P. 1
Budaya Kerja Dalam Bingkai Reformasi Birokrasi01

Budaya Kerja Dalam Bingkai Reformasi Birokrasi01

|Views: 8|Likes:
budaya kerja pada masa reformasi
budaya kerja pada masa reformasi

More info:

Published by: Sartika Lestari Kyky Daulay on Jul 16, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/17/2014

pdf

text

original

BUDAYA KERJA DALAM BINGKAI REFORMASI BIROKRASI Budaya tidak dapat dipelajari dengan ukuran baik-buruk.

Untuk meneliti budaya dengan menggunakan teori organisasi khususnya siklus organisasi menurut hukum alam.Setiap organisasi yang lahir harus mampu bersaing dengan organisasi lain, sedangkan organisasi yang cara kerjanya menurun, harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan keadaan. Birokrasi adalah syarat dalam kehidupan bersama. Birokrasi menjadi alat untuk menjaga konsistensi, keteraturan, keseragaman, kekompakan – betapapun – menjengkelkannya, orang sering merasakannya. Birokrasi melayani setiap orang sesuai dengan aturan main. Birokrasi bisa mengakomodasi hak dan kebebasan begitu banyak orang dan kepentingan, tanpa menjadi anarkis. Birokrasi bukan hanya dibutuhkan di negara otoriter, tetapi juga di negara demokratis. Reformasi birokrasi pada hakikatnya merupakan upaya untuk melakukan pembaharuan dan perubahan mendasar terhadap sistem penyelenggaraan pemerintahan terutama menyangkut aspek-aspek kelembagaan (organisasi), ketatalaksanaan (business prosess) dan sumber daya manusia aparatur. Reformasi Birokrasi diarahkan pada upayaupaya mencegah dan mempercepat pemberantasan korupsi, secara berkelanjutan, dalam menciptakan tata pemerintahan yang baik, bersih, dan berwibawa (good governance), seperti yang diarahkan oleh Presiden SBY yaitu: laksanakan reformasi birokrasi, tegakkan dan terapkan prinsip-prinsip good governance, tingkatkan kualitas pelayanan publik menuju pelayanan publik yang prima; dan berantas korupsi sekarang juga mulai dari diri sendiri dan hindari perbuatan tindak pidana korupsi.

memberitakan bahwa pada tahun 2005. Malaysia (28). Hal ini pula yang kurang mendukung terciptanya budaya produktif. India (39).A. Urutan peringkat ini berkaitan juga dengan kinerja pada dimensi lainnya yakni pada Economic Performance pada tahun 2005 berada pada urutan buncit yakni ke 60. Korea (29). Ada anggapan bahwa budaya kerja produktif di Indonesia. dan Government Efficiency (55). Ditambah dengan rata-rata pendidikan karyawan yang relatif masih rendah maka produktivitas pun rendah. Juga mungkin karena faktor budaya kerja yang juga masih lemah dan tidak merata. Seperti data yang menangani kasus-kasus yang menjadikan sebagian masyarakat Indonesia menambah daftar keluarga miskin. bisa jadi bekerja dianggap sebagai beban dan paksaan terutama bagi orang yang malas. Atau semakin turun ketimbang tahun 2001 yang mencapai urutan 46. Cina (31). Alat ukur yang tepat dalam mengkategori kerja yang berkualitas belum ditemukan rumusnya sehingga masih berdasarkan hitungan kancing dan siapa yang berhenti pada kancing tersebut maka posisi kemenangan berpihak padanya. Thailand (27). dan Filipina (49). Seolah-olah karyawan tidak memiliki sistem nilai dilaksanakan. Karena itu tidak heran produktivitas kerja di Indonesia termasuk terendah dibanding dengan negara-negara lain di Asia. World Competitiveness Book (2007). Pemahaman karyawan tentang budaya kerja positif masih lemah. peringkat produktivitas kerja Indonesia berada pada posisi 59 dari 60 negara yang disurvei. Mengapa bisa seperti itu? Hal demikian bisa dijelaskan lewat formula matematika sederhana. belum merata. Bekerja masih dianggap sebagai sesuatu yang rutin. Negara masih diungkap oleh Insititute for Management of Development. Sementara itu negara-negara Asia lainnya berada di atas Indonesia seperti Singapura (peringkat 1). Lagi-lagi diduga kuat bahwa semuanya itu karena mutu sumberdaya manusia Indonesia yang tidak mampu bersaing. PENDAHULUAN Tahun ini suasana negara Indonesia belum ada tanda-tanda perbaikan dalam disibukkan dengan berita korupsi. Bahkan di sebagian karyawan. Swiss. Begitulah sebagian pemimpin kita ketika memberi tugas kepada karyawannya tanpa melihat kemampuan yang dimiliki asal itu bisa membuat posisi sang manajer aman dan terkendali maka penumpukan beban tugas tidak seimbang dengan jumlah karyawan yang ada. Perusahaan maupun organisasi belum mengganggap sikap produktif sebagai suatu sistem nilai. apa yang harus dipegang dan . Business Efficiency (59). Dampaknya dirasakan dimana sebuah perusahaan maupun organisasi mengabaikan kesejahteraan karyawan.

Jadi output yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh faktor input yang digunakan. disiplin kerja dan budaya kerja. Bentuk output dapat berupa barang dan jasa. tingkat upah dan gaji. norma. pendidikan. kekecewaan masyarakat terhadap birokrasi terus terjadi dalam kurun waktu yang lama sejak kita merdeka. Ketidakmampuan pemerintah untuk melakukan perubahan struktur. Birokrasi ini mendasarkan pada hubungan atasan dan bawahan (patron client) sehingga segala yang dikerjakan bawahan hendaknya harus sesuai dengan keinginan pimpinan. Karena itulah. Ukuran kinerja suatu organisasi tidak dapat diukur dari para pelaksana pelayanan. Masih belum tercipta budaya pelayanan publik yang berorientasi pada kebutuhan pelanggan (service delivery culture). dan tingkat upah dari karyawan. yang terbentuk adalah obsesi para birokrat dan politisi untuk mengalihkan birokrasi sebagai lahan pemerintahan hasrat dan kekuasaan (power culture). Oleh karena itulah dalam pengukuran suatu kinerja mau tidak mau harus melibatkan konsumen yang berasal dari masyarakat pengguna jasa layanan. tingkat pendidikan. maka sumber daya manusia yang ada pada lembaga kediklatan harus mempunyai kualitas yang baik pula. Dalam hal ini diasumsikan kinerja pegawai dipengaruhi oleh faktor pelaksanaan birokrasi.Produktivitas kerja merupakan rasio dari keluaran/output dengan inputnya. kondisi mutu dan fisik karyawan. teknologi yang dipakai dan sebagainya. Pihak yang dapat merasakan output bukanlah penyelenggara layanan (birokrasi) tetapi pengguna jasa layanan (masyarakat). Hal ini dikarenakan kinerja itu pada dasarnya adalah output dan bukan input. . Untuk mendapatkan kinerja yang baik. Jika kualitas sumber daya manusianya tidak baik. maka kinerjanya dalam melaksanakan tugas tidak akan sesuai dengan yang semestinya. Hal ini menimbulkan bawahan selalu tergantung pada atasan. Hal ini ditunjukkan pula oleh angka indeks pembangunan manusia di Indonesia (gizi. karena masih banyak kekeliruan dalam menjalankan birokrasi. Sejarah telah menciptakan birokrasi patrimonial. Sementara input berupa jumlah waktu kerja. Birokrasi Indonesia saat ini belum dapat menjawab atas tuntutan masyarakat. tetapi justru dari penerima layanan. kesehatan) yang relatif lebih rendah dibanding di negaranegara tetangga. Birokrasi Indonesia saat ini tidak bisa terlepas dari faktor sejarah. nilai dan regulasi kepegawaian negara telah menyebabkan gagalnya upaya untuk memenuhi aspirasi dan kebutuhan masyarakat. etos kerja. Sebaliknya. Dengan demikian produktivitas kerja di Indonesia relatif rendah karena memang rendahnya faktorfaktor kualitas fisik. Kualitas dan kinerja birokrasi dalam memberikan pelayanan publik masih jauh dari harapan.

Cirus Sinaga dan juga terkhir kasus jaksa Sistoyo di Kejaksanaan negeri Cibinong Jabar. "Kode etik" ini nampaknya sudah menjadi konsensus antar birokrat agar saling menutup jika di antara mereka tercium oleh publik atau birokrat bersih karena melakukan korup. Permasalahan yang dihadapi Kinerja pelayanan publik di Indonesia yang buruk sudah berjalan lama dan sudah menjadi rahasia umum.Reformasi birokrasi yang dicanangkan didalam butir good governance juga belum mampu menjawab permasalahan diatas. Pada bidang pelayanan administrasi bisa dilihat pada kasus Gayus Tambunan. yaitu bidang pelayanan administrasi. Biasanya korupsi terjadi pada tiga aktifitas utama. karena permasalahan ini sudah menjadi budaya di Indonesia. pelayanan publik yang optimal di Indonesia hanya sebatas diwacanakan elite politik. pelaksanaan proyek pembangunan dan terakhir penegakan hukum. Sampai di era reformasi. Pada kasus penegakan hukum kita bisa melihat pada kasus jaksa Urip. Maka dari itu peran serta para pelaksana kebijakan merupakan andil yang diharapkan dalam melakukan perubahan secara drastis dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan dipertanggung jawabkan di depan masyarakat sebagai kelompok yang dilayani. Semua urusan yang berhubungan dengan birokrasi selalu bersentuhan dengan adagium "kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah". terjadi hampir di semua lini dimana jaksa agung pasti melingungi. Tipikal birokrat ini selalu memposisikan dirinya sebagai orang yang harus mendapatkan pelayanan dari para abdinya (masyarakat). Pada bidang pelaksnaan proyek pembangunan kita bisa melihat pada kasus pembangunan wisma atlet sea games di Palembang ( kasus Nazaruddin) yang melibatkan Wafid Muharam. Dalam kasus . Birokrasi kita memang mengidap penyakit mental yang korup. Hal ini terjadi karena beberapa hal misalnya Birokrasi masih didominasi birokrat bermental raja.Sementara wajah birokrasi dari suatu penyelengaraan negara akan tercermin pada hasil produk yang berupa standar pelayanan terhadap publik atau masyarakat.Budaya patronase menimbulkan rasa ewuh pakewuh yang berlebihan terhadap atasan. Keinginan membalik paradigma birokrasi dari dilayani menjadi melayani masih sangat sulit. Dalam birokrasi masih dikembangkan mekanisme menutup aib sesama. Seperti yang ungkapkan oleh presiden SBY bahwa ada bebrerapa faktor harus diperbaiki dari penyakit birokrasi yaitu : 1. Dalam kondisi begini. kondisi birokrasi akan semakin parah. Permasalahan korupsi terjadi disemua organisasi pemerintahan.

Begitu pula masalah proyek-proyek pemerintah yang tidak tepat sasaran. 2. 3. Lebih parah lagi. Masalah efisiensi. Data yang adalah jumlah PNS di Indonesia saat ini adalah sekitar4. Sehingga memunculkan keraguan tentang kualitas CPNS yang akan menjadi bagian dari birokrasi itu sendiri. Rekrutmen anggota birokrasi masih mengalami masalah. jadi bukan berdasarkan kompetensinya. Besarnya jumlah PNS. hakim Syarifuddin.Kasus-kasus diatas adalah contoh sebagian kecil dari beribu-ribu kasus korupsi sejenis yang terjadi di Indonesia yang melibatkan birokratnya. sehingga tidak dirasakan manfaatnya. kelangkaan calon. belum memiliki standar kualitas yang bagus. Aziz Satriya Jaya dalam tulisan Masalah SDM Birokrasi dan Solusinya yang diambil dari buku Administrasi Publik Teori dan Aplikasi Good Governance (2008) . yang menjadi leverage berjalannya proses reformasi. sehingga jabatan struktural yang ada dipenuhi dengan orang-orang yang kurang tepat berdasarkan kompetensinya. Kompetensi Para birokrat telah terasuk oleh kebijakan-kebijakan yang membingungkan. yang terjadi adalah suka atau tidak suka. Mestinya kondisi ini tidak boleh terjadi. yang dampaknya memperbesar jumlah PNS yang harus mengisinya. System penempatan aparatur dalam jabatan di birokrasi Indonesia belum menggunakan Analisis Jabatan sebagai acuan dalam menempatkan orang dalam posisi jabatan tertentu. menyangkut manfaat dari pekerja pemerintah tersebut bagi masyarakat. atau bahkan karena hubungan kekerabatan dan sogokan alias produk KKN. sehingga mereka kesulitan dalam menterjemahkan isi kebijakan tersebut ke dalam konteks pelayanan publik. jadi bukan the right man on the right place. birokrasi diisi oleh calon-calon yang tidak didasari oleh kompetensi tetapi diterima menjadi CPNS karena faktor kemanusiaan seperti lama bekerja. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pelyanan birokrasi di Indonesia sangat lambat dan berbelit. Penerimaan CPNS ternyata masih menyisakan masalah besar. 5.7 juta jiwa. sepaham atau tidak sepaham dengan penguasa di Daerah. Mereka terbelah dalam kekuatan yang pro dan kontra terhadap kebijakan. belum lagi kasus yang melibatkan aparat kepolisian. berdampak lurus dengan besarnya anggaran negara yang tersedot untuk membayar gaji mereka. 4.Hakim kita bisa lihat pada kasus hakim Imas.1 Kekurang profesionalan PNS atau sumber daya aparaturnya pun. Jumlah lembaga-lembaga pemerintahan baik di pusat dan didaerah sangat banyak. 1 M. Masalah efektifitas.

Namun tidak dapat dipungkiri ketatalaksanaan lembaga juga tidak bisa ditinggalkan untuk mendukung reformasi tersebut. menggambarkan bahwa kualitas SDM memegang peranan penting di dalam melakukan reformasi birokrasi. Kinerja organisasi dan mekanisme kinerja. efisiensi serta mampu menjadi medium yang mempertemukan rakyat dengan pemerintah. Maka dalam membangun budaya pemerintah hal perlu ditingkatkan adalah budaya output yang dibentuk dari budaya nilai dan vehicle. Menelaah jenis birokrasi yang terjadi di Indonesia. aktualisasi budaya. melalui proses budaya yang meliputi kontak nilai. Sudut pandang kedua adalah milik Karl Marx yang menyebutkan bahwa birokrasi melayani kepentingan kelompok mayoritas masyarakat yang akan menguasai kelompok masyarakat lainnya. pedoman akan tujuan sasaran dan strategi yang jelas (0rganisasi) serta mekanisme pengawasan dan kontrol yang baik (Mekanisme). . perubahan budaya dan pewaris budaya. Pertama sudut pandang Weber dan Hegel yang memandang birokrasi adalah adanya rasionalitas. ada dua strategi utama yang bisa diterapkan dalam reformasi birokrasi. para PNS akan kembali ke kondisi awal ketika mereka kembali ke permanent system. Harapan Reformasi Birokrasi Uraian di atas. seleksi nilai. managerial. Pertama strategi reformasi teknikal yang mencakupi perbaikan kinerja SDM.pelembagaan nilai.Meskipun telah dilakukan banyak pembinaan-pembinaan teknis dan perilaku. dimana input sebagai bahan baku. Pemikiran ini dikuatkan lagi oleh pendapat Heckscher dan Donellon bahwa birokrasi masa depan adalah apa yang disebut post bureaucratic organization yang memusatkan pada interkasi internal. eksternal dan sosial dalam pelaksanaannya Dari dua sudut pandang tersebut tampaknya birokrasi Indonesia lebih condong ke sudut pandang kedua.namun hal tersebut belum bisa dilaksanakan tanpa reformasi spiritual yang memunculkan sosok leader dalam proses reformasi ini. sosial. Strategi ini bisa melalui assessments meliputi kompetensi teknik. strategik serta etika (SDM). Meskipun strategi reformasi teknikal sudah sering di ulas. Kedua adalah strategi reformasi spiritual yang berupa perubahan paradigma para birokrat dan masyarakat dalam melakukan reformasi. Untuk mengkajinya perlu diperhatikan dua sudut pandang tentang birokrasi. Aparatur negara saat ini lebih dominan pada masalah ketatausahaan daripada masalah kegiatan-kegiatan perencanaan ataupun mengembangan manajemen. kontrol budaya.

Pertanyaannya apakah semua kita sudah berbudaya kerja produktif? Seharusnya faktor-faktor tersebut perlu dikuasai secara seimbang agar para karyawan mampu mencapai produktivitas yang standar.2 sesuatu adalah hal terpenting dalam birokrasi yang benar. sebuah hirarki wewenang yang jelas. peraturan yang rinci. (2) sikap terhadap karyawanan.line and staff. 2 Tulisann ini merupakan hasil saduran dari Buku “Tantangan Utama Reformasi Birokrasi” oleh Tim Humas Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan). (4) etos kerja dan (5) sikap terhadap waktu. yaitu span of control. Diakses di www. prosedur seleksi yang formal. Jadi organisasi pemerintahan adalah organisasi birokratik. Kompetensi (pengetahuan.Sementara itu budaya bekerja produktif mengandung komponen-komponen: (1) pemahaman substansi dasar tentang bekerja. Seperti yang diungkap oleh (Robbins:1994) dalam teori Max weber (1864-1920) bahwa untuk mencapai tujuan suatu organisasi harus memiliki struktur ideal yang disebut dengan birokrasi. sikap dan ketrampilan) karyawan menjadi tuntutan pasar kerja yang semakin mendesak.google. serta hubungan yang tidak didasarkan atas hubungan pribadi (impersonal). Tetapi di negara berkembang organisasi birokrasi memegang peranan penting dibidang pembangunan.com tanggal 20 February 2011 . Pendidikan dan pelatihan perlu terus dikembangkan disamping penyediaan akses teknologi. (3) perilaku ketika bekerja. division of labor. Dengan kata lain suasana proses pembelajaran plus dukungan kesejahteraan karyawan perlu terus dikembangkan. rule and regulation and proffesional staff. dibidang politik dan pemerintahan birokrasi tetap bertahan. Birokrasi yang diperkenalkan Weber ini melahirkan disiplin dan disiplin lahir dari pertimbangan-pertimbangan ekonomi. Teori Weber ini menjadi ukuran hampir semua struktur organisasi yang ada sekarang ini. Namun birokrasi tidak tepat untuk dunia bisnis. Struktur ideal tersebut dicirikan dengan adanya pembagian kerja. Reformasi birokrasi juga bisa dimaknai sebagai upaya-upaya strategis dalam menata kembali birokrasi yang sedang berjalan sesuai prinsip-prinsip birokrasi menurut Max Webber.

Sebuah perusahaan tanpa falsafah yang jelas dan terfokus adalah seperti layaknya sebuah kapal tanpa kemudi. Look Good. Oleh sebab itu diperlukan semangat dan kerja keras. Ia akan tersesat dan menghancurkan dirinya sendiri di dalam percaturan masalah-masalah global. Falsafah tersebut harus memberi definisi yang sama mengenai mutu. hindari budaya malas dan mulai beralih budaya kerja keras. cacat. Tahun 2012 merupakan tahun penuh harapan. . Falsafah mutu organisasi dikatakan misi sebuah oragnisasi. bener dan jujur guna mewujudkan negara yang sejahtera. yang intinya antara lain mengajak umat manusia diwajibkan memiliki rasa. kini saatnya kita harus berani berbenah. tahun yang memerlukan aksi-aksi baru. sikap dan sifat budi luhur yang disebutkan dalam istilah jejeg. pelanggan dan istilah-istilah lainnya. Delete budaya santai. adil dan makmur. perubahan dan juga penuh dengan rintangan. Jika pada tahun-tahun sebelumnya semua upaya kita belum menunjukkan hasil yang maksimal. tindakan nyata. pelayanan. Seperti pepatah jawa kuno Trisulawedha yang diterapkan oleh Raja Jayabaya. jauh lebih kuat dan kekal daripada siapapun.Penutup Ada pepatah Jerman mengatakan " Apa gunanya kita lari-lari jika tidak berada di jalur yang benar?". bukan ngobral janji. Feel Good". hambatan dan tantangan. Yang dibutuhkan bukan janji tapi bukti nyata. pembaharuan. Sebuah maklumat misi haruslah menjadi "Undang-Undang Dasar" bagi perusahaan maupun organisasi. Akan tetapi ditanam didalam jiwa semangat kerja. contoh yang singkat dan mengena diambil dari Angkatan Bersenjata Filipna : "Do Good. untuk diambil sesekali seperti SIM. Misi ditulis bukan saja untuk menghiasi dinding atau diselipkan disalah satu selipan di dompet.

Diakses di www.2009.Jakarta:Arcan.google. . Budaya Kerja Organisasi Pemerintah. Refika Aditama.com tanggal 20 February 2011. Robbins. Teori Organisasi Struktur. Powered by Joomla! valid XHTML and CSS.google xhtml. Reformasi Kepegawaian di Indonesia. Miftah Thoha. Joriko N Kindangen SE. 2008. Aziz Satriya Jaya dalam tulisan Masalah SDM Birokrasi dan Solusinya yang diambil dari buku Administrasi Publik Teori dan Aplikasi Good Governance (2008)Buku “Tantangan Utama Reformasi. pada tanggal 23 April 2001. 2006. www. Kencana Media Prenada Group.Desain dan Aplikasi. Pandji Santosa. Ilmu Administrasi Publik Kontemporer.1994. Balitbang Departemen Agama.Modul.DAFTAR BACAAN M. Administrasi Publik Teori dan Aplikasi Good Governance.Birokrasi” oleh Tim Humas Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan).MAP.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->