UPAYA KESEHATAN WAJIB

1

UPAYA PROMOSI KESEHATAN

Penyusun: Kirana Asmara Meitty Marisha (03005131) (03005143)

2

BAB I PENDAHULUAN
Dewasa ini promosi kesehatan (health promotion) telah menjadi bidang yang semakin penting dari tahun ke tahun. Dalam tiga dekade terakhir, telah terjadi perkembangan yang signifikan dalam hal perhatian dunia mengenai masalah promosi kesehatan. Pada 21 November 1986, World Health Organization (WHO) menyelenggarakan Konferensi Internasional Pertama bidang Promosi Kesehatan yang diadakan di Ottawa, Kanada. Konferensi ini dihadiri oleh para ahli kesehatan seluruh dunia, dan menghasilkan sebuah dokumen penting yang disebut Ottawa Charter (Piagam Ottawa). Piagam ini menjadi rujukan bagi program promosi kesehatan di tiap negara, termasuk Indonesia. Dalam Piagam Ottawa disebutkan bahwa promosi kesehatan adalah proses yang memungkinkan orang-orang untuk mengontrol dan meningkatkan kesehatan mereka (Health promotion is the process of enabling people to increase control over, and to improve, their health, WHO, 1986). Jadi, tujuan akhir promosi kesehatan adalah menanamkan kesadaran pada masyarakat tentang pentingnya kesehatan bagi mereka sehingga mereka sendirilah yang akan melakukan usaha-usaha untuk menyehatkan diri mereka. Promosi kesehatan menjelaskan bahwa untuk mencapai derajat kesehatan yang

sempurna, baik fisik, mental, maupun sosial, individu atau kelompok harus mampu mengenal serta mewujudkan aspirasi-aspirasinya untuk memenuhi kebutuhannya agar mampu mengubah atau mengatasi lingkungannya (lingkungan fisik, sosial budaya, dan sebagainya). Untuk itu, promosi kesehatan tidak hanya merupakan tanggung jawab dari sektor kesehatan, akan tetapi jauh melampaui gaya hidup secara sehat untuk kesejahteraan (WHO, 1986). Penyelenggaraan promosi kesehatan dilakukan dengan mengombinasikan berbagai strategi yang tidak hanya melibatkan sektor kesehatan belaka, melainkan lewat kerjasama dan koordinasi segenap unsur dalam masyarakat. Hal ini didasari pemikiran bahwa promosi kesehatan adalah suatu filosofi umum yang menitikberatkan pada gagasan bahwa kesehatan yang baik merupakan usaha individu sekaligus kolektif (Taylor, 2003). Bagi individu, promosi kesehatan terkait dengan pengembangan program kebiasaan kesehatan yang baik sejak muda hingga dewasa dan lanjut usia (Taylor, 2003). Secara kolektif, berbagai sektor, unsur, dan profesi dalam masyarakat seperti praktisi medis, psikolog, media massa, para pembuat kebijakan publik dan perumus perundang-undangan dapat dilibatkan dalam program promosi kesehatan. Praktisi medis dapat mengajarkan kepada
3

masyarakat mengenai gaya hidup yang sehat dan membantu mereka memantau atau menangani risiko masalah kesehatan tertentu. Para psikolog berperan dalam promosi kesehatan lewat pengembangan bentuk-bentuk intervensi untuk membantu masyarakat memraktikkan perilaku yang sehat dan mengubah kebiasaan yang buruk. Media massa dapat memberikan kontribusinya dengan menginformasikan kepada masyarakat perilaku-perilaku tertentu yang berisiko terhadap kesehatan seperti merokok dan mengonsumsi alkohol. Para pembuat kebijakan melakukan pendekatan secara umum lewat penyediaan informasi-informasi yang diperlukan masyarakat untuk memelihara dan mengembangkan gaya hidup sehat, serta penyediaan sarana-sarana dan fasilitas yang diperlukan untuk mengubah kebiasaan buruk masyarakat. Berikutnya, perumus perundang-undangan dapat menerapkan aturan-aturan tertentu untuk menurunkan risiko kecelakaan seperti misalnya aturan penggunaan sabuk pengaman di kendaraan (Taylor, 2003)

4

BAB II PENGERTIAN
Promosi kesehatan adalah upaya membantu masyarakat memberdayakan dirinya untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatannya. Menurut WHO tahun 1986, Promosi Kesehatan adalah proses yang memberdayakan manusia untuk mengendalikan dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri. Menurut Green dan Ottoson (1998) Promosi Kesehatan adalah kombinasiberbagai dukungan menyangkut pendidikan, organisasi, kebijakan, dan peraturan perundangan untuk perubahan lingkungan dan perilaku yang menguntungkan kesehatan. Menurut definisi yang selama ini dipakai oleh Pusat Promosi Keehatan, Promosi Kesehatan itu adalah proses memberdayakan atau memandirikan masyarakat agar mampu memelihara, meningkatkan, dan melindungi, kesehatannya melalui peningkatan kesadaran, kemauan dan kemampuan, serta pengembangan lingkungan sehat.

Dalam pengertian Promosi Kesehatan tersebut terkandung beberapa pengertian operasional sebagai berikut: Promosi Kesehatan merupakan bagian dari upaya kesehatan masyarakat (Public Health) secara keseluruhan, yang fokusnya adalah: pemberdayaan masyarakat, yaitu upaya agar masyarakat dapat memelihara, meningkatkan, dan melindungi kesehatannya. Dengan demikian, Promosi Kesehatan lebih bersifat upaya promotif-preventif, tanpa

mengesampingkan upaya kuratif-rehabilitatif. Pemberdayaan dilakukan dengan menumbuhkan kesadaran, kemauan dan kemampuan mayarakat untuk hidup sehat, sehingga penekanan Promosi Kesehatan pada pengembangan perilaku dan lingkungan sehat. Pemberdayaan tersebut merupakan upaya kemitraan berbagai pihak dan merupakan upaya dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat, sehingga masyarakat aktif sebagai pelaku atau subyek, bukan pasif menunggu sebagai obyek semata. Pemberdayaan dilakukan sesuai dengan kondisi dan budaya setempat, sehingga Promosi Kesehatan diwarnai oleh suasana lokal.

5

BAB III TUJUAN
Tujuan Umum Tercapainya perubahan perilaku individu, keluarga dan masyarakat dalam membina dan memelihara perilaku sehat dan lingkungan sehat, serta berperan aktif dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan yang optimal, dan juga memberdayakan kemampuan masyarakat untuk hidup lebih sehat.

Tujuan Khusus Timbulnya kesadaran penduduk akan nilai kesehatan. Meningkatnya pengembangan Puskesmas dan pemanfaatannya sebagai sarana pelayanan kesehatan dan sebagai sumber penerangan dan penyuluhan kesehatan Terbantunya orang-orang dan masyarakat pada umumnya, dalam menjaga kesehatan mereka pada tingkat yang sebaik-baiknya.

Tujuan Promosi Kesehatan secara Keseluruhan Tersosialisasinya program-program kesehatan, terwujudnya masyarakat Indonesia baru yang berbudaya hidup bersih dan sehat, serta tumbuhnya gerakan hidup sehat di masyarakat, menuju terwujudnya kabupaten atau kota sehat, propinsi sehat, Indonesia sehat 2010.

Tujuan PHBS Meningkatnya pengetahuan, kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat agar hidup bersih dan sehat, serta meningkatnya peran serta aktif masyarakat termasuk swasta dan dunia usaha, dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Tujuan Penyuluhan Kesehatan Tercapainya perubahan perilaku individu, keluarga dan masyarakat dalam membina dan memelihara perilaku sehat dan lingkungan sehat serta berperan aktif dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.

6

Upaya peningkatan (promotif) yang penekanannya pada upaya pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. 2. dukungan suasana. pengembangan masyarakat (community development). 4. lingkup promosi kesehatan dapat disimpulkan sebagai berikut (Iqi. Menurut Green dan Ottoson (dalam Iqi. kemauan. pemberdayaan masyarakat (community empowerment). yaitu upaya untuk memengaruhi lingkungan atau pihak lain agar mengembangkan kebijakan yang berwawasan kesehatan (melalui upaya legislasi atau pembuatan peraturan. dan peraturan perundangan untuk perubahan lingkungan dan perilaku yang menguntungkan kesehatan. maupun rehabilitasi. 2008): 1. sekolah. orang-orang yang sehat maupun mereka yang terkena penyakit.BAB IV KEGIATAN Promosi kesehatan mencakup baik kegiatan promosi (promotif). dalam keluarga. pengobatan (kuratif). promosi kesehatan dapat dilakukan di berbagai ruang kehidupan. Upaya penyuluhan (upaya komunikasi dan informasi) yang tekanannya pada penyebaran informasi. dll. Dalam hal ini. Pemasaran sosial (social marketing). semuanya merupakan sasaran kegiatan promosi kesehatan. tempat kerja. 2008). Kemudian. tempat-tempat umum. promosi kesehatan adalah kombinasi berbagai dukungan menyangkut pendidikan. dan lain-lain di berbagai bidang/sektor. 3. dan tentu saja kantor-kantor pelayanan kesehatan. Upaya advokasi di bidang kesehatan. 2007). organisasi. dan kemampuan. Promosi kesehatan bersifat lebih luas atau lebih makro lagi dan lebih menyentuh sisi advokasi pada level pembuat kebijakan di mana promosi kesehatan berusaha melakukan perubahan pada lingkungan dengan harapan terjadinya perubahan perilaku yang lebih baik (Kapalawi. sesuai keadaan). yang penekanannya pada pengenalan produk/jasa melalui kampanye. Pengorganisasian masyarakat (community organization). Pendidikan kesehatan (health education) yang penekanannya pada perubahan/perbaikan perilaku melalui peningkatan kesadaran. 5. penggerakan masyarakat (social mobilization). 7 . 6. Oleh karena itu. kebijakan. pencegahan penyakit (preventif).

pelayanan jasa publik yang lebih sehat dan lebih bersih. kegiatan-kegiatan promosi kesehatan berarti: Membangun kebijakan publik berwawasan kesehatan (build healthy public policy) Promosi kesehatan lebih daripada sekadar perawatan kesehatan. Promosi kesehatan menempatkan kesehatan pada agenda dari pembuat kebijakan di semua sektor pada semua level. perlindungan (shelter). Ini adalah kegiatan yang terkoordinasi yang membawa kepada kesehatan. dan menyenangkan. Menciptakan lingkungan yang mendukung (create supportive environments) Kesehatan tidak dapat dipisahkan dari tujuan-tujuan lain.Kesehatan memerlukan prasyarat-prasyarat yang terdiri dari berbagai sumber daya dan kondisi dasar. dan perubahan organisasi. memuaskan. dan lingkungan alam kita. Kaitan yang tak terpisahkan antara manusia dan lingkungannya menjadikan basis untuk sebuah pendekatan sosio-ekologis bagi kesehatan. Prinsip panduan keseluruhan bagi dunia. dan lingkungan yang lebih menyenangkan. dan kebijakan sosial yang menghasilkan kesamaan yang lebih besar. daerah kerja. serta kesetaraan dan keadilan sosial (social justice and equity) (WHO. lewat Konferensi Internasional Pertama tentang Promosi Kesehatan di Ottawa pada tahun 1986. Promosi kesehatan menciptakan kondisi hidup dan kondisi kerja yang aman.sangat esensial dan harus diikuti dengan kegiatan untuk memastikan 8 . kawasan. dan komunitas yang serupa. makanan (food). telah merumuskan sejumlah kegiatan yang dapat dilakukan oleh setiap negara untuk menyelenggarakan promosi kesehatan. pendapatan. mengarahkan mereka supaya sadar akan konsekuensi kesehatan dari keputusan mereka dan agar mereka menerima tanggung jawab mereka atas kesehatan. pendidikan (education). bangsa. ekosistem yang stabil (a stable eco-system).—terutama di daerah teknologi. 1986). yang menstimulasi. Penjajakan sistematis dampak kesehatan dari lingkungan yang berubah pesat. Menurut Piagam Ottawa. adalah kebutuhan untuk memberi semangat pemeliharaan yang timbal-balik — untuk memelihara satu sama lain. Upaya-upaya peningkatan promosi kesehatan harus memerhatikan semua prasyarat tersebut. Berikut akan disediakan terjemahan dari Piagam Ottawa pada bagian yang diberi subjudul Health Promotion Action Means. Kegiatan terpadu memberikan kontribusi untuk memastikan barang dan jasa yang lebih aman dan lebih sehat. Kebijakan promosi kesehatan mengombinasikan pendekatan yang berbeda namun dapat saling mengisi termasuk legislasi. meliputi perdamaian (peace). WHO. komunitas. produksi energi dan urbanisasi–. perpajakan. sumber daya yang berkesinambungan (a sustainable resources). pendapatan (income). perhitungan fiskal.

merencanakan strategi dan melaksanakannya untuk mencapai kesehatan yang lebih baik. di samping tanggung jawabnya dalam menyediakan pelayanan klinis dan pengobatan. pendidikan kesehatan. Peran sektor kesehatan harus bergerak meningkat pada arah promosi kesehatan. dan untuk mengembangkan sistem yang fleksibel untuk memerkuat partisipasi publik dalam masalah kesehatan. Dengan demikian. hal ini meningkatkan pilihan yang tersedia bagi masyarakat untuk melatih dalam mengontrol kesehatan dan lingkungan mereka. Mereka harus bekerja sama melalui suatu sistem perawatan kesehatan yang berkontribusi untuk pencapaian kesehatan. dan untuk membuat pilihan yang kondusif bagi kesehatan. ekonomi. Hal ini memerlukan akses yang penuh serta terus menerus akan informasi. dan membuka saluran antara sektor kesehatan dan komponen sosial. Reorientasi pelayanan kesehatan juga memerlukan perhatian yang kuat untuk penelitian kesehatan sebagaimana perubahan pada pelatihan dan pendidikan 9 . kelompok komunitas. dan lingkungan fisik yang lebih luas. Pengembangan komunitas menekankan pengadaan sumber daya manusia dan material dalam komunitas untuk mengembangkan kemandirian dan dukungan sosial. politik. sebagaimana penggalangan dukungan. Pelayanan kesehatan harus memegang mandat yang meluas yang merupakan hal sensitif dan ia juga harus menghormati kebutuhan kultural. Memerkuat kegiatan-kegiatan komunitas (strengthen community actions) Promosi kesehatan bekerja melalui kegiatan komunitas yang konkret dan efisien dalam mengatur prioritas. Mengembangkan keterampilan individu (develop personal skills) Promosi kesehatan mendukung pengembangan personal dan sosial melalui penyediaan informasi. profesional kesehatan. memelajari kesempatan untuk kesehatan. Reorientasi pelayanan kesehatan (reorient health services) Tanggung jawab untuk promosi kesehatan pada pelayanan kesehatan dibagi di antara individu. institusi pelayanan kesehatan. Perlindungan alam dan lingkungan yang dibangun serta konservasi dari sumber daya alam harus ditujukan untuk promosi kesehatan apa saja. Mandat ini harus mendukung kebutuhan individu dan komunitas untuk kehidupan yang lebih sehat. dan pemerintah. dan pengembangan keterampilan hidup. membuat keputusan. Inti dari proses ini adalah memberdayakan komunitas –-kepemilikan mereka dan kontrol akan usaha dan nasib mereka.keuntungan yang positif bagi kesehatan masyarakat.

semua yang terlibat harus menjadikan setiap fase perencanaan. Partisipasi masyarakat adalah kegiatan pelibatan masyarakat dalam suatu program. Merawat. Advokasi Advokasi terhadap kesehatan merupakan sebuah upaya yang dilakukan orang-orang di bidang kesehatan. bermain. yakni advokasi (advocacy) dan pemberdayaan (empowerment). Dari enam hal di atas. Hal ini harus membawa kepada perubahan sikap dan pengorganisasian pelayanan kesehatan dengan memfokuskan ulang kepada kebutuhan total dari individu sebagai manusia seutuhnya. dan mencintai. bagaimana orang-orang yang bergerak di bidang kesehatan bisa memengaruhi para pembuat kebijakan untuk lebih tahu dan memerhatikan kesehatan. promosi kesehatan masuk ke wilayah politik.profesional. Untuk itu. Advokasi dapat dilakukan dengan memengaruhi para pembuat kebijakan untuk membuat peraturan-peraturan yang bisa berpihak pada kesehatan dan peraturan tersebut dapat menciptakan lingkungan yang dapat mempengaruhi perilaku sehat dapat terwujud di masyarakat (Kapalawi. Diharapkan dengan tingginya partisipasi dari masyarakat maka suatu program kesehatan dapat lebih tepat sasaran dan memiliki daya ungkit yang lebih 10 . dan dengan memastikan bahwa masyarakat yag didiami seseorang menciptakan kondisi yang memungkinkan pencapaian kesehatan oleh semua anggotanya. Melalui advokasi. bekerja. dan evaluasi kegiatan promosi kesehatan serta kesetaraan antara pria dan wanita sebagai acuan utama. Pemberdayaan Di samping advokasi kesehatan. pelaksanaan. Pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan lebih kepada untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam bidang kesehatan. Advokasi bergerak secara top-down (dari atas ke bawah). Advokasi ini lebih menyentuh pada level pembuat kebijakan. sebagai bentuk pengawalan terhadap kesehatan. utamanya promosi kesehatan. dan ekologi adalah isu-isu yang penting dalam mengembangkan strategi untuk promosi kesehatan. setidaknya dapat disimpulkan dua kata kunci kegiatan promosi kesehatan. Jadi sifatnya bottom-up (dari bawah ke atas). Bergerak ke masa depan (moving into the future) Kesehatan diciptakan dan dijalani oleh manusia di antara pengaturan dari kehidupan mereka sehari-hari di mana mereka belajar. Kesehatan diciptakan dengan memelihara satu sama lain dengan kemampuan untuk membuat keputusan dan membuat kontrol terhadap kondisi kehidupan seseorang. 2007). kebersamaan. strategi lain dari promosi kesehatan adalah pemberdayaan masyarakat di dalam kegiatan-kegiatan kesehatan.

Pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan pada dasarnya tidak berbeda dengan pemberdayaan masyarakat dalam bidang-bidang lainnya. Adanya manfaat yang dapat dan segera dapat dirasakan oleh masyarakat 4. 2007). pelatihan kader-kader Posyandu untuk imunisasi Mopping Up Polio. partisipasi masyarakat harus ditumbuhkan. Adanya ajakan dan kesempatan untuk berperan aktif 3. Partisipasi dapat terwujud dengan syarat (Tawi. Adanya saling percaya antaranggota masyarakat 2. misalnya adanya kebijakan gerakan PSN-3M selama 30 menit setiap hari jumat Gerakan masyarakat. diharapkan masyarakat dapat berperan aktif atau berpartisipasi dalam setiap kegiatan. Sebagai unsur dasar dalam pemberdayaan. hasilnya adalah cukup baik. Posyandu Lansia setiap hari Senin minggu pertama). dan lokakarya. baik yang dilakukan di dalam maupun di luar gedung Puskesmas. 11 . Adanya contoh dan keteladanan dari tokoh/pemimpin masyarakat. Pelaksanaan kegiatan di Puskesmas Kecamatan Cilandak Kegiatan Promkes yang dilakukan di Puskesmas Kecamatan Cilandak meliputi kegiatan: Advokasi kesehatan. 2008): 1. Dengan pemberdayaan masyarakat. Namun. berupa pengenalan masalah kesehatan oleh masyarakat dan melaksanakan para kader atau tenaga pelaksana yang terlatih. petugas yang tersedia masih terbatas. misalnya dengan adanya Jumantik (Juru Pemantau Jentik) di tingkat RT. Bina suasana. Berdasarkan kegiatan di lapangan (dalam hal ini di Puskesmas kecamatan Tebet). Tanggapan masyarakat terhadap kegiatan yang diikutinya cukup baik. Dengan begitu. misalnya melalui berbagai kegiatan penyuluhan (penyuluhan di Posyandu balita setiap bulan di hari Rabu minggu pertama. kegiatan promosi kesehatan akan berlangsung dengan sukses.besar bagi perubahan perilaku karena dapat menimbulkan suatu nilai di dalam masyarakat bahwa kegiatan-kegiatan kesehatan tersebut itu dari kita dan untuk kita (Kapalawi. Partisipasi itu harus didukung oleh adanya kesadaran dan pemahaman tentang bidang yang diberdayakan. disertai kemauan dari kelompok sasaran yang akan menempuh proses pemberdayaan.

tempat umum agar tahu. PHBS di Rumah Tangga dilakukan untuk mencapai Rumah Tangga ber PHBS yang melakukan 10 PHBS yaitu: 1. Menimbang Bayi tiap bulan 4. Menggunakan jamban sehat 7. atau perorangan yang digunakan untuk kegiatan bagi masyarakat seperti sarana 12 . Makan bah dan sayur setiap hari 9. Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai PHBS di Institusi Kesehatan yaitu :        Menggunakan air bersih Menggunakan Jamban Membuang sampah pada tempatnya Tidak merokok di institusi kesehatan Tidak meludah sembarangan Memberantas jentik nyamuk PHBS di Tempat . masyarakat pengunjung dan petugas agar tahu. mau dan mampu untuk mempraktikkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dan berperan aktif dalam mewujudkan Institusi Kesehatan Sehat dan mencegah penularan penyakit di institusi kesehatan. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan 2.tempat Umum adalah upaya untuk memberdayakan masyarakat pengunjung dan pengelola tempat . Menggunakan air bersih 5. Melakukan aktifitas fisik setiap hari 10. mau dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat.tempat Umum Sehat. Memberantas jentik di rumah seminggu sekali 8. Memberi ASI Esklusif 3.tempat Umum adalah sarana yang diselenggarakan oleh pemerintah/swasta. Tidak Merokok di dalam rumah PHBS di Institusi Kesehatan adalah upaya untuk memberdayakan pasien. mau dan mampu untuk mempraktikkan PHBS dan berperan aktif dalam mewujudkan tempat . Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun 6.Perilaku Hidup Bersih dan Sehat PHBS di Rumah Tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu.  Tempat .

guru dan masyarakat lingkungan sekolah atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran. serta berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan sehat. Membuang sampah pada tempatnya 4. transportasi. sarana ibadah. Tidak merokok di tempat umum 5. sehingga secara mandiri mampu mencegah penyakit. rekreasi dan sarana sosial lainnya. Tidak meludah sembarangan PHBS di Sekolah adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan oleh peserta didik. mau dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam mewujudkan Tempat Kerja Sehat Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Tempat kerja antara lain :      Tidak merokok di tempat kerja Membeli dan mengkonsumsi makanan dari tempat kerja Melakukan olahraga secara teratur/aktifitas fisik Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar dan buang air kecil Memberantas jentik nyamuk di tempat kerja 13 . Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai PHBS di Tempat . Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai PHBS di sekolah yaitu:         Mencuci tangan dengan air yang mengalir dan menggunakan sabun Mengkonsumsi jajanan sehat di kantin sekolah Menggunakan jamban yang bersih dan sehat Olahraga yang teratur dan terukur Memberantas jentik nyamuk Tidak merokok di sekolah Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap 6 bulan Membuang sampah pada tempatnya PHBS di Tempat kerja adalah upaya untuk memberdayakan para pekerja agar tahu. Menggunakan jamban 3. Menggunakan air bersih 2.pariwisata. meningkatkan kesehatannya. sarana perdagangan dan olahraga.Tempat Umum yaitu : 1.

    Menggunakan air bersih Menggunakan jamban saat buang air kecil dan besar Membuang sampah pada tempatnya Mempergunakan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai jenis pekerjaan 14 .

karyawan.opini. Ketiga strategi tersebut harus dilakukan secara bersamaan. dikenal (empowerment). norma Pendekatan pimpinan (advocacy) Tersier Persetujuan. dan melengkapi. pelatihan. pembinaan dukungan 3 strategi. dukungan Pendekatan peroramngan dan kelompok Konsultasi. saling mengisi. yaitu pemberdayaan masyarakat suasana (social support).OSIS Pengurus/sarikat pekerja Tempat umum Institusi kesehatan Pengunjung Pasien/pengunjung Pegawai/karyawan Petugas kesehatan Direksi/pemilik Pimpinan/direktur Sasaran Tersier Kepala keluarga Kepala sekolah Direksi/pemilik Strategi dan manajemen PKM puskesmas Dalam management PKM. distribusi bahan penyuluhan Pembinaan suasana (social support) Sekunder Pengembangan pendapat umum. dan pendekatan pimpinan/kelompok (advocacy). Secara lebih jelas ketiga strategi tersebut dapat dilihat dibawah ini : Strategi Pemberdayaaan (empowerment) Primer Sasaran Tujuan Peningkatan pengetahuan sikap dan perilaku (PHBS) Cara Penyuluhan perorangan. pertemuan 15 . kelompok dan masal.BAB V SASARAN SASARAN Digolongkan atas masyarakat yang sudah ada dalam suatu system tertentu yang disebut sebagai tatanan/pranata Tatanan Rumah tangga Institusi pendidikan Tempat kerja Sasaran Primer Anggota keluarga Seluruh siswa Seluruh karyawan Sasaran Sekunder Ibu Guru.

16 . Penggerakan dan pelaksanaan Daftar kegiatan dan penanggung jawab masingmasing kegiatan yang telah disepakati d.factor pendorong Pemetaan masalah PHBS Masalah strata kesehatan wilayah Ketersediaan SDM Rumusan tujuan.kegiatan.intervensi dan jadwal kegiatan c. Penyuluhan kesehatan masyarakat merupakan bagian integral dari setiap program kesehatan dan berfungsi sebagai katalisator program-program tersebut. Perencanaan Kebijaksanaan Pelaksanaan Penyuluhan Kesehatan Masyarakat Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut. yaitu : Pengkajian Pemantauan dan Penilaian Perencanaan Penggerakan dan Pelaksanaan Secara singkat. Pengkajian (i) (ii) (iii) (iv) Pengkajian masalah kesehatan Pengkajian masalah PHBS Pemetaan wilayah Pengkajian sumber daya 10 penyakit terbanyak. Pemantauan dan penilaian Rencana pertemuan/supervisi berkala Rencana evaluasi akhir tahun Luaran b.Manajemen PKM di puskesmas Manajemen PKM di puskesmas dilaksanakan melalui 4 fungsi tahapan. tahapan manajemen PKM dapat dilihat dalam table berikut: Tahapan manajemen a.kegiatan promosi kesehatan masyarakat dilaksanakan sebagai berikut : a.

Puskesmas dimanfaatkan sebagai pusat pengembangan dan pembinaan kesadaran dan peran serta masyarakat di bidang kesehatan di wilayahnya. paramedik. e. Penyuluhan kesehatan masyarakat di puskesmas Kecamatan Cilandak Agar dapat mencapai tujuan penyuluhan kesehatan masyarakat . Secara tidak langsung Memberi tauladan serta contoh dari para dokter atau paramedic Penampilan yang rapih dan sehat dari bangunan puskesmas Secar a langsung Dialog do kamar periksa antara dokter dan pasien Dialog dokter. Pelaksanaaan kegiatan puskesmas yang biasa dilaksanakan ialah : a. Peningkatan perilaku penduduk dalam membina hidup sehat juga diarahkan untuk meningkatkan peran sertanya mewujudkan masyarakat yang mandiri dalam membina derajat kesehatan yang dimulai dalam keluarganya. maka upaya kegiatan penyuluhan perlu diselaraskan dengan fungsi dan tugas puskesmas serta kemampuan daripada sumber tenaga. f. Sikap mental petugas kesehatan. Penyuluhan kesehatan merupakan upaya yang dilaksanakan baik oleh pemerintah secar a lintas program dan lintas sektoral. ataupun di rumah tinggal para dokter dan paramedic. dana. c.b. dan keluarga pasien tentang hal yang bias dilakukan pasien atau keluarga pasien Menggunakan media penyuluhan. pemerintah. maupun oleh masyarakat termasuk pihak LSM. terutama yang akan dikembangkan dan diarahkan kea rah sikap mental yang partisipatif dan lebih berorientasi pada aspek pencegahan dan peningkatan. Penyuluhan institusi : kegiatan penyuluhan yang dilakukan di institusi bersangkutan seperti puskesmas. d. Peningkatan penyuluhan kesehatan pada lembaga-lembaga pendidikan dasar. Penyuluhan di masyarakat (di luar gedung puskesmas) : pelaksanaannya dilaksanakan berdasarkan ― pendekatan edukatif ― melalui tahap-tahap berikut: 17 . serta sarana yang dimiliki. b. seperti poster dll Melakukan penyuluhan kelompok di puskes yang sudah direncanakan. dan swasta agar kesadaran dan perilaku hidup sehat dapat ditumbuhkan dan dibudidayakan sedini mungkin.

Untuk mengetahui metode apa yang dipilih perlu ditentukan terlebih dahulu tahapan perubahan perilaku yang ingin dicapai : Metode untuk merubah pengetahuan Ceramah Kuliah Presentasi Wisata karya Curah pendapat Seminar Studi kasus Tugas baca Symposium Panel Konferensi Metode untuk merubah sikap Diskusi kelompok Tanya jawab Role playing Pemutaran film Video Tape recorder Simulasi Metode untuk merubah tindakan Latihan sendiri bengKel kerja demonstrasi experiment Menentukan sasaran Karena keterbatasan sumber daya. Perencanaan: membuat rencana penyuluhan kesehatan 5.1. perlu dilibatkan masyarakat dan petugas harus mampu menerapkan metode dan tehnik penyuluhan 6. Metode Secara sederhana pengertiannya adalah cara untuk melaksanakan penyuluhan kepada masyarakat. Pelaksanaan penyuluhan : dalam pelaksaan. Pertemuan tingkat desa : tujuannya ialah memeperoleh kesepakatan dan dukungan dari kepala desa bererta aparatnya 3. maka metode penyuluhan yang paling sering dilakukan puskesmas adalah ceramah yang disertai Tanya jawab. wawancara dan demonstrasi. Metode dan tehnik penyuluhan masyarakat A. Melakukan survey mawas diri : mendapatkan data dari msyarakat tentang idea tau program promosi kesehatan yang akan diterapkan kepada mereka. Pertemuan tingkat kecamatan : tujuannya ialah memeperoleh kesepakatan dan dukungan dari pimpinan wilayah 2. Evaluasi kegiatan penyuluhan : evaluasi dilakukan sesuai dengan tehnik penyuluhan yang dilakukan. 4. 18 .

mengemukakan maksud dan tujuan .ada suatu pesan yang disampaikan .menentukan sasaran pendengar .men yampaikan ceramah dengan suara jelas .penilaian Suatu ceramah akan terlihat berhasil bila : -ada respon dari pendengar .pelaksanaan . a.ada sekelompok pendengar yang dipersiapkan .ada minat pendengar .menjelaskan sistematika ceramah .perkenalan diri .mempersiapkan waktu dan tempat yang tepat -mempersiapkan undangan .ciptakan suasana santai .ada kesempatan bertanya bagi pendengar .mempersiapkan alat peraga .ada jawaban pada pengisian angket 19 . serta dibantu oleh alat peraga.ada alat peraga yang digunakan b.mempersiapkan materi .topic yang dikemukakan hanya satu . pengertian atau pesan secara lisn kepada suatu kelompok pendengar yang disertai diskusi dan Tanya jawab. Ciri-ciri ceramah . langkah langkah melakukan ceramah .persiapan -menentukan maksud dan tujuan ceramah .mempersiapkan bahan bacaan .Teknik penyampaian Ceramah Ceramah adalah salah satu cara menerangkan atau menjelaskan suatu ide.B.sediakan waktu untuk Tanya jawab -menyimpulkan ceramah .

Jawaban yang wajar 4. Rumuskan pertanyaan dengan sederhana 3. Cirri –ciri wawancara Ada pihak yang bertanya Ada pihak yang ditanya Seluruh percakapan dikendalikan oleh pihak interviewer b. Menentukan sasaran 4. Menentukan pokok-pokok pertanyaan Pelaksanaan 1. Menentukan isi pesan yang akan disampaikan 3. Tujuan 20 . adegan atau menggunakan suatu proedur. Suasana menyenangkan 2. 1. Gunakan alat peraga 5. Minat responden Demonstrasi Adalah suatu cara penyajian yang dipersiapkan dengan teliti untuk memperlihatkan bagaimana cara melakukan suatu tindakan. Diarahkan kepada persoalan pokok 4. Langkah-langkah melakukan wawancara Persiapan 1. Penyajian ini disertai penggunaan alat peraga dan Tanya jawab. Menentukan tujuan wawancara 2.Wawancara Adalah suatu metode penyuluhan kesehatan dengan jalan Tanya jawab yang diarahkan kepada pencapaian tujuan yang telah ditentukan. Menentukan waktu 5. Biasanya hanya diberikan pada individu yang terbatas jumlahnya. Catat jawaban yang dianggap perlu Penilaian 1. a. Kelancaran wawancara 3. Memperkenalkan diri 2.

Menentukan materi c. Menentukan maksut dan tujuan b. menghindari kejenuhan kemudahan bagi pihak yang disuluh a. menghindari kejenuhan Beberapa alat bantu peraga yang dapat digunakan adalah : a. Memperkenalkan diri b. Menentukan perkiraan lamanya e. melihat nyata inti materi b. Menciptakan suasana nyaman c.- Memperlihatkan kepada kelompok bagaimana cara membuat sesuatu dengan prosedur yang benar Meyakinkan kelompok bahwa ide tersebut bias dilaksanakan Meningkatkan minat orang untuk belajar 2. dapat menambah percaya diri c. OHP c. Langkah-langkah melakukan demonstrasi Persiapan a. Hasil pengisian angket Alat peraga penyuluhan kesehatan masyarakat kemudahan bagi pihak penyuluh a. Adanya permintaan melakukan demonstrasi c. Menentukan sasaran dengan latar belakang sosioekonomi d. Memberi materi d. Menentukan alat atau peraga Pelaksanaan a. Member kesempatan Tanya jawab Penilaian a. Poster 21 . Kertas flipchart d. memiliki bahan nyata b. papan tulis b. Banyaknya pertanyaan b.

Kegiatan yang dapat terlaksana dibandingkan dengan perencanaan b. pernah mendengar AIDS k. Ibu : .pemeriksaan kehamilan oleh petugas minimal 4 kali . Evaluasi dapat dilakukan dengan menilai : a. keluarga menjadi anggota dana sehat (JPKM) 22 . Flash card f. Indicator yang digunakan adalah sebagai berikut : Indicator Tatanan Rumah Tangga a. bayi : sudah diimunisasi c. Penilaian dilakukan pada akhir tahun dengan cara pengkajian kembali seperti pada tahap pertama manajemen PKM. Indicator masing-masing program yang menjadi topic penyuluhan c. keberhasilan dapat dilihat dari strata PHBS tiap tahun. keluarga biasa makan makanan yang beraneka ragam i. kuku anggota keluarga pendek dan bersih h. seluruh keluarga buang air besar di jamban e. Strata PHBS di wilayah kerja Indikator PKM Dalam kegiatan penilaian. tidak ada sampah berserakan f.sudah imunisasi TT. Leflet. seluruh keluarga menggunakan air bersih g. Model g. digunakan indicator-indikator tertentu. balita : ditimbang setiap bulan d. yaitu petunjuk yang membatasi focus perhatian suatu penilaian. bagi ibu muda yang belum punya anak b.proses melahirkan dibantu oleh petugas kesehatan . Hasil pengkajian tiap tahun dibandingkan hasil pengkajian awal tahun. dll Pemantauan dan penilaian Pemantauan kegiatan dilakukan secara berkala. semua anggota keluarga tidak merokok j.e. Pemantauan dapat juga dilakukan dengan kunjungan lapangan ke tiap tatanan untuk melakukan perkembangan strata bersih dan sehat (PHBS) setelah dilakukan intervensi kesehatan masyarakat.ikut KB bag wanita usia subur .

Siswa ada yang menjadi dokter kecil Kesehatan Anak Sekolah dan Remaja Tatanan istitusi pendidikan adalah Puskesmas atau Puskesmas Pembantu a. Tidak ada sampah yang berserakan d. Semua petugas kukunya pendek dan bersih Indikator Tatanan Umum a. Tidak ada sampah berserakan d. Menjadi anggota dana sehat (JPKM) f. Tertata poster kesehatan e. Tatanana air bersih b. Indicator warung makan Makanan dan minuman tidak menggunakan bahan kimia berbahaya Makanan dan minuman terhindar dari serangga berbahaya Tersedia jamban yang bersih Tersedia air yang bersih Tidak ada sampah berserakan Kuku pengelola makanan pendek dan bersih Menjadi anggota dana sehat b. Guru tidak merokok h. Siswa pada umumnya (60%) kukunya pendek dan bersih g. Swasta termasuk Madrasah Ibtidaiyah a. Ketersediaan UKS e.Indikator Tatanaan Institusi Pendidikan Tatanan pendidikan adalah Sekolah Dasar Negeri. Semua petugas tidak merokok h. Penyuluhan kelompok teratur dilaksanakan g. Tersedia jamban yang bersih b. Tersedia jamban yang bersih c. Radio kaset penyuluhan berfungi setiap hari f. Tersedia air yang bersih c. Indicator tempat ibadah Sekeliling tempat ibadah dalam keadaan bersih 23 .

Kajian kuantitatif 2. Persiapan sarana c. Persiapan pelaksanaan : ibu-ibu balita : 50 orang : dengan kuisioner 24 .- Tersedia air bersih Tersedia jamban yang bersih Tersedia pembuangan air limbah (SPAL) Kuku pengelola pendek dan bersih Semua pengelola dan pengunjung tidak merokok Pernah mendengan AIDS Tersedia media penyuluhan c. Tahap persiapan: a.Jumlah sasaran . Indikator PHBS . Pengelolaan Program PHBS 1. Kajian PHBS . Indicator pasar Sekeliling pasar dalam keadaan bersih Tersedia air bersih Tersedia jamban yang bersih Tersedia pembuangan air limbah (SPAL) Cukup pencahayaan dan ada penghawaan Kuku pengelola pendek dan bersih Semua pengelola dan pengunjung tidak merokok Pernah mendengan AIDS Tersedia media penyuluhan 1.Perilaku tentang gizi .Perilaku tentang kesehatan lingkungan .Perilaku tentang gaya hidup 3. Sosialisasi dan advokasi kesehatan b.Sasaran . Persiapan administrasi d.Perilaku tentang KIA .

penyebab.Format pencatatan dan pelaporan 4. siapa melakukan apa .Daftar tenaga. Pengkajian 3.2.Daftar jenis dan jumlah sarana yang dibutuhkan . Persiapan sarana 5. Tahap pergerakan pelaksanaan 5. Jadwal kegiatan 4.Daftar penanggung jawab masing-masing kegiatan 2. sarana. Persiapan pelaksanaan Identifikasi. Persiapan administrasi Identifikasi lapangan . dana yang tersedia 3.Peran dan fungsi masingmasing jelas Identifikasi kebutuhan sarana . Pengkajian sumber daya tenaga. Tahap Pengkajian No. Kegiatan Tujuan Untuk mengetahui 10 1.Daftar 10 penyakit terbanyak . epidemiologi masalah Identifikasi sarana. Pemantauan dan penilaian 4. 6. Menentukan tujuan c.Daftar surat yang diperlukan 3.Sepakat melaksanakan PHBS .Daftar penyebab sifat. Menentukan jenis kegiatan/intervensi d. Sosialisasi dan advokasi mengetahui program PHBS politis/ kemitraan . Tahap pengkajian: a. 2. Tahap Persiapan No. Menentukan prioritas b. Tahap perencanaan: a. Pengkajian masalah kesehatan penyakit terbanyak. Kegiatan Tujuan Luaran . Pengkajian PHBS Untuk mengetahui Luaran .Dukungan dana/ kebijakan Agas LS/LP/LSM/ Mitra 1.Kuisioner . sifat.Adanya klasifikasi PHBS di 25 . dan dana yang tersedia . epidemiologi masalah .

meliputi penyluhan massa/ terpadu dan rancangan media Adanya jadwal kegiatan intervensi 2. norma. 1.perilaku keluarga pada tatanan rumah tangga Untuk mengetahui 4. Kegiatan Rumusan tujuan Tujuan Untuk membuat target yang ingin dicapai Untuk mengembangkan berbagai alternatif intervensi Untuk menetapkan waktu bagi setiap kegiatan Luaran Adanya target yang bisa diukur Adanya rencana kegiatan entervensi yang menyeluruh. Rumusan rencana kegiatan intervensi 3.Adanya dukungan politik dari pengambilan keputusan .menggalang dukungan lewat pendapat umum melalui media massa Untuk menciptakan 2.Mempengaruhi pihak lain agar mendukung 1. etika.Meningkatkan kerjasama antara masyarakat dan pemerintah .Adanya anggaran rutin yang dinamis .Adanya klasifikasi wilayah sehat atau tidak sehat Tahap Perencanaan No. dan kondisi masyarakat berPHBS 26 .Untuk mempengaruhi peraturan dan kebijakan yang mendukung pemberdayaan PHBS . Pengkajian wilayah klasifikasi PHBS di setiap wilayah setiap RT . Advokasi PHBS .Fasilitas umum simakin merata terutama di daerah kumuh Luaran . Kegiatan Tujuan .Adanya kepedulian LSM terhadap PHBS . Pembuatan jadwal kegiatan Tahap Pergerakan dan Pelaksanaan No. Bina suasana berbagai opini yang ada di masyarakat yang Terciptanya opini.

Pemantauan dan Penilaian No. Pemantauan program PHBS berjalan.Mengungkapkan UKBM . Penilaian seberapa jauh target yang ditetapkan tercapai adanya hasil pencapaian program PHBS dalam kurun waktu tertentu adanya laporan bulanan/triwulan/tengah tahun Luaran 27 .mendukung tercapainya PHBS di semua tatanan Untuk Pemberdayaan atau gerakan masyarakat menumbuhkembangkan potensi masyarakat untuk mendukung dan membudayakan PHBS .Meningkatkan peserta dana sehat (JPKM) 3. Kegiatan Tujuan Untuk mengetahui seberapa jauh suatu 1. mengacu kepada perncanaan dan penjadwalan Untuk mengetahi 2.

terutama pada bagian promosi kesehatan. dan gerakan masyarakat. ditambah. meningkatkan. Dengan demikian kegiatan promosi kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari setiap program yang ada di Puskesmas. 28 . bina suasana. Selain itu para petugas kesehatan terus berupaya untuk memberikan masukan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan. Saran Untuk lebih meningkatkan upaya promosi kesehatan pada masyarakat maka sebaiknya para petugas kesehatan. dan kemampuan. serta pengembangan lingkungan sehat. Kegiatan yang dilakukan berupa advokasi kesehatan. dan melindungi kesehatannya melalui peningkatan kesadaran. kemauan.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Promosi kesehatan adalah proses memberdayakan atau memandirikan masyarakat agar mampu memelihara.

MPH. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.1570 tentang Kebijakan Teknis Promosi Kesehatan 2003 6.DAFTAR PUSTAKA 1. Dachroni. MPH. Buku Panduan Straegi Promosi Kesehatan di Indonesia.7. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.00. Jakarta Selatan: Sudin Kesehatan Masyarakat 2003 2. 23 tahun 1992 tentang kesehatan 29 .htm 5.06. UU RI no. Drs. Surat Keputusan Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat No: HK. Pedoman Kerja Puskesmas 2009 4. Sudin Kesehatan Masyarakat. Promosi Kesehatan Online. Jakarta Selatan: Sudin Kesehatan Masyarakat 2003 3. Dachroni. Drs. Seri PHBS: Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Untuk Petugas Puskesmas.1.

094) (030.05.06.257) (030.06.UPAYA KESEHATAN LINGKUNGAN Penyusun : Hawa Fatihah bt CMS Fira Thiodorus Marrietta S.157) 30 . Sadeli (030.

BAB I PENDAHULUAN
Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.(Pasal 1 butir 1 UU No. 36 Tahun 2009)

Kesehatan masyarakat adalah ilmu dan seni (kiat/art) untuk : 1. mencegah penyakit 2. memperpanjang harapan hidup, dan 3. meningkatkan kesehatan dan efisiensi masyarakat melalui usaha masyarakat yang terorganisir untuk; sanitasi lingkungan, pengendalian penyakit menular, pendidikan hygiene perseorangan, mengorganisir pelayanan media dan perawatan agar dapat dilakukan diagnosis dini dan pengobatan pencegahan, membangun mekanisme sosial, sehingga setiap insan dapat menikmati standar kehidupan yang cukup baik untuk dapat memelihara kesehatan. Dengan demikian, setiap warga negara dapat menyadari haknya atas kehidupan yang sehat dan panjang (Winslow, 1920)

Kesehatan lingkungan adalah suatu kondisi lingkungan yang mampu menopang keseimbangan ekologis yang dinamis antara manusia dan lingkungan untuk mendukung tercapainya realitas hidup manusia yang sehat, sejahtera dan bahagia (Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan)

Ilmu Kesehatan Lingkungan diberi batasan sebagai ilmu yang mempelajari dinamika hubungan interaktif antara kelompok penduduk atau masyarakat dengan segala macam perubahan komponen lingkungan hidup seperti spesies kehidupan, bahan, zat atau kekuatan di sekitar manusia, yang menimbulkan ancaman, atau berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan masyarakat, serta mencari upaya-upaya pencegahan.(Umar Fahmi Achmadi, 1991)

Kesehatan lingkungan adalah upaya untuk melindungi kesehatan manusia melalui pengelolaan, pengawasan dan pencegahan factor-faktor lingkungan yang dapat mengganggu kesehatan manusia (Sumengen Sutomo, 1991)

31

Kesehatan lingkungan adalah ilmu & seni dalam mencapai keseimbangan, keselarasan dan keserasian lingkungan hidup melalui upaya pengembangan budaya perilaku sehat dan pengelolaan lingkungan sehingga dicapai kondisi yang bersih, aman, nyaman, sehat dan sejahtera terhindar dari gangguan penyakit, pencemaran dan kecelakaan, sesuai dengan harkat dan martabat manusia. (Sudjono Soenhadji, 1994 ) Untuk menilai keadaan lingkungan dan upaya yang dilakukan untuk menciptakan lingkungan sehat telah dipilih empat indikator, yaitu persentase keluarga yang memiliki akses air bersih, presentase rumah sehat, keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar, Tempat Umum dan Pengolahan Makanan (TUPM) .

Beberapa upaya untuk memperkecil resiko turunnya kualitas lingkungan telah dilaksanakan oleh berbagai instansi terkait seperti pembangunan sarana sanitasi dasar, pemantauan dan penataan lingkungan, pengukuran dan pengendalian kualitas lingkungan.

Pembangunan sarana sanitasi dasar bagi masyarakat yang berkaitan langsung dengan masalah kesehatan meliputi penyediaan air bersih, jamban sehat, perumahan sehat yang biasanya ditangani secara lintas sektor. Sedangkan dijajaran Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang kegiatan yang dilaksanakan meliputi pemantauan kualitas air minum, pemantauan sanitasi rumah sakit, pembinaan dan pemantauan sanitasi tempat-tempat umum (Hotel, Terminal), tempat pengolahan makanan, tempat pengolahan pestisida dan sebagainya.

32

BAB II PENGERTIAN
Upaya penyehatan lingkungan dan pemukiman adalah upaya untuk meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan dan pemukiman melalui upaya sanitasi dasar, pengawasan mutu lingkungan dan tempat umum, termasuk pengendalian pencemaran lingkungan dengan meningkatkan peran serta masyarakat dan keterpaduan pengelolaan lingkungan melalui analisis dampak lingkungan. Lingkungan pemukiman adalah tempat tinggal atau tempat hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan. Tempat umum adalah tempat kegiatan bagi umum yang diselenggarakan oleh badanbadan Pemerintah, Swasta atau Perorangan yang langsung digunakan masyarakat, mempunyai tempat,sarana dan kegiatan yang tetap. Penyehatan makanan adalah upaya untuk mengendalikan faktor makanan, orang, tempat dan perlengkapannya yang dapat atau mungkin dapat menimbulkan penyakit atau gangguan kesehatan lainnya. Pendekatan PKMD adalah pendekatan sosio-edukatif dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Pertemuan tingkat kelurahan. 2. Survai Diri Masyarakat. 3. Musyawarah Masyarakat Kelurahan. 4. Pelalihan Kader. 5. Pelaksanaan Kader. 6. Pelaksanaan Upaya Kesehatan oleh Masyarakat. 7. Pembinaan & Pelestarian kegiatan

33

BAB III TUJUAN

Tujuan Umum Meningkatnya kondisi kesehatan lingkungan melalui upaya pengawasan dan pengendalian semua unsur fisik, kimia, dan biologis yang terdapat dilingkungan dan masyarakat yang dapat mempengaruhi derajat kesehatan.

Tujuan Khusus Meningkatnya kualitas perumahan penduduk yang memenuhi syarat kesehatan. Terbantunya penyediaan air bersih yang memenuhi syarat kesehatan, pengawasan kualitas air bagi seluruh masyarakat, serta peningkatan kemampuan masyarakat dalam penyediaan dan pemanfaatan sarana pembangunan kotoran yang memenuhi syarat kesehatan. Tersedianya fasilitas pembuangan kotoran yang memenuhi syarat kesehatan, tidak menimbulkan sarang lalat, nyamuk dan tikus, dan tidak memberi ―pandangan tidak sedap‖. Terwujudnya kondisi tempat-tempat umum yang memenuhi syarat kesehatan, agar masyarakat, pengunjung dan sekitarnya terhindar dari gangguan kesehatan. Meningkatnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat dan perusahaan makanan dalam mengelola makanan secara aman dan sehat agar terhindar dari penyakit dan keracunan. Terjaminnya mutu lingkungan hidup yang dapat menjamin kesehatan masyarakat yang optimal, bebas dari pengaruh buruk atas pengelolaan pestisida melalui upaya pencegahan dan pengendalian pencemaran dan keracunan oleh pestisida.

34

BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN
KEGIATAN Kegiatan-kegiatan utama kesehatan lingkungan yang harus dilakukan oleh Puskesmas meliputi : 1. Penyehatan air 2. Penyehatan makanan dan minuman 3. Pengawasan pembuangan kotoran manusia 4. Pengawasan dan pembuangan sampah dan limbah 5. Penyehatan pemukiman 6. Pengawasan sanitasi tempat umum 7. Pengamanan polusi industri 8. Pengamanan pestisida 9. Klinik sanitasi

SASARAN Penyehatan air : 1. Daerah dengan angka penyakit diare dan penyakit kulit tinggi 2. Daerah berpenghasilan rendah 3. Daerah penduduk padat dan kumuh 4. Penyehatan makanan dan minuman : 5. Tempat pengelolaan makanan (TPM) : jasa boga, restoran/rumah makan, sentral makanan jajanan, pengrajin makanan/indsutri makanan rumah tangga, kantin termasuk kantin sekolah, pedagang makanan kaki lima, tempat pengelolaan makanan lainnya. 6. Keluarga 7. Pengawasan pembuangan kotoran manusia : 8. Daerah endemis penyakit perut dan penyakit kecacingan 9. Daerah-daerah dengan angka kepemilikan dan pemanfaatan jamban yang memenuhi syarat kesehatan 10. Pengawasan dan Pembuangan Sampah dan Limbah :

35

11. Keluarga dan masyarakat di daerah yang angka kepadatan penduduk tinggi dan produksi sampahnya cukup banyak 12. Daerah endemis penyakit perut (diare, gastroenteritis acuta) dan penyakit-penyakit bersumber sampah

Penyehatan pemukiman : 1. Daerah dengan resiko terhadap kemungkinan penularan penyakit-penyakit diare, kecacingan, TBC paru, ISPA, DBD dan Filariasis 2. Daerah dengan cakupan sanitasi dasarnya rendah 3. Daerah kumuh 4. Daerah pemukiman baru 5. Daerah risiko tinggi terhadap pencemaran

Pengawasan Sanitasi Tempat-tempat Umum : 1. Yang berhubungan dengan sasaran pariwisata, seperti Bioskop, Gedung Pertunjukan, Hotel, Kolam renang, dsb. 2. Yang berhubungan dengan Transportasi, Terminal, Stasiun dan alat Transportasi Umum, pool kendaraan 3. Yang berhubungan dengan sarana ibadah : Masjid, Gereja, Pura, Vihara 4. Yang berhubungan dengan sarana perdagangan : Pasar, Toko Swalayan, dsb 5. Yang berhubungan dengan sarana Perawatan/Pemeliharaan: Salon Kecantikan, Panti Pijat, Tempat Pangkas Rambut, Klinik kesehatan, Puskesmas 6. Yang berhubungan dengan sarana sosial dan pendidikan: Lembaga Pemasyarakatan, Panti Sosial, Sekolah, Rumah duka, penampungan tenaga kerja, dsb 7. Yang berhubungan dengan sarana olahraga, misal : pusat kebugaran, gelanggang olahraga, dsb

Dalam melakukan kegiatan pengamanan lingkungan akibat pencemaran industry diutamakan pada pemukiman sekitar daerah industri dan pemukiman yang mempunyai resiko tinggi terhadap kemungkinan pencemaran industri. Pengamanan pestisida : 1. Tempat pengelolaan Pestisida (TPP) yang menjadi tanggung jawab Puskesmas adalah toko/kios pestisida, KUD. 2. Pengguna pestisida: Petani penyemprot hama pertanian di kebun dan sawah
36

Lingkungan penyebab masalah bagi penderita dan masyarakat sekitarnya 37 .Klinik Sanitasi : 1. Masyarakat umum yang mempunyai masalah kesehatan lingkungan yang datang ke Puskesmas 3. Penderita penyakit yang berhubungan dengan masalah kesehatan lingkungan yang datang ke Puskesmas 2.

4. Termotivasinya masyarakat untuk memiliki / bertempat tinggal di rumah yang memenuhi syarat kesehatan. 2. ramah.BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU Uraian Prosedur Pelayanan Kesehatan Lingkungan A. Stimulan pembangunan sarana percontohan kesehatan. pemukiman baru perkotaan dan daerah aliran sungai (DAS). Waktu : Disesuaikan dengan jadwal kegiatan yang disusun. Pemeriksaan perumahan dan lingkungannya. Sasaran : Masyarakat di pemukiman kumuh. 3. Terlaksananya pemberian penyuluhan tentang rumah sehat bagi keluarga. berwibawa dan terkoordinasi dengan lintas program / sektor yang terkait. Penyehatan Perumahan Tujuan : 1. Penyuluhan. Prinsip Kerja : Memberikan pelayanan dan pembinaan secara profesional. Pelatihan dan pembinaan kader. Dokter sebagai koordinator 38 . 5. 2. Kegiatan : 1. 3. Tenaga : 1. Pendataan. Terbantunya masyarakat / keluarga yang kurang mampu untuk membangun / memiliki rumah sehat.

Mengadakan pendekatan PKMD 2. Kartu rumah 3. 4. Surat Tugas 2. 3. poster. air bersih. Alat bantu penyuluhan seperti buku pegangan penyuluhan kesehatan lingkungan . dan air limbah 2. Meningkatnya kemampuan masyarakat dalam upaya penyehatan air. pencegahan pencemaran dan percontohan perbaikan. dll. 39 . Prosedur tetap : 1. Penyehatan Air. flip chard. Mengisi formulir pemantauan 5. Terpantaunya kualitas air meliputi air minum.2. Meningkatnya ketrampilan dan pengetahuan petugas dalam pengawasan dan perbaikan kualitas air serta kemampuan dalam pembinaan masyarakat pemakai air 5. Kelengkapan administrasi : 1. air kolam renang dan pemandian umum. 2. Tujuan : 1. Meningkatnya peran serta masyarakat pemakai air. Formulir pemantauan. Meningkatnya kualitas air melalui perbaikan kualitas air. Menyiapkan surat tugas 3. Pencatatan dan pelaporan 6. Jadwal kegiatan Peralatan kerja : 1. leaftlet. Sanitarian sebagai pelaksana Tempat : Pemukiman yang akan menjadi sasaran kegiatan. air badan air. Kunjungan dan mengadakan wawancara dan inspeksi 4. Menyampaikan umpan balik B.

Masyarakat di daerah percontohan dan pemukiman baru.Sasaran : 1. Kegiatan: 1. 7. Masyarakat yang rawan air bersih 2. Perlengkapan lai sesuai SP2tp dan program 3. Perbaikan kualitas air 9. Pencatatan dan pelaporan 6. Pengawasan kualitas air 8. Mengadakan rekomendasi. Pendataan 2. Pemeriksaan kualitas di lapangan (a. Masyarakat di daerah dengan penyakit diare dan penyakir-penyakit akibat jeleknya sanitasi air cukup tinggi dan telah endemis. Dokter sebagai koordinator 2. Pemantauan dan evaluasi Waktu : Disesuaikan dengan jadwal yang disusun atau apabila ada permasalahan. Buku pencatatan harian 2. 40 . Surat tugas 4. saran dan tindak lanjut berdasarkan hasil kualitas air. Inspeksi sanitasi khususnya untuk air bersih rumah tangga 3. 3. Kelengkapan administrasi : 1. Penggerakan peran serta masyarakat pemakai air 10. Pengambilan dan pengiriman sampel air ke laboratorium 4.l sisa chlor dan pH) 5. Sanitarian sebagai pelaksana Tempat : Lokasi tempat kegiatan dilaksanakan sesuai sasaran. Jadwal Tenaga : 1.

2. Field Tool Kit Prosedur tetap : 1. Mengadakan pendekatan secara PKMD 2. sehingga masyarakat tahu. mampu dan mau menggunakan sarana pembuangan sehat sehari-hari. Memberikan saran perbaikan terhadap hasil yang belum memenuhi syarat baik secara lisan maupun tulisan 7. Mengadakan kunjungan sesuai jadwal 4. Prinsip kerja: Memberikan pelayanan dan pembinaan secara professional. Alat pengambil sampel air 5. berwibawadan terkoordinasi dengan lintas program / sector yang terkait. 3. Terlaksananya penyuluhan tentang sanitasi pembuangan kotoran bagi rumah tangga. Evaluasi C. Pencatatan dan pelaporan 8. dan masyarakat umum yang berkepentingan. pemeriksaan dan mengisi formulir 5. Menyiapkan surat tugas 3. 41 . Inspeksi. wawancara. Termotivasinya masyarakat untuk menyediakan dan menggunakan sarana pembuangan kotoran untuk keperluan rumah tangga.Peralatan : 1. Water test kit 4. ramah. Formulir 2. Penyehatan Pembuangan Kotoran Tujuan: 1. Pengambilan dan pengiriman sampel ke laboratorium 6. Buku pemeriksaan sanitasi 3. Terlaksananya penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya penyehatan pembuangan kotoran.

Sanitarian sebagai pelaksana. Pemantauan Waktu : Disesuaikan dengan jadwal yang telah disusun. Tempat : Lokasi kegiatan sesuai sasaran. Komponen jamban 4. Kelengkapan administrasi : 1. dll. Pendekatan secara PKMD 2. Jadwal kegiatan Peralatan kerja : 1. Pendataan 2. Masyarakat di daerah-daerah endemis penyakit perut dan cacing. Pembangunan dan pengembangan sarana pembangunan kotoran 4.Sasaran: 1. Buku pegangan kader kesehatan lingkungan 2. Masyarakat di daerah-daerah dengan angka kepemilikan dan pemanfaatan jamban sehat rendah. Poster. leaflet. 2. Tenaga : 1. 3. Surat tugas 2. 2. Dokter sebagai koordinator. Peralatan yang diperlukan untuk membangun jamban Prosedur kerja : 1. Kegiatan: 1. Menyiapkan surat tugas 42 . Penyuluhan 3.

menggunakan sehari-hari dan memelihara sarana untuk penanganan sampah yang memenuhi syarat kesehatan. 4. Terlaksananya pengawasan dan pembinaan sarana pembuangan sampah yang memenuhi syarat kesehatan. ramah. Pendidikan kesehatan hygiene dan sanitasi 2. 3. Masyarakat di daerah dengan angka kepadatan penduduk tinggi dan produksi sampah yang cukup banyak. Penyuluhan tentang penanganan sampah 3. Pemantauan melalui pemeriksaan tempat penampungan dan pembuangan sampah Waktu : Disesuaikan dengan jadual yang telah disusun 43 . Menyampaikan umpan balik D. Pengelolaan Pembuangan Sampah Tujuan : 1. Pencatatan dan pelaporan 6. menggunakan dan memelihara sarana pembuangan sampah yang memenuhi syarat kesehatan. Kegiatan : 1. 2. GE) dan penyakit-penyakit bersumber sampah. Prinsip kerja : memberikan pelayanan dan pembinaan secara profesiaonal. Mengisi formulir pemantauan 5. Mengadakan kegiatan 4. serta tata-cara pembuangan sampah sesuai perundangan yang berlaku. Terlaksananya penyuluhan tentang pengelolaan sampah yang memenuhi syarat kesehatan bagi rumah tangga dan masyarakat. Sasaran : 1. Termotivasinya keluarga dan masyarakat untuk menyediakan.3. Terbantunya keluarga dan masyarakat dalam mendapatkan. berwibawa dan terkoordinasi dengan lintas program/sector yang terkait. Masyarakat di daerah endemis penyakit perut(diare. 2.

Tempat : Lokasi kegiatan sesuai sasaran Tenaga : 1. 44 . sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Sanitarian sebagai pelaksana Kelengkapan administrasi: 1. menggunakan dan memelihara sarana sanitasi yang memenuhi syarat kesehatan. Terlaksananya penyuluhan tentang sanitasi yang memenuhi syarat kesehatan di TTU bagi masyarakat dan pengelola TTU 3. Formulir pemantauan 2. 2. poster. 3. Terlaksananya pengawasan dan pembinaan sarana sanitasi yang memenuhi syarat kesehatan di TTU. flip chart. leaflet. Fly grill counter. Alat bantu penyuluhan seperti seperti buku pegangan penyuluhan kesehatan lingkungan. Termotivasinya masyarakat dan pengelola TTU untuk menyediakan. dll. Prosedur kerja: 1. Surat tugas 2. Menyampaikan umpan balik E. Mengisi formulir pemantauan 5. Pengawasan Sanitasi Tempat-Tempat Umum Tujuan : 1. Pencatatan dan pelaporan 6. dll. Mengadakan kegiatan 4. stop watch. Mengadakan pendekatan secara PKMD 2. senter. Jadwal kegiatan Peralatan kerja : 1. Dokter sebagai koordinator 2. Menyiapkan surat tugas 3.

Dokter sebagai koordinator 2. Formulir pemeriksaan 2. berwibawa. Pengolahan. panti pijat. 6. Penanggung-jawab / pengelola sarana social seperti : Lembaga Pemasyarakatan. Sasaran : 1. gereja. Pengusaha / penanggung-jawab / pengelola sarana kepariwisataan seperti gedung pertunjukan. 3.Prinsip kerja : Mengadakan pelayanan. dll. 5. pura. 2. Kegiatan : 1. Pendataan 2. ramah. Penanggung-jawab / pengelola sarana ibadah : masjid. pembinaan secara professional. penginapan. analisa dan pelaporan 4. stasiun dan alat transportasi umum. tukang cukur. Sanitarian sebagai pelaksana Tempat : Lokasi kegiatan sesuai sasaran Peralatan kerja: 1. Pengusaha / penanggung-jawab / pengelola sarana perdagangan seperti : Pasar. dll. Penyuluhan terhadap pengelola Tempat-Tempat Umum Waktu : Disesuaikan dengan jadwal kegiatan yang disusun Tenaga : 1. Pengusaha / penanggung-jawab / pengelola sarana perawatan / pemeliharaan seperti : salon kecantikan. vihara. pengawasan. Pengusaha / penanggung-jawab / pengelola usaha transportasi seperti terminal. 4. Pemeriksaan sanitasi Tempat-Tempat Umum 3. Petunjuk teknis yang diterbitkan 45 . serta terkoordinasi dengan lintas sector/program lain yang terkait. dll.

Menghubungi pengelola / pengusaha / penanggungjawab / pengiriman surat pemberitahuan 2. Evaluasi F. penyajian dan penanganan makanan dan minuman 2. sesuai dengan perundangan yang berlaku 4. Thermometer 7. Terlaksananya pengawasan dan pembinaan tentang hygiene dan sanitasi makanan dan minuman perusahaan dan pengelolaan makanan dan minuman bagi orang banyak. Alat bantu penyuluhan 4.l : 5. Mengadakan kunjungan sesuai jadwal yang telah disusun 4. pelaporan 7. Mengadakan pemeriksaan dan mengisi formulir 5.3. Pencatatan. pengelolaan. Terlaksananya tindakan pengamanan terhadap kejadian keracunan makanan dan minuman 46 . perusahaan dan masyarakat yang memerlukan 3. Sound level meter Prosedur kerja: 1. Light meter 9. Terlaksananya pemberian penyuluhan dan nasihat tentang hygiene dan sanitasi makanan dan minuman bagi keluarga. Menyiapkan surat tugas 3. Water test kit 6. penyimpanan. Peralatan lapangan seperti Sanitary Field Kit yang berisi a. Termotivasinya masyarakat dan pengelola perusahaan makanan untuk bekerja memenuhi syarat kesehatan dalam penyiapan. Penyehatan Makanan dan Minuman Tujuan 1. Memberikan saran perbaikan terhadap hasil yang belum memenuhi syarat secara lisan maupun tulisan 6. Hygrometer 8.

Kantin 13. Tempat pembuangan makanan. LKMD. dan terkoordinasi dengan lintas program / sektor yang terkait. dll 7. Jadwal kegiatan 47 . makanan terolah. yang meliputi 3. Pendataan 2. Surat tugas 2. yang terdiri dari : 8. Pedagang makanan keliling 11. panti. Pedagang kaki lima 10.Prinsip kerja Memberikan pelayanan dan pembinaan secara profesional. Warung kopi 12. Pemeriksaan 3. Jasaboga / catering 5. Rumah makan 9. arisan. Tempat penjualan makanan dingin. makanan segar Kegiatan : 1. Sasaran 1. Industri kecil makanan 6. dapur umum. Tempat pembuangan makanan di asrama. Ibu-ibu rumah tangga / masyarakat melalui organisasi masyarakat antara lain PKK. Pengajian ibu-ibu dan posyandu 2. Penyuluhan Waktu : Disesuaikan dengan jadwal yang telah disusun atau apabila ada masalah Kelengkapan administrasi : 1. Snack bar 14. Tempat penjualan makanan. Pengusaha/ penanggung jawab/ pengelola tempat pengolahan makanan. ramah. yang terdiri dari : 4. berwibawa.

Evaluasi G. dll 2. Termotivasinya masyarakat dalam pengedaran dan penggunaan pestisida secara tepat dan aman. Dokter sebagai koordinator 2. Terlaksananya pengawasan dan pembinaan terhadap tata cara pengedaran dan penggunaan pestisida di masyarakat yang memenuhi syarat kesehatan 4. Menyiapkan surat tugas 3. Untuk administrasi seperti formulir. Alat bantu penyuluhan Prosedur kerja : 1. Food inspection field kit 3. Sanitarian sebagai pelaksana Peralatan kerja : 1. berwibawa dan terkoordinasi dengan lintas program / sektor yang terkait 48 . Pencatatan dan pelaporan 7. serta memenuhi syarat kesehatan 2. Terlaksananya penyuluhan tentang pengamanan pengedaran dan penggunaan pestisida yang memenuhi syarat kesehatan bagi rumah tangga dan masyarakat 3.Tenaga : 1. Mengadakan kunjungan sesuai jadwal yang telah disusun 4. Memberikan saran perbaikan terhadap hasil yang belum memenuhi syarat secara lisan maupun tulisan 6. Mengadakan pemeriksaan dan mengisi formulir 5. ramah. Terbantunya masyarakat dalam pengamanan pengedaran dan penggunaan pestisida sesuai peraturan perundangan yang berlaku Prinsip kerja : Memberikan pelayanan dan pembinaan secara profesional. Menghubungi pengelola / pengusaha / penanggung jawab / pimpinan organisasi / pengiriman surat pemberitahuan 2. buku pencatatan. Pengamanan Peredaran dan Penggunaan Pestisida Tujuan : 1.

poster. penggunaan pestisida di lokasi rumah tangga / Pest Kontrol Kegiatan : 1. KUD dan pergudangan pestisida 2. Dokter sebagai koordinator 2. Buku pegangan kader. dll 49 . Pendataan TPP (Tempat Pengelola Pestisida) 3. Pemeriksaan 4. Pengusaha / penanggung jawab / pengelola / masyarakat pengguna pestisida seperti : petani penyemprotan hama. Sanitarian sebagai pelaksana Kelengkapan administrasi : 1. Pengusaha / penanggung-jawab / pengelola unit usaha pengedar pestisida seperti : Toko / kios pestisida. perusahaan Pest Kontrol. dll 2. leaflet. Alat bantu penyuluhan seperti : alat-alat pelindung pestisida sebagai alat peraga. buku pencatatan. Surat tugas 2. Terhadap unit usaha pengedar pestisida : 2.Sasaran : 1. formulir. Terhadap pengguna pestisida : 6. Penyuluhan / bimbingan perbaikan 5. Penanggulangan dan Pencegahan keracunan akut 8. Penyuluhan Waktu: Disesuaikan dengan jadwal Tenaga : 1. Jadwal kegiatan Peralatan kerja : 1. Pendataan 7.

PELAKSANA Tim pengelola air bersih Puskesmas Pasar Minggu Penyehatan Makanan dan Minuman Kegiatan pengawasan hygiene dan sanitasi makanan dan minuman dilakukan sesuai jadwal yang ditetapkan oleh Puskesmas pada tempat pembuatan dan penjualan makanan dan minuman termasuk didalamnya para penjamah makanan. serta 50 . perkembangan jumlah. Memberikan saran perbaikan terhadap hasil yang belum memenuhi syarat secara lisan maupun tulisan 6. Pencatatan dan pelaporan 7. Menyiapkan surat tugas 3. Hal ini juga melibatkan peran serta masyarakat. yaitu bahan mentah. Perbaikan Kualitas Air dan Pembinaan Pemakai Air.Prosedur kerja : 1. cara penyajian dan para penjamah seperti petugas pemasakan maupun penyajian sesuai dengan wilayah kerja Puskesmas. Untuk dapat melaksanakan kegiatan pokok tersebut diperlukan kegiatan pendukung yakni pengembangan sarana dan prasarana pendukung yang terdiri atas pembinaan dan pengembangan dan pemantapan informasi penyehatan air. Mengadakan kunjungan sesuai jadwal yang telah disusun 4. Tim Pengawasan hygiene dan sanitasi makanan dan minuman Puskesmas Kelurahan dengan monitoring dari Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu Tim pengawas pembuangan Pengawasan Pembuangan Kotoran Melakukan penataan jumlah sarana pembuangan kotoran yang ada. Mengadakan pemeriksaan dan mengisi formulir 5. Evaluasi PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU KEGIATAN Penyehatan air URAIAN KEGIATAN Kegiatan pokok penyehatan air dalam pelaksanaan Program Penyediaan dan pengelolaan air bersih yaitu Pengawasan Kualitas Air. Dalam hal ini petugas Puskesmas melakukan evaluasi perihal kualitas makanan dan minuman dari berbagai segi. Menghubungi pengelola / pengusaha / penanggung-jawab / ketua RT-RW / pengiriman surat pemberitahuan 2. cara pengolahan.

51 . penempatan kandang ternak lingkungan perumahan serta faktor kepadatan yaitu melihat ada tidaknya tempat perindukan nyamuk. Gerakan PSNDBD 30 menit sekali seminggu (Setiap Jumat) secara serentak di Provinsi DKI Jakarta dengan memeriksa ada tidaknya jentik (Pemantauan Jentik Berkala/PJB) dan dikaitkan dengan kejadian kasus DBD di RW.Manusia pemanfaatannya. kebersihan pekarangan. tikus dan lalat. Semua limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) dari Puskesmas Kecamatan Mampang dapat diolah di Instansi Pengolahan Limbah. tata ruang. Ketua RW. pencahayaan. dokter dan stafnya yang bertanggung jawab terhadap wilayah tertentu dan co ass. Ketua RT. kelembaban. Puskesmas Kelurahan/Kecamatan menganalisa dan melaporkan bulanan ke Sudin Kesmas dan Sudin Yankes dengan tembusan ke Posko PSN DBD RW. Tim Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu: Kepala Puskesmas. Setiap ruangan yang menghasilkan sampah infeksius harus mempunyai kardus descartex dan tempat sampah infeksius berwarna kuning. kepadatan penghuni). Tim wilayah setempat: Kepala Kelurahan. Membandingkannya dengan catatan sebelum program dinilai adakah peningkatan jumlah jamban maupun jumlah pemakainya. Mencatat hasil pemeriksaan jentik dan melaporkan ke Puskesmas Kelurahan/ Kecamatan. Melakukan pemeriksaan jentik pada tempat perindukan nyamuk di setiap rumah/ bangunan berdasarkan tatanan. Mencatat hasil pemantauan dalam buku catatan. kotoran Puskesmas Pasar Minggu Pengawasan dan Pembuangan Sampah dan Limbah Pengumpulan sampah dari masing-masing ruangan dilakukan setiap hari oleh masing-masing petugas cleaning service. PENILAIAN terhadap JENTIK JUMANTIK Dilaksanakan di RW yang ada JUMANTIK Seluruh bangunan diperiksa ada/tidaknya jentik/secara total coverage. Jumantik dan masyarakat setempat. Tim pengelola dan pengawas sampah dan limbah Puskesmas Pasar Minggu Penyehatan Pemukiman Unsur-unsur yang diperiksa meliputi kesehatan rumah (jendela/ventilasi.

Melaporkan hasil setiap 3 bulanan ke Sudin Kesmas dan Sudin Yankes dengan tembusan Posko DBD RW. sekolah. dan lain-lain. Khusus kegiatan pemeriksaan jentik pada tempat perindukan nyamuk di setiap sasaran dicatat dan dianalisa sesuai lokasi RW. Integrasi pengawasan kualitas lingkungan Pelaksana sanitarian Puskesmas Kelurahan/Kecamatan sesuai jadwal bulanan. Kegiatan secara rutin diadakan pada triwulan pertama dan keempat pada setiap tahunnya dengan melakukan pemantauan serta memberikan penyuluhan kepada pengelola tempat-tempat umum seperti bioskop. Melakukan pemeriksaan jentik pada tempat perindukan nyamuk di setiap rumah/bangunan sampling. Pengamanan Lingkungan akibat Unsur-unsur yang diperiksa secara kualitatif dan kuantitatif berkaitan dengan bahaya pencemaran Tim pengawas pengamanan 52 . tempat rekreasi. Tim pengelolaan dan pembinaan tempat-tempat umum Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu di bawah pengawasan Tim Kesehatan Lingkungan. Melaporkan hasilnya ke Sudin Kesmas dan Sudin Yankes secara bulanan. Pengawasan Sanitasi Tempat-tempat Umum Kegiatan pembinaan tempat-tempat umum dilakukan oleh tim dari Puskesmas Kecamatan Mampang dengan bantuan dari Puskesmas Kelurahan. Mencatat dan menganalisa hasil pemeriksan jentik dan per RW. Setiap sasaran yang sama diulang 6 tahun berikutnya. Non JUMANTIK PJB oleh Puskesmas Kelurahan/Kecamatan Pelaksana adalah petugas Puskesmas Kelurahan/Kecamatan.Lurah dan Camat yang bersangkutan. Menyusun jadwal random sampling untuk 100 rumah/bangunan sampling di setiap RW sasaran. Menentukan sasaran RW lokasi sekaligus data jumlah rumah/bangunannya masing-masing. Lurah dan Camat yang bersangkutan.

Pencemaran Industri potensial yang berasal dari industry meliputi sumber air. Tim pengendali hama Puskesmas Pasar Minggu Pengamanan Pestisida Tim pengendali hama bekerja setelah melihat check list dan mendapat laporan dari Kepala Unit atau PJ Ruangan tentang keberadaan hama atau tanda-tanda keberadaan hama. Secara kimia: dengan menggunakan pestisida (umpan beracun. Cara pengendalian hama : Secara fisik: dengan menggunakan perangkap. tanah dan iklim serta kebisingan di sekitar industri. sprayer. 53 . ligh trap. fogging). ultra sonic. lingkungan Puskesmas Pasar Minggu. udara.

Saran Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu dengan kedudukan sebagai Puskesmas Pembina diharapkan dapat lebih membina peran serta dan memonitoring kinerja dari Puskesmas Kelurahan setempat dalam rangka melaksanakan berbagai program kesehatan lingkungan. Dalam pelaksanaannya Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu dibantu oleh Puskesmas Kelurahan. bahkan jika diperlukan dapat dilakukan berbagai pelatihan kepada para petugas terkait sebelum waktu pelaksanaannya di lapangan. Pengawasan pembuangan kotoran manusia. Pengawasan sanitasi tempat umum.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Dari berbagai program pemerintah mengenai kesehatan lingkungan. Pengamanan polusi industri dan Pengamanan pestisida. Penyehatan pemukiman (termasuk Pemberantasan Sarang Nyamuk melalui kegiatan Gerakan Jumat Sehat yang diadakan tiap hari Jumat). Pasar Minggu. Kegiatan kesehatan lingkungan di Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu meliputi Penyehatan Air. Ragunan. Pejaten Timur. Jati Padang. 54 . yaitu Puskesmas Kelurahan Kebagusan. dan Cilandak Timur. seluruhnya telah dilaksanakan oleh Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu. Pengawasan dan pembuangan sampah dan limbah. Dengan adanya koordinasi yang baik antara tim monitoring dan petugas lapangan maka diharapkan seluruh cakupan program kerja dapat terlaksana dan diperoleh hasil yang lebih baik. Penyehatan Makanan dan Minuman. Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu dalam hal ini dapat berperan sebagai pengawas maupun sebagai pelaksana kegiatan secara langsung. Pejaten Barat.

Jakarta. P25-38 55 .DAFTAR PUSTAKA Standarisasi Pelayanan Kesehatan Puskesmas di DKI Jakarta Pemerintah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta.

UPAYA KESEHATAN IBU DAN ANAK SERTA KB PENYUSUN: SYAHRINNAQUIAH SAMSUDDIN (030.349) MOHD ZAIRI B ZABRI (030.06.320) 56 .06.

Resiko terjadi komplikasi pada persalinan terjadi 12% pada usia kurang dari 20 tahun dan 26% pada usia 40 tahun. Kesehatan ibu dan anak merupakan salah satu perhatian dari World Health Organisation (WHO) karena angka kematian ibu dan anak merupakan bahagian dari negara Asean yang mempunyai angka kematian Ibu dan Anak yang masih tinggi dibandingkan dengan negara lain. Menurut SDKI angka kematian ibu (AKI) di Indonesia 307 per 100.000 kelahiran hidup yaitu 3-6 kali lebih tinggi dari negara ASEAN lainnya.5 % terjadi pada responden yang berumur lebih dari 35 tahun. ibu bersalin. AKI di Indonesia bahkan lebih jelek dari negara Vietnam yaitu 95 per 100. Bila kondisi kesehatan ibu selama hamil tidak baik. AKI di Indonesia sekitar 18. hal ini berarti setiap setengah jam seorang perempuan meninggal yang berhubungan dengan kehamilan.000 kelahiran hidup. 57 .5 % responden yang mengalami persalinan patologis yang terbesar adalah akibat komplikasi persalinan dengan partus lama. pendidikan.UPAYA KESEHATAN IBU DAN ANAK (KIA) BAB I PENDAHULUAN Upaya kesehatan Ibu dan Anak adalah upaya di bidang kesehatan yang menyangkut pelayanan dan pemeliharaan ibu hamil. Dari kejadian persalinan patologis tersebut 27. Kematian ibu tersebut erat kaitannya dengan karakteristik ibu yang meliputi umur. dan pemeriksaan kehamilan kurang dari 4 kali. bayi dan anak balita serta anak prasekolah. Sementara kematian ibu karena komplikasi persalinan akibat perdarahan sebelum dan sesudah persalinan meningkat dengan bertambahnya paritas. persalinan dan nifas.000 setiap tahun yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan. Pemberdayaan Masyarakat bidang KIA merupakan upaya memfasilitasi masyarakat untuk membangun sistem kesiagaan masyarakat dalam upaya mengatasi situasi gawat darurat dari aspek non klinis terkait kehamilan dan persalinan. hal ini berarti setiap setengah jam seorang perempuan meninggal yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan. Hasil penelitian Felly dan Snewe. 25. ibu menyusui. ibu mempunyai resiko 3.2 kali mengalami komplikasi dalam persalinan. paritas dan perilaku yang berpengaruh terhadap kondisi kesehatan ibu selama hamil yang dapat mempengaruhi proses persalinan normal atau patologis.

menentukan jenis persalinannya apakah normal. menghindari merokok dan makan obat tanpa resep. karena senam hamil dapat meningkatkan aliran darah ke uterus. sehingga dalam persalinan banyak mengalami masalah bahkan komplikasi sehingga persalinan menjadi patologis. Letsi menyatakan hanya 2 dari 10 persalinan memerlukan tindakan spesialis kebidanan. melakukan senam hamil. Tingginya kejadian persalinan patologis diakibatkan oleh tiga terlambat yaitu terlambat melihat tanda-tanda bahaya kehamilan. Asuhan persalinan yang diberikan pada ibu selama persalinan sejak kala satu. Tingkat pendidikan yang rendah pada persalinan patologis lebih tinggi dari pendidikan perguruan tinggi. dua. Gulardi H. tidak makan tablet zat besi dan asupan gizi yang kurang.33%) dan (81. mengakibatkan ibu mengalami anemia. tindakan persalinan dan dukungan persalinan dari keluarga dan petugas. perawatan jalan lahir. partus lama. memakan tablet zat besi. Ini erat kaitannya dengan perawatan ibu selama masa kehamilan dan persalinan kurang baik. Penelitian lain tentang perilaku senam selama kehamilan menunjukkan bahwa ibu yang melakukan senam hamil mengalami persalinan lebih cepat dibanding dengan ibu hamil yang tidak melakukan senam hamil.Penelitian Sibuea dari 366 ibu yang mengalami persalinan patologis tindakan seksio sesaria akibat partus tidak maju sebanyak 226 (50. tiga dan empat. atau sekitar 10-15% proses kehamilan dan persalinan berakhir dengan patologis.5%) tidak melakukan perawatan tehadap kehamilan. terlambat mengambil keputusan untuk 58 . gangguan kontraksi rahim. Kematian akibat pesalinan patologis lebih rendah pada umur 20-30 tahun dan jumlah paritas rendah dari pada ibu yang kurang dari 20 tahun. jika ibu berperilaku hidup sehat selama kehamilan yaitu merawat kehamilan dengan baik melalui asupan gizi yang baik. Bila ibu mengalami anemia dapat mengakibatkan komplikasi pada kehamilan dan persalinan yaitu perdarahan sebelum dan sesudah melahirkan. kurang daya tahan tubuh terhadap infeksi dan produksi air susu ibu kurang. Melakukan kunjungan minimal empat kali untuk mendapat informasi dari petugas kesehatan tentang perawatan yang harus dilakukan. atau patologis. menyatakan AKI dapat diturunkan sekitar 317 (85%) dari AKI saat ini. membantu ibu hamil memperoleh power sehingga melancarkan proses persalinan. perawatan selama persalinan. Penelitian Ridwan dan Wahyuni komplikasi persalinan yang mengakibatkan persalinan patologis adalah perilaku ibu selama hamil yang pemeriksaan kehamilan kurang dari empat kali. adapun asuhan yang diberikan adalah informasi tentang proses persalinan.

merujuk. sekitar 35. dimana panggul ibu belum tumbuh secara sempurna sehingga kepala tidak dapat melewati jalan lahir. sosial ekonomi dan kedudukan wanita dalam keluarga masih rendah. Askeskin dan pasien umum.665 kelahiran hidup. 64 % diantaranya persalinan patologis dan tahun 2005 dari 551 persalinan 67 % merupakan persalinan patologis.755. Selain itu kurangnya partisipasi masyarakat karena tingkat pendidikan. Rumah Sakit Umum Sari Mutiara Medan adalah salah satu rumah sakit swasta yang dipercayakan menerima pasien Jamsostek. Di Indonesia kejadian persalinan patologis dengan tindakan seksio sesaria meningkat terus. Selain itu karakteristik ibu juga dapat mempengaruhi persalinan patologis. Ibu yang melahirkan anak pertama lebih dari umur 35 tahun jalan lahir menjadi kaku sehingga sulit anak sulit lahir. Di Indonesia kejadian persalinan patologis 65 % terjadi disebabkan pada salah satu dari empat T tersebut diatas. terlalu banyak melahirkan anak dan terlalu sering melahirkan (jarak <2 tahun). Tujuan upaya ini adalah untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu hamil. asuhan antenatal. persalinan bersih dan aman serta pelayanan obstetri dasar. 45.3 % melahirkan dengan seksio sesaria. baik di rumah sakit pendidikan. Di Rumah Sakit Umum Cipto Mangunkusumo Jakarta pada tahun 1999-2000 dari 404 persalinan per bulan 30 % seksio sesaria. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding dengan angka standar yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan yaitu sebanyak 15 % bagi rumah sakit swasta (Data 59 . WHO mengembangkan konsep melalui empat pilar safe motherhood yaitu keluarga berencana. bersalin dan nifas. Kondisi tersebut dapat mengakibatkan gangguan kontraksi uterus.4 % diantaranya adalah persalinan patologis bedah sesaria dan vakum. Untuk mencapai tujuan tersebut Depkes RI melakukan upaya safe motherhood yaitu berupaya menyelamatkan wanita agar setiap wanita yang hamil dan bersalin dapat dilalui dengan sehat dan aman serta menghasilkan bayi yang sehat dan aman. sehingga dapat mengakibatkan perdarahan setelah persalinan. serta sosial budaya yang tidak mendukung. Di rumah sakit ini angka persalinan patologis juga cukup tinggi yaitu 631 persalinan tahun 2004. terlalu tua melahirkan. Sementara di Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan tahun 2005-2006 tercatat dari 712 persalinan. yang dikenal dengan empat terlalu yaitu: terlalu muda melahirkan anak. disamping menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi baru lahir. terlambat memperoleh asuhan asuhan persalinan yang tepat setelah sampai di sarana kesehatan. maupun rumah sakit swasta. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Gulardi dan Basamalah terhadap 64 rumah sakit di Jakarta tercatat 17.

Gerakan Nasional Kehamilan yang aman melindungi hak reproduksi dan hak azazi manusia dengan cara mengurangi beban kesalahan. 2004 dan 2005). Oleh karena itu Departemen Kesehatan melalui dinas kesehatan propinsi menganjurkan kepada setiap penolong persalinan baik di klinik. Mengingat pentingnya kesehatan ibu dan bayi pada tanggal 12 Oktober 2000. tiga dan empat selama persalinan sehingga persalinan dapat berlangsung normal. pemerintah telah mencanangkan Making Pregnancy Safer (MPS). yang berhubungand dengan kehamilan dan persalinan. 60 . puskesmas maupun rumah sakit harus mendapatkan pelatihan dan mempunyai sertifikat Asuhan Persalinan Normal (APN) supaya ibu mendapat asuhan yang tepat sejak kala satu. kematian. kecacatan.Rekam Medik RS Sari Mutiara. dua.

pemuka masyarakat serta menambah keterampilan para dukun bayi serta pembinaan kesehatan akan di taman kanak-kanak.BAB II PENGERTIAN Upaya kesehatan ibu dan anak adalah upaya dibidang kesehatan yang melakukan pelayanan dalam upaya memelihara kesehatan ibu hamil secara teratur dan terus menerus selama kehamilan. maupun nifas. meneteki serta pemeliharaan anak dari mulai lahir sampai masa pra sekolah. Pemberdayaan Masyarakat bidang KIA merupakan upaya memfasilitasi masyarakat untuk membangun sistem kesiagaan masyarakat dalam upaya mengatasi situasi gawat darurat dari aspek non klinis terkait kehamilan dan persalinan Dalam pengertian ini tercakup pula pendidikan kesehatan kepada masyarakat. persalinan. 61 . pemuka masyarakat.

serta di sekolah TK. terutama melalui peningkatan peran ibu dalam keluarganya. b. serta meningkatnya derajat kesehatan anak untuk menjamin proses tumbuh kembang optimal yang merupakan landasan bagi peningkatan kualitas manusia seutuhnya. c. penyelenggaraan Posyandu dan sebagainya. ibu hamil.BAB III TUJUAN Tujuan Umum Tercapainya kemampuan hidup sehat melalui peningkatan derajat kesehatan yang optimal bagi ibu dan keluarganya untuk atau mempercepat pencapaian target Pembangunan Kesehatan Indonesia yaitu Indonesia Sehat 2015. ibu nifas. e. anak prasekolah. ibu bersalin. ibu menyusui. Tujuan Khusus a. Desa Wisma. 62 . keluarga dan seluruh anggotanya untuk mengatasi masalah kesehatan ibu. Meningkatnya kemampuan dan peran serta masyarakat. Meningkatnya jangkauan pelayanan kesehatan bayi. anak balita. sikap dan perilaku) dalam mengatasi kesehatan diri dan keluarganya dengan menggunakan teknologi tepat guna dalam upaya pembinaan kesehatan keluarga. bayi dan anak balita. ibu bersalin. Posyandu dan Karang Balita. d. ibu nifas dan ibu menyusui. Meningkatnya kemampuan ibu (pengetahuan. Meningkatnya mutu pelayanan kesehatan bagi ibu hamil. Desa Wisma. balita. Meningkatnya upaya pembinaan kesehatan balita dan anak prasekolah secara mandiri di dalam lingkungan keluarga.

Dilakukan rawat gabung (rooming in) yaitu ibu dan bayi berada dalam satu ruangan b) Perawatan neonatal dini (1-7 hari)  Timbang.Umur 1 bulan – 11 bulan: 4 kali .Usahakan bernafas spontan . Pelayanan Kesehatan Dasar Balita dan Anak Pra Sekolah a) Pelayanan kesehatan dasar  Pemeriksaan berkala fisik dan tumbuh kembang . mekonium keluar dalam 24 jam pertama c) Pelayanan neonatal lanjut (8-28 hari)  Timbang. III. pemeriksaan dilakukan lebih sering dan intensif. trimester kedua sebanyak 1 kali dan trimester ketiga sebanyak 2 kali. Polio (4 kali).BCG. Pelayanan Kesehatan Neonatal a) Perawatan bayi baru lahir  Penanganan bayi segera setelah lahir . Pada ibu hamil dengan resiko tinggi. imunisasi. pantau keadaan umum. Campak dan Hepatitis (sesuai protap)  Konsultasi dokter ahli 63 .Umur 2 tahun – 6 tahun : 2 kali  Imunisasi dasar .Umur 1 tahun – 2 tahun : 3 kali . Pelayanan Kesehatan Ibu a) Pelayanan ANC (Ante Natal Care) atau Asuhan Keperawatan Kehamilan b) Kunjungan pertama harus memenuhi persyaratan 5 T atau memenuhi pemeriksaan kadar Hb. pantau keadaan umum  Bila terjadi penyulit segera dirujuk  Kunjungan rumah bagi yang memerlukan II. DPT (3 kali). c) Kunjungan ulang minimal 4 kali selama kehamilan yaitu pada trimester pertama sebanyak 1 kali.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN KEGIATAN DAN SASARAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU A.Menjaga bayi tetap hangat  Perawatan lanjutan pada bayi baru lahir . Kegiatan I.

2 – 3 tahun . Kader. balita dan anak sekolah II.1 – 2 tahun . Pelayanan Kesehatan Ibu a) Langsung : Ibu hamil.9 – 12 bulan .b) c) d) e)  Rujukan kasus Pemantauan gizi balita  Timbang badan dan pantau dengan KMS  Pemberian vitamin A setiap 6 bulan (Februari dan Agustus)  Pemberian sirup FE Deteksi dan stimulasi tumbuh kembang  Dipantau sesuai kelompok umur . Petugas) dan keluarga ibu hamil Pelayanan Kesehatan Anak Bayi.6 – 9 bulan .4 – 5 tahun  Konsultasi dokter ahli  Rujukan khusus ulang Pengobatan ringan infeksi. dan gangguan makan Membuat pencatatan dan pelaporan B.3 – 6 bulan . diare.3 – 4 tahun .1 – 3 bulan . bersalin dan nifas b) Tidak langsung : Masyarakat ( Tokoh. Sasaran I. 64 .

Posyandu .Bidan .Tempat penitipan anak Puskesmas-Poli KIA Posyandu Taman Kanak-kanak Kelompok bina keluarga balita .Ruang bersalin (VK) Waktu Sesuai dengan jam kerja puskesmas Sepanjang waktu Pelaksana .Perawat 8.Bidan .1-2 thn .Rumah ibu .Posyandu .Puskesmas-Poli KIA .Tempat penitipan anak .Bidan .Puskesmas-Poli KIA .Bidan .Perawat . Perawatan neonatal dini (1-7 hari) Perawatan neonatal lanjut (828 hari) Pelayanan kesehatan dasar anak Neonatus .Rumah ibu nifas Pada minggu pertama dan kedua masa nifas Sesuai dengan jam kerja puskesmas Sesuai dengan jam kerja puskesmas Sesuai dengan jam kerja puskesmas Sesuai dengan jam kerja puskesmas 4.Rumah ibu .Bidan . Pelayanan ibu nifas Ibu nifas .Dokter .1-11 bln . Pemantauan gizi balita Balita Sesuai dengan jam kerja puskesmas .Bidan .2-6 thn .Rumah ibu .Perawat .Bidan .Perawat 6.Posyandu . Perawatan bayi baru lahir Neonatus . Jenis Kegiatan Pemeriksaan ANC Sasaran Ibu hamil Tempat .Bidan 65 . Pelayanan ibu bersalin Ibu hamil 3.Posyandu .Puskesmas-Poli KIA .Dokter . .Dokter .Perawat 2.Rumah ibu Puskesmas-Poli KIA Posyandu Taman Kanak-kanak Kelompok bina keluarga balita .Perawat 7. Neonatus .Perawat 5.BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU No 1.Puskesmas.Puskesmas-Poli KIA .

SARAN Puskesmas harus lebih mendekatkan pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat dalam upaya peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi masalahmasalah kesehatan.Tempat penitipan anak Sesuai dengan jam kerja puskesmas . sehingga setiap orang memiliki pandangan yang sama tentang penyelesaian masalah mereka.9. Deteksi dan stimulasi tumbuh kembang - 1-3 bln 3-6 bln 6-9 bln 9-12 bln 1-2 thn 2-3 thn 3-4 thn 4-5 thn - Puskesmas-Poli KIA Posyandu Taman Kanak-kanak Kelompok bina keluarga balita . tetapi pendekatan ini juga merupakan proses mengorganisir masyarakat sehingga mereka mampu untuk berpikir dan menganalisa dan melakukan aksi untuk menyelesaikan masalah mereka. Selain itu. ini merupakan proses dimana masyarakat merubah diri mereka secara individual dan secara kolektif dan mereka menggunakan kekuatan yang mereka miliki dari energi dan kekuatan mereka. memandirikan masyarakat dalam mengembangkan perilaku hidup bersih dan sehat. Jadi.Dokter . Pendekatan ini tidak hanya memfasilitasi masyarakat untuk menggali dan mengelola berbagai komponen.Bidan .Kader BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Upaya wajib KIA dapat memberikan masyarakat kesempatan untuk memahami kondisi mereka dan melakukan aksi dalam mengatasi masalah mereka ini disebut dengan pendekatan belajar dan melakukan aksi bersama secara partisipatif (Participatory Learning and Action -PLA). Ini adalah proses pemberdayaan masyarakat sehingga mereka mampu melakukan aksi untuk meningkatkan kondisi mereka. puskesmas harus menjadikan program-program KIA sebagai budaya masyarakat agar angka kematian ibu dan anak dapat menurun. 66 . kekuatan-kekuatan dan perbedaan-perbedaan.

Banyak wanita harus menentukan pilihan kontrasepsi yang sulit. meskipun tidak selalu diakui demikian.UPAYA WAJIB KELUARGA BERENCANA (KB) BAB 1 PENDAHULUAN Indonesia adalah salah satu Negara yang menghadapi masalah di bidang kependudukan. Semakin tinggi tingkat pertumbuhan penduduk. maka makin besar pula usaha yang harus dilakukan untuk mempertahankan kesejahteraan masyarakat. tidak hanya karena terbatasnya jumlah metode yang tersedia tetapi juga karena metode-metode tertentu mungkin tidak dapat diterima sehubungan dengan kebijakan nasional KB. Keadaan yang demikian telah mempersulit usaha peningkatan dan pemerataan kesejahteraan masyarakat. Pelayanan Keluarga Berencana yang merupakan salah satu didalam paket Pelayanan Kesehatan Reproduksi Esensial perlu mendapatkan perhatian yang serius. karena dengan mutu pelayanan Keluarga Berencana berkualitas diharapkan akan dapat meningkatkan tingkat kesehatan dan kesejahteraan. yaitu masih tingginya tingkat pertumbuhan penduduk. kesehatan individual dan seksualitas wanita atau biaya untuk memperoleh kontrasepsi . Oleh karena itu. pemerintah berupaya untuk mengurangi tingkat pertumbuhan penduduk ini dengan program keluarga berencana. Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu pelayanan kesehatan preventif yang paling dasar dan utama bagi wanita. Peningkatan dan perluasan pelayanan keluarga berencana merupakan salah satu usaha untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu yang sedemikian tinggi akibat kehamilan yang dialami oleh wanita. Maka pelayanan Keluarga Berencana harus menjadi lebih berkualitas serta memperhatikan hak-hak dari klien/ masyarakat dalam memilih metode kontrasepsi yang diinginkan\ 67 . Dengan telah berubahnya paradigma dalam pengelolaan masalah kependudukan dan pembangunan dari pendekatan pengendalian populasi dan penurunan fertilitas menjadi pendekatan yang berfokus pada kesehatan reproduksi serta hak reproduksi.

pendonor darah. 68 . pendanaan. dalam hal penggunaan alat transportasi/ komunikasi (telepon genggam.Sistem kesiagaan merupakan sistem tolong-menolong. menerima pola keluarga kecil sebagai salah satu langkah utama untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya. pencatatan-pemantaun dan informasi KB. Oleh karena itu pelaksanaan program keluarga berencana tidak hanya menyangkut masalah tehnis medis semata-mata. melainkan meliputi berbagai segi penting lainnya dalam tata hidup dan kehidupan masyarakat. oleh dan untuk masyarakat. Dengan demikian maka bimbingan. Dengan metode ini maka jumlah dan jarak kehamilan dapat diatur. pendidikan serta pengarahan amat diperlukan agar masyarakat dengan kesadarannya sendiri dapat menghargai dan. yang dibentuk dari.rela serta tidak bertentangan dengan agama. kepercayaan dan moral Pancasila. Kontrasepsi adalah metode untuk mencegah kehamilan. Program keluarga berencana dilaksanakan atas dasar suka. Dengan program keluarga berencana diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Program keluarga berencana ini dilaksanakan dengan menggunakan metode kontrasepsi. telpon rumah).

mendapatkan kelahiran yang diinginkan. mengatur interval diantara kehamilan dan menentukan jumlah anak dalam keluarga. social budaya penduduk Indonesia agar dapat dicapai keseimbangan yang baik dengan kemampuan produksi Nasional. keluarga berencana merupakan Upaya peningkatkan kepedulian masyarakat dalam mewujudkan keluarga kecil yang bahagia sejahtera. 10/1992. 69 . Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. KB merupakan tindakan yg membantu individu/ pasutri untuk: Mendapatkan objektif-obketif tertentu. menghindari kelahiran yang tidak diinginkan. maksud daripada ini adalah gerakan untuk membentuk keluarga yang sehat dan sejahtera dengan membatasi kelahiran. Menurut WHO. IUD dan sebagainya Menurut BKKBN keluarga berencana artinya mengatur jumlah anak sesuai kehendak dan menentukan sendiri kapan saatnya hamil atau salah satu usaha masalah kependudukan sekaligus merupakan bagian yang terpadu dalam program Pembangunan Nasional dan bertujuan untuk turut serta menciptakan kesejahteraan ekonomi.BAB II PENGERTIAN Keluarga berencana adalah perencanaan kehamilan sehingga kehamilan hanya terjadi pada saat di inginkan oleh suami dan istri. Menurut undang-undang No. KB merupakan suatu usaha untuk menjarangkan atau merencanakan jumlah dan jarak kehamilan dengan memakai kontrasepsi. Dengan kata lain KB adalah perencanaan jumlah keluarga. spiritual. spiral. Pembatasan bisa dilakukan dengan penggunaan alat-alat kontrasepsi atau penanggulangan kelahiran seperti kondom. Dapat juga diartikan mengatur jumlah anak sesuai kehendak dan menentukan sendiri kapan saatnya hamil.

peningkatan fungsi pengayoman medis MKET serta penanggungulangan kasus infertilitas. Tujuan Khusus a) Meningkatnya kesejahteraan ibu dan anak b) Meningkatnya harapan hidup c) Berkurangnya angka kematian bayi d) Berkurangnya angka kematian ibu hamil 70 . pemakaian MKET.BAB III TUJUAN Tujuan Umum Meningkatnya kesejahteraan ibu dan anak serta keluarga dalam rangka mewujudkan keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera melalui peningkatan mutu pelayanan medis dan pengayoman medis kontrasepsi.

BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN KEGIATAN DAN SASARAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU A. Kader kesehatan. Kegiatan a) KIE  Pemberian KIE medis mengenai bebagai jenis alat. obat kontrasepsi antara lain cara kerja. b) Tidak langsung: WUS. Tokoh masyarakat/agama. Sasaran a) Langsung: Ibu pada masa interval.Pemasangan alat kontrasepsi/pemberian obat kontrasepsi yang diinginkan .Penanggulangan infertilitas c) Pengayoman medis  Berupa simulasi pengayoman medis kontrasepsi efektif terpilih ( Siyomeket) d) Rujukan B. PUS yang mempunyai masalah. b) Pelayanan medis  Konseling pra pelayanan ( KIE)  Pelayanan medis .Deteksi dini kelainan kesehatan reproduksi ibu (Pap smear) . efek samping. Petugas kesehatan 71 . penyulit yang mungkin terjadi serta cara penanggulangannya.

Perawat 3. KIE .Posyandu Sesuai dengan jam kerja puskesmas .Dokter .Posyandu Sesuai dengan jam kerja puskesmas .Puskesmas-Poli KB .Ibu pada masa interval .Bidan .BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU 1.Bidan .Perawat 2.Ibu pada masa interval .Perawat 72 .Dokter .Puskesmas-Poli KB .Bidan . Penganyoman medis dan rujukan .PUS yang mempunyai masalah . Pelayanan medis .Ibu pada masa interval .Dokter .Posyandu Sesuai dengan jam kerja puskesmas .PUS yang mempunyai masalah .Puskesmas-Poli KB .PUS yang mempunyai masalah .

SARAN Penyebarluasan informasi yang tepat tentang KB dapat membantu masyarakat menuju Keluarga Berencana dan sejahtera selain itu dibutuhkan juga peran serta aktif dari bidan sebagai tenaga kesehatan dan juga masyarakat pasangan usia subur sebagai pengguna.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Dengan adanya program KB yang didukung dengan strategi pendekatan dan cara operasional program pelayanan KB diharapkan dapat menurunkan angka kelahiran dan meningkatkan kesehatan ibu sehingga di dalam keluarganya akan berkembang Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS). Dalam upaya pencegahan kehamilan dan dalam rangka gerakan Keluarga Berencana Nasional dapat dicapai salah satunya dengan KB suntik 3 bulanan dan dari melihat kasus/asuhan kebidanan diatas dapat diketahui bahwa KB suntik 3 bulanan dapat mengalami masalah Amenorhoe. 73 .

2006. James R.DAFTAR PUSTAKA 1. 74 . 4. Hal. 718 2. MPG. 2003. 2010. 45-47 3. 2003. Depkes RI. Pedoman Pendataan Puskesmas. 2002. Jakarta. Danforth buku saku obstetric dan ginekologi. Jakarta: Widya medika. Buku panduan praktis pelayanan kontrasepsi. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: Yayasan bina pustaka. Prawirohardjo. Standarisasi Pelayanan Puskesmas di DKI Jakarta. Jakarta. Sarwono. Abdul Bari Saifuddin SpOg. YBPSP. Hal. Dkk. 5. Depkes RI. Prof dr. Scott.

234 ) ( 030.280 ) 75 .UPAYA PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT Penyusun : Wilma Pratiwi Yenovi Desy Selawani ( 030.06.05.

BAB I PENDAHULUAN Kesehatan merupakan modal utama dalam kehidupan setiap orang. Kekurangan gizi akan menyebabkan kegagalan pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan. sehingga seseorang yang menginginkan agar dirinya tetap sehat harus melakukan berbagai macam cara untuk meningkatkan derajat kesehatannya.927 orang (81. terbukti tingginya angka kematian ibu. Hal ini menggambarkan bahwa partisipasi masyarakat masih kurang. Sedangkan secara umum. dimanapun dan siapapun pasti membutuhkan badan yang sehat. cakupan balita yang memiliki KMS (K/S) dari tahun 2004 sampai dengan 2008 berada pada angka diatas 80%.4%). baik jasmani maupun rohani guna menopang aktifitas kehidupan sehari-hari. Karena nilai persentase K/S kurang dari 100%. anak-anak.0%. kemiskinan dan akan menghambat pertumbuhan ekonomi. maka cakupan jumlah balita yang memiliki KMS pada tahun 2008 lebih rendah. Masalah Gizi di Indonesia sampai saat ini masih memprihatinkan. pengangguran.2 Partisipasi masyarakat (D/S) pada tahun 2008 sebesar 62.1 Gizi merupakan salah satu penentu kualitas sumber daya manusia. Jumlah balita yang memiliki KMS (K/S) pada tahun 2008 sebesar 18. bayi. Ibu atau calon ibu merupakan kelompok rawan karena membutuhkan gizi yang cukup sehingga harus dijaga status gizi dan kesehatannya agar dapat melahirkan bayi yang sehat. Hal ini mendasari masalah Gizi menjadi salah satu faktor penting penentu pencapaian Millenium Development Goals. yang berakibat meningkatnya angka kesakitan dan kematian. masa remaja. kemungkinan jumlah KMS masih kurang sehingga perlu dilakukan penambahan atau juga distribusi KMS yang belum merata.2 Tahun 2008 jumlah balita yang ada di kota Tanjungpinang sebanyak 23. Jika dibandingkan dengan tahun 2004 sampai dengan tahun 2007. dewasa sampai usia lanjut. Begitu pentingnya nilai kesehatan ini. Jika dilihat dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2008. bayi dan balita serta rendahnya tingkat kecerdasan yang berakibat pada rendahnya produktifitas. menurunkan produktivitas kerja dan menurunkan daya tahan tubuh.2 Kecukupan gizi sangat diperlukan oleh setiap individu sejak janin yang masih dalam kandungan. maka persentase partisipasi masyarakat pada tahun 2008 ini memiliki angka yang paling kecil.240 orang. seperti melakukan penerapan pola hidup sehat dan pola makan yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu perlu dipelajari kenapa mereka tidak datang ke posyandu dan perlu 76 .

Gambaran yang lebih akurat tentang situasi masalah gizi buruk di tingkat masyarakat akan didapat melalui pelaksanaan surveilens aktif dengan melakukan konfirmasi dan pelacakan kasus. asuhan gizi keluarga dan akses keluarga terhadap pelayanan kesehatan. Distribusi MP-ASI sampai ke sasaran memerlukan dukungan dana. telah ditargetkan penurunan masalah gizi kurang pada tahun 2009 setinggi-tingginya 20%. Untuk itu Pemerintah perlu menyediakan dukungan dana operasional posyandu. 1457/Menkes/SK/X/2003 tentang kewenangan Wajib Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan. Dalam dokumen RPJMN 2004-2009. menurunnya kinerja posyandu akan berdampak pada menurunnya status gizi. Pemerintah telah mengeluarkan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri No.2 Berdasarkan Keputusan Menkes RI No.dimotivasi. disediakan Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI). Selain itu dari kader posyandu sendiri bersama dengan PKK kelurahan juga dihimbau agar lebih memotivasi warganya untuk membawa balita ke posyandu setiap bulan. SK Menkes RI no.411. salah satu indikator adalah 80% kecamatan bebas rawan gizi.3/1116/SJ tentang revitalisasi posyandu yang merupakan upaya untuk meningkatkan fungsi dan kinerja posyadu. Menyikapi kondisi tersebut. MP-ASI tersebut khususnya bagi bayi dan anak usia 6-23 bulan dari keluarga miskin yang berat badannya berdasarkan hasil penimbangan di posyandu tidak naik (T1).2 Banyak faktor yang menyebabkan masalah gizi kurang antara lain faktor ketersediaan pangan dalam rumah tangga.2 77 . salah satu sasaran adalah pelaksanaan Sistem Kewaspadaan Gizi termasuk Sistem Kewaspadaan Dini KLB Gizi Buruk.2 Salah satu upaya mempertahankan status gizi bayi dan anak usia 6-23 bulan dan juga untuk mencegah keadaan gizi menjadi lebih buruk. 116/Menkes/SK/VIII/2003 tentang pedoman Penyelenggaraan Surveilens Epidemiologi Kesehatan. 2 Posyandu merupakan bentuk Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) yang mempunyai daya ungkit yang besar dalam mengatasi masalah gizi kurang.

Definisi gizi adalah proses tubuh memanfaatkan makanan yang dimulai dari mengunyah. zat-zat gizi. menyerap. 3 Perbaikan gizi merupakan suatu upaya perbaikan gizi masyarakat yang diselenggarakan secara menyeluruh dan terpadu dalam kerjasama lintas sektoral.3 Zat gizi adalah ikatan kimia yang diperlukan oleh tubuh untuk melakukan fungsi yaitu menghasilkan energi. memelihara jaringan dan mengatur proses-proses tubuh. peranan keluarga serta swadaya termasuk swasta untuk meningkatkan status gizi masyarakat dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.BAB II PENGERTIAN Kata gizi berasal dari bahasa Arab ―gizzah‖. menelan. membangun sel-sel. dan substansi yang terkandung didalamnya.6 78 . Status gizi adalah keadaan tubuh/ekspresi sebagai akibat komsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Malnutrisi ( gizi salah ) adalah keadaan patologis akibat kekurangan/ kelebihan secara relatif maupun absolut satu atau lebih zat gizi. dalam bahasa latin ―nutrire‖ artinya makanan atau zat makanan sehat. Ilmu gizi adalah ilmu tentang makanan. untuk kesehatan dan masalah kesehatan. mendistribusi. menggunakan dan membuang yang tidak terpakai. sumber pertumbuhan dan pemeliharaan untuk mencapai status kesehatan optimal. peran dan keseimbangannya.5 Gizi seimbang adalah istilah untuk menggambarkan susunan makanan dan minuman yang jenis maupun jumlahnya menjamin kebutuhan tenaga. mencerna.

2. 6. 8. 79 . Meningkatnya cakupan Fe pada ibu hamil dan buteki. Meningkatnya pengetahuan dan kemampuan petugas gizi kelurahan dalam melaksanakan dan pelaporan kegiatan gizi. Meningkatnya kerjasama lintas program dan lintas sektoral. Terlaksananya kegiatan Pos Gizi untuk menurunkan angka balita gizi buruk dengan dana swadaya masyarakat.BAB III TUJUAN Tujuan Umum Tertanggulanginya masalah gizi di masyarakat dan meningkatnya status gizi masyarakat di wilayah Kecamatan Pasar Minggu. Diselenggarakannya pelayanan gizi di klinik gizi. Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan Posyandu. 7. balita dan bufas. 4. Meningkatnya cakupan vitamin A pada bayi. 3. Tujuan Khusus 1. Meningkatnya status gizi pada balita gizi buruk melalui intervensi gizi. 5.

Pelayanan gizi di klinis gizi Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu c.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN KEGIATAN DAN SASARAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU Kegiatan IV. Pembinaan kader Posyandu dan petugas kelurahan IV. Pelayanan Gizi di Posyandu 3. Pemantauan status gizi anak sekolah dilaksanakan secara terpadu dengan program UKS melalui screening kesehatan 3. Kegiatan SPGP ( Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi ) 1. balita.1 Kegiatan Rutin Program Gizi a. Pengadaan PM tambahan pemulihan untuk balita BGM 3. Pelacakan kasus gizi buruk yang ditemukan di wilayah Pasar Minggu b. Pemberian makanan tambahan pemulihan di Posyandu 7. Pemberian tablet tambah darah pada bumil dan buteki dan bufas 6. Pemberian Vitamin A pada bufas 5. Pengadaan vitamin A untuk bayi. Monitoring dan evaluasi kegiatan penimbangan balita di Posyandu 8.anak 4. 2. Pembentukan pos gizi 4.2 Kegiatan Program Gizi dengan menggunakan anggaran subsidi 1. Pengadaan bahan dan pangan MP-ASI 80 . Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) 1. Penyuluhan gizi pada masyarakat sangat diperlukan karena pengetahuan orang tua dapat ditambah dengan cara memberikan penyuluhan setiap saat pertemuan. dan ibu hamil 2. Usaha Perbaikan Gizi Institusi ( UPGI ) 1. Rapat koordinasi dengan sektoral 4. Melakukan survei konsumsi makanan pada masyarakat 3. Pemberian Vitamin A setiap bulan Februari dan Agustus pada anak . Pemantauan status gizi Balita di Posyandu 2. Penyuluhan Gizi di SD / MI / SMP / SMA secara terpadu dengan program UKS/PKPR 2.

Gizi anak sekolah dengan program UKS 4. Pembinaan petugas gizi kelurahan 6. Pada masyarakat umum 81 . Posyandu dengan program PSM 3. KP ibu dengan program kesehatan ibu 2. Ibu. remaja. Lansia yang datang ke Posyandu lansia 3.5. balita dan buteki yang datang ke Posyandu 2. Pada kelompok Pasien DM yang ada di Pasar Minggu 5. Gizi remaja dengan program PKPR 5. Monitoring dan evaluasi program gizi IV. Pada kelompok sekolah.3 Program Gizi yang berintegrasi dengan program lain 1. Ibu hamil dengan class ANC 4. Panti Asuhan 6. Gizi lansia dengan program lansia Sasaran 1.

dan ibu menyusui Penyuluhan gizi di Posyandu Posyandu Satu bulan 1x Petugas kesehatan sesuai jadwal Puskesmas dan Kader kesehatan/Posyandu Pemberian vitamin A pada balita di Posyandu Pemberian tablet Fe pada balita di Posyandu dan PMT balita Pencatatan dan pelaporan Penataan kader 2. Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) Jenis Kegiatan Sasaran Tempat Waktu Pelaksana Penimbangan balita di Posyandu Bayi.BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU 1. Usaha Perbaikan Gizi Pemuda (UPGP) Jenis kegiatan Penyuluhan gizi remaja Sasaran Organisasi pemuda dan Tempat Kecamatan Waktu 2x per Pelaksana tahun Tenaga Pelaksana Gizi Puskesmas Pembina bersama – sama Dokter Puskesmas Pembina sesuai jadwal remaja/karang taruna 82 . balita. ibu Pemberian makanan tambahan di Posyandu hamil.

pesantren tahun sesuai jadwal Pemantauan gizi Nakerwan 83 . Usaha perbaikan Gizi Sekolah (UPGS) Jenis kegiatan Penyuluhan gizi pada masyarakat sekolah Sasaran Masyarakat Sekolah Dasar/Madrasah Pembinaan warung / kantin sekolah Ibtidiyah. sesuai SLTA/Aliyah jadwal puskesmas Pemberian tablet tambah darah Pemantauan status gizi 4. panti jompo. 2x per panti.3. Waktu Dasar 4x tahun Pelaksana per Petugas kesehatan dan Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) SLTP/Tsanawiyah.Usaha Perbaikan Gizi Institusi (UPGI) Jenis kegiatan Penyuluhan gizi pada masyarakat institusi Sasaran Masyarakat panti asuhan. SLTP/Tsanawiyah dan SLTA/Aliyah Pemeriksaan Hb anak SD/MI Tempat Sekolah (SD). dan pesantren Pemeriksaan Hb pada Nakerwan Tenaga kerja wanita (Nakerwan) Pemberian tablet tambah darah pada Nakerwan Tempat Waktu Pelaksana Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) Puskesmas Pembina Institusi/perusahaan.

Klinik Gizi Jenis kegiatan Anamnesa. dll Riwayat kebiasaan makan dan intake Balita gizi buruk rujukan dari posyandu Tempat Poli Waktu Pelaksana Gizi 3 hari dalam Dokter puskesmas Puskesmas seminggu. BP. BKIA. Pembina sesuai jam kerja Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) Puskesmas Pembina 84 .5. diagnose keluhan gizi dan nasihat dietetic Sasaran Pasien umum dengan kelainan gizi ganda (gizi lebih dan kurang) Pengukuran status gizi (antropometri dan Pasien rujukan laboratorium) dari RB.

0 % . Menjalin komunikasi dan kerjasama yang lebih efektif dengan lintas program dan lintas sector 3.2 % 2.0 % . Meningkatkan sosialisasi ke masyarakat.4 % 3. Rata – rata kunjungan klinik gizi 110 orang/bulan 7. PMT – Pemulihan balita gizi buruk sebaiknya melalui klinik gizi Puskesmas kecamatan agar memudahkan monitoring dan evaluasi 85 .000 UI sebanyak 93.6 % 4. khususnya para ibu yang memiliki balita untuk pertumbuhan balitanya melalui kegiatan Posyandu 2. Cakupan Fe I ibu hamil = 81. Fe III = 80.3 % . N/D = 56. N/S = 41. Cakupan ASI eksklusif masih rendah sekitar 36. Cakupan vitamin A bulan Februari untuk 100.8% sedangkan targetnya 80 % VI. Kegiatan intervensi gizi dapat memperbaiki gizi buruk dari 64.1 % da 200.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN VI.5 % menjadi 24.1 Kesimpulan 1.3 % .000 UI sebanyak 95. 2 Saran 1.9 % 5. K/S = 89. Jumlah kader Posyandu yang aktif 71.2 % 6.4 % 8.000 UI sebanyak 99. Cakupan D/S = 74.4 % serta Agustus untuk 100.000 UI sebanyak 90.1 % dan 200. Jumlah Posyandu yang rutin melaksanakan kegiatan 98.

Jakarta . 2008 5. 2010 2. Juknis SPM Gizi Masyarakat. Standarisasi Pelayanan Kesehatan Puskesmas. Kendari . Jakarta . Jakarta . 2008 3. Evaluasi Pelaksanaan Program Perbaikan Gizi Masyarakat dalam Mencapai Visi Misi Indonesia Sehat 2010. Wuna. Direktorat Bina Gizi Masyarakat Republik Indonesia. 2011 86 . Prioritas Peningkatan Pengetahuan dalam Perbaikan Gizi Masyarakat. Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2008 4. 2007 6. Masalah Gizi di Indonesia dan Program Perbaikan Gizi Masyarakat. Jakarta . Petunjuk Teknis Bantuan Sosial Program Perbaikan Gizi Masyarakat. Jakarta . Persatuan Ahli Gizi Indonesia. Program Perbaikan Gizi Masyarakat.DAFTAR PUSTAKA 1.

06.209) 87 .084) (030.06.UPAYA PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT Penyusun : Fadilah Rakhma Asih Primadyah ( 030.

memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata. Usaha-usaha tersebut dilakukan secara menyeluruh. dan penyakit lainnya. bangsa dan negara dapat hidup dalam lingkungan dan perilaku hidup yang sehat. serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. 88 . serta upaya-upaya pemulihan kesehatan (rehabilitatif). tempat makan dan minum yang kurang bersih pencuciannya (Hepatitis. bukan disebabkan faktor fisik (seperti luka bakar dan trauma benturan) atau kimia (seperti keracunan) yang mana bisa ditularkan atau menular kepada orang lain melalui media tertentu seperti udara (TBC. demam berdarah dengue. dan sedapat mungkin menghilangkan atau mengurangi akibat buruk dari penyakit menular tersebut. influensa. Infulenza dll). malaria. Program tersebut dilaksanakan untuk mencegah berjangkitnya penyakit atau mengurangi angka kematian dan kesakitan. Typhoid/Types dll). Beberapa penyakit menular yang menjadi masalah utama di Indonesia adalah diare. dan berkesinambungan serta peningkatan sistem pengamatan penyakit. Jarum suntik dan transfusi darah(HIVAids. Dalam mewujudkan pelaksanaan upaya-upaya di atas tentunya harus didukung oleh sarana dan prasarana serta sumber daya manusia yang berkualitas yang mampu memenuhi tuntutan dan kebutuhan pembangunan di bidang kesehatan. tifus abdominalis. penyembuhan (kuratif).Hepatitisdll). penyakit saluran cerna. dimana masyarakat. Salah satu program yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan dan sasaran pembangunan di bidang kesehatan adalah pencegahan dan pemberantasan penyakit menular. Penyakit menular yang juga dikenal sebagai penyakit infeksi dalam istilah medis adalah sebuah penyakit yang disebabkan oleh sebuah agen biologi (seperti virus. bakteria atau parasit). pengkajian. Usaha peningkatan derajat kesehatan diupayakan melalui upaya peningkatan kesehatan (promotif).BAB I PENDAHULUAN Pembangunan kesehatan yang berkualitas merupakan bagian integral dari pembangunan nasional. baik masa kini maupun masa datang. pencegahan penyakit (preventif). terpadu. cara penanggulangan secara terpadu dan penyelidikan terhadap penularan penyakit.

89 . dan Nasional. Sistem Pencatatan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP). Sistem tersebut disesuaikan dengan ketetapan Undang –Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah. dampak dari berbagai penggunaan obat atau konsumsi makanan serta minuman termasuk merokok. penanggulangan Kejadian Luar biasa (KLB) penyakit dan keracunan. dan Sistem Pelaporan Rumah Sakit (SPRS). Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom. hipertensi. kecacatan akibat kesalahan proses kelahiran.Adapun penyakit yang tidak menular adalah penyakit yang diderita pasien yang pada umumnya disebakan bawaan/keturunan. kondisi stress yang mengakibatkan gangguan kejiwaan. Beberapa penyakit tidak menular yang menunjukkan kecenderungan peningkatan adalah penyakit jantung koroner. dan Keputusan Menteri Kesehatan No. kanker. Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah. serta penanggulangan penyakit tidak menular dierlukan suatu sistem surveilens penyakit yang mampu memberikan dukungan upaya program dalam daerah kerja Kabupaten/Kota. dan sebagainya. yang telah mengalami beberapa kali perubahan dan perbaikan. Pada tahun 1987 telah dikembangkan Sistem Surveilens Terpadu (SST) berbasis data. 1116/MENKES/SK/VIII/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilens Epidemiologi Kesehatan serta kebutuhan informasi epidemiologi untuk mendukung upaya pemberantasan penyakit menular dan penyakit tidak menular. diabetes melitus. kecelakaan. Untuk melakukan upaya pemberantasan penyakit menular. propinsi.

BAB II PENGERTIAN

Penyakit adalah adalah suatu keadaan abnormal dari tubuh atau pikiran yang menyebabkan ketidaknyamanan, disfungsi atau kesukaran terhadap orang yang

dipengaruhinya. Untuk menyembuhkan penyakit, orang-orang biasa berkonsultasi dengan seorang dokter. Penyakit menular adalah penyakit yang dapat ditularkan (berpindah dari orang yang satu ke orang yang lain) baik secara langsung maupun melalui perantara. Suatu penyakit dapat berpindah dari satu orang ke orang yang lain karena adanya penyebab penyakit

(agent), pejamu (host) dan cara penularan (route of transmission). Agent penyakit menular dapat berupa virus, riketsia, bakteri, protozoa, jamur dan cacing. Agar agent penyebab ini bias bertahan maka harus terjadi perkembangbiakan, berpindah dari satu host ke host yang lain, mencapai host yang baru dan menginfeksi host yang baru. Cara penularan yang dapat dilakukan dengan kontak, inhalasi (air bone infection), kontaminasi (melalui makanan dan minuman), penetrasi pada kulit dan infeksi melalui plasenta. Beberapa jenis penyakit yang menular:
                

Anthrax Beguk Batuk rejan (pertusis) Beri-beri Cacingan Cacar Air (varicella) Campak Chikungunya Demam campak Demam berdarah Demam kelenjar Diare Disentri Amuba Eritema infektiosum (Parvovirus B19) Hepatitis A Hepatitis B Hepatitis C

                 

Impetigo Influenza Kolera Lepra Malaria Penyakit Meningokokus Penyakit tangan, kaki dan mulut Rabies Radang lambung dan usus Rubeola Rubella Tetanus Tuberkulosis Kutu Konjungtivitis Kurap Kudis Skarlatina
90

Flu Burung

Macam penyakit menular:  Penyakit karantina atau wabah (UU No.1 dan 2 tahun 1962): Kolera, Pes, Demam kuning, Deman bolak-balik, Tifus Bercak Wabah, Poliomielitis dan Difteri).   Penyakit menular dengan potensi wabah tinggi: DBD, Diare, Campak, Pertusis dan Rabies, Avian Influenza, HIV/AIDS. Penyakit frambusia,  menular dengan potensi wabah rendah: antraks, malaria, tetanus meningitis, neonatorum

keracunan,

influenza,

ensefalitis,

dan tifus abdominalis. Penyakit menular yang tidak berpotensi wabah : kecacingan, lepra, TBC, Sifilis, Gonore dan Filariasis. Penyakit tidak menular adalah penyakit yang tidak disebabkan oleh kuman, tetapi disebabkan karena adanya problem fisiologis atau metabolisme pada jaringan tubuh manusia. Penyakit-penyakit tersebut contohnya ialah; batuk, seriawan, sakit perut, dan sebagainya. Pengalaman menunjukkan bahwa penyakit menular yang terdapat di dalam wilayah kerja Puskesmas di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi kelompok-kelompok penyakit menular sesuai dengan sifat penyebarannya di dalam masyarakat wilayah tersebut, ialah: 1. Penyakit menular yang secara endemik berada diwilayah, yang pada waktu tertentu dapat menimbulkan wabah, yang dapat dikelompokkan ke dalam penyakit-penyakit menular potensial wabah. 2. Penyakit menular yang berada di wilayah dengan endemisitas yang cukup tinggi sehingga jika tidak diawasi dapat menjadi anacaman bagi kesehatan masyarakat umum. 3. Penyakit- penyakit menular lain yang walaupun endemisitasnya tidak terlalu tinggi di dalam masyarakat, tetapi oleh karena sifat penyebarannya dianggap sangat membahayakan keberadaannya. Dalam upaya pencegahan terjadinya wabah dan penularan penyakit dalam program Puskesmas dilaksanakan program P4M (Pencegahan, Pemberantasan, Pembasmian, Penyakit
91

masyarakat,

maka

penyakit-penyakit

ini

perlu

diawasi

Menular) dengan tujuan eradikasi penyakit sampai ke akarnya. Kemudian diganti menjadi P3M (Pencegahan, Pencegahan Penyakit menular) dan P2M & PLP (Pemberantasan Penyakit Menular & Penyehatan Lingkungan Pemukiman). Penyakit dapat dibedakan menjadi : a. Penyakit menular b. Penyakit infeksi c. Penyakit Kontak d. Penyakit karantina e. Penyakit endemi f. Penyakit epidemi (wabah) g. Penyakit Pandemi

Penyakit menular adalah penyakit yang disebabkan agent / hasil toxin yang berasal dari reservoir dan ditularkan ke host yang rentan. Mata rantai penularan terdiri dari : a. Agent / hasil toksin b. Reservoir (sumber penularan) c. Transmisi (cara penularan) d. Host / penjamu

Kejadian Luar Biasa (KLB) ialah kejadian kesakitan dan atau kematian yang menarik perhatian umum dan mungkin menimbulkan ketakutan dikalangan mayarakat, atau yang menurut pengamatan epidemiologik dianggap adanya peningkatan yang berarti dari kejadian kesakitan/kematian tersebut pada kelompok penduduk dalam kurun waktu tertentu. Termasuk dalam KLB ialah kejadian kesakitan atau kematian yang disebabkan oleh penyakit-penyakit baik yang menullar maupun tidak menular dan kejadian bencana alam yang diserati wabah penyakit. Secara operasional suatu kejadian dapat disebut KLB bila memenuhi satu atau lebih ketentuan-ketentuan sebagai berikut : 1. Angka kesakitan/kematian suatu penyakit menular di suatu kecamatan menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih selama tiga minggu berturut-turut atau lebih.
92

2. Jumlah penderita baru dalam satu bulan dari suatu penyakit menular di suatu kecamatan menunjukkan kenaikan dua kali lipat atau lebih bila dibandingkan dengan angka ratarata sebulan dalam setahun sebelumnya dari penyakit menular yang sama di kecamatan tersebut. 3. Angka rata-rata bulanan dalam satu tahun dari penderita-penderita baru dari suatu penyakit menular disuatu kecamatan menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata bulanan dalam tahun sebelumnya dari penyakit yang sama pula. 4. Case fatality rate dari suatu penyakit menular tertentu dalam suatu kurun waktu tertentu (hari, minggu, bulan) di suatu kecamatan menujukkan kenaikan 50% atau lebih bila dibandingkan dengan CFR penyakit yang sama dalam kurun waktu yang sama periode sebelumnya di kecamatan tersebut. 5. Proportional rate penderita baru dari suatu penyakit menular dalam satu periode tertentu, dibandingkan dengan proportional rate penderita baru dari suatu penyakit menular yang sama daam tahun yang lalu dengan periode yang sama menunjukkkan kenaikan dua kali atau lebih. 6. Khusus penyakit-penyakit kolera, pes, DBD/DSS : a. Setiap peningkatan jumlah penderita-penderita tersebut diatas, di suatu daerah endemik yang sesuai dengan ketentua-ketentuan di atas. b. Terdapatnya satu atau lebih penderita kematian menular tersebut diatas, di suatu Kecamatan yang telah bebas dari penyakit-penyakit tersebut, paling sedikit bebas selama 4 minggu berturut-turut. 7. Apabila kesakitan atau kematian oleh keracunan yang timbul di suatu kelompok masyarakat. 8. Apabila di daerah tersebut terdapat penyakit yang sebelumnya tidak ada. Khusus untuk kasus AFP (Acute Flaccid Paralysis) dan Tetanus neonatorum ditetapkan sebagai KLB bila ditemukan satu kasus atau lebih. Wabah penyakit menular adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka (UU No.4 Tahun 1984 tentang wabah penyakit menular)

93

Penanggulangan Kejadian Luar Biasa Penyakit Menular dilaksanakan dengan upaya-upaya : 1. Pengobatan, dengan memberikan pertolongan penderita, membangun pos-pos kesehatan di tempat kejadian dengan dukungan tenaga dan sarana obat yang memadai termasuk rujukan. 2. Pemutusan rantai penularan atau upaya pencegahan misalnya, abatisasi pada KLB DBD, kaporisasi pada sumur-sumur yang tercemar pada KLB diare, dsb. 3. Melakukan kegiatan pendukung yaitu penyuluhan pengamatan. Pemantauan dan logistik. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit (P2P) terdiri dari kegiatan pengamatan penyakit, pencegahan termasuk imunisasi serta penanggulangan dan

pemberantasan penyakit. Berbagai cara pencegahan dapat diterapkan salah satunya dengan membangkitkan kekebalan pada masyarakat melalui pelayanan yang dalam pelaksanaannya diintegrasikan ke dalam program-program pelayanan perolrangan seperti KIA, UKS, dan kegiatan imunisasi di luar gedung Puskesmas. Mengingat pentingnya pelayanan imunisasi ini, maka cakupan imunisasi di dalam masyarakat perlu dimonitor dengan Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) imunisasi Puskesmas menurut distribusi desa. Ada beberapa cara penularan penyakit menular, yaitu : 1. Penularan secara kontak, baik kontak langsung maupun kontak tidak langsung. 2. Penularah memalui vehicle seperti melalui makanan dan minuman yang tercemar. 3. Penularan melalui vektor. 4. Penularan melalui suntikan, transfusi, tindik, tato. 5. Penularan melalui hubungan seksual. Surveilans epidemiologi penyakit dapat diartikan sebagai kegiatan pengumpulan data atau informasi melalui pengamatan terhadap kesakitan atau kematian dan penyebaran serta faktor-faktor yang mepengaruhinya secara sistematik, terus-menerus dengan tujuan untuk perencanaan suatu program, mengevaluasi hasil program, dan sistem kewaspadaan dini. Untuk dapat memonitor atau mengamati distribusi penyakit menular di dalam masyarakat wilayah kerja Puskesmas, dilakukan pencatatan peristiwa kesakitan dan kematian yang diakibatkan oleh penyakit menular tersebut. Untuk pemantauan penyakit menular tertentu yang menjadi masalah kesehatan di wilayah Puskesmas disajikan dalam PWS mingguan Penyakit (contoh PWS [Formulir W2] penyakit campak, diare, DBD, dll). Dengan penggunaan PWS penyakit sara mingguan ini dapat dikenali atau diketahui secara dini kenaikan atau distribusi suatu penyakit menular tertentu menurut tempat dan waktu.
94

BAB III TUJUAN

A.

Tujuan Umum Menurunnya angka kesakitan, kematian, dan angka kecacatan akibat penyakit.

B.

Tujuan Khusus 1. Terlaksananya kegiatan pengamatan penyakit menular dan penyakit tidak menular. 2. Terlaksananya kegiatan pencegahan penyakit dan imunisasi. 3. Terlaksananya kegiatan pemberantasan penyakit menular langsung (TBC, Kusta, Diare dan kecacingan, ISPA, serta Penyakit menular Seksual dan HIV AIDS). 4. Terlaksananya kegiatan pemberantasan penyakit bersumber vektor dan rodent. (DBD, Malaria, Rabies, dan filaria).

95

dan juga tingkat daerah. Sasaran:   Memperkuat pengawasan penyakit yang menular melalui hubungan seksual (STI).BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN A. Frambesia dan kusta adalah penyakit menular yang dapat diobati. Penyakit Menular PROGRAM PENGAWASAN TERHADAP PENYAKIT MENULAR Pokok Persoalan dan Tantangan: Pemerintah Indonesia telah mengubah sistem pemerintahannya menjadi sistem desentralisasi yang membahayakan sistem pengawasan Penyakit Menular. namun dengan penularan utama yang terjadi di daerah yang miskin. Memperkuat pengawasan HIV. sesuai dengan komitmen untuk target penghapusan global (Mekhong Plus). Proyek percobaan untuk ELF memperlihatkan hasil yang menjanjikan yang perlu ditingkatkan ke tingkat propinsi. kurang pelayanannya. PEMBERANTASAN DAN PENGAWASAN TERHADAP PENYAKIT MENULAR Pokok Persoalan dan Tantangan: Infeksi Filariasis dan penularannya selalu terdapat di banyak daerah tanpa kegiatan pengawasan yang cukup. Rabies dan Japanese Encephalitis adalah masalah utama yang memerlukan dukungan dari sistem pemerintahan untuk memperkuat pengawasan dan vaksin pencegahan. terpencil. Infeksi Dengue dan komplikasinya seperti demam berdarah terus meningkat di daerah kota dan pinggir kota dengan meningkatnya angka kesakitan namun menurunnya angka kematian yang menjanjikan. Leptospirosis tetap menjadi hal yang serius meskipun tidak ada laporan yang mengancam. diperlukan kesadaran yang ditingkatkan dan dukungan dari pemerintah setempat. Helminthiasis yang sangat umum dan sangat endemis dengan pengaruh 96 . Partisipasi dan jaringan masyarakat diperlukan untuk memulai pengawasan dari penularan dengue (terutama di perkotaan) dan filariasis (terutama di pedesaan). PROGRAM PENCEGAHAN.

terutama sistem 97 . termasuk ELF. namun pelaksanaanya belum dimulai. rabies. yaws dan kusta. Telah ada peningkatan marginal dalam kasus tingkat deteksi selama dua tahun terakhir hanya karena Pusat Kesehatan telah melaksanakan DOTS. TB dan Malaria. yang harus dikoordinasikan dengan perawatan ELF dimanapun memungkinkan.kesehatan yang kronik yang dapat secara luas ditingkatkan melalui pemberantasan cacing yang berulang-ulang secara masal. dan menghapuskan penyakit-penyakit yang ditargetkan. Badan Swasta dan Tempat Kesehatan Masyarakat lainnya harus terlibat dalam pelaksanaan DOTS. leptospirosis. antihelminthiasis deworming. Unit Malaria di DepKes meneruskan kebutuhan untuk memperkuat fungsinya sebagai koordinator dari "Gebrak Malaria" dan GFATM. PROGRAM PEMBERANTASAN MALARIA Pokok Persoalan dan Tantangan: Malaria tetap menjadi salah satu penyakit menular yang utama di sebagian besar daerah di Indonesia. Ancaman yang muncul kembali telah terjadi di daerah-daerah pengawasan efektif sebelumnya. Sasaran:  Meningkatkan dan mempertahankan kualitas dari komponen-komponen terpilih dan bidang-bidang yang termasuk dalam program nasional untuk mencegah. Sasaran: Meningkatkan dan memelihara kualitas dari komponen-komponen terpilih dan daerah-daerah yang terjangkau oleh rencana kerjasama "Gebrak Malaria" untuk dilaksanakan dibawah GFATM dan sumber donatur lainnya. bersama dengan meningkatnya pendanaan yang baru-baru ini disetujui melalui Global Fund untuk AIDS. partisipasi dan jaringan masyarakat untuk pengawasan dengue dan arbovirus lainnya. Kini desentralisasi sedang berjalan yang memerintahkan pelaksanaan tanggung jawab di tingkat daerah dan propinsi. Sebuah rencana pembangunan telah dikembangkan. Kebijakan perawatan obat-obatan perlu terus diawasi dengan timbulnya kembali pola resistansi. Kualitas pelaksanaan DOTS. mengawasi. Angka kesakitan dan kematian Malaria secara bermakna mempengaruhi bagian-bagian yang lebih miskin di negara. Untuk memperbaiki hal ini. PROGRAM PEMBERANTASAN TUBERCULOSIS Pokok Persoalan dan Tantangan: Indonesia telah mengembangkan dan memulai penerapan rencana pembangunan lima tahun untuk pemberantasan TB (2002-2006).

STEP 1 juga telah dimasukkan ke dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional . Penyakit Tidak Menular PROGRAM PENGAWASAN. instrumen. Pendekatan STEPwise dari WHO untuk Pengamatan Faktor Risiko telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia selama tahun 2002-03. Tiga komponen utama diadopsi. yaitu: pengamatan faktor-faktor risiko. rencana pembangunan nasional tentang pengamatan terhadap penyakit yang tidak menular yang utama masih perlu dikembangkan untuk mencapai sebuah konsensus dalam pengamatan terhadap penyakit yang tidak menular. Selain itu. pendekatan Stepwise telah digunakan di bidang demonstrasi mengarah pada pengembangan pendekatan yang berbasis komunitas dalam pengawasan penyakit tidak menular. PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN TERHADAP PENYAKIT TIDAK MENULAR Pokok Persoalan dan Tantangan : Kini suatu upaya yang terpadu sedang berjalan untuk mengembangkan Pengamatan Risiko Terhadap Penyakit Tidak Menular (NCD Control). propinsi dan daerah.pencatatan dan pelaporan. dengan pendanaan gabungan dari SEARO dan Kantor Negara. B. pada saat ini mengalami beberapa kekurangan yang perlu diatasi dengan memperkuat dan meluruskan kegiatan DOTS di tingkat pusat. Disamping itu. Agar dapat menyediakan dukungan teknis yang berkesinambungan untuk mengatasi hal ini. dan penyediaan dukungan teknis yang berkesinambungan. Sasaran:  Memperbaiki pelaksanaan pelayanan DOTS di seluruh negeri dengan membentuk kemitraan yang efektif dengan provider kesehatan di sektor lain (publik-gabungan publik & publik . Perbedaan dalam 98 .Modul Kesehatan sebagai bagian dari SURKESNAS. dengan mengadaptasi Rencana Global dan Regional.gabungan swasta). Namun. Dokumen ini diharapkan akan selesai sebelum akhir tahun 2003. upaya peningkatan kesehatan yang terpadu dan penghantaran perawatan kesehatan yang direformasi. maka penting untuk memperkuat dukungan teknis dalam negeri dengan menambah staf di tingkat nasional dan lapangan.instrumen ini telah diperkenalkan oleh pemerintah setempat dan juga universitas guna meningkatkan pengadopsian dari instrumen-instrumen ini untuk penerapan yang lebih lanjut.

PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN TERHADAP PENYAKIT TIDAK MENULAR 2 Pokok Persoalan dan Tantangan : Indonesia masih ketinggalan dalam upaya untuk memerangi kebutaan yang diakibatkan oleh katarak. Sasaran :  Penerapan dukungan teknis dalam rencana pembangunan untuk pencegahan dan penanggulangan kebutaan. ada potensi yang besar dalam sektor swasta seperti LSM yang sangat aktif dalam pencegahan dan pengawasan faktor risiko dari penyakit yang tidak menular. terutama jika kita ingin melihat perubahan perilaku. Projek uji coba sedang berjalan di Depok dengan gabungan dana dari SEARO dan Kantor Negara untuk mengembangkan pendekatan yang berbasis komunitas dalam pencegahan dan pengawasan penyakit yang tidak menular yang utama. Ini adalah projek yang berlangsung lama. Meskipun sektor publik/ DepKes tetap menjadi agen utama bagi pergerakan ini. pertemuan-pertemuan persiapan telah dilakukan untuk membentuk suatu jaringan nasional untuk pencegahan dan pengawasan dari penyakit yang tidak menular yang utama. dan terutama bahwa Penglihatan 2020 bukan program prioritas teratas di negeri ini.pendekatan dari dasar penyakit dan fakto risiko berdasarkan pengamatan harus saling melengkapi dan mendapatkan kepentingan yang seimbang. maka ini harus benar-benar didukung. jaringan ini perlu didukung lebih jauh lagi. Maka dari itu. Dalam kurun waktu 2002-3 beberapa petugas pemerintah telah mendapatkan pelatihan dalam Program Pengelolaan Perawatan Mata di Madurai dan di beberapa tempat. Tantangannya kini adalah untuk melanjutkan upaya-upaya dan untuk menyokong para pemegang kepentingan yang utama untuk memungkinkan negara untuk mengantisipasi wabah penyakit yang tidak menular yang akan datang. PROGRAM PENGAWASAN TEMBAKAU 99 . Rencana Pembangunan Nasional untuk penanggulangan kebutaan baru saja dikeluarkan. Maka. Dalam waktu 2002-3. upaya yang konsisten harus ada supaya kita dapat mencapai suatu kesimpulan. Sasaran :  Menerapkan Program Pembangunan Nasional untuk pencegahan dan pengawasan penyakit yang tidak menular. PROGRAM PENGAWASAN.

8% (1997) menjadi 42. Selain itu. tidak ada titik pusat yang diidentifikasikan di dalam DepKes. PROGRAM KESEHATAN MENTAL DAN PENYALAHGUNAAN OBAT DAN BAHAN BERBAHAYA Pokok Persoalan dan Tantangan : 100 .0%). Namun demikian. Data dari Susenas memperlihatkan bahwa insiden kecelakaan sendiri adalah 0. 69. yang dapat digunakan sebagai referensi untuk membentuk kebijakan dan kapasitas dalam menangani isu-isu ini. WHO telah menonjolkan isu ini dengan mengeluarkan Laporan Dunia tentang Kekerasan dan Kesehatan di tahun 2002.6% (2000). Sangat baik dimengerti bahwa menanggapi isu-isu kecelakaan dan kekerasan membutuhkan pendekatan multi-sektor. Sasaran :  Membentuk kebijakan nasional untuk pencegahan kecelakaan dan kekerasan.1% pria Indonesia berusia 20 tahun atau lebih merokok secara reguler. Sasaran :  Mengadopsi dan menerapkan rencana pengendalian tembakau nasional yang lengkap PROGRAM KECELAKAAN/DISABILITAS Pokok Persoalan dan Tantangan : Kecelakaan dan kekerasan telah menjadi masalah kesehatan publik. WHO akan mendukung struktur lembaga untuk membawa ke depan kunci legislatif dan elemen-elemen kebijakan dari rencana pembangunan.5% dari satu juta orang. dengan angka yang lebih tinggi di daerah pedesaan (74. Di antara anak laki-laki yang disurvei di sekolah menengah di Jakarta.3% telah mencoba merokok. Sesuai dengan WHA52. bekerja sama dengan berbagai departemen pemerintah.Pokok Persoalan dan Tantangan : Indonesia telah mengalami salah satu peningkatan terbesar dalam konsumsi tembakau di dunia .47% selama tahun 1990an. Pada saat kini. Perokok meningkat dengan pesat di Indonesia. Di tahun 2003. kesehatan menduduki posisi yang paling strategis di bidang ini. tujuannya adalah untuk meratifikasi perjanjian internasional pengawasan tembakau. LSM dan MPR. Sekitar 69. WHO SEARO telah mengembangkan beberapa dokumen yang berhubungan dengan ini. kecelakaan dan kekerasan yang berhubungan dengan ketidakstabilan politik dianggap tinggi di area-area yang terkena. Perokok reguler di antara anak laki-laki berusia 15 sampai 19 tahun meningkat dari 36.18 Indonesia aktif terlibat dalam Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) bersama dengan negara anggota PBB lainnya.

beberapa modul lain juga akan menjalani pendekatan yang sama. beberapa modul pelatihan untuk pencegahan dan pemberi perawatan utama dalam bidang kesehatan mental dan penyalahgunaan obat dan bahan berbahaya telah dikembangkan dan dilatih di beberapa propinsi. Kini tantangannya adalah untuk meningkatkan kesadaran dan mengembangkan panduan nasional dalam menghadapi alkoholisme dan penyalahgunaan bahan berbahaya lainnya seperti metamphetamine. dll. Sasaran :  Memperkuat program kesehatan mental daerah. Meskipun adanya upaya ini. Namun tidak ada tanggapan dan pengawasan dari pelaksanaanya. Kini telah ada upaya untuk mengartikan dan mengadaptasikan dua seri modul. program kesehatan mental masih belum mendapatkan anggaran belanja yang mencukupi. Adaptasi ini diharapkan untuk selesai di tahun 2003. WHO telah mendukung pengembangan Kebijakan Kesehatan Mental Nasional dan rencana pembangunannya. di dalam kurun waktu tahun 2002-03. Di tahun 2004-05. yaitu Perencanaan dan Penganggaran Belanja Program Kesehatan Mental dan Pengaturan Jasa-Jasa Kesehatan Mental. WHO-HQ baru-baru ini mengembangkan alat-alat pengelola untuk memperkuat program kesehatan mental daerah melalui Projek Kebijakan Kesehatan Mental. sebagian karena dikeluarkannya Laporan Kesehatan Dunia 2001 tentang Kesehatan Mental. namun ada pengertian yang berkembang bahwa narkotika sangat berhubungan dengan penyalahgunaan bahan lainnya seperti alkoholisme. Penyalahgunaan obat dan bahan berbahaya menjadi lebih menonjol dalam beberapa tahun terakhir. Selain itu. sejumlah panduan telah dikembangkan untuk para pecandu narkotika. Disamping itu. Maka dari itu. sebuah lokakarya pelatihan telah berhasil diselenggarakan dengan mengikutsertakan peserta dari pusat dan dari propinsi-propinsi di Jawa dan Bali untuk memperkenalkan modul dan menggunakan modul untuk mengembangkan program kesehatan mental. desentralisasi yang mulai diterapkan di tahun 2001 mempersulit masalah ini. Pemerintah telah melakukan upaya namun masih belum terlalu efektif.Masalah kesehatan mental menjadi masalah yang lebih menonjol belakangan ini di negara. Kebingungan juga meningkat karena tidak adanya pola di negara mengenai program kesehatan mental daerah yang dapat digunakan sebagai contoh. Di tahun 2003. Kantor WHO di negara bekerja sebagian dalam isu ini. Ini menjadi ganda dengan adanya perubahan baru-baru ini di dalam DepKes Direktorat Kesehatan Mental dari pendekatan berbasis rumah sakit menjadi berbasis komunitas. 101 .

 Memperbaharui dan mencoba di lapangan panduan nasional dan alat-alat pengelolaan penyakit mental dan neurologis dan penyalahgunaan bahan berbahaya 102 .

Aula 1 tahun 2x tiap Dokter dan Puskesmas kunjungan poli puskesmas dan tenaga Kelurahan kesehatan Kusta Dewasa Aula 1 tahun 1x Dokter puskesmas dan tenaga kesehatan HIV Pasien poli dan Poli siswa remaja sekolah konsultasi 1 tahun 1x tiap Dokter dan kunjungan poli puskesmas dan tenaga kesehatan 103 . kelompok Poli paru. dewasa Poli anak dan 1 tahun 1x tiap Dokter umum. Aula 1 tahun 1x tiap Dokter kunjungan poli puskesmas dan tenaga kesehatan TBC Individu. Aula kunjungan Poli puskesmas dan tenaga kesehatan Diare Bayi dan anak Poli anak.BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN TEBET Pelaksanaan upaya pokok pencegahan pemberantasan penyakit menular dan tidak menular di puskesmas tingkat kecamatan : Kegiatan Penyuluhan ISPA Sasaran Tempat Waktu Pelaksana Balita.

III) Tiap kunjungan Bidan Ibu hamil TT Pemeriksaan klinis Sputum tersangka TB Anak dewasa dan Poli umum. tenaga kesehatan dan Jumantik dan poli poli puskesmas Poli KIA sebanyak 2x Sekolah kesehatan (0-11 Poli imunisasi 104 .II. poli Tiap kunjungan Dokter paru anak PSN Masyarakat Kelurahan 1x tiap minggu Dokter (hari Jumat) puskesmas.Imunisasi Imunisasi wajib Bayi bulan) Tiap Selasa dan Tenaga Kamis Imunisasi sekolah Siswa SD (kelas I.

B. pencegahan termasuk imunisasi serta penanggulangan dan pemberantasan penyakit. Host / penjamu Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit (P2P) terdiri dari kegiatan pengamatan penyakit. Agent / hasil toksin. Mata rantai penularan terdiri dari : a. b. Kesimpulan Penyakit Menular adalah penyakit yang disebabkan agent / hasil toxin yang berasal dari reservoir dan ditularkan ke host yang rentan. Saran Untuk lebih meningkatkan upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular dan tidak menular sebaiknya dilakukan sosialisasi kepada masyarakat secara rutin serta penambahan SDM yang ada patut dipertimbangkan. 105 . d. Reservoir (sumber penularan). Transmisi (cara penularan) . c.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. agar program yang ada dapat berjalan dan terlaksana dengan baik dan maksimal.

DAFTAR PUSTAKA 1. available at www. 6. Pedoman kerja Puskesmas jlid 2. Penyakit.1999. standar manajemen pengendalian vektor penyakit. http://penyakit-pengobatan. Departemen kesehatan Republik Indonesia. 4. Pemerintah daerah Khusus ibukota Jakarta. 3. 106 . volume 13 edidi I. 2002. Program Pengawasan. available at www.who. 1999.com/2007/12/penyakit-menular-dan-tidakmenular.com accessed on 18th July 2011. Pencegahan dan Penanggulangan Terhadap Penyakit Menular dan Tidak Menular. Dinas kesehatan propinsi DKI Jakarta.com accessed on 17th July 2011.html 5. 2.wikipedia.blogspot. Standarisasi pelayanan Kesehatan Puskesmas di DKI Jakarta.

( 030 06 139) (030 06 246) 107 .UPAYA PENGOBATAN Penyusun : Khairun Nisa Shita Hayyuning A.

tepat dosis obat.BAB I PENDAHULUAN Pengobatan rasional menurut WHO 1987 yaitu pengobatan yang sesuai indikasi.2 Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas pertama kali diterbitkan pada tahun 1985 dan mendapat tanggapan yang sangat menggembirakan bagi pelaksana pelayanan kesehatan dasar. sehingga perlu merevisi pedoman tersebut. serta sektor swasta. baik dengan sektor kesehatan maupun sektor lain yang terkait. diagnosis.1 Salah satu perangkat untuk tercapainya penggunaan obat rasional adalah tersedianya suatu pedoman atau standar pengobatan yang dipergunakan secara seragam pada pelayanan kesehatan dasar atau puskesmas. tersedia setiap saat dan harga terjangkau.1 Oleh karenanya.2 Oleh karena kemajuan yang pesat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran maupun farmasi menuntut tersedianya suatu pedoman yang mengikuti perkembangan. cara dan waktu pemberian. Dinamika kehidupan manusia banyak sekali berhubungan dengan masalah kesehatan yang timbul akibat kondisi lingkungan dan status sosial yang beragam. yaitu pelayanan lini terdepan adalah : 108 .1 Latar Belakang Pelayanan kesehatan untuk masa yang akan datang semakin kompleks sejalan dengan adanya perubahan lingkungan dari masyarakat yang menyebabkan perubahan pola penyakit serta adanya perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran. puskesmas dalam menjalankan fungsinya untuk meningkatkan taraf kesehatan masyarakat melalui pembinaan dan pelayanan kesehatan dapat menggunakan segala macam sumber daya yang ada di wilayah kerja. Dan agar fungsi puskesmas dapat terlaksana dengan baik. Dalam makalah ini yang dibahas adalah upaya pengobatan dasar di puskesmas. perlu adanya peningkatan kemampuan manajemen di bidang pelayanan yang diberikan maupun pengorganisasian yang terintegrasi lebih baik. Telah pula dicetak ulang beberapa kali dan terakhir tahun 2002 tanpa merubah isinya. Beberapa masalah kesehatan mempunyai insidens yang sering ditemukan pada pelayanan medik Puskesmas. Permasalahan1 Upaya pengobatan di puskesmas sebagian besar berhadapan dengan permasalahan fisik dan mental yang timbul dalam kehidupan sehari-hari dari Pengguna Jasa Pelayanan Kesehatan (PJPK) dan keluarganya.

penyakit yang dapat hilang dan sembuh sendiri. permasalahan endokrin 7.1. penyakit infeksi akut maupun kronik 5. permasalahan penyakit akibat gaya hidup dan budaya 4. yaitu penyakit swa sirna ( self limiting diseases) 2. permasalahan usia lanjut 6. 109 . permasalahan nutrisi Prinsip penatalaksanaan pelayanan yang diselenggarakan adalah sesuai dengan manajemen pelayanan medik menyeluruh terpadu. masalah somatik yang timbul oleh pengaruh stress (tekanan psikis) 3.

untuk menyelesaikan masalah kesehatan dan menyembuhkan penyakit yang ditemukan dari pengguna jasa pelayanan keshatan. Dalam proses pengobatan terkandung keputusan ilmiah yang dilandasi oleh pengetahuan dan keterampilan untuk melakukan intervensi pengobatan yang memberi manfaat maksimal dan resiko sekecil mungkin bagi pasien. Hal tersebut dapat dicapai dengan melakukan pengobatan yang rasional. dengan untuk memandang umur dan jenis kelamin yang dapat diselenggarakan pada ruang masalah. 2 110 .1 Pelayanan pengobatan adalah pelayanan medik yang dilakukan oleh pelaksana pelayanan (dokter) baik secara sendiri ataupun atas koordinasi bersama dengan sesama profesi maupun pelaksana penunjang pelayanan kesehatan lain sesuai dengan wewenangnya.BAB II PENGERTIAN Pengobatan merupakan suatu proses ilmiah yang dilakukan oleh dokter berdasarkan temuan-temuan yang diperoleh selama anamnesis dan pemeriksaan.

c. Perencanaan obat yang digunakan akan lebih tepat. Standar Profesi. Merupakan landasan hukum dalam menjalankan profesi karena disusun dan disepakati para ahli dan diterbitkan oleh pemerintah. secara langsung dapat mengoptimalkan pembiayaan pengobatan. Senantiasa menjadi standar profesi setinggi-tingginya karena disusun dan diputuskan atas kesepakatan para ahli.1 Tujuan Khusus Tujuan Pedoman Pengobatan dikelompokkan dalam beberapa hal:1 a. Oleh karena Pedoman Pengobatan hanya memuat obat yang terpilih untuk masingmasing penyakit / diagnosis. Mutu Pelayanan Pengobatan. d.BAB III TUJUAN Tujuan Umum Tujuan umum upaya pengobatan adalah meningkatnya derajat kesehatan masyarakat dengan memberikan pelayanan kuratif. Pengamanan Hukum. 111 . b. Kebijakan dan Manajemen Obat.

penyebab bukan patologi berat (seperti DM berat.BAB IV SASARAN DAN KEGIATAN Sasaran Sasaran upaya pengobatan yang diselenggarakan Puskesmas adalah semua anggota masyarakat dengan tidak memandang umur dan tidak membedakan strata sosial. dapat diatasi segera. preforasi alat dalam). hasil pemeriksaan Pengobatan yang dapat diberikan adalah : Penata laboran Penata radiologik Dokter Puskesmas Pelaksana 112 . Rincian Kegiatan Kegiatan Anamnesa Uraian Kegiatan Sapa dengan baik PJPK yang datang Pahami keluhan dan gejala secara holistik Perhatikan tanda vital dan profil umum Biarkan PJPK bercerita sendiri tentang riwayat penyakitnya dan pengobatannya Pemeriksaan secara holistik dari aspek fisik mental dan sosial dari penyakit Pemeriksaan secara holistik dari aspek Dokter Puskesmas fisik. hipertensi tak terkendalikan. 3. adanya gejala sistemik berat. 2. kehamilan. 1 Ciri masalah yang dilayani : 1. gejala/keluhan dan status klinik yang tidak terlalu ekstrim. mental dan sosial Lokasi keluhan Faktor penentu yang ada : Risiko bila ada alergi. malignansi. kelainan perilaku Berat ringannya secara klinis Pengaruh lain dari penyakit Bila sulit diketahui dapat dilakukan pemeriksaan laboratorium dan radiologik sesuai dengan indikasi dan kemampuan Diagnosa Tindakan : Medikamentosa Berdasarkan keluhan.

Test laboran : darah lengkap Radiologik : foto toraks ECG.Pemeriksaan (tindakan operasi dilakukan oleh ahli yang sesuai dengan kasus) Pemeriksaan bukan sjaa terhadap keluhan namun semua sistem tubuh. perawat Anamnesa Anamnesa dan rekam medik dikirimkan lengkap dengan surat rujukan pada operator . antipsikotik Anti parkinson Hipnotik sedatif Obat antihipertensi dan penyakit jantung Obat antisyok Obat mengatasi keluhan pernafasan Obat mengatasi dispepsia dan nyeri abdomen Antiseptik saluran kemih Kontraseptik Antiseptik desinfektans Obat haematopoitik Obat untuk kebidanan Obat topikal kulit Obat topikal mata Obat gigi Obat hemoroid Vitamin dan mineral. antikonvulsi Antidepresi. lain-lain Tindakan Persiapan operasi : Persiapan untuk bedah umum ataupun Dokter tindakan bedah khusus sederhana dapat dikerjakan dokter Puskesmas atas kerjasama dengan operator Dokter.                      Anti mikrobiota Anti fungi Analgesik-antipiretik Anti inflamasi non steroid (AINS) Antiepilepsi. usia > 40 th (adanya riwayat jantung) 113 . kardiovaskuler dan respirasi berkaitan kasus operasi dan tindakan anestesi.

kecuali bedah persalinan oleh Ahli Kandungan. obat. marital Seks Ketepatan dosis/tindakan Kesembuhan Mutu Pengisian rekam medik Penilaian epidemiologik Biaya Ahli kandungan. inhalasi. abses ekterpasi sederhana pada pelayanan rawat jalan Konseling padapelayanan terpadu untuk masalah : Kebugaran fisik dan kehidupan yang sehat Mental psikospiritual sosial Kerja Sanitasi dan lingkungan Keluarga. bidan. dokter spesialis mata Dokter. lipoma. vaksin tetanus. perawat perawat gigi Perawat Petugas farmasi Terapi cairan. perawat.Operasi direncanakan Operasi sito dan operasi yang direncanakan tidak dapat dilakukan di Puskesmas. anestesi. perawat Bedah minor Tindakan Konseling khusus Ruang konseling khusus Dilaksanakan oleh : dokter. infus set. oksigen. suntikan. oral suppositoria. kateter kesehatan. antiseptik. perawat Tindakan evaluasi pelayanan Tindakan evaluasi administratif Komponen Pelayanan Kegiatan Pelayanan ambulans Pelayanan administrasi Pelayanan obat-obatan Petugas Pelaksana Supir. eksisi clavus. bila fasilitas pelayanan persalinan Minor : sirkumsisi. Keterangan Milik puskesmas 114 .

konsulen panggilan. kronis Dokter puskesmas. urin. faal ginjal. penurunan kesadaran. status konvulsi Penata laboratorium. konsul. perawat gigi. kimia darah Pelayanan kecelakaan/muskuloskeletal. Circulation) Darah. perawat Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan ECG Perawat. dokter gigi. Breathing. dokter 115 .Perlengkapan medik Petugas/perawat perlengkapan Minor set jahit Mayor set tindakan sederhana Bidai Penanganan luka terbuka Penanganan fraktur sederhana Penanganan keadaan akut ABC (Airway. penata radiologik Tim medik untuk : kegawatan nafas. perawat. elektrolit. darurat medik. trauma organ lain Kedaruratan penyakit akut. resusitasi jantung paruotak.

virus.556 61. 116 Keadaan keseimbangan elektrolit . sistem hematopoitik.637 2. polio. humoral tubuh Tetapkan penyebab infeksi (semua golongan umur) Keterangan Faktor penentu dan usia jenis kelamin Penyebab jenis mikrobiota.359 4. parasit. tanda vital. gondongan.010 6.448 3. campak.868 4.599 2. cacing. kelenjar.011 2.260 13. cacar air) Host : keadaan umum. Penyelesaian masalah infeksi sistemik Kegiatan Tindakan dan pengobatan Uraian Kegiatan Tetapkan organ sistem tubuh yang terkena infeksi.BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN TEBET Pelayanan yang terdapat di Puskesmas Kecamatan Tebet dilakukan oleh petugas yang dilaksanakan di dalam gedung puskesmas dan di luar gedung puskesmas (pusling). sumber penyebab manusia (anak-anak DPT. Berikut ini adalah 10 penyakit terbanyak di Puskesmas Kecamatan Tebet tahun 2010 :3 SEPULUH PENYAKIT TERBANYAK PUSKESMAS KECAMATAN TEBET TAHUN 20103 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 KODE 2200 1302 1303 1502 2002 0801 0102 1503 JENIS PENYAKIT Penyakit lain ISPA Penyakit lain saluran napas Penyakit pulpa + jaringan apikal Penyakit kulit alergi Gangguan psikotik Diare Gingivitis + penyakit periodental Penyakit mata Infeksi telinga tengah JUMLAH 13.931 9 1005 10 1101 JUMLAH 1.183 9.

Gangguan Sistem Pernapasan Kegiatan Uraian Kegiatan Keterangan 117 . kronisnya penyakit. mental dan sosial tergantung pada dampak penyakit. perlu pemeriksaan lanjut dan tindakan pelayanan perawatan ataupun pelayanan lanjutan Rehabilitasi fisik. kipas angin Malignansi penyakit dengan infeksi luka Rujukan Atasi keluhan dan berikan simptomatik cegah keadaan untuk menjadi lebih buruk yaitu tindakan :  untuk menurunkan suhu  menyeimbangkan cairan. penyakit keseimbangan fungsi organ terpadu Lingkungan : hospes perantara. elektrolit tubuh  nutrisi tubuh  oksigenasi. derajat. malignansi. komplikasi penyakit kecacatan yang ada 2.Keseimbangan suhu status gizi. sumber penularan manusia Untuk menurunkan suhu tidak dibenarkan menggunakan kompres es. perlu rehabilitasi untuk mengoptimalkan fungsi paru) Pasca stroke dengan kecacatan dapat menimbulkan trauma psikis yang memerlukan rehabilitasi sosial baik pengguna jasa maupun keluarganya Demikian pula infeksi kusta komunitas harus dapat menerimanya tanpa keraguan untuk menjadi sumber penularan Bila keadaan tidak dapat diatasi. pernapasan Tindakan terhadap penyebab Pemulihan Penyebab yang tidak jelas atasi secara simptomatik dan perbaiki keadaan umum Kasus infeksi yang telah merusakkan organ (misalnya kasus TBC. PPOK.

pneumokoniosis (kedaruratan medik) Pemeriksaan semua gol umur Infeksi sel nafas spesifik TBC. hemaptoe. suara serak akut. hubungan dengan pekerjaan. bronkhitis. faringitis. mengurangi penderitaan perlu dukungan keluarga. obat simptomatik untuk mengurangi penderitaan. berikan obat pelega pernapasan. atasi penyebab. infeksi saluran nafas akut. tumor THT. tonsilofaringitis. perjalanan penyakit dan cara mengatasinya. rasa berat pada dada (bedakan rasa nyeri dengan). untuk fisik maupun psikis Ditujukan untuk pengguna jasa pelayanan kesehatan (PJPK) PJPK keluarganya dan Rujukan Bila fungsi paru memburuk Penyakit menjadi kronis Berhubungan dengan penyakit lain yang berat Pada kasus terminal. intensitas. PPOK. Perkesmas 118 . cara pencegahan penularan/memberatnya penyakit. batuk. rinitis. pergerakan dada Inspeksi saluran nafas atas/bawah/dada Pernafasan atas (THT) Pernafasan bawah/paru Penyakit jantung Penyakit Hematogen (asidosis.Penilaian penapisan Berdasarkan keluhan subjektif. rasa tersumbat. psikogenik Korpus alinum (sumbatan jalan nafas) Umum. bronkopneumonia. sistem DOTS (Direcly Observed Treatment Shortcourse) Non infeksi Masalah kegawatan nafas Tindakan dan pengobatan Berikan medikamentosa sesuai dengan hasil pemeriksaan. Konseling mengenai penggunaan obat. anoksia) Neurogenik. dispnoe. berulang Tentukan penyakit dasar Tanda vital angka respirasi. pleurotiskhiolitis Tumor paru. kronik yang non spesifik. nutrisi dan pola hidup untuk mempercepat penyembuhan Terapi paliatif. rasa tercekik. asma bronkhial.

D dan E.Malignansi Bila perlu peralatan diagnostik canggih dan tindakan invasif Tindakan dan pengobatan Menerima rujukan kembali Tindakan penyelematan kehidupan Perawatan kasus terminal dirumah Kasus kronik dengan pengobatan intensif Kasus dispnoe yang dapat segera diatasi Pengobatan suplemen Latihan pernapasan Mengembalikan fungsi: pernapasan. pankreatitis non spesifik. infestasi cacing penyakit hepatobilier : hepatitis A. intoksikasi obat Intoleransi dalam metabolisme makanan : terhadap gula. paru. bahan kimia. C. Gangguan Sistem Pencernaan dan Organ pendukungnya Kegiatan Penilaian pada berbagai usia Uraian Kegiatan   Keterangan Bila tidak diawasi dapat terjadi dehidrasi. hiponatremi alkalosis        gangguan pada gigi dan mulut keluhan pada abdomen atas : muntah. B. laktosa. salmonelosis. perdarahan lambung. eltor. dispepsia abdomen. dapat terjadi semua golongan umur yaitu gastritis. sigelosis. lemak Obstipasi dan konstipasi Inkotinensia alvi 119 . demam tifoid. fatty liver. kolelitiasis Keracunan makanan. hipokalemi. bakteri. sirrhosis hepatis. organ pernapasan dalam dan luar Mengembalikan fungsi sosial Dokter Perkesmas bersama Pemulihan Terapi psikis/ventilasi 3. diare non spesifik. kolik. nyeri abdomen berdasarkan keluhan : tentukan penyebab.

dietitik sesuai dengan diagnosa jantung. infus Konseling Kebutuhan makanan dan cairan Kebersihan Pantangan Keluarga mementau makan dianjurkan diminta pola yang Pemulihan Penyesuaian untuk menu yang harus ditaati. Gangguan Sistem Kardiovaskuler Kegiatan Deteksi dini Uraian Kegiatan Penyakit jantung bawaan pada bayi.Tindakan dan pengobatan Terapi medikamentosa terhadap kausa dan simptomatik Diare dan alat pencernaan. Puskesmas. perilaku dan kebiasaan yang ada Memberikan edukasi pada pasien dan keluarganya untuk meningkatkan pola hidup dan menciptakan suasana keluarga yang partisipatif dalam menyelesaikan masalah PJPK Untuk kasus sistem kardiovaskuler yang menimbulkan keadaan yang tidak dapat diatasi. terapi cairan Edukasi PJPK dan keluarga Medikamentosa yang rasional (informatorium obat generik) Terapi cairan : oralit. dokter Rujukan Perawat. lunak. tidak pedas 4. semua golkongan umur Penyakit degeneratif : hipertensi Penyakit infeksi adalah penyakit jantung rheumaendokarditis Gagal jantung Memberikan medikamentosa. hipertensi yang tidak dapat Keterangan Sianosis adalah tindakan untuk segera dirujuk Tindakan dan pengobatan Dokter. instruktur 120 . jumlah cairan. terapi diet yang sesuai. vaskular ataupun psikosomatik Konseling pada PJPK dan keluarganya untuk dapat memperbaiki sistem pompa jantung dan aliran pembuluh darah dan menyelesaikan masalah psikis ataupun masalah nutrisi. keluarga perawat.

mental dan sosial penderita gangguan tiroid terutama yang pernah mengalami gangguan psikis akibat penyakitnya Kelompok diabetes senam Keterangan Dokter bersama tim. Pemulihan sosial bagi PJPK. struma nodosa. dengan menegakkan kasus yang tepat dan benar. terutama yang telah mengalami komplikasi agar melakukan kegiatan keseharian secara produktif sesuai dengan usia dan kemampuannya Rehabilitasi fisik. URM 5.dikendalikan Menerima rujukan dari perawat tertier dan pelayanan sekunder untuk dilakukan. instruktur senam Tindakan dan pengobatan Pemulihan Pemantauan oleh Perkesmas bersama keluarga 6. pengobatan spesifik serta diet yang tepat sesuai dengan keadaan Rehabilitasi penderita DM. pemantauan keluhan. struma difus Penatalaksanaan diabetes melitus dengan mengontrol kadar gula darah dan mengatur diet serta aktivitas serta medikamentosa Penatalaksanaan kasus gangguan tiroid. hipotiroid. yang telah mengalami gangguan fungsi sosial akibat penyakit kardiovaskuler yang dialaminya senam. Gangguan Mental dan Perilaku 121 . Gangguan Endokrin dan Metabolisme Kegiatan Deteksi dini Uraian Kegiatan Diabetes melitus atau tanpa komplikasi Gangguan tiroid : hipertiroid. tanda-tanda vital dan sosialisasi PJPK dalam perawatan rawat jalan Melakukan perawatan di rumah sesuai dengan kemampuan fisik PJPK Pemulihan Menyelenggarakan latihan jantung sehat agar tidak berkembangnya penyakit sistem kardiovaskuler juga untuk menjaga kebugaran fisik. perawat gizi.

suportif. khususnya telinga agar tidak menjadi kronik dan infeksi ke otak Pelayanan pengobatan rasional Tindakan dan pengobatan Rujukan intra Trauma akibat kerja puskesmas Untuk perawatan infeksi kronik dan tindakan Rujukan untuk Pelayanan hearing Aids mendapat Operasi Mastedoiktomi. prasekolah. konseling keluarga. Gangguan Telinga Hidung dan Tenggorok Kegiatan Deteksi dini Uraian Kegiatan Keterangan Gangguan telinga luar akibat trauma. RS/Pelayanan khusus untuk bantu dengar tonsilektomi pasca operasi. obat psikotropik. sekolah dan penyebab ketulian saat ataupun kedua telinga Medikamentosa dan edukasi mencegah kambuhnya peradangan THT. perawatan dan tonsilektomi tindakan invasif Spesialis Puskesmas THT endoskopi. terutama pada anak usia balita. dan usia dewasa Gangguan belajar pada anak usia sekolah Penatalaksanaan medikamentosa. pelayanan 122 . UKS infeksi telinga tengah (otitis media).Kegiatan Deteksi dini Uraian Kegiatan Gangguan mental emosional pada anak usia sekolah. sesuai dengan kasus Keterangan UKS Tindakan dan pengobatan Dokter Puskesmas dan keluarga Bila puskesmas mempunyai konsultan Kesehatan Jiwa Rujukan intra Untuk kasus yang kronik dan penggunaan puskesmas psikotropik Rujukan untuk Kirimkan ke RS bila membahayakan perawatan keluarga dan sekitarnya Pemulihan Rehabilitasi medik dan sosial untuk mengembalikan fungsi sosial pasien pada komunitasnya dan beraktifitas optimal sesuai dengan usia dan kemampuannya Puskesmas keluarga dan 7.

pseudomonas. 200. A. penglihatan kurang. virus : trakhom. mata ada bercak putih. Xeroftalmia Trauma mata. dilakukan olaeh dokter mata puskesmas Konseling keluarga untuk proteksi kerusakan mata dan buta warna serta penyakit keturunan Optisian/dokter puskesmas Rujuk untuk Penurunan refraksi berat dan kebutaan tindakan Glaukoma Strabismus pada anak balita dan pra sekolah Kekeruhan kornea Penglihatan berkurang perlahan-lahan Ulkus kornea. kotor. laserasi/perforasi mata. entropion. streptococcus. Gangguan Mata dan Penglihatan Kegiatan Deteksi dini. terasa sakit.dapat dilakukan di Puskesmas Pemulihan Terapi wicara dapat dibantu oleh keluarga Pemantauan perkesmas oleh 8.000. agar dapat melakukan kegiatan sehari-hari sesuai dengan kemampuan Bila puskesmas tak ada dokter mata maka pelayanan spesialis dirujuk ke fasilitas pelayanan yang lengkap Dokter puskesmas/ optisian Perkesmas dan keluarga 123 . trauma bakar Mata merah dengan penurunan visus Memantau penggunaan kaca mata pada gangguan refraksi Pemulihan Rehabilitas sosial penderita dengan gangguan mata yang tidak dapat dikoreksi. bakteri konjungtivitis. laserasi palpebra. IU pada defisiensi Resep kaca mata Operasi pterigium. herpes Alergi dan iritasi Defisiensi Vit. terasa gatal. hordeulum. erosi superfisial (tes fluoresin positif) buta warna Kapsul vit A. sakit kepala Tindakan dan pengobatan Uraian Kegiatan Keterangan Gangguan refreaksi terutama pada anak UKS dan spesialis usia sekolah mata puskesmas Masalah-masalah infeksi mata. matamerah. keluhan.

pioderma. Lepra ( Morbus Hansen). Gangguan Kulit dan Kelamin Kegiatan Deteksi dini. cutancus larva migrans Obat topikal kulit :  Prinsip pengobatan basah dengan kompres basah  Kering dengan kering Obat disesuaikan kuman/biota penyebab Alergi : urtikaria. Herpes Simpleks. Staphylococous Penyinfeksi spesifik disebabkan Virus : varisla. Gonore. TBC kulit Jamur : dermatofitosis (tinea kapitis. tinea kruris). pedunkulosis kapitis. tinea versikolor. herpes zoster. furunkel. tinea pedis. dermatomikosis profunda Parasit : skabies. DM) Uraian Kegiatan Infeksi non spesifik yang mengenai semua golongan umur. prurigo hebra (anak-anak) Dermatitis kontak : sabun. Ulkus Mole. herpes simpleks. neurodennatitis Kelainan kulit dengan penyakit sistemik (DM) Penyakit kulit akibat defisiensi PHS Uritritis Non spesifik. pastikan bahwa tidak ada penyakit lain (neoplasma. Trikhomoniasis. AIDS. rubella Menahun . zat kimia Psikis. Lymfogranuloma Venereum dan Tindakan yang tepat dengan pemeriksaan . pedunkulosis korporis.Budaya bersih 124 Tindakan . impetigo. erisipelas. karbunkel. selulitis. Vaginosis bakterial. erupsi alergi obat Keturunan .dan kondisinya 9. folikulitis. tinea korporis. eritrasma Keterangan  Umum bakterial penyebabnya Steptococous. Granuloma Inguinela. kandidiasis. campak.

hernia nukleus pulposus Gangguan otot dan jaringan lunak akibat trauma. anti fungsi dapat oral topikal Konseling kebersihan dan perawatan diri dan menghindari kontak dengan penyebab. dapat menyebabkan temaparese. hemiparese berat dan ringan tergantung tindakan kedaruratan yang dilaksanakan Kelelahan yang kronik (chronic fatigue syndrome) psikogen. infeksi. gangren Rehabilitas fisik dan mental pada penderita dengan kecacatan fisik akibat cedera.pengobatan laboratorium. dapat dipantau di rumah (Puskemas) Rujuk Pemulihan Infeksi menjadi sistemik tak dapat diselesaikan pada tingkat primer. Gonorhea. gout dan penyakit sendi lain Keterangan Keluhan muskuloskeletal selalu disertai rasa sakit dengan intensitas yang tergantung pada persyarafannya Gangguan tulang belakang . terutama akibat cedera olahraga Sekuele pasca stroke yang ringan Kejang yang lama (febris pada anak) dapat menimbulkan anoksia otak : tergantung daerahnya. rheumatoid. anemia. gangguan tidur) Kelelahan kronik. (kerokan kulit. dapat dilakukan rujukan ke laboratorium terdekat) Pengobatan antibiotika. farmakologik. biasa usia 20-40 tahun dengan keluhan organik 125 . kosmetik / operasi plastik 10. Gangguan Muskuloskeletal dan Persarafan Kegiatan Deteksi dini Uraian Kegiatan Masalah persendian dan tulang seperti osteroartiritis. endokrin metabolik.

pelatihan otot Epilepsi untuk ketepatan diagnostik Trauma kepala Pengobatan epilepsi Rujuk ke Pasca stroke dengan parese berat Spesialis syaraf Pemulihan     rehabilitasi fisik. jantung. kelainan persyarafan/tulang Tes neurologik dan EEG Pemotretan tulang/tengkorak. peradangan yang timbul Edukasi untuk melakukan gerakan yang sesuai untuk tidak menambah sakit dan menambah trauma Penyakit dasar (hipertensi. DM). trauma tulang perawatan lokal. mikrosefali Otot dan kekuatan.Diagnostik. pelatihan otot pasca tindakan/trauma rehabilitasi mental untuk trauma yang dialami rehabilitasi sosial untuk dapat kembali mengerjakan pekerjaan seperti semula secara bertahap Pemulihan otot jantung dilakukan dengan senam yang Dapat dilakukan di Puskesmas atas supervisi spesialis syaraf 126 . jaringan lunak (memar). EMG CT Scan Memberikan medikamentosa untuk mengurangi rasa sakit. ketepatan tindakan dirujuk Untuk perawatan tirah baring. rheumatik banyak dikaitkan dengan makanan. karena itu edukasi untuk makanan yang boleh dimakan dan dipantang. obati dengan tepat Kasus Gout. terasa amat sakit Konseling bayi dan anak-anak diperlukan pembentukan vitamin D dengan bantuan sinar matahari Rujukan ke pelayanan kesehatan terdekat yang memiliki fasilitas tersebut Tindakan pengobatan dan Rujuk bedah untuk berat bagian Tirah baring untuk kasus. luka terbuka Untuk mencari lokasi. trauma otot. reposisi Tulang tulang.

   bertahap Pemulihan otot pencernaan dilakukan dengan bentuk diet yang cair/lunak dan tidak merangsang Pemulihan tulang dengan gips/bidai Pemulihan sayatan pada otot dilakukan dengan kompres/obat topika pasca jahitan dan ditutup dengan kasa URM (Unit Rehabilitas Medik) Perkesmas. keluarga 127 .

jalan) tanpa memandang umur. keluarga. Oleh karena itu setiap pihak yang terkait . tim ambulans. disebabkan penyakit yang lanjut ataupun kecelakaan (di rumah. tempat kerja. Pelayanan ditujukan terhadap pengguna pelayanan medik yang memerlukan tindakan segera yang kemungkinan dibawa oleh. Hal ini terkait dengan peranan puskesmas sebagai lini terdepan dalam upaya mewujudkan suatu masyarakat yang sehat. orang yang di sekitar korban. Pada pelayanan kedaruratan medik kasus berat di Puskesmas untuk tindakan lanjut dilakukan pada unit pelayanan lengkap. SARAN Semua tenaga kesehatan harus selalu berupaya memberikan upaya pelaksanaan pengobatan yang sebaik-baiknya terutama di Puskesmas. petugas keamanan di sekitar korban. 128 .BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Dalam menjalankan fungsinya dokter dan tim pelayanan kesehatan pada kegiatannya untuk penyelesaian masalah kecelakaan dan kedaruratan medik adalah berupa penerapan kemampuan untuk mengatasi masalah sistem organ biologik tubuh dan mental psikologikal dari semua golongan umur yang bersifat segera. lapangkan jalan nafas dan sistem pengangkutan amat membantu. petugas di tempat kerja. namun untuk resusitasi jantung paru otak pasang infus terdahulu.harus terus berupaya memberikan pelayanan medis yang sebaik-baiknya sesuai dengan Standarad Pelayanan Medis yang berlaku.

Benny.2007 3.Hal.Puskesmas Kec. 2007. 129 . Jakarta : Departemen Kesehatan RI.DAFTAR PUSTAKA 1.Soegianto. Kebijakan Dasar Puskesmas.dkk.Jakarta.Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas 2007. Taralan . Tebet Laporan Tahunan Puskesmas Kecamatan Tebet 2010. 2. Daldiono. Tambunan . Sungkar Saleha.1-3.Jakarta.

UPAYA KESEHATAN PENGEMBANGAN 130 .

UPAYA KESEHATAN SEKOLAH (UKS) Penyusun : Marcia Dian P Riana Youri Sherly Gunawan (030.208) 131 .05.05.05.191) (030.139) (030.

Sumber daya manusia yang berkualitas adalah yang memiliki jasmani dan rokhani yang sehat. Program UKS dilaksanakan pada semua jenis dan jenjang pendidikan. kesehatan gigi dan mulut siswa SD dan setingkat melalui penjaringan kesehatan terhadap murid kelas 1 Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan bersama dengan guru UKS terlatih dan dokter kecil secara berjenjang (penjaringan awal oleh guru dan dokter kecil. termasuk madrasah.BAB I PENDAHULUAN Pembangunan nasional pada hakekatnya adalah pembangunan manusia Indonesia yang berkualitas. penjaringan lanjutan oleh tenaga kesehatan). Kualitas pendidikan berkaitan erat dengan sumber daya manusia yang berkualitas pula. Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) merupakan bagian dari program kesehatan anak usia sekolah. Anak usia sekolah adalah anak yang berusia 6 – 21 tahun. Salah satu upaya yang strategis untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia adalah dengan pendidikan. Upaya pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas dan sehat antara lain dengan melaksanakan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). yakni pra remaja (6-9 tahun) dan remaja (10-19 tahun). Pelayanan kesehatan pada UKS adalah pemeriksaan kesehatan umum. yang sesuai dengan proses tumbuh kembangnya dibagi menjadi 2 sub kelompok. 132 .

heart. berilmu dan sehat (SIS). emosional. yaitu berkaitan dengan pengetahuan. Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) adalah usaha untuk membina dan mengembangkan kebiasaan dan perilaku hidup sehat pada peserta didik usia sekolah yang dilakukan secara menyeluruh (komprehensif) dan terpadu (integrative).BAB II PENGERTIAN Usaha Kesehatan Sekolah ( UKS ) merupakan bagian dari program kesehatan anak usia sekolah . hand dan health). 133 . intelektual. dan sosial yang memungkinkan orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi. M. Untuk optimalisasi program UKS perlu ditingkatkan peran serta peserta didik sebagai subjek dan bukan hanya objek. dan untuk anak untuk menciptakan anak yang berkualitas. Dengan UKS ini diharapkan mampu menanamkan sikap dan perilaku hidup sehat pada dirinya sendiri dan mampu menolong orang lain. heart dan hand. mental. sehingga akan tercapai manusia soleh. Program dari anak. oleh anak. tumbuh dan berkembang secara harmonis dan optimal sehingga diharapkan dapat menjadikan sumber daya manusia yang berkualitas. Menurut Sumantri. Namun masih diperlukan faktor kesehatan (health) sehingga peserta didik memiliki 4 H (head. Dalam Undang Undang Nomor 23 Tahun 1992 pasal 45 tentang Kesehatan ditegaskan bahwa ‖Kesehatan Sekolah‖ diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat peserta didik dalam lingkungan hidup sehat sehingga peserta didik dapat belajar. Sedangkan kesehatan jiwa adalah keadaan yang memungkinkan perkembangan fisik. (2007) peserta didik itu harus sehat dan orang tua memperhatikan lingkungan yang sehat dan makan makanan yang bergizi. Dari pengertian ini maka UKS dikenal pula dengan child to child programme. dan sosial yang optimal dari seseorang. sikap/nilai dan keterampilan. Dalam proses belajar dan pembelajaran materi pembelajaran berorientasi pada head. Hidup sehat seperti yang didefinisikan oleh badan kesehatan perserikatan bangsabangsa (PBB) World Health Organization (WHO) adalah keadaan sejahtera dari badan. Anak usia sekolah adalah anak yang berusia 6-21 tahun . yang sesuai dengan proses tumbuh kembangnya dibagi menjadi 2 subkelompok yakni pra remaja ( 6-9 tahun ) dan remaja ( 10-19 tahun ). jiwa.

Sedangkan secara khusus tujuan UKS adalah menciptakan lingkungan kehidupan sekolah yang sehat.Memupuk kebiasaan perilaku hidup bersih dan sehat dan meningkatkan derajat kesehatan siswa. yang mencakup : 1. 134 . meningkatkan pengetahuan. meningkatkan keterampilan hidup sehat agar mampu melindungi diri dari pengaruh buruk lingkungan. Sehat fisik. mental maupun sosial. sehingga memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan yang harmonis dan optimal dalam rangka pembentukan manusia Indonesia berkualitas. di rumah tangga maupun di lingkungan masyarakat. Memiliki daya hayat dan daya tangkal terhadap pengaruh buruk penyalahgunaan NAPZA. mengubah sikap dan membentuk perilaku masyarakat sekolah yang sehat dan mandiri. 2. Selain itu juga menciptakan lingkungan yang sehat. Di samping itu juga meningkatkan peran serta peserta didik dalam usaha peningkatan kesehatan di sekolah dan rumah tangga serta lingkungan masyarakat. Memiliki pengetahuan.BAB III TUJUAN Secara umum UKS bertujuan meningkatkan mutu pendidikan dan prestasi belajar peserta didik dengan meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat serta derajat kesehatan peserta didik. sikap dan keterampilan untuk melaksanakan prinsip hidup bersih dan sehat serta berpratisipasi aktif di dalam usaha peningkatan kesehatan di sekolah perguruan agama. 3.

guru pamong belajar/tutor orang tua. Untuk belajar dengan efektif peserta didik sebagai sasaran UKS memerlukan kesehatan yang baik. dan ekonomi yang berkaitan dengan daya beli. kesehatan yang berkaitan sumber daya manusianya. yaitu pendidikan yang berkaitan dengan berapa lama mengikuti pendidikan. maka tingkat kesehatan masyarakat pada umumnya belum sesuai dengan harapan. dan pembinaan lingkungan sekolah sehat. Sasaran lainnya adalah sarana dan prasarana pendidikan kesehatan dan pelayanan kesehatan. Kesehatan menunjukkan keadaan yang sejahtera dari badan. maka bangsa itu semakin baik pula tingkat kesehatannya. Oleh karena itu. jiwa. Begitu pula dengan sumber daya manusianya yang diharapkan berkualitas masih memerlukan proses dan usaha yang lebih keras lagi. Sasaran tertier lainnya adalah lingkungan yang meliputi lingkungan sekolah. dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Kesehatan bagi peserta didik merupakan sangat menentukan keberhasilan belajarnya di sekolah. 4. karena dengan kesehatan itu peserta didik dapat mengikuti pembelajaran secara terus menerus. Semakin maju perekonomiannya. pengelola pendidikan dan pengelola kesehatan serta TP UKS di setiap jenjang sebagai sasaran sekunder. Kemajuan ekonomi suatu bangsa biasanya berkorelasi dengan tingkat kesehatan masyarakatnya. bahwa salah satu indikator kualitas sumber daya manusia itu adalah kesehatan. pelayanan kesehatan. jika tingkat ekonomi masih berada di urutan yang rendah. Kalau peserta didik tidak sehat bagaimana bisa belajar dengan baik. bukan hanya pendidikan. 135 . Untuk tingkat ekonomi Indonesia masih berada pada urutan atau ranking yang sangat rendah yaitu 108 pada tahun 2008. Sedangkan sasaran tertier adalah lembaga pendidikan mulai dari tingkat pra sekolah/TK/RA sampai SLTA/MA.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN Sasaran pembinaan dan pengembangan UKS meliputi peserta didik sebagai sasaran primer. Ada tiga kualitas sumber daya manusia. keluarga dan masyarakat sekitar sekolah. Oleh karena itu kita mencermati konsep yang dikemukakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.1 Kegiatan UKS (Trias UKS) yaitu pendidikan kesehatan. termasuk satuan pendidikan luar sekolah dan perguruan tinggi agama serta pondok pesantren beserta lingkungannya.

1.1.8 Program Pemberantasan Penyakit Cacingan 136 . Pekan Penimbangan BB dan TB di sekolah.1.2. Berperan aktif dalam rangka peningkatan kesehatan .2. 2.1.1.1. 3.1.2 Pelayanan Kesehatan 4.6 Pemeriksaan Tes Daya Lihat / Visus Berkala 4.2.1.2 Pembinaan berkala oleh TP UKS 4. 4.2.1 Screening Kesehatan Kelas I 4. Pekan Kesehatan Gigi. Tugas dan kewajiban dokter kecil 1.1. teman. Dapat menggerakkan sesama teman-teman siswa untuk bersama-sama menjalankan usaha kesehatan terhadap dirinya masing-masing.1.1 Pendidikan Kesehatan: Kegiatan intra kurikuler adalah melaksanakan pendidikan pada saat jam pelajaran berlangsung sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Selalu bersikap dan berperilaku sehat.1.antara lain : Pekan kebersihan.4.1.1.1.2 4.1.2. Pekan Kesehatan Mata.7 Kegiatan Konseling Kesehatan Remaja 4.1.4 Kegiatan Penyuluhan Kesehatan 4. 4. 5.1 Program Dokter Kecil / Kader Kesehatan Remaja (KKR) Dokter kecil adalah siswa yang memenuhi kriteria dan telah terlatih untuk ikut melaksanakan sebagian usaha pemeliharaan dan peningkatan kesehatan terhadap diri sendiri.2.2.1. namun bisa juga secara integratif pada saat mata pelajaran lainnya disampaikan kepada peserta didik.3 Program PMR Program Saka Bakti Husada 4.4 Kegiatan Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) 4.5 Kampanye Kesehatan 4.3 Imunisasi (BIAS) 4. Pekan Gizi. Berusaha bagi tercapainya kesehatan lingkungan yang baik di sekolah maupun di rumah.1. Pendidikan ini tidak hanya diberikan pada saat mata pelajaran Pendidikan Jasmani saja. keluarga dan lingkungannya.2.1. Membantu guru dan petugas kesehatan pada waktu pelaksanaan pelayanan kesehatan di sekolah.5 Pemantauan Status Gizi Anak Sekolah Berkala 4. dan lain-lain. 4.1.

2.1.1 4.1.2.3.3.1.2.3 4.3.2.2 Pelaksanaan Gerakan PSN-DBD 4.3.5%) Kepuasan Pelanggan (85%) Temuan masalah / komplain UKS ditindaklanjuti (100%) Tim Pelaksana UKS di Sekolah aktif (80%) Tim Pembina UKS setiap tingkat aktif (100%) Sekolah patuh terhadap standar PHBS (100%) Status gizi peserta didik ‗Baik‘ (90%) Pelaporan UKS akurat (100%) Sekolah dengan sanitasi lingkungan ‗Baik‘ (100%) 137 .9 Angka absensi sakit peserta didik (<1.2 Sasaran mutu Program UKS 4.2.4 Penegakan aturan Larangan Penyalahgunaan Napza 4.2.8 4.5 4.3 Penegakan aturan Kawasan Tanpa Asap Rokok 4.4.1 Sanitasi Lingkungan ―Baik‖ 4.2.2.9 Pertolongan Pertama Kegawatdaruratan Medik meliputi P3P (Pertolongan Pertama Pada Penyakit) dan P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan) 4.2.3.2.5 Pemberantasaan Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) 4.7 4.4 4.1.1.3 Pembinaan Lingkungan Sekolah Sehat 4.6 4.2 4.1.1.

Sosialisasi MTBS 6. SMP.SD. Pembinaan Sekolah Sehat TK. Pembinaan Sekolah Unggulan 9. SMA dan Petugas Puskesmas 14. Rapat Konsultasi Petugas UKS 8.BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN UKS DI PUSKESMAS KECAMATAN TEBET 1. Peningkatan Prestasi Balita Indonesia 5. Rapat Konsultasi Kesehatan Anak 4. SMA 10. Pertemuan Petugas MTBS di Puskesmas 15. SMP. Peningkatan Prestasi Dokter Kecil 7. PembinaanTPUKS Kecamatan 16. SD. Pelatihan MTBS 138 . Peningkatan Wawasan Guru BP.SMA 11. Sosialisasi PKPR 13. Monitoring Program Kesehatan Anak TK Kodya ke Puskesmas (Bintek) 3. Peningkatan wawasan Petugas Kesehatan Anak 2. Sarana UKS Berprestasi 12. Peningkatan Wawasan Guru TK. SMP.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) adalah usaha untuk membina dan mengembangkan kebiasaan dan perilaku hidup sehat pada peserta didik usia sekolah yang dilakukan secara menyeluruh (komprehensif) dan terpadu (integrative). Sekolah sebagai tempat berlangsungnya proses pembelajaran harus menjadi HPS. dan media massa. dunia usaha. Semua upaya ini akan tercapai bila sekolah dan lingkungan dibina dan dikembangkan 139 . oleh anak. seperti partisipasi masyarakat. Dengan UKS ini diharapkan mampu menanamkan sikap dan perilaku hidup sehat pada dirinya sendiri dan mampu menolong orang lain. Dari pengertian ini maka UKS dikenal pula dengan child to child programme. mengupayakan pelayanan kesehatan yang optimal. Upaya mengembangkan ―Sekolah Sehat‖ (Health Promoting School/HPS) melalui program UKS perlu disosialisasikan dan dilakukan dengan baik. Selain itu. Upaya ini dilakukan karena sekolah memiliki lingkungan kehidupan yang mencerminkan hidup sehat. Untuk optimalisasi program UKS perlu ditingkatkan peran serta peserta didik sebagai subjek dan bukan hanya objek. yaitu sekolah yang dapat meningkatkan derajat kesehatan warga sekolahnya. sehingga terjamin berlangsungnya proses pembelajaran dengan baik dan terciptanya kondisi yang mendukung tercapainya kemampuan peserta didik untuk beperilaku hidup sehat. melalui pelayanan kesehatan (yankes) yang didukung secara mantap dan memadai oleh sektor terkait lainnya. Program dari anak. dan untuk anak untuk menciptakan anak yang berkualitas.

Nomor 26 Tahun 2003 tentang Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kesehatan Sekolah. M.. 2..S. W. Pendidikan Wanita. Menteri Kesehatan.DAFTAR PUSTAKA 1. R. Sumantri. Jakarta: Departemen Kesehatan. Bandung: Pedagogiana Press (Halaman 1175 – 1186) 3. 140 . dan Rasjidin. Pedoman Pelatihan Kader Kesehatan di Sekolah.. (Penyunting). N. Ilmu dan Aplikasi Pendidikan: Handbook. Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri. Keputusan Bersama Menteri Pendidikan Nasional. (2008). Ibrahim. Dalam Ali. (2007). Sukmadinata. Departemen Kesehatan. M..

090) Mohd Fahmi bin Mansor (030.311) 141 .UPAYA KESEHATAN OLAHRAGA Penyusun : Fajar Nursuhud (030.05.06.

Kesehatan keluarga merupakan upaya kesehatan yang memanfaatkan olahraga atau latihan fisik untuk meningkatkan derajat kesehatan. Olahraga sudah menjadi bagian dari budaya kehidupan sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah membuktikan adanya hubungan antara latihan fisik dengan derajat kesehatan. sehingga produktivitas kerja orang tersebut juga semakin tinggi. Sebagai salah satu dari 20 upaya pokok kesehatan. Berdasarkan SKRT 1992. Olahraga yang baik dan benar adalah olahraga yang sesuai dengan kebutuhan kesehatan. dengan dasar latihan fisik yang baik sehingga ketahanan tubuh dapat ditingkatkan. Dengan olahraga atau latihan fisik yang benar akan dicapai tingkat kesegaran jasmani yang baik dan merupakan modal penting dalam peningkatan prestasi. Penderita rawat inap penyakit kardiovaskuler meningkat dari tahun ketahun demikian juga dengan diabetes. yang keduanya memberi andil timbulnya masalah kesehatan pada masyarakat modern. penyakit jantung dan pembuluh darah merupakan penyebab kematian nomor dua setelah diare. Ditemukan pula bahwa tingkat kebugaran jasmani merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja. seseorang akan mempunyai daya tahan atau sistem imun yang lebih tinggi sehingga orang tersebut akan mempunyai daya tahan terhadap penyakit-penyakit infeksi. Fungsi dokter. Bila ketahanan tubuh seseorang sudah dapat ditingkatkan maka secara tidak langsung kemampuan fisiknya juga semakin tinggi dan semakin mampu mengatasi beban kerja yang diberikan kepadanya.BAB I PENDAHULUAN Keberhasilan pembangunan memberi dampak pada perubahaan perilaku masyarakat antara lain perubahan kebiasaan makan yang salah dan kurang gerak. upaya kesehatan olahraga adalah suatu cara untuk meningkatkan kesehatan hidup manusia. Telah diketahui bahwa dengan olahraga. 142 . yaitu kecenderungan timbulnya penyakit-penyakit degeneratif. terutama dokter Puskesmas sebagai ujung tombak pemerintah untuk meningkatkan derajat kesehatan di wilayah kerjanya tidak hanya menuliskan resep melainkan lebih banyak melakukan upaya-upaya pencegahan penyakit agar masyarakat tidak sakit dan meningkatkan kesehatan mereka.

puskesmas sebagai penyedia pelayanan kesehatan dasar di tingkat pertama perlu mengembangkan suatu upaya kesehatan olahraga bagi masyarakat di wilayah kerjanya. 143 .Karena itulah.

BAB II PENGERTIAN
A. Definisi Sehat Arti kata sehat menurut WHO 1947: ‖Health is a state of complete physical, mental and social well being and not merely the absence of the disease or infirmity‖. Adalah suatu keadaan sejahtera sempurna dari jasmani, rohani dan sosial dan bukan hanya bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan. Sedangkan sehat menurut undang-undang kesehatan no. 23 tahun 1960 adalah suatu keadaan sejahtera sempurna dari jasmani, rohani dan sosial yang memungkinkan seseorang hidup produktif baik sosial maupun ekonomi. Dalam pengertian tersebut tersurat suatu keadaan tingkat kemampuan fungsional tubuh manusia yang secara popular dikenal sebagai kemampuan fisik (physical fitness) atau kesegaran jasmani.

B. Kesehatan Olahraga 

Kesehatan olahraga adalah upaya kesehatan yang memanfaatkan olahraga atau latihan fisik untuk meningkatkan derajat kesehatan. (UU nomor 23 tahun 1992, pasal 46, Tentang Kesehatan Olahraga)

Kesehatan olahraga adalah upaya kedokteran/kesehatan teori dan praktek yang menganalisa pengaruh gerakan, latihan dan olahraga termasuk kurang gerak, tertuju kepada manusia semua umur yang sakit dan yang sehat. (August Kirche dkk,1987)

Kesehatan olahraga berbeda dengan olahraga kesehatan. Dimana kesehatan olahraga adalah upaya kesehatan yang memanfaatkan olahraga yang bertujuan untuk meningkatknya derajat kesehatan, sedangkan olahraga kesehatan adalah pelatihan olahraga atau latihan fisik, biasanya masuk dalam kurikulum sekolah yang dasarnya bertujuan untuk meningkatnya prestasi.

C. Kesegaran Jasmani

144

Secara umum dapat diartikan sebagai kemampuan tubuh untuk melakukan kegiatan sehari-hari tanpa kelelahan berlebihan. Dalam pengertian tersebut terkandung tiga hal pokok yaitu beban kerja pekerjaan harian, cadangan kemampuan/kapasitas dan keadaan kesehatan/derajat kesehatan

D. Sarana Olahraga

Sarana olahraga adalah tempat yang secara khusus disediakan untuk kegiatan olahraga, antara lain pusat olahraga, lapangan olahraga, pusat kebugaran dan tempat tertentu seperti stadion, kolam renang, klub berlatih, kelompok latihan fisik dan kelompok senam. Sarana lain adalah tempat untuk menyembuhkan atau memulihkan kesehatan akibat cedera olahraga, meningkatkan kesehatan kelompok masyarakat tertentu, misalnya kelompok ibu hamil, melalui latihan fisik dan penyebarluasan cara olahraga yang benar.

E. Olahraga yang teratur menurut WHO aktivitas fisik dibagi 4 kategori : 1) Hidup aktif : setiap hari melakukan aktivitas ringan sampai sedang selama 10 menit atau lebih beberapa kali sehari. 2) Aktivitas untuk sehat : setiap hari melakukan aktivitas sedang selama 30 menit atau lebih. 3) Latihan fisik untuk bugar : seminggu 3 kali melakukan aktivitas sedang sampai berat selama 20 menit atau lebih. 4) Latihan fisik untuk olahraga : durasi dan frekuensi tergantung tingkat kebugaran jasmani seseorang , aktivitas terprogram.

145

BAB III TUJUAN
A. Tujuan Umum Berkembangnya upaya peningkatan derajat kesehatan melalui latihan fisik dan terbantunya/tercapainya upaya peningkatan kesegaran jasmani yang mempunyai pengaruh langsung terhadap produktifitas kerja, serta terbantunya peningkatan upaya olahraga pendidikan, olahraga prestasi, olahraga masyarakat dan olahraga tradisional.

B. Tujuan Khusus a. Meningkatnya kemampuan petugas Puskesmas dalam upaya kesehatan olahraga di Puskesmas. b. Meningkatnya jangkauan dan mutu upaya kesehatan olahraga di wilayah kerja Puskesmas. c. Meningkatnya koordinasi lintas program dan lintas sektor dalam pembinaan upaya kesehatan olahraga di wilayah kerja Puskesmas. d. Meningkatnya partisipasi aktif masyarakat dalam upaya kesehatan olahraga melalui penggalian potensi/sumber daya masyarakat di wilayah kerja Puskesmas. e. Meningkatnya informasi kesehatan olahraga di Puskesmas.

146

BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN
A. Kegiatan Upaya Kesehatan Olahraga Meliputi: 1. Pembinaan secara terpadu peran serta masyarakat kelompok potensial, guru sekolah, kader Posyandu, organisasi mayarakat, LSM dalam kesehatan olahraga. 2. Penyelenggaraan penyuluhan kesehatan olahraga terpadu pada kegiatan penyuluhan Puskesmas dan di luar Puskesmas. 3. Penyelenggaraan pelayanan rawat jalan Puskesmas terpadu dengan memperhatikan faktor kesehatan olahraga. 4. Evaluasi terhadap penyelenggaran upaya kesehatan olahraga

B. Langkah-Langkah Penyelanggaraan Kegiatan Upaya Kesehatan Olahraga di atas: a. Persiapan petugas: 1. Menyiapkan pelatihan tentang upaya kesehatan olahraga 2. Mengumpulkan data kesehatan olahraga di wilayah kerja Puskesmas, dikaitkan dengan microplaning. 3. Mengolah data kesegaran jasmani, sehingga diperoleh permasalahan kesehatan yang berkaitan dengan kesehatan olahraga di wilayah Puskesmas. 4. Menentukan prioritas masalah kesehatan yang berkaitan dengan kesehatan olahraga dan mencari alternatif-alternatif pemecahannya. 5. Menghimpun potensi (dana, tenaga, sarana) 6. Memberikan informasi upaya kesehatan olahraga melalui pertemuan-pertemuan. Lintas program di Puskesmas Lintas sektoral di Kelurahan Tim pembina UKS di tingkat Kelurahan

7. Melaksanakan diskusi kelompok untuk memperoleh dukungan dari semua pihak tentang pelaksanaan program kesehatan olahraga melalui: Lintas program di Puskesmas Lintas sektoral di Kelurahan Tim pembina UKS di tingkat Kelurahan

8. Membentuk forum koordinasi kesehatan olahraga tingkat Kelurahan dengan melibatkan unsur dari
147

-

Puskesmas (dokter/perawat) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Kepala kantor, Dinas P&P beserta OSIS, Kakandep Dikbud beserta penilik olahraga.

-

Departemen Agama (KUA) Departemen Sosial (petugas sosial masyarakat) Departemen Penerangan (Jupen) Departemen Tenaga Kerja (juru penyuluh) Kelurahan (Lurah, Kaurkesra) Lembaga Swadaya Masyarakat

9. Menentukan prioritas sasaran kegiatan program kesehatan olahraga di tingkat Kelurahan. 10. Menyiapkan pengelolaan program dan menyusun rencana kerja pelaksanaan kesehatan olahraga

b. Persiapan masyarakat: 1. Pertemuan tokoh masyarakat formal dan informal untuk pemahaman dan memperoleh masukan dalam upaya pelaksanaan kesehatan olahraga di masyarakat. 2. Pengumpulan dan pengolahan data serta analisis permasalahan tentang kegiatankegiatan kesehatan olahraga yang ada di masyarakat. 3. Memilih ketua-ketua dari kelompok-kelompok potensial yang ada di masyarakat untuk dilatih sebagai kader kesehatan olahraga. 4. Melaksanakan Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) tentang upaya kesehatan olahraga 5. Pelatihan Kader Olahraga.

C. Rincian Kegiatan 1. Promotif Penyuluhan dalam gedung:      Memberi contoh ketauladanan Memberi contoh katauladanan sikap dan perilaku hidup sehat kepada masyarakat Memberi contoh ketauladanan dalam hal kebersihan lingkungan fisik Puskesmas Penyuluhan melalui media Memasang poster-poster berisi pesan-pesan tentang kesehatan olahraga
148

  

Menggunakan radio kaset yang menyiarkan lagu-lagu kesehatan olahraga atau pesan spot radio dan sebagainya. Penyuluhan individu di kamar periksa Balai Pengobatan Penyuluhan kelompok pada acara yang direncanakan.

Pelaksana: Seluruh staf Puskesmas dan Perawat Kesehatan Mahir

Penyuluhan di luar gedung Puskesmas:  Sasaran program adalah masyarakat di wilayah kerja Puskesmas antara lain; kelompok arisan, pengajian, Posyandu, sanggar senam, kelompok olahraga tradisional.  Bimbingan teknis dan pengawasan terhadap usaha kesehatan olahraga pada kelompok-kelompok olahraga di masyarakat. Pelaksana: Dokter/perawat kesehatan mahir

2. Deteksi dini Pemeriksaan kesehatan:     Skrining kesehatan bagi masyarakat umum untuk menentukan kemampuan aktivitas fisik. Skrining kesehatan bagi masyarakat khusus (atlet, penyandang cacat, kelompok khusus lain) Pemeriksaan tingkat kesegaran jasmani bagi individu sehat dan bagi individu sakit Pemeriksaan dosis latihan bagi individu sehat dan bagi individu sakit.

Pelaksana: Dokter dan perawat. 3. Tindakan: Penanganan pertama pada kasus cedera olahraga di Puskesmas Pelaksana: Dokter dan perawat 4. Pemulihan:   Pencegahan cedera pada pemulihan. Pelayanan pasca trauma/cedera olahraga (terintegrasi dengan unit rawat jalan)

Pelaksana: Fisioterapis, dokter, perawat. 5. Evaluasi program:   Pembinaan kesehatan olahraga di wilayah. Pelayanan kesehatan olahraga Puskesmas.

Pelaksana: Pimpinan Puskesmas, puskesmas dan mitra kerja.
149

pelatih senam. Pembinaan kesehatan wilayah:   Peningkatan kegiatan peran serta masyarakat dalam rangka upaya peningkatan kesehatan olahraga. Usia sekolah 4. Pengurus/pengelola kelompok olahraga tradisional. Kelompok usia balita 3. d. guru sekolah. Peningkatan pengetahuan. Sasaran antara: a. pengelola klub kebugaran. 150 .dll) c. E. penyandang cacat. ketrampilan provider Puskesmas perihal pelayanan kesehatan olahraga. kemauan. Indikator Keberhasilan Kegiatan 1. dan penderita penyakit tertentu) 2. Terselenggaranya penyuluhan kesehatan olahraga terpadu di Puskesmas dan wilayahnya Terselenggaranya pelayanan kesehatan holistik. sikap dan perilaku Kader Kesehatan (Posyandu. Usia Kerja 5.senam asma. Pelayanan Puskesmas    Peningkatan kesadaran. terpadu pada kegiatan pelayanan rawat jalan Puskesmas dengan memperhatikan faktor kesehatan olahraga dan pencegahannya. Usia lanjut 6. Kelompok ibu hamil 2. dll) yang dibina perihal kesehatan. Kelompok khusus ( atlet. Pengelola sanggar senam e. Sasaran Kegiatan 1.  Penurunan angka kecelakaan olahraga di setiap kelompok penyelenggara kegiatan olahraga dan kebugaran. Pengurus/pengelola klub (jantung sehat. Pelatih/instruktur senam.D. Sasaran pokok: 1. 2. paripurna. Pengelola klub kebugaran (fitness center) b.

Tujuan dari upaya pelaksanaan ini adalah untuk meningkatkan taraf kesehatan karyawan puskesmas dan masyarakat sekitar puskesmas Kecamatan Cilandak. Upayaupaya yang telah dilaksanakan oleh Puskesmas antara lain senam. maupun masyarakat sekitar Puskesmas Kecamatan Cilandak. 2.BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN CILANDAK Sebagai salah satu upaya pokok Puskesmas. Setelah senam dilakukan 151 . Senam Waktu Setiap Tempat hari Ruang Petugas Instruktur dari Peserta Kegiatan Ibu hamil Setelah trimester senam dilakukan penyuluhan kesehatan ibu hamil ibu hamil Senin minggu tunggu I dan III pukul Rumah 08.30-09. Senam DM Hari selasa Aula lantai Instruktur dari fisioterapi Pasien poli Sebelum DM senam dilakukan pemeriksaan gula darah minggu I dan 3 III pukul Puskesmas Kecamatan Cilandak 08. Berikut ini adalah tabel upaya kesehatan olahraga di Puskesmas Kecamatan Cilandak : No Kegiatan 1. penyuluhan kesehatan dan pemeriksaan kesehatan yang diikuti oleh baik pasien.30 Bersalin Puskesmas Kecamatan Cilandak fisioterapi III dan promosi produk bayi. karyawan. upaya pokok kesehatan olahraga merupakan salah satu program yang terdapat di Puskesmas Kecamatan Cilandak. dan tekanan darah.30 sewaktu.30-09.

00-09. Senam haji Setiap hari Aula lantai Instruktur dari fisioterapi Jamaah calon haji rabu dalam 10 3 minggu menjelang Puskesmas Kecamatan keberangkatan Cilandak haji pukul 08. fisioterapi Puskesmas Kecamatan Cilandak.00-16.30. 5.penyuluhan dan konsultasi serta terapi oleh dokter. untuk persiapan lomba 14. Senam umum Dilakukan setiap selasa jumat Lapangan hari parkir dan Puskesmas tiap Cilandak Instruktur dari Warga sekitar Senam. 152 . pada Juni pukul Aula lantai Instruktur hari 3 dan Puskesmas Kecamatan Cilandak dari Karyawan Puskesmas Latihan senam fisioterapi Kecamatan poco-poco Cilandak. Senam pocopoco. Dilakukan setiap rabu jumat menjelang lomba bulan 2011.00 4.3008. minggu pada pukul 07. 3.00.

Upaya Kesehatan Olahraga telah menambah dan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang arti pentingnya kesehatan olahraga. Meningkatkan kesadaran. Saran Saran yang dapat dijadikan pertimbangan:      Mempertahankan upaya-upaya kesehatan olahraga yang telah dilaksanakan. sikap dan perilaku Kader Kesehatan yang dibina perihal kesehatan olahraga. biasanya masuk dalam kurikulum sekolah yang dasarnya bertujuan untuk meningkatnya prestasi. Sebagai salah satu upaya pokok Puskesmas. Upaya kesehatan olahraga ini akan berhasil jika diikuti oleh peran serta masyarakat dan semua pihak dengan kesadaran akan pentingnya berolahraga. Sebelumnya di Puskesmas pernah diadakan kegiatan bagi lansia berupa senam. pemeliharaan dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya. Meningkatkan pengetahuan. ketrampilan provider Puskesmas perihal pelayanan kesehatan olahraga. sedangkan olahraga kesehatan adalah pelatihan olahraga atau latihan fisik. Kesehatan olahraga berbeda dengan olahraga kesehatan. dengan harapan terbentuknya manusia Indonesia yang sehat dan tercapainya derajat kesehatan yang setinggitingginya. tetapi sekarang tidak ada lagi karena responden yang bersedia untuk hadir tidak ada. kemauan. Meningkatkan dan memotivasi peran serta masyarakat akan pentingnya kesehatan olahraga. Telah diyakini bahwa dengan berolahraga dapat meningkatkan tingkat kesehatan dan produktifitas kerja. latihan bernyanyi dan tensi gratis. Mengadakan kegiatan bagi para lansia seperti senam. 153 .BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Upaya kesehatan olahraga di dalam wilayah adalah bagian dari fungsi puskesmas yang berkaitan dengan upaya pengembangan. Dimana kesehatan olahraga adalah upaya kesehatan yang memanfaatkan olahraga yang bertujuan untuk meningkatknya derajat kesehatan.

. Jilid ke-2. 5.Jakarta. 2. Pemerintah Daerah DKI Jakarta.Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas 2007. Jakarta.1999. Undang-Undang Kesehatan No. Sungkar Saleha. Ketersediaan Obat Puskesmas pada Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkulu Selatan Pascaotonomi Daerah.dkk. hal.tahun 1992.Hal. Mustika. Standarisasi Pelayanan Kesehatan Puskesmas di DKI Jakarta. 2007. 07 (04). 1999. Daldiono.1-3. 23. 3. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Taralan . 4. tentang Kesehatan Olahraga.S.Jakarta : Departemen Kesehatan RI. Pedoman Kerja Puskesmas. Jakarta.DAFTAR PUSTAKA 1. 154 . Upaya kesehatan Olahraga. D. Danu. Puskesmas Kecamatan Cilandak. 6. 219-224.. Tambunan . Upaya Pokok Kesehatan Olahraga. S. Laporan Tahunan Puskesmas Kecamatan Cilandak 2010. pasal 46.

06.334 ) 155 .UPAYA PERAWATAN KESEHATAN MASYARAKAT Penyusun: SALWA BINTI ANUWAR NUR SYAMILA BINTI SHARRI ( 030.06.344 ) ( 030.

4%. Salah satu upaya kesehatan pengembangan yang dilakukan oleh Puskesmas Harapan Raya adalah program Perawatan Kesehatan Masyarakat (Perkesmas). Sehubungan dengan hal tersebut. baik di perkotaan maupun di pedesaan. Namun demikian. telah dapat dicapai pada 2007. Perkesmas dilakukan dengan penekanan pada upaya pelayanan kesehatan dasar. Perawatan kesehatan masyarakat (Perkesmas) merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan dasar yang dilaksanakan oleh Puskesmas. dan lainlain). karena upaya kesehatan belum dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. target rencana pembangunan jangka menengah untuk pencapaian program perbaikan gizi yang diproyeksikan sebesar 20%. kemiskinan. stroke. hipertensi.4%) ditemukan pada 21 provinsi dan 216 kabupaten/kota. penyebab kematian yang terbanyak adalah stroke. upaya perawatan kesehatan masyarakat merupakan upaya program pengembangan yang kegiatannya terintegrasi dalam upaya kesehatan wajib maupun upaya kesehatan pengembangan. Hasil Riskesdas 2007 juga menggambarkan hubungan penyakit degeneratif seperti sindroma metabolik. Upaya pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat melalui upaya kesehatan wajib dan upaya kesehatan pengembangan. perlu terus ditingkatkan upaya-upaya untuk memperluas jangkauan dan mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dengan mutu pelayanan yang baik.5% pada 2015. sehingga tercapai derajat kesehatan yang optimal. obesitas dan penyakit jantung dengan status sosial ekonomi masyarakat (pendidikan.BAB I PENDAHULUAN Permasalahan kesehatan yang dihadapi sampai saat ini cukup kompleks. dan target Millenium Development Goals sebesar 18. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 diketahui penyebab kematian di Indonesia untuk semua umur. telah terjadi pergeseran dari penyakit menular ke penyakit tidak menular. Untuk mengupayakan terbinanya kesehatan 156 . yaitu penyebab kematian pada untuk usia > 5 tahun. berkelanjutan dan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat terutama keluarga miskin rawan kesehatan/risiko tinggi. Sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor: 128/Menkes/SK/II/Tahun 2004 tentang kebijakan dasar Puskesmas. Sedangkan berdasarkan gabungan hasil pengukuran gizi buruk dan gizi kurang Riskesdas 2007 menunjukkan bahwa sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi gizi buruk dan gizi kurang di atas prevalensi nasional sebesar 18. Prevalensi gizi buruk yang berada di atas rata-rata nasional (5. Pelaksanaan Perkesmas bertujuan untuk meningkatkan kemandirian masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatan yang dihadapi.

maka diharapkan 40 % keluarga rawan kesehatan memperoleh kunjungan rumah dan pembinaan kesehatan oleh tenaga kesehatan melalui kegiatan perkesmas. Prioritas sasaran adalah yang mempunyai masalah kesehatan terkait dengan masalah kesehatan prioritas daerah yaitu belum kontak dengan sarana pelayanan kesehatan atau sudah memanfaatkan tetapi memerlukan tindak lanjut. Keluarga yang tidak mendapat pelayanan perkesmas merupakan beban sosial dan ekonomi serta dapat berdampak buruk terhadap masyarakat lainnya. tetapi pencapaiannya masih rendah. 157 . Tentang masalah dana.masyarakat. Berdasarkan penelitian Septino (2007) diketahui beberapa masalah Perkesmas yang dihadapi pada PuskesmasPuskesmas di Indonesia antara lain laporan yang tidak sesuai dari Puskesmas. (2) 27. (4) 27. keluarga. Penduduk rawan ini telah menjadi salah satu bagian sasaran program Perkesmas di Puskesmas.4 % petugas kurang baik dalam penggerakan pelaksanaan Perkesmas. Penelitian yang dilakukan untuk mengetahui pelaksanaan program Perkesmas dan upaya peningkatan kinerja Perkesmas yang dilaksanakan di Puskesmas Mantrijeron kota Yogyakarta didapatkan bahwa (1) 18.3 % petugas memiliki motivasi kurang. Fokus utama pada keluarga rawan kesehatan yaitu keluarga miskin yang rentan dan keluarga yang termasuk resiko tinggi.2% petugas memiliki kemampuan kurang. (6) 18. pengendalian dan penilaian Perkesmas. ketidakmauan maupun ketidakmampuan dalam menyelesaikan masalah kesehatannya. (5) 36. tentang sarana dan prasarana seperti Public Health Nursing (PHN) kit. Dinas Kesehatan memberikan dana secara block grand ke Puskesmas berdasarkan usulan kegiatan yang mereka buat. buku pedoman dan formulir laporan sudah tersedia. obat. Sasaran perawatan kesehatan masyarakat adalah individu.2 % petugas kurang baik dalam pengawasan. kelompok dan masyarakat yang mempunyai masalah kesehatan akibat faktor ketidaktahuan. Pemerintah memiliki tanggung jawab melindungi kesehatan masyarakat dan memberikan akses ke pelayanan kesehatan terutama bagi keluarga yang memiliki hambatan untuk mencapai pusat-pusat pelayanan kesehatan. Selanjutnya. Puskesmas yang tidak membuat rencana tahunan dan jumlah sasaran tidak dilakukan pendataan.3 % petugas tidak melakukan perencanaan dengan baik. (3) tidak ada petugas yang tidak patuh.

contohnya penyuluhan-penyuluhan.BAB II PENGERTIAN Perawatan kesehatan masyarakat (Perkesmas) adalah perpaduan antara keperawatan dan kesehatan masyarakat dengan dukungan peran serta aktif masyarakat mengutamakan pelayanan promotif dan preventif secara berkesinambungan tanpa mengabaikan pelayanan kuratif dan rehabilitatif secara menyuluh dan terpadu. keluarga. kelompok dan masyarakat baik yang sakit maupun yang sehat. sehingga mandiri dalam upaya kesehatannya masyarakat. Promotif adalah suatu upaya untuk meningkatkan taraf kesehatan yang dilakukan pada saat pejamu sedang sehat dengan tujuan kesehatan / memelihara kesehatan. ilmu kesehatan masyarakat dan bantuan sosial. ditujukan kepada individu. Keluarga rawan adalah keluarga rentan terhadap kemungkinan timbulnya masalah kesehatan dan keluarga yang mempunyai individu bermasalah. sejak lahir sampai meninggal. rehabilitasi. Menurut WHO Perkesmas merupakan lapangan perawatan khusus yang merupakan gabungan ketrampilan ilmu keperawatan. ditujukan kepada individu. perbaikan lingkungan fisik. Keperawatan adalah bentuk pelayanan di bidang kesehatan yang didasari ilmu dan kiat keperawatan ditujukan kepada individu. Preventif adalah suatu upaya yang dilakukan untuk menghalangi terjadinya bencana dan mencegah bahaya yang ditimbulkannya (dalam hal ini penyakit) 158 . pencegahan penyakit dan bahaya yang lebih besar. yang mempunyai masalah dimana hal itu mempengaruhi masyrakat secara keseluruhan. faktor-faktor penyebab wabah dan penyelesaian masalah kesehatan di masyarakat. keluarga. Kesehatan masyarakat adalah bentuk pelayanan yang erat kaitannya dengan epidemiologi. kelompok dan masyarakat untuk ikut meningkatkan fungsi kehidupan manusia secara optimal. keluarga. penyempurnaan kondisi sosial. sebagai bagian dari program kesehatan masyarakat secara keseluruhan guna meningkatkan kesehatan.

juga agar mencegah cacat total setelah terjadi perubahan anatomi dan fisiologi.Kuratif adalah upaya yang dilakukan untuk mengurangi/menyembuhkan suatu penyakit Rehabilitatif adalah upaya yang dilakukan bila sudah terjadi suatu kerusakan dan dilakukan untuk mengembalikan penderita agar berguna dalam masyarakat. Rehabilitasi meliputi fisik. mental dan sosial 159 .

Tujuan Umum Meningkatnya kemandirian masyarakat dalam mengatasi masalah keperawatan kesehatan masyarakat untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal. 4. Tujuan Khusus 1. 3. RT. Dipahaminya pengertian sehat dan sakit oleh masyarakat : promotif & preventif. preventif. kelompok khusus dan masyarakat untuk melaksanakan keperawatan dasar dalam rangka mengatasi masalah kesehatan : preventif & kuratif. 2. RW) melaksanakan promotif.BAB III TUJUAN A. dan rehabilitatif. preventif. keluarga. Terlayaninya kasus-kasus yang memerlukan tindak lanjut dan pelayanan keperawatan. 5. B. Meningkatnya kemampuan individu. Tertanganinya keluarga rawan yang memerlukan pembinaan dan pelayanan perawatan : tim kesehatan lintas program terkait & sektoral terkait (kader kesehatan. 6. kuratif / rehabilitatif. Terlayaninya kelompok khusus / panti yang memerlukan pembinaan dan pelayanan perawatan : promotif. Terlayaninya kasus-kasus resiko tinggi yang memerlukan pelayanan perawatan di puskesmas dan di rumah. 160 .

mengembangkan pemberdayaan pasien dan keluarga. melakukan pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarganya.    Home visit menerima pasien dari tiap poliklinik di Puskesmas Koordinator program Perkesmas menunjuk perawat pelaksana Perkesmas untuk mengelola kasus Perawat pelaksana Perkesmas membuat surat perjanjian dan proses pengelolaan kasus b) Proses pelayanan home visit: 161 . Ruang Lingkup home visit yaitu memberi asuhan keperawatan secara komprehensif. Kunjugan rumah oleh perawat (home visit/home care) terencana. pelayanan dikelola oleh suatu unit/sarana/institusi baik aspek administrasi maupun aspek pelayanan dengan mengkoordinir berbagai kategori tenaga profesional dibantu tenaga non profesional.  Pengkajian keperawatan pasien sebagai deteksi dini (sasaran prioritas)  Penyuluhan kesehatan  Tindakan Keperawatan (direct care)  Konseling keperawatan  Pengobatan (sesuai kewenangan)  Rujukan pasien/masalah kesehatan  Dokumentasi keperawatan 2. Asuhan keperawatan pasien (prioritas) kontak Puskesmas yang berada di poliklinik Puskesmas. Puskesmas keliling (pusling). Mekanisme pelayanan home visit: a) Proses penerimaan kasus. Home visit adalah suatu bentuk pelayanan kesehatan yang komprehensif bertujuan memandirikan pasien dan keluarganya. bertujuan untuk pembinaan keluarga rawan kesehatan.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN KEGIATAN DAN SASARAN DI PUSKESMAS KELURAHAN PONDOK LABU Kegiatan Adapun bentuk kegiatan Perkesmas antara lain: 1. di bidang kesehatan maupun non kesehatan. Puskesmas pembantu (pustu). pos kes desa. posyandu. pelayanan kesehatan diberikan di tempat tinggal pasien dengan melibatkan pasien dan keluarganya sebagai subyek yang ikut berpartisipasi merencanakan kegiatan pelayanan.

dokumentasikan kegiatan. lengkapi data hasil pengkajian dasar pasien. pasien menolak pelayanan lanjutan. mencakup seluruh unsur pelayanan secara proporsional o Jenis pelayanan yang kena tarip antara lain jasa pelayanan tenaga kesehatan. Persiapan terdiri dari memastikan identitas pasien.  Proses penghentian pelayanan home visit. konsultasi dll. dana transportasi untuk kunjungan pasien 3. menyiapkan file asuhan keperawatan. bawa denah/petunjuk tempat tinggal pasien. diskusikan kebutuhan rujukan. pasien meninggal dunia. mempertimbangkan masyarakat bepenghasilan rendah/asas gotong royong. panti asuhan dan lain-lain) a) Pengkajian keperawatan individu di kelompok b) Pendidikan/penyuluhan kesehatan di kelompok c) Pengobatan (sesuai kewenangan) d) Rujukan pasien/masalah kesehatan e) Dokumentasi keperawatan 162 . observasi lingkungan yang berkaitan dengan keamanan perawat. membuat rencana pelayanan. memastikan perlengkapan pasien untuk di rumah. menyiapkan alat bantu media untuk pendidikan Pelaksanaan terdiri dari perkenalan diri dan jelaskan tujuan. kolaborasi. pembayaran dengan asuransi ditetapkan atas dasar saling membantu. lakukan perawatan langsung. keluarga sudah mampu melakukan perawatan pasien. pasien di rujuk. kondisi pasien stabil. dengan kriteria : tercapai sesuai tujuan. lengkap kartu identitas unit tempat kerja. imbalan atas pemakaian sarana kesehatan yang digunakan langsung oleh pasien. diskusikan rencana kunjungan selanjutnya dan aktifitas yang akan dilakukan.  Pembiayaan home visit terdiri dari o Prinsip penentuan tarif antara lain pemerintah/masyarakat bertanggung jawab dalam memelihara kesehatan. posyandu balita.  Monitoring dan evaluasi antara lain keakuratan dan kelengkapan pengkajian awal. program rehabilitasi tercapai secara maksimal. disesuaikan dengan kemampuan keuangan dan keadaan sosial ekonomi. kesesuaian perencanaan dan ketepatan tindakan. Kunjungan perawat ke kelompok prioritas terencana (posyandu usila. efektifitas dan efisiensi pelaksanaan tindakan oleh pelaksana.

balita. balita. Asuhan keperawatan pasien di ruang rawat inap Puskesmas a) Pengkajian keperawatan individu b) Tindakan keperawatan langsung (direct care) dan tidak langsung (lingkungan) c) Pendidikan/penyuluhan kesehatan d) Pencegahan infeksi di ruangan e) Pengobatan (sesuai kewenangan) f) Penanggulangan kasus gawat darurat g) Rujukan pasien/masalah kesehatan h) Dokumentasi keperawatan. lansia. termasuk daerah kumuh. Fokus sasaran Perkesmas adalah keluarga rawan kesehatan dengan prioritasnya adalah keluarga rentan terhadap masalah kesehatan (Gakin). Individu khususnya individu risiko tinggi (risti): menderita penyakit.4. terisolasi. menderita penyakit). menderita penyakit. tidak terjangkau pelayanan kesehatan. 2. Kelompok/masyarakat berisiko tinggi. 163 . lansia. keluarga risiko tinggi (anggota keluarga bumil. lanjut usia (lansia). masalah mental/jiwa. Keluarga khususnya ibu hamil (bumil). konflik. masalah mental/jiwa. 3. Sasaran Perkesmas Adapun yang menjadi sasaran program Perkesmas ini adalah seluruh masyarakat yang dapat terbagi menjadi: 1.

memfasilitasi pembahasan masalah dalam Refleksi Diskusi Kasus (RDK). PHBS. Sertifikasi bagi perawat Perkesmas yaitu:       Pelatihan Perkesmas Pelatihan Pengembangan Manajemen Kinerja Klinis (PMKK) untuk perawat coordinator Pelatihan gadar (basic) Pelatihan HIV/AIDS Pelatihan Keperawatan Kesehatan jiwa Masyarakat (basic) Pelatihan-pelatihan lainnya (program ISPA.dan lain-lain) Indikator keberhasilan Perkesmas Indikator keberhasilan kinerja Perkesmas terdiri dari: 1. Indikator kinerja klinik Ada 4 indikator dalam menilai keberhasilan kinerja klinik Perkesmas yaitu:  Indikator input     Persentasi perawat koordinator (D3 Keperawatan) Persentasi perawat terlatih keperawatan kesehatan komunitas Persentasi Penanggung jawab daerah binaan/desa punya PHN kit Persentasi Puskesmas memiliki pedoman/standard 164 . gizi.   Kunjungan lapangan untuk melakukan bimbingan pada perawat pelaksana Penyusunan laporan yang disusun berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan Perkesmas yang merupakan bahan pertanggung jawaban kepada Kepala Puskesmas. merencanakan kegiatan Perkesmas. membahas masalah keuangan. flu burung.BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KELURAHAN PONDOK LABU Pelaksana Kegiatan Perkesmas  Perawat koordinator Perkesmas di Puskesmas harus mempunyai kualifikasi yaitu minimal D3 Keperawatan dan pernah mengikuti pelatihan/sertifikasi Perkesmas serta memiliki pengalaman kerja di Puskesmas yang mempunyai tugas sebagai berikut: Pertemuan dengan perawat pelaksana Perkesmas/penanggung jawab daerah binaan (darbin) untuk mengidentifikasi masalah prioritas dengan data epidemiologi.

   Tersedia dana operasional untuk pembinaan Tersedia standar/pedoman/SOP pelaksanaan kegiatan Tersedia dukungan administrasi (buku register. masing-masingnya mempunyai kriteria-kriteria sebagai berikut: Tabel : Kriteria Keluarga Mandiri Perilaku KM 1 KM II KM III KM IV No 1 Perilaku Menerima Puskesmas + + KM 1 petugas + + + KM 2 + KM3 + KM 4 + 165 . dan lain-lain)  Indikator proses              Persentasi keluarga rawan mempunyai family folder Maping (peta) sasaran Perkemas Rencana kegiatan Perkesmas (POA) Bukti Pembagian tugas perawat Ada kegiatan koordinasi dengan petugas kesehatan lain Catatan keperawatan Kegiatan Refleksi Diskusi Kasus Hasil pemantauan dan evaluasi  Indikator output (key indicator) Persentasi keluarga rawan dibina Persentasi keluarga selesai dibina Persentasi penderita (prioritas SPM) dilakukan tindak lanjut keperawatan (follow up care) Persentasi kelompok dibina Persentasi daerah binaan di suatu wilayah  Indikator hasil (Outcome) yang ingin dicapai adalah terbentuknya keluarga mandiri dalam memenuhi kesehatannya/mengatasi masalah kesehatannya yang terdiri dari 4 tingkatan keluarga mandiri (KM). family folder. formulir laporan.

Indikator kinerja fungsional Indikator kinerja fungsional yaitu indikator kinerja perawat Puskesmas untuk mengukur pencapaian angka kredit jabatan fungsionalnya yaitu jumlah angka kredit yang dicapai sama dengan jumlah kegiatan perawat dalam mencapai indikator klinik (output) nya. 166 .2 Menerima yankes sesuai + rencana + + + + + + + 3 Menyatakan secara benar + masalah + + + + + 4 Memanfaatkan sarana + + + kesehatan sesuai anjuran + + + 5 Melaksanakan perawatan + + + sederhana sesuai anjuran + + + 6 Melaksanakan tindakan + + pencegahan secara aktif + + 7 Melaksanakan tindakan + promotif secara aktif + 2.

Identifikasi Masalah. Untuk memudahkan pemantauan dan penilaian kinerja Perkesmas maka dilakukan penyajian hasil dengan menggunakan tabel. Dengan adanya identifikasi masalah diatas. Hal ini disebabkan karena adanya beberapa faktor. Sasaran. antara lain :  Meningkatnya suatu penyakit di masyarakat. Penilaian dilakukan setahun sekali meliputi semua aspek baik input. A. B. outcome sebagai masukan penyusunan rencana kegiatan Perkesmas tahun berikutnya. Menurunya derajat kesehatan masyarakat dalam rangka kegiatan Perawatan Kesehatan Masyarakat (Perkesmas} diakibatkan oleh meningkatnya angka kesakitan pada keluarga sasaran khususnya keluarga rawan.Pemantauan dan Penilaian Perkesmas Pemantauan dilaksanakan secara periodik setiap bulan oleh kepala Puskesmas dan Perawat koordinator Perkesmas. output. keluarga yang rentan terhadap masalah kesehatan. Selanjutnya dapat diidentifikasi masalah yang berhubungan langsung dengan masalah utama tersebut di atas adalah kurangnya kegiatan Perawatan Kesehatan Masyarakat oleh petugas yang disebabkan oleh beberapa faktor. antara lain :  Kurangnya kerjasama lintas program terkait. Sedangkan penilaian dilaksanakan minimal setiap akhir tahun dan hasilnya digunakan untuk masukan dalam penyusunan perencanaan kegiatan Perkesmas pada tahun berikutnya. grafik balok/garis atau grafik Pemantauan Wilayah Setempat (PWS). Hasil pemantauan terhadap pencapaian indikator kinerja menjadi masukan untuk perbaikan dan peningkatan kinerja perawat berikutnya. Untuk memudahkan pemantauan dan penilaian kinerja Perkesmas maka dilakukan penyajian hasil dengan menggunakan tabel.  Kurangnya sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Adapun sasaran 167 . grafik balok/garis atau grafik Pemantauan Wilayah Setempat (PWS).  Kurang akuratnya data yang tersedia  Lingkungan yang tidak sehat dan bersih. peningkatan cakupan dan mutu pelayanan kesehatan. output.  Kurangnya kemampuan/keterampilan petugas (bidan dan pada perawat)  Kurangnya motivasi petugas. maka penulis dapat mengemukakan sasaran yang ingin dicapai dalam rangka menuju pemecahan masalah . outcome sebagai masukan penyusunan rencana kegiatan Perkesmas tahun berikutnya.  Kurangnya kegiatan Perawatan Kesehatan Masyarakat oleh petugas. Penilaian dilakukan setahun sekali meliputi semua aspek baik input.

yang berat badannya berada dibawah garis merah (Balita BGM) dan ibu hamil /ibu nifas yang kekuranan enegi sera membantu dalam hal pelaksanaan pemberian makanan tambahan (PMT).yang dimaksud adalah seperti di bawah ini.Dari program Gizi petugas Puskesmas membantu dalam hal pembinaan kelarga yang mempunyai bayi. Sedangkan yang menyebabkan terwujudnya peningkatan kegiatan perawatan kesehatan masyarakat oleh petugas adalah : 1. Dengan sudah dilaksanakannya pelatihan petugas perawatan kesehatan masyarakat. Bahwa program Puskesmas sangat mendukung untuk program puskesmas lainnya tertutama dalam pencapaian cakupan program Kesehatan Ibu dan Anak dan program Pemberantasan Penyakit menular temasuk Imunisasi.1 dan K. 2. Penurunan angka kesakitan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor.4. Petugas dari perogram terkait sudah memahami dan mengerti tentang pelaksanaan dari Program Puskesmas. Untuk program pemberantasan Penyakit Menular (P2M) petugas Puskesmas membantu memberikan bimbingan serta tindak lanjut untuk kasus-kasus penyakit menular maupun tidak menular. yaitu :  Tertanggulanginya suatu penyakit di masyarakat  Terwujudnya peningkayan kegiatan perawatan kesehatan masyarakat oleh petugas (bidan dan perawat).  Terwujudnya lingkungan yang sehat dan bersih. Untuk program KIA dalam hal pencapaian cakupan K. anak balita. Dengan terpenuhinya sarana dan prasarana khususnya peralatan medis dan ruangan yang memadai dalam melaksanakan kegiatan akan menimbulkan suasana yang nyaman dan leluasa sehingga dapat membuat jiwa kita menjadi tenang. Adanya peralatan medis khusus untuk kegiatan program Puskesmas yang dipunyai oleh masing-masing petugas (bidan dan perawat) akam memudahkan kegiatan 168 . Terwujudnya peningkatan derajat kesehatan masyarakat dalam rangka kegiatan Perkesmas diakibatkan dari tercapainya penurunan angka kesakitan pada keluarga rawan yang rentan terhadap masalah kesehatan.  Tersedianya keakuratan data.Program KIA dan Imunsasi adalah program primadona. Terwujudnya peningkatan kerjasama lintas program terkait. sedangkan untuk pelayanan program Imunisasi petugas Puskesmas melakukan pembinaan pada keluarga DO (Drop Out). Tersedianya sarana dan prasarana yang dibutuhkan.

sehingga kegiatan perkesmas dapat dilaksanakan secara optimal dan pada akhirnya akan terjadi peningkatan. yaitu kurangnya kemampuan/keterampilan petugas untuk melaksanakan tugas keperawatan. pembinaan yang terus menerus oleh atasan langsung atau dari pihak yang berkepentingan. Motivasi kerja petugas dilihat dari keaktifan petugas dalam membina desa binaan. 169 . 3. Terwujudnya motivasi kerja petugas. Seperti sudah diuraikan pada bab terdahulu bahwa kendala/hambatan yang ditemui dalam upaya peningkatan pelaksanaan kegiatan Perkesmas adalah faktor manusia sebagai pelaksana yang mempunyai kelemahan. dan bidan-bidan desa melalui kegiatan-kegiatan seperti: 1. 4. 3. melaksanakan petunjuk teknis pelajaran. Melaksanakan pelatihan petugas perkesmas. bidan. Alternatif Pemecahan. Melaksanakan study banding ke Puskesmas teladan. maka perlu dibuat beberapa alternatif sebagai acuan untuk menuju rangkaian pemecahan masalah sehingga terwujudnya peningkatan kemampuan /keterampilan petugas Perkesmas khususnya perawat. C. Dengan adanya usaha tersebut diatas diharapkan akan meningkatkan kemampuan/keterampilan bagi petugas Perkesmas. 2. Terwujudnya motivasi kerja dalam melaksanakan kegiatan Perkesmas tidak lepas dari kemampuan/keterampilan petugas serta tersedianya sarana dan prasarana pendukung. Sebagai pendukung kelancaran dan kemudahan dalam melaksanakan kegiatan Perkesmas bagi petugas bagi petugas khususnya perawat. Melaksanakan pembuatan petunjuk teknis pelajaran. Hal ini secara tidak langsung membantu memotivasi petugas untuk melaksanakan tugas dengan baik.Puskesmas di masyarakat. baik disegi pelayanan terhadap masyarakat maupun disegi pelayanan terhadap masyarakat maupun disegi pencapaian cakupan/hasil kegiatan. bidan dan bidan-bidan didesa perlu adanya pelatihan. 4. Terwujudnya peningkatan kemampuan/keterampilan petugas (bidan dan perawat). Melaksanakan pembinaan. Dan program perawatan kesehatan masyarakat bisa berjalan dengan lancar. Selanjutnya guna mengidentifikasi pemecahan masalah dan penetuan sasaran yang ingin dicapai.

Dengan adanya peningkatan kemampuan/keterampilan petugas Perkesmas oleh petugas yang selanjutnya akan memungkinkan tercapainya penurunan angka kesakitan pada keluarga rawan yang rentan terhadap maslah kesehatan dan pada akhirnya memungkinkan terwujudnya peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Dengan adanya strategi pemecahan masalah dari sasaran yang diharapkan. penilaian serta pelaporan dari semua kegiatan yang dilaksanakan. Kegiatan tersebut diatas pelaksanaannya dapat dibagi menjadi beberapa tahapan kegiatan antara lain : Persiapan yang terdiri dari pembentukan panitia.Dari beberapa kegiatan tersebut diatas kegiatan yang bisa dilaksanakan dan berpengaruh langsung terhadap peningkatan kemampuan/keterampilan petugas Perkesmas yaitu kegiaatan pelatihan bagi perawat. penyiapan perlengkapan serta pemberitahuan peserta pelatihan. 2. Sasaran Khusus : Terwujudnya peningkatan kemampuan /keterampilan petugas Perawatan Kesehatan Masyarakat (bidan dan perawat) melalui pelaksanaan pelatihan petugas Perkesmas D. 170 . Sasaran Umum : Terwujudnya peningkatan kemampuan /keterampilan petugas Perkesmas melalui pelaksanaan pelatihan petugas Perkesmas. bidan dan bidan-bidan desa selaku pelaksana kegiatan Perkesmas. Adapun sasaran umum dan saran khusus yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut : 1. pencairan dana. pembuatan jadwal. Langkah-Langkah Kegiatan. Kegiatan yang kiranya diselenggarakan guna mencapai sasaran adalah dengan melaksanakan pelatihan petugas perawatan Kesehatan Masyarakat untuk mewujudkan peningkatan    kemampuan/keterampilan bidan perawat. penyajian materi serta penutup. dapatlah ditentukan sasaran umum dan sasaran khusus dari rencana kerja yang ingin dicapai. Pengendalian meliputi pemantauan. Pelaksanaan terdiri dari pembukaan pelatihan.

171 . Kedua hasil tersebut diperlukan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan.  Diharapkan dukungan sepenuhnya dari Kepala Puskesmas dalam memotivasi staf dalam pelaksanaan kegiatan Perkesmas secara terpadu melalui mini lokakarya lintas program/sektor. sedangkan hasil penilaian dimanfaatkan untuk perencanaan kegiatan berikutnya. SARAN  Diharapkan dapat memberikan supervisi/bimbingan untuk perbaikan dan peningkatan penampilan hasil kegiatan Perkesmas di tingkat Puskesmas. agar dapat menilai kemajuan pelaksanaan program Perkesmas secara teratur dan berkesinambungan.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN  Kegiatan Perkesmas salah satu kegiatan pokok Puskesmas. kelompok dan masyarakat yang mempunyai masalah kesehatan. dimana tanpa adanya keterpaduan laporan dan kegiatan pembinaan lintas program/sektor terkait program Perkesmas akan menampilkan hasil kegiatan dan pengelolaan yang belum optimal.  Hasil pernantauan dapat dimanfaatkan untuk melakukan koreksi. keluarga.  Diharapkan dapat memberikan sosialisasi secara terus menerus dan berkesinambungan dengan lintas program/sektor terkait demi terlaksananya kegiatan Perkesmas di Tingkat Puskesmas secara terpadu. memberikan pelayanan keperawatan terhadap individu. dan perlu adanya suatu alat untuk rnemantau dan menilai sehingga dapat diidentifikasi masalah dan penyebabnya.

2. Pedoman Pemantauan Penilaian Program Perawatan Kesehatan Masyarakat. Petunjuk Pengelolaan Perawatan Kesehatan Masyarakat Depkes RI.2010. Ismael Sofyan. Sastroasmoro S. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. 1993.com 3.DAFTAR PUSTAKA 1. p372-374 172 . www. 1996. Jakarta. Jakarta. Jakarta : Sagung Seto. Depkes RI.depkesri.

350) 173 .06.197) (030.06.UPAYA KESEHATAN KERJA Penyusun: Putri Kartika Vidya Syahidatul Syakira (030.

3) Pengembangan organisasi kerja dan budaya kerja kearah yang mendukung kesehatan dan keselamatan di tempat kerja. Pencanangan paradigma sehat ini sejalan dengan pembangunan berwawasan lingkungan serta pengembangan tenaga kesehatan Sarjana Kesehatan Masyarakat. Secara ringkas merupakan penyesuaian pekerjaan kepada manusia dan setiap manusia kepada pekerjaan atau jabatannya. dan penempatan serta pemeliharaan pekerja dalam suatu lingkungan kerja yang disesuaikan dengan kondisi fisiologi dan psikologisnya. juga meningkatkan suasana sosial yang positif dan operasi yang lancer serta meningkatkan produktivitas perusahaan. Selanjutnya dinyatakan bahwa fokus utama Kesehatan Kerja. 2) Perbaikan lingkungan kerja dan pekerjaan yang mendukung keselamatan dan kesehatan.BAB I PENDAHULUAN ILO dan WHO (1995) menyatakan kesehatan kerja bertujuan untuk peningkatan dan pemeliharaan derajat kesehatan fisik. pencegahan terhadap gangguan kesehatan pekerja yang disebabkan oleh kondisi pekerjaan. yaitu : 1) Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan pekerja dan kapasitas kerja. dicanangkan dengan paradigm sehat. Departemen Kesehatan telah menetapkan upaya khusus kesehatan kerja sebagai bagian dari pembangunan bidang kesehatan sejak tahun 1998. 174 . Dalam Undang-undang No. perlindungan bagi pekerja dalam pekerjaannya dari resiko akibat faktor yang merugikan kesehatan . absen kerja yang pada ujungnya mengganggu produktivitas kerja. Potensi munculnya berbagai penyakit akibat kerja yang dialami pekerja akan merugikan perusahaan dari segi biaya kesehatan. mental dan sosial yang setinggi-tingginya bagi pekerja di semua jenis pekerjaan. agar diperoleh produktivitas kerja yang optimal sejalan dengan program perlindungan tenaga kerja. 23 tahun 1992 pasal 23 dinyatakan bahwa kesehatan kerja diselenggarakan agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan diri sendiri dan masyarakat sekelilingnya. Bidang kesehatan kerja mempunyai implikasi luas baik secara mikro maupun makro. Perhatian yang baik pada kesehatan kerja dan perlindungan risiko bahaya di tempat kerja menjadikan pekerja dapat lebih nyaman bekerja.

Upaya kesehatan kerja sebagai bagian dari upaya kesehatan masyarakat seperti diuraikan di atas dilakukan melalui berbagai upaya atau program-program. Namun. Pembinaan dan pengawasan atau penyesuaian pekerjaan terhadap tenaga kerja 2. diantaranya adalah sebagai pelaksana lapangan. 3 tahun 1982 disebutkan tugas pokok kesehatan kerja antara lain : 1. Memberikan saran dan masukan kepada manajemen dan fungsi terkait terhadap permasalahan yang berhubungan dengan aspek kesehatan kerja Pada beberapa sektor industi formal berskala menengah dan besar pada umumnya pelaksanaan kesehatan kerja sudah cukup baik yang dilakukan secara terintegrasi melalui Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamanatan Kerja ( SMK3 ). 6. penyuluhan kesehatan masyarakat. Memberikan nasehat mengenai perencanaan dan pembuatan tempat kerja. ahli toksikologi. 175 .Dalam Permenaker No. Memberikan laporan berkala tentang pelayanan kesehatan kerja kepada pengurus 7. pengelolaan kesehatan masyarakat. Untuk usaha-usaha informal dan industri-industri kecil. misalnya dalam bentuk pembinaan dan pelatihan-pelatihan serta penyusunan berbagai pedoman pelaksanaan kesehatan kerja. seperti dokter. Pembinaan dan pengawasan perlengkapan sanitasi 4. Pembinaan dan pengawasan terhadap lingkungan kerja 3. diakui upaya yang telah dilakukan belum bisa menjangkau seluruh usaha informal dan industri kecil yang jumlahnya cukup besar. Untuk melaksanakan upaya tersebut dibutuhkan sejumlah profesi. ahli epidemiologi dan ahli keselamatan. perawat. Departemen Kesehatan maupun Departemen Tenaga kerja dan Transmigrasi sudah melakukan upaya kesehatan kerja. pemilihan alat pelindung diri yang diperlukan dan gizi serta penyelenggaraan makanan di tempat kerja. ahli ergonomic. Selain adanya persoalan keterbatasan sumber daya manusia atau petugas dan kesadaran para pengelola usaha dalam memperhatikan kesehatan kerja. ahli hygiene kerja. pengelola dan pengendali upaya kesehatan masyarakat. Pembinaan dan pengawasan perlengkapan kesehatan kerja 5. pembangunan model. Peran SKM dalam Kesehatan Kerja Peran SKM dalam berbagai bentuk upaya kesehatan masyarakat. pendidikan.

melakukan supervise. Dalam rangka pemberdayaan masyarakat bidang K3. Potensi ini akan sangat berarti ketika kita melihat kenyataan bahwa di Indonesia jumlah angkatan kerja adalah terbesar nomor 4 di dunia. SKM juga dapat memainkan peran di LSM-LSM bidang kesehatan yang tentunya dapat membuat program intervensi kesehatan di tempat kerja. Selain itu kemampuan sebagai leader. Disamping itu sendiri. Hal penting untuk dicatat adalah pentingnya pemberdayaan potensi tenaga SKM sesuai kompetensinya untuk dapat menjadi pelaksana upaya kesehatan kerja baik bekerja langsung di perusahaan. ditempatkan di instansi pemerintah harus didukung oleh jaringan terkait. perlindungan dan pencegahan. bimbingan dan evaluasi. yaitu berjumlah sekitar 152 juta jiwa ( Survey BPS 2003. tenaga SKM mempunyai kompetensi yang sangat sesuai karena tenaga SKM dirancang untuk melakukan tugas pokok atau upaya-upaya yang bersifat promosi. yaitu tenaga ini adalah SKM. pengelola program diharapkan akan lebih mengoptimalkan upaya kesehatan kerja. Titik berat yang menjadi perhatian baik masyarakat maupun pemerintah adalah bidang pendidikan dan kesehatan. juga oleh para pengusaha atau pelaku usaha dan para pekerja. Kebutuhan SDM bidang kesehatan kerja selain tenaga medis dan paramedis. perlindungan dan pencegahan. 176 . seperti dokter dan perawat juga dibutuhkan tenaga-tenaga yang mampu melakukan upaya-upaya kesehatan kerja yang lebih bersifat peningkatan.Dilihat dari tugas pokok kesehatan kerja dan bentuk pengendalian bahaya kesehatan. SKM dengan kompetensi bidang K3 juga diperlukan di instansi pemerintah baik pusat maupun daerah dalam menjalankan fungsinya membuat regulasi. Selain di perusahaan.000 perusahaan. Perkembangan pembangunan nasional bangsa Indonesia sekarang ini dihadapkan pada era etonomi dan desentralisasi. Jumlah institusi pendidikan tinggi yang menghasilkan SKM saat ini sangat banyak. untuk penduduk di atas 15 tahun ) dan jumlah industri yang cukup besar sekitar 102.

penilaian bahaya kesehatan dan pengendalian melalui berbagai program. yaitu sebagai pengelola program dan dapat melakukan fungsinya untuk melakukan/ mengkoordinasikan langkah-langkah identifikasi potensi bahaya kesehatan.Era globalisasi saat ini juga menuntut adanya kompetensi tenaga kerja dan pentingnya standarisasi serta sertifikasi. 177 . pembinaan. kita dapat melihatnya dari titik temu antara kompetensi yang dimiliki SKM khususnya peminatan K3 dengan tujuan dan tugas pokok kesehatan kerja dan standar upaya kesehatan kerja yang biasa diterapkan di tempat kerja dalam bentuk Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Trend ini sangat relevan dengan pemikiran dan implementasi peran SKM dalam upaya kesehatan kerja. Kompetensi SKM sangat sesuai sebagai bagian dari profesi lain dalam upaya kesehatan kerja. pengawasan serta pendidikan dan pelatihan.

pabrik dan sebagainya yang mempunyai ciri : 3 1.BAB II PENGERTIAN UPAYA KESEHATAN PENGEMBANGAN Adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan permasalahan kesehatan yang ditemukan di masyarakat serta yang disesuaikan dengan kemampuan Puskesmas. barang modal termasuk peralatan dan teknologi.2 SASARAN (TARGET) Adalah hasil yang diharapkan dari suatu program atau keluaran yang diharapkan dari suatu kegiatan. 3.3 KEGIATAN Adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau lebih unit kerja sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur dari suatu program dan terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya baik yang berupa personal (SDM).2 UPAYA KESEHATAN KERJA ( UKK ) Merupakan kegiatan pokok Puskesmas yang ditujukan terutama pada masyarakat pekerja informal di wilayah kerja Puskesmas dalam rangka upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit serta kecelakaan yang berkaitan dengan pekerjaan dan lingkungan kerja. dana atau kombinasi dari beberapa atau kesemua jenis sumber daya tersebut sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang atau jasa. Kegiatan usaha biasanya sederhana. 2 SEKTOR INFORMAL Yaitu usaha-usaha ekonomi di luar sektor modern atau sektor formal seperti perusahaan. tidak tergantung pada kerja sama banyak orang bahkan kadang-kadang usaha 2. kecilan 178 Perorangan dan sistem pembagian kerja yang ketat Skala usaha relative kecil biasanya dimulai dengan modal dan usaha kecil- .

Biasanya tidak mempunyai izin usaha seperti halnya Firma.4. 1985) 179 . PT atau CV (Payaman Simanjuntak.

Meningkatnya pelayanan kesehatan bagi tenaga kerja informal dan keluarganya yang belum terjangkau ( Under-served ).BAB III TUJUAN I. 2. Tujuan umum Meningkatnya kemampuan untuk menolong dirinya sendiri guna mencapai derajat kesehatan yang optimal dan peningkatan produktifitas kerja. Tujuan khusus 1. Meningkatnya kemampuan masyarakat pekerja dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit dan kecelakaan yang berkaitan dengan pekerjaan dan lingkungan kerja. 3 II. 3. Meningkatnya keselamatan kerja dengan mencegah pemajanan bahan-bahan yang dapat membahayakan lingkungan kerja dan masyarakat sekitar serta menerapkan prinsip ergonomik. 3 180 .

g. misalnya kebakaran. Pelayanan kesehatan di Puskesmas Latihan kader untuk mengembangkan program UKK Pembentukan pos UKK di tempat kerja Penilaian upaya kesehatan kerja dan higiene industri di tempat kerja Penyelenggaraan dana sehat di pos UKK Melakukan evaluasi Memberikan umpan balik kepada industri 2.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN I. yang menampilkan ciri-ciri sebagai berikut : 3 1. Pendataan tentang industri dan tenaga kerja Rapat koordinasi dengan instalasi terkait Melaksanakan kunjungan pengawasan dan pembinaan Penyuluhan kesehatan tenaga di tempat kerja sebagai tindak promotif dan preventif dengan penekanan pada prinsip higiene industry dan ergonomis e. k. Bertumpu pada upaya peran serta masyarakat 2. Kegiatan Kegiatan upaya kesehatan kerja meliputi : 2 1. komplikasi dan tindakan medis dll e. Identifikasi yang bisa menimbulkan bahaya K3 b. Pelaksanaan K3 di luar Puskesmas : a. c. b. Pengelolaan tanggap darurat di puskesmas. Pencatatan setiap ada ―accident‖ maupun near misses (nyaris) Pendekatan PKMD Pembangunan Kesehatan Masyarakat Pekerja dilakukan dengan cara pendekatan PKMD. Melakukan pengendalian resiko agar meminimalisasi bahaya d. Terjalin kegiatan kerja sama lintas sektoral Langkah-langkah Pengembangan UKK dengan Pendekatan PKMD 181 . bencana alam. f. i. j. h. Menilai resiko bahaya c. Terselenggaranya pelayanan dasar kesehatan kerja 3. d. Pelaksanaan K3 di Puskesmas a.

Dilakukan di desa terpilih dengan memilih lokasi tertentu yang dapat menggambarkan keadaan desa pada umumnya.1. Selain itu agar timbul kesadaran akan adanya hubungan timbal balik antara pekerjaan dan kesehatan. Perindustrian. mengumpulkan dan mengkaji masalah kesehatan sendiri. Pertemuan tingkat Kecamatan/tingkat desa (lintas sektoral). Kartu berobat/register diberi kode khusus untuk memisahkan dengan pengunjung lainnya. serta diperolehnya dukungan dari pamong. Tahap Persiapan Tahap persiapan masyarakat dilakukan dengan melakukan pertemuan. merupakan langkah awal dari pembinaan tingkat Kecamatan. tindakan promotif dan preventif dengan penekanan pada prinsip ergonomik. bertujuan untuk mempersiapkan kader agar mampu berperan dan mengembangkan program kesehatan kerjanya dan di lengkungan tempat tinggalnya. petugas Puskesmas dan seluruh sektor lain yang terkait seperti Bangdes. survei mawas diri masyarakat dan pelatihan kader. Koperasi/KUD. dilaksanakan segera setelah survei mawas diri. Musyawarah tentang kesehatan kerja. Ini dilakukan untuk catatan jumlah pengunjung tenaga kerja 182 . Juga untuk diperolehnya dukungan dari sektor lain dalam pelaksanaan UKK. Dilaksanakan oleh masyarakat pekerja setempat/calon kader yang telah ditunjuk dalam pertemuan tingkat desa. Tahap Pelaksanaan Kegiatan UKK di Puskesmas Penyuluhan kesehatan. Pertemuan ini bertujuan untuk diseminasi informasi mengenai informasi masyarakat Upaya Kesehatan Kerja sebagai upaya meningkatkan kesehatan masyarakat. Pertanian. Tujuan musyawarah ini adalah agar masyarakat pekerja mengenal masalah kesehatan di tempat kerjanya. masyarakat bersepakat menanggulangi masalah tersebut dan kemudian menyusun rencana kerja untuk menanggulangi masalah tersebut. Latihan kader. Survei mawas diri. khususnya masyarakat pekerja informal. bertujuan agar tenaga kerja mengenal. Prosedur pelayanan kesehatan pekerja yang berkunjung ke Puskesmas seperti pengunjung lainnya. Sedangkan pertemuan tingkat desa bertujuan untuk dikenalnya Upaya Kesehatan Kerja sebagai upaya untuk meningkatkan kesehatan kerja. pemuka masyarakat dan organisasi tenaga kerja lainnya dalam pelaksanaan UKK. dengan bimbingan petugas Puskesmas dan sektor terkait untuk mengetahui sebanyak mungkin masalah kesehatan kerja di desa tersebut dan kemudian menentukan prioritas masalah. dikenalnya masalah kesehatan dan keselamatan kerja setempat. 2. Sebaiknya musyawarah dihadiri oleh seluruh pekerja dan keluarganya.

bertujuan untuk mempersiapkan kader agar mampu berperan dan mengembangkan program kesehatan kerja di tempat kerjanya. Tenaga kerja terutama sektor informal 2. Upaya penyehatan lingkungan kerja. Kerjasama lintas sektoral. harus memanfaatkan pranata sosial yang telah ada. pos UKK dapat juga mempergunakan posyandu yang ada atau membentuk posyandu lain bagi pekerja terutama kalau pekerja terdiri dari wanita. Untuk setiap 20-30 pekerja dengan jenis pekerjaan yang sesuai dibentuk satu pos UKK. pemeriksaan di arahkan apakah penyakit yang diderita ada hubungannya dengan pekerjaan. Sasaran Sasaran UKK : 1. Melakukan pelayanan dasar kesehatan yang meliputi. Pada garis besarnya. kebugaran. Pertolongan Pertama Pada Kecalakaan (P3K). c. nelayan. yaitu : a. II. Secara umum. maka dilakukan follow-up ke tempat kerja untuk memberikan penyuluhan mengenai cara pencegahan timbulnya penyakit tersebut. bahaya merokok. Komunikasi. melalui pos UKK dilakukan tiga hal pokok. Apabila pada pemeriksaan ternyata ada hubungannya. penanggulangan stress. keselamatan kerja. b. misalnya kelompok tani. Pembentukkan pos UKK di tempat kerja. Pos UKK dapat dijadikan sebagai wahana kerjasama lintas sektor untuk ikut membina produktivitas pekerja dengan cara ikut memeliahara tingkat kesehatan pekerja dan menciptakan budaya kerja secara sehat dan produktif. Tenaga kerja wanita. khususnya usia muda 183 . materi KIM yang diberikan menyangkut tentang prosedur kerja. Sentral industri kecil 3. Melatih kader. Selain itu. baik antara petugas maupun antara para kader. hipertensi. dll) serta untuk penekanan pelayanan kesehatan kepada pekerja. gizi kerja. pencegahan penyakit menular.tertentu ke Puskesmas (petani. keracunan makanan serta bagaimana bekerja tanpa mencemari lingkungan dan pokok bahasan lain yang terkait dengan pekerjaannya. kelompok nelayan dan kelompok pengrajin. Menyelenggarakanpelayanan kesehatan di Puskesmas. Upaya pemantauan penggunaan alat-alat keselamatan kerja/alat pelindung diri. Informasi dan Motivasi (KIM) tentang kesehatan dan keselamatan kerja. Pertolongan pertama pada penyakit.

dan pekerja wanita. Tenaga kerja kesehatan di Puskesmas 2 Sasaran Upaya Kesehatan Kerja (UKK) diarahkan kepada pekerja yang mempunyai dampak besar dalam menunjang ekonomi. nelayan. Dengan demikian sasaran upaya kesehatan kerja diutamakan pada sektor informal yang merupakan lebih dari separuh angkatan kerja.4. tetapi kurang dapat mendapat pelayanan kesehatan yang memadai.3 184 . kaki lima. usaha angkutan terutama di kota. petani. pengrajin industri kecil/industri rumah tangga. penyelam mutiara. pekerja bangunan. misalnya tenaga lepas.

saat ini belum ada pos UKK karena di daerah Kecamatan Cilandak bukan merupakan daerah dengan banyak industri informal. tempe dan kerupuk yang belum diketahui jumlahnya. Puskesmas Kecamatan Cilandak baru akan mengembangkan pos UKK dengan melihat komunitas dan jumlah pekerja di daerah ini. Akan tetapi di daerah kelurahan Gandaria Selatan dan Pondok Labu banyak terdapat usaha pangan yaitu tahu. didapatkan data bahwa di pos UKK di Puskesmas Kecamatan Cilandak Barat masih dalam tahap pengembangan.BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KELURAHAN GANDARIA SELATAN Setelah dilakukan observasi dan wawancara terhadap Koordinator Program Kesehatan Lingkungan Puskesmas Kecamatan Cilandak Barat.Berarti. 185 .

Kesimpulan Upaya Kesehatan Kerja ( UKK) merupakan kegiatan pokok puskesmas yang ditujukan terutama pada masyarakat pekerja informal di wilayah kerja Puskesmas dalam rangka upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit serta kecelakaan yang berkaitan dengan pekerjaan dan lingkungan kerja. perlindungan bagi pekerja dalam pekerjaannya dari resiko akibat faktor yang merugikan kesehatan. Pembentukan kader UKK 186 . mental dan sosial yang setinggi-tingginya bagi pekerja di semua jenis pekerjaan. B. maka sekiranya dapat dibuat pos UKK. dan penempatan serta pemeliharaan pekerja dalam suatu lingkungan kerja yang disesuaikan dengan kondisi fisiologi dan psikologisnya. Apabila jumlahnya memenuhi untuk dibuat pos UKK. tempe. terselenggaranya pelayanan dasar kesehatan kerja dan terjalinnya kegiatan kerja sama lintas sektoral. Adanya pembangunan kesehatan masyarakat kerja dilakukan dengan cara pendekatan PKMD. yang menampilkan ciri-ciri sebagai berikut : bertumpu pada upaya peran serta masyarakat. Observasi lagi daerah-daerah dengan kelompok pekerja yang sejenis. 2.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. kerupuk ). pencegahan terhadap gangguan kesehatan pekerja yang disebabkan oleh kondisi pekerjaan. Saran 1. Kesehatan kerja bertujuan untuk peningkatan dan pemeliharaan derajat kesehatan fisik. Misalnya di daerah Gandaria Selatan dan Pondok Labu dengan banyaknya usaha pangan ( tahu.

jilid II.co.id pada tanggal 22 Juli 2011 187 .binasehat. Peranan SKM Pada Program UKK. 3. tahun 1993 2. Buku Pedoman Kerja Puskesmas. Diunduh dari www.DAFTAR PUSTAKA 1. Buku Revitalisasi Puskesmas 2006.

UPAYA KESEHATAN GIGI DAN MULUT Penyusun: Adisresti Diwyacitta Meri Indriani (030.06.166) 188 .008) (030.06.

Gigi gangren (busuk). sikap masyarakat yang 189 . Di perkotaan prevalensi penyakit karies lebih tinggi dari pada di pedesaan. kesehatan umum yang buruk pada masa anak-anak. Kebersihan mulut yang buruk berhubungan erat dengan status sosial dan pendidikan yang masih rendah.BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG DAN MASALAH Penyakit gigi dan mulut yang menjadi masalah kesehatan masyarakat dewasa ini adalah penyakit/kelainan pada jaringan penyangga gigi (periodontal disease) dan karies gigi. Kedua penyakit tersebut menimbulkan gangguan fungsi mengunyah. factor herediter. pendidikan. penyakit ini merupakan penyebab utama tanggalnya gigi pada usia 35 tahun ke atas. Karies gigi Penyakit karies bersifat irreversible. juga merupakan fokal infeksi yang dapat menimbulkan penyakit/infeksi pada organ tubuh lainnya. kumulatif. sebagai unit pelayanan primer yang memberikan pelayanan dasar langsung kepada masyarakat mutlak diperlukan. 1. Peningkatan prevalensi karies gigi berhubungan dengan perubahan sosial. pengaruh lingkungan yang kurang menunjang seperti status gizi. Prevalensi penyakit karies dan periodontal ini di Indonesia bersifat menyeluruh dan keadaan menjadi lebih tidak menguntungkan karena majemuknya peduduk dan keadaan geografik. penyediaan air minum. rendahnya kadar fluor dalam air minum. maka upaya penanggulangan yang paling utama adalah dengan memberikan pendidikan/penyuluhan kepada masyarakat tentang upaya pemeliharaan diri (self-care). Penyebab utama dari karies gigi adalah bakteri. makanan yang mengandung banyak gula. 2. Maka pencegahan dan pengobatan dini penyakit gigi dan mulut di Puskesmas. Penyakit periodontal Pada umumnya penyakit periodontal merupakan akibat dari keadaan kebersihan mulut yang buruk. dan diet (refined carbohydrate). Keadaan higiene mulut pada umumnya kurang baik. dan progresif. yang dapat menyebabkan terganggunya penyerapan dan pencernaan makanan sehingga akhirnya dapat menganggu status gizi seseorang.

kurang menguntungkan bagi kesehatan dan tingkat perkembangan sosial ekonomi dalam masyarakat itu sendiri sangat mempengaruhi keadaan tersebut. Dengan meningkatnya prevalensi penyakit periodontal dan karies gigi pada Pelita IV. naka upaya peningkatan/pencegahan dan pembinaan peran serta masyarakat dalam upaya pemeliharaan diri (self-care) harus dilaksanakan lebih efektif dan terarah baik terhadap kelompok khusus yang rentan terhadap penyakit gigi dan mulut maupun terhadap masyarakat umum. 190 .

anak prasekolah dan anak sekolah dasar. dan pemulihan dengan diutamakan pada upaya peningkatan/pencegahan. rehabilitatif dan upaya perlindungan khusus (specific protection) dan pelayanan asuhan sistematik kesehatan gigi dan mulut. penilaian upaya kesehatan gigi secara menyeluruh. Di samping memberikan pelayanan khusus tenaga kesehatan gigi juga bertanggung jawab melaksanakan pembinaan. keluarga dan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas dengan prioritas masyarakat kelas menengah dan bawah khususnya kelompok masyarakat yang rawan terhadap penyakit gigi dan mulut. diikuti dalam suatu kurun waktu secara berkesinambungan. Upaya pelayanan khusus adalah upaya kuratif. Fluoridasi air minum). 5. baik kegiatan di dalam maupun di luar gedung Puskesmas.BAB II PENGERTIAN Upaya kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas adalah upaya kesehatan gigi dasar paripurna yang ditujukan kepada individu. Upaya kesehatan gigi dasar paripurna adalah upaya kesehatan gigi esensial yang terbanyak dibutuhkan oleh masyarakat meliputi upaya peningkatan. pencegahan. 3. pengendalian. terencana ditujukan kepada kelompok tertentu. Kelompok masyarakat yang rawan terhadap penyakit gigi dan mulut adalah kelompok ibu hamil/menyususi. 4. 2. pengobatan. Upaya tersebut meliputi upaya kesehatan gigi yang bersifat pelayanan khusus yang hanya dapat dilaksanakan oleh tenaga kesehatan gigi dan upaya kesehatan gigi. 1. pengembangan. Pelayanan asuhan sistematik adalah suatu bentuk upaya pembinaan kesehatan gigi dan mulut yang terarah. Yang dimaksud dengan teknologi tepat guna adalah teknologi yang mengacu pada: a) Masalah kesehatan gigi masyarakat setempat 191 . pemeliharaan kebersihan mulut dan perlindungan (tooth brushing campaign. yang bersifat umum yang dapat dilaksanakan terintegrasi dengan kegiatan pokok Puskesmas lainnya serta dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan lain dengan dukungan partisipasi aktif masyarakat dengan memanfaatkan teknologi tepat guna. 6. kumur-kumur Fluor. Upaya kesehatan gigi yang bersifat umum adalah upaya kesehatan gigi dan mulut yang bersifat peningkatan pencegahan umum (mass prevention) meliputi penyuluhan kesehatan gigi dan mulut.

dan lainlain) c) Terjangkau oleh masyarakat d) Diterima oleh masyarakat baik pemberi maupun penerima pelayanan e) Sesuai dengan azas manfaat secara berdaya guna dan berhasil guna Untuk meningkatkan fungsi puskesmas sebagai pusat pengembangan. maka dalam melaksanakan kegiatan pokok puskesmas secara terpadu. dan pembinaan peran serta masyarakat. perlu adanya kerjasama antara petugas kesehatan gigi dengan petugas kesehatan lainnya terutama dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan upaya peningkatan. 192 . Penggalangan kerja sama tim ini dilaksanakan dalam bentuk kegiatan Lokakarya Mini Puskesmas. pusat pembinaan. petugas puskesmas harus bekerja sama dalam tim dan membina kerja sama lintas program maupun lintas sektoral. dan pusat pelaksana upaya kesehatan. peralatan. dana. pencegahan. Demikian pula dalam penyelenggaraan upaya kesehatan gigi dan mulut sebagai salah satu kegiatan pokok puskesmas.b) Sumber daya yang tersedia di masyarakat (seperti tenaga.

sikap dan perilaku masyarakat dalam kemampuan pelihara diri (self-care) di bidang kesehatan gigi dan mulut dan mencari pengobatan sedini mungkin. 2. B. Tujuan Umum: Tercapainya derajat kesehatan gigi masyarakat yang layak (optimal).BAB III TUJUAN A. Menurunnya prevalensi penyakit gigi dan mulut yang banyak diderita masyarakat (karies dan periodontitis) dengan upaya perlindungan/pencegahan tanpa mengabaikan upaya penyembuhan dan pemulihan. Terhindarnya/berkurangnya gangguan fungsi kunyah akibat kerusakan (penyakit) gigi dan mulut. Tujuan Khusus: 1. terutama pada kelompok masyarakat yang rawan. 3. 193 . Meningkatnya kesadaran.

maka upaya kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas dilaksanakan dalam bentuk kegiatan sebagai berikut: A. Langkah-langkah kegiatan adalah sebagai berikut: 1) Kegiatan KIE           Pendekatan lintas program/lintas sektoral Persiapan desa Latihan kader Diagnosis masalah (community self survey) Umpan balik Pelaksanaan kegiatan 2) Pelayanan oleh kader Penyuluhan tentang pemeliharaan tentang kesehatan gigi dan mulut Pemeriksaan sepintas Pengobatan sederhana Rujukan 3) Monitoring 194 . Pembinaan/pengembangan kemampuan dan peran serta masyarakat dalam upaya pelihara diri (self-care).BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN KEGIATAN Untuk mencapai tujuan tersebut. yang sejak 1984 secara operasional diintegrasikan pula melalui Posyandu dan Saka Bhakti Husada. melalui pengembangan upaya lesehatan yang bersumber pada otoaktifitas masyarakat dengan PKMD dalam wadah LKMD (program UKGM). Kegiatan diintegrasikan dengan upaya kesehatan lainnya yang berhubungan dengan pembinaan peran serta masyarakat.

K. Di tingkat STPD upaya kesehatan gigi merupakan suatu paket pelayanan asuhan sistemik. kegiatan berupa:    Upaya promotif oleh guru Upaya preventif (sikat gigi bersama. sebagai berikut: Tahap I (Paket Minimal): Upaya kesehatan gigi di SD yang belum terjangkau oleh tenaga kesehatan gigi. aplikasi Fluor) Upaya kuratif berupa pengobatan atas permintaan pada murid kelas I-VI dan pengobatan komprehensif pada murid kelas selektif sesuai kondisi penyakit setempat. Posyandu) Kegiatan berupa: 195 . SMTA. Pada kelompok ibu hamil/menyusui. Rujukan bagi yang perlu pengobatan Tahap II (Paket Optimal) Sudah ada sarana/tenaga kesehatan gigi yang terbatas. dan SLB. Pelayanan asuhan pada kelompok rawan 1. kegiatan dilaksanakan oleh tenaga kesehatan lain dan guru orkes. Upaya preventif berupa kegiatan bimbingan. anak pra-sekolah Kegiatan diintegrasikan dengan kegiatan KIA. berupa:    Upaya promotif oleh guru dengan materi sesuai kurikulum ORKES. pembersihan karang gigi. kegiatan berupa:    Upaya promotif oleh guru Upaya preventif (sikat gigi bersama. dengan kegiatan yang bertahap disesuaikan dengan kemampuan tenaga dan sarana yang ada. Pada anak sekolah Upaya kesehatan gigi dan mulut pada anak sekolah. baik di dalam maupun di luar gedung Puskesmas (T. pembersihan karang gigi) Upaya kuratif (pengobatan dasar pada murid yang memerlukan pengobatan) Tahap III (Paket Paripurna) Sudah ada tenaga/sarana kesehatan gigi yang lengkap. selanjutnya program ini akan dikembangkan ke tingkat SMTP. pada Pelita IV baru mencapai anak tingkat pendidikan dasar (STPD).B. pembinaan pelihara diri (paket sikat gigi bersama). 2. perlindungan dengan Fluor.

Pelayanan Medik Gigi Dasar Pelayanan medik gigi dasar di Puskesmas dilaksanakan terhadap masyarakat yang dating mencari pengobatan maupun yang dirujuk. Pencatatan/Pelaporan Berbagai hal yang berkaitan dengan masukan. 196 . dan keluaran upaya kesehatan gigi direkam secara terpadu dalam Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas.     Penyuluhan oleh bidan/perawat gigi Pemeriksaan sepintas oleh bidan Rujukan Pemeriksaan dan rencana perawatan oleh tenaga kesehatan gigi (terutama pada ibu hamil) Pencatatan C. Kegiatan:      Memberikan pelayanan medik gigi dasar pada penderita yang berobat maupun yang dirujuk Merujuk kasus-kasus yang tidak dapat ditanggulangi ke sarana pelayanan yang lebih mampu Memberikan penyuluhan secara individu maupun kelompok Memelihara kebersihan (higiene klinik) Memelihara merawat peralatan/obat-obatan D. proses. bagi masyarakat (penderita) yang jauh dari Puskesmas dijangkau melalui pelayanan Puskesmas Keliling maupun Klinik Gigi Lapangan (untuk anak-anak sekolah dasar). Untuk memperluas jangkauan pelayanan. pencegahan khusus. Pelayananan meliputi pengobatan. di samping penyuluhan secara individu maupun kelompok terhadap pengunjung Puskesmas. pemulihan.

 Frekuensi pembinaan petugas kesehatan ke desa dilaksanakan minimal 3 kali dalam setahun.SASARAN Dalam melaksanakan kegiatan/upaya kesehatan gigi di Puskesmas.  Upaya peningkatan/pencegahan pada anak sekolah (kegiatan menyikat gigi bersama) dilaksanakan di 80% SD.  Upaya pelayanan pengobatan komperhensif pada anak sekolah mencakup 80% dari murid kelas selektif yang memerlukan perawatan.  Upaya pelayanan pengobatan mencakup 4% dari penduduk wilayah puskesmas.  Peran serta masyarakat (kader kesehatan) dalam penyuluhan. target (sasaran) yang ingin dicapai. sesuai dengan Stratifikasi Puskesmas adalah sebagai berikut:  Pembinaan peran serta masyarakat dalam upaya pelihara diri (program UKGMD) dilaksanakan di 60% desa. pengobatan sederhana. 197 . rujukan mencakup 20% penduduk desa binaan.  Frekuensi pembinaan petugas kesehatan dalam bidang kesehatan gigi dan mulut ke SD dilaksanakan minimal 2 kali pertahun per SD.

kader. Tambalan light curing (sinar) h. Tambalan fuji g. Pembersihan karang gigi Luar Gedung a.BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS LEBAK BULUS 1. guru SD 198 . Tambalan amalgam f. Setiap tahun ajaran baru SD setempat. Pencabutan gigi tetap sederhana c. namun pada anak kelas 4-5 terdapat perawatan paripurna. UKGM SASARAN Pasien yang datang berobat ke Unit Pelayanan Gigi WAKTU Senin – Jumat Pkl : 07.6. kader. Alveolectomy ( pembuangan tulang) i. Pencabutan gigi tetap dengan penyulit d. KEGIATAN Dalam Gedung a. Siswa Sekolah Dasar kelas 1. UKGS Tahap 2  Pemeriksaan gigi kelas 1-6  Penyuluhan demonstrasi sikat gigi  Pembersihan karang gigi  Pencabutan gigi sulung yang persistensi  Pengobatan atas permintaan Tahap 3  Sama dengan tahap 2. Operasi gigi miring (odontectomy) j. Insisi abses n. Tambalan gigi sementara e. guru TK POSYANDU Tiap bulan Rumah Kader yang ditentukan Rumah kader yang ditentukan PAUD 2-3 kali/minggu b. Puskesmas Kelurahan Lebak Bulus PELAKSANA Dokter gigi dan perawat gigi 2. Jahit lebih dari 5 simpul l. petugas Puskesmas. TK Setiap tahun ajaran baru Seluruh TK se-kelurahan Dokter gigi.30 – selesai TEMPAT Unit Pelayanan Gigi. Pembuatan gigi palsu m. Pencabutan gigi susu b. Jahit 1-5 simpul k. yang telah ditentukan Puskesmas kecamatan Dokter gigi. petugas Puskesmas.

Pelayanan Puskesmas    Peningkatan kesadaran. Peningkatan pengetahuan. B. 199 .INDIKATOR KEBERHASILAN A. Terselenggaranya pelayanan kesehatan holistic. Penurunan angka karies di wilayah Puskesmas. guru sekolah) yang telah dibina. Pembinaan Kesehatan Wilayah    Peningkatan kegiatan peran serta masyarakat dalam upaya peningkatan kesehatan gigi dan mulut. kemauan dan kemampuan provider perihal kesehatan gigi dan mulut. paripurna terpadu pada kegiatan pelayanan medik rawat jalan dan kesehatan reproduksi dengan perhatian pada penyakit gigi dan mulut.  Kepuasan pengguna jasa pelayanan kesehatan gigi dan mulut akan pelayanan yang didapatnya. sikap dan perilaku perihal kesehatan gigi mulut dari kader kesehatan (Posyandu. Terselenggaranya penyuluhan kesehatan gigi mulut terpadu pada kegiatan di Puskesmas dan wilayahnya.

Sehingga kelompok masyarakat yang rawan terhadap penyakit gigi dan mulut dapat terhindar dari penyakit-penyakit ini. Pelayananan meliputi pengobatan.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Upaya kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas adalah upaya kesehatan gigi dasar paripurna yang ditujukan kepada individu. 200 . maka perlu ditingkatkannya kesadaran. pemulihan. SARAN Supaya tercapainya derajat kesehatan gigi masyarakat yang layak. Oleh karena itu pelayanan medik gigi dasar di Puskesmas dilaksanakan terhadap masyarakat yang datang mencari pengobatan maupun yang dirujuk. Penyakit gigi dan mulut yang menjadi masalah kesehatan masyarakat dewasa ini adalah penyakit/kelainan pada jaringan penyangga gigi (periodontal disease) dan penyakit karies gigi. sikap dan perilaku masyarakat dalam kemampuan pelihara diri (selfcare) di bidang kesehatan gigi dan mulut dan mencari pengobatan sedini mungkin. keluarga dan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas dengan prioritas masyarakat berpenghasilan rendah khususnya kelompok masyarakat yang rawan terhadap penyakit gigi dan mulut. di samping penyuluhan secara individu maupun kelompok terhadap pengunjung Puskesmas. pencegahan khusus. Kedua penyakit tersebut menimbulkan gangguan fungsi kunyah. yang dapat menyebabkan terganggunya dalam mengkonsumsi makanan.

Forest.Pencegahan Penyakit Mulut.com 4.pdf/06_50_KegiatanPenelitianLingkunagnDirektoratKesehatanGigi. 2.id/index. 3.id/files/cdk/files/06_50_KegiatanPenelitianLingkunganDirektoratKe sehatanGigi. http://nevhablue. Adyatmaka.php?option=articles&taskviewarticle&artid=323&Itemid=3 201 . Jakarta.blogspot. Ke-2. Lilian Yawono. Pedoman Kerja Puskesmas Jilid IV.DAFTAR PUSTAKA 1.depkes.html 5. JO. 1995. 114-115. Departemen Kesehatan RI.1-9. http://www. alih bahasa drg. 1990. Ed.co. Hipokrates. http://www.kalbe.go. A.

LAMPIRAN 202 .

252) 203 .06.06.111) (030.UPAYA KESEHATAN JIWA Penyusun : Hengky Stephanie Salim (030.

Pada suatu penelitian yang dilakukan di USA didapatkan bahwa 2-5% dari populasi menderita ansietas dan 10% dari populasi pernah mengalami depresi. pergeseran nilai-nilai hidup. dan diperkirakan jumlah pasien penyalahgunaan obat dan alkohol yang terdapat dalam masyarakat kurang lebih 100. 5. Dari hasil survei epidemiologi gangguan jiwa yang dilakukan di beberapa tempat di indonesia. Prevalensi penyalahgunaan obat dan alkohol belum ada dengan pasti namun dari data rumah sakit tercatat 10. polusi informasi dan gaya hidup yang merusak kesehatan seperti merokok. terutama urbanisasi. dan pada gilirannya menigkatkan kebutuhan akan pelayanan kesehatan jiwa. dapat menimbulkan berbagai masalah psikososial yang mempengaruhi taraf kesehatan jiwa masyarakat. Pertumbuhan penduduk yang tidak seimbang dengan pertumbuhan ekonomi. 3. Prevalensi neurosis dan gangguan psikosomatik adalah 98 per 1000 penduduk. sedang angka WHO untuk neurosis adalah 20-60 per 1000 penduduk. sedang angka menurut WHO adalah 8-10 per 1000 penduduk.000 pasien. perubahan sosial yang cepat. minum alkohol dan penyalahgunaan obat. 2. Demikian pula halnya dengan adanya penyebaran dan imigrasi penduduk yang timpang. didapat angka-angka morbiditas gangguan jiwa sebagai berikut: 1. Sebagai hasil pembangunan nasional terjadi peningkatan taraf pendidikan dan sosial masyarakat dan hal ini menimbulkan pergeseran tipe penyakit yang terdapat dalam masyarakat dari kelompok penyakit menular ke kelompok penyakit tidak menular. Prevalensi psikosis: 1.BAB I PENDAHULUAN Tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan terciptanya derajat kesehatan masyarakat yang optimal. mental.6 per 1000 penduduk di pedesaan angka menurut WHO adalah 1-3 per 1000 penduduk. Prevalensi epilepsi adalah 0.26 per 1000 penduduk.000 orang.25 per 1000 penduduk dan menurut WHO adalah 1-3 per 1000 penduduk. Prevalensi retardasi mental: 1. 4.44 per 1000 penduduk di perkotaan dan 4. 204 . dan sosial yang memungkinkan seseorang untuk hidup produktif. cacat dan kelemahan tapi benar-benar merupakan kondisi yang positif dari kesejahteraan fisik. Kesehatan dalam hal ini diartikan sebagai suatu kondisi yang bukan hanya bebas dari penyakit.

merupakan unsur penentu keberhasilan upaya ini. masyarakat termasuk swasta yang terkait. Kerjasama tersebut dapat dAijabarkan secara operasional dalam lokakarya mini yang akan menampilkan peranan staf puskesmas yang didukung oleh mobilisasi tenaga. obat.memberikan upaya pertolongan pertama pada pasien-pasien dengan gangguan jiwa (primary treatment). Dalam pelaksanaan pembinaan dan pengembangan kesehatan jiwa di puskesmas. dan teknologi.penyuluhan kesehatan dan perilaku sexsual yang dilakukan di smu sekecamatan Cilandak dengan tujuan meningkatkan pengetahuan perilaku sexual yang benar sehingga terjadi penurunan angka penyimpangan sexual di remaja.Angka tersebut diatas menggambarkan bahwa kesehatan jiwa merupakan masalah masyarakat. napza.kegiatan rujukan yang memadai (adequate referral). Terdapat pula pelayanan kesehatan jiwa yang disebut dengan CMHN (Community Mental Health Nursing) lakukan oleh para petugas Puskesmas dimana mereka mengunjungi rumah-rumah penduduk yang memiliki atau dicurigai memiliki gangguan jiwa melalui laporan dari penduduk sekitar. konsultasi pasien-pasien yang datang ke UKKR maupun pasien-pasien rujukan internal dari unit pelayanan yang lain . Pelayanan kesehatan jiwa di puskes Cilandak meliputi kegiatan di dalam dan di luar gedung. 205 .Unit pelayanan UKKR merupakan salah satu unit pelayanan semi spesialistik di kecamatan Cilandak. dengan tujuan pengenalan dini gangguan jiwa (early detection). Sedangkan di puskesmas kecamatan Cilandak mempunyai satu poli khusus / unit pelayanan jiwa yang tergabung di dalam UKKR (unit konsultasi keluarga dan remaja). harm reduction. Dengan menggunakan azas-azas kesehatan jiwa dalam pelayanan kesehatan di Puskesmas maka tujuan pelayanan kesehatan paripurna akan tercapai karena pelayanan yang diberikan adalah sebagai manusia seutuhnya. Untuk kegiatan luar gedung sama dengan puskesmas kelurahan Lebak Bulus yaitu CMHN (Community Mental Health Nursing). Kegiatan dalam gedung meliputi pengobatan. Saat ini Puskesmas kelurahan Lebak Bulus belum mempunyai poli khusus ataupun unit khusus yang melayani kesehatan jiwa. Pelayanannya meliputi kesehatan jiwa. Upaya ini dapat berhasil bila mendapat dukungan dan peran serta masyarakat melalui kerjasama dengan Puskesmas dimana unsur masyarakat merupakan hal yang sangat penting dan menentukan keberhasilan upaya kesehatan jiwa di Puskesmas. namun skrining gangguan jiwa tetap dilakukan di unit pelayanan umum. Puskesmas juga secara rutin melakukan pencatatan dan pelaporan.vct. peralatan.

yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi. seperti yang diklasifikasikan dalam kode diagnosis di Puskesmas. 0802 Gangguan Neurotik: gangguan psikosomatik. berat). mampu mengatasi tantangan kehidupan.BAB II PENGERTIAN A.23/1992 pasal 1): Sehat adalah keadaan sejahtera dari badan. anak dan remaja. dan perkembangannya 206 . depresi. yang dapat berwujud masalah psikososial atau gangguan jiwa. disharmoni keluarga. 0803 Retardasi Mental: (ringan. Masalah psikososial: Gangguan kesehatan jiwa yang dilatarbelakangi oleh masalah-masalah sosial dan psikologik. Gangguan Kesehatan Jiwa Gangguan Kesehatan Jiwa: Terganggunya kesehatan jiwa seseorang. 0804 Gangguan Kesehatan Jiwa bermula pada bayi. sedang. neurosa cemas. mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain. dapat menerima orang lain sebagaimana adanya. korban pasung. dll. sbb: 0801 Gangguan Psikotik: gelandangan psikotik. Kesehatan Jiwa adalah perasaan sejahtera dan bahagia. kriminalitas. gaduh gelisah. Kesehatan Jiwa Sehat ( UU tentang kesehatan no. jiwa dan sosial. Gangguan Jiwa: Gangguan jiwa yang dapat dideteksi secara klinis. seperti kenakalan remaja. seperti yang dimaksud dengan penjelasan pada butir 1 di atas. B.

0805 Penyakit Jiwa lainnya: penyalahgunaan narkotik/ zat adiktif. iii. 0806 Epilepsi: (gran mal. penyembuhan dan pemulihan penderita gangguan jiwa. lingkungan pekerjaan. baik intelektual. gangguan seks. lingkungan keluarga. kejang demam pada anak. C. 207 .25/1992 pasal 24) a. lingkungan masyarakat. pemeliharaan dan peningkatan kesehatan jiwa. b. lingkungan sekolah. pencegahan dan penanggulangan masalah psikososial dan gangguan jiwa. petit mal. ii. gangguan kepribadian. meliputi: i. psikomotor) . maupun emosional dan sosial. Upaya Kesehatan Jiwa (UU Kesehatan no. didukung sarana pelayanan kesehatan jiwa dan sarana lainnya. Upaya yang diselenggarakan untuk mewujudkan jiwa yang sehat secara optimal. Kesehatan jiwa dilakukan oleh perorangan.

3.44-4. 208 . anak. 4.TUJUAN UMUM Tercapainya derajat kesehatan jiwa yang optimal bagi seluruh masyarakat. baik dari segi jasmani. dewasa. remaja. Meningkatkan kepekaan petugas agar dapat mendeteksi gangguan kesehatan jiwa secara dini setiap pengunjung Puskesmas yang berobat.25 per 1000 penduduk. 5.000 orang. maupun segi mentalemosional dan sosialnya. Mengelola kasus gangguan kesehatan jiwa pada pengunjung Puskesmas (bayi. Angka anxietas 2-5% dari populasi. 2. 6. Meningkatkan hubungan interpersonal antar petugas kesehatan Puskesmas dengan pasien dan keluarganya. Meningkatnya mutu pelayanan kesehatan Puskesmas pada umumnya. Bila mungkin menurunkan atau mempertahankan angka-angka yang telah diperoleh sesuai dengan survei epidemiologi gangguan jiwa yaitu: 1. 3. Angka psikosis 1. 2. Tujuan Pelayanan Kesehatan Jiwa Terpadu: 1. Meningkatnya mutu dan jangkauan pelayanan kesehatan jiwa di Puskesmas untuk mencegah dan mengurangi masalah psikososial dan gangguan kesehatan jiwa di masyarakat. 2. Memberikan perhatian secara menyeluruh dan terinci terhadap semua aspek kehidupan pasien yang berkunjung. B.26 per 1000 penduduk. Angka retardasi mental 1.6 per 1000 penduduk.BAB III TUJUAN A. 5.TUJUAN KHUSUS 1. Jumlah penyalahgunaan obat dan alkohol 100. usila) dengan sebaik-baiknya. melalui peningkatan kesehatan jiwa secara terpadu. Angka epilepsi 0. Memberikan pengobatan rasional dan terapi lain yang diperlukan secara lebih berdaya guna dan berhasil guna. Angka depresi 1% dari populasi. 4.

dewasa dan usia lanjut dengan memanfaatkan azas-azas kesehatan jiwa. remaja. 3. yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan puskesmas dengan dukungan peran serta masyarakat baik di dalam gedung maupun di luar gedung puskesmas yang ditujukan pada individu. 4. Menangani gangguan jiwa dari setiap kelompok umur mulai dari anak. Dengan adanya pelayanan ini. dengan menggunakan teknologi tepat guna yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat. dengan demikian akan meringankan beban dari pasien. Selain itu diharapkan juga agar puskesmas dapat melaksanakan terapi lanjutan(follow up) dari mereka yang sudah selesai perawatannya di rumah sakit jiwa. dapat diperolah gambaran penyakit dalam masyarakat tertentu yang dapat dipertanggungjawabkan melalui suatu pengumpulan data di puskesmas. keluarga. Menilai lebih sensitif dan waspada terhadap kemungkinan keterlibatan emosional pada keluhan-keluhan atau gejala yang ditujukan pasien sewaktu berobat. khususnya kelompok rawan tanpa mengabaikan kelompok lainnya. Memberikan penyuluhan sehingga masyarakat dapat memanfaatkan azas dasar kesehatan jiwa dalam kehidupannya. Mengingat hal tersebut diatas maka dalam pelayanan puskesmas diharapkan dapat: 1. Memberikan upaya pertolongan pertama pada pasien-pasien dengan gangguan jiwa (primary treatment). Kegiatan upaya kesehatan jiwa tersebut dilaksanakan melalui: 1. 2. 2.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN Upaya kesehatan jiwa di puskesmas adalah upaya kesehatan jiwa yang dilaksanakan di tingkat puskesmas secara khusus atau terintegrasi dengan kegiatan pokok puskesmas lainnya. Kegiatan rujukan yang memadai (adequate referral). Menangani gangguan jiwa baik akut maupun kronik yang dapat terjadi pada setiap manusia maupun kelompok masyarakat hingga dapat menurunkan angka kesakitan pasien gangguan jiwa. 3. masyarakat dan diutamakan pada masyarakat berpenghasilan rendah. Pengenalan dini gangguan jiwa (early detection). 209 .

intelektual. Kesehatan jiwa (mental health) Menurut faham ilmu kedokteran pada saat ini.Penjelasan: 1. 2.Oleh karena itu semua petugas puskesmas sebaiknya mengetahui azas dasar kesehatan jiwa. Secara relatif arti jiwa sehat dan jiwa sakit berbeda menurut pola sosial dan budaya suatu masyarakat. Penderita gangguan jiwa tidak selalu abnormal tingkah lakunya. Beberapa sifat yang dapat dipakai sebagai pegangan dalam pemeriksaan yaitu seseorang yang sehat jiwanya adalah seorang yang: 210 . perbaikan tempat dan suasana kerja d. adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik. Hampir semua penyakit fisik mengandung segi kejiwaan dan dengan pendekatan kesehatan jiwa yang baik akan bermanfaat dalam menghadapu semua penderita. mempertinggi taraf kesehatan jiwa seseorang dalam hubungannya dengan keluarga dan masyarakat Mengingat hal tersebut diatas maka telah digariskan beberapa kebijaksanaan yang pada prinsipnya menjabarkan dan menterjemahkan lingkup kesehatan jiwa secara praktis dan kongkrit. dan sering kelainan yang ditujukan hanyalah berdasarkan keluhan saja. memelihara kesehatan jiwa dalam pertumbuhan dan perkembangan anak b. mengusahakan keseimbangan jiwa dengan menyesuaikan penempatan tenaga selaras dengan bakat dan kemampuan c. Untuk mencapai kondisi yang dimaksud maka pemerintah telah mengarahkan upaya penting antara lain: a. Pelayanan kesehatan jiwa Pelayanan kesehatan jiwa yang dilakukan oleh dokter/staf puskesmas terhadap individu dengan memberikan obat-obat psikofarmaka bila diperlukan serta pemecahan masalah yang dihadapi pasien dan keluarga. Makna kesehatan jiwa mempunyai sifat-sifat yang harmonis(selaras) dan memperhatikan semua segi dalam kehidupan manusian dan dalam hubungan dengan manusia lain. dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan orang lain.

mereka mempunyai masa kanak-kanak yang bahagia. baik secara terpadu dalam upaya kesehatan pokok lainnya. kegiatan khusus yaitu penyuluhan kesehatan jiwa dalam rangka pencegahan dan pengobatan gangguan jiwa sedini mungkin. ia cukup bahagia dalam kehidupannya dan dapat bergaul dengan baik dalam keluarga dengan anak-anaknya. maupun seecara khusus oleh 211 . Kegiatan dalam puskesmas Terpadu dengan kegiatan pokok puskesmas lainnya. penilaian. serta memberian pelayanan khusus bila diduga adanya faktor psikologi sebagai penyebab (lihat pelayanan khusus). pembinaan dan pengembangan upaya kesehatan jiwa masyarakat setempat.a. Kegiatan diluar puskesmas Terpadu dengan kegiatan pokok puskesmas lainnya. dapat memelihara keseimbangan jiwanya secara mantap. Beberapa hal penting yang harus diperoleh dalam masa kanak-kanak adalah:cinta. karena tata cara kehidupan pada masa kanak-kanak adalah sangat penting artinya dalam perkembangan menjadi dewasa. tapi pada umumnya ia relatif bebas dari rasa khawatir. 5. 3. maupun lingkungan tempat tinggal atau tempat kerja. yaitu cukup tabah. 4. rasa benci dan rasa cemas. pujian dan dorongan serta disiplin yang sehat. Peran serta masyarakat Peran serta masyarakat adalah peran serta masyarakat baik sebagai key person maupun sebagai konsumen dalam pemecahan masalah kesehatan jiwa setempat. mempunyai emosi yang tenang. penuh pengertian serta dapat mengambi keputusan dan memiliki tanggung jawab. dan marah-marah. bertengkar. ia menghadapi kehidupan dengan segala persoalan serta ia dapat menikmati karuniaNya c. Dengan demikian.kasih sayang. Suatu waktu dapat saja ia merasa kurang gembira. b. perencanaan pelaksanaan. Upaya pokok Kesehatan Jiwa di Puskesmas adalah upaya yang dilaksanakan.

Kelompok masyarakat: 1. sebagai kegiatan di dalam gedung dan di luar gedung. Lembaga swadaya masyarakat. Pelayanan Pengobatan b. ii. Penyuluhan kesehatan jiwa secara terpadu dalam program penyuluhan kesehatan Puskemas lainnya. Anak balita/ anak usia SD. dll). 7. ii. KEGIATAN POKOK 1. Pramuka. terdiri dari: 1. Penyuluhan kesehatan jiwa secara khusus sesuai dengan kebutuhan dan jadwal kerja. Anak usia remaja (SLTP/SLTA).Puskesmas. Rujukan Kasus 3. Konsultasi Kesehatan Jiwa bagi petugas 4. iii. Orang tua. Perorangan pada setiap pasien yang berkunjung ke Puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya (Posyandu. Karang Taruna. Penyuluhan 2. Penyuluhan a. Guru. Pusling. Kunjungan Rumah A. Organisasi kepemudaan (OSIS. terdiri dari: 1. 6. b. 4. sbb: a. dll). PMR. 3. Tokoh masyarakat. Pelayanan Pengobatan 212 . 2. Pengorganisasian LSM dan potensi masyarakat dalam upaya kesehatan jiwa. terdiri dari kegiatan pokok dan kegiatan penunjang. Kegiatan: i. Sasaran: i. Kegiatan pokok. Pencatatan dan Pelaporan 2. 2. Kegiatan penunjang. 5.

usila). sopan. Untuk itu pasien diupayakan antri dan tidak bergerombol pada meja petugas. orang dewasa. anak usia SD. UKS. ASKES. sehingga kesehatan jiwa memegang peranan yang sangat penting dalam kesehatan. Pelayanan tidak ditujukan hanya untuk pasien gangguan jiwa. dimulai dari anamnesis. baik aspek fisik. Petugas Puskesmas bersikap empati. diagnosis dan terapi. vii. Prinsip: i. terbuka dan menghargai setiap pasien. Pusling. perlu dideteksi kemungkinan adanya faktor mental-emosional yang mempengaruhi keadaan jasmaninya. Kegiatan: Terpadu dalam pelayanan kesehatan umum (BP. mencatat dan melaporkannya. balita. KIA. ramah. sehingga petugas dapat mengelola gangguan kesehatan jiwa yang terdapat pada setiap pasien yang berobat dengan sebaik-baiknya. Petugas kesehatan memandang manusia secara menyeluruh (holistik). maupun aspek mental-emosional dan sosial. Pelayanan kesehatan jiwa dilaksanakan terpadu dalam setiap pemberian pelayanan kesehatan yang dilaksanakan baik di dalam gedung maupun di luar gedung Puskesmas (BP. Pemeriksaan harus dilaksanakan secara lege artis. iv. baik pada anak maupun dewasa. UKS. sebagai orang yang perlu didengar. ditolong dan dilayani dengan sebaik-baiknya. Diperlukan ruang anamnesis/ pemeriksaan yang memungkinkan pasien menyampaikan keluhan pribadinya secara bebas. pemeriksaan. ii. viii. b. remaja. pada semua golongan umur (bayi. Setiap pasien yang datang dengan keluhan gangguan kesehatan jasmani. 213 . baik di dalam maupun di luar gedung Puskesmas. Sasaran: Semua pasien yang memperoleh pelayanan kesehatan/ pengobatan. iii. v. dll). vi. KIA. tetapi semua pasien yang datang. dll). Diagnosis kerja dapat bersifat ganda (fisik dan mental) .a.

B. KEGIATAN PENUNJANG 1. Pencatatan dan Pelaporan Kegiatan: a. Mencatat data dan hasil pemeriksaan pelayanan kesehatan jiwa terpadu setiap pasien pada kartu Status/ Rawat Jalan Puskesmas; b. Mencatat hasil pemeriksaan pelayanan kesehatan jiwa semi-spesialistik pada kartu rawat jalan; c. Mengumpulkan data jumlah gangguan kesehatan jiwa setiap hari pada laporan khusus yang tersedia; d. Mengirimkan laporan bulanan kepada Suku Dinas/ Dinas Kesehatan pada setiap akhir bulan; e. Mencatat dan melaporkan kasus gangguan jiwa pada SP2TP sesuai petunjuk. Sasaran: a. Puskesmas Kelurahan; b. Puskesmas Pembina. 2. Rujukan Kasus Kegiatan: a. Mengirim pasien untuk dirujuk; b. Menerima pasien rujukan. Sasaran: a. Pasien yang perlu perawatan inap b. Pasien yang perlu tindakan khusus/ spesialistik. 3. Konsultasi Kesehatan Jiwa bagi petugas Kegiatan: a. Koordinator Jiwa Suku Dinas Kesehata menyiapkan acara konsultasi kesehatan jiwa di setiap wilayah krjanya (1 bulan 1-2 kali); b. Setiap Puskesmas menyiapkan masalah yang akan dikonsultasikan, disertai data dan laporan program selama ini dan psikiater pembina membahas masalah yang dikonsultasikan; c. Psikiater pembina membuat laporan konsultasi kesehatan jiwa tersebut dan melaporkan ke Direktur RS Jiwa Jakarta dan Kepala Pusat Pembinaan Kesehatan Jiwa Dinas Kesehatan DKI Jakarta sebagai koordinator; d. Secara berkala konsultasi kesehatan jiwa diadakan di Puskesmas Pembina, agar dapat menjangkau Puskesmas di sekitarnya.
214

Sasaran: a. Dokter/ perawat di Puskesmas Pembina/ Puskesmas yang telah mengikuti penataran/ pelatihan dan melaksanakan pelayanan BP; b. Dokter/ perawat Puskesmas lainnya yang berminat. 4. Kunjungan Rumah Kegiatan: a. Petugas berkoordinasi dengan kader masyarakat (Posyandu, PKK, dll); b. Petugas melaksanakan kunjungan rumah bersama kader masyarakat secara terpadu dalam program kunjungan rumah; c. Petugas menangani kasus gangguan jiwa sesuai dengan kemampuannya; d. Petugas melaksanakan penyuluhan kesehatan jiwa pada masyarakat sesuai kebutuhan. Sasaran: a. Masyarakat b. Pasien Puskesmas

Pelayanan Kesehatan Jiwa 1. kegiatan terintegrasi( lihat lampiran 1) 2. kegiatan khusus( lihat lampiran 2)

Untuk menentukan diagnosis gangguan jiwa dari seorang pasien maka hal penting yang harus dilakukan adalah: a. anamnesa/pengambilan kisah 1. autoanamnesa -wawancara langsung dengan pasien tentang hal-hal yang dirasakan/dikeluhkan -anamnesa kemudian dilanjutkan dengan menyelami latar belakang dan kehidupan pasien(sosial,ekonomi,pendidikan dan budaya), asal kelahirannya, pekerjaannya dan beberapa hal yang mungkin menarik perhatian. -ikut sertakan keluarga dalam wawancara dengan penderita, kecuali bila anda merasa pasien atau keluarganya meberi kesan bahwa mereka canggung atau tidak

menginginkannya. Dalam hal demikian adakan wawancara secara terpisah dengan keluarganya.

2. alloanamnesa
215

wawancara dengan keluargan pasien atau orang yang mengantarkan pasien. Ditanyakan hal-hal yang berhubungan kemungkinan timbulnya gangguan jiwa pada pasien. Bila mungkin ditanyakan perjalanan penyakit dari pasien, keadaan kehidupan pasien seharihari, hubungan pasien dengan orang lain dan sebagainya.

b. Pemeriksaan fisik 1. secara umum diperiksa tensi,nadi,suhu dan pernapasan pasien 2. pemeriksaan neurologik dilakukan untuk mengetahui adakah gangguan kesadaran, kelumpuhan, rudapaksa pada kepala, gangguan fungsi luhur dan perasaan/perabaan pada tubuh dan gejala neurologik lain seperti kejang, kaku kuduk dan sebagainya.

c. laboratorium pemeriksaan laboratorium secara rutin untuk mengetahui adakah faktor infeksi, anemia berat,dsb. Bila dicurigai adanya kalainan organik tertentu dapat dilakukan pemeriksaan laboratorium tambahan sesuai kebutuhan. Pemeriksaan ini dilakukan untuk menyingkirkan adanya kelainan organik sebagai penyebab dari gangguan jiwa tersebut. Adapun penanganan pasien dengan gangguan jiwa seperti tercantum dalam lampiran 2 ini.

C. peran serta masyarakat kegiatan dalam bentuk penyuluhan serta pembinaan masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan, penilaian dan pengembangan kesehatan jiwa setempat dalam rangka menciptakan kemandirian masyarakat dalam memelihara kesehatan jiwa.

D. Pengembangan Pengembangan upaya kesehatan jiwa di puskesmas adalah suatu upaya dengan memanfaatkan data yang ada yaitu yang didapat dari SP2TP, penelitian atau survei. Upaya ini digunakan untuk mengembangkan peran serta masyarakat dan pelayanan dibidang kesehatan jiwa. Hal ini dilakukan melalui mini lokakarya dan stratifikasi puskesmas dan micro planning dalam rangka menciptakan derajat kesehatan jiwa masyarakat yang optimal.

216

D.Sistem pencatatan dan pelaporan Berbagai hal yang berkaitan dengan masukan, proses dan keluaran upaya kesehatan jiwa, direkam secara terpadu dalam SP2TP.

1. Kegiatan terintegrasi

UPAYA KESEHATAN JIWA YANG TERPADU DENGAN KEGIATAN POKOK PUSKESMAS Kegiatan pokok sasaran Tugas Perincian kegiatan tenaga Alat

1. KIA

Ibu hamil dan nifas

Promotif preventif

Penyuluhan:umpama -Cara menyusukan dengan kasih sayang -Hindari stres/depresi selama kehamilan -Persiapan melahirkan secara mantap termasuk persiapan mental

-Dokter -Bidan -Perawat -Kader

-Poster -Leaflet Audiovisual

2. KB

Individu dan keluarga

Promotif preventif

Penyuluhan agar tercipta keluarga yang bahagia dan sejahtera

-Dokter -Bidan -Perawat -Kader

-Poster -Leaflet -Film

3. Gizi

Individu dan keluarga

Promotif preventif

Penyuluhan: Memperhatikan gizi makanan karena kekurangan zat tertentu, umpama jodium dapat menyebabkan gangguan perkembangan mental anak cara hidup sehat secara

-Dokter -Ahli gizi -Perawat -kader

-Poster Leaflet Audiovisual

217

mental health

4.kesehatan lingkungan

Kelompok masyarakat dan lingKungan

Promotif preventif

Penyuluhan: Pentingnya peran orang tua dalam keluarga Dokter Perawat Perawat Dokter Tenaga

Leaflet Audiovisual

5.PPPM 6.PKM

Kelompok masyarakat

Promotif preventif

Menciptakan hubungan dan komunikasi yang baik dalam keluarga dan masyarakat

Poster Leaflet Audiovisual

penyuluh Film(video) kader

7.pengobatan

Individu/keluar ga

Kuratif rehabilitatif

Bagi pasien-pasien gangguan jiwa diharapkan dapat minum obat secara teratur Penyuluhan Kesehatan jiwa Home visit pasien psikotik

Dokter Perawat

Obat psiko Farmaka

8.PHN

Keluarga Masyarakat

Promotif Preventif Rehabilitatif

Penyuluhan:kesehatan jiwa

Perawat Kader

Leaflet Slides/over head Kendaraan untuk home visit

9.UKS

Anak didik Pendidik&stafn ya Orang tua

Promotif preventif Rehabilitatif

Deteksi dini gangguan kesulitan belajar, gangguan perkembangan Rujuk bila dicurigai adanya kelainan ke RS

Poster Leaflet Audiovisual

218

Jiwa

10. Gigi dan mulut

Individu Keluarga

Preventif kuratif

Pemeriksaan dan pengobatan gigi pasien gangguan jiwa karena mereka sering tak mengurus kebersihan gigi Menyampaikan pada keluarga agar memperhatikan kebersihan gigi pasien

Alat-alat kedokteran gigi

11.Kesehatan jiwa

Lihat kegiatan khusus tentang kesehatan jiwa

12.laboratoriu m

individu

Preventif kuratif

Laboratorium rutin Pemeriksaan khusus sesuai kebutuhan

Laborant

Alat lab dan zat kimia untuk peme riksaan poster leaflet poster leaflet audiovisual film video alat peraga

13.UKM/PK dasar

Masyarakat kelompok

Promotif Preventif

Penyuluhan kesehatan jiwa

Dokter Perawat

poster leaflet

219

tertentu Kader 14. USILA Individu Kelompok Masyarakat Pencegahan Kuratif Rujukan Penyuluhan tentang kesehatan jiwa usia lanjut Pengobatan pasien USILA sengan gangguan jiwa Rujuk pasien ke RS bila mengalami kesulitan Dokter Perawat Kader poster leaflet film audiovisual 15.kesehatan olah raga Keluarga Individu Masyarakat Pencegahan Kuratif Penyuluhan tentang pentingnya olahraga bagi kesehatan mental Peragaan olahraga kesehatan jasmani Dokter Perawat Kader Video Alat peraga 220 .

somatik antara lain: sakit kepala pusing nyeri atau rasa tak enak didada 1.keluara dan pekerjaan Major tranqulizer umpama klorpromazine hingga gejala klinis berkurang Dosis awal dapat dimulai dengan 3x50 mg/hari ditingkatkan secara bertahap 3x100 mg dan seterusnya hingga pasien tenang.dosis optimal 2. Kegiatan Khusus PENANGANAN PASIEN DENGAN GANGGUAN JIWA DIAGNOSIS GEJALA KLINIS PENGOBATA N 1.ansiolitika Misal diazepam 3x2 mg atau dobazam 3x10 dipertahankan hingga 4 minggu Bila tidak ada perbaikan dalam 2 minggu rujuk ke bagian psikiatri RS umum/RS jiwa terdekat Bila dalam waktu 4 minggu tidak memperihatkan kemajuan atau pasien sangat gaduh gelisah&membahayaka n diri atau orang sekitarnya.Gangguan kecemasan (anxietas) Adalah perasaan tidak menyenangkan yang disebabkan oleh dugaan akan bahaya atau frustrasi yang mengancam dan akan membahayakan rasa aman.Gangguan psikosis Adalah suatu keadaan yang nmenimbulkan ketidakmampuan berat pada seseorang untuk menilai realitas Gaduh gelisah Perilaku abnormal Gangguan tidur Rasa curiga Keluhan somatik yang aneh Rasa sedih yang tak wajar Waham/halusinasi Hilangnya perhatian terhadap kebersihan.2. vegetatif antara lain jantung berdebar 1. keluhan fisik a. keseimbangan atau kehidupan individu.simtomatik Sesuai dengan keluhan pasien 2. Rasa cemas ini dirasakan bila b. kirim ke RS Jiwa terdekat TINDAK LANJUT 221 .

retardasi mental -tidak ada terapi 222 .takut mati Sulit tidur 3.individu berusaha menguasai/menghadapi suatu situasi atau keadaan tertentu mual diare/abatisasi keringat dingin nafsu makan menurun sesak nafas mg 3. gangguan depresi Adalah satu bentuk ganggua kejiwaan pada alam perasaan seseorang yang bercorak disforik yang ditandai dengan perasaan murung. putus asa keluarga tak berguna Menangis tanpa sebab Hilangnya nafsu makan Konstipasi Pembicaraan dan aktivitas 4. rasa sedih yang mendalam.keluhan psikis Gelisah Takut tak wajar umpama takut gila. retardasi mental 1. Rasa sedih yang mendalam Gangguan tidur terutama Simtomatik sesuai dengan keluhan Antidepresan Bila selama 3 minggu tak ada perbaikan rujuk ke bagian jiwa RS umum/RS jiwa terdekat terbangun dini hari misalnya Hilangnya perhatian terhadap pekerjaan dan amitriptilin 3x25 mg selama 3 minggu Bila ada kecemasan beri ansiolitika Berikan support agar pasien merasa aman rasa tak berdaya. berikan support agar pasien merasa aman 2.

Adalah suatu keadaan dimana fungsi intelektual umum di bawah rata-rata yang terdapat dalam periode perkembangan(sebelum usia 18 tahun) disertai ketidakmampuan proses belajar atau adaptasi ringan(mampu didik): -80% dari seluruh retardasi mental -mulai tampak pada usia sekolah: Sering tak naik kelas Memerlukan bantuan untuk mengerjakan pekerjaan rumah atau kebutuhan pribadi Terdapatnya perilaku antisosial Biasanya anak dapat menyelesaikan pendidikan sampai tamat SD khusus -bimbing keluarga agar dapat menerima keterbatasan anak -latih anak agar dapat mandiri Menganjurkan orang tua agar konsultasi lebih lanjut ke RS jiwa terdekat 2. -memerlukan -tidak ada terapi khusus -memberi pengertian pada keluarga agar dapat menerima keadaan anak -memberikan 223 .retardasi mental sedang(mampu latih) –gejala sudah tampak sejak kecil.yaitu adanya gangguan perkembangan fisik dan bicara yang lambat.

faktor psikologis yang mempengaruhi kondisi fisik(dulu dikenal sebagai gangguan psikosomatik atau psiko fisiologik)adalah suatu kondisi/penyakit yang mempunyai makna tertentu yan diberikan oleh individu terhadap suatu stimulus lingkungan dan timbulnya penyakit itu mempunyai hubungan waktu dengan stimulus lingkungan tersebut Gejala fisik yang dikeluhkan dapat mengenai semua sistem dalam tubuh seperti: -tension headache -kolon iritabel -asma psikogenik -dismenore -simtomatik sesuai dengan keluhan -membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi pasien -beri ansiolitik Bila dalam waktu 3 minggu tak ada perubahan rujuk ke RS Jiwa mungkin belajar bicara dan dilatih keterampilan untuk pemeliharaan kebersihan dasar perhatian pada orang tua untuk menerima keadaan ini 224 .retardasi mental berat dan sangat berat: -sejak lahir sudah tampak gejala perkembangan motorik yang buruk dan -tidak ada terapi khusus -anak sangat membutuhkan perhatian dan bimbingan khusus kemampuan bicara -memberi yang sangat minimal -anak hanya 5.bantuan untuk mengurus diri -gangguan latihan pada anak yang berulang agar perilaku yang jelas mampu merawat diri 3.

penyalahgunaan zat tanpa ketergan tungan: -pola penggunaan zat patologik yang dapat bermanifestasi sebagai intoksikasi. namun 6.gangguan penggunaan zat: Adalah suatu keadaan dimana terjadi perubahan tingkah laku yang berkaitan dengan penggunaan zat secara teratur yang mempengaruhi susunan saraf pusat zat tersebut digunakan setiap hari agar ia dapat berfungsi dengan adekuat -ketidakmampuan dalam fungsi sosial atau pekerjaan akibat pola penggunaan zat yang patologik -jangka waktu penggunaan zat ini paling sedikit 1 bulan adanya keadaan depresi Rujuk ke RS Jiwa terdekat karena merupakan masalah yang rumit dalam penanganan -memerlukan penanganan khusus -puskesmas sebaiknya hanya melakukan seteksi pada remaja 225 .psikogenik -dsb seperti clobazam 3x2 mg untuk mengatasi kecemasan pasien atau anti depresiva bila didapat kesan 1.

2.ketergantungan zat: -didapat adanya ketergantungan fisologis yang dibuktikan dengan terdapatnya toleransi atau sindrom putus zat(withdrawal) -ketidakmampuan dalam fungsi sosial atau pekerjaan. Memerlukan penanganan khusus Rujuk ke RS Jiwa terdekat -kenakalan yang berlebihan dirumah atau di masyarakat Rujuk ke RS Jiwa terdekat 226 . meskipun jarang manifestasi gangguan ini hanya pada ketergantungan fisiologis umpamanya:orang yang tergantung pada opioida analgesik yang diberikan atas alasan medis untuk mengurangi rasa nyeri fisik.

-melanggar peraturan atau 7.gangguan pada anak dan remaja umpama: 1).gangguan tingkah laku: Pola tingkah laku yang berulang dan menetap norma sosial dalam masyarakat -sering pula ada aktivitas seksual yang bersifat Memerlukan penanganan khusus Rujuk ke RS Jiwa terdekat hingga terjadi pelanggaran agresif hak azasi orang lain -menyalahkan orang lain dan merasa diperlakukan tidak adil -sering juga ditemukan merokok.minum minuman keras. dan penyalahgunaan zat -gangguan ini dapat berkelompok 2) gangguan pemusatan perhatian(dulu dikenal sebagai sindrom hiperkinetik)adalah:kuran g mampu memusatkan perhatian dan impulsi yang tidak sesuai dengan taraf perkembangan -tidak dapat memusatkan perhatian -mudah teralih perhatiannya -sulit konsentrasi di sekolah -sering bertindak sebelum berpikir -Konsultasi dengan RS Jiwa terdekat untuk memberikan bimbingan -Bila perlu kirim anak ke RS Jiwa 227 .

gangguan perkembangan spesifik: Adalah gangguan yang hanya meliputi segi tertentu(spesisifk)dari perkembangan yang tidak disebabkan oleh gangguan lain. -efek labil -biasanya timbul sebelum usia 7 tahun -gangguan perkembangan membaca -gangguan perkembangan berhitung -gangguan perkembangan bahasa -gangguan perkembangan motorik -gangguan perkembangan artikulasi -serangan ringan berupa: *hilangnya ingatan secara mendadak dan singkat *pasien hanya berhenti sejenak dalam pekerjaannya atau pembicaraan.3). melihat ke suatu -phenobarbital dengan dosis Untuk menegakkan diagnosis kirim ke RS jiwa untuk pemeriksaan lebih lengkap 228 .

Epilepsi adalah suatu gejala klinis yang disebabkan oleh -serangan dapat pula berupa nyeri perut. lanjutkan pemberian obat sampai 3-5 tahun bebas serangan manifestasi gangguan otak gangguan dalam bentuk bangkitan yang muncul secara berkala yang disebabkan oleh lepas muatan listrik pada neuron-neuron otak secara berlebihan. sensibilitas -serangan berat berupa: penderita jatuh waktu kehilangan kesadaran dan kejang serta kontraksi otot bila kejang berhenti biasanya penderita lalu tertidur dan waktu bangun tidak ingat apa yang terjadi -serangan dapat terjadi sekali sebulan atau setiap hari -bila terjadi kejang: hindarkan pasien dari tempat atau benda yang dapat membahayakan -beri spatel diantara gigi agar lidah tidak tergigit -pasien jangan diikat 229 .arah tanpa berkedip.kemudia n melanjutkan pekerjaannya untuk: *Anak:6-7 mg/kgBB *dewasa: mulai dengan 3x50 mg.atau dosis sampai bebas serangan. naikkan 8.

230 .

0012.00 Dokter dan petugas puskes 6. VCT yang mempunyai faktor resiko Puskesmas kecamatan Cilandak Puskesmas Senin-Jumat jam 08. remaja terkait dengan masalah pendidikan sexual remaja CMHN (Community- SMU seKecamatan Cilandak Dokter dan petugas Puskesmas Pasien gangguan jiwa/ suspek gangguan jiwa Orang-orang Rumah Pasien 3.00 Dokter Puskesmas yang telah mendapat pelatihan khusus 5. Mental Health Nursing): kunjungan ke rumah Petugas puskesmas 4. pasien yang berkunjung ke UKKR Sosialisasi Kesehatan jiwa 2.BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN No.0012. Konseling IDU IDU kecamatan Cilandak Dokter puskes IDU dan 7.00 Dokter Puskesmas yang telah mendapat pelatihan khusus 1.0012.00 Senin-Jumat jam 08.0012. IDU meeting IDU kecamatan Cilandak Puskesmas Setiap akhir bulan Senin –Jumat jam 08. Harm Reduction orang yang terinfeksi HIV Puskesmas kecamatan Cilandak Dokter puskes 231 . Kegiatan Pelayanan semi spesialis untuk Sasaran Meningkatka n persentase kunjungan dari 7% menjadi 8% Remaja mengetahui perilaku sexual yang benar Tempat Waktu Pelaksana Puskesmas kecamatan Cilandak Senin-Jumat jam 08.

Penyuluhan HIV-AIDS Mobile VCT Penduduk kec. Petugas puskes 232 .8.cilandak Orang yang beresiko Tempattempat umum Panti pijat dll Tiap bulan Tiap bulan 2 x Petugas puskes 9.

sekunder dan tersier. Di Puskesmas telah dibuat unit pelayanan kesehatan jiwa dengan tujuan memberikan pelayanan keperawatan jiwa komprehensif. mental. serta memberkian pelayanan khusus bila diduga adanya faktor psikologi sebagai penyebab.saat ini mengambil contoh di puskesmas kecamatan Cilandak masih sangat kekurangan tenaga-tenaga profesional/SDM sehingga dalam pelaksanaan kegiatan banyak yang double job yang mengakibatkan kurang efisiennya/kurang optimal program yang sudah ada. Kegiatan di puskesmas terbagi dua di luar dan di dalam Gedung. 2. Di puskesmas Cilandak sebagian besar telah melakukan kegiatan seperti yang dianjurkan depkes. Oleh karena itu dibutuhkan pelayanan kesehatan jiwa agar terwujud kesejahteraan mental dan sosial sehingga seseorang dapat hidup produktif. Diadakan pelatihan-pelatihan khusus. 233 . kegiatan khusus yaitu penyuluhan kesehatan jiwa dalam rangka pencegahan dan pengobatan gangguan jiwa sedini mungkin.meliputi pencegahan primer. 3. Kesehatan dalam hal ini diartikan sebagai suatu kondisi yang bukan hanya bebas dari penyakit.Sedangkan kegiatan diluar puskesmas terpadu dengan kegiatan pokok puskesmas lainnya. Perlu ditingkatkan penyediaan SDM/kaderisasi yg lebih banyak. SARAN Adapun untuk dapat dilakukan semua kegiatan tersebut diperlukan dana dan tenaga kerja yang memadai. cacat dan kelemahan tapi benar-benar merupakan kondisi yang positif dari kesejahteraan fisik.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan terciptanya derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Agar lebih optimal dapat dilakukan : 1. Ruangan UKKR diperbesar dan disekat. dan sosial yang memungkinkan seseorang untuk hidup produktif. kegiatan di dalam gedung terpadu dengan kegiatan pokok puskesmas lainnya.

DAFTAR PUSTAKA 1. hlm.129-152. 2001. Upaya Pokok Kesehatan Jiwa. Dalam: STANDARISASI PELAYANAN KESEHATAN PUSKESMAS di DKI Jakarta. 234 . Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

178) 235 .UPAYA POKOK KESEHATAN MATA Penyusun : Andhini Darma Saputri Pritta Diyanti Karyaman Radita Primakirana Sediadi (030.05.170) (030.05.05.022) (030.

yaitu gambaran prediksi atau keadaanmasyarakat indonesia pada masa yang akan datang berupa ―Mata Sehat 2020/Vision 2020 – The Right to Sight ―(pemenuhan hak untuk melihat dengan 236 .2.BAB I PENDAHULUAN Undang-undang No.aman. 36 tahun 2009 mengamanatkan bahwa pemerintah harus menyediakan pelayanan kesehatang yang bermutu.4 Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia (SDM). Pelayanan kesehatan masyarakat sektor Pemerintah di Kabupaten/Kota terdiri atas pelayanan kesehatan dasar dan rujukan.sebagai pusat pelayanan kesehatan masyarakat.sebagai pusat pelayanan kesehatan perorangan primer dan sebagai pusat rujukan kesehatan primer yang bertanggung jawab atas wilayah yang telah ditetapkan.5 Untuk mewujudkan drajat kesehatan mata yang optimal telah ditetapkan visi.terjangkau dan merata. Sebagai unit pelaksana tehnis Dinas kesehatan (UPTD). Keterbelakangan melakukan koreksi refraksi terutama pada anak usia sekolah akan sangat mempengaruhi kemampuan menyerap materi pembelajaran dan berkurangnya potensi untuk meningkatkan kecerdasan karena 30% informasi diserap dengan melihat dan mendengar. Dengan demikian kesehatan indera penglihatan merupakan salah satu unsur terpenting dalam upaya meningkatkan kualitas SDM agar terwujud manusia Indonesia yang cerdas.efisien. Indra Penglihatan merupakan syarat penting bagi upaya peningkata kualitas SDM.Puskesmas dengan kegiatan Upaya Kesehatan Masyarakatnya menyebabkan puskesmas mempunyai peran penting dalam meningkatkan daya ungkit yang besar dalam pembangunan kesehatan di Indonesia karena Puskesmas menrupakan ujung tombak pembangunan kesehatan.1. produktif serta mampu berperan dalam berbagai bidang pembangunan. Puskesmas mempunyai 4 fungsi yaitu sebagai pusat pemberdayaan masyarakat.4 Indera penglihatan merupakan salah satu alat tubuh manusia yang mempunyai fungsi sangat penting untuk memungkinkan manusia menerima informasi dari lingkungan kehidupan sekitarnya sehingga mampu beradaptasi dan mempertahankan hidup dalam lingkungannya dan menghindarkan diri dari berbagai ancaman yang mungkin terjadi. karena mata merupakan jarul informasi utama (83%).1.

Kepulauan Riau. tetapi juga menimbulkan dampak sosial ekonomi bagi lingkungan. memfasilitasi pemerataan pelayanan kesehatan mata yang bermutu dan terjangkau. Prevalensi nasional penderita Katarak sendiri pada penduduk umur >30 tahun adalah 1. Untuk itu di tetapkan misi mewujutkan mata sehat melalui : promosi kesehatan dalam rangka pemberdayaan masyarakat tentang mata sehat . 1 Berdasarkan laporan hasil Riskesdas/ Riset Kesehatan Dasar Nasional tahun 2007. kelainan refraksi (0. produktif.optimal bagi setiap individu). dan sejahtera lahir batin. menggalang kemitraan dengan masyarakat dan pihak-pihak terkait di dalam dan di luar negri untuk mewujutkan mata sehat 2020. Besarnya jumlah penderita katarak di Indonesia saat ini berbanding lurus dengan jumlah penduduk usia lanjut yang pada tahun 2000 diperkirakan sebesar 15. dalam kerangka mewujudkan manusia Indonesia yang cerdas. kebutaan akan menjadi masalah kesehatan masyarakat bila prevalensinya 0. Jawa Barat. Jawa Tengah.4% dari total penduduk). Sulawesi Selatan. Menurut Konsultan WHO.2. Nusa Tenggara Timur. Konyama.5 Kesehatan Indera Penglihatan merupakan syarat penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Bengkulu. keluarga. di mana sepertiganya berada di Asia Tenggara. menanggulangi gangguan penglihatan dan kebutuhan di masyarakat . glaukoma (0.20%).14%). menunjukkan angka kebutaan 1.5%-1%. visus < 3/60). Survei kesehatan indera penglihatan dan pendengaran tahun 1993-1996.3 juta (7. Sebanyak 11 provinsi mempunyai prevalensi Kebutaan diatas prevalensi nasional. Jumlah dimaksud cenderung akan bertambah besar karena berdasarkan laporan Biro Pusat Statistik tahun 1993 . masyarakat dan negara lebih-lebih dalam menghadapi pasar bebas. prevalensi nasional Kebutaan adalah 0. yaitu Nangroe Aceh Darussalam.8%. mandiri.38 %). Nusa Tenggara Barat. jumlah penduduk usia lanjut di Indonesia pada tahun 2025 akan mengalami peningkatan sebesar 414% dibandingkan dengan keadaan pada tahun 1990. Lampung. Bila 237 .9% (berdasarkan hasil pengukuran. Gorontalo. Dr. Penyebab utama kebutaan adalah katarak (0. maju. Bali.78%). dan penyakit-penyakit lain yang berhubungan dengan lanjut usia (0.2 Kebutaan bukan hanya mengganggu produktivitas dan mobilitas penderitanya.1 WHO memperkirakan terdapat 45 juta penderita kebutaan di dunia.5%.

238 .C melalui kegiatan pelayanan kesehatan mata yang diintegrasikan di Puskesmas yang merupakan pintu gerbang utama yang berhubungan langsung dengan masyarakat sehingga angka kesakitan mata dapat ditekan dan angka kebutaan serta kemunduran fungsi penglihatan dapat dihilangkan. “Primary Eye Care (P. yang meliputi usaha-usaha peningkatan. dan pengobatan terhadap individu atau masyarakat.1 Dari masalah kesehatan mata dan kebutaan tersebut mengisyaratkan bahwa upaya kesehatan mata/pencegahan kebutaan dasar sebagai salah satu kegiatan pokok di Puskesmas akan melengkapi fungsi Puskesmas dalam memecahkan masalah kesehatan masyarakat khususnya berupa angka kesakitan mata dan kebutaan.5% pada tahun 2020. Sebaliknya bila angka kebutaan < 0. Primary Eye Care merupakan unit terdepan yang merupakan bagian integral dari Puskesmas. 1 Upaya Kesehatan Mata/Pencegahan Kebutaan (UKM/PK) merupakan bentuk dari pengembangan program RENSTRANAS (Rencana Strategis Nasional) Penanggulangan Gangguan Penglihatan dan Kebutaan untuk mencapai Vision 2020.telah dimulai sejak tahun 1979/1980. Dengan kebijaksaan untuk penduduk yang berpenghasilan rendah baik yang tinggal dikota dan di desa mendapat prioritas. sehingga tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat. Pelayanan Kesehatan Mata di Puskesmas. pencegahan.prevalensi kebutaan > 1% maka kebutaan telah menjadi masalah sosial.5 % maka kebutaan hanya menjadi masalah klinik (medik).E.C)” .E. 1 Tujuan P. Melalui program ini diharapkan dapat menurunkan angka kebutaan di Indonesia menjadi 1% pada tahun 2004 dan 0.

masyarakat di wilayah kerja Puskesmas. analis (tenaga Laboratorium). penanggulangan kebutaan katarak. di dalam ataupun di luar gedung oleh tenaga kesehatan Puskesmas dengan didukung oleh peran serta aktif masyarakat dan ditujukan kepada individu. dokter gigi. seperti perawat mahir mata. seperti pemeriksaan retraksi. dan sebagainya. Tenaga profesional umum yaitu dokter dan perawat. Tenaga profesional khusus yaitu tenaga kesehatan dengan pendidikan khusus atau tambahan di bidang kesehatan mata. funduskopi. dokter kecil. dan pengembangan UKM/PK setempat. tonometri.3 Yang dimaksud dengan kegiatan di dalam gedung dalam UKM / PK adalah kegiatan yang terpadu dengan kegiatan pokok Puskesmas lain atau secara khusus. pelaksanaan. tes buta warna dan lapang pandang.BAB II PENGERTIAN Upaya Kesehatan Mata / Pencegahan Kebutaan (UKM / PK) Dasar adalah upaya kesehatan dasar dibidang UKM / PK yang dilaksanakan di tingkat Puskesmas. penilaian. diselenggarakan secara khusus ataupun terpadu dengan kegiatan pokok Puskesmas lainnya. glaucoma dan lain-lain. dan sebagainya3 239 . Selain itu terdapat pula tenaga non professional yaitu kader/ tenaga relawan seperti pemuka masyarakat. keluarga. 3 Tenaga professional mencakup tenaga profesional umum dan khusus. asisten apoteker. 3 Sedangkan yang dimaksud dengan kegiatan di luar gedung dalam UKM / PK adalah kegiatan yang terpadu dengan kegiatan pokok Puskesmas lainnya ataupun secara khusus meliputi skrining mata. pembinaan. meliputi pemeriksaan diagnostik kelainan mata. 3 Peran serta masyarakat adalah peran serta aktif masyarakat baik sebagai pemberi maupun penerima pelayanan dengan memobilisasi sumber daya yang tersedia dalam pemecahan masalah kesehata mata masyarakat setempat melalui perencanaan.

240 .Kebutaan adalah pengelihatan kedua mata dengan koreksi maksimal kurang dari 5 % pengelihatan normal.

BAB III TUJUAN A. Tujuan Umum Meningkatnya derajat kesehatan mata dalam rangka meningkatkan kualitas sumberdaya masyarakat. B. Menurunnya prevalensi kesehatan mata dan kebutaan sehingga tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat. Meningkatnya jangkauan pelayanan refraksi sehingga masyarakat yang mengalami gangguan fungsi penglihatan dapat terlayani. sikap dan perilaku masyarakat pemeriksaan dirinya dibidang kesehatan mata dan pencegahan kebutaan. 2. 241 . 3. Tujuan Khusus 1. Meningkatnya kesadaran.

Kegiatan a) Melakukan penyuluhan kesehatan mata termasuk pemasaran sosial di dalam maupun di luar gedung. 2. tepat dan nyaman dengan sikap yang ramah dan bertanggung jawab. b) Melakukan pemeriksaan mata khusus. baik individu maupun kelompok. baik yang dirawat jalan ataupun rawat inap. Sasaran Upaya Kesehatan Mata/ Pencegahan Kebutaan Semua golongan umur dengan prioritas pada masyarakat berpenghasilan rendah. Prinsip Kerja Pelayanan diberikan secara cepat. Kegiatan Pelayanan Upaya Kesehatan Mata / Pencegahan Kebutaan 1.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN Tujuan Upaya Kesehatan Mata/ Pencegahan Kebutaan Melayani pemeriksaan kesehatan mata dasar dan semi spesialis / spesialis (khusus untuk Puskesmas Pembina) untuk semua kasus mata. c) Melakukan rujukan ke Laboratorium untuk swab vagina bagi ibu hamil dengan keluhan fluor albus atau untuk swab sekret mat pada bayi baru lahir dengan conjungtivitis d) Melakukan tindakan crede pada bayi baru lahir e) Pemberian capsul vitamin A dosis tinggi pada Balita setiap 6 bulan f) Melakukan skrining mata di masyarakat g) Memberikan pengobatan h) Melakukan pemeriksaan cisus/refraksi dan mata luar i) Melakukan pemeriksaan tekanan intraokular j) Malkukan tes buta warna k) Melakukan tes anel l) Melakukan pemeriksaan funduskopi 242 . khususunya kelompok yang rawan.

Tenaga: Untuk Puskesmas Pembina: a) Dokter umum terlatih 1 orang b) Dokter spesialis mata 1 orang c) Paramedis terlatih 1 orang d) Perkarya 1 orang Untuk di lapangan : Kader. Kelengkapan Administrasi a) Formulir Register Harian b) Formulir Rekapitulasi Bulanan Sesuai SP2TP dan program 6.30-08. Peralatan Kerja: Sesuai standard yang sudah ditetapkan untuk Puskesmas Pembina dan Puskesmas 243 .30-12. Pemuka Masyakarat. dan lain sebagainya 5. Waktu Pelayanan Setiap Hari a) Untuk rawat jalan mulai dari pukul 08.30 Kecuali untuk kasus Gawat Darurat setiap hari 4.m) Melakukan pemeriksaan lapang pandang n) Melakukan pemeriksaan laboratorium pada kasus-kasus tertentu o) Memberikan resep kaca mata p) Melakukan operasi katarak q) Mengobati glaukoma akut r) Melakukan rujukan untuk kasus-kasus yang tidak bisa ditangani s) Memotivasi masyarakat dalam UKM/PK t) Melakukan pencatatan dan pelaporan 3.00 b) Untuk rawat inap mulai pukul 07. Dokter Kecil.

suhu) Mencatat hasil pemeriksaan di status Membantu/asisten dokter sewaktu melakukan pemeriksaan  Dokter Umum Melengkapi anamnesa bilamana perlu Melakukan pemeriksaan umum dan mata khusus Melakukan penyuluhan individu Memberikan pengobatan/rujukan dan atau resep kaca mata b) Puskesmas Pembina  Petugas loket o Mendaftar dan membuat / mencari status o Menerima pembayaran sesuai dengan Peraturan Daerah o Membawa status ke poli mata o Mendaftar dan membuat / mencari status o Menerima pembayaran sesuai dengan Peraturan Daerah o Membawa status ke balai pengobatan o Mengambil status yang telah diperiksa dari Balai pengobatan o Mencatat di buku register 244 .7. Prosedur Tetap: a) Puskesmas  Petugas Loket  Mendaftar dan membuat/mencari status Menerima pembayaran sesuai Peraturan Daerah Membawa Status ke Balai Pengobatan Mengambil status yang telah diperiksa dari Balai Pengobatan Mencatat di Buku Register Perawat Menerima status pasien Melakukan anamnesa Melakukan pemeriksaan keperawatan (tensi. nadi R/R.

dukun bersalin Alat Poster. leaflet. leaflet. suhu) o Mencatat hasil pemeriksaan di status o Membantu atau asisten dokter sewaktu melakukan pemeriksaan o Mempersiapkan pasien operasi katarak o Asisten operasi  Dokter Umum terlatih dan atau dokter spesialis mata o Melengkapi anamnesa bilamana perlu o Melakukan pemeriksaan umum dan mata khusus o Melakukan penyuluhan individu o Memberikan pengobatan/rujukan dan atau resep kacamata  Khusus untuk Dokter spesialis mata o Mekakukan operasi yang diperlukan Sasaran Upaya Kesehatan Mata/Pencegahan Kebutaan diprioritaskan pada masyarakat berpenghasilan rendah khususnya kelompok rawan tanpa mengabaikan kelompok lainnya dengan menggunakan teknologi tepat guna yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan di tingkat Puskesmas. demonstrasi makanan sehat (gizi) Hamil Promotif Preventif Case finding o Kelainan mata luar o Gangguan Penyuluhan individu/kelompok di bidang kesehatan mata Anamnesa keluhan mata Tenaga perawatan. Perawat o Menerima status pasien o Melakukan Anamnesa o Melakukan pemeriksaan keperawatan (tensi. kader. dukun bersalin Poster. dokter. pernafasan. demonstrasi makanan sehat (gizi) Pen light Kapas lidi 245 . dokter. nadi. KIA Sasaran Prakonsepsi Tugas Promotif Preventif Perincian Kegiatan Penyuluhan individu/kelompok di bidang kesehatan mata Tenaga Tenaga perawatan. kader. Keterpaduan Upaya Kesehatan Mata/Pencegahan Kebutaan Dasar dengan Kegiatan Pokok Puskesmas Lainnya Kegiatan Pokok 1.

pengelihatan Rujukan Persalinan Promotif Preventif Case finding Rujukan ke pengobatan Rujuk ke laboratorium. swab vagina (bila ada keluhan fluor albus untuk pencegahan infeksi gonokokus pada bayi yang dilahirkan) Rujuk ke pengobatan bila ada keluhan/kelainan mata Penyuluhan kesehatan mata Steril Piringan biak agar-agar ThayerMartin atau piringan coklat Tenaga perawatan. dukun bersalin Poster. dokter. dukun bersalin Poster. leaflet. demonstrasi makanan sehat (gizi) Pen Light Anamnesa keluhan mata Pemeriksaan mata Bila ada keluhan/kelainan Nifas Promotif Preventif Case finding Penyuluhan kesehatan mata Anamnesa mata keluhan Tenaga perawatan. demonstrasi makanan sehat (gizi) Pen Light Pemeriksaan mata Rujukan Oftalmoskop Rujuk ke lab : swab vagina (bila ada fluor albus) Rujukan ke pengobatan bila ada keluhan/kelainan Bayi Promotif Preventif Anamnesa Case finding o Pemeriksaan mata Kelainan mata Crede pada bayi baru lahir Sanitarian Tenaga perawatan dokter Poster. leaflet. dokter. demonstrasi makanan sehat (gizi) AgNO3 1 % tetes mata atau tetrasiklin salep mata Alat-alat (lihat hamil) lab ibu Rujukan Rujuk ke lab : bila ada secret pada konjungtiva Rujuk ke pengobatan bila ada keluhan/kelainan 246 . leaflet. kader.

vit.S (Wanita Usia Subur) Promotif Preventif Individu Kelompok Case finding o Fluor albus Pemeriksaan mata bila ada keluhan fluor albus Penyuluhan kesehatan mata Tenaga perawatan. perawatan. leaflet. leaflet. leaflet. Gizi Balita Promotif Penyuluhan kesehatan mata Individu Kelompok Tenaga gizi. kader Poster.000 IU Case finding o o o Kelainan refraksi Kelainan mata luar Kelainan bawaan (katarak. demonstrasi makanan sehat (gizi) Kapsul Vit. KB W. A 200. A 200. A dosis tinggi tiap 6 bulan Anamnesa mata keluhan Tenaga perawatan Dokter Kader Preventif Poster.U. demonstrasi makanan sehat (gizi) Preventif Pembagian caps. dll) Pemeriksaan mata Pen Light Rujukan Rujuk ke lab Rujuk ke pengobatan bila ada kelainan 2. leaflet.Balita Promotif Penyuluhan individu/kelompok Pembagian kapsul vit. demonstrasi makanan sehat 247 . alat lab (lihat ibu hamil) Rujukan Rujuk sediaan ke lab Rujuk ke pengobatan 3. A dosis tinggi tiap 6 bulan Penyuluhan kesehatan mata Kapsul Vit.000 IU Ibu hamil/menyusui Promotif Preventif Poster. juling. dokter Poster. dokter.

Diamox Tindakan sederhana :  Insisi hordeolum. peraga alat Case finding Bila ada dirujuk keluhan Kader UKS kecil (Guru dokter 7. kader Poster. Kesehat an lingkung an Kelompok masyarakat dan lingkungannya Perusahaan (pabrik) 5. P2M Kelompok masyarakat Keluarga Case holding Individu o o o Pemeriksaan mata Penyakit luar Buta senja Gangguan pengelihatan mata Pengobatan sederhana (sama dengan prokesa) Promotif Preventif Penyuluhan kesehatan mata Juru imunisasi. tenaga perawatan. corpus alienum ekstraokuler. tarsotomi. petugas malaria desa.Individu kelompok 4. Pengoba tan Individu Pengobatan Pengobatan terhadap :        Konjungtivitis Pterigium dan Pinguekula Defisiensi vitamin A Trakhoma tanpa Trikhiasis Blefaritis Hordeolum Glaukoma Dokter. perawatan. dokter. tenaga perawatan. perawat mata Epilator Loupe Senter Speculum mata Obat-obat mata nonsteroid. dokter (gizi) Poster. leaflet. dokter Promotif Preventif Penyuluhan kesehatan mata Sanitarian. alat-alat pelindung mata (lintas sektoral) Poster. leaflet Senter Rujukan 6. pterigium 248 . PKM Kelompok masyarakat Keluarga Individu Promotif Preventif Nasehat perkawinan (penyakit keturunan) Penyuluhan kesehatan mata Tenaga penyuluh kesehatan. ekstraksi.

Gigi/Mu lut Individu Anak sekolah Kelompok Promotif Preventif Penyuluhan gigi yang berkaitan dengan kesehatan mata Penyuluhan hubungan Dokter perawat kader gigi. gigi. dokter.N Keluarga Instansi Individu Promotif Preventif Case finding Kuratif Rehabilitatif Diagnostik 10 penyakit utama mata Koreksi refraksi sederhana s/d visus 5/10 Pengobatan Rujukan ke pengobatan 9.ekstirpasi  Pertolongan pertama gawat mata Glaukoma akut Trauma kimia. 249 . Alat insisi Corpus alienum spoed Pantocain    Rujukan Formulir rujukan 8.H. tajam Merujuk kasus yang tak dapat diatasi ke RS atau BKMM. P. kader UKS kit Buku Ishihara Penyuluhan kesehatan mata Tenaga perawatan. UKS Anak sekolah Promotif Preventif Anamnesa Pemeriksaan : o o o o Kelainan refraksi Kelainan mata luar Tes buta warna Defisiensi vit. kader Kesehatan Non kesehatan Idem 7 Pengobatan Rujuk ke Puskesmas untuk mendapat pengobatan 10. tumpul. A Penyuluhan kesehatan mata Tenaga perawatan (petugas UKS).

kader 14. saran rujukan Pemeriksaan laboratorium pada specimen yang berkaitan dengan kesehatan mata Penyuluhan Deteksi kelainan mata akibat olah raga Peningkatan fungsi pengelihatan dikaitkan dengan olah raga Petugas lab Alat-alat lab 12. perawat. kader Poster. Lab Individu Case finding 13. perawat. kader Pengobatan/rujukan Pengobatan pada kelainan/kecelakaan akibat olah raga Penyuluhan Dokter. Usila Individu Promotif 250 . 15. leaflet Senter Case finding Deteksi kelainan mata pada penderita kelainan jiwa Pengobatan mata Rujukan Pengobatan Puskesmas. Kesehat an Olah Raga Individu Promotif Preventif Case finding Dokter.masyarakat 11. Kesehat an Kerja Individu Kelompok masyarakat Promotif Preventif Case finding Deteksi dini kelainan mata akibat kerja Peningkatan fungsi pengelihatan dikaitkan dengan kesehatan kerja Pengobatan pada kelainan mata akibat kesehatan kerja Pengobatan/rujukan Rujukan kasus-kasus yang tidak dapat diatasi Penyuluhan Dokter. dokter. Kesehat an Jiwa Individu Keluarga Promotif Preventif kelainan gigi sebagai fokal infeksi mata Penyuluhan kesehatan jiwa yang berkaitan dengan kesehatan mata Tenaga perawatan.

Pengembangan Kesehatan Mata Masyarakat Kegiatan dalam bentuk penampilan berbagai inovasi baru yang ditujukan pada pemecahan masalah sesuai dengan perkembangan kebutuhan dan ketersediaan sumber daya setempat dalam rangka menciptakan derajat kesehatan mata masyarakat yang optimal. dan penilaian UKM/PK Dasar dalam rangka menciptakan kemandirian masyarakat dalam memelihara kesehatan mata mereka.Keluarga Kelompok masyarakat Preventif Kuratif/rujukan Rehabilitatif Pelayanan usila kesehatan perawat. kader Rujukan kasus yang tak dapat diatasi Peningkatan Peran Serta Masyarakat Kegiatannya dalam bentuk penyuluhan kesehatan termasuk pemasaran social. proses. serta melibatkan masyarakat dalam perencanaan. 251 . pelaksanaan. Pencatatan dan Pelaporan Berbagai hal yang berkaitan dengan masukan. dan keluaran upaya kesehatan mata/pencegahan kebutaan dasar direkam secara terpadu dalam SP2TP.

12.30 .BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU No.12.00 Poli Mata Senin – Jumat 08.00 Dokter umum 3 Pemeriksaan oleh Spesialis Semua pasien yang berkunjung ke Poliklinik Mata dan memerlukan pemeriksaan oleh ahli Dokter Spesialis Mata 4 Pemeriksaan Khusus Mata : Pemeriksaan Visus Tonometri Pemeriksaan Khusus Mata : Funduskopi Semua pasien yang berkunjung ke Poliklinik Mata Semua pasien yang berkunjung ke Poliklinik Mata Poli Mata Senin – Jumat 08.00 Dokter Umum Perawat Pelaksana Paramedis 2 Pengobatan Penyakit Mata Semua pasien yang berkunjung ke Poliklinik Mata Poli Mata Senin – Jumat 08.00 Poli Mata Senin dan Kamis 08.30 .30 .12.12. Kegiatan Sasaran Tempat dan Waktu Pelaksana 1 Pemeriksaan penyakit Mata Semua pasien yang berkunjung ke Poliklinik Mata Poli Mata Senin – Jumat 08.12.00 Dokter Umum Dokter Spesialis Mata Dokter Umum 252 .30 .30 .

30 .00 Dokter Umum yang ditunjuk 7 Penjaringan Kasus Katarak Khusus pasien Katarak Poli Mata Senin – Jumat 08.12.00 Dokter Spesialis Mata Dokter Umum Perawat Pelaksana 6 Penyuluhan Kelompok : Retinopati Dabetikum Penderita DM pada Khususnya Aula PKM Ps.30 .00 – 12.Minggu Satu Kali perbulan 08.12.00 Dokter Spesialis Mata Dokter Umum Bekerja sama dengan RSCM 9 Memberikan Resep Kacamata Semua pasien yang telah dilakukan pemeriksaan visus dan memerlukan kacamata Poli Mata Senin – Jumat 08.30 .30 .12.5 Penyuluhan individu Semua pasien yang berkunjung ke Poliklinik Mata Poli Mata Senin – Jumat 08.00 Dokter Spesialis Mata Dokter Umum Perawat Pelaksana 8 Rujukan Katarak Khusus pasien Katarak Poli Mata Senin – Jumat 08.12.00 Dokter Spesialis Mata Dokter Umum 10 Operasi : Semua pasien Poli Mata Dokter Spesialis 253 .

Hordeolum Pterigium Corpus Alienum dengan keluhan yang memerlukan tindakan bedah minor Senin dan Kamis 08.30 . KASUS N 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 0 Penyakit Glaukoma Katarak Kelainan Refraksi Kelainan Kornea Konjungtivitis Trauma Corpus Alienum Pterygium Hordeolum Penyakit Mata Lain Jumlah 3 Kasus 34 kasus 80 kasus 7 kasus 31 kasus 4 kasus 3 kasus 2 kasus 24 kasus 104 kasus B.12.30 .12.00 Perawat Pelaksana PENILAIAN HASIL KERJA DOKTER SPESIALIS MATA BULAN JUNI 2011 PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU A. TINDAKAN N 1 2 Tindakan Pemeriksaan Visus Resep Kacamata Jumlah 77 Kasus 65 Kasus 254 .00 Mata Perawat Pelaksana Terlatih 11 Melakukan pencatatan dan pelaporan Dokumen PKM kecamatan Pasar Minggu Poli Mata Senin – Jumat 08.

3 4 5 6 7 Funduskopi Angkat Corpus Alienum Insisi Hordeolum Avulsi Pterygium Haecting Off 9 Kasus 2 Kasus 2 Kasus 1 Kasus 1 Kasus C. RUJUKAN N 1 2 3 4 Penyakit Glaukoma Katarak Kelainan Refraksi Penyakit Mata Lain Jumlah 3 Kasus 9 Kasus 5 Kasus 5 Kasus 255 .

PENCATATAN KASUS PERIODE JANUARI – JUNI 2011 PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU (FOTOKOPI) 256 .

Kegiatannya mencakup melakukan penyuluhan kesehatan mata.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. khususunya kelompok yang rawan. pemberian capsul vitamin A dosis tinggi pada Balita setiap 6 bulan. Meningkatkan sarana dan prasarana pemeriksaan kesehatan mata di Puskesmas. pemeriksaan mata khusus. pemeriksaan funduskopi. tes buta warna. Diharapkan dengan dilaksanakan pelbagai kegiatan ini masalah Kesehatan Indera Penglihatan di Indonesia tidak lagi menjadi masalah Kesehatan Masyarakat. 257 . skrining mata di masyarakat. Menambah frekuensi penyuluhan tentang kesehatan mata dalam setiap bagian di Puskesmas. pemeriksaan refraksi dan mata luar. 2. baik yang dirawat jalan ataupun rawat inap. pencegahan dan pengobatan mata terhadap semua golongan umur dengan prioritas pada masyarakat berpenghasilan rendah. mengobati glaukoma akut. SARAN 1. 3. tindakan crede pada bayi baru lahir. Kegiatan ini bertujuan melayani pemeriksaan kesehatan mata dasar dan semi spesialis / spesialis (khusus untuk Puskesmas Pembina) untuk semua kasus mata. memotivasi masyarakat dalam UKM/PK serta melakukan pencatatan dan pelaporan. melakukan operasi katarak. KESIMPULAN Upaya Kesehatan Mata/ Pencegahan Kebutaan di Puskesmas merupakan unit terdepan yang meliputi usaha-usaha peningkatan. rujukan ke Laboratorium untuk swab vagina bagi ibu hamil dengan keluhan fluor albus atau untuk swab sekret mat pada bayi baru lahir dengan conjungtivitis. pemeriksaan lapang pandang. pemeriksaan laboratorium pada kasus-kasus tertentu. B. memberikan resep kaca mata . tes anel. pengobatan. Mengadakan program anjuran pemeriksaan mata pada hari tertentu yang ditujukan pada pasien yang datang ke puskemas baik yang mempunyai gejala penyakit mata maupun tidak. pemeriksaan tekanan intraokular.

Meningkatkan peran serta setiap keluarga dalam ikut membantu memelihara kesehatan mata seluruh anggota keluarga. 258 .4.

id/profile.unpad.or.id/wpcontent/uploads/2009/09/penanggulangan_kebutaan_katarak_terpadu.com/sss155-slide-pelayanan-kesehatan- mata-melalui-puskesmas-pdf-d68637011 2.ditplb. 3.pdf 5. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar Nasional 2007. http://pustaka. Dr. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI.DAFTAR PUSTAKA 1. 4. Prof. Pelayanan Kesehatan Mata Melalui Puskesmas. MPH. Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Azrul Azwar. Standarisasi Pelayanan Kesehatan Puskesmas di DKI Jakarta. Departemen Ilmu Kesehatan Mata FK USU. Kebijakan Pelayanan Kesehatan mata.php?id=74 259 . Available: http://ebookbrowse.ac. Available at : http://www.

Aziz (03005131) (03006294) 260 .PROGRAM KEGIATAN USIA LANJUT Penyusun: Muh Nurul Muttaqin Adilah Bt.

mandiri dan berguna melalui peningkatan fungsi puskesmas. Sebagai salah satu hasil pembangunan adalah meningkatnya umur harapan hidup waktu lahir. usia lanjut merupakan figur tersendiri dalam kaitannya dengan sosial budaya bangsa. usia lanjut merupakan sumber daya yang bernilai sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman kehidupan yang dimilikinya yang dapat dimanfaatkan bagi masyarakat keseluruhan. Dalam kehidupan nasional. 261 . Berdasarkan Undang-Undang No.BAB I PENDAHULUAN Dalam kehidupan keluarga. Sejalan dengan hal tersebut maka jumlah usia lanjutpun meningkat. Mereka termasuk dalam golongan yang patut dihargai dan dihormati sesuai dengan eksistensinya dalam strata kemasyarakatan. Demikian pula dalam SKN bahwa tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum dari tujuan nasional.9 tahun 1960 tentang pokok-pokok kesehatan bahwa setiap keluarga berhak memperoleh derajat kesehatan setinggitinginya. Maka dalam upaya pemerataan pelayanan kesehatan bagi seluruh penduduk Indonesia dilakukan pembinaan kesehatan bagi usia lanjut yang bertujuan meningkatkan derajat kesehatan usia lanjut agar selama mungkin dapat aktif.

Upaya promotif yaitu upaya menggairahkan semangat hidup bagi usia lanjut agar mereka tetap dihargai dan tetap berguna bagi dirinya senndiri. Yang dilaksanakan melalui beberapa upaya KEGIATAN KESEHATAN USIA LANJUT A. Peningkatan Peran Serta Masyarakat Dilaksanakn dalam bentuk penyuluhan kesehatan melibatkan masyarakat dalam perencanaan. Upaya kuratif yaitu upaya pengobatan bagi usia lanjut 4. pelaksanaan dan penilaian upaya kesehatan usia lanjut. Pengembangan Upaya Kesehatan Usia Lanjut Pengembangan upaya kesehatan usia lanjut di puskesmas adalah suatu upaya dalam menggunakan data yang diperoleh dari survey. keluarga maupun masyarakat. dalam rangka menciptakan kemandirian masyarakat C.BAB II PENGERTIAN Program Kegiatan Usia Lanjut di Puskesmas adalah merupakan upaya kesehatan paripurna di bidang kesehatan usia lanjut. SP2TP. studi. Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut : 1. 3. Upaya Preventif yaitu upaya pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya penyakit maupun komplikasi penyakit yang disebabkan oleh proses penuaan. 262 . Upaya Rehabilitatif yaitu upaya mengembalikan fungsi organ yang telah menurun B. 2. untuk mengembangkan peran serta masyarakat dan pelayanan di bidang upaya kesehatan usia lanjut yang dilaksanakan melalui forum mini lokakarya yang nantinya melalui stratifikasi Puskesmas dan microplanning bila telah dilaksanakn secara nasional dalam rangka mencapai derajat kesehatan usia lanjut secara optimal.

dan angka kesakitan pada usia di atas 60 tahun sebesar 9.D.2%. Peningkatan Umur harapan hidup dari tahun ketahun semakin meningkat berdasarkan hasil survei Kesehatan Rumah Tangga ( SKRT ) thn 1995 angka kesakitan pada usia 45-49 tahun sebesar 11. 263 . Pencatatan dan pelaporan Diintegrasikan kedalam sistem pencatatan dan pelaporan terpadu Puskesmas. Pengertian Usia Lanjut adalah suatu proses alami yang tidak dapat di hindarkan.6%.

TUJUAN KHUSUS : a. Meningkatnya kesadaran pada usia lanjut untuk membina sendiri kesehatannya b. Meningkatnya jangkauan pelayanan kesehatan usia lanjut d. Meningkatnya kemampuan dan peran serta masyarakat dalam menghayati dan mengatasi masalah kesehatan usia lanjut secara optimal c.BAB III TUJUAN A. Meningkatnya jenis dan mutu pelayanan kesehatan usia lanjut 264 . TUJUAN UMUM : Meningkatnya derajat kesehatan usia lanjut untuk mencapai masa tua yang bahagia dan berdaya guna dalam kehidupan keluarga dan masyarakat sesuai dengan eksistensinya dalam strata kemasyarakatan dalam mencapai mutu kehidupan usia lanjut yang optimal. B.

Upaya promotif yaitu upaya menggairahkan semangat hidup bagi usia lanjut agar mereka tetap dihargai dan tetap berguna bagi dirinya senndiri. Membina ketrampilan agar dapat mengembangkan kegemaran sesuai dengan kemampuan f. Upaya Preventif yaitu upaya pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya penyakit maupun komplikasi penyakit yang disebabkan oleh proses penuaan. Pemeriksaan kesehatan secara berkala dan teratur untuk menemukan secara dini penyakit-penyakit usia lanjut b. e. Penyuluhan tentang penggunaan berbagai alat bantu misalnya: kacamata. Kesegaran jasmani yang dilakukan secara teratur dan disesuaikan dengan kemampuan usia lanjut agar teaep merasa sehat dan segar c. keluarga maupun masyarakat. Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut : 1. Penyuluhan untuk mencegah terhadap kemungkinan terhadap terjadinya kecelakaan pada usia lanjut 265 . Kesehatan dan pemeliharaan kebersihan diri b. Upaya promotif dapat berupa kegiatan penyuluhan tentang : a. KEGIATAN KESEHATAN USIA LANJUT A. Kesegaran jasmani yang dilakukan secara teratur dan disesuaikan dengan kemampuan usia lanjut agar tetap merasa sehat dan segar d.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN I. Upaya preventif dapat berupa kegiatan antara lain: a. Makanan dengan menu yang mengandung gizi seimbang c. Pembinaan mental dalam peningkatan ketaqwaan kepada tuhan Yang Maha Esa. Meningkatkan kegiatan sosial di masyarakat 2. alat bantu dengar dan lain-lain agar usia lanjut tetap memberikan karya dan tetap merasa berguna d.

Peningkatan Peran Serta Masyarakat Dilaksanakn dalam bentuk penyuluhan kesehatan melibatkan masyarakat dalam perencanaan. Pengembangan Upaya Kesehatan Usia Lanjut Pengembangan upaya kesehatan usia lanjut di puskesmas adalah suatu upaya dalam menggunakan data yang diperoleh dari survey. Upaya kuratif yaitu upaya pengobatan bagi usia lanjut Upaya kuratif dapat berupa kegiatan sebagai berikut: a. pelayanan dan pengetahuan tentang penggunaan berbagai alat bantu misalnya: kacamata. Mengembalikan kepercayaan terhadap diri sendiri dan memperkuat mental penderita c. pelaksanaan dan penilaian upaya kesehatan usia lanjut. SP2TP. Memberikan informasi. Pelayanan kesehatan dasar b. dalam rangka menciptakan kemandirian masyarakat C. Pembinaan usia lanjut dalam hal pemenuhan kebutuhan pribadi. Nasihat cara hidup yang sesuai dengan penyakit yang diderita e. alat bantu dengar dan lain-lain agar usia lanjut tetap dapat memberikan karya dan tetap merasa berguna sesuai kebutuhan dan kemampuan b. Upaya Rehabilitatif yaitu upaya mengembalikan fingsi organ yang telah menurun Upaya rehabilitatif dapat berupa kegiatan antara lain: a. aktifitas didalam maupun diluar rumah d. Perawatan fisioterapi B. untuk mengembangkan peran serta masyarakat dan pelayanan di bidang upaya kesehatan usia lanjut yang dilaksanakan melalui forum mini lokakarya yang 266 . studi.e. Pembinaan mental dalam meningkatkan ketaqwaan kepada tuhan Yang Maha Esa 3. Pelayanan kesehatan spesialistik melalui sistem rujukan 4.

hidup sendiri. cacat dan lain-lain. SASARAN 1. Sasaran tidak langsung : a. organisasi masyarakat usia lanjut dan masyarakat pada umumnya. dengan paket pembinaan yang meliputi KIE dan pelayanan kesehatan agar dapat selama mungkin mempertahankan kemandiriannya 2. Organisasi sosial yang berkaitan dengan pembinaan usia lanjut 267 . Kelompok usia lanjut dalam masa prasenum (55-64 tahun) dalam keluarga. didalam keluarga maupun masyarakat luas dengan paket pembinaan yang meliputi KIE dan pelayanan kesehatn fisik. gizi agar dapat mempersiapkan diri dalam menghadapi masa tua b. dengan paket pembinaan yang meliputi KIE dan pelayanan agar dapat mempertahankan kondisi kesehatannya dan tetap produktif c. menderita penyakit berat. II. Kelompok usia lanjut dalam masa senescens (> 65 tahun) dan usia lanjut dengan resiko tinggi (>70 tahun).nantinya melalui stratifikasi Puskesmas dan micro-planning bila telah dilaksanakn secara nasional dalam rangka mencapai derajat kesehatan usia lanjut secara optimal. Pencatatan dan pelaporan Diintegrasikan kedalam sistem pencatatan dan pelaporan terpadu Puskesmas. D. Sasaran langung : a. terpencil. Keluarga dimana usia lanjut berada b. Kelompok usia menjelang usia lanjut (45-54 tahun) atau dalam masa virilitas.

Kelompok Usia 45-59 tahun 2. Kelompok Usia 70 tahun atau dengan resiko tinggi dengan masalah Kesehatan.BAB V PELAKSANAAN DI PUSKESMAS A.1. kelompok Usia lanjut 60-69 tahun 3.DATA LANJUT USIA PER KELURAHAN KECAMATAN MAMPANG PRAPATAN TAHUN 2010 268 . PUSKESMAS KECAMATAN MAMPANG PRAPATAN Sasaran Pembinaan kesehatan pada kelompok Usia Lanjut di puskesmas kecamatan mampang: 1. TABEL.

TABEL 2.KEGIATAN LANSIA PUSKESMAS KECAMATAN MAMPANG PRAPATAN TAHUN 2010 269 .

RENCANA KEGIATAN LANJUT USIA 270 .TABEL 3.

DIAGRAM.Terbatasnya petugas Lansia di Puskesmas Kecamatan dan Kelurahan 2. Keterbatasan petugas dalam pembinaan terhadap lansia di wilayah binaan 4.10 PENYAKIT TERTINGGI PADA LANSIA DI PUSKESMAS KECAMATAN MAMPANG MASALAH DAN HAMBATAN YANG DIHADAPI DI PUSKESMAS KECAMATAN MAMPANG: 1. Tugas ganda dari petugas 3. Jumlah lansia yang dibina lebih rendah dengan jumlah lansia yang ada di wilayah 271 .

GAMBARAN        Jumlah Lanjut Usia Di Jakarta Selatan 315.KEGIATAN PROGRAM LANSIA DPA Sudin Kesmas Jak Selatan th 2008 :      Pertemuan Berkala Petugas Lansia Kecamatan Pemberdayaan lanjut Usia Pertemuan FKLU Peningkatan wawasan Petugas Evaluasi Program dan supervisi 272 .B.2.38%) Jumlah kelompok 154 klp Dibina 154 klp (100%) Jumlah Puskesmas 78 PKm (10 Kec + 68 Kel) Yg membina lansia 78 PKM (100%) I.855 (4.KEGIATAN PROGRAM LANSIA JAKARTA SELATAN     Perencanaan Pelaksanaan Penilaian/ Evaluasi Pembinaan I.1.PUSKESMAS LAIN I.951 jiwa Jumlah yang dibina 13.

PERKEMBANGAN KELOMPOK LANJUT USIA TABEL 5.TABEL 4.JADWAL KEGIATAN LANJUT USIA 273 .

298 org : 4.DI OBATI DAN DIRUJUK        Juml Lansia dg Kelainan : 9.026 org : 59 org : 3.11%)   Gangguan mental Emosional : 659 org (4.562 org : 1.10%) B : 431 org (3.76%) Status Gizi (IMT) kurang IMT lebih     : 640 org (4.926 org 274 .539 org : 1.06%) II.LANSIA DENGAN KELAINAN.51%) Hypertensi : 694 org (5.987 org Lansia diobati (kum) Lansia dirujuk Kasus konseling baru Kasus konseling lama Penyuluhan Lansia punya KMS : 13.LANSIA DENGAN KELAINAN :  Kemandirian A : 15 org (0.29%) Gangguan Ginjal : 8 org (0.62%%) : 1733 org (12.HASIL KEGIATAN II.2.1.48%) : 179 org (1.II.01%) Anaemi DM : 343 org (2.

899 Kulit 11.958 Rematik 14.131 Gastritis 10.687 Gimul 14.TABEL 6.718 Mata 3.007 penyakit GRAFIK 1.256 Rematik 16.475 DM 5.136 Jantung 1.383 Jantung 1.067 Anemi 944 Lain-lain 22.762 Kulit 6400 Dm 5.123 Mata 2. LANSIA YANG DIRUJUK DAN DIOBATI 275 .154 Penyakit Usia >60 tahun 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Hipertensi 19.501 Gimul 6917 Gastritis 6. PENYAKIT TERBANYAK LANSIA Usia 45-59 tahun 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Sal nafas atas 33.402 Hipertensi 21.962 Sal nafas atas 17.711 Anemi 916 Lain –lain 15.

JUMLAH LANJUT USIA GRAFIK 3.STATUS GIZI LANJUT USIA 276 .GRAFIK 2.

LANSIA YANG ADA DAN DILAYANI KESEHATAN 277 .GRAFIK 4.KEMANDIRIAN LANJUT USIA GRAFIK 5.

Tera & pernafasan. Jantung sehat. SKJ. KesJas Lansia. SKJ. Aerobik. SKJ. Ayo Bersatu. Jantung sehat. Mahatma Mp Prapatan : Tera & pernafasan.Tera . Kreasi       Kebayoran Baru : Jantung sehat. Osteoporosis Setiabudi : Tera & pernafasan. Senam Otak. Kreasi Pasar Mgg : SSI. SKJ. Senam DM. SKJ.Yoga. Kreasi. SKJ. Pesanggrahan : PORPRI.SN. DM. Snm Osteoporosis. Kreasi Cilandak : Tera & pernafasan. Tera & Pernafasan Kebayoran Lama : Tera & pernafasan. Snm DM. Kreasi 278 . Snm Jantung. Kreasi Pancoran :Osteoporosis.Jantung sehat.GRAFIK 6. SKJ. Osteoporosis. SKJ. Kreasi Jagakarsa : SSI. BL. Tera & pernafasan.LANSIA YANG DIRUJUK DAN DIOBATI JENIS OLAH RAGA LANSIA JAKARTA SELATAN:     Tebet : Tera & pernafasan. Aerobik. SKJ.

90%  50% Kelomp Lansia melaksanakan senam .36%) Keberhasilan Program berdasar indikator (Depkes).78%) Total 2843/8785 (32. pencapaian 100% 30% Puskesmas melaksanakan konseling.62%) Kby Lama 220/503 (43.32%) Psr Mgg 570/1882 (30.92%) Pesanggr 205/645 (31.27%) Setiabudi 185/417 (44.74%) Cilandak 176/511 (34. pencapaian 22.75) Jagakarsa 441/803 (54.36%) Mp Prapatan 240/554 (43.FREKUENSI SENAM DAN ANGGOTA YANG SENAM FREKUENSI SENAM           PRESENTASE ANGGOTA YANG SENAM Tebet 1x / mgg Setiabudi 2-4x/ mgg Mp Prapatan 2-3x/ mgg Psr Mgg 1/2x/ mgg Keby Baru 1-5x/ mgg Kby Lama 2x/ mgg Cilandak 1-2x/ mgg Pancoran 1-3x/ mgg Jagakarsa 1-2x/ mgg Pesanggrahan 2-4x/ mg            Tebet 280/2484 (11. pencapaian 48.70% 279 . pencapaian 50%  100% lansia dipanti diskrining. Pelayanan Medis  30% lansia diskrining.29%) Keby Baru 295/458 (64.TABEL. pencapaian 100%  50% Desa mempunyai Kelompok Lansia.44%) Pancoran 231/528 (43. pencapaian 90% (9 dari 10 Puskesmas Kecamatan melaksanakan konseling Kegiatan Non Medis  70% Puskesmas membina kelompok lansia.

280 . pencapaian 27% Kegiatan Sudin Kesehatan (DASK)  1 dari 6 kegiatan tidak dapat dilaksanakan.Sasaran mutu Lansia  Target 20% penambahan jumlah lansia dibina.

75% (target 20%). Kegiatan Sudin Kesehatan (DASK) terealisasi 5 kegiatan dari 6 yg ditargetkan.4%) Sasaran mutu lansia  Sasaran mutu tercapai yaitu 27. 281 .75%)  Skrining kesehatan lansia dipanti ―baik‖ (100%)  Puskesmas yg melaksanakan konseling status ―baik‖ (90%). Meningkatkan Kreatifitas kegiatan lansia sesuai dengan tingkat kemandiriannya. Kegiatan non Medis  Puskesmas membina kelompok lansia. Pembentukan kelompok lansia di tiap RW. Pembinaan terhadap kelompok lansia ditingkatkan. status ―baik‖ (100%)  Desa yang mempunyai kelompok lansia. status ―baik‖ (97.8%)  Kelompok lansia yg senam. status ―kurang‖ (45.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Keberhasilan berdasar Indikator : Pelayanan Medis  Skrining pada lansia status ―kurang‖ (16. SARAN • • • • Ada kaderisasi lansia.

Aspek Sosial Psikologi Usia Lanjut Di Indonesia. Majalah Kesehatan Masyarakat. Pedoman kerja puskesmas Jilid IV. Johana E. Buletin Penelitian kesehatan 21 (4) Hal 73 -83. 2.BAB VII DAFTAR PUSTAKA 1. Upaya kesehatan usia lanjut. laporan tahunan 2010. Pendekatan Komprehensif Terhadap Perawatan Kesehatan Pada Usia Lanjut Menjelang Tahun 2000. Undang-Undang RI No 23 Tahun 1992. Tentang Kesehatan. 282 . Jakarta : Depkes RI. 1998. Prawitasari. Jakarta: depkes RI. 4. Pasal19 ayat 1 6. Zuhdi Makmun. 2010. Usia Lanjut Bagi Petugas Kesehatan. 3. 1990 5. Jakatra : puskesmas mampang prapatan. Nomor 59 Tahun 1998.

UPAYA PEMBINAAN PENGOBATAN TRADISIONAL Penyusun : Michael Gunawan (03006116) Raihana Shahar (03006342) 283 .

284 . Disamping itu upaya pengobatan tradisional sangat bermanfaat dalam upaya meningkatkan kesehatan maupun upaya pencegahan dan pemulihan kesehatan. Di samping itu. berperan juga sebagai motivator dan komunikator pembangunan kesehatan. keberadaan pengobatan tradisional mempunyai potensi besar dalam rangka ikut meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. penyebarluasan pengetahuan tentang cara–cara mengatasi gangguan kesehatan. Di tingkat rumah tangga dan tingkat pelayanan kesehatan dasar. pembinaan pengobatan tradisional dilaksanakan melalui pendekatan PKMD (Primary Health Care) dengan salah satu strategi penting adalah teknologi tepat guna metode pengobatan tradisional. para pengobat tradisional yang berada di wilayah kerja puskesmas perlu dibina melalui KIE kultural dengan fasilitator petugas puskesmas agar dapat terhindar dari hal – hal yang tidak diinginkan.BAB I PENDAHULUAN Sesuai dengan kebijaksanaan yang ditetapkan. dilaksanakan melalui jaringan pelayanan kesehatan paripurna mulai dari tingkat rumah tangga. Pemerintah juga telah memasukkan obat tradisional ke dalam sistem pelayanan formal. Salah satu upaya di atas adalah pengembangan pengobatan tradisional melalui pemanfaatan tanaman obat dan pijat akupresur yang merupakan alternative pengobatan dalam mengatasi masalah kesehatan terutama sebagai upaya pertolongan pertama. pembinaan pengobatan tradisional yang mencakup cara atau metode. Selain cara pengobatan tradisional tersebut. tingkat pelayanan kesehatan dasar (puskesmas) sampai dengan tingkat rumah sakit sebagai dukungan rujukan. Di Indonesia pada saat ini upaya pengobatan tradisional dengan obat tradisionalnya berperan pada tingkat rumah tangga dan tingkat masyarakat. Disamping itu. Dalam rangka meningkatkan kemandirian masyarakat untuk mengatasi masalah kesehatan. obat dan pengobatannya. dengan pemanfaatan tanaman obat dan akupresur perlu diberikan kepada masyarakat.

sehingga dengan pemberian rangsangan pada titik–titik tersebut akan mengubah kondisi fisiologis tubuh. tenaga dalam. mencegah penyakit tertentu. 285 . dan keterampilan turuntemurun baik itu yang asli maupun yang berasal dari luar Indonesia dan diterapkan sesuai norma yang berlaku dalam masyarakat (UU Kesehatan No. Sinkronisasi antara pemijatan di titik tertentu dengan kondisi fisiologis tubuh dapat dijelaskan secara ilmiah dan medis. dan paranormal. tabib. bahan mineral. batra ramuan. Akupresur adalah tindakan pemijatan yang dilakukan pada titik tertentu di permukaan tubuh dengan tujuan meningkatkan daya tahan tubuh. mengatasi keluhan. patah tulang. pengalaman. yang mengacu pada pengetahuan.23/1992). dan penyakit ringan. jamu gendong. pijat refleksi. obat. sinshe.23/1992). pijat urut. batra sunat. pendekatan agama. Sesuai hasil inventarisasi jenis tenaga pengobatan tradisional meliputi akupunturis. Pengobatan tradisional (batra) adalah seseorang yang diakui dan dimanfaatkan sebagai orang yang mampu melakukan pengobatan secara tradisional. akupresuris. Titik–titik yang diberi perlakuan dalam sistem pengobatan akupresur telah terbukti secara medis berpengaruh terhadap keadaan tubuh.BAB II PENGERTIAN Pengobatan tradisional adalah upaya pengobatan dan atau perawatan cara lain diluar ilmu kedokteran atau ilmu keperawatan yang mencakup cara atau metode. pangur gigi. sediaan (galenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun – temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman (UU Kesehatan No. dan pengobatannya. Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan (termasuk tanaman yang ada di sekitar tempat tinggal). serta memulihkan kondisi tubuh. bahan hewan.

dan kegiatan pengobatan tradisional. serta akupresur di wilayah tempat kerja.BAB III TUJUAN III. Terbina tenaga potensial dalam masyarakat dalam mengembangkan pengobatan tradisional dan akupresur. 286 . 3.2 Tujuan Khusus: 1. Terbina sarana – sarana pengobatan tradisional dan akupresur di wilayah tempat kerja. Terbina semua tenaga pengobatan tradisional yang ada di wilayah kerja.1 Tujuan Umum: Dilakukannya pembinaan terhadap semua sarana. III. tenaga. 2.

2.1 Kegiatan a. Pendataan sarana – sarana pengobatan tradisional dan akupresur. Pembinaan batra melalu sarasehan (KIE Kultural). 2. Ibu Rumah Tangga. Pelatihan obat tradisional terutama yang berasal dari tanaman obat termasuk TOGA dan akupresur pada kader PKK atau Kesehatan.2 Sasaran a. pemuka masyarakat atau tokoh masyarakat. KIE Kultural adalah suatu forum komunikasi. b. 287 . Pembinaan dan pengawasan kegiatan kader paska pelatihan. Pembinaan semua tenaga pengobatan tradisional yang ada di wilayah kerja.  Masyarakat umum.  Kader PKK atau Kesehatan. c. 1.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN IV. Pembinaan tenaga potensial masyarakat dalam mengembangkan pengobatan tradisional dan akupresur. Sasaran tidak langsung. Inventarisasi atau pendataan jenis pengobatan tradisional. 2. Pengobat Tradisional. 1. informasi dan edukasi yang disesuaikan dengan adat istiadat / budaya setempat dan bersifat kekeluargaan. IV. b. Pembinaan sarana – sarana pengobatan tradisional dan akupresur. Pengawasan sarana pengobatan tradisional dan akupresur. 1. Sasaran langsung.

untuk penyuluhan kasus-kasus rujukan. Pembinaan tenaga potensial masyarakat.Perawat .Kunjungan .Membantu masalah kader 288 ke tempat . latihan meracik obat tradisional atau akupresur. pelaksanaan dan aturan rujukan kasus yang harus dirujuk oleh kader 3.Pelaksanaan pelatihan: Pelaksana . pemilihan kasuskasus ditangani tradisional akupresur 2.BAB V PENATALAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN MAMPANG A.Dokter . Pengawasan Kader paska pelatihan .Persiapan pelatihan . Pelatihan Kader Bentuk kegiatan .Perawat .Perawat yang dengan atau dapat obat pijat penyelenggaraan kepada penyuluhan masyarakat oleh kader.Melakukan untuk koordinasi . Kegiatan 1. demonstrasi obat tradisional atau akupresur.Bidan penyuluhan.Dokter .Bidan penyuluhan kader memecahkan yang ditemui . Pembinaan Kader setelah pelatihan .

.Perawat .Melakukan perbaikan saran usulan sesuai .Bidan Petugas pengobatan tradisional dan akupresur yang ada di wilayah kerja . 289 .Melakukan kunjungan ke .Perawat .Mengawasi system rujukan dari kader ke puskesmas atau fasilitas pelayanan untuk tertentu kesehatan kasus–kasus B.Mendata kegiatan yang dilakukan kader .Bidan dengan syarat kesehatan .Perawat sarana–sarana pengobatan . misalnya memonitor tradisional dan akupresur kegiatan yang dilakukan tenaga terampil yang ada. Pengawasan sarana .Bidan tradisional atau akupresur.Mengawasi keracunan dan kejadian luar biasa yang mungkin terjadi .Dokter . Pembinaan sarana – sarana pengobatan tradisional dan akupresur Kegiatan 1. Pendataan sarana–sarana pengobatan dan akupresur 2. Pembinaan sarana–sarana pengobatan dan akupresur tradisional tradisional Bentuk kegiatan Mendata sarana–sarana .Melakukan koordinasi untuk pengawasan penyakit menular atau kejadian luar biasa sarana– pengobatan dan peristiwa keracunan 3.

Pelaksanaan (KIE Kultural) sarasehan .Petugas kesehatan tradisional yang ada di .Melakukan atau alih penyuluhan informasi.Kader wilayah tempat kerjanya.Perawat .Bidan pengetahuan keterampilan pendekatan (budaya setempat) sesuai dengan modul .Mengatasi lingkungan di sanitasi sarana– sarana tersebut C.Mendata jenis pengobat .keadaan lingkungan sanitasi . Pendekataan dan seleksi batra . Pembinaan seluruh jenis pengobatan tradisional Kegiatan 1. Data yang diambil adalah jumlah dan jenis data pengobatan tradisional 2. dan dengan kultural .Melakukan .Hasil inventarisasi dipilih 10 – 15 batra untuk ikut KIE Kultural .Petugas kesehatan 3. Inventarisasi pendataan atau jenis Bentuk kegiatan Pelaksana .Membuat catatan kegiatan yang dilakukan oleh sarana– sarana di atas .Semua dalam pemecahan masalah yang dihadapi yang proses terlibat berada dalam kedudukan yang sama baik hak dan 290 .

1. Jenis pengobatan tradisional yang ada di wilayah kerja puskesmas.kewajiban D. Pembinaan tenaga potensial masyarakat dalam mengembangkan pengobatan tradisional dan akupresur. Jumlah keluarga yang memiliki tanaman obat tradisional. Pengawasan sarana–sarana pengobatan tradisional / akupresur Jumlah kunjungan ke sarana–sarana pengobatan tradisional per tahun per sarana. Jumlah keluarga yang menggunakan obat tradisional dan akupresur. 2. 291 . 3. Penanganan kasus– kasus dengan obat tradisional oleh kader. Tenaga potensial dalam masyarakat. Cakupan penyuluhan yang dapat dilakukan oleh kader. Pembinaan sarana–sarana pengobatan tradisional / akupresur Jumlah sarana pengobatan tradisional yang diusulkan untuk diperbaiki sesuai dengan syarat kesehatan. Jumlah ibu– ibu rumah tangga/masyarakat yang dibina oleh kader. c. d. Jumlah kader PKK atau Kesehatan yang aktif melakukan penyuluhan obat tradisional dan akupresur. Jumlah kader PKK atauKesehatan yang sudah mengikuti pelatihan. Evaluasi program a. Jumlah kasus yang dapat diatasi dengan obat tradisional dan pijat akupresur. b. Jumlah kasus–kasus yang harus dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan. Jumlah pemberi pelayanan pengobatan tradisional dan akupresur. Pendataan sarana–sarana Jumlah sarana–sarana pengobatan tradisional yang ada di wilayah kerja puskesmas.

E. Jumlah pengobat tradisional yang telah ikut sarasehan. Jumlah pengobat tradisional yang memberikan pengobatan sesuai syarat kesehatan.- Jumlah kejadian luar biasa yang terjadi selama 1 tahun di sarana pengobatan tradicional. Jumlah sarana pengobatan tradisional yang sudah diperbaiki sesuai usulan puskesmas. Jumlah peristiwa keracunan yang terjadi selama 1 tahun di sarana pengobatan tradicional. 292 . KIE Kultural. Jumlah pengobat tradisional yang aktif sebagai motivator dan komunikator kesehatan.

tenaga pengobatan tradisional tersebut terdiri atas akupunturis. pangur gigi. Mendata semua sarana–sarana pengobatan tradisional yang ada dan melakukan kunjungan ke sarana–sarana pengobatan tradisional serta mencatat kegiatan apa saja yang mereka lakukan di sarana – sarana pengobatan tradisional tersebut. batra ramuan. tenaga dalam. Mendata siapa saja tenaga pengobat tradisional yang ada pada suatu wilayah dan mengelompokkan mereka berdasarkan keahlian mereka.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN VI. 2. 3. batra sunat.2 Saran 1. dan paranormal.1 Kesimpulan Pengobatan tradisional merupakan salah satu tingkat pelayanan kesehatan dasar di puskesmas dimana memiliki potensi yang besar dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. tabib. dengan adanya pengobatan tradisional ini menjadi solusi dalam pencegahan dan pemulihan kesehatan. VI. Dari data tersebut. Berdasarkan data yang didapat. Diharapkan orang–orang yang memiliki potensi dalam mengembangkan pengobatan tradisional seperti akupuntur dan akupresur diberdayakan sebagai tenaga kesehatan di masyarakat. Selain itu. 293 . sinshe. akupresuris. patah tulang. akupunturis dan akupresuris lebih sering dimanfaatkan di puskesmas sebagai pengobatan di luar pengobatan secara medis. pendekatan agama. jamu gendong. piat refleksi. Pengembangan pengobatan tradisional dilakukan dengan cara pemanfaatan tanaman obat dan pijat akupresur sebagai upaya pertolongan pertama di masyarakat. pijat urut. yaitu dengan cara mencari tenaga pelatih untuk mengembangkan dan membina potensi yang ada pada orang–orang tersebut dan tetap memantau mereka setelah mereka mendapatkan pelatihan tersebut.

Jakarta.org/dkksurabaya/berita/pengobatan-tradisionalakupuntur. 5. 294 . http://www. 1999: hal 349 – 354. 3. Jakarta. 1996. 4. 2. http://www. Departemen Kesehatan RI. Edisi ke-3.DAFTAR PUSTAKA 1. Jakarta. diakses tanggal 18 Juli 2011.com/content. Direktorat Bina Peran Serta Masyarakat Dirjen Pembinaan Kesehatan Masyarakat: Pemanfaatan Tanaman Obat Untuk Kesehatan Keluarga. Direktorat Bina Peran Serta Masyarakat Dirjen Pembinaan Kesehatan Masyarakat : Buku Pedoman Praktis Akupresur. 1996.informasi-obat. Departemen Kesehatan RI. Departemen Kesehatan RI: Pedoman Kerja Puskesmas. diakses tanggal 18 juli 2011.surabaya-ehealth. Upaya Pembinaan Pengobatan Tradisonal. Jilid ke-2.

UPAYA KESEHATAN PENUNJANG LABORATORIUM Penyusun : Ktut Yoga Wira K (03004126) Norfashiha Kamarudin (03006329) 295 .

tidak tersedia di Puskesmas Kecamatan Mampang karena gedung puskesmasnya sedang direnovasi. Laboratorium merupakan salah satu fasilitas medik yang disediakan sebagai penunjang diagnosis penyakit. Dengan pemberian pelayanan kesehatan penunjang secara cepat dan tepat diharapkan sebagian besar masalah kesehatan masyarakat dapat diatasi. Di Puskesmas Mampang. urin rutin. antara lain HIV/AIDS. Upaya pelayanan kesehatan terbagi kepada tiga bagan penting yaitu upaya kesehatan wajib. telah dilakukan berbagai upaya pelayanan kesehatan masyarakat. Upaya kesehatan penunjang merupakan upaya yang sangat penting dalam rangka memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat untuk menunjang upaya kesehatan wajib dan pengembangan. fasilitas pemeriksaan penunjang yang tersedia adalah pemeriksaan laboratorium darah rutin. Laboratorium juga mempunyai fungsi sebagai tempat untuk berbagai penelitian yang berhubungan dengan pembiakan media-media kuman penyakit. 296 . karena itu lingkungan laboratorium menjadi salah satu tempat yang baik untuk berkembangnya berbagai penyakit infeksi. Berbagai pelayanan kesehatan penunjang diagnostik yang dilaksanakan oleh fasilitas pelayanan kesehatan seperti laboratorium klinik dan laboratorium kesehatan juga pencitraan.BAB I PENDAHULUAN Dalam rangka mencapai tujuan pembangunan kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. feces rutin dan kimia darah. Jadi lokasi puskesmas sekarang berada di sebuah kontrakan yang tidak memungkinkan untuk menyediakan fasilitas rontgen. Ultrasonografi juga disediakan. upaya kesehatan pengembangan dan upaya kesehatan penunjang. Untuk pencitraan.

rektal swab pemeriksaan makanan dan minuman. Sedangkan untuk mikrobiologi dapat dilakukan pemeriksaan mikroskopis. air bersih. dan laboratorium bahasa. dapat dilakukan pemeriksaan seperti pemeriksaan air minum. eksperimen. Laboratorium biasanya dibuat untuk memungkinkan dilakukannya kegiatan-kegiatan tersebut secara terkendali. misalnya laboratorium fisika. air limbah. bakteri air dan usap alat yang bertujuan untuk mengetahui kebersihan/kesehatan dari makanan yang kita konsumsi maupun peralatan masak yang digunakan. menentukan tindakan penyembuhan dan pemulihan. Laboratorium klinik atau laboratorium medis ialah laboratorium di mana berbagai macam tes dilakukan pada spesimen biologis untuk mendapatkan informasi tentang kesehatan pasien. laboratorium kimia. sensitifitas antibiotika. kultur. jamur dan pemeriksaan garam bertujuan diantaranya untuk mengetahui pertumbuhan mikroorganisme dalam tubuh ( memastikan adanya infeksi bakteri/jamur). BTA.2 Pelayanan laboratorium di puskesmas terdiri dari: 1. Pelayanan individual pengguna jasa yang berkunjung ke puskesmas 2. Pada laboratorium kesehatan masyarakat. Pemeriksaan kelompok atau masyarakat di wilayah kerja 297 . peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit serta mengevaluasi hasil intervensi medik.1 Laboratorium (disingkat lab) adalah tempat riset ilmiah. laboratorium biokimia. laboratorium komputer.BAB II PENGERTIAN Pelayanan pemeriksaan penunjang merupakan tindakan pemeriksaan kesehatan yang diselenggarakan guna melengkapi data biologic pengguna jasa yaitu dalam rangka menegakkan diagnosis. menemukan antibiotika yang paling sesuai untuk mengatasi penyakit yang anda derita. pengukuran ataupun pelatihan ilmiah dilakukan. Laboratorium ilmiah biasanya dibedakan menurut disiplin ilmunya.

puskesmas keliling.1 298 . Tujuan umum Didukungnya upaya peningkatan kesehatan. Tercapainya diagnosis yang tepat melalui lengkapnya pemeriksaan yang dilakukan ii. Tujuan khusus a. puskesmas pembantu.BAB III TUJUAN 1. 2. serta pemantauan dan evaluasi terapi secara efisien dan efektif. penyembuhan dan pemulihan kesehatan yang meliputi deteksi dini. posyandu sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya. b. pencegahan penyakit. Diketahuinya hasil intervensi medik yang telah diberikan pada pengguna jasa pelayanan kesehatan/pasien melalui perbandingan hasil pemeriksaan penunjang sebelumnya dan sesudahnya. Ditingkatkannya kegiatan laboratorium kesehatan di puskesmas. Ditingkatkannya mutu pelayanan kesehatan perorangan dengan: i.

v. Serum. melaksanakan rujukan spesimen secara horizontal antar puskesmas di wilayahnya. penyakit ginjal. ii. b. Pelayanan laboratorium untuk menunjang pelayanan kesehatan di dalam wilayah kerja a. Melaksanakan pemeriksaan laboratorium untuk mendukung program-program lain. untuk keperluan tes antibodi guna menentukan penyakit-penyakit tertentu. iv. selsel muda darah 299 . seperti: i. Spesimen-spesimen untuk keperluan kultur/biakan maupun tes sensitivitas. Pelayanan laboratorium untuk menunjang pelayanan medik terpadu di puskesmas a.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN 1. Spesimen lain. hitung retikulosit. Penanggulangan Kejadian Luar Biasa Survei penyakit-penyakit tertentu c. hitung jenis lekosit. untuk menemukan penyebab penyakit saluran pencernaan Spesimen untuk pemeriksaan kimia klinik sehubungan dengan penyakit-penyakit yang merupakan masalah umum bagi masyarakat seperti: penyakit hati. Sampel air dari sumber air yang dimanfaatkan oleh umum Spesimen tinja. Dalam keadaan darurat/kondisi tertentu. misalnya kasus keracunan. program perlindungan akseptor KB. Pemeriksaan hematologi sederhana antara lain: i. 2. ii. Hemoglobin secara ahli Sediaan apus darah tepi: morfologi sel. gangguan metabolism dan penyakit kurang gizi. vi. ii. Mengumpulkan dan merujuk spesimen untuk diperiksa lebih lanjut terhadap: i. iii.

antara lain: i. iv. Pemeriksaan hitung eritrosit. ii. antara lain yaitu: i. iii. bilirubin. Pemeriksaan tinja sederhana. bakteri gram (+). Pemeriksaan makroskopik urine Pemeriksaan mikroskopik urine Kimia urine seperti: protein. hitung trombosit Pemeriksaan laju endap darah (LED) Pemeriksaan jumlah hematokrit b. ii. dermatofita. dll 300 .skizotomia. Infeksi jamur superfisial: tinea versikolor. USG. Bila fasilitas dan tenaga memungkinkan dapat dilakukan pemeriksaan penunjang lainnya a. ii. kandidiasis e. tes Pandi Pemeriksaan cairan tubuh lainnya: tes Rivalta pada punksi pleura 3. iii. Pemeriksaan laboratorium lainnya. trikhomonas vaginalis Infeksi spesifik: BTA sputum untuk TBC. urobilinogen dan glukosa semi kuantitatif iv. Rontgen foto (X-ray) c. Elektrokardiografi (EKG) b.iii. Pemeriksaan urine sederhana. Pemeriksaan mikrobiologi sederhana lainnya. nitrat. antara lain: i. BTA kerokan kulit untuk lepra. Pemeriksaan makroskopik tinja Pemeriksaan mikroskopik tinja Pemeriksaan parasitologi d. ii. hitung lekosit. cairan uretra/secret vagina untuk GO iii. filaria. Infeksi parasit: malaria. Pemeriksaan kehamilan c. v. Pemeriksaan cairan serebrospinal: tes Nonne. antara lain: i.

juga masyarakat sekitar yang termasuk dalam wilayah kerja puskesmas.4. Evaluasi Penilaian mutu penyelenggaraan Sasaran dari semua kegiatan di puskesmas adalah semua pasien yang datang ke puskesmas untuk berobat.1 301 .

f. Dalam keadaan darurat/kondisi tertentu. b. untuk keperluan tes antibody guna menentukan penyakit-penyakit tertentu. Specimen tinja. hitung jenis lekosit.Pelayanan laboratorium untuk menunjang pelayanan kesehatan di dalam wilayah kerja a. program perlindungan akseptor KB. e. sel-sel muda darah viii. Pelayanan laboratorium untuk menunjang pelayanan medik terpadu di puskesmas d.BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS Pelaksanaan kegiatan laboratorium di Puskesmas adalah: 1. Spesimen lain. Specimen untuk pemeriksaan kimia klinik sehubungan dengan penyakitpenyakit yang merupakan masalah umum bagi masyarakat seperti: penyakit hati. Pemeriksaan hitung eritrosit. ix. Melaksanakan pemeriksaan laboratorium untuk mendukung program-program lain. hitung retikulosit. Serum. Sampel air dari sumber air yang dimanfaatkan oleh umum b. d. hitung trombosit Pemeriksaan laju endap darah (LED) 302 . 2. penyakit ginjal. vii. Hemoglobin secara ahli Sediaan apus darah tepi: morfologi sel. untuk menemukan penyebab penyakit saluran pencernaan c. misalnya kasus keracunan. Mengumpulkan dan merujuk specimen untuk diperiksa lebih lanjut terhadap: a. seperti: a. Specimen-spesimen untuk keperluan kultur/biakan maupun tes sensitivitas. Survei penyakit-penyakit tertentu c. Penanggulangan Kejadian Luar Biasa b. hitung lekosit. Pemeriksaan hematologi sederhana antara lain: vi. melaksanakan rujukan specimen secara horizontal antar puskesmas di wilayahnya. gangguan metabolism dan penyakit kurang gizi.

dermatofita. Penilaian mutu penyelenggaraan Pelaksana kegiatan di Puskesmas dilakukan adalah patolog. Pemeriksaan mikrobiologi sederhana lainnya. dan prosesor specimen.skizotomia. Pemeriksaan tinja sederhana. vii.x. v. teknisi laboratorium medis. bakteri gram (+). antara lain: v. USG 4. vi. Infeksi jamur superficial: tinea versikolor. Infeksi parasit: malaria. bilirubin. antara lain: iv. trikhomonas vaginalis Infeksi spesifik: BTA sputum untuk TBC. transkripsionis. Evaluasi i. kegiatan di puskesmas kelurahan tidaklah selengkap kegiatan laboratorium di puskesmas kecamatan. Pemeriksaan makroskopik urine Pemeriksaan mikroskopik urine Kimia urine seperti: protein. Pemeriksaan penunjang lainnya a. kandidiasis 3. Pemeriksaan makroskopik tinja Pemeriksaan mikroskopik tinja Pemeriksaan parasitologi g. teknolog utama. 303 . manajer laboratorium. penasehat bagian. histoteknolog. urobilinogen dan glukosa semi kuantitatif viii. asisten laboratorium medis. Pemeriksaan kehamilan f. filarial. nitrat. v. Pemeriksaan urine sederhana. pemeriksaan hematologi sederhana dan pemeriksaan urine. ahli flebotomi. cairan uretra/secret vagina untuk GO vi. asisten patolog. Jika dibandingkan dengan pelaksanaan laboratorium di puskesmas kelurahan. Pemeriksaan jumlah hematokrit e. vi. antara lain yaitu: iv. BTA kerokan kulit untuk lepra. teknolog medis. Pada laboratorium puskesmas kelurahan hanya tersedia pemeriksaan darah lengkap.

metabolism penyakit gizi. keperluan antibody menentukan penyakit. teknisi laboratorium medis. manajer laboratorium. Serum. transkripsionis. histoteknolog. Spesimenuntuk spesimen keperluan kultur/biakan maupun sensitivitas. Mengumpulkan dan specimen diperiksa Sasaran -Spesimen Tempat di Laboratorium dari puskesmas Waktu Jam pelayanan puskesmas Pelaksana patolog. asisten patolog. flebotomi.penyakit penyakit merupakan masalah bagi seperti: hati. teknolog medis. penasehat bagian.penyakit tertentu.Kegiatan 1. dan prosesor ahli masyarakat penyakit penyakit gangguan dan kurang specimen. asisten merujuk ambil untuk penderita lebih - lanjut terhadap : Penanggulangan Spesimen Spesimen tinja. umum yang tertentu laboratorium medis. Kejadian untuk Biasa Luar pemeriksaan kimia -Survei klinik sehubungan penyakitdengan penyakit. Spesimen lain. teknolog utama. ginjal. untuk tes guna tes 304 .

USG Pada hamil pasien Di puskesmas Jam pelayanan puskesmas Dokter spesialis obygn 305 .misalnya keracunan kasus 2. Rujukan spesimen Untuk specimen Puskesmas yang pemeriksaannya tidak ada di lain wilayahnya Jam di pelayanan puskesmas Dokter Puskesmas 3.

posyandu dapat berkembang sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya. puskesmas keliling. Meningkatnya frekuensi pengevaluasian mutu penyelenggaraan 306 . 4. karena itu lingkungan laboratorium menjadi salah satu tempat yang baik untuk berkembangnya berbagai penyakit infeksi. Saran 1. Diketahuinya hasil intervensi medik yang telah di berikan pada pengguna jasa pelayanan kesehatan melalui perbandingan hasil pemeriksaan penunjang sebelumnya dan sesudahnya. 2. Meningkatnya mutu pelayanan laboratorium di puskesmas setempat. Laboratorium juga mempunyai fungsi sebagai tempat untuk berbagai penelitian yang berhubungan dengan pembiakan media-media kuman penyakit. puskesmas pembantu. Diharapkan mutu pelayanan kesehatan perorangan dapat ditingkatkan dengan: ii. 3. Diharapkan kegiatan laboratorium kesehatan di puskesmas. Tercapainya diagnosis yang tepat melalui lengkapnya pemeriksaan yang dilakukan iii.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Tersedianya laboratorium klinis di setiap puskesmas diharapkan dapat menunjang kegiatan pelayanan kesehatan yakni dalam membantu penegakan diagnosis.

Program Penunjang Puskesmas.DAFTAR PUSTAKA 1. 1999: 349 – 354. 2010 [cited 2011 July 20] Available at http://buk.php?option=com_docman&task=cat_view&gid=55&Ite mid=93 307 . 2. Jilid ke-2.depkes. Departemen Kesehatan RI.go. Departemen Kesehatan RI: Pedoman Kerja Puskesmas. Direktorat Bina Peran Serta Masyarakat Dirjen Pembinaan Kesehatan Masyarakat : Penunjang Medik.id/index. Jakarta. Januari 1.

UPAYA KESEHATAN PENUNJANG PELAYANAN (SP2TP SISTEM PENCATATAN DAN PELAPORAN TERPADU PUSKESMAS) Penyusun: Rina Apriani(03004197) Raymond(03005183) 308 .

pelaksanaan. tepat waktu. Pencatatan dan pelaporan terpadu puskesmas merupakan salah satu kegiatan tersebut. puskesmas keliling dan bidan di desa serta RS dan laboratorium di berbagai tingkatan. sangat diperlukan dalam pengelolaan program dan proyek serta kegiatan yang dilakukan. Sistem ini harus mampu menghasilkan data atau informasi yang memadai untuk menunjang perencanaan. namun juga melaksanakan berbagai program pembangunan kesehatan masyarakat. melalui puskesmas termasuk puskesmas tempat tidur. kuratif. sangat diperlukan tersedianya seperangkat data dan informasi yang baik pula. Dengan telah ditetapkannya UU nomor 22 tentang Otonomi Daerah. pengendalian serta untuk evaluasi berbagai kegiatan kesehatan tingkat kabupaten/kota. Untuk itu disusun sistem pencatatan dan pelaporan terpadu puskesmas (SP2TP) yang disahkan dengan keputusan menkes no. teratur. berkesinambungan. dicatat dan dilaporkan secara teratur. preventif. tepat waktu dan mutakhir. maka Sistem Informasi Kesehatan di Kabupaten/Kota akan lebih penting peranannya. Kegiatan bersifat promotif.63/menkes/II/1981 dan petunjuk pelaksanaan direktur jendral binkesmas no. keberadaan data dan informasi memegang peran yang sangat penting. Semua kegiatan yang menjadi tugasnya. bahkan terkadang sampai rehabilitatif. dimana daerah harus mengembangkan dan melakukan sendiri upaya kesehatan. dan dengan data yang benar.143/binkesmas/DJ/II/1981. terpercaya. Pembangunan upaya kesehatan masyarakat dilakukan di seluruh pelosok tanah air. Data yg benar-benar akurat. puskesmas pembantu. Untuk dapat merencanakan dan memantau serta evaluasi pelaksanaan program dengan baik. 309 .BAB I PENDAHULUAN Dalam era pembangunan. Kelompok institusi terdepan tersebut tidak sekedar pemberi pelayanan kesehatan saja. Saat ini ada 18 macam kegiatan pokok puskesmas.

Frekuensi pelaporan sebagai berikut: (1) bulanan. Koordinator SP2TP di puskesmas menerima laporan-laporan dalam format buku tadi dalam 2 rangkap. Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas mencakup 3 hal: (1)pencatatan.I LATAR BELAKANG Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) merupakan instrumen vital dalam sistem kesehatan.I. Koordinator SP2TP di Dinas Kesehatan Kabupaten meneruskan ke masing-masing pengelola program di Dinas Kesehatan Kabupaten. (2) analisis. Laporan tahunan terdiri dari data dasar yang meliputi fasilitas pendidikan. Laporan bulanan mencakup data kesakitan. KB. Laporan tribulanan meliputi kegiatan puskesmas antara lain kunjungan puskesmas. Data tersebut kemudian direkapitulasikan ke dalam format laporan SP2TP yang sudah dibukukan. gizi. kesehatan lingkungan. peran serta masyarakat dan lingkungan kedinasan. (2) tribulan. penggunaan pelayanan kesehatan di puskesmas. sehingga data yang diperoleh tidak dapat memberikan informasi yang bermanfaat untuk pengambilan keputusan. (3) tahunan. dan (3) pemanfaatan. dan berbagai informasi kesehatan lainnya berguna untuk pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan di tingkat kabupaten atau kota maupun kecamatan. sehingga dapat dianalisis dan diinformasikan. data ketenagaan puskesmas dan puskesmas pembantu. yaitu data atau informasi harus lengkap dan data tersebut harus diterima tepat waktu oleh Dinas Kesehatan Kabupaten. Laporan yang diperoleh Dinas Kesehatan Kabupaten diduga seringkali terlambat. rawat tinggal. yaitu satu untuk arsip dan yang lainnya untuk dikirim ke koordinator SP2TP di Dinas Kesehatan Kabupaten. setelah diolah dan dianalisis dikirim ke koordinator SP3 di Dinas Kesehatan Provinsi dan seterusnya dilanjutkan proses untuk pemanfaatannya. pelaporan. KIA. dan penggunaan obat-obat. imunisasi. 310 . Pencatatan hasil kegiatan oleh pelaksana dicatat dalam buku-buku register yang berlaku untuk masing-masing program. kematian. dan pengolahan. Pengambilan keputusan di tingkat kabupaten dan kecamatan memerlukan data yang dilaporkan dalam SP2TP yang bernilai. kegiatan rujukan puskesmas pelayanan medik kesehatan gigi. Dari Dinas Kesehatan Kabupaten. Informasi tentang kesakitan.

sehingga mengakibatkan keterlambatan dalam pelaporan SP2TP. Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) didalam pelaksanaannya juga masih terbatas pada data yang merupakan hasil dari interaksi antara masyarakat dengan fasilitas kesehatan. diperlukan pedoman SP2TP untuk pegangan bagi pelaksana di berbagai tingkat administrasi.II PERMASALAHAN Sejak pelaksanaan SP2TP dari tahun 1981. Puskesmas memiliki wilayah kerja dan berhubungan langsung dengan keluarga di rumahrumah mereka. sampai akhirnya dikeluarkan Keputusan Direktur Jendral Pembinaan Kesehatan Masayrakat No. Sesuai dengan keputusan ini.590/BM/DJ/Info/V/96 tentang penyederhanaan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas. Evaluasi dilakukan untuk mengkaji pelaksanaan sistem pencatatan dan pelaporan di Puskesmas. SP2TP dapat juga membantu dalam perencanaan program-program kesehatan di puskesmas. Namun dalam kenyataannya belum berjalan seperti yang harapkan.Balai Pelatihan Kesehatan. menjelaskan bahwa puskesmas merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan pemerintah. 311 . menemukan masalah-masalah yang dihadapi baik dari aspek teknis dan non teknis. I. maka puskesmas yang menjadi sasaran utamanya. terutama bagi petugas puskesmas sebagai sumber data. berbagai permasalahan dihadapi antara lain banyaknya variabel yang harus dilaporkan sehingga kehadiran Sistem Pencatatan dan Pelaporan di Puskesmas dilihat sebagai suatu hal yang cukup membebani petugas puskesmas. Meskipun puskesmas sebagai dasar pelayanan kesehatan bagi masyarakat. namun segala sesuatu di puskesmas sangat terbatas. Berbagai upaya telah dilakukan guna memecahkan permasalahan yang ada. Terbatas dalam biaya maupun sarananya. Bila terjadi sesuatu yang kurang menguntungkan dalam masyarakat yang menyangkut masalah kesehatan.

menganut konsep wilayah kerja Puskesmas.1 Ruang Lingkup SP2TP Pelaksanaan SP2TP. Sistem adalah satu kesatuan yang terdiri dari komponen yang saling berkaitan. sarana. Puskesmas Keliling. Terpadu diartikan sebagai gabungan berbagai macam kegiatan upaya pelayanan kesehatan Puskesmas yang tidak tumpang tindih. 3. spesifik dan sederhana. sehingga dapat dihindarkan pencatatan dan pelaporan lain. dan upaya pelayanan kesehatan di Puskesmas yang telah disederhanakan sesuai Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat No. tenaga. Oleh karena itu mencakup semua kegiatan yang dilakukan oleh Puskesmas (Puskesmas Pembantu. 590/BM/DJ/Info/V/96 tentang Penyederhanaan SP2TP. termasuk Bidan di desa). serta bermanfaat untuk pemantauan dan evaluasi. 2.BAB II PENGERTIAN Beberapa pengertian sebagai dasar dalam penyelenggaraan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) antara lain: SP2TP adalah kegiatan pencatatan dan pelaporan data imum. mudah diperoleh. 4. Jenis data yang dikumpulkan dan dicatat dalam SP2TP adalah seluruh kegiatan di Puskesmas yang meliputi data: 1. Umum dan demografi di wilayah kerja Puskesmas Ketenagaan di Puskesmas Sarana yang dimiliki Puskesmas Kegiatan pokok Puskesmas yang dilakukan di dalam dan di luar gedung Puskesmas Variabel atau indikator yang dilaporkan adalah data/informasi yang sensitif. II. berintegrasi dan mempunyai tujuan tertentu. yang 312 . yang akan memperberat beban kerja petugas Puskesmas.

b. Periode laporan dari Puskesmas ke Dati II adalah bulanan dan tahunan. manajemen dan dampak program. Bersama dengan para pelaksana kegiatan membuat laporan bulanan SP2TP dan mengirimkan laporan tersebut ke Dinas Kesehatan Dati II paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya c. Laporan SP2TP mempergunakan system tahun kalender. Kanwil Depkes serta Pusat. Mengumpulkan laporan masing-masing pelaksana kegiatan b. Bersama dengan para pelaksana kegiatan membuat laporan tahunan SP2TP dan mengirimkan laporan tersebut ke Dinas Kesehatan Dati II paling lambat tanggal 31 Januari tahun berikutnya 313 . 3. Kepala Puskesmas bertanggung jawab atas pelaksaan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu di Puskesmas. Tugas Penanggung Jawab SP2TP a. Tugas Koordinator SP2TP a. Koordinator c. Memberikan bimbingan kepada coordinator SP2TP dan para pelaksan kegiatan di Puskesmas. Pengorganisasian a. Penanggung jawab b. Anggota : Kepala Puskesmas : Petugas yang ditunjuk Kepala Puskesmas : Pelaksana Kegiatan di Puskesmas 2. Dinas Kesehatan Dati I. masalh. 1. Diharapkan pencatatan di Puskesmas dan laporan yang diterima di Dinas Kesehatan Dati II. Periode laporan dari Dati II ke Dati I dan Pusat adalah triwulan. diolah dan dimanfaatkan oleh pengambil keputusan dan penanggung jawab program guna meningkatkan pelaksanaan programnya.dapat menggambrkan aksesibilitas.2 Pengorganisasian Dalam pelaksanaan SP2TP pengorganisasian di tingkat Puskesmas adalah sebagai berikut. II.

Melakukan rekapitulasi data dari hasil pencatatan dan laporan Puskesmas Pembantu serta Bidan di desa menjadi laporan kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya. Hasil dari rekapitulasi ini merupakan bahan untuk mengisi/membuat laporan SP2TP d. f. Setiap tanggal 5 mengisi/membuat laporan SP2TP dari hasil kegiatan masingmasing dalam 2 rangkap dan disampaikan kepada Koordinator SP2TP Puskesmas. Tugas Pelaksana Kegiatan a.d. Mencatat setiap kegiatan pada kartu individu dan register yang ada b. Bertanggung jawab atas kebenaran isi laporan kegiatannya 314 . Mengadakan bimbingan terhadap Puskesmas Pembantu dan Bidan di desa c. Mempersiapkan pertemuan berkala setiap 3 bulan yang dipimpin oleh Kepala Puskesmas dengan pelaksana kegiatan untuk menilai pelaksaan kegiatan SP2TP 4. Dengan rincian satu rangkap unyuk arsip Koordinator SP2TP Puskesmas dan satu rangkap oleh Koordinator SP2TP Puskesmas disampaikan ke Dinas Kesehatan Dati II e. Menyimpan arsip laporan SP2TP dari masing-masing pelaksana kegiatan e. Bertanggung jawab atas kelancaran pelaksanaan SP2TP kepada Kepala Puskesmas f. Mengolah dan memanfaatkan data hasil rekapitulasi untuk tindak lanjut yang diperlukan dalam rangka meningkatkan kinerja kegiatan kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya.

secara benar. Puskesmas Keliling. Tercatatnya semua data hasil kegiatan Puskesmas dan data yang berkaitan. dalam formulir yang telah ditentukan secara benar. 6. guna menunjang pengelolaan upaya kesehatan masyarakat sehingga meningkatnya kualitas manajemen Puskesmas secara lebih berhasil guna dan berdaya guna melalui pemanfaatan secara optimal data SP2TP dan informasi lain yang menunjang III.II TUJUAN KHUSUS 1. 2. Puskesmas Pembantu. 3. dengan mempergunakan formulir yang telah ditetapkan. Diperolehnya kesamaan pengertian tentang SP2TP. berkala dan teratur. pengolahan data menjadi informasi dan mekanisme pelaporannya. berkelanjutan dan teratur.BAB III TUJUAN UMUM DAN TUJUAN KHUSUS III. sehingga bermanfaat untuk mengetahui permasalahan kesehatan yang ada di masyarakat serta merumuskan cara penanggulangannya secara tepat. meliputi definisi operasional. berkelanjutan dan teratur. Terlaporkannya data tersebut kepada jenjang administrasi yang lebih atas sesuai kebutuhan. Bidan di desa dan POSYANDU) dan data yang berkaitan serta dilaporkannya data tersebut kepada jenjang administrasi diatasnya sesuai kebutuhan secara benar. 5. Terolahnya data tersebut menjadi informasi di Puskesmas dan setiap jenjang administrasi diatasnya. 315 . 4. Tertatanya mekanisme pencatatan di tingkat puskesmas. Puskesmas Pembantu. dan bidan di desa. Tertatanya alur data di tingkat Puskesmas.I TUJUAN UMUM Didapatnya semua data hasil kegiatan puskesmas (termasuk Puskesmsa dengan tempat tidur. tata cara pengisian formulir.

Untuk mengatasi berbagai kegiatan hambatan pelaksanaan kegiatan pokok puskesmas 316 . Puskesmas. Dasar penyusunan perencanaan Tk.7. 8. Sebagai dasar pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kegiatan pokok puskesmas 11. Dasar penyusunan rencana pelaksanaan kegiatan pokok puskesmas (Lokakarya mini) 10. Mantapnya pelaksanaan SP2TP di semua jenjang administrasi. sehingga dapat berhasil guna dan berdaya guna dalam pengelolaan upaya kesehatan masyarakat. 9.

PENCATATAN Kegiatan pokok puskesmas baik yang dilakukan di dalam gedung maupun di luar gedung puskesmas. puskesmas tempat tidur dan puskesmas pembantu serta bidan di desa.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN IV. Kartu Tanda Pengenal (KTP) KTP diberikan kepada individu yang berkunjung/berobat ke puskesmas dan merupakan alat bantu untuk memudahkan pencarian berkas atau file bagi individu 317 . Dengan demikian perlu adanya mekanisme pencatatan yang baik. Adapun kegunaan RKK adalah: Untuk mengikuti keadaan kesehatan di suatu keluarga Untuk mengetahui gambaran penyakit di suatu keluarga Penggunaan RKK diutamakan pada keluarga yang anggotanya mengidap salah satu penyakit atau kondisi antara lain: Salah satu anggota keluarga adalah penderita TB paru Salah seorang anggota kelurga adalah penderita kusta Keluarga risiko tinggi yaitu ibu hamil risiko tinggi. Yang dimaksud RKK adalah himpunan kartu-kartu individu suatu keluarga yang memperoleh pelayanan kesehatan di puskesmas. 1. bayi kurang energi kronis (KEK) Salah seorang anggota keluarga adalah penderita gangguan jiwa Keluarga yang menggunakan RKK diberi kartu tanda pengenal keluarga (KTPK) yang merupakan alat bantu untuk memudahkan pencarian berkas atau file keluarga yang telah terdaftar/mendaftarkan pelayanan pada saat meminta pelayanan ulang di puskesmas b. Rekam Kesehatan Keluarga (RKK) atau yang disebut ―Family Folder‖. neonatus risiko tinggi (BBLR). harus dicatat. formulir yang cukup serta cara pengisian yang benar dan teliti.Formulir pencatatan Formulir pencatatan SP2TP terdiri dari: a.I.

h.yang telah terdaftar/mendapat pelayanan pada saat meminta pelayanan ulang di puskesmas. g. Kartu Ibu 318 . e. Kartu Penderita TB Paru Kartu ini khusus untuk penderita TB paru yang berisi identitas TB paru yang dilayani di gedung puskesmas. Kartu Indeks Khusus TB Paru Merupakan alat untuk mengetahui keadaan dan pekembangan penyakit TB paru pasien yang dilayani di gedung puskesmas. Kartu Penderita Kusta Kartu ini khusus untuk penderita kusta yang berisi identitas penderita kusta yang dilayani di gedung puskesmas. Maksud pemberian kartu ini adalah apabila yang bersangkutan pindah maka kartu dan rekam kesehatannya atau berkasnya dibawa pindah (untuk memudahkan/mengetahui pelayanan yang telah diberikan atau didapatkan oleh yang bersangkutan) c. penyakit kusta dan TB paru menggunakan KTP khusus yaitu kartu KB. kartu penderita kusta dan kartu penderita TB paru. Khusus untuk akseptor KB. Kartu Rawat Tinggal atau Kartu Rekam Medik Pasien Merupakan alat untuk mencatat identitas dan status pasien yang dirawat di puskesmas yang mempunyai ruang rawat inap. Kartu Rawat Jalan atau Kartu Rekam Medik Pasien Merupakan alat untuk mencatat identitas dan status pasien yang berkunjung ke puskesmas untuk memperoleh pelayanan rawat jalan. f. d. i. atas namanya sendiri. Kartu Indeks Penyakit Khusus Kusta Merupakan alat untuk mengetahui riwayat dan perkembangan penyakit kusta.

Merupakan alat untuk mengetahui identitas dan status kesehatan serta riwayat kehamilan ibu sampai kelahiran bayinya. n. 319 . KMS anak sekolah Merupakan alat untuk mengetahui identitas dan mencatat pertumbuhan anak sekolah dan pelayanan yang telah diperoleh oleh anak sekolah tersebut. status kesehatan dan pelayanan baik pelayanan preventif-promotif maupun pengobatan dan rehabilitatif yang telah diberikan kepada balita dan anak prasekolah. l. sehingga apabila terdapat kelainan dapat dideteksi sedini mungkin. j. Kartu Anak Adalah alat untuk mengetahui identitas. KMS usila Adalah alat untuk mencatat kesehatan usia lanjut secara pribadi baik fisik maupun psiko-sosialnya. KMS ibu hamil Merupakan alat untuk mengetahui identitas dan mencatat perkembangan kesehatan ibu hamil dan pelayanan kesehatan yang telah diterima yang bersangkutan. Kartu Rumah Adalah alat untuk mengetahui dan mengikuti keadaan sanitasi lingkungan perumahan. k. o. KMS balita Merupakan alat untuk mengetahui identitas dan mencatat pertumbuhan balita dan pelayanan yang telah diperoleh oleh balita tersebut. m. Kartu Tumbuh Kembang Balita Adalah alat untuk mencatat tumbuh kembang balita. p. sehingga dapat digunakan untuk memantau kesehatannya. menemukan penyakit pada usia lanjut secara dini dan menilai kemajuan kesehatan usia lanjut.

yang telah dicatat di kartu-kartu dan catatan lainnya. Register Adalah formulir untuk mencatat/merekap data kegiatan di dalam dan di luar gedung puskesmas.q. Jenisjenis register dimaksud adalah: Register Nomor Indeks Pengunjung Puskesmas Register Kunjungan Register Rawat Jalan Register Rawat Inap Register KIA Register Kohort Ibu Register Kohort Balita Register Deteksi Tumbuh Kembang Register Gizi Register Kapsul Minyak Beryodium Register Pengamatan Penyakit Menular Register Kusta Register Pemeriksaan Kontak Penderita Kusta Register Pemeriksaan Anak Sekolah (untuk penyakit kusta) Register Malaria Register PES Register Antrax Register Rabies Register Kohort TB Paru Register Kasus DBD Register Pemberantasan Sarang Nyamuk DBD Register Acute Flaccid Paralysis (AFP) Register Tetanus Neonatorum Register Frambusia Register Filaria Buku Inventarisasi Peralatan Puskesmas Register Perawatan Gawat Darurat Puskesmas 320 .

- Register Kohort Pembinaan Keluarga Register Rawat Jalan Gigi Register Laboratorium Register PKM Register PSM Register Data Dasar Kesehatan Lingkungan Register Kegiatan Kesehatan Lingkungan Rekapitulasi Kegiatan Penjaringan Register Kegiatan UKS Register Data Dasar Sekolah Register Kegiatan Posyandu Register Pelayanan Kesehatan Olahraga Register Pembinaan Kelompok/Klub Olahraga Register Perawatan Kesehatan Masyarakat Untuk Keluarga dan Individu (Reg. Apabila pasien mendapatkan pelayanan kesehatan di luar gedung Puskesmas. Pasien tersebut disalurkan pada unit pelayanan yang dituju. maka pasien tersebut akan dicatat dalam register yang sesuai dengan pelayanan yang diterima.A) - Register Perawatan Kesehatan Masyarakat untuk Kelompok/Masyarakat (Reg. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat bagan sebagai berikut: 321 .B) 2. Mekanisme pencatatan Pada prinsipnya seorang pasien yang berkunjung pertama kali atau kunjungan ulang ke Puskesmas harus melalui loket untuk mendapatkan Kartu Tanda Pengenal atau mengambil berkasnya dari petugas loket.

MEKANISME PENCATATAN DI PUSKESMAS LOKET D A L A M G E D U N G . 1.Registrasi kunjungan .  Formulir Laporan Puskesmas ke Dati II Laporan Bulanan 322 .II PELAPORAN Pelaporan terpadu Puskesmas menggunakan tahun kalender yaitu deri bulan Januari sampai dengan Desember dalam tahun yang sama. Indeks UNIT PELAYANAN REGISTERREGISTER PELAYANAN DALAM GEDUNG TINDAK LANJUT RUJUKAN L U A R G E D U N G REGISTER-REGISTER PELAYANAN DI LUAR GEDUNG BANK DATA PUSKESMAS PENGOLAHAN/PENYAJIAN PENYUSUNAN LAPORAN IV.Kartu KB .KTP .Register No.RKK termasuk kartu status .

c. b.1) Data Obat-obatan (LB. Hanya Puskesmas dengan ruang rawat inap (Puskesmas RRI) yang membuat LB2S. Perawatan Kesehatan Masyarakat. Data Kesakitan (LB. Kesehatan Lingkungan dan Laboratorium. Data Dasar Puskesmas (LT-1) Data Kepegawaian (LT-2) Data Peralatan (LT-3) Frekuensi Laporan dari Puskesmas ke Dati II 323 . penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan diare. Kesehatan Sekolah. Laporan bulanan Sentinel (LB1S) Laporan ini memuat data penderita penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Rawat Tinggal. Imunisasi dan Pengamatan Penyakit Menular (LB. PKM.3) Data Kegiatan Puskesmas (LB. Pelayana Medik Dasar Kesehatan Gigi.4) Kegiatan Puskesmas meliputi: Kunjungan Puskesmas.2) Gizi. 2. c. d.a. menurut umur dan status imunisasi. KIA. Kesehatan Olah Raga. b. Laporan bulanan Sentinel (LB2S) Laporan ini memuat data KIA. Pelayanan JPKM. Tetatus Neonatorum dan penyakit akibat kerja.  Laporan Sentinel Bentuk dari laporan sentinel adalah: a. Gizi.  Laporan Tahunan Laporan ini mencakup: a. b.

a. LT-2. untuk disampaikan kepada koordinator SP2TP d. 324 . Hasil rekapitulasi oleh pelaksana kegiatan demasukkan ke formulir laporan dalam 2 rangkap. Laporan bulanan LB1. LB3. Mekanisme Pelaporan Tingkat Puskesmas Laporan dari Puskesmas Pembantu dan Laporan dari Bidan di desa disampaikan ke pelaksana kegiatan di Puskesmas b. b. 3. dan LT-3) dirimkan selambat-lambatnya tanggal 31 Januari tahun berikutnya. dan LB4. Hasil rekapitulasi oleh pelaksana kegiatan diolah dan dimanfaatkan untuk tindak lanjut yang diperlukan dalam rangka meningkatkan kinerja kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya. LB2. Laporan bulanan Sentinel LB1S dan LB2S setiap tanggal 10 bulan berikutnya dikirimkan ke Dinas Kesehatan Dati II. Dati I dan Pusat. c. Pelaksana kegiatan merekapitulasi data yang dicatat baik did ala gedung maupun di luar gedung serta laporan yang diterima dari Puskesmas Pembantu dan Bidan di desa c. Laporan tahunan (LT-1. dilakukan setiap bulan dan paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya dikirim ke Dinas Kesehatan Dati II.a.

BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS DI TINGKAT KECAMATAN&KELURAHAN SP2PT yaitu sistem pencatatan dan pelaporan terpadu Puskesmas sesuai dengan SK Dirjen Binkesmas NO. Laporan tahunan Laporan bulanan terdiri dari: 1. Pencatatan kegiatan PKM 2. Formulir LB 3 Gizi. Formulir LT 1 untuk data dasar PKM 325 . Sedangkan untuk pelaporannya terdiri dari: a.590/BM/DJ/info/V/96 Tentang Penyederhanaan Sistem Pencatatan dan Pelaporan terpadu Puskesmas yang mulai berlaku tanggal 10 Mei 1996. Laporan bulanan b. dan imunisasi 4. Pencatatan didalam gedung semua kegiatan yang dilaksanakan di dalam gedung itu sendiri b. Formulir LB 1 Penyakit 2. Formulir LB 2 Obat 3.CHN dll. Formulir LB 4 Untuk data kunjungan kegiatan puskesmas Laporan tahunan terdiri dari: 1.KIA. Pelaporan Puskesmas Sedangkan untuk pencatatan ada 2 yaitu diluar gedung dan di dalam gedung: a. Adapun isi keputusan itu: 1. Diluar gedung kegiatan yang berhubungan dengan Posyandu misalnya Posyandu.

Melakukan rekapitulasi dari hasil pencatatan dan pelaporan 326 . Penanggung jawab 2. Data yang dihimpun dalam formulir LB 1 s/d LB 4 dilaporkan secara bulanan selambat-lambatnya tanggal 5 bulan berikutnya dibuat rangkap 2. Anggota Penanggung jawab: Yaitu Kepala Bagian Data dan Program yang bertanggungjawab atas pelaksanaan SP2PT di Puskesmas dan memberikan bimbingan kepada koordinator SP2PT dan para pelaksana kegiatan di PKM Koordinator: Orang yang ditunjuk oleh Kepala Bagian Data dan Program tugasnya yaitu: 1.2. untuk menilai hasil kegiatan SP2PT Anggota: Masing-masing pelaksana Kegiatan PKM merupakan anggota SP2PT PKM dan berkewajiban yaitu: 1. Mencatat setiap kegiatan yang ada di PKM 2. b. Membuat laporan bulanan dan tahunan 3. Formulir LT 3 untuk data peralatan Puskesmas Tata cara pelaporan: a. Data yang dilaporkan dari puskesmas mencakup hasil kegiatan PKM yang dilaksanakan selama 1 bulan Tim SP2PT di PKM: 1. Mempersiapkan pertemuan setiap 3 bulan sekali. Melakukan bimbingan tekhnis 3. Menyimpan arsip SP2PT dari masing-masing pelaksana kegiatan 4. Bertanggungjawab kepada kepala PKM atas kelancaran pelaksanaan SP2PT 5. Formulir LT 2 untuk data kepegawaian 3. Mengumpulkan laporan dari masing-masing pelaksana kegiatan 2. Koordinator 3.

Anggota adalah Pelaksana Kegiatan di Puskesmas yang mempunyai tugasnya masing-masing. dan (3) pemanfaatan. 327 . Pencatatan hasil kegiatan oleh pelaksana dicatat dalam buku-buku register yang berlaku untuk masingmasing program. Membuat laporan setiap tanggal/akhir bulan BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN VI.4. Dalam pelaksanaan SP2TP pengorganisasian di tingkat Puskesmas adalah sebagai berikut: penanggung jawab adalah Kepala Puskesmas. (2) analisis.1 KESIMPULAN Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas mencakup 3 hal: (1)pencatatan. Kegiatan pencatatan kegiatan di Puskesmas Mampang ada 2 yaitu diluar gedung dan di dalam gedung yaitu Pencatatan didalam gedung (semua kegiatan yang dilaksanakan di dalam gedung itu sendiri) dan diluar gedung (kegiatan yang berhubungan dengan Posyandu misalnya Posyandu.CHN dll) Sedangkan untuk pelaporannya terdiri dari laporan bulanan yang dilaporkan secara bulanan selambat-lambatnya tanggal 5 bulan berikutnya dan laporan tahunan. Data tersebut kemudian direkapitulasikan ke dalam format laporan SP2TP yang sudah dibukukan. dan pengolahan. pelaporan. Koordinator adalah Petugas yang ditunjuk Kepala Puskesmas.

 Mengadakan evaluasi rutin terhadap masalah teknis maupun non teknis dalam pelaksanaan SP2TP  Didapatkannya data dan bisa dilaporkan kepada jenjang administrasi yang lebih atas sesuai kebutuhan. berkelanjutan dan teratur. berkelanjutan dan teratur. 328 . dengan mempergunakan formulir yang telah ditetapkan.VI. secara benar.2 SARAN  Meningkatkan kualitas SDM tenaga kesehatan agar semua data hasil kegiatan puskesmas dapat tercatat dalam formulir yang telah ditentukan secara benar.

Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas.dinkes. 329 .DAFTAR PUSTAKA 1.org. Departemen Kesehatan RI: Pedoman Sistem Informasi Manajemen Puskesmas. 1-17. Diunduh dari http:/www. Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas. 2. Diakses Desember 2009. Jakarta (1997).

JAMINAN PEMELIHARAAN KESEHATAN MASYARAKAT (JPKM) Penyusun: Giri Satriya (03006105) Pelangi Damayanti ( 03004173 ) 330 .

dan kesejahteraan manusia. BUMN. derajat kesehatan bersama taraf pendidikan dan kemampuan ekonomi masyarakat menjadi penentu index kualitas manusia (Human Development Index. 23 tahun 1992 tentang kesehatan. HDI). mengembangkan.BAB I PENDAHULUAN Kesehatan adalah pangkal kecerdasan. Kesehatan sebagai hak fundamental setiap individu dinyatakan secara global dalam Konstitusi Organisasi Kesehatan Sedunia. JPKM kemudian dicantumkan dalam UU No. promosi kesehatan serta pemeliharaan kesehatan penduduk miskin. Telah bertahun-tahun penelitian terhadap sistem pendanaan masyarakat untuk kesehatan di mancanegara. Solusi masalah pembiayaan kesehatan mengarah pada peningkatan pendanaan kesehatan agar melebihi 5% PDB sesuai rekomendasi WHO. dalam bentuk jaminan kesehatan masyarakat. karena pendanaan kesehatan yang amat terbatas disertai kenaikan biaya pemeliharaan kesehatan. Kesehatan adalah penentu kualitas sumber daya insani. dengan pendanaan pemerintah yang terarah untuk kegiatan public health seperti pemberantasan penyakit menular dan penyehatan lingkungan. Karena itu. Tanpa kesehatan karyawan. akhirnya mengantar Indonesia kepada rumusan JPKM sebagai model jaminan kesehatan yang efektif dan efisien untuk mengatasi masalah akses dan mutu pelayanan kesehatan. Menurut UNDP. Sedangkan pendanaan masyarakat harus diefisiensikan dengan pendanaan gotong royong untuk baerbagai resiko gangguan kesehatan. BUMD. menjadi hak fundamental dari setiap individu. 23 tahun 1992 sebagai cara yang dijadikan landasan semua bentuk pemeliharaan kesehatan yang pembiayaannya secara pra-upaya. hingga target produksi tidak tercapai dan kerugian menjelang. produktifitas. 331 . JPKM diselenggarakan oleh badan-badan penyelenggara berstatus hokum (PT. Namun pemenuhan hak tersebut menghadapi kendala biaya. dan mendorong terselenggaranya JPKM. kesehatan harus dimiliki dan dilindungi. perusahaan kehilangan daya kerja karena absensi sakit meningkat. dll) dengan pemerintah yang bertugas membina. dan secara nasional dalam amandemen UUD 1945 pasal 28-H dan UU No. Koperasi.

sebgai berikut : a. semua gawat darurat dan pelayanan penunjang diagnostik seperti laboratorium. kesehatan ibu-anak. pemantauan utilisasi pelayanan dan penangan seksama terhadap keluhan mengenai pelayanan. penyelenggara (bapel) dan pemberian pelayanan kesehatan (ppk) serta penerapan 7 jurus . 1 jurus kendali pelayanan paripurna Paket pelayanan paripurna dalam JPKM seperti dinyatakan dalam serangkaian permenkes dan kepmenkes mencakup pelayanan berjenjang dari tingkat pertama (rawat jalan oleh dokter umum.dengan membayar iuran ringan dalam suatu ikatan solidaritas sosial yang dikelola oleh badan penyelenggara profesional. perbaikan gizi).tingkat ke 2 (rawat jalan spesialistik). Kebutuhan kesehatannya akan terpenuhi secara paripurna melalui pelayanan yang terrjaga mutu dan terkendali biayanya . dll).KB).BAB II PENGERTIAN JPKM 2. preventif (imunisasi. radiologi dsbnya. 332 . badan. Bagi masyarakat.siklus jaga mutu (pengbatan rasional dan standar pelayanan medik dengan siklus jaga mutunya). klinik . pada hakekatnya adalah jaminan pelayanan kesehatan paripurna yang diperoleh seseorang setelah membayar kontribusi/iuran kepada suatu badan penyelenggara yang mengikat kontrak dan membayar pra upaya jaringan pemberi pelayanan kesehatan berjenjang yang terjaga mutunya untuk melayani peserta tersebut. 4 jurus kendali mutu : ikatan kerja / kontrak .1 Pengertian JPKM JPKM yang merupakan singkatan dari Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat. Penyelenggara JPKM mencakup sedikitnya 3 pelaku utama yakni peserta. 2 jurus kendali dana : premi prabayar dan bayar jasa PKK secara praupaya b. c. dokter gigi. kuratif (pengobatan dan penyembuhan penyakit) serta rehabilitatif (pemulihan cacad. tingkat ke 3 (rawat inap spesialistik di rumah sakit) dan meliputi upaya promotif (penuluhan kesehatan.dan puskesmas) . menjadi peserta JPKM mendapat keuntungan ganda.

bersama 3 pelaku terdahulu. kelebihan JPKM dibandingkan asuransi kesehatan indemnitas (ganti rugi) adalah adanya pembayaran praupaya (prospective payment dalam bentuk anggaran atau kapitasi) kepada pemberi pelayanan kesehatan (PPK).Kandungan jurus-jurus pelayanan paripurna. Sehubungan dengan itu. propinsi. berdasarkan asas usaha bersama dan kekeluargaan. Dalam UU ini. Azas usaha bersama dan kekeluargaan 4. Jaminan 2. yaitu: 1. kendali mutu dan kendali biaya dalam JPKM membuatnya lebih unggul dinadingkan bentuk jaminan kesehatan lainnya. Dengan keberadaan badan pembina ini. UU itu menetapkan pula fungsi pemerintah untuk membina. Misalnya. pengembangan dan pendorongan terhadap penyelenggaraan JPKM. Dengan pembayaran praupaya kepada PPK.Pembina JPKM ditingkat pusat. tanpa memberikan pelayanan berlebih-lebihan kepada peserta. terdapat 4 pihak yang bersama sama mendukung terselenggaranya JPKM. yang menjadi intensif bagi PPK untuk menjaga kesehatan peserta secara efisien-efektif dengan melakukan upaya preventif-promotif yang seimbang dengan upaya kuratif-rehabilitatif. dan 5.23/1992 tentang kesehatan. Pemeliharaan kesehatan yang paripurna. Ada beberapa kata kunci yang perlu diperhatikan agar mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang pengertian JPKM. JPKM dinyatakan sebagai cara penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan yang paripurna. bapel membebaskan diri dari risiko kerugian yang dapat timbul kalau membayar PPK berdasarkan tagihan atas jasa pelayanan yang telah diberikan (bentuk fee for service atau reimbursement). Pembiayaan secara pra-upaya 333 . melalui Kepmenkes 172/1999 yang ditindaklanjuti dengan edaran Dirjen Binkesmas diproses pembentukan Badan . Selanjutnya. Cara penyelenggaraan 3. yang berkesinambungan dan dengan mutu yang terjamin serta pembayaran secara praupaya. Kelebihan JPKM itu telah menempatkannya sebagai jaminan kesehatan terpilih dalam UU No. dan Kab/kota guna menampung tugas tugas pembinaan. mengembangkan dan mendorong JPKM sebagai cara yang dijadikan landasan untuk setiap penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan.

Jurus-jurus ini harus dilaksanakan secara utuh agar penyelenggaraan upaya pemeliharaan kesehatan dapat menjamin oeningkatan derajat kesehatan masyarakat pesertanya melalui terpeliharanya pemerataan. peserta dan pemberi pelayanan kesehatan untuk bersamasama secara kekeluargaan mengendalikan mutu dan biaya pemeiharaan kesehatan. sehingga menguntungkan dan memuaskan semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan JPKM. yang menghendaki peran aktif badan penyelenggara. Cara penyelenggaraan JPKM merupakan suatu cara penyelenggaraan paya pemeliharaan kesehatan yang terpadu dengan pembiayaannya. terjaganya mutu serta terkendalinya pembiayaan kesehatan. Efektivitas dari upaya pemeliharaan kesehatan bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat pesertanya b. Terselenggaranya pemeliharaan kesehatan paripurna dan berkesinambungan 2. Cara ini mempunyai beberapa mekanisme pelaksanaan tertentu. yang menjadi cirri khas dari JPKM dan karena itu dapat disebut juga sebagai ―jurus jurus JPKM‖. Efisiensi dan kelancarean memperoleh pelayanan kesehatan bagi pesertanya 4. Terjaganya mutu pemeliharaan kesehatan sesuai dengan standar yang disepakati 3. Azas Usaha dan Kekeluargan ―Berdasarkan azas usaha bersama dan kekeluargaan‖ yang tercantum dalam pengertian JPKM menunjukkan bahwa JPKM merupakan usaha bersama. Dengan demikian. Pemeliharaan Kesehatan yang Paripurna Dengan terpeliharanya kesehatan masyarakat yang paripurna diartikan bahwa upaya pemeliharaankesehatan dilaksanakan secara menyeluruh meliputi kegiatan promotif334 . Jaminan Setiap penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan berdasarkan JPKM harus mampu menjamin: 1. c. d. dapat dijaga keseimbangan dan keserasian dalam membela kepentingan masingmasing.a.

preventif-kuratif-rehabilitatif. Mengingat hal-hal yang tercantum diatas. umpamanya pengobatan rawat jalan saja atau hanya pengobatan di Rumah Sakit tanpa dukungan upaya preventif atau promotif. Pembiayaan secara pra-upaya Pemberian Pelayanan Kesehatan (PPK) dibayar di-muka/ pra-upaya (prepaid) oleh baan penyelenggara untuk memelihara kesehatan sejumlah peserta berdasarkan paket pemeliharaan kesehatan yang telah disepakati bersama. Upaya kesehatan dalam JPKM tidak dapat dilaksanakan sepotong-sepotong. jelas bahwa tidak hanya merupakan satu cara pembiayaan kesehatan. yang memungkinkan peningkatan derajat kesehatan segenap pesertanya. dan berkesinambungan. yang terarah dan terencana dengan pengolahan yang efektif dan efisien dan didukung oleh pembiayaan pra-upaya. e. 335 . karena hal ini cenderung menurunkan efektivitas dan efisiensi dalam pelaksanaannya. ―Pra-upaya‖ juga berarti bahwa peserta JPKM membayar dimuka sejumlah iuran secara teratur badan penyelenggara agar kebutuhan pemeliharaan kesehatan terjamin. JPKM juga merupakan suatu cara penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan. terpadu.

3.1 Tujuan Umum Meningkatnya derajat kesehatan masyarakat merupakan tujuan dari diadakannya JPKM.BAB III TUJUAN JPKM 3.2 Tujuan Khusus JPKM bertujuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui :  Jaminan pemeliharaan kesehatan sesuai kebutuhan utama peserta yang berkesinambungan.  Pelayanan kesehatan paripurna yang lebih bermutu dengan biaya yang hemat dan terkendali  Pengembangan kemandirian masyarakat dalam membiayai pelayanan kesehatan yang diperlukannya. 336 .  Pembudayaan perilaku hidup bersih dan sehat.

Cara penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan dan cara pembayaran kepada PPK sudah mengikuti prinsip-prinsip JPKM (untuk Pusskesmas dilakukan berdasarkan kapitasi dan untuk Rumah Sakit berdasarkan sistem paket). tanpa mempertimbangkan tingkatan pangkat atau kedudukan. penerima pensiun (baik sipil maupun ABRI) dengan iuran yang dipotong dari gaji sebesar 2%. Sesuai dengan kebijaksanaan Pemerintah dalam hal struktur organisasi badan-badan pemerintah. yang seperti diatur dalam pasal 14 hanya dapat dilaksanakan oleh BUMN.BAB IV KEGIATAN dan SASARAN 4. maka BPDPK diubah status menjadi Perum Husada Bhakti. Pelayanan kesehatan peserta disediakan di semua Puskesmas dan Rumah Sakit Pemerintah.2/1992. Untuk peserta sukarela disediakan pelayanan oleh dokter keluarga atau fasilitas keehatan swasta. Pemeliharaan kesehatan paripurna diberikan sama kepada semua peserta. Menurut UU No. ASKES adalah badan penyelenggara program asuransi sosial di bidang kesehatan. Kepesertaan program brsifat wajib bagi pegawai negeri. Penutupan asuransi atas objek asuransinya bukan didasarkan kepada kebebasan memilih penanggung melainkan secara wajib berdasarkan suatu Undang-undang dengan tujuan untuk memberikan perlindungan dasar bagi kesejahteraan masyarakat (pasal 1 ayat 3 dan pasal 6 ayat 1). ASKES) sampai sekarang. jaminan pemeliharaan kesehatan untuk tenaga kerja dan keluarganya wajib dilaksanakan oleh setiap 337 . kemudian menjadi PT (Persero) Asuransi Kesehatan Indonesia (PT. Penerima Pensiun dan Keluarganya Upaya ini dimulai tahun 1968 berdasarkan Keppres No. b) Pemeliharaan Kesehatan bagi Tenaga Kerja dan Keluarganya Sejak terbitnya UU No. Badan yang mengelola upaya ini pada waktu itu dinamakan Badan Penyelenggara Dana Pemeliharaan Kesehatan atau disingkat BPDPK dan berada dalam lingkungan Departemen Kesehatan. 230 tahun 1968. PT.1 Kegiatan a) Pemeliharaan Kesehatan Pegawai Negeri.3 tahun 1992 tentang Jamsostek.

menggunakan kepesertaannya Pengelolaannya mengikuti pedoman JPKM. Seluruh anggota keluarga/masyarakat. sehingga benar-banar dapat mandiri dalam menjaga kesehatan pesertanya. Pemeliharaan kesehatan serta cara pembayaran kepada PPK mengikuti pedoman penyelenggaraan JPKM. c) Pemeliharaan Kesehatan Swasta Beberapa pengusaha swasta telah mulai menyelenggarakan upaya pemeliharaan kesehatan berdasarkan JPKM untuk golongan tertentu dari masyarakat. 1000. Seluruh iuran ditanggung oleh perusahaan. terutama segmen yang berpenghasilan fasilitas swasta menengah dan keatas. oleh. Iuran ditetapkan sebesar 3% dari gaji sebulan untuk pekerja bujangan dan 6% dari gaji bagi yang sudah berkeluarga.2 Sasaran     Karyawan perusahaan/dunia usaha.perusahaan yang memperkrjakan minimal 50 orang karyawan atau yang mengeluarkan Rp. Peserta umumnya adalah penduduk berpenghasilan rendah di pedesaan dan perkotaan dengan iuran yang relatif kecil dan paket pelayanan kesehatan yang masih terbatas. Pelajar dan mahasiswa. dan Untuk Masyarakat atau Dana Sehat Dana Sehat adalah suatu upaya pemeliharaan kesehatan dari. Pengelolaan Dana Sehat pada umumnya dilakukan secara sukarela oleh pengurus yang ditunjuk oleh masyarakat setempat. Oleh. Cakupan peserta diwujudkan di beberapa DATI II dengan kepesertaan kelompok dan pengelolaan pofesional kearah JPKM. d) Pemeliharaan Kesehatan Dari.000..minimal sebulan untuk gaji para tenaga kerjanya. meskipun belum sepenuhnya. Pemeliharaan relatif masih kesehatan sedikit. dan untuk masyarakat umum. Organisasi sosial dan kemasyarakatan 338 . 4.

jenis pelayanan meliputi :    Konsultasi dan pemeriksaan dokter spesialis Obat obatan sesuai kebutuhan medis Pemeriksaan penunjang berdasarkan indikasi medis 339 . polio. dan rehabilitatif) meliputi : A. kuratif.PELAYANAN KESEHATAN YANG DIJAMIN : Paket dasar yang bersifat paripurna (meliputi promotif preventif.ibu menyusui.1. hepatitis B) Pelayanan KIA termsuk ANC .1.1.ibu nifas . jenis pelayanan meliputi              Promosi kesehatan atau penyuluhan Imunisasi dasar program (BCG. bayi dan balita KB dengan alat kontrasepsi standar Pengobatan penyakit umum atau gigi Pelayanan rujukan Pelayanan obat obatan Pelayanan laboratorium dasar meliputi pemeriksaan darah rutin dan urin lengkap Tindakan medis Pelayanan penunjang diagnostic Pelayanan partus Pelayanan spesialistik Pelayanan gawat darurat B. 5. campak.rawat jalan tingkat pertama (RJTP). DPT.BAB V PELAKSANAAN 5. Rawat jalan tingkat lanjutan atau spesialis (RJTL) . Pelaksanaan Puskesmas Kecamatan Mampang Pada puskesmas kecamatan Mampang dilaksanakan sistem jaminan pemeliharaan kesehatan bagi keluarga miskin (JPK GAKIN) dengan pendekatan JPKM.

dll) 5. Rawat Inap di Kelas 3 Rumah Sakit.2. jenis pelayanan meliputi:    Perawatan kelas 3 di Rumah Sakit yang telah berIKS dengan dinas kesehatan Visit dokter spesialis atau dokter yang merawat Obat-obatan yang diperlukan (DPHU.1. Tindakan di poliklinik C. alat bantu dengar.1.1. 6 KRITERIA KEMISKINAN LOKAL YANG DIGUNAKAN BAGI SKTM 340 . dll) Medical check up Vitamin atau pemberian suplemen tanpa indikasi medis Pengobatan alternative (tradisional.4. Formularium atau sesuai indikasi medis dengan surat keterangan komite medik/konsulen bagian atau departemen)     Penunjang diagnostic dan tindakan yang sesuain dengan indikasi medis Alat kesehatan dan bahan habis pakai yang diperlukan D. Generik. jenis pelayanan meliputi: Perawatan ICU/ICCU/HCU Unit Perinatologi (NICU) 5. PELAYANAN KESEHATAN YANG TIDAK DIJAMIN            Pelayanan yang tidak sesuai dengan prosedur Pelayanan atau perawatan yang berkaitan dengan tujuan kosmetik (bedah plastic.3. othodontis. PELAYANAN KESEHATAN YANG DIJAMIN DENGAN PEMBATASAN :  Potesa dan alat bantu yang sesuai indikasi medis (gigi palsu. Perawatan Khusus di Rumah Sakit. terapi alternatif lain) Pengguguran kandungan tanpa indikasi medis (permintaan sendiri) Hamil diluar nikah Pelayanan yang berkaitan dengan infertilitas dan kesuburan Bunuh diri Pelaku tindakan kejahatan Pemegang kartu asuransi lain 5. kacamata.

PELAYANAN KESEHATAN YANG DIJAMIN : Paket dasar yang bersifat paripurna (meliputi promotif preventif. Rawat jalan tingkat lanjutan atau spesialis (RJTL) . Tidak mampu ber-KB secara mandiri d. polio.1.2. jenis pelayanan meliputi              Promosi kesehatan atau penyuluhan Imunisasi dasar program (BCG. bayi dan balita KB dengan alat kontrasepsi standar Pengobatan penyakit umum atau gigi Pelayanan rujukan Pelayanan obat obatan Pelayanan laboratorium dasar meliputi pemeriksaan darah rutin dan urin lengkap Tindakan medis Pelayanan penunjang diagnostic Pelayanan partus Pelayanan spesialistik Pelayanan gawat darurat B. Terdapat anggota keluarga yang berusia 15tahun keatas buta huruf f. kuratif. Penghasilan kurang dari UMP DKI Jakarta per rumah tangga perbulan (kurang dari 600ribu) e. Tidak mampu membiayai pengobatan ke sarana kesehatan / bukan Puskesmas c.a.jenis pelayanan meliputi :   Konsultasi dan pemeriksaan dokter spesialis Obat obatan sesuai kebutuhan medis 341 . dan rehabilitatif) meliputi : A.ibu nifas . Luas lantai per orang kurang dari 4m2 b. DPT.2 Pelaksanaan Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan 5.rawat jalan tingkat pertama (RJTP).ibu menyusui. Terdapat anggota keluarga dengan usia 7 – 18 tahun yang tidak sekolah atau putus sekolah 5. hepatitis B) Pelayanan KIA termsuk ANC . campak.

3. othodontis. Rawat Inap di Kelas 3 Rumah Sakit. Formularium atau sesuai indikasi medis dengan surat keterangan komite medik/konsulen bagian atau departemen)     Penunjang diagnostic dan tindakan yang sesuain dengan indikasi medis Alat kesehatan dan bahan habis pakai yang diperlukan D. kacamata. Perawatan Khusus di Rumah Sakit.2.  Pemeriksaan penunjang berdasarkan indikasi medis Tindakan di poliklinik C.2. dll) Medical check up Vitamin atau pemberian suplemen tanpa indikasi medis Pengobatan alternative (tradisional. dll) 5. PELAYANAN KESEHATAN YANG TIDAK DIJAMIN            Pelayanan yang tidak sesuai dengan prosedur Pelayanan atau perawatan yang berkaitan dengan tujuan kosmetik (bedah plastic. jenis pelayanan meliputi:    Perawatan kelas 3 di Rumah Sakit yang telah berIKS dengan dinas kesehatan Visit dokter spesialis atau dokter yang merawat Obat-obatan yang diperlukan (DPHU. PELAYANAN KESEHATAN YANG DIJAMIN DENGAN PEMBATASAN :  Potesa dan alat bantu yang sesuai indikasi medis (gigi palsu. alat bantu dengar. terapi alternatif lain) Pengguguran kandungan tanpa indikasi medis (permintaan sendiri) Hamil diluar nikah Pelayanan yang berkaitan dengan infertilitas dan kesuburan Bunuh diri Pelaku tindakan kejahatan Pemegang kartu asuransi lain 342 . jenis pelayanan meliputi: Perawatan ICU/ICCU/HCU Unit Perinatologi (NICU) 5.2. Generik.

ibu nifas .ibu menyusui. DPT.5. campak. bayi dan balita KB dengan alat kontrasepsi standar Pengobatan penyakit umum atau gigi Pelayanan rujukan Pelayanan obat obatan Pelayanan laboratorium dasar meliputi pemeriksaan darah rutin dan urin lengkap Tindakan medis Pelayanan penunjang diagnostic Pelayanan partus 343 . Luas lantai per orang kurang dari 4m2 b. 6 KRITERIA KEMISKINAN LOKAL YANG DIGUNAKAN BAGI SKTM a. jenis pelayanan meliputi            Promosi kesehatan atau penyuluhan Imunisasi dasar program (BCG.3 Pelaksanaan Puskesmas Kelurahan Pela Mampang Rawat jalan tingkat pertama (RJTP).4. Terdapat anggota keluarga yang berusia 15tahun keatas buta huruf f. Tidak mampu membiayai pengobatan ke sarana kesehatan / bukan Puskesmas c. Penghasilan kurang dari UMP DKI Jakarta per rumah tangga perbulan (kurang dari 600ribu) e. Terdapat anggota keluarga dengan usia 7 – 18 tahun yang tidak sekolah atau putus sekolah 5. hepatitis B) Pelayanan KIA termsuk ANC . Tidak mampu ber-KB secara mandiri d.2. polio.

preventif. kuratif. 6.2 Saran    Pelayanan-pelayanan yang diberikan harus sesuai dengan keperluan pasien baik secara promotif. dan rehabilitatif. JPKM bertujuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui jaminan pemeliharaan kesehatan sesuai kebutuhan utama peserta yang berkesinambungan.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6. pembudayaan perilaku hidup bersih dan sehat.1 Kesimpulan JPKM yang merupakan singkatan dari Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat. pengembangan kemandirian masyarakat dalam membiayai pelayanan kesehatan yang diperlukannya. pada hakekatnya adalah jaminan pelayanan kesehatan paripurna yang diperoleh seseorang setelah membayar kontribusi/iuran kepada suatu badan penyelenggara yang mengikat kontrak dan membayar pra upaya jaringan pemberi pelayanan kesehatan berjenjang yang terjaga mutunya untuk melayani peserta tersebut. Agar masyarakat lebih mengerti tentang JPKM dan kesehatan masyarakat  Mengevaluasi kegiatan untuk melihat apakah kegiatan kegiatan pelayanan berjalan dengan baik 344 . Membuat dan melakukan semua rencana kegiatan pelayanan kesehatan paripurna agar biaya dapat hemat dan terkendali Memberikan informasi yang lengkap terhadap masyarakat tentang JPKM denganmenggunakan media cetak seperti brosur ataupun secara lisan. pelayanan kesehatan paripurna yang lebih bermutu dengan biaya yang hemat dan terkendali.

Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat.org. 12-15.dinkes. Departemen Kesehatan RI: Kumpulan Materi Pelatihan Penyelenggaraan JPKM. 2. Diakses Desember 2009. Diunduh dari http:/www.DAFTAR PUSTAKA 1. Jakarta (2000). 345 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful