BUDAYA KERJA DALAM BINGKAI REFORMASI BIROKRASI Budaya tidak dapat dipelajari dengan ukuran baik-buruk.

Untuk meneliti budaya dengan menggunakan teori organisasi khususnya siklus organisasi menurut hukum alam.Setiap organisasi yang lahir harus mampu bersaing dengan organisasi lain, sedangkan organisasi yang cara kerjanya menurun, harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan keadaan. Birokrasi adalah syarat dalam kehidupan bersama. Birokrasi menjadi alat untuk menjaga konsistensi, keteraturan, keseragaman, kekompakan – betapapun – menjengkelkannya, orang sering merasakannya. Birokrasi melayani setiap orang sesuai dengan aturan main. Birokrasi bisa mengakomodasi hak dan kebebasan begitu banyak orang dan kepentingan, tanpa menjadi anarkis. Birokrasi bukan hanya dibutuhkan di negara otoriter, tetapi juga di negara demokratis. Reformasi birokrasi pada hakikatnya merupakan upaya untuk melakukan pembaharuan dan perubahan mendasar terhadap sistem penyelenggaraan pemerintahan terutama menyangkut aspek-aspek kelembagaan (organisasi), ketatalaksanaan (business prosess) dan sumber daya manusia aparatur. Reformasi Birokrasi diarahkan pada upayaupaya mencegah dan mempercepat pemberantasan korupsi, secara berkelanjutan, dalam menciptakan tata pemerintahan yang baik, bersih, dan berwibawa (good governance), seperti yang diarahkan oleh Presiden SBY yaitu: laksanakan reformasi birokrasi, tegakkan dan terapkan prinsip-prinsip good governance, tingkatkan kualitas pelayanan publik menuju pelayanan publik yang prima; dan berantas korupsi sekarang juga mulai dari diri sendiri dan hindari perbuatan tindak pidana korupsi.

Ada anggapan bahwa budaya kerja produktif di Indonesia. India (39).A. Seperti data yang menangani kasus-kasus yang menjadikan sebagian masyarakat Indonesia menambah daftar keluarga miskin. dan Filipina (49). Juga mungkin karena faktor budaya kerja yang juga masih lemah dan tidak merata. Hal ini pula yang kurang mendukung terciptanya budaya produktif. Business Efficiency (59). Negara masih diungkap oleh Insititute for Management of Development. belum merata. Bekerja masih dianggap sebagai sesuatu yang rutin. PENDAHULUAN Tahun ini suasana negara Indonesia belum ada tanda-tanda perbaikan dalam disibukkan dengan berita korupsi. Begitulah sebagian pemimpin kita ketika memberi tugas kepada karyawannya tanpa melihat kemampuan yang dimiliki asal itu bisa membuat posisi sang manajer aman dan terkendali maka penumpukan beban tugas tidak seimbang dengan jumlah karyawan yang ada. Dampaknya dirasakan dimana sebuah perusahaan maupun organisasi mengabaikan kesejahteraan karyawan. bisa jadi bekerja dianggap sebagai beban dan paksaan terutama bagi orang yang malas. Atau semakin turun ketimbang tahun 2001 yang mencapai urutan 46. Malaysia (28). Alat ukur yang tepat dalam mengkategori kerja yang berkualitas belum ditemukan rumusnya sehingga masih berdasarkan hitungan kancing dan siapa yang berhenti pada kancing tersebut maka posisi kemenangan berpihak padanya. Ditambah dengan rata-rata pendidikan karyawan yang relatif masih rendah maka produktivitas pun rendah. Sementara itu negara-negara Asia lainnya berada di atas Indonesia seperti Singapura (peringkat 1). World Competitiveness Book (2007). Karena itu tidak heran produktivitas kerja di Indonesia termasuk terendah dibanding dengan negara-negara lain di Asia. dan Government Efficiency (55). Swiss. Perusahaan maupun organisasi belum mengganggap sikap produktif sebagai suatu sistem nilai. Pemahaman karyawan tentang budaya kerja positif masih lemah. Cina (31). apa yang harus dipegang dan . Thailand (27). Mengapa bisa seperti itu? Hal demikian bisa dijelaskan lewat formula matematika sederhana. Lagi-lagi diduga kuat bahwa semuanya itu karena mutu sumberdaya manusia Indonesia yang tidak mampu bersaing. Korea (29). Urutan peringkat ini berkaitan juga dengan kinerja pada dimensi lainnya yakni pada Economic Performance pada tahun 2005 berada pada urutan buncit yakni ke 60. Bahkan di sebagian karyawan. memberitakan bahwa pada tahun 2005. peringkat produktivitas kerja Indonesia berada pada posisi 59 dari 60 negara yang disurvei. Seolah-olah karyawan tidak memiliki sistem nilai dilaksanakan.

Sebaliknya. Jika kualitas sumber daya manusianya tidak baik. maka kinerjanya dalam melaksanakan tugas tidak akan sesuai dengan yang semestinya. Birokrasi Indonesia saat ini tidak bisa terlepas dari faktor sejarah. Sementara input berupa jumlah waktu kerja. kondisi mutu dan fisik karyawan. tingkat upah dan gaji. kekecewaan masyarakat terhadap birokrasi terus terjadi dalam kurun waktu yang lama sejak kita merdeka. maka sumber daya manusia yang ada pada lembaga kediklatan harus mempunyai kualitas yang baik pula. karena masih banyak kekeliruan dalam menjalankan birokrasi. yang terbentuk adalah obsesi para birokrat dan politisi untuk mengalihkan birokrasi sebagai lahan pemerintahan hasrat dan kekuasaan (power culture). kesehatan) yang relatif lebih rendah dibanding di negaranegara tetangga. Oleh karena itulah dalam pengukuran suatu kinerja mau tidak mau harus melibatkan konsumen yang berasal dari masyarakat pengguna jasa layanan. Birokrasi ini mendasarkan pada hubungan atasan dan bawahan (patron client) sehingga segala yang dikerjakan bawahan hendaknya harus sesuai dengan keinginan pimpinan. Dengan demikian produktivitas kerja di Indonesia relatif rendah karena memang rendahnya faktorfaktor kualitas fisik. Ketidakmampuan pemerintah untuk melakukan perubahan struktur. Birokrasi Indonesia saat ini belum dapat menjawab atas tuntutan masyarakat. dan tingkat upah dari karyawan. etos kerja. Karena itulah. Hal ini menimbulkan bawahan selalu tergantung pada atasan. . Untuk mendapatkan kinerja yang baik. nilai dan regulasi kepegawaian negara telah menyebabkan gagalnya upaya untuk memenuhi aspirasi dan kebutuhan masyarakat. teknologi yang dipakai dan sebagainya. Sejarah telah menciptakan birokrasi patrimonial. Hal ini ditunjukkan pula oleh angka indeks pembangunan manusia di Indonesia (gizi. Bentuk output dapat berupa barang dan jasa. Jadi output yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh faktor input yang digunakan. Masih belum tercipta budaya pelayanan publik yang berorientasi pada kebutuhan pelanggan (service delivery culture). norma. Hal ini dikarenakan kinerja itu pada dasarnya adalah output dan bukan input. pendidikan. Dalam hal ini diasumsikan kinerja pegawai dipengaruhi oleh faktor pelaksanaan birokrasi. Kualitas dan kinerja birokrasi dalam memberikan pelayanan publik masih jauh dari harapan. Ukuran kinerja suatu organisasi tidak dapat diukur dari para pelaksana pelayanan. disiplin kerja dan budaya kerja. tingkat pendidikan.Produktivitas kerja merupakan rasio dari keluaran/output dengan inputnya. tetapi justru dari penerima layanan. Pihak yang dapat merasakan output bukanlah penyelenggara layanan (birokrasi) tetapi pengguna jasa layanan (masyarakat).

pelaksanaan proyek pembangunan dan terakhir penegakan hukum.Budaya patronase menimbulkan rasa ewuh pakewuh yang berlebihan terhadap atasan. Biasanya korupsi terjadi pada tiga aktifitas utama. Birokrasi kita memang mengidap penyakit mental yang korup. Tipikal birokrat ini selalu memposisikan dirinya sebagai orang yang harus mendapatkan pelayanan dari para abdinya (masyarakat). terjadi hampir di semua lini dimana jaksa agung pasti melingungi. Seperti yang ungkapkan oleh presiden SBY bahwa ada bebrerapa faktor harus diperbaiki dari penyakit birokrasi yaitu : 1. Hal ini terjadi karena beberapa hal misalnya Birokrasi masih didominasi birokrat bermental raja. Permasalahan korupsi terjadi disemua organisasi pemerintahan. Semua urusan yang berhubungan dengan birokrasi selalu bersentuhan dengan adagium "kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah". Pada bidang pelayanan administrasi bisa dilihat pada kasus Gayus Tambunan. Sampai di era reformasi. Dalam kasus .Reformasi birokrasi yang dicanangkan didalam butir good governance juga belum mampu menjawab permasalahan diatas. kondisi birokrasi akan semakin parah. Keinginan membalik paradigma birokrasi dari dilayani menjadi melayani masih sangat sulit. yaitu bidang pelayanan administrasi. Pada bidang pelaksnaan proyek pembangunan kita bisa melihat pada kasus pembangunan wisma atlet sea games di Palembang ( kasus Nazaruddin) yang melibatkan Wafid Muharam. Permasalahan yang dihadapi Kinerja pelayanan publik di Indonesia yang buruk sudah berjalan lama dan sudah menjadi rahasia umum. pelayanan publik yang optimal di Indonesia hanya sebatas diwacanakan elite politik.Sementara wajah birokrasi dari suatu penyelengaraan negara akan tercermin pada hasil produk yang berupa standar pelayanan terhadap publik atau masyarakat. Cirus Sinaga dan juga terkhir kasus jaksa Sistoyo di Kejaksanaan negeri Cibinong Jabar. Dalam kondisi begini. karena permasalahan ini sudah menjadi budaya di Indonesia. Dalam birokrasi masih dikembangkan mekanisme menutup aib sesama. Maka dari itu peran serta para pelaksana kebijakan merupakan andil yang diharapkan dalam melakukan perubahan secara drastis dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan dipertanggung jawabkan di depan masyarakat sebagai kelompok yang dilayani. "Kode etik" ini nampaknya sudah menjadi konsensus antar birokrat agar saling menutup jika di antara mereka tercium oleh publik atau birokrat bersih karena melakukan korup. Pada kasus penegakan hukum kita bisa melihat pada kasus jaksa Urip.

menyangkut manfaat dari pekerja pemerintah tersebut bagi masyarakat. kelangkaan calon. Sehingga memunculkan keraguan tentang kualitas CPNS yang akan menjadi bagian dari birokrasi itu sendiri. sehingga tidak dirasakan manfaatnya. atau bahkan karena hubungan kekerabatan dan sogokan alias produk KKN. yang menjadi leverage berjalannya proses reformasi.1 Kekurang profesionalan PNS atau sumber daya aparaturnya pun. 4. Jumlah lembaga-lembaga pemerintahan baik di pusat dan didaerah sangat banyak. Mestinya kondisi ini tidak boleh terjadi. Rekrutmen anggota birokrasi masih mengalami masalah. 1 M. Besarnya jumlah PNS. Kompetensi Para birokrat telah terasuk oleh kebijakan-kebijakan yang membingungkan. Penerimaan CPNS ternyata masih menyisakan masalah besar. Mereka terbelah dalam kekuatan yang pro dan kontra terhadap kebijakan. belum memiliki standar kualitas yang bagus. Aziz Satriya Jaya dalam tulisan Masalah SDM Birokrasi dan Solusinya yang diambil dari buku Administrasi Publik Teori dan Aplikasi Good Governance (2008) . Masalah efektifitas.Kasus-kasus diatas adalah contoh sebagian kecil dari beribu-ribu kasus korupsi sejenis yang terjadi di Indonesia yang melibatkan birokratnya.7 juta jiwa. Data yang adalah jumlah PNS di Indonesia saat ini adalah sekitar4. 2. Begitu pula masalah proyek-proyek pemerintah yang tidak tepat sasaran. belum lagi kasus yang melibatkan aparat kepolisian. System penempatan aparatur dalam jabatan di birokrasi Indonesia belum menggunakan Analisis Jabatan sebagai acuan dalam menempatkan orang dalam posisi jabatan tertentu. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pelyanan birokrasi di Indonesia sangat lambat dan berbelit. sepaham atau tidak sepaham dengan penguasa di Daerah. 3. Lebih parah lagi. 5.Hakim kita bisa lihat pada kasus hakim Imas. birokrasi diisi oleh calon-calon yang tidak didasari oleh kompetensi tetapi diterima menjadi CPNS karena faktor kemanusiaan seperti lama bekerja. sehingga mereka kesulitan dalam menterjemahkan isi kebijakan tersebut ke dalam konteks pelayanan publik. jadi bukan berdasarkan kompetensinya. berdampak lurus dengan besarnya anggaran negara yang tersedot untuk membayar gaji mereka. yang dampaknya memperbesar jumlah PNS yang harus mengisinya. jadi bukan the right man on the right place. sehingga jabatan struktural yang ada dipenuhi dengan orang-orang yang kurang tepat berdasarkan kompetensinya. Masalah efisiensi. hakim Syarifuddin. yang terjadi adalah suka atau tidak suka.

melalui proses budaya yang meliputi kontak nilai. eksternal dan sosial dalam pelaksanaannya Dari dua sudut pandang tersebut tampaknya birokrasi Indonesia lebih condong ke sudut pandang kedua.pelembagaan nilai. Sudut pandang kedua adalah milik Karl Marx yang menyebutkan bahwa birokrasi melayani kepentingan kelompok mayoritas masyarakat yang akan menguasai kelompok masyarakat lainnya. Harapan Reformasi Birokrasi Uraian di atas. Pertama sudut pandang Weber dan Hegel yang memandang birokrasi adalah adanya rasionalitas. seleksi nilai. Pertama strategi reformasi teknikal yang mencakupi perbaikan kinerja SDM. ada dua strategi utama yang bisa diterapkan dalam reformasi birokrasi. Untuk mengkajinya perlu diperhatikan dua sudut pandang tentang birokrasi. Maka dalam membangun budaya pemerintah hal perlu ditingkatkan adalah budaya output yang dibentuk dari budaya nilai dan vehicle. para PNS akan kembali ke kondisi awal ketika mereka kembali ke permanent system. strategik serta etika (SDM). perubahan budaya dan pewaris budaya. Kedua adalah strategi reformasi spiritual yang berupa perubahan paradigma para birokrat dan masyarakat dalam melakukan reformasi. Kinerja organisasi dan mekanisme kinerja. Namun tidak dapat dipungkiri ketatalaksanaan lembaga juga tidak bisa ditinggalkan untuk mendukung reformasi tersebut. sosial. Strategi ini bisa melalui assessments meliputi kompetensi teknik. Aparatur negara saat ini lebih dominan pada masalah ketatausahaan daripada masalah kegiatan-kegiatan perencanaan ataupun mengembangan manajemen. pedoman akan tujuan sasaran dan strategi yang jelas (0rganisasi) serta mekanisme pengawasan dan kontrol yang baik (Mekanisme). kontrol budaya. managerial. Pemikiran ini dikuatkan lagi oleh pendapat Heckscher dan Donellon bahwa birokrasi masa depan adalah apa yang disebut post bureaucratic organization yang memusatkan pada interkasi internal. aktualisasi budaya. efisiensi serta mampu menjadi medium yang mempertemukan rakyat dengan pemerintah. . menggambarkan bahwa kualitas SDM memegang peranan penting di dalam melakukan reformasi birokrasi. dimana input sebagai bahan baku. Meskipun strategi reformasi teknikal sudah sering di ulas. Menelaah jenis birokrasi yang terjadi di Indonesia.Meskipun telah dilakukan banyak pembinaan-pembinaan teknis dan perilaku.namun hal tersebut belum bisa dilaksanakan tanpa reformasi spiritual yang memunculkan sosok leader dalam proses reformasi ini.

sebuah hirarki wewenang yang jelas. (3) perilaku ketika bekerja. Diakses di www. sikap dan ketrampilan) karyawan menjadi tuntutan pasar kerja yang semakin mendesak. Pendidikan dan pelatihan perlu terus dikembangkan disamping penyediaan akses teknologi.com tanggal 20 February 2011 . Seperti yang diungkap oleh (Robbins:1994) dalam teori Max weber (1864-1920) bahwa untuk mencapai tujuan suatu organisasi harus memiliki struktur ideal yang disebut dengan birokrasi. 2 Tulisann ini merupakan hasil saduran dari Buku “Tantangan Utama Reformasi Birokrasi” oleh Tim Humas Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan). serta hubungan yang tidak didasarkan atas hubungan pribadi (impersonal). yaitu span of control. (4) etos kerja dan (5) sikap terhadap waktu. Dengan kata lain suasana proses pembelajaran plus dukungan kesejahteraan karyawan perlu terus dikembangkan. Tetapi di negara berkembang organisasi birokrasi memegang peranan penting dibidang pembangunan.google. Jadi organisasi pemerintahan adalah organisasi birokratik. dibidang politik dan pemerintahan birokrasi tetap bertahan. Kompetensi (pengetahuan. Birokrasi yang diperkenalkan Weber ini melahirkan disiplin dan disiplin lahir dari pertimbangan-pertimbangan ekonomi. prosedur seleksi yang formal.2 sesuatu adalah hal terpenting dalam birokrasi yang benar. Namun birokrasi tidak tepat untuk dunia bisnis. Pertanyaannya apakah semua kita sudah berbudaya kerja produktif? Seharusnya faktor-faktor tersebut perlu dikuasai secara seimbang agar para karyawan mampu mencapai produktivitas yang standar. (2) sikap terhadap karyawanan. Teori Weber ini menjadi ukuran hampir semua struktur organisasi yang ada sekarang ini.Sementara itu budaya bekerja produktif mengandung komponen-komponen: (1) pemahaman substansi dasar tentang bekerja. peraturan yang rinci. Reformasi birokrasi juga bisa dimaknai sebagai upaya-upaya strategis dalam menata kembali birokrasi yang sedang berjalan sesuai prinsip-prinsip birokrasi menurut Max Webber. rule and regulation and proffesional staff. division of labor.line and staff. Struktur ideal tersebut dicirikan dengan adanya pembagian kerja.

. tahun yang memerlukan aksi-aksi baru. cacat. Sebuah maklumat misi haruslah menjadi "Undang-Undang Dasar" bagi perusahaan maupun organisasi. adil dan makmur. Misi ditulis bukan saja untuk menghiasi dinding atau diselipkan disalah satu selipan di dompet. hindari budaya malas dan mulai beralih budaya kerja keras. pembaharuan. pelanggan dan istilah-istilah lainnya. hambatan dan tantangan. Seperti pepatah jawa kuno Trisulawedha yang diterapkan oleh Raja Jayabaya. contoh yang singkat dan mengena diambil dari Angkatan Bersenjata Filipna : "Do Good. tindakan nyata. Tahun 2012 merupakan tahun penuh harapan. yang intinya antara lain mengajak umat manusia diwajibkan memiliki rasa. kini saatnya kita harus berani berbenah. Falsafah mutu organisasi dikatakan misi sebuah oragnisasi. Jika pada tahun-tahun sebelumnya semua upaya kita belum menunjukkan hasil yang maksimal. bukan ngobral janji. sikap dan sifat budi luhur yang disebutkan dalam istilah jejeg.Penutup Ada pepatah Jerman mengatakan " Apa gunanya kita lari-lari jika tidak berada di jalur yang benar?". Sebuah perusahaan tanpa falsafah yang jelas dan terfokus adalah seperti layaknya sebuah kapal tanpa kemudi. pelayanan. Look Good. Feel Good". Falsafah tersebut harus memberi definisi yang sama mengenai mutu. jauh lebih kuat dan kekal daripada siapapun. Oleh sebab itu diperlukan semangat dan kerja keras. Akan tetapi ditanam didalam jiwa semangat kerja. Ia akan tersesat dan menghancurkan dirinya sendiri di dalam percaturan masalah-masalah global. untuk diambil sesekali seperti SIM. perubahan dan juga penuh dengan rintangan. Yang dibutuhkan bukan janji tapi bukti nyata. bener dan jujur guna mewujudkan negara yang sejahtera. Delete budaya santai.

Administrasi Publik Teori dan Aplikasi Good Governance.google.com tanggal 20 February 2011.1994. Reformasi Kepegawaian di Indonesia.Jakarta:Arcan. 2006.MAP. Refika Aditama. Aziz Satriya Jaya dalam tulisan Masalah SDM Birokrasi dan Solusinya yang diambil dari buku Administrasi Publik Teori dan Aplikasi Good Governance (2008)Buku “Tantangan Utama Reformasi.Birokrasi” oleh Tim Humas Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan). Miftah Thoha.2009. Teori Organisasi Struktur. Pandji Santosa. Robbins. Kencana Media Prenada Group. Powered by Joomla! valid XHTML and CSS. www. Diakses di www. 2008.google xhtml.Desain dan Aplikasi. pada tanggal 23 April 2001.Modul. . Budaya Kerja Organisasi Pemerintah.DAFTAR BACAAN M. Balitbang Departemen Agama. Joriko N Kindangen SE. Ilmu Administrasi Publik Kontemporer.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful