UPAYA KESEHATAN WAJIB

1

UPAYA PROMOSI KESEHATAN

Penyusun: Kirana Asmara Meitty Marisha (03005131) (03005143)

2

BAB I PENDAHULUAN
Dewasa ini promosi kesehatan (health promotion) telah menjadi bidang yang semakin penting dari tahun ke tahun. Dalam tiga dekade terakhir, telah terjadi perkembangan yang signifikan dalam hal perhatian dunia mengenai masalah promosi kesehatan. Pada 21 November 1986, World Health Organization (WHO) menyelenggarakan Konferensi Internasional Pertama bidang Promosi Kesehatan yang diadakan di Ottawa, Kanada. Konferensi ini dihadiri oleh para ahli kesehatan seluruh dunia, dan menghasilkan sebuah dokumen penting yang disebut Ottawa Charter (Piagam Ottawa). Piagam ini menjadi rujukan bagi program promosi kesehatan di tiap negara, termasuk Indonesia. Dalam Piagam Ottawa disebutkan bahwa promosi kesehatan adalah proses yang memungkinkan orang-orang untuk mengontrol dan meningkatkan kesehatan mereka (Health promotion is the process of enabling people to increase control over, and to improve, their health, WHO, 1986). Jadi, tujuan akhir promosi kesehatan adalah menanamkan kesadaran pada masyarakat tentang pentingnya kesehatan bagi mereka sehingga mereka sendirilah yang akan melakukan usaha-usaha untuk menyehatkan diri mereka. Promosi kesehatan menjelaskan bahwa untuk mencapai derajat kesehatan yang

sempurna, baik fisik, mental, maupun sosial, individu atau kelompok harus mampu mengenal serta mewujudkan aspirasi-aspirasinya untuk memenuhi kebutuhannya agar mampu mengubah atau mengatasi lingkungannya (lingkungan fisik, sosial budaya, dan sebagainya). Untuk itu, promosi kesehatan tidak hanya merupakan tanggung jawab dari sektor kesehatan, akan tetapi jauh melampaui gaya hidup secara sehat untuk kesejahteraan (WHO, 1986). Penyelenggaraan promosi kesehatan dilakukan dengan mengombinasikan berbagai strategi yang tidak hanya melibatkan sektor kesehatan belaka, melainkan lewat kerjasama dan koordinasi segenap unsur dalam masyarakat. Hal ini didasari pemikiran bahwa promosi kesehatan adalah suatu filosofi umum yang menitikberatkan pada gagasan bahwa kesehatan yang baik merupakan usaha individu sekaligus kolektif (Taylor, 2003). Bagi individu, promosi kesehatan terkait dengan pengembangan program kebiasaan kesehatan yang baik sejak muda hingga dewasa dan lanjut usia (Taylor, 2003). Secara kolektif, berbagai sektor, unsur, dan profesi dalam masyarakat seperti praktisi medis, psikolog, media massa, para pembuat kebijakan publik dan perumus perundang-undangan dapat dilibatkan dalam program promosi kesehatan. Praktisi medis dapat mengajarkan kepada
3

masyarakat mengenai gaya hidup yang sehat dan membantu mereka memantau atau menangani risiko masalah kesehatan tertentu. Para psikolog berperan dalam promosi kesehatan lewat pengembangan bentuk-bentuk intervensi untuk membantu masyarakat memraktikkan perilaku yang sehat dan mengubah kebiasaan yang buruk. Media massa dapat memberikan kontribusinya dengan menginformasikan kepada masyarakat perilaku-perilaku tertentu yang berisiko terhadap kesehatan seperti merokok dan mengonsumsi alkohol. Para pembuat kebijakan melakukan pendekatan secara umum lewat penyediaan informasi-informasi yang diperlukan masyarakat untuk memelihara dan mengembangkan gaya hidup sehat, serta penyediaan sarana-sarana dan fasilitas yang diperlukan untuk mengubah kebiasaan buruk masyarakat. Berikutnya, perumus perundang-undangan dapat menerapkan aturan-aturan tertentu untuk menurunkan risiko kecelakaan seperti misalnya aturan penggunaan sabuk pengaman di kendaraan (Taylor, 2003)

4

BAB II PENGERTIAN
Promosi kesehatan adalah upaya membantu masyarakat memberdayakan dirinya untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatannya. Menurut WHO tahun 1986, Promosi Kesehatan adalah proses yang memberdayakan manusia untuk mengendalikan dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri. Menurut Green dan Ottoson (1998) Promosi Kesehatan adalah kombinasiberbagai dukungan menyangkut pendidikan, organisasi, kebijakan, dan peraturan perundangan untuk perubahan lingkungan dan perilaku yang menguntungkan kesehatan. Menurut definisi yang selama ini dipakai oleh Pusat Promosi Keehatan, Promosi Kesehatan itu adalah proses memberdayakan atau memandirikan masyarakat agar mampu memelihara, meningkatkan, dan melindungi, kesehatannya melalui peningkatan kesadaran, kemauan dan kemampuan, serta pengembangan lingkungan sehat.

Dalam pengertian Promosi Kesehatan tersebut terkandung beberapa pengertian operasional sebagai berikut: Promosi Kesehatan merupakan bagian dari upaya kesehatan masyarakat (Public Health) secara keseluruhan, yang fokusnya adalah: pemberdayaan masyarakat, yaitu upaya agar masyarakat dapat memelihara, meningkatkan, dan melindungi kesehatannya. Dengan demikian, Promosi Kesehatan lebih bersifat upaya promotif-preventif, tanpa

mengesampingkan upaya kuratif-rehabilitatif. Pemberdayaan dilakukan dengan menumbuhkan kesadaran, kemauan dan kemampuan mayarakat untuk hidup sehat, sehingga penekanan Promosi Kesehatan pada pengembangan perilaku dan lingkungan sehat. Pemberdayaan tersebut merupakan upaya kemitraan berbagai pihak dan merupakan upaya dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat, sehingga masyarakat aktif sebagai pelaku atau subyek, bukan pasif menunggu sebagai obyek semata. Pemberdayaan dilakukan sesuai dengan kondisi dan budaya setempat, sehingga Promosi Kesehatan diwarnai oleh suasana lokal.

5

BAB III TUJUAN
Tujuan Umum Tercapainya perubahan perilaku individu, keluarga dan masyarakat dalam membina dan memelihara perilaku sehat dan lingkungan sehat, serta berperan aktif dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan yang optimal, dan juga memberdayakan kemampuan masyarakat untuk hidup lebih sehat.

Tujuan Khusus Timbulnya kesadaran penduduk akan nilai kesehatan. Meningkatnya pengembangan Puskesmas dan pemanfaatannya sebagai sarana pelayanan kesehatan dan sebagai sumber penerangan dan penyuluhan kesehatan Terbantunya orang-orang dan masyarakat pada umumnya, dalam menjaga kesehatan mereka pada tingkat yang sebaik-baiknya.

Tujuan Promosi Kesehatan secara Keseluruhan Tersosialisasinya program-program kesehatan, terwujudnya masyarakat Indonesia baru yang berbudaya hidup bersih dan sehat, serta tumbuhnya gerakan hidup sehat di masyarakat, menuju terwujudnya kabupaten atau kota sehat, propinsi sehat, Indonesia sehat 2010.

Tujuan PHBS Meningkatnya pengetahuan, kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat agar hidup bersih dan sehat, serta meningkatnya peran serta aktif masyarakat termasuk swasta dan dunia usaha, dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Tujuan Penyuluhan Kesehatan Tercapainya perubahan perilaku individu, keluarga dan masyarakat dalam membina dan memelihara perilaku sehat dan lingkungan sehat serta berperan aktif dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.

6

2007). 6. dalam keluarga. promosi kesehatan dapat dilakukan di berbagai ruang kehidupan. dll. Promosi kesehatan bersifat lebih luas atau lebih makro lagi dan lebih menyentuh sisi advokasi pada level pembuat kebijakan di mana promosi kesehatan berusaha melakukan perubahan pada lingkungan dengan harapan terjadinya perubahan perilaku yang lebih baik (Kapalawi. tempat-tempat umum. yang penekanannya pada pengenalan produk/jasa melalui kampanye. Pendidikan kesehatan (health education) yang penekanannya pada perubahan/perbaikan perilaku melalui peningkatan kesadaran. pengembangan masyarakat (community development). Upaya penyuluhan (upaya komunikasi dan informasi) yang tekanannya pada penyebaran informasi. Upaya peningkatan (promotif) yang penekanannya pada upaya pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. dan kemampuan. 4. organisasi. Dalam hal ini. dan tentu saja kantor-kantor pelayanan kesehatan. 2008). dukungan suasana. pemberdayaan masyarakat (community empowerment). 7 .BAB IV KEGIATAN Promosi kesehatan mencakup baik kegiatan promosi (promotif). Kemudian. orang-orang yang sehat maupun mereka yang terkena penyakit. 5. semuanya merupakan sasaran kegiatan promosi kesehatan. promosi kesehatan adalah kombinasi berbagai dukungan menyangkut pendidikan. yaitu upaya untuk memengaruhi lingkungan atau pihak lain agar mengembangkan kebijakan yang berwawasan kesehatan (melalui upaya legislasi atau pembuatan peraturan. 2008): 1. kebijakan. tempat kerja. Pemasaran sosial (social marketing). pengobatan (kuratif). dan peraturan perundangan untuk perubahan lingkungan dan perilaku yang menguntungkan kesehatan. 2. kemauan. Menurut Green dan Ottoson (dalam Iqi. Upaya advokasi di bidang kesehatan. maupun rehabilitasi. 3. Pengorganisasian masyarakat (community organization). sesuai keadaan). lingkup promosi kesehatan dapat disimpulkan sebagai berikut (Iqi. penggerakan masyarakat (social mobilization). dan lain-lain di berbagai bidang/sektor. Oleh karena itu. pencegahan penyakit (preventif). sekolah.

Upaya-upaya peningkatan promosi kesehatan harus memerhatikan semua prasyarat tersebut. adalah kebutuhan untuk memberi semangat pemeliharaan yang timbal-balik — untuk memelihara satu sama lain. dan kebijakan sosial yang menghasilkan kesamaan yang lebih besar. bangsa. dan lingkungan alam kita. Kebijakan promosi kesehatan mengombinasikan pendekatan yang berbeda namun dapat saling mengisi termasuk legislasi. pendapatan. meliputi perdamaian (peace).—terutama di daerah teknologi. Promosi kesehatan menempatkan kesehatan pada agenda dari pembuat kebijakan di semua sektor pada semua level. telah merumuskan sejumlah kegiatan yang dapat dilakukan oleh setiap negara untuk menyelenggarakan promosi kesehatan. Menciptakan lingkungan yang mendukung (create supportive environments) Kesehatan tidak dapat dipisahkan dari tujuan-tujuan lain.sangat esensial dan harus diikuti dengan kegiatan untuk memastikan 8 . pendapatan (income). sumber daya yang berkesinambungan (a sustainable resources). perlindungan (shelter). serta kesetaraan dan keadilan sosial (social justice and equity) (WHO. yang menstimulasi. 1986). Ini adalah kegiatan yang terkoordinasi yang membawa kepada kesehatan. mengarahkan mereka supaya sadar akan konsekuensi kesehatan dari keputusan mereka dan agar mereka menerima tanggung jawab mereka atas kesehatan. makanan (food). dan perubahan organisasi. pendidikan (education). pelayanan jasa publik yang lebih sehat dan lebih bersih. dan komunitas yang serupa. Penjajakan sistematis dampak kesehatan dari lingkungan yang berubah pesat. Berikut akan disediakan terjemahan dari Piagam Ottawa pada bagian yang diberi subjudul Health Promotion Action Means. Prinsip panduan keseluruhan bagi dunia. WHO. kegiatan-kegiatan promosi kesehatan berarti: Membangun kebijakan publik berwawasan kesehatan (build healthy public policy) Promosi kesehatan lebih daripada sekadar perawatan kesehatan. Menurut Piagam Ottawa. daerah kerja. Kaitan yang tak terpisahkan antara manusia dan lingkungannya menjadikan basis untuk sebuah pendekatan sosio-ekologis bagi kesehatan. dan lingkungan yang lebih menyenangkan. ekosistem yang stabil (a stable eco-system). Kegiatan terpadu memberikan kontribusi untuk memastikan barang dan jasa yang lebih aman dan lebih sehat. perhitungan fiskal. dan menyenangkan. kawasan. Promosi kesehatan menciptakan kondisi hidup dan kondisi kerja yang aman. produksi energi dan urbanisasi–.Kesehatan memerlukan prasyarat-prasyarat yang terdiri dari berbagai sumber daya dan kondisi dasar. perpajakan. memuaskan. lewat Konferensi Internasional Pertama tentang Promosi Kesehatan di Ottawa pada tahun 1986. komunitas.

dan untuk mengembangkan sistem yang fleksibel untuk memerkuat partisipasi publik dalam masalah kesehatan. Pengembangan komunitas menekankan pengadaan sumber daya manusia dan material dalam komunitas untuk mengembangkan kemandirian dan dukungan sosial. memelajari kesempatan untuk kesehatan. Mandat ini harus mendukung kebutuhan individu dan komunitas untuk kehidupan yang lebih sehat. di samping tanggung jawabnya dalam menyediakan pelayanan klinis dan pengobatan. dan pemerintah. Mengembangkan keterampilan individu (develop personal skills) Promosi kesehatan mendukung pengembangan personal dan sosial melalui penyediaan informasi. Dengan demikian. merencanakan strategi dan melaksanakannya untuk mencapai kesehatan yang lebih baik. institusi pelayanan kesehatan. Memerkuat kegiatan-kegiatan komunitas (strengthen community actions) Promosi kesehatan bekerja melalui kegiatan komunitas yang konkret dan efisien dalam mengatur prioritas.keuntungan yang positif bagi kesehatan masyarakat. dan membuka saluran antara sektor kesehatan dan komponen sosial. sebagaimana penggalangan dukungan. kelompok komunitas. Hal ini memerlukan akses yang penuh serta terus menerus akan informasi. membuat keputusan. Pelayanan kesehatan harus memegang mandat yang meluas yang merupakan hal sensitif dan ia juga harus menghormati kebutuhan kultural. hal ini meningkatkan pilihan yang tersedia bagi masyarakat untuk melatih dalam mengontrol kesehatan dan lingkungan mereka. Peran sektor kesehatan harus bergerak meningkat pada arah promosi kesehatan. politik. ekonomi. dan lingkungan fisik yang lebih luas. Mereka harus bekerja sama melalui suatu sistem perawatan kesehatan yang berkontribusi untuk pencapaian kesehatan. pendidikan kesehatan. Reorientasi pelayanan kesehatan (reorient health services) Tanggung jawab untuk promosi kesehatan pada pelayanan kesehatan dibagi di antara individu. dan pengembangan keterampilan hidup. dan untuk membuat pilihan yang kondusif bagi kesehatan. Perlindungan alam dan lingkungan yang dibangun serta konservasi dari sumber daya alam harus ditujukan untuk promosi kesehatan apa saja. Reorientasi pelayanan kesehatan juga memerlukan perhatian yang kuat untuk penelitian kesehatan sebagaimana perubahan pada pelatihan dan pendidikan 9 . Inti dari proses ini adalah memberdayakan komunitas –-kepemilikan mereka dan kontrol akan usaha dan nasib mereka. profesional kesehatan.

yakni advokasi (advocacy) dan pemberdayaan (empowerment). dan evaluasi kegiatan promosi kesehatan serta kesetaraan antara pria dan wanita sebagai acuan utama. Partisipasi masyarakat adalah kegiatan pelibatan masyarakat dalam suatu program. pelaksanaan. Advokasi Advokasi terhadap kesehatan merupakan sebuah upaya yang dilakukan orang-orang di bidang kesehatan. Advokasi dapat dilakukan dengan memengaruhi para pembuat kebijakan untuk membuat peraturan-peraturan yang bisa berpihak pada kesehatan dan peraturan tersebut dapat menciptakan lingkungan yang dapat mempengaruhi perilaku sehat dapat terwujud di masyarakat (Kapalawi. Advokasi ini lebih menyentuh pada level pembuat kebijakan. strategi lain dari promosi kesehatan adalah pemberdayaan masyarakat di dalam kegiatan-kegiatan kesehatan. setidaknya dapat disimpulkan dua kata kunci kegiatan promosi kesehatan. dan dengan memastikan bahwa masyarakat yag didiami seseorang menciptakan kondisi yang memungkinkan pencapaian kesehatan oleh semua anggotanya. Melalui advokasi. Bergerak ke masa depan (moving into the future) Kesehatan diciptakan dan dijalani oleh manusia di antara pengaturan dari kehidupan mereka sehari-hari di mana mereka belajar. dan ekologi adalah isu-isu yang penting dalam mengembangkan strategi untuk promosi kesehatan. Dari enam hal di atas. bekerja. semua yang terlibat harus menjadikan setiap fase perencanaan.profesional. Jadi sifatnya bottom-up (dari bawah ke atas). promosi kesehatan masuk ke wilayah politik. sebagai bentuk pengawalan terhadap kesehatan. dan mencintai. Merawat. Advokasi bergerak secara top-down (dari atas ke bawah). kebersamaan. Kesehatan diciptakan dengan memelihara satu sama lain dengan kemampuan untuk membuat keputusan dan membuat kontrol terhadap kondisi kehidupan seseorang. Untuk itu. 2007). Pemberdayaan Di samping advokasi kesehatan. Diharapkan dengan tingginya partisipasi dari masyarakat maka suatu program kesehatan dapat lebih tepat sasaran dan memiliki daya ungkit yang lebih 10 . Hal ini harus membawa kepada perubahan sikap dan pengorganisasian pelayanan kesehatan dengan memfokuskan ulang kepada kebutuhan total dari individu sebagai manusia seutuhnya. bagaimana orang-orang yang bergerak di bidang kesehatan bisa memengaruhi para pembuat kebijakan untuk lebih tahu dan memerhatikan kesehatan. Pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan lebih kepada untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam bidang kesehatan. utamanya promosi kesehatan. bermain.

misalnya dengan adanya Jumantik (Juru Pemantau Jentik) di tingkat RT. Adanya saling percaya antaranggota masyarakat 2. pelatihan kader-kader Posyandu untuk imunisasi Mopping Up Polio. Adanya ajakan dan kesempatan untuk berperan aktif 3. dan lokakarya. 11 . petugas yang tersedia masih terbatas. Pelaksanaan kegiatan di Puskesmas Kecamatan Cilandak Kegiatan Promkes yang dilakukan di Puskesmas Kecamatan Cilandak meliputi kegiatan: Advokasi kesehatan. Adanya manfaat yang dapat dan segera dapat dirasakan oleh masyarakat 4. 2007). Posyandu Lansia setiap hari Senin minggu pertama). Sebagai unsur dasar dalam pemberdayaan. partisipasi masyarakat harus ditumbuhkan. Pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan pada dasarnya tidak berbeda dengan pemberdayaan masyarakat dalam bidang-bidang lainnya. Partisipasi dapat terwujud dengan syarat (Tawi. misalnya adanya kebijakan gerakan PSN-3M selama 30 menit setiap hari jumat Gerakan masyarakat. 2008): 1. kegiatan promosi kesehatan akan berlangsung dengan sukses. diharapkan masyarakat dapat berperan aktif atau berpartisipasi dalam setiap kegiatan. baik yang dilakukan di dalam maupun di luar gedung Puskesmas. Tanggapan masyarakat terhadap kegiatan yang diikutinya cukup baik. hasilnya adalah cukup baik. Namun. Dengan begitu. berupa pengenalan masalah kesehatan oleh masyarakat dan melaksanakan para kader atau tenaga pelaksana yang terlatih. Berdasarkan kegiatan di lapangan (dalam hal ini di Puskesmas kecamatan Tebet). disertai kemauan dari kelompok sasaran yang akan menempuh proses pemberdayaan. Adanya contoh dan keteladanan dari tokoh/pemimpin masyarakat. misalnya melalui berbagai kegiatan penyuluhan (penyuluhan di Posyandu balita setiap bulan di hari Rabu minggu pertama. Dengan pemberdayaan masyarakat. Bina suasana. Partisipasi itu harus didukung oleh adanya kesadaran dan pemahaman tentang bidang yang diberdayakan.besar bagi perubahan perilaku karena dapat menimbulkan suatu nilai di dalam masyarakat bahwa kegiatan-kegiatan kesehatan tersebut itu dari kita dan untuk kita (Kapalawi.

Menggunakan air bersih 5. Memberantas jentik di rumah seminggu sekali 8. Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai PHBS di Institusi Kesehatan yaitu :        Menggunakan air bersih Menggunakan Jamban Membuang sampah pada tempatnya Tidak merokok di institusi kesehatan Tidak meludah sembarangan Memberantas jentik nyamuk PHBS di Tempat .tempat Umum adalah upaya untuk memberdayakan masyarakat pengunjung dan pengelola tempat . Tidak Merokok di dalam rumah PHBS di Institusi Kesehatan adalah upaya untuk memberdayakan pasien. PHBS di Rumah Tangga dilakukan untuk mencapai Rumah Tangga ber PHBS yang melakukan 10 PHBS yaitu: 1. Makan bah dan sayur setiap hari 9.tempat umum agar tahu.tempat Umum Sehat. Memberi ASI Esklusif 3. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun 6. atau perorangan yang digunakan untuk kegiatan bagi masyarakat seperti sarana 12 . Menggunakan jamban sehat 7.Perilaku Hidup Bersih dan Sehat PHBS di Rumah Tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu. Menimbang Bayi tiap bulan 4. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan 2. Melakukan aktifitas fisik setiap hari 10. mau dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat.  Tempat .tempat Umum adalah sarana yang diselenggarakan oleh pemerintah/swasta. masyarakat pengunjung dan petugas agar tahu. mau dan mampu untuk mempraktikkan PHBS dan berperan aktif dalam mewujudkan tempat . mau dan mampu untuk mempraktikkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dan berperan aktif dalam mewujudkan Institusi Kesehatan Sehat dan mencegah penularan penyakit di institusi kesehatan.

sarana ibadah.pariwisata. Membuang sampah pada tempatnya 4. Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai PHBS di Tempat .Tempat Umum yaitu : 1. sarana perdagangan dan olahraga. rekreasi dan sarana sosial lainnya. Menggunakan jamban 3. transportasi. meningkatkan kesehatannya. Tidak merokok di tempat umum 5. Tidak meludah sembarangan PHBS di Sekolah adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan oleh peserta didik. guru dan masyarakat lingkungan sekolah atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran. serta berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan sehat. Menggunakan air bersih 2. Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai PHBS di sekolah yaitu:         Mencuci tangan dengan air yang mengalir dan menggunakan sabun Mengkonsumsi jajanan sehat di kantin sekolah Menggunakan jamban yang bersih dan sehat Olahraga yang teratur dan terukur Memberantas jentik nyamuk Tidak merokok di sekolah Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap 6 bulan Membuang sampah pada tempatnya PHBS di Tempat kerja adalah upaya untuk memberdayakan para pekerja agar tahu. mau dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam mewujudkan Tempat Kerja Sehat Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Tempat kerja antara lain :      Tidak merokok di tempat kerja Membeli dan mengkonsumsi makanan dari tempat kerja Melakukan olahraga secara teratur/aktifitas fisik Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar dan buang air kecil Memberantas jentik nyamuk di tempat kerja 13 . sehingga secara mandiri mampu mencegah penyakit.

    Menggunakan air bersih Menggunakan jamban saat buang air kecil dan besar Membuang sampah pada tempatnya Mempergunakan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai jenis pekerjaan 14 .

dan pendekatan pimpinan/kelompok (advocacy). pelatihan. dukungan Pendekatan peroramngan dan kelompok Konsultasi. dan melengkapi. kelompok dan masal. distribusi bahan penyuluhan Pembinaan suasana (social support) Sekunder Pengembangan pendapat umum. dikenal (empowerment). pertemuan 15 .karyawan. pembinaan dukungan 3 strategi.BAB V SASARAN SASARAN Digolongkan atas masyarakat yang sudah ada dalam suatu system tertentu yang disebut sebagai tatanan/pranata Tatanan Rumah tangga Institusi pendidikan Tempat kerja Sasaran Primer Anggota keluarga Seluruh siswa Seluruh karyawan Sasaran Sekunder Ibu Guru.opini. Ketiga strategi tersebut harus dilakukan secara bersamaan. norma Pendekatan pimpinan (advocacy) Tersier Persetujuan. yaitu pemberdayaan masyarakat suasana (social support).OSIS Pengurus/sarikat pekerja Tempat umum Institusi kesehatan Pengunjung Pasien/pengunjung Pegawai/karyawan Petugas kesehatan Direksi/pemilik Pimpinan/direktur Sasaran Tersier Kepala keluarga Kepala sekolah Direksi/pemilik Strategi dan manajemen PKM puskesmas Dalam management PKM. Secara lebih jelas ketiga strategi tersebut dapat dilihat dibawah ini : Strategi Pemberdayaaan (empowerment) Primer Sasaran Tujuan Peningkatan pengetahuan sikap dan perilaku (PHBS) Cara Penyuluhan perorangan. saling mengisi.

kegiatan promosi kesehatan masyarakat dilaksanakan sebagai berikut : a.kegiatan. tahapan manajemen PKM dapat dilihat dalam table berikut: Tahapan manajemen a. 16 . Penggerakan dan pelaksanaan Daftar kegiatan dan penanggung jawab masingmasing kegiatan yang telah disepakati d. Penyuluhan kesehatan masyarakat merupakan bagian integral dari setiap program kesehatan dan berfungsi sebagai katalisator program-program tersebut. yaitu : Pengkajian Pemantauan dan Penilaian Perencanaan Penggerakan dan Pelaksanaan Secara singkat.factor pendorong Pemetaan masalah PHBS Masalah strata kesehatan wilayah Ketersediaan SDM Rumusan tujuan.intervensi dan jadwal kegiatan c. Pengkajian (i) (ii) (iii) (iv) Pengkajian masalah kesehatan Pengkajian masalah PHBS Pemetaan wilayah Pengkajian sumber daya 10 penyakit terbanyak.Manajemen PKM di puskesmas Manajemen PKM di puskesmas dilaksanakan melalui 4 fungsi tahapan. Pemantauan dan penilaian Rencana pertemuan/supervisi berkala Rencana evaluasi akhir tahun Luaran b. Perencanaan Kebijaksanaan Pelaksanaan Penyuluhan Kesehatan Masyarakat Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut.

Peningkatan perilaku penduduk dalam membina hidup sehat juga diarahkan untuk meningkatkan peran sertanya mewujudkan masyarakat yang mandiri dalam membina derajat kesehatan yang dimulai dalam keluarganya. Puskesmas dimanfaatkan sebagai pusat pengembangan dan pembinaan kesadaran dan peran serta masyarakat di bidang kesehatan di wilayahnya. b. Pelaksanaaan kegiatan puskesmas yang biasa dilaksanakan ialah : a. pemerintah. Penyuluhan institusi : kegiatan penyuluhan yang dilakukan di institusi bersangkutan seperti puskesmas. c. Peningkatan penyuluhan kesehatan pada lembaga-lembaga pendidikan dasar. terutama yang akan dikembangkan dan diarahkan kea rah sikap mental yang partisipatif dan lebih berorientasi pada aspek pencegahan dan peningkatan. maka upaya kegiatan penyuluhan perlu diselaraskan dengan fungsi dan tugas puskesmas serta kemampuan daripada sumber tenaga. maupun oleh masyarakat termasuk pihak LSM. Penyuluhan di masyarakat (di luar gedung puskesmas) : pelaksanaannya dilaksanakan berdasarkan ― pendekatan edukatif ― melalui tahap-tahap berikut: 17 . dana. Penyuluhan kesehatan masyarakat di puskesmas Kecamatan Cilandak Agar dapat mencapai tujuan penyuluhan kesehatan masyarakat . serta sarana yang dimiliki. f.b. seperti poster dll Melakukan penyuluhan kelompok di puskes yang sudah direncanakan. d. Sikap mental petugas kesehatan. Secara tidak langsung Memberi tauladan serta contoh dari para dokter atau paramedic Penampilan yang rapih dan sehat dari bangunan puskesmas Secar a langsung Dialog do kamar periksa antara dokter dan pasien Dialog dokter. dan keluarga pasien tentang hal yang bias dilakukan pasien atau keluarga pasien Menggunakan media penyuluhan. e. Penyuluhan kesehatan merupakan upaya yang dilaksanakan baik oleh pemerintah secar a lintas program dan lintas sektoral. paramedik. dan swasta agar kesadaran dan perilaku hidup sehat dapat ditumbuhkan dan dibudidayakan sedini mungkin. ataupun di rumah tinggal para dokter dan paramedic.

Untuk mengetahui metode apa yang dipilih perlu ditentukan terlebih dahulu tahapan perubahan perilaku yang ingin dicapai : Metode untuk merubah pengetahuan Ceramah Kuliah Presentasi Wisata karya Curah pendapat Seminar Studi kasus Tugas baca Symposium Panel Konferensi Metode untuk merubah sikap Diskusi kelompok Tanya jawab Role playing Pemutaran film Video Tape recorder Simulasi Metode untuk merubah tindakan Latihan sendiri bengKel kerja demonstrasi experiment Menentukan sasaran Karena keterbatasan sumber daya. Pertemuan tingkat kecamatan : tujuannya ialah memeperoleh kesepakatan dan dukungan dari pimpinan wilayah 2. Metode dan tehnik penyuluhan masyarakat A. 4. 18 . Pertemuan tingkat desa : tujuannya ialah memeperoleh kesepakatan dan dukungan dari kepala desa bererta aparatnya 3. Metode Secara sederhana pengertiannya adalah cara untuk melaksanakan penyuluhan kepada masyarakat. maka metode penyuluhan yang paling sering dilakukan puskesmas adalah ceramah yang disertai Tanya jawab. wawancara dan demonstrasi. Melakukan survey mawas diri : mendapatkan data dari msyarakat tentang idea tau program promosi kesehatan yang akan diterapkan kepada mereka. perlu dilibatkan masyarakat dan petugas harus mampu menerapkan metode dan tehnik penyuluhan 6. Evaluasi kegiatan penyuluhan : evaluasi dilakukan sesuai dengan tehnik penyuluhan yang dilakukan. Pelaksanaan penyuluhan : dalam pelaksaan. Perencanaan: membuat rencana penyuluhan kesehatan 5.1.

ada sekelompok pendengar yang dipersiapkan .ada suatu pesan yang disampaikan .sediakan waktu untuk Tanya jawab -menyimpulkan ceramah . a.persiapan -menentukan maksud dan tujuan ceramah .mengemukakan maksud dan tujuan .ada minat pendengar .men yampaikan ceramah dengan suara jelas .ada alat peraga yang digunakan b.ada kesempatan bertanya bagi pendengar .ada jawaban pada pengisian angket 19 .mempersiapkan alat peraga .penilaian Suatu ceramah akan terlihat berhasil bila : -ada respon dari pendengar .perkenalan diri .B.menjelaskan sistematika ceramah . serta dibantu oleh alat peraga.mempersiapkan waktu dan tempat yang tepat -mempersiapkan undangan .topic yang dikemukakan hanya satu . langkah langkah melakukan ceramah .ciptakan suasana santai .menentukan sasaran pendengar . pengertian atau pesan secara lisn kepada suatu kelompok pendengar yang disertai diskusi dan Tanya jawab.mempersiapkan materi .Teknik penyampaian Ceramah Ceramah adalah salah satu cara menerangkan atau menjelaskan suatu ide.pelaksanaan .mempersiapkan bahan bacaan . Ciri-ciri ceramah .

Tujuan 20 . Menentukan tujuan wawancara 2. Catat jawaban yang dianggap perlu Penilaian 1. a. Menentukan sasaran 4. Cirri –ciri wawancara Ada pihak yang bertanya Ada pihak yang ditanya Seluruh percakapan dikendalikan oleh pihak interviewer b. adegan atau menggunakan suatu proedur. Diarahkan kepada persoalan pokok 4. Minat responden Demonstrasi Adalah suatu cara penyajian yang dipersiapkan dengan teliti untuk memperlihatkan bagaimana cara melakukan suatu tindakan. Menentukan isi pesan yang akan disampaikan 3. Langkah-langkah melakukan wawancara Persiapan 1. Menentukan waktu 5. Rumuskan pertanyaan dengan sederhana 3. Jawaban yang wajar 4. Gunakan alat peraga 5. Penyajian ini disertai penggunaan alat peraga dan Tanya jawab. 1. Suasana menyenangkan 2.Wawancara Adalah suatu metode penyuluhan kesehatan dengan jalan Tanya jawab yang diarahkan kepada pencapaian tujuan yang telah ditentukan. Kelancaran wawancara 3. Memperkenalkan diri 2. Menentukan pokok-pokok pertanyaan Pelaksanaan 1. Biasanya hanya diberikan pada individu yang terbatas jumlahnya.

Kertas flipchart d. melihat nyata inti materi b. OHP c. Menentukan materi c. Langkah-langkah melakukan demonstrasi Persiapan a. Memberi materi d. Menentukan alat atau peraga Pelaksanaan a. Poster 21 . Memperkenalkan diri b. papan tulis b. dapat menambah percaya diri c.- Memperlihatkan kepada kelompok bagaimana cara membuat sesuatu dengan prosedur yang benar Meyakinkan kelompok bahwa ide tersebut bias dilaksanakan Meningkatkan minat orang untuk belajar 2. Adanya permintaan melakukan demonstrasi c. Banyaknya pertanyaan b. Menentukan maksut dan tujuan b. menghindari kejenuhan kemudahan bagi pihak yang disuluh a. Menciptakan suasana nyaman c. Menentukan perkiraan lamanya e. Menentukan sasaran dengan latar belakang sosioekonomi d. memiliki bahan nyata b. menghindari kejenuhan Beberapa alat bantu peraga yang dapat digunakan adalah : a. Hasil pengisian angket Alat peraga penyuluhan kesehatan masyarakat kemudahan bagi pihak penyuluh a. Member kesempatan Tanya jawab Penilaian a.

seluruh keluarga buang air besar di jamban e. bayi : sudah diimunisasi c. Indicator yang digunakan adalah sebagai berikut : Indicator Tatanan Rumah Tangga a. Strata PHBS di wilayah kerja Indikator PKM Dalam kegiatan penilaian. tidak ada sampah berserakan f. yaitu petunjuk yang membatasi focus perhatian suatu penilaian.proses melahirkan dibantu oleh petugas kesehatan . digunakan indicator-indikator tertentu.pemeriksaan kehamilan oleh petugas minimal 4 kali . Leflet. Kegiatan yang dapat terlaksana dibandingkan dengan perencanaan b. dll Pemantauan dan penilaian Pemantauan kegiatan dilakukan secara berkala. seluruh keluarga menggunakan air bersih g. Flash card f. Ibu : . keberhasilan dapat dilihat dari strata PHBS tiap tahun. semua anggota keluarga tidak merokok j. keluarga menjadi anggota dana sehat (JPKM) 22 . keluarga biasa makan makanan yang beraneka ragam i. balita : ditimbang setiap bulan d. Indicator masing-masing program yang menjadi topic penyuluhan c. Evaluasi dapat dilakukan dengan menilai : a.sudah imunisasi TT.e. kuku anggota keluarga pendek dan bersih h. Pemantauan dapat juga dilakukan dengan kunjungan lapangan ke tiap tatanan untuk melakukan perkembangan strata bersih dan sehat (PHBS) setelah dilakukan intervensi kesehatan masyarakat. pernah mendengar AIDS k. bagi ibu muda yang belum punya anak b. Model g.ikut KB bag wanita usia subur . Penilaian dilakukan pada akhir tahun dengan cara pengkajian kembali seperti pada tahap pertama manajemen PKM. Hasil pengkajian tiap tahun dibandingkan hasil pengkajian awal tahun.

Guru tidak merokok h. Semua petugas kukunya pendek dan bersih Indikator Tatanan Umum a. Siswa ada yang menjadi dokter kecil Kesehatan Anak Sekolah dan Remaja Tatanan istitusi pendidikan adalah Puskesmas atau Puskesmas Pembantu a. Indicator warung makan Makanan dan minuman tidak menggunakan bahan kimia berbahaya Makanan dan minuman terhindar dari serangga berbahaya Tersedia jamban yang bersih Tersedia air yang bersih Tidak ada sampah berserakan Kuku pengelola makanan pendek dan bersih Menjadi anggota dana sehat b. Siswa pada umumnya (60%) kukunya pendek dan bersih g.Indikator Tatanaan Institusi Pendidikan Tatanan pendidikan adalah Sekolah Dasar Negeri. Tidak ada sampah yang berserakan d. Tersedia jamban yang bersih b. Ketersediaan UKS e. Menjadi anggota dana sehat (JPKM) f. Radio kaset penyuluhan berfungi setiap hari f. Tatanana air bersih b. Tidak ada sampah berserakan d. Tersedia jamban yang bersih c. Tertata poster kesehatan e. Semua petugas tidak merokok h. Tersedia air yang bersih c. Penyuluhan kelompok teratur dilaksanakan g. Swasta termasuk Madrasah Ibtidaiyah a. Indicator tempat ibadah Sekeliling tempat ibadah dalam keadaan bersih 23 .

Persiapan administrasi d. Indicator pasar Sekeliling pasar dalam keadaan bersih Tersedia air bersih Tersedia jamban yang bersih Tersedia pembuangan air limbah (SPAL) Cukup pencahayaan dan ada penghawaan Kuku pengelola pendek dan bersih Semua pengelola dan pengunjung tidak merokok Pernah mendengan AIDS Tersedia media penyuluhan 1. Pengelolaan Program PHBS 1. Tahap persiapan: a. Persiapan sarana c.Jumlah sasaran .Perilaku tentang gaya hidup 3.Sasaran .Perilaku tentang kesehatan lingkungan . Sosialisasi dan advokasi kesehatan b.Perilaku tentang KIA . Persiapan pelaksanaan : ibu-ibu balita : 50 orang : dengan kuisioner 24 . Indikator PHBS .- Tersedia air bersih Tersedia jamban yang bersih Tersedia pembuangan air limbah (SPAL) Kuku pengelola pendek dan bersih Semua pengelola dan pengunjung tidak merokok Pernah mendengan AIDS Tersedia media penyuluhan c.Kajian kuantitatif 2. Kajian PHBS .Perilaku tentang gizi .

Dukungan dana/ kebijakan Agas LS/LP/LSM/ Mitra 1. Persiapan pelaksanaan Identifikasi.Peran dan fungsi masingmasing jelas Identifikasi kebutuhan sarana . epidemiologi masalah . Tahap pergerakan pelaksanaan 5. Menentukan prioritas b.Daftar jenis dan jumlah sarana yang dibutuhkan .Format pencatatan dan pelaporan 4. Kegiatan Tujuan Luaran . Menentukan jenis kegiatan/intervensi d. Pengkajian 3.Daftar penyebab sifat.Sepakat melaksanakan PHBS .Daftar surat yang diperlukan 3. dana yang tersedia 3. Pengkajian sumber daya tenaga. 6. penyebab.Adanya klasifikasi PHBS di 25 .Kuisioner . Menentukan tujuan c. sarana. 2. Sosialisasi dan advokasi mengetahui program PHBS politis/ kemitraan .2. Persiapan administrasi Identifikasi lapangan . epidemiologi masalah Identifikasi sarana. Persiapan sarana 5.Daftar tenaga. siapa melakukan apa . Jadwal kegiatan 4.Daftar 10 penyakit terbanyak . Tahap Pengkajian No. Tahap pengkajian: a.Daftar penanggung jawab masing-masing kegiatan 2. Kegiatan Tujuan Untuk mengetahui 10 1. dan dana yang tersedia . Pengkajian PHBS Untuk mengetahui Luaran . Tahap Persiapan No. Pengkajian masalah kesehatan penyakit terbanyak. Pemantauan dan penilaian 4. sifat. Tahap perencanaan: a.

Adanya klasifikasi wilayah sehat atau tidak sehat Tahap Perencanaan No.Fasilitas umum simakin merata terutama di daerah kumuh Luaran . Pengkajian wilayah klasifikasi PHBS di setiap wilayah setiap RT . Kegiatan Rumusan tujuan Tujuan Untuk membuat target yang ingin dicapai Untuk mengembangkan berbagai alternatif intervensi Untuk menetapkan waktu bagi setiap kegiatan Luaran Adanya target yang bisa diukur Adanya rencana kegiatan entervensi yang menyeluruh.Meningkatkan kerjasama antara masyarakat dan pemerintah .Untuk mempengaruhi peraturan dan kebijakan yang mendukung pemberdayaan PHBS . etika. meliputi penyluhan massa/ terpadu dan rancangan media Adanya jadwal kegiatan intervensi 2.Adanya dukungan politik dari pengambilan keputusan . 1. Bina suasana berbagai opini yang ada di masyarakat yang Terciptanya opini.Adanya anggaran rutin yang dinamis .menggalang dukungan lewat pendapat umum melalui media massa Untuk menciptakan 2. Kegiatan Tujuan . norma.perilaku keluarga pada tatanan rumah tangga Untuk mengetahui 4. Pembuatan jadwal kegiatan Tahap Pergerakan dan Pelaksanaan No. dan kondisi masyarakat berPHBS 26 . Rumusan rencana kegiatan intervensi 3.Mempengaruhi pihak lain agar mendukung 1. Advokasi PHBS .Adanya kepedulian LSM terhadap PHBS .

Kegiatan Tujuan Untuk mengetahui seberapa jauh suatu 1. Pemantauan program PHBS berjalan. Pemantauan dan Penilaian No.mendukung tercapainya PHBS di semua tatanan Untuk Pemberdayaan atau gerakan masyarakat menumbuhkembangkan potensi masyarakat untuk mendukung dan membudayakan PHBS . Penilaian seberapa jauh target yang ditetapkan tercapai adanya hasil pencapaian program PHBS dalam kurun waktu tertentu adanya laporan bulanan/triwulan/tengah tahun Luaran 27 .Mengungkapkan UKBM . mengacu kepada perncanaan dan penjadwalan Untuk mengetahi 2.Meningkatkan peserta dana sehat (JPKM) 3.

kemauan. Dengan demikian kegiatan promosi kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari setiap program yang ada di Puskesmas. serta pengembangan lingkungan sehat. dan melindungi kesehatannya melalui peningkatan kesadaran. dan gerakan masyarakat. bina suasana.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Promosi kesehatan adalah proses memberdayakan atau memandirikan masyarakat agar mampu memelihara. Saran Untuk lebih meningkatkan upaya promosi kesehatan pada masyarakat maka sebaiknya para petugas kesehatan. Kegiatan yang dilakukan berupa advokasi kesehatan. terutama pada bagian promosi kesehatan. Selain itu para petugas kesehatan terus berupaya untuk memberikan masukan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan. meningkatkan. ditambah. 28 . dan kemampuan.

MPH. Promosi Kesehatan Online. Drs.06.7. Drs. Dachroni. 23 tahun 1992 tentang kesehatan 29 .DAFTAR PUSTAKA 1. Pedoman Kerja Puskesmas 2009 4. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta Selatan: Sudin Kesehatan Masyarakat 2003 3. MPH. Surat Keputusan Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat No: HK. UU RI no. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Sudin Kesehatan Masyarakat.htm 5.1570 tentang Kebijakan Teknis Promosi Kesehatan 2003 6. Buku Panduan Straegi Promosi Kesehatan di Indonesia.1. Seri PHBS: Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Untuk Petugas Puskesmas. Jakarta Selatan: Sudin Kesehatan Masyarakat 2003 2. Dachroni.00.

06.157) 30 .06.257) (030.UPAYA KESEHATAN LINGKUNGAN Penyusun : Hawa Fatihah bt CMS Fira Thiodorus Marrietta S.094) (030.05. Sadeli (030.

BAB I PENDAHULUAN
Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.(Pasal 1 butir 1 UU No. 36 Tahun 2009)

Kesehatan masyarakat adalah ilmu dan seni (kiat/art) untuk : 1. mencegah penyakit 2. memperpanjang harapan hidup, dan 3. meningkatkan kesehatan dan efisiensi masyarakat melalui usaha masyarakat yang terorganisir untuk; sanitasi lingkungan, pengendalian penyakit menular, pendidikan hygiene perseorangan, mengorganisir pelayanan media dan perawatan agar dapat dilakukan diagnosis dini dan pengobatan pencegahan, membangun mekanisme sosial, sehingga setiap insan dapat menikmati standar kehidupan yang cukup baik untuk dapat memelihara kesehatan. Dengan demikian, setiap warga negara dapat menyadari haknya atas kehidupan yang sehat dan panjang (Winslow, 1920)

Kesehatan lingkungan adalah suatu kondisi lingkungan yang mampu menopang keseimbangan ekologis yang dinamis antara manusia dan lingkungan untuk mendukung tercapainya realitas hidup manusia yang sehat, sejahtera dan bahagia (Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan)

Ilmu Kesehatan Lingkungan diberi batasan sebagai ilmu yang mempelajari dinamika hubungan interaktif antara kelompok penduduk atau masyarakat dengan segala macam perubahan komponen lingkungan hidup seperti spesies kehidupan, bahan, zat atau kekuatan di sekitar manusia, yang menimbulkan ancaman, atau berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan masyarakat, serta mencari upaya-upaya pencegahan.(Umar Fahmi Achmadi, 1991)

Kesehatan lingkungan adalah upaya untuk melindungi kesehatan manusia melalui pengelolaan, pengawasan dan pencegahan factor-faktor lingkungan yang dapat mengganggu kesehatan manusia (Sumengen Sutomo, 1991)

31

Kesehatan lingkungan adalah ilmu & seni dalam mencapai keseimbangan, keselarasan dan keserasian lingkungan hidup melalui upaya pengembangan budaya perilaku sehat dan pengelolaan lingkungan sehingga dicapai kondisi yang bersih, aman, nyaman, sehat dan sejahtera terhindar dari gangguan penyakit, pencemaran dan kecelakaan, sesuai dengan harkat dan martabat manusia. (Sudjono Soenhadji, 1994 ) Untuk menilai keadaan lingkungan dan upaya yang dilakukan untuk menciptakan lingkungan sehat telah dipilih empat indikator, yaitu persentase keluarga yang memiliki akses air bersih, presentase rumah sehat, keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar, Tempat Umum dan Pengolahan Makanan (TUPM) .

Beberapa upaya untuk memperkecil resiko turunnya kualitas lingkungan telah dilaksanakan oleh berbagai instansi terkait seperti pembangunan sarana sanitasi dasar, pemantauan dan penataan lingkungan, pengukuran dan pengendalian kualitas lingkungan.

Pembangunan sarana sanitasi dasar bagi masyarakat yang berkaitan langsung dengan masalah kesehatan meliputi penyediaan air bersih, jamban sehat, perumahan sehat yang biasanya ditangani secara lintas sektor. Sedangkan dijajaran Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang kegiatan yang dilaksanakan meliputi pemantauan kualitas air minum, pemantauan sanitasi rumah sakit, pembinaan dan pemantauan sanitasi tempat-tempat umum (Hotel, Terminal), tempat pengolahan makanan, tempat pengolahan pestisida dan sebagainya.

32

BAB II PENGERTIAN
Upaya penyehatan lingkungan dan pemukiman adalah upaya untuk meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan dan pemukiman melalui upaya sanitasi dasar, pengawasan mutu lingkungan dan tempat umum, termasuk pengendalian pencemaran lingkungan dengan meningkatkan peran serta masyarakat dan keterpaduan pengelolaan lingkungan melalui analisis dampak lingkungan. Lingkungan pemukiman adalah tempat tinggal atau tempat hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan. Tempat umum adalah tempat kegiatan bagi umum yang diselenggarakan oleh badanbadan Pemerintah, Swasta atau Perorangan yang langsung digunakan masyarakat, mempunyai tempat,sarana dan kegiatan yang tetap. Penyehatan makanan adalah upaya untuk mengendalikan faktor makanan, orang, tempat dan perlengkapannya yang dapat atau mungkin dapat menimbulkan penyakit atau gangguan kesehatan lainnya. Pendekatan PKMD adalah pendekatan sosio-edukatif dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Pertemuan tingkat kelurahan. 2. Survai Diri Masyarakat. 3. Musyawarah Masyarakat Kelurahan. 4. Pelalihan Kader. 5. Pelaksanaan Kader. 6. Pelaksanaan Upaya Kesehatan oleh Masyarakat. 7. Pembinaan & Pelestarian kegiatan

33

BAB III TUJUAN

Tujuan Umum Meningkatnya kondisi kesehatan lingkungan melalui upaya pengawasan dan pengendalian semua unsur fisik, kimia, dan biologis yang terdapat dilingkungan dan masyarakat yang dapat mempengaruhi derajat kesehatan.

Tujuan Khusus Meningkatnya kualitas perumahan penduduk yang memenuhi syarat kesehatan. Terbantunya penyediaan air bersih yang memenuhi syarat kesehatan, pengawasan kualitas air bagi seluruh masyarakat, serta peningkatan kemampuan masyarakat dalam penyediaan dan pemanfaatan sarana pembangunan kotoran yang memenuhi syarat kesehatan. Tersedianya fasilitas pembuangan kotoran yang memenuhi syarat kesehatan, tidak menimbulkan sarang lalat, nyamuk dan tikus, dan tidak memberi ―pandangan tidak sedap‖. Terwujudnya kondisi tempat-tempat umum yang memenuhi syarat kesehatan, agar masyarakat, pengunjung dan sekitarnya terhindar dari gangguan kesehatan. Meningkatnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat dan perusahaan makanan dalam mengelola makanan secara aman dan sehat agar terhindar dari penyakit dan keracunan. Terjaminnya mutu lingkungan hidup yang dapat menjamin kesehatan masyarakat yang optimal, bebas dari pengaruh buruk atas pengelolaan pestisida melalui upaya pencegahan dan pengendalian pencemaran dan keracunan oleh pestisida.

34

BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN
KEGIATAN Kegiatan-kegiatan utama kesehatan lingkungan yang harus dilakukan oleh Puskesmas meliputi : 1. Penyehatan air 2. Penyehatan makanan dan minuman 3. Pengawasan pembuangan kotoran manusia 4. Pengawasan dan pembuangan sampah dan limbah 5. Penyehatan pemukiman 6. Pengawasan sanitasi tempat umum 7. Pengamanan polusi industri 8. Pengamanan pestisida 9. Klinik sanitasi

SASARAN Penyehatan air : 1. Daerah dengan angka penyakit diare dan penyakit kulit tinggi 2. Daerah berpenghasilan rendah 3. Daerah penduduk padat dan kumuh 4. Penyehatan makanan dan minuman : 5. Tempat pengelolaan makanan (TPM) : jasa boga, restoran/rumah makan, sentral makanan jajanan, pengrajin makanan/indsutri makanan rumah tangga, kantin termasuk kantin sekolah, pedagang makanan kaki lima, tempat pengelolaan makanan lainnya. 6. Keluarga 7. Pengawasan pembuangan kotoran manusia : 8. Daerah endemis penyakit perut dan penyakit kecacingan 9. Daerah-daerah dengan angka kepemilikan dan pemanfaatan jamban yang memenuhi syarat kesehatan 10. Pengawasan dan Pembuangan Sampah dan Limbah :

35

11. Keluarga dan masyarakat di daerah yang angka kepadatan penduduk tinggi dan produksi sampahnya cukup banyak 12. Daerah endemis penyakit perut (diare, gastroenteritis acuta) dan penyakit-penyakit bersumber sampah

Penyehatan pemukiman : 1. Daerah dengan resiko terhadap kemungkinan penularan penyakit-penyakit diare, kecacingan, TBC paru, ISPA, DBD dan Filariasis 2. Daerah dengan cakupan sanitasi dasarnya rendah 3. Daerah kumuh 4. Daerah pemukiman baru 5. Daerah risiko tinggi terhadap pencemaran

Pengawasan Sanitasi Tempat-tempat Umum : 1. Yang berhubungan dengan sasaran pariwisata, seperti Bioskop, Gedung Pertunjukan, Hotel, Kolam renang, dsb. 2. Yang berhubungan dengan Transportasi, Terminal, Stasiun dan alat Transportasi Umum, pool kendaraan 3. Yang berhubungan dengan sarana ibadah : Masjid, Gereja, Pura, Vihara 4. Yang berhubungan dengan sarana perdagangan : Pasar, Toko Swalayan, dsb 5. Yang berhubungan dengan sarana Perawatan/Pemeliharaan: Salon Kecantikan, Panti Pijat, Tempat Pangkas Rambut, Klinik kesehatan, Puskesmas 6. Yang berhubungan dengan sarana sosial dan pendidikan: Lembaga Pemasyarakatan, Panti Sosial, Sekolah, Rumah duka, penampungan tenaga kerja, dsb 7. Yang berhubungan dengan sarana olahraga, misal : pusat kebugaran, gelanggang olahraga, dsb

Dalam melakukan kegiatan pengamanan lingkungan akibat pencemaran industry diutamakan pada pemukiman sekitar daerah industri dan pemukiman yang mempunyai resiko tinggi terhadap kemungkinan pencemaran industri. Pengamanan pestisida : 1. Tempat pengelolaan Pestisida (TPP) yang menjadi tanggung jawab Puskesmas adalah toko/kios pestisida, KUD. 2. Pengguna pestisida: Petani penyemprot hama pertanian di kebun dan sawah
36

Klinik Sanitasi : 1. Lingkungan penyebab masalah bagi penderita dan masyarakat sekitarnya 37 . Masyarakat umum yang mempunyai masalah kesehatan lingkungan yang datang ke Puskesmas 3. Penderita penyakit yang berhubungan dengan masalah kesehatan lingkungan yang datang ke Puskesmas 2.

Sasaran : Masyarakat di pemukiman kumuh. Stimulan pembangunan sarana percontohan kesehatan. ramah. 3. Terlaksananya pemberian penyuluhan tentang rumah sehat bagi keluarga. 2. Termotivasinya masyarakat untuk memiliki / bertempat tinggal di rumah yang memenuhi syarat kesehatan. berwibawa dan terkoordinasi dengan lintas program / sektor yang terkait. Tenaga : 1. Terbantunya masyarakat / keluarga yang kurang mampu untuk membangun / memiliki rumah sehat. 3. Penyehatan Perumahan Tujuan : 1. Waktu : Disesuaikan dengan jadwal kegiatan yang disusun.BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU Uraian Prosedur Pelayanan Kesehatan Lingkungan A. Pemeriksaan perumahan dan lingkungannya. Pelatihan dan pembinaan kader. Dokter sebagai koordinator 38 . Prinsip Kerja : Memberikan pelayanan dan pembinaan secara profesional. Kegiatan : 1. pemukiman baru perkotaan dan daerah aliran sungai (DAS). 4. Pendataan. 5. Penyuluhan. 2.

Kunjungan dan mengadakan wawancara dan inspeksi 4. Surat Tugas 2. dll. dan air limbah 2. 4. Terpantaunya kualitas air meliputi air minum. leaftlet. Pencatatan dan pelaporan 6. air badan air. Formulir pemantauan. 39 . air kolam renang dan pemandian umum. Meningkatnya peran serta masyarakat pemakai air. Prosedur tetap : 1. poster. Kelengkapan administrasi : 1. Menyiapkan surat tugas 3. Menyampaikan umpan balik B. Penyehatan Air. flip chard. Sanitarian sebagai pelaksana Tempat : Pemukiman yang akan menjadi sasaran kegiatan. Tujuan : 1. Meningkatnya kualitas air melalui perbaikan kualitas air. Mengisi formulir pemantauan 5. Meningkatnya kemampuan masyarakat dalam upaya penyehatan air. pencegahan pencemaran dan percontohan perbaikan. Meningkatnya ketrampilan dan pengetahuan petugas dalam pengawasan dan perbaikan kualitas air serta kemampuan dalam pembinaan masyarakat pemakai air 5. 2. Jadwal kegiatan Peralatan kerja : 1. 3.2. Mengadakan pendekatan PKMD 2. Kartu rumah 3. air bersih. Alat bantu penyuluhan seperti buku pegangan penyuluhan kesehatan lingkungan .

Masyarakat di daerah dengan penyakit diare dan penyakir-penyakit akibat jeleknya sanitasi air cukup tinggi dan telah endemis. Perlengkapan lai sesuai SP2tp dan program 3. Buku pencatatan harian 2. 7. 3. Masyarakat yang rawan air bersih 2. Penggerakan peran serta masyarakat pemakai air 10. Pencatatan dan pelaporan 6. Inspeksi sanitasi khususnya untuk air bersih rumah tangga 3. Dokter sebagai koordinator 2. Kegiatan: 1. Pemeriksaan kualitas di lapangan (a. Pemantauan dan evaluasi Waktu : Disesuaikan dengan jadwal yang disusun atau apabila ada permasalahan.l sisa chlor dan pH) 5. Mengadakan rekomendasi. Sanitarian sebagai pelaksana Tempat : Lokasi tempat kegiatan dilaksanakan sesuai sasaran. Kelengkapan administrasi : 1. Pengawasan kualitas air 8. Jadwal Tenaga : 1. Surat tugas 4. 40 . saran dan tindak lanjut berdasarkan hasil kualitas air.Sasaran : 1. Pendataan 2. Perbaikan kualitas air 9. Masyarakat di daerah percontohan dan pemukiman baru. Pengambilan dan pengiriman sampel air ke laboratorium 4.

dan masyarakat umum yang berkepentingan. berwibawadan terkoordinasi dengan lintas program / sector yang terkait. Prinsip kerja: Memberikan pelayanan dan pembinaan secara professional. Terlaksananya penyuluhan tentang sanitasi pembuangan kotoran bagi rumah tangga. 41 . Termotivasinya masyarakat untuk menyediakan dan menggunakan sarana pembuangan kotoran untuk keperluan rumah tangga. Water test kit 4. Pengambilan dan pengiriman sampel ke laboratorium 6. Mengadakan pendekatan secara PKMD 2. 2. Alat pengambil sampel air 5. Evaluasi C. Terlaksananya penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya penyehatan pembuangan kotoran. ramah. Penyehatan Pembuangan Kotoran Tujuan: 1. Pencatatan dan pelaporan 8. sehingga masyarakat tahu. Formulir 2. Field Tool Kit Prosedur tetap : 1. pemeriksaan dan mengisi formulir 5.Peralatan : 1. 3. Mengadakan kunjungan sesuai jadwal 4. Buku pemeriksaan sanitasi 3. Memberikan saran perbaikan terhadap hasil yang belum memenuhi syarat baik secara lisan maupun tulisan 7. Inspeksi. wawancara. mampu dan mau menggunakan sarana pembuangan sehat sehari-hari. Menyiapkan surat tugas 3.

Tenaga : 1. dll. Kegiatan: 1. Buku pegangan kader kesehatan lingkungan 2. Menyiapkan surat tugas 42 . Komponen jamban 4. Pemantauan Waktu : Disesuaikan dengan jadwal yang telah disusun. Surat tugas 2. Sanitarian sebagai pelaksana. Penyuluhan 3. Masyarakat di daerah-daerah endemis penyakit perut dan cacing. Tempat : Lokasi kegiatan sesuai sasaran. leaflet. 2. Peralatan yang diperlukan untuk membangun jamban Prosedur kerja : 1.Sasaran: 1. Poster. Kelengkapan administrasi : 1. 2. Masyarakat di daerah-daerah dengan angka kepemilikan dan pemanfaatan jamban sehat rendah. Dokter sebagai koordinator. Pendataan 2. Pembangunan dan pengembangan sarana pembangunan kotoran 4. 3. Jadwal kegiatan Peralatan kerja : 1. Pendekatan secara PKMD 2.

serta tata-cara pembuangan sampah sesuai perundangan yang berlaku. 2. Pengelolaan Pembuangan Sampah Tujuan : 1. Mengisi formulir pemantauan 5.3. Terbantunya keluarga dan masyarakat dalam mendapatkan. GE) dan penyakit-penyakit bersumber sampah. Terlaksananya penyuluhan tentang pengelolaan sampah yang memenuhi syarat kesehatan bagi rumah tangga dan masyarakat. Pemantauan melalui pemeriksaan tempat penampungan dan pembuangan sampah Waktu : Disesuaikan dengan jadual yang telah disusun 43 . Terlaksananya pengawasan dan pembinaan sarana pembuangan sampah yang memenuhi syarat kesehatan. 3. Masyarakat di daerah dengan angka kepadatan penduduk tinggi dan produksi sampah yang cukup banyak. Pencatatan dan pelaporan 6. Masyarakat di daerah endemis penyakit perut(diare. Pendidikan kesehatan hygiene dan sanitasi 2. menggunakan dan memelihara sarana pembuangan sampah yang memenuhi syarat kesehatan. Kegiatan : 1. Sasaran : 1. Prinsip kerja : memberikan pelayanan dan pembinaan secara profesiaonal. Termotivasinya keluarga dan masyarakat untuk menyediakan. menggunakan sehari-hari dan memelihara sarana untuk penanganan sampah yang memenuhi syarat kesehatan. Menyampaikan umpan balik D. 4. Mengadakan kegiatan 4. 2. berwibawa dan terkoordinasi dengan lintas program/sector yang terkait. Penyuluhan tentang penanganan sampah 3. ramah.

stop watch. dll. sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Sanitarian sebagai pelaksana Kelengkapan administrasi: 1. poster. Pengawasan Sanitasi Tempat-Tempat Umum Tujuan : 1. Fly grill counter. Dokter sebagai koordinator 2. Pencatatan dan pelaporan 6. Formulir pemantauan 2. Prosedur kerja: 1. Mengadakan pendekatan secara PKMD 2. Alat bantu penyuluhan seperti seperti buku pegangan penyuluhan kesehatan lingkungan. Termotivasinya masyarakat dan pengelola TTU untuk menyediakan. menggunakan dan memelihara sarana sanitasi yang memenuhi syarat kesehatan. 3. Jadwal kegiatan Peralatan kerja : 1. Terlaksananya penyuluhan tentang sanitasi yang memenuhi syarat kesehatan di TTU bagi masyarakat dan pengelola TTU 3. 2. senter. flip chart. Menyiapkan surat tugas 3. Surat tugas 2. Menyampaikan umpan balik E.Tempat : Lokasi kegiatan sesuai sasaran Tenaga : 1. Mengadakan kegiatan 4. Mengisi formulir pemantauan 5. dll. 44 . Terlaksananya pengawasan dan pembinaan sarana sanitasi yang memenuhi syarat kesehatan di TTU. leaflet.

Pengusaha / penanggung-jawab / pengelola usaha transportasi seperti terminal. Petunjuk teknis yang diterbitkan 45 . Penanggung-jawab / pengelola sarana social seperti : Lembaga Pemasyarakatan.Prinsip kerja : Mengadakan pelayanan. 5. dll. Pengolahan. ramah. Kegiatan : 1. dll. Dokter sebagai koordinator 2. Pengusaha / penanggung-jawab / pengelola sarana perawatan / pemeliharaan seperti : salon kecantikan. Formulir pemeriksaan 2. Sasaran : 1. pembinaan secara professional. berwibawa. Sanitarian sebagai pelaksana Tempat : Lokasi kegiatan sesuai sasaran Peralatan kerja: 1. Pemeriksaan sanitasi Tempat-Tempat Umum 3. 2. 6. stasiun dan alat transportasi umum. vihara. dll. 4. pura. Penanggung-jawab / pengelola sarana ibadah : masjid. Pengusaha / penanggung-jawab / pengelola sarana perdagangan seperti : Pasar. serta terkoordinasi dengan lintas sector/program lain yang terkait. tukang cukur. 3. panti pijat. gereja. Penyuluhan terhadap pengelola Tempat-Tempat Umum Waktu : Disesuaikan dengan jadwal kegiatan yang disusun Tenaga : 1. Pendataan 2. pengawasan. analisa dan pelaporan 4. Pengusaha / penanggung-jawab / pengelola sarana kepariwisataan seperti gedung pertunjukan. penginapan.

Memberikan saran perbaikan terhadap hasil yang belum memenuhi syarat secara lisan maupun tulisan 6. Evaluasi F. Water test kit 6. Terlaksananya pemberian penyuluhan dan nasihat tentang hygiene dan sanitasi makanan dan minuman bagi keluarga. pengelolaan.l : 5. Mengadakan kunjungan sesuai jadwal yang telah disusun 4. Penyehatan Makanan dan Minuman Tujuan 1. Terlaksananya pengawasan dan pembinaan tentang hygiene dan sanitasi makanan dan minuman perusahaan dan pengelolaan makanan dan minuman bagi orang banyak. Pencatatan. Terlaksananya tindakan pengamanan terhadap kejadian keracunan makanan dan minuman 46 . penyimpanan. sesuai dengan perundangan yang berlaku 4. penyajian dan penanganan makanan dan minuman 2. Menghubungi pengelola / pengusaha / penanggungjawab / pengiriman surat pemberitahuan 2. Thermometer 7. Menyiapkan surat tugas 3. Alat bantu penyuluhan 4. Hygrometer 8. Mengadakan pemeriksaan dan mengisi formulir 5. perusahaan dan masyarakat yang memerlukan 3. pelaporan 7. Peralatan lapangan seperti Sanitary Field Kit yang berisi a. Termotivasinya masyarakat dan pengelola perusahaan makanan untuk bekerja memenuhi syarat kesehatan dalam penyiapan. Sound level meter Prosedur kerja: 1. Light meter 9.3.

dan terkoordinasi dengan lintas program / sektor yang terkait. Tempat penjualan makanan dingin. Pedagang kaki lima 10. LKMD. Snack bar 14. yang terdiri dari : 4. dll 7. Industri kecil makanan 6. Jadwal kegiatan 47 . yang meliputi 3. makanan terolah. yang terdiri dari : 8. Warung kopi 12. Tempat penjualan makanan. Ibu-ibu rumah tangga / masyarakat melalui organisasi masyarakat antara lain PKK. Penyuluhan Waktu : Disesuaikan dengan jadwal yang telah disusun atau apabila ada masalah Kelengkapan administrasi : 1. Jasaboga / catering 5. Surat tugas 2. Pengusaha/ penanggung jawab/ pengelola tempat pengolahan makanan. Kantin 13. ramah. berwibawa. panti. Rumah makan 9. dapur umum.Prinsip kerja Memberikan pelayanan dan pembinaan secara profesional. makanan segar Kegiatan : 1. arisan. Pemeriksaan 3. Pengajian ibu-ibu dan posyandu 2. Tempat pembuangan makanan di asrama. Pendataan 2. Tempat pembuangan makanan. Sasaran 1. Pedagang makanan keliling 11.

buku pencatatan. Pengamanan Peredaran dan Penggunaan Pestisida Tujuan : 1. Sanitarian sebagai pelaksana Peralatan kerja : 1. Alat bantu penyuluhan Prosedur kerja : 1. serta memenuhi syarat kesehatan 2. Food inspection field kit 3. ramah.Tenaga : 1. Terlaksananya pengawasan dan pembinaan terhadap tata cara pengedaran dan penggunaan pestisida di masyarakat yang memenuhi syarat kesehatan 4. Mengadakan kunjungan sesuai jadwal yang telah disusun 4. Termotivasinya masyarakat dalam pengedaran dan penggunaan pestisida secara tepat dan aman. Terbantunya masyarakat dalam pengamanan pengedaran dan penggunaan pestisida sesuai peraturan perundangan yang berlaku Prinsip kerja : Memberikan pelayanan dan pembinaan secara profesional. Dokter sebagai koordinator 2. Menghubungi pengelola / pengusaha / penanggung jawab / pimpinan organisasi / pengiriman surat pemberitahuan 2. Memberikan saran perbaikan terhadap hasil yang belum memenuhi syarat secara lisan maupun tulisan 6. Untuk administrasi seperti formulir. Menyiapkan surat tugas 3. Pencatatan dan pelaporan 7. berwibawa dan terkoordinasi dengan lintas program / sektor yang terkait 48 . Evaluasi G. Mengadakan pemeriksaan dan mengisi formulir 5. Terlaksananya penyuluhan tentang pengamanan pengedaran dan penggunaan pestisida yang memenuhi syarat kesehatan bagi rumah tangga dan masyarakat 3. dll 2.

buku pencatatan. penggunaan pestisida di lokasi rumah tangga / Pest Kontrol Kegiatan : 1. Pendataan TPP (Tempat Pengelola Pestisida) 3. Pengusaha / penanggung jawab / pengelola / masyarakat pengguna pestisida seperti : petani penyemprotan hama.Sasaran : 1. Alat bantu penyuluhan seperti : alat-alat pelindung pestisida sebagai alat peraga. Dokter sebagai koordinator 2. dll 2. Pengusaha / penanggung-jawab / pengelola unit usaha pengedar pestisida seperti : Toko / kios pestisida. Buku pegangan kader. Penyuluhan Waktu: Disesuaikan dengan jadwal Tenaga : 1. Penanggulangan dan Pencegahan keracunan akut 8. dll 49 . perusahaan Pest Kontrol. Terhadap unit usaha pengedar pestisida : 2. Surat tugas 2. Jadwal kegiatan Peralatan kerja : 1. Penyuluhan / bimbingan perbaikan 5. formulir. Pendataan 7. Terhadap pengguna pestisida : 6. poster. leaflet. Pemeriksaan 4. KUD dan pergudangan pestisida 2. Sanitarian sebagai pelaksana Kelengkapan administrasi : 1.

Dalam hal ini petugas Puskesmas melakukan evaluasi perihal kualitas makanan dan minuman dari berbagai segi. Menghubungi pengelola / pengusaha / penanggung-jawab / ketua RT-RW / pengiriman surat pemberitahuan 2. cara penyajian dan para penjamah seperti petugas pemasakan maupun penyajian sesuai dengan wilayah kerja Puskesmas. Mengadakan kunjungan sesuai jadwal yang telah disusun 4. Untuk dapat melaksanakan kegiatan pokok tersebut diperlukan kegiatan pendukung yakni pengembangan sarana dan prasarana pendukung yang terdiri atas pembinaan dan pengembangan dan pemantapan informasi penyehatan air. Mengadakan pemeriksaan dan mengisi formulir 5. Menyiapkan surat tugas 3. Perbaikan Kualitas Air dan Pembinaan Pemakai Air.Prosedur kerja : 1. Evaluasi PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU KEGIATAN Penyehatan air URAIAN KEGIATAN Kegiatan pokok penyehatan air dalam pelaksanaan Program Penyediaan dan pengelolaan air bersih yaitu Pengawasan Kualitas Air. Memberikan saran perbaikan terhadap hasil yang belum memenuhi syarat secara lisan maupun tulisan 6. yaitu bahan mentah. Tim Pengawasan hygiene dan sanitasi makanan dan minuman Puskesmas Kelurahan dengan monitoring dari Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu Tim pengawas pembuangan Pengawasan Pembuangan Kotoran Melakukan penataan jumlah sarana pembuangan kotoran yang ada. serta 50 . perkembangan jumlah. PELAKSANA Tim pengelola air bersih Puskesmas Pasar Minggu Penyehatan Makanan dan Minuman Kegiatan pengawasan hygiene dan sanitasi makanan dan minuman dilakukan sesuai jadwal yang ditetapkan oleh Puskesmas pada tempat pembuatan dan penjualan makanan dan minuman termasuk didalamnya para penjamah makanan. Hal ini juga melibatkan peran serta masyarakat. Pencatatan dan pelaporan 7. cara pengolahan.

Jumantik dan masyarakat setempat.Manusia pemanfaatannya. kepadatan penghuni). Tim Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu: Kepala Puskesmas. tata ruang. Semua limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) dari Puskesmas Kecamatan Mampang dapat diolah di Instansi Pengolahan Limbah. Setiap ruangan yang menghasilkan sampah infeksius harus mempunyai kardus descartex dan tempat sampah infeksius berwarna kuning. tikus dan lalat. penempatan kandang ternak lingkungan perumahan serta faktor kepadatan yaitu melihat ada tidaknya tempat perindukan nyamuk. kebersihan pekarangan. Puskesmas Kelurahan/Kecamatan menganalisa dan melaporkan bulanan ke Sudin Kesmas dan Sudin Yankes dengan tembusan ke Posko PSN DBD RW. Ketua RW. Membandingkannya dengan catatan sebelum program dinilai adakah peningkatan jumlah jamban maupun jumlah pemakainya. PENILAIAN terhadap JENTIK JUMANTIK Dilaksanakan di RW yang ada JUMANTIK Seluruh bangunan diperiksa ada/tidaknya jentik/secara total coverage. Melakukan pemeriksaan jentik pada tempat perindukan nyamuk di setiap rumah/ bangunan berdasarkan tatanan. Mencatat hasil pemantauan dalam buku catatan. Tim wilayah setempat: Kepala Kelurahan. 51 . Tim pengelola dan pengawas sampah dan limbah Puskesmas Pasar Minggu Penyehatan Pemukiman Unsur-unsur yang diperiksa meliputi kesehatan rumah (jendela/ventilasi. Mencatat hasil pemeriksaan jentik dan melaporkan ke Puskesmas Kelurahan/ Kecamatan. dokter dan stafnya yang bertanggung jawab terhadap wilayah tertentu dan co ass. Gerakan PSNDBD 30 menit sekali seminggu (Setiap Jumat) secara serentak di Provinsi DKI Jakarta dengan memeriksa ada tidaknya jentik (Pemantauan Jentik Berkala/PJB) dan dikaitkan dengan kejadian kasus DBD di RW. Ketua RT. kelembaban. pencahayaan. kotoran Puskesmas Pasar Minggu Pengawasan dan Pembuangan Sampah dan Limbah Pengumpulan sampah dari masing-masing ruangan dilakukan setiap hari oleh masing-masing petugas cleaning service.

Melaporkan hasil setiap 3 bulanan ke Sudin Kesmas dan Sudin Yankes dengan tembusan Posko DBD RW. Integrasi pengawasan kualitas lingkungan Pelaksana sanitarian Puskesmas Kelurahan/Kecamatan sesuai jadwal bulanan. Melaporkan hasilnya ke Sudin Kesmas dan Sudin Yankes secara bulanan. Menentukan sasaran RW lokasi sekaligus data jumlah rumah/bangunannya masing-masing. Lurah dan Camat yang bersangkutan. Mencatat dan menganalisa hasil pemeriksan jentik dan per RW. dan lain-lain. Menyusun jadwal random sampling untuk 100 rumah/bangunan sampling di setiap RW sasaran. Khusus kegiatan pemeriksaan jentik pada tempat perindukan nyamuk di setiap sasaran dicatat dan dianalisa sesuai lokasi RW.Lurah dan Camat yang bersangkutan. Melakukan pemeriksaan jentik pada tempat perindukan nyamuk di setiap rumah/bangunan sampling. tempat rekreasi. Non JUMANTIK PJB oleh Puskesmas Kelurahan/Kecamatan Pelaksana adalah petugas Puskesmas Kelurahan/Kecamatan. sekolah. Tim pengelolaan dan pembinaan tempat-tempat umum Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu di bawah pengawasan Tim Kesehatan Lingkungan. Pengamanan Lingkungan akibat Unsur-unsur yang diperiksa secara kualitatif dan kuantitatif berkaitan dengan bahaya pencemaran Tim pengawas pengamanan 52 . Kegiatan secara rutin diadakan pada triwulan pertama dan keempat pada setiap tahunnya dengan melakukan pemantauan serta memberikan penyuluhan kepada pengelola tempat-tempat umum seperti bioskop. Pengawasan Sanitasi Tempat-tempat Umum Kegiatan pembinaan tempat-tempat umum dilakukan oleh tim dari Puskesmas Kecamatan Mampang dengan bantuan dari Puskesmas Kelurahan. Setiap sasaran yang sama diulang 6 tahun berikutnya.

tanah dan iklim serta kebisingan di sekitar industri. Secara kimia: dengan menggunakan pestisida (umpan beracun.Pencemaran Industri potensial yang berasal dari industry meliputi sumber air. lingkungan Puskesmas Pasar Minggu. ultra sonic. Tim pengendali hama Puskesmas Pasar Minggu Pengamanan Pestisida Tim pengendali hama bekerja setelah melihat check list dan mendapat laporan dari Kepala Unit atau PJ Ruangan tentang keberadaan hama atau tanda-tanda keberadaan hama. udara. sprayer. Cara pengendalian hama : Secara fisik: dengan menggunakan perangkap. fogging). ligh trap. 53 .

Pejaten Timur. Penyehatan Makanan dan Minuman. seluruhnya telah dilaksanakan oleh Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu. Pengawasan pembuangan kotoran manusia. Saran Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu dengan kedudukan sebagai Puskesmas Pembina diharapkan dapat lebih membina peran serta dan memonitoring kinerja dari Puskesmas Kelurahan setempat dalam rangka melaksanakan berbagai program kesehatan lingkungan. yaitu Puskesmas Kelurahan Kebagusan. Pengawasan sanitasi tempat umum. 54 . Pengamanan polusi industri dan Pengamanan pestisida. Kegiatan kesehatan lingkungan di Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu meliputi Penyehatan Air. Penyehatan pemukiman (termasuk Pemberantasan Sarang Nyamuk melalui kegiatan Gerakan Jumat Sehat yang diadakan tiap hari Jumat). Dalam pelaksanaannya Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu dibantu oleh Puskesmas Kelurahan. dan Cilandak Timur. Pengawasan dan pembuangan sampah dan limbah. Dengan adanya koordinasi yang baik antara tim monitoring dan petugas lapangan maka diharapkan seluruh cakupan program kerja dapat terlaksana dan diperoleh hasil yang lebih baik. Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu dalam hal ini dapat berperan sebagai pengawas maupun sebagai pelaksana kegiatan secara langsung. bahkan jika diperlukan dapat dilakukan berbagai pelatihan kepada para petugas terkait sebelum waktu pelaksanaannya di lapangan.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Dari berbagai program pemerintah mengenai kesehatan lingkungan. Ragunan. Jati Padang. Pejaten Barat. Pasar Minggu.

P25-38 55 . Jakarta.DAFTAR PUSTAKA Standarisasi Pelayanan Kesehatan Puskesmas di DKI Jakarta Pemerintah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta.

06.349) MOHD ZAIRI B ZABRI (030.320) 56 .06.UPAYA KESEHATAN IBU DAN ANAK SERTA KB PENYUSUN: SYAHRINNAQUIAH SAMSUDDIN (030.

Resiko terjadi komplikasi pada persalinan terjadi 12% pada usia kurang dari 20 tahun dan 26% pada usia 40 tahun. bayi dan anak balita serta anak prasekolah. Menurut SDKI angka kematian ibu (AKI) di Indonesia 307 per 100. Pemberdayaan Masyarakat bidang KIA merupakan upaya memfasilitasi masyarakat untuk membangun sistem kesiagaan masyarakat dalam upaya mengatasi situasi gawat darurat dari aspek non klinis terkait kehamilan dan persalinan.2 kali mengalami komplikasi dalam persalinan. Sementara kematian ibu karena komplikasi persalinan akibat perdarahan sebelum dan sesudah persalinan meningkat dengan bertambahnya paritas.5 % responden yang mengalami persalinan patologis yang terbesar adalah akibat komplikasi persalinan dengan partus lama. pendidikan. Hasil penelitian Felly dan Snewe. AKI di Indonesia sekitar 18. 25.000 kelahiran hidup yaitu 3-6 kali lebih tinggi dari negara ASEAN lainnya. Dari kejadian persalinan patologis tersebut 27. ibu mempunyai resiko 3.000 setiap tahun yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan. paritas dan perilaku yang berpengaruh terhadap kondisi kesehatan ibu selama hamil yang dapat mempengaruhi proses persalinan normal atau patologis. ibu menyusui. dan pemeriksaan kehamilan kurang dari 4 kali. Bila kondisi kesehatan ibu selama hamil tidak baik.5 % terjadi pada responden yang berumur lebih dari 35 tahun. persalinan dan nifas. hal ini berarti setiap setengah jam seorang perempuan meninggal yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan. 57 .000 kelahiran hidup. Kematian ibu tersebut erat kaitannya dengan karakteristik ibu yang meliputi umur. ibu bersalin.UPAYA KESEHATAN IBU DAN ANAK (KIA) BAB I PENDAHULUAN Upaya kesehatan Ibu dan Anak adalah upaya di bidang kesehatan yang menyangkut pelayanan dan pemeliharaan ibu hamil. hal ini berarti setiap setengah jam seorang perempuan meninggal yang berhubungan dengan kehamilan. Kesehatan ibu dan anak merupakan salah satu perhatian dari World Health Organisation (WHO) karena angka kematian ibu dan anak merupakan bahagian dari negara Asean yang mempunyai angka kematian Ibu dan Anak yang masih tinggi dibandingkan dengan negara lain. AKI di Indonesia bahkan lebih jelek dari negara Vietnam yaitu 95 per 100.

Tingginya kejadian persalinan patologis diakibatkan oleh tiga terlambat yaitu terlambat melihat tanda-tanda bahaya kehamilan. kurang daya tahan tubuh terhadap infeksi dan produksi air susu ibu kurang. adapun asuhan yang diberikan adalah informasi tentang proses persalinan. Asuhan persalinan yang diberikan pada ibu selama persalinan sejak kala satu. Penelitian Ridwan dan Wahyuni komplikasi persalinan yang mengakibatkan persalinan patologis adalah perilaku ibu selama hamil yang pemeriksaan kehamilan kurang dari empat kali. gangguan kontraksi rahim. menghindari merokok dan makan obat tanpa resep. membantu ibu hamil memperoleh power sehingga melancarkan proses persalinan. Melakukan kunjungan minimal empat kali untuk mendapat informasi dari petugas kesehatan tentang perawatan yang harus dilakukan. mengakibatkan ibu mengalami anemia. menyatakan AKI dapat diturunkan sekitar 317 (85%) dari AKI saat ini. Gulardi H.5%) tidak melakukan perawatan tehadap kehamilan. tindakan persalinan dan dukungan persalinan dari keluarga dan petugas. melakukan senam hamil.Penelitian Sibuea dari 366 ibu yang mengalami persalinan patologis tindakan seksio sesaria akibat partus tidak maju sebanyak 226 (50. Kematian akibat pesalinan patologis lebih rendah pada umur 20-30 tahun dan jumlah paritas rendah dari pada ibu yang kurang dari 20 tahun. atau patologis. sehingga dalam persalinan banyak mengalami masalah bahkan komplikasi sehingga persalinan menjadi patologis. Ini erat kaitannya dengan perawatan ibu selama masa kehamilan dan persalinan kurang baik. memakan tablet zat besi. partus lama.33%) dan (81. Tingkat pendidikan yang rendah pada persalinan patologis lebih tinggi dari pendidikan perguruan tinggi. perawatan jalan lahir. Letsi menyatakan hanya 2 dari 10 persalinan memerlukan tindakan spesialis kebidanan. menentukan jenis persalinannya apakah normal. perawatan selama persalinan. jika ibu berperilaku hidup sehat selama kehamilan yaitu merawat kehamilan dengan baik melalui asupan gizi yang baik. terlambat mengambil keputusan untuk 58 . atau sekitar 10-15% proses kehamilan dan persalinan berakhir dengan patologis. dua. tidak makan tablet zat besi dan asupan gizi yang kurang. karena senam hamil dapat meningkatkan aliran darah ke uterus. Bila ibu mengalami anemia dapat mengakibatkan komplikasi pada kehamilan dan persalinan yaitu perdarahan sebelum dan sesudah melahirkan. Penelitian lain tentang perilaku senam selama kehamilan menunjukkan bahwa ibu yang melakukan senam hamil mengalami persalinan lebih cepat dibanding dengan ibu hamil yang tidak melakukan senam hamil. tiga dan empat.

Untuk mencapai tujuan tersebut Depkes RI melakukan upaya safe motherhood yaitu berupaya menyelamatkan wanita agar setiap wanita yang hamil dan bersalin dapat dilalui dengan sehat dan aman serta menghasilkan bayi yang sehat dan aman. sosial ekonomi dan kedudukan wanita dalam keluarga masih rendah. WHO mengembangkan konsep melalui empat pilar safe motherhood yaitu keluarga berencana. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Gulardi dan Basamalah terhadap 64 rumah sakit di Jakarta tercatat 17. serta sosial budaya yang tidak mendukung.755. Rumah Sakit Umum Sari Mutiara Medan adalah salah satu rumah sakit swasta yang dipercayakan menerima pasien Jamsostek. Tujuan upaya ini adalah untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu hamil. 45. bersalin dan nifas. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding dengan angka standar yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan yaitu sebanyak 15 % bagi rumah sakit swasta (Data 59 . terlalu tua melahirkan. Ibu yang melahirkan anak pertama lebih dari umur 35 tahun jalan lahir menjadi kaku sehingga sulit anak sulit lahir. persalinan bersih dan aman serta pelayanan obstetri dasar. Di Indonesia kejadian persalinan patologis dengan tindakan seksio sesaria meningkat terus. Di Indonesia kejadian persalinan patologis 65 % terjadi disebabkan pada salah satu dari empat T tersebut diatas. Kondisi tersebut dapat mengakibatkan gangguan kontraksi uterus. dimana panggul ibu belum tumbuh secara sempurna sehingga kepala tidak dapat melewati jalan lahir. Di Rumah Sakit Umum Cipto Mangunkusumo Jakarta pada tahun 1999-2000 dari 404 persalinan per bulan 30 % seksio sesaria. terlalu banyak melahirkan anak dan terlalu sering melahirkan (jarak <2 tahun). sehingga dapat mengakibatkan perdarahan setelah persalinan. disamping menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi baru lahir. baik di rumah sakit pendidikan.665 kelahiran hidup. sekitar 35. Askeskin dan pasien umum.3 % melahirkan dengan seksio sesaria. 64 % diantaranya persalinan patologis dan tahun 2005 dari 551 persalinan 67 % merupakan persalinan patologis.4 % diantaranya adalah persalinan patologis bedah sesaria dan vakum. maupun rumah sakit swasta. Selain itu kurangnya partisipasi masyarakat karena tingkat pendidikan. yang dikenal dengan empat terlalu yaitu: terlalu muda melahirkan anak. Sementara di Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan tahun 2005-2006 tercatat dari 712 persalinan. asuhan antenatal.merujuk. Selain itu karakteristik ibu juga dapat mempengaruhi persalinan patologis. Di rumah sakit ini angka persalinan patologis juga cukup tinggi yaitu 631 persalinan tahun 2004. terlambat memperoleh asuhan asuhan persalinan yang tepat setelah sampai di sarana kesehatan.

Mengingat pentingnya kesehatan ibu dan bayi pada tanggal 12 Oktober 2000. tiga dan empat selama persalinan sehingga persalinan dapat berlangsung normal. Oleh karena itu Departemen Kesehatan melalui dinas kesehatan propinsi menganjurkan kepada setiap penolong persalinan baik di klinik. yang berhubungand dengan kehamilan dan persalinan.Rekam Medik RS Sari Mutiara. kematian. 2004 dan 2005). 60 . puskesmas maupun rumah sakit harus mendapatkan pelatihan dan mempunyai sertifikat Asuhan Persalinan Normal (APN) supaya ibu mendapat asuhan yang tepat sejak kala satu. kecacatan. dua. Gerakan Nasional Kehamilan yang aman melindungi hak reproduksi dan hak azazi manusia dengan cara mengurangi beban kesalahan. pemerintah telah mencanangkan Making Pregnancy Safer (MPS).

meneteki serta pemeliharaan anak dari mulai lahir sampai masa pra sekolah. 61 . pemuka masyarakat serta menambah keterampilan para dukun bayi serta pembinaan kesehatan akan di taman kanak-kanak. persalinan. pemuka masyarakat.BAB II PENGERTIAN Upaya kesehatan ibu dan anak adalah upaya dibidang kesehatan yang melakukan pelayanan dalam upaya memelihara kesehatan ibu hamil secara teratur dan terus menerus selama kehamilan. Pemberdayaan Masyarakat bidang KIA merupakan upaya memfasilitasi masyarakat untuk membangun sistem kesiagaan masyarakat dalam upaya mengatasi situasi gawat darurat dari aspek non klinis terkait kehamilan dan persalinan Dalam pengertian ini tercakup pula pendidikan kesehatan kepada masyarakat. maupun nifas.

ibu nifas. ibu hamil. d.BAB III TUJUAN Tujuan Umum Tercapainya kemampuan hidup sehat melalui peningkatan derajat kesehatan yang optimal bagi ibu dan keluarganya untuk atau mempercepat pencapaian target Pembangunan Kesehatan Indonesia yaitu Indonesia Sehat 2015. serta meningkatnya derajat kesehatan anak untuk menjamin proses tumbuh kembang optimal yang merupakan landasan bagi peningkatan kualitas manusia seutuhnya. e. b. ibu menyusui. bayi dan anak balita. 62 . anak prasekolah. sikap dan perilaku) dalam mengatasi kesehatan diri dan keluarganya dengan menggunakan teknologi tepat guna dalam upaya pembinaan kesehatan keluarga. Meningkatnya kemampuan dan peran serta masyarakat. Desa Wisma. balita. Meningkatnya jangkauan pelayanan kesehatan bayi. Posyandu dan Karang Balita. ibu nifas dan ibu menyusui. serta di sekolah TK. ibu bersalin. Meningkatnya upaya pembinaan kesehatan balita dan anak prasekolah secara mandiri di dalam lingkungan keluarga. Meningkatnya mutu pelayanan kesehatan bagi ibu hamil. Tujuan Khusus a. penyelenggaraan Posyandu dan sebagainya. c. anak balita. Meningkatnya kemampuan ibu (pengetahuan. Desa Wisma. ibu bersalin. terutama melalui peningkatan peran ibu dalam keluarganya. keluarga dan seluruh anggotanya untuk mengatasi masalah kesehatan ibu.

Umur 1 bulan – 11 bulan: 4 kali . Pelayanan Kesehatan Dasar Balita dan Anak Pra Sekolah a) Pelayanan kesehatan dasar  Pemeriksaan berkala fisik dan tumbuh kembang . III. imunisasi. pantau keadaan umum. c) Kunjungan ulang minimal 4 kali selama kehamilan yaitu pada trimester pertama sebanyak 1 kali. trimester kedua sebanyak 1 kali dan trimester ketiga sebanyak 2 kali. Campak dan Hepatitis (sesuai protap)  Konsultasi dokter ahli 63 . Kegiatan I. Pada ibu hamil dengan resiko tinggi. Pelayanan Kesehatan Ibu a) Pelayanan ANC (Ante Natal Care) atau Asuhan Keperawatan Kehamilan b) Kunjungan pertama harus memenuhi persyaratan 5 T atau memenuhi pemeriksaan kadar Hb.BCG. Pelayanan Kesehatan Neonatal a) Perawatan bayi baru lahir  Penanganan bayi segera setelah lahir .BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN KEGIATAN DAN SASARAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU A.Dilakukan rawat gabung (rooming in) yaitu ibu dan bayi berada dalam satu ruangan b) Perawatan neonatal dini (1-7 hari)  Timbang. mekonium keluar dalam 24 jam pertama c) Pelayanan neonatal lanjut (8-28 hari)  Timbang. DPT (3 kali).Umur 2 tahun – 6 tahun : 2 kali  Imunisasi dasar . Polio (4 kali). pantau keadaan umum  Bila terjadi penyulit segera dirujuk  Kunjungan rumah bagi yang memerlukan II.Usahakan bernafas spontan .Umur 1 tahun – 2 tahun : 3 kali .Menjaga bayi tetap hangat  Perawatan lanjutan pada bayi baru lahir . pemeriksaan dilakukan lebih sering dan intensif.

Petugas) dan keluarga ibu hamil Pelayanan Kesehatan Anak Bayi. 64 .1 – 3 bulan .6 – 9 bulan . Kader. Pelayanan Kesehatan Ibu a) Langsung : Ibu hamil.1 – 2 tahun .4 – 5 tahun  Konsultasi dokter ahli  Rujukan khusus ulang Pengobatan ringan infeksi. diare. dan gangguan makan Membuat pencatatan dan pelaporan B. bersalin dan nifas b) Tidak langsung : Masyarakat ( Tokoh.9 – 12 bulan .b) c) d) e)  Rujukan kasus Pemantauan gizi balita  Timbang badan dan pantau dengan KMS  Pemberian vitamin A setiap 6 bulan (Februari dan Agustus)  Pemberian sirup FE Deteksi dan stimulasi tumbuh kembang  Dipantau sesuai kelompok umur .3 – 4 tahun . Sasaran I. balita dan anak sekolah II.2 – 3 tahun .3 – 6 bulan .

Ruang bersalin (VK) Waktu Sesuai dengan jam kerja puskesmas Sepanjang waktu Pelaksana .Posyandu .Dokter .Tempat penitipan anak .Puskesmas.Rumah ibu nifas Pada minggu pertama dan kedua masa nifas Sesuai dengan jam kerja puskesmas Sesuai dengan jam kerja puskesmas Sesuai dengan jam kerja puskesmas Sesuai dengan jam kerja puskesmas 4.Perawat . Neonatus . Pelayanan ibu bersalin Ibu hamil 3.Bidan 65 .Puskesmas-Poli KIA .Rumah ibu .Posyandu .1-2 thn .1-11 bln .2-6 thn .Rumah ibu . Perawatan bayi baru lahir Neonatus .BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU No 1.Bidan .Perawat .Dokter .Perawat 7.Puskesmas-Poli KIA .Bidan .Dokter . Pemantauan gizi balita Balita Sesuai dengan jam kerja puskesmas . .Perawat 5.Rumah ibu Puskesmas-Poli KIA Posyandu Taman Kanak-kanak Kelompok bina keluarga balita .Rumah ibu .Posyandu .Bidan .Tempat penitipan anak Puskesmas-Poli KIA Posyandu Taman Kanak-kanak Kelompok bina keluarga balita .Puskesmas-Poli KIA . Jenis Kegiatan Pemeriksaan ANC Sasaran Ibu hamil Tempat .Bidan .Bidan .Puskesmas-Poli KIA . Pelayanan ibu nifas Ibu nifas .Posyandu . Perawatan neonatal dini (1-7 hari) Perawatan neonatal lanjut (828 hari) Pelayanan kesehatan dasar anak Neonatus .Perawat 2.Bidan .Perawat 6.Bidan .Perawat 8.

kekuatan-kekuatan dan perbedaan-perbedaan. puskesmas harus menjadikan program-program KIA sebagai budaya masyarakat agar angka kematian ibu dan anak dapat menurun. SARAN Puskesmas harus lebih mendekatkan pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat dalam upaya peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi masalahmasalah kesehatan. sehingga setiap orang memiliki pandangan yang sama tentang penyelesaian masalah mereka. Deteksi dan stimulasi tumbuh kembang - 1-3 bln 3-6 bln 6-9 bln 9-12 bln 1-2 thn 2-3 thn 3-4 thn 4-5 thn - Puskesmas-Poli KIA Posyandu Taman Kanak-kanak Kelompok bina keluarga balita .Kader BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Upaya wajib KIA dapat memberikan masyarakat kesempatan untuk memahami kondisi mereka dan melakukan aksi dalam mengatasi masalah mereka ini disebut dengan pendekatan belajar dan melakukan aksi bersama secara partisipatif (Participatory Learning and Action -PLA). tetapi pendekatan ini juga merupakan proses mengorganisir masyarakat sehingga mereka mampu untuk berpikir dan menganalisa dan melakukan aksi untuk menyelesaikan masalah mereka. ini merupakan proses dimana masyarakat merubah diri mereka secara individual dan secara kolektif dan mereka menggunakan kekuatan yang mereka miliki dari energi dan kekuatan mereka.Dokter . Jadi. Selain itu. Ini adalah proses pemberdayaan masyarakat sehingga mereka mampu melakukan aksi untuk meningkatkan kondisi mereka.9.Tempat penitipan anak Sesuai dengan jam kerja puskesmas . 66 . Pendekatan ini tidak hanya memfasilitasi masyarakat untuk menggali dan mengelola berbagai komponen. memandirikan masyarakat dalam mengembangkan perilaku hidup bersih dan sehat.Bidan .

Peningkatan dan perluasan pelayanan keluarga berencana merupakan salah satu usaha untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu yang sedemikian tinggi akibat kehamilan yang dialami oleh wanita. tidak hanya karena terbatasnya jumlah metode yang tersedia tetapi juga karena metode-metode tertentu mungkin tidak dapat diterima sehubungan dengan kebijakan nasional KB. kesehatan individual dan seksualitas wanita atau biaya untuk memperoleh kontrasepsi . yaitu masih tingginya tingkat pertumbuhan penduduk. Pelayanan Keluarga Berencana yang merupakan salah satu didalam paket Pelayanan Kesehatan Reproduksi Esensial perlu mendapatkan perhatian yang serius. Keadaan yang demikian telah mempersulit usaha peningkatan dan pemerataan kesejahteraan masyarakat. Maka pelayanan Keluarga Berencana harus menjadi lebih berkualitas serta memperhatikan hak-hak dari klien/ masyarakat dalam memilih metode kontrasepsi yang diinginkan\ 67 . Dengan telah berubahnya paradigma dalam pengelolaan masalah kependudukan dan pembangunan dari pendekatan pengendalian populasi dan penurunan fertilitas menjadi pendekatan yang berfokus pada kesehatan reproduksi serta hak reproduksi. karena dengan mutu pelayanan Keluarga Berencana berkualitas diharapkan akan dapat meningkatkan tingkat kesehatan dan kesejahteraan. maka makin besar pula usaha yang harus dilakukan untuk mempertahankan kesejahteraan masyarakat. Banyak wanita harus menentukan pilihan kontrasepsi yang sulit. Oleh karena itu. Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu pelayanan kesehatan preventif yang paling dasar dan utama bagi wanita. Semakin tinggi tingkat pertumbuhan penduduk.UPAYA WAJIB KELUARGA BERENCANA (KB) BAB 1 PENDAHULUAN Indonesia adalah salah satu Negara yang menghadapi masalah di bidang kependudukan. pemerintah berupaya untuk mengurangi tingkat pertumbuhan penduduk ini dengan program keluarga berencana. meskipun tidak selalu diakui demikian.

Kontrasepsi adalah metode untuk mencegah kehamilan. 68 .Sistem kesiagaan merupakan sistem tolong-menolong. melainkan meliputi berbagai segi penting lainnya dalam tata hidup dan kehidupan masyarakat. pendonor darah. yang dibentuk dari. pendidikan serta pengarahan amat diperlukan agar masyarakat dengan kesadarannya sendiri dapat menghargai dan. oleh dan untuk masyarakat. telpon rumah). kepercayaan dan moral Pancasila. Dengan metode ini maka jumlah dan jarak kehamilan dapat diatur. Dengan demikian maka bimbingan. Program keluarga berencana ini dilaksanakan dengan menggunakan metode kontrasepsi. Program keluarga berencana dilaksanakan atas dasar suka. Dengan program keluarga berencana diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.rela serta tidak bertentangan dengan agama. Oleh karena itu pelaksanaan program keluarga berencana tidak hanya menyangkut masalah tehnis medis semata-mata. menerima pola keluarga kecil sebagai salah satu langkah utama untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya. pencatatan-pemantaun dan informasi KB. dalam hal penggunaan alat transportasi/ komunikasi (telepon genggam. pendanaan.

69 . Pembatasan bisa dilakukan dengan penggunaan alat-alat kontrasepsi atau penanggulangan kelahiran seperti kondom. 10/1992. keluarga berencana merupakan Upaya peningkatkan kepedulian masyarakat dalam mewujudkan keluarga kecil yang bahagia sejahtera. mendapatkan kelahiran yang diinginkan. Dapat juga diartikan mengatur jumlah anak sesuai kehendak dan menentukan sendiri kapan saatnya hamil. KB merupakan tindakan yg membantu individu/ pasutri untuk: Mendapatkan objektif-obketif tertentu.BAB II PENGERTIAN Keluarga berencana adalah perencanaan kehamilan sehingga kehamilan hanya terjadi pada saat di inginkan oleh suami dan istri. spiritual. social budaya penduduk Indonesia agar dapat dicapai keseimbangan yang baik dengan kemampuan produksi Nasional. menghindari kelahiran yang tidak diinginkan. maksud daripada ini adalah gerakan untuk membentuk keluarga yang sehat dan sejahtera dengan membatasi kelahiran. spiral. Dengan kata lain KB adalah perencanaan jumlah keluarga. KB merupakan suatu usaha untuk menjarangkan atau merencanakan jumlah dan jarak kehamilan dengan memakai kontrasepsi. mengatur interval diantara kehamilan dan menentukan jumlah anak dalam keluarga. IUD dan sebagainya Menurut BKKBN keluarga berencana artinya mengatur jumlah anak sesuai kehendak dan menentukan sendiri kapan saatnya hamil atau salah satu usaha masalah kependudukan sekaligus merupakan bagian yang terpadu dalam program Pembangunan Nasional dan bertujuan untuk turut serta menciptakan kesejahteraan ekonomi. Menurut undang-undang No. Menurut WHO. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia.

BAB III TUJUAN Tujuan Umum Meningkatnya kesejahteraan ibu dan anak serta keluarga dalam rangka mewujudkan keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera melalui peningkatan mutu pelayanan medis dan pengayoman medis kontrasepsi. Tujuan Khusus a) Meningkatnya kesejahteraan ibu dan anak b) Meningkatnya harapan hidup c) Berkurangnya angka kematian bayi d) Berkurangnya angka kematian ibu hamil 70 . peningkatan fungsi pengayoman medis MKET serta penanggungulangan kasus infertilitas. pemakaian MKET.

Penanggulangan infertilitas c) Pengayoman medis  Berupa simulasi pengayoman medis kontrasepsi efektif terpilih ( Siyomeket) d) Rujukan B. Kegiatan a) KIE  Pemberian KIE medis mengenai bebagai jenis alat. efek samping.Pemasangan alat kontrasepsi/pemberian obat kontrasepsi yang diinginkan . Kader kesehatan. b) Pelayanan medis  Konseling pra pelayanan ( KIE)  Pelayanan medis . penyulit yang mungkin terjadi serta cara penanggulangannya.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN KEGIATAN DAN SASARAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU A. b) Tidak langsung: WUS. Sasaran a) Langsung: Ibu pada masa interval. Tokoh masyarakat/agama. PUS yang mempunyai masalah. Petugas kesehatan 71 .Deteksi dini kelainan kesehatan reproduksi ibu (Pap smear) . obat kontrasepsi antara lain cara kerja.

PUS yang mempunyai masalah .Posyandu Sesuai dengan jam kerja puskesmas .Puskesmas-Poli KB .Ibu pada masa interval .Dokter .Ibu pada masa interval .PUS yang mempunyai masalah .Bidan .Bidan .Posyandu Sesuai dengan jam kerja puskesmas .BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU 1.Dokter . Penganyoman medis dan rujukan . Pelayanan medis .PUS yang mempunyai masalah .Perawat 2.Dokter .Ibu pada masa interval .Puskesmas-Poli KB .Puskesmas-Poli KB .Posyandu Sesuai dengan jam kerja puskesmas .Perawat 72 .Perawat 3.Bidan . KIE .

SARAN Penyebarluasan informasi yang tepat tentang KB dapat membantu masyarakat menuju Keluarga Berencana dan sejahtera selain itu dibutuhkan juga peran serta aktif dari bidan sebagai tenaga kesehatan dan juga masyarakat pasangan usia subur sebagai pengguna.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Dengan adanya program KB yang didukung dengan strategi pendekatan dan cara operasional program pelayanan KB diharapkan dapat menurunkan angka kelahiran dan meningkatkan kesehatan ibu sehingga di dalam keluarganya akan berkembang Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS). Dalam upaya pencegahan kehamilan dan dalam rangka gerakan Keluarga Berencana Nasional dapat dicapai salah satunya dengan KB suntik 3 bulanan dan dari melihat kasus/asuhan kebidanan diatas dapat diketahui bahwa KB suntik 3 bulanan dapat mengalami masalah Amenorhoe. 73 .

MPG. 718 2. Jakarta. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. 2010. Abdul Bari Saifuddin SpOg. Hal. Prof dr. Scott. 45-47 3. 74 . 2003. Danforth buku saku obstetric dan ginekologi. 2002. Depkes RI. Depkes RI. Buku panduan praktis pelayanan kontrasepsi. 5.DAFTAR PUSTAKA 1. Pedoman Pendataan Puskesmas. Jakarta: Widya medika. 4. 2003. YBPSP. Prawirohardjo. Jakarta: Yayasan bina pustaka. Sarwono. 2006. Dkk. Jakarta. Hal. James R. Standarisasi Pelayanan Puskesmas di DKI Jakarta.

234 ) ( 030.05.280 ) 75 .UPAYA PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT Penyusun : Wilma Pratiwi Yenovi Desy Selawani ( 030.06.

dewasa sampai usia lanjut.4%).2 Tahun 2008 jumlah balita yang ada di kota Tanjungpinang sebanyak 23. bayi dan balita serta rendahnya tingkat kecerdasan yang berakibat pada rendahnya produktifitas. anak-anak. Jumlah balita yang memiliki KMS (K/S) pada tahun 2008 sebesar 18. kemungkinan jumlah KMS masih kurang sehingga perlu dilakukan penambahan atau juga distribusi KMS yang belum merata. menurunkan produktivitas kerja dan menurunkan daya tahan tubuh. dimanapun dan siapapun pasti membutuhkan badan yang sehat.2 Kecukupan gizi sangat diperlukan oleh setiap individu sejak janin yang masih dalam kandungan.927 orang (81. cakupan balita yang memiliki KMS (K/S) dari tahun 2004 sampai dengan 2008 berada pada angka diatas 80%.0%. Hal ini mendasari masalah Gizi menjadi salah satu faktor penting penentu pencapaian Millenium Development Goals.BAB I PENDAHULUAN Kesehatan merupakan modal utama dalam kehidupan setiap orang. maka cakupan jumlah balita yang memiliki KMS pada tahun 2008 lebih rendah. Hal ini menggambarkan bahwa partisipasi masyarakat masih kurang. kemiskinan dan akan menghambat pertumbuhan ekonomi. Ibu atau calon ibu merupakan kelompok rawan karena membutuhkan gizi yang cukup sehingga harus dijaga status gizi dan kesehatannya agar dapat melahirkan bayi yang sehat. Jika dilihat dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2008. Jika dibandingkan dengan tahun 2004 sampai dengan tahun 2007. masa remaja. maka persentase partisipasi masyarakat pada tahun 2008 ini memiliki angka yang paling kecil. bayi. pengangguran. baik jasmani maupun rohani guna menopang aktifitas kehidupan sehari-hari. Masalah Gizi di Indonesia sampai saat ini masih memprihatinkan.240 orang. seperti melakukan penerapan pola hidup sehat dan pola makan yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari. terbukti tingginya angka kematian ibu.1 Gizi merupakan salah satu penentu kualitas sumber daya manusia. Karena nilai persentase K/S kurang dari 100%.2 Partisipasi masyarakat (D/S) pada tahun 2008 sebesar 62. Kekurangan gizi akan menyebabkan kegagalan pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan. Sedangkan secara umum. Untuk itu perlu dipelajari kenapa mereka tidak datang ke posyandu dan perlu 76 . Begitu pentingnya nilai kesehatan ini. sehingga seseorang yang menginginkan agar dirinya tetap sehat harus melakukan berbagai macam cara untuk meningkatkan derajat kesehatannya. yang berakibat meningkatnya angka kesakitan dan kematian.

Untuk itu Pemerintah perlu menyediakan dukungan dana operasional posyandu. menurunnya kinerja posyandu akan berdampak pada menurunnya status gizi. telah ditargetkan penurunan masalah gizi kurang pada tahun 2009 setinggi-tingginya 20%. disediakan Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI). salah satu sasaran adalah pelaksanaan Sistem Kewaspadaan Gizi termasuk Sistem Kewaspadaan Dini KLB Gizi Buruk.411.dimotivasi. 1457/Menkes/SK/X/2003 tentang kewenangan Wajib Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan. Dalam dokumen RPJMN 2004-2009. Pemerintah telah mengeluarkan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri No.2 77 .2 Banyak faktor yang menyebabkan masalah gizi kurang antara lain faktor ketersediaan pangan dalam rumah tangga. Menyikapi kondisi tersebut. asuhan gizi keluarga dan akses keluarga terhadap pelayanan kesehatan. salah satu indikator adalah 80% kecamatan bebas rawan gizi. Selain itu dari kader posyandu sendiri bersama dengan PKK kelurahan juga dihimbau agar lebih memotivasi warganya untuk membawa balita ke posyandu setiap bulan. 2 Posyandu merupakan bentuk Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) yang mempunyai daya ungkit yang besar dalam mengatasi masalah gizi kurang. Distribusi MP-ASI sampai ke sasaran memerlukan dukungan dana.2 Berdasarkan Keputusan Menkes RI No. MP-ASI tersebut khususnya bagi bayi dan anak usia 6-23 bulan dari keluarga miskin yang berat badannya berdasarkan hasil penimbangan di posyandu tidak naik (T1).3/1116/SJ tentang revitalisasi posyandu yang merupakan upaya untuk meningkatkan fungsi dan kinerja posyadu. SK Menkes RI no. Gambaran yang lebih akurat tentang situasi masalah gizi buruk di tingkat masyarakat akan didapat melalui pelaksanaan surveilens aktif dengan melakukan konfirmasi dan pelacakan kasus.2 Salah satu upaya mempertahankan status gizi bayi dan anak usia 6-23 bulan dan juga untuk mencegah keadaan gizi menjadi lebih buruk. 116/Menkes/SK/VIII/2003 tentang pedoman Penyelenggaraan Surveilens Epidemiologi Kesehatan.

membangun sel-sel. dalam bahasa latin ―nutrire‖ artinya makanan atau zat makanan sehat. menyerap. mencerna. menggunakan dan membuang yang tidak terpakai. mendistribusi. Definisi gizi adalah proses tubuh memanfaatkan makanan yang dimulai dari mengunyah. zat-zat gizi.6 78 . memelihara jaringan dan mengatur proses-proses tubuh.BAB II PENGERTIAN Kata gizi berasal dari bahasa Arab ―gizzah‖. peranan keluarga serta swadaya termasuk swasta untuk meningkatkan status gizi masyarakat dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.3 Zat gizi adalah ikatan kimia yang diperlukan oleh tubuh untuk melakukan fungsi yaitu menghasilkan energi. sumber pertumbuhan dan pemeliharaan untuk mencapai status kesehatan optimal. peran dan keseimbangannya. Status gizi adalah keadaan tubuh/ekspresi sebagai akibat komsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Ilmu gizi adalah ilmu tentang makanan. untuk kesehatan dan masalah kesehatan. 3 Perbaikan gizi merupakan suatu upaya perbaikan gizi masyarakat yang diselenggarakan secara menyeluruh dan terpadu dalam kerjasama lintas sektoral. Malnutrisi ( gizi salah ) adalah keadaan patologis akibat kekurangan/ kelebihan secara relatif maupun absolut satu atau lebih zat gizi.5 Gizi seimbang adalah istilah untuk menggambarkan susunan makanan dan minuman yang jenis maupun jumlahnya menjamin kebutuhan tenaga. dan substansi yang terkandung didalamnya. menelan.

2. 3. Meningkatnya status gizi pada balita gizi buruk melalui intervensi gizi. Meningkatnya cakupan Fe pada ibu hamil dan buteki. 79 . Meningkatnya cakupan vitamin A pada bayi. balita dan bufas. Diselenggarakannya pelayanan gizi di klinik gizi. 7. 8. Meningkatnya pengetahuan dan kemampuan petugas gizi kelurahan dalam melaksanakan dan pelaporan kegiatan gizi. Tujuan Khusus 1. Terlaksananya kegiatan Pos Gizi untuk menurunkan angka balita gizi buruk dengan dana swadaya masyarakat. Meningkatnya kerjasama lintas program dan lintas sektoral. 6.BAB III TUJUAN Tujuan Umum Tertanggulanginya masalah gizi di masyarakat dan meningkatnya status gizi masyarakat di wilayah Kecamatan Pasar Minggu. 4. Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan Posyandu. 5.

Pelayanan Gizi di Posyandu 3. Pembinaan kader Posyandu dan petugas kelurahan IV. Pemberian Vitamin A pada bufas 5. Penyuluhan gizi pada masyarakat sangat diperlukan karena pengetahuan orang tua dapat ditambah dengan cara memberikan penyuluhan setiap saat pertemuan. Pembentukan pos gizi 4.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN KEGIATAN DAN SASARAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU Kegiatan IV. Pemantauan status gizi anak sekolah dilaksanakan secara terpadu dengan program UKS melalui screening kesehatan 3. Pelacakan kasus gizi buruk yang ditemukan di wilayah Pasar Minggu b. dan ibu hamil 2. Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) 1.anak 4. Pemberian tablet tambah darah pada bumil dan buteki dan bufas 6. Usaha Perbaikan Gizi Institusi ( UPGI ) 1. Pemberian makanan tambahan pemulihan di Posyandu 7. Pengadaan vitamin A untuk bayi. 2. Pemberian Vitamin A setiap bulan Februari dan Agustus pada anak . Melakukan survei konsumsi makanan pada masyarakat 3. Pelayanan gizi di klinis gizi Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu c. Penyuluhan Gizi di SD / MI / SMP / SMA secara terpadu dengan program UKS/PKPR 2. Monitoring dan evaluasi kegiatan penimbangan balita di Posyandu 8.1 Kegiatan Rutin Program Gizi a. Pemantauan status gizi Balita di Posyandu 2. Kegiatan SPGP ( Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi ) 1. balita. Pengadaan PM tambahan pemulihan untuk balita BGM 3. Rapat koordinasi dengan sektoral 4.2 Kegiatan Program Gizi dengan menggunakan anggaran subsidi 1. Pengadaan bahan dan pangan MP-ASI 80 .

Monitoring dan evaluasi program gizi IV.5. balita dan buteki yang datang ke Posyandu 2. Lansia yang datang ke Posyandu lansia 3. remaja. Ibu. Gizi anak sekolah dengan program UKS 4. Posyandu dengan program PSM 3. KP ibu dengan program kesehatan ibu 2. Pada kelompok Pasien DM yang ada di Pasar Minggu 5. Gizi lansia dengan program lansia Sasaran 1.3 Program Gizi yang berintegrasi dengan program lain 1. Panti Asuhan 6. Ibu hamil dengan class ANC 4. Gizi remaja dengan program PKPR 5. Pada kelompok sekolah. Pada masyarakat umum 81 . Pembinaan petugas gizi kelurahan 6.

dan ibu menyusui Penyuluhan gizi di Posyandu Posyandu Satu bulan 1x Petugas kesehatan sesuai jadwal Puskesmas dan Kader kesehatan/Posyandu Pemberian vitamin A pada balita di Posyandu Pemberian tablet Fe pada balita di Posyandu dan PMT balita Pencatatan dan pelaporan Penataan kader 2. Usaha Perbaikan Gizi Pemuda (UPGP) Jenis kegiatan Penyuluhan gizi remaja Sasaran Organisasi pemuda dan Tempat Kecamatan Waktu 2x per Pelaksana tahun Tenaga Pelaksana Gizi Puskesmas Pembina bersama – sama Dokter Puskesmas Pembina sesuai jadwal remaja/karang taruna 82 . ibu Pemberian makanan tambahan di Posyandu hamil. balita. Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) Jenis Kegiatan Sasaran Tempat Waktu Pelaksana Penimbangan balita di Posyandu Bayi.BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU 1.

Usaha perbaikan Gizi Sekolah (UPGS) Jenis kegiatan Penyuluhan gizi pada masyarakat sekolah Sasaran Masyarakat Sekolah Dasar/Madrasah Pembinaan warung / kantin sekolah Ibtidiyah. Waktu Dasar 4x tahun Pelaksana per Petugas kesehatan dan Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) SLTP/Tsanawiyah.Usaha Perbaikan Gizi Institusi (UPGI) Jenis kegiatan Penyuluhan gizi pada masyarakat institusi Sasaran Masyarakat panti asuhan. sesuai SLTA/Aliyah jadwal puskesmas Pemberian tablet tambah darah Pemantauan status gizi 4.3. 2x per panti. pesantren tahun sesuai jadwal Pemantauan gizi Nakerwan 83 . panti jompo. SLTP/Tsanawiyah dan SLTA/Aliyah Pemeriksaan Hb anak SD/MI Tempat Sekolah (SD). dan pesantren Pemeriksaan Hb pada Nakerwan Tenaga kerja wanita (Nakerwan) Pemberian tablet tambah darah pada Nakerwan Tempat Waktu Pelaksana Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) Puskesmas Pembina Institusi/perusahaan.

diagnose keluhan gizi dan nasihat dietetic Sasaran Pasien umum dengan kelainan gizi ganda (gizi lebih dan kurang) Pengukuran status gizi (antropometri dan Pasien rujukan laboratorium) dari RB. dll Riwayat kebiasaan makan dan intake Balita gizi buruk rujukan dari posyandu Tempat Poli Waktu Pelaksana Gizi 3 hari dalam Dokter puskesmas Puskesmas seminggu. Pembina sesuai jam kerja Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) Puskesmas Pembina 84 . BKIA.5. Klinik Gizi Jenis kegiatan Anamnesa. BP.

000 UI sebanyak 93.1 % dan 200.000 UI sebanyak 99. Jumlah kader Posyandu yang aktif 71.000 UI sebanyak 90.1 Kesimpulan 1.8% sedangkan targetnya 80 % VI. Cakupan ASI eksklusif masih rendah sekitar 36. Cakupan Fe I ibu hamil = 81. Fe III = 80. Cakupan D/S = 74.9 % 5.6 % 4. Rata – rata kunjungan klinik gizi 110 orang/bulan 7. Jumlah Posyandu yang rutin melaksanakan kegiatan 98.2 % 2.0 % . N/S = 41.3 % . PMT – Pemulihan balita gizi buruk sebaiknya melalui klinik gizi Puskesmas kecamatan agar memudahkan monitoring dan evaluasi 85 .0 % . khususnya para ibu yang memiliki balita untuk pertumbuhan balitanya melalui kegiatan Posyandu 2. K/S = 89.000 UI sebanyak 95.4 % 8.3 % . 2 Saran 1. Cakupan vitamin A bulan Februari untuk 100. N/D = 56.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN VI.5 % menjadi 24. Menjalin komunikasi dan kerjasama yang lebih efektif dengan lintas program dan lintas sector 3. Kegiatan intervensi gizi dapat memperbaiki gizi buruk dari 64. Meningkatkan sosialisasi ke masyarakat.1 % da 200.4 % 3.2 % 6.4 % serta Agustus untuk 100.

2008 3. Jakarta . Jakarta . Prioritas Peningkatan Pengetahuan dalam Perbaikan Gizi Masyarakat. Standarisasi Pelayanan Kesehatan Puskesmas. 2007 6. Program Perbaikan Gizi Masyarakat. 2008 4. 2011 86 . Juknis SPM Gizi Masyarakat. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta . Masalah Gizi di Indonesia dan Program Perbaikan Gizi Masyarakat. Direktorat Bina Gizi Masyarakat Republik Indonesia. Jakarta . 2010 2.DAFTAR PUSTAKA 1. Petunjuk Teknis Bantuan Sosial Program Perbaikan Gizi Masyarakat. Evaluasi Pelaksanaan Program Perbaikan Gizi Masyarakat dalam Mencapai Visi Misi Indonesia Sehat 2010. Persatuan Ahli Gizi Indonesia. Wuna. 2008 5. Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Jakarta . Kendari .

06.084) (030.209) 87 .UPAYA PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT Penyusun : Fadilah Rakhma Asih Primadyah ( 030.06.

influensa. penyembuhan (kuratif). demam berdarah dengue. pencegahan penyakit (preventif). bakteria atau parasit). tempat makan dan minum yang kurang bersih pencuciannya (Hepatitis. Program tersebut dilaksanakan untuk mencegah berjangkitnya penyakit atau mengurangi angka kematian dan kesakitan. Penyakit menular yang juga dikenal sebagai penyakit infeksi dalam istilah medis adalah sebuah penyakit yang disebabkan oleh sebuah agen biologi (seperti virus. Beberapa penyakit menular yang menjadi masalah utama di Indonesia adalah diare. penyakit saluran cerna.BAB I PENDAHULUAN Pembangunan kesehatan yang berkualitas merupakan bagian integral dari pembangunan nasional. Dalam mewujudkan pelaksanaan upaya-upaya di atas tentunya harus didukung oleh sarana dan prasarana serta sumber daya manusia yang berkualitas yang mampu memenuhi tuntutan dan kebutuhan pembangunan di bidang kesehatan. dan penyakit lainnya. bangsa dan negara dapat hidup dalam lingkungan dan perilaku hidup yang sehat.Hepatitisdll). Typhoid/Types dll). Usaha peningkatan derajat kesehatan diupayakan melalui upaya peningkatan kesehatan (promotif). bukan disebabkan faktor fisik (seperti luka bakar dan trauma benturan) atau kimia (seperti keracunan) yang mana bisa ditularkan atau menular kepada orang lain melalui media tertentu seperti udara (TBC. dan berkesinambungan serta peningkatan sistem pengamatan penyakit. malaria. pengkajian. tifus abdominalis. dan sedapat mungkin menghilangkan atau mengurangi akibat buruk dari penyakit menular tersebut. Infulenza dll). serta upaya-upaya pemulihan kesehatan (rehabilitatif). dimana masyarakat. baik masa kini maupun masa datang. serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. 88 . terpadu. Jarum suntik dan transfusi darah(HIVAids. memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata. Usaha-usaha tersebut dilakukan secara menyeluruh. cara penanggulangan secara terpadu dan penyelidikan terhadap penularan penyakit. Salah satu program yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan dan sasaran pembangunan di bidang kesehatan adalah pencegahan dan pemberantasan penyakit menular.

diabetes melitus. 89 .Adapun penyakit yang tidak menular adalah penyakit yang diderita pasien yang pada umumnya disebakan bawaan/keturunan. yang telah mengalami beberapa kali perubahan dan perbaikan. dan Keputusan Menteri Kesehatan No. propinsi. kanker. serta penanggulangan penyakit tidak menular dierlukan suatu sistem surveilens penyakit yang mampu memberikan dukungan upaya program dalam daerah kerja Kabupaten/Kota. kondisi stress yang mengakibatkan gangguan kejiwaan. Beberapa penyakit tidak menular yang menunjukkan kecenderungan peningkatan adalah penyakit jantung koroner. penanggulangan Kejadian Luar biasa (KLB) penyakit dan keracunan. kecelakaan. kecacatan akibat kesalahan proses kelahiran. dan Nasional. Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Sistem Pencatatan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP). hipertensi. 1116/MENKES/SK/VIII/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilens Epidemiologi Kesehatan serta kebutuhan informasi epidemiologi untuk mendukung upaya pemberantasan penyakit menular dan penyakit tidak menular. Pada tahun 1987 telah dikembangkan Sistem Surveilens Terpadu (SST) berbasis data. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom. Untuk melakukan upaya pemberantasan penyakit menular. dan sebagainya. dan Sistem Pelaporan Rumah Sakit (SPRS). dampak dari berbagai penggunaan obat atau konsumsi makanan serta minuman termasuk merokok. Sistem tersebut disesuaikan dengan ketetapan Undang –Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah.

BAB II PENGERTIAN

Penyakit adalah adalah suatu keadaan abnormal dari tubuh atau pikiran yang menyebabkan ketidaknyamanan, disfungsi atau kesukaran terhadap orang yang

dipengaruhinya. Untuk menyembuhkan penyakit, orang-orang biasa berkonsultasi dengan seorang dokter. Penyakit menular adalah penyakit yang dapat ditularkan (berpindah dari orang yang satu ke orang yang lain) baik secara langsung maupun melalui perantara. Suatu penyakit dapat berpindah dari satu orang ke orang yang lain karena adanya penyebab penyakit

(agent), pejamu (host) dan cara penularan (route of transmission). Agent penyakit menular dapat berupa virus, riketsia, bakteri, protozoa, jamur dan cacing. Agar agent penyebab ini bias bertahan maka harus terjadi perkembangbiakan, berpindah dari satu host ke host yang lain, mencapai host yang baru dan menginfeksi host yang baru. Cara penularan yang dapat dilakukan dengan kontak, inhalasi (air bone infection), kontaminasi (melalui makanan dan minuman), penetrasi pada kulit dan infeksi melalui plasenta. Beberapa jenis penyakit yang menular:
                

Anthrax Beguk Batuk rejan (pertusis) Beri-beri Cacingan Cacar Air (varicella) Campak Chikungunya Demam campak Demam berdarah Demam kelenjar Diare Disentri Amuba Eritema infektiosum (Parvovirus B19) Hepatitis A Hepatitis B Hepatitis C

                 

Impetigo Influenza Kolera Lepra Malaria Penyakit Meningokokus Penyakit tangan, kaki dan mulut Rabies Radang lambung dan usus Rubeola Rubella Tetanus Tuberkulosis Kutu Konjungtivitis Kurap Kudis Skarlatina
90

Flu Burung

Macam penyakit menular:  Penyakit karantina atau wabah (UU No.1 dan 2 tahun 1962): Kolera, Pes, Demam kuning, Deman bolak-balik, Tifus Bercak Wabah, Poliomielitis dan Difteri).   Penyakit menular dengan potensi wabah tinggi: DBD, Diare, Campak, Pertusis dan Rabies, Avian Influenza, HIV/AIDS. Penyakit frambusia,  menular dengan potensi wabah rendah: antraks, malaria, tetanus meningitis, neonatorum

keracunan,

influenza,

ensefalitis,

dan tifus abdominalis. Penyakit menular yang tidak berpotensi wabah : kecacingan, lepra, TBC, Sifilis, Gonore dan Filariasis. Penyakit tidak menular adalah penyakit yang tidak disebabkan oleh kuman, tetapi disebabkan karena adanya problem fisiologis atau metabolisme pada jaringan tubuh manusia. Penyakit-penyakit tersebut contohnya ialah; batuk, seriawan, sakit perut, dan sebagainya. Pengalaman menunjukkan bahwa penyakit menular yang terdapat di dalam wilayah kerja Puskesmas di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi kelompok-kelompok penyakit menular sesuai dengan sifat penyebarannya di dalam masyarakat wilayah tersebut, ialah: 1. Penyakit menular yang secara endemik berada diwilayah, yang pada waktu tertentu dapat menimbulkan wabah, yang dapat dikelompokkan ke dalam penyakit-penyakit menular potensial wabah. 2. Penyakit menular yang berada di wilayah dengan endemisitas yang cukup tinggi sehingga jika tidak diawasi dapat menjadi anacaman bagi kesehatan masyarakat umum. 3. Penyakit- penyakit menular lain yang walaupun endemisitasnya tidak terlalu tinggi di dalam masyarakat, tetapi oleh karena sifat penyebarannya dianggap sangat membahayakan keberadaannya. Dalam upaya pencegahan terjadinya wabah dan penularan penyakit dalam program Puskesmas dilaksanakan program P4M (Pencegahan, Pemberantasan, Pembasmian, Penyakit
91

masyarakat,

maka

penyakit-penyakit

ini

perlu

diawasi

Menular) dengan tujuan eradikasi penyakit sampai ke akarnya. Kemudian diganti menjadi P3M (Pencegahan, Pencegahan Penyakit menular) dan P2M & PLP (Pemberantasan Penyakit Menular & Penyehatan Lingkungan Pemukiman). Penyakit dapat dibedakan menjadi : a. Penyakit menular b. Penyakit infeksi c. Penyakit Kontak d. Penyakit karantina e. Penyakit endemi f. Penyakit epidemi (wabah) g. Penyakit Pandemi

Penyakit menular adalah penyakit yang disebabkan agent / hasil toxin yang berasal dari reservoir dan ditularkan ke host yang rentan. Mata rantai penularan terdiri dari : a. Agent / hasil toksin b. Reservoir (sumber penularan) c. Transmisi (cara penularan) d. Host / penjamu

Kejadian Luar Biasa (KLB) ialah kejadian kesakitan dan atau kematian yang menarik perhatian umum dan mungkin menimbulkan ketakutan dikalangan mayarakat, atau yang menurut pengamatan epidemiologik dianggap adanya peningkatan yang berarti dari kejadian kesakitan/kematian tersebut pada kelompok penduduk dalam kurun waktu tertentu. Termasuk dalam KLB ialah kejadian kesakitan atau kematian yang disebabkan oleh penyakit-penyakit baik yang menullar maupun tidak menular dan kejadian bencana alam yang diserati wabah penyakit. Secara operasional suatu kejadian dapat disebut KLB bila memenuhi satu atau lebih ketentuan-ketentuan sebagai berikut : 1. Angka kesakitan/kematian suatu penyakit menular di suatu kecamatan menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih selama tiga minggu berturut-turut atau lebih.
92

2. Jumlah penderita baru dalam satu bulan dari suatu penyakit menular di suatu kecamatan menunjukkan kenaikan dua kali lipat atau lebih bila dibandingkan dengan angka ratarata sebulan dalam setahun sebelumnya dari penyakit menular yang sama di kecamatan tersebut. 3. Angka rata-rata bulanan dalam satu tahun dari penderita-penderita baru dari suatu penyakit menular disuatu kecamatan menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata bulanan dalam tahun sebelumnya dari penyakit yang sama pula. 4. Case fatality rate dari suatu penyakit menular tertentu dalam suatu kurun waktu tertentu (hari, minggu, bulan) di suatu kecamatan menujukkan kenaikan 50% atau lebih bila dibandingkan dengan CFR penyakit yang sama dalam kurun waktu yang sama periode sebelumnya di kecamatan tersebut. 5. Proportional rate penderita baru dari suatu penyakit menular dalam satu periode tertentu, dibandingkan dengan proportional rate penderita baru dari suatu penyakit menular yang sama daam tahun yang lalu dengan periode yang sama menunjukkkan kenaikan dua kali atau lebih. 6. Khusus penyakit-penyakit kolera, pes, DBD/DSS : a. Setiap peningkatan jumlah penderita-penderita tersebut diatas, di suatu daerah endemik yang sesuai dengan ketentua-ketentuan di atas. b. Terdapatnya satu atau lebih penderita kematian menular tersebut diatas, di suatu Kecamatan yang telah bebas dari penyakit-penyakit tersebut, paling sedikit bebas selama 4 minggu berturut-turut. 7. Apabila kesakitan atau kematian oleh keracunan yang timbul di suatu kelompok masyarakat. 8. Apabila di daerah tersebut terdapat penyakit yang sebelumnya tidak ada. Khusus untuk kasus AFP (Acute Flaccid Paralysis) dan Tetanus neonatorum ditetapkan sebagai KLB bila ditemukan satu kasus atau lebih. Wabah penyakit menular adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka (UU No.4 Tahun 1984 tentang wabah penyakit menular)

93

Penanggulangan Kejadian Luar Biasa Penyakit Menular dilaksanakan dengan upaya-upaya : 1. Pengobatan, dengan memberikan pertolongan penderita, membangun pos-pos kesehatan di tempat kejadian dengan dukungan tenaga dan sarana obat yang memadai termasuk rujukan. 2. Pemutusan rantai penularan atau upaya pencegahan misalnya, abatisasi pada KLB DBD, kaporisasi pada sumur-sumur yang tercemar pada KLB diare, dsb. 3. Melakukan kegiatan pendukung yaitu penyuluhan pengamatan. Pemantauan dan logistik. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit (P2P) terdiri dari kegiatan pengamatan penyakit, pencegahan termasuk imunisasi serta penanggulangan dan

pemberantasan penyakit. Berbagai cara pencegahan dapat diterapkan salah satunya dengan membangkitkan kekebalan pada masyarakat melalui pelayanan yang dalam pelaksanaannya diintegrasikan ke dalam program-program pelayanan perolrangan seperti KIA, UKS, dan kegiatan imunisasi di luar gedung Puskesmas. Mengingat pentingnya pelayanan imunisasi ini, maka cakupan imunisasi di dalam masyarakat perlu dimonitor dengan Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) imunisasi Puskesmas menurut distribusi desa. Ada beberapa cara penularan penyakit menular, yaitu : 1. Penularan secara kontak, baik kontak langsung maupun kontak tidak langsung. 2. Penularah memalui vehicle seperti melalui makanan dan minuman yang tercemar. 3. Penularan melalui vektor. 4. Penularan melalui suntikan, transfusi, tindik, tato. 5. Penularan melalui hubungan seksual. Surveilans epidemiologi penyakit dapat diartikan sebagai kegiatan pengumpulan data atau informasi melalui pengamatan terhadap kesakitan atau kematian dan penyebaran serta faktor-faktor yang mepengaruhinya secara sistematik, terus-menerus dengan tujuan untuk perencanaan suatu program, mengevaluasi hasil program, dan sistem kewaspadaan dini. Untuk dapat memonitor atau mengamati distribusi penyakit menular di dalam masyarakat wilayah kerja Puskesmas, dilakukan pencatatan peristiwa kesakitan dan kematian yang diakibatkan oleh penyakit menular tersebut. Untuk pemantauan penyakit menular tertentu yang menjadi masalah kesehatan di wilayah Puskesmas disajikan dalam PWS mingguan Penyakit (contoh PWS [Formulir W2] penyakit campak, diare, DBD, dll). Dengan penggunaan PWS penyakit sara mingguan ini dapat dikenali atau diketahui secara dini kenaikan atau distribusi suatu penyakit menular tertentu menurut tempat dan waktu.
94

BAB III TUJUAN

A.

Tujuan Umum Menurunnya angka kesakitan, kematian, dan angka kecacatan akibat penyakit.

B.

Tujuan Khusus 1. Terlaksananya kegiatan pengamatan penyakit menular dan penyakit tidak menular. 2. Terlaksananya kegiatan pencegahan penyakit dan imunisasi. 3. Terlaksananya kegiatan pemberantasan penyakit menular langsung (TBC, Kusta, Diare dan kecacingan, ISPA, serta Penyakit menular Seksual dan HIV AIDS). 4. Terlaksananya kegiatan pemberantasan penyakit bersumber vektor dan rodent. (DBD, Malaria, Rabies, dan filaria).

95

Penyakit Menular PROGRAM PENGAWASAN TERHADAP PENYAKIT MENULAR Pokok Persoalan dan Tantangan: Pemerintah Indonesia telah mengubah sistem pemerintahannya menjadi sistem desentralisasi yang membahayakan sistem pengawasan Penyakit Menular. sesuai dengan komitmen untuk target penghapusan global (Mekhong Plus). Frambesia dan kusta adalah penyakit menular yang dapat diobati. kurang pelayanannya. Partisipasi dan jaringan masyarakat diperlukan untuk memulai pengawasan dari penularan dengue (terutama di perkotaan) dan filariasis (terutama di pedesaan).BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN A. PEMBERANTASAN DAN PENGAWASAN TERHADAP PENYAKIT MENULAR Pokok Persoalan dan Tantangan: Infeksi Filariasis dan penularannya selalu terdapat di banyak daerah tanpa kegiatan pengawasan yang cukup. PROGRAM PENCEGAHAN. Leptospirosis tetap menjadi hal yang serius meskipun tidak ada laporan yang mengancam. terpencil. Memperkuat pengawasan HIV. Proyek percobaan untuk ELF memperlihatkan hasil yang menjanjikan yang perlu ditingkatkan ke tingkat propinsi. Rabies dan Japanese Encephalitis adalah masalah utama yang memerlukan dukungan dari sistem pemerintahan untuk memperkuat pengawasan dan vaksin pencegahan. Sasaran:   Memperkuat pengawasan penyakit yang menular melalui hubungan seksual (STI). namun dengan penularan utama yang terjadi di daerah yang miskin. Infeksi Dengue dan komplikasinya seperti demam berdarah terus meningkat di daerah kota dan pinggir kota dengan meningkatnya angka kesakitan namun menurunnya angka kematian yang menjanjikan. dan juga tingkat daerah. diperlukan kesadaran yang ditingkatkan dan dukungan dari pemerintah setempat. Helminthiasis yang sangat umum dan sangat endemis dengan pengaruh 96 .

Kualitas pelaksanaan DOTS. yaws dan kusta. leptospirosis. bersama dengan meningkatnya pendanaan yang baru-baru ini disetujui melalui Global Fund untuk AIDS. namun pelaksanaanya belum dimulai. TB dan Malaria. Angka kesakitan dan kematian Malaria secara bermakna mempengaruhi bagian-bagian yang lebih miskin di negara. PROGRAM PEMBERANTASAN TUBERCULOSIS Pokok Persoalan dan Tantangan: Indonesia telah mengembangkan dan memulai penerapan rencana pembangunan lima tahun untuk pemberantasan TB (2002-2006). Untuk memperbaiki hal ini. Badan Swasta dan Tempat Kesehatan Masyarakat lainnya harus terlibat dalam pelaksanaan DOTS. Sebuah rencana pembangunan telah dikembangkan. antihelminthiasis deworming. yang harus dikoordinasikan dengan perawatan ELF dimanapun memungkinkan.kesehatan yang kronik yang dapat secara luas ditingkatkan melalui pemberantasan cacing yang berulang-ulang secara masal. Sasaran:  Meningkatkan dan mempertahankan kualitas dari komponen-komponen terpilih dan bidang-bidang yang termasuk dalam program nasional untuk mencegah. termasuk ELF. Kini desentralisasi sedang berjalan yang memerintahkan pelaksanaan tanggung jawab di tingkat daerah dan propinsi. rabies. Telah ada peningkatan marginal dalam kasus tingkat deteksi selama dua tahun terakhir hanya karena Pusat Kesehatan telah melaksanakan DOTS. dan menghapuskan penyakit-penyakit yang ditargetkan. mengawasi. terutama sistem 97 . Sasaran: Meningkatkan dan memelihara kualitas dari komponen-komponen terpilih dan daerah-daerah yang terjangkau oleh rencana kerjasama "Gebrak Malaria" untuk dilaksanakan dibawah GFATM dan sumber donatur lainnya. PROGRAM PEMBERANTASAN MALARIA Pokok Persoalan dan Tantangan: Malaria tetap menjadi salah satu penyakit menular yang utama di sebagian besar daerah di Indonesia. Kebijakan perawatan obat-obatan perlu terus diawasi dengan timbulnya kembali pola resistansi. partisipasi dan jaringan masyarakat untuk pengawasan dengue dan arbovirus lainnya. Unit Malaria di DepKes meneruskan kebutuhan untuk memperkuat fungsinya sebagai koordinator dari "Gebrak Malaria" dan GFATM. Ancaman yang muncul kembali telah terjadi di daerah-daerah pengawasan efektif sebelumnya.

Disamping itu.Modul Kesehatan sebagai bagian dari SURKESNAS. Tiga komponen utama diadopsi. STEP 1 juga telah dimasukkan ke dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional . B. pendekatan Stepwise telah digunakan di bidang demonstrasi mengarah pada pengembangan pendekatan yang berbasis komunitas dalam pengawasan penyakit tidak menular. pada saat ini mengalami beberapa kekurangan yang perlu diatasi dengan memperkuat dan meluruskan kegiatan DOTS di tingkat pusat.gabungan swasta). Namun. propinsi dan daerah. maka penting untuk memperkuat dukungan teknis dalam negeri dengan menambah staf di tingkat nasional dan lapangan. Dokumen ini diharapkan akan selesai sebelum akhir tahun 2003. PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN TERHADAP PENYAKIT TIDAK MENULAR Pokok Persoalan dan Tantangan : Kini suatu upaya yang terpadu sedang berjalan untuk mengembangkan Pengamatan Risiko Terhadap Penyakit Tidak Menular (NCD Control). Penyakit Tidak Menular PROGRAM PENGAWASAN. dengan mengadaptasi Rencana Global dan Regional.instrumen ini telah diperkenalkan oleh pemerintah setempat dan juga universitas guna meningkatkan pengadopsian dari instrumen-instrumen ini untuk penerapan yang lebih lanjut. Sasaran:  Memperbaiki pelaksanaan pelayanan DOTS di seluruh negeri dengan membentuk kemitraan yang efektif dengan provider kesehatan di sektor lain (publik-gabungan publik & publik . Pendekatan STEPwise dari WHO untuk Pengamatan Faktor Risiko telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia selama tahun 2002-03. yaitu: pengamatan faktor-faktor risiko. dengan pendanaan gabungan dari SEARO dan Kantor Negara. instrumen.pencatatan dan pelaporan. rencana pembangunan nasional tentang pengamatan terhadap penyakit yang tidak menular yang utama masih perlu dikembangkan untuk mencapai sebuah konsensus dalam pengamatan terhadap penyakit yang tidak menular. Selain itu. Perbedaan dalam 98 . dan penyediaan dukungan teknis yang berkesinambungan. upaya peningkatan kesehatan yang terpadu dan penghantaran perawatan kesehatan yang direformasi. Agar dapat menyediakan dukungan teknis yang berkesinambungan untuk mengatasi hal ini.

jaringan ini perlu didukung lebih jauh lagi. Rencana Pembangunan Nasional untuk penanggulangan kebutaan baru saja dikeluarkan. Dalam waktu 2002-3. Tantangannya kini adalah untuk melanjutkan upaya-upaya dan untuk menyokong para pemegang kepentingan yang utama untuk memungkinkan negara untuk mengantisipasi wabah penyakit yang tidak menular yang akan datang. Projek uji coba sedang berjalan di Depok dengan gabungan dana dari SEARO dan Kantor Negara untuk mengembangkan pendekatan yang berbasis komunitas dalam pencegahan dan pengawasan penyakit yang tidak menular yang utama. Sasaran :  Menerapkan Program Pembangunan Nasional untuk pencegahan dan pengawasan penyakit yang tidak menular. PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN TERHADAP PENYAKIT TIDAK MENULAR 2 Pokok Persoalan dan Tantangan : Indonesia masih ketinggalan dalam upaya untuk memerangi kebutaan yang diakibatkan oleh katarak. PROGRAM PENGAWASAN. pertemuan-pertemuan persiapan telah dilakukan untuk membentuk suatu jaringan nasional untuk pencegahan dan pengawasan dari penyakit yang tidak menular yang utama. Maka dari itu. terutama jika kita ingin melihat perubahan perilaku. Meskipun sektor publik/ DepKes tetap menjadi agen utama bagi pergerakan ini. dan terutama bahwa Penglihatan 2020 bukan program prioritas teratas di negeri ini.pendekatan dari dasar penyakit dan fakto risiko berdasarkan pengamatan harus saling melengkapi dan mendapatkan kepentingan yang seimbang. Dalam kurun waktu 2002-3 beberapa petugas pemerintah telah mendapatkan pelatihan dalam Program Pengelolaan Perawatan Mata di Madurai dan di beberapa tempat. maka ini harus benar-benar didukung. PROGRAM PENGAWASAN TEMBAKAU 99 . Maka. Sasaran :  Penerapan dukungan teknis dalam rencana pembangunan untuk pencegahan dan penanggulangan kebutaan. upaya yang konsisten harus ada supaya kita dapat mencapai suatu kesimpulan. ada potensi yang besar dalam sektor swasta seperti LSM yang sangat aktif dalam pencegahan dan pengawasan faktor risiko dari penyakit yang tidak menular. Ini adalah projek yang berlangsung lama.

Data dari Susenas memperlihatkan bahwa insiden kecelakaan sendiri adalah 0. Pada saat kini. kesehatan menduduki posisi yang paling strategis di bidang ini.3% telah mencoba merokok.5% dari satu juta orang. WHO akan mendukung struktur lembaga untuk membawa ke depan kunci legislatif dan elemen-elemen kebijakan dari rencana pembangunan. bekerja sama dengan berbagai departemen pemerintah. Sasaran :  Membentuk kebijakan nasional untuk pencegahan kecelakaan dan kekerasan. WHO telah menonjolkan isu ini dengan mengeluarkan Laporan Dunia tentang Kekerasan dan Kesehatan di tahun 2002. Perokok reguler di antara anak laki-laki berusia 15 sampai 19 tahun meningkat dari 36. Sasaran :  Mengadopsi dan menerapkan rencana pengendalian tembakau nasional yang lengkap PROGRAM KECELAKAAN/DISABILITAS Pokok Persoalan dan Tantangan : Kecelakaan dan kekerasan telah menjadi masalah kesehatan publik. kecelakaan dan kekerasan yang berhubungan dengan ketidakstabilan politik dianggap tinggi di area-area yang terkena. tidak ada titik pusat yang diidentifikasikan di dalam DepKes. Sesuai dengan WHA52. PROGRAM KESEHATAN MENTAL DAN PENYALAHGUNAAN OBAT DAN BAHAN BERBAHAYA Pokok Persoalan dan Tantangan : 100 . WHO SEARO telah mengembangkan beberapa dokumen yang berhubungan dengan ini. 69. Di antara anak laki-laki yang disurvei di sekolah menengah di Jakarta.6% (2000).1% pria Indonesia berusia 20 tahun atau lebih merokok secara reguler.18 Indonesia aktif terlibat dalam Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) bersama dengan negara anggota PBB lainnya. Selain itu.0%). dengan angka yang lebih tinggi di daerah pedesaan (74. Namun demikian. Sangat baik dimengerti bahwa menanggapi isu-isu kecelakaan dan kekerasan membutuhkan pendekatan multi-sektor. Sekitar 69. Di tahun 2003.8% (1997) menjadi 42.47% selama tahun 1990an. Perokok meningkat dengan pesat di Indonesia. yang dapat digunakan sebagai referensi untuk membentuk kebijakan dan kapasitas dalam menangani isu-isu ini. tujuannya adalah untuk meratifikasi perjanjian internasional pengawasan tembakau. LSM dan MPR.Pokok Persoalan dan Tantangan : Indonesia telah mengalami salah satu peningkatan terbesar dalam konsumsi tembakau di dunia .

program kesehatan mental masih belum mendapatkan anggaran belanja yang mencukupi. desentralisasi yang mulai diterapkan di tahun 2001 mempersulit masalah ini. Kini telah ada upaya untuk mengartikan dan mengadaptasikan dua seri modul. Meskipun adanya upaya ini. Penyalahgunaan obat dan bahan berbahaya menjadi lebih menonjol dalam beberapa tahun terakhir. beberapa modul lain juga akan menjalani pendekatan yang sama. Kini tantangannya adalah untuk meningkatkan kesadaran dan mengembangkan panduan nasional dalam menghadapi alkoholisme dan penyalahgunaan bahan berbahaya lainnya seperti metamphetamine. Disamping itu. Namun tidak ada tanggapan dan pengawasan dari pelaksanaanya. Kebingungan juga meningkat karena tidak adanya pola di negara mengenai program kesehatan mental daerah yang dapat digunakan sebagai contoh. sejumlah panduan telah dikembangkan untuk para pecandu narkotika. namun ada pengertian yang berkembang bahwa narkotika sangat berhubungan dengan penyalahgunaan bahan lainnya seperti alkoholisme. WHO-HQ baru-baru ini mengembangkan alat-alat pengelola untuk memperkuat program kesehatan mental daerah melalui Projek Kebijakan Kesehatan Mental. di dalam kurun waktu tahun 2002-03. Ini menjadi ganda dengan adanya perubahan baru-baru ini di dalam DepKes Direktorat Kesehatan Mental dari pendekatan berbasis rumah sakit menjadi berbasis komunitas. dll. Kantor WHO di negara bekerja sebagian dalam isu ini. Adaptasi ini diharapkan untuk selesai di tahun 2003. Di tahun 2003. sebagian karena dikeluarkannya Laporan Kesehatan Dunia 2001 tentang Kesehatan Mental. yaitu Perencanaan dan Penganggaran Belanja Program Kesehatan Mental dan Pengaturan Jasa-Jasa Kesehatan Mental. beberapa modul pelatihan untuk pencegahan dan pemberi perawatan utama dalam bidang kesehatan mental dan penyalahgunaan obat dan bahan berbahaya telah dikembangkan dan dilatih di beberapa propinsi. Selain itu.Masalah kesehatan mental menjadi masalah yang lebih menonjol belakangan ini di negara. 101 . Maka dari itu. Pemerintah telah melakukan upaya namun masih belum terlalu efektif. WHO telah mendukung pengembangan Kebijakan Kesehatan Mental Nasional dan rencana pembangunannya. sebuah lokakarya pelatihan telah berhasil diselenggarakan dengan mengikutsertakan peserta dari pusat dan dari propinsi-propinsi di Jawa dan Bali untuk memperkenalkan modul dan menggunakan modul untuk mengembangkan program kesehatan mental. Di tahun 2004-05. Sasaran :  Memperkuat program kesehatan mental daerah.

 Memperbaharui dan mencoba di lapangan panduan nasional dan alat-alat pengelolaan penyakit mental dan neurologis dan penyalahgunaan bahan berbahaya 102 .

BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN TEBET Pelaksanaan upaya pokok pencegahan pemberantasan penyakit menular dan tidak menular di puskesmas tingkat kecamatan : Kegiatan Penyuluhan ISPA Sasaran Tempat Waktu Pelaksana Balita. Aula 1 tahun 1x tiap Dokter kunjungan poli puskesmas dan tenaga kesehatan TBC Individu. Aula kunjungan Poli puskesmas dan tenaga kesehatan Diare Bayi dan anak Poli anak. kelompok Poli paru. dewasa Poli anak dan 1 tahun 1x tiap Dokter umum. Aula 1 tahun 2x tiap Dokter dan Puskesmas kunjungan poli puskesmas dan tenaga Kelurahan kesehatan Kusta Dewasa Aula 1 tahun 1x Dokter puskesmas dan tenaga kesehatan HIV Pasien poli dan Poli siswa remaja sekolah konsultasi 1 tahun 1x tiap Dokter dan kunjungan poli puskesmas dan tenaga kesehatan 103 .

II.Imunisasi Imunisasi wajib Bayi bulan) Tiap Selasa dan Tenaga Kamis Imunisasi sekolah Siswa SD (kelas I.III) Tiap kunjungan Bidan Ibu hamil TT Pemeriksaan klinis Sputum tersangka TB Anak dewasa dan Poli umum. poli Tiap kunjungan Dokter paru anak PSN Masyarakat Kelurahan 1x tiap minggu Dokter (hari Jumat) puskesmas. tenaga kesehatan dan Jumantik dan poli poli puskesmas Poli KIA sebanyak 2x Sekolah kesehatan (0-11 Poli imunisasi 104 .

105 . Mata rantai penularan terdiri dari : a. c. Agent / hasil toksin. d. b. B.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. Saran Untuk lebih meningkatkan upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular dan tidak menular sebaiknya dilakukan sosialisasi kepada masyarakat secara rutin serta penambahan SDM yang ada patut dipertimbangkan. Host / penjamu Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit (P2P) terdiri dari kegiatan pengamatan penyakit. Reservoir (sumber penularan). Kesimpulan Penyakit Menular adalah penyakit yang disebabkan agent / hasil toxin yang berasal dari reservoir dan ditularkan ke host yang rentan. agar program yang ada dapat berjalan dan terlaksana dengan baik dan maksimal. pencegahan termasuk imunisasi serta penanggulangan dan pemberantasan penyakit. Transmisi (cara penularan) .

1999. standar manajemen pengendalian vektor penyakit. http://penyakit-pengobatan.DAFTAR PUSTAKA 1. 3.who. Program Pengawasan.wikipedia. Standarisasi pelayanan Kesehatan Puskesmas di DKI Jakarta. Dinas kesehatan propinsi DKI Jakarta.com accessed on 17th July 2011. 2. Pemerintah daerah Khusus ibukota Jakarta. available at www. available at www.html 5. 106 . Pencegahan dan Penanggulangan Terhadap Penyakit Menular dan Tidak Menular. Pedoman kerja Puskesmas jlid 2. volume 13 edidi I. 1999. Penyakit. Departemen kesehatan Republik Indonesia.com/2007/12/penyakit-menular-dan-tidakmenular. 6. 4. 2002.blogspot.com accessed on 18th July 2011.

UPAYA PENGOBATAN Penyusun : Khairun Nisa Shita Hayyuning A. ( 030 06 139) (030 06 246) 107 .

tepat dosis obat. Dan agar fungsi puskesmas dapat terlaksana dengan baik. Telah pula dicetak ulang beberapa kali dan terakhir tahun 2002 tanpa merubah isinya. tersedia setiap saat dan harga terjangkau.2 Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas pertama kali diterbitkan pada tahun 1985 dan mendapat tanggapan yang sangat menggembirakan bagi pelaksana pelayanan kesehatan dasar. puskesmas dalam menjalankan fungsinya untuk meningkatkan taraf kesehatan masyarakat melalui pembinaan dan pelayanan kesehatan dapat menggunakan segala macam sumber daya yang ada di wilayah kerja. baik dengan sektor kesehatan maupun sektor lain yang terkait.2 Oleh karena kemajuan yang pesat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran maupun farmasi menuntut tersedianya suatu pedoman yang mengikuti perkembangan. perlu adanya peningkatan kemampuan manajemen di bidang pelayanan yang diberikan maupun pengorganisasian yang terintegrasi lebih baik. cara dan waktu pemberian. yaitu pelayanan lini terdepan adalah : 108 . Dalam makalah ini yang dibahas adalah upaya pengobatan dasar di puskesmas. sehingga perlu merevisi pedoman tersebut.1 Salah satu perangkat untuk tercapainya penggunaan obat rasional adalah tersedianya suatu pedoman atau standar pengobatan yang dipergunakan secara seragam pada pelayanan kesehatan dasar atau puskesmas. Beberapa masalah kesehatan mempunyai insidens yang sering ditemukan pada pelayanan medik Puskesmas. Dinamika kehidupan manusia banyak sekali berhubungan dengan masalah kesehatan yang timbul akibat kondisi lingkungan dan status sosial yang beragam.1 Latar Belakang Pelayanan kesehatan untuk masa yang akan datang semakin kompleks sejalan dengan adanya perubahan lingkungan dari masyarakat yang menyebabkan perubahan pola penyakit serta adanya perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran.BAB I PENDAHULUAN Pengobatan rasional menurut WHO 1987 yaitu pengobatan yang sesuai indikasi. Permasalahan1 Upaya pengobatan di puskesmas sebagian besar berhadapan dengan permasalahan fisik dan mental yang timbul dalam kehidupan sehari-hari dari Pengguna Jasa Pelayanan Kesehatan (PJPK) dan keluarganya. serta sektor swasta. diagnosis.1 Oleh karenanya.

permasalahan endokrin 7. permasalahan nutrisi Prinsip penatalaksanaan pelayanan yang diselenggarakan adalah sesuai dengan manajemen pelayanan medik menyeluruh terpadu. permasalahan usia lanjut 6. permasalahan penyakit akibat gaya hidup dan budaya 4. penyakit infeksi akut maupun kronik 5.1. penyakit yang dapat hilang dan sembuh sendiri. yaitu penyakit swa sirna ( self limiting diseases) 2. 109 . masalah somatik yang timbul oleh pengaruh stress (tekanan psikis) 3.

Hal tersebut dapat dicapai dengan melakukan pengobatan yang rasional.1 Pelayanan pengobatan adalah pelayanan medik yang dilakukan oleh pelaksana pelayanan (dokter) baik secara sendiri ataupun atas koordinasi bersama dengan sesama profesi maupun pelaksana penunjang pelayanan kesehatan lain sesuai dengan wewenangnya.BAB II PENGERTIAN Pengobatan merupakan suatu proses ilmiah yang dilakukan oleh dokter berdasarkan temuan-temuan yang diperoleh selama anamnesis dan pemeriksaan. 2 110 . dengan untuk memandang umur dan jenis kelamin yang dapat diselenggarakan pada ruang masalah. Dalam proses pengobatan terkandung keputusan ilmiah yang dilandasi oleh pengetahuan dan keterampilan untuk melakukan intervensi pengobatan yang memberi manfaat maksimal dan resiko sekecil mungkin bagi pasien. untuk menyelesaikan masalah kesehatan dan menyembuhkan penyakit yang ditemukan dari pengguna jasa pelayanan keshatan.

Perencanaan obat yang digunakan akan lebih tepat. b. d. Merupakan landasan hukum dalam menjalankan profesi karena disusun dan disepakati para ahli dan diterbitkan oleh pemerintah. Standar Profesi. secara langsung dapat mengoptimalkan pembiayaan pengobatan. Mutu Pelayanan Pengobatan.1 Tujuan Khusus Tujuan Pedoman Pengobatan dikelompokkan dalam beberapa hal:1 a. Kebijakan dan Manajemen Obat. Pengamanan Hukum. Senantiasa menjadi standar profesi setinggi-tingginya karena disusun dan diputuskan atas kesepakatan para ahli. c.BAB III TUJUAN Tujuan Umum Tujuan umum upaya pengobatan adalah meningkatnya derajat kesehatan masyarakat dengan memberikan pelayanan kuratif. 111 . Oleh karena Pedoman Pengobatan hanya memuat obat yang terpilih untuk masingmasing penyakit / diagnosis.

3. kehamilan. preforasi alat dalam). 1 Ciri masalah yang dilayani : 1. 2. penyebab bukan patologi berat (seperti DM berat. mental dan sosial Lokasi keluhan Faktor penentu yang ada : Risiko bila ada alergi. malignansi. adanya gejala sistemik berat. hipertensi tak terkendalikan. gejala/keluhan dan status klinik yang tidak terlalu ekstrim.BAB IV SASARAN DAN KEGIATAN Sasaran Sasaran upaya pengobatan yang diselenggarakan Puskesmas adalah semua anggota masyarakat dengan tidak memandang umur dan tidak membedakan strata sosial. hasil pemeriksaan Pengobatan yang dapat diberikan adalah : Penata laboran Penata radiologik Dokter Puskesmas Pelaksana 112 . Rincian Kegiatan Kegiatan Anamnesa Uraian Kegiatan Sapa dengan baik PJPK yang datang Pahami keluhan dan gejala secara holistik Perhatikan tanda vital dan profil umum Biarkan PJPK bercerita sendiri tentang riwayat penyakitnya dan pengobatannya Pemeriksaan secara holistik dari aspek fisik mental dan sosial dari penyakit Pemeriksaan secara holistik dari aspek Dokter Puskesmas fisik. kelainan perilaku Berat ringannya secara klinis Pengaruh lain dari penyakit Bila sulit diketahui dapat dilakukan pemeriksaan laboratorium dan radiologik sesuai dengan indikasi dan kemampuan Diagnosa Tindakan : Medikamentosa Berdasarkan keluhan. dapat diatasi segera.

usia > 40 th (adanya riwayat jantung) 113 . antikonvulsi Antidepresi.                      Anti mikrobiota Anti fungi Analgesik-antipiretik Anti inflamasi non steroid (AINS) Antiepilepsi. kardiovaskuler dan respirasi berkaitan kasus operasi dan tindakan anestesi. perawat Anamnesa Anamnesa dan rekam medik dikirimkan lengkap dengan surat rujukan pada operator . lain-lain Tindakan Persiapan operasi : Persiapan untuk bedah umum ataupun Dokter tindakan bedah khusus sederhana dapat dikerjakan dokter Puskesmas atas kerjasama dengan operator Dokter.Pemeriksaan (tindakan operasi dilakukan oleh ahli yang sesuai dengan kasus) Pemeriksaan bukan sjaa terhadap keluhan namun semua sistem tubuh. Test laboran : darah lengkap Radiologik : foto toraks ECG. antipsikotik Anti parkinson Hipnotik sedatif Obat antihipertensi dan penyakit jantung Obat antisyok Obat mengatasi keluhan pernafasan Obat mengatasi dispepsia dan nyeri abdomen Antiseptik saluran kemih Kontraseptik Antiseptik desinfektans Obat haematopoitik Obat untuk kebidanan Obat topikal kulit Obat topikal mata Obat gigi Obat hemoroid Vitamin dan mineral.

antiseptik. inhalasi. eksisi clavus. infus set. obat. perawat perawat gigi Perawat Petugas farmasi Terapi cairan. perawat.Operasi direncanakan Operasi sito dan operasi yang direncanakan tidak dapat dilakukan di Puskesmas. Keterangan Milik puskesmas 114 . marital Seks Ketepatan dosis/tindakan Kesembuhan Mutu Pengisian rekam medik Penilaian epidemiologik Biaya Ahli kandungan. vaksin tetanus. abses ekterpasi sederhana pada pelayanan rawat jalan Konseling padapelayanan terpadu untuk masalah : Kebugaran fisik dan kehidupan yang sehat Mental psikospiritual sosial Kerja Sanitasi dan lingkungan Keluarga. perawat Bedah minor Tindakan Konseling khusus Ruang konseling khusus Dilaksanakan oleh : dokter. lipoma. perawat Tindakan evaluasi pelayanan Tindakan evaluasi administratif Komponen Pelayanan Kegiatan Pelayanan ambulans Pelayanan administrasi Pelayanan obat-obatan Petugas Pelaksana Supir. oral suppositoria. suntikan. anestesi. oksigen. bila fasilitas pelayanan persalinan Minor : sirkumsisi. dokter spesialis mata Dokter. kecuali bedah persalinan oleh Ahli Kandungan. bidan. kateter kesehatan.

status konvulsi Penata laboratorium. trauma organ lain Kedaruratan penyakit akut. konsulen panggilan. resusitasi jantung paruotak. perawat. darurat medik. kronis Dokter puskesmas. elektrolit. kimia darah Pelayanan kecelakaan/muskuloskeletal. penurunan kesadaran. dokter gigi. perawat gigi. dokter 115 . perawat Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan ECG Perawat. Breathing. Circulation) Darah. konsul. faal ginjal.Perlengkapan medik Petugas/perawat perlengkapan Minor set jahit Mayor set tindakan sederhana Bidai Penanganan luka terbuka Penanganan fraktur sederhana Penanganan keadaan akut ABC (Airway. urin. penata radiologik Tim medik untuk : kegawatan nafas.

parasit.260 13. kelenjar. sistem hematopoitik.556 61. cacing. 116 Keadaan keseimbangan elektrolit . gondongan. campak.010 6. tanda vital. cacar air) Host : keadaan umum.637 2. virus.931 9 1005 10 1101 JUMLAH 1.183 9.868 4.359 4.448 3. polio.011 2. Penyelesaian masalah infeksi sistemik Kegiatan Tindakan dan pengobatan Uraian Kegiatan Tetapkan organ sistem tubuh yang terkena infeksi.BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN TEBET Pelayanan yang terdapat di Puskesmas Kecamatan Tebet dilakukan oleh petugas yang dilaksanakan di dalam gedung puskesmas dan di luar gedung puskesmas (pusling). sumber penyebab manusia (anak-anak DPT.599 2. humoral tubuh Tetapkan penyebab infeksi (semua golongan umur) Keterangan Faktor penentu dan usia jenis kelamin Penyebab jenis mikrobiota. Berikut ini adalah 10 penyakit terbanyak di Puskesmas Kecamatan Tebet tahun 2010 :3 SEPULUH PENYAKIT TERBANYAK PUSKESMAS KECAMATAN TEBET TAHUN 20103 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 KODE 2200 1302 1303 1502 2002 0801 0102 1503 JENIS PENYAKIT Penyakit lain ISPA Penyakit lain saluran napas Penyakit pulpa + jaringan apikal Penyakit kulit alergi Gangguan psikotik Diare Gingivitis + penyakit periodental Penyakit mata Infeksi telinga tengah JUMLAH 13.

perlu pemeriksaan lanjut dan tindakan pelayanan perawatan ataupun pelayanan lanjutan Rehabilitasi fisik. komplikasi penyakit kecacatan yang ada 2. kipas angin Malignansi penyakit dengan infeksi luka Rujukan Atasi keluhan dan berikan simptomatik cegah keadaan untuk menjadi lebih buruk yaitu tindakan :  untuk menurunkan suhu  menyeimbangkan cairan. perlu rehabilitasi untuk mengoptimalkan fungsi paru) Pasca stroke dengan kecacatan dapat menimbulkan trauma psikis yang memerlukan rehabilitasi sosial baik pengguna jasa maupun keluarganya Demikian pula infeksi kusta komunitas harus dapat menerimanya tanpa keraguan untuk menjadi sumber penularan Bila keadaan tidak dapat diatasi. penyakit keseimbangan fungsi organ terpadu Lingkungan : hospes perantara.Keseimbangan suhu status gizi. mental dan sosial tergantung pada dampak penyakit. pernapasan Tindakan terhadap penyebab Pemulihan Penyebab yang tidak jelas atasi secara simptomatik dan perbaiki keadaan umum Kasus infeksi yang telah merusakkan organ (misalnya kasus TBC. PPOK. elektrolit tubuh  nutrisi tubuh  oksigenasi. sumber penularan manusia Untuk menurunkan suhu tidak dibenarkan menggunakan kompres es. malignansi. Gangguan Sistem Pernapasan Kegiatan Uraian Kegiatan Keterangan 117 . kronisnya penyakit. derajat.

batuk. mengurangi penderitaan perlu dukungan keluarga. rinitis. asma bronkhial. anoksia) Neurogenik. Konseling mengenai penggunaan obat. faringitis. pergerakan dada Inspeksi saluran nafas atas/bawah/dada Pernafasan atas (THT) Pernafasan bawah/paru Penyakit jantung Penyakit Hematogen (asidosis. perjalanan penyakit dan cara mengatasinya. Perkesmas 118 . pneumokoniosis (kedaruratan medik) Pemeriksaan semua gol umur Infeksi sel nafas spesifik TBC. berikan obat pelega pernapasan. nutrisi dan pola hidup untuk mempercepat penyembuhan Terapi paliatif. rasa berat pada dada (bedakan rasa nyeri dengan). tumor THT. bronkhitis. tonsilofaringitis. PPOK. bronkopneumonia. obat simptomatik untuk mengurangi penderitaan. rasa tercekik. kronik yang non spesifik. dispnoe. rasa tersumbat. pleurotiskhiolitis Tumor paru. hemaptoe. intensitas. untuk fisik maupun psikis Ditujukan untuk pengguna jasa pelayanan kesehatan (PJPK) PJPK keluarganya dan Rujukan Bila fungsi paru memburuk Penyakit menjadi kronis Berhubungan dengan penyakit lain yang berat Pada kasus terminal. hubungan dengan pekerjaan.Penilaian penapisan Berdasarkan keluhan subjektif. suara serak akut. sistem DOTS (Direcly Observed Treatment Shortcourse) Non infeksi Masalah kegawatan nafas Tindakan dan pengobatan Berikan medikamentosa sesuai dengan hasil pemeriksaan. berulang Tentukan penyakit dasar Tanda vital angka respirasi. cara pencegahan penularan/memberatnya penyakit. atasi penyebab. infeksi saluran nafas akut. psikogenik Korpus alinum (sumbatan jalan nafas) Umum.

Malignansi Bila perlu peralatan diagnostik canggih dan tindakan invasif Tindakan dan pengobatan Menerima rujukan kembali Tindakan penyelematan kehidupan Perawatan kasus terminal dirumah Kasus kronik dengan pengobatan intensif Kasus dispnoe yang dapat segera diatasi Pengobatan suplemen Latihan pernapasan Mengembalikan fungsi: pernapasan. D dan E. perdarahan lambung. laktosa. dapat terjadi semua golongan umur yaitu gastritis. salmonelosis. infestasi cacing penyakit hepatobilier : hepatitis A. hipokalemi. intoksikasi obat Intoleransi dalam metabolisme makanan : terhadap gula. hiponatremi alkalosis        gangguan pada gigi dan mulut keluhan pada abdomen atas : muntah. C. lemak Obstipasi dan konstipasi Inkotinensia alvi 119 . kolelitiasis Keracunan makanan. B. bakteri. demam tifoid. fatty liver. bahan kimia. kolik. paru. eltor. diare non spesifik. Gangguan Sistem Pencernaan dan Organ pendukungnya Kegiatan Penilaian pada berbagai usia Uraian Kegiatan   Keterangan Bila tidak diawasi dapat terjadi dehidrasi. organ pernapasan dalam dan luar Mengembalikan fungsi sosial Dokter Perkesmas bersama Pemulihan Terapi psikis/ventilasi 3. dispepsia abdomen. sirrhosis hepatis. sigelosis. nyeri abdomen berdasarkan keluhan : tentukan penyebab. pankreatitis non spesifik.

keluarga perawat. vaskular ataupun psikosomatik Konseling pada PJPK dan keluarganya untuk dapat memperbaiki sistem pompa jantung dan aliran pembuluh darah dan menyelesaikan masalah psikis ataupun masalah nutrisi. perilaku dan kebiasaan yang ada Memberikan edukasi pada pasien dan keluarganya untuk meningkatkan pola hidup dan menciptakan suasana keluarga yang partisipatif dalam menyelesaikan masalah PJPK Untuk kasus sistem kardiovaskuler yang menimbulkan keadaan yang tidak dapat diatasi. semua golkongan umur Penyakit degeneratif : hipertensi Penyakit infeksi adalah penyakit jantung rheumaendokarditis Gagal jantung Memberikan medikamentosa. terapi diet yang sesuai. jumlah cairan. dokter Rujukan Perawat. tidak pedas 4. lunak. infus Konseling Kebutuhan makanan dan cairan Kebersihan Pantangan Keluarga mementau makan dianjurkan diminta pola yang Pemulihan Penyesuaian untuk menu yang harus ditaati.Tindakan dan pengobatan Terapi medikamentosa terhadap kausa dan simptomatik Diare dan alat pencernaan. instruktur 120 . hipertensi yang tidak dapat Keterangan Sianosis adalah tindakan untuk segera dirujuk Tindakan dan pengobatan Dokter. Puskesmas. terapi cairan Edukasi PJPK dan keluarga Medikamentosa yang rasional (informatorium obat generik) Terapi cairan : oralit. dietitik sesuai dengan diagnosa jantung. Gangguan Sistem Kardiovaskuler Kegiatan Deteksi dini Uraian Kegiatan Penyakit jantung bawaan pada bayi.

instruktur senam Tindakan dan pengobatan Pemulihan Pemantauan oleh Perkesmas bersama keluarga 6. URM 5.dikendalikan Menerima rujukan dari perawat tertier dan pelayanan sekunder untuk dilakukan. yang telah mengalami gangguan fungsi sosial akibat penyakit kardiovaskuler yang dialaminya senam. tanda-tanda vital dan sosialisasi PJPK dalam perawatan rawat jalan Melakukan perawatan di rumah sesuai dengan kemampuan fisik PJPK Pemulihan Menyelenggarakan latihan jantung sehat agar tidak berkembangnya penyakit sistem kardiovaskuler juga untuk menjaga kebugaran fisik. perawat gizi. pemantauan keluhan. struma nodosa. hipotiroid. dengan menegakkan kasus yang tepat dan benar. Gangguan Mental dan Perilaku 121 . pengobatan spesifik serta diet yang tepat sesuai dengan keadaan Rehabilitasi penderita DM. mental dan sosial penderita gangguan tiroid terutama yang pernah mengalami gangguan psikis akibat penyakitnya Kelompok diabetes senam Keterangan Dokter bersama tim. Pemulihan sosial bagi PJPK. Gangguan Endokrin dan Metabolisme Kegiatan Deteksi dini Uraian Kegiatan Diabetes melitus atau tanpa komplikasi Gangguan tiroid : hipertiroid. terutama yang telah mengalami komplikasi agar melakukan kegiatan keseharian secara produktif sesuai dengan usia dan kemampuannya Rehabilitasi fisik. struma difus Penatalaksanaan diabetes melitus dengan mengontrol kadar gula darah dan mengatur diet serta aktivitas serta medikamentosa Penatalaksanaan kasus gangguan tiroid.

UKS infeksi telinga tengah (otitis media). sekolah dan penyebab ketulian saat ataupun kedua telinga Medikamentosa dan edukasi mencegah kambuhnya peradangan THT. Gangguan Telinga Hidung dan Tenggorok Kegiatan Deteksi dini Uraian Kegiatan Keterangan Gangguan telinga luar akibat trauma. RS/Pelayanan khusus untuk bantu dengar tonsilektomi pasca operasi. suportif. sesuai dengan kasus Keterangan UKS Tindakan dan pengobatan Dokter Puskesmas dan keluarga Bila puskesmas mempunyai konsultan Kesehatan Jiwa Rujukan intra Untuk kasus yang kronik dan penggunaan puskesmas psikotropik Rujukan untuk Kirimkan ke RS bila membahayakan perawatan keluarga dan sekitarnya Pemulihan Rehabilitasi medik dan sosial untuk mengembalikan fungsi sosial pasien pada komunitasnya dan beraktifitas optimal sesuai dengan usia dan kemampuannya Puskesmas keluarga dan 7. prasekolah. khususnya telinga agar tidak menjadi kronik dan infeksi ke otak Pelayanan pengobatan rasional Tindakan dan pengobatan Rujukan intra Trauma akibat kerja puskesmas Untuk perawatan infeksi kronik dan tindakan Rujukan untuk Pelayanan hearing Aids mendapat Operasi Mastedoiktomi. obat psikotropik. terutama pada anak usia balita. perawatan dan tonsilektomi tindakan invasif Spesialis Puskesmas THT endoskopi. pelayanan 122 .Kegiatan Deteksi dini Uraian Kegiatan Gangguan mental emosional pada anak usia sekolah. dan usia dewasa Gangguan belajar pada anak usia sekolah Penatalaksanaan medikamentosa. konseling keluarga.

herpes Alergi dan iritasi Defisiensi Vit. A. Gangguan Mata dan Penglihatan Kegiatan Deteksi dini. hordeulum. entropion. erosi superfisial (tes fluoresin positif) buta warna Kapsul vit A. dilakukan olaeh dokter mata puskesmas Konseling keluarga untuk proteksi kerusakan mata dan buta warna serta penyakit keturunan Optisian/dokter puskesmas Rujuk untuk Penurunan refraksi berat dan kebutaan tindakan Glaukoma Strabismus pada anak balita dan pra sekolah Kekeruhan kornea Penglihatan berkurang perlahan-lahan Ulkus kornea. mata ada bercak putih. Xeroftalmia Trauma mata. terasa sakit. laserasi/perforasi mata. keluhan. bakteri konjungtivitis. streptococcus. agar dapat melakukan kegiatan sehari-hari sesuai dengan kemampuan Bila puskesmas tak ada dokter mata maka pelayanan spesialis dirujuk ke fasilitas pelayanan yang lengkap Dokter puskesmas/ optisian Perkesmas dan keluarga 123 . 200. matamerah.000. terasa gatal. IU pada defisiensi Resep kaca mata Operasi pterigium. kotor. trauma bakar Mata merah dengan penurunan visus Memantau penggunaan kaca mata pada gangguan refraksi Pemulihan Rehabilitas sosial penderita dengan gangguan mata yang tidak dapat dikoreksi.dapat dilakukan di Puskesmas Pemulihan Terapi wicara dapat dibantu oleh keluarga Pemantauan perkesmas oleh 8. virus : trakhom. penglihatan kurang. sakit kepala Tindakan dan pengobatan Uraian Kegiatan Keterangan Gangguan refreaksi terutama pada anak UKS dan spesialis usia sekolah mata puskesmas Masalah-masalah infeksi mata. pseudomonas. laserasi palpebra.

herpes zoster. folikulitis. Staphylococous Penyinfeksi spesifik disebabkan Virus : varisla. cutancus larva migrans Obat topikal kulit :  Prinsip pengobatan basah dengan kompres basah  Kering dengan kering Obat disesuaikan kuman/biota penyebab Alergi : urtikaria. Gangguan Kulit dan Kelamin Kegiatan Deteksi dini. pedunkulosis korporis. karbunkel. selulitis. erisipelas. DM) Uraian Kegiatan Infeksi non spesifik yang mengenai semua golongan umur. Trikhomoniasis. neurodennatitis Kelainan kulit dengan penyakit sistemik (DM) Penyakit kulit akibat defisiensi PHS Uritritis Non spesifik. rubella Menahun . Herpes Simpleks. Vaginosis bakterial. pioderma. tinea korporis. tinea versikolor. Lepra ( Morbus Hansen). erupsi alergi obat Keturunan . kandidiasis. herpes simpleks. campak.Budaya bersih 124 Tindakan . prurigo hebra (anak-anak) Dermatitis kontak : sabun. tinea pedis. TBC kulit Jamur : dermatofitosis (tinea kapitis. Ulkus Mole. eritrasma Keterangan  Umum bakterial penyebabnya Steptococous. tinea kruris). dermatomikosis profunda Parasit : skabies. pastikan bahwa tidak ada penyakit lain (neoplasma. Lymfogranuloma Venereum dan Tindakan yang tepat dengan pemeriksaan . zat kimia Psikis. Gonore. pedunkulosis kapitis. furunkel.dan kondisinya 9. impetigo. Granuloma Inguinela. AIDS.

pengobatan laboratorium. dapat dilakukan rujukan ke laboratorium terdekat) Pengobatan antibiotika. dapat dipantau di rumah (Puskemas) Rujuk Pemulihan Infeksi menjadi sistemik tak dapat diselesaikan pada tingkat primer. Gangguan Muskuloskeletal dan Persarafan Kegiatan Deteksi dini Uraian Kegiatan Masalah persendian dan tulang seperti osteroartiritis. hernia nukleus pulposus Gangguan otot dan jaringan lunak akibat trauma. hemiparese berat dan ringan tergantung tindakan kedaruratan yang dilaksanakan Kelelahan yang kronik (chronic fatigue syndrome) psikogen. dapat menyebabkan temaparese. (kerokan kulit. infeksi. rheumatoid. Gonorhea. gangren Rehabilitas fisik dan mental pada penderita dengan kecacatan fisik akibat cedera. endokrin metabolik. biasa usia 20-40 tahun dengan keluhan organik 125 . farmakologik. anemia. kosmetik / operasi plastik 10. anti fungsi dapat oral topikal Konseling kebersihan dan perawatan diri dan menghindari kontak dengan penyebab. gout dan penyakit sendi lain Keterangan Keluhan muskuloskeletal selalu disertai rasa sakit dengan intensitas yang tergantung pada persyarafannya Gangguan tulang belakang . terutama akibat cedera olahraga Sekuele pasca stroke yang ringan Kejang yang lama (febris pada anak) dapat menimbulkan anoksia otak : tergantung daerahnya. gangguan tidur) Kelelahan kronik.

jantung. DM). peradangan yang timbul Edukasi untuk melakukan gerakan yang sesuai untuk tidak menambah sakit dan menambah trauma Penyakit dasar (hipertensi.Diagnostik. EMG CT Scan Memberikan medikamentosa untuk mengurangi rasa sakit. rheumatik banyak dikaitkan dengan makanan. mikrosefali Otot dan kekuatan. trauma otot. pelatihan otot Epilepsi untuk ketepatan diagnostik Trauma kepala Pengobatan epilepsi Rujuk ke Pasca stroke dengan parese berat Spesialis syaraf Pemulihan     rehabilitasi fisik. reposisi Tulang tulang. jaringan lunak (memar). luka terbuka Untuk mencari lokasi. terasa amat sakit Konseling bayi dan anak-anak diperlukan pembentukan vitamin D dengan bantuan sinar matahari Rujukan ke pelayanan kesehatan terdekat yang memiliki fasilitas tersebut Tindakan pengobatan dan Rujuk bedah untuk berat bagian Tirah baring untuk kasus. pelatihan otot pasca tindakan/trauma rehabilitasi mental untuk trauma yang dialami rehabilitasi sosial untuk dapat kembali mengerjakan pekerjaan seperti semula secara bertahap Pemulihan otot jantung dilakukan dengan senam yang Dapat dilakukan di Puskesmas atas supervisi spesialis syaraf 126 . karena itu edukasi untuk makanan yang boleh dimakan dan dipantang. trauma tulang perawatan lokal. kelainan persyarafan/tulang Tes neurologik dan EEG Pemotretan tulang/tengkorak. ketepatan tindakan dirujuk Untuk perawatan tirah baring. obati dengan tepat Kasus Gout.

   bertahap Pemulihan otot pencernaan dilakukan dengan bentuk diet yang cair/lunak dan tidak merangsang Pemulihan tulang dengan gips/bidai Pemulihan sayatan pada otot dilakukan dengan kompres/obat topika pasca jahitan dan ditutup dengan kasa URM (Unit Rehabilitas Medik) Perkesmas. keluarga 127 .

petugas di tempat kerja. 128 . Hal ini terkait dengan peranan puskesmas sebagai lini terdepan dalam upaya mewujudkan suatu masyarakat yang sehat. lapangkan jalan nafas dan sistem pengangkutan amat membantu. petugas keamanan di sekitar korban. tempat kerja. keluarga. SARAN Semua tenaga kesehatan harus selalu berupaya memberikan upaya pelaksanaan pengobatan yang sebaik-baiknya terutama di Puskesmas. disebabkan penyakit yang lanjut ataupun kecelakaan (di rumah. Pelayanan ditujukan terhadap pengguna pelayanan medik yang memerlukan tindakan segera yang kemungkinan dibawa oleh. Pada pelayanan kedaruratan medik kasus berat di Puskesmas untuk tindakan lanjut dilakukan pada unit pelayanan lengkap. jalan) tanpa memandang umur. tim ambulans. Oleh karena itu setiap pihak yang terkait .harus terus berupaya memberikan pelayanan medis yang sebaik-baiknya sesuai dengan Standarad Pelayanan Medis yang berlaku.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Dalam menjalankan fungsinya dokter dan tim pelayanan kesehatan pada kegiatannya untuk penyelesaian masalah kecelakaan dan kedaruratan medik adalah berupa penerapan kemampuan untuk mengatasi masalah sistem organ biologik tubuh dan mental psikologikal dari semua golongan umur yang bersifat segera. orang yang di sekitar korban. namun untuk resusitasi jantung paru otak pasang infus terdahulu.

dkk. Jakarta : Departemen Kesehatan RI. Taralan . 2007. Kebijakan Dasar Puskesmas.Hal. Sungkar Saleha.Benny.2007 3. Tambunan . Tebet Laporan Tahunan Puskesmas Kecamatan Tebet 2010.Puskesmas Kec. 129 .Jakarta.Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas 2007. Daldiono.Soegianto. 2.1-3.Jakarta.DAFTAR PUSTAKA 1.

UPAYA KESEHATAN PENGEMBANGAN 130 .

208) 131 .05.UPAYA KESEHATAN SEKOLAH (UKS) Penyusun : Marcia Dian P Riana Youri Sherly Gunawan (030.05.05.191) (030.139) (030.

Salah satu upaya yang strategis untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia adalah dengan pendidikan. Kualitas pendidikan berkaitan erat dengan sumber daya manusia yang berkualitas pula. penjaringan lanjutan oleh tenaga kesehatan). Upaya pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas dan sehat antara lain dengan melaksanakan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Anak usia sekolah adalah anak yang berusia 6 – 21 tahun.BAB I PENDAHULUAN Pembangunan nasional pada hakekatnya adalah pembangunan manusia Indonesia yang berkualitas. Sumber daya manusia yang berkualitas adalah yang memiliki jasmani dan rokhani yang sehat. Program UKS dilaksanakan pada semua jenis dan jenjang pendidikan. kesehatan gigi dan mulut siswa SD dan setingkat melalui penjaringan kesehatan terhadap murid kelas 1 Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan bersama dengan guru UKS terlatih dan dokter kecil secara berjenjang (penjaringan awal oleh guru dan dokter kecil. yang sesuai dengan proses tumbuh kembangnya dibagi menjadi 2 sub kelompok. Pelayanan kesehatan pada UKS adalah pemeriksaan kesehatan umum. 132 . Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) merupakan bagian dari program kesehatan anak usia sekolah. termasuk madrasah. yakni pra remaja (6-9 tahun) dan remaja (10-19 tahun).

Dengan UKS ini diharapkan mampu menanamkan sikap dan perilaku hidup sehat pada dirinya sendiri dan mampu menolong orang lain. oleh anak. heart dan hand. Untuk optimalisasi program UKS perlu ditingkatkan peran serta peserta didik sebagai subjek dan bukan hanya objek. hand dan health). jiwa. Namun masih diperlukan faktor kesehatan (health) sehingga peserta didik memiliki 4 H (head. yaitu berkaitan dengan pengetahuan. dan sosial yang optimal dari seseorang. dan sosial yang memungkinkan orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi. heart. 133 . dan untuk anak untuk menciptakan anak yang berkualitas. Program dari anak. Hidup sehat seperti yang didefinisikan oleh badan kesehatan perserikatan bangsabangsa (PBB) World Health Organization (WHO) adalah keadaan sejahtera dari badan. mental. emosional. M. sikap/nilai dan keterampilan. sehingga akan tercapai manusia soleh. (2007) peserta didik itu harus sehat dan orang tua memperhatikan lingkungan yang sehat dan makan makanan yang bergizi. Anak usia sekolah adalah anak yang berusia 6-21 tahun . Dari pengertian ini maka UKS dikenal pula dengan child to child programme. Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) adalah usaha untuk membina dan mengembangkan kebiasaan dan perilaku hidup sehat pada peserta didik usia sekolah yang dilakukan secara menyeluruh (komprehensif) dan terpadu (integrative). berilmu dan sehat (SIS). Dalam Undang Undang Nomor 23 Tahun 1992 pasal 45 tentang Kesehatan ditegaskan bahwa ‖Kesehatan Sekolah‖ diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat peserta didik dalam lingkungan hidup sehat sehingga peserta didik dapat belajar. tumbuh dan berkembang secara harmonis dan optimal sehingga diharapkan dapat menjadikan sumber daya manusia yang berkualitas. Sedangkan kesehatan jiwa adalah keadaan yang memungkinkan perkembangan fisik.BAB II PENGERTIAN Usaha Kesehatan Sekolah ( UKS ) merupakan bagian dari program kesehatan anak usia sekolah . yang sesuai dengan proses tumbuh kembangnya dibagi menjadi 2 subkelompok yakni pra remaja ( 6-9 tahun ) dan remaja ( 10-19 tahun ). Dalam proses belajar dan pembelajaran materi pembelajaran berorientasi pada head. intelektual. Menurut Sumantri.

meningkatkan keterampilan hidup sehat agar mampu melindungi diri dari pengaruh buruk lingkungan.BAB III TUJUAN Secara umum UKS bertujuan meningkatkan mutu pendidikan dan prestasi belajar peserta didik dengan meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat serta derajat kesehatan peserta didik. Sehat fisik. Sedangkan secara khusus tujuan UKS adalah menciptakan lingkungan kehidupan sekolah yang sehat. mengubah sikap dan membentuk perilaku masyarakat sekolah yang sehat dan mandiri. Selain itu juga menciptakan lingkungan yang sehat. 2. Memiliki pengetahuan. di rumah tangga maupun di lingkungan masyarakat.Memupuk kebiasaan perilaku hidup bersih dan sehat dan meningkatkan derajat kesehatan siswa. mental maupun sosial. sikap dan keterampilan untuk melaksanakan prinsip hidup bersih dan sehat serta berpratisipasi aktif di dalam usaha peningkatan kesehatan di sekolah perguruan agama. Di samping itu juga meningkatkan peran serta peserta didik dalam usaha peningkatan kesehatan di sekolah dan rumah tangga serta lingkungan masyarakat. 134 . Memiliki daya hayat dan daya tangkal terhadap pengaruh buruk penyalahgunaan NAPZA. sehingga memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan yang harmonis dan optimal dalam rangka pembentukan manusia Indonesia berkualitas. yang mencakup : 1. meningkatkan pengetahuan. 3.

Sasaran tertier lainnya adalah lingkungan yang meliputi lingkungan sekolah. Untuk tingkat ekonomi Indonesia masih berada pada urutan atau ranking yang sangat rendah yaitu 108 pada tahun 2008. dan pembinaan lingkungan sekolah sehat. guru pamong belajar/tutor orang tua. jika tingkat ekonomi masih berada di urutan yang rendah. Ada tiga kualitas sumber daya manusia. jiwa. Oleh karena itu kita mencermati konsep yang dikemukakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Oleh karena itu. Sedangkan sasaran tertier adalah lembaga pendidikan mulai dari tingkat pra sekolah/TK/RA sampai SLTA/MA.1 Kegiatan UKS (Trias UKS) yaitu pendidikan kesehatan. Kesehatan menunjukkan keadaan yang sejahtera dari badan.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN Sasaran pembinaan dan pengembangan UKS meliputi peserta didik sebagai sasaran primer. karena dengan kesehatan itu peserta didik dapat mengikuti pembelajaran secara terus menerus. Kesehatan bagi peserta didik merupakan sangat menentukan keberhasilan belajarnya di sekolah. dan ekonomi yang berkaitan dengan daya beli. keluarga dan masyarakat sekitar sekolah. bukan hanya pendidikan. Kalau peserta didik tidak sehat bagaimana bisa belajar dengan baik. dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Kemajuan ekonomi suatu bangsa biasanya berkorelasi dengan tingkat kesehatan masyarakatnya. pelayanan kesehatan. dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. bahwa salah satu indikator kualitas sumber daya manusia itu adalah kesehatan. Begitu pula dengan sumber daya manusianya yang diharapkan berkualitas masih memerlukan proses dan usaha yang lebih keras lagi. maka bangsa itu semakin baik pula tingkat kesehatannya. pengelola pendidikan dan pengelola kesehatan serta TP UKS di setiap jenjang sebagai sasaran sekunder. 135 . 4. termasuk satuan pendidikan luar sekolah dan perguruan tinggi agama serta pondok pesantren beserta lingkungannya. Semakin maju perekonomiannya. kesehatan yang berkaitan sumber daya manusianya. Untuk belajar dengan efektif peserta didik sebagai sasaran UKS memerlukan kesehatan yang baik. maka tingkat kesehatan masyarakat pada umumnya belum sesuai dengan harapan. Sasaran lainnya adalah sarana dan prasarana pendidikan kesehatan dan pelayanan kesehatan. yaitu pendidikan yang berkaitan dengan berapa lama mengikuti pendidikan.

1. teman. Pendidikan ini tidak hanya diberikan pada saat mata pelajaran Pendidikan Jasmani saja.2.1. Tugas dan kewajiban dokter kecil 1.1.4 Kegiatan Penyuluhan Kesehatan 4. Dapat menggerakkan sesama teman-teman siswa untuk bersama-sama menjalankan usaha kesehatan terhadap dirinya masing-masing.1. keluarga dan lingkungannya. Selalu bersikap dan berperilaku sehat. Pekan Gizi.1.7 Kegiatan Konseling Kesehatan Remaja 4. dan lain-lain.2.1. 3.1.3 Program PMR Program Saka Bakti Husada 4.5 Kampanye Kesehatan 4.1.1 Program Dokter Kecil / Kader Kesehatan Remaja (KKR) Dokter kecil adalah siswa yang memenuhi kriteria dan telah terlatih untuk ikut melaksanakan sebagian usaha pemeliharaan dan peningkatan kesehatan terhadap diri sendiri.1.1.1. Berusaha bagi tercapainya kesehatan lingkungan yang baik di sekolah maupun di rumah.1 Pendidikan Kesehatan: Kegiatan intra kurikuler adalah melaksanakan pendidikan pada saat jam pelajaran berlangsung sesuai dengan ketentuan yang berlaku.1.4.1.1.2.1.8 Program Pemberantasan Penyakit Cacingan 136 . Berperan aktif dalam rangka peningkatan kesehatan . Pekan Penimbangan BB dan TB di sekolah.1. 2.2. 5. Pekan Kesehatan Mata.5 Pemantauan Status Gizi Anak Sekolah Berkala 4. 4.2 Pelayanan Kesehatan 4.2.2 Pembinaan berkala oleh TP UKS 4.1.1.2.4 Kegiatan Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) 4.6 Pemeriksaan Tes Daya Lihat / Visus Berkala 4.2.3 Imunisasi (BIAS) 4. 4. Membantu guru dan petugas kesehatan pada waktu pelaksanaan pelayanan kesehatan di sekolah.1.2 4.1. namun bisa juga secara integratif pada saat mata pelajaran lainnya disampaikan kepada peserta didik.antara lain : Pekan kebersihan. 4.2. Pekan Kesehatan Gigi.1 Screening Kesehatan Kelas I 4.

3.1.2.1.7 4.2.5 Pemberantasaan Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) 4.3 Pembinaan Lingkungan Sekolah Sehat 4.2.2.3 4.2.2 Sasaran mutu Program UKS 4.3.5%) Kepuasan Pelanggan (85%) Temuan masalah / komplain UKS ditindaklanjuti (100%) Tim Pelaksana UKS di Sekolah aktif (80%) Tim Pembina UKS setiap tingkat aktif (100%) Sekolah patuh terhadap standar PHBS (100%) Status gizi peserta didik ‗Baik‘ (90%) Pelaporan UKS akurat (100%) Sekolah dengan sanitasi lingkungan ‗Baik‘ (100%) 137 .4 4.1 Sanitasi Lingkungan ―Baik‖ 4.1.3.2.9 Angka absensi sakit peserta didik (<1.1.9 Pertolongan Pertama Kegawatdaruratan Medik meliputi P3P (Pertolongan Pertama Pada Penyakit) dan P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan) 4.8 4.2 Pelaksanaan Gerakan PSN-DBD 4.1.1.2.3.1.2 4.4 Penegakan aturan Larangan Penyalahgunaan Napza 4.1 4.2.4.6 4.5 4.3 Penegakan aturan Kawasan Tanpa Asap Rokok 4.2.2.3.

SMP.SD. Peningkatan Wawasan Guru BP. Rapat Konsultasi Petugas UKS 8. SD.SMA 11. Sarana UKS Berprestasi 12. Peningkatan Wawasan Guru TK.BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN UKS DI PUSKESMAS KECAMATAN TEBET 1. Pembinaan Sekolah Unggulan 9. SMP. SMP. Rapat Konsultasi Kesehatan Anak 4. Peningkatan Prestasi Balita Indonesia 5. Pelatihan MTBS 138 . Peningkatan Prestasi Dokter Kecil 7. SMA dan Petugas Puskesmas 14. Monitoring Program Kesehatan Anak TK Kodya ke Puskesmas (Bintek) 3. SMA 10. PembinaanTPUKS Kecamatan 16. Sosialisasi MTBS 6. Pertemuan Petugas MTBS di Puskesmas 15. Sosialisasi PKPR 13. Peningkatan wawasan Petugas Kesehatan Anak 2. Pembinaan Sekolah Sehat TK.

dunia usaha. Untuk optimalisasi program UKS perlu ditingkatkan peran serta peserta didik sebagai subjek dan bukan hanya objek. Semua upaya ini akan tercapai bila sekolah dan lingkungan dibina dan dikembangkan 139 . seperti partisipasi masyarakat. dan untuk anak untuk menciptakan anak yang berkualitas. yaitu sekolah yang dapat meningkatkan derajat kesehatan warga sekolahnya. Program dari anak. oleh anak. mengupayakan pelayanan kesehatan yang optimal. Upaya mengembangkan ―Sekolah Sehat‖ (Health Promoting School/HPS) melalui program UKS perlu disosialisasikan dan dilakukan dengan baik. Selain itu. sehingga terjamin berlangsungnya proses pembelajaran dengan baik dan terciptanya kondisi yang mendukung tercapainya kemampuan peserta didik untuk beperilaku hidup sehat. Sekolah sebagai tempat berlangsungnya proses pembelajaran harus menjadi HPS.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) adalah usaha untuk membina dan mengembangkan kebiasaan dan perilaku hidup sehat pada peserta didik usia sekolah yang dilakukan secara menyeluruh (komprehensif) dan terpadu (integrative). dan media massa. melalui pelayanan kesehatan (yankes) yang didukung secara mantap dan memadai oleh sektor terkait lainnya. Dengan UKS ini diharapkan mampu menanamkan sikap dan perilaku hidup sehat pada dirinya sendiri dan mampu menolong orang lain. Dari pengertian ini maka UKS dikenal pula dengan child to child programme. Upaya ini dilakukan karena sekolah memiliki lingkungan kehidupan yang mencerminkan hidup sehat.

Menteri Kesehatan. (Penyunting). Ilmu dan Aplikasi Pendidikan: Handbook. Pedoman Pelatihan Kader Kesehatan di Sekolah. Nomor 26 Tahun 2003 tentang Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kesehatan Sekolah. dan Rasjidin. N. Sukmadinata. Departemen Kesehatan.. R. Jakarta: Departemen Kesehatan. M. W.S. (2008).. Ibrahim. Sumantri. (2007). Dalam Ali. Bandung: Pedagogiana Press (Halaman 1175 – 1186) 3.DAFTAR PUSTAKA 1. Keputusan Bersama Menteri Pendidikan Nasional. M. Pendidikan Wanita.. 140 . 2. Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri..

UPAYA KESEHATAN OLAHRAGA Penyusun : Fajar Nursuhud (030.311) 141 .05.06.090) Mohd Fahmi bin Mansor (030.

Bila ketahanan tubuh seseorang sudah dapat ditingkatkan maka secara tidak langsung kemampuan fisiknya juga semakin tinggi dan semakin mampu mengatasi beban kerja yang diberikan kepadanya. Telah diketahui bahwa dengan olahraga. Olahraga sudah menjadi bagian dari budaya kehidupan sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah membuktikan adanya hubungan antara latihan fisik dengan derajat kesehatan. yang keduanya memberi andil timbulnya masalah kesehatan pada masyarakat modern. 142 . dengan dasar latihan fisik yang baik sehingga ketahanan tubuh dapat ditingkatkan. yaitu kecenderungan timbulnya penyakit-penyakit degeneratif. penyakit jantung dan pembuluh darah merupakan penyebab kematian nomor dua setelah diare. Kesehatan keluarga merupakan upaya kesehatan yang memanfaatkan olahraga atau latihan fisik untuk meningkatkan derajat kesehatan.BAB I PENDAHULUAN Keberhasilan pembangunan memberi dampak pada perubahaan perilaku masyarakat antara lain perubahan kebiasaan makan yang salah dan kurang gerak. seseorang akan mempunyai daya tahan atau sistem imun yang lebih tinggi sehingga orang tersebut akan mempunyai daya tahan terhadap penyakit-penyakit infeksi. Fungsi dokter. Dengan olahraga atau latihan fisik yang benar akan dicapai tingkat kesegaran jasmani yang baik dan merupakan modal penting dalam peningkatan prestasi. sehingga produktivitas kerja orang tersebut juga semakin tinggi. upaya kesehatan olahraga adalah suatu cara untuk meningkatkan kesehatan hidup manusia. Penderita rawat inap penyakit kardiovaskuler meningkat dari tahun ketahun demikian juga dengan diabetes. terutama dokter Puskesmas sebagai ujung tombak pemerintah untuk meningkatkan derajat kesehatan di wilayah kerjanya tidak hanya menuliskan resep melainkan lebih banyak melakukan upaya-upaya pencegahan penyakit agar masyarakat tidak sakit dan meningkatkan kesehatan mereka. Ditemukan pula bahwa tingkat kebugaran jasmani merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja. Olahraga yang baik dan benar adalah olahraga yang sesuai dengan kebutuhan kesehatan. Berdasarkan SKRT 1992. Sebagai salah satu dari 20 upaya pokok kesehatan.

Karena itulah. puskesmas sebagai penyedia pelayanan kesehatan dasar di tingkat pertama perlu mengembangkan suatu upaya kesehatan olahraga bagi masyarakat di wilayah kerjanya. 143 .

BAB II PENGERTIAN
A. Definisi Sehat Arti kata sehat menurut WHO 1947: ‖Health is a state of complete physical, mental and social well being and not merely the absence of the disease or infirmity‖. Adalah suatu keadaan sejahtera sempurna dari jasmani, rohani dan sosial dan bukan hanya bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan. Sedangkan sehat menurut undang-undang kesehatan no. 23 tahun 1960 adalah suatu keadaan sejahtera sempurna dari jasmani, rohani dan sosial yang memungkinkan seseorang hidup produktif baik sosial maupun ekonomi. Dalam pengertian tersebut tersurat suatu keadaan tingkat kemampuan fungsional tubuh manusia yang secara popular dikenal sebagai kemampuan fisik (physical fitness) atau kesegaran jasmani.

B. Kesehatan Olahraga 

Kesehatan olahraga adalah upaya kesehatan yang memanfaatkan olahraga atau latihan fisik untuk meningkatkan derajat kesehatan. (UU nomor 23 tahun 1992, pasal 46, Tentang Kesehatan Olahraga)

Kesehatan olahraga adalah upaya kedokteran/kesehatan teori dan praktek yang menganalisa pengaruh gerakan, latihan dan olahraga termasuk kurang gerak, tertuju kepada manusia semua umur yang sakit dan yang sehat. (August Kirche dkk,1987)

Kesehatan olahraga berbeda dengan olahraga kesehatan. Dimana kesehatan olahraga adalah upaya kesehatan yang memanfaatkan olahraga yang bertujuan untuk meningkatknya derajat kesehatan, sedangkan olahraga kesehatan adalah pelatihan olahraga atau latihan fisik, biasanya masuk dalam kurikulum sekolah yang dasarnya bertujuan untuk meningkatnya prestasi.

C. Kesegaran Jasmani

144

Secara umum dapat diartikan sebagai kemampuan tubuh untuk melakukan kegiatan sehari-hari tanpa kelelahan berlebihan. Dalam pengertian tersebut terkandung tiga hal pokok yaitu beban kerja pekerjaan harian, cadangan kemampuan/kapasitas dan keadaan kesehatan/derajat kesehatan

D. Sarana Olahraga

Sarana olahraga adalah tempat yang secara khusus disediakan untuk kegiatan olahraga, antara lain pusat olahraga, lapangan olahraga, pusat kebugaran dan tempat tertentu seperti stadion, kolam renang, klub berlatih, kelompok latihan fisik dan kelompok senam. Sarana lain adalah tempat untuk menyembuhkan atau memulihkan kesehatan akibat cedera olahraga, meningkatkan kesehatan kelompok masyarakat tertentu, misalnya kelompok ibu hamil, melalui latihan fisik dan penyebarluasan cara olahraga yang benar.

E. Olahraga yang teratur menurut WHO aktivitas fisik dibagi 4 kategori : 1) Hidup aktif : setiap hari melakukan aktivitas ringan sampai sedang selama 10 menit atau lebih beberapa kali sehari. 2) Aktivitas untuk sehat : setiap hari melakukan aktivitas sedang selama 30 menit atau lebih. 3) Latihan fisik untuk bugar : seminggu 3 kali melakukan aktivitas sedang sampai berat selama 20 menit atau lebih. 4) Latihan fisik untuk olahraga : durasi dan frekuensi tergantung tingkat kebugaran jasmani seseorang , aktivitas terprogram.

145

BAB III TUJUAN
A. Tujuan Umum Berkembangnya upaya peningkatan derajat kesehatan melalui latihan fisik dan terbantunya/tercapainya upaya peningkatan kesegaran jasmani yang mempunyai pengaruh langsung terhadap produktifitas kerja, serta terbantunya peningkatan upaya olahraga pendidikan, olahraga prestasi, olahraga masyarakat dan olahraga tradisional.

B. Tujuan Khusus a. Meningkatnya kemampuan petugas Puskesmas dalam upaya kesehatan olahraga di Puskesmas. b. Meningkatnya jangkauan dan mutu upaya kesehatan olahraga di wilayah kerja Puskesmas. c. Meningkatnya koordinasi lintas program dan lintas sektor dalam pembinaan upaya kesehatan olahraga di wilayah kerja Puskesmas. d. Meningkatnya partisipasi aktif masyarakat dalam upaya kesehatan olahraga melalui penggalian potensi/sumber daya masyarakat di wilayah kerja Puskesmas. e. Meningkatnya informasi kesehatan olahraga di Puskesmas.

146

BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN
A. Kegiatan Upaya Kesehatan Olahraga Meliputi: 1. Pembinaan secara terpadu peran serta masyarakat kelompok potensial, guru sekolah, kader Posyandu, organisasi mayarakat, LSM dalam kesehatan olahraga. 2. Penyelenggaraan penyuluhan kesehatan olahraga terpadu pada kegiatan penyuluhan Puskesmas dan di luar Puskesmas. 3. Penyelenggaraan pelayanan rawat jalan Puskesmas terpadu dengan memperhatikan faktor kesehatan olahraga. 4. Evaluasi terhadap penyelenggaran upaya kesehatan olahraga

B. Langkah-Langkah Penyelanggaraan Kegiatan Upaya Kesehatan Olahraga di atas: a. Persiapan petugas: 1. Menyiapkan pelatihan tentang upaya kesehatan olahraga 2. Mengumpulkan data kesehatan olahraga di wilayah kerja Puskesmas, dikaitkan dengan microplaning. 3. Mengolah data kesegaran jasmani, sehingga diperoleh permasalahan kesehatan yang berkaitan dengan kesehatan olahraga di wilayah Puskesmas. 4. Menentukan prioritas masalah kesehatan yang berkaitan dengan kesehatan olahraga dan mencari alternatif-alternatif pemecahannya. 5. Menghimpun potensi (dana, tenaga, sarana) 6. Memberikan informasi upaya kesehatan olahraga melalui pertemuan-pertemuan. Lintas program di Puskesmas Lintas sektoral di Kelurahan Tim pembina UKS di tingkat Kelurahan

7. Melaksanakan diskusi kelompok untuk memperoleh dukungan dari semua pihak tentang pelaksanaan program kesehatan olahraga melalui: Lintas program di Puskesmas Lintas sektoral di Kelurahan Tim pembina UKS di tingkat Kelurahan

8. Membentuk forum koordinasi kesehatan olahraga tingkat Kelurahan dengan melibatkan unsur dari
147

-

Puskesmas (dokter/perawat) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Kepala kantor, Dinas P&P beserta OSIS, Kakandep Dikbud beserta penilik olahraga.

-

Departemen Agama (KUA) Departemen Sosial (petugas sosial masyarakat) Departemen Penerangan (Jupen) Departemen Tenaga Kerja (juru penyuluh) Kelurahan (Lurah, Kaurkesra) Lembaga Swadaya Masyarakat

9. Menentukan prioritas sasaran kegiatan program kesehatan olahraga di tingkat Kelurahan. 10. Menyiapkan pengelolaan program dan menyusun rencana kerja pelaksanaan kesehatan olahraga

b. Persiapan masyarakat: 1. Pertemuan tokoh masyarakat formal dan informal untuk pemahaman dan memperoleh masukan dalam upaya pelaksanaan kesehatan olahraga di masyarakat. 2. Pengumpulan dan pengolahan data serta analisis permasalahan tentang kegiatankegiatan kesehatan olahraga yang ada di masyarakat. 3. Memilih ketua-ketua dari kelompok-kelompok potensial yang ada di masyarakat untuk dilatih sebagai kader kesehatan olahraga. 4. Melaksanakan Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) tentang upaya kesehatan olahraga 5. Pelatihan Kader Olahraga.

C. Rincian Kegiatan 1. Promotif Penyuluhan dalam gedung:      Memberi contoh ketauladanan Memberi contoh katauladanan sikap dan perilaku hidup sehat kepada masyarakat Memberi contoh ketauladanan dalam hal kebersihan lingkungan fisik Puskesmas Penyuluhan melalui media Memasang poster-poster berisi pesan-pesan tentang kesehatan olahraga
148

  

Menggunakan radio kaset yang menyiarkan lagu-lagu kesehatan olahraga atau pesan spot radio dan sebagainya. Penyuluhan individu di kamar periksa Balai Pengobatan Penyuluhan kelompok pada acara yang direncanakan.

Pelaksana: Seluruh staf Puskesmas dan Perawat Kesehatan Mahir

Penyuluhan di luar gedung Puskesmas:  Sasaran program adalah masyarakat di wilayah kerja Puskesmas antara lain; kelompok arisan, pengajian, Posyandu, sanggar senam, kelompok olahraga tradisional.  Bimbingan teknis dan pengawasan terhadap usaha kesehatan olahraga pada kelompok-kelompok olahraga di masyarakat. Pelaksana: Dokter/perawat kesehatan mahir

2. Deteksi dini Pemeriksaan kesehatan:     Skrining kesehatan bagi masyarakat umum untuk menentukan kemampuan aktivitas fisik. Skrining kesehatan bagi masyarakat khusus (atlet, penyandang cacat, kelompok khusus lain) Pemeriksaan tingkat kesegaran jasmani bagi individu sehat dan bagi individu sakit Pemeriksaan dosis latihan bagi individu sehat dan bagi individu sakit.

Pelaksana: Dokter dan perawat. 3. Tindakan: Penanganan pertama pada kasus cedera olahraga di Puskesmas Pelaksana: Dokter dan perawat 4. Pemulihan:   Pencegahan cedera pada pemulihan. Pelayanan pasca trauma/cedera olahraga (terintegrasi dengan unit rawat jalan)

Pelaksana: Fisioterapis, dokter, perawat. 5. Evaluasi program:   Pembinaan kesehatan olahraga di wilayah. Pelayanan kesehatan olahraga Puskesmas.

Pelaksana: Pimpinan Puskesmas, puskesmas dan mitra kerja.
149

Pelatih/instruktur senam. Indikator Keberhasilan Kegiatan 1. pengelola klub kebugaran. Pengelola sanggar senam e. Terselenggaranya penyuluhan kesehatan olahraga terpadu di Puskesmas dan wilayahnya Terselenggaranya pelayanan kesehatan holistik.senam asma.  Penurunan angka kecelakaan olahraga di setiap kelompok penyelenggara kegiatan olahraga dan kebugaran. Sasaran Kegiatan 1. Sasaran antara: a. pelatih senam. Usia sekolah 4. Pelayanan Puskesmas    Peningkatan kesadaran. Kelompok usia balita 3. Pembinaan kesehatan wilayah:   Peningkatan kegiatan peran serta masyarakat dalam rangka upaya peningkatan kesehatan olahraga. Kelompok ibu hamil 2. ketrampilan provider Puskesmas perihal pelayanan kesehatan olahraga. dll) yang dibina perihal kesehatan. Pengurus/pengelola kelompok olahraga tradisional. Usia Kerja 5. sikap dan perilaku Kader Kesehatan (Posyandu. kemauan. Pengelola klub kebugaran (fitness center) b. 150 . dan penderita penyakit tertentu) 2. paripurna. guru sekolah. Usia lanjut 6. Kelompok khusus ( atlet.dll) c. Pengurus/pengelola klub (jantung sehat. d.D. 2. E. Sasaran pokok: 1. terpadu pada kegiatan pelayanan rawat jalan Puskesmas dengan memperhatikan faktor kesehatan olahraga dan pencegahannya. penyandang cacat. Peningkatan pengetahuan.

30-09. 2.30 sewaktu. Tujuan dari upaya pelaksanaan ini adalah untuk meningkatkan taraf kesehatan karyawan puskesmas dan masyarakat sekitar puskesmas Kecamatan Cilandak. Berikut ini adalah tabel upaya kesehatan olahraga di Puskesmas Kecamatan Cilandak : No Kegiatan 1. karyawan.30-09. Upayaupaya yang telah dilaksanakan oleh Puskesmas antara lain senam. maupun masyarakat sekitar Puskesmas Kecamatan Cilandak. Setelah senam dilakukan 151 .BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN CILANDAK Sebagai salah satu upaya pokok Puskesmas. dan tekanan darah. upaya pokok kesehatan olahraga merupakan salah satu program yang terdapat di Puskesmas Kecamatan Cilandak.30 Bersalin Puskesmas Kecamatan Cilandak fisioterapi III dan promosi produk bayi. penyuluhan kesehatan dan pemeriksaan kesehatan yang diikuti oleh baik pasien. Senam DM Hari selasa Aula lantai Instruktur dari fisioterapi Pasien poli Sebelum DM senam dilakukan pemeriksaan gula darah minggu I dan 3 III pukul Puskesmas Kecamatan Cilandak 08. Senam Waktu Setiap Tempat hari Ruang Petugas Instruktur dari Peserta Kegiatan Ibu hamil Setelah trimester senam dilakukan penyuluhan kesehatan ibu hamil ibu hamil Senin minggu tunggu I dan III pukul Rumah 08.

00. Dilakukan setiap rabu jumat menjelang lomba bulan 2011.00-16. 152 . Senam umum Dilakukan setiap selasa jumat Lapangan hari parkir dan Puskesmas tiap Cilandak Instruktur dari Warga sekitar Senam.penyuluhan dan konsultasi serta terapi oleh dokter. Senam haji Setiap hari Aula lantai Instruktur dari fisioterapi Jamaah calon haji rabu dalam 10 3 minggu menjelang Puskesmas Kecamatan keberangkatan Cilandak haji pukul 08. untuk persiapan lomba 14. Senam pocopoco. 5.3008. pada Juni pukul Aula lantai Instruktur hari 3 dan Puskesmas Kecamatan Cilandak dari Karyawan Puskesmas Latihan senam fisioterapi Kecamatan poco-poco Cilandak. 3.00 4.30. minggu pada pukul 07. fisioterapi Puskesmas Kecamatan Cilandak.00-09.

Upaya Kesehatan Olahraga telah menambah dan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang arti pentingnya kesehatan olahraga. Meningkatkan pengetahuan. tetapi sekarang tidak ada lagi karena responden yang bersedia untuk hadir tidak ada. dengan harapan terbentuknya manusia Indonesia yang sehat dan tercapainya derajat kesehatan yang setinggitingginya. Mengadakan kegiatan bagi para lansia seperti senam. 153 . Meningkatkan kesadaran. sikap dan perilaku Kader Kesehatan yang dibina perihal kesehatan olahraga. latihan bernyanyi dan tensi gratis. Sebagai salah satu upaya pokok Puskesmas. sedangkan olahraga kesehatan adalah pelatihan olahraga atau latihan fisik. Saran Saran yang dapat dijadikan pertimbangan:      Mempertahankan upaya-upaya kesehatan olahraga yang telah dilaksanakan. Meningkatkan dan memotivasi peran serta masyarakat akan pentingnya kesehatan olahraga. kemauan. Upaya kesehatan olahraga ini akan berhasil jika diikuti oleh peran serta masyarakat dan semua pihak dengan kesadaran akan pentingnya berolahraga. pemeliharaan dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya. Kesehatan olahraga berbeda dengan olahraga kesehatan. biasanya masuk dalam kurikulum sekolah yang dasarnya bertujuan untuk meningkatnya prestasi.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Upaya kesehatan olahraga di dalam wilayah adalah bagian dari fungsi puskesmas yang berkaitan dengan upaya pengembangan. Telah diyakini bahwa dengan berolahraga dapat meningkatkan tingkat kesehatan dan produktifitas kerja. Sebelumnya di Puskesmas pernah diadakan kegiatan bagi lansia berupa senam. Dimana kesehatan olahraga adalah upaya kesehatan yang memanfaatkan olahraga yang bertujuan untuk meningkatknya derajat kesehatan. ketrampilan provider Puskesmas perihal pelayanan kesehatan olahraga.

dkk. Jakarta. 07 (04). Upaya kesehatan Olahraga. 3.. 2. Jakarta. S.tahun 1992. Puskesmas Kecamatan Cilandak. Tambunan . 219-224.Jakarta : Departemen Kesehatan RI.Hal. Pemerintah Daerah DKI Jakarta. Undang-Undang Kesehatan No.1999. hal. 2007. Upaya Pokok Kesehatan Olahraga. 23. 1999.DAFTAR PUSTAKA 1. Daldiono. Standarisasi Pelayanan Kesehatan Puskesmas di DKI Jakarta.S. 5. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. pasal 46.Jakarta. D. 154 .1-3. Sungkar Saleha. tentang Kesehatan Olahraga. 6. Pedoman Kerja Puskesmas. Danu. Laporan Tahunan Puskesmas Kecamatan Cilandak 2010.Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas 2007. Jilid ke-2. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Taralan . Mustika.. 4. Ketersediaan Obat Puskesmas pada Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkulu Selatan Pascaotonomi Daerah.

06.334 ) 155 .06.UPAYA PERAWATAN KESEHATAN MASYARAKAT Penyusun: SALWA BINTI ANUWAR NUR SYAMILA BINTI SHARRI ( 030.344 ) ( 030.

Sehubungan dengan hal tersebut. dan lainlain). stroke. obesitas dan penyakit jantung dengan status sosial ekonomi masyarakat (pendidikan. baik di perkotaan maupun di pedesaan. Sedangkan berdasarkan gabungan hasil pengukuran gizi buruk dan gizi kurang Riskesdas 2007 menunjukkan bahwa sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi gizi buruk dan gizi kurang di atas prevalensi nasional sebesar 18. telah dapat dicapai pada 2007.4%.4%) ditemukan pada 21 provinsi dan 216 kabupaten/kota. Namun demikian. Prevalensi gizi buruk yang berada di atas rata-rata nasional (5. Sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor: 128/Menkes/SK/II/Tahun 2004 tentang kebijakan dasar Puskesmas. Salah satu upaya kesehatan pengembangan yang dilakukan oleh Puskesmas Harapan Raya adalah program Perawatan Kesehatan Masyarakat (Perkesmas). yaitu penyebab kematian pada untuk usia > 5 tahun. perlu terus ditingkatkan upaya-upaya untuk memperluas jangkauan dan mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dengan mutu pelayanan yang baik. Perkesmas dilakukan dengan penekanan pada upaya pelayanan kesehatan dasar.BAB I PENDAHULUAN Permasalahan kesehatan yang dihadapi sampai saat ini cukup kompleks. sehingga tercapai derajat kesehatan yang optimal. Perawatan kesehatan masyarakat (Perkesmas) merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan dasar yang dilaksanakan oleh Puskesmas. hipertensi. Hasil Riskesdas 2007 juga menggambarkan hubungan penyakit degeneratif seperti sindroma metabolik. dan target Millenium Development Goals sebesar 18. berkelanjutan dan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat terutama keluarga miskin rawan kesehatan/risiko tinggi. Pelaksanaan Perkesmas bertujuan untuk meningkatkan kemandirian masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatan yang dihadapi. Untuk mengupayakan terbinanya kesehatan 156 . penyebab kematian yang terbanyak adalah stroke. Upaya pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat melalui upaya kesehatan wajib dan upaya kesehatan pengembangan. target rencana pembangunan jangka menengah untuk pencapaian program perbaikan gizi yang diproyeksikan sebesar 20%.5% pada 2015. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 diketahui penyebab kematian di Indonesia untuk semua umur. karena upaya kesehatan belum dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. upaya perawatan kesehatan masyarakat merupakan upaya program pengembangan yang kegiatannya terintegrasi dalam upaya kesehatan wajib maupun upaya kesehatan pengembangan. kemiskinan. telah terjadi pergeseran dari penyakit menular ke penyakit tidak menular.

Berdasarkan penelitian Septino (2007) diketahui beberapa masalah Perkesmas yang dihadapi pada PuskesmasPuskesmas di Indonesia antara lain laporan yang tidak sesuai dari Puskesmas. (5) 36.3 % petugas tidak melakukan perencanaan dengan baik. kelompok dan masyarakat yang mempunyai masalah kesehatan akibat faktor ketidaktahuan. maka diharapkan 40 % keluarga rawan kesehatan memperoleh kunjungan rumah dan pembinaan kesehatan oleh tenaga kesehatan melalui kegiatan perkesmas. (2) 27. keluarga. Tentang masalah dana. (6) 18.2% petugas memiliki kemampuan kurang. pengendalian dan penilaian Perkesmas. Penduduk rawan ini telah menjadi salah satu bagian sasaran program Perkesmas di Puskesmas. (4) 27. obat.masyarakat. 157 . Fokus utama pada keluarga rawan kesehatan yaitu keluarga miskin yang rentan dan keluarga yang termasuk resiko tinggi. tentang sarana dan prasarana seperti Public Health Nursing (PHN) kit.3 % petugas memiliki motivasi kurang. buku pedoman dan formulir laporan sudah tersedia. Prioritas sasaran adalah yang mempunyai masalah kesehatan terkait dengan masalah kesehatan prioritas daerah yaitu belum kontak dengan sarana pelayanan kesehatan atau sudah memanfaatkan tetapi memerlukan tindak lanjut. Keluarga yang tidak mendapat pelayanan perkesmas merupakan beban sosial dan ekonomi serta dapat berdampak buruk terhadap masyarakat lainnya.4 % petugas kurang baik dalam penggerakan pelaksanaan Perkesmas.2 % petugas kurang baik dalam pengawasan. Penelitian yang dilakukan untuk mengetahui pelaksanaan program Perkesmas dan upaya peningkatan kinerja Perkesmas yang dilaksanakan di Puskesmas Mantrijeron kota Yogyakarta didapatkan bahwa (1) 18. Sasaran perawatan kesehatan masyarakat adalah individu. (3) tidak ada petugas yang tidak patuh. Dinas Kesehatan memberikan dana secara block grand ke Puskesmas berdasarkan usulan kegiatan yang mereka buat. Pemerintah memiliki tanggung jawab melindungi kesehatan masyarakat dan memberikan akses ke pelayanan kesehatan terutama bagi keluarga yang memiliki hambatan untuk mencapai pusat-pusat pelayanan kesehatan. ketidakmauan maupun ketidakmampuan dalam menyelesaikan masalah kesehatannya. Selanjutnya. Puskesmas yang tidak membuat rencana tahunan dan jumlah sasaran tidak dilakukan pendataan. tetapi pencapaiannya masih rendah.

perbaikan lingkungan fisik. pencegahan penyakit dan bahaya yang lebih besar. Menurut WHO Perkesmas merupakan lapangan perawatan khusus yang merupakan gabungan ketrampilan ilmu keperawatan. kelompok dan masyarakat untuk ikut meningkatkan fungsi kehidupan manusia secara optimal. Keluarga rawan adalah keluarga rentan terhadap kemungkinan timbulnya masalah kesehatan dan keluarga yang mempunyai individu bermasalah. penyempurnaan kondisi sosial. ilmu kesehatan masyarakat dan bantuan sosial. Preventif adalah suatu upaya yang dilakukan untuk menghalangi terjadinya bencana dan mencegah bahaya yang ditimbulkannya (dalam hal ini penyakit) 158 . Keperawatan adalah bentuk pelayanan di bidang kesehatan yang didasari ilmu dan kiat keperawatan ditujukan kepada individu. faktor-faktor penyebab wabah dan penyelesaian masalah kesehatan di masyarakat. kelompok dan masyarakat baik yang sakit maupun yang sehat. rehabilitasi. Kesehatan masyarakat adalah bentuk pelayanan yang erat kaitannya dengan epidemiologi. Promotif adalah suatu upaya untuk meningkatkan taraf kesehatan yang dilakukan pada saat pejamu sedang sehat dengan tujuan kesehatan / memelihara kesehatan. keluarga. keluarga. sebagai bagian dari program kesehatan masyarakat secara keseluruhan guna meningkatkan kesehatan. sejak lahir sampai meninggal. ditujukan kepada individu. sehingga mandiri dalam upaya kesehatannya masyarakat. yang mempunyai masalah dimana hal itu mempengaruhi masyrakat secara keseluruhan. contohnya penyuluhan-penyuluhan.BAB II PENGERTIAN Perawatan kesehatan masyarakat (Perkesmas) adalah perpaduan antara keperawatan dan kesehatan masyarakat dengan dukungan peran serta aktif masyarakat mengutamakan pelayanan promotif dan preventif secara berkesinambungan tanpa mengabaikan pelayanan kuratif dan rehabilitatif secara menyuluh dan terpadu. keluarga. ditujukan kepada individu.

juga agar mencegah cacat total setelah terjadi perubahan anatomi dan fisiologi. mental dan sosial 159 .Kuratif adalah upaya yang dilakukan untuk mengurangi/menyembuhkan suatu penyakit Rehabilitatif adalah upaya yang dilakukan bila sudah terjadi suatu kerusakan dan dilakukan untuk mengembalikan penderita agar berguna dalam masyarakat. Rehabilitasi meliputi fisik.

Tujuan Umum Meningkatnya kemandirian masyarakat dalam mengatasi masalah keperawatan kesehatan masyarakat untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal. kuratif / rehabilitatif. Terlayaninya kasus-kasus yang memerlukan tindak lanjut dan pelayanan keperawatan. preventif. preventif. dan rehabilitatif. keluarga. Dipahaminya pengertian sehat dan sakit oleh masyarakat : promotif & preventif. RT. 4. 6. 5. Terlayaninya kasus-kasus resiko tinggi yang memerlukan pelayanan perawatan di puskesmas dan di rumah. 160 . Meningkatnya kemampuan individu. 3. kelompok khusus dan masyarakat untuk melaksanakan keperawatan dasar dalam rangka mengatasi masalah kesehatan : preventif & kuratif. Terlayaninya kelompok khusus / panti yang memerlukan pembinaan dan pelayanan perawatan : promotif. RW) melaksanakan promotif.BAB III TUJUAN A. 2. Tertanganinya keluarga rawan yang memerlukan pembinaan dan pelayanan perawatan : tim kesehatan lintas program terkait & sektoral terkait (kader kesehatan. B. Tujuan Khusus 1.

pelayanan dikelola oleh suatu unit/sarana/institusi baik aspek administrasi maupun aspek pelayanan dengan mengkoordinir berbagai kategori tenaga profesional dibantu tenaga non profesional. mengembangkan pemberdayaan pasien dan keluarga.    Home visit menerima pasien dari tiap poliklinik di Puskesmas Koordinator program Perkesmas menunjuk perawat pelaksana Perkesmas untuk mengelola kasus Perawat pelaksana Perkesmas membuat surat perjanjian dan proses pengelolaan kasus b) Proses pelayanan home visit: 161 . Ruang Lingkup home visit yaitu memberi asuhan keperawatan secara komprehensif. pos kes desa. Kunjugan rumah oleh perawat (home visit/home care) terencana.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN KEGIATAN DAN SASARAN DI PUSKESMAS KELURAHAN PONDOK LABU Kegiatan Adapun bentuk kegiatan Perkesmas antara lain: 1.  Pengkajian keperawatan pasien sebagai deteksi dini (sasaran prioritas)  Penyuluhan kesehatan  Tindakan Keperawatan (direct care)  Konseling keperawatan  Pengobatan (sesuai kewenangan)  Rujukan pasien/masalah kesehatan  Dokumentasi keperawatan 2. Puskesmas pembantu (pustu). posyandu. pelayanan kesehatan diberikan di tempat tinggal pasien dengan melibatkan pasien dan keluarganya sebagai subyek yang ikut berpartisipasi merencanakan kegiatan pelayanan. Asuhan keperawatan pasien (prioritas) kontak Puskesmas yang berada di poliklinik Puskesmas. di bidang kesehatan maupun non kesehatan. Home visit adalah suatu bentuk pelayanan kesehatan yang komprehensif bertujuan memandirikan pasien dan keluarganya. Puskesmas keliling (pusling). melakukan pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarganya. Mekanisme pelayanan home visit: a) Proses penerimaan kasus. bertujuan untuk pembinaan keluarga rawan kesehatan.

pasien meninggal dunia. diskusikan rencana kunjungan selanjutnya dan aktifitas yang akan dilakukan.  Proses penghentian pelayanan home visit. mempertimbangkan masyarakat bepenghasilan rendah/asas gotong royong. program rehabilitasi tercapai secara maksimal. disesuaikan dengan kemampuan keuangan dan keadaan sosial ekonomi. kondisi pasien stabil. dana transportasi untuk kunjungan pasien 3.  Pembiayaan home visit terdiri dari o Prinsip penentuan tarif antara lain pemerintah/masyarakat bertanggung jawab dalam memelihara kesehatan. pasien di rujuk. panti asuhan dan lain-lain) a) Pengkajian keperawatan individu di kelompok b) Pendidikan/penyuluhan kesehatan di kelompok c) Pengobatan (sesuai kewenangan) d) Rujukan pasien/masalah kesehatan e) Dokumentasi keperawatan 162 . imbalan atas pemakaian sarana kesehatan yang digunakan langsung oleh pasien. diskusikan kebutuhan rujukan. menyiapkan alat bantu media untuk pendidikan Pelaksanaan terdiri dari perkenalan diri dan jelaskan tujuan. bawa denah/petunjuk tempat tinggal pasien. mencakup seluruh unsur pelayanan secara proporsional o Jenis pelayanan yang kena tarip antara lain jasa pelayanan tenaga kesehatan. posyandu balita. konsultasi dll. lakukan perawatan langsung. pasien menolak pelayanan lanjutan. menyiapkan file asuhan keperawatan. dokumentasikan kegiatan. memastikan perlengkapan pasien untuk di rumah. keluarga sudah mampu melakukan perawatan pasien. membuat rencana pelayanan. lengkapi data hasil pengkajian dasar pasien. kolaborasi. Persiapan terdiri dari memastikan identitas pasien. efektifitas dan efisiensi pelaksanaan tindakan oleh pelaksana. observasi lingkungan yang berkaitan dengan keamanan perawat. lengkap kartu identitas unit tempat kerja.  Monitoring dan evaluasi antara lain keakuratan dan kelengkapan pengkajian awal. pembayaran dengan asuransi ditetapkan atas dasar saling membantu. kesesuaian perencanaan dan ketepatan tindakan. dengan kriteria : tercapai sesuai tujuan. Kunjungan perawat ke kelompok prioritas terencana (posyandu usila.

lanjut usia (lansia). tidak terjangkau pelayanan kesehatan. terisolasi. Keluarga khususnya ibu hamil (bumil). Fokus sasaran Perkesmas adalah keluarga rawan kesehatan dengan prioritasnya adalah keluarga rentan terhadap masalah kesehatan (Gakin).4. 3. 163 . Sasaran Perkesmas Adapun yang menjadi sasaran program Perkesmas ini adalah seluruh masyarakat yang dapat terbagi menjadi: 1. Asuhan keperawatan pasien di ruang rawat inap Puskesmas a) Pengkajian keperawatan individu b) Tindakan keperawatan langsung (direct care) dan tidak langsung (lingkungan) c) Pendidikan/penyuluhan kesehatan d) Pencegahan infeksi di ruangan e) Pengobatan (sesuai kewenangan) f) Penanggulangan kasus gawat darurat g) Rujukan pasien/masalah kesehatan h) Dokumentasi keperawatan. termasuk daerah kumuh. Kelompok/masyarakat berisiko tinggi. konflik. lansia. Individu khususnya individu risiko tinggi (risti): menderita penyakit. masalah mental/jiwa. balita. masalah mental/jiwa. menderita penyakit. balita. 2. lansia. menderita penyakit). keluarga risiko tinggi (anggota keluarga bumil.

BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KELURAHAN PONDOK LABU Pelaksana Kegiatan Perkesmas  Perawat koordinator Perkesmas di Puskesmas harus mempunyai kualifikasi yaitu minimal D3 Keperawatan dan pernah mengikuti pelatihan/sertifikasi Perkesmas serta memiliki pengalaman kerja di Puskesmas yang mempunyai tugas sebagai berikut: Pertemuan dengan perawat pelaksana Perkesmas/penanggung jawab daerah binaan (darbin) untuk mengidentifikasi masalah prioritas dengan data epidemiologi. Indikator kinerja klinik Ada 4 indikator dalam menilai keberhasilan kinerja klinik Perkesmas yaitu:  Indikator input     Persentasi perawat koordinator (D3 Keperawatan) Persentasi perawat terlatih keperawatan kesehatan komunitas Persentasi Penanggung jawab daerah binaan/desa punya PHN kit Persentasi Puskesmas memiliki pedoman/standard 164 . PHBS. Sertifikasi bagi perawat Perkesmas yaitu:       Pelatihan Perkesmas Pelatihan Pengembangan Manajemen Kinerja Klinis (PMKK) untuk perawat coordinator Pelatihan gadar (basic) Pelatihan HIV/AIDS Pelatihan Keperawatan Kesehatan jiwa Masyarakat (basic) Pelatihan-pelatihan lainnya (program ISPA. gizi. memfasilitasi pembahasan masalah dalam Refleksi Diskusi Kasus (RDK). membahas masalah keuangan.   Kunjungan lapangan untuk melakukan bimbingan pada perawat pelaksana Penyusunan laporan yang disusun berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan Perkesmas yang merupakan bahan pertanggung jawaban kepada Kepala Puskesmas. flu burung. merencanakan kegiatan Perkesmas.dan lain-lain) Indikator keberhasilan Perkesmas Indikator keberhasilan kinerja Perkesmas terdiri dari: 1.

formulir laporan.   Tersedia dana operasional untuk pembinaan Tersedia standar/pedoman/SOP pelaksanaan kegiatan Tersedia dukungan administrasi (buku register. masing-masingnya mempunyai kriteria-kriteria sebagai berikut: Tabel : Kriteria Keluarga Mandiri Perilaku KM 1 KM II KM III KM IV No 1 Perilaku Menerima Puskesmas + + KM 1 petugas + + + KM 2 + KM3 + KM 4 + 165 . dan lain-lain)  Indikator proses              Persentasi keluarga rawan mempunyai family folder Maping (peta) sasaran Perkemas Rencana kegiatan Perkesmas (POA) Bukti Pembagian tugas perawat Ada kegiatan koordinasi dengan petugas kesehatan lain Catatan keperawatan Kegiatan Refleksi Diskusi Kasus Hasil pemantauan dan evaluasi  Indikator output (key indicator) Persentasi keluarga rawan dibina Persentasi keluarga selesai dibina Persentasi penderita (prioritas SPM) dilakukan tindak lanjut keperawatan (follow up care) Persentasi kelompok dibina Persentasi daerah binaan di suatu wilayah  Indikator hasil (Outcome) yang ingin dicapai adalah terbentuknya keluarga mandiri dalam memenuhi kesehatannya/mengatasi masalah kesehatannya yang terdiri dari 4 tingkatan keluarga mandiri (KM). family folder.

2 Menerima yankes sesuai + rencana + + + + + + + 3 Menyatakan secara benar + masalah + + + + + 4 Memanfaatkan sarana + + + kesehatan sesuai anjuran + + + 5 Melaksanakan perawatan + + + sederhana sesuai anjuran + + + 6 Melaksanakan tindakan + + pencegahan secara aktif + + 7 Melaksanakan tindakan + promotif secara aktif + 2. Indikator kinerja fungsional Indikator kinerja fungsional yaitu indikator kinerja perawat Puskesmas untuk mengukur pencapaian angka kredit jabatan fungsionalnya yaitu jumlah angka kredit yang dicapai sama dengan jumlah kegiatan perawat dalam mencapai indikator klinik (output) nya. 166 .

B. antara lain :  Meningkatnya suatu penyakit di masyarakat.  Kurangnya sarana dan prasarana yang dibutuhkan.  Kurang akuratnya data yang tersedia  Lingkungan yang tidak sehat dan bersih. Untuk memudahkan pemantauan dan penilaian kinerja Perkesmas maka dilakukan penyajian hasil dengan menggunakan tabel. Penilaian dilakukan setahun sekali meliputi semua aspek baik input. Sedangkan penilaian dilaksanakan minimal setiap akhir tahun dan hasilnya digunakan untuk masukan dalam penyusunan perencanaan kegiatan Perkesmas pada tahun berikutnya.Pemantauan dan Penilaian Perkesmas Pemantauan dilaksanakan secara periodik setiap bulan oleh kepala Puskesmas dan Perawat koordinator Perkesmas. Identifikasi Masalah. Menurunya derajat kesehatan masyarakat dalam rangka kegiatan Perawatan Kesehatan Masyarakat (Perkesmas} diakibatkan oleh meningkatnya angka kesakitan pada keluarga sasaran khususnya keluarga rawan. Untuk memudahkan pemantauan dan penilaian kinerja Perkesmas maka dilakukan penyajian hasil dengan menggunakan tabel. peningkatan cakupan dan mutu pelayanan kesehatan. keluarga yang rentan terhadap masalah kesehatan. Sasaran. grafik balok/garis atau grafik Pemantauan Wilayah Setempat (PWS). outcome sebagai masukan penyusunan rencana kegiatan Perkesmas tahun berikutnya. grafik balok/garis atau grafik Pemantauan Wilayah Setempat (PWS). Selanjutnya dapat diidentifikasi masalah yang berhubungan langsung dengan masalah utama tersebut di atas adalah kurangnya kegiatan Perawatan Kesehatan Masyarakat oleh petugas yang disebabkan oleh beberapa faktor. output. antara lain :  Kurangnya kerjasama lintas program terkait. output. maka penulis dapat mengemukakan sasaran yang ingin dicapai dalam rangka menuju pemecahan masalah . outcome sebagai masukan penyusunan rencana kegiatan Perkesmas tahun berikutnya. Hasil pemantauan terhadap pencapaian indikator kinerja menjadi masukan untuk perbaikan dan peningkatan kinerja perawat berikutnya.  Kurangnya kegiatan Perawatan Kesehatan Masyarakat oleh petugas. Hal ini disebabkan karena adanya beberapa faktor. Adapun sasaran 167 . Penilaian dilakukan setahun sekali meliputi semua aspek baik input. Dengan adanya identifikasi masalah diatas.  Kurangnya kemampuan/keterampilan petugas (bidan dan pada perawat)  Kurangnya motivasi petugas. A.

Untuk program pemberantasan Penyakit Menular (P2M) petugas Puskesmas membantu memberikan bimbingan serta tindak lanjut untuk kasus-kasus penyakit menular maupun tidak menular. Adanya peralatan medis khusus untuk kegiatan program Puskesmas yang dipunyai oleh masing-masing petugas (bidan dan perawat) akam memudahkan kegiatan 168 . Petugas dari perogram terkait sudah memahami dan mengerti tentang pelaksanaan dari Program Puskesmas. Dengan sudah dilaksanakannya pelatihan petugas perawatan kesehatan masyarakat. 2. Untuk program KIA dalam hal pencapaian cakupan K.  Terwujudnya lingkungan yang sehat dan bersih.Program KIA dan Imunsasi adalah program primadona.  Tersedianya keakuratan data. Bahwa program Puskesmas sangat mendukung untuk program puskesmas lainnya tertutama dalam pencapaian cakupan program Kesehatan Ibu dan Anak dan program Pemberantasan Penyakit menular temasuk Imunisasi. sedangkan untuk pelayanan program Imunisasi petugas Puskesmas melakukan pembinaan pada keluarga DO (Drop Out). Tersedianya sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Dengan terpenuhinya sarana dan prasarana khususnya peralatan medis dan ruangan yang memadai dalam melaksanakan kegiatan akan menimbulkan suasana yang nyaman dan leluasa sehingga dapat membuat jiwa kita menjadi tenang. yaitu :  Tertanggulanginya suatu penyakit di masyarakat  Terwujudnya peningkayan kegiatan perawatan kesehatan masyarakat oleh petugas (bidan dan perawat).Dari program Gizi petugas Puskesmas membantu dalam hal pembinaan kelarga yang mempunyai bayi. Terwujudnya peningkatan derajat kesehatan masyarakat dalam rangka kegiatan Perkesmas diakibatkan dari tercapainya penurunan angka kesakitan pada keluarga rawan yang rentan terhadap masalah kesehatan. yang berat badannya berada dibawah garis merah (Balita BGM) dan ibu hamil /ibu nifas yang kekuranan enegi sera membantu dalam hal pelaksanaan pemberian makanan tambahan (PMT). Terwujudnya peningkatan kerjasama lintas program terkait. Sedangkan yang menyebabkan terwujudnya peningkatan kegiatan perawatan kesehatan masyarakat oleh petugas adalah : 1.yang dimaksud adalah seperti di bawah ini. Penurunan angka kesakitan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor.1 dan K.4. anak balita.

Melaksanakan study banding ke Puskesmas teladan. Melaksanakan pelatihan petugas perkesmas. melaksanakan petunjuk teknis pelajaran. Melaksanakan pembuatan petunjuk teknis pelajaran. Hal ini secara tidak langsung membantu memotivasi petugas untuk melaksanakan tugas dengan baik. bidan dan bidan-bidan didesa perlu adanya pelatihan. Alternatif Pemecahan. Terwujudnya motivasi kerja petugas. baik disegi pelayanan terhadap masyarakat maupun disegi pelayanan terhadap masyarakat maupun disegi pencapaian cakupan/hasil kegiatan. 169 . 4. Sebagai pendukung kelancaran dan kemudahan dalam melaksanakan kegiatan Perkesmas bagi petugas bagi petugas khususnya perawat. Dengan adanya usaha tersebut diatas diharapkan akan meningkatkan kemampuan/keterampilan bagi petugas Perkesmas. Motivasi kerja petugas dilihat dari keaktifan petugas dalam membina desa binaan. Melaksanakan pembinaan. bidan. Terwujudnya peningkatan kemampuan/keterampilan petugas (bidan dan perawat). 3. Dan program perawatan kesehatan masyarakat bisa berjalan dengan lancar. dan bidan-bidan desa melalui kegiatan-kegiatan seperti: 1. maka perlu dibuat beberapa alternatif sebagai acuan untuk menuju rangkaian pemecahan masalah sehingga terwujudnya peningkatan kemampuan /keterampilan petugas Perkesmas khususnya perawat. 2. Terwujudnya motivasi kerja dalam melaksanakan kegiatan Perkesmas tidak lepas dari kemampuan/keterampilan petugas serta tersedianya sarana dan prasarana pendukung. sehingga kegiatan perkesmas dapat dilaksanakan secara optimal dan pada akhirnya akan terjadi peningkatan. Selanjutnya guna mengidentifikasi pemecahan masalah dan penetuan sasaran yang ingin dicapai. C. 3.Puskesmas di masyarakat. Seperti sudah diuraikan pada bab terdahulu bahwa kendala/hambatan yang ditemui dalam upaya peningkatan pelaksanaan kegiatan Perkesmas adalah faktor manusia sebagai pelaksana yang mempunyai kelemahan. 4. pembinaan yang terus menerus oleh atasan langsung atau dari pihak yang berkepentingan. yaitu kurangnya kemampuan/keterampilan petugas untuk melaksanakan tugas keperawatan.

Sasaran Khusus : Terwujudnya peningkatan kemampuan /keterampilan petugas Perawatan Kesehatan Masyarakat (bidan dan perawat) melalui pelaksanaan pelatihan petugas Perkesmas D. 170 . Pengendalian meliputi pemantauan. Kegiatan yang kiranya diselenggarakan guna mencapai sasaran adalah dengan melaksanakan pelatihan petugas perawatan Kesehatan Masyarakat untuk mewujudkan peningkatan    kemampuan/keterampilan bidan perawat. Pelaksanaan terdiri dari pembukaan pelatihan. penyajian materi serta penutup.Dari beberapa kegiatan tersebut diatas kegiatan yang bisa dilaksanakan dan berpengaruh langsung terhadap peningkatan kemampuan/keterampilan petugas Perkesmas yaitu kegiaatan pelatihan bagi perawat. bidan dan bidan-bidan desa selaku pelaksana kegiatan Perkesmas. Kegiatan tersebut diatas pelaksanaannya dapat dibagi menjadi beberapa tahapan kegiatan antara lain : Persiapan yang terdiri dari pembentukan panitia. 2. Langkah-Langkah Kegiatan. Dengan adanya strategi pemecahan masalah dari sasaran yang diharapkan. penyiapan perlengkapan serta pemberitahuan peserta pelatihan. pembuatan jadwal. Adapun sasaran umum dan saran khusus yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut : 1. pencairan dana. Sasaran Umum : Terwujudnya peningkatan kemampuan /keterampilan petugas Perkesmas melalui pelaksanaan pelatihan petugas Perkesmas. dapatlah ditentukan sasaran umum dan sasaran khusus dari rencana kerja yang ingin dicapai. penilaian serta pelaporan dari semua kegiatan yang dilaksanakan. Dengan adanya peningkatan kemampuan/keterampilan petugas Perkesmas oleh petugas yang selanjutnya akan memungkinkan tercapainya penurunan angka kesakitan pada keluarga rawan yang rentan terhadap maslah kesehatan dan pada akhirnya memungkinkan terwujudnya peningkatan derajat kesehatan masyarakat.

dan perlu adanya suatu alat untuk rnemantau dan menilai sehingga dapat diidentifikasi masalah dan penyebabnya. memberikan pelayanan keperawatan terhadap individu. keluarga. dimana tanpa adanya keterpaduan laporan dan kegiatan pembinaan lintas program/sektor terkait program Perkesmas akan menampilkan hasil kegiatan dan pengelolaan yang belum optimal.  Diharapkan dapat memberikan sosialisasi secara terus menerus dan berkesinambungan dengan lintas program/sektor terkait demi terlaksananya kegiatan Perkesmas di Tingkat Puskesmas secara terpadu.  Diharapkan dukungan sepenuhnya dari Kepala Puskesmas dalam memotivasi staf dalam pelaksanaan kegiatan Perkesmas secara terpadu melalui mini lokakarya lintas program/sektor. agar dapat menilai kemajuan pelaksanaan program Perkesmas secara teratur dan berkesinambungan. SARAN  Diharapkan dapat memberikan supervisi/bimbingan untuk perbaikan dan peningkatan penampilan hasil kegiatan Perkesmas di tingkat Puskesmas. 171 . Kedua hasil tersebut diperlukan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. sedangkan hasil penilaian dimanfaatkan untuk perencanaan kegiatan berikutnya.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN  Kegiatan Perkesmas salah satu kegiatan pokok Puskesmas.  Hasil pernantauan dapat dimanfaatkan untuk melakukan koreksi. kelompok dan masyarakat yang mempunyai masalah kesehatan.

com 3. Pedoman Pemantauan Penilaian Program Perawatan Kesehatan Masyarakat.DAFTAR PUSTAKA 1. Depkes RI. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. Jakarta. 1996. 2. www. Ismael Sofyan. p372-374 172 . Jakarta : Sagung Seto.2010. Jakarta. Sastroasmoro S. Petunjuk Pengelolaan Perawatan Kesehatan Masyarakat Depkes RI. 1993.depkesri.

06.197) (030.06.350) 173 .UPAYA KESEHATAN KERJA Penyusun: Putri Kartika Vidya Syahidatul Syakira (030.

Bidang kesehatan kerja mempunyai implikasi luas baik secara mikro maupun makro. Departemen Kesehatan telah menetapkan upaya khusus kesehatan kerja sebagai bagian dari pembangunan bidang kesehatan sejak tahun 1998. agar diperoleh produktivitas kerja yang optimal sejalan dengan program perlindungan tenaga kerja. 2) Perbaikan lingkungan kerja dan pekerjaan yang mendukung keselamatan dan kesehatan. dicanangkan dengan paradigm sehat. perlindungan bagi pekerja dalam pekerjaannya dari resiko akibat faktor yang merugikan kesehatan . mental dan sosial yang setinggi-tingginya bagi pekerja di semua jenis pekerjaan. yaitu : 1) Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan pekerja dan kapasitas kerja.BAB I PENDAHULUAN ILO dan WHO (1995) menyatakan kesehatan kerja bertujuan untuk peningkatan dan pemeliharaan derajat kesehatan fisik. absen kerja yang pada ujungnya mengganggu produktivitas kerja. 174 . juga meningkatkan suasana sosial yang positif dan operasi yang lancer serta meningkatkan produktivitas perusahaan. Pencanangan paradigma sehat ini sejalan dengan pembangunan berwawasan lingkungan serta pengembangan tenaga kesehatan Sarjana Kesehatan Masyarakat. Potensi munculnya berbagai penyakit akibat kerja yang dialami pekerja akan merugikan perusahaan dari segi biaya kesehatan. Perhatian yang baik pada kesehatan kerja dan perlindungan risiko bahaya di tempat kerja menjadikan pekerja dapat lebih nyaman bekerja. dan penempatan serta pemeliharaan pekerja dalam suatu lingkungan kerja yang disesuaikan dengan kondisi fisiologi dan psikologisnya. Secara ringkas merupakan penyesuaian pekerjaan kepada manusia dan setiap manusia kepada pekerjaan atau jabatannya. pencegahan terhadap gangguan kesehatan pekerja yang disebabkan oleh kondisi pekerjaan. 3) Pengembangan organisasi kerja dan budaya kerja kearah yang mendukung kesehatan dan keselamatan di tempat kerja. 23 tahun 1992 pasal 23 dinyatakan bahwa kesehatan kerja diselenggarakan agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan diri sendiri dan masyarakat sekelilingnya. Selanjutnya dinyatakan bahwa fokus utama Kesehatan Kerja. Dalam Undang-undang No.

Untuk melaksanakan upaya tersebut dibutuhkan sejumlah profesi. diakui upaya yang telah dilakukan belum bisa menjangkau seluruh usaha informal dan industri kecil yang jumlahnya cukup besar. penyuluhan kesehatan masyarakat. Upaya kesehatan kerja sebagai bagian dari upaya kesehatan masyarakat seperti diuraikan di atas dilakukan melalui berbagai upaya atau program-program.Dalam Permenaker No. Pembinaan dan pengawasan atau penyesuaian pekerjaan terhadap tenaga kerja 2. Pembinaan dan pengawasan perlengkapan kesehatan kerja 5. seperti dokter. Departemen Kesehatan maupun Departemen Tenaga kerja dan Transmigrasi sudah melakukan upaya kesehatan kerja. Peran SKM dalam Kesehatan Kerja Peran SKM dalam berbagai bentuk upaya kesehatan masyarakat. Memberikan saran dan masukan kepada manajemen dan fungsi terkait terhadap permasalahan yang berhubungan dengan aspek kesehatan kerja Pada beberapa sektor industi formal berskala menengah dan besar pada umumnya pelaksanaan kesehatan kerja sudah cukup baik yang dilakukan secara terintegrasi melalui Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamanatan Kerja ( SMK3 ). Memberikan nasehat mengenai perencanaan dan pembuatan tempat kerja. pengelolaan kesehatan masyarakat. 6. pendidikan. Namun. pemilihan alat pelindung diri yang diperlukan dan gizi serta penyelenggaraan makanan di tempat kerja. perawat. Untuk usaha-usaha informal dan industri-industri kecil. ahli epidemiologi dan ahli keselamatan. diantaranya adalah sebagai pelaksana lapangan. pengelola dan pengendali upaya kesehatan masyarakat. ahli hygiene kerja. pembangunan model. misalnya dalam bentuk pembinaan dan pelatihan-pelatihan serta penyusunan berbagai pedoman pelaksanaan kesehatan kerja. Pembinaan dan pengawasan terhadap lingkungan kerja 3. 175 . ahli toksikologi. 3 tahun 1982 disebutkan tugas pokok kesehatan kerja antara lain : 1. Selain adanya persoalan keterbatasan sumber daya manusia atau petugas dan kesadaran para pengelola usaha dalam memperhatikan kesehatan kerja. Memberikan laporan berkala tentang pelayanan kesehatan kerja kepada pengurus 7. ahli ergonomic. Pembinaan dan pengawasan perlengkapan sanitasi 4.

Titik berat yang menjadi perhatian baik masyarakat maupun pemerintah adalah bidang pendidikan dan kesehatan. SKM dengan kompetensi bidang K3 juga diperlukan di instansi pemerintah baik pusat maupun daerah dalam menjalankan fungsinya membuat regulasi. Selain di perusahaan. yaitu berjumlah sekitar 152 juta jiwa ( Survey BPS 2003. ditempatkan di instansi pemerintah harus didukung oleh jaringan terkait.000 perusahaan.Dilihat dari tugas pokok kesehatan kerja dan bentuk pengendalian bahaya kesehatan. Kebutuhan SDM bidang kesehatan kerja selain tenaga medis dan paramedis. melakukan supervise. yaitu tenaga ini adalah SKM. Hal penting untuk dicatat adalah pentingnya pemberdayaan potensi tenaga SKM sesuai kompetensinya untuk dapat menjadi pelaksana upaya kesehatan kerja baik bekerja langsung di perusahaan. juga oleh para pengusaha atau pelaku usaha dan para pekerja. Dalam rangka pemberdayaan masyarakat bidang K3. Jumlah institusi pendidikan tinggi yang menghasilkan SKM saat ini sangat banyak. perlindungan dan pencegahan. Selain itu kemampuan sebagai leader. perlindungan dan pencegahan. Potensi ini akan sangat berarti ketika kita melihat kenyataan bahwa di Indonesia jumlah angkatan kerja adalah terbesar nomor 4 di dunia. Disamping itu sendiri. pengelola program diharapkan akan lebih mengoptimalkan upaya kesehatan kerja. 176 . untuk penduduk di atas 15 tahun ) dan jumlah industri yang cukup besar sekitar 102. tenaga SKM mempunyai kompetensi yang sangat sesuai karena tenaga SKM dirancang untuk melakukan tugas pokok atau upaya-upaya yang bersifat promosi. seperti dokter dan perawat juga dibutuhkan tenaga-tenaga yang mampu melakukan upaya-upaya kesehatan kerja yang lebih bersifat peningkatan. Perkembangan pembangunan nasional bangsa Indonesia sekarang ini dihadapkan pada era etonomi dan desentralisasi. SKM juga dapat memainkan peran di LSM-LSM bidang kesehatan yang tentunya dapat membuat program intervensi kesehatan di tempat kerja. bimbingan dan evaluasi.

yaitu sebagai pengelola program dan dapat melakukan fungsinya untuk melakukan/ mengkoordinasikan langkah-langkah identifikasi potensi bahaya kesehatan. 177 . pengawasan serta pendidikan dan pelatihan.Era globalisasi saat ini juga menuntut adanya kompetensi tenaga kerja dan pentingnya standarisasi serta sertifikasi. Kompetensi SKM sangat sesuai sebagai bagian dari profesi lain dalam upaya kesehatan kerja. penilaian bahaya kesehatan dan pengendalian melalui berbagai program. Trend ini sangat relevan dengan pemikiran dan implementasi peran SKM dalam upaya kesehatan kerja. kita dapat melihatnya dari titik temu antara kompetensi yang dimiliki SKM khususnya peminatan K3 dengan tujuan dan tugas pokok kesehatan kerja dan standar upaya kesehatan kerja yang biasa diterapkan di tempat kerja dalam bentuk Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja. pembinaan.

kecilan 178 Perorangan dan sistem pembagian kerja yang ketat Skala usaha relative kecil biasanya dimulai dengan modal dan usaha kecil- .2 UPAYA KESEHATAN KERJA ( UKK ) Merupakan kegiatan pokok Puskesmas yang ditujukan terutama pada masyarakat pekerja informal di wilayah kerja Puskesmas dalam rangka upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit serta kecelakaan yang berkaitan dengan pekerjaan dan lingkungan kerja. 2 SEKTOR INFORMAL Yaitu usaha-usaha ekonomi di luar sektor modern atau sektor formal seperti perusahaan. tidak tergantung pada kerja sama banyak orang bahkan kadang-kadang usaha 2. Kegiatan usaha biasanya sederhana.3 KEGIATAN Adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau lebih unit kerja sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur dari suatu program dan terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya baik yang berupa personal (SDM). barang modal termasuk peralatan dan teknologi. 3.BAB II PENGERTIAN UPAYA KESEHATAN PENGEMBANGAN Adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan permasalahan kesehatan yang ditemukan di masyarakat serta yang disesuaikan dengan kemampuan Puskesmas.2 SASARAN (TARGET) Adalah hasil yang diharapkan dari suatu program atau keluaran yang diharapkan dari suatu kegiatan. dana atau kombinasi dari beberapa atau kesemua jenis sumber daya tersebut sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang atau jasa. pabrik dan sebagainya yang mempunyai ciri : 3 1.

PT atau CV (Payaman Simanjuntak. 1985) 179 . Biasanya tidak mempunyai izin usaha seperti halnya Firma.4.

Meningkatnya kemampuan masyarakat pekerja dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit dan kecelakaan yang berkaitan dengan pekerjaan dan lingkungan kerja. 3 180 . Tujuan khusus 1. Tujuan umum Meningkatnya kemampuan untuk menolong dirinya sendiri guna mencapai derajat kesehatan yang optimal dan peningkatan produktifitas kerja. 2. 3 II. Meningkatnya keselamatan kerja dengan mencegah pemajanan bahan-bahan yang dapat membahayakan lingkungan kerja dan masyarakat sekitar serta menerapkan prinsip ergonomik. Meningkatnya pelayanan kesehatan bagi tenaga kerja informal dan keluarganya yang belum terjangkau ( Under-served ). 3.BAB III TUJUAN I.

j. yang menampilkan ciri-ciri sebagai berikut : 3 1. k. Pelayanan kesehatan di Puskesmas Latihan kader untuk mengembangkan program UKK Pembentukan pos UKK di tempat kerja Penilaian upaya kesehatan kerja dan higiene industri di tempat kerja Penyelenggaraan dana sehat di pos UKK Melakukan evaluasi Memberikan umpan balik kepada industri 2. g. d. komplikasi dan tindakan medis dll e. Melakukan pengendalian resiko agar meminimalisasi bahaya d. Terjalin kegiatan kerja sama lintas sektoral Langkah-langkah Pengembangan UKK dengan Pendekatan PKMD 181 . Pendataan tentang industri dan tenaga kerja Rapat koordinasi dengan instalasi terkait Melaksanakan kunjungan pengawasan dan pembinaan Penyuluhan kesehatan tenaga di tempat kerja sebagai tindak promotif dan preventif dengan penekanan pada prinsip higiene industry dan ergonomis e. Pelaksanaan K3 di Puskesmas a. Kegiatan Kegiatan upaya kesehatan kerja meliputi : 2 1. misalnya kebakaran. Pengelolaan tanggap darurat di puskesmas. bencana alam. f. Pencatatan setiap ada ―accident‖ maupun near misses (nyaris) Pendekatan PKMD Pembangunan Kesehatan Masyarakat Pekerja dilakukan dengan cara pendekatan PKMD. Menilai resiko bahaya c. h. c. Pelaksanaan K3 di luar Puskesmas : a. Identifikasi yang bisa menimbulkan bahaya K3 b. b. Terselenggaranya pelayanan dasar kesehatan kerja 3.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN I. Bertumpu pada upaya peran serta masyarakat 2. i.

masyarakat bersepakat menanggulangi masalah tersebut dan kemudian menyusun rencana kerja untuk menanggulangi masalah tersebut. mengumpulkan dan mengkaji masalah kesehatan sendiri. Perindustrian. Musyawarah tentang kesehatan kerja. khususnya masyarakat pekerja informal. Sedangkan pertemuan tingkat desa bertujuan untuk dikenalnya Upaya Kesehatan Kerja sebagai upaya untuk meningkatkan kesehatan kerja. petugas Puskesmas dan seluruh sektor lain yang terkait seperti Bangdes. Tahap Persiapan Tahap persiapan masyarakat dilakukan dengan melakukan pertemuan. bertujuan untuk mempersiapkan kader agar mampu berperan dan mengembangkan program kesehatan kerjanya dan di lengkungan tempat tinggalnya. Sebaiknya musyawarah dihadiri oleh seluruh pekerja dan keluarganya. Tahap Pelaksanaan Kegiatan UKK di Puskesmas Penyuluhan kesehatan. dilaksanakan segera setelah survei mawas diri. Pertemuan ini bertujuan untuk diseminasi informasi mengenai informasi masyarakat Upaya Kesehatan Kerja sebagai upaya meningkatkan kesehatan masyarakat.1. serta diperolehnya dukungan dari pamong. Dilakukan di desa terpilih dengan memilih lokasi tertentu yang dapat menggambarkan keadaan desa pada umumnya. Tujuan musyawarah ini adalah agar masyarakat pekerja mengenal masalah kesehatan di tempat kerjanya. bertujuan agar tenaga kerja mengenal. Juga untuk diperolehnya dukungan dari sektor lain dalam pelaksanaan UKK. Prosedur pelayanan kesehatan pekerja yang berkunjung ke Puskesmas seperti pengunjung lainnya. Latihan kader. pemuka masyarakat dan organisasi tenaga kerja lainnya dalam pelaksanaan UKK. Pertanian. Ini dilakukan untuk catatan jumlah pengunjung tenaga kerja 182 . Pertemuan tingkat Kecamatan/tingkat desa (lintas sektoral). 2. Survei mawas diri. dikenalnya masalah kesehatan dan keselamatan kerja setempat. Kartu berobat/register diberi kode khusus untuk memisahkan dengan pengunjung lainnya. tindakan promotif dan preventif dengan penekanan pada prinsip ergonomik. survei mawas diri masyarakat dan pelatihan kader. Dilaksanakan oleh masyarakat pekerja setempat/calon kader yang telah ditunjuk dalam pertemuan tingkat desa. Koperasi/KUD. merupakan langkah awal dari pembinaan tingkat Kecamatan. Selain itu agar timbul kesadaran akan adanya hubungan timbal balik antara pekerjaan dan kesehatan. dengan bimbingan petugas Puskesmas dan sektor terkait untuk mengetahui sebanyak mungkin masalah kesehatan kerja di desa tersebut dan kemudian menentukan prioritas masalah.

gizi kerja. dll) serta untuk penekanan pelayanan kesehatan kepada pekerja. Kerjasama lintas sektoral. Komunikasi. Melakukan pelayanan dasar kesehatan yang meliputi. keracunan makanan serta bagaimana bekerja tanpa mencemari lingkungan dan pokok bahasan lain yang terkait dengan pekerjaannya. kelompok nelayan dan kelompok pengrajin. Untuk setiap 20-30 pekerja dengan jenis pekerjaan yang sesuai dibentuk satu pos UKK. Tenaga kerja wanita. Melatih kader. pemeriksaan di arahkan apakah penyakit yang diderita ada hubungannya dengan pekerjaan. pencegahan penyakit menular. Tenaga kerja terutama sektor informal 2. bertujuan untuk mempersiapkan kader agar mampu berperan dan mengembangkan program kesehatan kerja di tempat kerjanya. Sasaran Sasaran UKK : 1. Pembentukkan pos UKK di tempat kerja. Pada garis besarnya. melalui pos UKK dilakukan tiga hal pokok. c. yaitu : a. Menyelenggarakanpelayanan kesehatan di Puskesmas. Pertolongan pertama pada penyakit. kebugaran. Secara umum. khususnya usia muda 183 . Sentral industri kecil 3. maka dilakukan follow-up ke tempat kerja untuk memberikan penyuluhan mengenai cara pencegahan timbulnya penyakit tersebut. hipertensi. Selain itu. misalnya kelompok tani. Upaya penyehatan lingkungan kerja. Informasi dan Motivasi (KIM) tentang kesehatan dan keselamatan kerja. pos UKK dapat juga mempergunakan posyandu yang ada atau membentuk posyandu lain bagi pekerja terutama kalau pekerja terdiri dari wanita. Upaya pemantauan penggunaan alat-alat keselamatan kerja/alat pelindung diri. materi KIM yang diberikan menyangkut tentang prosedur kerja.tertentu ke Puskesmas (petani. Pos UKK dapat dijadikan sebagai wahana kerjasama lintas sektor untuk ikut membina produktivitas pekerja dengan cara ikut memeliahara tingkat kesehatan pekerja dan menciptakan budaya kerja secara sehat dan produktif. penanggulangan stress. harus memanfaatkan pranata sosial yang telah ada. keselamatan kerja. Apabila pada pemeriksaan ternyata ada hubungannya. Pertolongan Pertama Pada Kecalakaan (P3K). b. II. bahaya merokok. baik antara petugas maupun antara para kader. nelayan.

petani. usaha angkutan terutama di kota. penyelam mutiara. pekerja bangunan. nelayan. Tenaga kerja kesehatan di Puskesmas 2 Sasaran Upaya Kesehatan Kerja (UKK) diarahkan kepada pekerja yang mempunyai dampak besar dalam menunjang ekonomi.3 184 . Dengan demikian sasaran upaya kesehatan kerja diutamakan pada sektor informal yang merupakan lebih dari separuh angkatan kerja. kaki lima. dan pekerja wanita.4. misalnya tenaga lepas. pengrajin industri kecil/industri rumah tangga. tetapi kurang dapat mendapat pelayanan kesehatan yang memadai.

185 .BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KELURAHAN GANDARIA SELATAN Setelah dilakukan observasi dan wawancara terhadap Koordinator Program Kesehatan Lingkungan Puskesmas Kecamatan Cilandak Barat.Berarti. Puskesmas Kecamatan Cilandak baru akan mengembangkan pos UKK dengan melihat komunitas dan jumlah pekerja di daerah ini. didapatkan data bahwa di pos UKK di Puskesmas Kecamatan Cilandak Barat masih dalam tahap pengembangan. tempe dan kerupuk yang belum diketahui jumlahnya. saat ini belum ada pos UKK karena di daerah Kecamatan Cilandak bukan merupakan daerah dengan banyak industri informal. Akan tetapi di daerah kelurahan Gandaria Selatan dan Pondok Labu banyak terdapat usaha pangan yaitu tahu.

Misalnya di daerah Gandaria Selatan dan Pondok Labu dengan banyaknya usaha pangan ( tahu. dan penempatan serta pemeliharaan pekerja dalam suatu lingkungan kerja yang disesuaikan dengan kondisi fisiologi dan psikologisnya. Apabila jumlahnya memenuhi untuk dibuat pos UKK. yang menampilkan ciri-ciri sebagai berikut : bertumpu pada upaya peran serta masyarakat. Observasi lagi daerah-daerah dengan kelompok pekerja yang sejenis. Kesehatan kerja bertujuan untuk peningkatan dan pemeliharaan derajat kesehatan fisik. B. pencegahan terhadap gangguan kesehatan pekerja yang disebabkan oleh kondisi pekerjaan.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. kerupuk ). perlindungan bagi pekerja dalam pekerjaannya dari resiko akibat faktor yang merugikan kesehatan. mental dan sosial yang setinggi-tingginya bagi pekerja di semua jenis pekerjaan. Saran 1. Kesimpulan Upaya Kesehatan Kerja ( UKK) merupakan kegiatan pokok puskesmas yang ditujukan terutama pada masyarakat pekerja informal di wilayah kerja Puskesmas dalam rangka upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit serta kecelakaan yang berkaitan dengan pekerjaan dan lingkungan kerja. Adanya pembangunan kesehatan masyarakat kerja dilakukan dengan cara pendekatan PKMD. Pembentukan kader UKK 186 . 2. tempe. terselenggaranya pelayanan dasar kesehatan kerja dan terjalinnya kegiatan kerja sama lintas sektoral. maka sekiranya dapat dibuat pos UKK.

3. Diunduh dari www.id pada tanggal 22 Juli 2011 187 .co. Buku Pedoman Kerja Puskesmas. Buku Revitalisasi Puskesmas 2006. tahun 1993 2. Peranan SKM Pada Program UKK.DAFTAR PUSTAKA 1. jilid II.binasehat.

06.UPAYA KESEHATAN GIGI DAN MULUT Penyusun: Adisresti Diwyacitta Meri Indriani (030.166) 188 .008) (030.06.

BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG DAN MASALAH Penyakit gigi dan mulut yang menjadi masalah kesehatan masyarakat dewasa ini adalah penyakit/kelainan pada jaringan penyangga gigi (periodontal disease) dan karies gigi. sebagai unit pelayanan primer yang memberikan pelayanan dasar langsung kepada masyarakat mutlak diperlukan. Maka pencegahan dan pengobatan dini penyakit gigi dan mulut di Puskesmas. penyakit ini merupakan penyebab utama tanggalnya gigi pada usia 35 tahun ke atas. pengaruh lingkungan yang kurang menunjang seperti status gizi. rendahnya kadar fluor dalam air minum. Penyakit periodontal Pada umumnya penyakit periodontal merupakan akibat dari keadaan kebersihan mulut yang buruk. sikap masyarakat yang 189 . Di perkotaan prevalensi penyakit karies lebih tinggi dari pada di pedesaan. 1. makanan yang mengandung banyak gula. kumulatif. pendidikan. maka upaya penanggulangan yang paling utama adalah dengan memberikan pendidikan/penyuluhan kepada masyarakat tentang upaya pemeliharaan diri (self-care). Gigi gangren (busuk). Peningkatan prevalensi karies gigi berhubungan dengan perubahan sosial. dan progresif. penyediaan air minum. Karies gigi Penyakit karies bersifat irreversible. Kebersihan mulut yang buruk berhubungan erat dengan status sosial dan pendidikan yang masih rendah. dan diet (refined carbohydrate). Keadaan higiene mulut pada umumnya kurang baik. 2. juga merupakan fokal infeksi yang dapat menimbulkan penyakit/infeksi pada organ tubuh lainnya. yang dapat menyebabkan terganggunya penyerapan dan pencernaan makanan sehingga akhirnya dapat menganggu status gizi seseorang. kesehatan umum yang buruk pada masa anak-anak. Prevalensi penyakit karies dan periodontal ini di Indonesia bersifat menyeluruh dan keadaan menjadi lebih tidak menguntungkan karena majemuknya peduduk dan keadaan geografik. Kedua penyakit tersebut menimbulkan gangguan fungsi mengunyah. Penyebab utama dari karies gigi adalah bakteri. factor herediter.

Dengan meningkatnya prevalensi penyakit periodontal dan karies gigi pada Pelita IV.kurang menguntungkan bagi kesehatan dan tingkat perkembangan sosial ekonomi dalam masyarakat itu sendiri sangat mempengaruhi keadaan tersebut. 190 . naka upaya peningkatan/pencegahan dan pembinaan peran serta masyarakat dalam upaya pemeliharaan diri (self-care) harus dilaksanakan lebih efektif dan terarah baik terhadap kelompok khusus yang rentan terhadap penyakit gigi dan mulut maupun terhadap masyarakat umum.

Kelompok masyarakat yang rawan terhadap penyakit gigi dan mulut adalah kelompok ibu hamil/menyususi. penilaian upaya kesehatan gigi secara menyeluruh. terencana ditujukan kepada kelompok tertentu. 5. yang bersifat umum yang dapat dilaksanakan terintegrasi dengan kegiatan pokok Puskesmas lainnya serta dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan lain dengan dukungan partisipasi aktif masyarakat dengan memanfaatkan teknologi tepat guna. Di samping memberikan pelayanan khusus tenaga kesehatan gigi juga bertanggung jawab melaksanakan pembinaan. diikuti dalam suatu kurun waktu secara berkesinambungan. Upaya pelayanan khusus adalah upaya kuratif. dan pemulihan dengan diutamakan pada upaya peningkatan/pencegahan. Upaya kesehatan gigi yang bersifat umum adalah upaya kesehatan gigi dan mulut yang bersifat peningkatan pencegahan umum (mass prevention) meliputi penyuluhan kesehatan gigi dan mulut. Pelayanan asuhan sistematik adalah suatu bentuk upaya pembinaan kesehatan gigi dan mulut yang terarah. 2. pemeliharaan kebersihan mulut dan perlindungan (tooth brushing campaign. Upaya tersebut meliputi upaya kesehatan gigi yang bersifat pelayanan khusus yang hanya dapat dilaksanakan oleh tenaga kesehatan gigi dan upaya kesehatan gigi. baik kegiatan di dalam maupun di luar gedung Puskesmas. pengobatan. Fluoridasi air minum). pencegahan. 1. keluarga dan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas dengan prioritas masyarakat kelas menengah dan bawah khususnya kelompok masyarakat yang rawan terhadap penyakit gigi dan mulut. Upaya kesehatan gigi dasar paripurna adalah upaya kesehatan gigi esensial yang terbanyak dibutuhkan oleh masyarakat meliputi upaya peningkatan. Yang dimaksud dengan teknologi tepat guna adalah teknologi yang mengacu pada: a) Masalah kesehatan gigi masyarakat setempat 191 . rehabilitatif dan upaya perlindungan khusus (specific protection) dan pelayanan asuhan sistematik kesehatan gigi dan mulut. 3. 4. pengendalian.BAB II PENGERTIAN Upaya kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas adalah upaya kesehatan gigi dasar paripurna yang ditujukan kepada individu. pengembangan. kumur-kumur Fluor. 6. anak prasekolah dan anak sekolah dasar.

192 .b) Sumber daya yang tersedia di masyarakat (seperti tenaga. peralatan. dan pembinaan peran serta masyarakat. maka dalam melaksanakan kegiatan pokok puskesmas secara terpadu. dan pusat pelaksana upaya kesehatan. dana. petugas puskesmas harus bekerja sama dalam tim dan membina kerja sama lintas program maupun lintas sektoral. Penggalangan kerja sama tim ini dilaksanakan dalam bentuk kegiatan Lokakarya Mini Puskesmas. pusat pembinaan. pencegahan. perlu adanya kerjasama antara petugas kesehatan gigi dengan petugas kesehatan lainnya terutama dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan upaya peningkatan. dan lainlain) c) Terjangkau oleh masyarakat d) Diterima oleh masyarakat baik pemberi maupun penerima pelayanan e) Sesuai dengan azas manfaat secara berdaya guna dan berhasil guna Untuk meningkatkan fungsi puskesmas sebagai pusat pengembangan. Demikian pula dalam penyelenggaraan upaya kesehatan gigi dan mulut sebagai salah satu kegiatan pokok puskesmas.

Tujuan Umum: Tercapainya derajat kesehatan gigi masyarakat yang layak (optimal). 193 . sikap dan perilaku masyarakat dalam kemampuan pelihara diri (self-care) di bidang kesehatan gigi dan mulut dan mencari pengobatan sedini mungkin. 3. terutama pada kelompok masyarakat yang rawan. Terhindarnya/berkurangnya gangguan fungsi kunyah akibat kerusakan (penyakit) gigi dan mulut. Tujuan Khusus: 1. Meningkatnya kesadaran.BAB III TUJUAN A. B. 2. Menurunnya prevalensi penyakit gigi dan mulut yang banyak diderita masyarakat (karies dan periodontitis) dengan upaya perlindungan/pencegahan tanpa mengabaikan upaya penyembuhan dan pemulihan.

maka upaya kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas dilaksanakan dalam bentuk kegiatan sebagai berikut: A.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN KEGIATAN Untuk mencapai tujuan tersebut. Pembinaan/pengembangan kemampuan dan peran serta masyarakat dalam upaya pelihara diri (self-care). melalui pengembangan upaya lesehatan yang bersumber pada otoaktifitas masyarakat dengan PKMD dalam wadah LKMD (program UKGM). Langkah-langkah kegiatan adalah sebagai berikut: 1) Kegiatan KIE           Pendekatan lintas program/lintas sektoral Persiapan desa Latihan kader Diagnosis masalah (community self survey) Umpan balik Pelaksanaan kegiatan 2) Pelayanan oleh kader Penyuluhan tentang pemeliharaan tentang kesehatan gigi dan mulut Pemeriksaan sepintas Pengobatan sederhana Rujukan 3) Monitoring 194 . Kegiatan diintegrasikan dengan upaya kesehatan lainnya yang berhubungan dengan pembinaan peran serta masyarakat. yang sejak 1984 secara operasional diintegrasikan pula melalui Posyandu dan Saka Bhakti Husada.

selanjutnya program ini akan dikembangkan ke tingkat SMTP. berupa:    Upaya promotif oleh guru dengan materi sesuai kurikulum ORKES. Di tingkat STPD upaya kesehatan gigi merupakan suatu paket pelayanan asuhan sistemik. kegiatan dilaksanakan oleh tenaga kesehatan lain dan guru orkes. 2. Upaya preventif berupa kegiatan bimbingan. pembersihan karang gigi. perlindungan dengan Fluor. anak pra-sekolah Kegiatan diintegrasikan dengan kegiatan KIA. dan SLB. pembinaan pelihara diri (paket sikat gigi bersama). Posyandu) Kegiatan berupa: 195 . sebagai berikut: Tahap I (Paket Minimal): Upaya kesehatan gigi di SD yang belum terjangkau oleh tenaga kesehatan gigi. Pelayanan asuhan pada kelompok rawan 1. dengan kegiatan yang bertahap disesuaikan dengan kemampuan tenaga dan sarana yang ada. Pada anak sekolah Upaya kesehatan gigi dan mulut pada anak sekolah. Rujukan bagi yang perlu pengobatan Tahap II (Paket Optimal) Sudah ada sarana/tenaga kesehatan gigi yang terbatas. kegiatan berupa:    Upaya promotif oleh guru Upaya preventif (sikat gigi bersama. pada Pelita IV baru mencapai anak tingkat pendidikan dasar (STPD). pembersihan karang gigi) Upaya kuratif (pengobatan dasar pada murid yang memerlukan pengobatan) Tahap III (Paket Paripurna) Sudah ada tenaga/sarana kesehatan gigi yang lengkap. baik di dalam maupun di luar gedung Puskesmas (T.K. Pada kelompok ibu hamil/menyusui. aplikasi Fluor) Upaya kuratif berupa pengobatan atas permintaan pada murid kelas I-VI dan pengobatan komprehensif pada murid kelas selektif sesuai kondisi penyakit setempat. SMTA. kegiatan berupa:    Upaya promotif oleh guru Upaya preventif (sikat gigi bersama.B.

Pelayananan meliputi pengobatan. Pelayanan Medik Gigi Dasar Pelayanan medik gigi dasar di Puskesmas dilaksanakan terhadap masyarakat yang dating mencari pengobatan maupun yang dirujuk. pemulihan. Pencatatan/Pelaporan Berbagai hal yang berkaitan dengan masukan. di samping penyuluhan secara individu maupun kelompok terhadap pengunjung Puskesmas.     Penyuluhan oleh bidan/perawat gigi Pemeriksaan sepintas oleh bidan Rujukan Pemeriksaan dan rencana perawatan oleh tenaga kesehatan gigi (terutama pada ibu hamil) Pencatatan C. pencegahan khusus. Untuk memperluas jangkauan pelayanan. proses. bagi masyarakat (penderita) yang jauh dari Puskesmas dijangkau melalui pelayanan Puskesmas Keliling maupun Klinik Gigi Lapangan (untuk anak-anak sekolah dasar). Kegiatan:      Memberikan pelayanan medik gigi dasar pada penderita yang berobat maupun yang dirujuk Merujuk kasus-kasus yang tidak dapat ditanggulangi ke sarana pelayanan yang lebih mampu Memberikan penyuluhan secara individu maupun kelompok Memelihara kebersihan (higiene klinik) Memelihara merawat peralatan/obat-obatan D. dan keluaran upaya kesehatan gigi direkam secara terpadu dalam Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas. 196 .

target (sasaran) yang ingin dicapai.  Upaya peningkatan/pencegahan pada anak sekolah (kegiatan menyikat gigi bersama) dilaksanakan di 80% SD.  Frekuensi pembinaan petugas kesehatan dalam bidang kesehatan gigi dan mulut ke SD dilaksanakan minimal 2 kali pertahun per SD.  Upaya pelayanan pengobatan mencakup 4% dari penduduk wilayah puskesmas.  Frekuensi pembinaan petugas kesehatan ke desa dilaksanakan minimal 3 kali dalam setahun. pengobatan sederhana.  Upaya pelayanan pengobatan komperhensif pada anak sekolah mencakup 80% dari murid kelas selektif yang memerlukan perawatan. 197 .SASARAN Dalam melaksanakan kegiatan/upaya kesehatan gigi di Puskesmas.  Peran serta masyarakat (kader kesehatan) dalam penyuluhan. sesuai dengan Stratifikasi Puskesmas adalah sebagai berikut:  Pembinaan peran serta masyarakat dalam upaya pelihara diri (program UKGMD) dilaksanakan di 60% desa. rujukan mencakup 20% penduduk desa binaan.

Insisi abses n. yang telah ditentukan Puskesmas kecamatan Dokter gigi. namun pada anak kelas 4-5 terdapat perawatan paripurna. Jahit lebih dari 5 simpul l. Pembersihan karang gigi Luar Gedung a.6. Pencabutan gigi tetap sederhana c. Jahit 1-5 simpul k. KEGIATAN Dalam Gedung a.BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS LEBAK BULUS 1. UKGM SASARAN Pasien yang datang berobat ke Unit Pelayanan Gigi WAKTU Senin – Jumat Pkl : 07. Siswa Sekolah Dasar kelas 1. kader. Tambalan gigi sementara e. Tambalan fuji g. petugas Puskesmas. petugas Puskesmas. Operasi gigi miring (odontectomy) j. Pencabutan gigi tetap dengan penyulit d. TK Setiap tahun ajaran baru Seluruh TK se-kelurahan Dokter gigi. Tambalan light curing (sinar) h. Puskesmas Kelurahan Lebak Bulus PELAKSANA Dokter gigi dan perawat gigi 2. kader. Pembuatan gigi palsu m.30 – selesai TEMPAT Unit Pelayanan Gigi. guru TK POSYANDU Tiap bulan Rumah Kader yang ditentukan Rumah kader yang ditentukan PAUD 2-3 kali/minggu b. Tambalan amalgam f. Pencabutan gigi susu b. Alveolectomy ( pembuangan tulang) i. guru SD 198 . Setiap tahun ajaran baru SD setempat. UKGS Tahap 2  Pemeriksaan gigi kelas 1-6  Penyuluhan demonstrasi sikat gigi  Pembersihan karang gigi  Pencabutan gigi sulung yang persistensi  Pengobatan atas permintaan Tahap 3  Sama dengan tahap 2.

Terselenggaranya penyuluhan kesehatan gigi mulut terpadu pada kegiatan di Puskesmas dan wilayahnya. sikap dan perilaku perihal kesehatan gigi mulut dari kader kesehatan (Posyandu. Peningkatan pengetahuan. guru sekolah) yang telah dibina. paripurna terpadu pada kegiatan pelayanan medik rawat jalan dan kesehatan reproduksi dengan perhatian pada penyakit gigi dan mulut. Terselenggaranya pelayanan kesehatan holistic. Penurunan angka karies di wilayah Puskesmas. kemauan dan kemampuan provider perihal kesehatan gigi dan mulut. Pelayanan Puskesmas    Peningkatan kesadaran.INDIKATOR KEBERHASILAN A. Pembinaan Kesehatan Wilayah    Peningkatan kegiatan peran serta masyarakat dalam upaya peningkatan kesehatan gigi dan mulut.  Kepuasan pengguna jasa pelayanan kesehatan gigi dan mulut akan pelayanan yang didapatnya. 199 . B.

SARAN Supaya tercapainya derajat kesehatan gigi masyarakat yang layak. Kedua penyakit tersebut menimbulkan gangguan fungsi kunyah. pemulihan. Sehingga kelompok masyarakat yang rawan terhadap penyakit gigi dan mulut dapat terhindar dari penyakit-penyakit ini.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Upaya kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas adalah upaya kesehatan gigi dasar paripurna yang ditujukan kepada individu. Penyakit gigi dan mulut yang menjadi masalah kesehatan masyarakat dewasa ini adalah penyakit/kelainan pada jaringan penyangga gigi (periodontal disease) dan penyakit karies gigi. pencegahan khusus. 200 . Oleh karena itu pelayanan medik gigi dasar di Puskesmas dilaksanakan terhadap masyarakat yang datang mencari pengobatan maupun yang dirujuk. Pelayananan meliputi pengobatan. yang dapat menyebabkan terganggunya dalam mengkonsumsi makanan. keluarga dan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas dengan prioritas masyarakat berpenghasilan rendah khususnya kelompok masyarakat yang rawan terhadap penyakit gigi dan mulut. di samping penyuluhan secara individu maupun kelompok terhadap pengunjung Puskesmas. sikap dan perilaku masyarakat dalam kemampuan pelihara diri (selfcare) di bidang kesehatan gigi dan mulut dan mencari pengobatan sedini mungkin. maka perlu ditingkatkannya kesadaran.

http://www.DAFTAR PUSTAKA 1. Lilian Yawono.depkes. http://nevhablue. Jakarta. 2. Pedoman Kerja Puskesmas Jilid IV. http://www. JO.php?option=articles&taskviewarticle&artid=323&Itemid=3 201 . 3. 114-115. 1990.id/files/cdk/files/06_50_KegiatanPenelitianLingkunganDirektoratKe sehatanGigi.html 5.co. Departemen Kesehatan RI. Adyatmaka.go.com 4. Forest. Ke-2.blogspot. Ed.1-9. A.kalbe. alih bahasa drg. 1995.pdf/06_50_KegiatanPenelitianLingkunagnDirektoratKesehatanGigi.Pencegahan Penyakit Mulut.id/index. Hipokrates.

LAMPIRAN 202 .

06.UPAYA KESEHATAN JIWA Penyusun : Hengky Stephanie Salim (030.252) 203 .111) (030.06.

Sebagai hasil pembangunan nasional terjadi peningkatan taraf pendidikan dan sosial masyarakat dan hal ini menimbulkan pergeseran tipe penyakit yang terdapat dalam masyarakat dari kelompok penyakit menular ke kelompok penyakit tidak menular. dan diperkirakan jumlah pasien penyalahgunaan obat dan alkohol yang terdapat dalam masyarakat kurang lebih 100. didapat angka-angka morbiditas gangguan jiwa sebagai berikut: 1. Prevalensi penyalahgunaan obat dan alkohol belum ada dengan pasti namun dari data rumah sakit tercatat 10. pergeseran nilai-nilai hidup. perubahan sosial yang cepat. Pada suatu penelitian yang dilakukan di USA didapatkan bahwa 2-5% dari populasi menderita ansietas dan 10% dari populasi pernah mengalami depresi. 204 . Demikian pula halnya dengan adanya penyebaran dan imigrasi penduduk yang timpang. dapat menimbulkan berbagai masalah psikososial yang mempengaruhi taraf kesehatan jiwa masyarakat. minum alkohol dan penyalahgunaan obat. 3.25 per 1000 penduduk dan menurut WHO adalah 1-3 per 1000 penduduk. Prevalensi retardasi mental: 1.000 pasien. 5.6 per 1000 penduduk di pedesaan angka menurut WHO adalah 1-3 per 1000 penduduk. dan sosial yang memungkinkan seseorang untuk hidup produktif. Prevalensi psikosis: 1. Kesehatan dalam hal ini diartikan sebagai suatu kondisi yang bukan hanya bebas dari penyakit. dan pada gilirannya menigkatkan kebutuhan akan pelayanan kesehatan jiwa. terutama urbanisasi. 4. sedang angka menurut WHO adalah 8-10 per 1000 penduduk.BAB I PENDAHULUAN Tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan terciptanya derajat kesehatan masyarakat yang optimal.000 orang.26 per 1000 penduduk. sedang angka WHO untuk neurosis adalah 20-60 per 1000 penduduk.44 per 1000 penduduk di perkotaan dan 4. polusi informasi dan gaya hidup yang merusak kesehatan seperti merokok. cacat dan kelemahan tapi benar-benar merupakan kondisi yang positif dari kesejahteraan fisik. mental. Dari hasil survei epidemiologi gangguan jiwa yang dilakukan di beberapa tempat di indonesia. 2. Prevalensi neurosis dan gangguan psikosomatik adalah 98 per 1000 penduduk. Prevalensi epilepsi adalah 0. Pertumbuhan penduduk yang tidak seimbang dengan pertumbuhan ekonomi.

vct. Dengan menggunakan azas-azas kesehatan jiwa dalam pelayanan kesehatan di Puskesmas maka tujuan pelayanan kesehatan paripurna akan tercapai karena pelayanan yang diberikan adalah sebagai manusia seutuhnya. obat. Dalam pelaksanaan pembinaan dan pengembangan kesehatan jiwa di puskesmas. Puskesmas juga secara rutin melakukan pencatatan dan pelaporan.memberikan upaya pertolongan pertama pada pasien-pasien dengan gangguan jiwa (primary treatment).Unit pelayanan UKKR merupakan salah satu unit pelayanan semi spesialistik di kecamatan Cilandak. dan teknologi. 205 . Pelayanannya meliputi kesehatan jiwa. Upaya ini dapat berhasil bila mendapat dukungan dan peran serta masyarakat melalui kerjasama dengan Puskesmas dimana unsur masyarakat merupakan hal yang sangat penting dan menentukan keberhasilan upaya kesehatan jiwa di Puskesmas.kegiatan rujukan yang memadai (adequate referral). namun skrining gangguan jiwa tetap dilakukan di unit pelayanan umum. Saat ini Puskesmas kelurahan Lebak Bulus belum mempunyai poli khusus ataupun unit khusus yang melayani kesehatan jiwa. konsultasi pasien-pasien yang datang ke UKKR maupun pasien-pasien rujukan internal dari unit pelayanan yang lain .Angka tersebut diatas menggambarkan bahwa kesehatan jiwa merupakan masalah masyarakat. masyarakat termasuk swasta yang terkait. Kerjasama tersebut dapat dAijabarkan secara operasional dalam lokakarya mini yang akan menampilkan peranan staf puskesmas yang didukung oleh mobilisasi tenaga. merupakan unsur penentu keberhasilan upaya ini. dengan tujuan pengenalan dini gangguan jiwa (early detection). Pelayanan kesehatan jiwa di puskes Cilandak meliputi kegiatan di dalam dan di luar gedung. Terdapat pula pelayanan kesehatan jiwa yang disebut dengan CMHN (Community Mental Health Nursing) lakukan oleh para petugas Puskesmas dimana mereka mengunjungi rumah-rumah penduduk yang memiliki atau dicurigai memiliki gangguan jiwa melalui laporan dari penduduk sekitar. Untuk kegiatan luar gedung sama dengan puskesmas kelurahan Lebak Bulus yaitu CMHN (Community Mental Health Nursing). napza. harm reduction. Sedangkan di puskesmas kecamatan Cilandak mempunyai satu poli khusus / unit pelayanan jiwa yang tergabung di dalam UKKR (unit konsultasi keluarga dan remaja). Kegiatan dalam gedung meliputi pengobatan.penyuluhan kesehatan dan perilaku sexsual yang dilakukan di smu sekecamatan Cilandak dengan tujuan meningkatkan pengetahuan perilaku sexual yang benar sehingga terjadi penurunan angka penyimpangan sexual di remaja. peralatan.

seperti yang diklasifikasikan dalam kode diagnosis di Puskesmas. dan perkembangannya 206 . anak dan remaja. Masalah psikososial: Gangguan kesehatan jiwa yang dilatarbelakangi oleh masalah-masalah sosial dan psikologik. berat). Kesehatan Jiwa Sehat ( UU tentang kesehatan no. dll. seperti kenakalan remaja. Gangguan Jiwa: Gangguan jiwa yang dapat dideteksi secara klinis. 0802 Gangguan Neurotik: gangguan psikosomatik. mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain. 0804 Gangguan Kesehatan Jiwa bermula pada bayi. yang dapat berwujud masalah psikososial atau gangguan jiwa. Kesehatan Jiwa adalah perasaan sejahtera dan bahagia. korban pasung. dapat menerima orang lain sebagaimana adanya. seperti yang dimaksud dengan penjelasan pada butir 1 di atas. neurosa cemas. jiwa dan sosial. sbb: 0801 Gangguan Psikotik: gelandangan psikotik.23/1992 pasal 1): Sehat adalah keadaan sejahtera dari badan. gaduh gelisah. sedang. B. Gangguan Kesehatan Jiwa Gangguan Kesehatan Jiwa: Terganggunya kesehatan jiwa seseorang.BAB II PENGERTIAN A. disharmoni keluarga. depresi. yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi. 0803 Retardasi Mental: (ringan. kriminalitas. mampu mengatasi tantangan kehidupan.

pemeliharaan dan peningkatan kesehatan jiwa. pencegahan dan penanggulangan masalah psikososial dan gangguan jiwa. meliputi: i. gangguan seks.0805 Penyakit Jiwa lainnya: penyalahgunaan narkotik/ zat adiktif. Kesehatan jiwa dilakukan oleh perorangan. b. iii. 0806 Epilepsi: (gran mal. didukung sarana pelayanan kesehatan jiwa dan sarana lainnya. penyembuhan dan pemulihan penderita gangguan jiwa.25/1992 pasal 24) a. maupun emosional dan sosial. lingkungan masyarakat. Upaya yang diselenggarakan untuk mewujudkan jiwa yang sehat secara optimal. kejang demam pada anak. psikomotor) . 207 . lingkungan pekerjaan. ii. lingkungan keluarga. baik intelektual. gangguan kepribadian. C. petit mal. lingkungan sekolah. Upaya Kesehatan Jiwa (UU Kesehatan no.

Bila mungkin menurunkan atau mempertahankan angka-angka yang telah diperoleh sesuai dengan survei epidemiologi gangguan jiwa yaitu: 1. Mengelola kasus gangguan kesehatan jiwa pada pengunjung Puskesmas (bayi. 3. 3. 208 . 5.TUJUAN UMUM Tercapainya derajat kesehatan jiwa yang optimal bagi seluruh masyarakat.TUJUAN KHUSUS 1. remaja. 2. baik dari segi jasmani.6 per 1000 penduduk. Tujuan Pelayanan Kesehatan Jiwa Terpadu: 1. 2. Memberikan pengobatan rasional dan terapi lain yang diperlukan secara lebih berdaya guna dan berhasil guna.26 per 1000 penduduk. Angka retardasi mental 1.25 per 1000 penduduk. Angka epilepsi 0. Angka depresi 1% dari populasi. melalui peningkatan kesehatan jiwa secara terpadu. B. Angka psikosis 1. dewasa. Meningkatkan kepekaan petugas agar dapat mendeteksi gangguan kesehatan jiwa secara dini setiap pengunjung Puskesmas yang berobat. 6. maupun segi mentalemosional dan sosialnya. Memberikan perhatian secara menyeluruh dan terinci terhadap semua aspek kehidupan pasien yang berkunjung. Meningkatkan hubungan interpersonal antar petugas kesehatan Puskesmas dengan pasien dan keluarganya. 4. 5. Angka anxietas 2-5% dari populasi.BAB III TUJUAN A. Meningkatnya mutu pelayanan kesehatan Puskesmas pada umumnya. Jumlah penyalahgunaan obat dan alkohol 100.44-4.000 orang. Meningkatnya mutu dan jangkauan pelayanan kesehatan jiwa di Puskesmas untuk mencegah dan mengurangi masalah psikososial dan gangguan kesehatan jiwa di masyarakat. 4. usila) dengan sebaik-baiknya. anak. 2.

masyarakat dan diutamakan pada masyarakat berpenghasilan rendah. Kegiatan upaya kesehatan jiwa tersebut dilaksanakan melalui: 1. Dengan adanya pelayanan ini. 3. dengan menggunakan teknologi tepat guna yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat. Kegiatan rujukan yang memadai (adequate referral). 209 . 2. 3. Menilai lebih sensitif dan waspada terhadap kemungkinan keterlibatan emosional pada keluhan-keluhan atau gejala yang ditujukan pasien sewaktu berobat.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN Upaya kesehatan jiwa di puskesmas adalah upaya kesehatan jiwa yang dilaksanakan di tingkat puskesmas secara khusus atau terintegrasi dengan kegiatan pokok puskesmas lainnya. dapat diperolah gambaran penyakit dalam masyarakat tertentu yang dapat dipertanggungjawabkan melalui suatu pengumpulan data di puskesmas. dewasa dan usia lanjut dengan memanfaatkan azas-azas kesehatan jiwa. Menangani gangguan jiwa dari setiap kelompok umur mulai dari anak. Selain itu diharapkan juga agar puskesmas dapat melaksanakan terapi lanjutan(follow up) dari mereka yang sudah selesai perawatannya di rumah sakit jiwa. 4. 2. remaja. Mengingat hal tersebut diatas maka dalam pelayanan puskesmas diharapkan dapat: 1. dengan demikian akan meringankan beban dari pasien. Menangani gangguan jiwa baik akut maupun kronik yang dapat terjadi pada setiap manusia maupun kelompok masyarakat hingga dapat menurunkan angka kesakitan pasien gangguan jiwa. yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan puskesmas dengan dukungan peran serta masyarakat baik di dalam gedung maupun di luar gedung puskesmas yang ditujukan pada individu. keluarga. Memberikan penyuluhan sehingga masyarakat dapat memanfaatkan azas dasar kesehatan jiwa dalam kehidupannya. Memberikan upaya pertolongan pertama pada pasien-pasien dengan gangguan jiwa (primary treatment). Pengenalan dini gangguan jiwa (early detection). khususnya kelompok rawan tanpa mengabaikan kelompok lainnya.

intelektual. dan sering kelainan yang ditujukan hanyalah berdasarkan keluhan saja. Untuk mencapai kondisi yang dimaksud maka pemerintah telah mengarahkan upaya penting antara lain: a. mengusahakan keseimbangan jiwa dengan menyesuaikan penempatan tenaga selaras dengan bakat dan kemampuan c. Makna kesehatan jiwa mempunyai sifat-sifat yang harmonis(selaras) dan memperhatikan semua segi dalam kehidupan manusian dan dalam hubungan dengan manusia lain. Penderita gangguan jiwa tidak selalu abnormal tingkah lakunya. 2. Kesehatan jiwa (mental health) Menurut faham ilmu kedokteran pada saat ini.Penjelasan: 1.Oleh karena itu semua petugas puskesmas sebaiknya mengetahui azas dasar kesehatan jiwa. dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan orang lain. memelihara kesehatan jiwa dalam pertumbuhan dan perkembangan anak b. Secara relatif arti jiwa sehat dan jiwa sakit berbeda menurut pola sosial dan budaya suatu masyarakat. adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik. Pelayanan kesehatan jiwa Pelayanan kesehatan jiwa yang dilakukan oleh dokter/staf puskesmas terhadap individu dengan memberikan obat-obat psikofarmaka bila diperlukan serta pemecahan masalah yang dihadapi pasien dan keluarga. Beberapa sifat yang dapat dipakai sebagai pegangan dalam pemeriksaan yaitu seseorang yang sehat jiwanya adalah seorang yang: 210 . perbaikan tempat dan suasana kerja d. Hampir semua penyakit fisik mengandung segi kejiwaan dan dengan pendekatan kesehatan jiwa yang baik akan bermanfaat dalam menghadapu semua penderita. mempertinggi taraf kesehatan jiwa seseorang dalam hubungannya dengan keluarga dan masyarakat Mengingat hal tersebut diatas maka telah digariskan beberapa kebijaksanaan yang pada prinsipnya menjabarkan dan menterjemahkan lingkup kesehatan jiwa secara praktis dan kongkrit.

dan marah-marah. yaitu cukup tabah. maupun lingkungan tempat tinggal atau tempat kerja.a. kegiatan khusus yaitu penyuluhan kesehatan jiwa dalam rangka pencegahan dan pengobatan gangguan jiwa sedini mungkin. mereka mempunyai masa kanak-kanak yang bahagia. Suatu waktu dapat saja ia merasa kurang gembira. Beberapa hal penting yang harus diperoleh dalam masa kanak-kanak adalah:cinta. mempunyai emosi yang tenang. pujian dan dorongan serta disiplin yang sehat. serta memberian pelayanan khusus bila diduga adanya faktor psikologi sebagai penyebab (lihat pelayanan khusus). Kegiatan dalam puskesmas Terpadu dengan kegiatan pokok puskesmas lainnya. baik secara terpadu dalam upaya kesehatan pokok lainnya. b. Peran serta masyarakat Peran serta masyarakat adalah peran serta masyarakat baik sebagai key person maupun sebagai konsumen dalam pemecahan masalah kesehatan jiwa setempat. 3. Upaya pokok Kesehatan Jiwa di Puskesmas adalah upaya yang dilaksanakan. Dengan demikian.kasih sayang. dapat memelihara keseimbangan jiwanya secara mantap. bertengkar. karena tata cara kehidupan pada masa kanak-kanak adalah sangat penting artinya dalam perkembangan menjadi dewasa. penuh pengertian serta dapat mengambi keputusan dan memiliki tanggung jawab. 4. penilaian. ia cukup bahagia dalam kehidupannya dan dapat bergaul dengan baik dalam keluarga dengan anak-anaknya. ia menghadapi kehidupan dengan segala persoalan serta ia dapat menikmati karuniaNya c. tapi pada umumnya ia relatif bebas dari rasa khawatir. pembinaan dan pengembangan upaya kesehatan jiwa masyarakat setempat. Kegiatan diluar puskesmas Terpadu dengan kegiatan pokok puskesmas lainnya. perencanaan pelaksanaan. 5. maupun seecara khusus oleh 211 . rasa benci dan rasa cemas.

Penyuluhan 2. 3. terdiri dari: 1. Kunjungan Rumah A. Kegiatan: i. Kelompok masyarakat: 1. 5. Penyuluhan kesehatan jiwa secara khusus sesuai dengan kebutuhan dan jadwal kerja. Pelayanan Pengobatan 212 . terdiri dari: 1. KEGIATAN POKOK 1. Konsultasi Kesehatan Jiwa bagi petugas 4. Pencatatan dan Pelaporan 2. 6. Perorangan pada setiap pasien yang berkunjung ke Puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya (Posyandu. Penyuluhan a. Anak usia remaja (SLTP/SLTA). 4. sbb: a. PMR. Karang Taruna. Orang tua. Sasaran: i. Anak balita/ anak usia SD. Guru. Pusling. Rujukan Kasus 3. ii. Penyuluhan kesehatan jiwa secara terpadu dalam program penyuluhan kesehatan Puskemas lainnya. Tokoh masyarakat. ii. terdiri dari kegiatan pokok dan kegiatan penunjang. Kegiatan penunjang. 2. b. Pelayanan Pengobatan b. Pramuka. Lembaga swadaya masyarakat. dll). 2.Puskesmas. dll). Pengorganisasian LSM dan potensi masyarakat dalam upaya kesehatan jiwa. 7. sebagai kegiatan di dalam gedung dan di luar gedung. iii. Kegiatan pokok. Organisasi kepemudaan (OSIS.

UKS. Pelayanan tidak ditujukan hanya untuk pasien gangguan jiwa. baik aspek fisik. tetapi semua pasien yang datang. sehingga kesehatan jiwa memegang peranan yang sangat penting dalam kesehatan. ramah. iv. pada semua golongan umur (bayi. Diperlukan ruang anamnesis/ pemeriksaan yang memungkinkan pasien menyampaikan keluhan pribadinya secara bebas. pemeriksaan. Diagnosis kerja dapat bersifat ganda (fisik dan mental) . terbuka dan menghargai setiap pasien. Untuk itu pasien diupayakan antri dan tidak bergerombol pada meja petugas. vi. b. Pelayanan kesehatan jiwa dilaksanakan terpadu dalam setiap pemberian pelayanan kesehatan yang dilaksanakan baik di dalam gedung maupun di luar gedung Puskesmas (BP. UKS. perlu dideteksi kemungkinan adanya faktor mental-emosional yang mempengaruhi keadaan jasmaninya. anak usia SD. iii. dimulai dari anamnesis. balita. dll). remaja. Kegiatan: Terpadu dalam pelayanan kesehatan umum (BP. Pusling. baik pada anak maupun dewasa. KIA. viii. ii.a. Pemeriksaan harus dilaksanakan secara lege artis. dll). vii. 213 . Petugas kesehatan memandang manusia secara menyeluruh (holistik). orang dewasa. diagnosis dan terapi. v. sebagai orang yang perlu didengar. ASKES. KIA. usila). sehingga petugas dapat mengelola gangguan kesehatan jiwa yang terdapat pada setiap pasien yang berobat dengan sebaik-baiknya. ditolong dan dilayani dengan sebaik-baiknya. Prinsip: i. baik di dalam maupun di luar gedung Puskesmas. maupun aspek mental-emosional dan sosial. Setiap pasien yang datang dengan keluhan gangguan kesehatan jasmani. mencatat dan melaporkannya. Petugas Puskesmas bersikap empati. Sasaran: Semua pasien yang memperoleh pelayanan kesehatan/ pengobatan. sopan.

B. KEGIATAN PENUNJANG 1. Pencatatan dan Pelaporan Kegiatan: a. Mencatat data dan hasil pemeriksaan pelayanan kesehatan jiwa terpadu setiap pasien pada kartu Status/ Rawat Jalan Puskesmas; b. Mencatat hasil pemeriksaan pelayanan kesehatan jiwa semi-spesialistik pada kartu rawat jalan; c. Mengumpulkan data jumlah gangguan kesehatan jiwa setiap hari pada laporan khusus yang tersedia; d. Mengirimkan laporan bulanan kepada Suku Dinas/ Dinas Kesehatan pada setiap akhir bulan; e. Mencatat dan melaporkan kasus gangguan jiwa pada SP2TP sesuai petunjuk. Sasaran: a. Puskesmas Kelurahan; b. Puskesmas Pembina. 2. Rujukan Kasus Kegiatan: a. Mengirim pasien untuk dirujuk; b. Menerima pasien rujukan. Sasaran: a. Pasien yang perlu perawatan inap b. Pasien yang perlu tindakan khusus/ spesialistik. 3. Konsultasi Kesehatan Jiwa bagi petugas Kegiatan: a. Koordinator Jiwa Suku Dinas Kesehata menyiapkan acara konsultasi kesehatan jiwa di setiap wilayah krjanya (1 bulan 1-2 kali); b. Setiap Puskesmas menyiapkan masalah yang akan dikonsultasikan, disertai data dan laporan program selama ini dan psikiater pembina membahas masalah yang dikonsultasikan; c. Psikiater pembina membuat laporan konsultasi kesehatan jiwa tersebut dan melaporkan ke Direktur RS Jiwa Jakarta dan Kepala Pusat Pembinaan Kesehatan Jiwa Dinas Kesehatan DKI Jakarta sebagai koordinator; d. Secara berkala konsultasi kesehatan jiwa diadakan di Puskesmas Pembina, agar dapat menjangkau Puskesmas di sekitarnya.
214

Sasaran: a. Dokter/ perawat di Puskesmas Pembina/ Puskesmas yang telah mengikuti penataran/ pelatihan dan melaksanakan pelayanan BP; b. Dokter/ perawat Puskesmas lainnya yang berminat. 4. Kunjungan Rumah Kegiatan: a. Petugas berkoordinasi dengan kader masyarakat (Posyandu, PKK, dll); b. Petugas melaksanakan kunjungan rumah bersama kader masyarakat secara terpadu dalam program kunjungan rumah; c. Petugas menangani kasus gangguan jiwa sesuai dengan kemampuannya; d. Petugas melaksanakan penyuluhan kesehatan jiwa pada masyarakat sesuai kebutuhan. Sasaran: a. Masyarakat b. Pasien Puskesmas

Pelayanan Kesehatan Jiwa 1. kegiatan terintegrasi( lihat lampiran 1) 2. kegiatan khusus( lihat lampiran 2)

Untuk menentukan diagnosis gangguan jiwa dari seorang pasien maka hal penting yang harus dilakukan adalah: a. anamnesa/pengambilan kisah 1. autoanamnesa -wawancara langsung dengan pasien tentang hal-hal yang dirasakan/dikeluhkan -anamnesa kemudian dilanjutkan dengan menyelami latar belakang dan kehidupan pasien(sosial,ekonomi,pendidikan dan budaya), asal kelahirannya, pekerjaannya dan beberapa hal yang mungkin menarik perhatian. -ikut sertakan keluarga dalam wawancara dengan penderita, kecuali bila anda merasa pasien atau keluarganya meberi kesan bahwa mereka canggung atau tidak

menginginkannya. Dalam hal demikian adakan wawancara secara terpisah dengan keluarganya.

2. alloanamnesa
215

wawancara dengan keluargan pasien atau orang yang mengantarkan pasien. Ditanyakan hal-hal yang berhubungan kemungkinan timbulnya gangguan jiwa pada pasien. Bila mungkin ditanyakan perjalanan penyakit dari pasien, keadaan kehidupan pasien seharihari, hubungan pasien dengan orang lain dan sebagainya.

b. Pemeriksaan fisik 1. secara umum diperiksa tensi,nadi,suhu dan pernapasan pasien 2. pemeriksaan neurologik dilakukan untuk mengetahui adakah gangguan kesadaran, kelumpuhan, rudapaksa pada kepala, gangguan fungsi luhur dan perasaan/perabaan pada tubuh dan gejala neurologik lain seperti kejang, kaku kuduk dan sebagainya.

c. laboratorium pemeriksaan laboratorium secara rutin untuk mengetahui adakah faktor infeksi, anemia berat,dsb. Bila dicurigai adanya kalainan organik tertentu dapat dilakukan pemeriksaan laboratorium tambahan sesuai kebutuhan. Pemeriksaan ini dilakukan untuk menyingkirkan adanya kelainan organik sebagai penyebab dari gangguan jiwa tersebut. Adapun penanganan pasien dengan gangguan jiwa seperti tercantum dalam lampiran 2 ini.

C. peran serta masyarakat kegiatan dalam bentuk penyuluhan serta pembinaan masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan, penilaian dan pengembangan kesehatan jiwa setempat dalam rangka menciptakan kemandirian masyarakat dalam memelihara kesehatan jiwa.

D. Pengembangan Pengembangan upaya kesehatan jiwa di puskesmas adalah suatu upaya dengan memanfaatkan data yang ada yaitu yang didapat dari SP2TP, penelitian atau survei. Upaya ini digunakan untuk mengembangkan peran serta masyarakat dan pelayanan dibidang kesehatan jiwa. Hal ini dilakukan melalui mini lokakarya dan stratifikasi puskesmas dan micro planning dalam rangka menciptakan derajat kesehatan jiwa masyarakat yang optimal.

216

D.Sistem pencatatan dan pelaporan Berbagai hal yang berkaitan dengan masukan, proses dan keluaran upaya kesehatan jiwa, direkam secara terpadu dalam SP2TP.

1. Kegiatan terintegrasi

UPAYA KESEHATAN JIWA YANG TERPADU DENGAN KEGIATAN POKOK PUSKESMAS Kegiatan pokok sasaran Tugas Perincian kegiatan tenaga Alat

1. KIA

Ibu hamil dan nifas

Promotif preventif

Penyuluhan:umpama -Cara menyusukan dengan kasih sayang -Hindari stres/depresi selama kehamilan -Persiapan melahirkan secara mantap termasuk persiapan mental

-Dokter -Bidan -Perawat -Kader

-Poster -Leaflet Audiovisual

2. KB

Individu dan keluarga

Promotif preventif

Penyuluhan agar tercipta keluarga yang bahagia dan sejahtera

-Dokter -Bidan -Perawat -Kader

-Poster -Leaflet -Film

3. Gizi

Individu dan keluarga

Promotif preventif

Penyuluhan: Memperhatikan gizi makanan karena kekurangan zat tertentu, umpama jodium dapat menyebabkan gangguan perkembangan mental anak cara hidup sehat secara

-Dokter -Ahli gizi -Perawat -kader

-Poster Leaflet Audiovisual

217

mental health

4.kesehatan lingkungan

Kelompok masyarakat dan lingKungan

Promotif preventif

Penyuluhan: Pentingnya peran orang tua dalam keluarga Dokter Perawat Perawat Dokter Tenaga

Leaflet Audiovisual

5.PPPM 6.PKM

Kelompok masyarakat

Promotif preventif

Menciptakan hubungan dan komunikasi yang baik dalam keluarga dan masyarakat

Poster Leaflet Audiovisual

penyuluh Film(video) kader

7.pengobatan

Individu/keluar ga

Kuratif rehabilitatif

Bagi pasien-pasien gangguan jiwa diharapkan dapat minum obat secara teratur Penyuluhan Kesehatan jiwa Home visit pasien psikotik

Dokter Perawat

Obat psiko Farmaka

8.PHN

Keluarga Masyarakat

Promotif Preventif Rehabilitatif

Penyuluhan:kesehatan jiwa

Perawat Kader

Leaflet Slides/over head Kendaraan untuk home visit

9.UKS

Anak didik Pendidik&stafn ya Orang tua

Promotif preventif Rehabilitatif

Deteksi dini gangguan kesulitan belajar, gangguan perkembangan Rujuk bila dicurigai adanya kelainan ke RS

Poster Leaflet Audiovisual

218

Jiwa

10. Gigi dan mulut

Individu Keluarga

Preventif kuratif

Pemeriksaan dan pengobatan gigi pasien gangguan jiwa karena mereka sering tak mengurus kebersihan gigi Menyampaikan pada keluarga agar memperhatikan kebersihan gigi pasien

Alat-alat kedokteran gigi

11.Kesehatan jiwa

Lihat kegiatan khusus tentang kesehatan jiwa

12.laboratoriu m

individu

Preventif kuratif

Laboratorium rutin Pemeriksaan khusus sesuai kebutuhan

Laborant

Alat lab dan zat kimia untuk peme riksaan poster leaflet poster leaflet audiovisual film video alat peraga

13.UKM/PK dasar

Masyarakat kelompok

Promotif Preventif

Penyuluhan kesehatan jiwa

Dokter Perawat

poster leaflet

219

USILA Individu Kelompok Masyarakat Pencegahan Kuratif Rujukan Penyuluhan tentang kesehatan jiwa usia lanjut Pengobatan pasien USILA sengan gangguan jiwa Rujuk pasien ke RS bila mengalami kesulitan Dokter Perawat Kader poster leaflet film audiovisual 15.kesehatan olah raga Keluarga Individu Masyarakat Pencegahan Kuratif Penyuluhan tentang pentingnya olahraga bagi kesehatan mental Peragaan olahraga kesehatan jasmani Dokter Perawat Kader Video Alat peraga 220 .tertentu Kader 14.

Gangguan psikosis Adalah suatu keadaan yang nmenimbulkan ketidakmampuan berat pada seseorang untuk menilai realitas Gaduh gelisah Perilaku abnormal Gangguan tidur Rasa curiga Keluhan somatik yang aneh Rasa sedih yang tak wajar Waham/halusinasi Hilangnya perhatian terhadap kebersihan. kirim ke RS Jiwa terdekat TINDAK LANJUT 221 . keluhan fisik a.2.ansiolitika Misal diazepam 3x2 mg atau dobazam 3x10 dipertahankan hingga 4 minggu Bila tidak ada perbaikan dalam 2 minggu rujuk ke bagian psikiatri RS umum/RS jiwa terdekat Bila dalam waktu 4 minggu tidak memperihatkan kemajuan atau pasien sangat gaduh gelisah&membahayaka n diri atau orang sekitarnya. somatik antara lain: sakit kepala pusing nyeri atau rasa tak enak didada 1. Rasa cemas ini dirasakan bila b. vegetatif antara lain jantung berdebar 1.dosis optimal 2. Kegiatan Khusus PENANGANAN PASIEN DENGAN GANGGUAN JIWA DIAGNOSIS GEJALA KLINIS PENGOBATA N 1.keluara dan pekerjaan Major tranqulizer umpama klorpromazine hingga gejala klinis berkurang Dosis awal dapat dimulai dengan 3x50 mg/hari ditingkatkan secara bertahap 3x100 mg dan seterusnya hingga pasien tenang.simtomatik Sesuai dengan keluhan pasien 2. keseimbangan atau kehidupan individu.Gangguan kecemasan (anxietas) Adalah perasaan tidak menyenangkan yang disebabkan oleh dugaan akan bahaya atau frustrasi yang mengancam dan akan membahayakan rasa aman.

retardasi mental -tidak ada terapi 222 .individu berusaha menguasai/menghadapi suatu situasi atau keadaan tertentu mual diare/abatisasi keringat dingin nafsu makan menurun sesak nafas mg 3. gangguan depresi Adalah satu bentuk ganggua kejiwaan pada alam perasaan seseorang yang bercorak disforik yang ditandai dengan perasaan murung. rasa sedih yang mendalam. Rasa sedih yang mendalam Gangguan tidur terutama Simtomatik sesuai dengan keluhan Antidepresan Bila selama 3 minggu tak ada perbaikan rujuk ke bagian jiwa RS umum/RS jiwa terdekat terbangun dini hari misalnya Hilangnya perhatian terhadap pekerjaan dan amitriptilin 3x25 mg selama 3 minggu Bila ada kecemasan beri ansiolitika Berikan support agar pasien merasa aman rasa tak berdaya. berikan support agar pasien merasa aman 2. retardasi mental 1. putus asa keluarga tak berguna Menangis tanpa sebab Hilangnya nafsu makan Konstipasi Pembicaraan dan aktivitas 4.takut mati Sulit tidur 3.keluhan psikis Gelisah Takut tak wajar umpama takut gila.

yaitu adanya gangguan perkembangan fisik dan bicara yang lambat. -memerlukan -tidak ada terapi khusus -memberi pengertian pada keluarga agar dapat menerima keadaan anak -memberikan 223 .retardasi mental sedang(mampu latih) –gejala sudah tampak sejak kecil.Adalah suatu keadaan dimana fungsi intelektual umum di bawah rata-rata yang terdapat dalam periode perkembangan(sebelum usia 18 tahun) disertai ketidakmampuan proses belajar atau adaptasi ringan(mampu didik): -80% dari seluruh retardasi mental -mulai tampak pada usia sekolah: Sering tak naik kelas Memerlukan bantuan untuk mengerjakan pekerjaan rumah atau kebutuhan pribadi Terdapatnya perilaku antisosial Biasanya anak dapat menyelesaikan pendidikan sampai tamat SD khusus -bimbing keluarga agar dapat menerima keterbatasan anak -latih anak agar dapat mandiri Menganjurkan orang tua agar konsultasi lebih lanjut ke RS jiwa terdekat 2.

faktor psikologis yang mempengaruhi kondisi fisik(dulu dikenal sebagai gangguan psikosomatik atau psiko fisiologik)adalah suatu kondisi/penyakit yang mempunyai makna tertentu yan diberikan oleh individu terhadap suatu stimulus lingkungan dan timbulnya penyakit itu mempunyai hubungan waktu dengan stimulus lingkungan tersebut Gejala fisik yang dikeluhkan dapat mengenai semua sistem dalam tubuh seperti: -tension headache -kolon iritabel -asma psikogenik -dismenore -simtomatik sesuai dengan keluhan -membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi pasien -beri ansiolitik Bila dalam waktu 3 minggu tak ada perubahan rujuk ke RS Jiwa mungkin belajar bicara dan dilatih keterampilan untuk pemeliharaan kebersihan dasar perhatian pada orang tua untuk menerima keadaan ini 224 .retardasi mental berat dan sangat berat: -sejak lahir sudah tampak gejala perkembangan motorik yang buruk dan -tidak ada terapi khusus -anak sangat membutuhkan perhatian dan bimbingan khusus kemampuan bicara -memberi yang sangat minimal -anak hanya 5.bantuan untuk mengurus diri -gangguan latihan pada anak yang berulang agar perilaku yang jelas mampu merawat diri 3.

namun 6.penyalahgunaan zat tanpa ketergan tungan: -pola penggunaan zat patologik yang dapat bermanifestasi sebagai intoksikasi.psikogenik -dsb seperti clobazam 3x2 mg untuk mengatasi kecemasan pasien atau anti depresiva bila didapat kesan 1.gangguan penggunaan zat: Adalah suatu keadaan dimana terjadi perubahan tingkah laku yang berkaitan dengan penggunaan zat secara teratur yang mempengaruhi susunan saraf pusat zat tersebut digunakan setiap hari agar ia dapat berfungsi dengan adekuat -ketidakmampuan dalam fungsi sosial atau pekerjaan akibat pola penggunaan zat yang patologik -jangka waktu penggunaan zat ini paling sedikit 1 bulan adanya keadaan depresi Rujuk ke RS Jiwa terdekat karena merupakan masalah yang rumit dalam penanganan -memerlukan penanganan khusus -puskesmas sebaiknya hanya melakukan seteksi pada remaja 225 .

ketergantungan zat: -didapat adanya ketergantungan fisologis yang dibuktikan dengan terdapatnya toleransi atau sindrom putus zat(withdrawal) -ketidakmampuan dalam fungsi sosial atau pekerjaan. meskipun jarang manifestasi gangguan ini hanya pada ketergantungan fisiologis umpamanya:orang yang tergantung pada opioida analgesik yang diberikan atas alasan medis untuk mengurangi rasa nyeri fisik.2. Memerlukan penanganan khusus Rujuk ke RS Jiwa terdekat -kenakalan yang berlebihan dirumah atau di masyarakat Rujuk ke RS Jiwa terdekat 226 .

gangguan pada anak dan remaja umpama: 1).-melanggar peraturan atau 7.minum minuman keras.gangguan tingkah laku: Pola tingkah laku yang berulang dan menetap norma sosial dalam masyarakat -sering pula ada aktivitas seksual yang bersifat Memerlukan penanganan khusus Rujuk ke RS Jiwa terdekat hingga terjadi pelanggaran agresif hak azasi orang lain -menyalahkan orang lain dan merasa diperlakukan tidak adil -sering juga ditemukan merokok. dan penyalahgunaan zat -gangguan ini dapat berkelompok 2) gangguan pemusatan perhatian(dulu dikenal sebagai sindrom hiperkinetik)adalah:kuran g mampu memusatkan perhatian dan impulsi yang tidak sesuai dengan taraf perkembangan -tidak dapat memusatkan perhatian -mudah teralih perhatiannya -sulit konsentrasi di sekolah -sering bertindak sebelum berpikir -Konsultasi dengan RS Jiwa terdekat untuk memberikan bimbingan -Bila perlu kirim anak ke RS Jiwa 227 .

gangguan perkembangan spesifik: Adalah gangguan yang hanya meliputi segi tertentu(spesisifk)dari perkembangan yang tidak disebabkan oleh gangguan lain. melihat ke suatu -phenobarbital dengan dosis Untuk menegakkan diagnosis kirim ke RS jiwa untuk pemeriksaan lebih lengkap 228 . -efek labil -biasanya timbul sebelum usia 7 tahun -gangguan perkembangan membaca -gangguan perkembangan berhitung -gangguan perkembangan bahasa -gangguan perkembangan motorik -gangguan perkembangan artikulasi -serangan ringan berupa: *hilangnya ingatan secara mendadak dan singkat *pasien hanya berhenti sejenak dalam pekerjaannya atau pembicaraan.3).

kemudia n melanjutkan pekerjaannya untuk: *Anak:6-7 mg/kgBB *dewasa: mulai dengan 3x50 mg.arah tanpa berkedip.atau dosis sampai bebas serangan. naikkan 8. Epilepsi adalah suatu gejala klinis yang disebabkan oleh -serangan dapat pula berupa nyeri perut. sensibilitas -serangan berat berupa: penderita jatuh waktu kehilangan kesadaran dan kejang serta kontraksi otot bila kejang berhenti biasanya penderita lalu tertidur dan waktu bangun tidak ingat apa yang terjadi -serangan dapat terjadi sekali sebulan atau setiap hari -bila terjadi kejang: hindarkan pasien dari tempat atau benda yang dapat membahayakan -beri spatel diantara gigi agar lidah tidak tergigit -pasien jangan diikat 229 . lanjutkan pemberian obat sampai 3-5 tahun bebas serangan manifestasi gangguan otak gangguan dalam bentuk bangkitan yang muncul secara berkala yang disebabkan oleh lepas muatan listrik pada neuron-neuron otak secara berlebihan.

230 .

Konseling IDU IDU kecamatan Cilandak Dokter puskes IDU dan 7.0012.0012. Harm Reduction orang yang terinfeksi HIV Puskesmas kecamatan Cilandak Dokter puskes 231 .00 Dokter dan petugas puskes 6.00 Senin-Jumat jam 08.00 Dokter Puskesmas yang telah mendapat pelatihan khusus 1.00 Dokter Puskesmas yang telah mendapat pelatihan khusus 5. VCT yang mempunyai faktor resiko Puskesmas kecamatan Cilandak Puskesmas Senin-Jumat jam 08. Mental Health Nursing): kunjungan ke rumah Petugas puskesmas 4.BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN No. Kegiatan Pelayanan semi spesialis untuk Sasaran Meningkatka n persentase kunjungan dari 7% menjadi 8% Remaja mengetahui perilaku sexual yang benar Tempat Waktu Pelaksana Puskesmas kecamatan Cilandak Senin-Jumat jam 08.0012. IDU meeting IDU kecamatan Cilandak Puskesmas Setiap akhir bulan Senin –Jumat jam 08. remaja terkait dengan masalah pendidikan sexual remaja CMHN (Community- SMU seKecamatan Cilandak Dokter dan petugas Puskesmas Pasien gangguan jiwa/ suspek gangguan jiwa Orang-orang Rumah Pasien 3. pasien yang berkunjung ke UKKR Sosialisasi Kesehatan jiwa 2.0012.

8. Petugas puskes 232 . Penyuluhan HIV-AIDS Mobile VCT Penduduk kec.cilandak Orang yang beresiko Tempattempat umum Panti pijat dll Tiap bulan Tiap bulan 2 x Petugas puskes 9.

Sedangkan kegiatan diluar puskesmas terpadu dengan kegiatan pokok puskesmas lainnya. 3. serta memberkian pelayanan khusus bila diduga adanya faktor psikologi sebagai penyebab.saat ini mengambil contoh di puskesmas kecamatan Cilandak masih sangat kekurangan tenaga-tenaga profesional/SDM sehingga dalam pelaksanaan kegiatan banyak yang double job yang mengakibatkan kurang efisiennya/kurang optimal program yang sudah ada. Di Puskesmas telah dibuat unit pelayanan kesehatan jiwa dengan tujuan memberikan pelayanan keperawatan jiwa komprehensif. Kesehatan dalam hal ini diartikan sebagai suatu kondisi yang bukan hanya bebas dari penyakit.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan terciptanya derajat kesehatan masyarakat yang optimal. 2. Oleh karena itu dibutuhkan pelayanan kesehatan jiwa agar terwujud kesejahteraan mental dan sosial sehingga seseorang dapat hidup produktif. Kegiatan di puskesmas terbagi dua di luar dan di dalam Gedung.meliputi pencegahan primer. kegiatan khusus yaitu penyuluhan kesehatan jiwa dalam rangka pencegahan dan pengobatan gangguan jiwa sedini mungkin. Di puskesmas Cilandak sebagian besar telah melakukan kegiatan seperti yang dianjurkan depkes. sekunder dan tersier. Ruangan UKKR diperbesar dan disekat. 233 . Agar lebih optimal dapat dilakukan : 1. Diadakan pelatihan-pelatihan khusus. kegiatan di dalam gedung terpadu dengan kegiatan pokok puskesmas lainnya. cacat dan kelemahan tapi benar-benar merupakan kondisi yang positif dari kesejahteraan fisik. SARAN Adapun untuk dapat dilakukan semua kegiatan tersebut diperlukan dana dan tenaga kerja yang memadai. mental. dan sosial yang memungkinkan seseorang untuk hidup produktif. Perlu ditingkatkan penyediaan SDM/kaderisasi yg lebih banyak.

DAFTAR PUSTAKA 1. hlm. 2001. 234 . Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Dalam: STANDARISASI PELAYANAN KESEHATAN PUSKESMAS di DKI Jakarta.129-152. Upaya Pokok Kesehatan Jiwa.

05.UPAYA POKOK KESEHATAN MATA Penyusun : Andhini Darma Saputri Pritta Diyanti Karyaman Radita Primakirana Sediadi (030.05.178) 235 .05.170) (030.022) (030.

Indra Penglihatan merupakan syarat penting bagi upaya peningkata kualitas SDM. yaitu gambaran prediksi atau keadaanmasyarakat indonesia pada masa yang akan datang berupa ―Mata Sehat 2020/Vision 2020 – The Right to Sight ―(pemenuhan hak untuk melihat dengan 236 . karena mata merupakan jarul informasi utama (83%).1. Sebagai unit pelaksana tehnis Dinas kesehatan (UPTD).aman.2. Keterbelakangan melakukan koreksi refraksi terutama pada anak usia sekolah akan sangat mempengaruhi kemampuan menyerap materi pembelajaran dan berkurangnya potensi untuk meningkatkan kecerdasan karena 30% informasi diserap dengan melihat dan mendengar.sebagai pusat pelayanan kesehatan perorangan primer dan sebagai pusat rujukan kesehatan primer yang bertanggung jawab atas wilayah yang telah ditetapkan. produktif serta mampu berperan dalam berbagai bidang pembangunan. Dengan demikian kesehatan indera penglihatan merupakan salah satu unsur terpenting dalam upaya meningkatkan kualitas SDM agar terwujud manusia Indonesia yang cerdas.4 Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia (SDM). Puskesmas mempunyai 4 fungsi yaitu sebagai pusat pemberdayaan masyarakat.5 Untuk mewujudkan drajat kesehatan mata yang optimal telah ditetapkan visi.terjangkau dan merata.1. Pelayanan kesehatan masyarakat sektor Pemerintah di Kabupaten/Kota terdiri atas pelayanan kesehatan dasar dan rujukan.4 Indera penglihatan merupakan salah satu alat tubuh manusia yang mempunyai fungsi sangat penting untuk memungkinkan manusia menerima informasi dari lingkungan kehidupan sekitarnya sehingga mampu beradaptasi dan mempertahankan hidup dalam lingkungannya dan menghindarkan diri dari berbagai ancaman yang mungkin terjadi.efisien.BAB I PENDAHULUAN Undang-undang No.Puskesmas dengan kegiatan Upaya Kesehatan Masyarakatnya menyebabkan puskesmas mempunyai peran penting dalam meningkatkan daya ungkit yang besar dalam pembangunan kesehatan di Indonesia karena Puskesmas menrupakan ujung tombak pembangunan kesehatan. 36 tahun 2009 mengamanatkan bahwa pemerintah harus menyediakan pelayanan kesehatang yang bermutu.sebagai pusat pelayanan kesehatan masyarakat.

3 juta (7. Prevalensi nasional penderita Katarak sendiri pada penduduk umur >30 tahun adalah 1.2. prevalensi nasional Kebutaan adalah 0. maju. produktif. Jawa Tengah. Sulawesi Selatan. 1 Berdasarkan laporan hasil Riskesdas/ Riset Kesehatan Dasar Nasional tahun 2007. dan penyakit-penyakit lain yang berhubungan dengan lanjut usia (0. kebutaan akan menjadi masalah kesehatan masyarakat bila prevalensinya 0. Sebanyak 11 provinsi mempunyai prevalensi Kebutaan diatas prevalensi nasional. Kepulauan Riau. yaitu Nangroe Aceh Darussalam. menggalang kemitraan dengan masyarakat dan pihak-pihak terkait di dalam dan di luar negri untuk mewujutkan mata sehat 2020. masyarakat dan negara lebih-lebih dalam menghadapi pasar bebas. Bengkulu.38 %). Bila 237 . Konyama. dalam kerangka mewujudkan manusia Indonesia yang cerdas.optimal bagi setiap individu). jumlah penduduk usia lanjut di Indonesia pada tahun 2025 akan mengalami peningkatan sebesar 414% dibandingkan dengan keadaan pada tahun 1990. menunjukkan angka kebutaan 1. Gorontalo.5%-1%. Jumlah dimaksud cenderung akan bertambah besar karena berdasarkan laporan Biro Pusat Statistik tahun 1993 . Nusa Tenggara Timur. dan sejahtera lahir batin. memfasilitasi pemerataan pelayanan kesehatan mata yang bermutu dan terjangkau. Nusa Tenggara Barat. visus < 3/60). Bali.1 WHO memperkirakan terdapat 45 juta penderita kebutaan di dunia.9% (berdasarkan hasil pengukuran. tetapi juga menimbulkan dampak sosial ekonomi bagi lingkungan.8%. di mana sepertiganya berada di Asia Tenggara. keluarga. Jawa Barat. kelainan refraksi (0.5%.4% dari total penduduk). Untuk itu di tetapkan misi mewujutkan mata sehat melalui : promosi kesehatan dalam rangka pemberdayaan masyarakat tentang mata sehat . Lampung. mandiri. Menurut Konsultan WHO. Penyebab utama kebutaan adalah katarak (0.5 Kesehatan Indera Penglihatan merupakan syarat penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.14%). menanggulangi gangguan penglihatan dan kebutuhan di masyarakat . Dr. Survei kesehatan indera penglihatan dan pendengaran tahun 1993-1996. Besarnya jumlah penderita katarak di Indonesia saat ini berbanding lurus dengan jumlah penduduk usia lanjut yang pada tahun 2000 diperkirakan sebesar 15.2 Kebutaan bukan hanya mengganggu produktivitas dan mobilitas penderitanya.78%). glaukoma (0.20%).

238 . yang meliputi usaha-usaha peningkatan. dan pengobatan terhadap individu atau masyarakat.1 Dari masalah kesehatan mata dan kebutaan tersebut mengisyaratkan bahwa upaya kesehatan mata/pencegahan kebutaan dasar sebagai salah satu kegiatan pokok di Puskesmas akan melengkapi fungsi Puskesmas dalam memecahkan masalah kesehatan masyarakat khususnya berupa angka kesakitan mata dan kebutaan. sehingga tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat. 1 Upaya Kesehatan Mata/Pencegahan Kebutaan (UKM/PK) merupakan bentuk dari pengembangan program RENSTRANAS (Rencana Strategis Nasional) Penanggulangan Gangguan Penglihatan dan Kebutaan untuk mencapai Vision 2020.E. pencegahan.C)” . Primary Eye Care merupakan unit terdepan yang merupakan bagian integral dari Puskesmas.E.5% pada tahun 2020. Sebaliknya bila angka kebutaan < 0.telah dimulai sejak tahun 1979/1980. Pelayanan Kesehatan Mata di Puskesmas. Melalui program ini diharapkan dapat menurunkan angka kebutaan di Indonesia menjadi 1% pada tahun 2004 dan 0.5 % maka kebutaan hanya menjadi masalah klinik (medik). 1 Tujuan P.C melalui kegiatan pelayanan kesehatan mata yang diintegrasikan di Puskesmas yang merupakan pintu gerbang utama yang berhubungan langsung dengan masyarakat sehingga angka kesakitan mata dapat ditekan dan angka kebutaan serta kemunduran fungsi penglihatan dapat dihilangkan. Dengan kebijaksaan untuk penduduk yang berpenghasilan rendah baik yang tinggal dikota dan di desa mendapat prioritas.prevalensi kebutaan > 1% maka kebutaan telah menjadi masalah sosial. “Primary Eye Care (P.

3 Yang dimaksud dengan kegiatan di dalam gedung dalam UKM / PK adalah kegiatan yang terpadu dengan kegiatan pokok Puskesmas lain atau secara khusus. penilaian. analis (tenaga Laboratorium). Selain itu terdapat pula tenaga non professional yaitu kader/ tenaga relawan seperti pemuka masyarakat.BAB II PENGERTIAN Upaya Kesehatan Mata / Pencegahan Kebutaan (UKM / PK) Dasar adalah upaya kesehatan dasar dibidang UKM / PK yang dilaksanakan di tingkat Puskesmas. pelaksanaan. 3 Peran serta masyarakat adalah peran serta aktif masyarakat baik sebagai pemberi maupun penerima pelayanan dengan memobilisasi sumber daya yang tersedia dalam pemecahan masalah kesehata mata masyarakat setempat melalui perencanaan. tonometri. tes buta warna dan lapang pandang. meliputi pemeriksaan diagnostik kelainan mata. keluarga. funduskopi. penanggulangan kebutaan katarak. asisten apoteker. dan sebagainya. seperti perawat mahir mata. pembinaan. diselenggarakan secara khusus ataupun terpadu dengan kegiatan pokok Puskesmas lainnya. glaucoma dan lain-lain. 3 Tenaga professional mencakup tenaga profesional umum dan khusus. dokter gigi. dokter kecil. Tenaga profesional umum yaitu dokter dan perawat. masyarakat di wilayah kerja Puskesmas. di dalam ataupun di luar gedung oleh tenaga kesehatan Puskesmas dengan didukung oleh peran serta aktif masyarakat dan ditujukan kepada individu. seperti pemeriksaan retraksi. Tenaga profesional khusus yaitu tenaga kesehatan dengan pendidikan khusus atau tambahan di bidang kesehatan mata. dan pengembangan UKM/PK setempat. dan sebagainya3 239 . 3 Sedangkan yang dimaksud dengan kegiatan di luar gedung dalam UKM / PK adalah kegiatan yang terpadu dengan kegiatan pokok Puskesmas lainnya ataupun secara khusus meliputi skrining mata.

240 .Kebutaan adalah pengelihatan kedua mata dengan koreksi maksimal kurang dari 5 % pengelihatan normal.

3. Tujuan Umum Meningkatnya derajat kesehatan mata dalam rangka meningkatkan kualitas sumberdaya masyarakat. Tujuan Khusus 1. Meningkatnya jangkauan pelayanan refraksi sehingga masyarakat yang mengalami gangguan fungsi penglihatan dapat terlayani. sikap dan perilaku masyarakat pemeriksaan dirinya dibidang kesehatan mata dan pencegahan kebutaan. 241 . 2. Meningkatnya kesadaran. Menurunnya prevalensi kesehatan mata dan kebutaan sehingga tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat.BAB III TUJUAN A. B.

khususunya kelompok yang rawan. Sasaran Upaya Kesehatan Mata/ Pencegahan Kebutaan Semua golongan umur dengan prioritas pada masyarakat berpenghasilan rendah. c) Melakukan rujukan ke Laboratorium untuk swab vagina bagi ibu hamil dengan keluhan fluor albus atau untuk swab sekret mat pada bayi baru lahir dengan conjungtivitis d) Melakukan tindakan crede pada bayi baru lahir e) Pemberian capsul vitamin A dosis tinggi pada Balita setiap 6 bulan f) Melakukan skrining mata di masyarakat g) Memberikan pengobatan h) Melakukan pemeriksaan cisus/refraksi dan mata luar i) Melakukan pemeriksaan tekanan intraokular j) Malkukan tes buta warna k) Melakukan tes anel l) Melakukan pemeriksaan funduskopi 242 . b) Melakukan pemeriksaan mata khusus. baik individu maupun kelompok.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN Tujuan Upaya Kesehatan Mata/ Pencegahan Kebutaan Melayani pemeriksaan kesehatan mata dasar dan semi spesialis / spesialis (khusus untuk Puskesmas Pembina) untuk semua kasus mata. 2. baik yang dirawat jalan ataupun rawat inap. tepat dan nyaman dengan sikap yang ramah dan bertanggung jawab. Kegiatan Pelayanan Upaya Kesehatan Mata / Pencegahan Kebutaan 1. Prinsip Kerja Pelayanan diberikan secara cepat. Kegiatan a) Melakukan penyuluhan kesehatan mata termasuk pemasaran sosial di dalam maupun di luar gedung.

Tenaga: Untuk Puskesmas Pembina: a) Dokter umum terlatih 1 orang b) Dokter spesialis mata 1 orang c) Paramedis terlatih 1 orang d) Perkarya 1 orang Untuk di lapangan : Kader. Peralatan Kerja: Sesuai standard yang sudah ditetapkan untuk Puskesmas Pembina dan Puskesmas 243 .00 b) Untuk rawat inap mulai pukul 07. Waktu Pelayanan Setiap Hari a) Untuk rawat jalan mulai dari pukul 08. Pemuka Masyakarat. Kelengkapan Administrasi a) Formulir Register Harian b) Formulir Rekapitulasi Bulanan Sesuai SP2TP dan program 6.30-08.30 Kecuali untuk kasus Gawat Darurat setiap hari 4.m) Melakukan pemeriksaan lapang pandang n) Melakukan pemeriksaan laboratorium pada kasus-kasus tertentu o) Memberikan resep kaca mata p) Melakukan operasi katarak q) Mengobati glaukoma akut r) Melakukan rujukan untuk kasus-kasus yang tidak bisa ditangani s) Memotivasi masyarakat dalam UKM/PK t) Melakukan pencatatan dan pelaporan 3.30-12. Dokter Kecil. dan lain sebagainya 5.

suhu) Mencatat hasil pemeriksaan di status Membantu/asisten dokter sewaktu melakukan pemeriksaan  Dokter Umum Melengkapi anamnesa bilamana perlu Melakukan pemeriksaan umum dan mata khusus Melakukan penyuluhan individu Memberikan pengobatan/rujukan dan atau resep kaca mata b) Puskesmas Pembina  Petugas loket o Mendaftar dan membuat / mencari status o Menerima pembayaran sesuai dengan Peraturan Daerah o Membawa status ke poli mata o Mendaftar dan membuat / mencari status o Menerima pembayaran sesuai dengan Peraturan Daerah o Membawa status ke balai pengobatan o Mengambil status yang telah diperiksa dari Balai pengobatan o Mencatat di buku register 244 .7. Prosedur Tetap: a) Puskesmas  Petugas Loket  Mendaftar dan membuat/mencari status Menerima pembayaran sesuai Peraturan Daerah Membawa Status ke Balai Pengobatan Mengambil status yang telah diperiksa dari Balai Pengobatan Mencatat di Buku Register Perawat Menerima status pasien Melakukan anamnesa Melakukan pemeriksaan keperawatan (tensi. nadi R/R.

kader. dukun bersalin Poster. dokter. leaflet. KIA Sasaran Prakonsepsi Tugas Promotif Preventif Perincian Kegiatan Penyuluhan individu/kelompok di bidang kesehatan mata Tenaga Tenaga perawatan. nadi. pernafasan. Keterpaduan Upaya Kesehatan Mata/Pencegahan Kebutaan Dasar dengan Kegiatan Pokok Puskesmas Lainnya Kegiatan Pokok 1. demonstrasi makanan sehat (gizi) Pen light Kapas lidi 245 . Perawat o Menerima status pasien o Melakukan Anamnesa o Melakukan pemeriksaan keperawatan (tensi. leaflet. dokter. dukun bersalin Alat Poster. demonstrasi makanan sehat (gizi) Hamil Promotif Preventif Case finding o Kelainan mata luar o Gangguan Penyuluhan individu/kelompok di bidang kesehatan mata Anamnesa keluhan mata Tenaga perawatan. kader. suhu) o Mencatat hasil pemeriksaan di status o Membantu atau asisten dokter sewaktu melakukan pemeriksaan o Mempersiapkan pasien operasi katarak o Asisten operasi  Dokter Umum terlatih dan atau dokter spesialis mata o Melengkapi anamnesa bilamana perlu o Melakukan pemeriksaan umum dan mata khusus o Melakukan penyuluhan individu o Memberikan pengobatan/rujukan dan atau resep kacamata  Khusus untuk Dokter spesialis mata o Mekakukan operasi yang diperlukan Sasaran Upaya Kesehatan Mata/Pencegahan Kebutaan diprioritaskan pada masyarakat berpenghasilan rendah khususnya kelompok rawan tanpa mengabaikan kelompok lainnya dengan menggunakan teknologi tepat guna yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan di tingkat Puskesmas.

demonstrasi makanan sehat (gizi) Pen Light Anamnesa keluhan mata Pemeriksaan mata Bila ada keluhan/kelainan Nifas Promotif Preventif Case finding Penyuluhan kesehatan mata Anamnesa mata keluhan Tenaga perawatan. demonstrasi makanan sehat (gizi) Pen Light Pemeriksaan mata Rujukan Oftalmoskop Rujuk ke lab : swab vagina (bila ada fluor albus) Rujukan ke pengobatan bila ada keluhan/kelainan Bayi Promotif Preventif Anamnesa Case finding o Pemeriksaan mata Kelainan mata Crede pada bayi baru lahir Sanitarian Tenaga perawatan dokter Poster. swab vagina (bila ada keluhan fluor albus untuk pencegahan infeksi gonokokus pada bayi yang dilahirkan) Rujuk ke pengobatan bila ada keluhan/kelainan mata Penyuluhan kesehatan mata Steril Piringan biak agar-agar ThayerMartin atau piringan coklat Tenaga perawatan. dokter. dukun bersalin Poster. leaflet. demonstrasi makanan sehat (gizi) AgNO3 1 % tetes mata atau tetrasiklin salep mata Alat-alat (lihat hamil) lab ibu Rujukan Rujuk ke lab : bila ada secret pada konjungtiva Rujuk ke pengobatan bila ada keluhan/kelainan 246 . dokter. leaflet. kader. leaflet.pengelihatan Rujukan Persalinan Promotif Preventif Case finding Rujukan ke pengobatan Rujuk ke laboratorium. dukun bersalin Poster.

demonstrasi makanan sehat 247 . alat lab (lihat ibu hamil) Rujukan Rujuk sediaan ke lab Rujuk ke pengobatan 3. A 200.Balita Promotif Penyuluhan individu/kelompok Pembagian kapsul vit. perawatan. Gizi Balita Promotif Penyuluhan kesehatan mata Individu Kelompok Tenaga gizi. KB W. A 200. demonstrasi makanan sehat (gizi) Kapsul Vit. dll) Pemeriksaan mata Pen Light Rujukan Rujuk ke lab Rujuk ke pengobatan bila ada kelainan 2. leaflet.S (Wanita Usia Subur) Promotif Preventif Individu Kelompok Case finding o Fluor albus Pemeriksaan mata bila ada keluhan fluor albus Penyuluhan kesehatan mata Tenaga perawatan. kader Poster.000 IU Case finding o o o Kelainan refraksi Kelainan mata luar Kelainan bawaan (katarak. A dosis tinggi tiap 6 bulan Penyuluhan kesehatan mata Kapsul Vit. dokter. dokter Poster. leaflet. vit. leaflet. demonstrasi makanan sehat (gizi) Preventif Pembagian caps. A dosis tinggi tiap 6 bulan Anamnesa mata keluhan Tenaga perawatan Dokter Kader Preventif Poster.000 IU Ibu hamil/menyusui Promotif Preventif Poster. leaflet. juling.U.

petugas malaria desa. corpus alienum ekstraokuler. leaflet Senter Rujukan 6. P2M Kelompok masyarakat Keluarga Case holding Individu o o o Pemeriksaan mata Penyakit luar Buta senja Gangguan pengelihatan mata Pengobatan sederhana (sama dengan prokesa) Promotif Preventif Penyuluhan kesehatan mata Juru imunisasi. tarsotomi. tenaga perawatan. dokter (gizi) Poster. tenaga perawatan. kader Poster. peraga alat Case finding Bila ada dirujuk keluhan Kader UKS kecil (Guru dokter 7. Pengoba tan Individu Pengobatan Pengobatan terhadap :        Konjungtivitis Pterigium dan Pinguekula Defisiensi vitamin A Trakhoma tanpa Trikhiasis Blefaritis Hordeolum Glaukoma Dokter. Kesehat an lingkung an Kelompok masyarakat dan lingkungannya Perusahaan (pabrik) 5. ekstraksi. PKM Kelompok masyarakat Keluarga Individu Promotif Preventif Nasehat perkawinan (penyakit keturunan) Penyuluhan kesehatan mata Tenaga penyuluh kesehatan. pterigium 248 . dokter Promotif Preventif Penyuluhan kesehatan mata Sanitarian. leaflet.Individu kelompok 4. perawat mata Epilator Loupe Senter Speculum mata Obat-obat mata nonsteroid. alat-alat pelindung mata (lintas sektoral) Poster. perawatan. Diamox Tindakan sederhana :  Insisi hordeolum. dokter.

Gigi/Mu lut Individu Anak sekolah Kelompok Promotif Preventif Penyuluhan gigi yang berkaitan dengan kesehatan mata Penyuluhan hubungan Dokter perawat kader gigi. kader UKS kit Buku Ishihara Penyuluhan kesehatan mata Tenaga perawatan.ekstirpasi  Pertolongan pertama gawat mata Glaukoma akut Trauma kimia. UKS Anak sekolah Promotif Preventif Anamnesa Pemeriksaan : o o o o Kelainan refraksi Kelainan mata luar Tes buta warna Defisiensi vit. P.H. tumpul. gigi. kader Kesehatan Non kesehatan Idem 7 Pengobatan Rujuk ke Puskesmas untuk mendapat pengobatan 10. tajam Merujuk kasus yang tak dapat diatasi ke RS atau BKMM. Alat insisi Corpus alienum spoed Pantocain    Rujukan Formulir rujukan 8. A Penyuluhan kesehatan mata Tenaga perawatan (petugas UKS).N Keluarga Instansi Individu Promotif Preventif Case finding Kuratif Rehabilitatif Diagnostik 10 penyakit utama mata Koreksi refraksi sederhana s/d visus 5/10 Pengobatan Rujukan ke pengobatan 9. dokter. 249 .

kader 14. 15. Kesehat an Kerja Individu Kelompok masyarakat Promotif Preventif Case finding Deteksi dini kelainan mata akibat kerja Peningkatan fungsi pengelihatan dikaitkan dengan kesehatan kerja Pengobatan pada kelainan mata akibat kesehatan kerja Pengobatan/rujukan Rujukan kasus-kasus yang tidak dapat diatasi Penyuluhan Dokter. Kesehat an Jiwa Individu Keluarga Promotif Preventif kelainan gigi sebagai fokal infeksi mata Penyuluhan kesehatan jiwa yang berkaitan dengan kesehatan mata Tenaga perawatan. Kesehat an Olah Raga Individu Promotif Preventif Case finding Dokter. kader Pengobatan/rujukan Pengobatan pada kelainan/kecelakaan akibat olah raga Penyuluhan Dokter.masyarakat 11. Lab Individu Case finding 13. kader Poster. leaflet Senter Case finding Deteksi kelainan mata pada penderita kelainan jiwa Pengobatan mata Rujukan Pengobatan Puskesmas. saran rujukan Pemeriksaan laboratorium pada specimen yang berkaitan dengan kesehatan mata Penyuluhan Deteksi kelainan mata akibat olah raga Peningkatan fungsi pengelihatan dikaitkan dengan olah raga Petugas lab Alat-alat lab 12. perawat. perawat. dokter. Usila Individu Promotif 250 .

dan keluaran upaya kesehatan mata/pencegahan kebutaan dasar direkam secara terpadu dalam SP2TP. serta melibatkan masyarakat dalam perencanaan. Pencatatan dan Pelaporan Berbagai hal yang berkaitan dengan masukan. proses. kader Rujukan kasus yang tak dapat diatasi Peningkatan Peran Serta Masyarakat Kegiatannya dalam bentuk penyuluhan kesehatan termasuk pemasaran social.Keluarga Kelompok masyarakat Preventif Kuratif/rujukan Rehabilitatif Pelayanan usila kesehatan perawat. Pengembangan Kesehatan Mata Masyarakat Kegiatan dalam bentuk penampilan berbagai inovasi baru yang ditujukan pada pemecahan masalah sesuai dengan perkembangan kebutuhan dan ketersediaan sumber daya setempat dalam rangka menciptakan derajat kesehatan mata masyarakat yang optimal. 251 . dan penilaian UKM/PK Dasar dalam rangka menciptakan kemandirian masyarakat dalam memelihara kesehatan mata mereka. pelaksanaan.

30 .00 Dokter Umum Perawat Pelaksana Paramedis 2 Pengobatan Penyakit Mata Semua pasien yang berkunjung ke Poliklinik Mata Poli Mata Senin – Jumat 08.00 Dokter umum 3 Pemeriksaan oleh Spesialis Semua pasien yang berkunjung ke Poliklinik Mata dan memerlukan pemeriksaan oleh ahli Dokter Spesialis Mata 4 Pemeriksaan Khusus Mata : Pemeriksaan Visus Tonometri Pemeriksaan Khusus Mata : Funduskopi Semua pasien yang berkunjung ke Poliklinik Mata Semua pasien yang berkunjung ke Poliklinik Mata Poli Mata Senin – Jumat 08. Kegiatan Sasaran Tempat dan Waktu Pelaksana 1 Pemeriksaan penyakit Mata Semua pasien yang berkunjung ke Poliklinik Mata Poli Mata Senin – Jumat 08.30 .12.12.BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU No.12.00 Poli Mata Senin dan Kamis 08.30 .12.12.30 .00 Dokter Umum Dokter Spesialis Mata Dokter Umum 252 .00 Poli Mata Senin – Jumat 08.30 .

00 Dokter Spesialis Mata Dokter Umum Bekerja sama dengan RSCM 9 Memberikan Resep Kacamata Semua pasien yang telah dilakukan pemeriksaan visus dan memerlukan kacamata Poli Mata Senin – Jumat 08.12.00 Dokter Umum yang ditunjuk 7 Penjaringan Kasus Katarak Khusus pasien Katarak Poli Mata Senin – Jumat 08.12.00 – 12.00 Dokter Spesialis Mata Dokter Umum Perawat Pelaksana 8 Rujukan Katarak Khusus pasien Katarak Poli Mata Senin – Jumat 08.30 .5 Penyuluhan individu Semua pasien yang berkunjung ke Poliklinik Mata Poli Mata Senin – Jumat 08.30 .30 .30 .12.00 Dokter Spesialis Mata Dokter Umum 10 Operasi : Semua pasien Poli Mata Dokter Spesialis 253 .12.Minggu Satu Kali perbulan 08.00 Dokter Spesialis Mata Dokter Umum Perawat Pelaksana 6 Penyuluhan Kelompok : Retinopati Dabetikum Penderita DM pada Khususnya Aula PKM Ps.

00 Perawat Pelaksana PENILAIAN HASIL KERJA DOKTER SPESIALIS MATA BULAN JUNI 2011 PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU A.30 .00 Mata Perawat Pelaksana Terlatih 11 Melakukan pencatatan dan pelaporan Dokumen PKM kecamatan Pasar Minggu Poli Mata Senin – Jumat 08.Hordeolum Pterigium Corpus Alienum dengan keluhan yang memerlukan tindakan bedah minor Senin dan Kamis 08. TINDAKAN N 1 2 Tindakan Pemeriksaan Visus Resep Kacamata Jumlah 77 Kasus 65 Kasus 254 .12.30 .12. KASUS N 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 0 Penyakit Glaukoma Katarak Kelainan Refraksi Kelainan Kornea Konjungtivitis Trauma Corpus Alienum Pterygium Hordeolum Penyakit Mata Lain Jumlah 3 Kasus 34 kasus 80 kasus 7 kasus 31 kasus 4 kasus 3 kasus 2 kasus 24 kasus 104 kasus B.

RUJUKAN N 1 2 3 4 Penyakit Glaukoma Katarak Kelainan Refraksi Penyakit Mata Lain Jumlah 3 Kasus 9 Kasus 5 Kasus 5 Kasus 255 .3 4 5 6 7 Funduskopi Angkat Corpus Alienum Insisi Hordeolum Avulsi Pterygium Haecting Off 9 Kasus 2 Kasus 2 Kasus 1 Kasus 1 Kasus C.

PENCATATAN KASUS PERIODE JANUARI – JUNI 2011 PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU (FOTOKOPI) 256 .

memberikan resep kaca mata . Kegiatannya mencakup melakukan penyuluhan kesehatan mata. baik yang dirawat jalan ataupun rawat inap. Mengadakan program anjuran pemeriksaan mata pada hari tertentu yang ditujukan pada pasien yang datang ke puskemas baik yang mempunyai gejala penyakit mata maupun tidak. skrining mata di masyarakat. Kegiatan ini bertujuan melayani pemeriksaan kesehatan mata dasar dan semi spesialis / spesialis (khusus untuk Puskesmas Pembina) untuk semua kasus mata. pemeriksaan mata khusus. mengobati glaukoma akut. Menambah frekuensi penyuluhan tentang kesehatan mata dalam setiap bagian di Puskesmas. tindakan crede pada bayi baru lahir. KESIMPULAN Upaya Kesehatan Mata/ Pencegahan Kebutaan di Puskesmas merupakan unit terdepan yang meliputi usaha-usaha peningkatan. 257 . pemberian capsul vitamin A dosis tinggi pada Balita setiap 6 bulan. melakukan operasi katarak. pemeriksaan laboratorium pada kasus-kasus tertentu. Diharapkan dengan dilaksanakan pelbagai kegiatan ini masalah Kesehatan Indera Penglihatan di Indonesia tidak lagi menjadi masalah Kesehatan Masyarakat. tes buta warna. pemeriksaan lapang pandang. rujukan ke Laboratorium untuk swab vagina bagi ibu hamil dengan keluhan fluor albus atau untuk swab sekret mat pada bayi baru lahir dengan conjungtivitis. pengobatan. pemeriksaan tekanan intraokular. pemeriksaan funduskopi. 2. pemeriksaan refraksi dan mata luar. SARAN 1. tes anel. memotivasi masyarakat dalam UKM/PK serta melakukan pencatatan dan pelaporan. Meningkatkan sarana dan prasarana pemeriksaan kesehatan mata di Puskesmas. khususunya kelompok yang rawan. pencegahan dan pengobatan mata terhadap semua golongan umur dengan prioritas pada masyarakat berpenghasilan rendah.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. 3. B.

Meningkatkan peran serta setiap keluarga dalam ikut membantu memelihara kesehatan mata seluruh anggota keluarga.4. 258 .

com/sss155-slide-pelayanan-kesehatan- mata-melalui-puskesmas-pdf-d68637011 2.ditplb.ac. Azrul Azwar.id/profile.pdf 5. Available: http://ebookbrowse.php?id=74 259 .DAFTAR PUSTAKA 1. Prof. Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta.unpad. Standarisasi Pelayanan Kesehatan Puskesmas di DKI Jakarta. Pelayanan Kesehatan Mata Melalui Puskesmas. 3. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar Nasional 2007. MPH. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI.id/wpcontent/uploads/2009/09/penanggulangan_kebutaan_katarak_terpadu.or. 4. Departemen Ilmu Kesehatan Mata FK USU. Kebijakan Pelayanan Kesehatan mata. Available at : http://www. Dr. http://pustaka.

Aziz (03005131) (03006294) 260 .PROGRAM KEGIATAN USIA LANJUT Penyusun: Muh Nurul Muttaqin Adilah Bt.

Mereka termasuk dalam golongan yang patut dihargai dan dihormati sesuai dengan eksistensinya dalam strata kemasyarakatan.BAB I PENDAHULUAN Dalam kehidupan keluarga.9 tahun 1960 tentang pokok-pokok kesehatan bahwa setiap keluarga berhak memperoleh derajat kesehatan setinggitinginya. mandiri dan berguna melalui peningkatan fungsi puskesmas. Sejalan dengan hal tersebut maka jumlah usia lanjutpun meningkat. usia lanjut merupakan figur tersendiri dalam kaitannya dengan sosial budaya bangsa. Demikian pula dalam SKN bahwa tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum dari tujuan nasional. Sebagai salah satu hasil pembangunan adalah meningkatnya umur harapan hidup waktu lahir. Maka dalam upaya pemerataan pelayanan kesehatan bagi seluruh penduduk Indonesia dilakukan pembinaan kesehatan bagi usia lanjut yang bertujuan meningkatkan derajat kesehatan usia lanjut agar selama mungkin dapat aktif. usia lanjut merupakan sumber daya yang bernilai sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman kehidupan yang dimilikinya yang dapat dimanfaatkan bagi masyarakat keseluruhan. Dalam kehidupan nasional. 261 . Berdasarkan Undang-Undang No.

Peningkatan Peran Serta Masyarakat Dilaksanakn dalam bentuk penyuluhan kesehatan melibatkan masyarakat dalam perencanaan. Upaya Rehabilitatif yaitu upaya mengembalikan fungsi organ yang telah menurun B. 262 . keluarga maupun masyarakat. pelaksanaan dan penilaian upaya kesehatan usia lanjut. Yang dilaksanakan melalui beberapa upaya KEGIATAN KESEHATAN USIA LANJUT A. studi. SP2TP. dalam rangka menciptakan kemandirian masyarakat C. untuk mengembangkan peran serta masyarakat dan pelayanan di bidang upaya kesehatan usia lanjut yang dilaksanakan melalui forum mini lokakarya yang nantinya melalui stratifikasi Puskesmas dan microplanning bila telah dilaksanakn secara nasional dalam rangka mencapai derajat kesehatan usia lanjut secara optimal.BAB II PENGERTIAN Program Kegiatan Usia Lanjut di Puskesmas adalah merupakan upaya kesehatan paripurna di bidang kesehatan usia lanjut. Upaya promotif yaitu upaya menggairahkan semangat hidup bagi usia lanjut agar mereka tetap dihargai dan tetap berguna bagi dirinya senndiri. Upaya Preventif yaitu upaya pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya penyakit maupun komplikasi penyakit yang disebabkan oleh proses penuaan. 3. Pengembangan Upaya Kesehatan Usia Lanjut Pengembangan upaya kesehatan usia lanjut di puskesmas adalah suatu upaya dalam menggunakan data yang diperoleh dari survey. 2. Upaya kuratif yaitu upaya pengobatan bagi usia lanjut 4. Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut : 1.

Pencatatan dan pelaporan Diintegrasikan kedalam sistem pencatatan dan pelaporan terpadu Puskesmas. Peningkatan Umur harapan hidup dari tahun ketahun semakin meningkat berdasarkan hasil survei Kesehatan Rumah Tangga ( SKRT ) thn 1995 angka kesakitan pada usia 45-49 tahun sebesar 11.2%.dan angka kesakitan pada usia di atas 60 tahun sebesar 9.D.6%. Pengertian Usia Lanjut adalah suatu proses alami yang tidak dapat di hindarkan. 263 .

Meningkatnya kemampuan dan peran serta masyarakat dalam menghayati dan mengatasi masalah kesehatan usia lanjut secara optimal c. Meningkatnya jangkauan pelayanan kesehatan usia lanjut d. TUJUAN KHUSUS : a. Meningkatnya jenis dan mutu pelayanan kesehatan usia lanjut 264 . Meningkatnya kesadaran pada usia lanjut untuk membina sendiri kesehatannya b. B. TUJUAN UMUM : Meningkatnya derajat kesehatan usia lanjut untuk mencapai masa tua yang bahagia dan berdaya guna dalam kehidupan keluarga dan masyarakat sesuai dengan eksistensinya dalam strata kemasyarakatan dalam mencapai mutu kehidupan usia lanjut yang optimal.BAB III TUJUAN A.

Kesegaran jasmani yang dilakukan secara teratur dan disesuaikan dengan kemampuan usia lanjut agar tetap merasa sehat dan segar d. Pembinaan mental dalam peningkatan ketaqwaan kepada tuhan Yang Maha Esa. e. alat bantu dengar dan lain-lain agar usia lanjut tetap memberikan karya dan tetap merasa berguna d. Penyuluhan untuk mencegah terhadap kemungkinan terhadap terjadinya kecelakaan pada usia lanjut 265 . Upaya preventif dapat berupa kegiatan antara lain: a.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN I. Meningkatkan kegiatan sosial di masyarakat 2. Upaya promotif yaitu upaya menggairahkan semangat hidup bagi usia lanjut agar mereka tetap dihargai dan tetap berguna bagi dirinya senndiri. KEGIATAN KESEHATAN USIA LANJUT A. Pemeriksaan kesehatan secara berkala dan teratur untuk menemukan secara dini penyakit-penyakit usia lanjut b. Membina ketrampilan agar dapat mengembangkan kegemaran sesuai dengan kemampuan f. Upaya Preventif yaitu upaya pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya penyakit maupun komplikasi penyakit yang disebabkan oleh proses penuaan. Upaya promotif dapat berupa kegiatan penyuluhan tentang : a. keluarga maupun masyarakat. Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut : 1. Makanan dengan menu yang mengandung gizi seimbang c. Penyuluhan tentang penggunaan berbagai alat bantu misalnya: kacamata. Kesegaran jasmani yang dilakukan secara teratur dan disesuaikan dengan kemampuan usia lanjut agar teaep merasa sehat dan segar c. Kesehatan dan pemeliharaan kebersihan diri b.

dalam rangka menciptakan kemandirian masyarakat C. untuk mengembangkan peran serta masyarakat dan pelayanan di bidang upaya kesehatan usia lanjut yang dilaksanakan melalui forum mini lokakarya yang 266 . aktifitas didalam maupun diluar rumah d. pelaksanaan dan penilaian upaya kesehatan usia lanjut. Mengembalikan kepercayaan terhadap diri sendiri dan memperkuat mental penderita c. Nasihat cara hidup yang sesuai dengan penyakit yang diderita e. Pelayanan kesehatan spesialistik melalui sistem rujukan 4. Memberikan informasi. Pengembangan Upaya Kesehatan Usia Lanjut Pengembangan upaya kesehatan usia lanjut di puskesmas adalah suatu upaya dalam menggunakan data yang diperoleh dari survey. Upaya kuratif yaitu upaya pengobatan bagi usia lanjut Upaya kuratif dapat berupa kegiatan sebagai berikut: a. Pembinaan mental dalam meningkatkan ketaqwaan kepada tuhan Yang Maha Esa 3. studi. pelayanan dan pengetahuan tentang penggunaan berbagai alat bantu misalnya: kacamata. Perawatan fisioterapi B. alat bantu dengar dan lain-lain agar usia lanjut tetap dapat memberikan karya dan tetap merasa berguna sesuai kebutuhan dan kemampuan b. Pelayanan kesehatan dasar b. SP2TP. Pembinaan usia lanjut dalam hal pemenuhan kebutuhan pribadi. Upaya Rehabilitatif yaitu upaya mengembalikan fingsi organ yang telah menurun Upaya rehabilitatif dapat berupa kegiatan antara lain: a. Peningkatan Peran Serta Masyarakat Dilaksanakn dalam bentuk penyuluhan kesehatan melibatkan masyarakat dalam perencanaan.e.

D. didalam keluarga maupun masyarakat luas dengan paket pembinaan yang meliputi KIE dan pelayanan kesehatn fisik. Kelompok usia menjelang usia lanjut (45-54 tahun) atau dalam masa virilitas. dengan paket pembinaan yang meliputi KIE dan pelayanan kesehatan agar dapat selama mungkin mempertahankan kemandiriannya 2. organisasi masyarakat usia lanjut dan masyarakat pada umumnya. Sasaran langung : a. II. Keluarga dimana usia lanjut berada b. Organisasi sosial yang berkaitan dengan pembinaan usia lanjut 267 . gizi agar dapat mempersiapkan diri dalam menghadapi masa tua b. dengan paket pembinaan yang meliputi KIE dan pelayanan agar dapat mempertahankan kondisi kesehatannya dan tetap produktif c. hidup sendiri. Kelompok usia lanjut dalam masa prasenum (55-64 tahun) dalam keluarga. Kelompok usia lanjut dalam masa senescens (> 65 tahun) dan usia lanjut dengan resiko tinggi (>70 tahun). SASARAN 1. cacat dan lain-lain. terpencil. menderita penyakit berat.nantinya melalui stratifikasi Puskesmas dan micro-planning bila telah dilaksanakn secara nasional dalam rangka mencapai derajat kesehatan usia lanjut secara optimal. Pencatatan dan pelaporan Diintegrasikan kedalam sistem pencatatan dan pelaporan terpadu Puskesmas. Sasaran tidak langsung : a.

PUSKESMAS KECAMATAN MAMPANG PRAPATAN Sasaran Pembinaan kesehatan pada kelompok Usia Lanjut di puskesmas kecamatan mampang: 1.DATA LANJUT USIA PER KELURAHAN KECAMATAN MAMPANG PRAPATAN TAHUN 2010 268 . kelompok Usia lanjut 60-69 tahun 3. TABEL. Kelompok Usia 45-59 tahun 2.BAB V PELAKSANAAN DI PUSKESMAS A. Kelompok Usia 70 tahun atau dengan resiko tinggi dengan masalah Kesehatan.1.

KEGIATAN LANSIA PUSKESMAS KECAMATAN MAMPANG PRAPATAN TAHUN 2010 269 .TABEL 2.

RENCANA KEGIATAN LANJUT USIA 270 .TABEL 3.

Jumlah lansia yang dibina lebih rendah dengan jumlah lansia yang ada di wilayah 271 .DIAGRAM. Tugas ganda dari petugas 3. Keterbatasan petugas dalam pembinaan terhadap lansia di wilayah binaan 4.Terbatasnya petugas Lansia di Puskesmas Kecamatan dan Kelurahan 2.10 PENYAKIT TERTINGGI PADA LANSIA DI PUSKESMAS KECAMATAN MAMPANG MASALAH DAN HAMBATAN YANG DIHADAPI DI PUSKESMAS KECAMATAN MAMPANG: 1.

855 (4.38%) Jumlah kelompok 154 klp Dibina 154 klp (100%) Jumlah Puskesmas 78 PKm (10 Kec + 68 Kel) Yg membina lansia 78 PKM (100%) I.B.PUSKESMAS LAIN I.1.2.951 jiwa Jumlah yang dibina 13.KEGIATAN PROGRAM LANSIA DPA Sudin Kesmas Jak Selatan th 2008 :      Pertemuan Berkala Petugas Lansia Kecamatan Pemberdayaan lanjut Usia Pertemuan FKLU Peningkatan wawasan Petugas Evaluasi Program dan supervisi 272 .GAMBARAN        Jumlah Lanjut Usia Di Jakarta Selatan 315.KEGIATAN PROGRAM LANSIA JAKARTA SELATAN     Perencanaan Pelaksanaan Penilaian/ Evaluasi Pembinaan I.

JADWAL KEGIATAN LANJUT USIA 273 . PERKEMBANGAN KELOMPOK LANJUT USIA TABEL 5.TABEL 4.

06%) II.LANSIA DENGAN KELAINAN.51%) Hypertensi : 694 org (5.76%) Status Gizi (IMT) kurang IMT lebih     : 640 org (4.62%%) : 1733 org (12.48%) : 179 org (1.II.562 org : 1.29%) Gangguan Ginjal : 8 org (0.10%) B : 431 org (3.298 org : 4.HASIL KEGIATAN II.01%) Anaemi DM : 343 org (2.926 org 274 .11%)   Gangguan mental Emosional : 659 org (4.987 org Lansia diobati (kum) Lansia dirujuk Kasus konseling baru Kasus konseling lama Penyuluhan Lansia punya KMS : 13.LANSIA DENGAN KELAINAN :  Kemandirian A : 15 org (0.DI OBATI DAN DIRUJUK        Juml Lansia dg Kelainan : 9.1.539 org : 1.026 org : 59 org : 3.2.

962 Sal nafas atas 17.402 Hipertensi 21.899 Kulit 11.718 Mata 3.123 Mata 2.501 Gimul 6917 Gastritis 6.007 penyakit GRAFIK 1.687 Gimul 14.958 Rematik 14.475 DM 5.256 Rematik 16.383 Jantung 1.711 Anemi 916 Lain –lain 15.154 Penyakit Usia >60 tahun 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Hipertensi 19. LANSIA YANG DIRUJUK DAN DIOBATI 275 .131 Gastritis 10.067 Anemi 944 Lain-lain 22.136 Jantung 1.762 Kulit 6400 Dm 5.TABEL 6. PENYAKIT TERBANYAK LANSIA Usia 45-59 tahun 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Sal nafas atas 33.

GRAFIK 2. JUMLAH LANJUT USIA GRAFIK 3.STATUS GIZI LANJUT USIA 276 .

GRAFIK 4.KEMANDIRIAN LANJUT USIA GRAFIK 5.LANSIA YANG ADA DAN DILAYANI KESEHATAN 277 .

LANSIA YANG DIRUJUK DAN DIOBATI JENIS OLAH RAGA LANSIA JAKARTA SELATAN:     Tebet : Tera & pernafasan. Aerobik. Aerobik.Yoga. SKJ. DM. BL. Osteoporosis. Kreasi Jagakarsa : SSI. Kreasi       Kebayoran Baru : Jantung sehat. SKJ. Tera & pernafasan. Jantung sehat. Ayo Bersatu. SKJ.GRAFIK 6. Kreasi Pancoran :Osteoporosis.Jantung sehat. Snm Osteoporosis. Senam Otak. SKJ. Kreasi Cilandak : Tera & pernafasan. Tera & pernafasan. Kreasi. Pesanggrahan : PORPRI.Tera . Tera & Pernafasan Kebayoran Lama : Tera & pernafasan. SKJ. Snm DM. SKJ. SKJ. SKJ. KesJas Lansia.SN. Senam DM. SKJ. Snm Jantung. Kreasi 278 . Kreasi Pasar Mgg : SSI. Jantung sehat. Osteoporosis Setiabudi : Tera & pernafasan. Mahatma Mp Prapatan : Tera & pernafasan.

36%) Mp Prapatan 240/554 (43.78%) Total 2843/8785 (32.44%) Pancoran 231/528 (43.FREKUENSI SENAM DAN ANGGOTA YANG SENAM FREKUENSI SENAM           PRESENTASE ANGGOTA YANG SENAM Tebet 1x / mgg Setiabudi 2-4x/ mgg Mp Prapatan 2-3x/ mgg Psr Mgg 1/2x/ mgg Keby Baru 1-5x/ mgg Kby Lama 2x/ mgg Cilandak 1-2x/ mgg Pancoran 1-3x/ mgg Jagakarsa 1-2x/ mgg Pesanggrahan 2-4x/ mg            Tebet 280/2484 (11. pencapaian 100%  50% Desa mempunyai Kelompok Lansia.90%  50% Kelomp Lansia melaksanakan senam . pencapaian 90% (9 dari 10 Puskesmas Kecamatan melaksanakan konseling Kegiatan Non Medis  70% Puskesmas membina kelompok lansia.62%) Kby Lama 220/503 (43. pencapaian 48.27%) Setiabudi 185/417 (44. pencapaian 50%  100% lansia dipanti diskrining. pencapaian 22.74%) Cilandak 176/511 (34.32%) Psr Mgg 570/1882 (30.29%) Keby Baru 295/458 (64.75) Jagakarsa 441/803 (54.36%) Keberhasilan Program berdasar indikator (Depkes). Pelayanan Medis  30% lansia diskrining.TABEL. pencapaian 100% 30% Puskesmas melaksanakan konseling.70% 279 .92%) Pesanggr 205/645 (31.

280 . pencapaian 27% Kegiatan Sudin Kesehatan (DASK)  1 dari 6 kegiatan tidak dapat dilaksanakan.Sasaran mutu Lansia  Target 20% penambahan jumlah lansia dibina.

281 .4%) Sasaran mutu lansia  Sasaran mutu tercapai yaitu 27. Kegiatan Sudin Kesehatan (DASK) terealisasi 5 kegiatan dari 6 yg ditargetkan. Pembentukan kelompok lansia di tiap RW.75%)  Skrining kesehatan lansia dipanti ―baik‖ (100%)  Puskesmas yg melaksanakan konseling status ―baik‖ (90%).BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Keberhasilan berdasar Indikator : Pelayanan Medis  Skrining pada lansia status ―kurang‖ (16. status ―kurang‖ (45. Pembinaan terhadap kelompok lansia ditingkatkan.75% (target 20%).8%)  Kelompok lansia yg senam. status ―baik‖ (97. SARAN • • • • Ada kaderisasi lansia. Kegiatan non Medis  Puskesmas membina kelompok lansia. Meningkatkan Kreatifitas kegiatan lansia sesuai dengan tingkat kemandiriannya. status ―baik‖ (100%)  Desa yang mempunyai kelompok lansia.

Upaya kesehatan usia lanjut. Jakarta : Depkes RI. Buletin Penelitian kesehatan 21 (4) Hal 73 -83. Zuhdi Makmun. 3. Nomor 59 Tahun 1998. Jakarta: depkes RI. Johana E. 282 . Pedoman kerja puskesmas Jilid IV. Usia Lanjut Bagi Petugas Kesehatan. laporan tahunan 2010.BAB VII DAFTAR PUSTAKA 1. 1998. Jakatra : puskesmas mampang prapatan. Undang-Undang RI No 23 Tahun 1992. Aspek Sosial Psikologi Usia Lanjut Di Indonesia. 4. 1990 5. 2010. Pasal19 ayat 1 6. 2. Pendekatan Komprehensif Terhadap Perawatan Kesehatan Pada Usia Lanjut Menjelang Tahun 2000. Prawitasari. Tentang Kesehatan. Majalah Kesehatan Masyarakat.

UPAYA PEMBINAAN PENGOBATAN TRADISIONAL Penyusun : Michael Gunawan (03006116) Raihana Shahar (03006342) 283 .

Salah satu upaya di atas adalah pengembangan pengobatan tradisional melalui pemanfaatan tanaman obat dan pijat akupresur yang merupakan alternative pengobatan dalam mengatasi masalah kesehatan terutama sebagai upaya pertolongan pertama. penyebarluasan pengetahuan tentang cara–cara mengatasi gangguan kesehatan. berperan juga sebagai motivator dan komunikator pembangunan kesehatan. tingkat pelayanan kesehatan dasar (puskesmas) sampai dengan tingkat rumah sakit sebagai dukungan rujukan. Di tingkat rumah tangga dan tingkat pelayanan kesehatan dasar. keberadaan pengobatan tradisional mempunyai potensi besar dalam rangka ikut meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. 284 . Disamping itu. dilaksanakan melalui jaringan pelayanan kesehatan paripurna mulai dari tingkat rumah tangga. Pemerintah juga telah memasukkan obat tradisional ke dalam sistem pelayanan formal. pembinaan pengobatan tradisional dilaksanakan melalui pendekatan PKMD (Primary Health Care) dengan salah satu strategi penting adalah teknologi tepat guna metode pengobatan tradisional. Di Indonesia pada saat ini upaya pengobatan tradisional dengan obat tradisionalnya berperan pada tingkat rumah tangga dan tingkat masyarakat. dengan pemanfaatan tanaman obat dan akupresur perlu diberikan kepada masyarakat. pembinaan pengobatan tradisional yang mencakup cara atau metode.BAB I PENDAHULUAN Sesuai dengan kebijaksanaan yang ditetapkan. obat dan pengobatannya. Disamping itu upaya pengobatan tradisional sangat bermanfaat dalam upaya meningkatkan kesehatan maupun upaya pencegahan dan pemulihan kesehatan. Selain cara pengobatan tradisional tersebut. Dalam rangka meningkatkan kemandirian masyarakat untuk mengatasi masalah kesehatan. Di samping itu. para pengobat tradisional yang berada di wilayah kerja puskesmas perlu dibina melalui KIE kultural dengan fasilitator petugas puskesmas agar dapat terhindar dari hal – hal yang tidak diinginkan.

mencegah penyakit tertentu. Sesuai hasil inventarisasi jenis tenaga pengobatan tradisional meliputi akupunturis. tabib. pijat refleksi. dan pengobatannya. serta memulihkan kondisi tubuh. obat. sediaan (galenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun – temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman (UU Kesehatan No. sehingga dengan pemberian rangsangan pada titik–titik tersebut akan mengubah kondisi fisiologis tubuh. Pengobatan tradisional (batra) adalah seseorang yang diakui dan dimanfaatkan sebagai orang yang mampu melakukan pengobatan secara tradisional. pijat urut. Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan (termasuk tanaman yang ada di sekitar tempat tinggal).23/1992). dan paranormal.23/1992). Titik–titik yang diberi perlakuan dalam sistem pengobatan akupresur telah terbukti secara medis berpengaruh terhadap keadaan tubuh. batra sunat. sinshe. jamu gendong.BAB II PENGERTIAN Pengobatan tradisional adalah upaya pengobatan dan atau perawatan cara lain diluar ilmu kedokteran atau ilmu keperawatan yang mencakup cara atau metode. Sinkronisasi antara pemijatan di titik tertentu dengan kondisi fisiologis tubuh dapat dijelaskan secara ilmiah dan medis. akupresuris. batra ramuan. pangur gigi. dan penyakit ringan. yang mengacu pada pengetahuan. bahan hewan. pendekatan agama. dan keterampilan turuntemurun baik itu yang asli maupun yang berasal dari luar Indonesia dan diterapkan sesuai norma yang berlaku dalam masyarakat (UU Kesehatan No. Akupresur adalah tindakan pemijatan yang dilakukan pada titik tertentu di permukaan tubuh dengan tujuan meningkatkan daya tahan tubuh. mengatasi keluhan. bahan mineral. tenaga dalam. patah tulang. 285 . pengalaman.

serta akupresur di wilayah tempat kerja. 3. Terbina sarana – sarana pengobatan tradisional dan akupresur di wilayah tempat kerja.BAB III TUJUAN III. 286 . Terbina semua tenaga pengobatan tradisional yang ada di wilayah kerja. dan kegiatan pengobatan tradisional. 2. Terbina tenaga potensial dalam masyarakat dalam mengembangkan pengobatan tradisional dan akupresur.1 Tujuan Umum: Dilakukannya pembinaan terhadap semua sarana.2 Tujuan Khusus: 1. tenaga. III.

1. 2. Pelatihan obat tradisional terutama yang berasal dari tanaman obat termasuk TOGA dan akupresur pada kader PKK atau Kesehatan. c. pemuka masyarakat atau tokoh masyarakat. KIE Kultural adalah suatu forum komunikasi. Inventarisasi atau pendataan jenis pengobatan tradisional. b. Pembinaan batra melalu sarasehan (KIE Kultural). Sasaran langsung. Pembinaan semua tenaga pengobatan tradisional yang ada di wilayah kerja. Sasaran tidak langsung. Ibu Rumah Tangga.1 Kegiatan a.  Masyarakat umum. Pengawasan sarana pengobatan tradisional dan akupresur. 2. informasi dan edukasi yang disesuaikan dengan adat istiadat / budaya setempat dan bersifat kekeluargaan.  Kader PKK atau Kesehatan. Pembinaan dan pengawasan kegiatan kader paska pelatihan. 1. Pembinaan tenaga potensial masyarakat dalam mengembangkan pengobatan tradisional dan akupresur. 287 .2 Sasaran a. b. Pendataan sarana – sarana pengobatan tradisional dan akupresur. Pembinaan sarana – sarana pengobatan tradisional dan akupresur. IV. 1.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN IV. 2. Pengobat Tradisional.

pelaksanaan dan aturan rujukan kasus yang harus dirujuk oleh kader 3. latihan meracik obat tradisional atau akupresur.Perawat yang dengan atau dapat obat pijat penyelenggaraan kepada penyuluhan masyarakat oleh kader.Dokter . untuk penyuluhan kasus-kasus rujukan. Pembinaan Kader setelah pelatihan . Pengawasan Kader paska pelatihan .Pelaksanaan pelatihan: Pelaksana .BAB V PENATALAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN MAMPANG A. pemilihan kasuskasus ditangani tradisional akupresur 2.Dokter .Melakukan untuk koordinasi .Bidan penyuluhan kader memecahkan yang ditemui . Kegiatan 1.Perawat .Bidan penyuluhan.Membantu masalah kader 288 ke tempat .Persiapan pelatihan .Perawat .Kunjungan . Pembinaan tenaga potensial masyarakat. demonstrasi obat tradisional atau akupresur. Pelatihan Kader Bentuk kegiatan .

Pembinaan sarana – sarana pengobatan tradisional dan akupresur Kegiatan 1.Mengawasi keracunan dan kejadian luar biasa yang mungkin terjadi .Bidan dengan syarat kesehatan .Mengawasi system rujukan dari kader ke puskesmas atau fasilitas pelayanan untuk tertentu kesehatan kasus–kasus B.Perawat sarana–sarana pengobatan . misalnya memonitor tradisional dan akupresur kegiatan yang dilakukan tenaga terampil yang ada. Pembinaan sarana–sarana pengobatan dan akupresur tradisional tradisional Bentuk kegiatan Mendata sarana–sarana .Melakukan kunjungan ke .Bidan tradisional atau akupresur.Perawat . Pendataan sarana–sarana pengobatan dan akupresur 2.Dokter ..Melakukan koordinasi untuk pengawasan penyakit menular atau kejadian luar biasa sarana– pengobatan dan peristiwa keracunan 3. 289 .Melakukan perbaikan saran usulan sesuai . Pengawasan sarana .Bidan Petugas pengobatan tradisional dan akupresur yang ada di wilayah kerja .Perawat .Mendata kegiatan yang dilakukan kader .

Petugas kesehatan tradisional yang ada di .Melakukan .Membuat catatan kegiatan yang dilakukan oleh sarana– sarana di atas . Pendekataan dan seleksi batra .Semua dalam pemecahan masalah yang dihadapi yang proses terlibat berada dalam kedudukan yang sama baik hak dan 290 . dan dengan kultural . Inventarisasi pendataan atau jenis Bentuk kegiatan Pelaksana .Bidan pengetahuan keterampilan pendekatan (budaya setempat) sesuai dengan modul . Pelaksanaan (KIE Kultural) sarasehan .Petugas kesehatan 3. Pembinaan seluruh jenis pengobatan tradisional Kegiatan 1.keadaan lingkungan sanitasi .Hasil inventarisasi dipilih 10 – 15 batra untuk ikut KIE Kultural .Kader wilayah tempat kerjanya.Mendata jenis pengobat .Mengatasi lingkungan di sanitasi sarana– sarana tersebut C.Melakukan atau alih penyuluhan informasi.Perawat . Data yang diambil adalah jumlah dan jenis data pengobatan tradisional 2.

Pembinaan tenaga potensial masyarakat dalam mengembangkan pengobatan tradisional dan akupresur. Tenaga potensial dalam masyarakat. Jumlah pemberi pelayanan pengobatan tradisional dan akupresur. Jumlah kasus–kasus yang harus dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan. Pembinaan sarana–sarana pengobatan tradisional / akupresur Jumlah sarana pengobatan tradisional yang diusulkan untuk diperbaiki sesuai dengan syarat kesehatan. Penanganan kasus– kasus dengan obat tradisional oleh kader. Jumlah kader PKK atauKesehatan yang sudah mengikuti pelatihan. d. Jenis pengobatan tradisional yang ada di wilayah kerja puskesmas. Jumlah keluarga yang menggunakan obat tradisional dan akupresur. Jumlah ibu– ibu rumah tangga/masyarakat yang dibina oleh kader. Pendataan sarana–sarana Jumlah sarana–sarana pengobatan tradisional yang ada di wilayah kerja puskesmas. Pengawasan sarana–sarana pengobatan tradisional / akupresur Jumlah kunjungan ke sarana–sarana pengobatan tradisional per tahun per sarana.kewajiban D. c. 1. 2. Cakupan penyuluhan yang dapat dilakukan oleh kader. b. 3. Jumlah kader PKK atau Kesehatan yang aktif melakukan penyuluhan obat tradisional dan akupresur. Evaluasi program a. Jumlah keluarga yang memiliki tanaman obat tradisional. 291 . Jumlah kasus yang dapat diatasi dengan obat tradisional dan pijat akupresur.

- Jumlah kejadian luar biasa yang terjadi selama 1 tahun di sarana pengobatan tradicional. KIE Kultural. Jumlah sarana pengobatan tradisional yang sudah diperbaiki sesuai usulan puskesmas. Jumlah peristiwa keracunan yang terjadi selama 1 tahun di sarana pengobatan tradicional. 292 . E. Jumlah pengobat tradisional yang aktif sebagai motivator dan komunikator kesehatan. Jumlah pengobat tradisional yang telah ikut sarasehan. Jumlah pengobat tradisional yang memberikan pengobatan sesuai syarat kesehatan.

jamu gendong. yaitu dengan cara mencari tenaga pelatih untuk mengembangkan dan membina potensi yang ada pada orang–orang tersebut dan tetap memantau mereka setelah mereka mendapatkan pelatihan tersebut. 2. Berdasarkan data yang didapat. dan paranormal. Dari data tersebut. dengan adanya pengobatan tradisional ini menjadi solusi dalam pencegahan dan pemulihan kesehatan. VI. tenaga pengobatan tradisional tersebut terdiri atas akupunturis.2 Saran 1. 3. pendekatan agama. patah tulang. pijat urut. akupunturis dan akupresuris lebih sering dimanfaatkan di puskesmas sebagai pengobatan di luar pengobatan secara medis. pangur gigi.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN VI. Selain itu. batra ramuan. tenaga dalam. sinshe. Mendata semua sarana–sarana pengobatan tradisional yang ada dan melakukan kunjungan ke sarana–sarana pengobatan tradisional serta mencatat kegiatan apa saja yang mereka lakukan di sarana – sarana pengobatan tradisional tersebut. batra sunat. tabib. piat refleksi. Pengembangan pengobatan tradisional dilakukan dengan cara pemanfaatan tanaman obat dan pijat akupresur sebagai upaya pertolongan pertama di masyarakat. Diharapkan orang–orang yang memiliki potensi dalam mengembangkan pengobatan tradisional seperti akupuntur dan akupresur diberdayakan sebagai tenaga kesehatan di masyarakat. akupresuris. Mendata siapa saja tenaga pengobat tradisional yang ada pada suatu wilayah dan mengelompokkan mereka berdasarkan keahlian mereka. 293 .1 Kesimpulan Pengobatan tradisional merupakan salah satu tingkat pelayanan kesehatan dasar di puskesmas dimana memiliki potensi yang besar dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

1996. 4. Departemen Kesehatan RI. 1999: hal 349 – 354. 294 .informasi-obat. Jakarta. 5. diakses tanggal 18 juli 2011. 1996.surabaya-ehealth. Jilid ke-2.com/content. 2. Jakarta. Direktorat Bina Peran Serta Masyarakat Dirjen Pembinaan Kesehatan Masyarakat : Buku Pedoman Praktis Akupresur. Departemen Kesehatan RI. Upaya Pembinaan Pengobatan Tradisonal.DAFTAR PUSTAKA 1. diakses tanggal 18 Juli 2011. Departemen Kesehatan RI: Pedoman Kerja Puskesmas. Direktorat Bina Peran Serta Masyarakat Dirjen Pembinaan Kesehatan Masyarakat: Pemanfaatan Tanaman Obat Untuk Kesehatan Keluarga. Jakarta. http://www. Edisi ke-3. http://www.org/dkksurabaya/berita/pengobatan-tradisionalakupuntur. 3.

UPAYA KESEHATAN PENUNJANG LABORATORIUM Penyusun : Ktut Yoga Wira K (03004126) Norfashiha Kamarudin (03006329) 295 .

BAB I PENDAHULUAN Dalam rangka mencapai tujuan pembangunan kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. upaya kesehatan pengembangan dan upaya kesehatan penunjang. Dengan pemberian pelayanan kesehatan penunjang secara cepat dan tepat diharapkan sebagian besar masalah kesehatan masyarakat dapat diatasi. urin rutin. Ultrasonografi juga disediakan. telah dilakukan berbagai upaya pelayanan kesehatan masyarakat. tidak tersedia di Puskesmas Kecamatan Mampang karena gedung puskesmasnya sedang direnovasi. Untuk pencitraan. Berbagai pelayanan kesehatan penunjang diagnostik yang dilaksanakan oleh fasilitas pelayanan kesehatan seperti laboratorium klinik dan laboratorium kesehatan juga pencitraan. Laboratorium merupakan salah satu fasilitas medik yang disediakan sebagai penunjang diagnosis penyakit. Laboratorium juga mempunyai fungsi sebagai tempat untuk berbagai penelitian yang berhubungan dengan pembiakan media-media kuman penyakit. Upaya pelayanan kesehatan terbagi kepada tiga bagan penting yaitu upaya kesehatan wajib. Di Puskesmas Mampang. fasilitas pemeriksaan penunjang yang tersedia adalah pemeriksaan laboratorium darah rutin. feces rutin dan kimia darah. 296 . Upaya kesehatan penunjang merupakan upaya yang sangat penting dalam rangka memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat untuk menunjang upaya kesehatan wajib dan pengembangan. Jadi lokasi puskesmas sekarang berada di sebuah kontrakan yang tidak memungkinkan untuk menyediakan fasilitas rontgen. karena itu lingkungan laboratorium menjadi salah satu tempat yang baik untuk berkembangnya berbagai penyakit infeksi. antara lain HIV/AIDS.

sensitifitas antibiotika. laboratorium kimia. air limbah. menemukan antibiotika yang paling sesuai untuk mengatasi penyakit yang anda derita. Laboratorium klinik atau laboratorium medis ialah laboratorium di mana berbagai macam tes dilakukan pada spesimen biologis untuk mendapatkan informasi tentang kesehatan pasien. misalnya laboratorium fisika. Sedangkan untuk mikrobiologi dapat dilakukan pemeriksaan mikroskopis. Laboratorium biasanya dibuat untuk memungkinkan dilakukannya kegiatan-kegiatan tersebut secara terkendali. air bersih. BTA. Pelayanan individual pengguna jasa yang berkunjung ke puskesmas 2. kultur. Pemeriksaan kelompok atau masyarakat di wilayah kerja 297 .2 Pelayanan laboratorium di puskesmas terdiri dari: 1. bakteri air dan usap alat yang bertujuan untuk mengetahui kebersihan/kesehatan dari makanan yang kita konsumsi maupun peralatan masak yang digunakan. laboratorium biokimia. Laboratorium ilmiah biasanya dibedakan menurut disiplin ilmunya. dan laboratorium bahasa. eksperimen. menentukan tindakan penyembuhan dan pemulihan.BAB II PENGERTIAN Pelayanan pemeriksaan penunjang merupakan tindakan pemeriksaan kesehatan yang diselenggarakan guna melengkapi data biologic pengguna jasa yaitu dalam rangka menegakkan diagnosis. Pada laboratorium kesehatan masyarakat. jamur dan pemeriksaan garam bertujuan diantaranya untuk mengetahui pertumbuhan mikroorganisme dalam tubuh ( memastikan adanya infeksi bakteri/jamur). peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit serta mengevaluasi hasil intervensi medik.1 Laboratorium (disingkat lab) adalah tempat riset ilmiah. rektal swab pemeriksaan makanan dan minuman. laboratorium komputer. pengukuran ataupun pelatihan ilmiah dilakukan. dapat dilakukan pemeriksaan seperti pemeriksaan air minum.

b. Diketahuinya hasil intervensi medik yang telah diberikan pada pengguna jasa pelayanan kesehatan/pasien melalui perbandingan hasil pemeriksaan penunjang sebelumnya dan sesudahnya. puskesmas keliling. 2.BAB III TUJUAN 1. penyembuhan dan pemulihan kesehatan yang meliputi deteksi dini. pencegahan penyakit. posyandu sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya. Tujuan khusus a. Ditingkatkannya mutu pelayanan kesehatan perorangan dengan: i. Tercapainya diagnosis yang tepat melalui lengkapnya pemeriksaan yang dilakukan ii. Tujuan umum Didukungnya upaya peningkatan kesehatan. serta pemantauan dan evaluasi terapi secara efisien dan efektif. puskesmas pembantu.1 298 . Ditingkatkannya kegiatan laboratorium kesehatan di puskesmas.

ii. misalnya kasus keracunan. iii. ii. Spesimen-spesimen untuk keperluan kultur/biakan maupun tes sensitivitas. Penanggulangan Kejadian Luar Biasa Survei penyakit-penyakit tertentu c. Spesimen lain. selsel muda darah 299 . ii. Sampel air dari sumber air yang dimanfaatkan oleh umum Spesimen tinja. v. Pemeriksaan hematologi sederhana antara lain: i. untuk keperluan tes antibodi guna menentukan penyakit-penyakit tertentu. b. melaksanakan rujukan spesimen secara horizontal antar puskesmas di wilayahnya. hitung jenis lekosit. Melaksanakan pemeriksaan laboratorium untuk mendukung program-program lain. seperti: i.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN 1. Mengumpulkan dan merujuk spesimen untuk diperiksa lebih lanjut terhadap: i. Dalam keadaan darurat/kondisi tertentu. vi. 2. Pelayanan laboratorium untuk menunjang pelayanan kesehatan di dalam wilayah kerja a. iv. gangguan metabolism dan penyakit kurang gizi. Serum. hitung retikulosit. Pelayanan laboratorium untuk menunjang pelayanan medik terpadu di puskesmas a. untuk menemukan penyebab penyakit saluran pencernaan Spesimen untuk pemeriksaan kimia klinik sehubungan dengan penyakit-penyakit yang merupakan masalah umum bagi masyarakat seperti: penyakit hati. penyakit ginjal. Hemoglobin secara ahli Sediaan apus darah tepi: morfologi sel. program perlindungan akseptor KB.

ii. iii. dll 300 . nitrat. iii. ii. ii. Pemeriksaan tinja sederhana. antara lain: i. kandidiasis e. dermatofita. Infeksi parasit: malaria. filaria. iv. Pemeriksaan cairan serebrospinal: tes Nonne. v. bakteri gram (+). antara lain: i. bilirubin.skizotomia.iii. tes Pandi Pemeriksaan cairan tubuh lainnya: tes Rivalta pada punksi pleura 3. Pemeriksaan makroskopik tinja Pemeriksaan mikroskopik tinja Pemeriksaan parasitologi d. hitung trombosit Pemeriksaan laju endap darah (LED) Pemeriksaan jumlah hematokrit b. Pemeriksaan mikrobiologi sederhana lainnya. Bila fasilitas dan tenaga memungkinkan dapat dilakukan pemeriksaan penunjang lainnya a. Pemeriksaan laboratorium lainnya. Pemeriksaan makroskopik urine Pemeriksaan mikroskopik urine Kimia urine seperti: protein. antara lain yaitu: i. BTA kerokan kulit untuk lepra. Rontgen foto (X-ray) c. Pemeriksaan hitung eritrosit. cairan uretra/secret vagina untuk GO iii. Pemeriksaan kehamilan c. ii. trikhomonas vaginalis Infeksi spesifik: BTA sputum untuk TBC. urobilinogen dan glukosa semi kuantitatif iv. USG. Pemeriksaan urine sederhana. hitung lekosit. Infeksi jamur superfisial: tinea versikolor. antara lain: i. Elektrokardiografi (EKG) b.

4. Evaluasi Penilaian mutu penyelenggaraan Sasaran dari semua kegiatan di puskesmas adalah semua pasien yang datang ke puskesmas untuk berobat. juga masyarakat sekitar yang termasuk dalam wilayah kerja puskesmas.1 301 .

2. hitung trombosit Pemeriksaan laju endap darah (LED) 302 . program perlindungan akseptor KB. Pemeriksaan hematologi sederhana antara lain: vi. sel-sel muda darah viii. ix. melaksanakan rujukan specimen secara horizontal antar puskesmas di wilayahnya. Sampel air dari sumber air yang dimanfaatkan oleh umum b. e. Melaksanakan pemeriksaan laboratorium untuk mendukung program-program lain. Spesimen lain. hitung lekosit.BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS Pelaksanaan kegiatan laboratorium di Puskesmas adalah: 1. Pemeriksaan hitung eritrosit. gangguan metabolism dan penyakit kurang gizi. seperti: a. hitung retikulosit. Dalam keadaan darurat/kondisi tertentu. Serum. d. b. Penanggulangan Kejadian Luar Biasa b. Specimen tinja. Pelayanan laboratorium untuk menunjang pelayanan medik terpadu di puskesmas d. Mengumpulkan dan merujuk specimen untuk diperiksa lebih lanjut terhadap: a. vii.Pelayanan laboratorium untuk menunjang pelayanan kesehatan di dalam wilayah kerja a. untuk keperluan tes antibody guna menentukan penyakit-penyakit tertentu. Specimen-spesimen untuk keperluan kultur/biakan maupun tes sensitivitas. misalnya kasus keracunan. penyakit ginjal. Survei penyakit-penyakit tertentu c. Hemoglobin secara ahli Sediaan apus darah tepi: morfologi sel. Specimen untuk pemeriksaan kimia klinik sehubungan dengan penyakitpenyakit yang merupakan masalah umum bagi masyarakat seperti: penyakit hati. hitung jenis lekosit. untuk menemukan penyebab penyakit saluran pencernaan c. f.

bilirubin. vi. histoteknolog. dermatofita. penasehat bagian. Evaluasi i. teknisi laboratorium medis. antara lain yaitu: iv. manajer laboratorium. nitrat. urobilinogen dan glukosa semi kuantitatif viii. 303 .skizotomia. asisten patolog. USG 4. teknolog utama. cairan uretra/secret vagina untuk GO vi. Penilaian mutu penyelenggaraan Pelaksana kegiatan di Puskesmas dilakukan adalah patolog.x. BTA kerokan kulit untuk lepra. Pada laboratorium puskesmas kelurahan hanya tersedia pemeriksaan darah lengkap. Pemeriksaan makroskopik urine Pemeriksaan mikroskopik urine Kimia urine seperti: protein. Pemeriksaan mikrobiologi sederhana lainnya. Jika dibandingkan dengan pelaksanaan laboratorium di puskesmas kelurahan. Infeksi parasit: malaria. Pemeriksaan penunjang lainnya a. bakteri gram (+). filarial. Pemeriksaan kehamilan f. transkripsionis. Pemeriksaan tinja sederhana. asisten laboratorium medis. trikhomonas vaginalis Infeksi spesifik: BTA sputum untuk TBC. pemeriksaan hematologi sederhana dan pemeriksaan urine. Pemeriksaan makroskopik tinja Pemeriksaan mikroskopik tinja Pemeriksaan parasitologi g. dan prosesor specimen. kandidiasis 3. ahli flebotomi. Infeksi jamur superficial: tinea versikolor. vii. kegiatan di puskesmas kelurahan tidaklah selengkap kegiatan laboratorium di puskesmas kecamatan. antara lain: v. v. teknolog medis. antara lain: iv. v. vi. Pemeriksaan jumlah hematokrit e. Pemeriksaan urine sederhana.

histoteknolog. ginjal. teknolog medis.penyakit tertentu. Mengumpulkan dan specimen diperiksa Sasaran -Spesimen Tempat di Laboratorium dari puskesmas Waktu Jam pelayanan puskesmas Pelaksana patolog. Spesimenuntuk spesimen keperluan kultur/biakan maupun sensitivitas. Spesimen lain. teknisi laboratorium medis.Kegiatan 1. asisten patolog. keperluan antibody menentukan penyakit. untuk tes guna tes 304 . Kejadian untuk Biasa Luar pemeriksaan kimia -Survei klinik sehubungan penyakitdengan penyakit. manajer laboratorium. flebotomi. umum yang tertentu laboratorium medis. metabolism penyakit gizi.penyakit penyakit merupakan masalah bagi seperti: hati. asisten merujuk ambil untuk penderita lebih - lanjut terhadap : Penanggulangan Spesimen Spesimen tinja. transkripsionis. dan prosesor ahli masyarakat penyakit penyakit gangguan dan kurang specimen. penasehat bagian. Serum. teknolog utama.

USG Pada hamil pasien Di puskesmas Jam pelayanan puskesmas Dokter spesialis obygn 305 .misalnya keracunan kasus 2. Rujukan spesimen Untuk specimen Puskesmas yang pemeriksaannya tidak ada di lain wilayahnya Jam di pelayanan puskesmas Dokter Puskesmas 3.

3. Meningkatnya frekuensi pengevaluasian mutu penyelenggaraan 306 .BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Tersedianya laboratorium klinis di setiap puskesmas diharapkan dapat menunjang kegiatan pelayanan kesehatan yakni dalam membantu penegakan diagnosis. posyandu dapat berkembang sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya. Laboratorium juga mempunyai fungsi sebagai tempat untuk berbagai penelitian yang berhubungan dengan pembiakan media-media kuman penyakit. Tercapainya diagnosis yang tepat melalui lengkapnya pemeriksaan yang dilakukan iii. Diharapkan kegiatan laboratorium kesehatan di puskesmas. Diharapkan mutu pelayanan kesehatan perorangan dapat ditingkatkan dengan: ii. Meningkatnya mutu pelayanan laboratorium di puskesmas setempat. 4. karena itu lingkungan laboratorium menjadi salah satu tempat yang baik untuk berkembangnya berbagai penyakit infeksi. Diketahuinya hasil intervensi medik yang telah di berikan pada pengguna jasa pelayanan kesehatan melalui perbandingan hasil pemeriksaan penunjang sebelumnya dan sesudahnya. puskesmas keliling. 2. Saran 1. puskesmas pembantu.

DAFTAR PUSTAKA 1. 1999: 349 – 354. Direktorat Bina Peran Serta Masyarakat Dirjen Pembinaan Kesehatan Masyarakat : Penunjang Medik. Jakarta. 2.go.depkes.php?option=com_docman&task=cat_view&gid=55&Ite mid=93 307 . 2010 [cited 2011 July 20] Available at http://buk.id/index. Januari 1. Departemen Kesehatan RI: Pedoman Kerja Puskesmas. Program Penunjang Puskesmas. Jilid ke-2. Departemen Kesehatan RI.

UPAYA KESEHATAN PENUNJANG PELAYANAN (SP2TP SISTEM PENCATATAN DAN PELAPORAN TERPADU PUSKESMAS) Penyusun: Rina Apriani(03004197) Raymond(03005183) 308 .

maka Sistem Informasi Kesehatan di Kabupaten/Kota akan lebih penting peranannya. sangat diperlukan dalam pengelolaan program dan proyek serta kegiatan yang dilakukan. Saat ini ada 18 macam kegiatan pokok puskesmas. Pencatatan dan pelaporan terpadu puskesmas merupakan salah satu kegiatan tersebut. dan dengan data yang benar. Sistem ini harus mampu menghasilkan data atau informasi yang memadai untuk menunjang perencanaan. teratur. puskesmas keliling dan bidan di desa serta RS dan laboratorium di berbagai tingkatan. dimana daerah harus mengembangkan dan melakukan sendiri upaya kesehatan. Semua kegiatan yang menjadi tugasnya. melalui puskesmas termasuk puskesmas tempat tidur. puskesmas pembantu. sangat diperlukan tersedianya seperangkat data dan informasi yang baik pula.63/menkes/II/1981 dan petunjuk pelaksanaan direktur jendral binkesmas no. pelaksanaan. Dengan telah ditetapkannya UU nomor 22 tentang Otonomi Daerah.BAB I PENDAHULUAN Dalam era pembangunan. Untuk itu disusun sistem pencatatan dan pelaporan terpadu puskesmas (SP2TP) yang disahkan dengan keputusan menkes no. keberadaan data dan informasi memegang peran yang sangat penting. 309 . preventif. kuratif. tepat waktu dan mutakhir. pengendalian serta untuk evaluasi berbagai kegiatan kesehatan tingkat kabupaten/kota.143/binkesmas/DJ/II/1981. dicatat dan dilaporkan secara teratur. bahkan terkadang sampai rehabilitatif. terpercaya. Data yg benar-benar akurat. Pembangunan upaya kesehatan masyarakat dilakukan di seluruh pelosok tanah air. Untuk dapat merencanakan dan memantau serta evaluasi pelaksanaan program dengan baik. namun juga melaksanakan berbagai program pembangunan kesehatan masyarakat. tepat waktu. berkesinambungan. Kegiatan bersifat promotif. Kelompok institusi terdepan tersebut tidak sekedar pemberi pelayanan kesehatan saja.

dan penggunaan obat-obat. yaitu data atau informasi harus lengkap dan data tersebut harus diterima tepat waktu oleh Dinas Kesehatan Kabupaten. setelah diolah dan dianalisis dikirim ke koordinator SP3 di Dinas Kesehatan Provinsi dan seterusnya dilanjutkan proses untuk pemanfaatannya. Frekuensi pelaporan sebagai berikut: (1) bulanan. Koordinator SP2TP di Dinas Kesehatan Kabupaten meneruskan ke masing-masing pengelola program di Dinas Kesehatan Kabupaten. sehingga dapat dianalisis dan diinformasikan. kegiatan rujukan puskesmas pelayanan medik kesehatan gigi. Informasi tentang kesakitan. Laporan tahunan terdiri dari data dasar yang meliputi fasilitas pendidikan. 310 . KB. sehingga data yang diperoleh tidak dapat memberikan informasi yang bermanfaat untuk pengambilan keputusan. imunisasi. dan pengolahan. Laporan bulanan mencakup data kesakitan. Data tersebut kemudian direkapitulasikan ke dalam format laporan SP2TP yang sudah dibukukan. Laporan yang diperoleh Dinas Kesehatan Kabupaten diduga seringkali terlambat. (2) analisis. (3) tahunan. Dari Dinas Kesehatan Kabupaten. KIA. data ketenagaan puskesmas dan puskesmas pembantu. dan (3) pemanfaatan. pelaporan. Koordinator SP2TP di puskesmas menerima laporan-laporan dalam format buku tadi dalam 2 rangkap. rawat tinggal. yaitu satu untuk arsip dan yang lainnya untuk dikirim ke koordinator SP2TP di Dinas Kesehatan Kabupaten.I LATAR BELAKANG Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) merupakan instrumen vital dalam sistem kesehatan. kesehatan lingkungan. penggunaan pelayanan kesehatan di puskesmas. (2) tribulan. Laporan tribulanan meliputi kegiatan puskesmas antara lain kunjungan puskesmas. Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas mencakup 3 hal: (1)pencatatan. Pencatatan hasil kegiatan oleh pelaksana dicatat dalam buku-buku register yang berlaku untuk masing-masing program. peran serta masyarakat dan lingkungan kedinasan. dan berbagai informasi kesehatan lainnya berguna untuk pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan di tingkat kabupaten atau kota maupun kecamatan. gizi. Pengambilan keputusan di tingkat kabupaten dan kecamatan memerlukan data yang dilaporkan dalam SP2TP yang bernilai. kematian.I.

SP2TP dapat juga membantu dalam perencanaan program-program kesehatan di puskesmas. Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) didalam pelaksanaannya juga masih terbatas pada data yang merupakan hasil dari interaksi antara masyarakat dengan fasilitas kesehatan. menjelaskan bahwa puskesmas merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan pemerintah. berbagai permasalahan dihadapi antara lain banyaknya variabel yang harus dilaporkan sehingga kehadiran Sistem Pencatatan dan Pelaporan di Puskesmas dilihat sebagai suatu hal yang cukup membebani petugas puskesmas. Namun dalam kenyataannya belum berjalan seperti yang harapkan. Bila terjadi sesuatu yang kurang menguntungkan dalam masyarakat yang menyangkut masalah kesehatan. sehingga mengakibatkan keterlambatan dalam pelaporan SP2TP.II PERMASALAHAN Sejak pelaksanaan SP2TP dari tahun 1981. Puskesmas memiliki wilayah kerja dan berhubungan langsung dengan keluarga di rumahrumah mereka. menemukan masalah-masalah yang dihadapi baik dari aspek teknis dan non teknis. Terbatas dalam biaya maupun sarananya. Evaluasi dilakukan untuk mengkaji pelaksanaan sistem pencatatan dan pelaporan di Puskesmas. terutama bagi petugas puskesmas sebagai sumber data.590/BM/DJ/Info/V/96 tentang penyederhanaan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas. 311 . sampai akhirnya dikeluarkan Keputusan Direktur Jendral Pembinaan Kesehatan Masayrakat No. namun segala sesuatu di puskesmas sangat terbatas. diperlukan pedoman SP2TP untuk pegangan bagi pelaksana di berbagai tingkat administrasi. I. Meskipun puskesmas sebagai dasar pelayanan kesehatan bagi masyarakat.Balai Pelatihan Kesehatan. Sesuai dengan keputusan ini. maka puskesmas yang menjadi sasaran utamanya. Berbagai upaya telah dilakukan guna memecahkan permasalahan yang ada.

Puskesmas Keliling. sarana. Oleh karena itu mencakup semua kegiatan yang dilakukan oleh Puskesmas (Puskesmas Pembantu. Sistem adalah satu kesatuan yang terdiri dari komponen yang saling berkaitan. sehingga dapat dihindarkan pencatatan dan pelaporan lain. berintegrasi dan mempunyai tujuan tertentu. 2.1 Ruang Lingkup SP2TP Pelaksanaan SP2TP. yang 312 . 590/BM/DJ/Info/V/96 tentang Penyederhanaan SP2TP. spesifik dan sederhana. mudah diperoleh. menganut konsep wilayah kerja Puskesmas.BAB II PENGERTIAN Beberapa pengertian sebagai dasar dalam penyelenggaraan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) antara lain: SP2TP adalah kegiatan pencatatan dan pelaporan data imum. Umum dan demografi di wilayah kerja Puskesmas Ketenagaan di Puskesmas Sarana yang dimiliki Puskesmas Kegiatan pokok Puskesmas yang dilakukan di dalam dan di luar gedung Puskesmas Variabel atau indikator yang dilaporkan adalah data/informasi yang sensitif. tenaga. Jenis data yang dikumpulkan dan dicatat dalam SP2TP adalah seluruh kegiatan di Puskesmas yang meliputi data: 1. 4. Terpadu diartikan sebagai gabungan berbagai macam kegiatan upaya pelayanan kesehatan Puskesmas yang tidak tumpang tindih. II. termasuk Bidan di desa). dan upaya pelayanan kesehatan di Puskesmas yang telah disederhanakan sesuai Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat No. yang akan memperberat beban kerja petugas Puskesmas. 3. serta bermanfaat untuk pemantauan dan evaluasi.

Memberikan bimbingan kepada coordinator SP2TP dan para pelaksan kegiatan di Puskesmas. diolah dan dimanfaatkan oleh pengambil keputusan dan penanggung jawab program guna meningkatkan pelaksanaan programnya. Bersama dengan para pelaksana kegiatan membuat laporan bulanan SP2TP dan mengirimkan laporan tersebut ke Dinas Kesehatan Dati II paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya c. 1. Mengumpulkan laporan masing-masing pelaksana kegiatan b.2 Pengorganisasian Dalam pelaksanaan SP2TP pengorganisasian di tingkat Puskesmas adalah sebagai berikut. Dinas Kesehatan Dati I. Kanwil Depkes serta Pusat. Anggota : Kepala Puskesmas : Petugas yang ditunjuk Kepala Puskesmas : Pelaksana Kegiatan di Puskesmas 2. b. Kepala Puskesmas bertanggung jawab atas pelaksaan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu di Puskesmas.dapat menggambrkan aksesibilitas. Koordinator c. 3. Bersama dengan para pelaksana kegiatan membuat laporan tahunan SP2TP dan mengirimkan laporan tersebut ke Dinas Kesehatan Dati II paling lambat tanggal 31 Januari tahun berikutnya 313 . manajemen dan dampak program. Laporan SP2TP mempergunakan system tahun kalender. II. Pengorganisasian a. Periode laporan dari Puskesmas ke Dati II adalah bulanan dan tahunan. Penanggung jawab b. Tugas Penanggung Jawab SP2TP a. Tugas Koordinator SP2TP a. masalh. Diharapkan pencatatan di Puskesmas dan laporan yang diterima di Dinas Kesehatan Dati II. Periode laporan dari Dati II ke Dati I dan Pusat adalah triwulan.

Mencatat setiap kegiatan pada kartu individu dan register yang ada b. Hasil dari rekapitulasi ini merupakan bahan untuk mengisi/membuat laporan SP2TP d. Mengadakan bimbingan terhadap Puskesmas Pembantu dan Bidan di desa c. f. Menyimpan arsip laporan SP2TP dari masing-masing pelaksana kegiatan e. Setiap tanggal 5 mengisi/membuat laporan SP2TP dari hasil kegiatan masingmasing dalam 2 rangkap dan disampaikan kepada Koordinator SP2TP Puskesmas. Dengan rincian satu rangkap unyuk arsip Koordinator SP2TP Puskesmas dan satu rangkap oleh Koordinator SP2TP Puskesmas disampaikan ke Dinas Kesehatan Dati II e. Bertanggung jawab atas kebenaran isi laporan kegiatannya 314 . Melakukan rekapitulasi data dari hasil pencatatan dan laporan Puskesmas Pembantu serta Bidan di desa menjadi laporan kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya.d. Tugas Pelaksana Kegiatan a. Mempersiapkan pertemuan berkala setiap 3 bulan yang dipimpin oleh Kepala Puskesmas dengan pelaksana kegiatan untuk menilai pelaksaan kegiatan SP2TP 4. Bertanggung jawab atas kelancaran pelaksanaan SP2TP kepada Kepala Puskesmas f. Mengolah dan memanfaatkan data hasil rekapitulasi untuk tindak lanjut yang diperlukan dalam rangka meningkatkan kinerja kegiatan kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya.

2. 4. berkelanjutan dan teratur. dalam formulir yang telah ditentukan secara benar. pengolahan data menjadi informasi dan mekanisme pelaporannya. Puskesmas Keliling.II TUJUAN KHUSUS 1. Tercatatnya semua data hasil kegiatan Puskesmas dan data yang berkaitan. 5. 3. dengan mempergunakan formulir yang telah ditetapkan. secara benar. berkala dan teratur. guna menunjang pengelolaan upaya kesehatan masyarakat sehingga meningkatnya kualitas manajemen Puskesmas secara lebih berhasil guna dan berdaya guna melalui pemanfaatan secara optimal data SP2TP dan informasi lain yang menunjang III. Tertatanya alur data di tingkat Puskesmas. dan bidan di desa. Bidan di desa dan POSYANDU) dan data yang berkaitan serta dilaporkannya data tersebut kepada jenjang administrasi diatasnya sesuai kebutuhan secara benar. 315 . Terlaporkannya data tersebut kepada jenjang administrasi yang lebih atas sesuai kebutuhan. 6. meliputi definisi operasional. Diperolehnya kesamaan pengertian tentang SP2TP. tata cara pengisian formulir. Puskesmas Pembantu. Tertatanya mekanisme pencatatan di tingkat puskesmas. Puskesmas Pembantu. berkelanjutan dan teratur. Terolahnya data tersebut menjadi informasi di Puskesmas dan setiap jenjang administrasi diatasnya.I TUJUAN UMUM Didapatnya semua data hasil kegiatan puskesmas (termasuk Puskesmsa dengan tempat tidur. sehingga bermanfaat untuk mengetahui permasalahan kesehatan yang ada di masyarakat serta merumuskan cara penanggulangannya secara tepat.BAB III TUJUAN UMUM DAN TUJUAN KHUSUS III.

9.7. 8. Dasar penyusunan rencana pelaksanaan kegiatan pokok puskesmas (Lokakarya mini) 10. Mantapnya pelaksanaan SP2TP di semua jenjang administrasi. Untuk mengatasi berbagai kegiatan hambatan pelaksanaan kegiatan pokok puskesmas 316 . Dasar penyusunan perencanaan Tk. sehingga dapat berhasil guna dan berdaya guna dalam pengelolaan upaya kesehatan masyarakat. Sebagai dasar pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kegiatan pokok puskesmas 11. Puskesmas.

neonatus risiko tinggi (BBLR).Formulir pencatatan Formulir pencatatan SP2TP terdiri dari: a. harus dicatat. bayi kurang energi kronis (KEK) Salah seorang anggota keluarga adalah penderita gangguan jiwa Keluarga yang menggunakan RKK diberi kartu tanda pengenal keluarga (KTPK) yang merupakan alat bantu untuk memudahkan pencarian berkas atau file keluarga yang telah terdaftar/mendaftarkan pelayanan pada saat meminta pelayanan ulang di puskesmas b. puskesmas tempat tidur dan puskesmas pembantu serta bidan di desa. Yang dimaksud RKK adalah himpunan kartu-kartu individu suatu keluarga yang memperoleh pelayanan kesehatan di puskesmas. Adapun kegunaan RKK adalah: Untuk mengikuti keadaan kesehatan di suatu keluarga Untuk mengetahui gambaran penyakit di suatu keluarga Penggunaan RKK diutamakan pada keluarga yang anggotanya mengidap salah satu penyakit atau kondisi antara lain: Salah satu anggota keluarga adalah penderita TB paru Salah seorang anggota kelurga adalah penderita kusta Keluarga risiko tinggi yaitu ibu hamil risiko tinggi. 1.I.PENCATATAN Kegiatan pokok puskesmas baik yang dilakukan di dalam gedung maupun di luar gedung puskesmas. Dengan demikian perlu adanya mekanisme pencatatan yang baik.BAB IV KEGIATAN DAN SASARAN IV. Rekam Kesehatan Keluarga (RKK) atau yang disebut ―Family Folder‖. Kartu Tanda Pengenal (KTP) KTP diberikan kepada individu yang berkunjung/berobat ke puskesmas dan merupakan alat bantu untuk memudahkan pencarian berkas atau file bagi individu 317 . formulir yang cukup serta cara pengisian yang benar dan teliti.

kartu penderita kusta dan kartu penderita TB paru. Kartu Penderita Kusta Kartu ini khusus untuk penderita kusta yang berisi identitas penderita kusta yang dilayani di gedung puskesmas. Kartu Rawat Tinggal atau Kartu Rekam Medik Pasien Merupakan alat untuk mencatat identitas dan status pasien yang dirawat di puskesmas yang mempunyai ruang rawat inap.yang telah terdaftar/mendapat pelayanan pada saat meminta pelayanan ulang di puskesmas. atas namanya sendiri. g. penyakit kusta dan TB paru menggunakan KTP khusus yaitu kartu KB. Kartu Ibu 318 . d. Maksud pemberian kartu ini adalah apabila yang bersangkutan pindah maka kartu dan rekam kesehatannya atau berkasnya dibawa pindah (untuk memudahkan/mengetahui pelayanan yang telah diberikan atau didapatkan oleh yang bersangkutan) c. Kartu Indeks Khusus TB Paru Merupakan alat untuk mengetahui keadaan dan pekembangan penyakit TB paru pasien yang dilayani di gedung puskesmas. e. f. i. Kartu Penderita TB Paru Kartu ini khusus untuk penderita TB paru yang berisi identitas TB paru yang dilayani di gedung puskesmas. Kartu Rawat Jalan atau Kartu Rekam Medik Pasien Merupakan alat untuk mencatat identitas dan status pasien yang berkunjung ke puskesmas untuk memperoleh pelayanan rawat jalan. Kartu Indeks Penyakit Khusus Kusta Merupakan alat untuk mengetahui riwayat dan perkembangan penyakit kusta. Khusus untuk akseptor KB. h.

n. KMS anak sekolah Merupakan alat untuk mengetahui identitas dan mencatat pertumbuhan anak sekolah dan pelayanan yang telah diperoleh oleh anak sekolah tersebut. m. sehingga apabila terdapat kelainan dapat dideteksi sedini mungkin. Kartu Tumbuh Kembang Balita Adalah alat untuk mencatat tumbuh kembang balita. KMS ibu hamil Merupakan alat untuk mengetahui identitas dan mencatat perkembangan kesehatan ibu hamil dan pelayanan kesehatan yang telah diterima yang bersangkutan. o. l. 319 . k. Kartu Rumah Adalah alat untuk mengetahui dan mengikuti keadaan sanitasi lingkungan perumahan. KMS usila Adalah alat untuk mencatat kesehatan usia lanjut secara pribadi baik fisik maupun psiko-sosialnya. sehingga dapat digunakan untuk memantau kesehatannya. menemukan penyakit pada usia lanjut secara dini dan menilai kemajuan kesehatan usia lanjut. KMS balita Merupakan alat untuk mengetahui identitas dan mencatat pertumbuhan balita dan pelayanan yang telah diperoleh oleh balita tersebut. status kesehatan dan pelayanan baik pelayanan preventif-promotif maupun pengobatan dan rehabilitatif yang telah diberikan kepada balita dan anak prasekolah. j.Merupakan alat untuk mengetahui identitas dan status kesehatan serta riwayat kehamilan ibu sampai kelahiran bayinya. p. Kartu Anak Adalah alat untuk mengetahui identitas.

yang telah dicatat di kartu-kartu dan catatan lainnya. Register Adalah formulir untuk mencatat/merekap data kegiatan di dalam dan di luar gedung puskesmas.q. Jenisjenis register dimaksud adalah: Register Nomor Indeks Pengunjung Puskesmas Register Kunjungan Register Rawat Jalan Register Rawat Inap Register KIA Register Kohort Ibu Register Kohort Balita Register Deteksi Tumbuh Kembang Register Gizi Register Kapsul Minyak Beryodium Register Pengamatan Penyakit Menular Register Kusta Register Pemeriksaan Kontak Penderita Kusta Register Pemeriksaan Anak Sekolah (untuk penyakit kusta) Register Malaria Register PES Register Antrax Register Rabies Register Kohort TB Paru Register Kasus DBD Register Pemberantasan Sarang Nyamuk DBD Register Acute Flaccid Paralysis (AFP) Register Tetanus Neonatorum Register Frambusia Register Filaria Buku Inventarisasi Peralatan Puskesmas Register Perawatan Gawat Darurat Puskesmas 320 .

- Register Kohort Pembinaan Keluarga Register Rawat Jalan Gigi Register Laboratorium Register PKM Register PSM Register Data Dasar Kesehatan Lingkungan Register Kegiatan Kesehatan Lingkungan Rekapitulasi Kegiatan Penjaringan Register Kegiatan UKS Register Data Dasar Sekolah Register Kegiatan Posyandu Register Pelayanan Kesehatan Olahraga Register Pembinaan Kelompok/Klub Olahraga Register Perawatan Kesehatan Masyarakat Untuk Keluarga dan Individu (Reg. maka pasien tersebut akan dicatat dalam register yang sesuai dengan pelayanan yang diterima. Mekanisme pencatatan Pada prinsipnya seorang pasien yang berkunjung pertama kali atau kunjungan ulang ke Puskesmas harus melalui loket untuk mendapatkan Kartu Tanda Pengenal atau mengambil berkasnya dari petugas loket.B) 2. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat bagan sebagai berikut: 321 . Apabila pasien mendapatkan pelayanan kesehatan di luar gedung Puskesmas.A) - Register Perawatan Kesehatan Masyarakat untuk Kelompok/Masyarakat (Reg. Pasien tersebut disalurkan pada unit pelayanan yang dituju.

II PELAPORAN Pelaporan terpadu Puskesmas menggunakan tahun kalender yaitu deri bulan Januari sampai dengan Desember dalam tahun yang sama.Register No. 1.KTP .Kartu KB .RKK termasuk kartu status . Indeks UNIT PELAYANAN REGISTERREGISTER PELAYANAN DALAM GEDUNG TINDAK LANJUT RUJUKAN L U A R G E D U N G REGISTER-REGISTER PELAYANAN DI LUAR GEDUNG BANK DATA PUSKESMAS PENGOLAHAN/PENYAJIAN PENYUSUNAN LAPORAN IV.MEKANISME PENCATATAN DI PUSKESMAS LOKET D A L A M G E D U N G .  Formulir Laporan Puskesmas ke Dati II Laporan Bulanan 322 .Registrasi kunjungan .

Perawatan Kesehatan Masyarakat. Laporan bulanan Sentinel (LB2S) Laporan ini memuat data KIA. b. Data Dasar Puskesmas (LT-1) Data Kepegawaian (LT-2) Data Peralatan (LT-3) Frekuensi Laporan dari Puskesmas ke Dati II 323 . c. Kesehatan Sekolah. Imunisasi dan Pengamatan Penyakit Menular (LB.2) Gizi.  Laporan Sentinel Bentuk dari laporan sentinel adalah: a. PKM. penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan diare. Hanya Puskesmas dengan ruang rawat inap (Puskesmas RRI) yang membuat LB2S.a. 2. Laporan bulanan Sentinel (LB1S) Laporan ini memuat data penderita penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I).3) Data Kegiatan Puskesmas (LB. Data Kesakitan (LB. menurut umur dan status imunisasi.4) Kegiatan Puskesmas meliputi: Kunjungan Puskesmas. Kesehatan Lingkungan dan Laboratorium. b. Tetatus Neonatorum dan penyakit akibat kerja. Pelayana Medik Dasar Kesehatan Gigi. Gizi. b. Rawat Tinggal. Pelayanan JPKM. KIA.1) Data Obat-obatan (LB. c. Kesehatan Olah Raga. d.  Laporan Tahunan Laporan ini mencakup: a.

untuk disampaikan kepada koordinator SP2TP d. Laporan bulanan Sentinel LB1S dan LB2S setiap tanggal 10 bulan berikutnya dikirimkan ke Dinas Kesehatan Dati II. LB3. Mekanisme Pelaporan Tingkat Puskesmas Laporan dari Puskesmas Pembantu dan Laporan dari Bidan di desa disampaikan ke pelaksana kegiatan di Puskesmas b. dilakukan setiap bulan dan paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya dikirim ke Dinas Kesehatan Dati II. Hasil rekapitulasi oleh pelaksana kegiatan diolah dan dimanfaatkan untuk tindak lanjut yang diperlukan dalam rangka meningkatkan kinerja kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya.a. LB2. Dati I dan Pusat. Hasil rekapitulasi oleh pelaksana kegiatan demasukkan ke formulir laporan dalam 2 rangkap. Laporan bulanan LB1. LT-2. 324 . Laporan tahunan (LT-1. dan LB4. Pelaksana kegiatan merekapitulasi data yang dicatat baik did ala gedung maupun di luar gedung serta laporan yang diterima dari Puskesmas Pembantu dan Bidan di desa c. a. c. dan LT-3) dirimkan selambat-lambatnya tanggal 31 Januari tahun berikutnya. b. 3.

dan imunisasi 4. Diluar gedung kegiatan yang berhubungan dengan Posyandu misalnya Posyandu.CHN dll. Formulir LB 4 Untuk data kunjungan kegiatan puskesmas Laporan tahunan terdiri dari: 1.590/BM/DJ/info/V/96 Tentang Penyederhanaan Sistem Pencatatan dan Pelaporan terpadu Puskesmas yang mulai berlaku tanggal 10 Mei 1996. Formulir LB 2 Obat 3.BAB V PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS DI TINGKAT KECAMATAN&KELURAHAN SP2PT yaitu sistem pencatatan dan pelaporan terpadu Puskesmas sesuai dengan SK Dirjen Binkesmas NO. Adapun isi keputusan itu: 1. Laporan tahunan Laporan bulanan terdiri dari: 1.KIA. Pencatatan kegiatan PKM 2. Formulir LB 3 Gizi. Formulir LT 1 untuk data dasar PKM 325 . Pencatatan didalam gedung semua kegiatan yang dilaksanakan di dalam gedung itu sendiri b. Pelaporan Puskesmas Sedangkan untuk pencatatan ada 2 yaitu diluar gedung dan di dalam gedung: a. Sedangkan untuk pelaporannya terdiri dari: a. Formulir LB 1 Penyakit 2. Laporan bulanan b.

Menyimpan arsip SP2PT dari masing-masing pelaksana kegiatan 4. Mencatat setiap kegiatan yang ada di PKM 2. Data yang dilaporkan dari puskesmas mencakup hasil kegiatan PKM yang dilaksanakan selama 1 bulan Tim SP2PT di PKM: 1. Melakukan rekapitulasi dari hasil pencatatan dan pelaporan 326 . Anggota Penanggung jawab: Yaitu Kepala Bagian Data dan Program yang bertanggungjawab atas pelaksanaan SP2PT di Puskesmas dan memberikan bimbingan kepada koordinator SP2PT dan para pelaksana kegiatan di PKM Koordinator: Orang yang ditunjuk oleh Kepala Bagian Data dan Program tugasnya yaitu: 1. Mengumpulkan laporan dari masing-masing pelaksana kegiatan 2. b. untuk menilai hasil kegiatan SP2PT Anggota: Masing-masing pelaksana Kegiatan PKM merupakan anggota SP2PT PKM dan berkewajiban yaitu: 1. Formulir LT 3 untuk data peralatan Puskesmas Tata cara pelaporan: a. Bertanggungjawab kepada kepala PKM atas kelancaran pelaksanaan SP2PT 5. Koordinator 3. Data yang dihimpun dalam formulir LB 1 s/d LB 4 dilaporkan secara bulanan selambat-lambatnya tanggal 5 bulan berikutnya dibuat rangkap 2.2. Melakukan bimbingan tekhnis 3. Mempersiapkan pertemuan setiap 3 bulan sekali. Membuat laporan bulanan dan tahunan 3. Formulir LT 2 untuk data kepegawaian 3. Penanggung jawab 2.

1 KESIMPULAN Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas mencakup 3 hal: (1)pencatatan. Pencatatan hasil kegiatan oleh pelaksana dicatat dalam buku-buku register yang berlaku untuk masingmasing program.4. Dalam pelaksanaan SP2TP pengorganisasian di tingkat Puskesmas adalah sebagai berikut: penanggung jawab adalah Kepala Puskesmas. dan pengolahan. Koordinator adalah Petugas yang ditunjuk Kepala Puskesmas.CHN dll) Sedangkan untuk pelaporannya terdiri dari laporan bulanan yang dilaporkan secara bulanan selambat-lambatnya tanggal 5 bulan berikutnya dan laporan tahunan. Kegiatan pencatatan kegiatan di Puskesmas Mampang ada 2 yaitu diluar gedung dan di dalam gedung yaitu Pencatatan didalam gedung (semua kegiatan yang dilaksanakan di dalam gedung itu sendiri) dan diluar gedung (kegiatan yang berhubungan dengan Posyandu misalnya Posyandu. pelaporan. Data tersebut kemudian direkapitulasikan ke dalam format laporan SP2TP yang sudah dibukukan. (2) analisis. dan (3) pemanfaatan. Membuat laporan setiap tanggal/akhir bulan BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN VI. 327 . Anggota adalah Pelaksana Kegiatan di Puskesmas yang mempunyai tugasnya masing-masing.

berkelanjutan dan teratur.  Mengadakan evaluasi rutin terhadap masalah teknis maupun non teknis dalam pelaksanaan SP2TP  Didapatkannya data dan bisa dilaporkan kepada jenjang administrasi yang lebih atas sesuai kebutuhan. dengan mempergunakan formulir yang telah ditetapkan.VI. berkelanjutan dan teratur. secara benar. 328 .2 SARAN  Meningkatkan kualitas SDM tenaga kesehatan agar semua data hasil kegiatan puskesmas dapat tercatat dalam formulir yang telah ditentukan secara benar.

org. Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas. 2.dinkes. 1-17. Diunduh dari http:/www. Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas. Diakses Desember 2009.DAFTAR PUSTAKA 1. Departemen Kesehatan RI: Pedoman Sistem Informasi Manajemen Puskesmas. Jakarta (1997). 329 .

JAMINAN PEMELIHARAAN KESEHATAN MASYARAKAT (JPKM) Penyusun: Giri Satriya (03006105) Pelangi Damayanti ( 03004173 ) 330 .

akhirnya mengantar Indonesia kepada rumusan JPKM sebagai model jaminan kesehatan yang efektif dan efisien untuk mengatasi masalah akses dan mutu pelayanan kesehatan. JPKM diselenggarakan oleh badan-badan penyelenggara berstatus hokum (PT. BUMN. dalam bentuk jaminan kesehatan masyarakat. Namun pemenuhan hak tersebut menghadapi kendala biaya. hingga target produksi tidak tercapai dan kerugian menjelang. produktifitas. mengembangkan. Koperasi. Sedangkan pendanaan masyarakat harus diefisiensikan dengan pendanaan gotong royong untuk baerbagai resiko gangguan kesehatan. derajat kesehatan bersama taraf pendidikan dan kemampuan ekonomi masyarakat menjadi penentu index kualitas manusia (Human Development Index. Tanpa kesehatan karyawan. promosi kesehatan serta pemeliharaan kesehatan penduduk miskin. 331 . menjadi hak fundamental dari setiap individu. dan secara nasional dalam amandemen UUD 1945 pasal 28-H dan UU No. dan mendorong terselenggaranya JPKM. Kesehatan sebagai hak fundamental setiap individu dinyatakan secara global dalam Konstitusi Organisasi Kesehatan Sedunia. Menurut UNDP.BAB I PENDAHULUAN Kesehatan adalah pangkal kecerdasan. 23 tahun 1992 sebagai cara yang dijadikan landasan semua bentuk pemeliharaan kesehatan yang pembiayaannya secara pra-upaya. Solusi masalah pembiayaan kesehatan mengarah pada peningkatan pendanaan kesehatan agar melebihi 5% PDB sesuai rekomendasi WHO. JPKM kemudian dicantumkan dalam UU No. Kesehatan adalah penentu kualitas sumber daya insani. dengan pendanaan pemerintah yang terarah untuk kegiatan public health seperti pemberantasan penyakit menular dan penyehatan lingkungan. Karena itu. dll) dengan pemerintah yang bertugas membina. Telah bertahun-tahun penelitian terhadap sistem pendanaan masyarakat untuk kesehatan di mancanegara. karena pendanaan kesehatan yang amat terbatas disertai kenaikan biaya pemeliharaan kesehatan. HDI). kesehatan harus dimiliki dan dilindungi. 23 tahun 1992 tentang kesehatan. BUMD. perusahaan kehilangan daya kerja karena absensi sakit meningkat. dan kesejahteraan manusia.

penyelenggara (bapel) dan pemberian pelayanan kesehatan (ppk) serta penerapan 7 jurus . semua gawat darurat dan pelayanan penunjang diagnostik seperti laboratorium. 332 .tingkat ke 2 (rawat jalan spesialistik). 4 jurus kendali mutu : ikatan kerja / kontrak .1 Pengertian JPKM JPKM yang merupakan singkatan dari Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat. badan. Kebutuhan kesehatannya akan terpenuhi secara paripurna melalui pelayanan yang terrjaga mutu dan terkendali biayanya . perbaikan gizi). menjadi peserta JPKM mendapat keuntungan ganda. pada hakekatnya adalah jaminan pelayanan kesehatan paripurna yang diperoleh seseorang setelah membayar kontribusi/iuran kepada suatu badan penyelenggara yang mengikat kontrak dan membayar pra upaya jaringan pemberi pelayanan kesehatan berjenjang yang terjaga mutunya untuk melayani peserta tersebut. sebgai berikut : a. dokter gigi.KB). pemantauan utilisasi pelayanan dan penangan seksama terhadap keluhan mengenai pelayanan.siklus jaga mutu (pengbatan rasional dan standar pelayanan medik dengan siklus jaga mutunya). klinik . 1 jurus kendali pelayanan paripurna Paket pelayanan paripurna dalam JPKM seperti dinyatakan dalam serangkaian permenkes dan kepmenkes mencakup pelayanan berjenjang dari tingkat pertama (rawat jalan oleh dokter umum. preventif (imunisasi. dll). 2 jurus kendali dana : premi prabayar dan bayar jasa PKK secara praupaya b. Bagi masyarakat.dan puskesmas) . kuratif (pengobatan dan penyembuhan penyakit) serta rehabilitatif (pemulihan cacad.BAB II PENGERTIAN JPKM 2. c.dengan membayar iuran ringan dalam suatu ikatan solidaritas sosial yang dikelola oleh badan penyelenggara profesional. kesehatan ibu-anak. Penyelenggara JPKM mencakup sedikitnya 3 pelaku utama yakni peserta. tingkat ke 3 (rawat inap spesialistik di rumah sakit) dan meliputi upaya promotif (penuluhan kesehatan. radiologi dsbnya.

Kandungan jurus-jurus pelayanan paripurna. yang menjadi intensif bagi PPK untuk menjaga kesehatan peserta secara efisien-efektif dengan melakukan upaya preventif-promotif yang seimbang dengan upaya kuratif-rehabilitatif. kelebihan JPKM dibandingkan asuransi kesehatan indemnitas (ganti rugi) adalah adanya pembayaran praupaya (prospective payment dalam bentuk anggaran atau kapitasi) kepada pemberi pelayanan kesehatan (PPK). yang berkesinambungan dan dengan mutu yang terjamin serta pembayaran secara praupaya. dan 5. pengembangan dan pendorongan terhadap penyelenggaraan JPKM. Pemeliharaan kesehatan yang paripurna. bersama 3 pelaku terdahulu. Sehubungan dengan itu.Pembina JPKM ditingkat pusat. Pembiayaan secara pra-upaya 333 . Misalnya. Dengan keberadaan badan pembina ini. dan Kab/kota guna menampung tugas tugas pembinaan. UU itu menetapkan pula fungsi pemerintah untuk membina. Kelebihan JPKM itu telah menempatkannya sebagai jaminan kesehatan terpilih dalam UU No.23/1992 tentang kesehatan. terdapat 4 pihak yang bersama sama mendukung terselenggaranya JPKM. Dalam UU ini. Jaminan 2. Ada beberapa kata kunci yang perlu diperhatikan agar mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang pengertian JPKM. Cara penyelenggaraan 3. kendali mutu dan kendali biaya dalam JPKM membuatnya lebih unggul dinadingkan bentuk jaminan kesehatan lainnya. bapel membebaskan diri dari risiko kerugian yang dapat timbul kalau membayar PPK berdasarkan tagihan atas jasa pelayanan yang telah diberikan (bentuk fee for service atau reimbursement). yaitu: 1. Dengan pembayaran praupaya kepada PPK. melalui Kepmenkes 172/1999 yang ditindaklanjuti dengan edaran Dirjen Binkesmas diproses pembentukan Badan . tanpa memberikan pelayanan berlebih-lebihan kepada peserta. Azas usaha bersama dan kekeluargaan 4. JPKM dinyatakan sebagai cara penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan yang paripurna. mengembangkan dan mendorong JPKM sebagai cara yang dijadikan landasan untuk setiap penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan. propinsi. Selanjutnya. berdasarkan asas usaha bersama dan kekeluargaan.

a. Pemeliharaan Kesehatan yang Paripurna Dengan terpeliharanya kesehatan masyarakat yang paripurna diartikan bahwa upaya pemeliharaankesehatan dilaksanakan secara menyeluruh meliputi kegiatan promotif334 . Terjaganya mutu pemeliharaan kesehatan sesuai dengan standar yang disepakati 3. yang menghendaki peran aktif badan penyelenggara. Dengan demikian. Efisiensi dan kelancarean memperoleh pelayanan kesehatan bagi pesertanya 4. Cara ini mempunyai beberapa mekanisme pelaksanaan tertentu. dapat dijaga keseimbangan dan keserasian dalam membela kepentingan masingmasing. Terselenggaranya pemeliharaan kesehatan paripurna dan berkesinambungan 2. terjaganya mutu serta terkendalinya pembiayaan kesehatan. sehingga menguntungkan dan memuaskan semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan JPKM. c. Azas Usaha dan Kekeluargan ―Berdasarkan azas usaha bersama dan kekeluargaan‖ yang tercantum dalam pengertian JPKM menunjukkan bahwa JPKM merupakan usaha bersama. Jurus-jurus ini harus dilaksanakan secara utuh agar penyelenggaraan upaya pemeliharaan kesehatan dapat menjamin oeningkatan derajat kesehatan masyarakat pesertanya melalui terpeliharanya pemerataan. yang menjadi cirri khas dari JPKM dan karena itu dapat disebut juga sebagai ―jurus jurus JPKM‖. Cara penyelenggaraan JPKM merupakan suatu cara penyelenggaraan paya pemeliharaan kesehatan yang terpadu dengan pembiayaannya. peserta dan pemberi pelayanan kesehatan untuk bersamasama secara kekeluargaan mengendalikan mutu dan biaya pemeiharaan kesehatan. Jaminan Setiap penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan berdasarkan JPKM harus mampu menjamin: 1. d. Efektivitas dari upaya pemeliharaan kesehatan bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat pesertanya b.

umpamanya pengobatan rawat jalan saja atau hanya pengobatan di Rumah Sakit tanpa dukungan upaya preventif atau promotif. Upaya kesehatan dalam JPKM tidak dapat dilaksanakan sepotong-sepotong. yang memungkinkan peningkatan derajat kesehatan segenap pesertanya. Pembiayaan secara pra-upaya Pemberian Pelayanan Kesehatan (PPK) dibayar di-muka/ pra-upaya (prepaid) oleh baan penyelenggara untuk memelihara kesehatan sejumlah peserta berdasarkan paket pemeliharaan kesehatan yang telah disepakati bersama. Mengingat hal-hal yang tercantum diatas. e. yang terarah dan terencana dengan pengolahan yang efektif dan efisien dan didukung oleh pembiayaan pra-upaya. JPKM juga merupakan suatu cara penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan. 335 . ―Pra-upaya‖ juga berarti bahwa peserta JPKM membayar dimuka sejumlah iuran secara teratur badan penyelenggara agar kebutuhan pemeliharaan kesehatan terjamin. karena hal ini cenderung menurunkan efektivitas dan efisiensi dalam pelaksanaannya. jelas bahwa tidak hanya merupakan satu cara pembiayaan kesehatan. dan berkesinambungan. terpadu.preventif-kuratif-rehabilitatif.

1 Tujuan Umum Meningkatnya derajat kesehatan masyarakat merupakan tujuan dari diadakannya JPKM. 3.  Pembudayaan perilaku hidup bersih dan sehat.2 Tujuan Khusus JPKM bertujuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui :  Jaminan pemeliharaan kesehatan sesuai kebutuhan utama peserta yang berkesinambungan. 336 .  Pelayanan kesehatan paripurna yang lebih bermutu dengan biaya yang hemat dan terkendali  Pengembangan kemandirian masyarakat dalam membiayai pelayanan kesehatan yang diperlukannya.BAB III TUJUAN JPKM 3.

maka BPDPK diubah status menjadi Perum Husada Bhakti. tanpa mempertimbangkan tingkatan pangkat atau kedudukan. penerima pensiun (baik sipil maupun ABRI) dengan iuran yang dipotong dari gaji sebesar 2%. Penutupan asuransi atas objek asuransinya bukan didasarkan kepada kebebasan memilih penanggung melainkan secara wajib berdasarkan suatu Undang-undang dengan tujuan untuk memberikan perlindungan dasar bagi kesejahteraan masyarakat (pasal 1 ayat 3 dan pasal 6 ayat 1). 230 tahun 1968. Cara penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan dan cara pembayaran kepada PPK sudah mengikuti prinsip-prinsip JPKM (untuk Pusskesmas dilakukan berdasarkan kapitasi dan untuk Rumah Sakit berdasarkan sistem paket). Penerima Pensiun dan Keluarganya Upaya ini dimulai tahun 1968 berdasarkan Keppres No.2/1992. Menurut UU No. ASKES adalah badan penyelenggara program asuransi sosial di bidang kesehatan. jaminan pemeliharaan kesehatan untuk tenaga kerja dan keluarganya wajib dilaksanakan oleh setiap 337 . Pemeliharaan kesehatan paripurna diberikan sama kepada semua peserta. kemudian menjadi PT (Persero) Asuransi Kesehatan Indonesia (PT.BAB IV KEGIATAN dan SASARAN 4. Sesuai dengan kebijaksanaan Pemerintah dalam hal struktur organisasi badan-badan pemerintah. Untuk peserta sukarela disediakan pelayanan oleh dokter keluarga atau fasilitas keehatan swasta. ASKES) sampai sekarang. yang seperti diatur dalam pasal 14 hanya dapat dilaksanakan oleh BUMN. Kepesertaan program brsifat wajib bagi pegawai negeri. Pelayanan kesehatan peserta disediakan di semua Puskesmas dan Rumah Sakit Pemerintah.1 Kegiatan a) Pemeliharaan Kesehatan Pegawai Negeri. PT. Badan yang mengelola upaya ini pada waktu itu dinamakan Badan Penyelenggara Dana Pemeliharaan Kesehatan atau disingkat BPDPK dan berada dalam lingkungan Departemen Kesehatan. b) Pemeliharaan Kesehatan bagi Tenaga Kerja dan Keluarganya Sejak terbitnya UU No.3 tahun 1992 tentang Jamsostek.

Pelajar dan mahasiswa.minimal sebulan untuk gaji para tenaga kerjanya. Peserta umumnya adalah penduduk berpenghasilan rendah di pedesaan dan perkotaan dengan iuran yang relatif kecil dan paket pelayanan kesehatan yang masih terbatas. Pemeliharaan kesehatan serta cara pembayaran kepada PPK mengikuti pedoman penyelenggaraan JPKM. dan untuk masyarakat umum.. sehingga benar-banar dapat mandiri dalam menjaga kesehatan pesertanya. Seluruh anggota keluarga/masyarakat. Pemeliharaan relatif masih kesehatan sedikit. 4. c) Pemeliharaan Kesehatan Swasta Beberapa pengusaha swasta telah mulai menyelenggarakan upaya pemeliharaan kesehatan berdasarkan JPKM untuk golongan tertentu dari masyarakat. Pengelolaan Dana Sehat pada umumnya dilakukan secara sukarela oleh pengurus yang ditunjuk oleh masyarakat setempat. Seluruh iuran ditanggung oleh perusahaan. 1000.2 Sasaran     Karyawan perusahaan/dunia usaha. d) Pemeliharaan Kesehatan Dari. Cakupan peserta diwujudkan di beberapa DATI II dengan kepesertaan kelompok dan pengelolaan pofesional kearah JPKM. oleh. meskipun belum sepenuhnya. Organisasi sosial dan kemasyarakatan 338 . menggunakan kepesertaannya Pengelolaannya mengikuti pedoman JPKM. Iuran ditetapkan sebesar 3% dari gaji sebulan untuk pekerja bujangan dan 6% dari gaji bagi yang sudah berkeluarga. dan Untuk Masyarakat atau Dana Sehat Dana Sehat adalah suatu upaya pemeliharaan kesehatan dari. Oleh. terutama segmen yang berpenghasilan fasilitas swasta menengah dan keatas.000.perusahaan yang memperkrjakan minimal 50 orang karyawan atau yang mengeluarkan Rp.

jenis pelayanan meliputi              Promosi kesehatan atau penyuluhan Imunisasi dasar program (BCG.rawat jalan tingkat pertama (RJTP).BAB V PELAKSANAAN 5.1. bayi dan balita KB dengan alat kontrasepsi standar Pengobatan penyakit umum atau gigi Pelayanan rujukan Pelayanan obat obatan Pelayanan laboratorium dasar meliputi pemeriksaan darah rutin dan urin lengkap Tindakan medis Pelayanan penunjang diagnostic Pelayanan partus Pelayanan spesialistik Pelayanan gawat darurat B. kuratif. DPT. polio.1. dan rehabilitatif) meliputi : A.ibu nifas . campak. Pelaksanaan Puskesmas Kecamatan Mampang Pada puskesmas kecamatan Mampang dilaksanakan sistem jaminan pemeliharaan kesehatan bagi keluarga miskin (JPK GAKIN) dengan pendekatan JPKM.1. Rawat jalan tingkat lanjutan atau spesialis (RJTL) . 5.jenis pelayanan meliputi :    Konsultasi dan pemeriksaan dokter spesialis Obat obatan sesuai kebutuhan medis Pemeriksaan penunjang berdasarkan indikasi medis 339 .ibu menyusui.PELAYANAN KESEHATAN YANG DIJAMIN : Paket dasar yang bersifat paripurna (meliputi promotif preventif. hepatitis B) Pelayanan KIA termsuk ANC .

6 KRITERIA KEMISKINAN LOKAL YANG DIGUNAKAN BAGI SKTM 340 . Rawat Inap di Kelas 3 Rumah Sakit. Generik. Perawatan Khusus di Rumah Sakit. dll) Medical check up Vitamin atau pemberian suplemen tanpa indikasi medis Pengobatan alternative (tradisional.1. PELAYANAN KESEHATAN YANG DIJAMIN DENGAN PEMBATASAN :  Potesa dan alat bantu yang sesuai indikasi medis (gigi palsu. dll) 5.4. jenis pelayanan meliputi:    Perawatan kelas 3 di Rumah Sakit yang telah berIKS dengan dinas kesehatan Visit dokter spesialis atau dokter yang merawat Obat-obatan yang diperlukan (DPHU.2. jenis pelayanan meliputi: Perawatan ICU/ICCU/HCU Unit Perinatologi (NICU) 5.1. Formularium atau sesuai indikasi medis dengan surat keterangan komite medik/konsulen bagian atau departemen)     Penunjang diagnostic dan tindakan yang sesuain dengan indikasi medis Alat kesehatan dan bahan habis pakai yang diperlukan D. othodontis. terapi alternatif lain) Pengguguran kandungan tanpa indikasi medis (permintaan sendiri) Hamil diluar nikah Pelayanan yang berkaitan dengan infertilitas dan kesuburan Bunuh diri Pelaku tindakan kejahatan Pemegang kartu asuransi lain 5.1. Tindakan di poliklinik C. alat bantu dengar.3. PELAYANAN KESEHATAN YANG TIDAK DIJAMIN            Pelayanan yang tidak sesuai dengan prosedur Pelayanan atau perawatan yang berkaitan dengan tujuan kosmetik (bedah plastic. kacamata.

hepatitis B) Pelayanan KIA termsuk ANC .ibu nifas .a. DPT.rawat jalan tingkat pertama (RJTP). polio.2 Pelaksanaan Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan 5. Tidak mampu ber-KB secara mandiri d. Luas lantai per orang kurang dari 4m2 b.2. Rawat jalan tingkat lanjutan atau spesialis (RJTL) .1. bayi dan balita KB dengan alat kontrasepsi standar Pengobatan penyakit umum atau gigi Pelayanan rujukan Pelayanan obat obatan Pelayanan laboratorium dasar meliputi pemeriksaan darah rutin dan urin lengkap Tindakan medis Pelayanan penunjang diagnostic Pelayanan partus Pelayanan spesialistik Pelayanan gawat darurat B. dan rehabilitatif) meliputi : A. kuratif. Terdapat anggota keluarga yang berusia 15tahun keatas buta huruf f.jenis pelayanan meliputi :   Konsultasi dan pemeriksaan dokter spesialis Obat obatan sesuai kebutuhan medis 341 . campak. Terdapat anggota keluarga dengan usia 7 – 18 tahun yang tidak sekolah atau putus sekolah 5. jenis pelayanan meliputi              Promosi kesehatan atau penyuluhan Imunisasi dasar program (BCG.PELAYANAN KESEHATAN YANG DIJAMIN : Paket dasar yang bersifat paripurna (meliputi promotif preventif.ibu menyusui. Tidak mampu membiayai pengobatan ke sarana kesehatan / bukan Puskesmas c. Penghasilan kurang dari UMP DKI Jakarta per rumah tangga perbulan (kurang dari 600ribu) e.

othodontis. jenis pelayanan meliputi: Perawatan ICU/ICCU/HCU Unit Perinatologi (NICU) 5.  Pemeriksaan penunjang berdasarkan indikasi medis Tindakan di poliklinik C.2. Formularium atau sesuai indikasi medis dengan surat keterangan komite medik/konsulen bagian atau departemen)     Penunjang diagnostic dan tindakan yang sesuain dengan indikasi medis Alat kesehatan dan bahan habis pakai yang diperlukan D. PELAYANAN KESEHATAN YANG DIJAMIN DENGAN PEMBATASAN :  Potesa dan alat bantu yang sesuai indikasi medis (gigi palsu. kacamata. terapi alternatif lain) Pengguguran kandungan tanpa indikasi medis (permintaan sendiri) Hamil diluar nikah Pelayanan yang berkaitan dengan infertilitas dan kesuburan Bunuh diri Pelaku tindakan kejahatan Pemegang kartu asuransi lain 342 . dll) 5. PELAYANAN KESEHATAN YANG TIDAK DIJAMIN            Pelayanan yang tidak sesuai dengan prosedur Pelayanan atau perawatan yang berkaitan dengan tujuan kosmetik (bedah plastic.2. alat bantu dengar. Rawat Inap di Kelas 3 Rumah Sakit. dll) Medical check up Vitamin atau pemberian suplemen tanpa indikasi medis Pengobatan alternative (tradisional.2.3. Generik. Perawatan Khusus di Rumah Sakit. jenis pelayanan meliputi:    Perawatan kelas 3 di Rumah Sakit yang telah berIKS dengan dinas kesehatan Visit dokter spesialis atau dokter yang merawat Obat-obatan yang diperlukan (DPHU.

Terdapat anggota keluarga yang berusia 15tahun keatas buta huruf f. polio. Penghasilan kurang dari UMP DKI Jakarta per rumah tangga perbulan (kurang dari 600ribu) e.4. hepatitis B) Pelayanan KIA termsuk ANC . DPT. Terdapat anggota keluarga dengan usia 7 – 18 tahun yang tidak sekolah atau putus sekolah 5. bayi dan balita KB dengan alat kontrasepsi standar Pengobatan penyakit umum atau gigi Pelayanan rujukan Pelayanan obat obatan Pelayanan laboratorium dasar meliputi pemeriksaan darah rutin dan urin lengkap Tindakan medis Pelayanan penunjang diagnostic Pelayanan partus 343 . Tidak mampu membiayai pengobatan ke sarana kesehatan / bukan Puskesmas c. Luas lantai per orang kurang dari 4m2 b.ibu menyusui. campak.ibu nifas . Tidak mampu ber-KB secara mandiri d.5.3 Pelaksanaan Puskesmas Kelurahan Pela Mampang Rawat jalan tingkat pertama (RJTP).2. 6 KRITERIA KEMISKINAN LOKAL YANG DIGUNAKAN BAGI SKTM a. jenis pelayanan meliputi            Promosi kesehatan atau penyuluhan Imunisasi dasar program (BCG.

kuratif.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6. 6. Membuat dan melakukan semua rencana kegiatan pelayanan kesehatan paripurna agar biaya dapat hemat dan terkendali Memberikan informasi yang lengkap terhadap masyarakat tentang JPKM denganmenggunakan media cetak seperti brosur ataupun secara lisan.2 Saran    Pelayanan-pelayanan yang diberikan harus sesuai dengan keperluan pasien baik secara promotif.1 Kesimpulan JPKM yang merupakan singkatan dari Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat. pada hakekatnya adalah jaminan pelayanan kesehatan paripurna yang diperoleh seseorang setelah membayar kontribusi/iuran kepada suatu badan penyelenggara yang mengikat kontrak dan membayar pra upaya jaringan pemberi pelayanan kesehatan berjenjang yang terjaga mutunya untuk melayani peserta tersebut. pengembangan kemandirian masyarakat dalam membiayai pelayanan kesehatan yang diperlukannya.preventif. Agar masyarakat lebih mengerti tentang JPKM dan kesehatan masyarakat  Mengevaluasi kegiatan untuk melihat apakah kegiatan kegiatan pelayanan berjalan dengan baik 344 . dan rehabilitatif. pembudayaan perilaku hidup bersih dan sehat. pelayanan kesehatan paripurna yang lebih bermutu dengan biaya yang hemat dan terkendali. JPKM bertujuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui jaminan pemeliharaan kesehatan sesuai kebutuhan utama peserta yang berkesinambungan.

12-15.org. Jakarta (2000).dinkes.DAFTAR PUSTAKA 1. Departemen Kesehatan RI: Kumpulan Materi Pelatihan Penyelenggaraan JPKM. Diunduh dari http:/www. 345 . Diakses Desember 2009. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat. 2.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful