[TYPE THE COMPANY NAME

]

UU NO.32 Thn 2004: PEMERINTAH DAERAH (OTONOMI DAERAH) Dalam Ulasan Pengelolaan SDA & Lingkungan

Edy Suyanto, Pipin Noviati Sadikin [Pick the date]

DAFTAR ISI
I. PENDAHULUAN ....................................................................................................................................................... 2 A. Latar Belakang ......................................................................................................................................................... 2 B. Permasalahan Lingkungan pada Era Otonomi Daerah ........................................................................... 3 C. Tujuan Paper............................................................................................................................................................. 5 II. TINJAUAN UNDANG-UNDANG ............................................................................................................................... 6 A. Pengertian Otonomi Daerah............................................................................................................................... 6 B. Pengertian Desentralisasi ................................................................................................................................... 6 C. Tujuan Utama Otonomi Daerah ........................................................................................................................ 6 D. Ulasan tentang UU Otonomi Daerah ............................................................................................................... 7 E. Kaitan Antara Otonomi Daerah dan SDA - Lingkungan ....................................................................... 11 III. PEMBAHASAN UNDANG-UNDANG NO. 32 Th 2004 TENTANG PEMERINTAH DAERAH (OTONOMI DAERAH) ................................................................................................................................................... 14 IV. STRATEGI KEBIJAKAN DAERAHDALAM PENGELOLAAN SDA DAN LINGKUNGAN HIDUP DI ERA OTDA ......................................................................................................................................................................... 19 V. PENUTUP ..................................................................................................................................................................... 22 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................................................................ 23

pg. 1

22 tahun 1999. dan lahirnya UU No. telah terjadi eksploitasi sumberdaya alam tanpa memperhatikan prinsip-prinsip konservasi dan fungsinya yang benar dalam rangka menjaga keseimbangan fungsi lingkungan menuju pembangunan yang berkelanjutan. dimana dinyatakan bahwa: “kandungan bumi dan air dikuasai oleh negara dan akan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat”.Keadaan ini semakin parah dengan hilangnya kepercayaan masyarakat. adil dan bijaksana. memberikan citra bahwa seolah-olah pemerintah daerah Kabupaten dan Kota. Kelemahan tata kelola di Indonesia telah menimbulkan berbagai persoalan di berbagai bidang. yaitu pertama. tentang Otonomi daerah dan Undang-undang tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Pemerintah daerah. negaranegara sahabat dan lembaga dana Internasional terhadap kinerja pemerintah. 2 . Undang-undang no. LATAR BELAKANG Sejak pemerintahan Orde baru berkuasa. kedua. berbangsa dan bermasyarakat yang tidak pernah diselesaikan secara tuntas. Paling tidak ada beberapa hal yang harus dilihat. dan ketiga. yang dipicu oleh terjadinya resesi ekonomi yang berkepanjangan. pemanfaatannya yang hanya dinikmati oleh sekelompok orang saja. pg. 32 tahun 2004. Dengan kondisi carut marut. sedang berlomba-lomba mengeksploitasi sumberdaya alam semaksimal mungkin hanya untuk mengejar Pendapatan Asli daerah (PAD). maka persoalan yang mengemuka adalah bagaimana distribusi pemanfaatan ekploitasi sumberdaya alam tersebut. PENDAHULUAN A. ketidakadilan yang meluas dan mendalam dalam eksploitasi sumberdaya alam. 32 tahun 2004.Kenyataan yang harus dihadapi adalah sumberdaya alam yang terus menerus dieksploitasi demi kepentingan beberapa pihak saja tanpa memikirkan berbagai macam dampakyang ditimbulkan akancenderung ke arah negative. bisa dipastikan bahwa dalam bidang pengelolaan sumberdaya alam (SDA) di seluruh Indonesia tidak memberikan hasil yang memadai untuk pembangunan dan peningkatan kesejahteraan kehidupan masyarakat. makaakan terlihat perbedaan yang sangat besar antara konsep dan realitas. Bergantinya pemerintahan Orde Baru kepada pemerintahan Reformasi. banyak permasalahan yang terjadi pada kehidupan bernegara. tentang Pemerintah Daerah. Apabila keadaan ini dikaitkan dengan Pasal 33 UUD 1945. sebagai rintisan UU No.I.

Yang tadinya top down menjadi bottom up.Nampaknya. serta membawa ego sektoral masing-masing yang sangat tinggi.Tentu saja dampaknya besar bagi kehidupan manusia. yang disebut pemerintah daerah. sehingga kabupaten dan Kota.Padahal berdasarkan berbagai literature dan penelitian sudah jelas bahwa manusia jumlahnya semakin meningkat dari tahun ke tahun. Yang tadinya menganut azas sentralisasi menjadi desentralisasi. adalah untuk meningkatkan pelayanan pemerintah kepada rakyat di daerah dan meningkatkan kesejahteraan maasyarakat daerah. hal ini bukan hanya citra. Ketika masa Orde Baru. hingga sekarang 2011. dan ekosistem. berbagai makhluk hidup. sedangkan sumberdaya alam tetap. Dalam Mawardi (2009) disebutkan bahwa beberapa permasalahan sumberdaya alam dan lingkungan yang terkait dengan masyarakat lokal atau daerah di Indonesia merupakan dampak negative yang timbul. dan antara lain merupakan akibatlahirnya UU nomor 32 tahun 2004 tentang Otonomi Daerah. Maksud dan rencana Pemerintah Pusat memang baik. B.Kebijakan yang dikeluarkannya pun masih bersifat sektoral dan tidak holistic. dan semakin memicu terjadinya kerusakan sumberdaya alam dan lingkungan hidup terutama pada tingkat local. Semuanya diatur oleh pemerintah pusat.Bahkan mungkin lebih sedikit lagi apabila dihubungkan dengan keberhasilan daerah dalam pengelolaln sumberdaya alam dan lingkungannya. 3 . diharapkan akan terjadi beberapa perubahan yang signifikan.Realitas yang ditemui di lapangan dan akar rumput memang demikianlah adanya. hanya sebagian kecil saja kabupaten/kota yang telah mampu memakmurkan daerah dan mensejahterakan masyarakatnya. Tujuan utama yang lain dengan adanya UU No. PERMASALAHAN LINGKUNGAN PADA ERA OTONOMI DAERAH Dalam perjalanan era Otonomi Daerah berbagai permasalahan muncul. kekuasaan pemerintah pusat sedemikian kuatnya. Dengan proses ini.Akan timbul pula peran aktif masyarakat dan pendayagunaan potensi daerah secara optimal dan terpadu. terpecah-pecah. ada harapanakan terjadi pemerataan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.32 tahun 2004. yaitu: Bidang Pertambangan pg. sejak dimulainya pelaksanaan otonomi daerah pada tahun 2001. Namun demikian. sama sekali tidak mempunyai wewenang yang jelas dalam mengelola sumberdaya alam dan lingkungan.Terbitnya UU Otonomi daerah.

Tingginya tingkat pencemaran dan belum dilaksanakannya pengelolaan limbah secara terpadu dan sistematis. Tidak adanya kepastian hukum dalam bidang pertambangan Bidang Pertanian 1. Tingginya konversi lahan konservasi atau sawah menjadi daerah pemukiman. 3. 7. Rendahnya kapasitas pengelolaan hutan. Buruknya kualitas udara di kota-kota besar karena limbah industry dan asap kendaraan bermotor/transportasi. Belum terselesaikannya batas wilayah laut dengan negara tetangga. pertambangan atau perdagangan. Bidang Kehutanan 1. 4.1. Belum didayagunakannya potensi kelautan secara optimal. 8. Terjadinya penurunan kontribusi dari sektor migas dan hasil tambang pada penerimaan Negara (APBN). Bidang Tata Kelola Lingkungan 1. Meningkatnya pencemaran air akibat limbah industry. 3. 2. Tingginya impor bahan pangan Bidang Kelautan dan Perikanan 1. 4. 6. Alternatif pendanaan lingkungan belum dikembangkan. Belum dipahaminya isu lingkungan global belum dipahami dan belum diterapkan dalam pembangunan nasional dan daerah. Merebaknya pencurian ikan dan pola penangkapan ikan yang dapat merusak biota laut. Belum jelasnya pembagian wewenang dan tanggungjawab pengelolaan hutan. bahkan masih banyak yang terlantar. Belum optimalnya pengelolaan pulau-pulau kecil. Turunnya kuantitas dan kualitas kondisi hutan Indonesia. 4 . Belum harmonisnya peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup. Terjadinya kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) di tiap-tiap daerah. Belum berkembangnya pemanfaatan hasil hutan non-kayu dan jasa lingkungan lainnya. Banyaknya kerusakan dan degradasi habitat ekosistem pesisir dan laut. 2. 2. Belum dilaksanakannya sistem pengelolaan hutan secara berkelanjutan secara optimal. Tingginya ancaman terhadap keanekaragaman hayati. 4. 5. 3. 2. 2. Masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam pemeliharaan lingkungan hidup. Lemahnya penegakan hukum terhadap pembalakan liar (illegal logging) dan penyelundupan kayu. pg. 4. 3. Bidang Pencemaran dan Perubahan Iklim Global 1. 5. 5. Citra pertambangan yang merusak lingkungan hidup. Belum dikembangkan sistem mitigasi bencana alam. Belum dilaksanakan adaptasi kebijakan terhadap perubahan iklim dan pemanasan global 6. 2.

karena berkaitan dengan hajat hidup orang banyak.dimaksudkan agar alam ini tetap terjaga keseimbangannya. dan terciptalah harmoni kehidupan antara manusia dengan alam. tentang Pemerintah Deerah (Otonomi Daerah) antara konsep dan pelaksanaannya (implementasinya) di daerah. serta adanya kesadaran moral di kalangan generasi masa kini. Untuk menelaah atau mengkaji UU Nomor 32 Tahun 2004. C. b. 5 . pg. Untuk menelaah dan mengkaji konsep pasal-pasal yang ada dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 dalam hubungannya dengan pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan implikasinya di daerah masing-masing. Tujuan akhirnya tentulah agar kita dapat mewariskan fungsi lingkungan ini kepada generasi yangmendatang dalam keadaan baik. TUJUAN PAPER Tujuan penulisan paper ini adalah sebagaiberikut : a.Pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan.Permasalahan-permasalah tersebut tidak bisa diabaikan dan dianggap enteng.

Perencanaan Daerah Partisipatif. IMPLEMENTASI KEBIJAKAN OTONOMI DAERAH DIARAS LOKAL. Desentralisasi dalam Perspektif Otonomi Daerah. 6 . sebagaimana dikandung dalarn UU No. 22 Tahun 1999 disebutkan bahwa desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintah oleh Pemerintah kepada Daerah Otonom dalamkerangka Negara Kesatuan Republik. PENGERTIAN DESENTRALISASI Dalam UU No.(Abe. TINJAUAN UNDANG-UNDANG A. 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah bahwa otonomi daerah adalah kewenangan Daerah Otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasimasyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. sosial-budaya dan politik di wilayahnya (Andrik Purwasito. 2001:2) B.II. 2002) C.(Abe. TUJUAN UTAMA OTONOMI DAERAH Otonomi daerah menurut UU No. PENGERTIAN OTONOMI DAERAH Menurut UU No. 22/1999 dari sudut pandang desentralisasifiscal. 2001) Otonomi Daerah. 2002: 8) pg. adalahusaha memberi kesempatan kepada daerah untuk memberdayakan potensi ekonomi. 22/1999.tujuan utama otonomi daerah adalah untuk mendorong terselenggaranya pelayanan publik sesuai tuntutan masyarakat daerah. mendorong efisiensi alokatif penggunana dana pemerintah melalui desentralisasi kewenangan dan pemberdayaandaerah (Kamal Alamsyah.

ULASAN TENTANGUU OTONOMI DAERAH Upaya serius untuk melakukan desentralisasi di Indonesia pada masa reformasi dimulai di tengah-tengah krisis yang melanda Asia dan bertepatan dengan proses pergantian rezim (dari rezim otoritarian ke rezim yang lebih demokratis). Beberapa hal yang sangat mendasar dalam penyelenggaraan otonomi daerah dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999. 7 . 3. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah. sedang dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 menekankan arti penting kewenangan daerah dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat melalui prakarsanya sendiri. Beberapa hal yang mendasar mengenai otonomi daerah dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang sangat berbeda dengan prinsip undang-undang sebelumnya antara lain : 1. Pemerintahan Habibie yang memerintah setelah jatuhnya rezim Suharto harus menghadapi tantangan untuk mempertahankan integritas nasional dan dihadapkan pada beberapa pilihan. Prinsip yang menekankan asas desentralisasi dilaksanakan bersama-sama dengan asas dekonsentrasi seperti yang selama ini diatur dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tidak dipergunakan lagi. 2.D. Oleh karena itu. Hal ini secara proporsional diwujudkan dengan pengaturan. yaitu dengan memberlakukan UndangUndang No. adalah pentingnya pemberdayaan masyarakat. nyata dan bertanggung jawab. dalam Undang-undang ini otonomi daerah diletakkan secara utuh pada daerah otonom yang lebih dekat dengan pg. otonomi daerah juga dilaksanakan dengan prinsip-prinsip demokrasi yang juga memperhatikan keanekaragaman daerah. Dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 pelaksanaan otonomi daerah lebih mengedepankan otonomi daerah sebagai kewajiban daripada hak. menumbuhkan prakarsa dan kreativitas mereka secara aktif. Di samping itu. Kemudian. serta meningkatkan peran dan fungsi Badan Perwakilan Rakyat Daerah. Pada masa pemerintahan Habibie diberlakukan dasar hukum desentralisasi yang baru untuk menggantikan Undang-Undang No. 5 Tahun 1974. karena kepada daerah otonom diberikan otonomi yang luas. yang berarti mengurangi peran pemerintah pusat dan memberikan otonomi kepada daerah. serta perimbangan keuangan pusat dan daerah. pembagian dan pemanfaatan sumber daya nasional yang berkeadilan. Pemerintahan Habibie memilih melakukan pembagian kekuasaan dengan pemerintah daerah. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang No.

7. kota dan desa.masyarakat. dan tidak perlu disahkan oleh pejabat yang berwenang. bulat dan menyeluruh. yaitu daerah yang selama ini berkedudukan sebagai Daerah Tingkat II. Kabupaten dan Kota sepenuhnya menggunakan asas desentralisasi atau otonom. potensi daerah. yang ditetapkan dengan peraturan pemerintah. 6. sosial budaya. Pengaturan mengenai penyelenggaraan pemerintahan desa sepenuhnya diserahkan pada daerah masing-masing dengan mengacu pada pedoman yang ditetapkan oleh pemerintah. Daerah otonom mempunyai kewenangan dan kebebasan untuk membentuk dan melaksanakan kebijakan menurut prakarsa dan aspirasi masyarakat. anggaran dan legislasi daerah. diganti menjadi daerah propinsi dengan kedudukan sebagai daerah otonom yang sekaligus wilayah administrasi. 5. 8 . Wilayah Propinsi meliputi wilayah laut sepanjang 12 mil dihitung secara lurus dari garis pangkal pantai. daerah yang tidak mampu menyelenggarakan otonomi daerah dapat dihapus dan atau digabung dengan daerah lain. tetapi menjadi perangkat daerah kabupaten/kota. Dalam hubungan ini. DPRD mempunyai fungsi pengawasan. Daerah dapat dimekarkan menjadi lebih dari satu daerah. Sistem otonomi yang dianut dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 adalah otonomi yang luas. yang ditetapkan dengan undang-undang. Daerah dibentuk berdasarkan pertimbangan kemampuan ekonomi. 9. 4. Kepala daerah dipilih dan bertanggung jawab kepada DPRD. jumlah penduduk. dan pertimbangannya lain yang memungkinkan terselenggaranya otonomi daerah. 10. kecuali bidang politik luar negeri. yaitu wilayah kerja Gubernur dalam melaksanakan fungsi-fungsi kewenangan pusat yang didelegasikan kepadanya. Mengenai asas tugas pembantuan dapat diselenggarakan di daerah propinsi. peradilan. moneter dan fiskal serta agama dan bidang. nyata dan bertanggung jawab. Pemerintah Daerah terdiri dari Kepala Daerah dan perangkat daerah lainnya sedang DPRD bukan unsur pemerintah daerah. kabupaten. hankam. Gubernur selaku kepala wilayah administratif bertanggung jawab kepada Presiden. daerah. pg. kecamatan tidak lagi berfungsi sebagai peringkat dekonsentrasi dan wilayah administrasi. dimana semua kewenangan pemerintah. luas daerah. sedang wilayah Kabupaten/Kota yang berkenaan dengan wilayah laut sebatas 1/3 wilayah laut propinsi. 8. yang dalam Undang-undang ini disebut Daerah Kabupaten dan Daerah Kota.bidang tertentu diserahkan kepada daerah secara utuh. Sedang yang selama ini disebut Daerah Tingkat I atau yang setingkat. sosial politik. Peraturan Daerah ditetapkan oleh Kepala Daerah dengan persetujuan DPRD sesuai pedoman yang ditetapkan Pemerintah.

berdasarkan nama. Kepala Daerah sepenuhnya bertanggung jawab kepada DPRD. Selain DPRD. pemberhentian. 9 . Dinas-Dinas Teknis Daerah. Misalnya kewenangan di bidang perhubungan. Daerah diberi kewenangan untuk melakukan pengangkatan. pemindahan. Kewenangan yang ada pada propinsi adalah otonomi yang bersifat lintas Kabupaten dan Kota. wewenang. daerah juga memiliki kelembagaan lingkup pemerintah daerah. yakni serangkaian kewenangan yang tidak efektif dan efisien kalau diselenggarakan dengan pola kerjasama antar Kabupaten atau Kota. Besaran dan pembentukan lembaga-lembaga itu sepenuhnya diserahkan pada daerah. penetapan pensiun. 15. Setiap daerah hanya dapat memiliki seorang wakil kepala daerah. yang terdiri dari Kepala Daerah.11. Kepada Kabupaten dan Kota diberikan otonomi yang luas. pendidikan dan pelatihan pegawai sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan daerah. pengawasan dan badan usaha milik daerah. 14. 13. standar. pendidikan dan latihan. dan dipilih bersama pemilihan kepala daerah dalam satu paket pemilihan oleh DPRD. pg. dan kewajiban yang diberikan kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut aspirasi masyarakat untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka pelayanan terhadap masyarakat dan pelaksanaan pembangunan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. sedang pada propinsi otonomi yang terbatas. Asisten Sekwilda. pekerjaan umum. Pembantu Bupati/Walikota. Dalam Wikipedia dikatakan bahwa Otonomi daerah dapat diartikan sebagai hak. kehutanan dan perkebunan dan kewenangan bidang pemerintahan tertentu lainnya dalam skala propinsi termasuk berbagai kewenangan yang belum mampu ditangani Kabupaten dan Kota. prosedur yang ditetapkan pemerintah. dan DPRD dapat meminta Kepala Daerahnya berhenti apabila pertanggungjawaban Kepala daerah setelah 2 (dua) kali tidak dapat diterima oleh DPRD. 12. Lembaga Staf Teknis Daerah. Sekretariat Daerah. Kantor Wilayah dan Kandep dihapus. seperti yang menangani perencanaan. Pengelolaan kawasan perkotaan di luar daerah kota dapat dilakukan dengan cara membentuk badan pengelola tersendiri. penelitian dan pengembangan. Lembaga pembantu Gubernur. baik secara intern oleh pemerintah Kabupaten sendiri maupun melalui berkerjasama antar daerah atau dengan pihak ketiga.

terutama dalam mengatur. Nilai dasar Desentralisasi Teritorial. memanfaatkan dan menggali sumber-sumber potensi yang ada di daerahnya masing-masing. juga sebagai implementasi tuntutan globalisasi yang harus diberdayakan dengan cara memberikan daerah kewenangan yang lebih luas. yang diwujudkan dalam pandangan bahwa Indonesia tidak mempunyai kesatuan pemerintahan lain di dalamnya yang bersifat negara ("Eenheidstaat"). bangsa dan negara Republik Indonesia tidak akan terbagi di antara kesatuan-kesatuan pemerintahan. Dimensi Administratif. lebih nyata dan bertanggung jawab. Terdapat dua nilai dasar yang dikembangkan dalam UUD 1945 berkenaan dengan pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia. Dikaitkan dengan dua nilai dasar tersebut di atas. wewenang. dari isi dan jiwa pasal 18 Undang-undang Dasar 1945 beserta penjelasannya sebagaimana tersebut di atas maka jelaslah bahwa Pemerintah diwajibkan untuk melaksanakan politik desentralisasi dan dekonsentrasi di bidang ketatanegaraan. 10 . Pelaksanaan Otonomi Daerah selain berlandaskan pada acuan hukum. yaitu: 1. Nilai Unitaris. yang berarti kedaulatan yang melekat pada rakyat. dan 2. 2. pg. penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat relatif dapat lebih efektif.Sedangkan yang dimaksud dengan daerah otonom adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat. Dimensi Politik. dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dati II dipandang kurang mempunyai fanatisme kedaerahan sehingga risiko gerakan separatisme dan peluang berkembangnya aspirasi federalis relatif minim. Adapun titik berat pelaksanaan otonomi daerah adalah pada Daerah Tingkat II (Dati II)dengan beberapa dasar pertimbangan: 1. Otonomi daerah di Indonesia adalah hak. penyelenggaraan desentralisasi di Indonesia berpusat pada pembentukan daerah-daerah otonom dan penyerahan/pelimpahan sebagian kekuasaan dan kewenangan pemerintah pusat ke pemerintah daerah untuk mengatur dan mengurus sebagian sebagian kekuasaan dan kewenangan tersebut.

pemberian otonomi diselaraskan/diupayakan untuk memperlancar pembangunan di seluruh pelosok tanah air. prinsip otonomi yang dianut adalah: 1. bahwa setelah Otonomi Daerah. Bertanggung jawab. KAITAN ANTARA OTONOMI DAERAH DAN SDA . terutama dalam mengatur. Nyata. maka tidak mengherankan kemudian dibentuk KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). bangsa Indonesia mempunyai Trilogi Pembangunan. mengandung pesan moral. kita harus membedakan antara apa yang disebut akar persoalan dan syndrome. stabilitas dan pemerataan”. melainkan harus menyentuh akar rumput. Selain mengemban tanggung jawab moral. Dalam proses penyerahan. Yang jelas. 2. Atas dasar itulah. kepatuhan terhadap penegakan hukum di negara Indonesia ini juga mesti memihak kepada rakyat. Pada masa Orde baru. Misalnya. (Sumber: Wikipedia.Konsep ini merupakan salah satu karya yang brilian. pelaksanaan otonomi selalu menjadi sarana dan dorongan untuk lebih baik dan maju. lebih nyata dan bertanggung jawab.LINGKUNGAN Sebenarnya. kerusakan lingkungan ini terjadi bukan hanya sekarang saja pada masa Otonomi Daerah. selama ini penegakan hukum di Indonesia dianggap tidak berjalan dengan adil dan bijaksana sebagaimana mestinya. free encyclopaedia) E. otonomi secara nyata diperlukan sesuai dengan situasi dan kondisi obyektif di daerah. dan 3. Dati II adalah daerah "ujung tombak" pelaksanaan pembangunan sehingga Dati II-lah yang lebih tahu kebutuhan dan potensi rakyat di daerahnya. 11 . Dinamis. memanfaatkan dan menggali sumber-sumber potensi yang ada di daerahnya masing-masing terutama dan tidak boleh diabaikan adalah untuk kepentingan masyarakat. Sebenarnya tidak sepenuhnya demikian. yaitu “pertumbuhan. pelimpahan dan pelaksanaan sebagian kekuasaan dan kewenangan pemerintah pusat ke pemerintah daerah untuk mengatur dan mengurus sebagian sebagian kekuasaan dan kewenangan ini. tentu saja harus berlandaskan pada acuan hukum. karena daerah memiliki kewenangan yang lebih luas. kerusakan lingkungan semakin meningkat tajam. Hanya saja bisa kita katakan.3. bahwa pelaksanaannya tidak semata-mata untuk kepentingan segelintir pihak. Konsep Otonomi Daerah. pg. stigma gara-gara Otonomi Daerah maka lingkungan semakin rusak.

yakni 2. dan perikanan menjadi sumberdaya yang menjanjikan. sehingga pertumbuhan yang kita kenal adalah “pertumbuhan” semu. relative sering terjadi di berbagai tempat. dimana pengelolaan sumberdaya alam harus dilakukan secara adil dan merata. Diprediksi tidak akanada hutan lagi di Indonesia. daerah tetap bisa memberikan peluang kerja kepada masyarakat sekitarnya dengan ekowisata dan sebagainya. Namun demikian.Keadilan dan pemerataan disini terjadi di dalam satu generasi dengan berbagai pg. Secara prinsip ada beberapa azas yang berhubungan dengan pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan. Sungguh disayangkan apabila fenomena ini tidak membangkitkan kesadaran masyarakat. kalau laju deforestrasi. maka bencana alam dan bencana lingkungan sering terjadi dimana-mana. konfliks sosial masalah tanah.Para pejabat di Kabupaten/Kota.Lama kelamaan hutanakan habis. jika tidak lestari dan berlanjut.Misalnya dalam kehutanan. karena ada peluang investasi dan daerah akan tetap memelihara hutannya tanpa harus menebang. longsor. akibat dari eksploitasi yang berlebihan tanpa memandang bagaimana sumberdaya alam itu dilestarikan. gejala mengeksploitasi sumberdaya alam itu masih akan tetap terjadi. tidak harus selalu menebang hutannya. selayaknya memahami bahwa untuk peningkatan PAD dari hutan. dengan adanya eksploitasi sumberdaya alam dimana-mana di seluruh Indonesia. Bila ada kerusakan sumberdaya alam. Sekarang ada peluang. Hal ini menjadi peluang bagi Pemerintah di daerah.4 juta hektar pertahun. tidak pernah dipelajari dan akhirnya kemudian bahkan diubah polanya. dalam stabilitas juga ada “stabilitas” semu. laju kerusakan hutan karena illegal logging dan kebakaran (“dibakar”) seperti yang terjadi sekarang ini. padang lamun. serta gambut. trilogy ini tidak pernah dievaluasi. adalah azas keadilan. Selanjutnya. 12 .7%). dan yang sama sekali tidak pernah ada adalah pemerataan. maka akan terjadi bencana di manamana yang akan mengakibatkan kematian banyak manusia. bahwa bumi Indonesia beserta bangsa Indonesia tengah meluncur ke dalam jurang kehancuran.Misalnya banjir. maka hutan hanya ditebang dan ditebang. Sementara terumbu karang bisa menarik wisatawan asing.yang pernah ada di Indonesia. yang perlu diperhatikan yaitu sebagai berikut: Azas Pertama adalahazas pelestarian dan keberlanjutan. hutan sebagai penyerap CO2 dengan mekanisme pembangunan bersih atau Clean Development Mechanism.Padahal hutan adalah “paru-paru” dunia dan harus dijaga. bahkan 10 (sepuluh) atau 20 (duapuluh) tahun ke depan dengan kondisi perekonomian Indonesia yang “agak” terpuruk (tingkat pertumbuhan 6. kebakaran atau hutan dibakar. Padahal. Ada peluang menjualbelikan karbon yang diserap oleh hutan bakau.Demikian pula yang terjadi di bidang perairan dan kelautan. artinya ada yang akan “membeli” karbon CO2 yang diserap oleh hutan kita. Azas Kedua. Hingga 3 (tiga) atau 5 (lima) tahun ke depan.

Sayangnya. juga memberikan kesempatan dan perlindungan kepada kelompok masyarakat yang paling rentan. azas partisipasi dan akuntabilitas public. maupun dari intrusi spesies-spesies asing yang berbaur dengan spesies jenis local. partisipasi meliputi semua siklus dan pertanggungjawaban kepada public. investasi. jangan seenaknya di”kuras” untuk kepentingan “bisnis” oknum.Ini berarti Indonesia harus melindungi kekayaan keanekaragaman hayati yang dimilikinya. sumberdaya alam dikuasai negara. Azas kelima. Dalam hal ini. perencanaan. baik dari ancaman kepunahan. Dengan begitu. Azas ketujuh. yaitu penggunaan SDA secara efisien. Azas keempat. azas demokrasi. azas perlindungan keanekaragaman hayati. 13 .Partisipasi masyarakat dalam penyusunan kebijakan perlu dijamin. segala sesuatunya dikaitkan dengan melibatkan public. Azas keenam. pelaksanaan. Azas ketiga. hal ini masih berupa wacana. dan juga antar generasi mendatang yaitu anak cucu kita juga bisa merasakan manfaat dari sumberdaya alam yang telah kita jaga dan pelihara keberlangsungan dan keberlanjutannya. Dalam konteks ini. pg. pelaksanaan hak menguasai negara bertujuan untuk mengatur keadilan dan keberlanjutan fungsi sosial sumberdaya alam. Partisipasi masyarakat menjadi jiwa dalam seluruh proses pengelolaan SDA.Indonesia merupakan negaramegabiodiversity.Artinya dalam hal pengambilan keputusan harus dengan partisipasi public. Contohnya pemanfaatan air. tidak ada sifat diskriminatif karena tidak ada perbedaan jender atau kepentingan kelompok.level kelas social-ekonomi. pemantauan dan evaluasi. adalah azas transparansi. tanpa memperhatikan keberlanjutannya dan kepentingan masyarakat luas. azas eco-efficient. sebagaimana tercantum di dalam amanat UUD 1945. dimulai dari identifikasi.

PEMBAHASAN UNDANG-UNDANG NO.Berakhirnya era Orde Baru dan lahirnya era Reformasiatas desakan masyarakat harus diakomodasi oleh pemerintah pusat.34 yang mencabut beberapa kewenangan yang dipunyai pg. yaitu semacam pemberian hadiah dari pemerintah pusat ke daerah. dan daerah diberi kewenangan mengaturnya. Pemerintah pusat juga tidak sepenuh hati memberikan kewenangan. (2) Dalam Otonomi Daerah. kemudian keluar PP No.bisa juga merupakan sebuah proses pelunakan atas terjadinya proses perlawanan terhadap otoritarianisme sentralistik di pusat. Misalnya UU No. proses ini seakan-akan merupakan politik etis. pemilik modal juga bisa menanamkan modalnya di daerah. sektor-sektor stategis sebagian besar tetap dikuasai pusat. maka itu adalah manipulatif. akantetapi wewenang untuk mengatur di daerahnya sendiri. 32 TH 2004 TENTANG PEMERINTAHDAERAH (OTONOMI DAERAH) Undang-undang Otonomi Daerah (Otda) yang lahir tahun 1999. kewenangan adalah sesuatu yang diberi. ketika ada kasus sering terjadi saling lempar tanggungjawab. Kalau melihat UU No. Untuk penanaman modal di Jakarta pada umumnya dikuasai group perusahaan besar dan di daerah dikuasai group kecil. ada yang namanya Dana Alokasi Umum (DAU) dan dana alokasi khusus (DAK). Akan tetapi. Jadi ketika dikatakan mau mengejar Pendapatan Asli Daerah (PAD). Caranya dengan memberi kewenangan agar daerah bisa bernegosiasi dengan modal sendiri. Selanjutnya. sebenarnya 85% dikuasai pusat dan hanya 6% diberikan ke kabupaten penghasil. Seperti minyak.Atau. Begitu pula dengan kewenangan antara otoritas pemerintah pusat dan daerah. karena daerah tetap meminta suntikan danmengindukke pusat. kritisi bagi Otonomi Daerah adalah bahwa dalam Otonomi Daerah tidak dikatakan hak untuk mengatur daerahnya sendiri.III. yang biasanya mempunyai otoritas penuh. pada jaman kolonial. 14 . Lain halnya dengan hak. terjadi “ketegangan”. tentang kewenangan UU Otda. komposisi pembagian sumberdaya alam antara pusat dan provinsi. ternyata di daerah menimbulkan konflik baru.41 tentang kehutanan memberikan kewenangan kepada daerah untuk mengatur tentang persoalan sumberdaya hutan. Apabila dilihat secara historis. 25 tahun 1999. Ada beberapa hal yang perlu dikritisi dalam UU Otda sebagaiberikut: (1) Dalam Otonomi Daerah ini. jadi lebih merupakan sebuah proses pemberian.Misalnya kewenangan antara batas satu kabupaten dengan kabupatenlain. tidak terlepas dari proses perubahan sosial yang terjadi di Indonesia.

Sehingga. Akan tetapi dalam kenyataannya. Banyak kasus pertanahan adat yang menjadi konflik antara masyarakat dengan perusahaan. ada proses yang signifikan antara proses transformasi. seharusnya bermakna pembangunan kekuatan lokal. dimana-mana dengan mudah bisa kita temui pengemis dan pengangguran akibat tekanan faktor ekonomi sebagai salah satunya penyebabnya. maka semangat pengelolaan sumberdaya alam mendatang harus memperhatikan pengentasan kemiskinan masyarakatnya. sehingga menimbulkan implikasi-implikasi yang sangat berat di masyarakat daerah. bukan hanya sekedar desentralisasi kewenangan. pembunuhan. Dengan kata lain. Maka mau tidak mau tatanan sosial politik. seakan-akan ada konfliks kewenangan yang diproduksi oleh Otonomi daerah (Otda) yang berkaitan dengan Otda. stress. (5) Otonomi Daerah. yang terjadibukan mengembalikan mandat kepada provinsi atau kabupaten tetapi berpotensi memproduksi konflik–konflik baru. Sementara itu. dan akhirnya rakyat lokal “sering” dirugikan dan menjadi korban.Sehingga. Artinya. proses perubahan sosial dan politik. dengan kondisi social eknomi masyarakat.Mandat seharusnya otonomi dari komunitas. Lihat saja sekarang ini.Hal ini perlu diperjelas. agar dalam implikasi di lapangan tidak terjadi tumpang tindih antara Kepala Daerah dengan wakil Kepala pg. 15 . bukan otonomi administrasi seperti Kabupaten. belum siap. (6) Otonomi Daerah mengenal adanyaWakil Kepala daerah.pemerintah daerah. semakin banyak orang yang menderita sakit jiwa. ketika masyarakat secara umum. namun dalam rincian tugasnya tidak jelas. Banyak kepala daerah hanya menyelamatkan masa jabatannya. Hal ini agar rakyat komunal tidak merasa dirugikan. tanpa memperhatikan bagaimana setelah itu. meskipun SDA dieksploitasi oleh daerah. tatanan capital saat ini perlu diubah. karena hanya memikirkan untuk kepentingannya sendiri. (3) Dengan adanya UU Otda. atau menyelamatkan sumberdaya alam. (4) Undang-undang Otonomi Daerah lahir. agar angka kemiskinan menurun. bunuh diri. perseteruan antar kampung. namun kemiskinan tetap merajalela. proses perubahan system ketetanegaraan dengan dua hal yaitu rusaknya ekologi dan naiknya angka kemiskinan di daerah. tidak pernah terputus kaitan antara pengambilan keputusan di tingkat Pusat dalam menyelamatkan hutan.

Sedangkan kalau urusan tidak demikian.Contohnya.daerah. jujur dan adil.Kini banyak terjadi contoh serupa. dipilih secara langsung. (9) Dalam Otonomi Daerah. bahwa anggota TNI/Polri. Secara ekonomi.wewenang proses pemilihan kepala daerah dan wakilnya ini sebaiknya dikembalikan lagi kepada DPRD. 16 . disebutkan. sehingga saling mengisi antara Pejabat Publik dari Partai Politik dan pejabat karier. demokratis. sehingga menimbulkan suasana yang kurang kondusif. proses ini memerlukan biaya ekonomi yang tinggi. padahal dalam UU sebelumnya adalah kewenangan. (8) Dalam Otonomi Daerah. SLTA atau sederajat. (12) Dalam Otonomi Daerah. bebas rahasia. (11) Dalam Otonomi Daerah. karena dalam implementasi di lapangan sering terjadi konflik. Sebaiknya istilah “urusan” diganti menjadi kewenangan. karena sebagai warga negara mempunyai hak. tertulis adanya urusan. ditinjau lagi dan pendidikanperlu ditingkatkan. sekurang-kurangnya masyarakat. seperti halnya PNS. jabatan Sekretaris Desa diisi oleh PNS. berdasarkan azas langsung. disebutkan. Dalam hal ini. Karena itu. sebaiknya mereka perlu diberi kesempatan memilih. DPRD. Sebaiknya. (7) Otonomi Daerah sebaiknya mengatur bahwa wakil kepala daerah diisi oleh PNS karier. maka perlu diberi alokasi “jatah” di DPRD maupun DPR. karena menjadi kecemburuan perangkat desa yang lain. sehingga terjadi konflik. kasus Wakil Bupati garut yang mengundurkan diri. Misalnyasering terjadiaparat saling mendukung. hal ini perlu ditinjau lagi. minimal Sarjana (S1) sesuai dengan perkembangan pg. karena istilah kewenangan yang ada dalam UU Otda. Hal ini perlu ditinjau lagi. lebih banyak ditangani Pemerintah Pusat (resentralisasi. karena sangat terbatas dan secara politis tidak kuat. seperti undang-undang sebelumnya. Kalau tidak diberi hak memilih. syarat pendidikan Kepala daerah/Wakil. Dalam kewenangan ada kesempatan untuk mengadakan perencanaan dan mengimplementasikannya secara politis. tidak menggunakan hak pilih dalam pemilihan kepala daerah. akibat tidak adanya pembagian tugas yang jelas. kepala daerah dan wakilnya. DPR. (10) Dalam Otonomi Daerah.

Untuk ini disarankan sebaiknya dikembalikan ke undang-undang Presiden. Oleh karena itu perlu adanya pengakuan masyarakat adat. Misalnya dalam UU No. kabupaten Ogan Komering Ilir. Gubernur dan Wakil DIY. Sumatera Selatan. Hal ini seringkali menimbulkan konflik sosial dan protes masyarakat. dalam arti masyarakat adat “lokal”. Selain itu. (17) Dalam Otonomi Daerah. (15) Dalam Otonomi Daerah. tidak ada ketentuan siapa yang mempunyai wewenang mengatasipengelolaan lingkungan hidup tersebut. Diharapkan adanya otonomi komunitas. Tentu saja di dalam penyusunan peraturan pertanahan ini perlu dilakukan secara terpadu dan holistic antar kementerian. antara lain uu sda. uu pertambangan dan sebagainya. ada beberapa hal yang bertentangan dengan undang- undang sektoral dan menimbulkan “ambigu”. disebutkan bahwa untuk SDA akan dibuat sekitar 20 undang-undang. Akhir-akhir ini. Misalnya Raperda Tanah ulayat yang lebih menitikberatkan kesempatan bagi pengusaha (investor) dan pejabat daerah. Sebagai contoh. sedangkan kewenangan provinsi dari 4-12 mil. uu pertanahan. uu sumberdaya air. tetapi bukan “pengakuan semu”. Karena di daerah tidak ada batas yang jelas antara wewenang kabupaten dan propinsi dalam pengelolaan SDA dan lingkungan hidup.(13) DalamOtonomi daerah. kewenangan dinyatakan dengan jelas. 17 . sering terjadi “perebutan” lahan garapan. seperti dalam pembuatan program Amdal. pg. Didalam undang-undang tersebut. maka akan saling bertentangan dan dapat menyebabkan konflik di lapangan. mengingat aspek historis Yogyakarta. namun dalam pelaksanaannya di kabupaten atau provinsi bisa memilih-milih aturan mana yang akan digunakan. supayaditetapkan keistimewaannya. disebutkan bahwa Keistimewaan Yogyakarta (DIY). seperti kasus Mesuji di Lampung dan di Mesuji. sungai yang melewati suatu daerah. sebelumnya. Jika masing uu itu dibuat. ada kerancuan dalam pengelolaan SDA dan lingkungan hidup. belum tertulis adanya Otonomi Komunitas. 25 tahun 2000 tentang Propenas. yang mengatur tentang partisipasi masyarakat. disebutkan bahwa kabupaten mempunyai kewenangan atas pesisir dan laut dari 0-4 mil. konflik pertanahan kembali merebak. (16) Dalam otonomi Daerah. dengan (14) Dalam Otonomi daerah. kepala daerah (Gubernur) dan wakilnya dipilih rakyat.

Papua. Lampung (Mesuji) dan sebagainya. sehingga kadang menimbulkan konflik sosial atau kekacauan di masyarakat daerah. belum ada Juklak dan Juklisnya yang jelas. memungkinkan munculnya “raja-raja kecil” di daerah. pg. 18 . sudah jelas diatur hubungan antara Gubernur dengan Bupati. Contoh kasus yang terjadi antara lain di Riau.(18) Dalam otonomi daerah. (19) Dalam Otonomi Daerah. Bupati sering mengabaikan fungsi koordinasi dengan Gubernur. Karena itu. Sebagai contoh. sering dikatakan bahwa dengan adanya Otonomi Daerah. aturan mengenai pemekaran wilayah belum jelas. Akan tetapi pada kenyataannya diberbagai daerah.

konservasi. pemerintah provinsi. 25/2000 belum berjalan optimal karena perbedaan persepsi antar pelaku pembangunan dan adanya tumpang tindih peraturan perundangan. eksploitasi. dan pemerintah kabupaten/kota. termasuk wilayah pulau-pulau kecil. STRATEGI KEBIJAKAN DAERAHDALAMPENGELOLAAN SDA DAN LINGKUNGAN HIDUP DI ERA OTDA Dalam era Otonomi Daerah. partisipasi daerah dan masyarakat lokal diharapkan semakin optimal dalam mengelola sumberdaya kelautan. juga mengatur pemindahan fungsi-fungsi perencanaan dan pengelolaan SDA (termasuk laut dan pesisir) dari pemerintah pusat kepada daerah (provinsi atau kabupaten/kota). (c) pengaturan tata ruang. dan pengelolaan kekayaan laut. Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan dan pengawasan sumberdaya laut merupakan bentuk tanggung jawab mereka terhadap masa depan sumberdaya itu sendiri. dengan adanya UU No. pemerintah daerah sesungguhnya diberi kewenangan dan tanggung jawab untuk mengelola sumberdaya alam yang dimilikinya serta menjaga kelestarian lingkungan hidup. pasal 18 UU No. (d) penegakan hukum terhadap peraturan. Kewenangan untuk mengelola sumberdaya laut adalah paling jauh 12 mil laut untuk provinsi dan 1/3 dari wilayah kewenangan provinsi untuk kabupaten/kota. Kebijakan otonomi daerah merupakan langkah strategis untuk menciptakan keadilan ekonomi dan politik serta meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Sementara dari aspek ekonomi. daerah memiliki kewenangan untuk mengatur investasi di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Secara khusus di dalam pasal 18 UU No. Melalui otonomi daerah. Pembagian kewenangan antar tingkatan pemerintahan ini yang telah diatur melalui PP No. Peraturan hukum ini bertujuan untuk mendesentralisasikan sejumlah kewenangan pelayanan pemerintah. (b) pengaturan administratif. sebagaimana tertuang dalam UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah. Oleh karena itu. 32/2004 tentang Kewenangan dalam pg. Sementara itu kewenangan yang telah didesentralisasikan belum dilaksanakan oleh Pemda secara optimal. 19 . terutama antara yang mengatur desentralisasi dan otonomi daerah dengan perundangan sektoral. (e)ikut serta dalam pemeliharaan keamanan. 32/2004 menyatakan bahwa daerah yang memiliki laut diberi kewenangan untuk mengelola sumberdaya laut yang meliputi: (a) eksplorasi. Permasalahan dalam operasionalisasi kebijakan di atas adalah belum jelasnya pembagian kewenangan antara pemerintah pusat.IV. (f) ikut serta dalam pertahanan kedaulatan negara. 32/2004.

20 . (3) Ramah lingkungan (environmentally sound). baik di pusat maupun di daerah menjadi suatu keharusan. Beberapa sasaran pembangunan lingkungan adalah: (1) Meningkatnya kualitas air permukaan (sungai. danau. (2) Diterima secara sosial (socially acceptable). Dari berbagai permasalahan di atas. pg. dan situ) dan kualitas air tanah disertai pengendalian dan pemantauan terpadu antar sektor. Adanya keseimbangan tersebut berarti menjamin keberlanjutan pembangunan. Ketiga prinsip tersebut harus dijabarkan dalam bentuk instrumen kebijakan dan peraturan perundangan di bidang lingkungan yang dapat mendorong investasi pembangunan jangka menengah di seluruh sektor dan bidang terkait dengan sasaran pembangunan sumberdaya alam dan lingkungan. dan bagaimana melaksanakan pembangunan yang berkelanjutan. yaitu: (1) Menguntungkan secara ekonomi (economically value).Pengelolaan Wilayah Laut sebagaimana yang diuraikan di atas juga belum diimplementasikan dengan baik. (2) Terkendalinya pencemaran pesisir dan laut melalui pendekatan terpadu antar kebijakan konservasi tanah di wilayah daratan dengan ekosistem pesisir dan laut. Untuk itu pengarus-utamaan (mainstreaming) prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan di seluruh sektor. (3) Meningkatnya kualitas udara perkotaan khususnya di kawasan perkotaan yang didukung oleh perbaikan manajemen dan sistem transportasi kota yang ramah lingkungan. Isu utama yang dihadapi adalah bagaimana membuat sebuah integrated policy. sasaran pembangunan yang akan dicapai adalah membaiknya sistem pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup bagi terciptanya keseimbangan antara aspek pemanfaatan sumberdaya alam sebagai modal pertumbuhan ekonomi dengan aspek perlindungan terhadap pelestarian fungsi lingkungan hidup sebagai penopang sistem kehidupan secara luas. (4) Berkurangnya penggunaan bahan perusak ozon. diperlukan penjabaran yang lebih tegas dalam peraturan pelaksanaan /operasionalnya. Permasalahan-permasalahan di atas merupakan tantangan yang perlu dijawab dalam konteks penetapan provinsi kepulauan. bagaimana mengatasi konflik tumpang tindih pemanfaatan di berbagai wilayah. Untuk itu. Dalam konteks ini yang dimaksud dengan pembangunan berkelanjutan kegiatannya harus dilandasi tiga pilar pembangunan secara seimbang.

(7) Meningkatnya upaya pengelolaan sampah perkotaan dengan menempatkan perlindungan lingkungan sebagai salah satu faktor penentu kebijakan. (10) Tersusunnya suatu pendanaan lingkungan sebagai inovatif sebagai terobosan untuk mengatasi rendahnya pembiayaan sektor lingkungan hidup. (8) Meningkatnya sistem pengelolaan dan sistem pelayanan limbah B3. 2010) pg.(5) Berkembangnya kemampuan adaptasi terhadap perubahan iklim global. (9) Tersusunnya informasi dan peta wilayah-wilayah yang rentan terhadap kerusakan lingkungan. gempa bumi. (Hidayat & Ririhena. (12) Meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya memelihara sumberdaya alam dan lingkungan hidup. (6) Pelestarian dan pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan sesuai pedoman Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan 2003-2020 (IBSAP). tsunami. kekeringan. 21 . (11) Meningkatnya diplomasi internasional di bidang lingkungan hidup. bencana banjir. serta bencana-bencana alam lainnya.

Sehubungan dengan hal tersebut. Dalam pelaksanaan di daerah. yang dapat digunakan untuk penyempurnaan undangundang pemerintahan daerah. diharapkan nantinya dalam pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan. ternyata antara konsep dengan pelaksanaan belum sinkron. dalam rangka otonomi daerah. dikarenakan pendidikan mereka masih belum bisa mengimbanginya. maka Undang-undang Nomor 32 tahun 2004. ternyata kualitas lingkungan semakin menurun dan cenderung mengalami kerusakan. tentang Pemerintah Daerah. ternyata Otonomi daerah itu. 22 . *** pg. maka ada beberapa masukan dari hasil penelaahan pelaksanaan Otonomi daerah di daerah. belum sepenuhnya mampu memberikan manfaat yang nyata dan optimal terhadap kesejahteraan masyarakat daerah.Sedangkan di dalam pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan. Dengan terbitnya penyempurnaan UU Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah daerah atau Otonomi Daerah. PENUTUP Berdasarkan uraian di atas. Selain itu juga diharapkan. dengan Otonomi Darah. Disisi lain. akan lebih bijaksana dan “rasional”. dalam meningkatkan PAD sehingga kualitas lingkungan akan terjaga dan tidak mengalami degredasi lingkungan. ketidakmampuan aparat. maka kesejahteraan masyarakat akan semakin meningkat dan kemiskinan akan semakin berkurang.V. dengan demikian pembangunan berkelanjutan akan berjalan dengan baik.

pg. Yogyakarta: Pondok Edukasi..DAFTAR PUSTAKA Abe. Perencanaan Daerah Memperkuat Prakarsa Rakyat dalam Otonomi Daerah. W. E. Hidayat. Perencanaan Daerah Partisipatif. A. 23 . & Ririhena. Yogyakarta: Lapera Pustaka Utama. R. (2010). Peran Otonomi Daerah dalam Pengelolaan Lingkungan serta Implementasinya pada Pembangunan Berkelanjutan. I. (2002). Bogor: PS Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor. Abe. A. (2001).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful