UPAYA KESEHATAN WAJIB

1

UPAYA PROMOSI KESEHATAN

Penyusun: Kirana Asmara Meitty Marisha (03005131) (03005143)

2

BAB I PENDAHULUAN
Dewasa ini promosi kesehatan (health promotion) telah menjadi bidang yang semakin penting dari tahun ke tahun. Dalam tiga dekade terakhir, telah terjadi perkembangan yang signifikan dalam hal perhatian dunia mengenai masalah promosi kesehatan. Pada 21 November 1986, World Health Organization (WHO) menyelenggarakan Konferensi Internasional Pertama bidang Promosi Kesehatan yang diadakan di Ottawa, Kanada. Konferensi ini dihadiri oleh para ahli kesehatan seluruh dunia, dan menghasilkan sebuah dokumen penting yang disebut Ottawa Charter (Piagam Ottawa). Piagam ini menjadi rujukan bagi program promosi kesehatan di tiap negara, termasuk Indonesia. Dalam Piagam Ottawa disebutkan bahwa promosi kesehatan adalah proses yang memungkinkan orang-orang untuk mengontrol dan meningkatkan kesehatan mereka (Health promotion is the process of enabling people to increase control over, and to improve, their health, WHO, 1986). Jadi, tujuan akhir promosi kesehatan adalah menanamkan kesadaran pada masyarakat tentang pentingnya kesehatan bagi mereka sehingga mereka sendirilah yang akan melakukan usaha-usaha untuk menyehatkan diri mereka. Promosi kesehatan menjelaskan bahwa untuk mencapai derajat kesehatan yang

sempurna, baik fisik, mental, maupun sosial, individu atau kelompok harus mampu mengenal serta mewujudkan aspirasi-aspirasinya untuk memenuhi kebutuhannya agar mampu mengubah atau mengatasi lingkungannya (lingkungan fisik, sosial budaya, dan sebagainya). Untuk itu, promosi kesehatan tidak hanya merupakan tanggung jawab dari sektor kesehatan, akan tetapi jauh melampaui gaya hidup secara sehat untuk kesejahteraan (WHO, 1986). Penyelenggaraan promosi kesehatan dilakukan dengan mengombinasikan berbagai strategi yang tidak hanya melibatkan sektor kesehatan belaka, melainkan lewat kerjasama dan koordinasi segenap unsur dalam masyarakat. Hal ini didasari pemikiran bahwa promosi kesehatan adalah suatu filosofi umum yang menitikberatkan pada gagasan bahwa kesehatan yang baik merupakan usaha individu sekaligus kolektif (Taylor, 2003). Bagi individu, promosi kesehatan terkait dengan pengembangan program kebiasaan kesehatan yang baik sejak muda hingga dewasa dan lanjut usia (Taylor, 2003). Secara kolektif, berbagai sektor, unsur, dan profesi dalam masyarakat seperti praktisi medis, psikolog, media massa, para pembuat kebijakan publik dan perumus perundang-undangan dapat dilibatkan dalam program promosi kesehatan. Praktisi medis dapat mengajarkan kepada
3

masyarakat mengenai gaya hidup yang sehat dan membantu mereka memantau atau menangani risiko masalah kesehatan tertentu. Para psikolog berperan dalam promosi kesehatan lewat pengembangan bentuk-bentuk intervensi untuk membantu masyarakat memraktikkan perilaku yang sehat dan mengubah kebiasaan yang buruk. Media massa dapat memberikan kontribusinya dengan menginformasikan kepada masyarakat perilaku-perilaku tertentu yang berisiko terhadap kesehatan seperti merokok dan mengonsumsi alkohol. Para pembuat kebijakan melakukan pendekatan secara umum lewat penyediaan informasi-informasi yang diperlukan masyarakat untuk memelihara dan mengembangkan gaya hidup sehat, serta penyediaan sarana-sarana dan fasilitas yang diperlukan untuk mengubah kebiasaan buruk masyarakat. Berikutnya, perumus perundang-undangan dapat menerapkan aturan-aturan tertentu untuk menurunkan risiko kecelakaan seperti misalnya aturan penggunaan sabuk pengaman di kendaraan (Taylor, 2003)

4

BAB II PENGERTIAN
Promosi kesehatan adalah upaya membantu masyarakat memberdayakan dirinya untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatannya. Menurut WHO tahun 1986, Promosi Kesehatan adalah proses yang memberdayakan manusia untuk mengendalikan dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri. Menurut Green dan Ottoson (1998) Promosi Kesehatan adalah kombinasiberbagai dukungan menyangkut pendidikan, organisasi, kebijakan, dan peraturan perundangan untuk perubahan lingkungan dan perilaku yang menguntungkan kesehatan. Menurut definisi yang selama ini dipakai oleh Pusat Promosi Keehatan, Promosi Kesehatan itu adalah proses memberdayakan atau memandirikan masyarakat agar mampu memelihara, meningkatkan, dan melindungi, kesehatannya melalui peningkatan kesadaran, kemauan dan kemampuan, serta pengembangan lingkungan sehat.

Dalam pengertian Promosi Kesehatan tersebut terkandung beberapa pengertian operasional sebagai berikut: Promosi Kesehatan merupakan bagian dari upaya kesehatan masyarakat (Public Health) secara keseluruhan, yang fokusnya adalah: pemberdayaan masyarakat, yaitu upaya agar masyarakat dapat memelihara, meningkatkan, dan melindungi kesehatannya. Dengan demikian, Promosi Kesehatan lebih bersifat upaya promotif-preventif, tanpa

mengesampingkan upaya kuratif-rehabilitatif. Pemberdayaan dilakukan dengan menumbuhkan kesadaran, kemauan dan kemampuan mayarakat untuk hidup sehat, sehingga penekanan Promosi Kesehatan pada pengembangan perilaku dan lingkungan sehat. Pemberdayaan tersebut merupakan upaya kemitraan berbagai pihak dan merupakan upaya dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat, sehingga masyarakat aktif sebagai pelaku atau subyek, bukan pasif menunggu sebagai obyek semata. Pemberdayaan dilakukan sesuai dengan kondisi dan budaya setempat, sehingga Promosi Kesehatan diwarnai oleh suasana lokal.

5

BAB III TUJUAN
Tujuan Umum Tercapainya perubahan perilaku individu, keluarga dan masyarakat dalam membina dan memelihara perilaku sehat dan lingkungan sehat, serta berperan aktif dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan yang optimal, dan juga memberdayakan kemampuan masyarakat untuk hidup lebih sehat.

Tujuan Khusus Timbulnya kesadaran penduduk akan nilai kesehatan. Meningkatnya pengembangan Puskesmas dan pemanfaatannya sebagai sarana pelayanan kesehatan dan sebagai sumber penerangan dan penyuluhan kesehatan Terbantunya orang-orang dan masyarakat pada umumnya, dalam menjaga kesehatan mereka pada tingkat yang sebaik-baiknya.

Tujuan Promosi Kesehatan secara Keseluruhan Tersosialisasinya program-program kesehatan, terwujudnya masyarakat Indonesia baru yang berbudaya hidup bersih dan sehat, serta tumbuhnya gerakan hidup sehat di masyarakat, menuju terwujudnya kabupaten atau kota sehat, propinsi sehat, Indonesia sehat 2010.

Tujuan PHBS Meningkatnya pengetahuan, kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat agar hidup bersih dan sehat, serta meningkatnya peran serta aktif masyarakat termasuk swasta dan dunia usaha, dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Tujuan Penyuluhan Kesehatan Tercapainya perubahan perilaku individu, keluarga dan masyarakat dalam membina dan memelihara perilaku sehat dan lingkungan sehat serta berperan aktif dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.

6

lingkup promosi kesehatan dapat disimpulkan sebagai berikut (Iqi. 7 . promosi kesehatan dapat dilakukan di berbagai ruang kehidupan. dukungan suasana. dll. 6. promosi kesehatan adalah kombinasi berbagai dukungan menyangkut pendidikan. 2008): 1. penggerakan masyarakat (social mobilization). pemberdayaan masyarakat (community empowerment). organisasi. yaitu upaya untuk memengaruhi lingkungan atau pihak lain agar mengembangkan kebijakan yang berwawasan kesehatan (melalui upaya legislasi atau pembuatan peraturan. Pendidikan kesehatan (health education) yang penekanannya pada perubahan/perbaikan perilaku melalui peningkatan kesadaran. sekolah. 4. maupun rehabilitasi. Promosi kesehatan bersifat lebih luas atau lebih makro lagi dan lebih menyentuh sisi advokasi pada level pembuat kebijakan di mana promosi kesehatan berusaha melakukan perubahan pada lingkungan dengan harapan terjadinya perubahan perilaku yang lebih baik (Kapalawi. sesuai keadaan). Pengorganisasian masyarakat (community organization). 2008). dan peraturan perundangan untuk perubahan lingkungan dan perilaku yang menguntungkan kesehatan. dalam keluarga. 3. dan lain-lain di berbagai bidang/sektor. 2007). tempat kerja. pengobatan (kuratif). pengembangan masyarakat (community development). pencegahan penyakit (preventif). yang penekanannya pada pengenalan produk/jasa melalui kampanye. 2. Dalam hal ini. kebijakan. Oleh karena itu. Upaya penyuluhan (upaya komunikasi dan informasi) yang tekanannya pada penyebaran informasi. Kemudian. Pemasaran sosial (social marketing). tempat-tempat umum. kemauan. dan kemampuan. orang-orang yang sehat maupun mereka yang terkena penyakit.BAB IV KEGIATAN Promosi kesehatan mencakup baik kegiatan promosi (promotif). 5. Upaya peningkatan (promotif) yang penekanannya pada upaya pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. dan tentu saja kantor-kantor pelayanan kesehatan. Upaya advokasi di bidang kesehatan. semuanya merupakan sasaran kegiatan promosi kesehatan. Menurut Green dan Ottoson (dalam Iqi.

sangat esensial dan harus diikuti dengan kegiatan untuk memastikan 8 . serta kesetaraan dan keadilan sosial (social justice and equity) (WHO. dan lingkungan alam kita. meliputi perdamaian (peace). daerah kerja. pendidikan (education). telah merumuskan sejumlah kegiatan yang dapat dilakukan oleh setiap negara untuk menyelenggarakan promosi kesehatan. kegiatan-kegiatan promosi kesehatan berarti: Membangun kebijakan publik berwawasan kesehatan (build healthy public policy) Promosi kesehatan lebih daripada sekadar perawatan kesehatan. dan perubahan organisasi. memuaskan. bangsa. pelayanan jasa publik yang lebih sehat dan lebih bersih.—terutama di daerah teknologi. kawasan. mengarahkan mereka supaya sadar akan konsekuensi kesehatan dari keputusan mereka dan agar mereka menerima tanggung jawab mereka atas kesehatan. Promosi kesehatan menempatkan kesehatan pada agenda dari pembuat kebijakan di semua sektor pada semua level. Berikut akan disediakan terjemahan dari Piagam Ottawa pada bagian yang diberi subjudul Health Promotion Action Means. pendapatan (income). perlindungan (shelter). sumber daya yang berkesinambungan (a sustainable resources). Upaya-upaya peningkatan promosi kesehatan harus memerhatikan semua prasyarat tersebut. pendapatan.Kesehatan memerlukan prasyarat-prasyarat yang terdiri dari berbagai sumber daya dan kondisi dasar. Kebijakan promosi kesehatan mengombinasikan pendekatan yang berbeda namun dapat saling mengisi termasuk legislasi. lewat Konferensi Internasional Pertama tentang Promosi Kesehatan di Ottawa pada tahun 1986. Penjajakan sistematis dampak kesehatan dari lingkungan yang berubah pesat. Prinsip panduan keseluruhan bagi dunia. komunitas. WHO. dan lingkungan yang lebih menyenangkan. ekosistem yang stabil (a stable eco-system). dan kebijakan sosial yang menghasilkan kesamaan yang lebih besar. adalah kebutuhan untuk memberi semangat pemeliharaan yang timbal-balik — untuk memelihara satu sama lain. dan komunitas yang serupa. Promosi kesehatan menciptakan kondisi hidup dan kondisi kerja yang aman. produksi energi dan urbanisasi–. perhitungan fiskal. makanan (food). Menurut Piagam Ottawa. 1986). Ini adalah kegiatan yang terkoordinasi yang membawa kepada kesehatan. Kaitan yang tak terpisahkan antara manusia dan lingkungannya menjadikan basis untuk sebuah pendekatan sosio-ekologis bagi kesehatan. yang menstimulasi. dan menyenangkan. perpajakan. Menciptakan lingkungan yang mendukung (create supportive environments) Kesehatan tidak dapat dipisahkan dari tujuan-tujuan lain. Kegiatan terpadu memberikan kontribusi untuk memastikan barang dan jasa yang lebih aman dan lebih sehat.

Reorientasi pelayanan kesehatan juga memerlukan perhatian yang kuat untuk penelitian kesehatan sebagaimana perubahan pada pelatihan dan pendidikan 9 . dan membuka saluran antara sektor kesehatan dan komponen sosial. politik. membuat keputusan. pendidikan kesehatan. Pengembangan komunitas menekankan pengadaan sumber daya manusia dan material dalam komunitas untuk mengembangkan kemandirian dan dukungan sosial. dan pemerintah. kelompok komunitas. sebagaimana penggalangan dukungan.keuntungan yang positif bagi kesehatan masyarakat. Pelayanan kesehatan harus memegang mandat yang meluas yang merupakan hal sensitif dan ia juga harus menghormati kebutuhan kultural. Hal ini memerlukan akses yang penuh serta terus menerus akan informasi. hal ini meningkatkan pilihan yang tersedia bagi masyarakat untuk melatih dalam mengontrol kesehatan dan lingkungan mereka. dan untuk membuat pilihan yang kondusif bagi kesehatan. Dengan demikian. dan pengembangan keterampilan hidup. institusi pelayanan kesehatan. Inti dari proses ini adalah memberdayakan komunitas –-kepemilikan mereka dan kontrol akan usaha dan nasib mereka. Peran sektor kesehatan harus bergerak meningkat pada arah promosi kesehatan. merencanakan strategi dan melaksanakannya untuk mencapai kesehatan yang lebih baik. Mengembangkan keterampilan individu (develop personal skills) Promosi kesehatan mendukung pengembangan personal dan sosial melalui penyediaan informasi. memelajari kesempatan untuk kesehatan. di samping tanggung jawabnya dalam menyediakan pelayanan klinis dan pengobatan. Memerkuat kegiatan-kegiatan komunitas (strengthen community actions) Promosi kesehatan bekerja melalui kegiatan komunitas yang konkret dan efisien dalam mengatur prioritas. ekonomi. Perlindungan alam dan lingkungan yang dibangun serta konservasi dari sumber daya alam harus ditujukan untuk promosi kesehatan apa saja. dan lingkungan fisik yang lebih luas. profesional kesehatan. Mereka harus bekerja sama melalui suatu sistem perawatan kesehatan yang berkontribusi untuk pencapaian kesehatan. Reorientasi pelayanan kesehatan (reorient health services) Tanggung jawab untuk promosi kesehatan pada pelayanan kesehatan dibagi di antara individu. Mandat ini harus mendukung kebutuhan individu dan komunitas untuk kehidupan yang lebih sehat. dan untuk mengembangkan sistem yang fleksibel untuk memerkuat partisipasi publik dalam masalah kesehatan.

bermain. dan evaluasi kegiatan promosi kesehatan serta kesetaraan antara pria dan wanita sebagai acuan utama. yakni advokasi (advocacy) dan pemberdayaan (empowerment). strategi lain dari promosi kesehatan adalah pemberdayaan masyarakat di dalam kegiatan-kegiatan kesehatan. Kesehatan diciptakan dengan memelihara satu sama lain dengan kemampuan untuk membuat keputusan dan membuat kontrol terhadap kondisi kehidupan seseorang.profesional. Jadi sifatnya bottom-up (dari bawah ke atas). Merawat. bagaimana orang-orang yang bergerak di bidang kesehatan bisa memengaruhi para pembuat kebijakan untuk lebih tahu dan memerhatikan kesehatan. Pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan lebih kepada untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam bidang kesehatan. pelaksanaan. Partisipasi masyarakat adalah kegiatan pelibatan masyarakat dalam suatu program. 2007). Dari enam hal di atas. Hal ini harus membawa kepada perubahan sikap dan pengorganisasian pelayanan kesehatan dengan memfokuskan ulang kepada kebutuhan total dari individu sebagai manusia seutuhnya. sebagai bentuk pengawalan terhadap kesehatan. bekerja. Diharapkan dengan tingginya partisipasi dari masyarakat maka suatu program kesehatan dapat lebih tepat sasaran dan memiliki daya ungkit yang lebih 10 . dan mencintai. utamanya promosi kesehatan. promosi kesehatan masuk ke wilayah politik. dan ekologi adalah isu-isu yang penting dalam mengembangkan strategi untuk promosi kesehatan. dan dengan memastikan bahwa masyarakat yag didiami seseorang menciptakan kondisi yang memungkinkan pencapaian kesehatan oleh semua anggotanya. Melalui advokasi. Bergerak ke masa depan (moving into the future) Kesehatan diciptakan dan dijalani oleh manusia di antara pengaturan dari kehidupan mereka sehari-hari di mana mereka belajar. Advokasi bergerak secara top-down (dari atas ke bawah). Advokasi dapat dilakukan dengan memengaruhi para pembuat kebijakan untuk membuat peraturan-peraturan yang bisa berpihak pada kesehatan dan peraturan tersebut dapat menciptakan lingkungan yang dapat mempengaruhi perilaku sehat dapat terwujud di masyarakat (Kapalawi. kebersamaan. semua yang terlibat harus menjadikan setiap fase perencanaan. Advokasi Advokasi terhadap kesehatan merupakan sebuah upaya yang dilakukan orang-orang di bidang kesehatan. setidaknya dapat disimpulkan dua kata kunci kegiatan promosi kesehatan. Advokasi ini lebih menyentuh pada level pembuat kebijakan. Untuk itu. Pemberdayaan Di samping advokasi kesehatan.

Berdasarkan kegiatan di lapangan (dalam hal ini di Puskesmas kecamatan Tebet). Partisipasi dapat terwujud dengan syarat (Tawi. kegiatan promosi kesehatan akan berlangsung dengan sukses. Adanya contoh dan keteladanan dari tokoh/pemimpin masyarakat. Sebagai unsur dasar dalam pemberdayaan. Adanya manfaat yang dapat dan segera dapat dirasakan oleh masyarakat 4. berupa pengenalan masalah kesehatan oleh masyarakat dan melaksanakan para kader atau tenaga pelaksana yang terlatih. Pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan pada dasarnya tidak berbeda dengan pemberdayaan masyarakat dalam bidang-bidang lainnya. pelatihan kader-kader Posyandu untuk imunisasi Mopping Up Polio. misalnya melalui berbagai kegiatan penyuluhan (penyuluhan di Posyandu balita setiap bulan di hari Rabu minggu pertama. 2007). disertai kemauan dari kelompok sasaran yang akan menempuh proses pemberdayaan. Partisipasi itu harus didukung oleh adanya kesadaran dan pemahaman tentang bidang yang diberdayakan. Bina suasana. Dengan begitu. partisipasi masyarakat harus ditumbuhkan. Dengan pemberdayaan masyarakat. baik yang dilakukan di dalam maupun di luar gedung Puskesmas. Adanya saling percaya antaranggota masyarakat 2. 2008): 1. Posyandu Lansia setiap hari Senin minggu pertama). misalnya adanya kebijakan gerakan PSN-3M selama 30 menit setiap hari jumat Gerakan masyarakat.besar bagi perubahan perilaku karena dapat menimbulkan suatu nilai di dalam masyarakat bahwa kegiatan-kegiatan kesehatan tersebut itu dari kita dan untuk kita (Kapalawi. diharapkan masyarakat dapat berperan aktif atau berpartisipasi dalam setiap kegiatan. misalnya dengan adanya Jumantik (Juru Pemantau Jentik) di tingkat RT. dan lokakarya. Adanya ajakan dan kesempatan untuk berperan aktif 3. Tanggapan masyarakat terhadap kegiatan yang diikutinya cukup baik. petugas yang tersedia masih terbatas. 11 . Namun. Pelaksanaan kegiatan di Puskesmas Kecamatan Cilandak Kegiatan Promkes yang dilakukan di Puskesmas Kecamatan Cilandak meliputi kegiatan: Advokasi kesehatan. hasilnya adalah cukup baik.

Melakukan aktifitas fisik setiap hari 10. atau perorangan yang digunakan untuk kegiatan bagi masyarakat seperti sarana 12 . mau dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat.tempat Umum adalah upaya untuk memberdayakan masyarakat pengunjung dan pengelola tempat . masyarakat pengunjung dan petugas agar tahu. Menggunakan jamban sehat 7. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan 2.Perilaku Hidup Bersih dan Sehat PHBS di Rumah Tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu.tempat Umum Sehat. mau dan mampu untuk mempraktikkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dan berperan aktif dalam mewujudkan Institusi Kesehatan Sehat dan mencegah penularan penyakit di institusi kesehatan.  Tempat . Memberantas jentik di rumah seminggu sekali 8. Makan bah dan sayur setiap hari 9. Tidak Merokok di dalam rumah PHBS di Institusi Kesehatan adalah upaya untuk memberdayakan pasien. mau dan mampu untuk mempraktikkan PHBS dan berperan aktif dalam mewujudkan tempat . Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai PHBS di Institusi Kesehatan yaitu :        Menggunakan air bersih Menggunakan Jamban Membuang sampah pada tempatnya Tidak merokok di institusi kesehatan Tidak meludah sembarangan Memberantas jentik nyamuk PHBS di Tempat . Menggunakan air bersih 5. PHBS di Rumah Tangga dilakukan untuk mencapai Rumah Tangga ber PHBS yang melakukan 10 PHBS yaitu: 1. Memberi ASI Esklusif 3. Menimbang Bayi tiap bulan 4.tempat umum agar tahu.tempat Umum adalah sarana yang diselenggarakan oleh pemerintah/swasta. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun 6.

serta berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan sehat. Menggunakan air bersih 2. Membuang sampah pada tempatnya 4. Menggunakan jamban 3. meningkatkan kesehatannya. Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai PHBS di Tempat . Tidak meludah sembarangan PHBS di Sekolah adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan oleh peserta didik.pariwisata. sarana perdagangan dan olahraga. guru dan masyarakat lingkungan sekolah atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran. transportasi. mau dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam mewujudkan Tempat Kerja Sehat Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Tempat kerja antara lain :      Tidak merokok di tempat kerja Membeli dan mengkonsumsi makanan dari tempat kerja Melakukan olahraga secara teratur/aktifitas fisik Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar dan buang air kecil Memberantas jentik nyamuk di tempat kerja 13 .Tempat Umum yaitu : 1. sehingga secara mandiri mampu mencegah penyakit. rekreasi dan sarana sosial lainnya. Tidak merokok di tempat umum 5. Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai PHBS di sekolah yaitu:         Mencuci tangan dengan air yang mengalir dan menggunakan sabun Mengkonsumsi jajanan sehat di kantin sekolah Menggunakan jamban yang bersih dan sehat Olahraga yang teratur dan terukur Memberantas jentik nyamuk Tidak merokok di sekolah Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap 6 bulan Membuang sampah pada tempatnya PHBS di Tempat kerja adalah upaya untuk memberdayakan para pekerja agar tahu. sarana ibadah.

    Menggunakan air bersih Menggunakan jamban saat buang air kecil dan besar Membuang sampah pada tempatnya Mempergunakan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai jenis pekerjaan 14 .

dan pendekatan pimpinan/kelompok (advocacy).opini. kelompok dan masal. dukungan Pendekatan peroramngan dan kelompok Konsultasi. distribusi bahan penyuluhan Pembinaan suasana (social support) Sekunder Pengembangan pendapat umum. pelatihan.BAB V SASARAN SASARAN Digolongkan atas masyarakat yang sudah ada dalam suatu system tertentu yang disebut sebagai tatanan/pranata Tatanan Rumah tangga Institusi pendidikan Tempat kerja Sasaran Primer Anggota keluarga Seluruh siswa Seluruh karyawan Sasaran Sekunder Ibu Guru. Secara lebih jelas ketiga strategi tersebut dapat dilihat dibawah ini : Strategi Pemberdayaaan (empowerment) Primer Sasaran Tujuan Peningkatan pengetahuan sikap dan perilaku (PHBS) Cara Penyuluhan perorangan.OSIS Pengurus/sarikat pekerja Tempat umum Institusi kesehatan Pengunjung Pasien/pengunjung Pegawai/karyawan Petugas kesehatan Direksi/pemilik Pimpinan/direktur Sasaran Tersier Kepala keluarga Kepala sekolah Direksi/pemilik Strategi dan manajemen PKM puskesmas Dalam management PKM. pembinaan dukungan 3 strategi. saling mengisi.karyawan. dan melengkapi. pertemuan 15 . Ketiga strategi tersebut harus dilakukan secara bersamaan. dikenal (empowerment). norma Pendekatan pimpinan (advocacy) Tersier Persetujuan. yaitu pemberdayaan masyarakat suasana (social support).

tahapan manajemen PKM dapat dilihat dalam table berikut: Tahapan manajemen a.Manajemen PKM di puskesmas Manajemen PKM di puskesmas dilaksanakan melalui 4 fungsi tahapan. 16 . Penggerakan dan pelaksanaan Daftar kegiatan dan penanggung jawab masingmasing kegiatan yang telah disepakati d. yaitu : Pengkajian Pemantauan dan Penilaian Perencanaan Penggerakan dan Pelaksanaan Secara singkat. Pengkajian (i) (ii) (iii) (iv) Pengkajian masalah kesehatan Pengkajian masalah PHBS Pemetaan wilayah Pengkajian sumber daya 10 penyakit terbanyak. Pemantauan dan penilaian Rencana pertemuan/supervisi berkala Rencana evaluasi akhir tahun Luaran b. Perencanaan Kebijaksanaan Pelaksanaan Penyuluhan Kesehatan Masyarakat Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut.intervensi dan jadwal kegiatan c.kegiatan promosi kesehatan masyarakat dilaksanakan sebagai berikut : a. Penyuluhan kesehatan masyarakat merupakan bagian integral dari setiap program kesehatan dan berfungsi sebagai katalisator program-program tersebut.kegiatan.factor pendorong Pemetaan masalah PHBS Masalah strata kesehatan wilayah Ketersediaan SDM Rumusan tujuan.

Penyuluhan kesehatan merupakan upaya yang dilaksanakan baik oleh pemerintah secar a lintas program dan lintas sektoral. Puskesmas dimanfaatkan sebagai pusat pengembangan dan pembinaan kesadaran dan peran serta masyarakat di bidang kesehatan di wilayahnya. terutama yang akan dikembangkan dan diarahkan kea rah sikap mental yang partisipatif dan lebih berorientasi pada aspek pencegahan dan peningkatan. Penyuluhan kesehatan masyarakat di puskesmas Kecamatan Cilandak Agar dapat mencapai tujuan penyuluhan kesehatan masyarakat . b. pemerintah. dan keluarga pasien tentang hal yang bias dilakukan pasien atau keluarga pasien Menggunakan media penyuluhan. Penyuluhan di masyarakat (di luar gedung puskesmas) : pelaksanaannya dilaksanakan berdasarkan ― pendekatan edukatif ― melalui tahap-tahap berikut: 17 . Pelaksanaaan kegiatan puskesmas yang biasa dilaksanakan ialah : a. dana. maka upaya kegiatan penyuluhan perlu diselaraskan dengan fungsi dan tugas puskesmas serta kemampuan daripada sumber tenaga. Penyuluhan institusi : kegiatan penyuluhan yang dilakukan di institusi bersangkutan seperti puskesmas. ataupun di rumah tinggal para dokter dan paramedic. seperti poster dll Melakukan penyuluhan kelompok di puskes yang sudah direncanakan. serta sarana yang dimiliki. Peningkatan penyuluhan kesehatan pada lembaga-lembaga pendidikan dasar. paramedik. c.b. maupun oleh masyarakat termasuk pihak LSM. Secara tidak langsung Memberi tauladan serta contoh dari para dokter atau paramedic Penampilan yang rapih dan sehat dari bangunan puskesmas Secar a langsung Dialog do kamar periksa antara dokter dan pasien Dialog dokter. dan swasta agar kesadaran dan perilaku hidup sehat dapat ditumbuhkan dan dibudidayakan sedini mungkin. f. Peningkatan perilaku penduduk dalam membina hidup sehat juga diarahkan untuk meningkatkan peran sertanya mewujudkan masyarakat yang mandiri dalam membina derajat kesehatan yang dimulai dalam keluarganya. e. Sikap mental petugas kesehatan. d.

maka metode penyuluhan yang paling sering dilakukan puskesmas adalah ceramah yang disertai Tanya jawab. Melakukan survey mawas diri : mendapatkan data dari msyarakat tentang idea tau program promosi kesehatan yang akan diterapkan kepada mereka. perlu dilibatkan masyarakat dan petugas harus mampu menerapkan metode dan tehnik penyuluhan 6. Pertemuan tingkat desa : tujuannya ialah memeperoleh kesepakatan dan dukungan dari kepala desa bererta aparatnya 3. Metode dan tehnik penyuluhan masyarakat A. 18 . 4. Pertemuan tingkat kecamatan : tujuannya ialah memeperoleh kesepakatan dan dukungan dari pimpinan wilayah 2. Pelaksanaan penyuluhan : dalam pelaksaan. Evaluasi kegiatan penyuluhan : evaluasi dilakukan sesuai dengan tehnik penyuluhan yang dilakukan.Untuk mengetahui metode apa yang dipilih perlu ditentukan terlebih dahulu tahapan perubahan perilaku yang ingin dicapai : Metode untuk merubah pengetahuan Ceramah Kuliah Presentasi Wisata karya Curah pendapat Seminar Studi kasus Tugas baca Symposium Panel Konferensi Metode untuk merubah sikap Diskusi kelompok Tanya jawab Role playing Pemutaran film Video Tape recorder Simulasi Metode untuk merubah tindakan Latihan sendiri bengKel kerja demonstrasi experiment Menentukan sasaran Karena keterbatasan sumber daya. Metode Secara sederhana pengertiannya adalah cara untuk melaksanakan penyuluhan kepada masyarakat. Perencanaan: membuat rencana penyuluhan kesehatan 5.1. wawancara dan demonstrasi.

serta dibantu oleh alat peraga.ada kesempatan bertanya bagi pendengar .sediakan waktu untuk Tanya jawab -menyimpulkan ceramah .ciptakan suasana santai . Ciri-ciri ceramah . a.mempersiapkan materi .Teknik penyampaian Ceramah Ceramah adalah salah satu cara menerangkan atau menjelaskan suatu ide.mengemukakan maksud dan tujuan . pengertian atau pesan secara lisn kepada suatu kelompok pendengar yang disertai diskusi dan Tanya jawab.ada sekelompok pendengar yang dipersiapkan .menentukan sasaran pendengar . langkah langkah melakukan ceramah .penilaian Suatu ceramah akan terlihat berhasil bila : -ada respon dari pendengar .topic yang dikemukakan hanya satu .ada jawaban pada pengisian angket 19 .B.pelaksanaan .persiapan -menentukan maksud dan tujuan ceramah .mempersiapkan waktu dan tempat yang tepat -mempersiapkan undangan .perkenalan diri .mempersiapkan alat peraga .ada alat peraga yang digunakan b.ada minat pendengar .mempersiapkan bahan bacaan .ada suatu pesan yang disampaikan .men yampaikan ceramah dengan suara jelas .menjelaskan sistematika ceramah .

Jawaban yang wajar 4. Catat jawaban yang dianggap perlu Penilaian 1. Minat responden Demonstrasi Adalah suatu cara penyajian yang dipersiapkan dengan teliti untuk memperlihatkan bagaimana cara melakukan suatu tindakan. Menentukan isi pesan yang akan disampaikan 3. adegan atau menggunakan suatu proedur. Suasana menyenangkan 2. Diarahkan kepada persoalan pokok 4. Rumuskan pertanyaan dengan sederhana 3. Menentukan waktu 5. Kelancaran wawancara 3. a. 1. Cirri –ciri wawancara Ada pihak yang bertanya Ada pihak yang ditanya Seluruh percakapan dikendalikan oleh pihak interviewer b. Penyajian ini disertai penggunaan alat peraga dan Tanya jawab. Gunakan alat peraga 5. Tujuan 20 . Menentukan sasaran 4. Langkah-langkah melakukan wawancara Persiapan 1. Memperkenalkan diri 2. Menentukan tujuan wawancara 2.Wawancara Adalah suatu metode penyuluhan kesehatan dengan jalan Tanya jawab yang diarahkan kepada pencapaian tujuan yang telah ditentukan. Biasanya hanya diberikan pada individu yang terbatas jumlahnya. Menentukan pokok-pokok pertanyaan Pelaksanaan 1.

papan tulis b.- Memperlihatkan kepada kelompok bagaimana cara membuat sesuatu dengan prosedur yang benar Meyakinkan kelompok bahwa ide tersebut bias dilaksanakan Meningkatkan minat orang untuk belajar 2. Menentukan perkiraan lamanya e. Memberi materi d. Menentukan maksut dan tujuan b. menghindari kejenuhan Beberapa alat bantu peraga yang dapat digunakan adalah : a. Menentukan materi c. dapat menambah percaya diri c. memiliki bahan nyata b. Menentukan sasaran dengan latar belakang sosioekonomi d. Menciptakan suasana nyaman c. melihat nyata inti materi b. Langkah-langkah melakukan demonstrasi Persiapan a. Adanya permintaan melakukan demonstrasi c. Kertas flipchart d. OHP c. Banyaknya pertanyaan b. Memperkenalkan diri b. Member kesempatan Tanya jawab Penilaian a. Menentukan alat atau peraga Pelaksanaan a. Poster 21 . menghindari kejenuhan kemudahan bagi pihak yang disuluh a. Hasil pengisian angket Alat peraga penyuluhan kesehatan masyarakat kemudahan bagi pihak penyuluh a.

Leflet. bagi ibu muda yang belum punya anak b. Model g. seluruh keluarga menggunakan air bersih g. Indicator yang digunakan adalah sebagai berikut : Indicator Tatanan Rumah Tangga a. kuku anggota keluarga pendek dan bersih h.ikut KB bag wanita usia subur . yaitu petunjuk yang membatasi focus perhatian suatu penilaian.proses melahirkan dibantu oleh petugas kesehatan . pernah mendengar AIDS k. keberhasilan dapat dilihat dari strata PHBS tiap tahun.sudah imunisasi TT. Ibu : . tidak ada sampah berserakan f. Evaluasi dapat dilakukan dengan menilai : a.pemeriksaan kehamilan oleh petugas minimal 4 kali .e. keluarga menjadi anggota dana sehat (JPKM) 22 . Strata PHBS di wilayah kerja Indikator PKM Dalam kegiatan penilaian. seluruh keluarga buang air besar di jamban e. Flash card f. balita : ditimbang setiap bulan d. Kegiatan yang dapat terlaksana dibandingkan dengan perencanaan b. Hasil pengkajian tiap tahun dibandingkan hasil pengkajian awal tahun. keluarga biasa makan makanan yang beraneka ragam i. dll Pemantauan dan penilaian Pemantauan kegiatan dilakukan secara berkala. Pemantauan dapat juga dilakukan dengan kunjungan lapangan ke tiap tatanan untuk melakukan perkembangan strata bersih dan sehat (PHBS) setelah dilakukan intervensi kesehatan masyarakat. Indicator masing-masing program yang menjadi topic penyuluhan c. semua anggota keluarga tidak merokok j. Penilaian dilakukan pada akhir tahun dengan cara pengkajian kembali seperti pada tahap pertama manajemen PKM. bayi : sudah diimunisasi c. digunakan indicator-indikator tertentu.

Indikator Tatanaan Institusi Pendidikan Tatanan pendidikan adalah Sekolah Dasar Negeri. Swasta termasuk Madrasah Ibtidaiyah a. Siswa ada yang menjadi dokter kecil Kesehatan Anak Sekolah dan Remaja Tatanan istitusi pendidikan adalah Puskesmas atau Puskesmas Pembantu a. Tidak ada sampah yang berserakan d. Tertata poster kesehatan e. Tersedia jamban yang bersih b. Menjadi anggota dana sehat (JPKM) f. Penyuluhan kelompok teratur dilaksanakan g. Indicator tempat ibadah Sekeliling tempat ibadah dalam keadaan bersih 23 . Tatanana air bersih b. Guru tidak merokok h. Semua petugas tidak merokok h. Semua petugas kukunya pendek dan bersih Indikator Tatanan Umum a. Tidak ada sampah berserakan d. Radio kaset penyuluhan berfungi setiap hari f. Siswa pada umumnya (60%) kukunya pendek dan bersih g. Indicator warung makan Makanan dan minuman tidak menggunakan bahan kimia berbahaya Makanan dan minuman terhindar dari serangga berbahaya Tersedia jamban yang bersih Tersedia air yang bersih Tidak ada sampah berserakan Kuku pengelola makanan pendek dan bersih Menjadi anggota dana sehat b. Tersedia air yang bersih c. Tersedia jamban yang bersih c. Ketersediaan UKS e.

Tahap persiapan: a. Persiapan sarana c. Persiapan pelaksanaan : ibu-ibu balita : 50 orang : dengan kuisioner 24 . Persiapan administrasi d.Perilaku tentang gaya hidup 3. Kajian PHBS .Kajian kuantitatif 2. Indicator pasar Sekeliling pasar dalam keadaan bersih Tersedia air bersih Tersedia jamban yang bersih Tersedia pembuangan air limbah (SPAL) Cukup pencahayaan dan ada penghawaan Kuku pengelola pendek dan bersih Semua pengelola dan pengunjung tidak merokok Pernah mendengan AIDS Tersedia media penyuluhan 1.Perilaku tentang gizi .Sasaran .Jumlah sasaran .- Tersedia air bersih Tersedia jamban yang bersih Tersedia pembuangan air limbah (SPAL) Kuku pengelola pendek dan bersih Semua pengelola dan pengunjung tidak merokok Pernah mendengan AIDS Tersedia media penyuluhan c.Perilaku tentang kesehatan lingkungan .Perilaku tentang KIA . Sosialisasi dan advokasi kesehatan b. Pengelolaan Program PHBS 1. Indikator PHBS .

Dukungan dana/ kebijakan Agas LS/LP/LSM/ Mitra 1. Menentukan jenis kegiatan/intervensi d.Daftar penanggung jawab masing-masing kegiatan 2. dana yang tersedia 3. sifat. epidemiologi masalah .2. Tahap perencanaan: a. Pengkajian sumber daya tenaga. Pengkajian 3.Daftar penyebab sifat. Tahap pengkajian: a. Sosialisasi dan advokasi mengetahui program PHBS politis/ kemitraan . 6. Pemantauan dan penilaian 4. Pengkajian masalah kesehatan penyakit terbanyak. penyebab. Persiapan administrasi Identifikasi lapangan . Jadwal kegiatan 4. Pengkajian PHBS Untuk mengetahui Luaran .Adanya klasifikasi PHBS di 25 .Sepakat melaksanakan PHBS .Peran dan fungsi masingmasing jelas Identifikasi kebutuhan sarana .Kuisioner . Kegiatan Tujuan Untuk mengetahui 10 1. Tahap pergerakan pelaksanaan 5. dan dana yang tersedia . Menentukan prioritas b. Persiapan sarana 5. 2. Persiapan pelaksanaan Identifikasi.Daftar jenis dan jumlah sarana yang dibutuhkan .Daftar surat yang diperlukan 3. epidemiologi masalah Identifikasi sarana. Kegiatan Tujuan Luaran . Tahap Pengkajian No. sarana. Tahap Persiapan No. Menentukan tujuan c. siapa melakukan apa .Daftar 10 penyakit terbanyak .Daftar tenaga.Format pencatatan dan pelaporan 4.

Meningkatkan kerjasama antara masyarakat dan pemerintah .Untuk mempengaruhi peraturan dan kebijakan yang mendukung pemberdayaan PHBS .Adanya kepedulian LSM terhadap PHBS .Mempengaruhi pihak lain agar mendukung 1. 1. Rumusan rencana kegiatan intervensi 3. meliputi penyluhan massa/ terpadu dan rancangan media Adanya jadwal kegiatan intervensi 2. dan kondisi masyarakat berPHBS 26 .perilaku keluarga pada tatanan rumah tangga Untuk mengetahui 4. Pengkajian wilayah klasifikasi PHBS di setiap wilayah setiap RT .Fasilitas umum simakin merata terutama di daerah kumuh Luaran . Pembuatan jadwal kegiatan Tahap Pergerakan dan Pelaksanaan No. etika. Bina suasana berbagai opini yang ada di masyarakat yang Terciptanya opini.Adanya dukungan politik dari pengambilan keputusan .Adanya klasifikasi wilayah sehat atau tidak sehat Tahap Perencanaan No.Adanya anggaran rutin yang dinamis . Kegiatan Tujuan . Kegiatan Rumusan tujuan Tujuan Untuk membuat target yang ingin dicapai Untuk mengembangkan berbagai alternatif intervensi Untuk menetapkan waktu bagi setiap kegiatan Luaran Adanya target yang bisa diukur Adanya rencana kegiatan entervensi yang menyeluruh. Advokasi PHBS . norma.menggalang dukungan lewat pendapat umum melalui media massa Untuk menciptakan 2.

Kegiatan Tujuan Untuk mengetahui seberapa jauh suatu 1. mengacu kepada perncanaan dan penjadwalan Untuk mengetahi 2.mendukung tercapainya PHBS di semua tatanan Untuk Pemberdayaan atau gerakan masyarakat menumbuhkembangkan potensi masyarakat untuk mendukung dan membudayakan PHBS . Penilaian seberapa jauh target yang ditetapkan tercapai adanya hasil pencapaian program PHBS dalam kurun waktu tertentu adanya laporan bulanan/triwulan/tengah tahun Luaran 27 . Pemantauan dan Penilaian No.Meningkatkan peserta dana sehat (JPKM) 3.Mengungkapkan UKBM . Pemantauan program PHBS berjalan.

meningkatkan. Kegiatan yang dilakukan berupa advokasi kesehatan. kemauan. Selain itu para petugas kesehatan terus berupaya untuk memberikan masukan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan. serta pengembangan lingkungan sehat. Saran Untuk lebih meningkatkan upaya promosi kesehatan pada masyarakat maka sebaiknya para petugas kesehatan.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Promosi kesehatan adalah proses memberdayakan atau memandirikan masyarakat agar mampu memelihara. 28 . Dengan demikian kegiatan promosi kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari setiap program yang ada di Puskesmas. terutama pada bagian promosi kesehatan. ditambah. dan gerakan masyarakat. bina suasana. dan melindungi kesehatannya melalui peningkatan kesadaran. dan kemampuan.

Drs. Jakarta Selatan: Sudin Kesehatan Masyarakat 2003 2. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Sudin Kesehatan Masyarakat. Promosi Kesehatan Online. Seri PHBS: Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Untuk Petugas Puskesmas.00. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta Selatan: Sudin Kesehatan Masyarakat 2003 3. Surat Keputusan Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat No: HK.1. UU RI no.htm 5. Drs.1570 tentang Kebijakan Teknis Promosi Kesehatan 2003 6.7. MPH.DAFTAR PUSTAKA 1. Pedoman Kerja Puskesmas 2009 4. Dachroni. Buku Panduan Straegi Promosi Kesehatan di Indonesia.06. Dachroni. 23 tahun 1992 tentang kesehatan 29 . MPH.

UPAYA KESEHATAN LINGKUNGAN Penyusun : Hawa Fatihah bt CMS Fira Thiodorus Marrietta S.157) 30 .06. Sadeli (030.06.05.257) (030.094) (030.

BAB I PENDAHULUAN
Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.(Pasal 1 butir 1 UU No. 36 Tahun 2009)

Kesehatan masyarakat adalah ilmu dan seni (kiat/art) untuk : 1. mencegah penyakit 2. memperpanjang harapan hidup, dan 3. meningkatkan kesehatan dan efisiensi masyarakat melalui usaha masyarakat yang terorganisir untuk; sanitasi lingkungan, pengendalian penyakit menular, pendidikan hygiene perseorangan, mengorganisir pelayanan media dan perawatan agar dapat dilakukan diagnosis dini dan pengobatan pencegahan, membangun mekanisme sosial, sehingga setiap insan dapat menikmati standar kehidupan yang cukup baik untuk dapat memelihara kesehatan. Dengan demikian, setiap warga negara dapat menyadari haknya atas kehidupan yang sehat dan panjang (Winslow, 1920)

Kesehatan lingkungan adalah suatu kondisi lingkungan yang mampu menopang keseimbangan ekologis yang dinamis antara manusia dan lingkungan untuk mendukung tercapainya realitas hidup manusia yang sehat, sejahtera dan bahagia (Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan)

Ilmu Kesehatan Lingkungan diberi batasan sebagai ilmu yang mempelajari dinamika hubungan interaktif antara kelompok penduduk atau masyarakat dengan segala macam perubahan komponen lingkungan hidup seperti spesies kehidupan, bahan, zat atau kekuatan di sekitar manusia, yang menimbulkan ancaman, atau berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan masyarakat, serta mencari upaya-upaya pencegahan.(Umar Fahmi Achmadi, 1991)

Kesehatan lingkungan adalah upaya untuk melindungi kesehatan manusia melalui pengelolaan, pengawasan dan pencegahan factor-faktor lingkungan yang dapat mengganggu kesehatan manusia (Sumengen Sutomo, 1991)

31

Kesehatan lingkungan adalah ilmu & seni dalam mencapai keseimbangan, keselarasan dan keserasian lingkungan hidup melalui upaya pengembangan budaya perilaku sehat dan pengelolaan lingkungan sehingga dicapai kondisi yang bersih, aman, nyaman, sehat dan sejahtera terhindar dari gangguan penyakit, pencemaran dan kecelakaan, sesuai dengan harkat dan martabat manusia. (Sudjono Soenhadji, 1994 ) Untuk menilai keadaan lingkungan dan upaya yang dilakukan untuk menciptakan lingkungan sehat telah dipilih empat indikator, yaitu persentase keluarga yang memiliki akses air bersih, presentase rumah sehat, keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar, Tempat Umum dan Pengolahan Makanan (TUPM) .

Beberapa upaya untuk memperkecil resiko turunnya kualitas lingkungan telah dilaksanakan oleh berbagai instansi terkait seperti pembangunan sarana sanitasi dasar, pemantauan dan penataan lingkungan, pengukuran dan pengendalian kualitas lingkungan.

Pembangunan sarana sanitasi dasar bagi masyarakat yang berkaitan langsung dengan masalah kesehatan meliputi penyediaan air bersih, jamban sehat, perumahan sehat yang biasanya ditangani secara lintas sektor. Sedangkan dijajaran Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang kegiatan yang dilaksanakan meliputi pemantauan kualitas air minum, pemantauan sanitasi rumah sakit, pembinaan dan pemantauan sanitasi tempat-tempat umum (Hotel, Terminal), tempat pengolahan makanan, tempat pengolahan pestisida dan sebagainya.

32

BAB II PENGERTIAN
Upaya penyehatan lingkungan dan pemukiman adalah upaya untuk meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan dan pemukiman melalui upaya sanitasi dasar, pengawasan mutu lingkungan dan tempat umum, termasuk pengendalian pencemaran lingkungan dengan meningkatkan peran serta masyarakat dan keterpaduan pengelolaan lingkungan melalui analisis dampak lingkungan. Lingkungan pemukiman adalah tempat tinggal atau tempat hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan. Tempat umum adalah tempat kegiatan bagi umum yang diselenggarakan oleh badanbadan Pemerintah, Swasta atau Perorangan yang langsung digunakan masyarakat, mempunyai tempat,sarana dan kegiatan yang tetap. Penyehatan makanan adalah upaya untuk mengendalikan faktor makanan, orang, tempat dan perlengkapannya yang dapat atau mungkin dapat menimbulkan penyakit atau gangguan kesehatan lainnya. Pendekatan PKMD adalah pendekatan sosio-edukatif dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Pertemuan tingkat kelurahan. 2. Survai Diri Masyarakat. 3. Musyawarah Masyarakat Kelurahan. 4. Pelalihan Kader. 5. Pelaksanaan Kader. 6. Pelaksanaan Upaya Kesehatan oleh Masyarakat. 7. Pembinaan & Pelestarian kegiatan

33

BAB III TUJUAN

Tujuan Umum Meningkatnya kondisi kesehatan lingkungan melalui upaya pengawasan dan pengendalian semua unsur fisik, kimia, dan biologis yang terdapat dilingkungan dan masyarakat yang dapat mempengaruhi derajat kesehatan.

Tujuan Khusus Meningkatnya kualitas perumahan penduduk yang memenuhi syarat kesehatan. Terbantunya penyediaan air bersih yang memenuhi syarat kesehatan, pengawasan kualitas air bagi seluruh masyarakat, serta peningkatan kemampuan masyarakat dalam penyediaan dan pemanfaatan sarana pembangunan kotoran yang memenuhi syarat kesehatan. Tersedianya fasilitas pembuangan kotoran yang memenuhi syarat kesehatan, tidak menimbulkan sarang lalat, nyamuk dan tikus, dan tidak memberi ―pandangan tidak sedap‖. Terwujudnya kondisi tempat-tempat umum yang memenuhi syarat kesehatan, agar masyarakat, pengunjung dan sekitarnya terhindar dari gangguan kesehatan. Meningkatnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat dan perusahaan makanan dalam mengelola makanan secara aman dan sehat agar terhindar dari penyakit dan keracunan. Terjaminnya mutu lingkungan hidup yang dapat menjamin kesehatan masyarakat yang optimal, bebas dari pengaruh buruk atas pengelolaan pestisida melalui upaya pencegahan dan pengendalian pencemaran dan keracunan oleh pestisida.

34

BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN
KEGIATAN Kegiatan-kegiatan utama kesehatan lingkungan yang harus dilakukan oleh Puskesmas meliputi : 1. Penyehatan air 2. Penyehatan makanan dan minuman 3. Pengawasan pembuangan kotoran manusia 4. Pengawasan dan pembuangan sampah dan limbah 5. Penyehatan pemukiman 6. Pengawasan sanitasi tempat umum 7. Pengamanan polusi industri 8. Pengamanan pestisida 9. Klinik sanitasi

SASARAN Penyehatan air : 1. Daerah dengan angka penyakit diare dan penyakit kulit tinggi 2. Daerah berpenghasilan rendah 3. Daerah penduduk padat dan kumuh 4. Penyehatan makanan dan minuman : 5. Tempat pengelolaan makanan (TPM) : jasa boga, restoran/rumah makan, sentral makanan jajanan, pengrajin makanan/indsutri makanan rumah tangga, kantin termasuk kantin sekolah, pedagang makanan kaki lima, tempat pengelolaan makanan lainnya. 6. Keluarga 7. Pengawasan pembuangan kotoran manusia : 8. Daerah endemis penyakit perut dan penyakit kecacingan 9. Daerah-daerah dengan angka kepemilikan dan pemanfaatan jamban yang memenuhi syarat kesehatan 10. Pengawasan dan Pembuangan Sampah dan Limbah :

35

11. Keluarga dan masyarakat di daerah yang angka kepadatan penduduk tinggi dan produksi sampahnya cukup banyak 12. Daerah endemis penyakit perut (diare, gastroenteritis acuta) dan penyakit-penyakit bersumber sampah

Penyehatan pemukiman : 1. Daerah dengan resiko terhadap kemungkinan penularan penyakit-penyakit diare, kecacingan, TBC paru, ISPA, DBD dan Filariasis 2. Daerah dengan cakupan sanitasi dasarnya rendah 3. Daerah kumuh 4. Daerah pemukiman baru 5. Daerah risiko tinggi terhadap pencemaran

Pengawasan Sanitasi Tempat-tempat Umum : 1. Yang berhubungan dengan sasaran pariwisata, seperti Bioskop, Gedung Pertunjukan, Hotel, Kolam renang, dsb. 2. Yang berhubungan dengan Transportasi, Terminal, Stasiun dan alat Transportasi Umum, pool kendaraan 3. Yang berhubungan dengan sarana ibadah : Masjid, Gereja, Pura, Vihara 4. Yang berhubungan dengan sarana perdagangan : Pasar, Toko Swalayan, dsb 5. Yang berhubungan dengan sarana Perawatan/Pemeliharaan: Salon Kecantikan, Panti Pijat, Tempat Pangkas Rambut, Klinik kesehatan, Puskesmas 6. Yang berhubungan dengan sarana sosial dan pendidikan: Lembaga Pemasyarakatan, Panti Sosial, Sekolah, Rumah duka, penampungan tenaga kerja, dsb 7. Yang berhubungan dengan sarana olahraga, misal : pusat kebugaran, gelanggang olahraga, dsb

Dalam melakukan kegiatan pengamanan lingkungan akibat pencemaran industry diutamakan pada pemukiman sekitar daerah industri dan pemukiman yang mempunyai resiko tinggi terhadap kemungkinan pencemaran industri. Pengamanan pestisida : 1. Tempat pengelolaan Pestisida (TPP) yang menjadi tanggung jawab Puskesmas adalah toko/kios pestisida, KUD. 2. Pengguna pestisida: Petani penyemprot hama pertanian di kebun dan sawah
36

Klinik Sanitasi : 1. Lingkungan penyebab masalah bagi penderita dan masyarakat sekitarnya 37 . Masyarakat umum yang mempunyai masalah kesehatan lingkungan yang datang ke Puskesmas 3. Penderita penyakit yang berhubungan dengan masalah kesehatan lingkungan yang datang ke Puskesmas 2.

Dokter sebagai koordinator 38 . Penyehatan Perumahan Tujuan : 1. Stimulan pembangunan sarana percontohan kesehatan. Prinsip Kerja : Memberikan pelayanan dan pembinaan secara profesional. 4. Pelatihan dan pembinaan kader. 3. Pemeriksaan perumahan dan lingkungannya. 5. 3. Terbantunya masyarakat / keluarga yang kurang mampu untuk membangun / memiliki rumah sehat. ramah. Waktu : Disesuaikan dengan jadwal kegiatan yang disusun. Terlaksananya pemberian penyuluhan tentang rumah sehat bagi keluarga. 2. pemukiman baru perkotaan dan daerah aliran sungai (DAS).BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU Uraian Prosedur Pelayanan Kesehatan Lingkungan A. Sasaran : Masyarakat di pemukiman kumuh. berwibawa dan terkoordinasi dengan lintas program / sektor yang terkait. Kegiatan : 1. Pendataan. Penyuluhan. Termotivasinya masyarakat untuk memiliki / bertempat tinggal di rumah yang memenuhi syarat kesehatan. Tenaga : 1. 2.

dan air limbah 2.2. 2. Alat bantu penyuluhan seperti buku pegangan penyuluhan kesehatan lingkungan . Meningkatnya ketrampilan dan pengetahuan petugas dalam pengawasan dan perbaikan kualitas air serta kemampuan dalam pembinaan masyarakat pemakai air 5. 39 . Kartu rumah 3. Kelengkapan administrasi : 1. Terpantaunya kualitas air meliputi air minum. Meningkatnya peran serta masyarakat pemakai air. Jadwal kegiatan Peralatan kerja : 1. air kolam renang dan pemandian umum. Kunjungan dan mengadakan wawancara dan inspeksi 4. pencegahan pencemaran dan percontohan perbaikan. Mengisi formulir pemantauan 5. air badan air. dll. Tujuan : 1. flip chard. Pencatatan dan pelaporan 6. Menyampaikan umpan balik B. leaftlet. Meningkatnya kualitas air melalui perbaikan kualitas air. Surat Tugas 2. Menyiapkan surat tugas 3. Meningkatnya kemampuan masyarakat dalam upaya penyehatan air. Sanitarian sebagai pelaksana Tempat : Pemukiman yang akan menjadi sasaran kegiatan. Prosedur tetap : 1. Mengadakan pendekatan PKMD 2. Formulir pemantauan. poster. 4. air bersih. 3. Penyehatan Air.

Inspeksi sanitasi khususnya untuk air bersih rumah tangga 3. Dokter sebagai koordinator 2. Surat tugas 4. Perlengkapan lai sesuai SP2tp dan program 3. Buku pencatatan harian 2. Pemantauan dan evaluasi Waktu : Disesuaikan dengan jadwal yang disusun atau apabila ada permasalahan. Masyarakat di daerah percontohan dan pemukiman baru.Sasaran : 1. Perbaikan kualitas air 9.l sisa chlor dan pH) 5. Pendataan 2. Pengambilan dan pengiriman sampel air ke laboratorium 4. Masyarakat di daerah dengan penyakit diare dan penyakir-penyakit akibat jeleknya sanitasi air cukup tinggi dan telah endemis. Masyarakat yang rawan air bersih 2. saran dan tindak lanjut berdasarkan hasil kualitas air. Pencatatan dan pelaporan 6. Sanitarian sebagai pelaksana Tempat : Lokasi tempat kegiatan dilaksanakan sesuai sasaran. Pengawasan kualitas air 8. Kelengkapan administrasi : 1. Penggerakan peran serta masyarakat pemakai air 10. 7. 40 . Pemeriksaan kualitas di lapangan (a. 3. Mengadakan rekomendasi. Jadwal Tenaga : 1. Kegiatan: 1.

Terlaksananya penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya penyehatan pembuangan kotoran. Mengadakan kunjungan sesuai jadwal 4. Terlaksananya penyuluhan tentang sanitasi pembuangan kotoran bagi rumah tangga. Pencatatan dan pelaporan 8. 41 . Formulir 2. wawancara.Peralatan : 1. sehingga masyarakat tahu. pemeriksaan dan mengisi formulir 5. Pengambilan dan pengiriman sampel ke laboratorium 6. Mengadakan pendekatan secara PKMD 2. dan masyarakat umum yang berkepentingan. ramah. Alat pengambil sampel air 5. Memberikan saran perbaikan terhadap hasil yang belum memenuhi syarat baik secara lisan maupun tulisan 7. Field Tool Kit Prosedur tetap : 1. Inspeksi. Evaluasi C. Water test kit 4. mampu dan mau menggunakan sarana pembuangan sehat sehari-hari. 3. Prinsip kerja: Memberikan pelayanan dan pembinaan secara professional. Termotivasinya masyarakat untuk menyediakan dan menggunakan sarana pembuangan kotoran untuk keperluan rumah tangga. berwibawadan terkoordinasi dengan lintas program / sector yang terkait. Menyiapkan surat tugas 3. Buku pemeriksaan sanitasi 3. 2. Penyehatan Pembuangan Kotoran Tujuan: 1.

Menyiapkan surat tugas 42 . 2. Kelengkapan administrasi : 1. Surat tugas 2. Sanitarian sebagai pelaksana. Komponen jamban 4. Masyarakat di daerah-daerah endemis penyakit perut dan cacing. Dokter sebagai koordinator. dll.Sasaran: 1. 3. Tenaga : 1. 2. Buku pegangan kader kesehatan lingkungan 2. Kegiatan: 1. Jadwal kegiatan Peralatan kerja : 1. Masyarakat di daerah-daerah dengan angka kepemilikan dan pemanfaatan jamban sehat rendah. leaflet. Pembangunan dan pengembangan sarana pembangunan kotoran 4. Peralatan yang diperlukan untuk membangun jamban Prosedur kerja : 1. Pemantauan Waktu : Disesuaikan dengan jadwal yang telah disusun. Pendataan 2. Tempat : Lokasi kegiatan sesuai sasaran. Poster. Pendekatan secara PKMD 2. Penyuluhan 3.

Mengisi formulir pemantauan 5. 3. Terlaksananya pengawasan dan pembinaan sarana pembuangan sampah yang memenuhi syarat kesehatan. Prinsip kerja : memberikan pelayanan dan pembinaan secara profesiaonal. Penyuluhan tentang penanganan sampah 3. Pencatatan dan pelaporan 6. Sasaran : 1. menggunakan dan memelihara sarana pembuangan sampah yang memenuhi syarat kesehatan. menggunakan sehari-hari dan memelihara sarana untuk penanganan sampah yang memenuhi syarat kesehatan. Masyarakat di daerah dengan angka kepadatan penduduk tinggi dan produksi sampah yang cukup banyak. Menyampaikan umpan balik D. Terbantunya keluarga dan masyarakat dalam mendapatkan. berwibawa dan terkoordinasi dengan lintas program/sector yang terkait. Pendidikan kesehatan hygiene dan sanitasi 2. Mengadakan kegiatan 4. Kegiatan : 1. GE) dan penyakit-penyakit bersumber sampah. Pemantauan melalui pemeriksaan tempat penampungan dan pembuangan sampah Waktu : Disesuaikan dengan jadual yang telah disusun 43 . Termotivasinya keluarga dan masyarakat untuk menyediakan. 2. Masyarakat di daerah endemis penyakit perut(diare. Terlaksananya penyuluhan tentang pengelolaan sampah yang memenuhi syarat kesehatan bagi rumah tangga dan masyarakat. serta tata-cara pembuangan sampah sesuai perundangan yang berlaku. 2. 4. ramah. Pengelolaan Pembuangan Sampah Tujuan : 1.3.

3. Formulir pemantauan 2. dll. sesuai peraturan perundangan yang berlaku. stop watch. Mengadakan pendekatan secara PKMD 2. Jadwal kegiatan Peralatan kerja : 1. Pengawasan Sanitasi Tempat-Tempat Umum Tujuan : 1. Sanitarian sebagai pelaksana Kelengkapan administrasi: 1. Terlaksananya pengawasan dan pembinaan sarana sanitasi yang memenuhi syarat kesehatan di TTU. dll. flip chart. Pencatatan dan pelaporan 6. 2. Alat bantu penyuluhan seperti seperti buku pegangan penyuluhan kesehatan lingkungan. Menyampaikan umpan balik E.Tempat : Lokasi kegiatan sesuai sasaran Tenaga : 1. Terlaksananya penyuluhan tentang sanitasi yang memenuhi syarat kesehatan di TTU bagi masyarakat dan pengelola TTU 3. Mengisi formulir pemantauan 5. Termotivasinya masyarakat dan pengelola TTU untuk menyediakan. Dokter sebagai koordinator 2. Menyiapkan surat tugas 3. 44 . Fly grill counter. menggunakan dan memelihara sarana sanitasi yang memenuhi syarat kesehatan. senter. poster. leaflet. Prosedur kerja: 1. Surat tugas 2. Mengadakan kegiatan 4.

6. berwibawa. Kegiatan : 1. stasiun dan alat transportasi umum. Pendataan 2. gereja. dll. Pengusaha / penanggung-jawab / pengelola sarana kepariwisataan seperti gedung pertunjukan. analisa dan pelaporan 4. Pengusaha / penanggung-jawab / pengelola usaha transportasi seperti terminal. 2. Pengusaha / penanggung-jawab / pengelola sarana perawatan / pemeliharaan seperti : salon kecantikan. dll. 3. Dokter sebagai koordinator 2. vihara. Sanitarian sebagai pelaksana Tempat : Lokasi kegiatan sesuai sasaran Peralatan kerja: 1. Penyuluhan terhadap pengelola Tempat-Tempat Umum Waktu : Disesuaikan dengan jadwal kegiatan yang disusun Tenaga : 1. Pemeriksaan sanitasi Tempat-Tempat Umum 3. ramah. Sasaran : 1.Prinsip kerja : Mengadakan pelayanan. 5. 4. Penanggung-jawab / pengelola sarana ibadah : masjid. Formulir pemeriksaan 2. pengawasan. pembinaan secara professional. pura. Pengusaha / penanggung-jawab / pengelola sarana perdagangan seperti : Pasar. tukang cukur. serta terkoordinasi dengan lintas sector/program lain yang terkait. Pengolahan. panti pijat. Petunjuk teknis yang diterbitkan 45 . penginapan. dll. Penanggung-jawab / pengelola sarana social seperti : Lembaga Pemasyarakatan.

Hygrometer 8. Alat bantu penyuluhan 4. penyimpanan.3. perusahaan dan masyarakat yang memerlukan 3.l : 5. Peralatan lapangan seperti Sanitary Field Kit yang berisi a. Memberikan saran perbaikan terhadap hasil yang belum memenuhi syarat secara lisan maupun tulisan 6. Menyiapkan surat tugas 3. Menghubungi pengelola / pengusaha / penanggungjawab / pengiriman surat pemberitahuan 2. Penyehatan Makanan dan Minuman Tujuan 1. Sound level meter Prosedur kerja: 1. Pencatatan. Evaluasi F. Thermometer 7. Terlaksananya pemberian penyuluhan dan nasihat tentang hygiene dan sanitasi makanan dan minuman bagi keluarga. Light meter 9. Termotivasinya masyarakat dan pengelola perusahaan makanan untuk bekerja memenuhi syarat kesehatan dalam penyiapan. Terlaksananya tindakan pengamanan terhadap kejadian keracunan makanan dan minuman 46 . sesuai dengan perundangan yang berlaku 4. Terlaksananya pengawasan dan pembinaan tentang hygiene dan sanitasi makanan dan minuman perusahaan dan pengelolaan makanan dan minuman bagi orang banyak. Water test kit 6. penyajian dan penanganan makanan dan minuman 2. pelaporan 7. Mengadakan pemeriksaan dan mengisi formulir 5. Mengadakan kunjungan sesuai jadwal yang telah disusun 4. pengelolaan.

panti. Tempat penjualan makanan dingin. Penyuluhan Waktu : Disesuaikan dengan jadwal yang telah disusun atau apabila ada masalah Kelengkapan administrasi : 1. Tempat pembuangan makanan di asrama. Industri kecil makanan 6. Pedagang kaki lima 10. Tempat penjualan makanan. Ibu-ibu rumah tangga / masyarakat melalui organisasi masyarakat antara lain PKK. Warung kopi 12. Snack bar 14. ramah. LKMD. Sasaran 1. Pengajian ibu-ibu dan posyandu 2. Tempat pembuangan makanan. Pemeriksaan 3. arisan. yang terdiri dari : 8. berwibawa. Pedagang makanan keliling 11. dapur umum. dll 7. Jadwal kegiatan 47 . Rumah makan 9. yang terdiri dari : 4. Jasaboga / catering 5. Surat tugas 2. dan terkoordinasi dengan lintas program / sektor yang terkait. makanan segar Kegiatan : 1. Pengusaha/ penanggung jawab/ pengelola tempat pengolahan makanan. makanan terolah. yang meliputi 3. Pendataan 2.Prinsip kerja Memberikan pelayanan dan pembinaan secara profesional. Kantin 13.

Untuk administrasi seperti formulir. ramah. dll 2. buku pencatatan. berwibawa dan terkoordinasi dengan lintas program / sektor yang terkait 48 . Alat bantu penyuluhan Prosedur kerja : 1. Termotivasinya masyarakat dalam pengedaran dan penggunaan pestisida secara tepat dan aman. Mengadakan pemeriksaan dan mengisi formulir 5. Mengadakan kunjungan sesuai jadwal yang telah disusun 4. Dokter sebagai koordinator 2. Terlaksananya penyuluhan tentang pengamanan pengedaran dan penggunaan pestisida yang memenuhi syarat kesehatan bagi rumah tangga dan masyarakat 3. Terlaksananya pengawasan dan pembinaan terhadap tata cara pengedaran dan penggunaan pestisida di masyarakat yang memenuhi syarat kesehatan 4. Sanitarian sebagai pelaksana Peralatan kerja : 1. Pengamanan Peredaran dan Penggunaan Pestisida Tujuan : 1. serta memenuhi syarat kesehatan 2. Food inspection field kit 3. Menyiapkan surat tugas 3. Evaluasi G. Memberikan saran perbaikan terhadap hasil yang belum memenuhi syarat secara lisan maupun tulisan 6.Tenaga : 1. Menghubungi pengelola / pengusaha / penanggung jawab / pimpinan organisasi / pengiriman surat pemberitahuan 2. Pencatatan dan pelaporan 7. Terbantunya masyarakat dalam pengamanan pengedaran dan penggunaan pestisida sesuai peraturan perundangan yang berlaku Prinsip kerja : Memberikan pelayanan dan pembinaan secara profesional.

KUD dan pergudangan pestisida 2. poster. Pengusaha / penanggung jawab / pengelola / masyarakat pengguna pestisida seperti : petani penyemprotan hama. formulir. Dokter sebagai koordinator 2. buku pencatatan. Buku pegangan kader. leaflet. Penyuluhan Waktu: Disesuaikan dengan jadwal Tenaga : 1. Penanggulangan dan Pencegahan keracunan akut 8. Terhadap unit usaha pengedar pestisida : 2. dll 2. Pendataan TPP (Tempat Pengelola Pestisida) 3. dll 49 . perusahaan Pest Kontrol. Jadwal kegiatan Peralatan kerja : 1. penggunaan pestisida di lokasi rumah tangga / Pest Kontrol Kegiatan : 1. Surat tugas 2. Terhadap pengguna pestisida : 6.Sasaran : 1. Pemeriksaan 4. Penyuluhan / bimbingan perbaikan 5. Sanitarian sebagai pelaksana Kelengkapan administrasi : 1. Alat bantu penyuluhan seperti : alat-alat pelindung pestisida sebagai alat peraga. Pengusaha / penanggung-jawab / pengelola unit usaha pengedar pestisida seperti : Toko / kios pestisida. Pendataan 7.

Evaluasi PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU KEGIATAN Penyehatan air URAIAN KEGIATAN Kegiatan pokok penyehatan air dalam pelaksanaan Program Penyediaan dan pengelolaan air bersih yaitu Pengawasan Kualitas Air. Menyiapkan surat tugas 3. Dalam hal ini petugas Puskesmas melakukan evaluasi perihal kualitas makanan dan minuman dari berbagai segi. Perbaikan Kualitas Air dan Pembinaan Pemakai Air. Tim Pengawasan hygiene dan sanitasi makanan dan minuman Puskesmas Kelurahan dengan monitoring dari Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu Tim pengawas pembuangan Pengawasan Pembuangan Kotoran Melakukan penataan jumlah sarana pembuangan kotoran yang ada. Mengadakan kunjungan sesuai jadwal yang telah disusun 4.Prosedur kerja : 1. Memberikan saran perbaikan terhadap hasil yang belum memenuhi syarat secara lisan maupun tulisan 6. Pencatatan dan pelaporan 7. Hal ini juga melibatkan peran serta masyarakat. cara pengolahan. PELAKSANA Tim pengelola air bersih Puskesmas Pasar Minggu Penyehatan Makanan dan Minuman Kegiatan pengawasan hygiene dan sanitasi makanan dan minuman dilakukan sesuai jadwal yang ditetapkan oleh Puskesmas pada tempat pembuatan dan penjualan makanan dan minuman termasuk didalamnya para penjamah makanan. Menghubungi pengelola / pengusaha / penanggung-jawab / ketua RT-RW / pengiriman surat pemberitahuan 2. perkembangan jumlah. serta 50 . cara penyajian dan para penjamah seperti petugas pemasakan maupun penyajian sesuai dengan wilayah kerja Puskesmas. yaitu bahan mentah. Mengadakan pemeriksaan dan mengisi formulir 5. Untuk dapat melaksanakan kegiatan pokok tersebut diperlukan kegiatan pendukung yakni pengembangan sarana dan prasarana pendukung yang terdiri atas pembinaan dan pengembangan dan pemantapan informasi penyehatan air.

Mencatat hasil pemeriksaan jentik dan melaporkan ke Puskesmas Kelurahan/ Kecamatan. Tim Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu: Kepala Puskesmas. Semua limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) dari Puskesmas Kecamatan Mampang dapat diolah di Instansi Pengolahan Limbah. kelembaban. kepadatan penghuni). 51 .Manusia pemanfaatannya. Mencatat hasil pemantauan dalam buku catatan. Gerakan PSNDBD 30 menit sekali seminggu (Setiap Jumat) secara serentak di Provinsi DKI Jakarta dengan memeriksa ada tidaknya jentik (Pemantauan Jentik Berkala/PJB) dan dikaitkan dengan kejadian kasus DBD di RW. Ketua RW. Jumantik dan masyarakat setempat. tikus dan lalat. Setiap ruangan yang menghasilkan sampah infeksius harus mempunyai kardus descartex dan tempat sampah infeksius berwarna kuning. penempatan kandang ternak lingkungan perumahan serta faktor kepadatan yaitu melihat ada tidaknya tempat perindukan nyamuk. kebersihan pekarangan. kotoran Puskesmas Pasar Minggu Pengawasan dan Pembuangan Sampah dan Limbah Pengumpulan sampah dari masing-masing ruangan dilakukan setiap hari oleh masing-masing petugas cleaning service. Ketua RT. Tim wilayah setempat: Kepala Kelurahan. Membandingkannya dengan catatan sebelum program dinilai adakah peningkatan jumlah jamban maupun jumlah pemakainya. Tim pengelola dan pengawas sampah dan limbah Puskesmas Pasar Minggu Penyehatan Pemukiman Unsur-unsur yang diperiksa meliputi kesehatan rumah (jendela/ventilasi. Melakukan pemeriksaan jentik pada tempat perindukan nyamuk di setiap rumah/ bangunan berdasarkan tatanan. tata ruang. Puskesmas Kelurahan/Kecamatan menganalisa dan melaporkan bulanan ke Sudin Kesmas dan Sudin Yankes dengan tembusan ke Posko PSN DBD RW. PENILAIAN terhadap JENTIK JUMANTIK Dilaksanakan di RW yang ada JUMANTIK Seluruh bangunan diperiksa ada/tidaknya jentik/secara total coverage. dokter dan stafnya yang bertanggung jawab terhadap wilayah tertentu dan co ass. pencahayaan.

sekolah.Lurah dan Camat yang bersangkutan. Pengamanan Lingkungan akibat Unsur-unsur yang diperiksa secara kualitatif dan kuantitatif berkaitan dengan bahaya pencemaran Tim pengawas pengamanan 52 . Integrasi pengawasan kualitas lingkungan Pelaksana sanitarian Puskesmas Kelurahan/Kecamatan sesuai jadwal bulanan. tempat rekreasi. Khusus kegiatan pemeriksaan jentik pada tempat perindukan nyamuk di setiap sasaran dicatat dan dianalisa sesuai lokasi RW. Kegiatan secara rutin diadakan pada triwulan pertama dan keempat pada setiap tahunnya dengan melakukan pemantauan serta memberikan penyuluhan kepada pengelola tempat-tempat umum seperti bioskop. Melaporkan hasil setiap 3 bulanan ke Sudin Kesmas dan Sudin Yankes dengan tembusan Posko DBD RW. Melakukan pemeriksaan jentik pada tempat perindukan nyamuk di setiap rumah/bangunan sampling. Mencatat dan menganalisa hasil pemeriksan jentik dan per RW. Melaporkan hasilnya ke Sudin Kesmas dan Sudin Yankes secara bulanan. Menentukan sasaran RW lokasi sekaligus data jumlah rumah/bangunannya masing-masing. Pengawasan Sanitasi Tempat-tempat Umum Kegiatan pembinaan tempat-tempat umum dilakukan oleh tim dari Puskesmas Kecamatan Mampang dengan bantuan dari Puskesmas Kelurahan. dan lain-lain. Setiap sasaran yang sama diulang 6 tahun berikutnya. Lurah dan Camat yang bersangkutan. Tim pengelolaan dan pembinaan tempat-tempat umum Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu di bawah pengawasan Tim Kesehatan Lingkungan. Menyusun jadwal random sampling untuk 100 rumah/bangunan sampling di setiap RW sasaran. Non JUMANTIK PJB oleh Puskesmas Kelurahan/Kecamatan Pelaksana adalah petugas Puskesmas Kelurahan/Kecamatan.

Tim pengendali hama Puskesmas Pasar Minggu Pengamanan Pestisida Tim pengendali hama bekerja setelah melihat check list dan mendapat laporan dari Kepala Unit atau PJ Ruangan tentang keberadaan hama atau tanda-tanda keberadaan hama. lingkungan Puskesmas Pasar Minggu. tanah dan iklim serta kebisingan di sekitar industri. fogging). ultra sonic. sprayer.Pencemaran Industri potensial yang berasal dari industry meliputi sumber air. 53 . Secara kimia: dengan menggunakan pestisida (umpan beracun. udara. ligh trap. Cara pengendalian hama : Secara fisik: dengan menggunakan perangkap.

Pengamanan polusi industri dan Pengamanan pestisida. Saran Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu dengan kedudukan sebagai Puskesmas Pembina diharapkan dapat lebih membina peran serta dan memonitoring kinerja dari Puskesmas Kelurahan setempat dalam rangka melaksanakan berbagai program kesehatan lingkungan. Jati Padang. Pengawasan dan pembuangan sampah dan limbah. Pasar Minggu. 54 . Pengawasan sanitasi tempat umum. dan Cilandak Timur.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Dari berbagai program pemerintah mengenai kesehatan lingkungan. Pejaten Timur. Pengawasan pembuangan kotoran manusia. Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu dalam hal ini dapat berperan sebagai pengawas maupun sebagai pelaksana kegiatan secara langsung. Penyehatan Makanan dan Minuman. Pejaten Barat. bahkan jika diperlukan dapat dilakukan berbagai pelatihan kepada para petugas terkait sebelum waktu pelaksanaannya di lapangan. Dengan adanya koordinasi yang baik antara tim monitoring dan petugas lapangan maka diharapkan seluruh cakupan program kerja dapat terlaksana dan diperoleh hasil yang lebih baik. Dalam pelaksanaannya Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu dibantu oleh Puskesmas Kelurahan. Kegiatan kesehatan lingkungan di Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu meliputi Penyehatan Air. yaitu Puskesmas Kelurahan Kebagusan. Penyehatan pemukiman (termasuk Pemberantasan Sarang Nyamuk melalui kegiatan Gerakan Jumat Sehat yang diadakan tiap hari Jumat). Ragunan. seluruhnya telah dilaksanakan oleh Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu.

Jakarta. P25-38 55 .DAFTAR PUSTAKA Standarisasi Pelayanan Kesehatan Puskesmas di DKI Jakarta Pemerintah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta.

320) 56 .UPAYA KESEHATAN IBU DAN ANAK SERTA KB PENYUSUN: SYAHRINNAQUIAH SAMSUDDIN (030.349) MOHD ZAIRI B ZABRI (030.06.06.

Kesehatan ibu dan anak merupakan salah satu perhatian dari World Health Organisation (WHO) karena angka kematian ibu dan anak merupakan bahagian dari negara Asean yang mempunyai angka kematian Ibu dan Anak yang masih tinggi dibandingkan dengan negara lain. Sementara kematian ibu karena komplikasi persalinan akibat perdarahan sebelum dan sesudah persalinan meningkat dengan bertambahnya paritas. AKI di Indonesia sekitar 18.UPAYA KESEHATAN IBU DAN ANAK (KIA) BAB I PENDAHULUAN Upaya kesehatan Ibu dan Anak adalah upaya di bidang kesehatan yang menyangkut pelayanan dan pemeliharaan ibu hamil. Menurut SDKI angka kematian ibu (AKI) di Indonesia 307 per 100. Hasil penelitian Felly dan Snewe. hal ini berarti setiap setengah jam seorang perempuan meninggal yang berhubungan dengan kehamilan. bayi dan anak balita serta anak prasekolah. pendidikan. Dari kejadian persalinan patologis tersebut 27. AKI di Indonesia bahkan lebih jelek dari negara Vietnam yaitu 95 per 100. 25. ibu menyusui. Pemberdayaan Masyarakat bidang KIA merupakan upaya memfasilitasi masyarakat untuk membangun sistem kesiagaan masyarakat dalam upaya mengatasi situasi gawat darurat dari aspek non klinis terkait kehamilan dan persalinan.5 % terjadi pada responden yang berumur lebih dari 35 tahun. Bila kondisi kesehatan ibu selama hamil tidak baik. hal ini berarti setiap setengah jam seorang perempuan meninggal yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan.000 kelahiran hidup.000 setiap tahun yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan. ibu bersalin. Resiko terjadi komplikasi pada persalinan terjadi 12% pada usia kurang dari 20 tahun dan 26% pada usia 40 tahun. Kematian ibu tersebut erat kaitannya dengan karakteristik ibu yang meliputi umur.000 kelahiran hidup yaitu 3-6 kali lebih tinggi dari negara ASEAN lainnya.5 % responden yang mengalami persalinan patologis yang terbesar adalah akibat komplikasi persalinan dengan partus lama. persalinan dan nifas. paritas dan perilaku yang berpengaruh terhadap kondisi kesehatan ibu selama hamil yang dapat mempengaruhi proses persalinan normal atau patologis.2 kali mengalami komplikasi dalam persalinan. dan pemeriksaan kehamilan kurang dari 4 kali. 57 . ibu mempunyai resiko 3.

perawatan selama persalinan. gangguan kontraksi rahim. Kematian akibat pesalinan patologis lebih rendah pada umur 20-30 tahun dan jumlah paritas rendah dari pada ibu yang kurang dari 20 tahun. kurang daya tahan tubuh terhadap infeksi dan produksi air susu ibu kurang. Tingkat pendidikan yang rendah pada persalinan patologis lebih tinggi dari pendidikan perguruan tinggi. atau patologis. Ini erat kaitannya dengan perawatan ibu selama masa kehamilan dan persalinan kurang baik.Penelitian Sibuea dari 366 ibu yang mengalami persalinan patologis tindakan seksio sesaria akibat partus tidak maju sebanyak 226 (50. dua. tidak makan tablet zat besi dan asupan gizi yang kurang. perawatan jalan lahir. karena senam hamil dapat meningkatkan aliran darah ke uterus. Tingginya kejadian persalinan patologis diakibatkan oleh tiga terlambat yaitu terlambat melihat tanda-tanda bahaya kehamilan. memakan tablet zat besi. terlambat mengambil keputusan untuk 58 . sehingga dalam persalinan banyak mengalami masalah bahkan komplikasi sehingga persalinan menjadi patologis. Letsi menyatakan hanya 2 dari 10 persalinan memerlukan tindakan spesialis kebidanan. membantu ibu hamil memperoleh power sehingga melancarkan proses persalinan. melakukan senam hamil. menyatakan AKI dapat diturunkan sekitar 317 (85%) dari AKI saat ini. partus lama. adapun asuhan yang diberikan adalah informasi tentang proses persalinan. tindakan persalinan dan dukungan persalinan dari keluarga dan petugas. tiga dan empat. atau sekitar 10-15% proses kehamilan dan persalinan berakhir dengan patologis. Gulardi H. menentukan jenis persalinannya apakah normal. Penelitian Ridwan dan Wahyuni komplikasi persalinan yang mengakibatkan persalinan patologis adalah perilaku ibu selama hamil yang pemeriksaan kehamilan kurang dari empat kali. jika ibu berperilaku hidup sehat selama kehamilan yaitu merawat kehamilan dengan baik melalui asupan gizi yang baik.33%) dan (81. mengakibatkan ibu mengalami anemia. menghindari merokok dan makan obat tanpa resep. Penelitian lain tentang perilaku senam selama kehamilan menunjukkan bahwa ibu yang melakukan senam hamil mengalami persalinan lebih cepat dibanding dengan ibu hamil yang tidak melakukan senam hamil. Melakukan kunjungan minimal empat kali untuk mendapat informasi dari petugas kesehatan tentang perawatan yang harus dilakukan. Bila ibu mengalami anemia dapat mengakibatkan komplikasi pada kehamilan dan persalinan yaitu perdarahan sebelum dan sesudah melahirkan. Asuhan persalinan yang diberikan pada ibu selama persalinan sejak kala satu.5%) tidak melakukan perawatan tehadap kehamilan.

disamping menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi baru lahir. Di rumah sakit ini angka persalinan patologis juga cukup tinggi yaitu 631 persalinan tahun 2004.4 % diantaranya adalah persalinan patologis bedah sesaria dan vakum. sekitar 35. dimana panggul ibu belum tumbuh secara sempurna sehingga kepala tidak dapat melewati jalan lahir. Rumah Sakit Umum Sari Mutiara Medan adalah salah satu rumah sakit swasta yang dipercayakan menerima pasien Jamsostek.3 % melahirkan dengan seksio sesaria. terlalu tua melahirkan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Gulardi dan Basamalah terhadap 64 rumah sakit di Jakarta tercatat 17. sehingga dapat mengakibatkan perdarahan setelah persalinan. Di Indonesia kejadian persalinan patologis 65 % terjadi disebabkan pada salah satu dari empat T tersebut diatas. 45. Ibu yang melahirkan anak pertama lebih dari umur 35 tahun jalan lahir menjadi kaku sehingga sulit anak sulit lahir. baik di rumah sakit pendidikan. sosial ekonomi dan kedudukan wanita dalam keluarga masih rendah. 64 % diantaranya persalinan patologis dan tahun 2005 dari 551 persalinan 67 % merupakan persalinan patologis. Kondisi tersebut dapat mengakibatkan gangguan kontraksi uterus. Selain itu karakteristik ibu juga dapat mempengaruhi persalinan patologis. yang dikenal dengan empat terlalu yaitu: terlalu muda melahirkan anak. persalinan bersih dan aman serta pelayanan obstetri dasar. terlambat memperoleh asuhan asuhan persalinan yang tepat setelah sampai di sarana kesehatan. Di Indonesia kejadian persalinan patologis dengan tindakan seksio sesaria meningkat terus. asuhan antenatal. bersalin dan nifas.665 kelahiran hidup. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding dengan angka standar yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan yaitu sebanyak 15 % bagi rumah sakit swasta (Data 59 . Askeskin dan pasien umum.755. Tujuan upaya ini adalah untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu hamil. serta sosial budaya yang tidak mendukung. maupun rumah sakit swasta. Sementara di Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan tahun 2005-2006 tercatat dari 712 persalinan. Selain itu kurangnya partisipasi masyarakat karena tingkat pendidikan. terlalu banyak melahirkan anak dan terlalu sering melahirkan (jarak <2 tahun). Di Rumah Sakit Umum Cipto Mangunkusumo Jakarta pada tahun 1999-2000 dari 404 persalinan per bulan 30 % seksio sesaria. Untuk mencapai tujuan tersebut Depkes RI melakukan upaya safe motherhood yaitu berupaya menyelamatkan wanita agar setiap wanita yang hamil dan bersalin dapat dilalui dengan sehat dan aman serta menghasilkan bayi yang sehat dan aman.merujuk. WHO mengembangkan konsep melalui empat pilar safe motherhood yaitu keluarga berencana.

kecacatan. kematian. dua. pemerintah telah mencanangkan Making Pregnancy Safer (MPS). 60 . Mengingat pentingnya kesehatan ibu dan bayi pada tanggal 12 Oktober 2000. puskesmas maupun rumah sakit harus mendapatkan pelatihan dan mempunyai sertifikat Asuhan Persalinan Normal (APN) supaya ibu mendapat asuhan yang tepat sejak kala satu. tiga dan empat selama persalinan sehingga persalinan dapat berlangsung normal.Rekam Medik RS Sari Mutiara. 2004 dan 2005). Oleh karena itu Departemen Kesehatan melalui dinas kesehatan propinsi menganjurkan kepada setiap penolong persalinan baik di klinik. Gerakan Nasional Kehamilan yang aman melindungi hak reproduksi dan hak azazi manusia dengan cara mengurangi beban kesalahan. yang berhubungand dengan kehamilan dan persalinan.

persalinan. 61 . pemuka masyarakat serta menambah keterampilan para dukun bayi serta pembinaan kesehatan akan di taman kanak-kanak. Pemberdayaan Masyarakat bidang KIA merupakan upaya memfasilitasi masyarakat untuk membangun sistem kesiagaan masyarakat dalam upaya mengatasi situasi gawat darurat dari aspek non klinis terkait kehamilan dan persalinan Dalam pengertian ini tercakup pula pendidikan kesehatan kepada masyarakat. pemuka masyarakat. meneteki serta pemeliharaan anak dari mulai lahir sampai masa pra sekolah.BAB II PENGERTIAN Upaya kesehatan ibu dan anak adalah upaya dibidang kesehatan yang melakukan pelayanan dalam upaya memelihara kesehatan ibu hamil secara teratur dan terus menerus selama kehamilan. maupun nifas.

ibu bersalin. terutama melalui peningkatan peran ibu dalam keluarganya. ibu menyusui. sikap dan perilaku) dalam mengatasi kesehatan diri dan keluarganya dengan menggunakan teknologi tepat guna dalam upaya pembinaan kesehatan keluarga. Desa Wisma. ibu bersalin. serta meningkatnya derajat kesehatan anak untuk menjamin proses tumbuh kembang optimal yang merupakan landasan bagi peningkatan kualitas manusia seutuhnya. Meningkatnya upaya pembinaan kesehatan balita dan anak prasekolah secara mandiri di dalam lingkungan keluarga. 62 . c. Meningkatnya mutu pelayanan kesehatan bagi ibu hamil. Meningkatnya kemampuan dan peran serta masyarakat. ibu nifas. Meningkatnya kemampuan ibu (pengetahuan. ibu nifas dan ibu menyusui. e. penyelenggaraan Posyandu dan sebagainya. ibu hamil. balita. d. anak balita. bayi dan anak balita. anak prasekolah.BAB III TUJUAN Tujuan Umum Tercapainya kemampuan hidup sehat melalui peningkatan derajat kesehatan yang optimal bagi ibu dan keluarganya untuk atau mempercepat pencapaian target Pembangunan Kesehatan Indonesia yaitu Indonesia Sehat 2015. b. Desa Wisma. serta di sekolah TK. Meningkatnya jangkauan pelayanan kesehatan bayi. Posyandu dan Karang Balita. keluarga dan seluruh anggotanya untuk mengatasi masalah kesehatan ibu. Tujuan Khusus a.

pemeriksaan dilakukan lebih sering dan intensif. Pelayanan Kesehatan Ibu a) Pelayanan ANC (Ante Natal Care) atau Asuhan Keperawatan Kehamilan b) Kunjungan pertama harus memenuhi persyaratan 5 T atau memenuhi pemeriksaan kadar Hb.Menjaga bayi tetap hangat  Perawatan lanjutan pada bayi baru lahir . imunisasi. c) Kunjungan ulang minimal 4 kali selama kehamilan yaitu pada trimester pertama sebanyak 1 kali.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN KEGIATAN DAN SASARAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU A.Umur 1 tahun – 2 tahun : 3 kali . Polio (4 kali). III. pantau keadaan umum  Bila terjadi penyulit segera dirujuk  Kunjungan rumah bagi yang memerlukan II. trimester kedua sebanyak 1 kali dan trimester ketiga sebanyak 2 kali.Umur 2 tahun – 6 tahun : 2 kali  Imunisasi dasar .BCG. mekonium keluar dalam 24 jam pertama c) Pelayanan neonatal lanjut (8-28 hari)  Timbang.Usahakan bernafas spontan . Pelayanan Kesehatan Neonatal a) Perawatan bayi baru lahir  Penanganan bayi segera setelah lahir . pantau keadaan umum. DPT (3 kali).Umur 1 bulan – 11 bulan: 4 kali . Kegiatan I. Pada ibu hamil dengan resiko tinggi. Campak dan Hepatitis (sesuai protap)  Konsultasi dokter ahli 63 . Pelayanan Kesehatan Dasar Balita dan Anak Pra Sekolah a) Pelayanan kesehatan dasar  Pemeriksaan berkala fisik dan tumbuh kembang .Dilakukan rawat gabung (rooming in) yaitu ibu dan bayi berada dalam satu ruangan b) Perawatan neonatal dini (1-7 hari)  Timbang.

Petugas) dan keluarga ibu hamil Pelayanan Kesehatan Anak Bayi. Kader.3 – 6 bulan . balita dan anak sekolah II.9 – 12 bulan .4 – 5 tahun  Konsultasi dokter ahli  Rujukan khusus ulang Pengobatan ringan infeksi.3 – 4 tahun . diare. Sasaran I. 64 . Pelayanan Kesehatan Ibu a) Langsung : Ibu hamil.1 – 3 bulan .b) c) d) e)  Rujukan kasus Pemantauan gizi balita  Timbang badan dan pantau dengan KMS  Pemberian vitamin A setiap 6 bulan (Februari dan Agustus)  Pemberian sirup FE Deteksi dan stimulasi tumbuh kembang  Dipantau sesuai kelompok umur . dan gangguan makan Membuat pencatatan dan pelaporan B.1 – 2 tahun . bersalin dan nifas b) Tidak langsung : Masyarakat ( Tokoh.2 – 3 tahun .6 – 9 bulan .

1-2 thn .Puskesmas-Poli KIA .Puskesmas-Poli KIA .Puskesmas-Poli KIA .Perawat 5.Ruang bersalin (VK) Waktu Sesuai dengan jam kerja puskesmas Sepanjang waktu Pelaksana .Rumah ibu .Rumah ibu .Perawat . Perawatan bayi baru lahir Neonatus . Pemantauan gizi balita Balita Sesuai dengan jam kerja puskesmas .2-6 thn .Bidan .Dokter .Bidan .Bidan .Perawat 7.Dokter . Neonatus . Pelayanan ibu bersalin Ibu hamil 3.Bidan .Rumah ibu Puskesmas-Poli KIA Posyandu Taman Kanak-kanak Kelompok bina keluarga balita .Rumah ibu nifas Pada minggu pertama dan kedua masa nifas Sesuai dengan jam kerja puskesmas Sesuai dengan jam kerja puskesmas Sesuai dengan jam kerja puskesmas Sesuai dengan jam kerja puskesmas 4.1-11 bln .Posyandu .Bidan .Tempat penitipan anak Puskesmas-Poli KIA Posyandu Taman Kanak-kanak Kelompok bina keluarga balita .Puskesmas. Pelayanan ibu nifas Ibu nifas .Perawat 6.Bidan 65 .Bidan .Perawat 8. .Perawat 2.Tempat penitipan anak . Jenis Kegiatan Pemeriksaan ANC Sasaran Ibu hamil Tempat .Posyandu .Rumah ibu .Dokter .Bidan .BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU No 1.Perawat .Puskesmas-Poli KIA .Posyandu . Perawatan neonatal dini (1-7 hari) Perawatan neonatal lanjut (828 hari) Pelayanan kesehatan dasar anak Neonatus .Posyandu .

Tempat penitipan anak Sesuai dengan jam kerja puskesmas . Jadi. tetapi pendekatan ini juga merupakan proses mengorganisir masyarakat sehingga mereka mampu untuk berpikir dan menganalisa dan melakukan aksi untuk menyelesaikan masalah mereka.Bidan . memandirikan masyarakat dalam mengembangkan perilaku hidup bersih dan sehat. 66 . SARAN Puskesmas harus lebih mendekatkan pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat dalam upaya peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi masalahmasalah kesehatan. puskesmas harus menjadikan program-program KIA sebagai budaya masyarakat agar angka kematian ibu dan anak dapat menurun. Selain itu. Deteksi dan stimulasi tumbuh kembang - 1-3 bln 3-6 bln 6-9 bln 9-12 bln 1-2 thn 2-3 thn 3-4 thn 4-5 thn - Puskesmas-Poli KIA Posyandu Taman Kanak-kanak Kelompok bina keluarga balita .Dokter . ini merupakan proses dimana masyarakat merubah diri mereka secara individual dan secara kolektif dan mereka menggunakan kekuatan yang mereka miliki dari energi dan kekuatan mereka. kekuatan-kekuatan dan perbedaan-perbedaan.9. Pendekatan ini tidak hanya memfasilitasi masyarakat untuk menggali dan mengelola berbagai komponen. Ini adalah proses pemberdayaan masyarakat sehingga mereka mampu melakukan aksi untuk meningkatkan kondisi mereka.Kader BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Upaya wajib KIA dapat memberikan masyarakat kesempatan untuk memahami kondisi mereka dan melakukan aksi dalam mengatasi masalah mereka ini disebut dengan pendekatan belajar dan melakukan aksi bersama secara partisipatif (Participatory Learning and Action -PLA). sehingga setiap orang memiliki pandangan yang sama tentang penyelesaian masalah mereka.

pemerintah berupaya untuk mengurangi tingkat pertumbuhan penduduk ini dengan program keluarga berencana. Banyak wanita harus menentukan pilihan kontrasepsi yang sulit. Semakin tinggi tingkat pertumbuhan penduduk. Peningkatan dan perluasan pelayanan keluarga berencana merupakan salah satu usaha untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu yang sedemikian tinggi akibat kehamilan yang dialami oleh wanita. maka makin besar pula usaha yang harus dilakukan untuk mempertahankan kesejahteraan masyarakat. karena dengan mutu pelayanan Keluarga Berencana berkualitas diharapkan akan dapat meningkatkan tingkat kesehatan dan kesejahteraan. Dengan telah berubahnya paradigma dalam pengelolaan masalah kependudukan dan pembangunan dari pendekatan pengendalian populasi dan penurunan fertilitas menjadi pendekatan yang berfokus pada kesehatan reproduksi serta hak reproduksi. Maka pelayanan Keluarga Berencana harus menjadi lebih berkualitas serta memperhatikan hak-hak dari klien/ masyarakat dalam memilih metode kontrasepsi yang diinginkan\ 67 . tidak hanya karena terbatasnya jumlah metode yang tersedia tetapi juga karena metode-metode tertentu mungkin tidak dapat diterima sehubungan dengan kebijakan nasional KB. yaitu masih tingginya tingkat pertumbuhan penduduk.UPAYA WAJIB KELUARGA BERENCANA (KB) BAB 1 PENDAHULUAN Indonesia adalah salah satu Negara yang menghadapi masalah di bidang kependudukan. kesehatan individual dan seksualitas wanita atau biaya untuk memperoleh kontrasepsi . Oleh karena itu. Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu pelayanan kesehatan preventif yang paling dasar dan utama bagi wanita. Pelayanan Keluarga Berencana yang merupakan salah satu didalam paket Pelayanan Kesehatan Reproduksi Esensial perlu mendapatkan perhatian yang serius. Keadaan yang demikian telah mempersulit usaha peningkatan dan pemerataan kesejahteraan masyarakat. meskipun tidak selalu diakui demikian.

kepercayaan dan moral Pancasila. menerima pola keluarga kecil sebagai salah satu langkah utama untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Program keluarga berencana dilaksanakan atas dasar suka. pendanaan. Dengan metode ini maka jumlah dan jarak kehamilan dapat diatur. pencatatan-pemantaun dan informasi KB. Kontrasepsi adalah metode untuk mencegah kehamilan. telpon rumah). Dengan demikian maka bimbingan. 68 . melainkan meliputi berbagai segi penting lainnya dalam tata hidup dan kehidupan masyarakat. Program keluarga berencana ini dilaksanakan dengan menggunakan metode kontrasepsi.rela serta tidak bertentangan dengan agama. dalam hal penggunaan alat transportasi/ komunikasi (telepon genggam.Sistem kesiagaan merupakan sistem tolong-menolong. pendidikan serta pengarahan amat diperlukan agar masyarakat dengan kesadarannya sendiri dapat menghargai dan. Oleh karena itu pelaksanaan program keluarga berencana tidak hanya menyangkut masalah tehnis medis semata-mata. oleh dan untuk masyarakat. pendonor darah. yang dibentuk dari. Dengan program keluarga berencana diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

BAB II PENGERTIAN Keluarga berencana adalah perencanaan kehamilan sehingga kehamilan hanya terjadi pada saat di inginkan oleh suami dan istri. Dengan kata lain KB adalah perencanaan jumlah keluarga. mengatur interval diantara kehamilan dan menentukan jumlah anak dalam keluarga. IUD dan sebagainya Menurut BKKBN keluarga berencana artinya mengatur jumlah anak sesuai kehendak dan menentukan sendiri kapan saatnya hamil atau salah satu usaha masalah kependudukan sekaligus merupakan bagian yang terpadu dalam program Pembangunan Nasional dan bertujuan untuk turut serta menciptakan kesejahteraan ekonomi. menghindari kelahiran yang tidak diinginkan. social budaya penduduk Indonesia agar dapat dicapai keseimbangan yang baik dengan kemampuan produksi Nasional. spiritual. maksud daripada ini adalah gerakan untuk membentuk keluarga yang sehat dan sejahtera dengan membatasi kelahiran. Dapat juga diartikan mengatur jumlah anak sesuai kehendak dan menentukan sendiri kapan saatnya hamil. KB merupakan suatu usaha untuk menjarangkan atau merencanakan jumlah dan jarak kehamilan dengan memakai kontrasepsi. 69 . mendapatkan kelahiran yang diinginkan. Pembatasan bisa dilakukan dengan penggunaan alat-alat kontrasepsi atau penanggulangan kelahiran seperti kondom. 10/1992. KB merupakan tindakan yg membantu individu/ pasutri untuk: Mendapatkan objektif-obketif tertentu. Menurut undang-undang No. Menurut WHO. spiral. keluarga berencana merupakan Upaya peningkatkan kepedulian masyarakat dalam mewujudkan keluarga kecil yang bahagia sejahtera. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Tujuan Khusus a) Meningkatnya kesejahteraan ibu dan anak b) Meningkatnya harapan hidup c) Berkurangnya angka kematian bayi d) Berkurangnya angka kematian ibu hamil 70 . pemakaian MKET.BAB III TUJUAN Tujuan Umum Meningkatnya kesejahteraan ibu dan anak serta keluarga dalam rangka mewujudkan keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera melalui peningkatan mutu pelayanan medis dan pengayoman medis kontrasepsi. peningkatan fungsi pengayoman medis MKET serta penanggungulangan kasus infertilitas.

efek samping.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN KEGIATAN DAN SASARAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU A. penyulit yang mungkin terjadi serta cara penanggulangannya. Kegiatan a) KIE  Pemberian KIE medis mengenai bebagai jenis alat. PUS yang mempunyai masalah. Sasaran a) Langsung: Ibu pada masa interval. Tokoh masyarakat/agama. Petugas kesehatan 71 . b) Pelayanan medis  Konseling pra pelayanan ( KIE)  Pelayanan medis . obat kontrasepsi antara lain cara kerja. Kader kesehatan. b) Tidak langsung: WUS.Penanggulangan infertilitas c) Pengayoman medis  Berupa simulasi pengayoman medis kontrasepsi efektif terpilih ( Siyomeket) d) Rujukan B.Deteksi dini kelainan kesehatan reproduksi ibu (Pap smear) .Pemasangan alat kontrasepsi/pemberian obat kontrasepsi yang diinginkan .

Puskesmas-Poli KB .Ibu pada masa interval .Posyandu Sesuai dengan jam kerja puskesmas .Puskesmas-Poli KB .Bidan .Perawat 2.Posyandu Sesuai dengan jam kerja puskesmas .PUS yang mempunyai masalah .Perawat 72 .Ibu pada masa interval .Dokter .Dokter .PUS yang mempunyai masalah . KIE .Bidan .BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU 1.Puskesmas-Poli KB . Penganyoman medis dan rujukan .Bidan .PUS yang mempunyai masalah .Posyandu Sesuai dengan jam kerja puskesmas . Pelayanan medis .Dokter .Perawat 3.Ibu pada masa interval .

Dalam upaya pencegahan kehamilan dan dalam rangka gerakan Keluarga Berencana Nasional dapat dicapai salah satunya dengan KB suntik 3 bulanan dan dari melihat kasus/asuhan kebidanan diatas dapat diketahui bahwa KB suntik 3 bulanan dapat mengalami masalah Amenorhoe.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Dengan adanya program KB yang didukung dengan strategi pendekatan dan cara operasional program pelayanan KB diharapkan dapat menurunkan angka kelahiran dan meningkatkan kesehatan ibu sehingga di dalam keluarganya akan berkembang Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS). 73 . SARAN Penyebarluasan informasi yang tepat tentang KB dapat membantu masyarakat menuju Keluarga Berencana dan sejahtera selain itu dibutuhkan juga peran serta aktif dari bidan sebagai tenaga kesehatan dan juga masyarakat pasangan usia subur sebagai pengguna.

Jakarta: Widya medika. 718 2. 2010. Hal. Buku panduan praktis pelayanan kontrasepsi. Dkk. Jakarta. 45-47 3. Jakarta: Yayasan bina pustaka. 5. 2003. Depkes RI. Standarisasi Pelayanan Puskesmas di DKI Jakarta. 2003. Danforth buku saku obstetric dan ginekologi. Abdul Bari Saifuddin SpOg. 2006. Prof dr. Prawirohardjo. YBPSP. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. MPG. Jakarta. 74 . Hal. Scott. Sarwono. 2002.DAFTAR PUSTAKA 1. Depkes RI. 4. James R. Pedoman Pendataan Puskesmas.

280 ) 75 .234 ) ( 030.UPAYA PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT Penyusun : Wilma Pratiwi Yenovi Desy Selawani ( 030.05.06.

Ibu atau calon ibu merupakan kelompok rawan karena membutuhkan gizi yang cukup sehingga harus dijaga status gizi dan kesehatannya agar dapat melahirkan bayi yang sehat. Untuk itu perlu dipelajari kenapa mereka tidak datang ke posyandu dan perlu 76 . sehingga seseorang yang menginginkan agar dirinya tetap sehat harus melakukan berbagai macam cara untuk meningkatkan derajat kesehatannya. yang berakibat meningkatnya angka kesakitan dan kematian. Masalah Gizi di Indonesia sampai saat ini masih memprihatinkan. kemungkinan jumlah KMS masih kurang sehingga perlu dilakukan penambahan atau juga distribusi KMS yang belum merata. Jumlah balita yang memiliki KMS (K/S) pada tahun 2008 sebesar 18. baik jasmani maupun rohani guna menopang aktifitas kehidupan sehari-hari. Jika dilihat dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2008. maka cakupan jumlah balita yang memiliki KMS pada tahun 2008 lebih rendah.240 orang. bayi. maka persentase partisipasi masyarakat pada tahun 2008 ini memiliki angka yang paling kecil. Karena nilai persentase K/S kurang dari 100%. anak-anak.2 Tahun 2008 jumlah balita yang ada di kota Tanjungpinang sebanyak 23. Kekurangan gizi akan menyebabkan kegagalan pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan.4%). seperti melakukan penerapan pola hidup sehat dan pola makan yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari.1 Gizi merupakan salah satu penentu kualitas sumber daya manusia. Hal ini mendasari masalah Gizi menjadi salah satu faktor penting penentu pencapaian Millenium Development Goals.927 orang (81. pengangguran. Sedangkan secara umum. menurunkan produktivitas kerja dan menurunkan daya tahan tubuh.2 Partisipasi masyarakat (D/S) pada tahun 2008 sebesar 62. Jika dibandingkan dengan tahun 2004 sampai dengan tahun 2007. dewasa sampai usia lanjut. Begitu pentingnya nilai kesehatan ini. terbukti tingginya angka kematian ibu. masa remaja. bayi dan balita serta rendahnya tingkat kecerdasan yang berakibat pada rendahnya produktifitas.2 Kecukupan gizi sangat diperlukan oleh setiap individu sejak janin yang masih dalam kandungan.BAB I PENDAHULUAN Kesehatan merupakan modal utama dalam kehidupan setiap orang. kemiskinan dan akan menghambat pertumbuhan ekonomi. Hal ini menggambarkan bahwa partisipasi masyarakat masih kurang. cakupan balita yang memiliki KMS (K/S) dari tahun 2004 sampai dengan 2008 berada pada angka diatas 80%. dimanapun dan siapapun pasti membutuhkan badan yang sehat.0%.

2 77 .2 Banyak faktor yang menyebabkan masalah gizi kurang antara lain faktor ketersediaan pangan dalam rumah tangga. Gambaran yang lebih akurat tentang situasi masalah gizi buruk di tingkat masyarakat akan didapat melalui pelaksanaan surveilens aktif dengan melakukan konfirmasi dan pelacakan kasus. salah satu sasaran adalah pelaksanaan Sistem Kewaspadaan Gizi termasuk Sistem Kewaspadaan Dini KLB Gizi Buruk.2 Berdasarkan Keputusan Menkes RI No. Dalam dokumen RPJMN 2004-2009. Untuk itu Pemerintah perlu menyediakan dukungan dana operasional posyandu. menurunnya kinerja posyandu akan berdampak pada menurunnya status gizi. Distribusi MP-ASI sampai ke sasaran memerlukan dukungan dana. 2 Posyandu merupakan bentuk Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) yang mempunyai daya ungkit yang besar dalam mengatasi masalah gizi kurang. asuhan gizi keluarga dan akses keluarga terhadap pelayanan kesehatan. MP-ASI tersebut khususnya bagi bayi dan anak usia 6-23 bulan dari keluarga miskin yang berat badannya berdasarkan hasil penimbangan di posyandu tidak naik (T1). SK Menkes RI no. telah ditargetkan penurunan masalah gizi kurang pada tahun 2009 setinggi-tingginya 20%. Pemerintah telah mengeluarkan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri No.2 Salah satu upaya mempertahankan status gizi bayi dan anak usia 6-23 bulan dan juga untuk mencegah keadaan gizi menjadi lebih buruk.3/1116/SJ tentang revitalisasi posyandu yang merupakan upaya untuk meningkatkan fungsi dan kinerja posyadu. salah satu indikator adalah 80% kecamatan bebas rawan gizi.dimotivasi. Selain itu dari kader posyandu sendiri bersama dengan PKK kelurahan juga dihimbau agar lebih memotivasi warganya untuk membawa balita ke posyandu setiap bulan. 1457/Menkes/SK/X/2003 tentang kewenangan Wajib Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan. Menyikapi kondisi tersebut. disediakan Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI). 116/Menkes/SK/VIII/2003 tentang pedoman Penyelenggaraan Surveilens Epidemiologi Kesehatan.411.

6 78 .3 Zat gizi adalah ikatan kimia yang diperlukan oleh tubuh untuk melakukan fungsi yaitu menghasilkan energi. 3 Perbaikan gizi merupakan suatu upaya perbaikan gizi masyarakat yang diselenggarakan secara menyeluruh dan terpadu dalam kerjasama lintas sektoral. untuk kesehatan dan masalah kesehatan.BAB II PENGERTIAN Kata gizi berasal dari bahasa Arab ―gizzah‖. mendistribusi. menggunakan dan membuang yang tidak terpakai. dan substansi yang terkandung didalamnya. memelihara jaringan dan mengatur proses-proses tubuh. zat-zat gizi. membangun sel-sel. menelan. Ilmu gizi adalah ilmu tentang makanan. Status gizi adalah keadaan tubuh/ekspresi sebagai akibat komsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. menyerap. peran dan keseimbangannya. sumber pertumbuhan dan pemeliharaan untuk mencapai status kesehatan optimal. mencerna.5 Gizi seimbang adalah istilah untuk menggambarkan susunan makanan dan minuman yang jenis maupun jumlahnya menjamin kebutuhan tenaga. Definisi gizi adalah proses tubuh memanfaatkan makanan yang dimulai dari mengunyah. Malnutrisi ( gizi salah ) adalah keadaan patologis akibat kekurangan/ kelebihan secara relatif maupun absolut satu atau lebih zat gizi. dalam bahasa latin ―nutrire‖ artinya makanan atau zat makanan sehat. peranan keluarga serta swadaya termasuk swasta untuk meningkatkan status gizi masyarakat dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.

Meningkatnya cakupan Fe pada ibu hamil dan buteki. balita dan bufas. Meningkatnya pengetahuan dan kemampuan petugas gizi kelurahan dalam melaksanakan dan pelaporan kegiatan gizi. 79 . Meningkatnya cakupan vitamin A pada bayi. Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan Posyandu. 5. 7. Meningkatnya kerjasama lintas program dan lintas sektoral. Terlaksananya kegiatan Pos Gizi untuk menurunkan angka balita gizi buruk dengan dana swadaya masyarakat. 3. Meningkatnya status gizi pada balita gizi buruk melalui intervensi gizi. Diselenggarakannya pelayanan gizi di klinik gizi.BAB III TUJUAN Tujuan Umum Tertanggulanginya masalah gizi di masyarakat dan meningkatnya status gizi masyarakat di wilayah Kecamatan Pasar Minggu. 2. Tujuan Khusus 1. 4. 8. 6.

Pelacakan kasus gizi buruk yang ditemukan di wilayah Pasar Minggu b.1 Kegiatan Rutin Program Gizi a. Pengadaan PM tambahan pemulihan untuk balita BGM 3. Pengadaan vitamin A untuk bayi. Pelayanan gizi di klinis gizi Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu c. Penyuluhan Gizi di SD / MI / SMP / SMA secara terpadu dengan program UKS/PKPR 2. Melakukan survei konsumsi makanan pada masyarakat 3. Pemberian tablet tambah darah pada bumil dan buteki dan bufas 6. Usaha Perbaikan Gizi Institusi ( UPGI ) 1. Pengadaan bahan dan pangan MP-ASI 80 . Pemantauan status gizi anak sekolah dilaksanakan secara terpadu dengan program UKS melalui screening kesehatan 3. Pemberian Vitamin A setiap bulan Februari dan Agustus pada anak . Pemantauan status gizi Balita di Posyandu 2. Pembentukan pos gizi 4. Pemberian Vitamin A pada bufas 5. Pemberian makanan tambahan pemulihan di Posyandu 7. Kegiatan SPGP ( Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi ) 1.anak 4. 2. Penyuluhan gizi pada masyarakat sangat diperlukan karena pengetahuan orang tua dapat ditambah dengan cara memberikan penyuluhan setiap saat pertemuan. dan ibu hamil 2. Pelayanan Gizi di Posyandu 3. Pembinaan kader Posyandu dan petugas kelurahan IV. Monitoring dan evaluasi kegiatan penimbangan balita di Posyandu 8.2 Kegiatan Program Gizi dengan menggunakan anggaran subsidi 1. balita.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN KEGIATAN DAN SASARAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU Kegiatan IV. Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) 1. Rapat koordinasi dengan sektoral 4.

Ibu hamil dengan class ANC 4. Gizi lansia dengan program lansia Sasaran 1. Panti Asuhan 6. Monitoring dan evaluasi program gizi IV. Gizi anak sekolah dengan program UKS 4.5.3 Program Gizi yang berintegrasi dengan program lain 1. Ibu. Lansia yang datang ke Posyandu lansia 3. Gizi remaja dengan program PKPR 5. balita dan buteki yang datang ke Posyandu 2. Pada kelompok sekolah. Pada masyarakat umum 81 . Posyandu dengan program PSM 3. Pembinaan petugas gizi kelurahan 6. Pada kelompok Pasien DM yang ada di Pasar Minggu 5. KP ibu dengan program kesehatan ibu 2. remaja.

Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) Jenis Kegiatan Sasaran Tempat Waktu Pelaksana Penimbangan balita di Posyandu Bayi. dan ibu menyusui Penyuluhan gizi di Posyandu Posyandu Satu bulan 1x Petugas kesehatan sesuai jadwal Puskesmas dan Kader kesehatan/Posyandu Pemberian vitamin A pada balita di Posyandu Pemberian tablet Fe pada balita di Posyandu dan PMT balita Pencatatan dan pelaporan Penataan kader 2. Usaha Perbaikan Gizi Pemuda (UPGP) Jenis kegiatan Penyuluhan gizi remaja Sasaran Organisasi pemuda dan Tempat Kecamatan Waktu 2x per Pelaksana tahun Tenaga Pelaksana Gizi Puskesmas Pembina bersama – sama Dokter Puskesmas Pembina sesuai jadwal remaja/karang taruna 82 . balita.BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU 1. ibu Pemberian makanan tambahan di Posyandu hamil.

2x per panti. Waktu Dasar 4x tahun Pelaksana per Petugas kesehatan dan Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) SLTP/Tsanawiyah. panti jompo.3. dan pesantren Pemeriksaan Hb pada Nakerwan Tenaga kerja wanita (Nakerwan) Pemberian tablet tambah darah pada Nakerwan Tempat Waktu Pelaksana Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) Puskesmas Pembina Institusi/perusahaan. Usaha perbaikan Gizi Sekolah (UPGS) Jenis kegiatan Penyuluhan gizi pada masyarakat sekolah Sasaran Masyarakat Sekolah Dasar/Madrasah Pembinaan warung / kantin sekolah Ibtidiyah. sesuai SLTA/Aliyah jadwal puskesmas Pemberian tablet tambah darah Pemantauan status gizi 4. SLTP/Tsanawiyah dan SLTA/Aliyah Pemeriksaan Hb anak SD/MI Tempat Sekolah (SD).Usaha Perbaikan Gizi Institusi (UPGI) Jenis kegiatan Penyuluhan gizi pada masyarakat institusi Sasaran Masyarakat panti asuhan. pesantren tahun sesuai jadwal Pemantauan gizi Nakerwan 83 .

dll Riwayat kebiasaan makan dan intake Balita gizi buruk rujukan dari posyandu Tempat Poli Waktu Pelaksana Gizi 3 hari dalam Dokter puskesmas Puskesmas seminggu. Pembina sesuai jam kerja Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) Puskesmas Pembina 84 . Klinik Gizi Jenis kegiatan Anamnesa. BKIA.5. diagnose keluhan gizi dan nasihat dietetic Sasaran Pasien umum dengan kelainan gizi ganda (gizi lebih dan kurang) Pengukuran status gizi (antropometri dan Pasien rujukan laboratorium) dari RB. BP.

Jumlah Posyandu yang rutin melaksanakan kegiatan 98.3 % . K/S = 89.000 UI sebanyak 95.9 % 5.2 % 2.1 Kesimpulan 1. Menjalin komunikasi dan kerjasama yang lebih efektif dengan lintas program dan lintas sector 3. Kegiatan intervensi gizi dapat memperbaiki gizi buruk dari 64.000 UI sebanyak 90. khususnya para ibu yang memiliki balita untuk pertumbuhan balitanya melalui kegiatan Posyandu 2.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN VI. Meningkatkan sosialisasi ke masyarakat.8% sedangkan targetnya 80 % VI. N/D = 56. Cakupan Fe I ibu hamil = 81.4 % 8.2 % 6.4 % serta Agustus untuk 100. Rata – rata kunjungan klinik gizi 110 orang/bulan 7. Cakupan vitamin A bulan Februari untuk 100.000 UI sebanyak 93.0 % .1 % da 200. Jumlah kader Posyandu yang aktif 71.0 % .3 % .1 % dan 200.6 % 4. Fe III = 80.4 % 3. N/S = 41. PMT – Pemulihan balita gizi buruk sebaiknya melalui klinik gizi Puskesmas kecamatan agar memudahkan monitoring dan evaluasi 85 .5 % menjadi 24. 2 Saran 1. Cakupan D/S = 74.000 UI sebanyak 99. Cakupan ASI eksklusif masih rendah sekitar 36.

Prioritas Peningkatan Pengetahuan dalam Perbaikan Gizi Masyarakat. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2010 2. Masalah Gizi di Indonesia dan Program Perbaikan Gizi Masyarakat. Direktorat Bina Gizi Masyarakat Republik Indonesia. 2008 3. 2008 4. Jakarta . Juknis SPM Gizi Masyarakat. Wuna. Jakarta . 2007 6. Petunjuk Teknis Bantuan Sosial Program Perbaikan Gizi Masyarakat. Program Perbaikan Gizi Masyarakat. Jakarta . Kendari . Jakarta . 2011 86 . Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Persatuan Ahli Gizi Indonesia. Standarisasi Pelayanan Kesehatan Puskesmas. 2008 5. Jakarta . Evaluasi Pelaksanaan Program Perbaikan Gizi Masyarakat dalam Mencapai Visi Misi Indonesia Sehat 2010.DAFTAR PUSTAKA 1.

UPAYA PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT Penyusun : Fadilah Rakhma Asih Primadyah ( 030.084) (030.209) 87 .06.06.

memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata. 88 . serta upaya-upaya pemulihan kesehatan (rehabilitatif). Program tersebut dilaksanakan untuk mencegah berjangkitnya penyakit atau mengurangi angka kematian dan kesakitan.BAB I PENDAHULUAN Pembangunan kesehatan yang berkualitas merupakan bagian integral dari pembangunan nasional. Penyakit menular yang juga dikenal sebagai penyakit infeksi dalam istilah medis adalah sebuah penyakit yang disebabkan oleh sebuah agen biologi (seperti virus. Typhoid/Types dll). baik masa kini maupun masa datang. Usaha-usaha tersebut dilakukan secara menyeluruh. bakteria atau parasit). bukan disebabkan faktor fisik (seperti luka bakar dan trauma benturan) atau kimia (seperti keracunan) yang mana bisa ditularkan atau menular kepada orang lain melalui media tertentu seperti udara (TBC. serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. terpadu. demam berdarah dengue. cara penanggulangan secara terpadu dan penyelidikan terhadap penularan penyakit. Salah satu program yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan dan sasaran pembangunan di bidang kesehatan adalah pencegahan dan pemberantasan penyakit menular. Usaha peningkatan derajat kesehatan diupayakan melalui upaya peningkatan kesehatan (promotif). dan sedapat mungkin menghilangkan atau mengurangi akibat buruk dari penyakit menular tersebut. Dalam mewujudkan pelaksanaan upaya-upaya di atas tentunya harus didukung oleh sarana dan prasarana serta sumber daya manusia yang berkualitas yang mampu memenuhi tuntutan dan kebutuhan pembangunan di bidang kesehatan. pengkajian. pencegahan penyakit (preventif). Jarum suntik dan transfusi darah(HIVAids. dan penyakit lainnya. influensa.Hepatitisdll). penyembuhan (kuratif). penyakit saluran cerna. tempat makan dan minum yang kurang bersih pencuciannya (Hepatitis. dimana masyarakat. dan berkesinambungan serta peningkatan sistem pengamatan penyakit. tifus abdominalis. malaria. Beberapa penyakit menular yang menjadi masalah utama di Indonesia adalah diare. bangsa dan negara dapat hidup dalam lingkungan dan perilaku hidup yang sehat. Infulenza dll).

dan Nasional. kecacatan akibat kesalahan proses kelahiran. 89 . Untuk melakukan upaya pemberantasan penyakit menular. dan Keputusan Menteri Kesehatan No. dan Sistem Pelaporan Rumah Sakit (SPRS). Beberapa penyakit tidak menular yang menunjukkan kecenderungan peningkatan adalah penyakit jantung koroner. propinsi. yang telah mengalami beberapa kali perubahan dan perbaikan. dan sebagainya. dampak dari berbagai penggunaan obat atau konsumsi makanan serta minuman termasuk merokok. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom. 1116/MENKES/SK/VIII/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilens Epidemiologi Kesehatan serta kebutuhan informasi epidemiologi untuk mendukung upaya pemberantasan penyakit menular dan penyakit tidak menular.Adapun penyakit yang tidak menular adalah penyakit yang diderita pasien yang pada umumnya disebakan bawaan/keturunan. Sistem tersebut disesuaikan dengan ketetapan Undang –Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah. kanker. kondisi stress yang mengakibatkan gangguan kejiwaan. penanggulangan Kejadian Luar biasa (KLB) penyakit dan keracunan. kecelakaan. Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah. hipertensi. Sistem Pencatatan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP). Pada tahun 1987 telah dikembangkan Sistem Surveilens Terpadu (SST) berbasis data. diabetes melitus. serta penanggulangan penyakit tidak menular dierlukan suatu sistem surveilens penyakit yang mampu memberikan dukungan upaya program dalam daerah kerja Kabupaten/Kota.

BAB II PENGERTIAN

Penyakit adalah adalah suatu keadaan abnormal dari tubuh atau pikiran yang menyebabkan ketidaknyamanan, disfungsi atau kesukaran terhadap orang yang

dipengaruhinya. Untuk menyembuhkan penyakit, orang-orang biasa berkonsultasi dengan seorang dokter. Penyakit menular adalah penyakit yang dapat ditularkan (berpindah dari orang yang satu ke orang yang lain) baik secara langsung maupun melalui perantara. Suatu penyakit dapat berpindah dari satu orang ke orang yang lain karena adanya penyebab penyakit

(agent), pejamu (host) dan cara penularan (route of transmission). Agent penyakit menular dapat berupa virus, riketsia, bakteri, protozoa, jamur dan cacing. Agar agent penyebab ini bias bertahan maka harus terjadi perkembangbiakan, berpindah dari satu host ke host yang lain, mencapai host yang baru dan menginfeksi host yang baru. Cara penularan yang dapat dilakukan dengan kontak, inhalasi (air bone infection), kontaminasi (melalui makanan dan minuman), penetrasi pada kulit dan infeksi melalui plasenta. Beberapa jenis penyakit yang menular:
                

Anthrax Beguk Batuk rejan (pertusis) Beri-beri Cacingan Cacar Air (varicella) Campak Chikungunya Demam campak Demam berdarah Demam kelenjar Diare Disentri Amuba Eritema infektiosum (Parvovirus B19) Hepatitis A Hepatitis B Hepatitis C

                 

Impetigo Influenza Kolera Lepra Malaria Penyakit Meningokokus Penyakit tangan, kaki dan mulut Rabies Radang lambung dan usus Rubeola Rubella Tetanus Tuberkulosis Kutu Konjungtivitis Kurap Kudis Skarlatina
90

Flu Burung

Macam penyakit menular:  Penyakit karantina atau wabah (UU No.1 dan 2 tahun 1962): Kolera, Pes, Demam kuning, Deman bolak-balik, Tifus Bercak Wabah, Poliomielitis dan Difteri).   Penyakit menular dengan potensi wabah tinggi: DBD, Diare, Campak, Pertusis dan Rabies, Avian Influenza, HIV/AIDS. Penyakit frambusia,  menular dengan potensi wabah rendah: antraks, malaria, tetanus meningitis, neonatorum

keracunan,

influenza,

ensefalitis,

dan tifus abdominalis. Penyakit menular yang tidak berpotensi wabah : kecacingan, lepra, TBC, Sifilis, Gonore dan Filariasis. Penyakit tidak menular adalah penyakit yang tidak disebabkan oleh kuman, tetapi disebabkan karena adanya problem fisiologis atau metabolisme pada jaringan tubuh manusia. Penyakit-penyakit tersebut contohnya ialah; batuk, seriawan, sakit perut, dan sebagainya. Pengalaman menunjukkan bahwa penyakit menular yang terdapat di dalam wilayah kerja Puskesmas di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi kelompok-kelompok penyakit menular sesuai dengan sifat penyebarannya di dalam masyarakat wilayah tersebut, ialah: 1. Penyakit menular yang secara endemik berada diwilayah, yang pada waktu tertentu dapat menimbulkan wabah, yang dapat dikelompokkan ke dalam penyakit-penyakit menular potensial wabah. 2. Penyakit menular yang berada di wilayah dengan endemisitas yang cukup tinggi sehingga jika tidak diawasi dapat menjadi anacaman bagi kesehatan masyarakat umum. 3. Penyakit- penyakit menular lain yang walaupun endemisitasnya tidak terlalu tinggi di dalam masyarakat, tetapi oleh karena sifat penyebarannya dianggap sangat membahayakan keberadaannya. Dalam upaya pencegahan terjadinya wabah dan penularan penyakit dalam program Puskesmas dilaksanakan program P4M (Pencegahan, Pemberantasan, Pembasmian, Penyakit
91

masyarakat,

maka

penyakit-penyakit

ini

perlu

diawasi

Menular) dengan tujuan eradikasi penyakit sampai ke akarnya. Kemudian diganti menjadi P3M (Pencegahan, Pencegahan Penyakit menular) dan P2M & PLP (Pemberantasan Penyakit Menular & Penyehatan Lingkungan Pemukiman). Penyakit dapat dibedakan menjadi : a. Penyakit menular b. Penyakit infeksi c. Penyakit Kontak d. Penyakit karantina e. Penyakit endemi f. Penyakit epidemi (wabah) g. Penyakit Pandemi

Penyakit menular adalah penyakit yang disebabkan agent / hasil toxin yang berasal dari reservoir dan ditularkan ke host yang rentan. Mata rantai penularan terdiri dari : a. Agent / hasil toksin b. Reservoir (sumber penularan) c. Transmisi (cara penularan) d. Host / penjamu

Kejadian Luar Biasa (KLB) ialah kejadian kesakitan dan atau kematian yang menarik perhatian umum dan mungkin menimbulkan ketakutan dikalangan mayarakat, atau yang menurut pengamatan epidemiologik dianggap adanya peningkatan yang berarti dari kejadian kesakitan/kematian tersebut pada kelompok penduduk dalam kurun waktu tertentu. Termasuk dalam KLB ialah kejadian kesakitan atau kematian yang disebabkan oleh penyakit-penyakit baik yang menullar maupun tidak menular dan kejadian bencana alam yang diserati wabah penyakit. Secara operasional suatu kejadian dapat disebut KLB bila memenuhi satu atau lebih ketentuan-ketentuan sebagai berikut : 1. Angka kesakitan/kematian suatu penyakit menular di suatu kecamatan menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih selama tiga minggu berturut-turut atau lebih.
92

2. Jumlah penderita baru dalam satu bulan dari suatu penyakit menular di suatu kecamatan menunjukkan kenaikan dua kali lipat atau lebih bila dibandingkan dengan angka ratarata sebulan dalam setahun sebelumnya dari penyakit menular yang sama di kecamatan tersebut. 3. Angka rata-rata bulanan dalam satu tahun dari penderita-penderita baru dari suatu penyakit menular disuatu kecamatan menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata bulanan dalam tahun sebelumnya dari penyakit yang sama pula. 4. Case fatality rate dari suatu penyakit menular tertentu dalam suatu kurun waktu tertentu (hari, minggu, bulan) di suatu kecamatan menujukkan kenaikan 50% atau lebih bila dibandingkan dengan CFR penyakit yang sama dalam kurun waktu yang sama periode sebelumnya di kecamatan tersebut. 5. Proportional rate penderita baru dari suatu penyakit menular dalam satu periode tertentu, dibandingkan dengan proportional rate penderita baru dari suatu penyakit menular yang sama daam tahun yang lalu dengan periode yang sama menunjukkkan kenaikan dua kali atau lebih. 6. Khusus penyakit-penyakit kolera, pes, DBD/DSS : a. Setiap peningkatan jumlah penderita-penderita tersebut diatas, di suatu daerah endemik yang sesuai dengan ketentua-ketentuan di atas. b. Terdapatnya satu atau lebih penderita kematian menular tersebut diatas, di suatu Kecamatan yang telah bebas dari penyakit-penyakit tersebut, paling sedikit bebas selama 4 minggu berturut-turut. 7. Apabila kesakitan atau kematian oleh keracunan yang timbul di suatu kelompok masyarakat. 8. Apabila di daerah tersebut terdapat penyakit yang sebelumnya tidak ada. Khusus untuk kasus AFP (Acute Flaccid Paralysis) dan Tetanus neonatorum ditetapkan sebagai KLB bila ditemukan satu kasus atau lebih. Wabah penyakit menular adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka (UU No.4 Tahun 1984 tentang wabah penyakit menular)

93

Penanggulangan Kejadian Luar Biasa Penyakit Menular dilaksanakan dengan upaya-upaya : 1. Pengobatan, dengan memberikan pertolongan penderita, membangun pos-pos kesehatan di tempat kejadian dengan dukungan tenaga dan sarana obat yang memadai termasuk rujukan. 2. Pemutusan rantai penularan atau upaya pencegahan misalnya, abatisasi pada KLB DBD, kaporisasi pada sumur-sumur yang tercemar pada KLB diare, dsb. 3. Melakukan kegiatan pendukung yaitu penyuluhan pengamatan. Pemantauan dan logistik. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit (P2P) terdiri dari kegiatan pengamatan penyakit, pencegahan termasuk imunisasi serta penanggulangan dan

pemberantasan penyakit. Berbagai cara pencegahan dapat diterapkan salah satunya dengan membangkitkan kekebalan pada masyarakat melalui pelayanan yang dalam pelaksanaannya diintegrasikan ke dalam program-program pelayanan perolrangan seperti KIA, UKS, dan kegiatan imunisasi di luar gedung Puskesmas. Mengingat pentingnya pelayanan imunisasi ini, maka cakupan imunisasi di dalam masyarakat perlu dimonitor dengan Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) imunisasi Puskesmas menurut distribusi desa. Ada beberapa cara penularan penyakit menular, yaitu : 1. Penularan secara kontak, baik kontak langsung maupun kontak tidak langsung. 2. Penularah memalui vehicle seperti melalui makanan dan minuman yang tercemar. 3. Penularan melalui vektor. 4. Penularan melalui suntikan, transfusi, tindik, tato. 5. Penularan melalui hubungan seksual. Surveilans epidemiologi penyakit dapat diartikan sebagai kegiatan pengumpulan data atau informasi melalui pengamatan terhadap kesakitan atau kematian dan penyebaran serta faktor-faktor yang mepengaruhinya secara sistematik, terus-menerus dengan tujuan untuk perencanaan suatu program, mengevaluasi hasil program, dan sistem kewaspadaan dini. Untuk dapat memonitor atau mengamati distribusi penyakit menular di dalam masyarakat wilayah kerja Puskesmas, dilakukan pencatatan peristiwa kesakitan dan kematian yang diakibatkan oleh penyakit menular tersebut. Untuk pemantauan penyakit menular tertentu yang menjadi masalah kesehatan di wilayah Puskesmas disajikan dalam PWS mingguan Penyakit (contoh PWS [Formulir W2] penyakit campak, diare, DBD, dll). Dengan penggunaan PWS penyakit sara mingguan ini dapat dikenali atau diketahui secara dini kenaikan atau distribusi suatu penyakit menular tertentu menurut tempat dan waktu.
94

BAB III TUJUAN

A.

Tujuan Umum Menurunnya angka kesakitan, kematian, dan angka kecacatan akibat penyakit.

B.

Tujuan Khusus 1. Terlaksananya kegiatan pengamatan penyakit menular dan penyakit tidak menular. 2. Terlaksananya kegiatan pencegahan penyakit dan imunisasi. 3. Terlaksananya kegiatan pemberantasan penyakit menular langsung (TBC, Kusta, Diare dan kecacingan, ISPA, serta Penyakit menular Seksual dan HIV AIDS). 4. Terlaksananya kegiatan pemberantasan penyakit bersumber vektor dan rodent. (DBD, Malaria, Rabies, dan filaria).

95

Rabies dan Japanese Encephalitis adalah masalah utama yang memerlukan dukungan dari sistem pemerintahan untuk memperkuat pengawasan dan vaksin pencegahan. terpencil. Proyek percobaan untuk ELF memperlihatkan hasil yang menjanjikan yang perlu ditingkatkan ke tingkat propinsi. namun dengan penularan utama yang terjadi di daerah yang miskin. Sasaran:   Memperkuat pengawasan penyakit yang menular melalui hubungan seksual (STI). Infeksi Dengue dan komplikasinya seperti demam berdarah terus meningkat di daerah kota dan pinggir kota dengan meningkatnya angka kesakitan namun menurunnya angka kematian yang menjanjikan. Leptospirosis tetap menjadi hal yang serius meskipun tidak ada laporan yang mengancam.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN A. kurang pelayanannya. Frambesia dan kusta adalah penyakit menular yang dapat diobati. Memperkuat pengawasan HIV. Penyakit Menular PROGRAM PENGAWASAN TERHADAP PENYAKIT MENULAR Pokok Persoalan dan Tantangan: Pemerintah Indonesia telah mengubah sistem pemerintahannya menjadi sistem desentralisasi yang membahayakan sistem pengawasan Penyakit Menular. Partisipasi dan jaringan masyarakat diperlukan untuk memulai pengawasan dari penularan dengue (terutama di perkotaan) dan filariasis (terutama di pedesaan). PROGRAM PENCEGAHAN. dan juga tingkat daerah. sesuai dengan komitmen untuk target penghapusan global (Mekhong Plus). diperlukan kesadaran yang ditingkatkan dan dukungan dari pemerintah setempat. PEMBERANTASAN DAN PENGAWASAN TERHADAP PENYAKIT MENULAR Pokok Persoalan dan Tantangan: Infeksi Filariasis dan penularannya selalu terdapat di banyak daerah tanpa kegiatan pengawasan yang cukup. Helminthiasis yang sangat umum dan sangat endemis dengan pengaruh 96 .

Unit Malaria di DepKes meneruskan kebutuhan untuk memperkuat fungsinya sebagai koordinator dari "Gebrak Malaria" dan GFATM. antihelminthiasis deworming. Badan Swasta dan Tempat Kesehatan Masyarakat lainnya harus terlibat dalam pelaksanaan DOTS. partisipasi dan jaringan masyarakat untuk pengawasan dengue dan arbovirus lainnya. Sasaran:  Meningkatkan dan mempertahankan kualitas dari komponen-komponen terpilih dan bidang-bidang yang termasuk dalam program nasional untuk mencegah. TB dan Malaria.kesehatan yang kronik yang dapat secara luas ditingkatkan melalui pemberantasan cacing yang berulang-ulang secara masal. yang harus dikoordinasikan dengan perawatan ELF dimanapun memungkinkan. mengawasi. yaws dan kusta. Kini desentralisasi sedang berjalan yang memerintahkan pelaksanaan tanggung jawab di tingkat daerah dan propinsi. PROGRAM PEMBERANTASAN TUBERCULOSIS Pokok Persoalan dan Tantangan: Indonesia telah mengembangkan dan memulai penerapan rencana pembangunan lima tahun untuk pemberantasan TB (2002-2006). Kebijakan perawatan obat-obatan perlu terus diawasi dengan timbulnya kembali pola resistansi. Untuk memperbaiki hal ini. namun pelaksanaanya belum dimulai. termasuk ELF. Kualitas pelaksanaan DOTS. rabies. Ancaman yang muncul kembali telah terjadi di daerah-daerah pengawasan efektif sebelumnya. PROGRAM PEMBERANTASAN MALARIA Pokok Persoalan dan Tantangan: Malaria tetap menjadi salah satu penyakit menular yang utama di sebagian besar daerah di Indonesia. dan menghapuskan penyakit-penyakit yang ditargetkan. leptospirosis. Sebuah rencana pembangunan telah dikembangkan. Telah ada peningkatan marginal dalam kasus tingkat deteksi selama dua tahun terakhir hanya karena Pusat Kesehatan telah melaksanakan DOTS. bersama dengan meningkatnya pendanaan yang baru-baru ini disetujui melalui Global Fund untuk AIDS. terutama sistem 97 . Sasaran: Meningkatkan dan memelihara kualitas dari komponen-komponen terpilih dan daerah-daerah yang terjangkau oleh rencana kerjasama "Gebrak Malaria" untuk dilaksanakan dibawah GFATM dan sumber donatur lainnya. Angka kesakitan dan kematian Malaria secara bermakna mempengaruhi bagian-bagian yang lebih miskin di negara.

upaya peningkatan kesehatan yang terpadu dan penghantaran perawatan kesehatan yang direformasi. dan penyediaan dukungan teknis yang berkesinambungan. yaitu: pengamatan faktor-faktor risiko. pendekatan Stepwise telah digunakan di bidang demonstrasi mengarah pada pengembangan pendekatan yang berbasis komunitas dalam pengawasan penyakit tidak menular. pada saat ini mengalami beberapa kekurangan yang perlu diatasi dengan memperkuat dan meluruskan kegiatan DOTS di tingkat pusat. dengan pendanaan gabungan dari SEARO dan Kantor Negara. Disamping itu. Pendekatan STEPwise dari WHO untuk Pengamatan Faktor Risiko telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia selama tahun 2002-03. Namun. Sasaran:  Memperbaiki pelaksanaan pelayanan DOTS di seluruh negeri dengan membentuk kemitraan yang efektif dengan provider kesehatan di sektor lain (publik-gabungan publik & publik . dengan mengadaptasi Rencana Global dan Regional. PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN TERHADAP PENYAKIT TIDAK MENULAR Pokok Persoalan dan Tantangan : Kini suatu upaya yang terpadu sedang berjalan untuk mengembangkan Pengamatan Risiko Terhadap Penyakit Tidak Menular (NCD Control). maka penting untuk memperkuat dukungan teknis dalam negeri dengan menambah staf di tingkat nasional dan lapangan. rencana pembangunan nasional tentang pengamatan terhadap penyakit yang tidak menular yang utama masih perlu dikembangkan untuk mencapai sebuah konsensus dalam pengamatan terhadap penyakit yang tidak menular. B. Selain itu.Modul Kesehatan sebagai bagian dari SURKESNAS. STEP 1 juga telah dimasukkan ke dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional . instrumen. propinsi dan daerah. Tiga komponen utama diadopsi. Perbedaan dalam 98 .pencatatan dan pelaporan. Dokumen ini diharapkan akan selesai sebelum akhir tahun 2003. Penyakit Tidak Menular PROGRAM PENGAWASAN. Agar dapat menyediakan dukungan teknis yang berkesinambungan untuk mengatasi hal ini.instrumen ini telah diperkenalkan oleh pemerintah setempat dan juga universitas guna meningkatkan pengadopsian dari instrumen-instrumen ini untuk penerapan yang lebih lanjut.gabungan swasta).

pendekatan dari dasar penyakit dan fakto risiko berdasarkan pengamatan harus saling melengkapi dan mendapatkan kepentingan yang seimbang. Ini adalah projek yang berlangsung lama. Sasaran :  Penerapan dukungan teknis dalam rencana pembangunan untuk pencegahan dan penanggulangan kebutaan. dan terutama bahwa Penglihatan 2020 bukan program prioritas teratas di negeri ini. ada potensi yang besar dalam sektor swasta seperti LSM yang sangat aktif dalam pencegahan dan pengawasan faktor risiko dari penyakit yang tidak menular. Tantangannya kini adalah untuk melanjutkan upaya-upaya dan untuk menyokong para pemegang kepentingan yang utama untuk memungkinkan negara untuk mengantisipasi wabah penyakit yang tidak menular yang akan datang. Maka. PROGRAM PENGAWASAN. Projek uji coba sedang berjalan di Depok dengan gabungan dana dari SEARO dan Kantor Negara untuk mengembangkan pendekatan yang berbasis komunitas dalam pencegahan dan pengawasan penyakit yang tidak menular yang utama. terutama jika kita ingin melihat perubahan perilaku. PROGRAM PENGAWASAN TEMBAKAU 99 . upaya yang konsisten harus ada supaya kita dapat mencapai suatu kesimpulan. pertemuan-pertemuan persiapan telah dilakukan untuk membentuk suatu jaringan nasional untuk pencegahan dan pengawasan dari penyakit yang tidak menular yang utama. Sasaran :  Menerapkan Program Pembangunan Nasional untuk pencegahan dan pengawasan penyakit yang tidak menular. Meskipun sektor publik/ DepKes tetap menjadi agen utama bagi pergerakan ini. Dalam waktu 2002-3. Maka dari itu. PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN TERHADAP PENYAKIT TIDAK MENULAR 2 Pokok Persoalan dan Tantangan : Indonesia masih ketinggalan dalam upaya untuk memerangi kebutaan yang diakibatkan oleh katarak. Rencana Pembangunan Nasional untuk penanggulangan kebutaan baru saja dikeluarkan. jaringan ini perlu didukung lebih jauh lagi. maka ini harus benar-benar didukung. Dalam kurun waktu 2002-3 beberapa petugas pemerintah telah mendapatkan pelatihan dalam Program Pengelolaan Perawatan Mata di Madurai dan di beberapa tempat.

Selain itu.18 Indonesia aktif terlibat dalam Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) bersama dengan negara anggota PBB lainnya. Sangat baik dimengerti bahwa menanggapi isu-isu kecelakaan dan kekerasan membutuhkan pendekatan multi-sektor. Di antara anak laki-laki yang disurvei di sekolah menengah di Jakarta. bekerja sama dengan berbagai departemen pemerintah. WHO SEARO telah mengembangkan beberapa dokumen yang berhubungan dengan ini. Sasaran :  Membentuk kebijakan nasional untuk pencegahan kecelakaan dan kekerasan.0%). kesehatan menduduki posisi yang paling strategis di bidang ini. Sasaran :  Mengadopsi dan menerapkan rencana pengendalian tembakau nasional yang lengkap PROGRAM KECELAKAAN/DISABILITAS Pokok Persoalan dan Tantangan : Kecelakaan dan kekerasan telah menjadi masalah kesehatan publik.8% (1997) menjadi 42. PROGRAM KESEHATAN MENTAL DAN PENYALAHGUNAAN OBAT DAN BAHAN BERBAHAYA Pokok Persoalan dan Tantangan : 100 .1% pria Indonesia berusia 20 tahun atau lebih merokok secara reguler. Di tahun 2003. tujuannya adalah untuk meratifikasi perjanjian internasional pengawasan tembakau.3% telah mencoba merokok.6% (2000).Pokok Persoalan dan Tantangan : Indonesia telah mengalami salah satu peningkatan terbesar dalam konsumsi tembakau di dunia . kecelakaan dan kekerasan yang berhubungan dengan ketidakstabilan politik dianggap tinggi di area-area yang terkena. Pada saat kini.5% dari satu juta orang. dengan angka yang lebih tinggi di daerah pedesaan (74. WHO telah menonjolkan isu ini dengan mengeluarkan Laporan Dunia tentang Kekerasan dan Kesehatan di tahun 2002.47% selama tahun 1990an. Perokok meningkat dengan pesat di Indonesia. LSM dan MPR. Sekitar 69. WHO akan mendukung struktur lembaga untuk membawa ke depan kunci legislatif dan elemen-elemen kebijakan dari rencana pembangunan. tidak ada titik pusat yang diidentifikasikan di dalam DepKes. 69. Sesuai dengan WHA52. Perokok reguler di antara anak laki-laki berusia 15 sampai 19 tahun meningkat dari 36. Namun demikian. yang dapat digunakan sebagai referensi untuk membentuk kebijakan dan kapasitas dalam menangani isu-isu ini. Data dari Susenas memperlihatkan bahwa insiden kecelakaan sendiri adalah 0.

Meskipun adanya upaya ini. sejumlah panduan telah dikembangkan untuk para pecandu narkotika. Disamping itu. Ini menjadi ganda dengan adanya perubahan baru-baru ini di dalam DepKes Direktorat Kesehatan Mental dari pendekatan berbasis rumah sakit menjadi berbasis komunitas. Adaptasi ini diharapkan untuk selesai di tahun 2003. Sasaran :  Memperkuat program kesehatan mental daerah. di dalam kurun waktu tahun 2002-03. WHO telah mendukung pengembangan Kebijakan Kesehatan Mental Nasional dan rencana pembangunannya. Selain itu. beberapa modul pelatihan untuk pencegahan dan pemberi perawatan utama dalam bidang kesehatan mental dan penyalahgunaan obat dan bahan berbahaya telah dikembangkan dan dilatih di beberapa propinsi. beberapa modul lain juga akan menjalani pendekatan yang sama. Kebingungan juga meningkat karena tidak adanya pola di negara mengenai program kesehatan mental daerah yang dapat digunakan sebagai contoh. Namun tidak ada tanggapan dan pengawasan dari pelaksanaanya. Penyalahgunaan obat dan bahan berbahaya menjadi lebih menonjol dalam beberapa tahun terakhir. yaitu Perencanaan dan Penganggaran Belanja Program Kesehatan Mental dan Pengaturan Jasa-Jasa Kesehatan Mental. program kesehatan mental masih belum mendapatkan anggaran belanja yang mencukupi. Kini tantangannya adalah untuk meningkatkan kesadaran dan mengembangkan panduan nasional dalam menghadapi alkoholisme dan penyalahgunaan bahan berbahaya lainnya seperti metamphetamine. Pemerintah telah melakukan upaya namun masih belum terlalu efektif. namun ada pengertian yang berkembang bahwa narkotika sangat berhubungan dengan penyalahgunaan bahan lainnya seperti alkoholisme. desentralisasi yang mulai diterapkan di tahun 2001 mempersulit masalah ini. 101 . Di tahun 2004-05. Kini telah ada upaya untuk mengartikan dan mengadaptasikan dua seri modul. Kantor WHO di negara bekerja sebagian dalam isu ini. sebuah lokakarya pelatihan telah berhasil diselenggarakan dengan mengikutsertakan peserta dari pusat dan dari propinsi-propinsi di Jawa dan Bali untuk memperkenalkan modul dan menggunakan modul untuk mengembangkan program kesehatan mental. Maka dari itu.Masalah kesehatan mental menjadi masalah yang lebih menonjol belakangan ini di negara. Di tahun 2003. WHO-HQ baru-baru ini mengembangkan alat-alat pengelola untuk memperkuat program kesehatan mental daerah melalui Projek Kebijakan Kesehatan Mental. sebagian karena dikeluarkannya Laporan Kesehatan Dunia 2001 tentang Kesehatan Mental. dll.

 Memperbaharui dan mencoba di lapangan panduan nasional dan alat-alat pengelolaan penyakit mental dan neurologis dan penyalahgunaan bahan berbahaya 102 .

kelompok Poli paru. Aula 1 tahun 2x tiap Dokter dan Puskesmas kunjungan poli puskesmas dan tenaga Kelurahan kesehatan Kusta Dewasa Aula 1 tahun 1x Dokter puskesmas dan tenaga kesehatan HIV Pasien poli dan Poli siswa remaja sekolah konsultasi 1 tahun 1x tiap Dokter dan kunjungan poli puskesmas dan tenaga kesehatan 103 . Aula 1 tahun 1x tiap Dokter kunjungan poli puskesmas dan tenaga kesehatan TBC Individu.BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN TEBET Pelaksanaan upaya pokok pencegahan pemberantasan penyakit menular dan tidak menular di puskesmas tingkat kecamatan : Kegiatan Penyuluhan ISPA Sasaran Tempat Waktu Pelaksana Balita. dewasa Poli anak dan 1 tahun 1x tiap Dokter umum. Aula kunjungan Poli puskesmas dan tenaga kesehatan Diare Bayi dan anak Poli anak.

III) Tiap kunjungan Bidan Ibu hamil TT Pemeriksaan klinis Sputum tersangka TB Anak dewasa dan Poli umum. tenaga kesehatan dan Jumantik dan poli poli puskesmas Poli KIA sebanyak 2x Sekolah kesehatan (0-11 Poli imunisasi 104 .Imunisasi Imunisasi wajib Bayi bulan) Tiap Selasa dan Tenaga Kamis Imunisasi sekolah Siswa SD (kelas I. poli Tiap kunjungan Dokter paru anak PSN Masyarakat Kelurahan 1x tiap minggu Dokter (hari Jumat) puskesmas.II.

Saran Untuk lebih meningkatkan upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular dan tidak menular sebaiknya dilakukan sosialisasi kepada masyarakat secara rutin serta penambahan SDM yang ada patut dipertimbangkan. Host / penjamu Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit (P2P) terdiri dari kegiatan pengamatan penyakit. pencegahan termasuk imunisasi serta penanggulangan dan pemberantasan penyakit. Transmisi (cara penularan) .BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. agar program yang ada dapat berjalan dan terlaksana dengan baik dan maksimal. Mata rantai penularan terdiri dari : a. B. c. Reservoir (sumber penularan). Kesimpulan Penyakit Menular adalah penyakit yang disebabkan agent / hasil toxin yang berasal dari reservoir dan ditularkan ke host yang rentan. d. Agent / hasil toksin. b. 105 .

com accessed on 17th July 2011. Program Pengawasan. available at www.com/2007/12/penyakit-menular-dan-tidakmenular. 2002. 106 . http://penyakit-pengobatan. volume 13 edidi I. standar manajemen pengendalian vektor penyakit.DAFTAR PUSTAKA 1. 6. Dinas kesehatan propinsi DKI Jakarta. Penyakit. 3. Pencegahan dan Penanggulangan Terhadap Penyakit Menular dan Tidak Menular.blogspot. 2.com accessed on 18th July 2011. 1999.html 5. available at www. Pedoman kerja Puskesmas jlid 2. Standarisasi pelayanan Kesehatan Puskesmas di DKI Jakarta.1999. Departemen kesehatan Republik Indonesia. Pemerintah daerah Khusus ibukota Jakarta.wikipedia.who. 4.

( 030 06 139) (030 06 246) 107 .UPAYA PENGOBATAN Penyusun : Khairun Nisa Shita Hayyuning A.

2 Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas pertama kali diterbitkan pada tahun 1985 dan mendapat tanggapan yang sangat menggembirakan bagi pelaksana pelayanan kesehatan dasar. sehingga perlu merevisi pedoman tersebut. tersedia setiap saat dan harga terjangkau.1 Salah satu perangkat untuk tercapainya penggunaan obat rasional adalah tersedianya suatu pedoman atau standar pengobatan yang dipergunakan secara seragam pada pelayanan kesehatan dasar atau puskesmas. cara dan waktu pemberian. Beberapa masalah kesehatan mempunyai insidens yang sering ditemukan pada pelayanan medik Puskesmas. Dinamika kehidupan manusia banyak sekali berhubungan dengan masalah kesehatan yang timbul akibat kondisi lingkungan dan status sosial yang beragam. diagnosis. perlu adanya peningkatan kemampuan manajemen di bidang pelayanan yang diberikan maupun pengorganisasian yang terintegrasi lebih baik.1 Oleh karenanya. Telah pula dicetak ulang beberapa kali dan terakhir tahun 2002 tanpa merubah isinya. Dalam makalah ini yang dibahas adalah upaya pengobatan dasar di puskesmas. Permasalahan1 Upaya pengobatan di puskesmas sebagian besar berhadapan dengan permasalahan fisik dan mental yang timbul dalam kehidupan sehari-hari dari Pengguna Jasa Pelayanan Kesehatan (PJPK) dan keluarganya. Dan agar fungsi puskesmas dapat terlaksana dengan baik. serta sektor swasta. tepat dosis obat.1 Latar Belakang Pelayanan kesehatan untuk masa yang akan datang semakin kompleks sejalan dengan adanya perubahan lingkungan dari masyarakat yang menyebabkan perubahan pola penyakit serta adanya perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran.BAB I PENDAHULUAN Pengobatan rasional menurut WHO 1987 yaitu pengobatan yang sesuai indikasi. yaitu pelayanan lini terdepan adalah : 108 .2 Oleh karena kemajuan yang pesat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran maupun farmasi menuntut tersedianya suatu pedoman yang mengikuti perkembangan. puskesmas dalam menjalankan fungsinya untuk meningkatkan taraf kesehatan masyarakat melalui pembinaan dan pelayanan kesehatan dapat menggunakan segala macam sumber daya yang ada di wilayah kerja. baik dengan sektor kesehatan maupun sektor lain yang terkait.

1. 109 . penyakit infeksi akut maupun kronik 5. permasalahan penyakit akibat gaya hidup dan budaya 4. permasalahan usia lanjut 6. masalah somatik yang timbul oleh pengaruh stress (tekanan psikis) 3. yaitu penyakit swa sirna ( self limiting diseases) 2. penyakit yang dapat hilang dan sembuh sendiri. permasalahan endokrin 7. permasalahan nutrisi Prinsip penatalaksanaan pelayanan yang diselenggarakan adalah sesuai dengan manajemen pelayanan medik menyeluruh terpadu.

dengan untuk memandang umur dan jenis kelamin yang dapat diselenggarakan pada ruang masalah.BAB II PENGERTIAN Pengobatan merupakan suatu proses ilmiah yang dilakukan oleh dokter berdasarkan temuan-temuan yang diperoleh selama anamnesis dan pemeriksaan. Dalam proses pengobatan terkandung keputusan ilmiah yang dilandasi oleh pengetahuan dan keterampilan untuk melakukan intervensi pengobatan yang memberi manfaat maksimal dan resiko sekecil mungkin bagi pasien. 2 110 . untuk menyelesaikan masalah kesehatan dan menyembuhkan penyakit yang ditemukan dari pengguna jasa pelayanan keshatan.1 Pelayanan pengobatan adalah pelayanan medik yang dilakukan oleh pelaksana pelayanan (dokter) baik secara sendiri ataupun atas koordinasi bersama dengan sesama profesi maupun pelaksana penunjang pelayanan kesehatan lain sesuai dengan wewenangnya. Hal tersebut dapat dicapai dengan melakukan pengobatan yang rasional.

b. Standar Profesi. secara langsung dapat mengoptimalkan pembiayaan pengobatan. d. Senantiasa menjadi standar profesi setinggi-tingginya karena disusun dan diputuskan atas kesepakatan para ahli.1 Tujuan Khusus Tujuan Pedoman Pengobatan dikelompokkan dalam beberapa hal:1 a. Oleh karena Pedoman Pengobatan hanya memuat obat yang terpilih untuk masingmasing penyakit / diagnosis. Mutu Pelayanan Pengobatan. Kebijakan dan Manajemen Obat. 111 . Pengamanan Hukum.BAB III TUJUAN Tujuan Umum Tujuan umum upaya pengobatan adalah meningkatnya derajat kesehatan masyarakat dengan memberikan pelayanan kuratif. Merupakan landasan hukum dalam menjalankan profesi karena disusun dan disepakati para ahli dan diterbitkan oleh pemerintah. Perencanaan obat yang digunakan akan lebih tepat. c.

kelainan perilaku Berat ringannya secara klinis Pengaruh lain dari penyakit Bila sulit diketahui dapat dilakukan pemeriksaan laboratorium dan radiologik sesuai dengan indikasi dan kemampuan Diagnosa Tindakan : Medikamentosa Berdasarkan keluhan. adanya gejala sistemik berat. hipertensi tak terkendalikan. 2. malignansi. 3.BAB IV SASARAN DAN KEGIATAN Sasaran Sasaran upaya pengobatan yang diselenggarakan Puskesmas adalah semua anggota masyarakat dengan tidak memandang umur dan tidak membedakan strata sosial. gejala/keluhan dan status klinik yang tidak terlalu ekstrim. 1 Ciri masalah yang dilayani : 1. preforasi alat dalam). dapat diatasi segera. mental dan sosial Lokasi keluhan Faktor penentu yang ada : Risiko bila ada alergi. hasil pemeriksaan Pengobatan yang dapat diberikan adalah : Penata laboran Penata radiologik Dokter Puskesmas Pelaksana 112 . penyebab bukan patologi berat (seperti DM berat. kehamilan. Rincian Kegiatan Kegiatan Anamnesa Uraian Kegiatan Sapa dengan baik PJPK yang datang Pahami keluhan dan gejala secara holistik Perhatikan tanda vital dan profil umum Biarkan PJPK bercerita sendiri tentang riwayat penyakitnya dan pengobatannya Pemeriksaan secara holistik dari aspek fisik mental dan sosial dari penyakit Pemeriksaan secara holistik dari aspek Dokter Puskesmas fisik.

perawat Anamnesa Anamnesa dan rekam medik dikirimkan lengkap dengan surat rujukan pada operator . Test laboran : darah lengkap Radiologik : foto toraks ECG. usia > 40 th (adanya riwayat jantung) 113 . kardiovaskuler dan respirasi berkaitan kasus operasi dan tindakan anestesi. lain-lain Tindakan Persiapan operasi : Persiapan untuk bedah umum ataupun Dokter tindakan bedah khusus sederhana dapat dikerjakan dokter Puskesmas atas kerjasama dengan operator Dokter. antikonvulsi Antidepresi.                      Anti mikrobiota Anti fungi Analgesik-antipiretik Anti inflamasi non steroid (AINS) Antiepilepsi. antipsikotik Anti parkinson Hipnotik sedatif Obat antihipertensi dan penyakit jantung Obat antisyok Obat mengatasi keluhan pernafasan Obat mengatasi dispepsia dan nyeri abdomen Antiseptik saluran kemih Kontraseptik Antiseptik desinfektans Obat haematopoitik Obat untuk kebidanan Obat topikal kulit Obat topikal mata Obat gigi Obat hemoroid Vitamin dan mineral.Pemeriksaan (tindakan operasi dilakukan oleh ahli yang sesuai dengan kasus) Pemeriksaan bukan sjaa terhadap keluhan namun semua sistem tubuh.

perawat Bedah minor Tindakan Konseling khusus Ruang konseling khusus Dilaksanakan oleh : dokter. bila fasilitas pelayanan persalinan Minor : sirkumsisi. antiseptik. oksigen. dokter spesialis mata Dokter. obat. vaksin tetanus. inhalasi. abses ekterpasi sederhana pada pelayanan rawat jalan Konseling padapelayanan terpadu untuk masalah : Kebugaran fisik dan kehidupan yang sehat Mental psikospiritual sosial Kerja Sanitasi dan lingkungan Keluarga. perawat perawat gigi Perawat Petugas farmasi Terapi cairan. perawat. infus set. perawat Tindakan evaluasi pelayanan Tindakan evaluasi administratif Komponen Pelayanan Kegiatan Pelayanan ambulans Pelayanan administrasi Pelayanan obat-obatan Petugas Pelaksana Supir. Keterangan Milik puskesmas 114 . kateter kesehatan. kecuali bedah persalinan oleh Ahli Kandungan. lipoma. bidan. eksisi clavus. suntikan. marital Seks Ketepatan dosis/tindakan Kesembuhan Mutu Pengisian rekam medik Penilaian epidemiologik Biaya Ahli kandungan. oral suppositoria. anestesi.Operasi direncanakan Operasi sito dan operasi yang direncanakan tidak dapat dilakukan di Puskesmas.

konsul. resusitasi jantung paruotak. perawat. konsulen panggilan. perawat gigi. kronis Dokter puskesmas. kimia darah Pelayanan kecelakaan/muskuloskeletal. elektrolit. status konvulsi Penata laboratorium. penurunan kesadaran. Breathing. trauma organ lain Kedaruratan penyakit akut. dokter gigi. urin. faal ginjal. perawat Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan ECG Perawat. penata radiologik Tim medik untuk : kegawatan nafas. Circulation) Darah. darurat medik.Perlengkapan medik Petugas/perawat perlengkapan Minor set jahit Mayor set tindakan sederhana Bidai Penanganan luka terbuka Penanganan fraktur sederhana Penanganan keadaan akut ABC (Airway. dokter 115 .

sumber penyebab manusia (anak-anak DPT.359 4. kelenjar. Penyelesaian masalah infeksi sistemik Kegiatan Tindakan dan pengobatan Uraian Kegiatan Tetapkan organ sistem tubuh yang terkena infeksi.637 2. virus.010 6.260 13. gondongan. cacar air) Host : keadaan umum. humoral tubuh Tetapkan penyebab infeksi (semua golongan umur) Keterangan Faktor penentu dan usia jenis kelamin Penyebab jenis mikrobiota. parasit. campak. 116 Keadaan keseimbangan elektrolit .931 9 1005 10 1101 JUMLAH 1. Berikut ini adalah 10 penyakit terbanyak di Puskesmas Kecamatan Tebet tahun 2010 :3 SEPULUH PENYAKIT TERBANYAK PUSKESMAS KECAMATAN TEBET TAHUN 20103 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 KODE 2200 1302 1303 1502 2002 0801 0102 1503 JENIS PENYAKIT Penyakit lain ISPA Penyakit lain saluran napas Penyakit pulpa + jaringan apikal Penyakit kulit alergi Gangguan psikotik Diare Gingivitis + penyakit periodental Penyakit mata Infeksi telinga tengah JUMLAH 13.599 2.011 2.448 3. cacing.556 61. tanda vital.868 4. polio. sistem hematopoitik.BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN TEBET Pelayanan yang terdapat di Puskesmas Kecamatan Tebet dilakukan oleh petugas yang dilaksanakan di dalam gedung puskesmas dan di luar gedung puskesmas (pusling).183 9.

kipas angin Malignansi penyakit dengan infeksi luka Rujukan Atasi keluhan dan berikan simptomatik cegah keadaan untuk menjadi lebih buruk yaitu tindakan :  untuk menurunkan suhu  menyeimbangkan cairan. PPOK. pernapasan Tindakan terhadap penyebab Pemulihan Penyebab yang tidak jelas atasi secara simptomatik dan perbaiki keadaan umum Kasus infeksi yang telah merusakkan organ (misalnya kasus TBC. penyakit keseimbangan fungsi organ terpadu Lingkungan : hospes perantara.Keseimbangan suhu status gizi. komplikasi penyakit kecacatan yang ada 2. derajat. elektrolit tubuh  nutrisi tubuh  oksigenasi. Gangguan Sistem Pernapasan Kegiatan Uraian Kegiatan Keterangan 117 . sumber penularan manusia Untuk menurunkan suhu tidak dibenarkan menggunakan kompres es. perlu rehabilitasi untuk mengoptimalkan fungsi paru) Pasca stroke dengan kecacatan dapat menimbulkan trauma psikis yang memerlukan rehabilitasi sosial baik pengguna jasa maupun keluarganya Demikian pula infeksi kusta komunitas harus dapat menerimanya tanpa keraguan untuk menjadi sumber penularan Bila keadaan tidak dapat diatasi. perlu pemeriksaan lanjut dan tindakan pelayanan perawatan ataupun pelayanan lanjutan Rehabilitasi fisik. malignansi. mental dan sosial tergantung pada dampak penyakit. kronisnya penyakit.

hubungan dengan pekerjaan. batuk. pergerakan dada Inspeksi saluran nafas atas/bawah/dada Pernafasan atas (THT) Pernafasan bawah/paru Penyakit jantung Penyakit Hematogen (asidosis. tumor THT. rasa tersumbat. mengurangi penderitaan perlu dukungan keluarga. pleurotiskhiolitis Tumor paru. untuk fisik maupun psikis Ditujukan untuk pengguna jasa pelayanan kesehatan (PJPK) PJPK keluarganya dan Rujukan Bila fungsi paru memburuk Penyakit menjadi kronis Berhubungan dengan penyakit lain yang berat Pada kasus terminal. intensitas. cara pencegahan penularan/memberatnya penyakit. dispnoe. hemaptoe. atasi penyebab. faringitis. bronkhitis. nutrisi dan pola hidup untuk mempercepat penyembuhan Terapi paliatif. kronik yang non spesifik. sistem DOTS (Direcly Observed Treatment Shortcourse) Non infeksi Masalah kegawatan nafas Tindakan dan pengobatan Berikan medikamentosa sesuai dengan hasil pemeriksaan. rinitis. Konseling mengenai penggunaan obat.Penilaian penapisan Berdasarkan keluhan subjektif. psikogenik Korpus alinum (sumbatan jalan nafas) Umum. Perkesmas 118 . perjalanan penyakit dan cara mengatasinya. asma bronkhial. tonsilofaringitis. pneumokoniosis (kedaruratan medik) Pemeriksaan semua gol umur Infeksi sel nafas spesifik TBC. obat simptomatik untuk mengurangi penderitaan. infeksi saluran nafas akut. bronkopneumonia. PPOK. suara serak akut. berikan obat pelega pernapasan. rasa berat pada dada (bedakan rasa nyeri dengan). rasa tercekik. anoksia) Neurogenik. berulang Tentukan penyakit dasar Tanda vital angka respirasi.

eltor. bahan kimia. hipokalemi. lemak Obstipasi dan konstipasi Inkotinensia alvi 119 . bakteri. C. organ pernapasan dalam dan luar Mengembalikan fungsi sosial Dokter Perkesmas bersama Pemulihan Terapi psikis/ventilasi 3. Gangguan Sistem Pencernaan dan Organ pendukungnya Kegiatan Penilaian pada berbagai usia Uraian Kegiatan   Keterangan Bila tidak diawasi dapat terjadi dehidrasi. diare non spesifik. perdarahan lambung. infestasi cacing penyakit hepatobilier : hepatitis A. hiponatremi alkalosis        gangguan pada gigi dan mulut keluhan pada abdomen atas : muntah. salmonelosis. dapat terjadi semua golongan umur yaitu gastritis. pankreatitis non spesifik. demam tifoid. intoksikasi obat Intoleransi dalam metabolisme makanan : terhadap gula. dispepsia abdomen. sigelosis. B. kolik. paru. D dan E. kolelitiasis Keracunan makanan. fatty liver.Malignansi Bila perlu peralatan diagnostik canggih dan tindakan invasif Tindakan dan pengobatan Menerima rujukan kembali Tindakan penyelematan kehidupan Perawatan kasus terminal dirumah Kasus kronik dengan pengobatan intensif Kasus dispnoe yang dapat segera diatasi Pengobatan suplemen Latihan pernapasan Mengembalikan fungsi: pernapasan. nyeri abdomen berdasarkan keluhan : tentukan penyebab. sirrhosis hepatis. laktosa.

Tindakan dan pengobatan Terapi medikamentosa terhadap kausa dan simptomatik Diare dan alat pencernaan. terapi diet yang sesuai. tidak pedas 4. hipertensi yang tidak dapat Keterangan Sianosis adalah tindakan untuk segera dirujuk Tindakan dan pengobatan Dokter. lunak. dietitik sesuai dengan diagnosa jantung. Gangguan Sistem Kardiovaskuler Kegiatan Deteksi dini Uraian Kegiatan Penyakit jantung bawaan pada bayi. vaskular ataupun psikosomatik Konseling pada PJPK dan keluarganya untuk dapat memperbaiki sistem pompa jantung dan aliran pembuluh darah dan menyelesaikan masalah psikis ataupun masalah nutrisi. infus Konseling Kebutuhan makanan dan cairan Kebersihan Pantangan Keluarga mementau makan dianjurkan diminta pola yang Pemulihan Penyesuaian untuk menu yang harus ditaati. instruktur 120 . dokter Rujukan Perawat. Puskesmas. keluarga perawat. perilaku dan kebiasaan yang ada Memberikan edukasi pada pasien dan keluarganya untuk meningkatkan pola hidup dan menciptakan suasana keluarga yang partisipatif dalam menyelesaikan masalah PJPK Untuk kasus sistem kardiovaskuler yang menimbulkan keadaan yang tidak dapat diatasi. jumlah cairan. semua golkongan umur Penyakit degeneratif : hipertensi Penyakit infeksi adalah penyakit jantung rheumaendokarditis Gagal jantung Memberikan medikamentosa. terapi cairan Edukasi PJPK dan keluarga Medikamentosa yang rasional (informatorium obat generik) Terapi cairan : oralit.

struma nodosa. tanda-tanda vital dan sosialisasi PJPK dalam perawatan rawat jalan Melakukan perawatan di rumah sesuai dengan kemampuan fisik PJPK Pemulihan Menyelenggarakan latihan jantung sehat agar tidak berkembangnya penyakit sistem kardiovaskuler juga untuk menjaga kebugaran fisik. instruktur senam Tindakan dan pengobatan Pemulihan Pemantauan oleh Perkesmas bersama keluarga 6. yang telah mengalami gangguan fungsi sosial akibat penyakit kardiovaskuler yang dialaminya senam. hipotiroid.dikendalikan Menerima rujukan dari perawat tertier dan pelayanan sekunder untuk dilakukan. pengobatan spesifik serta diet yang tepat sesuai dengan keadaan Rehabilitasi penderita DM. perawat gizi. terutama yang telah mengalami komplikasi agar melakukan kegiatan keseharian secara produktif sesuai dengan usia dan kemampuannya Rehabilitasi fisik. dengan menegakkan kasus yang tepat dan benar. struma difus Penatalaksanaan diabetes melitus dengan mengontrol kadar gula darah dan mengatur diet serta aktivitas serta medikamentosa Penatalaksanaan kasus gangguan tiroid. URM 5. Pemulihan sosial bagi PJPK. pemantauan keluhan. Gangguan Endokrin dan Metabolisme Kegiatan Deteksi dini Uraian Kegiatan Diabetes melitus atau tanpa komplikasi Gangguan tiroid : hipertiroid. Gangguan Mental dan Perilaku 121 . mental dan sosial penderita gangguan tiroid terutama yang pernah mengalami gangguan psikis akibat penyakitnya Kelompok diabetes senam Keterangan Dokter bersama tim.

dan usia dewasa Gangguan belajar pada anak usia sekolah Penatalaksanaan medikamentosa. sesuai dengan kasus Keterangan UKS Tindakan dan pengobatan Dokter Puskesmas dan keluarga Bila puskesmas mempunyai konsultan Kesehatan Jiwa Rujukan intra Untuk kasus yang kronik dan penggunaan puskesmas psikotropik Rujukan untuk Kirimkan ke RS bila membahayakan perawatan keluarga dan sekitarnya Pemulihan Rehabilitasi medik dan sosial untuk mengembalikan fungsi sosial pasien pada komunitasnya dan beraktifitas optimal sesuai dengan usia dan kemampuannya Puskesmas keluarga dan 7. suportif. pelayanan 122 .Kegiatan Deteksi dini Uraian Kegiatan Gangguan mental emosional pada anak usia sekolah. konseling keluarga. UKS infeksi telinga tengah (otitis media). Gangguan Telinga Hidung dan Tenggorok Kegiatan Deteksi dini Uraian Kegiatan Keterangan Gangguan telinga luar akibat trauma. obat psikotropik. khususnya telinga agar tidak menjadi kronik dan infeksi ke otak Pelayanan pengobatan rasional Tindakan dan pengobatan Rujukan intra Trauma akibat kerja puskesmas Untuk perawatan infeksi kronik dan tindakan Rujukan untuk Pelayanan hearing Aids mendapat Operasi Mastedoiktomi. sekolah dan penyebab ketulian saat ataupun kedua telinga Medikamentosa dan edukasi mencegah kambuhnya peradangan THT. RS/Pelayanan khusus untuk bantu dengar tonsilektomi pasca operasi. terutama pada anak usia balita. perawatan dan tonsilektomi tindakan invasif Spesialis Puskesmas THT endoskopi. prasekolah.

hordeulum. virus : trakhom. 200. Gangguan Mata dan Penglihatan Kegiatan Deteksi dini. penglihatan kurang. agar dapat melakukan kegiatan sehari-hari sesuai dengan kemampuan Bila puskesmas tak ada dokter mata maka pelayanan spesialis dirujuk ke fasilitas pelayanan yang lengkap Dokter puskesmas/ optisian Perkesmas dan keluarga 123 . matamerah. keluhan. laserasi palpebra. terasa gatal. bakteri konjungtivitis. laserasi/perforasi mata. trauma bakar Mata merah dengan penurunan visus Memantau penggunaan kaca mata pada gangguan refraksi Pemulihan Rehabilitas sosial penderita dengan gangguan mata yang tidak dapat dikoreksi. kotor. mata ada bercak putih. IU pada defisiensi Resep kaca mata Operasi pterigium. Xeroftalmia Trauma mata. streptococcus. herpes Alergi dan iritasi Defisiensi Vit. entropion. dilakukan olaeh dokter mata puskesmas Konseling keluarga untuk proteksi kerusakan mata dan buta warna serta penyakit keturunan Optisian/dokter puskesmas Rujuk untuk Penurunan refraksi berat dan kebutaan tindakan Glaukoma Strabismus pada anak balita dan pra sekolah Kekeruhan kornea Penglihatan berkurang perlahan-lahan Ulkus kornea. erosi superfisial (tes fluoresin positif) buta warna Kapsul vit A. pseudomonas. sakit kepala Tindakan dan pengobatan Uraian Kegiatan Keterangan Gangguan refreaksi terutama pada anak UKS dan spesialis usia sekolah mata puskesmas Masalah-masalah infeksi mata.000. A.dapat dilakukan di Puskesmas Pemulihan Terapi wicara dapat dibantu oleh keluarga Pemantauan perkesmas oleh 8. terasa sakit.

zat kimia Psikis. karbunkel. tinea pedis. eritrasma Keterangan  Umum bakterial penyebabnya Steptococous. erisipelas. Lepra ( Morbus Hansen). kandidiasis. pedunkulosis korporis. DM) Uraian Kegiatan Infeksi non spesifik yang mengenai semua golongan umur. Vaginosis bakterial. pioderma. Staphylococous Penyinfeksi spesifik disebabkan Virus : varisla. Herpes Simpleks. erupsi alergi obat Keturunan . Granuloma Inguinela. dermatomikosis profunda Parasit : skabies. pedunkulosis kapitis. impetigo. campak. AIDS. folikulitis. Lymfogranuloma Venereum dan Tindakan yang tepat dengan pemeriksaan . neurodennatitis Kelainan kulit dengan penyakit sistemik (DM) Penyakit kulit akibat defisiensi PHS Uritritis Non spesifik. Gangguan Kulit dan Kelamin Kegiatan Deteksi dini. cutancus larva migrans Obat topikal kulit :  Prinsip pengobatan basah dengan kompres basah  Kering dengan kering Obat disesuaikan kuman/biota penyebab Alergi : urtikaria. furunkel. herpes simpleks. prurigo hebra (anak-anak) Dermatitis kontak : sabun. TBC kulit Jamur : dermatofitosis (tinea kapitis. tinea versikolor. tinea kruris).dan kondisinya 9.Budaya bersih 124 Tindakan . selulitis. herpes zoster. rubella Menahun . tinea korporis. Ulkus Mole. pastikan bahwa tidak ada penyakit lain (neoplasma. Gonore. Trikhomoniasis.

rheumatoid. biasa usia 20-40 tahun dengan keluhan organik 125 . hernia nukleus pulposus Gangguan otot dan jaringan lunak akibat trauma. dapat menyebabkan temaparese. infeksi. (kerokan kulit. kosmetik / operasi plastik 10. gangren Rehabilitas fisik dan mental pada penderita dengan kecacatan fisik akibat cedera. gout dan penyakit sendi lain Keterangan Keluhan muskuloskeletal selalu disertai rasa sakit dengan intensitas yang tergantung pada persyarafannya Gangguan tulang belakang . anemia. Gonorhea. farmakologik. gangguan tidur) Kelelahan kronik. Gangguan Muskuloskeletal dan Persarafan Kegiatan Deteksi dini Uraian Kegiatan Masalah persendian dan tulang seperti osteroartiritis. dapat dilakukan rujukan ke laboratorium terdekat) Pengobatan antibiotika. terutama akibat cedera olahraga Sekuele pasca stroke yang ringan Kejang yang lama (febris pada anak) dapat menimbulkan anoksia otak : tergantung daerahnya. hemiparese berat dan ringan tergantung tindakan kedaruratan yang dilaksanakan Kelelahan yang kronik (chronic fatigue syndrome) psikogen. anti fungsi dapat oral topikal Konseling kebersihan dan perawatan diri dan menghindari kontak dengan penyebab.pengobatan laboratorium. endokrin metabolik. dapat dipantau di rumah (Puskemas) Rujuk Pemulihan Infeksi menjadi sistemik tak dapat diselesaikan pada tingkat primer.

kelainan persyarafan/tulang Tes neurologik dan EEG Pemotretan tulang/tengkorak. pelatihan otot pasca tindakan/trauma rehabilitasi mental untuk trauma yang dialami rehabilitasi sosial untuk dapat kembali mengerjakan pekerjaan seperti semula secara bertahap Pemulihan otot jantung dilakukan dengan senam yang Dapat dilakukan di Puskesmas atas supervisi spesialis syaraf 126 . rheumatik banyak dikaitkan dengan makanan. luka terbuka Untuk mencari lokasi. obati dengan tepat Kasus Gout. DM). peradangan yang timbul Edukasi untuk melakukan gerakan yang sesuai untuk tidak menambah sakit dan menambah trauma Penyakit dasar (hipertensi. EMG CT Scan Memberikan medikamentosa untuk mengurangi rasa sakit. reposisi Tulang tulang. trauma otot. jaringan lunak (memar). mikrosefali Otot dan kekuatan. jantung.Diagnostik. terasa amat sakit Konseling bayi dan anak-anak diperlukan pembentukan vitamin D dengan bantuan sinar matahari Rujukan ke pelayanan kesehatan terdekat yang memiliki fasilitas tersebut Tindakan pengobatan dan Rujuk bedah untuk berat bagian Tirah baring untuk kasus. karena itu edukasi untuk makanan yang boleh dimakan dan dipantang. pelatihan otot Epilepsi untuk ketepatan diagnostik Trauma kepala Pengobatan epilepsi Rujuk ke Pasca stroke dengan parese berat Spesialis syaraf Pemulihan     rehabilitasi fisik. ketepatan tindakan dirujuk Untuk perawatan tirah baring. trauma tulang perawatan lokal.

keluarga 127 .   bertahap Pemulihan otot pencernaan dilakukan dengan bentuk diet yang cair/lunak dan tidak merangsang Pemulihan tulang dengan gips/bidai Pemulihan sayatan pada otot dilakukan dengan kompres/obat topika pasca jahitan dan ditutup dengan kasa URM (Unit Rehabilitas Medik) Perkesmas.

keluarga. jalan) tanpa memandang umur. disebabkan penyakit yang lanjut ataupun kecelakaan (di rumah.harus terus berupaya memberikan pelayanan medis yang sebaik-baiknya sesuai dengan Standarad Pelayanan Medis yang berlaku. orang yang di sekitar korban. namun untuk resusitasi jantung paru otak pasang infus terdahulu. tempat kerja. 128 . Oleh karena itu setiap pihak yang terkait . lapangkan jalan nafas dan sistem pengangkutan amat membantu. Hal ini terkait dengan peranan puskesmas sebagai lini terdepan dalam upaya mewujudkan suatu masyarakat yang sehat.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Dalam menjalankan fungsinya dokter dan tim pelayanan kesehatan pada kegiatannya untuk penyelesaian masalah kecelakaan dan kedaruratan medik adalah berupa penerapan kemampuan untuk mengatasi masalah sistem organ biologik tubuh dan mental psikologikal dari semua golongan umur yang bersifat segera. petugas keamanan di sekitar korban. petugas di tempat kerja. SARAN Semua tenaga kesehatan harus selalu berupaya memberikan upaya pelaksanaan pengobatan yang sebaik-baiknya terutama di Puskesmas. tim ambulans. Pelayanan ditujukan terhadap pengguna pelayanan medik yang memerlukan tindakan segera yang kemungkinan dibawa oleh. Pada pelayanan kedaruratan medik kasus berat di Puskesmas untuk tindakan lanjut dilakukan pada unit pelayanan lengkap.

Tambunan .dkk. 2.Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas 2007.Hal.Soegianto. Taralan .Puskesmas Kec. 2007.Jakarta.2007 3. Daldiono. 129 .1-3. Kebijakan Dasar Puskesmas.DAFTAR PUSTAKA 1. Sungkar Saleha.Benny.Jakarta. Jakarta : Departemen Kesehatan RI. Tebet Laporan Tahunan Puskesmas Kecamatan Tebet 2010.

UPAYA KESEHATAN PENGEMBANGAN 130 .

05.191) (030.05.05.UPAYA KESEHATAN SEKOLAH (UKS) Penyusun : Marcia Dian P Riana Youri Sherly Gunawan (030.139) (030.208) 131 .

yakni pra remaja (6-9 tahun) dan remaja (10-19 tahun). penjaringan lanjutan oleh tenaga kesehatan). Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) merupakan bagian dari program kesehatan anak usia sekolah. Salah satu upaya yang strategis untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia adalah dengan pendidikan. 132 . Anak usia sekolah adalah anak yang berusia 6 – 21 tahun. yang sesuai dengan proses tumbuh kembangnya dibagi menjadi 2 sub kelompok.BAB I PENDAHULUAN Pembangunan nasional pada hakekatnya adalah pembangunan manusia Indonesia yang berkualitas. Sumber daya manusia yang berkualitas adalah yang memiliki jasmani dan rokhani yang sehat. kesehatan gigi dan mulut siswa SD dan setingkat melalui penjaringan kesehatan terhadap murid kelas 1 Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan bersama dengan guru UKS terlatih dan dokter kecil secara berjenjang (penjaringan awal oleh guru dan dokter kecil. Pelayanan kesehatan pada UKS adalah pemeriksaan kesehatan umum. Program UKS dilaksanakan pada semua jenis dan jenjang pendidikan. termasuk madrasah. Upaya pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas dan sehat antara lain dengan melaksanakan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Kualitas pendidikan berkaitan erat dengan sumber daya manusia yang berkualitas pula.

Dalam Undang Undang Nomor 23 Tahun 1992 pasal 45 tentang Kesehatan ditegaskan bahwa ‖Kesehatan Sekolah‖ diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat peserta didik dalam lingkungan hidup sehat sehingga peserta didik dapat belajar. Dengan UKS ini diharapkan mampu menanamkan sikap dan perilaku hidup sehat pada dirinya sendiri dan mampu menolong orang lain. heart dan hand. Dari pengertian ini maka UKS dikenal pula dengan child to child programme. yang sesuai dengan proses tumbuh kembangnya dibagi menjadi 2 subkelompok yakni pra remaja ( 6-9 tahun ) dan remaja ( 10-19 tahun ). intelektual. Menurut Sumantri. tumbuh dan berkembang secara harmonis dan optimal sehingga diharapkan dapat menjadikan sumber daya manusia yang berkualitas. mental. (2007) peserta didik itu harus sehat dan orang tua memperhatikan lingkungan yang sehat dan makan makanan yang bergizi. dan sosial yang memungkinkan orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Anak usia sekolah adalah anak yang berusia 6-21 tahun . M. emosional. sikap/nilai dan keterampilan. yaitu berkaitan dengan pengetahuan. jiwa. sehingga akan tercapai manusia soleh. dan untuk anak untuk menciptakan anak yang berkualitas.BAB II PENGERTIAN Usaha Kesehatan Sekolah ( UKS ) merupakan bagian dari program kesehatan anak usia sekolah . heart. hand dan health). oleh anak. Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) adalah usaha untuk membina dan mengembangkan kebiasaan dan perilaku hidup sehat pada peserta didik usia sekolah yang dilakukan secara menyeluruh (komprehensif) dan terpadu (integrative). Hidup sehat seperti yang didefinisikan oleh badan kesehatan perserikatan bangsabangsa (PBB) World Health Organization (WHO) adalah keadaan sejahtera dari badan. Namun masih diperlukan faktor kesehatan (health) sehingga peserta didik memiliki 4 H (head. Untuk optimalisasi program UKS perlu ditingkatkan peran serta peserta didik sebagai subjek dan bukan hanya objek. Program dari anak. 133 . berilmu dan sehat (SIS). Dalam proses belajar dan pembelajaran materi pembelajaran berorientasi pada head. dan sosial yang optimal dari seseorang. Sedangkan kesehatan jiwa adalah keadaan yang memungkinkan perkembangan fisik.

2. mental maupun sosial.BAB III TUJUAN Secara umum UKS bertujuan meningkatkan mutu pendidikan dan prestasi belajar peserta didik dengan meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat serta derajat kesehatan peserta didik. 134 . Memiliki pengetahuan. Sehat fisik. yang mencakup : 1. 3. sehingga memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan yang harmonis dan optimal dalam rangka pembentukan manusia Indonesia berkualitas. meningkatkan keterampilan hidup sehat agar mampu melindungi diri dari pengaruh buruk lingkungan. Sedangkan secara khusus tujuan UKS adalah menciptakan lingkungan kehidupan sekolah yang sehat. mengubah sikap dan membentuk perilaku masyarakat sekolah yang sehat dan mandiri.Memupuk kebiasaan perilaku hidup bersih dan sehat dan meningkatkan derajat kesehatan siswa. meningkatkan pengetahuan. Selain itu juga menciptakan lingkungan yang sehat. Memiliki daya hayat dan daya tangkal terhadap pengaruh buruk penyalahgunaan NAPZA. di rumah tangga maupun di lingkungan masyarakat. Di samping itu juga meningkatkan peran serta peserta didik dalam usaha peningkatan kesehatan di sekolah dan rumah tangga serta lingkungan masyarakat. sikap dan keterampilan untuk melaksanakan prinsip hidup bersih dan sehat serta berpratisipasi aktif di dalam usaha peningkatan kesehatan di sekolah perguruan agama.

dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Kesehatan bagi peserta didik merupakan sangat menentukan keberhasilan belajarnya di sekolah. Untuk belajar dengan efektif peserta didik sebagai sasaran UKS memerlukan kesehatan yang baik. Sasaran lainnya adalah sarana dan prasarana pendidikan kesehatan dan pelayanan kesehatan. Begitu pula dengan sumber daya manusianya yang diharapkan berkualitas masih memerlukan proses dan usaha yang lebih keras lagi. Oleh karena itu kita mencermati konsep yang dikemukakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). keluarga dan masyarakat sekitar sekolah.1 Kegiatan UKS (Trias UKS) yaitu pendidikan kesehatan. dan ekonomi yang berkaitan dengan daya beli. Sedangkan sasaran tertier adalah lembaga pendidikan mulai dari tingkat pra sekolah/TK/RA sampai SLTA/MA. Kemajuan ekonomi suatu bangsa biasanya berkorelasi dengan tingkat kesehatan masyarakatnya. Kalau peserta didik tidak sehat bagaimana bisa belajar dengan baik. 4. pelayanan kesehatan. 135 . termasuk satuan pendidikan luar sekolah dan perguruan tinggi agama serta pondok pesantren beserta lingkungannya. Sasaran tertier lainnya adalah lingkungan yang meliputi lingkungan sekolah. Kesehatan menunjukkan keadaan yang sejahtera dari badan. pengelola pendidikan dan pengelola kesehatan serta TP UKS di setiap jenjang sebagai sasaran sekunder. bukan hanya pendidikan. yaitu pendidikan yang berkaitan dengan berapa lama mengikuti pendidikan. kesehatan yang berkaitan sumber daya manusianya. bahwa salah satu indikator kualitas sumber daya manusia itu adalah kesehatan. dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. maka bangsa itu semakin baik pula tingkat kesehatannya. dan pembinaan lingkungan sekolah sehat. Semakin maju perekonomiannya. karena dengan kesehatan itu peserta didik dapat mengikuti pembelajaran secara terus menerus. maka tingkat kesehatan masyarakat pada umumnya belum sesuai dengan harapan. jiwa. Oleh karena itu.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN Sasaran pembinaan dan pengembangan UKS meliputi peserta didik sebagai sasaran primer. jika tingkat ekonomi masih berada di urutan yang rendah. Ada tiga kualitas sumber daya manusia. Untuk tingkat ekonomi Indonesia masih berada pada urutan atau ranking yang sangat rendah yaitu 108 pada tahun 2008. guru pamong belajar/tutor orang tua.

1.2. Selalu bersikap dan berperilaku sehat.3 Program PMR Program Saka Bakti Husada 4. 5.4 Kegiatan Penyuluhan Kesehatan 4.2.2. teman.2.5 Pemantauan Status Gizi Anak Sekolah Berkala 4.3 Imunisasi (BIAS) 4.4.8 Program Pemberantasan Penyakit Cacingan 136 .1.1.1. Pekan Kesehatan Mata. namun bisa juga secara integratif pada saat mata pelajaran lainnya disampaikan kepada peserta didik. 4. dan lain-lain.2. Berusaha bagi tercapainya kesehatan lingkungan yang baik di sekolah maupun di rumah.1.2.2 4.1.1.2 Pembinaan berkala oleh TP UKS 4.5 Kampanye Kesehatan 4.2.1.1.1. Pekan Gizi.1.1 Program Dokter Kecil / Kader Kesehatan Remaja (KKR) Dokter kecil adalah siswa yang memenuhi kriteria dan telah terlatih untuk ikut melaksanakan sebagian usaha pemeliharaan dan peningkatan kesehatan terhadap diri sendiri. 2.7 Kegiatan Konseling Kesehatan Remaja 4.2. Tugas dan kewajiban dokter kecil 1.antara lain : Pekan kebersihan.1. 4. Pendidikan ini tidak hanya diberikan pada saat mata pelajaran Pendidikan Jasmani saja.4 Kegiatan Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) 4.6 Pemeriksaan Tes Daya Lihat / Visus Berkala 4. Pekan Penimbangan BB dan TB di sekolah. Membantu guru dan petugas kesehatan pada waktu pelaksanaan pelayanan kesehatan di sekolah.2 Pelayanan Kesehatan 4. keluarga dan lingkungannya.1.1.1. Berperan aktif dalam rangka peningkatan kesehatan .1. 4. Dapat menggerakkan sesama teman-teman siswa untuk bersama-sama menjalankan usaha kesehatan terhadap dirinya masing-masing.1 Screening Kesehatan Kelas I 4. 3.1 Pendidikan Kesehatan: Kegiatan intra kurikuler adalah melaksanakan pendidikan pada saat jam pelajaran berlangsung sesuai dengan ketentuan yang berlaku.1.1.1. Pekan Kesehatan Gigi.1.

8 4.3.2.3 Pembinaan Lingkungan Sekolah Sehat 4.1.2.1.1.2.3 4.2.6 4.2.2.3.1 4.3.3.9 Pertolongan Pertama Kegawatdaruratan Medik meliputi P3P (Pertolongan Pertama Pada Penyakit) dan P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan) 4.2 Sasaran mutu Program UKS 4.5 Pemberantasaan Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) 4.1.1.2.2.2 Pelaksanaan Gerakan PSN-DBD 4.5 4.1.3.3 Penegakan aturan Kawasan Tanpa Asap Rokok 4.2.4 Penegakan aturan Larangan Penyalahgunaan Napza 4.4 4.4.5%) Kepuasan Pelanggan (85%) Temuan masalah / komplain UKS ditindaklanjuti (100%) Tim Pelaksana UKS di Sekolah aktif (80%) Tim Pembina UKS setiap tingkat aktif (100%) Sekolah patuh terhadap standar PHBS (100%) Status gizi peserta didik ‗Baik‘ (90%) Pelaporan UKS akurat (100%) Sekolah dengan sanitasi lingkungan ‗Baik‘ (100%) 137 .2.1 Sanitasi Lingkungan ―Baik‖ 4.7 4.9 Angka absensi sakit peserta didik (<1.1.2 4.

Pembinaan Sekolah Sehat TK. SMP. Peningkatan Prestasi Balita Indonesia 5. Peningkatan Wawasan Guru BP. Sosialisasi PKPR 13. SMA 10.SD. SMA dan Petugas Puskesmas 14. Pertemuan Petugas MTBS di Puskesmas 15. Rapat Konsultasi Petugas UKS 8. Peningkatan Prestasi Dokter Kecil 7. SMP. Rapat Konsultasi Kesehatan Anak 4.BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN UKS DI PUSKESMAS KECAMATAN TEBET 1. PembinaanTPUKS Kecamatan 16. Peningkatan Wawasan Guru TK. Peningkatan wawasan Petugas Kesehatan Anak 2. Sosialisasi MTBS 6. SD. Pembinaan Sekolah Unggulan 9. Monitoring Program Kesehatan Anak TK Kodya ke Puskesmas (Bintek) 3. SMP. Sarana UKS Berprestasi 12.SMA 11. Pelatihan MTBS 138 .

Selain itu. oleh anak. Dengan UKS ini diharapkan mampu menanamkan sikap dan perilaku hidup sehat pada dirinya sendiri dan mampu menolong orang lain. sehingga terjamin berlangsungnya proses pembelajaran dengan baik dan terciptanya kondisi yang mendukung tercapainya kemampuan peserta didik untuk beperilaku hidup sehat. Sekolah sebagai tempat berlangsungnya proses pembelajaran harus menjadi HPS. mengupayakan pelayanan kesehatan yang optimal. melalui pelayanan kesehatan (yankes) yang didukung secara mantap dan memadai oleh sektor terkait lainnya. dan untuk anak untuk menciptakan anak yang berkualitas. Upaya mengembangkan ―Sekolah Sehat‖ (Health Promoting School/HPS) melalui program UKS perlu disosialisasikan dan dilakukan dengan baik. dunia usaha. Dari pengertian ini maka UKS dikenal pula dengan child to child programme. Semua upaya ini akan tercapai bila sekolah dan lingkungan dibina dan dikembangkan 139 . Untuk optimalisasi program UKS perlu ditingkatkan peran serta peserta didik sebagai subjek dan bukan hanya objek. Upaya ini dilakukan karena sekolah memiliki lingkungan kehidupan yang mencerminkan hidup sehat. Program dari anak. yaitu sekolah yang dapat meningkatkan derajat kesehatan warga sekolahnya. dan media massa. seperti partisipasi masyarakat.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) adalah usaha untuk membina dan mengembangkan kebiasaan dan perilaku hidup sehat pada peserta didik usia sekolah yang dilakukan secara menyeluruh (komprehensif) dan terpadu (integrative).

(2007). Ilmu dan Aplikasi Pendidikan: Handbook.. W.. Ibrahim.. Bandung: Pedagogiana Press (Halaman 1175 – 1186) 3. R. Jakarta: Departemen Kesehatan. Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri. 2. Menteri Kesehatan. Sumantri. Pedoman Pelatihan Kader Kesehatan di Sekolah. M. Nomor 26 Tahun 2003 tentang Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kesehatan Sekolah. Dalam Ali. Pendidikan Wanita. Keputusan Bersama Menteri Pendidikan Nasional.. dan Rasjidin. 140 . Sukmadinata. (Penyunting). M.DAFTAR PUSTAKA 1.S. (2008). Departemen Kesehatan. N.

UPAYA KESEHATAN OLAHRAGA Penyusun : Fajar Nursuhud (030.311) 141 .06.090) Mohd Fahmi bin Mansor (030.05.

142 . Sebagai salah satu dari 20 upaya pokok kesehatan. Dengan olahraga atau latihan fisik yang benar akan dicapai tingkat kesegaran jasmani yang baik dan merupakan modal penting dalam peningkatan prestasi. Olahraga yang baik dan benar adalah olahraga yang sesuai dengan kebutuhan kesehatan. Berdasarkan SKRT 1992. Penderita rawat inap penyakit kardiovaskuler meningkat dari tahun ketahun demikian juga dengan diabetes. terutama dokter Puskesmas sebagai ujung tombak pemerintah untuk meningkatkan derajat kesehatan di wilayah kerjanya tidak hanya menuliskan resep melainkan lebih banyak melakukan upaya-upaya pencegahan penyakit agar masyarakat tidak sakit dan meningkatkan kesehatan mereka. seseorang akan mempunyai daya tahan atau sistem imun yang lebih tinggi sehingga orang tersebut akan mempunyai daya tahan terhadap penyakit-penyakit infeksi. Fungsi dokter. upaya kesehatan olahraga adalah suatu cara untuk meningkatkan kesehatan hidup manusia. Olahraga sudah menjadi bagian dari budaya kehidupan sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah membuktikan adanya hubungan antara latihan fisik dengan derajat kesehatan. dengan dasar latihan fisik yang baik sehingga ketahanan tubuh dapat ditingkatkan. Ditemukan pula bahwa tingkat kebugaran jasmani merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja.BAB I PENDAHULUAN Keberhasilan pembangunan memberi dampak pada perubahaan perilaku masyarakat antara lain perubahan kebiasaan makan yang salah dan kurang gerak. Bila ketahanan tubuh seseorang sudah dapat ditingkatkan maka secara tidak langsung kemampuan fisiknya juga semakin tinggi dan semakin mampu mengatasi beban kerja yang diberikan kepadanya. penyakit jantung dan pembuluh darah merupakan penyebab kematian nomor dua setelah diare. Telah diketahui bahwa dengan olahraga. yang keduanya memberi andil timbulnya masalah kesehatan pada masyarakat modern. sehingga produktivitas kerja orang tersebut juga semakin tinggi. yaitu kecenderungan timbulnya penyakit-penyakit degeneratif. Kesehatan keluarga merupakan upaya kesehatan yang memanfaatkan olahraga atau latihan fisik untuk meningkatkan derajat kesehatan.

puskesmas sebagai penyedia pelayanan kesehatan dasar di tingkat pertama perlu mengembangkan suatu upaya kesehatan olahraga bagi masyarakat di wilayah kerjanya.Karena itulah. 143 .

BAB II PENGERTIAN
A. Definisi Sehat Arti kata sehat menurut WHO 1947: ‖Health is a state of complete physical, mental and social well being and not merely the absence of the disease or infirmity‖. Adalah suatu keadaan sejahtera sempurna dari jasmani, rohani dan sosial dan bukan hanya bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan. Sedangkan sehat menurut undang-undang kesehatan no. 23 tahun 1960 adalah suatu keadaan sejahtera sempurna dari jasmani, rohani dan sosial yang memungkinkan seseorang hidup produktif baik sosial maupun ekonomi. Dalam pengertian tersebut tersurat suatu keadaan tingkat kemampuan fungsional tubuh manusia yang secara popular dikenal sebagai kemampuan fisik (physical fitness) atau kesegaran jasmani.

B. Kesehatan Olahraga 

Kesehatan olahraga adalah upaya kesehatan yang memanfaatkan olahraga atau latihan fisik untuk meningkatkan derajat kesehatan. (UU nomor 23 tahun 1992, pasal 46, Tentang Kesehatan Olahraga)

Kesehatan olahraga adalah upaya kedokteran/kesehatan teori dan praktek yang menganalisa pengaruh gerakan, latihan dan olahraga termasuk kurang gerak, tertuju kepada manusia semua umur yang sakit dan yang sehat. (August Kirche dkk,1987)

Kesehatan olahraga berbeda dengan olahraga kesehatan. Dimana kesehatan olahraga adalah upaya kesehatan yang memanfaatkan olahraga yang bertujuan untuk meningkatknya derajat kesehatan, sedangkan olahraga kesehatan adalah pelatihan olahraga atau latihan fisik, biasanya masuk dalam kurikulum sekolah yang dasarnya bertujuan untuk meningkatnya prestasi.

C. Kesegaran Jasmani

144

Secara umum dapat diartikan sebagai kemampuan tubuh untuk melakukan kegiatan sehari-hari tanpa kelelahan berlebihan. Dalam pengertian tersebut terkandung tiga hal pokok yaitu beban kerja pekerjaan harian, cadangan kemampuan/kapasitas dan keadaan kesehatan/derajat kesehatan

D. Sarana Olahraga

Sarana olahraga adalah tempat yang secara khusus disediakan untuk kegiatan olahraga, antara lain pusat olahraga, lapangan olahraga, pusat kebugaran dan tempat tertentu seperti stadion, kolam renang, klub berlatih, kelompok latihan fisik dan kelompok senam. Sarana lain adalah tempat untuk menyembuhkan atau memulihkan kesehatan akibat cedera olahraga, meningkatkan kesehatan kelompok masyarakat tertentu, misalnya kelompok ibu hamil, melalui latihan fisik dan penyebarluasan cara olahraga yang benar.

E. Olahraga yang teratur menurut WHO aktivitas fisik dibagi 4 kategori : 1) Hidup aktif : setiap hari melakukan aktivitas ringan sampai sedang selama 10 menit atau lebih beberapa kali sehari. 2) Aktivitas untuk sehat : setiap hari melakukan aktivitas sedang selama 30 menit atau lebih. 3) Latihan fisik untuk bugar : seminggu 3 kali melakukan aktivitas sedang sampai berat selama 20 menit atau lebih. 4) Latihan fisik untuk olahraga : durasi dan frekuensi tergantung tingkat kebugaran jasmani seseorang , aktivitas terprogram.

145

BAB III TUJUAN
A. Tujuan Umum Berkembangnya upaya peningkatan derajat kesehatan melalui latihan fisik dan terbantunya/tercapainya upaya peningkatan kesegaran jasmani yang mempunyai pengaruh langsung terhadap produktifitas kerja, serta terbantunya peningkatan upaya olahraga pendidikan, olahraga prestasi, olahraga masyarakat dan olahraga tradisional.

B. Tujuan Khusus a. Meningkatnya kemampuan petugas Puskesmas dalam upaya kesehatan olahraga di Puskesmas. b. Meningkatnya jangkauan dan mutu upaya kesehatan olahraga di wilayah kerja Puskesmas. c. Meningkatnya koordinasi lintas program dan lintas sektor dalam pembinaan upaya kesehatan olahraga di wilayah kerja Puskesmas. d. Meningkatnya partisipasi aktif masyarakat dalam upaya kesehatan olahraga melalui penggalian potensi/sumber daya masyarakat di wilayah kerja Puskesmas. e. Meningkatnya informasi kesehatan olahraga di Puskesmas.

146

BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN
A. Kegiatan Upaya Kesehatan Olahraga Meliputi: 1. Pembinaan secara terpadu peran serta masyarakat kelompok potensial, guru sekolah, kader Posyandu, organisasi mayarakat, LSM dalam kesehatan olahraga. 2. Penyelenggaraan penyuluhan kesehatan olahraga terpadu pada kegiatan penyuluhan Puskesmas dan di luar Puskesmas. 3. Penyelenggaraan pelayanan rawat jalan Puskesmas terpadu dengan memperhatikan faktor kesehatan olahraga. 4. Evaluasi terhadap penyelenggaran upaya kesehatan olahraga

B. Langkah-Langkah Penyelanggaraan Kegiatan Upaya Kesehatan Olahraga di atas: a. Persiapan petugas: 1. Menyiapkan pelatihan tentang upaya kesehatan olahraga 2. Mengumpulkan data kesehatan olahraga di wilayah kerja Puskesmas, dikaitkan dengan microplaning. 3. Mengolah data kesegaran jasmani, sehingga diperoleh permasalahan kesehatan yang berkaitan dengan kesehatan olahraga di wilayah Puskesmas. 4. Menentukan prioritas masalah kesehatan yang berkaitan dengan kesehatan olahraga dan mencari alternatif-alternatif pemecahannya. 5. Menghimpun potensi (dana, tenaga, sarana) 6. Memberikan informasi upaya kesehatan olahraga melalui pertemuan-pertemuan. Lintas program di Puskesmas Lintas sektoral di Kelurahan Tim pembina UKS di tingkat Kelurahan

7. Melaksanakan diskusi kelompok untuk memperoleh dukungan dari semua pihak tentang pelaksanaan program kesehatan olahraga melalui: Lintas program di Puskesmas Lintas sektoral di Kelurahan Tim pembina UKS di tingkat Kelurahan

8. Membentuk forum koordinasi kesehatan olahraga tingkat Kelurahan dengan melibatkan unsur dari
147

-

Puskesmas (dokter/perawat) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Kepala kantor, Dinas P&P beserta OSIS, Kakandep Dikbud beserta penilik olahraga.

-

Departemen Agama (KUA) Departemen Sosial (petugas sosial masyarakat) Departemen Penerangan (Jupen) Departemen Tenaga Kerja (juru penyuluh) Kelurahan (Lurah, Kaurkesra) Lembaga Swadaya Masyarakat

9. Menentukan prioritas sasaran kegiatan program kesehatan olahraga di tingkat Kelurahan. 10. Menyiapkan pengelolaan program dan menyusun rencana kerja pelaksanaan kesehatan olahraga

b. Persiapan masyarakat: 1. Pertemuan tokoh masyarakat formal dan informal untuk pemahaman dan memperoleh masukan dalam upaya pelaksanaan kesehatan olahraga di masyarakat. 2. Pengumpulan dan pengolahan data serta analisis permasalahan tentang kegiatankegiatan kesehatan olahraga yang ada di masyarakat. 3. Memilih ketua-ketua dari kelompok-kelompok potensial yang ada di masyarakat untuk dilatih sebagai kader kesehatan olahraga. 4. Melaksanakan Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) tentang upaya kesehatan olahraga 5. Pelatihan Kader Olahraga.

C. Rincian Kegiatan 1. Promotif Penyuluhan dalam gedung:      Memberi contoh ketauladanan Memberi contoh katauladanan sikap dan perilaku hidup sehat kepada masyarakat Memberi contoh ketauladanan dalam hal kebersihan lingkungan fisik Puskesmas Penyuluhan melalui media Memasang poster-poster berisi pesan-pesan tentang kesehatan olahraga
148

  

Menggunakan radio kaset yang menyiarkan lagu-lagu kesehatan olahraga atau pesan spot radio dan sebagainya. Penyuluhan individu di kamar periksa Balai Pengobatan Penyuluhan kelompok pada acara yang direncanakan.

Pelaksana: Seluruh staf Puskesmas dan Perawat Kesehatan Mahir

Penyuluhan di luar gedung Puskesmas:  Sasaran program adalah masyarakat di wilayah kerja Puskesmas antara lain; kelompok arisan, pengajian, Posyandu, sanggar senam, kelompok olahraga tradisional.  Bimbingan teknis dan pengawasan terhadap usaha kesehatan olahraga pada kelompok-kelompok olahraga di masyarakat. Pelaksana: Dokter/perawat kesehatan mahir

2. Deteksi dini Pemeriksaan kesehatan:     Skrining kesehatan bagi masyarakat umum untuk menentukan kemampuan aktivitas fisik. Skrining kesehatan bagi masyarakat khusus (atlet, penyandang cacat, kelompok khusus lain) Pemeriksaan tingkat kesegaran jasmani bagi individu sehat dan bagi individu sakit Pemeriksaan dosis latihan bagi individu sehat dan bagi individu sakit.

Pelaksana: Dokter dan perawat. 3. Tindakan: Penanganan pertama pada kasus cedera olahraga di Puskesmas Pelaksana: Dokter dan perawat 4. Pemulihan:   Pencegahan cedera pada pemulihan. Pelayanan pasca trauma/cedera olahraga (terintegrasi dengan unit rawat jalan)

Pelaksana: Fisioterapis, dokter, perawat. 5. Evaluasi program:   Pembinaan kesehatan olahraga di wilayah. Pelayanan kesehatan olahraga Puskesmas.

Pelaksana: Pimpinan Puskesmas, puskesmas dan mitra kerja.
149

150 . Indikator Keberhasilan Kegiatan 1. pengelola klub kebugaran. Pengelola klub kebugaran (fitness center) b. Sasaran Kegiatan 1. Kelompok ibu hamil 2. Pembinaan kesehatan wilayah:   Peningkatan kegiatan peran serta masyarakat dalam rangka upaya peningkatan kesehatan olahraga. ketrampilan provider Puskesmas perihal pelayanan kesehatan olahraga. Pengurus/pengelola kelompok olahraga tradisional.dll) c. Peningkatan pengetahuan. Pelayanan Puskesmas    Peningkatan kesadaran. d. Usia sekolah 4. dan penderita penyakit tertentu) 2. Pelatih/instruktur senam. kemauan. guru sekolah. Sasaran antara: a. Kelompok usia balita 3.D. penyandang cacat. Kelompok khusus ( atlet. Sasaran pokok: 1.senam asma. Usia Kerja 5. E. terpadu pada kegiatan pelayanan rawat jalan Puskesmas dengan memperhatikan faktor kesehatan olahraga dan pencegahannya. pelatih senam. dll) yang dibina perihal kesehatan. Terselenggaranya penyuluhan kesehatan olahraga terpadu di Puskesmas dan wilayahnya Terselenggaranya pelayanan kesehatan holistik. 2. sikap dan perilaku Kader Kesehatan (Posyandu.  Penurunan angka kecelakaan olahraga di setiap kelompok penyelenggara kegiatan olahraga dan kebugaran. paripurna. Usia lanjut 6. Pengelola sanggar senam e. Pengurus/pengelola klub (jantung sehat.

upaya pokok kesehatan olahraga merupakan salah satu program yang terdapat di Puskesmas Kecamatan Cilandak. penyuluhan kesehatan dan pemeriksaan kesehatan yang diikuti oleh baik pasien.BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN CILANDAK Sebagai salah satu upaya pokok Puskesmas.30-09. Upayaupaya yang telah dilaksanakan oleh Puskesmas antara lain senam. Senam Waktu Setiap Tempat hari Ruang Petugas Instruktur dari Peserta Kegiatan Ibu hamil Setelah trimester senam dilakukan penyuluhan kesehatan ibu hamil ibu hamil Senin minggu tunggu I dan III pukul Rumah 08. maupun masyarakat sekitar Puskesmas Kecamatan Cilandak. Senam DM Hari selasa Aula lantai Instruktur dari fisioterapi Pasien poli Sebelum DM senam dilakukan pemeriksaan gula darah minggu I dan 3 III pukul Puskesmas Kecamatan Cilandak 08.30-09.30 sewaktu. Berikut ini adalah tabel upaya kesehatan olahraga di Puskesmas Kecamatan Cilandak : No Kegiatan 1. 2. Tujuan dari upaya pelaksanaan ini adalah untuk meningkatkan taraf kesehatan karyawan puskesmas dan masyarakat sekitar puskesmas Kecamatan Cilandak. dan tekanan darah. karyawan.30 Bersalin Puskesmas Kecamatan Cilandak fisioterapi III dan promosi produk bayi. Setelah senam dilakukan 151 .

untuk persiapan lomba 14.00.00-09.00 4. fisioterapi Puskesmas Kecamatan Cilandak.penyuluhan dan konsultasi serta terapi oleh dokter. minggu pada pukul 07. Senam umum Dilakukan setiap selasa jumat Lapangan hari parkir dan Puskesmas tiap Cilandak Instruktur dari Warga sekitar Senam. Dilakukan setiap rabu jumat menjelang lomba bulan 2011. 152 . 5. 3.30. Senam pocopoco. pada Juni pukul Aula lantai Instruktur hari 3 dan Puskesmas Kecamatan Cilandak dari Karyawan Puskesmas Latihan senam fisioterapi Kecamatan poco-poco Cilandak.3008.00-16. Senam haji Setiap hari Aula lantai Instruktur dari fisioterapi Jamaah calon haji rabu dalam 10 3 minggu menjelang Puskesmas Kecamatan keberangkatan Cilandak haji pukul 08.

sedangkan olahraga kesehatan adalah pelatihan olahraga atau latihan fisik. Sebelumnya di Puskesmas pernah diadakan kegiatan bagi lansia berupa senam. biasanya masuk dalam kurikulum sekolah yang dasarnya bertujuan untuk meningkatnya prestasi. Dimana kesehatan olahraga adalah upaya kesehatan yang memanfaatkan olahraga yang bertujuan untuk meningkatknya derajat kesehatan. Meningkatkan kesadaran. Upaya Kesehatan Olahraga telah menambah dan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang arti pentingnya kesehatan olahraga. Meningkatkan dan memotivasi peran serta masyarakat akan pentingnya kesehatan olahraga.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Upaya kesehatan olahraga di dalam wilayah adalah bagian dari fungsi puskesmas yang berkaitan dengan upaya pengembangan. Saran Saran yang dapat dijadikan pertimbangan:      Mempertahankan upaya-upaya kesehatan olahraga yang telah dilaksanakan. latihan bernyanyi dan tensi gratis. Upaya kesehatan olahraga ini akan berhasil jika diikuti oleh peran serta masyarakat dan semua pihak dengan kesadaran akan pentingnya berolahraga. ketrampilan provider Puskesmas perihal pelayanan kesehatan olahraga. Kesehatan olahraga berbeda dengan olahraga kesehatan. Meningkatkan pengetahuan. tetapi sekarang tidak ada lagi karena responden yang bersedia untuk hadir tidak ada. 153 . sikap dan perilaku Kader Kesehatan yang dibina perihal kesehatan olahraga. pemeliharaan dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya. dengan harapan terbentuknya manusia Indonesia yang sehat dan tercapainya derajat kesehatan yang setinggitingginya. Telah diyakini bahwa dengan berolahraga dapat meningkatkan tingkat kesehatan dan produktifitas kerja. Mengadakan kegiatan bagi para lansia seperti senam. Sebagai salah satu upaya pokok Puskesmas. kemauan.

Standarisasi Pelayanan Kesehatan Puskesmas di DKI Jakarta. Tambunan . 3. Upaya Pokok Kesehatan Olahraga. hal.S. Mustika. 219-224.1999.1-3. Pedoman Kerja Puskesmas. Sungkar Saleha. Puskesmas Kecamatan Cilandak.tahun 1992. 5. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jilid ke-2. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. pasal 46.Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas 2007. 4. Pemerintah Daerah DKI Jakarta.dkk. tentang Kesehatan Olahraga. 154 . 6. Undang-Undang Kesehatan No. D.. 23. Jakarta. Taralan .DAFTAR PUSTAKA 1. 07 (04). Ketersediaan Obat Puskesmas pada Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkulu Selatan Pascaotonomi Daerah.Hal.Jakarta. 2. S. Jakarta. 1999. Daldiono. Upaya kesehatan Olahraga.Jakarta : Departemen Kesehatan RI. Danu.. Laporan Tahunan Puskesmas Kecamatan Cilandak 2010. 2007.

06.334 ) 155 .UPAYA PERAWATAN KESEHATAN MASYARAKAT Penyusun: SALWA BINTI ANUWAR NUR SYAMILA BINTI SHARRI ( 030.06.344 ) ( 030.

5% pada 2015. Perawatan kesehatan masyarakat (Perkesmas) merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan dasar yang dilaksanakan oleh Puskesmas. Hasil Riskesdas 2007 juga menggambarkan hubungan penyakit degeneratif seperti sindroma metabolik. hipertensi. Untuk mengupayakan terbinanya kesehatan 156 . Perkesmas dilakukan dengan penekanan pada upaya pelayanan kesehatan dasar. Sedangkan berdasarkan gabungan hasil pengukuran gizi buruk dan gizi kurang Riskesdas 2007 menunjukkan bahwa sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi gizi buruk dan gizi kurang di atas prevalensi nasional sebesar 18. Namun demikian. yaitu penyebab kematian pada untuk usia > 5 tahun.4%. karena upaya kesehatan belum dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. penyebab kematian yang terbanyak adalah stroke. kemiskinan. stroke. sehingga tercapai derajat kesehatan yang optimal. telah dapat dicapai pada 2007. telah terjadi pergeseran dari penyakit menular ke penyakit tidak menular. baik di perkotaan maupun di pedesaan. dan target Millenium Development Goals sebesar 18. dan lainlain). Pelaksanaan Perkesmas bertujuan untuk meningkatkan kemandirian masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatan yang dihadapi. Sehubungan dengan hal tersebut. Upaya pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat melalui upaya kesehatan wajib dan upaya kesehatan pengembangan. Salah satu upaya kesehatan pengembangan yang dilakukan oleh Puskesmas Harapan Raya adalah program Perawatan Kesehatan Masyarakat (Perkesmas). target rencana pembangunan jangka menengah untuk pencapaian program perbaikan gizi yang diproyeksikan sebesar 20%. berkelanjutan dan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat terutama keluarga miskin rawan kesehatan/risiko tinggi.4%) ditemukan pada 21 provinsi dan 216 kabupaten/kota. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 diketahui penyebab kematian di Indonesia untuk semua umur. Sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor: 128/Menkes/SK/II/Tahun 2004 tentang kebijakan dasar Puskesmas. upaya perawatan kesehatan masyarakat merupakan upaya program pengembangan yang kegiatannya terintegrasi dalam upaya kesehatan wajib maupun upaya kesehatan pengembangan. Prevalensi gizi buruk yang berada di atas rata-rata nasional (5. perlu terus ditingkatkan upaya-upaya untuk memperluas jangkauan dan mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dengan mutu pelayanan yang baik. obesitas dan penyakit jantung dengan status sosial ekonomi masyarakat (pendidikan.BAB I PENDAHULUAN Permasalahan kesehatan yang dihadapi sampai saat ini cukup kompleks.

pengendalian dan penilaian Perkesmas. (4) 27. tetapi pencapaiannya masih rendah. (5) 36. Penelitian yang dilakukan untuk mengetahui pelaksanaan program Perkesmas dan upaya peningkatan kinerja Perkesmas yang dilaksanakan di Puskesmas Mantrijeron kota Yogyakarta didapatkan bahwa (1) 18. Tentang masalah dana.3 % petugas tidak melakukan perencanaan dengan baik.2% petugas memiliki kemampuan kurang. maka diharapkan 40 % keluarga rawan kesehatan memperoleh kunjungan rumah dan pembinaan kesehatan oleh tenaga kesehatan melalui kegiatan perkesmas. tentang sarana dan prasarana seperti Public Health Nursing (PHN) kit. Selanjutnya.4 % petugas kurang baik dalam penggerakan pelaksanaan Perkesmas. buku pedoman dan formulir laporan sudah tersedia. Puskesmas yang tidak membuat rencana tahunan dan jumlah sasaran tidak dilakukan pendataan. Prioritas sasaran adalah yang mempunyai masalah kesehatan terkait dengan masalah kesehatan prioritas daerah yaitu belum kontak dengan sarana pelayanan kesehatan atau sudah memanfaatkan tetapi memerlukan tindak lanjut.3 % petugas memiliki motivasi kurang.masyarakat. keluarga. Berdasarkan penelitian Septino (2007) diketahui beberapa masalah Perkesmas yang dihadapi pada PuskesmasPuskesmas di Indonesia antara lain laporan yang tidak sesuai dari Puskesmas. (2) 27. Penduduk rawan ini telah menjadi salah satu bagian sasaran program Perkesmas di Puskesmas. Fokus utama pada keluarga rawan kesehatan yaitu keluarga miskin yang rentan dan keluarga yang termasuk resiko tinggi. (3) tidak ada petugas yang tidak patuh. Sasaran perawatan kesehatan masyarakat adalah individu. Dinas Kesehatan memberikan dana secara block grand ke Puskesmas berdasarkan usulan kegiatan yang mereka buat. ketidakmauan maupun ketidakmampuan dalam menyelesaikan masalah kesehatannya. (6) 18. kelompok dan masyarakat yang mempunyai masalah kesehatan akibat faktor ketidaktahuan. Pemerintah memiliki tanggung jawab melindungi kesehatan masyarakat dan memberikan akses ke pelayanan kesehatan terutama bagi keluarga yang memiliki hambatan untuk mencapai pusat-pusat pelayanan kesehatan. 157 . Keluarga yang tidak mendapat pelayanan perkesmas merupakan beban sosial dan ekonomi serta dapat berdampak buruk terhadap masyarakat lainnya. obat.2 % petugas kurang baik dalam pengawasan.

contohnya penyuluhan-penyuluhan. sebagai bagian dari program kesehatan masyarakat secara keseluruhan guna meningkatkan kesehatan. keluarga.BAB II PENGERTIAN Perawatan kesehatan masyarakat (Perkesmas) adalah perpaduan antara keperawatan dan kesehatan masyarakat dengan dukungan peran serta aktif masyarakat mengutamakan pelayanan promotif dan preventif secara berkesinambungan tanpa mengabaikan pelayanan kuratif dan rehabilitatif secara menyuluh dan terpadu. Keperawatan adalah bentuk pelayanan di bidang kesehatan yang didasari ilmu dan kiat keperawatan ditujukan kepada individu. perbaikan lingkungan fisik. Menurut WHO Perkesmas merupakan lapangan perawatan khusus yang merupakan gabungan ketrampilan ilmu keperawatan. penyempurnaan kondisi sosial. ditujukan kepada individu. kelompok dan masyarakat baik yang sakit maupun yang sehat. Keluarga rawan adalah keluarga rentan terhadap kemungkinan timbulnya masalah kesehatan dan keluarga yang mempunyai individu bermasalah. keluarga. keluarga. sehingga mandiri dalam upaya kesehatannya masyarakat. faktor-faktor penyebab wabah dan penyelesaian masalah kesehatan di masyarakat. Preventif adalah suatu upaya yang dilakukan untuk menghalangi terjadinya bencana dan mencegah bahaya yang ditimbulkannya (dalam hal ini penyakit) 158 . yang mempunyai masalah dimana hal itu mempengaruhi masyrakat secara keseluruhan. pencegahan penyakit dan bahaya yang lebih besar. sejak lahir sampai meninggal. kelompok dan masyarakat untuk ikut meningkatkan fungsi kehidupan manusia secara optimal. ilmu kesehatan masyarakat dan bantuan sosial. ditujukan kepada individu. rehabilitasi. Promotif adalah suatu upaya untuk meningkatkan taraf kesehatan yang dilakukan pada saat pejamu sedang sehat dengan tujuan kesehatan / memelihara kesehatan. Kesehatan masyarakat adalah bentuk pelayanan yang erat kaitannya dengan epidemiologi.

juga agar mencegah cacat total setelah terjadi perubahan anatomi dan fisiologi. Rehabilitasi meliputi fisik.Kuratif adalah upaya yang dilakukan untuk mengurangi/menyembuhkan suatu penyakit Rehabilitatif adalah upaya yang dilakukan bila sudah terjadi suatu kerusakan dan dilakukan untuk mengembalikan penderita agar berguna dalam masyarakat. mental dan sosial 159 .

kelompok khusus dan masyarakat untuk melaksanakan keperawatan dasar dalam rangka mengatasi masalah kesehatan : preventif & kuratif. preventif. keluarga. preventif. dan rehabilitatif. 160 . 3. RW) melaksanakan promotif. 5. Dipahaminya pengertian sehat dan sakit oleh masyarakat : promotif & preventif. B. Tujuan Khusus 1. Terlayaninya kasus-kasus resiko tinggi yang memerlukan pelayanan perawatan di puskesmas dan di rumah. RT. 4. Terlayaninya kasus-kasus yang memerlukan tindak lanjut dan pelayanan keperawatan. Tujuan Umum Meningkatnya kemandirian masyarakat dalam mengatasi masalah keperawatan kesehatan masyarakat untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal. Terlayaninya kelompok khusus / panti yang memerlukan pembinaan dan pelayanan perawatan : promotif. 2. Meningkatnya kemampuan individu.BAB III TUJUAN A. Tertanganinya keluarga rawan yang memerlukan pembinaan dan pelayanan perawatan : tim kesehatan lintas program terkait & sektoral terkait (kader kesehatan. 6. kuratif / rehabilitatif.

mengembangkan pemberdayaan pasien dan keluarga. melakukan pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarganya. bertujuan untuk pembinaan keluarga rawan kesehatan. posyandu. Mekanisme pelayanan home visit: a) Proses penerimaan kasus. Kunjugan rumah oleh perawat (home visit/home care) terencana. Puskesmas keliling (pusling). pos kes desa. di bidang kesehatan maupun non kesehatan. Asuhan keperawatan pasien (prioritas) kontak Puskesmas yang berada di poliklinik Puskesmas. pelayanan dikelola oleh suatu unit/sarana/institusi baik aspek administrasi maupun aspek pelayanan dengan mengkoordinir berbagai kategori tenaga profesional dibantu tenaga non profesional. Puskesmas pembantu (pustu). Ruang Lingkup home visit yaitu memberi asuhan keperawatan secara komprehensif.    Home visit menerima pasien dari tiap poliklinik di Puskesmas Koordinator program Perkesmas menunjuk perawat pelaksana Perkesmas untuk mengelola kasus Perawat pelaksana Perkesmas membuat surat perjanjian dan proses pengelolaan kasus b) Proses pelayanan home visit: 161 . pelayanan kesehatan diberikan di tempat tinggal pasien dengan melibatkan pasien dan keluarganya sebagai subyek yang ikut berpartisipasi merencanakan kegiatan pelayanan.  Pengkajian keperawatan pasien sebagai deteksi dini (sasaran prioritas)  Penyuluhan kesehatan  Tindakan Keperawatan (direct care)  Konseling keperawatan  Pengobatan (sesuai kewenangan)  Rujukan pasien/masalah kesehatan  Dokumentasi keperawatan 2. Home visit adalah suatu bentuk pelayanan kesehatan yang komprehensif bertujuan memandirikan pasien dan keluarganya.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN KEGIATAN DAN SASARAN DI PUSKESMAS KELURAHAN PONDOK LABU Kegiatan Adapun bentuk kegiatan Perkesmas antara lain: 1.

keluarga sudah mampu melakukan perawatan pasien. menyiapkan file asuhan keperawatan. Kunjungan perawat ke kelompok prioritas terencana (posyandu usila. program rehabilitasi tercapai secara maksimal.  Monitoring dan evaluasi antara lain keakuratan dan kelengkapan pengkajian awal. disesuaikan dengan kemampuan keuangan dan keadaan sosial ekonomi. posyandu balita. pasien meninggal dunia. pembayaran dengan asuransi ditetapkan atas dasar saling membantu. bawa denah/petunjuk tempat tinggal pasien. diskusikan rencana kunjungan selanjutnya dan aktifitas yang akan dilakukan. mempertimbangkan masyarakat bepenghasilan rendah/asas gotong royong. observasi lingkungan yang berkaitan dengan keamanan perawat. efektifitas dan efisiensi pelaksanaan tindakan oleh pelaksana. mencakup seluruh unsur pelayanan secara proporsional o Jenis pelayanan yang kena tarip antara lain jasa pelayanan tenaga kesehatan. memastikan perlengkapan pasien untuk di rumah. konsultasi dll. kondisi pasien stabil. lengkapi data hasil pengkajian dasar pasien. pasien di rujuk. dokumentasikan kegiatan. Persiapan terdiri dari memastikan identitas pasien. panti asuhan dan lain-lain) a) Pengkajian keperawatan individu di kelompok b) Pendidikan/penyuluhan kesehatan di kelompok c) Pengobatan (sesuai kewenangan) d) Rujukan pasien/masalah kesehatan e) Dokumentasi keperawatan 162 .  Proses penghentian pelayanan home visit. kesesuaian perencanaan dan ketepatan tindakan. pasien menolak pelayanan lanjutan. imbalan atas pemakaian sarana kesehatan yang digunakan langsung oleh pasien. dana transportasi untuk kunjungan pasien 3. kolaborasi. membuat rencana pelayanan.  Pembiayaan home visit terdiri dari o Prinsip penentuan tarif antara lain pemerintah/masyarakat bertanggung jawab dalam memelihara kesehatan. lakukan perawatan langsung. diskusikan kebutuhan rujukan. dengan kriteria : tercapai sesuai tujuan. lengkap kartu identitas unit tempat kerja. menyiapkan alat bantu media untuk pendidikan Pelaksanaan terdiri dari perkenalan diri dan jelaskan tujuan.

Kelompok/masyarakat berisiko tinggi. tidak terjangkau pelayanan kesehatan. Sasaran Perkesmas Adapun yang menjadi sasaran program Perkesmas ini adalah seluruh masyarakat yang dapat terbagi menjadi: 1. balita. lansia. 3. lanjut usia (lansia).4. menderita penyakit. Asuhan keperawatan pasien di ruang rawat inap Puskesmas a) Pengkajian keperawatan individu b) Tindakan keperawatan langsung (direct care) dan tidak langsung (lingkungan) c) Pendidikan/penyuluhan kesehatan d) Pencegahan infeksi di ruangan e) Pengobatan (sesuai kewenangan) f) Penanggulangan kasus gawat darurat g) Rujukan pasien/masalah kesehatan h) Dokumentasi keperawatan. Individu khususnya individu risiko tinggi (risti): menderita penyakit. Fokus sasaran Perkesmas adalah keluarga rawan kesehatan dengan prioritasnya adalah keluarga rentan terhadap masalah kesehatan (Gakin). menderita penyakit). 2. lansia. termasuk daerah kumuh. terisolasi. Keluarga khususnya ibu hamil (bumil). konflik. 163 . balita. masalah mental/jiwa. keluarga risiko tinggi (anggota keluarga bumil. masalah mental/jiwa.

memfasilitasi pembahasan masalah dalam Refleksi Diskusi Kasus (RDK).dan lain-lain) Indikator keberhasilan Perkesmas Indikator keberhasilan kinerja Perkesmas terdiri dari: 1. PHBS. Indikator kinerja klinik Ada 4 indikator dalam menilai keberhasilan kinerja klinik Perkesmas yaitu:  Indikator input     Persentasi perawat koordinator (D3 Keperawatan) Persentasi perawat terlatih keperawatan kesehatan komunitas Persentasi Penanggung jawab daerah binaan/desa punya PHN kit Persentasi Puskesmas memiliki pedoman/standard 164 . flu burung. membahas masalah keuangan. Sertifikasi bagi perawat Perkesmas yaitu:       Pelatihan Perkesmas Pelatihan Pengembangan Manajemen Kinerja Klinis (PMKK) untuk perawat coordinator Pelatihan gadar (basic) Pelatihan HIV/AIDS Pelatihan Keperawatan Kesehatan jiwa Masyarakat (basic) Pelatihan-pelatihan lainnya (program ISPA.BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KELURAHAN PONDOK LABU Pelaksana Kegiatan Perkesmas  Perawat koordinator Perkesmas di Puskesmas harus mempunyai kualifikasi yaitu minimal D3 Keperawatan dan pernah mengikuti pelatihan/sertifikasi Perkesmas serta memiliki pengalaman kerja di Puskesmas yang mempunyai tugas sebagai berikut: Pertemuan dengan perawat pelaksana Perkesmas/penanggung jawab daerah binaan (darbin) untuk mengidentifikasi masalah prioritas dengan data epidemiologi. merencanakan kegiatan Perkesmas. gizi.   Kunjungan lapangan untuk melakukan bimbingan pada perawat pelaksana Penyusunan laporan yang disusun berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan Perkesmas yang merupakan bahan pertanggung jawaban kepada Kepala Puskesmas.

family folder.   Tersedia dana operasional untuk pembinaan Tersedia standar/pedoman/SOP pelaksanaan kegiatan Tersedia dukungan administrasi (buku register. dan lain-lain)  Indikator proses              Persentasi keluarga rawan mempunyai family folder Maping (peta) sasaran Perkemas Rencana kegiatan Perkesmas (POA) Bukti Pembagian tugas perawat Ada kegiatan koordinasi dengan petugas kesehatan lain Catatan keperawatan Kegiatan Refleksi Diskusi Kasus Hasil pemantauan dan evaluasi  Indikator output (key indicator) Persentasi keluarga rawan dibina Persentasi keluarga selesai dibina Persentasi penderita (prioritas SPM) dilakukan tindak lanjut keperawatan (follow up care) Persentasi kelompok dibina Persentasi daerah binaan di suatu wilayah  Indikator hasil (Outcome) yang ingin dicapai adalah terbentuknya keluarga mandiri dalam memenuhi kesehatannya/mengatasi masalah kesehatannya yang terdiri dari 4 tingkatan keluarga mandiri (KM). formulir laporan. masing-masingnya mempunyai kriteria-kriteria sebagai berikut: Tabel : Kriteria Keluarga Mandiri Perilaku KM 1 KM II KM III KM IV No 1 Perilaku Menerima Puskesmas + + KM 1 petugas + + + KM 2 + KM3 + KM 4 + 165 .

Indikator kinerja fungsional Indikator kinerja fungsional yaitu indikator kinerja perawat Puskesmas untuk mengukur pencapaian angka kredit jabatan fungsionalnya yaitu jumlah angka kredit yang dicapai sama dengan jumlah kegiatan perawat dalam mencapai indikator klinik (output) nya.2 Menerima yankes sesuai + rencana + + + + + + + 3 Menyatakan secara benar + masalah + + + + + 4 Memanfaatkan sarana + + + kesehatan sesuai anjuran + + + 5 Melaksanakan perawatan + + + sederhana sesuai anjuran + + + 6 Melaksanakan tindakan + + pencegahan secara aktif + + 7 Melaksanakan tindakan + promotif secara aktif + 2. 166 .

 Kurangnya sarana dan prasarana yang dibutuhkan. keluarga yang rentan terhadap masalah kesehatan. B. Penilaian dilakukan setahun sekali meliputi semua aspek baik input. Adapun sasaran 167 . Dengan adanya identifikasi masalah diatas. Sasaran.  Kurang akuratnya data yang tersedia  Lingkungan yang tidak sehat dan bersih. output. Untuk memudahkan pemantauan dan penilaian kinerja Perkesmas maka dilakukan penyajian hasil dengan menggunakan tabel. maka penulis dapat mengemukakan sasaran yang ingin dicapai dalam rangka menuju pemecahan masalah . outcome sebagai masukan penyusunan rencana kegiatan Perkesmas tahun berikutnya. Hasil pemantauan terhadap pencapaian indikator kinerja menjadi masukan untuk perbaikan dan peningkatan kinerja perawat berikutnya. outcome sebagai masukan penyusunan rencana kegiatan Perkesmas tahun berikutnya. Penilaian dilakukan setahun sekali meliputi semua aspek baik input. A. grafik balok/garis atau grafik Pemantauan Wilayah Setempat (PWS). Untuk memudahkan pemantauan dan penilaian kinerja Perkesmas maka dilakukan penyajian hasil dengan menggunakan tabel. antara lain :  Meningkatnya suatu penyakit di masyarakat. Hal ini disebabkan karena adanya beberapa faktor. antara lain :  Kurangnya kerjasama lintas program terkait.  Kurangnya kegiatan Perawatan Kesehatan Masyarakat oleh petugas. Selanjutnya dapat diidentifikasi masalah yang berhubungan langsung dengan masalah utama tersebut di atas adalah kurangnya kegiatan Perawatan Kesehatan Masyarakat oleh petugas yang disebabkan oleh beberapa faktor. Sedangkan penilaian dilaksanakan minimal setiap akhir tahun dan hasilnya digunakan untuk masukan dalam penyusunan perencanaan kegiatan Perkesmas pada tahun berikutnya. output. peningkatan cakupan dan mutu pelayanan kesehatan. Menurunya derajat kesehatan masyarakat dalam rangka kegiatan Perawatan Kesehatan Masyarakat (Perkesmas} diakibatkan oleh meningkatnya angka kesakitan pada keluarga sasaran khususnya keluarga rawan.Pemantauan dan Penilaian Perkesmas Pemantauan dilaksanakan secara periodik setiap bulan oleh kepala Puskesmas dan Perawat koordinator Perkesmas. grafik balok/garis atau grafik Pemantauan Wilayah Setempat (PWS).  Kurangnya kemampuan/keterampilan petugas (bidan dan pada perawat)  Kurangnya motivasi petugas. Identifikasi Masalah.

Untuk program KIA dalam hal pencapaian cakupan K. Untuk program pemberantasan Penyakit Menular (P2M) petugas Puskesmas membantu memberikan bimbingan serta tindak lanjut untuk kasus-kasus penyakit menular maupun tidak menular. Petugas dari perogram terkait sudah memahami dan mengerti tentang pelaksanaan dari Program Puskesmas. Terwujudnya peningkatan derajat kesehatan masyarakat dalam rangka kegiatan Perkesmas diakibatkan dari tercapainya penurunan angka kesakitan pada keluarga rawan yang rentan terhadap masalah kesehatan. 2.Dari program Gizi petugas Puskesmas membantu dalam hal pembinaan kelarga yang mempunyai bayi.1 dan K. Sedangkan yang menyebabkan terwujudnya peningkatan kegiatan perawatan kesehatan masyarakat oleh petugas adalah : 1.yang dimaksud adalah seperti di bawah ini. Adanya peralatan medis khusus untuk kegiatan program Puskesmas yang dipunyai oleh masing-masing petugas (bidan dan perawat) akam memudahkan kegiatan 168 . Dengan sudah dilaksanakannya pelatihan petugas perawatan kesehatan masyarakat. yaitu :  Tertanggulanginya suatu penyakit di masyarakat  Terwujudnya peningkayan kegiatan perawatan kesehatan masyarakat oleh petugas (bidan dan perawat).4.  Tersedianya keakuratan data. yang berat badannya berada dibawah garis merah (Balita BGM) dan ibu hamil /ibu nifas yang kekuranan enegi sera membantu dalam hal pelaksanaan pemberian makanan tambahan (PMT). anak balita.  Terwujudnya lingkungan yang sehat dan bersih. Dengan terpenuhinya sarana dan prasarana khususnya peralatan medis dan ruangan yang memadai dalam melaksanakan kegiatan akan menimbulkan suasana yang nyaman dan leluasa sehingga dapat membuat jiwa kita menjadi tenang. Terwujudnya peningkatan kerjasama lintas program terkait.Program KIA dan Imunsasi adalah program primadona. sedangkan untuk pelayanan program Imunisasi petugas Puskesmas melakukan pembinaan pada keluarga DO (Drop Out). Penurunan angka kesakitan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. Bahwa program Puskesmas sangat mendukung untuk program puskesmas lainnya tertutama dalam pencapaian cakupan program Kesehatan Ibu dan Anak dan program Pemberantasan Penyakit menular temasuk Imunisasi. Tersedianya sarana dan prasarana yang dibutuhkan.

Melaksanakan pelatihan petugas perkesmas. Terwujudnya motivasi kerja dalam melaksanakan kegiatan Perkesmas tidak lepas dari kemampuan/keterampilan petugas serta tersedianya sarana dan prasarana pendukung. baik disegi pelayanan terhadap masyarakat maupun disegi pelayanan terhadap masyarakat maupun disegi pencapaian cakupan/hasil kegiatan. Sebagai pendukung kelancaran dan kemudahan dalam melaksanakan kegiatan Perkesmas bagi petugas bagi petugas khususnya perawat. bidan dan bidan-bidan didesa perlu adanya pelatihan. Melaksanakan study banding ke Puskesmas teladan. Dan program perawatan kesehatan masyarakat bisa berjalan dengan lancar. Seperti sudah diuraikan pada bab terdahulu bahwa kendala/hambatan yang ditemui dalam upaya peningkatan pelaksanaan kegiatan Perkesmas adalah faktor manusia sebagai pelaksana yang mempunyai kelemahan. Dengan adanya usaha tersebut diatas diharapkan akan meningkatkan kemampuan/keterampilan bagi petugas Perkesmas. dan bidan-bidan desa melalui kegiatan-kegiatan seperti: 1. Motivasi kerja petugas dilihat dari keaktifan petugas dalam membina desa binaan. 3. Melaksanakan pembuatan petunjuk teknis pelajaran. melaksanakan petunjuk teknis pelajaran. Terwujudnya peningkatan kemampuan/keterampilan petugas (bidan dan perawat). bidan. 2. Melaksanakan pembinaan. 169 . Hal ini secara tidak langsung membantu memotivasi petugas untuk melaksanakan tugas dengan baik. sehingga kegiatan perkesmas dapat dilaksanakan secara optimal dan pada akhirnya akan terjadi peningkatan. maka perlu dibuat beberapa alternatif sebagai acuan untuk menuju rangkaian pemecahan masalah sehingga terwujudnya peningkatan kemampuan /keterampilan petugas Perkesmas khususnya perawat. Terwujudnya motivasi kerja petugas. yaitu kurangnya kemampuan/keterampilan petugas untuk melaksanakan tugas keperawatan.Puskesmas di masyarakat. pembinaan yang terus menerus oleh atasan langsung atau dari pihak yang berkepentingan. 4. C. Alternatif Pemecahan. 4. Selanjutnya guna mengidentifikasi pemecahan masalah dan penetuan sasaran yang ingin dicapai. 3.

2. penyajian materi serta penutup. bidan dan bidan-bidan desa selaku pelaksana kegiatan Perkesmas. Kegiatan yang kiranya diselenggarakan guna mencapai sasaran adalah dengan melaksanakan pelatihan petugas perawatan Kesehatan Masyarakat untuk mewujudkan peningkatan    kemampuan/keterampilan bidan perawat. Dengan adanya peningkatan kemampuan/keterampilan petugas Perkesmas oleh petugas yang selanjutnya akan memungkinkan tercapainya penurunan angka kesakitan pada keluarga rawan yang rentan terhadap maslah kesehatan dan pada akhirnya memungkinkan terwujudnya peningkatan derajat kesehatan masyarakat. dapatlah ditentukan sasaran umum dan sasaran khusus dari rencana kerja yang ingin dicapai. Langkah-Langkah Kegiatan. penilaian serta pelaporan dari semua kegiatan yang dilaksanakan. pencairan dana. Dengan adanya strategi pemecahan masalah dari sasaran yang diharapkan.Dari beberapa kegiatan tersebut diatas kegiatan yang bisa dilaksanakan dan berpengaruh langsung terhadap peningkatan kemampuan/keterampilan petugas Perkesmas yaitu kegiaatan pelatihan bagi perawat. Pelaksanaan terdiri dari pembukaan pelatihan. pembuatan jadwal. 170 . Sasaran Umum : Terwujudnya peningkatan kemampuan /keterampilan petugas Perkesmas melalui pelaksanaan pelatihan petugas Perkesmas. Adapun sasaran umum dan saran khusus yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut : 1. Kegiatan tersebut diatas pelaksanaannya dapat dibagi menjadi beberapa tahapan kegiatan antara lain : Persiapan yang terdiri dari pembentukan panitia. Sasaran Khusus : Terwujudnya peningkatan kemampuan /keterampilan petugas Perawatan Kesehatan Masyarakat (bidan dan perawat) melalui pelaksanaan pelatihan petugas Perkesmas D. Pengendalian meliputi pemantauan. penyiapan perlengkapan serta pemberitahuan peserta pelatihan.

agar dapat menilai kemajuan pelaksanaan program Perkesmas secara teratur dan berkesinambungan. dimana tanpa adanya keterpaduan laporan dan kegiatan pembinaan lintas program/sektor terkait program Perkesmas akan menampilkan hasil kegiatan dan pengelolaan yang belum optimal. Kedua hasil tersebut diperlukan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan.  Diharapkan dapat memberikan sosialisasi secara terus menerus dan berkesinambungan dengan lintas program/sektor terkait demi terlaksananya kegiatan Perkesmas di Tingkat Puskesmas secara terpadu. memberikan pelayanan keperawatan terhadap individu.  Hasil pernantauan dapat dimanfaatkan untuk melakukan koreksi. keluarga. sedangkan hasil penilaian dimanfaatkan untuk perencanaan kegiatan berikutnya. kelompok dan masyarakat yang mempunyai masalah kesehatan.  Diharapkan dukungan sepenuhnya dari Kepala Puskesmas dalam memotivasi staf dalam pelaksanaan kegiatan Perkesmas secara terpadu melalui mini lokakarya lintas program/sektor. SARAN  Diharapkan dapat memberikan supervisi/bimbingan untuk perbaikan dan peningkatan penampilan hasil kegiatan Perkesmas di tingkat Puskesmas.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN  Kegiatan Perkesmas salah satu kegiatan pokok Puskesmas. 171 . dan perlu adanya suatu alat untuk rnemantau dan menilai sehingga dapat diidentifikasi masalah dan penyebabnya.

Petunjuk Pengelolaan Perawatan Kesehatan Masyarakat Depkes RI. www.DAFTAR PUSTAKA 1. Sastroasmoro S. Pedoman Pemantauan Penilaian Program Perawatan Kesehatan Masyarakat. Jakarta.com 3. Jakarta. 1993. Depkes RI. 2.depkesri.2010. p372-374 172 . 1996. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. Ismael Sofyan. Jakarta : Sagung Seto.

UPAYA KESEHATAN KERJA Penyusun: Putri Kartika Vidya Syahidatul Syakira (030.197) (030.06.350) 173 .06.

BAB I PENDAHULUAN ILO dan WHO (1995) menyatakan kesehatan kerja bertujuan untuk peningkatan dan pemeliharaan derajat kesehatan fisik. yaitu : 1) Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan pekerja dan kapasitas kerja. Dalam Undang-undang No. 2) Perbaikan lingkungan kerja dan pekerjaan yang mendukung keselamatan dan kesehatan. perlindungan bagi pekerja dalam pekerjaannya dari resiko akibat faktor yang merugikan kesehatan . agar diperoleh produktivitas kerja yang optimal sejalan dengan program perlindungan tenaga kerja. Selanjutnya dinyatakan bahwa fokus utama Kesehatan Kerja. 174 . dicanangkan dengan paradigm sehat. Secara ringkas merupakan penyesuaian pekerjaan kepada manusia dan setiap manusia kepada pekerjaan atau jabatannya. Pencanangan paradigma sehat ini sejalan dengan pembangunan berwawasan lingkungan serta pengembangan tenaga kesehatan Sarjana Kesehatan Masyarakat. absen kerja yang pada ujungnya mengganggu produktivitas kerja. juga meningkatkan suasana sosial yang positif dan operasi yang lancer serta meningkatkan produktivitas perusahaan. dan penempatan serta pemeliharaan pekerja dalam suatu lingkungan kerja yang disesuaikan dengan kondisi fisiologi dan psikologisnya. Perhatian yang baik pada kesehatan kerja dan perlindungan risiko bahaya di tempat kerja menjadikan pekerja dapat lebih nyaman bekerja. 3) Pengembangan organisasi kerja dan budaya kerja kearah yang mendukung kesehatan dan keselamatan di tempat kerja. Potensi munculnya berbagai penyakit akibat kerja yang dialami pekerja akan merugikan perusahaan dari segi biaya kesehatan. pencegahan terhadap gangguan kesehatan pekerja yang disebabkan oleh kondisi pekerjaan. Departemen Kesehatan telah menetapkan upaya khusus kesehatan kerja sebagai bagian dari pembangunan bidang kesehatan sejak tahun 1998. Bidang kesehatan kerja mempunyai implikasi luas baik secara mikro maupun makro. 23 tahun 1992 pasal 23 dinyatakan bahwa kesehatan kerja diselenggarakan agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan diri sendiri dan masyarakat sekelilingnya. mental dan sosial yang setinggi-tingginya bagi pekerja di semua jenis pekerjaan.

diantaranya adalah sebagai pelaksana lapangan. ahli hygiene kerja. ahli ergonomic. 6. penyuluhan kesehatan masyarakat. pendidikan. pemilihan alat pelindung diri yang diperlukan dan gizi serta penyelenggaraan makanan di tempat kerja. Selain adanya persoalan keterbatasan sumber daya manusia atau petugas dan kesadaran para pengelola usaha dalam memperhatikan kesehatan kerja. pengelola dan pengendali upaya kesehatan masyarakat. misalnya dalam bentuk pembinaan dan pelatihan-pelatihan serta penyusunan berbagai pedoman pelaksanaan kesehatan kerja. pembangunan model. Pembinaan dan pengawasan terhadap lingkungan kerja 3. perawat. diakui upaya yang telah dilakukan belum bisa menjangkau seluruh usaha informal dan industri kecil yang jumlahnya cukup besar. Memberikan nasehat mengenai perencanaan dan pembuatan tempat kerja. 3 tahun 1982 disebutkan tugas pokok kesehatan kerja antara lain : 1. Pembinaan dan pengawasan perlengkapan sanitasi 4. 175 . ahli toksikologi. Memberikan saran dan masukan kepada manajemen dan fungsi terkait terhadap permasalahan yang berhubungan dengan aspek kesehatan kerja Pada beberapa sektor industi formal berskala menengah dan besar pada umumnya pelaksanaan kesehatan kerja sudah cukup baik yang dilakukan secara terintegrasi melalui Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamanatan Kerja ( SMK3 ). Peran SKM dalam Kesehatan Kerja Peran SKM dalam berbagai bentuk upaya kesehatan masyarakat. Pembinaan dan pengawasan atau penyesuaian pekerjaan terhadap tenaga kerja 2. Untuk usaha-usaha informal dan industri-industri kecil. Memberikan laporan berkala tentang pelayanan kesehatan kerja kepada pengurus 7. Namun. ahli epidemiologi dan ahli keselamatan. Pembinaan dan pengawasan perlengkapan kesehatan kerja 5. seperti dokter. Untuk melaksanakan upaya tersebut dibutuhkan sejumlah profesi.Dalam Permenaker No. pengelolaan kesehatan masyarakat. Upaya kesehatan kerja sebagai bagian dari upaya kesehatan masyarakat seperti diuraikan di atas dilakukan melalui berbagai upaya atau program-program. Departemen Kesehatan maupun Departemen Tenaga kerja dan Transmigrasi sudah melakukan upaya kesehatan kerja.

juga oleh para pengusaha atau pelaku usaha dan para pekerja. untuk penduduk di atas 15 tahun ) dan jumlah industri yang cukup besar sekitar 102. SKM dengan kompetensi bidang K3 juga diperlukan di instansi pemerintah baik pusat maupun daerah dalam menjalankan fungsinya membuat regulasi. 176 . pengelola program diharapkan akan lebih mengoptimalkan upaya kesehatan kerja.Dilihat dari tugas pokok kesehatan kerja dan bentuk pengendalian bahaya kesehatan. seperti dokter dan perawat juga dibutuhkan tenaga-tenaga yang mampu melakukan upaya-upaya kesehatan kerja yang lebih bersifat peningkatan. SKM juga dapat memainkan peran di LSM-LSM bidang kesehatan yang tentunya dapat membuat program intervensi kesehatan di tempat kerja. Titik berat yang menjadi perhatian baik masyarakat maupun pemerintah adalah bidang pendidikan dan kesehatan. perlindungan dan pencegahan. Selain di perusahaan. tenaga SKM mempunyai kompetensi yang sangat sesuai karena tenaga SKM dirancang untuk melakukan tugas pokok atau upaya-upaya yang bersifat promosi. Kebutuhan SDM bidang kesehatan kerja selain tenaga medis dan paramedis.000 perusahaan. Dalam rangka pemberdayaan masyarakat bidang K3. perlindungan dan pencegahan. bimbingan dan evaluasi. Selain itu kemampuan sebagai leader. Potensi ini akan sangat berarti ketika kita melihat kenyataan bahwa di Indonesia jumlah angkatan kerja adalah terbesar nomor 4 di dunia. ditempatkan di instansi pemerintah harus didukung oleh jaringan terkait. Jumlah institusi pendidikan tinggi yang menghasilkan SKM saat ini sangat banyak. melakukan supervise. Perkembangan pembangunan nasional bangsa Indonesia sekarang ini dihadapkan pada era etonomi dan desentralisasi. Disamping itu sendiri. yaitu berjumlah sekitar 152 juta jiwa ( Survey BPS 2003. yaitu tenaga ini adalah SKM. Hal penting untuk dicatat adalah pentingnya pemberdayaan potensi tenaga SKM sesuai kompetensinya untuk dapat menjadi pelaksana upaya kesehatan kerja baik bekerja langsung di perusahaan.

Kompetensi SKM sangat sesuai sebagai bagian dari profesi lain dalam upaya kesehatan kerja.Era globalisasi saat ini juga menuntut adanya kompetensi tenaga kerja dan pentingnya standarisasi serta sertifikasi. Trend ini sangat relevan dengan pemikiran dan implementasi peran SKM dalam upaya kesehatan kerja. 177 . yaitu sebagai pengelola program dan dapat melakukan fungsinya untuk melakukan/ mengkoordinasikan langkah-langkah identifikasi potensi bahaya kesehatan. pengawasan serta pendidikan dan pelatihan. pembinaan. kita dapat melihatnya dari titik temu antara kompetensi yang dimiliki SKM khususnya peminatan K3 dengan tujuan dan tugas pokok kesehatan kerja dan standar upaya kesehatan kerja yang biasa diterapkan di tempat kerja dalam bentuk Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja. penilaian bahaya kesehatan dan pengendalian melalui berbagai program.

pabrik dan sebagainya yang mempunyai ciri : 3 1.BAB II PENGERTIAN UPAYA KESEHATAN PENGEMBANGAN Adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan permasalahan kesehatan yang ditemukan di masyarakat serta yang disesuaikan dengan kemampuan Puskesmas.2 SASARAN (TARGET) Adalah hasil yang diharapkan dari suatu program atau keluaran yang diharapkan dari suatu kegiatan.3 KEGIATAN Adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau lebih unit kerja sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur dari suatu program dan terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya baik yang berupa personal (SDM). dana atau kombinasi dari beberapa atau kesemua jenis sumber daya tersebut sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang atau jasa. 2 SEKTOR INFORMAL Yaitu usaha-usaha ekonomi di luar sektor modern atau sektor formal seperti perusahaan. kecilan 178 Perorangan dan sistem pembagian kerja yang ketat Skala usaha relative kecil biasanya dimulai dengan modal dan usaha kecil- .2 UPAYA KESEHATAN KERJA ( UKK ) Merupakan kegiatan pokok Puskesmas yang ditujukan terutama pada masyarakat pekerja informal di wilayah kerja Puskesmas dalam rangka upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit serta kecelakaan yang berkaitan dengan pekerjaan dan lingkungan kerja. 3. tidak tergantung pada kerja sama banyak orang bahkan kadang-kadang usaha 2. barang modal termasuk peralatan dan teknologi. Kegiatan usaha biasanya sederhana.

1985) 179 . Biasanya tidak mempunyai izin usaha seperti halnya Firma. PT atau CV (Payaman Simanjuntak.4.

2. Tujuan umum Meningkatnya kemampuan untuk menolong dirinya sendiri guna mencapai derajat kesehatan yang optimal dan peningkatan produktifitas kerja. 3 II. 3 180 . Meningkatnya keselamatan kerja dengan mencegah pemajanan bahan-bahan yang dapat membahayakan lingkungan kerja dan masyarakat sekitar serta menerapkan prinsip ergonomik. Meningkatnya kemampuan masyarakat pekerja dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit dan kecelakaan yang berkaitan dengan pekerjaan dan lingkungan kerja. 3. Tujuan khusus 1.BAB III TUJUAN I. Meningkatnya pelayanan kesehatan bagi tenaga kerja informal dan keluarganya yang belum terjangkau ( Under-served ).

i. bencana alam. Bertumpu pada upaya peran serta masyarakat 2. Pelayanan kesehatan di Puskesmas Latihan kader untuk mengembangkan program UKK Pembentukan pos UKK di tempat kerja Penilaian upaya kesehatan kerja dan higiene industri di tempat kerja Penyelenggaraan dana sehat di pos UKK Melakukan evaluasi Memberikan umpan balik kepada industri 2. Pencatatan setiap ada ―accident‖ maupun near misses (nyaris) Pendekatan PKMD Pembangunan Kesehatan Masyarakat Pekerja dilakukan dengan cara pendekatan PKMD. c. Identifikasi yang bisa menimbulkan bahaya K3 b. misalnya kebakaran. komplikasi dan tindakan medis dll e. Kegiatan Kegiatan upaya kesehatan kerja meliputi : 2 1. f. Terjalin kegiatan kerja sama lintas sektoral Langkah-langkah Pengembangan UKK dengan Pendekatan PKMD 181 . Melakukan pengendalian resiko agar meminimalisasi bahaya d. g. Pelaksanaan K3 di luar Puskesmas : a. j. Terselenggaranya pelayanan dasar kesehatan kerja 3. d. Menilai resiko bahaya c. yang menampilkan ciri-ciri sebagai berikut : 3 1.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN I. h. Pendataan tentang industri dan tenaga kerja Rapat koordinasi dengan instalasi terkait Melaksanakan kunjungan pengawasan dan pembinaan Penyuluhan kesehatan tenaga di tempat kerja sebagai tindak promotif dan preventif dengan penekanan pada prinsip higiene industry dan ergonomis e. k. b. Pelaksanaan K3 di Puskesmas a. Pengelolaan tanggap darurat di puskesmas.

1. dikenalnya masalah kesehatan dan keselamatan kerja setempat. Sedangkan pertemuan tingkat desa bertujuan untuk dikenalnya Upaya Kesehatan Kerja sebagai upaya untuk meningkatkan kesehatan kerja. Dilaksanakan oleh masyarakat pekerja setempat/calon kader yang telah ditunjuk dalam pertemuan tingkat desa. dilaksanakan segera setelah survei mawas diri. Koperasi/KUD. Tujuan musyawarah ini adalah agar masyarakat pekerja mengenal masalah kesehatan di tempat kerjanya. merupakan langkah awal dari pembinaan tingkat Kecamatan. Juga untuk diperolehnya dukungan dari sektor lain dalam pelaksanaan UKK. Pertemuan tingkat Kecamatan/tingkat desa (lintas sektoral). Perindustrian. pemuka masyarakat dan organisasi tenaga kerja lainnya dalam pelaksanaan UKK. Tahap Pelaksanaan Kegiatan UKK di Puskesmas Penyuluhan kesehatan. Sebaiknya musyawarah dihadiri oleh seluruh pekerja dan keluarganya. Prosedur pelayanan kesehatan pekerja yang berkunjung ke Puskesmas seperti pengunjung lainnya. Kartu berobat/register diberi kode khusus untuk memisahkan dengan pengunjung lainnya. Pertemuan ini bertujuan untuk diseminasi informasi mengenai informasi masyarakat Upaya Kesehatan Kerja sebagai upaya meningkatkan kesehatan masyarakat. dengan bimbingan petugas Puskesmas dan sektor terkait untuk mengetahui sebanyak mungkin masalah kesehatan kerja di desa tersebut dan kemudian menentukan prioritas masalah. serta diperolehnya dukungan dari pamong. khususnya masyarakat pekerja informal. 2. Selain itu agar timbul kesadaran akan adanya hubungan timbal balik antara pekerjaan dan kesehatan. bertujuan agar tenaga kerja mengenal. bertujuan untuk mempersiapkan kader agar mampu berperan dan mengembangkan program kesehatan kerjanya dan di lengkungan tempat tinggalnya. Latihan kader. Tahap Persiapan Tahap persiapan masyarakat dilakukan dengan melakukan pertemuan. masyarakat bersepakat menanggulangi masalah tersebut dan kemudian menyusun rencana kerja untuk menanggulangi masalah tersebut. Ini dilakukan untuk catatan jumlah pengunjung tenaga kerja 182 . Dilakukan di desa terpilih dengan memilih lokasi tertentu yang dapat menggambarkan keadaan desa pada umumnya. tindakan promotif dan preventif dengan penekanan pada prinsip ergonomik. Survei mawas diri. survei mawas diri masyarakat dan pelatihan kader. petugas Puskesmas dan seluruh sektor lain yang terkait seperti Bangdes. Pertanian. mengumpulkan dan mengkaji masalah kesehatan sendiri. Musyawarah tentang kesehatan kerja.

c. Melakukan pelayanan dasar kesehatan yang meliputi.tertentu ke Puskesmas (petani. Pertolongan pertama pada penyakit. yaitu : a. Upaya pemantauan penggunaan alat-alat keselamatan kerja/alat pelindung diri. Tenaga kerja terutama sektor informal 2. II. b. Selain itu. khususnya usia muda 183 . penanggulangan stress. misalnya kelompok tani. melalui pos UKK dilakukan tiga hal pokok. maka dilakukan follow-up ke tempat kerja untuk memberikan penyuluhan mengenai cara pencegahan timbulnya penyakit tersebut. Komunikasi. Kerjasama lintas sektoral. bertujuan untuk mempersiapkan kader agar mampu berperan dan mengembangkan program kesehatan kerja di tempat kerjanya. Apabila pada pemeriksaan ternyata ada hubungannya. materi KIM yang diberikan menyangkut tentang prosedur kerja. Pembentukkan pos UKK di tempat kerja. Upaya penyehatan lingkungan kerja. Tenaga kerja wanita. Pertolongan Pertama Pada Kecalakaan (P3K). pos UKK dapat juga mempergunakan posyandu yang ada atau membentuk posyandu lain bagi pekerja terutama kalau pekerja terdiri dari wanita. Informasi dan Motivasi (KIM) tentang kesehatan dan keselamatan kerja. dll) serta untuk penekanan pelayanan kesehatan kepada pekerja. bahaya merokok. keselamatan kerja. nelayan. kelompok nelayan dan kelompok pengrajin. harus memanfaatkan pranata sosial yang telah ada. Pos UKK dapat dijadikan sebagai wahana kerjasama lintas sektor untuk ikut membina produktivitas pekerja dengan cara ikut memeliahara tingkat kesehatan pekerja dan menciptakan budaya kerja secara sehat dan produktif. Pada garis besarnya. baik antara petugas maupun antara para kader. Melatih kader. Secara umum. pemeriksaan di arahkan apakah penyakit yang diderita ada hubungannya dengan pekerjaan. Menyelenggarakanpelayanan kesehatan di Puskesmas. Sasaran Sasaran UKK : 1. Sentral industri kecil 3. gizi kerja. kebugaran. keracunan makanan serta bagaimana bekerja tanpa mencemari lingkungan dan pokok bahasan lain yang terkait dengan pekerjaannya. pencegahan penyakit menular. hipertensi. Untuk setiap 20-30 pekerja dengan jenis pekerjaan yang sesuai dibentuk satu pos UKK.

tetapi kurang dapat mendapat pelayanan kesehatan yang memadai. penyelam mutiara. pekerja bangunan. misalnya tenaga lepas. nelayan. Tenaga kerja kesehatan di Puskesmas 2 Sasaran Upaya Kesehatan Kerja (UKK) diarahkan kepada pekerja yang mempunyai dampak besar dalam menunjang ekonomi. pengrajin industri kecil/industri rumah tangga.3 184 . petani. dan pekerja wanita. kaki lima.4. Dengan demikian sasaran upaya kesehatan kerja diutamakan pada sektor informal yang merupakan lebih dari separuh angkatan kerja. usaha angkutan terutama di kota.

tempe dan kerupuk yang belum diketahui jumlahnya.Berarti. Puskesmas Kecamatan Cilandak baru akan mengembangkan pos UKK dengan melihat komunitas dan jumlah pekerja di daerah ini. 185 .BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KELURAHAN GANDARIA SELATAN Setelah dilakukan observasi dan wawancara terhadap Koordinator Program Kesehatan Lingkungan Puskesmas Kecamatan Cilandak Barat. Akan tetapi di daerah kelurahan Gandaria Selatan dan Pondok Labu banyak terdapat usaha pangan yaitu tahu. saat ini belum ada pos UKK karena di daerah Kecamatan Cilandak bukan merupakan daerah dengan banyak industri informal. didapatkan data bahwa di pos UKK di Puskesmas Kecamatan Cilandak Barat masih dalam tahap pengembangan.

Observasi lagi daerah-daerah dengan kelompok pekerja yang sejenis. Saran 1. 2. Pembentukan kader UKK 186 . terselenggaranya pelayanan dasar kesehatan kerja dan terjalinnya kegiatan kerja sama lintas sektoral.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. Apabila jumlahnya memenuhi untuk dibuat pos UKK. perlindungan bagi pekerja dalam pekerjaannya dari resiko akibat faktor yang merugikan kesehatan. mental dan sosial yang setinggi-tingginya bagi pekerja di semua jenis pekerjaan. kerupuk ). Kesimpulan Upaya Kesehatan Kerja ( UKK) merupakan kegiatan pokok puskesmas yang ditujukan terutama pada masyarakat pekerja informal di wilayah kerja Puskesmas dalam rangka upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit serta kecelakaan yang berkaitan dengan pekerjaan dan lingkungan kerja. tempe. dan penempatan serta pemeliharaan pekerja dalam suatu lingkungan kerja yang disesuaikan dengan kondisi fisiologi dan psikologisnya. yang menampilkan ciri-ciri sebagai berikut : bertumpu pada upaya peran serta masyarakat. Misalnya di daerah Gandaria Selatan dan Pondok Labu dengan banyaknya usaha pangan ( tahu. maka sekiranya dapat dibuat pos UKK. Kesehatan kerja bertujuan untuk peningkatan dan pemeliharaan derajat kesehatan fisik. pencegahan terhadap gangguan kesehatan pekerja yang disebabkan oleh kondisi pekerjaan. Adanya pembangunan kesehatan masyarakat kerja dilakukan dengan cara pendekatan PKMD. B.

Diunduh dari www. Peranan SKM Pada Program UKK. Buku Revitalisasi Puskesmas 2006.binasehat. jilid II. 3.DAFTAR PUSTAKA 1.id pada tanggal 22 Juli 2011 187 . tahun 1993 2. Buku Pedoman Kerja Puskesmas.co.

06.UPAYA KESEHATAN GIGI DAN MULUT Penyusun: Adisresti Diwyacitta Meri Indriani (030.06.008) (030.166) 188 .

makanan yang mengandung banyak gula. Di perkotaan prevalensi penyakit karies lebih tinggi dari pada di pedesaan.BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG DAN MASALAH Penyakit gigi dan mulut yang menjadi masalah kesehatan masyarakat dewasa ini adalah penyakit/kelainan pada jaringan penyangga gigi (periodontal disease) dan karies gigi. Penyebab utama dari karies gigi adalah bakteri. maka upaya penanggulangan yang paling utama adalah dengan memberikan pendidikan/penyuluhan kepada masyarakat tentang upaya pemeliharaan diri (self-care). sebagai unit pelayanan primer yang memberikan pelayanan dasar langsung kepada masyarakat mutlak diperlukan. penyediaan air minum. yang dapat menyebabkan terganggunya penyerapan dan pencernaan makanan sehingga akhirnya dapat menganggu status gizi seseorang. Peningkatan prevalensi karies gigi berhubungan dengan perubahan sosial. Penyakit periodontal Pada umumnya penyakit periodontal merupakan akibat dari keadaan kebersihan mulut yang buruk. 1. Maka pencegahan dan pengobatan dini penyakit gigi dan mulut di Puskesmas. sikap masyarakat yang 189 . dan diet (refined carbohydrate). Karies gigi Penyakit karies bersifat irreversible. rendahnya kadar fluor dalam air minum. 2. Kebersihan mulut yang buruk berhubungan erat dengan status sosial dan pendidikan yang masih rendah. pendidikan. factor herediter. penyakit ini merupakan penyebab utama tanggalnya gigi pada usia 35 tahun ke atas. dan progresif. kumulatif. kesehatan umum yang buruk pada masa anak-anak. Prevalensi penyakit karies dan periodontal ini di Indonesia bersifat menyeluruh dan keadaan menjadi lebih tidak menguntungkan karena majemuknya peduduk dan keadaan geografik. Kedua penyakit tersebut menimbulkan gangguan fungsi mengunyah. pengaruh lingkungan yang kurang menunjang seperti status gizi. juga merupakan fokal infeksi yang dapat menimbulkan penyakit/infeksi pada organ tubuh lainnya. Keadaan higiene mulut pada umumnya kurang baik. Gigi gangren (busuk).

Dengan meningkatnya prevalensi penyakit periodontal dan karies gigi pada Pelita IV. 190 .kurang menguntungkan bagi kesehatan dan tingkat perkembangan sosial ekonomi dalam masyarakat itu sendiri sangat mempengaruhi keadaan tersebut. naka upaya peningkatan/pencegahan dan pembinaan peran serta masyarakat dalam upaya pemeliharaan diri (self-care) harus dilaksanakan lebih efektif dan terarah baik terhadap kelompok khusus yang rentan terhadap penyakit gigi dan mulut maupun terhadap masyarakat umum.

Di samping memberikan pelayanan khusus tenaga kesehatan gigi juga bertanggung jawab melaksanakan pembinaan. Upaya pelayanan khusus adalah upaya kuratif. pengobatan. Fluoridasi air minum). Upaya kesehatan gigi yang bersifat umum adalah upaya kesehatan gigi dan mulut yang bersifat peningkatan pencegahan umum (mass prevention) meliputi penyuluhan kesehatan gigi dan mulut. Yang dimaksud dengan teknologi tepat guna adalah teknologi yang mengacu pada: a) Masalah kesehatan gigi masyarakat setempat 191 . rehabilitatif dan upaya perlindungan khusus (specific protection) dan pelayanan asuhan sistematik kesehatan gigi dan mulut. penilaian upaya kesehatan gigi secara menyeluruh. pengembangan. 6. Upaya tersebut meliputi upaya kesehatan gigi yang bersifat pelayanan khusus yang hanya dapat dilaksanakan oleh tenaga kesehatan gigi dan upaya kesehatan gigi. 2. anak prasekolah dan anak sekolah dasar. terencana ditujukan kepada kelompok tertentu. dan pemulihan dengan diutamakan pada upaya peningkatan/pencegahan. 1. yang bersifat umum yang dapat dilaksanakan terintegrasi dengan kegiatan pokok Puskesmas lainnya serta dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan lain dengan dukungan partisipasi aktif masyarakat dengan memanfaatkan teknologi tepat guna. baik kegiatan di dalam maupun di luar gedung Puskesmas. pencegahan. Pelayanan asuhan sistematik adalah suatu bentuk upaya pembinaan kesehatan gigi dan mulut yang terarah. diikuti dalam suatu kurun waktu secara berkesinambungan.BAB II PENGERTIAN Upaya kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas adalah upaya kesehatan gigi dasar paripurna yang ditujukan kepada individu. pemeliharaan kebersihan mulut dan perlindungan (tooth brushing campaign. Upaya kesehatan gigi dasar paripurna adalah upaya kesehatan gigi esensial yang terbanyak dibutuhkan oleh masyarakat meliputi upaya peningkatan. kumur-kumur Fluor. pengendalian. keluarga dan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas dengan prioritas masyarakat kelas menengah dan bawah khususnya kelompok masyarakat yang rawan terhadap penyakit gigi dan mulut. 4. 5. Kelompok masyarakat yang rawan terhadap penyakit gigi dan mulut adalah kelompok ibu hamil/menyususi. 3.

dana. dan pusat pelaksana upaya kesehatan. perlu adanya kerjasama antara petugas kesehatan gigi dengan petugas kesehatan lainnya terutama dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan upaya peningkatan. pencegahan. peralatan. pusat pembinaan. 192 . dan lainlain) c) Terjangkau oleh masyarakat d) Diterima oleh masyarakat baik pemberi maupun penerima pelayanan e) Sesuai dengan azas manfaat secara berdaya guna dan berhasil guna Untuk meningkatkan fungsi puskesmas sebagai pusat pengembangan. Penggalangan kerja sama tim ini dilaksanakan dalam bentuk kegiatan Lokakarya Mini Puskesmas. Demikian pula dalam penyelenggaraan upaya kesehatan gigi dan mulut sebagai salah satu kegiatan pokok puskesmas.b) Sumber daya yang tersedia di masyarakat (seperti tenaga. maka dalam melaksanakan kegiatan pokok puskesmas secara terpadu. dan pembinaan peran serta masyarakat. petugas puskesmas harus bekerja sama dalam tim dan membina kerja sama lintas program maupun lintas sektoral.

Terhindarnya/berkurangnya gangguan fungsi kunyah akibat kerusakan (penyakit) gigi dan mulut. Meningkatnya kesadaran. 193 . terutama pada kelompok masyarakat yang rawan. Tujuan Khusus: 1. B. 2. 3. sikap dan perilaku masyarakat dalam kemampuan pelihara diri (self-care) di bidang kesehatan gigi dan mulut dan mencari pengobatan sedini mungkin.BAB III TUJUAN A. Menurunnya prevalensi penyakit gigi dan mulut yang banyak diderita masyarakat (karies dan periodontitis) dengan upaya perlindungan/pencegahan tanpa mengabaikan upaya penyembuhan dan pemulihan. Tujuan Umum: Tercapainya derajat kesehatan gigi masyarakat yang layak (optimal).

Pembinaan/pengembangan kemampuan dan peran serta masyarakat dalam upaya pelihara diri (self-care). melalui pengembangan upaya lesehatan yang bersumber pada otoaktifitas masyarakat dengan PKMD dalam wadah LKMD (program UKGM). yang sejak 1984 secara operasional diintegrasikan pula melalui Posyandu dan Saka Bhakti Husada. Langkah-langkah kegiatan adalah sebagai berikut: 1) Kegiatan KIE           Pendekatan lintas program/lintas sektoral Persiapan desa Latihan kader Diagnosis masalah (community self survey) Umpan balik Pelaksanaan kegiatan 2) Pelayanan oleh kader Penyuluhan tentang pemeliharaan tentang kesehatan gigi dan mulut Pemeriksaan sepintas Pengobatan sederhana Rujukan 3) Monitoring 194 . Kegiatan diintegrasikan dengan upaya kesehatan lainnya yang berhubungan dengan pembinaan peran serta masyarakat.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN KEGIATAN Untuk mencapai tujuan tersebut. maka upaya kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas dilaksanakan dalam bentuk kegiatan sebagai berikut: A.

Upaya preventif berupa kegiatan bimbingan. pembersihan karang gigi) Upaya kuratif (pengobatan dasar pada murid yang memerlukan pengobatan) Tahap III (Paket Paripurna) Sudah ada tenaga/sarana kesehatan gigi yang lengkap. dan SLB.B. Pada kelompok ibu hamil/menyusui. dengan kegiatan yang bertahap disesuaikan dengan kemampuan tenaga dan sarana yang ada. berupa:    Upaya promotif oleh guru dengan materi sesuai kurikulum ORKES. Pada anak sekolah Upaya kesehatan gigi dan mulut pada anak sekolah. 2. Posyandu) Kegiatan berupa: 195 . aplikasi Fluor) Upaya kuratif berupa pengobatan atas permintaan pada murid kelas I-VI dan pengobatan komprehensif pada murid kelas selektif sesuai kondisi penyakit setempat. kegiatan berupa:    Upaya promotif oleh guru Upaya preventif (sikat gigi bersama. SMTA. sebagai berikut: Tahap I (Paket Minimal): Upaya kesehatan gigi di SD yang belum terjangkau oleh tenaga kesehatan gigi.K. anak pra-sekolah Kegiatan diintegrasikan dengan kegiatan KIA. Pelayanan asuhan pada kelompok rawan 1. pada Pelita IV baru mencapai anak tingkat pendidikan dasar (STPD). kegiatan dilaksanakan oleh tenaga kesehatan lain dan guru orkes. selanjutnya program ini akan dikembangkan ke tingkat SMTP. kegiatan berupa:    Upaya promotif oleh guru Upaya preventif (sikat gigi bersama. perlindungan dengan Fluor. pembersihan karang gigi. baik di dalam maupun di luar gedung Puskesmas (T. Di tingkat STPD upaya kesehatan gigi merupakan suatu paket pelayanan asuhan sistemik. Rujukan bagi yang perlu pengobatan Tahap II (Paket Optimal) Sudah ada sarana/tenaga kesehatan gigi yang terbatas. pembinaan pelihara diri (paket sikat gigi bersama).

bagi masyarakat (penderita) yang jauh dari Puskesmas dijangkau melalui pelayanan Puskesmas Keliling maupun Klinik Gigi Lapangan (untuk anak-anak sekolah dasar). Kegiatan:      Memberikan pelayanan medik gigi dasar pada penderita yang berobat maupun yang dirujuk Merujuk kasus-kasus yang tidak dapat ditanggulangi ke sarana pelayanan yang lebih mampu Memberikan penyuluhan secara individu maupun kelompok Memelihara kebersihan (higiene klinik) Memelihara merawat peralatan/obat-obatan D.     Penyuluhan oleh bidan/perawat gigi Pemeriksaan sepintas oleh bidan Rujukan Pemeriksaan dan rencana perawatan oleh tenaga kesehatan gigi (terutama pada ibu hamil) Pencatatan C. di samping penyuluhan secara individu maupun kelompok terhadap pengunjung Puskesmas. Pelayananan meliputi pengobatan. pemulihan. Pencatatan/Pelaporan Berbagai hal yang berkaitan dengan masukan. Untuk memperluas jangkauan pelayanan. dan keluaran upaya kesehatan gigi direkam secara terpadu dalam Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas. 196 . Pelayanan Medik Gigi Dasar Pelayanan medik gigi dasar di Puskesmas dilaksanakan terhadap masyarakat yang dating mencari pengobatan maupun yang dirujuk. proses. pencegahan khusus.

 Frekuensi pembinaan petugas kesehatan dalam bidang kesehatan gigi dan mulut ke SD dilaksanakan minimal 2 kali pertahun per SD. 197 . rujukan mencakup 20% penduduk desa binaan. pengobatan sederhana. sesuai dengan Stratifikasi Puskesmas adalah sebagai berikut:  Pembinaan peran serta masyarakat dalam upaya pelihara diri (program UKGMD) dilaksanakan di 60% desa.  Frekuensi pembinaan petugas kesehatan ke desa dilaksanakan minimal 3 kali dalam setahun.  Upaya peningkatan/pencegahan pada anak sekolah (kegiatan menyikat gigi bersama) dilaksanakan di 80% SD.  Upaya pelayanan pengobatan mencakup 4% dari penduduk wilayah puskesmas.  Upaya pelayanan pengobatan komperhensif pada anak sekolah mencakup 80% dari murid kelas selektif yang memerlukan perawatan.  Peran serta masyarakat (kader kesehatan) dalam penyuluhan. target (sasaran) yang ingin dicapai.SASARAN Dalam melaksanakan kegiatan/upaya kesehatan gigi di Puskesmas.

TK Setiap tahun ajaran baru Seluruh TK se-kelurahan Dokter gigi. Tambalan gigi sementara e. UKGM SASARAN Pasien yang datang berobat ke Unit Pelayanan Gigi WAKTU Senin – Jumat Pkl : 07.6. petugas Puskesmas. Pencabutan gigi susu b. Tambalan light curing (sinar) h. kader. Alveolectomy ( pembuangan tulang) i. Puskesmas Kelurahan Lebak Bulus PELAKSANA Dokter gigi dan perawat gigi 2. UKGS Tahap 2  Pemeriksaan gigi kelas 1-6  Penyuluhan demonstrasi sikat gigi  Pembersihan karang gigi  Pencabutan gigi sulung yang persistensi  Pengobatan atas permintaan Tahap 3  Sama dengan tahap 2. petugas Puskesmas. Pencabutan gigi tetap sederhana c. Insisi abses n. yang telah ditentukan Puskesmas kecamatan Dokter gigi. Pembersihan karang gigi Luar Gedung a. Tambalan fuji g. Setiap tahun ajaran baru SD setempat. Jahit lebih dari 5 simpul l. guru TK POSYANDU Tiap bulan Rumah Kader yang ditentukan Rumah kader yang ditentukan PAUD 2-3 kali/minggu b. namun pada anak kelas 4-5 terdapat perawatan paripurna. Siswa Sekolah Dasar kelas 1. Operasi gigi miring (odontectomy) j. Pencabutan gigi tetap dengan penyulit d. KEGIATAN Dalam Gedung a. Pembuatan gigi palsu m. kader. Tambalan amalgam f.BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS LEBAK BULUS 1. guru SD 198 . Jahit 1-5 simpul k.30 – selesai TEMPAT Unit Pelayanan Gigi.

kemauan dan kemampuan provider perihal kesehatan gigi dan mulut. Terselenggaranya penyuluhan kesehatan gigi mulut terpadu pada kegiatan di Puskesmas dan wilayahnya.  Kepuasan pengguna jasa pelayanan kesehatan gigi dan mulut akan pelayanan yang didapatnya. Terselenggaranya pelayanan kesehatan holistic. Pelayanan Puskesmas    Peningkatan kesadaran. Pembinaan Kesehatan Wilayah    Peningkatan kegiatan peran serta masyarakat dalam upaya peningkatan kesehatan gigi dan mulut. paripurna terpadu pada kegiatan pelayanan medik rawat jalan dan kesehatan reproduksi dengan perhatian pada penyakit gigi dan mulut. Penurunan angka karies di wilayah Puskesmas. B. 199 .INDIKATOR KEBERHASILAN A. sikap dan perilaku perihal kesehatan gigi mulut dari kader kesehatan (Posyandu. Peningkatan pengetahuan. guru sekolah) yang telah dibina.

di samping penyuluhan secara individu maupun kelompok terhadap pengunjung Puskesmas. pencegahan khusus. pemulihan. Sehingga kelompok masyarakat yang rawan terhadap penyakit gigi dan mulut dapat terhindar dari penyakit-penyakit ini. Oleh karena itu pelayanan medik gigi dasar di Puskesmas dilaksanakan terhadap masyarakat yang datang mencari pengobatan maupun yang dirujuk. SARAN Supaya tercapainya derajat kesehatan gigi masyarakat yang layak. Kedua penyakit tersebut menimbulkan gangguan fungsi kunyah. yang dapat menyebabkan terganggunya dalam mengkonsumsi makanan. maka perlu ditingkatkannya kesadaran. Penyakit gigi dan mulut yang menjadi masalah kesehatan masyarakat dewasa ini adalah penyakit/kelainan pada jaringan penyangga gigi (periodontal disease) dan penyakit karies gigi. 200 .BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Upaya kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas adalah upaya kesehatan gigi dasar paripurna yang ditujukan kepada individu. keluarga dan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas dengan prioritas masyarakat berpenghasilan rendah khususnya kelompok masyarakat yang rawan terhadap penyakit gigi dan mulut. sikap dan perilaku masyarakat dalam kemampuan pelihara diri (selfcare) di bidang kesehatan gigi dan mulut dan mencari pengobatan sedini mungkin. Pelayananan meliputi pengobatan.

php?option=articles&taskviewarticle&artid=323&Itemid=3 201 . A.go.DAFTAR PUSTAKA 1. 1990.depkes. http://nevhablue. 1995. Departemen Kesehatan RI.Pencegahan Penyakit Mulut.com 4.id/index. alih bahasa drg.co. 114-115. Ke-2. JO. Pedoman Kerja Puskesmas Jilid IV.id/files/cdk/files/06_50_KegiatanPenelitianLingkunganDirektoratKe sehatanGigi. Adyatmaka. Hipokrates. 2.pdf/06_50_KegiatanPenelitianLingkunagnDirektoratKesehatanGigi. http://www.html 5. Ed. http://www. 3.kalbe. Jakarta.1-9.blogspot. Lilian Yawono. Forest.

LAMPIRAN 202 .

06.252) 203 .06.111) (030.UPAYA KESEHATAN JIWA Penyusun : Hengky Stephanie Salim (030.

000 orang. dan sosial yang memungkinkan seseorang untuk hidup produktif. Kesehatan dalam hal ini diartikan sebagai suatu kondisi yang bukan hanya bebas dari penyakit. Prevalensi psikosis: 1. Sebagai hasil pembangunan nasional terjadi peningkatan taraf pendidikan dan sosial masyarakat dan hal ini menimbulkan pergeseran tipe penyakit yang terdapat dalam masyarakat dari kelompok penyakit menular ke kelompok penyakit tidak menular. minum alkohol dan penyalahgunaan obat. sedang angka WHO untuk neurosis adalah 20-60 per 1000 penduduk. cacat dan kelemahan tapi benar-benar merupakan kondisi yang positif dari kesejahteraan fisik. pergeseran nilai-nilai hidup.26 per 1000 penduduk. Dari hasil survei epidemiologi gangguan jiwa yang dilakukan di beberapa tempat di indonesia. Demikian pula halnya dengan adanya penyebaran dan imigrasi penduduk yang timpang. Pada suatu penelitian yang dilakukan di USA didapatkan bahwa 2-5% dari populasi menderita ansietas dan 10% dari populasi pernah mengalami depresi. didapat angka-angka morbiditas gangguan jiwa sebagai berikut: 1.BAB I PENDAHULUAN Tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan terciptanya derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Pertumbuhan penduduk yang tidak seimbang dengan pertumbuhan ekonomi. 2. terutama urbanisasi.44 per 1000 penduduk di perkotaan dan 4.6 per 1000 penduduk di pedesaan angka menurut WHO adalah 1-3 per 1000 penduduk. dan diperkirakan jumlah pasien penyalahgunaan obat dan alkohol yang terdapat dalam masyarakat kurang lebih 100. 4.000 pasien. Prevalensi penyalahgunaan obat dan alkohol belum ada dengan pasti namun dari data rumah sakit tercatat 10. Prevalensi neurosis dan gangguan psikosomatik adalah 98 per 1000 penduduk. 5.25 per 1000 penduduk dan menurut WHO adalah 1-3 per 1000 penduduk. dan pada gilirannya menigkatkan kebutuhan akan pelayanan kesehatan jiwa. 204 . mental. Prevalensi retardasi mental: 1. perubahan sosial yang cepat. dapat menimbulkan berbagai masalah psikososial yang mempengaruhi taraf kesehatan jiwa masyarakat. Prevalensi epilepsi adalah 0. sedang angka menurut WHO adalah 8-10 per 1000 penduduk. 3. polusi informasi dan gaya hidup yang merusak kesehatan seperti merokok.

Untuk kegiatan luar gedung sama dengan puskesmas kelurahan Lebak Bulus yaitu CMHN (Community Mental Health Nursing). namun skrining gangguan jiwa tetap dilakukan di unit pelayanan umum.memberikan upaya pertolongan pertama pada pasien-pasien dengan gangguan jiwa (primary treatment). dengan tujuan pengenalan dini gangguan jiwa (early detection). merupakan unsur penentu keberhasilan upaya ini. obat. 205 .Angka tersebut diatas menggambarkan bahwa kesehatan jiwa merupakan masalah masyarakat.vct. konsultasi pasien-pasien yang datang ke UKKR maupun pasien-pasien rujukan internal dari unit pelayanan yang lain . Terdapat pula pelayanan kesehatan jiwa yang disebut dengan CMHN (Community Mental Health Nursing) lakukan oleh para petugas Puskesmas dimana mereka mengunjungi rumah-rumah penduduk yang memiliki atau dicurigai memiliki gangguan jiwa melalui laporan dari penduduk sekitar. Kerjasama tersebut dapat dAijabarkan secara operasional dalam lokakarya mini yang akan menampilkan peranan staf puskesmas yang didukung oleh mobilisasi tenaga. Pelayanan kesehatan jiwa di puskes Cilandak meliputi kegiatan di dalam dan di luar gedung. masyarakat termasuk swasta yang terkait. Pelayanannya meliputi kesehatan jiwa. Dengan menggunakan azas-azas kesehatan jiwa dalam pelayanan kesehatan di Puskesmas maka tujuan pelayanan kesehatan paripurna akan tercapai karena pelayanan yang diberikan adalah sebagai manusia seutuhnya. peralatan. napza. Dalam pelaksanaan pembinaan dan pengembangan kesehatan jiwa di puskesmas.Unit pelayanan UKKR merupakan salah satu unit pelayanan semi spesialistik di kecamatan Cilandak. Upaya ini dapat berhasil bila mendapat dukungan dan peran serta masyarakat melalui kerjasama dengan Puskesmas dimana unsur masyarakat merupakan hal yang sangat penting dan menentukan keberhasilan upaya kesehatan jiwa di Puskesmas. Saat ini Puskesmas kelurahan Lebak Bulus belum mempunyai poli khusus ataupun unit khusus yang melayani kesehatan jiwa.penyuluhan kesehatan dan perilaku sexsual yang dilakukan di smu sekecamatan Cilandak dengan tujuan meningkatkan pengetahuan perilaku sexual yang benar sehingga terjadi penurunan angka penyimpangan sexual di remaja. Kegiatan dalam gedung meliputi pengobatan. dan teknologi. Puskesmas juga secara rutin melakukan pencatatan dan pelaporan. harm reduction. Sedangkan di puskesmas kecamatan Cilandak mempunyai satu poli khusus / unit pelayanan jiwa yang tergabung di dalam UKKR (unit konsultasi keluarga dan remaja).kegiatan rujukan yang memadai (adequate referral).

Kesehatan Jiwa Sehat ( UU tentang kesehatan no. gaduh gelisah. korban pasung. Kesehatan Jiwa adalah perasaan sejahtera dan bahagia. Gangguan Kesehatan Jiwa Gangguan Kesehatan Jiwa: Terganggunya kesehatan jiwa seseorang. sedang. yang dapat berwujud masalah psikososial atau gangguan jiwa.23/1992 pasal 1): Sehat adalah keadaan sejahtera dari badan. B. 0803 Retardasi Mental: (ringan. seperti yang dimaksud dengan penjelasan pada butir 1 di atas. jiwa dan sosial. dan perkembangannya 206 . seperti yang diklasifikasikan dalam kode diagnosis di Puskesmas. yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Masalah psikososial: Gangguan kesehatan jiwa yang dilatarbelakangi oleh masalah-masalah sosial dan psikologik. berat). disharmoni keluarga. dll. depresi.BAB II PENGERTIAN A. seperti kenakalan remaja. mampu mengatasi tantangan kehidupan. Gangguan Jiwa: Gangguan jiwa yang dapat dideteksi secara klinis. 0804 Gangguan Kesehatan Jiwa bermula pada bayi. anak dan remaja. sbb: 0801 Gangguan Psikotik: gelandangan psikotik. 0802 Gangguan Neurotik: gangguan psikosomatik. dapat menerima orang lain sebagaimana adanya. kriminalitas. neurosa cemas. mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain.

ii. maupun emosional dan sosial. pemeliharaan dan peningkatan kesehatan jiwa. baik intelektual. Upaya Kesehatan Jiwa (UU Kesehatan no.25/1992 pasal 24) a. Kesehatan jiwa dilakukan oleh perorangan. lingkungan pekerjaan. penyembuhan dan pemulihan penderita gangguan jiwa. kejang demam pada anak. psikomotor) . meliputi: i. C. pencegahan dan penanggulangan masalah psikososial dan gangguan jiwa. lingkungan keluarga. 207 . 0806 Epilepsi: (gran mal. b. didukung sarana pelayanan kesehatan jiwa dan sarana lainnya. gangguan seks. iii. petit mal. gangguan kepribadian. lingkungan sekolah.0805 Penyakit Jiwa lainnya: penyalahgunaan narkotik/ zat adiktif. Upaya yang diselenggarakan untuk mewujudkan jiwa yang sehat secara optimal. lingkungan masyarakat.

6. 2. 3.44-4. Angka psikosis 1. Bila mungkin menurunkan atau mempertahankan angka-angka yang telah diperoleh sesuai dengan survei epidemiologi gangguan jiwa yaitu: 1. B. 4.000 orang.TUJUAN UMUM Tercapainya derajat kesehatan jiwa yang optimal bagi seluruh masyarakat. 5. Meningkatkan kepekaan petugas agar dapat mendeteksi gangguan kesehatan jiwa secara dini setiap pengunjung Puskesmas yang berobat. usila) dengan sebaik-baiknya. Angka retardasi mental 1. Angka epilepsi 0. Jumlah penyalahgunaan obat dan alkohol 100.6 per 1000 penduduk. baik dari segi jasmani. 2. 3. 2. Angka anxietas 2-5% dari populasi. Tujuan Pelayanan Kesehatan Jiwa Terpadu: 1. melalui peningkatan kesehatan jiwa secara terpadu. dewasa. Meningkatnya mutu pelayanan kesehatan Puskesmas pada umumnya. 5. Memberikan pengobatan rasional dan terapi lain yang diperlukan secara lebih berdaya guna dan berhasil guna. 4. Mengelola kasus gangguan kesehatan jiwa pada pengunjung Puskesmas (bayi. remaja. maupun segi mentalemosional dan sosialnya. anak. 208 .26 per 1000 penduduk. Meningkatnya mutu dan jangkauan pelayanan kesehatan jiwa di Puskesmas untuk mencegah dan mengurangi masalah psikososial dan gangguan kesehatan jiwa di masyarakat.TUJUAN KHUSUS 1. Meningkatkan hubungan interpersonal antar petugas kesehatan Puskesmas dengan pasien dan keluarganya.25 per 1000 penduduk. Angka depresi 1% dari populasi.BAB III TUJUAN A. Memberikan perhatian secara menyeluruh dan terinci terhadap semua aspek kehidupan pasien yang berkunjung.

Selain itu diharapkan juga agar puskesmas dapat melaksanakan terapi lanjutan(follow up) dari mereka yang sudah selesai perawatannya di rumah sakit jiwa. khususnya kelompok rawan tanpa mengabaikan kelompok lainnya. dengan demikian akan meringankan beban dari pasien. 3. Memberikan upaya pertolongan pertama pada pasien-pasien dengan gangguan jiwa (primary treatment). dapat diperolah gambaran penyakit dalam masyarakat tertentu yang dapat dipertanggungjawabkan melalui suatu pengumpulan data di puskesmas. Pengenalan dini gangguan jiwa (early detection). 4.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN Upaya kesehatan jiwa di puskesmas adalah upaya kesehatan jiwa yang dilaksanakan di tingkat puskesmas secara khusus atau terintegrasi dengan kegiatan pokok puskesmas lainnya. Menilai lebih sensitif dan waspada terhadap kemungkinan keterlibatan emosional pada keluhan-keluhan atau gejala yang ditujukan pasien sewaktu berobat. Mengingat hal tersebut diatas maka dalam pelayanan puskesmas diharapkan dapat: 1. Menangani gangguan jiwa dari setiap kelompok umur mulai dari anak. Memberikan penyuluhan sehingga masyarakat dapat memanfaatkan azas dasar kesehatan jiwa dalam kehidupannya. Menangani gangguan jiwa baik akut maupun kronik yang dapat terjadi pada setiap manusia maupun kelompok masyarakat hingga dapat menurunkan angka kesakitan pasien gangguan jiwa. masyarakat dan diutamakan pada masyarakat berpenghasilan rendah. Kegiatan rujukan yang memadai (adequate referral). 2. dewasa dan usia lanjut dengan memanfaatkan azas-azas kesehatan jiwa. remaja. dengan menggunakan teknologi tepat guna yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat. 2. keluarga. Kegiatan upaya kesehatan jiwa tersebut dilaksanakan melalui: 1. 3. yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan puskesmas dengan dukungan peran serta masyarakat baik di dalam gedung maupun di luar gedung puskesmas yang ditujukan pada individu. 209 . Dengan adanya pelayanan ini.

Beberapa sifat yang dapat dipakai sebagai pegangan dalam pemeriksaan yaitu seseorang yang sehat jiwanya adalah seorang yang: 210 . mempertinggi taraf kesehatan jiwa seseorang dalam hubungannya dengan keluarga dan masyarakat Mengingat hal tersebut diatas maka telah digariskan beberapa kebijaksanaan yang pada prinsipnya menjabarkan dan menterjemahkan lingkup kesehatan jiwa secara praktis dan kongkrit.Penjelasan: 1. dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan orang lain. dan sering kelainan yang ditujukan hanyalah berdasarkan keluhan saja. intelektual. Makna kesehatan jiwa mempunyai sifat-sifat yang harmonis(selaras) dan memperhatikan semua segi dalam kehidupan manusian dan dalam hubungan dengan manusia lain. Pelayanan kesehatan jiwa Pelayanan kesehatan jiwa yang dilakukan oleh dokter/staf puskesmas terhadap individu dengan memberikan obat-obat psikofarmaka bila diperlukan serta pemecahan masalah yang dihadapi pasien dan keluarga. memelihara kesehatan jiwa dalam pertumbuhan dan perkembangan anak b.Oleh karena itu semua petugas puskesmas sebaiknya mengetahui azas dasar kesehatan jiwa. Penderita gangguan jiwa tidak selalu abnormal tingkah lakunya. Hampir semua penyakit fisik mengandung segi kejiwaan dan dengan pendekatan kesehatan jiwa yang baik akan bermanfaat dalam menghadapu semua penderita. perbaikan tempat dan suasana kerja d. Kesehatan jiwa (mental health) Menurut faham ilmu kedokteran pada saat ini. mengusahakan keseimbangan jiwa dengan menyesuaikan penempatan tenaga selaras dengan bakat dan kemampuan c. Secara relatif arti jiwa sehat dan jiwa sakit berbeda menurut pola sosial dan budaya suatu masyarakat. 2. adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik. Untuk mencapai kondisi yang dimaksud maka pemerintah telah mengarahkan upaya penting antara lain: a.

Upaya pokok Kesehatan Jiwa di Puskesmas adalah upaya yang dilaksanakan. 5. dan marah-marah. 3.a. bertengkar. Beberapa hal penting yang harus diperoleh dalam masa kanak-kanak adalah:cinta. penilaian. mempunyai emosi yang tenang. mereka mempunyai masa kanak-kanak yang bahagia. karena tata cara kehidupan pada masa kanak-kanak adalah sangat penting artinya dalam perkembangan menjadi dewasa. dapat memelihara keseimbangan jiwanya secara mantap. baik secara terpadu dalam upaya kesehatan pokok lainnya. pembinaan dan pengembangan upaya kesehatan jiwa masyarakat setempat. Kegiatan dalam puskesmas Terpadu dengan kegiatan pokok puskesmas lainnya. tapi pada umumnya ia relatif bebas dari rasa khawatir. penuh pengertian serta dapat mengambi keputusan dan memiliki tanggung jawab. Kegiatan diluar puskesmas Terpadu dengan kegiatan pokok puskesmas lainnya. serta memberian pelayanan khusus bila diduga adanya faktor psikologi sebagai penyebab (lihat pelayanan khusus). yaitu cukup tabah. b. maupun lingkungan tempat tinggal atau tempat kerja. perencanaan pelaksanaan. ia menghadapi kehidupan dengan segala persoalan serta ia dapat menikmati karuniaNya c.kasih sayang. 4. ia cukup bahagia dalam kehidupannya dan dapat bergaul dengan baik dalam keluarga dengan anak-anaknya. Suatu waktu dapat saja ia merasa kurang gembira. pujian dan dorongan serta disiplin yang sehat. maupun seecara khusus oleh 211 . Peran serta masyarakat Peran serta masyarakat adalah peran serta masyarakat baik sebagai key person maupun sebagai konsumen dalam pemecahan masalah kesehatan jiwa setempat. kegiatan khusus yaitu penyuluhan kesehatan jiwa dalam rangka pencegahan dan pengobatan gangguan jiwa sedini mungkin. rasa benci dan rasa cemas. Dengan demikian.

Tokoh masyarakat. dll). Penyuluhan 2. 2.Puskesmas. Konsultasi Kesehatan Jiwa bagi petugas 4. ii. dll). 2. PMR. Sasaran: i. KEGIATAN POKOK 1. Kegiatan pokok. 6. Pramuka. sbb: a. Penyuluhan kesehatan jiwa secara terpadu dalam program penyuluhan kesehatan Puskemas lainnya. 4. terdiri dari kegiatan pokok dan kegiatan penunjang. Kegiatan penunjang. Guru. iii. ii. Anak usia remaja (SLTP/SLTA). Lembaga swadaya masyarakat. Penyuluhan a. Pengorganisasian LSM dan potensi masyarakat dalam upaya kesehatan jiwa. sebagai kegiatan di dalam gedung dan di luar gedung. Kelompok masyarakat: 1. Perorangan pada setiap pasien yang berkunjung ke Puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya (Posyandu. Organisasi kepemudaan (OSIS. 3. Pusling. 5. Pelayanan Pengobatan b. Rujukan Kasus 3. Orang tua. Pelayanan Pengobatan 212 . Pencatatan dan Pelaporan 2. Anak balita/ anak usia SD. terdiri dari: 1. Kegiatan: i. 7. terdiri dari: 1. Karang Taruna. Penyuluhan kesehatan jiwa secara khusus sesuai dengan kebutuhan dan jadwal kerja. b. Kunjungan Rumah A.

vii. Pelayanan tidak ditujukan hanya untuk pasien gangguan jiwa. 213 . iii. sopan. ii. pada semua golongan umur (bayi. Untuk itu pasien diupayakan antri dan tidak bergerombol pada meja petugas. anak usia SD. Setiap pasien yang datang dengan keluhan gangguan kesehatan jasmani. Pelayanan kesehatan jiwa dilaksanakan terpadu dalam setiap pemberian pelayanan kesehatan yang dilaksanakan baik di dalam gedung maupun di luar gedung Puskesmas (BP. usila). tetapi semua pasien yang datang. viii. dll). UKS. Prinsip: i. Petugas kesehatan memandang manusia secara menyeluruh (holistik). KIA. Pemeriksaan harus dilaksanakan secara lege artis. mencatat dan melaporkannya. KIA. vi. maupun aspek mental-emosional dan sosial. v. balita. perlu dideteksi kemungkinan adanya faktor mental-emosional yang mempengaruhi keadaan jasmaninya. Kegiatan: Terpadu dalam pelayanan kesehatan umum (BP. dll). Diperlukan ruang anamnesis/ pemeriksaan yang memungkinkan pasien menyampaikan keluhan pribadinya secara bebas. orang dewasa. b. baik pada anak maupun dewasa. ramah. terbuka dan menghargai setiap pasien. Pusling. iv.a. baik aspek fisik. pemeriksaan. remaja. sebagai orang yang perlu didengar. diagnosis dan terapi. Sasaran: Semua pasien yang memperoleh pelayanan kesehatan/ pengobatan. Diagnosis kerja dapat bersifat ganda (fisik dan mental) . baik di dalam maupun di luar gedung Puskesmas. sehingga kesehatan jiwa memegang peranan yang sangat penting dalam kesehatan. ASKES. ditolong dan dilayani dengan sebaik-baiknya. UKS. dimulai dari anamnesis. sehingga petugas dapat mengelola gangguan kesehatan jiwa yang terdapat pada setiap pasien yang berobat dengan sebaik-baiknya. Petugas Puskesmas bersikap empati.

B. KEGIATAN PENUNJANG 1. Pencatatan dan Pelaporan Kegiatan: a. Mencatat data dan hasil pemeriksaan pelayanan kesehatan jiwa terpadu setiap pasien pada kartu Status/ Rawat Jalan Puskesmas; b. Mencatat hasil pemeriksaan pelayanan kesehatan jiwa semi-spesialistik pada kartu rawat jalan; c. Mengumpulkan data jumlah gangguan kesehatan jiwa setiap hari pada laporan khusus yang tersedia; d. Mengirimkan laporan bulanan kepada Suku Dinas/ Dinas Kesehatan pada setiap akhir bulan; e. Mencatat dan melaporkan kasus gangguan jiwa pada SP2TP sesuai petunjuk. Sasaran: a. Puskesmas Kelurahan; b. Puskesmas Pembina. 2. Rujukan Kasus Kegiatan: a. Mengirim pasien untuk dirujuk; b. Menerima pasien rujukan. Sasaran: a. Pasien yang perlu perawatan inap b. Pasien yang perlu tindakan khusus/ spesialistik. 3. Konsultasi Kesehatan Jiwa bagi petugas Kegiatan: a. Koordinator Jiwa Suku Dinas Kesehata menyiapkan acara konsultasi kesehatan jiwa di setiap wilayah krjanya (1 bulan 1-2 kali); b. Setiap Puskesmas menyiapkan masalah yang akan dikonsultasikan, disertai data dan laporan program selama ini dan psikiater pembina membahas masalah yang dikonsultasikan; c. Psikiater pembina membuat laporan konsultasi kesehatan jiwa tersebut dan melaporkan ke Direktur RS Jiwa Jakarta dan Kepala Pusat Pembinaan Kesehatan Jiwa Dinas Kesehatan DKI Jakarta sebagai koordinator; d. Secara berkala konsultasi kesehatan jiwa diadakan di Puskesmas Pembina, agar dapat menjangkau Puskesmas di sekitarnya.
214

Sasaran: a. Dokter/ perawat di Puskesmas Pembina/ Puskesmas yang telah mengikuti penataran/ pelatihan dan melaksanakan pelayanan BP; b. Dokter/ perawat Puskesmas lainnya yang berminat. 4. Kunjungan Rumah Kegiatan: a. Petugas berkoordinasi dengan kader masyarakat (Posyandu, PKK, dll); b. Petugas melaksanakan kunjungan rumah bersama kader masyarakat secara terpadu dalam program kunjungan rumah; c. Petugas menangani kasus gangguan jiwa sesuai dengan kemampuannya; d. Petugas melaksanakan penyuluhan kesehatan jiwa pada masyarakat sesuai kebutuhan. Sasaran: a. Masyarakat b. Pasien Puskesmas

Pelayanan Kesehatan Jiwa 1. kegiatan terintegrasi( lihat lampiran 1) 2. kegiatan khusus( lihat lampiran 2)

Untuk menentukan diagnosis gangguan jiwa dari seorang pasien maka hal penting yang harus dilakukan adalah: a. anamnesa/pengambilan kisah 1. autoanamnesa -wawancara langsung dengan pasien tentang hal-hal yang dirasakan/dikeluhkan -anamnesa kemudian dilanjutkan dengan menyelami latar belakang dan kehidupan pasien(sosial,ekonomi,pendidikan dan budaya), asal kelahirannya, pekerjaannya dan beberapa hal yang mungkin menarik perhatian. -ikut sertakan keluarga dalam wawancara dengan penderita, kecuali bila anda merasa pasien atau keluarganya meberi kesan bahwa mereka canggung atau tidak

menginginkannya. Dalam hal demikian adakan wawancara secara terpisah dengan keluarganya.

2. alloanamnesa
215

wawancara dengan keluargan pasien atau orang yang mengantarkan pasien. Ditanyakan hal-hal yang berhubungan kemungkinan timbulnya gangguan jiwa pada pasien. Bila mungkin ditanyakan perjalanan penyakit dari pasien, keadaan kehidupan pasien seharihari, hubungan pasien dengan orang lain dan sebagainya.

b. Pemeriksaan fisik 1. secara umum diperiksa tensi,nadi,suhu dan pernapasan pasien 2. pemeriksaan neurologik dilakukan untuk mengetahui adakah gangguan kesadaran, kelumpuhan, rudapaksa pada kepala, gangguan fungsi luhur dan perasaan/perabaan pada tubuh dan gejala neurologik lain seperti kejang, kaku kuduk dan sebagainya.

c. laboratorium pemeriksaan laboratorium secara rutin untuk mengetahui adakah faktor infeksi, anemia berat,dsb. Bila dicurigai adanya kalainan organik tertentu dapat dilakukan pemeriksaan laboratorium tambahan sesuai kebutuhan. Pemeriksaan ini dilakukan untuk menyingkirkan adanya kelainan organik sebagai penyebab dari gangguan jiwa tersebut. Adapun penanganan pasien dengan gangguan jiwa seperti tercantum dalam lampiran 2 ini.

C. peran serta masyarakat kegiatan dalam bentuk penyuluhan serta pembinaan masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan, penilaian dan pengembangan kesehatan jiwa setempat dalam rangka menciptakan kemandirian masyarakat dalam memelihara kesehatan jiwa.

D. Pengembangan Pengembangan upaya kesehatan jiwa di puskesmas adalah suatu upaya dengan memanfaatkan data yang ada yaitu yang didapat dari SP2TP, penelitian atau survei. Upaya ini digunakan untuk mengembangkan peran serta masyarakat dan pelayanan dibidang kesehatan jiwa. Hal ini dilakukan melalui mini lokakarya dan stratifikasi puskesmas dan micro planning dalam rangka menciptakan derajat kesehatan jiwa masyarakat yang optimal.

216

D.Sistem pencatatan dan pelaporan Berbagai hal yang berkaitan dengan masukan, proses dan keluaran upaya kesehatan jiwa, direkam secara terpadu dalam SP2TP.

1. Kegiatan terintegrasi

UPAYA KESEHATAN JIWA YANG TERPADU DENGAN KEGIATAN POKOK PUSKESMAS Kegiatan pokok sasaran Tugas Perincian kegiatan tenaga Alat

1. KIA

Ibu hamil dan nifas

Promotif preventif

Penyuluhan:umpama -Cara menyusukan dengan kasih sayang -Hindari stres/depresi selama kehamilan -Persiapan melahirkan secara mantap termasuk persiapan mental

-Dokter -Bidan -Perawat -Kader

-Poster -Leaflet Audiovisual

2. KB

Individu dan keluarga

Promotif preventif

Penyuluhan agar tercipta keluarga yang bahagia dan sejahtera

-Dokter -Bidan -Perawat -Kader

-Poster -Leaflet -Film

3. Gizi

Individu dan keluarga

Promotif preventif

Penyuluhan: Memperhatikan gizi makanan karena kekurangan zat tertentu, umpama jodium dapat menyebabkan gangguan perkembangan mental anak cara hidup sehat secara

-Dokter -Ahli gizi -Perawat -kader

-Poster Leaflet Audiovisual

217

mental health

4.kesehatan lingkungan

Kelompok masyarakat dan lingKungan

Promotif preventif

Penyuluhan: Pentingnya peran orang tua dalam keluarga Dokter Perawat Perawat Dokter Tenaga

Leaflet Audiovisual

5.PPPM 6.PKM

Kelompok masyarakat

Promotif preventif

Menciptakan hubungan dan komunikasi yang baik dalam keluarga dan masyarakat

Poster Leaflet Audiovisual

penyuluh Film(video) kader

7.pengobatan

Individu/keluar ga

Kuratif rehabilitatif

Bagi pasien-pasien gangguan jiwa diharapkan dapat minum obat secara teratur Penyuluhan Kesehatan jiwa Home visit pasien psikotik

Dokter Perawat

Obat psiko Farmaka

8.PHN

Keluarga Masyarakat

Promotif Preventif Rehabilitatif

Penyuluhan:kesehatan jiwa

Perawat Kader

Leaflet Slides/over head Kendaraan untuk home visit

9.UKS

Anak didik Pendidik&stafn ya Orang tua

Promotif preventif Rehabilitatif

Deteksi dini gangguan kesulitan belajar, gangguan perkembangan Rujuk bila dicurigai adanya kelainan ke RS

Poster Leaflet Audiovisual

218

Jiwa

10. Gigi dan mulut

Individu Keluarga

Preventif kuratif

Pemeriksaan dan pengobatan gigi pasien gangguan jiwa karena mereka sering tak mengurus kebersihan gigi Menyampaikan pada keluarga agar memperhatikan kebersihan gigi pasien

Alat-alat kedokteran gigi

11.Kesehatan jiwa

Lihat kegiatan khusus tentang kesehatan jiwa

12.laboratoriu m

individu

Preventif kuratif

Laboratorium rutin Pemeriksaan khusus sesuai kebutuhan

Laborant

Alat lab dan zat kimia untuk peme riksaan poster leaflet poster leaflet audiovisual film video alat peraga

13.UKM/PK dasar

Masyarakat kelompok

Promotif Preventif

Penyuluhan kesehatan jiwa

Dokter Perawat

poster leaflet

219

tertentu Kader 14.kesehatan olah raga Keluarga Individu Masyarakat Pencegahan Kuratif Penyuluhan tentang pentingnya olahraga bagi kesehatan mental Peragaan olahraga kesehatan jasmani Dokter Perawat Kader Video Alat peraga 220 . USILA Individu Kelompok Masyarakat Pencegahan Kuratif Rujukan Penyuluhan tentang kesehatan jiwa usia lanjut Pengobatan pasien USILA sengan gangguan jiwa Rujuk pasien ke RS bila mengalami kesulitan Dokter Perawat Kader poster leaflet film audiovisual 15.

simtomatik Sesuai dengan keluhan pasien 2.ansiolitika Misal diazepam 3x2 mg atau dobazam 3x10 dipertahankan hingga 4 minggu Bila tidak ada perbaikan dalam 2 minggu rujuk ke bagian psikiatri RS umum/RS jiwa terdekat Bila dalam waktu 4 minggu tidak memperihatkan kemajuan atau pasien sangat gaduh gelisah&membahayaka n diri atau orang sekitarnya. Kegiatan Khusus PENANGANAN PASIEN DENGAN GANGGUAN JIWA DIAGNOSIS GEJALA KLINIS PENGOBATA N 1. vegetatif antara lain jantung berdebar 1.dosis optimal 2. keluhan fisik a. keseimbangan atau kehidupan individu. somatik antara lain: sakit kepala pusing nyeri atau rasa tak enak didada 1.2.keluara dan pekerjaan Major tranqulizer umpama klorpromazine hingga gejala klinis berkurang Dosis awal dapat dimulai dengan 3x50 mg/hari ditingkatkan secara bertahap 3x100 mg dan seterusnya hingga pasien tenang. Rasa cemas ini dirasakan bila b.Gangguan psikosis Adalah suatu keadaan yang nmenimbulkan ketidakmampuan berat pada seseorang untuk menilai realitas Gaduh gelisah Perilaku abnormal Gangguan tidur Rasa curiga Keluhan somatik yang aneh Rasa sedih yang tak wajar Waham/halusinasi Hilangnya perhatian terhadap kebersihan.Gangguan kecemasan (anxietas) Adalah perasaan tidak menyenangkan yang disebabkan oleh dugaan akan bahaya atau frustrasi yang mengancam dan akan membahayakan rasa aman. kirim ke RS Jiwa terdekat TINDAK LANJUT 221 .

Rasa sedih yang mendalam Gangguan tidur terutama Simtomatik sesuai dengan keluhan Antidepresan Bila selama 3 minggu tak ada perbaikan rujuk ke bagian jiwa RS umum/RS jiwa terdekat terbangun dini hari misalnya Hilangnya perhatian terhadap pekerjaan dan amitriptilin 3x25 mg selama 3 minggu Bila ada kecemasan beri ansiolitika Berikan support agar pasien merasa aman rasa tak berdaya. retardasi mental 1.individu berusaha menguasai/menghadapi suatu situasi atau keadaan tertentu mual diare/abatisasi keringat dingin nafsu makan menurun sesak nafas mg 3.keluhan psikis Gelisah Takut tak wajar umpama takut gila. putus asa keluarga tak berguna Menangis tanpa sebab Hilangnya nafsu makan Konstipasi Pembicaraan dan aktivitas 4. rasa sedih yang mendalam.takut mati Sulit tidur 3. retardasi mental -tidak ada terapi 222 . gangguan depresi Adalah satu bentuk ganggua kejiwaan pada alam perasaan seseorang yang bercorak disforik yang ditandai dengan perasaan murung. berikan support agar pasien merasa aman 2.

-memerlukan -tidak ada terapi khusus -memberi pengertian pada keluarga agar dapat menerima keadaan anak -memberikan 223 .yaitu adanya gangguan perkembangan fisik dan bicara yang lambat.Adalah suatu keadaan dimana fungsi intelektual umum di bawah rata-rata yang terdapat dalam periode perkembangan(sebelum usia 18 tahun) disertai ketidakmampuan proses belajar atau adaptasi ringan(mampu didik): -80% dari seluruh retardasi mental -mulai tampak pada usia sekolah: Sering tak naik kelas Memerlukan bantuan untuk mengerjakan pekerjaan rumah atau kebutuhan pribadi Terdapatnya perilaku antisosial Biasanya anak dapat menyelesaikan pendidikan sampai tamat SD khusus -bimbing keluarga agar dapat menerima keterbatasan anak -latih anak agar dapat mandiri Menganjurkan orang tua agar konsultasi lebih lanjut ke RS jiwa terdekat 2.retardasi mental sedang(mampu latih) –gejala sudah tampak sejak kecil.

retardasi mental berat dan sangat berat: -sejak lahir sudah tampak gejala perkembangan motorik yang buruk dan -tidak ada terapi khusus -anak sangat membutuhkan perhatian dan bimbingan khusus kemampuan bicara -memberi yang sangat minimal -anak hanya 5. faktor psikologis yang mempengaruhi kondisi fisik(dulu dikenal sebagai gangguan psikosomatik atau psiko fisiologik)adalah suatu kondisi/penyakit yang mempunyai makna tertentu yan diberikan oleh individu terhadap suatu stimulus lingkungan dan timbulnya penyakit itu mempunyai hubungan waktu dengan stimulus lingkungan tersebut Gejala fisik yang dikeluhkan dapat mengenai semua sistem dalam tubuh seperti: -tension headache -kolon iritabel -asma psikogenik -dismenore -simtomatik sesuai dengan keluhan -membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi pasien -beri ansiolitik Bila dalam waktu 3 minggu tak ada perubahan rujuk ke RS Jiwa mungkin belajar bicara dan dilatih keterampilan untuk pemeliharaan kebersihan dasar perhatian pada orang tua untuk menerima keadaan ini 224 .bantuan untuk mengurus diri -gangguan latihan pada anak yang berulang agar perilaku yang jelas mampu merawat diri 3.

namun 6.gangguan penggunaan zat: Adalah suatu keadaan dimana terjadi perubahan tingkah laku yang berkaitan dengan penggunaan zat secara teratur yang mempengaruhi susunan saraf pusat zat tersebut digunakan setiap hari agar ia dapat berfungsi dengan adekuat -ketidakmampuan dalam fungsi sosial atau pekerjaan akibat pola penggunaan zat yang patologik -jangka waktu penggunaan zat ini paling sedikit 1 bulan adanya keadaan depresi Rujuk ke RS Jiwa terdekat karena merupakan masalah yang rumit dalam penanganan -memerlukan penanganan khusus -puskesmas sebaiknya hanya melakukan seteksi pada remaja 225 .penyalahgunaan zat tanpa ketergan tungan: -pola penggunaan zat patologik yang dapat bermanifestasi sebagai intoksikasi.psikogenik -dsb seperti clobazam 3x2 mg untuk mengatasi kecemasan pasien atau anti depresiva bila didapat kesan 1.

ketergantungan zat: -didapat adanya ketergantungan fisologis yang dibuktikan dengan terdapatnya toleransi atau sindrom putus zat(withdrawal) -ketidakmampuan dalam fungsi sosial atau pekerjaan. Memerlukan penanganan khusus Rujuk ke RS Jiwa terdekat -kenakalan yang berlebihan dirumah atau di masyarakat Rujuk ke RS Jiwa terdekat 226 . meskipun jarang manifestasi gangguan ini hanya pada ketergantungan fisiologis umpamanya:orang yang tergantung pada opioida analgesik yang diberikan atas alasan medis untuk mengurangi rasa nyeri fisik.2.

-melanggar peraturan atau 7.gangguan tingkah laku: Pola tingkah laku yang berulang dan menetap norma sosial dalam masyarakat -sering pula ada aktivitas seksual yang bersifat Memerlukan penanganan khusus Rujuk ke RS Jiwa terdekat hingga terjadi pelanggaran agresif hak azasi orang lain -menyalahkan orang lain dan merasa diperlakukan tidak adil -sering juga ditemukan merokok. dan penyalahgunaan zat -gangguan ini dapat berkelompok 2) gangguan pemusatan perhatian(dulu dikenal sebagai sindrom hiperkinetik)adalah:kuran g mampu memusatkan perhatian dan impulsi yang tidak sesuai dengan taraf perkembangan -tidak dapat memusatkan perhatian -mudah teralih perhatiannya -sulit konsentrasi di sekolah -sering bertindak sebelum berpikir -Konsultasi dengan RS Jiwa terdekat untuk memberikan bimbingan -Bila perlu kirim anak ke RS Jiwa 227 .gangguan pada anak dan remaja umpama: 1).minum minuman keras.

gangguan perkembangan spesifik: Adalah gangguan yang hanya meliputi segi tertentu(spesisifk)dari perkembangan yang tidak disebabkan oleh gangguan lain. -efek labil -biasanya timbul sebelum usia 7 tahun -gangguan perkembangan membaca -gangguan perkembangan berhitung -gangguan perkembangan bahasa -gangguan perkembangan motorik -gangguan perkembangan artikulasi -serangan ringan berupa: *hilangnya ingatan secara mendadak dan singkat *pasien hanya berhenti sejenak dalam pekerjaannya atau pembicaraan.3). melihat ke suatu -phenobarbital dengan dosis Untuk menegakkan diagnosis kirim ke RS jiwa untuk pemeriksaan lebih lengkap 228 .

lanjutkan pemberian obat sampai 3-5 tahun bebas serangan manifestasi gangguan otak gangguan dalam bentuk bangkitan yang muncul secara berkala yang disebabkan oleh lepas muatan listrik pada neuron-neuron otak secara berlebihan. naikkan 8. Epilepsi adalah suatu gejala klinis yang disebabkan oleh -serangan dapat pula berupa nyeri perut. sensibilitas -serangan berat berupa: penderita jatuh waktu kehilangan kesadaran dan kejang serta kontraksi otot bila kejang berhenti biasanya penderita lalu tertidur dan waktu bangun tidak ingat apa yang terjadi -serangan dapat terjadi sekali sebulan atau setiap hari -bila terjadi kejang: hindarkan pasien dari tempat atau benda yang dapat membahayakan -beri spatel diantara gigi agar lidah tidak tergigit -pasien jangan diikat 229 .arah tanpa berkedip.atau dosis sampai bebas serangan.kemudia n melanjutkan pekerjaannya untuk: *Anak:6-7 mg/kgBB *dewasa: mulai dengan 3x50 mg.

230 .

0012. VCT yang mempunyai faktor resiko Puskesmas kecamatan Cilandak Puskesmas Senin-Jumat jam 08.00 Dokter Puskesmas yang telah mendapat pelatihan khusus 5. Mental Health Nursing): kunjungan ke rumah Petugas puskesmas 4. pasien yang berkunjung ke UKKR Sosialisasi Kesehatan jiwa 2. Kegiatan Pelayanan semi spesialis untuk Sasaran Meningkatka n persentase kunjungan dari 7% menjadi 8% Remaja mengetahui perilaku sexual yang benar Tempat Waktu Pelaksana Puskesmas kecamatan Cilandak Senin-Jumat jam 08. remaja terkait dengan masalah pendidikan sexual remaja CMHN (Community- SMU seKecamatan Cilandak Dokter dan petugas Puskesmas Pasien gangguan jiwa/ suspek gangguan jiwa Orang-orang Rumah Pasien 3.0012.00 Dokter dan petugas puskes 6.BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN No.00 Dokter Puskesmas yang telah mendapat pelatihan khusus 1. Harm Reduction orang yang terinfeksi HIV Puskesmas kecamatan Cilandak Dokter puskes 231 . Konseling IDU IDU kecamatan Cilandak Dokter puskes IDU dan 7.0012.00 Senin-Jumat jam 08.0012. IDU meeting IDU kecamatan Cilandak Puskesmas Setiap akhir bulan Senin –Jumat jam 08.

8. Petugas puskes 232 . Penyuluhan HIV-AIDS Mobile VCT Penduduk kec.cilandak Orang yang beresiko Tempattempat umum Panti pijat dll Tiap bulan Tiap bulan 2 x Petugas puskes 9.

Kegiatan di puskesmas terbagi dua di luar dan di dalam Gedung. Oleh karena itu dibutuhkan pelayanan kesehatan jiwa agar terwujud kesejahteraan mental dan sosial sehingga seseorang dapat hidup produktif. kegiatan di dalam gedung terpadu dengan kegiatan pokok puskesmas lainnya. Perlu ditingkatkan penyediaan SDM/kaderisasi yg lebih banyak. Diadakan pelatihan-pelatihan khusus. mental.saat ini mengambil contoh di puskesmas kecamatan Cilandak masih sangat kekurangan tenaga-tenaga profesional/SDM sehingga dalam pelaksanaan kegiatan banyak yang double job yang mengakibatkan kurang efisiennya/kurang optimal program yang sudah ada. Di puskesmas Cilandak sebagian besar telah melakukan kegiatan seperti yang dianjurkan depkes. Di Puskesmas telah dibuat unit pelayanan kesehatan jiwa dengan tujuan memberikan pelayanan keperawatan jiwa komprehensif. 233 .BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan terciptanya derajat kesehatan masyarakat yang optimal. 3. Agar lebih optimal dapat dilakukan : 1. serta memberkian pelayanan khusus bila diduga adanya faktor psikologi sebagai penyebab. SARAN Adapun untuk dapat dilakukan semua kegiatan tersebut diperlukan dana dan tenaga kerja yang memadai. cacat dan kelemahan tapi benar-benar merupakan kondisi yang positif dari kesejahteraan fisik. 2. sekunder dan tersier. Kesehatan dalam hal ini diartikan sebagai suatu kondisi yang bukan hanya bebas dari penyakit. dan sosial yang memungkinkan seseorang untuk hidup produktif. kegiatan khusus yaitu penyuluhan kesehatan jiwa dalam rangka pencegahan dan pengobatan gangguan jiwa sedini mungkin.meliputi pencegahan primer.Sedangkan kegiatan diluar puskesmas terpadu dengan kegiatan pokok puskesmas lainnya. Ruangan UKKR diperbesar dan disekat.

hlm. 234 .DAFTAR PUSTAKA 1. 2001. Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Upaya Pokok Kesehatan Jiwa. Dalam: STANDARISASI PELAYANAN KESEHATAN PUSKESMAS di DKI Jakarta.129-152.

UPAYA POKOK KESEHATAN MATA Penyusun : Andhini Darma Saputri Pritta Diyanti Karyaman Radita Primakirana Sediadi (030.022) (030.05.05.170) (030.05.178) 235 .

Sebagai unit pelaksana tehnis Dinas kesehatan (UPTD). Indra Penglihatan merupakan syarat penting bagi upaya peningkata kualitas SDM.1.1.terjangkau dan merata.2. yaitu gambaran prediksi atau keadaanmasyarakat indonesia pada masa yang akan datang berupa ―Mata Sehat 2020/Vision 2020 – The Right to Sight ―(pemenuhan hak untuk melihat dengan 236 .BAB I PENDAHULUAN Undang-undang No.efisien.aman. 36 tahun 2009 mengamanatkan bahwa pemerintah harus menyediakan pelayanan kesehatang yang bermutu. karena mata merupakan jarul informasi utama (83%). Puskesmas mempunyai 4 fungsi yaitu sebagai pusat pemberdayaan masyarakat.4 Indera penglihatan merupakan salah satu alat tubuh manusia yang mempunyai fungsi sangat penting untuk memungkinkan manusia menerima informasi dari lingkungan kehidupan sekitarnya sehingga mampu beradaptasi dan mempertahankan hidup dalam lingkungannya dan menghindarkan diri dari berbagai ancaman yang mungkin terjadi. Keterbelakangan melakukan koreksi refraksi terutama pada anak usia sekolah akan sangat mempengaruhi kemampuan menyerap materi pembelajaran dan berkurangnya potensi untuk meningkatkan kecerdasan karena 30% informasi diserap dengan melihat dan mendengar.sebagai pusat pelayanan kesehatan perorangan primer dan sebagai pusat rujukan kesehatan primer yang bertanggung jawab atas wilayah yang telah ditetapkan.5 Untuk mewujudkan drajat kesehatan mata yang optimal telah ditetapkan visi.4 Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia (SDM). Pelayanan kesehatan masyarakat sektor Pemerintah di Kabupaten/Kota terdiri atas pelayanan kesehatan dasar dan rujukan. produktif serta mampu berperan dalam berbagai bidang pembangunan. Dengan demikian kesehatan indera penglihatan merupakan salah satu unsur terpenting dalam upaya meningkatkan kualitas SDM agar terwujud manusia Indonesia yang cerdas.sebagai pusat pelayanan kesehatan masyarakat.Puskesmas dengan kegiatan Upaya Kesehatan Masyarakatnya menyebabkan puskesmas mempunyai peran penting dalam meningkatkan daya ungkit yang besar dalam pembangunan kesehatan di Indonesia karena Puskesmas menrupakan ujung tombak pembangunan kesehatan.

Prevalensi nasional penderita Katarak sendiri pada penduduk umur >30 tahun adalah 1.4% dari total penduduk). menanggulangi gangguan penglihatan dan kebutuhan di masyarakat . Nusa Tenggara Barat.5%. Sebanyak 11 provinsi mempunyai prevalensi Kebutaan diatas prevalensi nasional. Bengkulu. yaitu Nangroe Aceh Darussalam. tetapi juga menimbulkan dampak sosial ekonomi bagi lingkungan. Jawa Tengah.9% (berdasarkan hasil pengukuran. dan sejahtera lahir batin.1 WHO memperkirakan terdapat 45 juta penderita kebutaan di dunia. maju. memfasilitasi pemerataan pelayanan kesehatan mata yang bermutu dan terjangkau. Sulawesi Selatan. Nusa Tenggara Timur. Konyama.3 juta (7.2 Kebutaan bukan hanya mengganggu produktivitas dan mobilitas penderitanya. produktif. Menurut Konsultan WHO. dan penyakit-penyakit lain yang berhubungan dengan lanjut usia (0.optimal bagi setiap individu). Kepulauan Riau. Lampung. menggalang kemitraan dengan masyarakat dan pihak-pihak terkait di dalam dan di luar negri untuk mewujutkan mata sehat 2020. prevalensi nasional Kebutaan adalah 0. menunjukkan angka kebutaan 1. Dr. visus < 3/60). Bila 237 . mandiri. Untuk itu di tetapkan misi mewujutkan mata sehat melalui : promosi kesehatan dalam rangka pemberdayaan masyarakat tentang mata sehat . Penyebab utama kebutaan adalah katarak (0. Bali. kelainan refraksi (0. Gorontalo.5 Kesehatan Indera Penglihatan merupakan syarat penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. keluarga. dalam kerangka mewujudkan manusia Indonesia yang cerdas. Jumlah dimaksud cenderung akan bertambah besar karena berdasarkan laporan Biro Pusat Statistik tahun 1993 .5%-1%.78%). di mana sepertiganya berada di Asia Tenggara.2. glaukoma (0.38 %). Jawa Barat. jumlah penduduk usia lanjut di Indonesia pada tahun 2025 akan mengalami peningkatan sebesar 414% dibandingkan dengan keadaan pada tahun 1990. 1 Berdasarkan laporan hasil Riskesdas/ Riset Kesehatan Dasar Nasional tahun 2007.14%).20%). kebutaan akan menjadi masalah kesehatan masyarakat bila prevalensinya 0. Besarnya jumlah penderita katarak di Indonesia saat ini berbanding lurus dengan jumlah penduduk usia lanjut yang pada tahun 2000 diperkirakan sebesar 15. masyarakat dan negara lebih-lebih dalam menghadapi pasar bebas. Survei kesehatan indera penglihatan dan pendengaran tahun 1993-1996.8%.

C melalui kegiatan pelayanan kesehatan mata yang diintegrasikan di Puskesmas yang merupakan pintu gerbang utama yang berhubungan langsung dengan masyarakat sehingga angka kesakitan mata dapat ditekan dan angka kebutaan serta kemunduran fungsi penglihatan dapat dihilangkan.E.5% pada tahun 2020. yang meliputi usaha-usaha peningkatan. Dengan kebijaksaan untuk penduduk yang berpenghasilan rendah baik yang tinggal dikota dan di desa mendapat prioritas. “Primary Eye Care (P. dan pengobatan terhadap individu atau masyarakat. 1 Upaya Kesehatan Mata/Pencegahan Kebutaan (UKM/PK) merupakan bentuk dari pengembangan program RENSTRANAS (Rencana Strategis Nasional) Penanggulangan Gangguan Penglihatan dan Kebutaan untuk mencapai Vision 2020. pencegahan.prevalensi kebutaan > 1% maka kebutaan telah menjadi masalah sosial. sehingga tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat.5 % maka kebutaan hanya menjadi masalah klinik (medik). Primary Eye Care merupakan unit terdepan yang merupakan bagian integral dari Puskesmas. Melalui program ini diharapkan dapat menurunkan angka kebutaan di Indonesia menjadi 1% pada tahun 2004 dan 0.C)” . Sebaliknya bila angka kebutaan < 0.E.telah dimulai sejak tahun 1979/1980. 1 Tujuan P. 238 .1 Dari masalah kesehatan mata dan kebutaan tersebut mengisyaratkan bahwa upaya kesehatan mata/pencegahan kebutaan dasar sebagai salah satu kegiatan pokok di Puskesmas akan melengkapi fungsi Puskesmas dalam memecahkan masalah kesehatan masyarakat khususnya berupa angka kesakitan mata dan kebutaan. Pelayanan Kesehatan Mata di Puskesmas.

pembinaan. keluarga. dan pengembangan UKM/PK setempat. pelaksanaan. dokter kecil. seperti perawat mahir mata. funduskopi. tes buta warna dan lapang pandang. meliputi pemeriksaan diagnostik kelainan mata. tonometri. Selain itu terdapat pula tenaga non professional yaitu kader/ tenaga relawan seperti pemuka masyarakat. Tenaga profesional khusus yaitu tenaga kesehatan dengan pendidikan khusus atau tambahan di bidang kesehatan mata. dan sebagainya. penanggulangan kebutaan katarak. dokter gigi. dan sebagainya3 239 . seperti pemeriksaan retraksi. diselenggarakan secara khusus ataupun terpadu dengan kegiatan pokok Puskesmas lainnya. Tenaga profesional umum yaitu dokter dan perawat. penilaian. di dalam ataupun di luar gedung oleh tenaga kesehatan Puskesmas dengan didukung oleh peran serta aktif masyarakat dan ditujukan kepada individu. 3 Tenaga professional mencakup tenaga profesional umum dan khusus. masyarakat di wilayah kerja Puskesmas. asisten apoteker.3 Yang dimaksud dengan kegiatan di dalam gedung dalam UKM / PK adalah kegiatan yang terpadu dengan kegiatan pokok Puskesmas lain atau secara khusus. analis (tenaga Laboratorium). 3 Peran serta masyarakat adalah peran serta aktif masyarakat baik sebagai pemberi maupun penerima pelayanan dengan memobilisasi sumber daya yang tersedia dalam pemecahan masalah kesehata mata masyarakat setempat melalui perencanaan. 3 Sedangkan yang dimaksud dengan kegiatan di luar gedung dalam UKM / PK adalah kegiatan yang terpadu dengan kegiatan pokok Puskesmas lainnya ataupun secara khusus meliputi skrining mata.BAB II PENGERTIAN Upaya Kesehatan Mata / Pencegahan Kebutaan (UKM / PK) Dasar adalah upaya kesehatan dasar dibidang UKM / PK yang dilaksanakan di tingkat Puskesmas. glaucoma dan lain-lain.

Kebutaan adalah pengelihatan kedua mata dengan koreksi maksimal kurang dari 5 % pengelihatan normal. 240 .

Tujuan Khusus 1. Tujuan Umum Meningkatnya derajat kesehatan mata dalam rangka meningkatkan kualitas sumberdaya masyarakat. Meningkatnya kesadaran. 241 . Menurunnya prevalensi kesehatan mata dan kebutaan sehingga tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat.BAB III TUJUAN A. sikap dan perilaku masyarakat pemeriksaan dirinya dibidang kesehatan mata dan pencegahan kebutaan. Meningkatnya jangkauan pelayanan refraksi sehingga masyarakat yang mengalami gangguan fungsi penglihatan dapat terlayani. 2. B. 3.

2. c) Melakukan rujukan ke Laboratorium untuk swab vagina bagi ibu hamil dengan keluhan fluor albus atau untuk swab sekret mat pada bayi baru lahir dengan conjungtivitis d) Melakukan tindakan crede pada bayi baru lahir e) Pemberian capsul vitamin A dosis tinggi pada Balita setiap 6 bulan f) Melakukan skrining mata di masyarakat g) Memberikan pengobatan h) Melakukan pemeriksaan cisus/refraksi dan mata luar i) Melakukan pemeriksaan tekanan intraokular j) Malkukan tes buta warna k) Melakukan tes anel l) Melakukan pemeriksaan funduskopi 242 . Kegiatan a) Melakukan penyuluhan kesehatan mata termasuk pemasaran sosial di dalam maupun di luar gedung. Prinsip Kerja Pelayanan diberikan secara cepat. Kegiatan Pelayanan Upaya Kesehatan Mata / Pencegahan Kebutaan 1. tepat dan nyaman dengan sikap yang ramah dan bertanggung jawab.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN Tujuan Upaya Kesehatan Mata/ Pencegahan Kebutaan Melayani pemeriksaan kesehatan mata dasar dan semi spesialis / spesialis (khusus untuk Puskesmas Pembina) untuk semua kasus mata. b) Melakukan pemeriksaan mata khusus. khususunya kelompok yang rawan. baik individu maupun kelompok. baik yang dirawat jalan ataupun rawat inap. Sasaran Upaya Kesehatan Mata/ Pencegahan Kebutaan Semua golongan umur dengan prioritas pada masyarakat berpenghasilan rendah.

dan lain sebagainya 5. Dokter Kecil.30-12. Peralatan Kerja: Sesuai standard yang sudah ditetapkan untuk Puskesmas Pembina dan Puskesmas 243 .30-08. Waktu Pelayanan Setiap Hari a) Untuk rawat jalan mulai dari pukul 08.m) Melakukan pemeriksaan lapang pandang n) Melakukan pemeriksaan laboratorium pada kasus-kasus tertentu o) Memberikan resep kaca mata p) Melakukan operasi katarak q) Mengobati glaukoma akut r) Melakukan rujukan untuk kasus-kasus yang tidak bisa ditangani s) Memotivasi masyarakat dalam UKM/PK t) Melakukan pencatatan dan pelaporan 3.30 Kecuali untuk kasus Gawat Darurat setiap hari 4.00 b) Untuk rawat inap mulai pukul 07. Pemuka Masyakarat. Tenaga: Untuk Puskesmas Pembina: a) Dokter umum terlatih 1 orang b) Dokter spesialis mata 1 orang c) Paramedis terlatih 1 orang d) Perkarya 1 orang Untuk di lapangan : Kader. Kelengkapan Administrasi a) Formulir Register Harian b) Formulir Rekapitulasi Bulanan Sesuai SP2TP dan program 6.

nadi R/R. Prosedur Tetap: a) Puskesmas  Petugas Loket  Mendaftar dan membuat/mencari status Menerima pembayaran sesuai Peraturan Daerah Membawa Status ke Balai Pengobatan Mengambil status yang telah diperiksa dari Balai Pengobatan Mencatat di Buku Register Perawat Menerima status pasien Melakukan anamnesa Melakukan pemeriksaan keperawatan (tensi. suhu) Mencatat hasil pemeriksaan di status Membantu/asisten dokter sewaktu melakukan pemeriksaan  Dokter Umum Melengkapi anamnesa bilamana perlu Melakukan pemeriksaan umum dan mata khusus Melakukan penyuluhan individu Memberikan pengobatan/rujukan dan atau resep kaca mata b) Puskesmas Pembina  Petugas loket o Mendaftar dan membuat / mencari status o Menerima pembayaran sesuai dengan Peraturan Daerah o Membawa status ke poli mata o Mendaftar dan membuat / mencari status o Menerima pembayaran sesuai dengan Peraturan Daerah o Membawa status ke balai pengobatan o Mengambil status yang telah diperiksa dari Balai pengobatan o Mencatat di buku register 244 .7.

Keterpaduan Upaya Kesehatan Mata/Pencegahan Kebutaan Dasar dengan Kegiatan Pokok Puskesmas Lainnya Kegiatan Pokok 1. leaflet. demonstrasi makanan sehat (gizi) Pen light Kapas lidi 245 . kader. kader. dukun bersalin Alat Poster. demonstrasi makanan sehat (gizi) Hamil Promotif Preventif Case finding o Kelainan mata luar o Gangguan Penyuluhan individu/kelompok di bidang kesehatan mata Anamnesa keluhan mata Tenaga perawatan. leaflet. dokter. dukun bersalin Poster. Perawat o Menerima status pasien o Melakukan Anamnesa o Melakukan pemeriksaan keperawatan (tensi. dokter. KIA Sasaran Prakonsepsi Tugas Promotif Preventif Perincian Kegiatan Penyuluhan individu/kelompok di bidang kesehatan mata Tenaga Tenaga perawatan. pernafasan. nadi. suhu) o Mencatat hasil pemeriksaan di status o Membantu atau asisten dokter sewaktu melakukan pemeriksaan o Mempersiapkan pasien operasi katarak o Asisten operasi  Dokter Umum terlatih dan atau dokter spesialis mata o Melengkapi anamnesa bilamana perlu o Melakukan pemeriksaan umum dan mata khusus o Melakukan penyuluhan individu o Memberikan pengobatan/rujukan dan atau resep kacamata  Khusus untuk Dokter spesialis mata o Mekakukan operasi yang diperlukan Sasaran Upaya Kesehatan Mata/Pencegahan Kebutaan diprioritaskan pada masyarakat berpenghasilan rendah khususnya kelompok rawan tanpa mengabaikan kelompok lainnya dengan menggunakan teknologi tepat guna yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan di tingkat Puskesmas.

dukun bersalin Poster. leaflet. demonstrasi makanan sehat (gizi) Pen Light Anamnesa keluhan mata Pemeriksaan mata Bila ada keluhan/kelainan Nifas Promotif Preventif Case finding Penyuluhan kesehatan mata Anamnesa mata keluhan Tenaga perawatan. demonstrasi makanan sehat (gizi) AgNO3 1 % tetes mata atau tetrasiklin salep mata Alat-alat (lihat hamil) lab ibu Rujukan Rujuk ke lab : bila ada secret pada konjungtiva Rujuk ke pengobatan bila ada keluhan/kelainan 246 .pengelihatan Rujukan Persalinan Promotif Preventif Case finding Rujukan ke pengobatan Rujuk ke laboratorium. swab vagina (bila ada keluhan fluor albus untuk pencegahan infeksi gonokokus pada bayi yang dilahirkan) Rujuk ke pengobatan bila ada keluhan/kelainan mata Penyuluhan kesehatan mata Steril Piringan biak agar-agar ThayerMartin atau piringan coklat Tenaga perawatan. leaflet. dukun bersalin Poster. dokter. leaflet. demonstrasi makanan sehat (gizi) Pen Light Pemeriksaan mata Rujukan Oftalmoskop Rujuk ke lab : swab vagina (bila ada fluor albus) Rujukan ke pengobatan bila ada keluhan/kelainan Bayi Promotif Preventif Anamnesa Case finding o Pemeriksaan mata Kelainan mata Crede pada bayi baru lahir Sanitarian Tenaga perawatan dokter Poster. kader. dokter.

S (Wanita Usia Subur) Promotif Preventif Individu Kelompok Case finding o Fluor albus Pemeriksaan mata bila ada keluhan fluor albus Penyuluhan kesehatan mata Tenaga perawatan. leaflet.U.000 IU Case finding o o o Kelainan refraksi Kelainan mata luar Kelainan bawaan (katarak. vit. kader Poster. dokter Poster. A 200. demonstrasi makanan sehat 247 .Balita Promotif Penyuluhan individu/kelompok Pembagian kapsul vit. juling. perawatan. demonstrasi makanan sehat (gizi) Preventif Pembagian caps. A 200. demonstrasi makanan sehat (gizi) Kapsul Vit. KB W. alat lab (lihat ibu hamil) Rujukan Rujuk sediaan ke lab Rujuk ke pengobatan 3. A dosis tinggi tiap 6 bulan Penyuluhan kesehatan mata Kapsul Vit. A dosis tinggi tiap 6 bulan Anamnesa mata keluhan Tenaga perawatan Dokter Kader Preventif Poster.000 IU Ibu hamil/menyusui Promotif Preventif Poster. Gizi Balita Promotif Penyuluhan kesehatan mata Individu Kelompok Tenaga gizi. leaflet. dll) Pemeriksaan mata Pen Light Rujukan Rujuk ke lab Rujuk ke pengobatan bila ada kelainan 2. leaflet. leaflet. dokter.

P2M Kelompok masyarakat Keluarga Case holding Individu o o o Pemeriksaan mata Penyakit luar Buta senja Gangguan pengelihatan mata Pengobatan sederhana (sama dengan prokesa) Promotif Preventif Penyuluhan kesehatan mata Juru imunisasi. petugas malaria desa. perawat mata Epilator Loupe Senter Speculum mata Obat-obat mata nonsteroid. leaflet. corpus alienum ekstraokuler. Diamox Tindakan sederhana :  Insisi hordeolum. perawatan. alat-alat pelindung mata (lintas sektoral) Poster. dokter Promotif Preventif Penyuluhan kesehatan mata Sanitarian. dokter. dokter (gizi) Poster. kader Poster. Kesehat an lingkung an Kelompok masyarakat dan lingkungannya Perusahaan (pabrik) 5. tarsotomi. leaflet Senter Rujukan 6. pterigium 248 .Individu kelompok 4. tenaga perawatan. PKM Kelompok masyarakat Keluarga Individu Promotif Preventif Nasehat perkawinan (penyakit keturunan) Penyuluhan kesehatan mata Tenaga penyuluh kesehatan. tenaga perawatan. peraga alat Case finding Bila ada dirujuk keluhan Kader UKS kecil (Guru dokter 7. Pengoba tan Individu Pengobatan Pengobatan terhadap :        Konjungtivitis Pterigium dan Pinguekula Defisiensi vitamin A Trakhoma tanpa Trikhiasis Blefaritis Hordeolum Glaukoma Dokter. ekstraksi.

tumpul. P. kader UKS kit Buku Ishihara Penyuluhan kesehatan mata Tenaga perawatan. Alat insisi Corpus alienum spoed Pantocain    Rujukan Formulir rujukan 8. A Penyuluhan kesehatan mata Tenaga perawatan (petugas UKS). kader Kesehatan Non kesehatan Idem 7 Pengobatan Rujuk ke Puskesmas untuk mendapat pengobatan 10. 249 . UKS Anak sekolah Promotif Preventif Anamnesa Pemeriksaan : o o o o Kelainan refraksi Kelainan mata luar Tes buta warna Defisiensi vit. gigi. Gigi/Mu lut Individu Anak sekolah Kelompok Promotif Preventif Penyuluhan gigi yang berkaitan dengan kesehatan mata Penyuluhan hubungan Dokter perawat kader gigi. tajam Merujuk kasus yang tak dapat diatasi ke RS atau BKMM.N Keluarga Instansi Individu Promotif Preventif Case finding Kuratif Rehabilitatif Diagnostik 10 penyakit utama mata Koreksi refraksi sederhana s/d visus 5/10 Pengobatan Rujukan ke pengobatan 9.ekstirpasi  Pertolongan pertama gawat mata Glaukoma akut Trauma kimia. dokter.H.

kader 14. kader Pengobatan/rujukan Pengobatan pada kelainan/kecelakaan akibat olah raga Penyuluhan Dokter. Kesehat an Olah Raga Individu Promotif Preventif Case finding Dokter. Lab Individu Case finding 13. leaflet Senter Case finding Deteksi kelainan mata pada penderita kelainan jiwa Pengobatan mata Rujukan Pengobatan Puskesmas.masyarakat 11. perawat. dokter. perawat. 15. Usila Individu Promotif 250 . Kesehat an Jiwa Individu Keluarga Promotif Preventif kelainan gigi sebagai fokal infeksi mata Penyuluhan kesehatan jiwa yang berkaitan dengan kesehatan mata Tenaga perawatan. Kesehat an Kerja Individu Kelompok masyarakat Promotif Preventif Case finding Deteksi dini kelainan mata akibat kerja Peningkatan fungsi pengelihatan dikaitkan dengan kesehatan kerja Pengobatan pada kelainan mata akibat kesehatan kerja Pengobatan/rujukan Rujukan kasus-kasus yang tidak dapat diatasi Penyuluhan Dokter. saran rujukan Pemeriksaan laboratorium pada specimen yang berkaitan dengan kesehatan mata Penyuluhan Deteksi kelainan mata akibat olah raga Peningkatan fungsi pengelihatan dikaitkan dengan olah raga Petugas lab Alat-alat lab 12. kader Poster.

dan keluaran upaya kesehatan mata/pencegahan kebutaan dasar direkam secara terpadu dalam SP2TP. proses.Keluarga Kelompok masyarakat Preventif Kuratif/rujukan Rehabilitatif Pelayanan usila kesehatan perawat. Pencatatan dan Pelaporan Berbagai hal yang berkaitan dengan masukan. dan penilaian UKM/PK Dasar dalam rangka menciptakan kemandirian masyarakat dalam memelihara kesehatan mata mereka. pelaksanaan. kader Rujukan kasus yang tak dapat diatasi Peningkatan Peran Serta Masyarakat Kegiatannya dalam bentuk penyuluhan kesehatan termasuk pemasaran social. serta melibatkan masyarakat dalam perencanaan. 251 . Pengembangan Kesehatan Mata Masyarakat Kegiatan dalam bentuk penampilan berbagai inovasi baru yang ditujukan pada pemecahan masalah sesuai dengan perkembangan kebutuhan dan ketersediaan sumber daya setempat dalam rangka menciptakan derajat kesehatan mata masyarakat yang optimal.

30 .12.00 Dokter umum 3 Pemeriksaan oleh Spesialis Semua pasien yang berkunjung ke Poliklinik Mata dan memerlukan pemeriksaan oleh ahli Dokter Spesialis Mata 4 Pemeriksaan Khusus Mata : Pemeriksaan Visus Tonometri Pemeriksaan Khusus Mata : Funduskopi Semua pasien yang berkunjung ke Poliklinik Mata Semua pasien yang berkunjung ke Poliklinik Mata Poli Mata Senin – Jumat 08. Kegiatan Sasaran Tempat dan Waktu Pelaksana 1 Pemeriksaan penyakit Mata Semua pasien yang berkunjung ke Poliklinik Mata Poli Mata Senin – Jumat 08.00 Dokter Umum Dokter Spesialis Mata Dokter Umum 252 .30 .12.12.30 .12.30 .30 .00 Poli Mata Senin – Jumat 08.00 Poli Mata Senin dan Kamis 08.00 Dokter Umum Perawat Pelaksana Paramedis 2 Pengobatan Penyakit Mata Semua pasien yang berkunjung ke Poliklinik Mata Poli Mata Senin – Jumat 08.12.BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU No.

12.00 Dokter Spesialis Mata Dokter Umum Bekerja sama dengan RSCM 9 Memberikan Resep Kacamata Semua pasien yang telah dilakukan pemeriksaan visus dan memerlukan kacamata Poli Mata Senin – Jumat 08.00 Dokter Spesialis Mata Dokter Umum Perawat Pelaksana 6 Penyuluhan Kelompok : Retinopati Dabetikum Penderita DM pada Khususnya Aula PKM Ps.00 Dokter Umum yang ditunjuk 7 Penjaringan Kasus Katarak Khusus pasien Katarak Poli Mata Senin – Jumat 08.00 Dokter Spesialis Mata Dokter Umum 10 Operasi : Semua pasien Poli Mata Dokter Spesialis 253 .30 .00 Dokter Spesialis Mata Dokter Umum Perawat Pelaksana 8 Rujukan Katarak Khusus pasien Katarak Poli Mata Senin – Jumat 08.30 .5 Penyuluhan individu Semua pasien yang berkunjung ke Poliklinik Mata Poli Mata Senin – Jumat 08.Minggu Satu Kali perbulan 08.30 .30 .12.12.00 – 12.12.

30 .12.30 .Hordeolum Pterigium Corpus Alienum dengan keluhan yang memerlukan tindakan bedah minor Senin dan Kamis 08. KASUS N 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 0 Penyakit Glaukoma Katarak Kelainan Refraksi Kelainan Kornea Konjungtivitis Trauma Corpus Alienum Pterygium Hordeolum Penyakit Mata Lain Jumlah 3 Kasus 34 kasus 80 kasus 7 kasus 31 kasus 4 kasus 3 kasus 2 kasus 24 kasus 104 kasus B. TINDAKAN N 1 2 Tindakan Pemeriksaan Visus Resep Kacamata Jumlah 77 Kasus 65 Kasus 254 .00 Perawat Pelaksana PENILAIAN HASIL KERJA DOKTER SPESIALIS MATA BULAN JUNI 2011 PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU A.00 Mata Perawat Pelaksana Terlatih 11 Melakukan pencatatan dan pelaporan Dokumen PKM kecamatan Pasar Minggu Poli Mata Senin – Jumat 08.12.

RUJUKAN N 1 2 3 4 Penyakit Glaukoma Katarak Kelainan Refraksi Penyakit Mata Lain Jumlah 3 Kasus 9 Kasus 5 Kasus 5 Kasus 255 .3 4 5 6 7 Funduskopi Angkat Corpus Alienum Insisi Hordeolum Avulsi Pterygium Haecting Off 9 Kasus 2 Kasus 2 Kasus 1 Kasus 1 Kasus C.

PENCATATAN KASUS PERIODE JANUARI – JUNI 2011 PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU (FOTOKOPI) 256 .

KESIMPULAN Upaya Kesehatan Mata/ Pencegahan Kebutaan di Puskesmas merupakan unit terdepan yang meliputi usaha-usaha peningkatan.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. 257 . khususunya kelompok yang rawan. pemeriksaan lapang pandang. pemeriksaan tekanan intraokular. Mengadakan program anjuran pemeriksaan mata pada hari tertentu yang ditujukan pada pasien yang datang ke puskemas baik yang mempunyai gejala penyakit mata maupun tidak. pemeriksaan laboratorium pada kasus-kasus tertentu. memotivasi masyarakat dalam UKM/PK serta melakukan pencatatan dan pelaporan. mengobati glaukoma akut. Diharapkan dengan dilaksanakan pelbagai kegiatan ini masalah Kesehatan Indera Penglihatan di Indonesia tidak lagi menjadi masalah Kesehatan Masyarakat. pemeriksaan refraksi dan mata luar. tes buta warna. memberikan resep kaca mata . 3. Menambah frekuensi penyuluhan tentang kesehatan mata dalam setiap bagian di Puskesmas. 2. Kegiatannya mencakup melakukan penyuluhan kesehatan mata. Kegiatan ini bertujuan melayani pemeriksaan kesehatan mata dasar dan semi spesialis / spesialis (khusus untuk Puskesmas Pembina) untuk semua kasus mata. Meningkatkan sarana dan prasarana pemeriksaan kesehatan mata di Puskesmas. melakukan operasi katarak. skrining mata di masyarakat. B. SARAN 1. pemberian capsul vitamin A dosis tinggi pada Balita setiap 6 bulan. pengobatan. pemeriksaan mata khusus. pencegahan dan pengobatan mata terhadap semua golongan umur dengan prioritas pada masyarakat berpenghasilan rendah. pemeriksaan funduskopi. baik yang dirawat jalan ataupun rawat inap. tes anel. rujukan ke Laboratorium untuk swab vagina bagi ibu hamil dengan keluhan fluor albus atau untuk swab sekret mat pada bayi baru lahir dengan conjungtivitis. tindakan crede pada bayi baru lahir.

258 . Meningkatkan peran serta setiap keluarga dalam ikut membantu memelihara kesehatan mata seluruh anggota keluarga.4.

Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar Nasional 2007.id/profile.pdf 5. Dr. Kebijakan Pelayanan Kesehatan mata. http://pustaka.unpad. Pelayanan Kesehatan Mata Melalui Puskesmas. Standarisasi Pelayanan Kesehatan Puskesmas di DKI Jakarta. Available at : http://www. Azrul Azwar. 3.or. Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta.php?id=74 259 .DAFTAR PUSTAKA 1.id/wpcontent/uploads/2009/09/penanggulangan_kebutaan_katarak_terpadu. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI.ac. Departemen Ilmu Kesehatan Mata FK USU. Available: http://ebookbrowse. 4. Prof. MPH.ditplb.com/sss155-slide-pelayanan-kesehatan- mata-melalui-puskesmas-pdf-d68637011 2.

PROGRAM KEGIATAN USIA LANJUT Penyusun: Muh Nurul Muttaqin Adilah Bt. Aziz (03005131) (03006294) 260 .

9 tahun 1960 tentang pokok-pokok kesehatan bahwa setiap keluarga berhak memperoleh derajat kesehatan setinggitinginya. Sebagai salah satu hasil pembangunan adalah meningkatnya umur harapan hidup waktu lahir. usia lanjut merupakan sumber daya yang bernilai sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman kehidupan yang dimilikinya yang dapat dimanfaatkan bagi masyarakat keseluruhan.BAB I PENDAHULUAN Dalam kehidupan keluarga. Maka dalam upaya pemerataan pelayanan kesehatan bagi seluruh penduduk Indonesia dilakukan pembinaan kesehatan bagi usia lanjut yang bertujuan meningkatkan derajat kesehatan usia lanjut agar selama mungkin dapat aktif. Mereka termasuk dalam golongan yang patut dihargai dan dihormati sesuai dengan eksistensinya dalam strata kemasyarakatan. Dalam kehidupan nasional. Berdasarkan Undang-Undang No. 261 . mandiri dan berguna melalui peningkatan fungsi puskesmas. Sejalan dengan hal tersebut maka jumlah usia lanjutpun meningkat. usia lanjut merupakan figur tersendiri dalam kaitannya dengan sosial budaya bangsa. Demikian pula dalam SKN bahwa tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum dari tujuan nasional.

Peningkatan Peran Serta Masyarakat Dilaksanakn dalam bentuk penyuluhan kesehatan melibatkan masyarakat dalam perencanaan. studi. Pengembangan Upaya Kesehatan Usia Lanjut Pengembangan upaya kesehatan usia lanjut di puskesmas adalah suatu upaya dalam menggunakan data yang diperoleh dari survey. 2. Upaya promotif yaitu upaya menggairahkan semangat hidup bagi usia lanjut agar mereka tetap dihargai dan tetap berguna bagi dirinya senndiri. Upaya Rehabilitatif yaitu upaya mengembalikan fungsi organ yang telah menurun B. Upaya kuratif yaitu upaya pengobatan bagi usia lanjut 4. SP2TP.BAB II PENGERTIAN Program Kegiatan Usia Lanjut di Puskesmas adalah merupakan upaya kesehatan paripurna di bidang kesehatan usia lanjut. Upaya Preventif yaitu upaya pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya penyakit maupun komplikasi penyakit yang disebabkan oleh proses penuaan. dalam rangka menciptakan kemandirian masyarakat C. 3. Yang dilaksanakan melalui beberapa upaya KEGIATAN KESEHATAN USIA LANJUT A. Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut : 1. pelaksanaan dan penilaian upaya kesehatan usia lanjut. untuk mengembangkan peran serta masyarakat dan pelayanan di bidang upaya kesehatan usia lanjut yang dilaksanakan melalui forum mini lokakarya yang nantinya melalui stratifikasi Puskesmas dan microplanning bila telah dilaksanakn secara nasional dalam rangka mencapai derajat kesehatan usia lanjut secara optimal. keluarga maupun masyarakat. 262 .

dan angka kesakitan pada usia di atas 60 tahun sebesar 9. Pengertian Usia Lanjut adalah suatu proses alami yang tidak dapat di hindarkan.6%. Peningkatan Umur harapan hidup dari tahun ketahun semakin meningkat berdasarkan hasil survei Kesehatan Rumah Tangga ( SKRT ) thn 1995 angka kesakitan pada usia 45-49 tahun sebesar 11. Pencatatan dan pelaporan Diintegrasikan kedalam sistem pencatatan dan pelaporan terpadu Puskesmas.2%. 263 .D.

TUJUAN KHUSUS : a. Meningkatnya jenis dan mutu pelayanan kesehatan usia lanjut 264 . Meningkatnya kesadaran pada usia lanjut untuk membina sendiri kesehatannya b. Meningkatnya kemampuan dan peran serta masyarakat dalam menghayati dan mengatasi masalah kesehatan usia lanjut secara optimal c. Meningkatnya jangkauan pelayanan kesehatan usia lanjut d.BAB III TUJUAN A. B. TUJUAN UMUM : Meningkatnya derajat kesehatan usia lanjut untuk mencapai masa tua yang bahagia dan berdaya guna dalam kehidupan keluarga dan masyarakat sesuai dengan eksistensinya dalam strata kemasyarakatan dalam mencapai mutu kehidupan usia lanjut yang optimal.

BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN I. alat bantu dengar dan lain-lain agar usia lanjut tetap memberikan karya dan tetap merasa berguna d. Upaya Preventif yaitu upaya pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya penyakit maupun komplikasi penyakit yang disebabkan oleh proses penuaan. Upaya promotif yaitu upaya menggairahkan semangat hidup bagi usia lanjut agar mereka tetap dihargai dan tetap berguna bagi dirinya senndiri. Kesehatan dan pemeliharaan kebersihan diri b. Upaya preventif dapat berupa kegiatan antara lain: a. Makanan dengan menu yang mengandung gizi seimbang c. Penyuluhan untuk mencegah terhadap kemungkinan terhadap terjadinya kecelakaan pada usia lanjut 265 . Pemeriksaan kesehatan secara berkala dan teratur untuk menemukan secara dini penyakit-penyakit usia lanjut b. Penyuluhan tentang penggunaan berbagai alat bantu misalnya: kacamata. Kesegaran jasmani yang dilakukan secara teratur dan disesuaikan dengan kemampuan usia lanjut agar tetap merasa sehat dan segar d. Kesegaran jasmani yang dilakukan secara teratur dan disesuaikan dengan kemampuan usia lanjut agar teaep merasa sehat dan segar c. Pembinaan mental dalam peningkatan ketaqwaan kepada tuhan Yang Maha Esa. e. Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut : 1. Upaya promotif dapat berupa kegiatan penyuluhan tentang : a. KEGIATAN KESEHATAN USIA LANJUT A. Meningkatkan kegiatan sosial di masyarakat 2. Membina ketrampilan agar dapat mengembangkan kegemaran sesuai dengan kemampuan f. keluarga maupun masyarakat.

Memberikan informasi. aktifitas didalam maupun diluar rumah d. Perawatan fisioterapi B.e. Pembinaan usia lanjut dalam hal pemenuhan kebutuhan pribadi. untuk mengembangkan peran serta masyarakat dan pelayanan di bidang upaya kesehatan usia lanjut yang dilaksanakan melalui forum mini lokakarya yang 266 . pelayanan dan pengetahuan tentang penggunaan berbagai alat bantu misalnya: kacamata. Pelayanan kesehatan spesialistik melalui sistem rujukan 4. Peningkatan Peran Serta Masyarakat Dilaksanakn dalam bentuk penyuluhan kesehatan melibatkan masyarakat dalam perencanaan. SP2TP. Pembinaan mental dalam meningkatkan ketaqwaan kepada tuhan Yang Maha Esa 3. studi. alat bantu dengar dan lain-lain agar usia lanjut tetap dapat memberikan karya dan tetap merasa berguna sesuai kebutuhan dan kemampuan b. Mengembalikan kepercayaan terhadap diri sendiri dan memperkuat mental penderita c. Upaya kuratif yaitu upaya pengobatan bagi usia lanjut Upaya kuratif dapat berupa kegiatan sebagai berikut: a. Pelayanan kesehatan dasar b. pelaksanaan dan penilaian upaya kesehatan usia lanjut. Upaya Rehabilitatif yaitu upaya mengembalikan fingsi organ yang telah menurun Upaya rehabilitatif dapat berupa kegiatan antara lain: a. dalam rangka menciptakan kemandirian masyarakat C. Pengembangan Upaya Kesehatan Usia Lanjut Pengembangan upaya kesehatan usia lanjut di puskesmas adalah suatu upaya dalam menggunakan data yang diperoleh dari survey. Nasihat cara hidup yang sesuai dengan penyakit yang diderita e.

menderita penyakit berat. II. Pencatatan dan pelaporan Diintegrasikan kedalam sistem pencatatan dan pelaporan terpadu Puskesmas. Keluarga dimana usia lanjut berada b.nantinya melalui stratifikasi Puskesmas dan micro-planning bila telah dilaksanakn secara nasional dalam rangka mencapai derajat kesehatan usia lanjut secara optimal. cacat dan lain-lain. hidup sendiri. dengan paket pembinaan yang meliputi KIE dan pelayanan agar dapat mempertahankan kondisi kesehatannya dan tetap produktif c. organisasi masyarakat usia lanjut dan masyarakat pada umumnya. terpencil. Organisasi sosial yang berkaitan dengan pembinaan usia lanjut 267 . didalam keluarga maupun masyarakat luas dengan paket pembinaan yang meliputi KIE dan pelayanan kesehatn fisik. dengan paket pembinaan yang meliputi KIE dan pelayanan kesehatan agar dapat selama mungkin mempertahankan kemandiriannya 2. gizi agar dapat mempersiapkan diri dalam menghadapi masa tua b. Sasaran tidak langsung : a. Kelompok usia menjelang usia lanjut (45-54 tahun) atau dalam masa virilitas. SASARAN 1. Sasaran langung : a. Kelompok usia lanjut dalam masa senescens (> 65 tahun) dan usia lanjut dengan resiko tinggi (>70 tahun). D. Kelompok usia lanjut dalam masa prasenum (55-64 tahun) dalam keluarga.

PUSKESMAS KECAMATAN MAMPANG PRAPATAN Sasaran Pembinaan kesehatan pada kelompok Usia Lanjut di puskesmas kecamatan mampang: 1. kelompok Usia lanjut 60-69 tahun 3.1. TABEL. Kelompok Usia 70 tahun atau dengan resiko tinggi dengan masalah Kesehatan. Kelompok Usia 45-59 tahun 2.DATA LANJUT USIA PER KELURAHAN KECAMATAN MAMPANG PRAPATAN TAHUN 2010 268 .BAB V PELAKSANAAN DI PUSKESMAS A.

KEGIATAN LANSIA PUSKESMAS KECAMATAN MAMPANG PRAPATAN TAHUN 2010 269 .TABEL 2.

RENCANA KEGIATAN LANJUT USIA 270 .TABEL 3.

10 PENYAKIT TERTINGGI PADA LANSIA DI PUSKESMAS KECAMATAN MAMPANG MASALAH DAN HAMBATAN YANG DIHADAPI DI PUSKESMAS KECAMATAN MAMPANG: 1. Tugas ganda dari petugas 3. Jumlah lansia yang dibina lebih rendah dengan jumlah lansia yang ada di wilayah 271 .Terbatasnya petugas Lansia di Puskesmas Kecamatan dan Kelurahan 2. Keterbatasan petugas dalam pembinaan terhadap lansia di wilayah binaan 4.DIAGRAM.

855 (4.38%) Jumlah kelompok 154 klp Dibina 154 klp (100%) Jumlah Puskesmas 78 PKm (10 Kec + 68 Kel) Yg membina lansia 78 PKM (100%) I.B.KEGIATAN PROGRAM LANSIA DPA Sudin Kesmas Jak Selatan th 2008 :      Pertemuan Berkala Petugas Lansia Kecamatan Pemberdayaan lanjut Usia Pertemuan FKLU Peningkatan wawasan Petugas Evaluasi Program dan supervisi 272 .2.PUSKESMAS LAIN I.1.KEGIATAN PROGRAM LANSIA JAKARTA SELATAN     Perencanaan Pelaksanaan Penilaian/ Evaluasi Pembinaan I.951 jiwa Jumlah yang dibina 13.GAMBARAN        Jumlah Lanjut Usia Di Jakarta Selatan 315.

PERKEMBANGAN KELOMPOK LANJUT USIA TABEL 5.TABEL 4.JADWAL KEGIATAN LANJUT USIA 273 .

II.562 org : 1.29%) Gangguan Ginjal : 8 org (0.539 org : 1.1.026 org : 59 org : 3.06%) II.987 org Lansia diobati (kum) Lansia dirujuk Kasus konseling baru Kasus konseling lama Penyuluhan Lansia punya KMS : 13.11%)   Gangguan mental Emosional : 659 org (4.HASIL KEGIATAN II.10%) B : 431 org (3.LANSIA DENGAN KELAINAN :  Kemandirian A : 15 org (0.2.01%) Anaemi DM : 343 org (2.48%) : 179 org (1.51%) Hypertensi : 694 org (5.LANSIA DENGAN KELAINAN.76%) Status Gizi (IMT) kurang IMT lebih     : 640 org (4.298 org : 4.62%%) : 1733 org (12.DI OBATI DAN DIRUJUK        Juml Lansia dg Kelainan : 9.926 org 274 .

154 Penyakit Usia >60 tahun 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Hipertensi 19.136 Jantung 1.962 Sal nafas atas 17.123 Mata 2.131 Gastritis 10.475 DM 5.718 Mata 3.007 penyakit GRAFIK 1.687 Gimul 14. PENYAKIT TERBANYAK LANSIA Usia 45-59 tahun 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Sal nafas atas 33.TABEL 6. LANSIA YANG DIRUJUK DAN DIOBATI 275 .256 Rematik 16.383 Jantung 1.067 Anemi 944 Lain-lain 22.899 Kulit 11.711 Anemi 916 Lain –lain 15.402 Hipertensi 21.958 Rematik 14.762 Kulit 6400 Dm 5.501 Gimul 6917 Gastritis 6.

GRAFIK 2.STATUS GIZI LANJUT USIA 276 . JUMLAH LANJUT USIA GRAFIK 3.

LANSIA YANG ADA DAN DILAYANI KESEHATAN 277 .KEMANDIRIAN LANJUT USIA GRAFIK 5.GRAFIK 4.

Tera & pernafasan. Ayo Bersatu.Jantung sehat. Senam DM. Snm Osteoporosis. Jantung sehat. SKJ. Kreasi Jagakarsa : SSI. SKJ.SN. Mahatma Mp Prapatan : Tera & pernafasan. Osteoporosis Setiabudi : Tera & pernafasan.LANSIA YANG DIRUJUK DAN DIOBATI JENIS OLAH RAGA LANSIA JAKARTA SELATAN:     Tebet : Tera & pernafasan. SKJ. Snm DM. Kreasi Cilandak : Tera & pernafasan. SKJ.Tera . Aerobik. SKJ. KesJas Lansia. Aerobik. Tera & pernafasan. SKJ. SKJ. SKJ.Yoga. Senam Otak. DM. SKJ. Kreasi       Kebayoran Baru : Jantung sehat. Kreasi Pancoran :Osteoporosis. Kreasi 278 . Osteoporosis. Jantung sehat. Snm Jantung. BL. Pesanggrahan : PORPRI. Tera & Pernafasan Kebayoran Lama : Tera & pernafasan.GRAFIK 6. Kreasi. Kreasi Pasar Mgg : SSI.

pencapaian 100%  50% Desa mempunyai Kelompok Lansia. pencapaian 48.TABEL.75) Jagakarsa 441/803 (54.27%) Setiabudi 185/417 (44.44%) Pancoran 231/528 (43. pencapaian 50%  100% lansia dipanti diskrining.62%) Kby Lama 220/503 (43.32%) Psr Mgg 570/1882 (30.70% 279 . pencapaian 22. pencapaian 90% (9 dari 10 Puskesmas Kecamatan melaksanakan konseling Kegiatan Non Medis  70% Puskesmas membina kelompok lansia.90%  50% Kelomp Lansia melaksanakan senam .78%) Total 2843/8785 (32. pencapaian 100% 30% Puskesmas melaksanakan konseling.36%) Mp Prapatan 240/554 (43.FREKUENSI SENAM DAN ANGGOTA YANG SENAM FREKUENSI SENAM           PRESENTASE ANGGOTA YANG SENAM Tebet 1x / mgg Setiabudi 2-4x/ mgg Mp Prapatan 2-3x/ mgg Psr Mgg 1/2x/ mgg Keby Baru 1-5x/ mgg Kby Lama 2x/ mgg Cilandak 1-2x/ mgg Pancoran 1-3x/ mgg Jagakarsa 1-2x/ mgg Pesanggrahan 2-4x/ mg            Tebet 280/2484 (11.74%) Cilandak 176/511 (34. Pelayanan Medis  30% lansia diskrining.92%) Pesanggr 205/645 (31.36%) Keberhasilan Program berdasar indikator (Depkes).29%) Keby Baru 295/458 (64.

280 . pencapaian 27% Kegiatan Sudin Kesehatan (DASK)  1 dari 6 kegiatan tidak dapat dilaksanakan.Sasaran mutu Lansia  Target 20% penambahan jumlah lansia dibina.

Pembinaan terhadap kelompok lansia ditingkatkan. Pembentukan kelompok lansia di tiap RW.4%) Sasaran mutu lansia  Sasaran mutu tercapai yaitu 27. Kegiatan non Medis  Puskesmas membina kelompok lansia. status ―baik‖ (100%)  Desa yang mempunyai kelompok lansia.75%)  Skrining kesehatan lansia dipanti ―baik‖ (100%)  Puskesmas yg melaksanakan konseling status ―baik‖ (90%). Meningkatkan Kreatifitas kegiatan lansia sesuai dengan tingkat kemandiriannya. status ―baik‖ (97.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Keberhasilan berdasar Indikator : Pelayanan Medis  Skrining pada lansia status ―kurang‖ (16.8%)  Kelompok lansia yg senam. SARAN • • • • Ada kaderisasi lansia.75% (target 20%). 281 . status ―kurang‖ (45. Kegiatan Sudin Kesehatan (DASK) terealisasi 5 kegiatan dari 6 yg ditargetkan.

Pedoman kerja puskesmas Jilid IV. 1990 5. laporan tahunan 2010. 2. 282 .BAB VII DAFTAR PUSTAKA 1. 3. 4. Jakarta: depkes RI. 1998. Pasal19 ayat 1 6. Prawitasari. Tentang Kesehatan. Johana E. Upaya kesehatan usia lanjut. 2010. Undang-Undang RI No 23 Tahun 1992. Buletin Penelitian kesehatan 21 (4) Hal 73 -83. Jakarta : Depkes RI. Zuhdi Makmun. Jakatra : puskesmas mampang prapatan. Usia Lanjut Bagi Petugas Kesehatan. Aspek Sosial Psikologi Usia Lanjut Di Indonesia. Pendekatan Komprehensif Terhadap Perawatan Kesehatan Pada Usia Lanjut Menjelang Tahun 2000. Majalah Kesehatan Masyarakat. Nomor 59 Tahun 1998.

UPAYA PEMBINAAN PENGOBATAN TRADISIONAL Penyusun : Michael Gunawan (03006116) Raihana Shahar (03006342) 283 .

Pemerintah juga telah memasukkan obat tradisional ke dalam sistem pelayanan formal. Disamping itu. penyebarluasan pengetahuan tentang cara–cara mengatasi gangguan kesehatan. Disamping itu upaya pengobatan tradisional sangat bermanfaat dalam upaya meningkatkan kesehatan maupun upaya pencegahan dan pemulihan kesehatan. Di tingkat rumah tangga dan tingkat pelayanan kesehatan dasar. Di samping itu. para pengobat tradisional yang berada di wilayah kerja puskesmas perlu dibina melalui KIE kultural dengan fasilitator petugas puskesmas agar dapat terhindar dari hal – hal yang tidak diinginkan. pembinaan pengobatan tradisional dilaksanakan melalui pendekatan PKMD (Primary Health Care) dengan salah satu strategi penting adalah teknologi tepat guna metode pengobatan tradisional. obat dan pengobatannya. berperan juga sebagai motivator dan komunikator pembangunan kesehatan. Dalam rangka meningkatkan kemandirian masyarakat untuk mengatasi masalah kesehatan. tingkat pelayanan kesehatan dasar (puskesmas) sampai dengan tingkat rumah sakit sebagai dukungan rujukan. dilaksanakan melalui jaringan pelayanan kesehatan paripurna mulai dari tingkat rumah tangga. keberadaan pengobatan tradisional mempunyai potensi besar dalam rangka ikut meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.BAB I PENDAHULUAN Sesuai dengan kebijaksanaan yang ditetapkan. Selain cara pengobatan tradisional tersebut. dengan pemanfaatan tanaman obat dan akupresur perlu diberikan kepada masyarakat. Salah satu upaya di atas adalah pengembangan pengobatan tradisional melalui pemanfaatan tanaman obat dan pijat akupresur yang merupakan alternative pengobatan dalam mengatasi masalah kesehatan terutama sebagai upaya pertolongan pertama. pembinaan pengobatan tradisional yang mencakup cara atau metode. Di Indonesia pada saat ini upaya pengobatan tradisional dengan obat tradisionalnya berperan pada tingkat rumah tangga dan tingkat masyarakat. 284 .

bahan hewan. dan pengobatannya. Titik–titik yang diberi perlakuan dalam sistem pengobatan akupresur telah terbukti secara medis berpengaruh terhadap keadaan tubuh. jamu gendong. pijat refleksi. sehingga dengan pemberian rangsangan pada titik–titik tersebut akan mengubah kondisi fisiologis tubuh. tenaga dalam. batra sunat. mencegah penyakit tertentu. batra ramuan. dan keterampilan turuntemurun baik itu yang asli maupun yang berasal dari luar Indonesia dan diterapkan sesuai norma yang berlaku dalam masyarakat (UU Kesehatan No. obat. tabib.23/1992). akupresuris.23/1992). sediaan (galenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun – temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman (UU Kesehatan No. Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan (termasuk tanaman yang ada di sekitar tempat tinggal). pangur gigi. dan penyakit ringan. sinshe. dan paranormal. mengatasi keluhan. bahan mineral. pijat urut. Sesuai hasil inventarisasi jenis tenaga pengobatan tradisional meliputi akupunturis. patah tulang. 285 .BAB II PENGERTIAN Pengobatan tradisional adalah upaya pengobatan dan atau perawatan cara lain diluar ilmu kedokteran atau ilmu keperawatan yang mencakup cara atau metode. Pengobatan tradisional (batra) adalah seseorang yang diakui dan dimanfaatkan sebagai orang yang mampu melakukan pengobatan secara tradisional. yang mengacu pada pengetahuan. pengalaman. pendekatan agama. Akupresur adalah tindakan pemijatan yang dilakukan pada titik tertentu di permukaan tubuh dengan tujuan meningkatkan daya tahan tubuh. Sinkronisasi antara pemijatan di titik tertentu dengan kondisi fisiologis tubuh dapat dijelaskan secara ilmiah dan medis. serta memulihkan kondisi tubuh.

1 Tujuan Umum: Dilakukannya pembinaan terhadap semua sarana.BAB III TUJUAN III. III. 286 . serta akupresur di wilayah tempat kerja. Terbina sarana – sarana pengobatan tradisional dan akupresur di wilayah tempat kerja. Terbina semua tenaga pengobatan tradisional yang ada di wilayah kerja. dan kegiatan pengobatan tradisional. 3. tenaga. 2. Terbina tenaga potensial dalam masyarakat dalam mengembangkan pengobatan tradisional dan akupresur.2 Tujuan Khusus: 1.

 Masyarakat umum. Sasaran langsung. 1.2 Sasaran a. Pembinaan batra melalu sarasehan (KIE Kultural).BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN IV. 2. c. Pembinaan tenaga potensial masyarakat dalam mengembangkan pengobatan tradisional dan akupresur. 1. 2. Pengawasan sarana pengobatan tradisional dan akupresur. b.1 Kegiatan a. Pengobat Tradisional. b. Inventarisasi atau pendataan jenis pengobatan tradisional. 2. KIE Kultural adalah suatu forum komunikasi. Pembinaan semua tenaga pengobatan tradisional yang ada di wilayah kerja. Pendataan sarana – sarana pengobatan tradisional dan akupresur. 1. pemuka masyarakat atau tokoh masyarakat. Pelatihan obat tradisional terutama yang berasal dari tanaman obat termasuk TOGA dan akupresur pada kader PKK atau Kesehatan. Pembinaan sarana – sarana pengobatan tradisional dan akupresur.  Kader PKK atau Kesehatan. IV. Ibu Rumah Tangga. Sasaran tidak langsung. Pembinaan dan pengawasan kegiatan kader paska pelatihan. 287 . informasi dan edukasi yang disesuaikan dengan adat istiadat / budaya setempat dan bersifat kekeluargaan.

Melakukan untuk koordinasi . untuk penyuluhan kasus-kasus rujukan.Kunjungan .Dokter . Pelatihan Kader Bentuk kegiatan .Dokter . pemilihan kasuskasus ditangani tradisional akupresur 2. Pengawasan Kader paska pelatihan .Perawat yang dengan atau dapat obat pijat penyelenggaraan kepada penyuluhan masyarakat oleh kader.Bidan penyuluhan kader memecahkan yang ditemui . demonstrasi obat tradisional atau akupresur.Bidan penyuluhan. latihan meracik obat tradisional atau akupresur. Pembinaan Kader setelah pelatihan .Pelaksanaan pelatihan: Pelaksana .Membantu masalah kader 288 ke tempat .Persiapan pelatihan .Perawat . pelaksanaan dan aturan rujukan kasus yang harus dirujuk oleh kader 3.Perawat . Kegiatan 1. Pembinaan tenaga potensial masyarakat.BAB V PENATALAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN MAMPANG A.

Melakukan perbaikan saran usulan sesuai .Bidan dengan syarat kesehatan .Perawat .Melakukan kunjungan ke . Pendataan sarana–sarana pengobatan dan akupresur 2.Perawat .Melakukan koordinasi untuk pengawasan penyakit menular atau kejadian luar biasa sarana– pengobatan dan peristiwa keracunan 3.Dokter .Mengawasi keracunan dan kejadian luar biasa yang mungkin terjadi .Mendata kegiatan yang dilakukan kader .Bidan Petugas pengobatan tradisional dan akupresur yang ada di wilayah kerja .Bidan tradisional atau akupresur. Pembinaan sarana–sarana pengobatan dan akupresur tradisional tradisional Bentuk kegiatan Mendata sarana–sarana . Pembinaan sarana – sarana pengobatan tradisional dan akupresur Kegiatan 1. 289 . Pengawasan sarana .Perawat sarana–sarana pengobatan . misalnya memonitor tradisional dan akupresur kegiatan yang dilakukan tenaga terampil yang ada.Mengawasi system rujukan dari kader ke puskesmas atau fasilitas pelayanan untuk tertentu kesehatan kasus–kasus B..

Pendekataan dan seleksi batra .Melakukan .keadaan lingkungan sanitasi . Data yang diambil adalah jumlah dan jenis data pengobatan tradisional 2.Mengatasi lingkungan di sanitasi sarana– sarana tersebut C.Petugas kesehatan 3.Semua dalam pemecahan masalah yang dihadapi yang proses terlibat berada dalam kedudukan yang sama baik hak dan 290 . Pelaksanaan (KIE Kultural) sarasehan .Hasil inventarisasi dipilih 10 – 15 batra untuk ikut KIE Kultural .Mendata jenis pengobat .Melakukan atau alih penyuluhan informasi. Pembinaan seluruh jenis pengobatan tradisional Kegiatan 1.Petugas kesehatan tradisional yang ada di .Membuat catatan kegiatan yang dilakukan oleh sarana– sarana di atas . dan dengan kultural .Kader wilayah tempat kerjanya. Inventarisasi pendataan atau jenis Bentuk kegiatan Pelaksana .Bidan pengetahuan keterampilan pendekatan (budaya setempat) sesuai dengan modul .Perawat .

Tenaga potensial dalam masyarakat. Jumlah kader PKK atau Kesehatan yang aktif melakukan penyuluhan obat tradisional dan akupresur. Jumlah keluarga yang memiliki tanaman obat tradisional. Jumlah keluarga yang menggunakan obat tradisional dan akupresur. Penanganan kasus– kasus dengan obat tradisional oleh kader. Evaluasi program a. Pembinaan tenaga potensial masyarakat dalam mengembangkan pengobatan tradisional dan akupresur. Pembinaan sarana–sarana pengobatan tradisional / akupresur Jumlah sarana pengobatan tradisional yang diusulkan untuk diperbaiki sesuai dengan syarat kesehatan. Pendataan sarana–sarana Jumlah sarana–sarana pengobatan tradisional yang ada di wilayah kerja puskesmas. b. Jumlah kader PKK atauKesehatan yang sudah mengikuti pelatihan. 3. 1. Pengawasan sarana–sarana pengobatan tradisional / akupresur Jumlah kunjungan ke sarana–sarana pengobatan tradisional per tahun per sarana. Jumlah pemberi pelayanan pengobatan tradisional dan akupresur. Jenis pengobatan tradisional yang ada di wilayah kerja puskesmas. 291 . Cakupan penyuluhan yang dapat dilakukan oleh kader. d. 2. Jumlah kasus–kasus yang harus dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan. Jumlah kasus yang dapat diatasi dengan obat tradisional dan pijat akupresur. c. Jumlah ibu– ibu rumah tangga/masyarakat yang dibina oleh kader.kewajiban D.

Jumlah sarana pengobatan tradisional yang sudah diperbaiki sesuai usulan puskesmas. E. Jumlah pengobat tradisional yang telah ikut sarasehan. Jumlah peristiwa keracunan yang terjadi selama 1 tahun di sarana pengobatan tradicional.- Jumlah kejadian luar biasa yang terjadi selama 1 tahun di sarana pengobatan tradicional. 292 . Jumlah pengobat tradisional yang memberikan pengobatan sesuai syarat kesehatan. KIE Kultural. Jumlah pengobat tradisional yang aktif sebagai motivator dan komunikator kesehatan.

jamu gendong. pangur gigi. pijat urut. tabib. Dari data tersebut.1 Kesimpulan Pengobatan tradisional merupakan salah satu tingkat pelayanan kesehatan dasar di puskesmas dimana memiliki potensi yang besar dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN VI. yaitu dengan cara mencari tenaga pelatih untuk mengembangkan dan membina potensi yang ada pada orang–orang tersebut dan tetap memantau mereka setelah mereka mendapatkan pelatihan tersebut. tenaga pengobatan tradisional tersebut terdiri atas akupunturis. patah tulang. dengan adanya pengobatan tradisional ini menjadi solusi dalam pencegahan dan pemulihan kesehatan. akupresuris. sinshe. 3. pendekatan agama. 2. piat refleksi. Mendata semua sarana–sarana pengobatan tradisional yang ada dan melakukan kunjungan ke sarana–sarana pengobatan tradisional serta mencatat kegiatan apa saja yang mereka lakukan di sarana – sarana pengobatan tradisional tersebut. dan paranormal. Selain itu. 293 .2 Saran 1. tenaga dalam. batra sunat. Berdasarkan data yang didapat. VI. akupunturis dan akupresuris lebih sering dimanfaatkan di puskesmas sebagai pengobatan di luar pengobatan secara medis. Mendata siapa saja tenaga pengobat tradisional yang ada pada suatu wilayah dan mengelompokkan mereka berdasarkan keahlian mereka. Diharapkan orang–orang yang memiliki potensi dalam mengembangkan pengobatan tradisional seperti akupuntur dan akupresur diberdayakan sebagai tenaga kesehatan di masyarakat. Pengembangan pengobatan tradisional dilakukan dengan cara pemanfaatan tanaman obat dan pijat akupresur sebagai upaya pertolongan pertama di masyarakat. batra ramuan.

Jakarta. Edisi ke-3. diakses tanggal 18 Juli 2011. Departemen Kesehatan RI: Pedoman Kerja Puskesmas. 294 . Upaya Pembinaan Pengobatan Tradisonal. 1996. 5. 3. Jilid ke-2. http://www. http://www. Jakarta. Direktorat Bina Peran Serta Masyarakat Dirjen Pembinaan Kesehatan Masyarakat : Buku Pedoman Praktis Akupresur. 2. Jakarta. diakses tanggal 18 juli 2011.org/dkksurabaya/berita/pengobatan-tradisionalakupuntur. 1996. Departemen Kesehatan RI. 4.informasi-obat.com/content. 1999: hal 349 – 354.DAFTAR PUSTAKA 1. Direktorat Bina Peran Serta Masyarakat Dirjen Pembinaan Kesehatan Masyarakat: Pemanfaatan Tanaman Obat Untuk Kesehatan Keluarga.surabaya-ehealth. Departemen Kesehatan RI.

UPAYA KESEHATAN PENUNJANG LABORATORIUM Penyusun : Ktut Yoga Wira K (03004126) Norfashiha Kamarudin (03006329) 295 .

Untuk pencitraan. upaya kesehatan pengembangan dan upaya kesehatan penunjang. Upaya pelayanan kesehatan terbagi kepada tiga bagan penting yaitu upaya kesehatan wajib. Ultrasonografi juga disediakan. Dengan pemberian pelayanan kesehatan penunjang secara cepat dan tepat diharapkan sebagian besar masalah kesehatan masyarakat dapat diatasi. telah dilakukan berbagai upaya pelayanan kesehatan masyarakat. tidak tersedia di Puskesmas Kecamatan Mampang karena gedung puskesmasnya sedang direnovasi. Di Puskesmas Mampang. Berbagai pelayanan kesehatan penunjang diagnostik yang dilaksanakan oleh fasilitas pelayanan kesehatan seperti laboratorium klinik dan laboratorium kesehatan juga pencitraan. Laboratorium merupakan salah satu fasilitas medik yang disediakan sebagai penunjang diagnosis penyakit. 296 . fasilitas pemeriksaan penunjang yang tersedia adalah pemeriksaan laboratorium darah rutin. karena itu lingkungan laboratorium menjadi salah satu tempat yang baik untuk berkembangnya berbagai penyakit infeksi. Upaya kesehatan penunjang merupakan upaya yang sangat penting dalam rangka memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat untuk menunjang upaya kesehatan wajib dan pengembangan. urin rutin. antara lain HIV/AIDS. Laboratorium juga mempunyai fungsi sebagai tempat untuk berbagai penelitian yang berhubungan dengan pembiakan media-media kuman penyakit. feces rutin dan kimia darah. Jadi lokasi puskesmas sekarang berada di sebuah kontrakan yang tidak memungkinkan untuk menyediakan fasilitas rontgen.BAB I PENDAHULUAN Dalam rangka mencapai tujuan pembangunan kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

sensitifitas antibiotika. Laboratorium ilmiah biasanya dibedakan menurut disiplin ilmunya. laboratorium biokimia. dapat dilakukan pemeriksaan seperti pemeriksaan air minum.2 Pelayanan laboratorium di puskesmas terdiri dari: 1. peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit serta mengevaluasi hasil intervensi medik. laboratorium kimia. menentukan tindakan penyembuhan dan pemulihan. bakteri air dan usap alat yang bertujuan untuk mengetahui kebersihan/kesehatan dari makanan yang kita konsumsi maupun peralatan masak yang digunakan. Pemeriksaan kelompok atau masyarakat di wilayah kerja 297 . Pelayanan individual pengguna jasa yang berkunjung ke puskesmas 2. air bersih. laboratorium komputer. jamur dan pemeriksaan garam bertujuan diantaranya untuk mengetahui pertumbuhan mikroorganisme dalam tubuh ( memastikan adanya infeksi bakteri/jamur). air limbah. BTA. pengukuran ataupun pelatihan ilmiah dilakukan.BAB II PENGERTIAN Pelayanan pemeriksaan penunjang merupakan tindakan pemeriksaan kesehatan yang diselenggarakan guna melengkapi data biologic pengguna jasa yaitu dalam rangka menegakkan diagnosis.1 Laboratorium (disingkat lab) adalah tempat riset ilmiah. misalnya laboratorium fisika. menemukan antibiotika yang paling sesuai untuk mengatasi penyakit yang anda derita. Laboratorium klinik atau laboratorium medis ialah laboratorium di mana berbagai macam tes dilakukan pada spesimen biologis untuk mendapatkan informasi tentang kesehatan pasien. Laboratorium biasanya dibuat untuk memungkinkan dilakukannya kegiatan-kegiatan tersebut secara terkendali. kultur. dan laboratorium bahasa. Pada laboratorium kesehatan masyarakat. rektal swab pemeriksaan makanan dan minuman. eksperimen. Sedangkan untuk mikrobiologi dapat dilakukan pemeriksaan mikroskopis.

puskesmas keliling. serta pemantauan dan evaluasi terapi secara efisien dan efektif. Ditingkatkannya kegiatan laboratorium kesehatan di puskesmas. Tujuan umum Didukungnya upaya peningkatan kesehatan. pencegahan penyakit.1 298 . penyembuhan dan pemulihan kesehatan yang meliputi deteksi dini. Ditingkatkannya mutu pelayanan kesehatan perorangan dengan: i. Diketahuinya hasil intervensi medik yang telah diberikan pada pengguna jasa pelayanan kesehatan/pasien melalui perbandingan hasil pemeriksaan penunjang sebelumnya dan sesudahnya. posyandu sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya. puskesmas pembantu.BAB III TUJUAN 1. Tercapainya diagnosis yang tepat melalui lengkapnya pemeriksaan yang dilakukan ii. Tujuan khusus a. b. 2.

b. seperti: i. Hemoglobin secara ahli Sediaan apus darah tepi: morfologi sel. Spesimen-spesimen untuk keperluan kultur/biakan maupun tes sensitivitas. Sampel air dari sumber air yang dimanfaatkan oleh umum Spesimen tinja. penyakit ginjal. Serum. untuk menemukan penyebab penyakit saluran pencernaan Spesimen untuk pemeriksaan kimia klinik sehubungan dengan penyakit-penyakit yang merupakan masalah umum bagi masyarakat seperti: penyakit hati. Pelayanan laboratorium untuk menunjang pelayanan kesehatan di dalam wilayah kerja a. ii. misalnya kasus keracunan.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN 1. Melaksanakan pemeriksaan laboratorium untuk mendukung program-program lain. Mengumpulkan dan merujuk spesimen untuk diperiksa lebih lanjut terhadap: i. iii. program perlindungan akseptor KB. selsel muda darah 299 . vi. ii. Spesimen lain. Pemeriksaan hematologi sederhana antara lain: i. 2. iv. hitung retikulosit. v. Penanggulangan Kejadian Luar Biasa Survei penyakit-penyakit tertentu c. Dalam keadaan darurat/kondisi tertentu. hitung jenis lekosit. melaksanakan rujukan spesimen secara horizontal antar puskesmas di wilayahnya. ii. gangguan metabolism dan penyakit kurang gizi. Pelayanan laboratorium untuk menunjang pelayanan medik terpadu di puskesmas a. untuk keperluan tes antibodi guna menentukan penyakit-penyakit tertentu.

Pemeriksaan mikrobiologi sederhana lainnya. antara lain: i. ii. cairan uretra/secret vagina untuk GO iii. Elektrokardiografi (EKG) b. hitung lekosit. iii. bilirubin. kandidiasis e. Infeksi jamur superfisial: tinea versikolor. v. Pemeriksaan makroskopik urine Pemeriksaan mikroskopik urine Kimia urine seperti: protein.skizotomia. Pemeriksaan tinja sederhana. dll 300 . nitrat. ii. bakteri gram (+). BTA kerokan kulit untuk lepra. Rontgen foto (X-ray) c. Infeksi parasit: malaria. hitung trombosit Pemeriksaan laju endap darah (LED) Pemeriksaan jumlah hematokrit b. urobilinogen dan glukosa semi kuantitatif iv. filaria. antara lain: i. antara lain: i.iii. Pemeriksaan kehamilan c. Pemeriksaan makroskopik tinja Pemeriksaan mikroskopik tinja Pemeriksaan parasitologi d. Pemeriksaan urine sederhana. iv. iii. Pemeriksaan cairan serebrospinal: tes Nonne. trikhomonas vaginalis Infeksi spesifik: BTA sputum untuk TBC. ii. USG. antara lain yaitu: i. ii. Bila fasilitas dan tenaga memungkinkan dapat dilakukan pemeriksaan penunjang lainnya a. tes Pandi Pemeriksaan cairan tubuh lainnya: tes Rivalta pada punksi pleura 3. Pemeriksaan hitung eritrosit. Pemeriksaan laboratorium lainnya. dermatofita.

4.1 301 . juga masyarakat sekitar yang termasuk dalam wilayah kerja puskesmas. Evaluasi Penilaian mutu penyelenggaraan Sasaran dari semua kegiatan di puskesmas adalah semua pasien yang datang ke puskesmas untuk berobat.

Sampel air dari sumber air yang dimanfaatkan oleh umum b. penyakit ginjal. Pemeriksaan hitung eritrosit. hitung trombosit Pemeriksaan laju endap darah (LED) 302 .Pelayanan laboratorium untuk menunjang pelayanan kesehatan di dalam wilayah kerja a. untuk menemukan penyebab penyakit saluran pencernaan c. melaksanakan rujukan specimen secara horizontal antar puskesmas di wilayahnya. Specimen tinja. Spesimen lain. Mengumpulkan dan merujuk specimen untuk diperiksa lebih lanjut terhadap: a. gangguan metabolism dan penyakit kurang gizi. untuk keperluan tes antibody guna menentukan penyakit-penyakit tertentu. ix. misalnya kasus keracunan. 2. Dalam keadaan darurat/kondisi tertentu. e. seperti: a. Serum. Melaksanakan pemeriksaan laboratorium untuk mendukung program-program lain. hitung jenis lekosit. Specimen untuk pemeriksaan kimia klinik sehubungan dengan penyakitpenyakit yang merupakan masalah umum bagi masyarakat seperti: penyakit hati. hitung lekosit. vii. d. hitung retikulosit. sel-sel muda darah viii. b. Specimen-spesimen untuk keperluan kultur/biakan maupun tes sensitivitas. Hemoglobin secara ahli Sediaan apus darah tepi: morfologi sel. Pelayanan laboratorium untuk menunjang pelayanan medik terpadu di puskesmas d. Penanggulangan Kejadian Luar Biasa b. program perlindungan akseptor KB. Pemeriksaan hematologi sederhana antara lain: vi.BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS Pelaksanaan kegiatan laboratorium di Puskesmas adalah: 1. Survei penyakit-penyakit tertentu c. f.

filarial. USG 4. Pemeriksaan penunjang lainnya a. asisten laboratorium medis.x. Infeksi parasit: malaria. v.skizotomia. Pemeriksaan tinja sederhana. Pemeriksaan jumlah hematokrit e. Pemeriksaan mikrobiologi sederhana lainnya. asisten patolog. dan prosesor specimen. v. dermatofita. Penilaian mutu penyelenggaraan Pelaksana kegiatan di Puskesmas dilakukan adalah patolog. nitrat. vi. kegiatan di puskesmas kelurahan tidaklah selengkap kegiatan laboratorium di puskesmas kecamatan. Pada laboratorium puskesmas kelurahan hanya tersedia pemeriksaan darah lengkap. 303 . antara lain yaitu: iv. cairan uretra/secret vagina untuk GO vi. ahli flebotomi. pemeriksaan hematologi sederhana dan pemeriksaan urine. antara lain: iv. antara lain: v. transkripsionis. urobilinogen dan glukosa semi kuantitatif viii. histoteknolog. teknisi laboratorium medis. BTA kerokan kulit untuk lepra. bakteri gram (+). kandidiasis 3. Jika dibandingkan dengan pelaksanaan laboratorium di puskesmas kelurahan. Pemeriksaan kehamilan f. bilirubin. vi. teknolog medis. Pemeriksaan makroskopik urine Pemeriksaan mikroskopik urine Kimia urine seperti: protein. trikhomonas vaginalis Infeksi spesifik: BTA sputum untuk TBC. vii. penasehat bagian. Infeksi jamur superficial: tinea versikolor. Evaluasi i. Pemeriksaan makroskopik tinja Pemeriksaan mikroskopik tinja Pemeriksaan parasitologi g. manajer laboratorium. Pemeriksaan urine sederhana. teknolog utama.

penyakit penyakit merupakan masalah bagi seperti: hati. untuk tes guna tes 304 . penasehat bagian. transkripsionis. asisten patolog. metabolism penyakit gizi. teknolog medis. ginjal. histoteknolog. flebotomi. teknisi laboratorium medis. keperluan antibody menentukan penyakit. umum yang tertentu laboratorium medis. Kejadian untuk Biasa Luar pemeriksaan kimia -Survei klinik sehubungan penyakitdengan penyakit. manajer laboratorium. Spesimenuntuk spesimen keperluan kultur/biakan maupun sensitivitas. teknolog utama. asisten merujuk ambil untuk penderita lebih - lanjut terhadap : Penanggulangan Spesimen Spesimen tinja. Mengumpulkan dan specimen diperiksa Sasaran -Spesimen Tempat di Laboratorium dari puskesmas Waktu Jam pelayanan puskesmas Pelaksana patolog. Spesimen lain.Kegiatan 1. Serum. dan prosesor ahli masyarakat penyakit penyakit gangguan dan kurang specimen.penyakit tertentu.

USG Pada hamil pasien Di puskesmas Jam pelayanan puskesmas Dokter spesialis obygn 305 . Rujukan spesimen Untuk specimen Puskesmas yang pemeriksaannya tidak ada di lain wilayahnya Jam di pelayanan puskesmas Dokter Puskesmas 3.misalnya keracunan kasus 2.

2. puskesmas pembantu. 3. Laboratorium juga mempunyai fungsi sebagai tempat untuk berbagai penelitian yang berhubungan dengan pembiakan media-media kuman penyakit. Diharapkan kegiatan laboratorium kesehatan di puskesmas. posyandu dapat berkembang sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya. Diketahuinya hasil intervensi medik yang telah di berikan pada pengguna jasa pelayanan kesehatan melalui perbandingan hasil pemeriksaan penunjang sebelumnya dan sesudahnya. Meningkatnya frekuensi pengevaluasian mutu penyelenggaraan 306 .BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Tersedianya laboratorium klinis di setiap puskesmas diharapkan dapat menunjang kegiatan pelayanan kesehatan yakni dalam membantu penegakan diagnosis. puskesmas keliling. karena itu lingkungan laboratorium menjadi salah satu tempat yang baik untuk berkembangnya berbagai penyakit infeksi. Diharapkan mutu pelayanan kesehatan perorangan dapat ditingkatkan dengan: ii. 4. Saran 1. Meningkatnya mutu pelayanan laboratorium di puskesmas setempat. Tercapainya diagnosis yang tepat melalui lengkapnya pemeriksaan yang dilakukan iii.

Program Penunjang Puskesmas.id/index. Jilid ke-2. Direktorat Bina Peran Serta Masyarakat Dirjen Pembinaan Kesehatan Masyarakat : Penunjang Medik. 2. Departemen Kesehatan RI: Pedoman Kerja Puskesmas.DAFTAR PUSTAKA 1.go.php?option=com_docman&task=cat_view&gid=55&Ite mid=93 307 . 2010 [cited 2011 July 20] Available at http://buk.depkes. Jakarta. Departemen Kesehatan RI. Januari 1. 1999: 349 – 354.

UPAYA KESEHATAN PENUNJANG PELAYANAN (SP2TP SISTEM PENCATATAN DAN PELAPORAN TERPADU PUSKESMAS) Penyusun: Rina Apriani(03004197) Raymond(03005183) 308 .

Sistem ini harus mampu menghasilkan data atau informasi yang memadai untuk menunjang perencanaan. Kegiatan bersifat promotif. kuratif. Untuk itu disusun sistem pencatatan dan pelaporan terpadu puskesmas (SP2TP) yang disahkan dengan keputusan menkes no. 309 . Untuk dapat merencanakan dan memantau serta evaluasi pelaksanaan program dengan baik. terpercaya. namun juga melaksanakan berbagai program pembangunan kesehatan masyarakat. dimana daerah harus mengembangkan dan melakukan sendiri upaya kesehatan. maka Sistem Informasi Kesehatan di Kabupaten/Kota akan lebih penting peranannya. dicatat dan dilaporkan secara teratur. pelaksanaan. Kelompok institusi terdepan tersebut tidak sekedar pemberi pelayanan kesehatan saja. melalui puskesmas termasuk puskesmas tempat tidur.BAB I PENDAHULUAN Dalam era pembangunan. sangat diperlukan tersedianya seperangkat data dan informasi yang baik pula. pengendalian serta untuk evaluasi berbagai kegiatan kesehatan tingkat kabupaten/kota. puskesmas keliling dan bidan di desa serta RS dan laboratorium di berbagai tingkatan. dan dengan data yang benar. bahkan terkadang sampai rehabilitatif. Dengan telah ditetapkannya UU nomor 22 tentang Otonomi Daerah. Pembangunan upaya kesehatan masyarakat dilakukan di seluruh pelosok tanah air. Data yg benar-benar akurat. sangat diperlukan dalam pengelolaan program dan proyek serta kegiatan yang dilakukan. tepat waktu. preventif. berkesinambungan.63/menkes/II/1981 dan petunjuk pelaksanaan direktur jendral binkesmas no. tepat waktu dan mutakhir. Saat ini ada 18 macam kegiatan pokok puskesmas.143/binkesmas/DJ/II/1981. teratur. keberadaan data dan informasi memegang peran yang sangat penting. puskesmas pembantu. Semua kegiatan yang menjadi tugasnya. Pencatatan dan pelaporan terpadu puskesmas merupakan salah satu kegiatan tersebut.

sehingga data yang diperoleh tidak dapat memberikan informasi yang bermanfaat untuk pengambilan keputusan. yaitu data atau informasi harus lengkap dan data tersebut harus diterima tepat waktu oleh Dinas Kesehatan Kabupaten. KIA. Data tersebut kemudian direkapitulasikan ke dalam format laporan SP2TP yang sudah dibukukan. (3) tahunan.I. Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas mencakup 3 hal: (1)pencatatan. dan pengolahan. Laporan tahunan terdiri dari data dasar yang meliputi fasilitas pendidikan. kesehatan lingkungan. dan penggunaan obat-obat. peran serta masyarakat dan lingkungan kedinasan. (2) analisis. Frekuensi pelaporan sebagai berikut: (1) bulanan. KB.I LATAR BELAKANG Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) merupakan instrumen vital dalam sistem kesehatan. Laporan bulanan mencakup data kesakitan. Koordinator SP2TP di Dinas Kesehatan Kabupaten meneruskan ke masing-masing pengelola program di Dinas Kesehatan Kabupaten. (2) tribulan. pelaporan. imunisasi. Dari Dinas Kesehatan Kabupaten. Pencatatan hasil kegiatan oleh pelaksana dicatat dalam buku-buku register yang berlaku untuk masing-masing program. gizi. dan berbagai informasi kesehatan lainnya berguna untuk pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan di tingkat kabupaten atau kota maupun kecamatan. sehingga dapat dianalisis dan diinformasikan. Laporan yang diperoleh Dinas Kesehatan Kabupaten diduga seringkali terlambat. penggunaan pelayanan kesehatan di puskesmas. setelah diolah dan dianalisis dikirim ke koordinator SP3 di Dinas Kesehatan Provinsi dan seterusnya dilanjutkan proses untuk pemanfaatannya. Informasi tentang kesakitan. yaitu satu untuk arsip dan yang lainnya untuk dikirim ke koordinator SP2TP di Dinas Kesehatan Kabupaten. Laporan tribulanan meliputi kegiatan puskesmas antara lain kunjungan puskesmas. 310 . kegiatan rujukan puskesmas pelayanan medik kesehatan gigi. rawat tinggal. Pengambilan keputusan di tingkat kabupaten dan kecamatan memerlukan data yang dilaporkan dalam SP2TP yang bernilai. kematian. dan (3) pemanfaatan. data ketenagaan puskesmas dan puskesmas pembantu. Koordinator SP2TP di puskesmas menerima laporan-laporan dalam format buku tadi dalam 2 rangkap.

590/BM/DJ/Info/V/96 tentang penyederhanaan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas. sehingga mengakibatkan keterlambatan dalam pelaporan SP2TP. Puskesmas memiliki wilayah kerja dan berhubungan langsung dengan keluarga di rumahrumah mereka. Evaluasi dilakukan untuk mengkaji pelaksanaan sistem pencatatan dan pelaporan di Puskesmas. diperlukan pedoman SP2TP untuk pegangan bagi pelaksana di berbagai tingkat administrasi. Namun dalam kenyataannya belum berjalan seperti yang harapkan. terutama bagi petugas puskesmas sebagai sumber data. maka puskesmas yang menjadi sasaran utamanya. Terbatas dalam biaya maupun sarananya. Sesuai dengan keputusan ini. berbagai permasalahan dihadapi antara lain banyaknya variabel yang harus dilaporkan sehingga kehadiran Sistem Pencatatan dan Pelaporan di Puskesmas dilihat sebagai suatu hal yang cukup membebani petugas puskesmas. menjelaskan bahwa puskesmas merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan pemerintah. Bila terjadi sesuatu yang kurang menguntungkan dalam masyarakat yang menyangkut masalah kesehatan. I.Balai Pelatihan Kesehatan. SP2TP dapat juga membantu dalam perencanaan program-program kesehatan di puskesmas. menemukan masalah-masalah yang dihadapi baik dari aspek teknis dan non teknis.II PERMASALAHAN Sejak pelaksanaan SP2TP dari tahun 1981. Berbagai upaya telah dilakukan guna memecahkan permasalahan yang ada. namun segala sesuatu di puskesmas sangat terbatas. Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) didalam pelaksanaannya juga masih terbatas pada data yang merupakan hasil dari interaksi antara masyarakat dengan fasilitas kesehatan. Meskipun puskesmas sebagai dasar pelayanan kesehatan bagi masyarakat. sampai akhirnya dikeluarkan Keputusan Direktur Jendral Pembinaan Kesehatan Masayrakat No. 311 .

590/BM/DJ/Info/V/96 tentang Penyederhanaan SP2TP.1 Ruang Lingkup SP2TP Pelaksanaan SP2TP. mudah diperoleh. 4. serta bermanfaat untuk pemantauan dan evaluasi. sarana. 3. Oleh karena itu mencakup semua kegiatan yang dilakukan oleh Puskesmas (Puskesmas Pembantu.BAB II PENGERTIAN Beberapa pengertian sebagai dasar dalam penyelenggaraan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) antara lain: SP2TP adalah kegiatan pencatatan dan pelaporan data imum. spesifik dan sederhana. menganut konsep wilayah kerja Puskesmas. sehingga dapat dihindarkan pencatatan dan pelaporan lain. tenaga. yang akan memperberat beban kerja petugas Puskesmas. Umum dan demografi di wilayah kerja Puskesmas Ketenagaan di Puskesmas Sarana yang dimiliki Puskesmas Kegiatan pokok Puskesmas yang dilakukan di dalam dan di luar gedung Puskesmas Variabel atau indikator yang dilaporkan adalah data/informasi yang sensitif. Sistem adalah satu kesatuan yang terdiri dari komponen yang saling berkaitan. berintegrasi dan mempunyai tujuan tertentu. dan upaya pelayanan kesehatan di Puskesmas yang telah disederhanakan sesuai Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat No. 2. yang 312 . termasuk Bidan di desa). Jenis data yang dikumpulkan dan dicatat dalam SP2TP adalah seluruh kegiatan di Puskesmas yang meliputi data: 1. Puskesmas Keliling. II. Terpadu diartikan sebagai gabungan berbagai macam kegiatan upaya pelayanan kesehatan Puskesmas yang tidak tumpang tindih.

Anggota : Kepala Puskesmas : Petugas yang ditunjuk Kepala Puskesmas : Pelaksana Kegiatan di Puskesmas 2. manajemen dan dampak program. Mengumpulkan laporan masing-masing pelaksana kegiatan b.dapat menggambrkan aksesibilitas. Tugas Koordinator SP2TP a. Koordinator c.2 Pengorganisasian Dalam pelaksanaan SP2TP pengorganisasian di tingkat Puskesmas adalah sebagai berikut. Penanggung jawab b. Periode laporan dari Puskesmas ke Dati II adalah bulanan dan tahunan. Bersama dengan para pelaksana kegiatan membuat laporan tahunan SP2TP dan mengirimkan laporan tersebut ke Dinas Kesehatan Dati II paling lambat tanggal 31 Januari tahun berikutnya 313 . 3. masalh. Diharapkan pencatatan di Puskesmas dan laporan yang diterima di Dinas Kesehatan Dati II. II. Dinas Kesehatan Dati I. Laporan SP2TP mempergunakan system tahun kalender. Memberikan bimbingan kepada coordinator SP2TP dan para pelaksan kegiatan di Puskesmas. Kepala Puskesmas bertanggung jawab atas pelaksaan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu di Puskesmas. Tugas Penanggung Jawab SP2TP a. Kanwil Depkes serta Pusat. Bersama dengan para pelaksana kegiatan membuat laporan bulanan SP2TP dan mengirimkan laporan tersebut ke Dinas Kesehatan Dati II paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya c. diolah dan dimanfaatkan oleh pengambil keputusan dan penanggung jawab program guna meningkatkan pelaksanaan programnya. Pengorganisasian a. Periode laporan dari Dati II ke Dati I dan Pusat adalah triwulan. b. 1.

Mengadakan bimbingan terhadap Puskesmas Pembantu dan Bidan di desa c. Mempersiapkan pertemuan berkala setiap 3 bulan yang dipimpin oleh Kepala Puskesmas dengan pelaksana kegiatan untuk menilai pelaksaan kegiatan SP2TP 4. Menyimpan arsip laporan SP2TP dari masing-masing pelaksana kegiatan e. Tugas Pelaksana Kegiatan a. Dengan rincian satu rangkap unyuk arsip Koordinator SP2TP Puskesmas dan satu rangkap oleh Koordinator SP2TP Puskesmas disampaikan ke Dinas Kesehatan Dati II e. Melakukan rekapitulasi data dari hasil pencatatan dan laporan Puskesmas Pembantu serta Bidan di desa menjadi laporan kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya. Mencatat setiap kegiatan pada kartu individu dan register yang ada b. Mengolah dan memanfaatkan data hasil rekapitulasi untuk tindak lanjut yang diperlukan dalam rangka meningkatkan kinerja kegiatan kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya. Bertanggung jawab atas kebenaran isi laporan kegiatannya 314 . Setiap tanggal 5 mengisi/membuat laporan SP2TP dari hasil kegiatan masingmasing dalam 2 rangkap dan disampaikan kepada Koordinator SP2TP Puskesmas.d. f. Bertanggung jawab atas kelancaran pelaksanaan SP2TP kepada Kepala Puskesmas f. Hasil dari rekapitulasi ini merupakan bahan untuk mengisi/membuat laporan SP2TP d.

Bidan di desa dan POSYANDU) dan data yang berkaitan serta dilaporkannya data tersebut kepada jenjang administrasi diatasnya sesuai kebutuhan secara benar.I TUJUAN UMUM Didapatnya semua data hasil kegiatan puskesmas (termasuk Puskesmsa dengan tempat tidur. dan bidan di desa. berkelanjutan dan teratur. 6. Puskesmas Pembantu. 4. dalam formulir yang telah ditentukan secara benar. meliputi definisi operasional. Puskesmas Pembantu. Tertatanya alur data di tingkat Puskesmas. Diperolehnya kesamaan pengertian tentang SP2TP. Tertatanya mekanisme pencatatan di tingkat puskesmas. sehingga bermanfaat untuk mengetahui permasalahan kesehatan yang ada di masyarakat serta merumuskan cara penanggulangannya secara tepat. Puskesmas Keliling. Terlaporkannya data tersebut kepada jenjang administrasi yang lebih atas sesuai kebutuhan.II TUJUAN KHUSUS 1. 5. 315 .BAB III TUJUAN UMUM DAN TUJUAN KHUSUS III. 3. guna menunjang pengelolaan upaya kesehatan masyarakat sehingga meningkatnya kualitas manajemen Puskesmas secara lebih berhasil guna dan berdaya guna melalui pemanfaatan secara optimal data SP2TP dan informasi lain yang menunjang III. 2. tata cara pengisian formulir. Tercatatnya semua data hasil kegiatan Puskesmas dan data yang berkaitan. secara benar. pengolahan data menjadi informasi dan mekanisme pelaporannya. berkala dan teratur. berkelanjutan dan teratur. dengan mempergunakan formulir yang telah ditetapkan. Terolahnya data tersebut menjadi informasi di Puskesmas dan setiap jenjang administrasi diatasnya.

7. Dasar penyusunan rencana pelaksanaan kegiatan pokok puskesmas (Lokakarya mini) 10. Puskesmas. 8. Untuk mengatasi berbagai kegiatan hambatan pelaksanaan kegiatan pokok puskesmas 316 . Dasar penyusunan perencanaan Tk. sehingga dapat berhasil guna dan berdaya guna dalam pengelolaan upaya kesehatan masyarakat. Sebagai dasar pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kegiatan pokok puskesmas 11. 9. Mantapnya pelaksanaan SP2TP di semua jenjang administrasi.

puskesmas tempat tidur dan puskesmas pembantu serta bidan di desa.Formulir pencatatan Formulir pencatatan SP2TP terdiri dari: a. harus dicatat. Adapun kegunaan RKK adalah: Untuk mengikuti keadaan kesehatan di suatu keluarga Untuk mengetahui gambaran penyakit di suatu keluarga Penggunaan RKK diutamakan pada keluarga yang anggotanya mengidap salah satu penyakit atau kondisi antara lain: Salah satu anggota keluarga adalah penderita TB paru Salah seorang anggota kelurga adalah penderita kusta Keluarga risiko tinggi yaitu ibu hamil risiko tinggi.I. Yang dimaksud RKK adalah himpunan kartu-kartu individu suatu keluarga yang memperoleh pelayanan kesehatan di puskesmas. formulir yang cukup serta cara pengisian yang benar dan teliti. 1. Kartu Tanda Pengenal (KTP) KTP diberikan kepada individu yang berkunjung/berobat ke puskesmas dan merupakan alat bantu untuk memudahkan pencarian berkas atau file bagi individu 317 . Rekam Kesehatan Keluarga (RKK) atau yang disebut ―Family Folder‖. Dengan demikian perlu adanya mekanisme pencatatan yang baik.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN IV.PENCATATAN Kegiatan pokok puskesmas baik yang dilakukan di dalam gedung maupun di luar gedung puskesmas. bayi kurang energi kronis (KEK) Salah seorang anggota keluarga adalah penderita gangguan jiwa Keluarga yang menggunakan RKK diberi kartu tanda pengenal keluarga (KTPK) yang merupakan alat bantu untuk memudahkan pencarian berkas atau file keluarga yang telah terdaftar/mendaftarkan pelayanan pada saat meminta pelayanan ulang di puskesmas b. neonatus risiko tinggi (BBLR).

Kartu Rawat Tinggal atau Kartu Rekam Medik Pasien Merupakan alat untuk mencatat identitas dan status pasien yang dirawat di puskesmas yang mempunyai ruang rawat inap. e. Maksud pemberian kartu ini adalah apabila yang bersangkutan pindah maka kartu dan rekam kesehatannya atau berkasnya dibawa pindah (untuk memudahkan/mengetahui pelayanan yang telah diberikan atau didapatkan oleh yang bersangkutan) c. Kartu Penderita TB Paru Kartu ini khusus untuk penderita TB paru yang berisi identitas TB paru yang dilayani di gedung puskesmas. Khusus untuk akseptor KB. Kartu Indeks Penyakit Khusus Kusta Merupakan alat untuk mengetahui riwayat dan perkembangan penyakit kusta. atas namanya sendiri. g.yang telah terdaftar/mendapat pelayanan pada saat meminta pelayanan ulang di puskesmas. f. d. Kartu Penderita Kusta Kartu ini khusus untuk penderita kusta yang berisi identitas penderita kusta yang dilayani di gedung puskesmas. penyakit kusta dan TB paru menggunakan KTP khusus yaitu kartu KB. h. Kartu Indeks Khusus TB Paru Merupakan alat untuk mengetahui keadaan dan pekembangan penyakit TB paru pasien yang dilayani di gedung puskesmas. Kartu Rawat Jalan atau Kartu Rekam Medik Pasien Merupakan alat untuk mencatat identitas dan status pasien yang berkunjung ke puskesmas untuk memperoleh pelayanan rawat jalan. i. Kartu Ibu 318 . kartu penderita kusta dan kartu penderita TB paru.

KMS balita Merupakan alat untuk mengetahui identitas dan mencatat pertumbuhan balita dan pelayanan yang telah diperoleh oleh balita tersebut. KMS anak sekolah Merupakan alat untuk mengetahui identitas dan mencatat pertumbuhan anak sekolah dan pelayanan yang telah diperoleh oleh anak sekolah tersebut. Kartu Rumah Adalah alat untuk mengetahui dan mengikuti keadaan sanitasi lingkungan perumahan. Kartu Anak Adalah alat untuk mengetahui identitas. sehingga apabila terdapat kelainan dapat dideteksi sedini mungkin. sehingga dapat digunakan untuk memantau kesehatannya. Kartu Tumbuh Kembang Balita Adalah alat untuk mencatat tumbuh kembang balita. o. p. k. j. l. menemukan penyakit pada usia lanjut secara dini dan menilai kemajuan kesehatan usia lanjut. 319 .Merupakan alat untuk mengetahui identitas dan status kesehatan serta riwayat kehamilan ibu sampai kelahiran bayinya. KMS usila Adalah alat untuk mencatat kesehatan usia lanjut secara pribadi baik fisik maupun psiko-sosialnya. m. status kesehatan dan pelayanan baik pelayanan preventif-promotif maupun pengobatan dan rehabilitatif yang telah diberikan kepada balita dan anak prasekolah. KMS ibu hamil Merupakan alat untuk mengetahui identitas dan mencatat perkembangan kesehatan ibu hamil dan pelayanan kesehatan yang telah diterima yang bersangkutan. n.

yang telah dicatat di kartu-kartu dan catatan lainnya. Jenisjenis register dimaksud adalah: Register Nomor Indeks Pengunjung Puskesmas Register Kunjungan Register Rawat Jalan Register Rawat Inap Register KIA Register Kohort Ibu Register Kohort Balita Register Deteksi Tumbuh Kembang Register Gizi Register Kapsul Minyak Beryodium Register Pengamatan Penyakit Menular Register Kusta Register Pemeriksaan Kontak Penderita Kusta Register Pemeriksaan Anak Sekolah (untuk penyakit kusta) Register Malaria Register PES Register Antrax Register Rabies Register Kohort TB Paru Register Kasus DBD Register Pemberantasan Sarang Nyamuk DBD Register Acute Flaccid Paralysis (AFP) Register Tetanus Neonatorum Register Frambusia Register Filaria Buku Inventarisasi Peralatan Puskesmas Register Perawatan Gawat Darurat Puskesmas 320 . Register Adalah formulir untuk mencatat/merekap data kegiatan di dalam dan di luar gedung puskesmas.q.

maka pasien tersebut akan dicatat dalam register yang sesuai dengan pelayanan yang diterima. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat bagan sebagai berikut: 321 .- Register Kohort Pembinaan Keluarga Register Rawat Jalan Gigi Register Laboratorium Register PKM Register PSM Register Data Dasar Kesehatan Lingkungan Register Kegiatan Kesehatan Lingkungan Rekapitulasi Kegiatan Penjaringan Register Kegiatan UKS Register Data Dasar Sekolah Register Kegiatan Posyandu Register Pelayanan Kesehatan Olahraga Register Pembinaan Kelompok/Klub Olahraga Register Perawatan Kesehatan Masyarakat Untuk Keluarga dan Individu (Reg.A) - Register Perawatan Kesehatan Masyarakat untuk Kelompok/Masyarakat (Reg. Mekanisme pencatatan Pada prinsipnya seorang pasien yang berkunjung pertama kali atau kunjungan ulang ke Puskesmas harus melalui loket untuk mendapatkan Kartu Tanda Pengenal atau mengambil berkasnya dari petugas loket. Apabila pasien mendapatkan pelayanan kesehatan di luar gedung Puskesmas. Pasien tersebut disalurkan pada unit pelayanan yang dituju.B) 2.

Registrasi kunjungan .  Formulir Laporan Puskesmas ke Dati II Laporan Bulanan 322 .MEKANISME PENCATATAN DI PUSKESMAS LOKET D A L A M G E D U N G .Register No.Kartu KB . 1. Indeks UNIT PELAYANAN REGISTERREGISTER PELAYANAN DALAM GEDUNG TINDAK LANJUT RUJUKAN L U A R G E D U N G REGISTER-REGISTER PELAYANAN DI LUAR GEDUNG BANK DATA PUSKESMAS PENGOLAHAN/PENYAJIAN PENYUSUNAN LAPORAN IV.KTP .RKK termasuk kartu status .II PELAPORAN Pelaporan terpadu Puskesmas menggunakan tahun kalender yaitu deri bulan Januari sampai dengan Desember dalam tahun yang sama.

1) Data Obat-obatan (LB.  Laporan Tahunan Laporan ini mencakup: a. PKM. Data Kesakitan (LB. c. b.4) Kegiatan Puskesmas meliputi: Kunjungan Puskesmas. Pelayanan JPKM. b. Rawat Tinggal. 2. penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan diare. menurut umur dan status imunisasi. c. KIA. Pelayana Medik Dasar Kesehatan Gigi. b.a. Imunisasi dan Pengamatan Penyakit Menular (LB. Gizi. Kesehatan Sekolah. Hanya Puskesmas dengan ruang rawat inap (Puskesmas RRI) yang membuat LB2S. Kesehatan Olah Raga.2) Gizi. Kesehatan Lingkungan dan Laboratorium. Data Dasar Puskesmas (LT-1) Data Kepegawaian (LT-2) Data Peralatan (LT-3) Frekuensi Laporan dari Puskesmas ke Dati II 323 . Tetatus Neonatorum dan penyakit akibat kerja.  Laporan Sentinel Bentuk dari laporan sentinel adalah: a.3) Data Kegiatan Puskesmas (LB. d. Laporan bulanan Sentinel (LB1S) Laporan ini memuat data penderita penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Laporan bulanan Sentinel (LB2S) Laporan ini memuat data KIA. Perawatan Kesehatan Masyarakat.

dilakukan setiap bulan dan paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya dikirim ke Dinas Kesehatan Dati II. Laporan bulanan LB1. c. 3. LB3. a. Mekanisme Pelaporan Tingkat Puskesmas Laporan dari Puskesmas Pembantu dan Laporan dari Bidan di desa disampaikan ke pelaksana kegiatan di Puskesmas b. Pelaksana kegiatan merekapitulasi data yang dicatat baik did ala gedung maupun di luar gedung serta laporan yang diterima dari Puskesmas Pembantu dan Bidan di desa c. Dati I dan Pusat. untuk disampaikan kepada koordinator SP2TP d. Laporan bulanan Sentinel LB1S dan LB2S setiap tanggal 10 bulan berikutnya dikirimkan ke Dinas Kesehatan Dati II. Laporan tahunan (LT-1. 324 . Hasil rekapitulasi oleh pelaksana kegiatan demasukkan ke formulir laporan dalam 2 rangkap.a. LB2. b. dan LT-3) dirimkan selambat-lambatnya tanggal 31 Januari tahun berikutnya. LT-2. dan LB4. Hasil rekapitulasi oleh pelaksana kegiatan diolah dan dimanfaatkan untuk tindak lanjut yang diperlukan dalam rangka meningkatkan kinerja kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya.

Laporan bulanan b. Formulir LB 2 Obat 3. Adapun isi keputusan itu: 1.KIA. Formulir LB 4 Untuk data kunjungan kegiatan puskesmas Laporan tahunan terdiri dari: 1. dan imunisasi 4. Formulir LB 1 Penyakit 2.BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS DI TINGKAT KECAMATAN&KELURAHAN SP2PT yaitu sistem pencatatan dan pelaporan terpadu Puskesmas sesuai dengan SK Dirjen Binkesmas NO. Pencatatan didalam gedung semua kegiatan yang dilaksanakan di dalam gedung itu sendiri b.590/BM/DJ/info/V/96 Tentang Penyederhanaan Sistem Pencatatan dan Pelaporan terpadu Puskesmas yang mulai berlaku tanggal 10 Mei 1996. Laporan tahunan Laporan bulanan terdiri dari: 1.CHN dll. Pelaporan Puskesmas Sedangkan untuk pencatatan ada 2 yaitu diluar gedung dan di dalam gedung: a. Pencatatan kegiatan PKM 2. Formulir LB 3 Gizi. Sedangkan untuk pelaporannya terdiri dari: a. Formulir LT 1 untuk data dasar PKM 325 . Diluar gedung kegiatan yang berhubungan dengan Posyandu misalnya Posyandu.

Anggota Penanggung jawab: Yaitu Kepala Bagian Data dan Program yang bertanggungjawab atas pelaksanaan SP2PT di Puskesmas dan memberikan bimbingan kepada koordinator SP2PT dan para pelaksana kegiatan di PKM Koordinator: Orang yang ditunjuk oleh Kepala Bagian Data dan Program tugasnya yaitu: 1. Mengumpulkan laporan dari masing-masing pelaksana kegiatan 2. Formulir LT 2 untuk data kepegawaian 3. Koordinator 3. Melakukan bimbingan tekhnis 3.2. untuk menilai hasil kegiatan SP2PT Anggota: Masing-masing pelaksana Kegiatan PKM merupakan anggota SP2PT PKM dan berkewajiban yaitu: 1. Data yang dilaporkan dari puskesmas mencakup hasil kegiatan PKM yang dilaksanakan selama 1 bulan Tim SP2PT di PKM: 1. Mempersiapkan pertemuan setiap 3 bulan sekali. b. Mencatat setiap kegiatan yang ada di PKM 2. Data yang dihimpun dalam formulir LB 1 s/d LB 4 dilaporkan secara bulanan selambat-lambatnya tanggal 5 bulan berikutnya dibuat rangkap 2. Menyimpan arsip SP2PT dari masing-masing pelaksana kegiatan 4. Membuat laporan bulanan dan tahunan 3. Bertanggungjawab kepada kepala PKM atas kelancaran pelaksanaan SP2PT 5. Penanggung jawab 2. Formulir LT 3 untuk data peralatan Puskesmas Tata cara pelaporan: a. Melakukan rekapitulasi dari hasil pencatatan dan pelaporan 326 .

Anggota adalah Pelaksana Kegiatan di Puskesmas yang mempunyai tugasnya masing-masing. Koordinator adalah Petugas yang ditunjuk Kepala Puskesmas. dan pengolahan. 327 . Membuat laporan setiap tanggal/akhir bulan BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN VI.1 KESIMPULAN Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas mencakup 3 hal: (1)pencatatan. Kegiatan pencatatan kegiatan di Puskesmas Mampang ada 2 yaitu diluar gedung dan di dalam gedung yaitu Pencatatan didalam gedung (semua kegiatan yang dilaksanakan di dalam gedung itu sendiri) dan diluar gedung (kegiatan yang berhubungan dengan Posyandu misalnya Posyandu.4. pelaporan. Pencatatan hasil kegiatan oleh pelaksana dicatat dalam buku-buku register yang berlaku untuk masingmasing program. Dalam pelaksanaan SP2TP pengorganisasian di tingkat Puskesmas adalah sebagai berikut: penanggung jawab adalah Kepala Puskesmas. Data tersebut kemudian direkapitulasikan ke dalam format laporan SP2TP yang sudah dibukukan.CHN dll) Sedangkan untuk pelaporannya terdiri dari laporan bulanan yang dilaporkan secara bulanan selambat-lambatnya tanggal 5 bulan berikutnya dan laporan tahunan. dan (3) pemanfaatan. (2) analisis.

dengan mempergunakan formulir yang telah ditetapkan. berkelanjutan dan teratur.VI.  Mengadakan evaluasi rutin terhadap masalah teknis maupun non teknis dalam pelaksanaan SP2TP  Didapatkannya data dan bisa dilaporkan kepada jenjang administrasi yang lebih atas sesuai kebutuhan. berkelanjutan dan teratur. secara benar. 328 .2 SARAN  Meningkatkan kualitas SDM tenaga kesehatan agar semua data hasil kegiatan puskesmas dapat tercatat dalam formulir yang telah ditentukan secara benar.

DAFTAR PUSTAKA 1. Diakses Desember 2009. Diunduh dari http:/www. Jakarta (1997). 329 . 1-17. 2. Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas. Departemen Kesehatan RI: Pedoman Sistem Informasi Manajemen Puskesmas. Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas.dinkes.org.

JAMINAN PEMELIHARAAN KESEHATAN MASYARAKAT (JPKM) Penyusun: Giri Satriya (03006105) Pelangi Damayanti ( 03004173 ) 330 .

kesehatan harus dimiliki dan dilindungi. Tanpa kesehatan karyawan. akhirnya mengantar Indonesia kepada rumusan JPKM sebagai model jaminan kesehatan yang efektif dan efisien untuk mengatasi masalah akses dan mutu pelayanan kesehatan.BAB I PENDAHULUAN Kesehatan adalah pangkal kecerdasan. karena pendanaan kesehatan yang amat terbatas disertai kenaikan biaya pemeliharaan kesehatan. dan kesejahteraan manusia. BUMN. 23 tahun 1992 sebagai cara yang dijadikan landasan semua bentuk pemeliharaan kesehatan yang pembiayaannya secara pra-upaya. dengan pendanaan pemerintah yang terarah untuk kegiatan public health seperti pemberantasan penyakit menular dan penyehatan lingkungan. hingga target produksi tidak tercapai dan kerugian menjelang. dll) dengan pemerintah yang bertugas membina. Kesehatan sebagai hak fundamental setiap individu dinyatakan secara global dalam Konstitusi Organisasi Kesehatan Sedunia. menjadi hak fundamental dari setiap individu. JPKM kemudian dicantumkan dalam UU No. Koperasi. Kesehatan adalah penentu kualitas sumber daya insani. 23 tahun 1992 tentang kesehatan. promosi kesehatan serta pemeliharaan kesehatan penduduk miskin. HDI). Sedangkan pendanaan masyarakat harus diefisiensikan dengan pendanaan gotong royong untuk baerbagai resiko gangguan kesehatan. Karena itu. BUMD. Menurut UNDP. perusahaan kehilangan daya kerja karena absensi sakit meningkat. dan mendorong terselenggaranya JPKM. Namun pemenuhan hak tersebut menghadapi kendala biaya. dan secara nasional dalam amandemen UUD 1945 pasal 28-H dan UU No. 331 . Telah bertahun-tahun penelitian terhadap sistem pendanaan masyarakat untuk kesehatan di mancanegara. dalam bentuk jaminan kesehatan masyarakat. JPKM diselenggarakan oleh badan-badan penyelenggara berstatus hokum (PT. mengembangkan. produktifitas. Solusi masalah pembiayaan kesehatan mengarah pada peningkatan pendanaan kesehatan agar melebihi 5% PDB sesuai rekomendasi WHO. derajat kesehatan bersama taraf pendidikan dan kemampuan ekonomi masyarakat menjadi penentu index kualitas manusia (Human Development Index.

2 jurus kendali dana : premi prabayar dan bayar jasa PKK secara praupaya b. kesehatan ibu-anak. 332 . dll).siklus jaga mutu (pengbatan rasional dan standar pelayanan medik dengan siklus jaga mutunya). c. badan.dan puskesmas) . 1 jurus kendali pelayanan paripurna Paket pelayanan paripurna dalam JPKM seperti dinyatakan dalam serangkaian permenkes dan kepmenkes mencakup pelayanan berjenjang dari tingkat pertama (rawat jalan oleh dokter umum. penyelenggara (bapel) dan pemberian pelayanan kesehatan (ppk) serta penerapan 7 jurus . tingkat ke 3 (rawat inap spesialistik di rumah sakit) dan meliputi upaya promotif (penuluhan kesehatan. pada hakekatnya adalah jaminan pelayanan kesehatan paripurna yang diperoleh seseorang setelah membayar kontribusi/iuran kepada suatu badan penyelenggara yang mengikat kontrak dan membayar pra upaya jaringan pemberi pelayanan kesehatan berjenjang yang terjaga mutunya untuk melayani peserta tersebut. kuratif (pengobatan dan penyembuhan penyakit) serta rehabilitatif (pemulihan cacad. dokter gigi.dengan membayar iuran ringan dalam suatu ikatan solidaritas sosial yang dikelola oleh badan penyelenggara profesional. menjadi peserta JPKM mendapat keuntungan ganda. radiologi dsbnya. 4 jurus kendali mutu : ikatan kerja / kontrak . sebgai berikut : a.BAB II PENGERTIAN JPKM 2.1 Pengertian JPKM JPKM yang merupakan singkatan dari Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat. Bagi masyarakat. pemantauan utilisasi pelayanan dan penangan seksama terhadap keluhan mengenai pelayanan. Penyelenggara JPKM mencakup sedikitnya 3 pelaku utama yakni peserta. preventif (imunisasi. semua gawat darurat dan pelayanan penunjang diagnostik seperti laboratorium. Kebutuhan kesehatannya akan terpenuhi secara paripurna melalui pelayanan yang terrjaga mutu dan terkendali biayanya .KB). perbaikan gizi). klinik .tingkat ke 2 (rawat jalan spesialistik).

Pembina JPKM ditingkat pusat. Cara penyelenggaraan 3. UU itu menetapkan pula fungsi pemerintah untuk membina. Dalam UU ini. Pemeliharaan kesehatan yang paripurna. Kelebihan JPKM itu telah menempatkannya sebagai jaminan kesehatan terpilih dalam UU No. Selanjutnya. Dengan pembayaran praupaya kepada PPK. tanpa memberikan pelayanan berlebih-lebihan kepada peserta.23/1992 tentang kesehatan. yang menjadi intensif bagi PPK untuk menjaga kesehatan peserta secara efisien-efektif dengan melakukan upaya preventif-promotif yang seimbang dengan upaya kuratif-rehabilitatif. Jaminan 2. bapel membebaskan diri dari risiko kerugian yang dapat timbul kalau membayar PPK berdasarkan tagihan atas jasa pelayanan yang telah diberikan (bentuk fee for service atau reimbursement). terdapat 4 pihak yang bersama sama mendukung terselenggaranya JPKM. dan 5. JPKM dinyatakan sebagai cara penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan yang paripurna. Azas usaha bersama dan kekeluargaan 4. Ada beberapa kata kunci yang perlu diperhatikan agar mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang pengertian JPKM. melalui Kepmenkes 172/1999 yang ditindaklanjuti dengan edaran Dirjen Binkesmas diproses pembentukan Badan . bersama 3 pelaku terdahulu. yang berkesinambungan dan dengan mutu yang terjamin serta pembayaran secara praupaya. berdasarkan asas usaha bersama dan kekeluargaan.Kandungan jurus-jurus pelayanan paripurna. kendali mutu dan kendali biaya dalam JPKM membuatnya lebih unggul dinadingkan bentuk jaminan kesehatan lainnya. pengembangan dan pendorongan terhadap penyelenggaraan JPKM. dan Kab/kota guna menampung tugas tugas pembinaan. mengembangkan dan mendorong JPKM sebagai cara yang dijadikan landasan untuk setiap penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan. Sehubungan dengan itu. Misalnya. Dengan keberadaan badan pembina ini. yaitu: 1. propinsi. Pembiayaan secara pra-upaya 333 . kelebihan JPKM dibandingkan asuransi kesehatan indemnitas (ganti rugi) adalah adanya pembayaran praupaya (prospective payment dalam bentuk anggaran atau kapitasi) kepada pemberi pelayanan kesehatan (PPK).

Dengan demikian. peserta dan pemberi pelayanan kesehatan untuk bersamasama secara kekeluargaan mengendalikan mutu dan biaya pemeiharaan kesehatan. terjaganya mutu serta terkendalinya pembiayaan kesehatan. Jaminan Setiap penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan berdasarkan JPKM harus mampu menjamin: 1. yang menghendaki peran aktif badan penyelenggara. sehingga menguntungkan dan memuaskan semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan JPKM. Jurus-jurus ini harus dilaksanakan secara utuh agar penyelenggaraan upaya pemeliharaan kesehatan dapat menjamin oeningkatan derajat kesehatan masyarakat pesertanya melalui terpeliharanya pemerataan. Pemeliharaan Kesehatan yang Paripurna Dengan terpeliharanya kesehatan masyarakat yang paripurna diartikan bahwa upaya pemeliharaankesehatan dilaksanakan secara menyeluruh meliputi kegiatan promotif334 . d. Terjaganya mutu pemeliharaan kesehatan sesuai dengan standar yang disepakati 3. Terselenggaranya pemeliharaan kesehatan paripurna dan berkesinambungan 2. Efektivitas dari upaya pemeliharaan kesehatan bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat pesertanya b. yang menjadi cirri khas dari JPKM dan karena itu dapat disebut juga sebagai ―jurus jurus JPKM‖.a. c. Efisiensi dan kelancarean memperoleh pelayanan kesehatan bagi pesertanya 4. Azas Usaha dan Kekeluargan ―Berdasarkan azas usaha bersama dan kekeluargaan‖ yang tercantum dalam pengertian JPKM menunjukkan bahwa JPKM merupakan usaha bersama. Cara penyelenggaraan JPKM merupakan suatu cara penyelenggaraan paya pemeliharaan kesehatan yang terpadu dengan pembiayaannya. dapat dijaga keseimbangan dan keserasian dalam membela kepentingan masingmasing. Cara ini mempunyai beberapa mekanisme pelaksanaan tertentu.

jelas bahwa tidak hanya merupakan satu cara pembiayaan kesehatan. Pembiayaan secara pra-upaya Pemberian Pelayanan Kesehatan (PPK) dibayar di-muka/ pra-upaya (prepaid) oleh baan penyelenggara untuk memelihara kesehatan sejumlah peserta berdasarkan paket pemeliharaan kesehatan yang telah disepakati bersama. terpadu. ―Pra-upaya‖ juga berarti bahwa peserta JPKM membayar dimuka sejumlah iuran secara teratur badan penyelenggara agar kebutuhan pemeliharaan kesehatan terjamin. JPKM juga merupakan suatu cara penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan. karena hal ini cenderung menurunkan efektivitas dan efisiensi dalam pelaksanaannya. yang terarah dan terencana dengan pengolahan yang efektif dan efisien dan didukung oleh pembiayaan pra-upaya. yang memungkinkan peningkatan derajat kesehatan segenap pesertanya. dan berkesinambungan. 335 .preventif-kuratif-rehabilitatif. Upaya kesehatan dalam JPKM tidak dapat dilaksanakan sepotong-sepotong. e. Mengingat hal-hal yang tercantum diatas. umpamanya pengobatan rawat jalan saja atau hanya pengobatan di Rumah Sakit tanpa dukungan upaya preventif atau promotif.

1 Tujuan Umum Meningkatnya derajat kesehatan masyarakat merupakan tujuan dari diadakannya JPKM.  Pembudayaan perilaku hidup bersih dan sehat.BAB III TUJUAN JPKM 3.  Pelayanan kesehatan paripurna yang lebih bermutu dengan biaya yang hemat dan terkendali  Pengembangan kemandirian masyarakat dalam membiayai pelayanan kesehatan yang diperlukannya. 336 .2 Tujuan Khusus JPKM bertujuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui :  Jaminan pemeliharaan kesehatan sesuai kebutuhan utama peserta yang berkesinambungan. 3.

Menurut UU No. Penerima Pensiun dan Keluarganya Upaya ini dimulai tahun 1968 berdasarkan Keppres No. yang seperti diatur dalam pasal 14 hanya dapat dilaksanakan oleh BUMN. Pelayanan kesehatan peserta disediakan di semua Puskesmas dan Rumah Sakit Pemerintah. Badan yang mengelola upaya ini pada waktu itu dinamakan Badan Penyelenggara Dana Pemeliharaan Kesehatan atau disingkat BPDPK dan berada dalam lingkungan Departemen Kesehatan. PT. kemudian menjadi PT (Persero) Asuransi Kesehatan Indonesia (PT. b) Pemeliharaan Kesehatan bagi Tenaga Kerja dan Keluarganya Sejak terbitnya UU No. Kepesertaan program brsifat wajib bagi pegawai negeri. ASKES) sampai sekarang. jaminan pemeliharaan kesehatan untuk tenaga kerja dan keluarganya wajib dilaksanakan oleh setiap 337 . Pemeliharaan kesehatan paripurna diberikan sama kepada semua peserta.BAB IV KEGIATAN dan SASARAN 4. Untuk peserta sukarela disediakan pelayanan oleh dokter keluarga atau fasilitas keehatan swasta.1 Kegiatan a) Pemeliharaan Kesehatan Pegawai Negeri. 230 tahun 1968. ASKES adalah badan penyelenggara program asuransi sosial di bidang kesehatan.2/1992.3 tahun 1992 tentang Jamsostek. Sesuai dengan kebijaksanaan Pemerintah dalam hal struktur organisasi badan-badan pemerintah. maka BPDPK diubah status menjadi Perum Husada Bhakti. tanpa mempertimbangkan tingkatan pangkat atau kedudukan. Cara penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan dan cara pembayaran kepada PPK sudah mengikuti prinsip-prinsip JPKM (untuk Pusskesmas dilakukan berdasarkan kapitasi dan untuk Rumah Sakit berdasarkan sistem paket). Penutupan asuransi atas objek asuransinya bukan didasarkan kepada kebebasan memilih penanggung melainkan secara wajib berdasarkan suatu Undang-undang dengan tujuan untuk memberikan perlindungan dasar bagi kesejahteraan masyarakat (pasal 1 ayat 3 dan pasal 6 ayat 1). penerima pensiun (baik sipil maupun ABRI) dengan iuran yang dipotong dari gaji sebesar 2%.

Seluruh iuran ditanggung oleh perusahaan. Cakupan peserta diwujudkan di beberapa DATI II dengan kepesertaan kelompok dan pengelolaan pofesional kearah JPKM. meskipun belum sepenuhnya. Organisasi sosial dan kemasyarakatan 338 . dan untuk masyarakat umum. terutama segmen yang berpenghasilan fasilitas swasta menengah dan keatas. oleh. Pengelolaan Dana Sehat pada umumnya dilakukan secara sukarela oleh pengurus yang ditunjuk oleh masyarakat setempat. dan Untuk Masyarakat atau Dana Sehat Dana Sehat adalah suatu upaya pemeliharaan kesehatan dari. Pemeliharaan relatif masih kesehatan sedikit.000. d) Pemeliharaan Kesehatan Dari. c) Pemeliharaan Kesehatan Swasta Beberapa pengusaha swasta telah mulai menyelenggarakan upaya pemeliharaan kesehatan berdasarkan JPKM untuk golongan tertentu dari masyarakat. sehingga benar-banar dapat mandiri dalam menjaga kesehatan pesertanya. Pelajar dan mahasiswa. Pemeliharaan kesehatan serta cara pembayaran kepada PPK mengikuti pedoman penyelenggaraan JPKM. Seluruh anggota keluarga/masyarakat. 4. 1000.2 Sasaran     Karyawan perusahaan/dunia usaha.. Iuran ditetapkan sebesar 3% dari gaji sebulan untuk pekerja bujangan dan 6% dari gaji bagi yang sudah berkeluarga. menggunakan kepesertaannya Pengelolaannya mengikuti pedoman JPKM.perusahaan yang memperkrjakan minimal 50 orang karyawan atau yang mengeluarkan Rp.minimal sebulan untuk gaji para tenaga kerjanya. Peserta umumnya adalah penduduk berpenghasilan rendah di pedesaan dan perkotaan dengan iuran yang relatif kecil dan paket pelayanan kesehatan yang masih terbatas. Oleh.

5. DPT.jenis pelayanan meliputi :    Konsultasi dan pemeriksaan dokter spesialis Obat obatan sesuai kebutuhan medis Pemeriksaan penunjang berdasarkan indikasi medis 339 . Rawat jalan tingkat lanjutan atau spesialis (RJTL) . polio. Pelaksanaan Puskesmas Kecamatan Mampang Pada puskesmas kecamatan Mampang dilaksanakan sistem jaminan pemeliharaan kesehatan bagi keluarga miskin (JPK GAKIN) dengan pendekatan JPKM. dan rehabilitatif) meliputi : A. campak.ibu nifas .rawat jalan tingkat pertama (RJTP).1.PELAYANAN KESEHATAN YANG DIJAMIN : Paket dasar yang bersifat paripurna (meliputi promotif preventif. hepatitis B) Pelayanan KIA termsuk ANC .ibu menyusui. bayi dan balita KB dengan alat kontrasepsi standar Pengobatan penyakit umum atau gigi Pelayanan rujukan Pelayanan obat obatan Pelayanan laboratorium dasar meliputi pemeriksaan darah rutin dan urin lengkap Tindakan medis Pelayanan penunjang diagnostic Pelayanan partus Pelayanan spesialistik Pelayanan gawat darurat B. kuratif. jenis pelayanan meliputi              Promosi kesehatan atau penyuluhan Imunisasi dasar program (BCG.1.1.BAB V PELAKSANAAN 5.

PELAYANAN KESEHATAN YANG DIJAMIN DENGAN PEMBATASAN :  Potesa dan alat bantu yang sesuai indikasi medis (gigi palsu. 6 KRITERIA KEMISKINAN LOKAL YANG DIGUNAKAN BAGI SKTM 340 . PELAYANAN KESEHATAN YANG TIDAK DIJAMIN            Pelayanan yang tidak sesuai dengan prosedur Pelayanan atau perawatan yang berkaitan dengan tujuan kosmetik (bedah plastic. jenis pelayanan meliputi: Perawatan ICU/ICCU/HCU Unit Perinatologi (NICU) 5. othodontis.1. Generik. kacamata.2.1. jenis pelayanan meliputi:    Perawatan kelas 3 di Rumah Sakit yang telah berIKS dengan dinas kesehatan Visit dokter spesialis atau dokter yang merawat Obat-obatan yang diperlukan (DPHU. alat bantu dengar.1. terapi alternatif lain) Pengguguran kandungan tanpa indikasi medis (permintaan sendiri) Hamil diluar nikah Pelayanan yang berkaitan dengan infertilitas dan kesuburan Bunuh diri Pelaku tindakan kejahatan Pemegang kartu asuransi lain 5.4.3. dll) Medical check up Vitamin atau pemberian suplemen tanpa indikasi medis Pengobatan alternative (tradisional. dll) 5. Formularium atau sesuai indikasi medis dengan surat keterangan komite medik/konsulen bagian atau departemen)     Penunjang diagnostic dan tindakan yang sesuain dengan indikasi medis Alat kesehatan dan bahan habis pakai yang diperlukan D. Tindakan di poliklinik C. Perawatan Khusus di Rumah Sakit. Rawat Inap di Kelas 3 Rumah Sakit.

jenis pelayanan meliputi :   Konsultasi dan pemeriksaan dokter spesialis Obat obatan sesuai kebutuhan medis 341 . dan rehabilitatif) meliputi : A. Penghasilan kurang dari UMP DKI Jakarta per rumah tangga perbulan (kurang dari 600ribu) e.2 Pelaksanaan Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan 5.PELAYANAN KESEHATAN YANG DIJAMIN : Paket dasar yang bersifat paripurna (meliputi promotif preventif. Tidak mampu membiayai pengobatan ke sarana kesehatan / bukan Puskesmas c. Luas lantai per orang kurang dari 4m2 b. polio. Terdapat anggota keluarga yang berusia 15tahun keatas buta huruf f. campak.a.1.ibu nifas . Tidak mampu ber-KB secara mandiri d. hepatitis B) Pelayanan KIA termsuk ANC . DPT. bayi dan balita KB dengan alat kontrasepsi standar Pengobatan penyakit umum atau gigi Pelayanan rujukan Pelayanan obat obatan Pelayanan laboratorium dasar meliputi pemeriksaan darah rutin dan urin lengkap Tindakan medis Pelayanan penunjang diagnostic Pelayanan partus Pelayanan spesialistik Pelayanan gawat darurat B.rawat jalan tingkat pertama (RJTP).2. Rawat jalan tingkat lanjutan atau spesialis (RJTL) .ibu menyusui. jenis pelayanan meliputi              Promosi kesehatan atau penyuluhan Imunisasi dasar program (BCG. Terdapat anggota keluarga dengan usia 7 – 18 tahun yang tidak sekolah atau putus sekolah 5. kuratif.

2. kacamata. PELAYANAN KESEHATAN YANG TIDAK DIJAMIN            Pelayanan yang tidak sesuai dengan prosedur Pelayanan atau perawatan yang berkaitan dengan tujuan kosmetik (bedah plastic. Rawat Inap di Kelas 3 Rumah Sakit. PELAYANAN KESEHATAN YANG DIJAMIN DENGAN PEMBATASAN :  Potesa dan alat bantu yang sesuai indikasi medis (gigi palsu.2. jenis pelayanan meliputi:    Perawatan kelas 3 di Rumah Sakit yang telah berIKS dengan dinas kesehatan Visit dokter spesialis atau dokter yang merawat Obat-obatan yang diperlukan (DPHU. Perawatan Khusus di Rumah Sakit. alat bantu dengar. dll) Medical check up Vitamin atau pemberian suplemen tanpa indikasi medis Pengobatan alternative (tradisional. Formularium atau sesuai indikasi medis dengan surat keterangan komite medik/konsulen bagian atau departemen)     Penunjang diagnostic dan tindakan yang sesuain dengan indikasi medis Alat kesehatan dan bahan habis pakai yang diperlukan D. othodontis.2. jenis pelayanan meliputi: Perawatan ICU/ICCU/HCU Unit Perinatologi (NICU) 5. Generik. terapi alternatif lain) Pengguguran kandungan tanpa indikasi medis (permintaan sendiri) Hamil diluar nikah Pelayanan yang berkaitan dengan infertilitas dan kesuburan Bunuh diri Pelaku tindakan kejahatan Pemegang kartu asuransi lain 342 . dll) 5.3.  Pemeriksaan penunjang berdasarkan indikasi medis Tindakan di poliklinik C.

Terdapat anggota keluarga dengan usia 7 – 18 tahun yang tidak sekolah atau putus sekolah 5. campak.ibu nifas .ibu menyusui.3 Pelaksanaan Puskesmas Kelurahan Pela Mampang Rawat jalan tingkat pertama (RJTP). bayi dan balita KB dengan alat kontrasepsi standar Pengobatan penyakit umum atau gigi Pelayanan rujukan Pelayanan obat obatan Pelayanan laboratorium dasar meliputi pemeriksaan darah rutin dan urin lengkap Tindakan medis Pelayanan penunjang diagnostic Pelayanan partus 343 . hepatitis B) Pelayanan KIA termsuk ANC . Penghasilan kurang dari UMP DKI Jakarta per rumah tangga perbulan (kurang dari 600ribu) e. Terdapat anggota keluarga yang berusia 15tahun keatas buta huruf f.2. DPT. 6 KRITERIA KEMISKINAN LOKAL YANG DIGUNAKAN BAGI SKTM a.5. jenis pelayanan meliputi            Promosi kesehatan atau penyuluhan Imunisasi dasar program (BCG. Luas lantai per orang kurang dari 4m2 b. polio. Tidak mampu membiayai pengobatan ke sarana kesehatan / bukan Puskesmas c. Tidak mampu ber-KB secara mandiri d.4.

JPKM bertujuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui jaminan pemeliharaan kesehatan sesuai kebutuhan utama peserta yang berkesinambungan. 6. Membuat dan melakukan semua rencana kegiatan pelayanan kesehatan paripurna agar biaya dapat hemat dan terkendali Memberikan informasi yang lengkap terhadap masyarakat tentang JPKM denganmenggunakan media cetak seperti brosur ataupun secara lisan.preventif. pada hakekatnya adalah jaminan pelayanan kesehatan paripurna yang diperoleh seseorang setelah membayar kontribusi/iuran kepada suatu badan penyelenggara yang mengikat kontrak dan membayar pra upaya jaringan pemberi pelayanan kesehatan berjenjang yang terjaga mutunya untuk melayani peserta tersebut. Agar masyarakat lebih mengerti tentang JPKM dan kesehatan masyarakat  Mengevaluasi kegiatan untuk melihat apakah kegiatan kegiatan pelayanan berjalan dengan baik 344 . pengembangan kemandirian masyarakat dalam membiayai pelayanan kesehatan yang diperlukannya.1 Kesimpulan JPKM yang merupakan singkatan dari Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat. dan rehabilitatif. kuratif. pembudayaan perilaku hidup bersih dan sehat.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6. pelayanan kesehatan paripurna yang lebih bermutu dengan biaya yang hemat dan terkendali.2 Saran    Pelayanan-pelayanan yang diberikan harus sesuai dengan keperluan pasien baik secara promotif.

Diakses Desember 2009.DAFTAR PUSTAKA 1. 345 .org. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat. Diunduh dari http:/www.dinkes. 12-15. Jakarta (2000). 2. Departemen Kesehatan RI: Kumpulan Materi Pelatihan Penyelenggaraan JPKM.