasi pemanfaatan tenaga listrik sesuai dengan kewenangannya. b. sesuai fungsi instalasi penyediaan tenaga listrik yang bersangkutan. Dalam keadaan tertentu Direktur Jenderal. Gubernur. BAB III PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Pasal 18 (2) (1) Direktur Jenderal. bagian-bagian yang mudah dan tidak mudah terkena gangguan. . (4) bagian-bagian yang mudah dan tidak mudah terlihat. Pada setiap lokasi instalasi penyediaan tenaga listrik dan instalasi pemanfaatan tenaga listrik konsumen tegangan tinggi dan menengah yang berpotensi membahayakan keselamatan umum harus diberi tanda peringatan yang jelas dalam bahasa Indonesia sehingga mudah dimengerti oleh masyarakat dengan menggunakan tanda peringatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Gubernur. standar internasional. c. Pelaksanaan pemeliharaan instalasi penyediaaan tenaga listrik dan instalasi pemanfaatan tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib memperhatikan petunjuk teknis (manual). Bagian Keenam Pengamanan Instalasi Penyediaan Tenaga Listrik dan Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik Pasal 17 (5) (1) Pengamanan instalasi penyediaan tenaga listrik dan instalasi pemanfaatan tenaga listrik dilakukan berdasarkan persyaratan teknik yang mengacu pada Standar Nasional Indonesia di bidang ketenagalistrikan. Dalam melakukan pembinaan dan pengawasan sebagaimana (2) (3) (4) 62 . dan alat-alat pelindung beserta alat pelengkap lainnya. atau standar negara lain yang tidak bertentangan dengan standar ISO/IEC.

(5) Dalam melakukan pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Dalam melakukan pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). BAB IV KETENTUAN LAIN Pasal 19 (1) Dalam hal lembaga inspeksi teknik yang terakreditasi belum tersedia atau jumlah lembaga inspeksi teknik yang telah terakreditasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) dan ayat (4) belum memadai sesuai dengan jumlah pekerjaan. apabila ditemukan penyimpangan dalam pelaksanaan sertifikasi laik operasi instalasi pemanfaatan tenaga listrik milik konsumen tegangan rendah. apabila ditemukan penyimpangan dalam pelaksanaan sertifikasi laik operasi instalasi penyediaan tenaga listrik dan instalasi pemanfaatan tenaga listrik. Dalam melakukan pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Menteri dapat mencabut penetapan lembaga inspeksi teknik independen yang sifat usahanya nirlaba. apabila ditemukan penyimpangan dalam pelaksanaan sertifikasi laik operasi instalasi penyediaan tenaga listrik dan instalasi pemanfaatan tenaga listrik. Direktur Jenderal dapat menunjuk lembaga inspeksi teknik yang belum terakreditasi yang secara teknis dianggap mampu untuk malaksanakan pemeriksaan dan pengujian atas i nstalasi penyediaan tenaga listrik Dalam hal lembaga inspeksi teknik yang terakreditasi belum tersedia atau jumlah Iembaga inspeksi teknik yang telah terakreditasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (3) dan ayat (4) belum memadai sesuai dengan jumlah pekerjaan. Direktur Jenderal dapat menunjuk lembaga inspeksi teknik yang belum terakreditasi yang secara teknis dianggap mampu untuk melaksanakan pemeriksaan dan pengujian atas instalasi pemanfaatan tenaga listrik konsumen tegangan tinggi dan konsumen tegangan menengah. sertifikat laik (6) (7) (2) (3) 63 . Gubernur. Direktur Jenderal. Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya dapat merekomendasikan kepada lembaga inspeksi teknik atau lembaga inspeksi teknik independen yang sifat usahanya nirlaba untuk memberikan peringatan tertulis atau mencabut sertifikat laik operasi apabila ditemukan penyimpangan dalam instalasi penyediaan tenaga listrik dan instalasi pemanfaatan tenaga listrik. maka sertifikat laik operasi instalasi penyediaan tenaga listrik.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan dimaksud pada ayat (1). Direktur Jenderal dapat mencabut surat penunjukan lembaga inspeksi teknik. Direktur Jenderal dapat mengusulkan kepada lembaga yang berwenang untuk mencabut akreditasi lembaga inspeksi teknik. Dalam hal pemeriksaan dan pengujian dilakukan oleh lembaga inspeksi teknik yang ditunjuk sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2).

(2) (3) (4) Pasal 22 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Gubernur atau Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya. Persyaratan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi data : a. perusahaan/lembaga inspeksi teknik mengajukan permohonan secara tertulis kepada Direktur Jenderal dengan dilengkapi persyaratan administratif dan teknis. profil perusahaan. peralatan kerja. Berdasarkan hasil evaluasi persyaratan administratif dan teknis. kemampuan pendanaan. Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 01 P/40/M. Direktur Jenderal memberikan surat penunjukan kepada lembaga inspeksi teknik untuk melakukan pemeriksaan dan pengujian atas instalasi penyediaan tenaga listrik. nomor pokok wajib pajak (NPWP) perusahaan. Pasal 20 (1) Untuk dapat ditunjuk sebagai lembaga inspeksi teknik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) dan ayat (2). Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 29 Desoibser 2005 MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL. b. b. BAB V KETENTUAN PENUTUP Pasal 21 Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku. sistem mutu. meliputi penanggung jawab teknik. dan f.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan operasi instalasi pemanfaatan tenaga listrik konsumen tegangan tinggi dan konsumen tegangan menengah diterbitkan oleh Direktur Jenderal. e. 64 . tenaga teknik. personil. pengalaman perusahaan di bidang inspeksi. dan instalasi pemanfaatan tenaga listrik konsumen tegangan tinggi atau konsumen tegangan menengah. identitas pemohon.PE/1990 tanggal 16 Juni 1990 tentang Instalasi Ketenagalistrikan sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 437 K/30/MEM/2003 tanggal 11 April 2003 dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. d. dan tenaga ahli bidang lingkungan. c. akta pendirian perusahaan. dan c. tenaga ahli senior.

Perlengkapan/peralatan Sistem Keselamatan Ketenagalistrikan .Kebocoran minyak pelumas . Sistem pengukuran 6.Perlengkapan/pelindung terhadap bahaya benda bertegangan .Uji kapasitas pembangkit . Pengujian individual peralatan utarna: .Perlengkapan/peralatan pengamanan kebakaran .Perlengkapan/pelindung terhadap bahaya benda berputar .Pembumian peralatan 2. 80% . Spesifikasi Material 3.Instalasi . Pemeriksaan secara visual: .Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 0045 Tahun 2005 TANGGAL : 29 Desember 2005 MATA UJI (TEST ITEM) LAIK OPERASI INSTALASI PEMBANGKITAN TENAGA LISTRIK Pembangkit No Mata Uji (Test Items) Baru Lama A Review Dokumen : 1.Elektrikal . Sistem pengaman mekanikal 5.Kebocoran minyak trafo .Uji keandalan pembangkit (72 jam . Pengujian fungsi catu daya peralatan proteksi dan kontrol Pemeriksaan dan Pengujian 1.Uji lepas beban (load rejection) .Kebocoran bahan bakar . Sistem pembumian 2.Uji pengaturan frekuensi (frequency regulation) . Koordinasi proteksi dengan grid sistem tenaga listrik 7.Elektrikal .Mekanikal 3. Sistem pengaman elektrikal 4. Pengukuran tahanan sistem pembumian 2. Shorf circuit level system 3. Pengujian unjuk kerja meliputi: .100% dari kemampuan pembangkit) V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V B*) V V V V V V V V V V V V V V V V V V D*) B C D 65 .Mekanikal 4. Spesifikasi teknik 2.Uji pengaturan tegangan (voltage regulation) . Clearance dan creepage distance Evaluasi Hasil Uji: 1.Uji sinkronisasi . Dokumen AMDAL atau UKL/UPL Review Desain: 1.Data name plate peralatan utama . Pengujian fungsi peralatan proteksi dan kontrol .

Pengukuran emisi gas buang . 66 . D*) : Untuk pembangkit lama.Pengukuran tingkat kebisingan .Pemeriksaan limbah (padat dan cair) Lama V V V V V V Keteranqan: B*) : Review desain secara lengkap dilakukan jika terjadi perubahan desain pada pembangkit itu sendiri atau perubahan pada grid (sistem). MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL. jangka waktu pengujian paling sedikit dilakukan selama 24 jam. . Pemeriksaan dampak lingkungan: .Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan MATA UJI (TEST ITEMS) LAIK OPERASI INSTALASI PEMBANGKITAN TENAGA LISTRIK Pembangkit NO Mata Uji (Test items) Baru 3.

Perlengkapan/pelindung terhadap bahaya benda bertegangan .Perlengkapan/peralatan pengamanan kebakaran .Sistem pembumian 2. Pengujian individual peralatan utama 4. Sistem pengukuran 6. Pengujian fungsi peralatan proteksi dan kontrol 5. MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL. Pengukuran tahanan isolasi 3. Shorf circuit level system 3.Pengukuran .Pemeriksaan limbah Baru V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V Lama V B*) V V V V V V V V V V V V V V B C D Keteranqan: B*) : Review desain secara lengkap dilakukan jika terjadi perubahan desain pada instalasi transmisi dan distribusi itu sendiri atau perubahan pada grid (sistem).Perlengkapan/peralatan Sistem Keselamatan Ketenagalistrikan . Spesifikasi Material 3.Data name plate peralatan utama . Pengujian fungsi peralatan proteksi dan kontrol 3.Kebocoran minyak trafo . Pemeriksaan dampak kebisingan : . Pengukuran tahanan sistem pembumian 2.Instalasi . Dokumen AMDAL atau UKL/UPL Review Desain: 1. Koordinasi proteksi dengan grid sistem tenaga listrik 7.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan LAMPIRAN I I PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 0045 Tahun 2005 TANGGAL : 29 Desember 2005 MATA UJI (TEST ITEMS) LAIK OPERASI INSTALASI TRANSMISI DAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK Penyalur No A Mata Uji (Test Items) Review Dokumen : 1. 67 . Pemeriksaan secara visual: . Pengujian fungsi catu daya peralatan proteksi dan kontrol Pemeriksaan dan Pengujian 1. Clearance dan creepage distance Evaluasi Hasil Uji: 1. Sistem pengaman mekanikal 5. Spesifikasi teknik 2. Sistem pengaman elektrikal 4.Pembumian peralatan 2.

3 1.1 Hasil Review Dokumen Uraian antara lain mengenai spesifikasi teknik.4 BAB 11 PELAKSANAAN UJI LAIK OPERASI 2. pemilik instalasi pembangkitan tenaga listrik.3 68 . Riwayat Instalasi Uraian antara lain mengenai tahun pembangunan dan pemasangan. c/earance dan creepage distance. pengujian fungsi AMDAL 2. kapasitas terpasang.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan LAMPIRAN I I I PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 0045 Tahun 2005 TANGGAL : 29 Desember 2005 LAPORAN UJI LAIK OPERASI INSTALASI PEMBANGKITAN TENAGA LISTRIK JUDUL RINGKASAN EKSEKUTIF DAFTAR ISI KATA PENGANTAR BAB I PENDAHULUAN 1. lokasi instalasi. kontraktor pelaksana pembangunan dan pemasangan. standar terkait yang dipergunakan.2 1. koordinasi proteksi dengan grid sistem tenaga listrik. lembaga inspeksi teknis.1 Umum Uraian antara lain mengenai dasar pelaksanaan uji laik operasi. short circuit level sistem. konsultan perencana. lingkup pekerjaan uji laik operasi (jumlah dan rincian instalasi pembangkitan tenaga listrik yang akan diuji). bahan bakar yang digunakan. prosedur pemeriksaan dan pengujian. tujuan pembangunan instalasi pembangkitan tenaga listrik. sistem pengaman elektrikal dan mekanikal. sistem pengukuran. Pelaksanaan Uji Laik Operasi Uraian antara lain mengenai waktu pelaksanaan. 1. spesifikasi material. dokumen atau UKL/UPL. Referensi Uraian antara lain mengenai peraturan perundang-undangan yang terkait.2 2. kons-ultan pengawas. Evaluasi Hasil Uji Uraian antara lain mengenai pengukuran tahanan sistem pembumian. perusahaan pengoperasian instalasi pembangkitan tenaga listrik. peralatan uji laik operasi. Hasil Review Desain Uraian antara lain mengenai sistem pembumian. pengujian individual peralatan utama yang meliputi bidang elektrikal dan bidang mekanikal.

perlengkapan/peralatan sistem Keselamatan Ketenagalistrikan (K2). pengujian keandalan pembangkit (72 jam .1 3. pemeriksaan limbah (padat dan cair). SARAN DAN REKOMENDASI 3. pengujian fungsi catu daya peralatan proteksi dan control.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan peralatan proteksi dan kontrol bidang elektrikal dan bidang mekanikal. 69 . perlengkapan/pelindung terhadap bahaya benda berputar. pengaturan tegangan (voltage regu/ation). Saran dan Rekomendasi.2 Kesimpulan. pembumian peralatan. pengujian lepas beban (load rejection). pengujian kapasitas pembangkit. pengaturan frekuensi (frequency regulation).100% dari kemampuan pembangkit). perlengkapan/pelindung terhadap bahaya benda bertegangan. 2. kebocoran bahan bakar. Hasil pengujian unjuk kerja: Uraian antara lain mengenai uji sinkronisasi.4 Hasil Pemeriksaan dan Pengujlan • Hasil pemeriksaan secara visual : Uraian antara lain mengenai data name plate peralatan utama perlengkapan/peralatan pengamanan kebakaran. pengukuran emisi gas buang. kebocoran minyak trafo. kebocoran minyak pelumas. • • BAB III KESIMPULAN. 80% . Hasil pemeriksaan dampak lingkungan: Uraian antara lain mengenai pengukuran tingkat kebisingan. Data-data hasil uji laik operasi. instalasi. 2. LAMPI RAN 1. Berita acara pelaksanaan uji laik operasi MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL.

prosedur pemeriksaan dan pengujian. sistem pengukuran.1 Umum Uraian antara lain mengenai dasar pe!aksanaan uji laik operasi. 1. 2.3 1. lembaga inspeksi teknis. 70 .2 1. short circuit level sistem. clearance dan creepage distance. tujuan pembangunan instalasi transmisi dan atau distribusi tenaga listrik. lokasi instalasi. standar terkait yang dipergunakan. Riwayat Instalasi Uraian antara lain mengenai tahun pembangunan dan pemasangan. perusahaan pengoperasian instalasi transmisi dan/atau distribusi tenaga listrik.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan LAMPIRAN I V PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 0045 Tahun 2005 TANGGAL : 29 Desember 2005 LAPORAN UJI LAIK OPERASI INSTALASI TRANSMISI DAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK JUDUL RINGKASAN EKSEKUTIF DAFTAR ISI KATA PENGANTAR BABI PENDAHULUAN 1. sistem pengaman elektrikal dan mekanikal. dokumen AMDAL atau UKL/UPL. kontraktor pelaksana pembangunan dan pemasangan. konsultan pengawas. Pelaksanaan Uji Laik Operasi Uraian antara lain mengenai waktu pelaksanaan. panjang saluran transmisi dan/atau distribusi tenaga listrik yang akan diuji). konsultan perencana. Referensi Uraian antara lain mengenai peraturan perundang-undangan yang terkait. lingkup pekerjaan uji laik operasi (jumlah/kapasitas gardu induk.1 Hasil Review Dokumen Uraian antara lain mengenai spesifikasi teknik.4 BAB 11 PELAKSANAAN UJI LAIK OPERASI 2. pemilik instalasi transmisi dan/atau distribusi tenaga listrik.2 Hasil Review Desain Uraian antara lain mengenai sistem pembumian. peralatan uji laik operasi. koordinasi proteksi dengan grid sistem tenaga listrik. spesifikasi material. kapasitas terpasang (gardu dan saluran transmisi/distribusi).

MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL 71 .4 BAB III KESIMPULAN. perlengkapan/peralatan pengamanan kebakaran. 2. 2. Saran dan Rekomendasi.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan 2. perlengkapan/pelindung terhadap bahaya benda bertegangan. • Hasil pemeriksaan dampak lingkungan Uraian antara lain mengenai pengukuran tingkat kebisingan. pengujian fungsi peralatan proteksi dan kontrol. instalasi. pengujian fungsi catu daya peralatan proteksi dan kontrol. Data-data hasil uji laik operasi.2 Kesimpulan. • Hasil pengujian fungsi peralatan pengarnan dan kontro!. Berita acara pelaksanaan uji laik operasi.1 3. pengukuran tahanan isolasi. pembumian peralatan). pengujian individual peralatan utama.3 Evaluasi Hasil Uji Uraian antara lain mengenai pengukuran tahanan sistem pembumian. perlengkapan/peralatan Sistem Keselamatan Ketenagalistrikan (K2). LAMPIRAN 1. SARAN DAN REKOMENDASI 3. pemeriksaan limbah. Hasil Pemeriksaan dan Pengujian • Hasil pemeriksaan secara visual: Uraian antara lain mengenai data name plate peralatan utama. kebocoran minyak trafo.

Pengukuran tahanan sistem pembumian 3. Pemeriksaan secara visual: . Pengujian individual peralatan utama 5.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan LAMPIRAN V PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 0045 Tahun 2005 TANGGAL : 29 Desember 2005 MATA UJI (TEST ITEMS) LAIK OPERASI INSTALASI PEMANFAATAN TENAGA LISTRIK KONSUMEN TEGANGAN TINGGI DAN TEGANGAN MENENGAH Instalasi No A Mata Uji (Test Items) Review Dokumen : 1.Pemeriksaan kebocoran minyak trafo 2. Sistem pengaman elektrikal 4. Clearance dan creepage distance Pemeriksaan dan Pengujian 1. Pengukuran ketahanan isolasi 4. MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL.Data name plate peralatan utama . Pengujian fungsi catu daya peralatan proteksi dan kontrol Baru V V V V V V V V V V V V V V V Lama V B*) V V V V V V B C V V V V V V V V V Keteranqan: B*) : Review desain secara lengkap dilakukan jika terjadi perubahan desain pada instalasi pemanfaatan tenaga listrik itu sendiri atau perubahan pada grid (sistem). Sistem pengaman mekanikal 5. Spesifikasi Material 3. Koordinasi proteksi dengan grid sistem tenaga listrik 7. Dokumen AMDAL atau UKL/UPL Review Desain: 1.Perlengkapan/peralatan Sistem Keselamatan Ketenagalistrikan . Sistem pengukuran 6. Sistem pembumian 2. Pengujian fungsi peralatan proteksi dan kontrol 6. Shorf circuit level system 3.Perlengkapan/pelindung terhadap bahaya benda bertegangan .Perlengkapan/peralatan pengamanan kebakaran . 72 .Pemeriksaan pembumian peralatan . Spesifikasi teknik 2.pemeriksaan secara fisik instalasi .

Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan LAMPIRAN VI PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 0045 Tahun 2005 TANGGAL : 29 Desember 2005 MATA UJI (TEST /TEMS) LAIK OPERASI INSTALASI PEMANFAATAN TENAGA LISTRIK KONSUMEN TEGANGAN RENDAH Instalasi No A B C Gambar InstalasiL Proteksi terhadap sentuh langsung GPAS 30 mA V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V B*) V V V V V V Mata Uji (Test Items) Baru Lama Proteksi terhadap bahaya kebakaran akibat listrik GPAS 500 mA Proteksi terhadap sentuh langsung Penghantar 1. Saluran/sirkit akhir 4. 73 . Saluran/sirkit utama 2. Penghantar bumi 5. Saluran/sirkit cabang 3. Pengukuran resistans insulasi:tegangan uji 500 V 6. Terminal 2. PHB utama 3. Hubungan penghantar N dan PE Perlengkapan Hubung Bagi (PHB): 1. Pengukuran resistans penghantar bumi 7. PHB cabang Elektrode pembumian Polaritas Pemasangan Perlengkapan/lengkapan instalasi bertanda SNI Instalasi khusus kamar mandi D E F G H I J K V V V V MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL.

4 BAB 11 PELAKSANAAN UJI LAIK OPERASI 2. Referensi Uraian antara lain mengenai peraturan perundang-undangan yang terkait.1 Umum Uraian antara lain mengenai dasar pelaksanaan uji laik operasi. Hasil Review Desain Uraian antara lain mengenai sistem pembumian.2 Hasil Review Dokumen Uraian antara lain mengenai spesifikasi teknik.2 1. standar terkait yang dipergunakan. peralatan uji laik operasi. kontraktor pelaksana pembangunan. tim uji laik operasi Direktorat Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi. sistem pengukuran. konsultan pengawas pembangunan. 2. Riwayat Instalasi Uraian antara lain mengenai tahun pernbangunan. lingkup pekerjaan uji laik operasi. clearance dan creepage distance. spesifikasi material. sistem pengaman elektrikal dan mekanikal. lembaga inspeksi teknis.3 74 . Hasil Pemeriksaan dan Pengujian Hasil pemeriksaan visual/fisik: Uraian antara lain mengenai data name plate peralatan utama. short circuit level sistem. koordinasi proteksi dengan grid sistem tenaga listrik.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan LAMPIRAN VIIPERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 0045 Tahun 2005 TANGGAL : 29 Desember 2005 LAPORAN UJI LAIK OPERASI INSTALASI PEMANFAATAN TENAGA LISTRIK KONSUMEN TEGANGAN TINGGI DAN TEGANGAN MENENGAH JUDUL RINGKASAN EKSEKUTIF DAFTAR ISI KATA PENGANTAR BABI PENDAHULUAN 1.1 2. 1.3 1. lokasi instalasi. Pelaksanaan Uji Laik Operasi Uraian antara lain mengenai waktu pelaksanaan. perlengkapan/peralatan pengamanan kebakaran. konsultan perencana pembangunan. prosedur pemeriksaan dan pengujian. perlengkapan/pelindung terhadap bahaya benda bertegangan. operator instalasi. pemilik instalasi pemanfaatan tenaga listrik.

1 3. fungsi catu daya peralatan proteksi dan kontrol. pemeriksaan pembumian peralatan. Berita acara pelaksanaan uji laik operasi MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL. Data-data hasil uji laik operasi. Hasil pengujian individual peralatan utama. BAB III KESIMPULAN. Saran dan Rekomendasi. Hasil pengukuran tahanan sistem pembumian.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan perlengkapan/peralatan Sistem Keselamatan Ketenagalistrikan (K2). pemeriksaan kebocoran minyak trafo. pemeriksaan secara fisik instalasi.2 Kesimpulan. LAMPIRAN 1. 2. ketahanan isolasi. 75 . fungsi peralatan proteksi dan kontrol. SARAN DAN REKOMENDASI 3.

5.P/47/M. 6. Mengingat: 1. bahwa sehubungan dengan pertimbangan tersebut diatas.bahwa dalam pembangunan SUTT/SUTET selama Ini tanah dan bangunan diluar penggunaan tapak penyangga yang terletak d bawah SUTT/SUTET tidak memperoleh suatu imbalan dari Pengusaha SUTT/SUTET sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 01. c.P/47/M. TLN Nomor 3373). 4.P/47/M. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 (LN Tahun 1992 Nomor 115. Keputusan Presiden Nomor 122/M Tahun 1998 tanggal 22 Mei 1998. TLN Nomor 3699). TLN Nomor 3317). TLN Nomor 3394). TLN Nomor 3660).P/47/M. TLN Nomor 3502).PE/1992 tanggal 7 Februari 1992. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1996 (LN Tahun 1996 Nomor 104. lingkungan hidup. 7. ekonomi. 8. TLN Nomor 3538). 76 . bahwa pelaksanaan pembangunan ketenagalistrikan harus memperhatikan faktor-faktor sosial.PE/1992. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 (LN Tahun 1993 Nomor 84. 9. Undang-undang Nomor 15 Tahun 1985 (LN Tahun 1985 Nomor 74. 10.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan MENTERI PERTAMBANGAN DAN ENERGI REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI PERTAMBANGAN DAN ENERGI NOMOR : 975 K/47/MPE/1999 TENTANG PERUBAHAN PERATURAN MENTERI PE RTAMBANGAN DAN ENERGI NOMOR 01. dipandang perlu mengubah beberapa ketentuan dalam peraturan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 01. dan kesehatan masyarakat diwilayah pembangunan ketenagalistrikan. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 (LN Tahun 1997 Nomor 68. 2.PE/1992. Keputusan Presiden Nomor 61 Tahun 1998 tanggal 13 April 1998.PE/1992 TENTANG RUANG BEBAS SALURAN UDARA TEGANGAN TINGGI (SUTT) DAN SALURAN UDARA TEGANGAN EKSTRA TINGGI (SUTET) UNTUK PENYALURAN TENAGA LISTRIK MENTERI PERTAMBANGAN DAN ENERGI Menimbang :a. Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 01. 3. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1988 (LN Tahun 1988 Nomor 10. b. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1989 (LN Tahun 1989 Nomor 24.

PE/1992 tentang Ruang Bebas Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) dan saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) untuk penyaluran Tenaga Listrik diubah sebagai berikut : 1. Ketentuan pasal 5 diubah sebagai berikut: (1) Tanah tempat untuk mendirikan Tapak penyangga termasuk bangunan dan tumbuh-tumbuhan diatas tanah tersebut harus dibebaskan dan diberikan ganti rugi. pepohonan yang tumbuh Untuk selanjutnya kata “tanaman” yang tercantum dalam pasal-pasal berikutnya dibaca menjadi “tumbuh-tumbuhan“. Mengubah bentuk “Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi tentang ruang bebas Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) dan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) untuk penyaluran tenaga listrik menjadi Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi. Ketentuan Pasal 1 angka 20 diubah sebagai berikut : Tumbuh-tumbuhan adalah semua jenis dengan tinggi lebih dari 3 (tiga) meter. Pasal I Beberaapa ketentuan dalam peraturan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 01. Judul Bab III bagian Ketiga diubah sebagai berikut : ” Ganti rugi dan Kompensasi tanah. (2) Besar ganti rugi atas tanah. harus dibongkar dan 77 . bangunan dan tumbuh-tumbuhan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI PERTAMBANGAN DAN ENERGI TENTANG PERUBAHAN PERATURAN MENTERI PERTAMBANGAN DAN ENERGI NOMOR 01.ditetapkan berdasarkan musyawarah antara Pengusaha dengan Pemilik tanah serta berpedoman pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.P/47/M. (3) Bangunan dan tumbuh-tumbuhan baik seluruhnya maupun sebagian yang telah ada sebelumnya dan berada pada proyeksi ruang bebas SUTT/SUTET atau yang dapat membahayakan SUTT/SUTET harus dibebaskan dan diberi ganti rugi. 2. Untuk selanj utnya kata “Peraturan“ yang tercantum dalam pasalpasal beri kutnya dibaca menjadi “keputusan”.P/47/M. Tumbuh-tumbuhan serta Bangunan” 4.PE/1992 TENTANG RUANG BEBAS SALURAN UDARA TEGANGAN TINGGI (SUTT) DAN SALURAN UDARA TEGANGAN EKSTRA TINGGI (SUTET) UNTUK PENYALURAN TENAGA LISTRIK. 3. (5) Bangunan dan tumbuh-tumbuhan yang telah diberi ganti rugi seluruhnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dan ayat (4). (4) Besar ganti rugi atas bangunan dan tumbuh-tumbuhan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) ditetapkan berdasarkan musyawarah serta berpedoman pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(7) Kompensasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (6) diberikan untuk satu kali sehingga bila terjadi pengalihan atau peralihan hak atas tanah dan bangunan tidak menimbulkan hak untuk memperoleh kompensasi bagi pemilik baru. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 11 Mei 1999 78 . Pasal II Keputusan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan ditebang seluruhnya oleh pemiliknya. (6) Tanah dan bangunan yang telah ada sebelumnya yang berada dibawah proyeksi Ruang Bebas SUTT/SUTET diluar penggunaan untuk mendirikan Tapak Penyangga sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diberikan kompensasi. (8) Pemilik tanah dan bangunan yang telah menerima kompensasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (6). dapat memanfaatkan lahan dan mendirikan bangunan sepanjang tidak masuk atau tidak akan masuk ke ruang bebas SUTT/SUTET. . (9) Pedoman untuk pemberian kompensasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (6) adalah sebagaimana tercantum pada lampiran keputusan Menteri ini.

1 c. maka harga tanah dan bangunan dapat didasarkan pada Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) tahun berjalan yang telah ditetapkan oleh Kantor Pajak. 2. kebun tanah sawah : : : : : 1 1 0. b. hak guna usaha dan hak pakai dipertimbangkan pula persentase sisa jangka waktu pemanfaatan tanah yang bersangkutan. dengan penilaian sebagai berikut : tanah hak milik (bersertifikat) tanah hak milik adat tanah hak guna bangunan tanah hak guna usaha tanah hak pakai tanah wakaf : : : : : : 100% 90% 80% 80% 70% 100% Untuk hak guna bangunan. Indeks pemanfaatan fungsu Tanah dan Bangunan Indeks pemanfaatan fungsi tanah dan bangunan ditetapkan dengan mempertimbangkan objek dan peruntukan tanah dan bangunan dikalikan dengan optimalisasi lahan. status tanah dan harga tanah.3 0. Status Tanah. Unsur-unsur pemberian kompensasi : a.5 0. Berdasarkan konsepsi optimalisasi lahan ini. Optimalisasi lahan Pemilihan pola pendekatan ini didasarkan pada pertimbangan bahwa tanah mempunyai fungsi sosial tanpa mengesampingkan kepentingan individu / rakyat banyak . Pemberian kompensasi atas tanah mempertimbangkan status tanah yang bersangkutan. kompensasi diperhitungkan sebesar 10%. 79 .Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERTAMBANGAN DAN ENERGI NOMOR : 975 K/47/MPE/1999 TANGGAL : 11 Mei 1999 PEDOMAN PEMBERIAN KOMPENSASI TERHADAP TANAH DAN BANGUNAN UNTUK KEGIATAN USAHA SUTT/SUTET 1. d. yang besarnya adalah : bangunan tanah untuk mendirikan bangunan tanah pekarangan ladang. Dengan dasar pemikiran ini berarti tidak ada pengalihan hak atas tanah dan diharapkan pemilik tanah tetap dapat menggarap tanahnya dan memperoleh hasilnya. Dasar Pemikiran Pemberian kompensasi terhadap tanah dan bangunan untuk kegiatan usaha SUTT/SUTET didasarkan pada pemikiran dengan pola pendekatan optimalisasi lahan. Harga tanah Guna memperoleh dasar hukum harga tanah dan bangunan. indeks pemanfaatan fungsi tanah dan bangunan.

Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan

3. Rumus Pemberian Kompensasi Rumus penghitungan pemberian kompensasi tanah dan bangunan dengan memperhatikan unsur-unsur pemberian kompensasi tanah dan bangunan adalah : Nilai kompensasi = optimalisasi lahan x indeks fungsi x status tanah x NJOP

80

Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : 17 TAHUN 2001 TENTANG JENIS RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN YANG WAJIB DILENGKAPI DENGAN ANALISA MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP Menimbang: a. bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Provinsi sebagai Daerah otonom perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan tentang Jenis Rencana Usaha dan / atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup; b. bahwa berdasarkan kenyataan terdapat jenis rencana usaha dan / atau kegiatan dalam skala / besaran yang lebih kecil dibandingkan dengan jenis rencana usaha dan / atau kegiatan sebagaimana yang tercantum dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan hidup Nomor 3 Tahun 2000 Tentang Jenis Usaha dan / atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Aanalisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup, tetapi karena daya dukung , daya tampung, dan tipologi ekosistem daerah setempat jenis rencana usaha dan / atau kegiatan tersebut menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup;

2. bahwa mengingat hal tersebut diatas perlu ditetapkan keputusan Menteri
Negara Lingkungan Hidup Tentang Jenis Rencana Usaha dan / atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 49; Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419);

2. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 115; Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501); 3. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan lingkungan hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68; Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699) 4. Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60; Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839); 5. Perturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 Tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59; Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838); 6. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang kewenangan Pemerintah dan Kewenangan dan Kewenangan Provinsi sebagai daerah

81

Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan

Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54; Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952). MEMUTUSKAN Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG JENIS RENCANA USAHA DAN / ATAU KEGIATAN YANG WAJIB DILENGKAPI DENGAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP. Pertama : Jenis rencana usaha dan / atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup adalah sebagaimana dimaksud dalam lampiran keputusan ini. Apabila skala / besaran suatu jenis rencana usaha dan / atau kegiatan lebih kecil daripada skala / besaran yang tercantum pada lampiran keputusan ini akan tetapi atas dasar pertimbangan ilmiah mengenai daya dukung dan daya tampung lingkungan serta tipologi ekosistem setempat diperkirakan berdampak penting terhadap lingkungan hidup, maka bagi jenis usaha dan / atau kegiatan tersebut dapat ditetapkan oleh Bupati / Walikota atau Gubernur untuk wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Jenis Usaha dan / atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Jenis rencana usaha dan / atau kegiatan yang tidak termasuk dalam lampiran keputusan ini tetapi lokasinya berbatasan langsung dengan kawasan lindung wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Apabila bupati / Walikota atau Gubernur untuk wilayah Daerah Khusus ibukota Jakarta dan / atau masyarakat menganggap perlu untuk mengusulkan jenis rencana usaha dan / atau kegiatan yang tidak tercantum dalam lampiran Keputusan ini tetapi jenis rencana usaha dan / atau kegiatan tersebut dianggap mempunyai dampak penting terhadap lingkungan, maka Bupati / Walikota atau Gubernur untuk wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan / atau masyarakat wajib mengajukan usulan secara tertulis kepada Menteri Negara Lingkungan Hidup. Menteri Negara Lingkungan Hidup akan mempertimbangkan penetapan keputusan terhadap jenis rencana usaha dan / atau kegiatan yang diusulkan tersebut menjadi jenis rencana usaha dan / atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Jenis rencana usaha dan/ atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini akan ditinjau kembali sekurang-kurangnya sekali dalam 5 (lima) tahun Dengan berlakunya keputusan ini, maka keputusan Menteri Negara Lingkungan Nomor : 3 Tahun 2000 tentang jenis Usaha dan / atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dinyatakan tidak berlaku lagi. Keputusan ini mulai berlaku 2 (dua) bulan sejak tanggal ditetapkan.

Kedua

:

Ketiga

:

Keempat :

Kelima :

Keenam :

Ketujuh :

Kedelapan :

82

A. ttd Dr. Sonny Keraf 83 .Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 22 Mei 2001 Menteri Negara Lingkungan Hidup.

MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL TENTANG STANDARDISASI KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN. 2.K/40/MPE/1997 TANGGAL 18 DESEMBER 1997. PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 10 TAHUN 1989 (LN TAHUN 1989 NOMOR 24. KEPUTUSAN PRESIDEN NOMOR 228/M TAHUN 2001 TANGGAL 9 AGUSTUS 2001. UNDANG-UNDANG NOMOR 15 TAHUN 1985 (LN TAHUN 1985 NOMOR 74. perlu mengatur standardisasi kompetensi tenaga teknik ketenagalistrikan dalam suatu Keputusan Menteri. Menimbang : bahwa sebagai pelaksanaan ketentuan Pasal 18 ayat (2) Undangundang Nomor 15 Tahun 1985 tentang Ketenagalistrikan dan ketentuan Pasal 34 Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1989 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik serta untuk mewujudkan penyediaan tenaga listrik secara andal. TLN NOMOR 3317). 3. PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 25 TAHUN 1995 (LN TAHUN 1995 NOMOR 46. UNDANG-UNDANG NOMOR 18 TAHUN 1999 (LN TAHUN 1999 NOMOR 54. 84 . 5. TLN NOMOR 3394). KEPUTUSAN MENTERI PERTAMBANGAN DAN ENERGI NOMOR 2500. aman.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR :2052 K/40/MEM/2001 TENTANG STANDARDISASI KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL. Standardisasi Kompetensi Tenaga Teknik Ketenagalistrikan yang selanjutnya disebut Standardisasi Kompetensi adalah proses merumuskan. 6. TLN NOMOR 3833). MENGINGAT : 1. menetapkan. 4. TLN NOMOR 3603). dan akrab lingkungan. BAB I (a) KETENTUAN UMUM (b) Pasal 1 Dalam Keputusan Menteri ini yang dimaksud dengan : 1.

Menteri adalah Menteri yang bertanggung jawab di bidang ketenagalistrikan. 85 . Pemberlakuan Standar Kompetensi adalah kegiatan memberlakukan Standar Kompetensi secara wajib. Tenaga Teknik Ketenagalistrikan yang selanjutnya disebut Tenaga Teknik adalah seseorang yang berpendidikan di bidang teknik dan atau memiliki pengalaman kerja di bidang ketenagalistrikan. Akreditasi adalah rangkaian kegiatan pengakuan formal kepada suatu lembaga sertifikasi yang telah memenuhi persyaratan untuk melakukan kegiatan sertifikasi kompetensi. 4. Sertifikasi Kompetensi adalah rangkaian kegiatan penerbitan sertifikat kompetensi kepada Tenaga Teknik oleh Lembaga Sertifikasi Kompetensi. Penetapan Standar Kompetensi adalah kegiatan menetapkan rancangan Standar Kompetensi menjadi Standar Kompetensi. Kompetensi Tenaga Teknik Ketenagalistrikan yang selanjutnya disebut Kompetensi adalah kemampuan Tenaga Teknik untuk mengerjakan suatu tugas dan pekerjaan yang dilandasi oleh pengetahuan. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal yang bertanggung jawab di bidang ketenagalistrikan. 16. 11. Komisi Akreditasi Kompetensi Ketenagalistrikan yang selanjutnya disebut Komisi Akreditasi adalah komisi yang memberikan Akreditasi. 3. Peninjauan Kembali Standar Kompetensi adalah kegiatan menyempurnakan Standar Kompetensi sesuai dengan kebutuhan. keterampilan dan sikap kerja. standar kompetensi 2. Sertifikat Kompetensi adalah pengakuan tertulis yang diberikan oleh Lembaga Sertifikasi Kompetensi yang menyatakan bahwa Tenaga Teknik telah memiliki Kompetensi. 8. 12. 15. 5. Penerapan Standar Kompetensi adalah kegiatan menggunakan Standar Kompetensi. 14. 10. keterampilan dan didukung sikap serta penerapannya ditempat kerja yang mengacu pada unjuk kerja yang dipersyaratkan. Standar Kompetensi Tenaga Teknik Ketenagalistrikan yang selanjutnya disebut Standar Kompetensi adalah rumusan suatu kemampuan yang dilandasi oleh pengetahuan. 6. Lembaga Sertifikasi Kompetensi adalah lembaga yang telah diakreditasi untuk melaksanakan Sertifikasi Kompetensi.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan memberlakukan. 7. menerapkan. dan meninjau kembali serta akreditasi dan sertifikasi kompetensi. Perumusan Standar Kompetensi adalah rangkaian kegiatan sejak pengumpulan dan pengolahan data untuk menyusun rancangan Standar Kompetensi sampai tercapainya konsensus dari semua pihak yang terkait. 9. 13.

aman. (2) Direktur Jenderal membentuk Forum Konsensus yang susunan keanggotaannya terdiri dari Panitia Teknik Perumusan Standar Kompetensi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan pihak lain yang berkepentingan dengan perumusan dan penerapan standar yang bersangkutan untuk membahas konsep Standar Kompetensi menjadi rancangan Standar Kompetensi. menunjang usaha ketenagalistrikan dalam mewujudkan penyediaan tenaga listrik yang andal. organisasi profesi dan para pakar bidang ketenagalistrikan untuk menyusun konsep Standar Kompetensi. mewujudkan tertib ketenagalistrikan. c. b. mewujudkan peningkatan Kompetensi Tenaga Teknik. penyelenggaraan pekerjaan pada usaha BAB IV STANDAR KOMPETENSI Bagian Pertama Perumusan Standar Kompetensi Pasal 4 (1) Direktur Jenderal membentuk Panitia Teknik Perumusan Standar Kompetensi yang susunan keanggotaannya terdiri dari unsur pemerintah. penerapan dan peninjauan kembali Standar Kompetensi. organisasi masya-rakat. pemberlakuan.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan BAB II RUANG LINGKUP Pasal 2 Ruang lingkup Standardisasi Kompetensi mencakup seluruh kegiatan yang berkaitan dengan perumusan. organisasi/asosiasi perusahaan. 86 . BAB III TUJUAN STANDARDISASI KOMPETENSI Pasal 3 Standardisasi Kompetensi bertujuan untuk : a. penetapan. dan akrab lingkungan. akreditasi Lembaga Sertifikasi Kompetensi serta Sertifikasi Kompetensi.

Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Pasal 5 (1) Standar Kompetensi disusun berdasarkan : a. (2) Konsep Standar Kompetensi yang dihasilkan oleh Panitia Teknik Perumusan Standar Kompetensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) sebelum dibahas dalam Forum Konsensus terlebih dahulu disebarluaskan oleh Direktur Jenderal kepada instansi dan masyarakat terkait lainnya untuk memperoleh tanggapan dan atau masukan. badan atau lembaga kepada Direktur Jenderal sebagai bahan masukan untuk perumusan Standar Kompetensi. Acuan standar internasional. badan atau lembaga sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dibahas oleh Panitia Teknik Perumusan Standar Kompetensi dan Forum Konsensus untuk menjadi rancangan Standar Kompetensi melalui prosedur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5. (2) Standar Kompetensi perusahaan. Kualifikasi dan klasifikasi teknis ketenagalistrikan. asosiasi. standar negara lain atau acuan lainnya yang relevan. (4) Konsep Standar Kompetensi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) serta tanggapan dan atau masukan dari instansi dan masyarakat terkait sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dibahas dalam Forum Konsensus untuk mencapai konsensus menjadi rancangan Standar Kompetensi. asosiasi. (3) Tanggapan dan atau masukan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) disampaikan kepada Direktur Jenderal dalam periode 30 (tiga puluh) hari kalender sejak tanggal penyebarluasan. asosiasi. Data yang lengkap dan dapat dipertanggungjawabkan. b. Bagian Kedua Penetapan Standar Kompetensi Pasal 7 (1) Direktur Jenderal mengusulkan rancangan Standar Kompetensi hasil Forum Konsensus kepada Menteri untuk ditetapkan menjadi Standar Kompetensi. c. badan atau lembaga dapat mengajukan Standar Kompetensi perusahaan. (2) Standar Kompetensi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diberi nomor dan kode sesuai pedoman yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal. 87 . Pasal 6 (1) Perusahaan.

Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Bagian Ketiga Pemberlakuan Standar Kompetensi Pasal 8 (1) Direktur Jenderal mengusulkan Standar Kompetensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) kepada Menteri untuk diberlakukan sebagai standar wajib. organisasi masyarakat. yang susunan keanggotaannya terdiri dari unsur pemerintah. (2) Dalam mengusulkan pemberlakuan Standar Kompetensi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). (2) Komisi Akreditasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dibentuk dengan Keputusan Menteri. (2) Usulan peninjauan kembali Standar Kompetensi dipersiapkan oleh Panitia Teknik Perumusan Standar Kompetensi atau masyarakat yang membutuhkan dan diajukan kepada Direktur Jenderal. Bagian Kelima Peninjauan kembali Standar Kompetensi Pasal 10 (1) Standar Kompetensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ditinjau kembali sekurang-kurangnya setiap 5 (lima) tahun sekali. organisasi atau asosiasi perusahaan. organisasi profesi. Bagian Keempat Penerapan Standar Kompetensi Pasal 9 Lembaga Sertifikasi Kompetensi menerapkan Standar Kompetensi melalui Sertifikasi Kompetensi. dan para pakar di bidang ketenagalistrikan. (3) Komisi Akreditasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) selain mempunyai tugas menetapkan Akreditasi dapat memberikan 88 . (3) Dalam hal Peninjauan Kembali Standar Kompetensi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) terdapat perubahan. Direktur Jenderal memperhatikan kesiapan/ketersediaan sarana dan prasarana penunjang. maka pelaksanaannya melalui prosedur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5. (d) (c) BAB V AKREDITASI DAN SERTIFIKASI KOMPETENSI Pasal 11 (1) Komisi Akreditasi melakukan akreditasi terhadap Lembaga Sertifikasi Kompetensi.

BAB VI PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Bagian Pertama Pembinaan Pasal 14 (1) Direktur Jenderal Kompetensi. dalam proses Akreditasi. (4) Akreditasi secara internasional terhadap Lembaga Sertifikasi Kompetensi didasarkan pada perjanjian saling pengakuan antara Komisi Akreditasi baik secara bilateral maupun multilateral. Direktur Jenderal melakukan penyebaran informasi serta penyusunan pedoman Standardisasi Kompetensi. menyelenggarakan pembinaan Standardisasi (2) Dalam menyelenggarakan pembinaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 12 pelaksanaan (1) Lembaga Sertifikasi Kompetensi yang telah diakreditasi oleh Komisi Akreditasi melakukan Sertifikasi Kompetensi kepada Tenaga Teknik. 89 . biaya ditanggung oleh Tenaga Teknik yang mengajukan permohonan kepada Lembaga Sertifikasi Kompetensi untuk diberikan Sertifikat Kompetensi. (3) Unjuk kerja Lembaga Sertifikasi Kompetensi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dibina dan diawasi oleh Komisi Akreditasi.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan pertimbangan serta saran kepada Menteri dalam Akreditasi dan Sertifikasi Kompetensi. (2) Persyaratan dan tatacara Akreditasi dan Sertifikasi Kompetensi ditetapkan lebih lanjut oleh Direktur Jenderal. b. (2) Pengaturan pembebanan biaya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan lebih lanjut masing-masing oleh Komisi Akreditasi untuk Proses Akreditasi dan oleh Lembaga Sertifikasi Kompetensi untuk proses Sertifikasi Kompetensi. biaya ditanggung oleh lembaga yang mengajukan permohonan kepada Komisi Akreditasi untuk diakreditasi sebagai Lembaga Sertifikasi Kompetensi. Pasal 13 (1) Pembebanan biaya Akreditasi dan Sertifikasi Kompetensi ditetapkan sebagai berikut : a. dalam proses Sertifikasi Kompetensi.

(3) Lembaga Sertifikasi Kompetensi melakukan pengawasan terhadap unjuk kerja Tenaga Teknik yang telah memperoleh Sertifikat Kompetensi dari Lembaga Sertifikasi Kompetensi tersebut. (2) Komisi Akreditasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) harus sudah terbentuk selambat-lambatnya 2 (dua) tahun sejak ditetapkan Keputusan Menteri ini. Direktur Jenderal memperhatikan pertimbangan dari instansi dan masyarakat yang terkait dengan ketenagalistrikan. Bagian Kedua Pengawasan Pasal 15 (1) Direktur Jenderal melakukan pengawasan atas penerapan Kompetensi dan pelaksanaan Sertifikasi Kompetensi. Standar (2) Komisi Akreditasi melakukan pengawasan terhadap unjuk kerja Lembaga Sertifikasi Kompetensi. (e) BAB IX KETENTUAN PENUTUP 90 . BAB VIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 17 (1) Dalam hal Komisi Akreditasi belum terbentuk. (4) Dalam menyusun pedoman Standardisasi Kompetensi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2).Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan (3) Pedoman Standardisasi Kompetensi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) merupakan dasar dalam pelaksanaan Standardisasi Kompetensi. Direktur Jenderal melakukan pelaksanaan kegiatan Komisi Akreditasi. BAB VII SANKSI ADMINISTRATIF Pasal 16 Lembaga Sertifikasi Kompetensi yang tidak memenuhi unjuk kerja atau memberikan sertifikat kepada Tenaga Teknik yang tidak memenuhi kualifikasi yang ditetapkan dikenakan sanksi administratif oleh Komisi Akreditasi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Pasal 18 Ketentuan yang diperlukan dalam pelaksanaan Keputusan Menteri ini diatur lebih lanjut oleh Direktur Jenderal. Pasal 19 Keputusan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 28 Agustus 2001 Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral 91 .

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a. bahwa untuk melaksanakan Pasal 21 ayat (7) Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1989 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2005. Undang-undang Nomor 15 Tahun 1985 tentang Ketenagalistrikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 74. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia (Nomor 3812). b.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLlK lNDONESlA KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAI NOMOR : 1109 K/MEM/2005 TENTANG PENETAPAN KOMITE NASIONAL KESELAMATAN UNTUK INSTALASI LISTRIK (KONSUIL) SEBAGAI LEMBAGA PEMERIKSA INSTALASI PEMANFAATAN TENAGA LISTRIK KONSUMEN TEGANGAN RENDAH MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL. 3. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3317) 2. perlu menetapkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral tentang Penetapan Komite Nasional Keselamatan Untuk Instalasi Listrik (KONSUIL) sebagai Lembaga Pemeriksa Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik Konsumen Tegangan Rendah. Mengingat :1. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1985 tentang Penyediaandan Pemanfaatan Tenaga Listrik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1989 Nomor 24.4/2003 tanggal 5 September 2003. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomnor 42. Menimbang:a. perlu meninjau penunjukan KONSUIL untuk melakukan pemeriksaan instalasi pemanfaatan tenaga listrik pelanggan tegangan rendah sebagaimana ditetapkan dalam surat Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi Nomor 2289/44/600. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3394) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2005 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 92 .

Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Nomor 5. KEDUA KETIGA KEEMPAT KELIMA KEENAM Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 21 Maret 2005 MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL. 4. : Keputusan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. 93 . termasuk laporan neraca keuangan yang telah diaudit oleh auditor independen. MEMUTUSKAN : Menetapkan KESATU : : Menetapkan Komite Nasional Keselamatan Untuk Instalasi Listrik (KONSUIL) yang dideklarasikan pada tanggal 25 Maret 2003 di Jakarta sebagai lembaga pemeriksa instalasi pemanfaatan tenaga listrik konsumen tegangan rendah. Memperhatikan : Surat Komite Nasional Keselamatan Untuk Instalasi Listrik Nomor 002/KPST/02/05-A tanggal 16 Februari 2005. : Penunjukan KONSUIL sebagai lembaga pemeriksa instalasi sebagaimana dimaksud pada Diktum Kesatu dapat dicabut apabila dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada Diktum Kedua KONSUIL melanggar peraturan perundang-undangan. : KONSUIL bertugas melaksanakan pemeriksaan dan menerbitkan Sertifikat Laik Operasi instalasi pemanfaatan tenaga listrik konsumen tegangan rendah. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4469). 5. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4020). : KONSUIL wajib menyampaikan laporan pelaksanaan sertifikasi instalasi pemanfaatan tenaga listrik konsumen tegangan rendah secara berkala setiap 6 (enam) bulan kepada Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi. : Penetapan KONSUIL sebagai lembaga pemeriksa instalasi sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kesatu berlaku selama 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang. Peraturan Pemerintah Nomor 102 Tahun 2000 Tentang Standardisasi Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 nomor 199. Keputusan Presiden Nomor 187/M Tahun 2004 tanggal 20 Oktober 2004.

Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Tembusan: 1. Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi 4. PLN (Persero) 5. Sekretaris Jenderal Dep. Energi dan Sumber Daya Mineral 2. Yang bersangkutan 94 . Direktur Utama PT. Inspektur Jenderal Dep. Energi dan Sumber Daya Mineral 3. Para Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan Untuk Kepentingan Umum 6.

2. Undang-undang Nomor 18 Tahun 1999 (LN Tahun 1999 Nomor 54. kelayakan organisasi.4/2001 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA AKREDITASI LEMBAGA SERTIFIKASI KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN DIREKTUR JENDERAL LISTRIK DAN PEMANFAATAN ENERGI Menimbang : bahwa sebagai pelaksanaan atas Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor : 2052 K/40/MEM/2001 tanggal 28 Agustus 2001.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL LISTRIK DAN PEMANFAATAN ENERGI KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL LISTRIK DAN PEMANFAATAN ENERGI NOMOR : 1898/40/600. 7. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 1995 (LN Tahun1995 Nomor 46. 3. 6. TLN Nomor 3833). 4. MEMUTUSKAN: Mineral Nomor : Menetapkan : KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL LISTRIK DAN PEMANFAATAN ENERGI TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA AKREDITASI LEMBAGA SERTIFIKASI KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1989 (LN Tahun1989 Nomor 24. Undang-undang Nomor 15 Tahun 1985 tentang Ketenagalistrikan (LN Tahun 1985 Nomor 74. 5. TLN Nomor 3317). Pasal 1 Akreditasi dapat diberikan kepada calon Lembaga Sertifikasi setelah memenuhi persyaratan administratif. Mengingat: 1. TLN Nomor 3394).K/40/MEM/2001 tanggal 28 Agustus 2001. TLN Nomor 3603). dan kelayakan program sertifikasi yang akan dilaksanakan. Pasal 2 95 . Keputusan Presiden Nomor 228/M Tahun 2001 tanggal 9 Agustus 2001. Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya 2052. Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor : 2500. perlu menetapkan Persyaratan dan Tata Cara Akreditasi Lembaga Sertifikasi Kompetensi Tenaga Teknik Ketenagalistrikan.K/40/MPE/ 1997 tanggal 18 Desember 1997.

kelayakan organisasi. 96 . (4) Mempunyai dan menjunjung tinggi Kode Etik Profesi yang berdasarkan prinsip keahlian sesuai dengan kaidah keilmuan. dan kelayakan program sertifikasi yang akan dilaksanakan. (2) Mempunyai alamat yang tetap. (5) Mempunyai perangkat organisasi untuk penyelenggaraan sertifikasi. (2) Mempunyai standar kompetensi bidang ketenagalistrikan mengacu pada kesetaraan nasional atau internasional. Pasal 3 Persyaratan kelayakan organisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 adalah : (1) Mempunyai akte pendirian. yang (3) Mempunyai sistem penilaian dalam pemberian atau perpanjangan sertifikat kompetensi.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Persyaratan administratif sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 adalah calon Lembaga Sertifikasi telah berpengalaman sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun. kepatutan dan kejujuran intelektual dalam menjalankan profesinya dengan tetap mengutamakan kepentingan umum. (4) Mempunyai sistem dan prosedur pengawasan terhadap pemilik sertifikat kompetensi serta pemberian sanksi terhadap pelanggaran yang dilakukannya. Pasal 4 Persyaratan kelayakan program sertifikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 adalah : (1) Mempunyai asesor bidang ketenagalistrikan sekurang-kurangnya 4 (empat) orang dan berpengalaman sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun. Pasal 5 (1) Calon Lembaga Sertifikasi mengajukan permohonan akreditasi yang meliputi segi administratif. (2) Permohonan akreditasi disampaikan kepada Komisi Akreditasi. (6) Mempunyai standar tata cara penyelenggaraan sertifikasi atau Sistem Mutu. (5) Mempunyai mekanisme penyertaan peran stakeholder dalam pelaksanaan sertifikasi dengan cara menampung aspirasi stakeholder atau pengguna jasa lainnya. (3) Mempunyai mekanisme organisasi yang demokratis berdasarkan Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART).

(3). (2). Pasal 9 Penetapan akreditasi kepada calon Lembaga Sertifikasi yang menurut penelitian dan penilaiannya layak memperoleh akreditasi dilaksanakan selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari kerja. Pasal 6 (1) Komisi Akreditasi Ketenagalistrikan melakukan pemeriksaan dan penilaian atas berkas permohonan akreditasi calon Lembaga Sertifikasi. (4). (3) Pemberian akreditasi disertai ketentuan yang mewajibkan Lembaga Sertifikasi terakreditasi agar mempertahankan kelayakan organisasi dan kelayakan program sertifikasinya seperti tercantum dalam pengajuan akreditasinya. Pasal 10 Pengawasan sertifikasi dilakukan oleh Direktur Jenderal untuk menjaga tata tertib penyelenggaraan sertifikasi yang dilakukan oleh Lembaga Sertifikasi Kompetensi agar tetap memenuhi persyaratan yang ditetapkan. (3) Pemeriksaan dan penilaian meliputi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (3).Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan (3) Permohonan akreditasi dilengkapi dengan lampiran sebagaimana dalam Pasal 3 ayat (1). Pasal 11 97 . (5) dan (6). Pasal 8 Penilaian terhadap calon Lembaga Sertifikasi dilakukan oleh Tim Penilai Komisi Akreditasi. setelah pemeriksaan dan penilaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2). (2) Pemeriksaan dan penilaian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus sudah selesai dilakukan dan diberitahukan kepada calon Lembaga Sertifikasi selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari kerja setelah permohonan diterima. dan (3) serta Pasal 4 ayat (1). Pasal 7 (1) Komisi Akreditasi Ketenagalistrikan dapat meminta tambahan keterangan dari pihak ketiga guna meyakinkan penilaiannya. (2) Komisi Akreditasi Ketenagalistrikan dapat meminta Lembaga Sertifikasi yang mengajukan akreditasi untuk melakukan penyesuaian atau melengkapi persyaratan guna memenuhi ketentuan penilaian.

Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan

(1) Lembaga Sertifikasi terakreditasi wajib membuat laporan berkala tentang kegiatan organisasi dan pelaksanaan penyelenggaraan sertifikasinya kepada Direktur Jenderal; (2) Kegiatan organisasi disampaikan dalam laporan tahunan dan diserahkan pada akhir bulan pertama tahun berikutnya yang berisi: a. Penyelenggaraan kegiatan organisasi; b. Penyelenggaraan kegiatan keprofesian anggotanya. pembinaan dan peningkatan

(3) Kegiatan penyelenggaraan sertifikasi disampaikan dalam laporan tengah tahunan dan diserahkan pada bulan pertama serta bulan ketujuh yang berisi : a. Laporan jumlah anggota yang memperoleh akreditasi berdasarkan daerahnya masing-masing; b. Laporan penyelenggaraan sertifikasi tentang penambahan, pengurangan, dan pembekuan serta sanksi yang telah dikeluarkan; c. Laporan tentang kasus-kasus yang terjadi sehubungan dengan sertifikasi dan menjelaskan status serta penyelesaiannya. (4) Bentuk dan format laporan akan ditetapkan dalam Keputusan tersendiri. Pasal 12 (1) Permintaan peninjauan ulang hanya dapat dilakukan oleh Lembaga Sertifikasi terakreditasi atau Lembaga Sertifikasi yang mengajukan akreditasi. (2) Peninjauan ulang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dilakukan karena adanya perubahan atau penambahan bidang kompetensi dari Lembaga Sertifikasi. Pasal 13 (1) Permintaan peninjauan ulang yang disampaikan kepada Komisi Akreditasi Ketenagalistrikan harus disertai alasan serta bukti pendukungnya. (2) Komisi Akreditasi Ketenagalistrikan permintaan peninjauan ulang. Pasal 14 (1) Komisi akreditasi berwenang memerapkan sanksi kepada Lembaga Sertifikasi Kompetensi yang tidak memenuhi ketentuan akreditasinya. (2) Tata cara penerapan dan kriteria sanksi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut oleh Komisi akreditasi. Pasal 15 Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. berhak memutuskan atas

98

Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 29 Agustus 2001

Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi

Luluk Sumiarso NIP. 130610385

Tembusan : 1. 2. 3. 4. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral; Sekretaris Jenderal Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral; Ketua Badan Standardisasi Nasional; Ketua Umum Dewan Lembaga Pengembangan Jasa konstruksi Nasional.

99

Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan

DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL LISTRIK DAN PEMANFAATAN ENERGI KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL LISTRIK DAN PEMANFAATAN ENERGI NOMOR : 1899/40/600.4/2001 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA SERTIFIKASI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN DIREKTUR JENDERAL LISTRIK DAN PEMANFAATAN ENERGI, Menimbang : bahwa sebagai pelaksanaan Keputusan Menteri Nomor 2052.K/40/MEM/2001 tanggal 28 Agustus 2001 tentang Standardisasi Kompetensi Tenaga Teknik Ketenagalistrikan, perlu menetapkan Persyaratan dan Tata Cara Sertifikasi Tenaga Teknik Ketenagalistrikan dalam suatu keputusan Direktur Jenderal.

MENGINGAT :1.UNDANG-UNDANG NOMOR 15 TAHUN 1985 (LN TAHUN 1985, NO. 74, TLN NO. 3317); 2.UNDANG-UNDANG NO. 18 TAHUN 1999 (LN TAHUN 1999, NO. 54, TLN NO. 3833); 3.UNDANG-UNDANG NO. 22 TAHUN 1999 (LN TAHUN 1999, NO. 60, TLN NO. 3839); 4.PERATURAN PEMERINTAH NO. 10 TAHUN 1989 (LN TAHUN 1989, NO. 24, TLN NO. 3394); 5.PERATURAN PEMERINTAH NO. 25 TAHUN 2000 (LN TAHUN 2000, NO. 51, TLN NO. 3950); 6.PERATURAN PEMERINTAH NO. 25 TAHUN 1995 (LN TAHUN 1995, NO. 46, TLN NO. 3603); 7.KEPUTUSAN PRESIDEN NO. 228/M TAHUN 2001 TANGGAL 9 AGUSTUS 2001; 8.KEPUTUSAN PRESIDEN NO. 11/M TAHUN 2001 TANGGAL 9 JANUARI 2001; 9.KEPUTUSAN MENTERI PERTAMBANGAN DAN ENERGI 2500.K/40/MPE/1997 TANGGAL 18 DESEMBER 1997; 10.Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi 2052.K/40/MEM/2001 tanggal 28 Agustus 2001; 11.Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi 2053.K/40/MEM/2001 tanggal 28 Agustus 2001; NO. No. No.

12.Keputusan Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi No. 1898/40/600.4/2001 tanggal 29 Agustus 2001;

MEMUTUSKAN:

100

(7) memiliki pengetahuan pengujian.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Menetapkan: KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL LISTRIK DAN PEMANFAATAN ENERGI TENTANG PERSYARATAN DAN TATACARA SERTIFIKASI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN. Pasal 2 (1) Lembaga Sertifikasi Kompetensi Ketenagalistrikan melakukan pemeriksaan. penilaian dan atau pengujian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diselesaikan dan diberitahukan kepada pemohon selambatlambatnya 15 (lima belas ) hari kerja setelah permohonan diterima. (3) Permohonan sertifikasi kompetensi tenaga teknik dapat diajukan kepada Lembaga Sertifikasi Kompetensi Ketenagalistrikan oleh tenaga teknik atau atas nama pelaku usaha di bidang ketenagalistrikan. surat pengalaman kerja. penilaian dan atau pengujian terhadap tenaga teknik. sertifikat pendidikan dan atau sertifikat kursus. dan ketrampilan dalam melaksanakan (8) memiliki pengalaman minimum 5 (lima) tahun dan sekurang-kurangnya berpendidikan D3. (2) Asesor/penguji sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diangkat oleh Lembaga Sertifikasi Kompetensi setelah memenuhi persyaratan. (2) Pemeriksaan. (3) Persyaratan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) adalah sebagai berikut : (4) menguasai unit-unit kompetensi yang akan diujikan. (5) memiliki pengetahuan tentang pelaksanaan dan peran bidang ketenagalistrikan yang berlaku saat ini. Pasal 3 (1) Penilaian dan atau pengujian terhadap tenaga teknik dilakukan oleh Asesor/Penguji yang dimiliki Lembaga Sertifikasi Kompetensi Ketenagalistrikan. (2) Pemohon sertifikat kompetensi tenaga teknik ketenagalistrikan sekurangkurangnya berpendidikan SMU dan telah mempunyai pengalaman kerja serta keterampilan secara professional di bidang ketenagalistrikan. (6) memiliki pengetahuan tentang tingkat jabatan dan unjuk kerja di bidang usaha ketenagalistrikan yang berlaku saat ini. Pasal 1 (1) Permohonan sertifikasi tenaga teknik ketenagalistrikan ini diajukan secara tertulis kepada Lembaga Sertifikasi Kompetensi Ketenagalistrikan dilengkapi dengan lampiran Daftar riwayat hidup. Pasal 4 101 .

Pasal 7 (1) Tenaga teknik dapat mengajukan permohonan kenaikan tingkat unit kompetensi. Pasal 5 (1) Tenaga teknik dapat memiliki lebih dari satu sertifikat kompetensi.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan (1) Unit kompetensi tenaga teknik yang dinilai dan atau diuji didasarkan penguasaan pengetahuan. Pasal 6 (1) Perpanjangan Sertifikat kompetensi harus melalui pengujian atau penilaian kembali sesuai dengan kompetensi tersebut. keterampilan dan sikap yang dimiliki tenaga teknik. (3) Sertifikat kompetensi berlaku selama 3 (tiga) tahun untuk kemudian dapat diperpanjang kembali. Pasal 8 (1) Pemegang Sertifikat kompetensi bertanggung jawab atas setiap tindak dan kinerja keprofesiannya kepada masyarakat. (2) Lembaga Sertifikasi Kompetensi Ketenagalistrikan menetapkan ketentuan tatacara perpanjangan Sertifikat Kompetensi serta tatacara penggantian Sertifikat Kompetensi. (4) Tenaga Teknik yang memperoleh sertifikat kompetensi wajib membayar biaya sertifikasi yang ditetapkan oleh masing-masing Lembaga Sertifikasi Kompetensi Ketenagalistrikan. pengguna jasa serta kepada Lembaga Sertifikasi Kompetensi Ketenagalistrikan yang menerbitkannya. (2) Sertifikat Kompetensi diterbitkan oleh Lembaga Sertifikasi Kompetensi Ketenagalistrikan terhadap tenaga teknik yang berdasarkan rekomendasi dari Asesor/penguji. 102 . (3) Sertifikat kompetensi dinyatakan sah setelah diregistrasi oleh Komisi Akreditasi. (2) Kenaikan tingkat unit kompetensi harus melalui pengujian atau penilaian sesuai dengan kompetensi yang diinginkan. (2) Dalam Sertifikat kompetensi harus tercantum nomor registrasi kompetensi yang dikeluarkan oleh Komisi Akreditasi.

(3) Sertifikat kompetensi yang dikeluarkan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) akan diregistrasi khusus untuk jabatan/kompetensi tertentu sesuai peraturan yang berlaku. (2) Tata cara dan kriteria penerapan sanksi terhadap pemegang Sertifikat kompetensi akan diatur lebih lanjut oleh Komisi akreditasi. Pasal 9 (1) Komisi akreditasi dapat memberikan kewenangan kepada Lembaga Sertifikasi Kompetensi Ketenagalistrikan untuk melakukan sertifikasi terhadap Tenaga Kerja Warga Negara asing Pendatang (TKWNAP) yang bekerja di Indonesia . (2) Seluruh data tenaga teknik yang diperlukan untuk diregistrasi harus disampaikan ke Komisi akreditasi. Komisi akreditasi menerapkan sistem penomoran yang dilakukan menggunakan sistem informasi terpusat untuk menghindari adanya duplikasi Sertifikat kompetensi. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 29 Agustus 2001 Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi Luluk Sumiarso NIP. Pasal 11 (1) Komisi akreditasi dapat mengenakan sanksi kepada pemegang sertifikat kompetensi yang tidak mematuhi ketentuan yang berlaku. Pasal 10 (1) Lembaga Sertifikasi Kompetensi yang telah melakukan sertifikasi wajib melakukan registrasi untuk Sertifikat kompetensi yang akan diterbitkan. 130610385 103 . (3) Dalam melakukan registrasi. Pasal 12 Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. dan membayar biaya registrasi.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan (2) Lembaga Sertifikasi Kompetensi Ketenagalistrikan bertanggung jawab kepada Komisi Akreditasi atas setiap Sertifikat kompetensi yang diterbitkannya. (2) Prosedur dan pemberian Sertifikat kompetensi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) akan ditetapkan lebih lanjut.

Ketua Badan Standardisasi Nasional. Ketua Umum Dewan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional. 2. 104 . 3. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Tembusan : 1. 4. Sekretaris Jenderal Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral.

Undang-undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi (LN Tahun 1999 Nomor 54. TLN Nomor 3274). Undang-undang Nomor 15 Tahun 1985 tentang Ketenagalistrikan (LN Tahun 1985 Nomor 74. perlu menetapkan Peraturan Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi tentang Penggunaan Barang dan Jasa Produksi dalam negeri Pada Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap Batubara Kapasitas Terpasang Sampai Dengan 8 MW per Unit. 6. TLN Nomor 3394) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2005 (LN Tahun 2004 Nomor 77) tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1989 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik. TLN Nomor 3317). Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 1995 tentang Usaha Penunjang Tenaga Listrik (LN Tahun 1995 Nomor 46. Keputusan Presiden Nomor 234/M Tahun 2003 tanggal 1 Desember 2003. Peraturan Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral Nomor 0009 Tahun 2005 tentang Prosedur Pembelian Tenaga Listrik Dan/Atau Sewa Menyewa Jaringan Dalam Usaha Penyediaan Tenaga Listrik Untuk Kepentingan Umum. TLN Nomor 3833). TLN Nomor 3956). Mengingat : 1. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1989 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik (LN Tahun 1989 Nomor 24. 2. b.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL LISTRIK DAN PEMANFAATAN ENERGI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL LISTRIK DAN PEMANFAATAN ENERGI NOMOR : 751-12/44/600. 105 . 5. 7. 8. 3. 4. TLN Nomor 3603). bahwa sehubungan dengan huruf a di atas. Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi (LN Tahun 2000 Nomor 64. Menimbang : a.4/2005 TENTANG PENGGUNAAN BARANG DAN JASA PRODUKSI DALAM NEGERI PADA PEMBANGUNAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP BATUBARA KAPASITAS TERPASANG SAMPAI DENGAN 8 MW PER UNIT DIREKTUR JENDERAL LISTRIK DAN PEMANFAATAN ENERGI. bahwa barang dan jasa produksi dalam negeri telah memiliki kesiapan dan kemampuan untuk menunjang pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batubara kapasitas terpasang sampai dengan 8 MW per Unit. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (LN Tahun 1984 Nomor 22.

Kandungan Luar Negeri yang selanjutnya disebut KLN adalah nilai isian produksi luar negeri yang terdiri dari jasa dan barang. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Direktur Jenderal ini yang dimaksudkan dengan : 1. 2. pengawasan. pembangunan dan pemasangan. Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan untuk Kepentingan Umum secara Terintegrasi selanjutnya disebut PIUKU Terintegrasi adalah pemegang izin 106 . 5. Keputusan Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi Nomor 38312/44/600. 4.4/2005 tanggal 31 Januari 2005 tentang Tim Percepatan Penggunaan Barang dan Jasa Produksi Dalam Negeri Pada PLTU Batubara Skala Kecil Dengan Kapasitas Terpasang Sampai Dengan 15 MW. 7. 6. MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN DIREKTUR JENDERAL LISTRIK DAN PEMANFAATAN ENERGI TENTANG PENGGUNAAN BARANG DAN JASA PRODUKSI DALAM NEGERI PADA PEMBANGUNAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP BATUBARA KAPASITAS TERPASANG SAMPAI DENGAN 8 MW PER UNIT. Produksi dalam negeri adalah segala jenis barang dan jasa yang dibuat atau dihasilkan di dalam negeri yang dalam proses pembuatannya dimungkinkan penggunaan komponen impor. Kandungan Dalam Negeri yang selanjutnya disebut KDN adalah nilai isian produksi dalam negeri yang terdiri dari jasa dan barang. Pembangunan adalah proses yang dimulai dari studi kelayakan. perencanaan.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan 9. Peraturan Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral Nomor 0010 Tahun 2005 tentang Tata Cara Perizinan Usaha Ketenagalistrikan Untuk Lintas Propinsi atau yang Terhubung Dengan Jaringan Transmisi Nasional. Penilaian tingkat kandungan dalam negeri yang selanjutnya disebut TKDN adalah proses kegiatan dalam memberikan suatu estimasi dan pendapat mengenai tingkat produksi dalam negeri berupa barang dan jasa berdasarkan hasil analisa terhadap fakta-fakta yang objektif dan relevan dengan menggunakan metode full costing dengan mempertimbangkan bobot manfaat ekonomi ke dalam negeri. dan pelatihan sampai dengan masa garansi operasi dan pemeliharaan. 10. pengujian dan sertifikasi. Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan yang selanjutnya disebut PKUK adalah Badan Usaha Milik Negara yang diserahi tugas oleh Pemerintah semata-mata untuk melaksanakan usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum. 3.

Barang. (2) Besaran TKDN barang dan jasa PLTU Batubara minimum sebesar 68% dengan kriteria dan pembobotan sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I Peraturan ini yang terdiri dari: 107 . dan b. 9. b. (2) Kewajiban penggunaan barang dan jasa produksi dalam negeri PLTU batubara harus dicantumkan dalam: a. PIUKU Terintegrasi. yaitu: Jasa Konsultansi. Jasa Penyewaan dan Jasa Angkutan. Jasa. Construction). distribusi. kontrak pelaksanaan pembangunan antara PKUK. Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan untuk Kepentingan Umum selanjutnya disebut PIUKU adalah pemegang izin usaha penyediaan tenaga listrik pembangkitan untuk kepentingan umum yang izinnya dikeluarkan Menteri. Jasa Pelatihan. sampai dengan penjualan tenaga listrik yang izinnya dikeluarkan Menteri. Jasa Pengujian dan Sertifikasi. PIUKU Terintegrasi dan PIUKU. 8. selanjutnya disebut PLTU Batubara. sub sistem pembangkit listrik tenaga uap. transmisi. 10. peralatan. wajib menggunakan barang dan jasa produksi dalam negeri. Jasa Kontraktor EPC (Engineering. suku cadang. barang jadi. yaitu: benda yang dapat digunakan sebagai komponen utama. Jasa Pengoperasian dan Jasa Pemeliharaan serta Jasa Pendukung Lainnya termasuk Jasa Asuransi. Jasa Pelaksanaan Pembangunan dan Pemasangan. Direktur jenderal adalah direktur jenderal yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang ketenagalistrikan BAB II BARANG DAN JASA PRODUKSI DALAM NEGERI Pasal 2 (1) Setiap pembangunan PLTU Batubara kapasitas terpasang sampai dengan 8 MW per unit untuk kepentingan umum yang dilakukan oleh PKUK. barang setengah jadi. komponen pembantu. Procurement. atau PIUKU dengan penyedia barang dan jasa. kontrak jual beli tenaga listrik antara PKUK atau PIUKU Terintegrasi dengan PIUKU. bahan pelengkap dan bahan pembantu pada seluruh sistem. bahan baku. Pasal 3 (1) Barang dan jasa produksi dalam negeri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) meliputi: a. Menteri adalah menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang ketenagalistrikan.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum mulai dari pembangkitan.

PIUKU Terintegrasi dan PIUKU yang membangun PLTU Batubara melalui pelelangan umum dan penunjukan langsung. (2) Dalam dokumen pelelangan/penawaran pengadaan barang dan jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1).Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan a. b. (2) Dalam dokumen lelang/penawaran jual beli tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1). berdasarkan kriteria dan pembobotan sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II Peraturan ini. atau pembatalan kontrak pembangunan PLTU Batubara oleh PKUK. besaran TKDN barang dan jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (3). PIUKU Terintegrasi atau PIUKU dengan penyedia barang dan jasa. PIUKU Terintegrasi atau PIUKU harus memenuhi besaran TKDN barang dan jasa PLTU Batubara sesuai dengan ketentuan yang disyaratkan. BAB III PERSYARATAN PENETAPAN PEMENANG Pasal 4 (1) PKUK. berdasarkan kriteria dan pembobotan sebagaimana dimaksud dalam Lampiran III Peraturan ini. wajib mensyaratkan kriteria dan pembobotan TKDN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) pada dokumen lelang/penawaran pengadaan barang dan jasa. (3) Penetapan peserta lelang menjadi pemenang lelang penyedia barang dan jasa oleh PKUK. harus mencantumkan: a. Barang minimum sebesar 65%. (5) Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf c dapat meliputi peringatan tertulis. (4) Kontrak pembangunan PLTU Batubara antara PKUK. jangka waktu realisasi besaran TKDN. penalti finansial. wajib mensyaratkan kriteria dan pembobotan TKDN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) pada dokumen lelang/penawaran jual beli tenaga listrik. 108 . dan b. PIUKU Terintegrasi atau PIUKU kepada penyedia barang dan jasa. Jasa minimum sebesar 95%. peserta lelang harus mencantumkan pernyataan tertulis besaran TKDN barang dan jasa dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Peraturan ini. peserta lelang harus mencantumkan pernyataan tertulis besaran TKDN barang dan jasa dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Peraturan ini. Pasal 5 (1) PKUK dan PIUKU Terintegrasi yang membeli tenaga listrik PLTU Batubara melalui pelelangan umum atau penunjukan langsung. sanksi perdata berkaitan dengan tidak dipenuhinya besaran TKDN yang disyaratkan. dan c.

dan c. PIUKU Terintegrasi dan PIUKU yang telah menandatangani kontrak dengan penyedia barang dan jasa untuk membangun PLTU Batubara wajib melakukan penilaian sendiri (self assesment) atas besaran TKDN barang dan jasa yang sudah direalisasikan. dokumen kontrak antara PKUK atau PIUKU Terintegrasi dengan penyedia barang dan jasa. atau pembatalan kontrak jual beli tenaga listrik PLTU Batubara oleh PKUK atau PIUKU Terintegrasi kepada PIUKU. (3) Verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (4) Pengajuan permohonan harga jual tenaga listrik PLTU Batubara antara PKUK atau PIUKU Terintegrasi dengan calon PIUKU untuk mendapatkan persetujuan Menteri. dan c. Pasal 7 (1) PKUK atau PIUKU Terintegrasi harus menyampaikan hasil penilaian sendiri (self assesment) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan (3) Penetapan peserta lelang menjadi pemenang lelang/Calon PIUKU oleh PKUK atau PIUKU Terintegrasi harus memenuhi besaran TKDN barang dan jasa PLTU Batubara sesuai dengan ketentuan yang disyaratkan. b. b. jangka waktu realisasi besaran TKDN. 109 . (2) Dalam melakukan verifikasi realisasi besaran TKDN yang disampaikan oleh PKUK atau PIUKU Terintegrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan/atau verifikasi di lapangan. besaran TKDN barang dan jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (3). sanksi perdata berkaitan dengan tidak dipenuhinya besaran TKDN yang disyaratkan. Direktur Jenderal dapat membentuk Tim dan/atau menggunakan jasa pihak ketiga. (5) Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf c dapat meliputi peringatan tertulis. penalti finansial. berdasarkan: a. BAB IV PENILAIAN SENDIRI DAN VERIFIKASI TINGKAT KANDUNGAN DALAM NEGERI Pasal 6 PKUK. data pendukung pengadaan barang dan jasa yang bersangkutan. penilaian sendiri besaran TKDN barang dan jasa yang sudah direalisasikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). harus mencantumkan: a. saat pelaksanaan pekerjaan dan setelah pelaksanaan pekerjaan berakhir kepada Direktur Jenderal untuk diverifikasi.

Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Pasal 8 (1) PIUKU harus menyampaikan hasil penilaian sendiri (self assesment) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6. data pendukung pengadaan barang dan jasa yang bersangkutan. penilaian sendiri besaran TKDN barang dan jasa yang sudah direalisasikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). PKUK atau PIUKU Terintegrasi untuk ditindaklanjuti sesuai ketentuan yang disyaratkan dalam kontrak jual beli tenaga listrik dengan PIUKU. (3) Verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2). disampaikan oleh Direktur Jenderal kepada : a. sekurang-kurangnya. dan b. BAB V PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Pasal 10 Direktur Jenderal melakukan pelaksanaan Peraturan ini. b. (2) Dalam melakukan verifikasi realisasi besaran TKDN yang disampaikan oleh PIUKU sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan/atau verifikasi di lapangan. Pasal 9 Hasil Verifikasi atas realisasi besaran TKDN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 dan Pasal 8. Direktur Jenderal dapat membentuk Tim yang keanggotaannya. c. terdiri dari unsur pemerintah dan PKUK atau PIUKU Terintegrasi dan/atau menggunakan jasa pihak ketiga. PKUK. PIUKU Terintegrasi atau PIUKU untuk ditindaklanjuti sesuai ketentuan yang disyaratkan dalam kontrak dengan penyedia barang dan jasa. berdasarkan: a. kontrak jual beli tenaga listrik antara PKUK atau PIUKU Terintegrasi dengan PIUKU. pembinaan dan pengawasan terhadap BAB VI PENUTUP 110 . saat pelaksanaan pekerjaan dan setelah pelaksanaan pekerjaan berakhir kepada Direktur Jenderal dengan tembusan kepada PKUK atau PIUKU Terintegrasi sesuai kontrak jual beli tenaga listrik untuk diverifikasi. dan d. dokumen kontrak antara PIUKU dengan penyedia barang dan jasa.

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal DIREKTUR JENDERAL LISTRIK DAN PEMANFAATAN ENERGI ttd YOGO PRATOMO NIP. 100007198 111 .Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Pasal 11 Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

2. Angka prosentase KDN Jasa pada kolom (2) adalah hasil prosentase TKDN Jasa PLTU Batubara pada Lampiran III. Angka prosentase KDN Barang pada kolom (2) adalah hasil prosentase TKDN Barang PLTU Batubara pada Lampiran II. DIREKTUR JENDERAL LISTRIK DAN PEMANFAATAN ENERGI ttd YOGO PRATOMO NIP. 4. 3.000 --- TKDN BARANG DAN JASA PLTU BATUBARA (%) Cara Pengisian: 1.4/2005 : 7 September 2005 KRITERIA DAN PEMBOBOTAN BARANG DAN JASA PLTU BATUBARA KLN (%) (3) TKDN (%) (5) URAIAN (1) I II BARANG PLTU BATUBARA JASA PLTU BATUBARA Total Bobot KDN (%) (2) BOBOT (4) 0. 5. Angka prosentase TKDN Barang dan Jasa PLTU Batubara adalah hasil penjumlahan angka prosentase TKDN pada kolom (5).900 0. 100007198 112 .100 --- --- 1. Angka prosentase TKDN pada kolom (5) adalah hasil perkalian kolom (2) dengan angka prosentase bobot pada kolom (4).Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Lampiran I Nomor Tanggal : Peraturan Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi : 751-12/44/600. Angka prosentase KLN pada kolom (3) adalah hasil pengurangan 100% dari angka prosentase pada kolom (2).

113 .140 0. Angka prosentase KDN Electrical pada kolom (2) adalah hasil perhitungan prosentase TKDN Electrical pada Lampiran II Romawi IV. Angka prosentase KDN Steam Turbin pada kolom (2) adalah hasil perhitungan prosentase TKDN Steam Turbin pada Lampiran II Romawi I. 9.150 1.280 0. Angka prosentase TKDN pada kolom (5) adalah hasil perkalian kolom (2) dengan angka prosentase bobot pada kolom (4). Angka prosentase KDN Civil & Steel Structure pada kolom (2) adalah hasil perhitungan prosentase TKDN Civil & Steel Structure pada Lampiran II Romawi VII. 3.170 0. 10. Angka prosentase KDN Boiler pada kolom (2) adalah hasil perhitungan prosentase TKDN Boiler pada Lampiran II Romawi II. Angka prosentase KDN Balance of Plant pada kolom (2) adalah hasil perhitungan prosentase TKDN Balance of Plant pada Lampiran II Romawi VI. 2.130 0.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Lampiran II Nomor Tanggal : Peraturan Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi : 751-12/44/600.000 --- --- --- TKDN BARANG PLTU BATUBARA (%) Cara Pengisian: 1.050 0.4/2005 : 7 September 2005 KRITERIA DAN PEMBOBOTAN BARANG PLTU BATUBARA KDN (%) (2) KLN (%) (3) TKDN (%) (5) URAIAN (1) I II III IV V VI VII STEAM TURBINE BOILER GENERATOR ELECTRICAL INSTRUMENT & CONTROL BALANCE OF PLANT CIVIL & STEEL STRUCTURE Total Bobot BOBOT (4) 0. 4. Angka prosentase KDN Instrument & Control pada kolom (2) adalah hasil perhitungan prosentase TKDN Instrument & Control pada Lampiran II Romawi V. Angka prosentase KLN pada kolom (3) adalah hasil pengurangan 100% dari angka prosentase pada kolom (2). Angka prosentase KDN Generator pada kolom (2) adalah hasil perhitungan prosentase TKDN Generator pada Lampiran II Romawi III. 5. 8.080 0. 6. Angka prosentase TKDN Barang PLTU Batubara adalah hasil penjumlahan angka prosentase TKDN pada kolom (5). 7.

Jika ada bagian dari turbin yang dirakit/assembly di dalam negeri. KDN berdasarkan nilai dari bagian yang dirakit terhadap nilai turbin keseluruhan. Angka prosentase KDN pada kolom (2): a. 2.020 0. Angka prosentase KLN pada kolom (3) adalah hasil pengurangan 100% dari angka prosentase pada kolom (2).000 --- Cara Pengisian: 1. BOILER JASA & BARANG KDN (%) (2) KLN (%) (3) URAIAN BOBOT TKDN (%) (5) (1) A. Angka prosentase TKDN Steam Turbine adalah hasil angka prosentase TKDN pada kolom (5). 3.1 1. II.1.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan I.1 2.3 II 2.020 0.1. Angka prosentase TKDN pada kolom (5) adalah hasil perkalian kolom (2) dengan angka prosentase bobot pada kolom (4).040 0.2 1.1 2.010 114 .000 --TKDN STEAM TURBINE (%) --- 1. Jika ada bagian turbin yang dibuat di dalam negeri.010 0.3 JASA Personil Mechanical & Piping Engineer Boiler Performance Engineer Electrical & Instrument Engineer Alat Kerja dan Peralatan Enginering Software & Hardware Steam Generation Design (FireCad or equal) Heat and Mass Balance Design (STCogen or equal) Structure Analysis ( StaadPro or equal) (4) 0.2 2. c. I 1.1. 4. KDN berdasarkan nilai dari bagian yang dibuat terhadap nilai turbin keseluruhan.020 0. STEAM TURBINE JASA & BARANG KDN (%) (2) KLN (%) (3) URAIAN BOBOT TKDN (%) (5) (1) 1 Steam Turbine Total Bobot (4) 1. Jika pengadaan seluruhnya utuh dari luar negeri maka KDN 0% b.

032 0.005 115 .020 0.2 2.048 0.6 0.3 2.009 0.010 0.5 3.020 (1) IV License/ Design Sub Total Bobot Jasa BARANG (MATERIAL TERPAKAI DAN PERALATAN) Pressure Part Boiler Drums Bolier Bank Water Wall Panel ( Furnace Wall) Primary Super Heater Secondary Super Heater Down Comer Riser Piping Economiser Daerator Non Pressure Part Ducting & Hopper Steel Structure Stack/ Chimney BuckStay Coal Bunker Blowdown Tank (2) --- (3) --- (4) 0.400 (5) --- B.010 0.5 III 3.1 2.020 0.4.6 1.10 2 2.3 2.4.5 1.4.020 0.025 0.010 0.010 0.7 1.004 0.4.4 2.4 1.013 0.9 1.002 0.020 0.5 2.3 3. 1 1.4 2.020 0.020 0.4 3.061 0.2 2.4 2.1.020 0.012 0.2 3.020 0.3 2.1 1.005 0.028 0.010 0.2 2.4 2.4 2.020 0.010 0.6 Piping Analysis (Caesar or equal) Sistem dan Prosedur Program R&D Fasilitas dan Peralatan Fabrikasi Tube expander & Swaging Machine Plate Roll Machine Water Wall Panel Welding Machine Tube Bending Machine Fasilitas Assembly Fasilitas Testing Konstruksi dan Fabrikasi (Tenaga Kerja Langsung) Factory/Production Manager Manufacturing Manager QA/QC Manager Boiler Maker Welder Class 6G Depnaker Commissioning & Performance Engineer 0.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan 2.020 0.009 0.023 0.1 2.020 0.3 1.8 1.1 3.2 1.

600 1.018 0. Personil: a.7 2.015 0. Licence/Design: a. Jika alat kerja dan peralatan tersebut dimiliki dan kepemilikan 100% PMDN. b. Jika menggunakan licence/design sendiri atau dari dalam negeri memiliki KDN 100%.4. Jika alat kerja dan peralatan tersebut dimiliki dan kepemilikan 100% PMA. Jika tenaga kerja tersebut tidak ada atau merupakan warga negara asing memiliki KDN 0%.5.025 0. Jika alat kerja dan peralatan tersebut tidak dimiliki.3 3. Alat Kerja dan Peralatan: a. 116 .11 Boiler Enclosure & Pentahouse Insulation & Lagging Equipment & Auxiliary Valve Instrument Electrical & Cables Stoker/ Traveling Grate Soot Blower Air Heater Fan FD/ ID Expansion Joint Cyclone dust Collector Chemical Dosing Boiler Feed Pump 0. 1. Jika personil tersebut ada dan merupakan warga negara Indonesia memiliki KDN 100%.045 0.005 0.8 3 3.5 3. Jika menggunakan licence/design dari luar negeri memiliki KDN 0%. Jika tenaga kerja tersebut ada dan merupakan warga negara Indonesia memiliki KDN 100%. memiliki KDN 0%.1 3.4 3. Jika alat kerja dan peralatan tersebut dimiliki dan kepemilikan PMDN dan PMA.020 0. b. memiliki KDN 100%.3. memiliki KDN 0%.8 3. c. d.037 0. Total Bobot (A+B) TKDN BOILER (%) (2) ----- (3) ----- (4) 0.2.008 0.015 0.6 3.020 0. b. Jika personil tersebut tidak ada atau merupakan warga negara asing memiliki KDN 0%. Konstruksi dan Fabrikasi (Tenaga Kerja Langsung): a.10 3.2 3. b.7 3. 1.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan 2.9 3.023 (1) Sub Total Bobot Barang C. Angka Prosentase Jasa pada kolom (2): 1. memiliki KDN berdasarkan share saham.066 0.007 0. 1.000 (5) ----- Cara Pengisian: 1.

3.030 0.020 0.3 3.2 2.020 0.010 0.4 3.5 III 3.2 3.4 2. 4.3 2.3.3. 5.4 2.030 0.020 0. b.010 0.3 II 2.020 0.400 --- 117 .030 0.1 2.3 2.1 1.010 0.2 2.1 2. Angka prosentase KDN Barang (Material Terpakai dan Peralatan) pada kolom (2) ditentukan dari angka prosentase harga produk/komponen produksi dalam negeri: a.020 0.6 2.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan 2. Produk/komponen luar negeri yang pengadaannya diperoleh dari perusahaan lokal memiliki KDN 0%. Angka prosentase TKDN Boiler adalah hasil penjumlahan angka prosentase TKDN pada kolom (5). Produk/komponen produksi dalam negeri memiliki KDN 100%.3.030 0.1 3.020 0.010 0.2 1.5 3.010 0. Angka prosentase TKDN pada kolom (5) adalah hasil perkalian kolom (2) dengan angka prosentase bobot pada kolom (4). I 1. Angka prosentase KLN pada kolom (3) adalah hasil pengurangan 100% dari angka prosentase pada kolom (2).5 2.010 0.030 --- --- 0.6 IV JASA Personil Electrical Engineer Instrument Engineer Mechanical Engineer Alat Kerja dan Peralatan Enginering Calculation Method Sistem dan Prosedur Fasilitas dan Peralatan Fabrikasi Mechanical Machining & Casting Part Core Making Machine Winding/ Coil Making Machine Balancing Machine Soldering and Brazing Machine Vacuum Pressure Impregnation Fasilitas Assembly Fasilitas Testing Konstruksi dan Fabrikasi (Tenaga Kerja Langsung) Factory/Production Manager Engineering Manager QA/QC Manager Welder Winding Operator Mechanical Operator License/ Design Sub Total Bobot Jasa (4) 0. III.020 0. 3.3. GENERATOR JASA & BARANG KDN (%) (2) KLN (%) (3) URAIAN BOBOT TKDN (%) (5) (1) A.030 0.3.020 0.

c. b.040 0. memiliki KDN 0%. Licence/Design: a. Jika alat kerja dan peralatan tersebut dimiliki dan kepemilikan PMDN dan PMA. 118 .9 Bearing Bearing Housing Fan and Air Guide Fan Shaft Electrical Part Stator Winding Rotor Winding Stator Exciter Rotor Exciter AVR Stator Core Rotor Core Exciter Stator Core Exciter Rotor Core Sub Total Bobot Barang Total Bobot (A+B) TKDN GENERATOR (%) ----- ----- ----- C.050 0.1 1. Konstruksi dan Fabrikasi (Tenaga Kerja Langsung): a.4. 1. Jika menggunakan licence/design sendiri atau dari dalam negeri memiliki KDN 100%.040 0.6 2.1. Cara Pengisian: 1. Jika alat kerja dan peralatan tersebut dimiliki dan kepemilikan 100% PMA.040 0.5 1.000 (5) 1.1 2.040 0.2 BARANG( MATERIAL TERPAKAI DAN PERALATAN) Mechanical Part Housing Cover Plate (1) (2) (3) 0.3.4 1.050 0. I 1.7 2. d. Jika alat kerja dan peralatan tersebut dimiliki dan kepemilikan 100% PMDN.8 2. memiliki KDN 100%. 1.2 2.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan B. memiliki KDN 0%.050 0.040 (4) 0. Alat Kerja dan Peralatan: a.4 2.040 0.040 0. Jika tenaga kerja tersebut tidak ada atau merupakan warga negara asing memiliki KDN 0%.030 0.030 0. memiliki KDN berdasarkan share saham.030 0. Jika alat kerja dan peralatan tersebut tidak dimiliki.3 2.2. b. b. Jika personil tersebut tidak ada atau merupakan warga negara asing memiliki KDN 0%.600 1.3 1.5 2.6 II 2. Angka Prosentase Jasa pada kolom (2): 1. 1.040 0.040 0. Jika personil tersebut ada dan merupakan warga negara Indonesia memiliki KDN 100%. Jika tenaga kerja tersebut ada dan merupakan warga negara Indonesia memiliki KDN 100%. Personil: a.

Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan

b. Jika menggunakan licence/design dari luar negeri memiliki KDN 0%. 2. Angka prosentase KDN Barang (Material Terpakai dan Peralatan) pada kolom (2) ditentukan dari angka prosentase harga produk/komponen produksi dalam negeri: a. Produk/komponen produksi dalam negeri memiliki KDN 100%. b. Produk/komponen luar negeri yang pengadaannya diperoleh dari perusahaan lokal memiliki KDN 0%. 3. Angka prosentase KLN pada kolom (3) adalah hasil pengurangan 100% dari angka prosentase pada kolom (2). 4. Angka prosentase TKDN pada kolom (5) adalah hasil perkalian kolom (2) dengan angka prosentase bobot pada kolom (4). 5. Angka prosentase TKDN Generator adalah hasil penjumlahan angka prosentase TKDN pada kolom (5). IV. ELECTRICAL JASA & BARANG KDN (%) (2) KLN (%) (3)

URAIAN

BOBOT

TKDN (%) (5)

(1) A. 1 2 JASA Personil Electrical Engineer Commissioning & testing Engineer Sub Total Bobot Jasa BARANG( MATERIAL TERPAKAI DAN PERALATAN) Transformer Medium Voltage Switch Gear Low voltage Switch Gear Electrical Motor Motor Control Center Power Distribution Panel UPS & Battery Battery charger Power Cable & Bulk Material Switching Station Sub Total Bobot Barang Total Bobot (A+B) TKDN ELECTRICAL (%)

(4)

---

---

0,200 0,200 0,400

---

B. 1 2 3 4 5 6 8 9 10 11

-----

-----

0,138 0,072 0,060 0,030 0,030 0,036 0,015 0,015 0,114 0,090 0,600 1,000

-----

C.

Cara Pengisian: 1. Angka Prosentase Jasa pada kolom (2):

119

Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan

2.

3. 4. 5.

a. Jika personil tersebut ada dan merupakan warga negara Indonesia memiliki KDN 100%. b. Jika personil tersebut tidak ada atau merupakan warga negara asing memiliki KDN 0%. Angka prosentase KDN Barang (Material Terpakai dan Peralatan) pada kolom (2) ditentukan dari angka prosentase harga produk/komponen produksi dalam negeri: a. Produk/komponen produksi dalam negeri memiliki KDN 100%. b. Produk/komponen luar negeri yang pengadaannya diperoleh dari perusahaan lokal memiliki KDN 0%. Angka prosentase KLN pada kolom (3) adalah hasil pengurangan 100% dari angka prosentase pada kolom (2). Angka prosentase TKDN pada kolom (5) adalah hasil perkalian kolom (2) dengan angka prosentase bobot pada kolom (4). Angka prosentase TKDN Electrical adalah hasil penjumlahan angka prosentase TKDN pada kolom (5).

V. INSTRUMENT & CONTROL JASA & BARANG KDN (%) (2) KLN (%) (3)

URAIAN

BOBOT

TKDN (%) (5)

(1) A. 1 2 JASA Personil Control Engineer Commissioning & testing Engineer Sub Total Bobot Jasa BARANG( MATERIAL TERPAKAI DAN PERALATAN) Field Instrument DCS/PLC Solenoid Valve Switchboard Data Acquisition system Control Panel Software Instrument Cable

(4)

---

---

0,200 0,200 0,400

---

B. 1 2 3 4 5 6 7

0,234 0,260 0,020 0,021 0,020 0,021 0,024

(1) Sub Total Bobot Barang C. Total Bobot (A+B)

(2) -----

(3) -----

(4) 0,600 1,000

(5) -----

TKDN INSTRUMENT & CONTROL (%)

120

Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan

Cara Pengisian: 1. Angka Prosentase Jasa pada kolom (2): a. Jika personil tersebut ada dan merupakan warga negara Indonesia memiliki KDN 100%. b. Jika personil tersebut tidak ada atau merupakan warga negara asing memiliki KDN 0%. 2. Angka prosentase KDN Barang (Material Terpakai dan Peralatan) pada kolom (2) ditentukan dari angka prosentase harga produk/komponen produksi dalam negeri: a. Produk/komponen produksi dalam negeri memiliki KDN 100%. b. Produk/komponen luar negeri yang pengadaannya diperoleh dari perusahaan lokal memiliki KDN 0%. 3. Angka prosentase KLN pada kolom (3) adalah hasil pengurangan 100% dari angka prosentase pada kolom (2). 4. Angka prosentase TKDN pada kolom (5) adalah hasil perkalian kolom (2) dengan angka prosentase bobot pada kolom (4). 5. Angka prosentase TKDN Instrument & Control adalah hasil penjumlahan angka prosentase TKDN pada kolom (5). VI. BALANCE OF PLANT (BOP) JASA & BARANG KDN (%) (2) KLN (%) (3)

URAIAN

BOBOT

TKDN (%) (5)

(1) BARANG( MATERIAL TERPAKAI DAN PERALATAN) Water treatment plant Waste Water treatment plant Cooling Tower Circulating Cooling Water system Condensor Coal Handling dan Ash Handling System Fire Fighting System Total Bobot

(4)

1 2 3 4 5 6 7

---

---

0,280 0,080 0,080 0,260 0,060 0,200 0,040 1,000

---

TKDN BALANCE OF PLANT (BOP) (%) Cara Pengisian: 1. Angka prosentase KDN Barang (Material Terpakai dan Peralatan) pada kolom (2) ditentukan dari angka prosentase harga produk/komponen produksi dalam negeri: a. Produk/komponen produksi dalam negeri memiliki KDN 100%. b. Produk/komponen luar negeri yang pengadaannya diperoleh dari perusahaan lokal memiliki KDN 0%. 2. Angka prosentase KLN pada kolom (3) adalah hasil pengurangan 100% dari angka prosentase pada kolom (2). 3. Angka prosentase TKDN pada kolom (5) adalah hasil perkalian kolom (2) dengan angka prosentase bobot pada kolom (4). 4. Angka prosentase TKDN Balance of Plant (BOP) adalah hasil penjumlahan angka prosentase TKDN pada kolom (5).

121

Produk/komponen luar negeri yang pengadaannya diperoleh dari perusahaan lokal memiliki KDN 0%. 2.250 0. Angka prosentase KLN pada kolom (3) adalah hasil pengurangan 100% dari angka prosentase pada kolom (2).080 0. Angka prosentase TKDN pada kolom (5) adalah hasil perkalian kolom (2) dengan angka prosentase bobot pada kolom (4).060 0. 100007198 122 . Angka prosentase KDN Barang (Material Terpakai dan Peralatan) pada kolom (2) ditentukan dari angka prosentase harga produk/komponen produksi dalam negeri: a.010 0. Angka prosentase TKDN Civil & Structure adalah hasil penjumlahan angka prosentase TKDN pada kolom (5). 3. b. CIVIL & STRUCTURE JASA & BARANG KDN (%) (2) KLN (%) (3) URAIAN BOBOT TKDN (%) (5) (1) BARANG( MATERIAL TERPAKAI DAN PERALATAN) Concrete Pile Steel Structure Painting Roofing & Siding Anchor Bolt Cement/ Concrete Total Bobot (4) 1 2 3 4 5 6 --- --- 0.300 0.000 --- TKDN CIVIL & STRUCTURE (%) Cara Pengisian: 1. 4.300 1. DIREKTUR JENDERAL LISTRIK DAN PEMANFAATAN ENERGI ttd YOGO PRATOMO NIP. Produk/komponen produksi dalam negeri memiliki KDN 100%.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan VII.

Angka prosentase TKDN pada kolom (5) adalah hasil perkalian kolom (2) dengan angka prosentase bobot pada kolom (4).210 0. Angka prosentase TKDN Jasa PLTU Batubara adalah hasil penjumlahan angka prosentase TKDN pada kolom (5). 7. Angka prosentase KDN Jasa Pendukung pada kolom (2) adalah hasil perhitungan prosentase TKDN Jasa Pendukung pada Lampiran III Romawi VII. 4.4/2005 : 7 September 2005 KRITERIA DAN PEMBOBOTAN JASA PLTU BATUBARA URAIAN (1) I II III IV V V VII JASA KONSULTAN (FEASIBILITY STUDY) JASA KONTRAKTOR EPC JASA PEMBANGUNAN DAN PEMASANGAN JASA PENGUJIAN DAN SERTIFIKASI JASA PELATIHAN JASA O & M (Selama Warranty Period) JASA PENDUKUNG Total Bobot KDN (%) (2) KLN (%) (3) BOBOT (4) 0. Angka prosentase KDN Jasa Kontraktor EPC pada kolom (2) adalah hasil perhitungan prosentase TKDN Jasa Kontraktor EPC pada Lampiran III Romawi II.012 0. 9. Angka prosentase KDN Jasa Pelatihan pada kolom (2) adalah hasil perhitungan prosentase TKDN Jasa Pelatihan pada Lampiran III Romawi V. Angka prosentase KDN Jasa Konsultan (Feasibility Study) pada kolom (2) adalah hasil perhitungan prosentase TKDN Jasa Konsultan (Feasibility Study) pada Lampiran III Romawi I. Angka prosentase KLN pada kolom (3) adalah hasil pengurangan 100% dari angka prosentase pada kolom (2). 3.000 TKDN (%) (5) --- --- --- TKDN JASA PLTU BATUBARA (%) Cara Pengisian: 1.702 0. 10. Angka prosentase KDN Jasa Pembangunan dan Pemasangan pada kolom (2) adalah hasil perhitungan prosentase TKDN Jasa Pembangunan dan Pemasangan pada Lampiran III Romawi III. Angka prosentase KDN Jasa Pengujian dan Sertifikasi pada kolom (2) adalah perhitungan hasil prosentase TKDN Jasa Pengujian dan Sertifikasi pada Lampiran III Romawi IV. 2.020 0.020 1. Angka prosentase KDN Jasa O & M (Selama Warranty Period) pada kolom (2) adalah hasil perhitungan prosentase TKDN Jasa O & M (Selama Warranty Period) pada Lampiran III Romawi VI.023 0. 123 . 6.013 0.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Lampiran III Nomor Tanggal : Peraturan Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi : 751-12/44/600. 8. 5.

b. d.2.2 2.2.1. memiliki KDN 0%. memiliki KDN 100%. Jika personil tersebut tidak ada atau merupakan warga negara asing memiliki KDN 0%.2 1.166 0. Jika alat kerja dan peralatan tersebut dimiliki dan kepemilikan 100% PMDN.2.1 2. Jika alat kerja dan peralatan tersebut dimiliki dan kepemilikan PMDN dan PMA. Angka prosentase TKDN pada kolom (5) adalah hasil perkalian kolom (2) dengan angka prosentase bobot pada kolom (4).166 0.4 1.1. memiliki KDN berdasarkan share saham. 3.4 2. 2. 4. memiliki KDN 0%. JASA KONSULTAN (FEASIBILITY STUDY) JASA & BARANG URAIAN KDN (%) (2) KLN (%) (3) BOBOT TKDN (%) (5) (1) I 1. b.030 0.166 0. 124 .010 1.000 --- --- --- TKDN JASA KONSULTAN (FEASIBILITY STUDY) (%) Cara Pengisian: 1.020 0.3 Personil Boiler Engineer Steam Turbine & Generator Engineer BOP / Process engineer Electrical & instrument engineer Civil engineer Alat Kerja dan Peralatan Engineering Software MechanicalSoftware Electrical & Instrument Software Piping Software Civil Software Engineering Hardware Computer Ploter Printer Total Bobot (4) 0.2 2.030 0.2 2.166 0.1. Angka Prosentase Personil pada kolom (2): a.1 2. Angka prosentase KLN pada kolom (3) adalah hasil pengurangan 100% dari angka prosentase pada kolom (2). Jika alat kerja dan peralatan tersebut tidak dimiliki.3 2. Angka prosentase TKDN Jasa Konsultan (Feasibility Study) adalah hasil penjumlahan angka prosentase TKDN pada kolom (5).1 2.1 1. c. Jika alat kerja dan peralatan tersebut dimiliki dan kepemilikan 100% PMA.030 0.1.3 1.020 0.166 0.5 II 2.030 0. 5. Jika personil tersebut ada dan merupakan warga negara Indonesia memiliki KDN 100%.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan I. Angka prosentase alat kerja dan peralatan pada kolom (2): a.

010 0.030 0.010 0.4.020 125 .010 0.1.055 0.1 1.1.050 0.1.4 Personil Rekayasa Rancang Bangun (Engineering) Prelimenery.2.050 0.3 1.2 1. Survey & Investigation Engineers Basic Design Engineers Power Plant Design Engineer BOP Design Engineer Plant Layout Engineer Electrical Power System Engineer Single Line & three line diagram Engineer Detail Engineers Pembelian Pengadaan (Procurement) Purchasing Officer Shipping Officer Expediting Officer Warehousing Officer (2) KLN (%) (3) (4) BOBOT TKDN (%) (5) 0.5.1.4.020 (1) 1.060 0.2 1.3 1.2 1.1.2.2.1.010 0.3. JASA KONTRAKTOR EPC JASA & BARANG URAIAN KDN (%) (1) I 1.1 1.2.1 1.1 1. Administrasi dan Keuangan Project Finance Officer Project GA Officer Alat Kerja dan Peralatan Engineering Software (2) (3) (4) (5) 0.4.4 1.2.3 1.1 1.2.4 1.2 1.010 0.1 Pemeriksaan / Penjamin Mutu (Inspection & QA) Shop Inspector Construction Inspector Perencanaan dan Pengendalian/ Manajemen Proyek Project Manager Project Control Engineer Project Construction Engineer SHE Engineer Umum.080 0.1.3 1.060 0.1.040 0.2 II 2.5 1.2.3.010 0.4 1.5 1.1 1.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan II.1 1.5.010 0.2.080 0.4.060 0.2 1.2.3 1.2 1.

2 2.2. d.030 0.6 2.2 2.2 2.1 2.020 0.030 0.2 2. c.2 2.1 2. Jika alat kerja dan peralatan tersebut dimiliki dan kepemilikan PMDN dan PMA. Jika alat kerja dan peralatan tersebut tidak dimiliki. b. Jika personil tersebut ada dan merupakan warga negara Indonesia memiliki KDN 100%.1 2. 4. b.005 0.030 0.4.1 2.4 2.1. Angka prosentase alat kerja dan peralatan pada kolom (2): a. Angka prosentase licence/design pada kolom (2): a. 2. Jika personil tersebut tidak ada atau merupakan warga negara asing memiliki KDN 0%.020 0. Jika menggunakan licence/design sendiri atau licence/design dari dalam negeri memiliki KDN 100%.4. Angka Prosentase Personil pada kolom (2): a.1. 126 .3 2.1.1. memiliki KDN berdasarkan share saham.1. Jika alat kerja dan peralatan tersebut dimiliki dan kepemilikan 100% PMA.3 2. Angka prosentase KLN pada kolom (3) adalah hasil pengurangan 100% dari angka prosentase pada kolom (2).2.020 0. memiliki KDN 0%.020 0.3 III Mechanical Software Electrical & Instrument Software Piping Software Civil Software Project Management Software Procurement Software Engineering Hardware Computer Ploter Printer Sistem dan Prosedur Data Base dan Aliansi Data Base untuk Vendor dan Harga Aliansi/ Kerjasama dengan Manufacturer Boiler Manufacturer Steam Turbine Manufacturer Generator Manufacturer License/ Design Total Bobot 0. Angka prosentase TKDN Jasa Kontraktor EPC adalah hasil penjumlahan angka prosentase TKDN pada kolom (5). Jika menggunakan licence/design dari luar negeri memiliki KDN 0%.4.020 0.005 0.4.3 2. 6. Angka prosentase TKDN pada kolom (5) adalah hasil perkalian kolom (2) dengan angka prosentase bobot pada kolom (4).050 1.030 0.020 0.2.2.000 --- --- --- TKDN JASA KONTRAKTOR EPC (%) Cara Pengisian: 1.1.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan 2. memiliki KDN 0%. 5. b.2.5 2.4 2.005 0. Jika alat kerja dan peralatan tersebut dimiliki dan kepemilikan 100% PMDN.2. memiliki KDN 100%. 3.020 0.4.

200 0.1 2. b. Jika alat kerja dan peralatan tersebut dimiliki dan kepemilikan PMDN dan PMA. b.1 3.060 0.3 1.5 2.080 0.005 0. memiliki KDN 0%.4 II 2.060 0.3 3.2 1.2 3.050 ----1.030 0. memiliki KDN 0%.5 3. 127 .6 Personil Civil Engineer Mechanical & Piping Engineer Construction Engineer Electrical & Instrument Engineer Alat Kerja dan Peralatan Heavy Lift Crane (tower & mobile Crane) Dump Truck Welding Machine Binder & Cutting Machine Diesel Genset Forklift Konstruksi dan Fabrikasi (Tenaga Kerja Langsung) Pekerjaan Civil Pekerjaan Steel Structure Pekerjaan Mechanical dan Pemipaan Pekerjaan Electrical dan Instrumentation Construction Management Services Pekerjaan Supervisi selama masa jaminan (warranty period) Total Bobot (2) KLN (%) (3) (4) 0.005 0. Angka Prosentase Personil pada kolom (2): a. Jika alat kerja dan peralatan tersebut dimiliki dan kepemilikan 100% PMDN.4 3. memiliki KDN 100%.1 1. memiliki KDN berdasarkan share saham.030 0. Jika alat kerja dan peralatan tersebut tidak dimiliki.005 0. Jika personil tersebut tidak ada atau merupakan warga negara asing memiliki KDN 0%.3 2.7 III 3. c. Angka prosentase alat kerja dan peralatan pada kolom (2): a.020 0.000 --- TKDN JASA PEMBANGUNAN DAN PEMASANGAN (%) Cara Pengisian: 1.060 0.060 0.005 BOBOT TKDN (%) (5) 0.4 2. 2. Jika personil tersebut ada dan merupakan warga negara Indonesia memiliki KDN 100%.200 0. Jika alat kerja dan peralatan tersebut dimiliki dan kepemilikan 100% PMA.6 2. d.060 0.070 0.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan III. JASA PEMBANGUNAN DAN PEMASANGAN JASA & BARANG URAIAN KDN (%) (1) I 1.2 2.

100 0. b.050 0. Angka prosentase konstruksi fabrikasi (tenaga kerja langsung) pada kolom (2): a.1 2. 128 . Jika personil tersebut ada dan merupakan warga negara Indonesia memiliki KDN 100%.3 3. 4. Angka prosentase TKDN pada kolom (5) adalah hasil perkalian kolom (2) dengan angka prosentase bobot pada kolom (4). Angka Prosentase Personil pada kolom (2): a.050 0.100 0. Jika personil tersebut tidak ada atau merupakan warga negara asing memiliki KDN 0%.050 0.000 (5) --- --- --- TKDN JASA PENGUJIAN DAN SERTIFIKASI (%) Cara Pengisian: 1.100 (1) 3. Jika personil tersebut ada dan merupakan warga negara Indonesia memiliki KDN 100%. JASA PENGUJIAN DAN SERTIFIKASI JASA & BARANG KDN (%) (1) I 1.100 1.100 URAIAN BOBOT TKDN (%) (5) 0.1 Personil Boiler engineer Steam turbine & generator engineer BOP / Process engineer Electrical & instrument engineer Alat Kerja dan Peralatan Peralatan for testing dan commissioning untuk Individual test System test Reability Test Performance Test Konstruksi dan Fabrikasi (Tenaga Kerja Langsung) Individual test (2) KLN (%) (3) (4) 0.4 II 2. IV.3 1.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan 3.2 3.4 III 3.1 1.100 0. 5.100 0.100 0. Angka prosentase TKDN Jasa Pembangunan dan Pemasangan adalah hasil penjumlahan angka prosentase TKDN pada kolom (5).050 0.4 System test Reability Test Performance Test Total Bobot (2) (3) (4) 0.2 1. Angka prosentase KLN pada kolom (3) adalah hasil pengurangan 100% dari angka prosentase pada kolom (2).2 2. 6.3 2.

memiliki KDN berdasarkan share saham. 5.200 1. b. Angka prosentase alat kerja dan peralatan pada kolom (2): a. Jika alat kerja dan peralatan tersebut dimiliki dan kepemilikan 100% PMDN. Angka prosentase TKDN pada kolom (5) adalah hasil perkalian kolom (2) dengan angka prosentase bobot pada kolom (4). Angka prosentase TKDN Jasa Pengujian dan Sertifikasi adalah hasil penjumlahan angka prosentase TKDN pada kolom (5). Jika alat kerja dan peralatan tersebut tidak dimiliki. Angka prosentase konstruksi fabrikasi (tenaga kerja langsung) pada kolom (2): a. memiliki KDN 0%. c. Angka prosentase KLN pada kolom (3) adalah hasil pengurangan 100% dari angka prosentase pada kolom (2). Jika alat kerja dan peralatan tersebut dimiliki dan kepemilikan PMDN dan PMA. 6. 2. Jika personil tersebut tidak ada atau merupakan warga negara asing memiliki KDN 0%. Jika personil tersebut ada dan merupakan warga negara Indonesia memiliki KDN 100%. Angka prosentase KLN pada kolom (3) adalah hasil pengurangan 100% dari angka prosentase pada kolom (2).300 0. Angka prosentase TKDN Jasa Pelatihan adalah hasil penjumlahan angka prosentase TKDN pada kolom (5). 4. 3. Jika personil tersebut tidak ada atau merupakan warga negara asing memiliki KDN 0%. memiliki KDN 0%.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan b.300 0. Jika alat kerja dan peralatan tersebut dimiliki dan kepemilikan 100% PMA. 129 . d.000 Personil Boiler engineer Steam turbine & generator engineer BOP / Process engineer Electrical & instrument engineer Total Bobot --TKDN JASA PELATIHAN (%) --- --- Cara Pengisian: 1.200 0. Angka Prosentase Personil pada kolom (2): a. 2. Jika personil tersebut tidak ada atau merupakan warga negara asing memiliki KDN 0%. Jika personil tersebut ada dan merupakan warga negara Indonesia memiliki KDN 100%. b. 3. memiliki KDN 100%. 4. b. Angka prosentase TKDN pada kolom (5) adalah hasil perkalian kolom (2) dengan angka prosentase bobot pada kolom (4). V. JASA PELATIHAN JASA & BARANG KDN (%) (2) KLN (%) (3) URAIAN BOBOT TKDN (%) (5) (1) 1 2 3 4 (4) 0.

Jika personil tersebut ada dan merupakan warga negara Indonesia memiliki KDN 100%.400 0. Angka prosentase TKDN Jasa Pelatihan adalah hasil penjumlahan angka prosentase TKDN pada kolom (5). JASA PENDUKUNG JASA & BARANG KDN (%) (2) KLN (%) (3) (2) KLN (%) (3) (4) 0. Jika personil tersebut tidak ada atau merupakan warga negara asing memiliki KDN 0%. 2. Angka Prosentase Personil pada kolom (2): 130 .100 0.200 1.150 0. JASA O & M JASA & BARANG KDN (%) (1) 1 2 3 4 5 6 7 Personil Boiler 0&M engineer Steam turbine & generator 0&M engineer BOP / Process 0&M engineer Electrical & instrument 0&M engineer Supervisor Operator SHE Engineer Total Bobot TKDN JASA O & M (%) Cara Pengisian: 1.Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan VI.000 --TKDN JASA PENDUKUNG (%) --- --- Cara Pengisian: 1.200 1.400 0. Angka Prosentase Personil pada kolom (2): a. 3. 4. b.150 0.000 URAIAN BOBOT TKDN (%) (5) --- --- --- URAIAN BOBOT TKDN (%) (5) (1) 1 2 3 Jasa Asuransi Jasa Penyewaan Jasa Transportasi Total Bobot (4) 0. Angka prosentase KLN pada kolom (3) adalah hasil pengurangan 100% dari angka prosentase pada kolom (2).150 0.100 0.150 0. VII. Angka prosentase TKDN pada kolom (5) adalah hasil perkalian kolom (2) dengan angka prosentase bobot pada kolom (4).

Jika PMA memiliki KDN 0%. Angka prosentase TKDN Jasa Pendukung adalah hasil penjumlahan angka prosentase TKDN pada kolom (5). Jika kepemilikan PMDN dan PMA memiliki KDN berdasarkan share saham. Angka prosentase TKDN pada kolom (5) adalah hasil perkalian kolom (2) dengan angka prosentase bobot pada kolom (4). 4. 100007198 131 . c. Angka prosentase KLN pada kolom (3) adalah hasil pengurangan 100% dari angka prosentase pada kolom (2).Buku Informasi Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan a. 2. b. DIREKTUR JENDERAL LISTRIK DAN PEMANFAATAN ENERGI ttd YOGO PRATOMO NIP. 3. Jika PMDN memiliki KDN 100%.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful