P. 1
ASKEP CKD

ASKEP CKD

|Views: 63|Likes:
Published by Dewi Ratna Wulan

More info:

Published by: Dewi Ratna Wulan on Jul 16, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/15/2013

pdf

text

original

asuhan keperawatan

Senin, 09 Januari 2012 asuhan keperawatan CKD
ASKEP CHRONIC KIDNEY DISEASE(CKD)
A. Pengertian CKD adalah gangguang fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan ginjal gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit, menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah) B.Etiologi Hal-hal yang dapat menyebabkan penyakit CKD adalah: Diabetes Mellitus glumeruonefritis akut pielonefritis hipertensi obstruksi traktus urinarius lesi herediter (penyakit ginjal polikistik, gangguan fungsi vaskuler, infeksi, medikasi, agen toksik) C.Patofisiologi ada dua pendekatan teoritis yang biasanya diajukan untuk menjelaskan gangguan fungsi ginjal kronik antara lain: 1.sudut pandang tradisional menjelaskan bahwa semua unit nefron yang telah terserang penyakit namun dalam stadium berbeda dan bagian-bagian spesifik dari nefron yang berkaitan dengan fungsi tertentu dapat benar-benar rusak dan bertambah strukturnya. 2.hipotesis brichker bahwa bila nefron terserang penyakit maka seluruh unitnya akan hancur namun sisa nefron yang utuh masih berfungsi D.Perjalanan klinik Perjalanan umum gagal progresif dibagi tiga stadium: 1.Stadium Satu Penurunan cadangan ginjal dimana, kreatinin, serum, dan kadar BUN normal dan penderita asimtomatik. Gangguan fungsi ginjal mungkin hanya dapat diketahui dengan memberikan beban kerja yang berat pada ginjal tersebut. Misalnya: tes pemekatan kemih yang lama atau dengan mengadakan tes GFR.

pucat. kejang F. agen pengikat fosfat dan kalsium.Gejala gastrointestinal Anoreksia.Stadium Tiga Stadium akhir gagal ginjal progresif adalah gagal ginnjal kronik atau uremia (90% nefron hancur). kulit coklat kehijauan. contoh finansial. perasaan tak berdaya.Integritas ego Gejala: Faktor stres. edema jaringan umum. hipotensi ortostatik menunjukkan hipovolemi. disritmia jantung. tak ada harapan. kedutan otot. Seluruh faktor yang berperan dalam gagal ginjal kronik. maka setiap sistem tubuh dipengaruhi oleh kondisi uremia.Sirkulasi Gejala: Riwayat hipertensi lama dan berat. kelemahan. halus. 2. nyeri dada (angina) Tanda: Hipertensi. tak ada kekuatan. perikarditis.neuromuskuler kesadaran berubah tidak mampu berkonsentrasi. nadi kuat. . palpitasi.Stadium dua Insufisiensi ginjal dimana lebih dari 75% jaringan yang berfungsi telah rusak BUN mulai menigkat. eritropoietin suplemen besi.Gejala dermatologi Pruritus 3.Penatalaksanaan Tujuan penatalaksanaan untuk mempertahankan fungsi ginjal dan homeostasis selama mungkin. mual muntah 4. hubungan. dan sebagainya. 3.2. DVJ. Obat anti hipertensi.Manifestasi kardiovaskuler mencakup hipertensi. pitting pada kaki. E.Pengkajian 1.Manifestasi klinik Karena ginjal kronik. maka pasien akan memperlihatkan tnda dan gejala: 1.Aktifitas/istirahat Gejala: Kelelahan ekstrim. gangguan tidur Tanda: Kelemahan otot. kehilangan tonus. G. kuning. malaise. penyakit jantung koroner. edema pulmonal. nadi lemah. penurunan rentang gerak 2. telapak tangan pada kaki. 3.

dispnea nokturnalparoksismal.peningkatan frekuensi\kedalaman. perubahan kepribadian.Seksualitas .ketidak manpuan berkonsenterasi.perubahan turgor kulit\kelembaban. Tanda: Pruritus 10.kram otot\nyeri kaki(memburuk pada malam hari) Tanda: Perilaku berhati-hati/distraksi.rasa metalik tak sedap pada mulut(pernapasan amonia).dan banyak.Nyeri/kenyamanan Gejala: Nyeri panggul.anoreksia. ansietas.ulserasi gusi. contoh: kuning pekat.kejang.kehilangan memori.Neorosensori Gejala: Sakit kepala. Tanda: Gangguan status muntah.Pernapasan Gejala: Napas pendek. oliguria dapat menjadi anuria. diare.penurunan lemak subcutan. 4. 8. berawan. 5. nyeri ulu hati.penggunaan diuretik. abdomen kembung. Tanda: Thipnea.penglihatan kabur.Tanda: Menolak. 9. takut.Eliminasi Gejala: Penurunan frekuensi urin. anuria.batuk produktif. mudah terangsang.batuk dengan\tanpa sputum kental.contoh penurunan lapang perhatian.Keamanan Gejala: Kulit gatal.mual muntah. Tanda: Distensi abdomen(asites).gelisah. kram otot. marah.perdarahan gusi \lidah.sakit kepala. 7.pembesaran hati(tahap akhir).penampilan tak bertenaga.penurunan otot. merah.dispnea. coklat. kacau.edema.penurunan berat badan(malnutrisi).Makanan/cairan Gejala: Peningkatan berat badan cepat(edema). oliguria. atau konstipasi Tanda: Perubahan warna urin. 6.

nadi perifer kuat. vaskuler. •Inspeksi area tergantung pada edema •Berikan perawatan kulit.Penyuluhan/pembelajaran Gejala: Riwayat DM keluarga.abnormalitas.mempertahankanfungsi peran biasanyadalam keluarga. ekimosis. observasi terhadap emosi. •Perhatikan adanya edema perifer.contohtak mampu bekerja. dispnoe. mempertahankan kulit utuh.Interaksi Sosial Gejala: Kesulitan menentukan kondisi.amenore.penyakit polikistik. tak ada perdarahan.maglinasi.Evaluasi Mempertahankan curah jantung dengan bukti tekanan darah dan frekuensi jantung dalam batas normal. DAFTAR PUSTAKA .kalsium. membran mukosa lembab. mencegah terjadinya cedera kulit.BUN. dan sama dengan waktu pengisian kapiler. turgor.natrium. 12.Gejala: Penurunan libido. turgor kulit baik. batasi penggunaan sabun Diagnosa III •Pertahankan pencatatan volume cairan.Diagnosa keperawatan Penurunan curah jantung Gangguan integritas kulit Kelebihan volume cairan IIntervensi keperawatan Diagnosa I •Auskultasi bunyi jantung dan paru •Observasi tekanan darah •Selidiki keluhan yeri •Awasi pemeriksaan laboratorium:kalium. H. •Perhatikan perubahan mental. pernapasan gemercik. Diagnosa II •Inspeksi kulit terhadap perubahan warna.nefritis herediter. purpura •Pantau masukan cairan dan hidrasi kulit serta membran mukosa. •Awasi kadar natrium serum J. distensi vena leher.kalkulus urinaria. 11. ortopnoe. mempertahankan keseimbangan cairan dibuktikan dengan berat badan dan tanda vital stabil.magnesium. perhatikan kemerahan. intake dan output.

Smeltzer. Patofisiologi Penyebab dari gagal ginjal kronik biasanya dipengaruhi oleh penyakit sistemik seperti diabetes melitus. diikuti penimbunan sisa metabolisme protein dan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit menyebabkan uremia. Fungsi ginjal antara 40 % . Pengertian Berikut ini ada beberapa pengertian gagal ginjal kronik menurut beberapa literatur yang penulis gunakan.Brunner & Suddarth. Gagal ginjal kronik adalah gangguan fungsi renal yang progresif dan reversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit yang menyebabkan uremia (Suzanne C. 2006).75 %.Stadium I (Penurunan cadangan ginjal). Gangguan fungsi ginjal hanya dapat terdeteksi dengan memberi kerja yang berat pda ginjal tersebut. semakin banyak yang timbunan produk sampah. A. pasien asimtomatik. Keperawatan Medikal Bedah. Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa Gagal ginjal kronik adalah gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible. 2001). B. yang menyebabkan penurunan clearens substansi darah yang seharusnya dibersihkan oleh ginjal. yaitu : . pielonefritis. Doengoes. Perjalanan penyakitnya dapat dibagi menjadi tiga stadium. pada stadiusm ini kreatinin serum dan kadar urea dalam darah (BUN) normal. Gagal ginjal kronik adalah suatu proses penurunan fungsi ginjal yang progresif dan pada umumnya pada suatu derajat memerlukan terapi pengganti ginjal yang tetap berupa dialisis dan transplantasi ginjal (Aru A. Sudoyo. EGC: Jakarta. maka gejala akan semakin berarti dan akan membaik setelah dialisis. volume 2. 2000). obtruksi traktus urinarius. Terjadi uremia dan mempengaruhi setiap sistem tubuh. penyakit ginjal polikistik. . infeksi dan agen toksik. produk akhir metabolisme protein (yang normalnya dieksresikan kedalam urine) tertimbun dalam darah. glumerulonefritis. 2001. Banyak permasalahan yang muncul pada ginjal sebagai akibat dari penurunan glomeruli yang berfungsi. seperti tes pemekatan urine yang lama atau dengan mengadakan tes Glomerolus Filtrasi Rate (GFR) yang teliti. fungsi renal menurun. yaitu : Gagal ginjal kronik adalah penurunan semua fungsi yang bertahap diikuti penimbunan sisa metabolisme protein dan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit (Mary E. hipertensi yang tidak dikontrol.

dan ereksi menurun. pada stadium akhir sekitar 90 % dari massa nefron telah hancur. Cairan yang diperbolehkan adalah 500 samapai 600 ml untuk 24 jam atau dengan menjumlahkan urine yang keluar dalam 24 jam ditamnbah . gangguan trombosit. gagal jantung dan penyakit tulang. cegukan. Penatalaksanaan Untuk mendukung pemulihan dan kesembuhan pada klien yang mengalami CKD maka penatalaksanaan pada klien CKD terdiri dari penatalaksanan medis/farmakologi. nafas bau amonia.Stadium III (Uremi gagal ginjal). Nilai GFR hanya 10 % dari keadaan normal. dysritmia. Sistem neuromuskuler : rasa pegal pada tungkai bawah.Stadium II (Insufisiensi ginjal) Fungsi ginjal antara 20 – 50 %. anemis. vomitus. asidosis metabolik. muntah. dan poliuria (peningkatan volume urine yang terus menerus). taua hanya sekitar 200. Sistem hematologik : anemia. gangguan metabolisme lemak dan Vit. parotitis. Sistem kardiovaskuler : hipertensi. uremia. Poliuria pada gagal ginjal lebih besar pada penyakit terutama menyerang tubulus. air kemih berkurang.. rasa semutan dan seperti terbakar terutama pada telapak kaki. . Sistem pernafasan : dsypneu. Timbul gejala – gejala nokturia (pengeluaran urine pada waktu malam hari yang menetap samapai sebanyak 700 ml. gangguan tidur. kreatinin sebesar 5 – 10 ml per menit atau kurang. nafsu makan berkurang. fertilitas. Penderita akan mengalami oliguria (pengeluaran urine kurang dari 500 ml) karena kegagalan glomerulus meskipun proses penyakit mula – mula menyerang tubulus ginjal. D. kejang – kejang. udem. Dimana tujuan penatalaksaan adalah untuk mempertahankan fungsi ginjal dan homeostasis selama mungkin. ulkus peptik dan kolitis uremik. Gejala – gejala yang timbul cukup parah anatara lain mual. gagguan toleransi glukosa. gagguan fungsi leukosit.000 nefron yang masih utuh. 1. Penatalaksanaan medis a. Manifestasi klinis dari gagal ginjal kronik adalah pada sistem gastrointestinal yaitu anoreksia. tremor. kejang – kejang dan akhirnya terjadi penurunan kesadaran sampai koma. sesak nafas. kurang tidur. sesak nafas. Fungsi ginjal kurang dari 10 %. stomatitis. pusing atau sakit kepala. amenorea. hipertensi. Komplikasi yang sering terjadi pada klien dengan gagal ginjal kronis adalah hiperkalemia. nausea. meskipun poliuria bersifat sedang dan jarang lebih dari 3 liter/hari. penatalaksanan keperawatan dan penatalaksanaan diet. C. gastritis erosif. Sistem endokrin : gangguan seksual seperti libido. myeri dada. bibir cyanosis. kusmaul. pada tahap ini kadar BUN baru mulai meningkat melebihi kadar normal. malnutrisi.

2. D. e. Elektrolit yang perlu diperhatikan yaitu natrium dan kalium. Protein yang diberikan harus yang bernilai biologis tinggi seperti telur. namun demikian suplemen makanan karbonat atau dialisis mungkin diperlukan untuk mengoreksi asidosis metabolic jika kondisi ini memerlukan gejala.3 – 0. Hiperfosfatemia dan hipokalemia ditangani dengan antasida mengandung alumunium atau kalsium karbonat. riboflavin. Pemberian vitamin untuk klien penting karena diet rendah protein tidak cukup memberikan komplemen vitamin yang diperlukan. Karbohidrat minimal 200 gr/hari untuk mencegah terjadinya katabolisme protein c. Diet rendah protein karena urea. asam urat dan asam organik. 3. Kalori harus cukup : 2000 – 3000 kalori dalam waktu 24 jam.b. Hiperkalemia biasanya dicegah dengan penanganan dialisis yang adekuat disertai pengambilan kalium dan pemantauan yang cermat terhadap kandungan kalium pada seluruh medikasi oral maupun intravena. d. Pengkajian . Hitung intake dan output yaitu cairan : 500 cc ditambah urine dan hilangnya cairan dengan cara lain (kasat mata) dalam waktu 24 jam sebelumnya. e. Penatalaksanaan Diet a. maka air yang masuk harus sesuai dengan penjumlahan tersebut. dengan IWL 500ml. h. Diet uremia dengan memberikan vitamin : tiamin. i. Anemia pada gagal ginjal kronis ditangani dengan epogen (eritropoetin manusia rekombinan). g. b. c. hasil pemecahan makanan dan protein jaringan akan menumpuk secara cepat dalam darah jika terdapat gagguan pada klirens ginjal. Epogen diberikan secara intravena atau subkutan tiga kali seminggu. Hipertensi ditangani dengan berbagai medikasi antihipertensif dan control volume intravaskuler. Natrium dapat diberikan sampai 500 mg dalam waktu 24 jam.5 mg/kg/hari. Pasien harus diet rendah kalium kadang – kadang kayexelate sesuai kebutuhan. niasin dan asam folat. d. Transplantasi ginjal. Lemak diberikan bebas. Dialisis. keduanya harus diberikan dengan makanan. daging sebanyak 0. f. Asidosis metabolik pada gagal ginjal kronik biasanya tampa gejala dan tidak memerlukan penanganan. b. Penatalaksanaan Keperawatan a.

4. konstipasi dan diare. 7. kulit kering bersisik. hipokalsemia. hematuria. gangguan pernafasan. asidosis metabolic. Doenges (1999) dan Susan Martin Tucker (1998). echimosis. tangan. pruritus. kejang. 1. osteosklerosis. dan gatal – gatal pada kulit. 8. 2. sto. Sisem Urinaria Tanda dan gejala : Oliguria. atropi testikuler. perdarahan dari saluran gastrointestinal. hiperkalemia. ulserasi dan perdarahan pada mulut. Sistem Neurologi Tanda dan gejala : Kelemahan dan keletihan. dan osteomalasia. disorientasi. konfusi. dan asidosis metabolik. malaise serta penurunan kesadaran. nafas dangkal. fraktur tulang. distropi renl. proteinuria. . Edema periorbital. Sistem Reproduktif Tanda dan gejala : Amenore. Smeltzer. infertilitas. kulit tipis dan rapuh. foot drop. Pengkajian pada klien CKD menurut Suzanne C. turgor kulit buruk. 6. 3. udem paru.Untuk mengetahui permasalahan yang ada pada klien dengan CKD perlu dilakukan pengkajian yang lebih menyeluruh dan mendalam dari berbagai aspek yang ada sehingga dapat ditemukan masalah-masalah yang ada pada klien dengan CKD. Sistem Pulmoner Tanda dan gejala : Sputum kental . pitting edema (kaki. abdomen kembung. Sistem Gastrointestinal Tanda dan gejala : Nafas berbau amoniak. dan perubahan perilaku. anoreksia. fiction rub pericardial. gagal jantung. rambut tipis dan kasar. mual. 5. rasa panas pada telapak kaki. dan pembesaran vena jugularis. penurunan libido. sesak nafas. hiperfosfatemia. Sistem Muskuloskletal Tanda dan gejala : Kram otot. Sistem Kardiovakuler Tanda dan gejala : Hipertensi. muntah.atitis dan pankreatitis. kelemahan pada tungkai. anuria. perikardtis takikardia dan disritmia. Sistem Integument Tanda dan gejala : Warna kulit abu – abu mengkilat. pneumonia. pernafasan kusmaul. sacrum). kekuatan otot hilang. penurunan konsentrasi. nafas berbau amoniak.

karena dehidrasi akan memperburuk fungsi ginjal. tebal korteks ginjal. 10. 5. berat jenis kurang dari 1. Smeltzer (2001) adalah sebagai berikut : 1. 6. natrium serum rendah. 7. magnesium/fosfat meningkat.9. kardiomegali dan efusi perikardial. 4. riwayat terpajan pada toksin. kalsium menurun. Ultrasonografi (USG) : Menilai bentuk dan besar ginjal.5 mEq atau lebih besar.015. Darah : BUN/kreatinin meningkat lebih dari 10 mg/dl. untuk CKD tak bermanfaat lagi olah karena ginjal tidak dapat mengeluarkan kontras. natrium lebih dari 40 mEq/L. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mencari adanya faktor yang reversibel. penggunaan antibiotic nefrotoksik saat ini/berulang. Foto polos abdomen : Sebaiknya tampa puasa. juga menilai apakah proses sudah lanjut. saat ini sudah jarang dilakukan. Elektrokardiografi (ECG) : Untuk melihat kemungkinan hipertropi ventrikel kiri. Suzanne C. kepadatan paremkim ginjal. nefritis herediter. tanda – tanda perikarditis. 9. Pemerikasaan Kardiologi tulang : Mencari osteoditrofi (terutama tulang atau jari) dan klasifikasi metastatik. kalkulus urinaria. 2. KUB Foto : Menunjukkan ukuran finjal/ureter/kandung kemih dan adanya obstruksi (batu). Ht menurun. contoh obat. 11.osn/kg. penyakit polikistik. Penyuluhan dan pembelajaran Gejala : Riwayat keluarga DM (resiko tinggi untuk gagal ginjal). proteinuria. racun lingkungan. Pemeriksaan Foto Dada : Dapat terlihat tanda – tanda bendungan paru akibat kelebihan air (fluid overload). protein khususnya albumin menurun. SDM waktu hidup menurun.2). Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada klien CKD untuk mengetahui penyebab dan daerah yang terkena menurut Doenges (1999). warna keruh. kandung kemih serta prostat. Pemeriksaan Pielografi Retrograd : Dilakukan bila dicurigai ada obstruksi yang reversibel. menilai bentuk dan besar ginjal dan apakah ada batu atau obstruksi lain. Osmolalitas serum : Lebih besar dari 285 nOsm/kg. kalium meningkat 6. klirens kreatinin agak menurun kurang 10 ml / menit. Hb kurang dari 7 – 8 gr/dl. osmolalitas kurang dari 350 m. 3. 8. ureter proximal. aritmia dan gangguan elektrolit (hiperkalemia dan hipokalsemia). malignasi. efusi pleura. Pielografi Intravena (PIV) : Pada PIV. Diagnosa Keperawatan . E. AGD (pH menurun dan terjadi asidosis metabolic (kurang dari 7. Urine : Volume kurang dari 40 ml / 24 jam ( oliguria ). sering sama dengan urine.

Perubahan proses pikir berhubungan dengan akumulasi toksin. d) Timbang BB tiap hari dengan alat ukur dan pakaian yang sama. kemudian data dikumpulkan maka dilanjutkan dengan analisa data untuk menentukan diagnosa keperawatan yang ada pada klien dengan CKD.Berdasarkan data pengkajian yang telah didapat atau terkaji. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan fungsi ginjal. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan keletihan. Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan ketidakseimbangan volume cairan. 3. 6. Menurut Doenges (1999). 8. dan Suzanne C. e) Batasi pemasukan cairan. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan gangguan status metabolisme. f) Kaji kulit. Kriteria Evaluasi : a) Haluaran urine tepat dengan berat jenis/hasil lab mendekati normal. 4. penurunan fungsi ginjal. Kurang pengetahuan tentang kondisi. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan fungsi ginjal. Perencanaan Keperawatan Setelah diagnosa keperawatan pada klien dengan CKD ditemukan. kalium dan natrium . 2. Intervensi : a) Awasi denyut jantung TD dan CVP.. Smeltzer (2001) diagnosa keperawatan pada klien CKD adalah sebagai berikut : 1. Resiko tinggi terhadap cidera berhubungan dengan penekanan produksi/sekresi eritropoetin. c) Awasi berat jenis urine. prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan tidak mengenal sumber informasi. selidiki perubahan mental. anemia. c) TTV dalam batas normal. Lynda Juall (1999). g) Kaji tingkat kesadaran. ureum HB/Ht. area tergantung edema. d) Tidak ada edema. Tujuan : Mempertahankan berat tubuh ideal tampa kelebihan cairan. 5. adanya gelisah. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake kurang atau pembatasan nutrisi. penetapan tujuan dan kriteria evaluasi sebagai berikut : 1. maka dilanjutkan dengan menyusun perencanaan untuk masing-masing diagnosa yang meliputi prioritas diagnosa keperawatan. b) Catat pemasukan dan pengeluaran akurat. F. b) BB stabil. h) Kolaborasi pemeriksaan laboratorium : Kreatinin. 7. evaluasi derajat edema.

berikan kalori tinggi rendah protein. suhu dan sensori atau mental. i) Kolaborasi foto dada. 2. Berikan pasien daftar makanan tatau cairan yang diizinkan dan dorong terlibat pada pemilihan menu. Intervensi : Kaji/catat pemasukan diet.10) dan apakah tidak mantap dengan inspirasi dalam posisi terlentang. hidralazin (apresolinie). Kriteria Evaluasi : Mempertahankan/meningkatkan berat badan seperti yang diindikasikan oleh situasi individu. kalsium. kongesti kapiler.serum. j) Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi : Diuretik. captopirl (capoten). pengisian kapiler. Batasi kalsium. transferin. a) b) a) b) c) d) e) f) g) h) a) b) c) a) b) c) d) e) f) g) . Berikan obat antihipertensif. beratnya (skala 1. Timbang BB tiap hari. natrium dan pemasukan fosfat sesuai indikasi. berikan/batasi cairan sesuai indikasi. Vit D. natrium. Selidiki keluhan nyeri dada. anti hipertensif k) Kolaborasi untuk dialisis sesuai indikasi. Nadi perifer kuat dan waktu pengisian kapiler vaskuler. perhatikan perubahan posturat. contoh : Prozin (minipres). Kriteria evaluasi : TD dan frekuensi dalam batas normal. seperti zat besi. Intervensi : Auskultasi bunyi jantung dan paru. 3. TD. Tujuan : Curah jantung adekuat. Dispneu tidak ada. respon terhadap aktivitas. Kaji adanya/derajat hipertensi : awasi TD. Berikan obat sesuai indikasi. Evaluasi bunyi jantung. Kaji tingkat aktivitas. Kolaborasi pemeriksaan lab BUN. Tujuan : Mempertahankan masukan nutrisi yang adekuat. evaluasi adanya edema perifer/kongesti vaskuler dan keluhan dyspneu. anti emetik. Bebas edema. Kolaborasi dengan ahli gizi. Foto dada. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan pembatasan nutrisi. Kolaborasi pemeriksaan lab : Elektrolit. Vit B Komplek. klonodin (catapres). Beri makan sedikit tapi sering. Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan ketidakseimbangan volume cairan. albumin serum. nadi perifer. BUN. kalium.

Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan gangguan status metabolik. Intervensi : a) Kaji luarnya gangguan kemampuan berfikir. d) Inspeksi area tergantung terhadap edema. b) Pastikan dari orang terdekat tingkat mental pasien biasanya. e) Orientasikan kembali terhadap lingkungan. beri bantalan pada tonjolan tulang dengan kulit domba. eskoriasi. pertahankan kuku pendek. purpura. f) Berikan perawatan kulit. vaskuler. aquaphor). radio. Tujuan : Tingkat mental meningkat Kriteria evaluasi : Dapat mengeidentifikasi cara untuk mengkompensasi gangguan kognitif/deficit memori. 5. Tujuan : Mempertahankan kulit utuh. ulangi penjelasan sesuai kebutuhan. k) Anjurkan menggunakan pakaian katun dan longgar . elektrolit serum. i) Selidiki keluhan gatal. dan jarang menantang dan pemikiran tidak logis. Intervensi : a) Inspeksi kulit terhadap perubahan warna. j) Hindari penggunaan barbiturate dan opiad. memori. Perubahan proses fikir berhubungan dengan akumulasi toksin.4. d) Berikan lingkungan tenang dan izinkan menggunakan televise. dan kunjungan. i) Kolaborasi : awasi pemeriksaan lab BUN/kreatinin. g) Komunikasikan informasi/instruksi dalam kalimat pendek dan sederhana. dan orientasi. orang dan sebagainya. h) Pertahanan linen kering dan bebas keriput. h) Buat jadwal teratur untuk aktivitas yang diharapkan. b) Pertahankan kemerahan. Tanyakan pertanyaan ya/tidak. turgor. kadar glukosa. Kriteria Evaluasi : Menunjukkan prilaku/teknik untuk mencegah erusakan atau cedera kulit. e) Ubah posisi sering. j) Anjurkan pasienm menggunakan kompres lembab dan dingin untuk memberikan tekanan pada area pruritus. AGD. ringkas. gerakan pasiaen dengan berlahan. observasi terhadap ekimosis. c) Pantau masukan cairan dan hidrasi kuli dan membran mukosa. pelindung siku tumit. c) Berikan orang terdekat informasi tentang status pasien. g) Barikan salap atau krim(analin. f) Hadirkan kenyataan secara singkat.

perdarahan area ekimosis karena trauma kecil. ptechie. b) Mempertahankan atau menunjukkan perbaikan nilai laboratorium. Kurang pengetahuan mengenai kondisi. 8. dan penurunan fungsi ginjal. b) Tingkatkan kemandirian dalam aktivitas perawatan diri yang dapat ditoleransi. Kriteria Evaluasi : a) Tidak mengalami tanda atau gejala perdarahan. gunakan jarum kecil bila mungkin dan lakukan penekanan lebih lama setelah penyuntikan atau penusukan vaskuler. 7. dispneu dan nyeri dada. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan. kelemahan. d) Anjurkan untuk beristirahat setelah dialisis. uremia.6. Kriteria Evaluasi : Mampu berpatisipasi dalam aktivitas yang dapat ditoleransi. Tujuan : Cedera tidak terjadi. Intervensi : a) Perhatikan keluhan peningkatan kelelahan. dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan tidak mengenal sumber-sumber informasi Tujuan : Pengetahuan meningkat Kriteria Evaluasi : a) Berpartisipasi dalam proses belajar . kulit atau membrane mukosa pucat. e) Batasi contoh vaskuler. f) Observasi perdarahan terus menerus dari tempat penusukan. kombinasikan tes laboratorium bila mungkin. h) Berikan sikat gigi halus. kemampuan untuk melakukan tugas. ranitidine (zartoc). Intervensi : a) Kaji factor yang menimbulkan keletihan. Resiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan penekanan produksi atau sekresi eritropoetin. b) Observasi takikardia. i) Kolaborasi : awasi pemeriksaan laboratorium : jumlah trombosit. c) Awasi tingkat kesadaran klien. c) Anjurkan aktivitas alternatif sambil istirahat. asam fosfat (folvite). laxative bulk (metamucit). g) Hematemesis sekresi Gastrointestinal atau darah feses. Bantu jika keletihan terjadi. faktor pembekuan darah. anatasiad. prognosis. sianokobalamin (betaun). pembengkakan sendi atau membran mukosa. pelunak feses. pencukur elektrik. simetidin (tegamert). d) Evaluasi respon terhadap aktivitas. j) Kolaborasi: berikan obat sesuai indikasi contoh sediaan besi. .

tanda infeksi serta gangguan mental. pemeriksaan laboratorium. peningkatan berat badan tiba – tiba. b) Jelaskan tingkat fungsi ginjal setelah episode akut berlalu. . perdarahan. Terkait dengan masalah yang ada pada pasien CKD maka pelaksanaan tindakan keperawatan ditujukan pada klien. g) Kaji ulang pemasukan atau pembatasan cairan. perawat dan keluarga. dorong pasien untuk mendiskusikan semua obat. Pada keluarga ditujukan untuk memahami kebutuhan klien dan memotivasi klien untuk mempertahankan dan meningkatkan status kesehatannya. c) Diskusikan dialisis ginjal atau transplantasi bila ini merupakan bagian yang mungkin akan dilakukan di masa mendatang. d) Kaji ulang rencana diet atau pembatasan termasuk lembar daftar makanan yang dibatasi. j) Tekankan perlunya perawatan evaluasi. mengarahkan kebutuhan dan aktivitas kehidupan sehari-hari kilen yang disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi klien pada saat itu. i) Diskusikan atau kaji ulang penggunaan obat. Pada perawat ditujukan untuk memberikan arahan dalam melakukan tindakan keperawatan yang berpusat pada klien sehingga tujuan dapat tercapai.b) Mengungkapkan pemahaman tentang kondisi / prognosis dan aturan terapuetik Intervensi : a) Kaji ulang proses penyakit prognosis dan faktot pencetus bila diketahui. membantu. Pelaksanaan pada klien meliputi melakukan. Tindakan keperawatan yang dilakukan pada klien dapat berupa tindakan mandiri maupun tindakan kolaborasi. G. letargi. masuk akal dalam melaksanakan yang bernmanfaat bagi klien. adanya edema. Serta pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan dan merupakan tindakan yang bermanfaat bagi klien berhubungan dengan diagnosa keperawatan dan tujuan yang telah ditetapkan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan klien secara optimal. e) Dorong pasien untuk mengobservasi karakteristik urine dan jumlah atau frekuensi pengeluaran. h) Diskusikan pembatasan aktivitas dan melalui aktivitas yang diinginkan secara bertahap. Pelaksanaan Setelah perencanaan keperawatan disusun berdasarkan diagnosa keperawatan yang prioritas maka langkah selanjutnya adalah pelaksanaan tindakan keperawatan. Pelaksanaan merupakan tindakan mandiri bersifat ilmia. k) Identifikasi gejala yang memerlukan intervensi medik contoh penurunan pengeluaran urine. f) Buat jadwal teratur untuk penimbangan.

Diposkan oleh ifo abraham di 04. .30 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Tidak ada komentar: Poskan Komentar Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda Langganan: Poskan Komentar (Atom) Pengikut Mengenai Saya Arsip Blog  ▼ 2012 (7) o ▼ Januari(7)  HEMODIALISA  HEMODIALISA ifo abraham Lihat profil lengkapku  ASUHAN KEPERAWAT AN PADA KLIEN TB PARU  askep ISK  asuhan keperawatan CKD  askep stroke  asuhan keperawatan pada klien dengan fraktur Template Awesome Inc.. Diberdayakan oleh Blogger.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->