P. 1
Eksaminasi putusan MK nomor 42/PUU-VIII/2010

Eksaminasi putusan MK nomor 42/PUU-VIII/2010

|Views: 21|Likes:
Published by kikisidhartataha
Menganalisis akurasi putusan MK nomor 42/PUU-VIII/2010 untuk kepentingan pengetahuan hukum. Dengan melakukan eksaminasi, pengetahuan tentang praktik hukum dapat berkembang.
Menganalisis akurasi putusan MK nomor 42/PUU-VIII/2010 untuk kepentingan pengetahuan hukum. Dengan melakukan eksaminasi, pengetahuan tentang praktik hukum dapat berkembang.

More info:

Categories:Types, Research
Published by: kikisidhartataha on Jul 16, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/28/2014

pdf

text

original

1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemilihan Obyek Eksaminasi Penegakan hukum (law enforcement) yang seharusnya memperlihatkan tegaknya sendi-sendi hukum dan terwujudnya keadilan sebagai tujuan utama dari hukum, ternyata tidak selamanya berjalan lurus sesuai dengan yang diharapkan. Bahkan seringkali penegakan hukum itu mempertontonkan fakta yang sebaliknya, yaitu terlanggarnya kaidah-kaidah hukum yang dilakukan oleh penegak hukum itu sendiri. Hal ini seolah-olah semakin menunjukkan kepada publik bahwa penegakan hukum hanyalah suatu proses formal yang hasilnya sangat bergantung pada subyektivitas dan keberpihakan para penegaknya. Bila demikian, maka hal itu telah mengenyampingkan makna filosofis dari penegakan hukum itu sendiri. Begitu banyak kasus-kasus dalam pengujian undang-undang (judicial review), yang dalam putusannya menimbulkan multi tafsir sehingga mencerminkan tidak tegaknya hukum. Seperti halnya permohonan hak-hak konstitusional Warga Negara Indonesia sebagaimana yang diatur dalam UUD 1945, yang harus dilindungi apabila hak-hak konstitusional tersebut dirugikan. Sementara dilain pihak dalam peradilan Pidana di Indonesia, seringkali terjadi adanya pemidanaan terhadap orang-orang yang sebenarnya tidak bersalah, bukankah ada adagium yang menyatakan bahwa “lebih baik melepas sepuluh orang yang bersalah dari pada harus menghukum satu orang yang tidak bersalah?”. Pada dasarnya Kewenangan Mahkamah Konstitusi yang diatur dalam Pasal 10 ayat (1) huruf a sampai dengan huruf d Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi yang berbunyi : Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk: Menguji Undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar Tahun 1945.

masih jauh dari harapan karena belum dikelola oleh manusia pilihan yaitu hakim. dan structural social. Apabila produk Undang-undang yang dirasa merugikan hak konstitusional seorang warga Negara. yang sekarang merupakan mantan pejabat penting di lingkungan intitusi penegak hukum yaitu Kepolisian Republik Indonesia. hukum lebih cenderung digunakan secar keliru atau menyimpang dari fungsi dan tujuan asasinya. Mestinya hukum ditentukan dan dilaksanakan berdasarkan itikad yang otentik. maka sudah memenuhi syarat. melainkan juga komitmen. Pembongkaran adanya kejahatan korupsi dan mafia hukum oleh Bapak Susno Duadji ditubuh Kepolisian patutlah membanggakan. Dalam kasus Komjen Susno Duadji. batapa rendahnya hukum di bangsa Indonesia ini. dan hal ini banyak dikaji dalam teori sosiologi hukum bahwa hukum bukan hanya peraturan. atau justru sebaliknya menciptakan ketidakadilan. perilaku. Pada kondisi tersebut. yang bertentangan dengan UndangUndang Dasar Tahun 1945. Semangat reformasi untuk menegakkan supremasi hukum. bahwasannya beliau yang merupakan pejabat penting di institusi penegak hukum tersebut . Bukan hanya publik Indonesia tetapi juga masyarakat Internasional.2 - Memutus sengketa kewenangan lembaga Negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar 1945. sehingga segala sesuatu dapat dibeli dengan uang oleh mereka atau penguasa yang memiliki jabatan. Memutus pembubaran partai politik. membuka mata setiap orang. hanya dapat hidup dan bekerja apabila digerakkan oleh para pelaksananya. dan Memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum. bagi setiap warga Negara untuk mengajukan judicial review kepada mahkamah Konstitusi. yang telah mengawali untuk membongkar adanya kejahatan korupsi dan mafia hukum yang terjadi secara sistematis dan terstruktur ditubuh Kepolisian Republik Indonesia. yang seharusnya memiliki integritas dan komitmen moral yang tinggi. Kaidah hukum yang terurai dalam peraturan perundang-undangan. Hukum tidak secara otomatis menghasilkan keadilan.

adil dan bersih dari korupsi. sehingga haknya untuk mendapat perlindungan menjadi hilang. penahanan dan penyidikan terhadap beliau atas perkara yang dilaporkan Bapak Susno Duadji yaitu Tindak Pidana korupsi/suap pada PT. untuk menciptakan Kepolisian yang jujur. Salmah Arwana Lestari dan selanjutnya beliau ditempatkan di rumah tahanan Negara Jakarta Pusat di Mako Korp Brimob Polri. Tetapi dalam hal ini tidak pada kenyataanya bahwa setelah Bapak Susno Duadji membongkar kejahatan tersebut. Dan putusan ini sangat menentukan bagi langkah hukum selanjutnya. Oleh karena itu Bapak Susno Duadji yang diwakili oleh kuasanya mengajukan permohonan Pengujian Undang-undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. karena kedudukannya sebagai saksi dapat dijadikan tersangka dalam kasus yang sama. kemudian Polri meningkatkan status beliau menjadi tersangka dan melakukan penangkapan. Sehingga apa yang telah dilakukan Bapak Susno Duadji haruslah mendapatkan perlindungan dari Negara sebagai saksi pelapor. adalah merupakan pelanggaran terhadap hak-hak konstitusionalnya. Dan berdasarkan permohonan tersebut Mahkamah Konstitusi mengeluarkan Putusan Nomor 42/PUUVIII/2010 yang dalam Amar Putusannya mengadili “Untuk menolak permohonan pemohon untuk seluruhnya”. lebih dari itu bagi peradaban hukum dan HAM di negeri ini. Bukan hanya bagi penyelesaian kasus itu sendiri. Kedudukan beliau yang sebelumnya adalah saksi pelapor dan telah meminta perlindungan hukum sebagai saksi pelapor di Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban namun secara tiba-tiba telah dijadikan tersangka dan sekaligus dengan seketika telah dilakukan tindakan penahanan. Fakta diatas menunjukkan bahwa kasus ini tidak hanya sekedar menarik perhatian masyarakat tetapi sangat kompleks.3 berani membongkar kejahatan di dalam tubuh Kepolisian yang merupakan tempat dimana beliau mengabdi. .

Eksaminasi ini diharapkan dapat menjadi alat kontrol terhadap proses hukum selanjutnya. transparan. sampai pada pertimbangan majelis hakim sehingga berkesimpulan untuk menolak permohonan judicial review dari Pemohon. Tujuan dan Manfaat Eksaminasi 1. dan cerdas. baik proses beracaranya maupun substansi hukumnya. karena setiap orang memiliki kedudukan yang sama di depan hukum (equality before the law). sehingga masyarakat perlu diberi ruang untuk menilai produk peradilan tersebut. Eksaminasi atas kasus ini sangat penting sebagai bentuk kepedulian public atas terwujudnya penegakan hukum yang adil dan bermartabat.mengkritisi serta memberikan penambahan-penambahan pendapat dalam bentuk laporan eksaminasi yang berupa gabungan dari legal annotation yag untuk kemudian akan diseminarkan. perlu dilakukan analisis (eksaminasi) terhadap putusan hakim tersebut. adil dan bermanfaat. sebagai syarat menempuh study di fakultas Hukum Universitas Merdeka Malang b.4 Untuk itu. .mengingat proses peradilan dengan sistem acara di Mahkamah Konstitusi tidak memungkinkan mesyarakat berperan lebih jauh. sehingga dapat mengungkap kasus ini secara tuntas. Eksaminasi ini diharapkan juga mendorong upaya hukum dapat berjalan fair. haruslah dipandang sebagai sarana yang memberikan perlindungan bagi korban. dari proses pemeriksaan di persidangan. keluarga dan masyarakat secara luas. Peradilan yang berfungsi untuk memberikan rasa keadilan bagi masyarakat tanpa membedakan status sosial dan status politik seseorang. Tujuan Eksaminasi a. B. c. pembuktian. Kasus ini adalah kasus publik. d. Tujuan pokok dari Eksaminasi ini adalah untuk mengetahui dan menganalisa hasil keputusan atau penetapan pengadilan.

mengadili dan memutus perkara konstitusi pada tingkat pertama dan terakhir. C. Manfaat Eksaminasi a. Pemohon memohon agar MK melakukan pengujian terhadap Pasal 10 ayat (2) UU nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban. Manfaat Praktis 1) Sebagai tambahan bahan bagi publik dalam rangka melakukan penilaian terhadap produk-produk lembaga peradilan. yang didaftarkan di Kepanitraan MK pada hari rabu tanggal 16 Juni 2010. Putusan tersebut memeriksa. 2) Diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan mengenai produk hukum. dalam hal ini berkenaan dengan putusan suatu perkara agar dapat mencermati dan memahami produk-produk hukum yang dihasilkan oleh lembaga peradilan. menjatuhkan putusan dalam perkara permohonan pengujian UU. Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban terhadap UUD Negara RI tahun 1945. karena pemohon adalah perseorangan WNI yang hak-hak konstitusionalnya . yang telah diperbaiki dan di terima di Kepanitraan Mahkamah Pada tangga 8 Juli 2010 atas nama Drs. MS. 3) Sebagai upaya pengembangan pendidikan dan penulisan di bidang ilmu hukum b. SH.c yang selanjutnya disebut pemohon. Susno Duadji. Manfaat Teoritis 1) Diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran bagi yang berminat mendalami pengetahuan tentang ilmu hukum dan prosedur beracara dalam peradilan Mahkamah Konstitusi 2) Memberikan kontribusi bagi perkembangan hukum nasional Indonesia terutama dalam hal supremasi hukum yang mendasarkan pada asas keadilan. terutama berkaitan dengan hasil putusan suatu perkara. Kasus Posisi dan Fakta Hukum Berdasarkan putusan MK nomor 42/PUU-VIII/2010.5 2.

Sedangkan dalam pokok perkara. yang mana tafsir tersebut. mohon agar Majelis Hakim Konstitusi dapat memberikan tafsiran konstitusional terhadap Pasal 10 ayat (2) UU nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban. Dan apabila Majelis Hakim Konstitusi berpendapat lain dan menganggap Pasal 10 ayat (2) UU nomor 13 Tahun 2006 tentang perlindungan Saksi dan Korban. Tim Advokat Susno meminta MK menerima dan mengabulkan permohonan pengujian UU Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban terhadap UUD 1945. tetapi kesaksiannya dapat dijadikan pertimbangan hakim dalam meringankan pidana yang akan dijatuhkan dimana pemohon melaporkan adanya kejahatan”.6 telah dirugikan oleh berlakunya Pasal 10 ayat (2) UU nomor 13 tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban “Seorang saksi dan korban yang juga tersangka dalam kasus yang sama tidak dapat dibebaskan dari tuntutan pidana apabila ia ternyata terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah. setidak-tidaknya sampai adanya putusan MK yang berkekuatan hukum tetap. Selain itu. dengan pengertian . isi dari permohonan provisi antara lain adalah meminta MK untuk memerintahkan kepada Polri untuk menghentikan proses penyidikan atas perkara PT Salmah Arwana dengan nomor laporan polisi LP/272/IV/2010/Bareskrim tanggal 21 April 2010 atas tersangka Susno Duadji. Dalam pengajuan permohonan uji materi yang didaftarkan Tim Advokat Susno. dalam provisi juga terdapat permohonan agar MK memerintahkan kepada Polri untuk membebaskan pemohon (Susno Duadji) dari tahanan dan menyerahkan pemohon kepada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) sebagai saksi yang dilindungi. Permohonan dalam pokok perkara secara detail adalah meminta MK menyatakan Pasal 10 ayat (2) UU No 13/2006 bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat dengan segala akibat hukumnya. tetap mempunyai kekuatan hukum mengikat dan berlaku.

Tindak pidana korupsi/suap pada kasus PT. Kasus yang menimpa mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri Komjen Pol Susno Duadji dinilai bisa membuat para whistleblower (pengungkap suatu kasus kejahatan) lainnya akan ketakutan dan tidak berani melapor. Salmah Arwana Lestari Penggunaan anggaran di Mabes Polri dan Polda-polda seluruh Indonesia. mohon putusan yang seadil-adilnya (ex aequo et bono).7 bahwa seorang saksi yang juga menjadi tersangka dalam kasus yang sama tidak dapat dibebaskan dari tuntutan pidana tersebut. Tindak pidana korupsi/suap pada kasus PT. Faktanya Bapak Susno telah menjadi whistleblower antara lain dalam kasus : • • • Tindak pidana dan pencucian uang yang diduga dilakukan oleh tersangka Gayus Tambunan. dan kepada komisi III DPR RI pada tanggal 8 April 2010 Bapak Susno juga melaporkan : • • Tindak pidana dan pencucian uang yang diduga dilakukan oleh tersangka Gayus tambunan. Dan sebelumnya pemohon juga telah memberikan kesaksian di media massa baik cetak maupun elektronik tentang dugaan tindak pidana korupsi yang secara sistematis dan terstruktur juga melibatkan oknum aparat hukum baik di Kepolisian. Yang telah dilaporkan kepada Satgas Tugas Pemberantasan Mafia Hukum (SATGAS) pada tanggal 18 Maret 2010 dan tanggal 12 april 2010. Atau apabila Majelis Hakim Konstitusi berpendapat lain. membuat para whistleblower tidak lagi berani melapor bila mereka mengetahui adanya tindak pidana kejahatan yang sedang terjadi. harus dimaknai bahwa kedudukan sebagai tersangka ditetapkan terlebih dahulu sebelum saksi tersebut memberikan kesaksian dalam perkara tersebut. Kejaksaan dan oknum Hakim di Pengadilan Setelah pelaporan tersebut pemohon mengajukan permohonan perlindungan saksi kepada Lembaga Perlindungan Saksi dan korban pada . Salmah Arwana lestari.

8 tanggal 4 Mei 2010 terhadap kasus-kasus yang telah pemohon laporkan kepada DPR dan Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum. Orang yang memberikan kesaksian terlebih dahulu sebelum dijadikan sebagai tersangka seharusnya mendapat perlindungan dan bukannya malah ditahan seperti yang terjadi pada bapak Susno.Pgl/234/IV/2010/Pidkor&WCC yaitu pada tanggal 30 April 2010 dan berdasarkan surat Panggilan Nomor S. Atas laporan pemohon tentang tindak pidana korupsi. dan selanjutnya telah dibuatkan Perjanjian Perlindungan Nomor PERJ-007/I. pemohon telah dipanggil oleh BARESKRIM POLRI sebagai saksi atas laporan Polisi Nomor Pol :LP/272/IV/2010/Bareskrim tanggal 21 April 2010 dengan surat panggilan Nomor S. sehingga haknya untuk mendapat perlindungan menjadi hilang. penyidikan pihak Kepolisian. . adalah merupakan pelanggaran terhadap hak-hak konstitusionalnya. penahanan dan penyidikan terhadap beliau atas perkara yang dilaporkan Bapak Susno Duadji yaitu Tindak Pidana korupsi/suap pada PT. akibat berlakunya Pasal 10 ayat (2) undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban. Salmah Arwana Lestari dan selanjutnya beliau ditempatkan di rumah tahanan Negara Jakarta Pusat di Mako Korp Brimob Polri.3/LPSK/05/2010 antara LPSK dengan Pemohon. Bahwa kedudukan beliau yang sebelumnya adalah saksi pelapor dan telah meminta perlindungan hukum sebagai saksi pelapor di Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban namun secara tiba-tiba telah dijadikan tersangka dan sekaligus dengan seketika telah dilakukan tindakan penahanan.suap pada PT. Dan pada tanggal 11 Mei 2010 yaitu pada saat beliau memenuhi panggilan Kepolisian sebagai saksi. Salmah Arwana Lestari. selanjutnya Polri meningkatkan status beliau menjadi tersangka dan melakukan penangkapan. sejak tanggal 11 Mei 2010.Pgl/283/V/2010/Pidkor&WCC tanggal 7 Mei 2010. karena kedudukannya sebagai saksi dapat dijadikan tersangka dalam kasus yang sama.

Kelapa Dua.9 Dan sebelumnya Bapak Susno telah menandatangani berbagai persyaratan yang diminta oleh LPSK. seharusnya Bapak Susno saat ini dilindungi LPSK secara langsung dan bukannya masih ditahan di Markas Komando Brimob. . Depok.

Apakah dasar MK dalam menolak uji materi terhadap Pasal 10 ayat (2) UU No. Kekuatan surat permohonan yang dibuat oleh kuasa hukum masingmasing adalah faktor utama putusan tersebut diterima atau ditolak oleh Hakim MK.13 tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban sudah tepat? 2.10 BAB II PERMASALAHAN HUKUM Dalam Putusan Judicial review ini banyak permasalahan hukum yang terjadi. Bagaimanakah tinjauan terhadap Putusan Putusan MK 42/PUU-VIII/2010 untuk kepentingan pengungkapan kasus tindak pidana korupsi yang merupakan tindak pidana khusus yang sifatnya istimewa? . Penulis disini membahas permasalahan hukum sebagai berikut: 1.

khususnya yang berkaitan dengan perkara penolakan uji materiil UU No. Analisis dengan metode pendekatan yuridis normatif merupakan metode yang paling tepat menurut kami. Artinya bahwa dalam pengerjaannya. Dengan menganalisis dari Undang-Undang dan berbagai sumber buku maka penulis mendapatkan beberapa anggapan atau kajian dari hakim yang memutus perkara ini tidak memenuhi kaedah atau norma-norma yang berlaku menurut undang-undang dan buku yang penulis kaji. sistematis. Metode Pendekatan Dalam penyusunan eksaminasi ini maka kami menggunakan metode pendekatan yuridis normatif. secara otomatis dalam penulisannya banyak kita temukan perundang-undangan yang secara tegas mengatur tentang hal tersebut. serta akademis. Bahan Hukum Dalam penyusunan eksaminasi ini kami selaku penulis menggunakan beberapa bahan yang kami nilai cukup representatif untuk kemudian kami pakai sebagia panduan untuk mengkaji lebih dalam permasalahan ini. sebagaimana tertuang dalam Putusan Nomor 42/PUU-VIII/2010. B. Selain . Bahan yang dipergunakan penulis. Oleh karena itu.11 BAB III METODE PENDEKATAN DAN BAHAN HUKUM A. penulis eksaminasi akan menggunakan hukum normatif yang berlaku dan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan permasalahan-permasalahan hukum yang kami hadapi sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Hal ini dikarenakan bahan-bahan atau sumber yang kita peroleh dari literatur buku dan Undang-Undang yang berkenaan dengan pokok materi yang dikaji sangat tepat dengan putusan yang dijatuhkan bila dikaitkan dengan sumber-sumber buku yang didapatkan penulis. Dengan metode ini pula pembahasan akan menjadi lebih mudah karena peraturan yang sudah ada dikaitkan dengan putusan dari hakim akan menuju ke titik kesimpulan. 13 tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban.

12 juga beberapa referensi buku yang turut membantu penulis untuk menyelesaikan eksaminasi ini dalam hal menambah pengetahuan penulis dalam bidang hukum sehingga dalam pengerjaannya penulis lebih memiliki kematangan dalam meneropong kasus ini secara mendalam. .

Alasan putusan ini. menurut MK adalah norma dari Pasal 10 yang terdiri atas 3 ayat harus dimaknai sebagai ketentuan hukum untuk melindungi saksi. korban dan pelapor selaku warga negara yang baik dalam membantu penegakan hukum dalam mengungkap terjadinya tindakpidana. saksi demikian tidak dapat dibebaskan dari tuntutan pidana. . Perbedaannya pada penghargaan. Perlindungan hukum tersebut sebagai penghargaan atas partisipasi saksi. Menurut MK. apabila dalam proses hukum sangkaan tersebut terbukti secara sah dan meyakinkan.13 BAB IV PEMBAHASAN Susno Duadji yang diwakili oleh kuasanya mengajukan permohonan Pengujian Undang-undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Kesaksiannya akan mendapatkan penghargaan yaitu sebagai hal yang dipertimbangkan dalam pengurangan masa hukuman pidananya. korban dan pelapor yang tidak beritikad baik dapat dituntut secara hukum tetapi tidak mendapat penghargaaan. Bukan saksi yang juga tersangka dalam kasus yang sama dan bukan pelapor yang tidak beritikad baik. Sedangkan saksi. korban dan pelapor. Maka Pasal 10 ayat (2) UU No 13 Tahun 2006 tentang LPSK tidak bertentangan dengan UUD 1945. Penolakan uji materi Pasal 10 ayat 2 UU LPSK yang dimohonkan Susno Duadji tersebut didasarkan pada pertimbangan MK bahwa peraturan itu tidak melanggar konstitusi sebab kesaksian seseorang tidak menghapus kesalahan yang pernah dilakukannya. partisipasi saksi yang juga tersangka. Dan berdasarkan permohonan tersebut Mahkamah Konstitusi mengeluarkan Putusan Nomor 42/PUU-VIII/2010 yang dalam Amar Putusannya mengadili “Untuk menolak permohonan pemohon untuk seluruhnya”. Saksi yang juga tersangka mendapatkan penghargaan.

Penulis disini berupaya menganalisis lebih lanjut penolakan terhadap uji materi tersebut. Dalam memeriksa dan mengadili permohonan Susno. karena pemohon adalah perseorangan WNI yang hak-hak konstitusionalnya telah dirugikan oleh berlakunya Pasal 10 ayat (2) UU nomor 13 tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban “Seorang saksi dan korban yang juga tersangka dalam kasus yang sama tidak dapat dibebaskan dari tuntutan pidana apabila ia ternyata terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah. yaitu prinsip keadilan bagi setiap warga negara serta prinsip mendahulukan kepentingan dan kemaslahatan umum dan kejahatan korupsi sebagai extra ordinary crime dan organized crime.13 tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban. dan tidak pula merupakan pelanggaran atas prinsip equality before the law. Menurut MK. Hal inilah yang menjadi landasan MK dalam mengeluarkan putusan yang menolak permohonan uji materi terhadap Pasal 10 ayat (2) UU No. Ada tiga aspek fundamental yang harus dipertimbangkan oleh Mahkamah. Putusan MK 42/PUU-VIII/2010 itu. tetapi kesaksiannya dapat dijadikan pertimbangan hakim dalam meringankan pidana yang akan dijatuhkan dimana pemohon melaporkan adanya kejahatan”. serta pencapain tujuan keadilan sosial dan kemaslahatan umum. kewajiban Mahkamah untuk menegakkan hukum dan keadilan. karena sangat berkait dengan kasus in concrito yang dihadapi Susno. dimana Susno Duaji mengajukan permintaan kepada MK untuk uji materi terhadap Pasal 10 ayat (2) UU nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban.14 Menurut pendapat MK. kasus tersebut lebih pada pengaduan konstitusional atau constitutional complaint. adalah prinsip yang harus menjadi landasan pijak utama bagi Mahkamah. tidak harus memberikan impunitas terhadap pelaku kejahatan (pelanggaran atas prinsip non-impunity). Pasal ini memiliki unsur-unsur sebagai berikut: 1) Seorang saksi dan korban yang juga tersangka dalam kasus yang sama 2) Tidak dapat dibebaskan dari tuntuan pidana . pemberian perlindungan saksi/pelapor dalam kasus seperti yang terjadi terhadap Pemohon.

Keadilan untuk semua pihak. memang dapat dibenarkan bahwa Pasal tersebut berupaya menjunjung azas Equality Before the Law. Penangguhan penahanan 3. Dari perspektif seorang terdakwa.15 3) Apabila ia ternyata terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah. Hal ini dikarenakan tidak ada keuntungan baginya dalam melakukan hal tersebut. Sekilas. tampak bahwa Pasal ini menunjukkan adanya keadilan dimana perbuatan baik yang dilakukan oleh seseorang tidak dapat serta merta menghapuskan keterlibatannya dalam tindak pidana serupa. yang mana kurang lebih bisa menjadikannya bersedia bekerjasama untuk membantu pengungkapan kasus yang menimpa dirinya (termasuk juga keterlibatan individu lain dalam kasus tersebut) antara lain adalah: 1. dan juga tersangka dalam kasus yang sama – tetap tidak dapat dibebaskan dari tuntutan pidana apabila ia ternyata terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah. korban. hal yang dapat ditawarkan atas dirinya. Namun. Penghapusan status individu sebagai terdakwa 2. apabila diterapkan dalam penyidikan atau pengungkapan suatu tindak pidana. akan tetapi kesaksiannya dapat dijadikan pertimbangan hakim dalam meringankan pidana yang akan dijatuhkan 4) Dimana pemohon melaporkan adanya kejahatan Dari unsur-unsur yang terdapat dalam Pasal tersebut. Proses hukum masih tetap berjalan atas dirinya dan justru sikapnya yang membuka keterlibatan individu-individu lain dalam kasus yang ia hadapi berpotensi untuk membahayakan dirinya. maka akan terjadi fenomena dimana pelaku (atau individu yang terlibat dalam tindak pidana tertentu) tidak akan memberikan keterangan yang bisa mengungkap keterlibatan individu-individu lain dalam perkara tindak pidana tersebut. dimana seorang saksi. Pengurangan masa pidana Apalagi dalam tindak pidana korupsi yang merupakan tindak pidana khusus dan memiliki keistimewaan. Seringkali terdakwa yang tertangkap dalam tindak pidana korupsi adalah bagian dari suatu korporasi raksasa yang mana kesaksiannya memungkinkan akan mengungkap pelaku yang melakukan korupsi .

dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum. Seorang saksi maupun pelapor bisa dijadikan tersangka. Pasal tersebut juga tidak memberikan manfaat dalam skala besar pemberantasan korupsi. Apabila merujuk pada azas perundang-undangan mengenai kejelasan dan rumusan pasal yang menegaskan tidak boleh memiliki banyak tafsir. jaminan. . Orang akan enggan melaporkan kasus korupsi karena berhadapan dengan kakuatan besar baik dalam struktur kekuasaan maupun penegak hukum. Kesediaannya untuk bersaksi inilah yang menjadi kunci untuk pengungkapan secara menyeluruh tindak pidana korupsi tersebut. UU ini tidak bisa memproteksi saksi. Pasal ini membuat saksi dan korban takut memberikan keterangan. Pasal a quo bertentangan dengan Pasal 28D UUD 1945 yang menjamin atas pengakuan. maka Pasal 10 ayat (2) bisa menjadi gugur karena memiliki tafsir ganda. Dari analisis tersebut. perlindungan.13 tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban. maka hal ini melanggar Hak Asasi Manusia. Apabila kita melihat dan membaca secara cermat terdapat ruang yang kemudian dapat menimbulkan tafsir ganda.13 tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban ini justru akan menjadikan terdakwa enggan bertindak sebagai saksi guna mengungkap tindak pidana yang tengah ia hadapi. maka jelaslah bahwa keberadaan Pasal 10 ayat (2) UU No.16 lebih besar lagi. melainkan tergantung pada ’kebijaksanaan’ dari Majelis Hakim yang mengurus perkara pidana yang ia hadapi. Meskipun mungkin ada. Apabila saksi yang dengan berani melaporkan tindak pidana. Pasal ini juga bisa menimbulkan kekeliruan dalam penerapan. Dalam kasus yang dialami Pemohon yakni Susno Duaji. memberikan kesaksian dan keterangan dapat diancam pidana juga. maka tampak jelas tidak adanya keuntungan bagi terdakwa untuk bertindak sebagai saksi memberatkan bagi individu lain karena hal tersebut juga tidak menghentikan atau bahkan mengurangi proses pidana atas dirinya. Namun dengan adanya hambatan sebagaimana yang tampak pada UU No. namun hal tersebut tidak disampaikan secara tersurat dalam Undang-Undang.

Kedua adalah prinsip kemaslahatan. Pemohon telah memberikan manfaat yang sangat besar dalam upaya memberantas kejahatan korupsi. Salah satu cara umum yang dikenal dalam mengungkap kejahatan jenis ini adalah dengan menarik keluar salah satu mata rantai jaringannya dan memberikan perlindungan dan jaminan keamanan kepadanya. Menurut Hamdan. . kebijakan menetapkan pemohon sebagai tersangka yang diikuti dengan tindakan penangkapan adalah bentuk tindakan yang mengancam kebebasan pemohon untuk terus mengungkap kasus korupsi.17 Apa yang diungkapkan penulis dalam analisis tersebut. Sedang yang ketiga. sesuai dengan yang dinyatakan oleh salah satu Hakim Konstitusi Hamdan Zoelva. Menurut Hamdan Zoelva ada tiga hal yang menjadi dasar mengapa seharusnya MK mengabulkan permohonan Susno. Hamdan menganggap kejahatan korupsi hanya dapat diungkap dengan cara-cara yang luar biasa. Yang pertama aspek keadilan.

13 tahun 2006 tentang perlindungan Saksi dan Korban bersifat ambigu karena dapat menimbulkan tafsir ganda. meskipun ia statutsnya juga adalah tersangka pada tindak pidana yang sama. Hal ini bisa jadi jauh lebih penting dibanding penerapan secara kaku azas keadilan dalam hukum. B. Kesimpulan Dari beberapa analisis yuridisi atas putusan MK secara sederhana dapat disimpulkan bahwa: 1. keberadaan Pasal 10 ayat (2) UU No. dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum. 2. Equality Before the Law. akan memberikan efek positif berupa dukungan yang diperlukan aparat hukum untuk mengungkap tindak pidana tersebut secara tuntas. semestinya Majelis Hakim MK mendukung Hamdan Zoelva yang memandang permasalahan yang lebih besar dibandingkan sekedar penerapan suatu hukuman secara adil. Rekomendasi Dalam kasus ini. terutama untuk tindak pidana korupsi. jaminan. Penolakan Uji Materi Pasal 10 ayat (2) UU No. .18 BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. perlindungan. Dari analisis penulis. Adanya kompensasi yang seimbang terhadap pengungkap suatu tindak pidana. oleh karena itu tidak sesuai dengan apa yang diamanatkan Pasal 28D UUD 1945 yang menjamin atas pengakuan.13 tahun 2006 sesuai yang dinyatakan dalam Putusan MK 42/PUU-VIII/2010 akan menimbulkan ekses negatif dalam pengungkapan berbagai tindak pidana yang lebih besar.

id/kasus+susno. Dokumen tanggal 20 Agustus 2010.com/284/art. www. Dokumen tanggal 25 September 2010.html. MK Tak Undang Susno Duadji Hadiri Sidang Putusan UU LPSK. Artikel.waspada. Artikel. www. . Dokumen tanggal 24 Agustus 2010. www.com/485/htm.detiknews.id/susno+tetap+tersangka.html.co. www.waspada. Artikel. Kasus Susno dianggap Unik oleh Hakim MK. Artikel. Susno tetap Tersangka Kasus Korupsi. Dokumen tanggal 24 September 2010.mkonline.htm.19 DAFTAR PUSTAKA UU Perlindungan Saksi Berpotensi Langgengkan Praktik Korupsi.co.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->