P. 1
UPAYA KESEHATAN (isi).docx

UPAYA KESEHATAN (isi).docx

|Views: 335|Likes:
Published by Namira Syafitri

More info:

Published by: Namira Syafitri on Jul 16, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/22/2014

pdf

text

original

Sections

  • UPAYA PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT
  • UPAYA PENGOBATAN
  • UPAYA KESEHATAN SEKOLAH (UKS)
  • UPAYA KESEHATAN OLAHRAGA
  • UPAYA KESEHATAN GIGI DAN
  • MULUT
  • UPAYA KESEHATAN JIWA
  • UPAYA POKOK KESEHATAN MATA

1

UPAYA KESEHATAN WAJIB

2

UPAYA PROMOSI KESEHATAN

Penyusun:

Kirana Asmara

(03005131)

Meitty Marisha

(03005143)

3

BAB I
PENDAHULUAN

Dewasa ini promosi kesehatan (health promotion) telah menjadi bidang yang semakin
penting dari tahun ke tahun. Dalam tiga dekade terakhir, telah terjadi perkembangan yang
signifikan dalam hal perhatian dunia mengenai masalah promosi kesehatan. Pada 21
November 1986, World Health Organization (WHO) menyelenggarakan Konferensi
Internasional Pertama bidang Promosi Kesehatan yang diadakan di Ottawa, Kanada.
Konferensi ini dihadiri oleh para ahli kesehatan seluruh dunia, dan menghasilkan sebuah
dokumen penting yang disebut Ottawa Charter (Piagam Ottawa). Piagam ini menjadi rujukan
bagi program promosi kesehatan di tiap negara, termasuk Indonesia.
Dalam Piagam Ottawa disebutkan bahwa promosi kesehatan adalah proses yang
memungkinkan orang-orang untuk mengontrol dan meningkatkan kesehatan mereka (Health
promotion is the process of enabling people to increase control over, and to improve, their
health
, WHO, 1986). Jadi, tujuan akhir promosi kesehatan adalah menanamkan kesadaran
pada masyarakat tentang pentingnya kesehatan bagi mereka sehingga mereka sendirilah yang
akan melakukan usaha-usaha untuk menyehatkan diri mereka.
Promosi kesehatan menjelaskan bahwa untuk mencapai derajat kesehatan yang
sempurna, baik fisik, mental, maupun sosial, individu atau kelompok harus mampu mengenal
serta mewujudkan aspirasi-aspirasinya untuk memenuhi kebutuhannya agar mampu
mengubah atau mengatasi lingkungannya (lingkungan fisik, sosial budaya, dan sebagainya).
Untuk itu, promosi kesehatan tidak hanya merupakan tanggung jawab dari sektor kesehatan,
akan tetapi jauh melampaui gaya hidup secara sehat untuk kesejahteraan (WHO, 1986).
Penyelenggaraan promosi kesehatan dilakukan dengan mengombinasikan berbagai
strategi yang tidak hanya melibatkan sektor kesehatan belaka, melainkan lewat kerjasama dan
koordinasi segenap unsur dalam masyarakat. Hal ini didasari pemikiran bahwa promosi
kesehatan adalah suatu filosofi umum yang menitikberatkan pada gagasan bahwa kesehatan
yang baik merupakan usaha individu sekaligus kolektif (Taylor, 2003).
Bagi individu, promosi kesehatan terkait dengan pengembangan program kebiasaan
kesehatan yang baik sejak muda hingga dewasa dan lanjut usia (Taylor, 2003). Secara
kolektif, berbagai sektor, unsur, dan profesi dalam masyarakat seperti praktisi medis,
psikolog, media massa, para pembuat kebijakan publik dan perumus perundang-undangan
dapat dilibatkan dalam program promosi kesehatan. Praktisi medis dapat mengajarkan kepada

4

masyarakat mengenai gaya hidup yang sehat dan membantu mereka memantau atau
menangani risiko masalah kesehatan tertentu.
Para psikolog berperan dalam promosi kesehatan lewat pengembangan bentuk-bentuk
intervensi untuk membantu masyarakat memraktikkan perilaku yang sehat dan mengubah
kebiasaan yang buruk.

Media massa dapat memberikan kontribusinya dengan menginformasikan kepada
masyarakat perilaku-perilaku tertentu yang berisiko terhadap kesehatan seperti merokok dan
mengonsumsi alkohol.

Para pembuat kebijakan melakukan pendekatan secara umum lewat penyediaan
informasi-informasi yang diperlukan masyarakat untuk memelihara dan mengembangkan
gaya hidup sehat, serta penyediaan sarana-sarana dan fasilitas yang diperlukan untuk
mengubah kebiasaan buruk masyarakat. Berikutnya, perumus perundang-undangan dapat
menerapkan aturan-aturan tertentu untuk menurunkan risiko kecelakaan seperti misalnya
aturan penggunaan sabuk pengaman di kendaraan (Taylor, 2003)

5

BAB II
PENGERTIAN

Promosi kesehatan adalah upaya membantu masyarakat memberdayakan dirinya
untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatannya.
Menurut WHO tahun 1986, Promosi Kesehatan adalah proses yang memberdayakan manusia
untuk mengendalikan dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri.
Menurut Green dan Ottoson (1998) Promosi Kesehatan adalah kombinasiberbagai
dukungan menyangkut pendidikan, organisasi, kebijakan, dan peraturan perundangan untuk
perubahan lingkungan dan perilaku yang menguntungkan kesehatan.
Menurut definisi yang selama ini dipakai oleh Pusat Promosi Keehatan, Promosi
Kesehatan itu adalah proses memberdayakan atau memandirikan masyarakat agar mampu
memelihara, meningkatkan, dan melindungi, kesehatannya melalui peningkatan kesadaran,
kemauan dan kemampuan, serta pengembangan lingkungan sehat.

Dalam pengertian Promosi Kesehatan tersebut terkandung beberapa pengertian operasional
sebagai berikut:

Promosi Kesehatan merupakan bagian dari upaya kesehatan masyarakat (Public
Health) secara keseluruhan, yang fokusnya adalah: pemberdayaan masyarakat, yaitu upaya
agar masyarakat dapat memelihara, meningkatkan, dan melindungi kesehatannya. Dengan
demikian, Promosi Kesehatan lebih bersifat upaya promotif-preventif, tanpa
mengesampingkan upaya kuratif-rehabilitatif.
Pemberdayaan dilakukan dengan menumbuhkan kesadaran, kemauan dan kemampuan
mayarakat untuk hidup sehat, sehingga penekanan Promosi Kesehatan pada pengembangan
perilaku dan lingkungan sehat.

Pemberdayaan tersebut merupakan upaya kemitraan berbagai pihak dan merupakan
upaya dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat, sehingga masyarakat aktif sebagai pelaku
atau subyek, bukan pasif menunggu sebagai obyek semata.
Pemberdayaan dilakukan sesuai dengan kondisi dan budaya setempat, sehingga Promosi
Kesehatan diwarnai oleh suasana lokal.

6

BAB III
TUJUAN

Tujuan Umum

Tercapainya perubahan perilaku individu, keluarga dan masyarakat dalam membina dan
memelihara perilaku sehat dan lingkungan sehat, serta berperan aktif dalam upaya
mewujudkan derajat kesehatan yang optimal, dan juga memberdayakan kemampuan
masyarakat untuk hidup lebih sehat.

Tujuan Khusus

Timbulnya kesadaran penduduk akan nilai kesehatan.
Meningkatnya pengembangan Puskesmas dan pemanfaatannya sebagai sarana pelayanan
kesehatan dan sebagai sumber penerangan dan penyuluhan kesehatan
Terbantunya orang-orang dan masyarakat pada umumnya, dalam menjaga kesehatan mereka
pada tingkat yang sebaik-baiknya.

Tujuan Promosi Kesehatan secara Keseluruhan

Tersosialisasinya program-program kesehatan, terwujudnya masyarakat Indonesia baru yang
berbudaya hidup bersih dan sehat, serta tumbuhnya gerakan hidup sehat di masyarakat,
menuju terwujudnya kabupaten atau kota sehat, propinsi sehat, Indonesia sehat 2010.

Tujuan PHBS

Meningkatnya pengetahuan, kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat agar
hidup bersih dan sehat, serta meningkatnya peran serta aktif masyarakat termasuk swasta dan
dunia usaha, dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.
Tujuan Penyuluhan Kesehatan

Tercapainya perubahan perilaku individu, keluarga dan masyarakat dalam membina
dan memelihara perilaku sehat dan lingkungan sehat serta berperan aktif dalam upaya
mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.

7

BAB IV
KEGIATAN

Promosi kesehatan mencakup baik kegiatan promosi (promotif), pencegahan penyakit
(preventif), pengobatan (kuratif), maupun rehabilitasi. Dalam hal ini, orang-orang yang sehat
maupun mereka yang terkena penyakit, semuanya merupakan sasaran kegiatan promosi
kesehatan. Kemudian, promosi kesehatan dapat dilakukan di berbagai ruang kehidupan,
dalam keluarga, sekolah, tempat kerja, tempat-tempat umum, dan tentu saja kantor-kantor
pelayanan kesehatan.

Promosi kesehatan bersifat lebih luas atau lebih makro lagi dan lebih menyentuh sisi
advokasi pada level pembuat kebijakan di mana promosi kesehatan berusaha melakukan
perubahan pada lingkungan dengan harapan terjadinya perubahan perilaku yang lebih baik
(Kapalawi, 2007). Menurut Green dan Ottoson (dalam Iqi, 2008), promosi kesehatan adalah
kombinasi berbagai dukungan menyangkut pendidikan, organisasi, kebijakan, dan peraturan
perundangan untuk perubahan lingkungan dan perilaku yang menguntungkan kesehatan.
Oleh karena itu, lingkup promosi kesehatan dapat disimpulkan sebagai berikut (Iqi, 2008):
1. Pendidikan kesehatan (health education) yang penekanannya pada
perubahan/perbaikan perilaku melalui peningkatan kesadaran, kemauan, dan
kemampuan.
2. Pemasaran sosial (social marketing), yang penekanannya pada pengenalan
produk/jasa melalui kampanye.
3. Upaya penyuluhan (upaya komunikasi dan informasi) yang tekanannya pada
penyebaran informasi.
4. Upaya peningkatan (promotif) yang penekanannya pada upaya pemeliharaan dan
peningkatan kesehatan.
5. Upaya advokasi di bidang kesehatan, yaitu upaya untuk memengaruhi lingkungan
atau pihak lain agar mengembangkan kebijakan yang berwawasan kesehatan (melalui
upaya legislasi atau pembuatan peraturan, dukungan suasana, dan lain-lain di berbagai
bidang/sektor, sesuai keadaan).
6. Pengorganisasian masyarakat (community organization), pengembangan masyarakat
(community development), penggerakan masyarakat (social mobilization),
pemberdayaan masyarakat (community empowerment), dll.

8

Kesehatan memerlukan prasyarat-prasyarat yang terdiri dari berbagai sumber daya dan
kondisi dasar, meliputi perdamaian (peace), perlindungan (shelter), pendidikan (education),
makanan (food), pendapatan (income), ekosistem yang stabil (a stable eco-system), sumber
daya yang berkesinambungan (a sustainable resources), serta kesetaraan dan keadilan sosial
(social justice and equity) (WHO, 1986). Upaya-upaya peningkatan promosi kesehatan harus
memerhatikan semua prasyarat tersebut.

WHO, lewat Konferensi Internasional Pertama tentang Promosi Kesehatan di Ottawa
pada tahun 1986, telah merumuskan sejumlah kegiatan yang dapat dilakukan oleh setiap
negara untuk menyelenggarakan promosi kesehatan. Berikut akan disediakan terjemahan dari
Piagam Ottawa pada bagian yang diberi subjudul Health Promotion Action Means. Menurut
Piagam Ottawa, kegiatan-kegiatan promosi kesehatan berarti:
Membangun kebijakan publik berwawasan kesehatan (build healthy public policy)
Promosi kesehatan lebih daripada sekadar perawatan kesehatan. Promosi kesehatan
menempatkan kesehatan pada agenda dari pembuat kebijakan di semua sektor pada semua
level, mengarahkan mereka supaya sadar akan konsekuensi kesehatan dari keputusan mereka
dan agar mereka menerima tanggung jawab mereka atas kesehatan.
Kebijakan promosi kesehatan mengombinasikan pendekatan yang berbeda namun
dapat saling mengisi termasuk legislasi, perhitungan fiskal, perpajakan, dan perubahan
organisasi. Ini adalah kegiatan yang terkoordinasi yang membawa kepada kesehatan,
pendapatan, dan kebijakan sosial yang menghasilkan kesamaan yang lebih besar. Kegiatan
terpadu memberikan kontribusi untuk memastikan barang dan jasa yang lebih aman dan lebih
sehat, pelayanan jasa publik yang lebih sehat dan lebih bersih, dan lingkungan yang lebih
menyenangkan.
Menciptakan lingkungan yang mendukung (create supportive environments)
Kesehatan tidak dapat dipisahkan dari tujuan-tujuan lain. Kaitan yang tak terpisahkan
antara manusia dan lingkungannya menjadikan basis untuk sebuah pendekatan sosio-ekologis
bagi kesehatan. Prinsip panduan keseluruhan bagi dunia, bangsa, kawasan, dan komunitas
yang serupa, adalah kebutuhan untuk memberi semangat pemeliharaan yang timbal-balik —
untuk memelihara satu sama lain, komunitas, dan lingkungan alam kita.
Promosi kesehatan menciptakan kondisi hidup dan kondisi kerja yang aman, yang
menstimulasi, memuaskan, dan menyenangkan. Penjajakan sistematis dampak kesehatan dari
lingkungan yang berubah pesat.—terutama di daerah teknologi, daerah kerja, produksi energi
dan urbanisasi–- sangat esensial dan harus diikuti dengan kegiatan untuk memastikan

9

keuntungan yang positif bagi kesehatan masyarakat. Perlindungan alam dan lingkungan yang
dibangun serta konservasi dari sumber daya alam harus ditujukan untuk promosi kesehatan
apa saja.

Memerkuat kegiatan-kegiatan komunitas (strengthen community actions)

Promosi kesehatan bekerja melalui kegiatan komunitas yang konkret dan efisien
dalam mengatur prioritas, membuat keputusan, merencanakan strategi dan melaksanakannya
untuk mencapai kesehatan yang lebih baik. Inti dari proses ini adalah memberdayakan
komunitas –-kepemilikan mereka dan kontrol akan usaha dan nasib mereka. Pengembangan
komunitas menekankan pengadaan sumber daya manusia dan material dalam komunitas
untuk mengembangkan kemandirian dan dukungan sosial, dan untuk mengembangkan sistem
yang fleksibel untuk memerkuat partisipasi publik dalam masalah kesehatan. Hal ini
memerlukan akses yang penuh serta terus menerus akan informasi, memelajari kesempatan
untuk kesehatan, sebagaimana penggalangan dukungan.

Mengembangkan keterampilan individu (develop personal skills)

Promosi kesehatan mendukung pengembangan personal dan sosial melalui
penyediaan informasi, pendidikan kesehatan, dan pengembangan keterampilan hidup.
Dengan demikian, hal ini meningkatkan pilihan yang tersedia bagi masyarakat untuk melatih
dalam mengontrol kesehatan dan lingkungan mereka, dan untuk membuat pilihan yang
kondusif bagi kesehatan.

Reorientasi pelayanan kesehatan (reorient health services)

Tanggung jawab untuk promosi kesehatan pada pelayanan kesehatan dibagi di antara
individu, kelompok komunitas, profesional kesehatan, institusi pelayanan kesehatan, dan
pemerintah. Mereka harus bekerja sama melalui suatu sistem perawatan kesehatan yang
berkontribusi untuk pencapaian kesehatan. Peran sektor kesehatan harus bergerak meningkat
pada arah promosi kesehatan, di samping tanggung jawabnya dalam menyediakan pelayanan
klinis dan pengobatan. Pelayanan kesehatan harus memegang mandat yang meluas yang
merupakan hal sensitif dan ia juga harus menghormati kebutuhan kultural. Mandat ini harus
mendukung kebutuhan individu dan komunitas untuk kehidupan yang lebih sehat, dan
membuka saluran antara sektor kesehatan dan komponen sosial, politik, ekonomi, dan
lingkungan fisik yang lebih luas. Reorientasi pelayanan kesehatan juga memerlukan perhatian
yang kuat untuk penelitian kesehatan sebagaimana perubahan pada pelatihan dan pendidikan

10

profesional. Hal ini harus membawa kepada perubahan sikap dan pengorganisasian pelayanan
kesehatan dengan memfokuskan ulang kepada kebutuhan total dari individu sebagai manusia
seutuhnya.

Bergerak ke masa depan (moving into the future)

Kesehatan diciptakan dan dijalani oleh manusia di antara pengaturan dari kehidupan
mereka sehari-hari di mana mereka belajar, bekerja, bermain, dan mencintai. Kesehatan
diciptakan dengan memelihara satu sama lain dengan kemampuan untuk membuat keputusan
dan membuat kontrol terhadap kondisi kehidupan seseorang, dan dengan memastikan bahwa
masyarakat yag didiami seseorang menciptakan kondisi yang memungkinkan pencapaian
kesehatan oleh semua anggotanya. Merawat, kebersamaan, dan ekologi adalah isu-isu yang
penting dalam mengembangkan strategi untuk promosi kesehatan. Untuk itu, semua yang
terlibat harus menjadikan setiap fase perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan
promosi kesehatan serta kesetaraan antara pria dan wanita sebagai acuan utama.
Dari enam hal di atas, setidaknya dapat disimpulkan dua kata kunci kegiatan promosi
kesehatan, yakni advokasi (advocacy) dan pemberdayaan (empowerment).

Advokasi

Advokasi terhadap kesehatan merupakan sebuah upaya yang dilakukan orang-orang di bidang
kesehatan, utamanya promosi kesehatan, sebagai bentuk pengawalan terhadap kesehatan.
Advokasi ini lebih menyentuh pada level pembuat kebijakan, bagaimana orang-orang yang
bergerak di bidang kesehatan bisa memengaruhi para pembuat kebijakan untuk lebih tahu dan
memerhatikan kesehatan. Advokasi dapat dilakukan dengan memengaruhi para pembuat
kebijakan untuk membuat peraturan-peraturan yang bisa berpihak pada kesehatan dan
peraturan tersebut dapat menciptakan lingkungan yang dapat mempengaruhi perilaku sehat
dapat terwujud di masyarakat (Kapalawi, 2007). Advokasi bergerak secara top-down (dari
atas ke bawah). Melalui advokasi, promosi kesehatan masuk ke wilayah politik.

Pemberdayaan

Di samping advokasi kesehatan, strategi lain dari promosi kesehatan adalah pemberdayaan
masyarakat di dalam kegiatan-kegiatan kesehatan. Pemberdayaan masyarakat dalam bidang
kesehatan lebih kepada untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam bidang kesehatan.
Jadi sifatnya bottom-up (dari bawah ke atas). Partisipasi masyarakat adalah kegiatan pelibatan
masyarakat dalam suatu program. Diharapkan dengan tingginya partisipasi dari masyarakat
maka suatu program kesehatan dapat lebih tepat sasaran dan memiliki daya ungkit yang lebih

11

besar bagi perubahan perilaku karena dapat menimbulkan suatu nilai di dalam masyarakat
bahwa kegiatan-kegiatan kesehatan tersebut itu dari kita dan untuk kita (Kapalawi, 2007).
Dengan pemberdayaan masyarakat, diharapkan masyarakat dapat berperan aktif atau
berpartisipasi dalam setiap kegiatan. Sebagai unsur dasar dalam pemberdayaan, partisipasi
masyarakat harus ditumbuhkan. Pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan pada
dasarnya tidak berbeda dengan pemberdayaan masyarakat dalam bidang-bidang lainnya.

Partisipasi dapat terwujud dengan syarat (Tawi, 2008):
1. Adanya saling percaya antaranggota masyarakat
2. Adanya ajakan dan kesempatan untuk berperan aktif
3. Adanya manfaat yang dapat dan segera dapat dirasakan oleh masyarakat
4. Adanya contoh dan keteladanan dari tokoh/pemimpin masyarakat.
Partisipasi itu harus didukung oleh adanya kesadaran dan pemahaman tentang bidang yang
diberdayakan, disertai kemauan dari kelompok sasaran yang akan menempuh proses
pemberdayaan. Dengan begitu, kegiatan promosi kesehatan akan berlangsung dengan sukses.

Pelaksanaan kegiatan di Puskesmas Kecamatan Cilandak

Kegiatan Promkes yang dilakukan di Puskesmas Kecamatan Cilandak meliputi
kegiatan: Advokasi kesehatan, misalnya adanya kebijakan gerakan PSN-3M selama 30 menit
setiap hari jumat

Gerakan masyarakat, berupa pengenalan masalah kesehatan oleh masyarakat dan
melaksanakan para kader atau tenaga pelaksana yang terlatih, misalnya dengan adanya
Jumantik (Juru Pemantau Jentik) di tingkat RT.
Bina suasana, misalnya melalui berbagai kegiatan penyuluhan (penyuluhan di
Posyandu balita setiap bulan di hari Rabu minggu pertama, Posyandu Lansia setiap hari Senin
minggu pertama), pelatihan kader-kader Posyandu untuk imunisasi Mopping Up Polio, dan
lokakarya.

Berdasarkan kegiatan di lapangan (dalam hal ini di Puskesmas kecamatan Tebet), baik
yang dilakukan di dalam maupun di luar gedung Puskesmas, hasilnya adalah cukup baik.
Namun, petugas yang tersedia masih terbatas. Tanggapan masyarakat terhadap kegiatan yang
diikutinya cukup baik.

12

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

PHBS di Rumah Tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga
agar tahu, mau dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan
aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat. PHBS di Rumah Tangga dilakukan untuk
mencapai Rumah Tangga ber PHBS yang melakukan 10 PHBS yaitu:
1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan
2. Memberi ASI Esklusif
3. Menimbang Bayi tiap bulan
4. Menggunakan air bersih
5. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun
6. Menggunakan jamban sehat
7. Memberantas jentik di rumah seminggu sekali
8. Makan bah dan sayur setiap hari
9. Melakukan aktifitas fisik setiap hari
10. Tidak Merokok di dalam rumah

PHBS di Institusi Kesehatan adalah upaya untuk memberdayakan pasien, masyarakat
pengunjung dan petugas agar tahu, mau dan mampu untuk mempraktikkan Perilaku Hidup
Bersih dan Sehat dan berperan aktif dalam mewujudkan Institusi Kesehatan Sehat dan
mencegah penularan penyakit di institusi kesehatan. Ada beberapa indikator yang dipakai
sebagai ukuran untuk menilai PHBS di Institusi Kesehatan yaitu :
Menggunakan air bersih
Menggunakan Jamban
Membuang sampah pada tempatnya
Tidak merokok di institusi kesehatan
Tidak meludah sembarangan
Memberantas jentik nyamuk
PHBS di Tempat - tempat Umum adalah upaya untuk memberdayakan masyarakat
pengunjung dan pengelola tempat - tempat umum agar tahu, mau dan mampu untuk
mempraktikkan PHBS dan berperan aktif dalam mewujudkan tempat - tempat Umum
Sehat.

Tempat - tempat Umum adalah sarana yang diselenggarakan oleh pemerintah/swasta,
atau perorangan yang digunakan untuk kegiatan bagi masyarakat seperti sarana

13

pariwisata, transportasi, sarana ibadah, sarana perdagangan dan olahraga, rekreasi dan
sarana sosial lainnya. Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk
menilai PHBS di Tempat - Tempat Umum yaitu :
1. Menggunakan air bersih
2. Menggunakan jamban
3. Membuang sampah pada tempatnya
4. Tidak merokok di tempat umum
5. Tidak meludah sembarangan

PHBS di Sekolah adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan oleh peserta didik,
guru dan masyarakat lingkungan sekolah atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran,
sehingga secara mandiri mampu mencegah penyakit, meningkatkan kesehatannya, serta
berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan sehat. Ada beberapa indikator yang dipakai
sebagai ukuran untuk menilai PHBS di sekolah yaitu:
Mencuci tangan dengan air yang mengalir dan menggunakan sabun
Mengkonsumsi jajanan sehat di kantin sekolah
Menggunakan jamban yang bersih dan sehat
Olahraga yang teratur dan terukur
Memberantas jentik nyamuk
Tidak merokok di sekolah
Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap 6 bulan
Membuang sampah pada tempatnya

PHBS di Tempat kerja adalah upaya untuk memberdayakan para pekerja agar tahu,
mau dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam
mewujudkan Tempat Kerja Sehat Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Tempat kerja
antara lain :

Tidak merokok di tempat kerja
Membeli dan mengkonsumsi makanan dari tempat kerja
Melakukan olahraga secara teratur/aktifitas fisik
Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun sebelum makan dan sesudah buang air
besar dan buang air kecil
Memberantas jentik nyamuk di tempat kerja

14

Menggunakan air bersih
Menggunakan jamban saat buang air kecil dan besar
Membuang sampah pada tempatnya
Mempergunakan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai jenis pekerjaan

15

BAB V
SASARAN

SASARAN

Digolongkan atas masyarakat yang sudah ada dalam suatu system tertentu yang disebut
sebagai tatanan/pranata

Tatanan

Sasaran Primer

Sasaran Sekunder

Sasaran Tersier

Rumah tangga

Anggota keluarga

Ibu

Kepala keluarga

Institusi pendidikan

Seluruh siswa

Guru,karyawan,OSIS

Kepala sekolah

Tempat kerja

Seluruh karyawan

Pengurus/sarikat
pekerja

Direksi/pemilik

Tempat umum

Pengunjung

Pegawai/karyawan

Direksi/pemilik

Institusi kesehatan

Pasien/pengunjung

Petugas kesehatan

Pimpinan/direktur

Strategi dan manajemen PKM puskesmas

Dalam management PKM, dikenal 3 strategi, yaitu pemberdayaan masyarakat
(empowerment), pembinaan dukungan suasana (social support), dan pendekatan
pimpinan/kelompok (advocacy). Ketiga strategi tersebut harus dilakukan secara bersamaan,
saling mengisi, dan melengkapi. Secara lebih jelas ketiga strategi tersebut dapat dilihat
dibawah ini :

Strategi

Sasaran

Tujuan

Cara

Pemberdayaaan
(empowerment)

Primer

Peningkatan
pengetahuan sikap dan
perilaku (PHBS)

Penyuluhan
perorangan, kelompok
dan masal, pelatihan,
distribusi bahan
penyuluhan

Pembinaan suasana
(social support)

Sekunder

Pengembangan
pendapat umum,opini,
norma

Pendekatan
peroramngan dan
kelompok

Pendekatan pimpinan
(advocacy)

Tersier

Persetujuan, dukungan Konsultasi, pertemuan

16

Manajemen PKM di puskesmas

Manajemen PKM di puskesmas dilaksanakan melalui 4 fungsi tahapan, yaitu :
Pengkajian

Pemantauan dan Perencanaan

Penilaian

Penggerakan dan
Pelaksanaan

Secara singkat, tahapan manajemen PKM dapat dilihat dalam table berikut:

Tahapan manajemen

Luaran

a. Pengkajian
(i)

Pengkajian masalah kesehatan

(ii)

Pengkajian masalah PHBS
(iii) Pemetaan wilayah
(iv) Pengkajian sumber daya

10 penyakit terbanyak,factor pendorong
Pemetaan masalah PHBS
Masalah strata kesehatan wilayah
Ketersediaan SDM

b. Perencanaan

Rumusan tujuan,kegiatan,intervensi dan jadwal
kegiatan

c. Penggerakan dan pelaksanaan

Daftar kegiatan dan penanggung jawab masing-
masing kegiatan yang telah disepakati

d. Pemantauan dan penilaian

Rencana pertemuan/supervisi berkala
Rencana evaluasi akhir tahun

Kebijaksanaan Pelaksanaan Penyuluhan Kesehatan Masyarakat

Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut,kegiatan promosi kesehatan masyarakat
dilaksanakan sebagai berikut :
a. Penyuluhan kesehatan masyarakat merupakan bagian integral dari setiap program
kesehatan dan berfungsi sebagai katalisator program-program tersebut.

17

b. Peningkatan perilaku penduduk dalam membina hidup sehat juga diarahkan untuk
meningkatkan peran sertanya mewujudkan masyarakat yang mandiri dalam membina
derajat kesehatan yang dimulai dalam keluarganya.
c. Penyuluhan kesehatan merupakan upaya yang dilaksanakan baik oleh pemerintah
secar a lintas program dan lintas sektoral, maupun oleh masyarakat termasuk pihak
LSM.

d. Puskesmas dimanfaatkan sebagai pusat pengembangan dan pembinaan kesadaran dan
peran serta masyarakat di bidang kesehatan di wilayahnya.
e. Sikap mental petugas kesehatan, terutama yang akan dikembangkan dan diarahkan
kea rah sikap mental yang partisipatif dan lebih berorientasi pada aspek pencegahan
dan peningkatan.
f. Peningkatan penyuluhan kesehatan pada lembaga-lembaga pendidikan dasar,
pemerintah, dan swasta agar kesadaran dan perilaku hidup sehat dapat ditumbuhkan
dan dibudidayakan sedini mungkin.

Penyuluhan kesehatan masyarakat di puskesmas Kecamatan Cilandak

Agar dapat mencapai tujuan penyuluhan kesehatan masyarakat , maka upaya kegiatan
penyuluhan perlu diselaraskan dengan fungsi dan tugas puskesmas serta kemampuan
daripada sumber tenaga, dana, serta sarana yang dimiliki.
Pelaksanaaan kegiatan puskesmas yang biasa dilaksanakan ialah :
a. Penyuluhan institusi : kegiatan penyuluhan yang dilakukan di institusi bersangkutan
seperti puskesmas, ataupun di rumah tinggal para dokter dan paramedic.

Secara tidak langsung

Secar a langsung

Memberi tauladan serta contoh dari para
dokter atau paramedic

Dialog do kamar periksa antara dokter
dan pasien

Penampilan yang rapih dan sehat dari
bangunan puskesmas

Dialog dokter, paramedik, dan keluarga
pasien tentang hal yang bias dilakukan
pasien atau keluarga pasien

Menggunakan media penyuluhan, seperti
poster dll

Melakukan penyuluhan kelompok di
puskes yang sudah direncanakan.

b. Penyuluhan di masyarakat (di luar gedung puskesmas) : pelaksanaannya dilaksanakan
berdasarkan ― pendekatan edukatif ― melalui tahap-tahap berikut:

18

1. Pertemuan tingkat kecamatan : tujuannya ialah memeperoleh kesepakatan dan
dukungan dari pimpinan wilayah
2. Pertemuan tingkat desa : tujuannya ialah memeperoleh kesepakatan dan dukungan
dari kepala desa bererta aparatnya
3. Melakukan survey mawas diri : mendapatkan data dari msyarakat tentang idea tau
program promosi kesehatan yang akan diterapkan kepada mereka.
4. Perencanaan: membuat rencana penyuluhan kesehatan
5. Pelaksanaan penyuluhan : dalam pelaksaan, perlu dilibatkan masyarakat dan
petugas harus mampu menerapkan metode dan tehnik penyuluhan
6. Evaluasi kegiatan penyuluhan : evaluasi dilakukan sesuai dengan tehnik
penyuluhan yang dilakukan.

Metode dan tehnik penyuluhan masyarakat
A. Metode

Secara sederhana pengertiannya adalah cara untuk melaksanakan penyuluhan kepada
masyarakat.Untuk mengetahui metode apa yang dipilih perlu ditentukan terlebih dahulu
tahapan perubahan perilaku yang ingin dicapai :

Metode untuk merubah
pengetahuan

Metode untuk merubah
sikap

Metode untuk merubah
tindakan

- Ceramah
- Kuliah
- Presentasi
- Wisata karya
- Curah pendapat
- Seminar
- Studi kasus
- Tugas baca
- Symposium
- Panel
- Konferensi

- Diskusi kelompok
- Tanya jawab
- Role playing
- Pemutaran film
- Video
- Tape recorder
- Simulasi

- Latihan sendiri
- bengKel kerja
- demonstrasi
- experiment

Menentukan sasaran
Karena keterbatasan sumber daya, maka metode penyuluhan yang paling sering dilakukan
puskesmas adalah ceramah yang disertai Tanya jawab, wawancara dan demonstrasi.

19

B.Teknik penyampaian

Ceramah

Ceramah adalah salah satu cara menerangkan atau menjelaskan suatu ide, pengertian
atau pesan secara lisn kepada suatu kelompok pendengar yang disertai diskusi dan Tanya
jawab, serta dibantu oleh alat peraga.
a. Ciri-ciri ceramah
- ada sekelompok pendengar yang dipersiapkan
- ada suatu pesan yang disampaikan
- ada kesempatan bertanya bagi pendengar
- ada alat peraga yang digunakan
b. langkah langkah melakukan ceramah
- persiapan

-menentukan maksud dan tujuan ceramah
- menentukan sasaran pendengar
- mempersiapkan materi
- topic yang dikemukakan hanya satu
- mempersiapkan alat peraga
- mempersiapkan waktu dan tempat yang tepat
-mempersiapkan undangan
- mempersiapkan bahan bacaan

- pelaksanaan

- perkenalan diri
- mengemukakan maksud dan tujuan
- menjelaskan sistematika ceramah
- men yampaikan ceramah dengan suara jelas
- ciptakan suasana santai
- sediakan waktu untuk Tanya jawab
-menyimpulkan ceramah

- penilaian

Suatu ceramah akan terlihat berhasil bila :
-ada respon dari pendengar
- ada minat pendengar
- ada jawaban pada pengisian angket

20

Wawancara

Adalah suatu metode penyuluhan kesehatan dengan jalan Tanya jawab yang
diarahkan kepada pencapaian tujuan yang telah ditentukan.
a. Cirri –ciri wawancara
- Ada pihak yang bertanya
- Ada pihak yang ditanya
- Seluruh percakapan dikendalikan oleh pihak interviewer
b. Langkah-langkah melakukan wawancara
- Persiapan

1. Menentukan tujuan wawancara
2. Menentukan isi pesan yang akan disampaikan
3. Menentukan sasaran
4. Menentukan waktu
5. Menentukan pokok-pokok pertanyaan
- Pelaksanaan
1. Memperkenalkan diri
2. Rumuskan pertanyaan dengan sederhana
3. Diarahkan kepada persoalan pokok
4. Gunakan alat peraga
5. Catat jawaban yang dianggap perlu

- Penilaian
1. Suasana menyenangkan
2. Kelancaran wawancara
3. Jawaban yang wajar
4. Minat responden

Demonstrasi

Adalah suatu cara penyajian yang dipersiapkan dengan teliti untuk memperlihatkan
bagaimana cara melakukan suatu tindakan, adegan atau menggunakan suatu proedur.
Penyajian ini disertai penggunaan alat peraga dan Tanya jawab. Biasanya hanya diberikan
pada individu yang terbatas jumlahnya.
1. Tujuan

21

- Memperlihatkan kepada kelompok bagaimana cara membuat sesuatu dengan prosedur
yang benar
- Meyakinkan kelompok bahwa ide tersebut bias dilaksanakan
- Meningkatkan minat orang untuk belajar
2. Langkah-langkah melakukan demonstrasi
- Persiapan

a. Menentukan maksut dan tujuan
b. Menentukan materi
c. Menentukan sasaran dengan latar belakang sosioekonomi
d. Menentukan perkiraan lamanya
e. Menentukan alat atau peraga
- Pelaksanaan
a. Memperkenalkan diri
b. Menciptakan suasana nyaman
c. Memberi materi
d. Member kesempatan Tanya jawab

- Penilaian
a. Banyaknya pertanyaan
b. Adanya permintaan melakukan demonstrasi
c. Hasil pengisian angket
Alat peraga penyuluhan kesehatan masyarakat
- kemudahan bagi pihak penyuluh
a. memiliki bahan nyata
b. dapat menambah percaya diri
c. menghindari kejenuhan
- kemudahan bagi pihak yang disuluh
a. melihat nyata inti materi
b. menghindari kejenuhan
Beberapa alat bantu peraga yang dapat digunakan adalah :
a. papan tulis
b. OHP
c. Kertas flipchart
d. Poster

22

e. Flash card
f. Model
g. Leflet, dll

Pemantauan dan penilaian

Pemantauan kegiatan dilakukan secara berkala. Pemantauan dapat juga dilakukan
dengan kunjungan lapangan ke tiap tatanan untuk melakukan perkembangan strata bersih dan
sehat (PHBS) setelah dilakukan intervensi kesehatan masyarakat. Penilaian dilakukan pada
akhir tahun dengan cara pengkajian kembali seperti pada tahap pertama manajemen PKM.
Hasil pengkajian tiap tahun dibandingkan hasil pengkajian awal tahun, keberhasilan dapat
dilihat dari strata PHBS tiap tahun. Evaluasi dapat dilakukan dengan menilai :
a. Kegiatan yang dapat terlaksana dibandingkan dengan perencanaan
b. Indicator masing-masing program yang menjadi topic penyuluhan
c. Strata PHBS di wilayah kerja

Indikator PKM

Dalam kegiatan penilaian, digunakan indicator-indikator tertentu, yaitu petunjuk yang
membatasi focus perhatian suatu penilaian. Indicator yang digunakan adalah sebagai berikut :
Indicator Tatanan Rumah Tangga
a. Ibu :
- pemeriksaan kehamilan oleh petugas minimal 4 kali
- proses melahirkan dibantu oleh petugas kesehatan
- ikut KB bag wanita usia subur
- sudah imunisasi TT, bagi ibu muda yang belum punya anak
b. bayi : sudah diimunisasi
c. balita : ditimbang setiap bulan
d. seluruh keluarga buang air besar di jamban
e. tidak ada sampah berserakan
f. seluruh keluarga menggunakan air bersih
g. kuku anggota keluarga pendek dan bersih
h. keluarga biasa makan makanan yang beraneka ragam
i. semua anggota keluarga tidak merokok
j. pernah mendengar AIDS
k. keluarga menjadi anggota dana sehat (JPKM)

23

Indikator Tatanaan Institusi Pendidikan

Tatanan pendidikan adalah Sekolah Dasar Negeri, Swasta termasuk Madrasah Ibtidaiyah
a. Tersedia jamban yang bersih
b. Tersedia air yang bersih
c. Tidak ada sampah berserakan
d. Ketersediaan UKS
e. Menjadi anggota dana sehat (JPKM)
f. Siswa pada umumnya (60%) kukunya pendek dan bersih
g. Guru tidak merokok
h. Siswa ada yang menjadi dokter kecil

Kesehatan Anak Sekolah dan Remaja

Tatanan istitusi pendidikan adalah Puskesmas atau Puskesmas Pembantu
a. Tatanana air bersih
b. Tersedia jamban yang bersih
c. Tidak ada sampah yang berserakan
d. Tertata poster kesehatan
e. Radio kaset penyuluhan berfungi setiap hari
f. Penyuluhan kelompok teratur dilaksanakan
g. Semua petugas tidak merokok
h. Semua petugas kukunya pendek dan bersih
Indikator Tatanan Umum
a. Indicator warung makan
- Makanan dan minuman tidak menggunakan bahan kimia berbahaya
- Makanan dan minuman terhindar dari serangga berbahaya
- Tersedia jamban yang bersih
- Tersedia air yang bersih
- Tidak ada sampah berserakan
- Kuku pengelola makanan pendek dan bersih
- Menjadi anggota dana sehat
b. Indicator tempat ibadah
- Sekeliling tempat ibadah dalam keadaan bersih

24

- Tersedia air bersih
- Tersedia jamban yang bersih
- Tersedia pembuangan air limbah (SPAL)
- Kuku pengelola pendek dan bersih
- Semua pengelola dan pengunjung tidak merokok
- Pernah mendengan AIDS
- Tersedia media penyuluhan
c. Indicator pasar
- Sekeliling pasar dalam keadaan bersih
- Tersedia air bersih
- Tersedia jamban yang bersih
- Tersedia pembuangan air limbah (SPAL)
- Cukup pencahayaan dan ada penghawaan
- Kuku pengelola pendek dan bersih
- Semua pengelola dan pengunjung tidak merokok
- Pernah mendengan AIDS
- Tersedia media penyuluhan

1. Kajian PHBS

- Sasaran

: ibu-ibu balita

- Jumlah sasaran

: 50 orang
- Kajian kuantitatif : dengan kuisioner

2. Indikator PHBS

- Perilaku tentang KIA
- Perilaku tentang gizi
- Perilaku tentang kesehatan lingkungan
- Perilaku tentang gaya hidup

3. Pengelolaan Program PHBS

1. Tahap persiapan:
a. Sosialisasi dan advokasi kesehatan
b. Persiapan sarana
c. Persiapan administrasi
d. Persiapan pelaksanaan

25

2. Tahap pengkajian:
a. Pengkajian
3. Tahap perencanaan:
a. Menentukan prioritas
b. Menentukan tujuan
c. Menentukan jenis kegiatan/intervensi
d. Jadwal kegiatan
4. Tahap pergerakan pelaksanaan
5. Pemantauan dan penilaian

4. Tahap Persiapan

No.

Kegiatan

Tujuan

Luaran

1. Sosialisasi dan advokasi

Agas LS/LP/LSM/ Mitra
mengetahui program
PHBS

- Dukungan dana/ kebijakan
politis/ kemitraan
- Sepakat melaksanakan PHBS
- Peran dan fungsi masing-
masing jelas

2. Persiapan sarana

Identifikasi kebutuhan
sarana

- Daftar jenis dan jumlah sarana
yang dibutuhkan
- Kuisioner

3. Persiapan administrasi

Identifikasi lapangan

- Daftar surat yang diperlukan
- Format pencatatan dan
pelaporan

4. Persiapan pelaksanaan

Identifikasi, siapa
melakukan apa

- Daftar penanggung jawab
masing-masing kegiatan

5.
6.
Tahap Pengkajian

No.

Kegiatan

Tujuan

Luaran

1. Pengkajian masalah
kesehatan

Untuk mengetahui 10
penyakit terbanyak,
penyebab, sifat,
epidemiologi masalah

- Daftar 10 penyakit terbanyak
- Daftar penyebab sifat,
epidemiologi masalah

2. Pengkajian sumber daya

Identifikasi sarana,
tenaga, dana yang
tersedia

- Daftar tenaga, sarana, dan
dana yang tersedia

3. Pengkajian PHBS

Untuk mengetahui

- Adanya klasifikasi PHBS di

26

perilaku keluarga pada
tatanan rumah tangga

setiap RT

4. Pengkajian wilayah

Untuk mengetahui
klasifikasi PHBS di
setiap wilayah

- Adanya klasifikasi wilayah
sehat atau tidak sehat

Tahap Perencanaan

No.

Kegiatan

Tujuan

Luaran

1. Rumusan tujuan

Untuk membuat target
yang ingin dicapai

Adanya target yang bisa diukur

2. Rumusan rencana kegiatan
intervensi

Untuk mengembangkan
berbagai alternatif
intervensi

Adanya rencana kegiatan
entervensi yang menyeluruh,
meliputi penyluhan massa/
terpadu dan rancangan media

3. Pembuatan jadwal kegiatan Untuk menetapkan waktu
bagi setiap kegiatan

Adanya jadwal kegiatan
intervensi

Tahap Pergerakan dan Pelaksanaan

No.

Kegiatan

Tujuan

Luaran

1. Advokasi

- Untuk mempengaruhi
peraturan dan kebijakan
yang mendukung
pemberdayaan PHBS
- Mempengaruhi pihak
lain agar mendukung
PHBS
- Meningkatkan
kerjasama antara
masyarakat dan
pemerintah
- menggalang dukungan
lewat pendapat umum
melalui media massa

- Adanya dukungan politik dari
pengambilan keputusan
- Adanya kepedulian LSM
terhadap PHBS
- Adanya anggaran rutin yang
dinamis
- Fasilitas umum simakin
merata terutama di daerah
kumuh

2. Bina suasana

Untuk menciptakan
berbagai opini yang ada
di masyarakat yang

Terciptanya opini, etika, norma,
dan kondisi masyarakat ber-
PHBS

27

mendukung tercapainya
PHBS di semua tatanan

3. Pemberdayaan atau
gerakan masyarakat

Untuk
menumbuhkembangkan
potensi masyarakat untuk
mendukung dan
membudayakan PHBS

- Mengungkapkan UKBM
- Meningkatkan peserta dana
sehat (JPKM)

Pemantauan dan Penilaian

No.

Kegiatan

Tujuan

Luaran

1. Pemantauan

Untuk mengetahui
seberapa jauh suatu
program PHBS berjalan,
mengacu kepada
perncanaan dan
penjadwalan

adanya laporan
bulanan/triwulan/tengah tahun

2. Penilaian

Untuk mengetahi
seberapa jauh target yang
ditetapkan tercapai

adanya hasil pencapaian
program PHBS dalam kurun
waktu tertentu

28

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Promosi kesehatan adalah proses memberdayakan atau memandirikan masyarakat
agar mampu memelihara, meningkatkan, dan melindungi kesehatannya melalui peningkatan
kesadaran, kemauan, dan kemampuan, serta pengembangan lingkungan sehat. Dengan
demikian kegiatan promosi kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari setiap
program yang ada di Puskesmas. Kegiatan yang dilakukan berupa advokasi kesehatan, bina
suasana, dan gerakan masyarakat.

Saran

Untuk lebih meningkatkan upaya promosi kesehatan pada masyarakat maka
sebaiknya para petugas kesehatan, terutama pada bagian promosi kesehatan, ditambah. Selain
itu para petugas kesehatan terus berupaya untuk memberikan masukan kepada masyarakat
tentang pentingnya menjaga kesehatan.

29

DAFTAR PUSTAKA

1. Dachroni, Drs, MPH. Buku Panduan Straegi Promosi Kesehatan di Indonesia. Jakarta
Selatan: Sudin Kesehatan Masyarakat 2003
2. Dachroni, Drs, MPH. Seri PHBS: Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Untuk Petugas
Puskesmas. Jakarta Selatan: Sudin Kesehatan Masyarakat 2003
3. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Kerja Puskesmas 2009
4. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Promosi Kesehatan Online.htm
5. Sudin Kesehatan Masyarakat. Surat Keputusan Direktur Jenderal Kesehatan
Masyarakat No: HK.00.06.1.7.1570 tentang Kebijakan Teknis Promosi Kesehatan
2003
6. UU RI no. 23 tahun 1992 tentang kesehatan

30

UPAYA KESEHATAN LINGKUNGAN

Penyusun :

Hawa Fatihah bt CMS

(030.05.257)

Fira Thiodorus

(030.06.094)

Marrietta S. Sadeli

(030.06.157)

31

BAB I
PENDAHULUAN

Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial
yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.(Pasal 1
butir 1 UU No. 36 Tahun 2009)

Kesehatan masyarakat adalah ilmu dan seni (kiat/art) untuk :
1. mencegah penyakit
2. memperpanjang harapan hidup, dan
3. meningkatkan kesehatan dan efisiensi masyarakat melalui usaha masyarakat yang
terorganisir untuk; sanitasi lingkungan, pengendalian penyakit menular, pendidikan hygiene
perseorangan, mengorganisir pelayanan media dan perawatan agar dapat dilakukan diagnosis
dini dan pengobatan pencegahan, membangun mekanisme sosial, sehingga setiap insan dapat
menikmati standar kehidupan yang cukup baik untuk dapat memelihara kesehatan. Dengan
demikian, setiap warga negara dapat menyadari haknya atas kehidupan yang sehat dan
panjang (Winslow, 1920)

Kesehatan lingkungan adalah suatu kondisi lingkungan yang mampu menopang
keseimbangan ekologis yang dinamis antara manusia dan lingkungan untuk mendukung
tercapainya realitas hidup manusia yang sehat, sejahtera dan bahagia (Himpunan Ahli
Kesehatan Lingkungan)

Ilmu Kesehatan Lingkungan diberi batasan sebagai ilmu yang mempelajari dinamika
hubungan interaktif antara kelompok penduduk atau masyarakat dengan segala macam
perubahan komponen lingkungan hidup seperti spesies kehidupan, bahan, zat atau kekuatan
di sekitar manusia, yang menimbulkan ancaman, atau berpotensi menimbulkan gangguan
kesehatan masyarakat, serta mencari upaya-upaya pencegahan.(Umar Fahmi Achmadi, 1991)

Kesehatan lingkungan adalah upaya untuk melindungi kesehatan manusia melalui
pengelolaan, pengawasan dan pencegahan factor-faktor lingkungan yang dapat mengganggu
kesehatan manusia (Sumengen Sutomo, 1991)

32

Kesehatan lingkungan adalah ilmu & seni dalam mencapai keseimbangan, keselarasan
dan keserasian lingkungan hidup melalui upaya pengembangan budaya perilaku sehat dan
pengelolaan lingkungan sehingga dicapai kondisi yang bersih, aman, nyaman, sehat dan
sejahtera terhindar dari gangguan penyakit, pencemaran dan kecelakaan, sesuai dengan harkat
dan martabat manusia. (Sudjono Soenhadji, 1994 )
Untuk menilai keadaan lingkungan dan upaya yang dilakukan untuk menciptakan lingkungan
sehat telah dipilih empat indikator, yaitu persentase keluarga yang memiliki akses air bersih,
presentase rumah sehat, keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar, Tempat Umum
dan Pengolahan Makanan (TUPM) .

Beberapa upaya untuk memperkecil resiko turunnya kualitas lingkungan telah
dilaksanakan oleh berbagai instansi terkait seperti pembangunan sarana sanitasi dasar,
pemantauan dan penataan lingkungan, pengukuran dan pengendalian kualitas lingkungan.

Pembangunan sarana sanitasi dasar bagi masyarakat yang berkaitan langsung dengan
masalah kesehatan meliputi penyediaan air bersih, jamban sehat, perumahan sehat yang
biasanya ditangani secara lintas sektor. Sedangkan dijajaran Dinas Kesehatan Kabupaten
Tangerang kegiatan yang dilaksanakan meliputi pemantauan kualitas air minum, pemantauan
sanitasi rumah sakit, pembinaan dan pemantauan sanitasi tempat-tempat umum (Hotel,
Terminal), tempat pengolahan makanan, tempat pengolahan pestisida dan sebagainya.

33

BAB II
PENGERTIAN

Upaya penyehatan lingkungan dan pemukiman adalah upaya untuk meningkatkan
kualitas kesehatan lingkungan dan pemukiman melalui upaya sanitasi dasar, pengawasan
mutu lingkungan dan tempat umum, termasuk pengendalian pencemaran lingkungan dengan
meningkatkan peran serta masyarakat dan keterpaduan pengelolaan lingkungan melalui
analisis dampak lingkungan.

Lingkungan pemukiman adalah tempat tinggal atau tempat hunian yang dilengkapi
dengan prasarana dan sarana lingkungan.
Tempat umum adalah tempat kegiatan bagi umum yang diselenggarakan oleh badan-
badan Pemerintah, Swasta atau Perorangan yang langsung digunakan masyarakat,
mempunyai tempat,sarana dan kegiatan yang tetap.
Penyehatan makanan adalah upaya untuk mengendalikan faktor makanan, orang,
tempat dan perlengkapannya yang dapat atau mungkin dapat menimbulkan penyakit atau
gangguan kesehatan lainnya.

Pendekatan PKMD adalah pendekatan sosio-edukatif dengan langkah-langkah

sebagai berikut :
1. Pertemuan tingkat kelurahan.
2. Survai Diri Masyarakat.
3. Musyawarah Masyarakat Kelurahan.
4. Pelalihan Kader.
5. Pelaksanaan Kader.
6. Pelaksanaan Upaya Kesehatan oleh Masyarakat.
7. Pembinaan & Pelestarian kegiatan

34

BAB III
TUJUAN

Tujuan Umum

Meningkatnya kondisi kesehatan lingkungan melalui upaya pengawasan dan
pengendalian semua unsur fisik, kimia, dan biologis yang terdapat dilingkungan dan
masyarakat yang dapat mempengaruhi derajat kesehatan.

Tujuan Khusus

Meningkatnya kualitas perumahan penduduk yang memenuhi syarat kesehatan.
Terbantunya penyediaan air bersih yang memenuhi syarat kesehatan, pengawasan kualitas air
bagi seluruh masyarakat, serta peningkatan kemampuan masyarakat dalam penyediaan dan
pemanfaatan sarana pembangunan kotoran yang memenuhi syarat kesehatan.
Tersedianya fasilitas pembuangan kotoran yang memenuhi syarat kesehatan, tidak

menimbulkan sarang lalat, nyamuk dan tikus, dan tidak memberi ―pandangan tidak sedap‖.

Terwujudnya kondisi tempat-tempat umum yang memenuhi syarat kesehatan, agar
masyarakat, pengunjung dan sekitarnya terhindar dari gangguan kesehatan.
Meningkatnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat dan perusahaan makanan dalam
mengelola makanan secara aman dan sehat agar terhindar dari penyakit dan keracunan.
Terjaminnya mutu lingkungan hidup yang dapat menjamin kesehatan masyarakat yang
optimal, bebas dari pengaruh buruk atas pengelolaan pestisida melalui upaya pencegahan dan
pengendalian pencemaran dan keracunan oleh pestisida.

35

BAB IV
KEGIATAN DAN SASARAN

KEGIATAN

Kegiatan-kegiatan utama kesehatan lingkungan yang harus dilakukan oleh Puskesmas
meliputi :

1. Penyehatan air
2. Penyehatan makanan dan minuman
3. Pengawasan pembuangan kotoran manusia
4. Pengawasan dan pembuangan sampah dan limbah
5. Penyehatan pemukiman
6. Pengawasan sanitasi tempat umum
7. Pengamanan polusi industri
8. Pengamanan pestisida
9. Klinik sanitasi

SASARAN

Penyehatan air :

1. Daerah dengan angka penyakit diare dan penyakit kulit tinggi
2. Daerah berpenghasilan rendah
3. Daerah penduduk padat dan kumuh
4. Penyehatan makanan dan minuman :
5. Tempat pengelolaan makanan (TPM) : jasa boga, restoran/rumah makan, sentral
makanan jajanan, pengrajin makanan/indsutri makanan rumah tangga, kantin
termasuk kantin sekolah, pedagang makanan kaki lima, tempat pengelolaan makanan
lainnya.
6. Keluarga
7. Pengawasan pembuangan kotoran manusia :
8. Daerah endemis penyakit perut dan penyakit kecacingan
9. Daerah-daerah dengan angka kepemilikan dan pemanfaatan jamban yang memenuhi
syarat kesehatan
10. Pengawasan dan Pembuangan Sampah dan Limbah :

36

11. Keluarga dan masyarakat di daerah yang angka kepadatan penduduk tinggi dan
produksi sampahnya cukup banyak
12. Daerah endemis penyakit perut (diare, gastroenteritis acuta) dan penyakit-penyakit
bersumber sampah

Penyehatan pemukiman :
1. Daerah dengan resiko terhadap kemungkinan penularan penyakit-penyakit diare,
kecacingan, TBC paru, ISPA, DBD dan Filariasis
2. Daerah dengan cakupan sanitasi dasarnya rendah
3. Daerah kumuh
4. Daerah pemukiman baru
5. Daerah risiko tinggi terhadap pencemaran

Pengawasan Sanitasi Tempat-tempat Umum :
1. Yang berhubungan dengan sasaran pariwisata, seperti Bioskop, Gedung Pertunjukan,
Hotel, Kolam renang, dsb.
2. Yang berhubungan dengan Transportasi, Terminal, Stasiun dan alat Transportasi
Umum, pool kendaraan
3. Yang berhubungan dengan sarana ibadah : Masjid, Gereja, Pura, Vihara
4. Yang berhubungan dengan sarana perdagangan : Pasar, Toko Swalayan, dsb
5. Yang berhubungan dengan sarana Perawatan/Pemeliharaan: Salon Kecantikan, Panti
Pijat, Tempat Pangkas Rambut, Klinik kesehatan, Puskesmas
6. Yang berhubungan dengan sarana sosial dan pendidikan: Lembaga Pemasyarakatan,
Panti Sosial, Sekolah, Rumah duka, penampungan tenaga kerja, dsb
7. Yang berhubungan dengan sarana olahraga, misal : pusat kebugaran, gelanggang
olahraga, dsb

Dalam melakukan kegiatan pengamanan lingkungan akibat pencemaran industry
diutamakan pada pemukiman sekitar daerah industri dan pemukiman yang mempunyai resiko
tinggi terhadap kemungkinan pencemaran industri.
Pengamanan pestisida :

1. Tempat pengelolaan Pestisida (TPP) yang menjadi tanggung jawab Puskesmas adalah
toko/kios pestisida, KUD.
2. Pengguna pestisida: Petani penyemprot hama pertanian di kebun dan sawah

37

Klinik Sanitasi :

1. Penderita penyakit yang berhubungan dengan masalah kesehatan lingkungan yang
datang ke Puskesmas
2. Masyarakat umum yang mempunyai masalah kesehatan lingkungan yang datang ke
Puskesmas
3. Lingkungan penyebab masalah bagi penderita dan masyarakat sekitarnya

38

BAB V
PELAKSANAAN KEGIATAN

PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU

Uraian Prosedur Pelayanan Kesehatan Lingkungan

A. Penyehatan Perumahan

Tujuan :

1. Termotivasinya masyarakat untuk memiliki / bertempat tinggal di rumah yang
memenuhi syarat kesehatan.
2. Terbantunya masyarakat / keluarga yang kurang mampu untuk membangun /
memiliki rumah sehat.
3. Terlaksananya pemberian penyuluhan tentang rumah sehat bagi keluarga.

Prinsip Kerja :
Memberikan pelayanan dan pembinaan secara profesional, ramah, berwibawa dan
terkoordinasi dengan lintas program / sektor yang terkait.

Sasaran :
Masyarakat di pemukiman kumuh, pemukiman baru perkotaan dan daerah aliran sungai
(DAS).

Kegiatan :

1. Pendataan.
2. Pelatihan dan pembinaan kader.
3. Pemeriksaan perumahan dan lingkungannya.
4. Penyuluhan.
5. Stimulan pembangunan sarana percontohan kesehatan.

Waktu :
Disesuaikan dengan jadwal kegiatan yang disusun.

Tenaga :

1. Dokter sebagai koordinator

39

2. Sanitarian sebagai pelaksana

Tempat :
Pemukiman yang akan menjadi sasaran kegiatan.

Kelengkapan administrasi :
1. Surat Tugas
2. Jadwal kegiatan

Peralatan kerja :
1. Formulir pemantauan.
2. Kartu rumah
3. Alat bantu penyuluhan seperti buku pegangan penyuluhan kesehatan lingkungan ,
poster, leaftlet, flip chard, dll.

Prosedur tetap :
1. Mengadakan pendekatan PKMD
2. Menyiapkan surat tugas
3. Kunjungan dan mengadakan wawancara dan inspeksi
4. Mengisi formulir pemantauan
5. Pencatatan dan pelaporan
6. Menyampaikan umpan balik

B. Penyehatan Air.

Tujuan :

1. Terpantaunya kualitas air meliputi air minum, air bersih, air kolam renang dan
pemandian umum, air badan air, dan air limbah
2. Meningkatnya kualitas air melalui perbaikan kualitas air, pencegahan pencemaran dan
percontohan perbaikan.
3. Meningkatnya peran serta masyarakat pemakai air.
4. Meningkatnya ketrampilan dan pengetahuan petugas dalam pengawasan dan
perbaikan kualitas air serta kemampuan dalam pembinaan masyarakat pemakai air
5. Meningkatnya kemampuan masyarakat dalam upaya penyehatan air.

40

Sasaran :

1. Masyarakat yang rawan air bersih
2. Masyarakat di daerah dengan penyakit diare dan penyakir-penyakit akibat jeleknya
sanitasi air cukup tinggi dan telah endemis.
3. Masyarakat di daerah percontohan dan pemukiman baru.

Kegiatan:

1. Pendataan
2. Inspeksi sanitasi khususnya untuk air bersih rumah tangga
3. Pengambilan dan pengiriman sampel air ke laboratorium
4. Pemeriksaan kualitas di lapangan (a.l sisa chlor dan pH)
5. Pencatatan dan pelaporan
6. Mengadakan rekomendasi, saran dan tindak lanjut berdasarkan hasil kualitas air.
7. Pengawasan kualitas air
8. Perbaikan kualitas air
9. Penggerakan peran serta masyarakat pemakai air
10. Pemantauan dan evaluasi

Waktu :
Disesuaikan dengan jadwal yang disusun atau apabila ada permasalahan.

Kelengkapan administrasi :
1. Buku pencatatan harian
2. Perlengkapan lai sesuai SP2tp dan program
3. Surat tugas
4. Jadwal

Tenaga :

1. Dokter sebagai koordinator
2. Sanitarian sebagai pelaksana

Tempat :
Lokasi tempat kegiatan dilaksanakan sesuai sasaran.

41

Peralatan :
1. Formulir
2. Buku pemeriksaan sanitasi
3. Water test kit
4. Alat pengambil sampel air
5. Field Tool Kit

Prosedur tetap :

1. Mengadakan pendekatan secara PKMD
2. Menyiapkan surat tugas
3. Mengadakan kunjungan sesuai jadwal
4. Inspeksi, wawancara, pemeriksaan dan mengisi formulir
5. Pengambilan dan pengiriman sampel ke laboratorium
6. Memberikan saran perbaikan terhadap hasil yang belum memenuhi syarat baik secara
lisan maupun tulisan
7. Pencatatan dan pelaporan
8. Evaluasi

C. Penyehatan Pembuangan Kotoran

Tujuan:

1. Termotivasinya masyarakat untuk menyediakan dan menggunakan sarana
pembuangan kotoran untuk keperluan rumah tangga.
2. Terlaksananya penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya penyehatan
pembuangan kotoran, sehingga masyarakat tahu, mampu dan mau menggunakan
sarana pembuangan sehat sehari-hari.
3. Terlaksananya penyuluhan tentang sanitasi pembuangan kotoran bagi rumah tangga,
dan masyarakat umum yang berkepentingan.

Prinsip kerja:

Memberikan pelayanan dan pembinaan secara professional, ramah, berwibawadan
terkoordinasi dengan lintas program / sector yang terkait.

42

Sasaran:

1. Masyarakat di daerah-daerah dengan angka kepemilikan dan pemanfaatan jamban
sehat rendah.
2. Masyarakat di daerah-daerah endemis penyakit perut dan cacing.

Kegiatan:

1. Pendataan
2. Penyuluhan
3. Pembangunan dan pengembangan sarana pembangunan kotoran
4. Pemantauan

Waktu :

Disesuaikan dengan jadwal yang telah disusun.

Tenaga :

1. Dokter sebagai koordinator.
2. Sanitarian sebagai pelaksana.

Tempat :

Lokasi kegiatan sesuai sasaran.

Kelengkapan administrasi :
1. Surat tugas
2. Jadwal kegiatan

Peralatan kerja :

1. Buku pegangan kader kesehatan lingkungan
2. Poster, leaflet, dll.
3. Komponen jamban
4. Peralatan yang diperlukan untuk membangun jamban

Prosedur kerja :
1. Pendekatan secara PKMD
2. Menyiapkan surat tugas

43

3. Mengadakan kegiatan
4. Mengisi formulir pemantauan
5. Pencatatan dan pelaporan
6. Menyampaikan umpan balik

D. Pengelolaan Pembuangan Sampah

Tujuan :

1. Termotivasinya keluarga dan masyarakat untuk menyediakan, menggunakan dan
memelihara sarana pembuangan sampah yang memenuhi syarat kesehatan.
2. Terlaksananya penyuluhan tentang pengelolaan sampah yang memenuhi syarat
kesehatan bagi rumah tangga dan masyarakat.
3. Terlaksananya pengawasan dan pembinaan sarana pembuangan sampah yang
memenuhi syarat kesehatan, serta tata-cara pembuangan sampah sesuai perundangan
yang berlaku.
4. Terbantunya keluarga dan masyarakat dalam mendapatkan, menggunakan sehari-hari
dan memelihara sarana untuk penanganan sampah yang memenuhi syarat kesehatan.

Prinsip kerja :

memberikan pelayanan dan pembinaan secara profesiaonal, ramah, berwibawa dan
terkoordinasi dengan lintas program/sector yang terkait.

Sasaran :

1. Masyarakat di daerah dengan angka kepadatan penduduk tinggi dan produksi sampah
yang cukup banyak.
2. Masyarakat di daerah endemis penyakit perut(diare, GE) dan penyakit-penyakit
bersumber sampah.

Kegiatan :

1. Pendidikan kesehatan hygiene dan sanitasi
2. Penyuluhan tentang penanganan sampah
3. Pemantauan melalui pemeriksaan tempat penampungan dan pembuangan sampah

Waktu :

Disesuaikan dengan jadual yang telah disusun

44

Tempat :

Lokasi kegiatan sesuai sasaran

Tenaga :

1. Dokter sebagai koordinator
2. Sanitarian sebagai pelaksana

Kelengkapan administrasi:
1. Surat tugas
2. Jadwal kegiatan

Peralatan kerja :
1. Formulir pemantauan
2. Alat bantu penyuluhan seperti seperti buku pegangan penyuluhan kesehatan
lingkungan, poster, leaflet, flip chart, dll.
3. Fly grill counter, senter, stop watch, dll.

Prosedur kerja:

1. Mengadakan pendekatan secara PKMD
2. Menyiapkan surat tugas
3. Mengadakan kegiatan
4. Mengisi formulir pemantauan
5. Pencatatan dan pelaporan
6. Menyampaikan umpan balik

E. Pengawasan Sanitasi Tempat-Tempat Umum

Tujuan :

1. Termotivasinya masyarakat dan pengelola TTU untuk menyediakan, menggunakan
dan memelihara sarana sanitasi yang memenuhi syarat kesehatan.
2. Terlaksananya penyuluhan tentang sanitasi yang memenuhi syarat kesehatan di TTU
bagi masyarakat dan pengelola TTU
3. Terlaksananya pengawasan dan pembinaan sarana sanitasi yang memenuhi syarat
kesehatan di TTU, sesuai peraturan perundangan yang berlaku.

45

Prinsip kerja :

Mengadakan pelayanan, pengawasan, pembinaan secara professional, ramah, berwibawa,
serta terkoordinasi dengan lintas sector/program lain yang terkait.

Sasaran :

1. Pengusaha / penanggung-jawab / pengelola sarana kepariwisataan seperti gedung
pertunjukan, penginapan, dll.
2. Pengusaha / penanggung-jawab / pengelola usaha transportasi seperti terminal, stasiun
dan alat transportasi umum.
3. Penanggung-jawab / pengelola sarana ibadah : masjid, gereja, pura, vihara.
4. Pengusaha / penanggung-jawab / pengelola sarana perawatan / pemeliharaan seperti :
salon kecantikan, panti pijat, tukang cukur, dll.
5. Pengusaha / penanggung-jawab / pengelola sarana perdagangan seperti : Pasar, dll.
6. Penanggung-jawab / pengelola sarana social seperti : Lembaga Pemasyarakatan.

Kegiatan :
1. Pendataan
2. Pemeriksaan sanitasi Tempat-Tempat Umum
3. Pengolahan, analisa dan pelaporan
4. Penyuluhan terhadap pengelola Tempat-Tempat Umum

Waktu :

Disesuaikan dengan jadwal kegiatan yang disusun

Tenaga :

1. Dokter sebagai koordinator
2. Sanitarian sebagai pelaksana

Tempat :

Lokasi kegiatan sesuai sasaran

Peralatan kerja:
1. Formulir pemeriksaan
2. Petunjuk teknis yang diterbitkan

46

3. Alat bantu penyuluhan
4. Peralatan lapangan seperti Sanitary Field Kit yang berisi a.l :
5. Water test kit
6. Thermometer
7. Hygrometer
8. Light meter
9. Sound level meter

Prosedur kerja:

1. Menghubungi pengelola / pengusaha / penanggungjawab / pengiriman surat
pemberitahuan
2. Menyiapkan surat tugas
3. Mengadakan kunjungan sesuai jadwal yang telah disusun
4. Mengadakan pemeriksaan dan mengisi formulir
5. Memberikan saran perbaikan terhadap hasil yang belum memenuhi syarat secara lisan
maupun tulisan
6. Pencatatan, pelaporan
7. Evaluasi

F. Penyehatan Makanan dan Minuman

Tujuan

1. Termotivasinya masyarakat dan pengelola perusahaan makanan untuk bekerja
memenuhi syarat kesehatan dalam penyiapan, pengelolaan, penyimpanan, penyajian
dan penanganan makanan dan minuman
2. Terlaksananya pemberian penyuluhan dan nasihat tentang hygiene dan sanitasi
makanan dan minuman bagi keluarga, perusahaan dan masyarakat yang memerlukan
3. Terlaksananya pengawasan dan pembinaan tentang hygiene dan sanitasi makanan dan
minuman perusahaan dan pengelolaan makanan dan minuman bagi orang banyak,
sesuai dengan perundangan yang berlaku
4. Terlaksananya tindakan pengamanan terhadap kejadian keracunan makanan dan
minuman

47

Prinsip kerja

Memberikan pelayanan dan pembinaan secara profesional, ramah, berwibawa, dan
terkoordinasi dengan lintas program / sektor yang terkait.

Sasaran

1. Ibu-ibu rumah tangga / masyarakat melalui organisasi masyarakat antara lain PKK,
LKMD, arisan, Pengajian ibu-ibu dan posyandu
2. Pengusaha/ penanggung jawab/ pengelola tempat pengolahan makanan, yang meliputi
3. Tempat pembuangan makanan, yang terdiri dari :
4. Jasaboga / catering
5. Industri kecil makanan
6. Tempat pembuangan makanan di asrama, panti, dapur umum, dll
7. Tempat penjualan makanan, yang terdiri dari :
8. Rumah makan
9. Pedagang kaki lima
10. Pedagang makanan keliling
11. Warung kopi
12. Kantin
13. Snack bar
14. Tempat penjualan makanan dingin, makanan terolah, makanan segar

Kegiatan :
1. Pendataan
2. Pemeriksaan
3. Penyuluhan

Waktu :
Disesuaikan dengan jadwal yang telah disusun atau apabila ada masalah

Kelengkapan administrasi :
1. Surat tugas
2. Jadwal kegiatan

48

Tenaga :

1. Dokter sebagai koordinator
2. Sanitarian sebagai pelaksana

Peralatan kerja :

1. Untuk administrasi seperti formulir, buku pencatatan, dll
2. Food inspection field kit
3. Alat bantu penyuluhan

Prosedur kerja :

1. Menghubungi pengelola / pengusaha / penanggung jawab / pimpinan organisasi /
pengiriman surat pemberitahuan
2. Menyiapkan surat tugas
3. Mengadakan kunjungan sesuai jadwal yang telah disusun
4. Mengadakan pemeriksaan dan mengisi formulir
5. Memberikan saran perbaikan terhadap hasil yang belum memenuhi syarat secara lisan
maupun tulisan
6. Pencatatan dan pelaporan
7. Evaluasi

G. Pengamanan Peredaran dan Penggunaan Pestisida

Tujuan :

1. Termotivasinya masyarakat dalam pengedaran dan penggunaan pestisida secara tepat
dan aman, serta memenuhi syarat kesehatan
2. Terlaksananya penyuluhan tentang pengamanan pengedaran dan penggunaan
pestisida yang memenuhi syarat kesehatan bagi rumah tangga dan masyarakat
3. Terlaksananya pengawasan dan pembinaan terhadap tata cara pengedaran dan
penggunaan pestisida di masyarakat yang memenuhi syarat kesehatan
4. Terbantunya masyarakat dalam pengamanan pengedaran dan penggunaan pestisida
sesuai peraturan perundangan yang berlaku

Prinsip kerja :
Memberikan pelayanan dan pembinaan secara profesional, ramah, berwibawa dan
terkoordinasi dengan lintas program / sektor yang terkait

49

Sasaran :

1. Pengusaha / penanggung-jawab / pengelola unit usaha pengedar pestisida seperti :
Toko / kios pestisida, KUD dan pergudangan pestisida
2. Pengusaha / penanggung jawab / pengelola / masyarakat pengguna pestisida seperti :
petani penyemprotan hama, perusahaan Pest Kontrol, penggunaan pestisida di lokasi
rumah tangga / Pest Kontrol

Kegiatan :

1. Terhadap unit usaha pengedar pestisida :
2. Pendataan TPP (Tempat Pengelola Pestisida)
3. Pemeriksaan
4. Penyuluhan / bimbingan perbaikan
5. Terhadap pengguna pestisida :
6. Pendataan
7. Penanggulangan dan Pencegahan keracunan akut
8. Penyuluhan

Waktu:
Disesuaikan dengan jadwal

Tenaga :

1. Dokter sebagai koordinator
2. Sanitarian sebagai pelaksana

Kelengkapan administrasi :
1. Surat tugas
2. Jadwal kegiatan

Peralatan kerja :

1. Buku pegangan kader, formulir, buku pencatatan, dll
2. Alat bantu penyuluhan seperti : alat-alat pelindung pestisida sebagai alat peraga,
poster, leaflet, dll

50

Prosedur kerja :

1. Menghubungi pengelola / pengusaha / penanggung-jawab / ketua RT-RW /
pengiriman surat pemberitahuan
2. Menyiapkan surat tugas
3. Mengadakan kunjungan sesuai jadwal yang telah disusun
4. Mengadakan pemeriksaan dan mengisi formulir
5. Memberikan saran perbaikan terhadap hasil yang belum memenuhi syarat secara lisan
maupun tulisan
6. Pencatatan dan pelaporan
7. Evaluasi

PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU

KEGIATAN

URAIAN KEGIATAN

PELAKSANA

Penyehatan air

Kegiatan pokok penyehatan air dalam pelaksanaan
Program Penyediaan dan pengelolaan air bersih yaitu
Pengawasan Kualitas Air, Perbaikan Kualitas Air dan
Pembinaan Pemakai Air. Untuk dapat melaksanakan
kegiatan pokok tersebut diperlukan kegiatan
pendukung yakni pengembangan sarana dan prasarana
pendukung yang terdiri atas pembinaan dan
pengembangan dan pemantapan informasi penyehatan
air. Hal ini juga melibatkan peran serta masyarakat.

Tim pengelola air
bersih Puskesmas
Pasar Minggu

Penyehatan Makanan
dan Minuman

Kegiatan pengawasan hygiene dan sanitasi makanan
dan minuman dilakukan sesuai jadwal yang ditetapkan
oleh Puskesmas pada tempat pembuatan dan penjualan
makanan dan minuman termasuk didalamnya para
penjamah makanan. Dalam hal ini petugas Puskesmas
melakukan evaluasi perihal kualitas makanan dan
minuman dari berbagai segi, yaitu bahan mentah, cara
pengolahan, cara penyajian dan para penjamah seperti
petugas pemasakan maupun penyajian sesuai dengan
wilayah kerja Puskesmas.

Tim Pengawasan
hygiene dan
sanitasi makanan
dan minuman
Puskesmas
Kelurahan dengan
monitoring dari
Puskesmas
Kecamatan Pasar
Minggu

Pengawasan
Pembuangan Kotoran

Melakukan penataan jumlah sarana pembuangan
kotoran yang ada, perkembangan jumlah, serta

Tim pengawas
pembuangan

51

Manusia

pemanfaatannya. Mencatat hasil pemantauan dalam
buku catatan. Membandingkannya dengan catatan
sebelum program dinilai adakah peningkatan jumlah
jamban maupun jumlah pemakainya.

kotoran
Puskesmas Pasar
Minggu

Pengawasan dan
Pembuangan Sampah
dan Limbah

Pengumpulan sampah dari masing-masing ruangan
dilakukan setiap hari oleh masing-masing petugas
cleaning service.
Setiap ruangan yang menghasilkan sampah infeksius
harus mempunyai kardus descartex dan tempat sampah
infeksius
berwarna kuning. Semua limbah B3 (Bahan
Berbahaya dan Beracun) dari Puskesmas Kecamatan
Mampang dapat diolah di Instansi Pengolahan Limbah.

Tim pengelola
dan pengawas
sampah dan
limbah Puskesmas
Pasar Minggu

Penyehatan Pemukiman Unsur-unsur yang diperiksa meliputi kesehatan rumah
(jendela/ventilasi, kelembaban, pencahayaan, tata
ruang, kepadatan penghuni), kebersihan pekarangan,
penempatan kandang ternak lingkungan perumahan
serta faktor kepadatan yaitu melihat ada tidaknya
tempat perindukan nyamuk, tikus dan lalat.
Gerakan PSNDBD 30 menit sekali seminggu (Setiap
Jumat) secara serentak di Provinsi DKI Jakarta dengan
memeriksa ada tidaknya jentik (Pemantauan Jentik
Berkala/PJB) dan dikaitkan dengan kejadian kasus
DBD di RW.
PENILAIAN terhadap JENTIK
JUMANTIK
Dilaksanakan di RW yang ada JUMANTIK
Seluruh bangunan diperiksa ada/tidaknya jentik/secara
total coverage.
Melakukan pemeriksaan jentik pada tempat perindukan
nyamuk di setiap rumah/ bangunan berdasarkan
tatanan.
Mencatat hasil pemeriksaan jentik dan melaporkan ke
Puskesmas Kelurahan/ Kecamatan.
Puskesmas Kelurahan/Kecamatan menganalisa dan
melaporkan bulanan ke Sudin Kesmas dan Sudin
Yankes dengan tembusan ke Posko PSN DBD RW,

Tim Puskesmas
Kecamatan Pasar
Minggu: Kepala
Puskesmas, dokter
dan stafnya yang
bertanggung
jawab terhadap
wilayah tertentu
dan co ass.
Tim wilayah
setempat: Kepala
Kelurahan, Ketua
RW, Ketua RT,
Jumantik dan
masyarakat
setempat.

52

Lurah dan Camat yang bersangkutan.
Non JUMANTIK
PJB oleh Puskesmas Kelurahan/Kecamatan
Pelaksana adalah petugas Puskesmas
Kelurahan/Kecamatan.
Menentukan sasaran RW lokasi sekaligus data jumlah
rumah/bangunannya masing-masing.
Menyusun jadwal random sampling untuk 100
rumah/bangunan sampling di setiap RW sasaran.
Melakukan pemeriksaan jentik pada tempat perindukan
nyamuk di setiap rumah/bangunan sampling.
Mencatat dan menganalisa hasil pemeriksan jentik dan
per RW.
Melaporkan hasil setiap 3 bulanan ke Sudin Kesmas
dan Sudin Yankes dengan tembusan Posko DBD RW,
Lurah dan Camat yang bersangkutan.
Integrasi pengawasan kualitas lingkungan
Pelaksana sanitarian Puskesmas Kelurahan/Kecamatan
sesuai jadwal bulanan.
Setiap sasaran yang sama diulang 6 tahun berikutnya.
Khusus kegiatan pemeriksaan jentik pada tempat
perindukan nyamuk di setiap sasaran dicatat dan
dianalisa sesuai lokasi RW.
Melaporkan hasilnya ke Sudin Kesmas dan Sudin
Yankes secara bulanan.

Pengawasan Sanitasi
Tempat-tempat Umum Kegiatan pembinaan tempat-tempat umum dilakukan
oleh tim dari Puskesmas Kecamatan Mampang dengan
bantuan dari Puskesmas Kelurahan. Kegiatan secara
rutin diadakan pada triwulan pertama dan keempat
pada setiap tahunnya dengan melakukan pemantauan
serta memberikan penyuluhan kepada pengelola
tempat-tempat umum seperti bioskop, tempat rekreasi,
sekolah, dan lain-lain.

Tim pengelolaan
dan pembinaan
tempat-tempat
umum Puskesmas
Kecamatan Pasar
Minggu di bawah
pengawasan Tim
Kesehatan
Lingkungan.

Pengamanan
Lingkungan akibat

Unsur-unsur yang diperiksa secara kualitatif dan
kuantitatif berkaitan dengan bahaya pencemaran

Tim pengawas
pengamanan

53

Pencemaran Industri

potensial yang berasal dari industry meliputi sumber
air, udara, tanah dan iklim serta kebisingan di sekitar
industri.

lingkungan
Puskesmas Pasar
Minggu.

Pengamanan Pestisida

Tim pengendali hama bekerja setelah melihat check
list dan mendapat laporan dari Kepala Unit atau PJ
Ruangan tentang keberadaan hama atau tanda-tanda
keberadaan hama
.
Cara pengendalian hama :
Secara fisik: dengan menggunakan perangkap, ligh
trap, ultra sonic.
Secara kimia: dengan menggunakan pestisida (umpan
beracun, sprayer, fogging).

Tim pengendali
hama Puskesmas
Pasar Minggu

54

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Dari berbagai program pemerintah mengenai kesehatan lingkungan, seluruhnya telah
dilaksanakan oleh Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu. Puskesmas Kecamatan Pasar
Minggu dalam hal ini dapat berperan sebagai pengawas maupun sebagai pelaksana kegiatan
secara langsung. Kegiatan kesehatan lingkungan di Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu
meliputi Penyehatan Air, Penyehatan Makanan dan Minuman, Pengawasan pembuangan
kotoran manusia, Pengawasan dan pembuangan sampah dan limbah, Penyehatan pemukiman
(termasuk Pemberantasan Sarang Nyamuk melalui kegiatan Gerakan Jumat Sehat yang
diadakan tiap hari Jumat), Pengawasan sanitasi tempat umum, Pengamanan polusi industri
dan Pengamanan pestisida. Dalam pelaksanaannya Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu
dibantu oleh Puskesmas Kelurahan, yaitu Puskesmas Kelurahan Kebagusan, Ragunan,
Pejaten Timur, Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jati Padang, dan Cilandak Timur.

Saran

Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu dengan kedudukan sebagai Puskesmas Pembina
diharapkan dapat lebih membina peran serta dan memonitoring kinerja dari Puskesmas
Kelurahan setempat dalam rangka melaksanakan berbagai program kesehatan lingkungan,
bahkan jika diperlukan dapat dilakukan berbagai pelatihan kepada para petugas terkait
sebelum waktu pelaksanaannya di lapangan. Dengan adanya koordinasi yang baik antara tim
monitoring dan petugas lapangan maka diharapkan seluruh cakupan program kerja dapat
terlaksana dan diperoleh hasil yang lebih baik.

55

DAFTAR PUSTAKA

Standarisasi Pelayanan Kesehatan Puskesmas di DKI Jakarta Pemerintah Daerah Khusus Ibu
Kota Jakarta. Jakarta. P25-38

56

UPAYA KESEHATAN IBU DAN ANAK
SERTA KB

PENYUSUN:

SYAHRINNAQUIAH SAMSUDDIN (030.06.349)

MOHD ZAIRI B ZABRI

(030.06.320)

57

UPAYA KESEHATAN IBU DAN ANAK (KIA)

BAB I

PENDAHULUAN

Upaya kesehatan Ibu dan Anak adalah upaya di bidang kesehatan yang menyangkut
pelayanan dan pemeliharaan ibu hamil, ibu bersalin, ibu menyusui, bayi dan anak balita serta
anak prasekolah. Pemberdayaan Masyarakat bidang KIA merupakan upaya memfasilitasi
masyarakat untuk membangun sistem kesiagaan masyarakat dalam upaya mengatasi situasi
gawat darurat dari aspek non klinis terkait kehamilan dan persalinan. Kesehatan ibu dan anak
merupakan salah satu perhatian dari World Health Organisation (WHO) karena angka
kematian ibu dan anak merupakan bahagian dari negara Asean yang mempunyai angka
kematian Ibu dan Anak yang masih tinggi dibandingkan dengan negara lain.

Menurut SDKI angka kematian ibu (AKI) di Indonesia 307 per 100.000 kelahiran
hidup yaitu 3-6 kali lebih tinggi dari negara ASEAN lainnya. AKI di Indonesia bahkan lebih
jelek dari negara Vietnam yaitu 95 per 100.000 kelahiran hidup. AKI di Indonesia sekitar
18.000 setiap tahun yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan, hal ini berarti setiap
setengah jam seorang perempuan meninggal yang berhubungan dengan kehamilan dan
persalinan, hal ini berarti setiap setengah jam seorang perempuan meninggal yang
berhubungan dengan kehamilan, persalinan dan nifas. Kematian ibu tersebut erat kaitannya
dengan karakteristik ibu yang meliputi umur, pendidikan, paritas dan perilaku yang
berpengaruh terhadap kondisi kesehatan ibu selama hamil yang dapat mempengaruhi proses
persalinan normal atau patologis. Resiko terjadi komplikasi pada persalinan terjadi 12% pada
usia kurang dari 20 tahun dan 26% pada usia 40 tahun. Sementara kematian ibu karena
komplikasi persalinan akibat perdarahan sebelum dan sesudah persalinan meningkat dengan
bertambahnya paritas.

Hasil penelitian Felly dan Snewe, 25,5 % responden yang mengalami persalinan
patologis yang terbesar adalah akibat komplikasi persalinan dengan partus lama. Dari
kejadian persalinan patologis tersebut 27,5 % terjadi pada responden yang berumur lebih dari
35 tahun, dan pemeriksaan kehamilan kurang dari 4 kali. Bila kondisi kesehatan ibu selama
hamil tidak baik, ibu mempunyai resiko 3,2 kali mengalami komplikasi dalam persalinan.

58

Penelitian Sibuea dari 366 ibu yang mengalami persalinan patologis tindakan seksio sesaria
akibat partus tidak maju sebanyak 226 (50,33%) dan (81,5%) tidak melakukan perawatan
tehadap kehamilan. Kematian akibat pesalinan patologis lebih rendah pada umur 20-30 tahun
dan jumlah paritas rendah dari pada ibu yang kurang dari 20 tahun. Tingkat pendidikan yang
rendah pada persalinan patologis lebih tinggi dari pendidikan perguruan tinggi.

Penelitian Ridwan dan Wahyuni komplikasi persalinan yang mengakibatkan
persalinan patologis adalah perilaku ibu selama hamil yang pemeriksaan kehamilan kurang
dari empat kali, tidak makan tablet zat besi dan asupan gizi yang kurang, mengakibatkan ibu
mengalami anemia. Bila ibu mengalami anemia dapat mengakibatkan komplikasi pada
kehamilan dan persalinan yaitu perdarahan sebelum dan sesudah melahirkan, gangguan
kontraksi rahim, partus lama, kurang daya tahan tubuh terhadap infeksi dan produksi air susu
ibu kurang. Penelitian lain tentang perilaku senam selama kehamilan menunjukkan bahwa ibu
yang melakukan senam hamil mengalami persalinan lebih cepat dibanding dengan ibu hamil
yang tidak melakukan senam hamil, karena senam hamil dapat meningkatkan aliran darah ke
uterus, membantu ibu hamil memperoleh power sehingga melancarkan proses persalinan.

Gulardi H, menyatakan AKI dapat diturunkan sekitar 317 (85%) dari AKI saat ini,
jika ibu berperilaku hidup sehat selama kehamilan yaitu merawat kehamilan dengan baik
melalui asupan gizi yang baik, memakan tablet zat besi, melakukan senam hamil, perawatan
jalan lahir, menghindari merokok dan makan obat tanpa resep. Melakukan kunjungan
minimal empat kali untuk mendapat informasi dari petugas kesehatan tentang perawatan yang
harus dilakukan. Asuhan persalinan yang diberikan pada ibu selama persalinan sejak kala
satu, dua, tiga dan empat, menentukan jenis persalinannya apakah normal, atau patologis.
adapun asuhan yang diberikan adalah informasi tentang proses persalinan, perawatan selama
persalinan, tindakan persalinan dan dukungan persalinan dari keluarga dan petugas. Letsi
menyatakan hanya 2 dari 10 persalinan memerlukan tindakan spesialis kebidanan, atau
sekitar 10-15% proses kehamilan dan persalinan berakhir dengan patologis. Ini erat kaitannya
dengan perawatan ibu selama masa kehamilan dan persalinan kurang baik, sehingga dalam
persalinan banyak mengalami masalah bahkan komplikasi sehingga persalinan menjadi
patologis.

Tingginya kejadian persalinan patologis diakibatkan oleh tiga terlambat yaitu
terlambat melihat tanda-tanda bahaya kehamilan, terlambat mengambil keputusan untuk

59

merujuk, terlambat memperoleh asuhan asuhan persalinan yang tepat setelah sampai di sarana
kesehatan. Selain itu karakteristik ibu juga dapat mempengaruhi persalinan patologis, yang
dikenal dengan empat terlalu yaitu: terlalu muda melahirkan anak, dimana panggul ibu belum
tumbuh secara sempurna sehingga kepala tidak dapat melewati jalan lahir, terlalu tua
melahirkan. Ibu yang melahirkan anak pertama lebih dari umur 35 tahun jalan lahir menjadi
kaku sehingga sulit anak sulit lahir, terlalu banyak melahirkan anak dan terlalu sering
melahirkan (jarak <2 tahun). Kondisi tersebut dapat mengakibatkan gangguan kontraksi
uterus, sehingga dapat mengakibatkan perdarahan setelah persalinan. Di Indonesia kejadian
persalinan patologis 65 % terjadi disebabkan pada salah satu dari empat T tersebut diatas.
Selain itu kurangnya partisipasi masyarakat karena tingkat pendidikan, sosial ekonomi dan
kedudukan wanita dalam keluarga masih rendah, serta sosial budaya yang tidak mendukung.

WHO mengembangkan konsep melalui empat pilar safe motherhood yaitu keluarga
berencana, asuhan antenatal, persalinan bersih dan aman serta pelayanan obstetri dasar.
Tujuan upaya ini adalah untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu hamil, bersalin
dan nifas, disamping menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi baru lahir. Untuk
mencapai tujuan tersebut Depkes RI melakukan upaya safe motherhood yaitu berupaya
menyelamatkan wanita agar setiap wanita yang hamil dan bersalin dapat dilalui dengan sehat
dan aman serta menghasilkan bayi yang sehat dan aman. Di Indonesia kejadian persalinan
patologis dengan tindakan seksio sesaria meningkat terus, baik di rumah sakit pendidikan,
maupun rumah sakit swasta. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Gulardi dan
Basamalah terhadap 64 rumah sakit di Jakarta tercatat 17.665 kelahiran hidup, sekitar 35,7-
55,3 % melahirkan dengan seksio sesaria. Di Rumah Sakit Umum Cipto Mangunkusumo
Jakarta pada tahun 1999-2000 dari 404 persalinan per bulan 30 % seksio sesaria. Sementara
di Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan tahun 2005-2006 tercatat dari 712 persalinan, 45,4
% diantaranya adalah persalinan patologis bedah sesaria dan vakum.

Rumah Sakit Umum Sari Mutiara Medan adalah salah satu rumah sakit swasta yang
dipercayakan menerima pasien Jamsostek, Askeskin dan pasien umum. Di rumah sakit ini
angka persalinan patologis juga cukup tinggi yaitu 631 persalinan tahun 2004, 64 %
diantaranya persalinan patologis dan tahun 2005 dari 551 persalinan 67 % merupakan
persalinan patologis. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding dengan angka standar yang
ditetapkan oleh Departemen Kesehatan yaitu sebanyak 15 % bagi rumah sakit swasta (Data

60

Rekam Medik RS Sari Mutiara, 2004 dan 2005). Mengingat pentingnya kesehatan ibu dan
bayi pada tanggal 12 Oktober 2000, pemerintah telah mencanangkan Making Pregnancy
Safer
(MPS), Gerakan Nasional Kehamilan yang aman melindungi hak reproduksi dan hak
azazi manusia dengan cara mengurangi beban kesalahan, kecacatan, kematian, yang
berhubungand dengan kehamilan dan persalinan. Oleh karena itu Departemen Kesehatan
melalui dinas kesehatan propinsi menganjurkan kepada setiap penolong persalinan baik di
klinik, puskesmas maupun rumah sakit harus mendapatkan pelatihan dan mempunyai
sertifikat Asuhan Persalinan Normal (APN) supaya ibu mendapat asuhan yang tepat sejak
kala satu, dua, tiga dan empat selama persalinan sehingga persalinan dapat berlangsung
normal.

61

BAB II

PENGERTIAN

Upaya kesehatan ibu dan anak adalah upaya dibidang kesehatan yang melakukan
pelayanan dalam upaya memelihara kesehatan ibu hamil secara teratur dan terus menerus
selama kehamilan, persalinan, maupun nifas, meneteki serta pemeliharaan anak dari mulai
lahir sampai masa pra sekolah.

Pemberdayaan Masyarakat bidang KIA merupakan upaya memfasilitasi masyarakat
untuk membangun sistem kesiagaan masyarakat dalam upaya mengatasi situasi gawat darurat
dari aspek non klinis terkait kehamilan dan persalinan

Dalam pengertian ini tercakup pula pendidikan kesehatan kepada masyarakat, pemuka
masyarakat, pemuka masyarakat serta menambah keterampilan para dukun bayi serta
pembinaan kesehatan akan di taman kanak-kanak.

62

BAB III

TUJUAN

Tujuan Umum

Tercapainya kemampuan hidup sehat melalui peningkatan derajat kesehatan yang
optimal bagi ibu dan keluarganya untuk atau mempercepat pencapaian target Pembangunan
Kesehatan Indonesia yaitu Indonesia Sehat 2015, serta meningkatnya derajat kesehatan anak
untuk menjamin proses tumbuh kembang optimal yang merupakan landasan bagi peningkatan
kualitas manusia seutuhnya.

Tujuan Khusus

a. Meningkatnya kemampuan ibu (pengetahuan, sikap dan perilaku) dalam mengatasi
kesehatan diri dan keluarganya dengan menggunakan teknologi tepat guna dalam upaya
pembinaan kesehatan keluarga, Desa Wisma, penyelenggaraan Posyandu dan sebagainya.
b. Meningkatnya upaya pembinaan kesehatan balita dan anak prasekolah secara mandiri di
dalam lingkungan keluarga, Desa Wisma, Posyandu dan Karang Balita, serta di sekolah
TK.

c. Meningkatnya jangkauan pelayanan kesehatan bayi, anak balita, ibu hamil, ibu bersalin,
ibu nifas dan ibu menyusui.
d. Meningkatnya mutu pelayanan kesehatan bagi ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, ibu
menyusui, bayi dan anak balita.
e. Meningkatnya kemampuan dan peran serta masyarakat, keluarga dan seluruh anggotanya
untuk mengatasi masalah kesehatan ibu, balita, anak prasekolah, terutama melalui
peningkatan peran ibu dalam keluarganya.

63

BAB IV

KEGIATAN DAN SASARAN

KEGIATAN DAN SASARAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU

A. Kegiatan

I. Pelayanan Kesehatan Ibu

a) Pelayanan ANC (Ante Natal Care) atau Asuhan Keperawatan Kehamilan
b) Kunjungan pertama harus memenuhi persyaratan 5 T atau memenuhi pemeriksaan

kadar Hb.

c) Kunjungan ulang minimal 4 kali selama kehamilan yaitu pada trimester pertama
sebanyak 1 kali, trimester kedua sebanyak 1 kali dan trimester ketiga sebanyak 2 kali.
Pada ibu hamil dengan resiko tinggi, pemeriksaan dilakukan lebih sering dan intensif.

II. Pelayanan Kesehatan Neonatal

a) Perawatan bayi baru lahir
Penanganan bayi segera setelah lahir
- Usahakan bernafas spontan
- Menjaga bayi tetap hangat
Perawatan lanjutan pada bayi baru lahir
- Dilakukan rawat gabung (rooming in) yaitu ibu dan bayi berada dalam satu

ruangan
b) Perawatan neonatal dini (1-7 hari)
Timbang, pantau keadaan umum, mekonium keluar dalam 24 jam pertama
c) Pelayanan neonatal lanjut (8-28 hari)
Timbang, imunisasi, pantau keadaan umum
Bila terjadi penyulit segera dirujuk
Kunjungan rumah bagi yang memerlukan

III. Pelayanan Kesehatan Dasar Balita dan Anak Pra Sekolah

a) Pelayanan kesehatan dasar
Pemeriksaan berkala fisik dan tumbuh kembang
- Umur 1 bulan – 11 bulan: 4 kali
- Umur 1 tahun – 2 tahun : 3 kali
- Umur 2 tahun – 6 tahun : 2 kali
Imunisasi dasar

- BCG, DPT (3 kali), Polio (4 kali), Campak dan Hepatitis (sesuai protap)
Konsultasi dokter ahli

64

Rujukan kasus
b) Pemantauan gizi balita
Timbang badan dan pantau dengan KMS
Pemberian vitamin A setiap 6 bulan (Februari dan Agustus)
Pemberian sirup FE
c) Deteksi dan stimulasi tumbuh kembang
Dipantau sesuai kelompok umur
- 1 – 3 bulan
- 3 – 6 bulan
- 6 – 9 bulan
- 9 – 12 bulan
- 1 – 2 tahun
- 2 – 3 tahun
- 3 – 4 tahun
- 4 – 5 tahun
Konsultasi dokter ahli
Rujukan khusus ulang
d) Pengobatan ringan infeksi, diare, dan gangguan makan
e) Membuat pencatatan dan pelaporan

B. Sasaran

I. Pelayanan Kesehatan Ibu

a) Langsung : Ibu hamil, bersalin dan nifas
b) Tidak langsung : Masyarakat ( Tokoh, Kader, Petugas) dan keluarga ibu hamil

II. Pelayanan Kesehatan Anak

Bayi, balita dan anak sekolah

65

BAB V
PELAKSANAAN KEGIATAN

PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU

No

Jenis Kegiatan

Sasaran

Tempat

Waktu

Pelaksana

1. Pemeriksaan ANC Ibu hamil

- Puskesmas-Poli KIA
- Posyandu
- Rumah ibu

Sesuai dengan
jam kerja
puskesmas

- Dokter
- Bidan
- Perawat

2. Pelayanan ibu
bersalin

Ibu hamil

- Puskesmas- Ruang
bersalin (VK)

Sepanjang
waktu

- Dokter
- Bidan
- Perawat

3. Pelayanan ibu
nifas

Ibu nifas

- Rumah ibu nifas

Pada minggu
pertama dan
kedua masa
nifas

- Bidan
- Perawat

4. Perawatan bayi
baru lahir

Neonatus

- Puskesmas-Poli KIA
- Posyandu
- Rumah ibu

Sesuai dengan
jam kerja
puskesmas

- Bidan
- Perawat

5. Perawatan
neonatal dini (1-7
hari)

Neonatus

- Puskesmas-Poli KIA
- Posyandu
- Rumah ibu

Sesuai dengan
jam kerja
puskesmas

- Bidan
- Perawat

6. Perawatan
neonatal lanjut (8-
28 hari)

Neonatus

- Puskesmas-Poli KIA
- Posyandu
- Rumah ibu

Sesuai dengan
jam kerja
puskesmas

- Bidan
- Perawat

7. Pelayanan
kesehatan dasar
anak

- 1-11 bln
- 1-2 thn
- 2-6 thn

- Puskesmas-Poli KIA
- Posyandu
- Taman Kanak-kanak
- Kelompok bina
keluarga balita
- Tempat penitipan anak

Sesuai dengan
jam kerja
puskesmas

- Dokter
- Bidan
- Perawat

8. Pemantauan gizi
balita

Balita

- Puskesmas-Poli KIA
- Posyandu
- Taman Kanak-kanak
- Kelompok bina
keluarga balita
- Tempat penitipan anak

Sesuai dengan
jam kerja
puskesmas

- Bidan

66

9. Deteksi dan
stimulasi tumbuh
kembang

- 1-3 bln
- 3-6 bln
- 6-9 bln
- 9-12 bln
- 1-2 thn
- 2-3 thn
- 3-4 thn
- 4-5 thn

- Puskesmas-Poli KIA
- Posyandu
- Taman Kanak-kanak
- Kelompok bina
keluarga balita
- Tempat penitipan anak

Sesuai dengan
jam kerja
puskesmas

- Dokter
- Bidan
- Kader

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN

Upaya wajib KIA dapat memberikan masyarakat kesempatan untuk memahami
kondisi mereka dan melakukan aksi dalam mengatasi masalah mereka ini disebut dengan
pendekatan belajar dan melakukan aksi bersama secara partisipatif (Participatory Learning
and Action -PLA
). Pendekatan ini tidak hanya memfasilitasi masyarakat untuk menggali dan
mengelola berbagai komponen, kekuatan-kekuatan dan perbedaan-perbedaan, sehingga setiap
orang memiliki pandangan yang sama tentang penyelesaian masalah mereka, tetapi
pendekatan ini juga merupakan proses mengorganisir masyarakat sehingga mereka mampu
untuk berpikir dan menganalisa dan melakukan aksi untuk menyelesaikan masalah mereka.
Ini adalah proses pemberdayaan masyarakat sehingga mereka mampu melakukan aksi untuk
meningkatkan kondisi mereka. Jadi, ini merupakan proses dimana masyarakat merubah diri
mereka secara individual dan secara kolektif dan mereka menggunakan kekuatan yang
mereka miliki dari energi dan kekuatan mereka.

SARAN

Puskesmas harus lebih mendekatkan pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat
dalam upaya peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi masalah-
masalah kesehatan, memandirikan masyarakat dalam mengembangkan perilaku hidup bersih
dan sehat. Selain itu, puskesmas harus menjadikan program-program KIA sebagai budaya
masyarakat agar angka kematian ibu dan anak dapat menurun.

67

UPAYA WAJIB KELUARGA BERENCANA (KB)
BAB 1
PENDAHULUAN

Indonesia adalah salah satu Negara yang menghadapi masalah di bidang
kependudukan, yaitu masih tingginya tingkat pertumbuhan penduduk. Keadaan yang
demikian telah mempersulit usaha peningkatan dan pemerataan kesejahteraan masyarakat.
Semakin tinggi tingkat pertumbuhan penduduk, maka makin besar pula usaha yang harus
dilakukan untuk mempertahankan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah
berupaya untuk mengurangi tingkat pertumbuhan penduduk ini dengan program keluarga
berencana.

Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu pelayanan kesehatan preventif yang
paling dasar dan utama bagi wanita, meskipun tidak selalu diakui demikian. Peningkatan dan
perluasan pelayanan keluarga berencana merupakan salah satu usaha untuk menurunkan
angka kesakitan dan kematian ibu yang sedemikian tinggi akibat kehamilan yang dialami
oleh wanita. Banyak wanita harus menentukan pilihan kontrasepsi yang sulit, tidak hanya
karena terbatasnya jumlah metode yang tersedia tetapi juga karena metode-metode tertentu
mungkin tidak dapat diterima sehubungan dengan kebijakan nasional KB, kesehatan
individual dan seksualitas wanita atau biaya untuk memperoleh kontrasepsi .

Pelayanan Keluarga Berencana yang merupakan salah satu didalam paket Pelayanan
Kesehatan Reproduksi Esensial perlu mendapatkan perhatian yang serius, karena dengan
mutu pelayanan Keluarga Berencana berkualitas diharapkan akan dapat meningkatkan tingkat
kesehatan dan kesejahteraan. Dengan telah berubahnya paradigma dalam pengelolaan
masalah kependudukan dan pembangunan dari pendekatan pengendalian populasi dan
penurunan fertilitas menjadi pendekatan yang berfokus pada kesehatan reproduksi serta hak
reproduksi. Maka pelayanan Keluarga Berencana harus menjadi lebih berkualitas serta
memperhatikan hak-hak dari klien/ masyarakat dalam memilih metode kontrasepsi yang
diinginkan\

68

Sistem kesiagaan merupakan sistem tolong-menolong, yang dibentuk dari, oleh dan
untuk masyarakat, dalam hal penggunaan alat transportasi/ komunikasi (telepon genggam,
telpon rumah), pendanaan, pendonor darah, pencatatan-pemantaun dan informasi KB.
Program keluarga berencana dilaksanakan atas dasar suka- rela serta tidak bertentangan dengan
agama, kepercayaan dan moral Pancasila. Dengan demikian maka bimbingan, pendidikan serta
pengarahan amat diperlukan agar masyarakat dengan kesadarannya sendiri dapat menghargai
dan, menerima pola keluarga kecil sebagai salah satu langkah utama untuk meningkatkan
kesejahteraan hidupnya. Oleh karena itu pelaksanaan program keluarga berencana tidak hanya
menyangkut masalah tehnis medis semata-mata, melainkan meliputi berbagai segi penting
lainnya dalam tata hidup dan kehidupan masyarakat.

Program keluarga berencana ini dilaksanakan dengan menggunakan metode
kontrasepsi. Kontrasepsi adalah metode untuk mencegah kehamilan. Dengan metode ini
maka jumlah dan jarak kehamilan dapat diatur. Dengan program keluarga berencana
diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

69

BAB II
PENGERTIAN

Keluarga berencana adalah perencanaan kehamilan sehingga kehamilan hanya terjadi
pada saat di inginkan oleh suami dan istri. Dapat juga diartikan mengatur jumlah anak sesuai
kehendak dan menentukan sendiri kapan saatnya hamil.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, maksud daripada ini adalah gerakan untuk
membentuk keluarga yang sehat dan sejahtera dengan membatasi kelahiran. Dengan kata lain
KB adalah perencanaan jumlah keluarga. Pembatasan bisa dilakukan dengan penggunaan
alat-alat kontrasepsi atau penanggulangan kelahiran seperti kondom, spiral, IUD dan
sebagainya

Menurut BKKBN keluarga berencana artinya mengatur jumlah anak sesuai kehendak
dan menentukan sendiri kapan saatnya hamil atau salah satu usaha masalah kependudukan
sekaligus merupakan bagian yang terpadu dalam program Pembangunan Nasional dan
bertujuan untuk turut serta menciptakan kesejahteraan ekonomi, spiritual, social budaya
penduduk Indonesia agar dapat dicapai keseimbangan yang baik dengan kemampuan
produksi Nasional.

Menurut undang-undang No. 10/1992, keluarga berencana merupakan Upaya
peningkatkan kepedulian masyarakat dalam mewujudkan keluarga kecil yang bahagia
sejahtera. KB merupakan suatu usaha untuk menjarangkan atau merencanakan jumlah dan
jarak kehamilan dengan memakai kontrasepsi.

Menurut WHO, KB merupakan tindakan yg membantu individu/ pasutri untuk:
Mendapatkan objektif-obketif tertentu, menghindari kelahiran yang tidak diinginkan,
mendapatkan kelahiran yang diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan dan
menentukan jumlah anak dalam keluarga.

70

BAB III

TUJUAN

Tujuan Umum

Meningkatnya kesejahteraan ibu dan anak serta keluarga dalam rangka mewujudkan
keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera melalui peningkatan mutu pelayanan medis dan
pengayoman medis kontrasepsi, pemakaian MKET, peningkatan fungsi pengayoman medis
MKET serta penanggungulangan kasus infertilitas.

Tujuan Khusus

a) Meningkatnya kesejahteraan ibu dan anak
b) Meningkatnya harapan hidup
c) Berkurangnya angka kematian bayi
d) Berkurangnya angka kematian ibu hamil

71

BAB IV

KEGIATAN DAN SASARAN

KEGIATAN DAN SASARAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU

A. Kegiatan

a) KIE

Pemberian KIE medis mengenai bebagai jenis alat, obat kontrasepsi antara
lain cara kerja, efek samping, penyulit yang mungkin terjadi serta cara
penanggulangannya.

b) Pelayanan medis

Konseling pra pelayanan ( KIE)
Pelayanan medis

- Pemasangan alat kontrasepsi/pemberian obat kontrasepsi yang
diinginkan
- Deteksi dini kelainan kesehatan reproduksi ibu (Pap smear)
- Penanggulangan infertilitas

c) Pengayoman medis

Berupa simulasi pengayoman medis kontrasepsi efektif terpilih ( Siyomeket)

d) Rujukan

B. Sasaran

a) Langsung: Ibu pada masa interval, PUS yang mempunyai masalah.
b) Tidak langsung: WUS, Kader kesehatan, Tokoh masyarakat/agama, Petugas

kesehatan

72

BAB V
PELAKSANAAN KEGIATAN

PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU

1. KIE

- Ibu pada
masa
interval
- PUS yang
mempunyai
masalah

- Puskesmas-Poli KB
- Posyandu

Sesuai
dengan jam
kerja
puskesmas

- Dokter
- Bidan
- Perawat

2. Pelayanan medis - Ibu pada
masa
interval
- PUS yang
mempunyai
masalah

- Puskesmas-Poli KB
- Posyandu

Sesuai
dengan jam
kerja
puskesmas

- Dokter
- Bidan
- Perawat

3. Penganyoman
medis dan rujukan - Ibu pada
masa
interval
- PUS yang
mempunyai
masalah

- Puskesmas-Poli KB
- Posyandu

Sesuai
dengan jam
kerja
puskesmas

- Dokter
- Bidan
- Perawat

73

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN

Dengan adanya program KB yang didukung dengan strategi pendekatan dan cara
operasional program pelayanan KB diharapkan dapat menurunkan angka kelahiran dan
meningkatkan kesehatan ibu sehingga di dalam keluarganya akan berkembang Norma
Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS). Dalam upaya pencegahan kehamilan dan dalam
rangka gerakan Keluarga Berencana Nasional dapat dicapai salah satunya dengan KB suntik
3 bulanan dan dari melihat kasus/asuhan kebidanan diatas dapat diketahui bahwa KB suntik 3
bulanan dapat mengalami masalah Amenorhoe.

SARAN

Penyebarluasan informasi yang tepat tentang KB dapat membantu masyarakat menuju
Keluarga Berencana dan sejahtera selain itu dibutuhkan juga peran serta aktif dari bidan
sebagai tenaga kesehatan dan juga masyarakat pasangan usia subur sebagai pengguna.

74

DAFTAR PUSTAKA

1. Depkes RI; Standarisasi Pelayanan Puskesmas di DKI Jakarta; 2010; Jakarta; Hal. 7-

18

2. Depkes RI; Pedoman Pendataan Puskesmas; 2006; Jakarta; Hal. 45-47
3. Scott, James R. Dkk. 2002. Danforth buku saku obstetric dan ginekologi. Jakarta:
Widya medika.
4. Prawirohardjo, Sarwono. 2003. Buku panduan praktis pelayanan kontrasepsi. Jakarta:
Yayasan bina pustaka.
5. Prof dr. Abdul Bari Saifuddin SpOg. MPG. 2003. Buku Panduan Praktis Pelayanan
Kontrasepsi. YBPSP.

75

UPAYA PERBAIKAN GIZI
MASYARAKAT

Penyusun :

Wilma Pratiwi

( 030.05.234 )
Yenovi Desy Selawani ( 030.06.280 )

76

BAB I
PENDAHULUAN

Kesehatan merupakan modal utama dalam kehidupan setiap orang, dimanapun dan
siapapun pasti membutuhkan badan yang sehat, baik jasmani maupun rohani guna menopang
aktifitas kehidupan sehari-hari. Begitu pentingnya nilai kesehatan ini, sehingga seseorang
yang menginginkan agar dirinya tetap sehat harus melakukan berbagai macam cara untuk
meningkatkan derajat kesehatannya, seperti melakukan penerapan pola hidup sehat dan pola
makan yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari.1
Gizi merupakan salah satu penentu kualitas sumber daya manusia. Kekurangan gizi
akan menyebabkan kegagalan pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan, menurunkan
produktivitas kerja dan menurunkan daya tahan tubuh, yang berakibat meningkatnya angka
kesakitan dan kematian. Masalah Gizi di Indonesia sampai saat ini masih memprihatinkan,
terbukti tingginya angka kematian ibu, bayi dan balita serta rendahnya tingkat kecerdasan
yang berakibat pada rendahnya produktifitas, pengangguran, kemiskinan dan akan
menghambat pertumbuhan ekonomi. Hal ini mendasari masalah Gizi menjadi salah satu
faktor penting penentu pencapaian Millenium Development Goals.2
Kecukupan gizi sangat diperlukan oleh setiap individu sejak janin yang masih dalam
kandungan, bayi, anak-anak, masa remaja, dewasa sampai usia lanjut. Ibu atau calon ibu
merupakan kelompok rawan karena membutuhkan gizi yang cukup sehingga harus dijaga
status gizi dan kesehatannya agar dapat melahirkan bayi yang sehat.2
Tahun 2008 jumlah balita yang ada di kota Tanjungpinang sebanyak 23.240 orang.
Jumlah balita yang memiliki KMS (K/S) pada tahun 2008 sebesar 18.927 orang (81,4%). Jika
dibandingkan dengan tahun 2004 sampai dengan tahun 2007, maka cakupan jumlah balita
yang memiliki KMS pada tahun 2008 lebih rendah. Sedangkan secara umum, cakupan balita
yang memiliki KMS (K/S) dari tahun 2004 sampai dengan 2008 berada pada angka diatas
80%. Karena nilai persentase K/S kurang dari 100%, kemungkinan jumlah KMS masih
kurang sehingga perlu dilakukan penambahan atau juga distribusi KMS yang belum merata.2

Partisipasi masyarakat (D/S) pada tahun 2008 sebesar 62,0%. Jika dilihat dari tahun
2004 sampai dengan tahun 2008, maka persentase partisipasi masyarakat pada tahun 2008 ini
memiliki angka yang paling kecil. Hal ini menggambarkan bahwa partisipasi masyarakat
masih kurang. Untuk itu perlu dipelajari kenapa mereka tidak datang ke posyandu dan perlu

77

dimotivasi. Selain itu dari kader posyandu sendiri bersama dengan PKK kelurahan juga
dihimbau agar lebih memotivasi warganya untuk membawa balita ke posyandu setiap bulan.2

Banyak faktor yang menyebabkan masalah gizi kurang antara lain faktor ketersediaan
pangan dalam rumah tangga, asuhan gizi keluarga dan akses keluarga terhadap pelayanan
kesehatan. Dalam dokumen RPJMN 2004-2009, telah ditargetkan penurunan masalah gizi
kurang pada tahun 2009 setinggi-tingginya 20%. 2

Posyandu merupakan bentuk Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) yang
mempunyai daya ungkit yang besar dalam mengatasi masalah gizi kurang, menurunnya
kinerja posyandu akan berdampak pada menurunnya status gizi. Menyikapi kondisi tersebut,
Pemerintah telah mengeluarkan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri No.411.3/1116/SJ
tentang revitalisasi posyandu yang merupakan upaya untuk meningkatkan fungsi dan kinerja
posyadu. Untuk itu Pemerintah perlu menyediakan dukungan dana operasional posyandu.2
Berdasarkan Keputusan Menkes RI No. 116/Menkes/SK/VIII/2003 tentang pedoman
Penyelenggaraan Surveilens Epidemiologi Kesehatan, salah satu sasaran adalah pelaksanaan
Sistem Kewaspadaan Gizi termasuk Sistem Kewaspadaan Dini KLB Gizi Buruk. SK Menkes
RI no. 1457/Menkes/SK/X/2003 tentang kewenangan Wajib Standar Pelayanan Minimal
Bidang Kesehatan, salah satu indikator adalah 80% kecamatan bebas rawan gizi. Gambaran
yang lebih akurat tentang situasi masalah gizi buruk di tingkat masyarakat akan didapat
melalui pelaksanaan surveilens aktif dengan melakukan konfirmasi dan pelacakan kasus.2
Salah satu upaya mempertahankan status gizi bayi dan anak usia 6-23 bulan dan juga
untuk mencegah keadaan gizi menjadi lebih buruk, disediakan Makanan Pendamping Air
Susu Ibu (MP-ASI). MP-ASI tersebut khususnya bagi bayi dan anak usia 6-23 bulan dari
keluarga miskin yang berat badannya berdasarkan hasil penimbangan di posyandu tidak naik
(T1). Distribusi MP-ASI sampai ke sasaran memerlukan dukungan dana.2

78

BAB II
PENGERTIAN

Kata gizi berasal dari bahasa Arab ―gizzah‖, dalam bahasa latin ―nutrire‖ artinya

makanan atau zat makanan sehat. Ilmu gizi adalah ilmu tentang makanan, zat-zat gizi, dan
substansi yang terkandung didalamnya, peran dan keseimbangannya, untuk kesehatan dan
masalah kesehatan. Definisi gizi adalah proses tubuh memanfaatkan makanan yang dimulai
dari mengunyah, menelan, mencerna, menyerap, mendistribusi, menggunakan dan
membuang yang tidak terpakai.3
Zat gizi adalah ikatan kimia yang diperlukan oleh tubuh untuk melakukan fungsi yaitu
menghasilkan energi, membangun sel-sel, memelihara jaringan dan mengatur proses-proses
tubuh. Status gizi adalah keadaan tubuh/ekspresi sebagai akibat komsumsi makanan dan
penggunaan zat-zat gizi. Malnutrisi ( gizi salah ) adalah keadaan patologis akibat kekurangan/
kelebihan secara relatif maupun absolut satu atau lebih zat gizi. 3
Perbaikan gizi merupakan suatu upaya perbaikan gizi masyarakat yang
diselenggarakan secara menyeluruh dan terpadu dalam kerjasama lintas sektoral, peranan
keluarga serta swadaya termasuk swasta untuk meningkatkan status gizi masyarakat dalam
rangka mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.5
Gizi seimbang adalah istilah untuk menggambarkan susunan makanan dan minuman
yang jenis maupun jumlahnya menjamin kebutuhan tenaga, sumber pertumbuhan dan
pemeliharaan untuk mencapai status kesehatan optimal.6

79

BAB III
TUJUAN

Tujuan Umum

Tertanggulanginya masalah gizi di masyarakat dan meningkatnya status gizi
masyarakat di wilayah Kecamatan Pasar Minggu.

Tujuan Khusus

1. Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan Posyandu.
2. Meningkatnya cakupan vitamin A pada bayi, balita dan bufas.
3. Meningkatnya cakupan Fe pada ibu hamil dan buteki.
4. Meningkatnya status gizi pada balita gizi buruk melalui intervensi gizi.
5. Meningkatnya pengetahuan dan kemampuan petugas gizi kelurahan dalam
melaksanakan dan pelaporan kegiatan gizi.
6. Diselenggarakannya pelayanan gizi di klinik gizi.
7. Meningkatnya kerjasama lintas program dan lintas sektoral.
8. Terlaksananya kegiatan Pos Gizi untuk menurunkan angka balita gizi buruk dengan
dana swadaya masyarakat.

80

BAB IV
KEGIATAN DAN SASARAN

KEGIATAN DAN SASARAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU
Kegiatan

IV.1 Kegiatan Rutin Program Gizi
a. Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK)
1. Penyuluhan gizi pada masyarakat sangat diperlukan karena pengetahuan orang
tua dapat ditambah dengan cara memberikan penyuluhan setiap saat
pertemuan.
2. Pelayanan Gizi di Posyandu
3. Pemberian Vitamin A setiap bulan Februari dan Agustus pada anak - anak
4. Pemberian Vitamin A pada bufas
5. Pemberian tablet tambah darah pada bumil dan buteki dan bufas
6. Pemberian makanan tambahan pemulihan di Posyandu
7. Monitoring dan evaluasi kegiatan penimbangan balita di Posyandu
8. Pelacakan kasus gizi buruk yang ditemukan di wilayah Pasar Minggu
b. Usaha Perbaikan Gizi Institusi ( UPGI )
1. Penyuluhan Gizi di SD / MI / SMP / SMA secara terpadu dengan program
UKS/PKPR
2. Pemantauan status gizi anak sekolah dilaksanakan secara terpadu dengan
program UKS melalui screening kesehatan
3. Pelayanan gizi di klinis gizi Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu
c. Kegiatan SPGP ( Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi )
1. Pemantauan status gizi Balita di Posyandu
2. Melakukan survei konsumsi makanan pada masyarakat
3. Rapat koordinasi dengan sektoral
4. Pembinaan kader Posyandu dan petugas kelurahan
IV.2 Kegiatan Program Gizi dengan menggunakan anggaran subsidi
1. Pengadaan vitamin A untuk bayi, balita, dan ibu hamil
2. Pengadaan PM tambahan pemulihan untuk balita BGM
3. Pembentukan pos gizi
4. Pengadaan bahan dan pangan MP-ASI

81

5. Pembinaan petugas gizi kelurahan
6. Monitoring dan evaluasi program gizi
IV.3 Program Gizi yang berintegrasi dengan program lain
1. KP ibu dengan program kesehatan ibu
2. Posyandu dengan program PSM
3. Gizi anak sekolah dengan program UKS
4. Gizi remaja dengan program PKPR
5. Gizi lansia dengan program lansia

Sasaran

1. Ibu, balita dan buteki yang datang ke Posyandu
2. Lansia yang datang ke Posyandu lansia
3. Ibu hamil dengan class ANC
4. Pada kelompok Pasien DM yang ada di Pasar Minggu
5. Pada kelompok sekolah, remaja, Panti Asuhan
6. Pada masyarakat umum

82

BAB V
PELAKSANAAN KEGIATAN

PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU

1. Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK)

2. Usaha Perbaikan Gizi Pemuda (UPGP)
Jenis kegiatan

Sasaran

Tempat

Waktu

Pelaksana

Penyuluhan gizi
remaja

Organisasi
pemuda dan
remaja/karang
taruna

Kecamatan

2x per tahun
sesuai jadwal

Tenaga Pelaksana
Gizi Puskesmas
Pembina bersama –
sama Dokter
Puskesmas Pembina

Jenis Kegiatan

Sasaran Tempat Waktu

Pelaksana

Penimbangan balita di Posyandu

Pemberian makanan tambahan
di Posyandu

Penyuluhan gizi di Posyandu

Pemberian vitamin A pada
balita di Posyandu

Pemberian tablet Fe pada balita
di Posyandu dan PMT balita

Pencatatan dan pelaporan

Penataan kader

Bayi,
balita, ibu
hamil, dan
ibu
menyusui

Posyandu Satu bulan 1x
sesuai jadwal

Petugas kesehatan
Puskesmas dan
Kader
kesehatan/Posyandu

83

3. Usaha perbaikan Gizi Sekolah (UPGS)
Jenis kegiatan

Sasaran

Tempat

Waktu

Pelaksana

Penyuluhan gizi pada
masyarakat sekolah

Pembinaan warung /
kantin sekolah

Pemeriksaan Hb anak
SD/MI

Pemberian tablet
tambah darah

Pemantauan status gizi

Masyarakat
Sekolah
Dasar/Madrasah
Ibtidiyah,
SLTP/Tsanawiyah
dan SLTA/Aliyah

Sekolah

Dasar

(SD),
SLTP/Tsanawiyah,
SLTA/Aliyah

4x

per

tahun
sesuai
jadwal

Petugas
kesehatan dan
Tenaga
Pelaksana
Gizi (TPG)
puskesmas

4.Usaha Perbaikan Gizi Institusi (UPGI)
Jenis kegiatan

Sasaran

Tempat

Waktu Pelaksana

Penyuluhan gizi pada
masyarakat institusi

Pemeriksaan Hb pada
Nakerwan

Pemberian tablet
tambah darah pada
Nakerwan

Pemantauan gizi
Nakerwan

Masyarakat panti
asuhan, panti jompo,
dan pesantren

Tenaga kerja wanita
(Nakerwan)

Institusi/perusahaan,
panti, pesantren

2x per
tahun
sesuai
jadwal

Tenaga
Pelaksana Gizi
(TPG)
Puskesmas
Pembina

84

5. Klinik Gizi
Jenis kegiatan

Sasaran

Tempat

Waktu

Pelaksana

Anamnesa, diagnose
keluhan gizi dan
nasihat dietetic

Pengukuran status
gizi (antropometri dan
laboratorium)

Riwayat kebiasaan
makan dan intake

Pasien umum
dengan kelainan
gizi ganda (gizi
lebih dan kurang)

Pasien rujukan
dari RB, BP,
BKIA, dll

Balita gizi buruk
rujukan dari
posyandu

Poli Gizi
Puskesmas
Pembina

3 hari dalam
seminggu,
sesuai jam
kerja

Dokter puskesmas

Tenaga Pelaksana
Gizi (TPG)
Puskesmas Pembina

85

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

VI.1 Kesimpulan

1. Jumlah Posyandu yang rutin melaksanakan kegiatan 98,2 %
2. Jumlah kader Posyandu yang aktif 71,4 %
3. Cakupan D/S = 74,0 % ; K/S = 89,0 % ; N/D = 56,3 % ; N/S = 41,6 %
4. Cakupan Fe I ibu hamil = 81,3 % ; Fe III = 80,9 %
5. Cakupan vitamin A bulan Februari untuk 100.000 UI sebanyak 93,1 % dan 200.000
UI sebanyak 90,4 % serta Agustus untuk 100.000 UI sebanyak 99,1 % da 200.000 UI
sebanyak 95,2 %
6. Rata – rata kunjungan klinik gizi 110 orang/bulan
7. Kegiatan intervensi gizi dapat memperbaiki gizi buruk dari 64,5 % menjadi 24,4 %
8. Cakupan ASI eksklusif masih rendah sekitar 36,8% sedangkan targetnya 80 %

VI. 2 Saran

1. Meningkatkan sosialisasi ke masyarakat, khususnya para ibu yang memiliki balita
untuk pertumbuhan balitanya melalui kegiatan Posyandu
2. Menjalin komunikasi dan kerjasama yang lebih efektif dengan lintas program dan
lintas sector
3. PMT – Pemulihan balita gizi buruk sebaiknya melalui klinik gizi Puskesmas
kecamatan agar memudahkan monitoring dan evaluasi

86

DAFTAR PUSTAKA

1. Wuna. Evaluasi Pelaksanaan Program Perbaikan Gizi Masyarakat dalam Mencapai Visi
Misi Indonesia Sehat 2010. Kendari ; 2010
2. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Petunjuk Teknis Bantuan Sosial Program
Perbaikan Gizi Masyarakat. Jakarta ; 2008
3. Direktorat Bina Gizi Masyarakat Republik Indonesia. Masalah Gizi di Indonesia dan
Program Perbaikan Gizi Masyarakat. Jakarta ; 2008
4. Juknis SPM Gizi Masyarakat. Program Perbaikan Gizi Masyarakat. Jakarta ; 2008
5. Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Standarisasi Pelayanan Kesehatan Puskesmas.
Jakarta ; 2007
6. Persatuan Ahli Gizi Indonesia. Prioritas Peningkatan Pengetahuan dalam Perbaikan Gizi
Masyarakat. Jakarta ; 2011

87

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->