UPAYA KESEHATAN WAJIB

1

UPAYA PROMOSI KESEHATAN

Penyusun: Kirana Asmara Meitty Marisha (03005131) (03005143)

2

BAB I PENDAHULUAN
Dewasa ini promosi kesehatan (health promotion) telah menjadi bidang yang semakin penting dari tahun ke tahun. Dalam tiga dekade terakhir, telah terjadi perkembangan yang signifikan dalam hal perhatian dunia mengenai masalah promosi kesehatan. Pada 21 November 1986, World Health Organization (WHO) menyelenggarakan Konferensi Internasional Pertama bidang Promosi Kesehatan yang diadakan di Ottawa, Kanada. Konferensi ini dihadiri oleh para ahli kesehatan seluruh dunia, dan menghasilkan sebuah dokumen penting yang disebut Ottawa Charter (Piagam Ottawa). Piagam ini menjadi rujukan bagi program promosi kesehatan di tiap negara, termasuk Indonesia. Dalam Piagam Ottawa disebutkan bahwa promosi kesehatan adalah proses yang memungkinkan orang-orang untuk mengontrol dan meningkatkan kesehatan mereka (Health promotion is the process of enabling people to increase control over, and to improve, their health, WHO, 1986). Jadi, tujuan akhir promosi kesehatan adalah menanamkan kesadaran pada masyarakat tentang pentingnya kesehatan bagi mereka sehingga mereka sendirilah yang akan melakukan usaha-usaha untuk menyehatkan diri mereka. Promosi kesehatan menjelaskan bahwa untuk mencapai derajat kesehatan yang

sempurna, baik fisik, mental, maupun sosial, individu atau kelompok harus mampu mengenal serta mewujudkan aspirasi-aspirasinya untuk memenuhi kebutuhannya agar mampu mengubah atau mengatasi lingkungannya (lingkungan fisik, sosial budaya, dan sebagainya). Untuk itu, promosi kesehatan tidak hanya merupakan tanggung jawab dari sektor kesehatan, akan tetapi jauh melampaui gaya hidup secara sehat untuk kesejahteraan (WHO, 1986). Penyelenggaraan promosi kesehatan dilakukan dengan mengombinasikan berbagai strategi yang tidak hanya melibatkan sektor kesehatan belaka, melainkan lewat kerjasama dan koordinasi segenap unsur dalam masyarakat. Hal ini didasari pemikiran bahwa promosi kesehatan adalah suatu filosofi umum yang menitikberatkan pada gagasan bahwa kesehatan yang baik merupakan usaha individu sekaligus kolektif (Taylor, 2003). Bagi individu, promosi kesehatan terkait dengan pengembangan program kebiasaan kesehatan yang baik sejak muda hingga dewasa dan lanjut usia (Taylor, 2003). Secara kolektif, berbagai sektor, unsur, dan profesi dalam masyarakat seperti praktisi medis, psikolog, media massa, para pembuat kebijakan publik dan perumus perundang-undangan dapat dilibatkan dalam program promosi kesehatan. Praktisi medis dapat mengajarkan kepada
3

masyarakat mengenai gaya hidup yang sehat dan membantu mereka memantau atau menangani risiko masalah kesehatan tertentu. Para psikolog berperan dalam promosi kesehatan lewat pengembangan bentuk-bentuk intervensi untuk membantu masyarakat memraktikkan perilaku yang sehat dan mengubah kebiasaan yang buruk. Media massa dapat memberikan kontribusinya dengan menginformasikan kepada masyarakat perilaku-perilaku tertentu yang berisiko terhadap kesehatan seperti merokok dan mengonsumsi alkohol. Para pembuat kebijakan melakukan pendekatan secara umum lewat penyediaan informasi-informasi yang diperlukan masyarakat untuk memelihara dan mengembangkan gaya hidup sehat, serta penyediaan sarana-sarana dan fasilitas yang diperlukan untuk mengubah kebiasaan buruk masyarakat. Berikutnya, perumus perundang-undangan dapat menerapkan aturan-aturan tertentu untuk menurunkan risiko kecelakaan seperti misalnya aturan penggunaan sabuk pengaman di kendaraan (Taylor, 2003)

4

BAB II PENGERTIAN
Promosi kesehatan adalah upaya membantu masyarakat memberdayakan dirinya untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatannya. Menurut WHO tahun 1986, Promosi Kesehatan adalah proses yang memberdayakan manusia untuk mengendalikan dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri. Menurut Green dan Ottoson (1998) Promosi Kesehatan adalah kombinasiberbagai dukungan menyangkut pendidikan, organisasi, kebijakan, dan peraturan perundangan untuk perubahan lingkungan dan perilaku yang menguntungkan kesehatan. Menurut definisi yang selama ini dipakai oleh Pusat Promosi Keehatan, Promosi Kesehatan itu adalah proses memberdayakan atau memandirikan masyarakat agar mampu memelihara, meningkatkan, dan melindungi, kesehatannya melalui peningkatan kesadaran, kemauan dan kemampuan, serta pengembangan lingkungan sehat.

Dalam pengertian Promosi Kesehatan tersebut terkandung beberapa pengertian operasional sebagai berikut: Promosi Kesehatan merupakan bagian dari upaya kesehatan masyarakat (Public Health) secara keseluruhan, yang fokusnya adalah: pemberdayaan masyarakat, yaitu upaya agar masyarakat dapat memelihara, meningkatkan, dan melindungi kesehatannya. Dengan demikian, Promosi Kesehatan lebih bersifat upaya promotif-preventif, tanpa

mengesampingkan upaya kuratif-rehabilitatif. Pemberdayaan dilakukan dengan menumbuhkan kesadaran, kemauan dan kemampuan mayarakat untuk hidup sehat, sehingga penekanan Promosi Kesehatan pada pengembangan perilaku dan lingkungan sehat. Pemberdayaan tersebut merupakan upaya kemitraan berbagai pihak dan merupakan upaya dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat, sehingga masyarakat aktif sebagai pelaku atau subyek, bukan pasif menunggu sebagai obyek semata. Pemberdayaan dilakukan sesuai dengan kondisi dan budaya setempat, sehingga Promosi Kesehatan diwarnai oleh suasana lokal.

5

BAB III TUJUAN
Tujuan Umum Tercapainya perubahan perilaku individu, keluarga dan masyarakat dalam membina dan memelihara perilaku sehat dan lingkungan sehat, serta berperan aktif dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan yang optimal, dan juga memberdayakan kemampuan masyarakat untuk hidup lebih sehat.

Tujuan Khusus Timbulnya kesadaran penduduk akan nilai kesehatan. Meningkatnya pengembangan Puskesmas dan pemanfaatannya sebagai sarana pelayanan kesehatan dan sebagai sumber penerangan dan penyuluhan kesehatan Terbantunya orang-orang dan masyarakat pada umumnya, dalam menjaga kesehatan mereka pada tingkat yang sebaik-baiknya.

Tujuan Promosi Kesehatan secara Keseluruhan Tersosialisasinya program-program kesehatan, terwujudnya masyarakat Indonesia baru yang berbudaya hidup bersih dan sehat, serta tumbuhnya gerakan hidup sehat di masyarakat, menuju terwujudnya kabupaten atau kota sehat, propinsi sehat, Indonesia sehat 2010.

Tujuan PHBS Meningkatnya pengetahuan, kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat agar hidup bersih dan sehat, serta meningkatnya peran serta aktif masyarakat termasuk swasta dan dunia usaha, dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Tujuan Penyuluhan Kesehatan Tercapainya perubahan perilaku individu, keluarga dan masyarakat dalam membina dan memelihara perilaku sehat dan lingkungan sehat serta berperan aktif dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.

6

sekolah. Kemudian. dll. Pemasaran sosial (social marketing). tempat-tempat umum. pencegahan penyakit (preventif). Pengorganisasian masyarakat (community organization). dukungan suasana. kebijakan. Upaya peningkatan (promotif) yang penekanannya pada upaya pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. semuanya merupakan sasaran kegiatan promosi kesehatan. Upaya advokasi di bidang kesehatan.BAB IV KEGIATAN Promosi kesehatan mencakup baik kegiatan promosi (promotif). promosi kesehatan dapat dilakukan di berbagai ruang kehidupan. dan tentu saja kantor-kantor pelayanan kesehatan. 4. 7 . penggerakan masyarakat (social mobilization). Oleh karena itu. pengobatan (kuratif). pemberdayaan masyarakat (community empowerment). organisasi. Promosi kesehatan bersifat lebih luas atau lebih makro lagi dan lebih menyentuh sisi advokasi pada level pembuat kebijakan di mana promosi kesehatan berusaha melakukan perubahan pada lingkungan dengan harapan terjadinya perubahan perilaku yang lebih baik (Kapalawi. 2008). pengembangan masyarakat (community development). yaitu upaya untuk memengaruhi lingkungan atau pihak lain agar mengembangkan kebijakan yang berwawasan kesehatan (melalui upaya legislasi atau pembuatan peraturan. 2008): 1. tempat kerja. dalam keluarga. 3. promosi kesehatan adalah kombinasi berbagai dukungan menyangkut pendidikan. dan lain-lain di berbagai bidang/sektor. Upaya penyuluhan (upaya komunikasi dan informasi) yang tekanannya pada penyebaran informasi. 6. maupun rehabilitasi. dan peraturan perundangan untuk perubahan lingkungan dan perilaku yang menguntungkan kesehatan. 5. lingkup promosi kesehatan dapat disimpulkan sebagai berikut (Iqi. yang penekanannya pada pengenalan produk/jasa melalui kampanye. Pendidikan kesehatan (health education) yang penekanannya pada perubahan/perbaikan perilaku melalui peningkatan kesadaran. kemauan. dan kemampuan. 2007). 2. Dalam hal ini. sesuai keadaan). Menurut Green dan Ottoson (dalam Iqi. orang-orang yang sehat maupun mereka yang terkena penyakit.

Kesehatan memerlukan prasyarat-prasyarat yang terdiri dari berbagai sumber daya dan kondisi dasar. komunitas. Berikut akan disediakan terjemahan dari Piagam Ottawa pada bagian yang diberi subjudul Health Promotion Action Means. yang menstimulasi. dan kebijakan sosial yang menghasilkan kesamaan yang lebih besar. dan perubahan organisasi. Promosi kesehatan menempatkan kesehatan pada agenda dari pembuat kebijakan di semua sektor pada semua level. daerah kerja. 1986). produksi energi dan urbanisasi–. perhitungan fiskal. adalah kebutuhan untuk memberi semangat pemeliharaan yang timbal-balik — untuk memelihara satu sama lain. Penjajakan sistematis dampak kesehatan dari lingkungan yang berubah pesat. Ini adalah kegiatan yang terkoordinasi yang membawa kepada kesehatan. Kaitan yang tak terpisahkan antara manusia dan lingkungannya menjadikan basis untuk sebuah pendekatan sosio-ekologis bagi kesehatan. pendapatan (income). sumber daya yang berkesinambungan (a sustainable resources). memuaskan. Kegiatan terpadu memberikan kontribusi untuk memastikan barang dan jasa yang lebih aman dan lebih sehat. Menurut Piagam Ottawa. makanan (food). dan komunitas yang serupa. Upaya-upaya peningkatan promosi kesehatan harus memerhatikan semua prasyarat tersebut. lewat Konferensi Internasional Pertama tentang Promosi Kesehatan di Ottawa pada tahun 1986. dan lingkungan alam kita. mengarahkan mereka supaya sadar akan konsekuensi kesehatan dari keputusan mereka dan agar mereka menerima tanggung jawab mereka atas kesehatan. perpajakan. serta kesetaraan dan keadilan sosial (social justice and equity) (WHO. Prinsip panduan keseluruhan bagi dunia. pelayanan jasa publik yang lebih sehat dan lebih bersih. kegiatan-kegiatan promosi kesehatan berarti: Membangun kebijakan publik berwawasan kesehatan (build healthy public policy) Promosi kesehatan lebih daripada sekadar perawatan kesehatan. ekosistem yang stabil (a stable eco-system). WHO. bangsa. dan lingkungan yang lebih menyenangkan. Kebijakan promosi kesehatan mengombinasikan pendekatan yang berbeda namun dapat saling mengisi termasuk legislasi. meliputi perdamaian (peace).sangat esensial dan harus diikuti dengan kegiatan untuk memastikan 8 . perlindungan (shelter). Promosi kesehatan menciptakan kondisi hidup dan kondisi kerja yang aman. kawasan. pendapatan. Menciptakan lingkungan yang mendukung (create supportive environments) Kesehatan tidak dapat dipisahkan dari tujuan-tujuan lain. dan menyenangkan.—terutama di daerah teknologi. telah merumuskan sejumlah kegiatan yang dapat dilakukan oleh setiap negara untuk menyelenggarakan promosi kesehatan. pendidikan (education).

sebagaimana penggalangan dukungan. dan pengembangan keterampilan hidup. Peran sektor kesehatan harus bergerak meningkat pada arah promosi kesehatan. di samping tanggung jawabnya dalam menyediakan pelayanan klinis dan pengobatan. Reorientasi pelayanan kesehatan juga memerlukan perhatian yang kuat untuk penelitian kesehatan sebagaimana perubahan pada pelatihan dan pendidikan 9 . Reorientasi pelayanan kesehatan (reorient health services) Tanggung jawab untuk promosi kesehatan pada pelayanan kesehatan dibagi di antara individu. Memerkuat kegiatan-kegiatan komunitas (strengthen community actions) Promosi kesehatan bekerja melalui kegiatan komunitas yang konkret dan efisien dalam mengatur prioritas. Pelayanan kesehatan harus memegang mandat yang meluas yang merupakan hal sensitif dan ia juga harus menghormati kebutuhan kultural. profesional kesehatan. ekonomi. kelompok komunitas. Mandat ini harus mendukung kebutuhan individu dan komunitas untuk kehidupan yang lebih sehat. merencanakan strategi dan melaksanakannya untuk mencapai kesehatan yang lebih baik. hal ini meningkatkan pilihan yang tersedia bagi masyarakat untuk melatih dalam mengontrol kesehatan dan lingkungan mereka. dan pemerintah. Mengembangkan keterampilan individu (develop personal skills) Promosi kesehatan mendukung pengembangan personal dan sosial melalui penyediaan informasi. memelajari kesempatan untuk kesehatan. Hal ini memerlukan akses yang penuh serta terus menerus akan informasi. dan membuka saluran antara sektor kesehatan dan komponen sosial. Dengan demikian. pendidikan kesehatan.keuntungan yang positif bagi kesehatan masyarakat. Mereka harus bekerja sama melalui suatu sistem perawatan kesehatan yang berkontribusi untuk pencapaian kesehatan. politik. dan lingkungan fisik yang lebih luas. Pengembangan komunitas menekankan pengadaan sumber daya manusia dan material dalam komunitas untuk mengembangkan kemandirian dan dukungan sosial. Perlindungan alam dan lingkungan yang dibangun serta konservasi dari sumber daya alam harus ditujukan untuk promosi kesehatan apa saja. membuat keputusan. Inti dari proses ini adalah memberdayakan komunitas –-kepemilikan mereka dan kontrol akan usaha dan nasib mereka. dan untuk membuat pilihan yang kondusif bagi kesehatan. institusi pelayanan kesehatan. dan untuk mengembangkan sistem yang fleksibel untuk memerkuat partisipasi publik dalam masalah kesehatan.

Jadi sifatnya bottom-up (dari bawah ke atas). sebagai bentuk pengawalan terhadap kesehatan. dan evaluasi kegiatan promosi kesehatan serta kesetaraan antara pria dan wanita sebagai acuan utama. kebersamaan. bekerja. Diharapkan dengan tingginya partisipasi dari masyarakat maka suatu program kesehatan dapat lebih tepat sasaran dan memiliki daya ungkit yang lebih 10 . Merawat. Advokasi ini lebih menyentuh pada level pembuat kebijakan. Pemberdayaan Di samping advokasi kesehatan. Advokasi Advokasi terhadap kesehatan merupakan sebuah upaya yang dilakukan orang-orang di bidang kesehatan. utamanya promosi kesehatan. bagaimana orang-orang yang bergerak di bidang kesehatan bisa memengaruhi para pembuat kebijakan untuk lebih tahu dan memerhatikan kesehatan. Untuk itu. Melalui advokasi. yakni advokasi (advocacy) dan pemberdayaan (empowerment). dan mencintai.profesional. Bergerak ke masa depan (moving into the future) Kesehatan diciptakan dan dijalani oleh manusia di antara pengaturan dari kehidupan mereka sehari-hari di mana mereka belajar. bermain. Hal ini harus membawa kepada perubahan sikap dan pengorganisasian pelayanan kesehatan dengan memfokuskan ulang kepada kebutuhan total dari individu sebagai manusia seutuhnya. Advokasi dapat dilakukan dengan memengaruhi para pembuat kebijakan untuk membuat peraturan-peraturan yang bisa berpihak pada kesehatan dan peraturan tersebut dapat menciptakan lingkungan yang dapat mempengaruhi perilaku sehat dapat terwujud di masyarakat (Kapalawi. pelaksanaan. Kesehatan diciptakan dengan memelihara satu sama lain dengan kemampuan untuk membuat keputusan dan membuat kontrol terhadap kondisi kehidupan seseorang. dan dengan memastikan bahwa masyarakat yag didiami seseorang menciptakan kondisi yang memungkinkan pencapaian kesehatan oleh semua anggotanya. Partisipasi masyarakat adalah kegiatan pelibatan masyarakat dalam suatu program. dan ekologi adalah isu-isu yang penting dalam mengembangkan strategi untuk promosi kesehatan. Dari enam hal di atas. setidaknya dapat disimpulkan dua kata kunci kegiatan promosi kesehatan. semua yang terlibat harus menjadikan setiap fase perencanaan. 2007). Pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan lebih kepada untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam bidang kesehatan. strategi lain dari promosi kesehatan adalah pemberdayaan masyarakat di dalam kegiatan-kegiatan kesehatan. promosi kesehatan masuk ke wilayah politik. Advokasi bergerak secara top-down (dari atas ke bawah).

Posyandu Lansia setiap hari Senin minggu pertama). Bina suasana. Partisipasi dapat terwujud dengan syarat (Tawi. Pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan pada dasarnya tidak berbeda dengan pemberdayaan masyarakat dalam bidang-bidang lainnya. hasilnya adalah cukup baik. petugas yang tersedia masih terbatas. baik yang dilakukan di dalam maupun di luar gedung Puskesmas. berupa pengenalan masalah kesehatan oleh masyarakat dan melaksanakan para kader atau tenaga pelaksana yang terlatih. misalnya adanya kebijakan gerakan PSN-3M selama 30 menit setiap hari jumat Gerakan masyarakat. Berdasarkan kegiatan di lapangan (dalam hal ini di Puskesmas kecamatan Tebet). kegiatan promosi kesehatan akan berlangsung dengan sukses. partisipasi masyarakat harus ditumbuhkan. Sebagai unsur dasar dalam pemberdayaan. Partisipasi itu harus didukung oleh adanya kesadaran dan pemahaman tentang bidang yang diberdayakan. Tanggapan masyarakat terhadap kegiatan yang diikutinya cukup baik. Pelaksanaan kegiatan di Puskesmas Kecamatan Cilandak Kegiatan Promkes yang dilakukan di Puskesmas Kecamatan Cilandak meliputi kegiatan: Advokasi kesehatan. Adanya manfaat yang dapat dan segera dapat dirasakan oleh masyarakat 4. Adanya contoh dan keteladanan dari tokoh/pemimpin masyarakat. Dengan begitu. 2008): 1. Adanya saling percaya antaranggota masyarakat 2. 2007). disertai kemauan dari kelompok sasaran yang akan menempuh proses pemberdayaan. Dengan pemberdayaan masyarakat. misalnya melalui berbagai kegiatan penyuluhan (penyuluhan di Posyandu balita setiap bulan di hari Rabu minggu pertama. Adanya ajakan dan kesempatan untuk berperan aktif 3. misalnya dengan adanya Jumantik (Juru Pemantau Jentik) di tingkat RT. Namun. 11 . pelatihan kader-kader Posyandu untuk imunisasi Mopping Up Polio. diharapkan masyarakat dapat berperan aktif atau berpartisipasi dalam setiap kegiatan. dan lokakarya.besar bagi perubahan perilaku karena dapat menimbulkan suatu nilai di dalam masyarakat bahwa kegiatan-kegiatan kesehatan tersebut itu dari kita dan untuk kita (Kapalawi.

atau perorangan yang digunakan untuk kegiatan bagi masyarakat seperti sarana 12 . Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan 2. Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai PHBS di Institusi Kesehatan yaitu :        Menggunakan air bersih Menggunakan Jamban Membuang sampah pada tempatnya Tidak merokok di institusi kesehatan Tidak meludah sembarangan Memberantas jentik nyamuk PHBS di Tempat . masyarakat pengunjung dan petugas agar tahu. Makan bah dan sayur setiap hari 9.tempat Umum Sehat. Memberantas jentik di rumah seminggu sekali 8. mau dan mampu untuk mempraktikkan PHBS dan berperan aktif dalam mewujudkan tempat . Tidak Merokok di dalam rumah PHBS di Institusi Kesehatan adalah upaya untuk memberdayakan pasien. Menimbang Bayi tiap bulan 4. Menggunakan jamban sehat 7. PHBS di Rumah Tangga dilakukan untuk mencapai Rumah Tangga ber PHBS yang melakukan 10 PHBS yaitu: 1.tempat Umum adalah sarana yang diselenggarakan oleh pemerintah/swasta. Menggunakan air bersih 5.Perilaku Hidup Bersih dan Sehat PHBS di Rumah Tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu.tempat Umum adalah upaya untuk memberdayakan masyarakat pengunjung dan pengelola tempat . mau dan mampu untuk mempraktikkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dan berperan aktif dalam mewujudkan Institusi Kesehatan Sehat dan mencegah penularan penyakit di institusi kesehatan.tempat umum agar tahu. Melakukan aktifitas fisik setiap hari 10.  Tempat . Memberi ASI Esklusif 3. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun 6. mau dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat.

guru dan masyarakat lingkungan sekolah atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran. Menggunakan air bersih 2. Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai PHBS di sekolah yaitu:         Mencuci tangan dengan air yang mengalir dan menggunakan sabun Mengkonsumsi jajanan sehat di kantin sekolah Menggunakan jamban yang bersih dan sehat Olahraga yang teratur dan terukur Memberantas jentik nyamuk Tidak merokok di sekolah Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap 6 bulan Membuang sampah pada tempatnya PHBS di Tempat kerja adalah upaya untuk memberdayakan para pekerja agar tahu. transportasi. serta berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan sehat. rekreasi dan sarana sosial lainnya. Tidak meludah sembarangan PHBS di Sekolah adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan oleh peserta didik. sehingga secara mandiri mampu mencegah penyakit.pariwisata. sarana ibadah. Tidak merokok di tempat umum 5. meningkatkan kesehatannya. Menggunakan jamban 3. sarana perdagangan dan olahraga. Membuang sampah pada tempatnya 4. Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai PHBS di Tempat . mau dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam mewujudkan Tempat Kerja Sehat Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Tempat kerja antara lain :      Tidak merokok di tempat kerja Membeli dan mengkonsumsi makanan dari tempat kerja Melakukan olahraga secara teratur/aktifitas fisik Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar dan buang air kecil Memberantas jentik nyamuk di tempat kerja 13 .Tempat Umum yaitu : 1.

    Menggunakan air bersih Menggunakan jamban saat buang air kecil dan besar Membuang sampah pada tempatnya Mempergunakan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai jenis pekerjaan 14 .

OSIS Pengurus/sarikat pekerja Tempat umum Institusi kesehatan Pengunjung Pasien/pengunjung Pegawai/karyawan Petugas kesehatan Direksi/pemilik Pimpinan/direktur Sasaran Tersier Kepala keluarga Kepala sekolah Direksi/pemilik Strategi dan manajemen PKM puskesmas Dalam management PKM. pelatihan. distribusi bahan penyuluhan Pembinaan suasana (social support) Sekunder Pengembangan pendapat umum. yaitu pemberdayaan masyarakat suasana (social support).BAB V SASARAN SASARAN Digolongkan atas masyarakat yang sudah ada dalam suatu system tertentu yang disebut sebagai tatanan/pranata Tatanan Rumah tangga Institusi pendidikan Tempat kerja Sasaran Primer Anggota keluarga Seluruh siswa Seluruh karyawan Sasaran Sekunder Ibu Guru. dukungan Pendekatan peroramngan dan kelompok Konsultasi. norma Pendekatan pimpinan (advocacy) Tersier Persetujuan. dikenal (empowerment). Secara lebih jelas ketiga strategi tersebut dapat dilihat dibawah ini : Strategi Pemberdayaaan (empowerment) Primer Sasaran Tujuan Peningkatan pengetahuan sikap dan perilaku (PHBS) Cara Penyuluhan perorangan. Ketiga strategi tersebut harus dilakukan secara bersamaan.karyawan. dan pendekatan pimpinan/kelompok (advocacy).opini. saling mengisi. pertemuan 15 . dan melengkapi. pembinaan dukungan 3 strategi. kelompok dan masal.

Penggerakan dan pelaksanaan Daftar kegiatan dan penanggung jawab masingmasing kegiatan yang telah disepakati d. Pemantauan dan penilaian Rencana pertemuan/supervisi berkala Rencana evaluasi akhir tahun Luaran b.intervensi dan jadwal kegiatan c.Manajemen PKM di puskesmas Manajemen PKM di puskesmas dilaksanakan melalui 4 fungsi tahapan. 16 .kegiatan. yaitu : Pengkajian Pemantauan dan Penilaian Perencanaan Penggerakan dan Pelaksanaan Secara singkat. Perencanaan Kebijaksanaan Pelaksanaan Penyuluhan Kesehatan Masyarakat Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut. tahapan manajemen PKM dapat dilihat dalam table berikut: Tahapan manajemen a.kegiatan promosi kesehatan masyarakat dilaksanakan sebagai berikut : a.factor pendorong Pemetaan masalah PHBS Masalah strata kesehatan wilayah Ketersediaan SDM Rumusan tujuan. Penyuluhan kesehatan masyarakat merupakan bagian integral dari setiap program kesehatan dan berfungsi sebagai katalisator program-program tersebut. Pengkajian (i) (ii) (iii) (iv) Pengkajian masalah kesehatan Pengkajian masalah PHBS Pemetaan wilayah Pengkajian sumber daya 10 penyakit terbanyak.

d. maupun oleh masyarakat termasuk pihak LSM. c. dana. pemerintah. e. Penyuluhan kesehatan masyarakat di puskesmas Kecamatan Cilandak Agar dapat mencapai tujuan penyuluhan kesehatan masyarakat . paramedik. terutama yang akan dikembangkan dan diarahkan kea rah sikap mental yang partisipatif dan lebih berorientasi pada aspek pencegahan dan peningkatan. Peningkatan perilaku penduduk dalam membina hidup sehat juga diarahkan untuk meningkatkan peran sertanya mewujudkan masyarakat yang mandiri dalam membina derajat kesehatan yang dimulai dalam keluarganya.b. b. Penyuluhan di masyarakat (di luar gedung puskesmas) : pelaksanaannya dilaksanakan berdasarkan ― pendekatan edukatif ― melalui tahap-tahap berikut: 17 . Peningkatan penyuluhan kesehatan pada lembaga-lembaga pendidikan dasar. maka upaya kegiatan penyuluhan perlu diselaraskan dengan fungsi dan tugas puskesmas serta kemampuan daripada sumber tenaga. dan swasta agar kesadaran dan perilaku hidup sehat dapat ditumbuhkan dan dibudidayakan sedini mungkin. f. ataupun di rumah tinggal para dokter dan paramedic. Penyuluhan institusi : kegiatan penyuluhan yang dilakukan di institusi bersangkutan seperti puskesmas. Pelaksanaaan kegiatan puskesmas yang biasa dilaksanakan ialah : a. seperti poster dll Melakukan penyuluhan kelompok di puskes yang sudah direncanakan. Puskesmas dimanfaatkan sebagai pusat pengembangan dan pembinaan kesadaran dan peran serta masyarakat di bidang kesehatan di wilayahnya. serta sarana yang dimiliki. Secara tidak langsung Memberi tauladan serta contoh dari para dokter atau paramedic Penampilan yang rapih dan sehat dari bangunan puskesmas Secar a langsung Dialog do kamar periksa antara dokter dan pasien Dialog dokter. Sikap mental petugas kesehatan. Penyuluhan kesehatan merupakan upaya yang dilaksanakan baik oleh pemerintah secar a lintas program dan lintas sektoral. dan keluarga pasien tentang hal yang bias dilakukan pasien atau keluarga pasien Menggunakan media penyuluhan.

Pelaksanaan penyuluhan : dalam pelaksaan. wawancara dan demonstrasi. Pertemuan tingkat desa : tujuannya ialah memeperoleh kesepakatan dan dukungan dari kepala desa bererta aparatnya 3. perlu dilibatkan masyarakat dan petugas harus mampu menerapkan metode dan tehnik penyuluhan 6. Metode dan tehnik penyuluhan masyarakat A. Metode Secara sederhana pengertiannya adalah cara untuk melaksanakan penyuluhan kepada masyarakat. 18 . Perencanaan: membuat rencana penyuluhan kesehatan 5.1. Melakukan survey mawas diri : mendapatkan data dari msyarakat tentang idea tau program promosi kesehatan yang akan diterapkan kepada mereka. 4. Pertemuan tingkat kecamatan : tujuannya ialah memeperoleh kesepakatan dan dukungan dari pimpinan wilayah 2. maka metode penyuluhan yang paling sering dilakukan puskesmas adalah ceramah yang disertai Tanya jawab. Evaluasi kegiatan penyuluhan : evaluasi dilakukan sesuai dengan tehnik penyuluhan yang dilakukan.Untuk mengetahui metode apa yang dipilih perlu ditentukan terlebih dahulu tahapan perubahan perilaku yang ingin dicapai : Metode untuk merubah pengetahuan Ceramah Kuliah Presentasi Wisata karya Curah pendapat Seminar Studi kasus Tugas baca Symposium Panel Konferensi Metode untuk merubah sikap Diskusi kelompok Tanya jawab Role playing Pemutaran film Video Tape recorder Simulasi Metode untuk merubah tindakan Latihan sendiri bengKel kerja demonstrasi experiment Menentukan sasaran Karena keterbatasan sumber daya.

ada jawaban pada pengisian angket 19 .mempersiapkan alat peraga .Teknik penyampaian Ceramah Ceramah adalah salah satu cara menerangkan atau menjelaskan suatu ide.topic yang dikemukakan hanya satu .mengemukakan maksud dan tujuan . Ciri-ciri ceramah .mempersiapkan waktu dan tempat yang tepat -mempersiapkan undangan . serta dibantu oleh alat peraga.ada kesempatan bertanya bagi pendengar .mempersiapkan bahan bacaan .ada suatu pesan yang disampaikan .penilaian Suatu ceramah akan terlihat berhasil bila : -ada respon dari pendengar .menentukan sasaran pendengar .mempersiapkan materi .sediakan waktu untuk Tanya jawab -menyimpulkan ceramah . a.men yampaikan ceramah dengan suara jelas .pelaksanaan .ada minat pendengar .ciptakan suasana santai .perkenalan diri .ada alat peraga yang digunakan b.ada sekelompok pendengar yang dipersiapkan .B. langkah langkah melakukan ceramah .persiapan -menentukan maksud dan tujuan ceramah .menjelaskan sistematika ceramah . pengertian atau pesan secara lisn kepada suatu kelompok pendengar yang disertai diskusi dan Tanya jawab.

Wawancara Adalah suatu metode penyuluhan kesehatan dengan jalan Tanya jawab yang diarahkan kepada pencapaian tujuan yang telah ditentukan. Diarahkan kepada persoalan pokok 4. adegan atau menggunakan suatu proedur. Penyajian ini disertai penggunaan alat peraga dan Tanya jawab. Menentukan tujuan wawancara 2. Langkah-langkah melakukan wawancara Persiapan 1. Minat responden Demonstrasi Adalah suatu cara penyajian yang dipersiapkan dengan teliti untuk memperlihatkan bagaimana cara melakukan suatu tindakan. Menentukan sasaran 4. Cirri –ciri wawancara Ada pihak yang bertanya Ada pihak yang ditanya Seluruh percakapan dikendalikan oleh pihak interviewer b. Suasana menyenangkan 2. Catat jawaban yang dianggap perlu Penilaian 1. Menentukan isi pesan yang akan disampaikan 3. Kelancaran wawancara 3. Biasanya hanya diberikan pada individu yang terbatas jumlahnya. Rumuskan pertanyaan dengan sederhana 3. Gunakan alat peraga 5. 1. Memperkenalkan diri 2. Menentukan waktu 5. Tujuan 20 . Menentukan pokok-pokok pertanyaan Pelaksanaan 1. Jawaban yang wajar 4. a.

Menentukan maksut dan tujuan b. Hasil pengisian angket Alat peraga penyuluhan kesehatan masyarakat kemudahan bagi pihak penyuluh a. Memberi materi d. papan tulis b. melihat nyata inti materi b. menghindari kejenuhan Beberapa alat bantu peraga yang dapat digunakan adalah : a. OHP c. Menentukan materi c. Kertas flipchart d. Menentukan sasaran dengan latar belakang sosioekonomi d. Menentukan alat atau peraga Pelaksanaan a. Langkah-langkah melakukan demonstrasi Persiapan a. Banyaknya pertanyaan b. Adanya permintaan melakukan demonstrasi c. Menciptakan suasana nyaman c. Member kesempatan Tanya jawab Penilaian a. dapat menambah percaya diri c. menghindari kejenuhan kemudahan bagi pihak yang disuluh a. Menentukan perkiraan lamanya e. Poster 21 . Memperkenalkan diri b.- Memperlihatkan kepada kelompok bagaimana cara membuat sesuatu dengan prosedur yang benar Meyakinkan kelompok bahwa ide tersebut bias dilaksanakan Meningkatkan minat orang untuk belajar 2. memiliki bahan nyata b.

digunakan indicator-indikator tertentu. Ibu : . Leflet. dll Pemantauan dan penilaian Pemantauan kegiatan dilakukan secara berkala. Flash card f.proses melahirkan dibantu oleh petugas kesehatan . Strata PHBS di wilayah kerja Indikator PKM Dalam kegiatan penilaian. Hasil pengkajian tiap tahun dibandingkan hasil pengkajian awal tahun. Pemantauan dapat juga dilakukan dengan kunjungan lapangan ke tiap tatanan untuk melakukan perkembangan strata bersih dan sehat (PHBS) setelah dilakukan intervensi kesehatan masyarakat. yaitu petunjuk yang membatasi focus perhatian suatu penilaian. semua anggota keluarga tidak merokok j. balita : ditimbang setiap bulan d. tidak ada sampah berserakan f. seluruh keluarga menggunakan air bersih g. keberhasilan dapat dilihat dari strata PHBS tiap tahun. Penilaian dilakukan pada akhir tahun dengan cara pengkajian kembali seperti pada tahap pertama manajemen PKM. keluarga menjadi anggota dana sehat (JPKM) 22 . Kegiatan yang dapat terlaksana dibandingkan dengan perencanaan b. Indicator masing-masing program yang menjadi topic penyuluhan c. Evaluasi dapat dilakukan dengan menilai : a. Indicator yang digunakan adalah sebagai berikut : Indicator Tatanan Rumah Tangga a.sudah imunisasi TT.ikut KB bag wanita usia subur . kuku anggota keluarga pendek dan bersih h. Model g.pemeriksaan kehamilan oleh petugas minimal 4 kali . keluarga biasa makan makanan yang beraneka ragam i. pernah mendengar AIDS k. seluruh keluarga buang air besar di jamban e. bayi : sudah diimunisasi c. bagi ibu muda yang belum punya anak b.e.

Radio kaset penyuluhan berfungi setiap hari f. Tatanana air bersih b. Tidak ada sampah berserakan d.Indikator Tatanaan Institusi Pendidikan Tatanan pendidikan adalah Sekolah Dasar Negeri. Siswa ada yang menjadi dokter kecil Kesehatan Anak Sekolah dan Remaja Tatanan istitusi pendidikan adalah Puskesmas atau Puskesmas Pembantu a. Tersedia air yang bersih c. Penyuluhan kelompok teratur dilaksanakan g. Tertata poster kesehatan e. Indicator warung makan Makanan dan minuman tidak menggunakan bahan kimia berbahaya Makanan dan minuman terhindar dari serangga berbahaya Tersedia jamban yang bersih Tersedia air yang bersih Tidak ada sampah berserakan Kuku pengelola makanan pendek dan bersih Menjadi anggota dana sehat b. Indicator tempat ibadah Sekeliling tempat ibadah dalam keadaan bersih 23 . Tersedia jamban yang bersih b. Tidak ada sampah yang berserakan d. Siswa pada umumnya (60%) kukunya pendek dan bersih g. Semua petugas tidak merokok h. Tersedia jamban yang bersih c. Ketersediaan UKS e. Swasta termasuk Madrasah Ibtidaiyah a. Guru tidak merokok h. Semua petugas kukunya pendek dan bersih Indikator Tatanan Umum a. Menjadi anggota dana sehat (JPKM) f.

Indicator pasar Sekeliling pasar dalam keadaan bersih Tersedia air bersih Tersedia jamban yang bersih Tersedia pembuangan air limbah (SPAL) Cukup pencahayaan dan ada penghawaan Kuku pengelola pendek dan bersih Semua pengelola dan pengunjung tidak merokok Pernah mendengan AIDS Tersedia media penyuluhan 1. Indikator PHBS .Sasaran .Perilaku tentang KIA .Perilaku tentang gaya hidup 3. Sosialisasi dan advokasi kesehatan b.Jumlah sasaran . Tahap persiapan: a. Pengelolaan Program PHBS 1. Kajian PHBS .Perilaku tentang kesehatan lingkungan . Persiapan administrasi d.- Tersedia air bersih Tersedia jamban yang bersih Tersedia pembuangan air limbah (SPAL) Kuku pengelola pendek dan bersih Semua pengelola dan pengunjung tidak merokok Pernah mendengan AIDS Tersedia media penyuluhan c.Perilaku tentang gizi . Persiapan pelaksanaan : ibu-ibu balita : 50 orang : dengan kuisioner 24 . Persiapan sarana c.Kajian kuantitatif 2.

2. Pemantauan dan penilaian 4. Pengkajian PHBS Untuk mengetahui Luaran .Peran dan fungsi masingmasing jelas Identifikasi kebutuhan sarana . siapa melakukan apa .Sepakat melaksanakan PHBS .Daftar 10 penyakit terbanyak . Tahap Persiapan No. Pengkajian sumber daya tenaga. dana yang tersedia 3. Menentukan jenis kegiatan/intervensi d. Kegiatan Tujuan Luaran . Persiapan sarana 5. Jadwal kegiatan 4. Persiapan pelaksanaan Identifikasi. penyebab.Kuisioner . Sosialisasi dan advokasi mengetahui program PHBS politis/ kemitraan .Adanya klasifikasi PHBS di 25 . Pengkajian 3. Menentukan tujuan c. Pengkajian masalah kesehatan penyakit terbanyak.Dukungan dana/ kebijakan Agas LS/LP/LSM/ Mitra 1.Format pencatatan dan pelaporan 4. Tahap Pengkajian No.Daftar jenis dan jumlah sarana yang dibutuhkan . 2. epidemiologi masalah . Persiapan administrasi Identifikasi lapangan .Daftar surat yang diperlukan 3. sarana. Tahap pergerakan pelaksanaan 5. Kegiatan Tujuan Untuk mengetahui 10 1. Menentukan prioritas b. Tahap perencanaan: a.Daftar penanggung jawab masing-masing kegiatan 2. dan dana yang tersedia .Daftar penyebab sifat. 6. sifat.Daftar tenaga. epidemiologi masalah Identifikasi sarana. Tahap pengkajian: a.

1. Bina suasana berbagai opini yang ada di masyarakat yang Terciptanya opini. etika. Kegiatan Rumusan tujuan Tujuan Untuk membuat target yang ingin dicapai Untuk mengembangkan berbagai alternatif intervensi Untuk menetapkan waktu bagi setiap kegiatan Luaran Adanya target yang bisa diukur Adanya rencana kegiatan entervensi yang menyeluruh. Pembuatan jadwal kegiatan Tahap Pergerakan dan Pelaksanaan No.Adanya anggaran rutin yang dinamis .perilaku keluarga pada tatanan rumah tangga Untuk mengetahui 4.Meningkatkan kerjasama antara masyarakat dan pemerintah . dan kondisi masyarakat berPHBS 26 . meliputi penyluhan massa/ terpadu dan rancangan media Adanya jadwal kegiatan intervensi 2.Mempengaruhi pihak lain agar mendukung 1. Kegiatan Tujuan . Rumusan rencana kegiatan intervensi 3.Fasilitas umum simakin merata terutama di daerah kumuh Luaran .Adanya klasifikasi wilayah sehat atau tidak sehat Tahap Perencanaan No. Advokasi PHBS .menggalang dukungan lewat pendapat umum melalui media massa Untuk menciptakan 2.Adanya kepedulian LSM terhadap PHBS . Pengkajian wilayah klasifikasi PHBS di setiap wilayah setiap RT .Untuk mempengaruhi peraturan dan kebijakan yang mendukung pemberdayaan PHBS . norma.Adanya dukungan politik dari pengambilan keputusan .

mendukung tercapainya PHBS di semua tatanan Untuk Pemberdayaan atau gerakan masyarakat menumbuhkembangkan potensi masyarakat untuk mendukung dan membudayakan PHBS . Penilaian seberapa jauh target yang ditetapkan tercapai adanya hasil pencapaian program PHBS dalam kurun waktu tertentu adanya laporan bulanan/triwulan/tengah tahun Luaran 27 .Meningkatkan peserta dana sehat (JPKM) 3. mengacu kepada perncanaan dan penjadwalan Untuk mengetahi 2. Pemantauan dan Penilaian No. Pemantauan program PHBS berjalan.Mengungkapkan UKBM . Kegiatan Tujuan Untuk mengetahui seberapa jauh suatu 1.

28 . dan melindungi kesehatannya melalui peningkatan kesadaran. Kegiatan yang dilakukan berupa advokasi kesehatan. ditambah. dan gerakan masyarakat. serta pengembangan lingkungan sehat. bina suasana. terutama pada bagian promosi kesehatan. Selain itu para petugas kesehatan terus berupaya untuk memberikan masukan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan. meningkatkan. kemauan. Saran Untuk lebih meningkatkan upaya promosi kesehatan pada masyarakat maka sebaiknya para petugas kesehatan.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Promosi kesehatan adalah proses memberdayakan atau memandirikan masyarakat agar mampu memelihara. dan kemampuan. Dengan demikian kegiatan promosi kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari setiap program yang ada di Puskesmas.

1570 tentang Kebijakan Teknis Promosi Kesehatan 2003 6. UU RI no. 23 tahun 1992 tentang kesehatan 29 .DAFTAR PUSTAKA 1. Promosi Kesehatan Online. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.htm 5. Drs. Dachroni.7. MPH. Seri PHBS: Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Untuk Petugas Puskesmas. Dachroni. Buku Panduan Straegi Promosi Kesehatan di Indonesia. MPH. Drs. Surat Keputusan Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat No: HK. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta Selatan: Sudin Kesehatan Masyarakat 2003 2. Sudin Kesehatan Masyarakat. Jakarta Selatan: Sudin Kesehatan Masyarakat 2003 3. Pedoman Kerja Puskesmas 2009 4.06.1.00.

UPAYA KESEHATAN LINGKUNGAN Penyusun : Hawa Fatihah bt CMS Fira Thiodorus Marrietta S.157) 30 .094) (030.06.05. Sadeli (030.257) (030.06.

BAB I PENDAHULUAN
Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.(Pasal 1 butir 1 UU No. 36 Tahun 2009)

Kesehatan masyarakat adalah ilmu dan seni (kiat/art) untuk : 1. mencegah penyakit 2. memperpanjang harapan hidup, dan 3. meningkatkan kesehatan dan efisiensi masyarakat melalui usaha masyarakat yang terorganisir untuk; sanitasi lingkungan, pengendalian penyakit menular, pendidikan hygiene perseorangan, mengorganisir pelayanan media dan perawatan agar dapat dilakukan diagnosis dini dan pengobatan pencegahan, membangun mekanisme sosial, sehingga setiap insan dapat menikmati standar kehidupan yang cukup baik untuk dapat memelihara kesehatan. Dengan demikian, setiap warga negara dapat menyadari haknya atas kehidupan yang sehat dan panjang (Winslow, 1920)

Kesehatan lingkungan adalah suatu kondisi lingkungan yang mampu menopang keseimbangan ekologis yang dinamis antara manusia dan lingkungan untuk mendukung tercapainya realitas hidup manusia yang sehat, sejahtera dan bahagia (Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan)

Ilmu Kesehatan Lingkungan diberi batasan sebagai ilmu yang mempelajari dinamika hubungan interaktif antara kelompok penduduk atau masyarakat dengan segala macam perubahan komponen lingkungan hidup seperti spesies kehidupan, bahan, zat atau kekuatan di sekitar manusia, yang menimbulkan ancaman, atau berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan masyarakat, serta mencari upaya-upaya pencegahan.(Umar Fahmi Achmadi, 1991)

Kesehatan lingkungan adalah upaya untuk melindungi kesehatan manusia melalui pengelolaan, pengawasan dan pencegahan factor-faktor lingkungan yang dapat mengganggu kesehatan manusia (Sumengen Sutomo, 1991)

31

Kesehatan lingkungan adalah ilmu & seni dalam mencapai keseimbangan, keselarasan dan keserasian lingkungan hidup melalui upaya pengembangan budaya perilaku sehat dan pengelolaan lingkungan sehingga dicapai kondisi yang bersih, aman, nyaman, sehat dan sejahtera terhindar dari gangguan penyakit, pencemaran dan kecelakaan, sesuai dengan harkat dan martabat manusia. (Sudjono Soenhadji, 1994 ) Untuk menilai keadaan lingkungan dan upaya yang dilakukan untuk menciptakan lingkungan sehat telah dipilih empat indikator, yaitu persentase keluarga yang memiliki akses air bersih, presentase rumah sehat, keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar, Tempat Umum dan Pengolahan Makanan (TUPM) .

Beberapa upaya untuk memperkecil resiko turunnya kualitas lingkungan telah dilaksanakan oleh berbagai instansi terkait seperti pembangunan sarana sanitasi dasar, pemantauan dan penataan lingkungan, pengukuran dan pengendalian kualitas lingkungan.

Pembangunan sarana sanitasi dasar bagi masyarakat yang berkaitan langsung dengan masalah kesehatan meliputi penyediaan air bersih, jamban sehat, perumahan sehat yang biasanya ditangani secara lintas sektor. Sedangkan dijajaran Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang kegiatan yang dilaksanakan meliputi pemantauan kualitas air minum, pemantauan sanitasi rumah sakit, pembinaan dan pemantauan sanitasi tempat-tempat umum (Hotel, Terminal), tempat pengolahan makanan, tempat pengolahan pestisida dan sebagainya.

32

BAB II PENGERTIAN
Upaya penyehatan lingkungan dan pemukiman adalah upaya untuk meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan dan pemukiman melalui upaya sanitasi dasar, pengawasan mutu lingkungan dan tempat umum, termasuk pengendalian pencemaran lingkungan dengan meningkatkan peran serta masyarakat dan keterpaduan pengelolaan lingkungan melalui analisis dampak lingkungan. Lingkungan pemukiman adalah tempat tinggal atau tempat hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan. Tempat umum adalah tempat kegiatan bagi umum yang diselenggarakan oleh badanbadan Pemerintah, Swasta atau Perorangan yang langsung digunakan masyarakat, mempunyai tempat,sarana dan kegiatan yang tetap. Penyehatan makanan adalah upaya untuk mengendalikan faktor makanan, orang, tempat dan perlengkapannya yang dapat atau mungkin dapat menimbulkan penyakit atau gangguan kesehatan lainnya. Pendekatan PKMD adalah pendekatan sosio-edukatif dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Pertemuan tingkat kelurahan. 2. Survai Diri Masyarakat. 3. Musyawarah Masyarakat Kelurahan. 4. Pelalihan Kader. 5. Pelaksanaan Kader. 6. Pelaksanaan Upaya Kesehatan oleh Masyarakat. 7. Pembinaan & Pelestarian kegiatan

33

BAB III TUJUAN

Tujuan Umum Meningkatnya kondisi kesehatan lingkungan melalui upaya pengawasan dan pengendalian semua unsur fisik, kimia, dan biologis yang terdapat dilingkungan dan masyarakat yang dapat mempengaruhi derajat kesehatan.

Tujuan Khusus Meningkatnya kualitas perumahan penduduk yang memenuhi syarat kesehatan. Terbantunya penyediaan air bersih yang memenuhi syarat kesehatan, pengawasan kualitas air bagi seluruh masyarakat, serta peningkatan kemampuan masyarakat dalam penyediaan dan pemanfaatan sarana pembangunan kotoran yang memenuhi syarat kesehatan. Tersedianya fasilitas pembuangan kotoran yang memenuhi syarat kesehatan, tidak menimbulkan sarang lalat, nyamuk dan tikus, dan tidak memberi ―pandangan tidak sedap‖. Terwujudnya kondisi tempat-tempat umum yang memenuhi syarat kesehatan, agar masyarakat, pengunjung dan sekitarnya terhindar dari gangguan kesehatan. Meningkatnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat dan perusahaan makanan dalam mengelola makanan secara aman dan sehat agar terhindar dari penyakit dan keracunan. Terjaminnya mutu lingkungan hidup yang dapat menjamin kesehatan masyarakat yang optimal, bebas dari pengaruh buruk atas pengelolaan pestisida melalui upaya pencegahan dan pengendalian pencemaran dan keracunan oleh pestisida.

34

BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN
KEGIATAN Kegiatan-kegiatan utama kesehatan lingkungan yang harus dilakukan oleh Puskesmas meliputi : 1. Penyehatan air 2. Penyehatan makanan dan minuman 3. Pengawasan pembuangan kotoran manusia 4. Pengawasan dan pembuangan sampah dan limbah 5. Penyehatan pemukiman 6. Pengawasan sanitasi tempat umum 7. Pengamanan polusi industri 8. Pengamanan pestisida 9. Klinik sanitasi

SASARAN Penyehatan air : 1. Daerah dengan angka penyakit diare dan penyakit kulit tinggi 2. Daerah berpenghasilan rendah 3. Daerah penduduk padat dan kumuh 4. Penyehatan makanan dan minuman : 5. Tempat pengelolaan makanan (TPM) : jasa boga, restoran/rumah makan, sentral makanan jajanan, pengrajin makanan/indsutri makanan rumah tangga, kantin termasuk kantin sekolah, pedagang makanan kaki lima, tempat pengelolaan makanan lainnya. 6. Keluarga 7. Pengawasan pembuangan kotoran manusia : 8. Daerah endemis penyakit perut dan penyakit kecacingan 9. Daerah-daerah dengan angka kepemilikan dan pemanfaatan jamban yang memenuhi syarat kesehatan 10. Pengawasan dan Pembuangan Sampah dan Limbah :

35

11. Keluarga dan masyarakat di daerah yang angka kepadatan penduduk tinggi dan produksi sampahnya cukup banyak 12. Daerah endemis penyakit perut (diare, gastroenteritis acuta) dan penyakit-penyakit bersumber sampah

Penyehatan pemukiman : 1. Daerah dengan resiko terhadap kemungkinan penularan penyakit-penyakit diare, kecacingan, TBC paru, ISPA, DBD dan Filariasis 2. Daerah dengan cakupan sanitasi dasarnya rendah 3. Daerah kumuh 4. Daerah pemukiman baru 5. Daerah risiko tinggi terhadap pencemaran

Pengawasan Sanitasi Tempat-tempat Umum : 1. Yang berhubungan dengan sasaran pariwisata, seperti Bioskop, Gedung Pertunjukan, Hotel, Kolam renang, dsb. 2. Yang berhubungan dengan Transportasi, Terminal, Stasiun dan alat Transportasi Umum, pool kendaraan 3. Yang berhubungan dengan sarana ibadah : Masjid, Gereja, Pura, Vihara 4. Yang berhubungan dengan sarana perdagangan : Pasar, Toko Swalayan, dsb 5. Yang berhubungan dengan sarana Perawatan/Pemeliharaan: Salon Kecantikan, Panti Pijat, Tempat Pangkas Rambut, Klinik kesehatan, Puskesmas 6. Yang berhubungan dengan sarana sosial dan pendidikan: Lembaga Pemasyarakatan, Panti Sosial, Sekolah, Rumah duka, penampungan tenaga kerja, dsb 7. Yang berhubungan dengan sarana olahraga, misal : pusat kebugaran, gelanggang olahraga, dsb

Dalam melakukan kegiatan pengamanan lingkungan akibat pencemaran industry diutamakan pada pemukiman sekitar daerah industri dan pemukiman yang mempunyai resiko tinggi terhadap kemungkinan pencemaran industri. Pengamanan pestisida : 1. Tempat pengelolaan Pestisida (TPP) yang menjadi tanggung jawab Puskesmas adalah toko/kios pestisida, KUD. 2. Pengguna pestisida: Petani penyemprot hama pertanian di kebun dan sawah
36

Klinik Sanitasi : 1. Lingkungan penyebab masalah bagi penderita dan masyarakat sekitarnya 37 . Masyarakat umum yang mempunyai masalah kesehatan lingkungan yang datang ke Puskesmas 3. Penderita penyakit yang berhubungan dengan masalah kesehatan lingkungan yang datang ke Puskesmas 2.

Sasaran : Masyarakat di pemukiman kumuh. berwibawa dan terkoordinasi dengan lintas program / sektor yang terkait. Termotivasinya masyarakat untuk memiliki / bertempat tinggal di rumah yang memenuhi syarat kesehatan. Prinsip Kerja : Memberikan pelayanan dan pembinaan secara profesional.BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU Uraian Prosedur Pelayanan Kesehatan Lingkungan A. Pelatihan dan pembinaan kader. Pemeriksaan perumahan dan lingkungannya. Penyehatan Perumahan Tujuan : 1. Terlaksananya pemberian penyuluhan tentang rumah sehat bagi keluarga. pemukiman baru perkotaan dan daerah aliran sungai (DAS). 4. Tenaga : 1. Dokter sebagai koordinator 38 . Kegiatan : 1. 2. 3. 2. Terbantunya masyarakat / keluarga yang kurang mampu untuk membangun / memiliki rumah sehat. 5. Pendataan. Stimulan pembangunan sarana percontohan kesehatan. Waktu : Disesuaikan dengan jadwal kegiatan yang disusun. 3. Penyuluhan. ramah.

Meningkatnya kemampuan masyarakat dalam upaya penyehatan air. Kartu rumah 3.2. Prosedur tetap : 1. Meningkatnya kualitas air melalui perbaikan kualitas air. Terpantaunya kualitas air meliputi air minum. Meningkatnya peran serta masyarakat pemakai air. air badan air. 4. leaftlet. Kelengkapan administrasi : 1. Pencatatan dan pelaporan 6. Mengadakan pendekatan PKMD 2. air bersih. Menyiapkan surat tugas 3. pencegahan pencemaran dan percontohan perbaikan. dan air limbah 2. dll. Mengisi formulir pemantauan 5. 2. 3. Jadwal kegiatan Peralatan kerja : 1. air kolam renang dan pemandian umum. Alat bantu penyuluhan seperti buku pegangan penyuluhan kesehatan lingkungan . flip chard. Kunjungan dan mengadakan wawancara dan inspeksi 4. Formulir pemantauan. Tujuan : 1. Menyampaikan umpan balik B. poster. Meningkatnya ketrampilan dan pengetahuan petugas dalam pengawasan dan perbaikan kualitas air serta kemampuan dalam pembinaan masyarakat pemakai air 5. Penyehatan Air. Sanitarian sebagai pelaksana Tempat : Pemukiman yang akan menjadi sasaran kegiatan. Surat Tugas 2. 39 .

Dokter sebagai koordinator 2. Penggerakan peran serta masyarakat pemakai air 10. Pengambilan dan pengiriman sampel air ke laboratorium 4. 40 . Perbaikan kualitas air 9.Sasaran : 1. Pendataan 2. Buku pencatatan harian 2. Masyarakat yang rawan air bersih 2. Inspeksi sanitasi khususnya untuk air bersih rumah tangga 3. Perlengkapan lai sesuai SP2tp dan program 3. saran dan tindak lanjut berdasarkan hasil kualitas air. Sanitarian sebagai pelaksana Tempat : Lokasi tempat kegiatan dilaksanakan sesuai sasaran. Masyarakat di daerah dengan penyakit diare dan penyakir-penyakit akibat jeleknya sanitasi air cukup tinggi dan telah endemis. Pemantauan dan evaluasi Waktu : Disesuaikan dengan jadwal yang disusun atau apabila ada permasalahan. Jadwal Tenaga : 1. Kegiatan: 1. 3. Kelengkapan administrasi : 1. Masyarakat di daerah percontohan dan pemukiman baru. Pemeriksaan kualitas di lapangan (a. Mengadakan rekomendasi.l sisa chlor dan pH) 5. Pencatatan dan pelaporan 6. 7. Pengawasan kualitas air 8. Surat tugas 4.

Field Tool Kit Prosedur tetap : 1. Mengadakan pendekatan secara PKMD 2. Evaluasi C. Pencatatan dan pelaporan 8. berwibawadan terkoordinasi dengan lintas program / sector yang terkait. Penyehatan Pembuangan Kotoran Tujuan: 1. 2. Water test kit 4. Termotivasinya masyarakat untuk menyediakan dan menggunakan sarana pembuangan kotoran untuk keperluan rumah tangga. ramah. 41 . Terlaksananya penyuluhan tentang sanitasi pembuangan kotoran bagi rumah tangga. Alat pengambil sampel air 5. 3. Terlaksananya penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya penyehatan pembuangan kotoran. Mengadakan kunjungan sesuai jadwal 4. Buku pemeriksaan sanitasi 3. Pengambilan dan pengiriman sampel ke laboratorium 6. Memberikan saran perbaikan terhadap hasil yang belum memenuhi syarat baik secara lisan maupun tulisan 7. dan masyarakat umum yang berkepentingan. pemeriksaan dan mengisi formulir 5. Menyiapkan surat tugas 3. mampu dan mau menggunakan sarana pembuangan sehat sehari-hari.Peralatan : 1. Prinsip kerja: Memberikan pelayanan dan pembinaan secara professional. Formulir 2. Inspeksi. sehingga masyarakat tahu. wawancara.

Tenaga : 1. Sanitarian sebagai pelaksana. Masyarakat di daerah-daerah endemis penyakit perut dan cacing. Pendataan 2. Buku pegangan kader kesehatan lingkungan 2. Kegiatan: 1. Pemantauan Waktu : Disesuaikan dengan jadwal yang telah disusun. Masyarakat di daerah-daerah dengan angka kepemilikan dan pemanfaatan jamban sehat rendah. Pendekatan secara PKMD 2. Pembangunan dan pengembangan sarana pembangunan kotoran 4. Surat tugas 2. Jadwal kegiatan Peralatan kerja : 1. Penyuluhan 3.Sasaran: 1. 2. Poster. Peralatan yang diperlukan untuk membangun jamban Prosedur kerja : 1. 3. Komponen jamban 4. Dokter sebagai koordinator. leaflet. Tempat : Lokasi kegiatan sesuai sasaran. 2. Kelengkapan administrasi : 1. Menyiapkan surat tugas 42 . dll.

Pendidikan kesehatan hygiene dan sanitasi 2. 3. berwibawa dan terkoordinasi dengan lintas program/sector yang terkait. Pengelolaan Pembuangan Sampah Tujuan : 1. serta tata-cara pembuangan sampah sesuai perundangan yang berlaku. menggunakan sehari-hari dan memelihara sarana untuk penanganan sampah yang memenuhi syarat kesehatan. Pencatatan dan pelaporan 6. 2.3. Masyarakat di daerah endemis penyakit perut(diare. Sasaran : 1. Terlaksananya pengawasan dan pembinaan sarana pembuangan sampah yang memenuhi syarat kesehatan. Termotivasinya keluarga dan masyarakat untuk menyediakan. 4. Masyarakat di daerah dengan angka kepadatan penduduk tinggi dan produksi sampah yang cukup banyak. ramah. Mengadakan kegiatan 4. Pemantauan melalui pemeriksaan tempat penampungan dan pembuangan sampah Waktu : Disesuaikan dengan jadual yang telah disusun 43 . Mengisi formulir pemantauan 5. menggunakan dan memelihara sarana pembuangan sampah yang memenuhi syarat kesehatan. Terlaksananya penyuluhan tentang pengelolaan sampah yang memenuhi syarat kesehatan bagi rumah tangga dan masyarakat. Prinsip kerja : memberikan pelayanan dan pembinaan secara profesiaonal. 2. Penyuluhan tentang penanganan sampah 3. Terbantunya keluarga dan masyarakat dalam mendapatkan. Menyampaikan umpan balik D. Kegiatan : 1. GE) dan penyakit-penyakit bersumber sampah.

Terlaksananya penyuluhan tentang sanitasi yang memenuhi syarat kesehatan di TTU bagi masyarakat dan pengelola TTU 3. Mengisi formulir pemantauan 5. sesuai peraturan perundangan yang berlaku. senter. Fly grill counter. Terlaksananya pengawasan dan pembinaan sarana sanitasi yang memenuhi syarat kesehatan di TTU. Menyampaikan umpan balik E. Mengadakan kegiatan 4. Surat tugas 2. Mengadakan pendekatan secara PKMD 2. 44 . dll. Alat bantu penyuluhan seperti seperti buku pegangan penyuluhan kesehatan lingkungan. dll. 2. Dokter sebagai koordinator 2. Termotivasinya masyarakat dan pengelola TTU untuk menyediakan. Formulir pemantauan 2. menggunakan dan memelihara sarana sanitasi yang memenuhi syarat kesehatan. leaflet. Prosedur kerja: 1. 3. Pengawasan Sanitasi Tempat-Tempat Umum Tujuan : 1. Sanitarian sebagai pelaksana Kelengkapan administrasi: 1. poster.Tempat : Lokasi kegiatan sesuai sasaran Tenaga : 1. Pencatatan dan pelaporan 6. Jadwal kegiatan Peralatan kerja : 1. Menyiapkan surat tugas 3. stop watch. flip chart.

pengawasan. vihara. Penyuluhan terhadap pengelola Tempat-Tempat Umum Waktu : Disesuaikan dengan jadwal kegiatan yang disusun Tenaga : 1. pembinaan secara professional. 4. 6. penginapan. pura. berwibawa. 5. Pengolahan. Pengusaha / penanggung-jawab / pengelola usaha transportasi seperti terminal. 3. Penanggung-jawab / pengelola sarana social seperti : Lembaga Pemasyarakatan. dll. Sanitarian sebagai pelaksana Tempat : Lokasi kegiatan sesuai sasaran Peralatan kerja: 1. Pengusaha / penanggung-jawab / pengelola sarana kepariwisataan seperti gedung pertunjukan. Kegiatan : 1. serta terkoordinasi dengan lintas sector/program lain yang terkait. stasiun dan alat transportasi umum. Penanggung-jawab / pengelola sarana ibadah : masjid.Prinsip kerja : Mengadakan pelayanan. tukang cukur. Sasaran : 1. Pengusaha / penanggung-jawab / pengelola sarana perdagangan seperti : Pasar. Pendataan 2. gereja. Dokter sebagai koordinator 2. dll. panti pijat. Formulir pemeriksaan 2. ramah. 2. dll. analisa dan pelaporan 4. Petunjuk teknis yang diterbitkan 45 . Pengusaha / penanggung-jawab / pengelola sarana perawatan / pemeliharaan seperti : salon kecantikan. Pemeriksaan sanitasi Tempat-Tempat Umum 3.

Mengadakan kunjungan sesuai jadwal yang telah disusun 4. Sound level meter Prosedur kerja: 1. Terlaksananya pengawasan dan pembinaan tentang hygiene dan sanitasi makanan dan minuman perusahaan dan pengelolaan makanan dan minuman bagi orang banyak. sesuai dengan perundangan yang berlaku 4. Terlaksananya tindakan pengamanan terhadap kejadian keracunan makanan dan minuman 46 .l : 5.3. Evaluasi F. Mengadakan pemeriksaan dan mengisi formulir 5. Water test kit 6. pelaporan 7. Light meter 9. penyajian dan penanganan makanan dan minuman 2. Peralatan lapangan seperti Sanitary Field Kit yang berisi a. Menyiapkan surat tugas 3. Penyehatan Makanan dan Minuman Tujuan 1. Hygrometer 8. Thermometer 7. Termotivasinya masyarakat dan pengelola perusahaan makanan untuk bekerja memenuhi syarat kesehatan dalam penyiapan. penyimpanan. Memberikan saran perbaikan terhadap hasil yang belum memenuhi syarat secara lisan maupun tulisan 6. pengelolaan. Menghubungi pengelola / pengusaha / penanggungjawab / pengiriman surat pemberitahuan 2. Alat bantu penyuluhan 4. Terlaksananya pemberian penyuluhan dan nasihat tentang hygiene dan sanitasi makanan dan minuman bagi keluarga. Pencatatan. perusahaan dan masyarakat yang memerlukan 3.

Tempat penjualan makanan. Sasaran 1. Pengusaha/ penanggung jawab/ pengelola tempat pengolahan makanan. Kantin 13. Pengajian ibu-ibu dan posyandu 2. Pedagang kaki lima 10. berwibawa. Pedagang makanan keliling 11. LKMD. Tempat penjualan makanan dingin. Warung kopi 12. Pemeriksaan 3. Industri kecil makanan 6. makanan segar Kegiatan : 1. Rumah makan 9. panti. Jadwal kegiatan 47 . yang meliputi 3. dll 7. dan terkoordinasi dengan lintas program / sektor yang terkait. yang terdiri dari : 8. ramah.Prinsip kerja Memberikan pelayanan dan pembinaan secara profesional. Tempat pembuangan makanan. Jasaboga / catering 5. makanan terolah. Pendataan 2. dapur umum. yang terdiri dari : 4. Surat tugas 2. Snack bar 14. Penyuluhan Waktu : Disesuaikan dengan jadwal yang telah disusun atau apabila ada masalah Kelengkapan administrasi : 1. Tempat pembuangan makanan di asrama. arisan. Ibu-ibu rumah tangga / masyarakat melalui organisasi masyarakat antara lain PKK.

serta memenuhi syarat kesehatan 2. Terlaksananya penyuluhan tentang pengamanan pengedaran dan penggunaan pestisida yang memenuhi syarat kesehatan bagi rumah tangga dan masyarakat 3. buku pencatatan. Menyiapkan surat tugas 3. Food inspection field kit 3. Menghubungi pengelola / pengusaha / penanggung jawab / pimpinan organisasi / pengiriman surat pemberitahuan 2. Mengadakan pemeriksaan dan mengisi formulir 5. Sanitarian sebagai pelaksana Peralatan kerja : 1. dll 2. Memberikan saran perbaikan terhadap hasil yang belum memenuhi syarat secara lisan maupun tulisan 6. Alat bantu penyuluhan Prosedur kerja : 1. berwibawa dan terkoordinasi dengan lintas program / sektor yang terkait 48 . Pengamanan Peredaran dan Penggunaan Pestisida Tujuan : 1.Tenaga : 1. Termotivasinya masyarakat dalam pengedaran dan penggunaan pestisida secara tepat dan aman. Untuk administrasi seperti formulir. Evaluasi G. ramah. Pencatatan dan pelaporan 7. Terbantunya masyarakat dalam pengamanan pengedaran dan penggunaan pestisida sesuai peraturan perundangan yang berlaku Prinsip kerja : Memberikan pelayanan dan pembinaan secara profesional. Dokter sebagai koordinator 2. Terlaksananya pengawasan dan pembinaan terhadap tata cara pengedaran dan penggunaan pestisida di masyarakat yang memenuhi syarat kesehatan 4. Mengadakan kunjungan sesuai jadwal yang telah disusun 4.

Terhadap pengguna pestisida : 6. dll 2. poster. Alat bantu penyuluhan seperti : alat-alat pelindung pestisida sebagai alat peraga. leaflet. Terhadap unit usaha pengedar pestisida : 2. Dokter sebagai koordinator 2. penggunaan pestisida di lokasi rumah tangga / Pest Kontrol Kegiatan : 1. formulir. Surat tugas 2. Sanitarian sebagai pelaksana Kelengkapan administrasi : 1. Pendataan 7.Sasaran : 1. Pemeriksaan 4. Pengusaha / penanggung jawab / pengelola / masyarakat pengguna pestisida seperti : petani penyemprotan hama. KUD dan pergudangan pestisida 2. Penanggulangan dan Pencegahan keracunan akut 8. Pendataan TPP (Tempat Pengelola Pestisida) 3. Pengusaha / penanggung-jawab / pengelola unit usaha pengedar pestisida seperti : Toko / kios pestisida. Penyuluhan / bimbingan perbaikan 5. dll 49 . perusahaan Pest Kontrol. Buku pegangan kader. Penyuluhan Waktu: Disesuaikan dengan jadwal Tenaga : 1. Jadwal kegiatan Peralatan kerja : 1. buku pencatatan.

Hal ini juga melibatkan peran serta masyarakat. Mengadakan pemeriksaan dan mengisi formulir 5. perkembangan jumlah. PELAKSANA Tim pengelola air bersih Puskesmas Pasar Minggu Penyehatan Makanan dan Minuman Kegiatan pengawasan hygiene dan sanitasi makanan dan minuman dilakukan sesuai jadwal yang ditetapkan oleh Puskesmas pada tempat pembuatan dan penjualan makanan dan minuman termasuk didalamnya para penjamah makanan. Perbaikan Kualitas Air dan Pembinaan Pemakai Air. Tim Pengawasan hygiene dan sanitasi makanan dan minuman Puskesmas Kelurahan dengan monitoring dari Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu Tim pengawas pembuangan Pengawasan Pembuangan Kotoran Melakukan penataan jumlah sarana pembuangan kotoran yang ada. cara penyajian dan para penjamah seperti petugas pemasakan maupun penyajian sesuai dengan wilayah kerja Puskesmas. yaitu bahan mentah. Menghubungi pengelola / pengusaha / penanggung-jawab / ketua RT-RW / pengiriman surat pemberitahuan 2. Dalam hal ini petugas Puskesmas melakukan evaluasi perihal kualitas makanan dan minuman dari berbagai segi. serta 50 . cara pengolahan. Evaluasi PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU KEGIATAN Penyehatan air URAIAN KEGIATAN Kegiatan pokok penyehatan air dalam pelaksanaan Program Penyediaan dan pengelolaan air bersih yaitu Pengawasan Kualitas Air.Prosedur kerja : 1. Memberikan saran perbaikan terhadap hasil yang belum memenuhi syarat secara lisan maupun tulisan 6. Untuk dapat melaksanakan kegiatan pokok tersebut diperlukan kegiatan pendukung yakni pengembangan sarana dan prasarana pendukung yang terdiri atas pembinaan dan pengembangan dan pemantapan informasi penyehatan air. Mengadakan kunjungan sesuai jadwal yang telah disusun 4. Pencatatan dan pelaporan 7. Menyiapkan surat tugas 3.

Membandingkannya dengan catatan sebelum program dinilai adakah peningkatan jumlah jamban maupun jumlah pemakainya.Manusia pemanfaatannya. PENILAIAN terhadap JENTIK JUMANTIK Dilaksanakan di RW yang ada JUMANTIK Seluruh bangunan diperiksa ada/tidaknya jentik/secara total coverage. Semua limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) dari Puskesmas Kecamatan Mampang dapat diolah di Instansi Pengolahan Limbah. pencahayaan. kotoran Puskesmas Pasar Minggu Pengawasan dan Pembuangan Sampah dan Limbah Pengumpulan sampah dari masing-masing ruangan dilakukan setiap hari oleh masing-masing petugas cleaning service. tikus dan lalat. Jumantik dan masyarakat setempat. dokter dan stafnya yang bertanggung jawab terhadap wilayah tertentu dan co ass. Ketua RT. Puskesmas Kelurahan/Kecamatan menganalisa dan melaporkan bulanan ke Sudin Kesmas dan Sudin Yankes dengan tembusan ke Posko PSN DBD RW. Setiap ruangan yang menghasilkan sampah infeksius harus mempunyai kardus descartex dan tempat sampah infeksius berwarna kuning. kebersihan pekarangan. kepadatan penghuni). tata ruang. Ketua RW. Tim wilayah setempat: Kepala Kelurahan. Mencatat hasil pemantauan dalam buku catatan. 51 . Mencatat hasil pemeriksaan jentik dan melaporkan ke Puskesmas Kelurahan/ Kecamatan. penempatan kandang ternak lingkungan perumahan serta faktor kepadatan yaitu melihat ada tidaknya tempat perindukan nyamuk. Tim pengelola dan pengawas sampah dan limbah Puskesmas Pasar Minggu Penyehatan Pemukiman Unsur-unsur yang diperiksa meliputi kesehatan rumah (jendela/ventilasi. Gerakan PSNDBD 30 menit sekali seminggu (Setiap Jumat) secara serentak di Provinsi DKI Jakarta dengan memeriksa ada tidaknya jentik (Pemantauan Jentik Berkala/PJB) dan dikaitkan dengan kejadian kasus DBD di RW. Tim Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu: Kepala Puskesmas. Melakukan pemeriksaan jentik pada tempat perindukan nyamuk di setiap rumah/ bangunan berdasarkan tatanan. kelembaban.

Lurah dan Camat yang bersangkutan. Lurah dan Camat yang bersangkutan. Integrasi pengawasan kualitas lingkungan Pelaksana sanitarian Puskesmas Kelurahan/Kecamatan sesuai jadwal bulanan. Mencatat dan menganalisa hasil pemeriksan jentik dan per RW. Non JUMANTIK PJB oleh Puskesmas Kelurahan/Kecamatan Pelaksana adalah petugas Puskesmas Kelurahan/Kecamatan. Melaporkan hasil setiap 3 bulanan ke Sudin Kesmas dan Sudin Yankes dengan tembusan Posko DBD RW. Setiap sasaran yang sama diulang 6 tahun berikutnya. Menentukan sasaran RW lokasi sekaligus data jumlah rumah/bangunannya masing-masing. Menyusun jadwal random sampling untuk 100 rumah/bangunan sampling di setiap RW sasaran. Melaporkan hasilnya ke Sudin Kesmas dan Sudin Yankes secara bulanan. Tim pengelolaan dan pembinaan tempat-tempat umum Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu di bawah pengawasan Tim Kesehatan Lingkungan. dan lain-lain. Pengamanan Lingkungan akibat Unsur-unsur yang diperiksa secara kualitatif dan kuantitatif berkaitan dengan bahaya pencemaran Tim pengawas pengamanan 52 . tempat rekreasi. Pengawasan Sanitasi Tempat-tempat Umum Kegiatan pembinaan tempat-tempat umum dilakukan oleh tim dari Puskesmas Kecamatan Mampang dengan bantuan dari Puskesmas Kelurahan. sekolah. Kegiatan secara rutin diadakan pada triwulan pertama dan keempat pada setiap tahunnya dengan melakukan pemantauan serta memberikan penyuluhan kepada pengelola tempat-tempat umum seperti bioskop. Khusus kegiatan pemeriksaan jentik pada tempat perindukan nyamuk di setiap sasaran dicatat dan dianalisa sesuai lokasi RW. Melakukan pemeriksaan jentik pada tempat perindukan nyamuk di setiap rumah/bangunan sampling.

Cara pengendalian hama : Secara fisik: dengan menggunakan perangkap. ligh trap. Secara kimia: dengan menggunakan pestisida (umpan beracun. tanah dan iklim serta kebisingan di sekitar industri. Tim pengendali hama Puskesmas Pasar Minggu Pengamanan Pestisida Tim pengendali hama bekerja setelah melihat check list dan mendapat laporan dari Kepala Unit atau PJ Ruangan tentang keberadaan hama atau tanda-tanda keberadaan hama. sprayer. 53 . lingkungan Puskesmas Pasar Minggu.Pencemaran Industri potensial yang berasal dari industry meliputi sumber air. ultra sonic. udara. fogging).

Pengawasan sanitasi tempat umum. Pengawasan dan pembuangan sampah dan limbah. Dengan adanya koordinasi yang baik antara tim monitoring dan petugas lapangan maka diharapkan seluruh cakupan program kerja dapat terlaksana dan diperoleh hasil yang lebih baik. dan Cilandak Timur. seluruhnya telah dilaksanakan oleh Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu. Pengawasan pembuangan kotoran manusia.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Dari berbagai program pemerintah mengenai kesehatan lingkungan. bahkan jika diperlukan dapat dilakukan berbagai pelatihan kepada para petugas terkait sebelum waktu pelaksanaannya di lapangan. Pejaten Barat. Dalam pelaksanaannya Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu dibantu oleh Puskesmas Kelurahan. yaitu Puskesmas Kelurahan Kebagusan. Saran Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu dengan kedudukan sebagai Puskesmas Pembina diharapkan dapat lebih membina peran serta dan memonitoring kinerja dari Puskesmas Kelurahan setempat dalam rangka melaksanakan berbagai program kesehatan lingkungan. Kegiatan kesehatan lingkungan di Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu meliputi Penyehatan Air. Penyehatan pemukiman (termasuk Pemberantasan Sarang Nyamuk melalui kegiatan Gerakan Jumat Sehat yang diadakan tiap hari Jumat). Pengamanan polusi industri dan Pengamanan pestisida. 54 . Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu dalam hal ini dapat berperan sebagai pengawas maupun sebagai pelaksana kegiatan secara langsung. Jati Padang. Pejaten Timur. Penyehatan Makanan dan Minuman. Ragunan. Pasar Minggu.

DAFTAR PUSTAKA Standarisasi Pelayanan Kesehatan Puskesmas di DKI Jakarta Pemerintah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta. P25-38 55 . Jakarta.

349) MOHD ZAIRI B ZABRI (030.UPAYA KESEHATAN IBU DAN ANAK SERTA KB PENYUSUN: SYAHRINNAQUIAH SAMSUDDIN (030.06.320) 56 .06.

paritas dan perilaku yang berpengaruh terhadap kondisi kesehatan ibu selama hamil yang dapat mempengaruhi proses persalinan normal atau patologis. hal ini berarti setiap setengah jam seorang perempuan meninggal yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan. Kematian ibu tersebut erat kaitannya dengan karakteristik ibu yang meliputi umur. Bila kondisi kesehatan ibu selama hamil tidak baik. Sementara kematian ibu karena komplikasi persalinan akibat perdarahan sebelum dan sesudah persalinan meningkat dengan bertambahnya paritas. 25. Kesehatan ibu dan anak merupakan salah satu perhatian dari World Health Organisation (WHO) karena angka kematian ibu dan anak merupakan bahagian dari negara Asean yang mempunyai angka kematian Ibu dan Anak yang masih tinggi dibandingkan dengan negara lain.5 % terjadi pada responden yang berumur lebih dari 35 tahun.5 % responden yang mengalami persalinan patologis yang terbesar adalah akibat komplikasi persalinan dengan partus lama. AKI di Indonesia sekitar 18. 57 . Resiko terjadi komplikasi pada persalinan terjadi 12% pada usia kurang dari 20 tahun dan 26% pada usia 40 tahun.2 kali mengalami komplikasi dalam persalinan. ibu mempunyai resiko 3. persalinan dan nifas. Menurut SDKI angka kematian ibu (AKI) di Indonesia 307 per 100. AKI di Indonesia bahkan lebih jelek dari negara Vietnam yaitu 95 per 100. dan pemeriksaan kehamilan kurang dari 4 kali.000 kelahiran hidup. ibu bersalin.UPAYA KESEHATAN IBU DAN ANAK (KIA) BAB I PENDAHULUAN Upaya kesehatan Ibu dan Anak adalah upaya di bidang kesehatan yang menyangkut pelayanan dan pemeliharaan ibu hamil. hal ini berarti setiap setengah jam seorang perempuan meninggal yang berhubungan dengan kehamilan. Dari kejadian persalinan patologis tersebut 27.000 kelahiran hidup yaitu 3-6 kali lebih tinggi dari negara ASEAN lainnya. ibu menyusui. Hasil penelitian Felly dan Snewe. bayi dan anak balita serta anak prasekolah. pendidikan. Pemberdayaan Masyarakat bidang KIA merupakan upaya memfasilitasi masyarakat untuk membangun sistem kesiagaan masyarakat dalam upaya mengatasi situasi gawat darurat dari aspek non klinis terkait kehamilan dan persalinan.000 setiap tahun yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan.

partus lama. memakan tablet zat besi. Asuhan persalinan yang diberikan pada ibu selama persalinan sejak kala satu. kurang daya tahan tubuh terhadap infeksi dan produksi air susu ibu kurang. adapun asuhan yang diberikan adalah informasi tentang proses persalinan. Letsi menyatakan hanya 2 dari 10 persalinan memerlukan tindakan spesialis kebidanan.Penelitian Sibuea dari 366 ibu yang mengalami persalinan patologis tindakan seksio sesaria akibat partus tidak maju sebanyak 226 (50. menyatakan AKI dapat diturunkan sekitar 317 (85%) dari AKI saat ini. Ini erat kaitannya dengan perawatan ibu selama masa kehamilan dan persalinan kurang baik.5%) tidak melakukan perawatan tehadap kehamilan. sehingga dalam persalinan banyak mengalami masalah bahkan komplikasi sehingga persalinan menjadi patologis. Penelitian lain tentang perilaku senam selama kehamilan menunjukkan bahwa ibu yang melakukan senam hamil mengalami persalinan lebih cepat dibanding dengan ibu hamil yang tidak melakukan senam hamil. Tingginya kejadian persalinan patologis diakibatkan oleh tiga terlambat yaitu terlambat melihat tanda-tanda bahaya kehamilan. karena senam hamil dapat meningkatkan aliran darah ke uterus. Tingkat pendidikan yang rendah pada persalinan patologis lebih tinggi dari pendidikan perguruan tinggi. menentukan jenis persalinannya apakah normal. tidak makan tablet zat besi dan asupan gizi yang kurang. perawatan jalan lahir.33%) dan (81. mengakibatkan ibu mengalami anemia. membantu ibu hamil memperoleh power sehingga melancarkan proses persalinan. dua. Penelitian Ridwan dan Wahyuni komplikasi persalinan yang mengakibatkan persalinan patologis adalah perilaku ibu selama hamil yang pemeriksaan kehamilan kurang dari empat kali. Bila ibu mengalami anemia dapat mengakibatkan komplikasi pada kehamilan dan persalinan yaitu perdarahan sebelum dan sesudah melahirkan. Kematian akibat pesalinan patologis lebih rendah pada umur 20-30 tahun dan jumlah paritas rendah dari pada ibu yang kurang dari 20 tahun. Melakukan kunjungan minimal empat kali untuk mendapat informasi dari petugas kesehatan tentang perawatan yang harus dilakukan. tiga dan empat. terlambat mengambil keputusan untuk 58 . atau sekitar 10-15% proses kehamilan dan persalinan berakhir dengan patologis. atau patologis. gangguan kontraksi rahim. melakukan senam hamil. jika ibu berperilaku hidup sehat selama kehamilan yaitu merawat kehamilan dengan baik melalui asupan gizi yang baik. tindakan persalinan dan dukungan persalinan dari keluarga dan petugas. menghindari merokok dan makan obat tanpa resep. Gulardi H. perawatan selama persalinan.

45. dimana panggul ibu belum tumbuh secara sempurna sehingga kepala tidak dapat melewati jalan lahir.4 % diantaranya adalah persalinan patologis bedah sesaria dan vakum. WHO mengembangkan konsep melalui empat pilar safe motherhood yaitu keluarga berencana. maupun rumah sakit swasta.3 % melahirkan dengan seksio sesaria. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Gulardi dan Basamalah terhadap 64 rumah sakit di Jakarta tercatat 17. sehingga dapat mengakibatkan perdarahan setelah persalinan. Sementara di Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan tahun 2005-2006 tercatat dari 712 persalinan. terlambat memperoleh asuhan asuhan persalinan yang tepat setelah sampai di sarana kesehatan. persalinan bersih dan aman serta pelayanan obstetri dasar. yang dikenal dengan empat terlalu yaitu: terlalu muda melahirkan anak. Kondisi tersebut dapat mengakibatkan gangguan kontraksi uterus. Selain itu kurangnya partisipasi masyarakat karena tingkat pendidikan. 64 % diantaranya persalinan patologis dan tahun 2005 dari 551 persalinan 67 % merupakan persalinan patologis. Selain itu karakteristik ibu juga dapat mempengaruhi persalinan patologis. sosial ekonomi dan kedudukan wanita dalam keluarga masih rendah. Di Indonesia kejadian persalinan patologis 65 % terjadi disebabkan pada salah satu dari empat T tersebut diatas. Untuk mencapai tujuan tersebut Depkes RI melakukan upaya safe motherhood yaitu berupaya menyelamatkan wanita agar setiap wanita yang hamil dan bersalin dapat dilalui dengan sehat dan aman serta menghasilkan bayi yang sehat dan aman. Di Indonesia kejadian persalinan patologis dengan tindakan seksio sesaria meningkat terus. serta sosial budaya yang tidak mendukung.665 kelahiran hidup. sekitar 35. Di Rumah Sakit Umum Cipto Mangunkusumo Jakarta pada tahun 1999-2000 dari 404 persalinan per bulan 30 % seksio sesaria. Di rumah sakit ini angka persalinan patologis juga cukup tinggi yaitu 631 persalinan tahun 2004. Rumah Sakit Umum Sari Mutiara Medan adalah salah satu rumah sakit swasta yang dipercayakan menerima pasien Jamsostek. disamping menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi baru lahir. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding dengan angka standar yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan yaitu sebanyak 15 % bagi rumah sakit swasta (Data 59 . terlalu tua melahirkan. baik di rumah sakit pendidikan. Ibu yang melahirkan anak pertama lebih dari umur 35 tahun jalan lahir menjadi kaku sehingga sulit anak sulit lahir. bersalin dan nifas. Tujuan upaya ini adalah untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu hamil. asuhan antenatal. Askeskin dan pasien umum.merujuk. terlalu banyak melahirkan anak dan terlalu sering melahirkan (jarak <2 tahun).755.

60 . 2004 dan 2005). Oleh karena itu Departemen Kesehatan melalui dinas kesehatan propinsi menganjurkan kepada setiap penolong persalinan baik di klinik. Gerakan Nasional Kehamilan yang aman melindungi hak reproduksi dan hak azazi manusia dengan cara mengurangi beban kesalahan. kematian. pemerintah telah mencanangkan Making Pregnancy Safer (MPS).Rekam Medik RS Sari Mutiara. kecacatan. Mengingat pentingnya kesehatan ibu dan bayi pada tanggal 12 Oktober 2000. dua. yang berhubungand dengan kehamilan dan persalinan. tiga dan empat selama persalinan sehingga persalinan dapat berlangsung normal. puskesmas maupun rumah sakit harus mendapatkan pelatihan dan mempunyai sertifikat Asuhan Persalinan Normal (APN) supaya ibu mendapat asuhan yang tepat sejak kala satu.

BAB II PENGERTIAN Upaya kesehatan ibu dan anak adalah upaya dibidang kesehatan yang melakukan pelayanan dalam upaya memelihara kesehatan ibu hamil secara teratur dan terus menerus selama kehamilan. pemuka masyarakat. persalinan. meneteki serta pemeliharaan anak dari mulai lahir sampai masa pra sekolah. pemuka masyarakat serta menambah keterampilan para dukun bayi serta pembinaan kesehatan akan di taman kanak-kanak. Pemberdayaan Masyarakat bidang KIA merupakan upaya memfasilitasi masyarakat untuk membangun sistem kesiagaan masyarakat dalam upaya mengatasi situasi gawat darurat dari aspek non klinis terkait kehamilan dan persalinan Dalam pengertian ini tercakup pula pendidikan kesehatan kepada masyarakat. maupun nifas. 61 .

Meningkatnya upaya pembinaan kesehatan balita dan anak prasekolah secara mandiri di dalam lingkungan keluarga. serta di sekolah TK. ibu hamil. ibu nifas. Posyandu dan Karang Balita. ibu nifas dan ibu menyusui. terutama melalui peningkatan peran ibu dalam keluarganya. Meningkatnya kemampuan dan peran serta masyarakat. balita. keluarga dan seluruh anggotanya untuk mengatasi masalah kesehatan ibu. ibu menyusui. bayi dan anak balita. Desa Wisma. d. sikap dan perilaku) dalam mengatasi kesehatan diri dan keluarganya dengan menggunakan teknologi tepat guna dalam upaya pembinaan kesehatan keluarga. ibu bersalin. 62 . anak prasekolah. serta meningkatnya derajat kesehatan anak untuk menjamin proses tumbuh kembang optimal yang merupakan landasan bagi peningkatan kualitas manusia seutuhnya. ibu bersalin. Tujuan Khusus a. Meningkatnya kemampuan ibu (pengetahuan. e. anak balita. penyelenggaraan Posyandu dan sebagainya. Meningkatnya jangkauan pelayanan kesehatan bayi. Desa Wisma. c. Meningkatnya mutu pelayanan kesehatan bagi ibu hamil. b.BAB III TUJUAN Tujuan Umum Tercapainya kemampuan hidup sehat melalui peningkatan derajat kesehatan yang optimal bagi ibu dan keluarganya untuk atau mempercepat pencapaian target Pembangunan Kesehatan Indonesia yaitu Indonesia Sehat 2015.

BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN KEGIATAN DAN SASARAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU A.Umur 2 tahun – 6 tahun : 2 kali  Imunisasi dasar . Campak dan Hepatitis (sesuai protap)  Konsultasi dokter ahli 63 . Pelayanan Kesehatan Dasar Balita dan Anak Pra Sekolah a) Pelayanan kesehatan dasar  Pemeriksaan berkala fisik dan tumbuh kembang . Kegiatan I. trimester kedua sebanyak 1 kali dan trimester ketiga sebanyak 2 kali.BCG. c) Kunjungan ulang minimal 4 kali selama kehamilan yaitu pada trimester pertama sebanyak 1 kali.Umur 1 tahun – 2 tahun : 3 kali . mekonium keluar dalam 24 jam pertama c) Pelayanan neonatal lanjut (8-28 hari)  Timbang. pantau keadaan umum  Bila terjadi penyulit segera dirujuk  Kunjungan rumah bagi yang memerlukan II. Pelayanan Kesehatan Neonatal a) Perawatan bayi baru lahir  Penanganan bayi segera setelah lahir . pemeriksaan dilakukan lebih sering dan intensif. pantau keadaan umum. Pelayanan Kesehatan Ibu a) Pelayanan ANC (Ante Natal Care) atau Asuhan Keperawatan Kehamilan b) Kunjungan pertama harus memenuhi persyaratan 5 T atau memenuhi pemeriksaan kadar Hb. III. DPT (3 kali). imunisasi.Usahakan bernafas spontan . Polio (4 kali).Umur 1 bulan – 11 bulan: 4 kali .Menjaga bayi tetap hangat  Perawatan lanjutan pada bayi baru lahir . Pada ibu hamil dengan resiko tinggi.Dilakukan rawat gabung (rooming in) yaitu ibu dan bayi berada dalam satu ruangan b) Perawatan neonatal dini (1-7 hari)  Timbang.

1 – 2 tahun .4 – 5 tahun  Konsultasi dokter ahli  Rujukan khusus ulang Pengobatan ringan infeksi.3 – 4 tahun .9 – 12 bulan . Pelayanan Kesehatan Ibu a) Langsung : Ibu hamil.2 – 3 tahun . diare. Kader.1 – 3 bulan . Sasaran I.b) c) d) e)  Rujukan kasus Pemantauan gizi balita  Timbang badan dan pantau dengan KMS  Pemberian vitamin A setiap 6 bulan (Februari dan Agustus)  Pemberian sirup FE Deteksi dan stimulasi tumbuh kembang  Dipantau sesuai kelompok umur . bersalin dan nifas b) Tidak langsung : Masyarakat ( Tokoh. balita dan anak sekolah II.3 – 6 bulan . Petugas) dan keluarga ibu hamil Pelayanan Kesehatan Anak Bayi. 64 . dan gangguan makan Membuat pencatatan dan pelaporan B.6 – 9 bulan .

Rumah ibu .Puskesmas-Poli KIA .1-11 bln .Dokter .Puskesmas-Poli KIA .Rumah ibu nifas Pada minggu pertama dan kedua masa nifas Sesuai dengan jam kerja puskesmas Sesuai dengan jam kerja puskesmas Sesuai dengan jam kerja puskesmas Sesuai dengan jam kerja puskesmas 4.Bidan .Puskesmas.Posyandu .Puskesmas-Poli KIA .Posyandu .Tempat penitipan anak Puskesmas-Poli KIA Posyandu Taman Kanak-kanak Kelompok bina keluarga balita . Perawatan neonatal dini (1-7 hari) Perawatan neonatal lanjut (828 hari) Pelayanan kesehatan dasar anak Neonatus .Dokter .Perawat 2.Perawat 7.Ruang bersalin (VK) Waktu Sesuai dengan jam kerja puskesmas Sepanjang waktu Pelaksana .Puskesmas-Poli KIA .Dokter .Posyandu .Bidan .Perawat .Perawat 6.Bidan .Bidan . Pelayanan ibu bersalin Ibu hamil 3.Perawat 8.1-2 thn .Posyandu .Bidan . Pelayanan ibu nifas Ibu nifas . Jenis Kegiatan Pemeriksaan ANC Sasaran Ibu hamil Tempat .Bidan . . Neonatus .BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU No 1.Rumah ibu .Bidan 65 .Perawat 5. Pemantauan gizi balita Balita Sesuai dengan jam kerja puskesmas .Rumah ibu Puskesmas-Poli KIA Posyandu Taman Kanak-kanak Kelompok bina keluarga balita .Perawat . Perawatan bayi baru lahir Neonatus .Bidan .2-6 thn .Rumah ibu .Tempat penitipan anak .

tetapi pendekatan ini juga merupakan proses mengorganisir masyarakat sehingga mereka mampu untuk berpikir dan menganalisa dan melakukan aksi untuk menyelesaikan masalah mereka. Jadi. 66 . Deteksi dan stimulasi tumbuh kembang - 1-3 bln 3-6 bln 6-9 bln 9-12 bln 1-2 thn 2-3 thn 3-4 thn 4-5 thn - Puskesmas-Poli KIA Posyandu Taman Kanak-kanak Kelompok bina keluarga balita . Pendekatan ini tidak hanya memfasilitasi masyarakat untuk menggali dan mengelola berbagai komponen.Dokter . kekuatan-kekuatan dan perbedaan-perbedaan.Tempat penitipan anak Sesuai dengan jam kerja puskesmas . sehingga setiap orang memiliki pandangan yang sama tentang penyelesaian masalah mereka. ini merupakan proses dimana masyarakat merubah diri mereka secara individual dan secara kolektif dan mereka menggunakan kekuatan yang mereka miliki dari energi dan kekuatan mereka.Kader BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Upaya wajib KIA dapat memberikan masyarakat kesempatan untuk memahami kondisi mereka dan melakukan aksi dalam mengatasi masalah mereka ini disebut dengan pendekatan belajar dan melakukan aksi bersama secara partisipatif (Participatory Learning and Action -PLA).Bidan . puskesmas harus menjadikan program-program KIA sebagai budaya masyarakat agar angka kematian ibu dan anak dapat menurun. Ini adalah proses pemberdayaan masyarakat sehingga mereka mampu melakukan aksi untuk meningkatkan kondisi mereka.9. memandirikan masyarakat dalam mengembangkan perilaku hidup bersih dan sehat. Selain itu. SARAN Puskesmas harus lebih mendekatkan pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat dalam upaya peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi masalahmasalah kesehatan.

Semakin tinggi tingkat pertumbuhan penduduk. Pelayanan Keluarga Berencana yang merupakan salah satu didalam paket Pelayanan Kesehatan Reproduksi Esensial perlu mendapatkan perhatian yang serius. pemerintah berupaya untuk mengurangi tingkat pertumbuhan penduduk ini dengan program keluarga berencana. Peningkatan dan perluasan pelayanan keluarga berencana merupakan salah satu usaha untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu yang sedemikian tinggi akibat kehamilan yang dialami oleh wanita. Keadaan yang demikian telah mempersulit usaha peningkatan dan pemerataan kesejahteraan masyarakat. Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu pelayanan kesehatan preventif yang paling dasar dan utama bagi wanita. kesehatan individual dan seksualitas wanita atau biaya untuk memperoleh kontrasepsi . Dengan telah berubahnya paradigma dalam pengelolaan masalah kependudukan dan pembangunan dari pendekatan pengendalian populasi dan penurunan fertilitas menjadi pendekatan yang berfokus pada kesehatan reproduksi serta hak reproduksi. tidak hanya karena terbatasnya jumlah metode yang tersedia tetapi juga karena metode-metode tertentu mungkin tidak dapat diterima sehubungan dengan kebijakan nasional KB. Banyak wanita harus menentukan pilihan kontrasepsi yang sulit. Oleh karena itu.UPAYA WAJIB KELUARGA BERENCANA (KB) BAB 1 PENDAHULUAN Indonesia adalah salah satu Negara yang menghadapi masalah di bidang kependudukan. meskipun tidak selalu diakui demikian. yaitu masih tingginya tingkat pertumbuhan penduduk. maka makin besar pula usaha yang harus dilakukan untuk mempertahankan kesejahteraan masyarakat. karena dengan mutu pelayanan Keluarga Berencana berkualitas diharapkan akan dapat meningkatkan tingkat kesehatan dan kesejahteraan. Maka pelayanan Keluarga Berencana harus menjadi lebih berkualitas serta memperhatikan hak-hak dari klien/ masyarakat dalam memilih metode kontrasepsi yang diinginkan\ 67 .

Sistem kesiagaan merupakan sistem tolong-menolong.rela serta tidak bertentangan dengan agama. telpon rumah). pencatatan-pemantaun dan informasi KB. menerima pola keluarga kecil sebagai salah satu langkah utama untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Oleh karena itu pelaksanaan program keluarga berencana tidak hanya menyangkut masalah tehnis medis semata-mata. pendidikan serta pengarahan amat diperlukan agar masyarakat dengan kesadarannya sendiri dapat menghargai dan. pendonor darah. kepercayaan dan moral Pancasila. yang dibentuk dari. dalam hal penggunaan alat transportasi/ komunikasi (telepon genggam. Kontrasepsi adalah metode untuk mencegah kehamilan. melainkan meliputi berbagai segi penting lainnya dalam tata hidup dan kehidupan masyarakat. Dengan program keluarga berencana diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 68 . Dengan metode ini maka jumlah dan jarak kehamilan dapat diatur. Program keluarga berencana dilaksanakan atas dasar suka. pendanaan. Dengan demikian maka bimbingan. Program keluarga berencana ini dilaksanakan dengan menggunakan metode kontrasepsi. oleh dan untuk masyarakat.

menghindari kelahiran yang tidak diinginkan. social budaya penduduk Indonesia agar dapat dicapai keseimbangan yang baik dengan kemampuan produksi Nasional. spiral. mengatur interval diantara kehamilan dan menentukan jumlah anak dalam keluarga. Pembatasan bisa dilakukan dengan penggunaan alat-alat kontrasepsi atau penanggulangan kelahiran seperti kondom. IUD dan sebagainya Menurut BKKBN keluarga berencana artinya mengatur jumlah anak sesuai kehendak dan menentukan sendiri kapan saatnya hamil atau salah satu usaha masalah kependudukan sekaligus merupakan bagian yang terpadu dalam program Pembangunan Nasional dan bertujuan untuk turut serta menciptakan kesejahteraan ekonomi. spiritual.BAB II PENGERTIAN Keluarga berencana adalah perencanaan kehamilan sehingga kehamilan hanya terjadi pada saat di inginkan oleh suami dan istri. maksud daripada ini adalah gerakan untuk membentuk keluarga yang sehat dan sejahtera dengan membatasi kelahiran. Menurut undang-undang No. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. 10/1992. 69 . KB merupakan tindakan yg membantu individu/ pasutri untuk: Mendapatkan objektif-obketif tertentu. KB merupakan suatu usaha untuk menjarangkan atau merencanakan jumlah dan jarak kehamilan dengan memakai kontrasepsi. mendapatkan kelahiran yang diinginkan. Menurut WHO. Dapat juga diartikan mengatur jumlah anak sesuai kehendak dan menentukan sendiri kapan saatnya hamil. Dengan kata lain KB adalah perencanaan jumlah keluarga. keluarga berencana merupakan Upaya peningkatkan kepedulian masyarakat dalam mewujudkan keluarga kecil yang bahagia sejahtera.

peningkatan fungsi pengayoman medis MKET serta penanggungulangan kasus infertilitas. Tujuan Khusus a) Meningkatnya kesejahteraan ibu dan anak b) Meningkatnya harapan hidup c) Berkurangnya angka kematian bayi d) Berkurangnya angka kematian ibu hamil 70 .BAB III TUJUAN Tujuan Umum Meningkatnya kesejahteraan ibu dan anak serta keluarga dalam rangka mewujudkan keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera melalui peningkatan mutu pelayanan medis dan pengayoman medis kontrasepsi. pemakaian MKET.

Kader kesehatan. penyulit yang mungkin terjadi serta cara penanggulangannya. Petugas kesehatan 71 . PUS yang mempunyai masalah.Penanggulangan infertilitas c) Pengayoman medis  Berupa simulasi pengayoman medis kontrasepsi efektif terpilih ( Siyomeket) d) Rujukan B. Tokoh masyarakat/agama. efek samping. Sasaran a) Langsung: Ibu pada masa interval.Deteksi dini kelainan kesehatan reproduksi ibu (Pap smear) . b) Tidak langsung: WUS. Kegiatan a) KIE  Pemberian KIE medis mengenai bebagai jenis alat.Pemasangan alat kontrasepsi/pemberian obat kontrasepsi yang diinginkan . obat kontrasepsi antara lain cara kerja. b) Pelayanan medis  Konseling pra pelayanan ( KIE)  Pelayanan medis .BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN KEGIATAN DAN SASARAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU A.

Ibu pada masa interval .Perawat 2.Bidan .Perawat 3.Posyandu Sesuai dengan jam kerja puskesmas .Puskesmas-Poli KB .BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU 1.Posyandu Sesuai dengan jam kerja puskesmas .Bidan .Ibu pada masa interval .Dokter .Posyandu Sesuai dengan jam kerja puskesmas . Pelayanan medis .Bidan . Penganyoman medis dan rujukan .Puskesmas-Poli KB . KIE .Puskesmas-Poli KB .Dokter .PUS yang mempunyai masalah .Dokter .Perawat 72 .Ibu pada masa interval .PUS yang mempunyai masalah .PUS yang mempunyai masalah .

Dalam upaya pencegahan kehamilan dan dalam rangka gerakan Keluarga Berencana Nasional dapat dicapai salah satunya dengan KB suntik 3 bulanan dan dari melihat kasus/asuhan kebidanan diatas dapat diketahui bahwa KB suntik 3 bulanan dapat mengalami masalah Amenorhoe. 73 .BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Dengan adanya program KB yang didukung dengan strategi pendekatan dan cara operasional program pelayanan KB diharapkan dapat menurunkan angka kelahiran dan meningkatkan kesehatan ibu sehingga di dalam keluarganya akan berkembang Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS). SARAN Penyebarluasan informasi yang tepat tentang KB dapat membantu masyarakat menuju Keluarga Berencana dan sejahtera selain itu dibutuhkan juga peran serta aktif dari bidan sebagai tenaga kesehatan dan juga masyarakat pasangan usia subur sebagai pengguna.

2002. Jakarta: Yayasan bina pustaka. Pedoman Pendataan Puskesmas. 45-47 3. YBPSP. Prawirohardjo. Buku panduan praktis pelayanan kontrasepsi. 2003. Dkk. Sarwono. 4. Jakarta: Widya medika. Hal. Abdul Bari Saifuddin SpOg. Depkes RI. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta. Hal. Scott. 2003. Jakarta. 2010. Standarisasi Pelayanan Puskesmas di DKI Jakarta. 74 .DAFTAR PUSTAKA 1. 2006. Danforth buku saku obstetric dan ginekologi. 718 2. Depkes RI. MPG. 5. James R. Prof dr.

05.234 ) ( 030.UPAYA PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT Penyusun : Wilma Pratiwi Yenovi Desy Selawani ( 030.06.280 ) 75 .

kemiskinan dan akan menghambat pertumbuhan ekonomi. Karena nilai persentase K/S kurang dari 100%. dewasa sampai usia lanjut. masa remaja. bayi. Untuk itu perlu dipelajari kenapa mereka tidak datang ke posyandu dan perlu 76 . seperti melakukan penerapan pola hidup sehat dan pola makan yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari. bayi dan balita serta rendahnya tingkat kecerdasan yang berakibat pada rendahnya produktifitas. Hal ini menggambarkan bahwa partisipasi masyarakat masih kurang. Sedangkan secara umum. maka persentase partisipasi masyarakat pada tahun 2008 ini memiliki angka yang paling kecil. menurunkan produktivitas kerja dan menurunkan daya tahan tubuh. pengangguran. Hal ini mendasari masalah Gizi menjadi salah satu faktor penting penentu pencapaian Millenium Development Goals.1 Gizi merupakan salah satu penentu kualitas sumber daya manusia.2 Tahun 2008 jumlah balita yang ada di kota Tanjungpinang sebanyak 23.BAB I PENDAHULUAN Kesehatan merupakan modal utama dalam kehidupan setiap orang.0%. baik jasmani maupun rohani guna menopang aktifitas kehidupan sehari-hari.927 orang (81. Jumlah balita yang memiliki KMS (K/S) pada tahun 2008 sebesar 18.240 orang.2 Kecukupan gizi sangat diperlukan oleh setiap individu sejak janin yang masih dalam kandungan.4%). sehingga seseorang yang menginginkan agar dirinya tetap sehat harus melakukan berbagai macam cara untuk meningkatkan derajat kesehatannya.2 Partisipasi masyarakat (D/S) pada tahun 2008 sebesar 62. Kekurangan gizi akan menyebabkan kegagalan pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan. terbukti tingginya angka kematian ibu. maka cakupan jumlah balita yang memiliki KMS pada tahun 2008 lebih rendah. kemungkinan jumlah KMS masih kurang sehingga perlu dilakukan penambahan atau juga distribusi KMS yang belum merata. cakupan balita yang memiliki KMS (K/S) dari tahun 2004 sampai dengan 2008 berada pada angka diatas 80%. Jika dibandingkan dengan tahun 2004 sampai dengan tahun 2007. yang berakibat meningkatnya angka kesakitan dan kematian. anak-anak. dimanapun dan siapapun pasti membutuhkan badan yang sehat. Masalah Gizi di Indonesia sampai saat ini masih memprihatinkan. Jika dilihat dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2008. Begitu pentingnya nilai kesehatan ini. Ibu atau calon ibu merupakan kelompok rawan karena membutuhkan gizi yang cukup sehingga harus dijaga status gizi dan kesehatannya agar dapat melahirkan bayi yang sehat.

dimotivasi. menurunnya kinerja posyandu akan berdampak pada menurunnya status gizi. MP-ASI tersebut khususnya bagi bayi dan anak usia 6-23 bulan dari keluarga miskin yang berat badannya berdasarkan hasil penimbangan di posyandu tidak naik (T1). Gambaran yang lebih akurat tentang situasi masalah gizi buruk di tingkat masyarakat akan didapat melalui pelaksanaan surveilens aktif dengan melakukan konfirmasi dan pelacakan kasus. Selain itu dari kader posyandu sendiri bersama dengan PKK kelurahan juga dihimbau agar lebih memotivasi warganya untuk membawa balita ke posyandu setiap bulan. Untuk itu Pemerintah perlu menyediakan dukungan dana operasional posyandu. Pemerintah telah mengeluarkan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri No. disediakan Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI). 2 Posyandu merupakan bentuk Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) yang mempunyai daya ungkit yang besar dalam mengatasi masalah gizi kurang. asuhan gizi keluarga dan akses keluarga terhadap pelayanan kesehatan. SK Menkes RI no. telah ditargetkan penurunan masalah gizi kurang pada tahun 2009 setinggi-tingginya 20%.411. 116/Menkes/SK/VIII/2003 tentang pedoman Penyelenggaraan Surveilens Epidemiologi Kesehatan. Menyikapi kondisi tersebut.2 Banyak faktor yang menyebabkan masalah gizi kurang antara lain faktor ketersediaan pangan dalam rumah tangga. 1457/Menkes/SK/X/2003 tentang kewenangan Wajib Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan. salah satu indikator adalah 80% kecamatan bebas rawan gizi. Distribusi MP-ASI sampai ke sasaran memerlukan dukungan dana.2 77 .2 Berdasarkan Keputusan Menkes RI No.2 Salah satu upaya mempertahankan status gizi bayi dan anak usia 6-23 bulan dan juga untuk mencegah keadaan gizi menjadi lebih buruk. Dalam dokumen RPJMN 2004-2009. salah satu sasaran adalah pelaksanaan Sistem Kewaspadaan Gizi termasuk Sistem Kewaspadaan Dini KLB Gizi Buruk.3/1116/SJ tentang revitalisasi posyandu yang merupakan upaya untuk meningkatkan fungsi dan kinerja posyadu.

mencerna.BAB II PENGERTIAN Kata gizi berasal dari bahasa Arab ―gizzah‖. 3 Perbaikan gizi merupakan suatu upaya perbaikan gizi masyarakat yang diselenggarakan secara menyeluruh dan terpadu dalam kerjasama lintas sektoral. mendistribusi. dan substansi yang terkandung didalamnya. Status gizi adalah keadaan tubuh/ekspresi sebagai akibat komsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. menelan. memelihara jaringan dan mengatur proses-proses tubuh. untuk kesehatan dan masalah kesehatan. Ilmu gizi adalah ilmu tentang makanan. Malnutrisi ( gizi salah ) adalah keadaan patologis akibat kekurangan/ kelebihan secara relatif maupun absolut satu atau lebih zat gizi.6 78 . peranan keluarga serta swadaya termasuk swasta untuk meningkatkan status gizi masyarakat dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. dalam bahasa latin ―nutrire‖ artinya makanan atau zat makanan sehat.3 Zat gizi adalah ikatan kimia yang diperlukan oleh tubuh untuk melakukan fungsi yaitu menghasilkan energi. zat-zat gizi. menyerap.5 Gizi seimbang adalah istilah untuk menggambarkan susunan makanan dan minuman yang jenis maupun jumlahnya menjamin kebutuhan tenaga. Definisi gizi adalah proses tubuh memanfaatkan makanan yang dimulai dari mengunyah. menggunakan dan membuang yang tidak terpakai. sumber pertumbuhan dan pemeliharaan untuk mencapai status kesehatan optimal. peran dan keseimbangannya. membangun sel-sel.

2. Terlaksananya kegiatan Pos Gizi untuk menurunkan angka balita gizi buruk dengan dana swadaya masyarakat. balita dan bufas. Meningkatnya status gizi pada balita gizi buruk melalui intervensi gizi. 8. Tujuan Khusus 1. Meningkatnya pengetahuan dan kemampuan petugas gizi kelurahan dalam melaksanakan dan pelaporan kegiatan gizi. Meningkatnya kerjasama lintas program dan lintas sektoral. 5. 79 . 4. 6. 3. Meningkatnya cakupan Fe pada ibu hamil dan buteki.BAB III TUJUAN Tujuan Umum Tertanggulanginya masalah gizi di masyarakat dan meningkatnya status gizi masyarakat di wilayah Kecamatan Pasar Minggu. 7. Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan Posyandu. Meningkatnya cakupan vitamin A pada bayi. Diselenggarakannya pelayanan gizi di klinik gizi.

Pemberian Vitamin A setiap bulan Februari dan Agustus pada anak . Pengadaan vitamin A untuk bayi.2 Kegiatan Program Gizi dengan menggunakan anggaran subsidi 1. Pemberian Vitamin A pada bufas 5. Pelayanan Gizi di Posyandu 3. Usaha Perbaikan Gizi Institusi ( UPGI ) 1.1 Kegiatan Rutin Program Gizi a. Pengadaan bahan dan pangan MP-ASI 80 . Pengadaan PM tambahan pemulihan untuk balita BGM 3. Kegiatan SPGP ( Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi ) 1. Pemantauan status gizi anak sekolah dilaksanakan secara terpadu dengan program UKS melalui screening kesehatan 3. 2. Pembentukan pos gizi 4. dan ibu hamil 2. Pemberian tablet tambah darah pada bumil dan buteki dan bufas 6. Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) 1. Pembinaan kader Posyandu dan petugas kelurahan IV.anak 4. Pemantauan status gizi Balita di Posyandu 2.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN KEGIATAN DAN SASARAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU Kegiatan IV. Penyuluhan gizi pada masyarakat sangat diperlukan karena pengetahuan orang tua dapat ditambah dengan cara memberikan penyuluhan setiap saat pertemuan. Pemberian makanan tambahan pemulihan di Posyandu 7. Melakukan survei konsumsi makanan pada masyarakat 3. Monitoring dan evaluasi kegiatan penimbangan balita di Posyandu 8. Rapat koordinasi dengan sektoral 4. Pelacakan kasus gizi buruk yang ditemukan di wilayah Pasar Minggu b. balita. Pelayanan gizi di klinis gizi Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu c. Penyuluhan Gizi di SD / MI / SMP / SMA secara terpadu dengan program UKS/PKPR 2.

Gizi anak sekolah dengan program UKS 4. KP ibu dengan program kesehatan ibu 2. Pada kelompok sekolah. remaja. Lansia yang datang ke Posyandu lansia 3. Ibu. Pembinaan petugas gizi kelurahan 6. Posyandu dengan program PSM 3.5. Gizi lansia dengan program lansia Sasaran 1. Gizi remaja dengan program PKPR 5. Pada masyarakat umum 81 . Panti Asuhan 6.3 Program Gizi yang berintegrasi dengan program lain 1. Ibu hamil dengan class ANC 4. Monitoring dan evaluasi program gizi IV. Pada kelompok Pasien DM yang ada di Pasar Minggu 5. balita dan buteki yang datang ke Posyandu 2.

Usaha Perbaikan Gizi Pemuda (UPGP) Jenis kegiatan Penyuluhan gizi remaja Sasaran Organisasi pemuda dan Tempat Kecamatan Waktu 2x per Pelaksana tahun Tenaga Pelaksana Gizi Puskesmas Pembina bersama – sama Dokter Puskesmas Pembina sesuai jadwal remaja/karang taruna 82 . Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) Jenis Kegiatan Sasaran Tempat Waktu Pelaksana Penimbangan balita di Posyandu Bayi. balita.BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU 1. dan ibu menyusui Penyuluhan gizi di Posyandu Posyandu Satu bulan 1x Petugas kesehatan sesuai jadwal Puskesmas dan Kader kesehatan/Posyandu Pemberian vitamin A pada balita di Posyandu Pemberian tablet Fe pada balita di Posyandu dan PMT balita Pencatatan dan pelaporan Penataan kader 2. ibu Pemberian makanan tambahan di Posyandu hamil.

dan pesantren Pemeriksaan Hb pada Nakerwan Tenaga kerja wanita (Nakerwan) Pemberian tablet tambah darah pada Nakerwan Tempat Waktu Pelaksana Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) Puskesmas Pembina Institusi/perusahaan. Usaha perbaikan Gizi Sekolah (UPGS) Jenis kegiatan Penyuluhan gizi pada masyarakat sekolah Sasaran Masyarakat Sekolah Dasar/Madrasah Pembinaan warung / kantin sekolah Ibtidiyah.3. sesuai SLTA/Aliyah jadwal puskesmas Pemberian tablet tambah darah Pemantauan status gizi 4. panti jompo. pesantren tahun sesuai jadwal Pemantauan gizi Nakerwan 83 .Usaha Perbaikan Gizi Institusi (UPGI) Jenis kegiatan Penyuluhan gizi pada masyarakat institusi Sasaran Masyarakat panti asuhan. Waktu Dasar 4x tahun Pelaksana per Petugas kesehatan dan Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) SLTP/Tsanawiyah. 2x per panti. SLTP/Tsanawiyah dan SLTA/Aliyah Pemeriksaan Hb anak SD/MI Tempat Sekolah (SD).

BP. Klinik Gizi Jenis kegiatan Anamnesa.5. Pembina sesuai jam kerja Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) Puskesmas Pembina 84 . BKIA. diagnose keluhan gizi dan nasihat dietetic Sasaran Pasien umum dengan kelainan gizi ganda (gizi lebih dan kurang) Pengukuran status gizi (antropometri dan Pasien rujukan laboratorium) dari RB. dll Riwayat kebiasaan makan dan intake Balita gizi buruk rujukan dari posyandu Tempat Poli Waktu Pelaksana Gizi 3 hari dalam Dokter puskesmas Puskesmas seminggu.

Meningkatkan sosialisasi ke masyarakat.0 % . khususnya para ibu yang memiliki balita untuk pertumbuhan balitanya melalui kegiatan Posyandu 2. Jumlah Posyandu yang rutin melaksanakan kegiatan 98. N/S = 41. Cakupan D/S = 74. Kegiatan intervensi gizi dapat memperbaiki gizi buruk dari 64.1 % da 200.1 % dan 200. Rata – rata kunjungan klinik gizi 110 orang/bulan 7.000 UI sebanyak 90. N/D = 56.000 UI sebanyak 93. 2 Saran 1.5 % menjadi 24.9 % 5.4 % 8.2 % 2. K/S = 89.2 % 6.3 % .8% sedangkan targetnya 80 % VI. Cakupan Fe I ibu hamil = 81.000 UI sebanyak 95. Menjalin komunikasi dan kerjasama yang lebih efektif dengan lintas program dan lintas sector 3. Cakupan vitamin A bulan Februari untuk 100.6 % 4.4 % serta Agustus untuk 100.1 Kesimpulan 1. Fe III = 80.3 % .000 UI sebanyak 99.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN VI.4 % 3. Cakupan ASI eksklusif masih rendah sekitar 36.0 % . Jumlah kader Posyandu yang aktif 71. PMT – Pemulihan balita gizi buruk sebaiknya melalui klinik gizi Puskesmas kecamatan agar memudahkan monitoring dan evaluasi 85 .

2008 5. Jakarta . Kendari . Wuna. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Direktorat Bina Gizi Masyarakat Republik Indonesia. Evaluasi Pelaksanaan Program Perbaikan Gizi Masyarakat dalam Mencapai Visi Misi Indonesia Sehat 2010. Persatuan Ahli Gizi Indonesia. Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Jakarta . Juknis SPM Gizi Masyarakat. 2007 6. Jakarta . Standarisasi Pelayanan Kesehatan Puskesmas. 2008 4. Program Perbaikan Gizi Masyarakat. Jakarta . 2010 2. 2008 3.DAFTAR PUSTAKA 1. Jakarta . Petunjuk Teknis Bantuan Sosial Program Perbaikan Gizi Masyarakat. 2011 86 . Masalah Gizi di Indonesia dan Program Perbaikan Gizi Masyarakat. Prioritas Peningkatan Pengetahuan dalam Perbaikan Gizi Masyarakat.

084) (030.06.06.209) 87 .UPAYA PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT Penyusun : Fadilah Rakhma Asih Primadyah ( 030.

terpadu. serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. dan penyakit lainnya. influensa. Dalam mewujudkan pelaksanaan upaya-upaya di atas tentunya harus didukung oleh sarana dan prasarana serta sumber daya manusia yang berkualitas yang mampu memenuhi tuntutan dan kebutuhan pembangunan di bidang kesehatan. Infulenza dll). serta upaya-upaya pemulihan kesehatan (rehabilitatif). dan sedapat mungkin menghilangkan atau mengurangi akibat buruk dari penyakit menular tersebut. Typhoid/Types dll). Usaha peningkatan derajat kesehatan diupayakan melalui upaya peningkatan kesehatan (promotif). pengkajian. bukan disebabkan faktor fisik (seperti luka bakar dan trauma benturan) atau kimia (seperti keracunan) yang mana bisa ditularkan atau menular kepada orang lain melalui media tertentu seperti udara (TBC. Penyakit menular yang juga dikenal sebagai penyakit infeksi dalam istilah medis adalah sebuah penyakit yang disebabkan oleh sebuah agen biologi (seperti virus. 88 . bangsa dan negara dapat hidup dalam lingkungan dan perilaku hidup yang sehat. cara penanggulangan secara terpadu dan penyelidikan terhadap penularan penyakit. tempat makan dan minum yang kurang bersih pencuciannya (Hepatitis. memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata. Beberapa penyakit menular yang menjadi masalah utama di Indonesia adalah diare.Hepatitisdll). demam berdarah dengue. dimana masyarakat. Program tersebut dilaksanakan untuk mencegah berjangkitnya penyakit atau mengurangi angka kematian dan kesakitan. dan berkesinambungan serta peningkatan sistem pengamatan penyakit. penyakit saluran cerna. baik masa kini maupun masa datang. Jarum suntik dan transfusi darah(HIVAids. malaria. penyembuhan (kuratif). bakteria atau parasit). Usaha-usaha tersebut dilakukan secara menyeluruh. pencegahan penyakit (preventif).BAB I PENDAHULUAN Pembangunan kesehatan yang berkualitas merupakan bagian integral dari pembangunan nasional. Salah satu program yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan dan sasaran pembangunan di bidang kesehatan adalah pencegahan dan pemberantasan penyakit menular. tifus abdominalis.

Beberapa penyakit tidak menular yang menunjukkan kecenderungan peningkatan adalah penyakit jantung koroner. dan Keputusan Menteri Kesehatan No. dan Sistem Pelaporan Rumah Sakit (SPRS). 89 . Sistem tersebut disesuaikan dengan ketetapan Undang –Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah. serta penanggulangan penyakit tidak menular dierlukan suatu sistem surveilens penyakit yang mampu memberikan dukungan upaya program dalam daerah kerja Kabupaten/Kota. diabetes melitus. kondisi stress yang mengakibatkan gangguan kejiwaan. dampak dari berbagai penggunaan obat atau konsumsi makanan serta minuman termasuk merokok. propinsi. dan Nasional. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom. Sistem Pencatatan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP). kecelakaan. Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah. kecacatan akibat kesalahan proses kelahiran.Adapun penyakit yang tidak menular adalah penyakit yang diderita pasien yang pada umumnya disebakan bawaan/keturunan. kanker. yang telah mengalami beberapa kali perubahan dan perbaikan. dan sebagainya. penanggulangan Kejadian Luar biasa (KLB) penyakit dan keracunan. 1116/MENKES/SK/VIII/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilens Epidemiologi Kesehatan serta kebutuhan informasi epidemiologi untuk mendukung upaya pemberantasan penyakit menular dan penyakit tidak menular. Untuk melakukan upaya pemberantasan penyakit menular. hipertensi. Pada tahun 1987 telah dikembangkan Sistem Surveilens Terpadu (SST) berbasis data.

BAB II PENGERTIAN

Penyakit adalah adalah suatu keadaan abnormal dari tubuh atau pikiran yang menyebabkan ketidaknyamanan, disfungsi atau kesukaran terhadap orang yang

dipengaruhinya. Untuk menyembuhkan penyakit, orang-orang biasa berkonsultasi dengan seorang dokter. Penyakit menular adalah penyakit yang dapat ditularkan (berpindah dari orang yang satu ke orang yang lain) baik secara langsung maupun melalui perantara. Suatu penyakit dapat berpindah dari satu orang ke orang yang lain karena adanya penyebab penyakit

(agent), pejamu (host) dan cara penularan (route of transmission). Agent penyakit menular dapat berupa virus, riketsia, bakteri, protozoa, jamur dan cacing. Agar agent penyebab ini bias bertahan maka harus terjadi perkembangbiakan, berpindah dari satu host ke host yang lain, mencapai host yang baru dan menginfeksi host yang baru. Cara penularan yang dapat dilakukan dengan kontak, inhalasi (air bone infection), kontaminasi (melalui makanan dan minuman), penetrasi pada kulit dan infeksi melalui plasenta. Beberapa jenis penyakit yang menular:
                

Anthrax Beguk Batuk rejan (pertusis) Beri-beri Cacingan Cacar Air (varicella) Campak Chikungunya Demam campak Demam berdarah Demam kelenjar Diare Disentri Amuba Eritema infektiosum (Parvovirus B19) Hepatitis A Hepatitis B Hepatitis C

                 

Impetigo Influenza Kolera Lepra Malaria Penyakit Meningokokus Penyakit tangan, kaki dan mulut Rabies Radang lambung dan usus Rubeola Rubella Tetanus Tuberkulosis Kutu Konjungtivitis Kurap Kudis Skarlatina
90

Flu Burung

Macam penyakit menular:  Penyakit karantina atau wabah (UU No.1 dan 2 tahun 1962): Kolera, Pes, Demam kuning, Deman bolak-balik, Tifus Bercak Wabah, Poliomielitis dan Difteri).   Penyakit menular dengan potensi wabah tinggi: DBD, Diare, Campak, Pertusis dan Rabies, Avian Influenza, HIV/AIDS. Penyakit frambusia,  menular dengan potensi wabah rendah: antraks, malaria, tetanus meningitis, neonatorum

keracunan,

influenza,

ensefalitis,

dan tifus abdominalis. Penyakit menular yang tidak berpotensi wabah : kecacingan, lepra, TBC, Sifilis, Gonore dan Filariasis. Penyakit tidak menular adalah penyakit yang tidak disebabkan oleh kuman, tetapi disebabkan karena adanya problem fisiologis atau metabolisme pada jaringan tubuh manusia. Penyakit-penyakit tersebut contohnya ialah; batuk, seriawan, sakit perut, dan sebagainya. Pengalaman menunjukkan bahwa penyakit menular yang terdapat di dalam wilayah kerja Puskesmas di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi kelompok-kelompok penyakit menular sesuai dengan sifat penyebarannya di dalam masyarakat wilayah tersebut, ialah: 1. Penyakit menular yang secara endemik berada diwilayah, yang pada waktu tertentu dapat menimbulkan wabah, yang dapat dikelompokkan ke dalam penyakit-penyakit menular potensial wabah. 2. Penyakit menular yang berada di wilayah dengan endemisitas yang cukup tinggi sehingga jika tidak diawasi dapat menjadi anacaman bagi kesehatan masyarakat umum. 3. Penyakit- penyakit menular lain yang walaupun endemisitasnya tidak terlalu tinggi di dalam masyarakat, tetapi oleh karena sifat penyebarannya dianggap sangat membahayakan keberadaannya. Dalam upaya pencegahan terjadinya wabah dan penularan penyakit dalam program Puskesmas dilaksanakan program P4M (Pencegahan, Pemberantasan, Pembasmian, Penyakit
91

masyarakat,

maka

penyakit-penyakit

ini

perlu

diawasi

Menular) dengan tujuan eradikasi penyakit sampai ke akarnya. Kemudian diganti menjadi P3M (Pencegahan, Pencegahan Penyakit menular) dan P2M & PLP (Pemberantasan Penyakit Menular & Penyehatan Lingkungan Pemukiman). Penyakit dapat dibedakan menjadi : a. Penyakit menular b. Penyakit infeksi c. Penyakit Kontak d. Penyakit karantina e. Penyakit endemi f. Penyakit epidemi (wabah) g. Penyakit Pandemi

Penyakit menular adalah penyakit yang disebabkan agent / hasil toxin yang berasal dari reservoir dan ditularkan ke host yang rentan. Mata rantai penularan terdiri dari : a. Agent / hasil toksin b. Reservoir (sumber penularan) c. Transmisi (cara penularan) d. Host / penjamu

Kejadian Luar Biasa (KLB) ialah kejadian kesakitan dan atau kematian yang menarik perhatian umum dan mungkin menimbulkan ketakutan dikalangan mayarakat, atau yang menurut pengamatan epidemiologik dianggap adanya peningkatan yang berarti dari kejadian kesakitan/kematian tersebut pada kelompok penduduk dalam kurun waktu tertentu. Termasuk dalam KLB ialah kejadian kesakitan atau kematian yang disebabkan oleh penyakit-penyakit baik yang menullar maupun tidak menular dan kejadian bencana alam yang diserati wabah penyakit. Secara operasional suatu kejadian dapat disebut KLB bila memenuhi satu atau lebih ketentuan-ketentuan sebagai berikut : 1. Angka kesakitan/kematian suatu penyakit menular di suatu kecamatan menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih selama tiga minggu berturut-turut atau lebih.
92

2. Jumlah penderita baru dalam satu bulan dari suatu penyakit menular di suatu kecamatan menunjukkan kenaikan dua kali lipat atau lebih bila dibandingkan dengan angka ratarata sebulan dalam setahun sebelumnya dari penyakit menular yang sama di kecamatan tersebut. 3. Angka rata-rata bulanan dalam satu tahun dari penderita-penderita baru dari suatu penyakit menular disuatu kecamatan menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata bulanan dalam tahun sebelumnya dari penyakit yang sama pula. 4. Case fatality rate dari suatu penyakit menular tertentu dalam suatu kurun waktu tertentu (hari, minggu, bulan) di suatu kecamatan menujukkan kenaikan 50% atau lebih bila dibandingkan dengan CFR penyakit yang sama dalam kurun waktu yang sama periode sebelumnya di kecamatan tersebut. 5. Proportional rate penderita baru dari suatu penyakit menular dalam satu periode tertentu, dibandingkan dengan proportional rate penderita baru dari suatu penyakit menular yang sama daam tahun yang lalu dengan periode yang sama menunjukkkan kenaikan dua kali atau lebih. 6. Khusus penyakit-penyakit kolera, pes, DBD/DSS : a. Setiap peningkatan jumlah penderita-penderita tersebut diatas, di suatu daerah endemik yang sesuai dengan ketentua-ketentuan di atas. b. Terdapatnya satu atau lebih penderita kematian menular tersebut diatas, di suatu Kecamatan yang telah bebas dari penyakit-penyakit tersebut, paling sedikit bebas selama 4 minggu berturut-turut. 7. Apabila kesakitan atau kematian oleh keracunan yang timbul di suatu kelompok masyarakat. 8. Apabila di daerah tersebut terdapat penyakit yang sebelumnya tidak ada. Khusus untuk kasus AFP (Acute Flaccid Paralysis) dan Tetanus neonatorum ditetapkan sebagai KLB bila ditemukan satu kasus atau lebih. Wabah penyakit menular adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka (UU No.4 Tahun 1984 tentang wabah penyakit menular)

93

Penanggulangan Kejadian Luar Biasa Penyakit Menular dilaksanakan dengan upaya-upaya : 1. Pengobatan, dengan memberikan pertolongan penderita, membangun pos-pos kesehatan di tempat kejadian dengan dukungan tenaga dan sarana obat yang memadai termasuk rujukan. 2. Pemutusan rantai penularan atau upaya pencegahan misalnya, abatisasi pada KLB DBD, kaporisasi pada sumur-sumur yang tercemar pada KLB diare, dsb. 3. Melakukan kegiatan pendukung yaitu penyuluhan pengamatan. Pemantauan dan logistik. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit (P2P) terdiri dari kegiatan pengamatan penyakit, pencegahan termasuk imunisasi serta penanggulangan dan

pemberantasan penyakit. Berbagai cara pencegahan dapat diterapkan salah satunya dengan membangkitkan kekebalan pada masyarakat melalui pelayanan yang dalam pelaksanaannya diintegrasikan ke dalam program-program pelayanan perolrangan seperti KIA, UKS, dan kegiatan imunisasi di luar gedung Puskesmas. Mengingat pentingnya pelayanan imunisasi ini, maka cakupan imunisasi di dalam masyarakat perlu dimonitor dengan Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) imunisasi Puskesmas menurut distribusi desa. Ada beberapa cara penularan penyakit menular, yaitu : 1. Penularan secara kontak, baik kontak langsung maupun kontak tidak langsung. 2. Penularah memalui vehicle seperti melalui makanan dan minuman yang tercemar. 3. Penularan melalui vektor. 4. Penularan melalui suntikan, transfusi, tindik, tato. 5. Penularan melalui hubungan seksual. Surveilans epidemiologi penyakit dapat diartikan sebagai kegiatan pengumpulan data atau informasi melalui pengamatan terhadap kesakitan atau kematian dan penyebaran serta faktor-faktor yang mepengaruhinya secara sistematik, terus-menerus dengan tujuan untuk perencanaan suatu program, mengevaluasi hasil program, dan sistem kewaspadaan dini. Untuk dapat memonitor atau mengamati distribusi penyakit menular di dalam masyarakat wilayah kerja Puskesmas, dilakukan pencatatan peristiwa kesakitan dan kematian yang diakibatkan oleh penyakit menular tersebut. Untuk pemantauan penyakit menular tertentu yang menjadi masalah kesehatan di wilayah Puskesmas disajikan dalam PWS mingguan Penyakit (contoh PWS [Formulir W2] penyakit campak, diare, DBD, dll). Dengan penggunaan PWS penyakit sara mingguan ini dapat dikenali atau diketahui secara dini kenaikan atau distribusi suatu penyakit menular tertentu menurut tempat dan waktu.
94

BAB III TUJUAN

A.

Tujuan Umum Menurunnya angka kesakitan, kematian, dan angka kecacatan akibat penyakit.

B.

Tujuan Khusus 1. Terlaksananya kegiatan pengamatan penyakit menular dan penyakit tidak menular. 2. Terlaksananya kegiatan pencegahan penyakit dan imunisasi. 3. Terlaksananya kegiatan pemberantasan penyakit menular langsung (TBC, Kusta, Diare dan kecacingan, ISPA, serta Penyakit menular Seksual dan HIV AIDS). 4. Terlaksananya kegiatan pemberantasan penyakit bersumber vektor dan rodent. (DBD, Malaria, Rabies, dan filaria).

95

sesuai dengan komitmen untuk target penghapusan global (Mekhong Plus). dan juga tingkat daerah. PEMBERANTASAN DAN PENGAWASAN TERHADAP PENYAKIT MENULAR Pokok Persoalan dan Tantangan: Infeksi Filariasis dan penularannya selalu terdapat di banyak daerah tanpa kegiatan pengawasan yang cukup. Frambesia dan kusta adalah penyakit menular yang dapat diobati. kurang pelayanannya. namun dengan penularan utama yang terjadi di daerah yang miskin. PROGRAM PENCEGAHAN. Penyakit Menular PROGRAM PENGAWASAN TERHADAP PENYAKIT MENULAR Pokok Persoalan dan Tantangan: Pemerintah Indonesia telah mengubah sistem pemerintahannya menjadi sistem desentralisasi yang membahayakan sistem pengawasan Penyakit Menular. Leptospirosis tetap menjadi hal yang serius meskipun tidak ada laporan yang mengancam. Infeksi Dengue dan komplikasinya seperti demam berdarah terus meningkat di daerah kota dan pinggir kota dengan meningkatnya angka kesakitan namun menurunnya angka kematian yang menjanjikan. diperlukan kesadaran yang ditingkatkan dan dukungan dari pemerintah setempat. Memperkuat pengawasan HIV. Sasaran:   Memperkuat pengawasan penyakit yang menular melalui hubungan seksual (STI). Partisipasi dan jaringan masyarakat diperlukan untuk memulai pengawasan dari penularan dengue (terutama di perkotaan) dan filariasis (terutama di pedesaan). Helminthiasis yang sangat umum dan sangat endemis dengan pengaruh 96 . Rabies dan Japanese Encephalitis adalah masalah utama yang memerlukan dukungan dari sistem pemerintahan untuk memperkuat pengawasan dan vaksin pencegahan. Proyek percobaan untuk ELF memperlihatkan hasil yang menjanjikan yang perlu ditingkatkan ke tingkat propinsi.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN A. terpencil.

PROGRAM PEMBERANTASAN TUBERCULOSIS Pokok Persoalan dan Tantangan: Indonesia telah mengembangkan dan memulai penerapan rencana pembangunan lima tahun untuk pemberantasan TB (2002-2006). Ancaman yang muncul kembali telah terjadi di daerah-daerah pengawasan efektif sebelumnya.kesehatan yang kronik yang dapat secara luas ditingkatkan melalui pemberantasan cacing yang berulang-ulang secara masal. termasuk ELF. Kini desentralisasi sedang berjalan yang memerintahkan pelaksanaan tanggung jawab di tingkat daerah dan propinsi. mengawasi. rabies. Sebuah rencana pembangunan telah dikembangkan. terutama sistem 97 . yaws dan kusta. yang harus dikoordinasikan dengan perawatan ELF dimanapun memungkinkan. Sasaran:  Meningkatkan dan mempertahankan kualitas dari komponen-komponen terpilih dan bidang-bidang yang termasuk dalam program nasional untuk mencegah. namun pelaksanaanya belum dimulai. bersama dengan meningkatnya pendanaan yang baru-baru ini disetujui melalui Global Fund untuk AIDS. Unit Malaria di DepKes meneruskan kebutuhan untuk memperkuat fungsinya sebagai koordinator dari "Gebrak Malaria" dan GFATM. Angka kesakitan dan kematian Malaria secara bermakna mempengaruhi bagian-bagian yang lebih miskin di negara. partisipasi dan jaringan masyarakat untuk pengawasan dengue dan arbovirus lainnya. Sasaran: Meningkatkan dan memelihara kualitas dari komponen-komponen terpilih dan daerah-daerah yang terjangkau oleh rencana kerjasama "Gebrak Malaria" untuk dilaksanakan dibawah GFATM dan sumber donatur lainnya. dan menghapuskan penyakit-penyakit yang ditargetkan. leptospirosis. Untuk memperbaiki hal ini. Kebijakan perawatan obat-obatan perlu terus diawasi dengan timbulnya kembali pola resistansi. Badan Swasta dan Tempat Kesehatan Masyarakat lainnya harus terlibat dalam pelaksanaan DOTS. TB dan Malaria. PROGRAM PEMBERANTASAN MALARIA Pokok Persoalan dan Tantangan: Malaria tetap menjadi salah satu penyakit menular yang utama di sebagian besar daerah di Indonesia. antihelminthiasis deworming. Kualitas pelaksanaan DOTS. Telah ada peningkatan marginal dalam kasus tingkat deteksi selama dua tahun terakhir hanya karena Pusat Kesehatan telah melaksanakan DOTS.

upaya peningkatan kesehatan yang terpadu dan penghantaran perawatan kesehatan yang direformasi. yaitu: pengamatan faktor-faktor risiko.instrumen ini telah diperkenalkan oleh pemerintah setempat dan juga universitas guna meningkatkan pengadopsian dari instrumen-instrumen ini untuk penerapan yang lebih lanjut. pada saat ini mengalami beberapa kekurangan yang perlu diatasi dengan memperkuat dan meluruskan kegiatan DOTS di tingkat pusat. Dokumen ini diharapkan akan selesai sebelum akhir tahun 2003.pencatatan dan pelaporan. propinsi dan daerah. pendekatan Stepwise telah digunakan di bidang demonstrasi mengarah pada pengembangan pendekatan yang berbasis komunitas dalam pengawasan penyakit tidak menular.Modul Kesehatan sebagai bagian dari SURKESNAS. instrumen. STEP 1 juga telah dimasukkan ke dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional . Sasaran:  Memperbaiki pelaksanaan pelayanan DOTS di seluruh negeri dengan membentuk kemitraan yang efektif dengan provider kesehatan di sektor lain (publik-gabungan publik & publik . Agar dapat menyediakan dukungan teknis yang berkesinambungan untuk mengatasi hal ini. Namun. Disamping itu. dengan mengadaptasi Rencana Global dan Regional. Penyakit Tidak Menular PROGRAM PENGAWASAN. PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN TERHADAP PENYAKIT TIDAK MENULAR Pokok Persoalan dan Tantangan : Kini suatu upaya yang terpadu sedang berjalan untuk mengembangkan Pengamatan Risiko Terhadap Penyakit Tidak Menular (NCD Control). dan penyediaan dukungan teknis yang berkesinambungan.gabungan swasta). Selain itu. Tiga komponen utama diadopsi. Pendekatan STEPwise dari WHO untuk Pengamatan Faktor Risiko telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia selama tahun 2002-03. Perbedaan dalam 98 . rencana pembangunan nasional tentang pengamatan terhadap penyakit yang tidak menular yang utama masih perlu dikembangkan untuk mencapai sebuah konsensus dalam pengamatan terhadap penyakit yang tidak menular. maka penting untuk memperkuat dukungan teknis dalam negeri dengan menambah staf di tingkat nasional dan lapangan. B. dengan pendanaan gabungan dari SEARO dan Kantor Negara.

Maka. Meskipun sektor publik/ DepKes tetap menjadi agen utama bagi pergerakan ini. Maka dari itu. PROGRAM PENGAWASAN TEMBAKAU 99 . Sasaran :  Penerapan dukungan teknis dalam rencana pembangunan untuk pencegahan dan penanggulangan kebutaan. maka ini harus benar-benar didukung. upaya yang konsisten harus ada supaya kita dapat mencapai suatu kesimpulan. Rencana Pembangunan Nasional untuk penanggulangan kebutaan baru saja dikeluarkan. Projek uji coba sedang berjalan di Depok dengan gabungan dana dari SEARO dan Kantor Negara untuk mengembangkan pendekatan yang berbasis komunitas dalam pencegahan dan pengawasan penyakit yang tidak menular yang utama. Dalam waktu 2002-3.pendekatan dari dasar penyakit dan fakto risiko berdasarkan pengamatan harus saling melengkapi dan mendapatkan kepentingan yang seimbang. ada potensi yang besar dalam sektor swasta seperti LSM yang sangat aktif dalam pencegahan dan pengawasan faktor risiko dari penyakit yang tidak menular. PROGRAM PENGAWASAN. PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN TERHADAP PENYAKIT TIDAK MENULAR 2 Pokok Persoalan dan Tantangan : Indonesia masih ketinggalan dalam upaya untuk memerangi kebutaan yang diakibatkan oleh katarak. terutama jika kita ingin melihat perubahan perilaku. Dalam kurun waktu 2002-3 beberapa petugas pemerintah telah mendapatkan pelatihan dalam Program Pengelolaan Perawatan Mata di Madurai dan di beberapa tempat. Ini adalah projek yang berlangsung lama. dan terutama bahwa Penglihatan 2020 bukan program prioritas teratas di negeri ini. Tantangannya kini adalah untuk melanjutkan upaya-upaya dan untuk menyokong para pemegang kepentingan yang utama untuk memungkinkan negara untuk mengantisipasi wabah penyakit yang tidak menular yang akan datang. jaringan ini perlu didukung lebih jauh lagi. Sasaran :  Menerapkan Program Pembangunan Nasional untuk pencegahan dan pengawasan penyakit yang tidak menular. pertemuan-pertemuan persiapan telah dilakukan untuk membentuk suatu jaringan nasional untuk pencegahan dan pengawasan dari penyakit yang tidak menular yang utama.

LSM dan MPR. Di tahun 2003.Pokok Persoalan dan Tantangan : Indonesia telah mengalami salah satu peningkatan terbesar dalam konsumsi tembakau di dunia . Selain itu.0%). yang dapat digunakan sebagai referensi untuk membentuk kebijakan dan kapasitas dalam menangani isu-isu ini. WHO SEARO telah mengembangkan beberapa dokumen yang berhubungan dengan ini. Sekitar 69. Namun demikian. dengan angka yang lebih tinggi di daerah pedesaan (74. 69. bekerja sama dengan berbagai departemen pemerintah. tujuannya adalah untuk meratifikasi perjanjian internasional pengawasan tembakau. Sangat baik dimengerti bahwa menanggapi isu-isu kecelakaan dan kekerasan membutuhkan pendekatan multi-sektor.6% (2000).47% selama tahun 1990an.1% pria Indonesia berusia 20 tahun atau lebih merokok secara reguler. PROGRAM KESEHATAN MENTAL DAN PENYALAHGUNAAN OBAT DAN BAHAN BERBAHAYA Pokok Persoalan dan Tantangan : 100 . Di antara anak laki-laki yang disurvei di sekolah menengah di Jakarta.8% (1997) menjadi 42. Data dari Susenas memperlihatkan bahwa insiden kecelakaan sendiri adalah 0.5% dari satu juta orang. Perokok meningkat dengan pesat di Indonesia. WHO akan mendukung struktur lembaga untuk membawa ke depan kunci legislatif dan elemen-elemen kebijakan dari rencana pembangunan. Pada saat kini. Perokok reguler di antara anak laki-laki berusia 15 sampai 19 tahun meningkat dari 36.3% telah mencoba merokok. Sasaran :  Membentuk kebijakan nasional untuk pencegahan kecelakaan dan kekerasan. kecelakaan dan kekerasan yang berhubungan dengan ketidakstabilan politik dianggap tinggi di area-area yang terkena.18 Indonesia aktif terlibat dalam Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) bersama dengan negara anggota PBB lainnya. Sesuai dengan WHA52. Sasaran :  Mengadopsi dan menerapkan rencana pengendalian tembakau nasional yang lengkap PROGRAM KECELAKAAN/DISABILITAS Pokok Persoalan dan Tantangan : Kecelakaan dan kekerasan telah menjadi masalah kesehatan publik. tidak ada titik pusat yang diidentifikasikan di dalam DepKes. WHO telah menonjolkan isu ini dengan mengeluarkan Laporan Dunia tentang Kekerasan dan Kesehatan di tahun 2002. kesehatan menduduki posisi yang paling strategis di bidang ini.

namun ada pengertian yang berkembang bahwa narkotika sangat berhubungan dengan penyalahgunaan bahan lainnya seperti alkoholisme. beberapa modul lain juga akan menjalani pendekatan yang sama. Ini menjadi ganda dengan adanya perubahan baru-baru ini di dalam DepKes Direktorat Kesehatan Mental dari pendekatan berbasis rumah sakit menjadi berbasis komunitas. program kesehatan mental masih belum mendapatkan anggaran belanja yang mencukupi. WHO-HQ baru-baru ini mengembangkan alat-alat pengelola untuk memperkuat program kesehatan mental daerah melalui Projek Kebijakan Kesehatan Mental. Di tahun 2003. yaitu Perencanaan dan Penganggaran Belanja Program Kesehatan Mental dan Pengaturan Jasa-Jasa Kesehatan Mental. desentralisasi yang mulai diterapkan di tahun 2001 mempersulit masalah ini. Adaptasi ini diharapkan untuk selesai di tahun 2003.Masalah kesehatan mental menjadi masalah yang lebih menonjol belakangan ini di negara. Pemerintah telah melakukan upaya namun masih belum terlalu efektif. Selain itu. WHO telah mendukung pengembangan Kebijakan Kesehatan Mental Nasional dan rencana pembangunannya. 101 . Namun tidak ada tanggapan dan pengawasan dari pelaksanaanya. di dalam kurun waktu tahun 2002-03. Di tahun 2004-05. sejumlah panduan telah dikembangkan untuk para pecandu narkotika. Kini telah ada upaya untuk mengartikan dan mengadaptasikan dua seri modul. Sasaran :  Memperkuat program kesehatan mental daerah. Meskipun adanya upaya ini. sebuah lokakarya pelatihan telah berhasil diselenggarakan dengan mengikutsertakan peserta dari pusat dan dari propinsi-propinsi di Jawa dan Bali untuk memperkenalkan modul dan menggunakan modul untuk mengembangkan program kesehatan mental. sebagian karena dikeluarkannya Laporan Kesehatan Dunia 2001 tentang Kesehatan Mental. Penyalahgunaan obat dan bahan berbahaya menjadi lebih menonjol dalam beberapa tahun terakhir. Maka dari itu. Kebingungan juga meningkat karena tidak adanya pola di negara mengenai program kesehatan mental daerah yang dapat digunakan sebagai contoh. dll. Kini tantangannya adalah untuk meningkatkan kesadaran dan mengembangkan panduan nasional dalam menghadapi alkoholisme dan penyalahgunaan bahan berbahaya lainnya seperti metamphetamine. Disamping itu. beberapa modul pelatihan untuk pencegahan dan pemberi perawatan utama dalam bidang kesehatan mental dan penyalahgunaan obat dan bahan berbahaya telah dikembangkan dan dilatih di beberapa propinsi. Kantor WHO di negara bekerja sebagian dalam isu ini.

 Memperbaharui dan mencoba di lapangan panduan nasional dan alat-alat pengelolaan penyakit mental dan neurologis dan penyalahgunaan bahan berbahaya 102 .

Aula kunjungan Poli puskesmas dan tenaga kesehatan Diare Bayi dan anak Poli anak. Aula 1 tahun 2x tiap Dokter dan Puskesmas kunjungan poli puskesmas dan tenaga Kelurahan kesehatan Kusta Dewasa Aula 1 tahun 1x Dokter puskesmas dan tenaga kesehatan HIV Pasien poli dan Poli siswa remaja sekolah konsultasi 1 tahun 1x tiap Dokter dan kunjungan poli puskesmas dan tenaga kesehatan 103 . dewasa Poli anak dan 1 tahun 1x tiap Dokter umum. Aula 1 tahun 1x tiap Dokter kunjungan poli puskesmas dan tenaga kesehatan TBC Individu.BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN TEBET Pelaksanaan upaya pokok pencegahan pemberantasan penyakit menular dan tidak menular di puskesmas tingkat kecamatan : Kegiatan Penyuluhan ISPA Sasaran Tempat Waktu Pelaksana Balita. kelompok Poli paru.

tenaga kesehatan dan Jumantik dan poli poli puskesmas Poli KIA sebanyak 2x Sekolah kesehatan (0-11 Poli imunisasi 104 .III) Tiap kunjungan Bidan Ibu hamil TT Pemeriksaan klinis Sputum tersangka TB Anak dewasa dan Poli umum.II. poli Tiap kunjungan Dokter paru anak PSN Masyarakat Kelurahan 1x tiap minggu Dokter (hari Jumat) puskesmas.Imunisasi Imunisasi wajib Bayi bulan) Tiap Selasa dan Tenaga Kamis Imunisasi sekolah Siswa SD (kelas I.

Reservoir (sumber penularan). Agent / hasil toksin. Kesimpulan Penyakit Menular adalah penyakit yang disebabkan agent / hasil toxin yang berasal dari reservoir dan ditularkan ke host yang rentan. c. agar program yang ada dapat berjalan dan terlaksana dengan baik dan maksimal. Mata rantai penularan terdiri dari : a. d. pencegahan termasuk imunisasi serta penanggulangan dan pemberantasan penyakit. 105 . Transmisi (cara penularan) . b.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. B. Saran Untuk lebih meningkatkan upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular dan tidak menular sebaiknya dilakukan sosialisasi kepada masyarakat secara rutin serta penambahan SDM yang ada patut dipertimbangkan. Host / penjamu Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit (P2P) terdiri dari kegiatan pengamatan penyakit.

1999. standar manajemen pengendalian vektor penyakit. Pemerintah daerah Khusus ibukota Jakarta. Pencegahan dan Penanggulangan Terhadap Penyakit Menular dan Tidak Menular. available at www. 4. 3. 6.com accessed on 17th July 2011. 2002.wikipedia.who.com accessed on 18th July 2011. Dinas kesehatan propinsi DKI Jakarta. Standarisasi pelayanan Kesehatan Puskesmas di DKI Jakarta. 106 . available at www. 2.blogspot.1999. volume 13 edidi I. Program Pengawasan. Penyakit.html 5. http://penyakit-pengobatan.com/2007/12/penyakit-menular-dan-tidakmenular. Pedoman kerja Puskesmas jlid 2.DAFTAR PUSTAKA 1. Departemen kesehatan Republik Indonesia.

UPAYA PENGOBATAN Penyusun : Khairun Nisa Shita Hayyuning A. ( 030 06 139) (030 06 246) 107 .

2 Oleh karena kemajuan yang pesat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran maupun farmasi menuntut tersedianya suatu pedoman yang mengikuti perkembangan.BAB I PENDAHULUAN Pengobatan rasional menurut WHO 1987 yaitu pengobatan yang sesuai indikasi.1 Oleh karenanya. Permasalahan1 Upaya pengobatan di puskesmas sebagian besar berhadapan dengan permasalahan fisik dan mental yang timbul dalam kehidupan sehari-hari dari Pengguna Jasa Pelayanan Kesehatan (PJPK) dan keluarganya. cara dan waktu pemberian.2 Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas pertama kali diterbitkan pada tahun 1985 dan mendapat tanggapan yang sangat menggembirakan bagi pelaksana pelayanan kesehatan dasar. diagnosis. serta sektor swasta. baik dengan sektor kesehatan maupun sektor lain yang terkait. tersedia setiap saat dan harga terjangkau. yaitu pelayanan lini terdepan adalah : 108 . Dan agar fungsi puskesmas dapat terlaksana dengan baik.1 Latar Belakang Pelayanan kesehatan untuk masa yang akan datang semakin kompleks sejalan dengan adanya perubahan lingkungan dari masyarakat yang menyebabkan perubahan pola penyakit serta adanya perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran.1 Salah satu perangkat untuk tercapainya penggunaan obat rasional adalah tersedianya suatu pedoman atau standar pengobatan yang dipergunakan secara seragam pada pelayanan kesehatan dasar atau puskesmas. sehingga perlu merevisi pedoman tersebut. tepat dosis obat. Dalam makalah ini yang dibahas adalah upaya pengobatan dasar di puskesmas. puskesmas dalam menjalankan fungsinya untuk meningkatkan taraf kesehatan masyarakat melalui pembinaan dan pelayanan kesehatan dapat menggunakan segala macam sumber daya yang ada di wilayah kerja. perlu adanya peningkatan kemampuan manajemen di bidang pelayanan yang diberikan maupun pengorganisasian yang terintegrasi lebih baik. Beberapa masalah kesehatan mempunyai insidens yang sering ditemukan pada pelayanan medik Puskesmas. Dinamika kehidupan manusia banyak sekali berhubungan dengan masalah kesehatan yang timbul akibat kondisi lingkungan dan status sosial yang beragam. Telah pula dicetak ulang beberapa kali dan terakhir tahun 2002 tanpa merubah isinya.

penyakit infeksi akut maupun kronik 5. permasalahan nutrisi Prinsip penatalaksanaan pelayanan yang diselenggarakan adalah sesuai dengan manajemen pelayanan medik menyeluruh terpadu. 109 . permasalahan endokrin 7. masalah somatik yang timbul oleh pengaruh stress (tekanan psikis) 3.1. permasalahan penyakit akibat gaya hidup dan budaya 4. permasalahan usia lanjut 6. yaitu penyakit swa sirna ( self limiting diseases) 2. penyakit yang dapat hilang dan sembuh sendiri.

Dalam proses pengobatan terkandung keputusan ilmiah yang dilandasi oleh pengetahuan dan keterampilan untuk melakukan intervensi pengobatan yang memberi manfaat maksimal dan resiko sekecil mungkin bagi pasien. 2 110 .1 Pelayanan pengobatan adalah pelayanan medik yang dilakukan oleh pelaksana pelayanan (dokter) baik secara sendiri ataupun atas koordinasi bersama dengan sesama profesi maupun pelaksana penunjang pelayanan kesehatan lain sesuai dengan wewenangnya. untuk menyelesaikan masalah kesehatan dan menyembuhkan penyakit yang ditemukan dari pengguna jasa pelayanan keshatan. dengan untuk memandang umur dan jenis kelamin yang dapat diselenggarakan pada ruang masalah.BAB II PENGERTIAN Pengobatan merupakan suatu proses ilmiah yang dilakukan oleh dokter berdasarkan temuan-temuan yang diperoleh selama anamnesis dan pemeriksaan. Hal tersebut dapat dicapai dengan melakukan pengobatan yang rasional.

Standar Profesi. 111 . Merupakan landasan hukum dalam menjalankan profesi karena disusun dan disepakati para ahli dan diterbitkan oleh pemerintah. Kebijakan dan Manajemen Obat. d. Senantiasa menjadi standar profesi setinggi-tingginya karena disusun dan diputuskan atas kesepakatan para ahli.1 Tujuan Khusus Tujuan Pedoman Pengobatan dikelompokkan dalam beberapa hal:1 a.BAB III TUJUAN Tujuan Umum Tujuan umum upaya pengobatan adalah meningkatnya derajat kesehatan masyarakat dengan memberikan pelayanan kuratif. Pengamanan Hukum. Mutu Pelayanan Pengobatan. Oleh karena Pedoman Pengobatan hanya memuat obat yang terpilih untuk masingmasing penyakit / diagnosis. b. Perencanaan obat yang digunakan akan lebih tepat. secara langsung dapat mengoptimalkan pembiayaan pengobatan. c.

gejala/keluhan dan status klinik yang tidak terlalu ekstrim. malignansi. 2. adanya gejala sistemik berat. kehamilan.BAB IV SASARAN DAN KEGIATAN Sasaran Sasaran upaya pengobatan yang diselenggarakan Puskesmas adalah semua anggota masyarakat dengan tidak memandang umur dan tidak membedakan strata sosial. dapat diatasi segera. mental dan sosial Lokasi keluhan Faktor penentu yang ada : Risiko bila ada alergi. hasil pemeriksaan Pengobatan yang dapat diberikan adalah : Penata laboran Penata radiologik Dokter Puskesmas Pelaksana 112 . Rincian Kegiatan Kegiatan Anamnesa Uraian Kegiatan Sapa dengan baik PJPK yang datang Pahami keluhan dan gejala secara holistik Perhatikan tanda vital dan profil umum Biarkan PJPK bercerita sendiri tentang riwayat penyakitnya dan pengobatannya Pemeriksaan secara holistik dari aspek fisik mental dan sosial dari penyakit Pemeriksaan secara holistik dari aspek Dokter Puskesmas fisik. preforasi alat dalam). hipertensi tak terkendalikan. penyebab bukan patologi berat (seperti DM berat. 3. kelainan perilaku Berat ringannya secara klinis Pengaruh lain dari penyakit Bila sulit diketahui dapat dilakukan pemeriksaan laboratorium dan radiologik sesuai dengan indikasi dan kemampuan Diagnosa Tindakan : Medikamentosa Berdasarkan keluhan. 1 Ciri masalah yang dilayani : 1.

kardiovaskuler dan respirasi berkaitan kasus operasi dan tindakan anestesi. usia > 40 th (adanya riwayat jantung) 113 .Pemeriksaan (tindakan operasi dilakukan oleh ahli yang sesuai dengan kasus) Pemeriksaan bukan sjaa terhadap keluhan namun semua sistem tubuh. Test laboran : darah lengkap Radiologik : foto toraks ECG. lain-lain Tindakan Persiapan operasi : Persiapan untuk bedah umum ataupun Dokter tindakan bedah khusus sederhana dapat dikerjakan dokter Puskesmas atas kerjasama dengan operator Dokter.                      Anti mikrobiota Anti fungi Analgesik-antipiretik Anti inflamasi non steroid (AINS) Antiepilepsi. perawat Anamnesa Anamnesa dan rekam medik dikirimkan lengkap dengan surat rujukan pada operator . antikonvulsi Antidepresi. antipsikotik Anti parkinson Hipnotik sedatif Obat antihipertensi dan penyakit jantung Obat antisyok Obat mengatasi keluhan pernafasan Obat mengatasi dispepsia dan nyeri abdomen Antiseptik saluran kemih Kontraseptik Antiseptik desinfektans Obat haematopoitik Obat untuk kebidanan Obat topikal kulit Obat topikal mata Obat gigi Obat hemoroid Vitamin dan mineral.

bila fasilitas pelayanan persalinan Minor : sirkumsisi. oral suppositoria. suntikan. bidan. dokter spesialis mata Dokter. perawat Tindakan evaluasi pelayanan Tindakan evaluasi administratif Komponen Pelayanan Kegiatan Pelayanan ambulans Pelayanan administrasi Pelayanan obat-obatan Petugas Pelaksana Supir. perawat perawat gigi Perawat Petugas farmasi Terapi cairan. marital Seks Ketepatan dosis/tindakan Kesembuhan Mutu Pengisian rekam medik Penilaian epidemiologik Biaya Ahli kandungan. lipoma. abses ekterpasi sederhana pada pelayanan rawat jalan Konseling padapelayanan terpadu untuk masalah : Kebugaran fisik dan kehidupan yang sehat Mental psikospiritual sosial Kerja Sanitasi dan lingkungan Keluarga. vaksin tetanus. perawat Bedah minor Tindakan Konseling khusus Ruang konseling khusus Dilaksanakan oleh : dokter. infus set. perawat. anestesi. oksigen. inhalasi. kecuali bedah persalinan oleh Ahli Kandungan. antiseptik.Operasi direncanakan Operasi sito dan operasi yang direncanakan tidak dapat dilakukan di Puskesmas. kateter kesehatan. obat. eksisi clavus. Keterangan Milik puskesmas 114 .

Perlengkapan medik Petugas/perawat perlengkapan Minor set jahit Mayor set tindakan sederhana Bidai Penanganan luka terbuka Penanganan fraktur sederhana Penanganan keadaan akut ABC (Airway. penurunan kesadaran. konsulen panggilan. penata radiologik Tim medik untuk : kegawatan nafas. trauma organ lain Kedaruratan penyakit akut. dokter 115 . darurat medik. kimia darah Pelayanan kecelakaan/muskuloskeletal. dokter gigi. urin. faal ginjal. perawat. perawat Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan ECG Perawat. status konvulsi Penata laboratorium. perawat gigi. resusitasi jantung paruotak. Circulation) Darah. elektrolit. konsul. Breathing. kronis Dokter puskesmas.

359 4. tanda vital.599 2.448 3.183 9. polio. sistem hematopoitik. sumber penyebab manusia (anak-anak DPT.BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN TEBET Pelayanan yang terdapat di Puskesmas Kecamatan Tebet dilakukan oleh petugas yang dilaksanakan di dalam gedung puskesmas dan di luar gedung puskesmas (pusling). kelenjar.868 4. humoral tubuh Tetapkan penyebab infeksi (semua golongan umur) Keterangan Faktor penentu dan usia jenis kelamin Penyebab jenis mikrobiota.556 61. campak. cacar air) Host : keadaan umum.260 13.010 6.931 9 1005 10 1101 JUMLAH 1.011 2. 116 Keadaan keseimbangan elektrolit . virus. gondongan. cacing.637 2. Penyelesaian masalah infeksi sistemik Kegiatan Tindakan dan pengobatan Uraian Kegiatan Tetapkan organ sistem tubuh yang terkena infeksi. Berikut ini adalah 10 penyakit terbanyak di Puskesmas Kecamatan Tebet tahun 2010 :3 SEPULUH PENYAKIT TERBANYAK PUSKESMAS KECAMATAN TEBET TAHUN 20103 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 KODE 2200 1302 1303 1502 2002 0801 0102 1503 JENIS PENYAKIT Penyakit lain ISPA Penyakit lain saluran napas Penyakit pulpa + jaringan apikal Penyakit kulit alergi Gangguan psikotik Diare Gingivitis + penyakit periodental Penyakit mata Infeksi telinga tengah JUMLAH 13. parasit.

perlu rehabilitasi untuk mengoptimalkan fungsi paru) Pasca stroke dengan kecacatan dapat menimbulkan trauma psikis yang memerlukan rehabilitasi sosial baik pengguna jasa maupun keluarganya Demikian pula infeksi kusta komunitas harus dapat menerimanya tanpa keraguan untuk menjadi sumber penularan Bila keadaan tidak dapat diatasi. perlu pemeriksaan lanjut dan tindakan pelayanan perawatan ataupun pelayanan lanjutan Rehabilitasi fisik. PPOK. elektrolit tubuh  nutrisi tubuh  oksigenasi.Keseimbangan suhu status gizi. kronisnya penyakit. penyakit keseimbangan fungsi organ terpadu Lingkungan : hospes perantara. kipas angin Malignansi penyakit dengan infeksi luka Rujukan Atasi keluhan dan berikan simptomatik cegah keadaan untuk menjadi lebih buruk yaitu tindakan :  untuk menurunkan suhu  menyeimbangkan cairan. mental dan sosial tergantung pada dampak penyakit. malignansi. Gangguan Sistem Pernapasan Kegiatan Uraian Kegiatan Keterangan 117 . derajat. sumber penularan manusia Untuk menurunkan suhu tidak dibenarkan menggunakan kompres es. pernapasan Tindakan terhadap penyebab Pemulihan Penyebab yang tidak jelas atasi secara simptomatik dan perbaiki keadaan umum Kasus infeksi yang telah merusakkan organ (misalnya kasus TBC. komplikasi penyakit kecacatan yang ada 2.

Perkesmas 118 . kronik yang non spesifik.Penilaian penapisan Berdasarkan keluhan subjektif. nutrisi dan pola hidup untuk mempercepat penyembuhan Terapi paliatif. anoksia) Neurogenik. perjalanan penyakit dan cara mengatasinya. mengurangi penderitaan perlu dukungan keluarga. cara pencegahan penularan/memberatnya penyakit. infeksi saluran nafas akut. rasa tersumbat. psikogenik Korpus alinum (sumbatan jalan nafas) Umum. hubungan dengan pekerjaan. rasa tercekik. tonsilofaringitis. rinitis. sistem DOTS (Direcly Observed Treatment Shortcourse) Non infeksi Masalah kegawatan nafas Tindakan dan pengobatan Berikan medikamentosa sesuai dengan hasil pemeriksaan. pergerakan dada Inspeksi saluran nafas atas/bawah/dada Pernafasan atas (THT) Pernafasan bawah/paru Penyakit jantung Penyakit Hematogen (asidosis. bronkhitis. berulang Tentukan penyakit dasar Tanda vital angka respirasi. PPOK. dispnoe. Konseling mengenai penggunaan obat. obat simptomatik untuk mengurangi penderitaan. asma bronkhial. rasa berat pada dada (bedakan rasa nyeri dengan). pleurotiskhiolitis Tumor paru. atasi penyebab. hemaptoe. tumor THT. intensitas. bronkopneumonia. faringitis. batuk. untuk fisik maupun psikis Ditujukan untuk pengguna jasa pelayanan kesehatan (PJPK) PJPK keluarganya dan Rujukan Bila fungsi paru memburuk Penyakit menjadi kronis Berhubungan dengan penyakit lain yang berat Pada kasus terminal. pneumokoniosis (kedaruratan medik) Pemeriksaan semua gol umur Infeksi sel nafas spesifik TBC. suara serak akut. berikan obat pelega pernapasan.

fatty liver. intoksikasi obat Intoleransi dalam metabolisme makanan : terhadap gula. C. bahan kimia. dispepsia abdomen. diare non spesifik.Malignansi Bila perlu peralatan diagnostik canggih dan tindakan invasif Tindakan dan pengobatan Menerima rujukan kembali Tindakan penyelematan kehidupan Perawatan kasus terminal dirumah Kasus kronik dengan pengobatan intensif Kasus dispnoe yang dapat segera diatasi Pengobatan suplemen Latihan pernapasan Mengembalikan fungsi: pernapasan. Gangguan Sistem Pencernaan dan Organ pendukungnya Kegiatan Penilaian pada berbagai usia Uraian Kegiatan   Keterangan Bila tidak diawasi dapat terjadi dehidrasi. lemak Obstipasi dan konstipasi Inkotinensia alvi 119 . sigelosis. dapat terjadi semua golongan umur yaitu gastritis. paru. D dan E. bakteri. organ pernapasan dalam dan luar Mengembalikan fungsi sosial Dokter Perkesmas bersama Pemulihan Terapi psikis/ventilasi 3. hipokalemi. hiponatremi alkalosis        gangguan pada gigi dan mulut keluhan pada abdomen atas : muntah. kolik. kolelitiasis Keracunan makanan. sirrhosis hepatis. nyeri abdomen berdasarkan keluhan : tentukan penyebab. perdarahan lambung. demam tifoid. pankreatitis non spesifik. eltor. B. salmonelosis. infestasi cacing penyakit hepatobilier : hepatitis A. laktosa.

jumlah cairan. Gangguan Sistem Kardiovaskuler Kegiatan Deteksi dini Uraian Kegiatan Penyakit jantung bawaan pada bayi. instruktur 120 . vaskular ataupun psikosomatik Konseling pada PJPK dan keluarganya untuk dapat memperbaiki sistem pompa jantung dan aliran pembuluh darah dan menyelesaikan masalah psikis ataupun masalah nutrisi.Tindakan dan pengobatan Terapi medikamentosa terhadap kausa dan simptomatik Diare dan alat pencernaan. terapi cairan Edukasi PJPK dan keluarga Medikamentosa yang rasional (informatorium obat generik) Terapi cairan : oralit. dokter Rujukan Perawat. semua golkongan umur Penyakit degeneratif : hipertensi Penyakit infeksi adalah penyakit jantung rheumaendokarditis Gagal jantung Memberikan medikamentosa. lunak. keluarga perawat. perilaku dan kebiasaan yang ada Memberikan edukasi pada pasien dan keluarganya untuk meningkatkan pola hidup dan menciptakan suasana keluarga yang partisipatif dalam menyelesaikan masalah PJPK Untuk kasus sistem kardiovaskuler yang menimbulkan keadaan yang tidak dapat diatasi. Puskesmas. infus Konseling Kebutuhan makanan dan cairan Kebersihan Pantangan Keluarga mementau makan dianjurkan diminta pola yang Pemulihan Penyesuaian untuk menu yang harus ditaati. terapi diet yang sesuai. dietitik sesuai dengan diagnosa jantung. hipertensi yang tidak dapat Keterangan Sianosis adalah tindakan untuk segera dirujuk Tindakan dan pengobatan Dokter. tidak pedas 4.

hipotiroid. perawat gizi. pengobatan spesifik serta diet yang tepat sesuai dengan keadaan Rehabilitasi penderita DM. yang telah mengalami gangguan fungsi sosial akibat penyakit kardiovaskuler yang dialaminya senam. Gangguan Mental dan Perilaku 121 . dengan menegakkan kasus yang tepat dan benar. URM 5. instruktur senam Tindakan dan pengobatan Pemulihan Pemantauan oleh Perkesmas bersama keluarga 6. Pemulihan sosial bagi PJPK. struma nodosa. tanda-tanda vital dan sosialisasi PJPK dalam perawatan rawat jalan Melakukan perawatan di rumah sesuai dengan kemampuan fisik PJPK Pemulihan Menyelenggarakan latihan jantung sehat agar tidak berkembangnya penyakit sistem kardiovaskuler juga untuk menjaga kebugaran fisik. mental dan sosial penderita gangguan tiroid terutama yang pernah mengalami gangguan psikis akibat penyakitnya Kelompok diabetes senam Keterangan Dokter bersama tim. struma difus Penatalaksanaan diabetes melitus dengan mengontrol kadar gula darah dan mengatur diet serta aktivitas serta medikamentosa Penatalaksanaan kasus gangguan tiroid. terutama yang telah mengalami komplikasi agar melakukan kegiatan keseharian secara produktif sesuai dengan usia dan kemampuannya Rehabilitasi fisik. Gangguan Endokrin dan Metabolisme Kegiatan Deteksi dini Uraian Kegiatan Diabetes melitus atau tanpa komplikasi Gangguan tiroid : hipertiroid.dikendalikan Menerima rujukan dari perawat tertier dan pelayanan sekunder untuk dilakukan. pemantauan keluhan.

obat psikotropik.Kegiatan Deteksi dini Uraian Kegiatan Gangguan mental emosional pada anak usia sekolah. pelayanan 122 . Gangguan Telinga Hidung dan Tenggorok Kegiatan Deteksi dini Uraian Kegiatan Keterangan Gangguan telinga luar akibat trauma. UKS infeksi telinga tengah (otitis media). khususnya telinga agar tidak menjadi kronik dan infeksi ke otak Pelayanan pengobatan rasional Tindakan dan pengobatan Rujukan intra Trauma akibat kerja puskesmas Untuk perawatan infeksi kronik dan tindakan Rujukan untuk Pelayanan hearing Aids mendapat Operasi Mastedoiktomi. konseling keluarga. dan usia dewasa Gangguan belajar pada anak usia sekolah Penatalaksanaan medikamentosa. terutama pada anak usia balita. sesuai dengan kasus Keterangan UKS Tindakan dan pengobatan Dokter Puskesmas dan keluarga Bila puskesmas mempunyai konsultan Kesehatan Jiwa Rujukan intra Untuk kasus yang kronik dan penggunaan puskesmas psikotropik Rujukan untuk Kirimkan ke RS bila membahayakan perawatan keluarga dan sekitarnya Pemulihan Rehabilitasi medik dan sosial untuk mengembalikan fungsi sosial pasien pada komunitasnya dan beraktifitas optimal sesuai dengan usia dan kemampuannya Puskesmas keluarga dan 7. sekolah dan penyebab ketulian saat ataupun kedua telinga Medikamentosa dan edukasi mencegah kambuhnya peradangan THT. perawatan dan tonsilektomi tindakan invasif Spesialis Puskesmas THT endoskopi. prasekolah. RS/Pelayanan khusus untuk bantu dengar tonsilektomi pasca operasi. suportif.

laserasi palpebra. matamerah.000. streptococcus. herpes Alergi dan iritasi Defisiensi Vit. bakteri konjungtivitis. trauma bakar Mata merah dengan penurunan visus Memantau penggunaan kaca mata pada gangguan refraksi Pemulihan Rehabilitas sosial penderita dengan gangguan mata yang tidak dapat dikoreksi. keluhan. erosi superfisial (tes fluoresin positif) buta warna Kapsul vit A. agar dapat melakukan kegiatan sehari-hari sesuai dengan kemampuan Bila puskesmas tak ada dokter mata maka pelayanan spesialis dirujuk ke fasilitas pelayanan yang lengkap Dokter puskesmas/ optisian Perkesmas dan keluarga 123 . sakit kepala Tindakan dan pengobatan Uraian Kegiatan Keterangan Gangguan refreaksi terutama pada anak UKS dan spesialis usia sekolah mata puskesmas Masalah-masalah infeksi mata. Gangguan Mata dan Penglihatan Kegiatan Deteksi dini. pseudomonas. IU pada defisiensi Resep kaca mata Operasi pterigium. Xeroftalmia Trauma mata. mata ada bercak putih. 200. penglihatan kurang. dilakukan olaeh dokter mata puskesmas Konseling keluarga untuk proteksi kerusakan mata dan buta warna serta penyakit keturunan Optisian/dokter puskesmas Rujuk untuk Penurunan refraksi berat dan kebutaan tindakan Glaukoma Strabismus pada anak balita dan pra sekolah Kekeruhan kornea Penglihatan berkurang perlahan-lahan Ulkus kornea. laserasi/perforasi mata. A. terasa sakit. entropion. hordeulum. kotor. virus : trakhom.dapat dilakukan di Puskesmas Pemulihan Terapi wicara dapat dibantu oleh keluarga Pemantauan perkesmas oleh 8. terasa gatal.

tinea versikolor. Herpes Simpleks. Lymfogranuloma Venereum dan Tindakan yang tepat dengan pemeriksaan . herpes simpleks. zat kimia Psikis. selulitis. Trikhomoniasis. rubella Menahun . cutancus larva migrans Obat topikal kulit :  Prinsip pengobatan basah dengan kompres basah  Kering dengan kering Obat disesuaikan kuman/biota penyebab Alergi : urtikaria. Granuloma Inguinela. AIDS. karbunkel.Budaya bersih 124 Tindakan . tinea pedis. folikulitis. tinea korporis. TBC kulit Jamur : dermatofitosis (tinea kapitis. prurigo hebra (anak-anak) Dermatitis kontak : sabun. tinea kruris).dan kondisinya 9. pastikan bahwa tidak ada penyakit lain (neoplasma. Staphylococous Penyinfeksi spesifik disebabkan Virus : varisla. impetigo. Ulkus Mole. herpes zoster. pioderma. Lepra ( Morbus Hansen). Gonore. pedunkulosis kapitis. eritrasma Keterangan  Umum bakterial penyebabnya Steptococous. neurodennatitis Kelainan kulit dengan penyakit sistemik (DM) Penyakit kulit akibat defisiensi PHS Uritritis Non spesifik. Gangguan Kulit dan Kelamin Kegiatan Deteksi dini. campak. DM) Uraian Kegiatan Infeksi non spesifik yang mengenai semua golongan umur. dermatomikosis profunda Parasit : skabies. furunkel. kandidiasis. erisipelas. erupsi alergi obat Keturunan . Vaginosis bakterial. pedunkulosis korporis.

dapat menyebabkan temaparese. anemia. gout dan penyakit sendi lain Keterangan Keluhan muskuloskeletal selalu disertai rasa sakit dengan intensitas yang tergantung pada persyarafannya Gangguan tulang belakang . kosmetik / operasi plastik 10. anti fungsi dapat oral topikal Konseling kebersihan dan perawatan diri dan menghindari kontak dengan penyebab. dapat dipantau di rumah (Puskemas) Rujuk Pemulihan Infeksi menjadi sistemik tak dapat diselesaikan pada tingkat primer. farmakologik. gangren Rehabilitas fisik dan mental pada penderita dengan kecacatan fisik akibat cedera. Gonorhea. dapat dilakukan rujukan ke laboratorium terdekat) Pengobatan antibiotika. Gangguan Muskuloskeletal dan Persarafan Kegiatan Deteksi dini Uraian Kegiatan Masalah persendian dan tulang seperti osteroartiritis. endokrin metabolik. hemiparese berat dan ringan tergantung tindakan kedaruratan yang dilaksanakan Kelelahan yang kronik (chronic fatigue syndrome) psikogen. infeksi. terutama akibat cedera olahraga Sekuele pasca stroke yang ringan Kejang yang lama (febris pada anak) dapat menimbulkan anoksia otak : tergantung daerahnya. hernia nukleus pulposus Gangguan otot dan jaringan lunak akibat trauma. gangguan tidur) Kelelahan kronik. rheumatoid. biasa usia 20-40 tahun dengan keluhan organik 125 . (kerokan kulit.pengobatan laboratorium.

EMG CT Scan Memberikan medikamentosa untuk mengurangi rasa sakit. karena itu edukasi untuk makanan yang boleh dimakan dan dipantang. trauma otot. mikrosefali Otot dan kekuatan. peradangan yang timbul Edukasi untuk melakukan gerakan yang sesuai untuk tidak menambah sakit dan menambah trauma Penyakit dasar (hipertensi. luka terbuka Untuk mencari lokasi. trauma tulang perawatan lokal. DM). pelatihan otot pasca tindakan/trauma rehabilitasi mental untuk trauma yang dialami rehabilitasi sosial untuk dapat kembali mengerjakan pekerjaan seperti semula secara bertahap Pemulihan otot jantung dilakukan dengan senam yang Dapat dilakukan di Puskesmas atas supervisi spesialis syaraf 126 . kelainan persyarafan/tulang Tes neurologik dan EEG Pemotretan tulang/tengkorak. reposisi Tulang tulang. jaringan lunak (memar). pelatihan otot Epilepsi untuk ketepatan diagnostik Trauma kepala Pengobatan epilepsi Rujuk ke Pasca stroke dengan parese berat Spesialis syaraf Pemulihan     rehabilitasi fisik. rheumatik banyak dikaitkan dengan makanan. jantung. obati dengan tepat Kasus Gout. ketepatan tindakan dirujuk Untuk perawatan tirah baring.Diagnostik. terasa amat sakit Konseling bayi dan anak-anak diperlukan pembentukan vitamin D dengan bantuan sinar matahari Rujukan ke pelayanan kesehatan terdekat yang memiliki fasilitas tersebut Tindakan pengobatan dan Rujuk bedah untuk berat bagian Tirah baring untuk kasus.

   bertahap Pemulihan otot pencernaan dilakukan dengan bentuk diet yang cair/lunak dan tidak merangsang Pemulihan tulang dengan gips/bidai Pemulihan sayatan pada otot dilakukan dengan kompres/obat topika pasca jahitan dan ditutup dengan kasa URM (Unit Rehabilitas Medik) Perkesmas. keluarga 127 .

petugas di tempat kerja. Pelayanan ditujukan terhadap pengguna pelayanan medik yang memerlukan tindakan segera yang kemungkinan dibawa oleh. Oleh karena itu setiap pihak yang terkait . orang yang di sekitar korban.harus terus berupaya memberikan pelayanan medis yang sebaik-baiknya sesuai dengan Standarad Pelayanan Medis yang berlaku. namun untuk resusitasi jantung paru otak pasang infus terdahulu. petugas keamanan di sekitar korban. tim ambulans. jalan) tanpa memandang umur. disebabkan penyakit yang lanjut ataupun kecelakaan (di rumah. Hal ini terkait dengan peranan puskesmas sebagai lini terdepan dalam upaya mewujudkan suatu masyarakat yang sehat. SARAN Semua tenaga kesehatan harus selalu berupaya memberikan upaya pelaksanaan pengobatan yang sebaik-baiknya terutama di Puskesmas. lapangkan jalan nafas dan sistem pengangkutan amat membantu. keluarga. tempat kerja. 128 .BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Dalam menjalankan fungsinya dokter dan tim pelayanan kesehatan pada kegiatannya untuk penyelesaian masalah kecelakaan dan kedaruratan medik adalah berupa penerapan kemampuan untuk mengatasi masalah sistem organ biologik tubuh dan mental psikologikal dari semua golongan umur yang bersifat segera. Pada pelayanan kedaruratan medik kasus berat di Puskesmas untuk tindakan lanjut dilakukan pada unit pelayanan lengkap.

Tambunan .1-3.Jakarta.DAFTAR PUSTAKA 1. Taralan .Puskesmas Kec.dkk.Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas 2007. Sungkar Saleha.Benny.2007 3.Jakarta.Hal.Soegianto. 2. Daldiono. Jakarta : Departemen Kesehatan RI. Tebet Laporan Tahunan Puskesmas Kecamatan Tebet 2010. 2007. 129 . Kebijakan Dasar Puskesmas.

UPAYA KESEHATAN PENGEMBANGAN 130 .

05.139) (030.05.208) 131 .UPAYA KESEHATAN SEKOLAH (UKS) Penyusun : Marcia Dian P Riana Youri Sherly Gunawan (030.05.191) (030.

Kualitas pendidikan berkaitan erat dengan sumber daya manusia yang berkualitas pula. Anak usia sekolah adalah anak yang berusia 6 – 21 tahun. yang sesuai dengan proses tumbuh kembangnya dibagi menjadi 2 sub kelompok. Upaya pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas dan sehat antara lain dengan melaksanakan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Pelayanan kesehatan pada UKS adalah pemeriksaan kesehatan umum. 132 . Program UKS dilaksanakan pada semua jenis dan jenjang pendidikan. termasuk madrasah. Salah satu upaya yang strategis untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia adalah dengan pendidikan. yakni pra remaja (6-9 tahun) dan remaja (10-19 tahun). Sumber daya manusia yang berkualitas adalah yang memiliki jasmani dan rokhani yang sehat.BAB I PENDAHULUAN Pembangunan nasional pada hakekatnya adalah pembangunan manusia Indonesia yang berkualitas. Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) merupakan bagian dari program kesehatan anak usia sekolah. penjaringan lanjutan oleh tenaga kesehatan). kesehatan gigi dan mulut siswa SD dan setingkat melalui penjaringan kesehatan terhadap murid kelas 1 Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan bersama dengan guru UKS terlatih dan dokter kecil secara berjenjang (penjaringan awal oleh guru dan dokter kecil.

Hidup sehat seperti yang didefinisikan oleh badan kesehatan perserikatan bangsabangsa (PBB) World Health Organization (WHO) adalah keadaan sejahtera dari badan. Dalam Undang Undang Nomor 23 Tahun 1992 pasal 45 tentang Kesehatan ditegaskan bahwa ‖Kesehatan Sekolah‖ diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat peserta didik dalam lingkungan hidup sehat sehingga peserta didik dapat belajar. sikap/nilai dan keterampilan. Namun masih diperlukan faktor kesehatan (health) sehingga peserta didik memiliki 4 H (head. Dari pengertian ini maka UKS dikenal pula dengan child to child programme. Sedangkan kesehatan jiwa adalah keadaan yang memungkinkan perkembangan fisik. dan sosial yang optimal dari seseorang. heart dan hand. (2007) peserta didik itu harus sehat dan orang tua memperhatikan lingkungan yang sehat dan makan makanan yang bergizi. tumbuh dan berkembang secara harmonis dan optimal sehingga diharapkan dapat menjadikan sumber daya manusia yang berkualitas. mental. oleh anak. dan untuk anak untuk menciptakan anak yang berkualitas. hand dan health). Dalam proses belajar dan pembelajaran materi pembelajaran berorientasi pada head. emosional. yang sesuai dengan proses tumbuh kembangnya dibagi menjadi 2 subkelompok yakni pra remaja ( 6-9 tahun ) dan remaja ( 10-19 tahun ).BAB II PENGERTIAN Usaha Kesehatan Sekolah ( UKS ) merupakan bagian dari program kesehatan anak usia sekolah . dan sosial yang memungkinkan orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi. yaitu berkaitan dengan pengetahuan. Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) adalah usaha untuk membina dan mengembangkan kebiasaan dan perilaku hidup sehat pada peserta didik usia sekolah yang dilakukan secara menyeluruh (komprehensif) dan terpadu (integrative). berilmu dan sehat (SIS). jiwa. 133 . Dengan UKS ini diharapkan mampu menanamkan sikap dan perilaku hidup sehat pada dirinya sendiri dan mampu menolong orang lain. Untuk optimalisasi program UKS perlu ditingkatkan peran serta peserta didik sebagai subjek dan bukan hanya objek. M. Program dari anak. sehingga akan tercapai manusia soleh. intelektual. Anak usia sekolah adalah anak yang berusia 6-21 tahun . heart. Menurut Sumantri.

Memiliki daya hayat dan daya tangkal terhadap pengaruh buruk penyalahgunaan NAPZA. Di samping itu juga meningkatkan peran serta peserta didik dalam usaha peningkatan kesehatan di sekolah dan rumah tangga serta lingkungan masyarakat. sehingga memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan yang harmonis dan optimal dalam rangka pembentukan manusia Indonesia berkualitas. 134 . meningkatkan pengetahuan. Sehat fisik. 3.BAB III TUJUAN Secara umum UKS bertujuan meningkatkan mutu pendidikan dan prestasi belajar peserta didik dengan meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat serta derajat kesehatan peserta didik.Memupuk kebiasaan perilaku hidup bersih dan sehat dan meningkatkan derajat kesehatan siswa. mengubah sikap dan membentuk perilaku masyarakat sekolah yang sehat dan mandiri. Selain itu juga menciptakan lingkungan yang sehat. mental maupun sosial. Memiliki pengetahuan. Sedangkan secara khusus tujuan UKS adalah menciptakan lingkungan kehidupan sekolah yang sehat. di rumah tangga maupun di lingkungan masyarakat. meningkatkan keterampilan hidup sehat agar mampu melindungi diri dari pengaruh buruk lingkungan. 2. yang mencakup : 1. sikap dan keterampilan untuk melaksanakan prinsip hidup bersih dan sehat serta berpratisipasi aktif di dalam usaha peningkatan kesehatan di sekolah perguruan agama.

jika tingkat ekonomi masih berada di urutan yang rendah. Untuk belajar dengan efektif peserta didik sebagai sasaran UKS memerlukan kesehatan yang baik. dan ekonomi yang berkaitan dengan daya beli. Begitu pula dengan sumber daya manusianya yang diharapkan berkualitas masih memerlukan proses dan usaha yang lebih keras lagi. pelayanan kesehatan. dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Sasaran tertier lainnya adalah lingkungan yang meliputi lingkungan sekolah. bahwa salah satu indikator kualitas sumber daya manusia itu adalah kesehatan. Kesehatan menunjukkan keadaan yang sejahtera dari badan. maka tingkat kesehatan masyarakat pada umumnya belum sesuai dengan harapan.1 Kegiatan UKS (Trias UKS) yaitu pendidikan kesehatan. termasuk satuan pendidikan luar sekolah dan perguruan tinggi agama serta pondok pesantren beserta lingkungannya. Sedangkan sasaran tertier adalah lembaga pendidikan mulai dari tingkat pra sekolah/TK/RA sampai SLTA/MA. 4. kesehatan yang berkaitan sumber daya manusianya. Kemajuan ekonomi suatu bangsa biasanya berkorelasi dengan tingkat kesehatan masyarakatnya. Kesehatan bagi peserta didik merupakan sangat menentukan keberhasilan belajarnya di sekolah. yaitu pendidikan yang berkaitan dengan berapa lama mengikuti pendidikan. Oleh karena itu. maka bangsa itu semakin baik pula tingkat kesehatannya. Semakin maju perekonomiannya. dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Oleh karena itu kita mencermati konsep yang dikemukakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). keluarga dan masyarakat sekitar sekolah. 135 . guru pamong belajar/tutor orang tua. dan pembinaan lingkungan sekolah sehat. Untuk tingkat ekonomi Indonesia masih berada pada urutan atau ranking yang sangat rendah yaitu 108 pada tahun 2008. pengelola pendidikan dan pengelola kesehatan serta TP UKS di setiap jenjang sebagai sasaran sekunder. bukan hanya pendidikan. Sasaran lainnya adalah sarana dan prasarana pendidikan kesehatan dan pelayanan kesehatan. Kalau peserta didik tidak sehat bagaimana bisa belajar dengan baik. Ada tiga kualitas sumber daya manusia. karena dengan kesehatan itu peserta didik dapat mengikuti pembelajaran secara terus menerus.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN Sasaran pembinaan dan pengembangan UKS meliputi peserta didik sebagai sasaran primer. jiwa.

2 4.2.8 Program Pemberantasan Penyakit Cacingan 136 . Selalu bersikap dan berperilaku sehat. Berperan aktif dalam rangka peningkatan kesehatan . Dapat menggerakkan sesama teman-teman siswa untuk bersama-sama menjalankan usaha kesehatan terhadap dirinya masing-masing.1 Program Dokter Kecil / Kader Kesehatan Remaja (KKR) Dokter kecil adalah siswa yang memenuhi kriteria dan telah terlatih untuk ikut melaksanakan sebagian usaha pemeliharaan dan peningkatan kesehatan terhadap diri sendiri.4 Kegiatan Penyuluhan Kesehatan 4. dan lain-lain.7 Kegiatan Konseling Kesehatan Remaja 4.1.2.2 Pembinaan berkala oleh TP UKS 4.1. 4. Pekan Kesehatan Gigi. Pekan Gizi. Pendidikan ini tidak hanya diberikan pada saat mata pelajaran Pendidikan Jasmani saja.1.antara lain : Pekan kebersihan.2.1 Screening Kesehatan Kelas I 4.4 Kegiatan Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) 4.1 Pendidikan Kesehatan: Kegiatan intra kurikuler adalah melaksanakan pendidikan pada saat jam pelajaran berlangsung sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 2.1. 5. Tugas dan kewajiban dokter kecil 1.6 Pemeriksaan Tes Daya Lihat / Visus Berkala 4.1.1. Pekan Penimbangan BB dan TB di sekolah.1.1.1. Berusaha bagi tercapainya kesehatan lingkungan yang baik di sekolah maupun di rumah. Membantu guru dan petugas kesehatan pada waktu pelaksanaan pelayanan kesehatan di sekolah.2.2 Pelayanan Kesehatan 4.1. teman. 3.1.2. namun bisa juga secara integratif pada saat mata pelajaran lainnya disampaikan kepada peserta didik. 4.1.1.2.1.1.2.5 Pemantauan Status Gizi Anak Sekolah Berkala 4. keluarga dan lingkungannya.3 Program PMR Program Saka Bakti Husada 4.5 Kampanye Kesehatan 4. 4.4.1. Pekan Kesehatan Mata.1.1.1.3 Imunisasi (BIAS) 4.1.2.

9 Pertolongan Pertama Kegawatdaruratan Medik meliputi P3P (Pertolongan Pertama Pada Penyakit) dan P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan) 4.1.2.2.1.2.2.3.5 4.8 4.3.2.2.2 Pelaksanaan Gerakan PSN-DBD 4.1.3.4.1.2.2.2.4 4.3 Pembinaan Lingkungan Sekolah Sehat 4.3.3.4 Penegakan aturan Larangan Penyalahgunaan Napza 4.9 Angka absensi sakit peserta didik (<1.1 4.7 4.3 4.5 Pemberantasaan Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) 4.1.2 4.1.1.2.5%) Kepuasan Pelanggan (85%) Temuan masalah / komplain UKS ditindaklanjuti (100%) Tim Pelaksana UKS di Sekolah aktif (80%) Tim Pembina UKS setiap tingkat aktif (100%) Sekolah patuh terhadap standar PHBS (100%) Status gizi peserta didik ‗Baik‘ (90%) Pelaporan UKS akurat (100%) Sekolah dengan sanitasi lingkungan ‗Baik‘ (100%) 137 .2 Sasaran mutu Program UKS 4.1 Sanitasi Lingkungan ―Baik‖ 4.6 4.3 Penegakan aturan Kawasan Tanpa Asap Rokok 4.

BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN UKS DI PUSKESMAS KECAMATAN TEBET 1. SMP. SMP. Peningkatan Wawasan Guru BP. Sarana UKS Berprestasi 12. Sosialisasi PKPR 13. Pembinaan Sekolah Sehat TK. Pertemuan Petugas MTBS di Puskesmas 15. Peningkatan Prestasi Balita Indonesia 5. SMA 10. Peningkatan wawasan Petugas Kesehatan Anak 2. Pembinaan Sekolah Unggulan 9. Pelatihan MTBS 138 . SD.SD. Monitoring Program Kesehatan Anak TK Kodya ke Puskesmas (Bintek) 3. SMP. PembinaanTPUKS Kecamatan 16. SMA dan Petugas Puskesmas 14. Rapat Konsultasi Kesehatan Anak 4. Rapat Konsultasi Petugas UKS 8.SMA 11. Peningkatan Prestasi Dokter Kecil 7. Peningkatan Wawasan Guru TK. Sosialisasi MTBS 6.

Dari pengertian ini maka UKS dikenal pula dengan child to child programme. yaitu sekolah yang dapat meningkatkan derajat kesehatan warga sekolahnya. Upaya ini dilakukan karena sekolah memiliki lingkungan kehidupan yang mencerminkan hidup sehat. melalui pelayanan kesehatan (yankes) yang didukung secara mantap dan memadai oleh sektor terkait lainnya. oleh anak.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) adalah usaha untuk membina dan mengembangkan kebiasaan dan perilaku hidup sehat pada peserta didik usia sekolah yang dilakukan secara menyeluruh (komprehensif) dan terpadu (integrative). Upaya mengembangkan ―Sekolah Sehat‖ (Health Promoting School/HPS) melalui program UKS perlu disosialisasikan dan dilakukan dengan baik. dunia usaha. Semua upaya ini akan tercapai bila sekolah dan lingkungan dibina dan dikembangkan 139 . Selain itu. dan media massa. dan untuk anak untuk menciptakan anak yang berkualitas. mengupayakan pelayanan kesehatan yang optimal. Program dari anak. Dengan UKS ini diharapkan mampu menanamkan sikap dan perilaku hidup sehat pada dirinya sendiri dan mampu menolong orang lain. Untuk optimalisasi program UKS perlu ditingkatkan peran serta peserta didik sebagai subjek dan bukan hanya objek. sehingga terjamin berlangsungnya proses pembelajaran dengan baik dan terciptanya kondisi yang mendukung tercapainya kemampuan peserta didik untuk beperilaku hidup sehat. Sekolah sebagai tempat berlangsungnya proses pembelajaran harus menjadi HPS. seperti partisipasi masyarakat.

. N. dan Rasjidin. Sukmadinata. Ibrahim. Ilmu dan Aplikasi Pendidikan: Handbook. W. R. Dalam Ali. Sumantri. Pedoman Pelatihan Kader Kesehatan di Sekolah. Keputusan Bersama Menteri Pendidikan Nasional.. Menteri Kesehatan.. Nomor 26 Tahun 2003 tentang Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kesehatan Sekolah.. Jakarta: Departemen Kesehatan. (2008). (2007).S. 2. M. Bandung: Pedagogiana Press (Halaman 1175 – 1186) 3.DAFTAR PUSTAKA 1. M. 140 . Pendidikan Wanita. Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri. (Penyunting). Departemen Kesehatan.

090) Mohd Fahmi bin Mansor (030.UPAYA KESEHATAN OLAHRAGA Penyusun : Fajar Nursuhud (030.311) 141 .05.06.

dengan dasar latihan fisik yang baik sehingga ketahanan tubuh dapat ditingkatkan. Olahraga yang baik dan benar adalah olahraga yang sesuai dengan kebutuhan kesehatan. yaitu kecenderungan timbulnya penyakit-penyakit degeneratif. sehingga produktivitas kerja orang tersebut juga semakin tinggi. Berdasarkan SKRT 1992. yang keduanya memberi andil timbulnya masalah kesehatan pada masyarakat modern. Fungsi dokter. upaya kesehatan olahraga adalah suatu cara untuk meningkatkan kesehatan hidup manusia. Bila ketahanan tubuh seseorang sudah dapat ditingkatkan maka secara tidak langsung kemampuan fisiknya juga semakin tinggi dan semakin mampu mengatasi beban kerja yang diberikan kepadanya. seseorang akan mempunyai daya tahan atau sistem imun yang lebih tinggi sehingga orang tersebut akan mempunyai daya tahan terhadap penyakit-penyakit infeksi. Olahraga sudah menjadi bagian dari budaya kehidupan sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah membuktikan adanya hubungan antara latihan fisik dengan derajat kesehatan.BAB I PENDAHULUAN Keberhasilan pembangunan memberi dampak pada perubahaan perilaku masyarakat antara lain perubahan kebiasaan makan yang salah dan kurang gerak. Dengan olahraga atau latihan fisik yang benar akan dicapai tingkat kesegaran jasmani yang baik dan merupakan modal penting dalam peningkatan prestasi. 142 . Sebagai salah satu dari 20 upaya pokok kesehatan. Kesehatan keluarga merupakan upaya kesehatan yang memanfaatkan olahraga atau latihan fisik untuk meningkatkan derajat kesehatan. Telah diketahui bahwa dengan olahraga. Ditemukan pula bahwa tingkat kebugaran jasmani merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja. penyakit jantung dan pembuluh darah merupakan penyebab kematian nomor dua setelah diare. terutama dokter Puskesmas sebagai ujung tombak pemerintah untuk meningkatkan derajat kesehatan di wilayah kerjanya tidak hanya menuliskan resep melainkan lebih banyak melakukan upaya-upaya pencegahan penyakit agar masyarakat tidak sakit dan meningkatkan kesehatan mereka. Penderita rawat inap penyakit kardiovaskuler meningkat dari tahun ketahun demikian juga dengan diabetes.

143 .Karena itulah. puskesmas sebagai penyedia pelayanan kesehatan dasar di tingkat pertama perlu mengembangkan suatu upaya kesehatan olahraga bagi masyarakat di wilayah kerjanya.

BAB II PENGERTIAN
A. Definisi Sehat Arti kata sehat menurut WHO 1947: ‖Health is a state of complete physical, mental and social well being and not merely the absence of the disease or infirmity‖. Adalah suatu keadaan sejahtera sempurna dari jasmani, rohani dan sosial dan bukan hanya bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan. Sedangkan sehat menurut undang-undang kesehatan no. 23 tahun 1960 adalah suatu keadaan sejahtera sempurna dari jasmani, rohani dan sosial yang memungkinkan seseorang hidup produktif baik sosial maupun ekonomi. Dalam pengertian tersebut tersurat suatu keadaan tingkat kemampuan fungsional tubuh manusia yang secara popular dikenal sebagai kemampuan fisik (physical fitness) atau kesegaran jasmani.

B. Kesehatan Olahraga 

Kesehatan olahraga adalah upaya kesehatan yang memanfaatkan olahraga atau latihan fisik untuk meningkatkan derajat kesehatan. (UU nomor 23 tahun 1992, pasal 46, Tentang Kesehatan Olahraga)

Kesehatan olahraga adalah upaya kedokteran/kesehatan teori dan praktek yang menganalisa pengaruh gerakan, latihan dan olahraga termasuk kurang gerak, tertuju kepada manusia semua umur yang sakit dan yang sehat. (August Kirche dkk,1987)

Kesehatan olahraga berbeda dengan olahraga kesehatan. Dimana kesehatan olahraga adalah upaya kesehatan yang memanfaatkan olahraga yang bertujuan untuk meningkatknya derajat kesehatan, sedangkan olahraga kesehatan adalah pelatihan olahraga atau latihan fisik, biasanya masuk dalam kurikulum sekolah yang dasarnya bertujuan untuk meningkatnya prestasi.

C. Kesegaran Jasmani

144

Secara umum dapat diartikan sebagai kemampuan tubuh untuk melakukan kegiatan sehari-hari tanpa kelelahan berlebihan. Dalam pengertian tersebut terkandung tiga hal pokok yaitu beban kerja pekerjaan harian, cadangan kemampuan/kapasitas dan keadaan kesehatan/derajat kesehatan

D. Sarana Olahraga

Sarana olahraga adalah tempat yang secara khusus disediakan untuk kegiatan olahraga, antara lain pusat olahraga, lapangan olahraga, pusat kebugaran dan tempat tertentu seperti stadion, kolam renang, klub berlatih, kelompok latihan fisik dan kelompok senam. Sarana lain adalah tempat untuk menyembuhkan atau memulihkan kesehatan akibat cedera olahraga, meningkatkan kesehatan kelompok masyarakat tertentu, misalnya kelompok ibu hamil, melalui latihan fisik dan penyebarluasan cara olahraga yang benar.

E. Olahraga yang teratur menurut WHO aktivitas fisik dibagi 4 kategori : 1) Hidup aktif : setiap hari melakukan aktivitas ringan sampai sedang selama 10 menit atau lebih beberapa kali sehari. 2) Aktivitas untuk sehat : setiap hari melakukan aktivitas sedang selama 30 menit atau lebih. 3) Latihan fisik untuk bugar : seminggu 3 kali melakukan aktivitas sedang sampai berat selama 20 menit atau lebih. 4) Latihan fisik untuk olahraga : durasi dan frekuensi tergantung tingkat kebugaran jasmani seseorang , aktivitas terprogram.

145

BAB III TUJUAN
A. Tujuan Umum Berkembangnya upaya peningkatan derajat kesehatan melalui latihan fisik dan terbantunya/tercapainya upaya peningkatan kesegaran jasmani yang mempunyai pengaruh langsung terhadap produktifitas kerja, serta terbantunya peningkatan upaya olahraga pendidikan, olahraga prestasi, olahraga masyarakat dan olahraga tradisional.

B. Tujuan Khusus a. Meningkatnya kemampuan petugas Puskesmas dalam upaya kesehatan olahraga di Puskesmas. b. Meningkatnya jangkauan dan mutu upaya kesehatan olahraga di wilayah kerja Puskesmas. c. Meningkatnya koordinasi lintas program dan lintas sektor dalam pembinaan upaya kesehatan olahraga di wilayah kerja Puskesmas. d. Meningkatnya partisipasi aktif masyarakat dalam upaya kesehatan olahraga melalui penggalian potensi/sumber daya masyarakat di wilayah kerja Puskesmas. e. Meningkatnya informasi kesehatan olahraga di Puskesmas.

146

BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN
A. Kegiatan Upaya Kesehatan Olahraga Meliputi: 1. Pembinaan secara terpadu peran serta masyarakat kelompok potensial, guru sekolah, kader Posyandu, organisasi mayarakat, LSM dalam kesehatan olahraga. 2. Penyelenggaraan penyuluhan kesehatan olahraga terpadu pada kegiatan penyuluhan Puskesmas dan di luar Puskesmas. 3. Penyelenggaraan pelayanan rawat jalan Puskesmas terpadu dengan memperhatikan faktor kesehatan olahraga. 4. Evaluasi terhadap penyelenggaran upaya kesehatan olahraga

B. Langkah-Langkah Penyelanggaraan Kegiatan Upaya Kesehatan Olahraga di atas: a. Persiapan petugas: 1. Menyiapkan pelatihan tentang upaya kesehatan olahraga 2. Mengumpulkan data kesehatan olahraga di wilayah kerja Puskesmas, dikaitkan dengan microplaning. 3. Mengolah data kesegaran jasmani, sehingga diperoleh permasalahan kesehatan yang berkaitan dengan kesehatan olahraga di wilayah Puskesmas. 4. Menentukan prioritas masalah kesehatan yang berkaitan dengan kesehatan olahraga dan mencari alternatif-alternatif pemecahannya. 5. Menghimpun potensi (dana, tenaga, sarana) 6. Memberikan informasi upaya kesehatan olahraga melalui pertemuan-pertemuan. Lintas program di Puskesmas Lintas sektoral di Kelurahan Tim pembina UKS di tingkat Kelurahan

7. Melaksanakan diskusi kelompok untuk memperoleh dukungan dari semua pihak tentang pelaksanaan program kesehatan olahraga melalui: Lintas program di Puskesmas Lintas sektoral di Kelurahan Tim pembina UKS di tingkat Kelurahan

8. Membentuk forum koordinasi kesehatan olahraga tingkat Kelurahan dengan melibatkan unsur dari
147

-

Puskesmas (dokter/perawat) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Kepala kantor, Dinas P&P beserta OSIS, Kakandep Dikbud beserta penilik olahraga.

-

Departemen Agama (KUA) Departemen Sosial (petugas sosial masyarakat) Departemen Penerangan (Jupen) Departemen Tenaga Kerja (juru penyuluh) Kelurahan (Lurah, Kaurkesra) Lembaga Swadaya Masyarakat

9. Menentukan prioritas sasaran kegiatan program kesehatan olahraga di tingkat Kelurahan. 10. Menyiapkan pengelolaan program dan menyusun rencana kerja pelaksanaan kesehatan olahraga

b. Persiapan masyarakat: 1. Pertemuan tokoh masyarakat formal dan informal untuk pemahaman dan memperoleh masukan dalam upaya pelaksanaan kesehatan olahraga di masyarakat. 2. Pengumpulan dan pengolahan data serta analisis permasalahan tentang kegiatankegiatan kesehatan olahraga yang ada di masyarakat. 3. Memilih ketua-ketua dari kelompok-kelompok potensial yang ada di masyarakat untuk dilatih sebagai kader kesehatan olahraga. 4. Melaksanakan Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) tentang upaya kesehatan olahraga 5. Pelatihan Kader Olahraga.

C. Rincian Kegiatan 1. Promotif Penyuluhan dalam gedung:      Memberi contoh ketauladanan Memberi contoh katauladanan sikap dan perilaku hidup sehat kepada masyarakat Memberi contoh ketauladanan dalam hal kebersihan lingkungan fisik Puskesmas Penyuluhan melalui media Memasang poster-poster berisi pesan-pesan tentang kesehatan olahraga
148

  

Menggunakan radio kaset yang menyiarkan lagu-lagu kesehatan olahraga atau pesan spot radio dan sebagainya. Penyuluhan individu di kamar periksa Balai Pengobatan Penyuluhan kelompok pada acara yang direncanakan.

Pelaksana: Seluruh staf Puskesmas dan Perawat Kesehatan Mahir

Penyuluhan di luar gedung Puskesmas:  Sasaran program adalah masyarakat di wilayah kerja Puskesmas antara lain; kelompok arisan, pengajian, Posyandu, sanggar senam, kelompok olahraga tradisional.  Bimbingan teknis dan pengawasan terhadap usaha kesehatan olahraga pada kelompok-kelompok olahraga di masyarakat. Pelaksana: Dokter/perawat kesehatan mahir

2. Deteksi dini Pemeriksaan kesehatan:     Skrining kesehatan bagi masyarakat umum untuk menentukan kemampuan aktivitas fisik. Skrining kesehatan bagi masyarakat khusus (atlet, penyandang cacat, kelompok khusus lain) Pemeriksaan tingkat kesegaran jasmani bagi individu sehat dan bagi individu sakit Pemeriksaan dosis latihan bagi individu sehat dan bagi individu sakit.

Pelaksana: Dokter dan perawat. 3. Tindakan: Penanganan pertama pada kasus cedera olahraga di Puskesmas Pelaksana: Dokter dan perawat 4. Pemulihan:   Pencegahan cedera pada pemulihan. Pelayanan pasca trauma/cedera olahraga (terintegrasi dengan unit rawat jalan)

Pelaksana: Fisioterapis, dokter, perawat. 5. Evaluasi program:   Pembinaan kesehatan olahraga di wilayah. Pelayanan kesehatan olahraga Puskesmas.

Pelaksana: Pimpinan Puskesmas, puskesmas dan mitra kerja.
149

Usia lanjut 6. Pengurus/pengelola kelompok olahraga tradisional. Pengurus/pengelola klub (jantung sehat. Usia Kerja 5. E. pelatih senam. Sasaran pokok: 1. Indikator Keberhasilan Kegiatan 1. Sasaran Kegiatan 1. Pelayanan Puskesmas    Peningkatan kesadaran. Pengelola klub kebugaran (fitness center) b. kemauan. dll) yang dibina perihal kesehatan. paripurna. Terselenggaranya penyuluhan kesehatan olahraga terpadu di Puskesmas dan wilayahnya Terselenggaranya pelayanan kesehatan holistik. guru sekolah. Pengelola sanggar senam e. Kelompok khusus ( atlet. d. Pembinaan kesehatan wilayah:   Peningkatan kegiatan peran serta masyarakat dalam rangka upaya peningkatan kesehatan olahraga. Usia sekolah 4.  Penurunan angka kecelakaan olahraga di setiap kelompok penyelenggara kegiatan olahraga dan kebugaran. Sasaran antara: a. Pelatih/instruktur senam. Peningkatan pengetahuan. 2. 150 . dan penderita penyakit tertentu) 2. terpadu pada kegiatan pelayanan rawat jalan Puskesmas dengan memperhatikan faktor kesehatan olahraga dan pencegahannya. Kelompok usia balita 3. Kelompok ibu hamil 2. sikap dan perilaku Kader Kesehatan (Posyandu. ketrampilan provider Puskesmas perihal pelayanan kesehatan olahraga.D.dll) c. penyandang cacat. pengelola klub kebugaran.senam asma.

penyuluhan kesehatan dan pemeriksaan kesehatan yang diikuti oleh baik pasien. Senam Waktu Setiap Tempat hari Ruang Petugas Instruktur dari Peserta Kegiatan Ibu hamil Setelah trimester senam dilakukan penyuluhan kesehatan ibu hamil ibu hamil Senin minggu tunggu I dan III pukul Rumah 08.30-09. karyawan.30 sewaktu. maupun masyarakat sekitar Puskesmas Kecamatan Cilandak. Tujuan dari upaya pelaksanaan ini adalah untuk meningkatkan taraf kesehatan karyawan puskesmas dan masyarakat sekitar puskesmas Kecamatan Cilandak.BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN CILANDAK Sebagai salah satu upaya pokok Puskesmas.30-09. 2. dan tekanan darah. Upayaupaya yang telah dilaksanakan oleh Puskesmas antara lain senam. Senam DM Hari selasa Aula lantai Instruktur dari fisioterapi Pasien poli Sebelum DM senam dilakukan pemeriksaan gula darah minggu I dan 3 III pukul Puskesmas Kecamatan Cilandak 08.30 Bersalin Puskesmas Kecamatan Cilandak fisioterapi III dan promosi produk bayi. upaya pokok kesehatan olahraga merupakan salah satu program yang terdapat di Puskesmas Kecamatan Cilandak. Setelah senam dilakukan 151 . Berikut ini adalah tabel upaya kesehatan olahraga di Puskesmas Kecamatan Cilandak : No Kegiatan 1.

5. untuk persiapan lomba 14.00-16. Senam pocopoco. 3. 152 . Senam haji Setiap hari Aula lantai Instruktur dari fisioterapi Jamaah calon haji rabu dalam 10 3 minggu menjelang Puskesmas Kecamatan keberangkatan Cilandak haji pukul 08. pada Juni pukul Aula lantai Instruktur hari 3 dan Puskesmas Kecamatan Cilandak dari Karyawan Puskesmas Latihan senam fisioterapi Kecamatan poco-poco Cilandak. Senam umum Dilakukan setiap selasa jumat Lapangan hari parkir dan Puskesmas tiap Cilandak Instruktur dari Warga sekitar Senam.00.30. Dilakukan setiap rabu jumat menjelang lomba bulan 2011. minggu pada pukul 07.penyuluhan dan konsultasi serta terapi oleh dokter.00-09.00 4.3008. fisioterapi Puskesmas Kecamatan Cilandak.

tetapi sekarang tidak ada lagi karena responden yang bersedia untuk hadir tidak ada. Sebelumnya di Puskesmas pernah diadakan kegiatan bagi lansia berupa senam. Upaya Kesehatan Olahraga telah menambah dan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang arti pentingnya kesehatan olahraga. Mengadakan kegiatan bagi para lansia seperti senam. pemeliharaan dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya. Telah diyakini bahwa dengan berolahraga dapat meningkatkan tingkat kesehatan dan produktifitas kerja. kemauan. sedangkan olahraga kesehatan adalah pelatihan olahraga atau latihan fisik. sikap dan perilaku Kader Kesehatan yang dibina perihal kesehatan olahraga. biasanya masuk dalam kurikulum sekolah yang dasarnya bertujuan untuk meningkatnya prestasi. 153 . ketrampilan provider Puskesmas perihal pelayanan kesehatan olahraga. Saran Saran yang dapat dijadikan pertimbangan:      Mempertahankan upaya-upaya kesehatan olahraga yang telah dilaksanakan.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Upaya kesehatan olahraga di dalam wilayah adalah bagian dari fungsi puskesmas yang berkaitan dengan upaya pengembangan. Meningkatkan pengetahuan. dengan harapan terbentuknya manusia Indonesia yang sehat dan tercapainya derajat kesehatan yang setinggitingginya. latihan bernyanyi dan tensi gratis. Kesehatan olahraga berbeda dengan olahraga kesehatan. Sebagai salah satu upaya pokok Puskesmas. Meningkatkan kesadaran. Meningkatkan dan memotivasi peran serta masyarakat akan pentingnya kesehatan olahraga. Upaya kesehatan olahraga ini akan berhasil jika diikuti oleh peran serta masyarakat dan semua pihak dengan kesadaran akan pentingnya berolahraga. Dimana kesehatan olahraga adalah upaya kesehatan yang memanfaatkan olahraga yang bertujuan untuk meningkatknya derajat kesehatan.

Jakarta : Departemen Kesehatan RI.dkk. Laporan Tahunan Puskesmas Kecamatan Cilandak 2010. 2.DAFTAR PUSTAKA 1. Danu. 219-224. Jakarta. Upaya Pokok Kesehatan Olahraga. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.. Upaya kesehatan Olahraga. Pedoman Kerja Puskesmas. Puskesmas Kecamatan Cilandak. 1999.Hal. hal. tentang Kesehatan Olahraga. 07 (04). S. Tambunan . 154 . Standarisasi Pelayanan Kesehatan Puskesmas di DKI Jakarta.1999. 23. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Jakarta. Mustika. Jilid ke-2. 5.Jakarta. 2007. Daldiono. 3. 6. 4.Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas 2007.S. pasal 46. Pemerintah Daerah DKI Jakarta. Sungkar Saleha. Ketersediaan Obat Puskesmas pada Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkulu Selatan Pascaotonomi Daerah..tahun 1992. Undang-Undang Kesehatan No. D.1-3. Taralan .

06.334 ) 155 .06.UPAYA PERAWATAN KESEHATAN MASYARAKAT Penyusun: SALWA BINTI ANUWAR NUR SYAMILA BINTI SHARRI ( 030.344 ) ( 030.

target rencana pembangunan jangka menengah untuk pencapaian program perbaikan gizi yang diproyeksikan sebesar 20%. stroke.4%) ditemukan pada 21 provinsi dan 216 kabupaten/kota. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 diketahui penyebab kematian di Indonesia untuk semua umur. penyebab kematian yang terbanyak adalah stroke. yaitu penyebab kematian pada untuk usia > 5 tahun. kemiskinan. hipertensi. perlu terus ditingkatkan upaya-upaya untuk memperluas jangkauan dan mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dengan mutu pelayanan yang baik. karena upaya kesehatan belum dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat.5% pada 2015. obesitas dan penyakit jantung dengan status sosial ekonomi masyarakat (pendidikan. Upaya pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat melalui upaya kesehatan wajib dan upaya kesehatan pengembangan. Sehubungan dengan hal tersebut. dan target Millenium Development Goals sebesar 18. telah dapat dicapai pada 2007. Untuk mengupayakan terbinanya kesehatan 156 . Salah satu upaya kesehatan pengembangan yang dilakukan oleh Puskesmas Harapan Raya adalah program Perawatan Kesehatan Masyarakat (Perkesmas). baik di perkotaan maupun di pedesaan. telah terjadi pergeseran dari penyakit menular ke penyakit tidak menular. Hasil Riskesdas 2007 juga menggambarkan hubungan penyakit degeneratif seperti sindroma metabolik.4%. upaya perawatan kesehatan masyarakat merupakan upaya program pengembangan yang kegiatannya terintegrasi dalam upaya kesehatan wajib maupun upaya kesehatan pengembangan. dan lainlain). Sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor: 128/Menkes/SK/II/Tahun 2004 tentang kebijakan dasar Puskesmas. Pelaksanaan Perkesmas bertujuan untuk meningkatkan kemandirian masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatan yang dihadapi. Prevalensi gizi buruk yang berada di atas rata-rata nasional (5.BAB I PENDAHULUAN Permasalahan kesehatan yang dihadapi sampai saat ini cukup kompleks. sehingga tercapai derajat kesehatan yang optimal. Perkesmas dilakukan dengan penekanan pada upaya pelayanan kesehatan dasar. berkelanjutan dan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat terutama keluarga miskin rawan kesehatan/risiko tinggi. Sedangkan berdasarkan gabungan hasil pengukuran gizi buruk dan gizi kurang Riskesdas 2007 menunjukkan bahwa sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi gizi buruk dan gizi kurang di atas prevalensi nasional sebesar 18. Perawatan kesehatan masyarakat (Perkesmas) merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan dasar yang dilaksanakan oleh Puskesmas. Namun demikian.

pengendalian dan penilaian Perkesmas. (2) 27. (3) tidak ada petugas yang tidak patuh.3 % petugas memiliki motivasi kurang. Berdasarkan penelitian Septino (2007) diketahui beberapa masalah Perkesmas yang dihadapi pada PuskesmasPuskesmas di Indonesia antara lain laporan yang tidak sesuai dari Puskesmas. (6) 18. (5) 36.2 % petugas kurang baik dalam pengawasan. ketidakmauan maupun ketidakmampuan dalam menyelesaikan masalah kesehatannya. Fokus utama pada keluarga rawan kesehatan yaitu keluarga miskin yang rentan dan keluarga yang termasuk resiko tinggi. obat. (4) 27. tetapi pencapaiannya masih rendah. Selanjutnya. kelompok dan masyarakat yang mempunyai masalah kesehatan akibat faktor ketidaktahuan.masyarakat.2% petugas memiliki kemampuan kurang. keluarga. maka diharapkan 40 % keluarga rawan kesehatan memperoleh kunjungan rumah dan pembinaan kesehatan oleh tenaga kesehatan melalui kegiatan perkesmas. buku pedoman dan formulir laporan sudah tersedia. Penduduk rawan ini telah menjadi salah satu bagian sasaran program Perkesmas di Puskesmas. Tentang masalah dana. Prioritas sasaran adalah yang mempunyai masalah kesehatan terkait dengan masalah kesehatan prioritas daerah yaitu belum kontak dengan sarana pelayanan kesehatan atau sudah memanfaatkan tetapi memerlukan tindak lanjut. Dinas Kesehatan memberikan dana secara block grand ke Puskesmas berdasarkan usulan kegiatan yang mereka buat. Penelitian yang dilakukan untuk mengetahui pelaksanaan program Perkesmas dan upaya peningkatan kinerja Perkesmas yang dilaksanakan di Puskesmas Mantrijeron kota Yogyakarta didapatkan bahwa (1) 18.4 % petugas kurang baik dalam penggerakan pelaksanaan Perkesmas. Puskesmas yang tidak membuat rencana tahunan dan jumlah sasaran tidak dilakukan pendataan. tentang sarana dan prasarana seperti Public Health Nursing (PHN) kit. Pemerintah memiliki tanggung jawab melindungi kesehatan masyarakat dan memberikan akses ke pelayanan kesehatan terutama bagi keluarga yang memiliki hambatan untuk mencapai pusat-pusat pelayanan kesehatan.3 % petugas tidak melakukan perencanaan dengan baik. Sasaran perawatan kesehatan masyarakat adalah individu. 157 . Keluarga yang tidak mendapat pelayanan perkesmas merupakan beban sosial dan ekonomi serta dapat berdampak buruk terhadap masyarakat lainnya.

kelompok dan masyarakat baik yang sakit maupun yang sehat. Keluarga rawan adalah keluarga rentan terhadap kemungkinan timbulnya masalah kesehatan dan keluarga yang mempunyai individu bermasalah. ilmu kesehatan masyarakat dan bantuan sosial. keluarga. ditujukan kepada individu. kelompok dan masyarakat untuk ikut meningkatkan fungsi kehidupan manusia secara optimal. keluarga. rehabilitasi. sehingga mandiri dalam upaya kesehatannya masyarakat. sebagai bagian dari program kesehatan masyarakat secara keseluruhan guna meningkatkan kesehatan. Kesehatan masyarakat adalah bentuk pelayanan yang erat kaitannya dengan epidemiologi. Preventif adalah suatu upaya yang dilakukan untuk menghalangi terjadinya bencana dan mencegah bahaya yang ditimbulkannya (dalam hal ini penyakit) 158 .BAB II PENGERTIAN Perawatan kesehatan masyarakat (Perkesmas) adalah perpaduan antara keperawatan dan kesehatan masyarakat dengan dukungan peran serta aktif masyarakat mengutamakan pelayanan promotif dan preventif secara berkesinambungan tanpa mengabaikan pelayanan kuratif dan rehabilitatif secara menyuluh dan terpadu. Keperawatan adalah bentuk pelayanan di bidang kesehatan yang didasari ilmu dan kiat keperawatan ditujukan kepada individu. penyempurnaan kondisi sosial. pencegahan penyakit dan bahaya yang lebih besar. yang mempunyai masalah dimana hal itu mempengaruhi masyrakat secara keseluruhan. contohnya penyuluhan-penyuluhan. Menurut WHO Perkesmas merupakan lapangan perawatan khusus yang merupakan gabungan ketrampilan ilmu keperawatan. perbaikan lingkungan fisik. sejak lahir sampai meninggal. ditujukan kepada individu. keluarga. Promotif adalah suatu upaya untuk meningkatkan taraf kesehatan yang dilakukan pada saat pejamu sedang sehat dengan tujuan kesehatan / memelihara kesehatan. faktor-faktor penyebab wabah dan penyelesaian masalah kesehatan di masyarakat.

mental dan sosial 159 . juga agar mencegah cacat total setelah terjadi perubahan anatomi dan fisiologi. Rehabilitasi meliputi fisik.Kuratif adalah upaya yang dilakukan untuk mengurangi/menyembuhkan suatu penyakit Rehabilitatif adalah upaya yang dilakukan bila sudah terjadi suatu kerusakan dan dilakukan untuk mengembalikan penderita agar berguna dalam masyarakat.

RT.BAB III TUJUAN A. kuratif / rehabilitatif. Tujuan Umum Meningkatnya kemandirian masyarakat dalam mengatasi masalah keperawatan kesehatan masyarakat untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal. Dipahaminya pengertian sehat dan sakit oleh masyarakat : promotif & preventif. B. Terlayaninya kasus-kasus yang memerlukan tindak lanjut dan pelayanan keperawatan. 5. Tujuan Khusus 1. Terlayaninya kelompok khusus / panti yang memerlukan pembinaan dan pelayanan perawatan : promotif. Meningkatnya kemampuan individu. dan rehabilitatif. Tertanganinya keluarga rawan yang memerlukan pembinaan dan pelayanan perawatan : tim kesehatan lintas program terkait & sektoral terkait (kader kesehatan. 2. keluarga. 4. preventif. kelompok khusus dan masyarakat untuk melaksanakan keperawatan dasar dalam rangka mengatasi masalah kesehatan : preventif & kuratif. 160 . RW) melaksanakan promotif. 6. preventif. 3. Terlayaninya kasus-kasus resiko tinggi yang memerlukan pelayanan perawatan di puskesmas dan di rumah.

Home visit adalah suatu bentuk pelayanan kesehatan yang komprehensif bertujuan memandirikan pasien dan keluarganya. Asuhan keperawatan pasien (prioritas) kontak Puskesmas yang berada di poliklinik Puskesmas. Puskesmas keliling (pusling). pos kes desa. pelayanan dikelola oleh suatu unit/sarana/institusi baik aspek administrasi maupun aspek pelayanan dengan mengkoordinir berbagai kategori tenaga profesional dibantu tenaga non profesional. mengembangkan pemberdayaan pasien dan keluarga. posyandu. Mekanisme pelayanan home visit: a) Proses penerimaan kasus. Puskesmas pembantu (pustu). melakukan pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarganya.  Pengkajian keperawatan pasien sebagai deteksi dini (sasaran prioritas)  Penyuluhan kesehatan  Tindakan Keperawatan (direct care)  Konseling keperawatan  Pengobatan (sesuai kewenangan)  Rujukan pasien/masalah kesehatan  Dokumentasi keperawatan 2. di bidang kesehatan maupun non kesehatan. Kunjugan rumah oleh perawat (home visit/home care) terencana. bertujuan untuk pembinaan keluarga rawan kesehatan. pelayanan kesehatan diberikan di tempat tinggal pasien dengan melibatkan pasien dan keluarganya sebagai subyek yang ikut berpartisipasi merencanakan kegiatan pelayanan.    Home visit menerima pasien dari tiap poliklinik di Puskesmas Koordinator program Perkesmas menunjuk perawat pelaksana Perkesmas untuk mengelola kasus Perawat pelaksana Perkesmas membuat surat perjanjian dan proses pengelolaan kasus b) Proses pelayanan home visit: 161 .BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN KEGIATAN DAN SASARAN DI PUSKESMAS KELURAHAN PONDOK LABU Kegiatan Adapun bentuk kegiatan Perkesmas antara lain: 1. Ruang Lingkup home visit yaitu memberi asuhan keperawatan secara komprehensif.

diskusikan rencana kunjungan selanjutnya dan aktifitas yang akan dilakukan. mencakup seluruh unsur pelayanan secara proporsional o Jenis pelayanan yang kena tarip antara lain jasa pelayanan tenaga kesehatan. dokumentasikan kegiatan.  Monitoring dan evaluasi antara lain keakuratan dan kelengkapan pengkajian awal. membuat rencana pelayanan. lengkapi data hasil pengkajian dasar pasien. menyiapkan file asuhan keperawatan. dengan kriteria : tercapai sesuai tujuan. posyandu balita. pasien di rujuk. imbalan atas pemakaian sarana kesehatan yang digunakan langsung oleh pasien. program rehabilitasi tercapai secara maksimal. lengkap kartu identitas unit tempat kerja. bawa denah/petunjuk tempat tinggal pasien. pasien menolak pelayanan lanjutan. dana transportasi untuk kunjungan pasien 3. memastikan perlengkapan pasien untuk di rumah. kolaborasi. observasi lingkungan yang berkaitan dengan keamanan perawat. menyiapkan alat bantu media untuk pendidikan Pelaksanaan terdiri dari perkenalan diri dan jelaskan tujuan. pasien meninggal dunia. diskusikan kebutuhan rujukan. kondisi pasien stabil. keluarga sudah mampu melakukan perawatan pasien. Persiapan terdiri dari memastikan identitas pasien. lakukan perawatan langsung. Kunjungan perawat ke kelompok prioritas terencana (posyandu usila. kesesuaian perencanaan dan ketepatan tindakan.  Proses penghentian pelayanan home visit. panti asuhan dan lain-lain) a) Pengkajian keperawatan individu di kelompok b) Pendidikan/penyuluhan kesehatan di kelompok c) Pengobatan (sesuai kewenangan) d) Rujukan pasien/masalah kesehatan e) Dokumentasi keperawatan 162 . pembayaran dengan asuransi ditetapkan atas dasar saling membantu.  Pembiayaan home visit terdiri dari o Prinsip penentuan tarif antara lain pemerintah/masyarakat bertanggung jawab dalam memelihara kesehatan. mempertimbangkan masyarakat bepenghasilan rendah/asas gotong royong. efektifitas dan efisiensi pelaksanaan tindakan oleh pelaksana. disesuaikan dengan kemampuan keuangan dan keadaan sosial ekonomi. konsultasi dll.

tidak terjangkau pelayanan kesehatan. lansia. Sasaran Perkesmas Adapun yang menjadi sasaran program Perkesmas ini adalah seluruh masyarakat yang dapat terbagi menjadi: 1. menderita penyakit). termasuk daerah kumuh. masalah mental/jiwa. Fokus sasaran Perkesmas adalah keluarga rawan kesehatan dengan prioritasnya adalah keluarga rentan terhadap masalah kesehatan (Gakin). 3. lanjut usia (lansia). terisolasi. balita.4. konflik. Kelompok/masyarakat berisiko tinggi. Individu khususnya individu risiko tinggi (risti): menderita penyakit. balita. Asuhan keperawatan pasien di ruang rawat inap Puskesmas a) Pengkajian keperawatan individu b) Tindakan keperawatan langsung (direct care) dan tidak langsung (lingkungan) c) Pendidikan/penyuluhan kesehatan d) Pencegahan infeksi di ruangan e) Pengobatan (sesuai kewenangan) f) Penanggulangan kasus gawat darurat g) Rujukan pasien/masalah kesehatan h) Dokumentasi keperawatan. menderita penyakit. masalah mental/jiwa. keluarga risiko tinggi (anggota keluarga bumil. 2. lansia. 163 . Keluarga khususnya ibu hamil (bumil).

Indikator kinerja klinik Ada 4 indikator dalam menilai keberhasilan kinerja klinik Perkesmas yaitu:  Indikator input     Persentasi perawat koordinator (D3 Keperawatan) Persentasi perawat terlatih keperawatan kesehatan komunitas Persentasi Penanggung jawab daerah binaan/desa punya PHN kit Persentasi Puskesmas memiliki pedoman/standard 164 . PHBS. memfasilitasi pembahasan masalah dalam Refleksi Diskusi Kasus (RDK). flu burung.dan lain-lain) Indikator keberhasilan Perkesmas Indikator keberhasilan kinerja Perkesmas terdiri dari: 1.BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KELURAHAN PONDOK LABU Pelaksana Kegiatan Perkesmas  Perawat koordinator Perkesmas di Puskesmas harus mempunyai kualifikasi yaitu minimal D3 Keperawatan dan pernah mengikuti pelatihan/sertifikasi Perkesmas serta memiliki pengalaman kerja di Puskesmas yang mempunyai tugas sebagai berikut: Pertemuan dengan perawat pelaksana Perkesmas/penanggung jawab daerah binaan (darbin) untuk mengidentifikasi masalah prioritas dengan data epidemiologi. merencanakan kegiatan Perkesmas.   Kunjungan lapangan untuk melakukan bimbingan pada perawat pelaksana Penyusunan laporan yang disusun berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan Perkesmas yang merupakan bahan pertanggung jawaban kepada Kepala Puskesmas. Sertifikasi bagi perawat Perkesmas yaitu:       Pelatihan Perkesmas Pelatihan Pengembangan Manajemen Kinerja Klinis (PMKK) untuk perawat coordinator Pelatihan gadar (basic) Pelatihan HIV/AIDS Pelatihan Keperawatan Kesehatan jiwa Masyarakat (basic) Pelatihan-pelatihan lainnya (program ISPA. gizi. membahas masalah keuangan.

masing-masingnya mempunyai kriteria-kriteria sebagai berikut: Tabel : Kriteria Keluarga Mandiri Perilaku KM 1 KM II KM III KM IV No 1 Perilaku Menerima Puskesmas + + KM 1 petugas + + + KM 2 + KM3 + KM 4 + 165 . dan lain-lain)  Indikator proses              Persentasi keluarga rawan mempunyai family folder Maping (peta) sasaran Perkemas Rencana kegiatan Perkesmas (POA) Bukti Pembagian tugas perawat Ada kegiatan koordinasi dengan petugas kesehatan lain Catatan keperawatan Kegiatan Refleksi Diskusi Kasus Hasil pemantauan dan evaluasi  Indikator output (key indicator) Persentasi keluarga rawan dibina Persentasi keluarga selesai dibina Persentasi penderita (prioritas SPM) dilakukan tindak lanjut keperawatan (follow up care) Persentasi kelompok dibina Persentasi daerah binaan di suatu wilayah  Indikator hasil (Outcome) yang ingin dicapai adalah terbentuknya keluarga mandiri dalam memenuhi kesehatannya/mengatasi masalah kesehatannya yang terdiri dari 4 tingkatan keluarga mandiri (KM). formulir laporan. family folder.   Tersedia dana operasional untuk pembinaan Tersedia standar/pedoman/SOP pelaksanaan kegiatan Tersedia dukungan administrasi (buku register.

Indikator kinerja fungsional Indikator kinerja fungsional yaitu indikator kinerja perawat Puskesmas untuk mengukur pencapaian angka kredit jabatan fungsionalnya yaitu jumlah angka kredit yang dicapai sama dengan jumlah kegiatan perawat dalam mencapai indikator klinik (output) nya. 166 .2 Menerima yankes sesuai + rencana + + + + + + + 3 Menyatakan secara benar + masalah + + + + + 4 Memanfaatkan sarana + + + kesehatan sesuai anjuran + + + 5 Melaksanakan perawatan + + + sederhana sesuai anjuran + + + 6 Melaksanakan tindakan + + pencegahan secara aktif + + 7 Melaksanakan tindakan + promotif secara aktif + 2.

Selanjutnya dapat diidentifikasi masalah yang berhubungan langsung dengan masalah utama tersebut di atas adalah kurangnya kegiatan Perawatan Kesehatan Masyarakat oleh petugas yang disebabkan oleh beberapa faktor. Dengan adanya identifikasi masalah diatas. Untuk memudahkan pemantauan dan penilaian kinerja Perkesmas maka dilakukan penyajian hasil dengan menggunakan tabel. keluarga yang rentan terhadap masalah kesehatan. A. Adapun sasaran 167 . Hal ini disebabkan karena adanya beberapa faktor.  Kurangnya sarana dan prasarana yang dibutuhkan. grafik balok/garis atau grafik Pemantauan Wilayah Setempat (PWS). peningkatan cakupan dan mutu pelayanan kesehatan.  Kurangnya kegiatan Perawatan Kesehatan Masyarakat oleh petugas. antara lain :  Kurangnya kerjasama lintas program terkait. output. output. Penilaian dilakukan setahun sekali meliputi semua aspek baik input. Sasaran. Penilaian dilakukan setahun sekali meliputi semua aspek baik input. antara lain :  Meningkatnya suatu penyakit di masyarakat. Identifikasi Masalah. Untuk memudahkan pemantauan dan penilaian kinerja Perkesmas maka dilakukan penyajian hasil dengan menggunakan tabel. B. outcome sebagai masukan penyusunan rencana kegiatan Perkesmas tahun berikutnya.  Kurangnya kemampuan/keterampilan petugas (bidan dan pada perawat)  Kurangnya motivasi petugas. Sedangkan penilaian dilaksanakan minimal setiap akhir tahun dan hasilnya digunakan untuk masukan dalam penyusunan perencanaan kegiatan Perkesmas pada tahun berikutnya.  Kurang akuratnya data yang tersedia  Lingkungan yang tidak sehat dan bersih. grafik balok/garis atau grafik Pemantauan Wilayah Setempat (PWS). Menurunya derajat kesehatan masyarakat dalam rangka kegiatan Perawatan Kesehatan Masyarakat (Perkesmas} diakibatkan oleh meningkatnya angka kesakitan pada keluarga sasaran khususnya keluarga rawan. maka penulis dapat mengemukakan sasaran yang ingin dicapai dalam rangka menuju pemecahan masalah . Hasil pemantauan terhadap pencapaian indikator kinerja menjadi masukan untuk perbaikan dan peningkatan kinerja perawat berikutnya. outcome sebagai masukan penyusunan rencana kegiatan Perkesmas tahun berikutnya.Pemantauan dan Penilaian Perkesmas Pemantauan dilaksanakan secara periodik setiap bulan oleh kepala Puskesmas dan Perawat koordinator Perkesmas.

Tersedianya sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Penurunan angka kesakitan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. Untuk program KIA dalam hal pencapaian cakupan K. Dengan terpenuhinya sarana dan prasarana khususnya peralatan medis dan ruangan yang memadai dalam melaksanakan kegiatan akan menimbulkan suasana yang nyaman dan leluasa sehingga dapat membuat jiwa kita menjadi tenang. Terwujudnya peningkatan kerjasama lintas program terkait.1 dan K. Sedangkan yang menyebabkan terwujudnya peningkatan kegiatan perawatan kesehatan masyarakat oleh petugas adalah : 1.yang dimaksud adalah seperti di bawah ini.4. yang berat badannya berada dibawah garis merah (Balita BGM) dan ibu hamil /ibu nifas yang kekuranan enegi sera membantu dalam hal pelaksanaan pemberian makanan tambahan (PMT). sedangkan untuk pelayanan program Imunisasi petugas Puskesmas melakukan pembinaan pada keluarga DO (Drop Out).  Terwujudnya lingkungan yang sehat dan bersih. Adanya peralatan medis khusus untuk kegiatan program Puskesmas yang dipunyai oleh masing-masing petugas (bidan dan perawat) akam memudahkan kegiatan 168 .Program KIA dan Imunsasi adalah program primadona. anak balita. yaitu :  Tertanggulanginya suatu penyakit di masyarakat  Terwujudnya peningkayan kegiatan perawatan kesehatan masyarakat oleh petugas (bidan dan perawat). Petugas dari perogram terkait sudah memahami dan mengerti tentang pelaksanaan dari Program Puskesmas. Terwujudnya peningkatan derajat kesehatan masyarakat dalam rangka kegiatan Perkesmas diakibatkan dari tercapainya penurunan angka kesakitan pada keluarga rawan yang rentan terhadap masalah kesehatan. Untuk program pemberantasan Penyakit Menular (P2M) petugas Puskesmas membantu memberikan bimbingan serta tindak lanjut untuk kasus-kasus penyakit menular maupun tidak menular.Dari program Gizi petugas Puskesmas membantu dalam hal pembinaan kelarga yang mempunyai bayi. 2. Dengan sudah dilaksanakannya pelatihan petugas perawatan kesehatan masyarakat. Bahwa program Puskesmas sangat mendukung untuk program puskesmas lainnya tertutama dalam pencapaian cakupan program Kesehatan Ibu dan Anak dan program Pemberantasan Penyakit menular temasuk Imunisasi.  Tersedianya keakuratan data.

bidan dan bidan-bidan didesa perlu adanya pelatihan. baik disegi pelayanan terhadap masyarakat maupun disegi pelayanan terhadap masyarakat maupun disegi pencapaian cakupan/hasil kegiatan. 4. Seperti sudah diuraikan pada bab terdahulu bahwa kendala/hambatan yang ditemui dalam upaya peningkatan pelaksanaan kegiatan Perkesmas adalah faktor manusia sebagai pelaksana yang mempunyai kelemahan. melaksanakan petunjuk teknis pelajaran. pembinaan yang terus menerus oleh atasan langsung atau dari pihak yang berkepentingan. Terwujudnya motivasi kerja dalam melaksanakan kegiatan Perkesmas tidak lepas dari kemampuan/keterampilan petugas serta tersedianya sarana dan prasarana pendukung. Dan program perawatan kesehatan masyarakat bisa berjalan dengan lancar. 3. maka perlu dibuat beberapa alternatif sebagai acuan untuk menuju rangkaian pemecahan masalah sehingga terwujudnya peningkatan kemampuan /keterampilan petugas Perkesmas khususnya perawat. yaitu kurangnya kemampuan/keterampilan petugas untuk melaksanakan tugas keperawatan. Melaksanakan pelatihan petugas perkesmas. Motivasi kerja petugas dilihat dari keaktifan petugas dalam membina desa binaan. 2. 3. Hal ini secara tidak langsung membantu memotivasi petugas untuk melaksanakan tugas dengan baik. sehingga kegiatan perkesmas dapat dilaksanakan secara optimal dan pada akhirnya akan terjadi peningkatan. Sebagai pendukung kelancaran dan kemudahan dalam melaksanakan kegiatan Perkesmas bagi petugas bagi petugas khususnya perawat. bidan. dan bidan-bidan desa melalui kegiatan-kegiatan seperti: 1. Dengan adanya usaha tersebut diatas diharapkan akan meningkatkan kemampuan/keterampilan bagi petugas Perkesmas. Terwujudnya peningkatan kemampuan/keterampilan petugas (bidan dan perawat). Melaksanakan pembinaan. 169 . C. Alternatif Pemecahan. 4. Melaksanakan study banding ke Puskesmas teladan. Selanjutnya guna mengidentifikasi pemecahan masalah dan penetuan sasaran yang ingin dicapai.Puskesmas di masyarakat. Melaksanakan pembuatan petunjuk teknis pelajaran. Terwujudnya motivasi kerja petugas.

penyajian materi serta penutup. pembuatan jadwal. Pelaksanaan terdiri dari pembukaan pelatihan. bidan dan bidan-bidan desa selaku pelaksana kegiatan Perkesmas.Dari beberapa kegiatan tersebut diatas kegiatan yang bisa dilaksanakan dan berpengaruh langsung terhadap peningkatan kemampuan/keterampilan petugas Perkesmas yaitu kegiaatan pelatihan bagi perawat. Kegiatan yang kiranya diselenggarakan guna mencapai sasaran adalah dengan melaksanakan pelatihan petugas perawatan Kesehatan Masyarakat untuk mewujudkan peningkatan    kemampuan/keterampilan bidan perawat. Langkah-Langkah Kegiatan. pencairan dana. Adapun sasaran umum dan saran khusus yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut : 1. Dengan adanya peningkatan kemampuan/keterampilan petugas Perkesmas oleh petugas yang selanjutnya akan memungkinkan tercapainya penurunan angka kesakitan pada keluarga rawan yang rentan terhadap maslah kesehatan dan pada akhirnya memungkinkan terwujudnya peningkatan derajat kesehatan masyarakat. penilaian serta pelaporan dari semua kegiatan yang dilaksanakan. Pengendalian meliputi pemantauan. 170 . 2. Dengan adanya strategi pemecahan masalah dari sasaran yang diharapkan. Sasaran Umum : Terwujudnya peningkatan kemampuan /keterampilan petugas Perkesmas melalui pelaksanaan pelatihan petugas Perkesmas. penyiapan perlengkapan serta pemberitahuan peserta pelatihan. Kegiatan tersebut diatas pelaksanaannya dapat dibagi menjadi beberapa tahapan kegiatan antara lain : Persiapan yang terdiri dari pembentukan panitia. dapatlah ditentukan sasaran umum dan sasaran khusus dari rencana kerja yang ingin dicapai. Sasaran Khusus : Terwujudnya peningkatan kemampuan /keterampilan petugas Perawatan Kesehatan Masyarakat (bidan dan perawat) melalui pelaksanaan pelatihan petugas Perkesmas D.

 Diharapkan dukungan sepenuhnya dari Kepala Puskesmas dalam memotivasi staf dalam pelaksanaan kegiatan Perkesmas secara terpadu melalui mini lokakarya lintas program/sektor. 171 . dan perlu adanya suatu alat untuk rnemantau dan menilai sehingga dapat diidentifikasi masalah dan penyebabnya.  Diharapkan dapat memberikan sosialisasi secara terus menerus dan berkesinambungan dengan lintas program/sektor terkait demi terlaksananya kegiatan Perkesmas di Tingkat Puskesmas secara terpadu. SARAN  Diharapkan dapat memberikan supervisi/bimbingan untuk perbaikan dan peningkatan penampilan hasil kegiatan Perkesmas di tingkat Puskesmas. agar dapat menilai kemajuan pelaksanaan program Perkesmas secara teratur dan berkesinambungan. memberikan pelayanan keperawatan terhadap individu. dimana tanpa adanya keterpaduan laporan dan kegiatan pembinaan lintas program/sektor terkait program Perkesmas akan menampilkan hasil kegiatan dan pengelolaan yang belum optimal.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN  Kegiatan Perkesmas salah satu kegiatan pokok Puskesmas. keluarga. kelompok dan masyarakat yang mempunyai masalah kesehatan.  Hasil pernantauan dapat dimanfaatkan untuk melakukan koreksi. sedangkan hasil penilaian dimanfaatkan untuk perencanaan kegiatan berikutnya. Kedua hasil tersebut diperlukan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

com 3. Jakarta. 1996. Jakarta : Sagung Seto. Petunjuk Pengelolaan Perawatan Kesehatan Masyarakat Depkes RI. Jakarta. Sastroasmoro S. www. 1993. Ismael Sofyan. p372-374 172 . Pedoman Pemantauan Penilaian Program Perawatan Kesehatan Masyarakat.2010. Depkes RI. 2.depkesri.DAFTAR PUSTAKA 1. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis.

06.06.197) (030.UPAYA KESEHATAN KERJA Penyusun: Putri Kartika Vidya Syahidatul Syakira (030.350) 173 .

174 . Pencanangan paradigma sehat ini sejalan dengan pembangunan berwawasan lingkungan serta pengembangan tenaga kesehatan Sarjana Kesehatan Masyarakat. perlindungan bagi pekerja dalam pekerjaannya dari resiko akibat faktor yang merugikan kesehatan . pencegahan terhadap gangguan kesehatan pekerja yang disebabkan oleh kondisi pekerjaan. dan penempatan serta pemeliharaan pekerja dalam suatu lingkungan kerja yang disesuaikan dengan kondisi fisiologi dan psikologisnya. Dalam Undang-undang No. Secara ringkas merupakan penyesuaian pekerjaan kepada manusia dan setiap manusia kepada pekerjaan atau jabatannya. Departemen Kesehatan telah menetapkan upaya khusus kesehatan kerja sebagai bagian dari pembangunan bidang kesehatan sejak tahun 1998. absen kerja yang pada ujungnya mengganggu produktivitas kerja. Perhatian yang baik pada kesehatan kerja dan perlindungan risiko bahaya di tempat kerja menjadikan pekerja dapat lebih nyaman bekerja. Selanjutnya dinyatakan bahwa fokus utama Kesehatan Kerja. Potensi munculnya berbagai penyakit akibat kerja yang dialami pekerja akan merugikan perusahaan dari segi biaya kesehatan. 23 tahun 1992 pasal 23 dinyatakan bahwa kesehatan kerja diselenggarakan agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan diri sendiri dan masyarakat sekelilingnya. yaitu : 1) Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan pekerja dan kapasitas kerja.BAB I PENDAHULUAN ILO dan WHO (1995) menyatakan kesehatan kerja bertujuan untuk peningkatan dan pemeliharaan derajat kesehatan fisik. agar diperoleh produktivitas kerja yang optimal sejalan dengan program perlindungan tenaga kerja. dicanangkan dengan paradigm sehat. mental dan sosial yang setinggi-tingginya bagi pekerja di semua jenis pekerjaan. 2) Perbaikan lingkungan kerja dan pekerjaan yang mendukung keselamatan dan kesehatan. juga meningkatkan suasana sosial yang positif dan operasi yang lancer serta meningkatkan produktivitas perusahaan. Bidang kesehatan kerja mempunyai implikasi luas baik secara mikro maupun makro. 3) Pengembangan organisasi kerja dan budaya kerja kearah yang mendukung kesehatan dan keselamatan di tempat kerja.

pembangunan model. perawat. Untuk usaha-usaha informal dan industri-industri kecil. Pembinaan dan pengawasan perlengkapan kesehatan kerja 5. 6. Memberikan saran dan masukan kepada manajemen dan fungsi terkait terhadap permasalahan yang berhubungan dengan aspek kesehatan kerja Pada beberapa sektor industi formal berskala menengah dan besar pada umumnya pelaksanaan kesehatan kerja sudah cukup baik yang dilakukan secara terintegrasi melalui Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamanatan Kerja ( SMK3 ). ahli epidemiologi dan ahli keselamatan.Dalam Permenaker No. Departemen Kesehatan maupun Departemen Tenaga kerja dan Transmigrasi sudah melakukan upaya kesehatan kerja. diantaranya adalah sebagai pelaksana lapangan. misalnya dalam bentuk pembinaan dan pelatihan-pelatihan serta penyusunan berbagai pedoman pelaksanaan kesehatan kerja. Memberikan nasehat mengenai perencanaan dan pembuatan tempat kerja. pengelola dan pengendali upaya kesehatan masyarakat. Upaya kesehatan kerja sebagai bagian dari upaya kesehatan masyarakat seperti diuraikan di atas dilakukan melalui berbagai upaya atau program-program. Memberikan laporan berkala tentang pelayanan kesehatan kerja kepada pengurus 7. pengelolaan kesehatan masyarakat. Namun. ahli hygiene kerja. seperti dokter. ahli ergonomic. pemilihan alat pelindung diri yang diperlukan dan gizi serta penyelenggaraan makanan di tempat kerja. diakui upaya yang telah dilakukan belum bisa menjangkau seluruh usaha informal dan industri kecil yang jumlahnya cukup besar. Peran SKM dalam Kesehatan Kerja Peran SKM dalam berbagai bentuk upaya kesehatan masyarakat. Pembinaan dan pengawasan perlengkapan sanitasi 4. Selain adanya persoalan keterbatasan sumber daya manusia atau petugas dan kesadaran para pengelola usaha dalam memperhatikan kesehatan kerja. penyuluhan kesehatan masyarakat. 175 . 3 tahun 1982 disebutkan tugas pokok kesehatan kerja antara lain : 1. pendidikan. Untuk melaksanakan upaya tersebut dibutuhkan sejumlah profesi. ahli toksikologi. Pembinaan dan pengawasan atau penyesuaian pekerjaan terhadap tenaga kerja 2. Pembinaan dan pengawasan terhadap lingkungan kerja 3.

juga oleh para pengusaha atau pelaku usaha dan para pekerja. Selain itu kemampuan sebagai leader. yaitu berjumlah sekitar 152 juta jiwa ( Survey BPS 2003. seperti dokter dan perawat juga dibutuhkan tenaga-tenaga yang mampu melakukan upaya-upaya kesehatan kerja yang lebih bersifat peningkatan. bimbingan dan evaluasi. Dalam rangka pemberdayaan masyarakat bidang K3. Titik berat yang menjadi perhatian baik masyarakat maupun pemerintah adalah bidang pendidikan dan kesehatan. Hal penting untuk dicatat adalah pentingnya pemberdayaan potensi tenaga SKM sesuai kompetensinya untuk dapat menjadi pelaksana upaya kesehatan kerja baik bekerja langsung di perusahaan. melakukan supervise. untuk penduduk di atas 15 tahun ) dan jumlah industri yang cukup besar sekitar 102. Kebutuhan SDM bidang kesehatan kerja selain tenaga medis dan paramedis. Disamping itu sendiri. perlindungan dan pencegahan. tenaga SKM mempunyai kompetensi yang sangat sesuai karena tenaga SKM dirancang untuk melakukan tugas pokok atau upaya-upaya yang bersifat promosi. SKM juga dapat memainkan peran di LSM-LSM bidang kesehatan yang tentunya dapat membuat program intervensi kesehatan di tempat kerja. Selain di perusahaan. Jumlah institusi pendidikan tinggi yang menghasilkan SKM saat ini sangat banyak. ditempatkan di instansi pemerintah harus didukung oleh jaringan terkait.000 perusahaan. pengelola program diharapkan akan lebih mengoptimalkan upaya kesehatan kerja. Potensi ini akan sangat berarti ketika kita melihat kenyataan bahwa di Indonesia jumlah angkatan kerja adalah terbesar nomor 4 di dunia. 176 . perlindungan dan pencegahan.Dilihat dari tugas pokok kesehatan kerja dan bentuk pengendalian bahaya kesehatan. Perkembangan pembangunan nasional bangsa Indonesia sekarang ini dihadapkan pada era etonomi dan desentralisasi. SKM dengan kompetensi bidang K3 juga diperlukan di instansi pemerintah baik pusat maupun daerah dalam menjalankan fungsinya membuat regulasi. yaitu tenaga ini adalah SKM.

Kompetensi SKM sangat sesuai sebagai bagian dari profesi lain dalam upaya kesehatan kerja. Trend ini sangat relevan dengan pemikiran dan implementasi peran SKM dalam upaya kesehatan kerja. pembinaan. pengawasan serta pendidikan dan pelatihan. kita dapat melihatnya dari titik temu antara kompetensi yang dimiliki SKM khususnya peminatan K3 dengan tujuan dan tugas pokok kesehatan kerja dan standar upaya kesehatan kerja yang biasa diterapkan di tempat kerja dalam bentuk Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja.Era globalisasi saat ini juga menuntut adanya kompetensi tenaga kerja dan pentingnya standarisasi serta sertifikasi. yaitu sebagai pengelola program dan dapat melakukan fungsinya untuk melakukan/ mengkoordinasikan langkah-langkah identifikasi potensi bahaya kesehatan. 177 . penilaian bahaya kesehatan dan pengendalian melalui berbagai program.

pabrik dan sebagainya yang mempunyai ciri : 3 1.3 KEGIATAN Adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau lebih unit kerja sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur dari suatu program dan terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya baik yang berupa personal (SDM). tidak tergantung pada kerja sama banyak orang bahkan kadang-kadang usaha 2.BAB II PENGERTIAN UPAYA KESEHATAN PENGEMBANGAN Adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan permasalahan kesehatan yang ditemukan di masyarakat serta yang disesuaikan dengan kemampuan Puskesmas. Kegiatan usaha biasanya sederhana. barang modal termasuk peralatan dan teknologi. 2 SEKTOR INFORMAL Yaitu usaha-usaha ekonomi di luar sektor modern atau sektor formal seperti perusahaan. dana atau kombinasi dari beberapa atau kesemua jenis sumber daya tersebut sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang atau jasa.2 SASARAN (TARGET) Adalah hasil yang diharapkan dari suatu program atau keluaran yang diharapkan dari suatu kegiatan.2 UPAYA KESEHATAN KERJA ( UKK ) Merupakan kegiatan pokok Puskesmas yang ditujukan terutama pada masyarakat pekerja informal di wilayah kerja Puskesmas dalam rangka upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit serta kecelakaan yang berkaitan dengan pekerjaan dan lingkungan kerja. 3. kecilan 178 Perorangan dan sistem pembagian kerja yang ketat Skala usaha relative kecil biasanya dimulai dengan modal dan usaha kecil- .

4. 1985) 179 . Biasanya tidak mempunyai izin usaha seperti halnya Firma. PT atau CV (Payaman Simanjuntak.

3 180 . 2. Tujuan umum Meningkatnya kemampuan untuk menolong dirinya sendiri guna mencapai derajat kesehatan yang optimal dan peningkatan produktifitas kerja. 3 II.BAB III TUJUAN I. Tujuan khusus 1. 3. Meningkatnya pelayanan kesehatan bagi tenaga kerja informal dan keluarganya yang belum terjangkau ( Under-served ). Meningkatnya keselamatan kerja dengan mencegah pemajanan bahan-bahan yang dapat membahayakan lingkungan kerja dan masyarakat sekitar serta menerapkan prinsip ergonomik. Meningkatnya kemampuan masyarakat pekerja dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit dan kecelakaan yang berkaitan dengan pekerjaan dan lingkungan kerja.

Pencatatan setiap ada ―accident‖ maupun near misses (nyaris) Pendekatan PKMD Pembangunan Kesehatan Masyarakat Pekerja dilakukan dengan cara pendekatan PKMD. b. Pelayanan kesehatan di Puskesmas Latihan kader untuk mengembangkan program UKK Pembentukan pos UKK di tempat kerja Penilaian upaya kesehatan kerja dan higiene industri di tempat kerja Penyelenggaraan dana sehat di pos UKK Melakukan evaluasi Memberikan umpan balik kepada industri 2. Bertumpu pada upaya peran serta masyarakat 2. c. g. Terselenggaranya pelayanan dasar kesehatan kerja 3. Pendataan tentang industri dan tenaga kerja Rapat koordinasi dengan instalasi terkait Melaksanakan kunjungan pengawasan dan pembinaan Penyuluhan kesehatan tenaga di tempat kerja sebagai tindak promotif dan preventif dengan penekanan pada prinsip higiene industry dan ergonomis e.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN I. komplikasi dan tindakan medis dll e. Terjalin kegiatan kerja sama lintas sektoral Langkah-langkah Pengembangan UKK dengan Pendekatan PKMD 181 . f. Kegiatan Kegiatan upaya kesehatan kerja meliputi : 2 1. i. yang menampilkan ciri-ciri sebagai berikut : 3 1. Pengelolaan tanggap darurat di puskesmas. k. d. misalnya kebakaran. bencana alam. Pelaksanaan K3 di luar Puskesmas : a. Menilai resiko bahaya c. Pelaksanaan K3 di Puskesmas a. j. Identifikasi yang bisa menimbulkan bahaya K3 b. Melakukan pengendalian resiko agar meminimalisasi bahaya d. h.

Pertemuan tingkat Kecamatan/tingkat desa (lintas sektoral). merupakan langkah awal dari pembinaan tingkat Kecamatan. petugas Puskesmas dan seluruh sektor lain yang terkait seperti Bangdes. Dilaksanakan oleh masyarakat pekerja setempat/calon kader yang telah ditunjuk dalam pertemuan tingkat desa. survei mawas diri masyarakat dan pelatihan kader. Latihan kader. Perindustrian. Tahap Persiapan Tahap persiapan masyarakat dilakukan dengan melakukan pertemuan. Prosedur pelayanan kesehatan pekerja yang berkunjung ke Puskesmas seperti pengunjung lainnya. Koperasi/KUD. dilaksanakan segera setelah survei mawas diri. Tujuan musyawarah ini adalah agar masyarakat pekerja mengenal masalah kesehatan di tempat kerjanya.1. Musyawarah tentang kesehatan kerja. Pertemuan ini bertujuan untuk diseminasi informasi mengenai informasi masyarakat Upaya Kesehatan Kerja sebagai upaya meningkatkan kesehatan masyarakat. Pertanian. Ini dilakukan untuk catatan jumlah pengunjung tenaga kerja 182 . Juga untuk diperolehnya dukungan dari sektor lain dalam pelaksanaan UKK. masyarakat bersepakat menanggulangi masalah tersebut dan kemudian menyusun rencana kerja untuk menanggulangi masalah tersebut. Selain itu agar timbul kesadaran akan adanya hubungan timbal balik antara pekerjaan dan kesehatan. dikenalnya masalah kesehatan dan keselamatan kerja setempat. bertujuan agar tenaga kerja mengenal. khususnya masyarakat pekerja informal. Sedangkan pertemuan tingkat desa bertujuan untuk dikenalnya Upaya Kesehatan Kerja sebagai upaya untuk meningkatkan kesehatan kerja. mengumpulkan dan mengkaji masalah kesehatan sendiri. pemuka masyarakat dan organisasi tenaga kerja lainnya dalam pelaksanaan UKK. Survei mawas diri. 2. Dilakukan di desa terpilih dengan memilih lokasi tertentu yang dapat menggambarkan keadaan desa pada umumnya. Sebaiknya musyawarah dihadiri oleh seluruh pekerja dan keluarganya. dengan bimbingan petugas Puskesmas dan sektor terkait untuk mengetahui sebanyak mungkin masalah kesehatan kerja di desa tersebut dan kemudian menentukan prioritas masalah. serta diperolehnya dukungan dari pamong. tindakan promotif dan preventif dengan penekanan pada prinsip ergonomik. Kartu berobat/register diberi kode khusus untuk memisahkan dengan pengunjung lainnya. bertujuan untuk mempersiapkan kader agar mampu berperan dan mengembangkan program kesehatan kerjanya dan di lengkungan tempat tinggalnya. Tahap Pelaksanaan Kegiatan UKK di Puskesmas Penyuluhan kesehatan.

tertentu ke Puskesmas (petani. bertujuan untuk mempersiapkan kader agar mampu berperan dan mengembangkan program kesehatan kerja di tempat kerjanya. baik antara petugas maupun antara para kader. Pembentukkan pos UKK di tempat kerja. kelompok nelayan dan kelompok pengrajin. bahaya merokok. Secara umum. Komunikasi. gizi kerja. maka dilakukan follow-up ke tempat kerja untuk memberikan penyuluhan mengenai cara pencegahan timbulnya penyakit tersebut. hipertensi. Kerjasama lintas sektoral. yaitu : a. melalui pos UKK dilakukan tiga hal pokok. c. pos UKK dapat juga mempergunakan posyandu yang ada atau membentuk posyandu lain bagi pekerja terutama kalau pekerja terdiri dari wanita. nelayan. Tenaga kerja terutama sektor informal 2. II. Melakukan pelayanan dasar kesehatan yang meliputi. keracunan makanan serta bagaimana bekerja tanpa mencemari lingkungan dan pokok bahasan lain yang terkait dengan pekerjaannya. Pos UKK dapat dijadikan sebagai wahana kerjasama lintas sektor untuk ikut membina produktivitas pekerja dengan cara ikut memeliahara tingkat kesehatan pekerja dan menciptakan budaya kerja secara sehat dan produktif. penanggulangan stress. Apabila pada pemeriksaan ternyata ada hubungannya. materi KIM yang diberikan menyangkut tentang prosedur kerja. Selain itu. misalnya kelompok tani. Tenaga kerja wanita. Sentral industri kecil 3. Untuk setiap 20-30 pekerja dengan jenis pekerjaan yang sesuai dibentuk satu pos UKK. keselamatan kerja. dll) serta untuk penekanan pelayanan kesehatan kepada pekerja. Pertolongan pertama pada penyakit. Menyelenggarakanpelayanan kesehatan di Puskesmas. kebugaran. khususnya usia muda 183 . pencegahan penyakit menular. pemeriksaan di arahkan apakah penyakit yang diderita ada hubungannya dengan pekerjaan. b. Pada garis besarnya. harus memanfaatkan pranata sosial yang telah ada. Informasi dan Motivasi (KIM) tentang kesehatan dan keselamatan kerja. Pertolongan Pertama Pada Kecalakaan (P3K). Sasaran Sasaran UKK : 1. Upaya penyehatan lingkungan kerja. Upaya pemantauan penggunaan alat-alat keselamatan kerja/alat pelindung diri. Melatih kader.

misalnya tenaga lepas. Tenaga kerja kesehatan di Puskesmas 2 Sasaran Upaya Kesehatan Kerja (UKK) diarahkan kepada pekerja yang mempunyai dampak besar dalam menunjang ekonomi. tetapi kurang dapat mendapat pelayanan kesehatan yang memadai. usaha angkutan terutama di kota.3 184 . pekerja bangunan. penyelam mutiara. petani. kaki lima. dan pekerja wanita. Dengan demikian sasaran upaya kesehatan kerja diutamakan pada sektor informal yang merupakan lebih dari separuh angkatan kerja. pengrajin industri kecil/industri rumah tangga. nelayan.4.

BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KELURAHAN GANDARIA SELATAN Setelah dilakukan observasi dan wawancara terhadap Koordinator Program Kesehatan Lingkungan Puskesmas Kecamatan Cilandak Barat. 185 . Akan tetapi di daerah kelurahan Gandaria Selatan dan Pondok Labu banyak terdapat usaha pangan yaitu tahu. tempe dan kerupuk yang belum diketahui jumlahnya.Berarti. Puskesmas Kecamatan Cilandak baru akan mengembangkan pos UKK dengan melihat komunitas dan jumlah pekerja di daerah ini. didapatkan data bahwa di pos UKK di Puskesmas Kecamatan Cilandak Barat masih dalam tahap pengembangan. saat ini belum ada pos UKK karena di daerah Kecamatan Cilandak bukan merupakan daerah dengan banyak industri informal.

perlindungan bagi pekerja dalam pekerjaannya dari resiko akibat faktor yang merugikan kesehatan. Kesehatan kerja bertujuan untuk peningkatan dan pemeliharaan derajat kesehatan fisik. mental dan sosial yang setinggi-tingginya bagi pekerja di semua jenis pekerjaan. Observasi lagi daerah-daerah dengan kelompok pekerja yang sejenis. pencegahan terhadap gangguan kesehatan pekerja yang disebabkan oleh kondisi pekerjaan. Adanya pembangunan kesehatan masyarakat kerja dilakukan dengan cara pendekatan PKMD. maka sekiranya dapat dibuat pos UKK. Saran 1. Apabila jumlahnya memenuhi untuk dibuat pos UKK.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. kerupuk ). Misalnya di daerah Gandaria Selatan dan Pondok Labu dengan banyaknya usaha pangan ( tahu. yang menampilkan ciri-ciri sebagai berikut : bertumpu pada upaya peran serta masyarakat. 2. tempe. dan penempatan serta pemeliharaan pekerja dalam suatu lingkungan kerja yang disesuaikan dengan kondisi fisiologi dan psikologisnya. Pembentukan kader UKK 186 . Kesimpulan Upaya Kesehatan Kerja ( UKK) merupakan kegiatan pokok puskesmas yang ditujukan terutama pada masyarakat pekerja informal di wilayah kerja Puskesmas dalam rangka upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit serta kecelakaan yang berkaitan dengan pekerjaan dan lingkungan kerja. B. terselenggaranya pelayanan dasar kesehatan kerja dan terjalinnya kegiatan kerja sama lintas sektoral.

Buku Revitalisasi Puskesmas 2006.binasehat.DAFTAR PUSTAKA 1. Peranan SKM Pada Program UKK. jilid II. 3. Diunduh dari www. Buku Pedoman Kerja Puskesmas. tahun 1993 2.id pada tanggal 22 Juli 2011 187 .co.

06.166) 188 .06.UPAYA KESEHATAN GIGI DAN MULUT Penyusun: Adisresti Diwyacitta Meri Indriani (030.008) (030.

BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG DAN MASALAH Penyakit gigi dan mulut yang menjadi masalah kesehatan masyarakat dewasa ini adalah penyakit/kelainan pada jaringan penyangga gigi (periodontal disease) dan karies gigi. dan diet (refined carbohydrate). Keadaan higiene mulut pada umumnya kurang baik. makanan yang mengandung banyak gula. Kebersihan mulut yang buruk berhubungan erat dengan status sosial dan pendidikan yang masih rendah. Penyakit periodontal Pada umumnya penyakit periodontal merupakan akibat dari keadaan kebersihan mulut yang buruk. Penyebab utama dari karies gigi adalah bakteri. juga merupakan fokal infeksi yang dapat menimbulkan penyakit/infeksi pada organ tubuh lainnya. Di perkotaan prevalensi penyakit karies lebih tinggi dari pada di pedesaan. yang dapat menyebabkan terganggunya penyerapan dan pencernaan makanan sehingga akhirnya dapat menganggu status gizi seseorang. penyediaan air minum. penyakit ini merupakan penyebab utama tanggalnya gigi pada usia 35 tahun ke atas. Maka pencegahan dan pengobatan dini penyakit gigi dan mulut di Puskesmas. Gigi gangren (busuk). factor herediter. Karies gigi Penyakit karies bersifat irreversible. sikap masyarakat yang 189 . maka upaya penanggulangan yang paling utama adalah dengan memberikan pendidikan/penyuluhan kepada masyarakat tentang upaya pemeliharaan diri (self-care). rendahnya kadar fluor dalam air minum. 2. Peningkatan prevalensi karies gigi berhubungan dengan perubahan sosial. pengaruh lingkungan yang kurang menunjang seperti status gizi. kesehatan umum yang buruk pada masa anak-anak. sebagai unit pelayanan primer yang memberikan pelayanan dasar langsung kepada masyarakat mutlak diperlukan. pendidikan. dan progresif. kumulatif. 1. Kedua penyakit tersebut menimbulkan gangguan fungsi mengunyah. Prevalensi penyakit karies dan periodontal ini di Indonesia bersifat menyeluruh dan keadaan menjadi lebih tidak menguntungkan karena majemuknya peduduk dan keadaan geografik.

kurang menguntungkan bagi kesehatan dan tingkat perkembangan sosial ekonomi dalam masyarakat itu sendiri sangat mempengaruhi keadaan tersebut. naka upaya peningkatan/pencegahan dan pembinaan peran serta masyarakat dalam upaya pemeliharaan diri (self-care) harus dilaksanakan lebih efektif dan terarah baik terhadap kelompok khusus yang rentan terhadap penyakit gigi dan mulut maupun terhadap masyarakat umum. 190 . Dengan meningkatnya prevalensi penyakit periodontal dan karies gigi pada Pelita IV.

anak prasekolah dan anak sekolah dasar. pengembangan. pemeliharaan kebersihan mulut dan perlindungan (tooth brushing campaign. diikuti dalam suatu kurun waktu secara berkesinambungan. pengobatan. baik kegiatan di dalam maupun di luar gedung Puskesmas. Pelayanan asuhan sistematik adalah suatu bentuk upaya pembinaan kesehatan gigi dan mulut yang terarah. pengendalian. penilaian upaya kesehatan gigi secara menyeluruh. Upaya pelayanan khusus adalah upaya kuratif. Yang dimaksud dengan teknologi tepat guna adalah teknologi yang mengacu pada: a) Masalah kesehatan gigi masyarakat setempat 191 . yang bersifat umum yang dapat dilaksanakan terintegrasi dengan kegiatan pokok Puskesmas lainnya serta dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan lain dengan dukungan partisipasi aktif masyarakat dengan memanfaatkan teknologi tepat guna. rehabilitatif dan upaya perlindungan khusus (specific protection) dan pelayanan asuhan sistematik kesehatan gigi dan mulut. terencana ditujukan kepada kelompok tertentu. keluarga dan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas dengan prioritas masyarakat kelas menengah dan bawah khususnya kelompok masyarakat yang rawan terhadap penyakit gigi dan mulut. Kelompok masyarakat yang rawan terhadap penyakit gigi dan mulut adalah kelompok ibu hamil/menyususi. 3. 4. kumur-kumur Fluor. pencegahan. Upaya kesehatan gigi dasar paripurna adalah upaya kesehatan gigi esensial yang terbanyak dibutuhkan oleh masyarakat meliputi upaya peningkatan. 5.BAB II PENGERTIAN Upaya kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas adalah upaya kesehatan gigi dasar paripurna yang ditujukan kepada individu. 2. dan pemulihan dengan diutamakan pada upaya peningkatan/pencegahan. 6. Di samping memberikan pelayanan khusus tenaga kesehatan gigi juga bertanggung jawab melaksanakan pembinaan. 1. Upaya kesehatan gigi yang bersifat umum adalah upaya kesehatan gigi dan mulut yang bersifat peningkatan pencegahan umum (mass prevention) meliputi penyuluhan kesehatan gigi dan mulut. Upaya tersebut meliputi upaya kesehatan gigi yang bersifat pelayanan khusus yang hanya dapat dilaksanakan oleh tenaga kesehatan gigi dan upaya kesehatan gigi. Fluoridasi air minum).

dan lainlain) c) Terjangkau oleh masyarakat d) Diterima oleh masyarakat baik pemberi maupun penerima pelayanan e) Sesuai dengan azas manfaat secara berdaya guna dan berhasil guna Untuk meningkatkan fungsi puskesmas sebagai pusat pengembangan. 192 . petugas puskesmas harus bekerja sama dalam tim dan membina kerja sama lintas program maupun lintas sektoral. pusat pembinaan. peralatan.b) Sumber daya yang tersedia di masyarakat (seperti tenaga. Demikian pula dalam penyelenggaraan upaya kesehatan gigi dan mulut sebagai salah satu kegiatan pokok puskesmas. dan pembinaan peran serta masyarakat. dana. dan pusat pelaksana upaya kesehatan. pencegahan. perlu adanya kerjasama antara petugas kesehatan gigi dengan petugas kesehatan lainnya terutama dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan upaya peningkatan. Penggalangan kerja sama tim ini dilaksanakan dalam bentuk kegiatan Lokakarya Mini Puskesmas. maka dalam melaksanakan kegiatan pokok puskesmas secara terpadu.

Menurunnya prevalensi penyakit gigi dan mulut yang banyak diderita masyarakat (karies dan periodontitis) dengan upaya perlindungan/pencegahan tanpa mengabaikan upaya penyembuhan dan pemulihan. Tujuan Umum: Tercapainya derajat kesehatan gigi masyarakat yang layak (optimal). 2. Terhindarnya/berkurangnya gangguan fungsi kunyah akibat kerusakan (penyakit) gigi dan mulut.BAB III TUJUAN A. sikap dan perilaku masyarakat dalam kemampuan pelihara diri (self-care) di bidang kesehatan gigi dan mulut dan mencari pengobatan sedini mungkin. Meningkatnya kesadaran. 3. 193 . B. terutama pada kelompok masyarakat yang rawan. Tujuan Khusus: 1.

Pembinaan/pengembangan kemampuan dan peran serta masyarakat dalam upaya pelihara diri (self-care). Langkah-langkah kegiatan adalah sebagai berikut: 1) Kegiatan KIE           Pendekatan lintas program/lintas sektoral Persiapan desa Latihan kader Diagnosis masalah (community self survey) Umpan balik Pelaksanaan kegiatan 2) Pelayanan oleh kader Penyuluhan tentang pemeliharaan tentang kesehatan gigi dan mulut Pemeriksaan sepintas Pengobatan sederhana Rujukan 3) Monitoring 194 .BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN KEGIATAN Untuk mencapai tujuan tersebut. melalui pengembangan upaya lesehatan yang bersumber pada otoaktifitas masyarakat dengan PKMD dalam wadah LKMD (program UKGM). maka upaya kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas dilaksanakan dalam bentuk kegiatan sebagai berikut: A. Kegiatan diintegrasikan dengan upaya kesehatan lainnya yang berhubungan dengan pembinaan peran serta masyarakat. yang sejak 1984 secara operasional diintegrasikan pula melalui Posyandu dan Saka Bhakti Husada.

Posyandu) Kegiatan berupa: 195 . SMTA. dan SLB. Rujukan bagi yang perlu pengobatan Tahap II (Paket Optimal) Sudah ada sarana/tenaga kesehatan gigi yang terbatas. kegiatan dilaksanakan oleh tenaga kesehatan lain dan guru orkes. selanjutnya program ini akan dikembangkan ke tingkat SMTP. Upaya preventif berupa kegiatan bimbingan. baik di dalam maupun di luar gedung Puskesmas (T.K.B. berupa:    Upaya promotif oleh guru dengan materi sesuai kurikulum ORKES. kegiatan berupa:    Upaya promotif oleh guru Upaya preventif (sikat gigi bersama. pembersihan karang gigi) Upaya kuratif (pengobatan dasar pada murid yang memerlukan pengobatan) Tahap III (Paket Paripurna) Sudah ada tenaga/sarana kesehatan gigi yang lengkap. Pada anak sekolah Upaya kesehatan gigi dan mulut pada anak sekolah. pembersihan karang gigi. kegiatan berupa:    Upaya promotif oleh guru Upaya preventif (sikat gigi bersama. anak pra-sekolah Kegiatan diintegrasikan dengan kegiatan KIA. perlindungan dengan Fluor. aplikasi Fluor) Upaya kuratif berupa pengobatan atas permintaan pada murid kelas I-VI dan pengobatan komprehensif pada murid kelas selektif sesuai kondisi penyakit setempat. Pelayanan asuhan pada kelompok rawan 1. Pada kelompok ibu hamil/menyusui. pada Pelita IV baru mencapai anak tingkat pendidikan dasar (STPD). pembinaan pelihara diri (paket sikat gigi bersama). 2. sebagai berikut: Tahap I (Paket Minimal): Upaya kesehatan gigi di SD yang belum terjangkau oleh tenaga kesehatan gigi. dengan kegiatan yang bertahap disesuaikan dengan kemampuan tenaga dan sarana yang ada. Di tingkat STPD upaya kesehatan gigi merupakan suatu paket pelayanan asuhan sistemik.

Kegiatan:      Memberikan pelayanan medik gigi dasar pada penderita yang berobat maupun yang dirujuk Merujuk kasus-kasus yang tidak dapat ditanggulangi ke sarana pelayanan yang lebih mampu Memberikan penyuluhan secara individu maupun kelompok Memelihara kebersihan (higiene klinik) Memelihara merawat peralatan/obat-obatan D. proses. pemulihan. Pencatatan/Pelaporan Berbagai hal yang berkaitan dengan masukan. Pelayananan meliputi pengobatan.     Penyuluhan oleh bidan/perawat gigi Pemeriksaan sepintas oleh bidan Rujukan Pemeriksaan dan rencana perawatan oleh tenaga kesehatan gigi (terutama pada ibu hamil) Pencatatan C. di samping penyuluhan secara individu maupun kelompok terhadap pengunjung Puskesmas. Untuk memperluas jangkauan pelayanan. pencegahan khusus. 196 . dan keluaran upaya kesehatan gigi direkam secara terpadu dalam Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas. bagi masyarakat (penderita) yang jauh dari Puskesmas dijangkau melalui pelayanan Puskesmas Keliling maupun Klinik Gigi Lapangan (untuk anak-anak sekolah dasar). Pelayanan Medik Gigi Dasar Pelayanan medik gigi dasar di Puskesmas dilaksanakan terhadap masyarakat yang dating mencari pengobatan maupun yang dirujuk.

 Upaya pelayanan pengobatan komperhensif pada anak sekolah mencakup 80% dari murid kelas selektif yang memerlukan perawatan.  Upaya peningkatan/pencegahan pada anak sekolah (kegiatan menyikat gigi bersama) dilaksanakan di 80% SD. 197 . target (sasaran) yang ingin dicapai.  Frekuensi pembinaan petugas kesehatan ke desa dilaksanakan minimal 3 kali dalam setahun.  Upaya pelayanan pengobatan mencakup 4% dari penduduk wilayah puskesmas.  Peran serta masyarakat (kader kesehatan) dalam penyuluhan. rujukan mencakup 20% penduduk desa binaan. sesuai dengan Stratifikasi Puskesmas adalah sebagai berikut:  Pembinaan peran serta masyarakat dalam upaya pelihara diri (program UKGMD) dilaksanakan di 60% desa.SASARAN Dalam melaksanakan kegiatan/upaya kesehatan gigi di Puskesmas.  Frekuensi pembinaan petugas kesehatan dalam bidang kesehatan gigi dan mulut ke SD dilaksanakan minimal 2 kali pertahun per SD. pengobatan sederhana.

BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS LEBAK BULUS 1. guru TK POSYANDU Tiap bulan Rumah Kader yang ditentukan Rumah kader yang ditentukan PAUD 2-3 kali/minggu b. Insisi abses n. Operasi gigi miring (odontectomy) j. Pembuatan gigi palsu m. UKGM SASARAN Pasien yang datang berobat ke Unit Pelayanan Gigi WAKTU Senin – Jumat Pkl : 07. Alveolectomy ( pembuangan tulang) i. Jahit 1-5 simpul k. Pembersihan karang gigi Luar Gedung a. kader. petugas Puskesmas. TK Setiap tahun ajaran baru Seluruh TK se-kelurahan Dokter gigi. guru SD 198 . Pencabutan gigi tetap dengan penyulit d. Tambalan fuji g. Jahit lebih dari 5 simpul l. Tambalan light curing (sinar) h. Tambalan amalgam f. Siswa Sekolah Dasar kelas 1. Setiap tahun ajaran baru SD setempat. Tambalan gigi sementara e. UKGS Tahap 2  Pemeriksaan gigi kelas 1-6  Penyuluhan demonstrasi sikat gigi  Pembersihan karang gigi  Pencabutan gigi sulung yang persistensi  Pengobatan atas permintaan Tahap 3  Sama dengan tahap 2. kader. namun pada anak kelas 4-5 terdapat perawatan paripurna. petugas Puskesmas. Puskesmas Kelurahan Lebak Bulus PELAKSANA Dokter gigi dan perawat gigi 2. Pencabutan gigi susu b. KEGIATAN Dalam Gedung a. Pencabutan gigi tetap sederhana c.30 – selesai TEMPAT Unit Pelayanan Gigi.6. yang telah ditentukan Puskesmas kecamatan Dokter gigi.

Peningkatan pengetahuan. Pelayanan Puskesmas    Peningkatan kesadaran. Pembinaan Kesehatan Wilayah    Peningkatan kegiatan peran serta masyarakat dalam upaya peningkatan kesehatan gigi dan mulut. Terselenggaranya pelayanan kesehatan holistic. paripurna terpadu pada kegiatan pelayanan medik rawat jalan dan kesehatan reproduksi dengan perhatian pada penyakit gigi dan mulut.  Kepuasan pengguna jasa pelayanan kesehatan gigi dan mulut akan pelayanan yang didapatnya. Penurunan angka karies di wilayah Puskesmas. sikap dan perilaku perihal kesehatan gigi mulut dari kader kesehatan (Posyandu. guru sekolah) yang telah dibina. kemauan dan kemampuan provider perihal kesehatan gigi dan mulut. Terselenggaranya penyuluhan kesehatan gigi mulut terpadu pada kegiatan di Puskesmas dan wilayahnya. B. 199 .INDIKATOR KEBERHASILAN A.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Upaya kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas adalah upaya kesehatan gigi dasar paripurna yang ditujukan kepada individu. yang dapat menyebabkan terganggunya dalam mengkonsumsi makanan. pencegahan khusus. di samping penyuluhan secara individu maupun kelompok terhadap pengunjung Puskesmas. Sehingga kelompok masyarakat yang rawan terhadap penyakit gigi dan mulut dapat terhindar dari penyakit-penyakit ini. keluarga dan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas dengan prioritas masyarakat berpenghasilan rendah khususnya kelompok masyarakat yang rawan terhadap penyakit gigi dan mulut. sikap dan perilaku masyarakat dalam kemampuan pelihara diri (selfcare) di bidang kesehatan gigi dan mulut dan mencari pengobatan sedini mungkin. Penyakit gigi dan mulut yang menjadi masalah kesehatan masyarakat dewasa ini adalah penyakit/kelainan pada jaringan penyangga gigi (periodontal disease) dan penyakit karies gigi. pemulihan. Oleh karena itu pelayanan medik gigi dasar di Puskesmas dilaksanakan terhadap masyarakat yang datang mencari pengobatan maupun yang dirujuk. 200 . SARAN Supaya tercapainya derajat kesehatan gigi masyarakat yang layak. Kedua penyakit tersebut menimbulkan gangguan fungsi kunyah. Pelayananan meliputi pengobatan. maka perlu ditingkatkannya kesadaran.

html 5. http://www. http://www. Hipokrates.blogspot.co. Ed. 3. Lilian Yawono.com 4.kalbe. JO. 2. Pedoman Kerja Puskesmas Jilid IV. Forest. Departemen Kesehatan RI. http://nevhablue. Ke-2. 114-115.pdf/06_50_KegiatanPenelitianLingkunagnDirektoratKesehatanGigi. 1995.1-9. Jakarta.depkes.go.Pencegahan Penyakit Mulut.DAFTAR PUSTAKA 1.id/files/cdk/files/06_50_KegiatanPenelitianLingkunganDirektoratKe sehatanGigi.id/index. A. alih bahasa drg. Adyatmaka.php?option=articles&taskviewarticle&artid=323&Itemid=3 201 . 1990.

LAMPIRAN 202 .

111) (030.UPAYA KESEHATAN JIWA Penyusun : Hengky Stephanie Salim (030.06.06.252) 203 .

terutama urbanisasi.25 per 1000 penduduk dan menurut WHO adalah 1-3 per 1000 penduduk. 204 . Sebagai hasil pembangunan nasional terjadi peningkatan taraf pendidikan dan sosial masyarakat dan hal ini menimbulkan pergeseran tipe penyakit yang terdapat dalam masyarakat dari kelompok penyakit menular ke kelompok penyakit tidak menular. dan diperkirakan jumlah pasien penyalahgunaan obat dan alkohol yang terdapat dalam masyarakat kurang lebih 100. 2. mental. 5. 4. Pertumbuhan penduduk yang tidak seimbang dengan pertumbuhan ekonomi. dan pada gilirannya menigkatkan kebutuhan akan pelayanan kesehatan jiwa. Prevalensi neurosis dan gangguan psikosomatik adalah 98 per 1000 penduduk. cacat dan kelemahan tapi benar-benar merupakan kondisi yang positif dari kesejahteraan fisik. sedang angka menurut WHO adalah 8-10 per 1000 penduduk. Prevalensi penyalahgunaan obat dan alkohol belum ada dengan pasti namun dari data rumah sakit tercatat 10. dan sosial yang memungkinkan seseorang untuk hidup produktif. didapat angka-angka morbiditas gangguan jiwa sebagai berikut: 1. Prevalensi psikosis: 1. Pada suatu penelitian yang dilakukan di USA didapatkan bahwa 2-5% dari populasi menderita ansietas dan 10% dari populasi pernah mengalami depresi. pergeseran nilai-nilai hidup. 3. polusi informasi dan gaya hidup yang merusak kesehatan seperti merokok. perubahan sosial yang cepat.26 per 1000 penduduk. minum alkohol dan penyalahgunaan obat.000 orang. Prevalensi epilepsi adalah 0. Prevalensi retardasi mental: 1. sedang angka WHO untuk neurosis adalah 20-60 per 1000 penduduk. Kesehatan dalam hal ini diartikan sebagai suatu kondisi yang bukan hanya bebas dari penyakit. Dari hasil survei epidemiologi gangguan jiwa yang dilakukan di beberapa tempat di indonesia.000 pasien.6 per 1000 penduduk di pedesaan angka menurut WHO adalah 1-3 per 1000 penduduk. Demikian pula halnya dengan adanya penyebaran dan imigrasi penduduk yang timpang.44 per 1000 penduduk di perkotaan dan 4.BAB I PENDAHULUAN Tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan terciptanya derajat kesehatan masyarakat yang optimal. dapat menimbulkan berbagai masalah psikososial yang mempengaruhi taraf kesehatan jiwa masyarakat.

merupakan unsur penentu keberhasilan upaya ini. Pelayanan kesehatan jiwa di puskes Cilandak meliputi kegiatan di dalam dan di luar gedung.Angka tersebut diatas menggambarkan bahwa kesehatan jiwa merupakan masalah masyarakat. harm reduction. namun skrining gangguan jiwa tetap dilakukan di unit pelayanan umum.penyuluhan kesehatan dan perilaku sexsual yang dilakukan di smu sekecamatan Cilandak dengan tujuan meningkatkan pengetahuan perilaku sexual yang benar sehingga terjadi penurunan angka penyimpangan sexual di remaja. Kegiatan dalam gedung meliputi pengobatan. konsultasi pasien-pasien yang datang ke UKKR maupun pasien-pasien rujukan internal dari unit pelayanan yang lain .Unit pelayanan UKKR merupakan salah satu unit pelayanan semi spesialistik di kecamatan Cilandak. Dengan menggunakan azas-azas kesehatan jiwa dalam pelayanan kesehatan di Puskesmas maka tujuan pelayanan kesehatan paripurna akan tercapai karena pelayanan yang diberikan adalah sebagai manusia seutuhnya. Dalam pelaksanaan pembinaan dan pengembangan kesehatan jiwa di puskesmas. Saat ini Puskesmas kelurahan Lebak Bulus belum mempunyai poli khusus ataupun unit khusus yang melayani kesehatan jiwa. Terdapat pula pelayanan kesehatan jiwa yang disebut dengan CMHN (Community Mental Health Nursing) lakukan oleh para petugas Puskesmas dimana mereka mengunjungi rumah-rumah penduduk yang memiliki atau dicurigai memiliki gangguan jiwa melalui laporan dari penduduk sekitar. Sedangkan di puskesmas kecamatan Cilandak mempunyai satu poli khusus / unit pelayanan jiwa yang tergabung di dalam UKKR (unit konsultasi keluarga dan remaja). Pelayanannya meliputi kesehatan jiwa. dengan tujuan pengenalan dini gangguan jiwa (early detection).kegiatan rujukan yang memadai (adequate referral). Upaya ini dapat berhasil bila mendapat dukungan dan peran serta masyarakat melalui kerjasama dengan Puskesmas dimana unsur masyarakat merupakan hal yang sangat penting dan menentukan keberhasilan upaya kesehatan jiwa di Puskesmas. 205 . Kerjasama tersebut dapat dAijabarkan secara operasional dalam lokakarya mini yang akan menampilkan peranan staf puskesmas yang didukung oleh mobilisasi tenaga. napza. dan teknologi.memberikan upaya pertolongan pertama pada pasien-pasien dengan gangguan jiwa (primary treatment).vct. masyarakat termasuk swasta yang terkait. Untuk kegiatan luar gedung sama dengan puskesmas kelurahan Lebak Bulus yaitu CMHN (Community Mental Health Nursing). Puskesmas juga secara rutin melakukan pencatatan dan pelaporan. obat. peralatan.

gaduh gelisah. neurosa cemas. sedang. sbb: 0801 Gangguan Psikotik: gelandangan psikotik. Kesehatan Jiwa adalah perasaan sejahtera dan bahagia. mampu mengatasi tantangan kehidupan. Gangguan Kesehatan Jiwa Gangguan Kesehatan Jiwa: Terganggunya kesehatan jiwa seseorang. dan perkembangannya 206 . 0802 Gangguan Neurotik: gangguan psikosomatik.23/1992 pasal 1): Sehat adalah keadaan sejahtera dari badan. anak dan remaja. depresi. seperti yang diklasifikasikan dalam kode diagnosis di Puskesmas. dll. yang dapat berwujud masalah psikososial atau gangguan jiwa. 0804 Gangguan Kesehatan Jiwa bermula pada bayi. Masalah psikososial: Gangguan kesehatan jiwa yang dilatarbelakangi oleh masalah-masalah sosial dan psikologik. 0803 Retardasi Mental: (ringan. Kesehatan Jiwa Sehat ( UU tentang kesehatan no. dapat menerima orang lain sebagaimana adanya. seperti kenakalan remaja. Gangguan Jiwa: Gangguan jiwa yang dapat dideteksi secara klinis. kriminalitas.BAB II PENGERTIAN A. jiwa dan sosial. korban pasung. mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain. B. berat). seperti yang dimaksud dengan penjelasan pada butir 1 di atas. disharmoni keluarga. yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi.

psikomotor) . gangguan seks. gangguan kepribadian. lingkungan pekerjaan. kejang demam pada anak. C. maupun emosional dan sosial. pemeliharaan dan peningkatan kesehatan jiwa. didukung sarana pelayanan kesehatan jiwa dan sarana lainnya. 0806 Epilepsi: (gran mal. baik intelektual. b.25/1992 pasal 24) a. petit mal. iii.0805 Penyakit Jiwa lainnya: penyalahgunaan narkotik/ zat adiktif. ii. meliputi: i. Upaya yang diselenggarakan untuk mewujudkan jiwa yang sehat secara optimal. 207 . Upaya Kesehatan Jiwa (UU Kesehatan no. lingkungan masyarakat. lingkungan keluarga. penyembuhan dan pemulihan penderita gangguan jiwa. lingkungan sekolah. pencegahan dan penanggulangan masalah psikososial dan gangguan jiwa. Kesehatan jiwa dilakukan oleh perorangan.

208 . Jumlah penyalahgunaan obat dan alkohol 100. Angka depresi 1% dari populasi. Angka epilepsi 0. 4. 2.BAB III TUJUAN A. 6. Angka retardasi mental 1.TUJUAN UMUM Tercapainya derajat kesehatan jiwa yang optimal bagi seluruh masyarakat. baik dari segi jasmani. Memberikan perhatian secara menyeluruh dan terinci terhadap semua aspek kehidupan pasien yang berkunjung.44-4. 2. anak. B. 5.6 per 1000 penduduk. 4. melalui peningkatan kesehatan jiwa secara terpadu.000 orang. Meningkatnya mutu dan jangkauan pelayanan kesehatan jiwa di Puskesmas untuk mencegah dan mengurangi masalah psikososial dan gangguan kesehatan jiwa di masyarakat. Bila mungkin menurunkan atau mempertahankan angka-angka yang telah diperoleh sesuai dengan survei epidemiologi gangguan jiwa yaitu: 1. Meningkatkan kepekaan petugas agar dapat mendeteksi gangguan kesehatan jiwa secara dini setiap pengunjung Puskesmas yang berobat.26 per 1000 penduduk. Angka psikosis 1. usila) dengan sebaik-baiknya. remaja. maupun segi mentalemosional dan sosialnya. Tujuan Pelayanan Kesehatan Jiwa Terpadu: 1. Angka anxietas 2-5% dari populasi. 3. 2. Meningkatkan hubungan interpersonal antar petugas kesehatan Puskesmas dengan pasien dan keluarganya.TUJUAN KHUSUS 1. Memberikan pengobatan rasional dan terapi lain yang diperlukan secara lebih berdaya guna dan berhasil guna. Meningkatnya mutu pelayanan kesehatan Puskesmas pada umumnya. dewasa.25 per 1000 penduduk. 5. 3. Mengelola kasus gangguan kesehatan jiwa pada pengunjung Puskesmas (bayi.

dengan menggunakan teknologi tepat guna yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat. khususnya kelompok rawan tanpa mengabaikan kelompok lainnya. Kegiatan rujukan yang memadai (adequate referral).BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN Upaya kesehatan jiwa di puskesmas adalah upaya kesehatan jiwa yang dilaksanakan di tingkat puskesmas secara khusus atau terintegrasi dengan kegiatan pokok puskesmas lainnya. Pengenalan dini gangguan jiwa (early detection). 2. 4. 209 . Menangani gangguan jiwa dari setiap kelompok umur mulai dari anak. keluarga. 3. Mengingat hal tersebut diatas maka dalam pelayanan puskesmas diharapkan dapat: 1. Kegiatan upaya kesehatan jiwa tersebut dilaksanakan melalui: 1. Menangani gangguan jiwa baik akut maupun kronik yang dapat terjadi pada setiap manusia maupun kelompok masyarakat hingga dapat menurunkan angka kesakitan pasien gangguan jiwa. Dengan adanya pelayanan ini. dapat diperolah gambaran penyakit dalam masyarakat tertentu yang dapat dipertanggungjawabkan melalui suatu pengumpulan data di puskesmas. Selain itu diharapkan juga agar puskesmas dapat melaksanakan terapi lanjutan(follow up) dari mereka yang sudah selesai perawatannya di rumah sakit jiwa. Memberikan penyuluhan sehingga masyarakat dapat memanfaatkan azas dasar kesehatan jiwa dalam kehidupannya. dewasa dan usia lanjut dengan memanfaatkan azas-azas kesehatan jiwa. remaja. masyarakat dan diutamakan pada masyarakat berpenghasilan rendah. 2. 3. dengan demikian akan meringankan beban dari pasien. Menilai lebih sensitif dan waspada terhadap kemungkinan keterlibatan emosional pada keluhan-keluhan atau gejala yang ditujukan pasien sewaktu berobat. Memberikan upaya pertolongan pertama pada pasien-pasien dengan gangguan jiwa (primary treatment). yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan puskesmas dengan dukungan peran serta masyarakat baik di dalam gedung maupun di luar gedung puskesmas yang ditujukan pada individu.

Penderita gangguan jiwa tidak selalu abnormal tingkah lakunya.Penjelasan: 1. dan sering kelainan yang ditujukan hanyalah berdasarkan keluhan saja. mengusahakan keseimbangan jiwa dengan menyesuaikan penempatan tenaga selaras dengan bakat dan kemampuan c. adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik.Oleh karena itu semua petugas puskesmas sebaiknya mengetahui azas dasar kesehatan jiwa. Makna kesehatan jiwa mempunyai sifat-sifat yang harmonis(selaras) dan memperhatikan semua segi dalam kehidupan manusian dan dalam hubungan dengan manusia lain. Untuk mencapai kondisi yang dimaksud maka pemerintah telah mengarahkan upaya penting antara lain: a. 2. memelihara kesehatan jiwa dalam pertumbuhan dan perkembangan anak b. Pelayanan kesehatan jiwa Pelayanan kesehatan jiwa yang dilakukan oleh dokter/staf puskesmas terhadap individu dengan memberikan obat-obat psikofarmaka bila diperlukan serta pemecahan masalah yang dihadapi pasien dan keluarga. Beberapa sifat yang dapat dipakai sebagai pegangan dalam pemeriksaan yaitu seseorang yang sehat jiwanya adalah seorang yang: 210 . mempertinggi taraf kesehatan jiwa seseorang dalam hubungannya dengan keluarga dan masyarakat Mengingat hal tersebut diatas maka telah digariskan beberapa kebijaksanaan yang pada prinsipnya menjabarkan dan menterjemahkan lingkup kesehatan jiwa secara praktis dan kongkrit. Kesehatan jiwa (mental health) Menurut faham ilmu kedokteran pada saat ini. Hampir semua penyakit fisik mengandung segi kejiwaan dan dengan pendekatan kesehatan jiwa yang baik akan bermanfaat dalam menghadapu semua penderita. Secara relatif arti jiwa sehat dan jiwa sakit berbeda menurut pola sosial dan budaya suatu masyarakat. perbaikan tempat dan suasana kerja d. dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan orang lain. intelektual.

bertengkar. Suatu waktu dapat saja ia merasa kurang gembira. b. mempunyai emosi yang tenang. Upaya pokok Kesehatan Jiwa di Puskesmas adalah upaya yang dilaksanakan. maupun lingkungan tempat tinggal atau tempat kerja. mereka mempunyai masa kanak-kanak yang bahagia. maupun seecara khusus oleh 211 . ia menghadapi kehidupan dengan segala persoalan serta ia dapat menikmati karuniaNya c. dan marah-marah. pembinaan dan pengembangan upaya kesehatan jiwa masyarakat setempat. ia cukup bahagia dalam kehidupannya dan dapat bergaul dengan baik dalam keluarga dengan anak-anaknya. pujian dan dorongan serta disiplin yang sehat. Beberapa hal penting yang harus diperoleh dalam masa kanak-kanak adalah:cinta. Dengan demikian. Kegiatan dalam puskesmas Terpadu dengan kegiatan pokok puskesmas lainnya. kegiatan khusus yaitu penyuluhan kesehatan jiwa dalam rangka pencegahan dan pengobatan gangguan jiwa sedini mungkin. baik secara terpadu dalam upaya kesehatan pokok lainnya. 4. rasa benci dan rasa cemas. dapat memelihara keseimbangan jiwanya secara mantap. penuh pengertian serta dapat mengambi keputusan dan memiliki tanggung jawab. penilaian. serta memberian pelayanan khusus bila diduga adanya faktor psikologi sebagai penyebab (lihat pelayanan khusus). karena tata cara kehidupan pada masa kanak-kanak adalah sangat penting artinya dalam perkembangan menjadi dewasa.a. perencanaan pelaksanaan. Peran serta masyarakat Peran serta masyarakat adalah peran serta masyarakat baik sebagai key person maupun sebagai konsumen dalam pemecahan masalah kesehatan jiwa setempat. tapi pada umumnya ia relatif bebas dari rasa khawatir. 5.kasih sayang. yaitu cukup tabah. Kegiatan diluar puskesmas Terpadu dengan kegiatan pokok puskesmas lainnya. 3.

Kelompok masyarakat: 1. b. Kunjungan Rumah A. terdiri dari kegiatan pokok dan kegiatan penunjang. Penyuluhan 2. Anak balita/ anak usia SD. Sasaran: i. Pengorganisasian LSM dan potensi masyarakat dalam upaya kesehatan jiwa. iii. Rujukan Kasus 3. Kegiatan: i. sebagai kegiatan di dalam gedung dan di luar gedung. Konsultasi Kesehatan Jiwa bagi petugas 4. Lembaga swadaya masyarakat. Pelayanan Pengobatan b. 5. Pramuka. Penyuluhan kesehatan jiwa secara khusus sesuai dengan kebutuhan dan jadwal kerja. dll). 3. Karang Taruna. Organisasi kepemudaan (OSIS. ii. Guru. KEGIATAN POKOK 1. terdiri dari: 1. Tokoh masyarakat. Perorangan pada setiap pasien yang berkunjung ke Puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya (Posyandu. dll). terdiri dari: 1. Kegiatan penunjang. ii. 2. Penyuluhan kesehatan jiwa secara terpadu dalam program penyuluhan kesehatan Puskemas lainnya. sbb: a. 2. Pelayanan Pengobatan 212 . Anak usia remaja (SLTP/SLTA). Kegiatan pokok. 4. 6. 7. Pencatatan dan Pelaporan 2.Puskesmas. Orang tua. Penyuluhan a. PMR. Pusling.

a. Diagnosis kerja dapat bersifat ganda (fisik dan mental) . sebagai orang yang perlu didengar. UKS. anak usia SD. pemeriksaan. Sasaran: Semua pasien yang memperoleh pelayanan kesehatan/ pengobatan. b. perlu dideteksi kemungkinan adanya faktor mental-emosional yang mempengaruhi keadaan jasmaninya. tetapi semua pasien yang datang. orang dewasa. ASKES. dimulai dari anamnesis. terbuka dan menghargai setiap pasien. vi. mencatat dan melaporkannya. usila). ramah. viii. baik aspek fisik. maupun aspek mental-emosional dan sosial. Untuk itu pasien diupayakan antri dan tidak bergerombol pada meja petugas. ditolong dan dilayani dengan sebaik-baiknya. Diperlukan ruang anamnesis/ pemeriksaan yang memungkinkan pasien menyampaikan keluhan pribadinya secara bebas. Pemeriksaan harus dilaksanakan secara lege artis. sehingga kesehatan jiwa memegang peranan yang sangat penting dalam kesehatan. dll). sehingga petugas dapat mengelola gangguan kesehatan jiwa yang terdapat pada setiap pasien yang berobat dengan sebaik-baiknya. Prinsip: i. vii. ii. KIA. baik di dalam maupun di luar gedung Puskesmas. v. iv. diagnosis dan terapi. Pelayanan tidak ditujukan hanya untuk pasien gangguan jiwa. dll). remaja. Pusling. Kegiatan: Terpadu dalam pelayanan kesehatan umum (BP. 213 . Pelayanan kesehatan jiwa dilaksanakan terpadu dalam setiap pemberian pelayanan kesehatan yang dilaksanakan baik di dalam gedung maupun di luar gedung Puskesmas (BP. Setiap pasien yang datang dengan keluhan gangguan kesehatan jasmani. sopan. KIA. Petugas Puskesmas bersikap empati. Petugas kesehatan memandang manusia secara menyeluruh (holistik). pada semua golongan umur (bayi. baik pada anak maupun dewasa. balita. iii. UKS.

B. KEGIATAN PENUNJANG 1. Pencatatan dan Pelaporan Kegiatan: a. Mencatat data dan hasil pemeriksaan pelayanan kesehatan jiwa terpadu setiap pasien pada kartu Status/ Rawat Jalan Puskesmas; b. Mencatat hasil pemeriksaan pelayanan kesehatan jiwa semi-spesialistik pada kartu rawat jalan; c. Mengumpulkan data jumlah gangguan kesehatan jiwa setiap hari pada laporan khusus yang tersedia; d. Mengirimkan laporan bulanan kepada Suku Dinas/ Dinas Kesehatan pada setiap akhir bulan; e. Mencatat dan melaporkan kasus gangguan jiwa pada SP2TP sesuai petunjuk. Sasaran: a. Puskesmas Kelurahan; b. Puskesmas Pembina. 2. Rujukan Kasus Kegiatan: a. Mengirim pasien untuk dirujuk; b. Menerima pasien rujukan. Sasaran: a. Pasien yang perlu perawatan inap b. Pasien yang perlu tindakan khusus/ spesialistik. 3. Konsultasi Kesehatan Jiwa bagi petugas Kegiatan: a. Koordinator Jiwa Suku Dinas Kesehata menyiapkan acara konsultasi kesehatan jiwa di setiap wilayah krjanya (1 bulan 1-2 kali); b. Setiap Puskesmas menyiapkan masalah yang akan dikonsultasikan, disertai data dan laporan program selama ini dan psikiater pembina membahas masalah yang dikonsultasikan; c. Psikiater pembina membuat laporan konsultasi kesehatan jiwa tersebut dan melaporkan ke Direktur RS Jiwa Jakarta dan Kepala Pusat Pembinaan Kesehatan Jiwa Dinas Kesehatan DKI Jakarta sebagai koordinator; d. Secara berkala konsultasi kesehatan jiwa diadakan di Puskesmas Pembina, agar dapat menjangkau Puskesmas di sekitarnya.
214

Sasaran: a. Dokter/ perawat di Puskesmas Pembina/ Puskesmas yang telah mengikuti penataran/ pelatihan dan melaksanakan pelayanan BP; b. Dokter/ perawat Puskesmas lainnya yang berminat. 4. Kunjungan Rumah Kegiatan: a. Petugas berkoordinasi dengan kader masyarakat (Posyandu, PKK, dll); b. Petugas melaksanakan kunjungan rumah bersama kader masyarakat secara terpadu dalam program kunjungan rumah; c. Petugas menangani kasus gangguan jiwa sesuai dengan kemampuannya; d. Petugas melaksanakan penyuluhan kesehatan jiwa pada masyarakat sesuai kebutuhan. Sasaran: a. Masyarakat b. Pasien Puskesmas

Pelayanan Kesehatan Jiwa 1. kegiatan terintegrasi( lihat lampiran 1) 2. kegiatan khusus( lihat lampiran 2)

Untuk menentukan diagnosis gangguan jiwa dari seorang pasien maka hal penting yang harus dilakukan adalah: a. anamnesa/pengambilan kisah 1. autoanamnesa -wawancara langsung dengan pasien tentang hal-hal yang dirasakan/dikeluhkan -anamnesa kemudian dilanjutkan dengan menyelami latar belakang dan kehidupan pasien(sosial,ekonomi,pendidikan dan budaya), asal kelahirannya, pekerjaannya dan beberapa hal yang mungkin menarik perhatian. -ikut sertakan keluarga dalam wawancara dengan penderita, kecuali bila anda merasa pasien atau keluarganya meberi kesan bahwa mereka canggung atau tidak

menginginkannya. Dalam hal demikian adakan wawancara secara terpisah dengan keluarganya.

2. alloanamnesa
215

wawancara dengan keluargan pasien atau orang yang mengantarkan pasien. Ditanyakan hal-hal yang berhubungan kemungkinan timbulnya gangguan jiwa pada pasien. Bila mungkin ditanyakan perjalanan penyakit dari pasien, keadaan kehidupan pasien seharihari, hubungan pasien dengan orang lain dan sebagainya.

b. Pemeriksaan fisik 1. secara umum diperiksa tensi,nadi,suhu dan pernapasan pasien 2. pemeriksaan neurologik dilakukan untuk mengetahui adakah gangguan kesadaran, kelumpuhan, rudapaksa pada kepala, gangguan fungsi luhur dan perasaan/perabaan pada tubuh dan gejala neurologik lain seperti kejang, kaku kuduk dan sebagainya.

c. laboratorium pemeriksaan laboratorium secara rutin untuk mengetahui adakah faktor infeksi, anemia berat,dsb. Bila dicurigai adanya kalainan organik tertentu dapat dilakukan pemeriksaan laboratorium tambahan sesuai kebutuhan. Pemeriksaan ini dilakukan untuk menyingkirkan adanya kelainan organik sebagai penyebab dari gangguan jiwa tersebut. Adapun penanganan pasien dengan gangguan jiwa seperti tercantum dalam lampiran 2 ini.

C. peran serta masyarakat kegiatan dalam bentuk penyuluhan serta pembinaan masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan, penilaian dan pengembangan kesehatan jiwa setempat dalam rangka menciptakan kemandirian masyarakat dalam memelihara kesehatan jiwa.

D. Pengembangan Pengembangan upaya kesehatan jiwa di puskesmas adalah suatu upaya dengan memanfaatkan data yang ada yaitu yang didapat dari SP2TP, penelitian atau survei. Upaya ini digunakan untuk mengembangkan peran serta masyarakat dan pelayanan dibidang kesehatan jiwa. Hal ini dilakukan melalui mini lokakarya dan stratifikasi puskesmas dan micro planning dalam rangka menciptakan derajat kesehatan jiwa masyarakat yang optimal.

216

D.Sistem pencatatan dan pelaporan Berbagai hal yang berkaitan dengan masukan, proses dan keluaran upaya kesehatan jiwa, direkam secara terpadu dalam SP2TP.

1. Kegiatan terintegrasi

UPAYA KESEHATAN JIWA YANG TERPADU DENGAN KEGIATAN POKOK PUSKESMAS Kegiatan pokok sasaran Tugas Perincian kegiatan tenaga Alat

1. KIA

Ibu hamil dan nifas

Promotif preventif

Penyuluhan:umpama -Cara menyusukan dengan kasih sayang -Hindari stres/depresi selama kehamilan -Persiapan melahirkan secara mantap termasuk persiapan mental

-Dokter -Bidan -Perawat -Kader

-Poster -Leaflet Audiovisual

2. KB

Individu dan keluarga

Promotif preventif

Penyuluhan agar tercipta keluarga yang bahagia dan sejahtera

-Dokter -Bidan -Perawat -Kader

-Poster -Leaflet -Film

3. Gizi

Individu dan keluarga

Promotif preventif

Penyuluhan: Memperhatikan gizi makanan karena kekurangan zat tertentu, umpama jodium dapat menyebabkan gangguan perkembangan mental anak cara hidup sehat secara

-Dokter -Ahli gizi -Perawat -kader

-Poster Leaflet Audiovisual

217

mental health

4.kesehatan lingkungan

Kelompok masyarakat dan lingKungan

Promotif preventif

Penyuluhan: Pentingnya peran orang tua dalam keluarga Dokter Perawat Perawat Dokter Tenaga

Leaflet Audiovisual

5.PPPM 6.PKM

Kelompok masyarakat

Promotif preventif

Menciptakan hubungan dan komunikasi yang baik dalam keluarga dan masyarakat

Poster Leaflet Audiovisual

penyuluh Film(video) kader

7.pengobatan

Individu/keluar ga

Kuratif rehabilitatif

Bagi pasien-pasien gangguan jiwa diharapkan dapat minum obat secara teratur Penyuluhan Kesehatan jiwa Home visit pasien psikotik

Dokter Perawat

Obat psiko Farmaka

8.PHN

Keluarga Masyarakat

Promotif Preventif Rehabilitatif

Penyuluhan:kesehatan jiwa

Perawat Kader

Leaflet Slides/over head Kendaraan untuk home visit

9.UKS

Anak didik Pendidik&stafn ya Orang tua

Promotif preventif Rehabilitatif

Deteksi dini gangguan kesulitan belajar, gangguan perkembangan Rujuk bila dicurigai adanya kelainan ke RS

Poster Leaflet Audiovisual

218

Jiwa

10. Gigi dan mulut

Individu Keluarga

Preventif kuratif

Pemeriksaan dan pengobatan gigi pasien gangguan jiwa karena mereka sering tak mengurus kebersihan gigi Menyampaikan pada keluarga agar memperhatikan kebersihan gigi pasien

Alat-alat kedokteran gigi

11.Kesehatan jiwa

Lihat kegiatan khusus tentang kesehatan jiwa

12.laboratoriu m

individu

Preventif kuratif

Laboratorium rutin Pemeriksaan khusus sesuai kebutuhan

Laborant

Alat lab dan zat kimia untuk peme riksaan poster leaflet poster leaflet audiovisual film video alat peraga

13.UKM/PK dasar

Masyarakat kelompok

Promotif Preventif

Penyuluhan kesehatan jiwa

Dokter Perawat

poster leaflet

219

kesehatan olah raga Keluarga Individu Masyarakat Pencegahan Kuratif Penyuluhan tentang pentingnya olahraga bagi kesehatan mental Peragaan olahraga kesehatan jasmani Dokter Perawat Kader Video Alat peraga 220 .tertentu Kader 14. USILA Individu Kelompok Masyarakat Pencegahan Kuratif Rujukan Penyuluhan tentang kesehatan jiwa usia lanjut Pengobatan pasien USILA sengan gangguan jiwa Rujuk pasien ke RS bila mengalami kesulitan Dokter Perawat Kader poster leaflet film audiovisual 15.

simtomatik Sesuai dengan keluhan pasien 2.keluara dan pekerjaan Major tranqulizer umpama klorpromazine hingga gejala klinis berkurang Dosis awal dapat dimulai dengan 3x50 mg/hari ditingkatkan secara bertahap 3x100 mg dan seterusnya hingga pasien tenang. vegetatif antara lain jantung berdebar 1. somatik antara lain: sakit kepala pusing nyeri atau rasa tak enak didada 1. kirim ke RS Jiwa terdekat TINDAK LANJUT 221 . Rasa cemas ini dirasakan bila b.Gangguan psikosis Adalah suatu keadaan yang nmenimbulkan ketidakmampuan berat pada seseorang untuk menilai realitas Gaduh gelisah Perilaku abnormal Gangguan tidur Rasa curiga Keluhan somatik yang aneh Rasa sedih yang tak wajar Waham/halusinasi Hilangnya perhatian terhadap kebersihan. Kegiatan Khusus PENANGANAN PASIEN DENGAN GANGGUAN JIWA DIAGNOSIS GEJALA KLINIS PENGOBATA N 1.ansiolitika Misal diazepam 3x2 mg atau dobazam 3x10 dipertahankan hingga 4 minggu Bila tidak ada perbaikan dalam 2 minggu rujuk ke bagian psikiatri RS umum/RS jiwa terdekat Bila dalam waktu 4 minggu tidak memperihatkan kemajuan atau pasien sangat gaduh gelisah&membahayaka n diri atau orang sekitarnya.dosis optimal 2.2.Gangguan kecemasan (anxietas) Adalah perasaan tidak menyenangkan yang disebabkan oleh dugaan akan bahaya atau frustrasi yang mengancam dan akan membahayakan rasa aman. keluhan fisik a. keseimbangan atau kehidupan individu.

gangguan depresi Adalah satu bentuk ganggua kejiwaan pada alam perasaan seseorang yang bercorak disforik yang ditandai dengan perasaan murung. berikan support agar pasien merasa aman 2. putus asa keluarga tak berguna Menangis tanpa sebab Hilangnya nafsu makan Konstipasi Pembicaraan dan aktivitas 4.individu berusaha menguasai/menghadapi suatu situasi atau keadaan tertentu mual diare/abatisasi keringat dingin nafsu makan menurun sesak nafas mg 3. rasa sedih yang mendalam.keluhan psikis Gelisah Takut tak wajar umpama takut gila. retardasi mental 1.takut mati Sulit tidur 3. Rasa sedih yang mendalam Gangguan tidur terutama Simtomatik sesuai dengan keluhan Antidepresan Bila selama 3 minggu tak ada perbaikan rujuk ke bagian jiwa RS umum/RS jiwa terdekat terbangun dini hari misalnya Hilangnya perhatian terhadap pekerjaan dan amitriptilin 3x25 mg selama 3 minggu Bila ada kecemasan beri ansiolitika Berikan support agar pasien merasa aman rasa tak berdaya. retardasi mental -tidak ada terapi 222 .

yaitu adanya gangguan perkembangan fisik dan bicara yang lambat.Adalah suatu keadaan dimana fungsi intelektual umum di bawah rata-rata yang terdapat dalam periode perkembangan(sebelum usia 18 tahun) disertai ketidakmampuan proses belajar atau adaptasi ringan(mampu didik): -80% dari seluruh retardasi mental -mulai tampak pada usia sekolah: Sering tak naik kelas Memerlukan bantuan untuk mengerjakan pekerjaan rumah atau kebutuhan pribadi Terdapatnya perilaku antisosial Biasanya anak dapat menyelesaikan pendidikan sampai tamat SD khusus -bimbing keluarga agar dapat menerima keterbatasan anak -latih anak agar dapat mandiri Menganjurkan orang tua agar konsultasi lebih lanjut ke RS jiwa terdekat 2.retardasi mental sedang(mampu latih) –gejala sudah tampak sejak kecil. -memerlukan -tidak ada terapi khusus -memberi pengertian pada keluarga agar dapat menerima keadaan anak -memberikan 223 .

retardasi mental berat dan sangat berat: -sejak lahir sudah tampak gejala perkembangan motorik yang buruk dan -tidak ada terapi khusus -anak sangat membutuhkan perhatian dan bimbingan khusus kemampuan bicara -memberi yang sangat minimal -anak hanya 5.bantuan untuk mengurus diri -gangguan latihan pada anak yang berulang agar perilaku yang jelas mampu merawat diri 3. faktor psikologis yang mempengaruhi kondisi fisik(dulu dikenal sebagai gangguan psikosomatik atau psiko fisiologik)adalah suatu kondisi/penyakit yang mempunyai makna tertentu yan diberikan oleh individu terhadap suatu stimulus lingkungan dan timbulnya penyakit itu mempunyai hubungan waktu dengan stimulus lingkungan tersebut Gejala fisik yang dikeluhkan dapat mengenai semua sistem dalam tubuh seperti: -tension headache -kolon iritabel -asma psikogenik -dismenore -simtomatik sesuai dengan keluhan -membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi pasien -beri ansiolitik Bila dalam waktu 3 minggu tak ada perubahan rujuk ke RS Jiwa mungkin belajar bicara dan dilatih keterampilan untuk pemeliharaan kebersihan dasar perhatian pada orang tua untuk menerima keadaan ini 224 .

gangguan penggunaan zat: Adalah suatu keadaan dimana terjadi perubahan tingkah laku yang berkaitan dengan penggunaan zat secara teratur yang mempengaruhi susunan saraf pusat zat tersebut digunakan setiap hari agar ia dapat berfungsi dengan adekuat -ketidakmampuan dalam fungsi sosial atau pekerjaan akibat pola penggunaan zat yang patologik -jangka waktu penggunaan zat ini paling sedikit 1 bulan adanya keadaan depresi Rujuk ke RS Jiwa terdekat karena merupakan masalah yang rumit dalam penanganan -memerlukan penanganan khusus -puskesmas sebaiknya hanya melakukan seteksi pada remaja 225 .psikogenik -dsb seperti clobazam 3x2 mg untuk mengatasi kecemasan pasien atau anti depresiva bila didapat kesan 1.penyalahgunaan zat tanpa ketergan tungan: -pola penggunaan zat patologik yang dapat bermanifestasi sebagai intoksikasi. namun 6.

meskipun jarang manifestasi gangguan ini hanya pada ketergantungan fisiologis umpamanya:orang yang tergantung pada opioida analgesik yang diberikan atas alasan medis untuk mengurangi rasa nyeri fisik. Memerlukan penanganan khusus Rujuk ke RS Jiwa terdekat -kenakalan yang berlebihan dirumah atau di masyarakat Rujuk ke RS Jiwa terdekat 226 .ketergantungan zat: -didapat adanya ketergantungan fisologis yang dibuktikan dengan terdapatnya toleransi atau sindrom putus zat(withdrawal) -ketidakmampuan dalam fungsi sosial atau pekerjaan.2.

gangguan tingkah laku: Pola tingkah laku yang berulang dan menetap norma sosial dalam masyarakat -sering pula ada aktivitas seksual yang bersifat Memerlukan penanganan khusus Rujuk ke RS Jiwa terdekat hingga terjadi pelanggaran agresif hak azasi orang lain -menyalahkan orang lain dan merasa diperlakukan tidak adil -sering juga ditemukan merokok.gangguan pada anak dan remaja umpama: 1).-melanggar peraturan atau 7.minum minuman keras. dan penyalahgunaan zat -gangguan ini dapat berkelompok 2) gangguan pemusatan perhatian(dulu dikenal sebagai sindrom hiperkinetik)adalah:kuran g mampu memusatkan perhatian dan impulsi yang tidak sesuai dengan taraf perkembangan -tidak dapat memusatkan perhatian -mudah teralih perhatiannya -sulit konsentrasi di sekolah -sering bertindak sebelum berpikir -Konsultasi dengan RS Jiwa terdekat untuk memberikan bimbingan -Bila perlu kirim anak ke RS Jiwa 227 .

-efek labil -biasanya timbul sebelum usia 7 tahun -gangguan perkembangan membaca -gangguan perkembangan berhitung -gangguan perkembangan bahasa -gangguan perkembangan motorik -gangguan perkembangan artikulasi -serangan ringan berupa: *hilangnya ingatan secara mendadak dan singkat *pasien hanya berhenti sejenak dalam pekerjaannya atau pembicaraan.3).gangguan perkembangan spesifik: Adalah gangguan yang hanya meliputi segi tertentu(spesisifk)dari perkembangan yang tidak disebabkan oleh gangguan lain. melihat ke suatu -phenobarbital dengan dosis Untuk menegakkan diagnosis kirim ke RS jiwa untuk pemeriksaan lebih lengkap 228 .

lanjutkan pemberian obat sampai 3-5 tahun bebas serangan manifestasi gangguan otak gangguan dalam bentuk bangkitan yang muncul secara berkala yang disebabkan oleh lepas muatan listrik pada neuron-neuron otak secara berlebihan.arah tanpa berkedip. Epilepsi adalah suatu gejala klinis yang disebabkan oleh -serangan dapat pula berupa nyeri perut.atau dosis sampai bebas serangan. naikkan 8.kemudia n melanjutkan pekerjaannya untuk: *Anak:6-7 mg/kgBB *dewasa: mulai dengan 3x50 mg. sensibilitas -serangan berat berupa: penderita jatuh waktu kehilangan kesadaran dan kejang serta kontraksi otot bila kejang berhenti biasanya penderita lalu tertidur dan waktu bangun tidak ingat apa yang terjadi -serangan dapat terjadi sekali sebulan atau setiap hari -bila terjadi kejang: hindarkan pasien dari tempat atau benda yang dapat membahayakan -beri spatel diantara gigi agar lidah tidak tergigit -pasien jangan diikat 229 .

230 .

00 Senin-Jumat jam 08.0012. pasien yang berkunjung ke UKKR Sosialisasi Kesehatan jiwa 2. Konseling IDU IDU kecamatan Cilandak Dokter puskes IDU dan 7. remaja terkait dengan masalah pendidikan sexual remaja CMHN (Community- SMU seKecamatan Cilandak Dokter dan petugas Puskesmas Pasien gangguan jiwa/ suspek gangguan jiwa Orang-orang Rumah Pasien 3.0012. Harm Reduction orang yang terinfeksi HIV Puskesmas kecamatan Cilandak Dokter puskes 231 .00 Dokter Puskesmas yang telah mendapat pelatihan khusus 5.BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN No.00 Dokter dan petugas puskes 6. Mental Health Nursing): kunjungan ke rumah Petugas puskesmas 4. Kegiatan Pelayanan semi spesialis untuk Sasaran Meningkatka n persentase kunjungan dari 7% menjadi 8% Remaja mengetahui perilaku sexual yang benar Tempat Waktu Pelaksana Puskesmas kecamatan Cilandak Senin-Jumat jam 08.0012.00 Dokter Puskesmas yang telah mendapat pelatihan khusus 1.0012. IDU meeting IDU kecamatan Cilandak Puskesmas Setiap akhir bulan Senin –Jumat jam 08. VCT yang mempunyai faktor resiko Puskesmas kecamatan Cilandak Puskesmas Senin-Jumat jam 08.

8.cilandak Orang yang beresiko Tempattempat umum Panti pijat dll Tiap bulan Tiap bulan 2 x Petugas puskes 9. Petugas puskes 232 . Penyuluhan HIV-AIDS Mobile VCT Penduduk kec.

SARAN Adapun untuk dapat dilakukan semua kegiatan tersebut diperlukan dana dan tenaga kerja yang memadai. Kegiatan di puskesmas terbagi dua di luar dan di dalam Gedung. Agar lebih optimal dapat dilakukan : 1. dan sosial yang memungkinkan seseorang untuk hidup produktif. kegiatan khusus yaitu penyuluhan kesehatan jiwa dalam rangka pencegahan dan pengobatan gangguan jiwa sedini mungkin. 233 . Kesehatan dalam hal ini diartikan sebagai suatu kondisi yang bukan hanya bebas dari penyakit. Oleh karena itu dibutuhkan pelayanan kesehatan jiwa agar terwujud kesejahteraan mental dan sosial sehingga seseorang dapat hidup produktif. cacat dan kelemahan tapi benar-benar merupakan kondisi yang positif dari kesejahteraan fisik. serta memberkian pelayanan khusus bila diduga adanya faktor psikologi sebagai penyebab. Di puskesmas Cilandak sebagian besar telah melakukan kegiatan seperti yang dianjurkan depkes.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan terciptanya derajat kesehatan masyarakat yang optimal. kegiatan di dalam gedung terpadu dengan kegiatan pokok puskesmas lainnya. mental. 3. Di Puskesmas telah dibuat unit pelayanan kesehatan jiwa dengan tujuan memberikan pelayanan keperawatan jiwa komprehensif. Ruangan UKKR diperbesar dan disekat. 2. sekunder dan tersier.meliputi pencegahan primer.saat ini mengambil contoh di puskesmas kecamatan Cilandak masih sangat kekurangan tenaga-tenaga profesional/SDM sehingga dalam pelaksanaan kegiatan banyak yang double job yang mengakibatkan kurang efisiennya/kurang optimal program yang sudah ada. Perlu ditingkatkan penyediaan SDM/kaderisasi yg lebih banyak.Sedangkan kegiatan diluar puskesmas terpadu dengan kegiatan pokok puskesmas lainnya. Diadakan pelatihan-pelatihan khusus.

2001.DAFTAR PUSTAKA 1. hlm.129-152. Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Upaya Pokok Kesehatan Jiwa. 234 . Dalam: STANDARISASI PELAYANAN KESEHATAN PUSKESMAS di DKI Jakarta.

170) (030.05.05.UPAYA POKOK KESEHATAN MATA Penyusun : Andhini Darma Saputri Pritta Diyanti Karyaman Radita Primakirana Sediadi (030.05.178) 235 .022) (030.

sebagai pusat pelayanan kesehatan masyarakat.efisien.4 Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia (SDM). karena mata merupakan jarul informasi utama (83%). yaitu gambaran prediksi atau keadaanmasyarakat indonesia pada masa yang akan datang berupa ―Mata Sehat 2020/Vision 2020 – The Right to Sight ―(pemenuhan hak untuk melihat dengan 236 .sebagai pusat pelayanan kesehatan perorangan primer dan sebagai pusat rujukan kesehatan primer yang bertanggung jawab atas wilayah yang telah ditetapkan. Keterbelakangan melakukan koreksi refraksi terutama pada anak usia sekolah akan sangat mempengaruhi kemampuan menyerap materi pembelajaran dan berkurangnya potensi untuk meningkatkan kecerdasan karena 30% informasi diserap dengan melihat dan mendengar.4 Indera penglihatan merupakan salah satu alat tubuh manusia yang mempunyai fungsi sangat penting untuk memungkinkan manusia menerima informasi dari lingkungan kehidupan sekitarnya sehingga mampu beradaptasi dan mempertahankan hidup dalam lingkungannya dan menghindarkan diri dari berbagai ancaman yang mungkin terjadi. 36 tahun 2009 mengamanatkan bahwa pemerintah harus menyediakan pelayanan kesehatang yang bermutu.5 Untuk mewujudkan drajat kesehatan mata yang optimal telah ditetapkan visi.Puskesmas dengan kegiatan Upaya Kesehatan Masyarakatnya menyebabkan puskesmas mempunyai peran penting dalam meningkatkan daya ungkit yang besar dalam pembangunan kesehatan di Indonesia karena Puskesmas menrupakan ujung tombak pembangunan kesehatan. Puskesmas mempunyai 4 fungsi yaitu sebagai pusat pemberdayaan masyarakat.aman. Dengan demikian kesehatan indera penglihatan merupakan salah satu unsur terpenting dalam upaya meningkatkan kualitas SDM agar terwujud manusia Indonesia yang cerdas. Pelayanan kesehatan masyarakat sektor Pemerintah di Kabupaten/Kota terdiri atas pelayanan kesehatan dasar dan rujukan.2.terjangkau dan merata. Sebagai unit pelaksana tehnis Dinas kesehatan (UPTD). produktif serta mampu berperan dalam berbagai bidang pembangunan.1.BAB I PENDAHULUAN Undang-undang No. Indra Penglihatan merupakan syarat penting bagi upaya peningkata kualitas SDM.1.

Konyama.2. yaitu Nangroe Aceh Darussalam. Besarnya jumlah penderita katarak di Indonesia saat ini berbanding lurus dengan jumlah penduduk usia lanjut yang pada tahun 2000 diperkirakan sebesar 15. dan sejahtera lahir batin. Lampung.8%. glaukoma (0.optimal bagi setiap individu). di mana sepertiganya berada di Asia Tenggara. produktif. maju.5 Kesehatan Indera Penglihatan merupakan syarat penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. kebutaan akan menjadi masalah kesehatan masyarakat bila prevalensinya 0. Nusa Tenggara Barat. Jawa Barat. Jawa Tengah. Bila 237 .20%).38 %). Sebanyak 11 provinsi mempunyai prevalensi Kebutaan diatas prevalensi nasional. dan penyakit-penyakit lain yang berhubungan dengan lanjut usia (0.3 juta (7. Prevalensi nasional penderita Katarak sendiri pada penduduk umur >30 tahun adalah 1. Nusa Tenggara Timur. Dr.9% (berdasarkan hasil pengukuran. mandiri.4% dari total penduduk).1 WHO memperkirakan terdapat 45 juta penderita kebutaan di dunia. kelainan refraksi (0. masyarakat dan negara lebih-lebih dalam menghadapi pasar bebas. memfasilitasi pemerataan pelayanan kesehatan mata yang bermutu dan terjangkau.78%).5%. Bengkulu. Jumlah dimaksud cenderung akan bertambah besar karena berdasarkan laporan Biro Pusat Statistik tahun 1993 . visus < 3/60). Untuk itu di tetapkan misi mewujutkan mata sehat melalui : promosi kesehatan dalam rangka pemberdayaan masyarakat tentang mata sehat . Bali. tetapi juga menimbulkan dampak sosial ekonomi bagi lingkungan. Menurut Konsultan WHO.14%). menunjukkan angka kebutaan 1. Sulawesi Selatan. menggalang kemitraan dengan masyarakat dan pihak-pihak terkait di dalam dan di luar negri untuk mewujutkan mata sehat 2020. Penyebab utama kebutaan adalah katarak (0. dalam kerangka mewujudkan manusia Indonesia yang cerdas.5%-1%. 1 Berdasarkan laporan hasil Riskesdas/ Riset Kesehatan Dasar Nasional tahun 2007. Kepulauan Riau. menanggulangi gangguan penglihatan dan kebutuhan di masyarakat . Survei kesehatan indera penglihatan dan pendengaran tahun 1993-1996. Gorontalo.2 Kebutaan bukan hanya mengganggu produktivitas dan mobilitas penderitanya. prevalensi nasional Kebutaan adalah 0. keluarga. jumlah penduduk usia lanjut di Indonesia pada tahun 2025 akan mengalami peningkatan sebesar 414% dibandingkan dengan keadaan pada tahun 1990.

pencegahan.prevalensi kebutaan > 1% maka kebutaan telah menjadi masalah sosial.C melalui kegiatan pelayanan kesehatan mata yang diintegrasikan di Puskesmas yang merupakan pintu gerbang utama yang berhubungan langsung dengan masyarakat sehingga angka kesakitan mata dapat ditekan dan angka kebutaan serta kemunduran fungsi penglihatan dapat dihilangkan.E. yang meliputi usaha-usaha peningkatan. Dengan kebijaksaan untuk penduduk yang berpenghasilan rendah baik yang tinggal dikota dan di desa mendapat prioritas. 238 . dan pengobatan terhadap individu atau masyarakat. Pelayanan Kesehatan Mata di Puskesmas. “Primary Eye Care (P.1 Dari masalah kesehatan mata dan kebutaan tersebut mengisyaratkan bahwa upaya kesehatan mata/pencegahan kebutaan dasar sebagai salah satu kegiatan pokok di Puskesmas akan melengkapi fungsi Puskesmas dalam memecahkan masalah kesehatan masyarakat khususnya berupa angka kesakitan mata dan kebutaan.5 % maka kebutaan hanya menjadi masalah klinik (medik).telah dimulai sejak tahun 1979/1980. Sebaliknya bila angka kebutaan < 0. Primary Eye Care merupakan unit terdepan yang merupakan bagian integral dari Puskesmas. Melalui program ini diharapkan dapat menurunkan angka kebutaan di Indonesia menjadi 1% pada tahun 2004 dan 0.5% pada tahun 2020. 1 Tujuan P.E.C)” . sehingga tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat. 1 Upaya Kesehatan Mata/Pencegahan Kebutaan (UKM/PK) merupakan bentuk dari pengembangan program RENSTRANAS (Rencana Strategis Nasional) Penanggulangan Gangguan Penglihatan dan Kebutaan untuk mencapai Vision 2020.

3 Tenaga professional mencakup tenaga profesional umum dan khusus. di dalam ataupun di luar gedung oleh tenaga kesehatan Puskesmas dengan didukung oleh peran serta aktif masyarakat dan ditujukan kepada individu. Tenaga profesional khusus yaitu tenaga kesehatan dengan pendidikan khusus atau tambahan di bidang kesehatan mata. 3 Sedangkan yang dimaksud dengan kegiatan di luar gedung dalam UKM / PK adalah kegiatan yang terpadu dengan kegiatan pokok Puskesmas lainnya ataupun secara khusus meliputi skrining mata. tes buta warna dan lapang pandang. tonometri. dokter gigi. diselenggarakan secara khusus ataupun terpadu dengan kegiatan pokok Puskesmas lainnya. dan sebagainya. meliputi pemeriksaan diagnostik kelainan mata. penanggulangan kebutaan katarak. funduskopi.3 Yang dimaksud dengan kegiatan di dalam gedung dalam UKM / PK adalah kegiatan yang terpadu dengan kegiatan pokok Puskesmas lain atau secara khusus. dokter kecil. asisten apoteker. seperti perawat mahir mata. glaucoma dan lain-lain. pelaksanaan. keluarga. pembinaan. masyarakat di wilayah kerja Puskesmas. analis (tenaga Laboratorium). Tenaga profesional umum yaitu dokter dan perawat. 3 Peran serta masyarakat adalah peran serta aktif masyarakat baik sebagai pemberi maupun penerima pelayanan dengan memobilisasi sumber daya yang tersedia dalam pemecahan masalah kesehata mata masyarakat setempat melalui perencanaan. penilaian. dan sebagainya3 239 . seperti pemeriksaan retraksi.BAB II PENGERTIAN Upaya Kesehatan Mata / Pencegahan Kebutaan (UKM / PK) Dasar adalah upaya kesehatan dasar dibidang UKM / PK yang dilaksanakan di tingkat Puskesmas. dan pengembangan UKM/PK setempat. Selain itu terdapat pula tenaga non professional yaitu kader/ tenaga relawan seperti pemuka masyarakat.

Kebutaan adalah pengelihatan kedua mata dengan koreksi maksimal kurang dari 5 % pengelihatan normal. 240 .

B. Meningkatnya kesadaran. Meningkatnya jangkauan pelayanan refraksi sehingga masyarakat yang mengalami gangguan fungsi penglihatan dapat terlayani. Menurunnya prevalensi kesehatan mata dan kebutaan sehingga tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat. Tujuan Umum Meningkatnya derajat kesehatan mata dalam rangka meningkatkan kualitas sumberdaya masyarakat.BAB III TUJUAN A. sikap dan perilaku masyarakat pemeriksaan dirinya dibidang kesehatan mata dan pencegahan kebutaan. 241 . 2. 3. Tujuan Khusus 1.

Kegiatan a) Melakukan penyuluhan kesehatan mata termasuk pemasaran sosial di dalam maupun di luar gedung. Prinsip Kerja Pelayanan diberikan secara cepat. Sasaran Upaya Kesehatan Mata/ Pencegahan Kebutaan Semua golongan umur dengan prioritas pada masyarakat berpenghasilan rendah. b) Melakukan pemeriksaan mata khusus. c) Melakukan rujukan ke Laboratorium untuk swab vagina bagi ibu hamil dengan keluhan fluor albus atau untuk swab sekret mat pada bayi baru lahir dengan conjungtivitis d) Melakukan tindakan crede pada bayi baru lahir e) Pemberian capsul vitamin A dosis tinggi pada Balita setiap 6 bulan f) Melakukan skrining mata di masyarakat g) Memberikan pengobatan h) Melakukan pemeriksaan cisus/refraksi dan mata luar i) Melakukan pemeriksaan tekanan intraokular j) Malkukan tes buta warna k) Melakukan tes anel l) Melakukan pemeriksaan funduskopi 242 . tepat dan nyaman dengan sikap yang ramah dan bertanggung jawab. baik yang dirawat jalan ataupun rawat inap.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN Tujuan Upaya Kesehatan Mata/ Pencegahan Kebutaan Melayani pemeriksaan kesehatan mata dasar dan semi spesialis / spesialis (khusus untuk Puskesmas Pembina) untuk semua kasus mata. khususunya kelompok yang rawan. baik individu maupun kelompok. Kegiatan Pelayanan Upaya Kesehatan Mata / Pencegahan Kebutaan 1. 2.

m) Melakukan pemeriksaan lapang pandang n) Melakukan pemeriksaan laboratorium pada kasus-kasus tertentu o) Memberikan resep kaca mata p) Melakukan operasi katarak q) Mengobati glaukoma akut r) Melakukan rujukan untuk kasus-kasus yang tidak bisa ditangani s) Memotivasi masyarakat dalam UKM/PK t) Melakukan pencatatan dan pelaporan 3. Peralatan Kerja: Sesuai standard yang sudah ditetapkan untuk Puskesmas Pembina dan Puskesmas 243 . Dokter Kecil.00 b) Untuk rawat inap mulai pukul 07. dan lain sebagainya 5. Kelengkapan Administrasi a) Formulir Register Harian b) Formulir Rekapitulasi Bulanan Sesuai SP2TP dan program 6.30-12. Pemuka Masyakarat.30 Kecuali untuk kasus Gawat Darurat setiap hari 4. Waktu Pelayanan Setiap Hari a) Untuk rawat jalan mulai dari pukul 08.30-08. Tenaga: Untuk Puskesmas Pembina: a) Dokter umum terlatih 1 orang b) Dokter spesialis mata 1 orang c) Paramedis terlatih 1 orang d) Perkarya 1 orang Untuk di lapangan : Kader.

suhu) Mencatat hasil pemeriksaan di status Membantu/asisten dokter sewaktu melakukan pemeriksaan  Dokter Umum Melengkapi anamnesa bilamana perlu Melakukan pemeriksaan umum dan mata khusus Melakukan penyuluhan individu Memberikan pengobatan/rujukan dan atau resep kaca mata b) Puskesmas Pembina  Petugas loket o Mendaftar dan membuat / mencari status o Menerima pembayaran sesuai dengan Peraturan Daerah o Membawa status ke poli mata o Mendaftar dan membuat / mencari status o Menerima pembayaran sesuai dengan Peraturan Daerah o Membawa status ke balai pengobatan o Mengambil status yang telah diperiksa dari Balai pengobatan o Mencatat di buku register 244 .7. Prosedur Tetap: a) Puskesmas  Petugas Loket  Mendaftar dan membuat/mencari status Menerima pembayaran sesuai Peraturan Daerah Membawa Status ke Balai Pengobatan Mengambil status yang telah diperiksa dari Balai Pengobatan Mencatat di Buku Register Perawat Menerima status pasien Melakukan anamnesa Melakukan pemeriksaan keperawatan (tensi. nadi R/R.

dukun bersalin Alat Poster. demonstrasi makanan sehat (gizi) Hamil Promotif Preventif Case finding o Kelainan mata luar o Gangguan Penyuluhan individu/kelompok di bidang kesehatan mata Anamnesa keluhan mata Tenaga perawatan. suhu) o Mencatat hasil pemeriksaan di status o Membantu atau asisten dokter sewaktu melakukan pemeriksaan o Mempersiapkan pasien operasi katarak o Asisten operasi  Dokter Umum terlatih dan atau dokter spesialis mata o Melengkapi anamnesa bilamana perlu o Melakukan pemeriksaan umum dan mata khusus o Melakukan penyuluhan individu o Memberikan pengobatan/rujukan dan atau resep kacamata  Khusus untuk Dokter spesialis mata o Mekakukan operasi yang diperlukan Sasaran Upaya Kesehatan Mata/Pencegahan Kebutaan diprioritaskan pada masyarakat berpenghasilan rendah khususnya kelompok rawan tanpa mengabaikan kelompok lainnya dengan menggunakan teknologi tepat guna yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan di tingkat Puskesmas. Keterpaduan Upaya Kesehatan Mata/Pencegahan Kebutaan Dasar dengan Kegiatan Pokok Puskesmas Lainnya Kegiatan Pokok 1. dokter. demonstrasi makanan sehat (gizi) Pen light Kapas lidi 245 . Perawat o Menerima status pasien o Melakukan Anamnesa o Melakukan pemeriksaan keperawatan (tensi. kader. kader. leaflet. leaflet. dukun bersalin Poster. pernafasan. nadi. KIA Sasaran Prakonsepsi Tugas Promotif Preventif Perincian Kegiatan Penyuluhan individu/kelompok di bidang kesehatan mata Tenaga Tenaga perawatan. dokter.

leaflet. leaflet.pengelihatan Rujukan Persalinan Promotif Preventif Case finding Rujukan ke pengobatan Rujuk ke laboratorium. swab vagina (bila ada keluhan fluor albus untuk pencegahan infeksi gonokokus pada bayi yang dilahirkan) Rujuk ke pengobatan bila ada keluhan/kelainan mata Penyuluhan kesehatan mata Steril Piringan biak agar-agar ThayerMartin atau piringan coklat Tenaga perawatan. dokter. demonstrasi makanan sehat (gizi) Pen Light Pemeriksaan mata Rujukan Oftalmoskop Rujuk ke lab : swab vagina (bila ada fluor albus) Rujukan ke pengobatan bila ada keluhan/kelainan Bayi Promotif Preventif Anamnesa Case finding o Pemeriksaan mata Kelainan mata Crede pada bayi baru lahir Sanitarian Tenaga perawatan dokter Poster. leaflet. demonstrasi makanan sehat (gizi) AgNO3 1 % tetes mata atau tetrasiklin salep mata Alat-alat (lihat hamil) lab ibu Rujukan Rujuk ke lab : bila ada secret pada konjungtiva Rujuk ke pengobatan bila ada keluhan/kelainan 246 . kader. demonstrasi makanan sehat (gizi) Pen Light Anamnesa keluhan mata Pemeriksaan mata Bila ada keluhan/kelainan Nifas Promotif Preventif Case finding Penyuluhan kesehatan mata Anamnesa mata keluhan Tenaga perawatan. dokter. dukun bersalin Poster. dukun bersalin Poster.

demonstrasi makanan sehat 247 .U.000 IU Ibu hamil/menyusui Promotif Preventif Poster. demonstrasi makanan sehat (gizi) Kapsul Vit. A 200. leaflet. Gizi Balita Promotif Penyuluhan kesehatan mata Individu Kelompok Tenaga gizi. leaflet.000 IU Case finding o o o Kelainan refraksi Kelainan mata luar Kelainan bawaan (katarak. A dosis tinggi tiap 6 bulan Anamnesa mata keluhan Tenaga perawatan Dokter Kader Preventif Poster.Balita Promotif Penyuluhan individu/kelompok Pembagian kapsul vit. leaflet. dokter.S (Wanita Usia Subur) Promotif Preventif Individu Kelompok Case finding o Fluor albus Pemeriksaan mata bila ada keluhan fluor albus Penyuluhan kesehatan mata Tenaga perawatan. perawatan. dokter Poster. demonstrasi makanan sehat (gizi) Preventif Pembagian caps. alat lab (lihat ibu hamil) Rujukan Rujuk sediaan ke lab Rujuk ke pengobatan 3. dll) Pemeriksaan mata Pen Light Rujukan Rujuk ke lab Rujuk ke pengobatan bila ada kelainan 2. leaflet. A dosis tinggi tiap 6 bulan Penyuluhan kesehatan mata Kapsul Vit. kader Poster. KB W. juling. A 200. vit.

Individu kelompok 4. leaflet Senter Rujukan 6. kader Poster. tarsotomi. Diamox Tindakan sederhana :  Insisi hordeolum. dokter. corpus alienum ekstraokuler. perawat mata Epilator Loupe Senter Speculum mata Obat-obat mata nonsteroid. dokter (gizi) Poster. tenaga perawatan. ekstraksi. perawatan. leaflet. pterigium 248 . PKM Kelompok masyarakat Keluarga Individu Promotif Preventif Nasehat perkawinan (penyakit keturunan) Penyuluhan kesehatan mata Tenaga penyuluh kesehatan. dokter Promotif Preventif Penyuluhan kesehatan mata Sanitarian. Kesehat an lingkung an Kelompok masyarakat dan lingkungannya Perusahaan (pabrik) 5. P2M Kelompok masyarakat Keluarga Case holding Individu o o o Pemeriksaan mata Penyakit luar Buta senja Gangguan pengelihatan mata Pengobatan sederhana (sama dengan prokesa) Promotif Preventif Penyuluhan kesehatan mata Juru imunisasi. tenaga perawatan. petugas malaria desa. alat-alat pelindung mata (lintas sektoral) Poster. Pengoba tan Individu Pengobatan Pengobatan terhadap :        Konjungtivitis Pterigium dan Pinguekula Defisiensi vitamin A Trakhoma tanpa Trikhiasis Blefaritis Hordeolum Glaukoma Dokter. peraga alat Case finding Bila ada dirujuk keluhan Kader UKS kecil (Guru dokter 7.

dokter. kader Kesehatan Non kesehatan Idem 7 Pengobatan Rujuk ke Puskesmas untuk mendapat pengobatan 10.ekstirpasi  Pertolongan pertama gawat mata Glaukoma akut Trauma kimia.N Keluarga Instansi Individu Promotif Preventif Case finding Kuratif Rehabilitatif Diagnostik 10 penyakit utama mata Koreksi refraksi sederhana s/d visus 5/10 Pengobatan Rujukan ke pengobatan 9. UKS Anak sekolah Promotif Preventif Anamnesa Pemeriksaan : o o o o Kelainan refraksi Kelainan mata luar Tes buta warna Defisiensi vit. kader UKS kit Buku Ishihara Penyuluhan kesehatan mata Tenaga perawatan. 249 .H. Gigi/Mu lut Individu Anak sekolah Kelompok Promotif Preventif Penyuluhan gigi yang berkaitan dengan kesehatan mata Penyuluhan hubungan Dokter perawat kader gigi. A Penyuluhan kesehatan mata Tenaga perawatan (petugas UKS). P. tumpul. tajam Merujuk kasus yang tak dapat diatasi ke RS atau BKMM. Alat insisi Corpus alienum spoed Pantocain    Rujukan Formulir rujukan 8. gigi.

masyarakat 11. Kesehat an Olah Raga Individu Promotif Preventif Case finding Dokter. kader 14. saran rujukan Pemeriksaan laboratorium pada specimen yang berkaitan dengan kesehatan mata Penyuluhan Deteksi kelainan mata akibat olah raga Peningkatan fungsi pengelihatan dikaitkan dengan olah raga Petugas lab Alat-alat lab 12. Lab Individu Case finding 13. leaflet Senter Case finding Deteksi kelainan mata pada penderita kelainan jiwa Pengobatan mata Rujukan Pengobatan Puskesmas. kader Pengobatan/rujukan Pengobatan pada kelainan/kecelakaan akibat olah raga Penyuluhan Dokter. 15. perawat. Kesehat an Jiwa Individu Keluarga Promotif Preventif kelainan gigi sebagai fokal infeksi mata Penyuluhan kesehatan jiwa yang berkaitan dengan kesehatan mata Tenaga perawatan. kader Poster. Usila Individu Promotif 250 . perawat. Kesehat an Kerja Individu Kelompok masyarakat Promotif Preventif Case finding Deteksi dini kelainan mata akibat kerja Peningkatan fungsi pengelihatan dikaitkan dengan kesehatan kerja Pengobatan pada kelainan mata akibat kesehatan kerja Pengobatan/rujukan Rujukan kasus-kasus yang tidak dapat diatasi Penyuluhan Dokter. dokter.

kader Rujukan kasus yang tak dapat diatasi Peningkatan Peran Serta Masyarakat Kegiatannya dalam bentuk penyuluhan kesehatan termasuk pemasaran social. pelaksanaan.Keluarga Kelompok masyarakat Preventif Kuratif/rujukan Rehabilitatif Pelayanan usila kesehatan perawat. Pencatatan dan Pelaporan Berbagai hal yang berkaitan dengan masukan. 251 . Pengembangan Kesehatan Mata Masyarakat Kegiatan dalam bentuk penampilan berbagai inovasi baru yang ditujukan pada pemecahan masalah sesuai dengan perkembangan kebutuhan dan ketersediaan sumber daya setempat dalam rangka menciptakan derajat kesehatan mata masyarakat yang optimal. serta melibatkan masyarakat dalam perencanaan. dan keluaran upaya kesehatan mata/pencegahan kebutaan dasar direkam secara terpadu dalam SP2TP. proses. dan penilaian UKM/PK Dasar dalam rangka menciptakan kemandirian masyarakat dalam memelihara kesehatan mata mereka.

12.BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU No.30 .00 Dokter umum 3 Pemeriksaan oleh Spesialis Semua pasien yang berkunjung ke Poliklinik Mata dan memerlukan pemeriksaan oleh ahli Dokter Spesialis Mata 4 Pemeriksaan Khusus Mata : Pemeriksaan Visus Tonometri Pemeriksaan Khusus Mata : Funduskopi Semua pasien yang berkunjung ke Poliklinik Mata Semua pasien yang berkunjung ke Poliklinik Mata Poli Mata Senin – Jumat 08.12.30 .12.30 .00 Dokter Umum Dokter Spesialis Mata Dokter Umum 252 .12.00 Poli Mata Senin – Jumat 08.00 Dokter Umum Perawat Pelaksana Paramedis 2 Pengobatan Penyakit Mata Semua pasien yang berkunjung ke Poliklinik Mata Poli Mata Senin – Jumat 08.30 .00 Poli Mata Senin dan Kamis 08.12.30 . Kegiatan Sasaran Tempat dan Waktu Pelaksana 1 Pemeriksaan penyakit Mata Semua pasien yang berkunjung ke Poliklinik Mata Poli Mata Senin – Jumat 08.

12.30 .30 .00 Dokter Umum yang ditunjuk 7 Penjaringan Kasus Katarak Khusus pasien Katarak Poli Mata Senin – Jumat 08.12.Minggu Satu Kali perbulan 08.30 .30 .00 Dokter Spesialis Mata Dokter Umum Perawat Pelaksana 6 Penyuluhan Kelompok : Retinopati Dabetikum Penderita DM pada Khususnya Aula PKM Ps.00 Dokter Spesialis Mata Dokter Umum 10 Operasi : Semua pasien Poli Mata Dokter Spesialis 253 .12.00 Dokter Spesialis Mata Dokter Umum Perawat Pelaksana 8 Rujukan Katarak Khusus pasien Katarak Poli Mata Senin – Jumat 08.00 Dokter Spesialis Mata Dokter Umum Bekerja sama dengan RSCM 9 Memberikan Resep Kacamata Semua pasien yang telah dilakukan pemeriksaan visus dan memerlukan kacamata Poli Mata Senin – Jumat 08.5 Penyuluhan individu Semua pasien yang berkunjung ke Poliklinik Mata Poli Mata Senin – Jumat 08.00 – 12.12.

12. TINDAKAN N 1 2 Tindakan Pemeriksaan Visus Resep Kacamata Jumlah 77 Kasus 65 Kasus 254 .30 .30 .00 Perawat Pelaksana PENILAIAN HASIL KERJA DOKTER SPESIALIS MATA BULAN JUNI 2011 PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU A.12.Hordeolum Pterigium Corpus Alienum dengan keluhan yang memerlukan tindakan bedah minor Senin dan Kamis 08. KASUS N 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 0 Penyakit Glaukoma Katarak Kelainan Refraksi Kelainan Kornea Konjungtivitis Trauma Corpus Alienum Pterygium Hordeolum Penyakit Mata Lain Jumlah 3 Kasus 34 kasus 80 kasus 7 kasus 31 kasus 4 kasus 3 kasus 2 kasus 24 kasus 104 kasus B.00 Mata Perawat Pelaksana Terlatih 11 Melakukan pencatatan dan pelaporan Dokumen PKM kecamatan Pasar Minggu Poli Mata Senin – Jumat 08.

3 4 5 6 7 Funduskopi Angkat Corpus Alienum Insisi Hordeolum Avulsi Pterygium Haecting Off 9 Kasus 2 Kasus 2 Kasus 1 Kasus 1 Kasus C. RUJUKAN N 1 2 3 4 Penyakit Glaukoma Katarak Kelainan Refraksi Penyakit Mata Lain Jumlah 3 Kasus 9 Kasus 5 Kasus 5 Kasus 255 .

PENCATATAN KASUS PERIODE JANUARI – JUNI 2011 PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU (FOTOKOPI) 256 .

mengobati glaukoma akut. pemeriksaan lapang pandang. Menambah frekuensi penyuluhan tentang kesehatan mata dalam setiap bagian di Puskesmas. tes buta warna. pemeriksaan funduskopi. 3. pemeriksaan tekanan intraokular. Diharapkan dengan dilaksanakan pelbagai kegiatan ini masalah Kesehatan Indera Penglihatan di Indonesia tidak lagi menjadi masalah Kesehatan Masyarakat. memberikan resep kaca mata . rujukan ke Laboratorium untuk swab vagina bagi ibu hamil dengan keluhan fluor albus atau untuk swab sekret mat pada bayi baru lahir dengan conjungtivitis. baik yang dirawat jalan ataupun rawat inap. 257 .BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. B. Mengadakan program anjuran pemeriksaan mata pada hari tertentu yang ditujukan pada pasien yang datang ke puskemas baik yang mempunyai gejala penyakit mata maupun tidak. Kegiatannya mencakup melakukan penyuluhan kesehatan mata. melakukan operasi katarak. KESIMPULAN Upaya Kesehatan Mata/ Pencegahan Kebutaan di Puskesmas merupakan unit terdepan yang meliputi usaha-usaha peningkatan. pemeriksaan laboratorium pada kasus-kasus tertentu. Meningkatkan sarana dan prasarana pemeriksaan kesehatan mata di Puskesmas. skrining mata di masyarakat. SARAN 1. pencegahan dan pengobatan mata terhadap semua golongan umur dengan prioritas pada masyarakat berpenghasilan rendah. khususunya kelompok yang rawan. pemeriksaan mata khusus. memotivasi masyarakat dalam UKM/PK serta melakukan pencatatan dan pelaporan. 2. Kegiatan ini bertujuan melayani pemeriksaan kesehatan mata dasar dan semi spesialis / spesialis (khusus untuk Puskesmas Pembina) untuk semua kasus mata. tindakan crede pada bayi baru lahir. pengobatan. pemeriksaan refraksi dan mata luar. pemberian capsul vitamin A dosis tinggi pada Balita setiap 6 bulan. tes anel.

4. Meningkatkan peran serta setiap keluarga dalam ikut membantu memelihara kesehatan mata seluruh anggota keluarga. 258 .

com/sss155-slide-pelayanan-kesehatan- mata-melalui-puskesmas-pdf-d68637011 2. MPH. http://pustaka.id/profile.or.id/wpcontent/uploads/2009/09/penanggulangan_kebutaan_katarak_terpadu. 3. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI.pdf 5. Departemen Ilmu Kesehatan Mata FK USU.DAFTAR PUSTAKA 1.ac.unpad. Azrul Azwar.php?id=74 259 . Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar Nasional 2007. 4. Available at : http://www. Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Kebijakan Pelayanan Kesehatan mata. Available: http://ebookbrowse. Dr. Prof. Standarisasi Pelayanan Kesehatan Puskesmas di DKI Jakarta. Pelayanan Kesehatan Mata Melalui Puskesmas.ditplb.

PROGRAM KEGIATAN USIA LANJUT Penyusun: Muh Nurul Muttaqin Adilah Bt. Aziz (03005131) (03006294) 260 .

9 tahun 1960 tentang pokok-pokok kesehatan bahwa setiap keluarga berhak memperoleh derajat kesehatan setinggitinginya. usia lanjut merupakan figur tersendiri dalam kaitannya dengan sosial budaya bangsa.BAB I PENDAHULUAN Dalam kehidupan keluarga. mandiri dan berguna melalui peningkatan fungsi puskesmas. Dalam kehidupan nasional. 261 . Sejalan dengan hal tersebut maka jumlah usia lanjutpun meningkat. Berdasarkan Undang-Undang No. Maka dalam upaya pemerataan pelayanan kesehatan bagi seluruh penduduk Indonesia dilakukan pembinaan kesehatan bagi usia lanjut yang bertujuan meningkatkan derajat kesehatan usia lanjut agar selama mungkin dapat aktif. Sebagai salah satu hasil pembangunan adalah meningkatnya umur harapan hidup waktu lahir. Mereka termasuk dalam golongan yang patut dihargai dan dihormati sesuai dengan eksistensinya dalam strata kemasyarakatan. usia lanjut merupakan sumber daya yang bernilai sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman kehidupan yang dimilikinya yang dapat dimanfaatkan bagi masyarakat keseluruhan. Demikian pula dalam SKN bahwa tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum dari tujuan nasional.

2. Pengembangan Upaya Kesehatan Usia Lanjut Pengembangan upaya kesehatan usia lanjut di puskesmas adalah suatu upaya dalam menggunakan data yang diperoleh dari survey. untuk mengembangkan peran serta masyarakat dan pelayanan di bidang upaya kesehatan usia lanjut yang dilaksanakan melalui forum mini lokakarya yang nantinya melalui stratifikasi Puskesmas dan microplanning bila telah dilaksanakn secara nasional dalam rangka mencapai derajat kesehatan usia lanjut secara optimal. SP2TP.BAB II PENGERTIAN Program Kegiatan Usia Lanjut di Puskesmas adalah merupakan upaya kesehatan paripurna di bidang kesehatan usia lanjut. dalam rangka menciptakan kemandirian masyarakat C. Peningkatan Peran Serta Masyarakat Dilaksanakn dalam bentuk penyuluhan kesehatan melibatkan masyarakat dalam perencanaan. 262 . Upaya kuratif yaitu upaya pengobatan bagi usia lanjut 4. Yang dilaksanakan melalui beberapa upaya KEGIATAN KESEHATAN USIA LANJUT A. Upaya Preventif yaitu upaya pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya penyakit maupun komplikasi penyakit yang disebabkan oleh proses penuaan. keluarga maupun masyarakat. pelaksanaan dan penilaian upaya kesehatan usia lanjut. studi. Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut : 1. 3. Upaya Rehabilitatif yaitu upaya mengembalikan fungsi organ yang telah menurun B. Upaya promotif yaitu upaya menggairahkan semangat hidup bagi usia lanjut agar mereka tetap dihargai dan tetap berguna bagi dirinya senndiri.

6%.2%. Pengertian Usia Lanjut adalah suatu proses alami yang tidak dapat di hindarkan.D. 263 . Peningkatan Umur harapan hidup dari tahun ketahun semakin meningkat berdasarkan hasil survei Kesehatan Rumah Tangga ( SKRT ) thn 1995 angka kesakitan pada usia 45-49 tahun sebesar 11. Pencatatan dan pelaporan Diintegrasikan kedalam sistem pencatatan dan pelaporan terpadu Puskesmas.dan angka kesakitan pada usia di atas 60 tahun sebesar 9.

TUJUAN KHUSUS : a. Meningkatnya jangkauan pelayanan kesehatan usia lanjut d. B. Meningkatnya kemampuan dan peran serta masyarakat dalam menghayati dan mengatasi masalah kesehatan usia lanjut secara optimal c.BAB III TUJUAN A. TUJUAN UMUM : Meningkatnya derajat kesehatan usia lanjut untuk mencapai masa tua yang bahagia dan berdaya guna dalam kehidupan keluarga dan masyarakat sesuai dengan eksistensinya dalam strata kemasyarakatan dalam mencapai mutu kehidupan usia lanjut yang optimal. Meningkatnya kesadaran pada usia lanjut untuk membina sendiri kesehatannya b. Meningkatnya jenis dan mutu pelayanan kesehatan usia lanjut 264 .

alat bantu dengar dan lain-lain agar usia lanjut tetap memberikan karya dan tetap merasa berguna d. Upaya Preventif yaitu upaya pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya penyakit maupun komplikasi penyakit yang disebabkan oleh proses penuaan. Makanan dengan menu yang mengandung gizi seimbang c. Kesegaran jasmani yang dilakukan secara teratur dan disesuaikan dengan kemampuan usia lanjut agar tetap merasa sehat dan segar d. Upaya promotif yaitu upaya menggairahkan semangat hidup bagi usia lanjut agar mereka tetap dihargai dan tetap berguna bagi dirinya senndiri. Meningkatkan kegiatan sosial di masyarakat 2. Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut : 1.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN I. e. Pembinaan mental dalam peningkatan ketaqwaan kepada tuhan Yang Maha Esa. Kesegaran jasmani yang dilakukan secara teratur dan disesuaikan dengan kemampuan usia lanjut agar teaep merasa sehat dan segar c. keluarga maupun masyarakat. Upaya preventif dapat berupa kegiatan antara lain: a. Penyuluhan tentang penggunaan berbagai alat bantu misalnya: kacamata. KEGIATAN KESEHATAN USIA LANJUT A. Pemeriksaan kesehatan secara berkala dan teratur untuk menemukan secara dini penyakit-penyakit usia lanjut b. Penyuluhan untuk mencegah terhadap kemungkinan terhadap terjadinya kecelakaan pada usia lanjut 265 . Kesehatan dan pemeliharaan kebersihan diri b. Membina ketrampilan agar dapat mengembangkan kegemaran sesuai dengan kemampuan f. Upaya promotif dapat berupa kegiatan penyuluhan tentang : a.

dalam rangka menciptakan kemandirian masyarakat C. alat bantu dengar dan lain-lain agar usia lanjut tetap dapat memberikan karya dan tetap merasa berguna sesuai kebutuhan dan kemampuan b. Pelayanan kesehatan spesialistik melalui sistem rujukan 4. SP2TP.e. Pelayanan kesehatan dasar b. Peningkatan Peran Serta Masyarakat Dilaksanakn dalam bentuk penyuluhan kesehatan melibatkan masyarakat dalam perencanaan. Pengembangan Upaya Kesehatan Usia Lanjut Pengembangan upaya kesehatan usia lanjut di puskesmas adalah suatu upaya dalam menggunakan data yang diperoleh dari survey. pelaksanaan dan penilaian upaya kesehatan usia lanjut. Nasihat cara hidup yang sesuai dengan penyakit yang diderita e. untuk mengembangkan peran serta masyarakat dan pelayanan di bidang upaya kesehatan usia lanjut yang dilaksanakan melalui forum mini lokakarya yang 266 . pelayanan dan pengetahuan tentang penggunaan berbagai alat bantu misalnya: kacamata. Pembinaan usia lanjut dalam hal pemenuhan kebutuhan pribadi. studi. Perawatan fisioterapi B. aktifitas didalam maupun diluar rumah d. Upaya Rehabilitatif yaitu upaya mengembalikan fingsi organ yang telah menurun Upaya rehabilitatif dapat berupa kegiatan antara lain: a. Upaya kuratif yaitu upaya pengobatan bagi usia lanjut Upaya kuratif dapat berupa kegiatan sebagai berikut: a. Pembinaan mental dalam meningkatkan ketaqwaan kepada tuhan Yang Maha Esa 3. Memberikan informasi. Mengembalikan kepercayaan terhadap diri sendiri dan memperkuat mental penderita c.

dengan paket pembinaan yang meliputi KIE dan pelayanan kesehatan agar dapat selama mungkin mempertahankan kemandiriannya 2. Organisasi sosial yang berkaitan dengan pembinaan usia lanjut 267 . Sasaran langung : a. organisasi masyarakat usia lanjut dan masyarakat pada umumnya. SASARAN 1. dengan paket pembinaan yang meliputi KIE dan pelayanan agar dapat mempertahankan kondisi kesehatannya dan tetap produktif c. terpencil. menderita penyakit berat. Kelompok usia lanjut dalam masa prasenum (55-64 tahun) dalam keluarga. D. Pencatatan dan pelaporan Diintegrasikan kedalam sistem pencatatan dan pelaporan terpadu Puskesmas. Kelompok usia menjelang usia lanjut (45-54 tahun) atau dalam masa virilitas. hidup sendiri. cacat dan lain-lain. Kelompok usia lanjut dalam masa senescens (> 65 tahun) dan usia lanjut dengan resiko tinggi (>70 tahun).nantinya melalui stratifikasi Puskesmas dan micro-planning bila telah dilaksanakn secara nasional dalam rangka mencapai derajat kesehatan usia lanjut secara optimal. didalam keluarga maupun masyarakat luas dengan paket pembinaan yang meliputi KIE dan pelayanan kesehatn fisik. gizi agar dapat mempersiapkan diri dalam menghadapi masa tua b. II. Keluarga dimana usia lanjut berada b. Sasaran tidak langsung : a.

BAB V PELAKSANAAN DI PUSKESMAS A.1. Kelompok Usia 70 tahun atau dengan resiko tinggi dengan masalah Kesehatan. kelompok Usia lanjut 60-69 tahun 3. Kelompok Usia 45-59 tahun 2.DATA LANJUT USIA PER KELURAHAN KECAMATAN MAMPANG PRAPATAN TAHUN 2010 268 . TABEL. PUSKESMAS KECAMATAN MAMPANG PRAPATAN Sasaran Pembinaan kesehatan pada kelompok Usia Lanjut di puskesmas kecamatan mampang: 1.

TABEL 2.KEGIATAN LANSIA PUSKESMAS KECAMATAN MAMPANG PRAPATAN TAHUN 2010 269 .

RENCANA KEGIATAN LANJUT USIA 270 .TABEL 3.

Tugas ganda dari petugas 3.DIAGRAM.Terbatasnya petugas Lansia di Puskesmas Kecamatan dan Kelurahan 2. Keterbatasan petugas dalam pembinaan terhadap lansia di wilayah binaan 4. Jumlah lansia yang dibina lebih rendah dengan jumlah lansia yang ada di wilayah 271 .10 PENYAKIT TERTINGGI PADA LANSIA DI PUSKESMAS KECAMATAN MAMPANG MASALAH DAN HAMBATAN YANG DIHADAPI DI PUSKESMAS KECAMATAN MAMPANG: 1.

GAMBARAN        Jumlah Lanjut Usia Di Jakarta Selatan 315.1.951 jiwa Jumlah yang dibina 13.2.PUSKESMAS LAIN I.B.KEGIATAN PROGRAM LANSIA JAKARTA SELATAN     Perencanaan Pelaksanaan Penilaian/ Evaluasi Pembinaan I.KEGIATAN PROGRAM LANSIA DPA Sudin Kesmas Jak Selatan th 2008 :      Pertemuan Berkala Petugas Lansia Kecamatan Pemberdayaan lanjut Usia Pertemuan FKLU Peningkatan wawasan Petugas Evaluasi Program dan supervisi 272 .38%) Jumlah kelompok 154 klp Dibina 154 klp (100%) Jumlah Puskesmas 78 PKm (10 Kec + 68 Kel) Yg membina lansia 78 PKM (100%) I.855 (4.

JADWAL KEGIATAN LANJUT USIA 273 .TABEL 4. PERKEMBANGAN KELOMPOK LANJUT USIA TABEL 5.

HASIL KEGIATAN II.51%) Hypertensi : 694 org (5.11%)   Gangguan mental Emosional : 659 org (4.2.LANSIA DENGAN KELAINAN.926 org 274 .48%) : 179 org (1.562 org : 1.298 org : 4.DI OBATI DAN DIRUJUK        Juml Lansia dg Kelainan : 9.06%) II.026 org : 59 org : 3.987 org Lansia diobati (kum) Lansia dirujuk Kasus konseling baru Kasus konseling lama Penyuluhan Lansia punya KMS : 13.62%%) : 1733 org (12.II.539 org : 1.10%) B : 431 org (3.01%) Anaemi DM : 343 org (2.LANSIA DENGAN KELAINAN :  Kemandirian A : 15 org (0.1.29%) Gangguan Ginjal : 8 org (0.76%) Status Gizi (IMT) kurang IMT lebih     : 640 org (4.

136 Jantung 1.501 Gimul 6917 Gastritis 6.256 Rematik 16.402 Hipertensi 21.762 Kulit 6400 Dm 5.154 Penyakit Usia >60 tahun 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Hipertensi 19.123 Mata 2.TABEL 6.958 Rematik 14.711 Anemi 916 Lain –lain 15.007 penyakit GRAFIK 1.718 Mata 3.687 Gimul 14.383 Jantung 1.962 Sal nafas atas 17. LANSIA YANG DIRUJUK DAN DIOBATI 275 .067 Anemi 944 Lain-lain 22.899 Kulit 11. PENYAKIT TERBANYAK LANSIA Usia 45-59 tahun 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Sal nafas atas 33.475 DM 5.131 Gastritis 10.

GRAFIK 2. JUMLAH LANJUT USIA GRAFIK 3.STATUS GIZI LANJUT USIA 276 .

GRAFIK 4.KEMANDIRIAN LANJUT USIA GRAFIK 5.LANSIA YANG ADA DAN DILAYANI KESEHATAN 277 .

SKJ. SKJ. BL. SKJ. Aerobik. SKJ.Tera . Snm Osteoporosis. Jantung sehat. SKJ. SKJ. Jantung sehat. SKJ. Tera & pernafasan. Kreasi.SN. SKJ. Kreasi       Kebayoran Baru : Jantung sehat.GRAFIK 6. Osteoporosis. Osteoporosis Setiabudi : Tera & pernafasan. Kreasi Jagakarsa : SSI. Snm DM. DM. Tera & pernafasan. Kreasi 278 . Kreasi Cilandak : Tera & pernafasan. Pesanggrahan : PORPRI.Yoga. SKJ. Mahatma Mp Prapatan : Tera & pernafasan. Senam Otak. Senam DM. Kreasi Pasar Mgg : SSI.LANSIA YANG DIRUJUK DAN DIOBATI JENIS OLAH RAGA LANSIA JAKARTA SELATAN:     Tebet : Tera & pernafasan. Ayo Bersatu. Tera & Pernafasan Kebayoran Lama : Tera & pernafasan. Aerobik.Jantung sehat. Snm Jantung. KesJas Lansia. Kreasi Pancoran :Osteoporosis.

44%) Pancoran 231/528 (43.75) Jagakarsa 441/803 (54. Pelayanan Medis  30% lansia diskrining.36%) Keberhasilan Program berdasar indikator (Depkes). pencapaian 48.62%) Kby Lama 220/503 (43. pencapaian 100% 30% Puskesmas melaksanakan konseling.TABEL. pencapaian 90% (9 dari 10 Puskesmas Kecamatan melaksanakan konseling Kegiatan Non Medis  70% Puskesmas membina kelompok lansia. pencapaian 100%  50% Desa mempunyai Kelompok Lansia. pencapaian 22.36%) Mp Prapatan 240/554 (43.27%) Setiabudi 185/417 (44. pencapaian 50%  100% lansia dipanti diskrining.29%) Keby Baru 295/458 (64.92%) Pesanggr 205/645 (31.32%) Psr Mgg 570/1882 (30.70% 279 .FREKUENSI SENAM DAN ANGGOTA YANG SENAM FREKUENSI SENAM           PRESENTASE ANGGOTA YANG SENAM Tebet 1x / mgg Setiabudi 2-4x/ mgg Mp Prapatan 2-3x/ mgg Psr Mgg 1/2x/ mgg Keby Baru 1-5x/ mgg Kby Lama 2x/ mgg Cilandak 1-2x/ mgg Pancoran 1-3x/ mgg Jagakarsa 1-2x/ mgg Pesanggrahan 2-4x/ mg            Tebet 280/2484 (11.74%) Cilandak 176/511 (34.78%) Total 2843/8785 (32.90%  50% Kelomp Lansia melaksanakan senam .

Sasaran mutu Lansia  Target 20% penambahan jumlah lansia dibina. 280 . pencapaian 27% Kegiatan Sudin Kesehatan (DASK)  1 dari 6 kegiatan tidak dapat dilaksanakan.

75%)  Skrining kesehatan lansia dipanti ―baik‖ (100%)  Puskesmas yg melaksanakan konseling status ―baik‖ (90%).BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Keberhasilan berdasar Indikator : Pelayanan Medis  Skrining pada lansia status ―kurang‖ (16. status ―kurang‖ (45. Pembinaan terhadap kelompok lansia ditingkatkan. SARAN • • • • Ada kaderisasi lansia. Kegiatan Sudin Kesehatan (DASK) terealisasi 5 kegiatan dari 6 yg ditargetkan.8%)  Kelompok lansia yg senam.4%) Sasaran mutu lansia  Sasaran mutu tercapai yaitu 27. status ―baik‖ (100%)  Desa yang mempunyai kelompok lansia. Kegiatan non Medis  Puskesmas membina kelompok lansia. Pembentukan kelompok lansia di tiap RW. Meningkatkan Kreatifitas kegiatan lansia sesuai dengan tingkat kemandiriannya. status ―baik‖ (97. 281 .75% (target 20%).

1998. Undang-Undang RI No 23 Tahun 1992.BAB VII DAFTAR PUSTAKA 1. Pedoman kerja puskesmas Jilid IV. 1990 5. Zuhdi Makmun. Upaya kesehatan usia lanjut. 4. Pendekatan Komprehensif Terhadap Perawatan Kesehatan Pada Usia Lanjut Menjelang Tahun 2000. Nomor 59 Tahun 1998. 3. Jakarta: depkes RI. Tentang Kesehatan. 282 . Majalah Kesehatan Masyarakat. Johana E. Aspek Sosial Psikologi Usia Lanjut Di Indonesia. Pasal19 ayat 1 6. laporan tahunan 2010. Prawitasari. Usia Lanjut Bagi Petugas Kesehatan. 2010. Jakatra : puskesmas mampang prapatan. Jakarta : Depkes RI. 2. Buletin Penelitian kesehatan 21 (4) Hal 73 -83.

UPAYA PEMBINAAN PENGOBATAN TRADISIONAL Penyusun : Michael Gunawan (03006116) Raihana Shahar (03006342) 283 .

Dalam rangka meningkatkan kemandirian masyarakat untuk mengatasi masalah kesehatan. pembinaan pengobatan tradisional yang mencakup cara atau metode. pembinaan pengobatan tradisional dilaksanakan melalui pendekatan PKMD (Primary Health Care) dengan salah satu strategi penting adalah teknologi tepat guna metode pengobatan tradisional.BAB I PENDAHULUAN Sesuai dengan kebijaksanaan yang ditetapkan. 284 . Disamping itu. Selain cara pengobatan tradisional tersebut. Disamping itu upaya pengobatan tradisional sangat bermanfaat dalam upaya meningkatkan kesehatan maupun upaya pencegahan dan pemulihan kesehatan. Di samping itu. obat dan pengobatannya. dengan pemanfaatan tanaman obat dan akupresur perlu diberikan kepada masyarakat. keberadaan pengobatan tradisional mempunyai potensi besar dalam rangka ikut meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. tingkat pelayanan kesehatan dasar (puskesmas) sampai dengan tingkat rumah sakit sebagai dukungan rujukan. para pengobat tradisional yang berada di wilayah kerja puskesmas perlu dibina melalui KIE kultural dengan fasilitator petugas puskesmas agar dapat terhindar dari hal – hal yang tidak diinginkan. Pemerintah juga telah memasukkan obat tradisional ke dalam sistem pelayanan formal. Di tingkat rumah tangga dan tingkat pelayanan kesehatan dasar. penyebarluasan pengetahuan tentang cara–cara mengatasi gangguan kesehatan. Salah satu upaya di atas adalah pengembangan pengobatan tradisional melalui pemanfaatan tanaman obat dan pijat akupresur yang merupakan alternative pengobatan dalam mengatasi masalah kesehatan terutama sebagai upaya pertolongan pertama. dilaksanakan melalui jaringan pelayanan kesehatan paripurna mulai dari tingkat rumah tangga. Di Indonesia pada saat ini upaya pengobatan tradisional dengan obat tradisionalnya berperan pada tingkat rumah tangga dan tingkat masyarakat. berperan juga sebagai motivator dan komunikator pembangunan kesehatan.

mengatasi keluhan. bahan hewan. patah tulang. dan penyakit ringan. dan paranormal. pengalaman. serta memulihkan kondisi tubuh. 285 . Titik–titik yang diberi perlakuan dalam sistem pengobatan akupresur telah terbukti secara medis berpengaruh terhadap keadaan tubuh. pangur gigi. pendekatan agama. obat. sediaan (galenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun – temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman (UU Kesehatan No. tabib. dan pengobatannya. akupresuris. batra ramuan. Pengobatan tradisional (batra) adalah seseorang yang diakui dan dimanfaatkan sebagai orang yang mampu melakukan pengobatan secara tradisional. dan keterampilan turuntemurun baik itu yang asli maupun yang berasal dari luar Indonesia dan diterapkan sesuai norma yang berlaku dalam masyarakat (UU Kesehatan No. jamu gendong. sehingga dengan pemberian rangsangan pada titik–titik tersebut akan mengubah kondisi fisiologis tubuh. pijat urut. yang mengacu pada pengetahuan. mencegah penyakit tertentu. Sinkronisasi antara pemijatan di titik tertentu dengan kondisi fisiologis tubuh dapat dijelaskan secara ilmiah dan medis. bahan mineral. sinshe.23/1992). tenaga dalam.BAB II PENGERTIAN Pengobatan tradisional adalah upaya pengobatan dan atau perawatan cara lain diluar ilmu kedokteran atau ilmu keperawatan yang mencakup cara atau metode. Sesuai hasil inventarisasi jenis tenaga pengobatan tradisional meliputi akupunturis. Akupresur adalah tindakan pemijatan yang dilakukan pada titik tertentu di permukaan tubuh dengan tujuan meningkatkan daya tahan tubuh.23/1992). batra sunat. pijat refleksi. Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan (termasuk tanaman yang ada di sekitar tempat tinggal).

1 Tujuan Umum: Dilakukannya pembinaan terhadap semua sarana. dan kegiatan pengobatan tradisional. Terbina semua tenaga pengobatan tradisional yang ada di wilayah kerja. tenaga. 286 .2 Tujuan Khusus: 1. 2. III.BAB III TUJUAN III. 3. serta akupresur di wilayah tempat kerja. Terbina tenaga potensial dalam masyarakat dalam mengembangkan pengobatan tradisional dan akupresur. Terbina sarana – sarana pengobatan tradisional dan akupresur di wilayah tempat kerja.

Pembinaan tenaga potensial masyarakat dalam mengembangkan pengobatan tradisional dan akupresur. Pengawasan sarana pengobatan tradisional dan akupresur. IV. Sasaran tidak langsung. 287 .2 Sasaran a. pemuka masyarakat atau tokoh masyarakat. Pengobat Tradisional.1 Kegiatan a. 2. Pembinaan dan pengawasan kegiatan kader paska pelatihan. Pembinaan batra melalu sarasehan (KIE Kultural). Pelatihan obat tradisional terutama yang berasal dari tanaman obat termasuk TOGA dan akupresur pada kader PKK atau Kesehatan. Pembinaan semua tenaga pengobatan tradisional yang ada di wilayah kerja.  Kader PKK atau Kesehatan. Inventarisasi atau pendataan jenis pengobatan tradisional.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN IV. c. 1. 2. KIE Kultural adalah suatu forum komunikasi. 1. Ibu Rumah Tangga. 2. Pembinaan sarana – sarana pengobatan tradisional dan akupresur. Pendataan sarana – sarana pengobatan tradisional dan akupresur. b. Sasaran langsung. b. 1. informasi dan edukasi yang disesuaikan dengan adat istiadat / budaya setempat dan bersifat kekeluargaan.  Masyarakat umum.

untuk penyuluhan kasus-kasus rujukan.Perawat yang dengan atau dapat obat pijat penyelenggaraan kepada penyuluhan masyarakat oleh kader. Pengawasan Kader paska pelatihan . Kegiatan 1. pelaksanaan dan aturan rujukan kasus yang harus dirujuk oleh kader 3.Dokter . latihan meracik obat tradisional atau akupresur.Kunjungan . Pelatihan Kader Bentuk kegiatan .Dokter . Pembinaan tenaga potensial masyarakat.Perawat .Membantu masalah kader 288 ke tempat . Pembinaan Kader setelah pelatihan .Bidan penyuluhan. pemilihan kasuskasus ditangani tradisional akupresur 2.BAB V PENATALAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN MAMPANG A.Bidan penyuluhan kader memecahkan yang ditemui .Pelaksanaan pelatihan: Pelaksana . demonstrasi obat tradisional atau akupresur.Persiapan pelatihan .Melakukan untuk koordinasi .Perawat .

Perawat sarana–sarana pengobatan . Pembinaan sarana–sarana pengobatan dan akupresur tradisional tradisional Bentuk kegiatan Mendata sarana–sarana .Melakukan kunjungan ke . Pembinaan sarana – sarana pengobatan tradisional dan akupresur Kegiatan 1..Bidan Petugas pengobatan tradisional dan akupresur yang ada di wilayah kerja .Dokter .Bidan dengan syarat kesehatan .Mengawasi keracunan dan kejadian luar biasa yang mungkin terjadi . Pengawasan sarana . misalnya memonitor tradisional dan akupresur kegiatan yang dilakukan tenaga terampil yang ada.Melakukan perbaikan saran usulan sesuai .Melakukan koordinasi untuk pengawasan penyakit menular atau kejadian luar biasa sarana– pengobatan dan peristiwa keracunan 3.Perawat .Perawat .Mengawasi system rujukan dari kader ke puskesmas atau fasilitas pelayanan untuk tertentu kesehatan kasus–kasus B.Bidan tradisional atau akupresur.Mendata kegiatan yang dilakukan kader . Pendataan sarana–sarana pengobatan dan akupresur 2. 289 .

Pelaksanaan (KIE Kultural) sarasehan . Data yang diambil adalah jumlah dan jenis data pengobatan tradisional 2. Inventarisasi pendataan atau jenis Bentuk kegiatan Pelaksana .Membuat catatan kegiatan yang dilakukan oleh sarana– sarana di atas .keadaan lingkungan sanitasi . Pendekataan dan seleksi batra .Petugas kesehatan tradisional yang ada di .Bidan pengetahuan keterampilan pendekatan (budaya setempat) sesuai dengan modul . dan dengan kultural .Semua dalam pemecahan masalah yang dihadapi yang proses terlibat berada dalam kedudukan yang sama baik hak dan 290 .Hasil inventarisasi dipilih 10 – 15 batra untuk ikut KIE Kultural .Melakukan atau alih penyuluhan informasi.Kader wilayah tempat kerjanya.Mendata jenis pengobat .Mengatasi lingkungan di sanitasi sarana– sarana tersebut C.Petugas kesehatan 3.Perawat .Melakukan . Pembinaan seluruh jenis pengobatan tradisional Kegiatan 1.

d. Jumlah pemberi pelayanan pengobatan tradisional dan akupresur. 3. Jumlah keluarga yang menggunakan obat tradisional dan akupresur. Pembinaan sarana–sarana pengobatan tradisional / akupresur Jumlah sarana pengobatan tradisional yang diusulkan untuk diperbaiki sesuai dengan syarat kesehatan.kewajiban D. Jumlah kader PKK atau Kesehatan yang aktif melakukan penyuluhan obat tradisional dan akupresur. Evaluasi program a. Tenaga potensial dalam masyarakat. Jumlah kader PKK atauKesehatan yang sudah mengikuti pelatihan. 2. Pendataan sarana–sarana Jumlah sarana–sarana pengobatan tradisional yang ada di wilayah kerja puskesmas. Cakupan penyuluhan yang dapat dilakukan oleh kader. b. Jumlah kasus yang dapat diatasi dengan obat tradisional dan pijat akupresur. Pengawasan sarana–sarana pengobatan tradisional / akupresur Jumlah kunjungan ke sarana–sarana pengobatan tradisional per tahun per sarana. Jumlah ibu– ibu rumah tangga/masyarakat yang dibina oleh kader. Jenis pengobatan tradisional yang ada di wilayah kerja puskesmas. 291 . c. Pembinaan tenaga potensial masyarakat dalam mengembangkan pengobatan tradisional dan akupresur. Penanganan kasus– kasus dengan obat tradisional oleh kader. Jumlah keluarga yang memiliki tanaman obat tradisional. Jumlah kasus–kasus yang harus dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan. 1.

Jumlah peristiwa keracunan yang terjadi selama 1 tahun di sarana pengobatan tradicional. Jumlah pengobat tradisional yang telah ikut sarasehan.- Jumlah kejadian luar biasa yang terjadi selama 1 tahun di sarana pengobatan tradicional. 292 . Jumlah pengobat tradisional yang memberikan pengobatan sesuai syarat kesehatan. KIE Kultural. Jumlah pengobat tradisional yang aktif sebagai motivator dan komunikator kesehatan. Jumlah sarana pengobatan tradisional yang sudah diperbaiki sesuai usulan puskesmas. E.

patah tulang. akupunturis dan akupresuris lebih sering dimanfaatkan di puskesmas sebagai pengobatan di luar pengobatan secara medis. tenaga pengobatan tradisional tersebut terdiri atas akupunturis. Berdasarkan data yang didapat. tabib. dengan adanya pengobatan tradisional ini menjadi solusi dalam pencegahan dan pemulihan kesehatan. yaitu dengan cara mencari tenaga pelatih untuk mengembangkan dan membina potensi yang ada pada orang–orang tersebut dan tetap memantau mereka setelah mereka mendapatkan pelatihan tersebut. pangur gigi. 293 . Pengembangan pengobatan tradisional dilakukan dengan cara pemanfaatan tanaman obat dan pijat akupresur sebagai upaya pertolongan pertama di masyarakat. Mendata semua sarana–sarana pengobatan tradisional yang ada dan melakukan kunjungan ke sarana–sarana pengobatan tradisional serta mencatat kegiatan apa saja yang mereka lakukan di sarana – sarana pengobatan tradisional tersebut. 2. VI. akupresuris. batra sunat. dan paranormal. pijat urut.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN VI. Mendata siapa saja tenaga pengobat tradisional yang ada pada suatu wilayah dan mengelompokkan mereka berdasarkan keahlian mereka. batra ramuan. Diharapkan orang–orang yang memiliki potensi dalam mengembangkan pengobatan tradisional seperti akupuntur dan akupresur diberdayakan sebagai tenaga kesehatan di masyarakat. sinshe. piat refleksi.1 Kesimpulan Pengobatan tradisional merupakan salah satu tingkat pelayanan kesehatan dasar di puskesmas dimana memiliki potensi yang besar dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Selain itu. jamu gendong.2 Saran 1. tenaga dalam. Dari data tersebut. 3. pendekatan agama.

Upaya Pembinaan Pengobatan Tradisonal. diakses tanggal 18 Juli 2011. 5.surabaya-ehealth. Departemen Kesehatan RI. Direktorat Bina Peran Serta Masyarakat Dirjen Pembinaan Kesehatan Masyarakat : Buku Pedoman Praktis Akupresur.org/dkksurabaya/berita/pengobatan-tradisionalakupuntur. http://www. 4. diakses tanggal 18 juli 2011.com/content. Departemen Kesehatan RI: Pedoman Kerja Puskesmas. Jakarta.DAFTAR PUSTAKA 1. Jakarta. Direktorat Bina Peran Serta Masyarakat Dirjen Pembinaan Kesehatan Masyarakat: Pemanfaatan Tanaman Obat Untuk Kesehatan Keluarga. http://www. Jilid ke-2. Departemen Kesehatan RI. 3.informasi-obat. 1996. Edisi ke-3. 294 . 2. Jakarta. 1996. 1999: hal 349 – 354.

UPAYA KESEHATAN PENUNJANG LABORATORIUM Penyusun : Ktut Yoga Wira K (03004126) Norfashiha Kamarudin (03006329) 295 .

Ultrasonografi juga disediakan. feces rutin dan kimia darah. Berbagai pelayanan kesehatan penunjang diagnostik yang dilaksanakan oleh fasilitas pelayanan kesehatan seperti laboratorium klinik dan laboratorium kesehatan juga pencitraan. karena itu lingkungan laboratorium menjadi salah satu tempat yang baik untuk berkembangnya berbagai penyakit infeksi. Dengan pemberian pelayanan kesehatan penunjang secara cepat dan tepat diharapkan sebagian besar masalah kesehatan masyarakat dapat diatasi. Upaya kesehatan penunjang merupakan upaya yang sangat penting dalam rangka memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat untuk menunjang upaya kesehatan wajib dan pengembangan. fasilitas pemeriksaan penunjang yang tersedia adalah pemeriksaan laboratorium darah rutin. Upaya pelayanan kesehatan terbagi kepada tiga bagan penting yaitu upaya kesehatan wajib.BAB I PENDAHULUAN Dalam rangka mencapai tujuan pembangunan kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Laboratorium juga mempunyai fungsi sebagai tempat untuk berbagai penelitian yang berhubungan dengan pembiakan media-media kuman penyakit. tidak tersedia di Puskesmas Kecamatan Mampang karena gedung puskesmasnya sedang direnovasi. Untuk pencitraan. Laboratorium merupakan salah satu fasilitas medik yang disediakan sebagai penunjang diagnosis penyakit. urin rutin. upaya kesehatan pengembangan dan upaya kesehatan penunjang. Di Puskesmas Mampang. Jadi lokasi puskesmas sekarang berada di sebuah kontrakan yang tidak memungkinkan untuk menyediakan fasilitas rontgen. telah dilakukan berbagai upaya pelayanan kesehatan masyarakat. antara lain HIV/AIDS. 296 .

rektal swab pemeriksaan makanan dan minuman. laboratorium kimia. misalnya laboratorium fisika. peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit serta mengevaluasi hasil intervensi medik. Laboratorium ilmiah biasanya dibedakan menurut disiplin ilmunya. pengukuran ataupun pelatihan ilmiah dilakukan. menentukan tindakan penyembuhan dan pemulihan. eksperimen. dapat dilakukan pemeriksaan seperti pemeriksaan air minum. Pelayanan individual pengguna jasa yang berkunjung ke puskesmas 2. dan laboratorium bahasa. laboratorium komputer. BTA.BAB II PENGERTIAN Pelayanan pemeriksaan penunjang merupakan tindakan pemeriksaan kesehatan yang diselenggarakan guna melengkapi data biologic pengguna jasa yaitu dalam rangka menegakkan diagnosis. sensitifitas antibiotika. menemukan antibiotika yang paling sesuai untuk mengatasi penyakit yang anda derita. Sedangkan untuk mikrobiologi dapat dilakukan pemeriksaan mikroskopis. Laboratorium biasanya dibuat untuk memungkinkan dilakukannya kegiatan-kegiatan tersebut secara terkendali. kultur. Laboratorium klinik atau laboratorium medis ialah laboratorium di mana berbagai macam tes dilakukan pada spesimen biologis untuk mendapatkan informasi tentang kesehatan pasien. air bersih. jamur dan pemeriksaan garam bertujuan diantaranya untuk mengetahui pertumbuhan mikroorganisme dalam tubuh ( memastikan adanya infeksi bakteri/jamur). Pada laboratorium kesehatan masyarakat.1 Laboratorium (disingkat lab) adalah tempat riset ilmiah. air limbah.2 Pelayanan laboratorium di puskesmas terdiri dari: 1. Pemeriksaan kelompok atau masyarakat di wilayah kerja 297 . laboratorium biokimia. bakteri air dan usap alat yang bertujuan untuk mengetahui kebersihan/kesehatan dari makanan yang kita konsumsi maupun peralatan masak yang digunakan.

puskesmas keliling. Ditingkatkannya kegiatan laboratorium kesehatan di puskesmas. b.BAB III TUJUAN 1. Tercapainya diagnosis yang tepat melalui lengkapnya pemeriksaan yang dilakukan ii.1 298 . Tujuan khusus a. puskesmas pembantu. Tujuan umum Didukungnya upaya peningkatan kesehatan. 2. posyandu sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya. Diketahuinya hasil intervensi medik yang telah diberikan pada pengguna jasa pelayanan kesehatan/pasien melalui perbandingan hasil pemeriksaan penunjang sebelumnya dan sesudahnya. serta pemantauan dan evaluasi terapi secara efisien dan efektif. pencegahan penyakit. penyembuhan dan pemulihan kesehatan yang meliputi deteksi dini. Ditingkatkannya mutu pelayanan kesehatan perorangan dengan: i.

selsel muda darah 299 . Spesimen lain. hitung jenis lekosit. Pelayanan laboratorium untuk menunjang pelayanan kesehatan di dalam wilayah kerja a. hitung retikulosit. ii. Pemeriksaan hematologi sederhana antara lain: i. ii. Serum. iv. Dalam keadaan darurat/kondisi tertentu. vi. iii. Melaksanakan pemeriksaan laboratorium untuk mendukung program-program lain. ii. Pelayanan laboratorium untuk menunjang pelayanan medik terpadu di puskesmas a. Sampel air dari sumber air yang dimanfaatkan oleh umum Spesimen tinja. untuk menemukan penyebab penyakit saluran pencernaan Spesimen untuk pemeriksaan kimia klinik sehubungan dengan penyakit-penyakit yang merupakan masalah umum bagi masyarakat seperti: penyakit hati. v.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN 1. Penanggulangan Kejadian Luar Biasa Survei penyakit-penyakit tertentu c. melaksanakan rujukan spesimen secara horizontal antar puskesmas di wilayahnya. gangguan metabolism dan penyakit kurang gizi. 2. penyakit ginjal. program perlindungan akseptor KB. Hemoglobin secara ahli Sediaan apus darah tepi: morfologi sel. misalnya kasus keracunan. untuk keperluan tes antibodi guna menentukan penyakit-penyakit tertentu. seperti: i. Spesimen-spesimen untuk keperluan kultur/biakan maupun tes sensitivitas. Mengumpulkan dan merujuk spesimen untuk diperiksa lebih lanjut terhadap: i. b.

iv. bilirubin. Pemeriksaan cairan serebrospinal: tes Nonne. dermatofita. cairan uretra/secret vagina untuk GO iii. Elektrokardiografi (EKG) b. iii. hitung lekosit. USG. Pemeriksaan hitung eritrosit. urobilinogen dan glukosa semi kuantitatif iv.iii. antara lain: i. ii. antara lain: i. Pemeriksaan makroskopik tinja Pemeriksaan mikroskopik tinja Pemeriksaan parasitologi d. Pemeriksaan makroskopik urine Pemeriksaan mikroskopik urine Kimia urine seperti: protein. ii. ii. filaria. antara lain: i. tes Pandi Pemeriksaan cairan tubuh lainnya: tes Rivalta pada punksi pleura 3. antara lain yaitu: i. dll 300 . nitrat. hitung trombosit Pemeriksaan laju endap darah (LED) Pemeriksaan jumlah hematokrit b. bakteri gram (+). Infeksi jamur superfisial: tinea versikolor. Rontgen foto (X-ray) c. Pemeriksaan laboratorium lainnya. Bila fasilitas dan tenaga memungkinkan dapat dilakukan pemeriksaan penunjang lainnya a. trikhomonas vaginalis Infeksi spesifik: BTA sputum untuk TBC. BTA kerokan kulit untuk lepra. Infeksi parasit: malaria. Pemeriksaan tinja sederhana. ii. v. Pemeriksaan mikrobiologi sederhana lainnya. iii. Pemeriksaan urine sederhana. Pemeriksaan kehamilan c.skizotomia. kandidiasis e.

Evaluasi Penilaian mutu penyelenggaraan Sasaran dari semua kegiatan di puskesmas adalah semua pasien yang datang ke puskesmas untuk berobat. juga masyarakat sekitar yang termasuk dalam wilayah kerja puskesmas.1 301 .4.

program perlindungan akseptor KB. hitung retikulosit. ix. Pemeriksaan hematologi sederhana antara lain: vi. d. Spesimen lain. Penanggulangan Kejadian Luar Biasa b. hitung lekosit. Specimen tinja. Dalam keadaan darurat/kondisi tertentu. sel-sel muda darah viii. melaksanakan rujukan specimen secara horizontal antar puskesmas di wilayahnya. Specimen-spesimen untuk keperluan kultur/biakan maupun tes sensitivitas. Melaksanakan pemeriksaan laboratorium untuk mendukung program-program lain. hitung trombosit Pemeriksaan laju endap darah (LED) 302 . e. Survei penyakit-penyakit tertentu c. b. Pemeriksaan hitung eritrosit. hitung jenis lekosit. 2. untuk keperluan tes antibody guna menentukan penyakit-penyakit tertentu. Hemoglobin secara ahli Sediaan apus darah tepi: morfologi sel.BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS Pelaksanaan kegiatan laboratorium di Puskesmas adalah: 1. Specimen untuk pemeriksaan kimia klinik sehubungan dengan penyakitpenyakit yang merupakan masalah umum bagi masyarakat seperti: penyakit hati. Serum. Pelayanan laboratorium untuk menunjang pelayanan medik terpadu di puskesmas d. misalnya kasus keracunan. untuk menemukan penyebab penyakit saluran pencernaan c. vii. gangguan metabolism dan penyakit kurang gizi. f. Sampel air dari sumber air yang dimanfaatkan oleh umum b. seperti: a. penyakit ginjal. Mengumpulkan dan merujuk specimen untuk diperiksa lebih lanjut terhadap: a.Pelayanan laboratorium untuk menunjang pelayanan kesehatan di dalam wilayah kerja a.

teknolog utama. dermatofita. urobilinogen dan glukosa semi kuantitatif viii. Pada laboratorium puskesmas kelurahan hanya tersedia pemeriksaan darah lengkap. antara lain: iv. transkripsionis. kegiatan di puskesmas kelurahan tidaklah selengkap kegiatan laboratorium di puskesmas kecamatan. Pemeriksaan penunjang lainnya a. Infeksi jamur superficial: tinea versikolor. Evaluasi i. USG 4. bilirubin. Pemeriksaan kehamilan f. v. teknolog medis. Pemeriksaan makroskopik urine Pemeriksaan mikroskopik urine Kimia urine seperti: protein. teknisi laboratorium medis. Pemeriksaan tinja sederhana. pemeriksaan hematologi sederhana dan pemeriksaan urine. dan prosesor specimen. vi. v. Pemeriksaan urine sederhana. Pemeriksaan jumlah hematokrit e. vii. vi. filarial.skizotomia. asisten laboratorium medis. bakteri gram (+). histoteknolog. Infeksi parasit: malaria. trikhomonas vaginalis Infeksi spesifik: BTA sputum untuk TBC. Pemeriksaan makroskopik tinja Pemeriksaan mikroskopik tinja Pemeriksaan parasitologi g. 303 . antara lain yaitu: iv. Penilaian mutu penyelenggaraan Pelaksana kegiatan di Puskesmas dilakukan adalah patolog. Jika dibandingkan dengan pelaksanaan laboratorium di puskesmas kelurahan. manajer laboratorium. nitrat. cairan uretra/secret vagina untuk GO vi. ahli flebotomi. kandidiasis 3.x. asisten patolog. Pemeriksaan mikrobiologi sederhana lainnya. antara lain: v. penasehat bagian. BTA kerokan kulit untuk lepra.

asisten patolog.penyakit penyakit merupakan masalah bagi seperti: hati. teknolog utama. Serum.Kegiatan 1. metabolism penyakit gizi. histoteknolog. dan prosesor ahli masyarakat penyakit penyakit gangguan dan kurang specimen. teknolog medis. flebotomi. ginjal. penasehat bagian. asisten merujuk ambil untuk penderita lebih - lanjut terhadap : Penanggulangan Spesimen Spesimen tinja. Spesimenuntuk spesimen keperluan kultur/biakan maupun sensitivitas. Spesimen lain.penyakit tertentu. transkripsionis. Kejadian untuk Biasa Luar pemeriksaan kimia -Survei klinik sehubungan penyakitdengan penyakit. untuk tes guna tes 304 . manajer laboratorium. teknisi laboratorium medis. Mengumpulkan dan specimen diperiksa Sasaran -Spesimen Tempat di Laboratorium dari puskesmas Waktu Jam pelayanan puskesmas Pelaksana patolog. umum yang tertentu laboratorium medis. keperluan antibody menentukan penyakit.

misalnya keracunan kasus 2. USG Pada hamil pasien Di puskesmas Jam pelayanan puskesmas Dokter spesialis obygn 305 . Rujukan spesimen Untuk specimen Puskesmas yang pemeriksaannya tidak ada di lain wilayahnya Jam di pelayanan puskesmas Dokter Puskesmas 3.

2. Meningkatnya frekuensi pengevaluasian mutu penyelenggaraan 306 . Meningkatnya mutu pelayanan laboratorium di puskesmas setempat. Diketahuinya hasil intervensi medik yang telah di berikan pada pengguna jasa pelayanan kesehatan melalui perbandingan hasil pemeriksaan penunjang sebelumnya dan sesudahnya. karena itu lingkungan laboratorium menjadi salah satu tempat yang baik untuk berkembangnya berbagai penyakit infeksi. Laboratorium juga mempunyai fungsi sebagai tempat untuk berbagai penelitian yang berhubungan dengan pembiakan media-media kuman penyakit. posyandu dapat berkembang sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya. puskesmas pembantu.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Tersedianya laboratorium klinis di setiap puskesmas diharapkan dapat menunjang kegiatan pelayanan kesehatan yakni dalam membantu penegakan diagnosis. Diharapkan mutu pelayanan kesehatan perorangan dapat ditingkatkan dengan: ii. Diharapkan kegiatan laboratorium kesehatan di puskesmas. Saran 1. 3. Tercapainya diagnosis yang tepat melalui lengkapnya pemeriksaan yang dilakukan iii. 4. puskesmas keliling.

id/index. 2010 [cited 2011 July 20] Available at http://buk. 2.depkes.go. Departemen Kesehatan RI: Pedoman Kerja Puskesmas. Jilid ke-2.DAFTAR PUSTAKA 1. 1999: 349 – 354. Jakarta.php?option=com_docman&task=cat_view&gid=55&Ite mid=93 307 . Direktorat Bina Peran Serta Masyarakat Dirjen Pembinaan Kesehatan Masyarakat : Penunjang Medik. Januari 1. Program Penunjang Puskesmas. Departemen Kesehatan RI.

UPAYA KESEHATAN PENUNJANG PELAYANAN (SP2TP SISTEM PENCATATAN DAN PELAPORAN TERPADU PUSKESMAS) Penyusun: Rina Apriani(03004197) Raymond(03005183) 308 .

pelaksanaan. Untuk dapat merencanakan dan memantau serta evaluasi pelaksanaan program dengan baik. Sistem ini harus mampu menghasilkan data atau informasi yang memadai untuk menunjang perencanaan. preventif. puskesmas keliling dan bidan di desa serta RS dan laboratorium di berbagai tingkatan. kuratif. maka Sistem Informasi Kesehatan di Kabupaten/Kota akan lebih penting peranannya. Pencatatan dan pelaporan terpadu puskesmas merupakan salah satu kegiatan tersebut. Kelompok institusi terdepan tersebut tidak sekedar pemberi pelayanan kesehatan saja.143/binkesmas/DJ/II/1981. tepat waktu dan mutakhir. terpercaya. Saat ini ada 18 macam kegiatan pokok puskesmas. sangat diperlukan tersedianya seperangkat data dan informasi yang baik pula. 309 . Pembangunan upaya kesehatan masyarakat dilakukan di seluruh pelosok tanah air. puskesmas pembantu. dicatat dan dilaporkan secara teratur. dan dengan data yang benar. Kegiatan bersifat promotif. sangat diperlukan dalam pengelolaan program dan proyek serta kegiatan yang dilakukan. Dengan telah ditetapkannya UU nomor 22 tentang Otonomi Daerah. dimana daerah harus mengembangkan dan melakukan sendiri upaya kesehatan.63/menkes/II/1981 dan petunjuk pelaksanaan direktur jendral binkesmas no. teratur. Data yg benar-benar akurat. keberadaan data dan informasi memegang peran yang sangat penting. Semua kegiatan yang menjadi tugasnya.BAB I PENDAHULUAN Dalam era pembangunan. namun juga melaksanakan berbagai program pembangunan kesehatan masyarakat. tepat waktu. berkesinambungan. Untuk itu disusun sistem pencatatan dan pelaporan terpadu puskesmas (SP2TP) yang disahkan dengan keputusan menkes no. pengendalian serta untuk evaluasi berbagai kegiatan kesehatan tingkat kabupaten/kota. melalui puskesmas termasuk puskesmas tempat tidur. bahkan terkadang sampai rehabilitatif.

Pencatatan hasil kegiatan oleh pelaksana dicatat dalam buku-buku register yang berlaku untuk masing-masing program. Laporan bulanan mencakup data kesakitan. imunisasi. pelaporan. Laporan tribulanan meliputi kegiatan puskesmas antara lain kunjungan puskesmas. kegiatan rujukan puskesmas pelayanan medik kesehatan gigi. (2) analisis. Frekuensi pelaporan sebagai berikut: (1) bulanan. Koordinator SP2TP di puskesmas menerima laporan-laporan dalam format buku tadi dalam 2 rangkap. yaitu satu untuk arsip dan yang lainnya untuk dikirim ke koordinator SP2TP di Dinas Kesehatan Kabupaten. kesehatan lingkungan.I LATAR BELAKANG Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) merupakan instrumen vital dalam sistem kesehatan. KIA. (2) tribulan. (3) tahunan. 310 . yaitu data atau informasi harus lengkap dan data tersebut harus diterima tepat waktu oleh Dinas Kesehatan Kabupaten. gizi. KB. data ketenagaan puskesmas dan puskesmas pembantu. Laporan yang diperoleh Dinas Kesehatan Kabupaten diduga seringkali terlambat. Koordinator SP2TP di Dinas Kesehatan Kabupaten meneruskan ke masing-masing pengelola program di Dinas Kesehatan Kabupaten. Laporan tahunan terdiri dari data dasar yang meliputi fasilitas pendidikan. sehingga dapat dianalisis dan diinformasikan. dan penggunaan obat-obat. setelah diolah dan dianalisis dikirim ke koordinator SP3 di Dinas Kesehatan Provinsi dan seterusnya dilanjutkan proses untuk pemanfaatannya. Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas mencakup 3 hal: (1)pencatatan. kematian. Pengambilan keputusan di tingkat kabupaten dan kecamatan memerlukan data yang dilaporkan dalam SP2TP yang bernilai. Informasi tentang kesakitan. Dari Dinas Kesehatan Kabupaten. dan pengolahan. sehingga data yang diperoleh tidak dapat memberikan informasi yang bermanfaat untuk pengambilan keputusan. penggunaan pelayanan kesehatan di puskesmas. rawat tinggal.I. dan (3) pemanfaatan. Data tersebut kemudian direkapitulasikan ke dalam format laporan SP2TP yang sudah dibukukan. peran serta masyarakat dan lingkungan kedinasan. dan berbagai informasi kesehatan lainnya berguna untuk pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan di tingkat kabupaten atau kota maupun kecamatan.

namun segala sesuatu di puskesmas sangat terbatas. Puskesmas memiliki wilayah kerja dan berhubungan langsung dengan keluarga di rumahrumah mereka.Balai Pelatihan Kesehatan. sehingga mengakibatkan keterlambatan dalam pelaporan SP2TP. I. terutama bagi petugas puskesmas sebagai sumber data. Berbagai upaya telah dilakukan guna memecahkan permasalahan yang ada. Sesuai dengan keputusan ini. menjelaskan bahwa puskesmas merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan pemerintah. Meskipun puskesmas sebagai dasar pelayanan kesehatan bagi masyarakat. 311 . diperlukan pedoman SP2TP untuk pegangan bagi pelaksana di berbagai tingkat administrasi. Terbatas dalam biaya maupun sarananya. menemukan masalah-masalah yang dihadapi baik dari aspek teknis dan non teknis. Namun dalam kenyataannya belum berjalan seperti yang harapkan. Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) didalam pelaksanaannya juga masih terbatas pada data yang merupakan hasil dari interaksi antara masyarakat dengan fasilitas kesehatan. Bila terjadi sesuatu yang kurang menguntungkan dalam masyarakat yang menyangkut masalah kesehatan. maka puskesmas yang menjadi sasaran utamanya. Evaluasi dilakukan untuk mengkaji pelaksanaan sistem pencatatan dan pelaporan di Puskesmas. sampai akhirnya dikeluarkan Keputusan Direktur Jendral Pembinaan Kesehatan Masayrakat No.590/BM/DJ/Info/V/96 tentang penyederhanaan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas. SP2TP dapat juga membantu dalam perencanaan program-program kesehatan di puskesmas. berbagai permasalahan dihadapi antara lain banyaknya variabel yang harus dilaporkan sehingga kehadiran Sistem Pencatatan dan Pelaporan di Puskesmas dilihat sebagai suatu hal yang cukup membebani petugas puskesmas.II PERMASALAHAN Sejak pelaksanaan SP2TP dari tahun 1981.

1 Ruang Lingkup SP2TP Pelaksanaan SP2TP. Sistem adalah satu kesatuan yang terdiri dari komponen yang saling berkaitan. Umum dan demografi di wilayah kerja Puskesmas Ketenagaan di Puskesmas Sarana yang dimiliki Puskesmas Kegiatan pokok Puskesmas yang dilakukan di dalam dan di luar gedung Puskesmas Variabel atau indikator yang dilaporkan adalah data/informasi yang sensitif. termasuk Bidan di desa). sarana. berintegrasi dan mempunyai tujuan tertentu. Puskesmas Keliling. II. dan upaya pelayanan kesehatan di Puskesmas yang telah disederhanakan sesuai Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat No. Terpadu diartikan sebagai gabungan berbagai macam kegiatan upaya pelayanan kesehatan Puskesmas yang tidak tumpang tindih. 4. Oleh karena itu mencakup semua kegiatan yang dilakukan oleh Puskesmas (Puskesmas Pembantu. spesifik dan sederhana. 2. yang akan memperberat beban kerja petugas Puskesmas. menganut konsep wilayah kerja Puskesmas. tenaga. sehingga dapat dihindarkan pencatatan dan pelaporan lain. 590/BM/DJ/Info/V/96 tentang Penyederhanaan SP2TP. yang 312 . mudah diperoleh.BAB II PENGERTIAN Beberapa pengertian sebagai dasar dalam penyelenggaraan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) antara lain: SP2TP adalah kegiatan pencatatan dan pelaporan data imum. serta bermanfaat untuk pemantauan dan evaluasi. 3. Jenis data yang dikumpulkan dan dicatat dalam SP2TP adalah seluruh kegiatan di Puskesmas yang meliputi data: 1.

manajemen dan dampak program. Kanwil Depkes serta Pusat. Memberikan bimbingan kepada coordinator SP2TP dan para pelaksan kegiatan di Puskesmas. Tugas Penanggung Jawab SP2TP a. masalh. Penanggung jawab b. Bersama dengan para pelaksana kegiatan membuat laporan bulanan SP2TP dan mengirimkan laporan tersebut ke Dinas Kesehatan Dati II paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya c. Diharapkan pencatatan di Puskesmas dan laporan yang diterima di Dinas Kesehatan Dati II. Pengorganisasian a. Mengumpulkan laporan masing-masing pelaksana kegiatan b. Periode laporan dari Puskesmas ke Dati II adalah bulanan dan tahunan. Kepala Puskesmas bertanggung jawab atas pelaksaan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu di Puskesmas. diolah dan dimanfaatkan oleh pengambil keputusan dan penanggung jawab program guna meningkatkan pelaksanaan programnya. Koordinator c. Laporan SP2TP mempergunakan system tahun kalender.2 Pengorganisasian Dalam pelaksanaan SP2TP pengorganisasian di tingkat Puskesmas adalah sebagai berikut.dapat menggambrkan aksesibilitas. II. Bersama dengan para pelaksana kegiatan membuat laporan tahunan SP2TP dan mengirimkan laporan tersebut ke Dinas Kesehatan Dati II paling lambat tanggal 31 Januari tahun berikutnya 313 . Tugas Koordinator SP2TP a. b. Periode laporan dari Dati II ke Dati I dan Pusat adalah triwulan. Anggota : Kepala Puskesmas : Petugas yang ditunjuk Kepala Puskesmas : Pelaksana Kegiatan di Puskesmas 2. Dinas Kesehatan Dati I. 1. 3.

Dengan rincian satu rangkap unyuk arsip Koordinator SP2TP Puskesmas dan satu rangkap oleh Koordinator SP2TP Puskesmas disampaikan ke Dinas Kesehatan Dati II e. Menyimpan arsip laporan SP2TP dari masing-masing pelaksana kegiatan e. f. Mencatat setiap kegiatan pada kartu individu dan register yang ada b. Tugas Pelaksana Kegiatan a. Bertanggung jawab atas kelancaran pelaksanaan SP2TP kepada Kepala Puskesmas f.d. Mempersiapkan pertemuan berkala setiap 3 bulan yang dipimpin oleh Kepala Puskesmas dengan pelaksana kegiatan untuk menilai pelaksaan kegiatan SP2TP 4. Mengadakan bimbingan terhadap Puskesmas Pembantu dan Bidan di desa c. Setiap tanggal 5 mengisi/membuat laporan SP2TP dari hasil kegiatan masingmasing dalam 2 rangkap dan disampaikan kepada Koordinator SP2TP Puskesmas. Bertanggung jawab atas kebenaran isi laporan kegiatannya 314 . Hasil dari rekapitulasi ini merupakan bahan untuk mengisi/membuat laporan SP2TP d. Mengolah dan memanfaatkan data hasil rekapitulasi untuk tindak lanjut yang diperlukan dalam rangka meningkatkan kinerja kegiatan kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya. Melakukan rekapitulasi data dari hasil pencatatan dan laporan Puskesmas Pembantu serta Bidan di desa menjadi laporan kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya.

Puskesmas Pembantu. 6. secara benar. berkelanjutan dan teratur.BAB III TUJUAN UMUM DAN TUJUAN KHUSUS III. dalam formulir yang telah ditentukan secara benar. meliputi definisi operasional. 315 . 3.II TUJUAN KHUSUS 1. sehingga bermanfaat untuk mengetahui permasalahan kesehatan yang ada di masyarakat serta merumuskan cara penanggulangannya secara tepat. Tertatanya alur data di tingkat Puskesmas. berkala dan teratur. Puskesmas Keliling. Bidan di desa dan POSYANDU) dan data yang berkaitan serta dilaporkannya data tersebut kepada jenjang administrasi diatasnya sesuai kebutuhan secara benar. Tercatatnya semua data hasil kegiatan Puskesmas dan data yang berkaitan. Terlaporkannya data tersebut kepada jenjang administrasi yang lebih atas sesuai kebutuhan. dan bidan di desa. guna menunjang pengelolaan upaya kesehatan masyarakat sehingga meningkatnya kualitas manajemen Puskesmas secara lebih berhasil guna dan berdaya guna melalui pemanfaatan secara optimal data SP2TP dan informasi lain yang menunjang III. Puskesmas Pembantu. Tertatanya mekanisme pencatatan di tingkat puskesmas. pengolahan data menjadi informasi dan mekanisme pelaporannya. tata cara pengisian formulir. Diperolehnya kesamaan pengertian tentang SP2TP.I TUJUAN UMUM Didapatnya semua data hasil kegiatan puskesmas (termasuk Puskesmsa dengan tempat tidur. 5. dengan mempergunakan formulir yang telah ditetapkan. 4. berkelanjutan dan teratur. Terolahnya data tersebut menjadi informasi di Puskesmas dan setiap jenjang administrasi diatasnya. 2.

Dasar penyusunan rencana pelaksanaan kegiatan pokok puskesmas (Lokakarya mini) 10. 8. 9. Untuk mengatasi berbagai kegiatan hambatan pelaksanaan kegiatan pokok puskesmas 316 . Dasar penyusunan perencanaan Tk. sehingga dapat berhasil guna dan berdaya guna dalam pengelolaan upaya kesehatan masyarakat. Puskesmas.7. Mantapnya pelaksanaan SP2TP di semua jenjang administrasi. Sebagai dasar pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kegiatan pokok puskesmas 11.

1.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN IV. neonatus risiko tinggi (BBLR).I.PENCATATAN Kegiatan pokok puskesmas baik yang dilakukan di dalam gedung maupun di luar gedung puskesmas. formulir yang cukup serta cara pengisian yang benar dan teliti. bayi kurang energi kronis (KEK) Salah seorang anggota keluarga adalah penderita gangguan jiwa Keluarga yang menggunakan RKK diberi kartu tanda pengenal keluarga (KTPK) yang merupakan alat bantu untuk memudahkan pencarian berkas atau file keluarga yang telah terdaftar/mendaftarkan pelayanan pada saat meminta pelayanan ulang di puskesmas b. Rekam Kesehatan Keluarga (RKK) atau yang disebut ―Family Folder‖. harus dicatat. Dengan demikian perlu adanya mekanisme pencatatan yang baik.Formulir pencatatan Formulir pencatatan SP2TP terdiri dari: a. Yang dimaksud RKK adalah himpunan kartu-kartu individu suatu keluarga yang memperoleh pelayanan kesehatan di puskesmas. Adapun kegunaan RKK adalah: Untuk mengikuti keadaan kesehatan di suatu keluarga Untuk mengetahui gambaran penyakit di suatu keluarga Penggunaan RKK diutamakan pada keluarga yang anggotanya mengidap salah satu penyakit atau kondisi antara lain: Salah satu anggota keluarga adalah penderita TB paru Salah seorang anggota kelurga adalah penderita kusta Keluarga risiko tinggi yaitu ibu hamil risiko tinggi. puskesmas tempat tidur dan puskesmas pembantu serta bidan di desa. Kartu Tanda Pengenal (KTP) KTP diberikan kepada individu yang berkunjung/berobat ke puskesmas dan merupakan alat bantu untuk memudahkan pencarian berkas atau file bagi individu 317 .

Kartu Rawat Jalan atau Kartu Rekam Medik Pasien Merupakan alat untuk mencatat identitas dan status pasien yang berkunjung ke puskesmas untuk memperoleh pelayanan rawat jalan.yang telah terdaftar/mendapat pelayanan pada saat meminta pelayanan ulang di puskesmas. f. penyakit kusta dan TB paru menggunakan KTP khusus yaitu kartu KB. h. Kartu Ibu 318 . e. Maksud pemberian kartu ini adalah apabila yang bersangkutan pindah maka kartu dan rekam kesehatannya atau berkasnya dibawa pindah (untuk memudahkan/mengetahui pelayanan yang telah diberikan atau didapatkan oleh yang bersangkutan) c. i. Kartu Indeks Khusus TB Paru Merupakan alat untuk mengetahui keadaan dan pekembangan penyakit TB paru pasien yang dilayani di gedung puskesmas. d. Kartu Indeks Penyakit Khusus Kusta Merupakan alat untuk mengetahui riwayat dan perkembangan penyakit kusta. kartu penderita kusta dan kartu penderita TB paru. Kartu Rawat Tinggal atau Kartu Rekam Medik Pasien Merupakan alat untuk mencatat identitas dan status pasien yang dirawat di puskesmas yang mempunyai ruang rawat inap. Kartu Penderita TB Paru Kartu ini khusus untuk penderita TB paru yang berisi identitas TB paru yang dilayani di gedung puskesmas. g. atas namanya sendiri. Kartu Penderita Kusta Kartu ini khusus untuk penderita kusta yang berisi identitas penderita kusta yang dilayani di gedung puskesmas. Khusus untuk akseptor KB.

KMS anak sekolah Merupakan alat untuk mengetahui identitas dan mencatat pertumbuhan anak sekolah dan pelayanan yang telah diperoleh oleh anak sekolah tersebut. sehingga dapat digunakan untuk memantau kesehatannya.Merupakan alat untuk mengetahui identitas dan status kesehatan serta riwayat kehamilan ibu sampai kelahiran bayinya. j. Kartu Anak Adalah alat untuk mengetahui identitas. Kartu Tumbuh Kembang Balita Adalah alat untuk mencatat tumbuh kembang balita. KMS ibu hamil Merupakan alat untuk mengetahui identitas dan mencatat perkembangan kesehatan ibu hamil dan pelayanan kesehatan yang telah diterima yang bersangkutan. n. k. status kesehatan dan pelayanan baik pelayanan preventif-promotif maupun pengobatan dan rehabilitatif yang telah diberikan kepada balita dan anak prasekolah. sehingga apabila terdapat kelainan dapat dideteksi sedini mungkin. p. 319 . KMS balita Merupakan alat untuk mengetahui identitas dan mencatat pertumbuhan balita dan pelayanan yang telah diperoleh oleh balita tersebut. menemukan penyakit pada usia lanjut secara dini dan menilai kemajuan kesehatan usia lanjut. l. m. Kartu Rumah Adalah alat untuk mengetahui dan mengikuti keadaan sanitasi lingkungan perumahan. KMS usila Adalah alat untuk mencatat kesehatan usia lanjut secara pribadi baik fisik maupun psiko-sosialnya. o.

yang telah dicatat di kartu-kartu dan catatan lainnya. Register Adalah formulir untuk mencatat/merekap data kegiatan di dalam dan di luar gedung puskesmas.q. Jenisjenis register dimaksud adalah: Register Nomor Indeks Pengunjung Puskesmas Register Kunjungan Register Rawat Jalan Register Rawat Inap Register KIA Register Kohort Ibu Register Kohort Balita Register Deteksi Tumbuh Kembang Register Gizi Register Kapsul Minyak Beryodium Register Pengamatan Penyakit Menular Register Kusta Register Pemeriksaan Kontak Penderita Kusta Register Pemeriksaan Anak Sekolah (untuk penyakit kusta) Register Malaria Register PES Register Antrax Register Rabies Register Kohort TB Paru Register Kasus DBD Register Pemberantasan Sarang Nyamuk DBD Register Acute Flaccid Paralysis (AFP) Register Tetanus Neonatorum Register Frambusia Register Filaria Buku Inventarisasi Peralatan Puskesmas Register Perawatan Gawat Darurat Puskesmas 320 .

B) 2. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat bagan sebagai berikut: 321 . Apabila pasien mendapatkan pelayanan kesehatan di luar gedung Puskesmas. Mekanisme pencatatan Pada prinsipnya seorang pasien yang berkunjung pertama kali atau kunjungan ulang ke Puskesmas harus melalui loket untuk mendapatkan Kartu Tanda Pengenal atau mengambil berkasnya dari petugas loket. Pasien tersebut disalurkan pada unit pelayanan yang dituju. maka pasien tersebut akan dicatat dalam register yang sesuai dengan pelayanan yang diterima.A) - Register Perawatan Kesehatan Masyarakat untuk Kelompok/Masyarakat (Reg.- Register Kohort Pembinaan Keluarga Register Rawat Jalan Gigi Register Laboratorium Register PKM Register PSM Register Data Dasar Kesehatan Lingkungan Register Kegiatan Kesehatan Lingkungan Rekapitulasi Kegiatan Penjaringan Register Kegiatan UKS Register Data Dasar Sekolah Register Kegiatan Posyandu Register Pelayanan Kesehatan Olahraga Register Pembinaan Kelompok/Klub Olahraga Register Perawatan Kesehatan Masyarakat Untuk Keluarga dan Individu (Reg.

Kartu KB .Register No.II PELAPORAN Pelaporan terpadu Puskesmas menggunakan tahun kalender yaitu deri bulan Januari sampai dengan Desember dalam tahun yang sama.Registrasi kunjungan .RKK termasuk kartu status . 1. Indeks UNIT PELAYANAN REGISTERREGISTER PELAYANAN DALAM GEDUNG TINDAK LANJUT RUJUKAN L U A R G E D U N G REGISTER-REGISTER PELAYANAN DI LUAR GEDUNG BANK DATA PUSKESMAS PENGOLAHAN/PENYAJIAN PENYUSUNAN LAPORAN IV.KTP .MEKANISME PENCATATAN DI PUSKESMAS LOKET D A L A M G E D U N G .  Formulir Laporan Puskesmas ke Dati II Laporan Bulanan 322 .

menurut umur dan status imunisasi. Laporan bulanan Sentinel (LB2S) Laporan ini memuat data KIA.a. penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan diare. b. d. Rawat Tinggal. Data Kesakitan (LB. Laporan bulanan Sentinel (LB1S) Laporan ini memuat data penderita penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Imunisasi dan Pengamatan Penyakit Menular (LB.1) Data Obat-obatan (LB. Kesehatan Lingkungan dan Laboratorium.4) Kegiatan Puskesmas meliputi: Kunjungan Puskesmas. Pelayanan JPKM. Kesehatan Sekolah. Data Dasar Puskesmas (LT-1) Data Kepegawaian (LT-2) Data Peralatan (LT-3) Frekuensi Laporan dari Puskesmas ke Dati II 323 . KIA. Gizi. c.  Laporan Sentinel Bentuk dari laporan sentinel adalah: a. c.  Laporan Tahunan Laporan ini mencakup: a. Pelayana Medik Dasar Kesehatan Gigi.2) Gizi. Hanya Puskesmas dengan ruang rawat inap (Puskesmas RRI) yang membuat LB2S. Perawatan Kesehatan Masyarakat. Kesehatan Olah Raga. PKM.3) Data Kegiatan Puskesmas (LB. 2. b. b. Tetatus Neonatorum dan penyakit akibat kerja.

b. 3. dilakukan setiap bulan dan paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya dikirim ke Dinas Kesehatan Dati II. 324 . Hasil rekapitulasi oleh pelaksana kegiatan demasukkan ke formulir laporan dalam 2 rangkap. c.a. Laporan bulanan LB1. a. Mekanisme Pelaporan Tingkat Puskesmas Laporan dari Puskesmas Pembantu dan Laporan dari Bidan di desa disampaikan ke pelaksana kegiatan di Puskesmas b. LT-2. LB3. Dati I dan Pusat. dan LT-3) dirimkan selambat-lambatnya tanggal 31 Januari tahun berikutnya. Laporan bulanan Sentinel LB1S dan LB2S setiap tanggal 10 bulan berikutnya dikirimkan ke Dinas Kesehatan Dati II. dan LB4. Pelaksana kegiatan merekapitulasi data yang dicatat baik did ala gedung maupun di luar gedung serta laporan yang diterima dari Puskesmas Pembantu dan Bidan di desa c. Laporan tahunan (LT-1. Hasil rekapitulasi oleh pelaksana kegiatan diolah dan dimanfaatkan untuk tindak lanjut yang diperlukan dalam rangka meningkatkan kinerja kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya. LB2. untuk disampaikan kepada koordinator SP2TP d.

Formulir LB 4 Untuk data kunjungan kegiatan puskesmas Laporan tahunan terdiri dari: 1. Formulir LB 2 Obat 3. Formulir LT 1 untuk data dasar PKM 325 . Diluar gedung kegiatan yang berhubungan dengan Posyandu misalnya Posyandu. Adapun isi keputusan itu: 1. Pencatatan didalam gedung semua kegiatan yang dilaksanakan di dalam gedung itu sendiri b. dan imunisasi 4. Pelaporan Puskesmas Sedangkan untuk pencatatan ada 2 yaitu diluar gedung dan di dalam gedung: a.KIA. Pencatatan kegiatan PKM 2.590/BM/DJ/info/V/96 Tentang Penyederhanaan Sistem Pencatatan dan Pelaporan terpadu Puskesmas yang mulai berlaku tanggal 10 Mei 1996. Laporan tahunan Laporan bulanan terdiri dari: 1.BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS DI TINGKAT KECAMATAN&KELURAHAN SP2PT yaitu sistem pencatatan dan pelaporan terpadu Puskesmas sesuai dengan SK Dirjen Binkesmas NO. Formulir LB 1 Penyakit 2. Formulir LB 3 Gizi. Laporan bulanan b.CHN dll. Sedangkan untuk pelaporannya terdiri dari: a.

Koordinator 3. b. Formulir LT 3 untuk data peralatan Puskesmas Tata cara pelaporan: a. Melakukan rekapitulasi dari hasil pencatatan dan pelaporan 326 . Melakukan bimbingan tekhnis 3. Membuat laporan bulanan dan tahunan 3. untuk menilai hasil kegiatan SP2PT Anggota: Masing-masing pelaksana Kegiatan PKM merupakan anggota SP2PT PKM dan berkewajiban yaitu: 1. Formulir LT 2 untuk data kepegawaian 3. Data yang dihimpun dalam formulir LB 1 s/d LB 4 dilaporkan secara bulanan selambat-lambatnya tanggal 5 bulan berikutnya dibuat rangkap 2. Mencatat setiap kegiatan yang ada di PKM 2. Menyimpan arsip SP2PT dari masing-masing pelaksana kegiatan 4.2. Penanggung jawab 2. Anggota Penanggung jawab: Yaitu Kepala Bagian Data dan Program yang bertanggungjawab atas pelaksanaan SP2PT di Puskesmas dan memberikan bimbingan kepada koordinator SP2PT dan para pelaksana kegiatan di PKM Koordinator: Orang yang ditunjuk oleh Kepala Bagian Data dan Program tugasnya yaitu: 1. Data yang dilaporkan dari puskesmas mencakup hasil kegiatan PKM yang dilaksanakan selama 1 bulan Tim SP2PT di PKM: 1. Bertanggungjawab kepada kepala PKM atas kelancaran pelaksanaan SP2PT 5. Mempersiapkan pertemuan setiap 3 bulan sekali. Mengumpulkan laporan dari masing-masing pelaksana kegiatan 2.

Anggota adalah Pelaksana Kegiatan di Puskesmas yang mempunyai tugasnya masing-masing.4. 327 . dan pengolahan. Kegiatan pencatatan kegiatan di Puskesmas Mampang ada 2 yaitu diluar gedung dan di dalam gedung yaitu Pencatatan didalam gedung (semua kegiatan yang dilaksanakan di dalam gedung itu sendiri) dan diluar gedung (kegiatan yang berhubungan dengan Posyandu misalnya Posyandu. Dalam pelaksanaan SP2TP pengorganisasian di tingkat Puskesmas adalah sebagai berikut: penanggung jawab adalah Kepala Puskesmas. dan (3) pemanfaatan. Pencatatan hasil kegiatan oleh pelaksana dicatat dalam buku-buku register yang berlaku untuk masingmasing program. (2) analisis.1 KESIMPULAN Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas mencakup 3 hal: (1)pencatatan. Membuat laporan setiap tanggal/akhir bulan BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN VI. pelaporan. Koordinator adalah Petugas yang ditunjuk Kepala Puskesmas. Data tersebut kemudian direkapitulasikan ke dalam format laporan SP2TP yang sudah dibukukan.CHN dll) Sedangkan untuk pelaporannya terdiri dari laporan bulanan yang dilaporkan secara bulanan selambat-lambatnya tanggal 5 bulan berikutnya dan laporan tahunan.

berkelanjutan dan teratur. secara benar.  Mengadakan evaluasi rutin terhadap masalah teknis maupun non teknis dalam pelaksanaan SP2TP  Didapatkannya data dan bisa dilaporkan kepada jenjang administrasi yang lebih atas sesuai kebutuhan. dengan mempergunakan formulir yang telah ditetapkan.VI. berkelanjutan dan teratur. 328 .2 SARAN  Meningkatkan kualitas SDM tenaga kesehatan agar semua data hasil kegiatan puskesmas dapat tercatat dalam formulir yang telah ditentukan secara benar.

2. Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas.org. Jakarta (1997). 329 . Diunduh dari http:/www. 1-17. Departemen Kesehatan RI: Pedoman Sistem Informasi Manajemen Puskesmas.DAFTAR PUSTAKA 1.dinkes. Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas. Diakses Desember 2009.

JAMINAN PEMELIHARAAN KESEHATAN MASYARAKAT (JPKM) Penyusun: Giri Satriya (03006105) Pelangi Damayanti ( 03004173 ) 330 .

dan kesejahteraan manusia. HDI). produktifitas. Karena itu. 23 tahun 1992 tentang kesehatan. menjadi hak fundamental dari setiap individu. karena pendanaan kesehatan yang amat terbatas disertai kenaikan biaya pemeliharaan kesehatan. promosi kesehatan serta pemeliharaan kesehatan penduduk miskin. BUMN. Telah bertahun-tahun penelitian terhadap sistem pendanaan masyarakat untuk kesehatan di mancanegara. Tanpa kesehatan karyawan. akhirnya mengantar Indonesia kepada rumusan JPKM sebagai model jaminan kesehatan yang efektif dan efisien untuk mengatasi masalah akses dan mutu pelayanan kesehatan. JPKM diselenggarakan oleh badan-badan penyelenggara berstatus hokum (PT. Sedangkan pendanaan masyarakat harus diefisiensikan dengan pendanaan gotong royong untuk baerbagai resiko gangguan kesehatan. dengan pendanaan pemerintah yang terarah untuk kegiatan public health seperti pemberantasan penyakit menular dan penyehatan lingkungan. derajat kesehatan bersama taraf pendidikan dan kemampuan ekonomi masyarakat menjadi penentu index kualitas manusia (Human Development Index. 23 tahun 1992 sebagai cara yang dijadikan landasan semua bentuk pemeliharaan kesehatan yang pembiayaannya secara pra-upaya. Koperasi. dalam bentuk jaminan kesehatan masyarakat. kesehatan harus dimiliki dan dilindungi. Kesehatan sebagai hak fundamental setiap individu dinyatakan secara global dalam Konstitusi Organisasi Kesehatan Sedunia. dan secara nasional dalam amandemen UUD 1945 pasal 28-H dan UU No. perusahaan kehilangan daya kerja karena absensi sakit meningkat. hingga target produksi tidak tercapai dan kerugian menjelang. 331 . JPKM kemudian dicantumkan dalam UU No. Menurut UNDP.BAB I PENDAHULUAN Kesehatan adalah pangkal kecerdasan. dan mendorong terselenggaranya JPKM. Kesehatan adalah penentu kualitas sumber daya insani. Namun pemenuhan hak tersebut menghadapi kendala biaya. dll) dengan pemerintah yang bertugas membina. mengembangkan. Solusi masalah pembiayaan kesehatan mengarah pada peningkatan pendanaan kesehatan agar melebihi 5% PDB sesuai rekomendasi WHO. BUMD.

radiologi dsbnya. Penyelenggara JPKM mencakup sedikitnya 3 pelaku utama yakni peserta. dll). Kebutuhan kesehatannya akan terpenuhi secara paripurna melalui pelayanan yang terrjaga mutu dan terkendali biayanya .dan puskesmas) .siklus jaga mutu (pengbatan rasional dan standar pelayanan medik dengan siklus jaga mutunya). menjadi peserta JPKM mendapat keuntungan ganda.BAB II PENGERTIAN JPKM 2. kuratif (pengobatan dan penyembuhan penyakit) serta rehabilitatif (pemulihan cacad. preventif (imunisasi. dokter gigi. 1 jurus kendali pelayanan paripurna Paket pelayanan paripurna dalam JPKM seperti dinyatakan dalam serangkaian permenkes dan kepmenkes mencakup pelayanan berjenjang dari tingkat pertama (rawat jalan oleh dokter umum. klinik . c. 332 .KB). 2 jurus kendali dana : premi prabayar dan bayar jasa PKK secara praupaya b. penyelenggara (bapel) dan pemberian pelayanan kesehatan (ppk) serta penerapan 7 jurus . perbaikan gizi). semua gawat darurat dan pelayanan penunjang diagnostik seperti laboratorium. Bagi masyarakat.1 Pengertian JPKM JPKM yang merupakan singkatan dari Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat. tingkat ke 3 (rawat inap spesialistik di rumah sakit) dan meliputi upaya promotif (penuluhan kesehatan. 4 jurus kendali mutu : ikatan kerja / kontrak .dengan membayar iuran ringan dalam suatu ikatan solidaritas sosial yang dikelola oleh badan penyelenggara profesional. pemantauan utilisasi pelayanan dan penangan seksama terhadap keluhan mengenai pelayanan.tingkat ke 2 (rawat jalan spesialistik). badan. kesehatan ibu-anak. pada hakekatnya adalah jaminan pelayanan kesehatan paripurna yang diperoleh seseorang setelah membayar kontribusi/iuran kepada suatu badan penyelenggara yang mengikat kontrak dan membayar pra upaya jaringan pemberi pelayanan kesehatan berjenjang yang terjaga mutunya untuk melayani peserta tersebut. sebgai berikut : a.

Pembiayaan secara pra-upaya 333 . Pemeliharaan kesehatan yang paripurna. Cara penyelenggaraan 3.23/1992 tentang kesehatan. Misalnya. yang menjadi intensif bagi PPK untuk menjaga kesehatan peserta secara efisien-efektif dengan melakukan upaya preventif-promotif yang seimbang dengan upaya kuratif-rehabilitatif. terdapat 4 pihak yang bersama sama mendukung terselenggaranya JPKM. bapel membebaskan diri dari risiko kerugian yang dapat timbul kalau membayar PPK berdasarkan tagihan atas jasa pelayanan yang telah diberikan (bentuk fee for service atau reimbursement). mengembangkan dan mendorong JPKM sebagai cara yang dijadikan landasan untuk setiap penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan. Dengan pembayaran praupaya kepada PPK. dan 5. Azas usaha bersama dan kekeluargaan 4.Kandungan jurus-jurus pelayanan paripurna. Kelebihan JPKM itu telah menempatkannya sebagai jaminan kesehatan terpilih dalam UU No. JPKM dinyatakan sebagai cara penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan yang paripurna. Selanjutnya. Sehubungan dengan itu. melalui Kepmenkes 172/1999 yang ditindaklanjuti dengan edaran Dirjen Binkesmas diproses pembentukan Badan . bersama 3 pelaku terdahulu. Jaminan 2. Dalam UU ini. kendali mutu dan kendali biaya dalam JPKM membuatnya lebih unggul dinadingkan bentuk jaminan kesehatan lainnya. Ada beberapa kata kunci yang perlu diperhatikan agar mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang pengertian JPKM. Dengan keberadaan badan pembina ini. yaitu: 1. pengembangan dan pendorongan terhadap penyelenggaraan JPKM. dan Kab/kota guna menampung tugas tugas pembinaan.Pembina JPKM ditingkat pusat. tanpa memberikan pelayanan berlebih-lebihan kepada peserta. berdasarkan asas usaha bersama dan kekeluargaan. kelebihan JPKM dibandingkan asuransi kesehatan indemnitas (ganti rugi) adalah adanya pembayaran praupaya (prospective payment dalam bentuk anggaran atau kapitasi) kepada pemberi pelayanan kesehatan (PPK). propinsi. UU itu menetapkan pula fungsi pemerintah untuk membina. yang berkesinambungan dan dengan mutu yang terjamin serta pembayaran secara praupaya.

Jaminan Setiap penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan berdasarkan JPKM harus mampu menjamin: 1. Cara penyelenggaraan JPKM merupakan suatu cara penyelenggaraan paya pemeliharaan kesehatan yang terpadu dengan pembiayaannya. yang menjadi cirri khas dari JPKM dan karena itu dapat disebut juga sebagai ―jurus jurus JPKM‖. terjaganya mutu serta terkendalinya pembiayaan kesehatan. yang menghendaki peran aktif badan penyelenggara. Terselenggaranya pemeliharaan kesehatan paripurna dan berkesinambungan 2. dapat dijaga keseimbangan dan keserasian dalam membela kepentingan masingmasing. Azas Usaha dan Kekeluargan ―Berdasarkan azas usaha bersama dan kekeluargaan‖ yang tercantum dalam pengertian JPKM menunjukkan bahwa JPKM merupakan usaha bersama. Terjaganya mutu pemeliharaan kesehatan sesuai dengan standar yang disepakati 3. Jurus-jurus ini harus dilaksanakan secara utuh agar penyelenggaraan upaya pemeliharaan kesehatan dapat menjamin oeningkatan derajat kesehatan masyarakat pesertanya melalui terpeliharanya pemerataan. d. Dengan demikian.a. peserta dan pemberi pelayanan kesehatan untuk bersamasama secara kekeluargaan mengendalikan mutu dan biaya pemeiharaan kesehatan. Pemeliharaan Kesehatan yang Paripurna Dengan terpeliharanya kesehatan masyarakat yang paripurna diartikan bahwa upaya pemeliharaankesehatan dilaksanakan secara menyeluruh meliputi kegiatan promotif334 . Cara ini mempunyai beberapa mekanisme pelaksanaan tertentu. Efektivitas dari upaya pemeliharaan kesehatan bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat pesertanya b. sehingga menguntungkan dan memuaskan semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan JPKM. Efisiensi dan kelancarean memperoleh pelayanan kesehatan bagi pesertanya 4. c.

umpamanya pengobatan rawat jalan saja atau hanya pengobatan di Rumah Sakit tanpa dukungan upaya preventif atau promotif. yang terarah dan terencana dengan pengolahan yang efektif dan efisien dan didukung oleh pembiayaan pra-upaya. karena hal ini cenderung menurunkan efektivitas dan efisiensi dalam pelaksanaannya.preventif-kuratif-rehabilitatif. Pembiayaan secara pra-upaya Pemberian Pelayanan Kesehatan (PPK) dibayar di-muka/ pra-upaya (prepaid) oleh baan penyelenggara untuk memelihara kesehatan sejumlah peserta berdasarkan paket pemeliharaan kesehatan yang telah disepakati bersama. ―Pra-upaya‖ juga berarti bahwa peserta JPKM membayar dimuka sejumlah iuran secara teratur badan penyelenggara agar kebutuhan pemeliharaan kesehatan terjamin. dan berkesinambungan. yang memungkinkan peningkatan derajat kesehatan segenap pesertanya. jelas bahwa tidak hanya merupakan satu cara pembiayaan kesehatan. terpadu. JPKM juga merupakan suatu cara penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan. 335 . Upaya kesehatan dalam JPKM tidak dapat dilaksanakan sepotong-sepotong. Mengingat hal-hal yang tercantum diatas. e.

336 .1 Tujuan Umum Meningkatnya derajat kesehatan masyarakat merupakan tujuan dari diadakannya JPKM.BAB III TUJUAN JPKM 3. 3.  Pembudayaan perilaku hidup bersih dan sehat.  Pelayanan kesehatan paripurna yang lebih bermutu dengan biaya yang hemat dan terkendali  Pengembangan kemandirian masyarakat dalam membiayai pelayanan kesehatan yang diperlukannya.2 Tujuan Khusus JPKM bertujuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui :  Jaminan pemeliharaan kesehatan sesuai kebutuhan utama peserta yang berkesinambungan.

maka BPDPK diubah status menjadi Perum Husada Bhakti. Penerima Pensiun dan Keluarganya Upaya ini dimulai tahun 1968 berdasarkan Keppres No. jaminan pemeliharaan kesehatan untuk tenaga kerja dan keluarganya wajib dilaksanakan oleh setiap 337 . Pemeliharaan kesehatan paripurna diberikan sama kepada semua peserta. b) Pemeliharaan Kesehatan bagi Tenaga Kerja dan Keluarganya Sejak terbitnya UU No. kemudian menjadi PT (Persero) Asuransi Kesehatan Indonesia (PT. Pelayanan kesehatan peserta disediakan di semua Puskesmas dan Rumah Sakit Pemerintah.BAB IV KEGIATAN dan SASARAN 4. Untuk peserta sukarela disediakan pelayanan oleh dokter keluarga atau fasilitas keehatan swasta. penerima pensiun (baik sipil maupun ABRI) dengan iuran yang dipotong dari gaji sebesar 2%. yang seperti diatur dalam pasal 14 hanya dapat dilaksanakan oleh BUMN. Sesuai dengan kebijaksanaan Pemerintah dalam hal struktur organisasi badan-badan pemerintah. Menurut UU No. 230 tahun 1968. Kepesertaan program brsifat wajib bagi pegawai negeri. Penutupan asuransi atas objek asuransinya bukan didasarkan kepada kebebasan memilih penanggung melainkan secara wajib berdasarkan suatu Undang-undang dengan tujuan untuk memberikan perlindungan dasar bagi kesejahteraan masyarakat (pasal 1 ayat 3 dan pasal 6 ayat 1).1 Kegiatan a) Pemeliharaan Kesehatan Pegawai Negeri. ASKES adalah badan penyelenggara program asuransi sosial di bidang kesehatan. ASKES) sampai sekarang.2/1992. Cara penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan dan cara pembayaran kepada PPK sudah mengikuti prinsip-prinsip JPKM (untuk Pusskesmas dilakukan berdasarkan kapitasi dan untuk Rumah Sakit berdasarkan sistem paket). PT.3 tahun 1992 tentang Jamsostek. Badan yang mengelola upaya ini pada waktu itu dinamakan Badan Penyelenggara Dana Pemeliharaan Kesehatan atau disingkat BPDPK dan berada dalam lingkungan Departemen Kesehatan. tanpa mempertimbangkan tingkatan pangkat atau kedudukan.

oleh. 4. Seluruh iuran ditanggung oleh perusahaan. c) Pemeliharaan Kesehatan Swasta Beberapa pengusaha swasta telah mulai menyelenggarakan upaya pemeliharaan kesehatan berdasarkan JPKM untuk golongan tertentu dari masyarakat.2 Sasaran     Karyawan perusahaan/dunia usaha. 1000. dan Untuk Masyarakat atau Dana Sehat Dana Sehat adalah suatu upaya pemeliharaan kesehatan dari. Cakupan peserta diwujudkan di beberapa DATI II dengan kepesertaan kelompok dan pengelolaan pofesional kearah JPKM. meskipun belum sepenuhnya. dan untuk masyarakat umum. terutama segmen yang berpenghasilan fasilitas swasta menengah dan keatas.perusahaan yang memperkrjakan minimal 50 orang karyawan atau yang mengeluarkan Rp. Seluruh anggota keluarga/masyarakat. Pemeliharaan kesehatan serta cara pembayaran kepada PPK mengikuti pedoman penyelenggaraan JPKM. Pengelolaan Dana Sehat pada umumnya dilakukan secara sukarela oleh pengurus yang ditunjuk oleh masyarakat setempat. Pelajar dan mahasiswa. d) Pemeliharaan Kesehatan Dari. Organisasi sosial dan kemasyarakatan 338 . Peserta umumnya adalah penduduk berpenghasilan rendah di pedesaan dan perkotaan dengan iuran yang relatif kecil dan paket pelayanan kesehatan yang masih terbatas.000. Iuran ditetapkan sebesar 3% dari gaji sebulan untuk pekerja bujangan dan 6% dari gaji bagi yang sudah berkeluarga. menggunakan kepesertaannya Pengelolaannya mengikuti pedoman JPKM. Pemeliharaan relatif masih kesehatan sedikit. Oleh. sehingga benar-banar dapat mandiri dalam menjaga kesehatan pesertanya.minimal sebulan untuk gaji para tenaga kerjanya..

ibu menyusui. jenis pelayanan meliputi              Promosi kesehatan atau penyuluhan Imunisasi dasar program (BCG. polio.1.PELAYANAN KESEHATAN YANG DIJAMIN : Paket dasar yang bersifat paripurna (meliputi promotif preventif. DPT. kuratif.BAB V PELAKSANAAN 5.1.1.jenis pelayanan meliputi :    Konsultasi dan pemeriksaan dokter spesialis Obat obatan sesuai kebutuhan medis Pemeriksaan penunjang berdasarkan indikasi medis 339 . dan rehabilitatif) meliputi : A. hepatitis B) Pelayanan KIA termsuk ANC . 5. Rawat jalan tingkat lanjutan atau spesialis (RJTL) . campak. bayi dan balita KB dengan alat kontrasepsi standar Pengobatan penyakit umum atau gigi Pelayanan rujukan Pelayanan obat obatan Pelayanan laboratorium dasar meliputi pemeriksaan darah rutin dan urin lengkap Tindakan medis Pelayanan penunjang diagnostic Pelayanan partus Pelayanan spesialistik Pelayanan gawat darurat B.ibu nifas . Pelaksanaan Puskesmas Kecamatan Mampang Pada puskesmas kecamatan Mampang dilaksanakan sistem jaminan pemeliharaan kesehatan bagi keluarga miskin (JPK GAKIN) dengan pendekatan JPKM.rawat jalan tingkat pertama (RJTP).

alat bantu dengar. Generik. Formularium atau sesuai indikasi medis dengan surat keterangan komite medik/konsulen bagian atau departemen)     Penunjang diagnostic dan tindakan yang sesuain dengan indikasi medis Alat kesehatan dan bahan habis pakai yang diperlukan D. dll) Medical check up Vitamin atau pemberian suplemen tanpa indikasi medis Pengobatan alternative (tradisional.2. Tindakan di poliklinik C. terapi alternatif lain) Pengguguran kandungan tanpa indikasi medis (permintaan sendiri) Hamil diluar nikah Pelayanan yang berkaitan dengan infertilitas dan kesuburan Bunuh diri Pelaku tindakan kejahatan Pemegang kartu asuransi lain 5. dll) 5.3. Perawatan Khusus di Rumah Sakit. 6 KRITERIA KEMISKINAN LOKAL YANG DIGUNAKAN BAGI SKTM 340 . PELAYANAN KESEHATAN YANG TIDAK DIJAMIN            Pelayanan yang tidak sesuai dengan prosedur Pelayanan atau perawatan yang berkaitan dengan tujuan kosmetik (bedah plastic.4. jenis pelayanan meliputi:    Perawatan kelas 3 di Rumah Sakit yang telah berIKS dengan dinas kesehatan Visit dokter spesialis atau dokter yang merawat Obat-obatan yang diperlukan (DPHU. jenis pelayanan meliputi: Perawatan ICU/ICCU/HCU Unit Perinatologi (NICU) 5.1.1. Rawat Inap di Kelas 3 Rumah Sakit. othodontis. kacamata.1. PELAYANAN KESEHATAN YANG DIJAMIN DENGAN PEMBATASAN :  Potesa dan alat bantu yang sesuai indikasi medis (gigi palsu.

Tidak mampu ber-KB secara mandiri d. campak. Terdapat anggota keluarga yang berusia 15tahun keatas buta huruf f.rawat jalan tingkat pertama (RJTP).2. kuratif. Penghasilan kurang dari UMP DKI Jakarta per rumah tangga perbulan (kurang dari 600ribu) e. Luas lantai per orang kurang dari 4m2 b. DPT.ibu menyusui.ibu nifas .PELAYANAN KESEHATAN YANG DIJAMIN : Paket dasar yang bersifat paripurna (meliputi promotif preventif. hepatitis B) Pelayanan KIA termsuk ANC . polio.1. bayi dan balita KB dengan alat kontrasepsi standar Pengobatan penyakit umum atau gigi Pelayanan rujukan Pelayanan obat obatan Pelayanan laboratorium dasar meliputi pemeriksaan darah rutin dan urin lengkap Tindakan medis Pelayanan penunjang diagnostic Pelayanan partus Pelayanan spesialistik Pelayanan gawat darurat B. jenis pelayanan meliputi              Promosi kesehatan atau penyuluhan Imunisasi dasar program (BCG. Terdapat anggota keluarga dengan usia 7 – 18 tahun yang tidak sekolah atau putus sekolah 5.jenis pelayanan meliputi :   Konsultasi dan pemeriksaan dokter spesialis Obat obatan sesuai kebutuhan medis 341 .2 Pelaksanaan Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan 5. dan rehabilitatif) meliputi : A. Tidak mampu membiayai pengobatan ke sarana kesehatan / bukan Puskesmas c. Rawat jalan tingkat lanjutan atau spesialis (RJTL) .a.

PELAYANAN KESEHATAN YANG DIJAMIN DENGAN PEMBATASAN :  Potesa dan alat bantu yang sesuai indikasi medis (gigi palsu. Perawatan Khusus di Rumah Sakit. kacamata.  Pemeriksaan penunjang berdasarkan indikasi medis Tindakan di poliklinik C. PELAYANAN KESEHATAN YANG TIDAK DIJAMIN            Pelayanan yang tidak sesuai dengan prosedur Pelayanan atau perawatan yang berkaitan dengan tujuan kosmetik (bedah plastic. othodontis.2. jenis pelayanan meliputi: Perawatan ICU/ICCU/HCU Unit Perinatologi (NICU) 5. alat bantu dengar. dll) Medical check up Vitamin atau pemberian suplemen tanpa indikasi medis Pengobatan alternative (tradisional. jenis pelayanan meliputi:    Perawatan kelas 3 di Rumah Sakit yang telah berIKS dengan dinas kesehatan Visit dokter spesialis atau dokter yang merawat Obat-obatan yang diperlukan (DPHU. Rawat Inap di Kelas 3 Rumah Sakit.2. dll) 5. terapi alternatif lain) Pengguguran kandungan tanpa indikasi medis (permintaan sendiri) Hamil diluar nikah Pelayanan yang berkaitan dengan infertilitas dan kesuburan Bunuh diri Pelaku tindakan kejahatan Pemegang kartu asuransi lain 342 . Formularium atau sesuai indikasi medis dengan surat keterangan komite medik/konsulen bagian atau departemen)     Penunjang diagnostic dan tindakan yang sesuain dengan indikasi medis Alat kesehatan dan bahan habis pakai yang diperlukan D. Generik.3.2.

bayi dan balita KB dengan alat kontrasepsi standar Pengobatan penyakit umum atau gigi Pelayanan rujukan Pelayanan obat obatan Pelayanan laboratorium dasar meliputi pemeriksaan darah rutin dan urin lengkap Tindakan medis Pelayanan penunjang diagnostic Pelayanan partus 343 .ibu menyusui.3 Pelaksanaan Puskesmas Kelurahan Pela Mampang Rawat jalan tingkat pertama (RJTP).ibu nifas . DPT. Terdapat anggota keluarga yang berusia 15tahun keatas buta huruf f. campak. Tidak mampu ber-KB secara mandiri d. hepatitis B) Pelayanan KIA termsuk ANC .4. Luas lantai per orang kurang dari 4m2 b.2.5. Terdapat anggota keluarga dengan usia 7 – 18 tahun yang tidak sekolah atau putus sekolah 5. polio. Tidak mampu membiayai pengobatan ke sarana kesehatan / bukan Puskesmas c. jenis pelayanan meliputi            Promosi kesehatan atau penyuluhan Imunisasi dasar program (BCG. 6 KRITERIA KEMISKINAN LOKAL YANG DIGUNAKAN BAGI SKTM a. Penghasilan kurang dari UMP DKI Jakarta per rumah tangga perbulan (kurang dari 600ribu) e.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.preventif. dan rehabilitatif. JPKM bertujuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui jaminan pemeliharaan kesehatan sesuai kebutuhan utama peserta yang berkesinambungan. 6. pada hakekatnya adalah jaminan pelayanan kesehatan paripurna yang diperoleh seseorang setelah membayar kontribusi/iuran kepada suatu badan penyelenggara yang mengikat kontrak dan membayar pra upaya jaringan pemberi pelayanan kesehatan berjenjang yang terjaga mutunya untuk melayani peserta tersebut. kuratif. pengembangan kemandirian masyarakat dalam membiayai pelayanan kesehatan yang diperlukannya. pelayanan kesehatan paripurna yang lebih bermutu dengan biaya yang hemat dan terkendali. Agar masyarakat lebih mengerti tentang JPKM dan kesehatan masyarakat  Mengevaluasi kegiatan untuk melihat apakah kegiatan kegiatan pelayanan berjalan dengan baik 344 .1 Kesimpulan JPKM yang merupakan singkatan dari Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat. pembudayaan perilaku hidup bersih dan sehat. Membuat dan melakukan semua rencana kegiatan pelayanan kesehatan paripurna agar biaya dapat hemat dan terkendali Memberikan informasi yang lengkap terhadap masyarakat tentang JPKM denganmenggunakan media cetak seperti brosur ataupun secara lisan.2 Saran    Pelayanan-pelayanan yang diberikan harus sesuai dengan keperluan pasien baik secara promotif.

DAFTAR PUSTAKA 1.dinkes. Departemen Kesehatan RI: Kumpulan Materi Pelatihan Penyelenggaraan JPKM. Jakarta (2000). 2.org. 345 . Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat. Diunduh dari http:/www. 12-15. Diakses Desember 2009.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful