BUDAYA KERJA DALAM BINGKAI REFORMASI BIROKRASI Budaya tidak dapat dipelajari dengan ukuran baik-buruk.

Untuk meneliti budaya dengan menggunakan teori organisasi khususnya siklus organisasi menurut hukum alam.Setiap organisasi yang lahir harus mampu bersaing dengan organisasi lain, sedangkan organisasi yang cara kerjanya menurun, harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan keadaan. Birokrasi adalah syarat dalam kehidupan bersama. Birokrasi menjadi alat untuk menjaga konsistensi, keteraturan, keseragaman, kekompakan – betapapun – menjengkelkannya, orang sering merasakannya. Birokrasi melayani setiap orang sesuai dengan aturan main. Birokrasi bisa mengakomodasi hak dan kebebasan begitu banyak orang dan kepentingan, tanpa menjadi anarkis. Birokrasi bukan hanya dibutuhkan di negara otoriter, tetapi juga di negara demokratis. Reformasi birokrasi pada hakikatnya merupakan upaya untuk melakukan pembaharuan dan perubahan mendasar terhadap sistem penyelenggaraan pemerintahan terutama menyangkut aspek-aspek kelembagaan (organisasi), ketatalaksanaan (business prosess) dan sumber daya manusia aparatur. Reformasi Birokrasi diarahkan pada upayaupaya mencegah dan mempercepat pemberantasan korupsi, secara berkelanjutan, dalam menciptakan tata pemerintahan yang baik, bersih, dan berwibawa (good governance), seperti yang diarahkan oleh Presiden SBY yaitu: laksanakan reformasi birokrasi, tegakkan dan terapkan prinsip-prinsip good governance, tingkatkan kualitas pelayanan publik menuju pelayanan publik yang prima; dan berantas korupsi sekarang juga mulai dari diri sendiri dan hindari perbuatan tindak pidana korupsi.

Juga mungkin karena faktor budaya kerja yang juga masih lemah dan tidak merata. Sementara itu negara-negara Asia lainnya berada di atas Indonesia seperti Singapura (peringkat 1). Alat ukur yang tepat dalam mengkategori kerja yang berkualitas belum ditemukan rumusnya sehingga masih berdasarkan hitungan kancing dan siapa yang berhenti pada kancing tersebut maka posisi kemenangan berpihak padanya. World Competitiveness Book (2007). Swiss. India (39). Bekerja masih dianggap sebagai sesuatu yang rutin. apa yang harus dipegang dan . Korea (29). dan Filipina (49). Ada anggapan bahwa budaya kerja produktif di Indonesia. Negara masih diungkap oleh Insititute for Management of Development. Seperti data yang menangani kasus-kasus yang menjadikan sebagian masyarakat Indonesia menambah daftar keluarga miskin. peringkat produktivitas kerja Indonesia berada pada posisi 59 dari 60 negara yang disurvei. Cina (31). Lagi-lagi diduga kuat bahwa semuanya itu karena mutu sumberdaya manusia Indonesia yang tidak mampu bersaing. PENDAHULUAN Tahun ini suasana negara Indonesia belum ada tanda-tanda perbaikan dalam disibukkan dengan berita korupsi. Pemahaman karyawan tentang budaya kerja positif masih lemah. Seolah-olah karyawan tidak memiliki sistem nilai dilaksanakan. Mengapa bisa seperti itu? Hal demikian bisa dijelaskan lewat formula matematika sederhana. belum merata. Malaysia (28). Dampaknya dirasakan dimana sebuah perusahaan maupun organisasi mengabaikan kesejahteraan karyawan. Perusahaan maupun organisasi belum mengganggap sikap produktif sebagai suatu sistem nilai. Business Efficiency (59). dan Government Efficiency (55). Urutan peringkat ini berkaitan juga dengan kinerja pada dimensi lainnya yakni pada Economic Performance pada tahun 2005 berada pada urutan buncit yakni ke 60. Hal ini pula yang kurang mendukung terciptanya budaya produktif. Atau semakin turun ketimbang tahun 2001 yang mencapai urutan 46. Karena itu tidak heran produktivitas kerja di Indonesia termasuk terendah dibanding dengan negara-negara lain di Asia. Begitulah sebagian pemimpin kita ketika memberi tugas kepada karyawannya tanpa melihat kemampuan yang dimiliki asal itu bisa membuat posisi sang manajer aman dan terkendali maka penumpukan beban tugas tidak seimbang dengan jumlah karyawan yang ada. Bahkan di sebagian karyawan. Thailand (27).A. memberitakan bahwa pada tahun 2005. bisa jadi bekerja dianggap sebagai beban dan paksaan terutama bagi orang yang malas. Ditambah dengan rata-rata pendidikan karyawan yang relatif masih rendah maka produktivitas pun rendah.

karena masih banyak kekeliruan dalam menjalankan birokrasi. disiplin kerja dan budaya kerja. Birokrasi ini mendasarkan pada hubungan atasan dan bawahan (patron client) sehingga segala yang dikerjakan bawahan hendaknya harus sesuai dengan keinginan pimpinan. Sebaliknya. norma. Sejarah telah menciptakan birokrasi patrimonial. Pihak yang dapat merasakan output bukanlah penyelenggara layanan (birokrasi) tetapi pengguna jasa layanan (masyarakat). kesehatan) yang relatif lebih rendah dibanding di negaranegara tetangga. Jika kualitas sumber daya manusianya tidak baik. kekecewaan masyarakat terhadap birokrasi terus terjadi dalam kurun waktu yang lama sejak kita merdeka. . Karena itulah. Dengan demikian produktivitas kerja di Indonesia relatif rendah karena memang rendahnya faktorfaktor kualitas fisik. dan tingkat upah dari karyawan. nilai dan regulasi kepegawaian negara telah menyebabkan gagalnya upaya untuk memenuhi aspirasi dan kebutuhan masyarakat. Birokrasi Indonesia saat ini tidak bisa terlepas dari faktor sejarah. teknologi yang dipakai dan sebagainya. maka kinerjanya dalam melaksanakan tugas tidak akan sesuai dengan yang semestinya. tingkat upah dan gaji. tingkat pendidikan. Kualitas dan kinerja birokrasi dalam memberikan pelayanan publik masih jauh dari harapan. Ukuran kinerja suatu organisasi tidak dapat diukur dari para pelaksana pelayanan. Birokrasi Indonesia saat ini belum dapat menjawab atas tuntutan masyarakat. Hal ini menimbulkan bawahan selalu tergantung pada atasan. Bentuk output dapat berupa barang dan jasa. Ketidakmampuan pemerintah untuk melakukan perubahan struktur. Sementara input berupa jumlah waktu kerja. Oleh karena itulah dalam pengukuran suatu kinerja mau tidak mau harus melibatkan konsumen yang berasal dari masyarakat pengguna jasa layanan. pendidikan.Produktivitas kerja merupakan rasio dari keluaran/output dengan inputnya. Hal ini ditunjukkan pula oleh angka indeks pembangunan manusia di Indonesia (gizi. Dalam hal ini diasumsikan kinerja pegawai dipengaruhi oleh faktor pelaksanaan birokrasi. kondisi mutu dan fisik karyawan. yang terbentuk adalah obsesi para birokrat dan politisi untuk mengalihkan birokrasi sebagai lahan pemerintahan hasrat dan kekuasaan (power culture). Masih belum tercipta budaya pelayanan publik yang berorientasi pada kebutuhan pelanggan (service delivery culture). Hal ini dikarenakan kinerja itu pada dasarnya adalah output dan bukan input. Jadi output yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh faktor input yang digunakan. tetapi justru dari penerima layanan. etos kerja. Untuk mendapatkan kinerja yang baik. maka sumber daya manusia yang ada pada lembaga kediklatan harus mempunyai kualitas yang baik pula.

Sementara wajah birokrasi dari suatu penyelengaraan negara akan tercermin pada hasil produk yang berupa standar pelayanan terhadap publik atau masyarakat. Semua urusan yang berhubungan dengan birokrasi selalu bersentuhan dengan adagium "kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah". Seperti yang ungkapkan oleh presiden SBY bahwa ada bebrerapa faktor harus diperbaiki dari penyakit birokrasi yaitu : 1. Birokrasi kita memang mengidap penyakit mental yang korup. Pada bidang pelayanan administrasi bisa dilihat pada kasus Gayus Tambunan. Permasalahan yang dihadapi Kinerja pelayanan publik di Indonesia yang buruk sudah berjalan lama dan sudah menjadi rahasia umum. yaitu bidang pelayanan administrasi. "Kode etik" ini nampaknya sudah menjadi konsensus antar birokrat agar saling menutup jika di antara mereka tercium oleh publik atau birokrat bersih karena melakukan korup. pelaksanaan proyek pembangunan dan terakhir penegakan hukum. Dalam birokrasi masih dikembangkan mekanisme menutup aib sesama. Tipikal birokrat ini selalu memposisikan dirinya sebagai orang yang harus mendapatkan pelayanan dari para abdinya (masyarakat).Budaya patronase menimbulkan rasa ewuh pakewuh yang berlebihan terhadap atasan. Sampai di era reformasi. Pada bidang pelaksnaan proyek pembangunan kita bisa melihat pada kasus pembangunan wisma atlet sea games di Palembang ( kasus Nazaruddin) yang melibatkan Wafid Muharam. Dalam kondisi begini. terjadi hampir di semua lini dimana jaksa agung pasti melingungi. Biasanya korupsi terjadi pada tiga aktifitas utama. Permasalahan korupsi terjadi disemua organisasi pemerintahan. karena permasalahan ini sudah menjadi budaya di Indonesia. Keinginan membalik paradigma birokrasi dari dilayani menjadi melayani masih sangat sulit. Maka dari itu peran serta para pelaksana kebijakan merupakan andil yang diharapkan dalam melakukan perubahan secara drastis dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan dipertanggung jawabkan di depan masyarakat sebagai kelompok yang dilayani. pelayanan publik yang optimal di Indonesia hanya sebatas diwacanakan elite politik. Dalam kasus . Pada kasus penegakan hukum kita bisa melihat pada kasus jaksa Urip. Cirus Sinaga dan juga terkhir kasus jaksa Sistoyo di Kejaksanaan negeri Cibinong Jabar.Reformasi birokrasi yang dicanangkan didalam butir good governance juga belum mampu menjawab permasalahan diatas. Hal ini terjadi karena beberapa hal misalnya Birokrasi masih didominasi birokrat bermental raja. kondisi birokrasi akan semakin parah.

Kasus-kasus diatas adalah contoh sebagian kecil dari beribu-ribu kasus korupsi sejenis yang terjadi di Indonesia yang melibatkan birokratnya. System penempatan aparatur dalam jabatan di birokrasi Indonesia belum menggunakan Analisis Jabatan sebagai acuan dalam menempatkan orang dalam posisi jabatan tertentu. berdampak lurus dengan besarnya anggaran negara yang tersedot untuk membayar gaji mereka. yang menjadi leverage berjalannya proses reformasi. hakim Syarifuddin. Besarnya jumlah PNS. birokrasi diisi oleh calon-calon yang tidak didasari oleh kompetensi tetapi diterima menjadi CPNS karena faktor kemanusiaan seperti lama bekerja. jadi bukan berdasarkan kompetensinya. Masalah efektifitas. Rekrutmen anggota birokrasi masih mengalami masalah. Begitu pula masalah proyek-proyek pemerintah yang tidak tepat sasaran. 4. Masalah efisiensi. Kompetensi Para birokrat telah terasuk oleh kebijakan-kebijakan yang membingungkan. Lebih parah lagi. yang dampaknya memperbesar jumlah PNS yang harus mengisinya. sehingga mereka kesulitan dalam menterjemahkan isi kebijakan tersebut ke dalam konteks pelayanan publik. 5. sehingga jabatan struktural yang ada dipenuhi dengan orang-orang yang kurang tepat berdasarkan kompetensinya. belum memiliki standar kualitas yang bagus. Mestinya kondisi ini tidak boleh terjadi. kelangkaan calon. Jumlah lembaga-lembaga pemerintahan baik di pusat dan didaerah sangat banyak. menyangkut manfaat dari pekerja pemerintah tersebut bagi masyarakat. sehingga tidak dirasakan manfaatnya. Aziz Satriya Jaya dalam tulisan Masalah SDM Birokrasi dan Solusinya yang diambil dari buku Administrasi Publik Teori dan Aplikasi Good Governance (2008) .Hakim kita bisa lihat pada kasus hakim Imas. sepaham atau tidak sepaham dengan penguasa di Daerah. Mereka terbelah dalam kekuatan yang pro dan kontra terhadap kebijakan. 3.7 juta jiwa. jadi bukan the right man on the right place. Data yang adalah jumlah PNS di Indonesia saat ini adalah sekitar4. 1 M. Penerimaan CPNS ternyata masih menyisakan masalah besar. belum lagi kasus yang melibatkan aparat kepolisian. atau bahkan karena hubungan kekerabatan dan sogokan alias produk KKN. 2. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pelyanan birokrasi di Indonesia sangat lambat dan berbelit.1 Kekurang profesionalan PNS atau sumber daya aparaturnya pun. yang terjadi adalah suka atau tidak suka. Sehingga memunculkan keraguan tentang kualitas CPNS yang akan menjadi bagian dari birokrasi itu sendiri.

Strategi ini bisa melalui assessments meliputi kompetensi teknik. Kedua adalah strategi reformasi spiritual yang berupa perubahan paradigma para birokrat dan masyarakat dalam melakukan reformasi. Aparatur negara saat ini lebih dominan pada masalah ketatausahaan daripada masalah kegiatan-kegiatan perencanaan ataupun mengembangan manajemen. strategik serta etika (SDM). seleksi nilai. Menelaah jenis birokrasi yang terjadi di Indonesia. kontrol budaya.Meskipun telah dilakukan banyak pembinaan-pembinaan teknis dan perilaku. managerial. eksternal dan sosial dalam pelaksanaannya Dari dua sudut pandang tersebut tampaknya birokrasi Indonesia lebih condong ke sudut pandang kedua.pelembagaan nilai. Pertama strategi reformasi teknikal yang mencakupi perbaikan kinerja SDM. efisiensi serta mampu menjadi medium yang mempertemukan rakyat dengan pemerintah. sosial. para PNS akan kembali ke kondisi awal ketika mereka kembali ke permanent system. perubahan budaya dan pewaris budaya. aktualisasi budaya. Untuk mengkajinya perlu diperhatikan dua sudut pandang tentang birokrasi.namun hal tersebut belum bisa dilaksanakan tanpa reformasi spiritual yang memunculkan sosok leader dalam proses reformasi ini. Kinerja organisasi dan mekanisme kinerja. Pemikiran ini dikuatkan lagi oleh pendapat Heckscher dan Donellon bahwa birokrasi masa depan adalah apa yang disebut post bureaucratic organization yang memusatkan pada interkasi internal. pedoman akan tujuan sasaran dan strategi yang jelas (0rganisasi) serta mekanisme pengawasan dan kontrol yang baik (Mekanisme). . menggambarkan bahwa kualitas SDM memegang peranan penting di dalam melakukan reformasi birokrasi. melalui proses budaya yang meliputi kontak nilai. Pertama sudut pandang Weber dan Hegel yang memandang birokrasi adalah adanya rasionalitas. Maka dalam membangun budaya pemerintah hal perlu ditingkatkan adalah budaya output yang dibentuk dari budaya nilai dan vehicle. Namun tidak dapat dipungkiri ketatalaksanaan lembaga juga tidak bisa ditinggalkan untuk mendukung reformasi tersebut. ada dua strategi utama yang bisa diterapkan dalam reformasi birokrasi. Meskipun strategi reformasi teknikal sudah sering di ulas. dimana input sebagai bahan baku. Harapan Reformasi Birokrasi Uraian di atas. Sudut pandang kedua adalah milik Karl Marx yang menyebutkan bahwa birokrasi melayani kepentingan kelompok mayoritas masyarakat yang akan menguasai kelompok masyarakat lainnya.

Sementara itu budaya bekerja produktif mengandung komponen-komponen: (1) pemahaman substansi dasar tentang bekerja. Teori Weber ini menjadi ukuran hampir semua struktur organisasi yang ada sekarang ini. 2 Tulisann ini merupakan hasil saduran dari Buku “Tantangan Utama Reformasi Birokrasi” oleh Tim Humas Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan). Pendidikan dan pelatihan perlu terus dikembangkan disamping penyediaan akses teknologi. Tetapi di negara berkembang organisasi birokrasi memegang peranan penting dibidang pembangunan. Kompetensi (pengetahuan. (4) etos kerja dan (5) sikap terhadap waktu. Pertanyaannya apakah semua kita sudah berbudaya kerja produktif? Seharusnya faktor-faktor tersebut perlu dikuasai secara seimbang agar para karyawan mampu mencapai produktivitas yang standar. (3) perilaku ketika bekerja. Namun birokrasi tidak tepat untuk dunia bisnis. (2) sikap terhadap karyawanan.2 sesuatu adalah hal terpenting dalam birokrasi yang benar. Birokrasi yang diperkenalkan Weber ini melahirkan disiplin dan disiplin lahir dari pertimbangan-pertimbangan ekonomi. Reformasi birokrasi juga bisa dimaknai sebagai upaya-upaya strategis dalam menata kembali birokrasi yang sedang berjalan sesuai prinsip-prinsip birokrasi menurut Max Webber. prosedur seleksi yang formal.google. sebuah hirarki wewenang yang jelas. Jadi organisasi pemerintahan adalah organisasi birokratik. Dengan kata lain suasana proses pembelajaran plus dukungan kesejahteraan karyawan perlu terus dikembangkan.com tanggal 20 February 2011 .line and staff. yaitu span of control. rule and regulation and proffesional staff. peraturan yang rinci. dibidang politik dan pemerintahan birokrasi tetap bertahan. Struktur ideal tersebut dicirikan dengan adanya pembagian kerja. Diakses di www. division of labor. serta hubungan yang tidak didasarkan atas hubungan pribadi (impersonal). Seperti yang diungkap oleh (Robbins:1994) dalam teori Max weber (1864-1920) bahwa untuk mencapai tujuan suatu organisasi harus memiliki struktur ideal yang disebut dengan birokrasi. sikap dan ketrampilan) karyawan menjadi tuntutan pasar kerja yang semakin mendesak.

perubahan dan juga penuh dengan rintangan. Misi ditulis bukan saja untuk menghiasi dinding atau diselipkan disalah satu selipan di dompet. Ia akan tersesat dan menghancurkan dirinya sendiri di dalam percaturan masalah-masalah global. Look Good. cacat. Jika pada tahun-tahun sebelumnya semua upaya kita belum menunjukkan hasil yang maksimal. pelayanan. Sebuah perusahaan tanpa falsafah yang jelas dan terfokus adalah seperti layaknya sebuah kapal tanpa kemudi. hambatan dan tantangan. tindakan nyata. jauh lebih kuat dan kekal daripada siapapun. . Feel Good". adil dan makmur. Seperti pepatah jawa kuno Trisulawedha yang diterapkan oleh Raja Jayabaya. yang intinya antara lain mengajak umat manusia diwajibkan memiliki rasa. Falsafah mutu organisasi dikatakan misi sebuah oragnisasi. bener dan jujur guna mewujudkan negara yang sejahtera. Tahun 2012 merupakan tahun penuh harapan. Oleh sebab itu diperlukan semangat dan kerja keras. Falsafah tersebut harus memberi definisi yang sama mengenai mutu. pelanggan dan istilah-istilah lainnya. contoh yang singkat dan mengena diambil dari Angkatan Bersenjata Filipna : "Do Good. sikap dan sifat budi luhur yang disebutkan dalam istilah jejeg. tahun yang memerlukan aksi-aksi baru. bukan ngobral janji. Yang dibutuhkan bukan janji tapi bukti nyata. hindari budaya malas dan mulai beralih budaya kerja keras. Akan tetapi ditanam didalam jiwa semangat kerja. pembaharuan.Penutup Ada pepatah Jerman mengatakan " Apa gunanya kita lari-lari jika tidak berada di jalur yang benar?". untuk diambil sesekali seperti SIM. Sebuah maklumat misi haruslah menjadi "Undang-Undang Dasar" bagi perusahaan maupun organisasi. Delete budaya santai. kini saatnya kita harus berani berbenah.

2006. Powered by Joomla! valid XHTML and CSS.DAFTAR BACAAN M. Pandji Santosa. pada tanggal 23 April 2001.google xhtml. Miftah Thoha. Ilmu Administrasi Publik Kontemporer. . 2008. Diakses di www.2009.Jakarta:Arcan.com tanggal 20 February 2011.Birokrasi” oleh Tim Humas Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan). Refika Aditama. Aziz Satriya Jaya dalam tulisan Masalah SDM Birokrasi dan Solusinya yang diambil dari buku Administrasi Publik Teori dan Aplikasi Good Governance (2008)Buku “Tantangan Utama Reformasi.Desain dan Aplikasi. www. Robbins.google.Modul. Administrasi Publik Teori dan Aplikasi Good Governance. Reformasi Kepegawaian di Indonesia. Joriko N Kindangen SE. Kencana Media Prenada Group. Teori Organisasi Struktur.MAP. Balitbang Departemen Agama.1994. Budaya Kerja Organisasi Pemerintah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful