P. 1
Besaran Dan Sistem Satuan

Besaran Dan Sistem Satuan

|Views: 180|Likes:
Published by Martono Loekito

More info:

Published by: Martono Loekito on Jul 17, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/30/2013

pdf

text

original

BESARAN DAN SISTEM SATUAN

BAB I
BESARAN DAN SISTEM SATUAN
1.1. Pendahuluan

Fisika berasal dari bahasa Yunani yang berarti Alam. Karena itu Fisika
merupakan suatu ilmu pengetahuan dasar yang mempelajari gejala-gejala
alam dan interaksinya yang terjadi di alam semesta ini. Hal -hal yang
dibicarakan di dalam fisika, selalu didasarkan pada pengamatan
eksperimental dan pengukuran yang bersifat kuantitatif. Dengan
menggunakan hukum-hukum yang ada di dalam fisika yang jumlahnya tidak
terlalu banyak, akan dapat diperoleh teori-teori yang akan memprediksi hasil
eksperimen dimasa datang. Jika ada perbedaan antara teori dengan hasil
eksperimen, maka teori baru dan eksperimen baru akan muncul untuk dapat
diperoleh kesesuaian.

Fisika terbagi atas dua bagian yaitu :
1. Fisika klasik yang meliputi bidang : Mekanika, Listrik Magnet, Panas,
Bunyi, Optika dan Gelombang.
2. Fisika Moderen adalah perkembangan Fisika mulai abad 20 yaitu
penemuan Relativitas Einsten.
Ilmu Fisika mendukung perkembangan teknologi, enginering, kimia,
biologi, kedokteran dan lain-lain.
Dalam Fisika selalu dilakukan pengukuran. Mengukur berarti
membandingkan sesuatu besaran yang diukur dengan besaran standar yang
telah didefinisikan sebelumnya. Misalnya panjang suatu batang besi adalah 5
meter, artinya bahwa panjang batang besi tersebut 5 kali besar standar
panjang yang telah didefinisikan. Oleh karena itu, para ilmuwan menetapkan
besaran-besaran standar. Dengan adanya kemajuan Ilmu pengetahuan dan
teknologi, besaran-besaran standar juga berubah. Pada paragraf berikut ini
akan kita bicarakan apa yang dimaksud dengan besaran standar.
1.2. Standar Untuk Besaran Panjang, Massa, dan Waktu

Hukum-hukum fisika dapat dinyatakan dalam besaran-besaran dasar.
Besaran-besaran dasar mempunyai definisi yang jelas. Besaran-besaran
dasar disebut juga besaran Pokok. Di dalam mekanika, ada tiga besaran
pokok, yaitu Panjang (L), Massa (M), dan Waktu (T). Oleh karena itu semua
besaran-besaran di dalam mekanika dapat dinyatakan dengan besaran-
besaran pokok tersebut. Besaran-besaran di dalam fisika pada umumnya
merupakan kombinasi dari beberapa besaran yang lebih mendasar.
Misalnya, besaran kecepatan merupakan kombinasi dari besaran panjang
dan besaran waktu.


FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 1





BESARAN DAN SISTEM SATUAN

Yang dimaksud dengan besaran dasar atau besaran pokok adalah
besaran yang didefinisikan dan kemudian dijadikan sebagai acuan
pengukuran.

1.2.1. Standar satuan panjang
Sebelum tahun 1960, standar satuan panjang didefinisikan sebagai
panjang antara dua goresan pada suatu batang terbuat dari Platina-Iridium
yang disimpan pada suatu ruangan yang terkontrol kondisinya standar ini
sudah ditinggalkan karena beberapa alasan, antara lain karena ketelitian dari
standar ini sudah tidak lagi memenuhi tuntutan Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi yang menuntut ketelitian makin tinggi.
Setelah standar panjang di atas ditinggalkan pada tahun 1960,
didefinisikan kembali standar panjang baru yaitu : Satu meter didefinisikan
sebagai 1 650 763,73 kali panjang gelombang cahaya oranye merah yang
dipancarkan oleh lampu Krypton-86.
Pada tahun 1983, standar panjang ini didefinisikan kembali, yaitu : Satu
meter didefinisikan sebagai jarak yang ditempuh cahaya di dalam vakum
selama waktu 1/299.791.458 detik. Standar ini yang berlaku hingga kini. Dari
definisi yang terakhir ini, maka dapat kita tetapkan bahwa kecepatan cahaya di
dalam vakum adalah 299 792 458 meter per sekon.
1.2.2. Standar satuan massa

Standar untuk satuan massa sistem Internasional adalah kilogram (kg).
Massa sebesar 1 kilogram didefinisikan sebagai masa sebuah benda
berbentuk silinder yang terbuat dari platina-iridium. Masa standar ini
berbentuk silinder dengan diameter 3,9 cm dan tinggi 3,9 cm. Kilogram
standar ini disimpan di Lembaga Berat dan Ukuran Internasional, di Sevres,
Prancis dan ditetapkan pada tahun 1887.
Duplikasi dari kilogram standar ini disimpan di “National Institute of
Standars and Technology (NIST) di Gaithersburg, Md”. Bila kita mempunyai
benda bermassa 5 kg, berarti benda tersebut mempunyai massa 5 kali
massa standar di atas.
Untuk dapat memperoleh gambaran massa dari berbagai benda yang
ada di alam semesta ini, lihat tabel 1.
Tabel 1. Massa dari beberapa benda dan makhluk hidup di alam semesta ini
Benda Massa (kg)
Alam semesta 1 x 10
52
Matahari 2 x 10
30
Bumi 6 x 10
24
Bulan 7 x 10
22
Bakteri 1 x 10
-15
Atom hidrogen 1,67 x 10
-27
Elektron 9,11 x 10
-31

FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 2





BESARAN DAN SISTEM SATUAN

1.2.3. Standar satuan waktu
Sebelum tahun 1960, waktu standar dinyatakan dalam hari matahari
rata-rata pada tahun1900. Sehingga satu detik didefinisikan sebagai
(1/60)x(1/60)x(1/24) hari matahari.
Pada tahun 1960 satu detik didefinisikan kembali, hal ini dilakukan
untuk dapat memperoleh ketelitian yang tinggi, yaitu dengan menggunakan
Jam atom. Standar ini didasarkan pada prinsip transisi atom (proses
berpindahnya atom dari suatu tingkat energi ke tingkat energi yang lebih
rendah). Dalam alat ini, frekuensi transisi atom dapat diukur dengan ketelitian
sangat tinggi yaitu 10
-12
. Frekuensi ini tidak bergantung pada lingkungan di
mana jam atom ini berada. Oleh karena itu satu detik didefinisikan sebagai
waktu yang diperlukan oleh atom Cesium untuk bergetar sebanyak 9 192
631 770 kali. Dengan menggunakan jam atom ini, waktu hanya berubah 1
detik setiap 300 000 tahun.
1.3. Besaran dan Dimensi

Besaran adalah sesuatu yang dapat diukur dan dinyatakan dengan
angka. Dalam fisika besaran terbagi atas besaran pokok, besaran turunan
dan besaran pelengkap.
1.3.1 Besaran Pokok dan Besaraan Turunan

Besaran pokok adalah besaran yang tidak tergantung pada besaran
lain dan besaran turunan adalah besaran yang diturunkan dari
besaranbesaran pokok.
Pada tahun 1960, suatu komite internasional telah menetapkan 7
besaran yang merupakan besaran pokok berdimensi dan 2 besaran pokok
tidak berdimensi (besaran pelengkap). Sistem tersebut dikenal sebagai
“System International (SI)”. Adapun besaran-besaran pokok yang ditetapkan di
dalam Sistem International (SI) tersebut adalah :

Tabel 2: Besaran pokok, satuan, dan dimensinya menurut Sistem
Internasional (SI)

No Besaran Pokok Satuan Singkatan Dimensi
1 Panjang meter m L
2 massa kilogram kg M
3 waktu sekon s T
4 kuat arus listrik ampere A I
5 suhu kelvin K
u
6 intensitas cahaya mol Mol
N
7 jumlah zat kandela (lilin) Cd
J




FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 3





BESARAN DAN SISTEM SATUAN

Tabel 3 : Besaran pokok yang tidak berdimensi (besaran pelengkap)

No Besaran Pokok Satuan Singkatan Dimensi
8 Sudut datar Radian rad -
9 Sudut ruang Steradian Sr -

Contoh dari besaran turunan adalah: kecepatan, percepatan, gaya, usaha,
daya, volume, massa jenis dan lain-lain.
1.3.2 Dimensi

Dimensi suatu besaran menunjukkan cara besaran itu tersusun dari
besaran pokok.
Dimensi suatu besaran dinyatakan dengan lambang huruf dan diberi
tanda kurung persegi (lihat tabel 1). Dengan mengetahui dimensi dan satuan
dari besaran-besaran pokok, maka dengan menggunakan analisis
dimensional dapat ditentukan dimensi dan satuan dari besaran turunan.
Tabel 4. Beberapa besaran turunan dan dimensi
No Besaran Turunan Rumus Dimensi
1 Luas panjang x lebar [L]
2
2 Volume panjang x lebar x tinggi [L]
3
3 Massa jenis massa [m][L]
-3
volume

4 Kecepatan perpindahan [L][T]
-1
waktu
5 Percepatan kecepatan [L][T]
-2
waktu
6 Gaya massa x percepatan [M][L][T]
-2
7 Usaha dan energi gaya x perpindahan [M][L]
2
[T]
-2
8 Tekanan gaya [M][L]
-1
[T]
-2
luas
9 Daya usaha [M][L]
2
[T]
-3
waktu
10 Impuls dan momentum gaya x waktu [M][L][T]
-1


FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 4
LT
1





BESARAN DAN SISTEM SATUAN

Kegunaan Dimensi :
1. Membuktikan dua besaran fisis setara atau tidak.
2. Menentukan persamaan yang pasti salah atau mungkin benar..
3. Menurunkan persamaan suatu besaran fisis jika kesebandingan
besaran fisis tersebut dengan besaran-besaran fisis lainnya diketahui.
Contoh-contoh soal

1. Tentukan dimensi dan satuan dari besaran-besaran ini menurut Sistem
Internasional.
a. Volume (V)
b. Kecepatan (v)
c. Percepatan (a)
d. Gaya (F)
e. Momentum (p)
Jawab

Besaran-besaran di atas merupakan besaran turunan, oleh karenanya
dimensi dan satuannya dapat diturunkan dari besaran pokok menurut
Sistem Internasional
a. Volume = panjang x lebar x tinggi
Dimensi dari volume dituliskan sebagai [ V ]
[ V ] = [ panjang ] x [ lebar ] x [ tinggi ]
[ V ] = L . L . L
= L
3
Jadi, satuan dari volume (V) = m . m . m
= m
3

b. Kecepatan (v) =
jarak
waktu

L
= = L.T
-1
T
Dengan cara yang sama pada jawaban (a) di atas, maka satuan dari
kecepatan v = ms
-1

c. Percepatan (a) =
kecepa tan
waktu


÷
= = L.T
-2
T
Satuan dari percepatan = m s
-2
d. Gaya (F) = massa x percepatan
= [ massa ] x [ percepatan ]
= M . L T
-2
Satuan F = kg m s
-2


FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 5



BESARAN DAN SISTEM SATUAN
e. Momentum (p) = m x v
= [ m ] [ v ]
= M . L T
-1
Satuan p = kg m s
-1
2. Buktikan bahwa besaran energi (E = ½ mv
2
) mempunyai dimensi sama
dengan usaha W = F s, dengan m, v, F, dan s berturut-turut massa,
kecepatan, gaya, dan perpindahan.
Jawab
Energi (E) mempunyai dimensi massa dikali dengan kuadrat dimensi
kecepatan. Pada contoh 1, sudah kita ketahui bahwa dimensi massa
adalah M dan dimensi laju L.T
-1
. Oleh karena itu dimensi dari Energi [E]
adalah

[ E ] = M L
2
T
-2
Dimensi kerja
[ W ] = [ F ] [ s ]
Gaya mempunyai dimensi massa M dikali dimensi percepatan, LT
-2
dan
perpindahan mempunyai dimensi panjang L. Oleh karena itu, dimensi dari
usaha (W) adalah:

[ W ] = [ F ] [ s ]
= MLT
-2
L
= ML
2
T
-2
Karena dimensi Energi (E) sama dengan dimensi usaha (W) maka
dikatakan energi dan usaha mempunyai kesamaan
3 Hubungan antara kecepatan, perpindahan serta percepatan dari suatu
benda yang melakukan gerak lurus berubah beraturan adalah :

v
2
= v
o2
+ 2 a s
dengan v dan v
o
adalah kecepatan, a adalah percepatan serta s
perpindahan. Buktikan bahwa secara dimensional, persamaan tersebut
benar.
Jawab

Dimensi ruas kiri adalah
[v]
2
= (LT
-1
)
= L
2
T
-2
Ruas kanan terdiri atas dua suku yaitu v
o2
dan 2 a s, masing-masing
mempunyai dimensi


FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 6



BESARAN DAN SISTEM SATUAN
[v
o
]
2
= (LT
-1
)
= L
2
T
-2
[ 2 a s ] = [a] [s]
= LT
2
L
= L
2
T
-2
Kedua suku pada ruas kanan mempunyai dimensi yang sama. Oleh
karena itu kedua suku secara fisik dapat dijumlahkan.
Dari analisis dimensional tersebut, terbukti bahwa persamaan tersebut
benar secara dimensional.

4. Bila ada sebuah bola kecil yang dijatuhkan ke dalam suatu cairan, maka
bola tersebut akhirnya akan bergerak di dalam cairan tersebut dengan
kecepatan yang konstan. Besar gaya gesek (F) pada bola tersebut
sebanding dengan lajunya (v) dan sebanding dengan jari-jari bola (r).
Secara matematis dapat dituliskan dengan : F = K.r.v, dan K merupakan
konstanta pembanding. Tentukan dimensi dan satuan dari K.
Jawab

Bila rumus tersebut secara fisik benar, maka dimensi dari ruas kiri sama
dengan dimensi ruas kanan. Pada rumus di atas, kita telah mengetahui
dimensi, maupun satuan dari F, r, dan v dengan demikian kita dapat
dengan mudah mengetahui dimensi maupun satuan untuk K.

K = F (r v)
-1
= MLT
-2
L
-1
(LT
-1
)
-1
= MLT
-2
L
-1
L
-1
T
= ML
-1
T
-1

Jadi satuan dari K = kg m
-1
s
-1
5. Jika cepat rambat bunyi di suatu medium v hanya bergantung pada
tekanan udara p dan kerapatan massa medium µ. Tentukan rumus dari
cepat rambat bunyi tersebut.
Jawab

Jika v hanya bergantung pada p dan µ maka rumus cepat rambat bunyi
dapat ditulis sebagai:

v ~ p
o
µ
|

Tanda ~ merupakan tanda sebanding. Tanda tersebut harus diganti
dengan tanda =, oleh karena itu ruas kanan harus dikalikan dengan suatu
konstanta K. rumus tersebut menjadi

v = K p
o
µ
|


FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 7



BESARAN DAN SISTEM SATUAN
Untuk memudahkan, dimisalkan konstanta K tidak mempunyai dimensi
dan tidak mempunyai satuan. Persamaan di atas benar secara
dimensional jika ruas kiri dan kanan mempunyai dimensi yang sama.
Konstanta o dan | dapat dicari dengan menyamakan dimensi ruas kiri
dan kanan.
[v] = [K p
o
µ
|
] = [K] [p]
o
[µ]
|

Ruas kiri:
[v] = LT
-1
Ruas kanan:
[K] = - (tidak mempunyai dimensi)
[p]
o
= (ML
-1
T
-2
)
o
= M
o
L
-o
T
-2o
[µ]
|
= (ML
-3
)
|
= M
|
L
-3|
Dimensi ruas kanan:
[K] [p]
o
[µ]
|
= M
o+|
L
-o + 3|
T
-2o
Dimensi ruas kiri disamakan dengan ruas kanan dan menyamakan
pangkatnya, akan kita peroleh

[v] = [K] [p]
o
[µ]
|
LT
-1
= M
o+|
L
-o + 3|
T
-2o
M
0
LT
-1
= M
o+|
L
-o + 3|
T
-2o
Dan
0 = o + |
1 = -o + 3|
-1 = -2o

Dari ketiga persamaan di atas diperoleh o = ½; | = -½, sehingga rumus
kecepatan menjadi

v = K p
1/2
µ
-1/2
= K
p
µ














FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 8



BESARAN DAN SISTEM SATUAN
SOAL - SOAL LATIHAN
A. PILIHAN GANDA :

1. Kelompok besaran berikut yang merupakan besaran pokok adalah :
A. panjang, kuat arus, kecepatan
B. intensitas cahaya, berat, waktu
C. jumlah zat, suhu, massa
D. percepatan, kuat arus, gaya
E. panjang, berat, intensitas cahaya

2. Besaran-besaran berikut ini yang bukan merupakan besaran turunan
adalah :
A. momentum D. suhu
B. kecepatan E. volum
C. gaya
3. Yang merupakan satuan pokok dalam SI adalah :
A. joule D. volt
B. newton E. menit
C. ampere
4. Kecepatan sebuah zarah dinyatakan dengan v = A + Bt + Ct
2
. Dalam
persamaan ini, v menunjukkan kecepatan dalam cm/s, t adalah waktu
dalam s, sedangkan A, B, C masing-masing merupakan konstanta.
Satuan C adalah :
A. cm D. cm/s
2
B. cm s E. cm/s
3
C. cm/s
5. Energi kinetik suatu benda yang dalam sistem SI dinyatakan dalam
joule, tidak lain adalah :
A. kg m
2
s
-2
D. kg m
-2
s
B. kg m s
-2
E. kg
-1
m
2
s
-2
C. kg m
-1
s
2
6. Usaha adalah hasil kali gaya dengan perpindahan. Dimensi dari usaha
adalah :
A. [M] [L]
2
[T]
-2
D. [M] [L]
-1
[T]
-1
B. [M] [T]
-2
E. [M] [L]
1
[T]
-2
C. [M] [L] [T]
-2
7. Berat jenis memiliki dimensi :
A. [M] [L]
2
[T]
-2
D. [M] [L] [T]
2
B. [M] [L]
-2
[T]
2
E. [M] [L]
-3
C. [M] [L]
-2
[T]
-2




FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 9



BESARAN DAN SISTEM SATUAN
8. Daya adalah usaha persatuan waktu. Dimensi dari daya adalah:
A. [M] [L] [T]
-3
D. [M] [L]
2
[T]
-3
B. [M] [L] [T]
-2
E. [M] [L]
-2
[T]
-2
C. [M] [L] [T]
-1
9. Dalam sistem Satuan Internatsional satuan kalor adalah :
A. Kalori D. derajat Kelvin
B. Joule E. derajad Celcius
C. Watt
10. Dalam sistem Satuan internasional dimensi tekanan adalah :
A. [M] [L]
-1
[T]
-1
D. [M] [L]
-1
[T]
-2
B. [M] [L]
-1
[T]
-3
E. [M] [L]
-2
[T]
-2
C. [M] [L]
-2
[T]
-1
11. Tetapan gas umum mempunyai dimensi :
A. [M]
2
[L] [T][Θ] [ mol]
-2
D. [M] [L]
2
[T]
-2
[Θ]
-1
[ mol]
B. [M] [L] [T][Θ]
-2
[ mol]
2
E. [M] [L] [T]
-2
[Θ] [ mol]
-1
C. [M] [L]
2
[T]
-2
[Θ]
-1
[ mol]
-1
12. Satuan energi potensial, dalam system SI adalah :
A. kg.m
3
.det
-1
D. kg.m.det
-1
B. kg.m
2
.det
-2
E. kg.m
2
.det
-1
C. kg.m
2
.det
-3
13. Massa jenis atau rapat massa, mempunyai dimensi :
A. [M][L]
-2
D. [M][L]
-3
B. [M][L]
2
E. [M][L]
C. [M][L]
2
[M][L]
-3
14. Tetapan gravitasi G, mempunyai satuan :
A. m
3
.kg
-1
.det
-1
D. kg.m.det
2
B. kg.m.det
-1
E. salah semua
C. N.m
2
.det
2
15. Kwh adalah satuan dari :
A. daya D. kuat arus
B. energi E. salah semua
C. tegangan listrik
16. Momentum adalah hasil kali massa dan kecepatan. Dimensi momentum
adalah :
A. [M] [L] [T]
-2
D. [M] [L]
-2
[T]
2
B. [M] [L]
-1
[T]
-1
E. [M] [L]
-1
[T]
-1
C. [M] [L] [T]
-1





FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 10



BESARAN DAN SISTEM SATUAN
B. ESSAY :
1. Tentukan dimensi dan satuan dari besaran-besaran di bawah ini
a. Impuls (I), (impuls I merupakan perkalian antara gaya F dan waktu t)
b. Debit air yang mengalir melalui suatu pipa Q. (Q merupakan volume
(V) persatuan waktu (t)).
c. Momen gaya (t) (momen gaya t merupakan perkalian antara gaya F
dan lengan (1))
2. Seekor nyamuk dapat berdiri di atas permukaan air dan tidak tenggelam.
Hal ini akibat adanya tegangan permukaan (¸) pada permukaan air.
Besaran tegangan permukaan tersebut mempunyai satuan N/m.
tentukan dimensi dari (¸)

3. Sebuah bandul sederhana dapat berayun dengan perioda T = 2 t
(I/g)
1/2
dengan l adalah panjang bandul (m) dan T adalah perioda (detik).
Tentukan satuan dan dimensi dari g.

4. Gaya tarik menarik antara dua muatan yang tidak sejenis dapat
dirumuskan sebagai
F = K q . Q/r
2
Dimana F gaya (newton), q dan Q muatan (coulomb) dan r jarak antara
kedua muatan (m). Tentukan satuan dan dimensi dari K

5. Sebuah benda beratnya diudara sebesar 600 Newton. Jika dimasukkan
ke dalam air, benda tersebut mengalami gaya tekan ke atas sebesar
200 Newton. Berapakah berat benda, jika berada di dalam air dan
kemana arah vektor berat tersebut?

6. Tentukan dimensi dan satuan dari besaran-besaran di bawah ini:
a. Luas
b. Kecepatan sudut (besar sudut yang ditempuh persatuan waktu)
c. Energi potensial (merupakan perkalian antara massa, tinggi, dan
percepatan gravitasi)
d. Usaha W (merupakan perkalian antara gaya dan perpindahan)
e. Momentum (merupakan perkalian antara massa dan kecepatan)
7. Misalkan perpindahan suatu benda dapat dinyatakan dengan x = k t
3
,
dengan x adalah perpindahan, t waktu yang ditempuh serta k konstanta
pembanding. Tentukan dimensi dan satuan k.

8. Bulan yang bermassa m dan bumi bermassa M akan tarik menarik
dengan gaya sebesar F. Besar gaya tersebut berbanding terbalik
dengan kuadrat jaraknya 1/r dan dapat dirumuskan dengan :
M m
F = G
r
2 G konstanta,
Tentukan dimensi G.


FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 11



BESARAN DAN SISTEM SATUAN
9. Sebuah bandul yang bermassa m dan diayunkan, akan mempunyai
periode osilasi T. Dengan menganggap periode tersebut hanya
bergantung pada massa bandul (m), panjang tali (l) dan percepatan
gravitasi, maka persamaannya menjadi
T = K m
o
l
|
g
¸
K merupakan konstanta yang tidak mempunyai dimensi. Dengan analisa
dimensional, tentukan rumus tersebut.












































FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 12








VEKTOR
BAB II
V E K T O R
2.1. Besaran Vektor Dan Skalar
Ada beberapa besaran fisis yang cukup hanya dinyatakan dengan suatu
angka dan satuan yang menyatakan besarnya saja. Ada juga besaran fisis
yang tidak cukup hanya dinyatakan dengan besarnya saja, tetapi harus juga
diberikan penjelasan tentang arahnya.
Besaran vektor :
Besaran yang dicirikan oleh besar dan arah
Contoh besaran vektor didalam fisika adalah: kecepatan, percepatan, gaya,
perpindahan, momentum dan lain-lain.
Untuk menyatakan arah vektor diperlukan sistem koordinat.
Besaran skalar :
Besaran yang cukup dinyatakan oleh besarnya saja (besarnya dinyatakan oleh
bilangan dan satuan)

Contoh besaran skalar : waktu, suhu, volume, laju, energi, usaha dll.

Tidak diperlukan sistem koordinat dalam besaran skalar

2.2. Penggambaran, penulisan (Notasi) vektor

Sebuah vektor digambarkan dengan sebuah anak panah yang terdiri
dari pangkal (titik tangkap), ujung dan panjang anak panah. Panjang anak
panah menyatakan nilai dari vektor dan arah panah menunjukkan arah vektor.

Pada gambar (2.1) digambar vektor dengan titik pangkalnya P, titik ujungnya Q
serta sesuai arah panah dan nilai vektornya sebesar panjang.


P Q

Gambar 2.1 : Gambar sebuah vektor PQ

Titik P : Titik Pangkal (titik tangkap)
Titik Q : Ujung
Panjang PQ : Nilai (besarnya) vektor tersebut = PQ


FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 13








VEKTOR

Notasi (simbol) sebuah vektor dapat juga berupa huruf besar atau huruf kecil,
biasanya berupa huruf tebal, atau berupa huruf yang diberi tanda panah di
atasnya atau huruf miring.
Contoh :
Vektor A (Berhuruf tebal)

Vektor A (Huruf dengan tanda panah di atasnya)

Vektor A (Huruf miring)
Untuk penulisan harga (nilai) dari vektor dituliskan dengan huruf biasa atau
dengan memberi tanda mutlak dari vektor tersebut.

Contoh : Vektor A. Nilai vektor A ditulis dengan A atau A

Ada beberapa hal yang perlu diingat mengenai besaran vektor.
1. Dua buah vektor dikatakan sama jika mempunyai bila besar dan arah
sama.
2. Dua buah vektor dikatakan tidak sama jika :
a. Kedua vektor mempunyai nilai yang sama tetapi berlainan arah
b. Kedua vektor mempunyai nilai yang berbeda tetapi arah sama
c. Kedua vektor mempunyai nilai yang berbeda dan arah yang berbeda

Untuk lebih jelasnya lihat gambar di bawah ini:

A D
C

E

B
Gambar 2.2 : Gambar beberapa buah vektor

Besar (nilai) vektor A, B, C, dan D sama besarnya. Nilai vektor C lebih kecil dari
vektor D. Dari gambar di atas dapat disimpulkan bahwa:

A = C artinya: nilai dan arah kedua vektor sama
A = - B artinya: nilainya sama tetapi arahnya berlawanan
Vektor A tidak sama dengan vektor D (Nilainya sama tetapi arahnya berbeda)
Vektor D tidak sama dengan vektor E (Nilai dan arahnya berbeda)



FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 14








VEKTOR

2.3. Penjumlahan dan pengurangan vektor
Mencari resultan dari beberapa buah vektor, berarti mencari sebuah
vektor baru yang dapat menggantikan vektor-vektor yang dijumlahkan
(dikurangkan)

Untuk penjumlahan atau pengurangan vektor, ada beberapa metode, yaitu:
1. Metode jajaran genjang
2. Metode segitiga
3. Metode poligon (segi banyak)
4. Metode uraian
2.3.1 Metode Jajaran Genjang
Cara menggambarkan vektor resultan dengan metode jajaran genjang
adalah sebagai berikut.

A A
R=A+B

B B

Gambar 2.3 : Resultan vektor A + B, dengan metode jajaran genjang

Langkah-langkah :
a. Lukis vektor pertama dan vektor kedua dengan titik pangkal berimpit
b. Lukis sebuah jajaran genjang dengan kedua vektor tersebut sebagai
sisi-sisinya
c. Resultannya adalah sebuah vektor, yang merupakan diagonal dari
jajaran genjang tersebut dengan titik pangkal sama dengan titik
pangkal kedua vektor tersebut

Besarnya vektor :
R = R =



2 2
R = A +B + 2AB


cosu 2.1
u adalah sudut yang dibentuk oleh vektor A dan B

Catatan :
1. Jika vektor A dan B searah, berarti o = 0° : R = A + B
2. Jika vektor A dan B berlawanan arah, berarti o = 180° : R = A - B
3. Jika vektor A dan B saling tegak lurus, berarti o = 90° : R = 0
Untuk pengurangan (selisih) vektor R = A - B, maka caranya sama saja,
hanya vektor B digambarkan berlawanan arah dengan yang diketahui.



FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 15








VEKTOR

2.3.2 Metode Segitiga

Bila ada dua buah vektor A dan B akan dijumlahkan dengan cara
segitiga maka tahap-tahap yang harus dilakukan adalah


A

R=A+B
B
Gambar 2.4 : Resultan vektor A + B, dengan metode segitiga

Langkah-langkah :
1. Gambarkan vektor A
2. Gambarkan vektor B dengan cara meletakkan pangkal vektor B pada
ujung vektor A
3. Tariklah garis dari pangkal vektor A ke ujung vektor B
4. Vektor resultan merupakan vektor yang mempunyai pangkal di vektor
A dan mempunyai ujung di vektor B

Jika ditanyakan R = A - B, maka caranya sama saja, hanya vektor B
digambarkan berlawanan arah dengan yang diketahui

2.3.3 Metode poligon

Pada metode ini, tahapannya sama dengan metode segitiga, hanya saja
metode ini untuk menjumlahkan lebih dari dua vektor.

Contoh :
Jumlahkan ketiga buah vektor A, B, dan C dengan metoda Poligon
A
B C

Jawab:
Resultan ketiga vektor R adalah R = A + B + C

C
R
B
A

Gambar 2.5. Penjumlahan vektor dengan metode poligon


FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 16








VEKTOR

2.3.4 Metode Uraian

Setiap vektor yang akan dijumlahkan (dikurangkan diuraikan terhadap
komponen-komponennya (sumbu x dan sumbu y )
Y



A
x
A

u
A
y
X


Gambar 2.5. Komponen - komponen sebuah vektor

Komponen vektor A terhadap sumbu X : A
x
= A cos u
Komponen vektor A terhadap sumbu Y : A
y
= A sin u

Vektor Komponen X Komponen Y
A A
X
A
Y
B B
X
B
Y
C C
X
C
Y
R = A + B + C R
X
= A
X
+ B
X
+ C
X
RY = A
Y
+ B
Y
+ C
Y

Besar vektor R :
R = R
2
X
2
+ R 2.2
Y
Arah vektor R terhadadap sunbu X positif :
tgu =
R
Y
2.3
RX
Catatan :
Jika vektor A dinyatakan dengan vektor-vektor satuan i dan j maka, secara
matematis vektor A dapat ditulis dengan

A = i A
x
+ j A
y

Yang merupakan penjumlahan kedua komponen-komponennya

Atau A = A
x
+ A
y

Nilai vektor A :
A = A
2 2
+A 2.4
X Y

FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 17








VEKTOR

Contoh :

1. Lima buah vektor digambarkan sebagai berikut :
X
C
B
A
D Y


E


Besar dan arah vektor pada gambar diatas :

Vektor Besar (m) Arah(
0
)
A 19 0
B 15 45
C 16 135
D 11 207
E 22 270

Hitung : Besar dan arah vektor resultan.
Jawab :

Vektor Besar (m) Arah(
0
) Komponen X(m) Komponen Y (m)
A 19 0 19 0
B 15 45 10.6 10.6
C 16 135 -11.3 11.3
D 11 207 -9.8 -5
E 22 270 0 -22
R
X
=8.5 RY =-5.1

Besar vektor R :
2
R = R
2 2 2
+R = 8.5 + (÷5.1) = 94.01 = 9.67 m
X Y
Arah vektor R terhadap sumbu x positif :
tg u =
÷5.1
= - 0,6
8.5
u = 329.03
0
(terhadap x berlawanan arah jarum jam )


FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 18








VEKTOR

2.4 Perkalian Vektor

Untuk operasi perkalian dua buah vektor, ada dua macam operasi yaitu :
1. Perkalian skalar dengan vektor
2. Perkalian vektor dengan vektor.
a. Perkalian titik (dot product)
b. Perkalian silang (cross product)

2.4.1 Perkalian skalar dengan vektor

Sebuah besaran skalar dengan nilai sebesar k, dapat dikalikan dengan
sebuah vektor A yang hasilnya sebuah vektor baru C yang nilainya sama
dengan nilai k dikali nilai A. Jika nilai k positif, maka arah C searah dengan A
dan jika nilai k bertanda negatif, maka arah C berlawanan dengan arah A.
Secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut:

C = k A 2.5
2.4.2 Perkalian vektor dengan vektor

Ada dua jenis perkalian antara vektor dengan vektor. Pertama disebut
perkalian titik (dot product) yang menghsilkan besaran skalar dan kedua
disebut perkalian silang (cross product) yang menghasilkan besaran vektor.

2.4.2.1 Perkalian titik (dot Product)

Perkalian titik (dot product) antara dua buah vektor A dan B menghasilkan C,
didefinisikan secara matematis sebagai berikut:

A - B = C
A

A dan B vektor
θ
C besaran skalar
Besar C didefinisikan sebagai :
B

C = A . B cos u 2.6

A = A = besar vektor A
B = B = besar vektor B
u = sudut antara vektor A dan B




FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 19








VEKTOR

Sifat-sifat perkalian titik :
1. bersifat komutatif : A - B = B - A
2. bersifat distributif : A - (B+C) = A - B + A - C
3. jika A dan B saling tegak lurus maka : A - B = 0
4. jika A dan B searah : A - B = A.B
5. jika A dan B berlawanan arah maka : A - B = - A.B
Contoh:
Usaha (W) yang dilakukan oleh gaya F untuk memindahkan benda sejauh s
didefinisikan sebagai W = F - s.
Jika besar gaya F = 5 N, perpindahan s = 40 m dan gaya F membentuk sudut
60°, maka hitung besar usaha W.

Jawab:

W = F - s
W = Fs cos u
W = 2 N . 40 m cos 60° = 5 N . 40 m. 0,5 W
= 100 N m = 100 Joule
2.4.2.2. Perkalian silang (cross product)

Perkalian silang (cross product) antara dua buah vektor A dan B akan
menghasilkan C, didefinisikan sebagai berikut:

A x B = C 2.7










Gambar 2.6. Perkalian vektor

A, B, dan C vektor
Nilai C didefinisikan sebagai

C = A . B sin u 2.8


FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 20








VEKTOR

A = A = besar vektor A
B = B = besar vektor B
u = sudut antara vektor A dan B
Arah vektor C dapat diperoleh dengan cara membuat putaran dari vektor A ke B
melalui sudut u dan arah C sama dengan gerak arah sekrup atau aturan tangan
kanan..

Sifat-sifat perkalian silang (cross Product).
1. bersifat anti komutatif : A x B = - B x A
2. jika A dan B saling tegak lurus maka : A x B = A.B
3. jika A dan B searah atau berlawanan arah : A x B = 0

2.5 Vektor Satuan

Vektor satuan adalah sebuah vektor yang didefinisikan sebagai satu
satuan vektor. Jika digunakan sistem koordinat Cartesian (koordinat tegak)
tiga dimensi, yaitu sumbu x dan sumbu y dan sumbu Z, vektor satuan pada
sumbu x adalah i, vektor satuan pada sumbu y adalah j dan pada sumbu z
adalah k. Nilai dari satuan vektor-vektor tersebut besarnya adalah satu satuan


Z




k



j Y
i


X

Gambar 2.7 : vektor satuan
Sifat-sifat perkalian titik vektor satuan

i . i = j . j = k . k = 1
i . j = j . k = i . k = 0


FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 21








VEKTOR

Sifat-sifat perkalian silang vektor satuan

i x I = j x j = k x k = 0

i x j = k j x i = - k
k x I = j i x k = - j
j x k = i k x j = - i
Penulisan suatu vektor A dalam koordinat katesian bedasarkan
komponenkomponennya adalah :

A = A
x
i + A
y
j + A
z
k 2.9

Dimana A
x
, A
y
dan A
z
adalah komponen A arah sumbu X, Y dan Z

Contoh perkalian titik dan perkalian silang dua buah vektor A dan B .

1. Pekalian titik.

A . B = (A
x
i + A
y
j + A
z
k) . ( A
x
i + A
y
j + A
z
k )
= AxBx i.i + AxBy i.j + AxBz i.k + AyBx j.i + AyBy j.j + AyBz j.k +
AzBx k.i + AzBy k.j + AzBz k.k

A . B = AxBx + AyBy + AzBz 2.30

2. Perkalian silang.

A x B = (A
x
i + A
y
j + A
z
k) x ( A
x
i + A
y
j + A
z
k )
= AxBx ixi + AxBy ixj + AxBz ixk + AyBx jxi + AyBy jxj + AyBzjxk +
AzBx kxi + AzBy kxj + AzBz kxk
= AxBy k - AxBz j - AyBx k + AyBz i + AzBx j - AzBy I

A x B = (AyBz - AzBy) i - (AxBz - AzBx )j + (AxBy - AyBx)k 2.31

Salah satu cara untuk menyelesaikan perkalian silang adalah dengan metode
determinan :

i j k
AxB = Ax Ay Az 2.32
Bx By Bz





FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 22








VEKTOR

untuk mencari determinan matriksnya dengan mengunakan metode Sarrus :
- - -
i j k i j
A X B = Ax Ay Az Ax Ay
Bx By Bz Bx By
+ + +
= iAyBz + j AzBx + kAxBy - kAyBx - iAzBy - j AxBz

= (AyBz - AzBy) i - (AxBz - AzBx )j + (AxBy - AyBx)k 2.33

Cara lain yang mirip dengan metode diatas adalah dengan cara mereduksi
determinan matriks 3x3 menjadi determinan matriks
mudah menghitungnya :

i j k
AxB = Ax Ay Az
Bx By Bz
Ay Az Ax Az Ax Ay
2x2 sehingga lebih
= i
By Bz
- j +k
Bx Bz Bx By

= (AyBz - AzBy) i - (AxBz - AzBx )j + (AxBy - AyBx)k 2.34

Contoh

1. Diketahui koordinat titik A adalah (2,-3,4). Tuliskan dalam bentuk vektor
dan berapa besar vektornya ?

Jawab :

Vektor A = 2i - 3j + 4k
2 2 2
A = A = 2 + (÷3) +4 = 29 satuan
2. Tiga buah vektor dalam koordinat kartesius :

A = 3i + j, B = - 2i, C = i + 2j
Tentukan jumlah ketiga vector dan kemana arahnya?

Jawab :
R = A + B + C
= (3i+j)+(-2i)+(i+2j)
= 2i + 3j

FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 23








VEKTOR

Besar vektornya :
2 2
R = 2 +3
= 13 satuan
Arahnya :
3
tg u =
2
= 1,5
u = 56,3
0

3. Tentukanlah hasil perkalian titik dan perkalian silang dari dua buah vector
berikut ini :
A = 2i - 2j + 4k
B = i - 3j + 2k
Jawab :

Perkalian titik :
A. B = 2.1 +(-2)(-3) + 4.2
= 16
Perkalian silang :

i j k
A x B = 2 ÷ 2 4
1 ÷3 2
= {(-2).2 - 4.(-3)}i - { 2.2 - 4.1}j + {2.(-3) - (-2).1}k = (-
4+12)i - (4-4)j + (-6+4)k
= 8i - 0 j - 2 k
= 8i - 2k















FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 24








VEKTOR
SOAL - SOAL LATIHAN

A. PILIHAN GANDA :

1.






2.

Yang ketiganya termasuk besaran vektor adalah ........
A. perpindahan, kuat medan listrik, usaha
B. perpindahan, daya, impuls
C. jarak, momentum, percepatan
D. gaya, momentum, momen
E. gaya, tekanan, impuls

Empat buah vektor A, B, C, dan D memiliki arah dan besar seperti pada
gambar berikut. Pernyataan yang benar adalah :
A. A + B + C = D
B. A + B + D = C
A
C. A + C + D = B
B
D. B + C + D = A
D
E. A + B + C + D = 0
C

3. Dua gaya masing-masing 10 N bekerja pada suatu benda. Sudut di
antara kedua gaya itu adalah 120°. Besar resultannya adalah : .
A. 10 N D. 20 N
B. 14 N E. 25 N
C. 17 N

4. Jika besar vektor A, B, dan C masing-masing 12, 5, dan 13 satuan, dan
A + B = C, maka sudut antara A dan B adalah :
A. 0° D. 60°
B. 30° E. 90°
C. 45°

5. Perhatikan gambar di bawah. Dua buah vektor masing-masing besarnya
10 N dan F newton menghasilkan vektor resultan dengan besar 20 N dan
dalam arah OA. Jika u adalah sudut antara F dengan arah OA, maka
nilai sin u adalah :
F
u
O A


10 N


FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 25








VEKTOR

A.

B.

C.

1 1
D.
5 2
1 1
E. 2
3 5
1
5
5
6. Dua vektor A dan B besarnya 40 dan 20 satuan. Jika sudut antara
kedua vektor itu adalah 60° , maka besar dari A - B adalah :
A. 20 D. 40 3
B. 20 3 E.60
C. 30

7. Jika dua vektor P dan Q sama panjang dan tegak lurus satu sama lain
(P ± Q), maka sudut apit antara P + Q dan P - Q adalah :
A. 30° D. 90°
B. 45° E. 120°
C. 60°
8. Dua buah vektor memiliki besar yang sama. Jika hasil bagi selisih dan
1
resultan antara kedua vektor tersebut
antara kedua vektor tersebut adalah :
1 1
2 , maka cosinus sudut apit
2
A.

B.

C.
D. 3
3 2
1
E. 1
2
1
2
2
9. Manakah dari kumpulan gaya-gaya berikut yang tidak dapat
memberikan jumlah vektor sama dengan nol :
A. 10, 10, dan 10 N D. 10, 20, dan 40 N
B. 10, 20, dan 20 N E. 20, 20, dan 40 N
C. 10, 10, dan 20 N

10. Dua buah vektor masing-masing adalah F
1
= 10 satuan dan F
2
= 16
satuan. Resultan kedua vektor pada sumbu-X dan sumbu-Y adalah:





FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 26








VEKTOR


Y
F





60
X
F
1

A. 2 satuan dan 8 satuan
B. 2 satuan dan 8 3 satuan
C. 2 3 satuan dan 8 satuan
D. 18 satuan dan 8 satuan
E. 18 satuan dan 8 3 satuan

11. Komponen-komponen X dan Y dari vektor A masing-masing adalah 4 m
dan 6 m. Komponen-komponen X dan Y dari vektor (A + B) masing-
masing adalah 0 dan 9 m. Panjang vektor B adalah :
A. 4 m D. 9 m
B. 5 m E. 10 m
C. 6 m

12. Diberikan dua vektor A = 6 meter ke utara dan B = 8 meter ke timur.
Besar dari vektor 2A - B adalah :
A. 4 m D. 2 52 m
B. 4 5 m E. 20 m
C. 10 m

13. Perhatikan gambar gaya-gaya berikut ini! Resultan ketiga gaya tersebut
adalah :
A. 0 N
Y
B. 2 N
C. 2 3 N
3
D. 3 N
E. 3 3 N
60
X
3
60

6

FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 27








VEKTOR

14. Besaran yang diperoleh dari perkalian titik antara dua buah vektor
adalah:
1. usaha
2. fluks listrik
3. fluks magnetik
4. fluks jajar genjang
Pernyataan yang benar adalah :
A. 1, 2, 3 D. hanya 4
B. 1, 3 E. 1, 2, 3, 4
C. 2, 4

15. Besaran yang diperoleh dari perkalian silang antara dua vektor adalah :
A. gaya dan momentum sudut
B. kopel dan gaya
C. momen dan momentum sudut
D. momen dan usaha
E. usaha dan kopel





























FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 28








VEKTOR

B. ESSAY :

1. Besar-besaran di bawah ini, mana yang merupakan besaran skalar dan
mana yang merupakan besaran vektor?
a. Waktu (detik)
b. Perpindahan (m)
c. Kecepatan (m/s)
d. Laju (m/s)
e. Percepatan (m/s
2
)
f. Usaha (Joule atau Kg m
2
/s
2
)
g. Temperatur (°C)
h. Momentum (p) (Kg m/s)

2. Besaran-besaran pada soal no 1, tentukan besaran mana yang
merupakan besaran pokok dan besaran mana yang merupakan besaran
turunan?

3. Kita definisikan bahwa untuk vektor satuan gaya digambarkan 0,25 cm,
artinya tiap satu newton, digambarkan dengan suatu vektor yang
panjangnya 0,25 cm. Bila ada suatu vektor gaya besarnya 60 newton,
maka berapakah panjang vektor yang harus digambarkan untuk
menunjukkan gaya tersebut?

4. Tentukan besar (nilai) dan gambarkan pada sistem koordinat kartesian
untuk dua dimensi, dari vektor-vektor di bawah ini:
a. A = 7 i
b. D = 3 i + 4 j
c. C = 5 j
5. Tentukan besar dan arah dari vektor-vektor di bawah ini, jika komponen
masing-masing di dalam koordinat Kartesian telah diketahui
a. A
x
= 6 cm, A
y
= 8 cm b. F
x
=3N, F
y
=4N
6. Sebuah perahu bergerak dari suatu tepi sungai, tegak lurus aliran sungai
dengan kecepatan 12 m/detik dan kecepatan aliran sungai adalah 5
m/detik. Jika lebar sungai 120 m, berapa jauhkah dan dimana perahu
tersebut berada pada tepi lain dari sungai tersebut

7. Dua buah vektor terletak pada bidang xy. Besar kedua vektor masing-
masing 3 clan 4 satuan: Kedua vektor masing-masing membentuk sudut
55
0
dan 280
0
terhadap sumbu x. Hitunglah besar dari perkalian titik dan
perkalian silang kedua vektor ini !




FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 29








VEKTOR

8. Dua buah vektor saling tegak lurus. Resultannya 20 satuan, sedangkan
salah satu vektor membuat sudut 30
0
dengan resultan. Berapa besar dar
vektor-vektor ini!
9. Ada 3 buah vektor a, b, dan c yang sebidang. Besar vektor itu berturut-
turut 10, 15 dan 20 satuan. Jika resultan dari dua vektor yang mana saja
adalah sama besar dan berlawanan arah dengan vektor yang lain,
tentukan sudut antara vektor a dan c!

10. Dua buah vektor a dan b masing-masing sebesar 10 dan 5 satuan
mengapit sudut 30
0
. Hitung besar selisih kedua vektor itu !

11. Dua buah vektor sebidang saling mengapit sudut u. Jika besar jumlah dari
kedua vektor itu sama dengan 4 kali besar selisih kedua vektor, hitung u
(besar kedua vektor sama)!
12. Diketahui jumlah 2 vektor empat kali besar vektor yang lebih kecii dan
sudut yang dibentuk oleh vektor resultan itu dan dengan vektor yang lebih
kecil adalah 30
0
bagaimanakah perbandingan kedua vektor ini? Hitung
juga sudut apitnya !

13. Dua vektor yang besarnya sama membentuk sudut u. Resultan dari kedua
vektor itu adalah \3 dari besar masing-masing vektor. Hitung u !
14. Sebuah vektor besarnya 6 satuan hendak diurai menjadi 2 buah vektor
yang saling menyiku. Salah satu komponen vektor itu membuat sudut 60
0

dengan vektor tersebut. Hitung besar dari komponen-komponen vektor ini!
15. Jumlah dua buah vektor besarnya dua kali besar vektor yang lebih kecii.
Jika kedua vektor membentuk sudut o (tano = 4/3), berapakah
perbandingan kedua vektor itu?

16. Dua buah vektor yang besarnya 6 dan 5 satuan mengapit sudut 30
0
.
Hitung sudut antara resultan vektor dengan vektor yang pertama !

17. Besar dari resultan vektor a dan b sama dengan besar selisih dari kedua
vektor itu. Buktikan bahwa kedua vektor itu saling tegak lurus.
(petunjuk : gunakan (a + b) . (a + b) = (a - b) . (a - b), untuk membuktikan
bahwa : a . b = 0.) !

18. Jika : a + b = c dan a
2
+ b
2
= c
2
, buktikan bahwa a dan b saling tegak lurus!






FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 30





GERAK LURUS
BAB III
GERAK LURUS

3.1 PENDAHULUAN

Kinematika partikel mempelajari gerak suatu partikel tanpa meninjau
penyebab partikel itu dapat bergerak. Gerakan ini mengamati bentuk lintasan
yang ditulis dalam persamaan matematika, kecepatan gerakan, dan
percepatan gerakan partikel tersebut. Satuannya menggunakan satuan
sistem Internasional (SI).
Gerakan suatu materi atau partikel memerlukan kerangka acuan.
Kerangka acuan yang sering digunakan adalah kerangka atau koordinat
sumbu Cartesian. Dalam gerak lurus sumbu korninat yang digunakan hanya
satu. Gerak lurus disebut juga dengan gerak satu dimensi.

3.2 VEKTOR POSISI, KECEPATAN DAN PERCEPATAN.
Untuk menjelaskan tentang konsep gerak lurus, pertama akan
dijelaskan beberapa besaran fisis yang nantinya akan digunakan.
Besaranbesaran fisis tersebut diantaranya , posisi, kecepatan dan percepatan.
3.2.1 POSISI

Andaikan sebutir partikel bergerak searah sumbu-x. Posisi partikel
setiap waktu dinyatakan oleh jaraknya dari titik awal (acuan) O.

O
A B

x
1
x
2
t
1
t
2
v
1
v
2
Gambar 3.1 : Posisi partikel dinyatakan dari titik acuan O pada sumbu-x.

Posisi partikel dinyatakan sebagai pergeseran sumbu-x sebagai fungsi
waktu dengan hubungan x = f(t). Pergeseran x bertanda positif (+) bila
bergeser ke arah kanan dan bertanda negatif (-) bila bergeser ke arah kiri.
Andaikan pada waktu t
1
partikel berada di titik A, dengan OA = x
1
. Pada
waktu t
2
partikel itu sudah berada di titik B, dengan OB = x
2
. Partikel bergerak
dari titik A ke titik B dengan pergeseran OB - OA = Ax = x
2
- x
1
dalam selang
waktu At = t
2
- t
1
.
Contoh :
-4 -3 -2 -1 0 1 2
B O A


FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 31





GERAK LURUS

Dari gambar dapat dilihat :
Jarak OA = 2 satuan
OB = 4 satuan
OBA = jarak OB + jarak BA
= 4 + 6
= 10 satuan
jarak selalu berharga positif
Perpindahan OA = posisi A - posisi O
= 2 - 0
= 2 satuan
OB = posisi B - posisi O
= -4 - 0
= -4 satuan
tanda negatif menunjukkan perpindahan kearah kiri
OBA = perpindahan OB + perpindahan BO + perpindahan OA
Karena perpindahan OB = - BO, maka perpindahan
OBA = perpindahan OA
= posisi A - posisi O
= 2 - 0
= 2 satuan
3.2.2 Kecepatan Rata-rata.
Perbandingan antara pergeseran dengan selang waktu yang digunakan
disebut kecepatan rata-rata v .

v =
x2 ÷ x1
t ÷t

Ax
= 3.1
At
2 1

m
x
20
Lintasan
x
2
Ax
10
Vrata-rata = kemiringan garis yang menghubungkan X1 dan X2
x
1
2 4
t 1
A t
t
2
t
dt

Gambar 3.2 : Kecepatan rata-rata suatu partikel sebagai slope x fungsi t.



FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 32





GERAK LURUS

Jadi, kecepatan rata-rata selama selang waktu tertentu sama dengan
pergeseran rata-rata per satuan waktu selama selang waktu tersebut.
Definisi kecepatan rata-rata ini identik dengan definisi kemiringan garis dari x
sebagai fungsi t pada matematika. Untuk jelasnya perhatikanlah Gambar 3.2
Pada gambar terlihat bahwa Ax = 10 m dan At = 2 detik, sehingga slope
adalah Ax/At = 10/2 = 5 m/s, dan merupakan kecepatan rata-rata pada
selang waktu detik ke-2 dengan detik ke-4.

Contoh
Sebuah benda titik bergerak sepanjang sumbu x mula-mula pada t = 1 s
berada pada x = 12 m dan pada t = 3 s berada pada x = 4 m. tentukan
pergeseran, kecepatan rata-rata dan laju rata-rata antara selang waktu
tersebut.
Penyelesaian :

Diketahuai :
Perpindahan ∆x = x
t
- x
o
= x
3
- x
1
= 4m - 12m
= -8m

At = 3s - 1s
= 2s

Jadi kecepatan rata-rata
Ax
v =

=

=
At
4÷12
3÷1
÷8
2
= - 4 m.s
-1
Tanda negatif berarti arah kecepatan rata-rata ke arah negatif

Laju rata-rata =

8
2

= 4 ms
-1
3.2.3 Kecepatan Sesaat
Untuk menentukan kecepatan sesaat di titik A ataupun di titik B pada
Gambar 3.1 di atas, harus ditentukan selang waktu At sesingkat mungkin,
sehingga tidak terjadi perubahan kondisi gerakan yang terjadi pada selang


FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 33





GERAK LURUS

waktu yang sangat pendek tersebut. Dalam bahasa matematika disebut
harga limit perbandingan Ax dengan At apabila At menuju ke nol.

v = lim v = lim
At÷0 At÷0
Ax
At

3 .2
Merupakan turunan dari pergeseran (perpindahan) x terhadap waktu atau
derivatif x terhadap t.

v=
dx
dt

3.3
Kecepatan suatu benda dapat ditentukan dengan menggukur selang waktu At
pada dua titik yang sangat berdekatan di lintasan yang dilalui benda
tersebut. Jika kecepatan merupakan fungsi waktu, v = f(t), posisi x suatu
partikel dapat ditentukan dengan mengintegralkan Persamaan (3.3) setelah
ditulis menjadi dx = v dt.

x 2 t2

dx =

vdt 3.4
x 1 t1

Dengan x
1
adalah harga x ketika waktunya t
1
dan x
2
adalah harga x ketika
waktunya t
2
. Jadi :

t 2
x2 ÷ x = vdt atau x2 = x

t2
+ vdt 3.5
1

Contoh :

t 1
1

t1

1. Posisi sebuah partikel yang bergerak sepanjang garis lurus dinyatakan
dalam x = 2.t
2
, Hitunglah kecepatan benda pada saat t = 2 s
Jawab:

persamaan posisi : x = 2.t
2
t = 2 s
dx
v =

=
dt
d (2 .t 2 )
dt
= 4.t
Pada t = 2 s
v = 4x2
= 8 m.s
-1

FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 34





GERAK LURUS

2. Misalkan perpindahan sebuah benda titik ditentukan oleh:
x = -4t + 2t
2
(x dalam m dan t dalam s).
Tentukan:
a. Perpindahan antara t = 0 dan t = 1s, t = 1s dan t = 3s
b. Kecepatan rata-rata pada selang waktu dipertanyaan (a).
c. Kecepatan sesaat pada t = 3s
Jawab:

a. perpindahan :
x
0
= 0
x
1
= -4 + 2
= -2m
x
3
= -4.3 +2.3
2
= -12 + 18
= 6m

Ax
0-1
= x
1
- x
0
= -2 - 0
= -2 m
Ax
1-3
= x
3
- x
1
= 6 - (-2)
= 6 + 2
= 8 m
b. kecepatan rata-rata
v
0-1
=

=
Ax 0÷1
At
÷2
1
= -2 m s
-1

Ax
v
1-3
=
1÷3
At
=
8
2
= 4 m s
-1
c. kecepatan sesaat :
v =

=
dx
dt
d(÷4t + 2t
dt




2
)
= -4 + 4t


FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 35





GERAK LURUS

Pada t = 3 s
v
3
= -4 + 4 . 3
= -4 +12
= 8 m s
-1
3. Sebuah benda bergerak lurus dari titik A ke B yang berjarak 20 m.
Kemudian benda kembali ke A melalui lintasan yang sama. Total waktu
yang diperlukan 20 detik. Hitung berapa kecepatan dan kelajuan dari
benda tersebut

Penyelesaian :
20 m
A B
Perpindahan AB

Perpindahan BA


Perpindahan ABA = 20 - 20
= 0 m

Jarak AB = Jarak BA




A B
Jarak ABA = 20 + 20
= 40 m

perpindahan
Kecepatan
=
=
waktu
0
20
= 0

Kelajuan =

=
jarak
waktu
40
20
= 2 m.s
-1


FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 36





GERAK LURUS

3.2.4 Gerakan Dengan Kecepatan Tetap
Istilah kecepatan tetap menggambarkan turunan terhadap waktu.
Dinyatakan dengan persamaan v = v
0
= konstanta. Untuk mendapatkan sifat
posisi adalah dengan cara mengintegralkan kecepatan :
x= ∫vdt= ∫v0dt= v0t+konsanta 3.6

Dalam keadaan ini, konstanta merupakan posisi awal saat mulai bergerak, x
0
.
Jadi, persamaan posisi untuk kecepatan tetap :

x= x0+ v0t 3.7

Gerakan partikel dengan kecepatan yang selalu tetap disebut gerakan
uniform. Berikut dilukiskan grafik gerakan partikel dengan kecepatan
konstan.
V x

x = x
0
+ v(t-t
0
)

v = tetap x
0


t t
0
t

kecepatan vs waktu pergeseran vs waktu
Gambar 3-3 : Grafik percepatan dan pergeseran dalam gerakan uniform.
3.2.5 Percepatan

Perhatikan Gambar 3-1 di atas. Apabila kecepatan partikel A disebut v
1
dan kecepatan di B adalah v
2
, maka selisih kecepatan itu dibanding dengan
selang waktunya disebut percepatan rata-rata antara posisi A dengan posisi
B.
a =
v2 ÷v1
t2 ÷t 1
=
Av
At
3.8

Jadi, percepatan rata-rata selama selang waktu tertentu adalah perubahan
dalam kecepatan per satuan waktu selama selang waktu tersebut. Apabila
selang waktu atau interval At sangat kecil sehingga mendekati nol, maka
limit kecepatan rata-rata disebut percepatan sesaat atau percepatan.



FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 37





GERAK LURUS

a =
Atau
a=

lim a = lim
At÷0 At÷0
dv
dt
Av
At

3.9


3.10
Jadi, percepatan merupakan turunan atau derivatif kecepatan terhadap
waktu. Jika percepatan diketahui, kecepatan dapat diperoleh dengan cara
mengintegralkan Persamaan
diintegralkan, diperoleh :
v 2 t 2
dv = adt
(3.10). Dari persamaan (3.10), dv = a dt

3.11
∫ ∫
v 1 t 1
Dengan v
1
adalah kecepatan pada t
1
dan v
2
adalah kecepatan pada t
2
.
Selanjutnya, apabila :
v

v
maka
v
2
dv = v2 ÷ v1

1

t2
2 = v1 + ∫ adt 3.12
t1
Karena kecepatan v merupakan turunan dari pergeseran x terhadap waktu,
maka percepatan a merupakan turunan kedua dari pergeseran x terhadap
waktu t.
a=

Contoh :
d
2
dt
x
2
3.13
Gerak suatu benda ditentukan oleh v = (40 - 5t
2
) ms
-1
Tentukan:
a. Percepatan rata-rata pada selang waktu t = 0 dan t = 2s
b. Percepatan pada t = 2s
Jawab:

a. percepatan rata - rata :
v = 40 - 5t
2
vo
= 40 ms
-1
v
2
= 40 - 5.2
2
= 40 - 20
= 20 ms
-1


FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 38





GERAK LURUS

Jadi
a
o-2
=

=
v2 ÷ v0
t 2 ÷ t0
20÷ 40
2÷0
= -10 ms
-1

b. percepatan pada t = 2 s
a
2
=
d (40 ÷ 5t
dt
= -10.t
2
)
pada t = 2 s
a = -10.2
= - 20 m.s
-2
jadi mengalami perlambatan sebesar 20 m.s
-2
, karena a bernilai
negatif
3.2.6 Gerakan Dengan Percepatan Tetap
Suatu objek dengan percepatan tetap disebut gerakan dengan
percepatan uniform. Misalnya, suatu benda yang jatuh bebas mempunyai
percepatan yang selalu tetap. Dari Persamaan (3.10) terlihat bahwa dv = a
dt. Apabila diintegralkan, diperoleh :

v

v
Atau

2 t2
dv = adt 3.14

1 t1

v2 ÷v1 =a(t2 ÷t1) 3.15

Sehingga

v2 =v1 +a(t2 ÷t1) 3.16

Hubungan pergeseran x dengan waktu t, diperoleh dari Persamaan (3.5) dan
Persamaan (3.16) :

t1
x2 = x1 + ∫ |v1
t 2
= x +v (t
+ a(t2 ÷ t1)| dt


1 2
÷t )+ a(t ÷t ) 3.17
1 1 2 1 2 2 1
Apabila t
1
= 0, t
2
= t, v
1
menjadi v
0
, v
2
menjadi v, x
1
menjadi x
0
dan x
2
menjadi
x, maka Persamaan (3.16) dan Persamaan (3.17) menjadi :

FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 39





GERAK LURUS

v=v0 + at
Dan
x=x +v t+

3.18




1 2
at 3.19
0 0 2
Dalam hal ini x
0
dan v
0
adalah kondisi awal dari gerak partikel searah sumbu-
x. Persamaan (3.18) dan Persamaan (3.19) sering disebut persamaan gerak
lurus berubah beraturan. Perlu diketahui bahwa x, v dan a dapat bertanda
positif atau negatif. Mereka adalah vektor. Gambar 3-5 melukiskan grafik
kecepatan dan pergeseran gerakan dengan percepatan konstan.

V x

v = v
0
+ at
x=x
0
v
0


t






1 2
+v t+ at
0 2



t
kecepatan vs waktu pergeseran vs waktu
Gambar 3-5 : Grafik kecepatan dan pergeseran pada percepatan konstan
Contoh :
1. Sebuah mobil bergerak dengan dengan kecepatan tetap pada jalan tol.
Pada jarak 10 km dari gerbang tol mobil bergerak dengan kecepatan tetap
90 km/jam selama 15 menit. Hitung posisi setelah 15 menit tersebut.
Hitung juga jarak yang ditempuh selama 15 menit tersebut.

Penyelaesaian :

Diketahui :
x
0
= 10 km
= 10.000 m
v
0
= 90 km/ jam = 90 000 m / 36 000 s
= 25 m/s
t = 15 menit . 60 s
= 900 s
Ditanya : x ? Jarak ?





FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 40





GERAK LURUS

Jawab :
Posisi mobil setelah : 15 menit
x = x
0
+ v.t
= 10.000 + 25 x 900 =
32.500 m
posisi mobil tersebut 32 500 m setelah 15 menit

Jarak yang ditempuh setelah 15 menit

Jarak = v.t
= 25 x 900
= 22 500 m
2. Sebuah sepeda motor bergerak lurus beraturan dengan kecepatan tetap,
dalam waktu 2 detik menempuh jarak 100 m. Tentukanlah :
a. kecepatan sepeda motor
b. waktu yang dibutuhkan untuk menempuh jarak 25 m

Penyelesaian :
Diketahui :
Ax = 100 m
t = 2 s
Ditanya : v? dan t? pada Ax = 25 m
Jawab :

a. Ax = v.t
Ax
v
=
=
t
100
2
= 50 m.s
-1

b. untuk Ax = 25 m, maka waktu yang dibutuhkan adalah :
Ax = v.t
Ax
t
=
=
v
25
50
= 0.5 s





FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 41





GERAK LURUS

Integral untuk memperoleh Persamaan (3.17) yang dilanjutkan dengan
Persamaan (3.19) dapat dievaluasi dengan prosedur grafis seperti dilukiskan
pada Gambar 3-6.
a v x

½at
2
at
v
0
v
0
t
x
0

t t t
Gambar 3-6 : Kinematika percepatan tetap dalam integrasi grafis.
Grafik pertama menunjukkan bahwa luas antara t = 0 dan waktu t lainnya
adalah sebesar at. Konstanta integrasi dapat dinyatakan oleh kecepatan
awal v
0
. Grafik kedua menunjukkan hasil grafik kecepatan terhadap waktu.
Luas di bawah kurva ini, tergantung pada waktu t, jumlah dari luasan persegi
panjang yang di bawah, diberikan oleh v
0
t dan luasan segitiga di atasnya.
Segitiga yang alasnya t dan tinggi at, mempunyai luas ½ at
2
. Konstanta
integrasi pada integral di atas dilambangkan dengan x
0
, sehingga diperoleh :

x=x +v t+

1 2
at 3.20
0 0 2
Penyelesaian akhir ditunjukkan oleh grafik ketiga Gambar 3-6, Pada gambar itu
dapat dilihat sokongan tiap suku dari ketiga suku tersebut.

Contoh :

1. Sebuah mobil bergerak dengan kecepatan 27 km/jam, kemudian mobil
dipercepat dengan percepatan 2 m/s
2
. Hitunglah kecepatan dan jarak
yang ditempuh selama 5 detik, setelah percepatan tersebut.

Penyelesaian :

Diketahui : v
0
= 27 km/jam = 27 000 m / 3 600 = 7,5 m.s
-1
x
0
= 0
a = 2 m.s
-2
t = 5 s
Ditanya : v? X?




FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 42





GERAK LURUS

Jawab :
v = vo+ a.t
= 7,5 + 2.5
= 7,5 + 10
= 17,5 m.s
-1

x = x
0
+ v
0
. t +







1
2




a.t
2
1
= 0 + 7,5 . 5 +
= 37,5 + 25 =
62,5 m
2
.2. 5
2
kecepatan mobil : 17,5 m.s
-1
dan jarak yang ditempuh : 62,5 m

2. Sebuah mobil bergerak dengan kecepatan 54 km/jam. Tiba-taba mobil
direm dan berhenti setelah 2 detik. Hitunglah jarak yang ditempuh selama
pengereman.
Penyelesaian :

Diketahui :
Setelah 2 s mobil berhenti berati v = 0 m.s
-1
v
0
= 54 km/jam
= 15 m.s
-1
t = 2 s
Ditanya : x?
Jawab :
v = vo+ a.t
v÷ v
0
a
=
=
t
0÷15
2
= - 7,5 m.s
-2
( terjadi perlambatan)
x = x
0
+ v
0
. t +
1
2
1
a.t
2
=0 + 15.2 +
= 30 -15 =
15 m
2
(-7,5) .2
2
jadi jarak yang ditempuh selama pengereman : 15 m



FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 43





GERAK LURUS

3. Sebuah benda bergerak dengan kecepatan 25 m/s. Setelah menempuh
jarak 500 m kecepatan benda menjadi 10 m/s. Hitunglah perlambatan
benda tersebut.

Penyelesaian :
Diketahui :
v
0
= 25 m.s
-1
x
0
= 0
vt = 10 m.s
-1
xt = 500 m
Ditanya : a?
Jawab :
Karena waktu tidak diketahui dan ditanya adalah a maka kita pakai rumus:
v
2
= v
2
0
+2.a.Ax
2
a =

=
v2 ÷v 0
2.Ax
2 2
10 ÷ 25
2.(500÷0)
= - 0,525 m.s
-2
4. Sebuah truk bergerak dengan kecepatan tetap 90 km/jam. Tiba-tiba truk
direm mendadak dengan perlambatan dengan perlambatan 8 m/s
2
.
Berapa waktu yang dibutuhkan truk untuk menepuh jarak 21 m dari saat
bus tersebut direm .

Penyelesaian :

Diketahui :
v
0
= 90 km/jam = 25 m.s
-1
x
0
= 0
a = -8 m.s
-2
xt
= 21 m
Ditanya : t ?
Jawab :
1
x = x
0
+ v
0
. t +
2
1
a.t
2
= 0 + 25.t +
21 = 25.t - 4.t
2
2
(-8).t
2


FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 44





GERAK LURUS

merupakan persaan kuadrat :

-4.t
2
+ 25.t - 21= 0
deselesaikan dengan penyelesaian persamaan kuadrat
(4.t - 21 ) (t - 1) = 0
4.t = 21
21
t
1
= 4 t - 1 = 0
= 5,25 s t
2
= 1 s
disini kita dapat dua harga t, dapat dijelaskan sbb:
perhatikan gambar :



21 m

O 1 s A
pertama kali kereta melewati titik A dalam waktu 1 detik, namun kerana
kereta terus diperlambat maka kecepatan kereta akhirnya negatif,
karena bergerak mundur dan akan kembali ke titik A dalam waktu 5,25
detik
3.3 Jatuh Bebas

Jika suatu objek sedang jatuh hanya oleh pengaruh gaya grafitasi bumi,
objek itu disebut dalam keadaan jatuh bebas. Umumnya hambatan udara
menghindarkan jatuh bebas yang sebenarnya, namun hambatan itu bisa
diabaikan untuk jarak jatuh yang dekat. Galileo Galilei (1564-1642) dikenal
sebagai penyelidik benda jatuh bebas yang dijatuhkannya dari menara
sebuah gereja. Ia menemukan besar percepatan jatuh bebas sebuah benda,
dilambangkan dengan g, dengan

g = 9.8 m/s
2
atau g = 32,2 ft/ s
2
3.21
Sering kali harga ini dibulatkan menjadi 10 m/s
2
dan 32 ft/ s
2
dengan koreksi
sekitar 2 % dan 2/3 %. Pembulatan ini biasanya digunakan pada
perhitungan-perhitungan. Harga g bervariasi di titik-titik yang berbeda pada
permukaan bumi.
Apabila arak ke atas adalah y positif, maka persamaan (3.19) untuk benda
jatuh bebas dengan kecepatan awal nol dapat ditulis :

FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 45





GERAK LURUS

y= y ÷

1 2
gt 3.22
0 2
Dengan y
0
adalah tingga mula-mula dari objek dan kecepatan mula-mula 0.
tanda negatif (-) pada suku kedua menyatakan fakta bahwa percepatan
arahnya ke bawah, sehingga harga y mengecil terhadap waktu. Kecepatan v
dalam arah negatif (ke bawah) dapat dilihat dengan menuliskan Persamaan
(3.18) dengan v
0
= 0 dan percepatan dalam arah y negatif :

v = (-g)t = -gt 3.23
Catatan : g dinyatakan hanya besarnya dan merupakan bilangan positif.
Contoh :
1. Sebuah benda di jatuhkan pada ketinggain 125 m tanpa kecepatan awal.
Jika percepatan awal 10 m.s
-2
,
benda sampai di tanah

Jawab :
Diket :
y
0
= 125 m
g = 10 m.s
-2
y = 0
v
0y
= 0
Ditanya : t ?
Jawab :
1
hitunglah waktu yang dibutuhkan untuk
y = y
0
+ v
0y
. t -
2
1
.g.t
2
0 = 125 + 0 -
0 = 125 - 5 t
2
5t
2
= 125
125
2
.10.t
2
t
2
=
5
= 25
t = 25
= 5 s

2. Sebuah bola dilempar keatas dengan kecepatan 20 m.s-1, jika percepatan
jatuh bebas 10 m.s
-2
.
a. Berapa lama bola tersebut mancapai tititk tertinggi?

FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 46





GERAK LURUS
b. Berapa ketinggain maksimum yang dicapai bola ?
Jawab :
Diketahui :
v
0y
= 20 m.s
-1
vy
g = 10 m.s
-2
y
0

Ditanya : y ? t?
` Jawab :
vy = v
0y
- g.t
0 = 20 - 10.t
10.t = 20
20
= 0
= 0
t =
10
= 2 s

y = y
0
+ v
0y
-

1
2
.g.t
2
1
= 0 + 20.2 -
= 40 - 5.4
= 40 - 20
= 20 m
2
. 10.2
2
benda menacapai ketinggain 20 m dalam waktu 2 s
3. Sebuah bola dilempar vertikal keatas dengan kecepatan awal 20 m/s dari
atas tanah. Bola yang lain dilepas dari ketinggian 80 m dengan kecepatan
awal 20 m/s. Dititik mana kedua bola akan bertemu.

Jawab : misalkan kedua bola bertemu pada ketinggaian h.
Diketahui :
v
0A
y
0A
v
0B
y
0B
g
yB
= 20 m/s
= 0
= -20 m/s
= 80 m
= 10 m/s
2
= y
A
= h







FISIKA MEKANIKA, Jonifan, Iin Lidya, Yasman 47





GERAK LURUS

B

vB=20 m/s
80 m

vA=20 m/s
A


Jawab : h?
y
0A
+ v
0yA
. t -
1

1
2
yA = yB
1
.g.t
2
= y
0B
+ v
0yB
. t - .g.t
2
2
1
0 + 20.t -
2
.10. t
2
= 80 - 20.t - .10. t
2
2
40.t = 80
t = 2 s

h = yA
1
= y
0A
+ v
0yA
. t -
1
2
.g.t
2
= 0 + 20.t -
1
2
.g.t
2
= 20.(2) -
= 40 - 5.4
= 40 - 20
= 20 m
2
.10.(2)
2
kedua bola bertemu pada ketinggian 20 m dari permukaan
tanah

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->